P. 1
Negara Dan Konstitusi

Negara Dan Konstitusi

|Views: 91|Likes:
Published by Ryant Sang Penjagal

More info:

Published by: Ryant Sang Penjagal on Jun 09, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/09/2013

pdf

text

original

TUGAS

NEGARA dan KONSTITUSI
DOSEN PENGAJAR:

Disusun Oleh : Heriyanto NPM :1002040006

PROGRAM STUDI AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS WISNUWARDHANA MALANG 2011/2012

Kata Pengantar

Segala puja dan puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT. Atas nikmat-Nya yang sangat luar biasa yaitu nikmat islam dan iman, nikmat kesehatan dann nikmat kesempatan yang Allah berikan kepada penulis, sehingga penulis bisa menyelesaikan tugas makalah tentang “Negara dan Konstitusi”. Harapannya makalah ini dapat membantu mahasiswa memahami materi yang telah disajikan dalam makalah. Makalah ini bertujuan membantu mahasiswa memperoleh wawasan tentang Negara dan konstitusi. Misi makalah ini bukan saja memperkokoh pemahaman tentang pentingnya Negara dan konstitusi tapi juga mengedepankan perubahan berpikir dalam mempersepsi tentang Negara dan konstitusi. Dalam kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada Bapak Sulton M, S. U., M.Hum atas perhatian, dorongan dan kesempatan yang diberikan kepada kami untuk menyelesaikan makalah ini, tak lupa kami menyampaikan terima kasih kepada pihak-pihak yang ikut mensukseskan terselesaikannya makalah ini. Akhirnya kami berharap makalah ini dapat berguna bagi mahasiswa atau pihak lainnya sebagai pengetahuan dan kami juga minta maaf jika dalam penyusunan makalah ini masih banyak kesalahan dan kekurangan, kami meminta kritik dan saran sabagai penyempurna makalah ini.

Malang, 4 April 2011

Penyusun

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL…………………………………………….. KATA PENGAN TAR……………………………………...…..... DAFTAR ISI…………………………………………………...… BAB I PENDAHULAN 1.1 LATAR BELAKANG……………………………..………… 1.2 RUMUSAN MASALAH……………………….……….…… 1.3 TUJUAN…………………………………………………..…. BAB II PEMBAHASAN A. PENGERTIAN NEGARA………………………………...... B. PENGERTIAN KONSTITUSI…………………………....... C. HUBUNGAN NEGARA DAN KONSTITUSI……………. BAB III PENUTUP A. KESIMPULAN……………………………………………..… B. SARAN…………………………………………………..…… DAFTAR PUSTAKA………………………………………..…… 13 15 16 4 8 12 1 3 3 i ii

BAB I PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang
Reformasi menuntut dilakukannya amandemen atau mengubah UUD 1945 karena yang menjadi causa prima penyebab tragedi nasional mulai dari gagalnya suksesi kepemimpinan yang berlanjut kepada krisis sosial-politik, bobroknya managemen negara yang mereproduksi KKN, hancurnya nilai-nilai rasa keadilan rakyat dan tidak adanya kepastian hukum akibat telah dikooptasi kekuasaan adalah UUD Republik Indonesia 1945. Itu terjadi karena fundamen ketatanegaraan yang dibangun dalam UUD 1945 bukanlah bangunan yang demokratis yang secara jelas dan tegas diatur dalam pasal-pasal dan juga terlalu menyerahkan sepenuhnya jalannya proses pemerintahan kepada penyelenggara negara. Akibatnya dalam penerapannya kemudian bergantung pada penafsiran siapa yang berkuasalah yang lebih banyak untuk legitimasi dan kepentingan kekuasaannya. Dari dua kali kepemimpinan nasional rezim orde lama (1959 – 1966) dan orde baru (1966 – 1998) telah membuktikan hal itu, sehingga siapapun yang berkuasa dengan masih menggunakan UUD yang all size itu akan berperilaku sama dengan penguasa sebelumnya. Keberadaan UUD 1945 yang selama ini disakralkan, dan tidak boleh diubah kini telah mengalami beberapa perubahan. Tuntutan perubahan terhadap UUD 1945 itu pada hakekatnya merupakan tuntutan bagi adanya penataan ulang terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara. Atau dengan kata lain sebagai upaya memulai “kontrak sosial” baru antara warga negara dengan negara menuju apa yang dicita -citakan bersama yang dituangkan dalam sebuah peraturan dasar (konstitusi). Perubahan konstitusi

ini menginginkan pula adanya perubahan sistem dan kondisi negara yang otoritarian menuju kearah sistem yang demokratis dengan relasi lembaga negara yang seimbang. Dengan demikian perubahan konstititusi menjadi suatu agenda yang tidak bisa diabaikan. Hal ini menjadi suatu keharusan dan amat menentukan bagi jalannya demokratisasi suatu bangsa. Realitas yang berkembang kemudian memang telah menunjukkan adanya komitmen bersama dalam setiap elemen masyarakat untuk mengamandemen UUD 1945. Bagaimana cara mewujudkan komitmen itu dan siapa yang berwenang melakukannya serta dalam situasi seperti apa perubahan itu terjadi, menjadikan suatu bagian yang menarik dan terpenting dari proses perubahan konstitusi itu. Karena dari sini akan dapat terlihat apakah hasil dicapai telah merepresentasikan kehendak warga masyarakat, dan apakah telah menentukan bagi pembentukan wajah Indonesia kedepan. Wajah Indonesia yang demokratis dan pluralistis, sesuai dengan nilai keadilan sosial, kesejahteraan rakyat dan kemanusiaan. Dengan melihat kembali dari hasil-hasil perubahan itu, kita akan dapat dinilai apakah rumusan-rumusan perubahan yang dihasilkan memang dapat dikatakan lebih baik dan sempurna. Dalam artian, sampai sejauh mana rumusan perubahan itu telah mencerminkan kehendak bersama. Perubahan yang menjadi kerangka dasar dan sangat berarti bagi perubahan-perubahan selanjutnya. Sebab dapat dikatakan konstitusi menjadi monumen sukses atas keberhasilan sebuah perubahan.

1.2 Rumusan
1. Apa yang dimaksud dengan Negara ? 2. Apa yang dimaksud dengan Konstitusi ? 3. Bagaimanakah hubungan Negara dan Konstitusi ?

1.3 Tujuan
1. Mampu menjelaskan apa yang dimaksud dengan Negara 2. Mampu menjelaskan apa yang dimaksud dengan Konstitusi 3. Mampu menjelaskan hubungan Negara dan Konstitusi

BAB II PEMBAHASAN

A.

PENGERTIAN NEGARA
Negara adalah suatu organisasi dari sekelimpok atau beberapa kelompok manusia yang bersama-sama mendiami suatu wilayah tertentu dan mengakui adanya satu pemerintahan yang mengurus tata tertib serta keselamatan sekelompok atau beberapa kelompok manusia tersebut. Secara umum negara dapat diartikan sebagai suatu organisasi utama yang ada di dalam suatu wilayah karena memiliki pemerintahan yang berwenang dan mampu untuk turut campur dalam banyak hal dalam bidang organisasi-organisasi lainnya. Terdapat beberapa elemen yang berperan dalam membentuk suatu negara. Elemen-elemen tersebut adalah: 1. Masyarakat merupakan unsur terpenting dalam tatanan suatu negara. Masyarakat atau rakyat merupakan suatu individu yang berkepentingan dalam suksesnya suatu tatanan dalam pemerintahan. Pentingnya unsur rakyat dalam suatu negara tidak hanya diperlukan dalam ilmu kenegaraan tetapi perlu juga perlu melahirkan apa yang disebut ilmu kemasyarakatan suatu ilmu pengetahuan baru yang khusus menyelidiki, mempelajari hidup kemasyarakatan. 2. Wilayah (teritorial) adalah daerah yang menjadi kekuasaan Negara serta menjadi tempat tinggal bagi rakyat Negara. Wilayah Negara meliputi wilayah darat, laut, dan udara. Suatu negara tidak dapat berdiri tanpa adanya suatu wilayah. Disamping pentingnya unsur wilayah dengan batas-batas yang jelas, penting pula keadaan khusus wilayah yang bersangkutan, artinya apakah layak suatu wilayah itu masuk suatu negara tertentu atau sebaliknya dipecah menjadi wilayah berbagai negara. Apabila mengeluarkan peraturan perundang-undangan pada prinsipnya hanya berlaku bagi

orang-orang yang berada di wilayahnya sendiri. Orang akan segera sadar berada dalam suatu negara tertentu apabila melampaui batas-batas wilayahnya setelah berhadapan dengan aparat (imigrasi negara) untuk memenuhi berbagai kewajiban yang ditentukan. 3. Pemerintahan adalah organisasi yang bertindak atas nama Negara dan

menyelenggarakan keputusan Negara. Ciri khusus dari pemerintahan dalam Negara adalah pemerintahan memiliki kekuasaan atas semua anggota masyarakat yang merupakan penduduk suatu negara dan berada dalam wilayah negara. 4. Kedaulatan adalah kekuasaan tertinggi untuk membuat undang-undang dan melaksanakannya dengan semua cara yang tersedia Ada empat macam teori mengenai suatu kedaulatan, yaitu : a. Teori kedaulatan Tuhan (Gods souvereiniteit) meyatakan atau menganggap kekuasaan pemerintah suatu negara diberikan oleh Tuhan. Misalnya kerajaan Belanda, Raja atau ratu secara resmi menamakan dirinya Raja atas kehendak Tuhan “bij de Gratie Gods”, atau Ethiopia (Raja Haile Selasi) dinamakan “Singa Penakluk dari suku Yuda yang terpilih Tuhan menjadi Raja di Ethiopia”. b. Teori kedaulatan Negara (Staats souvereiniteit) menganggap sebagai suatu axioma yang tidak dapat dibantah, artinya dalam suatu wilayah negara, negaralah yang berdaulat. Inilah inti pokok dari semua kekuasaan yang ada dalam wilayah suatu negara. c. Teori kedaulatan hukum (Rechts souvereiniteit) menyatakan semua kekuasaan dalam negara berdasar atas hukum. Pelopor teori ini adalah H. Krabbe dalam buku Die Moderne Staats Idee. d. Teori Kedaulatan Rakyat (Volks aouvereiniteit), semua kekuasaan dalam suatu negara didasarkan pada kekuasaan rakyat (bersama). J.J. Rousseau (Perancis)

menyatakan apa yang dikenal dengan “kontrak sosial”, suatu perjanjian antara seluruh rakyat yang menyetujui Pemerintah mempunyai kekuasaan dalam suatu negara. 5. Pengakuan dari Negara lain meskipun bukan merupakan unsur pembentuk , namun dalam tata hubungan internasional sangat diperlukan, sebab dalam tata hubungan internasional status Negara merdeka merupakan prasyarat yang harus dipenuhi. Suatu Negara yang baru merdeka memerlukan pengakuan dari Negara lain karena beberapa pertimbangan yaitu : 1. Adanya kekhawatiran akan kelangsungan hidup baik karena ancaman dari dalam (kudeta) maupun karena intervensi dari Negara lain. 2. Ketentuan hukum alam yang tidak bias dielakkan bahwa suatu Negara tidak dapat bertahan hidup tanpa bantuan dan kerjasama dengan bangsa lain. Pengakuan dari Negara lain , dapat bersifat : 1. Pengakuan secara de facto diberikan kalau suatu Negara baru sudah memenuhi unsure konstitutif dan juga telah menunjukkan diri sebagai pemerintahan yang stabil. Pengakuan de facto adalah pengakuan tentang kenyataan adanya suatu Negara. Pengakuan ini bias berlanjut pada terjalinnya hubungan dengan Negara yang member pengakuan tersebut. Pengakuan secra de facto dibedakan : a. Pengakuan de facto besifat sementara artinya pengakuan yang diberikan oleh suatu Negara tanpa melihat bertahan tidaknya Negara tersebut dimasa depan. b. Pengakuan de facto bersifat tetap artinya pengakuan dari Negara lain terhadap suatu Negara hanya bisa menimbulkan hubungan dibidang ekonomi dan perdangan (konsul). Sedangkan hubungan untuk tingkat duta belum dapat terlaksana.

2. Pengakuan secara de jure a. Pengakuan de jure bersifat tetap artinya pengakuan dari Negara lain berlaku untuk selama-lamanya setelah melihat adanya jaminan bahwa pemerintahan Negara baru tersebut akan stabil dalam jangka waktu yang cukup lama. b. Pangakuan de jure bersifat penuh artinya terjadi hubungan antara Negara yang mengakui da diakui meliputi hubungan dagang, ekonomi dan diplomatic. Negra yang mengakui berhak menempatkan konsuler atau membuka kedutaan. Negara memiliki sifat-sifat khusus yang merupakan manifestasi dari kedaulatn yang dimilikinya dan hanya terdapat dalam Negara. Dan menurut Budiardjo (2000) sebagai berikut : 1. Sifat memaksa artinya mempunyai kekuasaan untuk menggunakan kekerasan fisik secara legal. Sarana untuk itu polisi dan tentara. 2. Sifat monopoli artinya dalam hal menetapkan tujuan bersama masyarakat . 3. Sifat mencakup semua artinya semua peraturan perundang-undangan berlaku untuk semua orang tanpa kecuali, guna melapangkan jalan kearah tercapainya masyarakat yang dicita-citakan

B.PENGERTIAN KONSTITUSI
Kata “Konstitusi” berarti “pembentukan”, berasal dari kata kerja yaitu “constituer” (Perancis) atau membentuk. Yang dibentuk adalah negara, dengan demikian konstitusi mengandung makna awal (permulaan) dari segala peraturan perundangundangan tentang negara. Belanda menggunakan istilah “Grondwet” yaitu berarti suatu undang-undang yang menjadi dasar (grond) dari segala hukum. Indonesia menggunakan

istilah Grondwet menjadi Undang-undang Dasar. Konstitusi dalam pengertian luas adalah keseluruhan dari ketentuan-ketentuan dasar atau hukum dasar. Dan Konstitusi dalam pengertian sempit berarti piagam dasar atau undang-undang dasar (Loi constitutionallle) ialah suatu dokumen lengkap mengenai peraturan dasar negara. konstitusi mengandung pokok-pokok sebagai berikut : 1. Adanya jaminan terhadap hak asasi manusia dan warga negaranya 2. Ditetapkan susunan ketatanegaraan suatu Negara yang bersifat fundamental 3. Adanya pembagian dan pembatasan tugas ketatanegaraan yang bersifat fundamental Konstitusi juga memiliki tujuan yang hampir sama deengan hukum, namun tujuan dari konstitusi lebih terkait dengan: 1. Berbagai lembaga-lembaga kenegaraan dengan wewenang dan tugasnya masingmasing. 2. Hubungan antar lembaga Negara 3. Hubungan antar lembaga negara(pemerintah) dengan warga negara (rakyat). 4. Adanya jaminan atas hak asasi manusia 5. Hal-hal lain yang sifatnya mendasar sesuai dengan tuntutan jaman. Dalam buku K.C. Wheare “Modern Constitution” (1975) mengklasifikasi konstitusi sebagai berikut: a. Konstitusi tertulis dan konstitusi tidak tertulis (written constitution and unwritten constitution) b. Konstitusi fleksibel dan konstitusi rigid (flexible and rigid constitution) Konstitusi fleksibelitas merupakan konstitusi yang memiliki ciri-ciri pokok: 1. Sifat elastis, artinya dapat disesuaikan dengan mudah . 2. Dinyatakan dan dilakukan perubahan adalah mudah seperti mengubah undanundang. Pada hakekatnya

c. Konstitusi derajat tinggi dan konstitusi derajat tidak derajat tinggi (Supreme and not supreme constitution). Konstitusi derajat tinggi, konstitusi yang mempunyai kedudukan tertinggi dalam negara (tingkatan peraturan perundang-undangan). Konstitusi tidak derajat tinggi adalah konstitusi yang tidak mempunyai kedudukan seperti yang pertama. d. Konstitusi Negara Serikat dan Negara Kesatuan (Federal and Unitary Constitution) Bentuk negara akan sangat menentukan konstitusi negara yang bersangkutan. Dalam suatu negara serikat terdapat pembagian kekuasaan antara pemerintah federal (Pusat) dengan negara-negara bagian. Hal itu diatur di dalam konstitusinya. Pembagian kekuasaan seperti itu tidak diatur dalam konstitusi negara kesatuan, karena pada dasarnya semua kekuasaan berada di tangan pemerintah pusat. e. Konstitusi Pemerintahan Presidensial dan pemerintahan Parlementer (President Executive and Parliamentary Executive Constitution). Dalam sistem pemerintahan presidensial (strong) terdapat ciri-ciri antara lain: 1. Presiden memiliki kekuasaan nominal sebagai kepala negara, tetapi juga memiliki kedudukan sebagai Kepala Pemerintahan. 2. Presiden dipilih langsung oleh rakyat atau dewan pemilih. 3.Presiden tidak termasuk pemegang kekuasaan legislatif dan tidak dapat memerintahkan pemilihan umum. Berlakunya suatu konstitusi sebagai hukum dasar yang mengikat didasarkan atas kekuasaan tertinggi atau prinsip kedaulatan yang dianut dalam suatu negara. Jika negara itu menganut paham kedaulatan rakyat, maka sumber legitimasi konstitusi itu adalah rakyat. Jika yang berlaku adalah paham kedaulatan raja, maka raja yang menentukan berlaku tidaknya suatu konstitusi. Hal inilah yang disebut oleh para ahli sebagai constituent power yang merupakan kewenangan yang berada di luar dan

sekaligus di atas sistem yang diaturnya. Karena itu, di lingkungan negara-negara demokrasi, rakyatlah yang dianggap menentukan berlakunya suatu konstitusi. Constituent power mendahului konstitusi, dan konstitusi mendahului organ

pemerintahan yang diatur dan dibentuk berdasarkan konstitusi. Pengertian constituent power berkaitan pula dengan pengertian hirarki hukum (hierarchy of law). Konstitusi merupakan hukum yang lebih tinggi atau bahkan paling tinggi serta paling fundamental sifatnya, karena konstitusi itu sendiri merupakan sumber legitimasi atau landasan otorisasi bentuk-bentuk hukum atau peraturan-peraturan perundang-undangan lainnya. Sesuai dengan prinsip hukum yang berlaku universal, maka agar peraturan-peraturan yang tingkatannya berada di bawah Undang-Undang Dasar dapat berlaku dan diberlakukan, peraturan-peraturan itu tidak boleh bertentangan dengan hukum yang lebih tinggi tersebut. Dengan ciri-ciri konstitusi yang disebutkan oleh Wheare ” Konstitusi Pemerintahan Presidensial dan pemerintahan Parlementer (President Executive and Parliamentary Executive Constitution)”, oleh Sri Soemantri, Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945) tidak termasuk kedalam golongan konstitusi Pemerintahan Presidensial maupun pemerintahan Parlementer . Hal ini dikarenakan di dalam tubuh UUD 45 mengandung ciri-ciri pemerintahan presidensial dan ciri-ciri pemerintahan parlementer. Oleh sebab itu menurut Sri Soemantri di Indonesia menganut sistem konstitusi campuran. Cara pembentukan dan mengubah konstitusi (undang-undang dasar ) yaitu :

1.Cara pembentukan
a. Pemberian Raja memberikan kepada warga negaranya kepada warga negaranya suatu UUD, kemudian ia berjanji akan mempergunakan kekuasaannya itu

berdasarkan asas-asas tertentu dan kekuasaan itu akan dijalankan oleh suatu badan tertentu pula. - UUD itu timbul, biasanya karena raja merasa ada tekanan yang hebat dari sekitarnya dan takut akan timbul revolusi. Dengan adanya UUD ini, maka kekuasaan raja dibatasi. b. Sengaja dibentuk

- Dalam hal ini, pembuatan suatu UUD dilakukan setelah Negara itu didirikan. Jadi, setelah suatu Negara didirikan, dibentuk UUD. c. Cara revolusi - Pemerintahan baru yang terbentuk sebagai hasil revolusi ini, kadang-kadang membuat suatu UUD yang kemudian mendapat persetujuan rakyatnya atau pemerintah tersebut dapat pula mengambil cara lain, yaitu dengan mengambil suatu permusyawaratan yang akan menetapkan UUD itu. d. Cara Evolusi

- Perubahan-perubahan secara berangsur-angsur dapat menimbulkan suatu UUD, dan secara otomatis UUD yang lama tidak berlaku lagi

.

2.Cara mengubah
a. Oleh badan legislative/ Perundangan biasa Dilakukan oleh Badan Legislatif, hanya harus dengan syarat yang lebih berat daripada jika Badan Legislatif ini membuat undang-undang biasa (UUD). b. Referendum

- Yaitu dengan jalan pemungutan suara di antara rakyat yang mempunyai hak suara (pada masa orde baru, referendum, diatur di dalam UU No. 5 tahun 1985). c. Oleh badan khusus - Harus diadakan oleh suatu badan khusus yang pekerjaannya hanya mengubah UUD saja. d. Khusus di Negara Federasi

- Perubahan UUD itu baru dapat terjadi jika mayoritas Negara-negara bagian dari federasi itu menyetujui perubahan itu.

C. HUBUNGAN NEGARA DAN KONSTITUSI Berhubungan sangat erat, konstitusi lahir merupakan usaha untuk melaksanakan dasar negara. Dasar negara memuat norma-norma ideal, yang penjabarannya dirumuskan dalam pasal-pasal oleh UUD (Konstitusi) Merupakan satu kesatuan utuh, dimana dalam Pembukaan UUD 1945 tercantum dasar negara Pancasila, melaksanakan konstitusi pada dasarnya juga melaksanakan dasar Negara. Menurut Walton H. Hamilton dengan paham
konstitualisme. Konstitusi untuk pengaturan negara, sehingga dinamika kekuasaan dan proses pemerintahan dapat dibatasi dan dikendalikan

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Negara adalah suatu organisasi dari sekelimpok atau beberapa kelompok manusia yang bersama-sama mendiami suatu wilayah tertentu dan mengakui adanya satu pemerintahan yang mengurus tata tertib serta keselamatan sekelompok atau beberapa kelompok manusia tersebut. Elemen-elemen dalam Negara yaitu : a. Masyarakat b. Wilayah c. Pemerintah d. Kedaulatan e. Pengakuan dari Negara lain Dalam elemen keempat dari Negara yaitu kedaulatan terdapat emapat teori kedaulatan yaitu : a. Teori kedaulatan Tuhan b. Teori kedaulatan Negara c. Teori kedaulatan Hukum d. Teori kedaulatan Rakyat Dalam elemen kelima dari Negara terdapat sifat dari pengakuan dari Negara lain yaitu : a. Pengakuan secara de facto b. Pengakuan secara de jure

Menurut Budiardjo Negara memiliki sifat-sifat diantaranya yaitu :

a. Sifat memaksa b. Sifat monopoli c. Sifat mencakup semua 2. Konstitusi adalah keseluruhan dari ketentuan-ketentuan dasar atau hukum dasar atau piagam dasar atau undang-undang dasar (Loi constitutionallle) ialah suatu dokumen lengkap mengenai peraturan dasar negara. Pada hakekatnya konstitusi mengandung pokok-pokok sebagai berikut : a. b. c. Adanya jaminan terhadap hak asasi manusia dan warga negaranya Ditetapkan susunan ketatanegaraan suatu Negara yang bersifat fundamental Adanya pembagian dan pembatasan tugas ketatanegaraan yang bersifat fundamental Konstitusi juga memiliki tujuan yang hampir sama deengan hukum, namun tujuan dari konstitusi lebih terkait dengan: a. Berbagai lembaga-lembaga kenegaraan dengan wewenang dan tugasnya masingmasing. b. Hubungan antar lembaga Negara c. Hubungan antar lembaga negara(pemerintah) dengan warga negara (rakyat). d. Adanya jaminan atas hak asasi manusia e. Hal-hal lain yang sifatnya mendasar sesuai dengan tuntutan jaman. Dalam buku K.C. Wheare “Modern Constitution” (1975) mengklasifikasi konstitusi sebagai berikut: a. b. c. d. Konstitusi tertulis dan konstitusi tidak tertulis Konstitusi fleksibel dan konstitusi rigid Konstitusi derajat tinggi dan konstitusi derajat tidak derajat tinggi Konstitusi Negara Serikat dan Negara Kesatuan

e.

Konstitusi Pemerintahan Presidensial dan pemerintahan Parlementer

Cara pembentukan dan mengubah konstitusi (undang-undang dasar ) yaitu : 1. Cara pembentukan a.Pemberian b.Sengaja dibentuk c.Cara revolusi d.Cara evolusi 2. Cara mengubah a.Oleh badan legislative/ perundangan biasa b.Referendum c.Oleh badan khusus d.Khusus di Negara federasi 3. Hubungan Negara dan konstitusi adalah konstitusi lahir merupakan usaha untuk melaksanakan dasar Negara. Menurut Walton H. Hamilton dengan paham
konstitualisme. Konstitusi untuk pengaturan negara, sehingga dinamika kekuasaan dan proses pemerintahan dapat dibatasi dan dikendalikan.

B. Saran
1. Kepada para pembaca kami menyarankan agar lebih banyak membaca buku yang

berkaitan dengan Negara atau Konstitusi agar lebih memahami kedua hal tersebut.
2. Saran dari kelompok kami adalah dengan memahami materi yang telah disajikan

pemakalah diharapkan pembaca mampu menyerap dan memahami materi-materi yang telah disajikan agar menambah wawasan tentang makna negra dan konstitusi itu sendiri.

3. Kepada para pembaca juga diharapkan untuk lebih aktif dalam mengikuti pembelajaran

tentang negara dan konstitusi dan materi-materi lain yang telah disajikan oleh Dosen Pembimbing

Daftar pustaka

Supriantoko, (2008). Pendidikan Kewarganegaraan. Jakarta : Penaku file:///E:/materi%20kuliah/SEMESTER%202/PKN/MATERI/Negara+dan+Konstitusi.htm
http://www.wikipedia.com http://www.prince-mienu.blogspot.com

Budiyanto, (2006). Pendidikan Kewarganegaraan. Jakarta : Erlangga

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->