BAB I PRINSIP DETEKSI DINI IBU DENGAN KELAINAN, KOMPLIKASI, PENYAKIT DALAM KEHAMILAN, PERSALINAN DAN MASA NIFAS

A.

Kompetensi dasar 1. Mampu menjelaskan Prinsip deteksi dini ibu dengan kelainan, komplikasi, penyakit yang lazim terjadi dalam kehamilan,

Pemeriksaan kehamilan dini ( early ANC detection , Kontak dini kehamilan trimester I, Pelayanan ANC berdasarkan kebutuhan individu dan skrining untuk deteksi dini 2. Mampu mendiskripsikan deteksi dini penyulit persalinan dengan memanfaatkan partograf 3. Mampu menguraikan deteksi dini komplikasi masa nifas (2 jam masa nifas, 6 jam masa nifas, 6 hari masa nifas, 6 minggu masa nifas) B. Uraian Materi 1. Deteksi Dini Terhadap Kelainan, Komplikasi Dan Penyakit Yang Lazim Terjadi Pada Ibu Hamil Kehamilan melibatkan perubahan fisik maupun emosional dari ibu serta perubahan sosial dalam keluarga. Pada umumnya kehamilan berkembang normal dan menghasilkan kelahiran bayi sehat cukup bulan melalui jalan lahir, namun kadang-kadang tidak sesuai dengan yang diharapkan. Sulit diketahui sebelumnya bahwa kehamilan akan terjadi masalah, oleh karena itu pelayanan asuhan antenatal merupakan cara penting memonitor dan mendukung kesehatan dan mendeteksi kehamilan ibu. Ibu hamil sebaiknaya dianjurkan mengunjungi bidan atau dokter sedini mungkin semenjak ibu merasa dirinya hamil untuk mendapatkan pelayanan atau asuhan antenatal. Pemeriksaan dan pengawasan terhadap ibu hamil sangat perlu dilakukan secara teratur. Hal ini bertujuan untuk

1

menyiapkan seoptimal mungkin fisik dan mental ibu dan anak selama dalam kehamilan, persalinan dan nifas sehingga didapatkan ibu dan anak yang sehat. Selain itu juga untuk mendeteksi dini adanya kelainan, komplikasi dan penyakit yang biasanya dialami oleh ibu hamil sehingga hal tersebut dapat dicegah ataupun diobati. Dengan demikian maka angka morbiditas dan mortalitas ibu dan bayi dapat berkurang a. Pemeriksaan Kehamilan Dini (Early ANC Detection) Idealnya wanita yang merasa hamil bersedia untuk

memeriksakan diri ketika haidnya terlambat sekurangkurangnya 1 bulan. Dengan demikian, jika terdapat kelainan pada kehamilannya tersebut akan lekas diketahui dan segera dapat diatasi. Oleh karena itu, setiap wanita hamil sebaiknya melakukan kunjungan antenatal sedikitnya 1 kali pada trimester 1 ( sebelum minggu ke 16). Penilaian klinik merupakan proses berkelanjutan yang dimulai pada kontak pertama antar petugas kesehatan dengan ibu hamil secara optimal. Pada kunjungan dini adapun pemeriksaan yang dilakukan untuk mendeteksi komplikasi, penyulit ataupun penyakit pada kehamilan, yaitu : 1) Anamnesa Anamnesa adalah tanya jawab antara penderita dan pemeriksa. Dari anamnesa ini banyak keterangan yang diperoleh guna membantu menegakkan diagnosa dan prognosa kehamilan. a) Anamnesa Sosial ( biodata dan latar belakang sosial b) Anamnesa Kehamilan (haid) c) Anamnesa Medik/ Kesehatan d) Anamnesa Kebidanan/ Obstetri

2

2) Pemeriksaan Umum a) Tinggi badan Pada wanita hamil yang pertama kali memeriksakan perlu diukur tinggi badannya. Seorang wanita hamil yang terlalu pendek, yang tinggi badannya kurang dari 145 cm tergolong resiko tinggi karena kemungkinan besar persalinan berlangsung kurang lancar dengan kemungkinan kesempitan panggul. Perbandingan tinggi dan berat badan memberi gambaran mengenai keadaan gizi. b) Berat badan Pada tiap pemeriksaan wanita hamil baik yang pertama kali atau ulangan, berat badan perlu ditimbang. Kenaikan berat badan yang mendadak dapat merupakan tanda bahaya komplikasi kehamilan yaitu preeklampsi. Dalam trimester I berat badan wanita hamil biasanya belum naik bahkan biasanya menurun karena

kekurangan nafsu makan. Dalam trimester terakhir terutama karena pertumbuhan janin dan uri berat badan naik sehingga pada akhir kehamilan berat badan wanita hamil bertambah kurang lebih 11 kg dibanding sebelum hamil. Pada trimester terakhir berat badan kurang lebih 0.5 kg seminggu, bila penambahan berat badan tiap minggu lebih dari 0.5 kg harus diperhatikan

kemungkinan preeklampsi. c) Tanda-tanda vital Dalam keadaan normal tekanan darah dalam kehamilan trimester terakhir sistolik tidak melebihi 140 mmHg, dan diastolik tidak melebihi 90 mmHg. Bila terdapat

3

tekanan darah melebihi diatas maka kemungkinan adanya preeklampsi. nafas cepat . Pemeriksaan ini meliputi seluruh bagian kepala dan leher. Pemeriksan payudara dengan cara palpasi meliputi bentuk dan ukuran payudara. batuk dan dispnea untuk menegakkan diagnosa bonkitis dan pneumonia. putting susu menonjol atau tidak. Mumu jantung diastolik ditemukan .pada 90% wanita hamil kerena tekanan daah ibu hamil meningkat secaa mencolok. e) Pemeriksaan payudara Pada wanita hamil payudara terlihat besar dan tegang serta sedikit nyeri. f) Pemeriksaan jantung. Dari pemeriksaan ini diperoleh mengenai ukuran dan bentuk uterus kesesuaian antara tinggi fundus uteri dengan umur kehamilan. Pemeiksaan paru haus mencakup obsevasi sesak nafas. nafas tidak teatu mengi. adanya retraksi. masa dan pembesaran pembuluh limfe. Jika pada pemeriiksaan mata sklera ikterik dan konjungtiva anemis maka kemungkinan anemia. letek janin dan detak jantung janin dan CVAT (costo vetrebral tenderness) 4 . paru dan organ dalam tubuh lainnya. Hal ini karena pengaruh estrogen dan progesteron yang merangsang duktus dan alveoli payudara. d) Pemeriksaan kepala dan leher Pemeriksaan ini dilakukan dengan menggunakan pemeriksaan inspeksi.nafas dangkal . g) Pemeriksaan abdominal Pemeriksaan abdominal dilakukan dengan palpasi.

oedema dan reflek patella.h) Pemeriksan genetalia Untuk memeriksa genetalia biasanya dengan pemeriksaan ginekologi. Pada waktu itu plasenta telah terbentuk serta kemungkinan abortus menjadi lebih kecil. vagina dan porsio diperiksa dan dilihat inspekulo deteksi tanda-tanda infeksi. b. Pada umumnya koitus diperbolehkan pada masa kehamilan jika dilakukan dengan hati hati. protein urine. Pada pemeriksaan ini vulva.hemorid. hal ini akan menjadi tanda serius dari preeklampsi. Pemeriksaan laboratorium Test laboratorium perlu dilakukan pada ibu hamil. dan glukosa urine. b. Untuk glukosa urin berhubungan dengan diabetes. Apabila dalam anamnesis ada riwayat abortus sebelum kehamilan yang sekarang. menurunnya keinginan untuk melakukan hubungan seksual sangat wajar. cairan. Pada akhir kehamilan. i) Pemeriksaan ekstremitas atas dan bawah Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui adanya varises. varices. Protein dalam urine merupakan hasil kontaminasi dair vagina atau dari infeksi saluran kencing atau penyakit ginjal. Pemeriksan ini ditujukan untuk memeriksa golongan darah. Selain itu pemeriksaan urin juga bertujuan untuk mengetahui adanya protein urine dan glukosa urine. sebaiknya koitus ditunda sampai kehamilan 16 minggu. Pada saat hamil jika dihubungkan dengan hipertensi dan oedem. jika kepala sudah masuk panggul koitus sebaiknya dihentikan karena dapat menimbulkan perasaan sakit dan perdarahan. Hb. Pemeriksaan urine pada awal kehamilan bertujuan untuk mengetahui adanya kehamilan. 5 . Kontak Dini Kehamilan Trimester I Pada trimester I.

6 . amnioskopi. apakah ada ancaman terhadap jiwa ibu. Pada pola nutrisi sebaiknya ibu dianjurkan untuk diet tinggi protein rendah hidrat arang. Pelayanan ANC berdasarkan kebutuhan individu. rendah lemak. disamping pemeriksaan biasa. dan sebagainya. Anjurkan kepada ibu untuk mentaati pemeriksaan antenatal yang teratur dan jika perlu dikonsultasikan kepada ahli. dan kondisi janin setiap minggunya. dapat dilakukan pemeriksaan monitor janin lainnya seperti elektrokardiografi fetal. Hal ini bertujuan untuk mencegah pertambahan berat badan yang agresif. urin. Pada ibu hamil dengan hipertensi sebaiknya dilakukan pemantauan tekanan darah. Penentuan kadar estriol. ukuran biparietal (USG). pH darah janin.c. Pengakhiran kehamilan baik yang muda maupun yang sudah cukup bulan harus dipikirkan bila ada tanda – tanda hipertensi ganas (tekanan darah 200/120 atau pre-eklamsi berat). Selain itu anjurkan ibu pula untuk cukup istirahat menjauhi emosi dan jangan bekerja terlalu berat. Misalnya persetujuan ANC yang diberikan terhadap ibu hamil dengan hipertensi tentunya akan berbeda dengan pelayanan yang diberikan kepada ibu hamil dengan varises. dan rendah garam. Apalagi bila janin telah meninggal dalam kandungan pengakhiran kehamilan ini sebaikanya dirundingkan antar disiplin : dengan ahli penykit dalam . Pengawasan terhadap janin harus lebih teliti. Pelayanan ANC yang diberikan petugas kesehatan kepada setiap ibu hamil berbeda – beda tergantung dari kebutuhan dan kondisi dari setiap individunya.

Glyvenol. 3) Anjurkan ibu untuk memakai kaos kaki atau pembalut tungkai elastis. dan Varemoid.Sedangkan pada ibu hamil dengan varises pelayanan ANC yang diberikan antara lain : 1) Anjuran ibu untuk jangan berdiri atau duduk terlalu lama dan jangan memakai ikat pinggang terlalu kencang. Skrining untuk deteksi dini. Gambaran USG kehamilan ektopik sangat bervariasi. 4) Dapat diberikan obat – obatan : Venosan. Dari kenyataan ini bisa juga diartikan bahwa kadar HCG yang lebih dari 6500 mlU/ ml tidak dijumpai adanya kantong gestasi intrauterin. ada tidaknya gangguan kehamiulan (ruptura. Pemeriksaan USG pada kehamilan normal usia 5 minggu struktur kantong gestasi intrauterin dapat dideteksi dimana diameternya sudah mencapai 5-10 mm. abortus) serta banyak dan lamanya perdarahan intra abdomen. Pemeriksaaan USG saat ini dipandang sebagai metode pemeriksaan yang aman. d. USG merupakan suatu media diagnostik dengan menggunakan gelombang ultrasonik untuk mempelajari struktur jaringan berdasarkan gambaran ecko dari gelombang ultrasonik. Diagnosis pasti kehamilan ektopik secara USG hanya bisa ditegakkan jika terlihat kantong gestasi berisi janin hidup yang letaknya diluar kavum uteri. Jika dihubungkan dengan kadar HCG pada saat itu kadarnya sudah mencapai 6000-6500 mlU/ ml. 7 . 2) Anjurkan kepada ibu supaya jalan – jalan dan senam hamil untuk memperlancar peredaran darah. maka kemungkinan kehamilan ektopik. tergantung pada usia kehamilan. Venoruton.

Jika tidak ada tanda-tanda kehidupan seperti yang telah disebutkkan maka kemungkinan terjadi miss abortion. Deteksi Dini Penyulit Persalinan . Persalinan tidak selalu berjalan dengan normal. Oleh karena itu pada saat memberikan asuhan kepada ibu yang sedang bersalin. Pada kehamilan 8 minggu kantong gestasi telah berdiameter 30 mm. Struiuktur kepala sudah dapat dibedakan dari badan. Selain denyut jantuing mungkin juga dapat dideteksi adanya gerakan embrio yang dapat dirangsang dengan melakukan perkusi pada dinding perut. Struktur embrio dapat dilihat lebih jelas lagi. Sering kali terlihat kuning telur dalam ( yolk salk ) berupa struktur vasikuler berdiameter kira-kira 5 mm yang letaknya diluar selaput amnion. Salah satu alata yang dapat digunakan untuk membantu memantau kemajuan persalinan dan informasi untuk membuat keputusan klinik adalah partograf. penolong harus waspada terhadap masalah yang mungkin terjadi. Jika tidak dijumpai adanya struktur embrio dan kantong kuning telur maka kemungkinan kehamilan anembrionik. 2. Jika dijumpai lebih dari 1 embrioyang menunjukkan tanda-tanda kehidupan maka kemungkinan kehamilan multiple. Panjang embrio mencapai 10 mm dan menjadi lebih mudah dilihat.Pada kehamilan 7 minggu diameter kantong gestasi telah mencapai 25 mm. 8 .

Adapun partograf mengintruksikan : 1. 1. nama. 9 . tetapi harus waspada bila DJJ dibawah 120atau diatas 160. nomor RM. Informasi tentang ibu Melengkapi bagian awal ( atas ) partograf secara teliti pada saat mulai asuhan persalinan meliputi. umur. DJJ (Detak Jantung Janin) DJJ dicatat setiap 30 sekali (lebih sering jika ada kegawatdaruratan). 1 Partogaf Temuan-temuan dari hasil pengamatan. pemeriksaan dan asuhan persalinan kala I dapat dicatat pada partograf. Kesehatan dan kenyamanan janin a. Kisaran normal DJJ terpapar pada partograf diantara garis tebal angka 180 – 100. tanggal dan waktu dirawat. waktu pecahnya ketuban 2. gravida para dan abortus.Gambar.

segara rujuk ibu ketempat yang memiliki kemampuan penatalaksanaan gawatdarurat obstetri dan bayi baru lahir. d. Adapun hasil temuan mengenai ketuban : U : Ketuban utuh ( belum pecah ) J : ketuban sudah pecah dan ai ketuban jernih. Mekonium dalam cairan ketuban tidak selalu menunjukkan adanya gawat janin apabila apabila tidak nmpak tanda gawat janin. Ketidak kemampuan akomodasi akan benar – benar terjadi jika tulang kepala yang bisa menyusup tidak mampu dipisahkan. tapi masih dapat dipisahkan d) 3 : tulang – tulang kepala janin tumpang tindih dan tidak dapat dipisahkan. Tulang kepala yang sampai menyusup atau tumpang tindih menunjukkan kemungkinan adanya disproporsi tulang panggung ( CPD ). Warna dan adanya air ketuban Penilaian air ketuban serta warnanya dilakukan setiap kali periksa dalam vagina dan jika selaput ketuban pecah. Kemajuan Persalinan Penilaian kemajuan persalinan dilakukan pemeriksaan setiap 4 jam sekali. kolom dan lajur kedua pada partograf adalah untuk 10 . c. Lambang – lambang dalam mollase : a) 0 : tulang – tulang kepala janin terpisah. D :air ketunan sudah pecah dan bercampur darah. Tetapi jika terdapat mekonium kental.b. M :ketuban sudah pecah dan air ketuban bercampur meconium. sutura dengan mudah dipalpasi b) c) 1 : tulang – tulang kepala janin hanya saling bersentuhan 2 : tulang –tulang kepalajanin saling tumpang tindih. Molase ( penyusupan kepala janin ) Penyusupan adalah indikator penting tentang seberapa jauh bayi dapat menyesuaikan diridengan bagian atas keras ibu. K : ketuban sudah pecah dan air ketuban tidak ada (kering).

Nilai dan catat suhu ibu ) lebih sering jika meningkat. Kemajuan persalinan dikatakan cukup baik jika kontraksi teratur dan progresif dengan peningkatan frekuaensi dan durasi. Selain nadi. atau dianggap adanya infeksi ) setiap 2 jam. protein dan 11 . 3. tekanan darah dan suhu tubuh kenyamanan dan kesehatan tubuh aseton ibu juga meliputi volume urine. Untuk menghitung banyaknya kontraksi dalam 10 menit dan lamanya tiap-tiap kontraksi dalam hitungan detik. e. atau innersia uteri. Tetapi jika kontraksinya tidak teratur dan tidak sering setelah fase laten dapat menyebabkan persalinan lama. tekanan darah dan temperatur tubuh nilai dan catat nadi ibu setiap 30 menit selama fase aktif persalinan.pencatatan kemajuan persalinan. mungkin dia dalam keadaan dehidrasi atau kesakitan. Jika denyut nadi ibu meningkat. Jika tekanan darah ibu menurun curigai adanya perdarahan. Pastikan hidrasi yang cukup melalui oral atau IV dan berikan analgesik secukupnya nilai dan catat tekanan darah ibu setiap 4 jam selama fase aktif persalinan. servik kaku. Kemajuan persalinan dilihat dari pembukaan servik dan penurunan bagian terbawah janin. Jika pembukaan servik mengarah kesebelah kanan gari waspada (pembukaan kurang dari 1 cm per jam) maka harus dipertimbangkan penyulit misalnya kala aktif memanjang. Kesehatan dan kenyamanan ibu Meliputi nadi. Kontraksi uterus Kontraksi uterus dicatat setiap 30 menit dengan melakukan palpasi. Jika pembukaan servik telah melampaui dan berda disebelah kanan garis bertindak maka perlu dilakukan tindakan menyelesaikan persalinan.

dan terasa sakit 12 . kemerahan. segera berikan dextros. pembengkakan. Deteksi Dini Pada Masa Nifas Masa nifas dimulai setelah plasenta lahir sampai 6 minggu beikutnya.Ukur dan catat jumlah produksi urin ibu sedikitnya 2 jam (setiap kali ibu berkemih ) lakukan pemeriksaan adanya aseton atau protein dalam urine setiap ibu berkemih. Apabila uterus lembek dan tidak berkontraksi. Jika terdapat aseton dalam urin ibu dicurigai masukan nutrisi yang kurang. perdarahan 350500cc per menit waspadai perdarahan ibu post partum karen atonia uteri. mendeteksi menangani masalah-masalah yang terjadi karena ibu nifas rentan terjadi penyulit dan komplikasi. 2. mencegah. takikardi dan malaise. Payudara yang berubah menjadi merah. Setiap tahap masa nifas bidan pelu menilai status ibu. Masa 6 hari – 6 minggu nifas a. Asuhan masa nifas diperlukan karena pada periode ini merupakan masa kritis bagi ibu dan bayinya. Beberapa bakteri dapat menyebabkan infeksi setelah persalianan. Sedangkan gejala lokal dapat berupa uterus lembek. Disertai pembengkakan di wajah atau ekstremitas c. b. Wanita yang baru melahirkan sering mengeluh sakit kepala hebat atau penglihatan kabur. Infeksi masa nifas masih merupakan penyebab tertinggi AKI. 3. Gejala umum infeksi dapat dilihat dari temperature atau suhu. Masa 2 jam dan 6 jam nifas. Diperkirakan 60% kematian ibu terjadi akibat kejadian setelah persalinan dan 50% kematian masa nifas terjadi 24 jam pertama. Infeksi alat genital merupakan komplikasi masa nifas. Infeksi yang meluas ke saluran urinary payudara. diantaanya: 1. panas. dan rasa nyeri atau adanya disuria.

C. Tetapi biasanya disebabkan adanya kelelahan yang amat berat. 13 . e. Putting lecet akan memudahkan masuknya kuman dan terjadinya payudara bengkak d. akhirnya terjadi mastitis. lunak.perlu waspa apabila disertai . penyakit yang lazim terjadi dalam kehamilan. Sehingga alat pencernaan perlu istirahat guna memulihkan keadaanya kembali.Payudara bengkak yang tidak disusu secara adekuat dapat menyebabkan payudara menjadi merah. dan pembengkakan dikaki. Pada minggu-minggu awal setelah persalinansampai kurang lebih 1 tahun ibu post partum cenderung akan mengalami perasaan-perasaan yang tidak pada umumnya. Timbul rasa nyeri seperti terbakar. Selama masa nifas. f. tidak mampu mengasuh dirinya sendiri dan bayinya. Sesudah anak lahir ibu akan merasa lelah mungkin juga lemas karena kehabisan tenaga. Dalam persalinan lambung dan alat pencernaan tidak langsung turut mengadakan proses persalianan. sehingga ibu tidak ingin makan sampai kehilangan itu hilang. Oleh karena itu tidak benar bila ibu diberikan makanan sebanyakbanyaknya walaupun ibu menginginkannya. dapat terbentuk thrombus sementara pada venavena manapun di pelvis yang mengalami dilatasi. tetapi sedikit atau banyak pasti dipengaruhi proses persalinannya tersebut. panas. Pada masa kehamilan deteksi dini dilaksanakan pemeriksaan kehamilan dini ( early ANC detection ) secara lengkap meliputi pengkajian psikososial dan pemeriksaan fisik lengkap. Ringkasan Materi Penting bagi bidan untuk mengetahui prinsip deteksi dini ibu dengan kelainan.waspadai bila berlanjut pada depresi post partum. nafsu makan pun akan terganggu. merah.nyeri tekan maka mengarah pada gejala tromboplebitis. persalinan dan masa nifas. komplikasi. terasa sakit. seperti merasa sedih. rasa sakit.

UK. air ketuban dan molase. Jones and Bartlett Publisher Mochtar R. Syaifudin. Penggunakan partograf dapat membantu bidan dalam mendeteksi komplikasi persalinan kala I meliputi. Kesejahteraan dan kenyamanan janin meliputi DJJ. Jakarta Hanifa. pembukaan dan penurunan kepala serta kesejahteraan ibu meliputi tensi dan nadi dll. 5. YBPSP Pusdiknakes – JHPIEGO. Tim pengajar Askeb IV. Skrening dini pada kehamilan dengan pemanfaatan USG. kemajuan persalinan meliputi kontraksi. Rambu-rambu jawaban soal 1. 1997.. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal.. Midwifery. 2. Pada masa nifas 2 jam dan 6 jam post partum deteksi dini komplikasi dan penyakit di fokuskan untuk. Ilmu Kebidanan. pada 6 hari post partum dan 6 minggu post partum. Tidak diterbitkan 14 . 3. dkk. D. F. 2001. 1999. Sinopsis Obstetri Jilid I. Jakarta. 2001 Varney’s H. E. 4. 6. Daftar Pustaka 1.2006. Modul 2. 1998. 2. Pedoman Mengajar dosen AKBID. 6 jam post partum . Jakarta. Tugas/ Latihan 1. dalam pelayanan ANC di dasarkan kebutuhan individu sehingga kompliksai dan penyakit segera dapat dideteksi. Workshop kurikulum mata ajar Askeb IV. Perdarahan karena atonia uteri. Guna mendeteksi komplikasi persalinan bidan akan dibantu dengan partograf dan kelainan serta penyakit pada masa nifas dideteksi pada 2 jam post partum.. 1999 7.. YBPSP 2. Buku Panduan Praktis Maternal dan Neonatal.Mewaspadai kontak dini kehamilan trimester I.

bila hasil positif dilanjutkan dengan pemeriksaan foto dada. suara caverne atau pleural effusion. janin baru tertular penyakit setelah lahir. Pada penderita yang dicurigai menderita TBC Paru sebaiknya dilakukan pemeriksaan tuberkulosa tes kulit dengan PPD (puirified protein derivate). persalinan dan nifas 2. Uraian Materi Penyakit yang Menyertai Kehamilan dan Persalinan a. Pada pemeriksaan fisik mungkin didapatkan adanya ronkhi basal. PERSALINAN DAN NIFAS A. nafsu makan berkurang. BB menurun. Pada janin dengan ibu TBC Paru jarang dijumpai TBC congenital. dan mungkin pula tertutup atau terbuka. Kompetensi Dasar 1.BAB II PENYAKIT YANG MENYERTAI IBU DALAM MASA KEHAMILAN. badan terasa lemah. dan sakit di dada. persalinan dan nifas B. 1) Penatalaksanaan : Penyakit ini akan sembuh dengan baik bila pengobatan yang diberikan dipatuhi oleh penderita. Tuberkulosis Paru Kehamilan tidak banyak memberikan pengaruh terhadap cepatnya perjalanan penyakit ini. Menguraikan penyakit yang menyertai kehamilan. banyak penderita tidak mengeluh sama sekali. Menjelaskan infeksi yang menyertai kehamilan. kadang-kadang ada batuk darah. karena dirawat atau disusui ibunya. Perlu diperhatikan dan dilindungi janin dari pengaruh sinar X. Penyakit ini mungkin bentuknya aktif atau kronik. pada penderita TBC Paru aktif perlu dilakukan pemeriksaan sputum BTA untuk membuat diagnosis secara pasti sekaligus untuk tes kepekaan / uji sensitivitas. berikan penjelasan dan pendidikan 15 . 1. Keluhan yang sering ditemukan adalah batuk-batuk yang lama.

Streptomycin 1gr/hari. Pemeriksaan sputum harus dilakukan setelah 1-2 bulan pengobatan. Obat ini mungkin menimbulkan komplikasi pada hati sehingga timbul gejala-gejala hepatitis berupa nafsu makan berkurang. jangan digunakan dalam kehamilan trimester I. Sebagian besar obat anti TBC aman untuk wanita hamil.kepada pasien bahwa penyakitnya bersifat kronik sehingga diperlukan pengobatan yang lama dan teratur. kecuali streptomisin yang bersifat ototoksik bagi janin dan harus diganti dengan etambutol. Obat ini dapat menimbulkan komplikasi retrobulber neuritis. Etambutol 15-20 mg/kg/hari. Rifampisin 600mg/hari. efektifitasnya tinggi dan harganya lebih murah. mual dan muntah. (c). Sedangkan pada yang aktif dianjurkan untuk menggunakan dua macam obat atau lebih untuk mencegah timbulnya resistensi kuman. Disamping itu obat ini juga kurang menyenangkan pada penderita karena harus disuntikan setiap hari. 16 . dan isoniazid (INH) selalu diikutkan karena paling aman untuk kehamilan. Isoniazid (INH) 300 mg/hari. Oleh karena itu –perlu diperiksa faal hati sewaktu-waktu dan bila ada perubahan untuk sementara obat harus segera dihentikan. (b). Obat ini baik sekali untuk pengobatan TBC Paru tetapi memberikan efek teratogenik pada binatang poercobaan sehingga sebaiknya tidak diberikan pada trimester I kehamilan. Ajarkan untuk menutup mulut dan hidungnya bila batuk. bersin dan tertawa. 2) Obat-obatan yang dapat digunakan (a). pasien hamil dengan TBC Paru yang tidak aktif tidak perlu mendapat pengobatan. Obat ini harus hati-hati digunakan dalam kehamilan. jika masih positif perlu diulang tes kepekaan kuman terhadap obat. akan tetapi efek samping dalam kehamilan sangat sedikit dan pada janin belum ada. (d). Pengaruh obat ini pada janin dapat menyebabkan tuli bawaan (ototoksik). bila pasien sudah sembuh lakukan persalinan secar biasa.

Akibat pembesaran uterus hiperemi organ-organ pelvis dan pengaruh hormonal terjadi perubahan pada kendung kemih yang dimulai pada kehamilan 4 bulan. Kandung kemih akan berpindah 17 . berikan masker untuk menutupi mulut dan hidung agar kuman tidak menyebar. Perubahan anatomi terdapat peningkatan pembuluh darah dan ruangan interstisial pada ginjal. karena bayi cukup rentan terhadap penyakit ini. Pasien diberi obat uterotonika dan obat TBC tetap harus diteruskan. sebagian besar ahli menganjurkan pemisahan dari ibu jika ibu dicurigai menderita TBC aktif. kemudian dapat dipulangkan langsung. Ureter juga mengalami pemanjangan. Usahakan pasien tidak meneran. Selain itu juga terjadi hiperplasia dan hipertrofi otot dinding ureter dan kaliks. persalinan dibantu Ekstraksi Vacum atau Forcep. Setelah persalinan pasien dirawat di ruang observasi 68 jam. Semua obat anti TBC sesuai untuk laktasi sehingga pemberian laktasi dapat dengan aman dan normal.Pasien TBC aktif harus ditempatkan dalam kamar bersalin terpisah. namun bayi harus diberi suntikan mantoux. b. Penderita yang tidak mungkin pulang harus dirawat di ruang isolasi. Pasien TBC yang menyusui harus mendapat regimen pengobatan yang penuh. mendapat profilaksis INH dan imunisasi BCG. sampai ibunya tidak memperlihatkan tanda-tanda proses aktif lagi setelah dibuktikan dengan pemeriksaan sputum sebanyak 3 kali yang selalu memperlihatkan hasil negatif. melekuk dan kadang berpindah letak ke lateral dan akan kembali normal 8-12 minggu setelah melahirkan. dan berkurangnya tonus otot-otot saluran kemih karena pengaruh kehamilan. Ginjal Dalam kehamilan terdapat perubahan-perubahan fungsional dan anatomic ginjal dan saluran kemih yang sering menimbulkan gejala-gejala dan kelainan fisik dan hasil pemeriksaan laboratorium. Ginjal akan memanjang kurang lebih 1 cm dan kembali normal setelah melahirkan.

Untuk itu banyaknya darah yang beredar bertambah. normal kreatinin serum adalah 0. aritmia jantung atau hipertrofi ventrikel kiri. riwayat decompensasi cordis. gabungan stenosis mitral dengan insufisiensi mitral. sehingga jantung harus bekerja lebih berat. Bentuk kelainan katup yang sering dijumpai adalah stenosis mitral. anemia. insufisiensi aorta. Perubahan-perubahan itu terutama disebabkan karena : 18 . 3) Patofisiologi Keperluan janin yang sedang bertumbuh akan oksigen dan zat-zat makanan bertambah dalam berlangsungnya kehamilan. penyakit katupulmonal dan trikuspidal. Pembuluh-pembuluh di daerah mukosa akan membengkak dan melebar. yang harus dipenuhi melalui darah ibu. diatas nilai normal wanita tidak hamil. c. Sejak kehamilan trimester II GFR akan meningkat 30-50 %. Karena itu dalam kehamilan selalu terjadi perubahan dalam system kardiovaskuler yang biasanya masih dalam batas-batas fisiologik. Jantung 1) Etiologi Sebagian besar disebabkan demam reumatik. terjadi peningkatan aliran plasma (Renal Plasma flow) dan tingkat filtrasi gomerolus (Gomerolus Filtration Rate). 2) Faktor Predisposisi Peningkatan usia pasien dengan penyakit jantung hipertensi dan superimposed preeklamsi atau eklamsi.7 mg/100 mll dan urea nitrogen darah 8-12 mg/100 mll. Kapasitas kandung kemih meningkat sampai 1 liter karena efek relaksasi dari hormon progesterone. Otot kandung kemih mengalami hipertrofi akibat pengaruh hormon estrogen. gabungan antara insufisiensi aorta dan stenosis aorta. stenosis aorta. insufisiensi mitral. Akibatnya akan terjadi penurunan kadar kreatinin serum dan urin nitrogen darah. Perubahan Fungsi Segera sesudah konsepsi.5-0.lebih anterior dan superior.

Perlu diawasi saat-saat berbahaya bagi penderita penyakit jantung yang hamil yaitu: (a). (c). saat arus balik vena dihambat kembali ke jantung. 19 . Hilangnya pengaruh obstruksi uterus yang hamil menyebabkan masuknya darah secara tiba-tiba dari ekstremitas bawah dan sirkulasi uteroplasenta ke sirkulasi sistemik. dan kongesti paru adalah tanda dan gejala gagal jantung kiri. dan peningkatan tekanan vena jugularis adalah tanda dan gejala gagal jantung kanan. 4) Manifestasi Klinis Mudah lelah. Uterus gravidus yang makin lama makin besar mendorong diafragma ke atas. saat puncak perubahan dan kebutuhan jantung maksimum (b). edema tungkai bawah. Namun gejala dan tanda ini dapat pula terjadi pada wanita hamil normal. terutama minggu ke 28 dan 32. Terjadi penurunan resistensi perifer dan emboli pulmonal dari thrombus iliofemoral. (d).20% dan ketika meneran pada partus kala II. ortopnea. Terjadi perubahan hemodinamik. nafas terengah-engah. Setiap kontraksi uterus meningkatkan jumlah darah ke dalam sirkulasi sistemik sebesar 15 . 4-5 hari seetelah peralinan. Saat persalinan. Peningkatan berat badan. Hidrenia (Hipervolemia). Antara minggu ke 12 dan 32. dan ke depan sehingga pembuluhpembuluh darah besar dekat jantung mengalami lekukan dan putaran. Setelah melahirkan bayi dan plasenta. dimulai sejak umur kehamilan 10 minggu dan puncaknya pada UK 32-36 minggu (b).(a). Biasanya terdapat riwayat penyakit jantung dari anamnesis atau dalam rekam medis. ke kiri. hepato megali.

Diagnosis ditegakkan bila ada satu dari kriteria : (a). Bising sistolik yang nyaring. Pembesaran jantung yang jelas (c). namun jika memang diperlukan dapat dilakukan dengan memberi perlindung diabdomen dan pelvis. iskemia. Bisa ditemukan tanda-tanda aritmia. atau bising jantung terus menerus (b).5) Pemeriksaan Penunjang Selain pemeriksaan laboratorium rutin juga dilakukan pemeriksaan : (a). 6) Diagnosis Burwell dan Metcalfe mengajukan 4 kriteria. Bila terdapat gejala decompensasi jantung pasien harus di golongkan satu kelas lebih tinggi dan segera dirawat Klasifikasi penyakit jantung dalam kehamilan (a). katup. Meteode yang aman. Arimia berat Pada wanita hamil yang tidak menunjukan salah satu gejala tersebut jarang menderita penyakit jantung. dan peri kardium (c). EKG untuk mengetahui kelainan irama dan gangguan konduksi. Ekokardigrafi. Kelas I • • • • Tanpa pembatasan kegiatan fisik Tanpa gejala penyakit jantung pada kegiatan biasa (b). (b). Bising diastolic. cepat dan terpercaya untuk mengetahui kelainan fungsi dan anatomi dari bilik. tanda penyakit pericardium. Pemeriksaan Radiologi dihindari dalam kehamilan. presistolik. infark. Kelas II Sedikit pembatasan kegiatan fisik Saat istirahat tidak ada keluhan 20 . terutama bila disertai thrill (d). kardiomegali.

BBLR. sesak nafas atau angina pectoris (c). Penatalaksanaan dilakukan berdasarkan klasifikasinya yaitu : (a). Kelas III • • • Banyak pembatasan dalam kegiatan fisik Saat istirahat tidak ada keluhan Pada aktifitas fisik ringan sudah menimbulkan gejala-gejala insufisiensi jantung (d). gawat janin. Secara garis besar penatalksanaan mencakup mengurangi beban kerja jantung dengan tirah baring. Pada janin dapat terjadi : prematuritas. hanya harus menghindari aktifitas yang berlebihan. Kelas II Umumnya tidak memerlukan pengobatan tambahan. 7) Penatalaksanaan Sebaiknya dilakukan dalam kerjasama dengan ahli penyakit dalam atau ahli jantung. Kelas IV • Tidak mampu melakukan aktivitas fisik apapun Komplikasi Pada ibu dapat terjadi : gagal jantung kongestif. kematian. menurunkan preload dengan deuretik.• Pada kegiatan fisik biasa timbul gejala isufisiensi jantung seperti: kelelahan. pertumbuhan janin terhambat. abortus. namun harus diawasi dengan ketat. APGAR score rendah. Kedua kelas ini dapat meneruskan kehamilan sampai cukup bulan dan melahirkan pervaginam. hipoksia. terutama pada UK 28-32 minggu. edema paru. Kelas I Tidak memerlukan pengobatan tambahan (b). istirahat baring minimal 21 . Pasien dirawat bila keadaan memburuk. meningkatkan kontraktilitas jantung dengan digitalis. dan menurunkan after load dengan vasodilator. Pasien harus tidur malam cukup 8-10 jam. jantung berdebar (palpitasi cordis).

Bila berlangsung 20 menit dan ibu tidak dapat dilarang meneran akhiri dengan ekstraksi cunam atau vacum dengan segera Tidak diperbolehkan memaki ergometrin karena kontraksi uterus yang bersifat tonik akan menyebabkan pengembalian darah ke sirkulasi sistemik dala jumlah besar. mobilisasi bertahap dan pencegahan infeksi. Metode anastesi terpilih adalah epidural Kala persalinan biasanya tidak berbahaya. morfin (1015 mg). Rawat pasien di RS sejak 1 minggun sebelum waktu kelahiran. Bila terjadi gagal jantung mutlak harus dirawat dan berbaring 22 . Lakukan pengawasan dengan ketat. Lakukan ANC dua minggu sekali dan seminggu sekali setelah 36 minggu. Kelas IV Harus dirawat di RS Kedua kelas ini tidak boleh hamil karena resiko terlalu berat. (c). berikan digitalis berupa suntikan sedilanid IV dengan dosis awal 0. Pengawasan kala I setiap 10-15 menit dan kala II setiap 10 menit. Kelas III Dirawat di RS selam hamil terutama pada UK 28 minggu dapat diberikan diuretic (d). Pada kala II dapat spontan bila tidak ada gagal jantung.setengah jam setelah makan. bila fisik memungkinkan pasien dapat menusui. takipnea. Selain itu dapat diberi oksigen. Lakukan persalinan pervaginam kecuali terdapat kontra indikasi obstetric. dapat diulang 1-2 kali dengan selang 1-2 jam. dan diuretic. Bila terjadi takikardi. Rawat pasien sampai hari ke 14. Pertimbangkan abortus terapeutik pada kehamilan kurang dari 12 minggu. membatasi masuknya cairan (75 mll/jam) diet tinggi protein.8 mg. Jika kehamilan dipertahankan pasien harus terus berbaring selama hamil dan nifas. sesak nafas (ancaman gagal jantung). rendah garam dan membatasi kegiatan.

Definisi ini mencakup pasien yang sudah mengidap DM (tetapi belum terdeteksi) yang baru diketahui saat kehamilan ini dan yang benar-benar menderita DM akibat hamil Dalam kehamilan terjadi perubahan metabolisme endokrin dan karbohidrat yang menunjang pemasokan makanan bagi janin serta persiapan untuk menyusui. Dengan tirah baring. Obat terpilih adalah heparin secara SC. Insulin ibu tidak dapat mencapai janin sehingga kadar gula ibu yang 23 . usia. Laktasi dilarang bagi pasien kelas III dan IV.terus sampai anak lahir. terjadi atau diketahui pertama kali saat kehamilan berlangsung. Umumnya persalinan pervaginam lebih aman namun kala II harus diakhiri dengan cunam atau vacuum. penatalaksanaan. untuk menilai terjadinya decompensasi atau edema paru. d. dan diuretic biasanya gejala gagal jantung akan cepat hilang. dan kepatuhan pasien. 8) Prognosis Prognosis tergantung klasifikasi. Diabetes Melitus Diabetes mellitus pada kehamilan adalah intoleransi karbohidrat ringan (toleransi glukosa terganggu) maupun berat (DM). Operasi pada jantungn untuk memperbaiki fungsi sebaiknya dilakukan sebelum hamil. digitalis. awasi dengan ketat. penyulit lain yang tidak berasal dari jantung. Pemberian oksitosin cukup aman. Pada wanita hamil saat yang paling baik adalah trimester II namun berbahaya bagi bayinya karena setelah operasi harus diberikan obat anti pembekuan terus menerus dan akan menyebabkan bahaya perdarahan pada persalinannya. Prognosis hasil konsepsi lebih buruk akibat dismaturitas dan gawat janin waktu persalinan. Kelainan yang paling sering menyebabkan kematian adalah edema paru akut pada stenosis mitral. Setelah kala III selesai. hati-hati memberikan obat tokolitik pada pasien dengan penyakit jantung karena dapat menyebabkan edema paru atau iskemia miocard terutama pada kasus stenosis aorta atau mitral. Glukosa dapat berdifusi secara tetap melalui plasenta kepada janin sehingga kadarnya dalam darah janin hampir menyerupai kadar darah ibu.

hipertensi kronik. Maternal : infeksi saluran kemih. makrosomia. 24 . Akibat lambatbya resopsi makanan maka terjadi hiperglikemi yang relatif lama dan ini menuntut kebutuhan insulin. riwayat DM dalam keluarga. 2) Klasifikasi (a). kelainan congenital. 3) Komplikasi (a). Tidak tergantung insulin (TTI) – Non Insulin Dependent diabetes mellitus (NIDDN) yaitu kasus yang tidak memerlukan insulin dalam pengendalian kadar gula darah. Juga terdapat riwayat ibu : umur ibu > 30 tahun. Fetal : abortus spontan. riwayat DM pada kehamilan sebelumnya. 1) Diagnosis Deteksi dini sangat diperlukan agar penderita DM dapat dikelola sebaik-baiknya. (c). Tergantung insulin (TI) – Insulin dependent Diabetes Melitus yaitu kasus yan memerlukan insulin dalam mengembalikan kadar gula darah. kematian intra uterin. hiperbilirubinemia. Pengendalian kadar gula terutama dipengaruhi oleh insulin. hipoglikemia. kematian intra uterin. Terutama dilakukan pada ibu dengan factor resiko berupa beberapa kali keguguran. polisitemia. Neonatal neonatal.mempengaruhi kadar pada janin. gawat nafas. PE. disamping beberapa hormon lain : estrogen. riwayat pernah melahirkan anak mati tanpa sebab. hipokalsemia. (b). melahirkan bayi lebih dari 4000 gr. obesitas. steroid dan plasenta laktogen. : prematuritas. kematian trauma lahir. insufisiensi plasenta. hydramnion. riwayat melahirkan bayi dengan cacat bawaan. riwayat PE dan polyhidramnion. syndroma hipomegnesemia. riwayat BBL > 4500 gr dan infeksi saluran kemih berulang selama hamil. kematian ibu (b).

yaitu kadar glukosa darah puasa < 105 mg/dl. e. bahkan pada seorang penderita asma. Adanya makrosomia pertumbuhan janin terhambat dan gawat janin merupakan indikasi SC. Asma Asma Bronkiale merupakan salah satu penyakit saluran nafas yang sering dijumpai dalam kehamilan dan persalinan. Ibu hamil dengan DM tidak perlu dirawat bila keadaan diabetesnya terkendali baik. Selain itu juga menjaga agar tidak ada episode hipoglikemia.5 kg dan selanjutnya 0. tidak ada ketonuria.4) Penatalaksanaan Prinsipnya adalah mencapai sasaran normoglikemia.5 kg /minggu. Ajarka pasien memantau gula darah sendiri di rumah dan anjurkan untuk kontrol 2-4 minggu sekali bahkan lebih sering lagi saat mendekati persalinan. Obat hipoglikemik oral tidak dapat dipakai saat hamil dan menyusui mengingat efek teratogenitas dan dikeluarkan melalui ASI. 2 jam sesudah makan < 120 mg/dl. Lakukan penilaian setiap akhir minggu sejak usia kehamilan 36 minggu. kenaikan BB pada trimester I diusahakan sebesar 1-2. lakukan amniosentesis dahulu untuk memastikan kematangan janin (bila UK <38 minggu). Kehamilan dengan DM yang berkomplikasi harus dirawat sejak UK 34 minggu dan baisanya memerlukan insulin. serangannya tak sama pada kehamilan pertama dan 25 . Pengaruh kehamilan terhadap timbulnya asma tidak sama pada setiap penderita. Penatalaksanaan Obstetric Pantau ibu dan janin dengan mengukur TFU. namun harus selalu diperhatikan gerak janin (normalnya >20 kali/12 jam). dan kadar HbA1c<6%. Pantau kadar glukosa darah minimal 2 kali seminggu dan kadar Hb glikosila. mendengarkan DJJ. Janin sehat dapat dilahirkan pada umur kehamilan cukup waktu (40-42 minggu) dengan persalinan biasa. Bila diperlukan terminasi kehamilan. dan secara khusus memakai USG dan KTG. total kenaikan BB sekitar 10-12 kg. dan pertumbuhan fetus normal.

26 . SC atas indikasi asma jarang atau tak pernah dilakukan. dan batuk-batuk. sesak. Menghindari factor resiko/pencetus yang sudah diketahui secara intensif (c). pengaruh udara dan factor psikis. infeksi saluran nafas. 2) Manifestasi Klinis Factor pencetus timbulnya asma antara lain zat-zat alergi. Pada asma yang ringan dapat digunakan obat-obat local yang berbentuk inhalasi. Keadaan hipoksia bila tidak segera diatasi tentu akan berpengaruh pada janin dan sering terjadi keguguran. Biasanya serangan akan timbul mulai UK 24-36 minggu dan pada akhir kehamilan jarang terjadi serangan. 1) Komplikasi Pengaruh asma pada ibu dan janin sangat tergantung dari sering dan beratnya serangan. biasanya penderita mengeluh nafas pendek. Penderita selama kehamilan perlu mendapat pengawasan yang baik. 3) Penatalaksanaan (a). dan berikan antibiotika kalau ada sangkaan terdapat infeksi. Upayakan persalinan secara spontan namun bila pasien berada dalam serangan. berbunyi. mencegah timbulnya stress (b). karena ibu dan janin akan kekurangan oksigen atau hipoksia. atau peroral seperti isoproterenol (e). Diagnosis dapat ditegakkan seperti asma diluar kehamilan.berikutnya. partus premature dan gangguan petumbuhan janin. Pada keadaan lebih berat penderita harus dirawat Hindari penggunaan obat-obat yang mengandung iodium karena dapat membuat gangguan pada janin. Mencegah penggunaan obat seperti aspirin dan semacamnya yang dapat menjadi pencetus timbulnya serangan (d). lakukan VE atau Forcep.

2. Choriuretinitis merupakan manifestasi klinis yang serinng muncul apada BBL sebagai gejala toxoplasma. Ini berarti bahwa kucing tersebut terinfeksi karena memakan hewan pengerat dan burung pemakan daging yang terinfeksi. Oocyst dalam feses menyebar melalui udara dan ketika dihirup akan dapat menyebabkan infeksi. pneumonia. hipotermi. Penularan (a). Daging Konsumsi daging yang terinfeksi adalah penyebab utama toxoplasma di Eropa. hydrocephalus. Feses kucing sudah sangat infeksius. glaucoma. Seharusnya 27 . mual. Sporulasi organisme ini terjadi setelah 1-5 hari dalam kotoran dan dapat dicegah dengan pembuangan sampat setiap hari. kuning. mikroftalmia. Berikut adalah temuan-temuan yang didapatkan pada bayi dengan infeksi toxoplasma congenital: chorioretinitis. TOXOPLASMOSIS 1) Temuan klinis Toxoplasmosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh toxoplasma gondii. limpadenopati. (b). dimana dibatasinya penggunaan lemari pendingin dan biasanya daging tidak dibekukan. hepatosplenomegali. Infeksi yang Menyertai Kehamilan dan Persalinan a. Kucing Organisme tempat toxoplasma gondii hidup adalah kucing. Ibu dengan toxoplasma gondii biasanya tidak menampakan gejala walaupun 10%-20% ibu yang terinfeksi BBL dengan menderita toxoplasma congenital terinfeksi saat berada di dalam uterus secara transplacental. diare. demam. Sekitar ½ dari beberapa kucing yang diuji mempunyai antibody toxoplasma. penyakit kejang. katarak. syaraf mata atrofi. mikrosefali.

(b). Menunjukan hasil yang positif pada uji yang dilakukan Terjadi peningkatan antibody yang diperoleh dari serum ibu pada dua kali pemeriksaan yang berbeda. kecuali pada keadaan imonosekresi yang amat besar. Gejala klinik yang paling banyak ditemukan adalah chorioretinitis. demam. atau (3). Anak Gejala klinis pada bayi baru lahir akan dapat ditemukan seperti pada temuan diatas. (a).Diagnosa utama infeksi toxoplasma selama kehamilan adalah meliputi salah satu dari hal berikut: (1). dan hepatosplenomegali. (2). Terdeteksi antibody IgM toxoplasma . penyakit kuning. Wanta hamil dengan infeksi akut dapat dirawat dengan kombinasi pyrimethamine.daging dimasak pada suhu yang tinggi untuk mecegah terjadinya penularan toxoplasma 2) Diagnosis (a). Dosis standar pyrimethamine adalah 25 mg/hari/oral 28 .. Penatalaksanaan dan pencegahan 1) Ibu Prognosa pada infeksi yang akut baik. Ibu Diagnosa klinis toxoplasma akut tidak dapat dipercaya apabila tidak ditemukan tanda yang spesifik berkaitan dengan infeksi. Adanya kista toxoplasma gondii pada pemerikaan histology plasenta juga mendukung kuat diagnosa infeksi pada bayi. Adanya IgM toxoplasma spesifik pada bayi baru lahir memperjelas diagnosa infeksi congenital. (c). Diagnosa prenatal Mendiagnosa toxoplasma pada kehamilan dipercaya dengan cairan amnion atau darah janin yang dapat didiagnosa dengan amniosentesis atau cordosentesis. asam folimik dan sulfonamide.

dilanjutkan dosis 0. Infeksi congenital pada bayi baru lahir bukan merupakan infeksius. RUBELLA Rubella dapat meningkatkan angka kematian perinatal dan sering menyebabkan cacat bawaan pada janin. glaucoma. apabila tidak terinfeksi harus menunjukan adanya penurunan titer antibody IgG terhadap toxoplasma. b. septum terbuka) 3) 4) Alat pendengaran (tuli) Susunan syaraf pusat (meningoensefalitis. Sering dijumpai apabila infeksi dijumpai pada kehamilan trimester I (30-50%).5 mg/kg/hr selam 21-30 hari dan sulfadiazine dengan dosis 20 mg/kg per oral selam 1 tahun. mikroftalmia) Jantung (Duktus arteriosus persisten.. Pyrimethamine adalah musuh dari asam folik dan oleh karena itu mungkin memberikan efek teratogenik jika diberikan pada trimester I. kadang tidak jelas atau tidak 29 . harus dipantau.. kebodohan) 1) Diagnosis Diagnosis rubella tidak selalu mudah karena gejala-gejala kliniknya hampir sama dengan penyakit lain.dan 1 gr sulfadiazine peroral 4 X/hari selam 1 tahun. Adanya gejala infeksi pada bayi lahir harus ditangani dengan pemberian pyrimethamine dengan dosis 1 mg/kg/hr/oral selam 34 hari. Bayi baru lahir yang tidak menunjukan infeksi dan positif antibody IgG toxoplasma spesifiknya mungkin didapatkan dari ibunya secara transplasetal. Anggota tubuh anak yang bisa menderita karena rubella: 1) 2) Mata (katarak. Asam folimik diberikan dengan dosis 6 mg secara IM atau per oral setiap pada hari yang berbeda untuk mengetahui apakah benar habisnya asam folat disebsbkan oleh Pyrimethamine. oleh karena itu tidak perlu diisolasi. stenosis pulmonalis. Pada bayi yang Tidak ditemukannya temuan yang lain yang mencurigakan terjadinya infeksi congenital.

kontraindikasi pada kehamilan adalah menghindari konsepsi selama 3 bulan setelah vaksinasi. (d). maka abortus buatan perlu dipertimbangkan. (b). Akan tetapi. Demam-ringan Merasa mengantuk Sakit tenggorok Kemerahan sampai merah terang atau pucat. Virus pada rubella sering mencapai dan merusak embrio dan fetus. yang lebih manjur ialah vaksin rubella. lebih baik vaksinasi Pemberian vaksin pada wanita selam kunjungan prekonsepsi dianjurkan untuk uji serologi varicella apabila klien selama masa kanak-kanaknya tidak mempunyai riwayat infeksi.. (f).3% dalam trimester III. Diagnosis pasti dapat dibuat dengan isolasi virus atau dengan dotemukannya kenaikan titer anti rubella dalam serum. dan pula vaksinasi yang dilakukan tidak lama sebelum terjadinya kehamilan atau dalam kehamilan dapat menyebabkan infeksi janin. Nilai titer antibody (a). kemungkinan cacat bawaan menjadi kurang yaitu 6. menyebar secara cepat dari wajah ke seluruh tubuh.8% dalam trimester II dan 5. (b). 30 . vaksinasi ini sering menimbulkan artralgia atau arthritis. Setelah trimester I. Kelenjar leher membengkak Durasi 3-5 hari Hingga kini tidak ada obat-obatna yang dapat mencegah viremia pada orang yang tidak kebal. diberikan sebelum perkawinan. Karena itu. manfaat gamaglobulin dap\lam hal ini masih diragukan.ada sama sekali. Tanda dan Gejala klinis: (a). kemudian menghilang secara cepat (e). Imunitas 1:10 atau lebih Imunitas rendah < 1:10 Indikasi adanya infeksi saat ini ≥ 1:64 Apabila wanita hamil dalam trimester I menderita viremia. (c). (c).

hernia.c. Transfusi darah juga dapat menularkan infeksi CMV. Walaupun demikian. Pada bayi dapat dijumpai gelembung-gelembung pada kulit di seluruh badan. mikroftalmia. mikrocephalus. infeksi dapat sampai ke BBL melalui kontak virus dari serrvik. hepatosplenomegali dan sepsis yang tarjadi pada bulan pertama kehidupannya. ASI. Bila infeksi terjadi pada bulan-bulan terakhir kehamilan dapat dijumpai hepatosplenomegali. faring. Diagnosis pada ibu ditegaskan melalui pemeriksaan serologik (biasanya dengan cara ELISA). Virus biasanya dapat diisolasi dalam pembiakan jaringan. atau pada konjungtiva dan selaput lendir mulut. retardasi mental dan mungkin ditemukan kalsifikasi serebral. Hingga kini tidak dikenal pengobatan yang manjur bagi penyakit ini bagi ibu maupun neonatus. Ibu dengan status imunitas yang rendah dan infeksi yang berat perlu diberi obat antivirus. trombositopeni. dan urin ibu yang melahirkannya. Bila diketahui terdapat gejala infeksi. Selain melalui plasenta. korioretinitis. 10-15% anak yang mengalami infeksi congenital akan mengalami cacat bawaan. CMV (CITOMEGALO VIRUS) Infeksi primer CMV dapat terjadi dengan frekuensi 1-2%. 31 . Infeksi congenital kekerapannya adalah 1-2% dari kehamilan. Kematian bayi dapat pula disebabkan oleh ensefalitis herpes virus. Bila infeksi terjadi pada trimester I atau awal trimester kedua dapat timbul keadaan hydrocephalus. purpura. dan pneumonitis. Infeksi yang terjadi setelah lahir ini akan menampilkan gejala pneumonia. karena klinis tidak menunjukkan gejala yang khas. Kesulitan lain ialah bahwa infeksi CMV pada ibu biasanya tidak menimbulkan gejala dan sering tidak diketahui. Walaupun jarang. maka dapat diberi pengobatan simptomatik dan istirahat. d. gangguan pendengaran. HERPES Infeksi herpes virus hominis pada orang dewasa biasanya ringan. penyakit ini dapat menyebabkan kematian janin dan bayi.

Virus tipe II dapat menyebabkan herpes genitalis dengan gelembung-gelembung berisi cairan di vulva, vagina, dan servik, yang dikenal juga dengan nama herpes simpleks. Penularan kepada anak dapat terjadi melalui: (a). Hematigen melalui plasenta (b). Akibat penjalaran ke atas dari vagina ke janin apabila ketuban pecah (c). Melalui kontak langsung pada waktu bayi lahir Diagnosis tidak sulit yaitu apabila terdapat gelambunggelambung di daerah alat kelamin, ditemukannya benda-benda inklusi intranuklear yang khas di dalam sel-sel epitel vulva, vagina atau servik setelah dipulas menurut papanicolau, memberi kepastian dalam diagnosis. Herpes genitalis merupakan infeksi virus yang senantiasa bersifat kronik, recurrent, dan dapat dikatakan sulit diobati. Sampai saat ini hanya satu cara pengobatan herpese yang cukup efektif, yaitu antivirus yang disebut acyclovir. Acyclovir dalam kehamilan tidak dianjurkan,

kecuali bila infeksi yang terjadi merupakan keadaan yang mengancam kematian ibu, seperti adanya ensefalitis, pneumonitis, dan atau hepatitis, dimana acyclovir dapat diberikan secara IV. SC dianjurkan pada wanita yang pada saat kelahiran menunjukkan gejala-gejala akut pada genetalia, untuk menghindari penularan akibat kontak langsung. Karena bila dengan persalinan pervaginam 50% bayi akan mengalami infeksi. Pada pasca persalinan, ibu yang menderita herpes aktif harus diisolasi. Bayinya dapat diberikan untuk menyusui bila ibu telah cuci tangan mengganti baju yang bersih.

e. SYPHILIS Infeksi syphilis (lues) yang disebabkan oleh Treponema pallidum, baik yang sudah lama maupun yang baru diderita oleh ibu dapat ditularkan kepada janin. Syphilis kongenita merupakan bentuk penyakit syphilis yang terberat. Infeksi pada janin dapat terjadi setiap saat dalam

32

kehamilan, dengan derajat risiko infeksi yang tergantung jumlah spiroketa (treponema) di dalam darah ibu. Sudah diketahui secara umum bahwa syphilis mempunyai pengaruh buruk pada janin: dapat menyebabkan kematian janin, partus immaturus, dan partus prematurus. Dalam hal demikian dapat dijumpai gejala-gejala syphilis kongenita, diantaranya pemfigus syfilitikus,

deskwamasi pada telapak kaki dan tangan, serta rhagade di kanan-kiri mulut. Pada persalinan tampak janin atau plasenta yang hidropik. Syphilis harus diobati segera setelah diagnosis dibuat, tanpa memandang tuanya kehamilan. Lebih dini dalam kehamilan pengobatan diberikan, lebih baik prognosis bagi janin. Syphilis primer yang tidak diobati dengan adekuat, 25% akan menjadi syphilis sekunder dalam waktu 4 tahun. Bayi yang lahir dari ibu dengan syphilis boleh tetap mendapat ASI. Bila ibu tersebut masih menderita lesi pada kulit, kontak dengan bayinya harus dihindari.

f. VARICELLA (CACAR AIR/CHICKEN POX) Varicella merupakan penyakit anak-anak dan sangat jarang dijumpai dalam kehamilan dan nifas. Walaupun umumnya cacar air itu suatu penyakit ringan, namun pada wanita hamil kadang-kadang bisa menjadi berat dan dapat menyebabkan partus prematurus. Disangka

bahwa telah terjadi penularan intra uterin apabila gelambung-gelambung timbul dalam 10 hari setelah kelahiran. Frekuensi cacar bawaan tidak lebih tinggi pada para bayi yang lahir dari ibu yang menderita cacar air dalam masa hamil. g. INFEKSI TRAKTUS URINARIUS Infeksi saluran kencing adalah infeksi bakteri yang paling sering dijumpai pada kehamilan. Walaupun bakteri uria asimtomatik merupakan hal biasa, infeksi simtomatik dapat mengenai salran bawah yang

33

menyebabkan sisititis, atau menyerang kaliks, pelvis, dan parenkim ginjal sehingga mengakibatkan pielonefritis. Organisme yang emnyebabkan infeksi saluran kemih berasal dari flora normal perineum. Sekarang terdapat bukti bahwa beberapa galur escherichia coli memiliki pili yang meningkatkan virulensinya. Walaupun kehamilan itu sendiri tampaknya tidak meningkatkan factor-faktor virulensi ini, stasis air kemih tampaknya menyebabkan hal itu, dan bersama dengan revluksvesikoureter, stasis mempermudah timbulnya gejala infeksi saluran kemih bagian atas. Overdistsnsi yang disertai kateterisasi untuk mengeluarkan iar kemih sering menyebabkan infeksi saluran kemih. a. Bakteriuria Asimtomatik kondisi ini mengacu pada perkembangan bakteri yang terusmenerus secara aktif di dalamsaluran kemih tampa menimbulkan gejala. Insiden selama kehamilan bergantung pada paritas, ras dan status social ekonomi b. Sistitis Dan Uretritis Biasanya sistitis di tandai oleh disuria, urgensi dan frekuensi. Biasanya ditemukan bakteri uria dan piuria. c. Pielonefritis Akut Infeksi ginjal merupakan penyulit medis paling serius pada kehamilan, terjadi pada sekitar 2 % wanita hamil. Keseriusan pielonefritis akut selam kehamilan digaris bawahi sebagai penyebab utama syok septic selama kehamilan. Infeksi ginjal lebih sering terjadi setelah pertengahan kehamilan, pada lebih dari separuh kasus penyakitnya unilateral dan di sisi kanan, sedangkan pada ¼ bilateral. Pada sebagian besar wanita, infeksi disebabkan oleh bakteri yang naik dari saluran kemih bawah. Antara 75-90 % infeksi ginjal disebabkan oleh bakteri yang meimiliki adehesin fimbriae-P. Gejala meliputi demam, menggigil hebat, dan nyeri tumpul di salah satu atau kedua regio lumbal. Pasien mungkin

34

h. Pada wanita hamil. diberi nutrisi dan cairan yang cukup. factor 35 . solusio plasenta. Penatalaksanaan 1. Tidak dianjurka untuk melakukan terminasi kehamilan dengna induksi atau SC. mual dan muntah. HEPATITIS Hepatitis infeksiosa disebabkan oleh virus dan merupakan penyakit hati yang paling sering dijumpai dalam kehamilan. Istirahat. karena akan mempertinggi risiko pada ibu. Pada hepatitis B janin kemungkinan dapat tertular melalui plasenta. waktu lahir. Isolasi cairan lambung dalam atau cairan badan lainnya dan ingatkan tentang pentingnya janin dipisahkan dengan ibunya 3. pielonefritis dapat disangka sebagai proses persalinan. Pada trimester I dapat terjadi keguguran. atau masa neonatus. Walaupun diagnosis biasanya mudah. Periksa HbsAg 4. rasa nyeri biasanya dapat ditimbulkan dengan perkusi disalah satu atau kedua sudut costovertebra. koriamnionitis. Sedangkan pada trimester II dan III sering terjadi premature.mengalami anoreksia. Perjalanan penyakit dapat sangat bervariasi dengan demam sampai setenggi 40 °C atau lebih dan hipotermia sampai 34°C. Kontrol kadar bilirubun. serum glutamic piruvic transaminase (SGPT). dan masa nifas disangka sebagai metritis dengan selulitis panggul. akan tetapi jarang dijumpai kelainan congenital (anomaly pada janin). atau infark myoma. appendicitis. Sedimen urin sering mengandung banyak leukosit. serum glutamic oksaloasetik transaminase (SGOT). hepatitis virus dapat terjadi pula setiap saat kehamilan dan mempunyai pengaruh buruk pada janin maupun ibunya. bila perlu IV 2. walaupun kemingkinan juga dapat karena virus hepatitis A atau Hepatitis C. walaupun masih masih kontroversi penularan melalui air susu. pemyebab hepatitis infeksiosa terutama oleh virus hepatitis B. seringkali dalam gumpalangumpalan dan banyak bakteri.

Tindakan operasi seperti SC akan memperburuk prognosis ibu 8. Pada ibu yang HbsAg positif perlu diperiksa HbsAg anak karena kemungkinan terjadi penularan melalui darah tali pusat 7. Pengobatan infeksi HIV dan penyakit oportunisyiknya dalam kehamilan merupakan masalah. anoreksia. herpes. Sampai saat ini belum ada pengobatan AIDS yang memuaskan. Untuk perawatan bayi. sepeerti gonorrhea. Penderita AIDS mempunyai gejal awal yang tidak spesifik seperti fatique. CMV. Dalam persalinan. HIV/AIDS Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kehamilan dapat memperberat kondisi klinik wanita dengan infeksi HIV. SC bukan merupakan indikasi untuk menurunkan risiko infeksi pada bayi yang dilahirkan. chlamydia. karena banyak obat belum diketahui dampak buruknya dalam kehamilan. atau mungkin menderita candidiasis orofaring maupun vagina. karena kemungkinan telah ada disseminated intravaskular coagulapathy (DIC) 5. Penularan kepada penolong persalinan dapat terjadi dengan rate 0-1% pertahun exposure. luka episiotomi ataupun luka SC. BB menurun. Perawatan pascapersalinan perlu diperhatikan yaitu kemungkinan penularan melalui pembalut wanita.pembekuan darah. Cegah penggunaan obat-obat yang bersifat hepatotoksik 6. TBC dan lain-lain. Bila telah terdiagnosis adanya AIDS perlu dilakukan pemeriksaan apakah ada infeksi PHS lainnya. Pada bayi yang baru dilahirkan dalam 2x24 jam diberi suntikan anti hepatitis serum i. sebaiknya dilakukan oleh dokter anak yang 36 . lochea. hepatitis. ataupun infeksi toksoplasmik. terutama pneumocystis carinii pneumonia. Kematian pada ibu hamil dengan HIV positif kebanyakan disebabkan oleh penyakit oportunisyik yang menyetainya. Pemberian AZT (Zidovudine) dapat memperlambat kematian dan menurunkan frekuensi serta beratnya infeksi oportunistik.

dan nifas menunjukan angka kematian yang lebih tinggi dari pada di luar kehamilan. misalnya jangan lakukan sirkumsisi. Perawatan tali pusat harus dijalankan dengan cermat. namun tidak menutup kemungkinan bahwa hamil dan bersalin dapat mempeberat atau diperberat oleh berbagai penyakit yang bedampak pada beratnya pesalinan dan nifasnya. Imunisasi yang menggunakan virus hidup sebaiknya ditunda sampai terbukti bahwa bayi tersebut tidak menderita virus HIV. C. Jadi diperlukan pemeriksaan ulang berkala untuk menentukan adanya perubahan ke arah negatif atau tidak. Jantung. Dalam 60-80 % hasil konsepsi keluar secara spontan : lebih dini terjadinya infeksi dalam kehamilan. TYPUS ABDOMINALIS Typus abdominalis dalam kehamilan. j. Wanita yang mempunyai penyakit sebelum hamilnya sepeti penyakit pada paru-paruna atau TBC. Penyakit ini mempunyai pengaruh buruk terhadap kehamilan. Kumankuman tufus abdominalis tidak di keluarkan melalui air susu. ginjal. Diabetes Militus. Pengobatan dengan kloramfenikol atau tiamfenikol (Urfamycin). Rangkuman Materi Pada masa kehamilan pesalinan dan nifas tubuh wanita hamil besalin dan nifas akan mengalami peubahan fisiologis untuk menusuaikan diri. Perawatan ibu dan bayi tidak perlu dipisah. harus diusahakan agar pada bayi tidak dilakukan tindakan yang membuat perlukaan bila tidak perlu betul. namun sebaiknya penderita tidak menyusui bayinya karena keadaan umum ibu biasanya tidak mengizinkan. Antibodi yang didapatkan pasif dari ibu akan dapat bertahan sampai 15 bulan. lebih besar kemungkinan berakhirnya kehamilan. Infeksi pada bayi mungkin baru tampak pada usia 12-18 bulan. Selain penakit ibu hamil besalin dan nifas entan mengalami infeksi 37 . dan karena kemungkinan penuluaran oleh ibu melalui jalan lain tetap ada. Asma maka dalam kehamilanna akan benyak mengalami komplikasi dai penyakitnya tesebut. Tifus abdominalis tidak merupakan indikasi bagi abortus buatan.khusus untuk menangani kasus ini.

Herpes. Rubella. Penatalaksanaan dilakukan berdasarkan klasifikasinya yaitu : 38 .sepeti Sypilis CMV. Klasifikasi penyakit jantung dalam kehamilan (a). jantung berdebar (palpitasi cordis). Sebutkan temuan-temuan pada bayi yang teinfeksi Toxoplasma! E.Rambu Jawaban Soal 1. Kelas I • • • • • Tanpa pembatasan kegiatan fisik Tanpa gejala penyakit jantung pada kegiatan biasa (b). dan menurunkan after load dengan vasodilator. Infeksi Tranktus Urinarius. Latihan / Tugas 1. HIV/AIDS. Toxoplasmosis. Typus Abdominalis. Kelas III • • • Banyak pembatasan dalam kegiatan fisik Saat istirahat tidak ada keluhan Pada aktifitas fisik ringan sudah menimbulkan gejala-gejala insufisiensi jantung (d). sesak nafas atau angina pectori (c). Secara garis besar penatalksanaan mencakup mengurangi beban kerja jantung dengan tirah baring. Kelas IV • Tidak mampu melakukan aktivitas fisik apapun Penatalaksanaan Sebaiknya dilakukan dalam kerjasama dengan ahli penyakit dalam atau ahli jantung. Kelas II Sedikit pembatasan kegiatan fisik Saat istirahat tidak ada keluhan Pada kegiatan fisik biasa timbul gejala isufisiensi jantung seperti: kelelahan. Varicella. Rambu. meningkatkan kontraktilitas jantung dengan digitalis. D. menurunkan preload dengan deuretik. Hepatitis. Diskusikan tentang klasifikasi penyakit jantung pada kehamilan dan penatalaksanaannya ! 2.

demam. 4. terutama pada UK 28-32 minggu. 1997. hepatosplenomegali. namun harus diawasi dengan ketat. pneumonia. mikrosefali.(a). Kedua kelas ini dapat meneruskan kehamilan sampai cukup bulan dan melahirkan pervaginam. syaraf mata atrofi. limpadenopati. Jakarta. Midwifery. penyakit kuning. Kelas III Dirawat di RS selam hamil terutama pada UK 28 minggu dapat diberikan diuretic (d). mual. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Berikut adalah temuan-temuan yang didapatkan pada bayi dengan infeksi toxoplasma congenital: chorioretinitis. Kelas II Umumnya tidak memerlukan pengobatan tambahan. katarak. hanya harus menghindari aktifitas yang berlebihan. Pasien dirawat bila keadaan memburuk. kejang. Kelas IV Harus dirawat di RS 2. F. YBPSP 2. Pada kala II dapat spontan bila tidak ada gagal jantung. diare. hydrocephalus. Buku Panduan Praktis Maternal dan Neonatal. 12 th Edition 2000 39 . Bila berlangsung 20 menit dan ibu tidak dapat dilarang meneran akhiri dengan ekstraksi cunam atau vacum dengan segera (c). hipotermi. Lakukan pengawasan dengan ketat. Kala persalinan biasanya tidak berbahaya. Syaifudin. 2001. mikroftalmia. glaucoma. Pengawasan kala I setiap 10-15 menit dan kala II setiap 10 menit. Midwifery. 3. 2001 Varney’s H. Daftar Pustaka 1. Kelas I Tidak memerlukan pengobatan tambahan (b). UK. Jones and Bartlett Publisher Mayes.

Jakarta.5. 40 . Jakata. Sinopsis Obstetri Jilid I. Workshop kurikulum mata ajar Askeb IV. 1999. Tidak diterbitkan. 7. 8. Jakarta Hanifa. dkk. Mochtar R. 1998. 1999. 2006. 6. Ilmu Kebidanan. YBPSP Tim pengajar askeb IV. YBPSP Hanifa. dkk. Ilmu kandungan.

Pemeriksaan kadar hemoglobin selama pengawasan antenatal. seseorang disebut menderita anemia bila kadar hemoglobin (Hb) kurang dari 10 gr%. Dalam kehamilan. sebaiknya pemeriksaan dilakukan setiap 3 bulan atau paling sedikit 1 kali pada pemeriksaan pertama atau pada triwulan 1 dan sekali lagi pada triwulan akhir. B. Penyakit-penyakit kronis: tbc. Wanita hamil mempunyai nilai normal hemoglobin 12-15 gr% dan hematokrit 35-54. Kompetensi dasar Mampu menjelaskan komplikasi. kelainan dan penyakit dalam kehamilan trimester I. Kurang zat besi dalam diet c). 1) Penyebab anemia umumnya adalah: a). paru. Kurang gizi (malnutrisi) b). II. e). III. Uraian Materi 1. disebut anemia gravis. malaria dan lain-lain. 41 . jumlah darah bertambah (hiperemia/hipervolumia) karena itu terjadi pengenceran darah karena sel-sel darah tidak sebanding pertambahannya dengan plasma darah. KELAINAN DAN PENYAKIT DALAM KEHAMILAN A.BAB III ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU DENGAN KOMPLIKASI. Anemia Dalam Kehamilan Baik di negara maju maupun di negara berkembang. Komplikasi dan Penyulit Kehamilan Trimester I dan II a. cacing usus. Malabsorpsi d). disebut anemia berat. Kehilangan darah yang banyak: persalinan yang lalu. haid dan lain-lain. atau bila kurang dari 6 gr%.

imferon. hamil dan dalam laktasi yang dianjurkan adalah: (1). Hasilnya lebih cepat dibandingkan per oral. kemasan diberikan secara intramuskuler atau intravena. Parenteral: diberikan bila ibu hamil tidak tahan pemberian per oral atau absorbsi di saluran pencernaan kurang baik. LIPI Indonesia (1968): 12 mg-17 mg-17 mg Kemasan zat besi dapat diberikan per oral atau parental (1). Kemasan ini antara lain. jectofer dan ferrigen. Penyebabnya telah dibicarakan di atas sebagai penyebab anemia umumnya. pengenceran darah ini adalah untuk membantu meringankan kerja jantung. b) Anemia megaloblastik Anemia megaloblastik biasanya berbentuk makrositik atau pernisiosa. jarang 42 .5 x 0. Penyebabnya adalah karena kekurangan asam folik. FNB Amerika Serikat (1958): 12 mg-15 mg-15 mg (2).29 mg (2).Perbandingan pertambahan tersebut adalah: a) b) c) Plasma darah bertambah: 30 % Sel-sel darah bertambah: 18 % Hemoglobin bertambah: 19 % Secara fisiologis. Per oral: sulfas serosus atau glukonas ferosus dengan dosis 3. 2) Klasifikasi anemia dalam kehamilan: a) Anemia defisiensi besi Anemia jenis ini biasanya berbentuk normositik dan hipokromik serta paling banyak dijumpai. Pengobatan: Keperluan zat besi untuk wanita non hamil.

pemeriksaan fungsi sternal. leukemia. Pada kasus berat dan pengobatan per oral hasilnya lamban sehingga dapat diberikan transfusi darah c) Anemia hipoplasti Anemia hipoplasti disebabkan oleh hipofungsi sumsum tulang membentuk sel-sel darah merah baru. sepsis. Faktor intrakorpuskuler. penyakit hodgkin Gejala utama adalah anemia dengan kelainan-kelainan gambaran darah. kelelahan. talasemia. seerta gejala komplikasi bila terjadi kelainan pada organorgan vital. disebabkan malaria. anemia sel sickle (sabit) (2). kecuali yang disebabkan oleh infeksi berat (sepsis). Sulfas ferosus 3x1 tablet per hari (4). dijumpai pada anemia hemolitik heriditer. Tirapi dengan obat-obatan tidak memuaskan: mungkin pengobatan yang paling baik yaitu tranfusi darah. pemeriksaan retikulosit. Faktor ekstrakorpuskuler. Pengobatan: (1). dan dapat beserta obat-obatan.selaki akibat karena kekurangan vitamin B12. Penyebabnya belum diketahui. 43 . Ini dapat disebabkan oleh: (1). yang perlu sering diulang. Vitamin B12 3x1 tablet per hari (3). d) Anemia hemolitik Anemia hemolitik disebabkan penghancuran/pemecahan sel darah merah yang lebih cepat dari pembuatannya. Untuk diagnosis diperlukan pemeriksaan : darah tepi lengkap. leracunan. keracunan zat logam. dan sinar rontgen atau sinar radiasi. Asam folik 15-30 mg per hari (2). Biasanya karena malnutrisi dan infeksi yang kronik.

HIPEREMESIS GRAVIDARUM Hiperemesis gravidarum adalah mual dan muntah yang berlebihan pada wanita hamil sehingga mengganggu pekerjaan sehari-hari dan keadaan umumnya menjadi buruk. mola hidatidosa. namun beberapa faktor mempunyai pengaruh antara lain: 1) Faktor Predisposisi. Bila disebabkan oleh infeksi maka infeksinya diberantas dan diberikan obat-obat penambah darah. takut terhadap tanggung jawab sebagai ibu. kehilangan pekerjaan. hipertiroid 44 . karena masuknya Vili khorialis dalam sirkulasi maternal.Pengobatan bergantung pada jenis anemia hemolitik serta penyebabnya. Biasanya terjadi pada kehamilan trimester I. diabetes. Namun. sering terjadi pada primigravida. Penyebab hiperemesisi gravidarrum belum diketahui secara pasti. 4) Faktor endokrin lain. pada beberapa jenis obatobatan. memegang peranan yang sangat penting. perubahan matabolik akibat hamil dan resistensi ibu yang menurun dan alergi merupakan salah satu respon dari jaringan ibu terhadap anak 3) Faktor psikologik. misalnya rumah tangga yang retak. hal ini tidak memberi hasil. b. kehamilan ganda karena peningkatan kadar HCG 2) Faktor Organik. Maka tranfusi darah yang berulang dapat membantu penderita ini. Gejala tersebut kurang lebih terjadi 6 minggu setelah hari pertama haid terakhir dan berlangsung selama kurang lebih 10 minggu. takut terhadap kehamilan dan persalinan. karena terjadi dehidrasi.

halus dan cepat. tensi turun. tensi turun sekali. kesadaran sangat menurun. asam hidroksi butirik dan aseton dalam darah. 2) Tingkat II : sedang Mual dan muntah yang hebat menyebabkan keadaan umum penderita lebih parah. Karena oksidasi lemak yang tidak sempurna. hemokonsentrasi. bila terjadi terus menerus dapat menyebabkan dehidrasi dan tidak imbangnya elektrolit dengan alkalosis hipokloremik. terjadilah ketosis dengan tertimbunnya asam aseton-asetik. suhu badan naik (dehidrasi). turgor kulit berkurang. ikterus. wanita yang sebelum kehamilan sudah menderita lambung spastik dengan gejala tidak suka makan dan mual. ikterus ringan. nyeri epigastrium nadi sekitar 100x/mnt. berat badan turun. somnolen sampai koma. lidah kering dan kotor. nadi kecil. berat badan turun. dehidrasi berat. mata cekung. dari nafas berbau aseton 3) Tingkat III : berat Keadaan umum jelek. tidak ada nafsu makan. oliguria dan konstipasi. Kekurangannya cairan yang diminum dan kehilangan cairan karena 45 . lemah. suhu badan naik. Dapat terjadi ensekalopati wernicke Hiperemesis gravidarum yang merupakan komplikasi mual dan muntah pada hamil muda. turgor kulit mulai jelek. mata cekung. lidah kering. nadi kecil dan cepat. Hiperemesis gravidarum dapat mengakibatkan cadangan karbohidrat dan lemak habis terpakai untuk keperluan energi. apatis. akan mengalami emesis gravidarum yang lebih berat. dapat pula terjadi asotonuria. tekanan darah sistolik turun.Gejala Dan Tingkat Menurut berat dan ringannya dibagi menjadi 3: 1) Tingkat I : ringan Mual muntah terus menerus yang menyebabkan penderita lemah.

dengan akibat perdarahan gastrointestinal.Kram abdomen bagian bawah atau sakit punggung normal 46 . Pencegahan lain yaitu tentang diit ibu hamil dan defekasi yang teratur (b). dapat merusak hati. Kekurangan kalium sebagai akibat dari muntah dan bertambahnya ekskresi lewat ginjal. Hiperemesis gravidarum tingkat II dan III harus dirawat inap di RS. dan anti mulas (c). antasida. demikian pula khlorida air kemih. Selain itu dehidrasi menyebabkan hemokonsentrasi. dapat terjadi robekan pada selaput lendir esofagus dan lambung.muntah menyebabkan dehidrasi. menggunakan sedative. anti muntah. Hal ini menyebabkan jumlah zat makanan dan oksigen kejaringan mengurang pula dan tertimbunnya zat metabolik yang toksik. Tanda dan gejala i. sehingga cairan ekstraseluler dan plasma berkurang. Disamping dehidrasi dan terganggunya keseimbangan elektrolit.Perdarahan vagina: merah segar atau coklat ii.Jumlah perdarahan sedikit/ perdarahan bercak iii. Natrium dan khlorida darah turun. c. Terapi obat. Pencegahan. sehingga aliran darah ke jaringan berkurang. ABORTUS 1) Abortus imminens (a). Penanganan pasien dengan Hiperemesis Gravidarum : (a). penerangan bahwa kehamilan dan persalinan merupakan proses fisiologis. menambah frekuensi muntah-muntah yang lebih banyak. vitamin.Dapat terjadi terus menerus untuk beberapa hari sampai 2 minggu iv.

serta kondisi ketuban. dapat dilakukan menentukan pemeriksaan ultrasuara untuk kelangsungan hidup janin. Manajemen Trimester I dengan sedikit perdarahan.(b). observasi bukaan serviks. Istirahatkan panggul (tidak berhubungan seksual. dan jika mungkin untuk menenangkan wanita. Segera beritahu bidan jika terdapat : • • • • • • Perdarahan meningkat Kram dan nyeri pinggang meningkat Semburan cairan dari vagina Demam atau gejala mirip flu v. dilatasi. tanggal kelahiran. aktivitas normal dapat dilanjutkan kembali kecuali wanita merasa tidak nyaman atau lebih memilih untuk istirahat ii. Periksakan pada hari berikutnya di rumah sakit Evaluasi tanda-tanda vital Pemeriksaan dengan speculum-merupakan skrining vaginitis dan servisitis. Tidak melakukan aktivitas seksual yang menimbulkan orgasme iv. tidak melakukan irigasi. tenangkan 47 . nyeri tekan. tonjolan kantong ketuban. effacement. atau memasukkan sesuatu ke vagina) iii. tanpa disertai kram i. Jika pemeriksaan fisik dan ultrasuara negatif. Dapatkan nilai hemoglobin dan hematokrit. atau bagian-bagian janin • Pemeriksaan bimanual-ukuran uterus. Tirah baring tidak terlalu bermanfaat. bekuan darah. jenis dan Rh (jika belum ada) • Jika pemeriksaan negative.

Berikan ergometrin 0.2 mg I.V (garam fisiologik atau larutan Ringer Laktat) dengan kecepatan 40 tetes per menit untuk membantu ekspulsi hasil konsepsi 48 . Segera lakukan persiapan untuk pengeluaran hasil konsepsi dari uterus (b). kanalis servikalis terbuka dan jaringan/hasil konsepsi dapat teraba Penanganan untuk abotus a) Jika usia kehamilan kurang dari 16 minggu. karena setiap saat dapat terjadi ancaman perdarahan dan pengeluaran hasil konsepsi. atau hasil pemeriksaan fisik dan ultrasuara menunjukan hasil abnormal 2) Abortus Insipiens Keguguran membakat ini tidak dapat dihentikan. kaji ulang gejala bahaya dan pertahankan nilai normal • Konsultasi ke dokter jika terjadi perdarahan hebat. Jika perlu. kemudian evakuasi sisa-sisa hasil konsepsi (2). kram meningkat. Abortus ditandai dengan: a) b) c) Perdarahan lebih banyak Perut mules (sakit) lebih hebat Pada pemeriksaan dijumpai perdarahan lebih banyak.wanita. lakukan evakuasi uterus dengan Aspirasi Vakum Manual (AVM). Jika evakuasi tidak dapat segera dilakukan: (1). lakukan infus 20 unit oksitosin dalam 500 ml cairan I. Jika usia kehamilan lebih dari 16 minggu: (1). Tunggu ekspulsi spontan hasil konsepsi.M (dapat diulang sesudah 15 menit jika perlu) atau misoprostol 400 mcg per oral (dapat diulang sesudah 4 jam jika perlu) (2).

2 mg I. Jika perdarahan berhenti.(3).2 mg I. Jika evakuasi belum dapat dilakukan segera. (c).M atau misoprostol 400 mcg per oral (a). evakuasi dapat dilakukan secara digital atau dengan cunam ovum untuk mengeluarkan hasil konsepsi yang keluar melalui serviks.M (diulangi setelah 15 menit jika 49 . beri ergometrin 0. Jika perdarahan banyak atau terus berlangsung dan usia kehamilan kurang dari 16 minggu. Pastikan untuk tetap memantau kondisi ibu setelah penanganan 3) Abortus Inkomplit Ditandai dengan dikeluarkannya sebagian hasil konsepsi dari uterus. kuret tajam sebaiknya hanya dilakukan jika aspirasi vakum manual tidak tersedia. Gejala klinis yang dapat terjadi: a) Perdarahan berlangsung terus b) Perdarahan mendadak c) Disertai infeksi dengan suhu tinggi d) Dapat terjadi degenerasi ganas (korio karsinoma) Pada pemeriksaan dijumpai gambaran: a) Kanalis servikalis terbuka b) Dapat diraba jaringan dalam rahim atau dikanalis servikalis c) Kanalis servikalis tertutup dan perdarahan berlangsung terus d) Dengan pemeriksaan sonde perdarahan bertambah Penanganan a) Jika perdarahan tidak terlalu banyak dan kehamilan kurang dari 16 minggu. evakuasi sisa hasil konsepsi dengan: (b). Aspirasi Vakum Manual (AVM). beri ergometrin 0.

Konseling asuhan pascakeguguran dan pemantauan lanjut 50 . perdarahan sedikit. jika anemia berat berikan transfusi darah e) d.perlu) atau misoprostol 400 mcg per oral (dapat diulangi setelah 4 jam jika perlu) b) Jika kehamilan lebih dari 16 minggu: (a). Tuba falopii tidak mempunyai kemampuan untuk berkembang dan menampung pertumbuhan janin sehingga setiap saat kehamilan yang terjadi terancam pecah.V (garam fisiologik atau Ringer Laktat) dengan kecepatan 40 tetes/menit sampai terjadi ekspulsi hasil konsepsi (b). dan kanalis telah tertutup. berikan tablet sulfas ferrosus 600 mg/hari selama 2 minggu. Evakuasi sisa hasil konsepsi yang tertinggal dalam uterus. Penanganan: a) b) c) Tidak perlu evakuasi lagi Observasi untuk melihat adanya perdarahan banyak Pastikan untuk tetap memantau kondisi ibu setelah penanganan d) Apabila terdapat anemia sedang. c) Pastikan untuk tetap memantau kondisi ibu setelah penanganan. sehingga tidak memerlukan tindakan. 4) Abortus Komplit Seluruh hasil konsepsi telah dikeluarkan. Jika perlu berikan misoprostol 200 mcg pervaginam setiap 4 jam sampai terjadi ekspulsi hasil konsepsi (maksimal 800 mcg). Gambaran klinisnya adalah uterus mengecil. Berikan infus oksitosin 20 unit dalam 500 ml cairan I. KET Perjalanan hasil konsepsi dapat terganggu dalam perjalanan sehingga tersangkut dalam lumen tuba.

Kehamilan Ektopik Terganggu • Kolaps dan kelelahan • Denyut • Hipotensi • Hipovolemia • Abdomen akut dan nyeri pelvis • Distensi abdomen(a) • Nyeri lepas • Pucat e) Distensi abdomen dengan shifting dullness merupakan petunjuk adanya darah bebas. segera mulai penanganan. pembesaran uterus. Diagnosis banding a) Abortus iminens b) Penyakit radang panggul baik akut maupun kronis c) Kista ovarium (terpuntir atau ruptur) dan apendisitis akut d) Tanda dan gejala kehamilan ektopik Kehamilan Ektopik • Gejala kehamilan awal (flek atau perdarahan yang ireguler. mual. frekuensi buang air kecil yang meningkat • Nyeri pada abdomen dan pelvis 51 . Jika diperoleh hasil darah yang tidak membeku. pembesaran payudara. nadi cepat dan lemah (110x/menit atau lebih) perubahan warna pada vagina dan serviks. perlunakan serviks.Kehamilan ektopik adalah kehamilan dengan implantasi terjadi di luar rongga uterus. Alat penting yang dapat digunakan untuk mendiagnosis kehamilan ektopik yang pecah adalah tes kehamilan dari serum dikombinasi dengan ultrasonografi. Tuba falopii merupakan tempat tersering untuk terjadinya implantasi kehamilan ektopik (lebih besar dari 90%) Tanda dan gejalanya sangatlah bervariasi bergantung pada pecah atau tidaknya kehamilan tersebut.

lakukan Jangan menunggu darah sebelum melakukan salpingktomi (tuba yang berdarah dan hasil konsepsi dieksisi bersama-sama). Jika kerusakan pada tuba kecil. eksplorasi kedua ovaria dan tuba falopii: (1).Gambar. segera rujuk ke fasilitas lebih lengkap dengan memperhatikan hal-hal yang diuraikan pada bagian penilaian awal c) Pada laparotomi. segera lakukan uji silang darah dan laparotomi. Ini merupakan terapi pilihan pada sebagian besar kasus (2). lakukan salpingektomi (hasil konsepsi dikeluarkan. tuba dipertahankan). Kehamilan ektopik Penanganan awal a) Jika fasilitas memungkinkan. pembedahan b) Jika fasilitas tidak memungkinkan. Hal ini hanya dilakukan jika konservasi kesuburan merupakan hal 52 . Jika terjadi kerusakan berat pada tuba. 2.1.

warna tengguli tua atau kecoklatan seperti bumbu rujak d) Pembesaran uterus tidak sesuai (lebih besar) dengan tua kehamilan seharusnya 53 . e. tetapi terlambat dikeluarkan. ovum memang sudah patologik sehingga mati. Etiologi Penyebab mola belum diketahui dengan pasti. 2) Imunoselektif dari trofoblas 3) Keadaan sosek rendah 4) Paritas tinggi 5) Kekurangan protein 6) Infeksi virus dan faktor kromosom yang belum jelas Diagnosis dan gejala 1) Anamnesa/keluhan: a) Terdapat gejal-gejala hamil muda yang kadang-kadang lebih nyata dari kehamilan biasa b) Kadangkala ada tanda toksemia gravidarum c) Terdapat perdarahan yang sedikit atau banyak. tidak teratur. atau mata ikan. MOLAHIDATIDOSA Adalah jonjot-jonjot korion yang tumbuh berganda berupa gelembunggelembung kecil yang mengandung banyak cairan sehingga menyerupai buah anggur.yang penting untuk ibu tersebut. Kehamilan mola merupakan proliferasi abnormal dari vili khorialis. karena risiko kehamilan ektopik berikutnya cukup tinggi. faktor-faktor yang dapat menyebabkannya antara lain: 1) Faktor ovum.

serta evaluasi keadaan serviks. sonde 54 . teraba lembek b) Tidak teraba bagian-bagian janin dan balotemen. sonde dimasukkan pelan-pelan dan hati-hati ke dalam kanalis servikalis dan kavum uteri. bila tidak ada tahanan. dan fundus uteri turun: lalu naik lagi karena terkumpulnya darah baru 4) Auskultasi a) Tidak terdengar bunyi denyut jantung janin b) Terdengar bising dan bunyi khas 5) Reaksi Kehamilan.e) Keluar janringan mola seperti buah anggur atau mata ikan yang merupakan diagnosa pasti 2) Inspeksi a) Muka dan kadang-kadang badan kelihatan pucat kekuningkuningan (mola face) b) Bila gelembung mola keluar akan terlihat dengan jelas 3) Palpasi a) Uterus membesar tidak sesuai dengan tuanya kehamilan. uji biologik atau imunologik cairan serebro-spinal dapat menjadi positif. juga gerakan janin c) Adanya fenomena harmonica. rahim terasa lembek. 6) Pemeriksaan dalam Pastikan besarnya rahim. karena kadar HCG yang tinggi maka uji biologic dan uji imunologik (Galli Mainini dan planotest) akan positif setelah pengenceran (titrasi): a) Galli Mainini 1/300 (+). maka kemungkinan mola hidatidosa atau hamil kembar. darah dan gelembung mola keluar. Bahkan pada mola atau koriokarsinoma. 7) Uji sonde.. terdapat perdarahan dan jaringan dalam kanalis servikalis dan vagina. maka suspek mola hidatidosa b) Galli Mainini 1/200 (+). tidak ada bagianbagian janin.

Penanganan awal: a) Jika diagnosis kehamilan mola telah ditegakkan. tidak terlihat tulang-tulang janin(pada kehamilan 3-4 bulan) 9) Arteriogram khusus pelvis 10) Ultrasonografi. lakukan evakuasi uterus: b) Segera lakukan evakuasi jaringan mola dan sementara proses evakuasi berlangsung berikan infus 10 unit oksitosin dalam 500 ml cairan I.diputar setelah ditarik sedikit. Jika tes kehamilan dengan urin tidak negatif setelah 8 minggu atau menjadi positif kembali dalam 1 tahun pertama.V (NaCl atau Ringer Laktat) dengan kecepatan 40-60 tetes per menit (sebagai tindakan preventif terhadap perdarahan hebat dan efektifitas kontraksi terhadap pengosongan uterus secara cepat) Penanganan selanjutnya: a) Pasien dianjurkan untuk menggunakan kontrasepsi hormonal atau tubektomi bila ingin menghentikan fertilitas b) Lakukan pemantauan setiap 8 minggu selama minimal 1 tahun pasca evakuasi dengan menggunakan tes kehamilan dengan urin karena adanya risiko timbulnya penyakit trofoblas yang menetap atau khoriokarsinoma. kemungkinan mola. 8) Foto roentgen abdomen. bila tetap tidak ada tahanan. pada mola akan kelihatan bayangan badai salju dan tidak terlihat janin. rujuk ke pusat kesehatan tersier untuk pemantaun dan penanganan lebih lanjut 55 .

dapat dilakukan induksi apabila tekanan darah meningkat atau terdapat tanda-tanda Intra Uterine Growth Retardation (IUGR). Selama trimester ke II kehamilan tekanan darah turun di bawah batas normal. selanjutnya meningkat lagi sampai ke nilai awal atau kadang-kadang lebih tinggi. jauh sebelum terjadi preeklamsia. Kesejahteraan janin dipantau ketat untuk mendeteksi adanya retardasi pertumbuhan. serta tidak terdapat edema atau proteinuria. Setelah UK 18 minggu lebih sulit hipertensi esensial dari pre eklamsia. dan keadaan ini lebih sering muncul pada saat kehamilan. Wanita hamil dikatakan mempunyai atau menderita hipertensi esensial jika tekanan darah pada awal kehamilannya mencapai ≥ 140/90 mmHg. 56 . Jika perlu. Komplikasi Dan Penyulit Dalam Kehamilan Trimester III a) Kehamilan Dengan Hipertensi 1) Hipertensi esensial Hipertensi esensial adalah kondisi permanen meningkatnya tekanan darah dimana biasanya tidak ada penyebab yang nyata. phaeochromocytoma atau penyempitan aorta.2. Kadanng-kadang keadaan ini dihubungkan dengan penyakit ginjal. Dia dapat hamil dan bersalin normal tetapi saat hamil dianjurkan untuk lebih banyak istirahat dan menghindari peningkatan berat badan terlalu banyak. Penatalaksanaan: Wanita dengan hipertensi esensial harus mendapat pengawasan yang ketat dan harus dikonsultasikan pada dokter untuk proses persalinannya. Kehamilan tidak dibolehkan melewati aterm karena kehamilan postterm meningkatkan risiko terjadinya insufisiensi plasenta janin. Yang membedakannya dengan preeklamsia yaitu factor-faktor hipertensi esensial muncul pada awal kehamilan. Selama tekanan darah ibu tidak meningkat sampai 150/90 mmHg berarti pertanda baik.

57 . karena kurangnya sirkulasi plasenta. atau meningkat pada awal persalinan. Hal ini dapat dilakukan dengan menginduksi persalinan. Obat-obat antihipertensi dan sedative boleh diberikan untuk mengontrol tekanan darah. yang dapat menyebabkan kejadian Intra Uterine Growth Retardation (IUGR) dan hipoksia. 2) Hipertensi Karena Kehamilan Hipertensi yang ditimbulkan atau diperberat oleh kehamilan lebih mungkin terjadi pada wanita yang : a) b) Terpapar vili korialis untuk pertamakalinya Terpapar vili korialis yang terdapat jumlah yang banyak seperti pada kehamilan kembar atau mola hidatidosa c) d) Mempunyai riwayat penyakit vaskuler Mempunyai kecenderungan genetic untuk menderita hipertensi dalam kehamilan.Merupakan pertanda kurang baik jika tekanan darah sangat tinggi. Jika tekanan darah tidak dapat dikendalikan atau terdapat tanda-tanda IUGR atau hipoksia. 200/120 mmHg atau lebih. dokter dapat menghindari risiko yang serius dengan mempercepat persalinan. kadang-kadang gagal ginjal merupakan komplikasi. Jika tekanan darah sangat tinggi. harus dirawat dokter di rumah sakit. Keadaan ibu mungkin berkembang menjadi Pre Eklamsia atau mengalami abrupsio plasenta (plasenta Pecah). Janin juga berisiko. persalinan dapat dilakukan dengan cara Sectio caesarea. Anamnesa juga diperlukan untuk mengeluarkan ibu dari pre eklamsia. Kandungan catecholamine atau vanilmandelic acid (VMA) biasanya diukur karena hipertensi yang berat mungkin disebabkan karena Pheochromacytoma atau tumor pada ginjal. Jika ditemukan tekanan darah ≥ 160/100 mmHg. atau jika keadaan berbahaya atau lebih akut. mungkin terjadi perdarahan otak atau gagal jantung.

Preeklamsia mungkin lebih sering terdapat pada wanita dai keluarga yang tidak mampu. Resiko hipertensi karena kehamilan dipertinggi pada keadaan di mana pembentuka antibody penghambat terhadap tempat-tempat yang bersifat antigen pada plasenta terganggu. atau mencapai 140 mmHg atau lebih. Penyakit ini biasanya timbul pada Triwulan ke-3 kehamilan tetapi dapat timbul sebelumnya. namun bisa juga terjadi pada pada wanita denan ekonomi yang menengah ke atas.Kemungkinan bahwa mekanisme imunologis di samping endokrin dan genetic turut terlibat dalam proses terjadinya pre-ekklamsia dan masih menjadi masalah yang mengundang perhatian. Kenaikan sistolik harus 30 mm Hg atau lebih diatas tekanan yang biasanya ditemukan. Oedema Pretribal yang 58 . Kehamilan juga menyebabkan wanita hamil kekurangnan nutrisi. misalnya pada Mola Hidatosa. dan muka. Pemeriksaan tekanan darah dilakukan minimal 2x dengan jarak waktu 6 jam pada keadaan istirahat. Untuk menegakkan diagnosa Pre-Eklamsi kenaikan tekanan Sistolik harus 30 mmHg atau lebih. dan Proteinuria yang timbul karena kehamila. Edema ialah Penimbunan cairan secara umum dan berlebih dalam jaringan tubuh dan biasanya dapat diketahui dari kenaikan berat badan serta pembengkakan kaki. Kenaikan tekanan Diagnostik lebih dapat dipercaya apabila tekanan Diastolik meningkat 15 mmHg atau lebih atau menjadi 90 mmHg atau lebih. Bahkan pengamatan menyebutkan bahwa makanan yang kurang mengandung protein sebagai penyebab penurunan insiden eklamsia. Oedema. tetapi kenyataannya sama-sama dapat terjadi preeklamsia. Seharusnya preeklamsia ditemkan pada multipara dari pada nulipara. jari tangan. 3) Pre Eklamsia Pre-Eklamsi Adalah Penyakit dengan tanda-tanda Hipertensi. Hipertensi biasanya timbul lebih dahulu daripada tanda-tanda lain. Hipertensi biasanya timbul lebih dahulu dari pada tanda lain.

Tanda Dan Gejala : Tanda-tanda Pre-Eklamsi biasanya timbul dalam urutan pertambahan berat badan yang berlebihan. Kenaikan BB ½ kg setiap minggu masih normal tetapi kalau kenaikan BB I kg atau lebih setiap minggu beberapa kali. sehingga tidak berarti untuk penentuan Diagnosis Pre-Eklamsi. lumen arteriole sedemikian sempitnya sehingga hanya dilalui oleh satu sel darah merah. pada Pre-Eklamsi ditemukan sakit kepala di 59 . hal ini perlu menimbulkan kewaspadaan terhadap timbulnya preeklamsia. mungkin karena retensi air dan garam. dan akhirnya proteinuria.ringan sering terjadi pada kehamilan biasa. Pada Biopsi ginjal ditemukan spasme hebat arteriola Glomerolus. hipertensi. Pada Pre-Eklamsi ringan tidak ditemukan gejala-gejala subyektif. di ikuti oedema. Proteinuria timbul lebih lambat daripada hipertensi dan kenaikan berat badan. sebagai usaha untuk mengatasi kenaikan tekanan perifer agar oksigen jaringan dapat dicukupi.199) menjelaskan bahwa pada Pre-Eklamsi terjadi pada spasme pembuluh darah yang disertai dengan Retensi Garam dan air. Jadi jika semua arteriola di dalam tubuh mengalami spasme maka tekanan darah akan naik.3 g/lt dalam urin 24 jam atau pada pemeriksaan menunjukan 1 atau 2+ atau 1 gr/lt yang dikeluarkan dengan jarak waktu 6 jam. Proteinuria dapat disebabkan oleh Spasme arteriola sehingga terjadi perubahan pada glomerolus. Sedangkan kenaikan berat badan dan Edema yang disebabkan oleh penimbunan air yang berlebihan dalam ruangan intestinal belum diketahui sebabnya. Pada beberapa kasus. Patofisiologi : Mochtar (1999. karena itu harus dianggap yang cukup serius. Proteinuria berarti konsentrasi protein dalam urin yang melebihi 0.

Klasifikasi pre eklamsia dibagi menjadi 2 golongan : a) Preeklamsia ringan (1). penglihatan kabur. nyeri di daerah epigastrum. Di ginjal. Perubahan Psikologi Normotensive pada wanita hamil dihubungkan dengan perubahan cardiovascular termasuk meningkatnya kerja jantung. Dalam kasus yang parah. Dengan vasokontriksi dan disruption ke vascular endothelium menjadi coagulasi aktif. Pengurangan cairan ke intravaskuler disebabkan hypoluemia dan hemokonsentrasi dan ini adalah reflek untuk meningkatnya haematrokit. paru-paru dapat menjadi macet dengan adanya cairan dan berkembang menjadi oedema pulmonary. mual dan muntah-muntah. Cara 60 .daerah frontal. Meningkatnya produksi trombositopenia dan responsible untuk Disseminated Intravaskular Cougelation (DIC). Gejala-gejala ini sering di temukan pada Pre-Eklamsi yang meningkat dan merupakan petunjuk bahwa Eklamsi akan timbul. skotoma. Perbandingan ini disebabkan karena untuk menopang hipertensi. sehingga terjadi kebocoran plasma dan rusaknya pembuluh darah sehingga dihasilkan oedema kemudian menuju ke jaringan. diploma. Dengan adanya hipertensi bersama-sama dengan sel Endothelia rusak mempengaruhi melalui pembuluh. Tekanan darah 140/90 mmHg atau kenaikan diastolik 15 mmHg atau lebih (diukur pada posisi berbaring terlentang) atau kenaikan sistolik 30 mmHg atau lebih. volume darah dan cardiac output (Gant Et al 1973). oksigen rusak dan sehingga terjadi sianosis. vasospasme menghasilkan arteriolus menyebabkan pengurangan aliran darah menuju ke ginjal yang menjadikan hypoxia dan oedema. Hal ini menyebabkan sel endothelia rusak sehingga perbandingan antara vasodilator : vasocontricsi.

(4). namun pre eklamsia sering terjadi pada a) b) c) Primigravida Tuanya kehamilan Kehamilan ganda Prinsip pencegahan preeklamsia a) Pencegahan/ANC yang baik: ukuran tekanan darah. b) Proteinuria 0. timbangan berat badan. Banyak istirahat ( berbaring tidur miring) Diet: cukup protein. (3). (3). (5). Tekanan darah 160/110 mmHg atau lebih Proteinuria. ukur kadar proteinuria tiap minggu b) Diagnosa dini/tepat: diet. gangguan visus. (c). Penyebab preeklamsia secara pasti belum di ketahui. rendah kaebohidrat.pengukuran sekurang-kurangnya pada 2x pemeriksaan dengan jarak (2). (e). muka dan berat badan naik >1 kg/mg Preeklamsia berat (1). dan rasa nyeri di epigastrium. lemak.3 gr/lt atau 1+ atau 2+ Edema pada kaki. (b). 5 gr/lt atau lebih Oliguria (jumlah urine < 500 cc per 2 jam Terdapat edema paru dan sianosis Adanya gangguan serebral. jari. kalau perlu pengakhiran kehamilan Penanganan a) Penanganan Pre-Eklamsi Ringan: 1) Rawat Jalan (a). Roboransia Kunjungan ulang tiap 1 mg 61 . (2). dan garam Sedative ringan (jika tidak bisa istirahat ) tablet Febobarbital 3x30 mg peroral selama 2 hari (d).

Kehamilan lebih dari 37 minggu (b). Bila Tekanan Darah turun tetapi belum mencapai normotensif selama perawatan maka kehamilannya dapat diakhiri pada kehamilan lebih dari 37 minggu (b). Pada Kehamilan Aterm (lebih dari 37 minggu) Persalinan ditunggu spontan atau dipertimbangkan untuk melakukan persalinan. (c). Adanya tanda-tanda impending (c). Jika Tekanan Darah mencapai normotensif selama perawatan persalinan ditunggu sampai aterm (2). tetapi tidak selalu komplikasi dari pre eklampsi.2) Jika dirawat di Puskesmas atau Rumah Sakit: (a). 62 . Kegagalan terapi pada perawatan konservatif Pada Janin : a) b) Adanya Tanda-tanda Fetaldistres Adanya Tanda-tanda IUFD induksi persalinan pada taksiran tanggal 4) Eklamsia Eklampsi merupakan serangan konvulsi yang biasa terjadi pada kehamilan. b) Penanganan Pre-Eklamsi Berat di Rumah Sakit Penanganan Aktif: 1) Indikasi Indikasi perawatan aktif ialah bila di dapatkan satu atau lebih keadaan ini pada ibu: (a). Persalinan dapat dilakukan spontan bila perlu memperpendek kal II dengan bantuan bedah obstetri. Pada Kehamilan Preterm (kurang dari 37 minggu) (1).

Tahap klonik. lengannya kaku. tersendat-sendat Spasme berhenti. selama. Ada satu tanda eklampsi. dia berhenti bernafas dan warnanyaberubah sianosis. Hipoksia serebral menunjukkan kenaikan dysrhytmia serebral dan ini mungkin terjadi karena konvulsi. Dia menyatukan gigi dan bisa saja dia menggigit lidahnya.Dalam sebuah konduksi studi nasional di UK pada tahun 1992. sementara terbiasa. Seluruh tubuhnyabergerak-gerak dari satu sisi ke sisi yang lain. pergerakkan otot menjadi dan serangan menjadi meningkat. Spasme ini berlangsung sekitar 30 detik 3. Mata dibuka. Jika ANC dan Inc mempunyai standar yang tinggi. ketika wajah dan otot tangannya sementara kejang 2. Empat fasenya antara lain: 1. Beberapa pasien ada yang mempunyai dasar dysrhytmia serebral dan oleh karena itu konvulsi terjadi mengikuti bentuk yang lebih kuat dari pre eklampsi. dan sesudah persalinan. Monitor tekanan darah dan urin untuk proteinuria harus dilakukan dan dilanjutkan selama periode postpartum. Hampir seluruh otot-otot wanita segera menjadi Genggamannya mengepal dan tangan dan serangan spasme. konvulsi postpartum akan lebih sering terhindar. Etiologi Dalam eklampsi berat terdapat hipoksia serebral yang disebabkan karena spasme kuat dan oedem. Ini terjadi lebih dari 48-72 jam setelahnya. Tahap Tonic. Tahap premonitory. 38% dsari kasus eklampsi tidak disertai dengan hipertensi dan protein urin (Douglas dan Redman 1994). bernama konvulsi eklampsi. Konvulsi dapat terjadi sebelum. Kemudian otot respirasinya dalam spasme. Pada tahap ini dapat terjadi kesalahan jika observasi pada ibu tidak tetap. sering saliva blood-strained terlihatb pada bibirnya 63 .

Angka kematian ibu dari eklampsi di UK pada tahun 1991-1993 adalah 11. jika frekuensi berulang hati gagal berkembang. Inhalasi darah atau mucus dapat menunjukkan asfiksia atau pneumonia. pada ibu dapat terjadi cerebral hemorrhage. Konvulsi intrapartum sangat berbahaya untuk janin karena kenaikan hipoksia intra uterin yang disebabkan karena kontraksi uterus. 2. Perdarahan otak e. Sianosis memudar. Kelainan mata f. Hipofibrinogen c. Edema paru-paru g. Tahap Comatose. Solusio plasenta b. tapi wajahnya tetap bengkak.4. Pasien dengan oedem dan oliguria perkembangan paru-paru dapat bengkak atau gagal ginjal. Nekrosis hati 64 . Selama sehat ketika ibu berhenti bernafas supply oksigen ke janin terganggu. Jika kenaikan hipertensi banyak. Bagi janin Dalam eklampsi antenatal janin dapat terpengaruh dengan ketidakutuhan plasenta. Dari komplikasi-komplikasi ini dapat terjadi kefatalan. Komplikasi yang terberat ialah kematian ibu dan janin: a. Kadangkadang sadar dalam beberapa menit atau koma untuk beberapa jam Bahaya-Bahaya Eklampsi 1. Angka kematian perinatal sebanyak 15%. Ini menunjukkan retardasi pertumbuhan intrauterine dan hipoksia. Bagi ibu Perbedaan konvulsi dan kelelahan. Dapat terjadi kegagalan hepar. Wanita dapat tidak sadar dan mungkin nafasnya berbunyi. Hemolisis d. selanjutnya berkurang. Dalam lebih dari setengah terdapat kematian ibu dan hanya satu atau dua yang selamat.

Penderita menjadi tak sadar. wajahnya kelihatan kaku. muka menjadi sianotik. dan hiperefleksia. dari mulut keluar ludah yang berbusa aka menunjukan kongesti dan sianosis. mulut membuka dan menutup dan lidah dapat tergigit lagi. 2. 3. kejadian kronik ini a demikian hebatnya. trauma. semua otot berkontraksi dan berulang-ulang dalam tempo yang cepat. gangguan penglihatan. pernafasan berhent. 65 . kelopak mata bergetar demikian pula tangannya dan kepala diputar ke kanan dan ke kiri. sehingga penderita dapat terjatuh dari tempat tidurnya. Komplikasi lain (lidah tergigit. Kelainan ginjal i.h. Tingkat kejangan klonik Berlangsung 1-2 menit. akan timbul kejangan. dan fraktur karena jatuh dan DIC) Gejala Dan Tanda Pada umumnya kejang didahului oleh makin memburuknya preeklamsi dengan gejala-gejala nyeri kepala di daerah frontal. konvulsi eklamsi dibagi 4 tingkat yaitu : 1. lidah dapat tergigit. Tingkat awal atau aura Keadaan ini berlangsung kira-kira 30 menit. tangan menggenggam dan kaki membengkok ke dalam. mual. spasmus tonik menghilang. bola mata menonjol. Prematuritas j. Akhirnya kejangan terhenti dan penderita menarik nafas secara mendengkur. Mata penderita terbuka tanpa melihat. Tingkat kejangan tonik Berlangsung lebih 30 menit. Bila keadaan ini tidak segera diobati. nyeri epigastrium. dalam tingkat ini seluruh otot menjadi kaku.

Obat yang dipilih untuk pengobatan eklampsi adalah Magnesium Sulfat (Neilsen 1995. Magnesium Sulfat Antikonvulsi yang efektif dan bereaksi cepat. Penatalaksanaan Eklamsi Jika pre eklampsi diketahui lebih awal dan ditangani lebih cepat. dipublikasikan pada tahun 1995. Penatalaksanaan Selanjutnya Prinsip-prinsip pelaksanaan: 1. Obat diberikan dengan segera untuk mengurangi rangsangan sistem saraf. terlebih lagi konvulsi pada wanita memiliki resiko tinggi untuk hidupnya dan janinnya. Penemuan Collaborative Eclampsi Trial. paramedis harus segera dipanggil untuk memberikan pertolongan pertama sebelum dibawa ke rumah sakit. eklampsiakan lebih sulit terjadi. sehingga ia tetap dalam koma. Memelihara kebersihan jalan nafas 2. Melindungi wanita dari luka-luka Ibu harus miring ke satu sisi dan pergerakkan konvulsinya dapat ditekan dari semua ini harus dilakukan sepelan mungkin dan tidak tergesagesa. akan tetapi dapat terjadi pula bahwa sebelum itu timbul serangan baru yang berulang. Mulut dibersihkan dari mucus dan darah dengan suction. Jika wanita berada di luar rumah sakit saat terjadi konvulsi. Oksigen diberikan untuk kepentingan keduanya ibu dan janin. 66 . Tingkat koma Lamanya koma tidak selalu sama. Sangat jarang dimulai dan proses cepat terjadi eklampsi diantara pemeriksaan antenatal yang biasa dan sering. Penatalaksanaan selama konvulsi antara lain: 1. Secara perlahan-lahan penderita menjadi sadar lagi.4.Lucas 1995) a. Untuk pertolongan awal bantuan medis harus dipanggil. Mengontrol konvulsi Ini sangat penting untuk mengontrol konvulsi.

Walaupuntidak efektif dalam mengontrol eklampsi (The eclampsia Collaborative Trial Group. laju teratur menurut aliran darah. promethozin dan chlorpromazine dalam infus intravena dextrose 5%) sekarang tidak direkomendasikan phenytoine digunakan untuk mengobati epilepsy dan saat ini ada pembaharuan pada penatalaksanaan pre eklampsi. Obat lain yang digunakan seperti morfin. Injeksi intravena diazepam 10-40 mg diikuti dengan infus 20-80 mg dalam 500 ml dari 5% dextrose dengan rata-rata 30 tetes/menit. b. 67 . Pengobatan diuretic diindikasikan ketika urin yang keluar kurang dari 20 ml/jam.WHO sekarang merekomendasikan penggunaan Magnesium Sulfat untuk pengobatan eklampsi dan memasukkannya ke dalam Daftar Obat Esensial (WHO. 2. 1995). diikuti dengan infus 1-2 gr/jam. dan 67% resiko lebih rendah dibandingkan dengan phenytoin.terbukti Magnesium Sulfat lebih efektif mengurangi dan mencegah konvulsi eklampsi dibandingkan dengan diazepam dab phenytoin (Eclampsia Collaborative Trial Group. paraldehyde dan lytic cocktail (kombinasi dari pethidine. Injeksi intravena 4-5 gr dalam 20% pemberian. Antibiotik mungkin untuk mencegah infeksi paru-paru. Mengontrol tekanan darah Tekanan darah dikontrol oleh sedatif dan menggunakan obat anti hipertensi seperti hydralazine. Magnesium Sulfat direkomendasikan untuk pengobatan untuk eklampsi. 1995) dan dianggap sebagai prophylactic dari pada metode pengobatan (Howard 1993). 1995). hydrochloride (apresoline) 20 mg dengan injeksi intravena diikuti oleh 20-40 mg sebagai injeksi intravena. Wanita yang menerima Magnesium Sulfat memiliki resiko 52% lebih rendah dari konvulsi dibandingkan diberi diazepam. tribromoethanol (Avertin).

jika semua kasus eklamsi harus segera di rujuk. Rujukan 1) Kriteria rujukan Eklamsi harus ditangani di Rumah Sakit. Keempat ekstrimitas di ikat tidak terlalu ketat agar pasien tidak terjatuh.Tes biokimia untuk mengetahui fungsi ginjal. Penanganan a. 1. Proses rujukan • • • Jelaskan bahaya / komplikasi eklamsi kepada kelurga pasien. trombositopenia. Pasang goedel atau sudip yang dilapisi kain kasa untuk melindungi gigi tergigit lidah. enzim dalam hati dapat dimonitor dengan memberi informasi tentang: 1. Pasang kateter urine yang dipertahankan dan kantong urine. 68 . • • • • • Bari O2 Pasang infus dengan cairan dekstrose 5% dengan kecepatan 20 tetes / menit. baik untuk mengatasi kejang ataupun untuk memberi obat anti hipertensi. Rujuk pasien ke RS di sertai perawat yang mengantar dan surat rujukan Sebelum merujuk dapat diberikan pengobatan awal sesuai dengan diagnosis kasus.

Kepala direndahkan: daerah asofaring di hisap Fiksasi badan pada tempat tidur harus cukup kendor guna menghindari fraktur 69 . 20 menit setelah • Monitoring tanda-tanda mkeracunan MgSO4 b) Obat-obat supportif Lihat pengobatan supporti pre-Eklamsi berat c) Perawatan pada serangan kejang • • • • Di rawat di kemar isolasi yang cukup tenang (bukan kamar gelap) Masukan sudip lidah ke dalam mulut penderita. Penanganan eklamsi di RS 1) Penanganan medisinal a) Obat anti kejang MgSo4 • Loading dose 4 g MgSO4 40% dalam larutan 10 cc intravena selama 4 menit disusul 8 g IM MgSO4 40 % dalam laritan 25 nn diberikan pada bokong kiri dan kanan masing-masing 4 gram. Sekurang-kurangnya pemberian terakhir Dosis tambahan 2 gram hanya diberikan sekali saja. • • Maintenance dose Tiap 6 jam diberikan lagi 4 gram IM MgSO4 Dosis tambahan Bila timbul kenjeng-kejang lagi maka dapat diberikan MgSO4 2 gram IV selama 2 menit.. Bila setelah diberi dosis tambahan masih tetap kejang maka berikan amobarita 3-5 m/kg BB IV pelan-pelan.b.

2) Bilamana diakhiri Sikap dasar : • Bila sudah terjadi stabilisasi (permulian) hemodinamika dan metabolise ibu yaitu 4-8 jam setelah salah satu atau lebih di bawah ini: Setelah pemberian obat anti kejang terakhir Setelah kejang terakhir Setelah pemberian obat-obat antihiertensi terakhir Penderita mulai sadar (resp[onsive dan orientasi) b) Perdarahan Antepartum 1) Solusio Plasenta Solusio plasenta adalah terlepasnya plasenta yang letaknya normal pada corpus uteri sebelum janin lahir.d) Perawatan penderita dengan koma • • • Monitoring kesadaran dan lamanya koma memakai glassglow –Pittsburgh-coma scale. 70 . walaupun dapat pula terjadi pada setiap saat dalam kehamilan. bila nutrisi tidak mungkin cukup diberikan alat bentuk NGT (Naso Gastric Tube) c. Biasanya terjadi pada trimester III. Penanganan Obstetric 1) Sikap terhadap kehamilan Sikap dasar : Semua kehamilam dengan pre-eklamsi harus diakhiri tanpa memandang umur kehamilan dan keadaan janin. Pada perawatan koma perlu diperhatikan pencegahan dekubitus dan makanan penderita Pada koma yang lama.

Bila terlambat. Bila dapat diselamatkan bayi akan mengalami gangguan akibat kejadian tersebut. ataupun setelah dijumpai keduanya. dengan angka mortalitas perinatal sebesar 30 %. neonatus dapat meninggal karenanya. kemudian mengalir keluar lewat serviks dan terlihat dari luar sehingga terjadi perdarahan eksternal. kemungkinan pelepasan plasenta yang luas sehingga akan menimbulkan kematian janin. Intensitas solusio plasenta seringkali bervariasi menurut cepatnya ibu hamil mencari dan mendapatkan perawatan setelah merasakan nyeri abdomen. Hurrd dkk. (1983) mengemukakan bahwa frekuensi untuk solusio plasenta sekitar 1 per 75 persalinan.. Frekuensi ditegakan diagnosis solusio plasenta sangat bervariasi mengingat criteria yamg dipakai untuk membuat diagnosis ini berbeda-beda.Sebagian perdarahan pada solusi plasenta biasanya merembes sendiri diantara selaput ketuban dan uterus. Bisa juga darah tidak mengalir keluar. Etiologi. Solusio plasenta dengan perdarahan tersembunyi menngandung ancaman bahaya yang jauh lebih besar terhadap keselamatan jiwa ibu. Meskipun janin bias bertahan hidup. tetapi tetap tertahan diantara bagian plasenta yang terlepas dan uterus sehingga terjadi perdarahan tersembunyi. Penyebab primer solusio plasenta tidak diketahui. dan ini bukan hanya terjadi akibat peningkatan kemungkinan terjadinya koagulopati konsumtif yang berat. Tampak jelas bahwa abrupsio plasenta merupakan problem obstetric yang sering ditemukan dan terutama berbahaya bagi janin serta nonatus. tetapi juga akibat luasnya perdarahan yang tidak disadari. atau setelah terjadinya perdarahan pervaginam. tetapi keadaan ini dapat dikemukakan sebagi factor-faktor etiologinya yaitu : • • • Trauma Tali pusat yang pendek Dekompresi yang uterus mendadak 71 .

Dalam tahap awal mungkin belum terdapat gejala klinis. perdarahan eksternal bias banyak sekali meskipun pelepasan plasenta belum begitu luas sehingga menimbulkan efek langsung pada janian. Plasenta ini mempunyai permukaan maternal dengan lekukan bulat yang diameternya beberapa sentimeter dan ditutupi oleh darah yang membeku serta berwarna gelap. Diagnosisi Klinis Perlu ditekankan bahwa keluhan dan gejala pada solusio plasenta dapat bervariasi cukup luas. Desidua tersebut kemudian terbelah sehingga meninggalkan lapisan tipis yang melekat pada miometrium. Pada janina kembar. atau perdarahan eksternal 72 .• • • Anomaly uterus atau anomaly uterus atau tumor uterus Hipertensi kronis atau hipeertensi yang ditimbulkan karena kehamilan Tekanan pada nena cava inferior akibat uterus yang membesar dan defisiensi gizi. Solusio plasenta dengan derajat yang lebih ringan dapat terhadi sesaat sebelum persalinan janin tunggal kalau cairan ketuban sudah mengalir habis dari dalam uterus dan janin mengalami desensus hingga kepalanya sudah berada pada perineum. kompresi dan kahirnya penghancuran plasenta yang berdekatan dengan bagian tersebut.. dekompresi yang terjadi setelah persalinan janin pertama dapat menimbulkan pelepasan premature plasenta yang membahayakan janin kedua. proses tersebut dalam stadium awal akan terdiri dari pembentukan hematoma desidua yang menyebabkan pelepasan. Sebai akibatnya. Contoh. keadaan tersebut ditemukan hanya setelah dilakukan pemeriksaan terhadap plasenta yang baru dilahirkan. Patologi Terjadinya solusio plasenta dipicu oleh perdarahan ke dalam desidua basalis.

dan hal ini bukan saja terjadi akibat kemungkinan koagulopati konsumtif yang lebih tinggi. terjadinya dengan maseuknya trombo plastin ke dalam peredaran darah ibu akibat terjadinya pembekuan darah retrolpasenter. Komplikasi Komplikasi tergantung dari luasnya plasenta dan lamanya solusio plasenta berlangsung. kelainan pembekuan darah. 1.tidak terdapat tetapi plasenta sudah terlepas seluruhnya dan janin meninggal sebagai akibat langsung keadaan ini. 2. dan kelainan pembekuan darah. dan gawat janin sampai kematiannya. kali ini terjadi karena kontraksi uterus yang tidak kuat untuk menghentikan perdarahan pada kala III. Tindakan terakhir mengatasi perdarahan postpartum bila tidak dapat diatasi dengan kompresi bimanual. Perdarahan Perdarahan antepartum dan intrapartum pada solusio plasenta hampir tidak dapat dicegah kecuali dengan menyelesaikan persalinan segera. oliguria. pengobatan kelainan pembekuan darah ialah histerektomia atau pengikatan arteria hipogastrika. Solusio plasenta dengan perdarahan yang tersembunyi mengandung ancaman bahaya yang jauh lebih besar bagi ibu. Komplikasi yang dapat terjadi ialah perdarahan. Perdarahan postpartum dapat pula mengancam. uterotonika. tetapi juga akibat intensitas perarahan yang tidak diketahui sehingga pemberian tranfusi sering tidak memadai atau terlambat. Kelainan pembekuan darah kelainan pembekuan darah pada solusio plasenta biasanya disebabkan oleh hipofibrinogenemia. 73 . sehingga terjadi pembekuan darah intra faskular dimana-mana yang akan menghabiskan fakto-faktor pembekuan darah lainnya terutama fibrinogen.

Kadar fibrinogen plasma normal pada wanita hamil cukup bula ialah 450 mg%. Kelainan pembekuan darah berperanan pula dalam terjadinya kelainan fungsi ginjal ini 4.oleh karena itu oliguria hanya dapat diketahui dengan pengukuran teliti pengeluaran air kencing yang harus rutin dilakukan pada solusio plasenta sedang. penentuan kuantitatif kadar fibrinogen b. pengamatan pembekuan darah untuk menentukan : 1) waktu pembekuan darah 2) besarnya dan kemantapan pembekuan darah 3) adanya factor seperti heparin (antikoagulansia) dalam peredaran darah c. Ada yang menerangkan bahwa tekanan intra uterin yang meninggi karena solusio plasenta menimbulkan reflek penyempitan pembuluh darah ginjal. dan solusio plasenta berat. penentuan waktu tromboplastin 3. Terjadinya oliguria sangat mungkin berhubungan dengan hipofolemi dan penyempitan pembuluh darah ginjal akibat perdarahan yang banyak. penentuan waktu protrombin f. Oliguria Pada tahap oliguria keadaan umum penderita biasanya masih baik. Apabila kadar fibrinogen lebih rendah jadi 100 mg% akan terjadi gangguan pembekuan darah. preeklamsia. hitung trombosit e. atau hipertensi menahun. Kecurigaan akan adanya kelainan pembekuan darah harus dibuktikan dengan pemeriksaan secara laboratorium a. Gawat janin 74 . adanya fibrinolisin dalam peredaran darah d. berkisar antara 300-700 mg%. apalagi yang disertai perdarahan tersembunyi.

Kalaupu janin yang masih hidup biasanya sudah gawat kecuali pada solusio plasenta ringan. apabila janin mati lakukan pemecahan ketuban dan pemberian infus oksitosin untuk mempercepat persalinan. maka penderita harus diobservasi dengan ketat. Tranfusi darah b. 6. Infus oksitosin d. barulah ditangani sebagai solusio plasenta. Solusio plasenta ringan Perdarahan antepartum yang sedikit. 5. Apabila perdarahan berlangsung terus dan gejala solusio plasenta bertambah jelas atau dengan pemeriksaan USG daerah solusio plasenta bertambah luas maka pengakhiran kehamilan tidak dapat dihindarkan lagi. Solusio plasenta sedang dan berat Apabila tanda dan gejala klinik solusio plasenta jelas dapat di temukan. dan tidak peduli apakah persalinan akan 75 . Apabila kehamilannya kurang dari 36 minggu dan perdarahannya kemudian berhenti. Apabila janin hidup lakukan SC. Pemecahan ketuban c. Penanganannya di RS meliputi. a. tidak peduli bagaimana keadaan umum penderita. perutnya tidak menjadi sakit. dengan uterus yang tidak tegang. Apabila kemudian ternyata kemungkinan plasenta previa dapat disingkirkan. Jika perlu SC Tekanan darah bukan merupakan petunjuk banyaknya perdarahan karena vasospasmus sebagai reaksi dari perdarahan ini akan meninggikan tekanan darah Ketuban segera dipecahkan. berarti perdarahan telah terjadi sekurang-kurangnya 1000 ml.Jarang ditemukan kasus solusio plasenta dengan janin yang masih hidup. dan uterusnya tidak menjadi tegang. pertama kali harus ditangani sebagai kasus plasenta previ.

Pada kasus solusio plasenta tertentu SC 76 . Prognosis Prognosis ibu tergantung dari luasnya plasenta yang lepas dari dinding uterus. mungkin melalui apa yang dinamakan refleks uterorenal. dan jarak waktu antara terjadinya solusio plasenta sampai pengosongan uterus. karena tindakan yang terbaik untuk mengatasi perdarahan ialah dengan segera menghentikan sumber perdarahannya. Pada solusio plasenta ringan dan sedang kematian janin tergantung dari luasnya plasenta yang terlepas dari dinding uterus dan tuanya kehamilan.pervaginam atau perabdominal. Prognosis janin pada solusio berat hampi 100 % mengalami kematian. Bila perlu persalinan dapat lebih dipercepat dengan pemberian infus oksitosin. satu-satunya cara untuk segera mengosongkan uterus dengan SC. segera mengatasi hipovolemi di bawah pengawasan tekanan vena pusat (CVP / central venous pressure). ada tidaknya hipertensi menahun atau preeklamsia. secepat mungkin menyelesaikan persalinan. pemberantasan infeksi yang mungkin terjadi. Pemecahan ketuban ini akan merangsang dimulai persalinan dan mengurangi tekanan intra uterin yang dapat menyebabkan komplikasi nekrosis kortek ginjal. atau syok telah dapat teratasi . Pencegahan payah ginjal meliputi penggantian darah yang hilang secukupnya. banyaknya perdarahan. dan gangguan pembekuan darah. Apabila persalinan tidak selesai atau diharapkan tidak akan selesai setelah 6 jam setelah terjadi solusio plasenta. Payah ginjal yang sering merupakan komplikasi solusio plasenta pada dasarnya disebabkan oleh hipovolemik karena perdarahan. derajat kelainan pembekuan darah. tersembunyi tidaknya perdarahannya. walaupun dengan mecahan selaput ketuban dan infus oksitosin. dan mengatasi kelainan pembekuan darah. SC tidak usah menunggu sapai darah tersedia secukupnya.

yaitu pada segmen bawah uterus sehingga dapat menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir. Pada keadaan normal plasenta terletak dibagian atas uterus. Sebagaimana pada setiap kasus perdarahan. plasenta previa marginalis. persediaan darah secukupnya akan sangat membantu memperbaiki prognosis ibu dan janinnya Gambar. pabila pinggir plasenta berada tepat pada pinggir pembukaan 77 . yang meliputi : 1. Plasenta previa totalis. Solosio Placenta 2) PLASENTA PREVIA Plasenta previa ialah plasenta yang letaknya abnormal. 2. Klasifikasi didasarkan atas terabanya jaringan plasenta melalui pembukaan jalan lahir pada waktu tertentu.dapat mengeurangi angka kematian janin. apabila seluruh pembukaan tertutup oleh jaringan plasenta 2.2. Plasenta previa parsialis apabila sebagian pembukaan tertutup oleh jaringan plasenta 3.

Multiparitas : meningkatnya ukuran rongga uterus pada persalinan yang berulang-ulang merupakan predisposisi terjadinya plasenta previa 2. Plasenta previa. Kehamilan multiple : tempat plasenta terbesar lebih sering melewati segmen bawah rahim 3. Plasenta letak rendah (low lying). Etiologi Penyebab plasenta previa tidak diketahui. Karena klasifikasi ini tidak didasarkan pada keadaan anatomik melainkan fisiologik.3. Tentu saja observasi ini tidak akan terjadi dengan penanganan yang baik. plasenta yang letaknya abnormal pada segmen bawah uterus akan tetapi belum sampai menutupi pembukaan jalan lahir. Pinggir plasenta berada kira-kira 3 atau 4 cm di atas pinggir pembukaan sehingga tidak akan teraba pada pembukaan jalan lahir. tetapi factor-faktor berikut diketahui dapat dihubungkan 1.4. Umpamanya plasenta previa totalis pada pembukaan 4 cm mungkin akan berubah menjadi plasenta previ parsialis pada pembukaan 8 cm. 2. Umur : ibu yang lebih tua lebih beresiko daripada ibu yang lebih muda 78 . maka klasifikasinya akan berubah setiap waktu. Gambar.

dan mungkin bidan menemukan adanya presentasi bokong. Plasenta menempati ruang di pelvis. Wanita hamil yang merokok lebih dari 20 batang per hari 2 kali lebih besar peningkatan terjadinya plasenta previa 7. Tanda Dan Gejala Plasenta previa didiagnosa dengan pemeriksaan USG pada awal kehamilan bidan harus mengetahui wanita-wanita hamil yang mengalami plasenta letak rendah. Plasenta berkembang sebagai struktur membran yang tipis menutupi sebagian besar permukan uterus.4. Uterus sikatrik : SC pada persalinan sebelumnya meningkatkan resiko plasenta previa 5. Tidak semua wanita hamil menginginkan pemeriksaan USG akan taetapi bidan harus mengatahui tanda-tanda indikasi kemungkinan terjadinya plasenta previa : 1. Kelainan Plasenta : plasenta dengan dua bagian dan plasenta suksenturia mungkin dapat menyebabkan plasenta previa. Plasenta membranasea (plasenta diffusa) mungkin juga merupakan penyebab. Hal ini merupaka kelainan perkembangan plasenta yang jarang dimana seluruh korion ditutupi dengan fungsi filli. Mal presentasi janin : sering didapatkannya bukan presentasi kepala pada janin. Riwayat myomektomi 6. karena ruang lainnya untuk kepala janin berada di fundus atau presentasi obliq dan presentasi bahu 79 . Keadaannya mungkin dapat didiagnosa dengan ultrason. Pada kehamilan hal ini dapat menyebabkan perdarahan hebat yang memungkinkan dilakukan histerektomi. Merokok : mekanisme yang tepat tidak begitu jelas tetapi terjadinya hipoksia disebabkan karena merokok yang mungkin menyebabkan pembesaran plasenta sehingga menyebabkan suplai oksigen berkurang.

Sulitnya mengidentifikasi bagian janin pada palpasi : plasenta previa anterior (khususnya tipe I dan II) terletak diantara janin dan seperti ada yang mengganjal pada tangan bidan. Penatalaksanaan 1. Denyut jantung janin sulit untuk dideteksi Karena tertutup oleh plasenta.2. Penatalaksanaan di rumah : Pasien dianjurkan harus istirahat ditempat tidur. Pada pemeriksaan abdomen akan taraba lunak. Demikian. denyut nadi meningkat dan tekanan darah menurun. Kemungkinan ada riwayat spoting. Bagian terendah janin tidak terfiksasi : khususnya pada plasenta previa tipe III atau IV. Kadang-kadang perdarahan terjadi setelah coitus tapi diketahui penyebabnya. 4. Denyut nadi ibu yang keras dibawah umbulikus : plasenta previa anterior sering di deteksi dengan adanya suara denyut nadi ibu yan keras dari plasenta yang lebih mudah didengar dengan dopler. 3. Perdarahan hebat yang terjadi akan memperlihatkan kondisi sbb : pucat. Jika terjadi perdarahan pada kehamilan tidak boleh melakukan pemeriksaan vagina dirumah 2. dengan ukuran sesuai umur kehamilan Sulit untuk membedakan antara plasenta previa dengan abrupsio plasenta. Abrupsio plasenta ada hubungan dengan preeklamsia dimana dengan presentasi dan fiksasi kepala janin normal. ibu harus berbaring. berkeringat. merasa haus. tidak adanya preeklamsia dan adanya beberapa ketidaknormalan yang ditemukan merupakan bukti terjadinya 80 . gelisah. khususnya pada presentasi kepala. Penatalaksanaan di RS Di Rumah Sakit. Jika perdarahan banyak pasien dianjurkan untuk tidur miring atau menggunakan bantal dibawah pinggul kanannya untuk mencapai agar panggul miring dan menghindari supine hypotensive syndrome.

(2000) mendapatkan bahwa 1. nadi. Dalam suatu ulasan tentang kepustakaan yang mencakup hampir 195. Urin diperiksa kadar protein jika perdarahan hebat. Pemberian infus intra vena dapat dimulai jika perdarahan menetap dan dipertahankan sampai perdarahan berhenti. Denyut jantung janin harus selalu dipantau dengan cardiotocography jika perdarahan menetap. Wanita tersebut harus di tempat tidur sampai perdarahan berhenti. Darah diperika kdar haemoglobin dan dilakukan uji cleihauer jika resus negatif dan setidaknya 2 kantong darah 3. dan mencapai keliling tepi plasenta dengan hanya di lapisi oleh satu lipatan amnion.000 kasus. Nadi dan tekanan darah dicatat lebih sering dengan ketentuan : tiap seperempat jam jika perdarahan berlanjut.plsenta previa. Pada 81 . Mungkin dibutuhkan pengkateteran. 3) INSERTIO VELAMENTOSA Jenis insersi tali pusat ini sangat penting dari segi praktis karena pembuluh-pembuluh umbilicus. di selaput ketuban. Benirschke dan kaufmann.1% dari pelahiran janin tunggal memeiliki insersio velamentosa. Keadaan ini terjadi jauh lebih sering pada kehamilan kembar. dan hampir selalu terjadi pada kembar tiga. diberikan pada kasus perdarahan hebat yang tiba-tiba. tekanan darah dan denyut jantung janin harus dilakukan. berpisah jauh dari tepi plasenta. Observasi Pemantauan suhu. VASA PREVIA Keadaan ini terjadi pada insersi velamentosa apabila sebagian dari pembuluh janin di selaput ketuban memotong daerah os internum dan menempati posisi di depan bagian terbawah janin.

plasenta jenis ini tidak jarang terjadi. jumlah darah janin yang boleh keluar tanpa mematikan janin relatif sedikit. Bila cincin putih ini letaknya dekat sekali ke pinggir plasenta. Pada vasa previa terdapat bahaya yang sangat besar bagi janin karena pecahnya ketuban dapat disertai oleh ruptur pembuluh janin yang menyebabkan kehilangan banyak darah. Sayangnya. sedangkan jeringan di sebelah luarnya terdiri dari villi yang tumbuh kesamping dibawah desidua. Cincin ini menandakan pinggir plasenta. yang dalam keadaan normal terdapat dalam darah tali pusat tetapi tidak dalam darah ibu. Diduga bahwa corionfrondosum terlalu kecil dan untuk mncukupi kebutuhan. villi menyerbu kedalam desidua di luar permukaan frondosum. Kedua-duanya disebut sebagai plasenta ekstra coriel. Cara tercepat dan mudah untuk mendeteksi darah janinadalah dengan mengapuskan darah pada kaca obyek. 5) PLASENTA SIRKUMVALATA Plasenta sirkumvalata adalah plaseta yang pada permukaan vetalis dekat pinggir terdapat cincin putih. Pada plasenta marginata mungkin terjadi adeksi dari selaput 82 . terdapat kemungkinan vasa previa atau ruptur pembuluh janin. Apabila terjadi perdarahan antepartum atau intrapartum. Menurut beberapa ahli plasenta sirkumvalata serin menyebabkan abortus dan solusio plasenta. Penekanan pembuluh oleh jari pemeriksa ke bagian terbawah janin kemungkinan akan menyebabkan perubahan frekuensi denyut jantung janin. Insidensinya lebih kurang 2-18 %.pemeriksaan yang cermat kadang-kadang dapat diraba sebuah pembuluh janin tubular di selaput ketuban yang menutupi bagian terbawah janin. di sebut plasenta marginata. warnai apusan dengan pewarna Wright. 4) RUPTUR SINUS MARGINALIS Ruptur sinus marginalis Pecahnya pembuluh vena dekat tepi plasenta yang terbentuk karena penggabungan pinggir ruang intervilli dengan ruang subcorial. dan periksa preparat untuk mencari sel darah merah berinti.

eklampsia. Hal ini diakibatkan oleh preeklamsi berat. Kelahiran preterm dapat terjadi sebagai akibat dari beberapa faktor di bawah ini: 1. 2. Kelahiran dengan komplikasi kegawat daruratan Komplikasi tersebut meliputi solusio plasenta. Kelahiran prematur elektif. Produk kehamilan ini mempunyai komplikasi yang paling rendah. resus iso imunisasi. Jumlah kelahiran prematur meningkat dengan peningkatan umur kahamilan minggu. Insiden kelahiran prematur kurang lebih 6 sampai 10%. Bayi yang dilahirkan dengan berat badan kurang dari 2500 gram termsuk dalam kategori berat badan lahir rendah. c) Kelainan dalam lamanya kehamilan 1) Prematur Persalinan dikatakan preterm jika terjadi sebelum akhir umur kehamilan 37 minggu. KPD Insidennya kira-kira 20 % dari semua kasus kelahiran preterm 3.sehingga plsenta lahir telanjang tertinggalnya selaput ini dapat menyebabkan perdarahan dan infeksi. penyakit ginjal maternal atau iugr. Bayi yang dilahirkan kurang dari 37 minggu dari hari pertama haid terakhir dinamakan preterm. yang paling sedikit ¼ bagian terjadi sebelum minggu ke 32. Diagnosis plasenta sirkumvalata baru dapat ditegakan setelah plasenta lahir tetapi dapat diduga bila ada perdarahan intermiten atau hidrorea. infeksi maternal atau prolapsus tali pusat. 83 . Kelompok ini kira-kira berjumlah 20 % dari kehaliran preterm. Kelahiran prematur memberikan kontribusi secara langsung antara 7590% dari semua kematian neonatal dan merupakan penyebab paling banyak morbibitas dalam jangka waktu yang pendek dan yang lama.

penyakit ginjal atau dm 4) Infeksi umum terutama virus 2. Perdarahan c. Jika wanita mempunyai riwayat lebih dari 2 kali melahirkan bayi preterm. Infeksi terutama pielonefritis f. Perdarahan pada kehamilan sebelumnya. Abnormalitas uterus. Akdr masih berada di dalam rahim d. 3. Organisme ini terdapat pada 5% wanita dan berhubungan dengan terjadinya kpd. 35% wanita dengan incompeten servik akan melahirkan preterm dan 19% wanita dengan uterus bicornis. Persalinan preterm spontan tanpa komplikasi yang tidak diketahui penyebabnya Kelompok ini berjumlah paling besar sampai 40 % dari kelahiran prematur. Kehamilan saat ini a. Infeksi saluran genital terutama vaginitis non spesifik. Dia mempunyai resiko untuk terjadi kelahiran preterm 70% pada kehamilan ini. Peningkatan berat badan yang tidak adekuat b. Amnionitis disebabkan karena infeksi 84 . unicornis atau didelphic akan melahirkan sebelum umur kehamilan 37 minggu. Riwayat reproduksi Riwayat kelahiran preterm sebelumnya.4. Faktor yang meningkatkan resiko terjadinya persalinan prematur adalah: 1. vaginosis bakterial. Pembedahan abdomen e. klamedia dan streptokokus hemolitik b. Faktor biologikal/medik 1) Umur kurang dari 15 tahun atau lebih dari 35 tahun 2) Berat badan rendah (kurang dari 50 kg saat konsepsi) 3) Riwayat hipertensi.

pemakai obat-obatan terlarang dan alkohol b. Merokok. Kehamilan ganda. Malformasi fetus j. 85 . meliputi pekerja fisik yang berat 5. Tidak melakukan ANC Beberapa metode digunakan untuk mencoba mengidentifikasi wanita dengan resiko persalinan preterm. Psikologi Psikologi distres dihubungan dengan kelahiran preterm 6. Sistem skoring resiko. Pekerja. Terlambat anc d. Polihidramnion i.traktus genital dapat menstimilasi pelepasan prostaglandin dan hal ini dapat menyebabkan mulainya persalinan g. Metode ini relatif mempunyai nilai prediktif yang sedikit terutama pada primigravida dan skor yang rendah dapat menyebabkan kesalahan. Kemiskinan dan sosial yang rendah persalinan preterm biasa terjadi pada wanita dari kelompok sosial ekonomi yang rendah. Penyakit resus k. tetapi hal ini bisa dilakukan dengan. b. hal ini bisa dilakukan berdasarkan pada faktor yang telah dijelaskan diatas. 1. Sosial ekonomi a. persalinan preterm sering terjadi pada wanita yang tidak menikah c. Prediksi sulit dilakukan dan tidak efektif dalam mencegah kelahiran preterm. 2. 46% melahirkan preterm h. Kematian fetus 4. Memonitor aktifitas uterus. Adat istiadat atau kebiasaan a. Status pernikahan. Jarak antar kehamilan pendek c.

Fibronektif fetus adalah suatu komponen matrik ekstraseluler. Gerakan pernafasan fetus. Gerakan pernafasan fetus berhenti sebelum persalinan premetur dimulai dan hal ini merupakan indikator dari persalinan preterm prematur mengancam.7%. Penemuan hubungan antara tingkat fibronektin fetus dalam servik dan sekresi vagina pada waktu datangnya persalinan preterm dapat diketahui dengan tes yang dilakukan disamping tempat tidur. Tes tesebut seharusnya dilakukan setiap 2 minggu dari umur kehamilan 24 minggu dan tidak dapat dilakukan jika ada perdarahan pervaginam atau kpd karena perdarahan dan cairan amnion mengandung fibrinektin. Tes ini mempunyai sensitifitas 79. Tingkat positif palsu 17%. Prosedur ini dapat mengetahui infeksi dan mempunyai nilai prediksi rendah pada wanita yang mempunyai resiko kelahiran preterm.4% dan spesifitas 82. 86 . Jika persalinan preterm mengancam hubungan jaringan korio desidual terpisah dari ibu dan fetus.Hal ini bisa dilakukan tetapi tampaknya tidak mempengaruhi jumlah kelahiran preterm. menyebabkan kebocoran fibrinektin. Pemeriksaan pelvik Pemeriksaan pelvik yang teratur akan tampak tanda perubahan yang dapat mengambarkan waktu datangnya persalinan. 4. 5. 6. ini disekresi oleh villi trofoblas. Panjang servik Pemeriksaan usg pada servik dapat memprediksi pesalinan preterm. 3.

Bidan seharusnya menyadari kecenderungan persalinan prematur pada wanita akan mengeluh. Cervical cerclage Cervical cerclage mungkin bermanfaat dimana kelemahan servik seperti riwayat abortus trimester ii atau biopsi. Bed rest dapat dilakukan tetapi cara ini tidak efektif. Progestogen dan etanol (jarang digunakan) 10. Peningkatan rasa sakit karena kontraksi 2. Kram seperti menstruasi (dismenorhoe) 87 . 9. Sekarang menggunakan gliseril trinitat (gtn).7. Dukungan sosial Peran dukungan sosial dalam mencegah kelahiran prematur dilakukan dan tidak tampak mempunyai pengaruh pada kesehatan fisik meskipun dapat memperbaiki kesehatan psikologis. Metode ini efektif untuk menekan persalinan preterm. 12. Antibiotik terapi Antibiotik terapi dapat memperlambat waktu datangnya persalinan preterm. 11. Manajemen Kelahiran Dan Persalinan Prematur Persalinan prematur mungkin sulit dikenali tetapi dapat dikenali dengan perubahan servik. diagnosis dapat ditegakkan. 1. Peningkatan kunjungan antenatal dan education Peningkatan kunjungan anc dan pendidikan pada ibu diperkirakan dapat mengurangi persalinan preterm pada insiden kelahiran sebelum umur kehamilan 34 minggu. 8. Bed rest Pencegahan kelahiran preterm tergantung dari pebcegahan aktifitas uterus dan dilatasi servik. pendataran servik 80% atau dilatasi servik 2 cm atau lebih.

Jika umur kehamilan dibawah 35 minggu dokter dapat memberikan obat tokolitik jika keadaan ibu dan fetus baik. Fase “42 minggu lengkap” perlu ditekankan. Kehamilan antara 41 minggu lewat 1 hari sampai 41 minggu lewat 6 hari.3. Peningkatan pengeluaran vagina Jika persalinan dimulai dirumah. Postmatur seharusnya digunakan untuk mendeskripsikan janin dengan cirri-ciri klinis nyata yang menunjukan kehamilan yang memanjang patologis. Sakit pinggang 4. Karena tidak ada metode untuk mengidentifikasi kehamilan yang benar-benar memanjang. Variasi-variasi siklus menstruasi ini kemungkinan menjelaskan. tidak ada tanda perdarahan pervaginam pada saat ini atau KPD. namun relaif sedikit janin yang terbukti mengalami postmaturitas. belum lengkap 42 minggu sapai habis hari ke tujuh. meskipun telah masuk minggu ke 42. setidaknya sebagian. Jika umur kehamilan 35 minggu atau lebih persalinan dapat dilanjutkan dan kebanyakan bayi yang lahir pada usia ini akan berkembang lebih baik jika diberikan perawatan yang tepat setelah lahir. bidan harus menghubungai dokter dan wanita dirujuk ke RS dengan fasilitas perawatan neonatus. Jadi secar teknis kehamilan memanjang dapat dimulai pada hari 294 atau pada hari 295 setelah hari pertam haid terakhir. 88 . 2) Postmatur Postmatur kehamilan yang sudah melampaui masa kehamilan yang dianggap berada diatas batas normal. adalah 42 minggu lengkap (294 hari) atau lebih sejak hari pertama haid terakhir. Definisi standar yang direkomendasikan secara internasional untuk kehamilan memanjang. didukung oleh American College of Obstetricians and Gynecologist (1997) . Tekanan pada pelvik 5. mengapa sekitar 10 persen kehamilan mencapai 42 minggu.

bahwa terjadi penurunan oksigen pada janin yang postterm. Patofisiologi 1) Sindrom posmatur Bayi postmatur menunjukan gambaran yang khas. mengelupas lebar-lebar. Janin yang terus tumbuh menunjukan bahwa fungsi plasenta tidak terganggu. meskipun 89 . yaitu berupa kulit keriput. Janin posterm mungkin terus bertambah berat badannya sehingga bayi tersebut luar biasa beras pada sat lahir. Syndrome ini terjadi pada sekitar 10 % kehamilan antara 41 dan 43 minggu serta meningkat menjadi 33 % pada 44 minggu. Insidensi sindrom postmaturitas pada bayi berusia 41. dan maturitas lanjut karena bayi tersebut matanya terbuka. badan kurus yang menunjukan pengurasan energi. dan 43 minggu masing-masing belum dapat ditentukan dengan pasti.banyak bayi postmatur Clifford mati dan banyak yang sakit berat akibat asfiksia lahir dan aspirasi mekonium.semua kehamilan yang dietapkan sebagai 42 minggu lengkap harus ditangani seolah-olah memanjang abnormal. 42. Kuku biaanya cukup panjang. pertumbuhan janin yang berlanjut. 2) Disfungsi plasenta Kadar eritroprotein plasma tali pusat meningkat secara signifikan pada kehamilan yang mencapai 41 minggu atau lebih dan meskipun tidak ada apgar skor dan gas darah tali pusat yang abnormal pada bayi ini. Biasanya bayi postmatur tidak mengalami hambatan pertumbuhan karena berat lahirnya jarang turun dibawah persentil ke-10 untuk usia gestasinya. Memang. Berapa bayi yang bertahan hidup mengalami kerusakan otak. Oligohidramnion yang menyertainya secara nyata meningkatkan kemungkinan postmaturitas. Kulit keriput telihat sekali pada bagian telapak tangan dan telapak kaki.

bersifat prediktif terhadap gawat janin intrapartum. Bahwa pertumbuhan janin terhambat menyertai kasus lahir mati pada usia gestasi 42 minggu atau lebih.. (1998) dan Clausson. adalah cirri khas gestasi antara 38 dan 42 minggu. diukur dengan USG. Dilatasi 90 . makna klinis pertumbuhan janin terhambat pada kehamilna yang seharusnya tanpa komplikasi tidak begitu diperhatikan. mungkin juga pengeluaran mekonium oleh janin ke dalam volume cairan amnion yang sudah berkurang merupakan penyebab terbentuknya mekonium kental yang terjadi pada sindrom aspirasi mekonium. Divon dkk. Penurunan volume cairan amnion biasanya terjadi ketika kehamilan telah melewati 42 minggu.. 3) Gawat janin dan Oligohidramnion Alas an utama meningkatnya resiko pada janin posterm adalah bahwa dengan diameter tali pusat yang mengecil. seperempat kasus lahir mati yang terjadi pada kehamilan memanjang merupakan bayi-bayi dengan hambatan pertumbuhan yang jumlahnya relatif kecil ini. 4) Pertumbuhan janin terhambat Hingga kini.000 wanita antara 1987 sampai 1998 menggunakan akte kelahiran medis nasional swedia. Morniditas dan mortalitas meningkatkan secara signifikan pada bayi yang mengalami hambatan pertumbuhan. Memang. terutama bila disertai dengan ologohidramnion. (1999) telah menganalisis kelahiran pada hampir 700. 5) Serviks yang tidak baik Sulit untuk menunjukan seriks yang tidak baik pada kehamilan memanjang karena pada wanita dengan umur kehamilan 41 minggu mempunyai serviks yang belum berdilatasi. demikian juga untuk bayi lahir aterm.kecepatannya lebih lambat.

postmatur. shipilis. seperti suply normal nutrisi dan oksigen tidak dapat menjangkau bayi disebabkan plasenta atau masalah sirkulasi. penyakit ginjal kronik. dan tempat yang tinggi mungkin masuk ke dalam kelompok ini. tetapi obat atau persilangan dari ibu ke janin menghambat pertumbuhan normal seperti penyakit malaria. SGA=preterm) IUGR dapat dibagi ke dalam 3 kelompok utama: 1) IUGR kerena insufisiensi plasenta Kelompok ini potensial untuk tumbuh normal. Pada kelompok ini menyebabkan 2-3 bayi pertumbuhannnya terhambat. preeklamsi. Iskemi cepat merusak plasenta kerusakan suply pengangkut O2 dan nutrisi ke janin. 3) Inta Uterin Growth Retardation (IUGR) IUGR adalah keadaan dimana janin dalam uterus tidak dapat tumbuh normal (BBLR=LBW. hipertensi kronik dan masalah atau penyakit yang berhubungan dengan keadaan tersebut. Penyebab kerusakan arteri spiral ibu dalam plasenta belum diketahui dengan jelas. radiasi juga memeberikan kontribusi. Obat-obat berbahaya seperti alkohol. rubela cytomegalivirus. seperti kehamilan kembar. rokok. menyebabkan anoksia janin dan mungkin kematian. toxoplasmosis. 2) IUGR karena faktor lingkungan Janin mempunyai kemungkinan untuk tumbuh normal. 91 . ibu yang tua. diabetes melitus. tetapi patologi dalam supply pembuluh darah ke plasenta. penyakit jantung atau seperti penyakit kolagen.serviks adalah indicator prognostic yang penting untuk keberhasilan induksi dalam persalinan. tetapi sebagai predisposisi: Insufisiensi plasenta. Plasenta previa dan solusio plasenta.

Penyakit pernafasan . Perhatian medis tidak adekuat 6.Berkurangnya kontraksi otot uterus .Penyakit jantung. Obesitas 9. Sosial ekonomi yang rendah 2. Kurangnya pemeriksaan kesehatan ibu saat kehamilan 7. Umur sangat muda dan sangat tua 8. sianosis . penyakit endemik. Racun. hipoglikemia ibu (dalam kasus yang ekstrim) 92 .Tempat tidur . alkohol dan pengaruh teratogenik Penyebab uterus Malformasi uterus kongenital Penurunan oksigen . Riwayat reproduksi yang jelek 12. Diet tidak adekuat karena kemiskinan dan keadaan malabsorpsi 5. Jarak kelahiran pendek 4. Pengaruh ras. nikotin. kelaparan dan genetik 10. Penyebab Umum 1. Kepribadian.Anemia. Kejadian ini lebih menonjol di negara-negara yang sedang berkembang. Pada kelompok ini meliputi: malformasi janin dan gangguan genetik. sikap terhadap bayi 11. gangguan sel darah Pengurangan nutrisi dan karena plasenta .3) IUGR karena faktor intrinsik Di sini janin tidak mempunyai atau kehilangan pertumbuhan normal segera setelah konsepsi. Menikah dini 3.DM. seperti: obat.

Tali pusat biasanya kecil dan lebih cepat kering daripada bayi normal 9.Hemolisis: gangguan sel darah merah Karakteristik bayi SGA saat lahir 1.Kembar. Mengelupas. Mekonium ada pada: kulit.Penyakit kecil plasenta juga disebabkan oleh pemisahan preterm.Kelainan dari tali pusat .kasar dan lurus 8. potters syndrome . Kulit kering dan bersisik c.Genetik (metabolik atau kromosom ) . oleh infark atau hemangioma Penyebab janin . panjang dan lemah 93 . Kurang jaringan subkutan 2.Berkurangnya aliran uterus. tali pusat 6.Abnormalitas: Anenchepalus. Terdapat ciri-ciri: a. Beberapa bayi nampak dengan penurunan berat badan 7. Tulang kartilagosudah berkembang baik kurus. Bayi aktif dan lapar pada saat lahir 10.Kelainan plasenta atau plasenta previa . Alert atau posisi siap siaga d. Berkeriput b. Kulit: a. Penampilan bayi 3. kuku. mempunyai lipatan pada telapak kaki b. kehamilan multipel . Bayi lemah dan nampak dehidrasi 4. Mata melotot c.. Ekspresi ketakutan 5. Rambut jarang atau tipis. trombus dalam pembuluh darah janin dari satu arteri tali pusat .

Kegagalan uterus dan janin untuk tumbuh normal rata-rata di atas periode 4 minggu 2. Pemantauan dengan teiti sampai melewati kelahiran 3. Bila selaput ketuban robek. polihidramnion atau bayi besar.11. Pengukuran lingkar perut ibu (pada setinggi pusat). bila lebih dari 100 cm kemungkinan kehamilan kembar. Berat badan tidak bertambah 4. Melaksanakan instruksi dokter dengan teliti Manajemen saat persalinan 1. ada mekonium dalam caiaran amnion harus menjadi perhatian dan laporkan pada dokter 4. Dicurigai adanya suatu kelainan maka segera rujuk ke rumah sakit terdekat atau pada dokter 3. Bayi dengan IUGR hendaknya lahir di rumah sakit yang mempunyai fasilitas khusus perawatan intensif 2. jika servik belum matang diberi prostaglandin atau infus oksitosin sambil di lakukan monitoring dengn CTG memantau janin mengakibatkan fetal distres 94 . Cek ulang perkirakan persalinan 7. Jika servik matang dan dilakukan induksi. Pemeriksaan pada setiap kunjungan ANC dengan teliti 2. Pergerakan janin berkurang 5. Tulang kepala keras tetapi ukuranya kecil 12. Bayi mempunyai perutbentuk perahu (scapehoid) 13. TFU kurang dari 2 cm dari umur kehamilan 3. Kepala sering lebih besar dari ukuran tubuh Pedoman untuk mendiagnosis IUGR 1. Sbelum induksi. lakukan monitoring dengan teliti dan tentukan persalianan pervginam atau SC 5. Manajemen bidan selama kehamilan 1. Cairan amnion berkurang 6.

Penyakit paru atau TBC i. Diabetes melitus b. Riwayat SC sebelumnya 4) IUFD (Intrauterin Fetal Death) IUFD atau stilbirth adalah kelahiran hasil konsepsi dalam keadaan mati yang telah mencapai umur kehamilan 28 minggu (atau berat badan lahir lebih atau sama dengan 1000gr) Penyebab 1. Plasenta previa 2. Tanda pertama fetal distres b. Polihidramnion dan oligohidramnion e. Insufisiensi plasenta b. CPD e. Induksi gagal c. Faktor plasenta a. Malpresentasi d. Preeklampsi dan eklampsi c. Sevik tidak matang dengan beberapa keadaan seperti: preeklamsi atau DM f.6. Nefritis kronis d. Inkompatability rhesus j. Solusio plasenta d. Shipilis f. Indikasi SC: a. Infark plasenta c. Hipertensi h. Faktor ibu a. AIDS 95 . Penyakit jantung g.

Tali pusat pendek 6. 2. Lilitan tali pusat c. Faktor janin a. Prematuritas b. Vassa praevia d. Anastesi d. Pemeriksaan hormon untuk melihat fungsi plasenta 96 . Faktor intrapartum a. Persalinan presipitatus f. payudara melembut. Tidak diketahui faktor penyebabnya Gejala klinis dan diagnosis Untuk menentukan stillbirth dapat ditentukan melalui: 1. Partus macet e. Perdarahan antepartum b. Postmaturitas c. kadang ada bercak cairan kecoklatan dari vagina. Partus lama c. Prolapsus tali pusat b. Persalinan sungsang g. Gejala klinis kematian janin Ukuran uterus mengecil dibandingkan dengan ukuran seharusnya 3. Kelainan bawaan d. Obat-obatan 4. Faktor tali pusat a. Riwayat Tidak merasakan gerakan janin selama 3 hari.3. Perdarahan otak 5. tidak ada pembesaran perut.

involusio rahim.Didapatkan kadar estriol urin atau estriol darah yang sangat menurun dibandingkan pada saat kehamilan. membran dan plasenta diperiksa 2. dan reduksi cairan yang abnormal Manajemen untuk pencegahan kematian janin 1. terlihat penumpukan tulang tengkorak. Medeteksi gejala awal IUFD atau tanda fetal distres Manajemen pada saat IUFD terjadi 1. 4. Pasien di rujuk ke dokter segera setelah diketahui IUFD 2. USG Tidak terlihat djj dan nafas janin. jamgan merokok. obatobatan dan hati-hati terhadap infeksi atau bahan-bahan yang berbahaya 2. Bidan memberikan dukungan emosional kepada pasien maupun keluarga pasien Manajemen setelah persalinan 1. ukuran biparietal janin setelah 30 minggu terlihat tidak bertambah panjang pada setiap minggu. tidak meminum minuman beralkohol. tidak terlihat struktur janin. Memeberikan nasehat pada waktu ANC mengenai keseimbangan diet makanan. Melakuak kunjungan rumah untuk melihat KU pada masa postpartum misalnya laktasi. Setelah bayi lahir kemudian diperiksa dan ditimbang. Mendeteksi secara dini faktor-faktor predisposisi IUFD dan pemberian pengobatan 3. Bidan memberikan dukungan emosional pada pasien dan keluarganya 3. Bila setelah terdiagnosa pasti bidan dapat melahirkan bayinya di bawah pengawasan dokter 3. terlihat kerangka yang bertumpuk. Dokter melakukan pemeriksaan untuk menentukan penyebab kematian 4. badan dan tunkai janin tidak terliaha bergerak. dan perencanaan KB 97 .

umur. Juga obat klomid dan hormon gonadotropin yang dipergunakan untuk menimbulkan ovulasi dapat menyebabkan kehamilan dizigotik. Ini terjadi karena tromboplastin dilepaskan kedalam sirkulasi dari jaringan janin yang mati dan terjadi mekanisme kloding blood. jika kelahiran spontan tidak terjadi dalam 3-4 minggu resiko DIC meningkat. Etiologi Bangsa. tetapi wanita dengan kehamilan kembar memerlukan pengawasan dan perhatian khusus bila diinginkan hasil yang memuaskan bagi ibu dan janin. Jika telur-telur yang diperoleh dapat dibuahi lebih dari satu dan jika semua embrio yang kemudian dimasukkan ke dalam rongga rahim ibu tumbuh berkembang lebih dari satu. Faktor penghambat yang 98 . Akibatnya terjadi penurunan tingkat fibrinogen serum dan jumlah flatelet untuk mendiagnosis kondisi tersebut gambaran penggumpalan harus ada pada wanita dengan IUFD dan sekali atau dua kali seminggu selama wanita itu melahirkan.faktor tersebut dengan mekanisme tertentu menyebabkan matangnya 2 atau lebih folikel de graf atau terbentuknya 2 ovum atau lebih dalam satu folikel. Diperkirakan sebabnya ialah faktor penghambat pada masa pertumbuhan dini hasil konsepsi. hereditas. Pada kembar yang lebih dari satu telur. faktor bangsa. umur dan paritas tidak atau sedikit sekali mempengaruhi terjadinya kehamilan kembar. Bahaya bagi ibu tidak begitu besar. herediter. d) Kehamilan Ganda Kehamilan kembar ialah satu kehamilan dengan dua janin atau lebih.Manajemen Sedikitnya 70% wanita akan melahirkan secara spontan dalam 2 minggu kematian bayi dan lainnya akan lahir kurang dari 2 minggu. dan paritas hanya mempunyai pengaruh terhadap kehamilan kembar yang berasal dari 2 telur.

maka akan terjadi kehamilan kembar dengan 2 amnion. Pada kehamilan kembar monoamniotik kematian bayi masih sangat tinggi. Bila faktor penghambat terjadi setelah blastula tetapi sebelum amnion terbentuk. kadang-kadang 2 plasenta menjadi 1. Kembar dizigotik mempunyai 2 plasenta. keadaan ini tidak dapat dibedakan dengan kembar dizigotik. mempunyai 2 amnion. Kkirakira 1/3 kehamilan kembar adalah monozigotik. 2 korion dan 2 plasenta. 2 korion dan 2 plasenta seperti pada kehamilan kembar dizigotik. Jenis kelamin sama atau berbeda. homolog atau uni ovuler. 2/3 mempunyai 1 plasenta. Jenis 1. Kehamilan kembar monozigotik Kehamila kembar yang terjadi dari satu telur disebut kehamilan monozigotik atau disebut juga identik. 99 .mempengaruhi segmentasi sebelum blastula terbentuk menghasilkan kehamilan kembar dengan 2 amnion. Letak Dan Presentasi Janin Pada umumnya tidak besar dan cairan amnion lebih banyak daripada biasa. 2 korion dan 2 amnion. Kehamilan kembar dizigotik Kira-kira 2/3 kehamilan kembar adalah dizigotik yang berasal dari 2 telur. mereka berbeda seperti anak-anak lain dalam keluarga. Yang paling sering ditemukan kedua janin dalam letak memanjang dengan presentasi kepala kemudian menyusul presentasi kepala dan bokong. 2. misalnya dari letak lintang menjadi letak sungsang. sehingga sering terjadi perubahan presentasi dan posisi janin. sebelum primitive streak tampak maka akan terjadi kehamilan kembar dengan 1 amnion. disebut juga heterolog binovuler atau fraternal. 1 korion dan atau 2 amnion. Setelah primitif streak terbentuk maka akan terjadi kembar dempet dalam berbagai bentuk. Kadang-kadang 2 plasenta menjadi 1. Demikian pula letak janin kedua dapat berubahsetelah kelahiran janin pertama.

keduanya presentasi bokong, presentasi kepala dan bahu, presentasi bokong dan bahu dan yang paling jarang keduanya presentasi bahu. Diagnosis Diagnosis kehamilan kembar dapat ditegakan jika ditemukan hal-hal sebagai berikut: 1. Besarnya uterus melebihi lamanya amenorhoe 2. Uterus tumbuh lebih cepat daripada biasanya pada pemeriksaan ulang 3. Penambahan berat badan ibu yang tidak disebabkan oleh edema atau obesitas. 4. Banyak bagian kecil yang teraba 5. Teraba tiga bagian besar janin 6. Teraba 2 balotemen Diagnosis pasti dapat ditentukan dengan: 1. Teraba 2 kepala, 2 bokong, dan 1 atau 2 punggung 2. Terdengan 2 denyut jantung yang letaknya berjauhan dengan perbedaan kecepatan paling sedikit 10 denyut per menit 3. Sonogram dapat mendiagnosa kehamilan kembar pada triwulan pertama 4. Rontgen photo abdomen Diagnosis Banding 1. Hidramnion Dapat menyertai kehamilan kembar, kadang kelainan hanya terdapat pada satu kantong amnion dan yang lainnya oligohidramnion. Pemeriksaan USG dapat enentukan apakah pada hidramnion ada kehailan kembar atau tidak. 2. Kehamilan dngan mioma uteri atau kistoma ovarii

100

Tidak terdengarnya 2 jantung pada pemeriksaan berulang, bagian besar dan kecil yang sukar digerakan, lokasinya yang tidak berubah, dan pemeriksaan rontgen dapat membedakan kedua hal tersebut. Komplikasi 1. Ibu a. Anemia b. Hipertensi c. Partus premeturus d. Atonia uteri e. Perdarahan pasca persalinan 2. Bayi a. Hidramnion b. Malpresentasi c. Plasenta previa d. Solusio plasenta e. Ketuban pecah dini f. Prolapsus funikuli g. Pertumbuhan janin terhambat h. Kelainan bawaan i. Morbiditas dan mortalitas perinatal meningkat Penanganan Dalam Kehamilan Pemeriksaan Antenatal lebih sering. Mulai kehamilan 24 minggu pemeriksaan dilakukan tiap 2 minggu, sesudah kehamilan 36 minggu tiap minggu, sehingga tanda-tanda preeklampsi dapat diketahui dini dan penanganan dapat dikerjakan dengan segera. Setelah kehamilan 30 minggu, perjalanan jauh dan koitus sebaiknya dialarang karena dapat merupakan faktor predisposisi partus prematurus.

101

Anemia hipokrom tidak jarang terjadi pada kehamilan kembar karena kebutuhan besi 2 bayi dan penambahan volume darah ibu sangat meningkat. Pemberian sulfas ferosus 3x100 mg secara rutin perlu dilakukan. Selain zat besi dianjurkan untuk memeberikan asam folik sebagai tambahan. Penanganan Dalam Persalinan Semua persiapan untuk resusitasi dan perawatan bayi prematur disediakan. Golongan darah ibu sudah ditentukan dan persediaan darah diadakan mengingat kemungkinan paerdarahan postpartum lebih besar. Pemakain sedative perlu dibatasi. Episiotomi mediolateral dikerjakan untuk memperpendek kala pengeluaran dan mengurangi tekanan pada kepala bayi. Setelah bayi pertama lahir, segera dilakukan pemeriksaan luar dan vaginal untuk mengetahui letak dan keadan janin kedua. Bila janin dalam letak memanjang, selaput ketuban dipecahkan dan air ketuban dialirkan perlahan-lahan untuk menghindarkan prolapsus funikulli. Penderita dianjurkan meneran atau dilakukan tekanan terkendali pada fundus uteri, agar bagian janin masuk dalam panggul. Janin kedua turun dengan cepat sampai kedasar panggul dan lahir spontan karena jalan lahir telah dilalui anak pertama. Bila janin kedua dalam letak lintang denyut jantung janin tidak teratur, terjadi prolapsus funikulli atau solusio plasenta, atau bila persalinan spontan tidak terjadi dalam 15 menit, maka janin perlu dilakirkan dengan obstetrik karena resiko akan meningkat dengan meningkatnya waktu. Dalam letak lintang dicoba untuk mengadakan versi luar dan bila tidak berhasil maka segera disuntdilakukan versi ekstraksi tanpa narkosis. Pada janin dalam letak memanjang dapat dilakukan ekstraksi cunam pada letak kepala dan ekstraksi kaki pada letak sungsang. SC dilakukan atas indikasi janin pertama dalam letak lintang, prolapsus

102

funikuli, plasenta previa. Bila terjadi interloking, bila keadaan tidak bisa dilepaskan dilakukan dekapitasi atau SC menurut keadaan janin. Setelah anak kedua lahir penderita disuntik 10 satuan oksi dan tingginya fundus uteri diawasi. Jika ada tanda-tanda pelepasan plasenta maka plasenta dilahirkan. Kala IV diawasi secara cermat agar perdarahan post parrtum dapat diketahui dini dan penanggulangan dapat dilakukan dengan segera. Prognosis 1. Anemia 2. Preeklamsi dan eklamsi 3. Operasi obstetrik dan perdarahan post partum.

Gambar 2.4. Posisi Janin Kembar e) Kelainan Air Ketuban 1) Polihidramnion Suatu keadaan dimana jumlah air ketubanjauh lebih banyak dari normal, biasanya lebih dari 2 liter.

103

Perjalanan penyakit 1) Hidramnion kronis Pertambahan air ketuban terjadi secara perlahan-lahan dalam beberapa minggu atau bulan, dan biasanya terjadi pada kehamilan lanjut 2) Hidramnion Akut Terjadi pertambahan air ketuban yang sangat tiba-tiba dan cepat dalam waktu beberapa hari saja Hidramnion banyak ditemukan pada kasus-kasus: 1) penyakit jantung 2) nefritis 3) edema umum 4) anamali kongenital (pada anak); seperti anencepali, spinadifida atresia atau striktur esofagus, hydrocepalus dan struma blockling oesophagus 5) simpul tali pusat 6) DM 7) Gemelli uniovulair 8) Malnutrisi 9) Penyakit kelenjar hipofisis Diagnosis 1) Anamnesis a). Perut lebih besar dan terasa lebih berat dari biasa b). Pada yang ringan keluhan-keluhan subyektif tidak banyak c). Pada yang akut dan pada pembesaran uterus yang cepat terdapat keluhan-keluhan d). Nyeri perut karena tegangnya uterus mual dan muntah e). Oedema pada tungkai, vulva dan dinding perut

104

karena banyaknya cairan kadang bayangan janin tidak jelas b). Kelihatan perut sangat buncit dan tegang. sesak. Jika akut. bisa syok. Karena bebasnya janin bergerak dan tidak terfiksir maka dapat terjadi kesalahan-kesalahan letak janin 4) Auskultasi DJJ sukar didengar dan jika terdengar hanya sekali 5) Rontgen foto abdomen a). Nampak bayangan terselubung kabut. 2) Inspeksi a). kulit perut berkilat. Kalau pada letak kepala.f). retak-retak kulit jelas dan kadang-kadang umbilikus mendatar b). Perut tegang dan nyeri tekan serta terjadi oedema pada dinding perut. vulva dan tungkai b). Bagian janin sukar dikenali d). Fundus uteri lebih tinggi dari umur sesungguhnya c). ibu akan terlihat sesak dan sianosis serta terlihat payah membawa kandungannya 3) Palpasi a). Pada proses akut dan perut besar sekali. berkerigat dingin. Foto rongtgen pada hidramnion bberguna untuk disgnostik dan untuk menentukan etiologi 6) Pemeriksaan dalam Selaput ketuban teraba tegang dan menonjol walaupun diluar his Diagnosa banding 1) Hidramnion 2) Gemeli 3) Asites 4) Kista avanii 105 . kepala janin dapat diraba maka balotement jelas sekali e).

Eritoblastosis 2) Pada ibu a). Komplikasi karena kesalahan letak anak d). Solusio plasenta b). Bila sewaktu pemeriksaan dalam. Kongenital anomali b). Pada hidramnion yang berat dengan keluhan-keluhan harus dirawat di rumah sakit dan bedrest 2) Waktu partus a). masukan jari tangan ke dalam vagina sebagai tampon beberapa lama supaya air ketuban keluar pelan-pelan 3) Post partum a). Bila keluhan hebat. Syok Terapi hidramnion dibagi menjadi 3 fase: 1) Waktu hamil a).5) Kehamilan beserta tumor Prognesis 1) Pada janin a). Hidramnion ringan. Periksa Hb b). ketuban tiba-tiba pecah. Atonia uteri c). jarang diberi terapi klinis cukup diobservasi dan berikan terapi simpotomatis b). Retensio plasenta e). Bila tidak ada hal-hal yang mendesak maka sikap kita menunggu b). Pasang infus 106 . Prematuritas c). seperti sesak dan sianosis maka lakukan transvaginal melalui servik bila sudah ada pembukaan c). Perdarahan post partum d).

Pemberian antibiotik 2) Oligohidramnion Oligohidramnion adalah suatu keadaan dimana air ketuban kurang dari normal yaitu kurang dari ½ liter. Etiologi Sebab pasti belum diketahui dengan jelas. tetapi pada kaki ektensi. sering terjadi pada primiyang prematur 3) Presentesi kaki. sehingga kaki berada dekat kepala.c). Primer Sekunder karena pertumbuhan amnion yang kurang baik ketuban pecah dini Gambaran Klinis 1) Perut ibu kelihatan kurang membuncit 2) Ibu merasa nyeri diperut pada tiap pergerakan anak 3) Persalinan lebih lama dari biasanya 4) Sewaktu his akan terasa sakit sekali 5) Bila ketuban pecah air ketuban sedikit sekali bahkan tidak ada yang keluar f) Kelainan Letak 1) Letak Sungsang Letak sungsang merupakan suatu letak dimana bokong bayi merupakan bagian rendah dengan atau tanpa kaki (keadaan dimana janin terletak memanjang dengan kepala di fundus uteri dan bokong berada di bagian bawah kavum uteri. Tipe ini lebih sering pada multigravida 2) Extended brech (frank brech) pada bayi fleksi. pada posisi ini paha dan lutut bayi fleksi dan kaki menutupi bokong. Ada 4 tipe letak sungsang 1) Complete/flexed brech. 1 atau kedua kaki di bawah bokong 107 .

Penmeriksaan dengan USG atau rontgen dapat mengetahui letak yang sebenarnya pada 108 . polihidramnion memungkinkan terjadinya malpresentasi Diagnosis Diagnosis ditegakan dengan pemerikasaan abdominal.5 letak sungsang Penyebab Presentasi bokong terjadi kurang lebih 3% pada semua persalinan. Pada palpasi di bagian bawah teraba bagian yang kurang keras dan kurang bundar. sementara di fundus teraba bagian yang keras. plasenta letak rendah atau tumor yang menghalangi jalan lahir.4) Presentasi lutut. penyebab pasti dari presentasi bokong belum diketahui secara pasti tetapi dapat terjadi pada persalinan premetur. gande multi. janin berada dalam posisi 1 atau kedua lutut berada di bawah bokong Gamba. 2. Denyut jantung janin terdengar di atas pusat. bundar dan melenting. insufisiensi cairan ketuban. Selain itu kelainan-kelainan seperti hidrosefalus. uterus bikormis.

Kala I persalinan 109 . Anoksia intra dan ekstra uterin 2. 1. Ruptur organ abdomen 6. Setelah kepala masuk ke dalam rongga panggul dapat terjadi tekanan pada kepala pada tali pusat dan ini akan menyebabkan hipoksia janin. Manajemen Persalinan Sungsang Persalinan dianjurkan di rumah sakit di bawah pengawasan dokter ahli obstetri. Kematian bayi pada persalinan sungsang 4 kali lebih besar daripada persalinan biasa. Oedem genital dan memar atau lecet akibat capformation Kejadian anomali kongenital tinggi pada bayi dengan presentasi atau letak sungsang dan terutama pada BBLR. anastesi dan ahli anak. Kerusakan otot dan syaraf terutama pada otot sterno mastoid dan fleksus brachialis 5. Bahaya lain adalah fraktur. Jika ibu tidak partus spontan pada 40 minggu biasanya dilakukan induksi persalinan. Perdarahan intrakranial 3. Kebanyakan dokter ahli kebidanan menganjurkan induksipersalinan pada 38 minggu.pemeriksaan pervaginam teraba bagian lunak anus juga akan teraba bagian sacrum Persalinan sungsang tidak menyebabkan bahaya bagi ibu tetapi menimbulkan hal yang serius bagi bayinya. Bahaya persalinan sungsang dapat di simpulkan sebagai berikut: 1. ruptur organ abdomen dan banyak bahaya untuk otot syaraf. ketika fetus masih agak kecil. Pelepasan plasenta dapat terjadi pada kala II akibat tarikan dari tali pusat. Fraktur dan dislokasi 4.

Kala I persalinan lebih lama daripada letak belakang kepala. Posisi sacrum kiri depan 2. Sacrum kiri/kanan belakang Pertolongan persalinan pada letak sungsang Persalinan letak sungsang dapat ditolong dengan prasar brach ataupun dengan tindakan/extraksi. Sacrum kanan/kiri 4. Pertama-tama kandung kancing dikosongkan ketika bokong belakng meregang perineum diberi anastesi lokal dan dilakukan episiotomi. Jika bokong enganged seperti pada bokong murni dimana terdapat resiko pecah selput ketuban dan prolapsus umbilikal. Kala II persalinan Pemeriksaan vaginal dilakukan untuk mengetahui pembukaan lengkapsebelum menyuruh ibu mengedan. Posisi sacrum anterior kanan 3. posisinya sama dengan letak kepalatetapi pada letak sungsang sacrum sebagai penunjuk. Mekanisme persalinan letak sungsang Hubungan sacrum dengan panggul ibu akanmenentukan posisi janin. Kadang-kadang kontraksi uterus hipotonis sehingga dapat dirangsang dengan pemberian oksitosin. Bokong belakang tampak di vulva dan bokong maju lebih 110 . ibu sebaiknya tidak berjalan-jalan. Ada 4 posisi pada letak sungsang: 1. bokong dapat melalui servik tetapi kepala tidak melalui servik sehinga ibu dilarang untuk mengejan sampai dilatasi servik lengkap 2. Pada saat pembukaan servik tercapai ¾ nya biasanya ibu ingin mengejan.

lubang hidung segera dibersihkan kepala dilahirkan secara perlahan-lahan. Bayi di pegang pada pergelangan kaki dan menggunakan traksi yang halus. Jari tengah menekan oksiput untuk membantu fleksi. asisten menekan daerah supra pubik dengan sehalus mungkin kepala dilahirkan melalui jalan lahir.cepat. Ketika kuduk dan garis rambut sudah tampak menunjukan bahwa kepala akan lahir. Jika kepala dilahirkan dengan cepat dapat terjadi perdarahan intrakranial. tehniknya yaitu dengan menunggangkan bayi apada lengan kiri. Jari tengah dan jari telunjuk tangan kanan disangkutkan pada bahu untuk digunakan sebagai tarikan. Sekarang bayi dalamkeadaan menggantung pada berat badannya. selama beberapa waktu untuk memudahkan penurunan dan fleksi dari kepala. Kepala ditarik ke bawah sampai batas hidung sehingga saluran nafas dapat dibersihkan dan oksigen dapat diberikan segera setelah bayi bernafas. memasukan tiga jari kedalam vagina dan mencari mulut bayi. Metode mauriceau digunakan untuk melahirkan kepala dimana terjadi kelambatan dari penurunan kepala. jalan nafas dibersihkan dan kelahiran 111 . untuk menghindarinya biasanya dengan menggunakan forcep erygey’s atau neville barnes untuk kepala yang sudah lahir hal ini memungkinkan untuk mengontrol kecepatan lahirnya kepala. obatobatan oksitosin diberikan pada ibu segera seteah bayi lahir. Setelah hidung tampak di vulva . Selanjutnya kepala dilahirkan dengan lambat. Mulut dibersihkan dari lendir sehingga bayi bernafas tanpa menghisap cairan lendir. Badan bayi maju sampai sejauh umbilikus kemudian kaki di lepaskan/dilahirkan dengan perlahan-lahan. kemudian memasukan jari tengah ke dalam mulut dan kepala difleksikan. tubuh di simpan di atas abdomen ibu. Tali pusat dilongggarkan pada kontraksi berikutnya bahu akan tampak. Lengan yang normalnya fleksi menyilang di depan dada dengan mudah dilepaskan dan bahu akan lahir. Perineum ditekan dengan jari untuk membuka mulut bayi.

Kelaianan letak paling sering terjadi pada wanita paritas tinggi (grande multipara). sedangkan bahu berada pada pintu atas panggul. bidan menemukan kakus dengan persalinan sungsang.kepala dilakuka dengan cara yang sama. Pada umumnya bokong berada sedikit lebih tinggi daripada kepala janin. pengkerutan pelvis. fibroid uterus yang besar. di belakang (dorsoposterior) atau di bawah (dorsoinferior). selain itu juga ada beebrapa faktor yang mendukung terjadinya letak lintang yaitu: kehamilan ganda. abnormalitas uterus.6. Apabila pada praktek di masyarakat. polihidramnion. bidan harus mengupayakan membawa ibu ke rumah sakit. Faktor lain yang mendukung terjadinya letak lintang adalah plasenta previa. Pada keadaan emergensi bidan dapat melakukan tehnik ini meskipun jarang dilakukan.2. Gambar . Letak Lintang Penyebab Penyebab paling sering adalah kelemahan otot uterus dan abdomen. mengingat bahaya yang dapat ditimbulkan dari persalinan tersebut. 2) Letak Lintang Letak lintang adalah suatu keadaan dimana janin melintang di dalam uterus dengan kepala pada sisi yang satu sedangkan bokong pada sisi yang lain. 112 . Punggung janin dapat berada di depan (dorsoanterior).

Pada setiap kunjungan antenatal dokter seharusnya memeriksa letak. USG dapat digunakan untuk memastikan dignosis untuk mendeteteksi kemungkinan penyebab. Kecenderungan pengembalian posisi letak lintang menjadi posisi letak memanjang sulit dan seringnya beberapa dokter tidak menganjurkan versi chepalik eksternal sebelum kelahiran direncanakan. ibu seharusnya datang ke RS untuk dilakukan versi chepalik eksternal yang dilakukan ditempat kelahiran. pemeriksaan vagina dapat dilakukan untuk mendeteksi abnormalitas pelvik seperti.resiko versi chepalik eksternal adalah terjadinya KPD dan tali pysat menumbung. Jika pemeriksaan USG tidak mendeteksi plasenta previa. Pada palpasi kepala janin atau bokong ditemukan di salah satu bagian fossa iliaca. Manajemen atau penatalaksanaan Dokter dapat mengusahakan untuk membenarkan posisi dengan cara versi external menjadi letak membujur dan presentasi kepala. atau persalinan prematur. presentasi dan mendengarkan DJJ. Pemeriksaan USG dapat mendeteksi abnormalitas fetus dan uterus. Hal ini mungkin diikuti dengan induksi persalinan dengan oksitosin. Palpasi akan teraba kepala janin pada salah satu sisi dan bokong pada sisi yang lain. lebih menonjol ke salah satu bagian abdomen. tetapi tidak ada bagian presentasi yang berada di pelvis. pengerutan pelvis. Ketika paru-paru bayi prematur. engan TFU rendah. terlihat melebar. DJJ dan kontraksi uterus dimonitor secara elektrik dan jika memingkinkan kondisi ibu benar-benar diperhatikan. atau waktu datangnya persalinan. Dalam persalinan ketika kepala 113 .Diagnosis Letak lintang mudah didiagnosis dalam kehamilan dari bentuk uterus. Penekanan pada sisi lateral dapat diterapkan untuk membantu uterus dalam mempertahankan letak memanjang.

Bahu janin dapat dikenali dengan merasakan tulang rusuk atau tangan. Pemeriksaan vagina tidak boleh dilakukan jika ada indikasi plasenta previa. kelainan. penyakit dalam masa kehamilan Komplikasi dan penyulit kehamilan trimester I dan II meliputi: Anemia kehamilan. Kelainan letak. Dalam persalinan. Persalinan seharusnya dapat berjalan dengan normal. Pada beberapa kasus dimana wanita mempunyai riwayat obstetri yang urut. Bidan dapat mendeteksi presentasi bahu dengan cara pemeriksaan abdomen seperti yang dijelaskan diatas dan pemeriksaan vagina. 114 . Perdarahan antepartum. Molahidatidosa Komplikasi dan penyulit kehamilan trimester III meliputi : Kehamilan dengan hipertensi. atau terdapat komplikasi dalam persalinan. Kelainan dalam lamanya kehamilan. jika mendapatka kesulitan untuk membenarkan letak janin setelah selaput ketuban pecah ini tidak mungkin dilanjutkan. Rangkuman Materi Komplikasi. Hyperemesis ravidarum.bayi memasuki rongga pelvis membran dapat ruptur. Jika tindakan pencegahan tersebut tidak dilakukan. bidan seharusnya merujuk ke dokter atau ke pelayanan kegawat daruraan obstetri. Abortus. Kelainan air ketuban. Jika ada kegawat daruratan. Kehamilan ganda. ketika persalinan dimulai bahu janin dapat turun kebawah ke rongga pelvis bagian depan dapat terjadi KPD dan penumbungan tali pusat yang disertai dengan penumbungan lengan janin. KET. Tindakan SC merupakan bentuk kelahiran yang paling aman. SC merupakan cara yang paling aman untuk melahirkan. C.

115 . Adanya gangguan serebral. F. Diskusikan apa perbedaan dari pre eklamsi ringan. Tekanan darah 160/110 mmHg atau lebih b. Terdapat edema paru dan sianosis e. pre eklamsi berat dan eklamsi. Preeklamsia ringan a.D. Proteinuria. dan rasa nyeri di epigastrium Eklamsi meupakan seangan Konvulsi yang tejadi mendadak dalam kehamilan tetapi tidak selalu komplikasi atau kelanjutan dai pre eklamsi. 2. Diskusikan apa bebedaan dari plasenta previa dan solusio Plasenta? E. Hanifa Wiknjosastro. Proteinuria 0. jari. gangguan visus. Solusio Plasenta plasenta lepas sebelum waktunya dimana pedarahannya merah kehitaman disetai nyeri. Edema pada kaki. 5 gr/lt atau lebih c. Plasenta previa adalah letak plasenta yang menutupi jalan lahir dimana perdarahannya merah segar dan tidak disertai rasa nyeri. 2. 2005. Rambu-Rambu Jawaban 1. Hal 104 – 121. Tekanan darah 140/90 mmHg atau kenaikan diastolik 15 mmHg atau lebih (diukur pada posisi berbaring terlentang) atau kenaikan sistolik 30 mmHg atau lebih.3 gr/lt atau 1+ atau 2+ c. muka dan berat badan naik >1 kg/mg Preeklamsia berat a. Cara pengukuran sekurang- kurangnya pada 2x pemeriksaan dengan jarak b. Jakarta : Yayasan Bina pustaka sarwono. Daftar Pustaka 1. Latihan/ Tugas 1. Oliguria (jumlah urine < 500 cc per 2 jam d. Ilmu Bedah Kebidanan.

UK. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Sinopsis Obstetri Jilid I. Jones and Bartlett Publisher Mayes. 8. Hanifa Wiknjosastro. Bandung : Elstar Offset. Hal 606 – 622. YBPSP 6. 4. 3. Bagian OBSGIN FK Universitas Padjadjaran. Midwifery. 2006. Budi Marjono. Jakarta. 1998. Jakarta:FTM Syaifudin. Midwifery. Ilmu Kebidanan. Workshop Kurikulum mata ajar Askeb IV. Tim pengajar Askleb IV. 5. 2005. Jakarta 10. 12 th Edition 2000 Mochtar R. 1999.2. Obstetri Patologi. Buku Panduan Praktis Maternal dan Neonatal. 2001 Varney’s H. Cakul Obgin Plus FKUI. 1997. Hal 173 -178. 2001. tidak diterbitkan 116 . 7. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono. 9.

bila derajat defleksinya lebih berat sehingga dahi merupakan bagian yang paling rendah.BAB IV ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU DENGAN KELAINAN. Uraian materi 1. kepala janin pada waktu melewati jalan lahir berada dalam keadaan fleksi. Mekanisme persalinanya hampir sama dengan posisi oksipitalis posterior persisten. Bergantung pada derajat defleksinya maka dapat terjadi presentasi puncak kepala. terjadi apabila derajat defleksinya ringan. Perbedaanya adalah: pada presentasi puncak kepala tidak terjadi fleksi kepala yang maksimal. sehingga muka janin merupakan bagian yang terendah. KOMPLIKASI DAN PENYAKIT DALAM PERSALINAN A. Konsep Dasar Penyulit Kala I dan Kala II a. Konsep Dasar Kelainan Presentasi dan Posisi 1) Presentasi Puncak Kepala Pada persalinan normal. Kompetensi Dasar Mampu menguraikan konsep dasar penyulit persalinan kala I. sehingga kepala dalam keadaan defleksi. 117 . yang kemudian akan berubah menjadi presentasi belakang kepala. sehingga keduanya seringkali dikacaukan satu dengan yang lainnya. Pada umumnya presentasi puncak kepala merupakan kedudukan sementara.II. sehingga ubun-ubun besar merupakan bagian terendah. B. Presentasi puncak kepala atau disebut juga presentasi sinsiput. III dan IV. Presentasi muka bila derajat defleksinya maksimal. Dalam keadaan tertentu fleksi kepala tersebut tidak terjadi. presentasi dahi a tau presentasi muka. Presentasi dahi. sehingga lingkaran kepala yang melalui jalan lahir adalah sirkumferensia frontooksipitalis dengan titik perputaran yang berada di bawah simpisis adalah glabela.

presentasi tinggi dan tidak bisa diraba. Manuver jarang dilakukan pada presentasi muka. tindakan yang paling aman untuk ibu dan bayi adalah dengan menggunakan SC. Manajemen Bidan harus dengan cepat menghubungi dokter jika ada suspek atau diagnosa presentasi dahi dalam persalinan. Jika presentasi dahi menetap dan fetus dalam ukuran normal tidak mungkin terjadi kelahiran pervaginam dan SC harus segera dilakukan. orbital berada pada satu sisi dan fontanel anterior berada pada sisi yang lain. dan seharusnya ibu dirujuk ke RS. 3) Presentasi Muka Presentasi Muka jarang terjadi kira-kira 1 dalam 500 kelahiran. Diagnosis dapat ditegakkan dengan radiografik atau dengan USG. Pada semua malpresentasi seringnya terjadi KPD dan resiko prolapsus tali pusat lebuh besar. terjadi hanya 1 dari 2000 persalinan. Kepala pada pertengahan antara versi dan ekstensi. Oleh karena itu pemeriksaan pervaginam dilakukan sesegera mungkin untuk mendeteksi prolapsus tali pusat. Pada pemeriksaan vagina. dengan diameter mento vertikal 13 cm. Kepala dan tulang belakang ekstensi tetapi lutut fleksi sehingga letak 118 . Jika dahi dapat teraba.2) Presentasi Dahi Presentasi dahi jarang terjadi dari pada presentasi muka. teraba lekukan antara oksiput dengan bagian belakang. Jika presentasi dahi didiagnosis segera dalam persalinan dapat mengubah presentasi muka menjadi ekstensi penuh atau fleksi pada presentasi verteks. Diagnosis Pemeriksaan abdomen kepala sangat tinggi dan diameter sangat besar.

Fetus goitre. 119 . kepala tidak dapat versi biasanya tonus otot ekstensor tonus berlebuhan dan bertahan dalam sikap ekstensi pada beberapa setelah lahir. Suaranya terdengar jelas pada posisi mento anterior. Diagnosis Presentasi muka tidak mudah didiagnosis dalam kehamilan. Presentasi muka sekunder yang berkembang dalam persalinan sering tidak diketahui sebabnya. kepala ekstensi dan muka terlihat. Pada posisi oksipito pesterior defleksi diameter biparietal mungkin mempunyai kesulitan dalam menjauhi diameter sacro cotyloid dari pelvis maternal. Penyebab Pada presentasi muka primer sebelum persalinan berlangsung fetus seringnya abnormal. Uterus yang berada disisi samping (uterus obliq). Internum. Bunyi jantung terdengar melalui dinding dada anterior pada sisi dimana lutut teraba. Pada posisi mento posterior bunyi jantung janin lebih sulit terdengar karena dada pada posterior. Kekuatan kontraksi uterus berjalan kearah kepala bagian frontal supaya kepala ekstensi dan masuk kerongga pelvis. dalam rongga pelvis dan pada prematuritas dan dimana terjadi polihidramnion atau kehamilan ganda. Presentasi muka juga lebih sering terjadi pada flat pelvis. Hal ini seharusnya diperhatikan jika ada lekukan yang dalam antara kepala dengan bagian belakang. Ultrasound dalam kehamilan dapat digunakan untuk memastikan diagnosis presentasi muka.fetus dalam uterus dalam bentuk huruf S. vertek tidak ada. Pada anensephalus yang biasa terjadi. Diameter bitemporal lebih cepat turun. Oksiput berlawanan dari bahu dan muka secara langsung yang berada dibagian os.

kepala difleksikan sehingga memungkinkan verteks dan oksiput melewati perineum. meliputi. Presentasi muka posterior. Jika kelahiran normal terjadi ekstensi dipertahankan dengan menekan sinsiput hingga dagu berada di bawah simpisis pubis. Obstruksi persalinan.5 cm. Pada kala II kelahiran normal diantisipasi dengan menggunakan episiotomi meskipun diameter sub mento bregmatika 9. Prolapsus tali pusat 2. Sub mento vertikal 11. Kemajuan persalinan menjadi sangat sulit pada pemeriksaan pervaginam untuk membedakan muka karena muka menjadi oedemmeriks. dengan palpasi yang lembut akan teraba orbital dan mulut dengan gusi. Komplikasi Komplikasi yang dapat terjadi pada presentasi muka. a. Muka tidak berbentuk dan oleh karena CPD yang tidak dapat ditangani 120 . Presentasi muka didiagnosa dengan menentukan posisi dagu apakah anterior atau posterior. Posisi mento lateral dan mento posterior lebih berbahaya.Diagnosis dapat ditegakan dengan pemeriksaan vagina. 1. Pemeriksaan harus hati-hatiuntuk menghindari trauma pada mata. Manajemen Pada posisi mento anteerior seringnya proses persalinan berjalan normal. yang tidak bisa berputar ke posisi anterior. Kelahiran spontan tidak akan terjadi. kemungkinan persalinan obstruksi dan dibutuhkan penatalaksanaan dengan segera. Adanya gusi dan mulut dalam presentasi muka harus dibedakan dari anus pada presentasi bokong. Biasanya fetus akan membantu diagnosis dengan menghisap jari tangan pemeriksa saat dilakukan pemeriksaan. akan menyebabkan obstruksi persalinan. karena.5 cm yang dapat merobek perineum saat kelahiran.

3. dahi dan muka 4) Posisi Oksipitalis Posterior Persisten Keadaan dimana ubun-ubun kecil tidak berputar ke depan. 5. Etiologi Salah satu sebab terjadinya posisi oksipitalis oksiput posterior persisten ialah usaha penyesuaian kepala terhadap bentuk dan ukuran panggul. sehingga tetap dibelakang. puncak kepala. meskipun diameter sub mento bregmatik hanya 9. Keadaan ini dinamakan posisi oksiput posterior persisten. Presentasi muka posterior presisten mengakibatkan obstruksi persalinan 3.5 cm akan memperlebar vagina dan perineum. maka ubun-ubun kecil akan mengalami kesulitan memutar ke depan.1 Presentasi belakang kepala.5 cm. Sebab-sebab lain adalah otot-otot dasar panggul yang sudah lembek pada multipara atau kepala 121 . Misalnya: apabila diameter anterior posterior lebih panjang dai diameter transfersa seperti pada panggul antropoid atau segmen depan menyempit seperti pada panggul android. sub mento vertikal 11. Bentuk tengkorak fetus abnormal disebabkan perdarahan intrakranial. Kelahiran operasi mungkin dibutuhkan 4. Muka memar dan oedem Gambar. Trauma perineum berat dapat terjadi karena.b.

kemungkinan kerusakan jalan lahir lebih besar. kedua keadaan tersebut dapat menimbulkan kerusakan pada vagina dan erineum yang luas. untuk memutar ke depan. Prognosis Jalannya pada proses persalinan posisi oksiput posterior sulit diramalkan hal ini disebabkan karena kemungkinan timbulnya kesulitan selalu ada. oksiput akan lahir melalui perineum diikuti bagian kepala yang lain. Mekanisme Persalinan Bila hubungan antara panggul dengan kepala janin cukup longgar persalianan pada posisi oksipitalis posterior persisten dapat berlangsung secara spontan tetapi pada umumnya lebih lama. Kelahiran janin dengan ubun-ubun kecil di belakang menyebabkan regangan yang besar pada vagina dan perineum. Persalinan pada pada umumnya berlangsung lebih lama.janin yang kecil dan bulat. Kepala janin akan lahir dalam keadaan muka di bawah simpisis dengan mekanisme sebagai berikut. Setelah kepala mencapai dasar panggul dan ubun-ubun besar berada di bawah shimpisis dengan ubun-ubun besar tersebut sebagai hipomoklion. Sedangkan kematian peeinatal perinatal lebih tinggi bila dibandingkan dengan keadaan dimana ubun-ubun kecil berada di depan. sehingga kepala lahir melalui pintu bawah panggul dengan sirkumferensia frontooksipitalis yang lebih besar dibandingkan dengan sirkumferensia sub oksipitooksipitalis. 122 . hal ini disebabkan karena kepala yang sudah dalam keadaan fleksi maksimal tidak dapat menambah fleksinya lagi. sehingga tidak ada paksaan pada belakang kepala janin. Selain itu seringkali fleksi kepala tidak dapat maksimal.

dan kandung kencing serta rectum 123 . turunnya kepala janin dalam panggul dan keadaan panggul. Untuk sampai pada kesimpulan ini diperluakan kenyataan bahwa sebagai akibat kontraksi terjadi perubahan pada servik yaitu pendataran atau pembukaan servik Penanganan Setelah diagnosis inersia uteri ditetapkan. sebaiknya diambil keputusan untuk melakukan SC. Keadaan ini dinamakan posisi lintang tetap rendah (deep tranverse arrest). Apabila ada disproporsi chepalopelvik yang berarti. KU pasien sementara diperbaiki. Pada presentasi belakang kepala kadang-kadang kala II mengalami kemacetan dengan kepala janin sudah berada di dasar panggul dan posisi UUK melintang. keadaan ini dinamakan inersia uteri primer atau hypotonic uterine contraction. Konsep Dasar Distosia Kelainan Tenaga Atau His 1) His Hipotonik Kelainan dalam hal bahwa kontraksi uterus lebih aman. Diagnosis inersia uteri paling sulit dalam fase laten. b. harus diperiksa keadaan servik. Kontraksi uterus yang disertai rasa nyeri tidak cukup untuk membuat diagnosis bahwa persalinan sudah dimulai. presentasi serta posisii janin. Tindakan untuk mempercepat jalanya persalinan dilakukan apabila kala II terlalu lama atau ada tanda-tanda bahaya terhadap janin. singkat dan jarang daripada biasa.Penanganan Menghadapi persalinan dengan UUK di belakang sebaiknya dilakuka pengawasan persalinan yang seksama dengan harapan terjadinya persalinan spontan. Kalau timbul setelah berlangsungnya his kuat untuk waktu yang lama hal ini dinamakan dengan inersia uteri sekunder.

vagina dan perineum. Penanganan Pada partus presipitatus tidak banyak yang dapat diilakukan karena biasanya bayi sudah lahir tanpa ada seseorang yang menolong. Bahaya partus presipitatus bagi ibu ialah terjadinya perlukaan luas pada jalan lahir. Batas antara bagian atas dan segmen bagian bawah atau lingkaran retraksi menjadi sangat jelas dan meninggi. Oksitosin yang diberikan dengan suntikan IM akan dapat menimbulkan incoordinate uterin action. His ng terlalu kuat atau terlalu efisien menyebabkan persalinan selessai dalam waktu yang sangat singkat (partus presipitatus): sifat his normal.dikosongkan. 5 satuan oksitosin dimasukan ke dalam larutan glukosa 5% dan diberikan secara infus IV (dengan kecepatan kira-kira 12 tetes permenit yang perlahan dapat dinaikan sampai kira-kira 50 tetes. Untuk merangsang his selain dengan pemecahan ketuban bisa diberikan oksitosin. Lingkaran tersebut dinamakan dengan lingkaran retraksi patologis (lingkaran bandl). Oleh 124 . kelainannya terletak pada kekuatan his. apabila kepala atau bokong janin sudah masuk ke dalam panggul. Kalau seorang wanita pernah emengalami partus presipitatus kemungkinan besar kejadian ini akan berulang pada persaliann selanjutnya. Kalau 50 tetes tidak dapat berhasil bisa dengan memeberikan dosis lebih tinggi dengan cara pasien harus di awasi dengan ketat dan tidak boleh ditinggalkan. 2) His Hipertonik (his terlampau kuat) Walaupun pada golongan koordinate hipertonik uterin contraction bukan merupakan penyebab distosia namun bisa juga merupakan kelaianan his. khususnya servik uteri. penderita di sarankan untuk berjalan-jalan terlebih dahulu. tonus otot di luar his juga biasa. Sedangkan pada bayi dapat mengalami perdarahan dalam tengkorak karena bagian tersebut mengalami tekanan kuat dalam waktu sangat singkat.

Satu sebab yang penting dalam kelalinan his. Etiologi dari kelainan tenaga atau His Kelainan his terutama ditemukan pada primigravida khususnya primigravida tua.karena itu sebaiknya wanita di rawat sebelum persalinan. khususnya inersia uteri adalah bagian bawah janin tidak berhubungan rapat dengan segmen bawah uterus seperti misalnya pada 125 . 3) His yang tidak terkoordinasi His disini sifatnya berubah-ubah tonus otot uterus meningkat juga di luar his. pethidin. seperti morphin. Akan tetapi persalinan tidak boleh berlangsung berlarut-larut apalagi kalau ketuban sudah pecah. tengah dan bawah menyebabkan his tidak efisien dan mengadakan pembukaan. Usaha yang dapat dilakukan ialah mengurangi tonus otot dan mengurangi ketakutan penderita. Hal ini dapat dilakukan dengan pemberian analgetika. perlu dipertimbangkan SC. danepisiotomi dilakukan pada waktu yang tepat untuk menghindari ruptur perineum tingkat III. Pada multipara lebih banyak ditemukan yang bersifat inersia uteri. Disamping itu tonus otot uterus yang menaik menyebabkan rasa nyeri yang lebih keras dan lama bagi ibu dan dapat pula menyebabkan hipoksia pada janin. Tidak adanya koordinasi antara kontraksi bagian atas. Penanganan Kelainan ini hanya dapat diobati secara simtomatis karena belum ada obat yang dapat memperbaiki koordinasi fungsional antara bagianbagian uterus. His ini disebut sebagai incoordinate hipertonik uterin contraction. Dan kalau pembukaan belum lengkap. Faktor herediter mungkin memegang peranan yang sangat penting dalam kelainan his. dan kontraksinya tidak berlangsung seperti biasa karena tidak ada sinkronisasi antara kontraksi bagian-bagiannya. sehingga pengawasan dapat dilakukan dengan baik.

(c). Pada persalinan lama pada penderita di biarkan meneran terus. Septum lengkap biasanya 126 .kelainan letak janin atau pada kelainan CPD. Distosia Kelainan Alat Kandungan (Traktus Genitalis) 1) Vulva Kelainan yang dapat menyebabkan distosia yaitu edema. Tumor (f). stenosis dan tumor (a). Edema (b). Gangguan dalam pembentukan uterus pada masa embrional misalnya. Stenosis pada vulva (d). (e). 2) Vagina Stenosis vagina kongenital jarang terjadi lebih sering ditemukan septum vagina yang memisahkan vagina secara lengkap atau tidak lengkap dalam bagian kanan dan bagian kiri. biasanya sebagai gejala preeklampsi tetapi dapat pula mempunyai sebab lain misalnya gangguan gizi. dapat pula mengakibatkan kelainan his. Abses yang pecah pada waktu persalinan dapat meyebabkan infeksi purperalis. yang meyebabkan ulkus-ulkus dan yang sembuh dengan parut-parut yang dapat menimbulkan kesulitan. Biasanya terjadi sebagai akibat perlukaan dan radang. kista atau abses glandula bartolin. Peregangan rahim yang berlebihan pada kehamilan ganda atau hidramnion juga dapat merupakan penyebab inersia uteri. Tetapi pada sebagian kasus penyebab kelainan inersia uterus tidak diketahui. Tumor dalam bentuk neoplasma jarang ditemukan di vulva. uterus bikornis unikolis. c. dapat timbul edema pada vulva. Bisa timbul waktu hamil. Walaupun dapat di atasi dengan melakukan episiotomi yang cukup luas. lebih sering terdapat kondiloma akuminata.

baik untuk koitus maupun untuk lahirnya janin. disini dalam kala I uteri menipis akan tetapi pembukaan tidak terjadi. Diagnosis dibuat dengan menemukan lubang kecil yakni ostium uteri eksternum ditengah-tengah lapisan tipis tersebut. Kelainan kongenital. Meskipun kontraksi uterus normal. jaringan parut servik. perlu dipertimbangkan apakah persalianan dapat berlangsung pervaginam atau harus diselesaikan dengan SC 3) Uterus/servik a) Servik uteri Kondisi dimana struktur servik abnormal mungkin disebabkan karena kongenital atau didapat. servik tidak membuka dan terasa kaku dan keras. 127 . Konglutination orivisii eksterni ialah keadaan yang jarang didapat. pembedahan dan radiasi. Tergantung dari jenis dan besarnya tumor. oleh karena itu persalinan pervaginam tidak dapat dilakukan dan dianjurkan untuk SC. Dengan jari dimasukan kedalam lubang itu pembukaan dapat diperlebar dengan mudah dan dalam waktu yang tidak lama pembukaan dapat menjadi lengkap dengan sendirinya. Tumor apada vagina dapat merupakan rintangan bagi lahirnya janin pervaginam. sehingga merupakan lembaran kerjas di bawah kepala janin.tidak menimbulkan distosia karena bagian vagina yang satu umumnya cukup lebar. Adanya tumor vagina dapat pula menyebabkan persalinan pervaginam dianggap mengandung terlampau banyak resiko. Distosia karena kelainan yang didapat disebabkan karena fibrosis dan infeksi. stenosis atau servik tidak berkembang.

Dalam masa puerpurium mioma uteri dapat mengecil malahan bisa menjadi lebih kecil dari padasebelum hamil. Distosia Karena Kelainan Letak Janin 1) Bayi besar Yang dinamakan bayi besar adalah bila berat badannya lebih dari 4000gr. apabila letak mioma uteri menghalangi lahirnya janin pervaginan b). Akan tetapi kadang-kadang dihubungkan dengan lokasinya perlu dilakukan SC klasik. Profilaksis dianjurkan ajar pemberian oksitosin yang dapat menggangu peredaran darah ke miomata yang kemudian menjadi nekrotik dan mudah terinfeksi. a). Miomektomi sesudah SC tidak dianjurkan karena bahaya berdarahan banyak dan tertinggalnya luka-luka yang tidak rata pada miometrium yang memudahkan terjadinya infeksi puerpurial. mioma uteri menyebabkan inersia uteri dalam persalinan Apabila mioma uteri merupakan halangan bagi lahirnnya janin pervaginan perlu dilakukan SC. Puerpurium perlu diawasi dengan baik karena kemungkinan bahaya nekrosis selalu ada.b) Uterus Distosia karena mioma uteri dapat terjadi. Besarnya kepala dan tubuh janin dapat diukur dengan menggunakan alat ultrasonik. apabila berhubungan dangan adanya mioma uteri terdapat kelainan letak janin c). Diagnosis Pemeriksaan yang teliti adanya DKP (disporposi cepalo pelvik) perlu dilakukan. SC dilakukan secara SCTP. jika pengobatan konserfatif tidak berhasil dipertimbangkan histrektomi. 128 . d.

hidung serta mulut janin dibersihkan. SC perlu dipertimbangkan. Keadaan ini dapat menyebabkan obstruksi persalinan jika tidak didiagnosa dengan segera. fontanel besar dan sutura lebar. Selain itu penarikan kepala kebawah terlalu kuat dalam pertolongan distosia bahu berakibat perlukaan pada nervus brachialis dan musculus sterno kleido mastoideus. Diagnosis dapat ditetapkan dengan USG.Prognosis Pada panggul normal janin dengan berat badan kurang dari 4500gr pada umumnya tidak menimbulkan kesukaran persalinan. Tulang kranial lembut. Penanganan Pada CPD karena janin besat. kemudian kepala ditarik curam kebawah secara hati-hati dengan kekuatan yang terukur. Untuk mengurangi kemungkinan perlukaan jalan lahir. Dengan cara demikian dapat mengurangi cairan sereberal. radiogragik atau denga pemeriksaan vagina. 129 . Kesukaran terjadi karena distosia bahu dapat menyebabkan kesukaran kelahiran sehingga bayi dapat meninggal akibat asfiksia. Bila tidak berhasil digunakan perasat muller. Pada keadaan dimana janin telah mati sebelum bahu dilahirkan dapat dilakukan kleidotomi pada salah satu atau kedua klafikula. Untuk melahirkan bahu hendaknya dilakukan episiotomi mediolateral yang luas. Pada banyak kasus fetus tidak dapat dilahirkan pervaginam dan SC dibutuhkan. 2) Hydrocephalus Kepala sangat besar yang disebabkan karena peningkatan jumlah cairan serebrospinal yang meluas ke otak. Pada palpasi abdomen kepala teraba besar dan dibagian atas pinggir mungkin teraba bokong. Pada beberapa kasus pembedahan berhasil dengan baik dengan cara insersi katuk jantung dan kateter dari ventrikel ke vena jugularis dan sisi kanan jantung.

Rupture uteri pada hidrosephalus dapat terjadi sebelum pembukaan servik lengkap. 4) Gawat janin Fetal distress disebabkan oleh kekurangan oksigen (hipoksia didalam uterus). yaitu. Pada waktu lahir bayi mungkin asfiksia dan membutuhkan resusitasi dengan segera. muka tampak saat proses persalinan. yang terbuka dan tampak masa gelap dan merah. Disalam banyak kasus hal ini banyak menyebabkan kerusakan intrakranial yang menyebabkan cerebral palsi dan kadangkadang terjadi IUFD atau kematian neonatus. umur kehamilan dan berat fetus akan mempengaruhi produk kehamilan. Inseden anensephalus kira-kira 1 dalam 1000 kelahiran. Fetus mempunyai mata yang besar dan menonjol dan bahu lebar. karena tengkorak yang besar ikut meregangkan segmen bawah rahim.Prognosis Apabila tidak segera dilakukan pertolongan. Mekanisme dimana hipoksia menyebabkan kerusakan otak atau kematian belum diketahui. Biasanya 50% dari kehamilan karena polihidramnion. Hanya 25% bayi yang dapat hidup. biasanya perempuan dan hampir semua mati dalam seminggu pertama kelahiran. 1) Insufisiensi aliran darah uterus 2) Insufisiensi aliran darah umbilikus 3) Berkurangnya oksigenasi maternal Derajat dan Lamanya hipoksia. 3) Anencephalus Anensephalus adalah kondisi dimana tulang tengkorak tidak ada dan hampir tidak ada perkembangan otak. tetapi beberapa faktor yang mempengaruhi. 130 . bahaya rupture uteri akan mengancam. Spina bivida sering menyertai anensephalus.

kesehatan fisik dan psikis. dan menyebabkan penurunan aliran darah uterus dimana karbonmonoksida mengurangi transport oksigen. Status sosial ekonomi adalah suatu gambaran kekurangan penghasilan tetapi juga kekurangan pendidikan. a) Faktor yang mempengaruhi fetal distress kronis: Fetal distress kronis berhubungan dengan faktor sosial yang kompleks: (1) Status sosial ekonomi rendah Hal ini berhubungan dengan peningkatan morbiditas dan mortalitas. persalinan preterm atau lahir mati berhubungan dengan resiko tinggi pada janin dalam kehamilan ini. Angka mortalitas perinatal meningkat.Pembagian fetal distress Fetal distress bisa akut dan kronis. hipoksia dan persalinan preterm yang semuannya meningkatkan resiko kematian perinatal. (5) Riwayat obstetrik yang buruk Riwayat abortus sebelumnya. 131 . (4) Penyalah gunaan obat terlarang Penyalah gunaan obat terlarang dalam kehamilan berhubungan dengan banyak konplikasi meliputi IUGR. (2) umur maternal Umur ibu yang sangat muda dan tua lebih dari 35 tahun merupakan umur resiko tinggi (3) Merokok Nikotin dapat menyebabkan vasokontriksi. nutrisi.

seperti: (a) Hipertensi yang diinduksi kehamilan (b) Hipertensi kronik (c) Diabetes (d) Penyakit ginjal kronis Sedangkan faktor yang menyebabkan penurunan oksigenasi arteri maternal seperti: Penyakit sikle sel Anemia berat. 132 . post matur. jika tidak dikontrol dengan baik Infeksi maternal berat Kondisi tersebut berbahaya. infeksi intra uterin dan inncompatibilitas resus yang meningkatkan resiko hipoksia intra uterin. (8) Kondisi fetal Malformasi kongenital tertentu. hb 9%/dl atau kurang Penyakit paru-paru Penyakit jantung Epilepsi. dimana terjadi asidosis maternal sehingga akan menyebabkan asidosis fetal dan oleh karena itu menyebabkan fetal distress (7) Kondisi plasenta Kondisi tersebut meliputi insufisiensi plasenta. Resiko ini meningkat pada kehamilan ganda. perdarahan antepartum yang dapat mengakibatkan pengurangan suplai oksigen ke fetus.(6) Penyakit maternal Kondisi yang meningkatkan resiko fetal distress kronis dapat mempengaruhi sistem sirkulasi maternal dan menyebabkan insufisiensi aliran darah uterus.

133 . hipotensi dan hipoksia (f) Partum presepitatus atau partus lama b) Faktor yang mempengaruhi fetal distress akut (1) Kondisi uterus Kontraksi uterus hipertonik yang lama dan kuat adalah abnormal dan uterus dalam keadaan istirahat yang lama dapat mempengaruhi sirkulasi utero plasenta. meliputi. (a) malpresentasi seperti presentasi bokong (b) kelahiran dengan forcep (c) SC (d) Sedatif atau analgetik yang berlebihan (e) Komplikasi anastesi. (4) Depresi pusat sistem pernafasan Depresi sistem pernafasan pada BBL sebagai akibat pemberian analgetuk pada ibu dalam persalinan dan perlukaan pada proses kelahiran menyebabkan hipoksia. lilitan tali pusat. (2) Kompresi tali pusat Kompresi tali pusat akan menggangu sirkulasi darah fetus dan dapat mengakibatkan hipoksia. (3) Kondisi tali pusat Plasenta terlepas.(9) Faktor resiko intra partum Selama persalinan faktor yang berhubungan dengan peningkatan resiko fetal distress. ketika kontraksi sehingga mengakibatkan hipoksia fetus. Tali pusat dapat tertekan pada prolapsus. terjadi solusio plasenta hal ini berhubungan dengan kelainan fetus.

Profil biofisikal Pemeriksaan fisik pada fetus menggunakan USG parameter yang digunakan untuk menilai meliputi. tonus fetus indeks cairan amnion dan NST 3. gerakan pernafasan fetus. Denyut jantung a. 4. Takikardi diatas 160 bpm atau bradikardi dibawah 120 bpm b. Deselerasi lebih dini Ketika denyut jantung turun lebih dari 15 bpm pada saat kontraksi deselerasi menggambarkan kontraksi dan biasanya tidak dianggap masala serius. gerakan fetus. Dopler Tanda fetal distress dalam persalinan 1.Deteksi fetus melalui pemeriksaan Antenatal Pemeriksaan digunakan untuk mendeteksi fetus meliputi: 1. Deselerasi yang berubah-ubah Deselerasi yang berubah-ubah hal ini sangat sulit dijelaskan. c. Ini dapat terjadi pada awal atau akhir penurunan denyut jantung dan bentuknya tidak sama. hubungan antara peningkatan asidosis fetus dengan dalam dan lamanya deselerasi adalah adanya abnormalitas denyut jantung janin. USG untuk menilai pertumbuhan fetus 2. Non stress tes (NST) Eksternal kardiotokograf (CTG) Kriteria yang seharusnya diamati meliputi 2 hal atau lebih. 134 . mengalami penurunan sedikitnya 15 denyutan permenit menetap sedikitnya 15 detik dalam 20 menit. yaitu: denjut jantung janin.

e. Dalam kasus fetal distress berat harus dilahirkan cara SC. Tidak adanya denyut jantung Ini mungkin disebabkan oleh karena hipoksia kronis atau berat dimana sistem syaraf otonom tidak dapat merespon stress f. Mekonium campur air ketuban 2. Manajemen Pada Kala I Peningkatan perfusi plasenta silakukan dengan cara perubahan posisi menjadi posisi miring.d. Deselerasi yang lambat menyebabkan penurunan aliran darah uterus dan pengurangan transver oksigen selama kontraksi. Adanya mekonium dalam cairan ketuban berhubungan dengan peningkatan resiko neonatus dan meningkatkan kesakitan dan kematian neonatus. Pada kasus tersebut dokter harus mengobserfasi kondisi fetus dengan memonitor 135 . Mekonium Adanya mekonium terjadi kira-kira pada 20% dari semua kelahiran dan aspirasi terjadi 1-3% dari semua bayi hidup yang dilahirkan. Dokter harus menyiapkan contoh darah fetus jika auskultasi mengindikasikan abnormalitas denyut jantung. Penurunan tersebut mempengaruhi oksigenasi serebral fetus. Deselerasi lambat Penurunan denyut jantung janin menunjukkan tingkat deselerasi paling rendah tetapi menunjukkan kontraksi padaa tingkat yang paling tinggi. Jika pola tersebut terjadi disertai dengan abnormalitas denyut jantung janin harus di pikirkan untuk ancaman yang serius dalam kesejahteraan fetus. Kecenderungan penyebabnya karena relaksasi spinter anus yang disebabkan oleh karena hipoksia usus yang mengakibatkan aliran darah keorgan vital berkurang.

sedang pada panggul sempit seluruhnya ditemukan rintanagn pada semua ukuran. Memeriksa cairan amnion apakah mengandung mekonium.kepala memasuki rongga panggul dengan hiperfleksi. sedangkan pada 136 . Apabila pada panggul sempit pintua atas panggul tidak tertutup dengan sempurna oleh kepala janin. maka dalam hal ini servik uteri kurang mengalami tekanan kepala. Pada panggul picak turunya belakang kepala bisa tertahan dengan akibat terjadinya defleksi kepala. e. sedang pada asinklistismus anterior os parietale posterior yang terletak paling bawah tertahan oleh simphisis. selain itu dokter harus menyiapkan untuk tindakan SC. Hal ini dapat mengakibatkan inersia uteri serta lambannya pendataran dan pembukaaan servik. atau diameter tranversa kurang dari 12 cm. Manajemen Kala II Jika detal distres terjadi pada kala II kepala dilindungi dengan melakukan episiotomi. Kesempitan pada konjugata vera (panggul picak) umumnya lebih menguntungkan daripada kesempitan pada semua ukuran (panggul sempit seluruhnya). Parietale yang terletak paling bawah tertahan oleh simphisis. Oleh karena pada panggul sempit karena kemungkinan lebih besar bahwa kepala tertahan oleh pintu atas panggul. Selanjutnya moulage kepala janin dipengaruhi oleh jenis asinklitismus anterior lebih menguntungkan daripada asinklitismus posterior oleh karena pada mekanisme terakhir gerakan os. ketuban bisa pecah oleh pembukaan kecil dan ada bahaya pula terjadinya prolapsusu funikuli. Distosia Kelainan Jalan Lahir 1) Kesempitan Pintu Atas Panggul Pintu atas panggul dianggap sempit apabila konjugata vera kurang dari 10 cm. Perawatan resusitasi disiapkan dan dokter anak diharuskan untuk stanby untuk mengatasi kemungkinan bayi mengalami asfiksia.denyut jantung secra terus menerus.

maka sudut arkus pubis mengecil pula (<80 0). Apabila ukuran ini kurang dari 9. 137 . diperlukan ruanagan yang lebih besar pada bagian belakang pintu bawah panggul. Pada panggul tengah yang sempit lebih sering ditemukan posisi oksipitalis posterir persisten atau presentasi ekpala dalam posisi lintang tetap (tranverse arrest). 3) Kesempitan Pintu Bawah Panggul Pintu bawah panggil tidak merupakan bidang yang datar tetapi. Dengan diameter sagitalis poterior yang cukup panjang persalinan pervaginam dapat dilaksankan. walaupun dengan perlukaan luas pada perineum. Ukuran terpenting yang hanya dapat ditetapkan secara pasti dengan pelvimetri rontgenologi.asinklitismus anterior os parietale anterior dapat bergerak lebih leluasa ke belakang. Dengan distansia tuberum bersama dengan diameter sagitalis posterior <15 cm.5 cm. yakni distansia tuberum. dinding-dinding panggul tidak berkonvergensi. dan spina iskiadika tidak menonjol ke dalam. Agar supaya dalam hal ini kepala janin dapat lahir. Apabila ukuran yang terkhir ini lebih kecil daripada biasa. dapat diharapkan bahwa panggul tengah tidak akan menyebabkan rintangan bagi lewatnya kepala janin. terdiri atas segitiga depan dan segitiga belakang yang mempunyai dasar yang sama. foramen iskiadikum mayor cukup luas. 2) Kesempitan Pintu Tengah Panggul Dengan sakrum melengkung sempurna. ialah distansia interspinarum. apalagi bila diameter sagitalis posterior pendek pula. perlu kita waspadai terhadap kemunkinan kesukaran pada persalinan. timbul kemacetan pada kelahiran janinukuran biasa.

Jika uterus sudah berkontraksi. 5) Jika uterus masih juga belum berkontraksi mulai lagi kompresi bimanual interna setelah anda memberikan injeksi metergin dan sudah mulai IV 6) Jika uterus masih juga belum berkontraksi dalam 5-7 menit. hidramnion atau janin besar 3) Multiparitas 4) Anastesi yang dalam 5) Anastesi lumbal Penatalaksanaan 1) Bersihkan semua gumpalan darah atau membran yang mungkin berada di dalam mulut uterus atau di dalam uterus 2) Segera mlai melakukan kompresi bimanual interna. 3) Jika uterus sudam mulai berkontraksi secara perlahan di tarik tangan penolong. Persalinan Dengan Penyulit Kala III Dan IV a.2. 138 . Atonia Uteri Uterus gagal berkontraksi dengan baik setelah persalinan Penyebab 1) Partus lama 2) Pembesaran uterus yang berlebihan pada waktu hamil seperti pada kehamilan kembar.2 mg IM dan mulai memberikan IV (RL dengan 20 UI oksitosin/500 cc dengan tetesan cepat). minta anggota keluarga melakukan bimanual interna sementara penolong memeberikan metergin 0.5 L seluruhnya diinfuskan kemudian teruskan dengan laju infus 125 cc/jam. lanjutkan memantau ibu secara ketat 4) Jika uterus tidak berkontraksi setelah 5 menit. bersiaplah untuk melakukan rujukan dengan IV terpasang pada 500 cc/jam hingga tiba di tempat r ujukan atau sebanyak 1.

keluarkan plasenta tersebut. lakukan penarikan tali pusat terkendali 5) Jika traksi tali pusat terkendali belum berhasil. jika belum dilakuak dalam penanganan aktif kala III 4) Jika plasenta belum dilahirkan setelah 30 menit pemberian oksitosin dan uterus terasa berkontraksi. secret vagina yang berbau). Penyebab 1) Plasenta belum lepas dari didnding uterus 2) Plasenta sudah lepas tetapi belum dilahirkan (disebabkan karena tidak adanya usaha untuk melahirkan atau karena salah penanganan kala III) 3) Kontraksi uterus kurang kuat untuk melepaskan plasenta 4) Plasenta melekat erat pada dinding uterus oleh sebab vili korealis menembus desidua sampai miometrium-sampai dibawah peritoneum (plasenta akreta-perkreta) Penatalaksanaan 1) Jika plasenta terliahat dalam vagina. cobalan untukmengeluarkan plasenta secara manual. mintalah ibu untuk mengejan. 139 . 2) Pastikan kandung kemih sudah kosong. berikan antibiotik untuk metritis.b. lakukan uji pembekuan darah sederhana. Retensio Plasenta Plasenta atau bagian-bagianya dapat tetap berada di dalam uterus setelah bayi lahir. lakukan katerisasi kandung kemih 3) Jika plasenta belum keluar. Kegagalan terbentuknya pembekuan setelah 7 menit atau adanya bekuan lunak yang dapat pecah dengan mudam menunjukan koagulapati 6) Jika terdapat tanda-tanda infeksi (demam. Jika diperlukan. Jika perdarahan terus berlangsung. berikan oksitosin 10 Unit IM. Jika anda dapat merasakan adanya plasenta dalam vagina.

Robekan dapat terjadi bersamaan dengan atonia uteri. Dengan mendadak penderita menjadi gelisah. Robekan Jalan Lahir Robekan jalan lahir merupakan peyebab kedua tersering dari perdarahan pasca persalinan. Periksalah dengan seksama dan perbaiki robekan pada servik. 4) Asisten menahan fundus 140 . Perdarahan pasca persalinan dengan uterus yang berkontraksi baik biasanya disebabkan oleh. Kegagalan terbentuknya pembekuan setelah 7 menit atau adanya bekuan lunak yang dapat pecah dengan mudah menunjukan adanya koagulapati. berikan petidin dan diazepam IV pelan-pelan. Emboli Air Ketuban Emboli air ketuban menimbulkan syok yang sangat mendadak dan biasanya berakhir dengan kematian. vagina dan perineum. d.c. robekan servik atau vagina. Karena his kuat. lakukan uji pembekuan darah sederhana bila perdarahan terus berlangsung. air ketuban dengan mekonium. Jika robekan luas atau jauh sampai ke atas. sesak nafas. Pada syok karena emboli air ketuban sering ditemukan gangguan dalam pembekuan darah. Penatalaksanaan a. rambut lanuago dan vernik kaseosa masuk kedalam sinus-sinus dalam dinding uterus dan dibawa ke paru-paru. Emboli air ketuban terjadi pada his yang kuat dengan ketuban yang biasanya sudah pecah. kejang-kejang dan meninggal kemudian. Perbaikan robekan servik 1) Tindakan a dan antiseptik pada vagina dan servik 2) Berikan dukungan emosional dan penjelasan 3) Pada umumnya tidak diperlukan anastesi. atau ketamin.

Pada bagian yang terdapat robekan. Korpus uteri yang terbalik sudah masuk kedalam vagina c. sfingter ani 4) Robekan tingkat IV mengenai mukosa rektum Umumnya robekan ingkat I dapat sembuh sendiri. Inversio Uteri Pada inversio uteri bagian atas uterus memasuki kavum uteri. tetapi belum keluar dari ruang tersebut b. tidak perlu dijahit. sehingga fundus uteri sebelah dalam menonjol ke dalam kavum uteri. Uterus dengan vagina. pindahkan bergantian searah jarum jamsehingga semua bagian servik dapat diperiksa. mulai dari apeks 7) Jika sulit dicapai dan diikat. Tingkatan inversio uteri menurut perkembangan inversio uteri: a. Kaji ulang indikasi b. 6) Jahit robekan servik dengan cut gut kromik 0 secara jelujur. untuk sebagian besar terletak di luar vagina Penanganan a. tinggalkan 2 klem diantara robekan. apek dapat dicoba di jepit dengan klem ovum atau klem arteri dan dipertahankan 4 jam 8) Jika robekan meluas sampai melewati puncak vagina lakukan laparotomi b. Fundus uteri menonjol ke dalam kavum uteri. Kaji ulang prinsip dasar perawatan dan pasang infus 141 . Perbaikan robekan vagina dan perineum Ada 4 tingkat robekan yang dapat terjadi pada persalinan: 1) Robekan tingkat I yang mengenaimukosa vagina dan jaringan ikat 2) Robekan tingkat II mengenai lat-alat di bawahnya 3) Robekan tingkat III mengenai m. e.5) Bibir servik di jepit dengan klem ovum. semuanya terbalik.

Pasang ujung selang douche pada fornik posterior sampai menutup labia sekitar selang denan tangan e. Selang di sambung dengan tabung berisis air hangat 3-5 l (atau NaCl atau infus lain) dan pasang setinggi 2 m c. Pegang uterus pada daerah insersi tali pusat dan masukan kembali melalui servik. Pasien dalam posisi trendelenburg-dengan kepala lebih rendah sekitar 50 cm dari perineum b. lakkan plasenta manual setelah tindakan koreksi c.c.9%/RL) 10 tetes/menit b. Siapkan sistem bilas yang sudah disinfeksi. Lakukan perawatan pasca bedah jika diberikan koreksi kombinasi abdominal vagina 142 . Guyur air dengan leluasa agar menekan uterus ke posisi semula. Jika koreksi manual tidak berhasil. Jika plasenta masih belum terlepas. berupa selang 2 m berujung peneyemprot berlubang lebar. Identifikasi fornik posterior d. berikan infus oksitosin 20 unit dalam 500 ml IV (NaCl 0. Pasang sarung tangan DTT b. atau anestesia umumjika diperlukan d. Jika inversi sudah diperbaiki. Berikan petidin dan diazepam IV dalam semprit berbeda secara perlahan-lahan. Basuh uterus dengan larutan antiseptik dan tutup dengan kain basah (dengan NaCl hangat) menjelang operasi Pencegahan inversi sebelum tindakan Koreksi Manual a. Perawatan pasca tindakan a. Gunakan tangan lain untuk memebantu menahan uterus dari dinding abdomen. Berikan antibiotik profilaksis dosis tunggal c. lakukan koreksi hidrostatik Koreksi Hidrostatik a.

f. Syok Obstetrik Syok pada waktu kehamilan mengakibatkan syok pula pada janin yang berada dalam kandungan. maka ibu tersebut hendaknya diperiksa lebih sering dan penyebabpenyebab dari perdarahan berat seharusnya diselidiki. Perdarahan Kala IV Perdarahan yang normal setelah kelahiran mungkin hanya akan sebanyak satu pembalut wanita perjam selama enam jam pertama atau seperti darah haid yang banyak. Jika perdarahan lebih banyak dari ini. wanita hamil lanjut menunjukkan hipotensi sewaktu tidur telentang. solusio plasenta d. Peristiwa-peristiwa yang dalam praktek kebidanan dapat menimbulkan syok adalah: a. Apakah ada laserasi pada vagina atau servik? Apakah uterus berkontraksi dengan baik? Apakah kandung kencingnya kosong? g. perlukaan dalam persalinan e.d. terutama pada penderita yang menunjukkan predisposisi terhadap syok. Pertolongan pada penderita syok: pertama-tama kelancaran ventilasi harus dijamin untuk ini perlu ditentukan apakah jalan nafas bebas. peristiwa yang dinamakan supine hypotensive syndrome. perdarahan b. jika tidak hal itu perlu diusahakan dengan segera. infeksi berat c. Jika ada tanda infeksi berikan antibiotika kombinasi sampai pasien bebas demam selama 48 jam e. Berikan analgesik jika perlu. kemudian karena syok selalu ada 143 . inversio uteri f. emboli air ketuban g. Penanganan Syok Pemberian cairan intravena melalui infus pada waktu persalinan sebagai tindakan pencegahan untuk menghindari hipovolumia besar manfaatnya.

diorisis. Hasil penilaian pengukuran-pengukuran ini menentukan tindakan selanjutnya C. Distosia kelainan janin. Selama perawatan perlu terus menerus diadakan pengawasan keadaan penderita. Pada syok yang tidak jelas penyebabnya sebaiknya dilakukan pemeriksaan vaginal.pengurangan volume darah dalam sirkulasi umum. kala III dan kala IV Penyulit kala I dan kala II meliputi : Kelainan presentasi dan posisi. Rangkuman Materi Konsep dasar penyulit kala I. 144 . Emboli air ketuban. Tugas/ Latihan 1. Inversio uteri Perdarahan kala IV. Dasar – dasar distosia (Kelainan tenaga /his. Secara berkala diadakan pengukuran nadi. a. Setelah tindakan diatas diusahakan silekasnya menanggulangi peristiwa yang menjadi penyebab syok dengan tindakan yang bersifat medis maupun pembedahan. Syok Obstetri D. Rambu-rambu Jawaban 1. Kala II. Sebutkan dan jelaskan penyebab perdarahan kala IV! E. tekanan darah. Penyulit kala III dan IV meliputi: Penyulit kala III persalinan. diberi cairan melalui infus intra vena. His Hipertonik : His yang terlampau kuat c. Distosia kelainan jalan lahir).His hipotonik : His hilang atau his lemah dimana timbul lagi dalam waktu yang lama setelah timbul his yang adekuat b. Perdarahan yang disebabkan karena uterus tidak mau berkontraksi setelah palsenta lahir (atonia uteri) dan perdarahan karena retensio plasenta. pernafasan. suhu. His tidak terkoordinasi : His sifatnya berubah ubah tonus otot berkontraksi juga diluar his 2. Sebutkan dan jelaskan macam – macam kelainan His ! 2. Atonia Uteri Retensio plasenta. dan pemeriksaan laboratorium. Robekan jalan lahir. dan bila perlu tekanan vena pusat (CVP). Distosia kelainan alat kandungan.

5.F. Pedoman Mengajar dosen AKBID. Tidak ditebitkan. 1999. 6. Jakata YBPSP Pusdiknakes – JHPIEGO. 1997. dosen AKBID. Syaifudin. Modul 2. Modul 3. 2006. UK. Tim pengajar Askeb IV. 12 th Edition 2000 Mochtar R. Sinopsis Obstetri Jilid I. Jakarta. Ilmu Kebidanan. Buku Panduan Praktis Maternal dan Neonatal. 3. dkk. Pedoman Mengajar dosen AKBID. 8. Daftar Pustaka 1. Ilmu Kandungan. 1999 9. Midwifery. Pusdiknakes – JHPIEGO . 2001. Pusdiknakes – JHPIEGO . Jakarta. YBPSP Hanifa. Jakarta Hanifa. dkk. Workshop Kurikulum mata ajar Askeb IV. 1998. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Pedoman Megajar. 2001 Varney’s H. 1999. 7. YBPSP 2. 4. Jones and Bartlett Publisher Mayes. Midwifery. 145 . Modul 4. 1999 10. 1999 11.

Kesehatan Reprodukasi e. NIK f. Komunikasi Konseling Kebidanan 5. Asuhan Kebidanan IV 6. Hubungan Pemanfaatan Sumber Belajar Dengan Prestasi Balajar ASKEB II Pada Mahasiswa AKBID Kusuma Husada Surakarta Tahun 2008 Tahun Ajaran 2008/2009 dan 2009/2010 : 1. Studi Deskriptif Yang Menggali Tingkat Pengetahuan Ibu Tentang Imunisasi Wajib Bagi Bayi Di Wilayah Kerja Puskesmas Grabag I Magelang. 13 Nopember 1985 Perempuan Jalan Sunan Kali Jaga I No.010308149 146 . Konsep Kebidanan 3. Alamat : : : : Alfi Noviyana. Pangkat/Golongan : : : : : : : g.ST NIK.PROFIL PENULIS a. Nama Lengkap b. Jabatan Struktural i j k Fakultas/Prodi Pendidikan Hasil penelitian l Mata Kuliah yang pernah diampu Purwokerto. Tempat/Tgl Lahir c.4 Berkoh. Jenis Kelamin d. Asuhan Nifas 2. Purwokerto 010308149 Penata Muda /IIIA Ilmu Kesehatan / DIII Kebidanan D IV Kebidanan 1. Tahun 2006 2. Februari 2010 Alfi Noviyana. Jabatan Fungsional h.ST Yogyakarta. S. Asuhan Kehamilan 4. S.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful