P. 1
DEFINISI PROFESIONALISME

DEFINISI PROFESIONALISME

|Views: 162|Likes:
Published by PakNe Aufa

More info:

Published by: PakNe Aufa on Jun 09, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/10/2015

pdf

text

original

Sections

  • I. PENDAHULUAN
  • II. PEMBAHASAN

1. Pengertian profesionalisme

Sebelum penulis menguraikan pengertian profesionalisme terlebih dahulu akan dikemukakan
pengertian profesi sehingga mudah dimengerti apa yang dimaksud profesionalisme.

Profesi adalah ―Bidang pekerjaan yang dilandasi pendidikan keahlian (ketermpilan, kejujuran)
tertentu‖ (Nurdin, 2002: 15)

―sedangkan kata profesional berasal dari kata sifat yang berarti pencaharian dan sebagai kata
benda yang berarti orang yang mempunyai keahlian seperti guru, dokter, hakim, dan sebagainya‖
(Usman, 1995: 14). Dengan kata lain pekerjaan yang bersifat profesional adalah pekerjaan yang
dilakukan oleh mereka yang khusus dipersiapkan untuk itu dan bukan pekerjaan yang dilakukan
oleh mereka yang karena tidak dapat memperoleh pekerjaan lain (Sudjana, 1988: 14)

Setiap guru profesional menguasai pengetahuan yang mendalam dalam spesialisnya. Penguasaan
pengetahuan ini merupakan syarat yang penting di samping keterampilan/keterampilan lain.
Guru profesional selain menguasi seluk-beluk pendidkan dan pengajaran serta ilmu-ilmu lainya,
guru juga dibekali pendidikan khusus untuk menjadi guru dan memiliki keahlian khusus yang
diperlukan sesuai dengan profesinya.

Pekerjaan guru adalah suatu profesi tersendiri, pekerjaan ini tidak dapat dikerjakan oleh
sembarang orang tampa memiliki keahlian sebagai seorang guru. Banyak yang pandai berbicara
tertentu, namun orang itu belum dapat disebut sebagai seorang guru (Hamalik, 2004: 118-119)

Menurut Sudjana (2008: 13) pekerjaan yang bersifat profesional adalah pekerjaan yang hanya
dapat dilakukan oleh mereka yang secara khusus disiapkan untuk itu dan bukan pekerjaan yang
dilakukan oleh mereka yang karena tidak dapat atau tidak memperoleh pekerjaan lainya.

Dari rumusan di atas ―dipersiapkan untuk itu‖ mengandung arti luas. Bisa dipandang melalui
proses pendidikan bisa pula diperoleh dari proses laitihan. Namun menurutnya, untuk pekerjaan
yang bersifat profesional lebih-lebih untuk pekerkaan yang bersifat profesional penuh seperti
profesi dokter, maka dipersiapkan untuk itu harus mengacu pada proses pendidikan, dan bukan
sekedar latihan. Karena semakin tinggi tingkat pendidikan yang dijalaninya maka akan semakin
tinggi pula derajat profesi yang disandangya. Ini berarti tinggi rendahnya pengakuan
profesionalisme sangat menggan tung pada tingkat keahlian dan pendidikan yang ditempuhnya.

Kemudian pendapat yang hampir sana dikemukakan oleh Ali (1992: 23) keahlian atau
kemampuan profesional tidak mesti harus diperoleh daei jenjang pendidikan, tetapi bisa saja
seseorang yang secara tekun mempelajari dan melatih diri dalam suatu bidang tertentu menjadi
profesional. Hanya saja menurutnya, profesi yang disandang melalui jenjang pendidikan akan
memperoleh pengakuan yang bersifat formal naupun informal, sedangkan yang diperoleh dari
selain pendidikan formal pada umunya hanya akan mendapat pengakuan yang bersifat informal
saja.

2. Pengertian Guru Profesional

Guru adalah ―orang yang memberikan ilmu pengetahua terhadap anak didik, jadi seorang guru
yang mengabdikan diri kepada masyarakat dan tentunya guru memiliki tanggung jawab dan
melaksanakan proses belajar mengajar di tempat-tempat tertentu, tidak mesti di lembaga formal
tetapi bisa juga di masjid, surau, musallah, di rumah dan sebagainya (Djamarah, 2003: 31)

Sedangkan guru bahasa Arab yang profesional menurut Al Qosimiy secara garis besar ada tiga
hal yang sangat mendasar yang membedakan antara guru asing dengan guru lokal dilihat dari
profesionalisnya dalam membentuk mental belajar siswa bidang studi bahasa Arab sebagai
berikut:

1. Bahwasanya guru lokal tidak dapat berbicara atau menbahas persis bahasa asing (bahasa
Arab) sebagai mana bahasa penduduk aslinya secara faseh, sedangkan guru asing dia
mampu melakukan hal ini tampa ada kesulitan karena sesungguhnya dia berbicara
dengan bahasany, maka secara otomatis guru tersebut tidak akan kesulitan dalam
mewujudkan hal tersebut. Dan dengan cara ini dia mengajarkan seswa membahas atau
membicarakan yang benar (serius) dengan gambaran kebiasaan.
2. Guru lokal tidak mampu membahas atau berbicara dengan bagus menyaingi guru asing
dalam (leluasa). Jumlah mufradat menggambarkan istilah-istilah yang ia ketahui
sebagaimana bahwasanya ia tidak dapat mendekati secara mutlak dalam memahami
makna-makna yang terkandung di dalam isi mata pelajaran tersebut, yang beragam
seperti setiap lafaz-lafaz. Menggunakan guru sebagai guru bahasa asing baik dalam
menyelesaikan makna-makna mufrad atau kaidah-kaidah tersebut dalam meningkatkan
pemahaman siswa serta membentuk mental belajar siswa (Al Qasimiy, 1989: 79)

Dari uraian di atas peneliti dapat mengambil kesimpulan bahwa syarat guru bahasa Arab yang
profesional dalam meningkatkan pemahaman siswa pada mata pelajaran bahasa Arab, harus
diajarkan oleh guru bahasa asing daripada guru lokal. Karena sesungguhnya dia mengajarkan
bahasanya sendiri, naka secara otomatis tidak menemukan kesulitan dan kompleksnya siswa
dapat mengetahui secara mendetail pada mata pelajaran bahasa Arab mengenai istilah-istilah dan
struktur kalimat serta dengan baik dan akan dapat berbicara dengan faseh serta menulis dan
membaca dengan baik yang pada akhirnya dapat membentuk mental belajar seswa yang optimal.

Seseorang guru selain memiliki pengetahuan atau wawasan mengenai pendidikan juga harus
dibekali dengan persyaratan tentang profesionalisnya itu, mengenbai persayaratan guru tersebut
meliputi:

a. Takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa

Guru sesuai dengan tujuan ilmu pendidikan islam tidak mungkin mendidika anak didik bertakwa
kepada Allah SWT, jika guru sendiri tidak bertakea kepadanya. Sebaliknya guru adalah teladan
bagi anak didiknya.

b. Sehat jasmani

Kesehatan jasmanikerapkali dijadikan salah satu syarat bagi mereka untuk menjadi guru.

c. Berkelakuan baik

Budi pekerti guru penting dalam pendidikan watak anak didik, guru harus menjadi tauladan bagi
siswa didiknya karena anak-anak cebderung bersifat meniru (Djamarah, 2000: 32)

Ketiga persyaratan tersebut diharapkan telah demiliki oleh seorang guru sehingga ia mampu
memenuhi fufngsi sebagai pendidik profesional yakni pendidik bangsa, guru di sekolah atau
pimpinan di masyarakat.

Dari persyaratan di atas menunjukan bahwa guru sebagai pendidik profesional mempunyai citra
yang baik di masyarakat apabila dapat menunjukan kepada masyarakat bahwa guru layak
menjadi panutan atau tauladan bagi masyarakat di sekelilingya (Soejipto, 2007: 42)

Berdasarkan pengertian daripada guru profesional tersebut dapat dikatakan guru profesional
adalah orang yang memiliki kemampuan dan keahlian khusus dalam bidang keguruanya
sehingga mampu melaksanakan tugas dan fungsinya dengan sebaik-baiknya‖ (Uzer, 1995: 15)

Jadi seorang guru adalah orang yang benar-benmar terdidik dan terlatih dengan baik, serta
memiliki pengalaman yang kaya dibidangya masing-masing. Terdidika dan terlatih disini bukan
hanya memperoleh pendidikan formal tetapi juga harus menguasai berbagai strategi atau tekhnik
di dalam kegiatan bekajar mengajar serta menguasai kandasan-kandasan kependidikan yang
tentunya juga akan memenuhi beberapa persyaratan atau kriteria sehingga dikatakan benar-benar
terdidik dan terlatih.

Sesungguhnya guru yang bertanggung jawab memiliki bebnerapa sifat menurut Tanlain dalam
(Djamarah, 2002: 36) terdiri dari:

1. Menerima dan mematuhi norma-norma dan nilai-nilai kemanusiaan
2. Memiliki tugas mendidik dengan bebas berani gembira (tugas bukan menjadi beban

baginya)

3. Sadar akan nilai-nilai yang berkaitan dengan perbuatanya serta akibat-akibat yang timbul
dari kata hatinya.
4. Menghargai orang lain termasuk anak didik
5. Bijaksana dan hati-hati (tidak nekat, sombong dan tidak singkat akal)
6. Takwa Terhadap Tuhan Yang Maha Esa

Proses belajar mengajar merupakan inti dari proses pendidikan secara keseluruhan dengan guru
sebagai pemegang peranan utama. Dalam proses bekajar mengajar tersirat suatu makna adanya
satu kesatuan antara seswa yang belajar dan guru yang mengajar. Antara kedua pihak ini terjadi
suatu interaksi yang satu sama lain dan saling menunjang.

Sebagai proses belajar mengajar memerlukan seuatu perencanaan yang matang, yakni
mengkoordinasikan unsur-unsur tujuan, bahan pengajaran, kegiatan belajar mengajar, metode
dan alat bantu mengajar, serta penilaian atau evaluasi. Dan tahap selamjutnya adalah
melaksanakan rencana tersebut dalam bentuk tindakan atau praktek mengajar (Sudjana, 2000: 9)

Senada dengan pendapat di atas Usman juga menegaskan bahwa proses belajar mengajar sebagai
interaksi semua komponen atau unsur yang terdapat dalam belajar mengajar yang satu dengan
yang lainya saling berikatan dalam ikatan untuk mencapai tujuan. Komponen belajar mengajar
yang dimaksud adalah tujuan instruksional yang ingin dicapai materi pelajaran, metode
mengajar, alat pengajaran dan evaluasi sebagai alat ukur tercapai atau tidaknya tujuan (Usman,
1999: 5)

Berdasarkan paparan di atas maka guru pada posisinya sebagai sutradara sekaligus sebagai aktor
utama dalam setiap kegiatan belajar mengajar, dianggap memiliki peran yang sangat penting dan
sangat menentukan arah bagi pencapaian tujuan yang ingin diinginkan. Untuk itu, dalam
melaksanakan profesi keguruanya seorang guru dituntut memiliki kemampuan profesional
sebagai bekal dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab, sebab guru yang profesional akan
lebih mampu menciptakan kelas sehingga hasil belajar yang diciptakan oleh para siswa akan
berada pada tingkat yang lebih optimal.

Pekerjaan yang bersifat profesional adalah pekerjaan yang hanya dapat dilakukan oleh mereka
yang secara khusus dipersiapkan untuk itu, dan bukan pekerjaan yang dilakukan oleh mereka
yang tidak punya keahlian dan hanya karena tidak dapat memperolehpekerjaan lain (sudjana,
2000: 13)

Berdasarkan pengertian di atas, maka yang dimaksud dengan gru profesional adalah orang yang
memiliki kemampuan dan keahlian khusus dalam bidang keguruan sehingga ia mampu
melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai guru dengan kemampuan yang maksimal (Usman,
1999: 15)

3. Kriteria profesionalisme guru

Jabatan guru dikenal sebagai suatau pekerjaan profesional sebagaimana seorang menilai bahwa
dokter, insinyur, ahli hukum, dan sebagainya sebagai profesi tersendiri maka gurupun adalah
suatu profesi tersendiri. Pekerjaan ini tidak bisa dikerjakan oleh sembarangan orang tampa
memiliki keahlian khusus sebagai guru. Banyak orang pandai berbicara tertentu namun orang
demikian belum dapat disebut sebagai seorang guru.

Ada perbedaan prinsip antara guru yang profesional dengan guru yang bukan profesional,
contohnya seorang yang akan bekerja secara profesional bilamana orang tersebut memiliki
kemampuan (Ability) dan motivasi (motivasion) maksudnya adalah: seorang akan bekerja secara
profesional bilamana memiliki kemampuan kerja yang tinggi dan kesungguhan hati untuk
mengerjakan dengan sebaik-baiknya. Sebaliknya seseorang yang tidak profesional bila mana
hanya memenuhi salah satu dari dua persyaratan di atas (Bafadal, 2003 : 5).
Jadi betapun tingginya kemampuan seseorang (guru) ia tidak akan bekerja secara profesional

apabila tidak memiliki motivasi kerja yang tinggi, sebaliknya betapun tingginya motivasi kerja
seseorang (guru) ia tidak akan sempurna dalam menyelesaikan tugas-tugasnya bilamana tidak
didukung oleh kemampuanya.
Sedangkan kriteria guru bahasa Arab secara khusus adalah sebagai berikut :

1. Menguasai budaya Arab serta seluk beluk sosial
2. Menguasai cara atau metode bahasa Arab dengan ilmu jiwa bahasa Arab
3. Menguasai materi belajar bahasa Arab karena materi bahasa Arab berbeda dengan materi
pelajaran yang lain, bahasa Arab itu meliputi unsur-unsur antara lain : a) bahasa seperti
ucapan, kosa kata dan kawaid, b) keterampilan berbahasa, meliputi keterampilan
mendengar, bidara, membeca, dan menulis.
4. Menguasai evaluasi belajar atau mampu mengevaluasi proses belajar mengajar bahasa
Arab (al-Qosimy, 1989 : 91)

Dengan demikian dari pengertian di atas profesionalitas guru pada bidang studi bahasa Arab
hendaknya mengikuti syarat-syarat atau peraturan yang telah ditentukan oleh al-Qoisimy agar
siswa termotivasi oleh guru dalam membentuk mental belajarnya.

4. Fungsi dan Tugas Guru

Sebagai seorang pendidik yang memahami fungsi dan tugasnya, guru khususnya ia dibekali
dengan berbagai ilmu keguruan sebagai dasar, disertai pula dengan seperangkat latihan
keterampilan keguruan dan pada kondisi itu pula ia belajar memersosialisasikan sikap keguruan
yang diperlukannya. Seorang yang berpribadi khusus yakni ramuan dari pengetahuan sikap danm
keterampilan keguruan yang akan ditransformasikan kepada anak didik atau siswanya.

Guru yang memahami fungsi dan tugasnya tidak hanya sebatas dinding sekolah saja, tetapi juga
sebagai penghubung sekolah dengan masyarakat yang juga memiliki beberapa tugas menurut
Rostiyah (dalam Djamarah, 2000 : 36) mengemukakan bahwa fungsi dan tugas guru profesional
adalah :

Menyerahkan kebudayaan kepada anak didik berupa kepandaian, kecakapan dan
pengalaman-pengalaman
Membentuk kepribadian anak yang harmonis sesuai cita-cita dan dasar negara kita

Pancasila

Menyiapkan anak menjadi warga negara yang baik sesuai dengan Undang-Undang
Pendidikan yang merupakan keputusan MPR No. 2 Tahun 1983
Sebagai prantara dalam belajar
Guru adalah sebagai pembimbing untuk membawa anak didik ke arah kedewasaan.
Pendidik tidak maha kuasa, tidak dapat membentuk anak menurut kehendak hatinya
Guru sebagai penghubung antara sekolah dan masyarakat
Sebagai penegak disiplin. Guru menjadi contoh dalam segala hal, tata tertib dapat
berjalan apabila guru menjalaninya terlebih dahulu
Sebagai adminstrator dan manajer
Guru sebagai perencana kurikulum

Guru sebagai pemimpin
Guru sebagai sponsor dalam kegiatan anak-anak

Seorang guru baru dikatakan sempurna jika fungsinya sebagai pendidik dan juga berfungsi
sebagai pembimbing. Dalam hal ini pembimbing yang memiliki sarana dan serangkaian usaha
dalam memajukan pendidikan. Seorang guru menjadi pendidik yang sekaligus sebagai seorang
pembimbing. Contohnya guru sebagai pendidik dan pengajar sering kali akan melakukan
pekerjaan bimbingan, seperti bimbingan belajar tentang keterampilan dan sebagainya dan untuk
lebih jelasnya proses pendidikan kegiatan mendidik, mengajar dan membimbing sebagai yang
taka dapat dipisahkan.

Membimbing dalam hal ini dapat dikatakan sebagai kegiatan menuntun anak didik dalam
perkembanganya dengan jelas dmemberikan langkah dan arah yang sesuai dengan tujuan
pendidikan.

Sebagai pendidik guru harus berlaku membimbing dalam arti menuntun sesuai dengan kaidah
yang baik dan mengarahkan perkembangan anak didik sesuai dengan tujuan yang dicita-citakan,
termasuk dalam hal ini yang terpenting ikut memecahkan persoalan-persoalan dan kesulitan-
kesulitan yang dihadapi anak didik. Dengan demikian diharapkan menciptakan perkembangan
yang lebih baik pada diri siswa, baik perkembangan fisik maupun mental.

Dari uraian di atas secara rinci peranan guru dalam kegiatan belajar mengajar dapat disebutkan
sebagai berikut :

1.

Fasilitator
Sebagai fasilitator guru hendaknya dapat menyediakan fasilitas yang memungkinkan kemudahan
kegiatan belajar mengajar.

2.

Motivator

Sebagai motivator guru hendaknya dapat mendorong anak didik agar bergairah dan aktif belajar
3.

Informator
Sebagai informator guru harus dapat memberikan informasi perkembangan ilmu pengetahuan
dan teknologi selain sejumlah bahan pelajaran untuk setiap mata pelajaran yang diprogramkan
dalam kurikulum.
4.

Pembimbing
Peran guru yang tidak kalah pentingnya dari semua peran yang telah disebutkan di atas adalah
sebagai pembimbing
5.

Korektor

Sebagai korektor guru harus bisa membedakan mana nilai yang baik dan buruk
6.

Inspirator

Sebagai inspirator guru harus dapat membedakan ilham yang baik bagi kemajuan anak didik
7.

Organisator
Sebagai organisator adalah sisi lain dari peranan yang diperlukan oleh guru dalam bidang ini
memiliki kegiatan pengelolaan kegiataan akademik dan lain sebagainya.

8.

Inisator
Sebagai inisiator guru harus dapat menjadi pencetur ide-ide kemajuan dan pendidikan dalam
pengajaran
9.

Demonstrator

Dalam interaksi edukatif, tidak semua bahan pelajaran anak didik pahami
10.

Pengelolaan

kelas
Guru hendaknya dapat mengelola kelas dengan baik karena kelas adalah tempat terhimpun
semua anak didik dan guru dalam rangka menerima bahan pelaaran dari guru.
11.

Mediator
Guru hendaknya memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang media pendidikan
dalam berbagai bentuk dan jenisnya baik media non material maupun material.
12.

Supervisor
Guru hendaknya dapat membantu memperbaiki dan menilai secara kritis terhadap proses
pengajaran.
13.

Evaluator
Guru dituntut untuk menjadi evaluator yang baik dan jujur dengan memerikan penilaian yang
menyentuh aspek intrinsik dan ekstrinsik.

http://www.sarjanaku.com/2011/01/profesionalisme-guru.html

PROFESIONALISME GURU

May 12, 2010

ramlannarie GURU profesionalisme 3 Comments

PROFESIONALISME GURU

A. Definisi Profesionalisme

Profesionalisme berasal dari istilah professional yang dasar katanya adalah profesi (profession).
Untuk itu ada baiknya penulis kemukakan terlebih dahulu istilah profesional. Profesional berarti
persyaratan yang memadai sebagai suatu profesi (Abin Syamsuddin, 1996:48). Selain itu
pengertian profesional menurut Tilaar (1999) bermakna: (1) sesuatu yang bersangkutan dengan
profesi, (2) memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya, (3) mengharuskan adanya
pembayaran untuk melaku-kannya (lawan amatir). Menurut Dedi Supriyadi (1998:95) dan
Sudarwan Danim (2002:22), kata professional merujuk pada dua hal:

Pertama, adalah orang yang menyandang sutau profesi, orang yang biasanya melakukan
pekerjaan secara otonom dan dia mengabdi diri pada pada pengguna jasa disertai rasa tanggung
jawab atas kemampuan profesionalnya, atau penampilan seseorang yang sesuai dengan keten-
tuan profesi. Kedua, adalah kierja atau performance seseorang dalam melakukan pekerjaan yang
sesuai dengan profesinya. Pada tingkat tinggi, kinerja itu dimuati unsur-unsur kiat atau seni (art)
yang menjadi ciri tampilan professional seorang penyandang profesi.

Menurut S. Prayudi A, (1979), istilah profesional dapat diartikan pula sebagai: ―usaha untuk
menjalankan salah satu profesi berdasarkan keahlian dan keterampilan yang dimiliki seseorang
dan berdasarkan profesi itulah seseorang mendapatkan suatu imbalan pembayaran berdasarkan

standar profesinya.‖

Sedangkan kata profesi dapat diketahui dari tiga sumber makna, yaitu makna etimology, makna
terminology, dan makna sociology. Secara etimologi, profesi berasal dari istilah bahasa Inggris
profession atau bahasa Latin profecus, yang artinya mengakui, pengakuan, menyatakan mampu,
atau ahli dalam melaksanakan pekerjaan tertentu. Secara terminology, profesi dapat diartikan
sebagai suatu pekerjaan yang mempersyaratkan pendidikan tinggi bagi pelakunya yang
ditekankan pada pekerjaan mental, bukan pekerjaan manual. Kemampuan mental disini menurut

Sudarwan Danim (2002:21) adalah: ―adanya persyaratan pengetahuan teoritis sebagai instrument
untuk melakukan perbuatan praktis.‖ Merujuk pada definisi ini, pekerjaan-pekerjaan yang
menuntut keterampilan manual atau fisikal, meskipun levelnya tinggi, tidak digolongkan dalam
profesi. Secara sosiologi dikemukakan Carr-Saunders dalam Peter Jarvis (1992:21) bahwa:
―profession may perhaps be defined as an accupation bessed upon specialized intellectual study
and training. The purpose of wich is to supply skilled service or advice to other for definite fee or

salary.‖ Sedangkan Cogan (1953) dalam Peter Jarvis (1992:21) memberikan batasan ―… that a

profession is vacation of some practice is founded upon an understanding of teoritical structure

of some depertemen of learning or science.‖ Menurut Abin Syamsuddin Makmun (1996:47)
―profesi menunjukkan suatu kepercayaan (to profess mean to trust), bahkan suatu keyakinan (to

belief in) atas suatu kebenaran (ajaran agama) atau kredibilitas seseorang, dan menunjukkan

suatu pekerjaan atau urusan tertentu (a particular business).‖

Secara sosiologi, Vollmer & Mills dalam Abin Syamsuddin (1996:47) mempersepsikan bahwa
profesi itu hanyalah merupakan jenis model atau tipe pekerjaan ideal saja, karena dalam

realitanya bukanlah hal yang mudah untuk mewujudkannya.‖ Namun tetap bias diwujudkan, bila
dilakukan dengan sungguh-sungguh. Dedi Supriadi (1998:95) menyatakan bahwa ―profesi
menunjukkan suatu pekerjaan atau jabatan yang menuntut keahlian, tanggung jawab, dan

kesetiaan terhadap profesi tersebut.‖ Parelius and Parelius dalam Wuradji (1988:50) memberikan

batasan tentang pekerjaan profesi itu menuntut adanya spesialisasi secara menjurus (highly
specialized), dilandasi oleh pengetahuan-pengetahuan yang khusus (esoteric knowledge),
dilandasi oleh pendidikan yang tinggi denganprogram-program pendidikan dan latihan yang
matang.

Secara ideologi pekerjaan profesi menekankan pada tanggung jawab dan pelayanan tertentu, dari
sekedar pekerjaan-pekerjaan yang mendatangkan keuntungan pribadi. Ada kode etik yang
memberikan pertimbangan-pertimbangan secara otomatis dalam membedakan pekerjaan mana
yang tergolong pekerjaan profesi dan mana yang bukan, serta diantara para praktisi professional
diikat dalam suatu organisasi profesi dengan cakupan yang luas.

Rumusan yang singkat dan sederhana ini mengandung sejumlah makna yang masih perlu dikaji
lebih lanjut agar dapat dipahami keseluruhan definisi profesi. Menurut Oemar Hamalik (2006:2)
ada beberapa komponen yang terkandung dalam definisi profesi, yaitu: (1) pernyataan atau janji
yang terbuka, (2) mengandung unsur pengabdian, dan (3) suatu jabatan atau pekerjaan.
Blackington (1968) dalam Oemar Hamalik (2006:3) menyatakan a profession may defined most

simply as a vacation which is organized, incompletely, no doubt, but genuinely, for the
performance of function.

Dari definisi yang telah dikemukakan di atas penulis menyimpulkan bahwa yang dimaksud
dengan pengertian profesi adalah suatu jenis pekerjaan yang bukan dilakukan dengan
mengandalkan kekuatan fisik, menuntut pendidikan yang tinggi bagi orang-orang yang
memasukinya serta mendapat pengakuan dari orang lain.

Jenis pekerjaan seperti yang telah digambarkan di atas salah satu diantaranya adalah jabatan
guru. Pada hakekatnya guru merupakan profesi tenaga akademik pada lembaga pendidikan
tingkat sekolah. Guru adalah salah satu sumberdaya yang sangat penting dalam pengelolaan
organisasi pendidikan. Untuk mencapai hasil pendidikan sebagai mana yang diharapkan,
diperlukan kegiatan manajemen sumberdaya manusia.

Selanjutnya disini patut pula kiranya penulis kemukakan istilah profesionalisme. Istilah ini

diangkat dari bahasa Inggris professionalism yang secara leksikal berarti ―sifat professional‖
(Sudarwan Danim, 2002:23). Pandji Anoraga & Sri Suyati (1995:85) menyatakan ―profesi-
onalisme merupakan suatu tingkah laku, suatu tujuan atau rangkaian kualitas yang menandai atau

melukiskan coraknya suatu profesi.‖ Profesinalisme mengandung pula pengertian menjalankan

suatu profesi untuk keuntungan atau sebagai sumber kehidupan.

Sebagaimana dinyatakan oleh Oemar Hamalik (2006:42) bahwa profesionalisme guru
mengandung pengertian yang meliputi unsur-unsur kepribadian, keilmuan, dan keterampilan.
Dengan demikian dapat diartikan, bahwa kompetensi professional tentu saja meliputi ketiga
unsur itu walaupun tekanan yang lebih besar terletak pada unsur keterampilan sesuai dengan

peranan yang dikerjakan. Sehingga Danim (2002) menyatakan bahwa ―orang yang profesional

memiliki sifat-sifat yang berbeda dengan orang yang tidak profesional meskipun dalam

pekerjaan yang sama atau katakanlah berada dalam satu ruang kerja.‖

Dedi Supriyadi (1998:95) istilah profesionalisme merujuk pada derajat penampilan individu
sebagai seorang professional atau penampilan suatu pekerjaan sebagai suatu profesi. Oleh
karenanya dapat dimaknai sebagai mutu, kualitas, dan tindak-tanduk yang merupakan ciri suatu
profesi atau orang yang profesional, atau sifat profesional. Profesi-onalisme itu berkaitan dengan
komitmen para penyandang profesi. Untuk meningkatkan kemampuan profesionalnya secara
terus menerus, mengembangkan strategi-strategi baru dalam tindakannya melalui proses
pembelajaran yang terus menerus pula. Dalam hal ini Peter Jarvis (1992:28) menyatakan:
―professionalism … commitment to the accupa-tional organization, and dedication to being
masier knowledge and skillful provider of service stemming from the knowledge upon which the
occupation is based.‖ Sementara itu Friedson (1970:151) mendefisikan: ―professionalism as
commitment to professional ideal and career.

Akhirnya penulis menyimpulkan bahwa yang dimaksud dengan pengertian profesionalisme
adalah suatu paham yang menciptakan dilakukannya berbagai kegiatan kerja tertentu dalam
kehidupan masya-rakat dengan berbekal keahlian yang tinggi dan berdasarkan pada rasa
keterpanggilan jiwa dengan semangat untuk melakukan pengabdian memberikan bantuan
layanan pada sesama manusia.

Untuk mencapai derajat profesionalisme yang tinggi, maka dibutuhkan proses profesionalisasi.
Adapun profesionalisasi dimaknai sebagai suatu proses untuk menjadikan suatu pekerjaan
memperoleh status profesional. Sudarwan Danim (2002:23) menyatakan bahwa:
―profesionalisasi adalah suatu proses peningkatan kualifikasi atau kemampuan para anggota
penyandang suatu profesi untuk mencapai criteria standar ideal dari penampilan atau perbuatan

yang diinginkan oleh profesi itu.‖

Profesionalisasi mengandung makna dua dimensi utama, yaitu peningkatan status dan
peningkatan kemampuan praktis. Aktualisasi dari profesionalisasi itu antara lain dengan
melakukan penelitian, diskusi antar anggota profesi, penelitian dan pengembangan, melakukan
uji coba, mengikuti forum-forum ilmiah, studi mandiri dari berbagai sumber media, studi
lanjutan, studi banding, observasi praktikal, dan langkah-langkah lain yang dituntut oleh
persyaratan profesi masing-masing.

Menurut Peter Jarvis (1992:28); Sudarwan Danim (2002:23); dan Nina Syam (2002:13) terdapat
tujuh tahapan menuju status professional yang dapat penulis resumekan sebagai berikut:
Pertama, penentuan spesialisasi bidang pekerjaan sesuai dengan pengetahuan khusus dan
keterampilan untuk menerapkan pengetahuan khusus tersebut yang dimiliki oleh seseorang;
Kedua, penentuan tenaga ahli yang memenuhi persayaratan untuk menjalankan pekerjaan sesuai
dengan pengetahuan khusus yang dimiliki oleh tenaga kerja dalam menjalankan pekerjaannya;
Ketiga, penentuan pedoman kerja sebagai landasan kerja yang disebut juga sebagai standar
perilaku tenaga kerja dalam menjalankan pekerjaannya atau kehaliannya. Pedoman kerja tersebut
disebut juga sebagai etika kerja; keempat, peningkatan kreativitas kerja sebagai usaha untuk
menciptakan sesuatu yang lebih baik bagi profesi itu sendiri maupun bagi masyarakat yang
membutuhkan pelayanannya; Kelima, penentun tanggung jawab kerja bagi professional di dalam
menjalankan pekerjaannya; Keenam, pembentukan organisasi kerja untuk mengatur tenaga kerja
yang terdapat dalam organisasi tersebut; Ketujuh, memberi-kan pelayanan yang ketat dan
penilaian dari masyarakat pengguna jasa profesi untuk menentukan pelayanan kerja sebagai
pelayanan yang profesional.

B. Karakteristik Profesi

Uraian tentang profesi, professional, profesionalisme, dan profesionalisasi yang diuraikan di atas
sebenarnya sudah memberikan gambaran da penjelasan secara nyata tentang sifat-sifat khas atau
karakteristik dari sebuah profesi. Telaahan tentang karakteristik profesi telah banyak dilakukan
para pakar yang meminatinya, namun menurut Abin Syam-suddin (1996:48) ―tidak ada
kesimpulan hasil kajian para pakar tersebut mengenai perangkat karakteristik keprofesian.‖

Ornstein & Levine dalam Soetjipto dan Raflis Kosasi (1999:15) menyatakan bahwa profesi itu
adalah jabatan yang memiliki beberapa karakteristik. Ornstein & Levine mengemukakan paling
sedikit ada 14 karakteristik sebuah profesi seperti yang diuraikannya di bawah ini:

1. Melayani masyarakat, merupakan karier yang akan dilaksanakan sepanjang hayat (tidak
berganti-ganti pekerjaan).
2. Memerlukan bidang ilmu dan keterampilan tertentu di luar jangkauan khalayak ramai (tidak
setiap orang dapat melakukannya).

3. Menggunakan hasil penelitian dan aplikasi dari teori ke praktik (teori baru dikembangkan dari
hasil penelitian).
4. Memerlukan pelatihan khusus dengan waktu yang panjang.
5. Terkendali berdasarkan lisensi baku dan atau mem-punyai persyaratan masuk (untuk
menduduki jabatan tersebut memerlukan izin tertentu atau ada persya-ratan khusus yang
ditentukan untuk dapat mendu-dukinya).
6. Otonomi dalam membuat keputusan tentang ruang lingkup kerja tertentu (tidak diatur oleh
orang luar).
7. Menerima tanggung jawab terhadap keputusan yang diambil dan unjuk kerja yang ditampilkan
yang ber-hubungan dengan layanan yang diberikan (langsung bertanggung jawab terhadap apa
yang diputuskannya, tidak dipindahkan ke atasan atau instansi yang lebih tinggi). Mempunyai
sekumpulan unjuk kerja yang baku.
8. Mempunyai komitmen terhadap jabatan dan klien; dengan penekanan terhadap layanan yang
akan di-berikan.
9. Menggunakan administrator untuk memudahkan profesinya; relative bebas dari supervisi
dalam jaba-tan (misalnya dokter memakai tenaga administrasi untuk mendapat klien, sementara
tidak ada supervisi dari luar terhadap pekerjaan dokter itu sendiri).
10. Mempunyai organisasi yang diatur oleh anggota profesi sendiri.

11. Mempunyai asosiasi profesi dan atau kelompok ‗elite‘ untuk mengetahui dan mengakui

keberhasilan anggo-tanya (keberhasilan tugas dokter dievaluasi dan dihargai oleh organisasi
Ikatan Dokter Indonesia (IDI), bukan oleh Departemen Kesehatan).
12. Mempunyai kode etik untuk menjelaskan hal-hal yang meragukan atau menyangsikan yang
berhubungan dengan layanan yang diberikan.
13. Mempunyai kadar kepercayaan yang tinggi dari public dan kepercayaan diri setiap
anggotanya (anggota masyarakat selalu menyakini dokter lebih tahu tentang penyakit pasien
yang dilayaninya).
14. Mempunyai status sosial dan ekonomi yang tinggi (bila dibanding dengan jabatan lainnya).

Tidak berbeda jauh dengan ciri-ciri tersebut di atas, Sanusi et.al (1991) mengemukakan ciri-ciri
utama suatu profesi itu sebagai berikut:

1. Suatu jabatan yang memiliki fungsi dan signifikansi sosial yang menentukan (crusial).
2. Jabatan yang menentukan keterampilan/keahlian ter-tentu.
3. Keterampilan/keahlian yang dituntut jabatan itu didapat melalui pemecahan masalah dengan
menggu-nakan teori dan metode ilmiah.
4. Jabatan itu berdasarkan pada batang tubuh disiplin ilmu yang jelas, sistematik, eksplisit yang
bukan hanya sekedar pendapat khalayak umum.
5. Jabatan itu memerlukan pendidikan tingkat Pergu-ruan Tinggi dengan waktu yang cukup
lama.
6. Proses pendidikan untuk jabatan itu juga merupakan aplikasi dan sosialisasi nilai-nilai
professional itu sendiri.
7. Dalam memberikan layanan kepada masyarakat, anggota profesi itu berpegang teguh pada
kode etik yang dikontrol oleh organisasi profesi.
8. Tiap anggota profesi mempunyai kebebasan dalam memberikan judgement terhadap
permasalahan profesi yang dihadapinya.
9. Dalam praktiknya melayani masyarakat, anggota profesi otonom dan bebas dari campur

tangan orang luar.
10. Jabatan ini mempunyai prestise yang tinggi dalam masyarakat, dan oleh karenanya
memperoleh imbalan yang tinggi pula.

Oteng Sutisna (1993:303) yang mengutif pendapat More (1970) menyebutkan ciri-ciri profesi
adalah sebagai berikut:

1. Seorang professional menggunakan waktu penuh untuk menjalankan pekerjaannya.
2. Terikat oleh suatu panggilan hidup dan dalam hal ini memperlakukan pekerjaannya sebagai
perangkat norma kepatuhan dan perilaku.
3. Anggota organisasi professional yang formal.
4. Menguasai pengetahuan yang berguna dan kete-rampilan atas dasar latihan spesialisasi atau
pendidikan yang sangat khusus.
5. Terikat oleh syarat-syarat kompetensi, kesadaran prestasi, dan pengabdian.
6. Memperoleh otonomi berdasarkan spesialisasi teknis yang tinggi sekali.

Sementara Volmer & Mills dalam Abin Syamsuddin (1996:47) mengajukan unsur-unsur
essensial profesi adalah:

Suatu dasar teori sistematis, adanya kewenangan yang diakui oleh klien; sangsi dan pengakuan
masyarakat atas kewenangan ini, adanya kode etik yang mengatur hubungan-hubungan dari
orang-orang professional dengan klien dan teman sejawat, dan adanya kebudayaan profesi atau
nilai-nilai, norma, dan lambing-lambang.

Edgar H. Schien dalam Andi PP Undap (1988:97) mengemukakan 12 karakteristik suatu profesi
seperti berikut ini.

1. Professions are accupationally related social institution established and maintained as a means
of providing essential services to the individual and the society.
2. Eash profession is conserned with an identified area of need of function (e.g. maintenance of
physical and emotional health, preservation of rights and freedom, enchanching the opportunity
to learn).
3. The profession collectively, and professional individuality, possesses a body of knowledge
and repertoire of behaviors and skills (professional culture) needed in the practice of the
profession; such knowledge, behavior and skills normally are not possessed by nonprofessional.
4. The members of the profession are involved in decision making in the service of client the
valid knowledge available, against a background of principles and theories, and whitin the
context of possible impact on other related conditions or decisions.
5. The profession is based on one more undergriding disciplines from which it draws basic
insight and upon wich is builds its own applied knowledge and skills.
6. The profession is organized into one more professional associations which, within broad limit
of social accountability, are granted autonomy in control of the actual work of the profession and
the conditions wich surround it (admissions, educational standards, examination and licensing,
career line, ethical and performance standard, and professional discipline).
7. The profession has agreed-upon performance standard for admission to the profession and for
the contituance within it.

8. Preparation for and induction to the profession is provided through protacted preparation
program, usually in the professional school or college or university campus.
9. There is hight level of public trust and confidence in the profession and in individual
practitioners, based upon the profession‘s demonstrated capacity to provide service markelly
beyond that wich would otherwise be available.
10. Individual practitioners are characterized by a strong service motivation and lifetime
commitment to competence.
11. Authority to practice in any individual case derives from the client or the employing
organization; accountability for the competence of the professional practice within the particular
case is to the profession it self.
12. There is relative freedom from direct on the job supervition and from direct public evaluation
of the individual practitioner. The professional accepts responsibility in the name of his or her
profession and is accountable through his or her profession to the society.

Philip Kochman (1970:83-88) berpendapat senada dengan Schein memberikan 12 kriteria
tentang pekerjaan yang bersifat profesi, yaitu:

1. Membutuhkan suatu persiapan yang relative lama dan menjurus.
2. Disertai oleh kegiatan-kegiatan intelektual yang ulung dan anggota-anggotanya memiliki
pengetahuan-pengetahuan serta kecakapan-kecakapan yang mengkhusus.
3. Menentukan standar yang relative tinggi untuk diterima sebagai anggota profesi.
4. Pekerjaannya merupakan suatu karier seumur hidup.
5. Diwakili oleh organisasi atau organisasi-organisasi yang efektif.
6. Mempunyai otonomi yang luas dan dalam banyak hal menentukan standarnya sendiri.
7. Berbakti untuk perluasan pengetahuan dalam bidang-nya.
8. Memberikan prioritas yang tinggi pada pelayanan.
9. Mengutamakan perbaikan diri dan perkembangan dalam usaha-usaha pelayanan.
10. Melindungi kesejahteraan anggota-anggotanya.
11. Membutuhkan ijin atau sertifikat untuk berpraktik.
12. Mendasarkan praktiknya pada prinsip-prinsip etik yang dirumuskan dengan jelas.

M. Pidarta (1980:45) sambil mengutip pendapat Edgar H. Schien mengemukakan kriteria profesi
sebagai berikut:

1. Seorang professional harus bekerja full-time di bidang profesinya dan sebagai sumber
penghidupan. Disini secara implicit suatu pengertian bahwa seorang professional tidak boleh
bekerja lebih banyak di luar dan menomor-duakan tugas utamanya.
2. Seorang professional memiliki motivasi yang kuat untuk bekerja dalam bidangnya, yang
merupakan dasar bagi pilihan jabatan tersebut. Sehingga jabatan tersebut akan dikerjakan dengan
sepenuh hati.
3. Seorang professional memiliki pengetahuan khusus dan keterampilan yang diperolehnya
dalam pendidikan yang cukup lama.
4. Membuat keputusan-keputusan dalam tindakannya demi untuk kepentingan klien, bukan untuk
kepentingan dirinya sendiri atau untuk kepentingan organisasi atau golongannya. Ia harus
bekerja tanpa pamrih.
5. Seorang professional harus berorientasi pelayanan kepada klien, dan yang ia pentingkan

adalah bagaimana dapat melayani siswa dengan sebaik-baiknya demi kemajuan siswa itu sendiri.
Seorang professional adalah seorang yang mengabdi kepada tugasnya.
6. Pelayanannya berdasarkan atas kebutuhan objektif dari klien. Tidak boleh ada motif-motif
yang lain tersembunyi di dalamnya. Keduanya, klien dan petugas professional harus jujur dan
terbuka, serta harus dapat menciptakan hubungan intim demi untuk kemajuan klien.
7. Seorang professional mempunyai otonomi dalam bertindak mengenai apa yang baik bagi
klien. Dia adalah orang yang lebih tahu tentang apa yang baik bagi klien daripada klien itu
sendiri.
8. Menjadi anggota organsiasi profesi yang diseleksi lewat ukuran-ukuran tertentu seperti standar
pendi-dikan, atau ukuran-ukuran lain yang sejenis, memiliki keahlian yang sama, dan dalam
wilayah tertentu.
9. Memiliki pengetahuan yang spesifik.
10. Seorang professional tidak boleh mengadvertensi keahliannya untuk mendapat pasaran luas.
Klienlah yang diharapkan berinisiatif untuk mencari dia.

Selanjutnya Abin Syamsuddin (1996:48-51) yang mengulas secara khusus pendapat Lieberman
(1956) menggambarkan beberapa karakte-ristik dari suatu profesi. Menurut Lieberman profesi
ini merupakan suatu jenis pelayanan atau pekerjaan yang khas, bersifat definitive yakni jelas
batas kawasan cakupan bidang garapannya, serta merupakan jenis layanan yang sangat penting
atau amat dibutuhkan oleh kliennya, mendapatkan pengakuan masyarakat (a unique, definite, and
essential service, public acceptance).

Pelayanan itu amat menuntut kemampuan kinerja intelektual yang berbeda dengan layanan
manual (an emphasiz upon intellectual techniques in performing its service).

Untuk memperoleh penguasaan teori pengetahuan dan kemam-puan profesionalnya, seseorang
memerlukan waktu yang cukup lama. Untuk mencapai kualifikasi keprofesionalan seseorang
minimal memer-lukan waktu lima tahun, ditambah dengan pengalaman praktik yang terbimbing
sehingga mencapai tingkat kemandirian secara penuh dalam menjalankan profesinya (long
period of specialized training, mastery of teoritical knowledge).

Kinerja pelayanan itu sedekian cermat secara teknis, sehingga kelompok assosiasi profesi yang
bersangkutan sudah memberikan jaminan bahwa anggotanya dipandang mampu untuk
melakukan sendiri tugas pelayanan tersebut. Profesional itu melakukan pelayanan secara
otonom, seperti seorang guru sejak tahap awal sampai akhir dari perencanaan dalam pengajaran
sampai memberi nilai kepada siswa, atau seorang dokter mendiagnosa sampai pemberian terapi.
Bila mendapat kasus yang tak dapat ditangani sendiri ia membuat rujukan kepada orang lain
yang dianggap berwewenang atau membawa ke dalam suatu panel (a broad range of autonomy
for both the individual practitioners and the accupational group as a whole).

Sebagai konsekuensi dari otonomi profesi, seorang professional akan menerima beban tanggung
jawab pribadi secara penuh akibat tindakannya bila terjadi kekeliruan, ia tidak bias melemparkan
tanggung jawab kepada orang lain. Seorang professional harus siap menerima sanksi dari
masyarakat, atasan atau sanksi hokum akibat kesalahannya (an acceptance by the practitionare or
broad personal responsibility for judgment made and acts performance with the scope of
professional).

Kinerja pelayanan professional harus mengutamakan kepentingan orang lain, daripada
mempertimbangan kepentingan ekonomi yang diterimanya. Professional harus siap memberikan
pelayanan kapan saja, dimana saja, dan kepada siapa saja baik dalam keadaan dinas maupun
dalam keadaan istirahat, baik dengan atau tanpa imbalan (an emphasis upon the service to be
rendered, rather than the economic gain to the practitioners, as the basis for the organization and
performance of the social service delegated to the occupational group).

Karena keunikan profesi ini, maka hanya anggota assiasilah yang berhak menjalankan peranan
itu, dan anggota secara pribadi melalui organisasinya itu sendiri jadi pengendali dan polisi
profesi yang dimulai saat penerimaan jadi anggota, mengendalikan, memberi sanksi bila
diperlukan terhadap pelanggar kode etik (a comprehensive self-gouvering organization of
practitioners).

Adanya kode etik yang disepakati bersama oleh semua anggota untuk memberi bimbingan nurani
professional dan memberi pedoman bagi segala tingkah lakunya. Perangkat kode etik ini harus
selalu dipatuhi, dan menjadi norma dasar dalam pemberian penghargaan atau hukuman bagi
pelanggannya. Kode etik itu dikembangkan dan diputuskan untuk diberlakukan kepada
anggotanya melalui forum tertentu dalam organisasi, biasanya dalam forum tertinggi kekuasaan
anggota (a code ethics has been clarified and interpreted at ambiguous and doubt ful points by
concrete cases).

Pengetahuan professional berkaitan dengan pengausaan suatu disiplin akademik secara keahlian
yang mendasari praktiknya. Kompe-tensi pengetahuan dan keterampilannya tidak bersifat statis.
Ideology profesionalisme menuntut praktisinya selalu mengikuti perkembangan terbaru di
bidangnya demi menjaga kompetensinya dan memberikan layanan yang tepat pada kliennya.

Mempunyai hubungan dengan profesi pada bidang-bidang lain dan memperoleh pengakuan dan
penghargaan yang selayaknya baik secara social dan secara legal atas keberadaan profesi.

Memiliki jurnal dan sarana publikasi professional lainnya yang menyajikan berbagai karya
penelitian dan kegiatan ilmiah sebagai media pembinaan dan pengembangan para anggotanya
serta pengabdian kepada masyarakat dan khasana ilmu pengetahuan yang menopang profesinya.

Setiap bidang pekerjaan dan jabatan professional harus memenuhi criteria sebagai standar dari
jabatan professional sebagaimana disebutkan di atas, semakin lengkap memenuhi kriteria akan
semakin besar pengarunya pada wibawa profesinya dimana masyarakat pengguna jasa profesi
yang ada.

Kalau beberapa ciri tersebut di atas dipakai sebagai acuan, maka jabatan pedagang, penyanyi,
penari, serta tukang koran, jelas bukan profesi. Namun apakah jabatan guru dapat disebut sebagai
sebuah pofesi?

C. Perkembangan Keprofesian

Merujuk pada pendapat Elliot (1972:14) bahwa profesi secara histories ada dua tipe, yaitu: tipe
profesi sebagai status dan tipe profesi pekerjaan. Profesi sebagai status diartikan sebagai sesuatu

yang secara relative tidak begitu penting dalam organisasi kerja dan dalam melayani masyarakat,
tetapi menduduki tempat yang tinggi dalam system tingkatan social masyarakat. Sedangkan
profesi sebagai pekerjaan didasarkan pada spesialisasi dari pendidikan dan latihannya. Hal ini
oleh Elliot dipandang dari dimensi sejarah. Contohnya adalah profesi pada bidang kesehatan,
profesi pendeta, profesi keperaawatan adalah sebagai status, sedangkan ahli bedah, pendeta,
bidan digolongkan sebagai pekerjaan.

Elliot (1972) juga mengakui bahwa perubahan perkembangan profesi dalam hubungannya
dengan situasi masyarakat secara khusus telah digambarkan dalam studi tertentu. Reiss (1955)
dalam Peter Jarvis (1992:23) secara sederhana memberikan lima tipe profesi komptemporer,
masyarakat industri sebagai berikut:

Old established professions – founded upon the study of a branch of learning, e.g. medicine.
New professions – founded upon new discipline, e.g. chemist, social scientist. Semiprofesions –
based upon technical practice and knowledge, e.g. nurses, teachers, social workers. Would – be
professions – familiarity with modern practice in business, etc; distinguish this group who aspire
to professional status, e.g. personal directors, sales directors, engineers, etc. Marginal professions
– based upon technicians, draughtsmen.

Sementara itu Richey (1974) dalam Abin Syamsuddin (1996:52) telah mengidentifikasi tingkat-
tingkat keprofesian. Dimana baik Reiss maupun Richey masing-masing mengelompokkan pada
lima tipe profesi, yaitu: (1) profesi yang sudah tua, (2) profesi baru, (3) profesi yang sedang
tumbuh, (4) semiprofessional, dan (5) pekerjaan atau jabatan yang belum jelas statusnya.
Selanjutnya Robert B. Howsam, et.al (1976:7-9) menyatakan bahwa:

Profesi tertua adalah hukum, kesehatan, teologi, dan guru. Profesi terbaru adalah arsitektur,
insinyur (engineering) dan optometri. Pekerjaan yang segera diakui sebagai profesi (emergent
professions) adalah pekerja sosial (social worker) yang masih semi professional akan segera
diakui sebagai profesi yang professional.

Mengingat tugas dan tanggung jawab guru yang begitu kompleks, maka jabatan guru menurut
Muhammad Ali (2002) merupakan sebuah profesi. Lebih lanjut Muhammad Ali (2002) untuk
memasuki profesi guru memerlukan persyaratan khusus, antara lain:

1. Menuntut adanya keterampilan yang berdasarkan konsep dan teori ilmu pengetahuan yang
mendalam.
2. Menekankan pada suatu keahlian dalam bidang tertentu sesuai dengan profesinya.
3. Menuntut adanya tingkat pendidikan keguruan yang memadai.
4. Adanya kepekaan terhadap dampak kemasyarakatan dari pekerjaan yang dilaksanakan.
5. Memungkinkan perkembangan sejalan dengan dinamika kehidupan.

Lebih lanjut Howsam et.al (1976) menyatakan diperlukan perjuangan panjang yang terus
menerus dan bertahap dari pekerjaan yang masih bersifat semi professional untuk diakui sebagai
pekerjaan yang menuntut professional penuh. Berdasarkan proses tersebut ternyata untuk
mencapai tingkat professional, proses profesionalisasi terus berlangsung, dan pada masyarakat

yang akan datang, hal itu semakin memegang peranan yang sangat penting (Tirtamihardja dan
Sulo, 2000:143).

Berdasarkan analisis ini tampak jabatan guru belum sepenuhnya dapat dikategorikan sebagai
suatu profesi yang utuh, dan bahkan banyak orang sependapat bahwa guru hanya jabatan
semiprofesional atau profesi yang baru muncul (emerging profession) karena belum semua ciri-
ciri di atas dapat dipenuhi. Pendapat ini sebelumnya telah dikemukakan oleh Amitai Etzioni
(1969:v) yang menyatakan guru adalah jabatan semiprofessional disebabkan oleh:

… the training [of teachers] is shorters, their status less legitimated [low or moderate], their right
to privileged communication less established; there is less of a specialized knowledge, and they

have less autonomy from supervision or societal control than ‗the professions‘ …

Selanjutnya Robert B. Howsam et.al (1976) menulis bahwa guru harus dilihat sebagai profesi
yang baru muncul, dan karena itu mempunyai status yang lebih tinggi dari jabatan
semiprofessional lainnya, malah mendekati status professional penuh. Pada saat sekarang,
sebagian orang cenderung menyatakan guru sebagai sebuah profesi, dan sebagian lagi tidak
memgakuinya. Oleh sebab itu dapat dikatakan jabatan sebagian guru, yang bermakna bukan
seluruhnya merupakan jabatan professional, namun jabatan ini sedang bergerak kearah itu.

Berbeda dengan jabatan guru di daerah lainnya, secara dejure profesi guru, khususnya di
Indonesia sudah menjadi sebuah profesi sebagai mana termuat dalam Undang-undang Nomor 14
tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Sehingga jabatan guru bukan saja menyangkut tentang
pekerjaan, tapi sudah merupakan profesi. Hal ini bermakna bahwa jabatan ini menuntut
pendidikan yang khusus, dalam jangka waktu yang lama, dan memiliki kualifikasi tertentu.

Karena dalam setiap profesi atau jabatan tentu saja memiliki tingkat kemahiran. Tilaar
(2000:137-139) memberi penjelasan tentang tingkat dari setiap pekerjaan (okupasi) menjadi mata
pencaharian dengan membeda-kannya ke dalam tiga tingkat kemahiran yakni: (1) delitan, (2)
amatiran, dan (3) professional.

Namun sebelumnya Conny Semiawan (1991) mengemukakan hierarki profesi tenaga
kependidikan terbagi dalam tiga kelompok, yaitu: (1) tenaga professional, (2) tenaga
semiprofessional, dan (3) tenaga paraprofessional.

Lebih lanjut Semiawan (1991) menjelaskan bahwa, tenaga professional merupakan tenaga
kependidikan yang berkualifikasi pendidikan sekurang-kurangnya S1 atau setara, dan memiliki
wewenang penuh dalam perencanaan, pelaksanaan, penilaian, pengendalian
pendidikan/pengajaran. Tenaga kependidikan yang termasuk dalam kategori ini juga berwenang
untuk membina tenaga kependidikan yang lebih rendah jenjang profesionalnya, misalnya guru
senior membina guru yang lebih junior.

Tenaga semiprofessional merupakan tenaga kependidikan yang berkualifikasi pendidikan tenaga
kependidikan D3 atau setara yang telah berwenang mengajar secara mandiri, tetapi masih harus
melakukan konsultasi dengan tenaga kependidikan yang lebih tinggi jenjang profesionalnya, baik
dalam hal yang perencanaan, pelaksanaan, penilaian maupun pengendalian pengajaran.

Tenaga paraprofessional merupakan tenaga kependidikan yang berkualifikasi pendidikan tenaga
kependidikan D2 ke bawah, yang memerlukan pembinaan dalam perencanaan, pelaksanaan,
penilaian, dan pengendalian pendidikan/pengajaran. Dengan demikian, tenaga kependi-dikan
yang masih berpendidikan belum mencapai S1 termasuk dalam kategori sebagai guru yang
belum professional.

Sejalan dengan pendapat di atas, Windham (1988) mengklasifikasi-kan derajat mutu tenaga
kependidikan menjadi tiga kategori, yaitu: (1) berkualifikasi penuh; (2) berkualifikasi sebagian;
dan (3) tidak memenuhi kualifikasi. Dalam kaitan ini, Windham (1988) mengemukakan sebagai
berikut:

1. Qualified, prossessing the academic and teacher training attainment appropriate the assigned
level and type of teaching.
2. Underqualified, prossessing the academic but not the teacher training appropriate to the level
of assignment.
3. Underqualified, prossessing neither the academic nor the teacher training attainment
appropriate to the level of assignment.

Oleh sebab itu, bagi setiap guru dituntut memiliki sifat-sifat profesionalisme yang tinggi,
sebagaimana telah diatur dalam undang-undang bahwa pekerjaan di bidang kependidikan
merupakan profesi yang menuntut profesionalisme penuh dalam bidang tugas yang menjadi
tanggung jawabnya.

Sanusi Uwes (2003:149) menyatakan ada tiga bidang yang harus dikuasai oleh seorang guru
yang professional dalam menjalani profesinya, yaitu: (1) ahli dalam bidang pengajaran, (2)
terampil dalam bidang penelitian, dan (3) memiliki kompetensi dalam pengabdian kepada
masyarakat. Selain dari tiga bidang tersebut, seorang guru juga harus memiliki kemampuan
dalam memberikan bimbingan kepada siswa, dan melaksanakan tugas administrative lainnya.

Timbulnya maksud tersebut antara lain terungkap dari harapan masyarakat agar semua tenaga
kependidikan meningkatkan kemampuan-nya melalui pemberian pelayanan tugas pengajaran dan
tugas-tugas lainnya secara lebih professional.

Menurut pendapat para ahli, ada hal yang membedakan antara pekerjaan biasa (okupasi) dengan
pekerjaan yang menuntut kemampuan professional penuh. Perbedaan tersebut terletak pada
beberapa karakteristik, diantaranya adalah kepemilikan: kompetensi, sertifikasi, akreditasi, dan
lisensi. Dengan adanya beberapa syarat seperti tersebut di atas, maka seorang sarjana pendidikan
(S.Pd) yang lulusan dari Lembaga Pendidikan Tenaga Keguruan (LPTK), belum tentu dapat
menjadi guru bila tidak memiliki persyaratan tersebut.

Jenis-jenis profesi kependidikan menuntut pelayanan yang ditujukan kepada orang lain.
Pendekatan kategori setiap profesi tidak menunjukkan perbedaan unsur-unsur atau beberapa
elemen yang memerlukan pelayanan, tetapi menunjukkan pada sifat dan hakikat dari pelayanan
(Arikunto, 1990:234).

Tampubolon (2001:174) menyatakan peran guru bersifat multi dimensional, dimana guru
menduduki peran sebagai: (a) orang tua, (b) pendidik atau pengajar, (c) pemimpin atau manajer,
(d) produsen atau pelayanan, (e) pembimbing atau fasilitator, (f) motivator atau stimulator, dan
(g) peneliti atau nara sumber. Peran tersebut dapat bergradasi menurun, naik, atau tetap sesuai
dengan jenjang tuntutannya.

Sejalan dengan menguatnya tuntutan derajat keprofesionalan dalam segala aspek kehidupan,
pekerjaan, dan jabatan; para pemangku jabatan dan pekerjaan tersebut sibuk melakukan gerakan
peningkatan kemampuan mereka pada masing-masing bidang profesi.

Pekerjaan yang sudah menjadi sebuah profesi menuntut kinerja yang professional dari setiap
orang yang menekuninya. Termasuk dalam hal ini pekerjaan guru, karena guru merupakan
sebuah profesi. Sutisna (1989) menyebutkan bahwa pekerjaan guru mulai diperhitung-kan
sebagai salah satu profesi, sehingga orang-orang yang menekuni profesi ini dituntut memiliki
kemampuan professional.

Guru selaku tenaga professional memiliki citra yang baik di masyarakat. Apabila seorang guru
dapat menunjukkan citra kepada masyarakat, maka ia layak menjadi panutan atau teladan
masyarakat sekelilingnya. Masyarakat akan melihat bagaimana sikap dan perbuatan guru itu
sehari-hari, apakah memang ada yang patut diteladani atau tidak. Bagaimana guru meningkatkan
pelayanannya, meningkatkan pengetahuannya, memberi arahan dan dorongan kepada siswanya,
dan bagaimana cara guru berpakaian dan berbicara serta cara bergaul baik dengan siswa, teman-
temannya serta anggota masyarakat, sering menjadi perhatian masyarakat luas (Soetjipto &
Raflis Kosasi, (1999:42). Sehingga menyandang predikat guru tidak hanya dituntut memiliki
kemampuan intelektual saja, tetapi juga diperlukan kepribadian yang matang yang dapat
diteladani oleh banyak orang

Daftar Pustaka

Sudjana, Nana. 2004. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algesindo.
Usman, Moch Uzer (1993). Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosda Karya
Ali, Muhammad. (2002). Guru dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algesindo.
Danim, Sudarwan. (2002). Inovasi Pendidikan dalam Upaya Peningkatan Profesionalisme
Tenaga Kependidikan. Bandung: Pustaka Setia.
Depdiknas. (2005). Peraturan Pemerintah Republik Indonedia No. 19 Tahun 2005 tentang
Standar Nasional Pendidikan. Jakarta: Depdknas.
————. (2004). Strategi Jangka Panjang Pendidikan Tinggi 2003-2010 (HELTS). Jakarta:
Dirjen Dikti Depdiknas.
————. (2003). Undang-undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional. Jakarta: Depdiknas.
Glover, Derek. & Sue Law. (2005). Improving Learning Profesional Practice in Secondary
Schools. Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia.
Hasan, Ani M., (2003). Perkembangan Profesonalitas Guru di Abad Pengetathuan. (online).
Tersedia: http://www.jurnal+pendidikan. com. (5 Juli 2005).
Isjoni. (2004). Kinerja Guru. (online). Tersedia: Artikel Pendidikan Network.
Http://artikel.us/isjoni12.html. (8 Februari 2005).

Joni, T. Raka (1981). Pembinaan Staf Akademik Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan,
Permasalahan, dan Pendekatan. Jakarta: P3G Depdikbud.
Kartadinata, Sunaryo. (2005). Sertifikasi Jabatan Profesi Guru. (Makalah). Bandung: UPI
Bandung.
Kydd, Lesley. et.al. (ed). (2004). Profesional Development for Educational Management.
(terjemahan). Jakarta: Grasindo.
Makmun, Abin Syamsuddin. (1996). Pengembangan Profesi dan Kinerja Tenaga Kependidikan.
(Pedoman dan Intisari Perkuliahan – Handout). Bandung: PPs UPI Bandung.
Sanusi, Ahmad. et.al. (1991). Studi Pengembangan Model Pendidikan Profesional Tenaga
Kependidikan. Jakarta: Depsikbud.
Sudjana, Rahmat. (1999). Konflik Internal dan Ekternal Profesionalisasi Jabatan Kependidikan.
Formasi: Journal Kajian Manajemen Pendidikan No. 1 Tahun I, September 1999.
Surya, Mohammad. (2005). Perlindungan Profesi Guru: Kode Etik dan Undang-undang Guru.
(Makalah). Bandung: UPI Bandung.
Supriyadi, Dedi. (1999). Mengangkat Citra dan Martabat Guru. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa.
Sutisna, Oteng. (1991). Studi Pengembangan Pendidikan Profesional Tenaga Kependidikan.
Bandung: Angkasa.
Soetjipto & Raflis Kosasi. (1999). Profesi Keguruan. Jakarta: Rineka Cipta.
Usman, Moh. Uzer. (2001). Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosdakarya.

http://ramlannarie.wordpress.com/2010/05/12/profesionalisme-guru/

Menurut pepatah jawa, Guru adalah digugu lan ditiru yang berarti bahwa guru merupakan sosok yang menjadi panutan bagi siswanya dan masih ada banyak pepatah
yang berhubungan dengan guru lainnya walaupun intinya sama. Saat ini sosok guru sudah ikut "ter-reformasi". Guru dituntut untuk memiliki ilmu pengetahuan yang
selalu berkembang dan mengikuti kemajuan jaman. Sudah tidak waktunya lagi guru yang kaku, memiliki pengetahuan terbatas, dan tidak mau terbuka dengan
kemajuan teknologi.

Berikut ini adalah pengertian dan definisi guru:

# UU RI NO 14 TAHUN 2005
Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada
pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah

# ZAKIYAH DARADJAT
Guru adalah pendidik profesional karena secara implisit ia telah merelakan dirinya menerima dan memikul sebagian tanggung jawab pendidikan yang terpikul di
pundah paa orang tua

# POERWADARMINTA
Guru adalah orang yang kerjanya mengajar

# SUPRIYADI, 1999
Guru adalah orang yang berilmu, berakhlak, jujur dan baik hati, disegani, serta menjadi teladan bagi masyarakat

# WILLIAM
Guru adalah pemegang kendali dalam "kendaraan" pendidikan

# MOHAMAD SURYA
Guru adalah orang tua di sekolah dan orang tua adalah guru di rumah.

# SYAIKH MUHAMMAD
Guru adalah tauladan dalam akhlaknya yang baik dan perangainya yang mulia

# UMAR TIRTA & LA SULA
Guru adalah orang yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan pendidikan dan sasaran peserta didik

# M. NGALIM PURWANTO
Guru adalah seorang yang berjiwa besar terhadap masyarakat dan negara

# OEMAR HAMALIK, 2003
Guru adalah orang yang bertanggung jawab dalam merencanakan dan menuntun murid-murid untuk melakukan kegiatan-kegiatan belajar guna mencapai pertumbuhan
dan perkembangan yang diinginkan

# SYAIFUL BARI DJAMARAH & ASWAN ZAIN
Guru adalah seseorang yang menjadi salah satu sumber belajar yang erkewajiban menyediakan lingkungan belajar yang kreatif bagi kegiatan belajar anak didik di
kelas

http://carapedia.com/pengertian_definisi_guru_info2159.html

Definisi Profesi menurut para ahli

Posted on Juni 22, 2012 by ardiyo47

Apa sih profesi itu?? buat teman-teman yang sedang mencari Pengertian Profesi menurut para ahli
truss mampir di blog ane, dibawah ini ada Pengertian Profesi menurut para ahli, yang udah di kumpulin
dari beberapa sumber. Berikut pengertian profesi Selamat menikmati !

Pengertian profesi menurut Osnstien dan Live 1984: Melayani masyarakat, merupakan karir
yang dilakukan sepanjang hayat. Melakukan bidang dan ilmu dan kerampilan tertentu.
Memerlukan latihan khusus dalam jangka waktu yang lama. Melakukan status social dan
ekonomi yang tinggi.
Pengertian profesional menurut Sanusi et all (1991) mengatakan bahwa profesi adalah: Suatu
jabatan yang memiliki fungsi dan signifikan yang menentukan (erusial)
Pengertian profesi menurut De George, Profesi adalah pekerjaan yang dilakukan sebagai
kegiatan pokok untuk menghasilkan nafkah hidup dan yang mengandalkan suatu keahlian.
Pengertian profesi adalah suatu hal yang berkaitan dengan bidang tertentu atau jenis pekerjaan
(occupation) yang sangat dipengaruhi oleh pendidikan dan keahlian, sehingga banyak orang
yang bekerja tetapi belum tentu dikatakan memiliki profesi yang sesuai.
Pengertian Profesi : Profesi adalah dapat dirumuskan sebagai pekerjaan tetap berupa pelayanan
(service occupation).

http://for7delapan.wordpress.com/2012/06/22/definisi-profesi-menurut-para-ahli/

PROFESI MENURUT PARA AHLI

1. Pengertian profesi menurut Ornstien dan Levine 1984: Melayani masyarakat, merupakan karir
yang dilakukan sepanjang hayat. Melakukan bidang dan ilmu dan kerampilan tertentu.
Memerlukan latihan khusus dalam jangka waktu yang lama. Melakukan status social dan
ekonomi yang tinggi.
2. Menurut Danin, 2002. Secara estimologi, istilah profesi berasal dari bahasa Inggris yaitu
profession atau bahasa latin,profecus, yang artinya mengakui, adanya pengakuan, menyatakan
mampu, atau ahli dalam melakukan suatupekerjaan. Sedangkan secara terminologi, profesi

berarti suatu pekerjaanyang mempersyaratkan pendidikan tinggi bagi pelakunya yang ditekankan
pada pekerjaan mental
3. Profesi berasal dari bahasa latin “Proffesio‖ yang mempunyai dua pengertian yaitu
janji/ikrar dan pekerjaan. Bila artinya dibuat dalam pengertian yang lebih luas menjadi kegiatan

―apa saja‖ dan ―siapa saja‖ untuk memperoleh nafkah yang dilakukan dengan suatu keahlian

tertentu.

Sedangkan dalam arti sempit profesi berarti kegiatan yang dijalankan berdasarkan keahlian
tertentu dan sekaligus dituntut daripadanya pelaksanaan norma-norma sosial dengan baik.
4. Menurut Sanusi et all (1991) mengatakan bahwa profesi adalah: Suatu jabatan yang memiliki
fungsi dan signifikan yang menentukan (erusial)
5. Menurut the george profesi, adalah pekerjaan yang dilakukan sebagai kegiatan pokok untuk
menghasilkan nafkah hidup dan yang mengandalkan suatu keahlian.

PROFESIONAL MENURUT PARA AHLI

1. Menurut Soemarno P. Wirjanto (1989), Sarjana hukum dan Ketua LBH Surakarta, dalam
seminar Akademika UNDIP 28-29 Nopember 1989, yang mengutip Roscoe Pond, mengartikan
istilah professional sebagai berikut ;
Harus ada ilmu yang diolah di dalamnya.
Harus ada kebebasan, tidak boleh ada hubungan hirarki.
Harus ada kebebasan ( = hak tidak boleh dituntut ) terhadap penentuan sikap dan perbuatan dalam
menjalankan profesinya.
Harus ada Kode Etik dan peradilan Kode Etik oleh suatu Majlis Peradilan Kode Etik.
2. Menurut Soedijarto (1990:57) mendefinisikan profesional sebagai perangkat atribut-atribut yang
diperlukan guna menunjang suatu tugas agar sesuai dengan standar kerja yang diinginkan. Dari
pendapat ini, sebutan standar kerja merupakan faktor pengukuran atas bekerjanya seorang atau
kelompok orang dalam melaksanakan tugas
3. Menurut Prof. Soempomo Djojowadono (1987), seorang guru besar dari Universitas
Gadjahmada (UGM) merumuskan pengertian professional tersebut sebagai berikut ;
Mempunyai sistem pengetahuan yang isoterik (tidak dimiliki sembarang orang)
Ada pendidikannya dan latihannya yang formal dan ketat

Membentuk asosiasi perwakilannya.
Ada pengembangan Kode Etik yang mengarahkan perilaku para anggotanya
4. Menurut the George profesional, adalah orang yang mempunyai profesi atau pekerjaan purna
waktu dan hidup dari pekerjaan itu dengan mengandalkan suatu keahlian yang tinggi. Atau
seorang profesional adalah seseorang yang hidup dengan mempraktekkan suatu keahlian tertentu
atau dengan terlibat dalam suatu kegiatan tertentu yang menurut keahlian, sementara orang lain
melakukan hal yang sama sebagai sekedar hobi, untuk senang-senang, atau untuk mengisi waktu
luang.

5. Menurut Prof. Edgar Shine yang dikutip oleh Parmono Atmadi (1993), sarjana arsitektur
pertama yang berhasil meraih gelar doktor di Indonesia, merumuskan pengertian professional
tersebut sebagai berikut ;
Bekerja sepenuhnya (full time) berbeda dengan amatir yang sambilan
Mempunyai motivasi yang kuat.
Mempunyai pengetahuan (science) dan keterampilan (skill)
Membuat keputusan atas nama klien (pemberi tugas)
Berorientasi pada pelayanan ( service orientation )
6. Pengertian Profesional Kata profesional berasal dari profesi yang artinya menurut Syafruddin
Nurdin, diartikan sebagai suatu pekerjaan yang memerlukan pendidikan lanjut di dalam science
dan teknologi yang digunakan sebagai prangkat dasar untuk di implementasikan dalam berbagai
kegiatan yang bermanfaat.
7. Sementara itu Philips (1991:43) memberikan definisi profesional sebagai individu yang bekerja
sesuai dengan standar moral dan etika yang ditentukan oleh pekerjaan tersebut.
8. Menurut Kamus Dewan Bahasa dan Pustaka (Edisi Empat) menafsirkan profesional sebagai:
Yang terkait dengan (bergiat dalam) bidang profesi (seperti hukum, medis, dan lain sebagainya)
Contoh: profesional; ahli profesional.
berbasis (membutuhkan dll) kemampuan atau keterampilan yang khusus untuk melaksanakannya,
efisien (teratur) dan memperlihatkan keterampilan tertentu.
melibatkan pembayaran dilakukan sebagai mata pencarian, mendapatkan pembayaran. Contoh:
mereka harus mendapatkan bimbingan seorang pelatih teknis yang profesional di bidangnya.
Orang yg mengamalkan (karena pengetahuan, keahlian, dan keterampilan) sesuatu bidang
profesi; memprofesionalkan menjadikan bersifat atau kelas profesional.

9. profesional yang mempunyai makna yaitu berhubungan dengan profesi dan memerlukan
kepandaian khusus untuk menjalankannya, (KBBI, 1994).
10. Sedangkan profesionalisme adalah tingkah laku, keahlian atau kualitas dan seseorang yang
professional (Longman, 1987).

PENGERTIAN GURU

1. Menurut Ametembun (1994 :33) megemukakan bahwa ―Guru adalah semua orang yang
berwenang dan bertanggung jawab terhadap pendidikan murid-murid, baik secara individual
maupun klasikal, baik di sekolah maupun luar sekolah
2. Guru adalah salah satu faktor penentu berhasil atau tidaknya proses pembelajaran bahasa
Inggris. Dalam kelas yang ideal, tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya dengan
mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan sesuatu yang baru
bagi siswa. Tentunya seorang guru sebagai tenaga pengajar harus mempunyai kompetensi yang
memadai untuk melaksanakan tugasnya. Berikut adalah empat kompetensi yang harus dimiliki
olah seorang guru (PP No.19/2005).
3. Guru adalah pendidik dan pengajar pada pendidikan anak usia dini jalur sekolah atau pendidikan
formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Guru sebagai tenaga profesional bertugas
merencanakan dan melaksanakan pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan
pembimbingan dan pelatihan,melakukan penelitian, membantu pengembangan dan pengelolaan
program sekolah serta mengembangkan profesionalitasnya (Depdiknas 2004: 8).
4. Menurut Sardiman, 2001:123 Guru adalah semua orang yang berwenang dan bertanggung
jawab terhadap pendidikan murid-murid, baik secara individual maupun secara klasikal, baik di
sekolah maupun di luar sekolah‖ (Djamarah, 1994:33). Pada sisi lain , Djamarah berpendapat
―guru adalah semua orang yang berwenang dan bertanggung jawab untuk membimbing dan
membina anak didik, baik secara individual maupun klasikal di sekolah maupun di luar sekolah‖

(Djamarah, 2000:32).
5. Guru (dari Sanskerta berarti guru, tetapi arti secara harfiahnya adalah "berat") adalah seorang
pengajar suatu ilmu. Dalam bahasa Indonesia, guru umumnya merujuk pendidik profesional
dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan
mengevaluasi peserta didik

6. Pengertian Guru - Dalam proses belajar mengajar guru adalah orang yang memberikan

pelajaran. Dalam kamus bahasa Indonesia, guru diartikan ―orang yang kerjanya mengajar‖.

(Purwanarminta, 1984: 335) Guru adalah salah satu komponen manusiawi dalam proses belajar
mengajar, yang ikut berperan serta dalam usaha pembentukan sumber daya manusia yang

potensial di bidang pembangunan‖.

7. Menurut Zakiah Darajat (1992), Seorang guru adalah merupakan seorang sosok panutan bagi
masyarakat, bukan saja bagi murid-muridnya, namun juga bagi rekan seprofesi, lingkungan
maupun bagi bangsa ini..
8. Secara etimologi (asal-usul kata),guru berasal dari bahasa India yang artinya orang yang
mengajarkan tentang kelepasan dan kesengsaraan (Shamsudin, Republika, 25 Nopember 1997).
9. Guru merupakan pendidik professional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing,
mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini,
jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah (UU tentang Guru dan
Dosen, Bab I Pasal 1 ayat 1).
10. Sedangkan menurut Hadari Nawawi bahwa pengertian guru dapat dilihat dari dua sisa. Pertama
secara sempit, guru adalah ia yang berkewajiban mewujudkan program kelas, yakni orang yang
kerjanya mengajar dan memberikan pelajaran di kelas. Sedangkan secara luas diartikan guru
adalah orang yang bekerja dalam bidang pendidikan dan pengajaran yang ikut bertanggung
jawab dalam membantu anak-anak dalam mencapai kedewasaan masing-masing.

http://samad717.blogspot.com/2012/06/profesi-menurut-para-ahli.html

Pengertian Profesionalisme Menurut Beberapa Ahli

02.53 Le pank No comments

KIKI SYAHNARKI

Profesionalisme merupakan "roh" yang menggerakkan, mendorong, mendinamisasi dan
membentengi TNO dari tendensi penyimpangan serta penyalahgunaannya baik secara internal
maupun eksternal

PAMUDJI, 1985

Profesionalisme memiliki arti lapangan kerja tertentu yang diduduki oleh orang - orang yang
memiliki kemampuan tertentu pula

KORTEN & ALFONSO, 1981

Yang dimaksud dengan profesionalisme adalah kecocokan (fitness) antara kemampuan yang
dimiliki oleh birokrasi (bureaucratic-competence) dengan kebutuhan tugas (ask - requirement)

AHMAD BAHAR

Profesionalisme merupakan usaha suatu kelompok masyarakat untuk memperoleh
pengawasan atas sumber daya yang berhubungan dengan suatu bidang pekerjaan

AHMAN SUTARDI & ENDANG BUDIASIH

Profesionalisme adalah wujud dari upaya optimal yang dilakukan untuk memenuhi apa-apa
yang telah diucapkan, dengan cara yang tidak merugikan pihak-pihak lain, sehingga
tindakannya bisa diterima oleh semua unsur yang terkait

http://www.lepank.com/2012/08/pengertian-profesionalisme-menurut.html

Profesionalisme menurut para pakar

Kembali ke duniaku sebagai mahasiswa yang tak luput dari masa-masa sulit menjelang akhir
perkuliahan, yaitu pada masa penyusunan skripsi. Kali ini aku mau ngpost tentang sebagian dari isi
skripsiku yang belum kelar, ntar kalau sudah kelar tu skripsi yang bikin kusut urat syaraf otakku baru lah
aku post kan semua isinya. Sementara itu, aku hanya akan postingin beberapa definisi profesionalisme
menurut para pakar. mungkin dapat dipergunakan sebagai referensi rekan-rekan yang akan membuat
makalah atau sebagainya.

1. Menurut Siagian (2009:163) profesionalisme adalah, “Keandalan dan keahlian dalam
pelaksanaan tugas sehingga terlaksana dengan mutu tinggi, waktu yang tepat, cermat, dan

dengan prosedur yang mudah dipahami dan diikuti oleh pelanggan.”
2. Sedarmayanti (2004:157) mengungkapkan bahwa, “Profesionalisme adalah suatu sikap atau
keadaan dalam melaksanakan pekerjaan dengan memerlukan keahlian melalui pendidikan dan

pelatihan tertentu dan dilakukan sebagai suatu pekerjaan yang menjadi sumber penghasilan.”
3. Atmosoeprapto dalam Kurniawan (2005:74), menyatakan bahwa, “Profesionalisme merupakan
cermin dari kemampuan (competensi), yaitu memiliki pengetahuan (knowledge), keterampilan
(skill), bisa melakukan (ability) ditunjang dengan pengalaman (experience) yang tidak mungkin
muncul tiba-tiba tanpa melalui perjalanan waktu.”
4. Profesionalisme menurut Dwiyanto (2011:157) adalah, “Paham atau keyakinan bahwa sikap dan
tindakan aparatur dalam menyelenggarakan kegiatan pemerintahan dan pelayanan selalu
didasarkan pada ilmu pengetahuan dan nilai-nilai profesi aparatur yang mengutamakan

kepentingan publik.”

5. Profesionalisme aparatur dalam hubungannya dengan organisasi publik menurut Kurniawan

(2005:79) digambarkan sebagai, “Bentuk kemampuan untuk mengenali kebutuhan masyarakat,

menyusun agenda, memprioritaskan pelayanan, dan mengembangkan program-program

pelayanan sesuai dengan kebutuhan dan aspirasi masyarakat atau disebut dengan istilah

resposivitas.”

6. Profesionalisme sumber daya aparatur menurut pendapat saya sendiri adalah, kemampuan
aparatur dalam menyelenggarakan tugas dan memberikan pelayanan kepada masyarakat secara
efektif serta mampu secara cepat dan tepat menanggapi aspirasi masyarakat dan perubahan
lainnya sehingga dapat memuaskan masyarakat.

Semoga definisi-definisi tersebut di atas dapat berguna untuk menambah pemahaman dan pandangan
rekan-rekan tentang arti profesionalisme sumber daya aparatur. berikut juga akan saya sampaikan
referensi dari definisi-definisi diatas, yaitu meliputi:

1. Dwiyanto, Agus, 2011, Mengembalikan Kepercayaan Publik Melalui Reformasi Birokrasi, Jakarta:
PT. Gramedia Pustaka Utama.
2. Kurniawan, Agung, 2005, Transformasi Pelayanan Publik, Yogyakarta: Pembaruan
3. Siagian, Sondang P., 2009, Administrasi Pembangunan, Jakarta: Bumi Aksara.
4. Sedarmayanti, 2004, Good Governance (Kepemerintahan yang Baik) Bagian Kedua: Membangun
Manajemen Sistem Kinerja Guna Meningkatkan Produktivitas Menuju Good Governance
(Kepemerintahan yang Baik), Bandung: Mandar Maju.

http://gounovo-sf.blogspot.com/2012/02/profesionalisme-menurut-para-pakar.html

MENJADI GURU PROFESIONAL
26-05-2011 00:12:07, pada PENDIDIKAN

MENJADI GURU PROFESIONAL?*

1. I.

PENDAHULUAN

Kata Profesi diartikan sebagai bidang pekerjaan yang dilandasi pendidikan
keahlian (ketrampilan, kejuruan, dsb) tertentu. Di dalam profesi dituntut adanya keahlian
dan etika khusus serta standar layanan. Pengertian ini mengandung implikasi bahwa
profesi hanya dapat dilakukan oleh orang-orang secara khusus di persiapkan untuk itu.
Dengan kata lain profesi bukan pekerjaan yang dilakukan oleh mereka yang karena tidak
memperoleh pekerjaan lain.

Suatu profesi memerlukan kompetensi khusus yaitu kemampuan dasar berupa
ketrampilan menjalankan rutinitas sesuai dengan petunjuk, aturan, dan prosedur teknis.

Untuk memudahkan pembahasan, maka pada tulisan ini akan dibahas tentang :

1. Apa konsep profesi?

2. Persyaratan apa yang diperlukan untuk menjadi profesional?

3. Strategi yang bagaimana agar profesi guru dapat meningkat?

1. II. KONSEP PROFESI

A. Pengertian Profesi

Pernahkah anda mendengar istilah profesi? Bukankankah kita sering mendengar istilah
profesi dalam kehidupan sehari-hari? Kita sering mendengar orang bertanya: "apa profesi dia?".
Atau ada perkataan: "dia berprofesi sebagai dokter", profesinya sebagai arsitek", "profesi ayah
saya pengusaha", profesi saya guru", dan sebagainya. Terkesan profesi itu sama artinya dengan
pekerjaan atau jabatan. Betulkah demikian? Jika tidak, lantas apa yang membedakannya?
Marilah kita cermati istilah profesi secara baik agar kita tidak keliru menafsirkannya

Profesi sebagai kata benda berarti bidang pekerjaan yang dilandasi pendidikan keahlian
tertentu. Profesional sebagai kata sifat berarti memerlukan kepandaian khusus untuk
melaksanakannya. Secara etimologi, profesi berasal dari istilah bahasa Inggris profession atau
bahasa Latin profecus yang artinya mengakui, pengakuan, menyatakan mampu atau ahli dalam
melaksanakan pekerjaan tertentu (Sudarwan Danin, 2002:20). Mengutip pendapat Ornstein dan
Levine, Soetjipto (2004;15) mengemukakan bahwa profesi adalah memerlukan bidang ilmu dan
keterampilan tertentu diluar jangkauan khalayak ramai (tidak semua orang dapat melakukannya)
dan memerlukan pelatihan khusus dengan waktu yang panjang. Selanjutnya Nana Sudjana (Uzer
Usman, 2001:14) pekerjaan yang bersifat profesional adalah pekerjaan yang hanya dapat
dilakukan oleh mereka yang khusus dipersiapkan untuk itu dan bukan pekerjaan yang dilakukan
oleh mereka yang karena tidak dapat memperoleh pekerjaan lain.

Dari beberapa pendapat para ahli diatas tentang pengertian profesional, maka dapatlah
diambil suatu kesimpulan bahwa profesi adalah orang yang terdidik dan terlatih dengan baik
serta memiliki pengalaman yang kaya dibidangnya.

B. Syarat-syarat Profesi

Konvensi Nasional Pendidikan Indonesia I pada tahuan 1988 (Made Pidarta,
2000:266) menentukan syarat-syarat suatu pekerjaan profesional sebagai berikut : (1) atas dasar
panggilan hidup yang dilakukan sepenuh waktu serta untuk jangka waktu yang lama, (2) telah
memiliki pengetahuan dan keterampilan khusus, (3) dilakukan menurut teori, prinsip, prosedur,
dan anggaan-anggapan dasar yang sudah baku sebagai pedoman dalam melayani klien, (4)
sebagai pengabdian kepada masyarakat, bukan mencari keuntungan finansial, (5) memiliki
kecakapan diagnostik dan kompetensi aplikatif dalam melayani klien, (6) dilakukan secara
otonom yang bisa diuji oleh rekan-rekan seprofesi, (7) mempunyai kode etik yang dijunjung
tinggi oleh masyarakat, dan (8) pekerjaan yang dilakukan untuk melayani mereka yang
membutuhkan

Muchlas Samani dkk (2003:3-4) mengemukakan syarat-syarat profesi meliputi:
(1) memiliki fungsi yang signifikan dalam kehidupan masyarakat dimana profesi berada, (2)
memerlukan keahlian dan keterampilan tertentu yang tidak dapat dijangkau oleh masyarakat
awam pada umumnya, (3) keahlian yang diperlukan dikembangkan berdasarkan disiplin ilmu
yang jelas dan sistematik, (4) memerlukan pendidikan atau pelatihan yang panjang, sebelum
seseorang mampu memangku profesi tersebut, (5) memiliki otonomi dalam membuat keputusan
yang terkait dengan ruang lingkup tugasnya, (6) memiliki kode etik jabatan yang menjelaskan
bagaimana profesi itu harus dilaksanakan oleh orang-orang yang memegangnya, (7) memiliki
organisasi profesi yang merupakan tempat pemegang profesi berasosiasi dan mengembangkan
profesi tersebut.

Bila kita bandingkan persyaratan yang dikemukakan oleh beberapa ahli tersebut,
dapatlah disimpulkan pernyataannya hampir sama dan saling melengkapi. Dengan demikian
bahwa persyaratan profesi yang dimaksud adalah sebagai berikut :

1. Pilihan terhadap jabatan itu didasari oleh motivasi yang kuat dan merupakan panggilan
hidup orang bersangkutan
2. Telah memiliki ilmu, pengetahuan, dan keterampilan khusus yang bersifat dinamis dan
terus berkembang
3. Ilmu, pengetahuan, dan keterampilan khusus tersebut diatas diperoleh melalui studi
dalam jangka waktu lama
4. Punya otonomi dalam bertindak ketika melayani klien
5. Mengabdi kepada masyarakat atau berorientasi kepada layanan sosial, bukan untuk
mendapatkan keuntungan finansial semata
6. Tidak mengadvertensikan keahliannya untuk mendapatkan klien
7. Menjadi anggota organisi profesi
8. Organisasi tersebut menentukan persyaratan penerimaan anggota, memmbina profesi
anggota, mengawasi prilaku anggota, memberi sanksi, dan memperjuangkan
kesejahteraan anggota.
9. Memiliki kode etik profesi

10. Punya kekuatan dan status yang tinggi sebagai eksper yang diakui oleh masyarakat

11. Berhak mendapat imbalan yang layak

Jika syarat tersebut diatas dijadikan acuan, sepertinya tidak semua jenis pekerjaan
atau jabatan dapat dikategorikan sebagai profesi

1. STRATEGI MENJADI GURU PROFESIONAL

Apakah jabatan guru dapat disebut sebagai suatu profesi?. Pada dasarnya profesi
guru adalah profesi yang sedang tumbuh. Walaupun ada yang berpendapat bahwa guru adalah
jabatan semiprofesional, namun sebenarnya lebih dari itu.

Usaha profesionalisasi merupakan hal yang tidak perlu ditawar-tawar lagi karena
uniknya profesi guru. Profesi guru harus memiliki berbagai kompetensi seperti kompetensi
profesional, personal, dan sosial. Seseorang dianggap profesional apabila mampu mengerjakan
tugasnya dengan selalu berpegang teguh pada etika kerja, independent (bebas dari tekanan pihak
luar), cepat (produktif), tepat (efektif), efisien dan inovatif serta didasarkan pada prinsip-prinsip
pelayanan prima yang didasarkan pada unsur-unsur ilmu atau teori yang sistematis,
kewenangan profesional, pengakuan masyarakat dan kode etik yang regulatif. Pengembangan
wawasan dapat dilakukan melalui forum pertemuan profesi, pelatihan ataupun upaya
pengembangan dan belajar secara mandiri.

Sejalan dengan hal di atas, seorang guru harus terus meningkatkan
profesionalismenya melalui berbagai kegiatan yang dapat mengembangkan kemampuannya
dalam mengelola pembelajaran maupun kemampuan lain dalam upaya menjadikan peserta didik
memiliki keterampilan belajar, mencakup keterampilan dalam memperoleh pengetahuan
(learning to know), keterampilan dalam pengembangan jati diri (learning to be), keterampilan
dalam pelaksanaan tugas-tugas tertentu (learning to do), dan keterampilan untuk dapat hidup
berdampingan dengan sesama secara harmonis (learning to live together).

Berangkat dari makna dan syarat-syarat profesi sebagaimana dijelaskan pada
bagian terdahulu, maka dalam rangka pengembangan profesionalisme guru secara berkelanjutan
dapat dilakukan dengan berbagai strategi antara lain :

1. Berpartisipasi didalam pelatihan atau in servie training.

Bentuk pelatihan yang fokusnya adalah keterampilan tertentu yang dibutuhkan oleh guru untuk
melaksanakan tugasnya secara efektif. Pelatihan ini cocok dilaksanakan pada salah satu bentuk
pelatihan pre-service atau in-service. Model pelatihan ini berbeda dengan pendekatan pelatihan
yang konvensional, karena penekanannya lebih kepada evaluasi performan nyata suatu
kompetensi tertentu dari peserta pelatihan.

1. Membaca dan menulis jurnal atau makalah ilmiah lainnya.

Dengan membaca dan memahami banyak jurnal atau makalah ilmiah lainnya dalam bidang
pendidikan yang terkait dengan profesi guru, maka guru dengan sendirinya dapat
mengembangkan profesionalisme dirinya. Selanjutnya untuk dapat memberikan kontribusi
kepada orang lain, guru dapat melakukan dalam bentuk penulisan artikel/makalah karya ilmiah
yang sangat bermanfaat bagi pengembangan profesionalisme guru yang bersangkutan maupun
orang lain.

1. Berpartisipasi di dalam kegiatan pertemuan ilmiah.

Pertemuan ilmiah memberikan makna penting untuk menjaga kemutakhiran (up to date) hal-hal
yang berkaitan dengan profesi guru. Tujuan utama dari kegiatan pertemuan ilmiah adalah
menyajikan berbagai informasi dan inovasi terbaru di dalam suatu bidang tertentu. Partisipasi

guru pada kegiatan tersebut akan memberikan kontribusi yang berharga dalam membangun
profesionalisme guru dalam melaksanakan tanggung jawabnya.

1. Melakukan penelitian seperti PTK.

Penelitian tindakan kelas yang merupakan studi sistematik yang dilakukan guru melalui
kerjasama atau tidak dengan guru lain dalam rangka merefleksikan dan sekaligus meningkatkan
praktek pembelajaran secara terus menerus juga merupakan strategi yang tepat untuk
meningkatkan profesionalisme guru. Berbagai kajian yang bersifat reflektif oleh guru yang
dilakukan untuk meningkatkan kemantapan rasional, memperdalam pemahaman terhadap
tindakan yang dilakukan dalam melaksanakan tugasnya, dan memperbaiki kondisi dimana
praktek pembelajaran berlangsung akan bermanfaat sebagai inovasi pendidikan. Dalam hal ini
guru diberdayakan untuk mengambil berbagai prakarsa profesional secara mandiri dengan penuh
percaya diri. Jika proses ini berlangsung secara terus menerus, maka akan berdampak pada
peningkatan profesionalisme guru.

1. Partisipasi di dalam organisasi/komunitas profesional.

Ikut serta menjadi anggota orgnisasi profesional juga akan meningkatkan profesionalisme
seorang guru. Organisasi profesional biasanya akan melayani anggotanya untuk selalu
mengembangkan dan memelihara profesionalismenya dengan membangun hubungan yang erat
dengan masyarakat. Dalam hal ini yang terpenting adalah guru harus pandai memilih suatu
bentuk organisasi profesional yang dapat memberi manfaat utuh bagi dirinya melalui bentuk
investasi waktu dan tenaga. Pilih secara bijak organisasi yang dapat memberikan kesempatan
bagi guru untuk meningkatkan profesionalismenya.

1. Kerjasama dengan tenaga profesional lainnya di sekolah

Seseorang cenderung untuk berpikir dari pada keluar untuk memperoleh pertolongan atau
informasi mutakhir akan lebih mudah jika berkomunikasi dengan orang-orang di dalam tempat
kerja yang sama. Pertemuan secara formal maupun informal untuk mendiskusikan berbagai isu
atau permasalahan pendidikan termasuk bekerjasama berbagai kegiatan lain (misalnya
merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi program-program sekolah) dengan kepala
sekolah, orang tua peserta didik (komite sekolah), guru dan staf lain yang profesional dapat
menolong guru dalam memutakhirkan pengetahuannnya. Berpartisipasi di dalam berbagai
kegiatan tersebut dapat menjaga keaktifan pikiran dan membuka wawasan yang memungkinkan
guru untuk terus memperoleh informasi yang diperlukannya dan sekaligus membuat perencanaan
untuk mendapatkannya. Semakin guru terlibat dalam prolehan informasi, maka guru semakin
merasakan akuntabel, dan semakin guru merasakan akuntabel maka ia semakin termotivasi untuk
mengembangkan dirinya.

IV. KESIMPULAN

1. Suatu pekerjaan yang bersifat profesional memerlukan beberapa bidang ilmu yang secara
sengaja harus dipelajari dan kemudian diaplikasikan bagi kepentingan umum. Atas dasar

pengertian ini ternyata pekerjaan profesional berbeda dengan pekerjaan lainnya karena suatu
profesi memerlukan kemampuan dan keahlian khusus dalam melaksanakan profesinya

2. Jabatan guru merupakan jabatan profesional, dan sebagai jabatan profesional,
pemegangnya harus memenuhi kualifikasi tertentu. Karena itu diperlukan syarat-syarat
diantaranya adanya motivasi yang kuat, memiliki pengetahuan dan keterampilan, pengabdian,
memiliki kode etik, dan berhak mendapatkan imbalan

3. Kriteria jabatan profesional antara lain bahwa jabatan itu melibatkan kegiatan intelektual,
mempunyai batang tubuh ilmu yang khusus, memerlukan persiapan lama untuk memangkunya,
memerlukan latihan dalam jabatan yang bersinambungan, merupakan karier hidup dan
keanggotaan yang permanen,menentukan baku prilakunya, mementingkan layanan, mempunyai
organisasi profesional, dan mempunyai kode etik yang diataati oleh anggotanya.

4. Berangkat dari makna dan syarat-syarat profesi sebagaimana dijelaskan pada bagian
terdahulu, maka dalam rangka pengembangan profesionalisme guru secara berkelanjutan dapat
dilakukan dengan berbagai strategi antara lain berpartisipasi didalam pelatihan atau in servie
training, membaca dan menulis jurnal atau makalah ilmiah lainnya, berpartisipasi di dalam
kegiatan pertemuan ilmiah, melakukan penelitian seperti PTK, partisipasi di dalam
organisasi/komunitas profesional, kerjasama dengan tenaga profesional lainnya di sekolah.

DAFTAR PUSTAKA

Direktorat Profesi Pendidik, 2008. Pedoman Penilaian Guru Berprestasi. Jakarta : Depdikns

Made Pidarta, 2000. Landasan Kependidikan. Jakarta : Renika Cipta

Muchlas Samani, dkk, 2003. Pembinaan Profesi Guru. Jakarta : Depdiknas

Moh. Uzer Usman, 2001. Menjadi Guru Profesional. Bandung : Remaja Rosdakarya.

Nana Sudjana, 1987. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung : Sinar Baru Algensindo.

Soetjipto, 2004. Profesi Keguruan. Jakarta : Rineka Cipta

Sudarwan Danim, 2002. Inovasi Pendidikan dalam Upaya Peningkatan Profesionalisme Tenaga
Kependidikan
. Bandung : Pustaka Setia

Undang-Undang RI Nomor 14 Tahun 2005 Bab I pasal 1 tentang Guru dan Dosen. Jakarta.

sarijo.guru-indonesia.net/artikel_detail-490.html

BAGAIMANA MENJADI GURU PROFESIONAL

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->