BAB I PRINSIP DETEKSI DINI IBU DENGAN KELAINAN, KOMPLIKASI, PENYAKIT DALAM KEHAMILAN, PERSALINAN DAN MASA NIFAS

A.

Kompetensi dasar 1. Mampu menjelaskan Prinsip deteksi dini ibu dengan kelainan, komplikasi, penyakit yang lazim terjadi dalam kehamilan,

Pemeriksaan kehamilan dini ( early ANC detection , Kontak dini kehamilan trimester I, Pelayanan ANC berdasarkan kebutuhan individu dan skrining untuk deteksi dini 2. Mampu mendiskripsikan deteksi dini penyulit persalinan dengan memanfaatkan partograf 3. Mampu menguraikan deteksi dini komplikasi masa nifas (2 jam masa nifas, 6 jam masa nifas, 6 hari masa nifas, 6 minggu masa nifas) B. Uraian Materi 1. Deteksi Dini Terhadap Kelainan, Komplikasi Dan Penyakit Yang Lazim Terjadi Pada Ibu Hamil Kehamilan melibatkan perubahan fisik maupun emosional dari ibu serta perubahan sosial dalam keluarga. Pada umumnya kehamilan berkembang normal dan menghasilkan kelahiran bayi sehat cukup bulan melalui jalan lahir, namun kadang-kadang tidak sesuai dengan yang diharapkan. Sulit diketahui sebelumnya bahwa kehamilan akan terjadi masalah, oleh karena itu pelayanan asuhan antenatal merupakan cara penting memonitor dan mendukung kesehatan dan mendeteksi kehamilan ibu. Ibu hamil sebaiknaya dianjurkan mengunjungi bidan atau dokter sedini mungkin semenjak ibu merasa dirinya hamil untuk mendapatkan pelayanan atau asuhan antenatal. Pemeriksaan dan pengawasan terhadap ibu hamil sangat perlu dilakukan secara teratur. Hal ini bertujuan untuk

1

menyiapkan seoptimal mungkin fisik dan mental ibu dan anak selama dalam kehamilan, persalinan dan nifas sehingga didapatkan ibu dan anak yang sehat. Selain itu juga untuk mendeteksi dini adanya kelainan, komplikasi dan penyakit yang biasanya dialami oleh ibu hamil sehingga hal tersebut dapat dicegah ataupun diobati. Dengan demikian maka angka morbiditas dan mortalitas ibu dan bayi dapat berkurang a. Pemeriksaan Kehamilan Dini (Early ANC Detection) Idealnya wanita yang merasa hamil bersedia untuk

memeriksakan diri ketika haidnya terlambat sekurangkurangnya 1 bulan. Dengan demikian, jika terdapat kelainan pada kehamilannya tersebut akan lekas diketahui dan segera dapat diatasi. Oleh karena itu, setiap wanita hamil sebaiknya melakukan kunjungan antenatal sedikitnya 1 kali pada trimester 1 ( sebelum minggu ke 16). Penilaian klinik merupakan proses berkelanjutan yang dimulai pada kontak pertama antar petugas kesehatan dengan ibu hamil secara optimal. Pada kunjungan dini adapun pemeriksaan yang dilakukan untuk mendeteksi komplikasi, penyulit ataupun penyakit pada kehamilan, yaitu : 1) Anamnesa Anamnesa adalah tanya jawab antara penderita dan pemeriksa. Dari anamnesa ini banyak keterangan yang diperoleh guna membantu menegakkan diagnosa dan prognosa kehamilan. a) Anamnesa Sosial ( biodata dan latar belakang sosial b) Anamnesa Kehamilan (haid) c) Anamnesa Medik/ Kesehatan d) Anamnesa Kebidanan/ Obstetri

2

2) Pemeriksaan Umum a) Tinggi badan Pada wanita hamil yang pertama kali memeriksakan perlu diukur tinggi badannya. Seorang wanita hamil yang terlalu pendek, yang tinggi badannya kurang dari 145 cm tergolong resiko tinggi karena kemungkinan besar persalinan berlangsung kurang lancar dengan kemungkinan kesempitan panggul. Perbandingan tinggi dan berat badan memberi gambaran mengenai keadaan gizi. b) Berat badan Pada tiap pemeriksaan wanita hamil baik yang pertama kali atau ulangan, berat badan perlu ditimbang. Kenaikan berat badan yang mendadak dapat merupakan tanda bahaya komplikasi kehamilan yaitu preeklampsi. Dalam trimester I berat badan wanita hamil biasanya belum naik bahkan biasanya menurun karena

kekurangan nafsu makan. Dalam trimester terakhir terutama karena pertumbuhan janin dan uri berat badan naik sehingga pada akhir kehamilan berat badan wanita hamil bertambah kurang lebih 11 kg dibanding sebelum hamil. Pada trimester terakhir berat badan kurang lebih 0.5 kg seminggu, bila penambahan berat badan tiap minggu lebih dari 0.5 kg harus diperhatikan

kemungkinan preeklampsi. c) Tanda-tanda vital Dalam keadaan normal tekanan darah dalam kehamilan trimester terakhir sistolik tidak melebihi 140 mmHg, dan diastolik tidak melebihi 90 mmHg. Bila terdapat

3

Dari pemeriksaan ini diperoleh mengenai ukuran dan bentuk uterus kesesuaian antara tinggi fundus uteri dengan umur kehamilan. Hal ini karena pengaruh estrogen dan progesteron yang merangsang duktus dan alveoli payudara. d) Pemeriksaan kepala dan leher Pemeriksaan ini dilakukan dengan menggunakan pemeriksaan inspeksi.tekanan darah melebihi diatas maka kemungkinan adanya preeklampsi. batuk dan dispnea untuk menegakkan diagnosa bonkitis dan pneumonia.nafas dangkal . Pemeiksaan paru haus mencakup obsevasi sesak nafas. Pemeriksan payudara dengan cara palpasi meliputi bentuk dan ukuran payudara. nafas cepat . adanya retraksi. Pemeriksaan ini meliputi seluruh bagian kepala dan leher. f) Pemeriksaan jantung. Jika pada pemeriiksaan mata sklera ikterik dan konjungtiva anemis maka kemungkinan anemia. Mumu jantung diastolik ditemukan . g) Pemeriksaan abdominal Pemeriksaan abdominal dilakukan dengan palpasi. nafas tidak teatu mengi. paru dan organ dalam tubuh lainnya.pada 90% wanita hamil kerena tekanan daah ibu hamil meningkat secaa mencolok. e) Pemeriksaan payudara Pada wanita hamil payudara terlihat besar dan tegang serta sedikit nyeri. masa dan pembesaran pembuluh limfe. letek janin dan detak jantung janin dan CVAT (costo vetrebral tenderness) 4 . putting susu menonjol atau tidak.

Protein dalam urine merupakan hasil kontaminasi dair vagina atau dari infeksi saluran kencing atau penyakit ginjal. vagina dan porsio diperiksa dan dilihat inspekulo deteksi tanda-tanda infeksi. Pemeriksaan urine pada awal kehamilan bertujuan untuk mengetahui adanya kehamilan. menurunnya keinginan untuk melakukan hubungan seksual sangat wajar. varices. Pada pemeriksaan ini vulva. b. Pada saat hamil jika dihubungkan dengan hipertensi dan oedem. dan glukosa urine. Pemeriksaan laboratorium Test laboratorium perlu dilakukan pada ibu hamil. sebaiknya koitus ditunda sampai kehamilan 16 minggu. hal ini akan menjadi tanda serius dari preeklampsi. jika kepala sudah masuk panggul koitus sebaiknya dihentikan karena dapat menimbulkan perasaan sakit dan perdarahan. b. Pada akhir kehamilan. oedema dan reflek patella. Pemeriksan ini ditujukan untuk memeriksa golongan darah. Pada umumnya koitus diperbolehkan pada masa kehamilan jika dilakukan dengan hati hati. Apabila dalam anamnesis ada riwayat abortus sebelum kehamilan yang sekarang. Untuk glukosa urin berhubungan dengan diabetes.h) Pemeriksan genetalia Untuk memeriksa genetalia biasanya dengan pemeriksaan ginekologi.hemorid. Selain itu pemeriksaan urin juga bertujuan untuk mengetahui adanya protein urine dan glukosa urine. Pada waktu itu plasenta telah terbentuk serta kemungkinan abortus menjadi lebih kecil. Hb. cairan. protein urine. i) Pemeriksaan ekstremitas atas dan bawah Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui adanya varises. 5 . Kontak Dini Kehamilan Trimester I Pada trimester I.

amnioskopi. dan kondisi janin setiap minggunya. Hal ini bertujuan untuk mencegah pertambahan berat badan yang agresif.c. dan sebagainya. Pada pola nutrisi sebaiknya ibu dianjurkan untuk diet tinggi protein rendah hidrat arang. Anjurkan kepada ibu untuk mentaati pemeriksaan antenatal yang teratur dan jika perlu dikonsultasikan kepada ahli. ukuran biparietal (USG). dan rendah garam. urin. dapat dilakukan pemeriksaan monitor janin lainnya seperti elektrokardiografi fetal. apakah ada ancaman terhadap jiwa ibu. rendah lemak. pH darah janin. Selain itu anjurkan ibu pula untuk cukup istirahat menjauhi emosi dan jangan bekerja terlalu berat. Apalagi bila janin telah meninggal dalam kandungan pengakhiran kehamilan ini sebaikanya dirundingkan antar disiplin : dengan ahli penykit dalam . disamping pemeriksaan biasa. Penentuan kadar estriol. Pelayanan ANC yang diberikan petugas kesehatan kepada setiap ibu hamil berbeda – beda tergantung dari kebutuhan dan kondisi dari setiap individunya. 6 . Misalnya persetujuan ANC yang diberikan terhadap ibu hamil dengan hipertensi tentunya akan berbeda dengan pelayanan yang diberikan kepada ibu hamil dengan varises. Pengawasan terhadap janin harus lebih teliti. Pengakhiran kehamilan baik yang muda maupun yang sudah cukup bulan harus dipikirkan bila ada tanda – tanda hipertensi ganas (tekanan darah 200/120 atau pre-eklamsi berat). Pelayanan ANC berdasarkan kebutuhan individu. Pada ibu hamil dengan hipertensi sebaiknya dilakukan pemantauan tekanan darah.

maka kemungkinan kehamilan ektopik. Pemeriksaan USG pada kehamilan normal usia 5 minggu struktur kantong gestasi intrauterin dapat dideteksi dimana diameternya sudah mencapai 5-10 mm. Venoruton. Glyvenol. Diagnosis pasti kehamilan ektopik secara USG hanya bisa ditegakkan jika terlihat kantong gestasi berisi janin hidup yang letaknya diluar kavum uteri. USG merupakan suatu media diagnostik dengan menggunakan gelombang ultrasonik untuk mempelajari struktur jaringan berdasarkan gambaran ecko dari gelombang ultrasonik. Pemeriksaaan USG saat ini dipandang sebagai metode pemeriksaan yang aman. Dari kenyataan ini bisa juga diartikan bahwa kadar HCG yang lebih dari 6500 mlU/ ml tidak dijumpai adanya kantong gestasi intrauterin. dan Varemoid. ada tidaknya gangguan kehamiulan (ruptura. 7 . Skrining untuk deteksi dini. 4) Dapat diberikan obat – obatan : Venosan. 2) Anjurkan kepada ibu supaya jalan – jalan dan senam hamil untuk memperlancar peredaran darah. Jika dihubungkan dengan kadar HCG pada saat itu kadarnya sudah mencapai 6000-6500 mlU/ ml. Gambaran USG kehamilan ektopik sangat bervariasi. abortus) serta banyak dan lamanya perdarahan intra abdomen. d. 3) Anjurkan ibu untuk memakai kaos kaki atau pembalut tungkai elastis.Sedangkan pada ibu hamil dengan varises pelayanan ANC yang diberikan antara lain : 1) Anjuran ibu untuk jangan berdiri atau duduk terlalu lama dan jangan memakai ikat pinggang terlalu kencang. tergantung pada usia kehamilan.

penolong harus waspada terhadap masalah yang mungkin terjadi. Persalinan tidak selalu berjalan dengan normal. Sering kali terlihat kuning telur dalam ( yolk salk ) berupa struktur vasikuler berdiameter kira-kira 5 mm yang letaknya diluar selaput amnion. Panjang embrio mencapai 10 mm dan menjadi lebih mudah dilihat. Struiuktur kepala sudah dapat dibedakan dari badan. Jika tidak dijumpai adanya struktur embrio dan kantong kuning telur maka kemungkinan kehamilan anembrionik. Salah satu alata yang dapat digunakan untuk membantu memantau kemajuan persalinan dan informasi untuk membuat keputusan klinik adalah partograf.Pada kehamilan 7 minggu diameter kantong gestasi telah mencapai 25 mm. Deteksi Dini Penyulit Persalinan . 8 . Struktur embrio dapat dilihat lebih jelas lagi. 2. Jika dijumpai lebih dari 1 embrioyang menunjukkan tanda-tanda kehidupan maka kemungkinan kehamilan multiple. Pada kehamilan 8 minggu kantong gestasi telah berdiameter 30 mm. Selain denyut jantuing mungkin juga dapat dideteksi adanya gerakan embrio yang dapat dirangsang dengan melakukan perkusi pada dinding perut. Oleh karena itu pada saat memberikan asuhan kepada ibu yang sedang bersalin. Jika tidak ada tanda-tanda kehidupan seperti yang telah disebutkkan maka kemungkinan terjadi miss abortion.

DJJ (Detak Jantung Janin) DJJ dicatat setiap 30 sekali (lebih sering jika ada kegawatdaruratan). 9 . nama. nomor RM.Gambar. 1. Informasi tentang ibu Melengkapi bagian awal ( atas ) partograf secara teliti pada saat mulai asuhan persalinan meliputi. Adapun partograf mengintruksikan : 1. gravida para dan abortus. 1 Partogaf Temuan-temuan dari hasil pengamatan. Kisaran normal DJJ terpapar pada partograf diantara garis tebal angka 180 – 100. umur. pemeriksaan dan asuhan persalinan kala I dapat dicatat pada partograf. Kesehatan dan kenyamanan janin a. waktu pecahnya ketuban 2. tanggal dan waktu dirawat. tetapi harus waspada bila DJJ dibawah 120atau diatas 160.

Lambang – lambang dalam mollase : a) 0 : tulang – tulang kepala janin terpisah. sutura dengan mudah dipalpasi b) c) 1 : tulang – tulang kepala janin hanya saling bersentuhan 2 : tulang –tulang kepalajanin saling tumpang tindih. c. Kemajuan Persalinan Penilaian kemajuan persalinan dilakukan pemeriksaan setiap 4 jam sekali.b. D :air ketunan sudah pecah dan bercampur darah. Molase ( penyusupan kepala janin ) Penyusupan adalah indikator penting tentang seberapa jauh bayi dapat menyesuaikan diridengan bagian atas keras ibu. d. Adapun hasil temuan mengenai ketuban : U : Ketuban utuh ( belum pecah ) J : ketuban sudah pecah dan ai ketuban jernih. Ketidak kemampuan akomodasi akan benar – benar terjadi jika tulang kepala yang bisa menyusup tidak mampu dipisahkan. segara rujuk ibu ketempat yang memiliki kemampuan penatalaksanaan gawatdarurat obstetri dan bayi baru lahir. K : ketuban sudah pecah dan air ketuban tidak ada (kering). kolom dan lajur kedua pada partograf adalah untuk 10 . Warna dan adanya air ketuban Penilaian air ketuban serta warnanya dilakukan setiap kali periksa dalam vagina dan jika selaput ketuban pecah. Tulang kepala yang sampai menyusup atau tumpang tindih menunjukkan kemungkinan adanya disproporsi tulang panggung ( CPD ). Tetapi jika terdapat mekonium kental. Mekonium dalam cairan ketuban tidak selalu menunjukkan adanya gawat janin apabila apabila tidak nmpak tanda gawat janin. tapi masih dapat dipisahkan d) 3 : tulang – tulang kepala janin tumpang tindih dan tidak dapat dipisahkan. M :ketuban sudah pecah dan air ketuban bercampur meconium.

Untuk menghitung banyaknya kontraksi dalam 10 menit dan lamanya tiap-tiap kontraksi dalam hitungan detik. Selain nadi. Tetapi jika kontraksinya tidak teratur dan tidak sering setelah fase laten dapat menyebabkan persalinan lama. Nilai dan catat suhu ibu ) lebih sering jika meningkat. tekanan darah dan temperatur tubuh nilai dan catat nadi ibu setiap 30 menit selama fase aktif persalinan.pencatatan kemajuan persalinan. servik kaku. atau dianggap adanya infeksi ) setiap 2 jam. Jika pembukaan servik telah melampaui dan berda disebelah kanan garis bertindak maka perlu dilakukan tindakan menyelesaikan persalinan. Kemajuan persalinan dikatakan cukup baik jika kontraksi teratur dan progresif dengan peningkatan frekuaensi dan durasi. Kemajuan persalinan dilihat dari pembukaan servik dan penurunan bagian terbawah janin. 3. atau innersia uteri. Pastikan hidrasi yang cukup melalui oral atau IV dan berikan analgesik secukupnya nilai dan catat tekanan darah ibu setiap 4 jam selama fase aktif persalinan. Jika pembukaan servik mengarah kesebelah kanan gari waspada (pembukaan kurang dari 1 cm per jam) maka harus dipertimbangkan penyulit misalnya kala aktif memanjang. Kesehatan dan kenyamanan ibu Meliputi nadi. Jika tekanan darah ibu menurun curigai adanya perdarahan. tekanan darah dan suhu tubuh kenyamanan dan kesehatan tubuh aseton ibu juga meliputi volume urine. Jika denyut nadi ibu meningkat. mungkin dia dalam keadaan dehidrasi atau kesakitan. e. Kontraksi uterus Kontraksi uterus dicatat setiap 30 menit dengan melakukan palpasi. protein dan 11 .

2. mendeteksi menangani masalah-masalah yang terjadi karena ibu nifas rentan terjadi penyulit dan komplikasi. dan rasa nyeri atau adanya disuria. Infeksi alat genital merupakan komplikasi masa nifas. Gejala umum infeksi dapat dilihat dari temperature atau suhu. Wanita yang baru melahirkan sering mengeluh sakit kepala hebat atau penglihatan kabur. takikardi dan malaise. diantaanya: 1. Deteksi Dini Pada Masa Nifas Masa nifas dimulai setelah plasenta lahir sampai 6 minggu beikutnya. Asuhan masa nifas diperlukan karena pada periode ini merupakan masa kritis bagi ibu dan bayinya. Sedangkan gejala lokal dapat berupa uterus lembek. segera berikan dextros. Disertai pembengkakan di wajah atau ekstremitas c. Infeksi masa nifas masih merupakan penyebab tertinggi AKI.Ukur dan catat jumlah produksi urin ibu sedikitnya 2 jam (setiap kali ibu berkemih ) lakukan pemeriksaan adanya aseton atau protein dalam urine setiap ibu berkemih. kemerahan. Apabila uterus lembek dan tidak berkontraksi. Masa 6 hari – 6 minggu nifas a. Infeksi yang meluas ke saluran urinary payudara. Setiap tahap masa nifas bidan pelu menilai status ibu. panas. dan terasa sakit 12 . b. Payudara yang berubah menjadi merah. pembengkakan. Jika terdapat aseton dalam urin ibu dicurigai masukan nutrisi yang kurang. perdarahan 350500cc per menit waspadai perdarahan ibu post partum karen atonia uteri. Diperkirakan 60% kematian ibu terjadi akibat kejadian setelah persalinan dan 50% kematian masa nifas terjadi 24 jam pertama. Beberapa bakteri dapat menyebabkan infeksi setelah persalianan. 3. Masa 2 jam dan 6 jam nifas. mencegah.

Sehingga alat pencernaan perlu istirahat guna memulihkan keadaanya kembali. Timbul rasa nyeri seperti terbakar. lunak.perlu waspa apabila disertai . terasa sakit. panas. e. komplikasi. Pada minggu-minggu awal setelah persalinansampai kurang lebih 1 tahun ibu post partum cenderung akan mengalami perasaan-perasaan yang tidak pada umumnya. dan pembengkakan dikaki. 13 . tetapi sedikit atau banyak pasti dipengaruhi proses persalinannya tersebut. f. persalinan dan masa nifas. merah.Payudara bengkak yang tidak disusu secara adekuat dapat menyebabkan payudara menjadi merah. sehingga ibu tidak ingin makan sampai kehilangan itu hilang. tidak mampu mengasuh dirinya sendiri dan bayinya. Sesudah anak lahir ibu akan merasa lelah mungkin juga lemas karena kehabisan tenaga. Pada masa kehamilan deteksi dini dilaksanakan pemeriksaan kehamilan dini ( early ANC detection ) secara lengkap meliputi pengkajian psikososial dan pemeriksaan fisik lengkap. Putting lecet akan memudahkan masuknya kuman dan terjadinya payudara bengkak d. penyakit yang lazim terjadi dalam kehamilan. Dalam persalinan lambung dan alat pencernaan tidak langsung turut mengadakan proses persalianan. rasa sakit. Selama masa nifas.waspadai bila berlanjut pada depresi post partum. seperti merasa sedih. Oleh karena itu tidak benar bila ibu diberikan makanan sebanyakbanyaknya walaupun ibu menginginkannya. C. Tetapi biasanya disebabkan adanya kelelahan yang amat berat.nyeri tekan maka mengarah pada gejala tromboplebitis. dapat terbentuk thrombus sementara pada venavena manapun di pelvis yang mengalami dilatasi. akhirnya terjadi mastitis. Ringkasan Materi Penting bagi bidan untuk mengetahui prinsip deteksi dini ibu dengan kelainan. nafsu makan pun akan terganggu.

pada 6 hari post partum dan 6 minggu post partum. 1999 7. Kesejahteraan dan kenyamanan janin meliputi DJJ. Rambu-rambu jawaban soal 1. F. Skrening dini pada kehamilan dengan pemanfaatan USG. Modul 2. Pada masa nifas 2 jam dan 6 jam post partum deteksi dini komplikasi dan penyakit di fokuskan untuk. 6 jam post partum .. dalam pelayanan ANC di dasarkan kebutuhan individu sehingga kompliksai dan penyakit segera dapat dideteksi. Penggunakan partograf dapat membantu bidan dalam mendeteksi komplikasi persalinan kala I meliputi. Pedoman Mengajar dosen AKBID.Mewaspadai kontak dini kehamilan trimester I. 5. Buku Panduan Praktis Maternal dan Neonatal. Midwifery. Jakarta. Jones and Bartlett Publisher Mochtar R. kemajuan persalinan meliputi kontraksi. Tugas/ Latihan 1. Workshop kurikulum mata ajar Askeb IV. 3. YBPSP 2. air ketuban dan molase. Daftar Pustaka 1. pembukaan dan penurunan kepala serta kesejahteraan ibu meliputi tensi dan nadi dll.. Sinopsis Obstetri Jilid I. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. D.. 1998. 1999. UK. Ilmu Kebidanan. dkk. 2.2006. Jakarta Hanifa. 6. YBPSP Pusdiknakes – JHPIEGO.. Tim pengajar Askeb IV. Tidak diterbitkan 14 . E. 2001. Syaifudin. Perdarahan karena atonia uteri. Jakarta. 2. 2001 Varney’s H. 4. 1997. Guna mendeteksi komplikasi persalinan bidan akan dibantu dengan partograf dan kelainan serta penyakit pada masa nifas dideteksi pada 2 jam post partum.

karena dirawat atau disusui ibunya. dan mungkin pula tertutup atau terbuka. Penyakit ini mungkin bentuknya aktif atau kronik. Perlu diperhatikan dan dilindungi janin dari pengaruh sinar X. suara caverne atau pleural effusion. persalinan dan nifas 2. 1. pada penderita TBC Paru aktif perlu dilakukan pemeriksaan sputum BTA untuk membuat diagnosis secara pasti sekaligus untuk tes kepekaan / uji sensitivitas. Menguraikan penyakit yang menyertai kehamilan. 1) Penatalaksanaan : Penyakit ini akan sembuh dengan baik bila pengobatan yang diberikan dipatuhi oleh penderita. Tuberkulosis Paru Kehamilan tidak banyak memberikan pengaruh terhadap cepatnya perjalanan penyakit ini. Pada janin dengan ibu TBC Paru jarang dijumpai TBC congenital. kadang-kadang ada batuk darah. berikan penjelasan dan pendidikan 15 . bila hasil positif dilanjutkan dengan pemeriksaan foto dada. nafsu makan berkurang. banyak penderita tidak mengeluh sama sekali. Pada pemeriksaan fisik mungkin didapatkan adanya ronkhi basal. Pada penderita yang dicurigai menderita TBC Paru sebaiknya dilakukan pemeriksaan tuberkulosa tes kulit dengan PPD (puirified protein derivate). dan sakit di dada. BB menurun. Menjelaskan infeksi yang menyertai kehamilan. janin baru tertular penyakit setelah lahir. badan terasa lemah. Kompetensi Dasar 1.BAB II PENYAKIT YANG MENYERTAI IBU DALAM MASA KEHAMILAN. persalinan dan nifas B. Uraian Materi Penyakit yang Menyertai Kehamilan dan Persalinan a. Keluhan yang sering ditemukan adalah batuk-batuk yang lama. PERSALINAN DAN NIFAS A.

Pemeriksaan sputum harus dilakukan setelah 1-2 bulan pengobatan. Ajarkan untuk menutup mulut dan hidungnya bila batuk. Oleh karena itu –perlu diperiksa faal hati sewaktu-waktu dan bila ada perubahan untuk sementara obat harus segera dihentikan. dan isoniazid (INH) selalu diikutkan karena paling aman untuk kehamilan. 2) Obat-obatan yang dapat digunakan (a). akan tetapi efek samping dalam kehamilan sangat sedikit dan pada janin belum ada. (c). Etambutol 15-20 mg/kg/hari. (d). Pengaruh obat ini pada janin dapat menyebabkan tuli bawaan (ototoksik). bersin dan tertawa. efektifitasnya tinggi dan harganya lebih murah. Rifampisin 600mg/hari. Streptomycin 1gr/hari. jika masih positif perlu diulang tes kepekaan kuman terhadap obat. jangan digunakan dalam kehamilan trimester I. Sebagian besar obat anti TBC aman untuk wanita hamil. Obat ini mungkin menimbulkan komplikasi pada hati sehingga timbul gejala-gejala hepatitis berupa nafsu makan berkurang. Obat ini baik sekali untuk pengobatan TBC Paru tetapi memberikan efek teratogenik pada binatang poercobaan sehingga sebaiknya tidak diberikan pada trimester I kehamilan. Disamping itu obat ini juga kurang menyenangkan pada penderita karena harus disuntikan setiap hari. (b). Isoniazid (INH) 300 mg/hari. Obat ini dapat menimbulkan komplikasi retrobulber neuritis. mual dan muntah. pasien hamil dengan TBC Paru yang tidak aktif tidak perlu mendapat pengobatan. bila pasien sudah sembuh lakukan persalinan secar biasa. kecuali streptomisin yang bersifat ototoksik bagi janin dan harus diganti dengan etambutol. 16 . Obat ini harus hati-hati digunakan dalam kehamilan.kepada pasien bahwa penyakitnya bersifat kronik sehingga diperlukan pengobatan yang lama dan teratur. Sedangkan pada yang aktif dianjurkan untuk menggunakan dua macam obat atau lebih untuk mencegah timbulnya resistensi kuman.

Penderita yang tidak mungkin pulang harus dirawat di ruang isolasi. Ginjal Dalam kehamilan terdapat perubahan-perubahan fungsional dan anatomic ginjal dan saluran kemih yang sering menimbulkan gejala-gejala dan kelainan fisik dan hasil pemeriksaan laboratorium. sampai ibunya tidak memperlihatkan tanda-tanda proses aktif lagi setelah dibuktikan dengan pemeriksaan sputum sebanyak 3 kali yang selalu memperlihatkan hasil negatif. mendapat profilaksis INH dan imunisasi BCG. Semua obat anti TBC sesuai untuk laktasi sehingga pemberian laktasi dapat dengan aman dan normal. Usahakan pasien tidak meneran. Ginjal akan memanjang kurang lebih 1 cm dan kembali normal setelah melahirkan. dan berkurangnya tonus otot-otot saluran kemih karena pengaruh kehamilan. karena bayi cukup rentan terhadap penyakit ini. melekuk dan kadang berpindah letak ke lateral dan akan kembali normal 8-12 minggu setelah melahirkan. Perubahan anatomi terdapat peningkatan pembuluh darah dan ruangan interstisial pada ginjal. b. Pasien diberi obat uterotonika dan obat TBC tetap harus diteruskan. Kandung kemih akan berpindah 17 . kemudian dapat dipulangkan langsung. persalinan dibantu Ekstraksi Vacum atau Forcep. sebagian besar ahli menganjurkan pemisahan dari ibu jika ibu dicurigai menderita TBC aktif. Ureter juga mengalami pemanjangan. berikan masker untuk menutupi mulut dan hidung agar kuman tidak menyebar. Akibat pembesaran uterus hiperemi organ-organ pelvis dan pengaruh hormonal terjadi perubahan pada kendung kemih yang dimulai pada kehamilan 4 bulan. Selain itu juga terjadi hiperplasia dan hipertrofi otot dinding ureter dan kaliks. namun bayi harus diberi suntikan mantoux.Pasien TBC aktif harus ditempatkan dalam kamar bersalin terpisah. Setelah persalinan pasien dirawat di ruang observasi 68 jam. Pasien TBC yang menyusui harus mendapat regimen pengobatan yang penuh.

Perubahan-perubahan itu terutama disebabkan karena : 18 . aritmia jantung atau hipertrofi ventrikel kiri. sehingga jantung harus bekerja lebih berat. gabungan stenosis mitral dengan insufisiensi mitral. Bentuk kelainan katup yang sering dijumpai adalah stenosis mitral.lebih anterior dan superior. stenosis aorta. yang harus dipenuhi melalui darah ibu. Kapasitas kandung kemih meningkat sampai 1 liter karena efek relaksasi dari hormon progesterone. insufisiensi mitral. Sejak kehamilan trimester II GFR akan meningkat 30-50 %. 2) Faktor Predisposisi Peningkatan usia pasien dengan penyakit jantung hipertensi dan superimposed preeklamsi atau eklamsi. Akibatnya akan terjadi penurunan kadar kreatinin serum dan urin nitrogen darah. riwayat decompensasi cordis. diatas nilai normal wanita tidak hamil. Jantung 1) Etiologi Sebagian besar disebabkan demam reumatik. terjadi peningkatan aliran plasma (Renal Plasma flow) dan tingkat filtrasi gomerolus (Gomerolus Filtration Rate). penyakit katupulmonal dan trikuspidal. anemia. Perubahan Fungsi Segera sesudah konsepsi. Otot kandung kemih mengalami hipertrofi akibat pengaruh hormon estrogen. normal kreatinin serum adalah 0. 3) Patofisiologi Keperluan janin yang sedang bertumbuh akan oksigen dan zat-zat makanan bertambah dalam berlangsungnya kehamilan.7 mg/100 mll dan urea nitrogen darah 8-12 mg/100 mll. insufisiensi aorta. Untuk itu banyaknya darah yang beredar bertambah. Pembuluh-pembuluh di daerah mukosa akan membengkak dan melebar. Karena itu dalam kehamilan selalu terjadi perubahan dalam system kardiovaskuler yang biasanya masih dalam batas-batas fisiologik. c. gabungan antara insufisiensi aorta dan stenosis aorta.5-0.

Namun gejala dan tanda ini dapat pula terjadi pada wanita hamil normal. terutama minggu ke 28 dan 32. Terjadi penurunan resistensi perifer dan emboli pulmonal dari thrombus iliofemoral. Hilangnya pengaruh obstruksi uterus yang hamil menyebabkan masuknya darah secara tiba-tiba dari ekstremitas bawah dan sirkulasi uteroplasenta ke sirkulasi sistemik. Peningkatan berat badan. (d). 4-5 hari seetelah peralinan. 4) Manifestasi Klinis Mudah lelah. (c). Setiap kontraksi uterus meningkatkan jumlah darah ke dalam sirkulasi sistemik sebesar 15 . ke kiri. Terjadi perubahan hemodinamik. 19 . Perlu diawasi saat-saat berbahaya bagi penderita penyakit jantung yang hamil yaitu: (a). saat puncak perubahan dan kebutuhan jantung maksimum (b). dan ke depan sehingga pembuluhpembuluh darah besar dekat jantung mengalami lekukan dan putaran. saat arus balik vena dihambat kembali ke jantung. dan peningkatan tekanan vena jugularis adalah tanda dan gejala gagal jantung kanan. dan kongesti paru adalah tanda dan gejala gagal jantung kiri. Setelah melahirkan bayi dan plasenta. Hidrenia (Hipervolemia). edema tungkai bawah. Biasanya terdapat riwayat penyakit jantung dari anamnesis atau dalam rekam medis. Uterus gravidus yang makin lama makin besar mendorong diafragma ke atas. Antara minggu ke 12 dan 32. Saat persalinan. dimulai sejak umur kehamilan 10 minggu dan puncaknya pada UK 32-36 minggu (b). hepato megali.20% dan ketika meneran pada partus kala II. ortopnea.(a). nafas terengah-engah.

(b). terutama bila disertai thrill (d). Kelas I • • • • Tanpa pembatasan kegiatan fisik Tanpa gejala penyakit jantung pada kegiatan biasa (b). Kelas II Sedikit pembatasan kegiatan fisik Saat istirahat tidak ada keluhan 20 . EKG untuk mengetahui kelainan irama dan gangguan konduksi. Bisa ditemukan tanda-tanda aritmia. dan peri kardium (c). kardiomegali. tanda penyakit pericardium. Arimia berat Pada wanita hamil yang tidak menunjukan salah satu gejala tersebut jarang menderita penyakit jantung.5) Pemeriksaan Penunjang Selain pemeriksaan laboratorium rutin juga dilakukan pemeriksaan : (a). infark. namun jika memang diperlukan dapat dilakukan dengan memberi perlindung diabdomen dan pelvis. cepat dan terpercaya untuk mengetahui kelainan fungsi dan anatomi dari bilik. presistolik. Bising diastolic. iskemia. katup. Diagnosis ditegakkan bila ada satu dari kriteria : (a). Meteode yang aman. atau bising jantung terus menerus (b). Ekokardigrafi. Pemeriksaan Radiologi dihindari dalam kehamilan. 6) Diagnosis Burwell dan Metcalfe mengajukan 4 kriteria. Bila terdapat gejala decompensasi jantung pasien harus di golongkan satu kelas lebih tinggi dan segera dirawat Klasifikasi penyakit jantung dalam kehamilan (a). Pembesaran jantung yang jelas (c). Bising sistolik yang nyaring.

Kelas I Tidak memerlukan pengobatan tambahan (b). abortus. pertumbuhan janin terhambat. istirahat baring minimal 21 . Kelas III • • • Banyak pembatasan dalam kegiatan fisik Saat istirahat tidak ada keluhan Pada aktifitas fisik ringan sudah menimbulkan gejala-gejala insufisiensi jantung (d). Kelas IV • Tidak mampu melakukan aktivitas fisik apapun Komplikasi Pada ibu dapat terjadi : gagal jantung kongestif. dan menurunkan after load dengan vasodilator. Penatalaksanaan dilakukan berdasarkan klasifikasinya yaitu : (a). gawat janin. Pasien dirawat bila keadaan memburuk. kematian. hanya harus menghindari aktifitas yang berlebihan. terutama pada UK 28-32 minggu. Pada janin dapat terjadi : prematuritas. Pasien harus tidur malam cukup 8-10 jam. jantung berdebar (palpitasi cordis). Kelas II Umumnya tidak memerlukan pengobatan tambahan. Secara garis besar penatalksanaan mencakup mengurangi beban kerja jantung dengan tirah baring. meningkatkan kontraktilitas jantung dengan digitalis. BBLR. hipoksia. menurunkan preload dengan deuretik. edema paru. namun harus diawasi dengan ketat. sesak nafas atau angina pectoris (c). 7) Penatalaksanaan Sebaiknya dilakukan dalam kerjasama dengan ahli penyakit dalam atau ahli jantung.• Pada kegiatan fisik biasa timbul gejala isufisiensi jantung seperti: kelelahan. Kedua kelas ini dapat meneruskan kehamilan sampai cukup bulan dan melahirkan pervaginam. APGAR score rendah.

Bila terjadi gagal jantung mutlak harus dirawat dan berbaring 22 .8 mg. Bila terjadi takikardi. Lakukan pengawasan dengan ketat. mobilisasi bertahap dan pencegahan infeksi. Rawat pasien di RS sejak 1 minggun sebelum waktu kelahiran. Rawat pasien sampai hari ke 14. Lakukan ANC dua minggu sekali dan seminggu sekali setelah 36 minggu. bila fisik memungkinkan pasien dapat menusui. Selain itu dapat diberi oksigen. (c). morfin (1015 mg). Metode anastesi terpilih adalah epidural Kala persalinan biasanya tidak berbahaya. Jika kehamilan dipertahankan pasien harus terus berbaring selama hamil dan nifas. dapat diulang 1-2 kali dengan selang 1-2 jam. membatasi masuknya cairan (75 mll/jam) diet tinggi protein. rendah garam dan membatasi kegiatan. sesak nafas (ancaman gagal jantung). dan diuretic. Bila berlangsung 20 menit dan ibu tidak dapat dilarang meneran akhiri dengan ekstraksi cunam atau vacum dengan segera Tidak diperbolehkan memaki ergometrin karena kontraksi uterus yang bersifat tonik akan menyebabkan pengembalian darah ke sirkulasi sistemik dala jumlah besar. Pertimbangkan abortus terapeutik pada kehamilan kurang dari 12 minggu. Kelas III Dirawat di RS selam hamil terutama pada UK 28 minggu dapat diberikan diuretic (d).setengah jam setelah makan. Kelas IV Harus dirawat di RS Kedua kelas ini tidak boleh hamil karena resiko terlalu berat. Pengawasan kala I setiap 10-15 menit dan kala II setiap 10 menit. Pada kala II dapat spontan bila tidak ada gagal jantung. Lakukan persalinan pervaginam kecuali terdapat kontra indikasi obstetric. berikan digitalis berupa suntikan sedilanid IV dengan dosis awal 0. takipnea.

Diabetes Melitus Diabetes mellitus pada kehamilan adalah intoleransi karbohidrat ringan (toleransi glukosa terganggu) maupun berat (DM). Insulin ibu tidak dapat mencapai janin sehingga kadar gula ibu yang 23 . awasi dengan ketat. Glukosa dapat berdifusi secara tetap melalui plasenta kepada janin sehingga kadarnya dalam darah janin hampir menyerupai kadar darah ibu. Definisi ini mencakup pasien yang sudah mengidap DM (tetapi belum terdeteksi) yang baru diketahui saat kehamilan ini dan yang benar-benar menderita DM akibat hamil Dalam kehamilan terjadi perubahan metabolisme endokrin dan karbohidrat yang menunjang pemasokan makanan bagi janin serta persiapan untuk menyusui. dan diuretic biasanya gejala gagal jantung akan cepat hilang. d. 8) Prognosis Prognosis tergantung klasifikasi. Setelah kala III selesai. penyulit lain yang tidak berasal dari jantung. untuk menilai terjadinya decompensasi atau edema paru. terjadi atau diketahui pertama kali saat kehamilan berlangsung. Obat terpilih adalah heparin secara SC. Dengan tirah baring. digitalis. usia. dan kepatuhan pasien. Pemberian oksitosin cukup aman. Operasi pada jantungn untuk memperbaiki fungsi sebaiknya dilakukan sebelum hamil.terus sampai anak lahir. Pada wanita hamil saat yang paling baik adalah trimester II namun berbahaya bagi bayinya karena setelah operasi harus diberikan obat anti pembekuan terus menerus dan akan menyebabkan bahaya perdarahan pada persalinannya. Laktasi dilarang bagi pasien kelas III dan IV. Kelainan yang paling sering menyebabkan kematian adalah edema paru akut pada stenosis mitral. penatalaksanaan. Prognosis hasil konsepsi lebih buruk akibat dismaturitas dan gawat janin waktu persalinan. hati-hati memberikan obat tokolitik pada pasien dengan penyakit jantung karena dapat menyebabkan edema paru atau iskemia miocard terutama pada kasus stenosis aorta atau mitral. Umumnya persalinan pervaginam lebih aman namun kala II harus diakhiri dengan cunam atau vacuum.

3) Komplikasi (a). polisitemia. hipertensi kronik. PE. riwayat BBL > 4500 gr dan infeksi saluran kemih berulang selama hamil. Pengendalian kadar gula terutama dipengaruhi oleh insulin. syndroma hipomegnesemia. Terutama dilakukan pada ibu dengan factor resiko berupa beberapa kali keguguran. disamping beberapa hormon lain : estrogen. kelainan congenital. Fetal : abortus spontan. Maternal : infeksi saluran kemih. Akibat lambatbya resopsi makanan maka terjadi hiperglikemi yang relatif lama dan ini menuntut kebutuhan insulin. : prematuritas. kematian trauma lahir. steroid dan plasenta laktogen. hiperbilirubinemia. riwayat PE dan polyhidramnion. kematian intra uterin. melahirkan bayi lebih dari 4000 gr. kematian intra uterin. hydramnion. riwayat DM pada kehamilan sebelumnya. insufisiensi plasenta. makrosomia. 24 . Juga terdapat riwayat ibu : umur ibu > 30 tahun. (b). obesitas. 2) Klasifikasi (a). riwayat pernah melahirkan anak mati tanpa sebab. riwayat DM dalam keluarga. Tidak tergantung insulin (TTI) – Non Insulin Dependent diabetes mellitus (NIDDN) yaitu kasus yang tidak memerlukan insulin dalam pengendalian kadar gula darah. Tergantung insulin (TI) – Insulin dependent Diabetes Melitus yaitu kasus yan memerlukan insulin dalam mengembalikan kadar gula darah. 1) Diagnosis Deteksi dini sangat diperlukan agar penderita DM dapat dikelola sebaik-baiknya.mempengaruhi kadar pada janin. kematian ibu (b). hipoglikemia. (c). riwayat melahirkan bayi dengan cacat bawaan. Neonatal neonatal. gawat nafas. hipokalsemia.

Ibu hamil dengan DM tidak perlu dirawat bila keadaan diabetesnya terkendali baik. 2 jam sesudah makan < 120 mg/dl. Obat hipoglikemik oral tidak dapat dipakai saat hamil dan menyusui mengingat efek teratogenitas dan dikeluarkan melalui ASI. total kenaikan BB sekitar 10-12 kg.5 kg dan selanjutnya 0. dan pertumbuhan fetus normal. Bila diperlukan terminasi kehamilan. Pantau kadar glukosa darah minimal 2 kali seminggu dan kadar Hb glikosila. tidak ada ketonuria. serangannya tak sama pada kehamilan pertama dan 25 .4) Penatalaksanaan Prinsipnya adalah mencapai sasaran normoglikemia. dan secara khusus memakai USG dan KTG. namun harus selalu diperhatikan gerak janin (normalnya >20 kali/12 jam). Penatalaksanaan Obstetric Pantau ibu dan janin dengan mengukur TFU. lakukan amniosentesis dahulu untuk memastikan kematangan janin (bila UK <38 minggu). Lakukan penilaian setiap akhir minggu sejak usia kehamilan 36 minggu. Kehamilan dengan DM yang berkomplikasi harus dirawat sejak UK 34 minggu dan baisanya memerlukan insulin.5 kg /minggu. kenaikan BB pada trimester I diusahakan sebesar 1-2. dan kadar HbA1c<6%. Asma Asma Bronkiale merupakan salah satu penyakit saluran nafas yang sering dijumpai dalam kehamilan dan persalinan. mendengarkan DJJ. Ajarka pasien memantau gula darah sendiri di rumah dan anjurkan untuk kontrol 2-4 minggu sekali bahkan lebih sering lagi saat mendekati persalinan. Selain itu juga menjaga agar tidak ada episode hipoglikemia. e. Adanya makrosomia pertumbuhan janin terhambat dan gawat janin merupakan indikasi SC. yaitu kadar glukosa darah puasa < 105 mg/dl. Pengaruh kehamilan terhadap timbulnya asma tidak sama pada setiap penderita. Janin sehat dapat dilahirkan pada umur kehamilan cukup waktu (40-42 minggu) dengan persalinan biasa. bahkan pada seorang penderita asma.

dan batuk-batuk. Pada asma yang ringan dapat digunakan obat-obat local yang berbentuk inhalasi. Mencegah penggunaan obat seperti aspirin dan semacamnya yang dapat menjadi pencetus timbulnya serangan (d). infeksi saluran nafas. 26 . 3) Penatalaksanaan (a). Keadaan hipoksia bila tidak segera diatasi tentu akan berpengaruh pada janin dan sering terjadi keguguran.berikutnya. mencegah timbulnya stress (b). atau peroral seperti isoproterenol (e). sesak. Diagnosis dapat ditegakkan seperti asma diluar kehamilan. pengaruh udara dan factor psikis. 1) Komplikasi Pengaruh asma pada ibu dan janin sangat tergantung dari sering dan beratnya serangan. 2) Manifestasi Klinis Factor pencetus timbulnya asma antara lain zat-zat alergi. dan berikan antibiotika kalau ada sangkaan terdapat infeksi. Pada keadaan lebih berat penderita harus dirawat Hindari penggunaan obat-obat yang mengandung iodium karena dapat membuat gangguan pada janin. Upayakan persalinan secara spontan namun bila pasien berada dalam serangan. partus premature dan gangguan petumbuhan janin. SC atas indikasi asma jarang atau tak pernah dilakukan. Penderita selama kehamilan perlu mendapat pengawasan yang baik. lakukan VE atau Forcep. biasanya penderita mengeluh nafas pendek. Menghindari factor resiko/pencetus yang sudah diketahui secara intensif (c). Biasanya serangan akan timbul mulai UK 24-36 minggu dan pada akhir kehamilan jarang terjadi serangan. karena ibu dan janin akan kekurangan oksigen atau hipoksia. berbunyi.

diare. katarak.2. Seharusnya 27 . hydrocephalus. Kucing Organisme tempat toxoplasma gondii hidup adalah kucing. mikrosefali. limpadenopati. hepatosplenomegali. Ini berarti bahwa kucing tersebut terinfeksi karena memakan hewan pengerat dan burung pemakan daging yang terinfeksi. Sporulasi organisme ini terjadi setelah 1-5 hari dalam kotoran dan dapat dicegah dengan pembuangan sampat setiap hari. TOXOPLASMOSIS 1) Temuan klinis Toxoplasmosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh toxoplasma gondii. hipotermi. glaucoma. Oocyst dalam feses menyebar melalui udara dan ketika dihirup akan dapat menyebabkan infeksi. Berikut adalah temuan-temuan yang didapatkan pada bayi dengan infeksi toxoplasma congenital: chorioretinitis. demam. Sekitar ½ dari beberapa kucing yang diuji mempunyai antibody toxoplasma. Penularan (a). mikroftalmia. Choriuretinitis merupakan manifestasi klinis yang serinng muncul apada BBL sebagai gejala toxoplasma. Infeksi yang Menyertai Kehamilan dan Persalinan a. syaraf mata atrofi. penyakit kejang. pneumonia. (b). Daging Konsumsi daging yang terinfeksi adalah penyebab utama toxoplasma di Eropa. dimana dibatasinya penggunaan lemari pendingin dan biasanya daging tidak dibekukan. kuning. Feses kucing sudah sangat infeksius. Ibu dengan toxoplasma gondii biasanya tidak menampakan gejala walaupun 10%-20% ibu yang terinfeksi BBL dengan menderita toxoplasma congenital terinfeksi saat berada di dalam uterus secara transplacental. mual.

Anak Gejala klinis pada bayi baru lahir akan dapat ditemukan seperti pada temuan diatas.daging dimasak pada suhu yang tinggi untuk mecegah terjadinya penularan toxoplasma 2) Diagnosis (a). Ibu Diagnosa klinis toxoplasma akut tidak dapat dipercaya apabila tidak ditemukan tanda yang spesifik berkaitan dengan infeksi. Gejala klinik yang paling banyak ditemukan adalah chorioretinitis. Menunjukan hasil yang positif pada uji yang dilakukan Terjadi peningkatan antibody yang diperoleh dari serum ibu pada dua kali pemeriksaan yang berbeda. (c). Penatalaksanaan dan pencegahan 1) Ibu Prognosa pada infeksi yang akut baik. Adanya kista toxoplasma gondii pada pemerikaan histology plasenta juga mendukung kuat diagnosa infeksi pada bayi. Adanya IgM toxoplasma spesifik pada bayi baru lahir memperjelas diagnosa infeksi congenital.. atau (3).Diagnosa utama infeksi toxoplasma selama kehamilan adalah meliputi salah satu dari hal berikut: (1). kecuali pada keadaan imonosekresi yang amat besar. penyakit kuning. (b). Dosis standar pyrimethamine adalah 25 mg/hari/oral 28 . asam folimik dan sulfonamide. Diagnosa prenatal Mendiagnosa toxoplasma pada kehamilan dipercaya dengan cairan amnion atau darah janin yang dapat didiagnosa dengan amniosentesis atau cordosentesis. (a). (2). dan hepatosplenomegali. Terdeteksi antibody IgM toxoplasma . demam. Wanta hamil dengan infeksi akut dapat dirawat dengan kombinasi pyrimethamine.

5 mg/kg/hr selam 21-30 hari dan sulfadiazine dengan dosis 20 mg/kg per oral selam 1 tahun. stenosis pulmonalis. Pyrimethamine adalah musuh dari asam folik dan oleh karena itu mungkin memberikan efek teratogenik jika diberikan pada trimester I. Asam folimik diberikan dengan dosis 6 mg secara IM atau per oral setiap pada hari yang berbeda untuk mengetahui apakah benar habisnya asam folat disebsbkan oleh Pyrimethamine. kebodohan) 1) Diagnosis Diagnosis rubella tidak selalu mudah karena gejala-gejala kliniknya hampir sama dengan penyakit lain. RUBELLA Rubella dapat meningkatkan angka kematian perinatal dan sering menyebabkan cacat bawaan pada janin. mikroftalmia) Jantung (Duktus arteriosus persisten. harus dipantau. Anggota tubuh anak yang bisa menderita karena rubella: 1) 2) Mata (katarak. glaucoma. Sering dijumpai apabila infeksi dijumpai pada kehamilan trimester I (30-50%). kadang tidak jelas atau tidak 29 . Infeksi congenital pada bayi baru lahir bukan merupakan infeksius. Adanya gejala infeksi pada bayi lahir harus ditangani dengan pemberian pyrimethamine dengan dosis 1 mg/kg/hr/oral selam 34 hari. dilanjutkan dosis 0.. b.dan 1 gr sulfadiazine peroral 4 X/hari selam 1 tahun.. apabila tidak terinfeksi harus menunjukan adanya penurunan titer antibody IgG terhadap toxoplasma. septum terbuka) 3) 4) Alat pendengaran (tuli) Susunan syaraf pusat (meningoensefalitis. Pada bayi yang Tidak ditemukannya temuan yang lain yang mencurigakan terjadinya infeksi congenital. oleh karena itu tidak perlu diisolasi. Bayi baru lahir yang tidak menunjukan infeksi dan positif antibody IgG toxoplasma spesifiknya mungkin didapatkan dari ibunya secara transplasetal.

Virus pada rubella sering mencapai dan merusak embrio dan fetus.8% dalam trimester II dan 5. Setelah trimester I. Imunitas 1:10 atau lebih Imunitas rendah < 1:10 Indikasi adanya infeksi saat ini ≥ 1:64 Apabila wanita hamil dalam trimester I menderita viremia. (c). Kelenjar leher membengkak Durasi 3-5 hari Hingga kini tidak ada obat-obatna yang dapat mencegah viremia pada orang yang tidak kebal. 30 . diberikan sebelum perkawinan. (d). Nilai titer antibody (a). vaksinasi ini sering menimbulkan artralgia atau arthritis. Akan tetapi. dan pula vaksinasi yang dilakukan tidak lama sebelum terjadinya kehamilan atau dalam kehamilan dapat menyebabkan infeksi janin. kemungkinan cacat bawaan menjadi kurang yaitu 6. maka abortus buatan perlu dipertimbangkan. manfaat gamaglobulin dap\lam hal ini masih diragukan. Tanda dan Gejala klinis: (a).ada sama sekali. Karena itu. kontraindikasi pada kehamilan adalah menghindari konsepsi selama 3 bulan setelah vaksinasi. Demam-ringan Merasa mengantuk Sakit tenggorok Kemerahan sampai merah terang atau pucat. lebih baik vaksinasi Pemberian vaksin pada wanita selam kunjungan prekonsepsi dianjurkan untuk uji serologi varicella apabila klien selama masa kanak-kanaknya tidak mempunyai riwayat infeksi.3% dalam trimester III. kemudian menghilang secara cepat (e). (f).. Diagnosis pasti dapat dibuat dengan isolasi virus atau dengan dotemukannya kenaikan titer anti rubella dalam serum. (c). menyebar secara cepat dari wajah ke seluruh tubuh. yang lebih manjur ialah vaksin rubella. (b). (b).

Bila infeksi terjadi pada trimester I atau awal trimester kedua dapat timbul keadaan hydrocephalus. ASI. gangguan pendengaran. Bila diketahui terdapat gejala infeksi. hernia. purpura. Hingga kini tidak dikenal pengobatan yang manjur bagi penyakit ini bagi ibu maupun neonatus. mikrocephalus. 31 . dan pneumonitis. Kematian bayi dapat pula disebabkan oleh ensefalitis herpes virus. Bila infeksi terjadi pada bulan-bulan terakhir kehamilan dapat dijumpai hepatosplenomegali. 10-15% anak yang mengalami infeksi congenital akan mengalami cacat bawaan. faring. atau pada konjungtiva dan selaput lendir mulut. Ibu dengan status imunitas yang rendah dan infeksi yang berat perlu diberi obat antivirus. trombositopeni. maka dapat diberi pengobatan simptomatik dan istirahat. HERPES Infeksi herpes virus hominis pada orang dewasa biasanya ringan. Virus biasanya dapat diisolasi dalam pembiakan jaringan. Diagnosis pada ibu ditegaskan melalui pemeriksaan serologik (biasanya dengan cara ELISA). Infeksi yang terjadi setelah lahir ini akan menampilkan gejala pneumonia. Kesulitan lain ialah bahwa infeksi CMV pada ibu biasanya tidak menimbulkan gejala dan sering tidak diketahui. Pada bayi dapat dijumpai gelembung-gelembung pada kulit di seluruh badan. penyakit ini dapat menyebabkan kematian janin dan bayi. CMV (CITOMEGALO VIRUS) Infeksi primer CMV dapat terjadi dengan frekuensi 1-2%. infeksi dapat sampai ke BBL melalui kontak virus dari serrvik. korioretinitis.c. dan urin ibu yang melahirkannya. retardasi mental dan mungkin ditemukan kalsifikasi serebral. hepatosplenomegali dan sepsis yang tarjadi pada bulan pertama kehidupannya. d. Infeksi congenital kekerapannya adalah 1-2% dari kehamilan. karena klinis tidak menunjukkan gejala yang khas. Walaupun jarang. Selain melalui plasenta. Walaupun demikian. Transfusi darah juga dapat menularkan infeksi CMV. mikroftalmia.

Virus tipe II dapat menyebabkan herpes genitalis dengan gelembung-gelembung berisi cairan di vulva, vagina, dan servik, yang dikenal juga dengan nama herpes simpleks. Penularan kepada anak dapat terjadi melalui: (a). Hematigen melalui plasenta (b). Akibat penjalaran ke atas dari vagina ke janin apabila ketuban pecah (c). Melalui kontak langsung pada waktu bayi lahir Diagnosis tidak sulit yaitu apabila terdapat gelambunggelambung di daerah alat kelamin, ditemukannya benda-benda inklusi intranuklear yang khas di dalam sel-sel epitel vulva, vagina atau servik setelah dipulas menurut papanicolau, memberi kepastian dalam diagnosis. Herpes genitalis merupakan infeksi virus yang senantiasa bersifat kronik, recurrent, dan dapat dikatakan sulit diobati. Sampai saat ini hanya satu cara pengobatan herpese yang cukup efektif, yaitu antivirus yang disebut acyclovir. Acyclovir dalam kehamilan tidak dianjurkan,

kecuali bila infeksi yang terjadi merupakan keadaan yang mengancam kematian ibu, seperti adanya ensefalitis, pneumonitis, dan atau hepatitis, dimana acyclovir dapat diberikan secara IV. SC dianjurkan pada wanita yang pada saat kelahiran menunjukkan gejala-gejala akut pada genetalia, untuk menghindari penularan akibat kontak langsung. Karena bila dengan persalinan pervaginam 50% bayi akan mengalami infeksi. Pada pasca persalinan, ibu yang menderita herpes aktif harus diisolasi. Bayinya dapat diberikan untuk menyusui bila ibu telah cuci tangan mengganti baju yang bersih.

e. SYPHILIS Infeksi syphilis (lues) yang disebabkan oleh Treponema pallidum, baik yang sudah lama maupun yang baru diderita oleh ibu dapat ditularkan kepada janin. Syphilis kongenita merupakan bentuk penyakit syphilis yang terberat. Infeksi pada janin dapat terjadi setiap saat dalam

32

kehamilan, dengan derajat risiko infeksi yang tergantung jumlah spiroketa (treponema) di dalam darah ibu. Sudah diketahui secara umum bahwa syphilis mempunyai pengaruh buruk pada janin: dapat menyebabkan kematian janin, partus immaturus, dan partus prematurus. Dalam hal demikian dapat dijumpai gejala-gejala syphilis kongenita, diantaranya pemfigus syfilitikus,

deskwamasi pada telapak kaki dan tangan, serta rhagade di kanan-kiri mulut. Pada persalinan tampak janin atau plasenta yang hidropik. Syphilis harus diobati segera setelah diagnosis dibuat, tanpa memandang tuanya kehamilan. Lebih dini dalam kehamilan pengobatan diberikan, lebih baik prognosis bagi janin. Syphilis primer yang tidak diobati dengan adekuat, 25% akan menjadi syphilis sekunder dalam waktu 4 tahun. Bayi yang lahir dari ibu dengan syphilis boleh tetap mendapat ASI. Bila ibu tersebut masih menderita lesi pada kulit, kontak dengan bayinya harus dihindari.

f. VARICELLA (CACAR AIR/CHICKEN POX) Varicella merupakan penyakit anak-anak dan sangat jarang dijumpai dalam kehamilan dan nifas. Walaupun umumnya cacar air itu suatu penyakit ringan, namun pada wanita hamil kadang-kadang bisa menjadi berat dan dapat menyebabkan partus prematurus. Disangka

bahwa telah terjadi penularan intra uterin apabila gelambung-gelambung timbul dalam 10 hari setelah kelahiran. Frekuensi cacar bawaan tidak lebih tinggi pada para bayi yang lahir dari ibu yang menderita cacar air dalam masa hamil. g. INFEKSI TRAKTUS URINARIUS Infeksi saluran kencing adalah infeksi bakteri yang paling sering dijumpai pada kehamilan. Walaupun bakteri uria asimtomatik merupakan hal biasa, infeksi simtomatik dapat mengenai salran bawah yang

33

menyebabkan sisititis, atau menyerang kaliks, pelvis, dan parenkim ginjal sehingga mengakibatkan pielonefritis. Organisme yang emnyebabkan infeksi saluran kemih berasal dari flora normal perineum. Sekarang terdapat bukti bahwa beberapa galur escherichia coli memiliki pili yang meningkatkan virulensinya. Walaupun kehamilan itu sendiri tampaknya tidak meningkatkan factor-faktor virulensi ini, stasis air kemih tampaknya menyebabkan hal itu, dan bersama dengan revluksvesikoureter, stasis mempermudah timbulnya gejala infeksi saluran kemih bagian atas. Overdistsnsi yang disertai kateterisasi untuk mengeluarkan iar kemih sering menyebabkan infeksi saluran kemih. a. Bakteriuria Asimtomatik kondisi ini mengacu pada perkembangan bakteri yang terusmenerus secara aktif di dalamsaluran kemih tampa menimbulkan gejala. Insiden selama kehamilan bergantung pada paritas, ras dan status social ekonomi b. Sistitis Dan Uretritis Biasanya sistitis di tandai oleh disuria, urgensi dan frekuensi. Biasanya ditemukan bakteri uria dan piuria. c. Pielonefritis Akut Infeksi ginjal merupakan penyulit medis paling serius pada kehamilan, terjadi pada sekitar 2 % wanita hamil. Keseriusan pielonefritis akut selam kehamilan digaris bawahi sebagai penyebab utama syok septic selama kehamilan. Infeksi ginjal lebih sering terjadi setelah pertengahan kehamilan, pada lebih dari separuh kasus penyakitnya unilateral dan di sisi kanan, sedangkan pada ¼ bilateral. Pada sebagian besar wanita, infeksi disebabkan oleh bakteri yang naik dari saluran kemih bawah. Antara 75-90 % infeksi ginjal disebabkan oleh bakteri yang meimiliki adehesin fimbriae-P. Gejala meliputi demam, menggigil hebat, dan nyeri tumpul di salah satu atau kedua regio lumbal. Pasien mungkin

34

h. walaupun kemingkinan juga dapat karena virus hepatitis A atau Hepatitis C. solusio plasenta. akan tetapi jarang dijumpai kelainan congenital (anomaly pada janin). Tidak dianjurka untuk melakukan terminasi kehamilan dengna induksi atau SC. pielonefritis dapat disangka sebagai proses persalinan. Sedangkan pada trimester II dan III sering terjadi premature. bila perlu IV 2.mengalami anoreksia. Kontrol kadar bilirubun. seringkali dalam gumpalangumpalan dan banyak bakteri. Periksa HbsAg 4. Istirahat. mual dan muntah. appendicitis. koriamnionitis. karena akan mempertinggi risiko pada ibu. HEPATITIS Hepatitis infeksiosa disebabkan oleh virus dan merupakan penyakit hati yang paling sering dijumpai dalam kehamilan. rasa nyeri biasanya dapat ditimbulkan dengan perkusi disalah satu atau kedua sudut costovertebra. waktu lahir. atau infark myoma. serum glutamic piruvic transaminase (SGPT). Walaupun diagnosis biasanya mudah. diberi nutrisi dan cairan yang cukup. Pada hepatitis B janin kemungkinan dapat tertular melalui plasenta. Penatalaksanaan 1. Sedimen urin sering mengandung banyak leukosit. walaupun masih masih kontroversi penularan melalui air susu. serum glutamic oksaloasetik transaminase (SGOT). Pada wanita hamil. factor 35 . Pada trimester I dapat terjadi keguguran. atau masa neonatus. hepatitis virus dapat terjadi pula setiap saat kehamilan dan mempunyai pengaruh buruk pada janin maupun ibunya. Isolasi cairan lambung dalam atau cairan badan lainnya dan ingatkan tentang pentingnya janin dipisahkan dengan ibunya 3. pemyebab hepatitis infeksiosa terutama oleh virus hepatitis B. dan masa nifas disangka sebagai metritis dengan selulitis panggul. Perjalanan penyakit dapat sangat bervariasi dengan demam sampai setenggi 40 °C atau lebih dan hipotermia sampai 34°C.

Cegah penggunaan obat-obat yang bersifat hepatotoksik 6. Bila telah terdiagnosis adanya AIDS perlu dilakukan pemeriksaan apakah ada infeksi PHS lainnya. herpes. karena banyak obat belum diketahui dampak buruknya dalam kehamilan. terutama pneumocystis carinii pneumonia. SC bukan merupakan indikasi untuk menurunkan risiko infeksi pada bayi yang dilahirkan. Tindakan operasi seperti SC akan memperburuk prognosis ibu 8. atau mungkin menderita candidiasis orofaring maupun vagina. hepatitis. Pada bayi yang baru dilahirkan dalam 2x24 jam diberi suntikan anti hepatitis serum i. Penderita AIDS mempunyai gejal awal yang tidak spesifik seperti fatique. Pengobatan infeksi HIV dan penyakit oportunisyiknya dalam kehamilan merupakan masalah.pembekuan darah. Sampai saat ini belum ada pengobatan AIDS yang memuaskan. luka episiotomi ataupun luka SC. Penularan kepada penolong persalinan dapat terjadi dengan rate 0-1% pertahun exposure. ataupun infeksi toksoplasmik. chlamydia. Kematian pada ibu hamil dengan HIV positif kebanyakan disebabkan oleh penyakit oportunisyik yang menyetainya. karena kemungkinan telah ada disseminated intravaskular coagulapathy (DIC) 5. Pemberian AZT (Zidovudine) dapat memperlambat kematian dan menurunkan frekuensi serta beratnya infeksi oportunistik. sepeerti gonorrhea. Pada ibu yang HbsAg positif perlu diperiksa HbsAg anak karena kemungkinan terjadi penularan melalui darah tali pusat 7. Perawatan pascapersalinan perlu diperhatikan yaitu kemungkinan penularan melalui pembalut wanita. CMV. HIV/AIDS Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kehamilan dapat memperberat kondisi klinik wanita dengan infeksi HIV. BB menurun. anoreksia. Dalam persalinan. lochea. Untuk perawatan bayi. TBC dan lain-lain. sebaiknya dilakukan oleh dokter anak yang 36 .

Infeksi pada bayi mungkin baru tampak pada usia 12-18 bulan. Jantung. misalnya jangan lakukan sirkumsisi. Asma maka dalam kehamilanna akan benyak mengalami komplikasi dai penyakitnya tesebut. dan karena kemungkinan penuluaran oleh ibu melalui jalan lain tetap ada. Tifus abdominalis tidak merupakan indikasi bagi abortus buatan.khusus untuk menangani kasus ini. Rangkuman Materi Pada masa kehamilan pesalinan dan nifas tubuh wanita hamil besalin dan nifas akan mengalami peubahan fisiologis untuk menusuaikan diri. Kumankuman tufus abdominalis tidak di keluarkan melalui air susu. ginjal. Perawatan tali pusat harus dijalankan dengan cermat. Imunisasi yang menggunakan virus hidup sebaiknya ditunda sampai terbukti bahwa bayi tersebut tidak menderita virus HIV. dan nifas menunjukan angka kematian yang lebih tinggi dari pada di luar kehamilan. Antibodi yang didapatkan pasif dari ibu akan dapat bertahan sampai 15 bulan. TYPUS ABDOMINALIS Typus abdominalis dalam kehamilan. C. Jadi diperlukan pemeriksaan ulang berkala untuk menentukan adanya perubahan ke arah negatif atau tidak. namun sebaiknya penderita tidak menyusui bayinya karena keadaan umum ibu biasanya tidak mengizinkan. j. Wanita yang mempunyai penyakit sebelum hamilnya sepeti penyakit pada paru-paruna atau TBC. harus diusahakan agar pada bayi tidak dilakukan tindakan yang membuat perlukaan bila tidak perlu betul. Dalam 60-80 % hasil konsepsi keluar secara spontan : lebih dini terjadinya infeksi dalam kehamilan. namun tidak menutup kemungkinan bahwa hamil dan bersalin dapat mempeberat atau diperberat oleh berbagai penyakit yang bedampak pada beratnya pesalinan dan nifasnya. lebih besar kemungkinan berakhirnya kehamilan. Pengobatan dengan kloramfenikol atau tiamfenikol (Urfamycin). Diabetes Militus. Perawatan ibu dan bayi tidak perlu dipisah. Selain penakit ibu hamil besalin dan nifas entan mengalami infeksi 37 . Penyakit ini mempunyai pengaruh buruk terhadap kehamilan.

Sebutkan temuan-temuan pada bayi yang teinfeksi Toxoplasma! E. Diskusikan tentang klasifikasi penyakit jantung pada kehamilan dan penatalaksanaannya ! 2. sesak nafas atau angina pectori (c). Hepatitis. Kelas III • • • Banyak pembatasan dalam kegiatan fisik Saat istirahat tidak ada keluhan Pada aktifitas fisik ringan sudah menimbulkan gejala-gejala insufisiensi jantung (d). Toxoplasmosis. Kelas I • • • • • Tanpa pembatasan kegiatan fisik Tanpa gejala penyakit jantung pada kegiatan biasa (b). Kelas II Sedikit pembatasan kegiatan fisik Saat istirahat tidak ada keluhan Pada kegiatan fisik biasa timbul gejala isufisiensi jantung seperti: kelelahan. D. dan menurunkan after load dengan vasodilator. Latihan / Tugas 1. Kelas IV • Tidak mampu melakukan aktivitas fisik apapun Penatalaksanaan Sebaiknya dilakukan dalam kerjasama dengan ahli penyakit dalam atau ahli jantung.Rambu Jawaban Soal 1. Rambu. Rubella.sepeti Sypilis CMV. meningkatkan kontraktilitas jantung dengan digitalis. Secara garis besar penatalksanaan mencakup mengurangi beban kerja jantung dengan tirah baring. menurunkan preload dengan deuretik. Klasifikasi penyakit jantung dalam kehamilan (a). Herpes. Varicella. jantung berdebar (palpitasi cordis). Typus Abdominalis. HIV/AIDS. Penatalaksanaan dilakukan berdasarkan klasifikasinya yaitu : 38 . Infeksi Tranktus Urinarius.

Midwifery. YBPSP 2. Jakarta. 2001 Varney’s H. syaraf mata atrofi. F. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. penyakit kuning. 3. Lakukan pengawasan dengan ketat. Jones and Bartlett Publisher Mayes. Pengawasan kala I setiap 10-15 menit dan kala II setiap 10 menit. hipotermi. Pada kala II dapat spontan bila tidak ada gagal jantung. mikroftalmia. Midwifery. 2001. mual. Kelas IV Harus dirawat di RS 2.(a). Kedua kelas ini dapat meneruskan kehamilan sampai cukup bulan dan melahirkan pervaginam. hepatosplenomegali. hydrocephalus. namun harus diawasi dengan ketat. Kelas II Umumnya tidak memerlukan pengobatan tambahan. demam. Bila berlangsung 20 menit dan ibu tidak dapat dilarang meneran akhiri dengan ekstraksi cunam atau vacum dengan segera (c). diare. pneumonia. Buku Panduan Praktis Maternal dan Neonatal. Berikut adalah temuan-temuan yang didapatkan pada bayi dengan infeksi toxoplasma congenital: chorioretinitis. UK. hanya harus menghindari aktifitas yang berlebihan. 4. katarak. Pasien dirawat bila keadaan memburuk. glaucoma. Kelas III Dirawat di RS selam hamil terutama pada UK 28 minggu dapat diberikan diuretic (d). kejang. mikrosefali. Syaifudin. terutama pada UK 28-32 minggu. Kelas I Tidak memerlukan pengobatan tambahan (b). 1997. limpadenopati. Kala persalinan biasanya tidak berbahaya. Daftar Pustaka 1. 12 th Edition 2000 39 .

1999.5. 7. 1998. 1999. Ilmu kandungan. 2006. 40 . Tidak diterbitkan. 6. dkk. Sinopsis Obstetri Jilid I. dkk. Workshop kurikulum mata ajar Askeb IV. Jakata. Jakarta. 8. YBPSP Hanifa. Jakarta Hanifa. Mochtar R. Ilmu Kebidanan. YBPSP Tim pengajar askeb IV.

Pemeriksaan kadar hemoglobin selama pengawasan antenatal. Uraian Materi 1. e). Kompetensi dasar Mampu menjelaskan komplikasi. jumlah darah bertambah (hiperemia/hipervolumia) karena itu terjadi pengenceran darah karena sel-sel darah tidak sebanding pertambahannya dengan plasma darah.BAB III ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU DENGAN KOMPLIKASI. Komplikasi dan Penyulit Kehamilan Trimester I dan II a. Malabsorpsi d). atau bila kurang dari 6 gr%. Dalam kehamilan. paru. disebut anemia berat. disebut anemia gravis. 41 . 1) Penyebab anemia umumnya adalah: a). Wanita hamil mempunyai nilai normal hemoglobin 12-15 gr% dan hematokrit 35-54. KELAINAN DAN PENYAKIT DALAM KEHAMILAN A. Kurang gizi (malnutrisi) b). haid dan lain-lain. Kurang zat besi dalam diet c). Penyakit-penyakit kronis: tbc. cacing usus. III. B. Anemia Dalam Kehamilan Baik di negara maju maupun di negara berkembang. Kehilangan darah yang banyak: persalinan yang lalu. seseorang disebut menderita anemia bila kadar hemoglobin (Hb) kurang dari 10 gr%. II. malaria dan lain-lain. kelainan dan penyakit dalam kehamilan trimester I. sebaiknya pemeriksaan dilakukan setiap 3 bulan atau paling sedikit 1 kali pada pemeriksaan pertama atau pada triwulan 1 dan sekali lagi pada triwulan akhir.

b) Anemia megaloblastik Anemia megaloblastik biasanya berbentuk makrositik atau pernisiosa.5 x 0. jectofer dan ferrigen. Penyebabnya telah dibicarakan di atas sebagai penyebab anemia umumnya. LIPI Indonesia (1968): 12 mg-17 mg-17 mg Kemasan zat besi dapat diberikan per oral atau parental (1). hamil dan dalam laktasi yang dianjurkan adalah: (1). jarang 42 . kemasan diberikan secara intramuskuler atau intravena. Parenteral: diberikan bila ibu hamil tidak tahan pemberian per oral atau absorbsi di saluran pencernaan kurang baik. Penyebabnya adalah karena kekurangan asam folik. imferon. Hasilnya lebih cepat dibandingkan per oral.29 mg (2). 2) Klasifikasi anemia dalam kehamilan: a) Anemia defisiensi besi Anemia jenis ini biasanya berbentuk normositik dan hipokromik serta paling banyak dijumpai. Kemasan ini antara lain. Per oral: sulfas serosus atau glukonas ferosus dengan dosis 3. FNB Amerika Serikat (1958): 12 mg-15 mg-15 mg (2).Perbandingan pertambahan tersebut adalah: a) b) c) Plasma darah bertambah: 30 % Sel-sel darah bertambah: 18 % Hemoglobin bertambah: 19 % Secara fisiologis. pengenceran darah ini adalah untuk membantu meringankan kerja jantung. Pengobatan: Keperluan zat besi untuk wanita non hamil.

disebabkan malaria. dijumpai pada anemia hemolitik heriditer. kelelahan. d) Anemia hemolitik Anemia hemolitik disebabkan penghancuran/pemecahan sel darah merah yang lebih cepat dari pembuatannya. Vitamin B12 3x1 tablet per hari (3). dan dapat beserta obat-obatan. 43 . Tirapi dengan obat-obatan tidak memuaskan: mungkin pengobatan yang paling baik yaitu tranfusi darah. Penyebabnya belum diketahui. keracunan zat logam. pemeriksaan fungsi sternal. yang perlu sering diulang. kecuali yang disebabkan oleh infeksi berat (sepsis). penyakit hodgkin Gejala utama adalah anemia dengan kelainan-kelainan gambaran darah.selaki akibat karena kekurangan vitamin B12. sepsis. Asam folik 15-30 mg per hari (2). Ini dapat disebabkan oleh: (1). Faktor intrakorpuskuler. leukemia. talasemia. Sulfas ferosus 3x1 tablet per hari (4). Pada kasus berat dan pengobatan per oral hasilnya lamban sehingga dapat diberikan transfusi darah c) Anemia hipoplasti Anemia hipoplasti disebabkan oleh hipofungsi sumsum tulang membentuk sel-sel darah merah baru. Pengobatan: (1). dan sinar rontgen atau sinar radiasi. Untuk diagnosis diperlukan pemeriksaan : darah tepi lengkap. Biasanya karena malnutrisi dan infeksi yang kronik. pemeriksaan retikulosit. leracunan. anemia sel sickle (sabit) (2). seerta gejala komplikasi bila terjadi kelainan pada organorgan vital. Faktor ekstrakorpuskuler.

memegang peranan yang sangat penting. Gejala tersebut kurang lebih terjadi 6 minggu setelah hari pertama haid terakhir dan berlangsung selama kurang lebih 10 minggu. perubahan matabolik akibat hamil dan resistensi ibu yang menurun dan alergi merupakan salah satu respon dari jaringan ibu terhadap anak 3) Faktor psikologik. namun beberapa faktor mempunyai pengaruh antara lain: 1) Faktor Predisposisi. karena terjadi dehidrasi. Maka tranfusi darah yang berulang dapat membantu penderita ini. takut terhadap tanggung jawab sebagai ibu. kehamilan ganda karena peningkatan kadar HCG 2) Faktor Organik. 4) Faktor endokrin lain. HIPEREMESIS GRAVIDARUM Hiperemesis gravidarum adalah mual dan muntah yang berlebihan pada wanita hamil sehingga mengganggu pekerjaan sehari-hari dan keadaan umumnya menjadi buruk. takut terhadap kehamilan dan persalinan. Bila disebabkan oleh infeksi maka infeksinya diberantas dan diberikan obat-obat penambah darah.Pengobatan bergantung pada jenis anemia hemolitik serta penyebabnya. kehilangan pekerjaan. diabetes. sering terjadi pada primigravida. mola hidatidosa. Biasanya terjadi pada kehamilan trimester I. misalnya rumah tangga yang retak. Namun. hipertiroid 44 . b. hal ini tidak memberi hasil. karena masuknya Vili khorialis dalam sirkulasi maternal. pada beberapa jenis obatobatan. Penyebab hiperemesisi gravidarrum belum diketahui secara pasti.

berat badan turun. akan mengalami emesis gravidarum yang lebih berat. lidah kering dan kotor. kesadaran sangat menurun. nyeri epigastrium nadi sekitar 100x/mnt. lemah. asam hidroksi butirik dan aseton dalam darah. bila terjadi terus menerus dapat menyebabkan dehidrasi dan tidak imbangnya elektrolit dengan alkalosis hipokloremik. mata cekung. halus dan cepat. ikterus ringan. mata cekung. Dapat terjadi ensekalopati wernicke Hiperemesis gravidarum yang merupakan komplikasi mual dan muntah pada hamil muda. terjadilah ketosis dengan tertimbunnya asam aseton-asetik. dari nafas berbau aseton 3) Tingkat III : berat Keadaan umum jelek. apatis. nadi kecil. tensi turun. oliguria dan konstipasi. 2) Tingkat II : sedang Mual dan muntah yang hebat menyebabkan keadaan umum penderita lebih parah.Gejala Dan Tingkat Menurut berat dan ringannya dibagi menjadi 3: 1) Tingkat I : ringan Mual muntah terus menerus yang menyebabkan penderita lemah. tekanan darah sistolik turun. tensi turun sekali. Hiperemesis gravidarum dapat mengakibatkan cadangan karbohidrat dan lemak habis terpakai untuk keperluan energi. turgor kulit berkurang. wanita yang sebelum kehamilan sudah menderita lambung spastik dengan gejala tidak suka makan dan mual. Karena oksidasi lemak yang tidak sempurna. suhu badan naik. dapat pula terjadi asotonuria. suhu badan naik (dehidrasi). ikterus. dehidrasi berat. lidah kering. Kekurangannya cairan yang diminum dan kehilangan cairan karena 45 . tidak ada nafsu makan. hemokonsentrasi. berat badan turun. somnolen sampai koma. nadi kecil dan cepat. turgor kulit mulai jelek.

dapat terjadi robekan pada selaput lendir esofagus dan lambung. Disamping dehidrasi dan terganggunya keseimbangan elektrolit. Selain itu dehidrasi menyebabkan hemokonsentrasi. Pencegahan lain yaitu tentang diit ibu hamil dan defekasi yang teratur (b). menambah frekuensi muntah-muntah yang lebih banyak. sehingga cairan ekstraseluler dan plasma berkurang. Pencegahan. dan anti mulas (c). Terapi obat. Tanda dan gejala i. Penanganan pasien dengan Hiperemesis Gravidarum : (a). sehingga aliran darah ke jaringan berkurang.Perdarahan vagina: merah segar atau coklat ii. Kekurangan kalium sebagai akibat dari muntah dan bertambahnya ekskresi lewat ginjal. dapat merusak hati. c. ABORTUS 1) Abortus imminens (a). antasida. penerangan bahwa kehamilan dan persalinan merupakan proses fisiologis.muntah menyebabkan dehidrasi. vitamin. Hiperemesis gravidarum tingkat II dan III harus dirawat inap di RS. Hal ini menyebabkan jumlah zat makanan dan oksigen kejaringan mengurang pula dan tertimbunnya zat metabolik yang toksik.Kram abdomen bagian bawah atau sakit punggung normal 46 .Dapat terjadi terus menerus untuk beberapa hari sampai 2 minggu iv. Natrium dan khlorida darah turun. menggunakan sedative. dengan akibat perdarahan gastrointestinal. demikian pula khlorida air kemih. anti muntah.Jumlah perdarahan sedikit/ perdarahan bercak iii.

tidak melakukan irigasi. tenangkan 47 . atau memasukkan sesuatu ke vagina) iii. dan jika mungkin untuk menenangkan wanita. tonjolan kantong ketuban. dapat dilakukan menentukan pemeriksaan ultrasuara untuk kelangsungan hidup janin. Manajemen Trimester I dengan sedikit perdarahan. dilatasi. Segera beritahu bidan jika terdapat : • • • • • • Perdarahan meningkat Kram dan nyeri pinggang meningkat Semburan cairan dari vagina Demam atau gejala mirip flu v. Periksakan pada hari berikutnya di rumah sakit Evaluasi tanda-tanda vital Pemeriksaan dengan speculum-merupakan skrining vaginitis dan servisitis. effacement. observasi bukaan serviks. Tidak melakukan aktivitas seksual yang menimbulkan orgasme iv. jenis dan Rh (jika belum ada) • Jika pemeriksaan negative.(b). Tirah baring tidak terlalu bermanfaat. aktivitas normal dapat dilanjutkan kembali kecuali wanita merasa tidak nyaman atau lebih memilih untuk istirahat ii. tanpa disertai kram i. Dapatkan nilai hemoglobin dan hematokrit. serta kondisi ketuban. atau bagian-bagian janin • Pemeriksaan bimanual-ukuran uterus. Jika pemeriksaan fisik dan ultrasuara negatif. tanggal kelahiran. nyeri tekan. bekuan darah. Istirahatkan panggul (tidak berhubungan seksual.

wanita. atau hasil pemeriksaan fisik dan ultrasuara menunjukan hasil abnormal 2) Abortus Insipiens Keguguran membakat ini tidak dapat dihentikan. kaji ulang gejala bahaya dan pertahankan nilai normal • Konsultasi ke dokter jika terjadi perdarahan hebat. Segera lakukan persiapan untuk pengeluaran hasil konsepsi dari uterus (b). Tunggu ekspulsi spontan hasil konsepsi. lakukan evakuasi uterus dengan Aspirasi Vakum Manual (AVM). Abortus ditandai dengan: a) b) c) Perdarahan lebih banyak Perut mules (sakit) lebih hebat Pada pemeriksaan dijumpai perdarahan lebih banyak. kemudian evakuasi sisa-sisa hasil konsepsi (2). karena setiap saat dapat terjadi ancaman perdarahan dan pengeluaran hasil konsepsi. kanalis servikalis terbuka dan jaringan/hasil konsepsi dapat teraba Penanganan untuk abotus a) Jika usia kehamilan kurang dari 16 minggu. Berikan ergometrin 0.M (dapat diulang sesudah 15 menit jika perlu) atau misoprostol 400 mcg per oral (dapat diulang sesudah 4 jam jika perlu) (2). Jika perlu. lakukan infus 20 unit oksitosin dalam 500 ml cairan I. Jika usia kehamilan lebih dari 16 minggu: (1). Jika evakuasi tidak dapat segera dilakukan: (1). kram meningkat.V (garam fisiologik atau larutan Ringer Laktat) dengan kecepatan 40 tetes per menit untuk membantu ekspulsi hasil konsepsi 48 .2 mg I.

2 mg I. beri ergometrin 0. Jika perdarahan berhenti. beri ergometrin 0. kuret tajam sebaiknya hanya dilakukan jika aspirasi vakum manual tidak tersedia. Aspirasi Vakum Manual (AVM). (c). Jika evakuasi belum dapat dilakukan segera. evakuasi dapat dilakukan secara digital atau dengan cunam ovum untuk mengeluarkan hasil konsepsi yang keluar melalui serviks. Jika perdarahan banyak atau terus berlangsung dan usia kehamilan kurang dari 16 minggu. Pastikan untuk tetap memantau kondisi ibu setelah penanganan 3) Abortus Inkomplit Ditandai dengan dikeluarkannya sebagian hasil konsepsi dari uterus.M (diulangi setelah 15 menit jika 49 .2 mg I.M atau misoprostol 400 mcg per oral (a).(3). evakuasi sisa hasil konsepsi dengan: (b). Gejala klinis yang dapat terjadi: a) Perdarahan berlangsung terus b) Perdarahan mendadak c) Disertai infeksi dengan suhu tinggi d) Dapat terjadi degenerasi ganas (korio karsinoma) Pada pemeriksaan dijumpai gambaran: a) Kanalis servikalis terbuka b) Dapat diraba jaringan dalam rahim atau dikanalis servikalis c) Kanalis servikalis tertutup dan perdarahan berlangsung terus d) Dengan pemeriksaan sonde perdarahan bertambah Penanganan a) Jika perdarahan tidak terlalu banyak dan kehamilan kurang dari 16 minggu.

perdarahan sedikit. KET Perjalanan hasil konsepsi dapat terganggu dalam perjalanan sehingga tersangkut dalam lumen tuba. Evakuasi sisa hasil konsepsi yang tertinggal dalam uterus. Tuba falopii tidak mempunyai kemampuan untuk berkembang dan menampung pertumbuhan janin sehingga setiap saat kehamilan yang terjadi terancam pecah. 4) Abortus Komplit Seluruh hasil konsepsi telah dikeluarkan. Konseling asuhan pascakeguguran dan pemantauan lanjut 50 . c) Pastikan untuk tetap memantau kondisi ibu setelah penanganan. Berikan infus oksitosin 20 unit dalam 500 ml cairan I.perlu) atau misoprostol 400 mcg per oral (dapat diulangi setelah 4 jam jika perlu) b) Jika kehamilan lebih dari 16 minggu: (a).V (garam fisiologik atau Ringer Laktat) dengan kecepatan 40 tetes/menit sampai terjadi ekspulsi hasil konsepsi (b). sehingga tidak memerlukan tindakan. Penanganan: a) b) c) Tidak perlu evakuasi lagi Observasi untuk melihat adanya perdarahan banyak Pastikan untuk tetap memantau kondisi ibu setelah penanganan d) Apabila terdapat anemia sedang. Jika perlu berikan misoprostol 200 mcg pervaginam setiap 4 jam sampai terjadi ekspulsi hasil konsepsi (maksimal 800 mcg). Gambaran klinisnya adalah uterus mengecil. dan kanalis telah tertutup. jika anemia berat berikan transfusi darah e) d. berikan tablet sulfas ferrosus 600 mg/hari selama 2 minggu.

Tuba falopii merupakan tempat tersering untuk terjadinya implantasi kehamilan ektopik (lebih besar dari 90%) Tanda dan gejalanya sangatlah bervariasi bergantung pada pecah atau tidaknya kehamilan tersebut. Diagnosis banding a) Abortus iminens b) Penyakit radang panggul baik akut maupun kronis c) Kista ovarium (terpuntir atau ruptur) dan apendisitis akut d) Tanda dan gejala kehamilan ektopik Kehamilan Ektopik • Gejala kehamilan awal (flek atau perdarahan yang ireguler. mual. pembesaran payudara. Kehamilan Ektopik Terganggu • Kolaps dan kelelahan • Denyut • Hipotensi • Hipovolemia • Abdomen akut dan nyeri pelvis • Distensi abdomen(a) • Nyeri lepas • Pucat e) Distensi abdomen dengan shifting dullness merupakan petunjuk adanya darah bebas. perlunakan serviks. nadi cepat dan lemah (110x/menit atau lebih) perubahan warna pada vagina dan serviks. pembesaran uterus. segera mulai penanganan. Alat penting yang dapat digunakan untuk mendiagnosis kehamilan ektopik yang pecah adalah tes kehamilan dari serum dikombinasi dengan ultrasonografi. frekuensi buang air kecil yang meningkat • Nyeri pada abdomen dan pelvis 51 . Jika diperoleh hasil darah yang tidak membeku.Kehamilan ektopik adalah kehamilan dengan implantasi terjadi di luar rongga uterus.

lakukan salpingektomi (hasil konsepsi dikeluarkan. eksplorasi kedua ovaria dan tuba falopii: (1). segera rujuk ke fasilitas lebih lengkap dengan memperhatikan hal-hal yang diuraikan pada bagian penilaian awal c) Pada laparotomi.Gambar. Jika kerusakan pada tuba kecil. Kehamilan ektopik Penanganan awal a) Jika fasilitas memungkinkan. tuba dipertahankan). Jika terjadi kerusakan berat pada tuba. 2. Ini merupakan terapi pilihan pada sebagian besar kasus (2). segera lakukan uji silang darah dan laparotomi. Hal ini hanya dilakukan jika konservasi kesuburan merupakan hal 52 . lakukan Jangan menunggu darah sebelum melakukan salpingktomi (tuba yang berdarah dan hasil konsepsi dieksisi bersama-sama). pembedahan b) Jika fasilitas tidak memungkinkan.1.

ovum memang sudah patologik sehingga mati. atau mata ikan. tetapi terlambat dikeluarkan. faktor-faktor yang dapat menyebabkannya antara lain: 1) Faktor ovum. Etiologi Penyebab mola belum diketahui dengan pasti. karena risiko kehamilan ektopik berikutnya cukup tinggi. Kehamilan mola merupakan proliferasi abnormal dari vili khorialis. 2) Imunoselektif dari trofoblas 3) Keadaan sosek rendah 4) Paritas tinggi 5) Kekurangan protein 6) Infeksi virus dan faktor kromosom yang belum jelas Diagnosis dan gejala 1) Anamnesa/keluhan: a) Terdapat gejal-gejala hamil muda yang kadang-kadang lebih nyata dari kehamilan biasa b) Kadangkala ada tanda toksemia gravidarum c) Terdapat perdarahan yang sedikit atau banyak. warna tengguli tua atau kecoklatan seperti bumbu rujak d) Pembesaran uterus tidak sesuai (lebih besar) dengan tua kehamilan seharusnya 53 .yang penting untuk ibu tersebut. MOLAHIDATIDOSA Adalah jonjot-jonjot korion yang tumbuh berganda berupa gelembunggelembung kecil yang mengandung banyak cairan sehingga menyerupai buah anggur. e. tidak teratur.

uji biologik atau imunologik cairan serebro-spinal dapat menjadi positif. teraba lembek b) Tidak teraba bagian-bagian janin dan balotemen. 7) Uji sonde. darah dan gelembung mola keluar. sonde 54 .. tidak ada bagianbagian janin. karena kadar HCG yang tinggi maka uji biologic dan uji imunologik (Galli Mainini dan planotest) akan positif setelah pengenceran (titrasi): a) Galli Mainini 1/300 (+). rahim terasa lembek. Bahkan pada mola atau koriokarsinoma. dan fundus uteri turun: lalu naik lagi karena terkumpulnya darah baru 4) Auskultasi a) Tidak terdengar bunyi denyut jantung janin b) Terdengar bising dan bunyi khas 5) Reaksi Kehamilan. maka suspek mola hidatidosa b) Galli Mainini 1/200 (+). terdapat perdarahan dan jaringan dalam kanalis servikalis dan vagina. 6) Pemeriksaan dalam Pastikan besarnya rahim. sonde dimasukkan pelan-pelan dan hati-hati ke dalam kanalis servikalis dan kavum uteri. serta evaluasi keadaan serviks. maka kemungkinan mola hidatidosa atau hamil kembar. bila tidak ada tahanan. juga gerakan janin c) Adanya fenomena harmonica.e) Keluar janringan mola seperti buah anggur atau mata ikan yang merupakan diagnosa pasti 2) Inspeksi a) Muka dan kadang-kadang badan kelihatan pucat kekuningkuningan (mola face) b) Bila gelembung mola keluar akan terlihat dengan jelas 3) Palpasi a) Uterus membesar tidak sesuai dengan tuanya kehamilan.

lakukan evakuasi uterus: b) Segera lakukan evakuasi jaringan mola dan sementara proses evakuasi berlangsung berikan infus 10 unit oksitosin dalam 500 ml cairan I. 8) Foto roentgen abdomen.V (NaCl atau Ringer Laktat) dengan kecepatan 40-60 tetes per menit (sebagai tindakan preventif terhadap perdarahan hebat dan efektifitas kontraksi terhadap pengosongan uterus secara cepat) Penanganan selanjutnya: a) Pasien dianjurkan untuk menggunakan kontrasepsi hormonal atau tubektomi bila ingin menghentikan fertilitas b) Lakukan pemantauan setiap 8 minggu selama minimal 1 tahun pasca evakuasi dengan menggunakan tes kehamilan dengan urin karena adanya risiko timbulnya penyakit trofoblas yang menetap atau khoriokarsinoma. bila tetap tidak ada tahanan. pada mola akan kelihatan bayangan badai salju dan tidak terlihat janin.diputar setelah ditarik sedikit. tidak terlihat tulang-tulang janin(pada kehamilan 3-4 bulan) 9) Arteriogram khusus pelvis 10) Ultrasonografi. rujuk ke pusat kesehatan tersier untuk pemantaun dan penanganan lebih lanjut 55 . Penanganan awal: a) Jika diagnosis kehamilan mola telah ditegakkan. Jika tes kehamilan dengan urin tidak negatif setelah 8 minggu atau menjadi positif kembali dalam 1 tahun pertama. kemungkinan mola.

dapat dilakukan induksi apabila tekanan darah meningkat atau terdapat tanda-tanda Intra Uterine Growth Retardation (IUGR). Kadanng-kadang keadaan ini dihubungkan dengan penyakit ginjal. phaeochromocytoma atau penyempitan aorta. Penatalaksanaan: Wanita dengan hipertensi esensial harus mendapat pengawasan yang ketat dan harus dikonsultasikan pada dokter untuk proses persalinannya. Yang membedakannya dengan preeklamsia yaitu factor-faktor hipertensi esensial muncul pada awal kehamilan. serta tidak terdapat edema atau proteinuria. Selama tekanan darah ibu tidak meningkat sampai 150/90 mmHg berarti pertanda baik. jauh sebelum terjadi preeklamsia. Setelah UK 18 minggu lebih sulit hipertensi esensial dari pre eklamsia. Selama trimester ke II kehamilan tekanan darah turun di bawah batas normal. Wanita hamil dikatakan mempunyai atau menderita hipertensi esensial jika tekanan darah pada awal kehamilannya mencapai ≥ 140/90 mmHg.2. Dia dapat hamil dan bersalin normal tetapi saat hamil dianjurkan untuk lebih banyak istirahat dan menghindari peningkatan berat badan terlalu banyak. Kesejahteraan janin dipantau ketat untuk mendeteksi adanya retardasi pertumbuhan. 56 . Kehamilan tidak dibolehkan melewati aterm karena kehamilan postterm meningkatkan risiko terjadinya insufisiensi plasenta janin. selanjutnya meningkat lagi sampai ke nilai awal atau kadang-kadang lebih tinggi. Jika perlu. Komplikasi Dan Penyulit Dalam Kehamilan Trimester III a) Kehamilan Dengan Hipertensi 1) Hipertensi esensial Hipertensi esensial adalah kondisi permanen meningkatnya tekanan darah dimana biasanya tidak ada penyebab yang nyata. dan keadaan ini lebih sering muncul pada saat kehamilan.

Jika ditemukan tekanan darah ≥ 160/100 mmHg. 2) Hipertensi Karena Kehamilan Hipertensi yang ditimbulkan atau diperberat oleh kehamilan lebih mungkin terjadi pada wanita yang : a) b) Terpapar vili korialis untuk pertamakalinya Terpapar vili korialis yang terdapat jumlah yang banyak seperti pada kehamilan kembar atau mola hidatidosa c) d) Mempunyai riwayat penyakit vaskuler Mempunyai kecenderungan genetic untuk menderita hipertensi dalam kehamilan. mungkin terjadi perdarahan otak atau gagal jantung. Hal ini dapat dilakukan dengan menginduksi persalinan. harus dirawat dokter di rumah sakit. atau jika keadaan berbahaya atau lebih akut. 57 . Jika tekanan darah sangat tinggi. atau meningkat pada awal persalinan. 200/120 mmHg atau lebih. Keadaan ibu mungkin berkembang menjadi Pre Eklamsia atau mengalami abrupsio plasenta (plasenta Pecah). Anamnesa juga diperlukan untuk mengeluarkan ibu dari pre eklamsia. kadang-kadang gagal ginjal merupakan komplikasi. Janin juga berisiko. persalinan dapat dilakukan dengan cara Sectio caesarea. karena kurangnya sirkulasi plasenta. Jika tekanan darah tidak dapat dikendalikan atau terdapat tanda-tanda IUGR atau hipoksia. yang dapat menyebabkan kejadian Intra Uterine Growth Retardation (IUGR) dan hipoksia. Obat-obat antihipertensi dan sedative boleh diberikan untuk mengontrol tekanan darah. dokter dapat menghindari risiko yang serius dengan mempercepat persalinan. Kandungan catecholamine atau vanilmandelic acid (VMA) biasanya diukur karena hipertensi yang berat mungkin disebabkan karena Pheochromacytoma atau tumor pada ginjal.Merupakan pertanda kurang baik jika tekanan darah sangat tinggi.

Hipertensi biasanya timbul lebih dahulu daripada tanda-tanda lain. Bahkan pengamatan menyebutkan bahwa makanan yang kurang mengandung protein sebagai penyebab penurunan insiden eklamsia. Edema ialah Penimbunan cairan secara umum dan berlebih dalam jaringan tubuh dan biasanya dapat diketahui dari kenaikan berat badan serta pembengkakan kaki. dan Proteinuria yang timbul karena kehamila.Kemungkinan bahwa mekanisme imunologis di samping endokrin dan genetic turut terlibat dalam proses terjadinya pre-ekklamsia dan masih menjadi masalah yang mengundang perhatian. Oedema Pretribal yang 58 . Kenaikan tekanan Diagnostik lebih dapat dipercaya apabila tekanan Diastolik meningkat 15 mmHg atau lebih atau menjadi 90 mmHg atau lebih. Penyakit ini biasanya timbul pada Triwulan ke-3 kehamilan tetapi dapat timbul sebelumnya. Preeklamsia mungkin lebih sering terdapat pada wanita dai keluarga yang tidak mampu. Resiko hipertensi karena kehamilan dipertinggi pada keadaan di mana pembentuka antibody penghambat terhadap tempat-tempat yang bersifat antigen pada plasenta terganggu. namun bisa juga terjadi pada pada wanita denan ekonomi yang menengah ke atas. dan muka. atau mencapai 140 mmHg atau lebih. Untuk menegakkan diagnosa Pre-Eklamsi kenaikan tekanan Sistolik harus 30 mmHg atau lebih. Kenaikan sistolik harus 30 mm Hg atau lebih diatas tekanan yang biasanya ditemukan. Seharusnya preeklamsia ditemkan pada multipara dari pada nulipara. jari tangan. tetapi kenyataannya sama-sama dapat terjadi preeklamsia. Oedema. misalnya pada Mola Hidatosa. Pemeriksaan tekanan darah dilakukan minimal 2x dengan jarak waktu 6 jam pada keadaan istirahat. Hipertensi biasanya timbul lebih dahulu dari pada tanda lain. Kehamilan juga menyebabkan wanita hamil kekurangnan nutrisi. 3) Pre Eklamsia Pre-Eklamsi Adalah Penyakit dengan tanda-tanda Hipertensi.

Proteinuria timbul lebih lambat daripada hipertensi dan kenaikan berat badan. Sedangkan kenaikan berat badan dan Edema yang disebabkan oleh penimbunan air yang berlebihan dalam ruangan intestinal belum diketahui sebabnya. hipertensi. karena itu harus dianggap yang cukup serius. pada Pre-Eklamsi ditemukan sakit kepala di 59 . Pada Pre-Eklamsi ringan tidak ditemukan gejala-gejala subyektif. di ikuti oedema. Pada Biopsi ginjal ditemukan spasme hebat arteriola Glomerolus. mungkin karena retensi air dan garam. Jadi jika semua arteriola di dalam tubuh mengalami spasme maka tekanan darah akan naik.3 g/lt dalam urin 24 jam atau pada pemeriksaan menunjukan 1 atau 2+ atau 1 gr/lt yang dikeluarkan dengan jarak waktu 6 jam. sebagai usaha untuk mengatasi kenaikan tekanan perifer agar oksigen jaringan dapat dicukupi. Proteinuria dapat disebabkan oleh Spasme arteriola sehingga terjadi perubahan pada glomerolus. sehingga tidak berarti untuk penentuan Diagnosis Pre-Eklamsi. hal ini perlu menimbulkan kewaspadaan terhadap timbulnya preeklamsia. Patofisiologi : Mochtar (1999. Tanda Dan Gejala : Tanda-tanda Pre-Eklamsi biasanya timbul dalam urutan pertambahan berat badan yang berlebihan. Kenaikan BB ½ kg setiap minggu masih normal tetapi kalau kenaikan BB I kg atau lebih setiap minggu beberapa kali.199) menjelaskan bahwa pada Pre-Eklamsi terjadi pada spasme pembuluh darah yang disertai dengan Retensi Garam dan air. Pada beberapa kasus.ringan sering terjadi pada kehamilan biasa. Proteinuria berarti konsentrasi protein dalam urin yang melebihi 0. dan akhirnya proteinuria. lumen arteriole sedemikian sempitnya sehingga hanya dilalui oleh satu sel darah merah.

daerah frontal. Dengan vasokontriksi dan disruption ke vascular endothelium menjadi coagulasi aktif. Pengurangan cairan ke intravaskuler disebabkan hypoluemia dan hemokonsentrasi dan ini adalah reflek untuk meningkatnya haematrokit. nyeri di daerah epigastrum. Gejala-gejala ini sering di temukan pada Pre-Eklamsi yang meningkat dan merupakan petunjuk bahwa Eklamsi akan timbul. Dalam kasus yang parah. vasospasme menghasilkan arteriolus menyebabkan pengurangan aliran darah menuju ke ginjal yang menjadikan hypoxia dan oedema. Hal ini menyebabkan sel endothelia rusak sehingga perbandingan antara vasodilator : vasocontricsi. penglihatan kabur. Cara 60 . Perbandingan ini disebabkan karena untuk menopang hipertensi. Klasifikasi pre eklamsia dibagi menjadi 2 golongan : a) Preeklamsia ringan (1). skotoma. paru-paru dapat menjadi macet dengan adanya cairan dan berkembang menjadi oedema pulmonary. Dengan adanya hipertensi bersama-sama dengan sel Endothelia rusak mempengaruhi melalui pembuluh. sehingga terjadi kebocoran plasma dan rusaknya pembuluh darah sehingga dihasilkan oedema kemudian menuju ke jaringan. Tekanan darah 140/90 mmHg atau kenaikan diastolik 15 mmHg atau lebih (diukur pada posisi berbaring terlentang) atau kenaikan sistolik 30 mmHg atau lebih. Di ginjal. Meningkatnya produksi trombositopenia dan responsible untuk Disseminated Intravaskular Cougelation (DIC). volume darah dan cardiac output (Gant Et al 1973). mual dan muntah-muntah. diploma. oksigen rusak dan sehingga terjadi sianosis. Perubahan Psikologi Normotensive pada wanita hamil dihubungkan dengan perubahan cardiovascular termasuk meningkatnya kerja jantung.

(3). (2). Banyak istirahat ( berbaring tidur miring) Diet: cukup protein. (3). jari. rendah kaebohidrat. kalau perlu pengakhiran kehamilan Penanganan a) Penanganan Pre-Eklamsi Ringan: 1) Rawat Jalan (a). (5). namun pre eklamsia sering terjadi pada a) b) c) Primigravida Tuanya kehamilan Kehamilan ganda Prinsip pencegahan preeklamsia a) Pencegahan/ANC yang baik: ukuran tekanan darah. Tekanan darah 160/110 mmHg atau lebih Proteinuria. 5 gr/lt atau lebih Oliguria (jumlah urine < 500 cc per 2 jam Terdapat edema paru dan sianosis Adanya gangguan serebral. (b).pengukuran sekurang-kurangnya pada 2x pemeriksaan dengan jarak (2). dan rasa nyeri di epigastrium. timbangan berat badan. b) Proteinuria 0. (4). lemak. (c). ukur kadar proteinuria tiap minggu b) Diagnosa dini/tepat: diet. muka dan berat badan naik >1 kg/mg Preeklamsia berat (1). dan garam Sedative ringan (jika tidak bisa istirahat ) tablet Febobarbital 3x30 mg peroral selama 2 hari (d). (e). Penyebab preeklamsia secara pasti belum di ketahui. Roboransia Kunjungan ulang tiap 1 mg 61 . gangguan visus.3 gr/lt atau 1+ atau 2+ Edema pada kaki.

b) Penanganan Pre-Eklamsi Berat di Rumah Sakit Penanganan Aktif: 1) Indikasi Indikasi perawatan aktif ialah bila di dapatkan satu atau lebih keadaan ini pada ibu: (a). (c). Bila Tekanan Darah turun tetapi belum mencapai normotensif selama perawatan maka kehamilannya dapat diakhiri pada kehamilan lebih dari 37 minggu (b). 62 . Kehamilan lebih dari 37 minggu (b). tetapi tidak selalu komplikasi dari pre eklampsi. Pada Kehamilan Preterm (kurang dari 37 minggu) (1). Pada Kehamilan Aterm (lebih dari 37 minggu) Persalinan ditunggu spontan atau dipertimbangkan untuk melakukan persalinan. Kegagalan terapi pada perawatan konservatif Pada Janin : a) b) Adanya Tanda-tanda Fetaldistres Adanya Tanda-tanda IUFD induksi persalinan pada taksiran tanggal 4) Eklamsia Eklampsi merupakan serangan konvulsi yang biasa terjadi pada kehamilan.2) Jika dirawat di Puskesmas atau Rumah Sakit: (a). Persalinan dapat dilakukan spontan bila perlu memperpendek kal II dengan bantuan bedah obstetri. Jika Tekanan Darah mencapai normotensif selama perawatan persalinan ditunggu sampai aterm (2). Adanya tanda-tanda impending (c).

pergerakkan otot menjadi dan serangan menjadi meningkat. Konvulsi dapat terjadi sebelum. Hipoksia serebral menunjukkan kenaikan dysrhytmia serebral dan ini mungkin terjadi karena konvulsi. Monitor tekanan darah dan urin untuk proteinuria harus dilakukan dan dilanjutkan selama periode postpartum. bernama konvulsi eklampsi. Empat fasenya antara lain: 1. Etiologi Dalam eklampsi berat terdapat hipoksia serebral yang disebabkan karena spasme kuat dan oedem. sering saliva blood-strained terlihatb pada bibirnya 63 . 38% dsari kasus eklampsi tidak disertai dengan hipertensi dan protein urin (Douglas dan Redman 1994). sementara terbiasa. Beberapa pasien ada yang mempunyai dasar dysrhytmia serebral dan oleh karena itu konvulsi terjadi mengikuti bentuk yang lebih kuat dari pre eklampsi. Spasme ini berlangsung sekitar 30 detik 3. Seluruh tubuhnyabergerak-gerak dari satu sisi ke sisi yang lain. dia berhenti bernafas dan warnanyaberubah sianosis. Tahap klonik. ketika wajah dan otot tangannya sementara kejang 2. lengannya kaku. tersendat-sendat Spasme berhenti. selama. Kemudian otot respirasinya dalam spasme.Dalam sebuah konduksi studi nasional di UK pada tahun 1992. Dia menyatukan gigi dan bisa saja dia menggigit lidahnya. Mata dibuka. Jika ANC dan Inc mempunyai standar yang tinggi. Hampir seluruh otot-otot wanita segera menjadi Genggamannya mengepal dan tangan dan serangan spasme. konvulsi postpartum akan lebih sering terhindar. Pada tahap ini dapat terjadi kesalahan jika observasi pada ibu tidak tetap. Tahap premonitory. Ada satu tanda eklampsi. Ini terjadi lebih dari 48-72 jam setelahnya. Tahap Tonic. dan sesudah persalinan.

Angka kematian perinatal sebanyak 15%. jika frekuensi berulang hati gagal berkembang. Inhalasi darah atau mucus dapat menunjukkan asfiksia atau pneumonia. tapi wajahnya tetap bengkak. Kelainan mata f. Pasien dengan oedem dan oliguria perkembangan paru-paru dapat bengkak atau gagal ginjal. Selama sehat ketika ibu berhenti bernafas supply oksigen ke janin terganggu. Nekrosis hati 64 . Hipofibrinogen c. Edema paru-paru g. Angka kematian ibu dari eklampsi di UK pada tahun 1991-1993 adalah 11. Ini menunjukkan retardasi pertumbuhan intrauterine dan hipoksia. pada ibu dapat terjadi cerebral hemorrhage.4. Komplikasi yang terberat ialah kematian ibu dan janin: a. Jika kenaikan hipertensi banyak. Sianosis memudar. Solusio plasenta b. Hemolisis d. Dapat terjadi kegagalan hepar. Bagi ibu Perbedaan konvulsi dan kelelahan. Konvulsi intrapartum sangat berbahaya untuk janin karena kenaikan hipoksia intra uterin yang disebabkan karena kontraksi uterus. Perdarahan otak e. Wanita dapat tidak sadar dan mungkin nafasnya berbunyi. selanjutnya berkurang. 2. Kadangkadang sadar dalam beberapa menit atau koma untuk beberapa jam Bahaya-Bahaya Eklampsi 1. Bagi janin Dalam eklampsi antenatal janin dapat terpengaruh dengan ketidakutuhan plasenta. Dalam lebih dari setengah terdapat kematian ibu dan hanya satu atau dua yang selamat. Dari komplikasi-komplikasi ini dapat terjadi kefatalan. Tahap Comatose.

3. dan fraktur karena jatuh dan DIC) Gejala Dan Tanda Pada umumnya kejang didahului oleh makin memburuknya preeklamsi dengan gejala-gejala nyeri kepala di daerah frontal. Penderita menjadi tak sadar. Tingkat awal atau aura Keadaan ini berlangsung kira-kira 30 menit. Kelainan ginjal i. sehingga penderita dapat terjatuh dari tempat tidurnya. spasmus tonik menghilang. wajahnya kelihatan kaku. kelopak mata bergetar demikian pula tangannya dan kepala diputar ke kanan dan ke kiri. lidah dapat tergigit. kejadian kronik ini a demikian hebatnya. gangguan penglihatan. Akhirnya kejangan terhenti dan penderita menarik nafas secara mendengkur.h. tangan menggenggam dan kaki membengkok ke dalam. mual. Bila keadaan ini tidak segera diobati. pernafasan berhent. akan timbul kejangan. Prematuritas j. Komplikasi lain (lidah tergigit. Tingkat kejangan klonik Berlangsung 1-2 menit. mulut membuka dan menutup dan lidah dapat tergigit lagi. 2. Mata penderita terbuka tanpa melihat. konvulsi eklamsi dibagi 4 tingkat yaitu : 1. semua otot berkontraksi dan berulang-ulang dalam tempo yang cepat. dari mulut keluar ludah yang berbusa aka menunjukan kongesti dan sianosis. dalam tingkat ini seluruh otot menjadi kaku. 65 . muka menjadi sianotik. bola mata menonjol. trauma. dan hiperefleksia. Tingkat kejangan tonik Berlangsung lebih 30 menit. nyeri epigastrium.

sehingga ia tetap dalam koma. Penemuan Collaborative Eclampsi Trial. Tingkat koma Lamanya koma tidak selalu sama. paramedis harus segera dipanggil untuk memberikan pertolongan pertama sebelum dibawa ke rumah sakit. Jika wanita berada di luar rumah sakit saat terjadi konvulsi. terlebih lagi konvulsi pada wanita memiliki resiko tinggi untuk hidupnya dan janinnya. Mulut dibersihkan dari mucus dan darah dengan suction. 66 . Mengontrol konvulsi Ini sangat penting untuk mengontrol konvulsi. Sangat jarang dimulai dan proses cepat terjadi eklampsi diantara pemeriksaan antenatal yang biasa dan sering. Oksigen diberikan untuk kepentingan keduanya ibu dan janin. Obat diberikan dengan segera untuk mengurangi rangsangan sistem saraf. eklampsiakan lebih sulit terjadi.Lucas 1995) a. Memelihara kebersihan jalan nafas 2. Untuk pertolongan awal bantuan medis harus dipanggil. Melindungi wanita dari luka-luka Ibu harus miring ke satu sisi dan pergerakkan konvulsinya dapat ditekan dari semua ini harus dilakukan sepelan mungkin dan tidak tergesagesa. akan tetapi dapat terjadi pula bahwa sebelum itu timbul serangan baru yang berulang. Penatalaksanaan selama konvulsi antara lain: 1. Magnesium Sulfat Antikonvulsi yang efektif dan bereaksi cepat. dipublikasikan pada tahun 1995. Secara perlahan-lahan penderita menjadi sadar lagi. Obat yang dipilih untuk pengobatan eklampsi adalah Magnesium Sulfat (Neilsen 1995.4. Penatalaksanaan Eklamsi Jika pre eklampsi diketahui lebih awal dan ditangani lebih cepat. Penatalaksanaan Selanjutnya Prinsip-prinsip pelaksanaan: 1.

b. 67 . Magnesium Sulfat direkomendasikan untuk pengobatan untuk eklampsi. Pengobatan diuretic diindikasikan ketika urin yang keluar kurang dari 20 ml/jam. 2. Mengontrol tekanan darah Tekanan darah dikontrol oleh sedatif dan menggunakan obat anti hipertensi seperti hydralazine. Walaupuntidak efektif dalam mengontrol eklampsi (The eclampsia Collaborative Trial Group. hydrochloride (apresoline) 20 mg dengan injeksi intravena diikuti oleh 20-40 mg sebagai injeksi intravena. Injeksi intravena diazepam 10-40 mg diikuti dengan infus 20-80 mg dalam 500 ml dari 5% dextrose dengan rata-rata 30 tetes/menit. 1995). tribromoethanol (Avertin).terbukti Magnesium Sulfat lebih efektif mengurangi dan mencegah konvulsi eklampsi dibandingkan dengan diazepam dab phenytoin (Eclampsia Collaborative Trial Group. 1995). Wanita yang menerima Magnesium Sulfat memiliki resiko 52% lebih rendah dari konvulsi dibandingkan diberi diazepam. laju teratur menurut aliran darah. Antibiotik mungkin untuk mencegah infeksi paru-paru. Obat lain yang digunakan seperti morfin. 1995) dan dianggap sebagai prophylactic dari pada metode pengobatan (Howard 1993). promethozin dan chlorpromazine dalam infus intravena dextrose 5%) sekarang tidak direkomendasikan phenytoine digunakan untuk mengobati epilepsy dan saat ini ada pembaharuan pada penatalaksanaan pre eklampsi. Injeksi intravena 4-5 gr dalam 20% pemberian. paraldehyde dan lytic cocktail (kombinasi dari pethidine. diikuti dengan infus 1-2 gr/jam. dan 67% resiko lebih rendah dibandingkan dengan phenytoin.WHO sekarang merekomendasikan penggunaan Magnesium Sulfat untuk pengobatan eklampsi dan memasukkannya ke dalam Daftar Obat Esensial (WHO.

• • • • • Bari O2 Pasang infus dengan cairan dekstrose 5% dengan kecepatan 20 tetes / menit.Tes biokimia untuk mengetahui fungsi ginjal. enzim dalam hati dapat dimonitor dengan memberi informasi tentang: 1. Keempat ekstrimitas di ikat tidak terlalu ketat agar pasien tidak terjatuh. trombositopenia. Rujuk pasien ke RS di sertai perawat yang mengantar dan surat rujukan Sebelum merujuk dapat diberikan pengobatan awal sesuai dengan diagnosis kasus. Rujukan 1) Kriteria rujukan Eklamsi harus ditangani di Rumah Sakit. 68 . jika semua kasus eklamsi harus segera di rujuk. Penanganan a. 1. Proses rujukan • • • Jelaskan bahaya / komplikasi eklamsi kepada kelurga pasien. Pasang goedel atau sudip yang dilapisi kain kasa untuk melindungi gigi tergigit lidah. baik untuk mengatasi kejang ataupun untuk memberi obat anti hipertensi. Pasang kateter urine yang dipertahankan dan kantong urine.

Sekurang-kurangnya pemberian terakhir Dosis tambahan 2 gram hanya diberikan sekali saja. • • Maintenance dose Tiap 6 jam diberikan lagi 4 gram IM MgSO4 Dosis tambahan Bila timbul kenjeng-kejang lagi maka dapat diberikan MgSO4 2 gram IV selama 2 menit. Bila setelah diberi dosis tambahan masih tetap kejang maka berikan amobarita 3-5 m/kg BB IV pelan-pelan. 20 menit setelah • Monitoring tanda-tanda mkeracunan MgSO4 b) Obat-obat supportif Lihat pengobatan supporti pre-Eklamsi berat c) Perawatan pada serangan kejang • • • • Di rawat di kemar isolasi yang cukup tenang (bukan kamar gelap) Masukan sudip lidah ke dalam mulut penderita. Kepala direndahkan: daerah asofaring di hisap Fiksasi badan pada tempat tidur harus cukup kendor guna menghindari fraktur 69 .b.. Penanganan eklamsi di RS 1) Penanganan medisinal a) Obat anti kejang MgSo4 • Loading dose 4 g MgSO4 40% dalam larutan 10 cc intravena selama 4 menit disusul 8 g IM MgSO4 40 % dalam laritan 25 nn diberikan pada bokong kiri dan kanan masing-masing 4 gram.

bila nutrisi tidak mungkin cukup diberikan alat bentuk NGT (Naso Gastric Tube) c. Penanganan Obstetric 1) Sikap terhadap kehamilan Sikap dasar : Semua kehamilam dengan pre-eklamsi harus diakhiri tanpa memandang umur kehamilan dan keadaan janin. walaupun dapat pula terjadi pada setiap saat dalam kehamilan. Pada perawatan koma perlu diperhatikan pencegahan dekubitus dan makanan penderita Pada koma yang lama. 2) Bilamana diakhiri Sikap dasar : • Bila sudah terjadi stabilisasi (permulian) hemodinamika dan metabolise ibu yaitu 4-8 jam setelah salah satu atau lebih di bawah ini: Setelah pemberian obat anti kejang terakhir Setelah kejang terakhir Setelah pemberian obat-obat antihiertensi terakhir Penderita mulai sadar (resp[onsive dan orientasi) b) Perdarahan Antepartum 1) Solusio Plasenta Solusio plasenta adalah terlepasnya plasenta yang letaknya normal pada corpus uteri sebelum janin lahir. Biasanya terjadi pada trimester III. 70 .d) Perawatan penderita dengan koma • • • Monitoring kesadaran dan lamanya koma memakai glassglow –Pittsburgh-coma scale.

tetapi keadaan ini dapat dikemukakan sebagi factor-faktor etiologinya yaitu : • • • Trauma Tali pusat yang pendek Dekompresi yang uterus mendadak 71 . kemungkinan pelepasan plasenta yang luas sehingga akan menimbulkan kematian janin. (1983) mengemukakan bahwa frekuensi untuk solusio plasenta sekitar 1 per 75 persalinan.Sebagian perdarahan pada solusi plasenta biasanya merembes sendiri diantara selaput ketuban dan uterus. Intensitas solusio plasenta seringkali bervariasi menurut cepatnya ibu hamil mencari dan mendapatkan perawatan setelah merasakan nyeri abdomen. ataupun setelah dijumpai keduanya. Etiologi. Bila dapat diselamatkan bayi akan mengalami gangguan akibat kejadian tersebut. Bila terlambat.. neonatus dapat meninggal karenanya. kemudian mengalir keluar lewat serviks dan terlihat dari luar sehingga terjadi perdarahan eksternal. Bisa juga darah tidak mengalir keluar. atau setelah terjadinya perdarahan pervaginam. Penyebab primer solusio plasenta tidak diketahui. Hurrd dkk. Frekuensi ditegakan diagnosis solusio plasenta sangat bervariasi mengingat criteria yamg dipakai untuk membuat diagnosis ini berbeda-beda. Meskipun janin bias bertahan hidup. tetapi tetap tertahan diantara bagian plasenta yang terlepas dan uterus sehingga terjadi perdarahan tersembunyi. tetapi juga akibat luasnya perdarahan yang tidak disadari. Tampak jelas bahwa abrupsio plasenta merupakan problem obstetric yang sering ditemukan dan terutama berbahaya bagi janin serta nonatus. dan ini bukan hanya terjadi akibat peningkatan kemungkinan terjadinya koagulopati konsumtif yang berat. dengan angka mortalitas perinatal sebesar 30 %. Solusio plasenta dengan perdarahan tersembunyi menngandung ancaman bahaya yang jauh lebih besar terhadap keselamatan jiwa ibu.

. Contoh. Plasenta ini mempunyai permukaan maternal dengan lekukan bulat yang diameternya beberapa sentimeter dan ditutupi oleh darah yang membeku serta berwarna gelap. Dalam tahap awal mungkin belum terdapat gejala klinis. proses tersebut dalam stadium awal akan terdiri dari pembentukan hematoma desidua yang menyebabkan pelepasan. Sebai akibatnya. perdarahan eksternal bias banyak sekali meskipun pelepasan plasenta belum begitu luas sehingga menimbulkan efek langsung pada janian. Patologi Terjadinya solusio plasenta dipicu oleh perdarahan ke dalam desidua basalis. Diagnosisi Klinis Perlu ditekankan bahwa keluhan dan gejala pada solusio plasenta dapat bervariasi cukup luas. atau perdarahan eksternal 72 . Pada janina kembar. keadaan tersebut ditemukan hanya setelah dilakukan pemeriksaan terhadap plasenta yang baru dilahirkan. Desidua tersebut kemudian terbelah sehingga meninggalkan lapisan tipis yang melekat pada miometrium. kompresi dan kahirnya penghancuran plasenta yang berdekatan dengan bagian tersebut. dekompresi yang terjadi setelah persalinan janin pertama dapat menimbulkan pelepasan premature plasenta yang membahayakan janin kedua. Solusio plasenta dengan derajat yang lebih ringan dapat terhadi sesaat sebelum persalinan janin tunggal kalau cairan ketuban sudah mengalir habis dari dalam uterus dan janin mengalami desensus hingga kepalanya sudah berada pada perineum.• • • Anomaly uterus atau anomaly uterus atau tumor uterus Hipertensi kronis atau hipeertensi yang ditimbulkan karena kehamilan Tekanan pada nena cava inferior akibat uterus yang membesar dan defisiensi gizi.

2. tetapi juga akibat intensitas perarahan yang tidak diketahui sehingga pemberian tranfusi sering tidak memadai atau terlambat. sehingga terjadi pembekuan darah intra faskular dimana-mana yang akan menghabiskan fakto-faktor pembekuan darah lainnya terutama fibrinogen. kelainan pembekuan darah. Perdarahan postpartum dapat pula mengancam. dan kelainan pembekuan darah.tidak terdapat tetapi plasenta sudah terlepas seluruhnya dan janin meninggal sebagai akibat langsung keadaan ini. oliguria. Tindakan terakhir mengatasi perdarahan postpartum bila tidak dapat diatasi dengan kompresi bimanual. terjadinya dengan maseuknya trombo plastin ke dalam peredaran darah ibu akibat terjadinya pembekuan darah retrolpasenter. dan gawat janin sampai kematiannya. pengobatan kelainan pembekuan darah ialah histerektomia atau pengikatan arteria hipogastrika. Komplikasi Komplikasi tergantung dari luasnya plasenta dan lamanya solusio plasenta berlangsung. kali ini terjadi karena kontraksi uterus yang tidak kuat untuk menghentikan perdarahan pada kala III. dan hal ini bukan saja terjadi akibat kemungkinan koagulopati konsumtif yang lebih tinggi. 73 . uterotonika. 1. Solusio plasenta dengan perdarahan yang tersembunyi mengandung ancaman bahaya yang jauh lebih besar bagi ibu. Komplikasi yang dapat terjadi ialah perdarahan. Kelainan pembekuan darah kelainan pembekuan darah pada solusio plasenta biasanya disebabkan oleh hipofibrinogenemia. Perdarahan Perdarahan antepartum dan intrapartum pada solusio plasenta hampir tidak dapat dicegah kecuali dengan menyelesaikan persalinan segera.

Kadar fibrinogen plasma normal pada wanita hamil cukup bula ialah 450 mg%. penentuan waktu tromboplastin 3. Apabila kadar fibrinogen lebih rendah jadi 100 mg% akan terjadi gangguan pembekuan darah. Oliguria Pada tahap oliguria keadaan umum penderita biasanya masih baik. atau hipertensi menahun. apalagi yang disertai perdarahan tersembunyi. penentuan kuantitatif kadar fibrinogen b. adanya fibrinolisin dalam peredaran darah d. Terjadinya oliguria sangat mungkin berhubungan dengan hipofolemi dan penyempitan pembuluh darah ginjal akibat perdarahan yang banyak. hitung trombosit e. penentuan waktu protrombin f. Kelainan pembekuan darah berperanan pula dalam terjadinya kelainan fungsi ginjal ini 4. Gawat janin 74 . pengamatan pembekuan darah untuk menentukan : 1) waktu pembekuan darah 2) besarnya dan kemantapan pembekuan darah 3) adanya factor seperti heparin (antikoagulansia) dalam peredaran darah c. dan solusio plasenta berat. Ada yang menerangkan bahwa tekanan intra uterin yang meninggi karena solusio plasenta menimbulkan reflek penyempitan pembuluh darah ginjal. berkisar antara 300-700 mg%. preeklamsia. Kecurigaan akan adanya kelainan pembekuan darah harus dibuktikan dengan pemeriksaan secara laboratorium a.oleh karena itu oliguria hanya dapat diketahui dengan pengukuran teliti pengeluaran air kencing yang harus rutin dilakukan pada solusio plasenta sedang.

barulah ditangani sebagai solusio plasenta. Infus oksitosin d. Pemecahan ketuban c. tidak peduli bagaimana keadaan umum penderita. Apabila kemudian ternyata kemungkinan plasenta previa dapat disingkirkan. pertama kali harus ditangani sebagai kasus plasenta previ. apabila janin mati lakukan pemecahan ketuban dan pemberian infus oksitosin untuk mempercepat persalinan. perutnya tidak menjadi sakit. 6. dan uterusnya tidak menjadi tegang. 5. a. Jika perlu SC Tekanan darah bukan merupakan petunjuk banyaknya perdarahan karena vasospasmus sebagai reaksi dari perdarahan ini akan meninggikan tekanan darah Ketuban segera dipecahkan. dengan uterus yang tidak tegang. dan tidak peduli apakah persalinan akan 75 . Apabila kehamilannya kurang dari 36 minggu dan perdarahannya kemudian berhenti. Penanganannya di RS meliputi. Apabila perdarahan berlangsung terus dan gejala solusio plasenta bertambah jelas atau dengan pemeriksaan USG daerah solusio plasenta bertambah luas maka pengakhiran kehamilan tidak dapat dihindarkan lagi. Solusio plasenta ringan Perdarahan antepartum yang sedikit. maka penderita harus diobservasi dengan ketat. Kalaupu janin yang masih hidup biasanya sudah gawat kecuali pada solusio plasenta ringan. Solusio plasenta sedang dan berat Apabila tanda dan gejala klinik solusio plasenta jelas dapat di temukan.Jarang ditemukan kasus solusio plasenta dengan janin yang masih hidup. berarti perdarahan telah terjadi sekurang-kurangnya 1000 ml. Apabila janin hidup lakukan SC. Tranfusi darah b.

satu-satunya cara untuk segera mengosongkan uterus dengan SC. secepat mungkin menyelesaikan persalinan. Prognosis Prognosis ibu tergantung dari luasnya plasenta yang lepas dari dinding uterus. segera mengatasi hipovolemi di bawah pengawasan tekanan vena pusat (CVP / central venous pressure). Apabila persalinan tidak selesai atau diharapkan tidak akan selesai setelah 6 jam setelah terjadi solusio plasenta. Bila perlu persalinan dapat lebih dipercepat dengan pemberian infus oksitosin. ada tidaknya hipertensi menahun atau preeklamsia. Pemecahan ketuban ini akan merangsang dimulai persalinan dan mengurangi tekanan intra uterin yang dapat menyebabkan komplikasi nekrosis kortek ginjal. dan jarak waktu antara terjadinya solusio plasenta sampai pengosongan uterus. Payah ginjal yang sering merupakan komplikasi solusio plasenta pada dasarnya disebabkan oleh hipovolemik karena perdarahan. tersembunyi tidaknya perdarahannya. banyaknya perdarahan.pervaginam atau perabdominal. Pada solusio plasenta ringan dan sedang kematian janin tergantung dari luasnya plasenta yang terlepas dari dinding uterus dan tuanya kehamilan. pemberantasan infeksi yang mungkin terjadi. atau syok telah dapat teratasi . SC tidak usah menunggu sapai darah tersedia secukupnya. Pencegahan payah ginjal meliputi penggantian darah yang hilang secukupnya. mungkin melalui apa yang dinamakan refleks uterorenal. walaupun dengan mecahan selaput ketuban dan infus oksitosin. dan mengatasi kelainan pembekuan darah. karena tindakan yang terbaik untuk mengatasi perdarahan ialah dengan segera menghentikan sumber perdarahannya. dan gangguan pembekuan darah. derajat kelainan pembekuan darah. Pada kasus solusio plasenta tertentu SC 76 . Prognosis janin pada solusio berat hampi 100 % mengalami kematian.

plasenta previa marginalis.2. Plasenta previa parsialis apabila sebagian pembukaan tertutup oleh jaringan plasenta 3. apabila seluruh pembukaan tertutup oleh jaringan plasenta 2. Pada keadaan normal plasenta terletak dibagian atas uterus. yang meliputi : 1. Solosio Placenta 2) PLASENTA PREVIA Plasenta previa ialah plasenta yang letaknya abnormal. pabila pinggir plasenta berada tepat pada pinggir pembukaan 77 . Sebagaimana pada setiap kasus perdarahan. Klasifikasi didasarkan atas terabanya jaringan plasenta melalui pembukaan jalan lahir pada waktu tertentu. yaitu pada segmen bawah uterus sehingga dapat menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir. 2. persediaan darah secukupnya akan sangat membantu memperbaiki prognosis ibu dan janinnya Gambar. Plasenta previa totalis.dapat mengeurangi angka kematian janin.

Gambar. Karena klasifikasi ini tidak didasarkan pada keadaan anatomik melainkan fisiologik. plasenta yang letaknya abnormal pada segmen bawah uterus akan tetapi belum sampai menutupi pembukaan jalan lahir.3.4. tetapi factor-faktor berikut diketahui dapat dihubungkan 1. Multiparitas : meningkatnya ukuran rongga uterus pada persalinan yang berulang-ulang merupakan predisposisi terjadinya plasenta previa 2. Umur : ibu yang lebih tua lebih beresiko daripada ibu yang lebih muda 78 . Umpamanya plasenta previa totalis pada pembukaan 4 cm mungkin akan berubah menjadi plasenta previ parsialis pada pembukaan 8 cm. Plasenta previa. maka klasifikasinya akan berubah setiap waktu. Kehamilan multiple : tempat plasenta terbesar lebih sering melewati segmen bawah rahim 3. Tentu saja observasi ini tidak akan terjadi dengan penanganan yang baik. Pinggir plasenta berada kira-kira 3 atau 4 cm di atas pinggir pembukaan sehingga tidak akan teraba pada pembukaan jalan lahir. 2. Etiologi Penyebab plasenta previa tidak diketahui. Plasenta letak rendah (low lying).

Mal presentasi janin : sering didapatkannya bukan presentasi kepala pada janin. Plasenta membranasea (plasenta diffusa) mungkin juga merupakan penyebab. Pada kehamilan hal ini dapat menyebabkan perdarahan hebat yang memungkinkan dilakukan histerektomi. Merokok : mekanisme yang tepat tidak begitu jelas tetapi terjadinya hipoksia disebabkan karena merokok yang mungkin menyebabkan pembesaran plasenta sehingga menyebabkan suplai oksigen berkurang. Kelainan Plasenta : plasenta dengan dua bagian dan plasenta suksenturia mungkin dapat menyebabkan plasenta previa. Plasenta menempati ruang di pelvis. dan mungkin bidan menemukan adanya presentasi bokong. Riwayat myomektomi 6. Wanita hamil yang merokok lebih dari 20 batang per hari 2 kali lebih besar peningkatan terjadinya plasenta previa 7. Plasenta berkembang sebagai struktur membran yang tipis menutupi sebagian besar permukan uterus. Keadaannya mungkin dapat didiagnosa dengan ultrason. Hal ini merupaka kelainan perkembangan plasenta yang jarang dimana seluruh korion ditutupi dengan fungsi filli.4. Tanda Dan Gejala Plasenta previa didiagnosa dengan pemeriksaan USG pada awal kehamilan bidan harus mengetahui wanita-wanita hamil yang mengalami plasenta letak rendah. Uterus sikatrik : SC pada persalinan sebelumnya meningkatkan resiko plasenta previa 5. Tidak semua wanita hamil menginginkan pemeriksaan USG akan taetapi bidan harus mengatahui tanda-tanda indikasi kemungkinan terjadinya plasenta previa : 1. karena ruang lainnya untuk kepala janin berada di fundus atau presentasi obliq dan presentasi bahu 79 .

Perdarahan hebat yang terjadi akan memperlihatkan kondisi sbb : pucat. Denyut nadi ibu yang keras dibawah umbulikus : plasenta previa anterior sering di deteksi dengan adanya suara denyut nadi ibu yan keras dari plasenta yang lebih mudah didengar dengan dopler. dengan ukuran sesuai umur kehamilan Sulit untuk membedakan antara plasenta previa dengan abrupsio plasenta. Abrupsio plasenta ada hubungan dengan preeklamsia dimana dengan presentasi dan fiksasi kepala janin normal. tidak adanya preeklamsia dan adanya beberapa ketidaknormalan yang ditemukan merupakan bukti terjadinya 80 . Jika perdarahan banyak pasien dianjurkan untuk tidur miring atau menggunakan bantal dibawah pinggul kanannya untuk mencapai agar panggul miring dan menghindari supine hypotensive syndrome. denyut nadi meningkat dan tekanan darah menurun. khususnya pada presentasi kepala. merasa haus.2. Kadang-kadang perdarahan terjadi setelah coitus tapi diketahui penyebabnya. 4. Kemungkinan ada riwayat spoting. ibu harus berbaring. gelisah. 3. Penatalaksanaan di RS Di Rumah Sakit. Pada pemeriksaan abdomen akan taraba lunak. Penatalaksanaan 1. Penatalaksanaan di rumah : Pasien dianjurkan harus istirahat ditempat tidur. Sulitnya mengidentifikasi bagian janin pada palpasi : plasenta previa anterior (khususnya tipe I dan II) terletak diantara janin dan seperti ada yang mengganjal pada tangan bidan. Jika terjadi perdarahan pada kehamilan tidak boleh melakukan pemeriksaan vagina dirumah 2. Bagian terendah janin tidak terfiksasi : khususnya pada plasenta previa tipe III atau IV. berkeringat. Denyut jantung janin sulit untuk dideteksi Karena tertutup oleh plasenta. Demikian.

Mungkin dibutuhkan pengkateteran. dan hampir selalu terjadi pada kembar tiga. Pemberian infus intra vena dapat dimulai jika perdarahan menetap dan dipertahankan sampai perdarahan berhenti.000 kasus.plsenta previa. tekanan darah dan denyut jantung janin harus dilakukan. diberikan pada kasus perdarahan hebat yang tiba-tiba. (2000) mendapatkan bahwa 1. VASA PREVIA Keadaan ini terjadi pada insersi velamentosa apabila sebagian dari pembuluh janin di selaput ketuban memotong daerah os internum dan menempati posisi di depan bagian terbawah janin. Urin diperiksa kadar protein jika perdarahan hebat. Pada 81 . Benirschke dan kaufmann. dan mencapai keliling tepi plasenta dengan hanya di lapisi oleh satu lipatan amnion. Dalam suatu ulasan tentang kepustakaan yang mencakup hampir 195. Denyut jantung janin harus selalu dipantau dengan cardiotocography jika perdarahan menetap. Observasi Pemantauan suhu. berpisah jauh dari tepi plasenta. 3) INSERTIO VELAMENTOSA Jenis insersi tali pusat ini sangat penting dari segi praktis karena pembuluh-pembuluh umbilicus. Nadi dan tekanan darah dicatat lebih sering dengan ketentuan : tiap seperempat jam jika perdarahan berlanjut. di selaput ketuban. Darah diperika kdar haemoglobin dan dilakukan uji cleihauer jika resus negatif dan setidaknya 2 kantong darah 3. nadi. Wanita tersebut harus di tempat tidur sampai perdarahan berhenti. Keadaan ini terjadi jauh lebih sering pada kehamilan kembar.1% dari pelahiran janin tunggal memeiliki insersio velamentosa.

Bila cincin putih ini letaknya dekat sekali ke pinggir plasenta. Penekanan pembuluh oleh jari pemeriksa ke bagian terbawah janin kemungkinan akan menyebabkan perubahan frekuensi denyut jantung janin. plasenta jenis ini tidak jarang terjadi. 5) PLASENTA SIRKUMVALATA Plasenta sirkumvalata adalah plaseta yang pada permukaan vetalis dekat pinggir terdapat cincin putih.pemeriksaan yang cermat kadang-kadang dapat diraba sebuah pembuluh janin tubular di selaput ketuban yang menutupi bagian terbawah janin. dan periksa preparat untuk mencari sel darah merah berinti. Pada vasa previa terdapat bahaya yang sangat besar bagi janin karena pecahnya ketuban dapat disertai oleh ruptur pembuluh janin yang menyebabkan kehilangan banyak darah. Menurut beberapa ahli plasenta sirkumvalata serin menyebabkan abortus dan solusio plasenta. villi menyerbu kedalam desidua di luar permukaan frondosum. Apabila terjadi perdarahan antepartum atau intrapartum. yang dalam keadaan normal terdapat dalam darah tali pusat tetapi tidak dalam darah ibu. Kedua-duanya disebut sebagai plasenta ekstra coriel. Sayangnya. di sebut plasenta marginata. Cincin ini menandakan pinggir plasenta. Diduga bahwa corionfrondosum terlalu kecil dan untuk mncukupi kebutuhan. jumlah darah janin yang boleh keluar tanpa mematikan janin relatif sedikit. Insidensinya lebih kurang 2-18 %. warnai apusan dengan pewarna Wright. Cara tercepat dan mudah untuk mendeteksi darah janinadalah dengan mengapuskan darah pada kaca obyek. Pada plasenta marginata mungkin terjadi adeksi dari selaput 82 . terdapat kemungkinan vasa previa atau ruptur pembuluh janin. sedangkan jeringan di sebelah luarnya terdiri dari villi yang tumbuh kesamping dibawah desidua. 4) RUPTUR SINUS MARGINALIS Ruptur sinus marginalis Pecahnya pembuluh vena dekat tepi plasenta yang terbentuk karena penggabungan pinggir ruang intervilli dengan ruang subcorial.

Insiden kelahiran prematur kurang lebih 6 sampai 10%. Kelahiran preterm dapat terjadi sebagai akibat dari beberapa faktor di bawah ini: 1. Kelahiran prematur memberikan kontribusi secara langsung antara 7590% dari semua kematian neonatal dan merupakan penyebab paling banyak morbibitas dalam jangka waktu yang pendek dan yang lama. Kelompok ini kira-kira berjumlah 20 % dari kehaliran preterm. Bayi yang dilahirkan kurang dari 37 minggu dari hari pertama haid terakhir dinamakan preterm. Diagnosis plasenta sirkumvalata baru dapat ditegakan setelah plasenta lahir tetapi dapat diduga bila ada perdarahan intermiten atau hidrorea. Produk kehamilan ini mempunyai komplikasi yang paling rendah. resus iso imunisasi. Kelahiran prematur elektif. Bayi yang dilahirkan dengan berat badan kurang dari 2500 gram termsuk dalam kategori berat badan lahir rendah. yang paling sedikit ¼ bagian terjadi sebelum minggu ke 32. 83 . eklampsia. 2. infeksi maternal atau prolapsus tali pusat. Hal ini diakibatkan oleh preeklamsi berat. penyakit ginjal maternal atau iugr.sehingga plsenta lahir telanjang tertinggalnya selaput ini dapat menyebabkan perdarahan dan infeksi. KPD Insidennya kira-kira 20 % dari semua kasus kelahiran preterm 3. Kelahiran dengan komplikasi kegawat daruratan Komplikasi tersebut meliputi solusio plasenta. Jumlah kelahiran prematur meningkat dengan peningkatan umur kahamilan minggu. c) Kelainan dalam lamanya kehamilan 1) Prematur Persalinan dikatakan preterm jika terjadi sebelum akhir umur kehamilan 37 minggu.

unicornis atau didelphic akan melahirkan sebelum umur kehamilan 37 minggu. Pembedahan abdomen e. Infeksi saluran genital terutama vaginitis non spesifik. Perdarahan c. Faktor biologikal/medik 1) Umur kurang dari 15 tahun atau lebih dari 35 tahun 2) Berat badan rendah (kurang dari 50 kg saat konsepsi) 3) Riwayat hipertensi. Peningkatan berat badan yang tidak adekuat b. Perdarahan pada kehamilan sebelumnya. klamedia dan streptokokus hemolitik b. Riwayat reproduksi Riwayat kelahiran preterm sebelumnya. Persalinan preterm spontan tanpa komplikasi yang tidak diketahui penyebabnya Kelompok ini berjumlah paling besar sampai 40 % dari kelahiran prematur. 35% wanita dengan incompeten servik akan melahirkan preterm dan 19% wanita dengan uterus bicornis. Jika wanita mempunyai riwayat lebih dari 2 kali melahirkan bayi preterm. vaginosis bakterial. Faktor yang meningkatkan resiko terjadinya persalinan prematur adalah: 1. Akdr masih berada di dalam rahim d. Dia mempunyai resiko untuk terjadi kelahiran preterm 70% pada kehamilan ini.4. Abnormalitas uterus. penyakit ginjal atau dm 4) Infeksi umum terutama virus 2. Amnionitis disebabkan karena infeksi 84 . Infeksi terutama pielonefritis f. Organisme ini terdapat pada 5% wanita dan berhubungan dengan terjadinya kpd. Kehamilan saat ini a. 3.

Pekerja. Memonitor aktifitas uterus. Kehamilan ganda.traktus genital dapat menstimilasi pelepasan prostaglandin dan hal ini dapat menyebabkan mulainya persalinan g. Status pernikahan. b. pemakai obat-obatan terlarang dan alkohol b. Jarak antar kehamilan pendek c. Kemiskinan dan sosial yang rendah persalinan preterm biasa terjadi pada wanita dari kelompok sosial ekonomi yang rendah. Penyakit resus k. meliputi pekerja fisik yang berat 5. Prediksi sulit dilakukan dan tidak efektif dalam mencegah kelahiran preterm. 46% melahirkan preterm h. Malformasi fetus j. Sistem skoring resiko. Polihidramnion i. Adat istiadat atau kebiasaan a. Kematian fetus 4. Sosial ekonomi a. Psikologi Psikologi distres dihubungan dengan kelahiran preterm 6. Merokok. 2. persalinan preterm sering terjadi pada wanita yang tidak menikah c. hal ini bisa dilakukan berdasarkan pada faktor yang telah dijelaskan diatas. Tidak melakukan ANC Beberapa metode digunakan untuk mencoba mengidentifikasi wanita dengan resiko persalinan preterm. tetapi hal ini bisa dilakukan dengan. Terlambat anc d. Metode ini relatif mempunyai nilai prediktif yang sedikit terutama pada primigravida dan skor yang rendah dapat menyebabkan kesalahan. 1. 85 .

3.Hal ini bisa dilakukan tetapi tampaknya tidak mempengaruhi jumlah kelahiran preterm. Pemeriksaan pelvik Pemeriksaan pelvik yang teratur akan tampak tanda perubahan yang dapat mengambarkan waktu datangnya persalinan. Tingkat positif palsu 17%. ini disekresi oleh villi trofoblas. Tes ini mempunyai sensitifitas 79. 5. 86 . Prosedur ini dapat mengetahui infeksi dan mempunyai nilai prediksi rendah pada wanita yang mempunyai resiko kelahiran preterm.7%. Fibronektif fetus adalah suatu komponen matrik ekstraseluler.4% dan spesifitas 82. Panjang servik Pemeriksaan usg pada servik dapat memprediksi pesalinan preterm. Penemuan hubungan antara tingkat fibronektin fetus dalam servik dan sekresi vagina pada waktu datangnya persalinan preterm dapat diketahui dengan tes yang dilakukan disamping tempat tidur. 4. 6. Gerakan pernafasan fetus. menyebabkan kebocoran fibrinektin. Tes tesebut seharusnya dilakukan setiap 2 minggu dari umur kehamilan 24 minggu dan tidak dapat dilakukan jika ada perdarahan pervaginam atau kpd karena perdarahan dan cairan amnion mengandung fibrinektin. Jika persalinan preterm mengancam hubungan jaringan korio desidual terpisah dari ibu dan fetus. Gerakan pernafasan fetus berhenti sebelum persalinan premetur dimulai dan hal ini merupakan indikator dari persalinan preterm prematur mengancam.

8.7. 11. 12. Sekarang menggunakan gliseril trinitat (gtn). Metode ini efektif untuk menekan persalinan preterm. Bidan seharusnya menyadari kecenderungan persalinan prematur pada wanita akan mengeluh. Dukungan sosial Peran dukungan sosial dalam mencegah kelahiran prematur dilakukan dan tidak tampak mempunyai pengaruh pada kesehatan fisik meskipun dapat memperbaiki kesehatan psikologis. Cervical cerclage Cervical cerclage mungkin bermanfaat dimana kelemahan servik seperti riwayat abortus trimester ii atau biopsi. Peningkatan kunjungan antenatal dan education Peningkatan kunjungan anc dan pendidikan pada ibu diperkirakan dapat mengurangi persalinan preterm pada insiden kelahiran sebelum umur kehamilan 34 minggu. pendataran servik 80% atau dilatasi servik 2 cm atau lebih. Bed rest Pencegahan kelahiran preterm tergantung dari pebcegahan aktifitas uterus dan dilatasi servik. Progestogen dan etanol (jarang digunakan) 10. 1. Kram seperti menstruasi (dismenorhoe) 87 . Manajemen Kelahiran Dan Persalinan Prematur Persalinan prematur mungkin sulit dikenali tetapi dapat dikenali dengan perubahan servik. diagnosis dapat ditegakkan. Peningkatan rasa sakit karena kontraksi 2. Bed rest dapat dilakukan tetapi cara ini tidak efektif. 9. Antibiotik terapi Antibiotik terapi dapat memperlambat waktu datangnya persalinan preterm.

bidan harus menghubungai dokter dan wanita dirujuk ke RS dengan fasilitas perawatan neonatus. meskipun telah masuk minggu ke 42. Sakit pinggang 4. 2) Postmatur Postmatur kehamilan yang sudah melampaui masa kehamilan yang dianggap berada diatas batas normal. Karena tidak ada metode untuk mengidentifikasi kehamilan yang benar-benar memanjang. Jika umur kehamilan 35 minggu atau lebih persalinan dapat dilanjutkan dan kebanyakan bayi yang lahir pada usia ini akan berkembang lebih baik jika diberikan perawatan yang tepat setelah lahir. Postmatur seharusnya digunakan untuk mendeskripsikan janin dengan cirri-ciri klinis nyata yang menunjukan kehamilan yang memanjang patologis.3. adalah 42 minggu lengkap (294 hari) atau lebih sejak hari pertama haid terakhir. belum lengkap 42 minggu sapai habis hari ke tujuh. Definisi standar yang direkomendasikan secara internasional untuk kehamilan memanjang. namun relaif sedikit janin yang terbukti mengalami postmaturitas. Kehamilan antara 41 minggu lewat 1 hari sampai 41 minggu lewat 6 hari. mengapa sekitar 10 persen kehamilan mencapai 42 minggu. Jika umur kehamilan dibawah 35 minggu dokter dapat memberikan obat tokolitik jika keadaan ibu dan fetus baik. Tekanan pada pelvik 5. tidak ada tanda perdarahan pervaginam pada saat ini atau KPD. Jadi secar teknis kehamilan memanjang dapat dimulai pada hari 294 atau pada hari 295 setelah hari pertam haid terakhir. Peningkatan pengeluaran vagina Jika persalinan dimulai dirumah. 88 . Variasi-variasi siklus menstruasi ini kemungkinan menjelaskan. Fase “42 minggu lengkap” perlu ditekankan. didukung oleh American College of Obstetricians and Gynecologist (1997) . setidaknya sebagian.

Insidensi sindrom postmaturitas pada bayi berusia 41. Berapa bayi yang bertahan hidup mengalami kerusakan otak. Oligohidramnion yang menyertainya secara nyata meningkatkan kemungkinan postmaturitas. Patofisiologi 1) Sindrom posmatur Bayi postmatur menunjukan gambaran yang khas. dan 43 minggu masing-masing belum dapat ditentukan dengan pasti. 2) Disfungsi plasenta Kadar eritroprotein plasma tali pusat meningkat secara signifikan pada kehamilan yang mencapai 41 minggu atau lebih dan meskipun tidak ada apgar skor dan gas darah tali pusat yang abnormal pada bayi ini. Janin posterm mungkin terus bertambah berat badannya sehingga bayi tersebut luar biasa beras pada sat lahir. Kuku biaanya cukup panjang. bahwa terjadi penurunan oksigen pada janin yang postterm. badan kurus yang menunjukan pengurasan energi. Syndrome ini terjadi pada sekitar 10 % kehamilan antara 41 dan 43 minggu serta meningkat menjadi 33 % pada 44 minggu. mengelupas lebar-lebar. Kulit keriput telihat sekali pada bagian telapak tangan dan telapak kaki. Biasanya bayi postmatur tidak mengalami hambatan pertumbuhan karena berat lahirnya jarang turun dibawah persentil ke-10 untuk usia gestasinya. dan maturitas lanjut karena bayi tersebut matanya terbuka. Memang. Janin yang terus tumbuh menunjukan bahwa fungsi plasenta tidak terganggu. pertumbuhan janin yang berlanjut.banyak bayi postmatur Clifford mati dan banyak yang sakit berat akibat asfiksia lahir dan aspirasi mekonium. meskipun 89 . yaitu berupa kulit keriput. 42.semua kehamilan yang dietapkan sebagai 42 minggu lengkap harus ditangani seolah-olah memanjang abnormal.

Memang.. bersifat prediktif terhadap gawat janin intrapartum.. (1998) dan Clausson.000 wanita antara 1987 sampai 1998 menggunakan akte kelahiran medis nasional swedia. Bahwa pertumbuhan janin terhambat menyertai kasus lahir mati pada usia gestasi 42 minggu atau lebih. diukur dengan USG. Divon dkk. 5) Serviks yang tidak baik Sulit untuk menunjukan seriks yang tidak baik pada kehamilan memanjang karena pada wanita dengan umur kehamilan 41 minggu mempunyai serviks yang belum berdilatasi. (1999) telah menganalisis kelahiran pada hampir 700. Dilatasi 90 . demikian juga untuk bayi lahir aterm. adalah cirri khas gestasi antara 38 dan 42 minggu. 3) Gawat janin dan Oligohidramnion Alas an utama meningkatnya resiko pada janin posterm adalah bahwa dengan diameter tali pusat yang mengecil. makna klinis pertumbuhan janin terhambat pada kehamilna yang seharusnya tanpa komplikasi tidak begitu diperhatikan. 4) Pertumbuhan janin terhambat Hingga kini.kecepatannya lebih lambat. mungkin juga pengeluaran mekonium oleh janin ke dalam volume cairan amnion yang sudah berkurang merupakan penyebab terbentuknya mekonium kental yang terjadi pada sindrom aspirasi mekonium. Morniditas dan mortalitas meningkatkan secara signifikan pada bayi yang mengalami hambatan pertumbuhan. Penurunan volume cairan amnion biasanya terjadi ketika kehamilan telah melewati 42 minggu. seperempat kasus lahir mati yang terjadi pada kehamilan memanjang merupakan bayi-bayi dengan hambatan pertumbuhan yang jumlahnya relatif kecil ini. terutama bila disertai dengan ologohidramnion.

penyakit jantung atau seperti penyakit kolagen. shipilis. tetapi obat atau persilangan dari ibu ke janin menghambat pertumbuhan normal seperti penyakit malaria.serviks adalah indicator prognostic yang penting untuk keberhasilan induksi dalam persalinan. 2) IUGR karena faktor lingkungan Janin mempunyai kemungkinan untuk tumbuh normal. tetapi patologi dalam supply pembuluh darah ke plasenta. ibu yang tua. preeklamsi. hipertensi kronik dan masalah atau penyakit yang berhubungan dengan keadaan tersebut. seperti suply normal nutrisi dan oksigen tidak dapat menjangkau bayi disebabkan plasenta atau masalah sirkulasi. Obat-obat berbahaya seperti alkohol. Penyebab kerusakan arteri spiral ibu dalam plasenta belum diketahui dengan jelas. toxoplasmosis. menyebabkan anoksia janin dan mungkin kematian. 91 . Pada kelompok ini menyebabkan 2-3 bayi pertumbuhannnya terhambat. diabetes melitus. rokok. postmatur. tetapi sebagai predisposisi: Insufisiensi plasenta. radiasi juga memeberikan kontribusi. seperti kehamilan kembar. penyakit ginjal kronik. Iskemi cepat merusak plasenta kerusakan suply pengangkut O2 dan nutrisi ke janin. dan tempat yang tinggi mungkin masuk ke dalam kelompok ini. 3) Inta Uterin Growth Retardation (IUGR) IUGR adalah keadaan dimana janin dalam uterus tidak dapat tumbuh normal (BBLR=LBW. SGA=preterm) IUGR dapat dibagi ke dalam 3 kelompok utama: 1) IUGR kerena insufisiensi plasenta Kelompok ini potensial untuk tumbuh normal. rubela cytomegalivirus. Plasenta previa dan solusio plasenta.

DM. Umur sangat muda dan sangat tua 8. hipoglikemia ibu (dalam kasus yang ekstrim) 92 . sianosis .Berkurangnya kontraksi otot uterus . Pada kelompok ini meliputi: malformasi janin dan gangguan genetik. Sosial ekonomi yang rendah 2. gangguan sel darah Pengurangan nutrisi dan karena plasenta . Diet tidak adekuat karena kemiskinan dan keadaan malabsorpsi 5. Riwayat reproduksi yang jelek 12. Penyebab Umum 1. alkohol dan pengaruh teratogenik Penyebab uterus Malformasi uterus kongenital Penurunan oksigen .Penyakit pernafasan .3) IUGR karena faktor intrinsik Di sini janin tidak mempunyai atau kehilangan pertumbuhan normal segera setelah konsepsi. Perhatian medis tidak adekuat 6. Kurangnya pemeriksaan kesehatan ibu saat kehamilan 7. Menikah dini 3. Jarak kelahiran pendek 4. penyakit endemik. seperti: obat. Kepribadian. Racun. sikap terhadap bayi 11. Obesitas 9. Pengaruh ras. Kejadian ini lebih menonjol di negara-negara yang sedang berkembang. kelaparan dan genetik 10. nikotin.Penyakit jantung.Tempat tidur .Anemia.

kuku. Kulit kering dan bersisik c.Kembar. tali pusat 6.kasar dan lurus 8. Beberapa bayi nampak dengan penurunan berat badan 7. panjang dan lemah 93 .Penyakit kecil plasenta juga disebabkan oleh pemisahan preterm. Bayi aktif dan lapar pada saat lahir 10.Kelainan plasenta atau plasenta previa . oleh infark atau hemangioma Penyebab janin . Mata melotot c. Ekspresi ketakutan 5. Kurang jaringan subkutan 2. Mengelupas. Bayi lemah dan nampak dehidrasi 4. Alert atau posisi siap siaga d. Berkeriput b.Abnormalitas: Anenchepalus. Mekonium ada pada: kulit.Kelainan dari tali pusat . mempunyai lipatan pada telapak kaki b.. Tulang kartilagosudah berkembang baik kurus. Rambut jarang atau tipis. trombus dalam pembuluh darah janin dari satu arteri tali pusat .Hemolisis: gangguan sel darah merah Karakteristik bayi SGA saat lahir 1. potters syndrome .Berkurangnya aliran uterus. Terdapat ciri-ciri: a.Genetik (metabolik atau kromosom ) . Tali pusat biasanya kecil dan lebih cepat kering daripada bayi normal 9. Penampilan bayi 3. kehamilan multipel . Kulit: a.

Pemantauan dengan teiti sampai melewati kelahiran 3.11. bila lebih dari 100 cm kemungkinan kehamilan kembar. Melaksanakan instruksi dokter dengan teliti Manajemen saat persalinan 1. Pengukuran lingkar perut ibu (pada setinggi pusat). Bayi mempunyai perutbentuk perahu (scapehoid) 13. Sbelum induksi. TFU kurang dari 2 cm dari umur kehamilan 3. Bila selaput ketuban robek. Kepala sering lebih besar dari ukuran tubuh Pedoman untuk mendiagnosis IUGR 1. Pemeriksaan pada setiap kunjungan ANC dengan teliti 2. Cairan amnion berkurang 6. Berat badan tidak bertambah 4. lakukan monitoring dengan teliti dan tentukan persalianan pervginam atau SC 5. ada mekonium dalam caiaran amnion harus menjadi perhatian dan laporkan pada dokter 4. Manajemen bidan selama kehamilan 1. Cek ulang perkirakan persalinan 7. Tulang kepala keras tetapi ukuranya kecil 12. Bayi dengan IUGR hendaknya lahir di rumah sakit yang mempunyai fasilitas khusus perawatan intensif 2. jika servik belum matang diberi prostaglandin atau infus oksitosin sambil di lakukan monitoring dengn CTG memantau janin mengakibatkan fetal distres 94 . Jika servik matang dan dilakukan induksi. Dicurigai adanya suatu kelainan maka segera rujuk ke rumah sakit terdekat atau pada dokter 3. Kegagalan uterus dan janin untuk tumbuh normal rata-rata di atas periode 4 minggu 2. polihidramnion atau bayi besar. Pergerakan janin berkurang 5.

Penyakit paru atau TBC i. Faktor plasenta a. Shipilis f. CPD e. Preeklampsi dan eklampsi c. Induksi gagal c. Infark plasenta c. Hipertensi h. Diabetes melitus b. Nefritis kronis d. Inkompatability rhesus j. Indikasi SC: a. Tanda pertama fetal distres b. Malpresentasi d. Insufisiensi plasenta b. Polihidramnion dan oligohidramnion e. Plasenta previa 2. AIDS 95 . Sevik tidak matang dengan beberapa keadaan seperti: preeklamsi atau DM f. Riwayat SC sebelumnya 4) IUFD (Intrauterin Fetal Death) IUFD atau stilbirth adalah kelahiran hasil konsepsi dalam keadaan mati yang telah mencapai umur kehamilan 28 minggu (atau berat badan lahir lebih atau sama dengan 1000gr) Penyebab 1.6. Faktor ibu a. Solusio plasenta d. Penyakit jantung g.

Partus lama c. Prematuritas b. tidak ada pembesaran perut. Perdarahan otak 5. Faktor tali pusat a. 2. Vassa praevia d. Tidak diketahui faktor penyebabnya Gejala klinis dan diagnosis Untuk menentukan stillbirth dapat ditentukan melalui: 1. Persalinan sungsang g. Kelainan bawaan d. Riwayat Tidak merasakan gerakan janin selama 3 hari. Perdarahan antepartum b.3. Prolapsus tali pusat b. kadang ada bercak cairan kecoklatan dari vagina. Partus macet e. Lilitan tali pusat c. Obat-obatan 4. Gejala klinis kematian janin Ukuran uterus mengecil dibandingkan dengan ukuran seharusnya 3. payudara melembut. Faktor intrapartum a. Postmaturitas c. Persalinan presipitatus f. Faktor janin a. Anastesi d. Pemeriksaan hormon untuk melihat fungsi plasenta 96 . Tali pusat pendek 6.

USG Tidak terlihat djj dan nafas janin. terlihat kerangka yang bertumpuk. Bidan memberikan dukungan emosional kepada pasien maupun keluarga pasien Manajemen setelah persalinan 1. Melakuak kunjungan rumah untuk melihat KU pada masa postpartum misalnya laktasi. dan perencanaan KB 97 . Pasien di rujuk ke dokter segera setelah diketahui IUFD 2. Setelah bayi lahir kemudian diperiksa dan ditimbang. Mendeteksi secara dini faktor-faktor predisposisi IUFD dan pemberian pengobatan 3. terlihat penumpukan tulang tengkorak.Didapatkan kadar estriol urin atau estriol darah yang sangat menurun dibandingkan pada saat kehamilan. Medeteksi gejala awal IUFD atau tanda fetal distres Manajemen pada saat IUFD terjadi 1. membran dan plasenta diperiksa 2. tidak terlihat struktur janin. tidak meminum minuman beralkohol. badan dan tunkai janin tidak terliaha bergerak. 4. Bidan memberikan dukungan emosional pada pasien dan keluarganya 3. Memeberikan nasehat pada waktu ANC mengenai keseimbangan diet makanan. dan reduksi cairan yang abnormal Manajemen untuk pencegahan kematian janin 1. Dokter melakukan pemeriksaan untuk menentukan penyebab kematian 4. obatobatan dan hati-hati terhadap infeksi atau bahan-bahan yang berbahaya 2. jamgan merokok. ukuran biparietal janin setelah 30 minggu terlihat tidak bertambah panjang pada setiap minggu. involusio rahim. Bila setelah terdiagnosa pasti bidan dapat melahirkan bayinya di bawah pengawasan dokter 3.

Ini terjadi karena tromboplastin dilepaskan kedalam sirkulasi dari jaringan janin yang mati dan terjadi mekanisme kloding blood. hereditas. Pada kembar yang lebih dari satu telur. tetapi wanita dengan kehamilan kembar memerlukan pengawasan dan perhatian khusus bila diinginkan hasil yang memuaskan bagi ibu dan janin. Jika telur-telur yang diperoleh dapat dibuahi lebih dari satu dan jika semua embrio yang kemudian dimasukkan ke dalam rongga rahim ibu tumbuh berkembang lebih dari satu. Etiologi Bangsa. Juga obat klomid dan hormon gonadotropin yang dipergunakan untuk menimbulkan ovulasi dapat menyebabkan kehamilan dizigotik.Manajemen Sedikitnya 70% wanita akan melahirkan secara spontan dalam 2 minggu kematian bayi dan lainnya akan lahir kurang dari 2 minggu. herediter. Bahaya bagi ibu tidak begitu besar. jika kelahiran spontan tidak terjadi dalam 3-4 minggu resiko DIC meningkat. umur dan paritas tidak atau sedikit sekali mempengaruhi terjadinya kehamilan kembar. Akibatnya terjadi penurunan tingkat fibrinogen serum dan jumlah flatelet untuk mendiagnosis kondisi tersebut gambaran penggumpalan harus ada pada wanita dengan IUFD dan sekali atau dua kali seminggu selama wanita itu melahirkan. d) Kehamilan Ganda Kehamilan kembar ialah satu kehamilan dengan dua janin atau lebih. Diperkirakan sebabnya ialah faktor penghambat pada masa pertumbuhan dini hasil konsepsi.faktor tersebut dengan mekanisme tertentu menyebabkan matangnya 2 atau lebih folikel de graf atau terbentuknya 2 ovum atau lebih dalam satu folikel. dan paritas hanya mempunyai pengaruh terhadap kehamilan kembar yang berasal dari 2 telur. faktor bangsa. Faktor penghambat yang 98 . umur.

2 korion dan 2 amnion. Demikian pula letak janin kedua dapat berubahsetelah kelahiran janin pertama. Kkirakira 1/3 kehamilan kembar adalah monozigotik. maka akan terjadi kehamilan kembar dengan 2 amnion. kadang-kadang 2 plasenta menjadi 1. Setelah primitif streak terbentuk maka akan terjadi kembar dempet dalam berbagai bentuk. Kehamilan kembar dizigotik Kira-kira 2/3 kehamilan kembar adalah dizigotik yang berasal dari 2 telur. keadaan ini tidak dapat dibedakan dengan kembar dizigotik.mempengaruhi segmentasi sebelum blastula terbentuk menghasilkan kehamilan kembar dengan 2 amnion. mereka berbeda seperti anak-anak lain dalam keluarga. Kehamilan kembar monozigotik Kehamila kembar yang terjadi dari satu telur disebut kehamilan monozigotik atau disebut juga identik. 2 korion dan 2 plasenta. Jenis 1. homolog atau uni ovuler. Pada kehamilan kembar monoamniotik kematian bayi masih sangat tinggi. sehingga sering terjadi perubahan presentasi dan posisi janin. 2 korion dan 2 plasenta seperti pada kehamilan kembar dizigotik. 1 korion dan atau 2 amnion. 2. Bila faktor penghambat terjadi setelah blastula tetapi sebelum amnion terbentuk. misalnya dari letak lintang menjadi letak sungsang. sebelum primitive streak tampak maka akan terjadi kehamilan kembar dengan 1 amnion. Letak Dan Presentasi Janin Pada umumnya tidak besar dan cairan amnion lebih banyak daripada biasa. 2/3 mempunyai 1 plasenta. Kembar dizigotik mempunyai 2 plasenta. mempunyai 2 amnion. Jenis kelamin sama atau berbeda. disebut juga heterolog binovuler atau fraternal. 99 . Yang paling sering ditemukan kedua janin dalam letak memanjang dengan presentasi kepala kemudian menyusul presentasi kepala dan bokong. Kadang-kadang 2 plasenta menjadi 1.

keduanya presentasi bokong, presentasi kepala dan bahu, presentasi bokong dan bahu dan yang paling jarang keduanya presentasi bahu. Diagnosis Diagnosis kehamilan kembar dapat ditegakan jika ditemukan hal-hal sebagai berikut: 1. Besarnya uterus melebihi lamanya amenorhoe 2. Uterus tumbuh lebih cepat daripada biasanya pada pemeriksaan ulang 3. Penambahan berat badan ibu yang tidak disebabkan oleh edema atau obesitas. 4. Banyak bagian kecil yang teraba 5. Teraba tiga bagian besar janin 6. Teraba 2 balotemen Diagnosis pasti dapat ditentukan dengan: 1. Teraba 2 kepala, 2 bokong, dan 1 atau 2 punggung 2. Terdengan 2 denyut jantung yang letaknya berjauhan dengan perbedaan kecepatan paling sedikit 10 denyut per menit 3. Sonogram dapat mendiagnosa kehamilan kembar pada triwulan pertama 4. Rontgen photo abdomen Diagnosis Banding 1. Hidramnion Dapat menyertai kehamilan kembar, kadang kelainan hanya terdapat pada satu kantong amnion dan yang lainnya oligohidramnion. Pemeriksaan USG dapat enentukan apakah pada hidramnion ada kehailan kembar atau tidak. 2. Kehamilan dngan mioma uteri atau kistoma ovarii

100

Tidak terdengarnya 2 jantung pada pemeriksaan berulang, bagian besar dan kecil yang sukar digerakan, lokasinya yang tidak berubah, dan pemeriksaan rontgen dapat membedakan kedua hal tersebut. Komplikasi 1. Ibu a. Anemia b. Hipertensi c. Partus premeturus d. Atonia uteri e. Perdarahan pasca persalinan 2. Bayi a. Hidramnion b. Malpresentasi c. Plasenta previa d. Solusio plasenta e. Ketuban pecah dini f. Prolapsus funikuli g. Pertumbuhan janin terhambat h. Kelainan bawaan i. Morbiditas dan mortalitas perinatal meningkat Penanganan Dalam Kehamilan Pemeriksaan Antenatal lebih sering. Mulai kehamilan 24 minggu pemeriksaan dilakukan tiap 2 minggu, sesudah kehamilan 36 minggu tiap minggu, sehingga tanda-tanda preeklampsi dapat diketahui dini dan penanganan dapat dikerjakan dengan segera. Setelah kehamilan 30 minggu, perjalanan jauh dan koitus sebaiknya dialarang karena dapat merupakan faktor predisposisi partus prematurus.

101

Anemia hipokrom tidak jarang terjadi pada kehamilan kembar karena kebutuhan besi 2 bayi dan penambahan volume darah ibu sangat meningkat. Pemberian sulfas ferosus 3x100 mg secara rutin perlu dilakukan. Selain zat besi dianjurkan untuk memeberikan asam folik sebagai tambahan. Penanganan Dalam Persalinan Semua persiapan untuk resusitasi dan perawatan bayi prematur disediakan. Golongan darah ibu sudah ditentukan dan persediaan darah diadakan mengingat kemungkinan paerdarahan postpartum lebih besar. Pemakain sedative perlu dibatasi. Episiotomi mediolateral dikerjakan untuk memperpendek kala pengeluaran dan mengurangi tekanan pada kepala bayi. Setelah bayi pertama lahir, segera dilakukan pemeriksaan luar dan vaginal untuk mengetahui letak dan keadan janin kedua. Bila janin dalam letak memanjang, selaput ketuban dipecahkan dan air ketuban dialirkan perlahan-lahan untuk menghindarkan prolapsus funikulli. Penderita dianjurkan meneran atau dilakukan tekanan terkendali pada fundus uteri, agar bagian janin masuk dalam panggul. Janin kedua turun dengan cepat sampai kedasar panggul dan lahir spontan karena jalan lahir telah dilalui anak pertama. Bila janin kedua dalam letak lintang denyut jantung janin tidak teratur, terjadi prolapsus funikulli atau solusio plasenta, atau bila persalinan spontan tidak terjadi dalam 15 menit, maka janin perlu dilakirkan dengan obstetrik karena resiko akan meningkat dengan meningkatnya waktu. Dalam letak lintang dicoba untuk mengadakan versi luar dan bila tidak berhasil maka segera disuntdilakukan versi ekstraksi tanpa narkosis. Pada janin dalam letak memanjang dapat dilakukan ekstraksi cunam pada letak kepala dan ekstraksi kaki pada letak sungsang. SC dilakukan atas indikasi janin pertama dalam letak lintang, prolapsus

102

funikuli, plasenta previa. Bila terjadi interloking, bila keadaan tidak bisa dilepaskan dilakukan dekapitasi atau SC menurut keadaan janin. Setelah anak kedua lahir penderita disuntik 10 satuan oksi dan tingginya fundus uteri diawasi. Jika ada tanda-tanda pelepasan plasenta maka plasenta dilahirkan. Kala IV diawasi secara cermat agar perdarahan post parrtum dapat diketahui dini dan penanggulangan dapat dilakukan dengan segera. Prognosis 1. Anemia 2. Preeklamsi dan eklamsi 3. Operasi obstetrik dan perdarahan post partum.

Gambar 2.4. Posisi Janin Kembar e) Kelainan Air Ketuban 1) Polihidramnion Suatu keadaan dimana jumlah air ketubanjauh lebih banyak dari normal, biasanya lebih dari 2 liter.

103

Perjalanan penyakit 1) Hidramnion kronis Pertambahan air ketuban terjadi secara perlahan-lahan dalam beberapa minggu atau bulan, dan biasanya terjadi pada kehamilan lanjut 2) Hidramnion Akut Terjadi pertambahan air ketuban yang sangat tiba-tiba dan cepat dalam waktu beberapa hari saja Hidramnion banyak ditemukan pada kasus-kasus: 1) penyakit jantung 2) nefritis 3) edema umum 4) anamali kongenital (pada anak); seperti anencepali, spinadifida atresia atau striktur esofagus, hydrocepalus dan struma blockling oesophagus 5) simpul tali pusat 6) DM 7) Gemelli uniovulair 8) Malnutrisi 9) Penyakit kelenjar hipofisis Diagnosis 1) Anamnesis a). Perut lebih besar dan terasa lebih berat dari biasa b). Pada yang ringan keluhan-keluhan subyektif tidak banyak c). Pada yang akut dan pada pembesaran uterus yang cepat terdapat keluhan-keluhan d). Nyeri perut karena tegangnya uterus mual dan muntah e). Oedema pada tungkai, vulva dan dinding perut

104

retak-retak kulit jelas dan kadang-kadang umbilikus mendatar b).f). kepala janin dapat diraba maka balotement jelas sekali e). vulva dan tungkai b). Jika akut. Foto rongtgen pada hidramnion bberguna untuk disgnostik dan untuk menentukan etiologi 6) Pemeriksaan dalam Selaput ketuban teraba tegang dan menonjol walaupun diluar his Diagnosa banding 1) Hidramnion 2) Gemeli 3) Asites 4) Kista avanii 105 . Perut tegang dan nyeri tekan serta terjadi oedema pada dinding perut. Kelihatan perut sangat buncit dan tegang. Fundus uteri lebih tinggi dari umur sesungguhnya c). 2) Inspeksi a). Nampak bayangan terselubung kabut. Bagian janin sukar dikenali d). Karena bebasnya janin bergerak dan tidak terfiksir maka dapat terjadi kesalahan-kesalahan letak janin 4) Auskultasi DJJ sukar didengar dan jika terdengar hanya sekali 5) Rontgen foto abdomen a). karena banyaknya cairan kadang bayangan janin tidak jelas b). Kalau pada letak kepala. berkerigat dingin. bisa syok. sesak. kulit perut berkilat. Pada proses akut dan perut besar sekali. ibu akan terlihat sesak dan sianosis serta terlihat payah membawa kandungannya 3) Palpasi a).

Pada hidramnion yang berat dengan keluhan-keluhan harus dirawat di rumah sakit dan bedrest 2) Waktu partus a). Solusio plasenta b). Retensio plasenta e). Periksa Hb b). masukan jari tangan ke dalam vagina sebagai tampon beberapa lama supaya air ketuban keluar pelan-pelan 3) Post partum a). Bila tidak ada hal-hal yang mendesak maka sikap kita menunggu b). Pasang infus 106 . Perdarahan post partum d). Komplikasi karena kesalahan letak anak d). Bila sewaktu pemeriksaan dalam. Kongenital anomali b). ketuban tiba-tiba pecah. Hidramnion ringan. Bila keluhan hebat. Eritoblastosis 2) Pada ibu a). jarang diberi terapi klinis cukup diobservasi dan berikan terapi simpotomatis b). Syok Terapi hidramnion dibagi menjadi 3 fase: 1) Waktu hamil a).5) Kehamilan beserta tumor Prognesis 1) Pada janin a). Prematuritas c). seperti sesak dan sianosis maka lakukan transvaginal melalui servik bila sudah ada pembukaan c). Atonia uteri c).

sehingga kaki berada dekat kepala.c). Pemberian antibiotik 2) Oligohidramnion Oligohidramnion adalah suatu keadaan dimana air ketuban kurang dari normal yaitu kurang dari ½ liter. Tipe ini lebih sering pada multigravida 2) Extended brech (frank brech) pada bayi fleksi. 1 atau kedua kaki di bawah bokong 107 . Etiologi Sebab pasti belum diketahui dengan jelas. sering terjadi pada primiyang prematur 3) Presentesi kaki. Primer Sekunder karena pertumbuhan amnion yang kurang baik ketuban pecah dini Gambaran Klinis 1) Perut ibu kelihatan kurang membuncit 2) Ibu merasa nyeri diperut pada tiap pergerakan anak 3) Persalinan lebih lama dari biasanya 4) Sewaktu his akan terasa sakit sekali 5) Bila ketuban pecah air ketuban sedikit sekali bahkan tidak ada yang keluar f) Kelainan Letak 1) Letak Sungsang Letak sungsang merupakan suatu letak dimana bokong bayi merupakan bagian rendah dengan atau tanpa kaki (keadaan dimana janin terletak memanjang dengan kepala di fundus uteri dan bokong berada di bagian bawah kavum uteri. Ada 4 tipe letak sungsang 1) Complete/flexed brech. tetapi pada kaki ektensi. pada posisi ini paha dan lutut bayi fleksi dan kaki menutupi bokong.

uterus bikormis. sementara di fundus teraba bagian yang keras. polihidramnion memungkinkan terjadinya malpresentasi Diagnosis Diagnosis ditegakan dengan pemerikasaan abdominal. insufisiensi cairan ketuban. bundar dan melenting. penyebab pasti dari presentasi bokong belum diketahui secara pasti tetapi dapat terjadi pada persalinan premetur. Denyut jantung janin terdengar di atas pusat. plasenta letak rendah atau tumor yang menghalangi jalan lahir. 2. Penmeriksaan dengan USG atau rontgen dapat mengetahui letak yang sebenarnya pada 108 .5 letak sungsang Penyebab Presentasi bokong terjadi kurang lebih 3% pada semua persalinan. janin berada dalam posisi 1 atau kedua lutut berada di bawah bokong Gamba. Selain itu kelainan-kelainan seperti hidrosefalus. Pada palpasi di bagian bawah teraba bagian yang kurang keras dan kurang bundar. gande multi.4) Presentasi lutut.

Bahaya persalinan sungsang dapat di simpulkan sebagai berikut: 1. Oedem genital dan memar atau lecet akibat capformation Kejadian anomali kongenital tinggi pada bayi dengan presentasi atau letak sungsang dan terutama pada BBLR.pemeriksaan pervaginam teraba bagian lunak anus juga akan teraba bagian sacrum Persalinan sungsang tidak menyebabkan bahaya bagi ibu tetapi menimbulkan hal yang serius bagi bayinya. anastesi dan ahli anak. Kerusakan otot dan syaraf terutama pada otot sterno mastoid dan fleksus brachialis 5. Kala I persalinan 109 . Kebanyakan dokter ahli kebidanan menganjurkan induksipersalinan pada 38 minggu. Jika ibu tidak partus spontan pada 40 minggu biasanya dilakukan induksi persalinan. Anoksia intra dan ekstra uterin 2. ketika fetus masih agak kecil. Perdarahan intrakranial 3. Setelah kepala masuk ke dalam rongga panggul dapat terjadi tekanan pada kepala pada tali pusat dan ini akan menyebabkan hipoksia janin. Kematian bayi pada persalinan sungsang 4 kali lebih besar daripada persalinan biasa. ruptur organ abdomen dan banyak bahaya untuk otot syaraf. Pelepasan plasenta dapat terjadi pada kala II akibat tarikan dari tali pusat. 1. Manajemen Persalinan Sungsang Persalinan dianjurkan di rumah sakit di bawah pengawasan dokter ahli obstetri. Bahaya lain adalah fraktur. Ruptur organ abdomen 6. Fraktur dan dislokasi 4.

ibu sebaiknya tidak berjalan-jalan. bokong dapat melalui servik tetapi kepala tidak melalui servik sehinga ibu dilarang untuk mengejan sampai dilatasi servik lengkap 2. Posisi sacrum kiri depan 2. Posisi sacrum anterior kanan 3. Kala II persalinan Pemeriksaan vaginal dilakukan untuk mengetahui pembukaan lengkapsebelum menyuruh ibu mengedan. Bokong belakang tampak di vulva dan bokong maju lebih 110 . Sacrum kanan/kiri 4. Pada saat pembukaan servik tercapai ¾ nya biasanya ibu ingin mengejan. Kadang-kadang kontraksi uterus hipotonis sehingga dapat dirangsang dengan pemberian oksitosin. Pertama-tama kandung kancing dikosongkan ketika bokong belakng meregang perineum diberi anastesi lokal dan dilakukan episiotomi. Mekanisme persalinan letak sungsang Hubungan sacrum dengan panggul ibu akanmenentukan posisi janin. Jika bokong enganged seperti pada bokong murni dimana terdapat resiko pecah selput ketuban dan prolapsus umbilikal. Sacrum kiri/kanan belakang Pertolongan persalinan pada letak sungsang Persalinan letak sungsang dapat ditolong dengan prasar brach ataupun dengan tindakan/extraksi.Kala I persalinan lebih lama daripada letak belakang kepala. Ada 4 posisi pada letak sungsang: 1. posisinya sama dengan letak kepalatetapi pada letak sungsang sacrum sebagai penunjuk.

lubang hidung segera dibersihkan kepala dilahirkan secara perlahan-lahan. Ketika kuduk dan garis rambut sudah tampak menunjukan bahwa kepala akan lahir. kemudian memasukan jari tengah ke dalam mulut dan kepala difleksikan. Setelah hidung tampak di vulva . Metode mauriceau digunakan untuk melahirkan kepala dimana terjadi kelambatan dari penurunan kepala. Bayi di pegang pada pergelangan kaki dan menggunakan traksi yang halus. tubuh di simpan di atas abdomen ibu. Jari tengah menekan oksiput untuk membantu fleksi. Selanjutnya kepala dilahirkan dengan lambat. Tali pusat dilongggarkan pada kontraksi berikutnya bahu akan tampak. Jika kepala dilahirkan dengan cepat dapat terjadi perdarahan intrakranial. selama beberapa waktu untuk memudahkan penurunan dan fleksi dari kepala. Sekarang bayi dalamkeadaan menggantung pada berat badannya. untuk menghindarinya biasanya dengan menggunakan forcep erygey’s atau neville barnes untuk kepala yang sudah lahir hal ini memungkinkan untuk mengontrol kecepatan lahirnya kepala. obatobatan oksitosin diberikan pada ibu segera seteah bayi lahir. tehniknya yaitu dengan menunggangkan bayi apada lengan kiri. asisten menekan daerah supra pubik dengan sehalus mungkin kepala dilahirkan melalui jalan lahir. Mulut dibersihkan dari lendir sehingga bayi bernafas tanpa menghisap cairan lendir. memasukan tiga jari kedalam vagina dan mencari mulut bayi. Kepala ditarik ke bawah sampai batas hidung sehingga saluran nafas dapat dibersihkan dan oksigen dapat diberikan segera setelah bayi bernafas. Perineum ditekan dengan jari untuk membuka mulut bayi. Jari tengah dan jari telunjuk tangan kanan disangkutkan pada bahu untuk digunakan sebagai tarikan. Lengan yang normalnya fleksi menyilang di depan dada dengan mudah dilepaskan dan bahu akan lahir.cepat. jalan nafas dibersihkan dan kelahiran 111 . Badan bayi maju sampai sejauh umbilikus kemudian kaki di lepaskan/dilahirkan dengan perlahan-lahan.

bidan harus mengupayakan membawa ibu ke rumah sakit. mengingat bahaya yang dapat ditimbulkan dari persalinan tersebut.kepala dilakuka dengan cara yang sama. bidan menemukan kakus dengan persalinan sungsang. Gambar . Apabila pada praktek di masyarakat. fibroid uterus yang besar.2. selain itu juga ada beebrapa faktor yang mendukung terjadinya letak lintang yaitu: kehamilan ganda. Pada umumnya bokong berada sedikit lebih tinggi daripada kepala janin. Punggung janin dapat berada di depan (dorsoanterior). 2) Letak Lintang Letak lintang adalah suatu keadaan dimana janin melintang di dalam uterus dengan kepala pada sisi yang satu sedangkan bokong pada sisi yang lain. polihidramnion.6. pengkerutan pelvis. Pada keadaan emergensi bidan dapat melakukan tehnik ini meskipun jarang dilakukan. Kelaianan letak paling sering terjadi pada wanita paritas tinggi (grande multipara). 112 . di belakang (dorsoposterior) atau di bawah (dorsoinferior). Faktor lain yang mendukung terjadinya letak lintang adalah plasenta previa. abnormalitas uterus. Letak Lintang Penyebab Penyebab paling sering adalah kelemahan otot uterus dan abdomen. sedangkan bahu berada pada pintu atas panggul.

tetapi tidak ada bagian presentasi yang berada di pelvis. atau persalinan prematur. Manajemen atau penatalaksanaan Dokter dapat mengusahakan untuk membenarkan posisi dengan cara versi external menjadi letak membujur dan presentasi kepala. lebih menonjol ke salah satu bagian abdomen. engan TFU rendah. DJJ dan kontraksi uterus dimonitor secara elektrik dan jika memingkinkan kondisi ibu benar-benar diperhatikan. pengerutan pelvis. Pada setiap kunjungan antenatal dokter seharusnya memeriksa letak. Jika pemeriksaan USG tidak mendeteksi plasenta previa. Ketika paru-paru bayi prematur. Penekanan pada sisi lateral dapat diterapkan untuk membantu uterus dalam mempertahankan letak memanjang. Pemeriksaan USG dapat mendeteksi abnormalitas fetus dan uterus. atau waktu datangnya persalinan. Hal ini mungkin diikuti dengan induksi persalinan dengan oksitosin.resiko versi chepalik eksternal adalah terjadinya KPD dan tali pysat menumbung. ibu seharusnya datang ke RS untuk dilakukan versi chepalik eksternal yang dilakukan ditempat kelahiran. pemeriksaan vagina dapat dilakukan untuk mendeteksi abnormalitas pelvik seperti. Palpasi akan teraba kepala janin pada salah satu sisi dan bokong pada sisi yang lain. Dalam persalinan ketika kepala 113 .Diagnosis Letak lintang mudah didiagnosis dalam kehamilan dari bentuk uterus. presentasi dan mendengarkan DJJ. USG dapat digunakan untuk memastikan dignosis untuk mendeteteksi kemungkinan penyebab. Kecenderungan pengembalian posisi letak lintang menjadi posisi letak memanjang sulit dan seringnya beberapa dokter tidak menganjurkan versi chepalik eksternal sebelum kelahiran direncanakan. Pada palpasi kepala janin atau bokong ditemukan di salah satu bagian fossa iliaca. terlihat melebar.

Rangkuman Materi Komplikasi. Jika tindakan pencegahan tersebut tidak dilakukan. penyakit dalam masa kehamilan Komplikasi dan penyulit kehamilan trimester I dan II meliputi: Anemia kehamilan. 114 . Bidan dapat mendeteksi presentasi bahu dengan cara pemeriksaan abdomen seperti yang dijelaskan diatas dan pemeriksaan vagina. Persalinan seharusnya dapat berjalan dengan normal. Molahidatidosa Komplikasi dan penyulit kehamilan trimester III meliputi : Kehamilan dengan hipertensi. Kelainan letak. Kelainan dalam lamanya kehamilan. jika mendapatka kesulitan untuk membenarkan letak janin setelah selaput ketuban pecah ini tidak mungkin dilanjutkan. ketika persalinan dimulai bahu janin dapat turun kebawah ke rongga pelvis bagian depan dapat terjadi KPD dan penumbungan tali pusat yang disertai dengan penumbungan lengan janin. SC merupakan cara yang paling aman untuk melahirkan. Kelainan air ketuban. Pada beberapa kasus dimana wanita mempunyai riwayat obstetri yang urut. Jika ada kegawat daruratan. Bahu janin dapat dikenali dengan merasakan tulang rusuk atau tangan. Perdarahan antepartum. Abortus. atau terdapat komplikasi dalam persalinan. bidan seharusnya merujuk ke dokter atau ke pelayanan kegawat daruraan obstetri.bayi memasuki rongga pelvis membran dapat ruptur. kelainan. Dalam persalinan. Tindakan SC merupakan bentuk kelahiran yang paling aman. C. KET. Hyperemesis ravidarum. Pemeriksaan vagina tidak boleh dilakukan jika ada indikasi plasenta previa. Kehamilan ganda.

Hanifa Wiknjosastro. Latihan/ Tugas 1. Ilmu Bedah Kebidanan. Adanya gangguan serebral. Cara pengukuran sekurang- kurangnya pada 2x pemeriksaan dengan jarak b.D. Rambu-Rambu Jawaban 1. muka dan berat badan naik >1 kg/mg Preeklamsia berat a. 2. jari. Preeklamsia ringan a. dan rasa nyeri di epigastrium Eklamsi meupakan seangan Konvulsi yang tejadi mendadak dalam kehamilan tetapi tidak selalu komplikasi atau kelanjutan dai pre eklamsi.3 gr/lt atau 1+ atau 2+ c. Solusio Plasenta plasenta lepas sebelum waktunya dimana pedarahannya merah kehitaman disetai nyeri. F. Edema pada kaki. 2005. Diskusikan apa bebedaan dari plasenta previa dan solusio Plasenta? E. Diskusikan apa perbedaan dari pre eklamsi ringan. 5 gr/lt atau lebih c. Tekanan darah 140/90 mmHg atau kenaikan diastolik 15 mmHg atau lebih (diukur pada posisi berbaring terlentang) atau kenaikan sistolik 30 mmHg atau lebih. 115 . Plasenta previa adalah letak plasenta yang menutupi jalan lahir dimana perdarahannya merah segar dan tidak disertai rasa nyeri. Tekanan darah 160/110 mmHg atau lebih b. Oliguria (jumlah urine < 500 cc per 2 jam d. Jakarta : Yayasan Bina pustaka sarwono. Hal 104 – 121. Proteinuria. 2. pre eklamsi berat dan eklamsi. Proteinuria 0. Daftar Pustaka 1. gangguan visus. Terdapat edema paru dan sianosis e.

Cakul Obgin Plus FKUI. Midwifery. 3. 4. 2001 Varney’s H.2. 12 th Edition 2000 Mochtar R. Budi Marjono. Hal 173 -178. Bagian OBSGIN FK Universitas Padjadjaran. Bandung : Elstar Offset. Workshop Kurikulum mata ajar Askeb IV. 2005. Buku Panduan Praktis Maternal dan Neonatal. 2006. Sinopsis Obstetri Jilid I. YBPSP 6. Ilmu Kebidanan. Midwifery. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono. 9. Jones and Bartlett Publisher Mayes. 8. 5. tidak diterbitkan 116 . 7. Jakarta 10. UK. 1998. Tim pengajar Askleb IV. 1997. Jakarta. 2001. Jakarta:FTM Syaifudin. Hanifa Wiknjosastro. 1999. Obstetri Patologi. Hal 606 – 622. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal.

Bergantung pada derajat defleksinya maka dapat terjadi presentasi puncak kepala. B. Dalam keadaan tertentu fleksi kepala tersebut tidak terjadi. Perbedaanya adalah: pada presentasi puncak kepala tidak terjadi fleksi kepala yang maksimal. Kompetensi Dasar Mampu menguraikan konsep dasar penyulit persalinan kala I. III dan IV. sehingga keduanya seringkali dikacaukan satu dengan yang lainnya. Konsep Dasar Penyulit Kala I dan Kala II a. terjadi apabila derajat defleksinya ringan. sehingga ubun-ubun besar merupakan bagian terendah. Presentasi muka bila derajat defleksinya maksimal. Konsep Dasar Kelainan Presentasi dan Posisi 1) Presentasi Puncak Kepala Pada persalinan normal. sehingga kepala dalam keadaan defleksi. sehingga lingkaran kepala yang melalui jalan lahir adalah sirkumferensia frontooksipitalis dengan titik perputaran yang berada di bawah simpisis adalah glabela. Presentasi dahi.BAB IV ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU DENGAN KELAINAN. 117 . Mekanisme persalinanya hampir sama dengan posisi oksipitalis posterior persisten. yang kemudian akan berubah menjadi presentasi belakang kepala. presentasi dahi a tau presentasi muka.II. Presentasi puncak kepala atau disebut juga presentasi sinsiput. sehingga muka janin merupakan bagian yang terendah. bila derajat defleksinya lebih berat sehingga dahi merupakan bagian yang paling rendah. Pada umumnya presentasi puncak kepala merupakan kedudukan sementara. KOMPLIKASI DAN PENYAKIT DALAM PERSALINAN A. Uraian materi 1. kepala janin pada waktu melewati jalan lahir berada dalam keadaan fleksi.

Oleh karena itu pemeriksaan pervaginam dilakukan sesegera mungkin untuk mendeteksi prolapsus tali pusat. dengan diameter mento vertikal 13 cm. dan seharusnya ibu dirujuk ke RS. Kepala pada pertengahan antara versi dan ekstensi. Manuver jarang dilakukan pada presentasi muka.2) Presentasi Dahi Presentasi dahi jarang terjadi dari pada presentasi muka. terjadi hanya 1 dari 2000 persalinan. 3) Presentasi Muka Presentasi Muka jarang terjadi kira-kira 1 dalam 500 kelahiran. Kepala dan tulang belakang ekstensi tetapi lutut fleksi sehingga letak 118 . Jika presentasi dahi didiagnosis segera dalam persalinan dapat mengubah presentasi muka menjadi ekstensi penuh atau fleksi pada presentasi verteks. Diagnosis Pemeriksaan abdomen kepala sangat tinggi dan diameter sangat besar. teraba lekukan antara oksiput dengan bagian belakang. Jika presentasi dahi menetap dan fetus dalam ukuran normal tidak mungkin terjadi kelahiran pervaginam dan SC harus segera dilakukan. Diagnosis dapat ditegakkan dengan radiografik atau dengan USG. Jika dahi dapat teraba. presentasi tinggi dan tidak bisa diraba. orbital berada pada satu sisi dan fontanel anterior berada pada sisi yang lain. Pada pemeriksaan vagina. tindakan yang paling aman untuk ibu dan bayi adalah dengan menggunakan SC. Pada semua malpresentasi seringnya terjadi KPD dan resiko prolapsus tali pusat lebuh besar. Manajemen Bidan harus dengan cepat menghubungi dokter jika ada suspek atau diagnosa presentasi dahi dalam persalinan.

Ultrasound dalam kehamilan dapat digunakan untuk memastikan diagnosis presentasi muka. Pada posisi mento posterior bunyi jantung janin lebih sulit terdengar karena dada pada posterior. kepala ekstensi dan muka terlihat. Hal ini seharusnya diperhatikan jika ada lekukan yang dalam antara kepala dengan bagian belakang. Internum. Diameter bitemporal lebih cepat turun. Presentasi muka sekunder yang berkembang dalam persalinan sering tidak diketahui sebabnya. Oksiput berlawanan dari bahu dan muka secara langsung yang berada dibagian os. Kekuatan kontraksi uterus berjalan kearah kepala bagian frontal supaya kepala ekstensi dan masuk kerongga pelvis. Presentasi muka juga lebih sering terjadi pada flat pelvis. Bunyi jantung terdengar melalui dinding dada anterior pada sisi dimana lutut teraba. kepala tidak dapat versi biasanya tonus otot ekstensor tonus berlebuhan dan bertahan dalam sikap ekstensi pada beberapa setelah lahir. 119 . vertek tidak ada. dalam rongga pelvis dan pada prematuritas dan dimana terjadi polihidramnion atau kehamilan ganda. Fetus goitre. Diagnosis Presentasi muka tidak mudah didiagnosis dalam kehamilan. Pada posisi oksipito pesterior defleksi diameter biparietal mungkin mempunyai kesulitan dalam menjauhi diameter sacro cotyloid dari pelvis maternal.fetus dalam uterus dalam bentuk huruf S. Suaranya terdengar jelas pada posisi mento anterior. Penyebab Pada presentasi muka primer sebelum persalinan berlangsung fetus seringnya abnormal. Uterus yang berada disisi samping (uterus obliq). Pada anensephalus yang biasa terjadi.

Komplikasi Komplikasi yang dapat terjadi pada presentasi muka.5 cm. Kelahiran spontan tidak akan terjadi. Pada kala II kelahiran normal diantisipasi dengan menggunakan episiotomi meskipun diameter sub mento bregmatika 9. Muka tidak berbentuk dan oleh karena CPD yang tidak dapat ditangani 120 . Kemajuan persalinan menjadi sangat sulit pada pemeriksaan pervaginam untuk membedakan muka karena muka menjadi oedemmeriks. Biasanya fetus akan membantu diagnosis dengan menghisap jari tangan pemeriksa saat dilakukan pemeriksaan. Obstruksi persalinan. kemungkinan persalinan obstruksi dan dibutuhkan penatalaksanaan dengan segera. a. Jika kelahiran normal terjadi ekstensi dipertahankan dengan menekan sinsiput hingga dagu berada di bawah simpisis pubis.5 cm yang dapat merobek perineum saat kelahiran. 1. Pemeriksaan harus hati-hatiuntuk menghindari trauma pada mata. Prolapsus tali pusat 2. meliputi. Manajemen Pada posisi mento anteerior seringnya proses persalinan berjalan normal. Sub mento vertikal 11.Diagnosis dapat ditegakan dengan pemeriksaan vagina. akan menyebabkan obstruksi persalinan. Adanya gusi dan mulut dalam presentasi muka harus dibedakan dari anus pada presentasi bokong. kepala difleksikan sehingga memungkinkan verteks dan oksiput melewati perineum. yang tidak bisa berputar ke posisi anterior. Presentasi muka posterior. Posisi mento lateral dan mento posterior lebih berbahaya. Presentasi muka didiagnosa dengan menentukan posisi dagu apakah anterior atau posterior. karena. dengan palpasi yang lembut akan teraba orbital dan mulut dengan gusi.

Kelahiran operasi mungkin dibutuhkan 4. Misalnya: apabila diameter anterior posterior lebih panjang dai diameter transfersa seperti pada panggul antropoid atau segmen depan menyempit seperti pada panggul android. dahi dan muka 4) Posisi Oksipitalis Posterior Persisten Keadaan dimana ubun-ubun kecil tidak berputar ke depan.b.3. meskipun diameter sub mento bregmatik hanya 9.5 cm. sub mento vertikal 11. Muka memar dan oedem Gambar. Bentuk tengkorak fetus abnormal disebabkan perdarahan intrakranial.5 cm akan memperlebar vagina dan perineum. puncak kepala. Presentasi muka posterior presisten mengakibatkan obstruksi persalinan 3.1 Presentasi belakang kepala. 5. Sebab-sebab lain adalah otot-otot dasar panggul yang sudah lembek pada multipara atau kepala 121 . Etiologi Salah satu sebab terjadinya posisi oksipitalis oksiput posterior persisten ialah usaha penyesuaian kepala terhadap bentuk dan ukuran panggul. Keadaan ini dinamakan posisi oksiput posterior persisten. maka ubun-ubun kecil akan mengalami kesulitan memutar ke depan. Trauma perineum berat dapat terjadi karena. sehingga tetap dibelakang.

Kepala janin akan lahir dalam keadaan muka di bawah simpisis dengan mekanisme sebagai berikut. sehingga kepala lahir melalui pintu bawah panggul dengan sirkumferensia frontooksipitalis yang lebih besar dibandingkan dengan sirkumferensia sub oksipitooksipitalis. hal ini disebabkan karena kepala yang sudah dalam keadaan fleksi maksimal tidak dapat menambah fleksinya lagi. Kelahiran janin dengan ubun-ubun kecil di belakang menyebabkan regangan yang besar pada vagina dan perineum. Sedangkan kematian peeinatal perinatal lebih tinggi bila dibandingkan dengan keadaan dimana ubun-ubun kecil berada di depan. sehingga tidak ada paksaan pada belakang kepala janin. 122 . kemungkinan kerusakan jalan lahir lebih besar. oksiput akan lahir melalui perineum diikuti bagian kepala yang lain. Prognosis Jalannya pada proses persalinan posisi oksiput posterior sulit diramalkan hal ini disebabkan karena kemungkinan timbulnya kesulitan selalu ada.janin yang kecil dan bulat. untuk memutar ke depan. Persalinan pada pada umumnya berlangsung lebih lama. kedua keadaan tersebut dapat menimbulkan kerusakan pada vagina dan erineum yang luas. Setelah kepala mencapai dasar panggul dan ubun-ubun besar berada di bawah shimpisis dengan ubun-ubun besar tersebut sebagai hipomoklion. Mekanisme Persalinan Bila hubungan antara panggul dengan kepala janin cukup longgar persalianan pada posisi oksipitalis posterior persisten dapat berlangsung secara spontan tetapi pada umumnya lebih lama. Selain itu seringkali fleksi kepala tidak dapat maksimal.

b. Kontraksi uterus yang disertai rasa nyeri tidak cukup untuk membuat diagnosis bahwa persalinan sudah dimulai. singkat dan jarang daripada biasa. presentasi serta posisii janin. dan kandung kencing serta rectum 123 . sebaiknya diambil keputusan untuk melakukan SC. Konsep Dasar Distosia Kelainan Tenaga Atau His 1) His Hipotonik Kelainan dalam hal bahwa kontraksi uterus lebih aman. Kalau timbul setelah berlangsungnya his kuat untuk waktu yang lama hal ini dinamakan dengan inersia uteri sekunder. turunnya kepala janin dalam panggul dan keadaan panggul. Apabila ada disproporsi chepalopelvik yang berarti. Untuk sampai pada kesimpulan ini diperluakan kenyataan bahwa sebagai akibat kontraksi terjadi perubahan pada servik yaitu pendataran atau pembukaan servik Penanganan Setelah diagnosis inersia uteri ditetapkan. Tindakan untuk mempercepat jalanya persalinan dilakukan apabila kala II terlalu lama atau ada tanda-tanda bahaya terhadap janin.Penanganan Menghadapi persalinan dengan UUK di belakang sebaiknya dilakuka pengawasan persalinan yang seksama dengan harapan terjadinya persalinan spontan. Diagnosis inersia uteri paling sulit dalam fase laten. Pada presentasi belakang kepala kadang-kadang kala II mengalami kemacetan dengan kepala janin sudah berada di dasar panggul dan posisi UUK melintang. KU pasien sementara diperbaiki. Keadaan ini dinamakan posisi lintang tetap rendah (deep tranverse arrest). harus diperiksa keadaan servik. keadaan ini dinamakan inersia uteri primer atau hypotonic uterine contraction.

Lingkaran tersebut dinamakan dengan lingkaran retraksi patologis (lingkaran bandl). penderita di sarankan untuk berjalan-jalan terlebih dahulu. khususnya servik uteri. Oksitosin yang diberikan dengan suntikan IM akan dapat menimbulkan incoordinate uterin action. Batas antara bagian atas dan segmen bagian bawah atau lingkaran retraksi menjadi sangat jelas dan meninggi. Kalau seorang wanita pernah emengalami partus presipitatus kemungkinan besar kejadian ini akan berulang pada persaliann selanjutnya. Bahaya partus presipitatus bagi ibu ialah terjadinya perlukaan luas pada jalan lahir. 5 satuan oksitosin dimasukan ke dalam larutan glukosa 5% dan diberikan secara infus IV (dengan kecepatan kira-kira 12 tetes permenit yang perlahan dapat dinaikan sampai kira-kira 50 tetes. Untuk merangsang his selain dengan pemecahan ketuban bisa diberikan oksitosin. Kalau 50 tetes tidak dapat berhasil bisa dengan memeberikan dosis lebih tinggi dengan cara pasien harus di awasi dengan ketat dan tidak boleh ditinggalkan. Oleh 124 . Sedangkan pada bayi dapat mengalami perdarahan dalam tengkorak karena bagian tersebut mengalami tekanan kuat dalam waktu sangat singkat. His ng terlalu kuat atau terlalu efisien menyebabkan persalinan selessai dalam waktu yang sangat singkat (partus presipitatus): sifat his normal. 2) His Hipertonik (his terlampau kuat) Walaupun pada golongan koordinate hipertonik uterin contraction bukan merupakan penyebab distosia namun bisa juga merupakan kelaianan his.dikosongkan. kelainannya terletak pada kekuatan his. tonus otot di luar his juga biasa. Penanganan Pada partus presipitatus tidak banyak yang dapat diilakukan karena biasanya bayi sudah lahir tanpa ada seseorang yang menolong. apabila kepala atau bokong janin sudah masuk ke dalam panggul. vagina dan perineum.

Etiologi dari kelainan tenaga atau His Kelainan his terutama ditemukan pada primigravida khususnya primigravida tua. Usaha yang dapat dilakukan ialah mengurangi tonus otot dan mengurangi ketakutan penderita.karena itu sebaiknya wanita di rawat sebelum persalinan. Pada multipara lebih banyak ditemukan yang bersifat inersia uteri. Penanganan Kelainan ini hanya dapat diobati secara simtomatis karena belum ada obat yang dapat memperbaiki koordinasi fungsional antara bagianbagian uterus. khususnya inersia uteri adalah bagian bawah janin tidak berhubungan rapat dengan segmen bawah uterus seperti misalnya pada 125 . pethidin. 3) His yang tidak terkoordinasi His disini sifatnya berubah-ubah tonus otot uterus meningkat juga di luar his. His ini disebut sebagai incoordinate hipertonik uterin contraction. perlu dipertimbangkan SC. sehingga pengawasan dapat dilakukan dengan baik. dan kontraksinya tidak berlangsung seperti biasa karena tidak ada sinkronisasi antara kontraksi bagian-bagiannya. Dan kalau pembukaan belum lengkap. Faktor herediter mungkin memegang peranan yang sangat penting dalam kelainan his. tengah dan bawah menyebabkan his tidak efisien dan mengadakan pembukaan. Disamping itu tonus otot uterus yang menaik menyebabkan rasa nyeri yang lebih keras dan lama bagi ibu dan dapat pula menyebabkan hipoksia pada janin. Akan tetapi persalinan tidak boleh berlangsung berlarut-larut apalagi kalau ketuban sudah pecah. Tidak adanya koordinasi antara kontraksi bagian atas. Satu sebab yang penting dalam kelalinan his. Hal ini dapat dilakukan dengan pemberian analgetika. seperti morphin. danepisiotomi dilakukan pada waktu yang tepat untuk menghindari ruptur perineum tingkat III.

dapat timbul edema pada vulva. Biasanya terjadi sebagai akibat perlukaan dan radang.kelainan letak janin atau pada kelainan CPD. Abses yang pecah pada waktu persalinan dapat meyebabkan infeksi purperalis. Walaupun dapat di atasi dengan melakukan episiotomi yang cukup luas. stenosis dan tumor (a). Stenosis pada vulva (d). Edema (b). Pada persalinan lama pada penderita di biarkan meneran terus. (e). 2) Vagina Stenosis vagina kongenital jarang terjadi lebih sering ditemukan septum vagina yang memisahkan vagina secara lengkap atau tidak lengkap dalam bagian kanan dan bagian kiri. Tumor (f). c. Distosia Kelainan Alat Kandungan (Traktus Genitalis) 1) Vulva Kelainan yang dapat menyebabkan distosia yaitu edema. uterus bikornis unikolis. (c). dapat pula mengakibatkan kelainan his. Bisa timbul waktu hamil. kista atau abses glandula bartolin. yang meyebabkan ulkus-ulkus dan yang sembuh dengan parut-parut yang dapat menimbulkan kesulitan. biasanya sebagai gejala preeklampsi tetapi dapat pula mempunyai sebab lain misalnya gangguan gizi. Septum lengkap biasanya 126 . Tetapi pada sebagian kasus penyebab kelainan inersia uterus tidak diketahui. Tumor dalam bentuk neoplasma jarang ditemukan di vulva. lebih sering terdapat kondiloma akuminata. Gangguan dalam pembentukan uterus pada masa embrional misalnya. Peregangan rahim yang berlebihan pada kehamilan ganda atau hidramnion juga dapat merupakan penyebab inersia uteri.

disini dalam kala I uteri menipis akan tetapi pembukaan tidak terjadi. 127 . Kelainan kongenital. baik untuk koitus maupun untuk lahirnya janin. Diagnosis dibuat dengan menemukan lubang kecil yakni ostium uteri eksternum ditengah-tengah lapisan tipis tersebut. Tergantung dari jenis dan besarnya tumor. oleh karena itu persalinan pervaginam tidak dapat dilakukan dan dianjurkan untuk SC. Adanya tumor vagina dapat pula menyebabkan persalinan pervaginam dianggap mengandung terlampau banyak resiko. Distosia karena kelainan yang didapat disebabkan karena fibrosis dan infeksi. Dengan jari dimasukan kedalam lubang itu pembukaan dapat diperlebar dengan mudah dan dalam waktu yang tidak lama pembukaan dapat menjadi lengkap dengan sendirinya. perlu dipertimbangkan apakah persalianan dapat berlangsung pervaginam atau harus diselesaikan dengan SC 3) Uterus/servik a) Servik uteri Kondisi dimana struktur servik abnormal mungkin disebabkan karena kongenital atau didapat. Meskipun kontraksi uterus normal. jaringan parut servik. stenosis atau servik tidak berkembang.tidak menimbulkan distosia karena bagian vagina yang satu umumnya cukup lebar. servik tidak membuka dan terasa kaku dan keras. sehingga merupakan lembaran kerjas di bawah kepala janin. Konglutination orivisii eksterni ialah keadaan yang jarang didapat. Tumor apada vagina dapat merupakan rintangan bagi lahirnya janin pervaginam. pembedahan dan radiasi.

Distosia Karena Kelainan Letak Janin 1) Bayi besar Yang dinamakan bayi besar adalah bila berat badannya lebih dari 4000gr. jika pengobatan konserfatif tidak berhasil dipertimbangkan histrektomi. Diagnosis Pemeriksaan yang teliti adanya DKP (disporposi cepalo pelvik) perlu dilakukan. Profilaksis dianjurkan ajar pemberian oksitosin yang dapat menggangu peredaran darah ke miomata yang kemudian menjadi nekrotik dan mudah terinfeksi. mioma uteri menyebabkan inersia uteri dalam persalinan Apabila mioma uteri merupakan halangan bagi lahirnnya janin pervaginan perlu dilakukan SC. SC dilakukan secara SCTP. apabila berhubungan dangan adanya mioma uteri terdapat kelainan letak janin c). Besarnya kepala dan tubuh janin dapat diukur dengan menggunakan alat ultrasonik. Akan tetapi kadang-kadang dihubungkan dengan lokasinya perlu dilakukan SC klasik. d. 128 . Puerpurium perlu diawasi dengan baik karena kemungkinan bahaya nekrosis selalu ada. Dalam masa puerpurium mioma uteri dapat mengecil malahan bisa menjadi lebih kecil dari padasebelum hamil.b) Uterus Distosia karena mioma uteri dapat terjadi. a). Miomektomi sesudah SC tidak dianjurkan karena bahaya berdarahan banyak dan tertinggalnya luka-luka yang tidak rata pada miometrium yang memudahkan terjadinya infeksi puerpurial. apabila letak mioma uteri menghalangi lahirnya janin pervaginan b).

Kesukaran terjadi karena distosia bahu dapat menyebabkan kesukaran kelahiran sehingga bayi dapat meninggal akibat asfiksia. Untuk melahirkan bahu hendaknya dilakukan episiotomi mediolateral yang luas. hidung serta mulut janin dibersihkan. Dengan cara demikian dapat mengurangi cairan sereberal. Pada beberapa kasus pembedahan berhasil dengan baik dengan cara insersi katuk jantung dan kateter dari ventrikel ke vena jugularis dan sisi kanan jantung. Penanganan Pada CPD karena janin besat. Pada palpasi abdomen kepala teraba besar dan dibagian atas pinggir mungkin teraba bokong. kemudian kepala ditarik curam kebawah secara hati-hati dengan kekuatan yang terukur. Untuk mengurangi kemungkinan perlukaan jalan lahir. Keadaan ini dapat menyebabkan obstruksi persalinan jika tidak didiagnosa dengan segera. fontanel besar dan sutura lebar. Diagnosis dapat ditetapkan dengan USG. Pada keadaan dimana janin telah mati sebelum bahu dilahirkan dapat dilakukan kleidotomi pada salah satu atau kedua klafikula. Tulang kranial lembut. 129 . Selain itu penarikan kepala kebawah terlalu kuat dalam pertolongan distosia bahu berakibat perlukaan pada nervus brachialis dan musculus sterno kleido mastoideus. radiogragik atau denga pemeriksaan vagina. Pada banyak kasus fetus tidak dapat dilahirkan pervaginam dan SC dibutuhkan. Bila tidak berhasil digunakan perasat muller.Prognosis Pada panggul normal janin dengan berat badan kurang dari 4500gr pada umumnya tidak menimbulkan kesukaran persalinan. 2) Hydrocephalus Kepala sangat besar yang disebabkan karena peningkatan jumlah cairan serebrospinal yang meluas ke otak. SC perlu dipertimbangkan.

Fetus mempunyai mata yang besar dan menonjol dan bahu lebar. Mekanisme dimana hipoksia menyebabkan kerusakan otak atau kematian belum diketahui. Hanya 25% bayi yang dapat hidup. 4) Gawat janin Fetal distress disebabkan oleh kekurangan oksigen (hipoksia didalam uterus). bahaya rupture uteri akan mengancam. Pada waktu lahir bayi mungkin asfiksia dan membutuhkan resusitasi dengan segera. 130 . 1) Insufisiensi aliran darah uterus 2) Insufisiensi aliran darah umbilikus 3) Berkurangnya oksigenasi maternal Derajat dan Lamanya hipoksia. karena tengkorak yang besar ikut meregangkan segmen bawah rahim. tetapi beberapa faktor yang mempengaruhi. Rupture uteri pada hidrosephalus dapat terjadi sebelum pembukaan servik lengkap. 3) Anencephalus Anensephalus adalah kondisi dimana tulang tengkorak tidak ada dan hampir tidak ada perkembangan otak. umur kehamilan dan berat fetus akan mempengaruhi produk kehamilan. Disalam banyak kasus hal ini banyak menyebabkan kerusakan intrakranial yang menyebabkan cerebral palsi dan kadangkadang terjadi IUFD atau kematian neonatus. muka tampak saat proses persalinan.Prognosis Apabila tidak segera dilakukan pertolongan. Biasanya 50% dari kehamilan karena polihidramnion. yang terbuka dan tampak masa gelap dan merah. Spina bivida sering menyertai anensephalus. biasanya perempuan dan hampir semua mati dalam seminggu pertama kelahiran. yaitu. Inseden anensephalus kira-kira 1 dalam 1000 kelahiran.

(4) Penyalah gunaan obat terlarang Penyalah gunaan obat terlarang dalam kehamilan berhubungan dengan banyak konplikasi meliputi IUGR. Angka mortalitas perinatal meningkat. Status sosial ekonomi adalah suatu gambaran kekurangan penghasilan tetapi juga kekurangan pendidikan. 131 .Pembagian fetal distress Fetal distress bisa akut dan kronis. hipoksia dan persalinan preterm yang semuannya meningkatkan resiko kematian perinatal. (5) Riwayat obstetrik yang buruk Riwayat abortus sebelumnya. nutrisi. kesehatan fisik dan psikis. dan menyebabkan penurunan aliran darah uterus dimana karbonmonoksida mengurangi transport oksigen. a) Faktor yang mempengaruhi fetal distress kronis: Fetal distress kronis berhubungan dengan faktor sosial yang kompleks: (1) Status sosial ekonomi rendah Hal ini berhubungan dengan peningkatan morbiditas dan mortalitas. (2) umur maternal Umur ibu yang sangat muda dan tua lebih dari 35 tahun merupakan umur resiko tinggi (3) Merokok Nikotin dapat menyebabkan vasokontriksi. persalinan preterm atau lahir mati berhubungan dengan resiko tinggi pada janin dalam kehamilan ini.

(8) Kondisi fetal Malformasi kongenital tertentu. Resiko ini meningkat pada kehamilan ganda. 132 . perdarahan antepartum yang dapat mengakibatkan pengurangan suplai oksigen ke fetus. hb 9%/dl atau kurang Penyakit paru-paru Penyakit jantung Epilepsi. jika tidak dikontrol dengan baik Infeksi maternal berat Kondisi tersebut berbahaya. seperti: (a) Hipertensi yang diinduksi kehamilan (b) Hipertensi kronik (c) Diabetes (d) Penyakit ginjal kronis Sedangkan faktor yang menyebabkan penurunan oksigenasi arteri maternal seperti: Penyakit sikle sel Anemia berat. dimana terjadi asidosis maternal sehingga akan menyebabkan asidosis fetal dan oleh karena itu menyebabkan fetal distress (7) Kondisi plasenta Kondisi tersebut meliputi insufisiensi plasenta. infeksi intra uterin dan inncompatibilitas resus yang meningkatkan resiko hipoksia intra uterin.(6) Penyakit maternal Kondisi yang meningkatkan resiko fetal distress kronis dapat mempengaruhi sistem sirkulasi maternal dan menyebabkan insufisiensi aliran darah uterus. post matur.

meliputi. hipotensi dan hipoksia (f) Partum presepitatus atau partus lama b) Faktor yang mempengaruhi fetal distress akut (1) Kondisi uterus Kontraksi uterus hipertonik yang lama dan kuat adalah abnormal dan uterus dalam keadaan istirahat yang lama dapat mempengaruhi sirkulasi utero plasenta. lilitan tali pusat. (3) Kondisi tali pusat Plasenta terlepas.(9) Faktor resiko intra partum Selama persalinan faktor yang berhubungan dengan peningkatan resiko fetal distress. (4) Depresi pusat sistem pernafasan Depresi sistem pernafasan pada BBL sebagai akibat pemberian analgetuk pada ibu dalam persalinan dan perlukaan pada proses kelahiran menyebabkan hipoksia. Tali pusat dapat tertekan pada prolapsus. ketika kontraksi sehingga mengakibatkan hipoksia fetus. terjadi solusio plasenta hal ini berhubungan dengan kelainan fetus. 133 . (2) Kompresi tali pusat Kompresi tali pusat akan menggangu sirkulasi darah fetus dan dapat mengakibatkan hipoksia. (a) malpresentasi seperti presentasi bokong (b) kelahiran dengan forcep (c) SC (d) Sedatif atau analgetik yang berlebihan (e) Komplikasi anastesi.

mengalami penurunan sedikitnya 15 denyutan permenit menetap sedikitnya 15 detik dalam 20 menit.Deteksi fetus melalui pemeriksaan Antenatal Pemeriksaan digunakan untuk mendeteksi fetus meliputi: 1. Ini dapat terjadi pada awal atau akhir penurunan denyut jantung dan bentuknya tidak sama. Dopler Tanda fetal distress dalam persalinan 1. Deselerasi lebih dini Ketika denyut jantung turun lebih dari 15 bpm pada saat kontraksi deselerasi menggambarkan kontraksi dan biasanya tidak dianggap masala serius. USG untuk menilai pertumbuhan fetus 2. Deselerasi yang berubah-ubah Deselerasi yang berubah-ubah hal ini sangat sulit dijelaskan. tonus fetus indeks cairan amnion dan NST 3. gerakan fetus. yaitu: denjut jantung janin. Takikardi diatas 160 bpm atau bradikardi dibawah 120 bpm b. 134 . Non stress tes (NST) Eksternal kardiotokograf (CTG) Kriteria yang seharusnya diamati meliputi 2 hal atau lebih. hubungan antara peningkatan asidosis fetus dengan dalam dan lamanya deselerasi adalah adanya abnormalitas denyut jantung janin. Profil biofisikal Pemeriksaan fisik pada fetus menggunakan USG parameter yang digunakan untuk menilai meliputi. gerakan pernafasan fetus. 4. c. Denyut jantung a.

Deselerasi yang lambat menyebabkan penurunan aliran darah uterus dan pengurangan transver oksigen selama kontraksi. Tidak adanya denyut jantung Ini mungkin disebabkan oleh karena hipoksia kronis atau berat dimana sistem syaraf otonom tidak dapat merespon stress f. Dalam kasus fetal distress berat harus dilahirkan cara SC. Mekonium Adanya mekonium terjadi kira-kira pada 20% dari semua kelahiran dan aspirasi terjadi 1-3% dari semua bayi hidup yang dilahirkan. e. Jika pola tersebut terjadi disertai dengan abnormalitas denyut jantung janin harus di pikirkan untuk ancaman yang serius dalam kesejahteraan fetus. Kecenderungan penyebabnya karena relaksasi spinter anus yang disebabkan oleh karena hipoksia usus yang mengakibatkan aliran darah keorgan vital berkurang. Deselerasi lambat Penurunan denyut jantung janin menunjukkan tingkat deselerasi paling rendah tetapi menunjukkan kontraksi padaa tingkat yang paling tinggi. Mekonium campur air ketuban 2. Penurunan tersebut mempengaruhi oksigenasi serebral fetus. Dokter harus menyiapkan contoh darah fetus jika auskultasi mengindikasikan abnormalitas denyut jantung. Manajemen Pada Kala I Peningkatan perfusi plasenta silakukan dengan cara perubahan posisi menjadi posisi miring. Adanya mekonium dalam cairan ketuban berhubungan dengan peningkatan resiko neonatus dan meningkatkan kesakitan dan kematian neonatus.d. Pada kasus tersebut dokter harus mengobserfasi kondisi fetus dengan memonitor 135 .

Perawatan resusitasi disiapkan dan dokter anak diharuskan untuk stanby untuk mengatasi kemungkinan bayi mengalami asfiksia. Oleh karena pada panggul sempit karena kemungkinan lebih besar bahwa kepala tertahan oleh pintu atas panggul.denyut jantung secra terus menerus. selain itu dokter harus menyiapkan untuk tindakan SC. Memeriksa cairan amnion apakah mengandung mekonium. ketuban bisa pecah oleh pembukaan kecil dan ada bahaya pula terjadinya prolapsusu funikuli. Parietale yang terletak paling bawah tertahan oleh simphisis. Selanjutnya moulage kepala janin dipengaruhi oleh jenis asinklitismus anterior lebih menguntungkan daripada asinklitismus posterior oleh karena pada mekanisme terakhir gerakan os. Kesempitan pada konjugata vera (panggul picak) umumnya lebih menguntungkan daripada kesempitan pada semua ukuran (panggul sempit seluruhnya). Manajemen Kala II Jika detal distres terjadi pada kala II kepala dilindungi dengan melakukan episiotomi. sedang pada asinklistismus anterior os parietale posterior yang terletak paling bawah tertahan oleh simphisis. maka dalam hal ini servik uteri kurang mengalami tekanan kepala. Pada panggul picak turunya belakang kepala bisa tertahan dengan akibat terjadinya defleksi kepala.kepala memasuki rongga panggul dengan hiperfleksi. sedang pada panggul sempit seluruhnya ditemukan rintanagn pada semua ukuran. Hal ini dapat mengakibatkan inersia uteri serta lambannya pendataran dan pembukaaan servik. e. Apabila pada panggul sempit pintua atas panggul tidak tertutup dengan sempurna oleh kepala janin. Distosia Kelainan Jalan Lahir 1) Kesempitan Pintu Atas Panggul Pintu atas panggul dianggap sempit apabila konjugata vera kurang dari 10 cm. sedangkan pada 136 . atau diameter tranversa kurang dari 12 cm.

foramen iskiadikum mayor cukup luas. apalagi bila diameter sagitalis posterior pendek pula. ialah distansia interspinarum. Dengan diameter sagitalis poterior yang cukup panjang persalinan pervaginam dapat dilaksankan. perlu kita waspadai terhadap kemunkinan kesukaran pada persalinan. walaupun dengan perlukaan luas pada perineum. yakni distansia tuberum. Agar supaya dalam hal ini kepala janin dapat lahir. timbul kemacetan pada kelahiran janinukuran biasa. terdiri atas segitiga depan dan segitiga belakang yang mempunyai dasar yang sama. 3) Kesempitan Pintu Bawah Panggul Pintu bawah panggil tidak merupakan bidang yang datar tetapi. dapat diharapkan bahwa panggul tengah tidak akan menyebabkan rintangan bagi lewatnya kepala janin. 2) Kesempitan Pintu Tengah Panggul Dengan sakrum melengkung sempurna.asinklitismus anterior os parietale anterior dapat bergerak lebih leluasa ke belakang. Apabila ukuran ini kurang dari 9.5 cm. Ukuran terpenting yang hanya dapat ditetapkan secara pasti dengan pelvimetri rontgenologi. dinding-dinding panggul tidak berkonvergensi. 137 . diperlukan ruanagan yang lebih besar pada bagian belakang pintu bawah panggul. Pada panggul tengah yang sempit lebih sering ditemukan posisi oksipitalis posterir persisten atau presentasi ekpala dalam posisi lintang tetap (tranverse arrest). Dengan distansia tuberum bersama dengan diameter sagitalis posterior <15 cm. Apabila ukuran yang terkhir ini lebih kecil daripada biasa. maka sudut arkus pubis mengecil pula (<80 0). dan spina iskiadika tidak menonjol ke dalam.

3) Jika uterus sudam mulai berkontraksi secara perlahan di tarik tangan penolong. 5) Jika uterus masih juga belum berkontraksi mulai lagi kompresi bimanual interna setelah anda memberikan injeksi metergin dan sudah mulai IV 6) Jika uterus masih juga belum berkontraksi dalam 5-7 menit. minta anggota keluarga melakukan bimanual interna sementara penolong memeberikan metergin 0. lanjutkan memantau ibu secara ketat 4) Jika uterus tidak berkontraksi setelah 5 menit. bersiaplah untuk melakukan rujukan dengan IV terpasang pada 500 cc/jam hingga tiba di tempat r ujukan atau sebanyak 1. 138 . hidramnion atau janin besar 3) Multiparitas 4) Anastesi yang dalam 5) Anastesi lumbal Penatalaksanaan 1) Bersihkan semua gumpalan darah atau membran yang mungkin berada di dalam mulut uterus atau di dalam uterus 2) Segera mlai melakukan kompresi bimanual interna.2 mg IM dan mulai memberikan IV (RL dengan 20 UI oksitosin/500 cc dengan tetesan cepat). Jika uterus sudah berkontraksi. Atonia Uteri Uterus gagal berkontraksi dengan baik setelah persalinan Penyebab 1) Partus lama 2) Pembesaran uterus yang berlebihan pada waktu hamil seperti pada kehamilan kembar.2. Persalinan Dengan Penyulit Kala III Dan IV a.5 L seluruhnya diinfuskan kemudian teruskan dengan laju infus 125 cc/jam.

Jika diperlukan. Penyebab 1) Plasenta belum lepas dari didnding uterus 2) Plasenta sudah lepas tetapi belum dilahirkan (disebabkan karena tidak adanya usaha untuk melahirkan atau karena salah penanganan kala III) 3) Kontraksi uterus kurang kuat untuk melepaskan plasenta 4) Plasenta melekat erat pada dinding uterus oleh sebab vili korealis menembus desidua sampai miometrium-sampai dibawah peritoneum (plasenta akreta-perkreta) Penatalaksanaan 1) Jika plasenta terliahat dalam vagina. lakukan penarikan tali pusat terkendali 5) Jika traksi tali pusat terkendali belum berhasil. lakukan katerisasi kandung kemih 3) Jika plasenta belum keluar.b. Kegagalan terbentuknya pembekuan setelah 7 menit atau adanya bekuan lunak yang dapat pecah dengan mudam menunjukan koagulapati 6) Jika terdapat tanda-tanda infeksi (demam. cobalan untukmengeluarkan plasenta secara manual. Retensio Plasenta Plasenta atau bagian-bagianya dapat tetap berada di dalam uterus setelah bayi lahir. Jika anda dapat merasakan adanya plasenta dalam vagina. Jika perdarahan terus berlangsung. mintalah ibu untuk mengejan. 139 . jika belum dilakuak dalam penanganan aktif kala III 4) Jika plasenta belum dilahirkan setelah 30 menit pemberian oksitosin dan uterus terasa berkontraksi. lakukan uji pembekuan darah sederhana. berikan oksitosin 10 Unit IM. berikan antibiotik untuk metritis. secret vagina yang berbau). 2) Pastikan kandung kemih sudah kosong. keluarkan plasenta tersebut.

Periksalah dengan seksama dan perbaiki robekan pada servik. vagina dan perineum. 4) Asisten menahan fundus 140 . Emboli air ketuban terjadi pada his yang kuat dengan ketuban yang biasanya sudah pecah. Dengan mendadak penderita menjadi gelisah. Robekan dapat terjadi bersamaan dengan atonia uteri. Perdarahan pasca persalinan dengan uterus yang berkontraksi baik biasanya disebabkan oleh. Kegagalan terbentuknya pembekuan setelah 7 menit atau adanya bekuan lunak yang dapat pecah dengan mudah menunjukan adanya koagulapati. rambut lanuago dan vernik kaseosa masuk kedalam sinus-sinus dalam dinding uterus dan dibawa ke paru-paru. Robekan Jalan Lahir Robekan jalan lahir merupakan peyebab kedua tersering dari perdarahan pasca persalinan. kejang-kejang dan meninggal kemudian. lakukan uji pembekuan darah sederhana bila perdarahan terus berlangsung. sesak nafas. Penatalaksanaan a.c. Perbaikan robekan servik 1) Tindakan a dan antiseptik pada vagina dan servik 2) Berikan dukungan emosional dan penjelasan 3) Pada umumnya tidak diperlukan anastesi. Pada syok karena emboli air ketuban sering ditemukan gangguan dalam pembekuan darah. berikan petidin dan diazepam IV pelan-pelan. Emboli Air Ketuban Emboli air ketuban menimbulkan syok yang sangat mendadak dan biasanya berakhir dengan kematian. atau ketamin. air ketuban dengan mekonium. Jika robekan luas atau jauh sampai ke atas. Karena his kuat. robekan servik atau vagina. d.

Fundus uteri menonjol ke dalam kavum uteri. Pada bagian yang terdapat robekan. apek dapat dicoba di jepit dengan klem ovum atau klem arteri dan dipertahankan 4 jam 8) Jika robekan meluas sampai melewati puncak vagina lakukan laparotomi b. sehingga fundus uteri sebelah dalam menonjol ke dalam kavum uteri. Kaji ulang indikasi b.5) Bibir servik di jepit dengan klem ovum. tinggalkan 2 klem diantara robekan. Perbaikan robekan vagina dan perineum Ada 4 tingkat robekan yang dapat terjadi pada persalinan: 1) Robekan tingkat I yang mengenaimukosa vagina dan jaringan ikat 2) Robekan tingkat II mengenai lat-alat di bawahnya 3) Robekan tingkat III mengenai m. Korpus uteri yang terbalik sudah masuk kedalam vagina c. tidak perlu dijahit. pindahkan bergantian searah jarum jamsehingga semua bagian servik dapat diperiksa. e. semuanya terbalik. sfingter ani 4) Robekan tingkat IV mengenai mukosa rektum Umumnya robekan ingkat I dapat sembuh sendiri. tetapi belum keluar dari ruang tersebut b. mulai dari apeks 7) Jika sulit dicapai dan diikat. untuk sebagian besar terletak di luar vagina Penanganan a. Tingkatan inversio uteri menurut perkembangan inversio uteri: a. 6) Jahit robekan servik dengan cut gut kromik 0 secara jelujur. Uterus dengan vagina. Inversio Uteri Pada inversio uteri bagian atas uterus memasuki kavum uteri. Kaji ulang prinsip dasar perawatan dan pasang infus 141 .

Berikan petidin dan diazepam IV dalam semprit berbeda secara perlahan-lahan. lakukan koreksi hidrostatik Koreksi Hidrostatik a. Pegang uterus pada daerah insersi tali pusat dan masukan kembali melalui servik. Lakukan perawatan pasca bedah jika diberikan koreksi kombinasi abdominal vagina 142 . atau anestesia umumjika diperlukan d. Perawatan pasca tindakan a. Jika koreksi manual tidak berhasil. Pasang sarung tangan DTT b. Jika inversi sudah diperbaiki. Jika plasenta masih belum terlepas. berupa selang 2 m berujung peneyemprot berlubang lebar. Gunakan tangan lain untuk memebantu menahan uterus dari dinding abdomen. Selang di sambung dengan tabung berisis air hangat 3-5 l (atau NaCl atau infus lain) dan pasang setinggi 2 m c. Guyur air dengan leluasa agar menekan uterus ke posisi semula. Berikan antibiotik profilaksis dosis tunggal c. berikan infus oksitosin 20 unit dalam 500 ml IV (NaCl 0. Siapkan sistem bilas yang sudah disinfeksi.c. Pasien dalam posisi trendelenburg-dengan kepala lebih rendah sekitar 50 cm dari perineum b.9%/RL) 10 tetes/menit b. Pasang ujung selang douche pada fornik posterior sampai menutup labia sekitar selang denan tangan e. Basuh uterus dengan larutan antiseptik dan tutup dengan kain basah (dengan NaCl hangat) menjelang operasi Pencegahan inversi sebelum tindakan Koreksi Manual a. Identifikasi fornik posterior d. lakkan plasenta manual setelah tindakan koreksi c.

Peristiwa-peristiwa yang dalam praktek kebidanan dapat menimbulkan syok adalah: a. maka ibu tersebut hendaknya diperiksa lebih sering dan penyebabpenyebab dari perdarahan berat seharusnya diselidiki. inversio uteri f. Pertolongan pada penderita syok: pertama-tama kelancaran ventilasi harus dijamin untuk ini perlu ditentukan apakah jalan nafas bebas. peristiwa yang dinamakan supine hypotensive syndrome. Perdarahan Kala IV Perdarahan yang normal setelah kelahiran mungkin hanya akan sebanyak satu pembalut wanita perjam selama enam jam pertama atau seperti darah haid yang banyak. wanita hamil lanjut menunjukkan hipotensi sewaktu tidur telentang. emboli air ketuban g. perlukaan dalam persalinan e. infeksi berat c. jika tidak hal itu perlu diusahakan dengan segera. terutama pada penderita yang menunjukkan predisposisi terhadap syok. Apakah ada laserasi pada vagina atau servik? Apakah uterus berkontraksi dengan baik? Apakah kandung kencingnya kosong? g. perdarahan b. Berikan analgesik jika perlu. kemudian karena syok selalu ada 143 .d. f. Jika perdarahan lebih banyak dari ini. solusio plasenta d. Jika ada tanda infeksi berikan antibiotika kombinasi sampai pasien bebas demam selama 48 jam e. Syok Obstetrik Syok pada waktu kehamilan mengakibatkan syok pula pada janin yang berada dalam kandungan. Penanganan Syok Pemberian cairan intravena melalui infus pada waktu persalinan sebagai tindakan pencegahan untuk menghindari hipovolumia besar manfaatnya.

dan pemeriksaan laboratorium. His tidak terkoordinasi : His sifatnya berubah ubah tonus otot berkontraksi juga diluar his 2. Perdarahan yang disebabkan karena uterus tidak mau berkontraksi setelah palsenta lahir (atonia uteri) dan perdarahan karena retensio plasenta. Tugas/ Latihan 1. 144 . Syok Obstetri D. Penyulit kala III dan IV meliputi: Penyulit kala III persalinan. Pada syok yang tidak jelas penyebabnya sebaiknya dilakukan pemeriksaan vaginal. suhu. diberi cairan melalui infus intra vena. Sebutkan dan jelaskan macam – macam kelainan His ! 2. Distosia kelainan jalan lahir). diorisis. Distosia kelainan janin. His Hipertonik : His yang terlampau kuat c. Selama perawatan perlu terus menerus diadakan pengawasan keadaan penderita. Rangkuman Materi Konsep dasar penyulit kala I. Inversio uteri Perdarahan kala IV. Atonia Uteri Retensio plasenta. Setelah tindakan diatas diusahakan silekasnya menanggulangi peristiwa yang menjadi penyebab syok dengan tindakan yang bersifat medis maupun pembedahan. Emboli air ketuban. pernafasan. Dasar – dasar distosia (Kelainan tenaga /his. a.His hipotonik : His hilang atau his lemah dimana timbul lagi dalam waktu yang lama setelah timbul his yang adekuat b. Rambu-rambu Jawaban 1. Hasil penilaian pengukuran-pengukuran ini menentukan tindakan selanjutnya C. Distosia kelainan alat kandungan. kala III dan kala IV Penyulit kala I dan kala II meliputi : Kelainan presentasi dan posisi. Kala II. Robekan jalan lahir.pengurangan volume darah dalam sirkulasi umum. dan bila perlu tekanan vena pusat (CVP). Secara berkala diadakan pengukuran nadi. tekanan darah. Sebutkan dan jelaskan penyebab perdarahan kala IV! E.

3. YBPSP Hanifa. Buku Panduan Praktis Maternal dan Neonatal. dosen AKBID. Modul 2. 4. YBPSP 2. Ilmu Kebidanan. 2006. Workshop Kurikulum mata ajar Askeb IV. Pedoman Megajar. Jakarta. 2001. Modul 4. 1999. 1997. Jones and Bartlett Publisher Mayes. 1999. Ilmu Kandungan. 2001 Varney’s H. 1998. 1999 11. Syaifudin. 12 th Edition 2000 Mochtar R. Jakarta. Pedoman Mengajar dosen AKBID. Midwifery. 8. 6. Sinopsis Obstetri Jilid I. Jakarta Hanifa. Pedoman Mengajar dosen AKBID. 145 . Midwifery. dkk. 1999 9. Jakata YBPSP Pusdiknakes – JHPIEGO. UK.F. 1999 10. dkk. 5. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Modul 3. Tidak ditebitkan. Pusdiknakes – JHPIEGO . Tim pengajar Askeb IV. 7. Daftar Pustaka 1. Pusdiknakes – JHPIEGO .

Alamat : : : : Alfi Noviyana. Komunikasi Konseling Kebidanan 5.010308149 146 . NIK f. Asuhan Kebidanan IV 6.ST Yogyakarta. Februari 2010 Alfi Noviyana. Tahun 2006 2. Kesehatan Reprodukasi e.ST NIK. Studi Deskriptif Yang Menggali Tingkat Pengetahuan Ibu Tentang Imunisasi Wajib Bagi Bayi Di Wilayah Kerja Puskesmas Grabag I Magelang. Hubungan Pemanfaatan Sumber Belajar Dengan Prestasi Balajar ASKEB II Pada Mahasiswa AKBID Kusuma Husada Surakarta Tahun 2008 Tahun Ajaran 2008/2009 dan 2009/2010 : 1.4 Berkoh. Asuhan Nifas 2. Konsep Kebidanan 3. Tempat/Tgl Lahir c.PROFIL PENULIS a. S. 13 Nopember 1985 Perempuan Jalan Sunan Kali Jaga I No. Jabatan Struktural i j k Fakultas/Prodi Pendidikan Hasil penelitian l Mata Kuliah yang pernah diampu Purwokerto. Purwokerto 010308149 Penata Muda /IIIA Ilmu Kesehatan / DIII Kebidanan D IV Kebidanan 1. Asuhan Kehamilan 4. S. Pangkat/Golongan : : : : : : : g. Jabatan Fungsional h. Jenis Kelamin d. Nama Lengkap b.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful