BAB I PRINSIP DETEKSI DINI IBU DENGAN KELAINAN, KOMPLIKASI, PENYAKIT DALAM KEHAMILAN, PERSALINAN DAN MASA NIFAS

A.

Kompetensi dasar 1. Mampu menjelaskan Prinsip deteksi dini ibu dengan kelainan, komplikasi, penyakit yang lazim terjadi dalam kehamilan,

Pemeriksaan kehamilan dini ( early ANC detection , Kontak dini kehamilan trimester I, Pelayanan ANC berdasarkan kebutuhan individu dan skrining untuk deteksi dini 2. Mampu mendiskripsikan deteksi dini penyulit persalinan dengan memanfaatkan partograf 3. Mampu menguraikan deteksi dini komplikasi masa nifas (2 jam masa nifas, 6 jam masa nifas, 6 hari masa nifas, 6 minggu masa nifas) B. Uraian Materi 1. Deteksi Dini Terhadap Kelainan, Komplikasi Dan Penyakit Yang Lazim Terjadi Pada Ibu Hamil Kehamilan melibatkan perubahan fisik maupun emosional dari ibu serta perubahan sosial dalam keluarga. Pada umumnya kehamilan berkembang normal dan menghasilkan kelahiran bayi sehat cukup bulan melalui jalan lahir, namun kadang-kadang tidak sesuai dengan yang diharapkan. Sulit diketahui sebelumnya bahwa kehamilan akan terjadi masalah, oleh karena itu pelayanan asuhan antenatal merupakan cara penting memonitor dan mendukung kesehatan dan mendeteksi kehamilan ibu. Ibu hamil sebaiknaya dianjurkan mengunjungi bidan atau dokter sedini mungkin semenjak ibu merasa dirinya hamil untuk mendapatkan pelayanan atau asuhan antenatal. Pemeriksaan dan pengawasan terhadap ibu hamil sangat perlu dilakukan secara teratur. Hal ini bertujuan untuk

1

menyiapkan seoptimal mungkin fisik dan mental ibu dan anak selama dalam kehamilan, persalinan dan nifas sehingga didapatkan ibu dan anak yang sehat. Selain itu juga untuk mendeteksi dini adanya kelainan, komplikasi dan penyakit yang biasanya dialami oleh ibu hamil sehingga hal tersebut dapat dicegah ataupun diobati. Dengan demikian maka angka morbiditas dan mortalitas ibu dan bayi dapat berkurang a. Pemeriksaan Kehamilan Dini (Early ANC Detection) Idealnya wanita yang merasa hamil bersedia untuk

memeriksakan diri ketika haidnya terlambat sekurangkurangnya 1 bulan. Dengan demikian, jika terdapat kelainan pada kehamilannya tersebut akan lekas diketahui dan segera dapat diatasi. Oleh karena itu, setiap wanita hamil sebaiknya melakukan kunjungan antenatal sedikitnya 1 kali pada trimester 1 ( sebelum minggu ke 16). Penilaian klinik merupakan proses berkelanjutan yang dimulai pada kontak pertama antar petugas kesehatan dengan ibu hamil secara optimal. Pada kunjungan dini adapun pemeriksaan yang dilakukan untuk mendeteksi komplikasi, penyulit ataupun penyakit pada kehamilan, yaitu : 1) Anamnesa Anamnesa adalah tanya jawab antara penderita dan pemeriksa. Dari anamnesa ini banyak keterangan yang diperoleh guna membantu menegakkan diagnosa dan prognosa kehamilan. a) Anamnesa Sosial ( biodata dan latar belakang sosial b) Anamnesa Kehamilan (haid) c) Anamnesa Medik/ Kesehatan d) Anamnesa Kebidanan/ Obstetri

2

2) Pemeriksaan Umum a) Tinggi badan Pada wanita hamil yang pertama kali memeriksakan perlu diukur tinggi badannya. Seorang wanita hamil yang terlalu pendek, yang tinggi badannya kurang dari 145 cm tergolong resiko tinggi karena kemungkinan besar persalinan berlangsung kurang lancar dengan kemungkinan kesempitan panggul. Perbandingan tinggi dan berat badan memberi gambaran mengenai keadaan gizi. b) Berat badan Pada tiap pemeriksaan wanita hamil baik yang pertama kali atau ulangan, berat badan perlu ditimbang. Kenaikan berat badan yang mendadak dapat merupakan tanda bahaya komplikasi kehamilan yaitu preeklampsi. Dalam trimester I berat badan wanita hamil biasanya belum naik bahkan biasanya menurun karena

kekurangan nafsu makan. Dalam trimester terakhir terutama karena pertumbuhan janin dan uri berat badan naik sehingga pada akhir kehamilan berat badan wanita hamil bertambah kurang lebih 11 kg dibanding sebelum hamil. Pada trimester terakhir berat badan kurang lebih 0.5 kg seminggu, bila penambahan berat badan tiap minggu lebih dari 0.5 kg harus diperhatikan

kemungkinan preeklampsi. c) Tanda-tanda vital Dalam keadaan normal tekanan darah dalam kehamilan trimester terakhir sistolik tidak melebihi 140 mmHg, dan diastolik tidak melebihi 90 mmHg. Bila terdapat

3

Pemeriksaan ini meliputi seluruh bagian kepala dan leher. Pemeiksaan paru haus mencakup obsevasi sesak nafas. Pemeriksan payudara dengan cara palpasi meliputi bentuk dan ukuran payudara.tekanan darah melebihi diatas maka kemungkinan adanya preeklampsi. letek janin dan detak jantung janin dan CVAT (costo vetrebral tenderness) 4 . putting susu menonjol atau tidak. Hal ini karena pengaruh estrogen dan progesteron yang merangsang duktus dan alveoli payudara. Mumu jantung diastolik ditemukan . Jika pada pemeriiksaan mata sklera ikterik dan konjungtiva anemis maka kemungkinan anemia. nafas cepat . batuk dan dispnea untuk menegakkan diagnosa bonkitis dan pneumonia. paru dan organ dalam tubuh lainnya. Dari pemeriksaan ini diperoleh mengenai ukuran dan bentuk uterus kesesuaian antara tinggi fundus uteri dengan umur kehamilan. masa dan pembesaran pembuluh limfe. g) Pemeriksaan abdominal Pemeriksaan abdominal dilakukan dengan palpasi. f) Pemeriksaan jantung. e) Pemeriksaan payudara Pada wanita hamil payudara terlihat besar dan tegang serta sedikit nyeri. adanya retraksi. nafas tidak teatu mengi. d) Pemeriksaan kepala dan leher Pemeriksaan ini dilakukan dengan menggunakan pemeriksaan inspeksi.pada 90% wanita hamil kerena tekanan daah ibu hamil meningkat secaa mencolok.nafas dangkal .

Kontak Dini Kehamilan Trimester I Pada trimester I. dan glukosa urine. menurunnya keinginan untuk melakukan hubungan seksual sangat wajar. Selain itu pemeriksaan urin juga bertujuan untuk mengetahui adanya protein urine dan glukosa urine. jika kepala sudah masuk panggul koitus sebaiknya dihentikan karena dapat menimbulkan perasaan sakit dan perdarahan. Pada waktu itu plasenta telah terbentuk serta kemungkinan abortus menjadi lebih kecil. Pada pemeriksaan ini vulva. i) Pemeriksaan ekstremitas atas dan bawah Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui adanya varises. Pada umumnya koitus diperbolehkan pada masa kehamilan jika dilakukan dengan hati hati. protein urine. varices. Pemeriksaan urine pada awal kehamilan bertujuan untuk mengetahui adanya kehamilan.h) Pemeriksan genetalia Untuk memeriksa genetalia biasanya dengan pemeriksaan ginekologi. sebaiknya koitus ditunda sampai kehamilan 16 minggu. 5 . Pada akhir kehamilan. Hb. hal ini akan menjadi tanda serius dari preeklampsi. oedema dan reflek patella. b. Pemeriksan ini ditujukan untuk memeriksa golongan darah. Untuk glukosa urin berhubungan dengan diabetes. Pada saat hamil jika dihubungkan dengan hipertensi dan oedem. Pemeriksaan laboratorium Test laboratorium perlu dilakukan pada ibu hamil. Apabila dalam anamnesis ada riwayat abortus sebelum kehamilan yang sekarang. b. cairan. vagina dan porsio diperiksa dan dilihat inspekulo deteksi tanda-tanda infeksi. Protein dalam urine merupakan hasil kontaminasi dair vagina atau dari infeksi saluran kencing atau penyakit ginjal.hemorid.

dapat dilakukan pemeriksaan monitor janin lainnya seperti elektrokardiografi fetal. dan kondisi janin setiap minggunya. Selain itu anjurkan ibu pula untuk cukup istirahat menjauhi emosi dan jangan bekerja terlalu berat. apakah ada ancaman terhadap jiwa ibu. rendah lemak. amnioskopi. Pada ibu hamil dengan hipertensi sebaiknya dilakukan pemantauan tekanan darah. dan sebagainya. disamping pemeriksaan biasa. dan rendah garam. Hal ini bertujuan untuk mencegah pertambahan berat badan yang agresif. urin. Pada pola nutrisi sebaiknya ibu dianjurkan untuk diet tinggi protein rendah hidrat arang. Pengakhiran kehamilan baik yang muda maupun yang sudah cukup bulan harus dipikirkan bila ada tanda – tanda hipertensi ganas (tekanan darah 200/120 atau pre-eklamsi berat). 6 . Apalagi bila janin telah meninggal dalam kandungan pengakhiran kehamilan ini sebaikanya dirundingkan antar disiplin : dengan ahli penykit dalam . Misalnya persetujuan ANC yang diberikan terhadap ibu hamil dengan hipertensi tentunya akan berbeda dengan pelayanan yang diberikan kepada ibu hamil dengan varises. Pengawasan terhadap janin harus lebih teliti. Anjurkan kepada ibu untuk mentaati pemeriksaan antenatal yang teratur dan jika perlu dikonsultasikan kepada ahli. pH darah janin. Pelayanan ANC berdasarkan kebutuhan individu. ukuran biparietal (USG). Pelayanan ANC yang diberikan petugas kesehatan kepada setiap ibu hamil berbeda – beda tergantung dari kebutuhan dan kondisi dari setiap individunya.c. Penentuan kadar estriol.

maka kemungkinan kehamilan ektopik. ada tidaknya gangguan kehamiulan (ruptura. Pemeriksaaan USG saat ini dipandang sebagai metode pemeriksaan yang aman. Glyvenol. tergantung pada usia kehamilan. 7 . 4) Dapat diberikan obat – obatan : Venosan. Dari kenyataan ini bisa juga diartikan bahwa kadar HCG yang lebih dari 6500 mlU/ ml tidak dijumpai adanya kantong gestasi intrauterin. Pemeriksaan USG pada kehamilan normal usia 5 minggu struktur kantong gestasi intrauterin dapat dideteksi dimana diameternya sudah mencapai 5-10 mm. 3) Anjurkan ibu untuk memakai kaos kaki atau pembalut tungkai elastis. Jika dihubungkan dengan kadar HCG pada saat itu kadarnya sudah mencapai 6000-6500 mlU/ ml. abortus) serta banyak dan lamanya perdarahan intra abdomen. dan Varemoid. Venoruton. Gambaran USG kehamilan ektopik sangat bervariasi. USG merupakan suatu media diagnostik dengan menggunakan gelombang ultrasonik untuk mempelajari struktur jaringan berdasarkan gambaran ecko dari gelombang ultrasonik.Sedangkan pada ibu hamil dengan varises pelayanan ANC yang diberikan antara lain : 1) Anjuran ibu untuk jangan berdiri atau duduk terlalu lama dan jangan memakai ikat pinggang terlalu kencang. Diagnosis pasti kehamilan ektopik secara USG hanya bisa ditegakkan jika terlihat kantong gestasi berisi janin hidup yang letaknya diluar kavum uteri. d. 2) Anjurkan kepada ibu supaya jalan – jalan dan senam hamil untuk memperlancar peredaran darah. Skrining untuk deteksi dini.

Salah satu alata yang dapat digunakan untuk membantu memantau kemajuan persalinan dan informasi untuk membuat keputusan klinik adalah partograf. 8 . Deteksi Dini Penyulit Persalinan . Selain denyut jantuing mungkin juga dapat dideteksi adanya gerakan embrio yang dapat dirangsang dengan melakukan perkusi pada dinding perut. Struiuktur kepala sudah dapat dibedakan dari badan. Oleh karena itu pada saat memberikan asuhan kepada ibu yang sedang bersalin. 2. Panjang embrio mencapai 10 mm dan menjadi lebih mudah dilihat.Pada kehamilan 7 minggu diameter kantong gestasi telah mencapai 25 mm. Struktur embrio dapat dilihat lebih jelas lagi. Pada kehamilan 8 minggu kantong gestasi telah berdiameter 30 mm. Jika dijumpai lebih dari 1 embrioyang menunjukkan tanda-tanda kehidupan maka kemungkinan kehamilan multiple. penolong harus waspada terhadap masalah yang mungkin terjadi. Persalinan tidak selalu berjalan dengan normal. Sering kali terlihat kuning telur dalam ( yolk salk ) berupa struktur vasikuler berdiameter kira-kira 5 mm yang letaknya diluar selaput amnion. Jika tidak ada tanda-tanda kehidupan seperti yang telah disebutkkan maka kemungkinan terjadi miss abortion. Jika tidak dijumpai adanya struktur embrio dan kantong kuning telur maka kemungkinan kehamilan anembrionik.

Kisaran normal DJJ terpapar pada partograf diantara garis tebal angka 180 – 100. 9 . 1 Partogaf Temuan-temuan dari hasil pengamatan. tanggal dan waktu dirawat. umur. tetapi harus waspada bila DJJ dibawah 120atau diatas 160. 1. nomor RM.Gambar. Kesehatan dan kenyamanan janin a. DJJ (Detak Jantung Janin) DJJ dicatat setiap 30 sekali (lebih sering jika ada kegawatdaruratan). pemeriksaan dan asuhan persalinan kala I dapat dicatat pada partograf. gravida para dan abortus. waktu pecahnya ketuban 2. nama. Informasi tentang ibu Melengkapi bagian awal ( atas ) partograf secara teliti pada saat mulai asuhan persalinan meliputi. Adapun partograf mengintruksikan : 1.

sutura dengan mudah dipalpasi b) c) 1 : tulang – tulang kepala janin hanya saling bersentuhan 2 : tulang –tulang kepalajanin saling tumpang tindih. kolom dan lajur kedua pada partograf adalah untuk 10 . Adapun hasil temuan mengenai ketuban : U : Ketuban utuh ( belum pecah ) J : ketuban sudah pecah dan ai ketuban jernih. M :ketuban sudah pecah dan air ketuban bercampur meconium. d. Warna dan adanya air ketuban Penilaian air ketuban serta warnanya dilakukan setiap kali periksa dalam vagina dan jika selaput ketuban pecah. c.b. Mekonium dalam cairan ketuban tidak selalu menunjukkan adanya gawat janin apabila apabila tidak nmpak tanda gawat janin. K : ketuban sudah pecah dan air ketuban tidak ada (kering). tapi masih dapat dipisahkan d) 3 : tulang – tulang kepala janin tumpang tindih dan tidak dapat dipisahkan. Tulang kepala yang sampai menyusup atau tumpang tindih menunjukkan kemungkinan adanya disproporsi tulang panggung ( CPD ). Kemajuan Persalinan Penilaian kemajuan persalinan dilakukan pemeriksaan setiap 4 jam sekali. Tetapi jika terdapat mekonium kental. segara rujuk ibu ketempat yang memiliki kemampuan penatalaksanaan gawatdarurat obstetri dan bayi baru lahir. Lambang – lambang dalam mollase : a) 0 : tulang – tulang kepala janin terpisah. Ketidak kemampuan akomodasi akan benar – benar terjadi jika tulang kepala yang bisa menyusup tidak mampu dipisahkan. Molase ( penyusupan kepala janin ) Penyusupan adalah indikator penting tentang seberapa jauh bayi dapat menyesuaikan diridengan bagian atas keras ibu. D :air ketunan sudah pecah dan bercampur darah.

Jika pembukaan servik mengarah kesebelah kanan gari waspada (pembukaan kurang dari 1 cm per jam) maka harus dipertimbangkan penyulit misalnya kala aktif memanjang. protein dan 11 . Selain nadi. Nilai dan catat suhu ibu ) lebih sering jika meningkat. mungkin dia dalam keadaan dehidrasi atau kesakitan. Jika pembukaan servik telah melampaui dan berda disebelah kanan garis bertindak maka perlu dilakukan tindakan menyelesaikan persalinan. Jika tekanan darah ibu menurun curigai adanya perdarahan. Kesehatan dan kenyamanan ibu Meliputi nadi. Jika denyut nadi ibu meningkat. Pastikan hidrasi yang cukup melalui oral atau IV dan berikan analgesik secukupnya nilai dan catat tekanan darah ibu setiap 4 jam selama fase aktif persalinan. atau innersia uteri. Kemajuan persalinan dikatakan cukup baik jika kontraksi teratur dan progresif dengan peningkatan frekuaensi dan durasi. Kemajuan persalinan dilihat dari pembukaan servik dan penurunan bagian terbawah janin.pencatatan kemajuan persalinan. Untuk menghitung banyaknya kontraksi dalam 10 menit dan lamanya tiap-tiap kontraksi dalam hitungan detik. Tetapi jika kontraksinya tidak teratur dan tidak sering setelah fase laten dapat menyebabkan persalinan lama. servik kaku. atau dianggap adanya infeksi ) setiap 2 jam. e. 3. Kontraksi uterus Kontraksi uterus dicatat setiap 30 menit dengan melakukan palpasi. tekanan darah dan temperatur tubuh nilai dan catat nadi ibu setiap 30 menit selama fase aktif persalinan. tekanan darah dan suhu tubuh kenyamanan dan kesehatan tubuh aseton ibu juga meliputi volume urine.

3. dan rasa nyeri atau adanya disuria. Sedangkan gejala lokal dapat berupa uterus lembek. perdarahan 350500cc per menit waspadai perdarahan ibu post partum karen atonia uteri.Ukur dan catat jumlah produksi urin ibu sedikitnya 2 jam (setiap kali ibu berkemih ) lakukan pemeriksaan adanya aseton atau protein dalam urine setiap ibu berkemih. Disertai pembengkakan di wajah atau ekstremitas c. panas. kemerahan. takikardi dan malaise. mencegah. Masa 2 jam dan 6 jam nifas. Infeksi yang meluas ke saluran urinary payudara. Infeksi alat genital merupakan komplikasi masa nifas. Gejala umum infeksi dapat dilihat dari temperature atau suhu. Beberapa bakteri dapat menyebabkan infeksi setelah persalianan. b. 2. pembengkakan. Apabila uterus lembek dan tidak berkontraksi. Masa 6 hari – 6 minggu nifas a. dan terasa sakit 12 . Jika terdapat aseton dalam urin ibu dicurigai masukan nutrisi yang kurang. diantaanya: 1. Infeksi masa nifas masih merupakan penyebab tertinggi AKI. Payudara yang berubah menjadi merah. Setiap tahap masa nifas bidan pelu menilai status ibu. mendeteksi menangani masalah-masalah yang terjadi karena ibu nifas rentan terjadi penyulit dan komplikasi. Wanita yang baru melahirkan sering mengeluh sakit kepala hebat atau penglihatan kabur. Asuhan masa nifas diperlukan karena pada periode ini merupakan masa kritis bagi ibu dan bayinya. Deteksi Dini Pada Masa Nifas Masa nifas dimulai setelah plasenta lahir sampai 6 minggu beikutnya. Diperkirakan 60% kematian ibu terjadi akibat kejadian setelah persalinan dan 50% kematian masa nifas terjadi 24 jam pertama. segera berikan dextros.

Selama masa nifas. persalinan dan masa nifas. komplikasi. Timbul rasa nyeri seperti terbakar. dan pembengkakan dikaki. Sesudah anak lahir ibu akan merasa lelah mungkin juga lemas karena kehabisan tenaga. Pada minggu-minggu awal setelah persalinansampai kurang lebih 1 tahun ibu post partum cenderung akan mengalami perasaan-perasaan yang tidak pada umumnya. Tetapi biasanya disebabkan adanya kelelahan yang amat berat. Sehingga alat pencernaan perlu istirahat guna memulihkan keadaanya kembali. f. Ringkasan Materi Penting bagi bidan untuk mengetahui prinsip deteksi dini ibu dengan kelainan. panas. Pada masa kehamilan deteksi dini dilaksanakan pemeriksaan kehamilan dini ( early ANC detection ) secara lengkap meliputi pengkajian psikososial dan pemeriksaan fisik lengkap. lunak. penyakit yang lazim terjadi dalam kehamilan.nyeri tekan maka mengarah pada gejala tromboplebitis.perlu waspa apabila disertai . rasa sakit. 13 . seperti merasa sedih. merah.Payudara bengkak yang tidak disusu secara adekuat dapat menyebabkan payudara menjadi merah. akhirnya terjadi mastitis. tetapi sedikit atau banyak pasti dipengaruhi proses persalinannya tersebut. dapat terbentuk thrombus sementara pada venavena manapun di pelvis yang mengalami dilatasi. C. tidak mampu mengasuh dirinya sendiri dan bayinya. Oleh karena itu tidak benar bila ibu diberikan makanan sebanyakbanyaknya walaupun ibu menginginkannya. e.waspadai bila berlanjut pada depresi post partum. sehingga ibu tidak ingin makan sampai kehilangan itu hilang. nafsu makan pun akan terganggu. Putting lecet akan memudahkan masuknya kuman dan terjadinya payudara bengkak d. Dalam persalinan lambung dan alat pencernaan tidak langsung turut mengadakan proses persalianan. terasa sakit.

2001. Syaifudin. Ilmu Kebidanan. Kesejahteraan dan kenyamanan janin meliputi DJJ. 1999 7. Tugas/ Latihan 1. 1997. pembukaan dan penurunan kepala serta kesejahteraan ibu meliputi tensi dan nadi dll. Pedoman Mengajar dosen AKBID. Sinopsis Obstetri Jilid I.2006.. F.Mewaspadai kontak dini kehamilan trimester I. air ketuban dan molase. kemajuan persalinan meliputi kontraksi. Guna mendeteksi komplikasi persalinan bidan akan dibantu dengan partograf dan kelainan serta penyakit pada masa nifas dideteksi pada 2 jam post partum.. 6 jam post partum . dalam pelayanan ANC di dasarkan kebutuhan individu sehingga kompliksai dan penyakit segera dapat dideteksi. Tidak diterbitkan 14 . Jakarta. 1999. 2. Jakarta. 2. pada 6 hari post partum dan 6 minggu post partum. Jakarta Hanifa. 2001 Varney’s H. Skrening dini pada kehamilan dengan pemanfaatan USG. Modul 2. 4. Tim pengajar Askeb IV. Daftar Pustaka 1. Midwifery.. dkk. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. 6. Jones and Bartlett Publisher Mochtar R. Workshop kurikulum mata ajar Askeb IV. UK. D. Rambu-rambu jawaban soal 1. YBPSP 2. E. Penggunakan partograf dapat membantu bidan dalam mendeteksi komplikasi persalinan kala I meliputi.. Perdarahan karena atonia uteri. 1998. 5. 3. Buku Panduan Praktis Maternal dan Neonatal. Pada masa nifas 2 jam dan 6 jam post partum deteksi dini komplikasi dan penyakit di fokuskan untuk. YBPSP Pusdiknakes – JHPIEGO.

persalinan dan nifas 2. Tuberkulosis Paru Kehamilan tidak banyak memberikan pengaruh terhadap cepatnya perjalanan penyakit ini. Uraian Materi Penyakit yang Menyertai Kehamilan dan Persalinan a. karena dirawat atau disusui ibunya. nafsu makan berkurang. Pada penderita yang dicurigai menderita TBC Paru sebaiknya dilakukan pemeriksaan tuberkulosa tes kulit dengan PPD (puirified protein derivate). Pada janin dengan ibu TBC Paru jarang dijumpai TBC congenital. PERSALINAN DAN NIFAS A. banyak penderita tidak mengeluh sama sekali. Menjelaskan infeksi yang menyertai kehamilan. Perlu diperhatikan dan dilindungi janin dari pengaruh sinar X. Keluhan yang sering ditemukan adalah batuk-batuk yang lama. BB menurun. Menguraikan penyakit yang menyertai kehamilan. Pada pemeriksaan fisik mungkin didapatkan adanya ronkhi basal. janin baru tertular penyakit setelah lahir. bila hasil positif dilanjutkan dengan pemeriksaan foto dada.BAB II PENYAKIT YANG MENYERTAI IBU DALAM MASA KEHAMILAN. Kompetensi Dasar 1. berikan penjelasan dan pendidikan 15 . Penyakit ini mungkin bentuknya aktif atau kronik. pada penderita TBC Paru aktif perlu dilakukan pemeriksaan sputum BTA untuk membuat diagnosis secara pasti sekaligus untuk tes kepekaan / uji sensitivitas. 1. dan mungkin pula tertutup atau terbuka. badan terasa lemah. persalinan dan nifas B. kadang-kadang ada batuk darah. 1) Penatalaksanaan : Penyakit ini akan sembuh dengan baik bila pengobatan yang diberikan dipatuhi oleh penderita. suara caverne atau pleural effusion. dan sakit di dada.

Pemeriksaan sputum harus dilakukan setelah 1-2 bulan pengobatan.kepada pasien bahwa penyakitnya bersifat kronik sehingga diperlukan pengobatan yang lama dan teratur. Sebagian besar obat anti TBC aman untuk wanita hamil. jangan digunakan dalam kehamilan trimester I. Rifampisin 600mg/hari. bersin dan tertawa. 2) Obat-obatan yang dapat digunakan (a). Oleh karena itu –perlu diperiksa faal hati sewaktu-waktu dan bila ada perubahan untuk sementara obat harus segera dihentikan. Obat ini baik sekali untuk pengobatan TBC Paru tetapi memberikan efek teratogenik pada binatang poercobaan sehingga sebaiknya tidak diberikan pada trimester I kehamilan. Etambutol 15-20 mg/kg/hari. Streptomycin 1gr/hari. Pengaruh obat ini pada janin dapat menyebabkan tuli bawaan (ototoksik). (b). kecuali streptomisin yang bersifat ototoksik bagi janin dan harus diganti dengan etambutol. jika masih positif perlu diulang tes kepekaan kuman terhadap obat. bila pasien sudah sembuh lakukan persalinan secar biasa. Obat ini harus hati-hati digunakan dalam kehamilan. Obat ini mungkin menimbulkan komplikasi pada hati sehingga timbul gejala-gejala hepatitis berupa nafsu makan berkurang. Disamping itu obat ini juga kurang menyenangkan pada penderita karena harus disuntikan setiap hari. efektifitasnya tinggi dan harganya lebih murah. pasien hamil dengan TBC Paru yang tidak aktif tidak perlu mendapat pengobatan. 16 . Ajarkan untuk menutup mulut dan hidungnya bila batuk. (d). dan isoniazid (INH) selalu diikutkan karena paling aman untuk kehamilan. Isoniazid (INH) 300 mg/hari. akan tetapi efek samping dalam kehamilan sangat sedikit dan pada janin belum ada. (c). Sedangkan pada yang aktif dianjurkan untuk menggunakan dua macam obat atau lebih untuk mencegah timbulnya resistensi kuman. Obat ini dapat menimbulkan komplikasi retrobulber neuritis. mual dan muntah.

berikan masker untuk menutupi mulut dan hidung agar kuman tidak menyebar. karena bayi cukup rentan terhadap penyakit ini. sebagian besar ahli menganjurkan pemisahan dari ibu jika ibu dicurigai menderita TBC aktif. Pasien diberi obat uterotonika dan obat TBC tetap harus diteruskan. mendapat profilaksis INH dan imunisasi BCG. persalinan dibantu Ekstraksi Vacum atau Forcep. Pasien TBC yang menyusui harus mendapat regimen pengobatan yang penuh. Semua obat anti TBC sesuai untuk laktasi sehingga pemberian laktasi dapat dengan aman dan normal. Selain itu juga terjadi hiperplasia dan hipertrofi otot dinding ureter dan kaliks. b. melekuk dan kadang berpindah letak ke lateral dan akan kembali normal 8-12 minggu setelah melahirkan. Usahakan pasien tidak meneran. Ureter juga mengalami pemanjangan.Pasien TBC aktif harus ditempatkan dalam kamar bersalin terpisah. dan berkurangnya tonus otot-otot saluran kemih karena pengaruh kehamilan. Penderita yang tidak mungkin pulang harus dirawat di ruang isolasi. Kandung kemih akan berpindah 17 . Ginjal Dalam kehamilan terdapat perubahan-perubahan fungsional dan anatomic ginjal dan saluran kemih yang sering menimbulkan gejala-gejala dan kelainan fisik dan hasil pemeriksaan laboratorium. namun bayi harus diberi suntikan mantoux. Perubahan anatomi terdapat peningkatan pembuluh darah dan ruangan interstisial pada ginjal. kemudian dapat dipulangkan langsung. Setelah persalinan pasien dirawat di ruang observasi 68 jam. Ginjal akan memanjang kurang lebih 1 cm dan kembali normal setelah melahirkan. sampai ibunya tidak memperlihatkan tanda-tanda proses aktif lagi setelah dibuktikan dengan pemeriksaan sputum sebanyak 3 kali yang selalu memperlihatkan hasil negatif. Akibat pembesaran uterus hiperemi organ-organ pelvis dan pengaruh hormonal terjadi perubahan pada kendung kemih yang dimulai pada kehamilan 4 bulan.

c. Pembuluh-pembuluh di daerah mukosa akan membengkak dan melebar. Jantung 1) Etiologi Sebagian besar disebabkan demam reumatik.5-0. 3) Patofisiologi Keperluan janin yang sedang bertumbuh akan oksigen dan zat-zat makanan bertambah dalam berlangsungnya kehamilan. diatas nilai normal wanita tidak hamil. insufisiensi aorta. stenosis aorta. Kapasitas kandung kemih meningkat sampai 1 liter karena efek relaksasi dari hormon progesterone. insufisiensi mitral. gabungan stenosis mitral dengan insufisiensi mitral.7 mg/100 mll dan urea nitrogen darah 8-12 mg/100 mll. terjadi peningkatan aliran plasma (Renal Plasma flow) dan tingkat filtrasi gomerolus (Gomerolus Filtration Rate). 2) Faktor Predisposisi Peningkatan usia pasien dengan penyakit jantung hipertensi dan superimposed preeklamsi atau eklamsi. gabungan antara insufisiensi aorta dan stenosis aorta. sehingga jantung harus bekerja lebih berat. Bentuk kelainan katup yang sering dijumpai adalah stenosis mitral. aritmia jantung atau hipertrofi ventrikel kiri. Akibatnya akan terjadi penurunan kadar kreatinin serum dan urin nitrogen darah. Untuk itu banyaknya darah yang beredar bertambah. Perubahan-perubahan itu terutama disebabkan karena : 18 . Perubahan Fungsi Segera sesudah konsepsi. Sejak kehamilan trimester II GFR akan meningkat 30-50 %. normal kreatinin serum adalah 0. anemia. penyakit katupulmonal dan trikuspidal. yang harus dipenuhi melalui darah ibu. riwayat decompensasi cordis. Otot kandung kemih mengalami hipertrofi akibat pengaruh hormon estrogen. Karena itu dalam kehamilan selalu terjadi perubahan dalam system kardiovaskuler yang biasanya masih dalam batas-batas fisiologik.lebih anterior dan superior.

ke kiri. Biasanya terdapat riwayat penyakit jantung dari anamnesis atau dalam rekam medis. edema tungkai bawah. saat puncak perubahan dan kebutuhan jantung maksimum (b). Saat persalinan. Namun gejala dan tanda ini dapat pula terjadi pada wanita hamil normal. dimulai sejak umur kehamilan 10 minggu dan puncaknya pada UK 32-36 minggu (b). ortopnea. 4-5 hari seetelah peralinan. saat arus balik vena dihambat kembali ke jantung. nafas terengah-engah. terutama minggu ke 28 dan 32. (c).20% dan ketika meneran pada partus kala II. Terjadi penurunan resistensi perifer dan emboli pulmonal dari thrombus iliofemoral. Perlu diawasi saat-saat berbahaya bagi penderita penyakit jantung yang hamil yaitu: (a). Peningkatan berat badan. Hilangnya pengaruh obstruksi uterus yang hamil menyebabkan masuknya darah secara tiba-tiba dari ekstremitas bawah dan sirkulasi uteroplasenta ke sirkulasi sistemik. dan ke depan sehingga pembuluhpembuluh darah besar dekat jantung mengalami lekukan dan putaran. Terjadi perubahan hemodinamik. hepato megali. dan peningkatan tekanan vena jugularis adalah tanda dan gejala gagal jantung kanan. Uterus gravidus yang makin lama makin besar mendorong diafragma ke atas. Setelah melahirkan bayi dan plasenta. Setiap kontraksi uterus meningkatkan jumlah darah ke dalam sirkulasi sistemik sebesar 15 . dan kongesti paru adalah tanda dan gejala gagal jantung kiri. 4) Manifestasi Klinis Mudah lelah. Hidrenia (Hipervolemia). (d). 19 .(a). Antara minggu ke 12 dan 32.

infark. Diagnosis ditegakkan bila ada satu dari kriteria : (a). Kelas II Sedikit pembatasan kegiatan fisik Saat istirahat tidak ada keluhan 20 .5) Pemeriksaan Penunjang Selain pemeriksaan laboratorium rutin juga dilakukan pemeriksaan : (a). Ekokardigrafi. Bising sistolik yang nyaring. iskemia. Arimia berat Pada wanita hamil yang tidak menunjukan salah satu gejala tersebut jarang menderita penyakit jantung. 6) Diagnosis Burwell dan Metcalfe mengajukan 4 kriteria. tanda penyakit pericardium. EKG untuk mengetahui kelainan irama dan gangguan konduksi. namun jika memang diperlukan dapat dilakukan dengan memberi perlindung diabdomen dan pelvis. atau bising jantung terus menerus (b). Pembesaran jantung yang jelas (c). presistolik. Meteode yang aman. (b). kardiomegali. Bising diastolic. cepat dan terpercaya untuk mengetahui kelainan fungsi dan anatomi dari bilik. Pemeriksaan Radiologi dihindari dalam kehamilan. Bisa ditemukan tanda-tanda aritmia. dan peri kardium (c). Bila terdapat gejala decompensasi jantung pasien harus di golongkan satu kelas lebih tinggi dan segera dirawat Klasifikasi penyakit jantung dalam kehamilan (a). Kelas I • • • • Tanpa pembatasan kegiatan fisik Tanpa gejala penyakit jantung pada kegiatan biasa (b). katup. terutama bila disertai thrill (d).

namun harus diawasi dengan ketat. Pasien harus tidur malam cukup 8-10 jam. Pasien dirawat bila keadaan memburuk. 7) Penatalaksanaan Sebaiknya dilakukan dalam kerjasama dengan ahli penyakit dalam atau ahli jantung. Kelas II Umumnya tidak memerlukan pengobatan tambahan. meningkatkan kontraktilitas jantung dengan digitalis. gawat janin. kematian. jantung berdebar (palpitasi cordis). dan menurunkan after load dengan vasodilator.• Pada kegiatan fisik biasa timbul gejala isufisiensi jantung seperti: kelelahan. Penatalaksanaan dilakukan berdasarkan klasifikasinya yaitu : (a). hipoksia. hanya harus menghindari aktifitas yang berlebihan. istirahat baring minimal 21 . edema paru. Pada janin dapat terjadi : prematuritas. Kelas I Tidak memerlukan pengobatan tambahan (b). Kedua kelas ini dapat meneruskan kehamilan sampai cukup bulan dan melahirkan pervaginam. sesak nafas atau angina pectoris (c). APGAR score rendah. terutama pada UK 28-32 minggu. Kelas III • • • Banyak pembatasan dalam kegiatan fisik Saat istirahat tidak ada keluhan Pada aktifitas fisik ringan sudah menimbulkan gejala-gejala insufisiensi jantung (d). menurunkan preload dengan deuretik. Kelas IV • Tidak mampu melakukan aktivitas fisik apapun Komplikasi Pada ibu dapat terjadi : gagal jantung kongestif. BBLR. abortus. pertumbuhan janin terhambat. Secara garis besar penatalksanaan mencakup mengurangi beban kerja jantung dengan tirah baring.

Pengawasan kala I setiap 10-15 menit dan kala II setiap 10 menit. morfin (1015 mg). Lakukan persalinan pervaginam kecuali terdapat kontra indikasi obstetric. Kelas III Dirawat di RS selam hamil terutama pada UK 28 minggu dapat diberikan diuretic (d). Bila terjadi takikardi. dan diuretic. Bila terjadi gagal jantung mutlak harus dirawat dan berbaring 22 . Lakukan ANC dua minggu sekali dan seminggu sekali setelah 36 minggu. Kelas IV Harus dirawat di RS Kedua kelas ini tidak boleh hamil karena resiko terlalu berat. Rawat pasien sampai hari ke 14.setengah jam setelah makan. Bila berlangsung 20 menit dan ibu tidak dapat dilarang meneran akhiri dengan ekstraksi cunam atau vacum dengan segera Tidak diperbolehkan memaki ergometrin karena kontraksi uterus yang bersifat tonik akan menyebabkan pengembalian darah ke sirkulasi sistemik dala jumlah besar. membatasi masuknya cairan (75 mll/jam) diet tinggi protein. Rawat pasien di RS sejak 1 minggun sebelum waktu kelahiran. mobilisasi bertahap dan pencegahan infeksi. Metode anastesi terpilih adalah epidural Kala persalinan biasanya tidak berbahaya. sesak nafas (ancaman gagal jantung). berikan digitalis berupa suntikan sedilanid IV dengan dosis awal 0. Pada kala II dapat spontan bila tidak ada gagal jantung. (c). rendah garam dan membatasi kegiatan. Pertimbangkan abortus terapeutik pada kehamilan kurang dari 12 minggu. bila fisik memungkinkan pasien dapat menusui. dapat diulang 1-2 kali dengan selang 1-2 jam.8 mg. Selain itu dapat diberi oksigen. Lakukan pengawasan dengan ketat. takipnea. Jika kehamilan dipertahankan pasien harus terus berbaring selama hamil dan nifas.

d. Setelah kala III selesai. Pada wanita hamil saat yang paling baik adalah trimester II namun berbahaya bagi bayinya karena setelah operasi harus diberikan obat anti pembekuan terus menerus dan akan menyebabkan bahaya perdarahan pada persalinannya. Insulin ibu tidak dapat mencapai janin sehingga kadar gula ibu yang 23 . Diabetes Melitus Diabetes mellitus pada kehamilan adalah intoleransi karbohidrat ringan (toleransi glukosa terganggu) maupun berat (DM). Prognosis hasil konsepsi lebih buruk akibat dismaturitas dan gawat janin waktu persalinan.terus sampai anak lahir. Obat terpilih adalah heparin secara SC. Dengan tirah baring. Definisi ini mencakup pasien yang sudah mengidap DM (tetapi belum terdeteksi) yang baru diketahui saat kehamilan ini dan yang benar-benar menderita DM akibat hamil Dalam kehamilan terjadi perubahan metabolisme endokrin dan karbohidrat yang menunjang pemasokan makanan bagi janin serta persiapan untuk menyusui. 8) Prognosis Prognosis tergantung klasifikasi. terjadi atau diketahui pertama kali saat kehamilan berlangsung. Laktasi dilarang bagi pasien kelas III dan IV. Pemberian oksitosin cukup aman. digitalis. awasi dengan ketat. Kelainan yang paling sering menyebabkan kematian adalah edema paru akut pada stenosis mitral. Umumnya persalinan pervaginam lebih aman namun kala II harus diakhiri dengan cunam atau vacuum. penatalaksanaan. dan kepatuhan pasien. dan diuretic biasanya gejala gagal jantung akan cepat hilang. Glukosa dapat berdifusi secara tetap melalui plasenta kepada janin sehingga kadarnya dalam darah janin hampir menyerupai kadar darah ibu. hati-hati memberikan obat tokolitik pada pasien dengan penyakit jantung karena dapat menyebabkan edema paru atau iskemia miocard terutama pada kasus stenosis aorta atau mitral. untuk menilai terjadinya decompensasi atau edema paru. Operasi pada jantungn untuk memperbaiki fungsi sebaiknya dilakukan sebelum hamil. usia. penyulit lain yang tidak berasal dari jantung.

hydramnion. hipokalsemia. disamping beberapa hormon lain : estrogen. Fetal : abortus spontan. Tidak tergantung insulin (TTI) – Non Insulin Dependent diabetes mellitus (NIDDN) yaitu kasus yang tidak memerlukan insulin dalam pengendalian kadar gula darah. melahirkan bayi lebih dari 4000 gr. insufisiensi plasenta. riwayat PE dan polyhidramnion. riwayat pernah melahirkan anak mati tanpa sebab. steroid dan plasenta laktogen. : prematuritas.mempengaruhi kadar pada janin. makrosomia. Tergantung insulin (TI) – Insulin dependent Diabetes Melitus yaitu kasus yan memerlukan insulin dalam mengembalikan kadar gula darah. (c). riwayat melahirkan bayi dengan cacat bawaan. syndroma hipomegnesemia. riwayat BBL > 4500 gr dan infeksi saluran kemih berulang selama hamil. kematian trauma lahir. riwayat DM pada kehamilan sebelumnya. riwayat DM dalam keluarga. 1) Diagnosis Deteksi dini sangat diperlukan agar penderita DM dapat dikelola sebaik-baiknya. 3) Komplikasi (a). kematian intra uterin. obesitas. kematian ibu (b). hipoglikemia. kelainan congenital. polisitemia. gawat nafas. Neonatal neonatal. Pengendalian kadar gula terutama dipengaruhi oleh insulin. Terutama dilakukan pada ibu dengan factor resiko berupa beberapa kali keguguran. 2) Klasifikasi (a). hiperbilirubinemia. Juga terdapat riwayat ibu : umur ibu > 30 tahun. PE. Maternal : infeksi saluran kemih. (b). Akibat lambatbya resopsi makanan maka terjadi hiperglikemi yang relatif lama dan ini menuntut kebutuhan insulin. kematian intra uterin. 24 . hipertensi kronik.

Pantau kadar glukosa darah minimal 2 kali seminggu dan kadar Hb glikosila. kenaikan BB pada trimester I diusahakan sebesar 1-2. namun harus selalu diperhatikan gerak janin (normalnya >20 kali/12 jam). yaitu kadar glukosa darah puasa < 105 mg/dl. mendengarkan DJJ. Ibu hamil dengan DM tidak perlu dirawat bila keadaan diabetesnya terkendali baik. dan kadar HbA1c<6%. Penatalaksanaan Obstetric Pantau ibu dan janin dengan mengukur TFU. Ajarka pasien memantau gula darah sendiri di rumah dan anjurkan untuk kontrol 2-4 minggu sekali bahkan lebih sering lagi saat mendekati persalinan. 2 jam sesudah makan < 120 mg/dl. Obat hipoglikemik oral tidak dapat dipakai saat hamil dan menyusui mengingat efek teratogenitas dan dikeluarkan melalui ASI. dan secara khusus memakai USG dan KTG. lakukan amniosentesis dahulu untuk memastikan kematangan janin (bila UK <38 minggu). bahkan pada seorang penderita asma. e. Pengaruh kehamilan terhadap timbulnya asma tidak sama pada setiap penderita. Bila diperlukan terminasi kehamilan. Janin sehat dapat dilahirkan pada umur kehamilan cukup waktu (40-42 minggu) dengan persalinan biasa. Lakukan penilaian setiap akhir minggu sejak usia kehamilan 36 minggu. total kenaikan BB sekitar 10-12 kg. tidak ada ketonuria. Selain itu juga menjaga agar tidak ada episode hipoglikemia.4) Penatalaksanaan Prinsipnya adalah mencapai sasaran normoglikemia.5 kg /minggu. Adanya makrosomia pertumbuhan janin terhambat dan gawat janin merupakan indikasi SC. dan pertumbuhan fetus normal. Asma Asma Bronkiale merupakan salah satu penyakit saluran nafas yang sering dijumpai dalam kehamilan dan persalinan.5 kg dan selanjutnya 0. serangannya tak sama pada kehamilan pertama dan 25 . Kehamilan dengan DM yang berkomplikasi harus dirawat sejak UK 34 minggu dan baisanya memerlukan insulin.

berbunyi. Keadaan hipoksia bila tidak segera diatasi tentu akan berpengaruh pada janin dan sering terjadi keguguran. biasanya penderita mengeluh nafas pendek. partus premature dan gangguan petumbuhan janin. mencegah timbulnya stress (b). sesak. lakukan VE atau Forcep. 26 . Pada keadaan lebih berat penderita harus dirawat Hindari penggunaan obat-obat yang mengandung iodium karena dapat membuat gangguan pada janin. Mencegah penggunaan obat seperti aspirin dan semacamnya yang dapat menjadi pencetus timbulnya serangan (d). Diagnosis dapat ditegakkan seperti asma diluar kehamilan. 3) Penatalaksanaan (a). Menghindari factor resiko/pencetus yang sudah diketahui secara intensif (c). 1) Komplikasi Pengaruh asma pada ibu dan janin sangat tergantung dari sering dan beratnya serangan. infeksi saluran nafas. pengaruh udara dan factor psikis.berikutnya. karena ibu dan janin akan kekurangan oksigen atau hipoksia. 2) Manifestasi Klinis Factor pencetus timbulnya asma antara lain zat-zat alergi. Pada asma yang ringan dapat digunakan obat-obat local yang berbentuk inhalasi. atau peroral seperti isoproterenol (e). SC atas indikasi asma jarang atau tak pernah dilakukan. Penderita selama kehamilan perlu mendapat pengawasan yang baik. dan batuk-batuk. dan berikan antibiotika kalau ada sangkaan terdapat infeksi. Biasanya serangan akan timbul mulai UK 24-36 minggu dan pada akhir kehamilan jarang terjadi serangan. Upayakan persalinan secara spontan namun bila pasien berada dalam serangan.

Kucing Organisme tempat toxoplasma gondii hidup adalah kucing. Daging Konsumsi daging yang terinfeksi adalah penyebab utama toxoplasma di Eropa. hepatosplenomegali.2. (b). katarak. demam. mikroftalmia. pneumonia. Choriuretinitis merupakan manifestasi klinis yang serinng muncul apada BBL sebagai gejala toxoplasma. Berikut adalah temuan-temuan yang didapatkan pada bayi dengan infeksi toxoplasma congenital: chorioretinitis. hipotermi. mual. kuning. Infeksi yang Menyertai Kehamilan dan Persalinan a. Oocyst dalam feses menyebar melalui udara dan ketika dihirup akan dapat menyebabkan infeksi. Ibu dengan toxoplasma gondii biasanya tidak menampakan gejala walaupun 10%-20% ibu yang terinfeksi BBL dengan menderita toxoplasma congenital terinfeksi saat berada di dalam uterus secara transplacental. glaucoma. TOXOPLASMOSIS 1) Temuan klinis Toxoplasmosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh toxoplasma gondii. penyakit kejang. Sporulasi organisme ini terjadi setelah 1-5 hari dalam kotoran dan dapat dicegah dengan pembuangan sampat setiap hari. Penularan (a). Sekitar ½ dari beberapa kucing yang diuji mempunyai antibody toxoplasma. Feses kucing sudah sangat infeksius. diare. syaraf mata atrofi. Ini berarti bahwa kucing tersebut terinfeksi karena memakan hewan pengerat dan burung pemakan daging yang terinfeksi. hydrocephalus. mikrosefali. dimana dibatasinya penggunaan lemari pendingin dan biasanya daging tidak dibekukan. limpadenopati. Seharusnya 27 .

(2). Adanya kista toxoplasma gondii pada pemerikaan histology plasenta juga mendukung kuat diagnosa infeksi pada bayi. Penatalaksanaan dan pencegahan 1) Ibu Prognosa pada infeksi yang akut baik. (c). (b). penyakit kuning. Menunjukan hasil yang positif pada uji yang dilakukan Terjadi peningkatan antibody yang diperoleh dari serum ibu pada dua kali pemeriksaan yang berbeda. kecuali pada keadaan imonosekresi yang amat besar. demam.daging dimasak pada suhu yang tinggi untuk mecegah terjadinya penularan toxoplasma 2) Diagnosis (a). atau (3). Ibu Diagnosa klinis toxoplasma akut tidak dapat dipercaya apabila tidak ditemukan tanda yang spesifik berkaitan dengan infeksi. dan hepatosplenomegali. asam folimik dan sulfonamide. Adanya IgM toxoplasma spesifik pada bayi baru lahir memperjelas diagnosa infeksi congenital. Anak Gejala klinis pada bayi baru lahir akan dapat ditemukan seperti pada temuan diatas. (a). Dosis standar pyrimethamine adalah 25 mg/hari/oral 28 .Diagnosa utama infeksi toxoplasma selama kehamilan adalah meliputi salah satu dari hal berikut: (1). Wanta hamil dengan infeksi akut dapat dirawat dengan kombinasi pyrimethamine. Diagnosa prenatal Mendiagnosa toxoplasma pada kehamilan dipercaya dengan cairan amnion atau darah janin yang dapat didiagnosa dengan amniosentesis atau cordosentesis. Gejala klinik yang paling banyak ditemukan adalah chorioretinitis.. Terdeteksi antibody IgM toxoplasma .

. RUBELLA Rubella dapat meningkatkan angka kematian perinatal dan sering menyebabkan cacat bawaan pada janin. kadang tidak jelas atau tidak 29 . oleh karena itu tidak perlu diisolasi. stenosis pulmonalis. Anggota tubuh anak yang bisa menderita karena rubella: 1) 2) Mata (katarak. apabila tidak terinfeksi harus menunjukan adanya penurunan titer antibody IgG terhadap toxoplasma. Pada bayi yang Tidak ditemukannya temuan yang lain yang mencurigakan terjadinya infeksi congenital. septum terbuka) 3) 4) Alat pendengaran (tuli) Susunan syaraf pusat (meningoensefalitis. Asam folimik diberikan dengan dosis 6 mg secara IM atau per oral setiap pada hari yang berbeda untuk mengetahui apakah benar habisnya asam folat disebsbkan oleh Pyrimethamine. harus dipantau. b. mikroftalmia) Jantung (Duktus arteriosus persisten. kebodohan) 1) Diagnosis Diagnosis rubella tidak selalu mudah karena gejala-gejala kliniknya hampir sama dengan penyakit lain.dan 1 gr sulfadiazine peroral 4 X/hari selam 1 tahun. Pyrimethamine adalah musuh dari asam folik dan oleh karena itu mungkin memberikan efek teratogenik jika diberikan pada trimester I. Infeksi congenital pada bayi baru lahir bukan merupakan infeksius.. glaucoma.5 mg/kg/hr selam 21-30 hari dan sulfadiazine dengan dosis 20 mg/kg per oral selam 1 tahun. Bayi baru lahir yang tidak menunjukan infeksi dan positif antibody IgG toxoplasma spesifiknya mungkin didapatkan dari ibunya secara transplasetal. Adanya gejala infeksi pada bayi lahir harus ditangani dengan pemberian pyrimethamine dengan dosis 1 mg/kg/hr/oral selam 34 hari. Sering dijumpai apabila infeksi dijumpai pada kehamilan trimester I (30-50%). dilanjutkan dosis 0.

kemudian menghilang secara cepat (e). Nilai titer antibody (a). Virus pada rubella sering mencapai dan merusak embrio dan fetus. Setelah trimester I. kontraindikasi pada kehamilan adalah menghindari konsepsi selama 3 bulan setelah vaksinasi. dan pula vaksinasi yang dilakukan tidak lama sebelum terjadinya kehamilan atau dalam kehamilan dapat menyebabkan infeksi janin. maka abortus buatan perlu dipertimbangkan. Karena itu. vaksinasi ini sering menimbulkan artralgia atau arthritis. (b). lebih baik vaksinasi Pemberian vaksin pada wanita selam kunjungan prekonsepsi dianjurkan untuk uji serologi varicella apabila klien selama masa kanak-kanaknya tidak mempunyai riwayat infeksi. yang lebih manjur ialah vaksin rubella.8% dalam trimester II dan 5. (d). 30 . Demam-ringan Merasa mengantuk Sakit tenggorok Kemerahan sampai merah terang atau pucat. kemungkinan cacat bawaan menjadi kurang yaitu 6. (c). Diagnosis pasti dapat dibuat dengan isolasi virus atau dengan dotemukannya kenaikan titer anti rubella dalam serum. menyebar secara cepat dari wajah ke seluruh tubuh. manfaat gamaglobulin dap\lam hal ini masih diragukan. Akan tetapi. diberikan sebelum perkawinan. Tanda dan Gejala klinis: (a).3% dalam trimester III. (c).ada sama sekali. Imunitas 1:10 atau lebih Imunitas rendah < 1:10 Indikasi adanya infeksi saat ini ≥ 1:64 Apabila wanita hamil dalam trimester I menderita viremia.. Kelenjar leher membengkak Durasi 3-5 hari Hingga kini tidak ada obat-obatna yang dapat mencegah viremia pada orang yang tidak kebal. (f). (b).

Bila diketahui terdapat gejala infeksi. Kesulitan lain ialah bahwa infeksi CMV pada ibu biasanya tidak menimbulkan gejala dan sering tidak diketahui. Pada bayi dapat dijumpai gelembung-gelembung pada kulit di seluruh badan. purpura. infeksi dapat sampai ke BBL melalui kontak virus dari serrvik. dan pneumonitis. Hingga kini tidak dikenal pengobatan yang manjur bagi penyakit ini bagi ibu maupun neonatus. Selain melalui plasenta. faring. korioretinitis. mikroftalmia. Bila infeksi terjadi pada bulan-bulan terakhir kehamilan dapat dijumpai hepatosplenomegali.c. hepatosplenomegali dan sepsis yang tarjadi pada bulan pertama kehidupannya. penyakit ini dapat menyebabkan kematian janin dan bayi. HERPES Infeksi herpes virus hominis pada orang dewasa biasanya ringan. Diagnosis pada ibu ditegaskan melalui pemeriksaan serologik (biasanya dengan cara ELISA). 31 . Bila infeksi terjadi pada trimester I atau awal trimester kedua dapat timbul keadaan hydrocephalus. Infeksi congenital kekerapannya adalah 1-2% dari kehamilan. ASI. maka dapat diberi pengobatan simptomatik dan istirahat. Walaupun demikian. Infeksi yang terjadi setelah lahir ini akan menampilkan gejala pneumonia. hernia. Kematian bayi dapat pula disebabkan oleh ensefalitis herpes virus. d. 10-15% anak yang mengalami infeksi congenital akan mengalami cacat bawaan. Ibu dengan status imunitas yang rendah dan infeksi yang berat perlu diberi obat antivirus. Transfusi darah juga dapat menularkan infeksi CMV. mikrocephalus. retardasi mental dan mungkin ditemukan kalsifikasi serebral. atau pada konjungtiva dan selaput lendir mulut. dan urin ibu yang melahirkannya. trombositopeni. Virus biasanya dapat diisolasi dalam pembiakan jaringan. CMV (CITOMEGALO VIRUS) Infeksi primer CMV dapat terjadi dengan frekuensi 1-2%. Walaupun jarang. karena klinis tidak menunjukkan gejala yang khas. gangguan pendengaran.

Virus tipe II dapat menyebabkan herpes genitalis dengan gelembung-gelembung berisi cairan di vulva, vagina, dan servik, yang dikenal juga dengan nama herpes simpleks. Penularan kepada anak dapat terjadi melalui: (a). Hematigen melalui plasenta (b). Akibat penjalaran ke atas dari vagina ke janin apabila ketuban pecah (c). Melalui kontak langsung pada waktu bayi lahir Diagnosis tidak sulit yaitu apabila terdapat gelambunggelambung di daerah alat kelamin, ditemukannya benda-benda inklusi intranuklear yang khas di dalam sel-sel epitel vulva, vagina atau servik setelah dipulas menurut papanicolau, memberi kepastian dalam diagnosis. Herpes genitalis merupakan infeksi virus yang senantiasa bersifat kronik, recurrent, dan dapat dikatakan sulit diobati. Sampai saat ini hanya satu cara pengobatan herpese yang cukup efektif, yaitu antivirus yang disebut acyclovir. Acyclovir dalam kehamilan tidak dianjurkan,

kecuali bila infeksi yang terjadi merupakan keadaan yang mengancam kematian ibu, seperti adanya ensefalitis, pneumonitis, dan atau hepatitis, dimana acyclovir dapat diberikan secara IV. SC dianjurkan pada wanita yang pada saat kelahiran menunjukkan gejala-gejala akut pada genetalia, untuk menghindari penularan akibat kontak langsung. Karena bila dengan persalinan pervaginam 50% bayi akan mengalami infeksi. Pada pasca persalinan, ibu yang menderita herpes aktif harus diisolasi. Bayinya dapat diberikan untuk menyusui bila ibu telah cuci tangan mengganti baju yang bersih.

e. SYPHILIS Infeksi syphilis (lues) yang disebabkan oleh Treponema pallidum, baik yang sudah lama maupun yang baru diderita oleh ibu dapat ditularkan kepada janin. Syphilis kongenita merupakan bentuk penyakit syphilis yang terberat. Infeksi pada janin dapat terjadi setiap saat dalam

32

kehamilan, dengan derajat risiko infeksi yang tergantung jumlah spiroketa (treponema) di dalam darah ibu. Sudah diketahui secara umum bahwa syphilis mempunyai pengaruh buruk pada janin: dapat menyebabkan kematian janin, partus immaturus, dan partus prematurus. Dalam hal demikian dapat dijumpai gejala-gejala syphilis kongenita, diantaranya pemfigus syfilitikus,

deskwamasi pada telapak kaki dan tangan, serta rhagade di kanan-kiri mulut. Pada persalinan tampak janin atau plasenta yang hidropik. Syphilis harus diobati segera setelah diagnosis dibuat, tanpa memandang tuanya kehamilan. Lebih dini dalam kehamilan pengobatan diberikan, lebih baik prognosis bagi janin. Syphilis primer yang tidak diobati dengan adekuat, 25% akan menjadi syphilis sekunder dalam waktu 4 tahun. Bayi yang lahir dari ibu dengan syphilis boleh tetap mendapat ASI. Bila ibu tersebut masih menderita lesi pada kulit, kontak dengan bayinya harus dihindari.

f. VARICELLA (CACAR AIR/CHICKEN POX) Varicella merupakan penyakit anak-anak dan sangat jarang dijumpai dalam kehamilan dan nifas. Walaupun umumnya cacar air itu suatu penyakit ringan, namun pada wanita hamil kadang-kadang bisa menjadi berat dan dapat menyebabkan partus prematurus. Disangka

bahwa telah terjadi penularan intra uterin apabila gelambung-gelambung timbul dalam 10 hari setelah kelahiran. Frekuensi cacar bawaan tidak lebih tinggi pada para bayi yang lahir dari ibu yang menderita cacar air dalam masa hamil. g. INFEKSI TRAKTUS URINARIUS Infeksi saluran kencing adalah infeksi bakteri yang paling sering dijumpai pada kehamilan. Walaupun bakteri uria asimtomatik merupakan hal biasa, infeksi simtomatik dapat mengenai salran bawah yang

33

menyebabkan sisititis, atau menyerang kaliks, pelvis, dan parenkim ginjal sehingga mengakibatkan pielonefritis. Organisme yang emnyebabkan infeksi saluran kemih berasal dari flora normal perineum. Sekarang terdapat bukti bahwa beberapa galur escherichia coli memiliki pili yang meningkatkan virulensinya. Walaupun kehamilan itu sendiri tampaknya tidak meningkatkan factor-faktor virulensi ini, stasis air kemih tampaknya menyebabkan hal itu, dan bersama dengan revluksvesikoureter, stasis mempermudah timbulnya gejala infeksi saluran kemih bagian atas. Overdistsnsi yang disertai kateterisasi untuk mengeluarkan iar kemih sering menyebabkan infeksi saluran kemih. a. Bakteriuria Asimtomatik kondisi ini mengacu pada perkembangan bakteri yang terusmenerus secara aktif di dalamsaluran kemih tampa menimbulkan gejala. Insiden selama kehamilan bergantung pada paritas, ras dan status social ekonomi b. Sistitis Dan Uretritis Biasanya sistitis di tandai oleh disuria, urgensi dan frekuensi. Biasanya ditemukan bakteri uria dan piuria. c. Pielonefritis Akut Infeksi ginjal merupakan penyulit medis paling serius pada kehamilan, terjadi pada sekitar 2 % wanita hamil. Keseriusan pielonefritis akut selam kehamilan digaris bawahi sebagai penyebab utama syok septic selama kehamilan. Infeksi ginjal lebih sering terjadi setelah pertengahan kehamilan, pada lebih dari separuh kasus penyakitnya unilateral dan di sisi kanan, sedangkan pada ¼ bilateral. Pada sebagian besar wanita, infeksi disebabkan oleh bakteri yang naik dari saluran kemih bawah. Antara 75-90 % infeksi ginjal disebabkan oleh bakteri yang meimiliki adehesin fimbriae-P. Gejala meliputi demam, menggigil hebat, dan nyeri tumpul di salah satu atau kedua regio lumbal. Pasien mungkin

34

atau masa neonatus. Periksa HbsAg 4. waktu lahir. koriamnionitis. rasa nyeri biasanya dapat ditimbulkan dengan perkusi disalah satu atau kedua sudut costovertebra. seringkali dalam gumpalangumpalan dan banyak bakteri. karena akan mempertinggi risiko pada ibu. Tidak dianjurka untuk melakukan terminasi kehamilan dengna induksi atau SC. serum glutamic oksaloasetik transaminase (SGOT). Perjalanan penyakit dapat sangat bervariasi dengan demam sampai setenggi 40 °C atau lebih dan hipotermia sampai 34°C. Pada hepatitis B janin kemungkinan dapat tertular melalui plasenta.mengalami anoreksia. Kontrol kadar bilirubun. solusio plasenta. hepatitis virus dapat terjadi pula setiap saat kehamilan dan mempunyai pengaruh buruk pada janin maupun ibunya. Pada wanita hamil. Walaupun diagnosis biasanya mudah. h. Pada trimester I dapat terjadi keguguran. pemyebab hepatitis infeksiosa terutama oleh virus hepatitis B. Sedimen urin sering mengandung banyak leukosit. Istirahat. diberi nutrisi dan cairan yang cukup. walaupun masih masih kontroversi penularan melalui air susu. HEPATITIS Hepatitis infeksiosa disebabkan oleh virus dan merupakan penyakit hati yang paling sering dijumpai dalam kehamilan. dan masa nifas disangka sebagai metritis dengan selulitis panggul. atau infark myoma. bila perlu IV 2. mual dan muntah. walaupun kemingkinan juga dapat karena virus hepatitis A atau Hepatitis C. Sedangkan pada trimester II dan III sering terjadi premature. pielonefritis dapat disangka sebagai proses persalinan. serum glutamic piruvic transaminase (SGPT). factor 35 . appendicitis. Isolasi cairan lambung dalam atau cairan badan lainnya dan ingatkan tentang pentingnya janin dipisahkan dengan ibunya 3. akan tetapi jarang dijumpai kelainan congenital (anomaly pada janin). Penatalaksanaan 1.

chlamydia. Pengobatan infeksi HIV dan penyakit oportunisyiknya dalam kehamilan merupakan masalah. Pada bayi yang baru dilahirkan dalam 2x24 jam diberi suntikan anti hepatitis serum i. sebaiknya dilakukan oleh dokter anak yang 36 . terutama pneumocystis carinii pneumonia.pembekuan darah. atau mungkin menderita candidiasis orofaring maupun vagina. Kematian pada ibu hamil dengan HIV positif kebanyakan disebabkan oleh penyakit oportunisyik yang menyetainya. anoreksia. BB menurun. luka episiotomi ataupun luka SC. lochea. Dalam persalinan. Bila telah terdiagnosis adanya AIDS perlu dilakukan pemeriksaan apakah ada infeksi PHS lainnya. Pemberian AZT (Zidovudine) dapat memperlambat kematian dan menurunkan frekuensi serta beratnya infeksi oportunistik. herpes. Cegah penggunaan obat-obat yang bersifat hepatotoksik 6. Penderita AIDS mempunyai gejal awal yang tidak spesifik seperti fatique. Sampai saat ini belum ada pengobatan AIDS yang memuaskan. HIV/AIDS Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kehamilan dapat memperberat kondisi klinik wanita dengan infeksi HIV. karena banyak obat belum diketahui dampak buruknya dalam kehamilan. Perawatan pascapersalinan perlu diperhatikan yaitu kemungkinan penularan melalui pembalut wanita. ataupun infeksi toksoplasmik. Tindakan operasi seperti SC akan memperburuk prognosis ibu 8. Pada ibu yang HbsAg positif perlu diperiksa HbsAg anak karena kemungkinan terjadi penularan melalui darah tali pusat 7. CMV. Penularan kepada penolong persalinan dapat terjadi dengan rate 0-1% pertahun exposure. TBC dan lain-lain. Untuk perawatan bayi. karena kemungkinan telah ada disseminated intravaskular coagulapathy (DIC) 5. sepeerti gonorrhea. hepatitis. SC bukan merupakan indikasi untuk menurunkan risiko infeksi pada bayi yang dilahirkan.

C. Jadi diperlukan pemeriksaan ulang berkala untuk menentukan adanya perubahan ke arah negatif atau tidak. Penyakit ini mempunyai pengaruh buruk terhadap kehamilan. Asma maka dalam kehamilanna akan benyak mengalami komplikasi dai penyakitnya tesebut. Infeksi pada bayi mungkin baru tampak pada usia 12-18 bulan. dan nifas menunjukan angka kematian yang lebih tinggi dari pada di luar kehamilan.khusus untuk menangani kasus ini. Diabetes Militus. namun tidak menutup kemungkinan bahwa hamil dan bersalin dapat mempeberat atau diperberat oleh berbagai penyakit yang bedampak pada beratnya pesalinan dan nifasnya. ginjal. namun sebaiknya penderita tidak menyusui bayinya karena keadaan umum ibu biasanya tidak mengizinkan. harus diusahakan agar pada bayi tidak dilakukan tindakan yang membuat perlukaan bila tidak perlu betul. Kumankuman tufus abdominalis tidak di keluarkan melalui air susu. Selain penakit ibu hamil besalin dan nifas entan mengalami infeksi 37 . Antibodi yang didapatkan pasif dari ibu akan dapat bertahan sampai 15 bulan. Rangkuman Materi Pada masa kehamilan pesalinan dan nifas tubuh wanita hamil besalin dan nifas akan mengalami peubahan fisiologis untuk menusuaikan diri. j. misalnya jangan lakukan sirkumsisi. Pengobatan dengan kloramfenikol atau tiamfenikol (Urfamycin). dan karena kemungkinan penuluaran oleh ibu melalui jalan lain tetap ada. Perawatan tali pusat harus dijalankan dengan cermat. Imunisasi yang menggunakan virus hidup sebaiknya ditunda sampai terbukti bahwa bayi tersebut tidak menderita virus HIV. Tifus abdominalis tidak merupakan indikasi bagi abortus buatan. Dalam 60-80 % hasil konsepsi keluar secara spontan : lebih dini terjadinya infeksi dalam kehamilan. Jantung. lebih besar kemungkinan berakhirnya kehamilan. Wanita yang mempunyai penyakit sebelum hamilnya sepeti penyakit pada paru-paruna atau TBC. TYPUS ABDOMINALIS Typus abdominalis dalam kehamilan. Perawatan ibu dan bayi tidak perlu dipisah.

Rambu Jawaban Soal 1. Penatalaksanaan dilakukan berdasarkan klasifikasinya yaitu : 38 . Klasifikasi penyakit jantung dalam kehamilan (a). Diskusikan tentang klasifikasi penyakit jantung pada kehamilan dan penatalaksanaannya ! 2. Rambu. Kelas IV • Tidak mampu melakukan aktivitas fisik apapun Penatalaksanaan Sebaiknya dilakukan dalam kerjasama dengan ahli penyakit dalam atau ahli jantung.sepeti Sypilis CMV. Kelas II Sedikit pembatasan kegiatan fisik Saat istirahat tidak ada keluhan Pada kegiatan fisik biasa timbul gejala isufisiensi jantung seperti: kelelahan. D. Typus Abdominalis. sesak nafas atau angina pectori (c). dan menurunkan after load dengan vasodilator. Hepatitis. Toxoplasmosis. Infeksi Tranktus Urinarius. jantung berdebar (palpitasi cordis). Latihan / Tugas 1. HIV/AIDS. Herpes. Varicella. menurunkan preload dengan deuretik. Kelas III • • • Banyak pembatasan dalam kegiatan fisik Saat istirahat tidak ada keluhan Pada aktifitas fisik ringan sudah menimbulkan gejala-gejala insufisiensi jantung (d). meningkatkan kontraktilitas jantung dengan digitalis. Kelas I • • • • • Tanpa pembatasan kegiatan fisik Tanpa gejala penyakit jantung pada kegiatan biasa (b). Secara garis besar penatalksanaan mencakup mengurangi beban kerja jantung dengan tirah baring. Sebutkan temuan-temuan pada bayi yang teinfeksi Toxoplasma! E. Rubella.

Syaifudin. hipotermi. glaucoma. Pengawasan kala I setiap 10-15 menit dan kala II setiap 10 menit. Pada kala II dapat spontan bila tidak ada gagal jantung. diare. mual. syaraf mata atrofi. terutama pada UK 28-32 minggu. 2001 Varney’s H. Bila berlangsung 20 menit dan ibu tidak dapat dilarang meneran akhiri dengan ekstraksi cunam atau vacum dengan segera (c). Berikut adalah temuan-temuan yang didapatkan pada bayi dengan infeksi toxoplasma congenital: chorioretinitis. Kelas III Dirawat di RS selam hamil terutama pada UK 28 minggu dapat diberikan diuretic (d). Kelas I Tidak memerlukan pengobatan tambahan (b). 1997. Midwifery. katarak. kejang. hanya harus menghindari aktifitas yang berlebihan. Daftar Pustaka 1. 12 th Edition 2000 39 . hydrocephalus. 3. pneumonia. Kedua kelas ini dapat meneruskan kehamilan sampai cukup bulan dan melahirkan pervaginam. Midwifery. Lakukan pengawasan dengan ketat. Jones and Bartlett Publisher Mayes. 4. limpadenopati. demam. UK. Jakarta. Pasien dirawat bila keadaan memburuk. namun harus diawasi dengan ketat.(a). hepatosplenomegali. Kelas IV Harus dirawat di RS 2. Buku Panduan Praktis Maternal dan Neonatal. Kala persalinan biasanya tidak berbahaya. mikrosefali. Kelas II Umumnya tidak memerlukan pengobatan tambahan. YBPSP 2. mikroftalmia. penyakit kuning. 2001. F. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal.

Sinopsis Obstetri Jilid I. 1999. 8. Workshop kurikulum mata ajar Askeb IV. Mochtar R. 6. Jakata. 1998. Jakarta Hanifa. Jakarta. dkk. dkk. YBPSP Tim pengajar askeb IV. YBPSP Hanifa. Ilmu kandungan. 7.5. Tidak diterbitkan. 40 . 1999. 2006. Ilmu Kebidanan.

BAB III ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU DENGAN KOMPLIKASI. kelainan dan penyakit dalam kehamilan trimester I. 1) Penyebab anemia umumnya adalah: a). Pemeriksaan kadar hemoglobin selama pengawasan antenatal. 41 . Malabsorpsi d). paru. Wanita hamil mempunyai nilai normal hemoglobin 12-15 gr% dan hematokrit 35-54. cacing usus. sebaiknya pemeriksaan dilakukan setiap 3 bulan atau paling sedikit 1 kali pada pemeriksaan pertama atau pada triwulan 1 dan sekali lagi pada triwulan akhir. Anemia Dalam Kehamilan Baik di negara maju maupun di negara berkembang. jumlah darah bertambah (hiperemia/hipervolumia) karena itu terjadi pengenceran darah karena sel-sel darah tidak sebanding pertambahannya dengan plasma darah. Kompetensi dasar Mampu menjelaskan komplikasi. Uraian Materi 1. Kurang zat besi dalam diet c). Dalam kehamilan. disebut anemia berat. Penyakit-penyakit kronis: tbc. disebut anemia gravis. B. seseorang disebut menderita anemia bila kadar hemoglobin (Hb) kurang dari 10 gr%. atau bila kurang dari 6 gr%. III. Kurang gizi (malnutrisi) b). KELAINAN DAN PENYAKIT DALAM KEHAMILAN A. malaria dan lain-lain. II. Kehilangan darah yang banyak: persalinan yang lalu. e). haid dan lain-lain. Komplikasi dan Penyulit Kehamilan Trimester I dan II a.

kemasan diberikan secara intramuskuler atau intravena. hamil dan dalam laktasi yang dianjurkan adalah: (1). Per oral: sulfas serosus atau glukonas ferosus dengan dosis 3. Parenteral: diberikan bila ibu hamil tidak tahan pemberian per oral atau absorbsi di saluran pencernaan kurang baik. Pengobatan: Keperluan zat besi untuk wanita non hamil. LIPI Indonesia (1968): 12 mg-17 mg-17 mg Kemasan zat besi dapat diberikan per oral atau parental (1). imferon.Perbandingan pertambahan tersebut adalah: a) b) c) Plasma darah bertambah: 30 % Sel-sel darah bertambah: 18 % Hemoglobin bertambah: 19 % Secara fisiologis. Kemasan ini antara lain. Hasilnya lebih cepat dibandingkan per oral.5 x 0. b) Anemia megaloblastik Anemia megaloblastik biasanya berbentuk makrositik atau pernisiosa. FNB Amerika Serikat (1958): 12 mg-15 mg-15 mg (2). Penyebabnya telah dibicarakan di atas sebagai penyebab anemia umumnya. Penyebabnya adalah karena kekurangan asam folik. 2) Klasifikasi anemia dalam kehamilan: a) Anemia defisiensi besi Anemia jenis ini biasanya berbentuk normositik dan hipokromik serta paling banyak dijumpai. pengenceran darah ini adalah untuk membantu meringankan kerja jantung.29 mg (2). jectofer dan ferrigen. jarang 42 .

Vitamin B12 3x1 tablet per hari (3). Penyebabnya belum diketahui. Biasanya karena malnutrisi dan infeksi yang kronik. Pengobatan: (1). Faktor intrakorpuskuler. dijumpai pada anemia hemolitik heriditer. anemia sel sickle (sabit) (2). Sulfas ferosus 3x1 tablet per hari (4).selaki akibat karena kekurangan vitamin B12. disebabkan malaria. 43 . Faktor ekstrakorpuskuler. yang perlu sering diulang. Ini dapat disebabkan oleh: (1). sepsis. Pada kasus berat dan pengobatan per oral hasilnya lamban sehingga dapat diberikan transfusi darah c) Anemia hipoplasti Anemia hipoplasti disebabkan oleh hipofungsi sumsum tulang membentuk sel-sel darah merah baru. seerta gejala komplikasi bila terjadi kelainan pada organorgan vital. Asam folik 15-30 mg per hari (2). leracunan. dan dapat beserta obat-obatan. pemeriksaan retikulosit. pemeriksaan fungsi sternal. leukemia. kelelahan. talasemia. kecuali yang disebabkan oleh infeksi berat (sepsis). Untuk diagnosis diperlukan pemeriksaan : darah tepi lengkap. dan sinar rontgen atau sinar radiasi. Tirapi dengan obat-obatan tidak memuaskan: mungkin pengobatan yang paling baik yaitu tranfusi darah. keracunan zat logam. d) Anemia hemolitik Anemia hemolitik disebabkan penghancuran/pemecahan sel darah merah yang lebih cepat dari pembuatannya. penyakit hodgkin Gejala utama adalah anemia dengan kelainan-kelainan gambaran darah.

karena masuknya Vili khorialis dalam sirkulasi maternal. perubahan matabolik akibat hamil dan resistensi ibu yang menurun dan alergi merupakan salah satu respon dari jaringan ibu terhadap anak 3) Faktor psikologik. b. hal ini tidak memberi hasil. takut terhadap kehamilan dan persalinan. takut terhadap tanggung jawab sebagai ibu. Namun. pada beberapa jenis obatobatan. hipertiroid 44 . kehamilan ganda karena peningkatan kadar HCG 2) Faktor Organik. Biasanya terjadi pada kehamilan trimester I. Maka tranfusi darah yang berulang dapat membantu penderita ini. mola hidatidosa. karena terjadi dehidrasi. diabetes. HIPEREMESIS GRAVIDARUM Hiperemesis gravidarum adalah mual dan muntah yang berlebihan pada wanita hamil sehingga mengganggu pekerjaan sehari-hari dan keadaan umumnya menjadi buruk. Penyebab hiperemesisi gravidarrum belum diketahui secara pasti. kehilangan pekerjaan. misalnya rumah tangga yang retak.Pengobatan bergantung pada jenis anemia hemolitik serta penyebabnya. memegang peranan yang sangat penting. sering terjadi pada primigravida. 4) Faktor endokrin lain. Gejala tersebut kurang lebih terjadi 6 minggu setelah hari pertama haid terakhir dan berlangsung selama kurang lebih 10 minggu. namun beberapa faktor mempunyai pengaruh antara lain: 1) Faktor Predisposisi. Bila disebabkan oleh infeksi maka infeksinya diberantas dan diberikan obat-obat penambah darah.

suhu badan naik. asam hidroksi butirik dan aseton dalam darah. Karena oksidasi lemak yang tidak sempurna. dari nafas berbau aseton 3) Tingkat III : berat Keadaan umum jelek. dapat pula terjadi asotonuria. ikterus. mata cekung. akan mengalami emesis gravidarum yang lebih berat. ikterus ringan. nyeri epigastrium nadi sekitar 100x/mnt. turgor kulit mulai jelek. Dapat terjadi ensekalopati wernicke Hiperemesis gravidarum yang merupakan komplikasi mual dan muntah pada hamil muda. suhu badan naik (dehidrasi). halus dan cepat. terjadilah ketosis dengan tertimbunnya asam aseton-asetik. lidah kering dan kotor.Gejala Dan Tingkat Menurut berat dan ringannya dibagi menjadi 3: 1) Tingkat I : ringan Mual muntah terus menerus yang menyebabkan penderita lemah. berat badan turun. tidak ada nafsu makan. kesadaran sangat menurun. bila terjadi terus menerus dapat menyebabkan dehidrasi dan tidak imbangnya elektrolit dengan alkalosis hipokloremik. dehidrasi berat. Kekurangannya cairan yang diminum dan kehilangan cairan karena 45 . oliguria dan konstipasi. hemokonsentrasi. nadi kecil. lidah kering. tensi turun sekali. berat badan turun. wanita yang sebelum kehamilan sudah menderita lambung spastik dengan gejala tidak suka makan dan mual. lemah. 2) Tingkat II : sedang Mual dan muntah yang hebat menyebabkan keadaan umum penderita lebih parah. Hiperemesis gravidarum dapat mengakibatkan cadangan karbohidrat dan lemak habis terpakai untuk keperluan energi. apatis. turgor kulit berkurang. mata cekung. tensi turun. somnolen sampai koma. nadi kecil dan cepat. tekanan darah sistolik turun.

Terapi obat.Jumlah perdarahan sedikit/ perdarahan bercak iii. penerangan bahwa kehamilan dan persalinan merupakan proses fisiologis. c. Penanganan pasien dengan Hiperemesis Gravidarum : (a). menambah frekuensi muntah-muntah yang lebih banyak. Pencegahan lain yaitu tentang diit ibu hamil dan defekasi yang teratur (b). Hal ini menyebabkan jumlah zat makanan dan oksigen kejaringan mengurang pula dan tertimbunnya zat metabolik yang toksik. menggunakan sedative. dengan akibat perdarahan gastrointestinal.Dapat terjadi terus menerus untuk beberapa hari sampai 2 minggu iv. Pencegahan. ABORTUS 1) Abortus imminens (a).muntah menyebabkan dehidrasi. Selain itu dehidrasi menyebabkan hemokonsentrasi. anti muntah. dapat merusak hati. dan anti mulas (c). Natrium dan khlorida darah turun. Disamping dehidrasi dan terganggunya keseimbangan elektrolit. demikian pula khlorida air kemih. Kekurangan kalium sebagai akibat dari muntah dan bertambahnya ekskresi lewat ginjal. sehingga cairan ekstraseluler dan plasma berkurang.Kram abdomen bagian bawah atau sakit punggung normal 46 .Perdarahan vagina: merah segar atau coklat ii. vitamin. Tanda dan gejala i. Hiperemesis gravidarum tingkat II dan III harus dirawat inap di RS. sehingga aliran darah ke jaringan berkurang. antasida. dapat terjadi robekan pada selaput lendir esofagus dan lambung.

tidak melakukan irigasi. aktivitas normal dapat dilanjutkan kembali kecuali wanita merasa tidak nyaman atau lebih memilih untuk istirahat ii. tanggal kelahiran. nyeri tekan. observasi bukaan serviks. bekuan darah. Jika pemeriksaan fisik dan ultrasuara negatif.(b). tenangkan 47 . jenis dan Rh (jika belum ada) • Jika pemeriksaan negative. Periksakan pada hari berikutnya di rumah sakit Evaluasi tanda-tanda vital Pemeriksaan dengan speculum-merupakan skrining vaginitis dan servisitis. tonjolan kantong ketuban. Istirahatkan panggul (tidak berhubungan seksual. effacement. atau bagian-bagian janin • Pemeriksaan bimanual-ukuran uterus. Segera beritahu bidan jika terdapat : • • • • • • Perdarahan meningkat Kram dan nyeri pinggang meningkat Semburan cairan dari vagina Demam atau gejala mirip flu v. Dapatkan nilai hemoglobin dan hematokrit. serta kondisi ketuban. Tirah baring tidak terlalu bermanfaat. dan jika mungkin untuk menenangkan wanita. Tidak melakukan aktivitas seksual yang menimbulkan orgasme iv. dapat dilakukan menentukan pemeriksaan ultrasuara untuk kelangsungan hidup janin. dilatasi. atau memasukkan sesuatu ke vagina) iii. Manajemen Trimester I dengan sedikit perdarahan. tanpa disertai kram i.

lakukan infus 20 unit oksitosin dalam 500 ml cairan I. kanalis servikalis terbuka dan jaringan/hasil konsepsi dapat teraba Penanganan untuk abotus a) Jika usia kehamilan kurang dari 16 minggu. lakukan evakuasi uterus dengan Aspirasi Vakum Manual (AVM). Tunggu ekspulsi spontan hasil konsepsi.V (garam fisiologik atau larutan Ringer Laktat) dengan kecepatan 40 tetes per menit untuk membantu ekspulsi hasil konsepsi 48 . Jika evakuasi tidak dapat segera dilakukan: (1).wanita. kram meningkat.2 mg I. Segera lakukan persiapan untuk pengeluaran hasil konsepsi dari uterus (b).M (dapat diulang sesudah 15 menit jika perlu) atau misoprostol 400 mcg per oral (dapat diulang sesudah 4 jam jika perlu) (2). karena setiap saat dapat terjadi ancaman perdarahan dan pengeluaran hasil konsepsi. Jika usia kehamilan lebih dari 16 minggu: (1). Jika perlu. Abortus ditandai dengan: a) b) c) Perdarahan lebih banyak Perut mules (sakit) lebih hebat Pada pemeriksaan dijumpai perdarahan lebih banyak. Berikan ergometrin 0. atau hasil pemeriksaan fisik dan ultrasuara menunjukan hasil abnormal 2) Abortus Insipiens Keguguran membakat ini tidak dapat dihentikan. kemudian evakuasi sisa-sisa hasil konsepsi (2). kaji ulang gejala bahaya dan pertahankan nilai normal • Konsultasi ke dokter jika terjadi perdarahan hebat.

(c).M (diulangi setelah 15 menit jika 49 . Pastikan untuk tetap memantau kondisi ibu setelah penanganan 3) Abortus Inkomplit Ditandai dengan dikeluarkannya sebagian hasil konsepsi dari uterus.(3). Aspirasi Vakum Manual (AVM). Gejala klinis yang dapat terjadi: a) Perdarahan berlangsung terus b) Perdarahan mendadak c) Disertai infeksi dengan suhu tinggi d) Dapat terjadi degenerasi ganas (korio karsinoma) Pada pemeriksaan dijumpai gambaran: a) Kanalis servikalis terbuka b) Dapat diraba jaringan dalam rahim atau dikanalis servikalis c) Kanalis servikalis tertutup dan perdarahan berlangsung terus d) Dengan pemeriksaan sonde perdarahan bertambah Penanganan a) Jika perdarahan tidak terlalu banyak dan kehamilan kurang dari 16 minggu. Jika perdarahan berhenti.2 mg I. beri ergometrin 0.M atau misoprostol 400 mcg per oral (a). beri ergometrin 0. evakuasi sisa hasil konsepsi dengan: (b).2 mg I. Jika perdarahan banyak atau terus berlangsung dan usia kehamilan kurang dari 16 minggu. evakuasi dapat dilakukan secara digital atau dengan cunam ovum untuk mengeluarkan hasil konsepsi yang keluar melalui serviks. kuret tajam sebaiknya hanya dilakukan jika aspirasi vakum manual tidak tersedia. Jika evakuasi belum dapat dilakukan segera.

Konseling asuhan pascakeguguran dan pemantauan lanjut 50 . Penanganan: a) b) c) Tidak perlu evakuasi lagi Observasi untuk melihat adanya perdarahan banyak Pastikan untuk tetap memantau kondisi ibu setelah penanganan d) Apabila terdapat anemia sedang. Gambaran klinisnya adalah uterus mengecil. jika anemia berat berikan transfusi darah e) d. 4) Abortus Komplit Seluruh hasil konsepsi telah dikeluarkan.perlu) atau misoprostol 400 mcg per oral (dapat diulangi setelah 4 jam jika perlu) b) Jika kehamilan lebih dari 16 minggu: (a). dan kanalis telah tertutup. sehingga tidak memerlukan tindakan.V (garam fisiologik atau Ringer Laktat) dengan kecepatan 40 tetes/menit sampai terjadi ekspulsi hasil konsepsi (b). Evakuasi sisa hasil konsepsi yang tertinggal dalam uterus. Jika perlu berikan misoprostol 200 mcg pervaginam setiap 4 jam sampai terjadi ekspulsi hasil konsepsi (maksimal 800 mcg). KET Perjalanan hasil konsepsi dapat terganggu dalam perjalanan sehingga tersangkut dalam lumen tuba. c) Pastikan untuk tetap memantau kondisi ibu setelah penanganan. perdarahan sedikit. Berikan infus oksitosin 20 unit dalam 500 ml cairan I. berikan tablet sulfas ferrosus 600 mg/hari selama 2 minggu. Tuba falopii tidak mempunyai kemampuan untuk berkembang dan menampung pertumbuhan janin sehingga setiap saat kehamilan yang terjadi terancam pecah.

Alat penting yang dapat digunakan untuk mendiagnosis kehamilan ektopik yang pecah adalah tes kehamilan dari serum dikombinasi dengan ultrasonografi. perlunakan serviks.Kehamilan ektopik adalah kehamilan dengan implantasi terjadi di luar rongga uterus. nadi cepat dan lemah (110x/menit atau lebih) perubahan warna pada vagina dan serviks. pembesaran uterus. mual. frekuensi buang air kecil yang meningkat • Nyeri pada abdomen dan pelvis 51 . Diagnosis banding a) Abortus iminens b) Penyakit radang panggul baik akut maupun kronis c) Kista ovarium (terpuntir atau ruptur) dan apendisitis akut d) Tanda dan gejala kehamilan ektopik Kehamilan Ektopik • Gejala kehamilan awal (flek atau perdarahan yang ireguler. Tuba falopii merupakan tempat tersering untuk terjadinya implantasi kehamilan ektopik (lebih besar dari 90%) Tanda dan gejalanya sangatlah bervariasi bergantung pada pecah atau tidaknya kehamilan tersebut. pembesaran payudara. Kehamilan Ektopik Terganggu • Kolaps dan kelelahan • Denyut • Hipotensi • Hipovolemia • Abdomen akut dan nyeri pelvis • Distensi abdomen(a) • Nyeri lepas • Pucat e) Distensi abdomen dengan shifting dullness merupakan petunjuk adanya darah bebas. Jika diperoleh hasil darah yang tidak membeku. segera mulai penanganan.

segera rujuk ke fasilitas lebih lengkap dengan memperhatikan hal-hal yang diuraikan pada bagian penilaian awal c) Pada laparotomi. Kehamilan ektopik Penanganan awal a) Jika fasilitas memungkinkan. eksplorasi kedua ovaria dan tuba falopii: (1). segera lakukan uji silang darah dan laparotomi. 2. pembedahan b) Jika fasilitas tidak memungkinkan. lakukan salpingektomi (hasil konsepsi dikeluarkan. Hal ini hanya dilakukan jika konservasi kesuburan merupakan hal 52 .Gambar. lakukan Jangan menunggu darah sebelum melakukan salpingktomi (tuba yang berdarah dan hasil konsepsi dieksisi bersama-sama). Jika kerusakan pada tuba kecil. Jika terjadi kerusakan berat pada tuba. Ini merupakan terapi pilihan pada sebagian besar kasus (2).1. tuba dipertahankan).

ovum memang sudah patologik sehingga mati. karena risiko kehamilan ektopik berikutnya cukup tinggi. MOLAHIDATIDOSA Adalah jonjot-jonjot korion yang tumbuh berganda berupa gelembunggelembung kecil yang mengandung banyak cairan sehingga menyerupai buah anggur. 2) Imunoselektif dari trofoblas 3) Keadaan sosek rendah 4) Paritas tinggi 5) Kekurangan protein 6) Infeksi virus dan faktor kromosom yang belum jelas Diagnosis dan gejala 1) Anamnesa/keluhan: a) Terdapat gejal-gejala hamil muda yang kadang-kadang lebih nyata dari kehamilan biasa b) Kadangkala ada tanda toksemia gravidarum c) Terdapat perdarahan yang sedikit atau banyak. tidak teratur. e. Etiologi Penyebab mola belum diketahui dengan pasti. tetapi terlambat dikeluarkan. Kehamilan mola merupakan proliferasi abnormal dari vili khorialis. atau mata ikan. faktor-faktor yang dapat menyebabkannya antara lain: 1) Faktor ovum. warna tengguli tua atau kecoklatan seperti bumbu rujak d) Pembesaran uterus tidak sesuai (lebih besar) dengan tua kehamilan seharusnya 53 .yang penting untuk ibu tersebut.

6) Pemeriksaan dalam Pastikan besarnya rahim. darah dan gelembung mola keluar. bila tidak ada tahanan. serta evaluasi keadaan serviks. sonde dimasukkan pelan-pelan dan hati-hati ke dalam kanalis servikalis dan kavum uteri. rahim terasa lembek. dan fundus uteri turun: lalu naik lagi karena terkumpulnya darah baru 4) Auskultasi a) Tidak terdengar bunyi denyut jantung janin b) Terdengar bising dan bunyi khas 5) Reaksi Kehamilan. juga gerakan janin c) Adanya fenomena harmonica. teraba lembek b) Tidak teraba bagian-bagian janin dan balotemen..e) Keluar janringan mola seperti buah anggur atau mata ikan yang merupakan diagnosa pasti 2) Inspeksi a) Muka dan kadang-kadang badan kelihatan pucat kekuningkuningan (mola face) b) Bila gelembung mola keluar akan terlihat dengan jelas 3) Palpasi a) Uterus membesar tidak sesuai dengan tuanya kehamilan. uji biologik atau imunologik cairan serebro-spinal dapat menjadi positif. terdapat perdarahan dan jaringan dalam kanalis servikalis dan vagina. sonde 54 . Bahkan pada mola atau koriokarsinoma. tidak ada bagianbagian janin. karena kadar HCG yang tinggi maka uji biologic dan uji imunologik (Galli Mainini dan planotest) akan positif setelah pengenceran (titrasi): a) Galli Mainini 1/300 (+). maka kemungkinan mola hidatidosa atau hamil kembar. maka suspek mola hidatidosa b) Galli Mainini 1/200 (+). 7) Uji sonde.

Penanganan awal: a) Jika diagnosis kehamilan mola telah ditegakkan. 8) Foto roentgen abdomen. bila tetap tidak ada tahanan. kemungkinan mola. pada mola akan kelihatan bayangan badai salju dan tidak terlihat janin. lakukan evakuasi uterus: b) Segera lakukan evakuasi jaringan mola dan sementara proses evakuasi berlangsung berikan infus 10 unit oksitosin dalam 500 ml cairan I.V (NaCl atau Ringer Laktat) dengan kecepatan 40-60 tetes per menit (sebagai tindakan preventif terhadap perdarahan hebat dan efektifitas kontraksi terhadap pengosongan uterus secara cepat) Penanganan selanjutnya: a) Pasien dianjurkan untuk menggunakan kontrasepsi hormonal atau tubektomi bila ingin menghentikan fertilitas b) Lakukan pemantauan setiap 8 minggu selama minimal 1 tahun pasca evakuasi dengan menggunakan tes kehamilan dengan urin karena adanya risiko timbulnya penyakit trofoblas yang menetap atau khoriokarsinoma. tidak terlihat tulang-tulang janin(pada kehamilan 3-4 bulan) 9) Arteriogram khusus pelvis 10) Ultrasonografi. Jika tes kehamilan dengan urin tidak negatif setelah 8 minggu atau menjadi positif kembali dalam 1 tahun pertama.diputar setelah ditarik sedikit. rujuk ke pusat kesehatan tersier untuk pemantaun dan penanganan lebih lanjut 55 .

serta tidak terdapat edema atau proteinuria. Komplikasi Dan Penyulit Dalam Kehamilan Trimester III a) Kehamilan Dengan Hipertensi 1) Hipertensi esensial Hipertensi esensial adalah kondisi permanen meningkatnya tekanan darah dimana biasanya tidak ada penyebab yang nyata. Selama trimester ke II kehamilan tekanan darah turun di bawah batas normal. phaeochromocytoma atau penyempitan aorta. Setelah UK 18 minggu lebih sulit hipertensi esensial dari pre eklamsia. Kesejahteraan janin dipantau ketat untuk mendeteksi adanya retardasi pertumbuhan. Dia dapat hamil dan bersalin normal tetapi saat hamil dianjurkan untuk lebih banyak istirahat dan menghindari peningkatan berat badan terlalu banyak. jauh sebelum terjadi preeklamsia. Yang membedakannya dengan preeklamsia yaitu factor-faktor hipertensi esensial muncul pada awal kehamilan. selanjutnya meningkat lagi sampai ke nilai awal atau kadang-kadang lebih tinggi. 56 . dapat dilakukan induksi apabila tekanan darah meningkat atau terdapat tanda-tanda Intra Uterine Growth Retardation (IUGR).2. Selama tekanan darah ibu tidak meningkat sampai 150/90 mmHg berarti pertanda baik. Kadanng-kadang keadaan ini dihubungkan dengan penyakit ginjal. Wanita hamil dikatakan mempunyai atau menderita hipertensi esensial jika tekanan darah pada awal kehamilannya mencapai ≥ 140/90 mmHg. Penatalaksanaan: Wanita dengan hipertensi esensial harus mendapat pengawasan yang ketat dan harus dikonsultasikan pada dokter untuk proses persalinannya. Kehamilan tidak dibolehkan melewati aterm karena kehamilan postterm meningkatkan risiko terjadinya insufisiensi plasenta janin. dan keadaan ini lebih sering muncul pada saat kehamilan. Jika perlu.

kadang-kadang gagal ginjal merupakan komplikasi. atau meningkat pada awal persalinan. dokter dapat menghindari risiko yang serius dengan mempercepat persalinan. Jika ditemukan tekanan darah ≥ 160/100 mmHg. 57 . Jika tekanan darah tidak dapat dikendalikan atau terdapat tanda-tanda IUGR atau hipoksia. persalinan dapat dilakukan dengan cara Sectio caesarea. 200/120 mmHg atau lebih. Anamnesa juga diperlukan untuk mengeluarkan ibu dari pre eklamsia. Jika tekanan darah sangat tinggi. Hal ini dapat dilakukan dengan menginduksi persalinan. harus dirawat dokter di rumah sakit.Merupakan pertanda kurang baik jika tekanan darah sangat tinggi. Keadaan ibu mungkin berkembang menjadi Pre Eklamsia atau mengalami abrupsio plasenta (plasenta Pecah). Kandungan catecholamine atau vanilmandelic acid (VMA) biasanya diukur karena hipertensi yang berat mungkin disebabkan karena Pheochromacytoma atau tumor pada ginjal. mungkin terjadi perdarahan otak atau gagal jantung. atau jika keadaan berbahaya atau lebih akut. karena kurangnya sirkulasi plasenta. Janin juga berisiko. yang dapat menyebabkan kejadian Intra Uterine Growth Retardation (IUGR) dan hipoksia. 2) Hipertensi Karena Kehamilan Hipertensi yang ditimbulkan atau diperberat oleh kehamilan lebih mungkin terjadi pada wanita yang : a) b) Terpapar vili korialis untuk pertamakalinya Terpapar vili korialis yang terdapat jumlah yang banyak seperti pada kehamilan kembar atau mola hidatidosa c) d) Mempunyai riwayat penyakit vaskuler Mempunyai kecenderungan genetic untuk menderita hipertensi dalam kehamilan. Obat-obat antihipertensi dan sedative boleh diberikan untuk mengontrol tekanan darah.

Kenaikan tekanan Diagnostik lebih dapat dipercaya apabila tekanan Diastolik meningkat 15 mmHg atau lebih atau menjadi 90 mmHg atau lebih. Pemeriksaan tekanan darah dilakukan minimal 2x dengan jarak waktu 6 jam pada keadaan istirahat. Preeklamsia mungkin lebih sering terdapat pada wanita dai keluarga yang tidak mampu. Edema ialah Penimbunan cairan secara umum dan berlebih dalam jaringan tubuh dan biasanya dapat diketahui dari kenaikan berat badan serta pembengkakan kaki. Untuk menegakkan diagnosa Pre-Eklamsi kenaikan tekanan Sistolik harus 30 mmHg atau lebih.Kemungkinan bahwa mekanisme imunologis di samping endokrin dan genetic turut terlibat dalam proses terjadinya pre-ekklamsia dan masih menjadi masalah yang mengundang perhatian. Kehamilan juga menyebabkan wanita hamil kekurangnan nutrisi. Resiko hipertensi karena kehamilan dipertinggi pada keadaan di mana pembentuka antibody penghambat terhadap tempat-tempat yang bersifat antigen pada plasenta terganggu. misalnya pada Mola Hidatosa. dan Proteinuria yang timbul karena kehamila. atau mencapai 140 mmHg atau lebih. tetapi kenyataannya sama-sama dapat terjadi preeklamsia. 3) Pre Eklamsia Pre-Eklamsi Adalah Penyakit dengan tanda-tanda Hipertensi. Hipertensi biasanya timbul lebih dahulu dari pada tanda lain. Seharusnya preeklamsia ditemkan pada multipara dari pada nulipara. Kenaikan sistolik harus 30 mm Hg atau lebih diatas tekanan yang biasanya ditemukan. Hipertensi biasanya timbul lebih dahulu daripada tanda-tanda lain. Oedema. dan muka. Oedema Pretribal yang 58 . jari tangan. Bahkan pengamatan menyebutkan bahwa makanan yang kurang mengandung protein sebagai penyebab penurunan insiden eklamsia. namun bisa juga terjadi pada pada wanita denan ekonomi yang menengah ke atas. Penyakit ini biasanya timbul pada Triwulan ke-3 kehamilan tetapi dapat timbul sebelumnya.

Tanda Dan Gejala : Tanda-tanda Pre-Eklamsi biasanya timbul dalam urutan pertambahan berat badan yang berlebihan. Proteinuria dapat disebabkan oleh Spasme arteriola sehingga terjadi perubahan pada glomerolus.ringan sering terjadi pada kehamilan biasa. Patofisiologi : Mochtar (1999. Pada beberapa kasus. di ikuti oedema.199) menjelaskan bahwa pada Pre-Eklamsi terjadi pada spasme pembuluh darah yang disertai dengan Retensi Garam dan air. Proteinuria berarti konsentrasi protein dalam urin yang melebihi 0. Pada Biopsi ginjal ditemukan spasme hebat arteriola Glomerolus. karena itu harus dianggap yang cukup serius. Pada Pre-Eklamsi ringan tidak ditemukan gejala-gejala subyektif. mungkin karena retensi air dan garam. Jadi jika semua arteriola di dalam tubuh mengalami spasme maka tekanan darah akan naik. pada Pre-Eklamsi ditemukan sakit kepala di 59 . sehingga tidak berarti untuk penentuan Diagnosis Pre-Eklamsi. sebagai usaha untuk mengatasi kenaikan tekanan perifer agar oksigen jaringan dapat dicukupi. Kenaikan BB ½ kg setiap minggu masih normal tetapi kalau kenaikan BB I kg atau lebih setiap minggu beberapa kali.3 g/lt dalam urin 24 jam atau pada pemeriksaan menunjukan 1 atau 2+ atau 1 gr/lt yang dikeluarkan dengan jarak waktu 6 jam. Proteinuria timbul lebih lambat daripada hipertensi dan kenaikan berat badan. Sedangkan kenaikan berat badan dan Edema yang disebabkan oleh penimbunan air yang berlebihan dalam ruangan intestinal belum diketahui sebabnya. hal ini perlu menimbulkan kewaspadaan terhadap timbulnya preeklamsia. dan akhirnya proteinuria. hipertensi. lumen arteriole sedemikian sempitnya sehingga hanya dilalui oleh satu sel darah merah.

Tekanan darah 140/90 mmHg atau kenaikan diastolik 15 mmHg atau lebih (diukur pada posisi berbaring terlentang) atau kenaikan sistolik 30 mmHg atau lebih. sehingga terjadi kebocoran plasma dan rusaknya pembuluh darah sehingga dihasilkan oedema kemudian menuju ke jaringan. Di ginjal. skotoma. Klasifikasi pre eklamsia dibagi menjadi 2 golongan : a) Preeklamsia ringan (1). mual dan muntah-muntah. paru-paru dapat menjadi macet dengan adanya cairan dan berkembang menjadi oedema pulmonary. Pengurangan cairan ke intravaskuler disebabkan hypoluemia dan hemokonsentrasi dan ini adalah reflek untuk meningkatnya haematrokit. volume darah dan cardiac output (Gant Et al 1973). Gejala-gejala ini sering di temukan pada Pre-Eklamsi yang meningkat dan merupakan petunjuk bahwa Eklamsi akan timbul. Perubahan Psikologi Normotensive pada wanita hamil dihubungkan dengan perubahan cardiovascular termasuk meningkatnya kerja jantung. nyeri di daerah epigastrum. Dengan adanya hipertensi bersama-sama dengan sel Endothelia rusak mempengaruhi melalui pembuluh. Hal ini menyebabkan sel endothelia rusak sehingga perbandingan antara vasodilator : vasocontricsi. diploma. Dengan vasokontriksi dan disruption ke vascular endothelium menjadi coagulasi aktif. Meningkatnya produksi trombositopenia dan responsible untuk Disseminated Intravaskular Cougelation (DIC). oksigen rusak dan sehingga terjadi sianosis. Dalam kasus yang parah.daerah frontal. Cara 60 . vasospasme menghasilkan arteriolus menyebabkan pengurangan aliran darah menuju ke ginjal yang menjadikan hypoxia dan oedema. penglihatan kabur. Perbandingan ini disebabkan karena untuk menopang hipertensi.

rendah kaebohidrat. Banyak istirahat ( berbaring tidur miring) Diet: cukup protein. (2). namun pre eklamsia sering terjadi pada a) b) c) Primigravida Tuanya kehamilan Kehamilan ganda Prinsip pencegahan preeklamsia a) Pencegahan/ANC yang baik: ukuran tekanan darah. (3). (e). Penyebab preeklamsia secara pasti belum di ketahui. (5).pengukuran sekurang-kurangnya pada 2x pemeriksaan dengan jarak (2). lemak. (3).3 gr/lt atau 1+ atau 2+ Edema pada kaki. gangguan visus. Roboransia Kunjungan ulang tiap 1 mg 61 . 5 gr/lt atau lebih Oliguria (jumlah urine < 500 cc per 2 jam Terdapat edema paru dan sianosis Adanya gangguan serebral. (c). dan garam Sedative ringan (jika tidak bisa istirahat ) tablet Febobarbital 3x30 mg peroral selama 2 hari (d). ukur kadar proteinuria tiap minggu b) Diagnosa dini/tepat: diet. dan rasa nyeri di epigastrium. b) Proteinuria 0. kalau perlu pengakhiran kehamilan Penanganan a) Penanganan Pre-Eklamsi Ringan: 1) Rawat Jalan (a). timbangan berat badan. muka dan berat badan naik >1 kg/mg Preeklamsia berat (1). Tekanan darah 160/110 mmHg atau lebih Proteinuria. jari. (b). (4).

Adanya tanda-tanda impending (c). Pada Kehamilan Preterm (kurang dari 37 minggu) (1). Jika Tekanan Darah mencapai normotensif selama perawatan persalinan ditunggu sampai aterm (2).2) Jika dirawat di Puskesmas atau Rumah Sakit: (a). Pada Kehamilan Aterm (lebih dari 37 minggu) Persalinan ditunggu spontan atau dipertimbangkan untuk melakukan persalinan. Persalinan dapat dilakukan spontan bila perlu memperpendek kal II dengan bantuan bedah obstetri. b) Penanganan Pre-Eklamsi Berat di Rumah Sakit Penanganan Aktif: 1) Indikasi Indikasi perawatan aktif ialah bila di dapatkan satu atau lebih keadaan ini pada ibu: (a). tetapi tidak selalu komplikasi dari pre eklampsi. 62 . Bila Tekanan Darah turun tetapi belum mencapai normotensif selama perawatan maka kehamilannya dapat diakhiri pada kehamilan lebih dari 37 minggu (b). (c). Kehamilan lebih dari 37 minggu (b). Kegagalan terapi pada perawatan konservatif Pada Janin : a) b) Adanya Tanda-tanda Fetaldistres Adanya Tanda-tanda IUFD induksi persalinan pada taksiran tanggal 4) Eklamsia Eklampsi merupakan serangan konvulsi yang biasa terjadi pada kehamilan.

Jika ANC dan Inc mempunyai standar yang tinggi. sementara terbiasa. Etiologi Dalam eklampsi berat terdapat hipoksia serebral yang disebabkan karena spasme kuat dan oedem. Monitor tekanan darah dan urin untuk proteinuria harus dilakukan dan dilanjutkan selama periode postpartum. lengannya kaku. Kemudian otot respirasinya dalam spasme. Ini terjadi lebih dari 48-72 jam setelahnya. Dia menyatukan gigi dan bisa saja dia menggigit lidahnya. Hampir seluruh otot-otot wanita segera menjadi Genggamannya mengepal dan tangan dan serangan spasme. Empat fasenya antara lain: 1. tersendat-sendat Spasme berhenti. konvulsi postpartum akan lebih sering terhindar. Tahap Tonic. ketika wajah dan otot tangannya sementara kejang 2. dan sesudah persalinan. bernama konvulsi eklampsi. Tahap klonik. Mata dibuka. pergerakkan otot menjadi dan serangan menjadi meningkat.Dalam sebuah konduksi studi nasional di UK pada tahun 1992. sering saliva blood-strained terlihatb pada bibirnya 63 . 38% dsari kasus eklampsi tidak disertai dengan hipertensi dan protein urin (Douglas dan Redman 1994). selama. Konvulsi dapat terjadi sebelum. Hipoksia serebral menunjukkan kenaikan dysrhytmia serebral dan ini mungkin terjadi karena konvulsi. Seluruh tubuhnyabergerak-gerak dari satu sisi ke sisi yang lain. Beberapa pasien ada yang mempunyai dasar dysrhytmia serebral dan oleh karena itu konvulsi terjadi mengikuti bentuk yang lebih kuat dari pre eklampsi. Tahap premonitory. Pada tahap ini dapat terjadi kesalahan jika observasi pada ibu tidak tetap. Ada satu tanda eklampsi. Spasme ini berlangsung sekitar 30 detik 3. dia berhenti bernafas dan warnanyaberubah sianosis.

Dalam lebih dari setengah terdapat kematian ibu dan hanya satu atau dua yang selamat. Komplikasi yang terberat ialah kematian ibu dan janin: a. Dari komplikasi-komplikasi ini dapat terjadi kefatalan. Sianosis memudar. jika frekuensi berulang hati gagal berkembang. Perdarahan otak e. Angka kematian ibu dari eklampsi di UK pada tahun 1991-1993 adalah 11. Selama sehat ketika ibu berhenti bernafas supply oksigen ke janin terganggu. Kadangkadang sadar dalam beberapa menit atau koma untuk beberapa jam Bahaya-Bahaya Eklampsi 1. Ini menunjukkan retardasi pertumbuhan intrauterine dan hipoksia. Bagi janin Dalam eklampsi antenatal janin dapat terpengaruh dengan ketidakutuhan plasenta. Angka kematian perinatal sebanyak 15%. Edema paru-paru g. Bagi ibu Perbedaan konvulsi dan kelelahan. Hipofibrinogen c. Jika kenaikan hipertensi banyak. Konvulsi intrapartum sangat berbahaya untuk janin karena kenaikan hipoksia intra uterin yang disebabkan karena kontraksi uterus. selanjutnya berkurang. Pasien dengan oedem dan oliguria perkembangan paru-paru dapat bengkak atau gagal ginjal. Hemolisis d. Dapat terjadi kegagalan hepar. tapi wajahnya tetap bengkak. Solusio plasenta b. 2. Nekrosis hati 64 . pada ibu dapat terjadi cerebral hemorrhage. Tahap Comatose. Inhalasi darah atau mucus dapat menunjukkan asfiksia atau pneumonia.4. Kelainan mata f. Wanita dapat tidak sadar dan mungkin nafasnya berbunyi.

dalam tingkat ini seluruh otot menjadi kaku. tangan menggenggam dan kaki membengkok ke dalam. Tingkat kejangan klonik Berlangsung 1-2 menit. Tingkat awal atau aura Keadaan ini berlangsung kira-kira 30 menit. Mata penderita terbuka tanpa melihat. semua otot berkontraksi dan berulang-ulang dalam tempo yang cepat. Prematuritas j. kelopak mata bergetar demikian pula tangannya dan kepala diputar ke kanan dan ke kiri. spasmus tonik menghilang. bola mata menonjol. wajahnya kelihatan kaku. muka menjadi sianotik. dan fraktur karena jatuh dan DIC) Gejala Dan Tanda Pada umumnya kejang didahului oleh makin memburuknya preeklamsi dengan gejala-gejala nyeri kepala di daerah frontal. sehingga penderita dapat terjatuh dari tempat tidurnya. lidah dapat tergigit. Bila keadaan ini tidak segera diobati. Tingkat kejangan tonik Berlangsung lebih 30 menit. trauma. gangguan penglihatan. Kelainan ginjal i. mulut membuka dan menutup dan lidah dapat tergigit lagi. kejadian kronik ini a demikian hebatnya. akan timbul kejangan. Komplikasi lain (lidah tergigit. pernafasan berhent. dari mulut keluar ludah yang berbusa aka menunjukan kongesti dan sianosis.h. dan hiperefleksia. konvulsi eklamsi dibagi 4 tingkat yaitu : 1. 3. Penderita menjadi tak sadar. 2. Akhirnya kejangan terhenti dan penderita menarik nafas secara mendengkur. 65 . mual. nyeri epigastrium.

Oksigen diberikan untuk kepentingan keduanya ibu dan janin. sehingga ia tetap dalam koma. terlebih lagi konvulsi pada wanita memiliki resiko tinggi untuk hidupnya dan janinnya. Penatalaksanaan Selanjutnya Prinsip-prinsip pelaksanaan: 1. Sangat jarang dimulai dan proses cepat terjadi eklampsi diantara pemeriksaan antenatal yang biasa dan sering. eklampsiakan lebih sulit terjadi. paramedis harus segera dipanggil untuk memberikan pertolongan pertama sebelum dibawa ke rumah sakit. akan tetapi dapat terjadi pula bahwa sebelum itu timbul serangan baru yang berulang. Penatalaksanaan selama konvulsi antara lain: 1. Melindungi wanita dari luka-luka Ibu harus miring ke satu sisi dan pergerakkan konvulsinya dapat ditekan dari semua ini harus dilakukan sepelan mungkin dan tidak tergesagesa. dipublikasikan pada tahun 1995. Penatalaksanaan Eklamsi Jika pre eklampsi diketahui lebih awal dan ditangani lebih cepat. Tingkat koma Lamanya koma tidak selalu sama.4. 66 . Obat diberikan dengan segera untuk mengurangi rangsangan sistem saraf. Mulut dibersihkan dari mucus dan darah dengan suction. Obat yang dipilih untuk pengobatan eklampsi adalah Magnesium Sulfat (Neilsen 1995. Memelihara kebersihan jalan nafas 2. Penemuan Collaborative Eclampsi Trial. Untuk pertolongan awal bantuan medis harus dipanggil. Secara perlahan-lahan penderita menjadi sadar lagi. Jika wanita berada di luar rumah sakit saat terjadi konvulsi. Magnesium Sulfat Antikonvulsi yang efektif dan bereaksi cepat. Mengontrol konvulsi Ini sangat penting untuk mengontrol konvulsi.Lucas 1995) a.

1995) dan dianggap sebagai prophylactic dari pada metode pengobatan (Howard 1993). 67 . promethozin dan chlorpromazine dalam infus intravena dextrose 5%) sekarang tidak direkomendasikan phenytoine digunakan untuk mengobati epilepsy dan saat ini ada pembaharuan pada penatalaksanaan pre eklampsi. Pengobatan diuretic diindikasikan ketika urin yang keluar kurang dari 20 ml/jam. dan 67% resiko lebih rendah dibandingkan dengan phenytoin. Walaupuntidak efektif dalam mengontrol eklampsi (The eclampsia Collaborative Trial Group. Injeksi intravena 4-5 gr dalam 20% pemberian. 1995). hydrochloride (apresoline) 20 mg dengan injeksi intravena diikuti oleh 20-40 mg sebagai injeksi intravena. b. laju teratur menurut aliran darah. Antibiotik mungkin untuk mencegah infeksi paru-paru. paraldehyde dan lytic cocktail (kombinasi dari pethidine. 1995). tribromoethanol (Avertin). 2.WHO sekarang merekomendasikan penggunaan Magnesium Sulfat untuk pengobatan eklampsi dan memasukkannya ke dalam Daftar Obat Esensial (WHO. Injeksi intravena diazepam 10-40 mg diikuti dengan infus 20-80 mg dalam 500 ml dari 5% dextrose dengan rata-rata 30 tetes/menit.terbukti Magnesium Sulfat lebih efektif mengurangi dan mencegah konvulsi eklampsi dibandingkan dengan diazepam dab phenytoin (Eclampsia Collaborative Trial Group. Magnesium Sulfat direkomendasikan untuk pengobatan untuk eklampsi. Obat lain yang digunakan seperti morfin. diikuti dengan infus 1-2 gr/jam. Mengontrol tekanan darah Tekanan darah dikontrol oleh sedatif dan menggunakan obat anti hipertensi seperti hydralazine. Wanita yang menerima Magnesium Sulfat memiliki resiko 52% lebih rendah dari konvulsi dibandingkan diberi diazepam.

68 . enzim dalam hati dapat dimonitor dengan memberi informasi tentang: 1.Tes biokimia untuk mengetahui fungsi ginjal. jika semua kasus eklamsi harus segera di rujuk. baik untuk mengatasi kejang ataupun untuk memberi obat anti hipertensi. 1. Rujuk pasien ke RS di sertai perawat yang mengantar dan surat rujukan Sebelum merujuk dapat diberikan pengobatan awal sesuai dengan diagnosis kasus. • • • • • Bari O2 Pasang infus dengan cairan dekstrose 5% dengan kecepatan 20 tetes / menit. Proses rujukan • • • Jelaskan bahaya / komplikasi eklamsi kepada kelurga pasien. Pasang goedel atau sudip yang dilapisi kain kasa untuk melindungi gigi tergigit lidah. trombositopenia. Rujukan 1) Kriteria rujukan Eklamsi harus ditangani di Rumah Sakit. Pasang kateter urine yang dipertahankan dan kantong urine. Keempat ekstrimitas di ikat tidak terlalu ketat agar pasien tidak terjatuh. Penanganan a.

b. • • Maintenance dose Tiap 6 jam diberikan lagi 4 gram IM MgSO4 Dosis tambahan Bila timbul kenjeng-kejang lagi maka dapat diberikan MgSO4 2 gram IV selama 2 menit. Sekurang-kurangnya pemberian terakhir Dosis tambahan 2 gram hanya diberikan sekali saja. 20 menit setelah • Monitoring tanda-tanda mkeracunan MgSO4 b) Obat-obat supportif Lihat pengobatan supporti pre-Eklamsi berat c) Perawatan pada serangan kejang • • • • Di rawat di kemar isolasi yang cukup tenang (bukan kamar gelap) Masukan sudip lidah ke dalam mulut penderita. Penanganan eklamsi di RS 1) Penanganan medisinal a) Obat anti kejang MgSo4 • Loading dose 4 g MgSO4 40% dalam larutan 10 cc intravena selama 4 menit disusul 8 g IM MgSO4 40 % dalam laritan 25 nn diberikan pada bokong kiri dan kanan masing-masing 4 gram. Bila setelah diberi dosis tambahan masih tetap kejang maka berikan amobarita 3-5 m/kg BB IV pelan-pelan.. Kepala direndahkan: daerah asofaring di hisap Fiksasi badan pada tempat tidur harus cukup kendor guna menghindari fraktur 69 .

Pada perawatan koma perlu diperhatikan pencegahan dekubitus dan makanan penderita Pada koma yang lama. walaupun dapat pula terjadi pada setiap saat dalam kehamilan. bila nutrisi tidak mungkin cukup diberikan alat bentuk NGT (Naso Gastric Tube) c.d) Perawatan penderita dengan koma • • • Monitoring kesadaran dan lamanya koma memakai glassglow –Pittsburgh-coma scale. Penanganan Obstetric 1) Sikap terhadap kehamilan Sikap dasar : Semua kehamilam dengan pre-eklamsi harus diakhiri tanpa memandang umur kehamilan dan keadaan janin. 70 . Biasanya terjadi pada trimester III. 2) Bilamana diakhiri Sikap dasar : • Bila sudah terjadi stabilisasi (permulian) hemodinamika dan metabolise ibu yaitu 4-8 jam setelah salah satu atau lebih di bawah ini: Setelah pemberian obat anti kejang terakhir Setelah kejang terakhir Setelah pemberian obat-obat antihiertensi terakhir Penderita mulai sadar (resp[onsive dan orientasi) b) Perdarahan Antepartum 1) Solusio Plasenta Solusio plasenta adalah terlepasnya plasenta yang letaknya normal pada corpus uteri sebelum janin lahir.

Meskipun janin bias bertahan hidup. kemungkinan pelepasan plasenta yang luas sehingga akan menimbulkan kematian janin. (1983) mengemukakan bahwa frekuensi untuk solusio plasenta sekitar 1 per 75 persalinan. Tampak jelas bahwa abrupsio plasenta merupakan problem obstetric yang sering ditemukan dan terutama berbahaya bagi janin serta nonatus.Sebagian perdarahan pada solusi plasenta biasanya merembes sendiri diantara selaput ketuban dan uterus. kemudian mengalir keluar lewat serviks dan terlihat dari luar sehingga terjadi perdarahan eksternal. Etiologi. Solusio plasenta dengan perdarahan tersembunyi menngandung ancaman bahaya yang jauh lebih besar terhadap keselamatan jiwa ibu. Frekuensi ditegakan diagnosis solusio plasenta sangat bervariasi mengingat criteria yamg dipakai untuk membuat diagnosis ini berbeda-beda. tetapi juga akibat luasnya perdarahan yang tidak disadari. Penyebab primer solusio plasenta tidak diketahui. Bila terlambat. tetapi tetap tertahan diantara bagian plasenta yang terlepas dan uterus sehingga terjadi perdarahan tersembunyi.. atau setelah terjadinya perdarahan pervaginam. Hurrd dkk. dan ini bukan hanya terjadi akibat peningkatan kemungkinan terjadinya koagulopati konsumtif yang berat. Bisa juga darah tidak mengalir keluar. dengan angka mortalitas perinatal sebesar 30 %. tetapi keadaan ini dapat dikemukakan sebagi factor-faktor etiologinya yaitu : • • • Trauma Tali pusat yang pendek Dekompresi yang uterus mendadak 71 . Bila dapat diselamatkan bayi akan mengalami gangguan akibat kejadian tersebut. ataupun setelah dijumpai keduanya. Intensitas solusio plasenta seringkali bervariasi menurut cepatnya ibu hamil mencari dan mendapatkan perawatan setelah merasakan nyeri abdomen. neonatus dapat meninggal karenanya.

kompresi dan kahirnya penghancuran plasenta yang berdekatan dengan bagian tersebut. Solusio plasenta dengan derajat yang lebih ringan dapat terhadi sesaat sebelum persalinan janin tunggal kalau cairan ketuban sudah mengalir habis dari dalam uterus dan janin mengalami desensus hingga kepalanya sudah berada pada perineum. Contoh. proses tersebut dalam stadium awal akan terdiri dari pembentukan hematoma desidua yang menyebabkan pelepasan. Desidua tersebut kemudian terbelah sehingga meninggalkan lapisan tipis yang melekat pada miometrium. keadaan tersebut ditemukan hanya setelah dilakukan pemeriksaan terhadap plasenta yang baru dilahirkan. atau perdarahan eksternal 72 .. Plasenta ini mempunyai permukaan maternal dengan lekukan bulat yang diameternya beberapa sentimeter dan ditutupi oleh darah yang membeku serta berwarna gelap. Sebai akibatnya. Diagnosisi Klinis Perlu ditekankan bahwa keluhan dan gejala pada solusio plasenta dapat bervariasi cukup luas. dekompresi yang terjadi setelah persalinan janin pertama dapat menimbulkan pelepasan premature plasenta yang membahayakan janin kedua. Patologi Terjadinya solusio plasenta dipicu oleh perdarahan ke dalam desidua basalis.• • • Anomaly uterus atau anomaly uterus atau tumor uterus Hipertensi kronis atau hipeertensi yang ditimbulkan karena kehamilan Tekanan pada nena cava inferior akibat uterus yang membesar dan defisiensi gizi. perdarahan eksternal bias banyak sekali meskipun pelepasan plasenta belum begitu luas sehingga menimbulkan efek langsung pada janian. Dalam tahap awal mungkin belum terdapat gejala klinis. Pada janina kembar.

dan hal ini bukan saja terjadi akibat kemungkinan koagulopati konsumtif yang lebih tinggi. kali ini terjadi karena kontraksi uterus yang tidak kuat untuk menghentikan perdarahan pada kala III. tetapi juga akibat intensitas perarahan yang tidak diketahui sehingga pemberian tranfusi sering tidak memadai atau terlambat. terjadinya dengan maseuknya trombo plastin ke dalam peredaran darah ibu akibat terjadinya pembekuan darah retrolpasenter. Solusio plasenta dengan perdarahan yang tersembunyi mengandung ancaman bahaya yang jauh lebih besar bagi ibu. uterotonika.tidak terdapat tetapi plasenta sudah terlepas seluruhnya dan janin meninggal sebagai akibat langsung keadaan ini. Perdarahan postpartum dapat pula mengancam. Perdarahan Perdarahan antepartum dan intrapartum pada solusio plasenta hampir tidak dapat dicegah kecuali dengan menyelesaikan persalinan segera. 1. 2. oliguria. pengobatan kelainan pembekuan darah ialah histerektomia atau pengikatan arteria hipogastrika. dan gawat janin sampai kematiannya. kelainan pembekuan darah. 73 . Tindakan terakhir mengatasi perdarahan postpartum bila tidak dapat diatasi dengan kompresi bimanual. Kelainan pembekuan darah kelainan pembekuan darah pada solusio plasenta biasanya disebabkan oleh hipofibrinogenemia. Komplikasi Komplikasi tergantung dari luasnya plasenta dan lamanya solusio plasenta berlangsung. dan kelainan pembekuan darah. sehingga terjadi pembekuan darah intra faskular dimana-mana yang akan menghabiskan fakto-faktor pembekuan darah lainnya terutama fibrinogen. Komplikasi yang dapat terjadi ialah perdarahan.

atau hipertensi menahun.oleh karena itu oliguria hanya dapat diketahui dengan pengukuran teliti pengeluaran air kencing yang harus rutin dilakukan pada solusio plasenta sedang. pengamatan pembekuan darah untuk menentukan : 1) waktu pembekuan darah 2) besarnya dan kemantapan pembekuan darah 3) adanya factor seperti heparin (antikoagulansia) dalam peredaran darah c.Kadar fibrinogen plasma normal pada wanita hamil cukup bula ialah 450 mg%. Apabila kadar fibrinogen lebih rendah jadi 100 mg% akan terjadi gangguan pembekuan darah. penentuan waktu protrombin f. dan solusio plasenta berat. Oliguria Pada tahap oliguria keadaan umum penderita biasanya masih baik. hitung trombosit e. Kecurigaan akan adanya kelainan pembekuan darah harus dibuktikan dengan pemeriksaan secara laboratorium a. berkisar antara 300-700 mg%. Ada yang menerangkan bahwa tekanan intra uterin yang meninggi karena solusio plasenta menimbulkan reflek penyempitan pembuluh darah ginjal. Terjadinya oliguria sangat mungkin berhubungan dengan hipofolemi dan penyempitan pembuluh darah ginjal akibat perdarahan yang banyak. penentuan kuantitatif kadar fibrinogen b. Gawat janin 74 . adanya fibrinolisin dalam peredaran darah d. penentuan waktu tromboplastin 3. Kelainan pembekuan darah berperanan pula dalam terjadinya kelainan fungsi ginjal ini 4. preeklamsia. apalagi yang disertai perdarahan tersembunyi.

Solusio plasenta ringan Perdarahan antepartum yang sedikit. Apabila kemudian ternyata kemungkinan plasenta previa dapat disingkirkan. pertama kali harus ditangani sebagai kasus plasenta previ. Tranfusi darah b. perutnya tidak menjadi sakit. dan tidak peduli apakah persalinan akan 75 . Apabila kehamilannya kurang dari 36 minggu dan perdarahannya kemudian berhenti. Apabila perdarahan berlangsung terus dan gejala solusio plasenta bertambah jelas atau dengan pemeriksaan USG daerah solusio plasenta bertambah luas maka pengakhiran kehamilan tidak dapat dihindarkan lagi. Penanganannya di RS meliputi. dengan uterus yang tidak tegang. 5. Kalaupu janin yang masih hidup biasanya sudah gawat kecuali pada solusio plasenta ringan. maka penderita harus diobservasi dengan ketat. tidak peduli bagaimana keadaan umum penderita. Apabila janin hidup lakukan SC. Pemecahan ketuban c.Jarang ditemukan kasus solusio plasenta dengan janin yang masih hidup. barulah ditangani sebagai solusio plasenta. apabila janin mati lakukan pemecahan ketuban dan pemberian infus oksitosin untuk mempercepat persalinan. Jika perlu SC Tekanan darah bukan merupakan petunjuk banyaknya perdarahan karena vasospasmus sebagai reaksi dari perdarahan ini akan meninggikan tekanan darah Ketuban segera dipecahkan. 6. Infus oksitosin d. a. dan uterusnya tidak menjadi tegang. berarti perdarahan telah terjadi sekurang-kurangnya 1000 ml. Solusio plasenta sedang dan berat Apabila tanda dan gejala klinik solusio plasenta jelas dapat di temukan.

tersembunyi tidaknya perdarahannya. satu-satunya cara untuk segera mengosongkan uterus dengan SC. Prognosis janin pada solusio berat hampi 100 % mengalami kematian. Apabila persalinan tidak selesai atau diharapkan tidak akan selesai setelah 6 jam setelah terjadi solusio plasenta. segera mengatasi hipovolemi di bawah pengawasan tekanan vena pusat (CVP / central venous pressure). Pada solusio plasenta ringan dan sedang kematian janin tergantung dari luasnya plasenta yang terlepas dari dinding uterus dan tuanya kehamilan. derajat kelainan pembekuan darah. pemberantasan infeksi yang mungkin terjadi. mungkin melalui apa yang dinamakan refleks uterorenal. SC tidak usah menunggu sapai darah tersedia secukupnya. banyaknya perdarahan. walaupun dengan mecahan selaput ketuban dan infus oksitosin. Payah ginjal yang sering merupakan komplikasi solusio plasenta pada dasarnya disebabkan oleh hipovolemik karena perdarahan. dan mengatasi kelainan pembekuan darah. dan jarak waktu antara terjadinya solusio plasenta sampai pengosongan uterus. Bila perlu persalinan dapat lebih dipercepat dengan pemberian infus oksitosin. secepat mungkin menyelesaikan persalinan. Prognosis Prognosis ibu tergantung dari luasnya plasenta yang lepas dari dinding uterus. karena tindakan yang terbaik untuk mengatasi perdarahan ialah dengan segera menghentikan sumber perdarahannya. Pencegahan payah ginjal meliputi penggantian darah yang hilang secukupnya. atau syok telah dapat teratasi . ada tidaknya hipertensi menahun atau preeklamsia. dan gangguan pembekuan darah.pervaginam atau perabdominal. Pemecahan ketuban ini akan merangsang dimulai persalinan dan mengurangi tekanan intra uterin yang dapat menyebabkan komplikasi nekrosis kortek ginjal. Pada kasus solusio plasenta tertentu SC 76 .

persediaan darah secukupnya akan sangat membantu memperbaiki prognosis ibu dan janinnya Gambar. pabila pinggir plasenta berada tepat pada pinggir pembukaan 77 . Pada keadaan normal plasenta terletak dibagian atas uterus. apabila seluruh pembukaan tertutup oleh jaringan plasenta 2. plasenta previa marginalis. Sebagaimana pada setiap kasus perdarahan. Solosio Placenta 2) PLASENTA PREVIA Plasenta previa ialah plasenta yang letaknya abnormal. yang meliputi : 1. yaitu pada segmen bawah uterus sehingga dapat menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir. Plasenta previa totalis. Klasifikasi didasarkan atas terabanya jaringan plasenta melalui pembukaan jalan lahir pada waktu tertentu. 2.dapat mengeurangi angka kematian janin.2. Plasenta previa parsialis apabila sebagian pembukaan tertutup oleh jaringan plasenta 3.

Karena klasifikasi ini tidak didasarkan pada keadaan anatomik melainkan fisiologik.3. 2. Plasenta previa. Pinggir plasenta berada kira-kira 3 atau 4 cm di atas pinggir pembukaan sehingga tidak akan teraba pada pembukaan jalan lahir. Etiologi Penyebab plasenta previa tidak diketahui.4. Gambar. Plasenta letak rendah (low lying). plasenta yang letaknya abnormal pada segmen bawah uterus akan tetapi belum sampai menutupi pembukaan jalan lahir. Umpamanya plasenta previa totalis pada pembukaan 4 cm mungkin akan berubah menjadi plasenta previ parsialis pada pembukaan 8 cm. Umur : ibu yang lebih tua lebih beresiko daripada ibu yang lebih muda 78 . maka klasifikasinya akan berubah setiap waktu. Multiparitas : meningkatnya ukuran rongga uterus pada persalinan yang berulang-ulang merupakan predisposisi terjadinya plasenta previa 2. Tentu saja observasi ini tidak akan terjadi dengan penanganan yang baik. Kehamilan multiple : tempat plasenta terbesar lebih sering melewati segmen bawah rahim 3. tetapi factor-faktor berikut diketahui dapat dihubungkan 1.

Mal presentasi janin : sering didapatkannya bukan presentasi kepala pada janin. Plasenta membranasea (plasenta diffusa) mungkin juga merupakan penyebab. Uterus sikatrik : SC pada persalinan sebelumnya meningkatkan resiko plasenta previa 5. Tidak semua wanita hamil menginginkan pemeriksaan USG akan taetapi bidan harus mengatahui tanda-tanda indikasi kemungkinan terjadinya plasenta previa : 1. Kelainan Plasenta : plasenta dengan dua bagian dan plasenta suksenturia mungkin dapat menyebabkan plasenta previa. Merokok : mekanisme yang tepat tidak begitu jelas tetapi terjadinya hipoksia disebabkan karena merokok yang mungkin menyebabkan pembesaran plasenta sehingga menyebabkan suplai oksigen berkurang. Wanita hamil yang merokok lebih dari 20 batang per hari 2 kali lebih besar peningkatan terjadinya plasenta previa 7. Plasenta menempati ruang di pelvis. Plasenta berkembang sebagai struktur membran yang tipis menutupi sebagian besar permukan uterus. Tanda Dan Gejala Plasenta previa didiagnosa dengan pemeriksaan USG pada awal kehamilan bidan harus mengetahui wanita-wanita hamil yang mengalami plasenta letak rendah.4. Hal ini merupaka kelainan perkembangan plasenta yang jarang dimana seluruh korion ditutupi dengan fungsi filli. dan mungkin bidan menemukan adanya presentasi bokong. karena ruang lainnya untuk kepala janin berada di fundus atau presentasi obliq dan presentasi bahu 79 . Keadaannya mungkin dapat didiagnosa dengan ultrason. Riwayat myomektomi 6. Pada kehamilan hal ini dapat menyebabkan perdarahan hebat yang memungkinkan dilakukan histerektomi.

merasa haus. Denyut nadi ibu yang keras dibawah umbulikus : plasenta previa anterior sering di deteksi dengan adanya suara denyut nadi ibu yan keras dari plasenta yang lebih mudah didengar dengan dopler.2. Denyut jantung janin sulit untuk dideteksi Karena tertutup oleh plasenta. Demikian. dengan ukuran sesuai umur kehamilan Sulit untuk membedakan antara plasenta previa dengan abrupsio plasenta. Perdarahan hebat yang terjadi akan memperlihatkan kondisi sbb : pucat. Jika terjadi perdarahan pada kehamilan tidak boleh melakukan pemeriksaan vagina dirumah 2. Bagian terendah janin tidak terfiksasi : khususnya pada plasenta previa tipe III atau IV. khususnya pada presentasi kepala. 4. Penatalaksanaan di RS Di Rumah Sakit. Kemungkinan ada riwayat spoting. gelisah. Abrupsio plasenta ada hubungan dengan preeklamsia dimana dengan presentasi dan fiksasi kepala janin normal. Jika perdarahan banyak pasien dianjurkan untuk tidur miring atau menggunakan bantal dibawah pinggul kanannya untuk mencapai agar panggul miring dan menghindari supine hypotensive syndrome. tidak adanya preeklamsia dan adanya beberapa ketidaknormalan yang ditemukan merupakan bukti terjadinya 80 . Penatalaksanaan di rumah : Pasien dianjurkan harus istirahat ditempat tidur. Penatalaksanaan 1. 3. denyut nadi meningkat dan tekanan darah menurun. berkeringat. Sulitnya mengidentifikasi bagian janin pada palpasi : plasenta previa anterior (khususnya tipe I dan II) terletak diantara janin dan seperti ada yang mengganjal pada tangan bidan. ibu harus berbaring. Pada pemeriksaan abdomen akan taraba lunak. Kadang-kadang perdarahan terjadi setelah coitus tapi diketahui penyebabnya.

dan mencapai keliling tepi plasenta dengan hanya di lapisi oleh satu lipatan amnion. (2000) mendapatkan bahwa 1. VASA PREVIA Keadaan ini terjadi pada insersi velamentosa apabila sebagian dari pembuluh janin di selaput ketuban memotong daerah os internum dan menempati posisi di depan bagian terbawah janin. Pada 81 . 3) INSERTIO VELAMENTOSA Jenis insersi tali pusat ini sangat penting dari segi praktis karena pembuluh-pembuluh umbilicus. Benirschke dan kaufmann. Denyut jantung janin harus selalu dipantau dengan cardiotocography jika perdarahan menetap. diberikan pada kasus perdarahan hebat yang tiba-tiba.plsenta previa. Urin diperiksa kadar protein jika perdarahan hebat. Wanita tersebut harus di tempat tidur sampai perdarahan berhenti.000 kasus. Mungkin dibutuhkan pengkateteran. dan hampir selalu terjadi pada kembar tiga. Keadaan ini terjadi jauh lebih sering pada kehamilan kembar. Pemberian infus intra vena dapat dimulai jika perdarahan menetap dan dipertahankan sampai perdarahan berhenti. berpisah jauh dari tepi plasenta. Nadi dan tekanan darah dicatat lebih sering dengan ketentuan : tiap seperempat jam jika perdarahan berlanjut. tekanan darah dan denyut jantung janin harus dilakukan. Observasi Pemantauan suhu. nadi. di selaput ketuban. Darah diperika kdar haemoglobin dan dilakukan uji cleihauer jika resus negatif dan setidaknya 2 kantong darah 3.1% dari pelahiran janin tunggal memeiliki insersio velamentosa. Dalam suatu ulasan tentang kepustakaan yang mencakup hampir 195.

Pada vasa previa terdapat bahaya yang sangat besar bagi janin karena pecahnya ketuban dapat disertai oleh ruptur pembuluh janin yang menyebabkan kehilangan banyak darah. Cincin ini menandakan pinggir plasenta.pemeriksaan yang cermat kadang-kadang dapat diraba sebuah pembuluh janin tubular di selaput ketuban yang menutupi bagian terbawah janin. villi menyerbu kedalam desidua di luar permukaan frondosum. Pada plasenta marginata mungkin terjadi adeksi dari selaput 82 . Cara tercepat dan mudah untuk mendeteksi darah janinadalah dengan mengapuskan darah pada kaca obyek. Insidensinya lebih kurang 2-18 %. Kedua-duanya disebut sebagai plasenta ekstra coriel. di sebut plasenta marginata. dan periksa preparat untuk mencari sel darah merah berinti. Penekanan pembuluh oleh jari pemeriksa ke bagian terbawah janin kemungkinan akan menyebabkan perubahan frekuensi denyut jantung janin. Sayangnya. jumlah darah janin yang boleh keluar tanpa mematikan janin relatif sedikit. Apabila terjadi perdarahan antepartum atau intrapartum. Menurut beberapa ahli plasenta sirkumvalata serin menyebabkan abortus dan solusio plasenta. Bila cincin putih ini letaknya dekat sekali ke pinggir plasenta. 4) RUPTUR SINUS MARGINALIS Ruptur sinus marginalis Pecahnya pembuluh vena dekat tepi plasenta yang terbentuk karena penggabungan pinggir ruang intervilli dengan ruang subcorial. plasenta jenis ini tidak jarang terjadi. warnai apusan dengan pewarna Wright. terdapat kemungkinan vasa previa atau ruptur pembuluh janin. yang dalam keadaan normal terdapat dalam darah tali pusat tetapi tidak dalam darah ibu. 5) PLASENTA SIRKUMVALATA Plasenta sirkumvalata adalah plaseta yang pada permukaan vetalis dekat pinggir terdapat cincin putih. Diduga bahwa corionfrondosum terlalu kecil dan untuk mncukupi kebutuhan. sedangkan jeringan di sebelah luarnya terdiri dari villi yang tumbuh kesamping dibawah desidua.

Kelompok ini kira-kira berjumlah 20 % dari kehaliran preterm. Kelahiran prematur memberikan kontribusi secara langsung antara 7590% dari semua kematian neonatal dan merupakan penyebab paling banyak morbibitas dalam jangka waktu yang pendek dan yang lama. 2. infeksi maternal atau prolapsus tali pusat. yang paling sedikit ¼ bagian terjadi sebelum minggu ke 32. c) Kelainan dalam lamanya kehamilan 1) Prematur Persalinan dikatakan preterm jika terjadi sebelum akhir umur kehamilan 37 minggu. eklampsia. Bayi yang dilahirkan kurang dari 37 minggu dari hari pertama haid terakhir dinamakan preterm. 83 . Kelahiran preterm dapat terjadi sebagai akibat dari beberapa faktor di bawah ini: 1. Kelahiran prematur elektif. Jumlah kelahiran prematur meningkat dengan peningkatan umur kahamilan minggu.sehingga plsenta lahir telanjang tertinggalnya selaput ini dapat menyebabkan perdarahan dan infeksi. Diagnosis plasenta sirkumvalata baru dapat ditegakan setelah plasenta lahir tetapi dapat diduga bila ada perdarahan intermiten atau hidrorea. resus iso imunisasi. Bayi yang dilahirkan dengan berat badan kurang dari 2500 gram termsuk dalam kategori berat badan lahir rendah. penyakit ginjal maternal atau iugr. Kelahiran dengan komplikasi kegawat daruratan Komplikasi tersebut meliputi solusio plasenta. Produk kehamilan ini mempunyai komplikasi yang paling rendah. KPD Insidennya kira-kira 20 % dari semua kasus kelahiran preterm 3. Insiden kelahiran prematur kurang lebih 6 sampai 10%. Hal ini diakibatkan oleh preeklamsi berat.

klamedia dan streptokokus hemolitik b. Abnormalitas uterus. Dia mempunyai resiko untuk terjadi kelahiran preterm 70% pada kehamilan ini. Riwayat reproduksi Riwayat kelahiran preterm sebelumnya. Perdarahan pada kehamilan sebelumnya. Peningkatan berat badan yang tidak adekuat b. Pembedahan abdomen e. 35% wanita dengan incompeten servik akan melahirkan preterm dan 19% wanita dengan uterus bicornis. Infeksi saluran genital terutama vaginitis non spesifik. Faktor yang meningkatkan resiko terjadinya persalinan prematur adalah: 1. Amnionitis disebabkan karena infeksi 84 . unicornis atau didelphic akan melahirkan sebelum umur kehamilan 37 minggu. Persalinan preterm spontan tanpa komplikasi yang tidak diketahui penyebabnya Kelompok ini berjumlah paling besar sampai 40 % dari kelahiran prematur. vaginosis bakterial. Akdr masih berada di dalam rahim d. 3. Organisme ini terdapat pada 5% wanita dan berhubungan dengan terjadinya kpd. Faktor biologikal/medik 1) Umur kurang dari 15 tahun atau lebih dari 35 tahun 2) Berat badan rendah (kurang dari 50 kg saat konsepsi) 3) Riwayat hipertensi. Perdarahan c. penyakit ginjal atau dm 4) Infeksi umum terutama virus 2. Infeksi terutama pielonefritis f.4. Jika wanita mempunyai riwayat lebih dari 2 kali melahirkan bayi preterm. Kehamilan saat ini a.

hal ini bisa dilakukan berdasarkan pada faktor yang telah dijelaskan diatas. Adat istiadat atau kebiasaan a. Sosial ekonomi a. Merokok. b. Prediksi sulit dilakukan dan tidak efektif dalam mencegah kelahiran preterm. Terlambat anc d. Penyakit resus k. 46% melahirkan preterm h. Sistem skoring resiko. persalinan preterm sering terjadi pada wanita yang tidak menikah c. tetapi hal ini bisa dilakukan dengan. Jarak antar kehamilan pendek c. 1. meliputi pekerja fisik yang berat 5. pemakai obat-obatan terlarang dan alkohol b. 2.traktus genital dapat menstimilasi pelepasan prostaglandin dan hal ini dapat menyebabkan mulainya persalinan g. Kematian fetus 4. Status pernikahan. Malformasi fetus j. Pekerja. Kemiskinan dan sosial yang rendah persalinan preterm biasa terjadi pada wanita dari kelompok sosial ekonomi yang rendah. Polihidramnion i. 85 . Kehamilan ganda. Memonitor aktifitas uterus. Tidak melakukan ANC Beberapa metode digunakan untuk mencoba mengidentifikasi wanita dengan resiko persalinan preterm. Psikologi Psikologi distres dihubungan dengan kelahiran preterm 6. Metode ini relatif mempunyai nilai prediktif yang sedikit terutama pada primigravida dan skor yang rendah dapat menyebabkan kesalahan.

Gerakan pernafasan fetus berhenti sebelum persalinan premetur dimulai dan hal ini merupakan indikator dari persalinan preterm prematur mengancam. 5. Penemuan hubungan antara tingkat fibronektin fetus dalam servik dan sekresi vagina pada waktu datangnya persalinan preterm dapat diketahui dengan tes yang dilakukan disamping tempat tidur. Gerakan pernafasan fetus. Tes ini mempunyai sensitifitas 79. 6. ini disekresi oleh villi trofoblas. menyebabkan kebocoran fibrinektin. Pemeriksaan pelvik Pemeriksaan pelvik yang teratur akan tampak tanda perubahan yang dapat mengambarkan waktu datangnya persalinan. 3. Jika persalinan preterm mengancam hubungan jaringan korio desidual terpisah dari ibu dan fetus. Panjang servik Pemeriksaan usg pada servik dapat memprediksi pesalinan preterm. Tingkat positif palsu 17%. 86 . Prosedur ini dapat mengetahui infeksi dan mempunyai nilai prediksi rendah pada wanita yang mempunyai resiko kelahiran preterm.4% dan spesifitas 82.Hal ini bisa dilakukan tetapi tampaknya tidak mempengaruhi jumlah kelahiran preterm. 4. Fibronektif fetus adalah suatu komponen matrik ekstraseluler.7%. Tes tesebut seharusnya dilakukan setiap 2 minggu dari umur kehamilan 24 minggu dan tidak dapat dilakukan jika ada perdarahan pervaginam atau kpd karena perdarahan dan cairan amnion mengandung fibrinektin.

Sekarang menggunakan gliseril trinitat (gtn). 8. Cervical cerclage Cervical cerclage mungkin bermanfaat dimana kelemahan servik seperti riwayat abortus trimester ii atau biopsi. pendataran servik 80% atau dilatasi servik 2 cm atau lebih. Metode ini efektif untuk menekan persalinan preterm. Progestogen dan etanol (jarang digunakan) 10. Kram seperti menstruasi (dismenorhoe) 87 . 9. Manajemen Kelahiran Dan Persalinan Prematur Persalinan prematur mungkin sulit dikenali tetapi dapat dikenali dengan perubahan servik. Peningkatan rasa sakit karena kontraksi 2. Peningkatan kunjungan antenatal dan education Peningkatan kunjungan anc dan pendidikan pada ibu diperkirakan dapat mengurangi persalinan preterm pada insiden kelahiran sebelum umur kehamilan 34 minggu. 1. 12.7. Antibiotik terapi Antibiotik terapi dapat memperlambat waktu datangnya persalinan preterm. Dukungan sosial Peran dukungan sosial dalam mencegah kelahiran prematur dilakukan dan tidak tampak mempunyai pengaruh pada kesehatan fisik meskipun dapat memperbaiki kesehatan psikologis. Bed rest Pencegahan kelahiran preterm tergantung dari pebcegahan aktifitas uterus dan dilatasi servik. Bed rest dapat dilakukan tetapi cara ini tidak efektif. Bidan seharusnya menyadari kecenderungan persalinan prematur pada wanita akan mengeluh. 11. diagnosis dapat ditegakkan.

Kehamilan antara 41 minggu lewat 1 hari sampai 41 minggu lewat 6 hari. tidak ada tanda perdarahan pervaginam pada saat ini atau KPD. Karena tidak ada metode untuk mengidentifikasi kehamilan yang benar-benar memanjang. Variasi-variasi siklus menstruasi ini kemungkinan menjelaskan. Sakit pinggang 4. bidan harus menghubungai dokter dan wanita dirujuk ke RS dengan fasilitas perawatan neonatus. Fase “42 minggu lengkap” perlu ditekankan. adalah 42 minggu lengkap (294 hari) atau lebih sejak hari pertama haid terakhir. didukung oleh American College of Obstetricians and Gynecologist (1997) . Jika umur kehamilan dibawah 35 minggu dokter dapat memberikan obat tokolitik jika keadaan ibu dan fetus baik. setidaknya sebagian. 88 . Jika umur kehamilan 35 minggu atau lebih persalinan dapat dilanjutkan dan kebanyakan bayi yang lahir pada usia ini akan berkembang lebih baik jika diberikan perawatan yang tepat setelah lahir.3. Peningkatan pengeluaran vagina Jika persalinan dimulai dirumah. mengapa sekitar 10 persen kehamilan mencapai 42 minggu. meskipun telah masuk minggu ke 42. Postmatur seharusnya digunakan untuk mendeskripsikan janin dengan cirri-ciri klinis nyata yang menunjukan kehamilan yang memanjang patologis. namun relaif sedikit janin yang terbukti mengalami postmaturitas. Tekanan pada pelvik 5. Jadi secar teknis kehamilan memanjang dapat dimulai pada hari 294 atau pada hari 295 setelah hari pertam haid terakhir. belum lengkap 42 minggu sapai habis hari ke tujuh. 2) Postmatur Postmatur kehamilan yang sudah melampaui masa kehamilan yang dianggap berada diatas batas normal. Definisi standar yang direkomendasikan secara internasional untuk kehamilan memanjang.

Syndrome ini terjadi pada sekitar 10 % kehamilan antara 41 dan 43 minggu serta meningkat menjadi 33 % pada 44 minggu. 42.banyak bayi postmatur Clifford mati dan banyak yang sakit berat akibat asfiksia lahir dan aspirasi mekonium. dan maturitas lanjut karena bayi tersebut matanya terbuka. Patofisiologi 1) Sindrom posmatur Bayi postmatur menunjukan gambaran yang khas.semua kehamilan yang dietapkan sebagai 42 minggu lengkap harus ditangani seolah-olah memanjang abnormal. yaitu berupa kulit keriput. Memang. Janin posterm mungkin terus bertambah berat badannya sehingga bayi tersebut luar biasa beras pada sat lahir. 2) Disfungsi plasenta Kadar eritroprotein plasma tali pusat meningkat secara signifikan pada kehamilan yang mencapai 41 minggu atau lebih dan meskipun tidak ada apgar skor dan gas darah tali pusat yang abnormal pada bayi ini. Berapa bayi yang bertahan hidup mengalami kerusakan otak. pertumbuhan janin yang berlanjut. Kuku biaanya cukup panjang. Kulit keriput telihat sekali pada bagian telapak tangan dan telapak kaki. mengelupas lebar-lebar. dan 43 minggu masing-masing belum dapat ditentukan dengan pasti. Insidensi sindrom postmaturitas pada bayi berusia 41. meskipun 89 . badan kurus yang menunjukan pengurasan energi. bahwa terjadi penurunan oksigen pada janin yang postterm. Biasanya bayi postmatur tidak mengalami hambatan pertumbuhan karena berat lahirnya jarang turun dibawah persentil ke-10 untuk usia gestasinya. Janin yang terus tumbuh menunjukan bahwa fungsi plasenta tidak terganggu. Oligohidramnion yang menyertainya secara nyata meningkatkan kemungkinan postmaturitas.

Memang.. terutama bila disertai dengan ologohidramnion. 5) Serviks yang tidak baik Sulit untuk menunjukan seriks yang tidak baik pada kehamilan memanjang karena pada wanita dengan umur kehamilan 41 minggu mempunyai serviks yang belum berdilatasi. seperempat kasus lahir mati yang terjadi pada kehamilan memanjang merupakan bayi-bayi dengan hambatan pertumbuhan yang jumlahnya relatif kecil ini. diukur dengan USG.kecepatannya lebih lambat. 4) Pertumbuhan janin terhambat Hingga kini. Dilatasi 90 . bersifat prediktif terhadap gawat janin intrapartum.. makna klinis pertumbuhan janin terhambat pada kehamilna yang seharusnya tanpa komplikasi tidak begitu diperhatikan. (1998) dan Clausson. Morniditas dan mortalitas meningkatkan secara signifikan pada bayi yang mengalami hambatan pertumbuhan. (1999) telah menganalisis kelahiran pada hampir 700. mungkin juga pengeluaran mekonium oleh janin ke dalam volume cairan amnion yang sudah berkurang merupakan penyebab terbentuknya mekonium kental yang terjadi pada sindrom aspirasi mekonium. 3) Gawat janin dan Oligohidramnion Alas an utama meningkatnya resiko pada janin posterm adalah bahwa dengan diameter tali pusat yang mengecil. Divon dkk.000 wanita antara 1987 sampai 1998 menggunakan akte kelahiran medis nasional swedia. Penurunan volume cairan amnion biasanya terjadi ketika kehamilan telah melewati 42 minggu. adalah cirri khas gestasi antara 38 dan 42 minggu. demikian juga untuk bayi lahir aterm. Bahwa pertumbuhan janin terhambat menyertai kasus lahir mati pada usia gestasi 42 minggu atau lebih.

tetapi patologi dalam supply pembuluh darah ke plasenta. hipertensi kronik dan masalah atau penyakit yang berhubungan dengan keadaan tersebut. diabetes melitus. penyakit jantung atau seperti penyakit kolagen. 3) Inta Uterin Growth Retardation (IUGR) IUGR adalah keadaan dimana janin dalam uterus tidak dapat tumbuh normal (BBLR=LBW. dan tempat yang tinggi mungkin masuk ke dalam kelompok ini. rokok. postmatur. SGA=preterm) IUGR dapat dibagi ke dalam 3 kelompok utama: 1) IUGR kerena insufisiensi plasenta Kelompok ini potensial untuk tumbuh normal. radiasi juga memeberikan kontribusi. menyebabkan anoksia janin dan mungkin kematian. penyakit ginjal kronik. tetapi sebagai predisposisi: Insufisiensi plasenta. 91 . rubela cytomegalivirus. Iskemi cepat merusak plasenta kerusakan suply pengangkut O2 dan nutrisi ke janin. Obat-obat berbahaya seperti alkohol. tetapi obat atau persilangan dari ibu ke janin menghambat pertumbuhan normal seperti penyakit malaria. Penyebab kerusakan arteri spiral ibu dalam plasenta belum diketahui dengan jelas. Pada kelompok ini menyebabkan 2-3 bayi pertumbuhannnya terhambat. ibu yang tua. Plasenta previa dan solusio plasenta.serviks adalah indicator prognostic yang penting untuk keberhasilan induksi dalam persalinan. 2) IUGR karena faktor lingkungan Janin mempunyai kemungkinan untuk tumbuh normal. preeklamsi. shipilis. seperti kehamilan kembar. seperti suply normal nutrisi dan oksigen tidak dapat menjangkau bayi disebabkan plasenta atau masalah sirkulasi. toxoplasmosis.

Racun. sikap terhadap bayi 11. sianosis .Berkurangnya kontraksi otot uterus . alkohol dan pengaruh teratogenik Penyebab uterus Malformasi uterus kongenital Penurunan oksigen . Sosial ekonomi yang rendah 2. Pengaruh ras. gangguan sel darah Pengurangan nutrisi dan karena plasenta . penyakit endemik. Jarak kelahiran pendek 4. nikotin. Pada kelompok ini meliputi: malformasi janin dan gangguan genetik. Menikah dini 3. Kurangnya pemeriksaan kesehatan ibu saat kehamilan 7. kelaparan dan genetik 10.DM. Kejadian ini lebih menonjol di negara-negara yang sedang berkembang.Anemia.3) IUGR karena faktor intrinsik Di sini janin tidak mempunyai atau kehilangan pertumbuhan normal segera setelah konsepsi. seperti: obat. Penyebab Umum 1.Tempat tidur .Penyakit pernafasan . Diet tidak adekuat karena kemiskinan dan keadaan malabsorpsi 5. Obesitas 9. Perhatian medis tidak adekuat 6. hipoglikemia ibu (dalam kasus yang ekstrim) 92 .Penyakit jantung. Umur sangat muda dan sangat tua 8. Riwayat reproduksi yang jelek 12. Kepribadian.

Kelainan dari tali pusat .. Ekspresi ketakutan 5. Tali pusat biasanya kecil dan lebih cepat kering daripada bayi normal 9. kuku. Tulang kartilagosudah berkembang baik kurus. tali pusat 6. Kulit kering dan bersisik c. Mata melotot c. Bayi aktif dan lapar pada saat lahir 10. mempunyai lipatan pada telapak kaki b. panjang dan lemah 93 .Berkurangnya aliran uterus.Hemolisis: gangguan sel darah merah Karakteristik bayi SGA saat lahir 1.Genetik (metabolik atau kromosom ) .Kelainan plasenta atau plasenta previa . Rambut jarang atau tipis. Mekonium ada pada: kulit. oleh infark atau hemangioma Penyebab janin . Bayi lemah dan nampak dehidrasi 4.Abnormalitas: Anenchepalus. Mengelupas. Alert atau posisi siap siaga d. Berkeriput b. potters syndrome . kehamilan multipel . Beberapa bayi nampak dengan penurunan berat badan 7. Terdapat ciri-ciri: a. Kulit: a.Penyakit kecil plasenta juga disebabkan oleh pemisahan preterm.Kembar. Penampilan bayi 3.kasar dan lurus 8. Kurang jaringan subkutan 2. trombus dalam pembuluh darah janin dari satu arteri tali pusat .

Sbelum induksi. Bila selaput ketuban robek. Kepala sering lebih besar dari ukuran tubuh Pedoman untuk mendiagnosis IUGR 1. Bayi dengan IUGR hendaknya lahir di rumah sakit yang mempunyai fasilitas khusus perawatan intensif 2. TFU kurang dari 2 cm dari umur kehamilan 3. Pengukuran lingkar perut ibu (pada setinggi pusat). Pemantauan dengan teiti sampai melewati kelahiran 3. bila lebih dari 100 cm kemungkinan kehamilan kembar. Dicurigai adanya suatu kelainan maka segera rujuk ke rumah sakit terdekat atau pada dokter 3. Berat badan tidak bertambah 4. Cairan amnion berkurang 6. jika servik belum matang diberi prostaglandin atau infus oksitosin sambil di lakukan monitoring dengn CTG memantau janin mengakibatkan fetal distres 94 . Melaksanakan instruksi dokter dengan teliti Manajemen saat persalinan 1. Cek ulang perkirakan persalinan 7. polihidramnion atau bayi besar. Bayi mempunyai perutbentuk perahu (scapehoid) 13. Pemeriksaan pada setiap kunjungan ANC dengan teliti 2. Pergerakan janin berkurang 5. Kegagalan uterus dan janin untuk tumbuh normal rata-rata di atas periode 4 minggu 2. lakukan monitoring dengan teliti dan tentukan persalianan pervginam atau SC 5. Manajemen bidan selama kehamilan 1.11. ada mekonium dalam caiaran amnion harus menjadi perhatian dan laporkan pada dokter 4. Jika servik matang dan dilakukan induksi. Tulang kepala keras tetapi ukuranya kecil 12.

Solusio plasenta d. Penyakit jantung g. Faktor ibu a. Penyakit paru atau TBC i. Malpresentasi d. Indikasi SC: a. Shipilis f. Diabetes melitus b. Induksi gagal c.6. Insufisiensi plasenta b. Sevik tidak matang dengan beberapa keadaan seperti: preeklamsi atau DM f. Polihidramnion dan oligohidramnion e. Faktor plasenta a. CPD e. Inkompatability rhesus j. Preeklampsi dan eklampsi c. Tanda pertama fetal distres b. AIDS 95 . Hipertensi h. Riwayat SC sebelumnya 4) IUFD (Intrauterin Fetal Death) IUFD atau stilbirth adalah kelahiran hasil konsepsi dalam keadaan mati yang telah mencapai umur kehamilan 28 minggu (atau berat badan lahir lebih atau sama dengan 1000gr) Penyebab 1. Plasenta previa 2. Nefritis kronis d. Infark plasenta c.

Faktor tali pusat a. Tidak diketahui faktor penyebabnya Gejala klinis dan diagnosis Untuk menentukan stillbirth dapat ditentukan melalui: 1. Persalinan presipitatus f. Persalinan sungsang g. Partus lama c. Pemeriksaan hormon untuk melihat fungsi plasenta 96 . Faktor janin a. Perdarahan antepartum b. Prolapsus tali pusat b. Lilitan tali pusat c. Faktor intrapartum a. Postmaturitas c. kadang ada bercak cairan kecoklatan dari vagina. Perdarahan otak 5. Vassa praevia d.3. Partus macet e. Anastesi d. Tali pusat pendek 6. tidak ada pembesaran perut. Gejala klinis kematian janin Ukuran uterus mengecil dibandingkan dengan ukuran seharusnya 3. Kelainan bawaan d. 2. Prematuritas b. Riwayat Tidak merasakan gerakan janin selama 3 hari. Obat-obatan 4. payudara melembut.

Bila setelah terdiagnosa pasti bidan dapat melahirkan bayinya di bawah pengawasan dokter 3. Setelah bayi lahir kemudian diperiksa dan ditimbang. badan dan tunkai janin tidak terliaha bergerak. USG Tidak terlihat djj dan nafas janin. Bidan memberikan dukungan emosional kepada pasien maupun keluarga pasien Manajemen setelah persalinan 1. terlihat penumpukan tulang tengkorak. tidak terlihat struktur janin. jamgan merokok. Dokter melakukan pemeriksaan untuk menentukan penyebab kematian 4. Pasien di rujuk ke dokter segera setelah diketahui IUFD 2. Memeberikan nasehat pada waktu ANC mengenai keseimbangan diet makanan. tidak meminum minuman beralkohol. obatobatan dan hati-hati terhadap infeksi atau bahan-bahan yang berbahaya 2. Medeteksi gejala awal IUFD atau tanda fetal distres Manajemen pada saat IUFD terjadi 1. involusio rahim. Melakuak kunjungan rumah untuk melihat KU pada masa postpartum misalnya laktasi. Bidan memberikan dukungan emosional pada pasien dan keluarganya 3. ukuran biparietal janin setelah 30 minggu terlihat tidak bertambah panjang pada setiap minggu. 4. membran dan plasenta diperiksa 2.Didapatkan kadar estriol urin atau estriol darah yang sangat menurun dibandingkan pada saat kehamilan. dan reduksi cairan yang abnormal Manajemen untuk pencegahan kematian janin 1. terlihat kerangka yang bertumpuk. Mendeteksi secara dini faktor-faktor predisposisi IUFD dan pemberian pengobatan 3. dan perencanaan KB 97 .

Manajemen Sedikitnya 70% wanita akan melahirkan secara spontan dalam 2 minggu kematian bayi dan lainnya akan lahir kurang dari 2 minggu. Diperkirakan sebabnya ialah faktor penghambat pada masa pertumbuhan dini hasil konsepsi. faktor bangsa. Juga obat klomid dan hormon gonadotropin yang dipergunakan untuk menimbulkan ovulasi dapat menyebabkan kehamilan dizigotik. Pada kembar yang lebih dari satu telur. umur dan paritas tidak atau sedikit sekali mempengaruhi terjadinya kehamilan kembar. dan paritas hanya mempunyai pengaruh terhadap kehamilan kembar yang berasal dari 2 telur. Jika telur-telur yang diperoleh dapat dibuahi lebih dari satu dan jika semua embrio yang kemudian dimasukkan ke dalam rongga rahim ibu tumbuh berkembang lebih dari satu. d) Kehamilan Ganda Kehamilan kembar ialah satu kehamilan dengan dua janin atau lebih. Bahaya bagi ibu tidak begitu besar. Ini terjadi karena tromboplastin dilepaskan kedalam sirkulasi dari jaringan janin yang mati dan terjadi mekanisme kloding blood. umur. hereditas. tetapi wanita dengan kehamilan kembar memerlukan pengawasan dan perhatian khusus bila diinginkan hasil yang memuaskan bagi ibu dan janin. Etiologi Bangsa.faktor tersebut dengan mekanisme tertentu menyebabkan matangnya 2 atau lebih folikel de graf atau terbentuknya 2 ovum atau lebih dalam satu folikel. Akibatnya terjadi penurunan tingkat fibrinogen serum dan jumlah flatelet untuk mendiagnosis kondisi tersebut gambaran penggumpalan harus ada pada wanita dengan IUFD dan sekali atau dua kali seminggu selama wanita itu melahirkan. herediter. jika kelahiran spontan tidak terjadi dalam 3-4 minggu resiko DIC meningkat. Faktor penghambat yang 98 .

keadaan ini tidak dapat dibedakan dengan kembar dizigotik. 2 korion dan 2 plasenta seperti pada kehamilan kembar dizigotik. Pada kehamilan kembar monoamniotik kematian bayi masih sangat tinggi.mempengaruhi segmentasi sebelum blastula terbentuk menghasilkan kehamilan kembar dengan 2 amnion. sebelum primitive streak tampak maka akan terjadi kehamilan kembar dengan 1 amnion. Setelah primitif streak terbentuk maka akan terjadi kembar dempet dalam berbagai bentuk. Demikian pula letak janin kedua dapat berubahsetelah kelahiran janin pertama. 2. mempunyai 2 amnion. 1 korion dan atau 2 amnion. 99 . disebut juga heterolog binovuler atau fraternal. misalnya dari letak lintang menjadi letak sungsang. 2 korion dan 2 plasenta. mereka berbeda seperti anak-anak lain dalam keluarga. maka akan terjadi kehamilan kembar dengan 2 amnion. Kehamilan kembar monozigotik Kehamila kembar yang terjadi dari satu telur disebut kehamilan monozigotik atau disebut juga identik. homolog atau uni ovuler. Jenis kelamin sama atau berbeda. kadang-kadang 2 plasenta menjadi 1. Bila faktor penghambat terjadi setelah blastula tetapi sebelum amnion terbentuk. Kkirakira 1/3 kehamilan kembar adalah monozigotik. sehingga sering terjadi perubahan presentasi dan posisi janin. Kembar dizigotik mempunyai 2 plasenta. Letak Dan Presentasi Janin Pada umumnya tidak besar dan cairan amnion lebih banyak daripada biasa. Kadang-kadang 2 plasenta menjadi 1. 2 korion dan 2 amnion. Jenis 1. Yang paling sering ditemukan kedua janin dalam letak memanjang dengan presentasi kepala kemudian menyusul presentasi kepala dan bokong. Kehamilan kembar dizigotik Kira-kira 2/3 kehamilan kembar adalah dizigotik yang berasal dari 2 telur. 2/3 mempunyai 1 plasenta.

keduanya presentasi bokong, presentasi kepala dan bahu, presentasi bokong dan bahu dan yang paling jarang keduanya presentasi bahu. Diagnosis Diagnosis kehamilan kembar dapat ditegakan jika ditemukan hal-hal sebagai berikut: 1. Besarnya uterus melebihi lamanya amenorhoe 2. Uterus tumbuh lebih cepat daripada biasanya pada pemeriksaan ulang 3. Penambahan berat badan ibu yang tidak disebabkan oleh edema atau obesitas. 4. Banyak bagian kecil yang teraba 5. Teraba tiga bagian besar janin 6. Teraba 2 balotemen Diagnosis pasti dapat ditentukan dengan: 1. Teraba 2 kepala, 2 bokong, dan 1 atau 2 punggung 2. Terdengan 2 denyut jantung yang letaknya berjauhan dengan perbedaan kecepatan paling sedikit 10 denyut per menit 3. Sonogram dapat mendiagnosa kehamilan kembar pada triwulan pertama 4. Rontgen photo abdomen Diagnosis Banding 1. Hidramnion Dapat menyertai kehamilan kembar, kadang kelainan hanya terdapat pada satu kantong amnion dan yang lainnya oligohidramnion. Pemeriksaan USG dapat enentukan apakah pada hidramnion ada kehailan kembar atau tidak. 2. Kehamilan dngan mioma uteri atau kistoma ovarii

100

Tidak terdengarnya 2 jantung pada pemeriksaan berulang, bagian besar dan kecil yang sukar digerakan, lokasinya yang tidak berubah, dan pemeriksaan rontgen dapat membedakan kedua hal tersebut. Komplikasi 1. Ibu a. Anemia b. Hipertensi c. Partus premeturus d. Atonia uteri e. Perdarahan pasca persalinan 2. Bayi a. Hidramnion b. Malpresentasi c. Plasenta previa d. Solusio plasenta e. Ketuban pecah dini f. Prolapsus funikuli g. Pertumbuhan janin terhambat h. Kelainan bawaan i. Morbiditas dan mortalitas perinatal meningkat Penanganan Dalam Kehamilan Pemeriksaan Antenatal lebih sering. Mulai kehamilan 24 minggu pemeriksaan dilakukan tiap 2 minggu, sesudah kehamilan 36 minggu tiap minggu, sehingga tanda-tanda preeklampsi dapat diketahui dini dan penanganan dapat dikerjakan dengan segera. Setelah kehamilan 30 minggu, perjalanan jauh dan koitus sebaiknya dialarang karena dapat merupakan faktor predisposisi partus prematurus.

101

Anemia hipokrom tidak jarang terjadi pada kehamilan kembar karena kebutuhan besi 2 bayi dan penambahan volume darah ibu sangat meningkat. Pemberian sulfas ferosus 3x100 mg secara rutin perlu dilakukan. Selain zat besi dianjurkan untuk memeberikan asam folik sebagai tambahan. Penanganan Dalam Persalinan Semua persiapan untuk resusitasi dan perawatan bayi prematur disediakan. Golongan darah ibu sudah ditentukan dan persediaan darah diadakan mengingat kemungkinan paerdarahan postpartum lebih besar. Pemakain sedative perlu dibatasi. Episiotomi mediolateral dikerjakan untuk memperpendek kala pengeluaran dan mengurangi tekanan pada kepala bayi. Setelah bayi pertama lahir, segera dilakukan pemeriksaan luar dan vaginal untuk mengetahui letak dan keadan janin kedua. Bila janin dalam letak memanjang, selaput ketuban dipecahkan dan air ketuban dialirkan perlahan-lahan untuk menghindarkan prolapsus funikulli. Penderita dianjurkan meneran atau dilakukan tekanan terkendali pada fundus uteri, agar bagian janin masuk dalam panggul. Janin kedua turun dengan cepat sampai kedasar panggul dan lahir spontan karena jalan lahir telah dilalui anak pertama. Bila janin kedua dalam letak lintang denyut jantung janin tidak teratur, terjadi prolapsus funikulli atau solusio plasenta, atau bila persalinan spontan tidak terjadi dalam 15 menit, maka janin perlu dilakirkan dengan obstetrik karena resiko akan meningkat dengan meningkatnya waktu. Dalam letak lintang dicoba untuk mengadakan versi luar dan bila tidak berhasil maka segera disuntdilakukan versi ekstraksi tanpa narkosis. Pada janin dalam letak memanjang dapat dilakukan ekstraksi cunam pada letak kepala dan ekstraksi kaki pada letak sungsang. SC dilakukan atas indikasi janin pertama dalam letak lintang, prolapsus

102

funikuli, plasenta previa. Bila terjadi interloking, bila keadaan tidak bisa dilepaskan dilakukan dekapitasi atau SC menurut keadaan janin. Setelah anak kedua lahir penderita disuntik 10 satuan oksi dan tingginya fundus uteri diawasi. Jika ada tanda-tanda pelepasan plasenta maka plasenta dilahirkan. Kala IV diawasi secara cermat agar perdarahan post parrtum dapat diketahui dini dan penanggulangan dapat dilakukan dengan segera. Prognosis 1. Anemia 2. Preeklamsi dan eklamsi 3. Operasi obstetrik dan perdarahan post partum.

Gambar 2.4. Posisi Janin Kembar e) Kelainan Air Ketuban 1) Polihidramnion Suatu keadaan dimana jumlah air ketubanjauh lebih banyak dari normal, biasanya lebih dari 2 liter.

103

Perjalanan penyakit 1) Hidramnion kronis Pertambahan air ketuban terjadi secara perlahan-lahan dalam beberapa minggu atau bulan, dan biasanya terjadi pada kehamilan lanjut 2) Hidramnion Akut Terjadi pertambahan air ketuban yang sangat tiba-tiba dan cepat dalam waktu beberapa hari saja Hidramnion banyak ditemukan pada kasus-kasus: 1) penyakit jantung 2) nefritis 3) edema umum 4) anamali kongenital (pada anak); seperti anencepali, spinadifida atresia atau striktur esofagus, hydrocepalus dan struma blockling oesophagus 5) simpul tali pusat 6) DM 7) Gemelli uniovulair 8) Malnutrisi 9) Penyakit kelenjar hipofisis Diagnosis 1) Anamnesis a). Perut lebih besar dan terasa lebih berat dari biasa b). Pada yang ringan keluhan-keluhan subyektif tidak banyak c). Pada yang akut dan pada pembesaran uterus yang cepat terdapat keluhan-keluhan d). Nyeri perut karena tegangnya uterus mual dan muntah e). Oedema pada tungkai, vulva dan dinding perut

104

Bagian janin sukar dikenali d). Jika akut.f). sesak. Kalau pada letak kepala. Foto rongtgen pada hidramnion bberguna untuk disgnostik dan untuk menentukan etiologi 6) Pemeriksaan dalam Selaput ketuban teraba tegang dan menonjol walaupun diluar his Diagnosa banding 1) Hidramnion 2) Gemeli 3) Asites 4) Kista avanii 105 . kulit perut berkilat. bisa syok. Perut tegang dan nyeri tekan serta terjadi oedema pada dinding perut. karena banyaknya cairan kadang bayangan janin tidak jelas b). kepala janin dapat diraba maka balotement jelas sekali e). Nampak bayangan terselubung kabut. Pada proses akut dan perut besar sekali. Kelihatan perut sangat buncit dan tegang. berkerigat dingin. 2) Inspeksi a). ibu akan terlihat sesak dan sianosis serta terlihat payah membawa kandungannya 3) Palpasi a). Fundus uteri lebih tinggi dari umur sesungguhnya c). vulva dan tungkai b). Karena bebasnya janin bergerak dan tidak terfiksir maka dapat terjadi kesalahan-kesalahan letak janin 4) Auskultasi DJJ sukar didengar dan jika terdengar hanya sekali 5) Rontgen foto abdomen a). retak-retak kulit jelas dan kadang-kadang umbilikus mendatar b).

Pada hidramnion yang berat dengan keluhan-keluhan harus dirawat di rumah sakit dan bedrest 2) Waktu partus a). ketuban tiba-tiba pecah. jarang diberi terapi klinis cukup diobservasi dan berikan terapi simpotomatis b). Syok Terapi hidramnion dibagi menjadi 3 fase: 1) Waktu hamil a). Periksa Hb b). seperti sesak dan sianosis maka lakukan transvaginal melalui servik bila sudah ada pembukaan c). Hidramnion ringan. Pasang infus 106 . Bila tidak ada hal-hal yang mendesak maka sikap kita menunggu b). Atonia uteri c). Kongenital anomali b). masukan jari tangan ke dalam vagina sebagai tampon beberapa lama supaya air ketuban keluar pelan-pelan 3) Post partum a).5) Kehamilan beserta tumor Prognesis 1) Pada janin a). Solusio plasenta b). Prematuritas c). Bila keluhan hebat. Komplikasi karena kesalahan letak anak d). Eritoblastosis 2) Pada ibu a). Perdarahan post partum d). Bila sewaktu pemeriksaan dalam. Retensio plasenta e).

1 atau kedua kaki di bawah bokong 107 . sehingga kaki berada dekat kepala. Pemberian antibiotik 2) Oligohidramnion Oligohidramnion adalah suatu keadaan dimana air ketuban kurang dari normal yaitu kurang dari ½ liter. Primer Sekunder karena pertumbuhan amnion yang kurang baik ketuban pecah dini Gambaran Klinis 1) Perut ibu kelihatan kurang membuncit 2) Ibu merasa nyeri diperut pada tiap pergerakan anak 3) Persalinan lebih lama dari biasanya 4) Sewaktu his akan terasa sakit sekali 5) Bila ketuban pecah air ketuban sedikit sekali bahkan tidak ada yang keluar f) Kelainan Letak 1) Letak Sungsang Letak sungsang merupakan suatu letak dimana bokong bayi merupakan bagian rendah dengan atau tanpa kaki (keadaan dimana janin terletak memanjang dengan kepala di fundus uteri dan bokong berada di bagian bawah kavum uteri. Ada 4 tipe letak sungsang 1) Complete/flexed brech. sering terjadi pada primiyang prematur 3) Presentesi kaki. tetapi pada kaki ektensi.c). Etiologi Sebab pasti belum diketahui dengan jelas. pada posisi ini paha dan lutut bayi fleksi dan kaki menutupi bokong. Tipe ini lebih sering pada multigravida 2) Extended brech (frank brech) pada bayi fleksi.

Penmeriksaan dengan USG atau rontgen dapat mengetahui letak yang sebenarnya pada 108 .5 letak sungsang Penyebab Presentasi bokong terjadi kurang lebih 3% pada semua persalinan. insufisiensi cairan ketuban. Pada palpasi di bagian bawah teraba bagian yang kurang keras dan kurang bundar. gande multi. janin berada dalam posisi 1 atau kedua lutut berada di bawah bokong Gamba.4) Presentasi lutut. Denyut jantung janin terdengar di atas pusat. uterus bikormis. penyebab pasti dari presentasi bokong belum diketahui secara pasti tetapi dapat terjadi pada persalinan premetur. 2. Selain itu kelainan-kelainan seperti hidrosefalus. plasenta letak rendah atau tumor yang menghalangi jalan lahir. polihidramnion memungkinkan terjadinya malpresentasi Diagnosis Diagnosis ditegakan dengan pemerikasaan abdominal. sementara di fundus teraba bagian yang keras. bundar dan melenting.

Kala I persalinan 109 . Setelah kepala masuk ke dalam rongga panggul dapat terjadi tekanan pada kepala pada tali pusat dan ini akan menyebabkan hipoksia janin. Kebanyakan dokter ahli kebidanan menganjurkan induksipersalinan pada 38 minggu. Kerusakan otot dan syaraf terutama pada otot sterno mastoid dan fleksus brachialis 5. anastesi dan ahli anak. Pelepasan plasenta dapat terjadi pada kala II akibat tarikan dari tali pusat. ruptur organ abdomen dan banyak bahaya untuk otot syaraf. Oedem genital dan memar atau lecet akibat capformation Kejadian anomali kongenital tinggi pada bayi dengan presentasi atau letak sungsang dan terutama pada BBLR. ketika fetus masih agak kecil. 1. Manajemen Persalinan Sungsang Persalinan dianjurkan di rumah sakit di bawah pengawasan dokter ahli obstetri. Anoksia intra dan ekstra uterin 2. Fraktur dan dislokasi 4.pemeriksaan pervaginam teraba bagian lunak anus juga akan teraba bagian sacrum Persalinan sungsang tidak menyebabkan bahaya bagi ibu tetapi menimbulkan hal yang serius bagi bayinya. Perdarahan intrakranial 3. Kematian bayi pada persalinan sungsang 4 kali lebih besar daripada persalinan biasa. Bahaya lain adalah fraktur. Bahaya persalinan sungsang dapat di simpulkan sebagai berikut: 1. Jika ibu tidak partus spontan pada 40 minggu biasanya dilakukan induksi persalinan. Ruptur organ abdomen 6.

Sacrum kiri/kanan belakang Pertolongan persalinan pada letak sungsang Persalinan letak sungsang dapat ditolong dengan prasar brach ataupun dengan tindakan/extraksi. Sacrum kanan/kiri 4. ibu sebaiknya tidak berjalan-jalan.Kala I persalinan lebih lama daripada letak belakang kepala. Pada saat pembukaan servik tercapai ¾ nya biasanya ibu ingin mengejan. bokong dapat melalui servik tetapi kepala tidak melalui servik sehinga ibu dilarang untuk mengejan sampai dilatasi servik lengkap 2. Mekanisme persalinan letak sungsang Hubungan sacrum dengan panggul ibu akanmenentukan posisi janin. Jika bokong enganged seperti pada bokong murni dimana terdapat resiko pecah selput ketuban dan prolapsus umbilikal. Ada 4 posisi pada letak sungsang: 1. Kala II persalinan Pemeriksaan vaginal dilakukan untuk mengetahui pembukaan lengkapsebelum menyuruh ibu mengedan. Pertama-tama kandung kancing dikosongkan ketika bokong belakng meregang perineum diberi anastesi lokal dan dilakukan episiotomi. posisinya sama dengan letak kepalatetapi pada letak sungsang sacrum sebagai penunjuk. Bokong belakang tampak di vulva dan bokong maju lebih 110 . Posisi sacrum kiri depan 2. Posisi sacrum anterior kanan 3. Kadang-kadang kontraksi uterus hipotonis sehingga dapat dirangsang dengan pemberian oksitosin.

memasukan tiga jari kedalam vagina dan mencari mulut bayi. lubang hidung segera dibersihkan kepala dilahirkan secara perlahan-lahan. Perineum ditekan dengan jari untuk membuka mulut bayi. Kepala ditarik ke bawah sampai batas hidung sehingga saluran nafas dapat dibersihkan dan oksigen dapat diberikan segera setelah bayi bernafas. tubuh di simpan di atas abdomen ibu. jalan nafas dibersihkan dan kelahiran 111 . Lengan yang normalnya fleksi menyilang di depan dada dengan mudah dilepaskan dan bahu akan lahir. Jari tengah menekan oksiput untuk membantu fleksi. obatobatan oksitosin diberikan pada ibu segera seteah bayi lahir. Badan bayi maju sampai sejauh umbilikus kemudian kaki di lepaskan/dilahirkan dengan perlahan-lahan. Setelah hidung tampak di vulva . Ketika kuduk dan garis rambut sudah tampak menunjukan bahwa kepala akan lahir. Mulut dibersihkan dari lendir sehingga bayi bernafas tanpa menghisap cairan lendir. Jari tengah dan jari telunjuk tangan kanan disangkutkan pada bahu untuk digunakan sebagai tarikan. selama beberapa waktu untuk memudahkan penurunan dan fleksi dari kepala.cepat. Tali pusat dilongggarkan pada kontraksi berikutnya bahu akan tampak. tehniknya yaitu dengan menunggangkan bayi apada lengan kiri. Sekarang bayi dalamkeadaan menggantung pada berat badannya. Metode mauriceau digunakan untuk melahirkan kepala dimana terjadi kelambatan dari penurunan kepala. asisten menekan daerah supra pubik dengan sehalus mungkin kepala dilahirkan melalui jalan lahir. untuk menghindarinya biasanya dengan menggunakan forcep erygey’s atau neville barnes untuk kepala yang sudah lahir hal ini memungkinkan untuk mengontrol kecepatan lahirnya kepala. kemudian memasukan jari tengah ke dalam mulut dan kepala difleksikan. Jika kepala dilahirkan dengan cepat dapat terjadi perdarahan intrakranial. Bayi di pegang pada pergelangan kaki dan menggunakan traksi yang halus. Selanjutnya kepala dilahirkan dengan lambat.

Punggung janin dapat berada di depan (dorsoanterior). polihidramnion. Apabila pada praktek di masyarakat. abnormalitas uterus. Kelaianan letak paling sering terjadi pada wanita paritas tinggi (grande multipara). bidan menemukan kakus dengan persalinan sungsang. selain itu juga ada beebrapa faktor yang mendukung terjadinya letak lintang yaitu: kehamilan ganda. 112 . fibroid uterus yang besar.6. Faktor lain yang mendukung terjadinya letak lintang adalah plasenta previa. di belakang (dorsoposterior) atau di bawah (dorsoinferior). bidan harus mengupayakan membawa ibu ke rumah sakit. Pada keadaan emergensi bidan dapat melakukan tehnik ini meskipun jarang dilakukan.kepala dilakuka dengan cara yang sama. Gambar . sedangkan bahu berada pada pintu atas panggul. Letak Lintang Penyebab Penyebab paling sering adalah kelemahan otot uterus dan abdomen. mengingat bahaya yang dapat ditimbulkan dari persalinan tersebut. Pada umumnya bokong berada sedikit lebih tinggi daripada kepala janin.2. pengkerutan pelvis. 2) Letak Lintang Letak lintang adalah suatu keadaan dimana janin melintang di dalam uterus dengan kepala pada sisi yang satu sedangkan bokong pada sisi yang lain.

atau waktu datangnya persalinan. presentasi dan mendengarkan DJJ.Diagnosis Letak lintang mudah didiagnosis dalam kehamilan dari bentuk uterus. USG dapat digunakan untuk memastikan dignosis untuk mendeteteksi kemungkinan penyebab. DJJ dan kontraksi uterus dimonitor secara elektrik dan jika memingkinkan kondisi ibu benar-benar diperhatikan. Penekanan pada sisi lateral dapat diterapkan untuk membantu uterus dalam mempertahankan letak memanjang. atau persalinan prematur. tetapi tidak ada bagian presentasi yang berada di pelvis. Pada setiap kunjungan antenatal dokter seharusnya memeriksa letak. engan TFU rendah. ibu seharusnya datang ke RS untuk dilakukan versi chepalik eksternal yang dilakukan ditempat kelahiran. Kecenderungan pengembalian posisi letak lintang menjadi posisi letak memanjang sulit dan seringnya beberapa dokter tidak menganjurkan versi chepalik eksternal sebelum kelahiran direncanakan. Jika pemeriksaan USG tidak mendeteksi plasenta previa.resiko versi chepalik eksternal adalah terjadinya KPD dan tali pysat menumbung. pemeriksaan vagina dapat dilakukan untuk mendeteksi abnormalitas pelvik seperti. terlihat melebar. Palpasi akan teraba kepala janin pada salah satu sisi dan bokong pada sisi yang lain. Manajemen atau penatalaksanaan Dokter dapat mengusahakan untuk membenarkan posisi dengan cara versi external menjadi letak membujur dan presentasi kepala. Pemeriksaan USG dapat mendeteksi abnormalitas fetus dan uterus. Pada palpasi kepala janin atau bokong ditemukan di salah satu bagian fossa iliaca. Hal ini mungkin diikuti dengan induksi persalinan dengan oksitosin. lebih menonjol ke salah satu bagian abdomen. Dalam persalinan ketika kepala 113 . Ketika paru-paru bayi prematur. pengerutan pelvis.

ketika persalinan dimulai bahu janin dapat turun kebawah ke rongga pelvis bagian depan dapat terjadi KPD dan penumbungan tali pusat yang disertai dengan penumbungan lengan janin. Jika ada kegawat daruratan. KET. Pemeriksaan vagina tidak boleh dilakukan jika ada indikasi plasenta previa. Kehamilan ganda. Tindakan SC merupakan bentuk kelahiran yang paling aman. Bidan dapat mendeteksi presentasi bahu dengan cara pemeriksaan abdomen seperti yang dijelaskan diatas dan pemeriksaan vagina. jika mendapatka kesulitan untuk membenarkan letak janin setelah selaput ketuban pecah ini tidak mungkin dilanjutkan. Abortus. Rangkuman Materi Komplikasi. Dalam persalinan. Molahidatidosa Komplikasi dan penyulit kehamilan trimester III meliputi : Kehamilan dengan hipertensi. 114 . Jika tindakan pencegahan tersebut tidak dilakukan. Kelainan air ketuban. C. Hyperemesis ravidarum. Perdarahan antepartum. atau terdapat komplikasi dalam persalinan. Kelainan dalam lamanya kehamilan. bidan seharusnya merujuk ke dokter atau ke pelayanan kegawat daruraan obstetri. Kelainan letak. Pada beberapa kasus dimana wanita mempunyai riwayat obstetri yang urut. Persalinan seharusnya dapat berjalan dengan normal.bayi memasuki rongga pelvis membran dapat ruptur. penyakit dalam masa kehamilan Komplikasi dan penyulit kehamilan trimester I dan II meliputi: Anemia kehamilan. Bahu janin dapat dikenali dengan merasakan tulang rusuk atau tangan. SC merupakan cara yang paling aman untuk melahirkan. kelainan.

2. Preeklamsia ringan a. Edema pada kaki. Solusio Plasenta plasenta lepas sebelum waktunya dimana pedarahannya merah kehitaman disetai nyeri.3 gr/lt atau 1+ atau 2+ c. Proteinuria 0. Tekanan darah 160/110 mmHg atau lebih b. Cara pengukuran sekurang- kurangnya pada 2x pemeriksaan dengan jarak b. Terdapat edema paru dan sianosis e. 2005. Latihan/ Tugas 1. Jakarta : Yayasan Bina pustaka sarwono. Rambu-Rambu Jawaban 1. Ilmu Bedah Kebidanan. Daftar Pustaka 1. Diskusikan apa bebedaan dari plasenta previa dan solusio Plasenta? E. Plasenta previa adalah letak plasenta yang menutupi jalan lahir dimana perdarahannya merah segar dan tidak disertai rasa nyeri. Hal 104 – 121. Hanifa Wiknjosastro. gangguan visus. 115 . muka dan berat badan naik >1 kg/mg Preeklamsia berat a. Adanya gangguan serebral.D. jari. pre eklamsi berat dan eklamsi. F. Proteinuria. Oliguria (jumlah urine < 500 cc per 2 jam d. 5 gr/lt atau lebih c. 2. dan rasa nyeri di epigastrium Eklamsi meupakan seangan Konvulsi yang tejadi mendadak dalam kehamilan tetapi tidak selalu komplikasi atau kelanjutan dai pre eklamsi. Tekanan darah 140/90 mmHg atau kenaikan diastolik 15 mmHg atau lebih (diukur pada posisi berbaring terlentang) atau kenaikan sistolik 30 mmHg atau lebih. Diskusikan apa perbedaan dari pre eklamsi ringan.

Bandung : Elstar Offset. tidak diterbitkan 116 . Sinopsis Obstetri Jilid I. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono. 1997. 5. Midwifery. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Workshop Kurikulum mata ajar Askeb IV. Buku Panduan Praktis Maternal dan Neonatal. 1999.2. UK. Tim pengajar Askleb IV. Ilmu Kebidanan. Jakarta 10. Jakarta. Hal 606 – 622. Cakul Obgin Plus FKUI. Hanifa Wiknjosastro. 9. 4. 8. Bagian OBSGIN FK Universitas Padjadjaran. Budi Marjono. 2005. Obstetri Patologi. Midwifery. 3. 12 th Edition 2000 Mochtar R. YBPSP 6. Jones and Bartlett Publisher Mayes. 1998. 2001. 2001 Varney’s H. Jakarta:FTM Syaifudin. 7. Hal 173 -178. 2006.

Konsep Dasar Kelainan Presentasi dan Posisi 1) Presentasi Puncak Kepala Pada persalinan normal. 117 . Mekanisme persalinanya hampir sama dengan posisi oksipitalis posterior persisten. sehingga muka janin merupakan bagian yang terendah. Perbedaanya adalah: pada presentasi puncak kepala tidak terjadi fleksi kepala yang maksimal. sehingga ubun-ubun besar merupakan bagian terendah. yang kemudian akan berubah menjadi presentasi belakang kepala. kepala janin pada waktu melewati jalan lahir berada dalam keadaan fleksi.BAB IV ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU DENGAN KELAINAN. sehingga lingkaran kepala yang melalui jalan lahir adalah sirkumferensia frontooksipitalis dengan titik perputaran yang berada di bawah simpisis adalah glabela. sehingga kepala dalam keadaan defleksi. Presentasi dahi. Bergantung pada derajat defleksinya maka dapat terjadi presentasi puncak kepala. Konsep Dasar Penyulit Kala I dan Kala II a. Uraian materi 1. Kompetensi Dasar Mampu menguraikan konsep dasar penyulit persalinan kala I. KOMPLIKASI DAN PENYAKIT DALAM PERSALINAN A. terjadi apabila derajat defleksinya ringan. B. Pada umumnya presentasi puncak kepala merupakan kedudukan sementara. presentasi dahi a tau presentasi muka.II. III dan IV. sehingga keduanya seringkali dikacaukan satu dengan yang lainnya. bila derajat defleksinya lebih berat sehingga dahi merupakan bagian yang paling rendah. Presentasi puncak kepala atau disebut juga presentasi sinsiput. Dalam keadaan tertentu fleksi kepala tersebut tidak terjadi. Presentasi muka bila derajat defleksinya maksimal.

3) Presentasi Muka Presentasi Muka jarang terjadi kira-kira 1 dalam 500 kelahiran. Diagnosis dapat ditegakkan dengan radiografik atau dengan USG. Kepala dan tulang belakang ekstensi tetapi lutut fleksi sehingga letak 118 . Pada semua malpresentasi seringnya terjadi KPD dan resiko prolapsus tali pusat lebuh besar. dengan diameter mento vertikal 13 cm. Jika dahi dapat teraba. Jika presentasi dahi didiagnosis segera dalam persalinan dapat mengubah presentasi muka menjadi ekstensi penuh atau fleksi pada presentasi verteks. Manuver jarang dilakukan pada presentasi muka. Jika presentasi dahi menetap dan fetus dalam ukuran normal tidak mungkin terjadi kelahiran pervaginam dan SC harus segera dilakukan. orbital berada pada satu sisi dan fontanel anterior berada pada sisi yang lain. Pada pemeriksaan vagina. tindakan yang paling aman untuk ibu dan bayi adalah dengan menggunakan SC.2) Presentasi Dahi Presentasi dahi jarang terjadi dari pada presentasi muka. teraba lekukan antara oksiput dengan bagian belakang. dan seharusnya ibu dirujuk ke RS. Diagnosis Pemeriksaan abdomen kepala sangat tinggi dan diameter sangat besar. terjadi hanya 1 dari 2000 persalinan. Oleh karena itu pemeriksaan pervaginam dilakukan sesegera mungkin untuk mendeteksi prolapsus tali pusat. Manajemen Bidan harus dengan cepat menghubungi dokter jika ada suspek atau diagnosa presentasi dahi dalam persalinan. Kepala pada pertengahan antara versi dan ekstensi. presentasi tinggi dan tidak bisa diraba.

Hal ini seharusnya diperhatikan jika ada lekukan yang dalam antara kepala dengan bagian belakang.fetus dalam uterus dalam bentuk huruf S. Pada posisi oksipito pesterior defleksi diameter biparietal mungkin mempunyai kesulitan dalam menjauhi diameter sacro cotyloid dari pelvis maternal. kepala tidak dapat versi biasanya tonus otot ekstensor tonus berlebuhan dan bertahan dalam sikap ekstensi pada beberapa setelah lahir. kepala ekstensi dan muka terlihat. Pada anensephalus yang biasa terjadi. Penyebab Pada presentasi muka primer sebelum persalinan berlangsung fetus seringnya abnormal. Ultrasound dalam kehamilan dapat digunakan untuk memastikan diagnosis presentasi muka. Kekuatan kontraksi uterus berjalan kearah kepala bagian frontal supaya kepala ekstensi dan masuk kerongga pelvis. dalam rongga pelvis dan pada prematuritas dan dimana terjadi polihidramnion atau kehamilan ganda. Internum. Presentasi muka sekunder yang berkembang dalam persalinan sering tidak diketahui sebabnya. Diagnosis Presentasi muka tidak mudah didiagnosis dalam kehamilan. Presentasi muka juga lebih sering terjadi pada flat pelvis. Oksiput berlawanan dari bahu dan muka secara langsung yang berada dibagian os. Diameter bitemporal lebih cepat turun. Fetus goitre. vertek tidak ada. 119 . Suaranya terdengar jelas pada posisi mento anterior. Bunyi jantung terdengar melalui dinding dada anterior pada sisi dimana lutut teraba. Uterus yang berada disisi samping (uterus obliq). Pada posisi mento posterior bunyi jantung janin lebih sulit terdengar karena dada pada posterior.

Komplikasi Komplikasi yang dapat terjadi pada presentasi muka. Prolapsus tali pusat 2. Muka tidak berbentuk dan oleh karena CPD yang tidak dapat ditangani 120 . 1. a. Kelahiran spontan tidak akan terjadi. kemungkinan persalinan obstruksi dan dibutuhkan penatalaksanaan dengan segera. Kemajuan persalinan menjadi sangat sulit pada pemeriksaan pervaginam untuk membedakan muka karena muka menjadi oedemmeriks. Posisi mento lateral dan mento posterior lebih berbahaya. akan menyebabkan obstruksi persalinan. Obstruksi persalinan. kepala difleksikan sehingga memungkinkan verteks dan oksiput melewati perineum. Manajemen Pada posisi mento anteerior seringnya proses persalinan berjalan normal.5 cm yang dapat merobek perineum saat kelahiran. yang tidak bisa berputar ke posisi anterior. Sub mento vertikal 11. Jika kelahiran normal terjadi ekstensi dipertahankan dengan menekan sinsiput hingga dagu berada di bawah simpisis pubis. Pada kala II kelahiran normal diantisipasi dengan menggunakan episiotomi meskipun diameter sub mento bregmatika 9. Presentasi muka posterior.5 cm. Pemeriksaan harus hati-hatiuntuk menghindari trauma pada mata. karena. meliputi. Biasanya fetus akan membantu diagnosis dengan menghisap jari tangan pemeriksa saat dilakukan pemeriksaan. Presentasi muka didiagnosa dengan menentukan posisi dagu apakah anterior atau posterior. Adanya gusi dan mulut dalam presentasi muka harus dibedakan dari anus pada presentasi bokong. dengan palpasi yang lembut akan teraba orbital dan mulut dengan gusi.Diagnosis dapat ditegakan dengan pemeriksaan vagina.

b. Bentuk tengkorak fetus abnormal disebabkan perdarahan intrakranial. Kelahiran operasi mungkin dibutuhkan 4.5 cm. meskipun diameter sub mento bregmatik hanya 9. Presentasi muka posterior presisten mengakibatkan obstruksi persalinan 3. sub mento vertikal 11. maka ubun-ubun kecil akan mengalami kesulitan memutar ke depan. dahi dan muka 4) Posisi Oksipitalis Posterior Persisten Keadaan dimana ubun-ubun kecil tidak berputar ke depan. sehingga tetap dibelakang. Sebab-sebab lain adalah otot-otot dasar panggul yang sudah lembek pada multipara atau kepala 121 . Etiologi Salah satu sebab terjadinya posisi oksipitalis oksiput posterior persisten ialah usaha penyesuaian kepala terhadap bentuk dan ukuran panggul.1 Presentasi belakang kepala. Misalnya: apabila diameter anterior posterior lebih panjang dai diameter transfersa seperti pada panggul antropoid atau segmen depan menyempit seperti pada panggul android. Keadaan ini dinamakan posisi oksiput posterior persisten. Muka memar dan oedem Gambar. Trauma perineum berat dapat terjadi karena. 5. puncak kepala.5 cm akan memperlebar vagina dan perineum.3.

kemungkinan kerusakan jalan lahir lebih besar. kedua keadaan tersebut dapat menimbulkan kerusakan pada vagina dan erineum yang luas. sehingga tidak ada paksaan pada belakang kepala janin. Setelah kepala mencapai dasar panggul dan ubun-ubun besar berada di bawah shimpisis dengan ubun-ubun besar tersebut sebagai hipomoklion. Prognosis Jalannya pada proses persalinan posisi oksiput posterior sulit diramalkan hal ini disebabkan karena kemungkinan timbulnya kesulitan selalu ada. sehingga kepala lahir melalui pintu bawah panggul dengan sirkumferensia frontooksipitalis yang lebih besar dibandingkan dengan sirkumferensia sub oksipitooksipitalis. Kepala janin akan lahir dalam keadaan muka di bawah simpisis dengan mekanisme sebagai berikut. Kelahiran janin dengan ubun-ubun kecil di belakang menyebabkan regangan yang besar pada vagina dan perineum. Selain itu seringkali fleksi kepala tidak dapat maksimal. 122 . hal ini disebabkan karena kepala yang sudah dalam keadaan fleksi maksimal tidak dapat menambah fleksinya lagi. untuk memutar ke depan. Mekanisme Persalinan Bila hubungan antara panggul dengan kepala janin cukup longgar persalianan pada posisi oksipitalis posterior persisten dapat berlangsung secara spontan tetapi pada umumnya lebih lama.janin yang kecil dan bulat. oksiput akan lahir melalui perineum diikuti bagian kepala yang lain. Persalinan pada pada umumnya berlangsung lebih lama. Sedangkan kematian peeinatal perinatal lebih tinggi bila dibandingkan dengan keadaan dimana ubun-ubun kecil berada di depan.

Keadaan ini dinamakan posisi lintang tetap rendah (deep tranverse arrest). Pada presentasi belakang kepala kadang-kadang kala II mengalami kemacetan dengan kepala janin sudah berada di dasar panggul dan posisi UUK melintang. sebaiknya diambil keputusan untuk melakukan SC. KU pasien sementara diperbaiki. Kontraksi uterus yang disertai rasa nyeri tidak cukup untuk membuat diagnosis bahwa persalinan sudah dimulai. keadaan ini dinamakan inersia uteri primer atau hypotonic uterine contraction.Penanganan Menghadapi persalinan dengan UUK di belakang sebaiknya dilakuka pengawasan persalinan yang seksama dengan harapan terjadinya persalinan spontan. harus diperiksa keadaan servik. b. turunnya kepala janin dalam panggul dan keadaan panggul. dan kandung kencing serta rectum 123 . presentasi serta posisii janin. Tindakan untuk mempercepat jalanya persalinan dilakukan apabila kala II terlalu lama atau ada tanda-tanda bahaya terhadap janin. Konsep Dasar Distosia Kelainan Tenaga Atau His 1) His Hipotonik Kelainan dalam hal bahwa kontraksi uterus lebih aman. Untuk sampai pada kesimpulan ini diperluakan kenyataan bahwa sebagai akibat kontraksi terjadi perubahan pada servik yaitu pendataran atau pembukaan servik Penanganan Setelah diagnosis inersia uteri ditetapkan. Diagnosis inersia uteri paling sulit dalam fase laten. Apabila ada disproporsi chepalopelvik yang berarti. Kalau timbul setelah berlangsungnya his kuat untuk waktu yang lama hal ini dinamakan dengan inersia uteri sekunder. singkat dan jarang daripada biasa.

Kalau seorang wanita pernah emengalami partus presipitatus kemungkinan besar kejadian ini akan berulang pada persaliann selanjutnya.dikosongkan. His ng terlalu kuat atau terlalu efisien menyebabkan persalinan selessai dalam waktu yang sangat singkat (partus presipitatus): sifat his normal. Oleh 124 . tonus otot di luar his juga biasa. 2) His Hipertonik (his terlampau kuat) Walaupun pada golongan koordinate hipertonik uterin contraction bukan merupakan penyebab distosia namun bisa juga merupakan kelaianan his. Kalau 50 tetes tidak dapat berhasil bisa dengan memeberikan dosis lebih tinggi dengan cara pasien harus di awasi dengan ketat dan tidak boleh ditinggalkan. vagina dan perineum. Bahaya partus presipitatus bagi ibu ialah terjadinya perlukaan luas pada jalan lahir. Penanganan Pada partus presipitatus tidak banyak yang dapat diilakukan karena biasanya bayi sudah lahir tanpa ada seseorang yang menolong. Sedangkan pada bayi dapat mengalami perdarahan dalam tengkorak karena bagian tersebut mengalami tekanan kuat dalam waktu sangat singkat. Oksitosin yang diberikan dengan suntikan IM akan dapat menimbulkan incoordinate uterin action. Batas antara bagian atas dan segmen bagian bawah atau lingkaran retraksi menjadi sangat jelas dan meninggi. 5 satuan oksitosin dimasukan ke dalam larutan glukosa 5% dan diberikan secara infus IV (dengan kecepatan kira-kira 12 tetes permenit yang perlahan dapat dinaikan sampai kira-kira 50 tetes. khususnya servik uteri. apabila kepala atau bokong janin sudah masuk ke dalam panggul. Untuk merangsang his selain dengan pemecahan ketuban bisa diberikan oksitosin. penderita di sarankan untuk berjalan-jalan terlebih dahulu. kelainannya terletak pada kekuatan his. Lingkaran tersebut dinamakan dengan lingkaran retraksi patologis (lingkaran bandl).

Dan kalau pembukaan belum lengkap. Penanganan Kelainan ini hanya dapat diobati secara simtomatis karena belum ada obat yang dapat memperbaiki koordinasi fungsional antara bagianbagian uterus. Etiologi dari kelainan tenaga atau His Kelainan his terutama ditemukan pada primigravida khususnya primigravida tua. danepisiotomi dilakukan pada waktu yang tepat untuk menghindari ruptur perineum tingkat III. Pada multipara lebih banyak ditemukan yang bersifat inersia uteri. 3) His yang tidak terkoordinasi His disini sifatnya berubah-ubah tonus otot uterus meningkat juga di luar his. perlu dipertimbangkan SC. His ini disebut sebagai incoordinate hipertonik uterin contraction. Tidak adanya koordinasi antara kontraksi bagian atas. pethidin. khususnya inersia uteri adalah bagian bawah janin tidak berhubungan rapat dengan segmen bawah uterus seperti misalnya pada 125 . Akan tetapi persalinan tidak boleh berlangsung berlarut-larut apalagi kalau ketuban sudah pecah.karena itu sebaiknya wanita di rawat sebelum persalinan. Satu sebab yang penting dalam kelalinan his. dan kontraksinya tidak berlangsung seperti biasa karena tidak ada sinkronisasi antara kontraksi bagian-bagiannya. tengah dan bawah menyebabkan his tidak efisien dan mengadakan pembukaan. Disamping itu tonus otot uterus yang menaik menyebabkan rasa nyeri yang lebih keras dan lama bagi ibu dan dapat pula menyebabkan hipoksia pada janin. Hal ini dapat dilakukan dengan pemberian analgetika. sehingga pengawasan dapat dilakukan dengan baik. Faktor herediter mungkin memegang peranan yang sangat penting dalam kelainan his. seperti morphin. Usaha yang dapat dilakukan ialah mengurangi tonus otot dan mengurangi ketakutan penderita.

c. Pada persalinan lama pada penderita di biarkan meneran terus. Tumor dalam bentuk neoplasma jarang ditemukan di vulva. Abses yang pecah pada waktu persalinan dapat meyebabkan infeksi purperalis. Tetapi pada sebagian kasus penyebab kelainan inersia uterus tidak diketahui. uterus bikornis unikolis. 2) Vagina Stenosis vagina kongenital jarang terjadi lebih sering ditemukan septum vagina yang memisahkan vagina secara lengkap atau tidak lengkap dalam bagian kanan dan bagian kiri. Edema (b). Bisa timbul waktu hamil. Peregangan rahim yang berlebihan pada kehamilan ganda atau hidramnion juga dapat merupakan penyebab inersia uteri. biasanya sebagai gejala preeklampsi tetapi dapat pula mempunyai sebab lain misalnya gangguan gizi. Gangguan dalam pembentukan uterus pada masa embrional misalnya.kelainan letak janin atau pada kelainan CPD. lebih sering terdapat kondiloma akuminata. Stenosis pada vulva (d). Biasanya terjadi sebagai akibat perlukaan dan radang. dapat timbul edema pada vulva. kista atau abses glandula bartolin. dapat pula mengakibatkan kelainan his. (c). Tumor (f). Septum lengkap biasanya 126 . stenosis dan tumor (a). Walaupun dapat di atasi dengan melakukan episiotomi yang cukup luas. Distosia Kelainan Alat Kandungan (Traktus Genitalis) 1) Vulva Kelainan yang dapat menyebabkan distosia yaitu edema. yang meyebabkan ulkus-ulkus dan yang sembuh dengan parut-parut yang dapat menimbulkan kesulitan. (e).

oleh karena itu persalinan pervaginam tidak dapat dilakukan dan dianjurkan untuk SC. jaringan parut servik. Adanya tumor vagina dapat pula menyebabkan persalinan pervaginam dianggap mengandung terlampau banyak resiko. Tergantung dari jenis dan besarnya tumor. 127 . pembedahan dan radiasi. Meskipun kontraksi uterus normal. Diagnosis dibuat dengan menemukan lubang kecil yakni ostium uteri eksternum ditengah-tengah lapisan tipis tersebut. servik tidak membuka dan terasa kaku dan keras.tidak menimbulkan distosia karena bagian vagina yang satu umumnya cukup lebar. Tumor apada vagina dapat merupakan rintangan bagi lahirnya janin pervaginam. stenosis atau servik tidak berkembang. disini dalam kala I uteri menipis akan tetapi pembukaan tidak terjadi. Dengan jari dimasukan kedalam lubang itu pembukaan dapat diperlebar dengan mudah dan dalam waktu yang tidak lama pembukaan dapat menjadi lengkap dengan sendirinya. Kelainan kongenital. Distosia karena kelainan yang didapat disebabkan karena fibrosis dan infeksi. sehingga merupakan lembaran kerjas di bawah kepala janin. perlu dipertimbangkan apakah persalianan dapat berlangsung pervaginam atau harus diselesaikan dengan SC 3) Uterus/servik a) Servik uteri Kondisi dimana struktur servik abnormal mungkin disebabkan karena kongenital atau didapat. baik untuk koitus maupun untuk lahirnya janin. Konglutination orivisii eksterni ialah keadaan yang jarang didapat.

Besarnya kepala dan tubuh janin dapat diukur dengan menggunakan alat ultrasonik. a). Akan tetapi kadang-kadang dihubungkan dengan lokasinya perlu dilakukan SC klasik. SC dilakukan secara SCTP.b) Uterus Distosia karena mioma uteri dapat terjadi. Profilaksis dianjurkan ajar pemberian oksitosin yang dapat menggangu peredaran darah ke miomata yang kemudian menjadi nekrotik dan mudah terinfeksi. jika pengobatan konserfatif tidak berhasil dipertimbangkan histrektomi. mioma uteri menyebabkan inersia uteri dalam persalinan Apabila mioma uteri merupakan halangan bagi lahirnnya janin pervaginan perlu dilakukan SC. Dalam masa puerpurium mioma uteri dapat mengecil malahan bisa menjadi lebih kecil dari padasebelum hamil. Distosia Karena Kelainan Letak Janin 1) Bayi besar Yang dinamakan bayi besar adalah bila berat badannya lebih dari 4000gr. Miomektomi sesudah SC tidak dianjurkan karena bahaya berdarahan banyak dan tertinggalnya luka-luka yang tidak rata pada miometrium yang memudahkan terjadinya infeksi puerpurial. Diagnosis Pemeriksaan yang teliti adanya DKP (disporposi cepalo pelvik) perlu dilakukan. 128 . apabila letak mioma uteri menghalangi lahirnya janin pervaginan b). d. apabila berhubungan dangan adanya mioma uteri terdapat kelainan letak janin c). Puerpurium perlu diawasi dengan baik karena kemungkinan bahaya nekrosis selalu ada.

Pada banyak kasus fetus tidak dapat dilahirkan pervaginam dan SC dibutuhkan. Penanganan Pada CPD karena janin besat. Kesukaran terjadi karena distosia bahu dapat menyebabkan kesukaran kelahiran sehingga bayi dapat meninggal akibat asfiksia. Selain itu penarikan kepala kebawah terlalu kuat dalam pertolongan distosia bahu berakibat perlukaan pada nervus brachialis dan musculus sterno kleido mastoideus. hidung serta mulut janin dibersihkan. SC perlu dipertimbangkan. Pada beberapa kasus pembedahan berhasil dengan baik dengan cara insersi katuk jantung dan kateter dari ventrikel ke vena jugularis dan sisi kanan jantung.Prognosis Pada panggul normal janin dengan berat badan kurang dari 4500gr pada umumnya tidak menimbulkan kesukaran persalinan. Bila tidak berhasil digunakan perasat muller. Untuk mengurangi kemungkinan perlukaan jalan lahir. 2) Hydrocephalus Kepala sangat besar yang disebabkan karena peningkatan jumlah cairan serebrospinal yang meluas ke otak. Dengan cara demikian dapat mengurangi cairan sereberal. radiogragik atau denga pemeriksaan vagina. Tulang kranial lembut. 129 . Untuk melahirkan bahu hendaknya dilakukan episiotomi mediolateral yang luas. Keadaan ini dapat menyebabkan obstruksi persalinan jika tidak didiagnosa dengan segera. fontanel besar dan sutura lebar. Pada keadaan dimana janin telah mati sebelum bahu dilahirkan dapat dilakukan kleidotomi pada salah satu atau kedua klafikula. Pada palpasi abdomen kepala teraba besar dan dibagian atas pinggir mungkin teraba bokong. kemudian kepala ditarik curam kebawah secara hati-hati dengan kekuatan yang terukur. Diagnosis dapat ditetapkan dengan USG.

4) Gawat janin Fetal distress disebabkan oleh kekurangan oksigen (hipoksia didalam uterus). 130 . Inseden anensephalus kira-kira 1 dalam 1000 kelahiran. yang terbuka dan tampak masa gelap dan merah. umur kehamilan dan berat fetus akan mempengaruhi produk kehamilan. Hanya 25% bayi yang dapat hidup. Mekanisme dimana hipoksia menyebabkan kerusakan otak atau kematian belum diketahui.Prognosis Apabila tidak segera dilakukan pertolongan. Rupture uteri pada hidrosephalus dapat terjadi sebelum pembukaan servik lengkap. 3) Anencephalus Anensephalus adalah kondisi dimana tulang tengkorak tidak ada dan hampir tidak ada perkembangan otak. Spina bivida sering menyertai anensephalus. Pada waktu lahir bayi mungkin asfiksia dan membutuhkan resusitasi dengan segera. muka tampak saat proses persalinan. bahaya rupture uteri akan mengancam. tetapi beberapa faktor yang mempengaruhi. Disalam banyak kasus hal ini banyak menyebabkan kerusakan intrakranial yang menyebabkan cerebral palsi dan kadangkadang terjadi IUFD atau kematian neonatus. Biasanya 50% dari kehamilan karena polihidramnion. karena tengkorak yang besar ikut meregangkan segmen bawah rahim. Fetus mempunyai mata yang besar dan menonjol dan bahu lebar. biasanya perempuan dan hampir semua mati dalam seminggu pertama kelahiran. 1) Insufisiensi aliran darah uterus 2) Insufisiensi aliran darah umbilikus 3) Berkurangnya oksigenasi maternal Derajat dan Lamanya hipoksia. yaitu.

Pembagian fetal distress Fetal distress bisa akut dan kronis. Status sosial ekonomi adalah suatu gambaran kekurangan penghasilan tetapi juga kekurangan pendidikan. (4) Penyalah gunaan obat terlarang Penyalah gunaan obat terlarang dalam kehamilan berhubungan dengan banyak konplikasi meliputi IUGR. 131 . (2) umur maternal Umur ibu yang sangat muda dan tua lebih dari 35 tahun merupakan umur resiko tinggi (3) Merokok Nikotin dapat menyebabkan vasokontriksi. nutrisi. (5) Riwayat obstetrik yang buruk Riwayat abortus sebelumnya. kesehatan fisik dan psikis. dan menyebabkan penurunan aliran darah uterus dimana karbonmonoksida mengurangi transport oksigen. a) Faktor yang mempengaruhi fetal distress kronis: Fetal distress kronis berhubungan dengan faktor sosial yang kompleks: (1) Status sosial ekonomi rendah Hal ini berhubungan dengan peningkatan morbiditas dan mortalitas. persalinan preterm atau lahir mati berhubungan dengan resiko tinggi pada janin dalam kehamilan ini. Angka mortalitas perinatal meningkat. hipoksia dan persalinan preterm yang semuannya meningkatkan resiko kematian perinatal.

infeksi intra uterin dan inncompatibilitas resus yang meningkatkan resiko hipoksia intra uterin. seperti: (a) Hipertensi yang diinduksi kehamilan (b) Hipertensi kronik (c) Diabetes (d) Penyakit ginjal kronis Sedangkan faktor yang menyebabkan penurunan oksigenasi arteri maternal seperti: Penyakit sikle sel Anemia berat. dimana terjadi asidosis maternal sehingga akan menyebabkan asidosis fetal dan oleh karena itu menyebabkan fetal distress (7) Kondisi plasenta Kondisi tersebut meliputi insufisiensi plasenta. perdarahan antepartum yang dapat mengakibatkan pengurangan suplai oksigen ke fetus. (8) Kondisi fetal Malformasi kongenital tertentu. post matur. hb 9%/dl atau kurang Penyakit paru-paru Penyakit jantung Epilepsi. 132 . Resiko ini meningkat pada kehamilan ganda. jika tidak dikontrol dengan baik Infeksi maternal berat Kondisi tersebut berbahaya.(6) Penyakit maternal Kondisi yang meningkatkan resiko fetal distress kronis dapat mempengaruhi sistem sirkulasi maternal dan menyebabkan insufisiensi aliran darah uterus.

lilitan tali pusat. (3) Kondisi tali pusat Plasenta terlepas. hipotensi dan hipoksia (f) Partum presepitatus atau partus lama b) Faktor yang mempengaruhi fetal distress akut (1) Kondisi uterus Kontraksi uterus hipertonik yang lama dan kuat adalah abnormal dan uterus dalam keadaan istirahat yang lama dapat mempengaruhi sirkulasi utero plasenta. meliputi. (2) Kompresi tali pusat Kompresi tali pusat akan menggangu sirkulasi darah fetus dan dapat mengakibatkan hipoksia. terjadi solusio plasenta hal ini berhubungan dengan kelainan fetus.(9) Faktor resiko intra partum Selama persalinan faktor yang berhubungan dengan peningkatan resiko fetal distress. (4) Depresi pusat sistem pernafasan Depresi sistem pernafasan pada BBL sebagai akibat pemberian analgetuk pada ibu dalam persalinan dan perlukaan pada proses kelahiran menyebabkan hipoksia. 133 . Tali pusat dapat tertekan pada prolapsus. (a) malpresentasi seperti presentasi bokong (b) kelahiran dengan forcep (c) SC (d) Sedatif atau analgetik yang berlebihan (e) Komplikasi anastesi. ketika kontraksi sehingga mengakibatkan hipoksia fetus.

gerakan fetus. gerakan pernafasan fetus. 4. Ini dapat terjadi pada awal atau akhir penurunan denyut jantung dan bentuknya tidak sama. c. Denyut jantung a.Deteksi fetus melalui pemeriksaan Antenatal Pemeriksaan digunakan untuk mendeteksi fetus meliputi: 1. Dopler Tanda fetal distress dalam persalinan 1. Takikardi diatas 160 bpm atau bradikardi dibawah 120 bpm b. hubungan antara peningkatan asidosis fetus dengan dalam dan lamanya deselerasi adalah adanya abnormalitas denyut jantung janin. 134 . Deselerasi lebih dini Ketika denyut jantung turun lebih dari 15 bpm pada saat kontraksi deselerasi menggambarkan kontraksi dan biasanya tidak dianggap masala serius. tonus fetus indeks cairan amnion dan NST 3. mengalami penurunan sedikitnya 15 denyutan permenit menetap sedikitnya 15 detik dalam 20 menit. USG untuk menilai pertumbuhan fetus 2. Profil biofisikal Pemeriksaan fisik pada fetus menggunakan USG parameter yang digunakan untuk menilai meliputi. yaitu: denjut jantung janin. Deselerasi yang berubah-ubah Deselerasi yang berubah-ubah hal ini sangat sulit dijelaskan. Non stress tes (NST) Eksternal kardiotokograf (CTG) Kriteria yang seharusnya diamati meliputi 2 hal atau lebih.

Tidak adanya denyut jantung Ini mungkin disebabkan oleh karena hipoksia kronis atau berat dimana sistem syaraf otonom tidak dapat merespon stress f. Jika pola tersebut terjadi disertai dengan abnormalitas denyut jantung janin harus di pikirkan untuk ancaman yang serius dalam kesejahteraan fetus. Mekonium campur air ketuban 2. Mekonium Adanya mekonium terjadi kira-kira pada 20% dari semua kelahiran dan aspirasi terjadi 1-3% dari semua bayi hidup yang dilahirkan. Penurunan tersebut mempengaruhi oksigenasi serebral fetus. e. Dalam kasus fetal distress berat harus dilahirkan cara SC.d. Dokter harus menyiapkan contoh darah fetus jika auskultasi mengindikasikan abnormalitas denyut jantung. Deselerasi yang lambat menyebabkan penurunan aliran darah uterus dan pengurangan transver oksigen selama kontraksi. Adanya mekonium dalam cairan ketuban berhubungan dengan peningkatan resiko neonatus dan meningkatkan kesakitan dan kematian neonatus. Kecenderungan penyebabnya karena relaksasi spinter anus yang disebabkan oleh karena hipoksia usus yang mengakibatkan aliran darah keorgan vital berkurang. Deselerasi lambat Penurunan denyut jantung janin menunjukkan tingkat deselerasi paling rendah tetapi menunjukkan kontraksi padaa tingkat yang paling tinggi. Manajemen Pada Kala I Peningkatan perfusi plasenta silakukan dengan cara perubahan posisi menjadi posisi miring. Pada kasus tersebut dokter harus mengobserfasi kondisi fetus dengan memonitor 135 .

maka dalam hal ini servik uteri kurang mengalami tekanan kepala. Perawatan resusitasi disiapkan dan dokter anak diharuskan untuk stanby untuk mengatasi kemungkinan bayi mengalami asfiksia. ketuban bisa pecah oleh pembukaan kecil dan ada bahaya pula terjadinya prolapsusu funikuli. atau diameter tranversa kurang dari 12 cm. Apabila pada panggul sempit pintua atas panggul tidak tertutup dengan sempurna oleh kepala janin. Oleh karena pada panggul sempit karena kemungkinan lebih besar bahwa kepala tertahan oleh pintu atas panggul. Manajemen Kala II Jika detal distres terjadi pada kala II kepala dilindungi dengan melakukan episiotomi. Parietale yang terletak paling bawah tertahan oleh simphisis.kepala memasuki rongga panggul dengan hiperfleksi. selain itu dokter harus menyiapkan untuk tindakan SC. Kesempitan pada konjugata vera (panggul picak) umumnya lebih menguntungkan daripada kesempitan pada semua ukuran (panggul sempit seluruhnya). sedangkan pada 136 . sedang pada asinklistismus anterior os parietale posterior yang terletak paling bawah tertahan oleh simphisis. Hal ini dapat mengakibatkan inersia uteri serta lambannya pendataran dan pembukaaan servik. e. sedang pada panggul sempit seluruhnya ditemukan rintanagn pada semua ukuran. Distosia Kelainan Jalan Lahir 1) Kesempitan Pintu Atas Panggul Pintu atas panggul dianggap sempit apabila konjugata vera kurang dari 10 cm. Pada panggul picak turunya belakang kepala bisa tertahan dengan akibat terjadinya defleksi kepala. Selanjutnya moulage kepala janin dipengaruhi oleh jenis asinklitismus anterior lebih menguntungkan daripada asinklitismus posterior oleh karena pada mekanisme terakhir gerakan os.denyut jantung secra terus menerus. Memeriksa cairan amnion apakah mengandung mekonium.

5 cm. Ukuran terpenting yang hanya dapat ditetapkan secara pasti dengan pelvimetri rontgenologi. Agar supaya dalam hal ini kepala janin dapat lahir. diperlukan ruanagan yang lebih besar pada bagian belakang pintu bawah panggul.asinklitismus anterior os parietale anterior dapat bergerak lebih leluasa ke belakang. Apabila ukuran yang terkhir ini lebih kecil daripada biasa. Apabila ukuran ini kurang dari 9. dapat diharapkan bahwa panggul tengah tidak akan menyebabkan rintangan bagi lewatnya kepala janin. Pada panggul tengah yang sempit lebih sering ditemukan posisi oksipitalis posterir persisten atau presentasi ekpala dalam posisi lintang tetap (tranverse arrest). 2) Kesempitan Pintu Tengah Panggul Dengan sakrum melengkung sempurna. walaupun dengan perlukaan luas pada perineum. Dengan distansia tuberum bersama dengan diameter sagitalis posterior <15 cm. dinding-dinding panggul tidak berkonvergensi. Dengan diameter sagitalis poterior yang cukup panjang persalinan pervaginam dapat dilaksankan. dan spina iskiadika tidak menonjol ke dalam. foramen iskiadikum mayor cukup luas. 3) Kesempitan Pintu Bawah Panggul Pintu bawah panggil tidak merupakan bidang yang datar tetapi. 137 . yakni distansia tuberum. terdiri atas segitiga depan dan segitiga belakang yang mempunyai dasar yang sama. ialah distansia interspinarum. timbul kemacetan pada kelahiran janinukuran biasa. apalagi bila diameter sagitalis posterior pendek pula. maka sudut arkus pubis mengecil pula (<80 0). perlu kita waspadai terhadap kemunkinan kesukaran pada persalinan.

2. lanjutkan memantau ibu secara ketat 4) Jika uterus tidak berkontraksi setelah 5 menit. hidramnion atau janin besar 3) Multiparitas 4) Anastesi yang dalam 5) Anastesi lumbal Penatalaksanaan 1) Bersihkan semua gumpalan darah atau membran yang mungkin berada di dalam mulut uterus atau di dalam uterus 2) Segera mlai melakukan kompresi bimanual interna.5 L seluruhnya diinfuskan kemudian teruskan dengan laju infus 125 cc/jam. 3) Jika uterus sudam mulai berkontraksi secara perlahan di tarik tangan penolong. Jika uterus sudah berkontraksi. Persalinan Dengan Penyulit Kala III Dan IV a. 138 . 5) Jika uterus masih juga belum berkontraksi mulai lagi kompresi bimanual interna setelah anda memberikan injeksi metergin dan sudah mulai IV 6) Jika uterus masih juga belum berkontraksi dalam 5-7 menit.2 mg IM dan mulai memberikan IV (RL dengan 20 UI oksitosin/500 cc dengan tetesan cepat). minta anggota keluarga melakukan bimanual interna sementara penolong memeberikan metergin 0. Atonia Uteri Uterus gagal berkontraksi dengan baik setelah persalinan Penyebab 1) Partus lama 2) Pembesaran uterus yang berlebihan pada waktu hamil seperti pada kehamilan kembar. bersiaplah untuk melakukan rujukan dengan IV terpasang pada 500 cc/jam hingga tiba di tempat r ujukan atau sebanyak 1.

lakukan penarikan tali pusat terkendali 5) Jika traksi tali pusat terkendali belum berhasil. cobalan untukmengeluarkan plasenta secara manual. Penyebab 1) Plasenta belum lepas dari didnding uterus 2) Plasenta sudah lepas tetapi belum dilahirkan (disebabkan karena tidak adanya usaha untuk melahirkan atau karena salah penanganan kala III) 3) Kontraksi uterus kurang kuat untuk melepaskan plasenta 4) Plasenta melekat erat pada dinding uterus oleh sebab vili korealis menembus desidua sampai miometrium-sampai dibawah peritoneum (plasenta akreta-perkreta) Penatalaksanaan 1) Jika plasenta terliahat dalam vagina. jika belum dilakuak dalam penanganan aktif kala III 4) Jika plasenta belum dilahirkan setelah 30 menit pemberian oksitosin dan uterus terasa berkontraksi. mintalah ibu untuk mengejan. lakukan uji pembekuan darah sederhana. Jika diperlukan. Kegagalan terbentuknya pembekuan setelah 7 menit atau adanya bekuan lunak yang dapat pecah dengan mudam menunjukan koagulapati 6) Jika terdapat tanda-tanda infeksi (demam. berikan oksitosin 10 Unit IM. Retensio Plasenta Plasenta atau bagian-bagianya dapat tetap berada di dalam uterus setelah bayi lahir.b. Jika perdarahan terus berlangsung. berikan antibiotik untuk metritis. lakukan katerisasi kandung kemih 3) Jika plasenta belum keluar. 139 . keluarkan plasenta tersebut. secret vagina yang berbau). Jika anda dapat merasakan adanya plasenta dalam vagina. 2) Pastikan kandung kemih sudah kosong.

c. berikan petidin dan diazepam IV pelan-pelan. Perdarahan pasca persalinan dengan uterus yang berkontraksi baik biasanya disebabkan oleh. air ketuban dengan mekonium. 4) Asisten menahan fundus 140 . rambut lanuago dan vernik kaseosa masuk kedalam sinus-sinus dalam dinding uterus dan dibawa ke paru-paru. sesak nafas. Perbaikan robekan servik 1) Tindakan a dan antiseptik pada vagina dan servik 2) Berikan dukungan emosional dan penjelasan 3) Pada umumnya tidak diperlukan anastesi. d. kejang-kejang dan meninggal kemudian. Dengan mendadak penderita menjadi gelisah. Emboli air ketuban terjadi pada his yang kuat dengan ketuban yang biasanya sudah pecah. Karena his kuat. Kegagalan terbentuknya pembekuan setelah 7 menit atau adanya bekuan lunak yang dapat pecah dengan mudah menunjukan adanya koagulapati. Periksalah dengan seksama dan perbaiki robekan pada servik. Emboli Air Ketuban Emboli air ketuban menimbulkan syok yang sangat mendadak dan biasanya berakhir dengan kematian. vagina dan perineum. Pada syok karena emboli air ketuban sering ditemukan gangguan dalam pembekuan darah. Jika robekan luas atau jauh sampai ke atas. robekan servik atau vagina. Penatalaksanaan a. lakukan uji pembekuan darah sederhana bila perdarahan terus berlangsung. Robekan Jalan Lahir Robekan jalan lahir merupakan peyebab kedua tersering dari perdarahan pasca persalinan. Robekan dapat terjadi bersamaan dengan atonia uteri. atau ketamin.

sfingter ani 4) Robekan tingkat IV mengenai mukosa rektum Umumnya robekan ingkat I dapat sembuh sendiri. Korpus uteri yang terbalik sudah masuk kedalam vagina c. apek dapat dicoba di jepit dengan klem ovum atau klem arteri dan dipertahankan 4 jam 8) Jika robekan meluas sampai melewati puncak vagina lakukan laparotomi b. Tingkatan inversio uteri menurut perkembangan inversio uteri: a. Uterus dengan vagina. e. untuk sebagian besar terletak di luar vagina Penanganan a. Kaji ulang prinsip dasar perawatan dan pasang infus 141 . tetapi belum keluar dari ruang tersebut b. sehingga fundus uteri sebelah dalam menonjol ke dalam kavum uteri. Inversio Uteri Pada inversio uteri bagian atas uterus memasuki kavum uteri. tinggalkan 2 klem diantara robekan. tidak perlu dijahit. Kaji ulang indikasi b. mulai dari apeks 7) Jika sulit dicapai dan diikat. semuanya terbalik. Perbaikan robekan vagina dan perineum Ada 4 tingkat robekan yang dapat terjadi pada persalinan: 1) Robekan tingkat I yang mengenaimukosa vagina dan jaringan ikat 2) Robekan tingkat II mengenai lat-alat di bawahnya 3) Robekan tingkat III mengenai m. Pada bagian yang terdapat robekan. pindahkan bergantian searah jarum jamsehingga semua bagian servik dapat diperiksa.5) Bibir servik di jepit dengan klem ovum. Fundus uteri menonjol ke dalam kavum uteri. 6) Jahit robekan servik dengan cut gut kromik 0 secara jelujur.

Siapkan sistem bilas yang sudah disinfeksi.9%/RL) 10 tetes/menit b.c. Guyur air dengan leluasa agar menekan uterus ke posisi semula. Pasang sarung tangan DTT b. Pasien dalam posisi trendelenburg-dengan kepala lebih rendah sekitar 50 cm dari perineum b. Berikan petidin dan diazepam IV dalam semprit berbeda secara perlahan-lahan. Gunakan tangan lain untuk memebantu menahan uterus dari dinding abdomen. lakkan plasenta manual setelah tindakan koreksi c. Lakukan perawatan pasca bedah jika diberikan koreksi kombinasi abdominal vagina 142 . Basuh uterus dengan larutan antiseptik dan tutup dengan kain basah (dengan NaCl hangat) menjelang operasi Pencegahan inversi sebelum tindakan Koreksi Manual a. Jika plasenta masih belum terlepas. berupa selang 2 m berujung peneyemprot berlubang lebar. atau anestesia umumjika diperlukan d. Jika koreksi manual tidak berhasil. Perawatan pasca tindakan a. Pasang ujung selang douche pada fornik posterior sampai menutup labia sekitar selang denan tangan e. Jika inversi sudah diperbaiki. Pegang uterus pada daerah insersi tali pusat dan masukan kembali melalui servik. Identifikasi fornik posterior d. Selang di sambung dengan tabung berisis air hangat 3-5 l (atau NaCl atau infus lain) dan pasang setinggi 2 m c. Berikan antibiotik profilaksis dosis tunggal c. berikan infus oksitosin 20 unit dalam 500 ml IV (NaCl 0. lakukan koreksi hidrostatik Koreksi Hidrostatik a.

wanita hamil lanjut menunjukkan hipotensi sewaktu tidur telentang. emboli air ketuban g. Perdarahan Kala IV Perdarahan yang normal setelah kelahiran mungkin hanya akan sebanyak satu pembalut wanita perjam selama enam jam pertama atau seperti darah haid yang banyak. f. inversio uteri f. infeksi berat c. Apakah ada laserasi pada vagina atau servik? Apakah uterus berkontraksi dengan baik? Apakah kandung kencingnya kosong? g. terutama pada penderita yang menunjukkan predisposisi terhadap syok. kemudian karena syok selalu ada 143 . solusio plasenta d. Berikan analgesik jika perlu. Penanganan Syok Pemberian cairan intravena melalui infus pada waktu persalinan sebagai tindakan pencegahan untuk menghindari hipovolumia besar manfaatnya. Peristiwa-peristiwa yang dalam praktek kebidanan dapat menimbulkan syok adalah: a. jika tidak hal itu perlu diusahakan dengan segera. Syok Obstetrik Syok pada waktu kehamilan mengakibatkan syok pula pada janin yang berada dalam kandungan. perdarahan b. Pertolongan pada penderita syok: pertama-tama kelancaran ventilasi harus dijamin untuk ini perlu ditentukan apakah jalan nafas bebas.d. perlukaan dalam persalinan e. Jika perdarahan lebih banyak dari ini. peristiwa yang dinamakan supine hypotensive syndrome. Jika ada tanda infeksi berikan antibiotika kombinasi sampai pasien bebas demam selama 48 jam e. maka ibu tersebut hendaknya diperiksa lebih sering dan penyebabpenyebab dari perdarahan berat seharusnya diselidiki.

diberi cairan melalui infus intra vena. Emboli air ketuban. Penyulit kala III dan IV meliputi: Penyulit kala III persalinan. Distosia kelainan janin. His Hipertonik : His yang terlampau kuat c. Pada syok yang tidak jelas penyebabnya sebaiknya dilakukan pemeriksaan vaginal. Hasil penilaian pengukuran-pengukuran ini menentukan tindakan selanjutnya C. diorisis. tekanan darah. dan pemeriksaan laboratorium. kala III dan kala IV Penyulit kala I dan kala II meliputi : Kelainan presentasi dan posisi. Robekan jalan lahir. Perdarahan yang disebabkan karena uterus tidak mau berkontraksi setelah palsenta lahir (atonia uteri) dan perdarahan karena retensio plasenta. suhu. Dasar – dasar distosia (Kelainan tenaga /his. Kala II. Inversio uteri Perdarahan kala IV. Rambu-rambu Jawaban 1. dan bila perlu tekanan vena pusat (CVP). Sebutkan dan jelaskan penyebab perdarahan kala IV! E. Secara berkala diadakan pengukuran nadi. Atonia Uteri Retensio plasenta. Setelah tindakan diatas diusahakan silekasnya menanggulangi peristiwa yang menjadi penyebab syok dengan tindakan yang bersifat medis maupun pembedahan. a.His hipotonik : His hilang atau his lemah dimana timbul lagi dalam waktu yang lama setelah timbul his yang adekuat b. Distosia kelainan alat kandungan.pengurangan volume darah dalam sirkulasi umum. Rangkuman Materi Konsep dasar penyulit kala I. Selama perawatan perlu terus menerus diadakan pengawasan keadaan penderita. Sebutkan dan jelaskan macam – macam kelainan His ! 2. His tidak terkoordinasi : His sifatnya berubah ubah tonus otot berkontraksi juga diluar his 2. 144 . Distosia kelainan jalan lahir). pernafasan. Tugas/ Latihan 1. Syok Obstetri D.

8. Modul 2. dosen AKBID. 2001. 6. YBPSP Hanifa. 1999 10. Buku Panduan Praktis Maternal dan Neonatal. 12 th Edition 2000 Mochtar R. Workshop Kurikulum mata ajar Askeb IV. 1998. Pusdiknakes – JHPIEGO . 5. 1999. Pedoman Megajar. 2006. Jakarta Hanifa. 145 . Tim pengajar Askeb IV. Midwifery. YBPSP 2. 1999 9. Jakata YBPSP Pusdiknakes – JHPIEGO. UK. Pedoman Mengajar dosen AKBID. dkk. Jakarta. Ilmu Kebidanan. Sinopsis Obstetri Jilid I. Syaifudin. 4.F. Daftar Pustaka 1. 2001 Varney’s H. Pedoman Mengajar dosen AKBID. 7. Ilmu Kandungan. Jakarta. 3. Modul 4. Pusdiknakes – JHPIEGO . dkk. Modul 3. Jones and Bartlett Publisher Mayes. Midwifery. 1999 11. 1997. Tidak ditebitkan. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. 1999.

4 Berkoh. Hubungan Pemanfaatan Sumber Belajar Dengan Prestasi Balajar ASKEB II Pada Mahasiswa AKBID Kusuma Husada Surakarta Tahun 2008 Tahun Ajaran 2008/2009 dan 2009/2010 : 1.ST Yogyakarta. Jabatan Struktural i j k Fakultas/Prodi Pendidikan Hasil penelitian l Mata Kuliah yang pernah diampu Purwokerto. Asuhan Kehamilan 4. Asuhan Kebidanan IV 6. Kesehatan Reprodukasi e.ST NIK.PROFIL PENULIS a. Jenis Kelamin d. Nama Lengkap b. Tahun 2006 2. Konsep Kebidanan 3. S.010308149 146 . Pangkat/Golongan : : : : : : : g. Tempat/Tgl Lahir c. NIK f. Studi Deskriptif Yang Menggali Tingkat Pengetahuan Ibu Tentang Imunisasi Wajib Bagi Bayi Di Wilayah Kerja Puskesmas Grabag I Magelang. Purwokerto 010308149 Penata Muda /IIIA Ilmu Kesehatan / DIII Kebidanan D IV Kebidanan 1. Komunikasi Konseling Kebidanan 5. Jabatan Fungsional h. Februari 2010 Alfi Noviyana. Alamat : : : : Alfi Noviyana. S. 13 Nopember 1985 Perempuan Jalan Sunan Kali Jaga I No. Asuhan Nifas 2.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.