PENGARUH INDEPENDENSI DAN EFEKTIFITAS KOMITE AUDIT TERHADAP MANAJEMEN LABA (Studi Empiris pada Perusahaan Manufaktur yang

Terdaftar di BEI) Sugeng Pamudji Aprillya Trihartati Universitas Diponegoro Abstract The role of committees in ensuring the quality of corporate financial reporting has come under considerable scrutiny due to recent “earnings management” cases. The purpose of this paper is to examine the association between the characteristics of audit committees (independency, financial expertise, activity, and time commitment) and earnings management as measured by the level of discretionary accruals. This study use data of 56 manufacturing companies listed IDX in 2005 until 2007. accountancy data were collected from Indonesian Capital Market Directory (ICMD). Data of audit committees were collected from annual report. The data then analyzed unsing multiple regression analysis. Theresult of this study shows that a whole of audit committees characteristics have no significant impact on the earnings management. It doesn’t support the regulatin made bay Bapepam. It shows that formation of audit committees with their characteristics in this study just describe mandatory of the of the recent rules. Keywords: Audit committees, corporate governance, earnings management, discretionary accruals. pelaporan keuangan. Komite audit bertugas PENDAHULUAN membantu dewan komisaris untuk Konsep Good Corporate Governance memastikan bahwa: (i) laporan keuangan (GCG) semakin banyak dikemukakan oleh disajikan secara wajar sesuai dengan para praktisi bisnis sebagai salah satu alat prinsip akuntansi yang berlaku umum, (ii) untuk mencegah terjadinya kasus keuangan. struktur pengendalian internal perusahaan Salah satu komponen yang berperan dilaksanakan dengan baik, (iii) pelaksanaan penting dalam proses penerapan tata kelola audit internal maupun eksternal perusahaan yang baik adalah komite audit. dilaksanakan sesuai dengan standar audit Peranan komite audit dalam menjamin yang berlaku, dan (iv) tindak lanjut temuan kualitas pelaporan keuangan perusahaan hasil audit dilaksanakan oleh manajemen telah menjadi sorotan sejak terjadinya (Komite Nasional Kebijakan Governance skandal akuntansi yang menjadi perhatian 2006). Dengan adanya komite audit yang publik. Contoh dan kasus tersebut adalah efektif diharapkan tindak manajemen laba adanya kasus manajemen laba yang dapat dibatasi. berhubungan dengan kecurangan manajemen perusahaan (seperti kasus waste management dan kasus WorldCom) dan kebangkrutan Enron. Komite audit merupakan salah satu komponen GCG yang berperan penting dalam sistem pelaporan keuangan yaitu dengan mengawasi partisipasi manajemen dan auditor independen dalam proses Keberadaan komite audit merupakan perangkat yang penting dalam penerapan tata kelola perusahaan yang baik. Di Indonesia, keberadaan komite audit dipertegas dengan keputusan Bapepam yang dituangkan dalam SE BAPEP AM No. 03 tahun 2000 mengenai pembentukan komite audit dan juga Kep. Direksi BEJ

Siregar dan Utama (2005) tidak menemukan pengaruh dari keberadaan komite audit terhadap jenis manajemen laba yang dilakukan perusahaan. Oleh karena itu. sekretaris perusahaan. penelitian ini bertujuan untuk meneliti apakah peraturan-peraturan yang mengatur tentang komite audit tersebut dapat membantu meningkatkan efektivitas kinerja komite audit dalam mengurangi kemungkinan terjadinya manajemen laba. dan keberadaan komite audit yang hanya terdiri dari komisaris independen yang bertemu lebih dari dua kali dalam satu tahun berhubungan negatif dengan tingkat discretionary accruals. keberadaan komite audit saja belum cukup untuk menghindarkan perusahaan dari kasus-kasus keuangan terutama kasus manajemen laba. (2001) menemukan bahwa komite audit yang terdiri dari lebih banyak komisaris independen yang tidak menjabat sebagai manajer di perusahaan lain. adanya mandat formal yang merupakan tanggung jawab komite untuk memeriksa laporan keuangan dan auditor ekstemal. Fitriasari (2007) juga tidak menemukan pengaruh aktivitas dan financial literacy terhadap jenis manajemen laba. Penelitian-penelitian terdahulu telah membukukan adanya pengaruh yang signifikan antara karakteristik komite audit terhadap manajemen laba. Diharapkan bahwa perusahaan yang telah mempunyai komite audit dapat terhindar dari masalah manajemen laba. Salah seorang anggota komite audit harus berasal dari komisaris independen yang merangkap sebagai ketua komite audit. (2003) melaporkan bahwa jumlah pertemuan komite audit berhubungan negatif dengan manajemen laba. komite audit. Peraturan tersebut mewajibkan perusahaan yang terdaftar pada BEJ harus memiliki komite audit. hasil dari kedua penelitian di Indonesia sebelumnya tidak konsisten dengan penelitian yang dilakukan di luar Indonesia. Bapepam dan BEI telah mengeluarkan peraturan yang memperkuat independensi dan efektivitas komite audit. wewenang dan hak komite audit dalam perusahaan. komite audit yang memiliki minimal satu anggota yang merupakan ahli keuangan. 339 tahun 2001 mengenai peraturan pencatatan efek di Bursa yang mencakup komisaris independen. Chtourou et al. Oleh karena itu. Namun.: Kep29/PM/2004 pada tanggal 24 September 2004. Penelitian-penelitian di Indonesia yang mengulas tentang karakteristik komite audit jumlahnya masih sangat terbatas. Komite audit ternyata juga membutuhkan independensi dan efektivitasnya dalam mengawasi proses pelaporan keuangan. peraturan tersebut dipertegas lagi dengan dikeluarkannya Keputusan Ketua BAPEPAM No. dan standar laporan keuangan per sektor. tugas. masalah yang diajukan dalam penelitian ini adalah "Adakah Pengaruh Independensi dan Efektivitas Komite Audit Terhadap Tingkat Manajemen Laba ?" TINJAUAN PUSTAKA PENGEMBANGAN HIPOTESIS Teori Keagenan Teori keagenan adalah teori yang mendasari hubungan antara pemilik atau DAN . Komite audit diwajibkan beranggotakan minimal tiga orang independen dan minimal salah satunya memiliki kemampuan dan pengetahuan dalam bidang akuntansi atau keuangan. Salah satunya yaitu mewajibkan perusahaan yang terdaftar di BEl memiliki komite audit. keterbukaan. Hal ini mendorong dilakukannya penelitian lebih lanjut tentang pengaruh komite audit terhadap manajemen laba yang akan lebih menekankan pada karakteristik komite auditnya. Klein (2002) menemukan bahwa terdapat hubungan negatif antara komite audit yang independen dengan akrual tidak normal sebagai proksi manajemen laba. Peraturan terse but berisi tentang karakter yang hams dimiliki oleh komite audit. Sedangkan di Indonesia. Berdasarkan penjelasan tersebut.No. Selain itu. Xie et al.

Dalam konsep teori keagenan. Sementara itu. prinsipal menyusun desain biaya pemonitoran untuk membatasi penyimpangan yang dilakukan oleh agen. Prinsipal adalah pihak yang mensuplai modal. Sedangkan. Asimetri informasi dan konflik kepentingan yang terjadi antara prinsipal dan agen mendorong agen untuk menyajikan informasi yang tidak sebenarnya kepada prinsipal. Salah satu mekanisme yang diharapkan dapat mengontrol biaya keagenan adalah dengan menerapkan Good Corporate Governance .pemegang saham sebagai prinsipal dan manajemen sebagai agen. Jika kedua belah pihak berhubungan untuk memaksimalisasi utilitas. Teori keagenan mempunyai asumsi bahwa masing-masing individu termotivasi oleh kepentingan dirinya sendiri sehingga menimbulkan konflik kepentingan antara prinsipal dan agen. agen adalah pihak yang mensuplai tenaga kerja (Watts dan Zimmerman 1986). Dalam beberapa hal. Konflik kepentingan semakin tinggi terutama karena prinsipal tidak dapat mengawasi aktivitas agen (Watts dan Zimmerman 1986). pinjaman. prinsipal akan memberi imbalan kepada agen untuk menjamin agen tidak mengambil tindakan yang dapat menimbulkan kerugian bagi prinsipal (Sanjaya 2008) . manajemen sebagai agen seharusnya melakukan tindakan selaras dengan kepentingan prinsipal. prinsipal mendelegasikan beberapa kewenangan kepada agen untuk mengambil keputusan. agen mempunyai lebih banyak informasi tentang kapasitas diri. Corporate Governance Adanya pemisahan kepemilikan oleh prinsipal dan pengendalian oleh agen dalam sebuah perusahaan cenderung menimbulkan konflik keagenan diantara prinsipal dan agen. Laporan keuangan digunakan agen untuk mempertangungja""abkan kinerjanya. Prinsipal tidak mempunyai informasi yang cukup tentang kinerja agen. maupun kontrak kompensasi. Perancangan kontrak yang tepat untuk menyelaraskan kepentingan antara agen dan prinsipal merupakan inti dari teori keagenan. Laporan keuangan juga merupakan sarana bagi prinsipal untuk menilai. Dalam hal ini. Agen memanfaatkan adanya asimetri informasi yang dimilikinya untuk menyembunyikan beberapa informasi yang tidak diketahui oleh prinsipal. Motivasi untuk mendapatkan kompensasi bonus mendorong manajemen untuk merekayasa angka-angka akuntansi yang ada dalam laporan keuangan. lingkungan kerja dan perusahaan secara keseluruhan. Agen termotivasi untuk memaksimalkan pemenuhan kebutuhan ekonomi dan psikologis yaitu dalam hal memperoleh investasi. Prinsipal merupakan pihak yang memiliki kepentingan dan memberikan perintah pada agen untuk bertindak atas nama prinsipal sesuai dengan apa yang diinginkan oleh prinsipal. maka ada kemungkinan agen tidak selalu bertindak untuk kepentingan utama prinsipal. Watts dan Zimmerman (1986) menyatakan bahwa laporan keuangan yang dibuat dengan angka-angka akuntansi diharapkan dapat meminimalkan konflik diantara pihak-pihak yang berkepentingan. Pihak prinsipal termotivasi mengadakan kontrak untuk memaksimalkan kepentingan bagi kesejahteraan dirinya melalui adanya peningkatan laba. Untuk itu. mengukur clan mengawasi sampai sejauh mana agen tersebut bekerja untuk meningkatkan ksesejahteraannya dan dijadikan dasar dalam menentukan jumlah kompensasi yang akan diterima oleh agen. Hal 1m menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan informasi yang dimiliki oleh prinsipal dan agen. Ketidakseimbangan inilah yang disebut dengan asimetri informasi. Jensen dan Meckling (1976) dalam Sanjaya (2008) menggambarkan hubungan keagenan sebagai hubungan yang timbul karena adanya kontrak yang diterapkan antara pemilik perusahaan atau pemegang saham (prinsipal) dan manajemen (agen).

Bukan merupakan orang yang mempunyai wewenang dan tanggung jawab untuk merencanakan. atau mengendalikan kegiatan emiten atau perusahaan publik dalam waktu enam bulan terakhir sebelum diangkat . jasa non audit dan atau jasa konsultasi lain kepada emiten atau perusahaan publik yang bersangkutan dalam waktu enam bulan terakhir sebelum diangkat oleh komisaris. dan standar laporan keuangan per sektor. the oversight of the financial reporting and auditing process. yang diambil dari panduan yang telah ditetapkan OECD dan Komnas GCG. Oleh karena itu. 03 tahun 2000 mengenai pembentukan komite audit. karyawan serta para pemegang kepentingan intern dan ekstern lainnya yang berkaitan dengan hakhak dan kewajiban mereka. 339 tahun 2001 mengenai peraturan pencatatan efek di Bursa yang mencakup komisaris Independen. Kemudian. Untuk menjamin independensi. Namun. Komite Audit dan Manajemen Laba "Audit Committee" means a committee comprzsmg a majority of independent or non executive members of governing body of an entity to which has been assigned. Bapepam (2004) menetapkan persyaratan bagi pihakpihak yang menjadi anggota komite audit yaitu: 1. Menurut FCGr (2000) corporate governance adalah seperangkat peraturan yang mengatur hubungan antara pemegang saham. sekretaris perusahaan. "Governing body" means the entity's board of directors. trustees or governors. atau pihak lain yang memberikan jasa audit. komite audit. Kantor Konsultan Hukum. pihak kreditur. 2. 2. keterbukaan. Salah satu komite fungsional dalam dimensi penerapan GCG tersebut adalah komite audit. Tujuh dimensi tersebut antara lain komitmen terhadap tata kelola perusahaan. Responsibility (Pertanggungjawaban) Menurut IICG. or other equivalent body or person. Independensi Komite Audit Independensi merupakan landasan dari efektivitas komite audit (Tugiman 1995). Komite audit dibentuk sebagai implementasi dari prinsip akuntabilitas. Direksi BEl No. perlakuan terhadap pemegang saham dan peran pihak berkepentingan lainnya. peraturan tentang keberadaan komite audit saja belum cukup untuk meningkatkan kualitas pengawasan terhadap kinerja perusahaan. Bukan merupakan orang dalam Kantor Akuntan Publik. atau dengan kata lain suatu sistem yang mengatur dan mengendalikan perusahaan. Transparency (Transparansi). Accountability (Akuntabilitas). terdapat tujuh (7) dimensi atau konsep penerapan GCG. Menurut FCGI (2000) ada empat unsur penting dalam corporate governance.: Kep-29/PM/2004 pada tanggal 24 September 2004 tentang pembentukan dan pedoman pelaksanaan kerja komite audit. amongst other functions. yaitu: 1. tata kelola dewan komisaris.: Kep-411PM/2003 yang mengatur tentang pembentukan dan pedoman pelaksanaan kerja komite audit. Dengan adanya peraturan tersebut komite audit menjadi lebih terarah dalam melaksanakan tugasnya.(GCG). Kinerja komite audit menjadi efektif jika para anggotanya memiliki kemandirian dalam menyatakan sikap dan pendapat. 3. transparansi dan akuntabilitas. Pada tahun 2000 Bapepam mengeluarkan SE BAPEPAM No. tugas dan tanggung jawab komite audit. dewan direksi. peraturan tersebut direvisi dengan dikeluarkannya Keputusan Ketua BAPEPAM No. memimpin. (Parker and Daves 1995). Fairness (Keadilan). pengurus (pengelola) perusahaan. 4. Bapepam mengeluarkan Keputusan Ketua BAPEPAM No. pemerintah. Pada tahun selanjutnya Ketua BEI mengeluarkan Kep. Peraturan tersebut mengatur tentang kriteria khusus bagi seseorang yang akan menjabat sebagai ketua maupun anggota komite audit. komite-komite fungsional.

Dalam hal anggota komite audit memperoleh saham akibat suatu peristiwa hukum maka dalam jangka waktu paling lama enam bulan setelah diperolehnya saham tersebut wajib mengalihkan kepada pihak lain. Tidak mempunyai saham baik langsung maupun tidak langsung pada emiten atau perusahaan publik.oleh komisaris. dan membahas perbaikan-perbaikan yang perlu dilakukan. Mereka menekankan bahwa pengalaman bekerja pada perusahaan lain mulanya dapat meningkatkan efektivitas anggota komite audit. Ia juga menemukan bukti bahwa kecurangan dan penyajian kembali laba semakin banyak terjadi ketika anggota komite audit tidak memiliki kompetensi di bidang keuangan. Abbot et al. Tidak mempunyai: a. 3. baik secara horisontal maupun secara vertikal dengan komisaris. Pertemuan formal komite audit merupakan hal penting bagi kesuksesan komite audit. independen. Karakteristik ini menurut Levitt dan BRC (dalam Bryan et al. keadaan tersebut seeara cepat berbalik ketika anggota komite audit bekerja di banyak perusahaan lain (lebih dari tiga perusahaan). keahlian di bidang keuangan. Namun. 2004) menyatakan bahwa efektivitas komite audit akan menurun ketika anggotanya bekerja di banyak perusahaan. mengevaluasi kualitasnya. Ataina (2000) berpendapat bahwa evaluasi komite audit sebaiknya dilakukan oleh akuntan publik yang independen yang bukan akuntan publik perusahaan. Namun. Hubungan keluarga karena perkawinan dan keturunan sampai derajat kedua. (2004) menemukan bukti bahwa komite audit yang melakukan pertemuan kurang dari jumlah minimum memiliki kemungkinan lebih besar untuk menyajikan kembali labanya. (dalam Bryan et al. akuntan publik juga menerapkan sistem peer review (evaluasi kinerja suatu Kantor Akuntan Publik (KAP) oleh KAP lain) dalam melakukan evaluasi kinerja sehingga hasil evaluasi lebih bersifat rdiabel. pada umumnya komite audit bersidang dua sampai tiga kali dalam setahun yaitu sebelum laporan . b. kecuali komisaris 3. Pertemuan ini diselenggarakan untuk membahas keenam faktor di atas. Selain itu. Jumlah pertemuan dapat ditentukan berdasarkan ukuran perusahaan dan besarnya tugas yang diberikan kepada komite audit. direksi. Frekuensi dan isi pertemuan tergantung pada tugas dan tanggung jawab yang diberikan kepada komite audit. dan komitmen waktu. Faktor Sekunder Faktor sekunder yang mempengaruhi efektivitas komite audit adalah pertemuan formal dan informal. Komite audit juga hams mereview hasil evaluasi tersebut dengan seluruh anggota dewan komisaris (Ataina 2000). Pendapat ini didukung oleh Sommer (1991) dalam Ataina (2000) yang menyatakan bahwa auditor mempunyai posisi yang strategis untuk mengevaluasi kinerja komite audit. atau pemegang saham utama emiten atau perusahaan publik. 2004) memiliki kemungkinan dapat mempengaruhi proses pelaporan keuangan. Price Waterhouse (dalam Ataina 2000) merekomendasikan bahwa komite audit secara periodik harus mengevaluasi kinerjanya. Tidak memiliki hubungan usaha baik langsung maupun tidak langsung yang berkaitan dengan kegiatn emiten atau perusahaan publik. 2004) menyebutkan karakteristik penting lain yang harus dimiliki komite audit adalah frekuensi pertemuan. Ketiga faktor tersebut merupakan kunci penentu efektifitas komite audit. Efektivitas Komite Audit BRC (dalam Bryan et al. 4. Hal ini disebakan karena auditor merupakan pihak yang sering bergaul dengan berbagai komite audit suatu perusahaan. Core et al.

manajemen laba dianggap sebagai perbuatan curang. auditor internal. Manajemen laba dilakukan dengan memanfaatkan ketidaktahuan orang lain akan informasi mengenai perusahaan yang sesungguhnya. salah satunya adalah manajemen laba. Oleh karena itu. komite juga melakukan komunikasi dengan manajemen. cenderung untuk memilih prosedur-prosedur akuntansi yang dapat menaikkan labanya. pengungkapan informasi tersebut kurang bermanfaat untuk dilakukan.keuangan dikeluarkan. Dari kedua pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa manajemen laba merupakan aktivitas manajerial untuk "mempengaruhi" dan mengintervensi laporan keuangan. dan auditor eksternal. . karena fleksibilitas yang diberikan oleh GAAP memberikan dorongan kepada manajer untuk memodifikasi laporan keuangan agar dapat menghasilkan laporan laba seperti yang diinginkan. Tiga hipotesis PAT yang dapat dijadikan dasar pemahaman tindakan manajemen laba yaitu (Watts dan Zimmerman 1986): 1. manajemen laba merupakan proses untuk mengambil langkah-Iangkah tertentu yang disengaja dalam batas-batas prinsip akuntansi berterima umum untuk menghasilkan tingkat yang diinginkan dari laba yang dilaporkan. Karena. Selain pertemuan formal. 2. meskipun menciptakan distorsi dalam pelaporan laba (Watts dan Zimmerman 1986). akuntan publik. Manajemen laba yang dilakukan seorang manajer merupakan ”permainan" memilih metode dan standar akuntansi yang sesuai dengan kebutuhannya dan diungkapkan dalam laporan keuangan. 2000) Manajemen Laba Menurut Davidson. Berbagai agenda yang harus dibicarakan dapat dilakukan dalam pertemuan formal maupun dalam pertemuan informal (Ataina. Standar akuntansi hanya mensyaratkan agar semua perubahan metode akuntansi itu diungkapkan dengan jelas dalam laporan keuangan. publik cenderung hanya melihat laporan keuangan yang merupakan informasi utama tanpa memperhatikan informasi-informasi lain yang menyertai laporan keuangan itu. serta sebelum RUPS tahunan (Ataina 2000). sesudah pelaksanaan audit dan sebelum laporan keuangan dikeluarkan. Bonus plan hypothesis Bonus plan hypothesis menegaskan bahwa manajer perusahaan dengan rencana bonus lebih cenderung untuk memilih prosedur akuntansi yang membuat laba yang dilaporkan menjadi lebih tinggi. Biasanya ketua komite audit membuat agenda rapat dengan menerima masukan dari manajemen. Namun. Akuntansi akrual yang dicatat dengan basis akrual merupakan subjek managerial discretion. Motivasi Manajemen Laba Perilaku manajemen laba dapat dijelaskan oleh Positive Accounting Theory (PAT) dan Agency Theory. khususnya dalam catatan kaki. Stickney. dan Weil (1987) dalam Sulistyanto (2008). dan auditor internal. Debt (equity) hypothesis Debt (equity) hypothesis menegaskan bahwa perusahaan dengan rasio debt to equity lebih besar. National Association of Certified Fraud Examiners (dalam Sulistyanto 2008) berpendapat bahwa manajemen laba adalah kesalahan atau kelalaian yang disengaj a dalam membuat laporan mengenai fakta material atau data akuntansi sehingga menyesatkan ketika semua informasi itu dipakai untuk membuat pertimbangan yang akhimya akan menyebabkan orang yang membacanya akan mengganti atau mengubah pendapat atau keputusannya. Kebebasan manajer untuk memilih dan menggunakan standar akuntansi serta ketidaktahuan stakeholder terhadap informasi yang diungkapkan dalam catatan kaki itulah yang mendorong perilaku oportunis seorang manajer.

Menggeser pendapatan. Motivasi Pajak 5. Political cost hypothesis Political cost hypothesis menegaskan bahwa perusahaan cenderung memilih dan menggunakan metode-metode akuntansi yang dapat menurunkan laba bersih yang dilaporkan. periode biaya atau Manajemen laba dapat dilakukan dengan menggeser periode atau pendapatan. Contohnya mempercepat/menunda pengeluaran untuk penelitian dan pengembangan sampai pada peri ode akuntansi berikutnya. dalam hubungan keagenan. Memanfaatkan peluang untuk membuat estimasi akuntansi. Mengubah metode akuntansi. estimasi biaya garansi. estimasi kurun waktu depresiasi aktiva tetap atau amortisasi aktiva tak berwujud. mempercepat/menunda pengeluaran promosi sampai periode berikutnya. Namun. dll. Ketiga hipotesis tersebut merupakan sisi lain dari teori agensi yang menekankan pentingnya penyerahan wewenang pengelolaan perusahaan dari pemilik kepada pihak lain yang mampu mejalankan perusahaan dengan lebih baik. Contohnya mengubah metode depresiasi aktiva tetap. Sebagai penerima wewenang. tidak hanya prinsipal tetapi juga agen. .3. Upaya untuk merekayasa informasi inilah yang disebut dengan manajemen laba. Investor harus menanggung implikasi berupa hilangnya kesempatan memperoleh return dan kehilangan modal yang telah ditanamkannya. Pemerintah harus menanggung implikasi berupa kehilangan kesempatan untuk memperoleh pajak. Motivasi Kontraktual Lainnya 3. Pergantian CEO 6. Motivasi Pasar Modal Teknik Manajemen Laba Teknik dan pola manajemen laba menurut Setiawati dan Na'im (2000) dapat dilakukan dengan tiga teknik yaitu: 1. manajer seharusnya bekerja untuk pemilik. Akuntan publik harus menanggung implikasi berupa keraguan masyarakat terhadap komitmen etis dan moralnya karena menjalin konspirasi dengan dunia usaha. Implikasi Manajemen Laba Ketidakselarasan perilaku atau tujuan antara pemilik dan manajer perusahaan menimbulkan agency cost dalam hubungan keagenan apa pun. Manajer perusahaan harus menanggung akibat dari manajemen laba yaitu berupa kemungkinan kesulitan keuangan atau kebangkrutan di masa depan. mengatur saat penjualan aktiva tetap yang sudah tidak dipakai. Motivasi Politik 4. Hal ini dilakukan manajer dengan menyajikan informasi yang telah direkayasa. mempercepat/menunda pengiriman produk ke pelanggan. 3. Regulator harus menanggung implikasi berupa hilangnya integritas dan kredibilitas karena regulasinya mudah dipermainkan. Manajemen laba dapat dilakukan dengan mengubah metode akuntansi yang digunakan untuk mencatat suatu transaksi. manajer memanfaatkan peluang tersebut untuk menyejaterakan dirinya sendiri. termasuk hubungan di dalam kontrak kerja antara pemegang saham dan manajer perusahaan. Manajemen dapat mempengaruhi laba melalui perkiraan terhadap estimasi akuntansi antara lain estimasi tingkat piutang tak tertagih. 2. Oleh sebab itu. dari metode depresiasi angka tahun ke metode depresiasi garis lurus. Motivasi-motivasi yang sejalan dengan hipotesis teori akuntansi positif yang telah dijelaskan di atas adalah (Scott dalam Sanjaya (2008)): 1. setiap pihak akan menanggung biaya keagenan. Motivasi bonus 2.

Independensi merupakan faktor penting yang harus dimiliki oleh komite audit. Oleh karena itu. Keempat faktor inilah yang membuat laporan keuangan menjadi lebih berkualitas (Sulistyanto 2008). Komite audit dan komisaris independen merupakan pihak yang melakukan pengawasan dan pengendalian untuk menciptakan keadilan. Oleh karena itu. apabila perusahaan mempunyai komite audit yang memiliki posisi penting di . Akan tetapi. Bapepam (2004) menghendaki bahwa komite audit mengadakan rapat dengan frekuensi yang sama dengan ketentuan minimal frekuensi rapat dewan komisaris yang ditetapkan dalam anggaran dasar. 2004) menyatakan bahwa efektivitas komite audit akan menurun ketika anggotanya bekerja di banyak perusahaan. manajer kemungkinan tidak menaikkan laba. Oleh karena itu. diharapkan komite audit dapat berperan untuk mengurangi perilaku oportunistik (earning management) yang dilakukan oleh para manajer. Kehadiran komite audit membantu dewan komisaris untuk mengawasl manajemen dalam penyusunan laporan keuangan. komite audit diharapkan dapat mengurangi tingkat manajemen laba. Komite audit yang bekerja dan menduduki posisi penting di banyak perusahaan memiliki sedikit waktu untuk melaksanakan tanggung jawabnya dalam pengawasan proses pelaporan keuangan. akuntabilitas. keadilan untuk semua stakeholder. Masyarakat hams menanggung implikasi berupa hancurnya perekonomian (Sulistyanto 2008). Bapepam (2004) menghendaki bahwa salah seorang dari anggota komite audit memiliki latar belakang pendidikan akuntansi atau keuangan. dan pengungkapan semua informasi telah dilakukan oleh manajemen meski ada konflik kepentingan. Komite audit diharapkan memiliki banyak waktu untuk mengawasi proses pelaporan keuangan perusahaan sehingga kemungkinan terjadinya manajemen laba dapat berkurang. keterbukaan laporan keuangan. dapat disimpulkan bahwa kualitas laporan keuangan dipengaruhi oleh kualitas dan karakteristik komite audit. Jika kualitas dan karakteristik komite audit tercapai. dapat disimpulkan bahwa melalui pertemuan dan pengamatan secara langsung. Vafeas (2005) dalam Sanjaya (2008) menemukan bahwa ketika komite audit lebih banyak melakukan pertemuan dan lebih independen.(2004) dalam Suranta et al. jika keahlian dan independensi komite audit tidak dapat terpenuhi maka perilaku earnings management tidak dapat dihindarkan. komite audit diharapkan memiliki komitmen waktu yang tinggi. maka transparansi pertanggungjawaban manajemen perusahaan dapat dipercaya sehingga akan meningkatkan kepercayaan para pelaku pasar modal (Suranta et al. Komite Audit dan Manajemen Laba Komite audit merupakan pihak yang bertugas untuk membantu komi saris dalam rangka peningkatan kualitas laporan keuangan dan peningkatan efektivitas audit internal dan eksternal. transparansi. Xie et al. Oleh karena itu. (2003) membukukan bahwa dewan komisaris independen dan komite audit yang aktif serta berpengetahuan di bidang keuangan me~adi faktor penting untuk mencegah kecenderungan manajer untuk melakukan manajemen laba. Cho et al. dan responsibilitas. Kondisi ini menunjukkan alasan mengapa bursa efek membuat peraturan yang mengangkut independesi komite audit. Core et al. (2005) mengemukakan bahwa dengan melaksanakan fungsi dan tanggung jawab yang diembannya. Keberadaan komite audit bermanfaat untuk menjamin transparansi. 2005). (dalam Bryan et al. Klein (2002) dalam Sanjaya (2008) menyatakan bahwa ada hubungan negatif antara komite audit yang independen dengan akrual tidak normal sebagai proksi manajemen laba.Kreditur harus menanggung implikasi berupa kehilangan kesempatan memperoleh return dan dana yang dipinj amkan kepada perusahaan bersangkutan.

Beberapa penelitian telah dilakukan untuk membuktikan pengaruh independensi komite audit terhadap manajemen laba. (2001) merekomendasikan bahwa komite audit seharusnya hanya terdiri dari komisaris yang tidak mempunyai hubungan dengan perusahaan yang mungkin dapat merusak independensinya. Beasley et al.banyak perusahaan. Hal yang samajuga dinyatakan oleh Bapepam (2004). . Untuk meneliti hubungan antara keahlian di bidang keuangan yang dimiliki oleh anggota komite audit dan manajemen laba. maka manajemen perusahaan tersebut cenderung melakukan manajemen laba. (2004) menyatakan bahwa anggota komite audit yang merupakan komisaris independen yang ahli di bidang keuangan merupakan pihak yang efektif untuk mengurangi manajemen laba. (2003) melaporkan bahwa jumlah pertemuan komite audit berhubungan negatif dengan tingkat manajemen laba. Hal tersebut juga disyaratkan oleh Bapepam (2004). Xie et al. Hal tersebut menjelaskan mengapa bursa efek mengeluarkan undangundang dan peraturan yang berkaitan dengan independensi komite audit. Keahlian di bidang keuangan sama pentingnya bagi komite audit karena fungsi utama dari komite terse but adalah mengawasi proses pelaporan keuangan sebuah perusahaan (Rahman dan Mohamed Ali 2006). DeZoort dan Salterio (2001) berpendapat bahwa ahli keuangan dalam sebuah komite audit meningkatkan kemungkinan bahwa kesalahan pemyataan yang material (material misstatement) akan dikomunikasikan kepada komite audit dan dikoreksi secara tepat waktu. (2003) dan Choi et al. Untuk meneliti hubungan antara independensi komite audit dan manajemen laba. Penelitian tersebut mengindikasikan bahwa komite audit yang melakukan pertemuan secara teratur akan menjadi pengawas yang lebih baik dalam mengawasl proses pelaporan keuangan. Independensi merupakan karakteristik terpenting yang harus dimiliki oleh komite audit untuk memenuhi peran pengawasannya. penelitian ini akan menguji HI. BRC (1999) dalam Lin et al. Xie et al. penelitian ini akan meneliti hubungan antara frekuensi rapat komite audit dengan manajemen laba dengan menguji H3. H1 : Independensi komite audit berpengaruh negatif terhadap Discretionary Accruals (DACC). SEC (1999) menghendaki bahwa setiap komite audit harus terdiri dari minimal satu orang anggota yang merupakan ahli keuangan. penelitian ini akan menguji H2. (2003) juga menyatakan bahwa independensi komite audit juga berhubungan negatif dengan discretionary accrual. Beasley (1996) menemukan hubungan negatif signifikan antara persentase komisaris independen dalam komite audit dengan kecurangan dalam laporan keuangan. Walaupun tidak diwajibkan oleh SEC. (2006) merekomendasikan bahwa pertemuan dalam komite audit minimal dilakukan empat bulan sekali dan berdiskusi tentang laporan keuangan dengan auditor ekstemal. BRC (1999) dalam Chtourou et al. Xie et al. Menon dan Williams (1994) berpendapat bahwa komite audit yang tidak aktif tidak memungkinkan untuk memonitori manajemen secara efektif. Oleh karena itu. (2004) menemukan bahwa komite audit perusahaan yang melakukan kesalahan dalam pelaporan keuangan memiliki frekuensi pertemuan lebih sedikit daripada komite audit perusahaan yang tidak melakukan kesalahan dalam pelaporan keuangan. H2 : Keahlian komite audit di bidang keuangan berpengaruh negatif dengan Discretionary Accruals (DACC). Bapepam (2004) mensyaratkan bahwa komite audit mengadakan rapat sekurangkurangnya sarna dengan ketentuan minimal rapat dewan komisaris yang ditetapkan dalam Anggaran Dasar.

maka efektivitasnya akan menurun. Model empiris ini sejalan dengan akuntansi berbasis akrual yang selama ini digunakan dalam pencatatan transaksi.H3 : Frekuensi pertemuan komite audit berpengaruh negatif terhadap Discretionary Accruals (DACC). (2004) berpendapat bahwa efektivitas komite audit akan memirun ketika mereka melayani sangat banyak perusahaan. faktanya akan berbalik ketika mereka memiliki posisi dan melayani sangat banyak perusahaan (lebih dari tiga perusahaan) di saat bersamaan. Melalui analisis terhadap variabel terikat adalah mungkin untuk menemukan jawaban atas suatu masalah (Uma Sekaran 2006). Core et al. (1999) dalam Bryan et al. H4 : Komitmen waktu komite audit berpengaruh negatif terhadap Discretionary Accruals (DACC). apabila mereka terlalu banyak menempati posisi penting di berbagai perusahaan di saat yang bersamaan. Keempat hipotesis tersebut digambarkan dalam sebuah kerangka pemikiran sebagai berikut: Gambar 1 Kerangka Pemikiran Independensi Komite Audit Keahlian Komite Audit Frekuensi Pertemuan Komite Audit Komitmen Waktu Komite Audit Manajemen Laba Oportunistik METODE PENELITIAN Variabel Terikat (Dependent Variable) Variabel terikat merupakan variabel yang menjadi perhatian utama peneliti. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah manajemen laba. Hal ini disebabkan oleh sangat terbatasnya waktu yang mereka miliki untuk menjalankan tanggung jawabnya sebagai komite audit. Namun. Komite audit akan mempunyai banyak pengalaman apabila mereka pemah bekerja dan menempati posisi di beberapa perusahaan. menekankan bahwa pengalaman yang diperoleh pada saat bekerja di perusahaan lain mulanya diharapkan dapat meningkatkan efektivitas komite audit. Model akuntansi akrual dapat memunculkan komponen akun akrual yang mudah dipermainkan nominalnya karena akun ini berasal dari transaksi-transaksi yang tidak . memberikan hasil paling kuat dalarn mendeteksi manajemen laba karena (Sulistyanto 2008): 1. Namun. Sejauh ini hanya model berbasis agregate accrual yang diterima secara umum sebagai model yang. Core et al.

Berdasarkan pernyataan tersebut. Model berbasis agregate accrual yang digunakan adalah Modified Jones Models. Faktorfaktor tersebut adalah independensi anggota komite audit (ACIND). Variabel Bebas (Independent Variable) Variabel bebas adalah variabel yang dapat mempengaruhi variabel terikat secara positif atau negatif (Uma Sekaran 2006). 2004) menyatakan bahwa ahli akuntansi atau ahli manajemen keuangan (accounting or financial management expertise) adalah seseorang yang berpengalaman di bidang keuangan atau akuntansi. Frekuensi pertemuan antar anggota komite audit diukur dengan jumlah pertemuan antar anggota komite audit yang dilakukan dalam satu tahun. Independensi komite audit diukur dengan persentase jumlah anggota komite audit yang memenuhi syarat independensi yang disyaratkan oleh Bapepam (2004). atau memiliki posisi sebagai Chief Executive Officer (CEO) atau senior officer lainnya yang memiliki tanggung jawab pengawasan di bidang pengawasan keuangan. 2. Populasi dan Sampel Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan manufaktur yang terdaftar pada Bursa Efek Indonesia (BEl) selama tahun 2005 . 2006. Dechow et al. Variabel kontrol yang digunakan dalam penelitian ini adalah reputasi auditor (BIG4) dan kebutuhan pembiayaan ekstemal (FINANCQ).disertai penerimaan dan pengeluaran kas. frekuensi pertemuan antar anggota komite audit (ACMEET). (1995) menemukan bahwa versi modifikasi atas model yang dikembangkan oleh Jones (1991) merupakan alat yang paling kuat untuk mendeteksi manajemen laba.faktor lain yang mempengaruhi insentif manajemen untuk memanipulasi laba yang dilaporkan. Model tersebut menggunakan Discretionary Accruals (DACC) digunakan sebagai proksi manajemen laba.2007. dan komitmen waktu anggota komite audit (ACCOMIT). Model agregate accrual menggunakan semua komponen laporan keuangan untuk mendeteksi rekayasa keuangan. 2005). dan 2007. financial expertise dalam penelitian ini diukur dengan persentase jumlah anggota komite audit yang memiliki latar belakang pendidikan di bidang akuntansi atau keuangan atau pernah menduduki posisi penting di bidang keuangan dalam suatu organisasi. Komitmen waktu anggota komite audit diukur dengan persentase jumlah anggota komite audit yang bekerja di tidak lebih dari tiga perusahaan. keahlian anggota komite audit di bidang keuangan (ACEXP). Perusahaan manufaktur dipilih sebagai populasi dalam penelitian ini karena perusahaan dalam satu jenis industri yaitu manufaktur cenderung memiliki karakteristik akrual yang hampir sama (Halim et al. Variabel Kontrol (Control Variable) Penelitian ini juga menggunakan beberapa variabel yang sering digunakan dalam penelitian sebelumnya untuk mengontrol faktor. . BRC (dalam Abbott et al. bersertifikasi akuntan publik atau comparable experience. Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah dengan purposive sampling yaitu teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah semua perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEl pada tahun 2005-2007 yang memenuhi persyaratan sebagai berikut: Perusahaan termasuk perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEl pada tahun 2005. Variabel bebas dalam penelitian ini merupakan beberapa karakteristik komite audit yang menentukan independensi dan efektivitas kinerja komite audit.

pengaruh independensi komite audit terhadap manajemen laba dihipotesiskan bahwa independensi komite audit berhubungan negatif terhadap Discretionary Accruals (DACC). pengalaman kerja sebelumnya.360dan nilai p = 0. Data-data mengenai variabel-variabel yang akan diteliti tersedia lengkap dalam Indonesia Capital Directory Market (ICMD) 2006. Penelitian ini difokuskan pada tahun 2005-2007 setelah dikeluarkannya Keputusan Ketua BAPEPAM No. uji t menunjukkan nilai koefisien= 0.1. (2003).6% variasi yang terjadi pada variable dependennya. Kedua penelitian tersebut menyatakan bahwa terdapat hubungan ACIND ACEXP : Keahlian anggota komite audit di bidang keuangan . Dengan dikeluarkannya peraturan tersebut diharapkan komite audit menjadi lebih efektif dalam membatasi manajemen laba. Artinya. dan 2007. Sedangkan sisanya dijelaskan oleh faktor lain di luar model. Menyajikan data tentang frekuensi pertemuan antar komite audit.311 . dan ICMD 2008 dan laporan keuangan perusahaan tahun 2005. Sedangkan model persamaan yang digunakan adalah: DACCi. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Klein (2002) dan Xie et al.16.032 B1G4 + 0. Seperti yang tampak pada tabel 4. dan 2007. independensi komite audit secara signifikan berpengaruh negatif terhadap Discretionary Accruals (DACC). 5.0. dan pekerjaan yang dimiliki saat ini secara lengkap.2006.101 ACEXP+ 0.042 FINANCQ+ e Interpretasi Hasil Pengaruh Independensi Komite Audit terhadap Manajemen Laba Dalam penelitian ini. Menerbitkan laporan tahunan pada tahun 2005. Menyajikan laporan tata kelola perusahaan laporan komite audit dalam laporan tahunannya. 2. ICMD 2007.t = ßo + ß1 ACIND + ß2 ACEXP+ ß3 ACMEET + ß4 ACCOMIT + ß5 B1G4 + ß6 FINANCQ+ e DACC : Discretionary Accruals sebagai proksi manajemen laba : Independensi komite audit anggota ACMEET : Jumlah pertemuan antar anggota komite audit dalam satu tahun : Komitmen waktu anggota komite audit : Reputasi (Big4/Non Big4) : Kebutuhan ekstemaL auditor ACCOMIT BIG4 FINANCQ pembiayaan HASIL DAN PEMBAHASAN Koefisien determinasi (R2) dari hasil pengujian menunjukkan nilai sebesar 0. dapat disimpulkan bahwa HI tidak dapat ditolak. Artinya variasi yang terjadi pada variable independent hanya dapat menjelaskan 14. Menyajikan data tentang latar belakang anggota komite audit yang memuat latar belakang pendidikan. Metode Analisis Hipotesis dalam penelitian ini diuji dengan menggunakan analisis regresi berganda. 2006. 3.360 ACIND + 0.t = 0.146. 4. Hasil pengujian statistic (uji t) terlihat dalam persamaan berikut: DACCi.002 ACCOMIT +0.023 (p<0.001 ACMEET – 0.05). Kep29/PMl2004 mengenai pembentukan dan pelaksanaan kerja komite audit. Oleh karena itu.

Lin et al. Kinerja komite audit menjadi efektif jika para anggotanya memiliki independensi dalam menyatakan sikap dan pendapat.05) artinya keahlian komite audit memiliki pengaruh positif namun tidak signifikan terhadap Discretionary Accruals (DACC). (2006). Ia menemukan bahwa anggota komite audit yang bertemu minimal empat kali dalam satu tahun tidak mampu mengurangi terjadinya kecurangan dalam proses pelaporan keuangan. (2006) dan Fitriasari (2007). Basil penelitian ini tidak mendukung hasil penelitian Xie et al. Selain itu. Basil uji t antara keahlian komite audit dengan manajemen laba menunjukkan bahwa nilai koefisien = 0. (2004) yang menyatakan bahwa komisaris independen yang memiliki keahlian di bidang keuangan secara efektif menjadi pengawas dalam mengurangi kemungkinan terjadinya manajemen laba. (2003) dan Choi et al. Bapepam (2004) merekomendasikan beberapa persyaratan yang berkaitan dengan independensi komite audit. A1asan lain yang mendukung hasil penelitian ini adalah peraturan Bapepam belum menjelaskan karakteristik apa sajakah yang harus dimiliki oleh seseorang agar dapat dinyatakan memiliki financial literacy. banyak komite audit di perusahaan belum melaksanakan tugasnya dengan baik. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa penelitian ini mendukung rekomendasi Bapepam. Sehingga. Untuk menJamm independensi. Hasil penelitian ini mendukung hasil penelitian Lin et al. Frekuensi pertemuan yang rutin antar anggota komite audit diharapkan dapat mengurangi tingkat manajemen laba. Ia menemukan bahwa komite audit yang aktif berpengaruh negatif dengan tingkat manajemen laba. hasil penelitian ini bertentangan dengan penelitian Xie et al. Hal ini berpengaruh pada penunjukkan anggota komite audit yang memiliki financial literacy (Fitriasari 2007). kurang jelasnya definisi financial literacy yang yang hams dimiliki oleh anggota komite audit menyebabkan tiap perusahaan sampel kemungkinan memiliki definisi yang berbeda.05) artinya frekuensi pertemuan komite audit memiliki pengaruh positif namun tidak signifikan terhadap manajemen laba.(2006). Pengaruh Keahlian Komite terhadap Manajemen Laba Audit dibentuk oleh perusahaan tidak menjalankan fungsi dan peranannya secara efektif sehingga komite audit tidak mempunyai pengaruh terhadap manajemen laba. Namun demikian. hasil penelitian ini bertentangan dengan pemyataan tersebut. Namun demikian. Namun. dan Rahman et al. komite audit yang telah . Berdasarkan kenyataan yang ada.101dan nilai p=0. hal itu disebabkan oleh adanya kenyataan bahwa pembentukan komite audit yang mempunyai keahlian di bidang akuntansi dan keuangan hanya didasarkan pada peraturan yang berlaku (Khomsiyah 2005). Khomsiyah et al.negatif antara komite audit independen dan akrual tidak normal sebagai proksi manajemen laba. (2005).126 (p>0. Menurut Sommer (1977) dalam Khomsiyah (2005). hasil penelitian ini mendukung penelitian Zulaikha et al. Komite audit yang berkeahlian di bidang akuntansi dan keuangan diharapkan dapat mengurangi tindak manajemen laba yang opportunistik. (1999). Pengaruh Frekuensi Pertemuan Komife Audit terhadap Manajemen Laba Hasil uji statistik t antara frekuensi pertemuan komite audit dengan manajemen laba menunjukkan bahwa nilai p= 0.001 dan nilai p=0. Independensi komite audit merupakan hal terpenting yang harus dimiliki oleh anggota komite audit.880 (p>0. (2003). Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa pembentukan komite audit pada perusahaan manufaktur belum mencapm kesuksesan dalam menjalankan peran pengawasannya.

Selain itu. hasil penelitian ini menunjukkan adanya pengaruh yang berlawanan arah dan tidak signifikan antara frekuensi pertemuan komite audit dengan tingkat manajemen laba.032 dan nilai p=0. Ada kemungkinan bahwa pertemuan komite audit jarang dihadiri baik oleh pihak manajemen maupun oleh auditor ekstemal. komite audit yang memiliki komitmen waktu yang tinggi diharapkan dapat mengurangi tingkat manajemen laba. Auditor yang berkualitas dianggap lebih berhati-hati dalam melakukan proses audit untuk mendeteksi salah saji atau kecurangan.002 dan p=0. (2004). Arah hasil penelitian ini searah dengan hipotesis yang telah ditetapkan namun nilai signifikansi yang dihasilkan menunjukkan pengaruh yang tidak signifikan. Sehingga. (2004) menemukan bahwa komitmen waktu komite audit yang tinggi mampu meningkatkan informativitas laba.979 (p>0. relevan. Bryan et al.05) artinya komitmen waktu komite audit memiliki pengaruh negatif namun tidak signifikan terhadap manajemen laba. Hal ini dilakukan karena mereka berusaha untuk mempertahankan kredibilitasnya sebagai auditor temama.330 (p>0. Namun demikian. Semakin tinggi komitmen waktu yang dimiliki oleh komite audit. masalahmasalah yang terdapat dalam proses laporan keuangan tidak terungkap sehingga tidak diketahui oleh komite audit.05) artinya reputasi auditor memiliki pengaruh positif namun tidak signifikan terhadap manajemen laba. dan dapat dipercaya dihasilkan dari audit yang dilakukan secara efektif oleh auditor yang berkualitas. Hasil penelitian ini bertentangan dengan hasil penelitian Core et al. hasil penelitian ini mendukung penelitian Siregar et al. Pengaruh Reputasi Auditor terhadap Manajemen Laba Hasil uji t antara reputasi auditor dengan manajemen laba menunjukkan bahwa nilai = 0. Komitmen waktu menunjukkan banyak sedikitnya waktu yang dimiliki oleh komite audit untuk melakukan tugas dan tanggung jawabnya sebagai komite audit. Hal ini berarti bahwa komitmen waktu komite audit bukanlah elemen yang penting untuk dimiliki oleh komite audit. (1999) dan Bryan et al. Pengaruh Komitmen Waktu Komite Audit terhadap Manajemen Laba Hasil uji t antara komitmen waktu komite audit dengan manajemen laba menunjukkan bahwa nilai p= -0. Adapun penjelasan yang dapat digunakan untuk menerangkan hal tersebut adalah pembentukan komite audit dalam perusahaan hanya bersifat mandatory terhadap peraturan yang ada. Oleh karena itu. Banyak anggapan masyarakat bahwa laporan keuangan auditan yang berkualitas. Hal tersebut menyebabkan komite audit belum melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya secara maksimal sehingga fungsi dan perannya tidak efektif. (1998) yang menyatakan bahwa auditor Big-4 memiliki kemungkinan lebih besar untuk mengurangi tingkat manajemen laba daripada auditor Non Big-4. Hal tersebut menyebabkan masalah yang ada dalam proses pelaporan keuangan tidak menemukan penyelesaian. (2005) dan Ulfi (2006) yang menyatakan bahwa auditor yang berasal dari KAP yang berafiliasi dengan KAP Big-4 tidak mampu membatasi praktek manajemen laba.Pertemuan terse but merupakan suatu kesempatan bagi pihak manajemen dan auditor ekstemal untuk menyampaikan masalah-masalah yang mereka temukan. kemungkinan terjadinya manajemen laba . pertemuan tersebut merupakan kesempatan bagi anggota komite audit untuk membahas dan mencari solusi dari masalah-masalah tersebut. maka semakin banyak waktu yang dimiliki oleh komite audit untuk mengawasi kinerja perusahaan dan proses pelaporan keuangan perusahaan. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa makin tinggi reputasi auditor. Hasil penelitian ini tidak mendukung hasil penelitian Becker et al. Namun demikian.

makin rendah. Hal ini membuktikan bahwa perusahaan yang menerbitkan saham atau obligasi cenderung melakukan manajemen laba. 3.05) artinya kebutuhan pembiayaan ekstemal memiliki pengaruh positif namun tidak signifikan terhadap manajemen laba. kurang jelasnya definisi financial literacy yang harus dimiliki oleh anggota komite audit menyebabkan tiap perusahaan sampel kemungkinan memiliki definisi yang berbeda dalam menentukan jumlah anggota komite audit yang memiliki financial literacy (Fitriasari 2007). Namun. Hal ini disebabkan oleh pembentukan komite audit dalam perusahaan hanya bersifat mandatory terhadap peraturan yang ada. komite audit belum melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya secara maksimal sehingga fungsi dan perannya tidak efektif. Selain itu. Hal tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan pembiayaan ekstemal bukanlah merupakan faktor penting yang mempengaruhi manajemen laba. Namun. Kualitas laporan keuangan auditan secara tidak langsung dipengaruhi oleh integritas auditor secara individual. 4. Selain itu. Pengaruh Kebutuhan Pembiayaan Eksternal terhadap Manajemen Laba Hasil uji t antara kebutuhan pembiayaan ekstemal dengan manajemen laba menunjukkan bahwa nilai p= 0. 2. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa pembentukan komite audit pada perusahaan manufaktur belum mencapai kesuksesan dalam menjalankan peran pengawasannya. Hal ini menunjukkan bahwa pembentukan komite audit yang berkompetensi di bidang akuntansi dan keuangan hanya dilakukan hanya bersifat mandatory terhadap peraturan yang berlaku. Kemungkinan terjadinya manajemen laba semakin besar jika auditor secara individual memiliki integritas rendah sekalipun auditor tersebut berasal dari KAP Big-4. hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kebutuhan pembiayaan ekstemal tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap manajemen laba. KESIMPULAN 1. Komitmen waktu yang dimiliki oleh komite audit berpengaruh negatif namun tidak signifikan terhadap manajemen laba. Keahlian di bidang akuntansi dan keuangan seperti yang disyaratkan oleh regulator berpengaruh positif namun tidak signifikan terhadap dengan tingkat manajemen laba. pada kenyataannya penelitian ini tidak menemukan adanya hubungan yang signifikan antara reputasi auditor dengan manajemen laba. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Klein. investor dan kreditur tertarik untuk menanamkan modalnya atau memberikan pinjaman kepada perusahaan.042 dan nilai p=0.347 (p<0. Adapun alasan yang dapat menjelaskan fenomena ini. hasil penelitian ini menunjukkan bahwa reputasi auditor tidak cukup baik digunakan sebagai proksi kualitas audit (Siregar 2005). (1998). Alasan tersebut berkaitan dengan subjektivitas auditor. Alasan ini didukung oleh terlibatnya KAP Arthur Andersen dalam kasus Enron. Hal ini menunjukkan . Hasil penelitian ini searah dengan hasil penelitian Becker et al. Kasus tersebut mencerminkan bahwa digunakannya KAP Big-4 dalam pengauditan laporan keuangan tidak menutup kemungkinan terjadinya kecurangan. Hal ini dilakukan oleh perusahaan agar dengan menyajikan laba yang kompetitif. Frekuensi pertemuan komite audit temyata tidak efektif mengurangi tingkat manajemen laba. Dengan adanya dorongan ekonomi seperti itu perusahaan akan termotivasi untuk mengelola labanya. Independensi komite audit terbukti secara signifikan berpengaruh negatif terhadap tingkat manajemen laba.

Diakses tanggal 28 April 2009. An Empirical Analysis of the Relation Between the Board of Director Composition and Financial Statement Fraud. Kemungkinan terjadinya manajemen laba semakin besar jika auditor secara individual memiliki integritas rendah sekalipun auditor tersebut berasal dari KAP Big4. Jiambalvo J dan Subramanyam KR. Beasley.google.google. 7. Menurut hasil penelitian. LJ Parker dan Peters GF. Vol. Audit Committee Characteristics andFinancial Misstatement: A Study of Efficacy of Certain Blue Ribbon Committee Recommendations. Jong-Hang. pp. 2003. Cho. M. Vol 70. Becker. 15. and Performance Evaluation. 5. Chtourou. Hasil ini searah dengan penelitian Becker et al. Vol. MS. 2001. 443-465. Sloan RG dan Sweeney AP. Felo. pp.com. The Independent and Effective Audit Committees On Earnings Quality. 71. 23. Carol Liu MH dan Tiras SL. Beasley. Daniel. LJ Parker dan Peters GF. Vol. . diakses tanggal 19 Desember 2008. Hal ini disebabkan oleh alasan yang menyangkut subjektivitas auditor. 2004. 2000. Diakses tanggal 18 April 2009. The Accounting Review. 2002. http://www. Namun. Contemporary Accounting Research. nilai signifikansi yang diperoleh menunjukkan bahwa kebutuhan pembiayaan ekstemal bukanlah merupakan faktor penting yang mempengaruhi manajemen laba. 37-60. Carcello JY. Vol. 1996. 2. http://www. 1-24.google. Auditing. Bedard J dan Courteau L.com. 1. Solieri SA. 2004. DeFond ML.com. The Effect of Audit Qualityon Earnings Management. Abbott. PM. pp. Detecting Earnings Management.bahwa komitmen waktu komite audit bukanlah elemen yang penting untuk dimiliki oleh komite audit. Auditing: A Journal of Practice and Theory.1. pp. Dechow. Fraudulent Financial Reporting: Consideration of Industry Traits and Corporate Governance Mechanism. The Accounting Review. http://www. reputasi auditor temyata berpengaruh positif namun tidak signifikan terhadap manajemen laba. AJ. Vol. 2004. 69-87. 65-84. Audit Committee Characteristics and Restatement. pp. Bryan. DAFTAR RUJUKAN Abbott. SM. 193-225.(1998). Hermanson DR dan Lapides PD. Accounting Horizons. Corporate Governance and Earnings Management.com. Krishnamurthy S. CL. pp. 1995. Kebutuhan pembiayaan ekstemal secara signifikan berpengaruh positif namun tidak signifikan terhadap manajemen laba. No. 1998. The Role of Audit Committees in Decreasing Earnings Management: Korean Evidence. Kyu-An Jeon dan Jong Park. diakses tanggal 19 Desember 2008.google. http://www. Audit Committee Characteristics and the Perceived Quality of Financial Reporting: An Empirical Analysis. No. 6. International Journal of Accounting.

The Role of Big 6 Auditors in the Credible Reporting of Accruals. Skripsi Tidak Dipublikasikan. Hekinus. Jurnal Akuntansi dan Auditing Indonesia. JR. 1997. Vol. 2000.t/w. 118. Enhancing Audit Committee Effectiveness. Menon. Paper disajikan pada Simposium Nasional Akuntansi. 79-81. 2006. 2008. 121139. http:/hvww. No. The Use of Audit Committees for Monitoring.. Kunci Sukses Komite Audit. Audit Committee. Ghozali. A. Journal of Accountancy. Journal of Accounting and Economic. Paper disajikan pada Simposium Nasional Akuntansi VIII. Khomsiyah. pp. Board. Rahman. Audit Committee. 2005.com. 1516 September 2005. Ataina. Auditing: A Journal of Practice and Theory. 18. Poppy. 5 Maret 1997. 2006. Forum Corporate Governance Indonesia. 21. Halim. Culture and Earnings Management: Malaysia Evidence. Manao.gooftle. Peranan Dewan Komisaris dan Komite Audit dalam Pelaksanaan Corporate Governance. pp. Makasar. Komite Nasional Kebijakan Governance. Universitas Diponegoro. Rashidah Abdul dan Mohamed Ali. Fakultas Ekonomi. 1994. Azzam Jasin dan Muammar Aditya. DA dan K Raghundan. diakses tanggal19 Desember 2008. Managerial . 1999. W Lin. Klein. pp. Carmel Meiden. Solo.Fitriasari. The Effect of Audit Committee Performance on Earnings Quality. Managerial Auditing Journal. pp. 2007. Oktaviandry. Imam. Efektivitas Komite Audit Perusahaan. Pengaruh Struktm Kepemilikan dan Praktik Corporate Governance Terhadap Manajemen Laba pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEJ. 921-933. Semarang: Badan Penerbit FE Universitas Diponegoro. Board of Director Characteristics. 2005. Vol. Me Mullen. 26-28 Juli 2007.com. Maydew EL dan Sparks HC. Vol. 13. 1996. Pengaruh Aktivitas dan Financial Literacy Komite Audit terhadap Jenis Manajemen Laba. June F Lin. K dan Williams J. Vol. Julia.google. Francis. Jakarta. 32: 375400. 2000. Analisis Multivariate dengan Program SPSS. dan Joon S Yang. Journal of Accounting and Public Policy. Rudolf Lumban Tobing. Hidayati. Pengaruh Manjamen Laba pada Tingkat Pengungkapan Laporan Keuangan pada Perusahaan Manufaktur yang Termasuk dalam Indeks LQ-45.1. Pedoman Umum Good Corporate Governance Indonesia. http://w1. 2005. No. Karakteristik Komite Audit dan Pengungkapan Info. Paper disajikan pada Seminar Pengembangan Audit Committee di Lingkungan Perusahaan di Indonesia Menghadapi Era Globalisasi. Jerry. 2006. 4. 2002. and Earnings Management. 182. 9. diakses tanggal 19 Desember 2008. Debby.17-34. Konferensi Nasional Akuntansi: Peran Akuntan dalam Membangun Good Corporate Governance. h.

N. 1995. Fakultas Ekonomi. 783-804. Sekilas Komite Audit." Journal of Corporate Finance. Contemporary Accounting Research. 11. Ukuran Perusahaan. Pengaruh Struktm Kepemilikan. Pengaruh Komite Audit terhadap Kualitas Laba. 2008. H. 2004. 50: 101-122. 2-3 Desember 2004. 2006. Good Corporate Governance. Siallagan. pp. dan Kompensasi Bonus Terhadap Manajemen Laba. Universitas Diponegoro. 2004. Padang. Denpasar. dan Manajemen Laba. Veronica. 2008.com. Paper disajikan pada Simposium Nasional Akuntansi IX. Jurnal Riset Akuntansi Indonesia. Manajemen Laba. . 1. and the Quality of Reported Earnings. Sylvia dan Yanivi. pp. Kualitas Laba dan Nilai Perusahaan. Sulistyanto.Auditing Journal. 2005. Mekanisme Corporate Governance. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia. Vol. 15. Vol. Solo. Audit Committees. Earning Management and The Performance of Seasoned Equity Offerings. No. Reputasi Auditor. Skripsi Tidak Dipublikasikan. Journal of Financial Economics. and Earnings Management. Proporsi Dewan Komisaris. 21. Srinivasan. SV dan Siddharta Utama. Ulfi. 23-26 Agustus 2006. Manajemen Laba: Teori dan Model Empiris. 2006. Paper disajikan Simposium Nasional Akuntansi VII. I Putu Sugiartha. dan Praktek Corporate Governance terhadap Pengelolaan Laba (Earnings Management). Vafeas. Xie. 15-16 September 2005. Setiawati. Auditor Eksternal.7. Rangan. 424-441. 2000. Paper disajikan pada Simposium Nasional Akuntansi. http://www. Biao dan Wallace N Davidson III dan Peter 1 Dadalt. 4. Boards. Pengaruh Keberadaan Komite Audit. No. Sanjaya. Vol. Hamonangan dan Mas'ud Maehfoedz. pp. Tugiman. diakses tanggal19 Desember 2008. dan Ainun Na'im. 97-116. 2003. Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia. No. Agung. 2005.google. Lilis. Bandung: PT Eresco Anggota IKAPI. Hiro. Suaryana. Oryza. 1998. Earnings Management and Corporate Governance: The Role of Board and the Audit Committee. 9 (3): 295-316. Komite Audit. Sri. 22 (4): 10093-1122. Information Asymmetry. Siregar.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful