BAB I PRINSIP DETEKSI DINI IBU DENGAN KELAINAN, KOMPLIKASI, PENYAKIT DALAM KEHAMILAN, PERSALINAN DAN MASA NIFAS

A.

Kompetensi dasar 1. Mampu menjelaskan Prinsip deteksi dini ibu dengan kelainan, komplikasi, penyakit yang lazim terjadi dalam kehamilan,

Pemeriksaan kehamilan dini ( early ANC detection , Kontak dini kehamilan trimester I, Pelayanan ANC berdasarkan kebutuhan individu dan skrining untuk deteksi dini 2. Mampu mendiskripsikan deteksi dini penyulit persalinan dengan memanfaatkan partograf 3. Mampu menguraikan deteksi dini komplikasi masa nifas (2 jam masa nifas, 6 jam masa nifas, 6 hari masa nifas, 6 minggu masa nifas) B. Uraian Materi 1. Deteksi Dini Terhadap Kelainan, Komplikasi Dan Penyakit Yang Lazim Terjadi Pada Ibu Hamil Kehamilan melibatkan perubahan fisik maupun emosional dari ibu serta perubahan sosial dalam keluarga. Pada umumnya kehamilan berkembang normal dan menghasilkan kelahiran bayi sehat cukup bulan melalui jalan lahir, namun kadang-kadang tidak sesuai dengan yang diharapkan. Sulit diketahui sebelumnya bahwa kehamilan akan terjadi masalah, oleh karena itu pelayanan asuhan antenatal merupakan cara penting memonitor dan mendukung kesehatan dan mendeteksi kehamilan ibu. Ibu hamil sebaiknaya dianjurkan mengunjungi bidan atau dokter sedini mungkin semenjak ibu merasa dirinya hamil untuk mendapatkan pelayanan atau asuhan antenatal. Pemeriksaan dan pengawasan terhadap ibu hamil sangat perlu dilakukan secara teratur. Hal ini bertujuan untuk

1

menyiapkan seoptimal mungkin fisik dan mental ibu dan anak selama dalam kehamilan, persalinan dan nifas sehingga didapatkan ibu dan anak yang sehat. Selain itu juga untuk mendeteksi dini adanya kelainan, komplikasi dan penyakit yang biasanya dialami oleh ibu hamil sehingga hal tersebut dapat dicegah ataupun diobati. Dengan demikian maka angka morbiditas dan mortalitas ibu dan bayi dapat berkurang a. Pemeriksaan Kehamilan Dini (Early ANC Detection) Idealnya wanita yang merasa hamil bersedia untuk

memeriksakan diri ketika haidnya terlambat sekurangkurangnya 1 bulan. Dengan demikian, jika terdapat kelainan pada kehamilannya tersebut akan lekas diketahui dan segera dapat diatasi. Oleh karena itu, setiap wanita hamil sebaiknya melakukan kunjungan antenatal sedikitnya 1 kali pada trimester 1 ( sebelum minggu ke 16). Penilaian klinik merupakan proses berkelanjutan yang dimulai pada kontak pertama antar petugas kesehatan dengan ibu hamil secara optimal. Pada kunjungan dini adapun pemeriksaan yang dilakukan untuk mendeteksi komplikasi, penyulit ataupun penyakit pada kehamilan, yaitu : 1) Anamnesa Anamnesa adalah tanya jawab antara penderita dan pemeriksa. Dari anamnesa ini banyak keterangan yang diperoleh guna membantu menegakkan diagnosa dan prognosa kehamilan. a) Anamnesa Sosial ( biodata dan latar belakang sosial b) Anamnesa Kehamilan (haid) c) Anamnesa Medik/ Kesehatan d) Anamnesa Kebidanan/ Obstetri

2

2) Pemeriksaan Umum a) Tinggi badan Pada wanita hamil yang pertama kali memeriksakan perlu diukur tinggi badannya. Seorang wanita hamil yang terlalu pendek, yang tinggi badannya kurang dari 145 cm tergolong resiko tinggi karena kemungkinan besar persalinan berlangsung kurang lancar dengan kemungkinan kesempitan panggul. Perbandingan tinggi dan berat badan memberi gambaran mengenai keadaan gizi. b) Berat badan Pada tiap pemeriksaan wanita hamil baik yang pertama kali atau ulangan, berat badan perlu ditimbang. Kenaikan berat badan yang mendadak dapat merupakan tanda bahaya komplikasi kehamilan yaitu preeklampsi. Dalam trimester I berat badan wanita hamil biasanya belum naik bahkan biasanya menurun karena

kekurangan nafsu makan. Dalam trimester terakhir terutama karena pertumbuhan janin dan uri berat badan naik sehingga pada akhir kehamilan berat badan wanita hamil bertambah kurang lebih 11 kg dibanding sebelum hamil. Pada trimester terakhir berat badan kurang lebih 0.5 kg seminggu, bila penambahan berat badan tiap minggu lebih dari 0.5 kg harus diperhatikan

kemungkinan preeklampsi. c) Tanda-tanda vital Dalam keadaan normal tekanan darah dalam kehamilan trimester terakhir sistolik tidak melebihi 140 mmHg, dan diastolik tidak melebihi 90 mmHg. Bila terdapat

3

Hal ini karena pengaruh estrogen dan progesteron yang merangsang duktus dan alveoli payudara. nafas cepat . Mumu jantung diastolik ditemukan .nafas dangkal .tekanan darah melebihi diatas maka kemungkinan adanya preeklampsi. adanya retraksi. Pemeriksaan ini meliputi seluruh bagian kepala dan leher.pada 90% wanita hamil kerena tekanan daah ibu hamil meningkat secaa mencolok. g) Pemeriksaan abdominal Pemeriksaan abdominal dilakukan dengan palpasi. d) Pemeriksaan kepala dan leher Pemeriksaan ini dilakukan dengan menggunakan pemeriksaan inspeksi. Dari pemeriksaan ini diperoleh mengenai ukuran dan bentuk uterus kesesuaian antara tinggi fundus uteri dengan umur kehamilan. letek janin dan detak jantung janin dan CVAT (costo vetrebral tenderness) 4 . batuk dan dispnea untuk menegakkan diagnosa bonkitis dan pneumonia. f) Pemeriksaan jantung. nafas tidak teatu mengi. paru dan organ dalam tubuh lainnya. Pemeiksaan paru haus mencakup obsevasi sesak nafas. Pemeriksan payudara dengan cara palpasi meliputi bentuk dan ukuran payudara. Jika pada pemeriiksaan mata sklera ikterik dan konjungtiva anemis maka kemungkinan anemia. masa dan pembesaran pembuluh limfe. putting susu menonjol atau tidak. e) Pemeriksaan payudara Pada wanita hamil payudara terlihat besar dan tegang serta sedikit nyeri.

Pada umumnya koitus diperbolehkan pada masa kehamilan jika dilakukan dengan hati hati. Pada akhir kehamilan. Pada pemeriksaan ini vulva. sebaiknya koitus ditunda sampai kehamilan 16 minggu. vagina dan porsio diperiksa dan dilihat inspekulo deteksi tanda-tanda infeksi. Untuk glukosa urin berhubungan dengan diabetes. Pemeriksan ini ditujukan untuk memeriksa golongan darah. Pemeriksaan urine pada awal kehamilan bertujuan untuk mengetahui adanya kehamilan. Pada waktu itu plasenta telah terbentuk serta kemungkinan abortus menjadi lebih kecil. hal ini akan menjadi tanda serius dari preeklampsi. i) Pemeriksaan ekstremitas atas dan bawah Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui adanya varises. Selain itu pemeriksaan urin juga bertujuan untuk mengetahui adanya protein urine dan glukosa urine. varices. menurunnya keinginan untuk melakukan hubungan seksual sangat wajar. Apabila dalam anamnesis ada riwayat abortus sebelum kehamilan yang sekarang. b. Pada saat hamil jika dihubungkan dengan hipertensi dan oedem. b. 5 . protein urine. Hb. cairan.h) Pemeriksan genetalia Untuk memeriksa genetalia biasanya dengan pemeriksaan ginekologi. jika kepala sudah masuk panggul koitus sebaiknya dihentikan karena dapat menimbulkan perasaan sakit dan perdarahan. Pemeriksaan laboratorium Test laboratorium perlu dilakukan pada ibu hamil. Protein dalam urine merupakan hasil kontaminasi dair vagina atau dari infeksi saluran kencing atau penyakit ginjal. Kontak Dini Kehamilan Trimester I Pada trimester I.hemorid. oedema dan reflek patella. dan glukosa urine.

urin. dan sebagainya. dan kondisi janin setiap minggunya. Pelayanan ANC berdasarkan kebutuhan individu. pH darah janin. Pelayanan ANC yang diberikan petugas kesehatan kepada setiap ibu hamil berbeda – beda tergantung dari kebutuhan dan kondisi dari setiap individunya. amnioskopi. Misalnya persetujuan ANC yang diberikan terhadap ibu hamil dengan hipertensi tentunya akan berbeda dengan pelayanan yang diberikan kepada ibu hamil dengan varises. ukuran biparietal (USG). Penentuan kadar estriol. Pengakhiran kehamilan baik yang muda maupun yang sudah cukup bulan harus dipikirkan bila ada tanda – tanda hipertensi ganas (tekanan darah 200/120 atau pre-eklamsi berat). disamping pemeriksaan biasa. Pengawasan terhadap janin harus lebih teliti. Pada ibu hamil dengan hipertensi sebaiknya dilakukan pemantauan tekanan darah. Pada pola nutrisi sebaiknya ibu dianjurkan untuk diet tinggi protein rendah hidrat arang. dan rendah garam. apakah ada ancaman terhadap jiwa ibu. Hal ini bertujuan untuk mencegah pertambahan berat badan yang agresif. Anjurkan kepada ibu untuk mentaati pemeriksaan antenatal yang teratur dan jika perlu dikonsultasikan kepada ahli. dapat dilakukan pemeriksaan monitor janin lainnya seperti elektrokardiografi fetal. 6 . rendah lemak. Apalagi bila janin telah meninggal dalam kandungan pengakhiran kehamilan ini sebaikanya dirundingkan antar disiplin : dengan ahli penykit dalam . Selain itu anjurkan ibu pula untuk cukup istirahat menjauhi emosi dan jangan bekerja terlalu berat.c.

dan Varemoid. Pemeriksaaan USG saat ini dipandang sebagai metode pemeriksaan yang aman.Sedangkan pada ibu hamil dengan varises pelayanan ANC yang diberikan antara lain : 1) Anjuran ibu untuk jangan berdiri atau duduk terlalu lama dan jangan memakai ikat pinggang terlalu kencang. 3) Anjurkan ibu untuk memakai kaos kaki atau pembalut tungkai elastis. d. tergantung pada usia kehamilan. 7 . Venoruton. ada tidaknya gangguan kehamiulan (ruptura. maka kemungkinan kehamilan ektopik. 4) Dapat diberikan obat – obatan : Venosan. 2) Anjurkan kepada ibu supaya jalan – jalan dan senam hamil untuk memperlancar peredaran darah. Jika dihubungkan dengan kadar HCG pada saat itu kadarnya sudah mencapai 6000-6500 mlU/ ml. USG merupakan suatu media diagnostik dengan menggunakan gelombang ultrasonik untuk mempelajari struktur jaringan berdasarkan gambaran ecko dari gelombang ultrasonik. Glyvenol. Skrining untuk deteksi dini. Diagnosis pasti kehamilan ektopik secara USG hanya bisa ditegakkan jika terlihat kantong gestasi berisi janin hidup yang letaknya diluar kavum uteri. abortus) serta banyak dan lamanya perdarahan intra abdomen. Pemeriksaan USG pada kehamilan normal usia 5 minggu struktur kantong gestasi intrauterin dapat dideteksi dimana diameternya sudah mencapai 5-10 mm. Gambaran USG kehamilan ektopik sangat bervariasi. Dari kenyataan ini bisa juga diartikan bahwa kadar HCG yang lebih dari 6500 mlU/ ml tidak dijumpai adanya kantong gestasi intrauterin.

Jika tidak ada tanda-tanda kehidupan seperti yang telah disebutkkan maka kemungkinan terjadi miss abortion. Oleh karena itu pada saat memberikan asuhan kepada ibu yang sedang bersalin. Struktur embrio dapat dilihat lebih jelas lagi. Sering kali terlihat kuning telur dalam ( yolk salk ) berupa struktur vasikuler berdiameter kira-kira 5 mm yang letaknya diluar selaput amnion. 8 . penolong harus waspada terhadap masalah yang mungkin terjadi. Persalinan tidak selalu berjalan dengan normal. Salah satu alata yang dapat digunakan untuk membantu memantau kemajuan persalinan dan informasi untuk membuat keputusan klinik adalah partograf. Struiuktur kepala sudah dapat dibedakan dari badan. Panjang embrio mencapai 10 mm dan menjadi lebih mudah dilihat. Jika dijumpai lebih dari 1 embrioyang menunjukkan tanda-tanda kehidupan maka kemungkinan kehamilan multiple. Pada kehamilan 8 minggu kantong gestasi telah berdiameter 30 mm. Jika tidak dijumpai adanya struktur embrio dan kantong kuning telur maka kemungkinan kehamilan anembrionik. 2. Deteksi Dini Penyulit Persalinan . Selain denyut jantuing mungkin juga dapat dideteksi adanya gerakan embrio yang dapat dirangsang dengan melakukan perkusi pada dinding perut.Pada kehamilan 7 minggu diameter kantong gestasi telah mencapai 25 mm.

1. tanggal dan waktu dirawat.Gambar. Adapun partograf mengintruksikan : 1. gravida para dan abortus. tetapi harus waspada bila DJJ dibawah 120atau diatas 160. 1 Partogaf Temuan-temuan dari hasil pengamatan. nama. nomor RM. DJJ (Detak Jantung Janin) DJJ dicatat setiap 30 sekali (lebih sering jika ada kegawatdaruratan). pemeriksaan dan asuhan persalinan kala I dapat dicatat pada partograf. umur. Kisaran normal DJJ terpapar pada partograf diantara garis tebal angka 180 – 100. 9 . Kesehatan dan kenyamanan janin a. Informasi tentang ibu Melengkapi bagian awal ( atas ) partograf secara teliti pada saat mulai asuhan persalinan meliputi. waktu pecahnya ketuban 2.

D :air ketunan sudah pecah dan bercampur darah. Mekonium dalam cairan ketuban tidak selalu menunjukkan adanya gawat janin apabila apabila tidak nmpak tanda gawat janin. kolom dan lajur kedua pada partograf adalah untuk 10 . sutura dengan mudah dipalpasi b) c) 1 : tulang – tulang kepala janin hanya saling bersentuhan 2 : tulang –tulang kepalajanin saling tumpang tindih. segara rujuk ibu ketempat yang memiliki kemampuan penatalaksanaan gawatdarurat obstetri dan bayi baru lahir. Adapun hasil temuan mengenai ketuban : U : Ketuban utuh ( belum pecah ) J : ketuban sudah pecah dan ai ketuban jernih. tapi masih dapat dipisahkan d) 3 : tulang – tulang kepala janin tumpang tindih dan tidak dapat dipisahkan. Ketidak kemampuan akomodasi akan benar – benar terjadi jika tulang kepala yang bisa menyusup tidak mampu dipisahkan. M :ketuban sudah pecah dan air ketuban bercampur meconium.b. d. Tulang kepala yang sampai menyusup atau tumpang tindih menunjukkan kemungkinan adanya disproporsi tulang panggung ( CPD ). Kemajuan Persalinan Penilaian kemajuan persalinan dilakukan pemeriksaan setiap 4 jam sekali. Lambang – lambang dalam mollase : a) 0 : tulang – tulang kepala janin terpisah. K : ketuban sudah pecah dan air ketuban tidak ada (kering). Warna dan adanya air ketuban Penilaian air ketuban serta warnanya dilakukan setiap kali periksa dalam vagina dan jika selaput ketuban pecah. c. Molase ( penyusupan kepala janin ) Penyusupan adalah indikator penting tentang seberapa jauh bayi dapat menyesuaikan diridengan bagian atas keras ibu. Tetapi jika terdapat mekonium kental.

Selain nadi. Kemajuan persalinan dilihat dari pembukaan servik dan penurunan bagian terbawah janin. atau dianggap adanya infeksi ) setiap 2 jam. Kontraksi uterus Kontraksi uterus dicatat setiap 30 menit dengan melakukan palpasi. Kemajuan persalinan dikatakan cukup baik jika kontraksi teratur dan progresif dengan peningkatan frekuaensi dan durasi. Jika pembukaan servik telah melampaui dan berda disebelah kanan garis bertindak maka perlu dilakukan tindakan menyelesaikan persalinan. Pastikan hidrasi yang cukup melalui oral atau IV dan berikan analgesik secukupnya nilai dan catat tekanan darah ibu setiap 4 jam selama fase aktif persalinan. e. 3. Tetapi jika kontraksinya tidak teratur dan tidak sering setelah fase laten dapat menyebabkan persalinan lama. Nilai dan catat suhu ibu ) lebih sering jika meningkat. protein dan 11 . tekanan darah dan suhu tubuh kenyamanan dan kesehatan tubuh aseton ibu juga meliputi volume urine. mungkin dia dalam keadaan dehidrasi atau kesakitan. atau innersia uteri. Jika denyut nadi ibu meningkat. Kesehatan dan kenyamanan ibu Meliputi nadi. tekanan darah dan temperatur tubuh nilai dan catat nadi ibu setiap 30 menit selama fase aktif persalinan. servik kaku. Untuk menghitung banyaknya kontraksi dalam 10 menit dan lamanya tiap-tiap kontraksi dalam hitungan detik. Jika pembukaan servik mengarah kesebelah kanan gari waspada (pembukaan kurang dari 1 cm per jam) maka harus dipertimbangkan penyulit misalnya kala aktif memanjang. Jika tekanan darah ibu menurun curigai adanya perdarahan.pencatatan kemajuan persalinan.

Setiap tahap masa nifas bidan pelu menilai status ibu. segera berikan dextros. diantaanya: 1. b. panas. takikardi dan malaise. Infeksi masa nifas masih merupakan penyebab tertinggi AKI. 3. 2. Beberapa bakteri dapat menyebabkan infeksi setelah persalianan. Wanita yang baru melahirkan sering mengeluh sakit kepala hebat atau penglihatan kabur. Asuhan masa nifas diperlukan karena pada periode ini merupakan masa kritis bagi ibu dan bayinya. Masa 2 jam dan 6 jam nifas. Infeksi alat genital merupakan komplikasi masa nifas. mendeteksi menangani masalah-masalah yang terjadi karena ibu nifas rentan terjadi penyulit dan komplikasi. Disertai pembengkakan di wajah atau ekstremitas c. mencegah. Deteksi Dini Pada Masa Nifas Masa nifas dimulai setelah plasenta lahir sampai 6 minggu beikutnya. Jika terdapat aseton dalam urin ibu dicurigai masukan nutrisi yang kurang. Payudara yang berubah menjadi merah. Infeksi yang meluas ke saluran urinary payudara. Masa 6 hari – 6 minggu nifas a. Gejala umum infeksi dapat dilihat dari temperature atau suhu. kemerahan. perdarahan 350500cc per menit waspadai perdarahan ibu post partum karen atonia uteri. Apabila uterus lembek dan tidak berkontraksi. Diperkirakan 60% kematian ibu terjadi akibat kejadian setelah persalinan dan 50% kematian masa nifas terjadi 24 jam pertama. Sedangkan gejala lokal dapat berupa uterus lembek. pembengkakan.Ukur dan catat jumlah produksi urin ibu sedikitnya 2 jam (setiap kali ibu berkemih ) lakukan pemeriksaan adanya aseton atau protein dalam urine setiap ibu berkemih. dan rasa nyeri atau adanya disuria. dan terasa sakit 12 .

Sehingga alat pencernaan perlu istirahat guna memulihkan keadaanya kembali.Payudara bengkak yang tidak disusu secara adekuat dapat menyebabkan payudara menjadi merah. f. tetapi sedikit atau banyak pasti dipengaruhi proses persalinannya tersebut. dan pembengkakan dikaki. Dalam persalinan lambung dan alat pencernaan tidak langsung turut mengadakan proses persalianan. nafsu makan pun akan terganggu. sehingga ibu tidak ingin makan sampai kehilangan itu hilang. Sesudah anak lahir ibu akan merasa lelah mungkin juga lemas karena kehabisan tenaga. Pada masa kehamilan deteksi dini dilaksanakan pemeriksaan kehamilan dini ( early ANC detection ) secara lengkap meliputi pengkajian psikososial dan pemeriksaan fisik lengkap. Pada minggu-minggu awal setelah persalinansampai kurang lebih 1 tahun ibu post partum cenderung akan mengalami perasaan-perasaan yang tidak pada umumnya. Timbul rasa nyeri seperti terbakar. tidak mampu mengasuh dirinya sendiri dan bayinya. lunak. akhirnya terjadi mastitis. persalinan dan masa nifas. dapat terbentuk thrombus sementara pada venavena manapun di pelvis yang mengalami dilatasi. 13 . Tetapi biasanya disebabkan adanya kelelahan yang amat berat. merah. terasa sakit. Putting lecet akan memudahkan masuknya kuman dan terjadinya payudara bengkak d. Selama masa nifas.perlu waspa apabila disertai . seperti merasa sedih. e. penyakit yang lazim terjadi dalam kehamilan. panas. Oleh karena itu tidak benar bila ibu diberikan makanan sebanyakbanyaknya walaupun ibu menginginkannya. komplikasi.waspadai bila berlanjut pada depresi post partum. C. Ringkasan Materi Penting bagi bidan untuk mengetahui prinsip deteksi dini ibu dengan kelainan.nyeri tekan maka mengarah pada gejala tromboplebitis. rasa sakit.

Syaifudin. 3.2006. Skrening dini pada kehamilan dengan pemanfaatan USG. Pada masa nifas 2 jam dan 6 jam post partum deteksi dini komplikasi dan penyakit di fokuskan untuk. dalam pelayanan ANC di dasarkan kebutuhan individu sehingga kompliksai dan penyakit segera dapat dideteksi. Jakarta. 5. YBPSP Pusdiknakes – JHPIEGO. pada 6 hari post partum dan 6 minggu post partum. Jakarta. Pedoman Mengajar dosen AKBID. Ilmu Kebidanan. Tim pengajar Askeb IV. Daftar Pustaka 1. 6. Guna mendeteksi komplikasi persalinan bidan akan dibantu dengan partograf dan kelainan serta penyakit pada masa nifas dideteksi pada 2 jam post partum. UK. D. YBPSP 2. 2001 Varney’s H. Workshop kurikulum mata ajar Askeb IV. air ketuban dan molase.. Jakarta Hanifa. F. 6 jam post partum . Buku Panduan Praktis Maternal dan Neonatal. E. 2. dkk. 1997. Kesejahteraan dan kenyamanan janin meliputi DJJ. Penggunakan partograf dapat membantu bidan dalam mendeteksi komplikasi persalinan kala I meliputi. pembukaan dan penurunan kepala serta kesejahteraan ibu meliputi tensi dan nadi dll. Jones and Bartlett Publisher Mochtar R. 2001. 1998. Perdarahan karena atonia uteri.. 1999. Sinopsis Obstetri Jilid I. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. 1999 7. Tugas/ Latihan 1. Modul 2.. Rambu-rambu jawaban soal 1. Midwifery.Mewaspadai kontak dini kehamilan trimester I. Tidak diterbitkan 14 . kemajuan persalinan meliputi kontraksi.. 4. 2.

Perlu diperhatikan dan dilindungi janin dari pengaruh sinar X. karena dirawat atau disusui ibunya. berikan penjelasan dan pendidikan 15 . Pada penderita yang dicurigai menderita TBC Paru sebaiknya dilakukan pemeriksaan tuberkulosa tes kulit dengan PPD (puirified protein derivate). Pada janin dengan ibu TBC Paru jarang dijumpai TBC congenital. Uraian Materi Penyakit yang Menyertai Kehamilan dan Persalinan a. nafsu makan berkurang. 1. PERSALINAN DAN NIFAS A. dan sakit di dada.BAB II PENYAKIT YANG MENYERTAI IBU DALAM MASA KEHAMILAN. Keluhan yang sering ditemukan adalah batuk-batuk yang lama. janin baru tertular penyakit setelah lahir. Pada pemeriksaan fisik mungkin didapatkan adanya ronkhi basal. Kompetensi Dasar 1. BB menurun. 1) Penatalaksanaan : Penyakit ini akan sembuh dengan baik bila pengobatan yang diberikan dipatuhi oleh penderita. Penyakit ini mungkin bentuknya aktif atau kronik. Menguraikan penyakit yang menyertai kehamilan. dan mungkin pula tertutup atau terbuka. persalinan dan nifas B. bila hasil positif dilanjutkan dengan pemeriksaan foto dada. pada penderita TBC Paru aktif perlu dilakukan pemeriksaan sputum BTA untuk membuat diagnosis secara pasti sekaligus untuk tes kepekaan / uji sensitivitas. Menjelaskan infeksi yang menyertai kehamilan. Tuberkulosis Paru Kehamilan tidak banyak memberikan pengaruh terhadap cepatnya perjalanan penyakit ini. kadang-kadang ada batuk darah. suara caverne atau pleural effusion. persalinan dan nifas 2. banyak penderita tidak mengeluh sama sekali. badan terasa lemah.

Ajarkan untuk menutup mulut dan hidungnya bila batuk. akan tetapi efek samping dalam kehamilan sangat sedikit dan pada janin belum ada.kepada pasien bahwa penyakitnya bersifat kronik sehingga diperlukan pengobatan yang lama dan teratur. jika masih positif perlu diulang tes kepekaan kuman terhadap obat. Sedangkan pada yang aktif dianjurkan untuk menggunakan dua macam obat atau lebih untuk mencegah timbulnya resistensi kuman. Etambutol 15-20 mg/kg/hari. mual dan muntah. Pemeriksaan sputum harus dilakukan setelah 1-2 bulan pengobatan. efektifitasnya tinggi dan harganya lebih murah. Obat ini mungkin menimbulkan komplikasi pada hati sehingga timbul gejala-gejala hepatitis berupa nafsu makan berkurang. jangan digunakan dalam kehamilan trimester I. kecuali streptomisin yang bersifat ototoksik bagi janin dan harus diganti dengan etambutol. Pengaruh obat ini pada janin dapat menyebabkan tuli bawaan (ototoksik). 16 . Obat ini harus hati-hati digunakan dalam kehamilan. Sebagian besar obat anti TBC aman untuk wanita hamil. Isoniazid (INH) 300 mg/hari. Rifampisin 600mg/hari. (b). Obat ini dapat menimbulkan komplikasi retrobulber neuritis. Disamping itu obat ini juga kurang menyenangkan pada penderita karena harus disuntikan setiap hari. bersin dan tertawa. pasien hamil dengan TBC Paru yang tidak aktif tidak perlu mendapat pengobatan. 2) Obat-obatan yang dapat digunakan (a). bila pasien sudah sembuh lakukan persalinan secar biasa. (c). dan isoniazid (INH) selalu diikutkan karena paling aman untuk kehamilan. Streptomycin 1gr/hari. Oleh karena itu –perlu diperiksa faal hati sewaktu-waktu dan bila ada perubahan untuk sementara obat harus segera dihentikan. (d). Obat ini baik sekali untuk pengobatan TBC Paru tetapi memberikan efek teratogenik pada binatang poercobaan sehingga sebaiknya tidak diberikan pada trimester I kehamilan.

Kandung kemih akan berpindah 17 . sampai ibunya tidak memperlihatkan tanda-tanda proses aktif lagi setelah dibuktikan dengan pemeriksaan sputum sebanyak 3 kali yang selalu memperlihatkan hasil negatif. Semua obat anti TBC sesuai untuk laktasi sehingga pemberian laktasi dapat dengan aman dan normal. dan berkurangnya tonus otot-otot saluran kemih karena pengaruh kehamilan.Pasien TBC aktif harus ditempatkan dalam kamar bersalin terpisah. Penderita yang tidak mungkin pulang harus dirawat di ruang isolasi. sebagian besar ahli menganjurkan pemisahan dari ibu jika ibu dicurigai menderita TBC aktif. melekuk dan kadang berpindah letak ke lateral dan akan kembali normal 8-12 minggu setelah melahirkan. b. Ginjal akan memanjang kurang lebih 1 cm dan kembali normal setelah melahirkan. namun bayi harus diberi suntikan mantoux. kemudian dapat dipulangkan langsung. Selain itu juga terjadi hiperplasia dan hipertrofi otot dinding ureter dan kaliks. Ureter juga mengalami pemanjangan. Setelah persalinan pasien dirawat di ruang observasi 68 jam. Akibat pembesaran uterus hiperemi organ-organ pelvis dan pengaruh hormonal terjadi perubahan pada kendung kemih yang dimulai pada kehamilan 4 bulan. mendapat profilaksis INH dan imunisasi BCG. Perubahan anatomi terdapat peningkatan pembuluh darah dan ruangan interstisial pada ginjal. Pasien diberi obat uterotonika dan obat TBC tetap harus diteruskan. persalinan dibantu Ekstraksi Vacum atau Forcep. Usahakan pasien tidak meneran. Pasien TBC yang menyusui harus mendapat regimen pengobatan yang penuh. berikan masker untuk menutupi mulut dan hidung agar kuman tidak menyebar. karena bayi cukup rentan terhadap penyakit ini. Ginjal Dalam kehamilan terdapat perubahan-perubahan fungsional dan anatomic ginjal dan saluran kemih yang sering menimbulkan gejala-gejala dan kelainan fisik dan hasil pemeriksaan laboratorium.

sehingga jantung harus bekerja lebih berat. Kapasitas kandung kemih meningkat sampai 1 liter karena efek relaksasi dari hormon progesterone. diatas nilai normal wanita tidak hamil. gabungan antara insufisiensi aorta dan stenosis aorta. riwayat decompensasi cordis. 2) Faktor Predisposisi Peningkatan usia pasien dengan penyakit jantung hipertensi dan superimposed preeklamsi atau eklamsi. normal kreatinin serum adalah 0. Perubahan-perubahan itu terutama disebabkan karena : 18 . insufisiensi aorta. aritmia jantung atau hipertrofi ventrikel kiri. Pembuluh-pembuluh di daerah mukosa akan membengkak dan melebar. Akibatnya akan terjadi penurunan kadar kreatinin serum dan urin nitrogen darah. anemia. gabungan stenosis mitral dengan insufisiensi mitral. 3) Patofisiologi Keperluan janin yang sedang bertumbuh akan oksigen dan zat-zat makanan bertambah dalam berlangsungnya kehamilan. Bentuk kelainan katup yang sering dijumpai adalah stenosis mitral. Jantung 1) Etiologi Sebagian besar disebabkan demam reumatik.lebih anterior dan superior. Sejak kehamilan trimester II GFR akan meningkat 30-50 %. penyakit katupulmonal dan trikuspidal. Karena itu dalam kehamilan selalu terjadi perubahan dalam system kardiovaskuler yang biasanya masih dalam batas-batas fisiologik. Untuk itu banyaknya darah yang beredar bertambah.7 mg/100 mll dan urea nitrogen darah 8-12 mg/100 mll.5-0. Otot kandung kemih mengalami hipertrofi akibat pengaruh hormon estrogen. yang harus dipenuhi melalui darah ibu. insufisiensi mitral. stenosis aorta. Perubahan Fungsi Segera sesudah konsepsi. terjadi peningkatan aliran plasma (Renal Plasma flow) dan tingkat filtrasi gomerolus (Gomerolus Filtration Rate). c.

Namun gejala dan tanda ini dapat pula terjadi pada wanita hamil normal. Setiap kontraksi uterus meningkatkan jumlah darah ke dalam sirkulasi sistemik sebesar 15 . dan ke depan sehingga pembuluhpembuluh darah besar dekat jantung mengalami lekukan dan putaran. 4-5 hari seetelah peralinan. nafas terengah-engah.20% dan ketika meneran pada partus kala II. dan kongesti paru adalah tanda dan gejala gagal jantung kiri. Biasanya terdapat riwayat penyakit jantung dari anamnesis atau dalam rekam medis. Terjadi penurunan resistensi perifer dan emboli pulmonal dari thrombus iliofemoral. Setelah melahirkan bayi dan plasenta.(a). dan peningkatan tekanan vena jugularis adalah tanda dan gejala gagal jantung kanan. (c). 4) Manifestasi Klinis Mudah lelah. Uterus gravidus yang makin lama makin besar mendorong diafragma ke atas. 19 . saat arus balik vena dihambat kembali ke jantung. dimulai sejak umur kehamilan 10 minggu dan puncaknya pada UK 32-36 minggu (b). Perlu diawasi saat-saat berbahaya bagi penderita penyakit jantung yang hamil yaitu: (a). Terjadi perubahan hemodinamik. edema tungkai bawah. Saat persalinan. Hidrenia (Hipervolemia). Antara minggu ke 12 dan 32. saat puncak perubahan dan kebutuhan jantung maksimum (b). ke kiri. hepato megali. Peningkatan berat badan. terutama minggu ke 28 dan 32. ortopnea. (d). Hilangnya pengaruh obstruksi uterus yang hamil menyebabkan masuknya darah secara tiba-tiba dari ekstremitas bawah dan sirkulasi uteroplasenta ke sirkulasi sistemik.

katup. Bising diastolic. infark. tanda penyakit pericardium. presistolik. cepat dan terpercaya untuk mengetahui kelainan fungsi dan anatomi dari bilik. namun jika memang diperlukan dapat dilakukan dengan memberi perlindung diabdomen dan pelvis. Meteode yang aman. Bisa ditemukan tanda-tanda aritmia. Bising sistolik yang nyaring. 6) Diagnosis Burwell dan Metcalfe mengajukan 4 kriteria. kardiomegali. iskemia. Pembesaran jantung yang jelas (c). terutama bila disertai thrill (d). Ekokardigrafi. Pemeriksaan Radiologi dihindari dalam kehamilan. Bila terdapat gejala decompensasi jantung pasien harus di golongkan satu kelas lebih tinggi dan segera dirawat Klasifikasi penyakit jantung dalam kehamilan (a).5) Pemeriksaan Penunjang Selain pemeriksaan laboratorium rutin juga dilakukan pemeriksaan : (a). Kelas II Sedikit pembatasan kegiatan fisik Saat istirahat tidak ada keluhan 20 . Kelas I • • • • Tanpa pembatasan kegiatan fisik Tanpa gejala penyakit jantung pada kegiatan biasa (b). Diagnosis ditegakkan bila ada satu dari kriteria : (a). dan peri kardium (c). (b). atau bising jantung terus menerus (b). Arimia berat Pada wanita hamil yang tidak menunjukan salah satu gejala tersebut jarang menderita penyakit jantung. EKG untuk mengetahui kelainan irama dan gangguan konduksi.

Secara garis besar penatalksanaan mencakup mengurangi beban kerja jantung dengan tirah baring. Kedua kelas ini dapat meneruskan kehamilan sampai cukup bulan dan melahirkan pervaginam. APGAR score rendah. Pasien harus tidur malam cukup 8-10 jam. 7) Penatalaksanaan Sebaiknya dilakukan dalam kerjasama dengan ahli penyakit dalam atau ahli jantung. hipoksia. Kelas III • • • Banyak pembatasan dalam kegiatan fisik Saat istirahat tidak ada keluhan Pada aktifitas fisik ringan sudah menimbulkan gejala-gejala insufisiensi jantung (d). abortus. Kelas I Tidak memerlukan pengobatan tambahan (b). dan menurunkan after load dengan vasodilator. menurunkan preload dengan deuretik. istirahat baring minimal 21 . namun harus diawasi dengan ketat. terutama pada UK 28-32 minggu. meningkatkan kontraktilitas jantung dengan digitalis. pertumbuhan janin terhambat. Kelas II Umumnya tidak memerlukan pengobatan tambahan. Pada janin dapat terjadi : prematuritas. edema paru. Pasien dirawat bila keadaan memburuk. Kelas IV • Tidak mampu melakukan aktivitas fisik apapun Komplikasi Pada ibu dapat terjadi : gagal jantung kongestif. gawat janin. sesak nafas atau angina pectoris (c).• Pada kegiatan fisik biasa timbul gejala isufisiensi jantung seperti: kelelahan. BBLR. kematian. Penatalaksanaan dilakukan berdasarkan klasifikasinya yaitu : (a). jantung berdebar (palpitasi cordis). hanya harus menghindari aktifitas yang berlebihan.

Bila berlangsung 20 menit dan ibu tidak dapat dilarang meneran akhiri dengan ekstraksi cunam atau vacum dengan segera Tidak diperbolehkan memaki ergometrin karena kontraksi uterus yang bersifat tonik akan menyebabkan pengembalian darah ke sirkulasi sistemik dala jumlah besar. Pengawasan kala I setiap 10-15 menit dan kala II setiap 10 menit. Lakukan persalinan pervaginam kecuali terdapat kontra indikasi obstetric. bila fisik memungkinkan pasien dapat menusui. morfin (1015 mg). Selain itu dapat diberi oksigen. mobilisasi bertahap dan pencegahan infeksi. Rawat pasien di RS sejak 1 minggun sebelum waktu kelahiran. Bila terjadi gagal jantung mutlak harus dirawat dan berbaring 22 . Pada kala II dapat spontan bila tidak ada gagal jantung. Metode anastesi terpilih adalah epidural Kala persalinan biasanya tidak berbahaya. berikan digitalis berupa suntikan sedilanid IV dengan dosis awal 0. dan diuretic. Jika kehamilan dipertahankan pasien harus terus berbaring selama hamil dan nifas. Lakukan pengawasan dengan ketat. Kelas IV Harus dirawat di RS Kedua kelas ini tidak boleh hamil karena resiko terlalu berat. dapat diulang 1-2 kali dengan selang 1-2 jam. rendah garam dan membatasi kegiatan. Lakukan ANC dua minggu sekali dan seminggu sekali setelah 36 minggu. membatasi masuknya cairan (75 mll/jam) diet tinggi protein. takipnea. Bila terjadi takikardi. (c). Rawat pasien sampai hari ke 14. sesak nafas (ancaman gagal jantung).8 mg. Pertimbangkan abortus terapeutik pada kehamilan kurang dari 12 minggu. Kelas III Dirawat di RS selam hamil terutama pada UK 28 minggu dapat diberikan diuretic (d).setengah jam setelah makan.

Prognosis hasil konsepsi lebih buruk akibat dismaturitas dan gawat janin waktu persalinan.terus sampai anak lahir. Umumnya persalinan pervaginam lebih aman namun kala II harus diakhiri dengan cunam atau vacuum. 8) Prognosis Prognosis tergantung klasifikasi. penyulit lain yang tidak berasal dari jantung. digitalis. awasi dengan ketat. Definisi ini mencakup pasien yang sudah mengidap DM (tetapi belum terdeteksi) yang baru diketahui saat kehamilan ini dan yang benar-benar menderita DM akibat hamil Dalam kehamilan terjadi perubahan metabolisme endokrin dan karbohidrat yang menunjang pemasokan makanan bagi janin serta persiapan untuk menyusui. Kelainan yang paling sering menyebabkan kematian adalah edema paru akut pada stenosis mitral. Insulin ibu tidak dapat mencapai janin sehingga kadar gula ibu yang 23 . Setelah kala III selesai. Diabetes Melitus Diabetes mellitus pada kehamilan adalah intoleransi karbohidrat ringan (toleransi glukosa terganggu) maupun berat (DM). Pada wanita hamil saat yang paling baik adalah trimester II namun berbahaya bagi bayinya karena setelah operasi harus diberikan obat anti pembekuan terus menerus dan akan menyebabkan bahaya perdarahan pada persalinannya. Laktasi dilarang bagi pasien kelas III dan IV. terjadi atau diketahui pertama kali saat kehamilan berlangsung. d. hati-hati memberikan obat tokolitik pada pasien dengan penyakit jantung karena dapat menyebabkan edema paru atau iskemia miocard terutama pada kasus stenosis aorta atau mitral. dan diuretic biasanya gejala gagal jantung akan cepat hilang. Dengan tirah baring. Glukosa dapat berdifusi secara tetap melalui plasenta kepada janin sehingga kadarnya dalam darah janin hampir menyerupai kadar darah ibu. usia. Obat terpilih adalah heparin secara SC. penatalaksanaan. Operasi pada jantungn untuk memperbaiki fungsi sebaiknya dilakukan sebelum hamil. Pemberian oksitosin cukup aman. untuk menilai terjadinya decompensasi atau edema paru. dan kepatuhan pasien.

: prematuritas. Terutama dilakukan pada ibu dengan factor resiko berupa beberapa kali keguguran. riwayat pernah melahirkan anak mati tanpa sebab. Tergantung insulin (TI) – Insulin dependent Diabetes Melitus yaitu kasus yan memerlukan insulin dalam mengembalikan kadar gula darah. 2) Klasifikasi (a). kematian trauma lahir. (c). hiperbilirubinemia. 3) Komplikasi (a). hipokalsemia. obesitas. kematian intra uterin. riwayat melahirkan bayi dengan cacat bawaan. disamping beberapa hormon lain : estrogen. Juga terdapat riwayat ibu : umur ibu > 30 tahun. riwayat BBL > 4500 gr dan infeksi saluran kemih berulang selama hamil. riwayat PE dan polyhidramnion. Pengendalian kadar gula terutama dipengaruhi oleh insulin. 1) Diagnosis Deteksi dini sangat diperlukan agar penderita DM dapat dikelola sebaik-baiknya. kelainan congenital. gawat nafas. steroid dan plasenta laktogen.mempengaruhi kadar pada janin. melahirkan bayi lebih dari 4000 gr. Neonatal neonatal. polisitemia. riwayat DM dalam keluarga. Maternal : infeksi saluran kemih. (b). Fetal : abortus spontan. Tidak tergantung insulin (TTI) – Non Insulin Dependent diabetes mellitus (NIDDN) yaitu kasus yang tidak memerlukan insulin dalam pengendalian kadar gula darah. hydramnion. makrosomia. PE. kematian intra uterin. syndroma hipomegnesemia. hipertensi kronik. Akibat lambatbya resopsi makanan maka terjadi hiperglikemi yang relatif lama dan ini menuntut kebutuhan insulin. hipoglikemia. 24 . kematian ibu (b). insufisiensi plasenta. riwayat DM pada kehamilan sebelumnya.

dan pertumbuhan fetus normal. dan kadar HbA1c<6%. lakukan amniosentesis dahulu untuk memastikan kematangan janin (bila UK <38 minggu). Bila diperlukan terminasi kehamilan. Penatalaksanaan Obstetric Pantau ibu dan janin dengan mengukur TFU. Obat hipoglikemik oral tidak dapat dipakai saat hamil dan menyusui mengingat efek teratogenitas dan dikeluarkan melalui ASI. yaitu kadar glukosa darah puasa < 105 mg/dl. Ajarka pasien memantau gula darah sendiri di rumah dan anjurkan untuk kontrol 2-4 minggu sekali bahkan lebih sering lagi saat mendekati persalinan. 2 jam sesudah makan < 120 mg/dl.4) Penatalaksanaan Prinsipnya adalah mencapai sasaran normoglikemia. Kehamilan dengan DM yang berkomplikasi harus dirawat sejak UK 34 minggu dan baisanya memerlukan insulin. e. Janin sehat dapat dilahirkan pada umur kehamilan cukup waktu (40-42 minggu) dengan persalinan biasa. kenaikan BB pada trimester I diusahakan sebesar 1-2. bahkan pada seorang penderita asma. Selain itu juga menjaga agar tidak ada episode hipoglikemia. namun harus selalu diperhatikan gerak janin (normalnya >20 kali/12 jam). dan secara khusus memakai USG dan KTG. Asma Asma Bronkiale merupakan salah satu penyakit saluran nafas yang sering dijumpai dalam kehamilan dan persalinan. mendengarkan DJJ. Adanya makrosomia pertumbuhan janin terhambat dan gawat janin merupakan indikasi SC. Pantau kadar glukosa darah minimal 2 kali seminggu dan kadar Hb glikosila. total kenaikan BB sekitar 10-12 kg. Pengaruh kehamilan terhadap timbulnya asma tidak sama pada setiap penderita. Lakukan penilaian setiap akhir minggu sejak usia kehamilan 36 minggu. tidak ada ketonuria. Ibu hamil dengan DM tidak perlu dirawat bila keadaan diabetesnya terkendali baik. serangannya tak sama pada kehamilan pertama dan 25 .5 kg dan selanjutnya 0.5 kg /minggu.

Biasanya serangan akan timbul mulai UK 24-36 minggu dan pada akhir kehamilan jarang terjadi serangan. 2) Manifestasi Klinis Factor pencetus timbulnya asma antara lain zat-zat alergi. 3) Penatalaksanaan (a). atau peroral seperti isoproterenol (e). partus premature dan gangguan petumbuhan janin. biasanya penderita mengeluh nafas pendek. 26 . Penderita selama kehamilan perlu mendapat pengawasan yang baik. 1) Komplikasi Pengaruh asma pada ibu dan janin sangat tergantung dari sering dan beratnya serangan. Upayakan persalinan secara spontan namun bila pasien berada dalam serangan. pengaruh udara dan factor psikis. Pada keadaan lebih berat penderita harus dirawat Hindari penggunaan obat-obat yang mengandung iodium karena dapat membuat gangguan pada janin. Menghindari factor resiko/pencetus yang sudah diketahui secara intensif (c). dan batuk-batuk.berikutnya. karena ibu dan janin akan kekurangan oksigen atau hipoksia. sesak. dan berikan antibiotika kalau ada sangkaan terdapat infeksi. mencegah timbulnya stress (b). berbunyi. Keadaan hipoksia bila tidak segera diatasi tentu akan berpengaruh pada janin dan sering terjadi keguguran. Mencegah penggunaan obat seperti aspirin dan semacamnya yang dapat menjadi pencetus timbulnya serangan (d). infeksi saluran nafas. Pada asma yang ringan dapat digunakan obat-obat local yang berbentuk inhalasi. lakukan VE atau Forcep. SC atas indikasi asma jarang atau tak pernah dilakukan. Diagnosis dapat ditegakkan seperti asma diluar kehamilan.

limpadenopati. Ini berarti bahwa kucing tersebut terinfeksi karena memakan hewan pengerat dan burung pemakan daging yang terinfeksi. hydrocephalus. Choriuretinitis merupakan manifestasi klinis yang serinng muncul apada BBL sebagai gejala toxoplasma. Sporulasi organisme ini terjadi setelah 1-5 hari dalam kotoran dan dapat dicegah dengan pembuangan sampat setiap hari. TOXOPLASMOSIS 1) Temuan klinis Toxoplasmosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh toxoplasma gondii. Seharusnya 27 . kuning. hepatosplenomegali. Daging Konsumsi daging yang terinfeksi adalah penyebab utama toxoplasma di Eropa. dimana dibatasinya penggunaan lemari pendingin dan biasanya daging tidak dibekukan. Infeksi yang Menyertai Kehamilan dan Persalinan a. Penularan (a). mual. Oocyst dalam feses menyebar melalui udara dan ketika dihirup akan dapat menyebabkan infeksi. demam. Kucing Organisme tempat toxoplasma gondii hidup adalah kucing. (b). mikrosefali.2. mikroftalmia. Sekitar ½ dari beberapa kucing yang diuji mempunyai antibody toxoplasma. penyakit kejang. Feses kucing sudah sangat infeksius. syaraf mata atrofi. hipotermi. pneumonia. katarak. Berikut adalah temuan-temuan yang didapatkan pada bayi dengan infeksi toxoplasma congenital: chorioretinitis. Ibu dengan toxoplasma gondii biasanya tidak menampakan gejala walaupun 10%-20% ibu yang terinfeksi BBL dengan menderita toxoplasma congenital terinfeksi saat berada di dalam uterus secara transplacental. glaucoma. diare.

kecuali pada keadaan imonosekresi yang amat besar. Dosis standar pyrimethamine adalah 25 mg/hari/oral 28 . asam folimik dan sulfonamide. (2). Adanya IgM toxoplasma spesifik pada bayi baru lahir memperjelas diagnosa infeksi congenital. (a). Wanta hamil dengan infeksi akut dapat dirawat dengan kombinasi pyrimethamine. Diagnosa prenatal Mendiagnosa toxoplasma pada kehamilan dipercaya dengan cairan amnion atau darah janin yang dapat didiagnosa dengan amniosentesis atau cordosentesis. Gejala klinik yang paling banyak ditemukan adalah chorioretinitis. dan hepatosplenomegali. Penatalaksanaan dan pencegahan 1) Ibu Prognosa pada infeksi yang akut baik.Diagnosa utama infeksi toxoplasma selama kehamilan adalah meliputi salah satu dari hal berikut: (1). penyakit kuning. Terdeteksi antibody IgM toxoplasma . demam. atau (3).. Adanya kista toxoplasma gondii pada pemerikaan histology plasenta juga mendukung kuat diagnosa infeksi pada bayi.daging dimasak pada suhu yang tinggi untuk mecegah terjadinya penularan toxoplasma 2) Diagnosis (a). (c). (b). Ibu Diagnosa klinis toxoplasma akut tidak dapat dipercaya apabila tidak ditemukan tanda yang spesifik berkaitan dengan infeksi. Anak Gejala klinis pada bayi baru lahir akan dapat ditemukan seperti pada temuan diatas. Menunjukan hasil yang positif pada uji yang dilakukan Terjadi peningkatan antibody yang diperoleh dari serum ibu pada dua kali pemeriksaan yang berbeda.

septum terbuka) 3) 4) Alat pendengaran (tuli) Susunan syaraf pusat (meningoensefalitis. Anggota tubuh anak yang bisa menderita karena rubella: 1) 2) Mata (katarak. Bayi baru lahir yang tidak menunjukan infeksi dan positif antibody IgG toxoplasma spesifiknya mungkin didapatkan dari ibunya secara transplasetal. Sering dijumpai apabila infeksi dijumpai pada kehamilan trimester I (30-50%). harus dipantau. Pada bayi yang Tidak ditemukannya temuan yang lain yang mencurigakan terjadinya infeksi congenital. b. mikroftalmia) Jantung (Duktus arteriosus persisten. Infeksi congenital pada bayi baru lahir bukan merupakan infeksius. kebodohan) 1) Diagnosis Diagnosis rubella tidak selalu mudah karena gejala-gejala kliniknya hampir sama dengan penyakit lain.5 mg/kg/hr selam 21-30 hari dan sulfadiazine dengan dosis 20 mg/kg per oral selam 1 tahun. glaucoma.. Adanya gejala infeksi pada bayi lahir harus ditangani dengan pemberian pyrimethamine dengan dosis 1 mg/kg/hr/oral selam 34 hari. RUBELLA Rubella dapat meningkatkan angka kematian perinatal dan sering menyebabkan cacat bawaan pada janin. Asam folimik diberikan dengan dosis 6 mg secara IM atau per oral setiap pada hari yang berbeda untuk mengetahui apakah benar habisnya asam folat disebsbkan oleh Pyrimethamine. oleh karena itu tidak perlu diisolasi. kadang tidak jelas atau tidak 29 . stenosis pulmonalis..dan 1 gr sulfadiazine peroral 4 X/hari selam 1 tahun. Pyrimethamine adalah musuh dari asam folik dan oleh karena itu mungkin memberikan efek teratogenik jika diberikan pada trimester I. dilanjutkan dosis 0. apabila tidak terinfeksi harus menunjukan adanya penurunan titer antibody IgG terhadap toxoplasma.

Karena itu. 30 . Setelah trimester I.8% dalam trimester II dan 5. maka abortus buatan perlu dipertimbangkan. kemungkinan cacat bawaan menjadi kurang yaitu 6. (c). Virus pada rubella sering mencapai dan merusak embrio dan fetus. (b). (b). menyebar secara cepat dari wajah ke seluruh tubuh. diberikan sebelum perkawinan. Akan tetapi. Imunitas 1:10 atau lebih Imunitas rendah < 1:10 Indikasi adanya infeksi saat ini ≥ 1:64 Apabila wanita hamil dalam trimester I menderita viremia. Kelenjar leher membengkak Durasi 3-5 hari Hingga kini tidak ada obat-obatna yang dapat mencegah viremia pada orang yang tidak kebal. (d). yang lebih manjur ialah vaksin rubella.. vaksinasi ini sering menimbulkan artralgia atau arthritis. kontraindikasi pada kehamilan adalah menghindari konsepsi selama 3 bulan setelah vaksinasi. kemudian menghilang secara cepat (e). manfaat gamaglobulin dap\lam hal ini masih diragukan. lebih baik vaksinasi Pemberian vaksin pada wanita selam kunjungan prekonsepsi dianjurkan untuk uji serologi varicella apabila klien selama masa kanak-kanaknya tidak mempunyai riwayat infeksi. Tanda dan Gejala klinis: (a). Demam-ringan Merasa mengantuk Sakit tenggorok Kemerahan sampai merah terang atau pucat.ada sama sekali. dan pula vaksinasi yang dilakukan tidak lama sebelum terjadinya kehamilan atau dalam kehamilan dapat menyebabkan infeksi janin. (c).3% dalam trimester III. Diagnosis pasti dapat dibuat dengan isolasi virus atau dengan dotemukannya kenaikan titer anti rubella dalam serum. (f). Nilai titer antibody (a).

Transfusi darah juga dapat menularkan infeksi CMV. dan urin ibu yang melahirkannya. Walaupun jarang.c. Diagnosis pada ibu ditegaskan melalui pemeriksaan serologik (biasanya dengan cara ELISA). Walaupun demikian. Infeksi congenital kekerapannya adalah 1-2% dari kehamilan. 31 . Kematian bayi dapat pula disebabkan oleh ensefalitis herpes virus. Hingga kini tidak dikenal pengobatan yang manjur bagi penyakit ini bagi ibu maupun neonatus. faring. Virus biasanya dapat diisolasi dalam pembiakan jaringan. Bila diketahui terdapat gejala infeksi. korioretinitis. retardasi mental dan mungkin ditemukan kalsifikasi serebral. purpura. mikroftalmia. penyakit ini dapat menyebabkan kematian janin dan bayi. mikrocephalus. Bila infeksi terjadi pada bulan-bulan terakhir kehamilan dapat dijumpai hepatosplenomegali. maka dapat diberi pengobatan simptomatik dan istirahat. Infeksi yang terjadi setelah lahir ini akan menampilkan gejala pneumonia. hepatosplenomegali dan sepsis yang tarjadi pada bulan pertama kehidupannya. Ibu dengan status imunitas yang rendah dan infeksi yang berat perlu diberi obat antivirus. atau pada konjungtiva dan selaput lendir mulut. Kesulitan lain ialah bahwa infeksi CMV pada ibu biasanya tidak menimbulkan gejala dan sering tidak diketahui. Pada bayi dapat dijumpai gelembung-gelembung pada kulit di seluruh badan. Selain melalui plasenta. d. Bila infeksi terjadi pada trimester I atau awal trimester kedua dapat timbul keadaan hydrocephalus. CMV (CITOMEGALO VIRUS) Infeksi primer CMV dapat terjadi dengan frekuensi 1-2%. trombositopeni. gangguan pendengaran. ASI. 10-15% anak yang mengalami infeksi congenital akan mengalami cacat bawaan. karena klinis tidak menunjukkan gejala yang khas. infeksi dapat sampai ke BBL melalui kontak virus dari serrvik. HERPES Infeksi herpes virus hominis pada orang dewasa biasanya ringan. hernia. dan pneumonitis.

Virus tipe II dapat menyebabkan herpes genitalis dengan gelembung-gelembung berisi cairan di vulva, vagina, dan servik, yang dikenal juga dengan nama herpes simpleks. Penularan kepada anak dapat terjadi melalui: (a). Hematigen melalui plasenta (b). Akibat penjalaran ke atas dari vagina ke janin apabila ketuban pecah (c). Melalui kontak langsung pada waktu bayi lahir Diagnosis tidak sulit yaitu apabila terdapat gelambunggelambung di daerah alat kelamin, ditemukannya benda-benda inklusi intranuklear yang khas di dalam sel-sel epitel vulva, vagina atau servik setelah dipulas menurut papanicolau, memberi kepastian dalam diagnosis. Herpes genitalis merupakan infeksi virus yang senantiasa bersifat kronik, recurrent, dan dapat dikatakan sulit diobati. Sampai saat ini hanya satu cara pengobatan herpese yang cukup efektif, yaitu antivirus yang disebut acyclovir. Acyclovir dalam kehamilan tidak dianjurkan,

kecuali bila infeksi yang terjadi merupakan keadaan yang mengancam kematian ibu, seperti adanya ensefalitis, pneumonitis, dan atau hepatitis, dimana acyclovir dapat diberikan secara IV. SC dianjurkan pada wanita yang pada saat kelahiran menunjukkan gejala-gejala akut pada genetalia, untuk menghindari penularan akibat kontak langsung. Karena bila dengan persalinan pervaginam 50% bayi akan mengalami infeksi. Pada pasca persalinan, ibu yang menderita herpes aktif harus diisolasi. Bayinya dapat diberikan untuk menyusui bila ibu telah cuci tangan mengganti baju yang bersih.

e. SYPHILIS Infeksi syphilis (lues) yang disebabkan oleh Treponema pallidum, baik yang sudah lama maupun yang baru diderita oleh ibu dapat ditularkan kepada janin. Syphilis kongenita merupakan bentuk penyakit syphilis yang terberat. Infeksi pada janin dapat terjadi setiap saat dalam

32

kehamilan, dengan derajat risiko infeksi yang tergantung jumlah spiroketa (treponema) di dalam darah ibu. Sudah diketahui secara umum bahwa syphilis mempunyai pengaruh buruk pada janin: dapat menyebabkan kematian janin, partus immaturus, dan partus prematurus. Dalam hal demikian dapat dijumpai gejala-gejala syphilis kongenita, diantaranya pemfigus syfilitikus,

deskwamasi pada telapak kaki dan tangan, serta rhagade di kanan-kiri mulut. Pada persalinan tampak janin atau plasenta yang hidropik. Syphilis harus diobati segera setelah diagnosis dibuat, tanpa memandang tuanya kehamilan. Lebih dini dalam kehamilan pengobatan diberikan, lebih baik prognosis bagi janin. Syphilis primer yang tidak diobati dengan adekuat, 25% akan menjadi syphilis sekunder dalam waktu 4 tahun. Bayi yang lahir dari ibu dengan syphilis boleh tetap mendapat ASI. Bila ibu tersebut masih menderita lesi pada kulit, kontak dengan bayinya harus dihindari.

f. VARICELLA (CACAR AIR/CHICKEN POX) Varicella merupakan penyakit anak-anak dan sangat jarang dijumpai dalam kehamilan dan nifas. Walaupun umumnya cacar air itu suatu penyakit ringan, namun pada wanita hamil kadang-kadang bisa menjadi berat dan dapat menyebabkan partus prematurus. Disangka

bahwa telah terjadi penularan intra uterin apabila gelambung-gelambung timbul dalam 10 hari setelah kelahiran. Frekuensi cacar bawaan tidak lebih tinggi pada para bayi yang lahir dari ibu yang menderita cacar air dalam masa hamil. g. INFEKSI TRAKTUS URINARIUS Infeksi saluran kencing adalah infeksi bakteri yang paling sering dijumpai pada kehamilan. Walaupun bakteri uria asimtomatik merupakan hal biasa, infeksi simtomatik dapat mengenai salran bawah yang

33

menyebabkan sisititis, atau menyerang kaliks, pelvis, dan parenkim ginjal sehingga mengakibatkan pielonefritis. Organisme yang emnyebabkan infeksi saluran kemih berasal dari flora normal perineum. Sekarang terdapat bukti bahwa beberapa galur escherichia coli memiliki pili yang meningkatkan virulensinya. Walaupun kehamilan itu sendiri tampaknya tidak meningkatkan factor-faktor virulensi ini, stasis air kemih tampaknya menyebabkan hal itu, dan bersama dengan revluksvesikoureter, stasis mempermudah timbulnya gejala infeksi saluran kemih bagian atas. Overdistsnsi yang disertai kateterisasi untuk mengeluarkan iar kemih sering menyebabkan infeksi saluran kemih. a. Bakteriuria Asimtomatik kondisi ini mengacu pada perkembangan bakteri yang terusmenerus secara aktif di dalamsaluran kemih tampa menimbulkan gejala. Insiden selama kehamilan bergantung pada paritas, ras dan status social ekonomi b. Sistitis Dan Uretritis Biasanya sistitis di tandai oleh disuria, urgensi dan frekuensi. Biasanya ditemukan bakteri uria dan piuria. c. Pielonefritis Akut Infeksi ginjal merupakan penyulit medis paling serius pada kehamilan, terjadi pada sekitar 2 % wanita hamil. Keseriusan pielonefritis akut selam kehamilan digaris bawahi sebagai penyebab utama syok septic selama kehamilan. Infeksi ginjal lebih sering terjadi setelah pertengahan kehamilan, pada lebih dari separuh kasus penyakitnya unilateral dan di sisi kanan, sedangkan pada ¼ bilateral. Pada sebagian besar wanita, infeksi disebabkan oleh bakteri yang naik dari saluran kemih bawah. Antara 75-90 % infeksi ginjal disebabkan oleh bakteri yang meimiliki adehesin fimbriae-P. Gejala meliputi demam, menggigil hebat, dan nyeri tumpul di salah satu atau kedua regio lumbal. Pasien mungkin

34

Sedimen urin sering mengandung banyak leukosit. atau infark myoma. serum glutamic piruvic transaminase (SGPT). walaupun masih masih kontroversi penularan melalui air susu. mual dan muntah. atau masa neonatus. hepatitis virus dapat terjadi pula setiap saat kehamilan dan mempunyai pengaruh buruk pada janin maupun ibunya. dan masa nifas disangka sebagai metritis dengan selulitis panggul. Istirahat. Sedangkan pada trimester II dan III sering terjadi premature. Isolasi cairan lambung dalam atau cairan badan lainnya dan ingatkan tentang pentingnya janin dipisahkan dengan ibunya 3. Perjalanan penyakit dapat sangat bervariasi dengan demam sampai setenggi 40 °C atau lebih dan hipotermia sampai 34°C. factor 35 . waktu lahir. bila perlu IV 2. Penatalaksanaan 1. Pada hepatitis B janin kemungkinan dapat tertular melalui plasenta. akan tetapi jarang dijumpai kelainan congenital (anomaly pada janin). diberi nutrisi dan cairan yang cukup.mengalami anoreksia. seringkali dalam gumpalangumpalan dan banyak bakteri. koriamnionitis. pemyebab hepatitis infeksiosa terutama oleh virus hepatitis B. karena akan mempertinggi risiko pada ibu. Kontrol kadar bilirubun. Pada wanita hamil. Pada trimester I dapat terjadi keguguran. pielonefritis dapat disangka sebagai proses persalinan. rasa nyeri biasanya dapat ditimbulkan dengan perkusi disalah satu atau kedua sudut costovertebra. serum glutamic oksaloasetik transaminase (SGOT). HEPATITIS Hepatitis infeksiosa disebabkan oleh virus dan merupakan penyakit hati yang paling sering dijumpai dalam kehamilan. Periksa HbsAg 4. solusio plasenta. Walaupun diagnosis biasanya mudah. h. appendicitis. Tidak dianjurka untuk melakukan terminasi kehamilan dengna induksi atau SC. walaupun kemingkinan juga dapat karena virus hepatitis A atau Hepatitis C.

Kematian pada ibu hamil dengan HIV positif kebanyakan disebabkan oleh penyakit oportunisyik yang menyetainya. Perawatan pascapersalinan perlu diperhatikan yaitu kemungkinan penularan melalui pembalut wanita. terutama pneumocystis carinii pneumonia. karena banyak obat belum diketahui dampak buruknya dalam kehamilan. Untuk perawatan bayi. atau mungkin menderita candidiasis orofaring maupun vagina. Sampai saat ini belum ada pengobatan AIDS yang memuaskan. Tindakan operasi seperti SC akan memperburuk prognosis ibu 8. BB menurun. Cegah penggunaan obat-obat yang bersifat hepatotoksik 6. Pada bayi yang baru dilahirkan dalam 2x24 jam diberi suntikan anti hepatitis serum i. luka episiotomi ataupun luka SC. Penularan kepada penolong persalinan dapat terjadi dengan rate 0-1% pertahun exposure. TBC dan lain-lain. anoreksia. Dalam persalinan. karena kemungkinan telah ada disseminated intravaskular coagulapathy (DIC) 5. HIV/AIDS Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kehamilan dapat memperberat kondisi klinik wanita dengan infeksi HIV. Pemberian AZT (Zidovudine) dapat memperlambat kematian dan menurunkan frekuensi serta beratnya infeksi oportunistik.pembekuan darah. Pada ibu yang HbsAg positif perlu diperiksa HbsAg anak karena kemungkinan terjadi penularan melalui darah tali pusat 7. sebaiknya dilakukan oleh dokter anak yang 36 . lochea. Pengobatan infeksi HIV dan penyakit oportunisyiknya dalam kehamilan merupakan masalah. SC bukan merupakan indikasi untuk menurunkan risiko infeksi pada bayi yang dilahirkan. Bila telah terdiagnosis adanya AIDS perlu dilakukan pemeriksaan apakah ada infeksi PHS lainnya. chlamydia. herpes. ataupun infeksi toksoplasmik. sepeerti gonorrhea. hepatitis. CMV. Penderita AIDS mempunyai gejal awal yang tidak spesifik seperti fatique.

Perawatan ibu dan bayi tidak perlu dipisah. lebih besar kemungkinan berakhirnya kehamilan. harus diusahakan agar pada bayi tidak dilakukan tindakan yang membuat perlukaan bila tidak perlu betul. Dalam 60-80 % hasil konsepsi keluar secara spontan : lebih dini terjadinya infeksi dalam kehamilan. Penyakit ini mempunyai pengaruh buruk terhadap kehamilan. namun sebaiknya penderita tidak menyusui bayinya karena keadaan umum ibu biasanya tidak mengizinkan. Antibodi yang didapatkan pasif dari ibu akan dapat bertahan sampai 15 bulan. Kumankuman tufus abdominalis tidak di keluarkan melalui air susu. Jantung. TYPUS ABDOMINALIS Typus abdominalis dalam kehamilan. Jadi diperlukan pemeriksaan ulang berkala untuk menentukan adanya perubahan ke arah negatif atau tidak. dan nifas menunjukan angka kematian yang lebih tinggi dari pada di luar kehamilan. Infeksi pada bayi mungkin baru tampak pada usia 12-18 bulan. Imunisasi yang menggunakan virus hidup sebaiknya ditunda sampai terbukti bahwa bayi tersebut tidak menderita virus HIV. Pengobatan dengan kloramfenikol atau tiamfenikol (Urfamycin). dan karena kemungkinan penuluaran oleh ibu melalui jalan lain tetap ada. namun tidak menutup kemungkinan bahwa hamil dan bersalin dapat mempeberat atau diperberat oleh berbagai penyakit yang bedampak pada beratnya pesalinan dan nifasnya. Tifus abdominalis tidak merupakan indikasi bagi abortus buatan. Perawatan tali pusat harus dijalankan dengan cermat. C. Wanita yang mempunyai penyakit sebelum hamilnya sepeti penyakit pada paru-paruna atau TBC. ginjal. misalnya jangan lakukan sirkumsisi. Diabetes Militus. Asma maka dalam kehamilanna akan benyak mengalami komplikasi dai penyakitnya tesebut. j. Selain penakit ibu hamil besalin dan nifas entan mengalami infeksi 37 . Rangkuman Materi Pada masa kehamilan pesalinan dan nifas tubuh wanita hamil besalin dan nifas akan mengalami peubahan fisiologis untuk menusuaikan diri.khusus untuk menangani kasus ini.

sesak nafas atau angina pectori (c). Penatalaksanaan dilakukan berdasarkan klasifikasinya yaitu : 38 .sepeti Sypilis CMV. menurunkan preload dengan deuretik.Rambu Jawaban Soal 1. Varicella. Kelas III • • • Banyak pembatasan dalam kegiatan fisik Saat istirahat tidak ada keluhan Pada aktifitas fisik ringan sudah menimbulkan gejala-gejala insufisiensi jantung (d). Herpes. Klasifikasi penyakit jantung dalam kehamilan (a). Kelas II Sedikit pembatasan kegiatan fisik Saat istirahat tidak ada keluhan Pada kegiatan fisik biasa timbul gejala isufisiensi jantung seperti: kelelahan. Typus Abdominalis. HIV/AIDS. dan menurunkan after load dengan vasodilator. meningkatkan kontraktilitas jantung dengan digitalis. Rambu. Toxoplasmosis. Diskusikan tentang klasifikasi penyakit jantung pada kehamilan dan penatalaksanaannya ! 2. Infeksi Tranktus Urinarius. Kelas IV • Tidak mampu melakukan aktivitas fisik apapun Penatalaksanaan Sebaiknya dilakukan dalam kerjasama dengan ahli penyakit dalam atau ahli jantung. Sebutkan temuan-temuan pada bayi yang teinfeksi Toxoplasma! E. D. Kelas I • • • • • Tanpa pembatasan kegiatan fisik Tanpa gejala penyakit jantung pada kegiatan biasa (b). jantung berdebar (palpitasi cordis). Latihan / Tugas 1. Rubella. Secara garis besar penatalksanaan mencakup mengurangi beban kerja jantung dengan tirah baring. Hepatitis.

Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. 12 th Edition 2000 39 . YBPSP 2. demam. Bila berlangsung 20 menit dan ibu tidak dapat dilarang meneran akhiri dengan ekstraksi cunam atau vacum dengan segera (c). diare. Jones and Bartlett Publisher Mayes. Pengawasan kala I setiap 10-15 menit dan kala II setiap 10 menit. 1997. Kedua kelas ini dapat meneruskan kehamilan sampai cukup bulan dan melahirkan pervaginam. penyakit kuning. Midwifery. Pasien dirawat bila keadaan memburuk. Kelas I Tidak memerlukan pengobatan tambahan (b). hanya harus menghindari aktifitas yang berlebihan. limpadenopati. Lakukan pengawasan dengan ketat. 2001 Varney’s H. Jakarta.(a). mual. Midwifery. UK. Berikut adalah temuan-temuan yang didapatkan pada bayi dengan infeksi toxoplasma congenital: chorioretinitis. glaucoma. F. mikrosefali. Kala persalinan biasanya tidak berbahaya. hydrocephalus. Kelas III Dirawat di RS selam hamil terutama pada UK 28 minggu dapat diberikan diuretic (d). namun harus diawasi dengan ketat. kejang. Daftar Pustaka 1. Syaifudin. syaraf mata atrofi. mikroftalmia. 3. hipotermi. Kelas II Umumnya tidak memerlukan pengobatan tambahan. katarak. pneumonia. hepatosplenomegali. Pada kala II dapat spontan bila tidak ada gagal jantung. Kelas IV Harus dirawat di RS 2. terutama pada UK 28-32 minggu. 4. Buku Panduan Praktis Maternal dan Neonatal. 2001.

1999. dkk. 40 . Sinopsis Obstetri Jilid I. 1999. dkk. 2006. Jakarta Hanifa. YBPSP Tim pengajar askeb IV. 1998. Ilmu kandungan. YBPSP Hanifa. Jakata. Ilmu Kebidanan. 8. 7.5. Tidak diterbitkan. Workshop kurikulum mata ajar Askeb IV. Mochtar R. Jakarta. 6.

Kehilangan darah yang banyak: persalinan yang lalu. B. III. Pemeriksaan kadar hemoglobin selama pengawasan antenatal. Uraian Materi 1. kelainan dan penyakit dalam kehamilan trimester I. Dalam kehamilan. KELAINAN DAN PENYAKIT DALAM KEHAMILAN A. Kurang zat besi dalam diet c). cacing usus. sebaiknya pemeriksaan dilakukan setiap 3 bulan atau paling sedikit 1 kali pada pemeriksaan pertama atau pada triwulan 1 dan sekali lagi pada triwulan akhir. malaria dan lain-lain. 41 . Malabsorpsi d). Kompetensi dasar Mampu menjelaskan komplikasi. disebut anemia berat. haid dan lain-lain. Penyakit-penyakit kronis: tbc.BAB III ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU DENGAN KOMPLIKASI. 1) Penyebab anemia umumnya adalah: a). jumlah darah bertambah (hiperemia/hipervolumia) karena itu terjadi pengenceran darah karena sel-sel darah tidak sebanding pertambahannya dengan plasma darah. Wanita hamil mempunyai nilai normal hemoglobin 12-15 gr% dan hematokrit 35-54. Kurang gizi (malnutrisi) b). II. paru. Anemia Dalam Kehamilan Baik di negara maju maupun di negara berkembang. seseorang disebut menderita anemia bila kadar hemoglobin (Hb) kurang dari 10 gr%. atau bila kurang dari 6 gr%. disebut anemia gravis. Komplikasi dan Penyulit Kehamilan Trimester I dan II a. e).

jarang 42 . pengenceran darah ini adalah untuk membantu meringankan kerja jantung. b) Anemia megaloblastik Anemia megaloblastik biasanya berbentuk makrositik atau pernisiosa.29 mg (2).5 x 0. Penyebabnya telah dibicarakan di atas sebagai penyebab anemia umumnya. Hasilnya lebih cepat dibandingkan per oral. kemasan diberikan secara intramuskuler atau intravena. FNB Amerika Serikat (1958): 12 mg-15 mg-15 mg (2). Per oral: sulfas serosus atau glukonas ferosus dengan dosis 3. 2) Klasifikasi anemia dalam kehamilan: a) Anemia defisiensi besi Anemia jenis ini biasanya berbentuk normositik dan hipokromik serta paling banyak dijumpai. Kemasan ini antara lain. hamil dan dalam laktasi yang dianjurkan adalah: (1). Parenteral: diberikan bila ibu hamil tidak tahan pemberian per oral atau absorbsi di saluran pencernaan kurang baik. jectofer dan ferrigen. LIPI Indonesia (1968): 12 mg-17 mg-17 mg Kemasan zat besi dapat diberikan per oral atau parental (1). imferon. Penyebabnya adalah karena kekurangan asam folik. Pengobatan: Keperluan zat besi untuk wanita non hamil.Perbandingan pertambahan tersebut adalah: a) b) c) Plasma darah bertambah: 30 % Sel-sel darah bertambah: 18 % Hemoglobin bertambah: 19 % Secara fisiologis.

keracunan zat logam. kecuali yang disebabkan oleh infeksi berat (sepsis). Pada kasus berat dan pengobatan per oral hasilnya lamban sehingga dapat diberikan transfusi darah c) Anemia hipoplasti Anemia hipoplasti disebabkan oleh hipofungsi sumsum tulang membentuk sel-sel darah merah baru. penyakit hodgkin Gejala utama adalah anemia dengan kelainan-kelainan gambaran darah. Untuk diagnosis diperlukan pemeriksaan : darah tepi lengkap. pemeriksaan retikulosit. leracunan. Penyebabnya belum diketahui. yang perlu sering diulang. leukemia. talasemia. pemeriksaan fungsi sternal. Asam folik 15-30 mg per hari (2). Tirapi dengan obat-obatan tidak memuaskan: mungkin pengobatan yang paling baik yaitu tranfusi darah. Sulfas ferosus 3x1 tablet per hari (4). dan dapat beserta obat-obatan. anemia sel sickle (sabit) (2). disebabkan malaria. 43 . sepsis. Pengobatan: (1). Vitamin B12 3x1 tablet per hari (3). seerta gejala komplikasi bila terjadi kelainan pada organorgan vital. Biasanya karena malnutrisi dan infeksi yang kronik. Faktor intrakorpuskuler. d) Anemia hemolitik Anemia hemolitik disebabkan penghancuran/pemecahan sel darah merah yang lebih cepat dari pembuatannya. dan sinar rontgen atau sinar radiasi. Faktor ekstrakorpuskuler.selaki akibat karena kekurangan vitamin B12. Ini dapat disebabkan oleh: (1). kelelahan. dijumpai pada anemia hemolitik heriditer.

Gejala tersebut kurang lebih terjadi 6 minggu setelah hari pertama haid terakhir dan berlangsung selama kurang lebih 10 minggu. Maka tranfusi darah yang berulang dapat membantu penderita ini. kehamilan ganda karena peningkatan kadar HCG 2) Faktor Organik. Bila disebabkan oleh infeksi maka infeksinya diberantas dan diberikan obat-obat penambah darah. b. memegang peranan yang sangat penting. 4) Faktor endokrin lain. takut terhadap kehamilan dan persalinan. misalnya rumah tangga yang retak. hipertiroid 44 . karena masuknya Vili khorialis dalam sirkulasi maternal. Biasanya terjadi pada kehamilan trimester I. HIPEREMESIS GRAVIDARUM Hiperemesis gravidarum adalah mual dan muntah yang berlebihan pada wanita hamil sehingga mengganggu pekerjaan sehari-hari dan keadaan umumnya menjadi buruk. sering terjadi pada primigravida.Pengobatan bergantung pada jenis anemia hemolitik serta penyebabnya. takut terhadap tanggung jawab sebagai ibu. namun beberapa faktor mempunyai pengaruh antara lain: 1) Faktor Predisposisi. mola hidatidosa. pada beberapa jenis obatobatan. kehilangan pekerjaan. Namun. Penyebab hiperemesisi gravidarrum belum diketahui secara pasti. hal ini tidak memberi hasil. perubahan matabolik akibat hamil dan resistensi ibu yang menurun dan alergi merupakan salah satu respon dari jaringan ibu terhadap anak 3) Faktor psikologik. diabetes. karena terjadi dehidrasi.

lemah. lidah kering dan kotor. berat badan turun. mata cekung. asam hidroksi butirik dan aseton dalam darah. turgor kulit mulai jelek. Hiperemesis gravidarum dapat mengakibatkan cadangan karbohidrat dan lemak habis terpakai untuk keperluan energi. nadi kecil. kesadaran sangat menurun. somnolen sampai koma. berat badan turun. bila terjadi terus menerus dapat menyebabkan dehidrasi dan tidak imbangnya elektrolit dengan alkalosis hipokloremik. Karena oksidasi lemak yang tidak sempurna. akan mengalami emesis gravidarum yang lebih berat. terjadilah ketosis dengan tertimbunnya asam aseton-asetik. hemokonsentrasi. dehidrasi berat. nyeri epigastrium nadi sekitar 100x/mnt. lidah kering.Gejala Dan Tingkat Menurut berat dan ringannya dibagi menjadi 3: 1) Tingkat I : ringan Mual muntah terus menerus yang menyebabkan penderita lemah. halus dan cepat. Kekurangannya cairan yang diminum dan kehilangan cairan karena 45 . dapat pula terjadi asotonuria. dari nafas berbau aseton 3) Tingkat III : berat Keadaan umum jelek. ikterus. suhu badan naik (dehidrasi). turgor kulit berkurang. ikterus ringan. oliguria dan konstipasi. 2) Tingkat II : sedang Mual dan muntah yang hebat menyebabkan keadaan umum penderita lebih parah. apatis. tidak ada nafsu makan. tekanan darah sistolik turun. mata cekung. nadi kecil dan cepat. wanita yang sebelum kehamilan sudah menderita lambung spastik dengan gejala tidak suka makan dan mual. Dapat terjadi ensekalopati wernicke Hiperemesis gravidarum yang merupakan komplikasi mual dan muntah pada hamil muda. suhu badan naik. tensi turun. tensi turun sekali.

demikian pula khlorida air kemih. Terapi obat. Pencegahan lain yaitu tentang diit ibu hamil dan defekasi yang teratur (b). Kekurangan kalium sebagai akibat dari muntah dan bertambahnya ekskresi lewat ginjal. penerangan bahwa kehamilan dan persalinan merupakan proses fisiologis. sehingga aliran darah ke jaringan berkurang.Dapat terjadi terus menerus untuk beberapa hari sampai 2 minggu iv.Perdarahan vagina: merah segar atau coklat ii. dengan akibat perdarahan gastrointestinal. antasida. dapat merusak hati. Hal ini menyebabkan jumlah zat makanan dan oksigen kejaringan mengurang pula dan tertimbunnya zat metabolik yang toksik. Tanda dan gejala i. anti muntah. sehingga cairan ekstraseluler dan plasma berkurang.Kram abdomen bagian bawah atau sakit punggung normal 46 . dan anti mulas (c). ABORTUS 1) Abortus imminens (a). menggunakan sedative. dapat terjadi robekan pada selaput lendir esofagus dan lambung. c.muntah menyebabkan dehidrasi. menambah frekuensi muntah-muntah yang lebih banyak. Natrium dan khlorida darah turun.Jumlah perdarahan sedikit/ perdarahan bercak iii. Hiperemesis gravidarum tingkat II dan III harus dirawat inap di RS. Penanganan pasien dengan Hiperemesis Gravidarum : (a). Pencegahan. Selain itu dehidrasi menyebabkan hemokonsentrasi. Disamping dehidrasi dan terganggunya keseimbangan elektrolit. vitamin.

tenangkan 47 . Dapatkan nilai hemoglobin dan hematokrit. tonjolan kantong ketuban. atau bagian-bagian janin • Pemeriksaan bimanual-ukuran uterus. Jika pemeriksaan fisik dan ultrasuara negatif. Istirahatkan panggul (tidak berhubungan seksual. serta kondisi ketuban. Manajemen Trimester I dengan sedikit perdarahan. nyeri tekan. dilatasi. Tidak melakukan aktivitas seksual yang menimbulkan orgasme iv. observasi bukaan serviks. dapat dilakukan menentukan pemeriksaan ultrasuara untuk kelangsungan hidup janin. atau memasukkan sesuatu ke vagina) iii. tanpa disertai kram i. tidak melakukan irigasi. tanggal kelahiran. Periksakan pada hari berikutnya di rumah sakit Evaluasi tanda-tanda vital Pemeriksaan dengan speculum-merupakan skrining vaginitis dan servisitis. jenis dan Rh (jika belum ada) • Jika pemeriksaan negative. dan jika mungkin untuk menenangkan wanita. Segera beritahu bidan jika terdapat : • • • • • • Perdarahan meningkat Kram dan nyeri pinggang meningkat Semburan cairan dari vagina Demam atau gejala mirip flu v. bekuan darah. Tirah baring tidak terlalu bermanfaat.(b). effacement. aktivitas normal dapat dilanjutkan kembali kecuali wanita merasa tidak nyaman atau lebih memilih untuk istirahat ii.

Jika evakuasi tidak dapat segera dilakukan: (1). karena setiap saat dapat terjadi ancaman perdarahan dan pengeluaran hasil konsepsi. kanalis servikalis terbuka dan jaringan/hasil konsepsi dapat teraba Penanganan untuk abotus a) Jika usia kehamilan kurang dari 16 minggu. Jika usia kehamilan lebih dari 16 minggu: (1). Jika perlu.2 mg I. Segera lakukan persiapan untuk pengeluaran hasil konsepsi dari uterus (b). lakukan infus 20 unit oksitosin dalam 500 ml cairan I. kaji ulang gejala bahaya dan pertahankan nilai normal • Konsultasi ke dokter jika terjadi perdarahan hebat.M (dapat diulang sesudah 15 menit jika perlu) atau misoprostol 400 mcg per oral (dapat diulang sesudah 4 jam jika perlu) (2). kemudian evakuasi sisa-sisa hasil konsepsi (2). Abortus ditandai dengan: a) b) c) Perdarahan lebih banyak Perut mules (sakit) lebih hebat Pada pemeriksaan dijumpai perdarahan lebih banyak.wanita.V (garam fisiologik atau larutan Ringer Laktat) dengan kecepatan 40 tetes per menit untuk membantu ekspulsi hasil konsepsi 48 . Tunggu ekspulsi spontan hasil konsepsi. Berikan ergometrin 0. lakukan evakuasi uterus dengan Aspirasi Vakum Manual (AVM). atau hasil pemeriksaan fisik dan ultrasuara menunjukan hasil abnormal 2) Abortus Insipiens Keguguran membakat ini tidak dapat dihentikan. kram meningkat.

Jika evakuasi belum dapat dilakukan segera. evakuasi sisa hasil konsepsi dengan: (b). beri ergometrin 0.2 mg I.M atau misoprostol 400 mcg per oral (a). Pastikan untuk tetap memantau kondisi ibu setelah penanganan 3) Abortus Inkomplit Ditandai dengan dikeluarkannya sebagian hasil konsepsi dari uterus.M (diulangi setelah 15 menit jika 49 . Gejala klinis yang dapat terjadi: a) Perdarahan berlangsung terus b) Perdarahan mendadak c) Disertai infeksi dengan suhu tinggi d) Dapat terjadi degenerasi ganas (korio karsinoma) Pada pemeriksaan dijumpai gambaran: a) Kanalis servikalis terbuka b) Dapat diraba jaringan dalam rahim atau dikanalis servikalis c) Kanalis servikalis tertutup dan perdarahan berlangsung terus d) Dengan pemeriksaan sonde perdarahan bertambah Penanganan a) Jika perdarahan tidak terlalu banyak dan kehamilan kurang dari 16 minggu.2 mg I. kuret tajam sebaiknya hanya dilakukan jika aspirasi vakum manual tidak tersedia. evakuasi dapat dilakukan secara digital atau dengan cunam ovum untuk mengeluarkan hasil konsepsi yang keluar melalui serviks. beri ergometrin 0. (c). Jika perdarahan berhenti.(3). Jika perdarahan banyak atau terus berlangsung dan usia kehamilan kurang dari 16 minggu. Aspirasi Vakum Manual (AVM).

Penanganan: a) b) c) Tidak perlu evakuasi lagi Observasi untuk melihat adanya perdarahan banyak Pastikan untuk tetap memantau kondisi ibu setelah penanganan d) Apabila terdapat anemia sedang. c) Pastikan untuk tetap memantau kondisi ibu setelah penanganan. berikan tablet sulfas ferrosus 600 mg/hari selama 2 minggu. perdarahan sedikit.perlu) atau misoprostol 400 mcg per oral (dapat diulangi setelah 4 jam jika perlu) b) Jika kehamilan lebih dari 16 minggu: (a). jika anemia berat berikan transfusi darah e) d. Tuba falopii tidak mempunyai kemampuan untuk berkembang dan menampung pertumbuhan janin sehingga setiap saat kehamilan yang terjadi terancam pecah. Gambaran klinisnya adalah uterus mengecil. Evakuasi sisa hasil konsepsi yang tertinggal dalam uterus. Konseling asuhan pascakeguguran dan pemantauan lanjut 50 . dan kanalis telah tertutup. 4) Abortus Komplit Seluruh hasil konsepsi telah dikeluarkan. Berikan infus oksitosin 20 unit dalam 500 ml cairan I. sehingga tidak memerlukan tindakan. Jika perlu berikan misoprostol 200 mcg pervaginam setiap 4 jam sampai terjadi ekspulsi hasil konsepsi (maksimal 800 mcg).V (garam fisiologik atau Ringer Laktat) dengan kecepatan 40 tetes/menit sampai terjadi ekspulsi hasil konsepsi (b). KET Perjalanan hasil konsepsi dapat terganggu dalam perjalanan sehingga tersangkut dalam lumen tuba.

Jika diperoleh hasil darah yang tidak membeku. mual. pembesaran payudara. nadi cepat dan lemah (110x/menit atau lebih) perubahan warna pada vagina dan serviks. pembesaran uterus. Alat penting yang dapat digunakan untuk mendiagnosis kehamilan ektopik yang pecah adalah tes kehamilan dari serum dikombinasi dengan ultrasonografi. Diagnosis banding a) Abortus iminens b) Penyakit radang panggul baik akut maupun kronis c) Kista ovarium (terpuntir atau ruptur) dan apendisitis akut d) Tanda dan gejala kehamilan ektopik Kehamilan Ektopik • Gejala kehamilan awal (flek atau perdarahan yang ireguler. Tuba falopii merupakan tempat tersering untuk terjadinya implantasi kehamilan ektopik (lebih besar dari 90%) Tanda dan gejalanya sangatlah bervariasi bergantung pada pecah atau tidaknya kehamilan tersebut. perlunakan serviks. Kehamilan Ektopik Terganggu • Kolaps dan kelelahan • Denyut • Hipotensi • Hipovolemia • Abdomen akut dan nyeri pelvis • Distensi abdomen(a) • Nyeri lepas • Pucat e) Distensi abdomen dengan shifting dullness merupakan petunjuk adanya darah bebas. frekuensi buang air kecil yang meningkat • Nyeri pada abdomen dan pelvis 51 .Kehamilan ektopik adalah kehamilan dengan implantasi terjadi di luar rongga uterus. segera mulai penanganan.

tuba dipertahankan).1.Gambar. lakukan Jangan menunggu darah sebelum melakukan salpingktomi (tuba yang berdarah dan hasil konsepsi dieksisi bersama-sama). Jika kerusakan pada tuba kecil. lakukan salpingektomi (hasil konsepsi dikeluarkan. 2. Kehamilan ektopik Penanganan awal a) Jika fasilitas memungkinkan. Hal ini hanya dilakukan jika konservasi kesuburan merupakan hal 52 . Jika terjadi kerusakan berat pada tuba. pembedahan b) Jika fasilitas tidak memungkinkan. segera lakukan uji silang darah dan laparotomi. eksplorasi kedua ovaria dan tuba falopii: (1). segera rujuk ke fasilitas lebih lengkap dengan memperhatikan hal-hal yang diuraikan pada bagian penilaian awal c) Pada laparotomi. Ini merupakan terapi pilihan pada sebagian besar kasus (2).

2) Imunoselektif dari trofoblas 3) Keadaan sosek rendah 4) Paritas tinggi 5) Kekurangan protein 6) Infeksi virus dan faktor kromosom yang belum jelas Diagnosis dan gejala 1) Anamnesa/keluhan: a) Terdapat gejal-gejala hamil muda yang kadang-kadang lebih nyata dari kehamilan biasa b) Kadangkala ada tanda toksemia gravidarum c) Terdapat perdarahan yang sedikit atau banyak. Kehamilan mola merupakan proliferasi abnormal dari vili khorialis. ovum memang sudah patologik sehingga mati.yang penting untuk ibu tersebut. tidak teratur. Etiologi Penyebab mola belum diketahui dengan pasti. atau mata ikan. tetapi terlambat dikeluarkan. faktor-faktor yang dapat menyebabkannya antara lain: 1) Faktor ovum. warna tengguli tua atau kecoklatan seperti bumbu rujak d) Pembesaran uterus tidak sesuai (lebih besar) dengan tua kehamilan seharusnya 53 . e. karena risiko kehamilan ektopik berikutnya cukup tinggi. MOLAHIDATIDOSA Adalah jonjot-jonjot korion yang tumbuh berganda berupa gelembunggelembung kecil yang mengandung banyak cairan sehingga menyerupai buah anggur.

e) Keluar janringan mola seperti buah anggur atau mata ikan yang merupakan diagnosa pasti 2) Inspeksi a) Muka dan kadang-kadang badan kelihatan pucat kekuningkuningan (mola face) b) Bila gelembung mola keluar akan terlihat dengan jelas 3) Palpasi a) Uterus membesar tidak sesuai dengan tuanya kehamilan. dan fundus uteri turun: lalu naik lagi karena terkumpulnya darah baru 4) Auskultasi a) Tidak terdengar bunyi denyut jantung janin b) Terdengar bising dan bunyi khas 5) Reaksi Kehamilan. sonde 54 . juga gerakan janin c) Adanya fenomena harmonica. Bahkan pada mola atau koriokarsinoma. 6) Pemeriksaan dalam Pastikan besarnya rahim. maka suspek mola hidatidosa b) Galli Mainini 1/200 (+). maka kemungkinan mola hidatidosa atau hamil kembar. tidak ada bagianbagian janin. sonde dimasukkan pelan-pelan dan hati-hati ke dalam kanalis servikalis dan kavum uteri. 7) Uji sonde. darah dan gelembung mola keluar. teraba lembek b) Tidak teraba bagian-bagian janin dan balotemen.. serta evaluasi keadaan serviks. uji biologik atau imunologik cairan serebro-spinal dapat menjadi positif. terdapat perdarahan dan jaringan dalam kanalis servikalis dan vagina. bila tidak ada tahanan. rahim terasa lembek. karena kadar HCG yang tinggi maka uji biologic dan uji imunologik (Galli Mainini dan planotest) akan positif setelah pengenceran (titrasi): a) Galli Mainini 1/300 (+).

8) Foto roentgen abdomen. Penanganan awal: a) Jika diagnosis kehamilan mola telah ditegakkan. Jika tes kehamilan dengan urin tidak negatif setelah 8 minggu atau menjadi positif kembali dalam 1 tahun pertama. tidak terlihat tulang-tulang janin(pada kehamilan 3-4 bulan) 9) Arteriogram khusus pelvis 10) Ultrasonografi. lakukan evakuasi uterus: b) Segera lakukan evakuasi jaringan mola dan sementara proses evakuasi berlangsung berikan infus 10 unit oksitosin dalam 500 ml cairan I.V (NaCl atau Ringer Laktat) dengan kecepatan 40-60 tetes per menit (sebagai tindakan preventif terhadap perdarahan hebat dan efektifitas kontraksi terhadap pengosongan uterus secara cepat) Penanganan selanjutnya: a) Pasien dianjurkan untuk menggunakan kontrasepsi hormonal atau tubektomi bila ingin menghentikan fertilitas b) Lakukan pemantauan setiap 8 minggu selama minimal 1 tahun pasca evakuasi dengan menggunakan tes kehamilan dengan urin karena adanya risiko timbulnya penyakit trofoblas yang menetap atau khoriokarsinoma. rujuk ke pusat kesehatan tersier untuk pemantaun dan penanganan lebih lanjut 55 . bila tetap tidak ada tahanan. pada mola akan kelihatan bayangan badai salju dan tidak terlihat janin. kemungkinan mola.diputar setelah ditarik sedikit.

Penatalaksanaan: Wanita dengan hipertensi esensial harus mendapat pengawasan yang ketat dan harus dikonsultasikan pada dokter untuk proses persalinannya. Yang membedakannya dengan preeklamsia yaitu factor-faktor hipertensi esensial muncul pada awal kehamilan. jauh sebelum terjadi preeklamsia. Dia dapat hamil dan bersalin normal tetapi saat hamil dianjurkan untuk lebih banyak istirahat dan menghindari peningkatan berat badan terlalu banyak.2. Kadanng-kadang keadaan ini dihubungkan dengan penyakit ginjal. selanjutnya meningkat lagi sampai ke nilai awal atau kadang-kadang lebih tinggi. phaeochromocytoma atau penyempitan aorta. dapat dilakukan induksi apabila tekanan darah meningkat atau terdapat tanda-tanda Intra Uterine Growth Retardation (IUGR). dan keadaan ini lebih sering muncul pada saat kehamilan. serta tidak terdapat edema atau proteinuria. 56 . Komplikasi Dan Penyulit Dalam Kehamilan Trimester III a) Kehamilan Dengan Hipertensi 1) Hipertensi esensial Hipertensi esensial adalah kondisi permanen meningkatnya tekanan darah dimana biasanya tidak ada penyebab yang nyata. Wanita hamil dikatakan mempunyai atau menderita hipertensi esensial jika tekanan darah pada awal kehamilannya mencapai ≥ 140/90 mmHg. Selama trimester ke II kehamilan tekanan darah turun di bawah batas normal. Selama tekanan darah ibu tidak meningkat sampai 150/90 mmHg berarti pertanda baik. Kehamilan tidak dibolehkan melewati aterm karena kehamilan postterm meningkatkan risiko terjadinya insufisiensi plasenta janin. Kesejahteraan janin dipantau ketat untuk mendeteksi adanya retardasi pertumbuhan. Jika perlu. Setelah UK 18 minggu lebih sulit hipertensi esensial dari pre eklamsia.

mungkin terjadi perdarahan otak atau gagal jantung. atau meningkat pada awal persalinan. atau jika keadaan berbahaya atau lebih akut. persalinan dapat dilakukan dengan cara Sectio caesarea. kadang-kadang gagal ginjal merupakan komplikasi. harus dirawat dokter di rumah sakit. 200/120 mmHg atau lebih. 57 . karena kurangnya sirkulasi plasenta. Jika ditemukan tekanan darah ≥ 160/100 mmHg. yang dapat menyebabkan kejadian Intra Uterine Growth Retardation (IUGR) dan hipoksia. Obat-obat antihipertensi dan sedative boleh diberikan untuk mengontrol tekanan darah. dokter dapat menghindari risiko yang serius dengan mempercepat persalinan. Janin juga berisiko. 2) Hipertensi Karena Kehamilan Hipertensi yang ditimbulkan atau diperberat oleh kehamilan lebih mungkin terjadi pada wanita yang : a) b) Terpapar vili korialis untuk pertamakalinya Terpapar vili korialis yang terdapat jumlah yang banyak seperti pada kehamilan kembar atau mola hidatidosa c) d) Mempunyai riwayat penyakit vaskuler Mempunyai kecenderungan genetic untuk menderita hipertensi dalam kehamilan. Hal ini dapat dilakukan dengan menginduksi persalinan. Jika tekanan darah sangat tinggi. Anamnesa juga diperlukan untuk mengeluarkan ibu dari pre eklamsia. Jika tekanan darah tidak dapat dikendalikan atau terdapat tanda-tanda IUGR atau hipoksia. Kandungan catecholamine atau vanilmandelic acid (VMA) biasanya diukur karena hipertensi yang berat mungkin disebabkan karena Pheochromacytoma atau tumor pada ginjal.Merupakan pertanda kurang baik jika tekanan darah sangat tinggi. Keadaan ibu mungkin berkembang menjadi Pre Eklamsia atau mengalami abrupsio plasenta (plasenta Pecah).

Kenaikan sistolik harus 30 mm Hg atau lebih diatas tekanan yang biasanya ditemukan. Oedema. Kehamilan juga menyebabkan wanita hamil kekurangnan nutrisi. tetapi kenyataannya sama-sama dapat terjadi preeklamsia. Oedema Pretribal yang 58 . Kenaikan tekanan Diagnostik lebih dapat dipercaya apabila tekanan Diastolik meningkat 15 mmHg atau lebih atau menjadi 90 mmHg atau lebih. 3) Pre Eklamsia Pre-Eklamsi Adalah Penyakit dengan tanda-tanda Hipertensi. Bahkan pengamatan menyebutkan bahwa makanan yang kurang mengandung protein sebagai penyebab penurunan insiden eklamsia. misalnya pada Mola Hidatosa. Resiko hipertensi karena kehamilan dipertinggi pada keadaan di mana pembentuka antibody penghambat terhadap tempat-tempat yang bersifat antigen pada plasenta terganggu. Seharusnya preeklamsia ditemkan pada multipara dari pada nulipara. Hipertensi biasanya timbul lebih dahulu dari pada tanda lain. Hipertensi biasanya timbul lebih dahulu daripada tanda-tanda lain. Preeklamsia mungkin lebih sering terdapat pada wanita dai keluarga yang tidak mampu. dan Proteinuria yang timbul karena kehamila. dan muka. Edema ialah Penimbunan cairan secara umum dan berlebih dalam jaringan tubuh dan biasanya dapat diketahui dari kenaikan berat badan serta pembengkakan kaki.Kemungkinan bahwa mekanisme imunologis di samping endokrin dan genetic turut terlibat dalam proses terjadinya pre-ekklamsia dan masih menjadi masalah yang mengundang perhatian. Pemeriksaan tekanan darah dilakukan minimal 2x dengan jarak waktu 6 jam pada keadaan istirahat. Untuk menegakkan diagnosa Pre-Eklamsi kenaikan tekanan Sistolik harus 30 mmHg atau lebih. jari tangan. atau mencapai 140 mmHg atau lebih. Penyakit ini biasanya timbul pada Triwulan ke-3 kehamilan tetapi dapat timbul sebelumnya. namun bisa juga terjadi pada pada wanita denan ekonomi yang menengah ke atas.

Pada Biopsi ginjal ditemukan spasme hebat arteriola Glomerolus. Sedangkan kenaikan berat badan dan Edema yang disebabkan oleh penimbunan air yang berlebihan dalam ruangan intestinal belum diketahui sebabnya. dan akhirnya proteinuria.ringan sering terjadi pada kehamilan biasa.199) menjelaskan bahwa pada Pre-Eklamsi terjadi pada spasme pembuluh darah yang disertai dengan Retensi Garam dan air. sehingga tidak berarti untuk penentuan Diagnosis Pre-Eklamsi. Patofisiologi : Mochtar (1999. lumen arteriole sedemikian sempitnya sehingga hanya dilalui oleh satu sel darah merah. Kenaikan BB ½ kg setiap minggu masih normal tetapi kalau kenaikan BB I kg atau lebih setiap minggu beberapa kali. Pada Pre-Eklamsi ringan tidak ditemukan gejala-gejala subyektif. karena itu harus dianggap yang cukup serius. hal ini perlu menimbulkan kewaspadaan terhadap timbulnya preeklamsia. Pada beberapa kasus.3 g/lt dalam urin 24 jam atau pada pemeriksaan menunjukan 1 atau 2+ atau 1 gr/lt yang dikeluarkan dengan jarak waktu 6 jam. mungkin karena retensi air dan garam. Proteinuria timbul lebih lambat daripada hipertensi dan kenaikan berat badan. pada Pre-Eklamsi ditemukan sakit kepala di 59 . di ikuti oedema. sebagai usaha untuk mengatasi kenaikan tekanan perifer agar oksigen jaringan dapat dicukupi. Jadi jika semua arteriola di dalam tubuh mengalami spasme maka tekanan darah akan naik. Proteinuria dapat disebabkan oleh Spasme arteriola sehingga terjadi perubahan pada glomerolus. Tanda Dan Gejala : Tanda-tanda Pre-Eklamsi biasanya timbul dalam urutan pertambahan berat badan yang berlebihan. Proteinuria berarti konsentrasi protein dalam urin yang melebihi 0. hipertensi.

Dengan adanya hipertensi bersama-sama dengan sel Endothelia rusak mempengaruhi melalui pembuluh. Meningkatnya produksi trombositopenia dan responsible untuk Disseminated Intravaskular Cougelation (DIC). diploma. Tekanan darah 140/90 mmHg atau kenaikan diastolik 15 mmHg atau lebih (diukur pada posisi berbaring terlentang) atau kenaikan sistolik 30 mmHg atau lebih.daerah frontal. Perbandingan ini disebabkan karena untuk menopang hipertensi. Di ginjal. Gejala-gejala ini sering di temukan pada Pre-Eklamsi yang meningkat dan merupakan petunjuk bahwa Eklamsi akan timbul. Dengan vasokontriksi dan disruption ke vascular endothelium menjadi coagulasi aktif. mual dan muntah-muntah. vasospasme menghasilkan arteriolus menyebabkan pengurangan aliran darah menuju ke ginjal yang menjadikan hypoxia dan oedema. penglihatan kabur. Hal ini menyebabkan sel endothelia rusak sehingga perbandingan antara vasodilator : vasocontricsi. oksigen rusak dan sehingga terjadi sianosis. Cara 60 . paru-paru dapat menjadi macet dengan adanya cairan dan berkembang menjadi oedema pulmonary. Pengurangan cairan ke intravaskuler disebabkan hypoluemia dan hemokonsentrasi dan ini adalah reflek untuk meningkatnya haematrokit. Perubahan Psikologi Normotensive pada wanita hamil dihubungkan dengan perubahan cardiovascular termasuk meningkatnya kerja jantung. Klasifikasi pre eklamsia dibagi menjadi 2 golongan : a) Preeklamsia ringan (1). nyeri di daerah epigastrum. Dalam kasus yang parah. sehingga terjadi kebocoran plasma dan rusaknya pembuluh darah sehingga dihasilkan oedema kemudian menuju ke jaringan. skotoma. volume darah dan cardiac output (Gant Et al 1973).

Roboransia Kunjungan ulang tiap 1 mg 61 . (3). 5 gr/lt atau lebih Oliguria (jumlah urine < 500 cc per 2 jam Terdapat edema paru dan sianosis Adanya gangguan serebral. namun pre eklamsia sering terjadi pada a) b) c) Primigravida Tuanya kehamilan Kehamilan ganda Prinsip pencegahan preeklamsia a) Pencegahan/ANC yang baik: ukuran tekanan darah. rendah kaebohidrat.3 gr/lt atau 1+ atau 2+ Edema pada kaki. dan garam Sedative ringan (jika tidak bisa istirahat ) tablet Febobarbital 3x30 mg peroral selama 2 hari (d). (2).pengukuran sekurang-kurangnya pada 2x pemeriksaan dengan jarak (2). (3). gangguan visus. Banyak istirahat ( berbaring tidur miring) Diet: cukup protein. muka dan berat badan naik >1 kg/mg Preeklamsia berat (1). (b). dan rasa nyeri di epigastrium. timbangan berat badan. (4). lemak. Tekanan darah 160/110 mmHg atau lebih Proteinuria. Penyebab preeklamsia secara pasti belum di ketahui. ukur kadar proteinuria tiap minggu b) Diagnosa dini/tepat: diet. kalau perlu pengakhiran kehamilan Penanganan a) Penanganan Pre-Eklamsi Ringan: 1) Rawat Jalan (a). jari. (c). b) Proteinuria 0. (5). (e).

b) Penanganan Pre-Eklamsi Berat di Rumah Sakit Penanganan Aktif: 1) Indikasi Indikasi perawatan aktif ialah bila di dapatkan satu atau lebih keadaan ini pada ibu: (a). Persalinan dapat dilakukan spontan bila perlu memperpendek kal II dengan bantuan bedah obstetri. Kehamilan lebih dari 37 minggu (b). Adanya tanda-tanda impending (c). 62 . tetapi tidak selalu komplikasi dari pre eklampsi.2) Jika dirawat di Puskesmas atau Rumah Sakit: (a). Kegagalan terapi pada perawatan konservatif Pada Janin : a) b) Adanya Tanda-tanda Fetaldistres Adanya Tanda-tanda IUFD induksi persalinan pada taksiran tanggal 4) Eklamsia Eklampsi merupakan serangan konvulsi yang biasa terjadi pada kehamilan. Bila Tekanan Darah turun tetapi belum mencapai normotensif selama perawatan maka kehamilannya dapat diakhiri pada kehamilan lebih dari 37 minggu (b). Jika Tekanan Darah mencapai normotensif selama perawatan persalinan ditunggu sampai aterm (2). (c). Pada Kehamilan Aterm (lebih dari 37 minggu) Persalinan ditunggu spontan atau dipertimbangkan untuk melakukan persalinan. Pada Kehamilan Preterm (kurang dari 37 minggu) (1).

pergerakkan otot menjadi dan serangan menjadi meningkat. Hampir seluruh otot-otot wanita segera menjadi Genggamannya mengepal dan tangan dan serangan spasme. sementara terbiasa. Etiologi Dalam eklampsi berat terdapat hipoksia serebral yang disebabkan karena spasme kuat dan oedem. Ini terjadi lebih dari 48-72 jam setelahnya. Empat fasenya antara lain: 1. Seluruh tubuhnyabergerak-gerak dari satu sisi ke sisi yang lain. Mata dibuka. Ada satu tanda eklampsi. bernama konvulsi eklampsi. Tahap Tonic. selama. Spasme ini berlangsung sekitar 30 detik 3. Beberapa pasien ada yang mempunyai dasar dysrhytmia serebral dan oleh karena itu konvulsi terjadi mengikuti bentuk yang lebih kuat dari pre eklampsi. 38% dsari kasus eklampsi tidak disertai dengan hipertensi dan protein urin (Douglas dan Redman 1994). Pada tahap ini dapat terjadi kesalahan jika observasi pada ibu tidak tetap. Monitor tekanan darah dan urin untuk proteinuria harus dilakukan dan dilanjutkan selama periode postpartum. dan sesudah persalinan. tersendat-sendat Spasme berhenti. konvulsi postpartum akan lebih sering terhindar. dia berhenti bernafas dan warnanyaberubah sianosis. lengannya kaku. sering saliva blood-strained terlihatb pada bibirnya 63 . Tahap klonik. Jika ANC dan Inc mempunyai standar yang tinggi. Tahap premonitory. ketika wajah dan otot tangannya sementara kejang 2. Hipoksia serebral menunjukkan kenaikan dysrhytmia serebral dan ini mungkin terjadi karena konvulsi. Kemudian otot respirasinya dalam spasme. Konvulsi dapat terjadi sebelum. Dia menyatukan gigi dan bisa saja dia menggigit lidahnya.Dalam sebuah konduksi studi nasional di UK pada tahun 1992.

Kelainan mata f. Nekrosis hati 64 . Bagi janin Dalam eklampsi antenatal janin dapat terpengaruh dengan ketidakutuhan plasenta. selanjutnya berkurang. Dari komplikasi-komplikasi ini dapat terjadi kefatalan. Angka kematian ibu dari eklampsi di UK pada tahun 1991-1993 adalah 11. Hipofibrinogen c. Wanita dapat tidak sadar dan mungkin nafasnya berbunyi. Angka kematian perinatal sebanyak 15%. Bagi ibu Perbedaan konvulsi dan kelelahan. Pasien dengan oedem dan oliguria perkembangan paru-paru dapat bengkak atau gagal ginjal. Dapat terjadi kegagalan hepar. pada ibu dapat terjadi cerebral hemorrhage. Selama sehat ketika ibu berhenti bernafas supply oksigen ke janin terganggu. Perdarahan otak e. Solusio plasenta b. tapi wajahnya tetap bengkak. Kadangkadang sadar dalam beberapa menit atau koma untuk beberapa jam Bahaya-Bahaya Eklampsi 1. Jika kenaikan hipertensi banyak. Dalam lebih dari setengah terdapat kematian ibu dan hanya satu atau dua yang selamat. Ini menunjukkan retardasi pertumbuhan intrauterine dan hipoksia. Sianosis memudar. Konvulsi intrapartum sangat berbahaya untuk janin karena kenaikan hipoksia intra uterin yang disebabkan karena kontraksi uterus. Inhalasi darah atau mucus dapat menunjukkan asfiksia atau pneumonia. Edema paru-paru g.4. Tahap Comatose. 2. Komplikasi yang terberat ialah kematian ibu dan janin: a. jika frekuensi berulang hati gagal berkembang. Hemolisis d.

trauma. kejadian kronik ini a demikian hebatnya. Bila keadaan ini tidak segera diobati. dari mulut keluar ludah yang berbusa aka menunjukan kongesti dan sianosis. Komplikasi lain (lidah tergigit. lidah dapat tergigit. 3. 65 . akan timbul kejangan. konvulsi eklamsi dibagi 4 tingkat yaitu : 1. sehingga penderita dapat terjatuh dari tempat tidurnya. Kelainan ginjal i. 2. mulut membuka dan menutup dan lidah dapat tergigit lagi. mual. Tingkat awal atau aura Keadaan ini berlangsung kira-kira 30 menit. dan fraktur karena jatuh dan DIC) Gejala Dan Tanda Pada umumnya kejang didahului oleh makin memburuknya preeklamsi dengan gejala-gejala nyeri kepala di daerah frontal. semua otot berkontraksi dan berulang-ulang dalam tempo yang cepat. gangguan penglihatan. Tingkat kejangan klonik Berlangsung 1-2 menit. Akhirnya kejangan terhenti dan penderita menarik nafas secara mendengkur. muka menjadi sianotik. pernafasan berhent. Penderita menjadi tak sadar. kelopak mata bergetar demikian pula tangannya dan kepala diputar ke kanan dan ke kiri. nyeri epigastrium. bola mata menonjol. dan hiperefleksia. wajahnya kelihatan kaku. Prematuritas j. dalam tingkat ini seluruh otot menjadi kaku. spasmus tonik menghilang.h. Tingkat kejangan tonik Berlangsung lebih 30 menit. Mata penderita terbuka tanpa melihat. tangan menggenggam dan kaki membengkok ke dalam.

Secara perlahan-lahan penderita menjadi sadar lagi. Penatalaksanaan Eklamsi Jika pre eklampsi diketahui lebih awal dan ditangani lebih cepat. Obat yang dipilih untuk pengobatan eklampsi adalah Magnesium Sulfat (Neilsen 1995. Tingkat koma Lamanya koma tidak selalu sama. Obat diberikan dengan segera untuk mengurangi rangsangan sistem saraf.4. paramedis harus segera dipanggil untuk memberikan pertolongan pertama sebelum dibawa ke rumah sakit. Penatalaksanaan selama konvulsi antara lain: 1. Mulut dibersihkan dari mucus dan darah dengan suction. Mengontrol konvulsi Ini sangat penting untuk mengontrol konvulsi. eklampsiakan lebih sulit terjadi. Magnesium Sulfat Antikonvulsi yang efektif dan bereaksi cepat. Melindungi wanita dari luka-luka Ibu harus miring ke satu sisi dan pergerakkan konvulsinya dapat ditekan dari semua ini harus dilakukan sepelan mungkin dan tidak tergesagesa. Jika wanita berada di luar rumah sakit saat terjadi konvulsi. Penemuan Collaborative Eclampsi Trial. Penatalaksanaan Selanjutnya Prinsip-prinsip pelaksanaan: 1. akan tetapi dapat terjadi pula bahwa sebelum itu timbul serangan baru yang berulang. Memelihara kebersihan jalan nafas 2. Untuk pertolongan awal bantuan medis harus dipanggil. dipublikasikan pada tahun 1995. 66 . sehingga ia tetap dalam koma. Oksigen diberikan untuk kepentingan keduanya ibu dan janin. terlebih lagi konvulsi pada wanita memiliki resiko tinggi untuk hidupnya dan janinnya. Sangat jarang dimulai dan proses cepat terjadi eklampsi diantara pemeriksaan antenatal yang biasa dan sering.Lucas 1995) a.

Injeksi intravena diazepam 10-40 mg diikuti dengan infus 20-80 mg dalam 500 ml dari 5% dextrose dengan rata-rata 30 tetes/menit. hydrochloride (apresoline) 20 mg dengan injeksi intravena diikuti oleh 20-40 mg sebagai injeksi intravena. 67 . b. Wanita yang menerima Magnesium Sulfat memiliki resiko 52% lebih rendah dari konvulsi dibandingkan diberi diazepam. Walaupuntidak efektif dalam mengontrol eklampsi (The eclampsia Collaborative Trial Group. Pengobatan diuretic diindikasikan ketika urin yang keluar kurang dari 20 ml/jam. 1995). Magnesium Sulfat direkomendasikan untuk pengobatan untuk eklampsi. 1995). promethozin dan chlorpromazine dalam infus intravena dextrose 5%) sekarang tidak direkomendasikan phenytoine digunakan untuk mengobati epilepsy dan saat ini ada pembaharuan pada penatalaksanaan pre eklampsi. Antibiotik mungkin untuk mencegah infeksi paru-paru. Mengontrol tekanan darah Tekanan darah dikontrol oleh sedatif dan menggunakan obat anti hipertensi seperti hydralazine. laju teratur menurut aliran darah. Obat lain yang digunakan seperti morfin.WHO sekarang merekomendasikan penggunaan Magnesium Sulfat untuk pengobatan eklampsi dan memasukkannya ke dalam Daftar Obat Esensial (WHO. Injeksi intravena 4-5 gr dalam 20% pemberian. 1995) dan dianggap sebagai prophylactic dari pada metode pengobatan (Howard 1993). diikuti dengan infus 1-2 gr/jam. paraldehyde dan lytic cocktail (kombinasi dari pethidine. 2. dan 67% resiko lebih rendah dibandingkan dengan phenytoin. tribromoethanol (Avertin).terbukti Magnesium Sulfat lebih efektif mengurangi dan mencegah konvulsi eklampsi dibandingkan dengan diazepam dab phenytoin (Eclampsia Collaborative Trial Group.

enzim dalam hati dapat dimonitor dengan memberi informasi tentang: 1. Rujukan 1) Kriteria rujukan Eklamsi harus ditangani di Rumah Sakit.Tes biokimia untuk mengetahui fungsi ginjal. Proses rujukan • • • Jelaskan bahaya / komplikasi eklamsi kepada kelurga pasien. jika semua kasus eklamsi harus segera di rujuk. • • • • • Bari O2 Pasang infus dengan cairan dekstrose 5% dengan kecepatan 20 tetes / menit. Penanganan a. Rujuk pasien ke RS di sertai perawat yang mengantar dan surat rujukan Sebelum merujuk dapat diberikan pengobatan awal sesuai dengan diagnosis kasus. trombositopenia. Pasang goedel atau sudip yang dilapisi kain kasa untuk melindungi gigi tergigit lidah. baik untuk mengatasi kejang ataupun untuk memberi obat anti hipertensi. Pasang kateter urine yang dipertahankan dan kantong urine. 68 . 1. Keempat ekstrimitas di ikat tidak terlalu ketat agar pasien tidak terjatuh.

. 20 menit setelah • Monitoring tanda-tanda mkeracunan MgSO4 b) Obat-obat supportif Lihat pengobatan supporti pre-Eklamsi berat c) Perawatan pada serangan kejang • • • • Di rawat di kemar isolasi yang cukup tenang (bukan kamar gelap) Masukan sudip lidah ke dalam mulut penderita. Kepala direndahkan: daerah asofaring di hisap Fiksasi badan pada tempat tidur harus cukup kendor guna menghindari fraktur 69 . Penanganan eklamsi di RS 1) Penanganan medisinal a) Obat anti kejang MgSo4 • Loading dose 4 g MgSO4 40% dalam larutan 10 cc intravena selama 4 menit disusul 8 g IM MgSO4 40 % dalam laritan 25 nn diberikan pada bokong kiri dan kanan masing-masing 4 gram. • • Maintenance dose Tiap 6 jam diberikan lagi 4 gram IM MgSO4 Dosis tambahan Bila timbul kenjeng-kejang lagi maka dapat diberikan MgSO4 2 gram IV selama 2 menit. Sekurang-kurangnya pemberian terakhir Dosis tambahan 2 gram hanya diberikan sekali saja.b. Bila setelah diberi dosis tambahan masih tetap kejang maka berikan amobarita 3-5 m/kg BB IV pelan-pelan.

Biasanya terjadi pada trimester III. bila nutrisi tidak mungkin cukup diberikan alat bentuk NGT (Naso Gastric Tube) c. Penanganan Obstetric 1) Sikap terhadap kehamilan Sikap dasar : Semua kehamilam dengan pre-eklamsi harus diakhiri tanpa memandang umur kehamilan dan keadaan janin.d) Perawatan penderita dengan koma • • • Monitoring kesadaran dan lamanya koma memakai glassglow –Pittsburgh-coma scale. 2) Bilamana diakhiri Sikap dasar : • Bila sudah terjadi stabilisasi (permulian) hemodinamika dan metabolise ibu yaitu 4-8 jam setelah salah satu atau lebih di bawah ini: Setelah pemberian obat anti kejang terakhir Setelah kejang terakhir Setelah pemberian obat-obat antihiertensi terakhir Penderita mulai sadar (resp[onsive dan orientasi) b) Perdarahan Antepartum 1) Solusio Plasenta Solusio plasenta adalah terlepasnya plasenta yang letaknya normal pada corpus uteri sebelum janin lahir. Pada perawatan koma perlu diperhatikan pencegahan dekubitus dan makanan penderita Pada koma yang lama. 70 . walaupun dapat pula terjadi pada setiap saat dalam kehamilan.

neonatus dapat meninggal karenanya.. kemudian mengalir keluar lewat serviks dan terlihat dari luar sehingga terjadi perdarahan eksternal. Bila terlambat. Frekuensi ditegakan diagnosis solusio plasenta sangat bervariasi mengingat criteria yamg dipakai untuk membuat diagnosis ini berbeda-beda. atau setelah terjadinya perdarahan pervaginam. dengan angka mortalitas perinatal sebesar 30 %. tetapi keadaan ini dapat dikemukakan sebagi factor-faktor etiologinya yaitu : • • • Trauma Tali pusat yang pendek Dekompresi yang uterus mendadak 71 . Solusio plasenta dengan perdarahan tersembunyi menngandung ancaman bahaya yang jauh lebih besar terhadap keselamatan jiwa ibu. tetapi tetap tertahan diantara bagian plasenta yang terlepas dan uterus sehingga terjadi perdarahan tersembunyi. Tampak jelas bahwa abrupsio plasenta merupakan problem obstetric yang sering ditemukan dan terutama berbahaya bagi janin serta nonatus. Penyebab primer solusio plasenta tidak diketahui. Etiologi. kemungkinan pelepasan plasenta yang luas sehingga akan menimbulkan kematian janin. (1983) mengemukakan bahwa frekuensi untuk solusio plasenta sekitar 1 per 75 persalinan. tetapi juga akibat luasnya perdarahan yang tidak disadari. Intensitas solusio plasenta seringkali bervariasi menurut cepatnya ibu hamil mencari dan mendapatkan perawatan setelah merasakan nyeri abdomen. Hurrd dkk. Bisa juga darah tidak mengalir keluar. ataupun setelah dijumpai keduanya. Meskipun janin bias bertahan hidup.Sebagian perdarahan pada solusi plasenta biasanya merembes sendiri diantara selaput ketuban dan uterus. Bila dapat diselamatkan bayi akan mengalami gangguan akibat kejadian tersebut. dan ini bukan hanya terjadi akibat peningkatan kemungkinan terjadinya koagulopati konsumtif yang berat.

Plasenta ini mempunyai permukaan maternal dengan lekukan bulat yang diameternya beberapa sentimeter dan ditutupi oleh darah yang membeku serta berwarna gelap. Desidua tersebut kemudian terbelah sehingga meninggalkan lapisan tipis yang melekat pada miometrium. Diagnosisi Klinis Perlu ditekankan bahwa keluhan dan gejala pada solusio plasenta dapat bervariasi cukup luas. Solusio plasenta dengan derajat yang lebih ringan dapat terhadi sesaat sebelum persalinan janin tunggal kalau cairan ketuban sudah mengalir habis dari dalam uterus dan janin mengalami desensus hingga kepalanya sudah berada pada perineum. Pada janina kembar. perdarahan eksternal bias banyak sekali meskipun pelepasan plasenta belum begitu luas sehingga menimbulkan efek langsung pada janian. Contoh. Patologi Terjadinya solusio plasenta dipicu oleh perdarahan ke dalam desidua basalis. kompresi dan kahirnya penghancuran plasenta yang berdekatan dengan bagian tersebut. atau perdarahan eksternal 72 . proses tersebut dalam stadium awal akan terdiri dari pembentukan hematoma desidua yang menyebabkan pelepasan.. Sebai akibatnya. Dalam tahap awal mungkin belum terdapat gejala klinis. keadaan tersebut ditemukan hanya setelah dilakukan pemeriksaan terhadap plasenta yang baru dilahirkan.• • • Anomaly uterus atau anomaly uterus atau tumor uterus Hipertensi kronis atau hipeertensi yang ditimbulkan karena kehamilan Tekanan pada nena cava inferior akibat uterus yang membesar dan defisiensi gizi. dekompresi yang terjadi setelah persalinan janin pertama dapat menimbulkan pelepasan premature plasenta yang membahayakan janin kedua.

dan hal ini bukan saja terjadi akibat kemungkinan koagulopati konsumtif yang lebih tinggi. Perdarahan Perdarahan antepartum dan intrapartum pada solusio plasenta hampir tidak dapat dicegah kecuali dengan menyelesaikan persalinan segera. Tindakan terakhir mengatasi perdarahan postpartum bila tidak dapat diatasi dengan kompresi bimanual. kali ini terjadi karena kontraksi uterus yang tidak kuat untuk menghentikan perdarahan pada kala III. uterotonika. pengobatan kelainan pembekuan darah ialah histerektomia atau pengikatan arteria hipogastrika. 1. Komplikasi yang dapat terjadi ialah perdarahan.tidak terdapat tetapi plasenta sudah terlepas seluruhnya dan janin meninggal sebagai akibat langsung keadaan ini. Solusio plasenta dengan perdarahan yang tersembunyi mengandung ancaman bahaya yang jauh lebih besar bagi ibu. Komplikasi Komplikasi tergantung dari luasnya plasenta dan lamanya solusio plasenta berlangsung. kelainan pembekuan darah. Kelainan pembekuan darah kelainan pembekuan darah pada solusio plasenta biasanya disebabkan oleh hipofibrinogenemia. oliguria. tetapi juga akibat intensitas perarahan yang tidak diketahui sehingga pemberian tranfusi sering tidak memadai atau terlambat. 2. 73 . terjadinya dengan maseuknya trombo plastin ke dalam peredaran darah ibu akibat terjadinya pembekuan darah retrolpasenter. dan gawat janin sampai kematiannya. dan kelainan pembekuan darah. Perdarahan postpartum dapat pula mengancam. sehingga terjadi pembekuan darah intra faskular dimana-mana yang akan menghabiskan fakto-faktor pembekuan darah lainnya terutama fibrinogen.

Kecurigaan akan adanya kelainan pembekuan darah harus dibuktikan dengan pemeriksaan secara laboratorium a. preeklamsia.oleh karena itu oliguria hanya dapat diketahui dengan pengukuran teliti pengeluaran air kencing yang harus rutin dilakukan pada solusio plasenta sedang. adanya fibrinolisin dalam peredaran darah d. berkisar antara 300-700 mg%. dan solusio plasenta berat.Kadar fibrinogen plasma normal pada wanita hamil cukup bula ialah 450 mg%. apalagi yang disertai perdarahan tersembunyi. penentuan waktu tromboplastin 3. Kelainan pembekuan darah berperanan pula dalam terjadinya kelainan fungsi ginjal ini 4. Oliguria Pada tahap oliguria keadaan umum penderita biasanya masih baik. pengamatan pembekuan darah untuk menentukan : 1) waktu pembekuan darah 2) besarnya dan kemantapan pembekuan darah 3) adanya factor seperti heparin (antikoagulansia) dalam peredaran darah c. atau hipertensi menahun. Terjadinya oliguria sangat mungkin berhubungan dengan hipofolemi dan penyempitan pembuluh darah ginjal akibat perdarahan yang banyak. Ada yang menerangkan bahwa tekanan intra uterin yang meninggi karena solusio plasenta menimbulkan reflek penyempitan pembuluh darah ginjal. penentuan waktu protrombin f. Gawat janin 74 . hitung trombosit e. Apabila kadar fibrinogen lebih rendah jadi 100 mg% akan terjadi gangguan pembekuan darah. penentuan kuantitatif kadar fibrinogen b.

Tranfusi darah b. barulah ditangani sebagai solusio plasenta. a. Pemecahan ketuban c. berarti perdarahan telah terjadi sekurang-kurangnya 1000 ml. Apabila perdarahan berlangsung terus dan gejala solusio plasenta bertambah jelas atau dengan pemeriksaan USG daerah solusio plasenta bertambah luas maka pengakhiran kehamilan tidak dapat dihindarkan lagi. Apabila kemudian ternyata kemungkinan plasenta previa dapat disingkirkan.Jarang ditemukan kasus solusio plasenta dengan janin yang masih hidup. Solusio plasenta sedang dan berat Apabila tanda dan gejala klinik solusio plasenta jelas dapat di temukan. Apabila janin hidup lakukan SC. dan uterusnya tidak menjadi tegang. Solusio plasenta ringan Perdarahan antepartum yang sedikit. Kalaupu janin yang masih hidup biasanya sudah gawat kecuali pada solusio plasenta ringan. 5. dengan uterus yang tidak tegang. tidak peduli bagaimana keadaan umum penderita. Penanganannya di RS meliputi. Apabila kehamilannya kurang dari 36 minggu dan perdarahannya kemudian berhenti. dan tidak peduli apakah persalinan akan 75 . apabila janin mati lakukan pemecahan ketuban dan pemberian infus oksitosin untuk mempercepat persalinan. Infus oksitosin d. 6. maka penderita harus diobservasi dengan ketat. Jika perlu SC Tekanan darah bukan merupakan petunjuk banyaknya perdarahan karena vasospasmus sebagai reaksi dari perdarahan ini akan meninggikan tekanan darah Ketuban segera dipecahkan. perutnya tidak menjadi sakit. pertama kali harus ditangani sebagai kasus plasenta previ.

atau syok telah dapat teratasi . Pada solusio plasenta ringan dan sedang kematian janin tergantung dari luasnya plasenta yang terlepas dari dinding uterus dan tuanya kehamilan. dan gangguan pembekuan darah. Prognosis Prognosis ibu tergantung dari luasnya plasenta yang lepas dari dinding uterus. Payah ginjal yang sering merupakan komplikasi solusio plasenta pada dasarnya disebabkan oleh hipovolemik karena perdarahan. Prognosis janin pada solusio berat hampi 100 % mengalami kematian. walaupun dengan mecahan selaput ketuban dan infus oksitosin. Apabila persalinan tidak selesai atau diharapkan tidak akan selesai setelah 6 jam setelah terjadi solusio plasenta. karena tindakan yang terbaik untuk mengatasi perdarahan ialah dengan segera menghentikan sumber perdarahannya. Bila perlu persalinan dapat lebih dipercepat dengan pemberian infus oksitosin. derajat kelainan pembekuan darah. satu-satunya cara untuk segera mengosongkan uterus dengan SC. Pencegahan payah ginjal meliputi penggantian darah yang hilang secukupnya.pervaginam atau perabdominal. SC tidak usah menunggu sapai darah tersedia secukupnya. Pemecahan ketuban ini akan merangsang dimulai persalinan dan mengurangi tekanan intra uterin yang dapat menyebabkan komplikasi nekrosis kortek ginjal. Pada kasus solusio plasenta tertentu SC 76 . mungkin melalui apa yang dinamakan refleks uterorenal. segera mengatasi hipovolemi di bawah pengawasan tekanan vena pusat (CVP / central venous pressure). banyaknya perdarahan. dan mengatasi kelainan pembekuan darah. pemberantasan infeksi yang mungkin terjadi. dan jarak waktu antara terjadinya solusio plasenta sampai pengosongan uterus. ada tidaknya hipertensi menahun atau preeklamsia. secepat mungkin menyelesaikan persalinan. tersembunyi tidaknya perdarahannya.

yaitu pada segmen bawah uterus sehingga dapat menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir. Solosio Placenta 2) PLASENTA PREVIA Plasenta previa ialah plasenta yang letaknya abnormal. apabila seluruh pembukaan tertutup oleh jaringan plasenta 2. Sebagaimana pada setiap kasus perdarahan. 2. Plasenta previa totalis. Plasenta previa parsialis apabila sebagian pembukaan tertutup oleh jaringan plasenta 3. pabila pinggir plasenta berada tepat pada pinggir pembukaan 77 . Pada keadaan normal plasenta terletak dibagian atas uterus.dapat mengeurangi angka kematian janin. persediaan darah secukupnya akan sangat membantu memperbaiki prognosis ibu dan janinnya Gambar. Klasifikasi didasarkan atas terabanya jaringan plasenta melalui pembukaan jalan lahir pada waktu tertentu.2. plasenta previa marginalis. yang meliputi : 1.

Plasenta letak rendah (low lying). Pinggir plasenta berada kira-kira 3 atau 4 cm di atas pinggir pembukaan sehingga tidak akan teraba pada pembukaan jalan lahir. Tentu saja observasi ini tidak akan terjadi dengan penanganan yang baik. Kehamilan multiple : tempat plasenta terbesar lebih sering melewati segmen bawah rahim 3. Umur : ibu yang lebih tua lebih beresiko daripada ibu yang lebih muda 78 . Umpamanya plasenta previa totalis pada pembukaan 4 cm mungkin akan berubah menjadi plasenta previ parsialis pada pembukaan 8 cm. tetapi factor-faktor berikut diketahui dapat dihubungkan 1.3. Etiologi Penyebab plasenta previa tidak diketahui. 2. Gambar.4. plasenta yang letaknya abnormal pada segmen bawah uterus akan tetapi belum sampai menutupi pembukaan jalan lahir. Karena klasifikasi ini tidak didasarkan pada keadaan anatomik melainkan fisiologik. Plasenta previa. maka klasifikasinya akan berubah setiap waktu. Multiparitas : meningkatnya ukuran rongga uterus pada persalinan yang berulang-ulang merupakan predisposisi terjadinya plasenta previa 2.

Kelainan Plasenta : plasenta dengan dua bagian dan plasenta suksenturia mungkin dapat menyebabkan plasenta previa. Mal presentasi janin : sering didapatkannya bukan presentasi kepala pada janin. Plasenta membranasea (plasenta diffusa) mungkin juga merupakan penyebab. Tanda Dan Gejala Plasenta previa didiagnosa dengan pemeriksaan USG pada awal kehamilan bidan harus mengetahui wanita-wanita hamil yang mengalami plasenta letak rendah. Keadaannya mungkin dapat didiagnosa dengan ultrason. Hal ini merupaka kelainan perkembangan plasenta yang jarang dimana seluruh korion ditutupi dengan fungsi filli. Merokok : mekanisme yang tepat tidak begitu jelas tetapi terjadinya hipoksia disebabkan karena merokok yang mungkin menyebabkan pembesaran plasenta sehingga menyebabkan suplai oksigen berkurang. Wanita hamil yang merokok lebih dari 20 batang per hari 2 kali lebih besar peningkatan terjadinya plasenta previa 7. Pada kehamilan hal ini dapat menyebabkan perdarahan hebat yang memungkinkan dilakukan histerektomi. Plasenta menempati ruang di pelvis. karena ruang lainnya untuk kepala janin berada di fundus atau presentasi obliq dan presentasi bahu 79 . Riwayat myomektomi 6.4. Plasenta berkembang sebagai struktur membran yang tipis menutupi sebagian besar permukan uterus. Tidak semua wanita hamil menginginkan pemeriksaan USG akan taetapi bidan harus mengatahui tanda-tanda indikasi kemungkinan terjadinya plasenta previa : 1. Uterus sikatrik : SC pada persalinan sebelumnya meningkatkan resiko plasenta previa 5. dan mungkin bidan menemukan adanya presentasi bokong.

Denyut jantung janin sulit untuk dideteksi Karena tertutup oleh plasenta. Jika perdarahan banyak pasien dianjurkan untuk tidur miring atau menggunakan bantal dibawah pinggul kanannya untuk mencapai agar panggul miring dan menghindari supine hypotensive syndrome. ibu harus berbaring. dengan ukuran sesuai umur kehamilan Sulit untuk membedakan antara plasenta previa dengan abrupsio plasenta. Pada pemeriksaan abdomen akan taraba lunak. Kadang-kadang perdarahan terjadi setelah coitus tapi diketahui penyebabnya. Jika terjadi perdarahan pada kehamilan tidak boleh melakukan pemeriksaan vagina dirumah 2. merasa haus. Denyut nadi ibu yang keras dibawah umbulikus : plasenta previa anterior sering di deteksi dengan adanya suara denyut nadi ibu yan keras dari plasenta yang lebih mudah didengar dengan dopler. Perdarahan hebat yang terjadi akan memperlihatkan kondisi sbb : pucat. Demikian. 3. khususnya pada presentasi kepala. denyut nadi meningkat dan tekanan darah menurun. Penatalaksanaan di rumah : Pasien dianjurkan harus istirahat ditempat tidur. Sulitnya mengidentifikasi bagian janin pada palpasi : plasenta previa anterior (khususnya tipe I dan II) terletak diantara janin dan seperti ada yang mengganjal pada tangan bidan. Kemungkinan ada riwayat spoting. Bagian terendah janin tidak terfiksasi : khususnya pada plasenta previa tipe III atau IV.2. 4. berkeringat. Abrupsio plasenta ada hubungan dengan preeklamsia dimana dengan presentasi dan fiksasi kepala janin normal. gelisah. Penatalaksanaan 1. tidak adanya preeklamsia dan adanya beberapa ketidaknormalan yang ditemukan merupakan bukti terjadinya 80 . Penatalaksanaan di RS Di Rumah Sakit.

Dalam suatu ulasan tentang kepustakaan yang mencakup hampir 195. 3) INSERTIO VELAMENTOSA Jenis insersi tali pusat ini sangat penting dari segi praktis karena pembuluh-pembuluh umbilicus.plsenta previa. di selaput ketuban. Wanita tersebut harus di tempat tidur sampai perdarahan berhenti. Darah diperika kdar haemoglobin dan dilakukan uji cleihauer jika resus negatif dan setidaknya 2 kantong darah 3. berpisah jauh dari tepi plasenta. Pada 81 . diberikan pada kasus perdarahan hebat yang tiba-tiba.1% dari pelahiran janin tunggal memeiliki insersio velamentosa. Pemberian infus intra vena dapat dimulai jika perdarahan menetap dan dipertahankan sampai perdarahan berhenti. Observasi Pemantauan suhu. Benirschke dan kaufmann. (2000) mendapatkan bahwa 1. tekanan darah dan denyut jantung janin harus dilakukan. Mungkin dibutuhkan pengkateteran. Denyut jantung janin harus selalu dipantau dengan cardiotocography jika perdarahan menetap. Keadaan ini terjadi jauh lebih sering pada kehamilan kembar. Urin diperiksa kadar protein jika perdarahan hebat. nadi. dan mencapai keliling tepi plasenta dengan hanya di lapisi oleh satu lipatan amnion.000 kasus. dan hampir selalu terjadi pada kembar tiga. VASA PREVIA Keadaan ini terjadi pada insersi velamentosa apabila sebagian dari pembuluh janin di selaput ketuban memotong daerah os internum dan menempati posisi di depan bagian terbawah janin. Nadi dan tekanan darah dicatat lebih sering dengan ketentuan : tiap seperempat jam jika perdarahan berlanjut.

yang dalam keadaan normal terdapat dalam darah tali pusat tetapi tidak dalam darah ibu. Apabila terjadi perdarahan antepartum atau intrapartum. Pada plasenta marginata mungkin terjadi adeksi dari selaput 82 . Sayangnya. Menurut beberapa ahli plasenta sirkumvalata serin menyebabkan abortus dan solusio plasenta. dan periksa preparat untuk mencari sel darah merah berinti. 4) RUPTUR SINUS MARGINALIS Ruptur sinus marginalis Pecahnya pembuluh vena dekat tepi plasenta yang terbentuk karena penggabungan pinggir ruang intervilli dengan ruang subcorial. di sebut plasenta marginata. Cincin ini menandakan pinggir plasenta. Insidensinya lebih kurang 2-18 %. plasenta jenis ini tidak jarang terjadi. 5) PLASENTA SIRKUMVALATA Plasenta sirkumvalata adalah plaseta yang pada permukaan vetalis dekat pinggir terdapat cincin putih. Kedua-duanya disebut sebagai plasenta ekstra coriel.pemeriksaan yang cermat kadang-kadang dapat diraba sebuah pembuluh janin tubular di selaput ketuban yang menutupi bagian terbawah janin. Diduga bahwa corionfrondosum terlalu kecil dan untuk mncukupi kebutuhan. Penekanan pembuluh oleh jari pemeriksa ke bagian terbawah janin kemungkinan akan menyebabkan perubahan frekuensi denyut jantung janin. sedangkan jeringan di sebelah luarnya terdiri dari villi yang tumbuh kesamping dibawah desidua. jumlah darah janin yang boleh keluar tanpa mematikan janin relatif sedikit. terdapat kemungkinan vasa previa atau ruptur pembuluh janin. Cara tercepat dan mudah untuk mendeteksi darah janinadalah dengan mengapuskan darah pada kaca obyek. warnai apusan dengan pewarna Wright. Bila cincin putih ini letaknya dekat sekali ke pinggir plasenta. villi menyerbu kedalam desidua di luar permukaan frondosum. Pada vasa previa terdapat bahaya yang sangat besar bagi janin karena pecahnya ketuban dapat disertai oleh ruptur pembuluh janin yang menyebabkan kehilangan banyak darah.

Kelahiran prematur elektif. infeksi maternal atau prolapsus tali pusat. Produk kehamilan ini mempunyai komplikasi yang paling rendah. Kelahiran dengan komplikasi kegawat daruratan Komplikasi tersebut meliputi solusio plasenta.sehingga plsenta lahir telanjang tertinggalnya selaput ini dapat menyebabkan perdarahan dan infeksi. Hal ini diakibatkan oleh preeklamsi berat. Insiden kelahiran prematur kurang lebih 6 sampai 10%. 2. 83 . c) Kelainan dalam lamanya kehamilan 1) Prematur Persalinan dikatakan preterm jika terjadi sebelum akhir umur kehamilan 37 minggu. Kelahiran prematur memberikan kontribusi secara langsung antara 7590% dari semua kematian neonatal dan merupakan penyebab paling banyak morbibitas dalam jangka waktu yang pendek dan yang lama. Diagnosis plasenta sirkumvalata baru dapat ditegakan setelah plasenta lahir tetapi dapat diduga bila ada perdarahan intermiten atau hidrorea. Bayi yang dilahirkan kurang dari 37 minggu dari hari pertama haid terakhir dinamakan preterm. eklampsia. penyakit ginjal maternal atau iugr. Bayi yang dilahirkan dengan berat badan kurang dari 2500 gram termsuk dalam kategori berat badan lahir rendah. Kelahiran preterm dapat terjadi sebagai akibat dari beberapa faktor di bawah ini: 1. KPD Insidennya kira-kira 20 % dari semua kasus kelahiran preterm 3. Jumlah kelahiran prematur meningkat dengan peningkatan umur kahamilan minggu. yang paling sedikit ¼ bagian terjadi sebelum minggu ke 32. Kelompok ini kira-kira berjumlah 20 % dari kehaliran preterm. resus iso imunisasi.

Infeksi terutama pielonefritis f. vaginosis bakterial. Organisme ini terdapat pada 5% wanita dan berhubungan dengan terjadinya kpd. Peningkatan berat badan yang tidak adekuat b. 35% wanita dengan incompeten servik akan melahirkan preterm dan 19% wanita dengan uterus bicornis. Kehamilan saat ini a. Amnionitis disebabkan karena infeksi 84 . Riwayat reproduksi Riwayat kelahiran preterm sebelumnya. Faktor yang meningkatkan resiko terjadinya persalinan prematur adalah: 1. 3. Perdarahan c. Abnormalitas uterus. penyakit ginjal atau dm 4) Infeksi umum terutama virus 2. Akdr masih berada di dalam rahim d. Dia mempunyai resiko untuk terjadi kelahiran preterm 70% pada kehamilan ini. Persalinan preterm spontan tanpa komplikasi yang tidak diketahui penyebabnya Kelompok ini berjumlah paling besar sampai 40 % dari kelahiran prematur. Pembedahan abdomen e. Faktor biologikal/medik 1) Umur kurang dari 15 tahun atau lebih dari 35 tahun 2) Berat badan rendah (kurang dari 50 kg saat konsepsi) 3) Riwayat hipertensi.4. unicornis atau didelphic akan melahirkan sebelum umur kehamilan 37 minggu. Infeksi saluran genital terutama vaginitis non spesifik. klamedia dan streptokokus hemolitik b. Jika wanita mempunyai riwayat lebih dari 2 kali melahirkan bayi preterm. Perdarahan pada kehamilan sebelumnya.

85 . Merokok. Sosial ekonomi a. Memonitor aktifitas uterus. Malformasi fetus j. Adat istiadat atau kebiasaan a. pemakai obat-obatan terlarang dan alkohol b. b. 1. persalinan preterm sering terjadi pada wanita yang tidak menikah c. Kematian fetus 4.traktus genital dapat menstimilasi pelepasan prostaglandin dan hal ini dapat menyebabkan mulainya persalinan g. Metode ini relatif mempunyai nilai prediktif yang sedikit terutama pada primigravida dan skor yang rendah dapat menyebabkan kesalahan. Psikologi Psikologi distres dihubungan dengan kelahiran preterm 6. 46% melahirkan preterm h. Jarak antar kehamilan pendek c. Prediksi sulit dilakukan dan tidak efektif dalam mencegah kelahiran preterm. 2. Kemiskinan dan sosial yang rendah persalinan preterm biasa terjadi pada wanita dari kelompok sosial ekonomi yang rendah. Terlambat anc d. Penyakit resus k. Kehamilan ganda. Tidak melakukan ANC Beberapa metode digunakan untuk mencoba mengidentifikasi wanita dengan resiko persalinan preterm. hal ini bisa dilakukan berdasarkan pada faktor yang telah dijelaskan diatas. Polihidramnion i. meliputi pekerja fisik yang berat 5. Status pernikahan. tetapi hal ini bisa dilakukan dengan. Sistem skoring resiko. Pekerja.

Gerakan pernafasan fetus berhenti sebelum persalinan premetur dimulai dan hal ini merupakan indikator dari persalinan preterm prematur mengancam. Tes tesebut seharusnya dilakukan setiap 2 minggu dari umur kehamilan 24 minggu dan tidak dapat dilakukan jika ada perdarahan pervaginam atau kpd karena perdarahan dan cairan amnion mengandung fibrinektin. Prosedur ini dapat mengetahui infeksi dan mempunyai nilai prediksi rendah pada wanita yang mempunyai resiko kelahiran preterm.7%. Gerakan pernafasan fetus.Hal ini bisa dilakukan tetapi tampaknya tidak mempengaruhi jumlah kelahiran preterm. 4. 3. menyebabkan kebocoran fibrinektin. Tes ini mempunyai sensitifitas 79. Penemuan hubungan antara tingkat fibronektin fetus dalam servik dan sekresi vagina pada waktu datangnya persalinan preterm dapat diketahui dengan tes yang dilakukan disamping tempat tidur. Pemeriksaan pelvik Pemeriksaan pelvik yang teratur akan tampak tanda perubahan yang dapat mengambarkan waktu datangnya persalinan. Fibronektif fetus adalah suatu komponen matrik ekstraseluler. Panjang servik Pemeriksaan usg pada servik dapat memprediksi pesalinan preterm. ini disekresi oleh villi trofoblas. Tingkat positif palsu 17%. Jika persalinan preterm mengancam hubungan jaringan korio desidual terpisah dari ibu dan fetus.4% dan spesifitas 82. 86 . 5. 6.

Bidan seharusnya menyadari kecenderungan persalinan prematur pada wanita akan mengeluh. Peningkatan rasa sakit karena kontraksi 2. Metode ini efektif untuk menekan persalinan preterm. Dukungan sosial Peran dukungan sosial dalam mencegah kelahiran prematur dilakukan dan tidak tampak mempunyai pengaruh pada kesehatan fisik meskipun dapat memperbaiki kesehatan psikologis. Bed rest dapat dilakukan tetapi cara ini tidak efektif. Progestogen dan etanol (jarang digunakan) 10. Sekarang menggunakan gliseril trinitat (gtn). Antibiotik terapi Antibiotik terapi dapat memperlambat waktu datangnya persalinan preterm. Cervical cerclage Cervical cerclage mungkin bermanfaat dimana kelemahan servik seperti riwayat abortus trimester ii atau biopsi. 9. 12. 1. Manajemen Kelahiran Dan Persalinan Prematur Persalinan prematur mungkin sulit dikenali tetapi dapat dikenali dengan perubahan servik. diagnosis dapat ditegakkan.7. Kram seperti menstruasi (dismenorhoe) 87 . pendataran servik 80% atau dilatasi servik 2 cm atau lebih. 11. Bed rest Pencegahan kelahiran preterm tergantung dari pebcegahan aktifitas uterus dan dilatasi servik. 8. Peningkatan kunjungan antenatal dan education Peningkatan kunjungan anc dan pendidikan pada ibu diperkirakan dapat mengurangi persalinan preterm pada insiden kelahiran sebelum umur kehamilan 34 minggu.

tidak ada tanda perdarahan pervaginam pada saat ini atau KPD. Jadi secar teknis kehamilan memanjang dapat dimulai pada hari 294 atau pada hari 295 setelah hari pertam haid terakhir. meskipun telah masuk minggu ke 42. setidaknya sebagian. Sakit pinggang 4.3. belum lengkap 42 minggu sapai habis hari ke tujuh. bidan harus menghubungai dokter dan wanita dirujuk ke RS dengan fasilitas perawatan neonatus. adalah 42 minggu lengkap (294 hari) atau lebih sejak hari pertama haid terakhir. didukung oleh American College of Obstetricians and Gynecologist (1997) . Variasi-variasi siklus menstruasi ini kemungkinan menjelaskan. mengapa sekitar 10 persen kehamilan mencapai 42 minggu. 2) Postmatur Postmatur kehamilan yang sudah melampaui masa kehamilan yang dianggap berada diatas batas normal. Karena tidak ada metode untuk mengidentifikasi kehamilan yang benar-benar memanjang. Kehamilan antara 41 minggu lewat 1 hari sampai 41 minggu lewat 6 hari. Definisi standar yang direkomendasikan secara internasional untuk kehamilan memanjang. Jika umur kehamilan 35 minggu atau lebih persalinan dapat dilanjutkan dan kebanyakan bayi yang lahir pada usia ini akan berkembang lebih baik jika diberikan perawatan yang tepat setelah lahir. Jika umur kehamilan dibawah 35 minggu dokter dapat memberikan obat tokolitik jika keadaan ibu dan fetus baik. namun relaif sedikit janin yang terbukti mengalami postmaturitas. Postmatur seharusnya digunakan untuk mendeskripsikan janin dengan cirri-ciri klinis nyata yang menunjukan kehamilan yang memanjang patologis. Tekanan pada pelvik 5. 88 . Peningkatan pengeluaran vagina Jika persalinan dimulai dirumah. Fase “42 minggu lengkap” perlu ditekankan.

semua kehamilan yang dietapkan sebagai 42 minggu lengkap harus ditangani seolah-olah memanjang abnormal. Syndrome ini terjadi pada sekitar 10 % kehamilan antara 41 dan 43 minggu serta meningkat menjadi 33 % pada 44 minggu. Berapa bayi yang bertahan hidup mengalami kerusakan otak. Insidensi sindrom postmaturitas pada bayi berusia 41. pertumbuhan janin yang berlanjut. mengelupas lebar-lebar. meskipun 89 . dan maturitas lanjut karena bayi tersebut matanya terbuka. Kulit keriput telihat sekali pada bagian telapak tangan dan telapak kaki. yaitu berupa kulit keriput. Oligohidramnion yang menyertainya secara nyata meningkatkan kemungkinan postmaturitas. Memang. Janin yang terus tumbuh menunjukan bahwa fungsi plasenta tidak terganggu. Janin posterm mungkin terus bertambah berat badannya sehingga bayi tersebut luar biasa beras pada sat lahir. Kuku biaanya cukup panjang. 2) Disfungsi plasenta Kadar eritroprotein plasma tali pusat meningkat secara signifikan pada kehamilan yang mencapai 41 minggu atau lebih dan meskipun tidak ada apgar skor dan gas darah tali pusat yang abnormal pada bayi ini. 42. badan kurus yang menunjukan pengurasan energi.banyak bayi postmatur Clifford mati dan banyak yang sakit berat akibat asfiksia lahir dan aspirasi mekonium. bahwa terjadi penurunan oksigen pada janin yang postterm. Biasanya bayi postmatur tidak mengalami hambatan pertumbuhan karena berat lahirnya jarang turun dibawah persentil ke-10 untuk usia gestasinya. Patofisiologi 1) Sindrom posmatur Bayi postmatur menunjukan gambaran yang khas. dan 43 minggu masing-masing belum dapat ditentukan dengan pasti.

. 4) Pertumbuhan janin terhambat Hingga kini. seperempat kasus lahir mati yang terjadi pada kehamilan memanjang merupakan bayi-bayi dengan hambatan pertumbuhan yang jumlahnya relatif kecil ini. (1998) dan Clausson. Morniditas dan mortalitas meningkatkan secara signifikan pada bayi yang mengalami hambatan pertumbuhan. Penurunan volume cairan amnion biasanya terjadi ketika kehamilan telah melewati 42 minggu. makna klinis pertumbuhan janin terhambat pada kehamilna yang seharusnya tanpa komplikasi tidak begitu diperhatikan. bersifat prediktif terhadap gawat janin intrapartum. 3) Gawat janin dan Oligohidramnion Alas an utama meningkatnya resiko pada janin posterm adalah bahwa dengan diameter tali pusat yang mengecil. Dilatasi 90 .000 wanita antara 1987 sampai 1998 menggunakan akte kelahiran medis nasional swedia. demikian juga untuk bayi lahir aterm. mungkin juga pengeluaran mekonium oleh janin ke dalam volume cairan amnion yang sudah berkurang merupakan penyebab terbentuknya mekonium kental yang terjadi pada sindrom aspirasi mekonium. Bahwa pertumbuhan janin terhambat menyertai kasus lahir mati pada usia gestasi 42 minggu atau lebih. Memang. 5) Serviks yang tidak baik Sulit untuk menunjukan seriks yang tidak baik pada kehamilan memanjang karena pada wanita dengan umur kehamilan 41 minggu mempunyai serviks yang belum berdilatasi. diukur dengan USG. terutama bila disertai dengan ologohidramnion. adalah cirri khas gestasi antara 38 dan 42 minggu.. Divon dkk.kecepatannya lebih lambat. (1999) telah menganalisis kelahiran pada hampir 700.

rubela cytomegalivirus. toxoplasmosis. menyebabkan anoksia janin dan mungkin kematian. preeklamsi. penyakit jantung atau seperti penyakit kolagen. penyakit ginjal kronik. shipilis. diabetes melitus. postmatur. tetapi patologi dalam supply pembuluh darah ke plasenta. dan tempat yang tinggi mungkin masuk ke dalam kelompok ini. radiasi juga memeberikan kontribusi. SGA=preterm) IUGR dapat dibagi ke dalam 3 kelompok utama: 1) IUGR kerena insufisiensi plasenta Kelompok ini potensial untuk tumbuh normal. seperti kehamilan kembar. ibu yang tua. Plasenta previa dan solusio plasenta. seperti suply normal nutrisi dan oksigen tidak dapat menjangkau bayi disebabkan plasenta atau masalah sirkulasi. 2) IUGR karena faktor lingkungan Janin mempunyai kemungkinan untuk tumbuh normal. rokok. tetapi obat atau persilangan dari ibu ke janin menghambat pertumbuhan normal seperti penyakit malaria.serviks adalah indicator prognostic yang penting untuk keberhasilan induksi dalam persalinan. hipertensi kronik dan masalah atau penyakit yang berhubungan dengan keadaan tersebut. Penyebab kerusakan arteri spiral ibu dalam plasenta belum diketahui dengan jelas. Pada kelompok ini menyebabkan 2-3 bayi pertumbuhannnya terhambat. Iskemi cepat merusak plasenta kerusakan suply pengangkut O2 dan nutrisi ke janin. tetapi sebagai predisposisi: Insufisiensi plasenta. Obat-obat berbahaya seperti alkohol. 91 . 3) Inta Uterin Growth Retardation (IUGR) IUGR adalah keadaan dimana janin dalam uterus tidak dapat tumbuh normal (BBLR=LBW.

seperti: obat. Pada kelompok ini meliputi: malformasi janin dan gangguan genetik. Perhatian medis tidak adekuat 6.DM. Jarak kelahiran pendek 4. gangguan sel darah Pengurangan nutrisi dan karena plasenta . Riwayat reproduksi yang jelek 12. sianosis . Umur sangat muda dan sangat tua 8. Penyebab Umum 1.Tempat tidur . Pengaruh ras.3) IUGR karena faktor intrinsik Di sini janin tidak mempunyai atau kehilangan pertumbuhan normal segera setelah konsepsi. hipoglikemia ibu (dalam kasus yang ekstrim) 92 .Penyakit jantung. nikotin. Kepribadian. Sosial ekonomi yang rendah 2. Kejadian ini lebih menonjol di negara-negara yang sedang berkembang.Anemia. Diet tidak adekuat karena kemiskinan dan keadaan malabsorpsi 5.Penyakit pernafasan . kelaparan dan genetik 10.Berkurangnya kontraksi otot uterus . penyakit endemik. sikap terhadap bayi 11. Racun. alkohol dan pengaruh teratogenik Penyebab uterus Malformasi uterus kongenital Penurunan oksigen . Kurangnya pemeriksaan kesehatan ibu saat kehamilan 7. Obesitas 9. Menikah dini 3.

Hemolisis: gangguan sel darah merah Karakteristik bayi SGA saat lahir 1. Berkeriput b. Mekonium ada pada: kulit.Penyakit kecil plasenta juga disebabkan oleh pemisahan preterm. Tali pusat biasanya kecil dan lebih cepat kering daripada bayi normal 9. kehamilan multipel .Kembar. Kurang jaringan subkutan 2. Mata melotot c. Ekspresi ketakutan 5. potters syndrome . Terdapat ciri-ciri: a.kasar dan lurus 8. kuku. mempunyai lipatan pada telapak kaki b. Beberapa bayi nampak dengan penurunan berat badan 7.Abnormalitas: Anenchepalus. Alert atau posisi siap siaga d. Kulit kering dan bersisik c. Rambut jarang atau tipis..Kelainan plasenta atau plasenta previa . Bayi aktif dan lapar pada saat lahir 10. panjang dan lemah 93 .Kelainan dari tali pusat . Tulang kartilagosudah berkembang baik kurus. trombus dalam pembuluh darah janin dari satu arteri tali pusat . Bayi lemah dan nampak dehidrasi 4.Genetik (metabolik atau kromosom ) . oleh infark atau hemangioma Penyebab janin . Mengelupas.Berkurangnya aliran uterus. Penampilan bayi 3. Kulit: a. tali pusat 6.

ada mekonium dalam caiaran amnion harus menjadi perhatian dan laporkan pada dokter 4. Jika servik matang dan dilakukan induksi. bila lebih dari 100 cm kemungkinan kehamilan kembar. Melaksanakan instruksi dokter dengan teliti Manajemen saat persalinan 1. Bila selaput ketuban robek. jika servik belum matang diberi prostaglandin atau infus oksitosin sambil di lakukan monitoring dengn CTG memantau janin mengakibatkan fetal distres 94 . TFU kurang dari 2 cm dari umur kehamilan 3. polihidramnion atau bayi besar. Berat badan tidak bertambah 4. Manajemen bidan selama kehamilan 1. Tulang kepala keras tetapi ukuranya kecil 12.11. Pergerakan janin berkurang 5. lakukan monitoring dengan teliti dan tentukan persalianan pervginam atau SC 5. Pemantauan dengan teiti sampai melewati kelahiran 3. Pemeriksaan pada setiap kunjungan ANC dengan teliti 2. Cairan amnion berkurang 6. Cek ulang perkirakan persalinan 7. Sbelum induksi. Bayi mempunyai perutbentuk perahu (scapehoid) 13. Kegagalan uterus dan janin untuk tumbuh normal rata-rata di atas periode 4 minggu 2. Dicurigai adanya suatu kelainan maka segera rujuk ke rumah sakit terdekat atau pada dokter 3. Kepala sering lebih besar dari ukuran tubuh Pedoman untuk mendiagnosis IUGR 1. Bayi dengan IUGR hendaknya lahir di rumah sakit yang mempunyai fasilitas khusus perawatan intensif 2. Pengukuran lingkar perut ibu (pada setinggi pusat).

Faktor ibu a. Penyakit jantung g. Indikasi SC: a. Diabetes melitus b. Infark plasenta c. Penyakit paru atau TBC i.6. Preeklampsi dan eklampsi c. Plasenta previa 2. Malpresentasi d. Polihidramnion dan oligohidramnion e. Inkompatability rhesus j. Insufisiensi plasenta b. Nefritis kronis d. Tanda pertama fetal distres b. Solusio plasenta d. Riwayat SC sebelumnya 4) IUFD (Intrauterin Fetal Death) IUFD atau stilbirth adalah kelahiran hasil konsepsi dalam keadaan mati yang telah mencapai umur kehamilan 28 minggu (atau berat badan lahir lebih atau sama dengan 1000gr) Penyebab 1. AIDS 95 . Shipilis f. Induksi gagal c. CPD e. Sevik tidak matang dengan beberapa keadaan seperti: preeklamsi atau DM f. Hipertensi h. Faktor plasenta a.

Perdarahan antepartum b. Prematuritas b. Perdarahan otak 5. Tidak diketahui faktor penyebabnya Gejala klinis dan diagnosis Untuk menentukan stillbirth dapat ditentukan melalui: 1. Tali pusat pendek 6. Anastesi d. Partus lama c. Prolapsus tali pusat b.3. 2. tidak ada pembesaran perut. Persalinan sungsang g. payudara melembut. Postmaturitas c. Obat-obatan 4. Faktor tali pusat a. Gejala klinis kematian janin Ukuran uterus mengecil dibandingkan dengan ukuran seharusnya 3. Kelainan bawaan d. Pemeriksaan hormon untuk melihat fungsi plasenta 96 . Faktor janin a. kadang ada bercak cairan kecoklatan dari vagina. Persalinan presipitatus f. Faktor intrapartum a. Riwayat Tidak merasakan gerakan janin selama 3 hari. Vassa praevia d. Partus macet e. Lilitan tali pusat c.

tidak terlihat struktur janin. terlihat penumpukan tulang tengkorak. membran dan plasenta diperiksa 2. USG Tidak terlihat djj dan nafas janin. Setelah bayi lahir kemudian diperiksa dan ditimbang. ukuran biparietal janin setelah 30 minggu terlihat tidak bertambah panjang pada setiap minggu. Bila setelah terdiagnosa pasti bidan dapat melahirkan bayinya di bawah pengawasan dokter 3. tidak meminum minuman beralkohol. Mendeteksi secara dini faktor-faktor predisposisi IUFD dan pemberian pengobatan 3. obatobatan dan hati-hati terhadap infeksi atau bahan-bahan yang berbahaya 2. Memeberikan nasehat pada waktu ANC mengenai keseimbangan diet makanan. Pasien di rujuk ke dokter segera setelah diketahui IUFD 2. 4. Bidan memberikan dukungan emosional kepada pasien maupun keluarga pasien Manajemen setelah persalinan 1. dan perencanaan KB 97 . terlihat kerangka yang bertumpuk. jamgan merokok. involusio rahim. badan dan tunkai janin tidak terliaha bergerak. Medeteksi gejala awal IUFD atau tanda fetal distres Manajemen pada saat IUFD terjadi 1. Melakuak kunjungan rumah untuk melihat KU pada masa postpartum misalnya laktasi.Didapatkan kadar estriol urin atau estriol darah yang sangat menurun dibandingkan pada saat kehamilan. dan reduksi cairan yang abnormal Manajemen untuk pencegahan kematian janin 1. Bidan memberikan dukungan emosional pada pasien dan keluarganya 3. Dokter melakukan pemeriksaan untuk menentukan penyebab kematian 4.

Juga obat klomid dan hormon gonadotropin yang dipergunakan untuk menimbulkan ovulasi dapat menyebabkan kehamilan dizigotik. Jika telur-telur yang diperoleh dapat dibuahi lebih dari satu dan jika semua embrio yang kemudian dimasukkan ke dalam rongga rahim ibu tumbuh berkembang lebih dari satu. hereditas. umur.faktor tersebut dengan mekanisme tertentu menyebabkan matangnya 2 atau lebih folikel de graf atau terbentuknya 2 ovum atau lebih dalam satu folikel. Pada kembar yang lebih dari satu telur. Bahaya bagi ibu tidak begitu besar. herediter. Diperkirakan sebabnya ialah faktor penghambat pada masa pertumbuhan dini hasil konsepsi. Faktor penghambat yang 98 . d) Kehamilan Ganda Kehamilan kembar ialah satu kehamilan dengan dua janin atau lebih. tetapi wanita dengan kehamilan kembar memerlukan pengawasan dan perhatian khusus bila diinginkan hasil yang memuaskan bagi ibu dan janin. jika kelahiran spontan tidak terjadi dalam 3-4 minggu resiko DIC meningkat. dan paritas hanya mempunyai pengaruh terhadap kehamilan kembar yang berasal dari 2 telur. faktor bangsa. umur dan paritas tidak atau sedikit sekali mempengaruhi terjadinya kehamilan kembar. Etiologi Bangsa. Ini terjadi karena tromboplastin dilepaskan kedalam sirkulasi dari jaringan janin yang mati dan terjadi mekanisme kloding blood.Manajemen Sedikitnya 70% wanita akan melahirkan secara spontan dalam 2 minggu kematian bayi dan lainnya akan lahir kurang dari 2 minggu. Akibatnya terjadi penurunan tingkat fibrinogen serum dan jumlah flatelet untuk mendiagnosis kondisi tersebut gambaran penggumpalan harus ada pada wanita dengan IUFD dan sekali atau dua kali seminggu selama wanita itu melahirkan.

mereka berbeda seperti anak-anak lain dalam keluarga. Kembar dizigotik mempunyai 2 plasenta. sebelum primitive streak tampak maka akan terjadi kehamilan kembar dengan 1 amnion. Jenis kelamin sama atau berbeda. 2/3 mempunyai 1 plasenta. disebut juga heterolog binovuler atau fraternal. Yang paling sering ditemukan kedua janin dalam letak memanjang dengan presentasi kepala kemudian menyusul presentasi kepala dan bokong. maka akan terjadi kehamilan kembar dengan 2 amnion. Kkirakira 1/3 kehamilan kembar adalah monozigotik.mempengaruhi segmentasi sebelum blastula terbentuk menghasilkan kehamilan kembar dengan 2 amnion. Jenis 1. Setelah primitif streak terbentuk maka akan terjadi kembar dempet dalam berbagai bentuk. kadang-kadang 2 plasenta menjadi 1. homolog atau uni ovuler. 99 . 2. 2 korion dan 2 plasenta. Kehamilan kembar dizigotik Kira-kira 2/3 kehamilan kembar adalah dizigotik yang berasal dari 2 telur. Pada kehamilan kembar monoamniotik kematian bayi masih sangat tinggi. mempunyai 2 amnion. misalnya dari letak lintang menjadi letak sungsang. keadaan ini tidak dapat dibedakan dengan kembar dizigotik. sehingga sering terjadi perubahan presentasi dan posisi janin. Kadang-kadang 2 plasenta menjadi 1. 1 korion dan atau 2 amnion. Bila faktor penghambat terjadi setelah blastula tetapi sebelum amnion terbentuk. Letak Dan Presentasi Janin Pada umumnya tidak besar dan cairan amnion lebih banyak daripada biasa. 2 korion dan 2 plasenta seperti pada kehamilan kembar dizigotik. Kehamilan kembar monozigotik Kehamila kembar yang terjadi dari satu telur disebut kehamilan monozigotik atau disebut juga identik. 2 korion dan 2 amnion. Demikian pula letak janin kedua dapat berubahsetelah kelahiran janin pertama.

keduanya presentasi bokong, presentasi kepala dan bahu, presentasi bokong dan bahu dan yang paling jarang keduanya presentasi bahu. Diagnosis Diagnosis kehamilan kembar dapat ditegakan jika ditemukan hal-hal sebagai berikut: 1. Besarnya uterus melebihi lamanya amenorhoe 2. Uterus tumbuh lebih cepat daripada biasanya pada pemeriksaan ulang 3. Penambahan berat badan ibu yang tidak disebabkan oleh edema atau obesitas. 4. Banyak bagian kecil yang teraba 5. Teraba tiga bagian besar janin 6. Teraba 2 balotemen Diagnosis pasti dapat ditentukan dengan: 1. Teraba 2 kepala, 2 bokong, dan 1 atau 2 punggung 2. Terdengan 2 denyut jantung yang letaknya berjauhan dengan perbedaan kecepatan paling sedikit 10 denyut per menit 3. Sonogram dapat mendiagnosa kehamilan kembar pada triwulan pertama 4. Rontgen photo abdomen Diagnosis Banding 1. Hidramnion Dapat menyertai kehamilan kembar, kadang kelainan hanya terdapat pada satu kantong amnion dan yang lainnya oligohidramnion. Pemeriksaan USG dapat enentukan apakah pada hidramnion ada kehailan kembar atau tidak. 2. Kehamilan dngan mioma uteri atau kistoma ovarii

100

Tidak terdengarnya 2 jantung pada pemeriksaan berulang, bagian besar dan kecil yang sukar digerakan, lokasinya yang tidak berubah, dan pemeriksaan rontgen dapat membedakan kedua hal tersebut. Komplikasi 1. Ibu a. Anemia b. Hipertensi c. Partus premeturus d. Atonia uteri e. Perdarahan pasca persalinan 2. Bayi a. Hidramnion b. Malpresentasi c. Plasenta previa d. Solusio plasenta e. Ketuban pecah dini f. Prolapsus funikuli g. Pertumbuhan janin terhambat h. Kelainan bawaan i. Morbiditas dan mortalitas perinatal meningkat Penanganan Dalam Kehamilan Pemeriksaan Antenatal lebih sering. Mulai kehamilan 24 minggu pemeriksaan dilakukan tiap 2 minggu, sesudah kehamilan 36 minggu tiap minggu, sehingga tanda-tanda preeklampsi dapat diketahui dini dan penanganan dapat dikerjakan dengan segera. Setelah kehamilan 30 minggu, perjalanan jauh dan koitus sebaiknya dialarang karena dapat merupakan faktor predisposisi partus prematurus.

101

Anemia hipokrom tidak jarang terjadi pada kehamilan kembar karena kebutuhan besi 2 bayi dan penambahan volume darah ibu sangat meningkat. Pemberian sulfas ferosus 3x100 mg secara rutin perlu dilakukan. Selain zat besi dianjurkan untuk memeberikan asam folik sebagai tambahan. Penanganan Dalam Persalinan Semua persiapan untuk resusitasi dan perawatan bayi prematur disediakan. Golongan darah ibu sudah ditentukan dan persediaan darah diadakan mengingat kemungkinan paerdarahan postpartum lebih besar. Pemakain sedative perlu dibatasi. Episiotomi mediolateral dikerjakan untuk memperpendek kala pengeluaran dan mengurangi tekanan pada kepala bayi. Setelah bayi pertama lahir, segera dilakukan pemeriksaan luar dan vaginal untuk mengetahui letak dan keadan janin kedua. Bila janin dalam letak memanjang, selaput ketuban dipecahkan dan air ketuban dialirkan perlahan-lahan untuk menghindarkan prolapsus funikulli. Penderita dianjurkan meneran atau dilakukan tekanan terkendali pada fundus uteri, agar bagian janin masuk dalam panggul. Janin kedua turun dengan cepat sampai kedasar panggul dan lahir spontan karena jalan lahir telah dilalui anak pertama. Bila janin kedua dalam letak lintang denyut jantung janin tidak teratur, terjadi prolapsus funikulli atau solusio plasenta, atau bila persalinan spontan tidak terjadi dalam 15 menit, maka janin perlu dilakirkan dengan obstetrik karena resiko akan meningkat dengan meningkatnya waktu. Dalam letak lintang dicoba untuk mengadakan versi luar dan bila tidak berhasil maka segera disuntdilakukan versi ekstraksi tanpa narkosis. Pada janin dalam letak memanjang dapat dilakukan ekstraksi cunam pada letak kepala dan ekstraksi kaki pada letak sungsang. SC dilakukan atas indikasi janin pertama dalam letak lintang, prolapsus

102

funikuli, plasenta previa. Bila terjadi interloking, bila keadaan tidak bisa dilepaskan dilakukan dekapitasi atau SC menurut keadaan janin. Setelah anak kedua lahir penderita disuntik 10 satuan oksi dan tingginya fundus uteri diawasi. Jika ada tanda-tanda pelepasan plasenta maka plasenta dilahirkan. Kala IV diawasi secara cermat agar perdarahan post parrtum dapat diketahui dini dan penanggulangan dapat dilakukan dengan segera. Prognosis 1. Anemia 2. Preeklamsi dan eklamsi 3. Operasi obstetrik dan perdarahan post partum.

Gambar 2.4. Posisi Janin Kembar e) Kelainan Air Ketuban 1) Polihidramnion Suatu keadaan dimana jumlah air ketubanjauh lebih banyak dari normal, biasanya lebih dari 2 liter.

103

Perjalanan penyakit 1) Hidramnion kronis Pertambahan air ketuban terjadi secara perlahan-lahan dalam beberapa minggu atau bulan, dan biasanya terjadi pada kehamilan lanjut 2) Hidramnion Akut Terjadi pertambahan air ketuban yang sangat tiba-tiba dan cepat dalam waktu beberapa hari saja Hidramnion banyak ditemukan pada kasus-kasus: 1) penyakit jantung 2) nefritis 3) edema umum 4) anamali kongenital (pada anak); seperti anencepali, spinadifida atresia atau striktur esofagus, hydrocepalus dan struma blockling oesophagus 5) simpul tali pusat 6) DM 7) Gemelli uniovulair 8) Malnutrisi 9) Penyakit kelenjar hipofisis Diagnosis 1) Anamnesis a). Perut lebih besar dan terasa lebih berat dari biasa b). Pada yang ringan keluhan-keluhan subyektif tidak banyak c). Pada yang akut dan pada pembesaran uterus yang cepat terdapat keluhan-keluhan d). Nyeri perut karena tegangnya uterus mual dan muntah e). Oedema pada tungkai, vulva dan dinding perut

104

2) Inspeksi a). bisa syok. Nampak bayangan terselubung kabut.f). kepala janin dapat diraba maka balotement jelas sekali e). Fundus uteri lebih tinggi dari umur sesungguhnya c). berkerigat dingin. retak-retak kulit jelas dan kadang-kadang umbilikus mendatar b). kulit perut berkilat. Karena bebasnya janin bergerak dan tidak terfiksir maka dapat terjadi kesalahan-kesalahan letak janin 4) Auskultasi DJJ sukar didengar dan jika terdengar hanya sekali 5) Rontgen foto abdomen a). sesak. Bagian janin sukar dikenali d). Foto rongtgen pada hidramnion bberguna untuk disgnostik dan untuk menentukan etiologi 6) Pemeriksaan dalam Selaput ketuban teraba tegang dan menonjol walaupun diluar his Diagnosa banding 1) Hidramnion 2) Gemeli 3) Asites 4) Kista avanii 105 . Jika akut. Kelihatan perut sangat buncit dan tegang. Perut tegang dan nyeri tekan serta terjadi oedema pada dinding perut. Pada proses akut dan perut besar sekali. karena banyaknya cairan kadang bayangan janin tidak jelas b). vulva dan tungkai b). ibu akan terlihat sesak dan sianosis serta terlihat payah membawa kandungannya 3) Palpasi a). Kalau pada letak kepala.

Bila tidak ada hal-hal yang mendesak maka sikap kita menunggu b). Retensio plasenta e). Pada hidramnion yang berat dengan keluhan-keluhan harus dirawat di rumah sakit dan bedrest 2) Waktu partus a).5) Kehamilan beserta tumor Prognesis 1) Pada janin a). Komplikasi karena kesalahan letak anak d). Perdarahan post partum d). Solusio plasenta b). masukan jari tangan ke dalam vagina sebagai tampon beberapa lama supaya air ketuban keluar pelan-pelan 3) Post partum a). Eritoblastosis 2) Pada ibu a). seperti sesak dan sianosis maka lakukan transvaginal melalui servik bila sudah ada pembukaan c). Bila sewaktu pemeriksaan dalam. jarang diberi terapi klinis cukup diobservasi dan berikan terapi simpotomatis b). Bila keluhan hebat. Kongenital anomali b). Syok Terapi hidramnion dibagi menjadi 3 fase: 1) Waktu hamil a). Hidramnion ringan. ketuban tiba-tiba pecah. Prematuritas c). Pasang infus 106 . Atonia uteri c). Periksa Hb b).

Tipe ini lebih sering pada multigravida 2) Extended brech (frank brech) pada bayi fleksi. sehingga kaki berada dekat kepala. 1 atau kedua kaki di bawah bokong 107 . Primer Sekunder karena pertumbuhan amnion yang kurang baik ketuban pecah dini Gambaran Klinis 1) Perut ibu kelihatan kurang membuncit 2) Ibu merasa nyeri diperut pada tiap pergerakan anak 3) Persalinan lebih lama dari biasanya 4) Sewaktu his akan terasa sakit sekali 5) Bila ketuban pecah air ketuban sedikit sekali bahkan tidak ada yang keluar f) Kelainan Letak 1) Letak Sungsang Letak sungsang merupakan suatu letak dimana bokong bayi merupakan bagian rendah dengan atau tanpa kaki (keadaan dimana janin terletak memanjang dengan kepala di fundus uteri dan bokong berada di bagian bawah kavum uteri. Pemberian antibiotik 2) Oligohidramnion Oligohidramnion adalah suatu keadaan dimana air ketuban kurang dari normal yaitu kurang dari ½ liter. Etiologi Sebab pasti belum diketahui dengan jelas. tetapi pada kaki ektensi. sering terjadi pada primiyang prematur 3) Presentesi kaki. pada posisi ini paha dan lutut bayi fleksi dan kaki menutupi bokong. Ada 4 tipe letak sungsang 1) Complete/flexed brech.c).

penyebab pasti dari presentasi bokong belum diketahui secara pasti tetapi dapat terjadi pada persalinan premetur. uterus bikormis.4) Presentasi lutut.5 letak sungsang Penyebab Presentasi bokong terjadi kurang lebih 3% pada semua persalinan. sementara di fundus teraba bagian yang keras. insufisiensi cairan ketuban. janin berada dalam posisi 1 atau kedua lutut berada di bawah bokong Gamba. Penmeriksaan dengan USG atau rontgen dapat mengetahui letak yang sebenarnya pada 108 . Denyut jantung janin terdengar di atas pusat. 2. plasenta letak rendah atau tumor yang menghalangi jalan lahir. polihidramnion memungkinkan terjadinya malpresentasi Diagnosis Diagnosis ditegakan dengan pemerikasaan abdominal. bundar dan melenting. Selain itu kelainan-kelainan seperti hidrosefalus. gande multi. Pada palpasi di bagian bawah teraba bagian yang kurang keras dan kurang bundar.

Pelepasan plasenta dapat terjadi pada kala II akibat tarikan dari tali pusat. Anoksia intra dan ekstra uterin 2. Manajemen Persalinan Sungsang Persalinan dianjurkan di rumah sakit di bawah pengawasan dokter ahli obstetri. ketika fetus masih agak kecil.pemeriksaan pervaginam teraba bagian lunak anus juga akan teraba bagian sacrum Persalinan sungsang tidak menyebabkan bahaya bagi ibu tetapi menimbulkan hal yang serius bagi bayinya. 1. Kematian bayi pada persalinan sungsang 4 kali lebih besar daripada persalinan biasa. Fraktur dan dislokasi 4. Jika ibu tidak partus spontan pada 40 minggu biasanya dilakukan induksi persalinan. Bahaya lain adalah fraktur. Kala I persalinan 109 . Perdarahan intrakranial 3. Bahaya persalinan sungsang dapat di simpulkan sebagai berikut: 1. Kerusakan otot dan syaraf terutama pada otot sterno mastoid dan fleksus brachialis 5. Setelah kepala masuk ke dalam rongga panggul dapat terjadi tekanan pada kepala pada tali pusat dan ini akan menyebabkan hipoksia janin. Ruptur organ abdomen 6. Kebanyakan dokter ahli kebidanan menganjurkan induksipersalinan pada 38 minggu. ruptur organ abdomen dan banyak bahaya untuk otot syaraf. anastesi dan ahli anak. Oedem genital dan memar atau lecet akibat capformation Kejadian anomali kongenital tinggi pada bayi dengan presentasi atau letak sungsang dan terutama pada BBLR.

Jika bokong enganged seperti pada bokong murni dimana terdapat resiko pecah selput ketuban dan prolapsus umbilikal. Sacrum kanan/kiri 4. Sacrum kiri/kanan belakang Pertolongan persalinan pada letak sungsang Persalinan letak sungsang dapat ditolong dengan prasar brach ataupun dengan tindakan/extraksi. Posisi sacrum anterior kanan 3. Kala II persalinan Pemeriksaan vaginal dilakukan untuk mengetahui pembukaan lengkapsebelum menyuruh ibu mengedan. Pada saat pembukaan servik tercapai ¾ nya biasanya ibu ingin mengejan. Kadang-kadang kontraksi uterus hipotonis sehingga dapat dirangsang dengan pemberian oksitosin. Bokong belakang tampak di vulva dan bokong maju lebih 110 . ibu sebaiknya tidak berjalan-jalan. posisinya sama dengan letak kepalatetapi pada letak sungsang sacrum sebagai penunjuk. Ada 4 posisi pada letak sungsang: 1. bokong dapat melalui servik tetapi kepala tidak melalui servik sehinga ibu dilarang untuk mengejan sampai dilatasi servik lengkap 2. Posisi sacrum kiri depan 2. Pertama-tama kandung kancing dikosongkan ketika bokong belakng meregang perineum diberi anastesi lokal dan dilakukan episiotomi. Mekanisme persalinan letak sungsang Hubungan sacrum dengan panggul ibu akanmenentukan posisi janin.Kala I persalinan lebih lama daripada letak belakang kepala.

memasukan tiga jari kedalam vagina dan mencari mulut bayi. Setelah hidung tampak di vulva . selama beberapa waktu untuk memudahkan penurunan dan fleksi dari kepala. jalan nafas dibersihkan dan kelahiran 111 . Kepala ditarik ke bawah sampai batas hidung sehingga saluran nafas dapat dibersihkan dan oksigen dapat diberikan segera setelah bayi bernafas. Metode mauriceau digunakan untuk melahirkan kepala dimana terjadi kelambatan dari penurunan kepala. asisten menekan daerah supra pubik dengan sehalus mungkin kepala dilahirkan melalui jalan lahir. obatobatan oksitosin diberikan pada ibu segera seteah bayi lahir. untuk menghindarinya biasanya dengan menggunakan forcep erygey’s atau neville barnes untuk kepala yang sudah lahir hal ini memungkinkan untuk mengontrol kecepatan lahirnya kepala. Bayi di pegang pada pergelangan kaki dan menggunakan traksi yang halus. Perineum ditekan dengan jari untuk membuka mulut bayi. Sekarang bayi dalamkeadaan menggantung pada berat badannya. Jika kepala dilahirkan dengan cepat dapat terjadi perdarahan intrakranial. Mulut dibersihkan dari lendir sehingga bayi bernafas tanpa menghisap cairan lendir. Selanjutnya kepala dilahirkan dengan lambat. tehniknya yaitu dengan menunggangkan bayi apada lengan kiri. tubuh di simpan di atas abdomen ibu. Tali pusat dilongggarkan pada kontraksi berikutnya bahu akan tampak.cepat. Lengan yang normalnya fleksi menyilang di depan dada dengan mudah dilepaskan dan bahu akan lahir. kemudian memasukan jari tengah ke dalam mulut dan kepala difleksikan. Ketika kuduk dan garis rambut sudah tampak menunjukan bahwa kepala akan lahir. Jari tengah menekan oksiput untuk membantu fleksi. Jari tengah dan jari telunjuk tangan kanan disangkutkan pada bahu untuk digunakan sebagai tarikan. Badan bayi maju sampai sejauh umbilikus kemudian kaki di lepaskan/dilahirkan dengan perlahan-lahan. lubang hidung segera dibersihkan kepala dilahirkan secara perlahan-lahan.

Kelaianan letak paling sering terjadi pada wanita paritas tinggi (grande multipara). Pada umumnya bokong berada sedikit lebih tinggi daripada kepala janin. mengingat bahaya yang dapat ditimbulkan dari persalinan tersebut. 2) Letak Lintang Letak lintang adalah suatu keadaan dimana janin melintang di dalam uterus dengan kepala pada sisi yang satu sedangkan bokong pada sisi yang lain. Punggung janin dapat berada di depan (dorsoanterior). pengkerutan pelvis. fibroid uterus yang besar.2. abnormalitas uterus. bidan harus mengupayakan membawa ibu ke rumah sakit. sedangkan bahu berada pada pintu atas panggul. selain itu juga ada beebrapa faktor yang mendukung terjadinya letak lintang yaitu: kehamilan ganda. bidan menemukan kakus dengan persalinan sungsang. Apabila pada praktek di masyarakat.kepala dilakuka dengan cara yang sama. polihidramnion. Letak Lintang Penyebab Penyebab paling sering adalah kelemahan otot uterus dan abdomen. Pada keadaan emergensi bidan dapat melakukan tehnik ini meskipun jarang dilakukan. 112 . di belakang (dorsoposterior) atau di bawah (dorsoinferior). Faktor lain yang mendukung terjadinya letak lintang adalah plasenta previa. Gambar .6.

atau waktu datangnya persalinan. Palpasi akan teraba kepala janin pada salah satu sisi dan bokong pada sisi yang lain. tetapi tidak ada bagian presentasi yang berada di pelvis. Pemeriksaan USG dapat mendeteksi abnormalitas fetus dan uterus. atau persalinan prematur. lebih menonjol ke salah satu bagian abdomen. ibu seharusnya datang ke RS untuk dilakukan versi chepalik eksternal yang dilakukan ditempat kelahiran.resiko versi chepalik eksternal adalah terjadinya KPD dan tali pysat menumbung. Pada setiap kunjungan antenatal dokter seharusnya memeriksa letak. Pada palpasi kepala janin atau bokong ditemukan di salah satu bagian fossa iliaca. Dalam persalinan ketika kepala 113 . presentasi dan mendengarkan DJJ. Ketika paru-paru bayi prematur. Manajemen atau penatalaksanaan Dokter dapat mengusahakan untuk membenarkan posisi dengan cara versi external menjadi letak membujur dan presentasi kepala. Hal ini mungkin diikuti dengan induksi persalinan dengan oksitosin. Kecenderungan pengembalian posisi letak lintang menjadi posisi letak memanjang sulit dan seringnya beberapa dokter tidak menganjurkan versi chepalik eksternal sebelum kelahiran direncanakan. terlihat melebar. USG dapat digunakan untuk memastikan dignosis untuk mendeteteksi kemungkinan penyebab. Jika pemeriksaan USG tidak mendeteksi plasenta previa. engan TFU rendah. Penekanan pada sisi lateral dapat diterapkan untuk membantu uterus dalam mempertahankan letak memanjang.Diagnosis Letak lintang mudah didiagnosis dalam kehamilan dari bentuk uterus. pemeriksaan vagina dapat dilakukan untuk mendeteksi abnormalitas pelvik seperti. pengerutan pelvis. DJJ dan kontraksi uterus dimonitor secara elektrik dan jika memingkinkan kondisi ibu benar-benar diperhatikan.

Molahidatidosa Komplikasi dan penyulit kehamilan trimester III meliputi : Kehamilan dengan hipertensi. Abortus. Kelainan air ketuban. Tindakan SC merupakan bentuk kelahiran yang paling aman. Kehamilan ganda. jika mendapatka kesulitan untuk membenarkan letak janin setelah selaput ketuban pecah ini tidak mungkin dilanjutkan. Dalam persalinan. Kelainan letak. Pada beberapa kasus dimana wanita mempunyai riwayat obstetri yang urut. Bidan dapat mendeteksi presentasi bahu dengan cara pemeriksaan abdomen seperti yang dijelaskan diatas dan pemeriksaan vagina. Jika ada kegawat daruratan. Perdarahan antepartum. Bahu janin dapat dikenali dengan merasakan tulang rusuk atau tangan. Pemeriksaan vagina tidak boleh dilakukan jika ada indikasi plasenta previa. atau terdapat komplikasi dalam persalinan. Jika tindakan pencegahan tersebut tidak dilakukan.bayi memasuki rongga pelvis membran dapat ruptur. kelainan. bidan seharusnya merujuk ke dokter atau ke pelayanan kegawat daruraan obstetri. Hyperemesis ravidarum. SC merupakan cara yang paling aman untuk melahirkan. Kelainan dalam lamanya kehamilan. ketika persalinan dimulai bahu janin dapat turun kebawah ke rongga pelvis bagian depan dapat terjadi KPD dan penumbungan tali pusat yang disertai dengan penumbungan lengan janin. Rangkuman Materi Komplikasi. 114 . C. penyakit dalam masa kehamilan Komplikasi dan penyulit kehamilan trimester I dan II meliputi: Anemia kehamilan. Persalinan seharusnya dapat berjalan dengan normal. KET.

gangguan visus. Rambu-Rambu Jawaban 1. Proteinuria 0.3 gr/lt atau 1+ atau 2+ c. Tekanan darah 160/110 mmHg atau lebih b. Cara pengukuran sekurang- kurangnya pada 2x pemeriksaan dengan jarak b. F. Hal 104 – 121. 2.D. Diskusikan apa bebedaan dari plasenta previa dan solusio Plasenta? E. 5 gr/lt atau lebih c. jari. Diskusikan apa perbedaan dari pre eklamsi ringan. 115 . Proteinuria. 2. Tekanan darah 140/90 mmHg atau kenaikan diastolik 15 mmHg atau lebih (diukur pada posisi berbaring terlentang) atau kenaikan sistolik 30 mmHg atau lebih. Plasenta previa adalah letak plasenta yang menutupi jalan lahir dimana perdarahannya merah segar dan tidak disertai rasa nyeri. Daftar Pustaka 1. 2005. Latihan/ Tugas 1. Edema pada kaki. Jakarta : Yayasan Bina pustaka sarwono. Oliguria (jumlah urine < 500 cc per 2 jam d. Ilmu Bedah Kebidanan. dan rasa nyeri di epigastrium Eklamsi meupakan seangan Konvulsi yang tejadi mendadak dalam kehamilan tetapi tidak selalu komplikasi atau kelanjutan dai pre eklamsi. Hanifa Wiknjosastro. Preeklamsia ringan a. pre eklamsi berat dan eklamsi. Adanya gangguan serebral. Solusio Plasenta plasenta lepas sebelum waktunya dimana pedarahannya merah kehitaman disetai nyeri. muka dan berat badan naik >1 kg/mg Preeklamsia berat a. Terdapat edema paru dan sianosis e.

2001. Bandung : Elstar Offset. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono. Bagian OBSGIN FK Universitas Padjadjaran. 2006. Workshop Kurikulum mata ajar Askeb IV. Jakarta:FTM Syaifudin. 2001 Varney’s H. Hanifa Wiknjosastro. Jakarta 10. 7. Jakarta. tidak diterbitkan 116 . 2005. Jones and Bartlett Publisher Mayes. 1999. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal.2. Tim pengajar Askleb IV. 1998. 9. 12 th Edition 2000 Mochtar R. 4. Sinopsis Obstetri Jilid I. 5. Hal 173 -178. Midwifery. Midwifery. UK. YBPSP 6. Cakul Obgin Plus FKUI. Buku Panduan Praktis Maternal dan Neonatal. Hal 606 – 622. 1997. Obstetri Patologi. 8. Ilmu Kebidanan. Budi Marjono. 3.

Bergantung pada derajat defleksinya maka dapat terjadi presentasi puncak kepala. bila derajat defleksinya lebih berat sehingga dahi merupakan bagian yang paling rendah. Mekanisme persalinanya hampir sama dengan posisi oksipitalis posterior persisten. Presentasi dahi.BAB IV ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU DENGAN KELAINAN. Kompetensi Dasar Mampu menguraikan konsep dasar penyulit persalinan kala I. presentasi dahi a tau presentasi muka. Presentasi muka bila derajat defleksinya maksimal. Dalam keadaan tertentu fleksi kepala tersebut tidak terjadi. Presentasi puncak kepala atau disebut juga presentasi sinsiput. sehingga ubun-ubun besar merupakan bagian terendah. Uraian materi 1. Pada umumnya presentasi puncak kepala merupakan kedudukan sementara. Perbedaanya adalah: pada presentasi puncak kepala tidak terjadi fleksi kepala yang maksimal. kepala janin pada waktu melewati jalan lahir berada dalam keadaan fleksi. sehingga muka janin merupakan bagian yang terendah. B. 117 . Konsep Dasar Penyulit Kala I dan Kala II a.II. sehingga keduanya seringkali dikacaukan satu dengan yang lainnya. sehingga lingkaran kepala yang melalui jalan lahir adalah sirkumferensia frontooksipitalis dengan titik perputaran yang berada di bawah simpisis adalah glabela. terjadi apabila derajat defleksinya ringan. KOMPLIKASI DAN PENYAKIT DALAM PERSALINAN A. yang kemudian akan berubah menjadi presentasi belakang kepala. Konsep Dasar Kelainan Presentasi dan Posisi 1) Presentasi Puncak Kepala Pada persalinan normal. III dan IV. sehingga kepala dalam keadaan defleksi.

Pada pemeriksaan vagina. Manajemen Bidan harus dengan cepat menghubungi dokter jika ada suspek atau diagnosa presentasi dahi dalam persalinan. Jika presentasi dahi didiagnosis segera dalam persalinan dapat mengubah presentasi muka menjadi ekstensi penuh atau fleksi pada presentasi verteks. 3) Presentasi Muka Presentasi Muka jarang terjadi kira-kira 1 dalam 500 kelahiran. Diagnosis dapat ditegakkan dengan radiografik atau dengan USG. terjadi hanya 1 dari 2000 persalinan.2) Presentasi Dahi Presentasi dahi jarang terjadi dari pada presentasi muka. Diagnosis Pemeriksaan abdomen kepala sangat tinggi dan diameter sangat besar. tindakan yang paling aman untuk ibu dan bayi adalah dengan menggunakan SC. teraba lekukan antara oksiput dengan bagian belakang. Manuver jarang dilakukan pada presentasi muka. Oleh karena itu pemeriksaan pervaginam dilakukan sesegera mungkin untuk mendeteksi prolapsus tali pusat. Jika presentasi dahi menetap dan fetus dalam ukuran normal tidak mungkin terjadi kelahiran pervaginam dan SC harus segera dilakukan. orbital berada pada satu sisi dan fontanel anterior berada pada sisi yang lain. presentasi tinggi dan tidak bisa diraba. Pada semua malpresentasi seringnya terjadi KPD dan resiko prolapsus tali pusat lebuh besar. dan seharusnya ibu dirujuk ke RS. Jika dahi dapat teraba. dengan diameter mento vertikal 13 cm. Kepala dan tulang belakang ekstensi tetapi lutut fleksi sehingga letak 118 . Kepala pada pertengahan antara versi dan ekstensi.

Suaranya terdengar jelas pada posisi mento anterior. Ultrasound dalam kehamilan dapat digunakan untuk memastikan diagnosis presentasi muka. Fetus goitre. Bunyi jantung terdengar melalui dinding dada anterior pada sisi dimana lutut teraba.fetus dalam uterus dalam bentuk huruf S. vertek tidak ada. Presentasi muka juga lebih sering terjadi pada flat pelvis. 119 . Diagnosis Presentasi muka tidak mudah didiagnosis dalam kehamilan. Oksiput berlawanan dari bahu dan muka secara langsung yang berada dibagian os. Pada posisi oksipito pesterior defleksi diameter biparietal mungkin mempunyai kesulitan dalam menjauhi diameter sacro cotyloid dari pelvis maternal. Kekuatan kontraksi uterus berjalan kearah kepala bagian frontal supaya kepala ekstensi dan masuk kerongga pelvis. dalam rongga pelvis dan pada prematuritas dan dimana terjadi polihidramnion atau kehamilan ganda. Diameter bitemporal lebih cepat turun. Hal ini seharusnya diperhatikan jika ada lekukan yang dalam antara kepala dengan bagian belakang. Internum. kepala ekstensi dan muka terlihat. Pada anensephalus yang biasa terjadi. Uterus yang berada disisi samping (uterus obliq). Presentasi muka sekunder yang berkembang dalam persalinan sering tidak diketahui sebabnya. Penyebab Pada presentasi muka primer sebelum persalinan berlangsung fetus seringnya abnormal. Pada posisi mento posterior bunyi jantung janin lebih sulit terdengar karena dada pada posterior. kepala tidak dapat versi biasanya tonus otot ekstensor tonus berlebuhan dan bertahan dalam sikap ekstensi pada beberapa setelah lahir.

dengan palpasi yang lembut akan teraba orbital dan mulut dengan gusi. Posisi mento lateral dan mento posterior lebih berbahaya.5 cm yang dapat merobek perineum saat kelahiran. Komplikasi Komplikasi yang dapat terjadi pada presentasi muka. yang tidak bisa berputar ke posisi anterior. Pemeriksaan harus hati-hatiuntuk menghindari trauma pada mata. a. Manajemen Pada posisi mento anteerior seringnya proses persalinan berjalan normal. Presentasi muka didiagnosa dengan menentukan posisi dagu apakah anterior atau posterior. karena.Diagnosis dapat ditegakan dengan pemeriksaan vagina. Kelahiran spontan tidak akan terjadi. kepala difleksikan sehingga memungkinkan verteks dan oksiput melewati perineum. Jika kelahiran normal terjadi ekstensi dipertahankan dengan menekan sinsiput hingga dagu berada di bawah simpisis pubis. Prolapsus tali pusat 2. Muka tidak berbentuk dan oleh karena CPD yang tidak dapat ditangani 120 . Presentasi muka posterior. Obstruksi persalinan. akan menyebabkan obstruksi persalinan. Adanya gusi dan mulut dalam presentasi muka harus dibedakan dari anus pada presentasi bokong. 1. meliputi. Pada kala II kelahiran normal diantisipasi dengan menggunakan episiotomi meskipun diameter sub mento bregmatika 9. kemungkinan persalinan obstruksi dan dibutuhkan penatalaksanaan dengan segera. Kemajuan persalinan menjadi sangat sulit pada pemeriksaan pervaginam untuk membedakan muka karena muka menjadi oedemmeriks. Biasanya fetus akan membantu diagnosis dengan menghisap jari tangan pemeriksa saat dilakukan pemeriksaan. Sub mento vertikal 11.5 cm.

Keadaan ini dinamakan posisi oksiput posterior persisten. Trauma perineum berat dapat terjadi karena. 5. Muka memar dan oedem Gambar.b. dahi dan muka 4) Posisi Oksipitalis Posterior Persisten Keadaan dimana ubun-ubun kecil tidak berputar ke depan. meskipun diameter sub mento bregmatik hanya 9. Presentasi muka posterior presisten mengakibatkan obstruksi persalinan 3. Bentuk tengkorak fetus abnormal disebabkan perdarahan intrakranial. puncak kepala. Misalnya: apabila diameter anterior posterior lebih panjang dai diameter transfersa seperti pada panggul antropoid atau segmen depan menyempit seperti pada panggul android. maka ubun-ubun kecil akan mengalami kesulitan memutar ke depan. Kelahiran operasi mungkin dibutuhkan 4. sub mento vertikal 11.3. Etiologi Salah satu sebab terjadinya posisi oksipitalis oksiput posterior persisten ialah usaha penyesuaian kepala terhadap bentuk dan ukuran panggul. sehingga tetap dibelakang. Sebab-sebab lain adalah otot-otot dasar panggul yang sudah lembek pada multipara atau kepala 121 .5 cm akan memperlebar vagina dan perineum.5 cm.1 Presentasi belakang kepala.

Prognosis Jalannya pada proses persalinan posisi oksiput posterior sulit diramalkan hal ini disebabkan karena kemungkinan timbulnya kesulitan selalu ada. untuk memutar ke depan. Mekanisme Persalinan Bila hubungan antara panggul dengan kepala janin cukup longgar persalianan pada posisi oksipitalis posterior persisten dapat berlangsung secara spontan tetapi pada umumnya lebih lama. sehingga tidak ada paksaan pada belakang kepala janin. kedua keadaan tersebut dapat menimbulkan kerusakan pada vagina dan erineum yang luas. kemungkinan kerusakan jalan lahir lebih besar. Selain itu seringkali fleksi kepala tidak dapat maksimal. Sedangkan kematian peeinatal perinatal lebih tinggi bila dibandingkan dengan keadaan dimana ubun-ubun kecil berada di depan. 122 . Kelahiran janin dengan ubun-ubun kecil di belakang menyebabkan regangan yang besar pada vagina dan perineum. Setelah kepala mencapai dasar panggul dan ubun-ubun besar berada di bawah shimpisis dengan ubun-ubun besar tersebut sebagai hipomoklion. sehingga kepala lahir melalui pintu bawah panggul dengan sirkumferensia frontooksipitalis yang lebih besar dibandingkan dengan sirkumferensia sub oksipitooksipitalis.janin yang kecil dan bulat. hal ini disebabkan karena kepala yang sudah dalam keadaan fleksi maksimal tidak dapat menambah fleksinya lagi. oksiput akan lahir melalui perineum diikuti bagian kepala yang lain. Persalinan pada pada umumnya berlangsung lebih lama. Kepala janin akan lahir dalam keadaan muka di bawah simpisis dengan mekanisme sebagai berikut.

Keadaan ini dinamakan posisi lintang tetap rendah (deep tranverse arrest). keadaan ini dinamakan inersia uteri primer atau hypotonic uterine contraction. dan kandung kencing serta rectum 123 . Apabila ada disproporsi chepalopelvik yang berarti. harus diperiksa keadaan servik. turunnya kepala janin dalam panggul dan keadaan panggul. Kalau timbul setelah berlangsungnya his kuat untuk waktu yang lama hal ini dinamakan dengan inersia uteri sekunder. Untuk sampai pada kesimpulan ini diperluakan kenyataan bahwa sebagai akibat kontraksi terjadi perubahan pada servik yaitu pendataran atau pembukaan servik Penanganan Setelah diagnosis inersia uteri ditetapkan. b. Kontraksi uterus yang disertai rasa nyeri tidak cukup untuk membuat diagnosis bahwa persalinan sudah dimulai. Pada presentasi belakang kepala kadang-kadang kala II mengalami kemacetan dengan kepala janin sudah berada di dasar panggul dan posisi UUK melintang. sebaiknya diambil keputusan untuk melakukan SC. Konsep Dasar Distosia Kelainan Tenaga Atau His 1) His Hipotonik Kelainan dalam hal bahwa kontraksi uterus lebih aman.Penanganan Menghadapi persalinan dengan UUK di belakang sebaiknya dilakuka pengawasan persalinan yang seksama dengan harapan terjadinya persalinan spontan. KU pasien sementara diperbaiki. singkat dan jarang daripada biasa. presentasi serta posisii janin. Tindakan untuk mempercepat jalanya persalinan dilakukan apabila kala II terlalu lama atau ada tanda-tanda bahaya terhadap janin. Diagnosis inersia uteri paling sulit dalam fase laten.

Oleh 124 . tonus otot di luar his juga biasa. Oksitosin yang diberikan dengan suntikan IM akan dapat menimbulkan incoordinate uterin action. vagina dan perineum. 5 satuan oksitosin dimasukan ke dalam larutan glukosa 5% dan diberikan secara infus IV (dengan kecepatan kira-kira 12 tetes permenit yang perlahan dapat dinaikan sampai kira-kira 50 tetes. khususnya servik uteri. Kalau 50 tetes tidak dapat berhasil bisa dengan memeberikan dosis lebih tinggi dengan cara pasien harus di awasi dengan ketat dan tidak boleh ditinggalkan. Untuk merangsang his selain dengan pemecahan ketuban bisa diberikan oksitosin. Kalau seorang wanita pernah emengalami partus presipitatus kemungkinan besar kejadian ini akan berulang pada persaliann selanjutnya. His ng terlalu kuat atau terlalu efisien menyebabkan persalinan selessai dalam waktu yang sangat singkat (partus presipitatus): sifat his normal. 2) His Hipertonik (his terlampau kuat) Walaupun pada golongan koordinate hipertonik uterin contraction bukan merupakan penyebab distosia namun bisa juga merupakan kelaianan his. Penanganan Pada partus presipitatus tidak banyak yang dapat diilakukan karena biasanya bayi sudah lahir tanpa ada seseorang yang menolong. Batas antara bagian atas dan segmen bagian bawah atau lingkaran retraksi menjadi sangat jelas dan meninggi. Bahaya partus presipitatus bagi ibu ialah terjadinya perlukaan luas pada jalan lahir. kelainannya terletak pada kekuatan his. apabila kepala atau bokong janin sudah masuk ke dalam panggul. Lingkaran tersebut dinamakan dengan lingkaran retraksi patologis (lingkaran bandl). penderita di sarankan untuk berjalan-jalan terlebih dahulu.dikosongkan. Sedangkan pada bayi dapat mengalami perdarahan dalam tengkorak karena bagian tersebut mengalami tekanan kuat dalam waktu sangat singkat.

Dan kalau pembukaan belum lengkap. perlu dipertimbangkan SC. Penanganan Kelainan ini hanya dapat diobati secara simtomatis karena belum ada obat yang dapat memperbaiki koordinasi fungsional antara bagianbagian uterus. dan kontraksinya tidak berlangsung seperti biasa karena tidak ada sinkronisasi antara kontraksi bagian-bagiannya. Satu sebab yang penting dalam kelalinan his. seperti morphin. His ini disebut sebagai incoordinate hipertonik uterin contraction.karena itu sebaiknya wanita di rawat sebelum persalinan. Pada multipara lebih banyak ditemukan yang bersifat inersia uteri. danepisiotomi dilakukan pada waktu yang tepat untuk menghindari ruptur perineum tingkat III. Akan tetapi persalinan tidak boleh berlangsung berlarut-larut apalagi kalau ketuban sudah pecah. khususnya inersia uteri adalah bagian bawah janin tidak berhubungan rapat dengan segmen bawah uterus seperti misalnya pada 125 . Disamping itu tonus otot uterus yang menaik menyebabkan rasa nyeri yang lebih keras dan lama bagi ibu dan dapat pula menyebabkan hipoksia pada janin. pethidin. Etiologi dari kelainan tenaga atau His Kelainan his terutama ditemukan pada primigravida khususnya primigravida tua. Tidak adanya koordinasi antara kontraksi bagian atas. Faktor herediter mungkin memegang peranan yang sangat penting dalam kelainan his. tengah dan bawah menyebabkan his tidak efisien dan mengadakan pembukaan. sehingga pengawasan dapat dilakukan dengan baik. Usaha yang dapat dilakukan ialah mengurangi tonus otot dan mengurangi ketakutan penderita. Hal ini dapat dilakukan dengan pemberian analgetika. 3) His yang tidak terkoordinasi His disini sifatnya berubah-ubah tonus otot uterus meningkat juga di luar his.

Biasanya terjadi sebagai akibat perlukaan dan radang. Stenosis pada vulva (d). 2) Vagina Stenosis vagina kongenital jarang terjadi lebih sering ditemukan septum vagina yang memisahkan vagina secara lengkap atau tidak lengkap dalam bagian kanan dan bagian kiri. (c). Abses yang pecah pada waktu persalinan dapat meyebabkan infeksi purperalis. uterus bikornis unikolis. stenosis dan tumor (a). kista atau abses glandula bartolin. yang meyebabkan ulkus-ulkus dan yang sembuh dengan parut-parut yang dapat menimbulkan kesulitan. Pada persalinan lama pada penderita di biarkan meneran terus. (e). Tetapi pada sebagian kasus penyebab kelainan inersia uterus tidak diketahui. dapat pula mengakibatkan kelainan his. Tumor dalam bentuk neoplasma jarang ditemukan di vulva. Bisa timbul waktu hamil. lebih sering terdapat kondiloma akuminata. Septum lengkap biasanya 126 . biasanya sebagai gejala preeklampsi tetapi dapat pula mempunyai sebab lain misalnya gangguan gizi. dapat timbul edema pada vulva.kelainan letak janin atau pada kelainan CPD. Tumor (f). Distosia Kelainan Alat Kandungan (Traktus Genitalis) 1) Vulva Kelainan yang dapat menyebabkan distosia yaitu edema. Edema (b). Gangguan dalam pembentukan uterus pada masa embrional misalnya. c. Walaupun dapat di atasi dengan melakukan episiotomi yang cukup luas. Peregangan rahim yang berlebihan pada kehamilan ganda atau hidramnion juga dapat merupakan penyebab inersia uteri.

Tumor apada vagina dapat merupakan rintangan bagi lahirnya janin pervaginam. Distosia karena kelainan yang didapat disebabkan karena fibrosis dan infeksi. perlu dipertimbangkan apakah persalianan dapat berlangsung pervaginam atau harus diselesaikan dengan SC 3) Uterus/servik a) Servik uteri Kondisi dimana struktur servik abnormal mungkin disebabkan karena kongenital atau didapat. oleh karena itu persalinan pervaginam tidak dapat dilakukan dan dianjurkan untuk SC. pembedahan dan radiasi. baik untuk koitus maupun untuk lahirnya janin. 127 . servik tidak membuka dan terasa kaku dan keras. Tergantung dari jenis dan besarnya tumor. Kelainan kongenital. disini dalam kala I uteri menipis akan tetapi pembukaan tidak terjadi. Adanya tumor vagina dapat pula menyebabkan persalinan pervaginam dianggap mengandung terlampau banyak resiko.tidak menimbulkan distosia karena bagian vagina yang satu umumnya cukup lebar. Konglutination orivisii eksterni ialah keadaan yang jarang didapat. Dengan jari dimasukan kedalam lubang itu pembukaan dapat diperlebar dengan mudah dan dalam waktu yang tidak lama pembukaan dapat menjadi lengkap dengan sendirinya. Meskipun kontraksi uterus normal. sehingga merupakan lembaran kerjas di bawah kepala janin. stenosis atau servik tidak berkembang. jaringan parut servik. Diagnosis dibuat dengan menemukan lubang kecil yakni ostium uteri eksternum ditengah-tengah lapisan tipis tersebut.

b) Uterus Distosia karena mioma uteri dapat terjadi. Diagnosis Pemeriksaan yang teliti adanya DKP (disporposi cepalo pelvik) perlu dilakukan. d. Distosia Karena Kelainan Letak Janin 1) Bayi besar Yang dinamakan bayi besar adalah bila berat badannya lebih dari 4000gr. apabila letak mioma uteri menghalangi lahirnya janin pervaginan b). Miomektomi sesudah SC tidak dianjurkan karena bahaya berdarahan banyak dan tertinggalnya luka-luka yang tidak rata pada miometrium yang memudahkan terjadinya infeksi puerpurial. Puerpurium perlu diawasi dengan baik karena kemungkinan bahaya nekrosis selalu ada. Profilaksis dianjurkan ajar pemberian oksitosin yang dapat menggangu peredaran darah ke miomata yang kemudian menjadi nekrotik dan mudah terinfeksi. SC dilakukan secara SCTP. jika pengobatan konserfatif tidak berhasil dipertimbangkan histrektomi. Besarnya kepala dan tubuh janin dapat diukur dengan menggunakan alat ultrasonik. mioma uteri menyebabkan inersia uteri dalam persalinan Apabila mioma uteri merupakan halangan bagi lahirnnya janin pervaginan perlu dilakukan SC. a). Akan tetapi kadang-kadang dihubungkan dengan lokasinya perlu dilakukan SC klasik. 128 . apabila berhubungan dangan adanya mioma uteri terdapat kelainan letak janin c). Dalam masa puerpurium mioma uteri dapat mengecil malahan bisa menjadi lebih kecil dari padasebelum hamil.

Pada keadaan dimana janin telah mati sebelum bahu dilahirkan dapat dilakukan kleidotomi pada salah satu atau kedua klafikula. 2) Hydrocephalus Kepala sangat besar yang disebabkan karena peningkatan jumlah cairan serebrospinal yang meluas ke otak. Dengan cara demikian dapat mengurangi cairan sereberal. Pada palpasi abdomen kepala teraba besar dan dibagian atas pinggir mungkin teraba bokong. Diagnosis dapat ditetapkan dengan USG. Pada beberapa kasus pembedahan berhasil dengan baik dengan cara insersi katuk jantung dan kateter dari ventrikel ke vena jugularis dan sisi kanan jantung. kemudian kepala ditarik curam kebawah secara hati-hati dengan kekuatan yang terukur. hidung serta mulut janin dibersihkan. fontanel besar dan sutura lebar. 129 . Keadaan ini dapat menyebabkan obstruksi persalinan jika tidak didiagnosa dengan segera. Pada banyak kasus fetus tidak dapat dilahirkan pervaginam dan SC dibutuhkan. SC perlu dipertimbangkan. Kesukaran terjadi karena distosia bahu dapat menyebabkan kesukaran kelahiran sehingga bayi dapat meninggal akibat asfiksia. Selain itu penarikan kepala kebawah terlalu kuat dalam pertolongan distosia bahu berakibat perlukaan pada nervus brachialis dan musculus sterno kleido mastoideus.Prognosis Pada panggul normal janin dengan berat badan kurang dari 4500gr pada umumnya tidak menimbulkan kesukaran persalinan. Bila tidak berhasil digunakan perasat muller. Untuk mengurangi kemungkinan perlukaan jalan lahir. Penanganan Pada CPD karena janin besat. Tulang kranial lembut. radiogragik atau denga pemeriksaan vagina. Untuk melahirkan bahu hendaknya dilakukan episiotomi mediolateral yang luas.

130 . 3) Anencephalus Anensephalus adalah kondisi dimana tulang tengkorak tidak ada dan hampir tidak ada perkembangan otak. Spina bivida sering menyertai anensephalus. muka tampak saat proses persalinan. karena tengkorak yang besar ikut meregangkan segmen bawah rahim. Fetus mempunyai mata yang besar dan menonjol dan bahu lebar. Rupture uteri pada hidrosephalus dapat terjadi sebelum pembukaan servik lengkap. yaitu. Biasanya 50% dari kehamilan karena polihidramnion. umur kehamilan dan berat fetus akan mempengaruhi produk kehamilan. Mekanisme dimana hipoksia menyebabkan kerusakan otak atau kematian belum diketahui.Prognosis Apabila tidak segera dilakukan pertolongan. 1) Insufisiensi aliran darah uterus 2) Insufisiensi aliran darah umbilikus 3) Berkurangnya oksigenasi maternal Derajat dan Lamanya hipoksia. tetapi beberapa faktor yang mempengaruhi. yang terbuka dan tampak masa gelap dan merah. 4) Gawat janin Fetal distress disebabkan oleh kekurangan oksigen (hipoksia didalam uterus). biasanya perempuan dan hampir semua mati dalam seminggu pertama kelahiran. Pada waktu lahir bayi mungkin asfiksia dan membutuhkan resusitasi dengan segera. Disalam banyak kasus hal ini banyak menyebabkan kerusakan intrakranial yang menyebabkan cerebral palsi dan kadangkadang terjadi IUFD atau kematian neonatus. Hanya 25% bayi yang dapat hidup. bahaya rupture uteri akan mengancam. Inseden anensephalus kira-kira 1 dalam 1000 kelahiran.

persalinan preterm atau lahir mati berhubungan dengan resiko tinggi pada janin dalam kehamilan ini. 131 . kesehatan fisik dan psikis. Status sosial ekonomi adalah suatu gambaran kekurangan penghasilan tetapi juga kekurangan pendidikan. nutrisi. (2) umur maternal Umur ibu yang sangat muda dan tua lebih dari 35 tahun merupakan umur resiko tinggi (3) Merokok Nikotin dapat menyebabkan vasokontriksi. dan menyebabkan penurunan aliran darah uterus dimana karbonmonoksida mengurangi transport oksigen.Pembagian fetal distress Fetal distress bisa akut dan kronis. Angka mortalitas perinatal meningkat. hipoksia dan persalinan preterm yang semuannya meningkatkan resiko kematian perinatal. a) Faktor yang mempengaruhi fetal distress kronis: Fetal distress kronis berhubungan dengan faktor sosial yang kompleks: (1) Status sosial ekonomi rendah Hal ini berhubungan dengan peningkatan morbiditas dan mortalitas. (4) Penyalah gunaan obat terlarang Penyalah gunaan obat terlarang dalam kehamilan berhubungan dengan banyak konplikasi meliputi IUGR. (5) Riwayat obstetrik yang buruk Riwayat abortus sebelumnya.

post matur. 132 . infeksi intra uterin dan inncompatibilitas resus yang meningkatkan resiko hipoksia intra uterin. Resiko ini meningkat pada kehamilan ganda. perdarahan antepartum yang dapat mengakibatkan pengurangan suplai oksigen ke fetus. (8) Kondisi fetal Malformasi kongenital tertentu. dimana terjadi asidosis maternal sehingga akan menyebabkan asidosis fetal dan oleh karena itu menyebabkan fetal distress (7) Kondisi plasenta Kondisi tersebut meliputi insufisiensi plasenta. seperti: (a) Hipertensi yang diinduksi kehamilan (b) Hipertensi kronik (c) Diabetes (d) Penyakit ginjal kronis Sedangkan faktor yang menyebabkan penurunan oksigenasi arteri maternal seperti: Penyakit sikle sel Anemia berat. hb 9%/dl atau kurang Penyakit paru-paru Penyakit jantung Epilepsi. jika tidak dikontrol dengan baik Infeksi maternal berat Kondisi tersebut berbahaya.(6) Penyakit maternal Kondisi yang meningkatkan resiko fetal distress kronis dapat mempengaruhi sistem sirkulasi maternal dan menyebabkan insufisiensi aliran darah uterus.

(9) Faktor resiko intra partum Selama persalinan faktor yang berhubungan dengan peningkatan resiko fetal distress. Tali pusat dapat tertekan pada prolapsus. (3) Kondisi tali pusat Plasenta terlepas. (4) Depresi pusat sistem pernafasan Depresi sistem pernafasan pada BBL sebagai akibat pemberian analgetuk pada ibu dalam persalinan dan perlukaan pada proses kelahiran menyebabkan hipoksia. ketika kontraksi sehingga mengakibatkan hipoksia fetus. hipotensi dan hipoksia (f) Partum presepitatus atau partus lama b) Faktor yang mempengaruhi fetal distress akut (1) Kondisi uterus Kontraksi uterus hipertonik yang lama dan kuat adalah abnormal dan uterus dalam keadaan istirahat yang lama dapat mempengaruhi sirkulasi utero plasenta. lilitan tali pusat. (a) malpresentasi seperti presentasi bokong (b) kelahiran dengan forcep (c) SC (d) Sedatif atau analgetik yang berlebihan (e) Komplikasi anastesi. 133 . (2) Kompresi tali pusat Kompresi tali pusat akan menggangu sirkulasi darah fetus dan dapat mengakibatkan hipoksia. terjadi solusio plasenta hal ini berhubungan dengan kelainan fetus. meliputi.

USG untuk menilai pertumbuhan fetus 2. Non stress tes (NST) Eksternal kardiotokograf (CTG) Kriteria yang seharusnya diamati meliputi 2 hal atau lebih. tonus fetus indeks cairan amnion dan NST 3. Ini dapat terjadi pada awal atau akhir penurunan denyut jantung dan bentuknya tidak sama. Deselerasi lebih dini Ketika denyut jantung turun lebih dari 15 bpm pada saat kontraksi deselerasi menggambarkan kontraksi dan biasanya tidak dianggap masala serius. Takikardi diatas 160 bpm atau bradikardi dibawah 120 bpm b. Denyut jantung a. 134 . Deselerasi yang berubah-ubah Deselerasi yang berubah-ubah hal ini sangat sulit dijelaskan.Deteksi fetus melalui pemeriksaan Antenatal Pemeriksaan digunakan untuk mendeteksi fetus meliputi: 1. mengalami penurunan sedikitnya 15 denyutan permenit menetap sedikitnya 15 detik dalam 20 menit. yaitu: denjut jantung janin. gerakan fetus. hubungan antara peningkatan asidosis fetus dengan dalam dan lamanya deselerasi adalah adanya abnormalitas denyut jantung janin. gerakan pernafasan fetus. Dopler Tanda fetal distress dalam persalinan 1. 4. Profil biofisikal Pemeriksaan fisik pada fetus menggunakan USG parameter yang digunakan untuk menilai meliputi. c.

Dalam kasus fetal distress berat harus dilahirkan cara SC. Manajemen Pada Kala I Peningkatan perfusi plasenta silakukan dengan cara perubahan posisi menjadi posisi miring. Deselerasi yang lambat menyebabkan penurunan aliran darah uterus dan pengurangan transver oksigen selama kontraksi. Deselerasi lambat Penurunan denyut jantung janin menunjukkan tingkat deselerasi paling rendah tetapi menunjukkan kontraksi padaa tingkat yang paling tinggi. Mekonium campur air ketuban 2. e. Pada kasus tersebut dokter harus mengobserfasi kondisi fetus dengan memonitor 135 .d. Jika pola tersebut terjadi disertai dengan abnormalitas denyut jantung janin harus di pikirkan untuk ancaman yang serius dalam kesejahteraan fetus. Dokter harus menyiapkan contoh darah fetus jika auskultasi mengindikasikan abnormalitas denyut jantung. Penurunan tersebut mempengaruhi oksigenasi serebral fetus. Adanya mekonium dalam cairan ketuban berhubungan dengan peningkatan resiko neonatus dan meningkatkan kesakitan dan kematian neonatus. Mekonium Adanya mekonium terjadi kira-kira pada 20% dari semua kelahiran dan aspirasi terjadi 1-3% dari semua bayi hidup yang dilahirkan. Tidak adanya denyut jantung Ini mungkin disebabkan oleh karena hipoksia kronis atau berat dimana sistem syaraf otonom tidak dapat merespon stress f. Kecenderungan penyebabnya karena relaksasi spinter anus yang disebabkan oleh karena hipoksia usus yang mengakibatkan aliran darah keorgan vital berkurang.

Selanjutnya moulage kepala janin dipengaruhi oleh jenis asinklitismus anterior lebih menguntungkan daripada asinklitismus posterior oleh karena pada mekanisme terakhir gerakan os. Memeriksa cairan amnion apakah mengandung mekonium. selain itu dokter harus menyiapkan untuk tindakan SC.denyut jantung secra terus menerus. sedang pada panggul sempit seluruhnya ditemukan rintanagn pada semua ukuran. sedangkan pada 136 . sedang pada asinklistismus anterior os parietale posterior yang terletak paling bawah tertahan oleh simphisis. Oleh karena pada panggul sempit karena kemungkinan lebih besar bahwa kepala tertahan oleh pintu atas panggul. atau diameter tranversa kurang dari 12 cm. e. ketuban bisa pecah oleh pembukaan kecil dan ada bahaya pula terjadinya prolapsusu funikuli. Hal ini dapat mengakibatkan inersia uteri serta lambannya pendataran dan pembukaaan servik. Distosia Kelainan Jalan Lahir 1) Kesempitan Pintu Atas Panggul Pintu atas panggul dianggap sempit apabila konjugata vera kurang dari 10 cm. Apabila pada panggul sempit pintua atas panggul tidak tertutup dengan sempurna oleh kepala janin. Kesempitan pada konjugata vera (panggul picak) umumnya lebih menguntungkan daripada kesempitan pada semua ukuran (panggul sempit seluruhnya). maka dalam hal ini servik uteri kurang mengalami tekanan kepala. Pada panggul picak turunya belakang kepala bisa tertahan dengan akibat terjadinya defleksi kepala. Manajemen Kala II Jika detal distres terjadi pada kala II kepala dilindungi dengan melakukan episiotomi.kepala memasuki rongga panggul dengan hiperfleksi. Perawatan resusitasi disiapkan dan dokter anak diharuskan untuk stanby untuk mengatasi kemungkinan bayi mengalami asfiksia. Parietale yang terletak paling bawah tertahan oleh simphisis.

137 . yakni distansia tuberum. Ukuran terpenting yang hanya dapat ditetapkan secara pasti dengan pelvimetri rontgenologi. Apabila ukuran yang terkhir ini lebih kecil daripada biasa. Apabila ukuran ini kurang dari 9. Dengan diameter sagitalis poterior yang cukup panjang persalinan pervaginam dapat dilaksankan. walaupun dengan perlukaan luas pada perineum. Agar supaya dalam hal ini kepala janin dapat lahir. timbul kemacetan pada kelahiran janinukuran biasa. diperlukan ruanagan yang lebih besar pada bagian belakang pintu bawah panggul.asinklitismus anterior os parietale anterior dapat bergerak lebih leluasa ke belakang. apalagi bila diameter sagitalis posterior pendek pula. ialah distansia interspinarum. Dengan distansia tuberum bersama dengan diameter sagitalis posterior <15 cm. dapat diharapkan bahwa panggul tengah tidak akan menyebabkan rintangan bagi lewatnya kepala janin. 3) Kesempitan Pintu Bawah Panggul Pintu bawah panggil tidak merupakan bidang yang datar tetapi. dinding-dinding panggul tidak berkonvergensi. Pada panggul tengah yang sempit lebih sering ditemukan posisi oksipitalis posterir persisten atau presentasi ekpala dalam posisi lintang tetap (tranverse arrest).5 cm. 2) Kesempitan Pintu Tengah Panggul Dengan sakrum melengkung sempurna. perlu kita waspadai terhadap kemunkinan kesukaran pada persalinan. maka sudut arkus pubis mengecil pula (<80 0). terdiri atas segitiga depan dan segitiga belakang yang mempunyai dasar yang sama. foramen iskiadikum mayor cukup luas. dan spina iskiadika tidak menonjol ke dalam.

5) Jika uterus masih juga belum berkontraksi mulai lagi kompresi bimanual interna setelah anda memberikan injeksi metergin dan sudah mulai IV 6) Jika uterus masih juga belum berkontraksi dalam 5-7 menit. bersiaplah untuk melakukan rujukan dengan IV terpasang pada 500 cc/jam hingga tiba di tempat r ujukan atau sebanyak 1. 3) Jika uterus sudam mulai berkontraksi secara perlahan di tarik tangan penolong. lanjutkan memantau ibu secara ketat 4) Jika uterus tidak berkontraksi setelah 5 menit.2. Jika uterus sudah berkontraksi. Persalinan Dengan Penyulit Kala III Dan IV a. Atonia Uteri Uterus gagal berkontraksi dengan baik setelah persalinan Penyebab 1) Partus lama 2) Pembesaran uterus yang berlebihan pada waktu hamil seperti pada kehamilan kembar.2 mg IM dan mulai memberikan IV (RL dengan 20 UI oksitosin/500 cc dengan tetesan cepat). minta anggota keluarga melakukan bimanual interna sementara penolong memeberikan metergin 0. 138 . hidramnion atau janin besar 3) Multiparitas 4) Anastesi yang dalam 5) Anastesi lumbal Penatalaksanaan 1) Bersihkan semua gumpalan darah atau membran yang mungkin berada di dalam mulut uterus atau di dalam uterus 2) Segera mlai melakukan kompresi bimanual interna.5 L seluruhnya diinfuskan kemudian teruskan dengan laju infus 125 cc/jam.

Jika perdarahan terus berlangsung. lakukan uji pembekuan darah sederhana. Jika anda dapat merasakan adanya plasenta dalam vagina. berikan oksitosin 10 Unit IM. berikan antibiotik untuk metritis.b. keluarkan plasenta tersebut. 139 . Kegagalan terbentuknya pembekuan setelah 7 menit atau adanya bekuan lunak yang dapat pecah dengan mudam menunjukan koagulapati 6) Jika terdapat tanda-tanda infeksi (demam. jika belum dilakuak dalam penanganan aktif kala III 4) Jika plasenta belum dilahirkan setelah 30 menit pemberian oksitosin dan uterus terasa berkontraksi. mintalah ibu untuk mengejan. lakukan katerisasi kandung kemih 3) Jika plasenta belum keluar. Jika diperlukan. Retensio Plasenta Plasenta atau bagian-bagianya dapat tetap berada di dalam uterus setelah bayi lahir. 2) Pastikan kandung kemih sudah kosong. Penyebab 1) Plasenta belum lepas dari didnding uterus 2) Plasenta sudah lepas tetapi belum dilahirkan (disebabkan karena tidak adanya usaha untuk melahirkan atau karena salah penanganan kala III) 3) Kontraksi uterus kurang kuat untuk melepaskan plasenta 4) Plasenta melekat erat pada dinding uterus oleh sebab vili korealis menembus desidua sampai miometrium-sampai dibawah peritoneum (plasenta akreta-perkreta) Penatalaksanaan 1) Jika plasenta terliahat dalam vagina. cobalan untukmengeluarkan plasenta secara manual. lakukan penarikan tali pusat terkendali 5) Jika traksi tali pusat terkendali belum berhasil. secret vagina yang berbau).

rambut lanuago dan vernik kaseosa masuk kedalam sinus-sinus dalam dinding uterus dan dibawa ke paru-paru. Karena his kuat. kejang-kejang dan meninggal kemudian. lakukan uji pembekuan darah sederhana bila perdarahan terus berlangsung. Emboli Air Ketuban Emboli air ketuban menimbulkan syok yang sangat mendadak dan biasanya berakhir dengan kematian. vagina dan perineum. sesak nafas. Pada syok karena emboli air ketuban sering ditemukan gangguan dalam pembekuan darah. Perdarahan pasca persalinan dengan uterus yang berkontraksi baik biasanya disebabkan oleh. Robekan dapat terjadi bersamaan dengan atonia uteri. robekan servik atau vagina. Periksalah dengan seksama dan perbaiki robekan pada servik. d. atau ketamin.c. Penatalaksanaan a. Emboli air ketuban terjadi pada his yang kuat dengan ketuban yang biasanya sudah pecah. air ketuban dengan mekonium. Kegagalan terbentuknya pembekuan setelah 7 menit atau adanya bekuan lunak yang dapat pecah dengan mudah menunjukan adanya koagulapati. Perbaikan robekan servik 1) Tindakan a dan antiseptik pada vagina dan servik 2) Berikan dukungan emosional dan penjelasan 3) Pada umumnya tidak diperlukan anastesi. Robekan Jalan Lahir Robekan jalan lahir merupakan peyebab kedua tersering dari perdarahan pasca persalinan. Jika robekan luas atau jauh sampai ke atas. berikan petidin dan diazepam IV pelan-pelan. 4) Asisten menahan fundus 140 . Dengan mendadak penderita menjadi gelisah.

untuk sebagian besar terletak di luar vagina Penanganan a. sfingter ani 4) Robekan tingkat IV mengenai mukosa rektum Umumnya robekan ingkat I dapat sembuh sendiri. mulai dari apeks 7) Jika sulit dicapai dan diikat. semuanya terbalik. Fundus uteri menonjol ke dalam kavum uteri. Pada bagian yang terdapat robekan. Kaji ulang prinsip dasar perawatan dan pasang infus 141 . tinggalkan 2 klem diantara robekan. sehingga fundus uteri sebelah dalam menonjol ke dalam kavum uteri. Tingkatan inversio uteri menurut perkembangan inversio uteri: a. e. Perbaikan robekan vagina dan perineum Ada 4 tingkat robekan yang dapat terjadi pada persalinan: 1) Robekan tingkat I yang mengenaimukosa vagina dan jaringan ikat 2) Robekan tingkat II mengenai lat-alat di bawahnya 3) Robekan tingkat III mengenai m. Kaji ulang indikasi b. tetapi belum keluar dari ruang tersebut b. Korpus uteri yang terbalik sudah masuk kedalam vagina c. pindahkan bergantian searah jarum jamsehingga semua bagian servik dapat diperiksa. Inversio Uteri Pada inversio uteri bagian atas uterus memasuki kavum uteri. apek dapat dicoba di jepit dengan klem ovum atau klem arteri dan dipertahankan 4 jam 8) Jika robekan meluas sampai melewati puncak vagina lakukan laparotomi b.5) Bibir servik di jepit dengan klem ovum. 6) Jahit robekan servik dengan cut gut kromik 0 secara jelujur. Uterus dengan vagina. tidak perlu dijahit.

atau anestesia umumjika diperlukan d. Basuh uterus dengan larutan antiseptik dan tutup dengan kain basah (dengan NaCl hangat) menjelang operasi Pencegahan inversi sebelum tindakan Koreksi Manual a. Pasien dalam posisi trendelenburg-dengan kepala lebih rendah sekitar 50 cm dari perineum b. Jika inversi sudah diperbaiki. Siapkan sistem bilas yang sudah disinfeksi. Pegang uterus pada daerah insersi tali pusat dan masukan kembali melalui servik. lakkan plasenta manual setelah tindakan koreksi c. Lakukan perawatan pasca bedah jika diberikan koreksi kombinasi abdominal vagina 142 . Selang di sambung dengan tabung berisis air hangat 3-5 l (atau NaCl atau infus lain) dan pasang setinggi 2 m c.c. Jika koreksi manual tidak berhasil. berikan infus oksitosin 20 unit dalam 500 ml IV (NaCl 0. Perawatan pasca tindakan a. Jika plasenta masih belum terlepas. Gunakan tangan lain untuk memebantu menahan uterus dari dinding abdomen. lakukan koreksi hidrostatik Koreksi Hidrostatik a. Guyur air dengan leluasa agar menekan uterus ke posisi semula. Pasang sarung tangan DTT b. Berikan petidin dan diazepam IV dalam semprit berbeda secara perlahan-lahan. Berikan antibiotik profilaksis dosis tunggal c. Pasang ujung selang douche pada fornik posterior sampai menutup labia sekitar selang denan tangan e. Identifikasi fornik posterior d.9%/RL) 10 tetes/menit b. berupa selang 2 m berujung peneyemprot berlubang lebar.

inversio uteri f. wanita hamil lanjut menunjukkan hipotensi sewaktu tidur telentang. emboli air ketuban g. perdarahan b. Pertolongan pada penderita syok: pertama-tama kelancaran ventilasi harus dijamin untuk ini perlu ditentukan apakah jalan nafas bebas. Perdarahan Kala IV Perdarahan yang normal setelah kelahiran mungkin hanya akan sebanyak satu pembalut wanita perjam selama enam jam pertama atau seperti darah haid yang banyak. solusio plasenta d. Jika ada tanda infeksi berikan antibiotika kombinasi sampai pasien bebas demam selama 48 jam e. Apakah ada laserasi pada vagina atau servik? Apakah uterus berkontraksi dengan baik? Apakah kandung kencingnya kosong? g. Syok Obstetrik Syok pada waktu kehamilan mengakibatkan syok pula pada janin yang berada dalam kandungan. jika tidak hal itu perlu diusahakan dengan segera. terutama pada penderita yang menunjukkan predisposisi terhadap syok. infeksi berat c.d. maka ibu tersebut hendaknya diperiksa lebih sering dan penyebabpenyebab dari perdarahan berat seharusnya diselidiki. peristiwa yang dinamakan supine hypotensive syndrome. Berikan analgesik jika perlu. Jika perdarahan lebih banyak dari ini. kemudian karena syok selalu ada 143 . Peristiwa-peristiwa yang dalam praktek kebidanan dapat menimbulkan syok adalah: a. f. Penanganan Syok Pemberian cairan intravena melalui infus pada waktu persalinan sebagai tindakan pencegahan untuk menghindari hipovolumia besar manfaatnya. perlukaan dalam persalinan e.

dan pemeriksaan laboratorium. His Hipertonik : His yang terlampau kuat c. Hasil penilaian pengukuran-pengukuran ini menentukan tindakan selanjutnya C. Robekan jalan lahir.His hipotonik : His hilang atau his lemah dimana timbul lagi dalam waktu yang lama setelah timbul his yang adekuat b. Secara berkala diadakan pengukuran nadi. pernafasan. Syok Obstetri D. Inversio uteri Perdarahan kala IV.pengurangan volume darah dalam sirkulasi umum. a. diberi cairan melalui infus intra vena. diorisis. Setelah tindakan diatas diusahakan silekasnya menanggulangi peristiwa yang menjadi penyebab syok dengan tindakan yang bersifat medis maupun pembedahan. Atonia Uteri Retensio plasenta. Distosia kelainan jalan lahir). tekanan darah. Tugas/ Latihan 1. Rambu-rambu Jawaban 1. His tidak terkoordinasi : His sifatnya berubah ubah tonus otot berkontraksi juga diluar his 2. 144 . Penyulit kala III dan IV meliputi: Penyulit kala III persalinan. kala III dan kala IV Penyulit kala I dan kala II meliputi : Kelainan presentasi dan posisi. Distosia kelainan alat kandungan. Emboli air ketuban. Dasar – dasar distosia (Kelainan tenaga /his. Pada syok yang tidak jelas penyebabnya sebaiknya dilakukan pemeriksaan vaginal. Selama perawatan perlu terus menerus diadakan pengawasan keadaan penderita. Kala II. Sebutkan dan jelaskan macam – macam kelainan His ! 2. dan bila perlu tekanan vena pusat (CVP). Distosia kelainan janin. Sebutkan dan jelaskan penyebab perdarahan kala IV! E. Perdarahan yang disebabkan karena uterus tidak mau berkontraksi setelah palsenta lahir (atonia uteri) dan perdarahan karena retensio plasenta. suhu. Rangkuman Materi Konsep dasar penyulit kala I.

Ilmu Kandungan. Jakarta Hanifa. Buku Panduan Praktis Maternal dan Neonatal. 5. Tim pengajar Askeb IV. 6. 1999. Pedoman Megajar. dkk. Pusdiknakes – JHPIEGO . Pedoman Mengajar dosen AKBID. dkk. UK. Pusdiknakes – JHPIEGO . YBPSP Hanifa. 1998. Jakarta. Modul 2. Midwifery. 1999. 1999 9. 1999 11. Jakarta. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Modul 4. Jakata YBPSP Pusdiknakes – JHPIEGO.F. Sinopsis Obstetri Jilid I. Pedoman Mengajar dosen AKBID. dosen AKBID. 2001 Varney’s H. Daftar Pustaka 1. 2006. 8. 1999 10. 4. 145 . Ilmu Kebidanan. Jones and Bartlett Publisher Mayes. Midwifery. YBPSP 2. 12 th Edition 2000 Mochtar R. Modul 3. 3. 2001. 1997. 7. Syaifudin. Workshop Kurikulum mata ajar Askeb IV. Tidak ditebitkan.

Jabatan Fungsional h. Konsep Kebidanan 3.PROFIL PENULIS a. S. Asuhan Kebidanan IV 6.ST Yogyakarta.4 Berkoh. Pangkat/Golongan : : : : : : : g. Alamat : : : : Alfi Noviyana. S. Jabatan Struktural i j k Fakultas/Prodi Pendidikan Hasil penelitian l Mata Kuliah yang pernah diampu Purwokerto. Asuhan Nifas 2. Studi Deskriptif Yang Menggali Tingkat Pengetahuan Ibu Tentang Imunisasi Wajib Bagi Bayi Di Wilayah Kerja Puskesmas Grabag I Magelang. Tempat/Tgl Lahir c. Kesehatan Reprodukasi e. Februari 2010 Alfi Noviyana. Nama Lengkap b. Tahun 2006 2. 13 Nopember 1985 Perempuan Jalan Sunan Kali Jaga I No. Asuhan Kehamilan 4. Komunikasi Konseling Kebidanan 5. Jenis Kelamin d. Hubungan Pemanfaatan Sumber Belajar Dengan Prestasi Balajar ASKEB II Pada Mahasiswa AKBID Kusuma Husada Surakarta Tahun 2008 Tahun Ajaran 2008/2009 dan 2009/2010 : 1. Purwokerto 010308149 Penata Muda /IIIA Ilmu Kesehatan / DIII Kebidanan D IV Kebidanan 1. NIK f.ST NIK.010308149 146 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful