P. 1
Fonetik dan Fonologi Bahasa Melayu Tinggi

Fonetik dan Fonologi Bahasa Melayu Tinggi

4.75

|Views: 13,320|Likes:
Published by rider_frs
terdapat transrikpsi dialek kedah, rumus-rumus fonologi, ciri-ciri suprasegmental
terdapat transrikpsi dialek kedah, rumus-rumus fonologi, ciri-ciri suprasegmental

More info:

Published by: rider_frs on Apr 26, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF or read online from Scribd
See more
See less

08/20/2013

pdf

original

Sections

FONETIK DAN FONOLOGI BAHASA MELAYU TINGGI HBML45
03

Penghargaan

Bersyukur ke hadrat Ilahi kerana dengan limpah izin-Nya, saya dapat menyiapkan
tugasan ini dengan sempurna.

Saya ini mengucapkan jutaan terima kasih yang juga penghargaan khusus buat En.
Fuadi B. Hj. Abd Razak
kerana segala tunjuk ajar serta membimbing saya dalam
menyiapkan tugasan ini.

Tidak lupa juga ribuan terima kasih kepada rakan-rakan seperjuangan PISMK -OUM
Pengajian Melayu yang banyak membantu saya dalam menyiapkan tugasan ini.
Penghargaan juga kepada orang yang terlibat secara langsung atau tidak dalam
menjayakan tugasan ini.

Akhir sekali, penghargaan istimewa buat ibu bapa saya yang banyak memberi
galakan dan sokongan agar memastikan saya berjaya dalam pelajaran.

Semoga mereka semua mendapat balasan yang setimpal daripada Yang Maha Esa.

Sekian, terima kasih.

1

FONETIK DAN FONOLOGI BAHASA MELAYU TINGGI HBML45
03

Pengenalan

Bahasa Melayu di Malaysia (BM) diakui sebagai bahasa nasional berdasarkan
Peraturan 152 Pasal 1. Undang-undang ini baru disahkan pada tahun 1968 M, atau
sembilan tahun pasca kemerdekaan negara itu. Meskipun di dalam Undang-undang
itu digunakan istilah Bahasa Melayu, BM berulangkali berganti nama resmi. Dari
pertama bernama Bahasa Melayu, diganti menjadi Bahasa Malaysia, kemudian
berganti lagi menjadi Bahasa Melayu, dan terakhir pada tahun 2007, nama resmi
bahasa ini kembali menjadi Bahasa Malaysia.

Penggunaan BM di Malaysia tidak begitu disambut secara antusias oleh warga
ketika bahasa itu disahkan sebagai bahasa nasional. Justeru bahasa Inggris yang
sering digunakan, terutama di kalangan etnis Cina dan India walaupun mereka
termasuk warga minoritas. Hal ini membuat pemerintah berusaha menggalakkan
penggunaan BM melalui beberapa peraturan, misalnya pada tahun 1961 dikeluarkan
Akta Pelajaran dan pada tahun 1963 dikeluarkan Akta Bahasa Kebangsaan. Namun
demikian, peraturan-peraturan ini dinilai secara pesimis oleh sebagian kalangan
seperti pernyataan seorang Ketua Hakim Negara pada tahun 1979, bahwa BM tidak
mungkin digunakan di mahkamah (pengadilan) karena berbagai keterbatasan yang
dimiliki BM.

Perubahan baru terjadi pada dekade 80-an, yakni ketika BM berhasil menjadi
bahasa pengantar di sekolah-sekolah, mulai taman kanak-kanak sampai perguruan
tinggi. Perubahan ini seiring dengan peran Dewan Bahasa dan Pustaka (DBP –
diresmikan pada tahun 1956) yang semakin gencar memasyarakatkan BM. Istilah-
istilah teknis yang selama dua dekade sebelumnya sulit ditemukan masuk
menerobos bersama-sama dengan gaya bahasa yang estetis, yang banyak
digunakan dalam ragam bahasa sastra.

Pasca perubahan ini, BM akhirnya berhasil menduduki lima fungsi yang harus
dimiliki oleh sebuah bahasa nasional: fungsi sebagai bahasa nasional itu sendiri,
sebagai bahasa resmi, sebagai bahasa perpaduan atau bahasa antaretnis, sebagai
bahasa ilmu pengetahuan dan terakhir sebagai bahasa pendidikan.

BM yang memiliki wilayah sebar tutur di sebuah negara yang luas seperti Malaysia,
tentunya, memiliki perbedaan-perbedaan cara tutur. Masing-masing Negeri (daerah)

2

FONETIK DAN FONOLOGI BAHASA MELAYU TINGGI HBML45
03

hampir memiliki satu dialek tersendiri, yang berbeda dengan daerah lainnya. Dialek-
dialek BM yang masyhur di Malaysia antara lain, dialek Johor di Negeri Johor yang
terletak paling selatan, dialek Perak di Perak Darul Ridzuan, dialek Melaka di Negeri
Melaka sebelah utara Johor, dialek Kedah yang terdapat di Negeri Kedah Darul
Aman, dan terakhir dialek Sarawak yang terletak di Malaysia Timur atau di Pulau
Kalimantan yang disebut juga dengan Pulau Borneo.

Kata /kapal/ yang terdapat di dalam BM Piawai (standar) dapat dijadikan sebagai
contoh yang jelas. Meski tetap direalisasikan menjadi /kapal/ di Johor, Melaka dan
Sarawak, di Perak ia malah direalisasikan (baca; diucapkan) menjadi /kapɛ/ dan di
Kedah direalisasikan menjadi /kapaj/. Contoh lain yang lebih mencolok
perbedaannya adalah kata /pagar/. Di Johor orang menyebutnya /paga/, di Perak
orang menyebut /pagɔ/, akan tetapi di Melaka malah disebut /pagaw/, di Kedah
disebut /paga?/ (dengan glotal atau hamzah di akhir) dan di Sarawak menjadi
/pagaR/. /r/ yang terdapat di akhir kata /pagar/ ternyata direalisasikan dengan cara
yang berbeda-beda oleh dialek-dialek ini dan justeru karena perbedaan-perbedaan
kecil nan khas inilah mereka menjadi dialek.

Pendahuluan

Di antara tataran kebahasaan yang paling mendasar adalah tataran fonem. Tataran
ini berada pada tataran bunyi terkecil dari sebuah bahasa, yang juga memiliki
sistemnya sendiri. Di dalam ilmu linguistik, cabang ilmu yang mempelajari sistem
fonem dalam sebuah bahasa disebut Fonologi.

3

FONETIK DAN FONOLOGI BAHASA MELAYU TINGGI HBML45
03

Fonologi adalah ilmu bunyi, yang mempelajari bunyi-bunyi bahasa yang dihasilkan
oleh alat artikulasi manusia. Bunyi bahasa yang dihasilkan oleh alat artikulasi atau
alat ucap itu disebut fon (phone). Sementara itu, fonem adalah satuan bunyi terkecil
dari sebuah bahasa yang mampu menunjukkan kontras makna. Apabila kontras
makna tidak terjadi, maka sebuah bunyi bahasa tidak dapat disebut sebagai sebuah
fonem yang berbeda. Kontras makna ini adalah syarat bagi keabsahan sebuah fon
atau bunyi bahasa untuk disebut sebagai fonem.

Satu unit ujaran yang bermakna (bisa morfem dan bisa pula kata) terdiri dari
beberapa satuan bunyi. Misalnya kata pagi. Kata ini terdiri daripada empat unit bunyi
atau fonem yaitu /p/, /a/, /g/ dan /i/. Terjadinya sebuah fonem bisa ditunjukkan
dengan melakukan perbandingan fitur. Anggapan bahwa bunyi p dan b masing-
masing merupakan fonem yang berbeda dapat diterima setelah membandingkan
kedua bunyi tersebut pada kata pagi dan bagi. Kata pagi menunjukkan waktu, dan
kata bagi menunjukkan kata kerja. Kedua-duanya secara makna berbeda. Dari
perbedaan itu disimpulkan bahwa anggapan p dan b berbeda adalah benar.

Fonologi BM diterangkan dengan terlebih dahulu membicarakan fonem. Fonem
vokal, konsonan, diftong dan beberapa alofon merupakan hal-hal yang dibicarakan.
Penjelasan kemudian diakhiri dengan menerangkan pola suku kata di dalam BM.

Fonologi BM

Sistem bunyi bahasa (fonetik) mencakup dua macam fonem: fonem segmental yang
membentuk kata dan kalimat, dan fonem suprasegmental yang terdapat di dalam
kata dan kalimat. Fonem segmental yang menjadi dasar pembentukan kata dan
kalimat terbagi dua: fonem vokal dan fonem konsonan. Fonem suprasegmental
berupa stres (keras/lembutnya arus ujaran), nada (tinggi/ rendahnya arus ujaran)
dan durasi (panjang/ pendeknya waktu yang dibutuhkan).

BM, seperti bahasa lain juga, memiliki fonem vokal dan fonem konsonan. Fonem
vokal terdiri dari enam fonem vokal dan fonem konsonan terdiri dari 19 konsonan

4

FONETIK DAN FONOLOGI BAHASA MELAYU TINGGI HBML45
03

asli dan sembilan konsonan pinjaman. Di samping itu, terdapat pula diftong dan
alofon.

Pembagian fonem kepada fonem vokal dan fonem konsonan didasarkan kepada
terhambat atau tidaknya arus udara ketika sebuah bunyi dihasilkan di dalam rongga.
Jika arus udara bebas berlalu begitu saja, fonem yang dihasilkan disebut fonem
vokal atau vokal saja. Akan tetapi jika udara terhambat selama proses artikulasi
tersebut, fonem yang dihasilkan disebut sebagai fonem konsonan atau konsonan
saja.

Definisi Fonologi

Fonologi adalah ilmu tentang perbendaharaan fonem sebuah bahasa dan
distribusinya.

Fonologi berbeza dengan fonetik. Fonetik mempelajari bagaimana bunyi-bunyi
fonem sebuah bahasa direalisasikan atau dilafazkan. Fonetik juga mempelajari cara
kerja organ tubuh manusia, terutama yang berhubungan dengan penggunaan
bahasa.

Fonologi juga merupakan kajian mengenai pola bunyi bahasa, iaitu kajian mengenai
bunyi-bunyi yang berfungsi dalam sesuatu bahasa.

Alat-alat sebutan

Bunyi bahasa dikeluarkan oleh alat-alat sebutan seperti beikut:

Bibir

Gigi

Gusi Lelangit
keras

Lelangit
lembut

Anak tekak

Lidah

Rongga tekak

Rongga mulut

Rongga hidung

Paru-paru

Peti suara dan
pita suara

5

FONETIK DAN FONOLOGI BAHASA MELAYU TINGGI HBML45
03

Alat-alat sebutan dapat dibahagikan kepada dua jenis, iaitu:

(a) pengeluar (artikulator) - alat yang dapat digerak-gerakkan dengan bebas dan
dapat diletakkan di beberapa kedudukan.

Contoh: hujung lidah, bibir lelangit lembut dan sebagainya.

(b) daerah pengeluar (artikulasi) - merupakan tempat-tempat yang dapat dicapai
olah artikulator.Contoh: gigi atas, gusi dan lelangit keras.

Penggolongan Bunyi Bahasa Melayu

Umumnya, dalam bahasa Melayu, terdapat tiga golongan bunyi iaitu vokal,
konsonan
dan diftong.

Kumpulan pertama ialah bunyi yang dihasilkan tanpa gangguan dalam rongga mulut.

Udara dari paru-paru keluar melalui rongga mulut dengan tidak tersekat atau
terhimpit.

Bunyi itu hanya dipengaruhi oleh keadaan lidah dan bentuk bibir.

Kumpulan bunyi yang dihasilkan demikian dikenali sebagai vokal.

Golongan kedua ialah bunyi yang dihasilkan dengan gangguan oleh alat-alat
sebutan sehingga jalan aliran udara dari paru-paru terganggu, dengan cara disekat
atau dihalang dan udara keluar melalui ronga mulut atau rongga hidung.

Kumpulan bunyi yang terhasil dikenali sebagai konsonan.

Selain dua golongan utama itu, terdapat pula bunyi geluncuran, iaitu bunyi yang
bermula daripada satu vi\oakl dan beralih kepada bunyi vokal yag lain.

Geluncuran bunyi vokal ini dikenali sebagai diftong.

Contohnya bunyi [ai] bermula daripada bunyi vokal depan luas (a) dan mluncur
kepada bunyi vokal depan sempit [i].

Vokal

Terdapat enam vokal dalam Bahasa Melayu. Lihat jadual di bawah.

Lambang fonetik

Contoh perkataan

Nota

6

FONETIK DAN FONOLOGI BAHASA MELAYU TINGGI HBML45
03

[a]

anak, tanah, lada

[è]

ela, semak, sate

[i]

iring, kita, seri

[]

emak, betul

Tidak terdapat di hujung
perkataan

[o]

obor, botak, moto

[u]

ular, sultan, saku

Konsonan asli bahasa Melayu

Dalam bahasa Melayu terdapat 18 bunyi konsonan asli sembilan konsonan
pinjaman.

Sembilan konsonan asli dapat hadir pada awal, tengah dan akhir perkataan iaitu p, t,
m, n, /ng/, s, h, r dan l.

Konsonan b, d, g, c dan j hanya hadir pada akhir perkataan pinjaman seperti bab,
had, beg, koc dan kolej. Huruf konosnan /ny/, w dan y tidak pernah terdapat pada
akhir perkataan.

Konsonan ialah bunyi yang dihasilkan oleh aliran udara yang tersekat atau terhalang
oleh salah satu alat sebutan seperti bibir, gusi, lelangit lembut, dan sebagainya dan
udara dilepaskan melalui rongga mulut atau rongga hidung.

[p], [b], [t], [d], [k], [g], [q], [c], [j], [m], [n], [], [], [f], [v], [], [], [s], [z], [], [x], [], [h],
[r], [l], [w], [y]

Fonem

Fonem ialah unit bahasa terkecil yang berfungsi.Satu unit ujaran yang bermakna,
atau perkataan, terdiri daripada beberapa unit bunyi, misalnya kata palu.

Kata ini terdiri daripada empat unit bunyi, iaitu p, a, l, u.

Unit-unit bunyi ini dipanggil fonem, iaitu unit terkecil yang berfungsi.

Jika p diganti dengan m, maka palu akan bertukar menjadi malu.

Oleh itu, p dan m adalah unit terkecil yang berfungsi kerana unit itu membezakan
maksud ujaran.

7

FONETIK DAN FONOLOGI BAHASA MELAYU TINGGI HBML45
03

Alofon

Fonem terdiri daripada anggota fonem yang dipanggil alofon.

Misalnya fonem p dalam palu, lupa dan luap.

Bunyi p dalam palu dan lupa diujarkan sebagai letupan bibir yang sempurna , tetapi
dalam luap, bunyi p diujarkan sebagai letupan bibir yang tidak sempurna, yakni tidak
diletupkan.

Dengan itu, daripada ketiga-tiga contoh kata di atas, fonem p mempunyai dua
alofon.

Suku Kata

Suku kata ialah bahagian perkataan yang berasaskan kehadiran vokal. Suku kata
ditandai oleh suatu vokal dan wujud sebagai satu vokal atau bersama-sama dengan
konsonan.

Dalam bahasa Melayu terdapat sebelas pola suku kata. Suku kata yang berakhir
dengan vokal dipanggil suku kata terbuka.

Suku kata lain ialah suku kata tertutup kerana diakhiri dengan konsonan. Beberapa
jenis suku kata:

1. Kata tunggal satu suku kata

Suku kata

Contoh

KV

yu

VK

am

KKVK

draf, gred. brek

2. Kata tunggal dua suku kata

Suku Kata

Contoh

V + KV

ibu, ela, era

V + VK

air, aib

V + KVK

adat, emas

VK + KV

anda, unta, angsa

VK + KVK

antah, untuk, ingkar,

KV + KVK

bukan, dekat

8

FONETIK DAN FONOLOGI BAHASA MELAYU TINGGI HBML45
03

3. Kata tunggal tiga suku kata

Suku Kata

Contoh

KV+V+KV

biasa, cuaca, suara

KV + V +KV

kaedah

V + KV + V

abai, usia

KV+KV+VK

maruah, peluang

KV+KVK+KVK

kelompok, kumandang

4. Kata tunggal empat suku kata

Suku Kata

Contoh

KV+KV+KV+KV

panorama

KV+KV+KV+KVK

masyarakakat

KVK+KV+V+KV

sentiasa
5. Kata-kata tunggal yang lebih daripada empat suku kata ialah:

universiti = V + KV + KVK +KV+KV ( lima suku kata)

Dialek

Dialek (dari bahasa Yunani διάλεκτος, dialektos), adalah varian-varian sebuah
bahasa yang sama. Varian-varian ini berbeda satu sama lain, tetapi masih banyak
menunjukkan kemiripan satu sama lain sehingga belum pantas disebut bahasa-
bahasa yang berbeda.

Biasanya pemerian dialek adalah berdasarkan geografi, namun bisa berdasarkan
faktor lain, misalkan faktor sosial.

Sebuah dialek dibedakan berdasarkan kosa kata, tata bahasa, dan pengucapan
(fonologi, termasuk prosodi). Jika pembedaannya hanya berdasarkan pengucapan,
maka istilah yang tepat ialah aksen dan bukan dialek.

Variasi Bahasa

Berikut adalah beberapa istilah yang mewujudkan variasi atau kepelbagaian bahasa
Melayu.

Variasi bahasa Kepelbahagaian bahasa yang ditentukan oleh faktor teknikal bahasa
iaitu sebutan, kosa kata dan tatabahasa.

Dialek

Merupakan variasi bahasa apabila variasi bahasa itu masih difahami

9

FONETIK DAN FONOLOGI BAHASA MELAYU TINGGI HBML45
03

oleh oleh pengguna dalams esuatau masyarakat bahasa walaupun ada
pembahagian geografi . Variasi bahasa ii dikenali sebagai dialek.

Idiolek

Variasi bahasa yang khusus berkaitan dengan individu.

merupakan kelainan penggunaan bahasa pada peringkat individu.

Perbezaan paling ketara ialah dari segi sebutan dan lagu sebutan.

Keadaan ini berlaku kerana perbezaan alat sebutan seperti kecacatan
atau tabiat penyebutan kerana pengaruh rakan atau seisi keluarga.

Dialek kawasan

Variasi bahasa yang berkaitan dengan pengguna dalam sesuatu
kawasan. Dikaitkan dengan rumpun banasa Austronesia, cabang
Nusantara. Cabang Nusantara mempunyai 200 hingga 300 bahasa
dalam 16 golongan seperti Filipina, Sumatera, jawa, Kalimantan dan
sebagainya.

Bahasa Melayu termasuk dalam golongan Sumatera bersama-sama
dengan bahsa Batak, Acheh, Minangkabau, Nias, Lampung dan Orang
Laut.

Umumnya bahasa Melayu merangkumi Bahasa Malaysia di Malaysia,
Bahasa Indonesia di Indonesia, Bahasa Melayu di Brunei dan
Singapura. Walaupun namanya berbeza, ia merupakan dialek bagi
bahasa Melayu.

Dialek sosial

Dikaitkan dari segi penggunaan, iaitu bahasa mungkinberbeza
mengikut kumpulan sosial dan situasi yang digunakan. Misalnya, dalam
majlis rasmi, orang akanmenggunakan bahasa-bahasa yang formal.
Varisi-variasi ini yangbrkiatand enan dialek sosial, dikatakan sebagai
dialek sosial.
Oleh itu, bahasa Melayu secara umumnya dapat dibahagikan kepada tiga jenis variasi,
iaitu idiolek, dialek kawasan atau loghat, dialek sosial.

10

FONETIK DAN FONOLOGI BAHASA MELAYU TINGGI HBML45
03

Perhubungan antara ketiga-tiganya dapat digambaran melalui skema rajah yang berikut:

11

FONETIK DAN FONOLOGI BAHASA MELAYU TINGGI HBML45
03

Dialek Kedah

Sesuatu bahasa tabii tidak pernah seragam. Bagi sesuatu perkataan, bunyi atau
ayat tertentu, penutur yang berbagai-bagai akan mengucapkan bentuk atau
pengwujudan dari perkataan, bunyi atau ayat itu dengan berbagai-bagai cara. Jika
ini kita dapat perhatikan pada ujaran dua atau tiga orang penutur, apatah lagi ribuan
atau jutaan penutur dalam satu masyarakat bahasa tertentu. Perbezaan-perbezaan
dalam pengwujudan sesuatu bahasa tertentu seperti yang dikatakan itu, melahirkan
kelainan-kelainan bagi bahasa tersebut, dan kelainan inilah yang disebut dialek atau
loghat.

Dalam perkataan lain, sesuatu bahasa itu tidak dapat lari dari dicirikan oleh dialek:
dua,tiga atau pun jauh lebih banyak dari itu. Misalnya Bahasa Melayu/Malaysia
mempunyai berbagai-bagai dialek seperti dialek Kedah, dialek Johor, dialek
Kelantan, dialek Sarawak dan seterusnya. Tiap-tiap dialek itu mempunyai sifat-
sifatnya tersendiri yang membezakannya dari dialek-dialek lain. Perbezaan diantara
dialek-dialek itu boleh dilihat dari dua sudut, iaitu sistem bahasa dan kawasan
penyebarannya.

Sistem Bahasa

Yang dimaksudkan dengan sistem bahasa ialah peraturan berkenaan dengan kod-
kod bahasa, dan kod-kod itu adalah bunyi, nahu dan perbendaharaan kata. Sesuatu
dialek itu akan menyimpang dalam beberapa hal dari dialek-dialek lain dari segi kod-
kod itu. Melihat sistem bunyi, sesuatu dialek itu bukan hanya berbeza dengan dialek
lain pada penyebutan bunyi tertentu, tetapi juga dalam penempatan yang berbeza
pada sesuatu bunyi itu dalam perkataan. Dalam dialek Kedah misalnya pengucapan
"r" dalam bahasa standard adalah R (yang sama dengan bunyi ghain dalam bahasa
Arab, dan bunyi ini dalam ilmu Fonetik dinamakan frikatif uvular) dalam lingkungan
awal dan tengah kata, misalnya Ramai (ramai) dan bara (bara). Dalam lingkungan
akhir kata, yang wujud itu bukanlah R tetapi bunyi yang sama dengan ain dalam

12

FONETIK DAN FONOLOGI BAHASA MELAYU TINGGI HBML45
03

bahasa Arab, yang dalam ilmu Fonetik disebut frikatif glotis, misalnya ayaq , (air),
besaq (besar).

Kita perhatikan pula bahawa dalam dialek Kedah, perkataan-perkataan seperti
balas, tikus, bilis, tebal, batil, dan bakul diucapkan sebagai balayh, tikuyh, bileh,
tebay, bate, dan bakoy. Ini tidaklah bermakna bahawa dalam dialek ini tidak ada
bunyi-bunyi s dan l. sebenarnya yang menimbulkan penyimpangan itu bukanlah
ketiadaan s atau l dalam perbendaharaan dialek Kedah, tetapi adalah peraturan
bunyi yang menolak kehadiran bunyi-bunyi atau fonem-fonem itu dalam lingkungan
tertentu dalam perkataan, dan dalam hal ini linkungan akhir kata. Ini hanya beberapa

contoh sahaja untuk menggambarkan perbezaan bunyi pada dialek.

Nahu sebagai kod bahasa juga memperlihatkan penyimpangan antara dialek.
Sebenarnya nahu terdiri dari dua bahagian, iaitu morfologi (atau peraturan
pembentukan kata) dan sintaksis (atau peraturan pembentukan ayat). Perbezaan
antara dialek-dialek Melayu dalam bidang nahu tidaklah sebanyak perbezaannya
dalam sistem bunyi. Susunan ayat dari dialek ke dialek dari segi bahagian-bahagian
yang mendirikannya seperti Subjek-Predikat-Objek, Pelaku-Perbuatan-Pelengkap,
dan Judul-Cerita, yang pada amnya sama.

Perbendaharaan penambahan, yakni awalan dan akhiran, akan lebih nyata
perbezaannya sungguhpun jumlah perbezaan itu tidak seberapa dibandingkan
dengan perbezaan bunyi. Dialek Kedah tidak mempunyai penambah yang asing
bagi dialek-dialek lain atau bagi bahasa standard, sungguhpun ada penambah-
penambah dalam bahasa standard (apa lagi dalam perkembangannya akhir-akhir
ini) yang tidak dikenali oleh dialek Kedah. Bukan sahaja dialek Kedah tidak ditandai
oleh awalan-awalan dan akhiran-akhiran baru seperti pra-, sub-, pro-, dan -wan,
yang merupakan penambah-penambah yang dibawa masuk dari Bahasa Inggeris
dan Bahasa Sanskrit, bahkan juga tidak mempunyai beberapa penambah yang
sememangnya asli Melayu. Dialek Kedah tidak mengenal adanya akhiran -kan.
Segala sesuatu konsep yang didukung oleh akhiran -kan dalam bahasa standard
didukung oleh bentuk lain dalam dialek Kedah, misalnya penambah lain, bentuk kata
dan bentuk frasa (rangkai kata). Ayat- ayat dalam senarai (1) di bawah ini adalah
bahasa standard dan mencontohkan penggunaan -kan dengan konsep-konsep
tertentu: konsep sebab musabab dalam ayat (I), dan konsep manfaat dalam ayat (ii).

13

FONETIK DAN FONOLOGI BAHASA MELAYU TINGGI HBML45
03

1.(I)Dia mengecilkan bajunya.
(ii)Dia memandikan anaknya.
(iii)Dia membacakan ibunya surat itu.
Dalam dialek Kedah ayat-ayat itu akan berbunyi seperti yang diberi dalam senarai
(2). (Pengejaannya adalah menurut ejaan yang standard dan terpulanglah kepada
pembaca untuk mewujudkannya dalam dialek Kedah).

2.(I)Dia memperkecil baju dia.
(ii)Dia bagi mandi anak dia.
(iii)Dia baca surat itu bagi kat mak dia.
Sungguhpun dialek Kedah mempunyai akhiran -an dan -I tetapi penambah-
penambah itu tidak seratus peratus sama dalam penggunaannya dengan bahasa
standard. Ada penggunaannya yang asing bagi bahasa standard, misalnya dalam
perkataan seperti besaran dan halusi.

Demikian juga keadaannya dengan awalan di- (dalam kata kerja pasif) tidak dikenal
oleh dialek Kedah. Sungguhpun ada awalan me- , tetapi penggunaan berlainan
sama sekali dengan apa yang terdapat dalam bahasa standard. Awalan me- dalam
bahasa standard mempunyai berbagai-bagai makna berdasarkan jenis dan
golongan perkataan yang bergabung dengannya dan juga menunjukkan modalitas
tertentu seperti modalitas aktif dan sebagainya. Dalam dialek Kedah, awalan ini
hanya menunjukkan perbuatan yang sudah menjadi tabiat atau adat yang dikerjakan
dalam jangka waktu yang lama atau juga yang menunjukkan sifat yang tertentu pada
manusia.

Perbuatan yang dilakukan dalam jangka waktu yang pendek yang tidak merupakan
tabiat atau adat yang tidak menggunakan awalan ini. Oleh kerana itu kita dapati
bahawa perkataan-perkataan yang mendukung awalan me- dalam dialek Kedah
adalah diantaranya merupakan perkataan-perkataan seperti mengerat, menanam,
memukul, menjual, menjahit, memotong, mengurui, menggala, (menenggala) dan
sebagainya yang menunjukkan perbuatan yang merupakan mata pencarian atau
tabiat yang berlaku dalam jangka waktu tertentu yang berulang-ulang atau juga
berlaku sepanjang hayat dalam kehidupan orang-orang Kedah. Di pihak yang lain
pula terdapat perkataan-perkataan yang menunjukkan adat budaya, misalnya
menengok (dalam erti kata "menyelidik" sebelum meminang, atau "melihat" nasib),

14

FONETIK DAN FONOLOGI BAHASA MELAYU TINGGI HBML45
03

meminjam (dalam ertikata "berderau), memanggil (menjemput datang ke kenduri),
meminang dan sebagainya.

Awalan me- yang menunjukkan sifat atau kecenderungan tertentu pada manusia
terdapat pada perkataan-perkataan seperti menyombong, mengira (kedekut),
melawan (suka menentang), memakai (suka memakai pakaian yang cantik-cantik
atau guna-guna), menunjuk (suka memperlihatkan kelebihan sendiri, seperti
kecantikan, kekayaan, kepandaian atau yang serupa itu), menerai (suka
mengenakan pakaian yang cantik-cantik untuk memperlihatkan kepada orang lain)
dan sebagainya. Dalam kertas kerja yang seperti ini tidak mungkin diperkatakan
dengan panjang lebar tentang ciri-ciri nahu dialek Kedah yang berbeza dengan
bahasa standard, tetapi memadailah dengan beberapa contoh sahaja.

Penyimpangan dalam perbendaharaan kata antara dialek lebih banyak dari
penyimpangan dalam nahu. Penyimpangan yang seperti ini mempunyai dua jenis
kewujudan. Pertama, perkataan yang betul-betul berbeza antara dialek, seperti
berikut:

Dialek Kedah

Bahasa Standard

Mangli

lali (dalam pengertian "immune")

Ranggi

sombong

Awat

mengapa, kenapa
Kedua, penyimpangan itu boleh merupakan penyimpangan yang wujud hanya
kerana penyebutan yang berbeza, seperti bekayh (bekas), tebay (tebal), baka
(bakar) dan sebagainya.

Dalam hubungan dengan sistem bahasa ini, kita dapat melihat sebagaimana
sesuatu dialek itu menggambarkan penglihatan dunia para penggunanya, yang
berbeza dengan penglihatan dunia pengguna-pengguna dialek-dialek lain. Misalnya,
cara orang Kedah melihat masa itu tidak seratus peratus sama dengan cara-cara
orang Melayu dari kawasan dialek lain melihatnya. Pengiraan waktu yang
membahagikan tahun ke dalam 12 bulan bukanlah asli Kedah, bahkan juga bukan
asli Melayu. Cara ini dibawa dari luar melalui islam dan pengaruh Barat.

Bagi orang-orang Kedah, peredaran masa dilihat menerusi peredaran musim.
Mereka mengenal dua musim iaitu musim hujan dan musim timur, dan ini selari
dengan pola-pola kehidupan petani-petani Kedah. Musim hujan membayangkan
jangka masa bagi kegiatan menanam padi, sedangkan musim timur merupakan
jangka masa yang kering tetapi berangin, sesuai bagi kegiatan-kegiatan yang

15

FONETIK DAN FONOLOGI BAHASA MELAYU TINGGI HBML45
03

berhubung dengan penuaian padi, dan perkataan timur di sini menunjukkan arah
datangnya angin. Dalam hubungan ini kita hendaklah ingat bahawa kemarau dalam
dialek ini tidak dianggap sebagai musim, yakni jangka masa tertentu, tetapi lebih
kepada keadaan - yakni ketiadaan hujan yang mengakibatkan alam sekitar kering
kontang. Peredaran masa yang menunjukkan penyempurnaan kedua-dua musim
-musim timur dan musim hujan atau sebaliknya - dikenal sebagai temekuap. Jika kita
mencuba mencari kesejajarannya, maka kita akan dapat melihat bahawa konsep
temekuap itu tidak jauh menyimpang dari konsep tahun yang kita bawa masuk dari
luar itu. Dari itu kita dapat membuat kesimpulan bahawa orang-orang Kedah sudah
mempunyai cara pengiraan peredaran masa sejajar dengan pengiraan tahun
sebelum datangnya pengaruh asing, dan hal ini berkait erat dengan pola kehidupan
mereka sebagai petani.

Konsep tahun melibatkan bulan sehingga boleh dibahagi kepada 12 bahagian atau
bulan. Dalam kalendar lunar, pengiraan bulan bermula dari terbitnya bulan sehingga
mengambang dan seterusnya mengecil atau terbenam kembali. Dalam konsep
temekuap perkiraan dimulakan dari mengambangnya bulan, yakni bulan penuh atau
bulan purnama dan peredaran masa dikira dari saat ini sehingga bulan itu
mengambang semula. Dari itu timbullah konsep bulan timbul (untuk bulan yang akan
datang) sebagai lawan bulan ia atau bulan ini dan bulan sudah. Dengan itu juga
konsep awal bulan dan hujung bulan merupakan konsep yang baru yang dibawa
masuk ke dalam dialek Kedah melalui bahasa standard.

Pengertian minggu juga tidak ada dalam dialek ini. Bahkan minggu yang terdiri dari 7
hari itu adalah pembaharuan yang didatangkan dari kebudayaan islam dan
kemudiannya dari Barat, dan ini bukan sahaja berlaku dalam bahasa Melayu bahkan
juga dalam bahasa-bahasa serumpun dengannya seperti bahasa Kadazan, Iban
Jawa dan sebagainya. Dalam bahasa Jawa, terdapat konsep pekan yang terdiri dari
5 hari.

Bagi orang-orang Kedah pengiraan hari dalam satu-satu bulan itu tidak penting.
Yang penting ialah jangka masa yang dekat dengan "hari ini" sama ada sebelum
atau sesudah. Jangka masa sebelum "hari ini" ialah kelmarin, kelmarin dulu, dan
kelmarin dulu balik sana, dan yang sebelum "hari ini" ialah esok (isuk), lusa, tulat,
tungging, tungging buyung. Julat waktu yang seperti ini boleh dikaitkan dengan pola
hidup orang-orang Kedah yang sebahagian besarnya adalah petani. Julat ini

16

FONETIK DAN FONOLOGI BAHASA MELAYU TINGGI HBML45
03

membayangkan peringkat-peringkat pekerjaan yang dirancang dalam kerja-kerja
persawahan. Penamaan hari-hari seperti Isnin, Selasa dan sepertinya itu tidak perlu;
yang penting ialah pengertian dan kesedaran akan berlalunya waktu sebelum dan

sesudah, dalam jangka masa yang ditetapkan.

Dalam memperkatakan peredaran waktu ini, salah satu penyimpangan yang nyata
antara dialek ialah pengertian yang diberi masing-masing kepada perkataan
kelmarin(kelmarin). Bagi beberapa dialek lain, perkataan itu membawa makna "masa
lampau yang lebih ke belakang dari hari sesudah hari ini", sedangkan dalam dialek
Kedah, maknanya ialah "hari sesudah hari ini". Perbezaan ini terletak pada cara
hidup masing-masing yang berbeza satu sama lain. Bagi orang-orang Kedah
perkiraan waktu yang menegaskan masa lampau yang tidak ada ketentuannya itu
tidak penting. Kehidupan pertanian, lebih-lebih lagi persawahan, harus memberi
perhatian penuh kepada peredaran masa yang dekat dan yang mempunyai
ketentuan.

Pembahagian waktu dalam satu-satu hari bagi orang-orang Kedah tidak berbeza
dengan apa yang terdapat di kalangan orang-orang Melayu lain. Oleh kerana itu
tidak usahlah saya memperkatakannya dengan panjang lebar.

Kehidupan dan penglihatan dunia (yakni cara melihat dunia dan kehidupan) di
kalangan orang-orang Kedah yang boleh dikesan dari pelbagai gerak dalam konsep
memotong, mencampak, berjalan, memukul, memijak dan sebagainya, dengan
sendirinya dapat menggambarkan beberapa perincian dalam tingkah laku dan cara
hidup orang-orang Kedah dari zaman ke zaman. Untuk konsep memotong sahaja
dialek Kedah mempunyai tidak kurang dari 14 perkataan, iaitu tebang, cantas,
cincang, hiris, belah, kerat, rincik, tetas, takok, takek, kelar, tebas, tebang, tetak.
(Perlu diingat di sini bahawa potong itu bukanlah asli Kedah tetapi adalah pinjaman
dari bahasa standard).

Perkataan-perkataan itu timbul berdasarkan perbezaan-perbezaan kecil dari segi
gerak perbuatan, daya yang dikenakan, kecepatan perbuatan dan sebagainya. Di
sini kebudayaan yang dilalui oleh orang-orang Kedah itu sudah dapat membezakan
gerak-gerak yang asasnya sama itu, dengan begitu terperinci sekali. Begitulah juga
halnya dengan konsep memijak, memukul dan sebagainya.

17

FONETIK DAN FONOLOGI BAHASA MELAYU TINGGI HBML45
03

Cara orang-orang Kedah mengkonsepsikan warna serta bentuk, dan pemberian
kepada nama pohon-pohon dan jenis-jenis padi juga membayangkan dengan
jelasnya kehidupan mereka yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan pertanian.
Dalam pengertian warna, misalnya warna merah dan hijau merupakan warna yang
baik. Dalam hal ini kita hendaklah ingat bahawa merah bagi petani-petani Kedah
(sebelum dipengaruhi oleh bahasa standard) meliputi kuning dan coklat, sedangkan
hijau meliputi juga biru. Kedua-dua warna ini mempunyai kaitan yang erat dengan
alam pertanian. Pohon-pohon yang hijau dengan batangnya yang berwarna merah
(coklat?), sedangkan padi berwarna merah (kuning) seperti juga emas yang merah.
Jika orang Kedah betul menggunakan perkataan kuning, maka konsep di sebalik
perkataan ini dikaitkan dengan penyakit atau keuzuran. Biasanya perkataan itu
disingkatkan menjadi nin (g), yang biasanya dikaitkan dengan mata atau air muka
orang yang sedang mengalami keuzuran.

Dengan perbincangan mengenai kod bahasa ini, tujuan saya ialah hendak
memperlihatkan bagaimana dialek Kedah mempunyai ciri-ciri tersendiri yang
membezakannya dari bahasa standard dan juga dari dialek-dialek lain.
Perbendaharaan katanya tidak dapat membayangkan kehidupan pengguna itu.
Tetapi bagaimana pula dengan sistem bunyi dan nahunya. Kedua-dua kod ini
tidaklah dapat membayangkan kehidupan dan budaya orang-orang Kedah dengan
cara yang sama dengan perbendaharaan kata. Tetapi perbandingan dengan kod-
kod bahasa dalam dialek-dialek lain dan juga bahasa standard akan memperlihatkan
kepada kita perkembangan dalaman yang dilalui oleh dialek itu.

Dari segi sistem bunyinya, dialek Kedah pada satu ketika dalam sejarah
kewujudannya telah mengalami perkembangan yang pesat. Rekonstruksi dalaman
yang dikenakan ke atas dialek-dialek Melayu menunjukkan bahawa dari segi sistem
bunyi, dialek Kedah jauh meninggalkan Bahasa Melayu Purba yang dibayangkan
oleh dialek Johor. Dalam perkataan lain sistem bunyi dialek Johor mengalami
perkembangan yang amat sedikit dari tahap purbanya.

Berdasarkan teori perbandingan bahasa yang sudah diterima umum, sesuatu
bahasa atau dialek akan mengalami perkembangan yang pesat jika bahasa atau
dialek itu terdapat dalam kawasan yang merupakan pusat kebudayaan (meliputi
pusat kegiatan perdagangan dan sebagainya). Dalam hal ini, melihat kepada sejarah
Kedah, yakni zaman Kedah menjadi pusat kebudayaan dan perdagangan bukan

18

FONETIK DAN FONOLOGI BAHASA MELAYU TINGGI HBML45
03

sahaja bagi Semenanjung Tanah Melayu tetapi juga bagi Kepulauan Melayu;
tegasnya zaman Sriwijaya pada masa itu kawasan-kawasan bahagian selatan
Semenanjung belum terbuka atau berkembang. Dengan itu tidak hairanlah jika
dialek yang digunakannya itu tidak mengalami perkembangan yang sama pesatnya
dengan dialek Kedah dalam zaman itu.

Dialek Kelantan juga melalui perkembangan yang pesat seperti yang dibayangkan
oleh sistem bunyinya. Ini dapat dihubungkan dengan kehidupan kebudayaan yang
dilalui oleh orang-orang Kelantan - juga sebelum terbukanya bahagian selatan.
Bezanya antara dialek Kedah dan dialek Kelantan, ialah dialek Kedah berkembang
hingga mencapai titik keefisienan pada dialek Kelantan ialah penguguran begitu
banyaknya konsonan-konsonan pada akhir kata sehingga menimbulkan homomim-
homomim (kata-kata sebunyi) yang melebihi homonim-homonim dalam dialek lain.

Contoh:

Dalam memperkatakan nahu, terlebih dahulu saya ingin menegaskan bahawa tidak
ada dialek Melayu khususnya di Semenanjung ini yang "bercakap" dengan nahu

19

FONETIK DAN FONOLOGI BAHASA MELAYU TINGGI HBML45
03

seperti yang terdapat dalam bahasa standard yang tertulis. Jadi baik dalam dialek
Kedah mahupun dalam dialek Johor, nahu yang wujud adalah nahu yang digunakan
oleh orang sehari-hari dalam keadaan tabii. Memang dalam masyarakat bahasa
Melayu ada tingkat-tingkat bahasa yang antara lain menunjukkan penggunaan yang
tidak bersahaja (formal) sebagai lawan bersahaja (tak formal), dan bahasa lisan
sebagai lawan bahasa tulisan. Dalam mana-mana peringkat dalam sejarah
kehidupannya, bahasa Melayu jauh lebih banyak digunakan sebagai bahasa yang
dituturkan dibandingkan dengan bahasa yang ditulis; apa lagi dalam zaman sebelum
sistem tulisan diperkenalkan.

Nahu bahasa lisan bagi mana-mana zaman dalam perkembangan bahasa Melayu
lebih sederhana nahu bahasa tulisan. Ayat-ayat yang pendek-pendek
menggambarkan kepraktisan hubungan dalam sesuatu peristiwa bahasa antara
orang-orang yang berkenaan. Lagi pula ayat yang berjela-jela panjangnya seperti
yang terdapat dalam bahasa tulisan sekarang ini adalah pembaharuan, akibat dari
pengaruh nahu dan gaya bahasa Inggeris. Pembentukan ayat yang seperti ini
membayangkan budaya yang sudah mengalami intelektualisasi ala Barat yang asing
bagi dialek-dialek termasuk dialek Kedah.

Kawasan Penyebaran

Yang dimaksudkan dengan kawasan penyebaran dialek ialah kawasan yang
merupakan tempat bermastautinnya orang-orang yang menutur sesuatu dialek itu.
Sempadan bagi sesuatu dialek itu tidak perlu sama dengan sempadan politik atau
pentadbiran. Dengan itu, kita dapati bahawa kawasan dialek Kedah itu tidak sama
dengan kawasan negeri Kedah yang ada sekarang ini. Kawasan dialek Kedah jauh
lebih luas dari kawasan negerinya kerana meliputi kawasan bukan sahaja negeri
Kedah tetapi negeri-negeri lain. Kita dapat mengatakan bahawa dialek Kedah itu
tersebar dari perlis di Utara hingga ke Kuala Kangsar di Selatan, dari pulau
Langkawi di barat hingga ke Kroh timur. Bahkan dapat dikatakan bahawa dialek
Kedah itu tersebar hingga ke Thai Selatan. Seorang penyelidik bahasa, Christhoper
Court dari penemuannya membuat kesimpulan bahawa bahasa Melayu yang
dituturkan di Satun (Setol) tidak begitu berbeza dari yang ditutur di Perlis dan Kedah,
sungguhpun bahasa ini lama kelamaan digantikan dengan bahasa Thai.

Dari kawasan dialek Kedah itu, kita boleh membuat taabiran (inferensi). Pertama,
bahawa orang-orang yang menutur dialek Kedah itu sejak zaman berzaman

20

FONETIK DAN FONOLOGI BAHASA MELAYU TINGGI HBML45
03

memang tersebar luas sebagai penduduk kawasan itu, dan penyebaran ini berlaku
secara pemindahan penduduk, pertembungan yang disebabkan oleh
perdagangan,peperangan dan sebagainya. Kedua bahawa dialek ini tersebar secara
difusi atau serapan yakni secara menyerapakan bahasa yang berkenaan itu dari
penutur tanpa menimbulkan pemindahan penutur dari tempat ke tempat.

Taabiran pertama itu antara lain membawa kita kepada dugaan (jika kita belum
mengetahui sejarahnya) bahawa negeri atau kerajaan Kedah satu waktu dulu
mempunyai daerah taklukan yang luas meliputi kawasan yang sekarang hanya
dikenal kekedahannya kerana adanya bentuk bahasa yang boleh dinamakan dialek
Kedah. Dugaaan yang lain yang boleh kita buat dari bukti yang ada itu ialah barang
kali telah berlaku perpindahan secara besar-besaran dari negeri Kedah yang ada
sekarang ini ke kawasan-kawasan di luarnya, seperti Perlis, Pulau Pinang dan
sebagainya disebabkan sesuatu peristiwa atau kejadian seperti bencana alam,
kebuluran dan sebagainya.

Bagaimana juga, dari fakta-fakta sejarah yang ada kita tahu bahawa di antara dua
dugaan itu, yang pertamalah yang lebih munasabah. Dari sejarah kita tahu bahawa
Perlis, Pulau Pinang dan Seberang Perai memang merupakan bahagian dari
Kerajaan Kedah hingga abad ke sembilan belas. Pulau Pinang disewakan kepada
English East India Company dalam tahun 1786, diikuti oleh Seberang Perai dalam
tahun 1800. Perlis pula dalam tahun 1821 dipisahkan dari kerajaan Kedah dan
dijadikan kerajaan tersendiri, disebabkan oleh tindak-tanduk kerajaan Siam. Dalam
masa yang sama juga Setol atau Satul atau Satun bersama-sama dengan pulau-
pulau di bahagian barat Thailand Selatan juga jatuh ke tangan Siam.

Tersebarnya dialek Kedah hingga Kuala Kangsar dapat dicari puncanya pada
beberapa kejadian. Tidak dapat dinafikan bahawa manusia akan terus berhubung
satu sama lain dan dengan demikian menyebarkan dialeknya. Perbatasan politik
atau pentadbiran itu adalah buatan atau rekaan yang ada dalam peta, sedangkan
dalam kenyataan hanya diwakili oleh sebatang tiang sebagai tanda, sungai atau
jalan, tetapi ini semua tidak menghalang orang dari kedua-dua belah sempadan itu
berhubung satu sama lain dalam menjalankan kegiatan hidup mereka. Perhubungan
dalam keadaan damai ini memberi kesan dari segi pertuturan.

Pertembungan antara manusia dari sebelah menyebelah ruang sempadan itu tidak
terbatas kepada masa damai. Pertembungan dalam peperangan juga boleh

21

FONETIK DAN FONOLOGI BAHASA MELAYU TINGGI HBML45
03

meninggalkan kesan yang mendalam dari segi pengaruh bahasa atau dialek. Dari
sejarah Negeri Kedah dan Perak kita diberitahu bahawa pada permulaan abad
kesembilan belas, Kedah dipaksa sebanyak dua kali oleh Siam untuk menyerang
Perak iaitu dalam tahun 1813 dan 1818. Tentera Kedah menakluki bahagian utara
negeri Perak yang bersempadanan dengan negeri Kedah dan mara ke arah selatan
hingga ke Kota Lama Kiri dekat dengan Kuala Kangsar sekarang ini. Apabila kedua
negeri itu berdamai semula berlakulah hubungan mesra antara orang-orang Kedah
dan Perak dan antaranya perkahwinan antara askar-askar Kedah dengan wanita-
wanita Perak. Di antara mereka yang terlibat dengan perkahwinan ini adalah
pembesar dan kerabat DiRaja Kedah (Tengku Akil atau Tengku Ya'akub) yang
berkahwin dengan wanita Perak dari golongan bangsawan. Hubungan yang serupa
ini membawa kepada penyerapan dialek. Oleh kerana itu tidak hairanlah jika
kawasan Kuala Kangsar terdapat loghat yang mempunyai ciri-ciri dialek Kedah.

Taabiran yang menyatakan bahawa sesuatu dialek itu boleh tersebar berdasarkan
difusi atau serapan juga boleh diterima bagi dialek Kedah. Kejadian yang seperti ini
berlaku sepanjang masa.

Dari huraian di atas itu tidaklah salah jika dialek-dialek yang diucapkan di Perlis,
Pulau Pinang, Seberang Perai dan Perak Utara itu dinamakan dialek Kedah. Asas
penamaan yang lebih kuat ialah terletak pada persamaan ciri-ciri pada tutur-tutur di
kawasan-kawasan itu.

Dengan menegaskan persamaan ciri-ciri itu tidaklah dimaksudkan bahawa orang-
orang di kawasan-kawasan itu mempunyai pertuturan yang seragam. Keseragaman
yang seperti itu tidak mungkin ada pada bahasa atau dialek tabii seperti yang sudah
kitakan awal-awal tadi. Ini bermakna bahawa dalam persamaan itu ada
perbezaannya tetapi perbezaan itu tidaklah begitu besar sehingga boleh
memecahkan kesatuan dialek itu. Perbezaan-perbezaan itu, menimbulkan subdialek
yakni bahagian-bahagian dalam dialek yang berbeza satu sama lain dalam
beberapa hal sama sahaja tetapi pada masa yang sama mempertahankan
persamaannya. Dengan itu, jika kita dengan betul-betul memperembang telinga, kita
dapat mengenal perbezaan antara pertuturan orang-orang Perlis dengan pertuturan
orang-orang Pulau Langkawi dan seterusnya. Tiap-tiap subdialek itu mempunyai
kawasannya sendiri yang dinamakan subkawasan dialek.

22

FONETIK DAN FONOLOGI BAHASA MELAYU TINGGI HBML45
03

Persamaan-persamaan di antara subdialek-subdialek itu mencerminkan warisan dari
induk yang sama, yakni induk yang kita namakan dialek Kedah. Perbezaan-
perbezaannya membayangkan perkembangan yang dilalui berbeza dari satu
subdialek kepada subdialek yang lain. Perkembangan-perkembangan itu boleh
dikesani kepada beberapa perbezaan dalam corak hidup, alam sekitar,
perkembangan segi-segi tertentu dalam budaya, dan seterusnya. Pulau Langkawi
yang terpisah dari tanah daratan oleh lautan yang agak luas mengalami beberapa
perkembangan tersendiri dari segi sosiobudaya dan sosioekonomi, di samping
mempunyai persekitaran alam yang tersendiri. Dengan itu tidaklah dapat diharapkan
bahawa pertuturannya akan terus seragam dengan pertuturan di subkawasan lain di
tanah daratan, baik dalam perbendaharaan kata mahupun dalam satu dua hal lain
dalam sistem bahasanya. Walaupun ada perbezaan-perbezaan yang serupa itu kita
masih boleh mengenal bahawa dialek yang dituturkan di Pulau Langkawi itu dialek
Kedah. Demikian juga, subkawasan Perlis dan subkawasan lain yang
bersempadanan dengan Thailand sudah tentu akan memperlihatkan ciri yang tidak
wujud dalam pertuturan di Lembah Kedah.

Subkawasan di sempadan sebelah utara dan timur laut itu mempunyai lagu bahasa
atau intonasi yang berbeza dengan yang terdapat di Lembah Kedah. Intonasi yang
lanjut dan lemah gemalai itu boleh dikaitkan kepada intonasi bahasa Thai. Ini
bukanlah gejala tiru-meniru, tetapi merupakan gejala serapan bahasa, kerana
penyebaran bahasa adalah sesuatu yang sambung menyambung seperti air yang
mengalir, dan bukan sesuatu yang dapat diputuskan seperti ranyting yang boleh
dipatah-patahkan.

Subdialek Kedah di Pulau Pinang khususnya yang dituturkan di Tanjung
memperlihatkan beberapa ciri tersendiri misalnya dalam mengucapkan "r".
perbezaan ini timbul disebabkan perkembangan yang tertentu yang dilalui oleh
subdialek itu, khususnya dalam mendapat gangguan dari bahasa Tamil, yakni dari
penutur-penutur yang nenek moyangnya mempunyai bahasa Tamil atau salah satu
bahasa India sebagai bahasa ibundanya.

23

FONETIK DAN FONOLOGI BAHASA MELAYU TINGGI HBML45
03

Dialek Kedah dalam ragam bahasa

Penutur dialek utara biasanya bertutur dengan kelainannya yang tersendiri dengan
membentuk keterikatan di bawah penggolongan subdialek masing-masing. Biarpun
terbahagi kepada beberapa subdialek, namun kesemua subdialek itu tetap terikat
kepada subdialek Kedah Persisiran yang dianggap sebagai dialek Kedah yang
standard yang juga menjadi bahasa di raja Kedah.

Dalam dialek ini walaupun banyak terbentuk sistem berbahasa yang berbeza
dengan bahasa baku namun ciri-ciri kesamaan terutama dalam penggunaan
pengimbuhan tetap juga menampakkan pertautannya. Ini mungkin disebabkan
penggunaan dialek Kedah ini rata-rata sudah dipengaruhi tatabahasa standard.

Sungguhpun begitu, menurut Prof Asmah Haji Omar, perimbuhan yang terkandung
di dalam dialek Kedah hanyalah imbuhan awalam sahaja. Manakala pada kata nama
ia cuma terhad kepada pola yang menggunakan imbuhan awalan 'pe-' .

Imbuhan

Pengimbuhan yang berlaku kepada kata kerja di dalam dialek Kedah ini meliputi
imbuhan meN-, teR- dan beke-. Di antara semua jenis ini, imbuhan meN- lebih
merupakan gambaran daripada pengwujudan kata yang disengau dan tidak
disengaukan. Alomof me- yang disengaukan biasanya berlaku sebelum kosongan
sengau, konsonan sisian {i} dan konsonan fikatifuvular{r}.

Awalan meN-

24

FONETIK DAN FONOLOGI BAHASA MELAYU TINGGI HBML45
03

Awalan meN- di dalam dialek Kedah seringnya membawa makna kebiasaan atau
perbuatan yang dilakukan dalam batas waktu yang agak panjang . Perkataan-
perkataan seperti:

{memotong} {memukoy} {menanam}
{mengaet}

{menjait}
sudah jelas menunjukkan suatu perbuatan yang sudah menjadi kebiasaan dalam
kehidupan penduduk penuturnya.

Pola meN-

Pola meN- sebenarnya tidak sahaja menunjukkan kebiasaan tetapi juga boleh
mengambarkan ciri-ciri tertentu pada nama yang dirujuk. Misalnya kata
{menyombong}dan {memakai}sudah dengan sendirinya mengambarkan sifat yang
dimiliki olah seseorang.

Kebiasaan seseorang itu pula tidak hanya dikaitkan dengan pelaku kerana
kebiasaan juga boleh berlaku dan dibina melalui tradisi masyarakat. Dan perlakuan
pada satu-satu ketika sudah menjadi adat dalam kehidupan masyarakat berkenaan.
Lihat saja kepada perkataan-perkataan berikut:

{menengok}
{meminang}
{memangge}

Ketiga-tiga kata di atas jelas menjadi budaya kata di dalam masyarakat Kedah
sebelum kenduri kahwin berlangsung.

Imbuhan meN-

Di dalam beberapa keadaan lain pula, imbuhan meN- boleh membentuk dua
kelainan kata terbitan hasil daripada proses pengimbuhannya. Pola meN- + kata
nama boleh menerbitkan "kata kerja" dan sebaliknya pula meN + kata kerja telah
menerbitkan "kata nama". Perkara ini dapat dilihat pada contoh di bawah :

meN + ekor {mengekoR} - menurut ke mana sahaja .
{KN} {KK}

25

FONETIK DAN FONOLOGI BAHASA MELAYU TINGGI HBML45
03

meN + potong {memotong } - menoreh getah

Awalan teR-

Awalan teR-, dan beR- pula mempunyai pola masing-masing mengikut rentak
penggunanya yang tertentu. Seperti di dalam dialek standard, imbuhan teR-
mendukung makna perbuatan yang tidak sengaja berdasarkan kepada
penyingkatan dialek yang dituturkan. Dan sesuatu yang barangkali jelas
membezakan pola imbuhan ini dengan imbuhan teR-dalam dialek standard ialah
pengekalan 'te' sebagai imbuhan tetap kepada teR-. Perhatikan contoh-contoh
berikut:

Ejaan Standard EjaanDialek Kedah

{tercabut} {tecabut}
{terjengul} {tejengoy}
{tergambar} {tegambaR}

Imbuhan peR-

Keadaan ini juga sama dengan apa yang berlaku di dalam penentuan imbuhan peR-
yang lebih banyak meninggalkan fungsinya sebagai pengwujudan nilai sebab
musabab kepada penutur dialek ini. Misalnya:

{peRangat} {menghangatkan}
{pebaik} {memperbaiki}
{pependek} {memendekkan}

26

FONETIK DAN FONOLOGI BAHASA MELAYU TINGGI HBML45
03

Imbuhan beR-

Imbuhan beR- pula meninggalkan fungsi bila ia digabungkan dengan kata dasar
yang terdiri daripada kata kerja dan kata nama yang akan melahirkan makna kata
yang tertentu. Bunyi pengucap pada imbuhan beR- ini kerapkali tidak mengikut
susunan bunyi dialek standard yang nyata pegangannya. Dan kebiasaannya yang
wujud daripada cantuman imbuhanbeR- ini dapat dilihat pada aturan di bawah:

i}beR- + kata kerja perbuatan menyaling
beR + {gomoi} {begomoi}-bergaduh seperti bergusti
beR + {hempas} {beRempayh}-bertumbuk

ii}beR + kata kerja perbuatan tanpa tujuan
beR +{kelewa} {bekelewa}-merayau tanpa tujuan
beR +{serungas} {beseungayh}-menjadikan tidak kemas

iii}beR +kata nama memiliki atau mempunyai
beR +{baw} {berbaw}-mempunyai bau

Imbuhan beke-

Imbuhan beke- pula barangkali merupakan imbuhan yang janggal kepada bahasa
standard. Tetapi di dalam dialek Kedah merupakan imbuhan biasa yang kerap pula
digunakan. Sebagai contohnya:

{beketeia} - menangis bersama-sama
{bekemutih} - nampak penuh dengan warna putih
{bekeseungayh} - nampak tidak kemas

Rumusan

Daripada apa yang dibincangkan di atas rasanya boleh diperbuat rumusan bahawa
pola nahu yang digunakan di dalam dialek Kedah biasanya lebih merupakan
penyataan untuk penutur- penuturnya mentafsirkan pengalaman mereka. Sebutan

27

FONETIK DAN FONOLOGI BAHASA MELAYU TINGGI HBML45
03

dengan imbuhan lebih merupakan perlakuan sedap mulut penutur untuk
menyatakan sesuatu yang tersirat. Dari itu apa yang dapat ditafsirkan ialah nilai
keringkasan penggunaan imbuhan serta kedudukkannya pula pada tahap yang tidak
menentu. Pendek kata struktur dan fungsinya daripada dialek standard yang biasa
digunakan .

Soalan Tugasn

Bidang fonetik dan fonologi merupakan satu bidang penting dalam penguasaan
sesuatu bahasa. Penguasaan dalam bidang ini membolehkan seseorang pendidik

28

FONETIK DAN FONOLOGI BAHASA MELAYU TINGGI HBML45
03

mengenali pelbagai variasi bahasa yang dituturkan oleh pelajar. Keadaan ini
membolehkan guru membetulkan sesuatu kesilapan dengan tepat dan berkesan

Berdasarkan satu rakaman audio sesuatu dialek, anda dikehenadaki melaksanakan
tugasan berikut :

a.Transkripsikan rakaman tersebut. Jumlah perkataan tidak kurang daripada
200 perkataan

b.Aplikasikan 3 rumus fonologi yang terdapat dalam rakaman tersebut. Bagi
setiap rumus serta 3 contoh perkataan

c.Huraikan 4 ciri suprasegmental yang terdapat dalam rakaman tersebut. Bagi
setiap ciri sertakan dua contoh ayat.

Berdasrakan tugasan tersebut, saya telah speksifikasi rakaman tersebiut seperti
berikut :

29

FONETIK DAN FONOLOGI BAHASA MELAYU TINGGI HBML45
03

Tajuk

: Video Raja Lawak Minggu Pertama bersama kumpulan LNJ

Masa

: Rakaman ditranskripsikan pada minit ke 6.25 saat

Dialek

: Kedah

Bil. Watak : 2 orang

Watak

: Lan dan Jan

30

FONETIK DAN FONOLOGI BAHASA MELAYU TINGGI HBML45
03

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->