PRINSIP DETEKSI DINI IBU DENGAN KELAINAN, KOMPLIKASI, PENYAKIT DALAM KEHAMILAN, PERSALINAN DAN MASA NIFAS

BAB I PRINSIP DETEKSI DINI IBU DENGAN KELAINAN, KOMPLIKASI, PENYAKIT DALAM KEHAMILAN, PERSALINAN DAN MASA NIFAS

A.

Kompetensi dasar 1. Mampu menjelaskan Prinsip deteksi dini ibu dengan kelainan, komplikasi, penyakit yang lazim terjadi dalam kehamilan,

Pemeriksaan kehamilan dini ( early ANC detection , Kontak dini kehamilan trimester I, Pelayanan ANC berdasarkan kebutuhan individu dan skrining untuk deteksi dini 2. Mampu mendiskripsikan deteksi dini penyulit persalinan dengan memanfaatkan partograf 3. Mampu menguraikan deteksi dini komplikasi masa nifas (2 jam masa nifas, 6 jam masa nifas, 6 hari masa nifas, 6 minggu masa nifas) B. Uraian Materi 1. Deteksi Dini Terhadap Kelainan, Komplikasi Dan Penyakit Yang Lazim Terjadi Pada Ibu Hamil Kehamilan melibatkan perubahan fisik maupun emosional dari ibu serta perubahan sosial dalam keluarga. Pada umumnya kehamilan berkembang normal dan menghasilkan kelahiran bayi sehat cukup bulan melalui jalan lahir, namun kadang-kadang tidak sesuai dengan yang diharapkan. Sulit diketahui sebelumnya bahwa kehamilan akan terjadi masalah, oleh karena itu pelayanan asuhan antenatal merupakan cara penting memonitor dan mendukung kesehatan dan mendeteksi kehamilan ibu. Ibu hamil sebaiknaya dianjurkan mengunjungi bidan atau dokter sedini mungkin semenjak ibu merasa dirinya hamil untuk mendapatkan pelayanan atau asuhan antenatal. Pemeriksaan dan pengawasan terhadap ibu hamil sangat perlu dilakukan secara teratur. Hal ini bertujuan untuk

1

menyiapkan seoptimal mungkin fisik dan mental ibu dan anak selama dalam kehamilan, persalinan dan nifas sehingga didapatkan ibu dan anak yang sehat. Selain itu juga untuk mendeteksi dini adanya kelainan, komplikasi dan penyakit yang biasanya dialami oleh ibu hamil sehingga hal tersebut dapat dicegah ataupun diobati. Dengan demikian maka angka morbiditas dan mortalitas ibu dan bayi dapat berkurang a. Pemeriksaan Kehamilan Dini (Early ANC Detection) Idealnya wanita yang merasa hamil bersedia untuk

memeriksakan diri ketika haidnya terlambat sekurangkurangnya 1 bulan. Dengan demikian, jika terdapat kelainan pada kehamilannya tersebut akan lekas diketahui dan segera dapat diatasi. Oleh karena itu, setiap wanita hamil sebaiknya melakukan kunjungan antenatal sedikitnya 1 kali pada trimester 1 ( sebelum minggu ke 16). Penilaian klinik merupakan proses berkelanjutan yang dimulai pada kontak pertama antar petugas kesehatan dengan ibu hamil secara optimal. Pada kunjungan dini adapun pemeriksaan yang dilakukan untuk mendeteksi komplikasi, penyulit ataupun penyakit pada kehamilan, yaitu : 1) Anamnesa Anamnesa adalah tanya jawab antara penderita dan pemeriksa. Dari anamnesa ini banyak keterangan yang diperoleh guna membantu menegakkan diagnosa dan prognosa kehamilan. a) Anamnesa Sosial ( biodata dan latar belakang sosial b) Anamnesa Kehamilan (haid) c) Anamnesa Medik/ Kesehatan d) Anamnesa Kebidanan/ Obstetri

2

2) Pemeriksaan Umum a) Tinggi badan Pada wanita hamil yang pertama kali memeriksakan perlu diukur tinggi badannya. Seorang wanita hamil yang terlalu pendek, yang tinggi badannya kurang dari 145 cm tergolong resiko tinggi karena kemungkinan besar persalinan berlangsung kurang lancar dengan kemungkinan kesempitan panggul. Perbandingan tinggi dan berat badan memberi gambaran mengenai keadaan gizi. b) Berat badan Pada tiap pemeriksaan wanita hamil baik yang pertama kali atau ulangan, berat badan perlu ditimbang. Kenaikan berat badan yang mendadak dapat merupakan tanda bahaya komplikasi kehamilan yaitu preeklampsi. Dalam trimester I berat badan wanita hamil biasanya belum naik bahkan biasanya menurun karena

kekurangan nafsu makan. Dalam trimester terakhir terutama karena pertumbuhan janin dan uri berat badan naik sehingga pada akhir kehamilan berat badan wanita hamil bertambah kurang lebih 11 kg dibanding sebelum hamil. Pada trimester terakhir berat badan kurang lebih 0.5 kg seminggu, bila penambahan berat badan tiap minggu lebih dari 0.5 kg harus diperhatikan

kemungkinan preeklampsi. c) Tanda-tanda vital Dalam keadaan normal tekanan darah dalam kehamilan trimester terakhir sistolik tidak melebihi 140 mmHg, dan diastolik tidak melebihi 90 mmHg. Bila terdapat

3

tekanan darah melebihi diatas maka kemungkinan adanya preeklampsi. Pemeiksaan paru haus mencakup obsevasi sesak nafas. e) Pemeriksaan payudara Pada wanita hamil payudara terlihat besar dan tegang serta sedikit nyeri. adanya retraksi. g) Pemeriksaan abdominal Pemeriksaan abdominal dilakukan dengan palpasi.nafas dangkal . masa dan pembesaran pembuluh limfe. nafas cepat . batuk dan dispnea untuk menegakkan diagnosa bonkitis dan pneumonia.pada 90% wanita hamil kerena tekanan daah ibu hamil meningkat secaa mencolok. f) Pemeriksaan jantung. letek janin dan detak jantung janin dan CVAT (costo vetrebral tenderness) 4 . nafas tidak teatu mengi. d) Pemeriksaan kepala dan leher Pemeriksaan ini dilakukan dengan menggunakan pemeriksaan inspeksi. Hal ini karena pengaruh estrogen dan progesteron yang merangsang duktus dan alveoli payudara. Pemeriksaan ini meliputi seluruh bagian kepala dan leher. paru dan organ dalam tubuh lainnya. Mumu jantung diastolik ditemukan . Jika pada pemeriiksaan mata sklera ikterik dan konjungtiva anemis maka kemungkinan anemia. putting susu menonjol atau tidak. Pemeriksan payudara dengan cara palpasi meliputi bentuk dan ukuran payudara. Dari pemeriksaan ini diperoleh mengenai ukuran dan bentuk uterus kesesuaian antara tinggi fundus uteri dengan umur kehamilan.

sebaiknya koitus ditunda sampai kehamilan 16 minggu. cairan. b. oedema dan reflek patella. Kontak Dini Kehamilan Trimester I Pada trimester I.h) Pemeriksan genetalia Untuk memeriksa genetalia biasanya dengan pemeriksaan ginekologi. dan glukosa urine. Pemeriksan ini ditujukan untuk memeriksa golongan darah. vagina dan porsio diperiksa dan dilihat inspekulo deteksi tanda-tanda infeksi. Protein dalam urine merupakan hasil kontaminasi dair vagina atau dari infeksi saluran kencing atau penyakit ginjal. Untuk glukosa urin berhubungan dengan diabetes. Hb. hal ini akan menjadi tanda serius dari preeklampsi. varices.hemorid. Pada umumnya koitus diperbolehkan pada masa kehamilan jika dilakukan dengan hati hati. protein urine. 5 . Pemeriksaan urine pada awal kehamilan bertujuan untuk mengetahui adanya kehamilan. Apabila dalam anamnesis ada riwayat abortus sebelum kehamilan yang sekarang. Pada akhir kehamilan. b. i) Pemeriksaan ekstremitas atas dan bawah Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui adanya varises. Pada pemeriksaan ini vulva. jika kepala sudah masuk panggul koitus sebaiknya dihentikan karena dapat menimbulkan perasaan sakit dan perdarahan. Pada waktu itu plasenta telah terbentuk serta kemungkinan abortus menjadi lebih kecil. Selain itu pemeriksaan urin juga bertujuan untuk mengetahui adanya protein urine dan glukosa urine. menurunnya keinginan untuk melakukan hubungan seksual sangat wajar. Pada saat hamil jika dihubungkan dengan hipertensi dan oedem. Pemeriksaan laboratorium Test laboratorium perlu dilakukan pada ibu hamil.

Misalnya persetujuan ANC yang diberikan terhadap ibu hamil dengan hipertensi tentunya akan berbeda dengan pelayanan yang diberikan kepada ibu hamil dengan varises. 6 . dan rendah garam. Pelayanan ANC yang diberikan petugas kesehatan kepada setiap ibu hamil berbeda – beda tergantung dari kebutuhan dan kondisi dari setiap individunya. Pada ibu hamil dengan hipertensi sebaiknya dilakukan pemantauan tekanan darah.c. dan sebagainya. Pelayanan ANC berdasarkan kebutuhan individu. Hal ini bertujuan untuk mencegah pertambahan berat badan yang agresif. apakah ada ancaman terhadap jiwa ibu. Penentuan kadar estriol. Pengawasan terhadap janin harus lebih teliti. Apalagi bila janin telah meninggal dalam kandungan pengakhiran kehamilan ini sebaikanya dirundingkan antar disiplin : dengan ahli penykit dalam . disamping pemeriksaan biasa. amnioskopi. pH darah janin. dan kondisi janin setiap minggunya. urin. Selain itu anjurkan ibu pula untuk cukup istirahat menjauhi emosi dan jangan bekerja terlalu berat. ukuran biparietal (USG). Pengakhiran kehamilan baik yang muda maupun yang sudah cukup bulan harus dipikirkan bila ada tanda – tanda hipertensi ganas (tekanan darah 200/120 atau pre-eklamsi berat). Anjurkan kepada ibu untuk mentaati pemeriksaan antenatal yang teratur dan jika perlu dikonsultasikan kepada ahli. dapat dilakukan pemeriksaan monitor janin lainnya seperti elektrokardiografi fetal. Pada pola nutrisi sebaiknya ibu dianjurkan untuk diet tinggi protein rendah hidrat arang. rendah lemak.

Sedangkan pada ibu hamil dengan varises pelayanan ANC yang diberikan antara lain : 1) Anjuran ibu untuk jangan berdiri atau duduk terlalu lama dan jangan memakai ikat pinggang terlalu kencang. 3) Anjurkan ibu untuk memakai kaos kaki atau pembalut tungkai elastis. 7 . Pemeriksaaan USG saat ini dipandang sebagai metode pemeriksaan yang aman. d. dan Varemoid. ada tidaknya gangguan kehamiulan (ruptura. Diagnosis pasti kehamilan ektopik secara USG hanya bisa ditegakkan jika terlihat kantong gestasi berisi janin hidup yang letaknya diluar kavum uteri. Venoruton. tergantung pada usia kehamilan. abortus) serta banyak dan lamanya perdarahan intra abdomen. Pemeriksaan USG pada kehamilan normal usia 5 minggu struktur kantong gestasi intrauterin dapat dideteksi dimana diameternya sudah mencapai 5-10 mm. Dari kenyataan ini bisa juga diartikan bahwa kadar HCG yang lebih dari 6500 mlU/ ml tidak dijumpai adanya kantong gestasi intrauterin. USG merupakan suatu media diagnostik dengan menggunakan gelombang ultrasonik untuk mempelajari struktur jaringan berdasarkan gambaran ecko dari gelombang ultrasonik. Skrining untuk deteksi dini. Jika dihubungkan dengan kadar HCG pada saat itu kadarnya sudah mencapai 6000-6500 mlU/ ml. maka kemungkinan kehamilan ektopik. 4) Dapat diberikan obat – obatan : Venosan. Gambaran USG kehamilan ektopik sangat bervariasi. 2) Anjurkan kepada ibu supaya jalan – jalan dan senam hamil untuk memperlancar peredaran darah. Glyvenol.

Selain denyut jantuing mungkin juga dapat dideteksi adanya gerakan embrio yang dapat dirangsang dengan melakukan perkusi pada dinding perut. penolong harus waspada terhadap masalah yang mungkin terjadi. Pada kehamilan 8 minggu kantong gestasi telah berdiameter 30 mm. Struiuktur kepala sudah dapat dibedakan dari badan. 8 . Jika dijumpai lebih dari 1 embrioyang menunjukkan tanda-tanda kehidupan maka kemungkinan kehamilan multiple. Jika tidak ada tanda-tanda kehidupan seperti yang telah disebutkkan maka kemungkinan terjadi miss abortion. Salah satu alata yang dapat digunakan untuk membantu memantau kemajuan persalinan dan informasi untuk membuat keputusan klinik adalah partograf. Deteksi Dini Penyulit Persalinan . Panjang embrio mencapai 10 mm dan menjadi lebih mudah dilihat. Persalinan tidak selalu berjalan dengan normal. 2. Jika tidak dijumpai adanya struktur embrio dan kantong kuning telur maka kemungkinan kehamilan anembrionik. Oleh karena itu pada saat memberikan asuhan kepada ibu yang sedang bersalin. Struktur embrio dapat dilihat lebih jelas lagi.Pada kehamilan 7 minggu diameter kantong gestasi telah mencapai 25 mm. Sering kali terlihat kuning telur dalam ( yolk salk ) berupa struktur vasikuler berdiameter kira-kira 5 mm yang letaknya diluar selaput amnion.

tanggal dan waktu dirawat. Kesehatan dan kenyamanan janin a. 1 Partogaf Temuan-temuan dari hasil pengamatan. 9 . nama.Gambar. Informasi tentang ibu Melengkapi bagian awal ( atas ) partograf secara teliti pada saat mulai asuhan persalinan meliputi. Adapun partograf mengintruksikan : 1. Kisaran normal DJJ terpapar pada partograf diantara garis tebal angka 180 – 100. pemeriksaan dan asuhan persalinan kala I dapat dicatat pada partograf. waktu pecahnya ketuban 2. nomor RM. 1. DJJ (Detak Jantung Janin) DJJ dicatat setiap 30 sekali (lebih sering jika ada kegawatdaruratan). tetapi harus waspada bila DJJ dibawah 120atau diatas 160. gravida para dan abortus. umur.

Warna dan adanya air ketuban Penilaian air ketuban serta warnanya dilakukan setiap kali periksa dalam vagina dan jika selaput ketuban pecah. M :ketuban sudah pecah dan air ketuban bercampur meconium. Kemajuan Persalinan Penilaian kemajuan persalinan dilakukan pemeriksaan setiap 4 jam sekali. Adapun hasil temuan mengenai ketuban : U : Ketuban utuh ( belum pecah ) J : ketuban sudah pecah dan ai ketuban jernih. Tulang kepala yang sampai menyusup atau tumpang tindih menunjukkan kemungkinan adanya disproporsi tulang panggung ( CPD ). Lambang – lambang dalam mollase : a) 0 : tulang – tulang kepala janin terpisah. Molase ( penyusupan kepala janin ) Penyusupan adalah indikator penting tentang seberapa jauh bayi dapat menyesuaikan diridengan bagian atas keras ibu.b. c. Mekonium dalam cairan ketuban tidak selalu menunjukkan adanya gawat janin apabila apabila tidak nmpak tanda gawat janin. K : ketuban sudah pecah dan air ketuban tidak ada (kering). tapi masih dapat dipisahkan d) 3 : tulang – tulang kepala janin tumpang tindih dan tidak dapat dipisahkan. sutura dengan mudah dipalpasi b) c) 1 : tulang – tulang kepala janin hanya saling bersentuhan 2 : tulang –tulang kepalajanin saling tumpang tindih. d. Tetapi jika terdapat mekonium kental. kolom dan lajur kedua pada partograf adalah untuk 10 . Ketidak kemampuan akomodasi akan benar – benar terjadi jika tulang kepala yang bisa menyusup tidak mampu dipisahkan. D :air ketunan sudah pecah dan bercampur darah. segara rujuk ibu ketempat yang memiliki kemampuan penatalaksanaan gawatdarurat obstetri dan bayi baru lahir.

protein dan 11 .pencatatan kemajuan persalinan. tekanan darah dan temperatur tubuh nilai dan catat nadi ibu setiap 30 menit selama fase aktif persalinan. Kemajuan persalinan dilihat dari pembukaan servik dan penurunan bagian terbawah janin. e. Jika tekanan darah ibu menurun curigai adanya perdarahan. servik kaku. 3. Untuk menghitung banyaknya kontraksi dalam 10 menit dan lamanya tiap-tiap kontraksi dalam hitungan detik. Tetapi jika kontraksinya tidak teratur dan tidak sering setelah fase laten dapat menyebabkan persalinan lama. Kesehatan dan kenyamanan ibu Meliputi nadi. Pastikan hidrasi yang cukup melalui oral atau IV dan berikan analgesik secukupnya nilai dan catat tekanan darah ibu setiap 4 jam selama fase aktif persalinan. Jika denyut nadi ibu meningkat. Kemajuan persalinan dikatakan cukup baik jika kontraksi teratur dan progresif dengan peningkatan frekuaensi dan durasi. mungkin dia dalam keadaan dehidrasi atau kesakitan. atau innersia uteri. Kontraksi uterus Kontraksi uterus dicatat setiap 30 menit dengan melakukan palpasi. Jika pembukaan servik telah melampaui dan berda disebelah kanan garis bertindak maka perlu dilakukan tindakan menyelesaikan persalinan. tekanan darah dan suhu tubuh kenyamanan dan kesehatan tubuh aseton ibu juga meliputi volume urine. Nilai dan catat suhu ibu ) lebih sering jika meningkat. atau dianggap adanya infeksi ) setiap 2 jam. Jika pembukaan servik mengarah kesebelah kanan gari waspada (pembukaan kurang dari 1 cm per jam) maka harus dipertimbangkan penyulit misalnya kala aktif memanjang. Selain nadi.

Ukur dan catat jumlah produksi urin ibu sedikitnya 2 jam (setiap kali ibu berkemih ) lakukan pemeriksaan adanya aseton atau protein dalam urine setiap ibu berkemih. perdarahan 350500cc per menit waspadai perdarahan ibu post partum karen atonia uteri. Payudara yang berubah menjadi merah. Sedangkan gejala lokal dapat berupa uterus lembek. mendeteksi menangani masalah-masalah yang terjadi karena ibu nifas rentan terjadi penyulit dan komplikasi. kemerahan. diantaanya: 1. pembengkakan. 2. Masa 6 hari – 6 minggu nifas a. takikardi dan malaise. Masa 2 jam dan 6 jam nifas. Infeksi masa nifas masih merupakan penyebab tertinggi AKI. Infeksi alat genital merupakan komplikasi masa nifas. Wanita yang baru melahirkan sering mengeluh sakit kepala hebat atau penglihatan kabur. 3. dan rasa nyeri atau adanya disuria. Jika terdapat aseton dalam urin ibu dicurigai masukan nutrisi yang kurang. b. mencegah. Disertai pembengkakan di wajah atau ekstremitas c. Asuhan masa nifas diperlukan karena pada periode ini merupakan masa kritis bagi ibu dan bayinya. panas. Deteksi Dini Pada Masa Nifas Masa nifas dimulai setelah plasenta lahir sampai 6 minggu beikutnya. Gejala umum infeksi dapat dilihat dari temperature atau suhu. Setiap tahap masa nifas bidan pelu menilai status ibu. Beberapa bakteri dapat menyebabkan infeksi setelah persalianan. Infeksi yang meluas ke saluran urinary payudara. segera berikan dextros. dan terasa sakit 12 . Diperkirakan 60% kematian ibu terjadi akibat kejadian setelah persalinan dan 50% kematian masa nifas terjadi 24 jam pertama. Apabila uterus lembek dan tidak berkontraksi.

Timbul rasa nyeri seperti terbakar. Putting lecet akan memudahkan masuknya kuman dan terjadinya payudara bengkak d.perlu waspa apabila disertai . sehingga ibu tidak ingin makan sampai kehilangan itu hilang. tetapi sedikit atau banyak pasti dipengaruhi proses persalinannya tersebut.Payudara bengkak yang tidak disusu secara adekuat dapat menyebabkan payudara menjadi merah. C. Selama masa nifas. Pada masa kehamilan deteksi dini dilaksanakan pemeriksaan kehamilan dini ( early ANC detection ) secara lengkap meliputi pengkajian psikososial dan pemeriksaan fisik lengkap. Oleh karena itu tidak benar bila ibu diberikan makanan sebanyakbanyaknya walaupun ibu menginginkannya. terasa sakit. merah. akhirnya terjadi mastitis. komplikasi. nafsu makan pun akan terganggu. Ringkasan Materi Penting bagi bidan untuk mengetahui prinsip deteksi dini ibu dengan kelainan. tidak mampu mengasuh dirinya sendiri dan bayinya. Tetapi biasanya disebabkan adanya kelelahan yang amat berat. dan pembengkakan dikaki. Sehingga alat pencernaan perlu istirahat guna memulihkan keadaanya kembali. dapat terbentuk thrombus sementara pada venavena manapun di pelvis yang mengalami dilatasi. Pada minggu-minggu awal setelah persalinansampai kurang lebih 1 tahun ibu post partum cenderung akan mengalami perasaan-perasaan yang tidak pada umumnya. persalinan dan masa nifas. lunak. Dalam persalinan lambung dan alat pencernaan tidak langsung turut mengadakan proses persalianan. penyakit yang lazim terjadi dalam kehamilan. f.waspadai bila berlanjut pada depresi post partum. Sesudah anak lahir ibu akan merasa lelah mungkin juga lemas karena kehabisan tenaga. seperti merasa sedih. 13 . e.nyeri tekan maka mengarah pada gejala tromboplebitis. rasa sakit. panas.

6. 2. Penggunakan partograf dapat membantu bidan dalam mendeteksi komplikasi persalinan kala I meliputi. YBPSP 2. air ketuban dan molase. 1999. YBPSP Pusdiknakes – JHPIEGO. Pada masa nifas 2 jam dan 6 jam post partum deteksi dini komplikasi dan penyakit di fokuskan untuk. Jones and Bartlett Publisher Mochtar R. 5. Perdarahan karena atonia uteri. Workshop kurikulum mata ajar Askeb IV. 1998. Guna mendeteksi komplikasi persalinan bidan akan dibantu dengan partograf dan kelainan serta penyakit pada masa nifas dideteksi pada 2 jam post partum.Mewaspadai kontak dini kehamilan trimester I.. Jakarta. Daftar Pustaka 1. Kesejahteraan dan kenyamanan janin meliputi DJJ.. UK. 3. pada 6 hari post partum dan 6 minggu post partum. F. Tim pengajar Askeb IV. Rambu-rambu jawaban soal 1. 1997. Tugas/ Latihan 1.. 2001. 6 jam post partum . 1999 7. Jakarta. Buku Panduan Praktis Maternal dan Neonatal. Jakarta Hanifa. kemajuan persalinan meliputi kontraksi. D. Midwifery. Sinopsis Obstetri Jilid I. Ilmu Kebidanan. Modul 2. dkk. dalam pelayanan ANC di dasarkan kebutuhan individu sehingga kompliksai dan penyakit segera dapat dideteksi. 2001 Varney’s H. Skrening dini pada kehamilan dengan pemanfaatan USG. pembukaan dan penurunan kepala serta kesejahteraan ibu meliputi tensi dan nadi dll. Tidak diterbitkan 14 . 4. E. Syaifudin. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. 2..2006. Pedoman Mengajar dosen AKBID.

Keluhan yang sering ditemukan adalah batuk-batuk yang lama. karena dirawat atau disusui ibunya.BAB II PENYAKIT YANG MENYERTAI IBU DALAM MASA KEHAMILAN. bila hasil positif dilanjutkan dengan pemeriksaan foto dada. Pada janin dengan ibu TBC Paru jarang dijumpai TBC congenital. banyak penderita tidak mengeluh sama sekali. Pada pemeriksaan fisik mungkin didapatkan adanya ronkhi basal. Pada penderita yang dicurigai menderita TBC Paru sebaiknya dilakukan pemeriksaan tuberkulosa tes kulit dengan PPD (puirified protein derivate). BB menurun. Kompetensi Dasar 1. Penyakit ini mungkin bentuknya aktif atau kronik. persalinan dan nifas B. nafsu makan berkurang. dan sakit di dada. 1. suara caverne atau pleural effusion. Uraian Materi Penyakit yang Menyertai Kehamilan dan Persalinan a. dan mungkin pula tertutup atau terbuka. persalinan dan nifas 2. berikan penjelasan dan pendidikan 15 . badan terasa lemah. janin baru tertular penyakit setelah lahir. Menguraikan penyakit yang menyertai kehamilan. Menjelaskan infeksi yang menyertai kehamilan. Perlu diperhatikan dan dilindungi janin dari pengaruh sinar X. 1) Penatalaksanaan : Penyakit ini akan sembuh dengan baik bila pengobatan yang diberikan dipatuhi oleh penderita. kadang-kadang ada batuk darah. pada penderita TBC Paru aktif perlu dilakukan pemeriksaan sputum BTA untuk membuat diagnosis secara pasti sekaligus untuk tes kepekaan / uji sensitivitas. PERSALINAN DAN NIFAS A. Tuberkulosis Paru Kehamilan tidak banyak memberikan pengaruh terhadap cepatnya perjalanan penyakit ini.

Obat ini dapat menimbulkan komplikasi retrobulber neuritis. Streptomycin 1gr/hari. (c). bila pasien sudah sembuh lakukan persalinan secar biasa. kecuali streptomisin yang bersifat ototoksik bagi janin dan harus diganti dengan etambutol. Ajarkan untuk menutup mulut dan hidungnya bila batuk. Sebagian besar obat anti TBC aman untuk wanita hamil. (b). Pengaruh obat ini pada janin dapat menyebabkan tuli bawaan (ototoksik). 16 . efektifitasnya tinggi dan harganya lebih murah. bersin dan tertawa. Obat ini mungkin menimbulkan komplikasi pada hati sehingga timbul gejala-gejala hepatitis berupa nafsu makan berkurang. pasien hamil dengan TBC Paru yang tidak aktif tidak perlu mendapat pengobatan. Sedangkan pada yang aktif dianjurkan untuk menggunakan dua macam obat atau lebih untuk mencegah timbulnya resistensi kuman. Pemeriksaan sputum harus dilakukan setelah 1-2 bulan pengobatan. dan isoniazid (INH) selalu diikutkan karena paling aman untuk kehamilan. Rifampisin 600mg/hari. Obat ini harus hati-hati digunakan dalam kehamilan. akan tetapi efek samping dalam kehamilan sangat sedikit dan pada janin belum ada. Etambutol 15-20 mg/kg/hari. Disamping itu obat ini juga kurang menyenangkan pada penderita karena harus disuntikan setiap hari. (d). jangan digunakan dalam kehamilan trimester I. jika masih positif perlu diulang tes kepekaan kuman terhadap obat. 2) Obat-obatan yang dapat digunakan (a). Obat ini baik sekali untuk pengobatan TBC Paru tetapi memberikan efek teratogenik pada binatang poercobaan sehingga sebaiknya tidak diberikan pada trimester I kehamilan. Isoniazid (INH) 300 mg/hari.kepada pasien bahwa penyakitnya bersifat kronik sehingga diperlukan pengobatan yang lama dan teratur. mual dan muntah. Oleh karena itu –perlu diperiksa faal hati sewaktu-waktu dan bila ada perubahan untuk sementara obat harus segera dihentikan.

Akibat pembesaran uterus hiperemi organ-organ pelvis dan pengaruh hormonal terjadi perubahan pada kendung kemih yang dimulai pada kehamilan 4 bulan. Kandung kemih akan berpindah 17 . mendapat profilaksis INH dan imunisasi BCG. dan berkurangnya tonus otot-otot saluran kemih karena pengaruh kehamilan. sebagian besar ahli menganjurkan pemisahan dari ibu jika ibu dicurigai menderita TBC aktif. melekuk dan kadang berpindah letak ke lateral dan akan kembali normal 8-12 minggu setelah melahirkan. namun bayi harus diberi suntikan mantoux. Ureter juga mengalami pemanjangan. berikan masker untuk menutupi mulut dan hidung agar kuman tidak menyebar. Ginjal Dalam kehamilan terdapat perubahan-perubahan fungsional dan anatomic ginjal dan saluran kemih yang sering menimbulkan gejala-gejala dan kelainan fisik dan hasil pemeriksaan laboratorium. Pasien TBC yang menyusui harus mendapat regimen pengobatan yang penuh. Penderita yang tidak mungkin pulang harus dirawat di ruang isolasi. Ginjal akan memanjang kurang lebih 1 cm dan kembali normal setelah melahirkan. karena bayi cukup rentan terhadap penyakit ini. persalinan dibantu Ekstraksi Vacum atau Forcep. Semua obat anti TBC sesuai untuk laktasi sehingga pemberian laktasi dapat dengan aman dan normal. Perubahan anatomi terdapat peningkatan pembuluh darah dan ruangan interstisial pada ginjal. Pasien diberi obat uterotonika dan obat TBC tetap harus diteruskan. sampai ibunya tidak memperlihatkan tanda-tanda proses aktif lagi setelah dibuktikan dengan pemeriksaan sputum sebanyak 3 kali yang selalu memperlihatkan hasil negatif.Pasien TBC aktif harus ditempatkan dalam kamar bersalin terpisah. b. Selain itu juga terjadi hiperplasia dan hipertrofi otot dinding ureter dan kaliks. kemudian dapat dipulangkan langsung. Setelah persalinan pasien dirawat di ruang observasi 68 jam. Usahakan pasien tidak meneran.

Kapasitas kandung kemih meningkat sampai 1 liter karena efek relaksasi dari hormon progesterone. gabungan stenosis mitral dengan insufisiensi mitral. Sejak kehamilan trimester II GFR akan meningkat 30-50 %.5-0. insufisiensi mitral. Jantung 1) Etiologi Sebagian besar disebabkan demam reumatik. penyakit katupulmonal dan trikuspidal. diatas nilai normal wanita tidak hamil.lebih anterior dan superior. yang harus dipenuhi melalui darah ibu. 2) Faktor Predisposisi Peningkatan usia pasien dengan penyakit jantung hipertensi dan superimposed preeklamsi atau eklamsi. Otot kandung kemih mengalami hipertrofi akibat pengaruh hormon estrogen. Untuk itu banyaknya darah yang beredar bertambah. riwayat decompensasi cordis. aritmia jantung atau hipertrofi ventrikel kiri.7 mg/100 mll dan urea nitrogen darah 8-12 mg/100 mll. Perubahan-perubahan itu terutama disebabkan karena : 18 . Perubahan Fungsi Segera sesudah konsepsi. Bentuk kelainan katup yang sering dijumpai adalah stenosis mitral. normal kreatinin serum adalah 0. Pembuluh-pembuluh di daerah mukosa akan membengkak dan melebar. Karena itu dalam kehamilan selalu terjadi perubahan dalam system kardiovaskuler yang biasanya masih dalam batas-batas fisiologik. gabungan antara insufisiensi aorta dan stenosis aorta. terjadi peningkatan aliran plasma (Renal Plasma flow) dan tingkat filtrasi gomerolus (Gomerolus Filtration Rate). c. 3) Patofisiologi Keperluan janin yang sedang bertumbuh akan oksigen dan zat-zat makanan bertambah dalam berlangsungnya kehamilan. sehingga jantung harus bekerja lebih berat. stenosis aorta. insufisiensi aorta. anemia. Akibatnya akan terjadi penurunan kadar kreatinin serum dan urin nitrogen darah.

Biasanya terdapat riwayat penyakit jantung dari anamnesis atau dalam rekam medis. Terjadi perubahan hemodinamik. edema tungkai bawah.20% dan ketika meneran pada partus kala II. Antara minggu ke 12 dan 32. (c). Perlu diawasi saat-saat berbahaya bagi penderita penyakit jantung yang hamil yaitu: (a). dan peningkatan tekanan vena jugularis adalah tanda dan gejala gagal jantung kanan. 4-5 hari seetelah peralinan. Setiap kontraksi uterus meningkatkan jumlah darah ke dalam sirkulasi sistemik sebesar 15 . ortopnea. terutama minggu ke 28 dan 32. dan ke depan sehingga pembuluhpembuluh darah besar dekat jantung mengalami lekukan dan putaran. saat puncak perubahan dan kebutuhan jantung maksimum (b). Hilangnya pengaruh obstruksi uterus yang hamil menyebabkan masuknya darah secara tiba-tiba dari ekstremitas bawah dan sirkulasi uteroplasenta ke sirkulasi sistemik. (d). Uterus gravidus yang makin lama makin besar mendorong diafragma ke atas. ke kiri. Namun gejala dan tanda ini dapat pula terjadi pada wanita hamil normal. saat arus balik vena dihambat kembali ke jantung. Setelah melahirkan bayi dan plasenta. Peningkatan berat badan. dimulai sejak umur kehamilan 10 minggu dan puncaknya pada UK 32-36 minggu (b). nafas terengah-engah. dan kongesti paru adalah tanda dan gejala gagal jantung kiri. Terjadi penurunan resistensi perifer dan emboli pulmonal dari thrombus iliofemoral. Hidrenia (Hipervolemia). 4) Manifestasi Klinis Mudah lelah. 19 . Saat persalinan. hepato megali.(a).

Bisa ditemukan tanda-tanda aritmia. Meteode yang aman. (b). dan peri kardium (c). iskemia. Diagnosis ditegakkan bila ada satu dari kriteria : (a). katup. terutama bila disertai thrill (d). 6) Diagnosis Burwell dan Metcalfe mengajukan 4 kriteria. Bising diastolic. Kelas I • • • • Tanpa pembatasan kegiatan fisik Tanpa gejala penyakit jantung pada kegiatan biasa (b). EKG untuk mengetahui kelainan irama dan gangguan konduksi. cepat dan terpercaya untuk mengetahui kelainan fungsi dan anatomi dari bilik. Arimia berat Pada wanita hamil yang tidak menunjukan salah satu gejala tersebut jarang menderita penyakit jantung. presistolik. Bila terdapat gejala decompensasi jantung pasien harus di golongkan satu kelas lebih tinggi dan segera dirawat Klasifikasi penyakit jantung dalam kehamilan (a). Kelas II Sedikit pembatasan kegiatan fisik Saat istirahat tidak ada keluhan 20 . Bising sistolik yang nyaring. kardiomegali. atau bising jantung terus menerus (b).5) Pemeriksaan Penunjang Selain pemeriksaan laboratorium rutin juga dilakukan pemeriksaan : (a). infark. Pemeriksaan Radiologi dihindari dalam kehamilan. Ekokardigrafi. tanda penyakit pericardium. Pembesaran jantung yang jelas (c). namun jika memang diperlukan dapat dilakukan dengan memberi perlindung diabdomen dan pelvis.

hipoksia. istirahat baring minimal 21 . hanya harus menghindari aktifitas yang berlebihan. Pasien harus tidur malam cukup 8-10 jam. APGAR score rendah. sesak nafas atau angina pectoris (c). namun harus diawasi dengan ketat. kematian. Kelas II Umumnya tidak memerlukan pengobatan tambahan. Pasien dirawat bila keadaan memburuk. abortus. pertumbuhan janin terhambat. Kelas IV • Tidak mampu melakukan aktivitas fisik apapun Komplikasi Pada ibu dapat terjadi : gagal jantung kongestif. jantung berdebar (palpitasi cordis). Kedua kelas ini dapat meneruskan kehamilan sampai cukup bulan dan melahirkan pervaginam. BBLR. Kelas III • • • Banyak pembatasan dalam kegiatan fisik Saat istirahat tidak ada keluhan Pada aktifitas fisik ringan sudah menimbulkan gejala-gejala insufisiensi jantung (d). meningkatkan kontraktilitas jantung dengan digitalis. Pada janin dapat terjadi : prematuritas. gawat janin. menurunkan preload dengan deuretik. Secara garis besar penatalksanaan mencakup mengurangi beban kerja jantung dengan tirah baring. edema paru. 7) Penatalaksanaan Sebaiknya dilakukan dalam kerjasama dengan ahli penyakit dalam atau ahli jantung. Kelas I Tidak memerlukan pengobatan tambahan (b). Penatalaksanaan dilakukan berdasarkan klasifikasinya yaitu : (a). terutama pada UK 28-32 minggu. dan menurunkan after load dengan vasodilator.• Pada kegiatan fisik biasa timbul gejala isufisiensi jantung seperti: kelelahan.

Pertimbangkan abortus terapeutik pada kehamilan kurang dari 12 minggu. Metode anastesi terpilih adalah epidural Kala persalinan biasanya tidak berbahaya. dapat diulang 1-2 kali dengan selang 1-2 jam. membatasi masuknya cairan (75 mll/jam) diet tinggi protein. Pada kala II dapat spontan bila tidak ada gagal jantung. bila fisik memungkinkan pasien dapat menusui. Pengawasan kala I setiap 10-15 menit dan kala II setiap 10 menit. Kelas III Dirawat di RS selam hamil terutama pada UK 28 minggu dapat diberikan diuretic (d). dan diuretic. Rawat pasien di RS sejak 1 minggun sebelum waktu kelahiran. (c). takipnea. Bila terjadi gagal jantung mutlak harus dirawat dan berbaring 22 . Rawat pasien sampai hari ke 14. Lakukan pengawasan dengan ketat. Jika kehamilan dipertahankan pasien harus terus berbaring selama hamil dan nifas. Bila terjadi takikardi. Lakukan persalinan pervaginam kecuali terdapat kontra indikasi obstetric. Lakukan ANC dua minggu sekali dan seminggu sekali setelah 36 minggu. rendah garam dan membatasi kegiatan. sesak nafas (ancaman gagal jantung). Kelas IV Harus dirawat di RS Kedua kelas ini tidak boleh hamil karena resiko terlalu berat. mobilisasi bertahap dan pencegahan infeksi.setengah jam setelah makan. morfin (1015 mg). Bila berlangsung 20 menit dan ibu tidak dapat dilarang meneran akhiri dengan ekstraksi cunam atau vacum dengan segera Tidak diperbolehkan memaki ergometrin karena kontraksi uterus yang bersifat tonik akan menyebabkan pengembalian darah ke sirkulasi sistemik dala jumlah besar.8 mg. Selain itu dapat diberi oksigen. berikan digitalis berupa suntikan sedilanid IV dengan dosis awal 0.

awasi dengan ketat. untuk menilai terjadinya decompensasi atau edema paru. Operasi pada jantungn untuk memperbaiki fungsi sebaiknya dilakukan sebelum hamil.terus sampai anak lahir. Pemberian oksitosin cukup aman. dan kepatuhan pasien. Laktasi dilarang bagi pasien kelas III dan IV. Umumnya persalinan pervaginam lebih aman namun kala II harus diakhiri dengan cunam atau vacuum. 8) Prognosis Prognosis tergantung klasifikasi. penyulit lain yang tidak berasal dari jantung. Diabetes Melitus Diabetes mellitus pada kehamilan adalah intoleransi karbohidrat ringan (toleransi glukosa terganggu) maupun berat (DM). Glukosa dapat berdifusi secara tetap melalui plasenta kepada janin sehingga kadarnya dalam darah janin hampir menyerupai kadar darah ibu. Kelainan yang paling sering menyebabkan kematian adalah edema paru akut pada stenosis mitral. Insulin ibu tidak dapat mencapai janin sehingga kadar gula ibu yang 23 . Dengan tirah baring. hati-hati memberikan obat tokolitik pada pasien dengan penyakit jantung karena dapat menyebabkan edema paru atau iskemia miocard terutama pada kasus stenosis aorta atau mitral. usia. d. dan diuretic biasanya gejala gagal jantung akan cepat hilang. penatalaksanaan. Definisi ini mencakup pasien yang sudah mengidap DM (tetapi belum terdeteksi) yang baru diketahui saat kehamilan ini dan yang benar-benar menderita DM akibat hamil Dalam kehamilan terjadi perubahan metabolisme endokrin dan karbohidrat yang menunjang pemasokan makanan bagi janin serta persiapan untuk menyusui. terjadi atau diketahui pertama kali saat kehamilan berlangsung. Setelah kala III selesai. digitalis. Pada wanita hamil saat yang paling baik adalah trimester II namun berbahaya bagi bayinya karena setelah operasi harus diberikan obat anti pembekuan terus menerus dan akan menyebabkan bahaya perdarahan pada persalinannya. Obat terpilih adalah heparin secara SC. Prognosis hasil konsepsi lebih buruk akibat dismaturitas dan gawat janin waktu persalinan.

hydramnion. Tergantung insulin (TI) – Insulin dependent Diabetes Melitus yaitu kasus yan memerlukan insulin dalam mengembalikan kadar gula darah. disamping beberapa hormon lain : estrogen. (c). riwayat DM dalam keluarga. riwayat BBL > 4500 gr dan infeksi saluran kemih berulang selama hamil. 3) Komplikasi (a). Maternal : infeksi saluran kemih. 2) Klasifikasi (a). Neonatal neonatal.mempengaruhi kadar pada janin. riwayat PE dan polyhidramnion. Akibat lambatbya resopsi makanan maka terjadi hiperglikemi yang relatif lama dan ini menuntut kebutuhan insulin. kematian intra uterin. kematian ibu (b). 1) Diagnosis Deteksi dini sangat diperlukan agar penderita DM dapat dikelola sebaik-baiknya. hipokalsemia. riwayat pernah melahirkan anak mati tanpa sebab. hipertensi kronik. Pengendalian kadar gula terutama dipengaruhi oleh insulin. hiperbilirubinemia. PE. syndroma hipomegnesemia. Tidak tergantung insulin (TTI) – Non Insulin Dependent diabetes mellitus (NIDDN) yaitu kasus yang tidak memerlukan insulin dalam pengendalian kadar gula darah. obesitas. Terutama dilakukan pada ibu dengan factor resiko berupa beberapa kali keguguran. steroid dan plasenta laktogen. : prematuritas. kelainan congenital. hipoglikemia. insufisiensi plasenta. polisitemia. riwayat melahirkan bayi dengan cacat bawaan. makrosomia. kematian intra uterin. Juga terdapat riwayat ibu : umur ibu > 30 tahun. (b). Fetal : abortus spontan. melahirkan bayi lebih dari 4000 gr. 24 . kematian trauma lahir. riwayat DM pada kehamilan sebelumnya. gawat nafas.

dan kadar HbA1c<6%. dan secara khusus memakai USG dan KTG.5 kg /minggu. Adanya makrosomia pertumbuhan janin terhambat dan gawat janin merupakan indikasi SC. serangannya tak sama pada kehamilan pertama dan 25 . total kenaikan BB sekitar 10-12 kg. yaitu kadar glukosa darah puasa < 105 mg/dl. Janin sehat dapat dilahirkan pada umur kehamilan cukup waktu (40-42 minggu) dengan persalinan biasa. Obat hipoglikemik oral tidak dapat dipakai saat hamil dan menyusui mengingat efek teratogenitas dan dikeluarkan melalui ASI. bahkan pada seorang penderita asma. Selain itu juga menjaga agar tidak ada episode hipoglikemia. dan pertumbuhan fetus normal.5 kg dan selanjutnya 0. Asma Asma Bronkiale merupakan salah satu penyakit saluran nafas yang sering dijumpai dalam kehamilan dan persalinan. Pantau kadar glukosa darah minimal 2 kali seminggu dan kadar Hb glikosila. 2 jam sesudah makan < 120 mg/dl.4) Penatalaksanaan Prinsipnya adalah mencapai sasaran normoglikemia. e. tidak ada ketonuria. Ibu hamil dengan DM tidak perlu dirawat bila keadaan diabetesnya terkendali baik. Kehamilan dengan DM yang berkomplikasi harus dirawat sejak UK 34 minggu dan baisanya memerlukan insulin. Bila diperlukan terminasi kehamilan. lakukan amniosentesis dahulu untuk memastikan kematangan janin (bila UK <38 minggu). Penatalaksanaan Obstetric Pantau ibu dan janin dengan mengukur TFU. Ajarka pasien memantau gula darah sendiri di rumah dan anjurkan untuk kontrol 2-4 minggu sekali bahkan lebih sering lagi saat mendekati persalinan. Lakukan penilaian setiap akhir minggu sejak usia kehamilan 36 minggu. Pengaruh kehamilan terhadap timbulnya asma tidak sama pada setiap penderita. namun harus selalu diperhatikan gerak janin (normalnya >20 kali/12 jam). mendengarkan DJJ. kenaikan BB pada trimester I diusahakan sebesar 1-2.

dan berikan antibiotika kalau ada sangkaan terdapat infeksi. Upayakan persalinan secara spontan namun bila pasien berada dalam serangan. lakukan VE atau Forcep. partus premature dan gangguan petumbuhan janin. Pada keadaan lebih berat penderita harus dirawat Hindari penggunaan obat-obat yang mengandung iodium karena dapat membuat gangguan pada janin. biasanya penderita mengeluh nafas pendek. infeksi saluran nafas. mencegah timbulnya stress (b). Pada asma yang ringan dapat digunakan obat-obat local yang berbentuk inhalasi. Mencegah penggunaan obat seperti aspirin dan semacamnya yang dapat menjadi pencetus timbulnya serangan (d). 3) Penatalaksanaan (a). 26 . SC atas indikasi asma jarang atau tak pernah dilakukan. pengaruh udara dan factor psikis. karena ibu dan janin akan kekurangan oksigen atau hipoksia. 1) Komplikasi Pengaruh asma pada ibu dan janin sangat tergantung dari sering dan beratnya serangan. Penderita selama kehamilan perlu mendapat pengawasan yang baik. dan batuk-batuk. Biasanya serangan akan timbul mulai UK 24-36 minggu dan pada akhir kehamilan jarang terjadi serangan.berikutnya. Menghindari factor resiko/pencetus yang sudah diketahui secara intensif (c). sesak. atau peroral seperti isoproterenol (e). Keadaan hipoksia bila tidak segera diatasi tentu akan berpengaruh pada janin dan sering terjadi keguguran. 2) Manifestasi Klinis Factor pencetus timbulnya asma antara lain zat-zat alergi. berbunyi. Diagnosis dapat ditegakkan seperti asma diluar kehamilan.

Penularan (a). Sekitar ½ dari beberapa kucing yang diuji mempunyai antibody toxoplasma.2. hipotermi. dimana dibatasinya penggunaan lemari pendingin dan biasanya daging tidak dibekukan. Berikut adalah temuan-temuan yang didapatkan pada bayi dengan infeksi toxoplasma congenital: chorioretinitis. mikrosefali. Sporulasi organisme ini terjadi setelah 1-5 hari dalam kotoran dan dapat dicegah dengan pembuangan sampat setiap hari. hepatosplenomegali. TOXOPLASMOSIS 1) Temuan klinis Toxoplasmosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh toxoplasma gondii. syaraf mata atrofi. Choriuretinitis merupakan manifestasi klinis yang serinng muncul apada BBL sebagai gejala toxoplasma. Seharusnya 27 . Ibu dengan toxoplasma gondii biasanya tidak menampakan gejala walaupun 10%-20% ibu yang terinfeksi BBL dengan menderita toxoplasma congenital terinfeksi saat berada di dalam uterus secara transplacental. Feses kucing sudah sangat infeksius. Oocyst dalam feses menyebar melalui udara dan ketika dihirup akan dapat menyebabkan infeksi. penyakit kejang. mual. demam. Kucing Organisme tempat toxoplasma gondii hidup adalah kucing. katarak. kuning. Daging Konsumsi daging yang terinfeksi adalah penyebab utama toxoplasma di Eropa. mikroftalmia. pneumonia. (b). glaucoma. limpadenopati. Ini berarti bahwa kucing tersebut terinfeksi karena memakan hewan pengerat dan burung pemakan daging yang terinfeksi. diare. Infeksi yang Menyertai Kehamilan dan Persalinan a. hydrocephalus.

(a). (c). atau (3). Penatalaksanaan dan pencegahan 1) Ibu Prognosa pada infeksi yang akut baik. Ibu Diagnosa klinis toxoplasma akut tidak dapat dipercaya apabila tidak ditemukan tanda yang spesifik berkaitan dengan infeksi. Menunjukan hasil yang positif pada uji yang dilakukan Terjadi peningkatan antibody yang diperoleh dari serum ibu pada dua kali pemeriksaan yang berbeda. penyakit kuning. dan hepatosplenomegali..Diagnosa utama infeksi toxoplasma selama kehamilan adalah meliputi salah satu dari hal berikut: (1). Diagnosa prenatal Mendiagnosa toxoplasma pada kehamilan dipercaya dengan cairan amnion atau darah janin yang dapat didiagnosa dengan amniosentesis atau cordosentesis. kecuali pada keadaan imonosekresi yang amat besar. Anak Gejala klinis pada bayi baru lahir akan dapat ditemukan seperti pada temuan diatas. Wanta hamil dengan infeksi akut dapat dirawat dengan kombinasi pyrimethamine. Gejala klinik yang paling banyak ditemukan adalah chorioretinitis. demam. Dosis standar pyrimethamine adalah 25 mg/hari/oral 28 . (b). Adanya kista toxoplasma gondii pada pemerikaan histology plasenta juga mendukung kuat diagnosa infeksi pada bayi. asam folimik dan sulfonamide. Terdeteksi antibody IgM toxoplasma . Adanya IgM toxoplasma spesifik pada bayi baru lahir memperjelas diagnosa infeksi congenital.daging dimasak pada suhu yang tinggi untuk mecegah terjadinya penularan toxoplasma 2) Diagnosis (a). (2).

. Sering dijumpai apabila infeksi dijumpai pada kehamilan trimester I (30-50%). stenosis pulmonalis. kadang tidak jelas atau tidak 29 . Pada bayi yang Tidak ditemukannya temuan yang lain yang mencurigakan terjadinya infeksi congenital. kebodohan) 1) Diagnosis Diagnosis rubella tidak selalu mudah karena gejala-gejala kliniknya hampir sama dengan penyakit lain. septum terbuka) 3) 4) Alat pendengaran (tuli) Susunan syaraf pusat (meningoensefalitis. Infeksi congenital pada bayi baru lahir bukan merupakan infeksius. oleh karena itu tidak perlu diisolasi. RUBELLA Rubella dapat meningkatkan angka kematian perinatal dan sering menyebabkan cacat bawaan pada janin.dan 1 gr sulfadiazine peroral 4 X/hari selam 1 tahun. Bayi baru lahir yang tidak menunjukan infeksi dan positif antibody IgG toxoplasma spesifiknya mungkin didapatkan dari ibunya secara transplasetal. Pyrimethamine adalah musuh dari asam folik dan oleh karena itu mungkin memberikan efek teratogenik jika diberikan pada trimester I. Adanya gejala infeksi pada bayi lahir harus ditangani dengan pemberian pyrimethamine dengan dosis 1 mg/kg/hr/oral selam 34 hari. glaucoma. Asam folimik diberikan dengan dosis 6 mg secara IM atau per oral setiap pada hari yang berbeda untuk mengetahui apakah benar habisnya asam folat disebsbkan oleh Pyrimethamine. dilanjutkan dosis 0. mikroftalmia) Jantung (Duktus arteriosus persisten. Anggota tubuh anak yang bisa menderita karena rubella: 1) 2) Mata (katarak. b. harus dipantau.. apabila tidak terinfeksi harus menunjukan adanya penurunan titer antibody IgG terhadap toxoplasma.5 mg/kg/hr selam 21-30 hari dan sulfadiazine dengan dosis 20 mg/kg per oral selam 1 tahun.

Tanda dan Gejala klinis: (a). (b). Akan tetapi. Diagnosis pasti dapat dibuat dengan isolasi virus atau dengan dotemukannya kenaikan titer anti rubella dalam serum. diberikan sebelum perkawinan. dan pula vaksinasi yang dilakukan tidak lama sebelum terjadinya kehamilan atau dalam kehamilan dapat menyebabkan infeksi janin. (d).8% dalam trimester II dan 5. maka abortus buatan perlu dipertimbangkan. 30 . (c). manfaat gamaglobulin dap\lam hal ini masih diragukan. yang lebih manjur ialah vaksin rubella. kemudian menghilang secara cepat (e). Imunitas 1:10 atau lebih Imunitas rendah < 1:10 Indikasi adanya infeksi saat ini ≥ 1:64 Apabila wanita hamil dalam trimester I menderita viremia. vaksinasi ini sering menimbulkan artralgia atau arthritis. lebih baik vaksinasi Pemberian vaksin pada wanita selam kunjungan prekonsepsi dianjurkan untuk uji serologi varicella apabila klien selama masa kanak-kanaknya tidak mempunyai riwayat infeksi. Demam-ringan Merasa mengantuk Sakit tenggorok Kemerahan sampai merah terang atau pucat. Setelah trimester I. Nilai titer antibody (a). (b).ada sama sekali. Karena itu. (c). menyebar secara cepat dari wajah ke seluruh tubuh.. kontraindikasi pada kehamilan adalah menghindari konsepsi selama 3 bulan setelah vaksinasi. (f). kemungkinan cacat bawaan menjadi kurang yaitu 6. Virus pada rubella sering mencapai dan merusak embrio dan fetus. Kelenjar leher membengkak Durasi 3-5 hari Hingga kini tidak ada obat-obatna yang dapat mencegah viremia pada orang yang tidak kebal.3% dalam trimester III.

dan urin ibu yang melahirkannya. mikroftalmia. HERPES Infeksi herpes virus hominis pada orang dewasa biasanya ringan. Virus biasanya dapat diisolasi dalam pembiakan jaringan. gangguan pendengaran. Kematian bayi dapat pula disebabkan oleh ensefalitis herpes virus. Kesulitan lain ialah bahwa infeksi CMV pada ibu biasanya tidak menimbulkan gejala dan sering tidak diketahui. hernia. Diagnosis pada ibu ditegaskan melalui pemeriksaan serologik (biasanya dengan cara ELISA). faring. mikrocephalus. CMV (CITOMEGALO VIRUS) Infeksi primer CMV dapat terjadi dengan frekuensi 1-2%. Walaupun demikian. dan pneumonitis. 10-15% anak yang mengalami infeksi congenital akan mengalami cacat bawaan. trombositopeni. 31 . purpura. retardasi mental dan mungkin ditemukan kalsifikasi serebral. Infeksi yang terjadi setelah lahir ini akan menampilkan gejala pneumonia. ASI. maka dapat diberi pengobatan simptomatik dan istirahat. karena klinis tidak menunjukkan gejala yang khas. Selain melalui plasenta. korioretinitis.c. Bila diketahui terdapat gejala infeksi. Bila infeksi terjadi pada bulan-bulan terakhir kehamilan dapat dijumpai hepatosplenomegali. Bila infeksi terjadi pada trimester I atau awal trimester kedua dapat timbul keadaan hydrocephalus. Walaupun jarang. penyakit ini dapat menyebabkan kematian janin dan bayi. Pada bayi dapat dijumpai gelembung-gelembung pada kulit di seluruh badan. Ibu dengan status imunitas yang rendah dan infeksi yang berat perlu diberi obat antivirus. infeksi dapat sampai ke BBL melalui kontak virus dari serrvik. atau pada konjungtiva dan selaput lendir mulut. Hingga kini tidak dikenal pengobatan yang manjur bagi penyakit ini bagi ibu maupun neonatus. Transfusi darah juga dapat menularkan infeksi CMV. Infeksi congenital kekerapannya adalah 1-2% dari kehamilan. d. hepatosplenomegali dan sepsis yang tarjadi pada bulan pertama kehidupannya.

Virus tipe II dapat menyebabkan herpes genitalis dengan gelembung-gelembung berisi cairan di vulva, vagina, dan servik, yang dikenal juga dengan nama herpes simpleks. Penularan kepada anak dapat terjadi melalui: (a). Hematigen melalui plasenta (b). Akibat penjalaran ke atas dari vagina ke janin apabila ketuban pecah (c). Melalui kontak langsung pada waktu bayi lahir Diagnosis tidak sulit yaitu apabila terdapat gelambunggelambung di daerah alat kelamin, ditemukannya benda-benda inklusi intranuklear yang khas di dalam sel-sel epitel vulva, vagina atau servik setelah dipulas menurut papanicolau, memberi kepastian dalam diagnosis. Herpes genitalis merupakan infeksi virus yang senantiasa bersifat kronik, recurrent, dan dapat dikatakan sulit diobati. Sampai saat ini hanya satu cara pengobatan herpese yang cukup efektif, yaitu antivirus yang disebut acyclovir. Acyclovir dalam kehamilan tidak dianjurkan,

kecuali bila infeksi yang terjadi merupakan keadaan yang mengancam kematian ibu, seperti adanya ensefalitis, pneumonitis, dan atau hepatitis, dimana acyclovir dapat diberikan secara IV. SC dianjurkan pada wanita yang pada saat kelahiran menunjukkan gejala-gejala akut pada genetalia, untuk menghindari penularan akibat kontak langsung. Karena bila dengan persalinan pervaginam 50% bayi akan mengalami infeksi. Pada pasca persalinan, ibu yang menderita herpes aktif harus diisolasi. Bayinya dapat diberikan untuk menyusui bila ibu telah cuci tangan mengganti baju yang bersih.

e. SYPHILIS Infeksi syphilis (lues) yang disebabkan oleh Treponema pallidum, baik yang sudah lama maupun yang baru diderita oleh ibu dapat ditularkan kepada janin. Syphilis kongenita merupakan bentuk penyakit syphilis yang terberat. Infeksi pada janin dapat terjadi setiap saat dalam

32

kehamilan, dengan derajat risiko infeksi yang tergantung jumlah spiroketa (treponema) di dalam darah ibu. Sudah diketahui secara umum bahwa syphilis mempunyai pengaruh buruk pada janin: dapat menyebabkan kematian janin, partus immaturus, dan partus prematurus. Dalam hal demikian dapat dijumpai gejala-gejala syphilis kongenita, diantaranya pemfigus syfilitikus,

deskwamasi pada telapak kaki dan tangan, serta rhagade di kanan-kiri mulut. Pada persalinan tampak janin atau plasenta yang hidropik. Syphilis harus diobati segera setelah diagnosis dibuat, tanpa memandang tuanya kehamilan. Lebih dini dalam kehamilan pengobatan diberikan, lebih baik prognosis bagi janin. Syphilis primer yang tidak diobati dengan adekuat, 25% akan menjadi syphilis sekunder dalam waktu 4 tahun. Bayi yang lahir dari ibu dengan syphilis boleh tetap mendapat ASI. Bila ibu tersebut masih menderita lesi pada kulit, kontak dengan bayinya harus dihindari.

f. VARICELLA (CACAR AIR/CHICKEN POX) Varicella merupakan penyakit anak-anak dan sangat jarang dijumpai dalam kehamilan dan nifas. Walaupun umumnya cacar air itu suatu penyakit ringan, namun pada wanita hamil kadang-kadang bisa menjadi berat dan dapat menyebabkan partus prematurus. Disangka

bahwa telah terjadi penularan intra uterin apabila gelambung-gelambung timbul dalam 10 hari setelah kelahiran. Frekuensi cacar bawaan tidak lebih tinggi pada para bayi yang lahir dari ibu yang menderita cacar air dalam masa hamil. g. INFEKSI TRAKTUS URINARIUS Infeksi saluran kencing adalah infeksi bakteri yang paling sering dijumpai pada kehamilan. Walaupun bakteri uria asimtomatik merupakan hal biasa, infeksi simtomatik dapat mengenai salran bawah yang

33

menyebabkan sisititis, atau menyerang kaliks, pelvis, dan parenkim ginjal sehingga mengakibatkan pielonefritis. Organisme yang emnyebabkan infeksi saluran kemih berasal dari flora normal perineum. Sekarang terdapat bukti bahwa beberapa galur escherichia coli memiliki pili yang meningkatkan virulensinya. Walaupun kehamilan itu sendiri tampaknya tidak meningkatkan factor-faktor virulensi ini, stasis air kemih tampaknya menyebabkan hal itu, dan bersama dengan revluksvesikoureter, stasis mempermudah timbulnya gejala infeksi saluran kemih bagian atas. Overdistsnsi yang disertai kateterisasi untuk mengeluarkan iar kemih sering menyebabkan infeksi saluran kemih. a. Bakteriuria Asimtomatik kondisi ini mengacu pada perkembangan bakteri yang terusmenerus secara aktif di dalamsaluran kemih tampa menimbulkan gejala. Insiden selama kehamilan bergantung pada paritas, ras dan status social ekonomi b. Sistitis Dan Uretritis Biasanya sistitis di tandai oleh disuria, urgensi dan frekuensi. Biasanya ditemukan bakteri uria dan piuria. c. Pielonefritis Akut Infeksi ginjal merupakan penyulit medis paling serius pada kehamilan, terjadi pada sekitar 2 % wanita hamil. Keseriusan pielonefritis akut selam kehamilan digaris bawahi sebagai penyebab utama syok septic selama kehamilan. Infeksi ginjal lebih sering terjadi setelah pertengahan kehamilan, pada lebih dari separuh kasus penyakitnya unilateral dan di sisi kanan, sedangkan pada ¼ bilateral. Pada sebagian besar wanita, infeksi disebabkan oleh bakteri yang naik dari saluran kemih bawah. Antara 75-90 % infeksi ginjal disebabkan oleh bakteri yang meimiliki adehesin fimbriae-P. Gejala meliputi demam, menggigil hebat, dan nyeri tumpul di salah satu atau kedua regio lumbal. Pasien mungkin

34

seringkali dalam gumpalangumpalan dan banyak bakteri. koriamnionitis. Istirahat. Periksa HbsAg 4. Sedimen urin sering mengandung banyak leukosit. diberi nutrisi dan cairan yang cukup. dan masa nifas disangka sebagai metritis dengan selulitis panggul. akan tetapi jarang dijumpai kelainan congenital (anomaly pada janin). Penatalaksanaan 1. Sedangkan pada trimester II dan III sering terjadi premature. rasa nyeri biasanya dapat ditimbulkan dengan perkusi disalah satu atau kedua sudut costovertebra. HEPATITIS Hepatitis infeksiosa disebabkan oleh virus dan merupakan penyakit hati yang paling sering dijumpai dalam kehamilan.mengalami anoreksia. Perjalanan penyakit dapat sangat bervariasi dengan demam sampai setenggi 40 °C atau lebih dan hipotermia sampai 34°C. Kontrol kadar bilirubun. Pada hepatitis B janin kemungkinan dapat tertular melalui plasenta. Tidak dianjurka untuk melakukan terminasi kehamilan dengna induksi atau SC. bila perlu IV 2. solusio plasenta. appendicitis. atau infark myoma. Isolasi cairan lambung dalam atau cairan badan lainnya dan ingatkan tentang pentingnya janin dipisahkan dengan ibunya 3. serum glutamic oksaloasetik transaminase (SGOT). hepatitis virus dapat terjadi pula setiap saat kehamilan dan mempunyai pengaruh buruk pada janin maupun ibunya. serum glutamic piruvic transaminase (SGPT). pemyebab hepatitis infeksiosa terutama oleh virus hepatitis B. walaupun masih masih kontroversi penularan melalui air susu. walaupun kemingkinan juga dapat karena virus hepatitis A atau Hepatitis C. factor 35 . Pada wanita hamil. pielonefritis dapat disangka sebagai proses persalinan. h. Walaupun diagnosis biasanya mudah. mual dan muntah. waktu lahir. Pada trimester I dapat terjadi keguguran. atau masa neonatus. karena akan mempertinggi risiko pada ibu.

sepeerti gonorrhea. terutama pneumocystis carinii pneumonia. HIV/AIDS Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kehamilan dapat memperberat kondisi klinik wanita dengan infeksi HIV. TBC dan lain-lain. hepatitis. Kematian pada ibu hamil dengan HIV positif kebanyakan disebabkan oleh penyakit oportunisyik yang menyetainya. Pada bayi yang baru dilahirkan dalam 2x24 jam diberi suntikan anti hepatitis serum i. Untuk perawatan bayi. Pemberian AZT (Zidovudine) dapat memperlambat kematian dan menurunkan frekuensi serta beratnya infeksi oportunistik. Pengobatan infeksi HIV dan penyakit oportunisyiknya dalam kehamilan merupakan masalah. CMV. SC bukan merupakan indikasi untuk menurunkan risiko infeksi pada bayi yang dilahirkan. lochea. Tindakan operasi seperti SC akan memperburuk prognosis ibu 8. atau mungkin menderita candidiasis orofaring maupun vagina. Penularan kepada penolong persalinan dapat terjadi dengan rate 0-1% pertahun exposure. karena banyak obat belum diketahui dampak buruknya dalam kehamilan. anoreksia. Bila telah terdiagnosis adanya AIDS perlu dilakukan pemeriksaan apakah ada infeksi PHS lainnya. chlamydia. Penderita AIDS mempunyai gejal awal yang tidak spesifik seperti fatique. Pada ibu yang HbsAg positif perlu diperiksa HbsAg anak karena kemungkinan terjadi penularan melalui darah tali pusat 7. BB menurun. Cegah penggunaan obat-obat yang bersifat hepatotoksik 6. luka episiotomi ataupun luka SC. sebaiknya dilakukan oleh dokter anak yang 36 . Sampai saat ini belum ada pengobatan AIDS yang memuaskan. Perawatan pascapersalinan perlu diperhatikan yaitu kemungkinan penularan melalui pembalut wanita. herpes. Dalam persalinan. ataupun infeksi toksoplasmik. karena kemungkinan telah ada disseminated intravaskular coagulapathy (DIC) 5.pembekuan darah.

dan karena kemungkinan penuluaran oleh ibu melalui jalan lain tetap ada. Jadi diperlukan pemeriksaan ulang berkala untuk menentukan adanya perubahan ke arah negatif atau tidak. Jantung. Tifus abdominalis tidak merupakan indikasi bagi abortus buatan. Asma maka dalam kehamilanna akan benyak mengalami komplikasi dai penyakitnya tesebut. Wanita yang mempunyai penyakit sebelum hamilnya sepeti penyakit pada paru-paruna atau TBC. Pengobatan dengan kloramfenikol atau tiamfenikol (Urfamycin). Kumankuman tufus abdominalis tidak di keluarkan melalui air susu. Perawatan tali pusat harus dijalankan dengan cermat. Dalam 60-80 % hasil konsepsi keluar secara spontan : lebih dini terjadinya infeksi dalam kehamilan. Antibodi yang didapatkan pasif dari ibu akan dapat bertahan sampai 15 bulan. j. misalnya jangan lakukan sirkumsisi. Diabetes Militus. namun sebaiknya penderita tidak menyusui bayinya karena keadaan umum ibu biasanya tidak mengizinkan. TYPUS ABDOMINALIS Typus abdominalis dalam kehamilan. Rangkuman Materi Pada masa kehamilan pesalinan dan nifas tubuh wanita hamil besalin dan nifas akan mengalami peubahan fisiologis untuk menusuaikan diri. dan nifas menunjukan angka kematian yang lebih tinggi dari pada di luar kehamilan. Perawatan ibu dan bayi tidak perlu dipisah. Imunisasi yang menggunakan virus hidup sebaiknya ditunda sampai terbukti bahwa bayi tersebut tidak menderita virus HIV. ginjal. Selain penakit ibu hamil besalin dan nifas entan mengalami infeksi 37 . Infeksi pada bayi mungkin baru tampak pada usia 12-18 bulan. harus diusahakan agar pada bayi tidak dilakukan tindakan yang membuat perlukaan bila tidak perlu betul.khusus untuk menangani kasus ini. lebih besar kemungkinan berakhirnya kehamilan. C. namun tidak menutup kemungkinan bahwa hamil dan bersalin dapat mempeberat atau diperberat oleh berbagai penyakit yang bedampak pada beratnya pesalinan dan nifasnya. Penyakit ini mempunyai pengaruh buruk terhadap kehamilan.

Rubella.Rambu Jawaban Soal 1. HIV/AIDS. Hepatitis. meningkatkan kontraktilitas jantung dengan digitalis. Kelas II Sedikit pembatasan kegiatan fisik Saat istirahat tidak ada keluhan Pada kegiatan fisik biasa timbul gejala isufisiensi jantung seperti: kelelahan. Latihan / Tugas 1. Typus Abdominalis. Penatalaksanaan dilakukan berdasarkan klasifikasinya yaitu : 38 . Kelas III • • • Banyak pembatasan dalam kegiatan fisik Saat istirahat tidak ada keluhan Pada aktifitas fisik ringan sudah menimbulkan gejala-gejala insufisiensi jantung (d). Toxoplasmosis. Diskusikan tentang klasifikasi penyakit jantung pada kehamilan dan penatalaksanaannya ! 2. Secara garis besar penatalksanaan mencakup mengurangi beban kerja jantung dengan tirah baring. Infeksi Tranktus Urinarius.sepeti Sypilis CMV. D. Klasifikasi penyakit jantung dalam kehamilan (a). Herpes. Kelas I • • • • • Tanpa pembatasan kegiatan fisik Tanpa gejala penyakit jantung pada kegiatan biasa (b). Rambu. jantung berdebar (palpitasi cordis). Kelas IV • Tidak mampu melakukan aktivitas fisik apapun Penatalaksanaan Sebaiknya dilakukan dalam kerjasama dengan ahli penyakit dalam atau ahli jantung. sesak nafas atau angina pectori (c). dan menurunkan after load dengan vasodilator. Varicella. Sebutkan temuan-temuan pada bayi yang teinfeksi Toxoplasma! E. menurunkan preload dengan deuretik.

Syaifudin. pneumonia. Kelas I Tidak memerlukan pengobatan tambahan (b). limpadenopati. mual. diare. mikroftalmia. Buku Panduan Praktis Maternal dan Neonatal. Jones and Bartlett Publisher Mayes. Pasien dirawat bila keadaan memburuk. kejang. hepatosplenomegali. Kala persalinan biasanya tidak berbahaya. Bila berlangsung 20 menit dan ibu tidak dapat dilarang meneran akhiri dengan ekstraksi cunam atau vacum dengan segera (c). Berikut adalah temuan-temuan yang didapatkan pada bayi dengan infeksi toxoplasma congenital: chorioretinitis. Kelas IV Harus dirawat di RS 2. 4. YBPSP 2. Lakukan pengawasan dengan ketat. 2001 Varney’s H. Daftar Pustaka 1.(a). Pengawasan kala I setiap 10-15 menit dan kala II setiap 10 menit. glaucoma. mikrosefali. Midwifery. Kelas II Umumnya tidak memerlukan pengobatan tambahan. hydrocephalus. F. UK. hipotermi. penyakit kuning. syaraf mata atrofi. terutama pada UK 28-32 minggu. 1997. hanya harus menghindari aktifitas yang berlebihan. Midwifery. 3. 2001. demam. katarak. Pada kala II dapat spontan bila tidak ada gagal jantung. Jakarta. Kedua kelas ini dapat meneruskan kehamilan sampai cukup bulan dan melahirkan pervaginam. namun harus diawasi dengan ketat. 12 th Edition 2000 39 . Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Kelas III Dirawat di RS selam hamil terutama pada UK 28 minggu dapat diberikan diuretic (d).

Jakarta Hanifa. YBPSP Hanifa. Ilmu kandungan. Sinopsis Obstetri Jilid I. 1999. 1998. 1999. Jakata. 2006. 40 . 7.5. Workshop kurikulum mata ajar Askeb IV. Jakarta. dkk. 6. Tidak diterbitkan. Mochtar R. 8. dkk. Ilmu Kebidanan. YBPSP Tim pengajar askeb IV.

disebut anemia gravis. jumlah darah bertambah (hiperemia/hipervolumia) karena itu terjadi pengenceran darah karena sel-sel darah tidak sebanding pertambahannya dengan plasma darah. cacing usus. haid dan lain-lain. II. Anemia Dalam Kehamilan Baik di negara maju maupun di negara berkembang. Malabsorpsi d). sebaiknya pemeriksaan dilakukan setiap 3 bulan atau paling sedikit 1 kali pada pemeriksaan pertama atau pada triwulan 1 dan sekali lagi pada triwulan akhir. 41 . atau bila kurang dari 6 gr%. Kurang gizi (malnutrisi) b). Dalam kehamilan. 1) Penyebab anemia umumnya adalah: a). paru. Pemeriksaan kadar hemoglobin selama pengawasan antenatal. e). Uraian Materi 1. Komplikasi dan Penyulit Kehamilan Trimester I dan II a. Kompetensi dasar Mampu menjelaskan komplikasi. seseorang disebut menderita anemia bila kadar hemoglobin (Hb) kurang dari 10 gr%. Kehilangan darah yang banyak: persalinan yang lalu. kelainan dan penyakit dalam kehamilan trimester I. III. disebut anemia berat. Wanita hamil mempunyai nilai normal hemoglobin 12-15 gr% dan hematokrit 35-54. Kurang zat besi dalam diet c). Penyakit-penyakit kronis: tbc. malaria dan lain-lain. B. KELAINAN DAN PENYAKIT DALAM KEHAMILAN A.BAB III ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU DENGAN KOMPLIKASI.

Penyebabnya telah dibicarakan di atas sebagai penyebab anemia umumnya. kemasan diberikan secara intramuskuler atau intravena. hamil dan dalam laktasi yang dianjurkan adalah: (1). Penyebabnya adalah karena kekurangan asam folik.29 mg (2).Perbandingan pertambahan tersebut adalah: a) b) c) Plasma darah bertambah: 30 % Sel-sel darah bertambah: 18 % Hemoglobin bertambah: 19 % Secara fisiologis. Parenteral: diberikan bila ibu hamil tidak tahan pemberian per oral atau absorbsi di saluran pencernaan kurang baik. jectofer dan ferrigen. jarang 42 . pengenceran darah ini adalah untuk membantu meringankan kerja jantung. Hasilnya lebih cepat dibandingkan per oral. Kemasan ini antara lain. imferon. b) Anemia megaloblastik Anemia megaloblastik biasanya berbentuk makrositik atau pernisiosa. FNB Amerika Serikat (1958): 12 mg-15 mg-15 mg (2). Pengobatan: Keperluan zat besi untuk wanita non hamil.5 x 0. 2) Klasifikasi anemia dalam kehamilan: a) Anemia defisiensi besi Anemia jenis ini biasanya berbentuk normositik dan hipokromik serta paling banyak dijumpai. LIPI Indonesia (1968): 12 mg-17 mg-17 mg Kemasan zat besi dapat diberikan per oral atau parental (1). Per oral: sulfas serosus atau glukonas ferosus dengan dosis 3.

Faktor ekstrakorpuskuler. talasemia. disebabkan malaria. 43 . Pengobatan: (1). Asam folik 15-30 mg per hari (2). leukemia. keracunan zat logam. yang perlu sering diulang.selaki akibat karena kekurangan vitamin B12. kelelahan. Untuk diagnosis diperlukan pemeriksaan : darah tepi lengkap. anemia sel sickle (sabit) (2). sepsis. Penyebabnya belum diketahui. Faktor intrakorpuskuler. Tirapi dengan obat-obatan tidak memuaskan: mungkin pengobatan yang paling baik yaitu tranfusi darah. seerta gejala komplikasi bila terjadi kelainan pada organorgan vital. dan dapat beserta obat-obatan. Ini dapat disebabkan oleh: (1). kecuali yang disebabkan oleh infeksi berat (sepsis). Pada kasus berat dan pengobatan per oral hasilnya lamban sehingga dapat diberikan transfusi darah c) Anemia hipoplasti Anemia hipoplasti disebabkan oleh hipofungsi sumsum tulang membentuk sel-sel darah merah baru. pemeriksaan fungsi sternal. d) Anemia hemolitik Anemia hemolitik disebabkan penghancuran/pemecahan sel darah merah yang lebih cepat dari pembuatannya. Vitamin B12 3x1 tablet per hari (3). dijumpai pada anemia hemolitik heriditer. Sulfas ferosus 3x1 tablet per hari (4). penyakit hodgkin Gejala utama adalah anemia dengan kelainan-kelainan gambaran darah. Biasanya karena malnutrisi dan infeksi yang kronik. dan sinar rontgen atau sinar radiasi. leracunan. pemeriksaan retikulosit.

karena masuknya Vili khorialis dalam sirkulasi maternal. Maka tranfusi darah yang berulang dapat membantu penderita ini. kehamilan ganda karena peningkatan kadar HCG 2) Faktor Organik. takut terhadap kehamilan dan persalinan. hipertiroid 44 . Bila disebabkan oleh infeksi maka infeksinya diberantas dan diberikan obat-obat penambah darah. Penyebab hiperemesisi gravidarrum belum diketahui secara pasti. b. Namun. diabetes. Gejala tersebut kurang lebih terjadi 6 minggu setelah hari pertama haid terakhir dan berlangsung selama kurang lebih 10 minggu. sering terjadi pada primigravida. pada beberapa jenis obatobatan. 4) Faktor endokrin lain. HIPEREMESIS GRAVIDARUM Hiperemesis gravidarum adalah mual dan muntah yang berlebihan pada wanita hamil sehingga mengganggu pekerjaan sehari-hari dan keadaan umumnya menjadi buruk. karena terjadi dehidrasi. memegang peranan yang sangat penting. misalnya rumah tangga yang retak. Biasanya terjadi pada kehamilan trimester I. namun beberapa faktor mempunyai pengaruh antara lain: 1) Faktor Predisposisi. mola hidatidosa. perubahan matabolik akibat hamil dan resistensi ibu yang menurun dan alergi merupakan salah satu respon dari jaringan ibu terhadap anak 3) Faktor psikologik.Pengobatan bergantung pada jenis anemia hemolitik serta penyebabnya. kehilangan pekerjaan. takut terhadap tanggung jawab sebagai ibu. hal ini tidak memberi hasil.

bila terjadi terus menerus dapat menyebabkan dehidrasi dan tidak imbangnya elektrolit dengan alkalosis hipokloremik. ikterus ringan.Gejala Dan Tingkat Menurut berat dan ringannya dibagi menjadi 3: 1) Tingkat I : ringan Mual muntah terus menerus yang menyebabkan penderita lemah. ikterus. berat badan turun. nyeri epigastrium nadi sekitar 100x/mnt. nadi kecil dan cepat. hemokonsentrasi. nadi kecil. berat badan turun. tidak ada nafsu makan. lemah. oliguria dan konstipasi. turgor kulit mulai jelek. akan mengalami emesis gravidarum yang lebih berat. 2) Tingkat II : sedang Mual dan muntah yang hebat menyebabkan keadaan umum penderita lebih parah. Kekurangannya cairan yang diminum dan kehilangan cairan karena 45 . tensi turun sekali. suhu badan naik. mata cekung. tekanan darah sistolik turun. suhu badan naik (dehidrasi). somnolen sampai koma. wanita yang sebelum kehamilan sudah menderita lambung spastik dengan gejala tidak suka makan dan mual. lidah kering. turgor kulit berkurang. dehidrasi berat. terjadilah ketosis dengan tertimbunnya asam aseton-asetik. halus dan cepat. lidah kering dan kotor. Karena oksidasi lemak yang tidak sempurna. dari nafas berbau aseton 3) Tingkat III : berat Keadaan umum jelek. Dapat terjadi ensekalopati wernicke Hiperemesis gravidarum yang merupakan komplikasi mual dan muntah pada hamil muda. kesadaran sangat menurun. apatis. tensi turun. Hiperemesis gravidarum dapat mengakibatkan cadangan karbohidrat dan lemak habis terpakai untuk keperluan energi. mata cekung. dapat pula terjadi asotonuria. asam hidroksi butirik dan aseton dalam darah.

Pencegahan lain yaitu tentang diit ibu hamil dan defekasi yang teratur (b). Tanda dan gejala i. Disamping dehidrasi dan terganggunya keseimbangan elektrolit. Hiperemesis gravidarum tingkat II dan III harus dirawat inap di RS. antasida.muntah menyebabkan dehidrasi. dan anti mulas (c). sehingga aliran darah ke jaringan berkurang. Selain itu dehidrasi menyebabkan hemokonsentrasi.Kram abdomen bagian bawah atau sakit punggung normal 46 . sehingga cairan ekstraseluler dan plasma berkurang. c. menambah frekuensi muntah-muntah yang lebih banyak. dengan akibat perdarahan gastrointestinal. Hal ini menyebabkan jumlah zat makanan dan oksigen kejaringan mengurang pula dan tertimbunnya zat metabolik yang toksik. dapat terjadi robekan pada selaput lendir esofagus dan lambung. Kekurangan kalium sebagai akibat dari muntah dan bertambahnya ekskresi lewat ginjal. dapat merusak hati. demikian pula khlorida air kemih. penerangan bahwa kehamilan dan persalinan merupakan proses fisiologis. Natrium dan khlorida darah turun. vitamin.Jumlah perdarahan sedikit/ perdarahan bercak iii. ABORTUS 1) Abortus imminens (a).Perdarahan vagina: merah segar atau coklat ii. Pencegahan.Dapat terjadi terus menerus untuk beberapa hari sampai 2 minggu iv. anti muntah. Terapi obat. menggunakan sedative. Penanganan pasien dengan Hiperemesis Gravidarum : (a).

effacement. nyeri tekan. Istirahatkan panggul (tidak berhubungan seksual. atau memasukkan sesuatu ke vagina) iii. aktivitas normal dapat dilanjutkan kembali kecuali wanita merasa tidak nyaman atau lebih memilih untuk istirahat ii. jenis dan Rh (jika belum ada) • Jika pemeriksaan negative. dan jika mungkin untuk menenangkan wanita. tenangkan 47 . Jika pemeriksaan fisik dan ultrasuara negatif. atau bagian-bagian janin • Pemeriksaan bimanual-ukuran uterus. tanpa disertai kram i. tonjolan kantong ketuban. bekuan darah. Tirah baring tidak terlalu bermanfaat. observasi bukaan serviks. Tidak melakukan aktivitas seksual yang menimbulkan orgasme iv. dapat dilakukan menentukan pemeriksaan ultrasuara untuk kelangsungan hidup janin. dilatasi. serta kondisi ketuban. tidak melakukan irigasi. Periksakan pada hari berikutnya di rumah sakit Evaluasi tanda-tanda vital Pemeriksaan dengan speculum-merupakan skrining vaginitis dan servisitis. Manajemen Trimester I dengan sedikit perdarahan. Segera beritahu bidan jika terdapat : • • • • • • Perdarahan meningkat Kram dan nyeri pinggang meningkat Semburan cairan dari vagina Demam atau gejala mirip flu v. tanggal kelahiran. Dapatkan nilai hemoglobin dan hematokrit.(b).

2 mg I.wanita. karena setiap saat dapat terjadi ancaman perdarahan dan pengeluaran hasil konsepsi. Berikan ergometrin 0. Tunggu ekspulsi spontan hasil konsepsi. Abortus ditandai dengan: a) b) c) Perdarahan lebih banyak Perut mules (sakit) lebih hebat Pada pemeriksaan dijumpai perdarahan lebih banyak. Jika usia kehamilan lebih dari 16 minggu: (1). kram meningkat. kemudian evakuasi sisa-sisa hasil konsepsi (2). lakukan infus 20 unit oksitosin dalam 500 ml cairan I.M (dapat diulang sesudah 15 menit jika perlu) atau misoprostol 400 mcg per oral (dapat diulang sesudah 4 jam jika perlu) (2). kaji ulang gejala bahaya dan pertahankan nilai normal • Konsultasi ke dokter jika terjadi perdarahan hebat. atau hasil pemeriksaan fisik dan ultrasuara menunjukan hasil abnormal 2) Abortus Insipiens Keguguran membakat ini tidak dapat dihentikan. Segera lakukan persiapan untuk pengeluaran hasil konsepsi dari uterus (b). Jika perlu. Jika evakuasi tidak dapat segera dilakukan: (1). lakukan evakuasi uterus dengan Aspirasi Vakum Manual (AVM).V (garam fisiologik atau larutan Ringer Laktat) dengan kecepatan 40 tetes per menit untuk membantu ekspulsi hasil konsepsi 48 . kanalis servikalis terbuka dan jaringan/hasil konsepsi dapat teraba Penanganan untuk abotus a) Jika usia kehamilan kurang dari 16 minggu.

Pastikan untuk tetap memantau kondisi ibu setelah penanganan 3) Abortus Inkomplit Ditandai dengan dikeluarkannya sebagian hasil konsepsi dari uterus.M atau misoprostol 400 mcg per oral (a). Jika evakuasi belum dapat dilakukan segera.2 mg I. evakuasi sisa hasil konsepsi dengan: (b).2 mg I.M (diulangi setelah 15 menit jika 49 . Jika perdarahan berhenti. evakuasi dapat dilakukan secara digital atau dengan cunam ovum untuk mengeluarkan hasil konsepsi yang keluar melalui serviks. Jika perdarahan banyak atau terus berlangsung dan usia kehamilan kurang dari 16 minggu. (c). Gejala klinis yang dapat terjadi: a) Perdarahan berlangsung terus b) Perdarahan mendadak c) Disertai infeksi dengan suhu tinggi d) Dapat terjadi degenerasi ganas (korio karsinoma) Pada pemeriksaan dijumpai gambaran: a) Kanalis servikalis terbuka b) Dapat diraba jaringan dalam rahim atau dikanalis servikalis c) Kanalis servikalis tertutup dan perdarahan berlangsung terus d) Dengan pemeriksaan sonde perdarahan bertambah Penanganan a) Jika perdarahan tidak terlalu banyak dan kehamilan kurang dari 16 minggu. Aspirasi Vakum Manual (AVM). beri ergometrin 0. beri ergometrin 0.(3). kuret tajam sebaiknya hanya dilakukan jika aspirasi vakum manual tidak tersedia.

4) Abortus Komplit Seluruh hasil konsepsi telah dikeluarkan. Jika perlu berikan misoprostol 200 mcg pervaginam setiap 4 jam sampai terjadi ekspulsi hasil konsepsi (maksimal 800 mcg). berikan tablet sulfas ferrosus 600 mg/hari selama 2 minggu. jika anemia berat berikan transfusi darah e) d. Konseling asuhan pascakeguguran dan pemantauan lanjut 50 . Gambaran klinisnya adalah uterus mengecil.perlu) atau misoprostol 400 mcg per oral (dapat diulangi setelah 4 jam jika perlu) b) Jika kehamilan lebih dari 16 minggu: (a). KET Perjalanan hasil konsepsi dapat terganggu dalam perjalanan sehingga tersangkut dalam lumen tuba.V (garam fisiologik atau Ringer Laktat) dengan kecepatan 40 tetes/menit sampai terjadi ekspulsi hasil konsepsi (b). dan kanalis telah tertutup. Tuba falopii tidak mempunyai kemampuan untuk berkembang dan menampung pertumbuhan janin sehingga setiap saat kehamilan yang terjadi terancam pecah. perdarahan sedikit. c) Pastikan untuk tetap memantau kondisi ibu setelah penanganan. Berikan infus oksitosin 20 unit dalam 500 ml cairan I. sehingga tidak memerlukan tindakan. Evakuasi sisa hasil konsepsi yang tertinggal dalam uterus. Penanganan: a) b) c) Tidak perlu evakuasi lagi Observasi untuk melihat adanya perdarahan banyak Pastikan untuk tetap memantau kondisi ibu setelah penanganan d) Apabila terdapat anemia sedang.

Kehamilan ektopik adalah kehamilan dengan implantasi terjadi di luar rongga uterus. Jika diperoleh hasil darah yang tidak membeku. Tuba falopii merupakan tempat tersering untuk terjadinya implantasi kehamilan ektopik (lebih besar dari 90%) Tanda dan gejalanya sangatlah bervariasi bergantung pada pecah atau tidaknya kehamilan tersebut. mual. segera mulai penanganan. Kehamilan Ektopik Terganggu • Kolaps dan kelelahan • Denyut • Hipotensi • Hipovolemia • Abdomen akut dan nyeri pelvis • Distensi abdomen(a) • Nyeri lepas • Pucat e) Distensi abdomen dengan shifting dullness merupakan petunjuk adanya darah bebas. pembesaran payudara. pembesaran uterus. frekuensi buang air kecil yang meningkat • Nyeri pada abdomen dan pelvis 51 . Diagnosis banding a) Abortus iminens b) Penyakit radang panggul baik akut maupun kronis c) Kista ovarium (terpuntir atau ruptur) dan apendisitis akut d) Tanda dan gejala kehamilan ektopik Kehamilan Ektopik • Gejala kehamilan awal (flek atau perdarahan yang ireguler. nadi cepat dan lemah (110x/menit atau lebih) perubahan warna pada vagina dan serviks. Alat penting yang dapat digunakan untuk mendiagnosis kehamilan ektopik yang pecah adalah tes kehamilan dari serum dikombinasi dengan ultrasonografi. perlunakan serviks.

tuba dipertahankan). Hal ini hanya dilakukan jika konservasi kesuburan merupakan hal 52 . lakukan salpingektomi (hasil konsepsi dikeluarkan. 2.1. pembedahan b) Jika fasilitas tidak memungkinkan. segera lakukan uji silang darah dan laparotomi. segera rujuk ke fasilitas lebih lengkap dengan memperhatikan hal-hal yang diuraikan pada bagian penilaian awal c) Pada laparotomi. Jika kerusakan pada tuba kecil. Jika terjadi kerusakan berat pada tuba. Ini merupakan terapi pilihan pada sebagian besar kasus (2). Kehamilan ektopik Penanganan awal a) Jika fasilitas memungkinkan.Gambar. lakukan Jangan menunggu darah sebelum melakukan salpingktomi (tuba yang berdarah dan hasil konsepsi dieksisi bersama-sama). eksplorasi kedua ovaria dan tuba falopii: (1).

2) Imunoselektif dari trofoblas 3) Keadaan sosek rendah 4) Paritas tinggi 5) Kekurangan protein 6) Infeksi virus dan faktor kromosom yang belum jelas Diagnosis dan gejala 1) Anamnesa/keluhan: a) Terdapat gejal-gejala hamil muda yang kadang-kadang lebih nyata dari kehamilan biasa b) Kadangkala ada tanda toksemia gravidarum c) Terdapat perdarahan yang sedikit atau banyak.yang penting untuk ibu tersebut. tidak teratur. Kehamilan mola merupakan proliferasi abnormal dari vili khorialis. karena risiko kehamilan ektopik berikutnya cukup tinggi. ovum memang sudah patologik sehingga mati. Etiologi Penyebab mola belum diketahui dengan pasti. warna tengguli tua atau kecoklatan seperti bumbu rujak d) Pembesaran uterus tidak sesuai (lebih besar) dengan tua kehamilan seharusnya 53 . tetapi terlambat dikeluarkan. atau mata ikan. MOLAHIDATIDOSA Adalah jonjot-jonjot korion yang tumbuh berganda berupa gelembunggelembung kecil yang mengandung banyak cairan sehingga menyerupai buah anggur. faktor-faktor yang dapat menyebabkannya antara lain: 1) Faktor ovum. e.

bila tidak ada tahanan. serta evaluasi keadaan serviks. maka suspek mola hidatidosa b) Galli Mainini 1/200 (+). teraba lembek b) Tidak teraba bagian-bagian janin dan balotemen. sonde 54 .e) Keluar janringan mola seperti buah anggur atau mata ikan yang merupakan diagnosa pasti 2) Inspeksi a) Muka dan kadang-kadang badan kelihatan pucat kekuningkuningan (mola face) b) Bila gelembung mola keluar akan terlihat dengan jelas 3) Palpasi a) Uterus membesar tidak sesuai dengan tuanya kehamilan. maka kemungkinan mola hidatidosa atau hamil kembar. darah dan gelembung mola keluar.. juga gerakan janin c) Adanya fenomena harmonica. sonde dimasukkan pelan-pelan dan hati-hati ke dalam kanalis servikalis dan kavum uteri. tidak ada bagianbagian janin. 6) Pemeriksaan dalam Pastikan besarnya rahim. terdapat perdarahan dan jaringan dalam kanalis servikalis dan vagina. rahim terasa lembek. 7) Uji sonde. karena kadar HCG yang tinggi maka uji biologic dan uji imunologik (Galli Mainini dan planotest) akan positif setelah pengenceran (titrasi): a) Galli Mainini 1/300 (+). uji biologik atau imunologik cairan serebro-spinal dapat menjadi positif. Bahkan pada mola atau koriokarsinoma. dan fundus uteri turun: lalu naik lagi karena terkumpulnya darah baru 4) Auskultasi a) Tidak terdengar bunyi denyut jantung janin b) Terdengar bising dan bunyi khas 5) Reaksi Kehamilan.

8) Foto roentgen abdomen. rujuk ke pusat kesehatan tersier untuk pemantaun dan penanganan lebih lanjut 55 . Jika tes kehamilan dengan urin tidak negatif setelah 8 minggu atau menjadi positif kembali dalam 1 tahun pertama. pada mola akan kelihatan bayangan badai salju dan tidak terlihat janin. lakukan evakuasi uterus: b) Segera lakukan evakuasi jaringan mola dan sementara proses evakuasi berlangsung berikan infus 10 unit oksitosin dalam 500 ml cairan I.V (NaCl atau Ringer Laktat) dengan kecepatan 40-60 tetes per menit (sebagai tindakan preventif terhadap perdarahan hebat dan efektifitas kontraksi terhadap pengosongan uterus secara cepat) Penanganan selanjutnya: a) Pasien dianjurkan untuk menggunakan kontrasepsi hormonal atau tubektomi bila ingin menghentikan fertilitas b) Lakukan pemantauan setiap 8 minggu selama minimal 1 tahun pasca evakuasi dengan menggunakan tes kehamilan dengan urin karena adanya risiko timbulnya penyakit trofoblas yang menetap atau khoriokarsinoma. bila tetap tidak ada tahanan.diputar setelah ditarik sedikit. tidak terlihat tulang-tulang janin(pada kehamilan 3-4 bulan) 9) Arteriogram khusus pelvis 10) Ultrasonografi. Penanganan awal: a) Jika diagnosis kehamilan mola telah ditegakkan. kemungkinan mola.

serta tidak terdapat edema atau proteinuria. Kehamilan tidak dibolehkan melewati aterm karena kehamilan postterm meningkatkan risiko terjadinya insufisiensi plasenta janin.2. Wanita hamil dikatakan mempunyai atau menderita hipertensi esensial jika tekanan darah pada awal kehamilannya mencapai ≥ 140/90 mmHg. Yang membedakannya dengan preeklamsia yaitu factor-faktor hipertensi esensial muncul pada awal kehamilan. selanjutnya meningkat lagi sampai ke nilai awal atau kadang-kadang lebih tinggi. phaeochromocytoma atau penyempitan aorta. dan keadaan ini lebih sering muncul pada saat kehamilan. jauh sebelum terjadi preeklamsia. Penatalaksanaan: Wanita dengan hipertensi esensial harus mendapat pengawasan yang ketat dan harus dikonsultasikan pada dokter untuk proses persalinannya. Setelah UK 18 minggu lebih sulit hipertensi esensial dari pre eklamsia. Komplikasi Dan Penyulit Dalam Kehamilan Trimester III a) Kehamilan Dengan Hipertensi 1) Hipertensi esensial Hipertensi esensial adalah kondisi permanen meningkatnya tekanan darah dimana biasanya tidak ada penyebab yang nyata. Selama trimester ke II kehamilan tekanan darah turun di bawah batas normal. Selama tekanan darah ibu tidak meningkat sampai 150/90 mmHg berarti pertanda baik. Jika perlu. Kesejahteraan janin dipantau ketat untuk mendeteksi adanya retardasi pertumbuhan. 56 . Kadanng-kadang keadaan ini dihubungkan dengan penyakit ginjal. dapat dilakukan induksi apabila tekanan darah meningkat atau terdapat tanda-tanda Intra Uterine Growth Retardation (IUGR). Dia dapat hamil dan bersalin normal tetapi saat hamil dianjurkan untuk lebih banyak istirahat dan menghindari peningkatan berat badan terlalu banyak.

yang dapat menyebabkan kejadian Intra Uterine Growth Retardation (IUGR) dan hipoksia. 200/120 mmHg atau lebih. Kandungan catecholamine atau vanilmandelic acid (VMA) biasanya diukur karena hipertensi yang berat mungkin disebabkan karena Pheochromacytoma atau tumor pada ginjal. Janin juga berisiko. karena kurangnya sirkulasi plasenta. Jika tekanan darah tidak dapat dikendalikan atau terdapat tanda-tanda IUGR atau hipoksia. atau meningkat pada awal persalinan. persalinan dapat dilakukan dengan cara Sectio caesarea. Jika tekanan darah sangat tinggi. kadang-kadang gagal ginjal merupakan komplikasi. 2) Hipertensi Karena Kehamilan Hipertensi yang ditimbulkan atau diperberat oleh kehamilan lebih mungkin terjadi pada wanita yang : a) b) Terpapar vili korialis untuk pertamakalinya Terpapar vili korialis yang terdapat jumlah yang banyak seperti pada kehamilan kembar atau mola hidatidosa c) d) Mempunyai riwayat penyakit vaskuler Mempunyai kecenderungan genetic untuk menderita hipertensi dalam kehamilan. 57 . Anamnesa juga diperlukan untuk mengeluarkan ibu dari pre eklamsia. mungkin terjadi perdarahan otak atau gagal jantung. harus dirawat dokter di rumah sakit. Keadaan ibu mungkin berkembang menjadi Pre Eklamsia atau mengalami abrupsio plasenta (plasenta Pecah). Obat-obat antihipertensi dan sedative boleh diberikan untuk mengontrol tekanan darah.Merupakan pertanda kurang baik jika tekanan darah sangat tinggi. Jika ditemukan tekanan darah ≥ 160/100 mmHg. atau jika keadaan berbahaya atau lebih akut. dokter dapat menghindari risiko yang serius dengan mempercepat persalinan. Hal ini dapat dilakukan dengan menginduksi persalinan.

Pemeriksaan tekanan darah dilakukan minimal 2x dengan jarak waktu 6 jam pada keadaan istirahat. Oedema Pretribal yang 58 . Bahkan pengamatan menyebutkan bahwa makanan yang kurang mengandung protein sebagai penyebab penurunan insiden eklamsia. atau mencapai 140 mmHg atau lebih. dan Proteinuria yang timbul karena kehamila. Kenaikan sistolik harus 30 mm Hg atau lebih diatas tekanan yang biasanya ditemukan. Kehamilan juga menyebabkan wanita hamil kekurangnan nutrisi. Oedema. Seharusnya preeklamsia ditemkan pada multipara dari pada nulipara. namun bisa juga terjadi pada pada wanita denan ekonomi yang menengah ke atas. Kenaikan tekanan Diagnostik lebih dapat dipercaya apabila tekanan Diastolik meningkat 15 mmHg atau lebih atau menjadi 90 mmHg atau lebih. jari tangan. tetapi kenyataannya sama-sama dapat terjadi preeklamsia. Hipertensi biasanya timbul lebih dahulu daripada tanda-tanda lain. Hipertensi biasanya timbul lebih dahulu dari pada tanda lain. misalnya pada Mola Hidatosa. Penyakit ini biasanya timbul pada Triwulan ke-3 kehamilan tetapi dapat timbul sebelumnya. 3) Pre Eklamsia Pre-Eklamsi Adalah Penyakit dengan tanda-tanda Hipertensi.Kemungkinan bahwa mekanisme imunologis di samping endokrin dan genetic turut terlibat dalam proses terjadinya pre-ekklamsia dan masih menjadi masalah yang mengundang perhatian. Untuk menegakkan diagnosa Pre-Eklamsi kenaikan tekanan Sistolik harus 30 mmHg atau lebih. Edema ialah Penimbunan cairan secara umum dan berlebih dalam jaringan tubuh dan biasanya dapat diketahui dari kenaikan berat badan serta pembengkakan kaki. Resiko hipertensi karena kehamilan dipertinggi pada keadaan di mana pembentuka antibody penghambat terhadap tempat-tempat yang bersifat antigen pada plasenta terganggu. dan muka. Preeklamsia mungkin lebih sering terdapat pada wanita dai keluarga yang tidak mampu.

Proteinuria dapat disebabkan oleh Spasme arteriola sehingga terjadi perubahan pada glomerolus. sehingga tidak berarti untuk penentuan Diagnosis Pre-Eklamsi. Pada Biopsi ginjal ditemukan spasme hebat arteriola Glomerolus. dan akhirnya proteinuria.3 g/lt dalam urin 24 jam atau pada pemeriksaan menunjukan 1 atau 2+ atau 1 gr/lt yang dikeluarkan dengan jarak waktu 6 jam. lumen arteriole sedemikian sempitnya sehingga hanya dilalui oleh satu sel darah merah. Proteinuria timbul lebih lambat daripada hipertensi dan kenaikan berat badan.199) menjelaskan bahwa pada Pre-Eklamsi terjadi pada spasme pembuluh darah yang disertai dengan Retensi Garam dan air. Proteinuria berarti konsentrasi protein dalam urin yang melebihi 0.ringan sering terjadi pada kehamilan biasa. mungkin karena retensi air dan garam. Jadi jika semua arteriola di dalam tubuh mengalami spasme maka tekanan darah akan naik. di ikuti oedema. sebagai usaha untuk mengatasi kenaikan tekanan perifer agar oksigen jaringan dapat dicukupi. Sedangkan kenaikan berat badan dan Edema yang disebabkan oleh penimbunan air yang berlebihan dalam ruangan intestinal belum diketahui sebabnya. Patofisiologi : Mochtar (1999. Tanda Dan Gejala : Tanda-tanda Pre-Eklamsi biasanya timbul dalam urutan pertambahan berat badan yang berlebihan. Kenaikan BB ½ kg setiap minggu masih normal tetapi kalau kenaikan BB I kg atau lebih setiap minggu beberapa kali. karena itu harus dianggap yang cukup serius. hipertensi. Pada Pre-Eklamsi ringan tidak ditemukan gejala-gejala subyektif. hal ini perlu menimbulkan kewaspadaan terhadap timbulnya preeklamsia. pada Pre-Eklamsi ditemukan sakit kepala di 59 . Pada beberapa kasus.

Klasifikasi pre eklamsia dibagi menjadi 2 golongan : a) Preeklamsia ringan (1). Di ginjal. mual dan muntah-muntah. Gejala-gejala ini sering di temukan pada Pre-Eklamsi yang meningkat dan merupakan petunjuk bahwa Eklamsi akan timbul. sehingga terjadi kebocoran plasma dan rusaknya pembuluh darah sehingga dihasilkan oedema kemudian menuju ke jaringan. oksigen rusak dan sehingga terjadi sianosis. volume darah dan cardiac output (Gant Et al 1973). skotoma. Tekanan darah 140/90 mmHg atau kenaikan diastolik 15 mmHg atau lebih (diukur pada posisi berbaring terlentang) atau kenaikan sistolik 30 mmHg atau lebih.daerah frontal. Perubahan Psikologi Normotensive pada wanita hamil dihubungkan dengan perubahan cardiovascular termasuk meningkatnya kerja jantung. vasospasme menghasilkan arteriolus menyebabkan pengurangan aliran darah menuju ke ginjal yang menjadikan hypoxia dan oedema. Dengan adanya hipertensi bersama-sama dengan sel Endothelia rusak mempengaruhi melalui pembuluh. Cara 60 . paru-paru dapat menjadi macet dengan adanya cairan dan berkembang menjadi oedema pulmonary. Pengurangan cairan ke intravaskuler disebabkan hypoluemia dan hemokonsentrasi dan ini adalah reflek untuk meningkatnya haematrokit. penglihatan kabur. Meningkatnya produksi trombositopenia dan responsible untuk Disseminated Intravaskular Cougelation (DIC). Dengan vasokontriksi dan disruption ke vascular endothelium menjadi coagulasi aktif. diploma. nyeri di daerah epigastrum. Dalam kasus yang parah. Hal ini menyebabkan sel endothelia rusak sehingga perbandingan antara vasodilator : vasocontricsi. Perbandingan ini disebabkan karena untuk menopang hipertensi.

timbangan berat badan. kalau perlu pengakhiran kehamilan Penanganan a) Penanganan Pre-Eklamsi Ringan: 1) Rawat Jalan (a). namun pre eklamsia sering terjadi pada a) b) c) Primigravida Tuanya kehamilan Kehamilan ganda Prinsip pencegahan preeklamsia a) Pencegahan/ANC yang baik: ukuran tekanan darah. (3). (2). lemak. (4). (c).pengukuran sekurang-kurangnya pada 2x pemeriksaan dengan jarak (2). b) Proteinuria 0. 5 gr/lt atau lebih Oliguria (jumlah urine < 500 cc per 2 jam Terdapat edema paru dan sianosis Adanya gangguan serebral. Roboransia Kunjungan ulang tiap 1 mg 61 . Penyebab preeklamsia secara pasti belum di ketahui. gangguan visus. (5). Banyak istirahat ( berbaring tidur miring) Diet: cukup protein. dan rasa nyeri di epigastrium. ukur kadar proteinuria tiap minggu b) Diagnosa dini/tepat: diet. Tekanan darah 160/110 mmHg atau lebih Proteinuria. jari. (b). (e). muka dan berat badan naik >1 kg/mg Preeklamsia berat (1). (3).3 gr/lt atau 1+ atau 2+ Edema pada kaki. dan garam Sedative ringan (jika tidak bisa istirahat ) tablet Febobarbital 3x30 mg peroral selama 2 hari (d). rendah kaebohidrat.

Persalinan dapat dilakukan spontan bila perlu memperpendek kal II dengan bantuan bedah obstetri. Jika Tekanan Darah mencapai normotensif selama perawatan persalinan ditunggu sampai aterm (2). Kegagalan terapi pada perawatan konservatif Pada Janin : a) b) Adanya Tanda-tanda Fetaldistres Adanya Tanda-tanda IUFD induksi persalinan pada taksiran tanggal 4) Eklamsia Eklampsi merupakan serangan konvulsi yang biasa terjadi pada kehamilan. (c). 62 . Pada Kehamilan Preterm (kurang dari 37 minggu) (1). Kehamilan lebih dari 37 minggu (b). Bila Tekanan Darah turun tetapi belum mencapai normotensif selama perawatan maka kehamilannya dapat diakhiri pada kehamilan lebih dari 37 minggu (b). Adanya tanda-tanda impending (c). tetapi tidak selalu komplikasi dari pre eklampsi. Pada Kehamilan Aterm (lebih dari 37 minggu) Persalinan ditunggu spontan atau dipertimbangkan untuk melakukan persalinan. b) Penanganan Pre-Eklamsi Berat di Rumah Sakit Penanganan Aktif: 1) Indikasi Indikasi perawatan aktif ialah bila di dapatkan satu atau lebih keadaan ini pada ibu: (a).2) Jika dirawat di Puskesmas atau Rumah Sakit: (a).

Konvulsi dapat terjadi sebelum. Tahap premonitory. konvulsi postpartum akan lebih sering terhindar. Tahap klonik. Dia menyatukan gigi dan bisa saja dia menggigit lidahnya. Ada satu tanda eklampsi. Hipoksia serebral menunjukkan kenaikan dysrhytmia serebral dan ini mungkin terjadi karena konvulsi. Jika ANC dan Inc mempunyai standar yang tinggi. Tahap Tonic. 38% dsari kasus eklampsi tidak disertai dengan hipertensi dan protein urin (Douglas dan Redman 1994). dia berhenti bernafas dan warnanyaberubah sianosis. Monitor tekanan darah dan urin untuk proteinuria harus dilakukan dan dilanjutkan selama periode postpartum.Dalam sebuah konduksi studi nasional di UK pada tahun 1992. Empat fasenya antara lain: 1. Mata dibuka. ketika wajah dan otot tangannya sementara kejang 2. lengannya kaku. tersendat-sendat Spasme berhenti. Etiologi Dalam eklampsi berat terdapat hipoksia serebral yang disebabkan karena spasme kuat dan oedem. pergerakkan otot menjadi dan serangan menjadi meningkat. Hampir seluruh otot-otot wanita segera menjadi Genggamannya mengepal dan tangan dan serangan spasme. Spasme ini berlangsung sekitar 30 detik 3. Pada tahap ini dapat terjadi kesalahan jika observasi pada ibu tidak tetap. Seluruh tubuhnyabergerak-gerak dari satu sisi ke sisi yang lain. dan sesudah persalinan. sementara terbiasa. bernama konvulsi eklampsi. sering saliva blood-strained terlihatb pada bibirnya 63 . Beberapa pasien ada yang mempunyai dasar dysrhytmia serebral dan oleh karena itu konvulsi terjadi mengikuti bentuk yang lebih kuat dari pre eklampsi. Kemudian otot respirasinya dalam spasme. selama. Ini terjadi lebih dari 48-72 jam setelahnya.

Dapat terjadi kegagalan hepar. jika frekuensi berulang hati gagal berkembang. Jika kenaikan hipertensi banyak. Perdarahan otak e. Kadangkadang sadar dalam beberapa menit atau koma untuk beberapa jam Bahaya-Bahaya Eklampsi 1. selanjutnya berkurang. Konvulsi intrapartum sangat berbahaya untuk janin karena kenaikan hipoksia intra uterin yang disebabkan karena kontraksi uterus. Bagi janin Dalam eklampsi antenatal janin dapat terpengaruh dengan ketidakutuhan plasenta. Kelainan mata f. pada ibu dapat terjadi cerebral hemorrhage. Dari komplikasi-komplikasi ini dapat terjadi kefatalan. Hipofibrinogen c. Pasien dengan oedem dan oliguria perkembangan paru-paru dapat bengkak atau gagal ginjal. Inhalasi darah atau mucus dapat menunjukkan asfiksia atau pneumonia.4. Tahap Comatose. Sianosis memudar. Angka kematian perinatal sebanyak 15%. tapi wajahnya tetap bengkak. 2. Wanita dapat tidak sadar dan mungkin nafasnya berbunyi. Komplikasi yang terberat ialah kematian ibu dan janin: a. Hemolisis d. Angka kematian ibu dari eklampsi di UK pada tahun 1991-1993 adalah 11. Bagi ibu Perbedaan konvulsi dan kelelahan. Dalam lebih dari setengah terdapat kematian ibu dan hanya satu atau dua yang selamat. Edema paru-paru g. Ini menunjukkan retardasi pertumbuhan intrauterine dan hipoksia. Nekrosis hati 64 . Selama sehat ketika ibu berhenti bernafas supply oksigen ke janin terganggu. Solusio plasenta b.

nyeri epigastrium. trauma. dari mulut keluar ludah yang berbusa aka menunjukan kongesti dan sianosis. Bila keadaan ini tidak segera diobati. konvulsi eklamsi dibagi 4 tingkat yaitu : 1. Kelainan ginjal i. spasmus tonik menghilang. Komplikasi lain (lidah tergigit. kejadian kronik ini a demikian hebatnya. gangguan penglihatan. wajahnya kelihatan kaku. Prematuritas j. dan hiperefleksia.h. dalam tingkat ini seluruh otot menjadi kaku. Mata penderita terbuka tanpa melihat. tangan menggenggam dan kaki membengkok ke dalam. Tingkat kejangan tonik Berlangsung lebih 30 menit. akan timbul kejangan. semua otot berkontraksi dan berulang-ulang dalam tempo yang cepat. dan fraktur karena jatuh dan DIC) Gejala Dan Tanda Pada umumnya kejang didahului oleh makin memburuknya preeklamsi dengan gejala-gejala nyeri kepala di daerah frontal. Tingkat awal atau aura Keadaan ini berlangsung kira-kira 30 menit. 65 . Tingkat kejangan klonik Berlangsung 1-2 menit. 3. Penderita menjadi tak sadar. lidah dapat tergigit. muka menjadi sianotik. Akhirnya kejangan terhenti dan penderita menarik nafas secara mendengkur. kelopak mata bergetar demikian pula tangannya dan kepala diputar ke kanan dan ke kiri. mulut membuka dan menutup dan lidah dapat tergigit lagi. mual. bola mata menonjol. 2. pernafasan berhent. sehingga penderita dapat terjatuh dari tempat tidurnya.

Secara perlahan-lahan penderita menjadi sadar lagi. Untuk pertolongan awal bantuan medis harus dipanggil. Mulut dibersihkan dari mucus dan darah dengan suction. sehingga ia tetap dalam koma. Magnesium Sulfat Antikonvulsi yang efektif dan bereaksi cepat.4. Penatalaksanaan selama konvulsi antara lain: 1. akan tetapi dapat terjadi pula bahwa sebelum itu timbul serangan baru yang berulang. Memelihara kebersihan jalan nafas 2. Mengontrol konvulsi Ini sangat penting untuk mengontrol konvulsi. 66 . dipublikasikan pada tahun 1995. paramedis harus segera dipanggil untuk memberikan pertolongan pertama sebelum dibawa ke rumah sakit. eklampsiakan lebih sulit terjadi. Tingkat koma Lamanya koma tidak selalu sama. Penatalaksanaan Selanjutnya Prinsip-prinsip pelaksanaan: 1. Melindungi wanita dari luka-luka Ibu harus miring ke satu sisi dan pergerakkan konvulsinya dapat ditekan dari semua ini harus dilakukan sepelan mungkin dan tidak tergesagesa. Jika wanita berada di luar rumah sakit saat terjadi konvulsi. terlebih lagi konvulsi pada wanita memiliki resiko tinggi untuk hidupnya dan janinnya. Sangat jarang dimulai dan proses cepat terjadi eklampsi diantara pemeriksaan antenatal yang biasa dan sering. Obat diberikan dengan segera untuk mengurangi rangsangan sistem saraf. Penatalaksanaan Eklamsi Jika pre eklampsi diketahui lebih awal dan ditangani lebih cepat. Penemuan Collaborative Eclampsi Trial. Oksigen diberikan untuk kepentingan keduanya ibu dan janin. Obat yang dipilih untuk pengobatan eklampsi adalah Magnesium Sulfat (Neilsen 1995.Lucas 1995) a.

Magnesium Sulfat direkomendasikan untuk pengobatan untuk eklampsi. Obat lain yang digunakan seperti morfin. Antibiotik mungkin untuk mencegah infeksi paru-paru. 1995). b. tribromoethanol (Avertin). 2.WHO sekarang merekomendasikan penggunaan Magnesium Sulfat untuk pengobatan eklampsi dan memasukkannya ke dalam Daftar Obat Esensial (WHO. diikuti dengan infus 1-2 gr/jam. 1995). Mengontrol tekanan darah Tekanan darah dikontrol oleh sedatif dan menggunakan obat anti hipertensi seperti hydralazine. hydrochloride (apresoline) 20 mg dengan injeksi intravena diikuti oleh 20-40 mg sebagai injeksi intravena. Walaupuntidak efektif dalam mengontrol eklampsi (The eclampsia Collaborative Trial Group. paraldehyde dan lytic cocktail (kombinasi dari pethidine. laju teratur menurut aliran darah. dan 67% resiko lebih rendah dibandingkan dengan phenytoin. Injeksi intravena diazepam 10-40 mg diikuti dengan infus 20-80 mg dalam 500 ml dari 5% dextrose dengan rata-rata 30 tetes/menit. Pengobatan diuretic diindikasikan ketika urin yang keluar kurang dari 20 ml/jam. Wanita yang menerima Magnesium Sulfat memiliki resiko 52% lebih rendah dari konvulsi dibandingkan diberi diazepam. promethozin dan chlorpromazine dalam infus intravena dextrose 5%) sekarang tidak direkomendasikan phenytoine digunakan untuk mengobati epilepsy dan saat ini ada pembaharuan pada penatalaksanaan pre eklampsi.terbukti Magnesium Sulfat lebih efektif mengurangi dan mencegah konvulsi eklampsi dibandingkan dengan diazepam dab phenytoin (Eclampsia Collaborative Trial Group. 67 . 1995) dan dianggap sebagai prophylactic dari pada metode pengobatan (Howard 1993). Injeksi intravena 4-5 gr dalam 20% pemberian.

68 . Pasang kateter urine yang dipertahankan dan kantong urine. trombositopenia. baik untuk mengatasi kejang ataupun untuk memberi obat anti hipertensi. Proses rujukan • • • Jelaskan bahaya / komplikasi eklamsi kepada kelurga pasien. Penanganan a. Pasang goedel atau sudip yang dilapisi kain kasa untuk melindungi gigi tergigit lidah. 1. Rujukan 1) Kriteria rujukan Eklamsi harus ditangani di Rumah Sakit. jika semua kasus eklamsi harus segera di rujuk. Rujuk pasien ke RS di sertai perawat yang mengantar dan surat rujukan Sebelum merujuk dapat diberikan pengobatan awal sesuai dengan diagnosis kasus. Keempat ekstrimitas di ikat tidak terlalu ketat agar pasien tidak terjatuh. • • • • • Bari O2 Pasang infus dengan cairan dekstrose 5% dengan kecepatan 20 tetes / menit. enzim dalam hati dapat dimonitor dengan memberi informasi tentang: 1.Tes biokimia untuk mengetahui fungsi ginjal.

• • Maintenance dose Tiap 6 jam diberikan lagi 4 gram IM MgSO4 Dosis tambahan Bila timbul kenjeng-kejang lagi maka dapat diberikan MgSO4 2 gram IV selama 2 menit.b. Bila setelah diberi dosis tambahan masih tetap kejang maka berikan amobarita 3-5 m/kg BB IV pelan-pelan. Penanganan eklamsi di RS 1) Penanganan medisinal a) Obat anti kejang MgSo4 • Loading dose 4 g MgSO4 40% dalam larutan 10 cc intravena selama 4 menit disusul 8 g IM MgSO4 40 % dalam laritan 25 nn diberikan pada bokong kiri dan kanan masing-masing 4 gram. Kepala direndahkan: daerah asofaring di hisap Fiksasi badan pada tempat tidur harus cukup kendor guna menghindari fraktur 69 . 20 menit setelah • Monitoring tanda-tanda mkeracunan MgSO4 b) Obat-obat supportif Lihat pengobatan supporti pre-Eklamsi berat c) Perawatan pada serangan kejang • • • • Di rawat di kemar isolasi yang cukup tenang (bukan kamar gelap) Masukan sudip lidah ke dalam mulut penderita. Sekurang-kurangnya pemberian terakhir Dosis tambahan 2 gram hanya diberikan sekali saja..

bila nutrisi tidak mungkin cukup diberikan alat bentuk NGT (Naso Gastric Tube) c. walaupun dapat pula terjadi pada setiap saat dalam kehamilan. 2) Bilamana diakhiri Sikap dasar : • Bila sudah terjadi stabilisasi (permulian) hemodinamika dan metabolise ibu yaitu 4-8 jam setelah salah satu atau lebih di bawah ini: Setelah pemberian obat anti kejang terakhir Setelah kejang terakhir Setelah pemberian obat-obat antihiertensi terakhir Penderita mulai sadar (resp[onsive dan orientasi) b) Perdarahan Antepartum 1) Solusio Plasenta Solusio plasenta adalah terlepasnya plasenta yang letaknya normal pada corpus uteri sebelum janin lahir. Biasanya terjadi pada trimester III. Pada perawatan koma perlu diperhatikan pencegahan dekubitus dan makanan penderita Pada koma yang lama. Penanganan Obstetric 1) Sikap terhadap kehamilan Sikap dasar : Semua kehamilam dengan pre-eklamsi harus diakhiri tanpa memandang umur kehamilan dan keadaan janin. 70 .d) Perawatan penderita dengan koma • • • Monitoring kesadaran dan lamanya koma memakai glassglow –Pittsburgh-coma scale.

Meskipun janin bias bertahan hidup. (1983) mengemukakan bahwa frekuensi untuk solusio plasenta sekitar 1 per 75 persalinan. ataupun setelah dijumpai keduanya. Bila dapat diselamatkan bayi akan mengalami gangguan akibat kejadian tersebut. Solusio plasenta dengan perdarahan tersembunyi menngandung ancaman bahaya yang jauh lebih besar terhadap keselamatan jiwa ibu. Etiologi.Sebagian perdarahan pada solusi plasenta biasanya merembes sendiri diantara selaput ketuban dan uterus. kemudian mengalir keluar lewat serviks dan terlihat dari luar sehingga terjadi perdarahan eksternal. Hurrd dkk. Tampak jelas bahwa abrupsio plasenta merupakan problem obstetric yang sering ditemukan dan terutama berbahaya bagi janin serta nonatus. kemungkinan pelepasan plasenta yang luas sehingga akan menimbulkan kematian janin. tetapi juga akibat luasnya perdarahan yang tidak disadari.. Penyebab primer solusio plasenta tidak diketahui. atau setelah terjadinya perdarahan pervaginam. Bisa juga darah tidak mengalir keluar. Bila terlambat. Frekuensi ditegakan diagnosis solusio plasenta sangat bervariasi mengingat criteria yamg dipakai untuk membuat diagnosis ini berbeda-beda. dengan angka mortalitas perinatal sebesar 30 %. tetapi keadaan ini dapat dikemukakan sebagi factor-faktor etiologinya yaitu : • • • Trauma Tali pusat yang pendek Dekompresi yang uterus mendadak 71 . dan ini bukan hanya terjadi akibat peningkatan kemungkinan terjadinya koagulopati konsumtif yang berat. Intensitas solusio plasenta seringkali bervariasi menurut cepatnya ibu hamil mencari dan mendapatkan perawatan setelah merasakan nyeri abdomen. neonatus dapat meninggal karenanya. tetapi tetap tertahan diantara bagian plasenta yang terlepas dan uterus sehingga terjadi perdarahan tersembunyi.

proses tersebut dalam stadium awal akan terdiri dari pembentukan hematoma desidua yang menyebabkan pelepasan. kompresi dan kahirnya penghancuran plasenta yang berdekatan dengan bagian tersebut. Solusio plasenta dengan derajat yang lebih ringan dapat terhadi sesaat sebelum persalinan janin tunggal kalau cairan ketuban sudah mengalir habis dari dalam uterus dan janin mengalami desensus hingga kepalanya sudah berada pada perineum. Patologi Terjadinya solusio plasenta dipicu oleh perdarahan ke dalam desidua basalis. Dalam tahap awal mungkin belum terdapat gejala klinis. Contoh. Desidua tersebut kemudian terbelah sehingga meninggalkan lapisan tipis yang melekat pada miometrium. atau perdarahan eksternal 72 .• • • Anomaly uterus atau anomaly uterus atau tumor uterus Hipertensi kronis atau hipeertensi yang ditimbulkan karena kehamilan Tekanan pada nena cava inferior akibat uterus yang membesar dan defisiensi gizi. Sebai akibatnya. Plasenta ini mempunyai permukaan maternal dengan lekukan bulat yang diameternya beberapa sentimeter dan ditutupi oleh darah yang membeku serta berwarna gelap. dekompresi yang terjadi setelah persalinan janin pertama dapat menimbulkan pelepasan premature plasenta yang membahayakan janin kedua. Diagnosisi Klinis Perlu ditekankan bahwa keluhan dan gejala pada solusio plasenta dapat bervariasi cukup luas.. keadaan tersebut ditemukan hanya setelah dilakukan pemeriksaan terhadap plasenta yang baru dilahirkan. Pada janina kembar. perdarahan eksternal bias banyak sekali meskipun pelepasan plasenta belum begitu luas sehingga menimbulkan efek langsung pada janian.

dan hal ini bukan saja terjadi akibat kemungkinan koagulopati konsumtif yang lebih tinggi. Kelainan pembekuan darah kelainan pembekuan darah pada solusio plasenta biasanya disebabkan oleh hipofibrinogenemia. dan kelainan pembekuan darah. dan gawat janin sampai kematiannya.tidak terdapat tetapi plasenta sudah terlepas seluruhnya dan janin meninggal sebagai akibat langsung keadaan ini. oliguria. pengobatan kelainan pembekuan darah ialah histerektomia atau pengikatan arteria hipogastrika. Perdarahan Perdarahan antepartum dan intrapartum pada solusio plasenta hampir tidak dapat dicegah kecuali dengan menyelesaikan persalinan segera. sehingga terjadi pembekuan darah intra faskular dimana-mana yang akan menghabiskan fakto-faktor pembekuan darah lainnya terutama fibrinogen. 2. Komplikasi yang dapat terjadi ialah perdarahan. Komplikasi Komplikasi tergantung dari luasnya plasenta dan lamanya solusio plasenta berlangsung. terjadinya dengan maseuknya trombo plastin ke dalam peredaran darah ibu akibat terjadinya pembekuan darah retrolpasenter. uterotonika. 1. tetapi juga akibat intensitas perarahan yang tidak diketahui sehingga pemberian tranfusi sering tidak memadai atau terlambat. Tindakan terakhir mengatasi perdarahan postpartum bila tidak dapat diatasi dengan kompresi bimanual. 73 . kali ini terjadi karena kontraksi uterus yang tidak kuat untuk menghentikan perdarahan pada kala III. Solusio plasenta dengan perdarahan yang tersembunyi mengandung ancaman bahaya yang jauh lebih besar bagi ibu. kelainan pembekuan darah. Perdarahan postpartum dapat pula mengancam.

Gawat janin 74 . penentuan kuantitatif kadar fibrinogen b.oleh karena itu oliguria hanya dapat diketahui dengan pengukuran teliti pengeluaran air kencing yang harus rutin dilakukan pada solusio plasenta sedang. adanya fibrinolisin dalam peredaran darah d. preeklamsia. hitung trombosit e.Kadar fibrinogen plasma normal pada wanita hamil cukup bula ialah 450 mg%. Kecurigaan akan adanya kelainan pembekuan darah harus dibuktikan dengan pemeriksaan secara laboratorium a. dan solusio plasenta berat. Oliguria Pada tahap oliguria keadaan umum penderita biasanya masih baik. Terjadinya oliguria sangat mungkin berhubungan dengan hipofolemi dan penyempitan pembuluh darah ginjal akibat perdarahan yang banyak. penentuan waktu protrombin f. Kelainan pembekuan darah berperanan pula dalam terjadinya kelainan fungsi ginjal ini 4. pengamatan pembekuan darah untuk menentukan : 1) waktu pembekuan darah 2) besarnya dan kemantapan pembekuan darah 3) adanya factor seperti heparin (antikoagulansia) dalam peredaran darah c. Ada yang menerangkan bahwa tekanan intra uterin yang meninggi karena solusio plasenta menimbulkan reflek penyempitan pembuluh darah ginjal. berkisar antara 300-700 mg%. apalagi yang disertai perdarahan tersembunyi. penentuan waktu tromboplastin 3. atau hipertensi menahun. Apabila kadar fibrinogen lebih rendah jadi 100 mg% akan terjadi gangguan pembekuan darah.

barulah ditangani sebagai solusio plasenta. dan tidak peduli apakah persalinan akan 75 . perutnya tidak menjadi sakit. Apabila kemudian ternyata kemungkinan plasenta previa dapat disingkirkan. Apabila perdarahan berlangsung terus dan gejala solusio plasenta bertambah jelas atau dengan pemeriksaan USG daerah solusio plasenta bertambah luas maka pengakhiran kehamilan tidak dapat dihindarkan lagi. pertama kali harus ditangani sebagai kasus plasenta previ.Jarang ditemukan kasus solusio plasenta dengan janin yang masih hidup. berarti perdarahan telah terjadi sekurang-kurangnya 1000 ml. Penanganannya di RS meliputi. Jika perlu SC Tekanan darah bukan merupakan petunjuk banyaknya perdarahan karena vasospasmus sebagai reaksi dari perdarahan ini akan meninggikan tekanan darah Ketuban segera dipecahkan. 5. maka penderita harus diobservasi dengan ketat. apabila janin mati lakukan pemecahan ketuban dan pemberian infus oksitosin untuk mempercepat persalinan. Solusio plasenta sedang dan berat Apabila tanda dan gejala klinik solusio plasenta jelas dapat di temukan. Kalaupu janin yang masih hidup biasanya sudah gawat kecuali pada solusio plasenta ringan. Tranfusi darah b. 6. dan uterusnya tidak menjadi tegang. Apabila kehamilannya kurang dari 36 minggu dan perdarahannya kemudian berhenti. tidak peduli bagaimana keadaan umum penderita. Apabila janin hidup lakukan SC. a. Pemecahan ketuban c. Infus oksitosin d. dengan uterus yang tidak tegang. Solusio plasenta ringan Perdarahan antepartum yang sedikit.

dan gangguan pembekuan darah. secepat mungkin menyelesaikan persalinan. Payah ginjal yang sering merupakan komplikasi solusio plasenta pada dasarnya disebabkan oleh hipovolemik karena perdarahan. pemberantasan infeksi yang mungkin terjadi. satu-satunya cara untuk segera mengosongkan uterus dengan SC.pervaginam atau perabdominal. tersembunyi tidaknya perdarahannya. mungkin melalui apa yang dinamakan refleks uterorenal. Pemecahan ketuban ini akan merangsang dimulai persalinan dan mengurangi tekanan intra uterin yang dapat menyebabkan komplikasi nekrosis kortek ginjal. Pada solusio plasenta ringan dan sedang kematian janin tergantung dari luasnya plasenta yang terlepas dari dinding uterus dan tuanya kehamilan. SC tidak usah menunggu sapai darah tersedia secukupnya. dan mengatasi kelainan pembekuan darah. Prognosis janin pada solusio berat hampi 100 % mengalami kematian. derajat kelainan pembekuan darah. Apabila persalinan tidak selesai atau diharapkan tidak akan selesai setelah 6 jam setelah terjadi solusio plasenta. banyaknya perdarahan. karena tindakan yang terbaik untuk mengatasi perdarahan ialah dengan segera menghentikan sumber perdarahannya. Pencegahan payah ginjal meliputi penggantian darah yang hilang secukupnya. segera mengatasi hipovolemi di bawah pengawasan tekanan vena pusat (CVP / central venous pressure). walaupun dengan mecahan selaput ketuban dan infus oksitosin. ada tidaknya hipertensi menahun atau preeklamsia. atau syok telah dapat teratasi . Bila perlu persalinan dapat lebih dipercepat dengan pemberian infus oksitosin. dan jarak waktu antara terjadinya solusio plasenta sampai pengosongan uterus. Pada kasus solusio plasenta tertentu SC 76 . Prognosis Prognosis ibu tergantung dari luasnya plasenta yang lepas dari dinding uterus.

apabila seluruh pembukaan tertutup oleh jaringan plasenta 2. Pada keadaan normal plasenta terletak dibagian atas uterus. plasenta previa marginalis. Plasenta previa totalis. persediaan darah secukupnya akan sangat membantu memperbaiki prognosis ibu dan janinnya Gambar. 2. yang meliputi : 1. Klasifikasi didasarkan atas terabanya jaringan plasenta melalui pembukaan jalan lahir pada waktu tertentu.2. Solosio Placenta 2) PLASENTA PREVIA Plasenta previa ialah plasenta yang letaknya abnormal. pabila pinggir plasenta berada tepat pada pinggir pembukaan 77 . Sebagaimana pada setiap kasus perdarahan.dapat mengeurangi angka kematian janin. Plasenta previa parsialis apabila sebagian pembukaan tertutup oleh jaringan plasenta 3. yaitu pada segmen bawah uterus sehingga dapat menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir.

Multiparitas : meningkatnya ukuran rongga uterus pada persalinan yang berulang-ulang merupakan predisposisi terjadinya plasenta previa 2. Plasenta previa. Kehamilan multiple : tempat plasenta terbesar lebih sering melewati segmen bawah rahim 3. Umur : ibu yang lebih tua lebih beresiko daripada ibu yang lebih muda 78 .4. Pinggir plasenta berada kira-kira 3 atau 4 cm di atas pinggir pembukaan sehingga tidak akan teraba pada pembukaan jalan lahir. Karena klasifikasi ini tidak didasarkan pada keadaan anatomik melainkan fisiologik. Umpamanya plasenta previa totalis pada pembukaan 4 cm mungkin akan berubah menjadi plasenta previ parsialis pada pembukaan 8 cm. 2. tetapi factor-faktor berikut diketahui dapat dihubungkan 1.3. plasenta yang letaknya abnormal pada segmen bawah uterus akan tetapi belum sampai menutupi pembukaan jalan lahir. Plasenta letak rendah (low lying). maka klasifikasinya akan berubah setiap waktu. Gambar. Tentu saja observasi ini tidak akan terjadi dengan penanganan yang baik. Etiologi Penyebab plasenta previa tidak diketahui.

Plasenta berkembang sebagai struktur membran yang tipis menutupi sebagian besar permukan uterus. Tanda Dan Gejala Plasenta previa didiagnosa dengan pemeriksaan USG pada awal kehamilan bidan harus mengetahui wanita-wanita hamil yang mengalami plasenta letak rendah. Riwayat myomektomi 6. Merokok : mekanisme yang tepat tidak begitu jelas tetapi terjadinya hipoksia disebabkan karena merokok yang mungkin menyebabkan pembesaran plasenta sehingga menyebabkan suplai oksigen berkurang. Mal presentasi janin : sering didapatkannya bukan presentasi kepala pada janin. dan mungkin bidan menemukan adanya presentasi bokong. karena ruang lainnya untuk kepala janin berada di fundus atau presentasi obliq dan presentasi bahu 79 . Hal ini merupaka kelainan perkembangan plasenta yang jarang dimana seluruh korion ditutupi dengan fungsi filli. Pada kehamilan hal ini dapat menyebabkan perdarahan hebat yang memungkinkan dilakukan histerektomi. Kelainan Plasenta : plasenta dengan dua bagian dan plasenta suksenturia mungkin dapat menyebabkan plasenta previa. Wanita hamil yang merokok lebih dari 20 batang per hari 2 kali lebih besar peningkatan terjadinya plasenta previa 7. Tidak semua wanita hamil menginginkan pemeriksaan USG akan taetapi bidan harus mengatahui tanda-tanda indikasi kemungkinan terjadinya plasenta previa : 1. Keadaannya mungkin dapat didiagnosa dengan ultrason.4. Plasenta membranasea (plasenta diffusa) mungkin juga merupakan penyebab. Uterus sikatrik : SC pada persalinan sebelumnya meningkatkan resiko plasenta previa 5. Plasenta menempati ruang di pelvis.

merasa haus. dengan ukuran sesuai umur kehamilan Sulit untuk membedakan antara plasenta previa dengan abrupsio plasenta. Penatalaksanaan di RS Di Rumah Sakit. ibu harus berbaring. Demikian. gelisah. Denyut jantung janin sulit untuk dideteksi Karena tertutup oleh plasenta. Bagian terendah janin tidak terfiksasi : khususnya pada plasenta previa tipe III atau IV. berkeringat. khususnya pada presentasi kepala. Sulitnya mengidentifikasi bagian janin pada palpasi : plasenta previa anterior (khususnya tipe I dan II) terletak diantara janin dan seperti ada yang mengganjal pada tangan bidan. Pada pemeriksaan abdomen akan taraba lunak. Jika terjadi perdarahan pada kehamilan tidak boleh melakukan pemeriksaan vagina dirumah 2. tidak adanya preeklamsia dan adanya beberapa ketidaknormalan yang ditemukan merupakan bukti terjadinya 80 . Abrupsio plasenta ada hubungan dengan preeklamsia dimana dengan presentasi dan fiksasi kepala janin normal. 4. Jika perdarahan banyak pasien dianjurkan untuk tidur miring atau menggunakan bantal dibawah pinggul kanannya untuk mencapai agar panggul miring dan menghindari supine hypotensive syndrome. Denyut nadi ibu yang keras dibawah umbulikus : plasenta previa anterior sering di deteksi dengan adanya suara denyut nadi ibu yan keras dari plasenta yang lebih mudah didengar dengan dopler. Penatalaksanaan 1.2. 3. Kemungkinan ada riwayat spoting. Penatalaksanaan di rumah : Pasien dianjurkan harus istirahat ditempat tidur. Kadang-kadang perdarahan terjadi setelah coitus tapi diketahui penyebabnya. denyut nadi meningkat dan tekanan darah menurun. Perdarahan hebat yang terjadi akan memperlihatkan kondisi sbb : pucat.

(2000) mendapatkan bahwa 1. Benirschke dan kaufmann. Mungkin dibutuhkan pengkateteran. dan mencapai keliling tepi plasenta dengan hanya di lapisi oleh satu lipatan amnion. Pemberian infus intra vena dapat dimulai jika perdarahan menetap dan dipertahankan sampai perdarahan berhenti. Pada 81 . Nadi dan tekanan darah dicatat lebih sering dengan ketentuan : tiap seperempat jam jika perdarahan berlanjut.000 kasus. Dalam suatu ulasan tentang kepustakaan yang mencakup hampir 195. diberikan pada kasus perdarahan hebat yang tiba-tiba. VASA PREVIA Keadaan ini terjadi pada insersi velamentosa apabila sebagian dari pembuluh janin di selaput ketuban memotong daerah os internum dan menempati posisi di depan bagian terbawah janin. berpisah jauh dari tepi plasenta. Denyut jantung janin harus selalu dipantau dengan cardiotocography jika perdarahan menetap. di selaput ketuban.plsenta previa. 3) INSERTIO VELAMENTOSA Jenis insersi tali pusat ini sangat penting dari segi praktis karena pembuluh-pembuluh umbilicus. dan hampir selalu terjadi pada kembar tiga. Darah diperika kdar haemoglobin dan dilakukan uji cleihauer jika resus negatif dan setidaknya 2 kantong darah 3. Keadaan ini terjadi jauh lebih sering pada kehamilan kembar. Observasi Pemantauan suhu.1% dari pelahiran janin tunggal memeiliki insersio velamentosa. tekanan darah dan denyut jantung janin harus dilakukan. Urin diperiksa kadar protein jika perdarahan hebat. nadi. Wanita tersebut harus di tempat tidur sampai perdarahan berhenti.

terdapat kemungkinan vasa previa atau ruptur pembuluh janin. Menurut beberapa ahli plasenta sirkumvalata serin menyebabkan abortus dan solusio plasenta. di sebut plasenta marginata. Bila cincin putih ini letaknya dekat sekali ke pinggir plasenta. Cincin ini menandakan pinggir plasenta. jumlah darah janin yang boleh keluar tanpa mematikan janin relatif sedikit. Kedua-duanya disebut sebagai plasenta ekstra coriel. 5) PLASENTA SIRKUMVALATA Plasenta sirkumvalata adalah plaseta yang pada permukaan vetalis dekat pinggir terdapat cincin putih. Cara tercepat dan mudah untuk mendeteksi darah janinadalah dengan mengapuskan darah pada kaca obyek.pemeriksaan yang cermat kadang-kadang dapat diraba sebuah pembuluh janin tubular di selaput ketuban yang menutupi bagian terbawah janin. Penekanan pembuluh oleh jari pemeriksa ke bagian terbawah janin kemungkinan akan menyebabkan perubahan frekuensi denyut jantung janin. Diduga bahwa corionfrondosum terlalu kecil dan untuk mncukupi kebutuhan. Pada plasenta marginata mungkin terjadi adeksi dari selaput 82 . Sayangnya. Insidensinya lebih kurang 2-18 %. Pada vasa previa terdapat bahaya yang sangat besar bagi janin karena pecahnya ketuban dapat disertai oleh ruptur pembuluh janin yang menyebabkan kehilangan banyak darah. Apabila terjadi perdarahan antepartum atau intrapartum. yang dalam keadaan normal terdapat dalam darah tali pusat tetapi tidak dalam darah ibu. villi menyerbu kedalam desidua di luar permukaan frondosum. plasenta jenis ini tidak jarang terjadi. warnai apusan dengan pewarna Wright. dan periksa preparat untuk mencari sel darah merah berinti. sedangkan jeringan di sebelah luarnya terdiri dari villi yang tumbuh kesamping dibawah desidua. 4) RUPTUR SINUS MARGINALIS Ruptur sinus marginalis Pecahnya pembuluh vena dekat tepi plasenta yang terbentuk karena penggabungan pinggir ruang intervilli dengan ruang subcorial.

Kelahiran prematur elektif. Insiden kelahiran prematur kurang lebih 6 sampai 10%. Bayi yang dilahirkan dengan berat badan kurang dari 2500 gram termsuk dalam kategori berat badan lahir rendah. Bayi yang dilahirkan kurang dari 37 minggu dari hari pertama haid terakhir dinamakan preterm.sehingga plsenta lahir telanjang tertinggalnya selaput ini dapat menyebabkan perdarahan dan infeksi. Kelahiran dengan komplikasi kegawat daruratan Komplikasi tersebut meliputi solusio plasenta. eklampsia. infeksi maternal atau prolapsus tali pusat. Produk kehamilan ini mempunyai komplikasi yang paling rendah. Kelahiran prematur memberikan kontribusi secara langsung antara 7590% dari semua kematian neonatal dan merupakan penyebab paling banyak morbibitas dalam jangka waktu yang pendek dan yang lama. 83 . yang paling sedikit ¼ bagian terjadi sebelum minggu ke 32. penyakit ginjal maternal atau iugr. Kelompok ini kira-kira berjumlah 20 % dari kehaliran preterm. Kelahiran preterm dapat terjadi sebagai akibat dari beberapa faktor di bawah ini: 1. 2. Diagnosis plasenta sirkumvalata baru dapat ditegakan setelah plasenta lahir tetapi dapat diduga bila ada perdarahan intermiten atau hidrorea. resus iso imunisasi. Jumlah kelahiran prematur meningkat dengan peningkatan umur kahamilan minggu. Hal ini diakibatkan oleh preeklamsi berat. KPD Insidennya kira-kira 20 % dari semua kasus kelahiran preterm 3. c) Kelainan dalam lamanya kehamilan 1) Prematur Persalinan dikatakan preterm jika terjadi sebelum akhir umur kehamilan 37 minggu.

Perdarahan c.4. Amnionitis disebabkan karena infeksi 84 . Peningkatan berat badan yang tidak adekuat b. Infeksi terutama pielonefritis f. Abnormalitas uterus. Perdarahan pada kehamilan sebelumnya. Dia mempunyai resiko untuk terjadi kelahiran preterm 70% pada kehamilan ini. Akdr masih berada di dalam rahim d. Pembedahan abdomen e. Faktor yang meningkatkan resiko terjadinya persalinan prematur adalah: 1. Faktor biologikal/medik 1) Umur kurang dari 15 tahun atau lebih dari 35 tahun 2) Berat badan rendah (kurang dari 50 kg saat konsepsi) 3) Riwayat hipertensi. Infeksi saluran genital terutama vaginitis non spesifik. 35% wanita dengan incompeten servik akan melahirkan preterm dan 19% wanita dengan uterus bicornis. unicornis atau didelphic akan melahirkan sebelum umur kehamilan 37 minggu. Persalinan preterm spontan tanpa komplikasi yang tidak diketahui penyebabnya Kelompok ini berjumlah paling besar sampai 40 % dari kelahiran prematur. Organisme ini terdapat pada 5% wanita dan berhubungan dengan terjadinya kpd. Riwayat reproduksi Riwayat kelahiran preterm sebelumnya. Jika wanita mempunyai riwayat lebih dari 2 kali melahirkan bayi preterm. 3. Kehamilan saat ini a. penyakit ginjal atau dm 4) Infeksi umum terutama virus 2. klamedia dan streptokokus hemolitik b. vaginosis bakterial.

tetapi hal ini bisa dilakukan dengan. 85 . Kehamilan ganda. Status pernikahan. 2. Polihidramnion i. Penyakit resus k. Sosial ekonomi a. hal ini bisa dilakukan berdasarkan pada faktor yang telah dijelaskan diatas. Merokok. pemakai obat-obatan terlarang dan alkohol b. Adat istiadat atau kebiasaan a. Prediksi sulit dilakukan dan tidak efektif dalam mencegah kelahiran preterm. Psikologi Psikologi distres dihubungan dengan kelahiran preterm 6. Pekerja.traktus genital dapat menstimilasi pelepasan prostaglandin dan hal ini dapat menyebabkan mulainya persalinan g. Metode ini relatif mempunyai nilai prediktif yang sedikit terutama pada primigravida dan skor yang rendah dapat menyebabkan kesalahan. 1. Jarak antar kehamilan pendek c. Tidak melakukan ANC Beberapa metode digunakan untuk mencoba mengidentifikasi wanita dengan resiko persalinan preterm. Kematian fetus 4. Terlambat anc d. meliputi pekerja fisik yang berat 5. Kemiskinan dan sosial yang rendah persalinan preterm biasa terjadi pada wanita dari kelompok sosial ekonomi yang rendah. b. Memonitor aktifitas uterus. persalinan preterm sering terjadi pada wanita yang tidak menikah c. 46% melahirkan preterm h. Sistem skoring resiko. Malformasi fetus j.

Gerakan pernafasan fetus. ini disekresi oleh villi trofoblas.Hal ini bisa dilakukan tetapi tampaknya tidak mempengaruhi jumlah kelahiran preterm. 3. Panjang servik Pemeriksaan usg pada servik dapat memprediksi pesalinan preterm. 6. 5. Pemeriksaan pelvik Pemeriksaan pelvik yang teratur akan tampak tanda perubahan yang dapat mengambarkan waktu datangnya persalinan.7%. Jika persalinan preterm mengancam hubungan jaringan korio desidual terpisah dari ibu dan fetus. 4. Tingkat positif palsu 17%. Fibronektif fetus adalah suatu komponen matrik ekstraseluler. Gerakan pernafasan fetus berhenti sebelum persalinan premetur dimulai dan hal ini merupakan indikator dari persalinan preterm prematur mengancam. menyebabkan kebocoran fibrinektin. Penemuan hubungan antara tingkat fibronektin fetus dalam servik dan sekresi vagina pada waktu datangnya persalinan preterm dapat diketahui dengan tes yang dilakukan disamping tempat tidur. Tes ini mempunyai sensitifitas 79. 86 .4% dan spesifitas 82. Tes tesebut seharusnya dilakukan setiap 2 minggu dari umur kehamilan 24 minggu dan tidak dapat dilakukan jika ada perdarahan pervaginam atau kpd karena perdarahan dan cairan amnion mengandung fibrinektin. Prosedur ini dapat mengetahui infeksi dan mempunyai nilai prediksi rendah pada wanita yang mempunyai resiko kelahiran preterm.

pendataran servik 80% atau dilatasi servik 2 cm atau lebih. 11. 8. 12. 1. Progestogen dan etanol (jarang digunakan) 10. Bed rest dapat dilakukan tetapi cara ini tidak efektif. Peningkatan kunjungan antenatal dan education Peningkatan kunjungan anc dan pendidikan pada ibu diperkirakan dapat mengurangi persalinan preterm pada insiden kelahiran sebelum umur kehamilan 34 minggu. diagnosis dapat ditegakkan. Sekarang menggunakan gliseril trinitat (gtn). Cervical cerclage Cervical cerclage mungkin bermanfaat dimana kelemahan servik seperti riwayat abortus trimester ii atau biopsi. Metode ini efektif untuk menekan persalinan preterm. Manajemen Kelahiran Dan Persalinan Prematur Persalinan prematur mungkin sulit dikenali tetapi dapat dikenali dengan perubahan servik. Antibiotik terapi Antibiotik terapi dapat memperlambat waktu datangnya persalinan preterm. Bed rest Pencegahan kelahiran preterm tergantung dari pebcegahan aktifitas uterus dan dilatasi servik. Kram seperti menstruasi (dismenorhoe) 87 . Bidan seharusnya menyadari kecenderungan persalinan prematur pada wanita akan mengeluh. 9. Dukungan sosial Peran dukungan sosial dalam mencegah kelahiran prematur dilakukan dan tidak tampak mempunyai pengaruh pada kesehatan fisik meskipun dapat memperbaiki kesehatan psikologis. Peningkatan rasa sakit karena kontraksi 2.7.

Postmatur seharusnya digunakan untuk mendeskripsikan janin dengan cirri-ciri klinis nyata yang menunjukan kehamilan yang memanjang patologis. Jika umur kehamilan dibawah 35 minggu dokter dapat memberikan obat tokolitik jika keadaan ibu dan fetus baik. setidaknya sebagian. 2) Postmatur Postmatur kehamilan yang sudah melampaui masa kehamilan yang dianggap berada diatas batas normal. meskipun telah masuk minggu ke 42. Jika umur kehamilan 35 minggu atau lebih persalinan dapat dilanjutkan dan kebanyakan bayi yang lahir pada usia ini akan berkembang lebih baik jika diberikan perawatan yang tepat setelah lahir. adalah 42 minggu lengkap (294 hari) atau lebih sejak hari pertama haid terakhir. Jadi secar teknis kehamilan memanjang dapat dimulai pada hari 294 atau pada hari 295 setelah hari pertam haid terakhir. Tekanan pada pelvik 5.3. Variasi-variasi siklus menstruasi ini kemungkinan menjelaskan. Peningkatan pengeluaran vagina Jika persalinan dimulai dirumah. didukung oleh American College of Obstetricians and Gynecologist (1997) . 88 . mengapa sekitar 10 persen kehamilan mencapai 42 minggu. Fase “42 minggu lengkap” perlu ditekankan. Sakit pinggang 4. Definisi standar yang direkomendasikan secara internasional untuk kehamilan memanjang. belum lengkap 42 minggu sapai habis hari ke tujuh. bidan harus menghubungai dokter dan wanita dirujuk ke RS dengan fasilitas perawatan neonatus. Karena tidak ada metode untuk mengidentifikasi kehamilan yang benar-benar memanjang. Kehamilan antara 41 minggu lewat 1 hari sampai 41 minggu lewat 6 hari. tidak ada tanda perdarahan pervaginam pada saat ini atau KPD. namun relaif sedikit janin yang terbukti mengalami postmaturitas.

banyak bayi postmatur Clifford mati dan banyak yang sakit berat akibat asfiksia lahir dan aspirasi mekonium. Janin posterm mungkin terus bertambah berat badannya sehingga bayi tersebut luar biasa beras pada sat lahir. mengelupas lebar-lebar. Insidensi sindrom postmaturitas pada bayi berusia 41. Oligohidramnion yang menyertainya secara nyata meningkatkan kemungkinan postmaturitas. Kuku biaanya cukup panjang. bahwa terjadi penurunan oksigen pada janin yang postterm. Kulit keriput telihat sekali pada bagian telapak tangan dan telapak kaki.semua kehamilan yang dietapkan sebagai 42 minggu lengkap harus ditangani seolah-olah memanjang abnormal. meskipun 89 . dan maturitas lanjut karena bayi tersebut matanya terbuka. 2) Disfungsi plasenta Kadar eritroprotein plasma tali pusat meningkat secara signifikan pada kehamilan yang mencapai 41 minggu atau lebih dan meskipun tidak ada apgar skor dan gas darah tali pusat yang abnormal pada bayi ini. Janin yang terus tumbuh menunjukan bahwa fungsi plasenta tidak terganggu. Biasanya bayi postmatur tidak mengalami hambatan pertumbuhan karena berat lahirnya jarang turun dibawah persentil ke-10 untuk usia gestasinya. pertumbuhan janin yang berlanjut. Berapa bayi yang bertahan hidup mengalami kerusakan otak. yaitu berupa kulit keriput. dan 43 minggu masing-masing belum dapat ditentukan dengan pasti. Patofisiologi 1) Sindrom posmatur Bayi postmatur menunjukan gambaran yang khas. 42. badan kurus yang menunjukan pengurasan energi. Memang. Syndrome ini terjadi pada sekitar 10 % kehamilan antara 41 dan 43 minggu serta meningkat menjadi 33 % pada 44 minggu.

Morniditas dan mortalitas meningkatkan secara signifikan pada bayi yang mengalami hambatan pertumbuhan. 4) Pertumbuhan janin terhambat Hingga kini. bersifat prediktif terhadap gawat janin intrapartum. seperempat kasus lahir mati yang terjadi pada kehamilan memanjang merupakan bayi-bayi dengan hambatan pertumbuhan yang jumlahnya relatif kecil ini. diukur dengan USG.. terutama bila disertai dengan ologohidramnion.kecepatannya lebih lambat. mungkin juga pengeluaran mekonium oleh janin ke dalam volume cairan amnion yang sudah berkurang merupakan penyebab terbentuknya mekonium kental yang terjadi pada sindrom aspirasi mekonium. 5) Serviks yang tidak baik Sulit untuk menunjukan seriks yang tidak baik pada kehamilan memanjang karena pada wanita dengan umur kehamilan 41 minggu mempunyai serviks yang belum berdilatasi. Penurunan volume cairan amnion biasanya terjadi ketika kehamilan telah melewati 42 minggu. Memang.. Bahwa pertumbuhan janin terhambat menyertai kasus lahir mati pada usia gestasi 42 minggu atau lebih. demikian juga untuk bayi lahir aterm. 3) Gawat janin dan Oligohidramnion Alas an utama meningkatnya resiko pada janin posterm adalah bahwa dengan diameter tali pusat yang mengecil.000 wanita antara 1987 sampai 1998 menggunakan akte kelahiran medis nasional swedia. (1998) dan Clausson. Dilatasi 90 . makna klinis pertumbuhan janin terhambat pada kehamilna yang seharusnya tanpa komplikasi tidak begitu diperhatikan. Divon dkk. adalah cirri khas gestasi antara 38 dan 42 minggu. (1999) telah menganalisis kelahiran pada hampir 700.

rubela cytomegalivirus. 2) IUGR karena faktor lingkungan Janin mempunyai kemungkinan untuk tumbuh normal. Plasenta previa dan solusio plasenta. penyakit jantung atau seperti penyakit kolagen. shipilis. Iskemi cepat merusak plasenta kerusakan suply pengangkut O2 dan nutrisi ke janin. seperti kehamilan kembar. dan tempat yang tinggi mungkin masuk ke dalam kelompok ini. rokok.serviks adalah indicator prognostic yang penting untuk keberhasilan induksi dalam persalinan. tetapi sebagai predisposisi: Insufisiensi plasenta. hipertensi kronik dan masalah atau penyakit yang berhubungan dengan keadaan tersebut. tetapi patologi dalam supply pembuluh darah ke plasenta. Penyebab kerusakan arteri spiral ibu dalam plasenta belum diketahui dengan jelas. toxoplasmosis. tetapi obat atau persilangan dari ibu ke janin menghambat pertumbuhan normal seperti penyakit malaria. radiasi juga memeberikan kontribusi. penyakit ginjal kronik. SGA=preterm) IUGR dapat dibagi ke dalam 3 kelompok utama: 1) IUGR kerena insufisiensi plasenta Kelompok ini potensial untuk tumbuh normal. Obat-obat berbahaya seperti alkohol. 91 . menyebabkan anoksia janin dan mungkin kematian. Pada kelompok ini menyebabkan 2-3 bayi pertumbuhannnya terhambat. 3) Inta Uterin Growth Retardation (IUGR) IUGR adalah keadaan dimana janin dalam uterus tidak dapat tumbuh normal (BBLR=LBW. preeklamsi. seperti suply normal nutrisi dan oksigen tidak dapat menjangkau bayi disebabkan plasenta atau masalah sirkulasi. ibu yang tua. postmatur. diabetes melitus.

Anemia. Kurangnya pemeriksaan kesehatan ibu saat kehamilan 7. gangguan sel darah Pengurangan nutrisi dan karena plasenta . Racun.Berkurangnya kontraksi otot uterus . kelaparan dan genetik 10.3) IUGR karena faktor intrinsik Di sini janin tidak mempunyai atau kehilangan pertumbuhan normal segera setelah konsepsi. Kejadian ini lebih menonjol di negara-negara yang sedang berkembang. Kepribadian. Pengaruh ras. Menikah dini 3.Penyakit jantung. Pada kelompok ini meliputi: malformasi janin dan gangguan genetik. Diet tidak adekuat karena kemiskinan dan keadaan malabsorpsi 5. Sosial ekonomi yang rendah 2. Riwayat reproduksi yang jelek 12. sikap terhadap bayi 11.Penyakit pernafasan . nikotin. Obesitas 9. Perhatian medis tidak adekuat 6. sianosis . penyakit endemik. seperti: obat. hipoglikemia ibu (dalam kasus yang ekstrim) 92 .Tempat tidur . alkohol dan pengaruh teratogenik Penyebab uterus Malformasi uterus kongenital Penurunan oksigen . Penyebab Umum 1. Jarak kelahiran pendek 4.DM. Umur sangat muda dan sangat tua 8.

kasar dan lurus 8.Kelainan dari tali pusat . mempunyai lipatan pada telapak kaki b.Penyakit kecil plasenta juga disebabkan oleh pemisahan preterm.Abnormalitas: Anenchepalus. tali pusat 6.Kelainan plasenta atau plasenta previa . Tali pusat biasanya kecil dan lebih cepat kering daripada bayi normal 9.Berkurangnya aliran uterus. Penampilan bayi 3. Bayi aktif dan lapar pada saat lahir 10. Beberapa bayi nampak dengan penurunan berat badan 7. oleh infark atau hemangioma Penyebab janin . Berkeriput b. Kulit: a. Alert atau posisi siap siaga d.Hemolisis: gangguan sel darah merah Karakteristik bayi SGA saat lahir 1. potters syndrome . kehamilan multipel . Kurang jaringan subkutan 2. Ekspresi ketakutan 5. Rambut jarang atau tipis. kuku. trombus dalam pembuluh darah janin dari satu arteri tali pusat . Mata melotot c. Bayi lemah dan nampak dehidrasi 4.Kembar. Terdapat ciri-ciri: a. Kulit kering dan bersisik c. Mekonium ada pada: kulit. Mengelupas.. panjang dan lemah 93 . Tulang kartilagosudah berkembang baik kurus.Genetik (metabolik atau kromosom ) .

Pemantauan dengan teiti sampai melewati kelahiran 3. Kepala sering lebih besar dari ukuran tubuh Pedoman untuk mendiagnosis IUGR 1. Bayi mempunyai perutbentuk perahu (scapehoid) 13. Berat badan tidak bertambah 4. Tulang kepala keras tetapi ukuranya kecil 12. Pergerakan janin berkurang 5. Pengukuran lingkar perut ibu (pada setinggi pusat). TFU kurang dari 2 cm dari umur kehamilan 3. Sbelum induksi. Pemeriksaan pada setiap kunjungan ANC dengan teliti 2. ada mekonium dalam caiaran amnion harus menjadi perhatian dan laporkan pada dokter 4. Bila selaput ketuban robek. jika servik belum matang diberi prostaglandin atau infus oksitosin sambil di lakukan monitoring dengn CTG memantau janin mengakibatkan fetal distres 94 . Cairan amnion berkurang 6. lakukan monitoring dengan teliti dan tentukan persalianan pervginam atau SC 5. Kegagalan uterus dan janin untuk tumbuh normal rata-rata di atas periode 4 minggu 2. Bayi dengan IUGR hendaknya lahir di rumah sakit yang mempunyai fasilitas khusus perawatan intensif 2. Cek ulang perkirakan persalinan 7. Manajemen bidan selama kehamilan 1.11. Melaksanakan instruksi dokter dengan teliti Manajemen saat persalinan 1. Jika servik matang dan dilakukan induksi. bila lebih dari 100 cm kemungkinan kehamilan kembar. polihidramnion atau bayi besar. Dicurigai adanya suatu kelainan maka segera rujuk ke rumah sakit terdekat atau pada dokter 3.

Inkompatability rhesus j. Infark plasenta c.6. Riwayat SC sebelumnya 4) IUFD (Intrauterin Fetal Death) IUFD atau stilbirth adalah kelahiran hasil konsepsi dalam keadaan mati yang telah mencapai umur kehamilan 28 minggu (atau berat badan lahir lebih atau sama dengan 1000gr) Penyebab 1. AIDS 95 . Hipertensi h. Nefritis kronis d. Polihidramnion dan oligohidramnion e. Sevik tidak matang dengan beberapa keadaan seperti: preeklamsi atau DM f. Preeklampsi dan eklampsi c. Faktor plasenta a. Faktor ibu a. Induksi gagal c. Penyakit jantung g. Penyakit paru atau TBC i. Indikasi SC: a. Malpresentasi d. Solusio plasenta d. CPD e. Plasenta previa 2. Diabetes melitus b. Tanda pertama fetal distres b. Shipilis f. Insufisiensi plasenta b.

tidak ada pembesaran perut. payudara melembut. Faktor intrapartum a. Anastesi d. Perdarahan otak 5. Prematuritas b. Perdarahan antepartum b. Lilitan tali pusat c. Tali pusat pendek 6.3. Persalinan presipitatus f. Vassa praevia d. Postmaturitas c. Prolapsus tali pusat b. Gejala klinis kematian janin Ukuran uterus mengecil dibandingkan dengan ukuran seharusnya 3. kadang ada bercak cairan kecoklatan dari vagina. Pemeriksaan hormon untuk melihat fungsi plasenta 96 . Kelainan bawaan d. Faktor tali pusat a. Tidak diketahui faktor penyebabnya Gejala klinis dan diagnosis Untuk menentukan stillbirth dapat ditentukan melalui: 1. Riwayat Tidak merasakan gerakan janin selama 3 hari. Obat-obatan 4. Partus macet e. Partus lama c. Persalinan sungsang g. Faktor janin a. 2.

badan dan tunkai janin tidak terliaha bergerak. Pasien di rujuk ke dokter segera setelah diketahui IUFD 2. 4. obatobatan dan hati-hati terhadap infeksi atau bahan-bahan yang berbahaya 2. jamgan merokok. Dokter melakukan pemeriksaan untuk menentukan penyebab kematian 4. Melakuak kunjungan rumah untuk melihat KU pada masa postpartum misalnya laktasi. tidak terlihat struktur janin. USG Tidak terlihat djj dan nafas janin. Bidan memberikan dukungan emosional pada pasien dan keluarganya 3. Setelah bayi lahir kemudian diperiksa dan ditimbang. Bidan memberikan dukungan emosional kepada pasien maupun keluarga pasien Manajemen setelah persalinan 1. membran dan plasenta diperiksa 2. ukuran biparietal janin setelah 30 minggu terlihat tidak bertambah panjang pada setiap minggu. dan perencanaan KB 97 . involusio rahim. Mendeteksi secara dini faktor-faktor predisposisi IUFD dan pemberian pengobatan 3. tidak meminum minuman beralkohol. Bila setelah terdiagnosa pasti bidan dapat melahirkan bayinya di bawah pengawasan dokter 3. terlihat kerangka yang bertumpuk. Medeteksi gejala awal IUFD atau tanda fetal distres Manajemen pada saat IUFD terjadi 1. terlihat penumpukan tulang tengkorak. dan reduksi cairan yang abnormal Manajemen untuk pencegahan kematian janin 1. Memeberikan nasehat pada waktu ANC mengenai keseimbangan diet makanan.Didapatkan kadar estriol urin atau estriol darah yang sangat menurun dibandingkan pada saat kehamilan.

faktor tersebut dengan mekanisme tertentu menyebabkan matangnya 2 atau lebih folikel de graf atau terbentuknya 2 ovum atau lebih dalam satu folikel. faktor bangsa. Faktor penghambat yang 98 . jika kelahiran spontan tidak terjadi dalam 3-4 minggu resiko DIC meningkat. Akibatnya terjadi penurunan tingkat fibrinogen serum dan jumlah flatelet untuk mendiagnosis kondisi tersebut gambaran penggumpalan harus ada pada wanita dengan IUFD dan sekali atau dua kali seminggu selama wanita itu melahirkan. herediter. d) Kehamilan Ganda Kehamilan kembar ialah satu kehamilan dengan dua janin atau lebih. Ini terjadi karena tromboplastin dilepaskan kedalam sirkulasi dari jaringan janin yang mati dan terjadi mekanisme kloding blood. tetapi wanita dengan kehamilan kembar memerlukan pengawasan dan perhatian khusus bila diinginkan hasil yang memuaskan bagi ibu dan janin. Pada kembar yang lebih dari satu telur. hereditas. Etiologi Bangsa.Manajemen Sedikitnya 70% wanita akan melahirkan secara spontan dalam 2 minggu kematian bayi dan lainnya akan lahir kurang dari 2 minggu. Diperkirakan sebabnya ialah faktor penghambat pada masa pertumbuhan dini hasil konsepsi. Juga obat klomid dan hormon gonadotropin yang dipergunakan untuk menimbulkan ovulasi dapat menyebabkan kehamilan dizigotik. umur. Jika telur-telur yang diperoleh dapat dibuahi lebih dari satu dan jika semua embrio yang kemudian dimasukkan ke dalam rongga rahim ibu tumbuh berkembang lebih dari satu. umur dan paritas tidak atau sedikit sekali mempengaruhi terjadinya kehamilan kembar. dan paritas hanya mempunyai pengaruh terhadap kehamilan kembar yang berasal dari 2 telur. Bahaya bagi ibu tidak begitu besar.

mempunyai 2 amnion. Bila faktor penghambat terjadi setelah blastula tetapi sebelum amnion terbentuk. 2. misalnya dari letak lintang menjadi letak sungsang. Kkirakira 1/3 kehamilan kembar adalah monozigotik. Letak Dan Presentasi Janin Pada umumnya tidak besar dan cairan amnion lebih banyak daripada biasa. 2 korion dan 2 plasenta seperti pada kehamilan kembar dizigotik. Kehamilan kembar dizigotik Kira-kira 2/3 kehamilan kembar adalah dizigotik yang berasal dari 2 telur. Kadang-kadang 2 plasenta menjadi 1. sebelum primitive streak tampak maka akan terjadi kehamilan kembar dengan 1 amnion. Jenis 1. sehingga sering terjadi perubahan presentasi dan posisi janin. Kembar dizigotik mempunyai 2 plasenta. disebut juga heterolog binovuler atau fraternal. Kehamilan kembar monozigotik Kehamila kembar yang terjadi dari satu telur disebut kehamilan monozigotik atau disebut juga identik. keadaan ini tidak dapat dibedakan dengan kembar dizigotik. 99 . Demikian pula letak janin kedua dapat berubahsetelah kelahiran janin pertama. Setelah primitif streak terbentuk maka akan terjadi kembar dempet dalam berbagai bentuk. Jenis kelamin sama atau berbeda. 1 korion dan atau 2 amnion. Pada kehamilan kembar monoamniotik kematian bayi masih sangat tinggi.mempengaruhi segmentasi sebelum blastula terbentuk menghasilkan kehamilan kembar dengan 2 amnion. maka akan terjadi kehamilan kembar dengan 2 amnion. mereka berbeda seperti anak-anak lain dalam keluarga. 2/3 mempunyai 1 plasenta. 2 korion dan 2 plasenta. Yang paling sering ditemukan kedua janin dalam letak memanjang dengan presentasi kepala kemudian menyusul presentasi kepala dan bokong. 2 korion dan 2 amnion. kadang-kadang 2 plasenta menjadi 1. homolog atau uni ovuler.

keduanya presentasi bokong, presentasi kepala dan bahu, presentasi bokong dan bahu dan yang paling jarang keduanya presentasi bahu. Diagnosis Diagnosis kehamilan kembar dapat ditegakan jika ditemukan hal-hal sebagai berikut: 1. Besarnya uterus melebihi lamanya amenorhoe 2. Uterus tumbuh lebih cepat daripada biasanya pada pemeriksaan ulang 3. Penambahan berat badan ibu yang tidak disebabkan oleh edema atau obesitas. 4. Banyak bagian kecil yang teraba 5. Teraba tiga bagian besar janin 6. Teraba 2 balotemen Diagnosis pasti dapat ditentukan dengan: 1. Teraba 2 kepala, 2 bokong, dan 1 atau 2 punggung 2. Terdengan 2 denyut jantung yang letaknya berjauhan dengan perbedaan kecepatan paling sedikit 10 denyut per menit 3. Sonogram dapat mendiagnosa kehamilan kembar pada triwulan pertama 4. Rontgen photo abdomen Diagnosis Banding 1. Hidramnion Dapat menyertai kehamilan kembar, kadang kelainan hanya terdapat pada satu kantong amnion dan yang lainnya oligohidramnion. Pemeriksaan USG dapat enentukan apakah pada hidramnion ada kehailan kembar atau tidak. 2. Kehamilan dngan mioma uteri atau kistoma ovarii

100

Tidak terdengarnya 2 jantung pada pemeriksaan berulang, bagian besar dan kecil yang sukar digerakan, lokasinya yang tidak berubah, dan pemeriksaan rontgen dapat membedakan kedua hal tersebut. Komplikasi 1. Ibu a. Anemia b. Hipertensi c. Partus premeturus d. Atonia uteri e. Perdarahan pasca persalinan 2. Bayi a. Hidramnion b. Malpresentasi c. Plasenta previa d. Solusio plasenta e. Ketuban pecah dini f. Prolapsus funikuli g. Pertumbuhan janin terhambat h. Kelainan bawaan i. Morbiditas dan mortalitas perinatal meningkat Penanganan Dalam Kehamilan Pemeriksaan Antenatal lebih sering. Mulai kehamilan 24 minggu pemeriksaan dilakukan tiap 2 minggu, sesudah kehamilan 36 minggu tiap minggu, sehingga tanda-tanda preeklampsi dapat diketahui dini dan penanganan dapat dikerjakan dengan segera. Setelah kehamilan 30 minggu, perjalanan jauh dan koitus sebaiknya dialarang karena dapat merupakan faktor predisposisi partus prematurus.

101

Anemia hipokrom tidak jarang terjadi pada kehamilan kembar karena kebutuhan besi 2 bayi dan penambahan volume darah ibu sangat meningkat. Pemberian sulfas ferosus 3x100 mg secara rutin perlu dilakukan. Selain zat besi dianjurkan untuk memeberikan asam folik sebagai tambahan. Penanganan Dalam Persalinan Semua persiapan untuk resusitasi dan perawatan bayi prematur disediakan. Golongan darah ibu sudah ditentukan dan persediaan darah diadakan mengingat kemungkinan paerdarahan postpartum lebih besar. Pemakain sedative perlu dibatasi. Episiotomi mediolateral dikerjakan untuk memperpendek kala pengeluaran dan mengurangi tekanan pada kepala bayi. Setelah bayi pertama lahir, segera dilakukan pemeriksaan luar dan vaginal untuk mengetahui letak dan keadan janin kedua. Bila janin dalam letak memanjang, selaput ketuban dipecahkan dan air ketuban dialirkan perlahan-lahan untuk menghindarkan prolapsus funikulli. Penderita dianjurkan meneran atau dilakukan tekanan terkendali pada fundus uteri, agar bagian janin masuk dalam panggul. Janin kedua turun dengan cepat sampai kedasar panggul dan lahir spontan karena jalan lahir telah dilalui anak pertama. Bila janin kedua dalam letak lintang denyut jantung janin tidak teratur, terjadi prolapsus funikulli atau solusio plasenta, atau bila persalinan spontan tidak terjadi dalam 15 menit, maka janin perlu dilakirkan dengan obstetrik karena resiko akan meningkat dengan meningkatnya waktu. Dalam letak lintang dicoba untuk mengadakan versi luar dan bila tidak berhasil maka segera disuntdilakukan versi ekstraksi tanpa narkosis. Pada janin dalam letak memanjang dapat dilakukan ekstraksi cunam pada letak kepala dan ekstraksi kaki pada letak sungsang. SC dilakukan atas indikasi janin pertama dalam letak lintang, prolapsus

102

funikuli, plasenta previa. Bila terjadi interloking, bila keadaan tidak bisa dilepaskan dilakukan dekapitasi atau SC menurut keadaan janin. Setelah anak kedua lahir penderita disuntik 10 satuan oksi dan tingginya fundus uteri diawasi. Jika ada tanda-tanda pelepasan plasenta maka plasenta dilahirkan. Kala IV diawasi secara cermat agar perdarahan post parrtum dapat diketahui dini dan penanggulangan dapat dilakukan dengan segera. Prognosis 1. Anemia 2. Preeklamsi dan eklamsi 3. Operasi obstetrik dan perdarahan post partum.

Gambar 2.4. Posisi Janin Kembar e) Kelainan Air Ketuban 1) Polihidramnion Suatu keadaan dimana jumlah air ketubanjauh lebih banyak dari normal, biasanya lebih dari 2 liter.

103

Perjalanan penyakit 1) Hidramnion kronis Pertambahan air ketuban terjadi secara perlahan-lahan dalam beberapa minggu atau bulan, dan biasanya terjadi pada kehamilan lanjut 2) Hidramnion Akut Terjadi pertambahan air ketuban yang sangat tiba-tiba dan cepat dalam waktu beberapa hari saja Hidramnion banyak ditemukan pada kasus-kasus: 1) penyakit jantung 2) nefritis 3) edema umum 4) anamali kongenital (pada anak); seperti anencepali, spinadifida atresia atau striktur esofagus, hydrocepalus dan struma blockling oesophagus 5) simpul tali pusat 6) DM 7) Gemelli uniovulair 8) Malnutrisi 9) Penyakit kelenjar hipofisis Diagnosis 1) Anamnesis a). Perut lebih besar dan terasa lebih berat dari biasa b). Pada yang ringan keluhan-keluhan subyektif tidak banyak c). Pada yang akut dan pada pembesaran uterus yang cepat terdapat keluhan-keluhan d). Nyeri perut karena tegangnya uterus mual dan muntah e). Oedema pada tungkai, vulva dan dinding perut

104

Foto rongtgen pada hidramnion bberguna untuk disgnostik dan untuk menentukan etiologi 6) Pemeriksaan dalam Selaput ketuban teraba tegang dan menonjol walaupun diluar his Diagnosa banding 1) Hidramnion 2) Gemeli 3) Asites 4) Kista avanii 105 .f). berkerigat dingin. kepala janin dapat diraba maka balotement jelas sekali e). sesak. Kalau pada letak kepala. kulit perut berkilat. retak-retak kulit jelas dan kadang-kadang umbilikus mendatar b). Jika akut. Fundus uteri lebih tinggi dari umur sesungguhnya c). vulva dan tungkai b). Perut tegang dan nyeri tekan serta terjadi oedema pada dinding perut. Kelihatan perut sangat buncit dan tegang. bisa syok. 2) Inspeksi a). ibu akan terlihat sesak dan sianosis serta terlihat payah membawa kandungannya 3) Palpasi a). karena banyaknya cairan kadang bayangan janin tidak jelas b). Pada proses akut dan perut besar sekali. Nampak bayangan terselubung kabut. Bagian janin sukar dikenali d). Karena bebasnya janin bergerak dan tidak terfiksir maka dapat terjadi kesalahan-kesalahan letak janin 4) Auskultasi DJJ sukar didengar dan jika terdengar hanya sekali 5) Rontgen foto abdomen a).

Syok Terapi hidramnion dibagi menjadi 3 fase: 1) Waktu hamil a). Prematuritas c). Bila keluhan hebat. Solusio plasenta b). ketuban tiba-tiba pecah. seperti sesak dan sianosis maka lakukan transvaginal melalui servik bila sudah ada pembukaan c). Komplikasi karena kesalahan letak anak d). Eritoblastosis 2) Pada ibu a). Retensio plasenta e). Perdarahan post partum d). Kongenital anomali b).5) Kehamilan beserta tumor Prognesis 1) Pada janin a). Bila sewaktu pemeriksaan dalam. Hidramnion ringan. Pasang infus 106 . Pada hidramnion yang berat dengan keluhan-keluhan harus dirawat di rumah sakit dan bedrest 2) Waktu partus a). masukan jari tangan ke dalam vagina sebagai tampon beberapa lama supaya air ketuban keluar pelan-pelan 3) Post partum a). Atonia uteri c). Periksa Hb b). jarang diberi terapi klinis cukup diobservasi dan berikan terapi simpotomatis b). Bila tidak ada hal-hal yang mendesak maka sikap kita menunggu b).

Primer Sekunder karena pertumbuhan amnion yang kurang baik ketuban pecah dini Gambaran Klinis 1) Perut ibu kelihatan kurang membuncit 2) Ibu merasa nyeri diperut pada tiap pergerakan anak 3) Persalinan lebih lama dari biasanya 4) Sewaktu his akan terasa sakit sekali 5) Bila ketuban pecah air ketuban sedikit sekali bahkan tidak ada yang keluar f) Kelainan Letak 1) Letak Sungsang Letak sungsang merupakan suatu letak dimana bokong bayi merupakan bagian rendah dengan atau tanpa kaki (keadaan dimana janin terletak memanjang dengan kepala di fundus uteri dan bokong berada di bagian bawah kavum uteri. 1 atau kedua kaki di bawah bokong 107 . sehingga kaki berada dekat kepala. sering terjadi pada primiyang prematur 3) Presentesi kaki. Ada 4 tipe letak sungsang 1) Complete/flexed brech. Tipe ini lebih sering pada multigravida 2) Extended brech (frank brech) pada bayi fleksi. Etiologi Sebab pasti belum diketahui dengan jelas. pada posisi ini paha dan lutut bayi fleksi dan kaki menutupi bokong.c). tetapi pada kaki ektensi. Pemberian antibiotik 2) Oligohidramnion Oligohidramnion adalah suatu keadaan dimana air ketuban kurang dari normal yaitu kurang dari ½ liter.

sementara di fundus teraba bagian yang keras. gande multi. penyebab pasti dari presentasi bokong belum diketahui secara pasti tetapi dapat terjadi pada persalinan premetur. insufisiensi cairan ketuban. polihidramnion memungkinkan terjadinya malpresentasi Diagnosis Diagnosis ditegakan dengan pemerikasaan abdominal. Pada palpasi di bagian bawah teraba bagian yang kurang keras dan kurang bundar. Denyut jantung janin terdengar di atas pusat. uterus bikormis. Penmeriksaan dengan USG atau rontgen dapat mengetahui letak yang sebenarnya pada 108 . janin berada dalam posisi 1 atau kedua lutut berada di bawah bokong Gamba.4) Presentasi lutut. 2. bundar dan melenting. Selain itu kelainan-kelainan seperti hidrosefalus. plasenta letak rendah atau tumor yang menghalangi jalan lahir.5 letak sungsang Penyebab Presentasi bokong terjadi kurang lebih 3% pada semua persalinan.

pemeriksaan pervaginam teraba bagian lunak anus juga akan teraba bagian sacrum Persalinan sungsang tidak menyebabkan bahaya bagi ibu tetapi menimbulkan hal yang serius bagi bayinya. Pelepasan plasenta dapat terjadi pada kala II akibat tarikan dari tali pusat. Perdarahan intrakranial 3. Oedem genital dan memar atau lecet akibat capformation Kejadian anomali kongenital tinggi pada bayi dengan presentasi atau letak sungsang dan terutama pada BBLR. Kala I persalinan 109 . Kerusakan otot dan syaraf terutama pada otot sterno mastoid dan fleksus brachialis 5. 1. Bahaya persalinan sungsang dapat di simpulkan sebagai berikut: 1. Kebanyakan dokter ahli kebidanan menganjurkan induksipersalinan pada 38 minggu. ketika fetus masih agak kecil. Setelah kepala masuk ke dalam rongga panggul dapat terjadi tekanan pada kepala pada tali pusat dan ini akan menyebabkan hipoksia janin. Bahaya lain adalah fraktur. Kematian bayi pada persalinan sungsang 4 kali lebih besar daripada persalinan biasa. anastesi dan ahli anak. Manajemen Persalinan Sungsang Persalinan dianjurkan di rumah sakit di bawah pengawasan dokter ahli obstetri. Jika ibu tidak partus spontan pada 40 minggu biasanya dilakukan induksi persalinan. Anoksia intra dan ekstra uterin 2. ruptur organ abdomen dan banyak bahaya untuk otot syaraf. Fraktur dan dislokasi 4. Ruptur organ abdomen 6.

Pada saat pembukaan servik tercapai ¾ nya biasanya ibu ingin mengejan. Pertama-tama kandung kancing dikosongkan ketika bokong belakng meregang perineum diberi anastesi lokal dan dilakukan episiotomi. Posisi sacrum anterior kanan 3. Sacrum kiri/kanan belakang Pertolongan persalinan pada letak sungsang Persalinan letak sungsang dapat ditolong dengan prasar brach ataupun dengan tindakan/extraksi. Kala II persalinan Pemeriksaan vaginal dilakukan untuk mengetahui pembukaan lengkapsebelum menyuruh ibu mengedan. Bokong belakang tampak di vulva dan bokong maju lebih 110 . ibu sebaiknya tidak berjalan-jalan. Kadang-kadang kontraksi uterus hipotonis sehingga dapat dirangsang dengan pemberian oksitosin. Posisi sacrum kiri depan 2. Ada 4 posisi pada letak sungsang: 1. Sacrum kanan/kiri 4. Jika bokong enganged seperti pada bokong murni dimana terdapat resiko pecah selput ketuban dan prolapsus umbilikal. Mekanisme persalinan letak sungsang Hubungan sacrum dengan panggul ibu akanmenentukan posisi janin. bokong dapat melalui servik tetapi kepala tidak melalui servik sehinga ibu dilarang untuk mengejan sampai dilatasi servik lengkap 2.Kala I persalinan lebih lama daripada letak belakang kepala. posisinya sama dengan letak kepalatetapi pada letak sungsang sacrum sebagai penunjuk.

Mulut dibersihkan dari lendir sehingga bayi bernafas tanpa menghisap cairan lendir. asisten menekan daerah supra pubik dengan sehalus mungkin kepala dilahirkan melalui jalan lahir. obatobatan oksitosin diberikan pada ibu segera seteah bayi lahir. Jari tengah dan jari telunjuk tangan kanan disangkutkan pada bahu untuk digunakan sebagai tarikan. Selanjutnya kepala dilahirkan dengan lambat. tubuh di simpan di atas abdomen ibu. Jika kepala dilahirkan dengan cepat dapat terjadi perdarahan intrakranial. Jari tengah menekan oksiput untuk membantu fleksi. Ketika kuduk dan garis rambut sudah tampak menunjukan bahwa kepala akan lahir. Lengan yang normalnya fleksi menyilang di depan dada dengan mudah dilepaskan dan bahu akan lahir. kemudian memasukan jari tengah ke dalam mulut dan kepala difleksikan. lubang hidung segera dibersihkan kepala dilahirkan secara perlahan-lahan. Badan bayi maju sampai sejauh umbilikus kemudian kaki di lepaskan/dilahirkan dengan perlahan-lahan. Metode mauriceau digunakan untuk melahirkan kepala dimana terjadi kelambatan dari penurunan kepala. memasukan tiga jari kedalam vagina dan mencari mulut bayi. untuk menghindarinya biasanya dengan menggunakan forcep erygey’s atau neville barnes untuk kepala yang sudah lahir hal ini memungkinkan untuk mengontrol kecepatan lahirnya kepala. selama beberapa waktu untuk memudahkan penurunan dan fleksi dari kepala. Tali pusat dilongggarkan pada kontraksi berikutnya bahu akan tampak. Perineum ditekan dengan jari untuk membuka mulut bayi. Kepala ditarik ke bawah sampai batas hidung sehingga saluran nafas dapat dibersihkan dan oksigen dapat diberikan segera setelah bayi bernafas. Sekarang bayi dalamkeadaan menggantung pada berat badannya. Bayi di pegang pada pergelangan kaki dan menggunakan traksi yang halus.cepat. jalan nafas dibersihkan dan kelahiran 111 . tehniknya yaitu dengan menunggangkan bayi apada lengan kiri. Setelah hidung tampak di vulva .

Pada keadaan emergensi bidan dapat melakukan tehnik ini meskipun jarang dilakukan. selain itu juga ada beebrapa faktor yang mendukung terjadinya letak lintang yaitu: kehamilan ganda. Punggung janin dapat berada di depan (dorsoanterior). 112 . bidan harus mengupayakan membawa ibu ke rumah sakit. Faktor lain yang mendukung terjadinya letak lintang adalah plasenta previa. pengkerutan pelvis.6. Apabila pada praktek di masyarakat. polihidramnion. Gambar . sedangkan bahu berada pada pintu atas panggul. mengingat bahaya yang dapat ditimbulkan dari persalinan tersebut. 2) Letak Lintang Letak lintang adalah suatu keadaan dimana janin melintang di dalam uterus dengan kepala pada sisi yang satu sedangkan bokong pada sisi yang lain. abnormalitas uterus.kepala dilakuka dengan cara yang sama. fibroid uterus yang besar. bidan menemukan kakus dengan persalinan sungsang. di belakang (dorsoposterior) atau di bawah (dorsoinferior). Kelaianan letak paling sering terjadi pada wanita paritas tinggi (grande multipara).2. Letak Lintang Penyebab Penyebab paling sering adalah kelemahan otot uterus dan abdomen. Pada umumnya bokong berada sedikit lebih tinggi daripada kepala janin.

pemeriksaan vagina dapat dilakukan untuk mendeteksi abnormalitas pelvik seperti. Pada palpasi kepala janin atau bokong ditemukan di salah satu bagian fossa iliaca. Ketika paru-paru bayi prematur.Diagnosis Letak lintang mudah didiagnosis dalam kehamilan dari bentuk uterus. lebih menonjol ke salah satu bagian abdomen. DJJ dan kontraksi uterus dimonitor secara elektrik dan jika memingkinkan kondisi ibu benar-benar diperhatikan. Palpasi akan teraba kepala janin pada salah satu sisi dan bokong pada sisi yang lain. ibu seharusnya datang ke RS untuk dilakukan versi chepalik eksternal yang dilakukan ditempat kelahiran. Pada setiap kunjungan antenatal dokter seharusnya memeriksa letak. USG dapat digunakan untuk memastikan dignosis untuk mendeteteksi kemungkinan penyebab. atau persalinan prematur.resiko versi chepalik eksternal adalah terjadinya KPD dan tali pysat menumbung. tetapi tidak ada bagian presentasi yang berada di pelvis. engan TFU rendah. Pemeriksaan USG dapat mendeteksi abnormalitas fetus dan uterus. atau waktu datangnya persalinan. Manajemen atau penatalaksanaan Dokter dapat mengusahakan untuk membenarkan posisi dengan cara versi external menjadi letak membujur dan presentasi kepala. Kecenderungan pengembalian posisi letak lintang menjadi posisi letak memanjang sulit dan seringnya beberapa dokter tidak menganjurkan versi chepalik eksternal sebelum kelahiran direncanakan. Hal ini mungkin diikuti dengan induksi persalinan dengan oksitosin. presentasi dan mendengarkan DJJ. terlihat melebar. pengerutan pelvis. Dalam persalinan ketika kepala 113 . Penekanan pada sisi lateral dapat diterapkan untuk membantu uterus dalam mempertahankan letak memanjang. Jika pemeriksaan USG tidak mendeteksi plasenta previa.

Pemeriksaan vagina tidak boleh dilakukan jika ada indikasi plasenta previa. Pada beberapa kasus dimana wanita mempunyai riwayat obstetri yang urut. Dalam persalinan. Kelainan air ketuban. SC merupakan cara yang paling aman untuk melahirkan. Jika tindakan pencegahan tersebut tidak dilakukan. Kelainan dalam lamanya kehamilan. Persalinan seharusnya dapat berjalan dengan normal. Jika ada kegawat daruratan. Bidan dapat mendeteksi presentasi bahu dengan cara pemeriksaan abdomen seperti yang dijelaskan diatas dan pemeriksaan vagina. ketika persalinan dimulai bahu janin dapat turun kebawah ke rongga pelvis bagian depan dapat terjadi KPD dan penumbungan tali pusat yang disertai dengan penumbungan lengan janin. KET. Abortus. Rangkuman Materi Komplikasi. Molahidatidosa Komplikasi dan penyulit kehamilan trimester III meliputi : Kehamilan dengan hipertensi. penyakit dalam masa kehamilan Komplikasi dan penyulit kehamilan trimester I dan II meliputi: Anemia kehamilan. Bahu janin dapat dikenali dengan merasakan tulang rusuk atau tangan. Kelainan letak.bayi memasuki rongga pelvis membran dapat ruptur. Perdarahan antepartum. C. Hyperemesis ravidarum. Tindakan SC merupakan bentuk kelahiran yang paling aman. Kehamilan ganda. bidan seharusnya merujuk ke dokter atau ke pelayanan kegawat daruraan obstetri. atau terdapat komplikasi dalam persalinan. 114 . jika mendapatka kesulitan untuk membenarkan letak janin setelah selaput ketuban pecah ini tidak mungkin dilanjutkan. kelainan.

jari. 5 gr/lt atau lebih c. Proteinuria 0. pre eklamsi berat dan eklamsi. 2. Daftar Pustaka 1. Ilmu Bedah Kebidanan. Tekanan darah 160/110 mmHg atau lebih b. Diskusikan apa bebedaan dari plasenta previa dan solusio Plasenta? E. Latihan/ Tugas 1.D. 2. 2005. Solusio Plasenta plasenta lepas sebelum waktunya dimana pedarahannya merah kehitaman disetai nyeri. Plasenta previa adalah letak plasenta yang menutupi jalan lahir dimana perdarahannya merah segar dan tidak disertai rasa nyeri. Edema pada kaki. F. Cara pengukuran sekurang- kurangnya pada 2x pemeriksaan dengan jarak b. Rambu-Rambu Jawaban 1. 115 . gangguan visus.3 gr/lt atau 1+ atau 2+ c. Proteinuria. Oliguria (jumlah urine < 500 cc per 2 jam d. Preeklamsia ringan a. Diskusikan apa perbedaan dari pre eklamsi ringan. dan rasa nyeri di epigastrium Eklamsi meupakan seangan Konvulsi yang tejadi mendadak dalam kehamilan tetapi tidak selalu komplikasi atau kelanjutan dai pre eklamsi. Jakarta : Yayasan Bina pustaka sarwono. Hanifa Wiknjosastro. Hal 104 – 121. Tekanan darah 140/90 mmHg atau kenaikan diastolik 15 mmHg atau lebih (diukur pada posisi berbaring terlentang) atau kenaikan sistolik 30 mmHg atau lebih. Adanya gangguan serebral. Terdapat edema paru dan sianosis e. muka dan berat badan naik >1 kg/mg Preeklamsia berat a.

Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Workshop Kurikulum mata ajar Askeb IV. 5. 2001 Varney’s H. Cakul Obgin Plus FKUI. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono. Buku Panduan Praktis Maternal dan Neonatal. 4. 7.2. Jones and Bartlett Publisher Mayes. 3. 1997. 8. Jakarta. 1998. 1999. Hal 173 -178. 9. UK. Obstetri Patologi. Hal 606 – 622. Jakarta:FTM Syaifudin. YBPSP 6. Midwifery. Bagian OBSGIN FK Universitas Padjadjaran. Midwifery. 2001. Hanifa Wiknjosastro. 2005. tidak diterbitkan 116 . 12 th Edition 2000 Mochtar R. Tim pengajar Askleb IV. Ilmu Kebidanan. 2006. Budi Marjono. Jakarta 10. Bandung : Elstar Offset. Sinopsis Obstetri Jilid I.

Konsep Dasar Kelainan Presentasi dan Posisi 1) Presentasi Puncak Kepala Pada persalinan normal. bila derajat defleksinya lebih berat sehingga dahi merupakan bagian yang paling rendah. Bergantung pada derajat defleksinya maka dapat terjadi presentasi puncak kepala. Presentasi dahi. sehingga kepala dalam keadaan defleksi. Konsep Dasar Penyulit Kala I dan Kala II a. Pada umumnya presentasi puncak kepala merupakan kedudukan sementara. presentasi dahi a tau presentasi muka. Uraian materi 1. Kompetensi Dasar Mampu menguraikan konsep dasar penyulit persalinan kala I. sehingga lingkaran kepala yang melalui jalan lahir adalah sirkumferensia frontooksipitalis dengan titik perputaran yang berada di bawah simpisis adalah glabela. sehingga ubun-ubun besar merupakan bagian terendah.BAB IV ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU DENGAN KELAINAN. sehingga keduanya seringkali dikacaukan satu dengan yang lainnya. Presentasi puncak kepala atau disebut juga presentasi sinsiput.II. kepala janin pada waktu melewati jalan lahir berada dalam keadaan fleksi. terjadi apabila derajat defleksinya ringan. III dan IV. KOMPLIKASI DAN PENYAKIT DALAM PERSALINAN A. B. 117 . Mekanisme persalinanya hampir sama dengan posisi oksipitalis posterior persisten. Perbedaanya adalah: pada presentasi puncak kepala tidak terjadi fleksi kepala yang maksimal. sehingga muka janin merupakan bagian yang terendah. Presentasi muka bila derajat defleksinya maksimal. Dalam keadaan tertentu fleksi kepala tersebut tidak terjadi. yang kemudian akan berubah menjadi presentasi belakang kepala.

presentasi tinggi dan tidak bisa diraba. Jika presentasi dahi menetap dan fetus dalam ukuran normal tidak mungkin terjadi kelahiran pervaginam dan SC harus segera dilakukan. Jika dahi dapat teraba. Diagnosis Pemeriksaan abdomen kepala sangat tinggi dan diameter sangat besar. Pada semua malpresentasi seringnya terjadi KPD dan resiko prolapsus tali pusat lebuh besar. Pada pemeriksaan vagina. Oleh karena itu pemeriksaan pervaginam dilakukan sesegera mungkin untuk mendeteksi prolapsus tali pusat. teraba lekukan antara oksiput dengan bagian belakang. Jika presentasi dahi didiagnosis segera dalam persalinan dapat mengubah presentasi muka menjadi ekstensi penuh atau fleksi pada presentasi verteks. Manuver jarang dilakukan pada presentasi muka.2) Presentasi Dahi Presentasi dahi jarang terjadi dari pada presentasi muka. Kepala dan tulang belakang ekstensi tetapi lutut fleksi sehingga letak 118 . Diagnosis dapat ditegakkan dengan radiografik atau dengan USG. Manajemen Bidan harus dengan cepat menghubungi dokter jika ada suspek atau diagnosa presentasi dahi dalam persalinan. tindakan yang paling aman untuk ibu dan bayi adalah dengan menggunakan SC. dan seharusnya ibu dirujuk ke RS. dengan diameter mento vertikal 13 cm. terjadi hanya 1 dari 2000 persalinan. 3) Presentasi Muka Presentasi Muka jarang terjadi kira-kira 1 dalam 500 kelahiran. orbital berada pada satu sisi dan fontanel anterior berada pada sisi yang lain. Kepala pada pertengahan antara versi dan ekstensi.

dalam rongga pelvis dan pada prematuritas dan dimana terjadi polihidramnion atau kehamilan ganda. Pada anensephalus yang biasa terjadi. Diagnosis Presentasi muka tidak mudah didiagnosis dalam kehamilan. Kekuatan kontraksi uterus berjalan kearah kepala bagian frontal supaya kepala ekstensi dan masuk kerongga pelvis. Internum.fetus dalam uterus dalam bentuk huruf S. Pada posisi oksipito pesterior defleksi diameter biparietal mungkin mempunyai kesulitan dalam menjauhi diameter sacro cotyloid dari pelvis maternal. Fetus goitre. Penyebab Pada presentasi muka primer sebelum persalinan berlangsung fetus seringnya abnormal. 119 . kepala tidak dapat versi biasanya tonus otot ekstensor tonus berlebuhan dan bertahan dalam sikap ekstensi pada beberapa setelah lahir. Presentasi muka juga lebih sering terjadi pada flat pelvis. Bunyi jantung terdengar melalui dinding dada anterior pada sisi dimana lutut teraba. kepala ekstensi dan muka terlihat. Pada posisi mento posterior bunyi jantung janin lebih sulit terdengar karena dada pada posterior. Uterus yang berada disisi samping (uterus obliq). Suaranya terdengar jelas pada posisi mento anterior. Ultrasound dalam kehamilan dapat digunakan untuk memastikan diagnosis presentasi muka. Oksiput berlawanan dari bahu dan muka secara langsung yang berada dibagian os. Presentasi muka sekunder yang berkembang dalam persalinan sering tidak diketahui sebabnya. Diameter bitemporal lebih cepat turun. Hal ini seharusnya diperhatikan jika ada lekukan yang dalam antara kepala dengan bagian belakang. vertek tidak ada.

Presentasi muka didiagnosa dengan menentukan posisi dagu apakah anterior atau posterior. Muka tidak berbentuk dan oleh karena CPD yang tidak dapat ditangani 120 . Komplikasi Komplikasi yang dapat terjadi pada presentasi muka. kepala difleksikan sehingga memungkinkan verteks dan oksiput melewati perineum. Kemajuan persalinan menjadi sangat sulit pada pemeriksaan pervaginam untuk membedakan muka karena muka menjadi oedemmeriks. kemungkinan persalinan obstruksi dan dibutuhkan penatalaksanaan dengan segera. Presentasi muka posterior. Biasanya fetus akan membantu diagnosis dengan menghisap jari tangan pemeriksa saat dilakukan pemeriksaan.5 cm. Obstruksi persalinan. a. 1. Posisi mento lateral dan mento posterior lebih berbahaya. Jika kelahiran normal terjadi ekstensi dipertahankan dengan menekan sinsiput hingga dagu berada di bawah simpisis pubis. Sub mento vertikal 11. yang tidak bisa berputar ke posisi anterior. meliputi. Prolapsus tali pusat 2. akan menyebabkan obstruksi persalinan. Manajemen Pada posisi mento anteerior seringnya proses persalinan berjalan normal. dengan palpasi yang lembut akan teraba orbital dan mulut dengan gusi. Pemeriksaan harus hati-hatiuntuk menghindari trauma pada mata. Adanya gusi dan mulut dalam presentasi muka harus dibedakan dari anus pada presentasi bokong.Diagnosis dapat ditegakan dengan pemeriksaan vagina.5 cm yang dapat merobek perineum saat kelahiran. Pada kala II kelahiran normal diantisipasi dengan menggunakan episiotomi meskipun diameter sub mento bregmatika 9. Kelahiran spontan tidak akan terjadi. karena.

5 cm. 5. puncak kepala. sub mento vertikal 11. Bentuk tengkorak fetus abnormal disebabkan perdarahan intrakranial.3.1 Presentasi belakang kepala.5 cm akan memperlebar vagina dan perineum. Sebab-sebab lain adalah otot-otot dasar panggul yang sudah lembek pada multipara atau kepala 121 . Trauma perineum berat dapat terjadi karena. Keadaan ini dinamakan posisi oksiput posterior persisten.b. Presentasi muka posterior presisten mengakibatkan obstruksi persalinan 3. dahi dan muka 4) Posisi Oksipitalis Posterior Persisten Keadaan dimana ubun-ubun kecil tidak berputar ke depan. meskipun diameter sub mento bregmatik hanya 9. sehingga tetap dibelakang. maka ubun-ubun kecil akan mengalami kesulitan memutar ke depan. Etiologi Salah satu sebab terjadinya posisi oksipitalis oksiput posterior persisten ialah usaha penyesuaian kepala terhadap bentuk dan ukuran panggul. Misalnya: apabila diameter anterior posterior lebih panjang dai diameter transfersa seperti pada panggul antropoid atau segmen depan menyempit seperti pada panggul android. Kelahiran operasi mungkin dibutuhkan 4. Muka memar dan oedem Gambar.

Mekanisme Persalinan Bila hubungan antara panggul dengan kepala janin cukup longgar persalianan pada posisi oksipitalis posterior persisten dapat berlangsung secara spontan tetapi pada umumnya lebih lama. sehingga kepala lahir melalui pintu bawah panggul dengan sirkumferensia frontooksipitalis yang lebih besar dibandingkan dengan sirkumferensia sub oksipitooksipitalis. Kepala janin akan lahir dalam keadaan muka di bawah simpisis dengan mekanisme sebagai berikut. untuk memutar ke depan. hal ini disebabkan karena kepala yang sudah dalam keadaan fleksi maksimal tidak dapat menambah fleksinya lagi. Sedangkan kematian peeinatal perinatal lebih tinggi bila dibandingkan dengan keadaan dimana ubun-ubun kecil berada di depan. 122 . Setelah kepala mencapai dasar panggul dan ubun-ubun besar berada di bawah shimpisis dengan ubun-ubun besar tersebut sebagai hipomoklion. kedua keadaan tersebut dapat menimbulkan kerusakan pada vagina dan erineum yang luas. kemungkinan kerusakan jalan lahir lebih besar.janin yang kecil dan bulat. Persalinan pada pada umumnya berlangsung lebih lama. Selain itu seringkali fleksi kepala tidak dapat maksimal. Prognosis Jalannya pada proses persalinan posisi oksiput posterior sulit diramalkan hal ini disebabkan karena kemungkinan timbulnya kesulitan selalu ada. oksiput akan lahir melalui perineum diikuti bagian kepala yang lain. sehingga tidak ada paksaan pada belakang kepala janin. Kelahiran janin dengan ubun-ubun kecil di belakang menyebabkan regangan yang besar pada vagina dan perineum.

dan kandung kencing serta rectum 123 . sebaiknya diambil keputusan untuk melakukan SC. Diagnosis inersia uteri paling sulit dalam fase laten. Kontraksi uterus yang disertai rasa nyeri tidak cukup untuk membuat diagnosis bahwa persalinan sudah dimulai. Untuk sampai pada kesimpulan ini diperluakan kenyataan bahwa sebagai akibat kontraksi terjadi perubahan pada servik yaitu pendataran atau pembukaan servik Penanganan Setelah diagnosis inersia uteri ditetapkan. Konsep Dasar Distosia Kelainan Tenaga Atau His 1) His Hipotonik Kelainan dalam hal bahwa kontraksi uterus lebih aman. b. Keadaan ini dinamakan posisi lintang tetap rendah (deep tranverse arrest). Pada presentasi belakang kepala kadang-kadang kala II mengalami kemacetan dengan kepala janin sudah berada di dasar panggul dan posisi UUK melintang. Tindakan untuk mempercepat jalanya persalinan dilakukan apabila kala II terlalu lama atau ada tanda-tanda bahaya terhadap janin. keadaan ini dinamakan inersia uteri primer atau hypotonic uterine contraction. Kalau timbul setelah berlangsungnya his kuat untuk waktu yang lama hal ini dinamakan dengan inersia uteri sekunder. Apabila ada disproporsi chepalopelvik yang berarti. presentasi serta posisii janin.Penanganan Menghadapi persalinan dengan UUK di belakang sebaiknya dilakuka pengawasan persalinan yang seksama dengan harapan terjadinya persalinan spontan. singkat dan jarang daripada biasa. turunnya kepala janin dalam panggul dan keadaan panggul. harus diperiksa keadaan servik. KU pasien sementara diperbaiki.

kelainannya terletak pada kekuatan his. Penanganan Pada partus presipitatus tidak banyak yang dapat diilakukan karena biasanya bayi sudah lahir tanpa ada seseorang yang menolong. Untuk merangsang his selain dengan pemecahan ketuban bisa diberikan oksitosin. khususnya servik uteri. tonus otot di luar his juga biasa. Batas antara bagian atas dan segmen bagian bawah atau lingkaran retraksi menjadi sangat jelas dan meninggi. vagina dan perineum. His ng terlalu kuat atau terlalu efisien menyebabkan persalinan selessai dalam waktu yang sangat singkat (partus presipitatus): sifat his normal. Sedangkan pada bayi dapat mengalami perdarahan dalam tengkorak karena bagian tersebut mengalami tekanan kuat dalam waktu sangat singkat. Oleh 124 . Kalau 50 tetes tidak dapat berhasil bisa dengan memeberikan dosis lebih tinggi dengan cara pasien harus di awasi dengan ketat dan tidak boleh ditinggalkan. 5 satuan oksitosin dimasukan ke dalam larutan glukosa 5% dan diberikan secara infus IV (dengan kecepatan kira-kira 12 tetes permenit yang perlahan dapat dinaikan sampai kira-kira 50 tetes. Kalau seorang wanita pernah emengalami partus presipitatus kemungkinan besar kejadian ini akan berulang pada persaliann selanjutnya. apabila kepala atau bokong janin sudah masuk ke dalam panggul. 2) His Hipertonik (his terlampau kuat) Walaupun pada golongan koordinate hipertonik uterin contraction bukan merupakan penyebab distosia namun bisa juga merupakan kelaianan his. Lingkaran tersebut dinamakan dengan lingkaran retraksi patologis (lingkaran bandl).dikosongkan. penderita di sarankan untuk berjalan-jalan terlebih dahulu. Oksitosin yang diberikan dengan suntikan IM akan dapat menimbulkan incoordinate uterin action. Bahaya partus presipitatus bagi ibu ialah terjadinya perlukaan luas pada jalan lahir.

tengah dan bawah menyebabkan his tidak efisien dan mengadakan pembukaan. Usaha yang dapat dilakukan ialah mengurangi tonus otot dan mengurangi ketakutan penderita. pethidin. 3) His yang tidak terkoordinasi His disini sifatnya berubah-ubah tonus otot uterus meningkat juga di luar his. Akan tetapi persalinan tidak boleh berlangsung berlarut-larut apalagi kalau ketuban sudah pecah. seperti morphin. Faktor herediter mungkin memegang peranan yang sangat penting dalam kelainan his. His ini disebut sebagai incoordinate hipertonik uterin contraction. Tidak adanya koordinasi antara kontraksi bagian atas. dan kontraksinya tidak berlangsung seperti biasa karena tidak ada sinkronisasi antara kontraksi bagian-bagiannya. Satu sebab yang penting dalam kelalinan his. khususnya inersia uteri adalah bagian bawah janin tidak berhubungan rapat dengan segmen bawah uterus seperti misalnya pada 125 . Dan kalau pembukaan belum lengkap. perlu dipertimbangkan SC. sehingga pengawasan dapat dilakukan dengan baik. Hal ini dapat dilakukan dengan pemberian analgetika.karena itu sebaiknya wanita di rawat sebelum persalinan. Penanganan Kelainan ini hanya dapat diobati secara simtomatis karena belum ada obat yang dapat memperbaiki koordinasi fungsional antara bagianbagian uterus. danepisiotomi dilakukan pada waktu yang tepat untuk menghindari ruptur perineum tingkat III. Pada multipara lebih banyak ditemukan yang bersifat inersia uteri. Etiologi dari kelainan tenaga atau His Kelainan his terutama ditemukan pada primigravida khususnya primigravida tua. Disamping itu tonus otot uterus yang menaik menyebabkan rasa nyeri yang lebih keras dan lama bagi ibu dan dapat pula menyebabkan hipoksia pada janin.

c. stenosis dan tumor (a). Pada persalinan lama pada penderita di biarkan meneran terus. Gangguan dalam pembentukan uterus pada masa embrional misalnya. Stenosis pada vulva (d). lebih sering terdapat kondiloma akuminata. Distosia Kelainan Alat Kandungan (Traktus Genitalis) 1) Vulva Kelainan yang dapat menyebabkan distosia yaitu edema. dapat timbul edema pada vulva. dapat pula mengakibatkan kelainan his. Septum lengkap biasanya 126 . Tumor (f).kelainan letak janin atau pada kelainan CPD. 2) Vagina Stenosis vagina kongenital jarang terjadi lebih sering ditemukan septum vagina yang memisahkan vagina secara lengkap atau tidak lengkap dalam bagian kanan dan bagian kiri. (e). Abses yang pecah pada waktu persalinan dapat meyebabkan infeksi purperalis. Walaupun dapat di atasi dengan melakukan episiotomi yang cukup luas. Peregangan rahim yang berlebihan pada kehamilan ganda atau hidramnion juga dapat merupakan penyebab inersia uteri. Biasanya terjadi sebagai akibat perlukaan dan radang. kista atau abses glandula bartolin. Tetapi pada sebagian kasus penyebab kelainan inersia uterus tidak diketahui. yang meyebabkan ulkus-ulkus dan yang sembuh dengan parut-parut yang dapat menimbulkan kesulitan. (c). biasanya sebagai gejala preeklampsi tetapi dapat pula mempunyai sebab lain misalnya gangguan gizi. Bisa timbul waktu hamil. Edema (b). Tumor dalam bentuk neoplasma jarang ditemukan di vulva. uterus bikornis unikolis.

oleh karena itu persalinan pervaginam tidak dapat dilakukan dan dianjurkan untuk SC. baik untuk koitus maupun untuk lahirnya janin. disini dalam kala I uteri menipis akan tetapi pembukaan tidak terjadi.tidak menimbulkan distosia karena bagian vagina yang satu umumnya cukup lebar. Distosia karena kelainan yang didapat disebabkan karena fibrosis dan infeksi. Kelainan kongenital. Dengan jari dimasukan kedalam lubang itu pembukaan dapat diperlebar dengan mudah dan dalam waktu yang tidak lama pembukaan dapat menjadi lengkap dengan sendirinya. stenosis atau servik tidak berkembang. jaringan parut servik. Diagnosis dibuat dengan menemukan lubang kecil yakni ostium uteri eksternum ditengah-tengah lapisan tipis tersebut. sehingga merupakan lembaran kerjas di bawah kepala janin. Tumor apada vagina dapat merupakan rintangan bagi lahirnya janin pervaginam. Meskipun kontraksi uterus normal. perlu dipertimbangkan apakah persalianan dapat berlangsung pervaginam atau harus diselesaikan dengan SC 3) Uterus/servik a) Servik uteri Kondisi dimana struktur servik abnormal mungkin disebabkan karena kongenital atau didapat. servik tidak membuka dan terasa kaku dan keras. Adanya tumor vagina dapat pula menyebabkan persalinan pervaginam dianggap mengandung terlampau banyak resiko. pembedahan dan radiasi. Konglutination orivisii eksterni ialah keadaan yang jarang didapat. 127 . Tergantung dari jenis dan besarnya tumor.

d. Dalam masa puerpurium mioma uteri dapat mengecil malahan bisa menjadi lebih kecil dari padasebelum hamil. apabila berhubungan dangan adanya mioma uteri terdapat kelainan letak janin c). apabila letak mioma uteri menghalangi lahirnya janin pervaginan b). Besarnya kepala dan tubuh janin dapat diukur dengan menggunakan alat ultrasonik. Distosia Karena Kelainan Letak Janin 1) Bayi besar Yang dinamakan bayi besar adalah bila berat badannya lebih dari 4000gr. jika pengobatan konserfatif tidak berhasil dipertimbangkan histrektomi. SC dilakukan secara SCTP. Diagnosis Pemeriksaan yang teliti adanya DKP (disporposi cepalo pelvik) perlu dilakukan. a). Miomektomi sesudah SC tidak dianjurkan karena bahaya berdarahan banyak dan tertinggalnya luka-luka yang tidak rata pada miometrium yang memudahkan terjadinya infeksi puerpurial. mioma uteri menyebabkan inersia uteri dalam persalinan Apabila mioma uteri merupakan halangan bagi lahirnnya janin pervaginan perlu dilakukan SC. 128 . Akan tetapi kadang-kadang dihubungkan dengan lokasinya perlu dilakukan SC klasik. Profilaksis dianjurkan ajar pemberian oksitosin yang dapat menggangu peredaran darah ke miomata yang kemudian menjadi nekrotik dan mudah terinfeksi. Puerpurium perlu diawasi dengan baik karena kemungkinan bahaya nekrosis selalu ada.b) Uterus Distosia karena mioma uteri dapat terjadi.

Pada palpasi abdomen kepala teraba besar dan dibagian atas pinggir mungkin teraba bokong. Pada keadaan dimana janin telah mati sebelum bahu dilahirkan dapat dilakukan kleidotomi pada salah satu atau kedua klafikula. Pada banyak kasus fetus tidak dapat dilahirkan pervaginam dan SC dibutuhkan. Pada beberapa kasus pembedahan berhasil dengan baik dengan cara insersi katuk jantung dan kateter dari ventrikel ke vena jugularis dan sisi kanan jantung. Penanganan Pada CPD karena janin besat. Untuk mengurangi kemungkinan perlukaan jalan lahir.Prognosis Pada panggul normal janin dengan berat badan kurang dari 4500gr pada umumnya tidak menimbulkan kesukaran persalinan. radiogragik atau denga pemeriksaan vagina. Diagnosis dapat ditetapkan dengan USG. SC perlu dipertimbangkan. Keadaan ini dapat menyebabkan obstruksi persalinan jika tidak didiagnosa dengan segera. Untuk melahirkan bahu hendaknya dilakukan episiotomi mediolateral yang luas. Kesukaran terjadi karena distosia bahu dapat menyebabkan kesukaran kelahiran sehingga bayi dapat meninggal akibat asfiksia. 129 . Tulang kranial lembut. Dengan cara demikian dapat mengurangi cairan sereberal. Bila tidak berhasil digunakan perasat muller. fontanel besar dan sutura lebar. hidung serta mulut janin dibersihkan. 2) Hydrocephalus Kepala sangat besar yang disebabkan karena peningkatan jumlah cairan serebrospinal yang meluas ke otak. kemudian kepala ditarik curam kebawah secara hati-hati dengan kekuatan yang terukur. Selain itu penarikan kepala kebawah terlalu kuat dalam pertolongan distosia bahu berakibat perlukaan pada nervus brachialis dan musculus sterno kleido mastoideus.

1) Insufisiensi aliran darah uterus 2) Insufisiensi aliran darah umbilikus 3) Berkurangnya oksigenasi maternal Derajat dan Lamanya hipoksia. yang terbuka dan tampak masa gelap dan merah. Disalam banyak kasus hal ini banyak menyebabkan kerusakan intrakranial yang menyebabkan cerebral palsi dan kadangkadang terjadi IUFD atau kematian neonatus. 4) Gawat janin Fetal distress disebabkan oleh kekurangan oksigen (hipoksia didalam uterus). biasanya perempuan dan hampir semua mati dalam seminggu pertama kelahiran. Biasanya 50% dari kehamilan karena polihidramnion. 130 . karena tengkorak yang besar ikut meregangkan segmen bawah rahim. Rupture uteri pada hidrosephalus dapat terjadi sebelum pembukaan servik lengkap. Spina bivida sering menyertai anensephalus. Inseden anensephalus kira-kira 1 dalam 1000 kelahiran. bahaya rupture uteri akan mengancam.Prognosis Apabila tidak segera dilakukan pertolongan. 3) Anencephalus Anensephalus adalah kondisi dimana tulang tengkorak tidak ada dan hampir tidak ada perkembangan otak. umur kehamilan dan berat fetus akan mempengaruhi produk kehamilan. Pada waktu lahir bayi mungkin asfiksia dan membutuhkan resusitasi dengan segera. muka tampak saat proses persalinan. yaitu. Mekanisme dimana hipoksia menyebabkan kerusakan otak atau kematian belum diketahui. Fetus mempunyai mata yang besar dan menonjol dan bahu lebar. Hanya 25% bayi yang dapat hidup. tetapi beberapa faktor yang mempengaruhi.

Status sosial ekonomi adalah suatu gambaran kekurangan penghasilan tetapi juga kekurangan pendidikan. dan menyebabkan penurunan aliran darah uterus dimana karbonmonoksida mengurangi transport oksigen. (4) Penyalah gunaan obat terlarang Penyalah gunaan obat terlarang dalam kehamilan berhubungan dengan banyak konplikasi meliputi IUGR. (2) umur maternal Umur ibu yang sangat muda dan tua lebih dari 35 tahun merupakan umur resiko tinggi (3) Merokok Nikotin dapat menyebabkan vasokontriksi. hipoksia dan persalinan preterm yang semuannya meningkatkan resiko kematian perinatal. Angka mortalitas perinatal meningkat. nutrisi. (5) Riwayat obstetrik yang buruk Riwayat abortus sebelumnya.Pembagian fetal distress Fetal distress bisa akut dan kronis. 131 . kesehatan fisik dan psikis. a) Faktor yang mempengaruhi fetal distress kronis: Fetal distress kronis berhubungan dengan faktor sosial yang kompleks: (1) Status sosial ekonomi rendah Hal ini berhubungan dengan peningkatan morbiditas dan mortalitas. persalinan preterm atau lahir mati berhubungan dengan resiko tinggi pada janin dalam kehamilan ini.

132 . perdarahan antepartum yang dapat mengakibatkan pengurangan suplai oksigen ke fetus. post matur. seperti: (a) Hipertensi yang diinduksi kehamilan (b) Hipertensi kronik (c) Diabetes (d) Penyakit ginjal kronis Sedangkan faktor yang menyebabkan penurunan oksigenasi arteri maternal seperti: Penyakit sikle sel Anemia berat. infeksi intra uterin dan inncompatibilitas resus yang meningkatkan resiko hipoksia intra uterin. jika tidak dikontrol dengan baik Infeksi maternal berat Kondisi tersebut berbahaya.(6) Penyakit maternal Kondisi yang meningkatkan resiko fetal distress kronis dapat mempengaruhi sistem sirkulasi maternal dan menyebabkan insufisiensi aliran darah uterus. dimana terjadi asidosis maternal sehingga akan menyebabkan asidosis fetal dan oleh karena itu menyebabkan fetal distress (7) Kondisi plasenta Kondisi tersebut meliputi insufisiensi plasenta. hb 9%/dl atau kurang Penyakit paru-paru Penyakit jantung Epilepsi. Resiko ini meningkat pada kehamilan ganda. (8) Kondisi fetal Malformasi kongenital tertentu.

(4) Depresi pusat sistem pernafasan Depresi sistem pernafasan pada BBL sebagai akibat pemberian analgetuk pada ibu dalam persalinan dan perlukaan pada proses kelahiran menyebabkan hipoksia. (3) Kondisi tali pusat Plasenta terlepas.(9) Faktor resiko intra partum Selama persalinan faktor yang berhubungan dengan peningkatan resiko fetal distress. Tali pusat dapat tertekan pada prolapsus. hipotensi dan hipoksia (f) Partum presepitatus atau partus lama b) Faktor yang mempengaruhi fetal distress akut (1) Kondisi uterus Kontraksi uterus hipertonik yang lama dan kuat adalah abnormal dan uterus dalam keadaan istirahat yang lama dapat mempengaruhi sirkulasi utero plasenta. 133 . (2) Kompresi tali pusat Kompresi tali pusat akan menggangu sirkulasi darah fetus dan dapat mengakibatkan hipoksia. (a) malpresentasi seperti presentasi bokong (b) kelahiran dengan forcep (c) SC (d) Sedatif atau analgetik yang berlebihan (e) Komplikasi anastesi. ketika kontraksi sehingga mengakibatkan hipoksia fetus. terjadi solusio plasenta hal ini berhubungan dengan kelainan fetus. lilitan tali pusat. meliputi.

tonus fetus indeks cairan amnion dan NST 3. Non stress tes (NST) Eksternal kardiotokograf (CTG) Kriteria yang seharusnya diamati meliputi 2 hal atau lebih. Profil biofisikal Pemeriksaan fisik pada fetus menggunakan USG parameter yang digunakan untuk menilai meliputi. gerakan fetus. Dopler Tanda fetal distress dalam persalinan 1. mengalami penurunan sedikitnya 15 denyutan permenit menetap sedikitnya 15 detik dalam 20 menit. yaitu: denjut jantung janin. Deselerasi lebih dini Ketika denyut jantung turun lebih dari 15 bpm pada saat kontraksi deselerasi menggambarkan kontraksi dan biasanya tidak dianggap masala serius. USG untuk menilai pertumbuhan fetus 2. 134 .Deteksi fetus melalui pemeriksaan Antenatal Pemeriksaan digunakan untuk mendeteksi fetus meliputi: 1. hubungan antara peningkatan asidosis fetus dengan dalam dan lamanya deselerasi adalah adanya abnormalitas denyut jantung janin. Denyut jantung a. c. Deselerasi yang berubah-ubah Deselerasi yang berubah-ubah hal ini sangat sulit dijelaskan. Takikardi diatas 160 bpm atau bradikardi dibawah 120 bpm b. gerakan pernafasan fetus. 4. Ini dapat terjadi pada awal atau akhir penurunan denyut jantung dan bentuknya tidak sama.

Deselerasi yang lambat menyebabkan penurunan aliran darah uterus dan pengurangan transver oksigen selama kontraksi.d. Dokter harus menyiapkan contoh darah fetus jika auskultasi mengindikasikan abnormalitas denyut jantung. Manajemen Pada Kala I Peningkatan perfusi plasenta silakukan dengan cara perubahan posisi menjadi posisi miring. Jika pola tersebut terjadi disertai dengan abnormalitas denyut jantung janin harus di pikirkan untuk ancaman yang serius dalam kesejahteraan fetus. Adanya mekonium dalam cairan ketuban berhubungan dengan peningkatan resiko neonatus dan meningkatkan kesakitan dan kematian neonatus. Penurunan tersebut mempengaruhi oksigenasi serebral fetus. Pada kasus tersebut dokter harus mengobserfasi kondisi fetus dengan memonitor 135 . Mekonium Adanya mekonium terjadi kira-kira pada 20% dari semua kelahiran dan aspirasi terjadi 1-3% dari semua bayi hidup yang dilahirkan. Deselerasi lambat Penurunan denyut jantung janin menunjukkan tingkat deselerasi paling rendah tetapi menunjukkan kontraksi padaa tingkat yang paling tinggi. Dalam kasus fetal distress berat harus dilahirkan cara SC. Kecenderungan penyebabnya karena relaksasi spinter anus yang disebabkan oleh karena hipoksia usus yang mengakibatkan aliran darah keorgan vital berkurang. e. Tidak adanya denyut jantung Ini mungkin disebabkan oleh karena hipoksia kronis atau berat dimana sistem syaraf otonom tidak dapat merespon stress f. Mekonium campur air ketuban 2.

Manajemen Kala II Jika detal distres terjadi pada kala II kepala dilindungi dengan melakukan episiotomi. Memeriksa cairan amnion apakah mengandung mekonium. Perawatan resusitasi disiapkan dan dokter anak diharuskan untuk stanby untuk mengatasi kemungkinan bayi mengalami asfiksia. sedangkan pada 136 . Parietale yang terletak paling bawah tertahan oleh simphisis. maka dalam hal ini servik uteri kurang mengalami tekanan kepala. e. Apabila pada panggul sempit pintua atas panggul tidak tertutup dengan sempurna oleh kepala janin. selain itu dokter harus menyiapkan untuk tindakan SC. sedang pada asinklistismus anterior os parietale posterior yang terletak paling bawah tertahan oleh simphisis. Hal ini dapat mengakibatkan inersia uteri serta lambannya pendataran dan pembukaaan servik. Distosia Kelainan Jalan Lahir 1) Kesempitan Pintu Atas Panggul Pintu atas panggul dianggap sempit apabila konjugata vera kurang dari 10 cm.kepala memasuki rongga panggul dengan hiperfleksi.denyut jantung secra terus menerus. Oleh karena pada panggul sempit karena kemungkinan lebih besar bahwa kepala tertahan oleh pintu atas panggul. Pada panggul picak turunya belakang kepala bisa tertahan dengan akibat terjadinya defleksi kepala. ketuban bisa pecah oleh pembukaan kecil dan ada bahaya pula terjadinya prolapsusu funikuli. Kesempitan pada konjugata vera (panggul picak) umumnya lebih menguntungkan daripada kesempitan pada semua ukuran (panggul sempit seluruhnya). Selanjutnya moulage kepala janin dipengaruhi oleh jenis asinklitismus anterior lebih menguntungkan daripada asinklitismus posterior oleh karena pada mekanisme terakhir gerakan os. sedang pada panggul sempit seluruhnya ditemukan rintanagn pada semua ukuran. atau diameter tranversa kurang dari 12 cm.

dan spina iskiadika tidak menonjol ke dalam. apalagi bila diameter sagitalis posterior pendek pula. terdiri atas segitiga depan dan segitiga belakang yang mempunyai dasar yang sama. foramen iskiadikum mayor cukup luas. perlu kita waspadai terhadap kemunkinan kesukaran pada persalinan. Apabila ukuran ini kurang dari 9. Dengan diameter sagitalis poterior yang cukup panjang persalinan pervaginam dapat dilaksankan. Dengan distansia tuberum bersama dengan diameter sagitalis posterior <15 cm. 137 . Pada panggul tengah yang sempit lebih sering ditemukan posisi oksipitalis posterir persisten atau presentasi ekpala dalam posisi lintang tetap (tranverse arrest). ialah distansia interspinarum. diperlukan ruanagan yang lebih besar pada bagian belakang pintu bawah panggul. Agar supaya dalam hal ini kepala janin dapat lahir. dapat diharapkan bahwa panggul tengah tidak akan menyebabkan rintangan bagi lewatnya kepala janin. yakni distansia tuberum.asinklitismus anterior os parietale anterior dapat bergerak lebih leluasa ke belakang. 2) Kesempitan Pintu Tengah Panggul Dengan sakrum melengkung sempurna. maka sudut arkus pubis mengecil pula (<80 0). timbul kemacetan pada kelahiran janinukuran biasa. Apabila ukuran yang terkhir ini lebih kecil daripada biasa. walaupun dengan perlukaan luas pada perineum. dinding-dinding panggul tidak berkonvergensi. 3) Kesempitan Pintu Bawah Panggul Pintu bawah panggil tidak merupakan bidang yang datar tetapi. Ukuran terpenting yang hanya dapat ditetapkan secara pasti dengan pelvimetri rontgenologi.5 cm.

Jika uterus sudah berkontraksi. 5) Jika uterus masih juga belum berkontraksi mulai lagi kompresi bimanual interna setelah anda memberikan injeksi metergin dan sudah mulai IV 6) Jika uterus masih juga belum berkontraksi dalam 5-7 menit.5 L seluruhnya diinfuskan kemudian teruskan dengan laju infus 125 cc/jam. 3) Jika uterus sudam mulai berkontraksi secara perlahan di tarik tangan penolong. bersiaplah untuk melakukan rujukan dengan IV terpasang pada 500 cc/jam hingga tiba di tempat r ujukan atau sebanyak 1. 138 . hidramnion atau janin besar 3) Multiparitas 4) Anastesi yang dalam 5) Anastesi lumbal Penatalaksanaan 1) Bersihkan semua gumpalan darah atau membran yang mungkin berada di dalam mulut uterus atau di dalam uterus 2) Segera mlai melakukan kompresi bimanual interna. minta anggota keluarga melakukan bimanual interna sementara penolong memeberikan metergin 0. lanjutkan memantau ibu secara ketat 4) Jika uterus tidak berkontraksi setelah 5 menit.2 mg IM dan mulai memberikan IV (RL dengan 20 UI oksitosin/500 cc dengan tetesan cepat). Atonia Uteri Uterus gagal berkontraksi dengan baik setelah persalinan Penyebab 1) Partus lama 2) Pembesaran uterus yang berlebihan pada waktu hamil seperti pada kehamilan kembar.2. Persalinan Dengan Penyulit Kala III Dan IV a.

jika belum dilakuak dalam penanganan aktif kala III 4) Jika plasenta belum dilahirkan setelah 30 menit pemberian oksitosin dan uterus terasa berkontraksi. Retensio Plasenta Plasenta atau bagian-bagianya dapat tetap berada di dalam uterus setelah bayi lahir. secret vagina yang berbau). berikan oksitosin 10 Unit IM. Jika perdarahan terus berlangsung. lakukan uji pembekuan darah sederhana. Jika diperlukan. cobalan untukmengeluarkan plasenta secara manual.b. mintalah ibu untuk mengejan. Jika anda dapat merasakan adanya plasenta dalam vagina. berikan antibiotik untuk metritis. 2) Pastikan kandung kemih sudah kosong. Kegagalan terbentuknya pembekuan setelah 7 menit atau adanya bekuan lunak yang dapat pecah dengan mudam menunjukan koagulapati 6) Jika terdapat tanda-tanda infeksi (demam. Penyebab 1) Plasenta belum lepas dari didnding uterus 2) Plasenta sudah lepas tetapi belum dilahirkan (disebabkan karena tidak adanya usaha untuk melahirkan atau karena salah penanganan kala III) 3) Kontraksi uterus kurang kuat untuk melepaskan plasenta 4) Plasenta melekat erat pada dinding uterus oleh sebab vili korealis menembus desidua sampai miometrium-sampai dibawah peritoneum (plasenta akreta-perkreta) Penatalaksanaan 1) Jika plasenta terliahat dalam vagina. keluarkan plasenta tersebut. lakukan katerisasi kandung kemih 3) Jika plasenta belum keluar. lakukan penarikan tali pusat terkendali 5) Jika traksi tali pusat terkendali belum berhasil. 139 .

Pada syok karena emboli air ketuban sering ditemukan gangguan dalam pembekuan darah. Penatalaksanaan a. Perbaikan robekan servik 1) Tindakan a dan antiseptik pada vagina dan servik 2) Berikan dukungan emosional dan penjelasan 3) Pada umumnya tidak diperlukan anastesi. Robekan dapat terjadi bersamaan dengan atonia uteri. Jika robekan luas atau jauh sampai ke atas. Emboli Air Ketuban Emboli air ketuban menimbulkan syok yang sangat mendadak dan biasanya berakhir dengan kematian. Kegagalan terbentuknya pembekuan setelah 7 menit atau adanya bekuan lunak yang dapat pecah dengan mudah menunjukan adanya koagulapati. Dengan mendadak penderita menjadi gelisah. sesak nafas. 4) Asisten menahan fundus 140 .c. d. air ketuban dengan mekonium. Robekan Jalan Lahir Robekan jalan lahir merupakan peyebab kedua tersering dari perdarahan pasca persalinan. rambut lanuago dan vernik kaseosa masuk kedalam sinus-sinus dalam dinding uterus dan dibawa ke paru-paru. Karena his kuat. atau ketamin. Periksalah dengan seksama dan perbaiki robekan pada servik. Perdarahan pasca persalinan dengan uterus yang berkontraksi baik biasanya disebabkan oleh. berikan petidin dan diazepam IV pelan-pelan. lakukan uji pembekuan darah sederhana bila perdarahan terus berlangsung. kejang-kejang dan meninggal kemudian. Emboli air ketuban terjadi pada his yang kuat dengan ketuban yang biasanya sudah pecah. vagina dan perineum. robekan servik atau vagina.

pindahkan bergantian searah jarum jamsehingga semua bagian servik dapat diperiksa. Perbaikan robekan vagina dan perineum Ada 4 tingkat robekan yang dapat terjadi pada persalinan: 1) Robekan tingkat I yang mengenaimukosa vagina dan jaringan ikat 2) Robekan tingkat II mengenai lat-alat di bawahnya 3) Robekan tingkat III mengenai m. e. Korpus uteri yang terbalik sudah masuk kedalam vagina c. tinggalkan 2 klem diantara robekan. Uterus dengan vagina. sfingter ani 4) Robekan tingkat IV mengenai mukosa rektum Umumnya robekan ingkat I dapat sembuh sendiri. sehingga fundus uteri sebelah dalam menonjol ke dalam kavum uteri. Tingkatan inversio uteri menurut perkembangan inversio uteri: a. Kaji ulang indikasi b. Pada bagian yang terdapat robekan. semuanya terbalik. Kaji ulang prinsip dasar perawatan dan pasang infus 141 . mulai dari apeks 7) Jika sulit dicapai dan diikat. Inversio Uteri Pada inversio uteri bagian atas uterus memasuki kavum uteri. apek dapat dicoba di jepit dengan klem ovum atau klem arteri dan dipertahankan 4 jam 8) Jika robekan meluas sampai melewati puncak vagina lakukan laparotomi b. tetapi belum keluar dari ruang tersebut b. Fundus uteri menonjol ke dalam kavum uteri.5) Bibir servik di jepit dengan klem ovum. untuk sebagian besar terletak di luar vagina Penanganan a. 6) Jahit robekan servik dengan cut gut kromik 0 secara jelujur. tidak perlu dijahit.

Siapkan sistem bilas yang sudah disinfeksi. berupa selang 2 m berujung peneyemprot berlubang lebar. lakkan plasenta manual setelah tindakan koreksi c.c.9%/RL) 10 tetes/menit b. Lakukan perawatan pasca bedah jika diberikan koreksi kombinasi abdominal vagina 142 . Jika plasenta masih belum terlepas. Guyur air dengan leluasa agar menekan uterus ke posisi semula. Identifikasi fornik posterior d. Berikan petidin dan diazepam IV dalam semprit berbeda secara perlahan-lahan. berikan infus oksitosin 20 unit dalam 500 ml IV (NaCl 0. Selang di sambung dengan tabung berisis air hangat 3-5 l (atau NaCl atau infus lain) dan pasang setinggi 2 m c. Jika koreksi manual tidak berhasil. Jika inversi sudah diperbaiki. Pegang uterus pada daerah insersi tali pusat dan masukan kembali melalui servik. Perawatan pasca tindakan a. atau anestesia umumjika diperlukan d. Berikan antibiotik profilaksis dosis tunggal c. lakukan koreksi hidrostatik Koreksi Hidrostatik a. Pasang ujung selang douche pada fornik posterior sampai menutup labia sekitar selang denan tangan e. Pasang sarung tangan DTT b. Basuh uterus dengan larutan antiseptik dan tutup dengan kain basah (dengan NaCl hangat) menjelang operasi Pencegahan inversi sebelum tindakan Koreksi Manual a. Gunakan tangan lain untuk memebantu menahan uterus dari dinding abdomen. Pasien dalam posisi trendelenburg-dengan kepala lebih rendah sekitar 50 cm dari perineum b.

jika tidak hal itu perlu diusahakan dengan segera. Penanganan Syok Pemberian cairan intravena melalui infus pada waktu persalinan sebagai tindakan pencegahan untuk menghindari hipovolumia besar manfaatnya. Berikan analgesik jika perlu. Jika perdarahan lebih banyak dari ini.d. inversio uteri f. kemudian karena syok selalu ada 143 . perlukaan dalam persalinan e. Syok Obstetrik Syok pada waktu kehamilan mengakibatkan syok pula pada janin yang berada dalam kandungan. infeksi berat c. f. Jika ada tanda infeksi berikan antibiotika kombinasi sampai pasien bebas demam selama 48 jam e. emboli air ketuban g. perdarahan b. Apakah ada laserasi pada vagina atau servik? Apakah uterus berkontraksi dengan baik? Apakah kandung kencingnya kosong? g. solusio plasenta d. Pertolongan pada penderita syok: pertama-tama kelancaran ventilasi harus dijamin untuk ini perlu ditentukan apakah jalan nafas bebas. Peristiwa-peristiwa yang dalam praktek kebidanan dapat menimbulkan syok adalah: a. peristiwa yang dinamakan supine hypotensive syndrome. Perdarahan Kala IV Perdarahan yang normal setelah kelahiran mungkin hanya akan sebanyak satu pembalut wanita perjam selama enam jam pertama atau seperti darah haid yang banyak. terutama pada penderita yang menunjukkan predisposisi terhadap syok. wanita hamil lanjut menunjukkan hipotensi sewaktu tidur telentang. maka ibu tersebut hendaknya diperiksa lebih sering dan penyebabpenyebab dari perdarahan berat seharusnya diselidiki.

Selama perawatan perlu terus menerus diadakan pengawasan keadaan penderita.His hipotonik : His hilang atau his lemah dimana timbul lagi dalam waktu yang lama setelah timbul his yang adekuat b. Secara berkala diadakan pengukuran nadi. Atonia Uteri Retensio plasenta. dan pemeriksaan laboratorium. kala III dan kala IV Penyulit kala I dan kala II meliputi : Kelainan presentasi dan posisi. Perdarahan yang disebabkan karena uterus tidak mau berkontraksi setelah palsenta lahir (atonia uteri) dan perdarahan karena retensio plasenta. tekanan darah. His Hipertonik : His yang terlampau kuat c. Robekan jalan lahir. Penyulit kala III dan IV meliputi: Penyulit kala III persalinan. a. suhu. pernafasan. Rambu-rambu Jawaban 1. Sebutkan dan jelaskan macam – macam kelainan His ! 2.pengurangan volume darah dalam sirkulasi umum. Syok Obstetri D. Distosia kelainan janin. diberi cairan melalui infus intra vena. diorisis. Emboli air ketuban. Inversio uteri Perdarahan kala IV. Sebutkan dan jelaskan penyebab perdarahan kala IV! E. Tugas/ Latihan 1. dan bila perlu tekanan vena pusat (CVP). Rangkuman Materi Konsep dasar penyulit kala I. Pada syok yang tidak jelas penyebabnya sebaiknya dilakukan pemeriksaan vaginal. Setelah tindakan diatas diusahakan silekasnya menanggulangi peristiwa yang menjadi penyebab syok dengan tindakan yang bersifat medis maupun pembedahan. Dasar – dasar distosia (Kelainan tenaga /his. His tidak terkoordinasi : His sifatnya berubah ubah tonus otot berkontraksi juga diluar his 2. Hasil penilaian pengukuran-pengukuran ini menentukan tindakan selanjutnya C. Distosia kelainan alat kandungan. 144 . Distosia kelainan jalan lahir). Kala II.

Pedoman Mengajar dosen AKBID. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Modul 3. UK. Ilmu Kandungan. dkk.F. Tidak ditebitkan. Ilmu Kebidanan. Pusdiknakes – JHPIEGO . 1998. YBPSP 2. Midwifery. Modul 2. 2001 Varney’s H. Midwifery. 1999 9. YBPSP Hanifa. Modul 4. Sinopsis Obstetri Jilid I. Pedoman Megajar. Jakata YBPSP Pusdiknakes – JHPIEGO. 1999. 145 . 8. 7. 1999 10. Tim pengajar Askeb IV. 4. dosen AKBID. 2001. 6. Syaifudin. dkk. 5. Workshop Kurikulum mata ajar Askeb IV. Jakarta. Pedoman Mengajar dosen AKBID. Daftar Pustaka 1. 12 th Edition 2000 Mochtar R. Pusdiknakes – JHPIEGO . 1999. 1999 11. Jakarta Hanifa. 1997. 3. Jakarta. Buku Panduan Praktis Maternal dan Neonatal. Jones and Bartlett Publisher Mayes. 2006.

Konsep Kebidanan 3. Nama Lengkap b. Purwokerto 010308149 Penata Muda /IIIA Ilmu Kesehatan / DIII Kebidanan D IV Kebidanan 1. Tahun 2006 2. Alamat : : : : Alfi Noviyana.010308149 146 . Februari 2010 Alfi Noviyana. Asuhan Kehamilan 4. Kesehatan Reprodukasi e.ST NIK. Pangkat/Golongan : : : : : : : g. S. Jabatan Fungsional h.PROFIL PENULIS a.ST Yogyakarta. Jabatan Struktural i j k Fakultas/Prodi Pendidikan Hasil penelitian l Mata Kuliah yang pernah diampu Purwokerto. Asuhan Nifas 2. Asuhan Kebidanan IV 6.4 Berkoh. NIK f. Tempat/Tgl Lahir c. Jenis Kelamin d. Komunikasi Konseling Kebidanan 5. Hubungan Pemanfaatan Sumber Belajar Dengan Prestasi Balajar ASKEB II Pada Mahasiswa AKBID Kusuma Husada Surakarta Tahun 2008 Tahun Ajaran 2008/2009 dan 2009/2010 : 1. 13 Nopember 1985 Perempuan Jalan Sunan Kali Jaga I No. S. Studi Deskriptif Yang Menggali Tingkat Pengetahuan Ibu Tentang Imunisasi Wajib Bagi Bayi Di Wilayah Kerja Puskesmas Grabag I Magelang.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful