P. 1
PRINSIP DETEKSI DINI IBU DENGAN KELAINAN, KOMPLIKASI, PENYAKIT DALAM KEHAMILAN, PERSALINAN DAN MASA NIFAS

PRINSIP DETEKSI DINI IBU DENGAN KELAINAN, KOMPLIKASI, PENYAKIT DALAM KEHAMILAN, PERSALINAN DAN MASA NIFAS

|Views: 541|Likes:
Published by Theo Crawls
PRINSIP DETEKSI DINI IBU DENGAN KELAINAN, KOMPLIKASI,
PENYAKIT DALAM KEHAMILAN, PERSALINAN DAN MASA NIFAS
PRINSIP DETEKSI DINI IBU DENGAN KELAINAN, KOMPLIKASI,
PENYAKIT DALAM KEHAMILAN, PERSALINAN DAN MASA NIFAS

More info:

Published by: Theo Crawls on Jun 09, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/18/2015

pdf

text

original

Sections

  • BAB I
  • PRINSIP DETEKSI DINI IBU DENGAN KELAINAN, KOMPLIKASI,
  • PENYAKIT DALAM KEHAMILAN, PERSALINAN DAN MASA NIFAS
  • A. Kompetensi dasar
  • B. Uraian Materi
  • 1. Deteksi Dini Terhadap Kelainan, Komplikasi Dan Penyakit Yang
  • Lazim Terjadi Pada Ibu Hamil
  • a. Pemeriksaan Kehamilan Dini (Early ANC Detection)
  • b. Kontak Dini Kehamilan Trimester I
  • c. Pelayanan ANC berdasarkan kebutuhan individu
  • 2. Deteksi Dini Penyulit Persalinan
  • 3. Deteksi Dini Pada Masa Nifas
  • C. Ringkasan Materi
  • D. Tugas/ Latihan
  • E. Rambu-rambu jawaban soal
  • F. Daftar Pustaka
  • BAB II
  • PENYAKIT YANG MENYERTAI IBU
  • DALAM MASA KEHAMILAN, PERSALINAN DAN NIFAS
  • A. Kompetensi Dasar
  • 1. Penyakit yang Menyertai Kehamilan dan Persalinan
  • c. Jantung
  • 2. Infeksi yang Menyertai Kehamilan dan Persalinan
  • a. TOXOPLASMOSIS
  • b. RUBELLA
  • c. CMV (CITOMEGALO VIRUS)
  • d. HERPES
  • e. SYPHILIS
  • f. VARICELLA (CACAR AIR/CHICKEN POX)
  • g. INFEKSI TRAKTUS URINARIUS
  • h. HEPATITIS
  • i. HIV/AIDS
  • j. TYPUS ABDOMINALIS
  • C. Rangkuman Materi
  • D. Latihan / Tugas
  • E. Rambu- Rambu Jawaban Soal
  • BAB III
  • ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU DENGAN KOMPLIKASI, KELAINAN
  • DAN PENYAKIT DALAM KEHAMILAN
  • 1. Komplikasi dan Penyulit Kehamilan Trimester I dan II
  • b. HIPEREMESIS GRAVIDARUM
  • c. ABORTUS
  • 1) Abortus imminens
  • 2) Abortus Insipiens
  • 3) Abortus Inkomplit
  • 4) Abortus Komplit
  • Kehamilan Ektopik Kehamilan Ektopik Terganggu
  • e. MOLAHIDATIDOSA
  • 2. Komplikasi Dan Penyulit Dalam Kehamilan Trimester III
  • a) Kehamilan Dengan Hipertensi
  • 1) Hipertensi esensial
  • 2) Hipertensi Karena Kehamilan
  • 3) Pre Eklamsia
  • 4) Eklamsia
  • b) Perdarahan Antepartum
  • 1) Solusio Plasenta
  • 2) PLASENTA PREVIA
  • 3) INSERTIO VELAMENTOSA
  • 4) RUPTUR SINUS MARGINALIS
  • 5) PLASENTA SIRKUMVALATA
  • c) Kelainan dalam lamanya kehamilan
  • 1) Prematur
  • 2) Postmatur
  • e) Kelainan Air Ketuban
  • 1) Polihidramnion
  • 2) Oligohidramnion
  • f) Kelainan Letak
  • 1) Letak Sungsang
  • 2) Letak Lintang
  • D. Latihan/ Tugas
  • E. Rambu-Rambu Jawaban
  • BAB IV
  • ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU DENGAN KELAINAN, KOMPLIKASI
  • DAN PENYAKIT DALAM PERSALINAN
  • B. Uraian materi
  • 1. Konsep Dasar Penyulit Kala I dan Kala II
  • a. Konsep Dasar Kelainan Presentasi dan Posisi
  • 1) Presentasi Puncak Kepala
  • 2) Presentasi Dahi
  • 3) Presentasi Muka
  • 4) Posisi Oksipitalis Posterior Persisten
  • b. Konsep Dasar Distosia Kelainan Tenaga Atau His
  • 1) His Hipotonik
  • 2) His Hipertonik (his terlampau kuat)
  • 3) His yang tidak terkoordinasi
  • c. Distosia Kelainan Alat Kandungan (Traktus Genitalis)
  • 1) Vulva
  • 2) Vagina
  • 3) Uterus/servik
  • 1) Bayi besar
  • 2) Hydrocephalus
  • 3) Anencephalus
  • 4) Gawat janin
  • 1) Kesempitan Pintu Atas Panggul
  • 2) Kesempitan Pintu Tengah Panggul
  • 3) Kesempitan Pintu Bawah Panggul
  • 2. Persalinan Dengan Penyulit Kala III Dan IV
  • a. Atonia Uteri
  • b. Retensio Plasenta
  • g. Syok Obstetrik
  • E. Rambu-rambu Jawaban

BAB I PRINSIP DETEKSI DINI IBU DENGAN KELAINAN, KOMPLIKASI, PENYAKIT DALAM KEHAMILAN, PERSALINAN DAN MASA NIFAS

A.

Kompetensi dasar 1. Mampu menjelaskan Prinsip deteksi dini ibu dengan kelainan, komplikasi, penyakit yang lazim terjadi dalam kehamilan,

Pemeriksaan kehamilan dini ( early ANC detection , Kontak dini kehamilan trimester I, Pelayanan ANC berdasarkan kebutuhan individu dan skrining untuk deteksi dini 2. Mampu mendiskripsikan deteksi dini penyulit persalinan dengan memanfaatkan partograf 3. Mampu menguraikan deteksi dini komplikasi masa nifas (2 jam masa nifas, 6 jam masa nifas, 6 hari masa nifas, 6 minggu masa nifas) B. Uraian Materi 1. Deteksi Dini Terhadap Kelainan, Komplikasi Dan Penyakit Yang Lazim Terjadi Pada Ibu Hamil Kehamilan melibatkan perubahan fisik maupun emosional dari ibu serta perubahan sosial dalam keluarga. Pada umumnya kehamilan berkembang normal dan menghasilkan kelahiran bayi sehat cukup bulan melalui jalan lahir, namun kadang-kadang tidak sesuai dengan yang diharapkan. Sulit diketahui sebelumnya bahwa kehamilan akan terjadi masalah, oleh karena itu pelayanan asuhan antenatal merupakan cara penting memonitor dan mendukung kesehatan dan mendeteksi kehamilan ibu. Ibu hamil sebaiknaya dianjurkan mengunjungi bidan atau dokter sedini mungkin semenjak ibu merasa dirinya hamil untuk mendapatkan pelayanan atau asuhan antenatal. Pemeriksaan dan pengawasan terhadap ibu hamil sangat perlu dilakukan secara teratur. Hal ini bertujuan untuk

1

menyiapkan seoptimal mungkin fisik dan mental ibu dan anak selama dalam kehamilan, persalinan dan nifas sehingga didapatkan ibu dan anak yang sehat. Selain itu juga untuk mendeteksi dini adanya kelainan, komplikasi dan penyakit yang biasanya dialami oleh ibu hamil sehingga hal tersebut dapat dicegah ataupun diobati. Dengan demikian maka angka morbiditas dan mortalitas ibu dan bayi dapat berkurang a. Pemeriksaan Kehamilan Dini (Early ANC Detection) Idealnya wanita yang merasa hamil bersedia untuk

memeriksakan diri ketika haidnya terlambat sekurangkurangnya 1 bulan. Dengan demikian, jika terdapat kelainan pada kehamilannya tersebut akan lekas diketahui dan segera dapat diatasi. Oleh karena itu, setiap wanita hamil sebaiknya melakukan kunjungan antenatal sedikitnya 1 kali pada trimester 1 ( sebelum minggu ke 16). Penilaian klinik merupakan proses berkelanjutan yang dimulai pada kontak pertama antar petugas kesehatan dengan ibu hamil secara optimal. Pada kunjungan dini adapun pemeriksaan yang dilakukan untuk mendeteksi komplikasi, penyulit ataupun penyakit pada kehamilan, yaitu : 1) Anamnesa Anamnesa adalah tanya jawab antara penderita dan pemeriksa. Dari anamnesa ini banyak keterangan yang diperoleh guna membantu menegakkan diagnosa dan prognosa kehamilan. a) Anamnesa Sosial ( biodata dan latar belakang sosial b) Anamnesa Kehamilan (haid) c) Anamnesa Medik/ Kesehatan d) Anamnesa Kebidanan/ Obstetri

2

2) Pemeriksaan Umum a) Tinggi badan Pada wanita hamil yang pertama kali memeriksakan perlu diukur tinggi badannya. Seorang wanita hamil yang terlalu pendek, yang tinggi badannya kurang dari 145 cm tergolong resiko tinggi karena kemungkinan besar persalinan berlangsung kurang lancar dengan kemungkinan kesempitan panggul. Perbandingan tinggi dan berat badan memberi gambaran mengenai keadaan gizi. b) Berat badan Pada tiap pemeriksaan wanita hamil baik yang pertama kali atau ulangan, berat badan perlu ditimbang. Kenaikan berat badan yang mendadak dapat merupakan tanda bahaya komplikasi kehamilan yaitu preeklampsi. Dalam trimester I berat badan wanita hamil biasanya belum naik bahkan biasanya menurun karena

kekurangan nafsu makan. Dalam trimester terakhir terutama karena pertumbuhan janin dan uri berat badan naik sehingga pada akhir kehamilan berat badan wanita hamil bertambah kurang lebih 11 kg dibanding sebelum hamil. Pada trimester terakhir berat badan kurang lebih 0.5 kg seminggu, bila penambahan berat badan tiap minggu lebih dari 0.5 kg harus diperhatikan

kemungkinan preeklampsi. c) Tanda-tanda vital Dalam keadaan normal tekanan darah dalam kehamilan trimester terakhir sistolik tidak melebihi 140 mmHg, dan diastolik tidak melebihi 90 mmHg. Bila terdapat

3

f) Pemeriksaan jantung. Pemeriksaan ini meliputi seluruh bagian kepala dan leher.nafas dangkal . Jika pada pemeriiksaan mata sklera ikterik dan konjungtiva anemis maka kemungkinan anemia. adanya retraksi. e) Pemeriksaan payudara Pada wanita hamil payudara terlihat besar dan tegang serta sedikit nyeri. Mumu jantung diastolik ditemukan . nafas cepat . Pemeiksaan paru haus mencakup obsevasi sesak nafas.tekanan darah melebihi diatas maka kemungkinan adanya preeklampsi. Pemeriksan payudara dengan cara palpasi meliputi bentuk dan ukuran payudara. d) Pemeriksaan kepala dan leher Pemeriksaan ini dilakukan dengan menggunakan pemeriksaan inspeksi. masa dan pembesaran pembuluh limfe. Hal ini karena pengaruh estrogen dan progesteron yang merangsang duktus dan alveoli payudara. batuk dan dispnea untuk menegakkan diagnosa bonkitis dan pneumonia.pada 90% wanita hamil kerena tekanan daah ibu hamil meningkat secaa mencolok. g) Pemeriksaan abdominal Pemeriksaan abdominal dilakukan dengan palpasi. Dari pemeriksaan ini diperoleh mengenai ukuran dan bentuk uterus kesesuaian antara tinggi fundus uteri dengan umur kehamilan. nafas tidak teatu mengi. letek janin dan detak jantung janin dan CVAT (costo vetrebral tenderness) 4 . putting susu menonjol atau tidak. paru dan organ dalam tubuh lainnya.

menurunnya keinginan untuk melakukan hubungan seksual sangat wajar. Pemeriksaan urine pada awal kehamilan bertujuan untuk mengetahui adanya kehamilan. varices. Pemeriksan ini ditujukan untuk memeriksa golongan darah. Hb. jika kepala sudah masuk panggul koitus sebaiknya dihentikan karena dapat menimbulkan perasaan sakit dan perdarahan. Pada akhir kehamilan. b. i) Pemeriksaan ekstremitas atas dan bawah Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui adanya varises. hal ini akan menjadi tanda serius dari preeklampsi. Pada umumnya koitus diperbolehkan pada masa kehamilan jika dilakukan dengan hati hati. Selain itu pemeriksaan urin juga bertujuan untuk mengetahui adanya protein urine dan glukosa urine. Pada waktu itu plasenta telah terbentuk serta kemungkinan abortus menjadi lebih kecil. dan glukosa urine. oedema dan reflek patella. Pada saat hamil jika dihubungkan dengan hipertensi dan oedem. sebaiknya koitus ditunda sampai kehamilan 16 minggu. 5 . Protein dalam urine merupakan hasil kontaminasi dair vagina atau dari infeksi saluran kencing atau penyakit ginjal. Pemeriksaan laboratorium Test laboratorium perlu dilakukan pada ibu hamil. Kontak Dini Kehamilan Trimester I Pada trimester I. vagina dan porsio diperiksa dan dilihat inspekulo deteksi tanda-tanda infeksi. Untuk glukosa urin berhubungan dengan diabetes. cairan.h) Pemeriksan genetalia Untuk memeriksa genetalia biasanya dengan pemeriksaan ginekologi. Apabila dalam anamnesis ada riwayat abortus sebelum kehamilan yang sekarang. b.hemorid. protein urine. Pada pemeriksaan ini vulva.

dan kondisi janin setiap minggunya. Apalagi bila janin telah meninggal dalam kandungan pengakhiran kehamilan ini sebaikanya dirundingkan antar disiplin : dengan ahli penykit dalam . Pelayanan ANC berdasarkan kebutuhan individu. amnioskopi. Penentuan kadar estriol. dapat dilakukan pemeriksaan monitor janin lainnya seperti elektrokardiografi fetal. ukuran biparietal (USG). Pada ibu hamil dengan hipertensi sebaiknya dilakukan pemantauan tekanan darah. Hal ini bertujuan untuk mencegah pertambahan berat badan yang agresif. Pada pola nutrisi sebaiknya ibu dianjurkan untuk diet tinggi protein rendah hidrat arang. Anjurkan kepada ibu untuk mentaati pemeriksaan antenatal yang teratur dan jika perlu dikonsultasikan kepada ahli. apakah ada ancaman terhadap jiwa ibu.c. Pengawasan terhadap janin harus lebih teliti. Selain itu anjurkan ibu pula untuk cukup istirahat menjauhi emosi dan jangan bekerja terlalu berat. Misalnya persetujuan ANC yang diberikan terhadap ibu hamil dengan hipertensi tentunya akan berbeda dengan pelayanan yang diberikan kepada ibu hamil dengan varises. rendah lemak. Pelayanan ANC yang diberikan petugas kesehatan kepada setiap ibu hamil berbeda – beda tergantung dari kebutuhan dan kondisi dari setiap individunya. pH darah janin. dan sebagainya. disamping pemeriksaan biasa. dan rendah garam. Pengakhiran kehamilan baik yang muda maupun yang sudah cukup bulan harus dipikirkan bila ada tanda – tanda hipertensi ganas (tekanan darah 200/120 atau pre-eklamsi berat). 6 . urin.

d. Skrining untuk deteksi dini. tergantung pada usia kehamilan. Diagnosis pasti kehamilan ektopik secara USG hanya bisa ditegakkan jika terlihat kantong gestasi berisi janin hidup yang letaknya diluar kavum uteri. Dari kenyataan ini bisa juga diartikan bahwa kadar HCG yang lebih dari 6500 mlU/ ml tidak dijumpai adanya kantong gestasi intrauterin. Venoruton. Pemeriksaaan USG saat ini dipandang sebagai metode pemeriksaan yang aman. Pemeriksaan USG pada kehamilan normal usia 5 minggu struktur kantong gestasi intrauterin dapat dideteksi dimana diameternya sudah mencapai 5-10 mm. Jika dihubungkan dengan kadar HCG pada saat itu kadarnya sudah mencapai 6000-6500 mlU/ ml. 4) Dapat diberikan obat – obatan : Venosan. 3) Anjurkan ibu untuk memakai kaos kaki atau pembalut tungkai elastis. abortus) serta banyak dan lamanya perdarahan intra abdomen. ada tidaknya gangguan kehamiulan (ruptura. Glyvenol. USG merupakan suatu media diagnostik dengan menggunakan gelombang ultrasonik untuk mempelajari struktur jaringan berdasarkan gambaran ecko dari gelombang ultrasonik.Sedangkan pada ibu hamil dengan varises pelayanan ANC yang diberikan antara lain : 1) Anjuran ibu untuk jangan berdiri atau duduk terlalu lama dan jangan memakai ikat pinggang terlalu kencang. Gambaran USG kehamilan ektopik sangat bervariasi. 2) Anjurkan kepada ibu supaya jalan – jalan dan senam hamil untuk memperlancar peredaran darah. 7 . maka kemungkinan kehamilan ektopik. dan Varemoid.

Salah satu alata yang dapat digunakan untuk membantu memantau kemajuan persalinan dan informasi untuk membuat keputusan klinik adalah partograf. Selain denyut jantuing mungkin juga dapat dideteksi adanya gerakan embrio yang dapat dirangsang dengan melakukan perkusi pada dinding perut. 8 . Struktur embrio dapat dilihat lebih jelas lagi. Persalinan tidak selalu berjalan dengan normal. Pada kehamilan 8 minggu kantong gestasi telah berdiameter 30 mm. 2. Jika tidak dijumpai adanya struktur embrio dan kantong kuning telur maka kemungkinan kehamilan anembrionik. Sering kali terlihat kuning telur dalam ( yolk salk ) berupa struktur vasikuler berdiameter kira-kira 5 mm yang letaknya diluar selaput amnion. penolong harus waspada terhadap masalah yang mungkin terjadi. Deteksi Dini Penyulit Persalinan . Struiuktur kepala sudah dapat dibedakan dari badan. Jika dijumpai lebih dari 1 embrioyang menunjukkan tanda-tanda kehidupan maka kemungkinan kehamilan multiple. Panjang embrio mencapai 10 mm dan menjadi lebih mudah dilihat. Oleh karena itu pada saat memberikan asuhan kepada ibu yang sedang bersalin. Jika tidak ada tanda-tanda kehidupan seperti yang telah disebutkkan maka kemungkinan terjadi miss abortion.Pada kehamilan 7 minggu diameter kantong gestasi telah mencapai 25 mm.

9 . gravida para dan abortus. Informasi tentang ibu Melengkapi bagian awal ( atas ) partograf secara teliti pada saat mulai asuhan persalinan meliputi.Gambar. waktu pecahnya ketuban 2. Kisaran normal DJJ terpapar pada partograf diantara garis tebal angka 180 – 100. tanggal dan waktu dirawat. tetapi harus waspada bila DJJ dibawah 120atau diatas 160. nama. umur. 1 Partogaf Temuan-temuan dari hasil pengamatan. nomor RM. pemeriksaan dan asuhan persalinan kala I dapat dicatat pada partograf. DJJ (Detak Jantung Janin) DJJ dicatat setiap 30 sekali (lebih sering jika ada kegawatdaruratan). 1. Kesehatan dan kenyamanan janin a. Adapun partograf mengintruksikan : 1.

kolom dan lajur kedua pada partograf adalah untuk 10 . Adapun hasil temuan mengenai ketuban : U : Ketuban utuh ( belum pecah ) J : ketuban sudah pecah dan ai ketuban jernih. Lambang – lambang dalam mollase : a) 0 : tulang – tulang kepala janin terpisah. M :ketuban sudah pecah dan air ketuban bercampur meconium. c. Mekonium dalam cairan ketuban tidak selalu menunjukkan adanya gawat janin apabila apabila tidak nmpak tanda gawat janin. tapi masih dapat dipisahkan d) 3 : tulang – tulang kepala janin tumpang tindih dan tidak dapat dipisahkan. Molase ( penyusupan kepala janin ) Penyusupan adalah indikator penting tentang seberapa jauh bayi dapat menyesuaikan diridengan bagian atas keras ibu. segara rujuk ibu ketempat yang memiliki kemampuan penatalaksanaan gawatdarurat obstetri dan bayi baru lahir. K : ketuban sudah pecah dan air ketuban tidak ada (kering). sutura dengan mudah dipalpasi b) c) 1 : tulang – tulang kepala janin hanya saling bersentuhan 2 : tulang –tulang kepalajanin saling tumpang tindih.b. D :air ketunan sudah pecah dan bercampur darah. Tulang kepala yang sampai menyusup atau tumpang tindih menunjukkan kemungkinan adanya disproporsi tulang panggung ( CPD ). Kemajuan Persalinan Penilaian kemajuan persalinan dilakukan pemeriksaan setiap 4 jam sekali. Tetapi jika terdapat mekonium kental. Warna dan adanya air ketuban Penilaian air ketuban serta warnanya dilakukan setiap kali periksa dalam vagina dan jika selaput ketuban pecah. d. Ketidak kemampuan akomodasi akan benar – benar terjadi jika tulang kepala yang bisa menyusup tidak mampu dipisahkan.

Untuk menghitung banyaknya kontraksi dalam 10 menit dan lamanya tiap-tiap kontraksi dalam hitungan detik. atau dianggap adanya infeksi ) setiap 2 jam. mungkin dia dalam keadaan dehidrasi atau kesakitan. tekanan darah dan temperatur tubuh nilai dan catat nadi ibu setiap 30 menit selama fase aktif persalinan. e. Kontraksi uterus Kontraksi uterus dicatat setiap 30 menit dengan melakukan palpasi. tekanan darah dan suhu tubuh kenyamanan dan kesehatan tubuh aseton ibu juga meliputi volume urine. Jika pembukaan servik telah melampaui dan berda disebelah kanan garis bertindak maka perlu dilakukan tindakan menyelesaikan persalinan. Pastikan hidrasi yang cukup melalui oral atau IV dan berikan analgesik secukupnya nilai dan catat tekanan darah ibu setiap 4 jam selama fase aktif persalinan. Jika tekanan darah ibu menurun curigai adanya perdarahan. servik kaku. Tetapi jika kontraksinya tidak teratur dan tidak sering setelah fase laten dapat menyebabkan persalinan lama. Kemajuan persalinan dilihat dari pembukaan servik dan penurunan bagian terbawah janin. Nilai dan catat suhu ibu ) lebih sering jika meningkat.pencatatan kemajuan persalinan. Jika pembukaan servik mengarah kesebelah kanan gari waspada (pembukaan kurang dari 1 cm per jam) maka harus dipertimbangkan penyulit misalnya kala aktif memanjang. Kesehatan dan kenyamanan ibu Meliputi nadi. 3. protein dan 11 . Kemajuan persalinan dikatakan cukup baik jika kontraksi teratur dan progresif dengan peningkatan frekuaensi dan durasi. Jika denyut nadi ibu meningkat. atau innersia uteri. Selain nadi.

mencegah. takikardi dan malaise. Masa 6 hari – 6 minggu nifas a. b. segera berikan dextros. 2. Wanita yang baru melahirkan sering mengeluh sakit kepala hebat atau penglihatan kabur. Jika terdapat aseton dalam urin ibu dicurigai masukan nutrisi yang kurang.Ukur dan catat jumlah produksi urin ibu sedikitnya 2 jam (setiap kali ibu berkemih ) lakukan pemeriksaan adanya aseton atau protein dalam urine setiap ibu berkemih. Beberapa bakteri dapat menyebabkan infeksi setelah persalianan. pembengkakan. Apabila uterus lembek dan tidak berkontraksi. Payudara yang berubah menjadi merah. Infeksi masa nifas masih merupakan penyebab tertinggi AKI. dan rasa nyeri atau adanya disuria. Disertai pembengkakan di wajah atau ekstremitas c. dan terasa sakit 12 . Setiap tahap masa nifas bidan pelu menilai status ibu. Infeksi alat genital merupakan komplikasi masa nifas. Masa 2 jam dan 6 jam nifas. perdarahan 350500cc per menit waspadai perdarahan ibu post partum karen atonia uteri. Sedangkan gejala lokal dapat berupa uterus lembek. diantaanya: 1. Gejala umum infeksi dapat dilihat dari temperature atau suhu. kemerahan. panas. mendeteksi menangani masalah-masalah yang terjadi karena ibu nifas rentan terjadi penyulit dan komplikasi. Asuhan masa nifas diperlukan karena pada periode ini merupakan masa kritis bagi ibu dan bayinya. 3. Deteksi Dini Pada Masa Nifas Masa nifas dimulai setelah plasenta lahir sampai 6 minggu beikutnya. Infeksi yang meluas ke saluran urinary payudara. Diperkirakan 60% kematian ibu terjadi akibat kejadian setelah persalinan dan 50% kematian masa nifas terjadi 24 jam pertama.

13 . Selama masa nifas. merah. seperti merasa sedih. rasa sakit. Putting lecet akan memudahkan masuknya kuman dan terjadinya payudara bengkak d. Ringkasan Materi Penting bagi bidan untuk mengetahui prinsip deteksi dini ibu dengan kelainan. panas. Sehingga alat pencernaan perlu istirahat guna memulihkan keadaanya kembali.waspadai bila berlanjut pada depresi post partum. komplikasi. e. Pada masa kehamilan deteksi dini dilaksanakan pemeriksaan kehamilan dini ( early ANC detection ) secara lengkap meliputi pengkajian psikososial dan pemeriksaan fisik lengkap. Dalam persalinan lambung dan alat pencernaan tidak langsung turut mengadakan proses persalianan. persalinan dan masa nifas.perlu waspa apabila disertai . terasa sakit. nafsu makan pun akan terganggu. dan pembengkakan dikaki. lunak. Tetapi biasanya disebabkan adanya kelelahan yang amat berat. Oleh karena itu tidak benar bila ibu diberikan makanan sebanyakbanyaknya walaupun ibu menginginkannya. Sesudah anak lahir ibu akan merasa lelah mungkin juga lemas karena kehabisan tenaga. f. Timbul rasa nyeri seperti terbakar. akhirnya terjadi mastitis.nyeri tekan maka mengarah pada gejala tromboplebitis. tetapi sedikit atau banyak pasti dipengaruhi proses persalinannya tersebut. C. sehingga ibu tidak ingin makan sampai kehilangan itu hilang. penyakit yang lazim terjadi dalam kehamilan.Payudara bengkak yang tidak disusu secara adekuat dapat menyebabkan payudara menjadi merah. tidak mampu mengasuh dirinya sendiri dan bayinya. dapat terbentuk thrombus sementara pada venavena manapun di pelvis yang mengalami dilatasi. Pada minggu-minggu awal setelah persalinansampai kurang lebih 1 tahun ibu post partum cenderung akan mengalami perasaan-perasaan yang tidak pada umumnya.

Tugas/ Latihan 1.. Perdarahan karena atonia uteri. Tidak diterbitkan 14 . 6 jam post partum . pembukaan dan penurunan kepala serta kesejahteraan ibu meliputi tensi dan nadi dll. 5. 2.. Syaifudin. Sinopsis Obstetri Jilid I. 4. Pada masa nifas 2 jam dan 6 jam post partum deteksi dini komplikasi dan penyakit di fokuskan untuk. Guna mendeteksi komplikasi persalinan bidan akan dibantu dengan partograf dan kelainan serta penyakit pada masa nifas dideteksi pada 2 jam post partum. 1999 7. 2001 Varney’s H. Daftar Pustaka 1. Penggunakan partograf dapat membantu bidan dalam mendeteksi komplikasi persalinan kala I meliputi. 2. 3. Buku Panduan Praktis Maternal dan Neonatal. Workshop kurikulum mata ajar Askeb IV. Pedoman Mengajar dosen AKBID. Midwifery. dkk. 1999. Skrening dini pada kehamilan dengan pemanfaatan USG. 1998. Ilmu Kebidanan. dalam pelayanan ANC di dasarkan kebutuhan individu sehingga kompliksai dan penyakit segera dapat dideteksi. Rambu-rambu jawaban soal 1. Kesejahteraan dan kenyamanan janin meliputi DJJ. F. D. 1997. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal.Mewaspadai kontak dini kehamilan trimester I. pada 6 hari post partum dan 6 minggu post partum. kemajuan persalinan meliputi kontraksi. Jakarta Hanifa. UK. Tim pengajar Askeb IV. air ketuban dan molase. 2001. E. Jones and Bartlett Publisher Mochtar R. 6. Jakarta. YBPSP 2. Modul 2.. YBPSP Pusdiknakes – JHPIEGO. Jakarta.2006..

Pada penderita yang dicurigai menderita TBC Paru sebaiknya dilakukan pemeriksaan tuberkulosa tes kulit dengan PPD (puirified protein derivate). dan mungkin pula tertutup atau terbuka. janin baru tertular penyakit setelah lahir. 1) Penatalaksanaan : Penyakit ini akan sembuh dengan baik bila pengobatan yang diberikan dipatuhi oleh penderita. persalinan dan nifas 2. Pada janin dengan ibu TBC Paru jarang dijumpai TBC congenital. Kompetensi Dasar 1. PERSALINAN DAN NIFAS A. nafsu makan berkurang. Perlu diperhatikan dan dilindungi janin dari pengaruh sinar X. Tuberkulosis Paru Kehamilan tidak banyak memberikan pengaruh terhadap cepatnya perjalanan penyakit ini. persalinan dan nifas B. dan sakit di dada. banyak penderita tidak mengeluh sama sekali. Keluhan yang sering ditemukan adalah batuk-batuk yang lama.BAB II PENYAKIT YANG MENYERTAI IBU DALAM MASA KEHAMILAN. pada penderita TBC Paru aktif perlu dilakukan pemeriksaan sputum BTA untuk membuat diagnosis secara pasti sekaligus untuk tes kepekaan / uji sensitivitas. Menjelaskan infeksi yang menyertai kehamilan. badan terasa lemah. karena dirawat atau disusui ibunya. bila hasil positif dilanjutkan dengan pemeriksaan foto dada. berikan penjelasan dan pendidikan 15 . Pada pemeriksaan fisik mungkin didapatkan adanya ronkhi basal. kadang-kadang ada batuk darah. 1. Menguraikan penyakit yang menyertai kehamilan. suara caverne atau pleural effusion. Uraian Materi Penyakit yang Menyertai Kehamilan dan Persalinan a. Penyakit ini mungkin bentuknya aktif atau kronik. BB menurun.

Etambutol 15-20 mg/kg/hari. Sedangkan pada yang aktif dianjurkan untuk menggunakan dua macam obat atau lebih untuk mencegah timbulnya resistensi kuman. kecuali streptomisin yang bersifat ototoksik bagi janin dan harus diganti dengan etambutol. dan isoniazid (INH) selalu diikutkan karena paling aman untuk kehamilan. 2) Obat-obatan yang dapat digunakan (a). Ajarkan untuk menutup mulut dan hidungnya bila batuk. 16 . bila pasien sudah sembuh lakukan persalinan secar biasa. Obat ini baik sekali untuk pengobatan TBC Paru tetapi memberikan efek teratogenik pada binatang poercobaan sehingga sebaiknya tidak diberikan pada trimester I kehamilan. Disamping itu obat ini juga kurang menyenangkan pada penderita karena harus disuntikan setiap hari. Obat ini mungkin menimbulkan komplikasi pada hati sehingga timbul gejala-gejala hepatitis berupa nafsu makan berkurang. Sebagian besar obat anti TBC aman untuk wanita hamil. Oleh karena itu –perlu diperiksa faal hati sewaktu-waktu dan bila ada perubahan untuk sementara obat harus segera dihentikan. efektifitasnya tinggi dan harganya lebih murah. Obat ini dapat menimbulkan komplikasi retrobulber neuritis. (b). pasien hamil dengan TBC Paru yang tidak aktif tidak perlu mendapat pengobatan. jangan digunakan dalam kehamilan trimester I. Pengaruh obat ini pada janin dapat menyebabkan tuli bawaan (ototoksik). Obat ini harus hati-hati digunakan dalam kehamilan. Streptomycin 1gr/hari. (c).kepada pasien bahwa penyakitnya bersifat kronik sehingga diperlukan pengobatan yang lama dan teratur. bersin dan tertawa. mual dan muntah. (d). Rifampisin 600mg/hari. Isoniazid (INH) 300 mg/hari. Pemeriksaan sputum harus dilakukan setelah 1-2 bulan pengobatan. akan tetapi efek samping dalam kehamilan sangat sedikit dan pada janin belum ada. jika masih positif perlu diulang tes kepekaan kuman terhadap obat.

persalinan dibantu Ekstraksi Vacum atau Forcep. Selain itu juga terjadi hiperplasia dan hipertrofi otot dinding ureter dan kaliks. Akibat pembesaran uterus hiperemi organ-organ pelvis dan pengaruh hormonal terjadi perubahan pada kendung kemih yang dimulai pada kehamilan 4 bulan. Usahakan pasien tidak meneran. b. Kandung kemih akan berpindah 17 . karena bayi cukup rentan terhadap penyakit ini. Setelah persalinan pasien dirawat di ruang observasi 68 jam. sampai ibunya tidak memperlihatkan tanda-tanda proses aktif lagi setelah dibuktikan dengan pemeriksaan sputum sebanyak 3 kali yang selalu memperlihatkan hasil negatif. Ginjal Dalam kehamilan terdapat perubahan-perubahan fungsional dan anatomic ginjal dan saluran kemih yang sering menimbulkan gejala-gejala dan kelainan fisik dan hasil pemeriksaan laboratorium. sebagian besar ahli menganjurkan pemisahan dari ibu jika ibu dicurigai menderita TBC aktif. Semua obat anti TBC sesuai untuk laktasi sehingga pemberian laktasi dapat dengan aman dan normal. Ureter juga mengalami pemanjangan. mendapat profilaksis INH dan imunisasi BCG. berikan masker untuk menutupi mulut dan hidung agar kuman tidak menyebar. melekuk dan kadang berpindah letak ke lateral dan akan kembali normal 8-12 minggu setelah melahirkan. Ginjal akan memanjang kurang lebih 1 cm dan kembali normal setelah melahirkan. Pasien diberi obat uterotonika dan obat TBC tetap harus diteruskan. Penderita yang tidak mungkin pulang harus dirawat di ruang isolasi. kemudian dapat dipulangkan langsung. namun bayi harus diberi suntikan mantoux. Perubahan anatomi terdapat peningkatan pembuluh darah dan ruangan interstisial pada ginjal. dan berkurangnya tonus otot-otot saluran kemih karena pengaruh kehamilan.Pasien TBC aktif harus ditempatkan dalam kamar bersalin terpisah. Pasien TBC yang menyusui harus mendapat regimen pengobatan yang penuh.

terjadi peningkatan aliran plasma (Renal Plasma flow) dan tingkat filtrasi gomerolus (Gomerolus Filtration Rate). Pembuluh-pembuluh di daerah mukosa akan membengkak dan melebar. diatas nilai normal wanita tidak hamil. Otot kandung kemih mengalami hipertrofi akibat pengaruh hormon estrogen. Jantung 1) Etiologi Sebagian besar disebabkan demam reumatik. sehingga jantung harus bekerja lebih berat. insufisiensi aorta. Untuk itu banyaknya darah yang beredar bertambah. Karena itu dalam kehamilan selalu terjadi perubahan dalam system kardiovaskuler yang biasanya masih dalam batas-batas fisiologik. Kapasitas kandung kemih meningkat sampai 1 liter karena efek relaksasi dari hormon progesterone. c. Perubahan Fungsi Segera sesudah konsepsi. insufisiensi mitral.lebih anterior dan superior. aritmia jantung atau hipertrofi ventrikel kiri. Akibatnya akan terjadi penurunan kadar kreatinin serum dan urin nitrogen darah. gabungan antara insufisiensi aorta dan stenosis aorta. Bentuk kelainan katup yang sering dijumpai adalah stenosis mitral. 3) Patofisiologi Keperluan janin yang sedang bertumbuh akan oksigen dan zat-zat makanan bertambah dalam berlangsungnya kehamilan. penyakit katupulmonal dan trikuspidal. stenosis aorta. Perubahan-perubahan itu terutama disebabkan karena : 18 . yang harus dipenuhi melalui darah ibu. normal kreatinin serum adalah 0. Sejak kehamilan trimester II GFR akan meningkat 30-50 %.7 mg/100 mll dan urea nitrogen darah 8-12 mg/100 mll. gabungan stenosis mitral dengan insufisiensi mitral. 2) Faktor Predisposisi Peningkatan usia pasien dengan penyakit jantung hipertensi dan superimposed preeklamsi atau eklamsi. anemia.5-0. riwayat decompensasi cordis.

4) Manifestasi Klinis Mudah lelah. Saat persalinan. (d). Uterus gravidus yang makin lama makin besar mendorong diafragma ke atas. Hidrenia (Hipervolemia). ortopnea. 4-5 hari seetelah peralinan. 19 . dan peningkatan tekanan vena jugularis adalah tanda dan gejala gagal jantung kanan.20% dan ketika meneran pada partus kala II. saat arus balik vena dihambat kembali ke jantung. Peningkatan berat badan. Perlu diawasi saat-saat berbahaya bagi penderita penyakit jantung yang hamil yaitu: (a). edema tungkai bawah. dan kongesti paru adalah tanda dan gejala gagal jantung kiri. hepato megali. Biasanya terdapat riwayat penyakit jantung dari anamnesis atau dalam rekam medis. Antara minggu ke 12 dan 32. ke kiri. dimulai sejak umur kehamilan 10 minggu dan puncaknya pada UK 32-36 minggu (b). Terjadi penurunan resistensi perifer dan emboli pulmonal dari thrombus iliofemoral. dan ke depan sehingga pembuluhpembuluh darah besar dekat jantung mengalami lekukan dan putaran. saat puncak perubahan dan kebutuhan jantung maksimum (b). Namun gejala dan tanda ini dapat pula terjadi pada wanita hamil normal. Setelah melahirkan bayi dan plasenta. nafas terengah-engah. terutama minggu ke 28 dan 32. (c).(a). Hilangnya pengaruh obstruksi uterus yang hamil menyebabkan masuknya darah secara tiba-tiba dari ekstremitas bawah dan sirkulasi uteroplasenta ke sirkulasi sistemik. Setiap kontraksi uterus meningkatkan jumlah darah ke dalam sirkulasi sistemik sebesar 15 . Terjadi perubahan hemodinamik.

iskemia. EKG untuk mengetahui kelainan irama dan gangguan konduksi. Kelas I • • • • Tanpa pembatasan kegiatan fisik Tanpa gejala penyakit jantung pada kegiatan biasa (b). Bisa ditemukan tanda-tanda aritmia. Diagnosis ditegakkan bila ada satu dari kriteria : (a). dan peri kardium (c). tanda penyakit pericardium. cepat dan terpercaya untuk mengetahui kelainan fungsi dan anatomi dari bilik. Pemeriksaan Radiologi dihindari dalam kehamilan. Meteode yang aman. atau bising jantung terus menerus (b). infark. Bising sistolik yang nyaring. Bising diastolic. (b). katup. Kelas II Sedikit pembatasan kegiatan fisik Saat istirahat tidak ada keluhan 20 . Ekokardigrafi. terutama bila disertai thrill (d).5) Pemeriksaan Penunjang Selain pemeriksaan laboratorium rutin juga dilakukan pemeriksaan : (a). 6) Diagnosis Burwell dan Metcalfe mengajukan 4 kriteria. presistolik. namun jika memang diperlukan dapat dilakukan dengan memberi perlindung diabdomen dan pelvis. Arimia berat Pada wanita hamil yang tidak menunjukan salah satu gejala tersebut jarang menderita penyakit jantung. kardiomegali. Bila terdapat gejala decompensasi jantung pasien harus di golongkan satu kelas lebih tinggi dan segera dirawat Klasifikasi penyakit jantung dalam kehamilan (a). Pembesaran jantung yang jelas (c).

gawat janin. Pada janin dapat terjadi : prematuritas. pertumbuhan janin terhambat. hipoksia. edema paru. Kelas III • • • Banyak pembatasan dalam kegiatan fisik Saat istirahat tidak ada keluhan Pada aktifitas fisik ringan sudah menimbulkan gejala-gejala insufisiensi jantung (d). meningkatkan kontraktilitas jantung dengan digitalis. Kelas IV • Tidak mampu melakukan aktivitas fisik apapun Komplikasi Pada ibu dapat terjadi : gagal jantung kongestif. sesak nafas atau angina pectoris (c). 7) Penatalaksanaan Sebaiknya dilakukan dalam kerjasama dengan ahli penyakit dalam atau ahli jantung. Pasien harus tidur malam cukup 8-10 jam. hanya harus menghindari aktifitas yang berlebihan. BBLR. terutama pada UK 28-32 minggu. Pasien dirawat bila keadaan memburuk. namun harus diawasi dengan ketat. abortus. Kelas I Tidak memerlukan pengobatan tambahan (b). Penatalaksanaan dilakukan berdasarkan klasifikasinya yaitu : (a). dan menurunkan after load dengan vasodilator.• Pada kegiatan fisik biasa timbul gejala isufisiensi jantung seperti: kelelahan. kematian. Kedua kelas ini dapat meneruskan kehamilan sampai cukup bulan dan melahirkan pervaginam. Secara garis besar penatalksanaan mencakup mengurangi beban kerja jantung dengan tirah baring. APGAR score rendah. Kelas II Umumnya tidak memerlukan pengobatan tambahan. menurunkan preload dengan deuretik. istirahat baring minimal 21 . jantung berdebar (palpitasi cordis).

Pertimbangkan abortus terapeutik pada kehamilan kurang dari 12 minggu. dan diuretic. Bila terjadi takikardi. berikan digitalis berupa suntikan sedilanid IV dengan dosis awal 0. Pada kala II dapat spontan bila tidak ada gagal jantung. sesak nafas (ancaman gagal jantung). Pengawasan kala I setiap 10-15 menit dan kala II setiap 10 menit. morfin (1015 mg). Lakukan ANC dua minggu sekali dan seminggu sekali setelah 36 minggu. bila fisik memungkinkan pasien dapat menusui. Jika kehamilan dipertahankan pasien harus terus berbaring selama hamil dan nifas. Bila terjadi gagal jantung mutlak harus dirawat dan berbaring 22 . Metode anastesi terpilih adalah epidural Kala persalinan biasanya tidak berbahaya. (c). dapat diulang 1-2 kali dengan selang 1-2 jam. Bila berlangsung 20 menit dan ibu tidak dapat dilarang meneran akhiri dengan ekstraksi cunam atau vacum dengan segera Tidak diperbolehkan memaki ergometrin karena kontraksi uterus yang bersifat tonik akan menyebabkan pengembalian darah ke sirkulasi sistemik dala jumlah besar. Rawat pasien sampai hari ke 14.8 mg. membatasi masuknya cairan (75 mll/jam) diet tinggi protein. Lakukan pengawasan dengan ketat. takipnea.setengah jam setelah makan. rendah garam dan membatasi kegiatan. Kelas III Dirawat di RS selam hamil terutama pada UK 28 minggu dapat diberikan diuretic (d). Kelas IV Harus dirawat di RS Kedua kelas ini tidak boleh hamil karena resiko terlalu berat. mobilisasi bertahap dan pencegahan infeksi. Selain itu dapat diberi oksigen. Lakukan persalinan pervaginam kecuali terdapat kontra indikasi obstetric. Rawat pasien di RS sejak 1 minggun sebelum waktu kelahiran.

terus sampai anak lahir. terjadi atau diketahui pertama kali saat kehamilan berlangsung. d. Pada wanita hamil saat yang paling baik adalah trimester II namun berbahaya bagi bayinya karena setelah operasi harus diberikan obat anti pembekuan terus menerus dan akan menyebabkan bahaya perdarahan pada persalinannya. Diabetes Melitus Diabetes mellitus pada kehamilan adalah intoleransi karbohidrat ringan (toleransi glukosa terganggu) maupun berat (DM). penatalaksanaan. Operasi pada jantungn untuk memperbaiki fungsi sebaiknya dilakukan sebelum hamil. Pemberian oksitosin cukup aman. digitalis. hati-hati memberikan obat tokolitik pada pasien dengan penyakit jantung karena dapat menyebabkan edema paru atau iskemia miocard terutama pada kasus stenosis aorta atau mitral. Prognosis hasil konsepsi lebih buruk akibat dismaturitas dan gawat janin waktu persalinan. Laktasi dilarang bagi pasien kelas III dan IV. 8) Prognosis Prognosis tergantung klasifikasi. awasi dengan ketat. Obat terpilih adalah heparin secara SC. Umumnya persalinan pervaginam lebih aman namun kala II harus diakhiri dengan cunam atau vacuum. Setelah kala III selesai. dan diuretic biasanya gejala gagal jantung akan cepat hilang. untuk menilai terjadinya decompensasi atau edema paru. Kelainan yang paling sering menyebabkan kematian adalah edema paru akut pada stenosis mitral. Definisi ini mencakup pasien yang sudah mengidap DM (tetapi belum terdeteksi) yang baru diketahui saat kehamilan ini dan yang benar-benar menderita DM akibat hamil Dalam kehamilan terjadi perubahan metabolisme endokrin dan karbohidrat yang menunjang pemasokan makanan bagi janin serta persiapan untuk menyusui. Glukosa dapat berdifusi secara tetap melalui plasenta kepada janin sehingga kadarnya dalam darah janin hampir menyerupai kadar darah ibu. penyulit lain yang tidak berasal dari jantung. Dengan tirah baring. dan kepatuhan pasien. usia. Insulin ibu tidak dapat mencapai janin sehingga kadar gula ibu yang 23 .

hiperbilirubinemia. hipertensi kronik. kematian ibu (b). kelainan congenital. gawat nafas. riwayat DM pada kehamilan sebelumnya. Fetal : abortus spontan. Tidak tergantung insulin (TTI) – Non Insulin Dependent diabetes mellitus (NIDDN) yaitu kasus yang tidak memerlukan insulin dalam pengendalian kadar gula darah. obesitas. melahirkan bayi lebih dari 4000 gr. hipoglikemia. Tergantung insulin (TI) – Insulin dependent Diabetes Melitus yaitu kasus yan memerlukan insulin dalam mengembalikan kadar gula darah. Akibat lambatbya resopsi makanan maka terjadi hiperglikemi yang relatif lama dan ini menuntut kebutuhan insulin. riwayat pernah melahirkan anak mati tanpa sebab. makrosomia. kematian trauma lahir. kematian intra uterin. riwayat melahirkan bayi dengan cacat bawaan. Maternal : infeksi saluran kemih. 1) Diagnosis Deteksi dini sangat diperlukan agar penderita DM dapat dikelola sebaik-baiknya. PE. riwayat BBL > 4500 gr dan infeksi saluran kemih berulang selama hamil. 24 . insufisiensi plasenta. hipokalsemia. Neonatal neonatal. polisitemia. hydramnion. disamping beberapa hormon lain : estrogen. kematian intra uterin.mempengaruhi kadar pada janin. Terutama dilakukan pada ibu dengan factor resiko berupa beberapa kali keguguran. Juga terdapat riwayat ibu : umur ibu > 30 tahun. : prematuritas. 2) Klasifikasi (a). steroid dan plasenta laktogen. riwayat DM dalam keluarga. 3) Komplikasi (a). (b). riwayat PE dan polyhidramnion. syndroma hipomegnesemia. Pengendalian kadar gula terutama dipengaruhi oleh insulin. (c).

Pantau kadar glukosa darah minimal 2 kali seminggu dan kadar Hb glikosila. yaitu kadar glukosa darah puasa < 105 mg/dl. Kehamilan dengan DM yang berkomplikasi harus dirawat sejak UK 34 minggu dan baisanya memerlukan insulin. namun harus selalu diperhatikan gerak janin (normalnya >20 kali/12 jam). lakukan amniosentesis dahulu untuk memastikan kematangan janin (bila UK <38 minggu). Ajarka pasien memantau gula darah sendiri di rumah dan anjurkan untuk kontrol 2-4 minggu sekali bahkan lebih sering lagi saat mendekati persalinan.5 kg /minggu. Obat hipoglikemik oral tidak dapat dipakai saat hamil dan menyusui mengingat efek teratogenitas dan dikeluarkan melalui ASI. dan secara khusus memakai USG dan KTG. Selain itu juga menjaga agar tidak ada episode hipoglikemia. Adanya makrosomia pertumbuhan janin terhambat dan gawat janin merupakan indikasi SC. Lakukan penilaian setiap akhir minggu sejak usia kehamilan 36 minggu. Janin sehat dapat dilahirkan pada umur kehamilan cukup waktu (40-42 minggu) dengan persalinan biasa. tidak ada ketonuria. 2 jam sesudah makan < 120 mg/dl. serangannya tak sama pada kehamilan pertama dan 25 . kenaikan BB pada trimester I diusahakan sebesar 1-2. Pengaruh kehamilan terhadap timbulnya asma tidak sama pada setiap penderita. Ibu hamil dengan DM tidak perlu dirawat bila keadaan diabetesnya terkendali baik. total kenaikan BB sekitar 10-12 kg.4) Penatalaksanaan Prinsipnya adalah mencapai sasaran normoglikemia. Asma Asma Bronkiale merupakan salah satu penyakit saluran nafas yang sering dijumpai dalam kehamilan dan persalinan. mendengarkan DJJ. bahkan pada seorang penderita asma. Bila diperlukan terminasi kehamilan. dan pertumbuhan fetus normal. e. dan kadar HbA1c<6%.5 kg dan selanjutnya 0. Penatalaksanaan Obstetric Pantau ibu dan janin dengan mengukur TFU.

pengaruh udara dan factor psikis. mencegah timbulnya stress (b). Menghindari factor resiko/pencetus yang sudah diketahui secara intensif (c). partus premature dan gangguan petumbuhan janin. infeksi saluran nafas. Pada asma yang ringan dapat digunakan obat-obat local yang berbentuk inhalasi. karena ibu dan janin akan kekurangan oksigen atau hipoksia. atau peroral seperti isoproterenol (e). Keadaan hipoksia bila tidak segera diatasi tentu akan berpengaruh pada janin dan sering terjadi keguguran. Biasanya serangan akan timbul mulai UK 24-36 minggu dan pada akhir kehamilan jarang terjadi serangan. 26 . 3) Penatalaksanaan (a). 1) Komplikasi Pengaruh asma pada ibu dan janin sangat tergantung dari sering dan beratnya serangan. dan berikan antibiotika kalau ada sangkaan terdapat infeksi. sesak. biasanya penderita mengeluh nafas pendek. Pada keadaan lebih berat penderita harus dirawat Hindari penggunaan obat-obat yang mengandung iodium karena dapat membuat gangguan pada janin. Upayakan persalinan secara spontan namun bila pasien berada dalam serangan. Penderita selama kehamilan perlu mendapat pengawasan yang baik. berbunyi. dan batuk-batuk. lakukan VE atau Forcep. Mencegah penggunaan obat seperti aspirin dan semacamnya yang dapat menjadi pencetus timbulnya serangan (d).berikutnya. 2) Manifestasi Klinis Factor pencetus timbulnya asma antara lain zat-zat alergi. SC atas indikasi asma jarang atau tak pernah dilakukan. Diagnosis dapat ditegakkan seperti asma diluar kehamilan.

syaraf mata atrofi. penyakit kejang. diare. Daging Konsumsi daging yang terinfeksi adalah penyebab utama toxoplasma di Eropa. Oocyst dalam feses menyebar melalui udara dan ketika dihirup akan dapat menyebabkan infeksi. Kucing Organisme tempat toxoplasma gondii hidup adalah kucing. Sekitar ½ dari beberapa kucing yang diuji mempunyai antibody toxoplasma.2. demam. mual. (b). hepatosplenomegali. hydrocephalus. hipotermi. pneumonia. mikroftalmia. mikrosefali. Ibu dengan toxoplasma gondii biasanya tidak menampakan gejala walaupun 10%-20% ibu yang terinfeksi BBL dengan menderita toxoplasma congenital terinfeksi saat berada di dalam uterus secara transplacental. glaucoma. Berikut adalah temuan-temuan yang didapatkan pada bayi dengan infeksi toxoplasma congenital: chorioretinitis. Infeksi yang Menyertai Kehamilan dan Persalinan a. dimana dibatasinya penggunaan lemari pendingin dan biasanya daging tidak dibekukan. Feses kucing sudah sangat infeksius. limpadenopati. Seharusnya 27 . katarak. kuning. Penularan (a). Choriuretinitis merupakan manifestasi klinis yang serinng muncul apada BBL sebagai gejala toxoplasma. Ini berarti bahwa kucing tersebut terinfeksi karena memakan hewan pengerat dan burung pemakan daging yang terinfeksi. TOXOPLASMOSIS 1) Temuan klinis Toxoplasmosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh toxoplasma gondii. Sporulasi organisme ini terjadi setelah 1-5 hari dalam kotoran dan dapat dicegah dengan pembuangan sampat setiap hari.

(a). Wanta hamil dengan infeksi akut dapat dirawat dengan kombinasi pyrimethamine. penyakit kuning. Adanya IgM toxoplasma spesifik pada bayi baru lahir memperjelas diagnosa infeksi congenital. (2). demam.daging dimasak pada suhu yang tinggi untuk mecegah terjadinya penularan toxoplasma 2) Diagnosis (a). kecuali pada keadaan imonosekresi yang amat besar. Ibu Diagnosa klinis toxoplasma akut tidak dapat dipercaya apabila tidak ditemukan tanda yang spesifik berkaitan dengan infeksi. Terdeteksi antibody IgM toxoplasma . atau (3). Penatalaksanaan dan pencegahan 1) Ibu Prognosa pada infeksi yang akut baik. dan hepatosplenomegali. (b). asam folimik dan sulfonamide. Menunjukan hasil yang positif pada uji yang dilakukan Terjadi peningkatan antibody yang diperoleh dari serum ibu pada dua kali pemeriksaan yang berbeda. Gejala klinik yang paling banyak ditemukan adalah chorioretinitis.Diagnosa utama infeksi toxoplasma selama kehamilan adalah meliputi salah satu dari hal berikut: (1). Anak Gejala klinis pada bayi baru lahir akan dapat ditemukan seperti pada temuan diatas. Adanya kista toxoplasma gondii pada pemerikaan histology plasenta juga mendukung kuat diagnosa infeksi pada bayi. Diagnosa prenatal Mendiagnosa toxoplasma pada kehamilan dipercaya dengan cairan amnion atau darah janin yang dapat didiagnosa dengan amniosentesis atau cordosentesis. (c).. Dosis standar pyrimethamine adalah 25 mg/hari/oral 28 .

Sering dijumpai apabila infeksi dijumpai pada kehamilan trimester I (30-50%). Anggota tubuh anak yang bisa menderita karena rubella: 1) 2) Mata (katarak. kebodohan) 1) Diagnosis Diagnosis rubella tidak selalu mudah karena gejala-gejala kliniknya hampir sama dengan penyakit lain. Asam folimik diberikan dengan dosis 6 mg secara IM atau per oral setiap pada hari yang berbeda untuk mengetahui apakah benar habisnya asam folat disebsbkan oleh Pyrimethamine. stenosis pulmonalis. Adanya gejala infeksi pada bayi lahir harus ditangani dengan pemberian pyrimethamine dengan dosis 1 mg/kg/hr/oral selam 34 hari. septum terbuka) 3) 4) Alat pendengaran (tuli) Susunan syaraf pusat (meningoensefalitis.5 mg/kg/hr selam 21-30 hari dan sulfadiazine dengan dosis 20 mg/kg per oral selam 1 tahun. mikroftalmia) Jantung (Duktus arteriosus persisten. glaucoma. apabila tidak terinfeksi harus menunjukan adanya penurunan titer antibody IgG terhadap toxoplasma. Pada bayi yang Tidak ditemukannya temuan yang lain yang mencurigakan terjadinya infeksi congenital. kadang tidak jelas atau tidak 29 . oleh karena itu tidak perlu diisolasi.. Pyrimethamine adalah musuh dari asam folik dan oleh karena itu mungkin memberikan efek teratogenik jika diberikan pada trimester I. harus dipantau. Infeksi congenital pada bayi baru lahir bukan merupakan infeksius.. dilanjutkan dosis 0. Bayi baru lahir yang tidak menunjukan infeksi dan positif antibody IgG toxoplasma spesifiknya mungkin didapatkan dari ibunya secara transplasetal.dan 1 gr sulfadiazine peroral 4 X/hari selam 1 tahun. b. RUBELLA Rubella dapat meningkatkan angka kematian perinatal dan sering menyebabkan cacat bawaan pada janin.

Setelah trimester I. kemudian menghilang secara cepat (e). (d).ada sama sekali.3% dalam trimester III. (c). Nilai titer antibody (a). Diagnosis pasti dapat dibuat dengan isolasi virus atau dengan dotemukannya kenaikan titer anti rubella dalam serum. 30 . maka abortus buatan perlu dipertimbangkan. Virus pada rubella sering mencapai dan merusak embrio dan fetus.8% dalam trimester II dan 5. (b). Akan tetapi. (b). diberikan sebelum perkawinan. lebih baik vaksinasi Pemberian vaksin pada wanita selam kunjungan prekonsepsi dianjurkan untuk uji serologi varicella apabila klien selama masa kanak-kanaknya tidak mempunyai riwayat infeksi. yang lebih manjur ialah vaksin rubella. Imunitas 1:10 atau lebih Imunitas rendah < 1:10 Indikasi adanya infeksi saat ini ≥ 1:64 Apabila wanita hamil dalam trimester I menderita viremia. kemungkinan cacat bawaan menjadi kurang yaitu 6. Tanda dan Gejala klinis: (a). vaksinasi ini sering menimbulkan artralgia atau arthritis.. dan pula vaksinasi yang dilakukan tidak lama sebelum terjadinya kehamilan atau dalam kehamilan dapat menyebabkan infeksi janin. menyebar secara cepat dari wajah ke seluruh tubuh. Kelenjar leher membengkak Durasi 3-5 hari Hingga kini tidak ada obat-obatna yang dapat mencegah viremia pada orang yang tidak kebal. (c). kontraindikasi pada kehamilan adalah menghindari konsepsi selama 3 bulan setelah vaksinasi. (f). Demam-ringan Merasa mengantuk Sakit tenggorok Kemerahan sampai merah terang atau pucat. manfaat gamaglobulin dap\lam hal ini masih diragukan. Karena itu.

mikrocephalus. Kesulitan lain ialah bahwa infeksi CMV pada ibu biasanya tidak menimbulkan gejala dan sering tidak diketahui. Selain melalui plasenta. Transfusi darah juga dapat menularkan infeksi CMV. dan pneumonitis. 10-15% anak yang mengalami infeksi congenital akan mengalami cacat bawaan. penyakit ini dapat menyebabkan kematian janin dan bayi. CMV (CITOMEGALO VIRUS) Infeksi primer CMV dapat terjadi dengan frekuensi 1-2%. maka dapat diberi pengobatan simptomatik dan istirahat. Bila diketahui terdapat gejala infeksi. hepatosplenomegali dan sepsis yang tarjadi pada bulan pertama kehidupannya. Infeksi yang terjadi setelah lahir ini akan menampilkan gejala pneumonia. dan urin ibu yang melahirkannya. atau pada konjungtiva dan selaput lendir mulut. gangguan pendengaran. mikroftalmia. Diagnosis pada ibu ditegaskan melalui pemeriksaan serologik (biasanya dengan cara ELISA). infeksi dapat sampai ke BBL melalui kontak virus dari serrvik. Hingga kini tidak dikenal pengobatan yang manjur bagi penyakit ini bagi ibu maupun neonatus. purpura. retardasi mental dan mungkin ditemukan kalsifikasi serebral. Virus biasanya dapat diisolasi dalam pembiakan jaringan. korioretinitis. 31 . Bila infeksi terjadi pada trimester I atau awal trimester kedua dapat timbul keadaan hydrocephalus. d.c. trombositopeni. Infeksi congenital kekerapannya adalah 1-2% dari kehamilan. hernia. Pada bayi dapat dijumpai gelembung-gelembung pada kulit di seluruh badan. Bila infeksi terjadi pada bulan-bulan terakhir kehamilan dapat dijumpai hepatosplenomegali. faring. Ibu dengan status imunitas yang rendah dan infeksi yang berat perlu diberi obat antivirus. karena klinis tidak menunjukkan gejala yang khas. Kematian bayi dapat pula disebabkan oleh ensefalitis herpes virus. ASI. Walaupun demikian. Walaupun jarang. HERPES Infeksi herpes virus hominis pada orang dewasa biasanya ringan.

Virus tipe II dapat menyebabkan herpes genitalis dengan gelembung-gelembung berisi cairan di vulva, vagina, dan servik, yang dikenal juga dengan nama herpes simpleks. Penularan kepada anak dapat terjadi melalui: (a). Hematigen melalui plasenta (b). Akibat penjalaran ke atas dari vagina ke janin apabila ketuban pecah (c). Melalui kontak langsung pada waktu bayi lahir Diagnosis tidak sulit yaitu apabila terdapat gelambunggelambung di daerah alat kelamin, ditemukannya benda-benda inklusi intranuklear yang khas di dalam sel-sel epitel vulva, vagina atau servik setelah dipulas menurut papanicolau, memberi kepastian dalam diagnosis. Herpes genitalis merupakan infeksi virus yang senantiasa bersifat kronik, recurrent, dan dapat dikatakan sulit diobati. Sampai saat ini hanya satu cara pengobatan herpese yang cukup efektif, yaitu antivirus yang disebut acyclovir. Acyclovir dalam kehamilan tidak dianjurkan,

kecuali bila infeksi yang terjadi merupakan keadaan yang mengancam kematian ibu, seperti adanya ensefalitis, pneumonitis, dan atau hepatitis, dimana acyclovir dapat diberikan secara IV. SC dianjurkan pada wanita yang pada saat kelahiran menunjukkan gejala-gejala akut pada genetalia, untuk menghindari penularan akibat kontak langsung. Karena bila dengan persalinan pervaginam 50% bayi akan mengalami infeksi. Pada pasca persalinan, ibu yang menderita herpes aktif harus diisolasi. Bayinya dapat diberikan untuk menyusui bila ibu telah cuci tangan mengganti baju yang bersih.

e. SYPHILIS Infeksi syphilis (lues) yang disebabkan oleh Treponema pallidum, baik yang sudah lama maupun yang baru diderita oleh ibu dapat ditularkan kepada janin. Syphilis kongenita merupakan bentuk penyakit syphilis yang terberat. Infeksi pada janin dapat terjadi setiap saat dalam

32

kehamilan, dengan derajat risiko infeksi yang tergantung jumlah spiroketa (treponema) di dalam darah ibu. Sudah diketahui secara umum bahwa syphilis mempunyai pengaruh buruk pada janin: dapat menyebabkan kematian janin, partus immaturus, dan partus prematurus. Dalam hal demikian dapat dijumpai gejala-gejala syphilis kongenita, diantaranya pemfigus syfilitikus,

deskwamasi pada telapak kaki dan tangan, serta rhagade di kanan-kiri mulut. Pada persalinan tampak janin atau plasenta yang hidropik. Syphilis harus diobati segera setelah diagnosis dibuat, tanpa memandang tuanya kehamilan. Lebih dini dalam kehamilan pengobatan diberikan, lebih baik prognosis bagi janin. Syphilis primer yang tidak diobati dengan adekuat, 25% akan menjadi syphilis sekunder dalam waktu 4 tahun. Bayi yang lahir dari ibu dengan syphilis boleh tetap mendapat ASI. Bila ibu tersebut masih menderita lesi pada kulit, kontak dengan bayinya harus dihindari.

f. VARICELLA (CACAR AIR/CHICKEN POX) Varicella merupakan penyakit anak-anak dan sangat jarang dijumpai dalam kehamilan dan nifas. Walaupun umumnya cacar air itu suatu penyakit ringan, namun pada wanita hamil kadang-kadang bisa menjadi berat dan dapat menyebabkan partus prematurus. Disangka

bahwa telah terjadi penularan intra uterin apabila gelambung-gelambung timbul dalam 10 hari setelah kelahiran. Frekuensi cacar bawaan tidak lebih tinggi pada para bayi yang lahir dari ibu yang menderita cacar air dalam masa hamil. g. INFEKSI TRAKTUS URINARIUS Infeksi saluran kencing adalah infeksi bakteri yang paling sering dijumpai pada kehamilan. Walaupun bakteri uria asimtomatik merupakan hal biasa, infeksi simtomatik dapat mengenai salran bawah yang

33

menyebabkan sisititis, atau menyerang kaliks, pelvis, dan parenkim ginjal sehingga mengakibatkan pielonefritis. Organisme yang emnyebabkan infeksi saluran kemih berasal dari flora normal perineum. Sekarang terdapat bukti bahwa beberapa galur escherichia coli memiliki pili yang meningkatkan virulensinya. Walaupun kehamilan itu sendiri tampaknya tidak meningkatkan factor-faktor virulensi ini, stasis air kemih tampaknya menyebabkan hal itu, dan bersama dengan revluksvesikoureter, stasis mempermudah timbulnya gejala infeksi saluran kemih bagian atas. Overdistsnsi yang disertai kateterisasi untuk mengeluarkan iar kemih sering menyebabkan infeksi saluran kemih. a. Bakteriuria Asimtomatik kondisi ini mengacu pada perkembangan bakteri yang terusmenerus secara aktif di dalamsaluran kemih tampa menimbulkan gejala. Insiden selama kehamilan bergantung pada paritas, ras dan status social ekonomi b. Sistitis Dan Uretritis Biasanya sistitis di tandai oleh disuria, urgensi dan frekuensi. Biasanya ditemukan bakteri uria dan piuria. c. Pielonefritis Akut Infeksi ginjal merupakan penyulit medis paling serius pada kehamilan, terjadi pada sekitar 2 % wanita hamil. Keseriusan pielonefritis akut selam kehamilan digaris bawahi sebagai penyebab utama syok septic selama kehamilan. Infeksi ginjal lebih sering terjadi setelah pertengahan kehamilan, pada lebih dari separuh kasus penyakitnya unilateral dan di sisi kanan, sedangkan pada ¼ bilateral. Pada sebagian besar wanita, infeksi disebabkan oleh bakteri yang naik dari saluran kemih bawah. Antara 75-90 % infeksi ginjal disebabkan oleh bakteri yang meimiliki adehesin fimbriae-P. Gejala meliputi demam, menggigil hebat, dan nyeri tumpul di salah satu atau kedua regio lumbal. Pasien mungkin

34

bila perlu IV 2. koriamnionitis. Pada wanita hamil. rasa nyeri biasanya dapat ditimbulkan dengan perkusi disalah satu atau kedua sudut costovertebra. Pada trimester I dapat terjadi keguguran. akan tetapi jarang dijumpai kelainan congenital (anomaly pada janin). Walaupun diagnosis biasanya mudah. mual dan muntah. pielonefritis dapat disangka sebagai proses persalinan. atau masa neonatus. atau infark myoma. Periksa HbsAg 4. Istirahat. factor 35 . waktu lahir. seringkali dalam gumpalangumpalan dan banyak bakteri.mengalami anoreksia. Pada hepatitis B janin kemungkinan dapat tertular melalui plasenta. karena akan mempertinggi risiko pada ibu. Kontrol kadar bilirubun. dan masa nifas disangka sebagai metritis dengan selulitis panggul. Perjalanan penyakit dapat sangat bervariasi dengan demam sampai setenggi 40 °C atau lebih dan hipotermia sampai 34°C. hepatitis virus dapat terjadi pula setiap saat kehamilan dan mempunyai pengaruh buruk pada janin maupun ibunya. walaupun masih masih kontroversi penularan melalui air susu. Sedimen urin sering mengandung banyak leukosit. diberi nutrisi dan cairan yang cukup. serum glutamic oksaloasetik transaminase (SGOT). h. pemyebab hepatitis infeksiosa terutama oleh virus hepatitis B. serum glutamic piruvic transaminase (SGPT). walaupun kemingkinan juga dapat karena virus hepatitis A atau Hepatitis C. HEPATITIS Hepatitis infeksiosa disebabkan oleh virus dan merupakan penyakit hati yang paling sering dijumpai dalam kehamilan. Sedangkan pada trimester II dan III sering terjadi premature. Isolasi cairan lambung dalam atau cairan badan lainnya dan ingatkan tentang pentingnya janin dipisahkan dengan ibunya 3. Penatalaksanaan 1. appendicitis. solusio plasenta. Tidak dianjurka untuk melakukan terminasi kehamilan dengna induksi atau SC.

terutama pneumocystis carinii pneumonia. Penderita AIDS mempunyai gejal awal yang tidak spesifik seperti fatique. karena kemungkinan telah ada disseminated intravaskular coagulapathy (DIC) 5. HIV/AIDS Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kehamilan dapat memperberat kondisi klinik wanita dengan infeksi HIV. Penularan kepada penolong persalinan dapat terjadi dengan rate 0-1% pertahun exposure.pembekuan darah. Cegah penggunaan obat-obat yang bersifat hepatotoksik 6. sebaiknya dilakukan oleh dokter anak yang 36 . hepatitis. herpes. Perawatan pascapersalinan perlu diperhatikan yaitu kemungkinan penularan melalui pembalut wanita. Pengobatan infeksi HIV dan penyakit oportunisyiknya dalam kehamilan merupakan masalah. CMV. luka episiotomi ataupun luka SC. atau mungkin menderita candidiasis orofaring maupun vagina. ataupun infeksi toksoplasmik. Bila telah terdiagnosis adanya AIDS perlu dilakukan pemeriksaan apakah ada infeksi PHS lainnya. karena banyak obat belum diketahui dampak buruknya dalam kehamilan. SC bukan merupakan indikasi untuk menurunkan risiko infeksi pada bayi yang dilahirkan. Pemberian AZT (Zidovudine) dapat memperlambat kematian dan menurunkan frekuensi serta beratnya infeksi oportunistik. TBC dan lain-lain. sepeerti gonorrhea. BB menurun. Sampai saat ini belum ada pengobatan AIDS yang memuaskan. Untuk perawatan bayi. Kematian pada ibu hamil dengan HIV positif kebanyakan disebabkan oleh penyakit oportunisyik yang menyetainya. Pada bayi yang baru dilahirkan dalam 2x24 jam diberi suntikan anti hepatitis serum i. Dalam persalinan. lochea. Pada ibu yang HbsAg positif perlu diperiksa HbsAg anak karena kemungkinan terjadi penularan melalui darah tali pusat 7. anoreksia. chlamydia. Tindakan operasi seperti SC akan memperburuk prognosis ibu 8.

ginjal. lebih besar kemungkinan berakhirnya kehamilan.khusus untuk menangani kasus ini. Perawatan ibu dan bayi tidak perlu dipisah. Asma maka dalam kehamilanna akan benyak mengalami komplikasi dai penyakitnya tesebut. misalnya jangan lakukan sirkumsisi. Diabetes Militus. namun sebaiknya penderita tidak menyusui bayinya karena keadaan umum ibu biasanya tidak mengizinkan. Selain penakit ibu hamil besalin dan nifas entan mengalami infeksi 37 . Pengobatan dengan kloramfenikol atau tiamfenikol (Urfamycin). Rangkuman Materi Pada masa kehamilan pesalinan dan nifas tubuh wanita hamil besalin dan nifas akan mengalami peubahan fisiologis untuk menusuaikan diri. Perawatan tali pusat harus dijalankan dengan cermat. j. namun tidak menutup kemungkinan bahwa hamil dan bersalin dapat mempeberat atau diperberat oleh berbagai penyakit yang bedampak pada beratnya pesalinan dan nifasnya. Dalam 60-80 % hasil konsepsi keluar secara spontan : lebih dini terjadinya infeksi dalam kehamilan. C. dan nifas menunjukan angka kematian yang lebih tinggi dari pada di luar kehamilan. TYPUS ABDOMINALIS Typus abdominalis dalam kehamilan. Kumankuman tufus abdominalis tidak di keluarkan melalui air susu. Tifus abdominalis tidak merupakan indikasi bagi abortus buatan. Antibodi yang didapatkan pasif dari ibu akan dapat bertahan sampai 15 bulan. Jadi diperlukan pemeriksaan ulang berkala untuk menentukan adanya perubahan ke arah negatif atau tidak. Imunisasi yang menggunakan virus hidup sebaiknya ditunda sampai terbukti bahwa bayi tersebut tidak menderita virus HIV. Infeksi pada bayi mungkin baru tampak pada usia 12-18 bulan. dan karena kemungkinan penuluaran oleh ibu melalui jalan lain tetap ada. Jantung. Penyakit ini mempunyai pengaruh buruk terhadap kehamilan. harus diusahakan agar pada bayi tidak dilakukan tindakan yang membuat perlukaan bila tidak perlu betul. Wanita yang mempunyai penyakit sebelum hamilnya sepeti penyakit pada paru-paruna atau TBC.

Klasifikasi penyakit jantung dalam kehamilan (a). dan menurunkan after load dengan vasodilator.sepeti Sypilis CMV. Herpes. Toxoplasmosis. menurunkan preload dengan deuretik. D. Rubella. Secara garis besar penatalksanaan mencakup mengurangi beban kerja jantung dengan tirah baring. Kelas IV • Tidak mampu melakukan aktivitas fisik apapun Penatalaksanaan Sebaiknya dilakukan dalam kerjasama dengan ahli penyakit dalam atau ahli jantung. jantung berdebar (palpitasi cordis). Rambu. Kelas II Sedikit pembatasan kegiatan fisik Saat istirahat tidak ada keluhan Pada kegiatan fisik biasa timbul gejala isufisiensi jantung seperti: kelelahan. sesak nafas atau angina pectori (c). HIV/AIDS. Diskusikan tentang klasifikasi penyakit jantung pada kehamilan dan penatalaksanaannya ! 2. Varicella. Infeksi Tranktus Urinarius. Penatalaksanaan dilakukan berdasarkan klasifikasinya yaitu : 38 . Typus Abdominalis. Kelas III • • • Banyak pembatasan dalam kegiatan fisik Saat istirahat tidak ada keluhan Pada aktifitas fisik ringan sudah menimbulkan gejala-gejala insufisiensi jantung (d). Sebutkan temuan-temuan pada bayi yang teinfeksi Toxoplasma! E. Hepatitis. Kelas I • • • • • Tanpa pembatasan kegiatan fisik Tanpa gejala penyakit jantung pada kegiatan biasa (b). meningkatkan kontraktilitas jantung dengan digitalis.Rambu Jawaban Soal 1. Latihan / Tugas 1.

Pasien dirawat bila keadaan memburuk. 3. Pada kala II dapat spontan bila tidak ada gagal jantung. Berikut adalah temuan-temuan yang didapatkan pada bayi dengan infeksi toxoplasma congenital: chorioretinitis. diare. UK. glaucoma. Bila berlangsung 20 menit dan ibu tidak dapat dilarang meneran akhiri dengan ekstraksi cunam atau vacum dengan segera (c). 1997. Kelas I Tidak memerlukan pengobatan tambahan (b). mikrosefali. hepatosplenomegali. Buku Panduan Praktis Maternal dan Neonatal. Kelas II Umumnya tidak memerlukan pengobatan tambahan. limpadenopati. Kala persalinan biasanya tidak berbahaya. terutama pada UK 28-32 minggu. 4. Midwifery. Lakukan pengawasan dengan ketat. namun harus diawasi dengan ketat. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. 2001. Syaifudin. katarak. kejang. mual. hanya harus menghindari aktifitas yang berlebihan. Daftar Pustaka 1. F. Pengawasan kala I setiap 10-15 menit dan kala II setiap 10 menit. syaraf mata atrofi. hipotermi. mikroftalmia. pneumonia. demam. Jones and Bartlett Publisher Mayes. hydrocephalus. Kelas III Dirawat di RS selam hamil terutama pada UK 28 minggu dapat diberikan diuretic (d). Kelas IV Harus dirawat di RS 2. penyakit kuning.(a). Kedua kelas ini dapat meneruskan kehamilan sampai cukup bulan dan melahirkan pervaginam. Midwifery. 12 th Edition 2000 39 . Jakarta. 2001 Varney’s H. YBPSP 2.

Jakarta. 1998. dkk. YBPSP Hanifa. Ilmu kandungan. Jakarta Hanifa. 6. Jakata. dkk. Sinopsis Obstetri Jilid I. Ilmu Kebidanan. 7.5. 2006. YBPSP Tim pengajar askeb IV. 1999. Tidak diterbitkan. Mochtar R. Workshop kurikulum mata ajar Askeb IV. 1999. 40 . 8.

disebut anemia berat. e). 1) Penyebab anemia umumnya adalah: a). cacing usus. Dalam kehamilan. Pemeriksaan kadar hemoglobin selama pengawasan antenatal. KELAINAN DAN PENYAKIT DALAM KEHAMILAN A. seseorang disebut menderita anemia bila kadar hemoglobin (Hb) kurang dari 10 gr%.BAB III ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU DENGAN KOMPLIKASI. paru. II. Anemia Dalam Kehamilan Baik di negara maju maupun di negara berkembang. Penyakit-penyakit kronis: tbc. Kurang gizi (malnutrisi) b). haid dan lain-lain. Kehilangan darah yang banyak: persalinan yang lalu. atau bila kurang dari 6 gr%. B. Kurang zat besi dalam diet c). Wanita hamil mempunyai nilai normal hemoglobin 12-15 gr% dan hematokrit 35-54. Uraian Materi 1. III. sebaiknya pemeriksaan dilakukan setiap 3 bulan atau paling sedikit 1 kali pada pemeriksaan pertama atau pada triwulan 1 dan sekali lagi pada triwulan akhir. Komplikasi dan Penyulit Kehamilan Trimester I dan II a. jumlah darah bertambah (hiperemia/hipervolumia) karena itu terjadi pengenceran darah karena sel-sel darah tidak sebanding pertambahannya dengan plasma darah. Kompetensi dasar Mampu menjelaskan komplikasi. disebut anemia gravis. Malabsorpsi d). kelainan dan penyakit dalam kehamilan trimester I. 41 . malaria dan lain-lain.

kemasan diberikan secara intramuskuler atau intravena. Per oral: sulfas serosus atau glukonas ferosus dengan dosis 3. FNB Amerika Serikat (1958): 12 mg-15 mg-15 mg (2). Penyebabnya telah dibicarakan di atas sebagai penyebab anemia umumnya. LIPI Indonesia (1968): 12 mg-17 mg-17 mg Kemasan zat besi dapat diberikan per oral atau parental (1). jectofer dan ferrigen.5 x 0. imferon. Hasilnya lebih cepat dibandingkan per oral.29 mg (2). b) Anemia megaloblastik Anemia megaloblastik biasanya berbentuk makrositik atau pernisiosa. Pengobatan: Keperluan zat besi untuk wanita non hamil. jarang 42 . pengenceran darah ini adalah untuk membantu meringankan kerja jantung.Perbandingan pertambahan tersebut adalah: a) b) c) Plasma darah bertambah: 30 % Sel-sel darah bertambah: 18 % Hemoglobin bertambah: 19 % Secara fisiologis. 2) Klasifikasi anemia dalam kehamilan: a) Anemia defisiensi besi Anemia jenis ini biasanya berbentuk normositik dan hipokromik serta paling banyak dijumpai. hamil dan dalam laktasi yang dianjurkan adalah: (1). Parenteral: diberikan bila ibu hamil tidak tahan pemberian per oral atau absorbsi di saluran pencernaan kurang baik. Kemasan ini antara lain. Penyebabnya adalah karena kekurangan asam folik.

Ini dapat disebabkan oleh: (1). penyakit hodgkin Gejala utama adalah anemia dengan kelainan-kelainan gambaran darah. talasemia. disebabkan malaria. leracunan. Sulfas ferosus 3x1 tablet per hari (4). Faktor intrakorpuskuler. pemeriksaan retikulosit. kecuali yang disebabkan oleh infeksi berat (sepsis). anemia sel sickle (sabit) (2). Tirapi dengan obat-obatan tidak memuaskan: mungkin pengobatan yang paling baik yaitu tranfusi darah. Biasanya karena malnutrisi dan infeksi yang kronik. pemeriksaan fungsi sternal. Untuk diagnosis diperlukan pemeriksaan : darah tepi lengkap. seerta gejala komplikasi bila terjadi kelainan pada organorgan vital. kelelahan. Faktor ekstrakorpuskuler. Asam folik 15-30 mg per hari (2). Penyebabnya belum diketahui. dan dapat beserta obat-obatan. Vitamin B12 3x1 tablet per hari (3). dijumpai pada anemia hemolitik heriditer. Pada kasus berat dan pengobatan per oral hasilnya lamban sehingga dapat diberikan transfusi darah c) Anemia hipoplasti Anemia hipoplasti disebabkan oleh hipofungsi sumsum tulang membentuk sel-sel darah merah baru. d) Anemia hemolitik Anemia hemolitik disebabkan penghancuran/pemecahan sel darah merah yang lebih cepat dari pembuatannya. 43 . dan sinar rontgen atau sinar radiasi. yang perlu sering diulang. leukemia. Pengobatan: (1). sepsis.selaki akibat karena kekurangan vitamin B12. keracunan zat logam.

sering terjadi pada primigravida. hipertiroid 44 . namun beberapa faktor mempunyai pengaruh antara lain: 1) Faktor Predisposisi. Bila disebabkan oleh infeksi maka infeksinya diberantas dan diberikan obat-obat penambah darah. b. HIPEREMESIS GRAVIDARUM Hiperemesis gravidarum adalah mual dan muntah yang berlebihan pada wanita hamil sehingga mengganggu pekerjaan sehari-hari dan keadaan umumnya menjadi buruk. mola hidatidosa. misalnya rumah tangga yang retak.Pengobatan bergantung pada jenis anemia hemolitik serta penyebabnya. hal ini tidak memberi hasil. karena terjadi dehidrasi. takut terhadap tanggung jawab sebagai ibu. karena masuknya Vili khorialis dalam sirkulasi maternal. takut terhadap kehamilan dan persalinan. Gejala tersebut kurang lebih terjadi 6 minggu setelah hari pertama haid terakhir dan berlangsung selama kurang lebih 10 minggu. Biasanya terjadi pada kehamilan trimester I. 4) Faktor endokrin lain. kehilangan pekerjaan. Namun. pada beberapa jenis obatobatan. diabetes. kehamilan ganda karena peningkatan kadar HCG 2) Faktor Organik. Penyebab hiperemesisi gravidarrum belum diketahui secara pasti. perubahan matabolik akibat hamil dan resistensi ibu yang menurun dan alergi merupakan salah satu respon dari jaringan ibu terhadap anak 3) Faktor psikologik. Maka tranfusi darah yang berulang dapat membantu penderita ini. memegang peranan yang sangat penting.

tidak ada nafsu makan. suhu badan naik. apatis. halus dan cepat. Dapat terjadi ensekalopati wernicke Hiperemesis gravidarum yang merupakan komplikasi mual dan muntah pada hamil muda. turgor kulit mulai jelek. wanita yang sebelum kehamilan sudah menderita lambung spastik dengan gejala tidak suka makan dan mual. lemah. oliguria dan konstipasi. akan mengalami emesis gravidarum yang lebih berat. asam hidroksi butirik dan aseton dalam darah. kesadaran sangat menurun. tekanan darah sistolik turun. hemokonsentrasi. suhu badan naik (dehidrasi). turgor kulit berkurang.Gejala Dan Tingkat Menurut berat dan ringannya dibagi menjadi 3: 1) Tingkat I : ringan Mual muntah terus menerus yang menyebabkan penderita lemah. nadi kecil. tensi turun sekali. tensi turun. ikterus. lidah kering dan kotor. dari nafas berbau aseton 3) Tingkat III : berat Keadaan umum jelek. ikterus ringan. terjadilah ketosis dengan tertimbunnya asam aseton-asetik. Karena oksidasi lemak yang tidak sempurna. dapat pula terjadi asotonuria. nyeri epigastrium nadi sekitar 100x/mnt. somnolen sampai koma. 2) Tingkat II : sedang Mual dan muntah yang hebat menyebabkan keadaan umum penderita lebih parah. lidah kering. dehidrasi berat. mata cekung. berat badan turun. bila terjadi terus menerus dapat menyebabkan dehidrasi dan tidak imbangnya elektrolit dengan alkalosis hipokloremik. Hiperemesis gravidarum dapat mengakibatkan cadangan karbohidrat dan lemak habis terpakai untuk keperluan energi. mata cekung. berat badan turun. Kekurangannya cairan yang diminum dan kehilangan cairan karena 45 . nadi kecil dan cepat.

anti muntah. Penanganan pasien dengan Hiperemesis Gravidarum : (a). sehingga cairan ekstraseluler dan plasma berkurang. Tanda dan gejala i. dengan akibat perdarahan gastrointestinal. vitamin. Selain itu dehidrasi menyebabkan hemokonsentrasi. Pencegahan. menggunakan sedative.muntah menyebabkan dehidrasi. Kekurangan kalium sebagai akibat dari muntah dan bertambahnya ekskresi lewat ginjal.Dapat terjadi terus menerus untuk beberapa hari sampai 2 minggu iv. dan anti mulas (c). menambah frekuensi muntah-muntah yang lebih banyak.Jumlah perdarahan sedikit/ perdarahan bercak iii. dapat terjadi robekan pada selaput lendir esofagus dan lambung. Pencegahan lain yaitu tentang diit ibu hamil dan defekasi yang teratur (b). demikian pula khlorida air kemih. sehingga aliran darah ke jaringan berkurang. antasida. penerangan bahwa kehamilan dan persalinan merupakan proses fisiologis. c. Natrium dan khlorida darah turun. Hiperemesis gravidarum tingkat II dan III harus dirawat inap di RS. ABORTUS 1) Abortus imminens (a). Disamping dehidrasi dan terganggunya keseimbangan elektrolit.Perdarahan vagina: merah segar atau coklat ii. dapat merusak hati. Hal ini menyebabkan jumlah zat makanan dan oksigen kejaringan mengurang pula dan tertimbunnya zat metabolik yang toksik. Terapi obat.Kram abdomen bagian bawah atau sakit punggung normal 46 .

Tirah baring tidak terlalu bermanfaat. tenangkan 47 . tidak melakukan irigasi. serta kondisi ketuban. effacement. Jika pemeriksaan fisik dan ultrasuara negatif. tanggal kelahiran. bekuan darah. Istirahatkan panggul (tidak berhubungan seksual. Manajemen Trimester I dengan sedikit perdarahan. atau bagian-bagian janin • Pemeriksaan bimanual-ukuran uterus. dilatasi. aktivitas normal dapat dilanjutkan kembali kecuali wanita merasa tidak nyaman atau lebih memilih untuk istirahat ii. Dapatkan nilai hemoglobin dan hematokrit. jenis dan Rh (jika belum ada) • Jika pemeriksaan negative. nyeri tekan. Periksakan pada hari berikutnya di rumah sakit Evaluasi tanda-tanda vital Pemeriksaan dengan speculum-merupakan skrining vaginitis dan servisitis. observasi bukaan serviks. Tidak melakukan aktivitas seksual yang menimbulkan orgasme iv. tanpa disertai kram i. atau memasukkan sesuatu ke vagina) iii. Segera beritahu bidan jika terdapat : • • • • • • Perdarahan meningkat Kram dan nyeri pinggang meningkat Semburan cairan dari vagina Demam atau gejala mirip flu v. dan jika mungkin untuk menenangkan wanita. tonjolan kantong ketuban.(b). dapat dilakukan menentukan pemeriksaan ultrasuara untuk kelangsungan hidup janin.

Segera lakukan persiapan untuk pengeluaran hasil konsepsi dari uterus (b). lakukan infus 20 unit oksitosin dalam 500 ml cairan I. Tunggu ekspulsi spontan hasil konsepsi. lakukan evakuasi uterus dengan Aspirasi Vakum Manual (AVM). Jika usia kehamilan lebih dari 16 minggu: (1). kanalis servikalis terbuka dan jaringan/hasil konsepsi dapat teraba Penanganan untuk abotus a) Jika usia kehamilan kurang dari 16 minggu. kemudian evakuasi sisa-sisa hasil konsepsi (2).V (garam fisiologik atau larutan Ringer Laktat) dengan kecepatan 40 tetes per menit untuk membantu ekspulsi hasil konsepsi 48 . kaji ulang gejala bahaya dan pertahankan nilai normal • Konsultasi ke dokter jika terjadi perdarahan hebat. Berikan ergometrin 0. Abortus ditandai dengan: a) b) c) Perdarahan lebih banyak Perut mules (sakit) lebih hebat Pada pemeriksaan dijumpai perdarahan lebih banyak. Jika evakuasi tidak dapat segera dilakukan: (1).2 mg I. atau hasil pemeriksaan fisik dan ultrasuara menunjukan hasil abnormal 2) Abortus Insipiens Keguguran membakat ini tidak dapat dihentikan. Jika perlu. karena setiap saat dapat terjadi ancaman perdarahan dan pengeluaran hasil konsepsi.M (dapat diulang sesudah 15 menit jika perlu) atau misoprostol 400 mcg per oral (dapat diulang sesudah 4 jam jika perlu) (2). kram meningkat.wanita.

2 mg I. beri ergometrin 0.M atau misoprostol 400 mcg per oral (a).2 mg I. beri ergometrin 0. (c). evakuasi dapat dilakukan secara digital atau dengan cunam ovum untuk mengeluarkan hasil konsepsi yang keluar melalui serviks. evakuasi sisa hasil konsepsi dengan: (b).(3). Gejala klinis yang dapat terjadi: a) Perdarahan berlangsung terus b) Perdarahan mendadak c) Disertai infeksi dengan suhu tinggi d) Dapat terjadi degenerasi ganas (korio karsinoma) Pada pemeriksaan dijumpai gambaran: a) Kanalis servikalis terbuka b) Dapat diraba jaringan dalam rahim atau dikanalis servikalis c) Kanalis servikalis tertutup dan perdarahan berlangsung terus d) Dengan pemeriksaan sonde perdarahan bertambah Penanganan a) Jika perdarahan tidak terlalu banyak dan kehamilan kurang dari 16 minggu.M (diulangi setelah 15 menit jika 49 . Jika evakuasi belum dapat dilakukan segera. Jika perdarahan banyak atau terus berlangsung dan usia kehamilan kurang dari 16 minggu. Aspirasi Vakum Manual (AVM). kuret tajam sebaiknya hanya dilakukan jika aspirasi vakum manual tidak tersedia. Jika perdarahan berhenti. Pastikan untuk tetap memantau kondisi ibu setelah penanganan 3) Abortus Inkomplit Ditandai dengan dikeluarkannya sebagian hasil konsepsi dari uterus.

sehingga tidak memerlukan tindakan. Tuba falopii tidak mempunyai kemampuan untuk berkembang dan menampung pertumbuhan janin sehingga setiap saat kehamilan yang terjadi terancam pecah. Konseling asuhan pascakeguguran dan pemantauan lanjut 50 . jika anemia berat berikan transfusi darah e) d. Berikan infus oksitosin 20 unit dalam 500 ml cairan I. KET Perjalanan hasil konsepsi dapat terganggu dalam perjalanan sehingga tersangkut dalam lumen tuba. Jika perlu berikan misoprostol 200 mcg pervaginam setiap 4 jam sampai terjadi ekspulsi hasil konsepsi (maksimal 800 mcg). berikan tablet sulfas ferrosus 600 mg/hari selama 2 minggu. Gambaran klinisnya adalah uterus mengecil. perdarahan sedikit.perlu) atau misoprostol 400 mcg per oral (dapat diulangi setelah 4 jam jika perlu) b) Jika kehamilan lebih dari 16 minggu: (a). Evakuasi sisa hasil konsepsi yang tertinggal dalam uterus. 4) Abortus Komplit Seluruh hasil konsepsi telah dikeluarkan. c) Pastikan untuk tetap memantau kondisi ibu setelah penanganan. dan kanalis telah tertutup.V (garam fisiologik atau Ringer Laktat) dengan kecepatan 40 tetes/menit sampai terjadi ekspulsi hasil konsepsi (b). Penanganan: a) b) c) Tidak perlu evakuasi lagi Observasi untuk melihat adanya perdarahan banyak Pastikan untuk tetap memantau kondisi ibu setelah penanganan d) Apabila terdapat anemia sedang.

Jika diperoleh hasil darah yang tidak membeku. nadi cepat dan lemah (110x/menit atau lebih) perubahan warna pada vagina dan serviks. Diagnosis banding a) Abortus iminens b) Penyakit radang panggul baik akut maupun kronis c) Kista ovarium (terpuntir atau ruptur) dan apendisitis akut d) Tanda dan gejala kehamilan ektopik Kehamilan Ektopik • Gejala kehamilan awal (flek atau perdarahan yang ireguler. pembesaran uterus. frekuensi buang air kecil yang meningkat • Nyeri pada abdomen dan pelvis 51 . segera mulai penanganan. mual. Kehamilan Ektopik Terganggu • Kolaps dan kelelahan • Denyut • Hipotensi • Hipovolemia • Abdomen akut dan nyeri pelvis • Distensi abdomen(a) • Nyeri lepas • Pucat e) Distensi abdomen dengan shifting dullness merupakan petunjuk adanya darah bebas. Tuba falopii merupakan tempat tersering untuk terjadinya implantasi kehamilan ektopik (lebih besar dari 90%) Tanda dan gejalanya sangatlah bervariasi bergantung pada pecah atau tidaknya kehamilan tersebut. perlunakan serviks. pembesaran payudara.Kehamilan ektopik adalah kehamilan dengan implantasi terjadi di luar rongga uterus. Alat penting yang dapat digunakan untuk mendiagnosis kehamilan ektopik yang pecah adalah tes kehamilan dari serum dikombinasi dengan ultrasonografi.

tuba dipertahankan). 2. segera rujuk ke fasilitas lebih lengkap dengan memperhatikan hal-hal yang diuraikan pada bagian penilaian awal c) Pada laparotomi.Gambar. Jika kerusakan pada tuba kecil. Hal ini hanya dilakukan jika konservasi kesuburan merupakan hal 52 . segera lakukan uji silang darah dan laparotomi. Kehamilan ektopik Penanganan awal a) Jika fasilitas memungkinkan. eksplorasi kedua ovaria dan tuba falopii: (1). pembedahan b) Jika fasilitas tidak memungkinkan.1. lakukan Jangan menunggu darah sebelum melakukan salpingktomi (tuba yang berdarah dan hasil konsepsi dieksisi bersama-sama). Ini merupakan terapi pilihan pada sebagian besar kasus (2). Jika terjadi kerusakan berat pada tuba. lakukan salpingektomi (hasil konsepsi dikeluarkan.

tidak teratur. warna tengguli tua atau kecoklatan seperti bumbu rujak d) Pembesaran uterus tidak sesuai (lebih besar) dengan tua kehamilan seharusnya 53 . MOLAHIDATIDOSA Adalah jonjot-jonjot korion yang tumbuh berganda berupa gelembunggelembung kecil yang mengandung banyak cairan sehingga menyerupai buah anggur. Etiologi Penyebab mola belum diketahui dengan pasti. e. ovum memang sudah patologik sehingga mati. karena risiko kehamilan ektopik berikutnya cukup tinggi. Kehamilan mola merupakan proliferasi abnormal dari vili khorialis. atau mata ikan. faktor-faktor yang dapat menyebabkannya antara lain: 1) Faktor ovum. 2) Imunoselektif dari trofoblas 3) Keadaan sosek rendah 4) Paritas tinggi 5) Kekurangan protein 6) Infeksi virus dan faktor kromosom yang belum jelas Diagnosis dan gejala 1) Anamnesa/keluhan: a) Terdapat gejal-gejala hamil muda yang kadang-kadang lebih nyata dari kehamilan biasa b) Kadangkala ada tanda toksemia gravidarum c) Terdapat perdarahan yang sedikit atau banyak. tetapi terlambat dikeluarkan.yang penting untuk ibu tersebut.

sonde 54 . serta evaluasi keadaan serviks. 7) Uji sonde. rahim terasa lembek. maka kemungkinan mola hidatidosa atau hamil kembar. juga gerakan janin c) Adanya fenomena harmonica. bila tidak ada tahanan.e) Keluar janringan mola seperti buah anggur atau mata ikan yang merupakan diagnosa pasti 2) Inspeksi a) Muka dan kadang-kadang badan kelihatan pucat kekuningkuningan (mola face) b) Bila gelembung mola keluar akan terlihat dengan jelas 3) Palpasi a) Uterus membesar tidak sesuai dengan tuanya kehamilan. terdapat perdarahan dan jaringan dalam kanalis servikalis dan vagina. sonde dimasukkan pelan-pelan dan hati-hati ke dalam kanalis servikalis dan kavum uteri. karena kadar HCG yang tinggi maka uji biologic dan uji imunologik (Galli Mainini dan planotest) akan positif setelah pengenceran (titrasi): a) Galli Mainini 1/300 (+). Bahkan pada mola atau koriokarsinoma. teraba lembek b) Tidak teraba bagian-bagian janin dan balotemen. darah dan gelembung mola keluar. uji biologik atau imunologik cairan serebro-spinal dapat menjadi positif. 6) Pemeriksaan dalam Pastikan besarnya rahim. dan fundus uteri turun: lalu naik lagi karena terkumpulnya darah baru 4) Auskultasi a) Tidak terdengar bunyi denyut jantung janin b) Terdengar bising dan bunyi khas 5) Reaksi Kehamilan.. maka suspek mola hidatidosa b) Galli Mainini 1/200 (+). tidak ada bagianbagian janin.

V (NaCl atau Ringer Laktat) dengan kecepatan 40-60 tetes per menit (sebagai tindakan preventif terhadap perdarahan hebat dan efektifitas kontraksi terhadap pengosongan uterus secara cepat) Penanganan selanjutnya: a) Pasien dianjurkan untuk menggunakan kontrasepsi hormonal atau tubektomi bila ingin menghentikan fertilitas b) Lakukan pemantauan setiap 8 minggu selama minimal 1 tahun pasca evakuasi dengan menggunakan tes kehamilan dengan urin karena adanya risiko timbulnya penyakit trofoblas yang menetap atau khoriokarsinoma. bila tetap tidak ada tahanan. pada mola akan kelihatan bayangan badai salju dan tidak terlihat janin. kemungkinan mola. 8) Foto roentgen abdomen. rujuk ke pusat kesehatan tersier untuk pemantaun dan penanganan lebih lanjut 55 . Jika tes kehamilan dengan urin tidak negatif setelah 8 minggu atau menjadi positif kembali dalam 1 tahun pertama. lakukan evakuasi uterus: b) Segera lakukan evakuasi jaringan mola dan sementara proses evakuasi berlangsung berikan infus 10 unit oksitosin dalam 500 ml cairan I.diputar setelah ditarik sedikit. tidak terlihat tulang-tulang janin(pada kehamilan 3-4 bulan) 9) Arteriogram khusus pelvis 10) Ultrasonografi. Penanganan awal: a) Jika diagnosis kehamilan mola telah ditegakkan.

56 . Komplikasi Dan Penyulit Dalam Kehamilan Trimester III a) Kehamilan Dengan Hipertensi 1) Hipertensi esensial Hipertensi esensial adalah kondisi permanen meningkatnya tekanan darah dimana biasanya tidak ada penyebab yang nyata.2. dan keadaan ini lebih sering muncul pada saat kehamilan. Kehamilan tidak dibolehkan melewati aterm karena kehamilan postterm meningkatkan risiko terjadinya insufisiensi plasenta janin. Jika perlu. Penatalaksanaan: Wanita dengan hipertensi esensial harus mendapat pengawasan yang ketat dan harus dikonsultasikan pada dokter untuk proses persalinannya. jauh sebelum terjadi preeklamsia. Selama tekanan darah ibu tidak meningkat sampai 150/90 mmHg berarti pertanda baik. serta tidak terdapat edema atau proteinuria. Setelah UK 18 minggu lebih sulit hipertensi esensial dari pre eklamsia. dapat dilakukan induksi apabila tekanan darah meningkat atau terdapat tanda-tanda Intra Uterine Growth Retardation (IUGR). phaeochromocytoma atau penyempitan aorta. Selama trimester ke II kehamilan tekanan darah turun di bawah batas normal. Dia dapat hamil dan bersalin normal tetapi saat hamil dianjurkan untuk lebih banyak istirahat dan menghindari peningkatan berat badan terlalu banyak. Wanita hamil dikatakan mempunyai atau menderita hipertensi esensial jika tekanan darah pada awal kehamilannya mencapai ≥ 140/90 mmHg. selanjutnya meningkat lagi sampai ke nilai awal atau kadang-kadang lebih tinggi. Yang membedakannya dengan preeklamsia yaitu factor-faktor hipertensi esensial muncul pada awal kehamilan. Kadanng-kadang keadaan ini dihubungkan dengan penyakit ginjal. Kesejahteraan janin dipantau ketat untuk mendeteksi adanya retardasi pertumbuhan.

kadang-kadang gagal ginjal merupakan komplikasi. 2) Hipertensi Karena Kehamilan Hipertensi yang ditimbulkan atau diperberat oleh kehamilan lebih mungkin terjadi pada wanita yang : a) b) Terpapar vili korialis untuk pertamakalinya Terpapar vili korialis yang terdapat jumlah yang banyak seperti pada kehamilan kembar atau mola hidatidosa c) d) Mempunyai riwayat penyakit vaskuler Mempunyai kecenderungan genetic untuk menderita hipertensi dalam kehamilan. Kandungan catecholamine atau vanilmandelic acid (VMA) biasanya diukur karena hipertensi yang berat mungkin disebabkan karena Pheochromacytoma atau tumor pada ginjal. 57 . Hal ini dapat dilakukan dengan menginduksi persalinan. Jika tekanan darah tidak dapat dikendalikan atau terdapat tanda-tanda IUGR atau hipoksia. Keadaan ibu mungkin berkembang menjadi Pre Eklamsia atau mengalami abrupsio plasenta (plasenta Pecah). karena kurangnya sirkulasi plasenta. harus dirawat dokter di rumah sakit. Anamnesa juga diperlukan untuk mengeluarkan ibu dari pre eklamsia. dokter dapat menghindari risiko yang serius dengan mempercepat persalinan. atau jika keadaan berbahaya atau lebih akut. Obat-obat antihipertensi dan sedative boleh diberikan untuk mengontrol tekanan darah. persalinan dapat dilakukan dengan cara Sectio caesarea. yang dapat menyebabkan kejadian Intra Uterine Growth Retardation (IUGR) dan hipoksia. mungkin terjadi perdarahan otak atau gagal jantung. atau meningkat pada awal persalinan. Jika tekanan darah sangat tinggi. 200/120 mmHg atau lebih. Jika ditemukan tekanan darah ≥ 160/100 mmHg. Janin juga berisiko.Merupakan pertanda kurang baik jika tekanan darah sangat tinggi.

namun bisa juga terjadi pada pada wanita denan ekonomi yang menengah ke atas.Kemungkinan bahwa mekanisme imunologis di samping endokrin dan genetic turut terlibat dalam proses terjadinya pre-ekklamsia dan masih menjadi masalah yang mengundang perhatian. Pemeriksaan tekanan darah dilakukan minimal 2x dengan jarak waktu 6 jam pada keadaan istirahat. Oedema Pretribal yang 58 . Untuk menegakkan diagnosa Pre-Eklamsi kenaikan tekanan Sistolik harus 30 mmHg atau lebih. jari tangan. Preeklamsia mungkin lebih sering terdapat pada wanita dai keluarga yang tidak mampu. Oedema. Resiko hipertensi karena kehamilan dipertinggi pada keadaan di mana pembentuka antibody penghambat terhadap tempat-tempat yang bersifat antigen pada plasenta terganggu. Kenaikan tekanan Diagnostik lebih dapat dipercaya apabila tekanan Diastolik meningkat 15 mmHg atau lebih atau menjadi 90 mmHg atau lebih. tetapi kenyataannya sama-sama dapat terjadi preeklamsia. Hipertensi biasanya timbul lebih dahulu daripada tanda-tanda lain. misalnya pada Mola Hidatosa. Edema ialah Penimbunan cairan secara umum dan berlebih dalam jaringan tubuh dan biasanya dapat diketahui dari kenaikan berat badan serta pembengkakan kaki. Penyakit ini biasanya timbul pada Triwulan ke-3 kehamilan tetapi dapat timbul sebelumnya. Kehamilan juga menyebabkan wanita hamil kekurangnan nutrisi. Kenaikan sistolik harus 30 mm Hg atau lebih diatas tekanan yang biasanya ditemukan. dan Proteinuria yang timbul karena kehamila. Seharusnya preeklamsia ditemkan pada multipara dari pada nulipara. Hipertensi biasanya timbul lebih dahulu dari pada tanda lain. 3) Pre Eklamsia Pre-Eklamsi Adalah Penyakit dengan tanda-tanda Hipertensi. atau mencapai 140 mmHg atau lebih. Bahkan pengamatan menyebutkan bahwa makanan yang kurang mengandung protein sebagai penyebab penurunan insiden eklamsia. dan muka.

Pada beberapa kasus. Sedangkan kenaikan berat badan dan Edema yang disebabkan oleh penimbunan air yang berlebihan dalam ruangan intestinal belum diketahui sebabnya. Proteinuria timbul lebih lambat daripada hipertensi dan kenaikan berat badan. Tanda Dan Gejala : Tanda-tanda Pre-Eklamsi biasanya timbul dalam urutan pertambahan berat badan yang berlebihan. Kenaikan BB ½ kg setiap minggu masih normal tetapi kalau kenaikan BB I kg atau lebih setiap minggu beberapa kali.3 g/lt dalam urin 24 jam atau pada pemeriksaan menunjukan 1 atau 2+ atau 1 gr/lt yang dikeluarkan dengan jarak waktu 6 jam. sebagai usaha untuk mengatasi kenaikan tekanan perifer agar oksigen jaringan dapat dicukupi. di ikuti oedema. pada Pre-Eklamsi ditemukan sakit kepala di 59 . sehingga tidak berarti untuk penentuan Diagnosis Pre-Eklamsi. mungkin karena retensi air dan garam. hal ini perlu menimbulkan kewaspadaan terhadap timbulnya preeklamsia. hipertensi. Pada Pre-Eklamsi ringan tidak ditemukan gejala-gejala subyektif. lumen arteriole sedemikian sempitnya sehingga hanya dilalui oleh satu sel darah merah. Pada Biopsi ginjal ditemukan spasme hebat arteriola Glomerolus. Proteinuria berarti konsentrasi protein dalam urin yang melebihi 0. dan akhirnya proteinuria. Jadi jika semua arteriola di dalam tubuh mengalami spasme maka tekanan darah akan naik.199) menjelaskan bahwa pada Pre-Eklamsi terjadi pada spasme pembuluh darah yang disertai dengan Retensi Garam dan air.ringan sering terjadi pada kehamilan biasa. Proteinuria dapat disebabkan oleh Spasme arteriola sehingga terjadi perubahan pada glomerolus. Patofisiologi : Mochtar (1999. karena itu harus dianggap yang cukup serius.

Perubahan Psikologi Normotensive pada wanita hamil dihubungkan dengan perubahan cardiovascular termasuk meningkatnya kerja jantung. paru-paru dapat menjadi macet dengan adanya cairan dan berkembang menjadi oedema pulmonary. diploma. Dalam kasus yang parah. Perbandingan ini disebabkan karena untuk menopang hipertensi. volume darah dan cardiac output (Gant Et al 1973). oksigen rusak dan sehingga terjadi sianosis. Pengurangan cairan ke intravaskuler disebabkan hypoluemia dan hemokonsentrasi dan ini adalah reflek untuk meningkatnya haematrokit. Di ginjal. Dengan vasokontriksi dan disruption ke vascular endothelium menjadi coagulasi aktif. Meningkatnya produksi trombositopenia dan responsible untuk Disseminated Intravaskular Cougelation (DIC). Tekanan darah 140/90 mmHg atau kenaikan diastolik 15 mmHg atau lebih (diukur pada posisi berbaring terlentang) atau kenaikan sistolik 30 mmHg atau lebih. Gejala-gejala ini sering di temukan pada Pre-Eklamsi yang meningkat dan merupakan petunjuk bahwa Eklamsi akan timbul. sehingga terjadi kebocoran plasma dan rusaknya pembuluh darah sehingga dihasilkan oedema kemudian menuju ke jaringan. Hal ini menyebabkan sel endothelia rusak sehingga perbandingan antara vasodilator : vasocontricsi. penglihatan kabur. vasospasme menghasilkan arteriolus menyebabkan pengurangan aliran darah menuju ke ginjal yang menjadikan hypoxia dan oedema. Klasifikasi pre eklamsia dibagi menjadi 2 golongan : a) Preeklamsia ringan (1).daerah frontal. skotoma. Cara 60 . mual dan muntah-muntah. Dengan adanya hipertensi bersama-sama dengan sel Endothelia rusak mempengaruhi melalui pembuluh. nyeri di daerah epigastrum.

(5). Roboransia Kunjungan ulang tiap 1 mg 61 . (2). lemak. (b). (3). (4). kalau perlu pengakhiran kehamilan Penanganan a) Penanganan Pre-Eklamsi Ringan: 1) Rawat Jalan (a). gangguan visus. (e). namun pre eklamsia sering terjadi pada a) b) c) Primigravida Tuanya kehamilan Kehamilan ganda Prinsip pencegahan preeklamsia a) Pencegahan/ANC yang baik: ukuran tekanan darah.pengukuran sekurang-kurangnya pada 2x pemeriksaan dengan jarak (2). (3). ukur kadar proteinuria tiap minggu b) Diagnosa dini/tepat: diet. Penyebab preeklamsia secara pasti belum di ketahui. jari. rendah kaebohidrat. b) Proteinuria 0. Tekanan darah 160/110 mmHg atau lebih Proteinuria. 5 gr/lt atau lebih Oliguria (jumlah urine < 500 cc per 2 jam Terdapat edema paru dan sianosis Adanya gangguan serebral. dan rasa nyeri di epigastrium. timbangan berat badan. Banyak istirahat ( berbaring tidur miring) Diet: cukup protein. dan garam Sedative ringan (jika tidak bisa istirahat ) tablet Febobarbital 3x30 mg peroral selama 2 hari (d). (c).3 gr/lt atau 1+ atau 2+ Edema pada kaki. muka dan berat badan naik >1 kg/mg Preeklamsia berat (1).

Adanya tanda-tanda impending (c). Jika Tekanan Darah mencapai normotensif selama perawatan persalinan ditunggu sampai aterm (2). Persalinan dapat dilakukan spontan bila perlu memperpendek kal II dengan bantuan bedah obstetri.2) Jika dirawat di Puskesmas atau Rumah Sakit: (a). Kegagalan terapi pada perawatan konservatif Pada Janin : a) b) Adanya Tanda-tanda Fetaldistres Adanya Tanda-tanda IUFD induksi persalinan pada taksiran tanggal 4) Eklamsia Eklampsi merupakan serangan konvulsi yang biasa terjadi pada kehamilan. Bila Tekanan Darah turun tetapi belum mencapai normotensif selama perawatan maka kehamilannya dapat diakhiri pada kehamilan lebih dari 37 minggu (b). Kehamilan lebih dari 37 minggu (b). Pada Kehamilan Aterm (lebih dari 37 minggu) Persalinan ditunggu spontan atau dipertimbangkan untuk melakukan persalinan. (c). tetapi tidak selalu komplikasi dari pre eklampsi. b) Penanganan Pre-Eklamsi Berat di Rumah Sakit Penanganan Aktif: 1) Indikasi Indikasi perawatan aktif ialah bila di dapatkan satu atau lebih keadaan ini pada ibu: (a). 62 . Pada Kehamilan Preterm (kurang dari 37 minggu) (1).

Tahap Tonic. pergerakkan otot menjadi dan serangan menjadi meningkat. Hampir seluruh otot-otot wanita segera menjadi Genggamannya mengepal dan tangan dan serangan spasme. Pada tahap ini dapat terjadi kesalahan jika observasi pada ibu tidak tetap. bernama konvulsi eklampsi. lengannya kaku. Monitor tekanan darah dan urin untuk proteinuria harus dilakukan dan dilanjutkan selama periode postpartum. dia berhenti bernafas dan warnanyaberubah sianosis. Empat fasenya antara lain: 1. Tahap premonitory. Beberapa pasien ada yang mempunyai dasar dysrhytmia serebral dan oleh karena itu konvulsi terjadi mengikuti bentuk yang lebih kuat dari pre eklampsi. Spasme ini berlangsung sekitar 30 detik 3.Dalam sebuah konduksi studi nasional di UK pada tahun 1992. sementara terbiasa. Tahap klonik. tersendat-sendat Spasme berhenti. konvulsi postpartum akan lebih sering terhindar. Ini terjadi lebih dari 48-72 jam setelahnya. Konvulsi dapat terjadi sebelum. Kemudian otot respirasinya dalam spasme. Etiologi Dalam eklampsi berat terdapat hipoksia serebral yang disebabkan karena spasme kuat dan oedem. Jika ANC dan Inc mempunyai standar yang tinggi. Mata dibuka. Hipoksia serebral menunjukkan kenaikan dysrhytmia serebral dan ini mungkin terjadi karena konvulsi. dan sesudah persalinan. Seluruh tubuhnyabergerak-gerak dari satu sisi ke sisi yang lain. sering saliva blood-strained terlihatb pada bibirnya 63 . Ada satu tanda eklampsi. ketika wajah dan otot tangannya sementara kejang 2. Dia menyatukan gigi dan bisa saja dia menggigit lidahnya. 38% dsari kasus eklampsi tidak disertai dengan hipertensi dan protein urin (Douglas dan Redman 1994). selama.

Hipofibrinogen c. pada ibu dapat terjadi cerebral hemorrhage. Sianosis memudar. Selama sehat ketika ibu berhenti bernafas supply oksigen ke janin terganggu. Konvulsi intrapartum sangat berbahaya untuk janin karena kenaikan hipoksia intra uterin yang disebabkan karena kontraksi uterus. Edema paru-paru g. Bagi ibu Perbedaan konvulsi dan kelelahan. Wanita dapat tidak sadar dan mungkin nafasnya berbunyi. Hemolisis d.4. Dapat terjadi kegagalan hepar. Angka kematian ibu dari eklampsi di UK pada tahun 1991-1993 adalah 11. selanjutnya berkurang. Dari komplikasi-komplikasi ini dapat terjadi kefatalan. Komplikasi yang terberat ialah kematian ibu dan janin: a. Inhalasi darah atau mucus dapat menunjukkan asfiksia atau pneumonia. Pasien dengan oedem dan oliguria perkembangan paru-paru dapat bengkak atau gagal ginjal. Jika kenaikan hipertensi banyak. Solusio plasenta b. jika frekuensi berulang hati gagal berkembang. Nekrosis hati 64 . Perdarahan otak e. Kadangkadang sadar dalam beberapa menit atau koma untuk beberapa jam Bahaya-Bahaya Eklampsi 1. Tahap Comatose. 2. Bagi janin Dalam eklampsi antenatal janin dapat terpengaruh dengan ketidakutuhan plasenta. Dalam lebih dari setengah terdapat kematian ibu dan hanya satu atau dua yang selamat. Angka kematian perinatal sebanyak 15%. Kelainan mata f. Ini menunjukkan retardasi pertumbuhan intrauterine dan hipoksia. tapi wajahnya tetap bengkak.

sehingga penderita dapat terjatuh dari tempat tidurnya. 2. Kelainan ginjal i. dan hiperefleksia. mulut membuka dan menutup dan lidah dapat tergigit lagi. Penderita menjadi tak sadar. Komplikasi lain (lidah tergigit. semua otot berkontraksi dan berulang-ulang dalam tempo yang cepat. Tingkat kejangan klonik Berlangsung 1-2 menit. muka menjadi sianotik. tangan menggenggam dan kaki membengkok ke dalam. pernafasan berhent. mual. lidah dapat tergigit. gangguan penglihatan. Akhirnya kejangan terhenti dan penderita menarik nafas secara mendengkur. Prematuritas j.h. wajahnya kelihatan kaku. spasmus tonik menghilang. Tingkat awal atau aura Keadaan ini berlangsung kira-kira 30 menit. konvulsi eklamsi dibagi 4 tingkat yaitu : 1. Bila keadaan ini tidak segera diobati. dan fraktur karena jatuh dan DIC) Gejala Dan Tanda Pada umumnya kejang didahului oleh makin memburuknya preeklamsi dengan gejala-gejala nyeri kepala di daerah frontal. nyeri epigastrium. 65 . dari mulut keluar ludah yang berbusa aka menunjukan kongesti dan sianosis. kelopak mata bergetar demikian pula tangannya dan kepala diputar ke kanan dan ke kiri. kejadian kronik ini a demikian hebatnya. akan timbul kejangan. Tingkat kejangan tonik Berlangsung lebih 30 menit. Mata penderita terbuka tanpa melihat. 3. dalam tingkat ini seluruh otot menjadi kaku. trauma. bola mata menonjol.

Tingkat koma Lamanya koma tidak selalu sama. Oksigen diberikan untuk kepentingan keduanya ibu dan janin. Obat yang dipilih untuk pengobatan eklampsi adalah Magnesium Sulfat (Neilsen 1995. Mulut dibersihkan dari mucus dan darah dengan suction. sehingga ia tetap dalam koma. terlebih lagi konvulsi pada wanita memiliki resiko tinggi untuk hidupnya dan janinnya. Penatalaksanaan selama konvulsi antara lain: 1. Jika wanita berada di luar rumah sakit saat terjadi konvulsi. Secara perlahan-lahan penderita menjadi sadar lagi.Lucas 1995) a. eklampsiakan lebih sulit terjadi. paramedis harus segera dipanggil untuk memberikan pertolongan pertama sebelum dibawa ke rumah sakit. Melindungi wanita dari luka-luka Ibu harus miring ke satu sisi dan pergerakkan konvulsinya dapat ditekan dari semua ini harus dilakukan sepelan mungkin dan tidak tergesagesa. Obat diberikan dengan segera untuk mengurangi rangsangan sistem saraf. Penatalaksanaan Eklamsi Jika pre eklampsi diketahui lebih awal dan ditangani lebih cepat. Magnesium Sulfat Antikonvulsi yang efektif dan bereaksi cepat. Mengontrol konvulsi Ini sangat penting untuk mengontrol konvulsi. dipublikasikan pada tahun 1995.4. Untuk pertolongan awal bantuan medis harus dipanggil. Sangat jarang dimulai dan proses cepat terjadi eklampsi diantara pemeriksaan antenatal yang biasa dan sering. akan tetapi dapat terjadi pula bahwa sebelum itu timbul serangan baru yang berulang. 66 . Penatalaksanaan Selanjutnya Prinsip-prinsip pelaksanaan: 1. Memelihara kebersihan jalan nafas 2. Penemuan Collaborative Eclampsi Trial.

Magnesium Sulfat direkomendasikan untuk pengobatan untuk eklampsi. laju teratur menurut aliran darah. 67 . paraldehyde dan lytic cocktail (kombinasi dari pethidine. hydrochloride (apresoline) 20 mg dengan injeksi intravena diikuti oleh 20-40 mg sebagai injeksi intravena. 2. Injeksi intravena 4-5 gr dalam 20% pemberian. Mengontrol tekanan darah Tekanan darah dikontrol oleh sedatif dan menggunakan obat anti hipertensi seperti hydralazine.terbukti Magnesium Sulfat lebih efektif mengurangi dan mencegah konvulsi eklampsi dibandingkan dengan diazepam dab phenytoin (Eclampsia Collaborative Trial Group. dan 67% resiko lebih rendah dibandingkan dengan phenytoin. Obat lain yang digunakan seperti morfin. tribromoethanol (Avertin). Wanita yang menerima Magnesium Sulfat memiliki resiko 52% lebih rendah dari konvulsi dibandingkan diberi diazepam. Pengobatan diuretic diindikasikan ketika urin yang keluar kurang dari 20 ml/jam.WHO sekarang merekomendasikan penggunaan Magnesium Sulfat untuk pengobatan eklampsi dan memasukkannya ke dalam Daftar Obat Esensial (WHO. 1995). 1995) dan dianggap sebagai prophylactic dari pada metode pengobatan (Howard 1993). Antibiotik mungkin untuk mencegah infeksi paru-paru. Injeksi intravena diazepam 10-40 mg diikuti dengan infus 20-80 mg dalam 500 ml dari 5% dextrose dengan rata-rata 30 tetes/menit. 1995). promethozin dan chlorpromazine dalam infus intravena dextrose 5%) sekarang tidak direkomendasikan phenytoine digunakan untuk mengobati epilepsy dan saat ini ada pembaharuan pada penatalaksanaan pre eklampsi. b. diikuti dengan infus 1-2 gr/jam. Walaupuntidak efektif dalam mengontrol eklampsi (The eclampsia Collaborative Trial Group.

Pasang kateter urine yang dipertahankan dan kantong urine. Rujuk pasien ke RS di sertai perawat yang mengantar dan surat rujukan Sebelum merujuk dapat diberikan pengobatan awal sesuai dengan diagnosis kasus. Rujukan 1) Kriteria rujukan Eklamsi harus ditangani di Rumah Sakit. Keempat ekstrimitas di ikat tidak terlalu ketat agar pasien tidak terjatuh. enzim dalam hati dapat dimonitor dengan memberi informasi tentang: 1. jika semua kasus eklamsi harus segera di rujuk.Tes biokimia untuk mengetahui fungsi ginjal. Penanganan a. Proses rujukan • • • Jelaskan bahaya / komplikasi eklamsi kepada kelurga pasien. Pasang goedel atau sudip yang dilapisi kain kasa untuk melindungi gigi tergigit lidah. 1. trombositopenia. • • • • • Bari O2 Pasang infus dengan cairan dekstrose 5% dengan kecepatan 20 tetes / menit. 68 . baik untuk mengatasi kejang ataupun untuk memberi obat anti hipertensi.

Penanganan eklamsi di RS 1) Penanganan medisinal a) Obat anti kejang MgSo4 • Loading dose 4 g MgSO4 40% dalam larutan 10 cc intravena selama 4 menit disusul 8 g IM MgSO4 40 % dalam laritan 25 nn diberikan pada bokong kiri dan kanan masing-masing 4 gram. Bila setelah diberi dosis tambahan masih tetap kejang maka berikan amobarita 3-5 m/kg BB IV pelan-pelan. 20 menit setelah • Monitoring tanda-tanda mkeracunan MgSO4 b) Obat-obat supportif Lihat pengobatan supporti pre-Eklamsi berat c) Perawatan pada serangan kejang • • • • Di rawat di kemar isolasi yang cukup tenang (bukan kamar gelap) Masukan sudip lidah ke dalam mulut penderita. Kepala direndahkan: daerah asofaring di hisap Fiksasi badan pada tempat tidur harus cukup kendor guna menghindari fraktur 69 . • • Maintenance dose Tiap 6 jam diberikan lagi 4 gram IM MgSO4 Dosis tambahan Bila timbul kenjeng-kejang lagi maka dapat diberikan MgSO4 2 gram IV selama 2 menit..b. Sekurang-kurangnya pemberian terakhir Dosis tambahan 2 gram hanya diberikan sekali saja.

d) Perawatan penderita dengan koma • • • Monitoring kesadaran dan lamanya koma memakai glassglow –Pittsburgh-coma scale. Penanganan Obstetric 1) Sikap terhadap kehamilan Sikap dasar : Semua kehamilam dengan pre-eklamsi harus diakhiri tanpa memandang umur kehamilan dan keadaan janin. Biasanya terjadi pada trimester III. Pada perawatan koma perlu diperhatikan pencegahan dekubitus dan makanan penderita Pada koma yang lama. 70 . bila nutrisi tidak mungkin cukup diberikan alat bentuk NGT (Naso Gastric Tube) c. walaupun dapat pula terjadi pada setiap saat dalam kehamilan. 2) Bilamana diakhiri Sikap dasar : • Bila sudah terjadi stabilisasi (permulian) hemodinamika dan metabolise ibu yaitu 4-8 jam setelah salah satu atau lebih di bawah ini: Setelah pemberian obat anti kejang terakhir Setelah kejang terakhir Setelah pemberian obat-obat antihiertensi terakhir Penderita mulai sadar (resp[onsive dan orientasi) b) Perdarahan Antepartum 1) Solusio Plasenta Solusio plasenta adalah terlepasnya plasenta yang letaknya normal pada corpus uteri sebelum janin lahir.

ataupun setelah dijumpai keduanya. Meskipun janin bias bertahan hidup. neonatus dapat meninggal karenanya. dengan angka mortalitas perinatal sebesar 30 %. Etiologi. dan ini bukan hanya terjadi akibat peningkatan kemungkinan terjadinya koagulopati konsumtif yang berat. kemudian mengalir keluar lewat serviks dan terlihat dari luar sehingga terjadi perdarahan eksternal. Solusio plasenta dengan perdarahan tersembunyi menngandung ancaman bahaya yang jauh lebih besar terhadap keselamatan jiwa ibu. Tampak jelas bahwa abrupsio plasenta merupakan problem obstetric yang sering ditemukan dan terutama berbahaya bagi janin serta nonatus.Sebagian perdarahan pada solusi plasenta biasanya merembes sendiri diantara selaput ketuban dan uterus. Penyebab primer solusio plasenta tidak diketahui. Frekuensi ditegakan diagnosis solusio plasenta sangat bervariasi mengingat criteria yamg dipakai untuk membuat diagnosis ini berbeda-beda. tetapi juga akibat luasnya perdarahan yang tidak disadari. kemungkinan pelepasan plasenta yang luas sehingga akan menimbulkan kematian janin. (1983) mengemukakan bahwa frekuensi untuk solusio plasenta sekitar 1 per 75 persalinan. Bila dapat diselamatkan bayi akan mengalami gangguan akibat kejadian tersebut. tetapi keadaan ini dapat dikemukakan sebagi factor-faktor etiologinya yaitu : • • • Trauma Tali pusat yang pendek Dekompresi yang uterus mendadak 71 . Bisa juga darah tidak mengalir keluar. tetapi tetap tertahan diantara bagian plasenta yang terlepas dan uterus sehingga terjadi perdarahan tersembunyi. Intensitas solusio plasenta seringkali bervariasi menurut cepatnya ibu hamil mencari dan mendapatkan perawatan setelah merasakan nyeri abdomen. Hurrd dkk.. atau setelah terjadinya perdarahan pervaginam. Bila terlambat.

Plasenta ini mempunyai permukaan maternal dengan lekukan bulat yang diameternya beberapa sentimeter dan ditutupi oleh darah yang membeku serta berwarna gelap. Dalam tahap awal mungkin belum terdapat gejala klinis. Patologi Terjadinya solusio plasenta dipicu oleh perdarahan ke dalam desidua basalis. Sebai akibatnya.• • • Anomaly uterus atau anomaly uterus atau tumor uterus Hipertensi kronis atau hipeertensi yang ditimbulkan karena kehamilan Tekanan pada nena cava inferior akibat uterus yang membesar dan defisiensi gizi. keadaan tersebut ditemukan hanya setelah dilakukan pemeriksaan terhadap plasenta yang baru dilahirkan. Pada janina kembar. perdarahan eksternal bias banyak sekali meskipun pelepasan plasenta belum begitu luas sehingga menimbulkan efek langsung pada janian. Desidua tersebut kemudian terbelah sehingga meninggalkan lapisan tipis yang melekat pada miometrium. proses tersebut dalam stadium awal akan terdiri dari pembentukan hematoma desidua yang menyebabkan pelepasan. Solusio plasenta dengan derajat yang lebih ringan dapat terhadi sesaat sebelum persalinan janin tunggal kalau cairan ketuban sudah mengalir habis dari dalam uterus dan janin mengalami desensus hingga kepalanya sudah berada pada perineum.. Diagnosisi Klinis Perlu ditekankan bahwa keluhan dan gejala pada solusio plasenta dapat bervariasi cukup luas. atau perdarahan eksternal 72 . dekompresi yang terjadi setelah persalinan janin pertama dapat menimbulkan pelepasan premature plasenta yang membahayakan janin kedua. Contoh. kompresi dan kahirnya penghancuran plasenta yang berdekatan dengan bagian tersebut.

kali ini terjadi karena kontraksi uterus yang tidak kuat untuk menghentikan perdarahan pada kala III. 73 . dan hal ini bukan saja terjadi akibat kemungkinan koagulopati konsumtif yang lebih tinggi.tidak terdapat tetapi plasenta sudah terlepas seluruhnya dan janin meninggal sebagai akibat langsung keadaan ini. Tindakan terakhir mengatasi perdarahan postpartum bila tidak dapat diatasi dengan kompresi bimanual. Perdarahan Perdarahan antepartum dan intrapartum pada solusio plasenta hampir tidak dapat dicegah kecuali dengan menyelesaikan persalinan segera. Kelainan pembekuan darah kelainan pembekuan darah pada solusio plasenta biasanya disebabkan oleh hipofibrinogenemia. Komplikasi Komplikasi tergantung dari luasnya plasenta dan lamanya solusio plasenta berlangsung. sehingga terjadi pembekuan darah intra faskular dimana-mana yang akan menghabiskan fakto-faktor pembekuan darah lainnya terutama fibrinogen. uterotonika. tetapi juga akibat intensitas perarahan yang tidak diketahui sehingga pemberian tranfusi sering tidak memadai atau terlambat. 1. Perdarahan postpartum dapat pula mengancam. terjadinya dengan maseuknya trombo plastin ke dalam peredaran darah ibu akibat terjadinya pembekuan darah retrolpasenter. dan kelainan pembekuan darah. kelainan pembekuan darah. Solusio plasenta dengan perdarahan yang tersembunyi mengandung ancaman bahaya yang jauh lebih besar bagi ibu. dan gawat janin sampai kematiannya. Komplikasi yang dapat terjadi ialah perdarahan. 2. oliguria. pengobatan kelainan pembekuan darah ialah histerektomia atau pengikatan arteria hipogastrika.

berkisar antara 300-700 mg%. pengamatan pembekuan darah untuk menentukan : 1) waktu pembekuan darah 2) besarnya dan kemantapan pembekuan darah 3) adanya factor seperti heparin (antikoagulansia) dalam peredaran darah c. Gawat janin 74 . hitung trombosit e. Ada yang menerangkan bahwa tekanan intra uterin yang meninggi karena solusio plasenta menimbulkan reflek penyempitan pembuluh darah ginjal. adanya fibrinolisin dalam peredaran darah d. atau hipertensi menahun. dan solusio plasenta berat. apalagi yang disertai perdarahan tersembunyi. Apabila kadar fibrinogen lebih rendah jadi 100 mg% akan terjadi gangguan pembekuan darah. Kelainan pembekuan darah berperanan pula dalam terjadinya kelainan fungsi ginjal ini 4. penentuan kuantitatif kadar fibrinogen b.oleh karena itu oliguria hanya dapat diketahui dengan pengukuran teliti pengeluaran air kencing yang harus rutin dilakukan pada solusio plasenta sedang. Oliguria Pada tahap oliguria keadaan umum penderita biasanya masih baik. Terjadinya oliguria sangat mungkin berhubungan dengan hipofolemi dan penyempitan pembuluh darah ginjal akibat perdarahan yang banyak.Kadar fibrinogen plasma normal pada wanita hamil cukup bula ialah 450 mg%. Kecurigaan akan adanya kelainan pembekuan darah harus dibuktikan dengan pemeriksaan secara laboratorium a. preeklamsia. penentuan waktu tromboplastin 3. penentuan waktu protrombin f.

apabila janin mati lakukan pemecahan ketuban dan pemberian infus oksitosin untuk mempercepat persalinan. Apabila kehamilannya kurang dari 36 minggu dan perdarahannya kemudian berhenti. Jika perlu SC Tekanan darah bukan merupakan petunjuk banyaknya perdarahan karena vasospasmus sebagai reaksi dari perdarahan ini akan meninggikan tekanan darah Ketuban segera dipecahkan. a. Kalaupu janin yang masih hidup biasanya sudah gawat kecuali pada solusio plasenta ringan. Infus oksitosin d.Jarang ditemukan kasus solusio plasenta dengan janin yang masih hidup. 6. dan uterusnya tidak menjadi tegang. dengan uterus yang tidak tegang. Penanganannya di RS meliputi. tidak peduli bagaimana keadaan umum penderita. Apabila kemudian ternyata kemungkinan plasenta previa dapat disingkirkan. Apabila janin hidup lakukan SC. barulah ditangani sebagai solusio plasenta. pertama kali harus ditangani sebagai kasus plasenta previ. perutnya tidak menjadi sakit. Tranfusi darah b. berarti perdarahan telah terjadi sekurang-kurangnya 1000 ml. maka penderita harus diobservasi dengan ketat. dan tidak peduli apakah persalinan akan 75 . Pemecahan ketuban c. Solusio plasenta ringan Perdarahan antepartum yang sedikit. Apabila perdarahan berlangsung terus dan gejala solusio plasenta bertambah jelas atau dengan pemeriksaan USG daerah solusio plasenta bertambah luas maka pengakhiran kehamilan tidak dapat dihindarkan lagi. 5. Solusio plasenta sedang dan berat Apabila tanda dan gejala klinik solusio plasenta jelas dapat di temukan.

tersembunyi tidaknya perdarahannya. Pada solusio plasenta ringan dan sedang kematian janin tergantung dari luasnya plasenta yang terlepas dari dinding uterus dan tuanya kehamilan. Pencegahan payah ginjal meliputi penggantian darah yang hilang secukupnya. karena tindakan yang terbaik untuk mengatasi perdarahan ialah dengan segera menghentikan sumber perdarahannya. Payah ginjal yang sering merupakan komplikasi solusio plasenta pada dasarnya disebabkan oleh hipovolemik karena perdarahan. SC tidak usah menunggu sapai darah tersedia secukupnya. Apabila persalinan tidak selesai atau diharapkan tidak akan selesai setelah 6 jam setelah terjadi solusio plasenta. secepat mungkin menyelesaikan persalinan. dan mengatasi kelainan pembekuan darah. segera mengatasi hipovolemi di bawah pengawasan tekanan vena pusat (CVP / central venous pressure). Pada kasus solusio plasenta tertentu SC 76 . Prognosis Prognosis ibu tergantung dari luasnya plasenta yang lepas dari dinding uterus. walaupun dengan mecahan selaput ketuban dan infus oksitosin. Prognosis janin pada solusio berat hampi 100 % mengalami kematian. dan gangguan pembekuan darah. dan jarak waktu antara terjadinya solusio plasenta sampai pengosongan uterus. pemberantasan infeksi yang mungkin terjadi. satu-satunya cara untuk segera mengosongkan uterus dengan SC. mungkin melalui apa yang dinamakan refleks uterorenal.pervaginam atau perabdominal. atau syok telah dapat teratasi . ada tidaknya hipertensi menahun atau preeklamsia. Bila perlu persalinan dapat lebih dipercepat dengan pemberian infus oksitosin. banyaknya perdarahan. derajat kelainan pembekuan darah. Pemecahan ketuban ini akan merangsang dimulai persalinan dan mengurangi tekanan intra uterin yang dapat menyebabkan komplikasi nekrosis kortek ginjal.

Pada keadaan normal plasenta terletak dibagian atas uterus. persediaan darah secukupnya akan sangat membantu memperbaiki prognosis ibu dan janinnya Gambar.dapat mengeurangi angka kematian janin. apabila seluruh pembukaan tertutup oleh jaringan plasenta 2. plasenta previa marginalis. Plasenta previa parsialis apabila sebagian pembukaan tertutup oleh jaringan plasenta 3. Sebagaimana pada setiap kasus perdarahan. Plasenta previa totalis. yaitu pada segmen bawah uterus sehingga dapat menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir. pabila pinggir plasenta berada tepat pada pinggir pembukaan 77 . 2. Klasifikasi didasarkan atas terabanya jaringan plasenta melalui pembukaan jalan lahir pada waktu tertentu. yang meliputi : 1. Solosio Placenta 2) PLASENTA PREVIA Plasenta previa ialah plasenta yang letaknya abnormal.2.

maka klasifikasinya akan berubah setiap waktu. Tentu saja observasi ini tidak akan terjadi dengan penanganan yang baik.3. Umpamanya plasenta previa totalis pada pembukaan 4 cm mungkin akan berubah menjadi plasenta previ parsialis pada pembukaan 8 cm.4. Plasenta letak rendah (low lying). 2. Pinggir plasenta berada kira-kira 3 atau 4 cm di atas pinggir pembukaan sehingga tidak akan teraba pada pembukaan jalan lahir. Umur : ibu yang lebih tua lebih beresiko daripada ibu yang lebih muda 78 . tetapi factor-faktor berikut diketahui dapat dihubungkan 1. Plasenta previa. Karena klasifikasi ini tidak didasarkan pada keadaan anatomik melainkan fisiologik. plasenta yang letaknya abnormal pada segmen bawah uterus akan tetapi belum sampai menutupi pembukaan jalan lahir. Kehamilan multiple : tempat plasenta terbesar lebih sering melewati segmen bawah rahim 3. Gambar. Etiologi Penyebab plasenta previa tidak diketahui. Multiparitas : meningkatnya ukuran rongga uterus pada persalinan yang berulang-ulang merupakan predisposisi terjadinya plasenta previa 2.

Kelainan Plasenta : plasenta dengan dua bagian dan plasenta suksenturia mungkin dapat menyebabkan plasenta previa. Merokok : mekanisme yang tepat tidak begitu jelas tetapi terjadinya hipoksia disebabkan karena merokok yang mungkin menyebabkan pembesaran plasenta sehingga menyebabkan suplai oksigen berkurang.4. Pada kehamilan hal ini dapat menyebabkan perdarahan hebat yang memungkinkan dilakukan histerektomi. karena ruang lainnya untuk kepala janin berada di fundus atau presentasi obliq dan presentasi bahu 79 . Tidak semua wanita hamil menginginkan pemeriksaan USG akan taetapi bidan harus mengatahui tanda-tanda indikasi kemungkinan terjadinya plasenta previa : 1. Plasenta membranasea (plasenta diffusa) mungkin juga merupakan penyebab. Keadaannya mungkin dapat didiagnosa dengan ultrason. Plasenta menempati ruang di pelvis. Hal ini merupaka kelainan perkembangan plasenta yang jarang dimana seluruh korion ditutupi dengan fungsi filli. Wanita hamil yang merokok lebih dari 20 batang per hari 2 kali lebih besar peningkatan terjadinya plasenta previa 7. Uterus sikatrik : SC pada persalinan sebelumnya meningkatkan resiko plasenta previa 5. Plasenta berkembang sebagai struktur membran yang tipis menutupi sebagian besar permukan uterus. dan mungkin bidan menemukan adanya presentasi bokong. Tanda Dan Gejala Plasenta previa didiagnosa dengan pemeriksaan USG pada awal kehamilan bidan harus mengetahui wanita-wanita hamil yang mengalami plasenta letak rendah. Mal presentasi janin : sering didapatkannya bukan presentasi kepala pada janin. Riwayat myomektomi 6.

berkeringat. Demikian. Denyut nadi ibu yang keras dibawah umbulikus : plasenta previa anterior sering di deteksi dengan adanya suara denyut nadi ibu yan keras dari plasenta yang lebih mudah didengar dengan dopler. 4. Penatalaksanaan 1. Penatalaksanaan di RS Di Rumah Sakit. dengan ukuran sesuai umur kehamilan Sulit untuk membedakan antara plasenta previa dengan abrupsio plasenta. Jika terjadi perdarahan pada kehamilan tidak boleh melakukan pemeriksaan vagina dirumah 2. Penatalaksanaan di rumah : Pasien dianjurkan harus istirahat ditempat tidur. 3. khususnya pada presentasi kepala. Sulitnya mengidentifikasi bagian janin pada palpasi : plasenta previa anterior (khususnya tipe I dan II) terletak diantara janin dan seperti ada yang mengganjal pada tangan bidan. Bagian terendah janin tidak terfiksasi : khususnya pada plasenta previa tipe III atau IV. gelisah. merasa haus. ibu harus berbaring. Denyut jantung janin sulit untuk dideteksi Karena tertutup oleh plasenta. Pada pemeriksaan abdomen akan taraba lunak. Jika perdarahan banyak pasien dianjurkan untuk tidur miring atau menggunakan bantal dibawah pinggul kanannya untuk mencapai agar panggul miring dan menghindari supine hypotensive syndrome. Kadang-kadang perdarahan terjadi setelah coitus tapi diketahui penyebabnya. tidak adanya preeklamsia dan adanya beberapa ketidaknormalan yang ditemukan merupakan bukti terjadinya 80 . Perdarahan hebat yang terjadi akan memperlihatkan kondisi sbb : pucat. Kemungkinan ada riwayat spoting.2. Abrupsio plasenta ada hubungan dengan preeklamsia dimana dengan presentasi dan fiksasi kepala janin normal. denyut nadi meningkat dan tekanan darah menurun.

nadi. Wanita tersebut harus di tempat tidur sampai perdarahan berhenti.1% dari pelahiran janin tunggal memeiliki insersio velamentosa. Benirschke dan kaufmann. berpisah jauh dari tepi plasenta. Pemberian infus intra vena dapat dimulai jika perdarahan menetap dan dipertahankan sampai perdarahan berhenti.000 kasus.plsenta previa. dan mencapai keliling tepi plasenta dengan hanya di lapisi oleh satu lipatan amnion. tekanan darah dan denyut jantung janin harus dilakukan. Urin diperiksa kadar protein jika perdarahan hebat. Denyut jantung janin harus selalu dipantau dengan cardiotocography jika perdarahan menetap. Nadi dan tekanan darah dicatat lebih sering dengan ketentuan : tiap seperempat jam jika perdarahan berlanjut. 3) INSERTIO VELAMENTOSA Jenis insersi tali pusat ini sangat penting dari segi praktis karena pembuluh-pembuluh umbilicus. Observasi Pemantauan suhu. Pada 81 . Keadaan ini terjadi jauh lebih sering pada kehamilan kembar. dan hampir selalu terjadi pada kembar tiga. VASA PREVIA Keadaan ini terjadi pada insersi velamentosa apabila sebagian dari pembuluh janin di selaput ketuban memotong daerah os internum dan menempati posisi di depan bagian terbawah janin. (2000) mendapatkan bahwa 1. diberikan pada kasus perdarahan hebat yang tiba-tiba. Mungkin dibutuhkan pengkateteran. di selaput ketuban. Dalam suatu ulasan tentang kepustakaan yang mencakup hampir 195. Darah diperika kdar haemoglobin dan dilakukan uji cleihauer jika resus negatif dan setidaknya 2 kantong darah 3.

jumlah darah janin yang boleh keluar tanpa mematikan janin relatif sedikit. Penekanan pembuluh oleh jari pemeriksa ke bagian terbawah janin kemungkinan akan menyebabkan perubahan frekuensi denyut jantung janin. Cincin ini menandakan pinggir plasenta. warnai apusan dengan pewarna Wright. Pada vasa previa terdapat bahaya yang sangat besar bagi janin karena pecahnya ketuban dapat disertai oleh ruptur pembuluh janin yang menyebabkan kehilangan banyak darah. sedangkan jeringan di sebelah luarnya terdiri dari villi yang tumbuh kesamping dibawah desidua. Cara tercepat dan mudah untuk mendeteksi darah janinadalah dengan mengapuskan darah pada kaca obyek. Menurut beberapa ahli plasenta sirkumvalata serin menyebabkan abortus dan solusio plasenta. Bila cincin putih ini letaknya dekat sekali ke pinggir plasenta. Pada plasenta marginata mungkin terjadi adeksi dari selaput 82 . yang dalam keadaan normal terdapat dalam darah tali pusat tetapi tidak dalam darah ibu. 4) RUPTUR SINUS MARGINALIS Ruptur sinus marginalis Pecahnya pembuluh vena dekat tepi plasenta yang terbentuk karena penggabungan pinggir ruang intervilli dengan ruang subcorial. 5) PLASENTA SIRKUMVALATA Plasenta sirkumvalata adalah plaseta yang pada permukaan vetalis dekat pinggir terdapat cincin putih. dan periksa preparat untuk mencari sel darah merah berinti. di sebut plasenta marginata. Kedua-duanya disebut sebagai plasenta ekstra coriel. Sayangnya. Insidensinya lebih kurang 2-18 %. plasenta jenis ini tidak jarang terjadi. villi menyerbu kedalam desidua di luar permukaan frondosum. Apabila terjadi perdarahan antepartum atau intrapartum. Diduga bahwa corionfrondosum terlalu kecil dan untuk mncukupi kebutuhan.pemeriksaan yang cermat kadang-kadang dapat diraba sebuah pembuluh janin tubular di selaput ketuban yang menutupi bagian terbawah janin. terdapat kemungkinan vasa previa atau ruptur pembuluh janin.

sehingga plsenta lahir telanjang tertinggalnya selaput ini dapat menyebabkan perdarahan dan infeksi. infeksi maternal atau prolapsus tali pusat. 83 . Produk kehamilan ini mempunyai komplikasi yang paling rendah. Kelahiran prematur memberikan kontribusi secara langsung antara 7590% dari semua kematian neonatal dan merupakan penyebab paling banyak morbibitas dalam jangka waktu yang pendek dan yang lama. Bayi yang dilahirkan dengan berat badan kurang dari 2500 gram termsuk dalam kategori berat badan lahir rendah. Kelompok ini kira-kira berjumlah 20 % dari kehaliran preterm. Diagnosis plasenta sirkumvalata baru dapat ditegakan setelah plasenta lahir tetapi dapat diduga bila ada perdarahan intermiten atau hidrorea. c) Kelainan dalam lamanya kehamilan 1) Prematur Persalinan dikatakan preterm jika terjadi sebelum akhir umur kehamilan 37 minggu. penyakit ginjal maternal atau iugr. eklampsia. Kelahiran prematur elektif. yang paling sedikit ¼ bagian terjadi sebelum minggu ke 32. Hal ini diakibatkan oleh preeklamsi berat. Kelahiran preterm dapat terjadi sebagai akibat dari beberapa faktor di bawah ini: 1. Jumlah kelahiran prematur meningkat dengan peningkatan umur kahamilan minggu. Insiden kelahiran prematur kurang lebih 6 sampai 10%. Kelahiran dengan komplikasi kegawat daruratan Komplikasi tersebut meliputi solusio plasenta. resus iso imunisasi. KPD Insidennya kira-kira 20 % dari semua kasus kelahiran preterm 3. 2. Bayi yang dilahirkan kurang dari 37 minggu dari hari pertama haid terakhir dinamakan preterm.

Perdarahan c. Infeksi terutama pielonefritis f. 3. unicornis atau didelphic akan melahirkan sebelum umur kehamilan 37 minggu. Amnionitis disebabkan karena infeksi 84 . Perdarahan pada kehamilan sebelumnya.4. Infeksi saluran genital terutama vaginitis non spesifik. Persalinan preterm spontan tanpa komplikasi yang tidak diketahui penyebabnya Kelompok ini berjumlah paling besar sampai 40 % dari kelahiran prematur. Pembedahan abdomen e. Peningkatan berat badan yang tidak adekuat b. Dia mempunyai resiko untuk terjadi kelahiran preterm 70% pada kehamilan ini. Abnormalitas uterus. Faktor biologikal/medik 1) Umur kurang dari 15 tahun atau lebih dari 35 tahun 2) Berat badan rendah (kurang dari 50 kg saat konsepsi) 3) Riwayat hipertensi. Faktor yang meningkatkan resiko terjadinya persalinan prematur adalah: 1. Akdr masih berada di dalam rahim d. klamedia dan streptokokus hemolitik b. Organisme ini terdapat pada 5% wanita dan berhubungan dengan terjadinya kpd. Riwayat reproduksi Riwayat kelahiran preterm sebelumnya. penyakit ginjal atau dm 4) Infeksi umum terutama virus 2. Kehamilan saat ini a. 35% wanita dengan incompeten servik akan melahirkan preterm dan 19% wanita dengan uterus bicornis. Jika wanita mempunyai riwayat lebih dari 2 kali melahirkan bayi preterm. vaginosis bakterial.

Sosial ekonomi a. Adat istiadat atau kebiasaan a.traktus genital dapat menstimilasi pelepasan prostaglandin dan hal ini dapat menyebabkan mulainya persalinan g. Terlambat anc d. Memonitor aktifitas uterus. meliputi pekerja fisik yang berat 5. 1. Kematian fetus 4. Pekerja. hal ini bisa dilakukan berdasarkan pada faktor yang telah dijelaskan diatas. Status pernikahan. Polihidramnion i. Prediksi sulit dilakukan dan tidak efektif dalam mencegah kelahiran preterm. tetapi hal ini bisa dilakukan dengan. Penyakit resus k. Jarak antar kehamilan pendek c. persalinan preterm sering terjadi pada wanita yang tidak menikah c. Malformasi fetus j. Psikologi Psikologi distres dihubungan dengan kelahiran preterm 6. Sistem skoring resiko. Metode ini relatif mempunyai nilai prediktif yang sedikit terutama pada primigravida dan skor yang rendah dapat menyebabkan kesalahan. Merokok. 85 . Tidak melakukan ANC Beberapa metode digunakan untuk mencoba mengidentifikasi wanita dengan resiko persalinan preterm. Kehamilan ganda. b. pemakai obat-obatan terlarang dan alkohol b. 2. Kemiskinan dan sosial yang rendah persalinan preterm biasa terjadi pada wanita dari kelompok sosial ekonomi yang rendah. 46% melahirkan preterm h.

Prosedur ini dapat mengetahui infeksi dan mempunyai nilai prediksi rendah pada wanita yang mempunyai resiko kelahiran preterm. 86 . Gerakan pernafasan fetus. Penemuan hubungan antara tingkat fibronektin fetus dalam servik dan sekresi vagina pada waktu datangnya persalinan preterm dapat diketahui dengan tes yang dilakukan disamping tempat tidur. Tes tesebut seharusnya dilakukan setiap 2 minggu dari umur kehamilan 24 minggu dan tidak dapat dilakukan jika ada perdarahan pervaginam atau kpd karena perdarahan dan cairan amnion mengandung fibrinektin. Jika persalinan preterm mengancam hubungan jaringan korio desidual terpisah dari ibu dan fetus.7%. Tingkat positif palsu 17%.4% dan spesifitas 82. Fibronektif fetus adalah suatu komponen matrik ekstraseluler. 5. 6. Gerakan pernafasan fetus berhenti sebelum persalinan premetur dimulai dan hal ini merupakan indikator dari persalinan preterm prematur mengancam.Hal ini bisa dilakukan tetapi tampaknya tidak mempengaruhi jumlah kelahiran preterm. Pemeriksaan pelvik Pemeriksaan pelvik yang teratur akan tampak tanda perubahan yang dapat mengambarkan waktu datangnya persalinan. menyebabkan kebocoran fibrinektin. 3. ini disekresi oleh villi trofoblas. 4. Panjang servik Pemeriksaan usg pada servik dapat memprediksi pesalinan preterm. Tes ini mempunyai sensitifitas 79.

Kram seperti menstruasi (dismenorhoe) 87 .7. Bed rest dapat dilakukan tetapi cara ini tidak efektif. Manajemen Kelahiran Dan Persalinan Prematur Persalinan prematur mungkin sulit dikenali tetapi dapat dikenali dengan perubahan servik. Sekarang menggunakan gliseril trinitat (gtn). Peningkatan rasa sakit karena kontraksi 2. 11. Antibiotik terapi Antibiotik terapi dapat memperlambat waktu datangnya persalinan preterm. pendataran servik 80% atau dilatasi servik 2 cm atau lebih. 8. Dukungan sosial Peran dukungan sosial dalam mencegah kelahiran prematur dilakukan dan tidak tampak mempunyai pengaruh pada kesehatan fisik meskipun dapat memperbaiki kesehatan psikologis. Bidan seharusnya menyadari kecenderungan persalinan prematur pada wanita akan mengeluh. Cervical cerclage Cervical cerclage mungkin bermanfaat dimana kelemahan servik seperti riwayat abortus trimester ii atau biopsi. 1. Progestogen dan etanol (jarang digunakan) 10. Peningkatan kunjungan antenatal dan education Peningkatan kunjungan anc dan pendidikan pada ibu diperkirakan dapat mengurangi persalinan preterm pada insiden kelahiran sebelum umur kehamilan 34 minggu. Metode ini efektif untuk menekan persalinan preterm. Bed rest Pencegahan kelahiran preterm tergantung dari pebcegahan aktifitas uterus dan dilatasi servik. diagnosis dapat ditegakkan. 9. 12.

3. Tekanan pada pelvik 5. namun relaif sedikit janin yang terbukti mengalami postmaturitas. Kehamilan antara 41 minggu lewat 1 hari sampai 41 minggu lewat 6 hari. Postmatur seharusnya digunakan untuk mendeskripsikan janin dengan cirri-ciri klinis nyata yang menunjukan kehamilan yang memanjang patologis. bidan harus menghubungai dokter dan wanita dirujuk ke RS dengan fasilitas perawatan neonatus. meskipun telah masuk minggu ke 42. 2) Postmatur Postmatur kehamilan yang sudah melampaui masa kehamilan yang dianggap berada diatas batas normal. Sakit pinggang 4. adalah 42 minggu lengkap (294 hari) atau lebih sejak hari pertama haid terakhir. Jika umur kehamilan dibawah 35 minggu dokter dapat memberikan obat tokolitik jika keadaan ibu dan fetus baik. Karena tidak ada metode untuk mengidentifikasi kehamilan yang benar-benar memanjang. Fase “42 minggu lengkap” perlu ditekankan. belum lengkap 42 minggu sapai habis hari ke tujuh. setidaknya sebagian. Variasi-variasi siklus menstruasi ini kemungkinan menjelaskan. didukung oleh American College of Obstetricians and Gynecologist (1997) . 88 . Jika umur kehamilan 35 minggu atau lebih persalinan dapat dilanjutkan dan kebanyakan bayi yang lahir pada usia ini akan berkembang lebih baik jika diberikan perawatan yang tepat setelah lahir. mengapa sekitar 10 persen kehamilan mencapai 42 minggu. Definisi standar yang direkomendasikan secara internasional untuk kehamilan memanjang. Jadi secar teknis kehamilan memanjang dapat dimulai pada hari 294 atau pada hari 295 setelah hari pertam haid terakhir. tidak ada tanda perdarahan pervaginam pada saat ini atau KPD. Peningkatan pengeluaran vagina Jika persalinan dimulai dirumah.

Biasanya bayi postmatur tidak mengalami hambatan pertumbuhan karena berat lahirnya jarang turun dibawah persentil ke-10 untuk usia gestasinya. mengelupas lebar-lebar. Oligohidramnion yang menyertainya secara nyata meningkatkan kemungkinan postmaturitas. Insidensi sindrom postmaturitas pada bayi berusia 41. 42. Janin posterm mungkin terus bertambah berat badannya sehingga bayi tersebut luar biasa beras pada sat lahir. Berapa bayi yang bertahan hidup mengalami kerusakan otak. badan kurus yang menunjukan pengurasan energi. dan maturitas lanjut karena bayi tersebut matanya terbuka. dan 43 minggu masing-masing belum dapat ditentukan dengan pasti. pertumbuhan janin yang berlanjut. Patofisiologi 1) Sindrom posmatur Bayi postmatur menunjukan gambaran yang khas. Janin yang terus tumbuh menunjukan bahwa fungsi plasenta tidak terganggu. 2) Disfungsi plasenta Kadar eritroprotein plasma tali pusat meningkat secara signifikan pada kehamilan yang mencapai 41 minggu atau lebih dan meskipun tidak ada apgar skor dan gas darah tali pusat yang abnormal pada bayi ini. Kulit keriput telihat sekali pada bagian telapak tangan dan telapak kaki.banyak bayi postmatur Clifford mati dan banyak yang sakit berat akibat asfiksia lahir dan aspirasi mekonium. bahwa terjadi penurunan oksigen pada janin yang postterm. Memang.semua kehamilan yang dietapkan sebagai 42 minggu lengkap harus ditangani seolah-olah memanjang abnormal. meskipun 89 . Kuku biaanya cukup panjang. yaitu berupa kulit keriput. Syndrome ini terjadi pada sekitar 10 % kehamilan antara 41 dan 43 minggu serta meningkat menjadi 33 % pada 44 minggu.

adalah cirri khas gestasi antara 38 dan 42 minggu. terutama bila disertai dengan ologohidramnion. diukur dengan USG. (1999) telah menganalisis kelahiran pada hampir 700. bersifat prediktif terhadap gawat janin intrapartum. Penurunan volume cairan amnion biasanya terjadi ketika kehamilan telah melewati 42 minggu. Dilatasi 90 . 3) Gawat janin dan Oligohidramnion Alas an utama meningkatnya resiko pada janin posterm adalah bahwa dengan diameter tali pusat yang mengecil. seperempat kasus lahir mati yang terjadi pada kehamilan memanjang merupakan bayi-bayi dengan hambatan pertumbuhan yang jumlahnya relatif kecil ini. Memang. makna klinis pertumbuhan janin terhambat pada kehamilna yang seharusnya tanpa komplikasi tidak begitu diperhatikan.kecepatannya lebih lambat. mungkin juga pengeluaran mekonium oleh janin ke dalam volume cairan amnion yang sudah berkurang merupakan penyebab terbentuknya mekonium kental yang terjadi pada sindrom aspirasi mekonium. 5) Serviks yang tidak baik Sulit untuk menunjukan seriks yang tidak baik pada kehamilan memanjang karena pada wanita dengan umur kehamilan 41 minggu mempunyai serviks yang belum berdilatasi. Bahwa pertumbuhan janin terhambat menyertai kasus lahir mati pada usia gestasi 42 minggu atau lebih. Morniditas dan mortalitas meningkatkan secara signifikan pada bayi yang mengalami hambatan pertumbuhan.. Divon dkk. (1998) dan Clausson.. 4) Pertumbuhan janin terhambat Hingga kini. demikian juga untuk bayi lahir aterm.000 wanita antara 1987 sampai 1998 menggunakan akte kelahiran medis nasional swedia.

2) IUGR karena faktor lingkungan Janin mempunyai kemungkinan untuk tumbuh normal. postmatur. 3) Inta Uterin Growth Retardation (IUGR) IUGR adalah keadaan dimana janin dalam uterus tidak dapat tumbuh normal (BBLR=LBW. radiasi juga memeberikan kontribusi. diabetes melitus. shipilis. Iskemi cepat merusak plasenta kerusakan suply pengangkut O2 dan nutrisi ke janin. Obat-obat berbahaya seperti alkohol. menyebabkan anoksia janin dan mungkin kematian. hipertensi kronik dan masalah atau penyakit yang berhubungan dengan keadaan tersebut. preeklamsi. penyakit jantung atau seperti penyakit kolagen. SGA=preterm) IUGR dapat dibagi ke dalam 3 kelompok utama: 1) IUGR kerena insufisiensi plasenta Kelompok ini potensial untuk tumbuh normal.serviks adalah indicator prognostic yang penting untuk keberhasilan induksi dalam persalinan. tetapi sebagai predisposisi: Insufisiensi plasenta. tetapi patologi dalam supply pembuluh darah ke plasenta. rokok. penyakit ginjal kronik. rubela cytomegalivirus. seperti suply normal nutrisi dan oksigen tidak dapat menjangkau bayi disebabkan plasenta atau masalah sirkulasi. dan tempat yang tinggi mungkin masuk ke dalam kelompok ini. Pada kelompok ini menyebabkan 2-3 bayi pertumbuhannnya terhambat. tetapi obat atau persilangan dari ibu ke janin menghambat pertumbuhan normal seperti penyakit malaria. ibu yang tua. toxoplasmosis. Plasenta previa dan solusio plasenta. 91 . Penyebab kerusakan arteri spiral ibu dalam plasenta belum diketahui dengan jelas. seperti kehamilan kembar.

Menikah dini 3.Penyakit jantung. penyakit endemik. Umur sangat muda dan sangat tua 8. gangguan sel darah Pengurangan nutrisi dan karena plasenta . Perhatian medis tidak adekuat 6. sikap terhadap bayi 11.DM. kelaparan dan genetik 10. Jarak kelahiran pendek 4. sianosis .Penyakit pernafasan . Riwayat reproduksi yang jelek 12. Kepribadian. Sosial ekonomi yang rendah 2. alkohol dan pengaruh teratogenik Penyebab uterus Malformasi uterus kongenital Penurunan oksigen . Obesitas 9.Tempat tidur . Pengaruh ras. Diet tidak adekuat karena kemiskinan dan keadaan malabsorpsi 5. Pada kelompok ini meliputi: malformasi janin dan gangguan genetik. Racun.Anemia. nikotin. Penyebab Umum 1.Berkurangnya kontraksi otot uterus . Kurangnya pemeriksaan kesehatan ibu saat kehamilan 7. hipoglikemia ibu (dalam kasus yang ekstrim) 92 .3) IUGR karena faktor intrinsik Di sini janin tidak mempunyai atau kehilangan pertumbuhan normal segera setelah konsepsi. Kejadian ini lebih menonjol di negara-negara yang sedang berkembang. seperti: obat.

Kembar. Bayi lemah dan nampak dehidrasi 4.Kelainan dari tali pusat .. Penampilan bayi 3. kuku. Kulit: a. Berkeriput b. trombus dalam pembuluh darah janin dari satu arteri tali pusat . oleh infark atau hemangioma Penyebab janin . Kulit kering dan bersisik c. Bayi aktif dan lapar pada saat lahir 10. Mekonium ada pada: kulit. Rambut jarang atau tipis. potters syndrome . panjang dan lemah 93 . kehamilan multipel .Penyakit kecil plasenta juga disebabkan oleh pemisahan preterm. Mengelupas.Abnormalitas: Anenchepalus. Alert atau posisi siap siaga d. Tali pusat biasanya kecil dan lebih cepat kering daripada bayi normal 9.kasar dan lurus 8.Genetik (metabolik atau kromosom ) . Kurang jaringan subkutan 2. Terdapat ciri-ciri: a. Ekspresi ketakutan 5.Berkurangnya aliran uterus. tali pusat 6. Mata melotot c. Beberapa bayi nampak dengan penurunan berat badan 7.Kelainan plasenta atau plasenta previa . Tulang kartilagosudah berkembang baik kurus. mempunyai lipatan pada telapak kaki b.Hemolisis: gangguan sel darah merah Karakteristik bayi SGA saat lahir 1.

Kepala sering lebih besar dari ukuran tubuh Pedoman untuk mendiagnosis IUGR 1. Pemeriksaan pada setiap kunjungan ANC dengan teliti 2. Bayi mempunyai perutbentuk perahu (scapehoid) 13. Bila selaput ketuban robek. TFU kurang dari 2 cm dari umur kehamilan 3. Tulang kepala keras tetapi ukuranya kecil 12. lakukan monitoring dengan teliti dan tentukan persalianan pervginam atau SC 5. Jika servik matang dan dilakukan induksi. jika servik belum matang diberi prostaglandin atau infus oksitosin sambil di lakukan monitoring dengn CTG memantau janin mengakibatkan fetal distres 94 . ada mekonium dalam caiaran amnion harus menjadi perhatian dan laporkan pada dokter 4. Manajemen bidan selama kehamilan 1. polihidramnion atau bayi besar.11. Dicurigai adanya suatu kelainan maka segera rujuk ke rumah sakit terdekat atau pada dokter 3. Pergerakan janin berkurang 5. Berat badan tidak bertambah 4. Sbelum induksi. Pengukuran lingkar perut ibu (pada setinggi pusat). bila lebih dari 100 cm kemungkinan kehamilan kembar. Kegagalan uterus dan janin untuk tumbuh normal rata-rata di atas periode 4 minggu 2. Cairan amnion berkurang 6. Cek ulang perkirakan persalinan 7. Pemantauan dengan teiti sampai melewati kelahiran 3. Melaksanakan instruksi dokter dengan teliti Manajemen saat persalinan 1. Bayi dengan IUGR hendaknya lahir di rumah sakit yang mempunyai fasilitas khusus perawatan intensif 2.

Penyakit paru atau TBC i. CPD e. Penyakit jantung g. Sevik tidak matang dengan beberapa keadaan seperti: preeklamsi atau DM f. Tanda pertama fetal distres b. Indikasi SC: a. Malpresentasi d. Hipertensi h. Polihidramnion dan oligohidramnion e. Riwayat SC sebelumnya 4) IUFD (Intrauterin Fetal Death) IUFD atau stilbirth adalah kelahiran hasil konsepsi dalam keadaan mati yang telah mencapai umur kehamilan 28 minggu (atau berat badan lahir lebih atau sama dengan 1000gr) Penyebab 1. Solusio plasenta d. Nefritis kronis d. Diabetes melitus b. Faktor ibu a. Inkompatability rhesus j. Induksi gagal c. Plasenta previa 2.6. Faktor plasenta a. Preeklampsi dan eklampsi c. Shipilis f. Insufisiensi plasenta b. AIDS 95 . Infark plasenta c.

Pemeriksaan hormon untuk melihat fungsi plasenta 96 . Postmaturitas c. Persalinan presipitatus f. kadang ada bercak cairan kecoklatan dari vagina.3. Persalinan sungsang g. tidak ada pembesaran perut. Faktor intrapartum a. Perdarahan otak 5. Faktor janin a. Kelainan bawaan d. Riwayat Tidak merasakan gerakan janin selama 3 hari. Partus macet e. Prematuritas b. Prolapsus tali pusat b. Tidak diketahui faktor penyebabnya Gejala klinis dan diagnosis Untuk menentukan stillbirth dapat ditentukan melalui: 1. Perdarahan antepartum b. Obat-obatan 4. Vassa praevia d. payudara melembut. Faktor tali pusat a. Tali pusat pendek 6. Lilitan tali pusat c. Partus lama c. Anastesi d. Gejala klinis kematian janin Ukuran uterus mengecil dibandingkan dengan ukuran seharusnya 3. 2.

dan reduksi cairan yang abnormal Manajemen untuk pencegahan kematian janin 1. obatobatan dan hati-hati terhadap infeksi atau bahan-bahan yang berbahaya 2. terlihat penumpukan tulang tengkorak. 4. badan dan tunkai janin tidak terliaha bergerak. ukuran biparietal janin setelah 30 minggu terlihat tidak bertambah panjang pada setiap minggu.Didapatkan kadar estriol urin atau estriol darah yang sangat menurun dibandingkan pada saat kehamilan. Pasien di rujuk ke dokter segera setelah diketahui IUFD 2. Dokter melakukan pemeriksaan untuk menentukan penyebab kematian 4. Setelah bayi lahir kemudian diperiksa dan ditimbang. Bidan memberikan dukungan emosional kepada pasien maupun keluarga pasien Manajemen setelah persalinan 1. Melakuak kunjungan rumah untuk melihat KU pada masa postpartum misalnya laktasi. Bidan memberikan dukungan emosional pada pasien dan keluarganya 3. tidak meminum minuman beralkohol. involusio rahim. membran dan plasenta diperiksa 2. tidak terlihat struktur janin. Medeteksi gejala awal IUFD atau tanda fetal distres Manajemen pada saat IUFD terjadi 1. jamgan merokok. Memeberikan nasehat pada waktu ANC mengenai keseimbangan diet makanan. terlihat kerangka yang bertumpuk. dan perencanaan KB 97 . Bila setelah terdiagnosa pasti bidan dapat melahirkan bayinya di bawah pengawasan dokter 3. Mendeteksi secara dini faktor-faktor predisposisi IUFD dan pemberian pengobatan 3. USG Tidak terlihat djj dan nafas janin.

Juga obat klomid dan hormon gonadotropin yang dipergunakan untuk menimbulkan ovulasi dapat menyebabkan kehamilan dizigotik.Manajemen Sedikitnya 70% wanita akan melahirkan secara spontan dalam 2 minggu kematian bayi dan lainnya akan lahir kurang dari 2 minggu. Etiologi Bangsa. dan paritas hanya mempunyai pengaruh terhadap kehamilan kembar yang berasal dari 2 telur. umur dan paritas tidak atau sedikit sekali mempengaruhi terjadinya kehamilan kembar. jika kelahiran spontan tidak terjadi dalam 3-4 minggu resiko DIC meningkat. herediter. Ini terjadi karena tromboplastin dilepaskan kedalam sirkulasi dari jaringan janin yang mati dan terjadi mekanisme kloding blood. d) Kehamilan Ganda Kehamilan kembar ialah satu kehamilan dengan dua janin atau lebih. Bahaya bagi ibu tidak begitu besar. faktor bangsa. hereditas. Akibatnya terjadi penurunan tingkat fibrinogen serum dan jumlah flatelet untuk mendiagnosis kondisi tersebut gambaran penggumpalan harus ada pada wanita dengan IUFD dan sekali atau dua kali seminggu selama wanita itu melahirkan. Faktor penghambat yang 98 . umur.faktor tersebut dengan mekanisme tertentu menyebabkan matangnya 2 atau lebih folikel de graf atau terbentuknya 2 ovum atau lebih dalam satu folikel. tetapi wanita dengan kehamilan kembar memerlukan pengawasan dan perhatian khusus bila diinginkan hasil yang memuaskan bagi ibu dan janin. Jika telur-telur yang diperoleh dapat dibuahi lebih dari satu dan jika semua embrio yang kemudian dimasukkan ke dalam rongga rahim ibu tumbuh berkembang lebih dari satu. Pada kembar yang lebih dari satu telur. Diperkirakan sebabnya ialah faktor penghambat pada masa pertumbuhan dini hasil konsepsi.

mempunyai 2 amnion. kadang-kadang 2 plasenta menjadi 1. Setelah primitif streak terbentuk maka akan terjadi kembar dempet dalam berbagai bentuk. disebut juga heterolog binovuler atau fraternal.mempengaruhi segmentasi sebelum blastula terbentuk menghasilkan kehamilan kembar dengan 2 amnion. 2/3 mempunyai 1 plasenta. Demikian pula letak janin kedua dapat berubahsetelah kelahiran janin pertama. 2 korion dan 2 amnion. misalnya dari letak lintang menjadi letak sungsang. Jenis kelamin sama atau berbeda. Kadang-kadang 2 plasenta menjadi 1. Yang paling sering ditemukan kedua janin dalam letak memanjang dengan presentasi kepala kemudian menyusul presentasi kepala dan bokong. maka akan terjadi kehamilan kembar dengan 2 amnion. Kembar dizigotik mempunyai 2 plasenta. keadaan ini tidak dapat dibedakan dengan kembar dizigotik. Pada kehamilan kembar monoamniotik kematian bayi masih sangat tinggi. Jenis 1. Kehamilan kembar dizigotik Kira-kira 2/3 kehamilan kembar adalah dizigotik yang berasal dari 2 telur. 2 korion dan 2 plasenta. 1 korion dan atau 2 amnion. Letak Dan Presentasi Janin Pada umumnya tidak besar dan cairan amnion lebih banyak daripada biasa. 2. Kehamilan kembar monozigotik Kehamila kembar yang terjadi dari satu telur disebut kehamilan monozigotik atau disebut juga identik. 99 . sebelum primitive streak tampak maka akan terjadi kehamilan kembar dengan 1 amnion. homolog atau uni ovuler. Kkirakira 1/3 kehamilan kembar adalah monozigotik. sehingga sering terjadi perubahan presentasi dan posisi janin. Bila faktor penghambat terjadi setelah blastula tetapi sebelum amnion terbentuk. mereka berbeda seperti anak-anak lain dalam keluarga. 2 korion dan 2 plasenta seperti pada kehamilan kembar dizigotik.

keduanya presentasi bokong, presentasi kepala dan bahu, presentasi bokong dan bahu dan yang paling jarang keduanya presentasi bahu. Diagnosis Diagnosis kehamilan kembar dapat ditegakan jika ditemukan hal-hal sebagai berikut: 1. Besarnya uterus melebihi lamanya amenorhoe 2. Uterus tumbuh lebih cepat daripada biasanya pada pemeriksaan ulang 3. Penambahan berat badan ibu yang tidak disebabkan oleh edema atau obesitas. 4. Banyak bagian kecil yang teraba 5. Teraba tiga bagian besar janin 6. Teraba 2 balotemen Diagnosis pasti dapat ditentukan dengan: 1. Teraba 2 kepala, 2 bokong, dan 1 atau 2 punggung 2. Terdengan 2 denyut jantung yang letaknya berjauhan dengan perbedaan kecepatan paling sedikit 10 denyut per menit 3. Sonogram dapat mendiagnosa kehamilan kembar pada triwulan pertama 4. Rontgen photo abdomen Diagnosis Banding 1. Hidramnion Dapat menyertai kehamilan kembar, kadang kelainan hanya terdapat pada satu kantong amnion dan yang lainnya oligohidramnion. Pemeriksaan USG dapat enentukan apakah pada hidramnion ada kehailan kembar atau tidak. 2. Kehamilan dngan mioma uteri atau kistoma ovarii

100

Tidak terdengarnya 2 jantung pada pemeriksaan berulang, bagian besar dan kecil yang sukar digerakan, lokasinya yang tidak berubah, dan pemeriksaan rontgen dapat membedakan kedua hal tersebut. Komplikasi 1. Ibu a. Anemia b. Hipertensi c. Partus premeturus d. Atonia uteri e. Perdarahan pasca persalinan 2. Bayi a. Hidramnion b. Malpresentasi c. Plasenta previa d. Solusio plasenta e. Ketuban pecah dini f. Prolapsus funikuli g. Pertumbuhan janin terhambat h. Kelainan bawaan i. Morbiditas dan mortalitas perinatal meningkat Penanganan Dalam Kehamilan Pemeriksaan Antenatal lebih sering. Mulai kehamilan 24 minggu pemeriksaan dilakukan tiap 2 minggu, sesudah kehamilan 36 minggu tiap minggu, sehingga tanda-tanda preeklampsi dapat diketahui dini dan penanganan dapat dikerjakan dengan segera. Setelah kehamilan 30 minggu, perjalanan jauh dan koitus sebaiknya dialarang karena dapat merupakan faktor predisposisi partus prematurus.

101

Anemia hipokrom tidak jarang terjadi pada kehamilan kembar karena kebutuhan besi 2 bayi dan penambahan volume darah ibu sangat meningkat. Pemberian sulfas ferosus 3x100 mg secara rutin perlu dilakukan. Selain zat besi dianjurkan untuk memeberikan asam folik sebagai tambahan. Penanganan Dalam Persalinan Semua persiapan untuk resusitasi dan perawatan bayi prematur disediakan. Golongan darah ibu sudah ditentukan dan persediaan darah diadakan mengingat kemungkinan paerdarahan postpartum lebih besar. Pemakain sedative perlu dibatasi. Episiotomi mediolateral dikerjakan untuk memperpendek kala pengeluaran dan mengurangi tekanan pada kepala bayi. Setelah bayi pertama lahir, segera dilakukan pemeriksaan luar dan vaginal untuk mengetahui letak dan keadan janin kedua. Bila janin dalam letak memanjang, selaput ketuban dipecahkan dan air ketuban dialirkan perlahan-lahan untuk menghindarkan prolapsus funikulli. Penderita dianjurkan meneran atau dilakukan tekanan terkendali pada fundus uteri, agar bagian janin masuk dalam panggul. Janin kedua turun dengan cepat sampai kedasar panggul dan lahir spontan karena jalan lahir telah dilalui anak pertama. Bila janin kedua dalam letak lintang denyut jantung janin tidak teratur, terjadi prolapsus funikulli atau solusio plasenta, atau bila persalinan spontan tidak terjadi dalam 15 menit, maka janin perlu dilakirkan dengan obstetrik karena resiko akan meningkat dengan meningkatnya waktu. Dalam letak lintang dicoba untuk mengadakan versi luar dan bila tidak berhasil maka segera disuntdilakukan versi ekstraksi tanpa narkosis. Pada janin dalam letak memanjang dapat dilakukan ekstraksi cunam pada letak kepala dan ekstraksi kaki pada letak sungsang. SC dilakukan atas indikasi janin pertama dalam letak lintang, prolapsus

102

funikuli, plasenta previa. Bila terjadi interloking, bila keadaan tidak bisa dilepaskan dilakukan dekapitasi atau SC menurut keadaan janin. Setelah anak kedua lahir penderita disuntik 10 satuan oksi dan tingginya fundus uteri diawasi. Jika ada tanda-tanda pelepasan plasenta maka plasenta dilahirkan. Kala IV diawasi secara cermat agar perdarahan post parrtum dapat diketahui dini dan penanggulangan dapat dilakukan dengan segera. Prognosis 1. Anemia 2. Preeklamsi dan eklamsi 3. Operasi obstetrik dan perdarahan post partum.

Gambar 2.4. Posisi Janin Kembar e) Kelainan Air Ketuban 1) Polihidramnion Suatu keadaan dimana jumlah air ketubanjauh lebih banyak dari normal, biasanya lebih dari 2 liter.

103

Perjalanan penyakit 1) Hidramnion kronis Pertambahan air ketuban terjadi secara perlahan-lahan dalam beberapa minggu atau bulan, dan biasanya terjadi pada kehamilan lanjut 2) Hidramnion Akut Terjadi pertambahan air ketuban yang sangat tiba-tiba dan cepat dalam waktu beberapa hari saja Hidramnion banyak ditemukan pada kasus-kasus: 1) penyakit jantung 2) nefritis 3) edema umum 4) anamali kongenital (pada anak); seperti anencepali, spinadifida atresia atau striktur esofagus, hydrocepalus dan struma blockling oesophagus 5) simpul tali pusat 6) DM 7) Gemelli uniovulair 8) Malnutrisi 9) Penyakit kelenjar hipofisis Diagnosis 1) Anamnesis a). Perut lebih besar dan terasa lebih berat dari biasa b). Pada yang ringan keluhan-keluhan subyektif tidak banyak c). Pada yang akut dan pada pembesaran uterus yang cepat terdapat keluhan-keluhan d). Nyeri perut karena tegangnya uterus mual dan muntah e). Oedema pada tungkai, vulva dan dinding perut

104

kepala janin dapat diraba maka balotement jelas sekali e). Jika akut.f). Kalau pada letak kepala. ibu akan terlihat sesak dan sianosis serta terlihat payah membawa kandungannya 3) Palpasi a). 2) Inspeksi a). Bagian janin sukar dikenali d). retak-retak kulit jelas dan kadang-kadang umbilikus mendatar b). Pada proses akut dan perut besar sekali. kulit perut berkilat. Nampak bayangan terselubung kabut. berkerigat dingin. Karena bebasnya janin bergerak dan tidak terfiksir maka dapat terjadi kesalahan-kesalahan letak janin 4) Auskultasi DJJ sukar didengar dan jika terdengar hanya sekali 5) Rontgen foto abdomen a). karena banyaknya cairan kadang bayangan janin tidak jelas b). bisa syok. Foto rongtgen pada hidramnion bberguna untuk disgnostik dan untuk menentukan etiologi 6) Pemeriksaan dalam Selaput ketuban teraba tegang dan menonjol walaupun diluar his Diagnosa banding 1) Hidramnion 2) Gemeli 3) Asites 4) Kista avanii 105 . Perut tegang dan nyeri tekan serta terjadi oedema pada dinding perut. Fundus uteri lebih tinggi dari umur sesungguhnya c). vulva dan tungkai b). sesak. Kelihatan perut sangat buncit dan tegang.

Eritoblastosis 2) Pada ibu a). Atonia uteri c). Retensio plasenta e). Kongenital anomali b). Pasang infus 106 . Prematuritas c). seperti sesak dan sianosis maka lakukan transvaginal melalui servik bila sudah ada pembukaan c). Perdarahan post partum d). masukan jari tangan ke dalam vagina sebagai tampon beberapa lama supaya air ketuban keluar pelan-pelan 3) Post partum a). Bila sewaktu pemeriksaan dalam. Pada hidramnion yang berat dengan keluhan-keluhan harus dirawat di rumah sakit dan bedrest 2) Waktu partus a). Hidramnion ringan. jarang diberi terapi klinis cukup diobservasi dan berikan terapi simpotomatis b).5) Kehamilan beserta tumor Prognesis 1) Pada janin a). Solusio plasenta b). Syok Terapi hidramnion dibagi menjadi 3 fase: 1) Waktu hamil a). Bila keluhan hebat. Bila tidak ada hal-hal yang mendesak maka sikap kita menunggu b). Periksa Hb b). Komplikasi karena kesalahan letak anak d). ketuban tiba-tiba pecah.

Pemberian antibiotik 2) Oligohidramnion Oligohidramnion adalah suatu keadaan dimana air ketuban kurang dari normal yaitu kurang dari ½ liter.c). tetapi pada kaki ektensi. Ada 4 tipe letak sungsang 1) Complete/flexed brech. Tipe ini lebih sering pada multigravida 2) Extended brech (frank brech) pada bayi fleksi. sehingga kaki berada dekat kepala. sering terjadi pada primiyang prematur 3) Presentesi kaki. Etiologi Sebab pasti belum diketahui dengan jelas. Primer Sekunder karena pertumbuhan amnion yang kurang baik ketuban pecah dini Gambaran Klinis 1) Perut ibu kelihatan kurang membuncit 2) Ibu merasa nyeri diperut pada tiap pergerakan anak 3) Persalinan lebih lama dari biasanya 4) Sewaktu his akan terasa sakit sekali 5) Bila ketuban pecah air ketuban sedikit sekali bahkan tidak ada yang keluar f) Kelainan Letak 1) Letak Sungsang Letak sungsang merupakan suatu letak dimana bokong bayi merupakan bagian rendah dengan atau tanpa kaki (keadaan dimana janin terletak memanjang dengan kepala di fundus uteri dan bokong berada di bagian bawah kavum uteri. pada posisi ini paha dan lutut bayi fleksi dan kaki menutupi bokong. 1 atau kedua kaki di bawah bokong 107 .

plasenta letak rendah atau tumor yang menghalangi jalan lahir. polihidramnion memungkinkan terjadinya malpresentasi Diagnosis Diagnosis ditegakan dengan pemerikasaan abdominal. Selain itu kelainan-kelainan seperti hidrosefalus. penyebab pasti dari presentasi bokong belum diketahui secara pasti tetapi dapat terjadi pada persalinan premetur. 2. insufisiensi cairan ketuban. Penmeriksaan dengan USG atau rontgen dapat mengetahui letak yang sebenarnya pada 108 . Pada palpasi di bagian bawah teraba bagian yang kurang keras dan kurang bundar. janin berada dalam posisi 1 atau kedua lutut berada di bawah bokong Gamba. Denyut jantung janin terdengar di atas pusat.4) Presentasi lutut. bundar dan melenting. sementara di fundus teraba bagian yang keras. uterus bikormis. gande multi.5 letak sungsang Penyebab Presentasi bokong terjadi kurang lebih 3% pada semua persalinan.

Fraktur dan dislokasi 4. Pelepasan plasenta dapat terjadi pada kala II akibat tarikan dari tali pusat. Oedem genital dan memar atau lecet akibat capformation Kejadian anomali kongenital tinggi pada bayi dengan presentasi atau letak sungsang dan terutama pada BBLR.pemeriksaan pervaginam teraba bagian lunak anus juga akan teraba bagian sacrum Persalinan sungsang tidak menyebabkan bahaya bagi ibu tetapi menimbulkan hal yang serius bagi bayinya. Kematian bayi pada persalinan sungsang 4 kali lebih besar daripada persalinan biasa. Manajemen Persalinan Sungsang Persalinan dianjurkan di rumah sakit di bawah pengawasan dokter ahli obstetri. Anoksia intra dan ekstra uterin 2. Jika ibu tidak partus spontan pada 40 minggu biasanya dilakukan induksi persalinan. ruptur organ abdomen dan banyak bahaya untuk otot syaraf. Kala I persalinan 109 . Ruptur organ abdomen 6. 1. Bahaya persalinan sungsang dapat di simpulkan sebagai berikut: 1. anastesi dan ahli anak. Kebanyakan dokter ahli kebidanan menganjurkan induksipersalinan pada 38 minggu. ketika fetus masih agak kecil. Perdarahan intrakranial 3. Bahaya lain adalah fraktur. Kerusakan otot dan syaraf terutama pada otot sterno mastoid dan fleksus brachialis 5. Setelah kepala masuk ke dalam rongga panggul dapat terjadi tekanan pada kepala pada tali pusat dan ini akan menyebabkan hipoksia janin.

Ada 4 posisi pada letak sungsang: 1. Sacrum kiri/kanan belakang Pertolongan persalinan pada letak sungsang Persalinan letak sungsang dapat ditolong dengan prasar brach ataupun dengan tindakan/extraksi.Kala I persalinan lebih lama daripada letak belakang kepala. ibu sebaiknya tidak berjalan-jalan. Kadang-kadang kontraksi uterus hipotonis sehingga dapat dirangsang dengan pemberian oksitosin. bokong dapat melalui servik tetapi kepala tidak melalui servik sehinga ibu dilarang untuk mengejan sampai dilatasi servik lengkap 2. Kala II persalinan Pemeriksaan vaginal dilakukan untuk mengetahui pembukaan lengkapsebelum menyuruh ibu mengedan. posisinya sama dengan letak kepalatetapi pada letak sungsang sacrum sebagai penunjuk. Posisi sacrum kiri depan 2. Pada saat pembukaan servik tercapai ¾ nya biasanya ibu ingin mengejan. Jika bokong enganged seperti pada bokong murni dimana terdapat resiko pecah selput ketuban dan prolapsus umbilikal. Pertama-tama kandung kancing dikosongkan ketika bokong belakng meregang perineum diberi anastesi lokal dan dilakukan episiotomi. Bokong belakang tampak di vulva dan bokong maju lebih 110 . Mekanisme persalinan letak sungsang Hubungan sacrum dengan panggul ibu akanmenentukan posisi janin. Posisi sacrum anterior kanan 3. Sacrum kanan/kiri 4.

Jari tengah dan jari telunjuk tangan kanan disangkutkan pada bahu untuk digunakan sebagai tarikan. kemudian memasukan jari tengah ke dalam mulut dan kepala difleksikan. Jari tengah menekan oksiput untuk membantu fleksi. Selanjutnya kepala dilahirkan dengan lambat. Perineum ditekan dengan jari untuk membuka mulut bayi. lubang hidung segera dibersihkan kepala dilahirkan secara perlahan-lahan. Sekarang bayi dalamkeadaan menggantung pada berat badannya. untuk menghindarinya biasanya dengan menggunakan forcep erygey’s atau neville barnes untuk kepala yang sudah lahir hal ini memungkinkan untuk mengontrol kecepatan lahirnya kepala. asisten menekan daerah supra pubik dengan sehalus mungkin kepala dilahirkan melalui jalan lahir. Jika kepala dilahirkan dengan cepat dapat terjadi perdarahan intrakranial. Ketika kuduk dan garis rambut sudah tampak menunjukan bahwa kepala akan lahir. Metode mauriceau digunakan untuk melahirkan kepala dimana terjadi kelambatan dari penurunan kepala.cepat. Tali pusat dilongggarkan pada kontraksi berikutnya bahu akan tampak. Kepala ditarik ke bawah sampai batas hidung sehingga saluran nafas dapat dibersihkan dan oksigen dapat diberikan segera setelah bayi bernafas. Lengan yang normalnya fleksi menyilang di depan dada dengan mudah dilepaskan dan bahu akan lahir. tehniknya yaitu dengan menunggangkan bayi apada lengan kiri. obatobatan oksitosin diberikan pada ibu segera seteah bayi lahir. Mulut dibersihkan dari lendir sehingga bayi bernafas tanpa menghisap cairan lendir. Setelah hidung tampak di vulva . jalan nafas dibersihkan dan kelahiran 111 . Bayi di pegang pada pergelangan kaki dan menggunakan traksi yang halus. selama beberapa waktu untuk memudahkan penurunan dan fleksi dari kepala. Badan bayi maju sampai sejauh umbilikus kemudian kaki di lepaskan/dilahirkan dengan perlahan-lahan. memasukan tiga jari kedalam vagina dan mencari mulut bayi. tubuh di simpan di atas abdomen ibu.

fibroid uterus yang besar. selain itu juga ada beebrapa faktor yang mendukung terjadinya letak lintang yaitu: kehamilan ganda. di belakang (dorsoposterior) atau di bawah (dorsoinferior). bidan menemukan kakus dengan persalinan sungsang. 2) Letak Lintang Letak lintang adalah suatu keadaan dimana janin melintang di dalam uterus dengan kepala pada sisi yang satu sedangkan bokong pada sisi yang lain. Letak Lintang Penyebab Penyebab paling sering adalah kelemahan otot uterus dan abdomen. sedangkan bahu berada pada pintu atas panggul. Gambar . Pada umumnya bokong berada sedikit lebih tinggi daripada kepala janin. Punggung janin dapat berada di depan (dorsoanterior). bidan harus mengupayakan membawa ibu ke rumah sakit.6. mengingat bahaya yang dapat ditimbulkan dari persalinan tersebut. Faktor lain yang mendukung terjadinya letak lintang adalah plasenta previa.2. 112 . pengkerutan pelvis. Kelaianan letak paling sering terjadi pada wanita paritas tinggi (grande multipara). Apabila pada praktek di masyarakat. Pada keadaan emergensi bidan dapat melakukan tehnik ini meskipun jarang dilakukan. polihidramnion.kepala dilakuka dengan cara yang sama. abnormalitas uterus.

USG dapat digunakan untuk memastikan dignosis untuk mendeteteksi kemungkinan penyebab. Pemeriksaan USG dapat mendeteksi abnormalitas fetus dan uterus. engan TFU rendah. lebih menonjol ke salah satu bagian abdomen. pemeriksaan vagina dapat dilakukan untuk mendeteksi abnormalitas pelvik seperti.Diagnosis Letak lintang mudah didiagnosis dalam kehamilan dari bentuk uterus. presentasi dan mendengarkan DJJ. terlihat melebar. Ketika paru-paru bayi prematur. ibu seharusnya datang ke RS untuk dilakukan versi chepalik eksternal yang dilakukan ditempat kelahiran. Hal ini mungkin diikuti dengan induksi persalinan dengan oksitosin. Jika pemeriksaan USG tidak mendeteksi plasenta previa. Kecenderungan pengembalian posisi letak lintang menjadi posisi letak memanjang sulit dan seringnya beberapa dokter tidak menganjurkan versi chepalik eksternal sebelum kelahiran direncanakan.resiko versi chepalik eksternal adalah terjadinya KPD dan tali pysat menumbung. pengerutan pelvis. Penekanan pada sisi lateral dapat diterapkan untuk membantu uterus dalam mempertahankan letak memanjang. DJJ dan kontraksi uterus dimonitor secara elektrik dan jika memingkinkan kondisi ibu benar-benar diperhatikan. atau persalinan prematur. Manajemen atau penatalaksanaan Dokter dapat mengusahakan untuk membenarkan posisi dengan cara versi external menjadi letak membujur dan presentasi kepala. atau waktu datangnya persalinan. Palpasi akan teraba kepala janin pada salah satu sisi dan bokong pada sisi yang lain. Pada palpasi kepala janin atau bokong ditemukan di salah satu bagian fossa iliaca. Pada setiap kunjungan antenatal dokter seharusnya memeriksa letak. tetapi tidak ada bagian presentasi yang berada di pelvis. Dalam persalinan ketika kepala 113 .

Kelainan letak. jika mendapatka kesulitan untuk membenarkan letak janin setelah selaput ketuban pecah ini tidak mungkin dilanjutkan. Perdarahan antepartum. Dalam persalinan. Rangkuman Materi Komplikasi. Kelainan air ketuban. atau terdapat komplikasi dalam persalinan. Tindakan SC merupakan bentuk kelahiran yang paling aman. ketika persalinan dimulai bahu janin dapat turun kebawah ke rongga pelvis bagian depan dapat terjadi KPD dan penumbungan tali pusat yang disertai dengan penumbungan lengan janin. 114 . Bahu janin dapat dikenali dengan merasakan tulang rusuk atau tangan. Pada beberapa kasus dimana wanita mempunyai riwayat obstetri yang urut. Jika ada kegawat daruratan. Pemeriksaan vagina tidak boleh dilakukan jika ada indikasi plasenta previa. Kelainan dalam lamanya kehamilan. KET. Kehamilan ganda. Persalinan seharusnya dapat berjalan dengan normal. penyakit dalam masa kehamilan Komplikasi dan penyulit kehamilan trimester I dan II meliputi: Anemia kehamilan. bidan seharusnya merujuk ke dokter atau ke pelayanan kegawat daruraan obstetri. kelainan. Molahidatidosa Komplikasi dan penyulit kehamilan trimester III meliputi : Kehamilan dengan hipertensi. Bidan dapat mendeteksi presentasi bahu dengan cara pemeriksaan abdomen seperti yang dijelaskan diatas dan pemeriksaan vagina. Jika tindakan pencegahan tersebut tidak dilakukan. Hyperemesis ravidarum. SC merupakan cara yang paling aman untuk melahirkan.bayi memasuki rongga pelvis membran dapat ruptur. C. Abortus.

Edema pada kaki. Rambu-Rambu Jawaban 1. Hanifa Wiknjosastro. Jakarta : Yayasan Bina pustaka sarwono. Preeklamsia ringan a. gangguan visus. Adanya gangguan serebral. pre eklamsi berat dan eklamsi. dan rasa nyeri di epigastrium Eklamsi meupakan seangan Konvulsi yang tejadi mendadak dalam kehamilan tetapi tidak selalu komplikasi atau kelanjutan dai pre eklamsi. muka dan berat badan naik >1 kg/mg Preeklamsia berat a. Oliguria (jumlah urine < 500 cc per 2 jam d. Proteinuria. F. Cara pengukuran sekurang- kurangnya pada 2x pemeriksaan dengan jarak b. 2. 115 .3 gr/lt atau 1+ atau 2+ c. Proteinuria 0. Hal 104 – 121. 5 gr/lt atau lebih c. Latihan/ Tugas 1. Ilmu Bedah Kebidanan. Solusio Plasenta plasenta lepas sebelum waktunya dimana pedarahannya merah kehitaman disetai nyeri. Terdapat edema paru dan sianosis e. Daftar Pustaka 1. 2005. jari. Diskusikan apa bebedaan dari plasenta previa dan solusio Plasenta? E.D. Diskusikan apa perbedaan dari pre eklamsi ringan. Tekanan darah 160/110 mmHg atau lebih b. Tekanan darah 140/90 mmHg atau kenaikan diastolik 15 mmHg atau lebih (diukur pada posisi berbaring terlentang) atau kenaikan sistolik 30 mmHg atau lebih. 2. Plasenta previa adalah letak plasenta yang menutupi jalan lahir dimana perdarahannya merah segar dan tidak disertai rasa nyeri.

Cakul Obgin Plus FKUI. Jones and Bartlett Publisher Mayes. 2001. Tim pengajar Askleb IV. Jakarta 10. 3. 2005. Sinopsis Obstetri Jilid I. Workshop Kurikulum mata ajar Askeb IV. Hanifa Wiknjosastro. Obstetri Patologi. 12 th Edition 2000 Mochtar R. Ilmu Kebidanan. Bandung : Elstar Offset. Hal 173 -178. Buku Panduan Praktis Maternal dan Neonatal. Bagian OBSGIN FK Universitas Padjadjaran. 8. 5. tidak diterbitkan 116 . 1998. 2001 Varney’s H. Midwifery. 1997.2. Hal 606 – 622. 1999. YBPSP 6. Budi Marjono. 7. Jakarta:FTM Syaifudin. Jakarta. UK. Midwifery. 2006. 9. 4. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono.

117 . sehingga muka janin merupakan bagian yang terendah. sehingga ubun-ubun besar merupakan bagian terendah. Presentasi puncak kepala atau disebut juga presentasi sinsiput. terjadi apabila derajat defleksinya ringan. Presentasi muka bila derajat defleksinya maksimal. III dan IV. Konsep Dasar Penyulit Kala I dan Kala II a. Bergantung pada derajat defleksinya maka dapat terjadi presentasi puncak kepala. B. yang kemudian akan berubah menjadi presentasi belakang kepala. Konsep Dasar Kelainan Presentasi dan Posisi 1) Presentasi Puncak Kepala Pada persalinan normal. Dalam keadaan tertentu fleksi kepala tersebut tidak terjadi. Pada umumnya presentasi puncak kepala merupakan kedudukan sementara.II.BAB IV ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU DENGAN KELAINAN. Presentasi dahi. Mekanisme persalinanya hampir sama dengan posisi oksipitalis posterior persisten. kepala janin pada waktu melewati jalan lahir berada dalam keadaan fleksi. Uraian materi 1. sehingga lingkaran kepala yang melalui jalan lahir adalah sirkumferensia frontooksipitalis dengan titik perputaran yang berada di bawah simpisis adalah glabela. presentasi dahi a tau presentasi muka. sehingga keduanya seringkali dikacaukan satu dengan yang lainnya. sehingga kepala dalam keadaan defleksi. bila derajat defleksinya lebih berat sehingga dahi merupakan bagian yang paling rendah. Kompetensi Dasar Mampu menguraikan konsep dasar penyulit persalinan kala I. Perbedaanya adalah: pada presentasi puncak kepala tidak terjadi fleksi kepala yang maksimal. KOMPLIKASI DAN PENYAKIT DALAM PERSALINAN A.

Kepala pada pertengahan antara versi dan ekstensi. tindakan yang paling aman untuk ibu dan bayi adalah dengan menggunakan SC. dan seharusnya ibu dirujuk ke RS. Pada semua malpresentasi seringnya terjadi KPD dan resiko prolapsus tali pusat lebuh besar. Jika presentasi dahi didiagnosis segera dalam persalinan dapat mengubah presentasi muka menjadi ekstensi penuh atau fleksi pada presentasi verteks. Jika presentasi dahi menetap dan fetus dalam ukuran normal tidak mungkin terjadi kelahiran pervaginam dan SC harus segera dilakukan. dengan diameter mento vertikal 13 cm. Diagnosis Pemeriksaan abdomen kepala sangat tinggi dan diameter sangat besar. 3) Presentasi Muka Presentasi Muka jarang terjadi kira-kira 1 dalam 500 kelahiran. teraba lekukan antara oksiput dengan bagian belakang. orbital berada pada satu sisi dan fontanel anterior berada pada sisi yang lain. Manuver jarang dilakukan pada presentasi muka. presentasi tinggi dan tidak bisa diraba. Jika dahi dapat teraba. Kepala dan tulang belakang ekstensi tetapi lutut fleksi sehingga letak 118 . Manajemen Bidan harus dengan cepat menghubungi dokter jika ada suspek atau diagnosa presentasi dahi dalam persalinan.2) Presentasi Dahi Presentasi dahi jarang terjadi dari pada presentasi muka. terjadi hanya 1 dari 2000 persalinan. Oleh karena itu pemeriksaan pervaginam dilakukan sesegera mungkin untuk mendeteksi prolapsus tali pusat. Pada pemeriksaan vagina. Diagnosis dapat ditegakkan dengan radiografik atau dengan USG.

Penyebab Pada presentasi muka primer sebelum persalinan berlangsung fetus seringnya abnormal. Hal ini seharusnya diperhatikan jika ada lekukan yang dalam antara kepala dengan bagian belakang. dalam rongga pelvis dan pada prematuritas dan dimana terjadi polihidramnion atau kehamilan ganda. Presentasi muka sekunder yang berkembang dalam persalinan sering tidak diketahui sebabnya. vertek tidak ada. Ultrasound dalam kehamilan dapat digunakan untuk memastikan diagnosis presentasi muka. Fetus goitre. Pada posisi oksipito pesterior defleksi diameter biparietal mungkin mempunyai kesulitan dalam menjauhi diameter sacro cotyloid dari pelvis maternal. Internum. kepala tidak dapat versi biasanya tonus otot ekstensor tonus berlebuhan dan bertahan dalam sikap ekstensi pada beberapa setelah lahir. Suaranya terdengar jelas pada posisi mento anterior. Pada anensephalus yang biasa terjadi. Pada posisi mento posterior bunyi jantung janin lebih sulit terdengar karena dada pada posterior. Uterus yang berada disisi samping (uterus obliq). Kekuatan kontraksi uterus berjalan kearah kepala bagian frontal supaya kepala ekstensi dan masuk kerongga pelvis.fetus dalam uterus dalam bentuk huruf S. kepala ekstensi dan muka terlihat. Presentasi muka juga lebih sering terjadi pada flat pelvis. Diameter bitemporal lebih cepat turun. 119 . Oksiput berlawanan dari bahu dan muka secara langsung yang berada dibagian os. Bunyi jantung terdengar melalui dinding dada anterior pada sisi dimana lutut teraba. Diagnosis Presentasi muka tidak mudah didiagnosis dalam kehamilan.

Diagnosis dapat ditegakan dengan pemeriksaan vagina. Adanya gusi dan mulut dalam presentasi muka harus dibedakan dari anus pada presentasi bokong.5 cm. Obstruksi persalinan. kepala difleksikan sehingga memungkinkan verteks dan oksiput melewati perineum. Pemeriksaan harus hati-hatiuntuk menghindari trauma pada mata. Manajemen Pada posisi mento anteerior seringnya proses persalinan berjalan normal. Jika kelahiran normal terjadi ekstensi dipertahankan dengan menekan sinsiput hingga dagu berada di bawah simpisis pubis. Biasanya fetus akan membantu diagnosis dengan menghisap jari tangan pemeriksa saat dilakukan pemeriksaan. kemungkinan persalinan obstruksi dan dibutuhkan penatalaksanaan dengan segera. Kemajuan persalinan menjadi sangat sulit pada pemeriksaan pervaginam untuk membedakan muka karena muka menjadi oedemmeriks. Presentasi muka posterior. Pada kala II kelahiran normal diantisipasi dengan menggunakan episiotomi meskipun diameter sub mento bregmatika 9. yang tidak bisa berputar ke posisi anterior. akan menyebabkan obstruksi persalinan. karena. 1. Posisi mento lateral dan mento posterior lebih berbahaya. meliputi. Prolapsus tali pusat 2. dengan palpasi yang lembut akan teraba orbital dan mulut dengan gusi. a. Kelahiran spontan tidak akan terjadi. Muka tidak berbentuk dan oleh karena CPD yang tidak dapat ditangani 120 .5 cm yang dapat merobek perineum saat kelahiran. Komplikasi Komplikasi yang dapat terjadi pada presentasi muka. Presentasi muka didiagnosa dengan menentukan posisi dagu apakah anterior atau posterior. Sub mento vertikal 11.

puncak kepala.1 Presentasi belakang kepala. dahi dan muka 4) Posisi Oksipitalis Posterior Persisten Keadaan dimana ubun-ubun kecil tidak berputar ke depan. Bentuk tengkorak fetus abnormal disebabkan perdarahan intrakranial. Keadaan ini dinamakan posisi oksiput posterior persisten. Kelahiran operasi mungkin dibutuhkan 4. maka ubun-ubun kecil akan mengalami kesulitan memutar ke depan.3. Trauma perineum berat dapat terjadi karena.b. sub mento vertikal 11. Misalnya: apabila diameter anterior posterior lebih panjang dai diameter transfersa seperti pada panggul antropoid atau segmen depan menyempit seperti pada panggul android. Muka memar dan oedem Gambar.5 cm akan memperlebar vagina dan perineum.5 cm. 5. meskipun diameter sub mento bregmatik hanya 9. Presentasi muka posterior presisten mengakibatkan obstruksi persalinan 3. Sebab-sebab lain adalah otot-otot dasar panggul yang sudah lembek pada multipara atau kepala 121 . sehingga tetap dibelakang. Etiologi Salah satu sebab terjadinya posisi oksipitalis oksiput posterior persisten ialah usaha penyesuaian kepala terhadap bentuk dan ukuran panggul.

122 . sehingga tidak ada paksaan pada belakang kepala janin. Sedangkan kematian peeinatal perinatal lebih tinggi bila dibandingkan dengan keadaan dimana ubun-ubun kecil berada di depan. Persalinan pada pada umumnya berlangsung lebih lama. oksiput akan lahir melalui perineum diikuti bagian kepala yang lain. Prognosis Jalannya pada proses persalinan posisi oksiput posterior sulit diramalkan hal ini disebabkan karena kemungkinan timbulnya kesulitan selalu ada. Kepala janin akan lahir dalam keadaan muka di bawah simpisis dengan mekanisme sebagai berikut. untuk memutar ke depan. hal ini disebabkan karena kepala yang sudah dalam keadaan fleksi maksimal tidak dapat menambah fleksinya lagi. Setelah kepala mencapai dasar panggul dan ubun-ubun besar berada di bawah shimpisis dengan ubun-ubun besar tersebut sebagai hipomoklion. Kelahiran janin dengan ubun-ubun kecil di belakang menyebabkan regangan yang besar pada vagina dan perineum. sehingga kepala lahir melalui pintu bawah panggul dengan sirkumferensia frontooksipitalis yang lebih besar dibandingkan dengan sirkumferensia sub oksipitooksipitalis.janin yang kecil dan bulat. Selain itu seringkali fleksi kepala tidak dapat maksimal. kedua keadaan tersebut dapat menimbulkan kerusakan pada vagina dan erineum yang luas. Mekanisme Persalinan Bila hubungan antara panggul dengan kepala janin cukup longgar persalianan pada posisi oksipitalis posterior persisten dapat berlangsung secara spontan tetapi pada umumnya lebih lama. kemungkinan kerusakan jalan lahir lebih besar.

dan kandung kencing serta rectum 123 . keadaan ini dinamakan inersia uteri primer atau hypotonic uterine contraction. Pada presentasi belakang kepala kadang-kadang kala II mengalami kemacetan dengan kepala janin sudah berada di dasar panggul dan posisi UUK melintang. Diagnosis inersia uteri paling sulit dalam fase laten. KU pasien sementara diperbaiki.Penanganan Menghadapi persalinan dengan UUK di belakang sebaiknya dilakuka pengawasan persalinan yang seksama dengan harapan terjadinya persalinan spontan. b. turunnya kepala janin dalam panggul dan keadaan panggul. harus diperiksa keadaan servik. Apabila ada disproporsi chepalopelvik yang berarti. Keadaan ini dinamakan posisi lintang tetap rendah (deep tranverse arrest). Konsep Dasar Distosia Kelainan Tenaga Atau His 1) His Hipotonik Kelainan dalam hal bahwa kontraksi uterus lebih aman. Kalau timbul setelah berlangsungnya his kuat untuk waktu yang lama hal ini dinamakan dengan inersia uteri sekunder. presentasi serta posisii janin. Untuk sampai pada kesimpulan ini diperluakan kenyataan bahwa sebagai akibat kontraksi terjadi perubahan pada servik yaitu pendataran atau pembukaan servik Penanganan Setelah diagnosis inersia uteri ditetapkan. Tindakan untuk mempercepat jalanya persalinan dilakukan apabila kala II terlalu lama atau ada tanda-tanda bahaya terhadap janin. singkat dan jarang daripada biasa. Kontraksi uterus yang disertai rasa nyeri tidak cukup untuk membuat diagnosis bahwa persalinan sudah dimulai. sebaiknya diambil keputusan untuk melakukan SC.

5 satuan oksitosin dimasukan ke dalam larutan glukosa 5% dan diberikan secara infus IV (dengan kecepatan kira-kira 12 tetes permenit yang perlahan dapat dinaikan sampai kira-kira 50 tetes. khususnya servik uteri. Kalau seorang wanita pernah emengalami partus presipitatus kemungkinan besar kejadian ini akan berulang pada persaliann selanjutnya. Untuk merangsang his selain dengan pemecahan ketuban bisa diberikan oksitosin. Kalau 50 tetes tidak dapat berhasil bisa dengan memeberikan dosis lebih tinggi dengan cara pasien harus di awasi dengan ketat dan tidak boleh ditinggalkan. kelainannya terletak pada kekuatan his.dikosongkan. apabila kepala atau bokong janin sudah masuk ke dalam panggul. His ng terlalu kuat atau terlalu efisien menyebabkan persalinan selessai dalam waktu yang sangat singkat (partus presipitatus): sifat his normal. tonus otot di luar his juga biasa. 2) His Hipertonik (his terlampau kuat) Walaupun pada golongan koordinate hipertonik uterin contraction bukan merupakan penyebab distosia namun bisa juga merupakan kelaianan his. Oleh 124 . penderita di sarankan untuk berjalan-jalan terlebih dahulu. Bahaya partus presipitatus bagi ibu ialah terjadinya perlukaan luas pada jalan lahir. Batas antara bagian atas dan segmen bagian bawah atau lingkaran retraksi menjadi sangat jelas dan meninggi. Lingkaran tersebut dinamakan dengan lingkaran retraksi patologis (lingkaran bandl). vagina dan perineum. Sedangkan pada bayi dapat mengalami perdarahan dalam tengkorak karena bagian tersebut mengalami tekanan kuat dalam waktu sangat singkat. Oksitosin yang diberikan dengan suntikan IM akan dapat menimbulkan incoordinate uterin action. Penanganan Pada partus presipitatus tidak banyak yang dapat diilakukan karena biasanya bayi sudah lahir tanpa ada seseorang yang menolong.

pethidin. Penanganan Kelainan ini hanya dapat diobati secara simtomatis karena belum ada obat yang dapat memperbaiki koordinasi fungsional antara bagianbagian uterus. Hal ini dapat dilakukan dengan pemberian analgetika. dan kontraksinya tidak berlangsung seperti biasa karena tidak ada sinkronisasi antara kontraksi bagian-bagiannya. danepisiotomi dilakukan pada waktu yang tepat untuk menghindari ruptur perineum tingkat III. Usaha yang dapat dilakukan ialah mengurangi tonus otot dan mengurangi ketakutan penderita. 3) His yang tidak terkoordinasi His disini sifatnya berubah-ubah tonus otot uterus meningkat juga di luar his. Tidak adanya koordinasi antara kontraksi bagian atas. Dan kalau pembukaan belum lengkap. tengah dan bawah menyebabkan his tidak efisien dan mengadakan pembukaan. perlu dipertimbangkan SC. seperti morphin. Satu sebab yang penting dalam kelalinan his. khususnya inersia uteri adalah bagian bawah janin tidak berhubungan rapat dengan segmen bawah uterus seperti misalnya pada 125 . Pada multipara lebih banyak ditemukan yang bersifat inersia uteri. Etiologi dari kelainan tenaga atau His Kelainan his terutama ditemukan pada primigravida khususnya primigravida tua. His ini disebut sebagai incoordinate hipertonik uterin contraction. Akan tetapi persalinan tidak boleh berlangsung berlarut-larut apalagi kalau ketuban sudah pecah.karena itu sebaiknya wanita di rawat sebelum persalinan. sehingga pengawasan dapat dilakukan dengan baik. Disamping itu tonus otot uterus yang menaik menyebabkan rasa nyeri yang lebih keras dan lama bagi ibu dan dapat pula menyebabkan hipoksia pada janin. Faktor herediter mungkin memegang peranan yang sangat penting dalam kelainan his.

Gangguan dalam pembentukan uterus pada masa embrional misalnya. dapat timbul edema pada vulva. uterus bikornis unikolis. kista atau abses glandula bartolin. (c). yang meyebabkan ulkus-ulkus dan yang sembuh dengan parut-parut yang dapat menimbulkan kesulitan. Septum lengkap biasanya 126 . Distosia Kelainan Alat Kandungan (Traktus Genitalis) 1) Vulva Kelainan yang dapat menyebabkan distosia yaitu edema. biasanya sebagai gejala preeklampsi tetapi dapat pula mempunyai sebab lain misalnya gangguan gizi.kelainan letak janin atau pada kelainan CPD. Edema (b). Tumor dalam bentuk neoplasma jarang ditemukan di vulva. Biasanya terjadi sebagai akibat perlukaan dan radang. Walaupun dapat di atasi dengan melakukan episiotomi yang cukup luas. dapat pula mengakibatkan kelainan his. Abses yang pecah pada waktu persalinan dapat meyebabkan infeksi purperalis. Pada persalinan lama pada penderita di biarkan meneran terus. Peregangan rahim yang berlebihan pada kehamilan ganda atau hidramnion juga dapat merupakan penyebab inersia uteri. c. 2) Vagina Stenosis vagina kongenital jarang terjadi lebih sering ditemukan septum vagina yang memisahkan vagina secara lengkap atau tidak lengkap dalam bagian kanan dan bagian kiri. stenosis dan tumor (a). (e). lebih sering terdapat kondiloma akuminata. Tetapi pada sebagian kasus penyebab kelainan inersia uterus tidak diketahui. Bisa timbul waktu hamil. Stenosis pada vulva (d). Tumor (f).

stenosis atau servik tidak berkembang. baik untuk koitus maupun untuk lahirnya janin. jaringan parut servik. servik tidak membuka dan terasa kaku dan keras. Konglutination orivisii eksterni ialah keadaan yang jarang didapat. disini dalam kala I uteri menipis akan tetapi pembukaan tidak terjadi. Dengan jari dimasukan kedalam lubang itu pembukaan dapat diperlebar dengan mudah dan dalam waktu yang tidak lama pembukaan dapat menjadi lengkap dengan sendirinya. Distosia karena kelainan yang didapat disebabkan karena fibrosis dan infeksi. Tumor apada vagina dapat merupakan rintangan bagi lahirnya janin pervaginam. 127 . oleh karena itu persalinan pervaginam tidak dapat dilakukan dan dianjurkan untuk SC. Meskipun kontraksi uterus normal. Diagnosis dibuat dengan menemukan lubang kecil yakni ostium uteri eksternum ditengah-tengah lapisan tipis tersebut. Adanya tumor vagina dapat pula menyebabkan persalinan pervaginam dianggap mengandung terlampau banyak resiko. pembedahan dan radiasi. sehingga merupakan lembaran kerjas di bawah kepala janin.tidak menimbulkan distosia karena bagian vagina yang satu umumnya cukup lebar. Tergantung dari jenis dan besarnya tumor. perlu dipertimbangkan apakah persalianan dapat berlangsung pervaginam atau harus diselesaikan dengan SC 3) Uterus/servik a) Servik uteri Kondisi dimana struktur servik abnormal mungkin disebabkan karena kongenital atau didapat. Kelainan kongenital.

jika pengobatan konserfatif tidak berhasil dipertimbangkan histrektomi. Besarnya kepala dan tubuh janin dapat diukur dengan menggunakan alat ultrasonik. Miomektomi sesudah SC tidak dianjurkan karena bahaya berdarahan banyak dan tertinggalnya luka-luka yang tidak rata pada miometrium yang memudahkan terjadinya infeksi puerpurial. Akan tetapi kadang-kadang dihubungkan dengan lokasinya perlu dilakukan SC klasik. Diagnosis Pemeriksaan yang teliti adanya DKP (disporposi cepalo pelvik) perlu dilakukan.b) Uterus Distosia karena mioma uteri dapat terjadi. apabila letak mioma uteri menghalangi lahirnya janin pervaginan b). 128 . Puerpurium perlu diawasi dengan baik karena kemungkinan bahaya nekrosis selalu ada. Distosia Karena Kelainan Letak Janin 1) Bayi besar Yang dinamakan bayi besar adalah bila berat badannya lebih dari 4000gr. Profilaksis dianjurkan ajar pemberian oksitosin yang dapat menggangu peredaran darah ke miomata yang kemudian menjadi nekrotik dan mudah terinfeksi. Dalam masa puerpurium mioma uteri dapat mengecil malahan bisa menjadi lebih kecil dari padasebelum hamil. a). mioma uteri menyebabkan inersia uteri dalam persalinan Apabila mioma uteri merupakan halangan bagi lahirnnya janin pervaginan perlu dilakukan SC. d. apabila berhubungan dangan adanya mioma uteri terdapat kelainan letak janin c). SC dilakukan secara SCTP.

radiogragik atau denga pemeriksaan vagina. SC perlu dipertimbangkan. Tulang kranial lembut. Dengan cara demikian dapat mengurangi cairan sereberal. Bila tidak berhasil digunakan perasat muller. Keadaan ini dapat menyebabkan obstruksi persalinan jika tidak didiagnosa dengan segera. Pada beberapa kasus pembedahan berhasil dengan baik dengan cara insersi katuk jantung dan kateter dari ventrikel ke vena jugularis dan sisi kanan jantung. Selain itu penarikan kepala kebawah terlalu kuat dalam pertolongan distosia bahu berakibat perlukaan pada nervus brachialis dan musculus sterno kleido mastoideus. Untuk mengurangi kemungkinan perlukaan jalan lahir. Diagnosis dapat ditetapkan dengan USG. Pada palpasi abdomen kepala teraba besar dan dibagian atas pinggir mungkin teraba bokong.Prognosis Pada panggul normal janin dengan berat badan kurang dari 4500gr pada umumnya tidak menimbulkan kesukaran persalinan. hidung serta mulut janin dibersihkan. Pada keadaan dimana janin telah mati sebelum bahu dilahirkan dapat dilakukan kleidotomi pada salah satu atau kedua klafikula. Penanganan Pada CPD karena janin besat. 129 . Kesukaran terjadi karena distosia bahu dapat menyebabkan kesukaran kelahiran sehingga bayi dapat meninggal akibat asfiksia. Untuk melahirkan bahu hendaknya dilakukan episiotomi mediolateral yang luas. 2) Hydrocephalus Kepala sangat besar yang disebabkan karena peningkatan jumlah cairan serebrospinal yang meluas ke otak. Pada banyak kasus fetus tidak dapat dilahirkan pervaginam dan SC dibutuhkan. fontanel besar dan sutura lebar. kemudian kepala ditarik curam kebawah secara hati-hati dengan kekuatan yang terukur.

3) Anencephalus Anensephalus adalah kondisi dimana tulang tengkorak tidak ada dan hampir tidak ada perkembangan otak. Mekanisme dimana hipoksia menyebabkan kerusakan otak atau kematian belum diketahui. karena tengkorak yang besar ikut meregangkan segmen bawah rahim. yang terbuka dan tampak masa gelap dan merah. 130 . yaitu. muka tampak saat proses persalinan. Pada waktu lahir bayi mungkin asfiksia dan membutuhkan resusitasi dengan segera. bahaya rupture uteri akan mengancam. Inseden anensephalus kira-kira 1 dalam 1000 kelahiran. Disalam banyak kasus hal ini banyak menyebabkan kerusakan intrakranial yang menyebabkan cerebral palsi dan kadangkadang terjadi IUFD atau kematian neonatus.Prognosis Apabila tidak segera dilakukan pertolongan. Spina bivida sering menyertai anensephalus. 4) Gawat janin Fetal distress disebabkan oleh kekurangan oksigen (hipoksia didalam uterus). Fetus mempunyai mata yang besar dan menonjol dan bahu lebar. tetapi beberapa faktor yang mempengaruhi. 1) Insufisiensi aliran darah uterus 2) Insufisiensi aliran darah umbilikus 3) Berkurangnya oksigenasi maternal Derajat dan Lamanya hipoksia. Biasanya 50% dari kehamilan karena polihidramnion. Hanya 25% bayi yang dapat hidup. biasanya perempuan dan hampir semua mati dalam seminggu pertama kelahiran. umur kehamilan dan berat fetus akan mempengaruhi produk kehamilan. Rupture uteri pada hidrosephalus dapat terjadi sebelum pembukaan servik lengkap.

(4) Penyalah gunaan obat terlarang Penyalah gunaan obat terlarang dalam kehamilan berhubungan dengan banyak konplikasi meliputi IUGR. dan menyebabkan penurunan aliran darah uterus dimana karbonmonoksida mengurangi transport oksigen. Status sosial ekonomi adalah suatu gambaran kekurangan penghasilan tetapi juga kekurangan pendidikan. a) Faktor yang mempengaruhi fetal distress kronis: Fetal distress kronis berhubungan dengan faktor sosial yang kompleks: (1) Status sosial ekonomi rendah Hal ini berhubungan dengan peningkatan morbiditas dan mortalitas. Angka mortalitas perinatal meningkat. hipoksia dan persalinan preterm yang semuannya meningkatkan resiko kematian perinatal. 131 . nutrisi. kesehatan fisik dan psikis. (2) umur maternal Umur ibu yang sangat muda dan tua lebih dari 35 tahun merupakan umur resiko tinggi (3) Merokok Nikotin dapat menyebabkan vasokontriksi. persalinan preterm atau lahir mati berhubungan dengan resiko tinggi pada janin dalam kehamilan ini. (5) Riwayat obstetrik yang buruk Riwayat abortus sebelumnya.Pembagian fetal distress Fetal distress bisa akut dan kronis.

post matur. hb 9%/dl atau kurang Penyakit paru-paru Penyakit jantung Epilepsi. infeksi intra uterin dan inncompatibilitas resus yang meningkatkan resiko hipoksia intra uterin. seperti: (a) Hipertensi yang diinduksi kehamilan (b) Hipertensi kronik (c) Diabetes (d) Penyakit ginjal kronis Sedangkan faktor yang menyebabkan penurunan oksigenasi arteri maternal seperti: Penyakit sikle sel Anemia berat. (8) Kondisi fetal Malformasi kongenital tertentu. 132 . Resiko ini meningkat pada kehamilan ganda. jika tidak dikontrol dengan baik Infeksi maternal berat Kondisi tersebut berbahaya. dimana terjadi asidosis maternal sehingga akan menyebabkan asidosis fetal dan oleh karena itu menyebabkan fetal distress (7) Kondisi plasenta Kondisi tersebut meliputi insufisiensi plasenta.(6) Penyakit maternal Kondisi yang meningkatkan resiko fetal distress kronis dapat mempengaruhi sistem sirkulasi maternal dan menyebabkan insufisiensi aliran darah uterus. perdarahan antepartum yang dapat mengakibatkan pengurangan suplai oksigen ke fetus.

(9) Faktor resiko intra partum Selama persalinan faktor yang berhubungan dengan peningkatan resiko fetal distress. 133 . Tali pusat dapat tertekan pada prolapsus. (4) Depresi pusat sistem pernafasan Depresi sistem pernafasan pada BBL sebagai akibat pemberian analgetuk pada ibu dalam persalinan dan perlukaan pada proses kelahiran menyebabkan hipoksia. (3) Kondisi tali pusat Plasenta terlepas. lilitan tali pusat. ketika kontraksi sehingga mengakibatkan hipoksia fetus. (a) malpresentasi seperti presentasi bokong (b) kelahiran dengan forcep (c) SC (d) Sedatif atau analgetik yang berlebihan (e) Komplikasi anastesi. meliputi. terjadi solusio plasenta hal ini berhubungan dengan kelainan fetus. (2) Kompresi tali pusat Kompresi tali pusat akan menggangu sirkulasi darah fetus dan dapat mengakibatkan hipoksia. hipotensi dan hipoksia (f) Partum presepitatus atau partus lama b) Faktor yang mempengaruhi fetal distress akut (1) Kondisi uterus Kontraksi uterus hipertonik yang lama dan kuat adalah abnormal dan uterus dalam keadaan istirahat yang lama dapat mempengaruhi sirkulasi utero plasenta.

c. Deselerasi yang berubah-ubah Deselerasi yang berubah-ubah hal ini sangat sulit dijelaskan. USG untuk menilai pertumbuhan fetus 2. Dopler Tanda fetal distress dalam persalinan 1. Takikardi diatas 160 bpm atau bradikardi dibawah 120 bpm b. hubungan antara peningkatan asidosis fetus dengan dalam dan lamanya deselerasi adalah adanya abnormalitas denyut jantung janin. mengalami penurunan sedikitnya 15 denyutan permenit menetap sedikitnya 15 detik dalam 20 menit. tonus fetus indeks cairan amnion dan NST 3. 4. 134 . gerakan pernafasan fetus.Deteksi fetus melalui pemeriksaan Antenatal Pemeriksaan digunakan untuk mendeteksi fetus meliputi: 1. Profil biofisikal Pemeriksaan fisik pada fetus menggunakan USG parameter yang digunakan untuk menilai meliputi. Non stress tes (NST) Eksternal kardiotokograf (CTG) Kriteria yang seharusnya diamati meliputi 2 hal atau lebih. Denyut jantung a. gerakan fetus. Ini dapat terjadi pada awal atau akhir penurunan denyut jantung dan bentuknya tidak sama. yaitu: denjut jantung janin. Deselerasi lebih dini Ketika denyut jantung turun lebih dari 15 bpm pada saat kontraksi deselerasi menggambarkan kontraksi dan biasanya tidak dianggap masala serius.

Adanya mekonium dalam cairan ketuban berhubungan dengan peningkatan resiko neonatus dan meningkatkan kesakitan dan kematian neonatus.d. Dokter harus menyiapkan contoh darah fetus jika auskultasi mengindikasikan abnormalitas denyut jantung. Tidak adanya denyut jantung Ini mungkin disebabkan oleh karena hipoksia kronis atau berat dimana sistem syaraf otonom tidak dapat merespon stress f. Kecenderungan penyebabnya karena relaksasi spinter anus yang disebabkan oleh karena hipoksia usus yang mengakibatkan aliran darah keorgan vital berkurang. Dalam kasus fetal distress berat harus dilahirkan cara SC. Deselerasi yang lambat menyebabkan penurunan aliran darah uterus dan pengurangan transver oksigen selama kontraksi. Mekonium campur air ketuban 2. Mekonium Adanya mekonium terjadi kira-kira pada 20% dari semua kelahiran dan aspirasi terjadi 1-3% dari semua bayi hidup yang dilahirkan. Jika pola tersebut terjadi disertai dengan abnormalitas denyut jantung janin harus di pikirkan untuk ancaman yang serius dalam kesejahteraan fetus. Deselerasi lambat Penurunan denyut jantung janin menunjukkan tingkat deselerasi paling rendah tetapi menunjukkan kontraksi padaa tingkat yang paling tinggi. Penurunan tersebut mempengaruhi oksigenasi serebral fetus. Pada kasus tersebut dokter harus mengobserfasi kondisi fetus dengan memonitor 135 . Manajemen Pada Kala I Peningkatan perfusi plasenta silakukan dengan cara perubahan posisi menjadi posisi miring. e.

ketuban bisa pecah oleh pembukaan kecil dan ada bahaya pula terjadinya prolapsusu funikuli.kepala memasuki rongga panggul dengan hiperfleksi. sedang pada panggul sempit seluruhnya ditemukan rintanagn pada semua ukuran. Pada panggul picak turunya belakang kepala bisa tertahan dengan akibat terjadinya defleksi kepala. Manajemen Kala II Jika detal distres terjadi pada kala II kepala dilindungi dengan melakukan episiotomi. sedang pada asinklistismus anterior os parietale posterior yang terletak paling bawah tertahan oleh simphisis. Hal ini dapat mengakibatkan inersia uteri serta lambannya pendataran dan pembukaaan servik. maka dalam hal ini servik uteri kurang mengalami tekanan kepala. Apabila pada panggul sempit pintua atas panggul tidak tertutup dengan sempurna oleh kepala janin. sedangkan pada 136 . Memeriksa cairan amnion apakah mengandung mekonium. Distosia Kelainan Jalan Lahir 1) Kesempitan Pintu Atas Panggul Pintu atas panggul dianggap sempit apabila konjugata vera kurang dari 10 cm. Parietale yang terletak paling bawah tertahan oleh simphisis. e. Kesempitan pada konjugata vera (panggul picak) umumnya lebih menguntungkan daripada kesempitan pada semua ukuran (panggul sempit seluruhnya).denyut jantung secra terus menerus. Perawatan resusitasi disiapkan dan dokter anak diharuskan untuk stanby untuk mengatasi kemungkinan bayi mengalami asfiksia. Selanjutnya moulage kepala janin dipengaruhi oleh jenis asinklitismus anterior lebih menguntungkan daripada asinklitismus posterior oleh karena pada mekanisme terakhir gerakan os. atau diameter tranversa kurang dari 12 cm. Oleh karena pada panggul sempit karena kemungkinan lebih besar bahwa kepala tertahan oleh pintu atas panggul. selain itu dokter harus menyiapkan untuk tindakan SC.

Apabila ukuran yang terkhir ini lebih kecil daripada biasa. dan spina iskiadika tidak menonjol ke dalam. foramen iskiadikum mayor cukup luas. Pada panggul tengah yang sempit lebih sering ditemukan posisi oksipitalis posterir persisten atau presentasi ekpala dalam posisi lintang tetap (tranverse arrest). perlu kita waspadai terhadap kemunkinan kesukaran pada persalinan.asinklitismus anterior os parietale anterior dapat bergerak lebih leluasa ke belakang. ialah distansia interspinarum. Ukuran terpenting yang hanya dapat ditetapkan secara pasti dengan pelvimetri rontgenologi. yakni distansia tuberum. apalagi bila diameter sagitalis posterior pendek pula. dapat diharapkan bahwa panggul tengah tidak akan menyebabkan rintangan bagi lewatnya kepala janin. diperlukan ruanagan yang lebih besar pada bagian belakang pintu bawah panggul. Agar supaya dalam hal ini kepala janin dapat lahir. terdiri atas segitiga depan dan segitiga belakang yang mempunyai dasar yang sama. Dengan diameter sagitalis poterior yang cukup panjang persalinan pervaginam dapat dilaksankan. dinding-dinding panggul tidak berkonvergensi. 137 . maka sudut arkus pubis mengecil pula (<80 0). 2) Kesempitan Pintu Tengah Panggul Dengan sakrum melengkung sempurna. Apabila ukuran ini kurang dari 9. Dengan distansia tuberum bersama dengan diameter sagitalis posterior <15 cm. timbul kemacetan pada kelahiran janinukuran biasa. 3) Kesempitan Pintu Bawah Panggul Pintu bawah panggil tidak merupakan bidang yang datar tetapi.5 cm. walaupun dengan perlukaan luas pada perineum.

5) Jika uterus masih juga belum berkontraksi mulai lagi kompresi bimanual interna setelah anda memberikan injeksi metergin dan sudah mulai IV 6) Jika uterus masih juga belum berkontraksi dalam 5-7 menit.2 mg IM dan mulai memberikan IV (RL dengan 20 UI oksitosin/500 cc dengan tetesan cepat). Atonia Uteri Uterus gagal berkontraksi dengan baik setelah persalinan Penyebab 1) Partus lama 2) Pembesaran uterus yang berlebihan pada waktu hamil seperti pada kehamilan kembar.5 L seluruhnya diinfuskan kemudian teruskan dengan laju infus 125 cc/jam. 3) Jika uterus sudam mulai berkontraksi secara perlahan di tarik tangan penolong. bersiaplah untuk melakukan rujukan dengan IV terpasang pada 500 cc/jam hingga tiba di tempat r ujukan atau sebanyak 1.2. 138 . Persalinan Dengan Penyulit Kala III Dan IV a. minta anggota keluarga melakukan bimanual interna sementara penolong memeberikan metergin 0. lanjutkan memantau ibu secara ketat 4) Jika uterus tidak berkontraksi setelah 5 menit. Jika uterus sudah berkontraksi. hidramnion atau janin besar 3) Multiparitas 4) Anastesi yang dalam 5) Anastesi lumbal Penatalaksanaan 1) Bersihkan semua gumpalan darah atau membran yang mungkin berada di dalam mulut uterus atau di dalam uterus 2) Segera mlai melakukan kompresi bimanual interna.

cobalan untukmengeluarkan plasenta secara manual. mintalah ibu untuk mengejan. Jika diperlukan. 2) Pastikan kandung kemih sudah kosong. 139 . lakukan penarikan tali pusat terkendali 5) Jika traksi tali pusat terkendali belum berhasil. Jika anda dapat merasakan adanya plasenta dalam vagina. Kegagalan terbentuknya pembekuan setelah 7 menit atau adanya bekuan lunak yang dapat pecah dengan mudam menunjukan koagulapati 6) Jika terdapat tanda-tanda infeksi (demam. Retensio Plasenta Plasenta atau bagian-bagianya dapat tetap berada di dalam uterus setelah bayi lahir. lakukan uji pembekuan darah sederhana. Jika perdarahan terus berlangsung. berikan antibiotik untuk metritis. keluarkan plasenta tersebut. berikan oksitosin 10 Unit IM. Penyebab 1) Plasenta belum lepas dari didnding uterus 2) Plasenta sudah lepas tetapi belum dilahirkan (disebabkan karena tidak adanya usaha untuk melahirkan atau karena salah penanganan kala III) 3) Kontraksi uterus kurang kuat untuk melepaskan plasenta 4) Plasenta melekat erat pada dinding uterus oleh sebab vili korealis menembus desidua sampai miometrium-sampai dibawah peritoneum (plasenta akreta-perkreta) Penatalaksanaan 1) Jika plasenta terliahat dalam vagina. secret vagina yang berbau).b. lakukan katerisasi kandung kemih 3) Jika plasenta belum keluar. jika belum dilakuak dalam penanganan aktif kala III 4) Jika plasenta belum dilahirkan setelah 30 menit pemberian oksitosin dan uterus terasa berkontraksi.

Karena his kuat. Robekan Jalan Lahir Robekan jalan lahir merupakan peyebab kedua tersering dari perdarahan pasca persalinan. Jika robekan luas atau jauh sampai ke atas. Perdarahan pasca persalinan dengan uterus yang berkontraksi baik biasanya disebabkan oleh. rambut lanuago dan vernik kaseosa masuk kedalam sinus-sinus dalam dinding uterus dan dibawa ke paru-paru. berikan petidin dan diazepam IV pelan-pelan. Emboli Air Ketuban Emboli air ketuban menimbulkan syok yang sangat mendadak dan biasanya berakhir dengan kematian. air ketuban dengan mekonium. 4) Asisten menahan fundus 140 . Pada syok karena emboli air ketuban sering ditemukan gangguan dalam pembekuan darah. atau ketamin. Penatalaksanaan a. kejang-kejang dan meninggal kemudian. Dengan mendadak penderita menjadi gelisah. vagina dan perineum. Periksalah dengan seksama dan perbaiki robekan pada servik. Robekan dapat terjadi bersamaan dengan atonia uteri. Perbaikan robekan servik 1) Tindakan a dan antiseptik pada vagina dan servik 2) Berikan dukungan emosional dan penjelasan 3) Pada umumnya tidak diperlukan anastesi. Emboli air ketuban terjadi pada his yang kuat dengan ketuban yang biasanya sudah pecah. sesak nafas.c. d. lakukan uji pembekuan darah sederhana bila perdarahan terus berlangsung. Kegagalan terbentuknya pembekuan setelah 7 menit atau adanya bekuan lunak yang dapat pecah dengan mudah menunjukan adanya koagulapati. robekan servik atau vagina.

tinggalkan 2 klem diantara robekan. sfingter ani 4) Robekan tingkat IV mengenai mukosa rektum Umumnya robekan ingkat I dapat sembuh sendiri. untuk sebagian besar terletak di luar vagina Penanganan a.5) Bibir servik di jepit dengan klem ovum. 6) Jahit robekan servik dengan cut gut kromik 0 secara jelujur. Kaji ulang indikasi b. Inversio Uteri Pada inversio uteri bagian atas uterus memasuki kavum uteri. mulai dari apeks 7) Jika sulit dicapai dan diikat. pindahkan bergantian searah jarum jamsehingga semua bagian servik dapat diperiksa. Pada bagian yang terdapat robekan. sehingga fundus uteri sebelah dalam menonjol ke dalam kavum uteri. semuanya terbalik. Tingkatan inversio uteri menurut perkembangan inversio uteri: a. e. tidak perlu dijahit. apek dapat dicoba di jepit dengan klem ovum atau klem arteri dan dipertahankan 4 jam 8) Jika robekan meluas sampai melewati puncak vagina lakukan laparotomi b. Fundus uteri menonjol ke dalam kavum uteri. tetapi belum keluar dari ruang tersebut b. Uterus dengan vagina. Kaji ulang prinsip dasar perawatan dan pasang infus 141 . Perbaikan robekan vagina dan perineum Ada 4 tingkat robekan yang dapat terjadi pada persalinan: 1) Robekan tingkat I yang mengenaimukosa vagina dan jaringan ikat 2) Robekan tingkat II mengenai lat-alat di bawahnya 3) Robekan tingkat III mengenai m. Korpus uteri yang terbalik sudah masuk kedalam vagina c.

Berikan petidin dan diazepam IV dalam semprit berbeda secara perlahan-lahan. Pasang sarung tangan DTT b.9%/RL) 10 tetes/menit b.c. Selang di sambung dengan tabung berisis air hangat 3-5 l (atau NaCl atau infus lain) dan pasang setinggi 2 m c. Guyur air dengan leluasa agar menekan uterus ke posisi semula. Siapkan sistem bilas yang sudah disinfeksi. Jika inversi sudah diperbaiki. Pasien dalam posisi trendelenburg-dengan kepala lebih rendah sekitar 50 cm dari perineum b. Pasang ujung selang douche pada fornik posterior sampai menutup labia sekitar selang denan tangan e. atau anestesia umumjika diperlukan d. Gunakan tangan lain untuk memebantu menahan uterus dari dinding abdomen. Lakukan perawatan pasca bedah jika diberikan koreksi kombinasi abdominal vagina 142 . Berikan antibiotik profilaksis dosis tunggal c. Identifikasi fornik posterior d. Jika koreksi manual tidak berhasil. Pegang uterus pada daerah insersi tali pusat dan masukan kembali melalui servik. berikan infus oksitosin 20 unit dalam 500 ml IV (NaCl 0. lakkan plasenta manual setelah tindakan koreksi c. berupa selang 2 m berujung peneyemprot berlubang lebar. Jika plasenta masih belum terlepas. Perawatan pasca tindakan a. Basuh uterus dengan larutan antiseptik dan tutup dengan kain basah (dengan NaCl hangat) menjelang operasi Pencegahan inversi sebelum tindakan Koreksi Manual a. lakukan koreksi hidrostatik Koreksi Hidrostatik a.

jika tidak hal itu perlu diusahakan dengan segera. Penanganan Syok Pemberian cairan intravena melalui infus pada waktu persalinan sebagai tindakan pencegahan untuk menghindari hipovolumia besar manfaatnya. wanita hamil lanjut menunjukkan hipotensi sewaktu tidur telentang. emboli air ketuban g. Peristiwa-peristiwa yang dalam praktek kebidanan dapat menimbulkan syok adalah: a. Berikan analgesik jika perlu. Jika perdarahan lebih banyak dari ini. Apakah ada laserasi pada vagina atau servik? Apakah uterus berkontraksi dengan baik? Apakah kandung kencingnya kosong? g. peristiwa yang dinamakan supine hypotensive syndrome. Perdarahan Kala IV Perdarahan yang normal setelah kelahiran mungkin hanya akan sebanyak satu pembalut wanita perjam selama enam jam pertama atau seperti darah haid yang banyak. perdarahan b. inversio uteri f. f. solusio plasenta d. infeksi berat c. maka ibu tersebut hendaknya diperiksa lebih sering dan penyebabpenyebab dari perdarahan berat seharusnya diselidiki. Jika ada tanda infeksi berikan antibiotika kombinasi sampai pasien bebas demam selama 48 jam e. kemudian karena syok selalu ada 143 . Syok Obstetrik Syok pada waktu kehamilan mengakibatkan syok pula pada janin yang berada dalam kandungan. Pertolongan pada penderita syok: pertama-tama kelancaran ventilasi harus dijamin untuk ini perlu ditentukan apakah jalan nafas bebas. terutama pada penderita yang menunjukkan predisposisi terhadap syok.d. perlukaan dalam persalinan e.

Syok Obstetri D. Sebutkan dan jelaskan penyebab perdarahan kala IV! E. Setelah tindakan diatas diusahakan silekasnya menanggulangi peristiwa yang menjadi penyebab syok dengan tindakan yang bersifat medis maupun pembedahan. Selama perawatan perlu terus menerus diadakan pengawasan keadaan penderita. pernafasan. Perdarahan yang disebabkan karena uterus tidak mau berkontraksi setelah palsenta lahir (atonia uteri) dan perdarahan karena retensio plasenta. suhu. Emboli air ketuban. diorisis. Secara berkala diadakan pengukuran nadi. diberi cairan melalui infus intra vena. Robekan jalan lahir. Inversio uteri Perdarahan kala IV. His Hipertonik : His yang terlampau kuat c.His hipotonik : His hilang atau his lemah dimana timbul lagi dalam waktu yang lama setelah timbul his yang adekuat b. Distosia kelainan janin. tekanan darah.pengurangan volume darah dalam sirkulasi umum. dan bila perlu tekanan vena pusat (CVP). Sebutkan dan jelaskan macam – macam kelainan His ! 2. Rangkuman Materi Konsep dasar penyulit kala I. 144 . dan pemeriksaan laboratorium. Tugas/ Latihan 1. Atonia Uteri Retensio plasenta. Dasar – dasar distosia (Kelainan tenaga /his. Distosia kelainan alat kandungan. Hasil penilaian pengukuran-pengukuran ini menentukan tindakan selanjutnya C. Penyulit kala III dan IV meliputi: Penyulit kala III persalinan. kala III dan kala IV Penyulit kala I dan kala II meliputi : Kelainan presentasi dan posisi. His tidak terkoordinasi : His sifatnya berubah ubah tonus otot berkontraksi juga diluar his 2. Kala II. Distosia kelainan jalan lahir). Rambu-rambu Jawaban 1. Pada syok yang tidak jelas penyebabnya sebaiknya dilakukan pemeriksaan vaginal. a.

145 . Tidak ditebitkan. Workshop Kurikulum mata ajar Askeb IV. Pedoman Mengajar dosen AKBID. Pusdiknakes – JHPIEGO . Pedoman Megajar. dkk. UK. 1999. dkk. Ilmu Kandungan. 3. dosen AKBID. 1997. 6. Tim pengajar Askeb IV. Midwifery. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Modul 2. Jakata YBPSP Pusdiknakes – JHPIEGO. Ilmu Kebidanan. Sinopsis Obstetri Jilid I. Modul 4. 1999 10. Pedoman Mengajar dosen AKBID. 7. Modul 3. Pusdiknakes – JHPIEGO . 1999 9. YBPSP 2. Jakarta. Daftar Pustaka 1. 1999. 5. 1998. Syaifudin.F. Jakarta. 2001 Varney’s H. 1999 11. 2006. Buku Panduan Praktis Maternal dan Neonatal. 2001. Jakarta Hanifa. YBPSP Hanifa. 4. 12 th Edition 2000 Mochtar R. Midwifery. 8. Jones and Bartlett Publisher Mayes.

Konsep Kebidanan 3.4 Berkoh. Alamat : : : : Alfi Noviyana. S. S. Hubungan Pemanfaatan Sumber Belajar Dengan Prestasi Balajar ASKEB II Pada Mahasiswa AKBID Kusuma Husada Surakarta Tahun 2008 Tahun Ajaran 2008/2009 dan 2009/2010 : 1. Tahun 2006 2. Tempat/Tgl Lahir c. Kesehatan Reprodukasi e. Februari 2010 Alfi Noviyana. Komunikasi Konseling Kebidanan 5. Asuhan Nifas 2. 13 Nopember 1985 Perempuan Jalan Sunan Kali Jaga I No.ST NIK. Jabatan Struktural i j k Fakultas/Prodi Pendidikan Hasil penelitian l Mata Kuliah yang pernah diampu Purwokerto. Pangkat/Golongan : : : : : : : g. Purwokerto 010308149 Penata Muda /IIIA Ilmu Kesehatan / DIII Kebidanan D IV Kebidanan 1. Asuhan Kebidanan IV 6.ST Yogyakarta. Asuhan Kehamilan 4. NIK f. Studi Deskriptif Yang Menggali Tingkat Pengetahuan Ibu Tentang Imunisasi Wajib Bagi Bayi Di Wilayah Kerja Puskesmas Grabag I Magelang. Jabatan Fungsional h. Nama Lengkap b.010308149 146 . Jenis Kelamin d.PROFIL PENULIS a.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->