1

PEMERINTAH KABUPATEN SITUBONDO
PERATURAN DAERAH KABUPATEN SITUBONDO NOMOR TAHUN 2011 TENTANG BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH DAN BANGUNAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SITUBONDO, Menimbang : a. bahwa dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah, pemerintah daerah mempunyai hak dan kewajiban mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahannya untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan kepada masyarakat, untuk mendukung penyelenggaraan pemerintahan tersebut, diperlukan sumber-sumber pembiayaan yang salah satunya adalah dengan pajak daerah;

b. bahwa dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, kepada daerah diberikan kewenangan untuk memungut obyek pajak baru berupa Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan; c. bahwa guna maksud sebagaimana tersebut huruf a dan huruf b konsideran ini, perlu membentuk Peraturan Daerah tentang Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan di Kabupaten Situbondo. Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerahdaerah Kabupaten dalam Lingkungan Provinsi Jawa Timur (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1950 Nomor 19, Tambahan Lembaran Negara Nomor 9 dan Berita Negara Republik Indonesia Tahun 1950 Nomor 41) sebagaimana telah diubah dengan UndangUndang Nomor 2 Tahun 1965 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1965 Nomor 19, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2730); Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1960 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2034); Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1981 Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3209);

2.

3.

2 4. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum Dan Tata Cara Perpajakan (Lembaran Negara Tahun 1983 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3262) sebagaimana telah diubah terakhir ketiga dengan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 (Lembaran Negara Tahun 2007 Nomor 85, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3116); Undang-Undang Nomor 19 Tahun 1997 tentang Penagihan Pajak dengan Surat Paksa (lemabaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 42, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3676); Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3851); Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4389); Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844); Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438); Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 112, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5038); Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 130, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5049); Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1972 tentang Perubahan Nama dan Pemindahan Tempat Kedudukan Pemerintah Daerah Kabupaten Panarukan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1972 Nomor 38); Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1983, tentang Pelaksanaan Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 36, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3258 ); Peraturan Pemerintah Nomor 135 Tahun 2000 tentang Tata Cara Penyitaan Dalam Rangka Penagihan Pajak Dengan Surat Paksa (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 135, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4049); Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 2005 tentang Tata Cara Pengahapusan Piutang Negara/Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 31, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4488) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2006 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 83, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 44652);

5.

6.

7.

8.

9.

10. 11.

12.

13.

14.

15.

Peraturan Daerah Kabupaten Situbondo Nomor 13 Tahun 2008 tentang Pokok-Pokok Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Daerah Kabupaten Situbondo Tahun 2008 Nomor 13). 19. 22. 17. Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2005 tentang Pedoman Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 165. Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Daerah Kabupaten Situbondo. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4593). Dewan Perwakilan Rakyat Daerah selanjutnya disingkat DPRD adalah Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Situbondo. 20.3 16. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5161). 21. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan : 1. Daerah adalah Kabupaten Situbondo. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4578). Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah. Peraturan Daerah Kabupaten Situbondo Nomor 3 Tahun 2008 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Dinas Daerah Kabupaten Situbondo (Lembaran Daerah Kabupaten Situbondo Tahun 2008 Nomor 3). Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 2010 tentang Tata Cara Pemberian dan Pemanfaatan Insentif Pemungutan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 119. . Bupati adalah Bupati Situbondo. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 140. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5179). 3. Peraturan Pemerintah Nomor 91 Tahun 2010 ttg Jenis Pajak Daerah Yang Dipungut Berdasarkan Penetapan Kepala Daerah Atau Dibayar Sendiri Oleh Wajib Pajak (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 153. 18. Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN SITUBONDO Dan BUPATI SITUBONDO MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN DAERAH TENTANG BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH DAN BANGUNAN. 2. 4.

adalah harga rata-rata yang diperoleh dari transaksi jual beli yang terjadi secara wajar. Pemungutan adalah suatu rangkaian kegiatan mulai dari penghimpunan data objek dan subjek pajak atau retribusi. yang menjadi dasar bagi Wajib Pajak untuk menghitung. yang selanjutnya disingkat SSPD. 19. dana pensiun. dalam Masa Pajak sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan perpajakan daerah. Surat Pemberitahuan Pajak Daerah. Pajak yang terutang adalah pajak yang harus dibayar pada suatu saat. baik yang melakukan usaha maupun yang tidak melakukan usaha yang meliputi perseroan terbatas. penentuan besarnya pajak yang terutang sampai kegiatan penagihan pajak atau retribusi kepada Wajib Pajak serta pengawasan penyetorannya. atau organisasi lainnya. atau badan usaha milik daerah (BUMD) dengan nama dan dalam bentuk apa pun. badan usaha milik negara (BUMN). koperasi. yang selanjutnya disingkat SPTPD. 14. adalah surat ketetapan pajak yang menentukan besarnya jumlah pokok pajak. organisasi massa. perkumpulan. 17. 12. beserta bangunan di atasnya. perseroan lainnya. lembaga dan bentuk badan lainnya termasuk kontrak investasi kolektif dan bentuk usaha tetap. adalah surat yang oleh Wajib Pajak digunakan untuk melaporkan penghitungan dan/atau pembayaran pajak. atau nilai perolehan baru. jumlah kekurangan pembayaran pokok pajak. yang selanjutnya disingkat SKPD. 8. 18. kongsi. dan/atau harta dan kewajiban sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan daerah. Perolehan Hak atas Tanah dan/atau Bangunan adalah perbuatan atau peristiwa hukum yang mengakibatkan diperolehnya hak atas tanah dan/atau bangunan oleh orang pribadi atau Badan. dan jumlah pajak yang masih harus dibayar. 6. yayasan. perseroan komanditer. NJOP ditentukan melalui perbandingan harga dengan objek lain yang sejenis. menyetor. objek pajak dan/atau bukan objek pajak. sebagaimana dimaksud dalam undang-undang di bidang pertanahan dan bangunan. organisasi sosial politik. 5. dan bilamana tidak terdapat transaksi jual beli. adalah bukti pembayaran atau penyetoran pajak yang telah dilakukan dengan menggunakan formulir atau telah dilakukan dengan cara lain ke kas umum daerah melalui tempat pembayaran yang ditunjuk oleh Bupati. Nilai Jual Objek Pajak. Masa Pajak adalah jangka waktu 1 (satu) bulan kalender atau jangka waktu lain yang diatur dengan Peraturan Bupati paling lama 3 (tiga) bulan kalender. Surat Ketetapan Pajak Daerah. 16. Badan adalah sekumpulan orang dan/atau modal yang merupakan kesatuan. Hak atas Tanah dan/atau Bangunan adalah hak atas tanah. besarnya sanksi administratif. 15. termasuk hak pengelolaan. firma. 9. yang selanjutnya disebut NJOP. jumlah kredit pajak. Surat Setoran Pajak Daerah. 11. . 13. Kas Umum Daerah adalah Kas Umum Daerah Kabupaten Situbondo. dan melaporkan pajak yang terutang. adalah surat ketetapan pajak yang menentukan besarnya jumlah pokok pajak yang terutang. yang selanjutnya disingkat SKPDKB. persekutuan. 10. Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar. atau NJOP pengganti.4 Dinas Pengelolaan Keuangan Daerah yang selanjutnya disebut DPKD adalah Dinas Pengelolaan Keuangan Daerah Kabupaten Situbondo. Pejabat adalah Pegawai yang diberi tugas tertentu di bidang pajak daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan adalah pajak atas perolehan hak atas tanah dan/atau bangunan. 7.

yang selanjutnya disingkat SKPDN. dan/atau kekeliruan dalam penerapan ketentuan tertentu dalam peraturan perundangundangan perpajakan daerah yang terdapat dalam Surat Pemberitahuan Pajak Terutang. yang selanjutnya disingkat SKPDLB. Surat Ketetapan Pajak Daerah. adalah surat ketetapan pajak yang menentukan tambahan atas jumlah pajak yang telah ditetapkan. 28. . Surat Ketetapan Pajak Daerah Nihil. kewajiban. atau Surat Keputusan Keberatan. Surat Tagihan Pajak Daerah. adalah surat ketetapan pajak yang menentukan jumlah pokok pajak sama besarnya dengan jumlah kredit pajak atau pajak tidak terutang dan tidak ada kredit pajak. Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar Tambahan. 26. serta jumlah harga perolehan dan penyerahan barang atau jasa. yang selanjutnya disingkat STPD. yang ditutup dengan menyusun laporan keuangan berupa neraca dan laporan laba rugi untuk periode Tahun Pajak tersebut. Surat Keputusan Pembetulan. Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar. 21. 22. yang selanjutnya disingkat SKPDKBT. Surat Keputusan Keberatan adalah surat keputusan atas keberatan terhadap Surat Pemberitahuan Pajak Terutang. adalah surat untuk melakukan tagihan pajak dan/atau sanksi administratif berupa bunga dan/atau denda. Penyidik Pegawai Negeri Sipil selanjutnya disingkat PPNS adalah Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan Pemerintah Kabupaten Situbondo yang diberi wewenang khusus oleh undangundang untuk melakukan penyidikan terhadap pelanggaran peraturan daerah Kabupaten Situbondo yang memuat ketentuan pidana. keterangan. Surat Keputusan Pembetulan adalah surat keputusan yang membetulkan kesalahan tulis. Pemeriksaan adalah serangkaian kegiatan menghimpun dan mengolah data. Surat Ketetapan Pajak Daerah Nihil. Surat Ketetapan Pajak Daerah Lebih Bayar. dan/atau bukti yang dilaksanakan secara objektif dan profesional berdasarkan suatu standar pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan daerah dan retribusi dan/atau untuk tujuan lain dalam rangka melaksanakan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan daerah dan retribusi daerah. 24. Pembukuan adalah suatu proses pencatatan yang dilakukan secara teratur untuk mengumpulkan data dan informasi keuangan yang meliputi harta. Surat Ketetapan Pajak Daerah Lebih Bayar. penghasilan dan biaya. 25. Surat Ketetapan Pajak Daerah. Surat Tagihan Pajak Daerah. Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar Tambahan. Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar Tambahan. Surat Ketetapan Pajak Daerah Nihil. Penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan daerah dan retribusi adalah serangkaian tindakan yang dilakukan oleh Penyidik untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tindak pidana di bidang perpajakan daerah dan retribusi yang terjadi serta menemukan tersangkanya. 30. modal. Putusan Banding adalah putusan badan peradilan pajak atas banding terhadap Surat Keputusan Keberatan yang diajukan oleh Wajib Pajak. 27. atau terhadap pemotongan atau pemungutan oleh pihak ketiga yang diajukan oleh Wajib Pajak. Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar. kesalahan hitung. Surat Ketetapan Pajak Daerah Lebih Bayar.5 20. adalah surat ketetapan pajak yang menentukan jumlah kelebihan pembayaran pajak karena jumlah kredit pajak lebih besar dari pada pajak yang terutang atau seharusnya tidak terutang. 29. 23.

pemindahan hak. 2) tukar menukar. b. 12) pemekaran usaha. 3) hibah. karena : 1) jual beli. orang pribadi atau Badan karena konversi hak atau karena perbuatan hukum lain dengan tidak adanya perubahan nama. Objek pajak yang tidak dikenakan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan adalah objek pajak yang diperoleh : a. e. 11) peleburan usaha. hak guna usaha. DAN SUBJEK PAJAK Pasal 2 Dengan nama Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan. b. 4) hibah wasiat. orang pribadi atau Badan karena wakaf. atau 2) di luar pelepasan hak. 7) pemisahan hak yang mengakibatkan peralihan. 8) penunjukan pembeli dalam lelang. 6) pemasukan dalam perseroan atau badan hukum lain. negara untuk penyelenggaraan pemerintahan dan/atau untuk pelaksanaan pembangunan guna kepentingan umum. dan f. hak milik.6 BAB II NAMA. 9) pelaksanaan putusan hakim yang mempunyai kekuatan hukum tetap. d. 10) penggabungan usaha. atau 13) hadiah. OBJEK. b. c. c. d. Hak atas tanah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah: a. karena : 1) kelanjutan pelepasan hak. hak guna bangunan. Pasal 4 (1) Subjek Pajak Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan adalah Orang Pribadi atau Badan yang memperoleh Hak atas Tanah dan/atau Bangunan. (3) (4) . hak pakai. dipungut pajak atas perolehan hak atas tanah dan/atau bangunan. hak milik atas satuan rumah susun. orang pribadi atau Badan yang digunakan untuk kepentingan ibadah. pemberian hak baru. Pasal 3 (1) (2) Objek Pajak Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan adalah perolehan hak atas tanah dan/atau bangunan. hak pengelolaan. Perolehan Hak atas Tanah dan/atau Bangunan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi : a. 5) waris.

peleburan usaha adalah nilai pasar. Nilai Perolehan Objek Pajak tidak kena pajak ditetapkan sebesar Rp.000.00 (enam puluh juta rupiah) untuk setiap Wajib Pajak. dalam hal : a. dasar pengenaan yang dipakai adalah NJOP Pajak Bumi dan Bangunan. Nilai Perolehan Objek Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1). e. d. pemberian hak baru atas tanah di luar pelepasan hak adalah nilai pasar. maka NPOP Pajak Bumi dan Bangunan dapat dikeluarkan oleh Instansi terkait dan bersifat hanya untuk sementara. f. pemekaran usaha adalah nilai pasar. b. tukar menukar adalah nilai pasar. hibah wasiat adalah nilai pasar. pemisahan hak yang mengakibatkan peralihan adalah nilai pasar. peralihan hak karena pelaksanaan putusan hakim yang mempunyai kekuatan hukum tetap adalah nilai pasar. penggabungan usaha adalah nilai pasar.000. (3) (4) (5) (6) . hibah adalah nilai pasar.000. m. waris adalah nilai pasar. Dalam hal NJOP Pajak Bumi dan Bangunan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) belum ditetapkan pada saat terutang Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan. g. c. hadiah adalah nilai pasar. pemberian hak baru atas tanah sebagai kelanjutan dari pelepasan hak adalah nilai pasar. n.000. h. BAB III DASAR PENGENAAN Pasal 5 (1) (2) Dasar pengenaan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan adalah Nilai Perolehan Objek Pajak. jual beli adalah harga transaksi. dan/atau o. Jika Nilai Perolehan Objek Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a sampai dengan huruf n tidak diketahui atau lebih rendah daripada NJOP yang digunakan dalam pengenaan Pajak Bumi dan Bangunan pada tahun terjadinya perolehan. pemasukan dalam perseroan atau badan hukum lainnya adalah nilai pasar. l. Besarnya Nilai Perolehan Objek Pajak tidak kena pajak ditetapkan sebesar Rp 60.00 (tiga ratus juta rupiah). i.7 (2) Wajib Pajak Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan adalah Orang Pribadi atau Badan yang memperoleh Hak atas Tanah dan/atau Bangunan. k. penunjukan pembeli dalam lelang adalah harga transaksi yang tercantum dalam risalah lelang. 300. j.” Dalam hal perolehan hak karena waris atau hibah wasiat yang diterima orang pribadi yang masih dalam hubungan keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat ke bawah dengan pemberi hibah wasiat. termasuk suami/istri.

jual beli adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta. hibah wasiat adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta. besaran pokok Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan yang terutang dihitung dengan cara mengalikan tarif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 dengan NJOP PBB setelah dikurangi NPOPTKP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (4) dan Ayat (5). BAB VI INSTANSI PEMUNGUT Pasal 9 Dinas Pengelolaan Keuangan Daerah adalah instansi yang berwenang memungut Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan. hibah adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta. e. d. Pasal 7 (1) Besaran pokok Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan yang terutang dihitung dengan cara mengalikan tarif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 dengan dasar pengenaan pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) setelah dikurangi Nilai Perolehan Objek Pajak tidak kena pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (4) dan ayat (5). tukar menukar adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta. BAB V WILAYAH PEMUNGUTAN Pasal 8 Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan yang terutang dipungut di wilayah daerah tempat Tanah dan/atau Bangunan berada. (2) Dalam hal NPOP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (2) tidak diketahui atau lebih rendah daripada NJOP yang digunakan dalam pengenaan PBB pada tahun terjadinya perolehan. . c. BAB VII SAAT PAJAK TERUTANG Pasal 10 (1) Saat terutangnya pajak Bea Perolehan atas Tanah dan/atau Bangunan ditetapkan untuk : a.8 BAB IV TARIF DAN CARA PENGHITUNGAN Pasal 6 Tarif Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan ditetapkan sebesar 5% (lima persen). b. waris adalah sejak tanggal yang bersangkutan mendaftarkan peralihan haknya ke kantor bidang pertanahan.

BAB VIII PEMUNGUTAN PAJAK Bagian Kesatu Tata Cara Pemungutan Pasal 11 (1) (2) Pemungutan pajak Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan dilarang diborongkan Setiap wajib pajak Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan wajib membayar pajak terutang tidak berdasarkan adanya surat ketetapan pajak. n. pemisahan hak yang mengakibatkan peralihan adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta. pemekaran usaha adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta. g. pemasukan dalam perseroan atau badan hukum lainnya adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta. putusan hakim adalah sejak tanggal putusan pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum yang tetap. penggabungan usaha adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta. hadiah adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta. i. Wajib pajak yang memenuhi kewajiban perpajakan sendiri dibayar dengan menggunakan SSPD. (2) Pajak yang terutang harus dilunasi pada saat terjadinya perolehan hak sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Kepala kantor bidang pertanahan hanya dapat melakukan pendaftaran Hak atas Tanah atau pendaftaran peralihan Hak atas Tanah setelah Wajib Pajak menyerahkan bukti pembayaran pajak. o. l.9 f. lelang adalah sejak tanggal penunjukkan pemenang lelang. pemberian hak baru atas tanah sebagai kelanjutan dari pelepasan hak adalah sejak tanggal diterbitkannya surat keputusan pemberian hak. Bupati dapat menerbitkan SKPDKB apabila berdasarkan hasil (3) (2) (3) . Pasal 12 (1) Pejabat Pembuat Akta Tanah/Notaris hanya dapat menandatangani akta pemindahan Hak atas Tanah dan/atau Bangunan setelah Wajib Pajak menyerahkan bukti pembayaran pajak. h. peleburan usaha adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta. m. j. k. Kepala kantor yang membidangi pelayanan lelang negara hanya dapat menandatangani risalah lelang Perolehan Hak atas Tanah dan/atau Bangunan setelah Wajib Pajak menyerahkan bukti pembayaran pajak. Pasal 13 (1) Dalam jangka waktu 5 (lima) tahun sesudah saat terutangnya pajak. pemberian hak baru di luar pelepasan hak adalah sejak tanggal diterbitkannya surat keputusan pemberian hak.

10 pemeriksaan atau keterangan lain. Bagian Ketiga Tata Cara Pembayaran dan Penagihan Pasal 17 (1) SKPDKB. Pasal 14 (1) Dalam jangka waktu 5 (lima) tahun sesudah saat terutangnya pajak. Surat Keputusan Pembetulan. c. STPDN. (2) Jumlah kekurangan pajak yang terutang dalam STPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan huruf b ditambah dengan sanksi administratif berupa bunga sebesar 2% (dua persen) setiap bulan untuk paling lama 15 (lima belas) bulan sejak saat terutangnya pajak. Kenaikan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak dikenakan jika Wajib Pajak melaporkan sendiri sebelum dilakukan tindakan pemeriksaan. dan Putusan Banding. (3) KPD yang tidak atau kurang dibayar setelah jatuh tempo pembayaran dikenakan sanksi administratif berupa bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan dan ditagih melalui STPD. SKPDKB sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (3) dan Pasal 13 ayat (1) diatur dengan Peraturan Bupati. SKPDKBT. dari hasil penelitian SPTPD terdapat kekurangan pembayaran sebagai akibat salah tulis dan/atau salah hitung. Bagian Kedua Surat Tagihan Pajak Pasal 16 (1) Bupati dapat menerbitkan STPD jika: a. Pasal 15 (1) Tata cara penerbitan SSPD. Surat Keputusan Keberatan. Jumlah kekurangan pajak yang terutang dalam SKPDKBT sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenakan sanksi administratif berupa kenaikan sebesar 100% (seratus persen) dari jumlah kekurangan pajak tersebut. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengisian dan penyampaian SSPD. dan SKPDKBT sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (3) dan Pasal 13 ayat (1) diatur dengan Peraturan Bupati. Wajib Pajak dikenakan sanksi administratif berupa bunga dan/atau denda. Bupati dapat menerbitkan SKPDKBT apabila ditemukan data yang semula belum terungkap yang menyebabkan penanbahan jumlah pajak yang terutang setelah diterbitkannya SKPDKB. b. (2) Jumlah kekurangan pajak yang terutang dalam SKPDKB sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenakan sanksi administratif berupa bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan dihitung dari pajak yang kurang atau terlambat dibayar untuk jangka waktu paling lama 24 (dua puluh empat) bulan dihitung sejak saat terutangnya pajak. pajak dalam tahun berjalan tidak atau kurang dibayar. pajak yang terutang tidak atau kurang dibayar. yang menyebabkan jumlah pajak yang harus dibayar bertambah merupakan dasar (2) (3) .

c. (3) Keberatan harus diajukan dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) bulan sejak tanggal surat. (5) Keberatan yang tidak memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).SKPDKBT. (4) Keberatan dapat diajukan apabila Wajib Pajak telah membayar paling sedikit sejumlah yang telah disetujui Wajib Pajak. SKPDN. Surat Keputusan Pembetulan. d. (2) Penagihan pajak dengan Surat Paksa dilaksanakan berdasarkan peraturan perundang-undangan. dan Putusan Banding yang tidak atau kurang dibayar oleh Wajib Pajak pada waktunya dapat ditagih dengan Surat Paksa.11 penagihan pajak dan harus dilunasi dalam jangka waktu paling lama 1 (satu) bulan sejak tanggal diterbitkan. Pasal 20 . SKPDKB. Bagian Keempat Keberatan dan Banding Pasal 19 (1) Wajib Pajak dapat mengajukan keberatan hanya kepada Bupati atau pejabat yang ditunjuk atas suatu : a. (2) Bupati atau pejabat yang ditunjuk atas permohonan Wajib Pajak setelah memenuhi persyaratan yang ditentukan dapat memberikan persetujuan kepada Wajib Pajak untuk mengangsur atau menunda pembayaran pajak. SKPDKBT. Pasal 18 (1) Pajak yang terutang berdasarkan SSPD. b. dengan dikenakan bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan. (6) Tanda penerimaan surat keberatan yang diberikan oleh Bupati atau pejabat yang ditunjuk atau tanda pengiriman surat keberatan melalui surat pos tercatat sebagai tanda bukti penerimaan surat keberatan. SKPDLB. dan e. kecuali jika Wajib Pajak dapat menunjukkan bahwa jangka waktu itu tidak dapat dipenuhi karena keadaan di luar kekuasaannya. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pembayaran dan penagihan pembayaran pajak diatur lebih lanjut dengan Peraturan Bupati. dan ayat (4) tidak dianggap sebagai Surat Keberatan sehingga tidak dipertimbangkan. ayat (3). ayat (2). tanggal pemotongan atau pemungutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (2) Keberatan diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia dengan disertai alasan-alasan yang jelas. Pemotongan atau pemungutan oleh pihak ketiga berdasarkan ketentuan peraturan perundangundangan perpajakan daerah. SKPDKB. Surat Keputusan Keberatan.

(5) Dalam hal permohonan banding ditolak atau dikabulkan sebagian. SKPDKBT atau STPD. (3) Dalam hal keberatan Wajib Pajak ditolak atau dikabulkan sebagian. (3) Apabila jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) telah lewat dan Bupati tidak memberi suatu keputusan. Bagian Kelima Pembetulan. Pembatalan. Wajib Pajak dikenai sanksi administratif berupa denda sebesar 50% (lima puluh persen) dari jumlah pajak berdasarkan keputusan keberatan dikurangi dengan pajak yang telah dibayar sebelum mengajukan keberatan. (2) Keputusan Bupati atas keberatan dapat berupa menerima seluruhnya atau sebagian. harus memberi keputusan atas keberatan yang diajukan. SKPDN atau SKPDLB yang dalam penerbitannya terdapat kesalahan . (4) Dalam hal Wajib Pajak mengajukan permohonan banding. (2) Permohonan banding sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan secara tertulis dalam Bahasa Indonesia. keberatan yang diajukan tersebut dianggap dikabulkan. dilampiri salinan dari surat keputusan keberatan tersebut. Bupati dapat membetulkan SPPT. Pasal 21 (1) Wajib Pajak dapat mengajukan permohonan banding hanya kepada Pengadilan Pajak terhadap keputusan mengenai keberatannya yang ditetapkan oleh Bupati. dan Penghapusan atau Pengurangan Sanksi Administratif Pasal 23 (1) Atas permohonan Wajib Pajak atau karena jabatannya.12 (1) Bupati dalam jangka waktu paling lama 12 (dua belas) bulan. kelebihan pembayaran pajak dikembalikan dengan ditambah imbalan bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan untuk paling lama 24 (dua puluh empat) bulan. Pengurangan Ketetapan. sejak tanggal Surat Keberatan diterima. (3) Pengajuan permohonan banding menangguhkan kewajiban membayar pajak sampai dengan 1 (satu) bulan sejak tanggal penerbitan Putusan Banding. SKPDKB. dengan alasan yang jelas dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan sejak keputusan diterima. Pasal 22 (1) Jika pengajuan keberatan atau permohonan banding dikabulkan sebagian atau seluruhnya. menolak. atau menambah besarnya pajak yang terutang. (2) Imbalan bunga sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dihitung sejak bulan pelunasan sampai dengan diterbitkannya SKPDLB. Wajib Pajak dikenai sanksi administratif berupa denda sebesar 100% (seratus persen) dari jumlah pajak berdasarkan Putusan Banding dikurangi dengan pembayaran pajak yang telah dibayar sebelum mengajukan keberatan. SKPD. sanksi administratif berupa denda sebesar 50% (lima puluh persen) sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tidak dikenakan.

Apabila jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (2) telah dilampaui dan Bupati tidak memberikan suatu keputusan. c. (2) Bupati dapat: a. BAB IX PENGEMBALIAN KELEBIHAN PEMBAYARAN Pasal 24 (1) (2) Atas kelebihan pembayaran pajak. mengurangkan atau membatalkan STPD. mengurangkan atau menghapuskan sanksi administratif berupa bunga. permohonan pengembalian pembayaran pajak dianggap dikabulkan dan SKPDLB harus diterbitkan dalam jangka waktu paling lama 1 (satu) bulan. denda. Bupati dalam jangka waktu paling lama 12 (dua belas) bulan sejak diterimanya permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1). mengurangkan atau membatalkan SPPT. Bupati memberikan imbalan bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan atas keterlambatan pembayaran kelebihan pembayaran pajak. Pengembalian kelebihan pembayaran pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dalam jangka waktu paling lama 2 (dua) bulan sejak diterbitkannya SKPDLB. SKPDKBT atau STPD. Jika pengembalian kelebihan pembayaran pajak dilakukan setelah lewat 2 (dua) bulan. dan e. SKPD. dan kenaikan pajak yang terutang menurut peraturan perundangundangan perpajakan daerah. membatalkan hasil pemeriksaan atau ketetapan pajak yang dilaksanakan atau diterbitkan tidak sesuai dengan tata cara yang ditentukan.13 tulis dan/atau kesalahan hitung dan/atau kekeliruan penerapan ketentuan tertentu dalam peraturan perundang-undangan perpajakan daerah. SKPDKB. Apabila Wajib Pajak mempunyai utang pajak. mengurangkan ketetapan pajak terutang berdasarkan pertimbangan kemampuan membayar Wajib Pajak atau kondisi tertentu objek pajak. SKPDN atau SKPDLB yang tidak benar. d. harus memberikan keputusan. dalam hal sanksi tersebut dikenakan karena kekhilafan Wajib Pajak atau bukan karena kesalahannya. Wajib Pajak dapat mengajukan permohonan pengembalian kepada Bupati. BAB X KEDALUWARSA PENAGIHAN Pasal 25 (3) (4) (5) (6) (7) . b. Tata cara pengembalian kelebihan pembayaran pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Bupati. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengurangan atau penghapusan sanksi administratif dan pengurangan atau pembatalan ketetapan pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Bupati. kelebihan pembayaran pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) langsung diperhitungkan untuk melunasi terlebih dahulu utang pajak tersebut.

BAB XI PELAPORAN Pasal 27 (1) Pejabat Pembuat Akta Tanah/Notaris dan kepala kantor yang membidangi pelayanan lelang negara melaporkan pembuatan akta atau risalah lelang Perolehan Hak atas Tanah dan/atau Bangunan kepada Bupati paling lama tanggal 10 (sepuluh) bulan berikutnya. Kedaluwarsa penagihan pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tertangguh apabila : a. Tata cara penghapusan piutang pajak yang sudah kedaluwarsa diatur dengan Peraturan Bupati. (2) Tata cara pelaporan bagi pejabat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Bupati. Pasal 26 Piutang pajak yang tidak mungkin ditagih lagi karena hak untuk melakukan penagihan sudah kedaluwarsa dapat dihapuskan. Pengakuan utang secara tidak langsung sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b dapat diketahui dari pengajuan. diterbitkan Surat Teguran dan/atau Surat Paksa. permohonan. angsuran atau penundaan pembayaran dan permohonan keberatan oleh Wajib Pajak. kedaluwarsa penagihan dihitung sejak tanggal penyampaian surat paksa tersebut. Pengakuan utang pajak secara langsung sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b adalah Wajib Pajak dengan kesadarannya menyatakan masih mempunyai utang pajak dan belum melunasinya kepada Pemerintah Daerah. Dalam hal diterbitkan Surat Teguran dan Surat Paksa sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a. Bupati menetapkan keputusan penghapusan pajak yang sudah kedaluwarsa sebagaimana dimaksud pada ayat (1). atau b. baik langsung maupun tidak langsung.14 (1) Hak untuk melakukan penagihan Pajak menjadi kedaluwarsa setelah melampaui waktu 5 (lima) tahun terhitung sejak saat terutangnya pajak kecuali apabila Wajib Pajak melakukan tindak Pidana perpajakan Daerah. Pasal 28 (2) (3) (4) (5) (1) (2) (3) . ada pengakuan utang pajak dari Wajib Pajak.

memperlihatkan dan/atau meminjamkan buku atau catatan. dan/atau c. (2) Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah pejabat pegawai negeri sipil tertentu di lingkungan Pemerintah Daerah yang diangkat oleh pejabat yang berwenang sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. (2) BAB XII INSENTIF PEMUNGUTAN Pasal 29 (1) (2) (3) Instansi yang melaksanakan pemungutan pajak daerah dapat diberikan insentif atas dasar pencapaian kinerja tertentu. mengumpulkan. b. (3) Wewenang Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah: a. meneliti. dan mengumpulkan keterangan mengenai orang pribadi atau Badan tentang kebenaran perbuatan yang dilakukan sehubungan dengan tindak pidana perpajakan Daerah. Pemberian insentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. c. mencari. mencari. Wajib Pajak yang diperiksa wajib: a. dan meneliti keterangan atau laporan berkenaan dengan tindak pidana di bidang perpajakan Daerah agar keterangan atau laporan tersebut menjadi lebih lengkap dan jelas. sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Hukum Acara Pidana. memberikan keterangan yang diperlukan. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemeriksaan pajak diatur dengan Peraturan Bupati. b. BAB XIII PENYIDIKAN Pasal 30 (1) Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan Pemerintah Daerah diberi wewenang khusus sebagai Penyidik untuk melakukan penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan Daerah. dokumen yang menjadi dasarnya dan dokumen lain yang berhubungan dengan objek pajak yang terutang. meminta keterangan dan bahan bukti dari orang pribadi atau Badan sehubungan dengan tindak pidana di bidang perpajakan Daerah.15 (1) Bupati berwenang melakukan pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan daerah dalam rangka melaksanakan peraturan perundang-undangan perpajakan daerah. memberikan kesempatan untuk memasuki tempat atau ruangan yang dianggap perlu dan memberikan bantuan guna kelancaran pemeriksaan. . menerima. Tata cara pemberian dan pemanfaatan insentif sebagaimana dimaksud ayat (1) diatur dengan Peraturan Bupati.

j. i. Pejabat Pembuat Akta Tanah/Notaris dan kepala kantor yang membidangi pelayanan lelang negara. h. dan dokumen lain. menghentikan penyidikan. e. g. menyuruh berhenti dan/atau melarang seseorang meninggalkan ruangan atau tempat pada saat pemeriksaan sedang berlangsung dan memeriksa identitas orang. 7. dan dokumen lain berkenaan dengan tindak pidana di bidang perpajakan Daerah. pencatatan. catatan. Pasal 32 (1) Pejabat Pembuat Akta Tanah/Notaris dan kepala kantor yang membidangi pelayanan lelang negara. (2) Wajib Pajak yang dengan sengaja tidak menyampaikan SPTPD atau mengisi dengan tidak benar atau tidak lengkap atau melampirkan keterangan yang tidak benar sehingga merugikan keuangan Daerah dapat dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun atau pidana denda paling banyak 4 (empat) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar. benda. yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (1) dikenakan sanksi (2) . BAB XIV KETENTUAN PIDANA Pasal 31 (1) Wajib Pajak yang karena kealpaannya tidak menyampaikan SPTPD atau mengisi dengan tidak benar atau tidak lengkap atau melampirkan keterangan yang tidak benar sehingga merugikan keuangan Daerah dapat dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun atau pidana denda paling banyak 2 (dua) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar. melakukan penggeledahan untuk mendapatkan bahan bukti pembukuan. dan/atau k. memotret seseorang yang berkaitan dengan tindak pidana perpajakan Daerah.500. sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang Hukum Acara Pidana. memeriksa buku. dan/atau dokumen yang dibawa. meminta bantuan tenaga ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan Daerah. memanggil orang untuk didengar keterangannya dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi. melakukan tindakan lain yang perlu untuk kelancaran penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan Daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.000.00 (tujuh juta lima ratus ribu rupiah) untuk setiap pelanggaran. f.16 d. (4) Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memberitahukan dimulainya penyidikan dan menyampaikan hasil penyidikannya kepada Penuntut Umum melalui Penyidik Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia. serta melakukan penyitaan terhadap bahan bukti tersebut. yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (1) dan ayat (2) dikenakan sanksi administratif berupa denda sebesar Rp.

Pasal 34 Tindak pidana di bidang perpajakan Daerah tidak dituntut setelah melampaui jangka waktu 5 (lima) tahun sejak saat terutangnya pajak atau berakhirnya Masa Pajak atau berakhirnya Bagian Tahun Pajak atau berakhirnya Tahun Pajak yang bersangkutan.17 administratif berupa denda sebesar Rp. Agar setiap orang dapat mengetahuinya.T. Ditetapkan di Situbondo Pada tanggal BUPATI SITUBONDO. DADANG WIGIARTO. H. Drs. Pasal 37 Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.H Diundangkan di Situbondo Pada tanggal SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN SITUBONDO. BAB XV KETENTUAN PENUTUP Pasal 36 Hal-hal yang belum diatur dalam Peraturan Daerah ini sepanjang mengenai pelaksanaannya ditetapkan lebih lanjut dengan Peraturan Bupati. Pasal 35 Denda sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 merupakan penerimaan Negara.000.M.19541010 197603 1 010 LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SITUBONDO TAHUN 2011 NOMOR . Pembina Utama Muda (IV/c) NIP..00 (dua ratus lima puluh ribu rupiah) untuk setiap laporan. memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kabupaten Situbondo. S. S. (3) Kepala kantor bidang pertanahan yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (3) dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. HADI WIJONO.M. 250.

Penerimaan yang berasal dari Pendapatan Asli Daerah (PAD) merupakan sumber penerimaan yang signifikan bagi pembiayaan pembangunan pada daerah otonom. dengan tidak memberikan kewenangan kepada Daerah untuk menetapkan jenis pajak baru akan memberikan kepastian bagi masyarakat dan dunia usaha yang pada gilirannya diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat dalam memenuhi kewajiban perpajakannya. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 telah menjelaskan prinsip pelaksanaan Pajak Daerah tersebut adalah prinsip demokrasi. kemampuan daerah untuk membiayai kebutuhan pengeluarannya semakin besar karena Daerah dapat dengan mudah menyesuaikan pendapatannya sejalan dengan adanya peningkatan basis Pajak Daerah dan diskresi dalam penetapan tarif. yang terjadi melalui proses penyerahan sejumlah kewenangan Pemerintah ke Pemerintah Daerah. PENJELASAN UMUM Terwujudnya pelaksanaan otonomi daerah. Keinginan daerah untuk mengoptimalkan potensi yang dimilikinya guna peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) telah diakomodir dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009.18 PENJELASAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SITUBONDO NOMOR TAHUN 2011 TENTANG BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH DAN BANGUNAN I. Dan salah satu komponen pendapatan asli daerah adalah penerimaan yang berasal dari pajak daerah. pemerataan dan keadilan. Dengan diberlakukannya Peraturan Daerah ini. PENJELASAN PASAL DEMI PASAL . II. memerlukan banyak faktor pendukung. maka Peraturan Daerah yang mengatur Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan perlu ditetapkan dengan Peraturan Daerah yang telah didasarkan pada ketentuan Undang-Undang Nomor 28 tahun 2009. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah memberikan ruang bagi Pemerintah Daerah untuk dapat meningkatkan Pendapatan Asli Daerah melalui pemungutan pajak. dan akuntabilitas dengan memperhatikan potensi daerah. Salah satu faktor pendukung yang secara signifikan menentukan keberhasilan otonomi daerah adalah kemampuan daerah untuk membiayai/melaksanakan kewenangan yang dimilikinya. Akan tetapi guna mencegah pemungutan Pajak Daerah yang berlebihan. Di pihak lain. peran serta masyarakat.

yang bukan perjanjian sewa menyewa atau perjanjian pengolahan tanah. : Cukup Jelas. dalam jangka waktu paling lama 25 (dua puluh lima) tahun guna perusahaan pertanian. segala sesuatu asal tidak betentangan dengan jiwa dan ketentuan-ketentuan peraturan perundang-undangan. perikanan atau peternakan. Yang dimaksud “Hak Milik” adalah hak turun temurun. : : : Cukup Jelas. : Cukup Jelas. Dengan adanya pengertian istilah tersebut dimaksudkan untuk mencegah timbulnya pengertian dalam memahami dan melaksanakan pasal-pasal yang bersangkutan. benda bersama. Yang dimaksud “Hak Guna Usaha” adalah hak untuk mengusahakan tanah yang dikuasai oleh Negara. Yang dimaksud ”Hak Pakai” adalah hak untuk menggunakan dan/atau memugut hasil dari tanah yang dikuasai langsung oleh Negara atau tanah milik orang lain.19 Pasal 1 : Pasal ini memuat pengertian dan istilah yang dipergunakan dalam Peraturan Daerah ini. sehingga Wajib Retribusi dan Aparatur dalam menjalankan hak dan kewajibannya dapat berjalan dengan lancar dan akhirnya dapat dicapai tertib administrasi. Cukup Jelas. Cukup Jelas. : Cukup Jelas. . meliputi juga hak atas bersama-sama. : Cukup Jelas. : Cukup Jelas. Yang dimaksud “Hak Milik Atas Satuan Rumah Susun” adalah hak milik atas satuan yang bersifat perseorangan dan terpisah. terkuat dan terpenuh yang dapat dipunyai orang atas tanah. dan tanah bersama. yang semuanya satu kesatuan yang tidak terpisahkan dengan satuan yang bersangkutan. Yang dimaksud “Hak Pengelolaan” adalah hak menguasai dari Negara yang kewenangan pelaksanaannya sebagian dilimpahkan kepada pemegangnya. yang memberi wewenang dan kewajiban yang ditentukan dalam keputusan pemberiannya oleh pejabat yang berwenang memberikannya atau dalam perjanjian dengan pemilik tanahnya. : Cukup Jelas. Yang dimaksud “Hak Guna Bangunan” adalah hak untuk mendirikan dan mempunyai bangunan-bangunan atas tanah yang bukan miliknya sendiri dengan jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh) tahun. Pasal 2 Pasal 3 Ayat (1) Ayat (2) Ayat (3) Huruf a Huruf b : Huruf c : Huruf d : Huruf e : Huruf f : Ayat (4) Pasal 4 Pasal 5 Pasal 6 Pasal 7 Pasal 8 Pasal 9 : : Cukup Jelas.

: Cukup Jelas. : Cukup Jelas. : Cukup Jelas. : Cukup Jelas. : Cukup Jelas. Ayat (2) Ayat (3) Pasal 12 Ayat (1) Ayat (2) Ayat (3) Pasal 13 Pasal 14 Pasal 15 Pasal 16 Pasal 17 Pasal 18 Pasal 19 Pasal 20 Pasal 21 Pasal 22 Pasal 23 Pasal 24 Pasal 25 Ayat (1) Ayat (2) Ayat (3) Ayat (4) Ayat (5) Pasal 26 Pasal 27 Pasal 28 Pasal 29 Ayat (1) Ayat (2) Ayat (3) Pasal 30 : : : Cukup Jelas. Pemerintah Daerah dapat melakukan kerjasama dengan Pihak Ketiga guna pengelolaan barang milik daerah melalui pemanfaatan barang daerah dengan berpedoman pada peraturan perundang-undangan yang berlaku. : Yang dimaksud dengan “risalah lelang” adalah kutipan risalah lelang yang ditandatangani oleh Kepala Kantor yang membidangi pelayanan lelang Negara. : Cukup Jelas. Cukup Jelas. Cukup Jelas. : Cukup Jelas. Cukup Jelas. : Cukup Jelas. : Cukup Jelas. : Cukup Jelas. Cukup Jelas. : Cukup Jelas. : Cukup Jelas. : Cukup Jelas. : Cukup Jelas. : : : : : : Cukup Jelas. Yang dimaksud “Surat Paksa” adalah Surat Perintah Membayar Utang Pajak dan biaya menagih pajak. Akan tetapi. Cukup Jelas. : : : Pemberian besarnya insentif dilakukan melalui pembahasan yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah yang membidangi masalah keuangan. Cukup Jelas. : Cukup Jelas. : Cukup Jelas. . : : Pemungutan retribusi tidak dapat diborongkan diartikan bahwa pemungutan retribusi tidak dapat diserahkan kepada Pihak Ketiga. Cukup Jelas. Cukup Jelas.20 Pasal 10 Pasal 11 Ayat (1) : Cukup Jelas.

: Cukup Jelas. : Cukup Jelas.21 Pasal 31 Pasal 32 Pasal 33 Pasal 34 Pasal 35 Pasal 36 Pasal 37 : Cukup Jelas. : Cukup Jelas. : Cukup Jelas. TAMBAHAN LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SITUBONDO TAHUN 2011 NOMOR . : Cukup Jelas. : Cukup Jelas.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful