P. 1
peranan kulit

peranan kulit

|Views: 377|Likes:
Published by n u r m a

More info:

Published by: n u r m a on Jun 09, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/09/2015

pdf

text

original

MAKALAH ANATOMI DAN FISIOLOGI MANUSIA II Peranan Kulit dalam Pengaturan Suhu Tubuh

Oleh : Kelompok 2 Kelas B

Nirma Sri Rahmayani Novtafia Endri Novita Hendriyanti Luthfi Nur Azizah Nur Azura Nur Fiffftein Nurmala Sari Nurmawita Nurul Elisa Putri Andini

Program Studi S1 Farmasi Sekolah Tinggi Farmasi Riau 2011

Peranan Kulit dalam Pengaturan Suhu Tubuh
Histologi kulit Kulit merupakan organ tubuh paling luar dan membatasi bagian dalam tubuh dari lingkungan luar. Luas kulit pada orang dewasa sekitar 1.5 m2 dan beratnya sekitar 15% dari berat badan secara keseluruhan. Kulit terdiri atas tiga bagian utama, yaitu epidermis, dermis, dan hipodermis. Epidermis terdiri dari stratum korneum yang kaya akan keratin, stratum lucidum, stratum granulosum yang kaya akan keratohialin, stratum spinosum dan stratum basal yang mitotik. Dermis terdiri dari serabut-serabut penunjang antara lain kolagen dan elastin. Sedangkan hipodermis terdiri dari sel-sel lemak, ujung saraf tepi, pembuluh darah dan pembuluh getah bening.

Fungsi kulit Kulit memiliki banyak fungsi, yang berguna dalam menjaga homeostasis tubuh. Fungsi-fungsi tersebut dapat dibedakan menjadi fungsi proteksi, absorpsi, ekskresi, persepsi, pengaturan suhu tubuh (termoregulasi), dan pembentukan vitamin D. 1. Fungsi pengaturan suhu tubuh (termoregulasi) Kulit berkontribusi terhadap pengaturan suhu tubuh (termoregulasi) melalui dua cara: pengeluaran keringat dan menyesuaikan aliran darah di pembuluh kapiler. Pada saat suhu

tinggi, tubuh akan mengeluarkan keringat dalam jumlah banyak serta memperlebar pembuluh darah (vasodilatasi) sehingga panas akan terbawa keluar dari tubuh. Sebaliknya, pada saat suhu rendah, tubuh akan mengeluarkan lebih sedikit keringat dan mempersempit pembuluh darah (vasokonstriksi) sehingga mengurangi pengeluaran panas oleh tubuh. 2. Fungsi proteksi Kulit menyediakan proteksi terhadap tubuh dalam berbagai cara sebagai yaitu berikut:  Keratin melindungi kulit dari mikroba, abrasi (gesekan), panas, dan zat kimia. Keratin merupakan struktur yang keras, kaku, dan tersusun rapi dan erat seperti batu bata di permukaan kulit.   Lipid yang dilepaskan mencegah evaporasi air dari permukaan kulit dan dehidrasi; selain itu juga mencegah masuknya air dari lingkungan luar tubuh melalui kulit. Sebum yang berminyak dari kelenjar sebasea mencegah kulit dan rambut dari kekeringan serta mengandung zat bakterisid yang berfungsi membunuh bakteri di permukaan kulit. Adanya sebum ini, bersamaan dengan ekskresi keringat, akan menghasilkan mantel asam dengan kadar pH 5-6.5 yang mampu menghambat pertumbuhan mikroba.  Pigmen melanin melindungi dari efek dari sinar UV yang berbahaya. Pada stratum basal, sel-sel melanosit melepaskan pigmen melanin ke sel-sel di sekitarnya. Pigmen ini bertugas melindungi materi genetik dari sinar matahari, sehingga materi genetik dapat tersimpan dengan baik. Apabila terjadi gangguan pada proteksi oleh melanin, maka dapat timbul keganasan.  Selain itu ada sel-sel yang berperan sebagai sel imun yang protektif. Yang pertama adalah sel Langerhans, yang merepresentasikan antigen terhadap mikroba. Kemudian ada sel fagosit yang bertugas memfagositosis mikroba yang masuk melewati keratin dan sel Langerhans.

3.

Fungsi absorpsi Kulit tidak bisa menyerap air, tapi bisa menyerap material larut-lipid seperti vitamin A, D, E, dan K, obat-obatan tertentu, oksigen dan karbon dioksida. Permeabilitas kulit terhadap oksigen, karbondioksida dan uap air memungkinkan kulit ikut mengambil bagian pada fungsi respirasi. Selain itu beberapa material toksik dapat diserap seperti aseton, CCl4, dan merkuri.

Beberapa obat juga dirancang untuk larut lemak, seperti kortison, sehingga mampu berpenetrasi ke kulit dan melepaskan antihistamin di tempat peradangan. Kemampuan absorpsi kulit dipengaruhi oleh tebal tipisnya kulit, hidrasi, kelembaban, metabolisme dan jenis vehikulum. Penyerapan dapat berlangsung melalui celah antarsel atau melalui muara saluran kelenjar; tetapi lebih banyak yang melalui sel-sel epidermis daripada yang melalui muara kelenjar. 4. Fungsi ekskresi Kulit juga berfungsi dalam ekskresi dengan perantaraan dua kelenjar eksokrinnya, yaitu kelenjar sebasea dan kelenjar keringat:  Kelenjar sebasea Kelenjar sebasea merupakan kelenjar yang melekat pada folikel rambut dan melepaskan lipid yang dikenal sebagai sebum menuju lumen. Sebum dikeluarkan ketika muskulus arektor pili berkontraksi menekan kelenjar sebasea sehingga sebum dikeluarkan ke folikel rambut lalu ke permukaan kulit. Sebum tersebut merupakan campuran dari trigliserida, kolesterol, protein, dan elektrolig. Sebum berfungsi menghambat pertumbuhan bakteri, melumasi dan memproteksi keratin.  Kelenjar keringat Walaupun stratum korneum kedap air, namun sekitar 400 mL air dapat keluar dengan cara menguap melalui kelenjar keringat tiap hari. Seorang yang bekerja dalam ruangan mengekskresikan 200 mL keringat tambahan, dan bagi orang yang aktif jumlahnya lebih banyak lagi. Selain mengeluarkan air dan panas, keringat juga merupakan sarana untuk mengekskresikan garam, karbondioksida, dan dua molekul organik hasil pemecahan protein yaitu amoniak dan urea. Terdapat dua jenis kelenjar keringat, yaitu kelenjar keringat apokrin dan kelenjar keringat merokrin.  Kelenjar keringat apokrin terdapat di daerah aksila, payudara dan pubis, serta aktif pada usia pubertas dan menghasilkan sekret yang kental dan bau yang khas. Kelenjar keringat

apokrin bekerja ketika ada sinyal dari sistem saraf dan hormon sehingga sel-sel mioepitel yang ada di sekeliling kelenjar berkontraksi dan menekan kelenjar keringat apokrin. Akibatnya kelenjar keringat apokrin melepaskan sekretnya ke folikel rambut lalu ke permukaan luar.  Kelenjar keringat merokrin (ekrin) terdapat di daerah telapak tangan dan kaki. Sekretnya mengandung air, elektrolit, nutrien organik, dan sampah metabolisme. Kadar pH-nya berkisar 4.0  Fungsi dari kelenjar keringat merokrin adalah mengatur temperatur permukaan, mengekskresikan air dan elektrolit serta melindungi dari agen asing dengan cara mempersulit perlekatan agen asing dan menghasilkan dermicidin, sebuah peptida kecil dengan sifat antibiotik.

5.

Fungsi persepsi Kulit mengandung ujung-ujung saraf sensorik di dermis dan subkutis. Terhadap rangsangan panas diperankan oleh badan-badan Ruffini di dermis dan subkutis. Terhadap dingin diperankan oleh badan-badan Krause yang terletak di dermis, badan taktil Meissner terletak di papila dermis berperan terhadap rabaan, demikian pula badan Merkel Ranvier yang terletak di epidermis. Sedangkan terhadap tekanan diperankan oleh badan Paccini di epidermis. Sarafsaraf sensorik tersebut lebih banyak jumlahnya di daerah yang erotik.

6.

Fungsi pembentukan vitamin D Sintesis vitamin D dilakukan dengan mengaktivasi prekursor 7 dihidroksi kolesterol dengan bantuan sinar ultraviolet. Enzim di hati dan ginjal lalu memodifikasi prekursor dan menghasilkan calcitriol, bentuk vitamin D yang aktif. Calcitriol adalah hormon yang berperan dalam mengabsorpsi kalsium makanan dari traktus gastrointestinal ke dalam pembuluh darah. Walaupun tubuh mampu memproduksi vitamin D sendiri, namun belum memenuhi kebutuhan tubuh secara keseluruhan sehingga pemberian vitamin D sistemik masih tetap diperlukan. (diakses pada Kamis, 14 Oktober 2011) Pada manusia kulit dapat pula mengekspresikan emosi karena adanya pembuluh darah,

kelenjar keringat, dan otot-otot di bawah kulit.

Tubuh kita diperlengkapi dengan berbagai mekanisme pengaturan yang canggih termasuk perihal suhu. Pusat pengaturan suhu adalah hipotalamus (termostat), suatu bagian kecil di otak kita, dan pusat pengaturan suhu tubuh itu disebut dengan SET POINT. Mekanisme pengaturan ini mempertahankan suhu tubuh kita agar senantiasa konstan, berkisar pada suhu 37 C (homotermal) Tubuh dapat dianggap sebagai inti penghasil panas (organ internal, SSP, dan otot rangka) yang dikelilingi oleh suatu lapisan pelindung yang kapasitas insulatifnya berubah-ubah (kulit). Kulit memeprtukarkan energy panas dengan lingkungan eksternal, dengan arah dan jumlah perpindahan panas bergantung pada suhu lingkungan dan kapasitas insulatif lapisan pelindung tersebut. Pemakaian energy oleh tubuh menghasilkan panas yang penting dalam pengaturan suhu. Manusia biasanya tinggal di lingkungan eksternal yang suhunya lebih dingin daripada suhu tubh mereka., sehingga manusia harus terus menerus menghasilkan panas secara internal untuk

mempertahankan suhu tubh mereka. Mereka juga harus memiliki mekanisme untuk mendinginkan tubuh apabila tubuh memperoleh terlalu banyak panas dari aktivitas otot rangka atau dari lingkungan eksternal yang panas. Pembentukan panas akhirnya bergantung pada oksidasi bahan bakar metabolic yang berasal dari makanan. Karena fungsi sel peka terhadap fluktuasi suhu internal manusia secara homeostatis mempertahankan suhu tubuh pada tingkat yang optimal bagi kelangsungan metabolise sel yang stabil. Bahkan peningkatan suhu yang sedikit saja sudah dapat menyebabkan gangguan fungsi saraf dan denaturasi protein yang ireversibel. (Fisiologi Manusia karangan Lauralee Sherwood hal. 596-597) Suhu tubuh dapat dibagi menjadi 2, yaitu Suhu inti dan suhu kulit bisa dipertahankan sangat konstan dari hari ke hari, kecuali bila mengalami demam. Berbeda dengan suhu kulit yaitu dapat naik dan turun sesuai dengan suhu lingkungan . Suhu kulit merupakan suhu yang penting apabila kita merujuk pada kemampuan kulit untuk melepaskan panas ke lingkungan. (Fisiologi Kedokteran karangan Guyton & Hall hal 936) Suhu tubuh meningkat selama olahraga dan bervariasi pada suhu lingkungan yang ekstrim, karena mekanisme pengaturan suhu tidaklah sempurna. Bila dibentuk panas yang berlebihan di dalam tubuh karena kerja fisik yang melelahkan, suhu akan meningkat sementara. Sebaliknya, karena tubuh terpajan dengan suhu yang dingin, suhu dapat turun . (Fisiologi Manusia karangan Lauralee Sherwood hal. 596-597)

PENGATURAN SUHU DIKENDALIKAN OLEH KESEIMBANGAN ANTARA PEMBENTUKAN PANAS DAN KEHILANGAN PANAS Pemasukan panas terjadi melalui penambhana panas dari lingkungan eksternaldan produksi panas internal, yang terakhir merupakan sumber utama panas tubuh. Ingatlah bahwasebagian besar pengeluaran energy tubuh akhirnya muncul sebgai panas. Panas ini penting untuk mempertahankan suhu inti. Pada kenyatannya, biasanya panas yang dihasilkan lebih banyak daripada yang diperlukan untuk mempertahankan suhu tubuh pada tingkat normal, sehingga kelebihan panas harus dieliminiasi dari tubuh. Pengeluaran panas terjadi melalui pengurangan panas dari permukaan tubuh yang terpajan ke lingkungan eksternal. Bila laju pembentukan panas di dalam tubuh lebih besar daripada laju hilangnya panas, maka panas akan timbul di dalam tubuh dan suhu tubuh akan meningkat. Begitu pula sebaliknya, bila kehilangan panas lebih besar, panas tubuh dan suhu tubuh akan menurun. Pemakaian energy oleh tubuh menghasilkan panas yang penting dalam pengaturan suhu. Manusia biasanya tinggal di lingkungan eksternal yang suhunya lebih dingin daripada suhu tubuh mereka, sehingga manusia harus terus menerus menghasilkan panas secara internal untuk mempertahankan suhu tubuh mereka. Mereka juga harus memiliki mekanisme untuk mendinginkan tubuh apabila tubuh memperoleh terlalu banyak panas dari aktivitas otot rangka atau dari aktivitas otot rangka atau dari lingkungan eksternal yang panas. Pembentukan panas adalah produk utama metabolisme. Sebagian besar pembentukan panas di dalam tubuh dihasilkan di organ dalam, terutama di hati, otak, jantung,dan otot rangka selama berolahraga. Kemudian panas ini dihantarkan dari organ-organ dan jaringan yg lebih dalam ke kult, yang kemudian di buang ke udara dan lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu, laju hilangnya panas hampir seluruhnya di tentukan oleh dua faktor ; 1. seberapa cepat panas yang dapat di konduksi dari tempat asal panas di hasilkan, yakni dari dalam inti tubuh ke kulit dan 2. seberapa cepat panas kemudian dapat di hantar kan dari kulit ke lingkungan. SISTEM INSULATOR TUBUH Kulit, jaringan subkutan, dan terutama lemak di jaringan subkutan bekerja secara bersamasama sebagai insulator panas tubuh. Lemak penting karena penyaluran panas di sini hanya sepertiga bila dibandingkan jaringan lain. Bila tidak ada darah yang mengalir dari organ dalam yang

panas ke kulit. Daya penyekat yang di miliki oleh tubuh laki-laki normal kira-kira sebanding dengan tiga perempat dari daya penyekat pada pakaian biasa pada perempuan, daya penyekat ini bahkan lebih baik. Daya penyekat yang terletak di bawah kulit merupakan alat yang efektif untuk mempertahankan suhu inti internal yang normal. Meskipun dapat juga memungkinkan agar suhu kulit dapat mendekati suhu lingkungan. ALIRAN DARAH KE KULIT DARI INTI TUBUH MENYEDIAKAN TERJADINYA PEMINDAHAN PANAS Pembuluh darah tersebar dengan sangat luas di bawah kulit bagian yang penting terutama adalah pleksus venosus yang disuplai oleh aliran darah dari kapiler kulit. Pada daerah tubuh yang paling banyak tepajang-tangan kaki, dan telinga-darah juga di suplai langsung ke pleksus dari arteri kecil melalui ANASTOMOSIS ARTERIOVENOSA yang memiliki lapisan otot yang tebal.

Kecepatan aliran darah ke dalam pleksus venosus di kulit dapat sangat berbeda-diawali dari sedikit di atas nol sampai sebesar 30 persen dari total curah jantung kecepat aliran darah yang tinggi di kulit menyebabkan konduksi panas yang disalurkan dari inti tubuh ke kulit menjadi sangat efesien, sedangkan penurunan kecepatan aliran darah akan sedikit menurunkan konduksi panas dari inti tubuh. Oleh karena itu,kulit merupakan system pengatur ‘radiator panas’ yang efektif dan aliran darah ke kulit adalah mekanisme penyaluran panas yang paling efektif dari inti tubuh ke kulit. (Fisiologi Kedokteran karangan Guyton & Hall hal 936-938)

PENGATURAN KONDUKSI PANAS KE KULIT OLEH SISTEM SARAF SIMPATIS Konduksi panas ke kulit oleh darah di atur oleh derajat vasokonstriksi arteriol dan anastomosis arteriovenosa yang menyuplai darah ke pleksus venosus kulit. Vasokonstriksi ini hampir seluruh nya di control oleh system saraf simpatis yang memberikan respon terhadap perubahan suhu lingkungan. (Fisiologi Kedokteran karangan Guyton & Hall hal 938)

FISIKA DASAR MENGENAI BAGAIMANA PANAS MENGHILANG DARI PERMUKAAN KULIT Semua penambahan atau pengurangan panas antara tubuh dan lingkungan eksternal harus berlangsung antara tubuh dan lingkungan eksternal harus berlangsung antara permukaan tubuh dan lingkungan sekelilingnya. Hukum-hukum alam fisika yang sama yang mengatur perpindahan panas antara permukaan tubuh dan lingkungan. Suhu sutu benda dapat dianggap sebagai ukuran

konsentrasi panas di dalam benda tersebu . Berbagai cara yang menjelaskan mengenai panas yang hilang dari kulit ke lingkungan, cara tersebut meliputi radiasi, konduksi dan evaporasi yang akan di jelaskan berikut ini: RADIASI Radiasi adalah perpindahan energy panas dari benda yang lebih panas ke yang lebih dingin dalam bentuk gelombang elektromagnetik (gelombang panas) yang berjalan melalui ruang. Manusia menyebarkan gelombang panas ke segala penjuru. Gelombang panas juga dipancarkan dari dinding ruangan dan benda-benda lain ke tubuh. Bila suhu tubuh lebih besar daripada suhu lingkungan, jumlah panas yang lebih besar akan dipancarkan keluar dari tubuh daripada yang dipancarkan ke tubuh. Tubuh manusia memancarkan (sumber pengurangan panas) dan menyerap (sumber penambahan panas) energy pancaran. Apakah tubuh akan mengalami pengurangan atau penambahan panas melalui radiasi bergantung pada perbedaan suhu antara permukaan kulit dan permukaan berbagai benda lain di lingkungan. Karena perpndahan netto panas melalui radiasi sellau dari benda yang lebih panas ke benda yang lebih dingin, tubuh memperoleh tambahan panas melalui radiasi dari benda-benda yang lebih hangat dibandingkan dengan permukaan kulit, misalnya matahari, radiator, atau nyala kayu bakar. Di pihaklain, tubu mengalami pengurangan panas melalui radiai ke benda-benda di lingkungan yang permukaannya lebih dingin daripada permukaan kulit, misalnya dinding bangunan, perabot rumah tangga (meja, kursi) atau pohon. Secara rata-rata, manusia kehilangan hampir separuh dari energy panas mereka melalui radiasi. KONDUKSI Hanya sedikit kehilangan panas dari tubuh melalui konduksi langsung dari permukaan tubuh ke benda-benda padat, seperti kursi atau tempat tidur. Sebaliknya, kehilangan panas melalui konduksi ke udara mencerminkan kehilangan panas tubh yang cukup besar walaupun dalam keadaan normal. Sebagian besar energy dari gerakan ini dapat dipindahkan ke udara bila suhu udara lebih dingin dari kulit, sehingga meningkatkan kecepatan gerakan molekul-molekul udara. Sekalipun suhu udara yang berlekatan dengan kulit menjadi sama dengan suhu kulit, tidak terjadi lagi kehilangan panas dari tubuh ke udara, karena sekarang jumlah panas yang dikonduksikan dari udara ke tubuh berada dalam keadaan seimbang. Oleh karena itu, konduksi panas dari tubuh ke udara mempunyai keterbatasan, kecuali udara panas bergerak menjauhi kulit, sehingga udara baru, yang tidak panas secara terus menerus bersentuhan dengan kulit. Atau dengan kata lain,

panas dapat bertambah atau berkurang melalui konduksi apabila kulit berkontak dengan suatu konduktor yang baik. KONVEKSI Konveksi adalah perpindahan energy panas melalui arus udara. Udara dingin dihangatkan oleh tubuh melalui konduksi bergerak ke atas dan digantikan oleh udara yang lebih dingin. Proses ini ditingkatkan oleh gerakan udara yang dipaksa melintasi permukaan tubuh. Ketika tubuh kehilangan panas melalui konduksi ke udara sekeliling yang lebih dingin, udara yang berkontak langsung dengan tubuh akan menjadi lebih hangat. Karena udara hangat lebih ringan (kurang padat) dibandingkan dengan udara dingin, udara yang sudah dihangatkan tersebut bergerak ke atas sementara udara yang lebih dingin bergerak ke kulit untuk menggantikan udara panas yang sudah pindah tersebut. Apabila tidak terdapat arus konveksi, tidak akan terjadi lagi pengeluaran panas dari kulit melalui konduksi setelah suhu lapisan udara yang terletak dekat dengan tubuh seimbang dengan kulit. EVAPORASI Evaporasi adalah metode terakhir pemindahan panas yang digunakan oleh tubuh. Ketika udara menguap dari permukaan kulit, panas yang diperlukan untuk mengubah air dari keadaan cair menjadi gas diserap dari kulit, sehingga tubuh menjadi lebih dingin. Panas penguapan diperlukan untuk mengubah suatu cairan, misalnya keringat, menjadi uap air diserap dari kulit. Akan tetapi, kehilangan panas melalui evaporasi keringat dapat dikendalikan dengan pengaturan kecepatan berkeringat. Evaporasi merupakan mekanisme pendinginan yang dibutuhkan pada suhu udara yang sangat tinggi. Selama suhu kulit lebih tinggi dari suhu lingkungan, panas dapat hilang melalui radiasi dan konduksi. Tetapi ketika suhu lingkungan menjadi lebih tinggi dari suhu kulit, bukan justru menghilangkan panas, tetapi tubuh memperoleh panas melalui radiasi dan konduksi dalam keadaan seperti ini, satu-satunya cara agar tubuh dapat melepaskan panas adalah dengan evaporasi. Berkeringat di pihak lain, adalah suatu proses evaporative aktif dibawah control saraf simpatis. Kecepatan pengurangan panas evaporative dapat secara sengaja disesuaikan melalui proses berkeringat, yang merupakan mekanisme homeostatic penting untuk mengeliminasi kelebihan panas sesuai kebutuhan. (Fisiologi Manusia karangan Lauralee Sherwood hal. 598-601)

Berkeringat dan pengaturannya oleh saraf otonom Impuls saraf dari area yang menyebabkan berkeringat ini dihantarkan melalui jaras otonom ke medulla spinalis dan kemudian melalui jaras simpatis mengalir ke kulit di seluruh tubuh. Kelenjar keringat dipersarafi oleh serabut-serabut saraf kolinergik (serabut yang menyekresikan asetilkolin, tetapi berjalan bersama dengan saraf simpatis disebut adrenergic). Kelenjar ini dapat juga dirangsang di beberapa tempat oleh epinefrin atau norepinefrin yang bersikulasi dalam darah, walaupun kelenjar itu sendiri tidak memiliki persarafan adrenergic. Hal ini penting selama melakukan olahraga, saat hormone ini disekresikan oleh medual adrenal dan tubuh perlu

melepaskan panas yang berlebihan yang dihasilkan oleh otot yang aktif. Suhu tubuh diatur hampir seluruhnya oleh mekanisme persarafan umpan balik, dan hampir semua mekanisme ini terjadi melalui pusat pengaturan suhu yang terletak di hipotalamus. Agar mekanisme umpan balik ini dapat berlangsung, harus juga tersedia pendetektor suhu untuk menentukan kapan suhu tubuh menjadi sangat panas atau sangat dingin. (Fisiologi Kedokteran karangan Guyton & Hall hal 939-940) Deteksi suhu oleh Reseptor di Kulit dan Jaringan Tubuh Bagian Dalam Pusat pengaturan suhu terletak di hipotalamus. Walaupun sinyal yang ditimbulkan oleh reseptor suhu di hipotalamus sangat kuat dalam mengatur suhu tubuh, reseptor suhu di bagian lain dari tubuh mempunyai peranan tambahan dalam pengaturan suhu. Hal ini terjadi pada reseptor suhu di kulit dan beberapa jaringan khusus di tubuh bagian dalam. Kulit dilengkapi dengan reseptor dingin dan hangat. Reseptor dingin terdapat lebih banyak daripada reseptor hangat. Oleh karena itu, deteksi suhu bagian perifer terutama menyangkut deteksi suhu sejuk dan dingin daripada suhu hangat. Apabila kulit di tubuh kedinginan, terjadi pengaruh reflex yang dibangkitkan dan mulai meningkatkan suhu tubuh melalui :  Memberikan rangsangan yang kuat sehingga menggigil yang akhirnya mempercepat peningkatan panas tubuh  Menghambat proses berkeringat  Meningkatkan vasokontriksi kulit untuk menghilangkan panas tubuh dari kulit Reseptor suhu tubuh bagian dalam terutama ditemukan di :  Medual spinalis  Organ dalam abdomen  Di dalam atau sekitar vene-vena besar di abdomen bagian atas dan rongga dada Reseptor dalam ini berbeda fungsinya dengan reseptor kulit, karena reseptor tersebut lebih banyak terpajan dengn suhu inti tubuh daripada suhu permukaan tubuh. Namun, seperti halnya reseptor suhu kulit, reseptor tersebut lebih banyak mendeteksi dingin daripada hangat. Kemungkinan bahwa baik reseptor kulit maupun reseptor tubuh bagian dalam lebih memperhatikan untuk mencegah hiportemia, yaitu mencegah suhu tubuh yang rendah.

Hipotalamus Posterior menggabungkan sinyal sensorik suhu pusat dan perifer. Walaupun banyak sinyal sensorik suhu berasal dari reseptor perifer, sinyal ini membantu pengaturan suhu tubuh trutama melalui hiotalamus. Di sini sinyal dari area preoptik dan sinyal dari bagian tubuh yang lain dikombinasikan dan digabung untuk mengatur reaksi pembentukan panas atau reaksi penyimpanan panas di dalam tubuh. Bila pusat suhu hipotalamus mendeteksi bahwa suhu tubuh terlalu panas atau terlalu dingin, hipotalamus akan memberikan prosedur penurunan atau

peningkatan suhu yang sesuai. Mekanisme Penurunan Suhu Bila Tubuh Terlalu Panas Sistem pengatur suhu menggunakan tiga mekanisme penting untuk menurunkan panas tubuh ketika suhu tubuh menjadi sangat tinggi : 1. Vasodilatasi pembuluh darah kulit Pada hampir semua area di dalam tubuh, pembuluh darah kulit berdilatasi dengan kuat. Hal ini disebabkan oleh hambatan pusat simpatis di hipotalamus posterioryang menyebabkan vasokontriksi. Vasodilatasi penuh akan meningkatkan kecepatan

pemindahan panas ke kulit sebanyak delapan kali lipat. 2. Berkeringat  Pada temperature diatas 340 C, pengaturan sirkulasi panas tidak cukup dengan radiasi, dimana pada kondisi ini tubuh mekanisme panas yang mendapat panas dari radiasi. dipakai dalam keadaan ini dengan cara penguapan (evaporasi).  Gerakan kontraksi pada kelenjar keringat, berfungsi secara periodic memompa tetesan cairan keringat dari lumen permukaan keringat merupakan mekanisme pendingin yang paling efektif. Kulit 3. Penurunan pembentukan panas Mekanisme yang menyebabkan pembentukan panas yang berlebihan, seperti menggigil dan termogenesis kimia, dihambat dengan kuat. Mekanisme Peningkatan suhu saat Tubuh terlalu Dingin Ketika tubuh terlalu dingin, system pengaturan suhu mengadakan prosedur yang tepat berlawanan, yaitu : 1. Vasokontriksi kulit di seluruh tubuh Hal ini disebabkan oleh rangsangan dari pusat simpatis hipotalamus posterior

2. Piloereksi 3. Peningkatan termogenesis (pembentukan panas) Pembentukan panas oleh system metabolism meningkat dengan memicu terjadinya menggigil, rangsangan simpatis untuk peningkatan panas, dan sekresi tiroksin. (Fisiologi Kedokteran karangan Guyton & Hall hal 942) Konsep “Set-Point” untuk Pengaturan Suhu Pada suhu inti tubuh yang kritis (37,1 C) akan menyebabkan perubahan drastic kecepatan kehilangan panas dan pembentukan panas. Pada suh di atas nilai ini, kecepatan kehilangan panas lebih besar dari kecepatanpembentukan panas, sehingga suhu tubuh turun dan mendekati nilai 37,1 C. Pada suhu di bawah nilai ini, kecepatan pembentukan panas lebih besar dari kecepatan kehilangan panas, sehingga suhu tubuh kini meningkat dan sekali lagi mendekati nilai37,1 C. niali suhu kritis ini disebut “set-point” pada mekanisme pengaturan suhu. Yaitu, semua mekanisme pengaturan suhu secara terus menerus berupaya untuk mengembalikan suhu tubuh kembali ke nilai set-point. Suhu kulit dapat sedikit mengubah set-point untuk pengaturan suhu inti. Set point suh kritis pada hipotalamus, terutama ditentukan oleh derajat aktivitas reseptor suhu panas pada area preoptik-hipotalamus anterior. Dibagian atas set point menandakan dimulainya berkeringat dan bagian bawah ditandai dengan dimulainya berkeringat dan bagian bawah ditandai dengan dimulainya menggigil. Akan tetapi, sinyal suhu yang berasal dari bagian perifer tubuh, terutama dari kulit dan jaringan tubuh bagian dalam tertentu (medulla spinalis dan organ visera abdomen) juga berperan sedikit terhadap pengaturan suhu tubuh. Bila suhu kulit tinggi, pengeluaran keringat akan dimulai pada suhu hipotalamus yang lebih rendah daripada ketika suhu kulit sedang rendah. Pengeluaran keringat akan dihambat ketika suhu kulit rendah. Jika tidak, efek gabungan dari rendahnya suhu kulit dan pengeluaran keringat dapat menyebabkan kehilangan panas tubuh yang lebih banyak. Efek yang serupa terjadi pada saat menggigil. Yaitu, bila kulit menjadi dingin, keadaan tersebut mendorong pusat hipotalamus menuju ambang menggigil bahkan saat suhu hipotalamus sendiri masih cukup panas disbanding normal. Jadi, suhu kulit yang dingin sebenarnya “mengantisipasi” turunnya suhu tubuh internal dan mencegah agar keadaan tersebut tidak terjadi. Pengaturan Perilaku Suhu Tubuh

Selain meknaisme bawah sadar untuk pengaturan suhu tubuh, tubuh masih memiliki mekanisme pengaturan suhu lain yang bahkan lebih kuat. Pengaturan perilaku suhu ini, dapat dijelaskan sebagai berikut. Bila suhu tubuh internal menjadi sangat tinggi, sinyal dari area pengatur suhu di otak membuat orang mengalami sensai fisik kepanasan. Sebaliknya, bila tubuh terlalu dingin, sinyal dari kulit dan mungkin juga dari reseptor tubuh bagian dalam mengeluarkan perasaan dingin yang tidak nyaman. Oleh karena itu, orang tersebut akan membuat penyesuaian lingkungan yang tepat untuk dapat mencapai kembali kenyamanan-seperti bergerak ke ruang yang panas atau dengan memakai baju yang memiliki penyekat yang baik terhadap udara dingin. Halini merupakan system pengaturan suhu tubuh yang lebih kuat daripada yang telah ditemukan oleh ahli fisiologi di masa lalu. Bahkan, mekanisme ini benar-benar merupakan mekanisme yang efektif untuk pengaturan suhu tubuh pada lingkungan yang sangat dingin. Kelainan Pengaturan Suhu Tubuh Demam. Demam yang berarti suhu tubuh di atas batas normal, dapat disebabkan oleh kelainan di dalam otak sendiri atau oleh bahan-bahan toksik yang mempengaruhi

pusat pengaturan suhu. (Fisiologi Kedokteran karangan Guyton & Hall hal 945) Beberapa penyebab demam meliputi penyakit yang disebabkan oleh bakteri, tumor otak, dan keadaan lingkungan . Sebagai respon terhadap invasi mikroba, sel-sel darah putih tertentu mengeluarkan suatu zat kimia yang dikenal sebagai pirogen endogen yang memiliki banyak efek untuk melawan infeksi dan juga bekerja pada pusat termoregulasi hipotalamus untuk meningkatkan patokan thermostat. Hipotalamus sekarang memepertahankan

suhu di titik patokan yang baru dan bukan di suhu tubuh normal. Menggigil ditimbulkan agar dengan cepat meningkatkan produksi panas, sementara vasokontriksi kulit juga berlangsung untuk dengan cepat mengurangi pengeluaran panas. Kedua mekanisme tersebut mendorong suhu naik. Mekanisme-mekanisme tersebut menyebabkan timbulnya rasa dingin menggigil yang mendadak

pada permulaan demam. Karena merasa kedinginan orang bersangkutan mungkin memakai selimut sebagai mekanisme volunteer untuk membantu meningkatkan suhu tubuh dengan mengkonversi panas. Setelah suhu baru tercapai, suhu tubuh diatur seperti pada keadaan normal sebagai respons terhadap pajanan dingin atau panas, tetapi dengan patokan yang lebih tinggi. Dengan demikian, pembentukan demam sebagai respon terhadap infeksi adalah sesuatu yang disengaja dan bukan disebabkan oleh kerusakan mekanisme termoregulasi.para pakar medis berpendapat bahwa peningkatan suhu tubuh bersifat menguntungkan untuk melawan infeksi. Demam memperkuat respons peradangan dan mungkin menggangu multiplikasi bakteri. Pirogen endogen meningkatkan titik patokan thermostat hipotalamus selama demam dengan memicu pengeluaran local prostaglandin, yaitu zat perantara kimiawi local yang bekerja langsung di hipotalamus. Aspirin menurunkan demam dengan menghambat sintesi prostaglandin. Aspirin tidak menurunkan suhu pada orang yang tidak demam, karena tanpa adanya pirogen endogen tidak terdapat prostaglandin dalam jumlah berarti di hipotalamus. Penyebab pasti “hilangnya” demam secara alamiah belum diketahui, walaupun diperkirakan bahwa hal tersebut terjadi karena penurunan pengeluaran pirogen atau pengurangan sintesi prostaglandin. Mekanisme respons panas diaktifkan untuk mendinginkan tubuh. Terjadi vasodilatasi kulit yang diikuti oleh berkeringat. Orang yang bersangkutan merasa panas dan membuka semua pelindung tubuh tambahan. Pengaktifan mekanisme pengeluaran panas oleh hipotalamus ini menurunkan suhu ke normal. (Fisiologi Manusia karangan Lauralee Sherwood hal. 604) Adaptasi tubuh pada cuaca panas dan dingin Pengaturan suhu tubuh dalam keadaan panas : 1. Fisik  Penambahan aliran darah permukaan tubuh  Terjadi aliran darah maximum pada anggota badan  Perubahan (shift) dari venus return ke vena permukaan  Proses ini terutama efektif pada keadaan temperature kurang/dibawah 34 C. penambahan konduktivitas panas (thermal penambahan aliran darah konduktivity)  Vasodilasi yaitu pembuluh darah mengembang untuk berdekatan dengan kulit (lingkungan luar) yang memungkinkan panas dibebaskan keluar.

 Bulu kulit ditegaskkan untuk mengurangi udara yang terperangkap pada kulit supaya panas mudah dibebaskan karena udara adalah konduktor panas yang baik. Bulu kulit diatur oleh otot erektor.  Lebih banyak darah pada kulit (kulit kelihatan merah) - Memudahkan panas darah terbebas keluar melalui proses penyinaran.  Berpeluh - Air keringat yang dirembes oleh kelenjar keringat mempunyai panas pendam tentu yang tinggi dapat menyerap panas yang tinggi dan terbebas ke lingkungan sekitar apabila air peluh menguap. Pengaturan suhu tubuh dalam keadaan dingin :  Secara fisik (prinsif-prinsif ilmu alam) Yaitu pengaturan atau reaksi yang terdiri dari perubahan sirkulasi dan tegaknya bulu-bulu badan (piloerektion) –> erector villi  Vasokontriksi pembuluh darah (cutaneus vasokontriksi) Pada reaksi dingin aliran darah pada jari-jari ini bias berkurang + 1% dari pada dalam keadaan panas. Sehingga dengan mekanisme vasokontriksi maka panas yang keluar dikurangi atau penambahan isolator yang sama dengan memakai 1 rangkap pakaian lagi.  Limit blood flow slufts (Perubahan aliran darah) Pada prinsifnya yaitu panas/temperature inti tubuh terutama akan lebih dihemat (dipertahankan) bila seluruh anggota badan didinginkan

 Secara

kimia

yaitu

terdiri

dari

penambahan

panas

metabolisme.

Pada keadaan dingin, penambahan panas dengan metabolisme akan terjadi baik secara sengaja dengan melakukan kegiatan otot-otot ataupun dengan cara menggigil. Menggigil adalah kontraksi otot secara kuat dan lalu lemah bergantian, secara synkron terjadi kontraksi pada group-group kecil motor unit alau seluruh otot. Pada menggigil kadang terjadi kontraksi secara simultan sehingga seluruh badan kaku dan terjadi spasme. Menggigil efektif untuk pembentukan panas, dengan menggigil pada suhu 50 c selama 60 menit produksi panas meningkat 2 kali dari basal, dengan batas maximal 5 kali. (diakses pada tanggal 14 Oktober 2011)

DAFTAR PUSTAKA
1. Djuanda A. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. 5th ed. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2007. p. 7-8. 2. Martini F. Fundamentals of Anatomy and Physiology. 7th ed. USA: Pearson Education Inc; 2006. p. 153-78. 3. Tortora G, Derrickson B. Principles of Anatomy and Physiology. 11th ed. USA: John Wiley & Sons Inc; 2006. p. 145-70. 4. Guyton & Hall . Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. 11th ed. Jakarta : Buku Kedokteran. 2008. 5. Sherwood, Laralee. Fisiologi Manusia. 2nd. Jakarta : Buku Kedokteran. 2001.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->