P. 1
ALAT UKUR

ALAT UKUR

|Views: 356|Likes:
deskripsi
deskripsi

More info:

Published by: Ittaq Qullaha Shabara on Jun 09, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/07/2015

pdf

text

original

2

8
ALAT UKUR DAN PENGUKURAN
Oleh
Achmad Hardito
POLITEKNIK NEGERI SEMARANG
2009
2
8
DAFTAR ISI
1. PENDAHULUAN ........................................................................................ 1
Pengertian Alat Ukur Dan Pengukuran ..................................................................... 1
Pengelompokan Alat Ukur ........................................................................................ 2
2. SISTEM DIMENSI SATUAN DAN STANDAR ........................................ 3
Satuan Sistem International ....................................................................................... 3
Analisa Dimensi ........................................................................................................ 5
Besaran-Besaran Listrik Standar ............................................................................... 7
3. KESALAHAN DALAM PENGUKURAN .................................................. 9
Jenis-Jenis Kesalahan ................................................................................................ 9
Perhitungan Kesalahan Sistematis ............................................................................. 10
Penjulahan dua komponen atau lebih ........................................................................ 10
Pengurangan .............................................................................................................. 12
Perkalian ................................................................................................................... 13
Pembagian ................................................................................................................. 14
Hubungan Parallel ..................................................................................................... 14
4. ALAT UKUR ............................................................................................... 15
Alat Ukur Azas Kumparan Putar ............................................................................... 15
Mekanisme Kumparan Putar magnet Permanen ....................................................... 18
5. AMPERMETER DAN VOLTMETER DC ................................................. 22
Ampermeter .............................................................................................................. 22
Voltmeter .................................................................................................................. 23
Shunt Aryston ........................................................................................................... 26
Cara Menentukan Skala Pada Voltmeter Dan Ampermeter ....................................... 29
Redaman Dan Pergerakan ......................................................................................... 31
Ohm Meter ................................................................................................................ 33
6. ALAT UKUR AZAS BESI PUTAR ............................................................ 35
Konstruksi Dan Prinsip Kerja .................................................................................... 35
Ampermeter Dan Voltmeter ..................................................................................... 37
Sebagai Ampermeter ................................................................................................. 37
Sebagai Voltmeter ..................................................................................................... 39
7. ALATUKUR AZAS BESI PUTAR ............................................................. 41
8. ALAT UKUR AZAS INDUKSI .................................................................. 44
Tipe Ferasis ............................................................................................................... 45
Tipe Shaded pole ...................................................................................................... 49
9. WATTMETER ............................................................................................. 50
10. KWH-METER ............................................................................................ 51
2
8
KATA PENGANTAR
Dengan mengucap syukur kepada allah SWT, atas segala kemudahan dan keridhoanya sehingga kami bisa
menyelesaikan buku ALAT UKUR DAN PENGUKURAN pada program studi di jurusan Teknik Elektro
Politeknik Negri Semarang. Dengan selesainya penyusunan buku ini diharapkan bisa memberikan
sumbangan dan memperkaya perbendaharaan pada perpustakaan di Politeknik Negri Semarang, Serta dengan
buku ini akan memberi kemudahan kepada mahasiswa dalam mencari buku referensi yang tepat.
Tak lupa kami sampaikan terima kasih kepada teman-teman pengajar atas masukan dan kritik serta
bantuannya untuk menambahkan beberapa materi sehingga buku ini menjadi lebih kaya akan ilmu
pengetahuan.
Akhirnya penulis ucapkan terima kasih yang sebesar besarnya kepada semua pihak terutama kepada : Allah
SWT, Istri dan Anak2 ku yang tercinta, Teman-teman dosen dan mahasiswa yang telah medorong semangat
untuk menjadikan buku ini ada.
Penulis
2
8
1. PENDAHULUAN.
1.1. Pengertian alat ukur dan pengukuran.
Pengukuran adalah suatu perbandingan antara suatu besaran dengan besaran lain yang
sejenis secara eksperimen dan salah satu besaran dianggap sebagai standar. Dalam
pengukuran listrik terjadi juga pembandingan, dalam pembandingan ini digunakan suatu alat
bantu (alat ukur). Alat ukur ini sudah dikalibrasi , sehingga dalam pengukuran listrikpun telah
terjadi pembandingan. Sebagai contoh pengukuran tegangan pada jaringan tenaga listrik dalam
hal ini tegangan yang akan diukur diperbandingkan dengan penunjukan dari voltmeter.
Pada pengukuran listrik dapat dibedakan dua hal:
a. Pengukuran besaran listrik, seperti arus (ampere), Tegangan (Volt), Daya Listrik (watt),
dll
b. Pengukuran besaran nonlistrik, seperti suhu, kuat cahaya, tekanan dll.
Dalam melakukan pengukuran pertama harus ditentukan cara pengukurannya. Cara dan
pelaksanaan pengukuran itu dipilih sedemkian rupa sehingga alat ukur yang ada dapat digunakan
dan diperoleh efisiensi setinggi tingginya. Jika cara pengukuran dan alatnya sudah ditentukan ,
penggunaanya harus dengan baik pula. Setiap alat harus diketahui dan diyakini cara kerjanya. Dan
harus diketahui pula apakah alat alat yang akan digunakan dalam keadaan baik dan mempunyai
kelas ketelitian sesuai dengan keperluannya.
Alat ukur listrik yaitu peralatan yang memungkinkan untuk mengamati besaran-besaran
listrik, instrumentasi perlu dipelajari agar dalam pemakaian tidak terjadi kesalahan dan yang
perlu diperhatikan dalam pengukuran adalah:
- Alat ukur tidak boleh membebani/mempengaruhi yang diukur atau disebut mempunyai
impedansi masuk yang besar.
- Mempunyai keseksamaan yang tinggi, yaitu alat harus mempunyai ketepatan dan ketelitian
yang tinggi (mempunyai accuracy error dan precision error yang tinggi).
- Mempunyai kepekaan (sensitifitas) yang tinggi, yaitu batas input signal yang sekecil-
kecilnya sehingga mampu membedakan gejala-gejala yang kecil.
- Mempunyai stabilitas yang tinggi sehingga menolong dalam pembacaan dan tidak
terganggu karena keadaan yang tidak dikehendaki.
2
8
- Kemampuan baca (realibilitas) yang baik, hal ini banyak tergantung dari skala dan alat
penunjukan serta piranti untuk menghindari kesalahan paralak.
- Kemantapan (reabilitas) alat tinggi, yaitu alat yang dapat dipercaya kebenarannya untuk
jangka waktu yang lama.
Hal-hal yang penting diperhatikan pada pengukuran listrik
Cara pengukuran harus benar
Pada pengukuran listrik terdapat beberapa cara Pilih cara yang ekonomis.
- Alat ukur, harus dalam keadaan baik
- Secara periodic harus dicek (kalibrasi)
- Penyimpanan, transportasi alat harus diperhatikan.
- Operator (orang) harus teliti.
- Keadaan dimana dilakukan penelitian harus diperhatikan.
- Jika diperlukan laporan, maka pencatatan hasil pengukuran perlu mendapatkan perhatian.
- Untuk catatan digunakan buku tersendiri
- Gunakan FORMULIR tetentu
1.2. PENGELOMPOKAN ALAT UKUR
2
8
TIK : Dalam pengelompokan ini untuk memudahkan pengaturan pemakaian, penyimpanan dan
keperluan-keperluan lain. Memudahkan dalam tertib administrasi.
Alat ukur dikelompokan menjadi beberapa macam antara lain:
Menurut macam arus:
a. Arus searah (DC)
b. Arus bolak balik (AC)
c. Arus AC dan DC
- Menurut Instrumen sebagai pengukur besaran:
a. Amper meter
b. Volt meter
c. Ohmmeter
d. Wattmeter
e. Frequensimeter
f. Cos Ø meter
a. Menurut Azas kerja
g. Analog : Kumparan putar, elektrodinamis, besi putar, induksi, elektrostatis dll
h. Digital : Mekanik, Elektronik.
b. Menurut Sifat penggunaan
i. Portable
j. Papan hubung (tetap)
k. Menurut kecermatan pemakaian
l. Instrumen presisi : biasa digunakan dalam laboratorium.
m. Instrumentasi praktis: kerja lapangan, reparasi,industri.
2. SISTEM DIMENSI SATUAN DAN STANDAR
2
8
TIK : Mahasiswa diharapkan tidak akan terjadi kekeliruan dalam menuliskan satuan dari
besaran dan diharapkan dengan mengetahui satuan maka tidak terjadi kesalahan
penggunaan rumus.
2.1. Satuan Sistem International
Alat ukur adalah alat yang dapat digunakan untuk mendapatkan/mengetahui hasil
perbandingan antara suatu besaran/ukuran yang ingin diketahui dengan standar yang dipakai.
Fungsi penting dari alat ukur baik alat ukur listrik maupun mekanik adalah untuk
mengetahui nilai yang telah ditentukan sebagai batasan layak atau tidaknya peralatan/jaringan
akan dioperasikan.
Dalam pengukuran kita membandingkan suatu besaran dengan besaran standar sehingga
dalam pengukuran perlu mengetahui besaran, satuan dan dimensi
- Besaran dasar: besaran yang tidak tergantung dengan besaran lain
- Besaran turunan: besaran yang diturunkan dari besaran dasar . jadi merupakan
kombinasi dari besaran dasar.
- Besaran pelengkap: besaran yang diperlukan untuk membentuk besaran turunan.
Tabel-1 Besaran Dasar Dan Satuan International
Tabel-2 Perkalian Faktor 10 (satuan SI)
2
8
2.2. Analisa Dimensi
Besaran-besaran mekanis dapat dinyatakan dalam tiga bentuk besaran : massa, panjang, dan
waktu. Besaran-besaran lainnya merupakan kombinasi antara tiga besaran satuan mekanis dasar
sebagai contoh adalah:
[V] = [L] / [T] Dalam persamaan ini:
V menyatakan dimensi kecepatan
L menyatakan dimensi panjang
T menyatakan dimensi waktu
Pernyataan diatas menyatakan bahwa kecepatan dapat dihasilkan dari pembagian panjang dan
jarak terhadap waktu.
Besaran muatan listrik [Q] dapat dinyatakan sebagai besaran dimensi dasar ke empat dari urutan
[M], [L], [T]. dari keempat dimensi dasar diatas maka dapat dikembangkan dimensi besaran
lainnya sebagai contoh:
- Gaya [F] = [M] x [percepatan]
= [M] x [L] / [T]
2

2
8
= [M L T
-2
] dengan satuan Kg.m/detik
2
atau Newton.
-Kerja/usaha [W] = [F] x [jarak]
= [MLT
-2
] x [L]
= [ML
2
T
-2
] dengan satuan Kg m
2
/ dt
2
atau Joule atau Nm.
- Arus [I] = [Q]/[T]
= [QT
-1
] dengan satuan Coulomb/detik atau Amper.
-Perbedaan Potensial [V] = [W]/[Q]
= [ML
2
T
-2
]/[Q]
= [ML
2
T
-2
Q
-1
] dengan satuan Kg m
2
/dt
2
Coulomb atau Volt.
Tabel-3. Besaran Dasar Dan Satuan Internasional
Latihan soal
1. Tahanan [R] = [V]/[I]
2
8
2. Daya [P] = [W]/[T]
3. Flux magnetic [Φ] = [V] x [T]
4. Induktansi = [V]/[I]/[T]
5. Gaya Pemagnitan [H] = [I]/[L]
6. Induktansi [C] = [Q]/[V]
2.3. Besaran-besaran Listrik Standar
Amper : adalah besarnya arus listrik dalam tiap kawat lurus dengan panjang tak terbatas serta
sejajar pada jarak pisah satu meter, dimana timbul gaya sebesar 2x10
-7
Newton pada
setiap meter kawat yang terletak pada ruang vakum.
Volt : Perbedaan potensial listrik antara dua titik dari suatu kawat penghantar yang dialiri arus
konstan sebesar satu amper, jika daya yang didisipasikan antara dua buah titik tersebut
sebesar satu watt.
Ohm : Tahanan listrik antara dua buah titik dari suatu penghantar dimana terdapat perbedaan
potensial yang konstan sebesar satu Volt dan besar arus yang mengalir dalam penghantar
tersebut sebesar satu amper, dimana penghantar tersebut tidak berada dalam gaya gerak
listrik (ggl).
Coulomb : Adalah besaran muatan listrik yang dipindahkan selama satu detik oleh arus sebesar
satu amper.
Farrad : Kapasitansi dari suatu kapasitor yang terbuat dari dua buah plat, diantara plat muncul
beda tegangan satu volt jika ia dimuati muatan listrik sebesar satu coulomb.
Weber : Adalah fluximagnetig yang terbentuk dalam sebuah kumparan dengan satu lilitan yang
menghasilkan gaya gerak listrik dalam kumparan tersebut sebesar satu volt dengan laju
penurunan fluksi menuju nol secara uniform dalam satu detik.
Tesla : Adalah kerapatan fluksi dari fluksi magnet yang besarnya satu weber setiap luasan dalam
m
2
(1 Wb/m
2
).
Tabel-4. Konstanta Fisik
2
8
Besaran Simbol Nilai Unit Mks Unit Cgs
Kecepatan cahaya
Muatan electron
Electron volt
Ekivalen dengan
Ekivalen dengan
Ekivalen dengan
Konstanta Plank
©
-1
(hc/2e)
Bilangan Avogadro
Satuan masa atom
Masa diam electron
Masa diam proton
Perbandinan masa
Proton dengan
Masa elektron
Perbandingan
Muatan elektron
Dengan masanya
c
e
….
….
….
….
h
h/e
N
Amu
m
e

m
e

*
m
p
m
p
*
M
p
/m
e
e/m
e
2,9979250
1,6021917
4,803250
1,602197
2,41717659
8,065465
1,160485
6,626196
4,135708
6,022169
1,660531
9,109558
5,485930
1,672614
1,00727661
1,836.109
1,7588028
10
8
m/sec
10
19 −
C
….
10
19 −
J
10
14 −
Hz
10
5
m
-1
10
4
K
10
-34
J-sec
10
-15
J-sec
10
26
kmole
-1
10
-27
Kg
10
-31
Kg
10
-4
amu
10
-27
Kg
amu
10
11
c/kg
10
10
cm/sec
10
20 −
emu
10
10 −
esu
10
12 −
erg
10
3
cm
1 −
10
-27
erg-sec
10
-7
erg-sec/emu
10
23
mole
-1
10
-24
g
10
-28
g
10
-4
amu
10
-24
g
amu
10
7
emu/g
2
8
Kuantum fluksi
Magnet
Konstanta Boltzmann
Konstanta Gravitasi
5,27275
9
k
k/e
….
2,067854
1,380662
8,617087
6,6732
10
-15
T/-m
2
10
-23
J/K
10
-5
V/K
10
-11
N-m2/kg2
10
17
esu/g
10
-7
G-cm
2
10-
16
erg/K
10
-8
dyn-cm2/kg2
3. KESALAHAN DALAM PENGUKURAN
TIK : Dapat menyebutkan dan menjelaskan jenis jenis kesalahan dalam alat ukur dan pengukuran.
3.1. Jenis-Jenis Kesalahan:
a. Kesalahan-kesalahan umum ( gross-error ) diakibatkan oleh kesalahan manusia dalam
pembacaan alat ukur, setting alat ukur, salah menaksir dan alat yang tidak sesuai.
b. Kesalahan-kesalahan sistematis ( systematic-error ) adanya kekurangan dalam instrument dan
lingkungan.
c. Kesalahan-kesalahan yang tidak disengaja/acak ( Random-error) penyebab kesalahan ini tidak
dapat secara langsung diketahui. Kesalahan ini bisa disebabkan oleh perubahan parameter yang
mendadak.
Kesalahan pada alat ukur umumnya dinyatakan dalam klas ketelitian yang dinyatakan dengan klas
0,1, 0,5, 1.0 dst . Alat ukur dinyatakan mempunyai ketelitian klas 0.1 bila kesalahan maksimum
ialah ± 1 % dari skala penuh efektif.
2
8
Tergantung dari besar kecilnya ketelitian tersebut alat-alat ukur dibagi menjadi:
- Alat cermat atau presisi, alat ukur dengan ketelitian tinggi (< 0,5%).
- Alat kerja, alat ukur dengan ketelitian menengah (± 1- 2%)
- Alat ukur kasar, alat ukur dengan ketelitian rendah (≥ 3%)
Tabel-5. Klas Ketelitian Alat Ukur Dan Penggunaanya
3.2. Perhitungan Kesalahan Sistematis
3.2.1. Penjumlahan Dua Komponen Atau Lebih
Misal dalam penghitungan hasil akhir adalah Y, dimana hasil akhir tersebut merupakan jumlah
dari hasil pengukuran yang terdiri dari tiga hasil pengukuran U, V, dan W yang masing masing
mempunyai kesalahan ± δU, ±δV, ±δW
Hasil Nominalnya Y = U+V+W,
harga maksimum yang mungkin adalah: Y = U+δU+V+δV+W+δW
dan harga minimumnya adalah Y = U-δU+V-δV+W-δW ; sehingga kesalahan Y
δY = ± (δU+δV+δW) ; Kesalahan ini disebut kesalahan mutlak.
δY/Y = ± (δU+δV+δW)/ (U+V+W) x 100% ; Kesalahan ini disebut kesalahan relatif.
= ± (δU/Y + δV/Y + δW/Y ) x 100% ; Σ masing masing komponen.
Contoh:
2
8
Dikatahui:
R1= 1000 Ω ± 5%, R2= 2K2 Ω ± 10% , R3= 3K3 Ω ± 5%
Tentukan : a. kesalahan mutlak R
T
b. Kesalahn relative R
T

a. Kesalahan mutlak/absolud R
T
; ΔR = ± ( ΔR1 + ΔR2 + ΔR3 )
= ± ( 5% x 1000 + 10% x 2200 + 5% x 3300 )
= ± ( 50 + 220 + 165 )
= ± 435 Ω
b. Kesalahan relative R
T ;
ΔR/R = ± (435 / 6500 ) x 100 % = ± 6,7 %
Latihan:
1. Ampermeter A
1
= 50 mA ± 5% (BU : 50 mA)
A
2
= 100 mA ± 5% (BU : 100 mA)
Hitung arus total beserta kesalahan mutlak dan relatifnya?
2. Voltmeter V
1
= 100 volt ± 5% (BU : 100 V)
V
2
= 200 volt ± 10% (BU : 200 V)
Hitung tegangan sumber beserta kesalahannya ?
3.2.2. Pengurangan
Y= U – V
Y
mak
= ( U + ΔU ) – ( V – ΔV )
= ( U
mak
- V
min
)
Y
min
= ( U – ΔU ) – ( V + ΔV )
2
8
= U
min
– V
mak
Maka : ΔY = ± ( ΔU + ΔV )
CONTOH
1). A
1
: 100 mA ± 5% (BU : 100 mA0
A
2
: 50 mA ± 5%% (BU : 50 mA)
Hitung ∆I & ∆I rel.
,
_

¸
¸ ∆
I
I
Jawab: I = I
1
– I
2
∴∆I = ± (∆I
1
+ ∆I
2
)
= ± (5% x 100 mA + 5% x 50 mA)
= ± (5 + 2,5) = ± 7,5 mA
% 15 % 100
50
5 , 7
) 50 100 (
5 , 7
· ·

t ·

x
mA
mA
mA
mA
I
I
2). V
5
terbaca 9 volt dan V
1
= 5 volt
V
5
dengan batas ukur 12 volt klas 2%
V
1
dengan batas ukur 12 volt klas 1%
Tentukan kesalahan mutlak dengan relative V
2
nya.
Jawab:
Kesalahan mutlak ∆V
2
= ± (∆V
3
+ ∆V
1
)
= ± (2% x 12 v + 1% x 12v)
= ± 0,36 volt
Kesalahan relative
% 9 % 100
5 , 9
36 , 0
2
2
· t ·

x
V
V
2
8
3.2.3 Perkalian
Y = U V dimana : U ± ΔU, V ± ΔV
Y
mak
= Y + ΔY = ( U + ΔU ) ( V + ΔV )
= UV + UΔV +VΔU + Δ U Δ V diabaikan
Y
min
= (U – ΔU ) ( V – ΔV)
= UV – UΔV – VΔU + Δ U Δ V diabaikan
Jadi ΔY = ± ( UΔV + VΔU)
ΔY/Y = ± ( ΔU/U + ΔV/V) x 100%
= ± ( ΔU relative + ΔV relative )
CONTOH
Ampermeter BU : 10 mA, klas 5%, terbaca 10 mA
Voltmeter BU : 100 V, klas 5%; terbaca 100 volt.
Dit: a). Absolut error dayanya
b). Relatif error dayanya
Jawab:
watt x VT P 1 10 . 10 100
3
· · ·

a) ∆P = ±(V∆I + I∆V)
= ± (100 volt x 5% x 10.10
-3
+ 10.10
-3
A x 5% x 100V)
= ± (0,05 watt + 0,05 W) = ± 0,1 watt
b)
% 10 % 100
1 , 0
· t ·

I P
P
2
8
3.2.4.PEMBAGIAN
V
U U
V
U
Y
∆ t ∆
∆ t
→ ·

,
_

¸
¸ ∆
+

t ·

,
_

¸
¸ ∆
+

t · ∆
V
V
U
U
Y
Y
V
V U
V
U
Y
2
3.2.5.HUBUNGAN PARALLEL
Rumus umum :
Y
dy
X
X
Z
Z ∆ + ∆ · ∆
7 δ
δ
δ
Dimana:
z : f (x, y)
∆z : kesalahan mutlak z
∆x : kesalahan mutlak x
∆y : kesalahan mutlak y
δz/δy: diferesiasi parsial terhadap x yang dianggap konstan
δy/δz : diferesiasi parsial terhadap y yang dianggap konstan
4. ALAT UKUR
TIK: -Mahasiswa dapat menyebut bagian bagian dari kumparan putar.
-Mahasiswa dapat menjelaskan cara kerja kumparan putar.
2
8
4.1. Alat Ukur Azas Kumparan Putar
4.1.1. Prinsip Kerja
Yang dimaksud alat ukur kumparan putar adalah alat ukur yang bekerja atas dasar prinsip dari
adanya kumparan listrik yang ditempatkan pada beban magnet yang berasal dari suatu magnet
permanent .
Didalam alat ukur kumparan putar terdapat magnet permanent, yang mempunyai kutub-kutub
diantaranya ditempatkan disuatu silinder inti besi yang menyebabkan dicelah udaranya terbentuk
medan magnet yang rata, masuk kekutub-kutub tersebut kedalam silinder secara radial sesuai
dengan arah panah pada gambar. Dicelah udara ditempatkan kumparan putar yang berputar
melalui sumbu tiang poros.
Bila arus tidak diketahui besarnya mengalir melalui kumparan tersebut, suatu gaya
elektromagnetik f yang mempunyai arah tertentu akan dikenakan pada kumparan putar sebagai
hasil interaksi antara arus dan medan magnet. Arah gaya f ditentukan menurut hukum tangan kiri
Fleming, momen gerak ini diimbangi dengan momen lawan dari pegas dan posisi seimbang statis
di tunjukan oleh jarum pada skala ukurnya.
Gambar-1. Alat ukur kumparan putar Gambar-2. Prinsip kerja meter
Keterangan gambar-1:
1. Magnet tetap 2. Kutub sepatu 3. Inti besi lunak 4. Kumparan putar 5. Pegas spiral
6. Jarum petunjuk 7. Rangka kumparan 8. Tiang poros.
prinsip yang mengatur cara kerja diterapkan secara sama terhadap jenis yang lebih baru yakni
mekanisme kumparan putar magnet permanen (PMMC, Permanent Magnet Moving-coil
Mechanicm).
2
8
F= BNIl (Newton)
T
D
= 2 BNI l d/2 (Newtonmeter) => Deflection Torque (torsi simpangan)
= 2 BNI l d = BNIA
T
D
= BNIA (Nm).
Persamaan diatas menunjukan bahwa torsi yang dibangkitkan berbanding lurus dengan kerapatan
fluksi medan di dalam mana kumparan berputar, arus dalam kumparan dan konstanta-konstanta
kumparan (luas dan jumlah lilitan). Karena kerapatan fluksi dan luas kumparan merupakan
parameter-parameter yang tetap bagi sebuah instrument, torsi yang dibangkitkan merupakan
indikasi langsung dari arus di dalam kumparan. Torsi ini menyebabkan defleksi (penyimpangan)
jarum ke keadaan tetap ( Steady state) yang dimana diimbangi oleh torsi pegas pengontrol.
Tc = k θ dimana k= konstanta pegas
θ= sudut rotasi
Pada kondisi seimbang ( jarum berhenti => θ
0
) Tc = T
D

K θ
0
= BNIA
θ
0
= BNIA/k => BNA = Konstan
Jika BNA/k = k i
Jadi θ
0
= ki I skala linier θ
0
≈ I
Persamaan tersebut juga menunjukan bahwa perencanaan hanya dapat mengubah nilai torsi
pengatur dan jumlah lilitan kumparan guna mengukur suatu arus skala penuh. Umumnya luas
kumparan praktis adalah antara 0,5 sampai 2,5 cm
2
, sedang kerapatan fluksi pada instrument-
instrumen modern berkisar antara 1500-5000 gauss (0,15 – 0,5 Wb/m
2
). Jadi, tersedia pilihan
mekanisme yang banyak bagi perencanaaan yang memenuhi terhadap pemakaian dalam
pengukuran.
2
8
Contoh :
Milliamper azas kumparan putar menngunakan kumparan berbentuk bujur sangkar dengan sisi 1,5
Cm. Besar medan magnit dalam celah udara ( kerapatan fluk) = 0,04 Tesla. Banyaknya lilitan 100
a. Tentukan torsi simpangan/penggerak jika arus konstan pada kumparan sebesar
1mA?
b. Jika perderajad rotasi , pegas menghasilkan torsi control 7,5 x 10
-9
Nm. Hitung
sudut rotasi dari soal diatas ?
Jawab:
B = 0,04 T A = 1,5 x 1,5 Cm
2
= 2,25 10
-4
m
2
I = 1 mA = 1. 10-3 A N = 100 lilitan
a. T
D
= BNIA
= 0,04 x 100 x 1.10
-3
x 2,25 10
-4

= 9 10
-7
Nm.
b. 1
o
~ Tc = 7,3 10
-9
Nm ~ k = 7,5 10
-9
Nm/1
0

Tc = Td = k θ
0
~ θ
0
= T
D
/k = 9 10
-9
Nm / 7,510
-9
Nm/1
0

θ
0
= 9 10
-7
/ 7,5 10
-9
x 1
0
= 120
0
Latihan:
1. Voltmeter kumparan putar memberikan arus simpangan skala penuh I
fs
= 5 mA, N=100,
A= 3x 2,5 cm
2
. Torsi control untuk full scale deflection = 4,9 10-5 Nm . Hitung kerapatan
flux pada celah udara ?
2. Instrumen azas kumparan putar dipakai sebagai voltmeter mempunyai coil 150 belitan
dengan lebar 4 cm dan panjang 4 cm. Kerapatan flux pada celah 0,12 Wb/m2. Hitung torsi
simpangannya jika untuk membaca pada skala penuh 300V. Tahanan total instrument 200
kΩ.
2
8
3. Voltmeter kumparan putar menghasilkan simpangan skala penuh 44
0
, pegas pengontrol
menghasilkan torsi 18 10
-7
Nm/ 1
0
, Jika jumlah belitan 100, luas coil = 3x3 cm
2
dan
kerapan flux 0,08 wb/m
2
. Berapakah besarnya arus pada kumparan tersebut?
4.2. Mekanisme Kumparan Putar Magnet Permanen
Gerakan dasar kumparan putar magnet permanen yang di tunjukan pada gambar 1 sering disebut
gerak d’Arsonval. Desain ini memungkinkan magnet besar di dalam suatu ruang tertentu dan
digunakan bila diinginkan fluksi paling besar didalam senjang udara. Dia adalah instrument
dengan kebutuhan daya yang sangat rendah dan arus yang kecil yang penyimpangan skala penuh
(full scale deflection).

Gambar-3 Mekanisme Kumparan Putar Luar
Pengamatan terhadap gambar-3 menunjukan sebuah magnet permanen berbentuk sepatu kuda
dengan potongan-potongan kutub besi lunak yang menempel kepadanya. Antara potongan-
potongan tersebut terdapat sebuah silinder besi lunak yang berfungsi untuk menghasilkan medan
magnet yang serba sama (homogen) di dalam senjang udara antara kutub-kutub silinder.
Kumparan dililitkan pada sebuah kerangka logam ringan dan dipasang sedemikian hingga dapat
berputar secara bebas didalam senjang udara. Jarum penunjuk yang dipasang dibagian atas
kumparan bergerak sepanjang skala yang telah terbagi-bagi dan menunjukan defleksi sudut
kumparan dan berarti menunjukan arus melalui kumparan tersebut.
Bagian terbentuk Y adalah pengatur nol (zero adjust) dan dihubungkan di ujung pegas pengatur
depan (front control spring). Sebuah pasak eksentrik (accentricpin). Yang menembus kotak
instrument memegang bagian bebentuk Y tersebut sehingga posisi nol jarum dapat diatur dari luar.
Dua pegas konduktif (conductive sping) dari fosfor perunggu yang umumnya berkekuatan sama,
menghasilkan gaya terkalibrasi untuk melawan torsi kumparan putar. Prestasi pegas yang konstan
diperlukan untuk mempertahankan ketelitian instrument. Ketebalan pegas diperiksa secara presisi
2
8
untuk mencegah kondisi pegas yang permanen (elastisitasnya hilang). Arus disalurkan dari dan ke
kumparan oleh pegas-pegas pengatur.
Gambar-4 perincian sebuah kumparan putar pada gerak magnet permanan
Keseluruhan system yang berputar dibuat setimbang statis oleh tiga buah beban keseimbangan
(balance wight) untuk semua posisi penyimpangan(defleksi) seperti ditunjukan gambar-3. Jarum,
pegas dan titik putar (pivot) dirakit ke peralatan kumparan dengan menggunakan alas titik putar
dan sebuah elemen kumparan yang dapat berputar disangga oleh “ jewel bearing”. Beberapa
system bantalan yang berbeda ditunjukan pada Gambar-5.
Gambar-5. Perincian bantalan-bantalan instrument
(a) bantalan jewel berbentuk V
(b) bantalan jewel tipe “spring back”
2
8
Jewel berbentuk V seperti ditunjukan pada gambar 5(a) dipakai secara umum dalam bantalan-
bantalan intrumen. Titik putar, bantalan dalam lubang di dalam beban mekanis dan getaran yang
aklan dialami oleh instumen. Jari-jari lubang di dalam jewel sedikit lebih besar dari jari-jari titik
putar, sehingga permukaanya mengalami kontak berbentuk lingkaran hanya beberapa micron
jauhnya. Desain jewel V dalam gambar-5 (a) mempunyai gesekan yang paling kecil diantara
semua bantalan praktis. Walaupun elemen instrument yang berputar dirancang seringan mungkin,
luas permukaan kontak antara titik putar dan jewel menghasilkan tegangan dalam orde 10 kg/ mm
2
. Jika berat elemen yang berputer masih bertambah lagi, permukaan yang kontaqk tidak akan
bertambah secara sebanding sehingga regangan pun lebih besar. Regangan yang dihasilkan oleh
percepatan yang relatif sedang (seperti suara berisik) dapat berakibat merusak titik putar.
Instrumen-instrumen yang dilindungi secara khusus (dibuat kokoh) menggunakan bantalan jewel
dengan pegas penahan (incobloc) seperti ditunjukan pada gambar-5(b). Dia ditempatkan pada
posisi normalnya oleh pegas dan bebas bergerak secara aksial bila mekanisme ini makin sering
mengalami goncangan.
Tanda-tanda skala pada instrument dasar PMMC biasanya terpusah secara linier sebab torsi
berbanding langsung dengan arus kumparan. Berarti instrument dasar PMMC merupakan
peralatan DC yang pembacaannya linier. Gaya yang dibutuhkan oleh gerak d’Arsonval secara
menakjubkan adalah kecil nilainya adalah 25 mikron Watt. Umumnya ketelitian instrument ini
adalah oerde 2 - 5% pembacaan scala penuh.
Jika arus bolak balik frekuensi rendah dialirkan ke kumparan putar, penyimpangan jarum akan
naik selama setengah periode berikutnya. Tanda frekuensi jala-jala (60Hz) dan yang lebih besar,
jarum tidak mampu mengikuti pertukaran arah yang cepat sehingga akan bergetar ringan sekitar
harga nol. Dengan demikian, instrument PMMC tidak sesuai untuk pengukuran arus bolak-balik,
kecuali arus tersebut disearahkan sebelum memasukannya ke kumparan.
Sistem magnetic didalam mana magnetnya sendiri berfungsi sebagai inti (core) magnet. Magnet-
magnet ini memiliki keuntungan yang nyata yaitu relative tidak terpengaruh oleh medan-medan
magnet luar, meniadakan efek shunt magnetic dalam kontruksi panel baja sehingga beberapa alat
ukur yang bekerja berdekatan dapat saling mempengaruhi pembacaan masing-masing tanpa
adanya gangguan. Kebutuhan akan pelindung magnetic (shielding) dalam bentuk selubung besi,
juga ditiadakan dalam konstuksi magnet inti. Perincian dari alat ukur magnet ini dengan pelindung
sendiri ditunjukan dalam gambar-6.
2
8
Gambar-6 Detail konstruksi dari mekanisme kumparan putar magnet inti
(a) Magnet dengan sepatu kutubnya dikelilingi oleh yoke
(b) Gerak yang telah dirakit
(c) Pandangan potongan yoke, inti dan sepatu kutub
Pelindung yang dimiliki sendiri menjadikan mekanisme magnet ini sangat bermanfaat terutama
dalam pemakaian pesawat udara dan ruang angkasa, tempat sejumlah instrument harus dipasang
saling berdekatan satu sama lain. Sebuah contoh cara pemasangan ini ditemukan pada indicator
jarum silang (cross printer) sebanyak lima. Mekanisme berada di dalam satu selumbung untuk
membentuk satu-kesatuan peragaan. Jelas, peniadaan selubung-selubung besi dan penurunan
beban yang sesuai merupakan keuntungan besar bagi instrument-instrumen pesawat udara dan
ruang angkasa.
Laihan soal
1. Sebutkan bagian – bagian dari kumparan putar. Gambar dan beri keterangan !
2. Jelaskan cara kerja dari kumparan putar!
5. AMPERMETER DAN VOLTMETER DC
5.1. Ampermeter.
2
8
Gambar-7a. Gulungan Kumparan Gambar-7b Gulungan kumparan
Setelah dialiri arus
Gerakan dasar dari sebuah ampermeter arus searah adalah galvanometer. Karena gulungan
kmparan dari sebuah gerakan dasar adalah kecil dan ringan seperti gambar-7a kemampuan
kumparan dialiri arus besarnya I
fs
maka juga mampu diberi tegangan sebesar Vfs besarnya V
fs
= I
fs
x R
d
seperti gambar-7b, bila yang akan diukur adalah arus besar maka diperlukan sebuah tahanan
untuk mengalirkan arus tersebut, tahanan tersebut disebut tahanan Shunt terlihat pada gambar-7c.

Gambar-7c Diagram rangkaian perluasan pada Ammeter
Tahanan shunt dapat ditentukan dengan menerapkan analisa rangkaian konvensional terhadap
gambar-7c. Karena tahanan shunt parallel terhadap alat ukur (ampermeter). Tahanan shunt yang
digunakan dalam sebuah alat ukur bisa terbuat dari sebuah kawat tahanan bertemperatur konstan
yang ditempatkan didalam instrument atau sebuah shunt luar (manganin atau konstantan) yang
memiliki tahanan yang sangat rendah. Tahanan shunt ini terdiri dari lempengan-lempengan bahan
resistif yang disusun berjarak sama dan masing-masing ujungnya dilas kesebuah batang tembaga
besar dan berat. Bahan tahanan ini mempunyai koefisien temperature yang sangat rendah dan
memberikan efektermolistik yang kecil terhadap tembaga.shunt luar jenis ini biasanya digunakan
untuk mengukur arus yang sangat besar.
Cara penyambungan dalam penggunaan ammeter dengan cara diseri dengan beban. Seperti yang
diperlihatkan pada gambar-7d.
2
8
Gambar-7d Cara pemasanagan alat Ammeter
5.2. Voltmeter.
Penambahan sebuah tahanan seri atau pengali(multiplier), mengubah gerakan d’Arsonval menjadi
sebuah voltmeter arus searah, seperti ditunjukan pada gambar-5a. Tahanan pengali membatasi arus
searah mengukur beda potensial antara dua titik dalam sebuah rangkaian arus searah dan dengan
demikian dihubungkan parallel terhadap sebuah sumber tegangan atau komponen rangkaian.
Biasanya terminal terminal alat ukur ini diberi tanda positif dan negative karena polaritas harus
ditentukan.
Nilai tahanan pengali yang diperlukan akan memperbesar batas ukur tegangan.
Gambar-7e. rangkaian tahanan pengali pada voltmeter
.
Pada rangkaian gambar diatas :
V
fs
= I
fs
( Rs + Rd) besarnya Rs = (V
fs
– I
fs
Rd )/I
fs
= V
fs
/I
fs
-Rd
Keterangan: I
fs
= arus defleksi dari alat ukur
Rd = tahanan dalam alat ukur
Rs = tahanan pengali
V
fs
= Tegangan rangkaian maksimum dari instrument
Biasanya untuk batas ukur sedang sampai 500 volt pengali dipasang didalam kotak voltmeter.
Untuk tegangan yang lebih tinggi, pengali tersebut dipasang pada sepasang apitan kutub diluar
kotak untuk mencegah kelebihan panas dibagian dalam kotak voltmeter.
Untuk penggunaan voltmeter dengan cara memasang alat ukur secara parallel dengan beban,
seperti pada gambar-7f.
2
8
Gambar-6f. Cara penyambungan alat ukur voltmeter.
Contoh:
Alt ukur kumparan putar mempunyai kemampuan arus simpangan skala penuh (Ifs) 5mA dangan
tahanan dalam dari kumparan sebesar 0,5 Ω. Berapakah besarnya tahanan yang diperlukan dan
bagaimana cara menghubungkannya jika
a. Digunakan sebagai Ammeter dengan batas ukur 100 mA?
b. Digunakan sebagai Voltmeter dengan batas ukur 100 Volt ?
Jawab:
Ifs = 5 mA
Rd = 0,5 Ω
Jadi Vfs = Ifs x rd
= 5 mA x 0,5 Ω
= 2,5 mV
a. Sebagai ampermeter dengan BU 100 mA
R
sh
= V
sh
/ I
sh
= 2,5 mV/ (I-Ifs)
= 2,5 mV/ 95 mA = 0,026Ω
Atau Rsh = Rd/n-1
Rsh = 0,5 Ω / ((100/5))-1= 0,5Ω/19=0,026Ω
b. Sebagai Voltmeter dengan BU = 100V
Rs=Vrs/Ifs= (V-Vfs)/Ifs= (100V-2,5mV)/5ma
= 99997,5V/5mA=19999,5Ω
Atau
Rs=Rd(n-1)=0,5Ω(100V/2,5mV-1)=0,5(40000-1)
Rs=19999,5Ω
2
8
Latihan
1. Dari gambar dibawah, cari harga Rsh1 dan Rsh2 ?
2. Cari harga Rs1 dan Rs2?
5.3. Shunt Ayrton
Batas ukur sebuah ampermeter arus searah (dc) masih dapat diperbesar dengan menggunakan
sejumlah tahanan shunt yang dipilih melalui saklar rangkuman ( range switch ). Alat ukur seperti
ini disebut ampermeter rangkuman ganda (multirange ammeter ). Alat ini ditunjukan pada
gambar-9a. Rangkaian ini memiliki empat shunt R
a
,Rb,Rc

dan R
d
yang dihubungkan pararel
terhadap alat ukur agar menghasilkan empat belas ukur (rangkuman ) yang berbeda. Saklar S
adalah sebuah saklar posisi ganda dari jenis menyambung sebelum memutuskan (make-before-
break), sehingga alat pencatat tidak akan rusak, tidak terlindung dalam rangkaian tanpa sebuah
shunt sewaktu pengubahan batas ukur.
Shunt universal atau shunt Ayrton dalam gambar-8b mencegah kemungkinan pemakaian alat ukur
tanpa tahanan shunt. Keuntungan yang diperoleh adalah nilai tahanan total yang sedikit lebih
besar. Shunt aryton ini memberikan kemungkinan yang sangat baik untuk menerapkan teori dasar
rangkaian listrik dalam sebuah rangkaian praktis.
2
8
Gambar-9a diagram skema amperemeter rangkuman ganda sederhana
Gambar-9b shunt universal atau Aryton
Contoh :
Rancangan sebuah shunt aryton yang menghasilkan amperemeter dengan batas ukur (rangkuman)
1A, 5A dan 10A. gerakan d’Arsonval yang digunakan pada konfigurasi gambar-12 mempunyai
tahanan dalam R
m
= 50Ω dan defleksi penuh 1mA.
Penyelesaian :
Pada batas ukur 1A; R
a
+ R
b
+ R
c
pararel terhadap 50Ω. Karena gerakan alat ukur memerlukan 1
mA untuk defleksi penuh diperlukan shunt untuk mengalirkan arus sebesar 1A – 1mA = 999mA
Pada batas ukur 5A : R
a
+ R
b
pararel terhadap R
c
+ R
m
(50Ω). Dalam hal ini arus 1 mA akan
mengalir melalui R
m
+ R
c
dan 4999 mA melalui R
a
+ R
b
sehingga di dapat :
Pada batas ukur 10 A : dalam posisi ini R
a
menjadi shunt dan R
b
+ R
c
seri dengan RM. Arus ,
melalui R
m
adalah 1mA dan melalui shunt (R
a
) adalah sisanya sebesar 9999mA. Dengan
mengulangi persamaan sebelumnya, diperoleh :
Dengan penyelesaian ketiga persamaan simultan ini (I,II dan III) diperoleh :
4,999 x (1) : 4,999 R
a
+ 4,999 R
b
+ 4,999 R
c
= 250,2
(II) : 4,999 R
a
+ 4,999 R
b
– R
c
= 50
Dengan mengurangkan (II) dari (I) diperoleh :
5,000 R
c
= 200,2
2
8
R
c
= 0,04004 Ω
Dengan cara sama,
9,999 x (I) : 9,999 R
a
+ 9,999 R
b
+ 9,999 R
c
= 500,45
(III) : 9,999R
a
– R
b
– R
c
= 50
Dengan kemungkinan (III) dari (1),diperoleh :
10,000 R
b
+ 10,000 R
c
450,45
Substitusikan harga R
c
yang telah diperoleh ke dalam persamaan ini memberikan :
10,000 R
b
= 450,45 – 400,4
R
b
= 0,005005Ω
R
a =
0,005005Ω
Perhitungan ini menunjukan bahwa untuk arus besar nilai tahanan shunt bias menjadi lebih
keci.
Ampermeter arus searah secara komersil tersedia dalam berbagai rangkuman dari 20 µA sampai
50A skala penuh dengan shunt yang berada di dalam alat ukur, dan sampai 50 A dengan shunt
luar.
Amperemeter presisi jam laboratorium dilengkapi dengan kart kalibrasi, sehingga pembacaan
untuk setiap kesalahan pada skala dapur . Tindakan pencegahan yang harus diperhatikan bila
menggunakan sebuah amperemeter adalah :
(a) Periksa polaritas yang tepat. Polaritas yang terbalik menyebabkan defleksi yang
berlawanan yang dapat merusak jarum penunjuk .
(b) Bila mengugunakan alat ukur rangkuman ganda, mula – mula gunakan rangkuman yang
trtinggi; kemudian turunkan sampai diperoleh defleksi yang sesungguhnya. Untuk
memperbesar ketelitian pengukuran, gunakan rangkuman yang akan menghasilkan
pembacaan terdekat ke skala penuh.
(c) Jangan sekali- sekali menghubungkan amperemeter ke sumber tegangan. Karena
tahanannya yang rendah akan mengalirkan arus yang tinggi sehingga merusak alat tersebut.
Sebuah ampermeter harus selalu dihubungkan seri terhadap beban yang mampu membatasi
arus.
2
8
5.4. Cara Menentukan Skala Pada Volt dan Amper Meter

Gambar-10 Grafik torsi simpagan terhadap arus
Cara Menentukan Skala  (V & A) meter
I
FS
= 5 mA menghasilkan T
D
 T
D5
T
D5
 θ sebesar θ5
Suatu missal θ
5
besarnya = 60
0
Gambar-10b Penunjuk jarum pada alat ukur
Maka arus sebesar:
1 mA  T
D1
 θ
1
= 12 .
5
60
0
·
2 mA  T
D2
 θ
2
= 2θ
1
= 24
0
3 mA  T
D3
 θ
3
= 3θ
1
= 36
0
2
8
4 mA  T
D4
 θ
4
= 4θ
1
= 48
0
5 mA  T
D5
 θ
5
= 5θ
1
= 60
0
Jika kita gunakan sebagai voltmeter maka skala tersebut kita gantikan dengan skala volt yang
besarnya : I yang mengalir x tahanan dalam alat ukur.
Suatu missal tahanan dalam sebesar 1 Ω maka skalanya:
Cara membaca Skala
Skala-skala tersebut (A & V) dapat diperluas batasnya yang perluasannya dengan cara menambah
tahanan seperti perhitungan sebelunya sehingga skala.
Contoh:BU : 50mA, Jarum menunjuk angka 2 Berarti yang
diukur : 2mA x
mA
mA
5
50
BU : 50V misal Jarum angka 2 Terbaca : 2mA x
mA
mA
5
50
5.5. REDAMAN DAN PERGERAKAN
TIK= Mahasiswa bisa mengamati proses redaman pada alat ukur secara manual
2
8
Peredam dari alat ukur azas kumparan putar ini dihasilkan dari kerangka kumparannya Eddy
current damper. (Peredam arus Eddy / arus pusar redaman elektromagnetis)
Sebelum ke redaman arus pusar kita ambilkan contoh sebuah redaman mekanis pada sebuah
timbangan tepung yang menggunakan pegas.
Redaman alat ukur kumparan putar:
Ggl induksi  E = φZN/60 P/A Volt
A
B
· φ
, 7 = Σ kumparan  1 = kerangka
n = Putaran (rpm)
P = Σ kutub, A = Σ cabang parallel belitan = 2  2 sisi
kerangka  I pusar =
R
E
Gambar-11 Proses Redaman
2
8
Gambar-12c. Gelombang dari suatu redaman
5.6. OHM Meter Kumparan Putar
contoh:
V = 1,5 volt ra + R
FIXED
+ R
vas
= R
d
= 100Ω
Cara menentukan skala:
2
8
o I  T
D
 θ
I
FS
 T
D
 θ
mak
 0Ω
HS di AB Rx mA
V
I
FS
→ Ω · →
1
]
1

¸

·

· 0 15
100
5 , 1
Missal 15 mA  θ = 60
0
∴Rx= 0Ω  I
FS
/ θ = 60
0
o
0
0
30
5
60
5 , 7
2
15
? ....
2 / 1
· ·
· ·

·
θ
mA mA I
Rx
skala

Rx = Rd = 100Ω atau
Ω · Ω − Ω ·
− ·
100 100 200
5 , 7
5 , 1
Rd
mA
V
Rx
o Skala ∞  I = 0; θ = 0
∴Rx = ∞
,
_

¸
¸
·

· A
V
Rx
V
0
5 , 1
= terminal AB di open!!
o Bagaimana menentukan / meletakkan angka-angka 1Ω, 2Ω, 3Ω, 4Ω, 5Ω, 10Ω, 50Ω
dan sebagainya?
0 0
0 0
0
0 0
20 60
15
5
; 5
300
5 , 1
200
40 60
15
10
; 10
150
5 , 1
50
110
5 , 1
10
... 60
15
;
105
5 , 1
5
,.... 59 60
15
,.... 14
,...... 14
101
5 , 1
Rx Rd
1,5V
I 1
· · ·

· → Ω ·
· · ·

· → Ω ·
·

→ Ω ·
· · ·

· → Ω ·
· ·
·

·
+
· → Ω ·
x mA
V
I Rx
x mA
V
I Rx
V
I Rx
mA
V
I Rx
x
mA
V
Rx
θ
θ
θ
θ
θ
2
8
5. ALAT UKUR AZAS BESI PUTAR
TIK : Mahasiswa diharapakan bisa mengetahui cara keja alat ukur besi putar
Mahiswa bisa memahami diagram rankaian pada alaut ukur besi putar
Alat ukur besi putar dapat digolongkan kedalam dua jenis / tipe:
1. Tipe tarikan / attraction type.
2. Tipe tolakan / repulsion type.
6.1. Konstruksi & Prinsip Kerja
Gambar-12 Besi putar
• Pada jenis tarikan besi bergerak bersama-sama dengan poros yang berbentuk piringan dari besi
lunak. Piringan ini ditempatkan sedikit keluar dari belitan. Jika I (arus) mengalir kedalam
kumparan maka medan didalam kumparan akan lebih kuat dari medan magnit yang diluar
akibatnya piringan akan tertarik kedalam.
• Pada jenis tolakan terdapat dua buah batang / kepingan dari besi yang ditempatkan dalam
kumparan. Kepingan besi yang satu diikatkan pada bagian yang diam / kerangka kumparan
sedangkan besi yang satunya dihubungkan dengan bagian yang bergerak yaitu poros. Jika arus
(I) dialirkan pada kumparan maka akan timbul medan magnit. Kedua besi yaitu besi yang diam
dan besi yang dapat bergerak di magnitisir dengan arah yang sama, sehingga timbul kutub-
kutub yang sama pada kedua besi tersebut akibatnya terjadilah tolakan.
Adanya torsi dari alat ukur besi putar dapat diturunkan sebagaiberikut:
2
8
Arus yang mengalir dalam kumparan I. Induktansi kumpatan L dan simpangan yang terjadi ϑ.
Dengan bertambahnya arus sebesar da dan kumparannya sebesar dL.
Akibat penambahan arus dI mengakibatkan penambahan tegangan:
dt
dI
L
dt
dL
I LI
dt
d
e + · · ) (
Energy listrik yang diberikan:
dI IL dL I eI
dt
+ ·
2
Energy tersimpan berubah dari:
L I
2
2
1
ke
) ( ) (
2
1
2
dL L dI I + +
Maka besarnya perubahan energy tersimpan
L I dL L dI I
2 2
2
1
) ( ) (
2
1
− + +
Dengan mengabaikan bentuk-bentuk urutan yang lebih tinggi pada harga yang kecil maka
persamaan menjadi:
I L d I + ½ I
2
dL
Dari Prinsip konservasi energy:
Energy listrik yang diberikan : perubahan pada energy tersimpan + kerja mekanis
I
2
dL + I L d I = (I L d I + ½ I
2
dL) + Tda
Tda = ½ I
2
dL atau T = ½ I
2

da
dL
Dimana:
T = dalam Nm
I = dalam amper
L = dalam tleny
a = dalam radian
2
8
6.2. Ampermeter & Voltmeter Besi Putar
6.2.1. Sebagai Ampermeter
1 0 −
· ⇒
· n
R
Rsh
X
DC
L
Untuk AC X
L
= 2πfL = ωL
I
FS
x (R + j ω L) = I
sh
(Rsh + j ω Lsh)
Z
Zsh
L j R
Lsh j Rih
I
I
sh
FS
·
+
+
·
ω
ω
Perbandingan bagian dari arus tersebut akan tergantung dari frekuensi jika time-urutan dari
kumparan instrument dan kumparan shunt adalah sama yaitu:
Rih
Lsh
R
L
·
Factor pengganti (Perhiasan besar ukur)
1
1
1

→ + ·
+ ·
+
· ·
n
R
Rsh
Rih
R
N
I
I
I
I I
I
I
N
FS
ih
FS
sh FS
FS
Contoh soal.
1. Ampermeter azas besi putar dengan data
Z  R = q1 Ω dan L = 0,4 H dengan kemampuan arus simpangnya penuhnya 10 mA.
H x
L
R
Rsh
Lsh
Rsh
Rsh
Rsh
Rsh
R
N
90
4
4 , 0
1 , 0
9 / 1 , 0
90
1
9
1 , 0
1 , 0
9
1 , 0
1 10
1
· ·
·
Ω · ·
·
+ ·
+ ·
2
8
Akan diperluas batas ukurnya menjadi 100 mA.
Tentukan Zsh dimana frekuensi arus yang diukur 50 Hz.:
2. Berapakah besarnya tegangan kumparan alat tersebut (pada Z) dan besarnya tegangan
pada Zsh.
Jawab:
Volt mA
mA mA
mA I V
volt
mA x ma ma
x mA
JXL R I V V
sh Zih
FS FS z
257 , 1 ) 1257 ( 1
) 1256 1 ( 1 90 / 1256
90
1
90
90 / 4 . 50 . 2
90
1
90
257 , 1
) ( 1257 7 , 125 10 ) 6 , 125 1 , 0 ( 10
) 4 , 0 . 50 . 2 1 , 0 ( 10
) (
· Ω ·
Ω + · Ω
,
_

¸
¸
+ ·

,
_

¸
¸
+ · ·
·
Ω · · + ·
Ω + ·
+ · ·
π
π
6.2.2. Sebagai Voltmeter
Alat Ukur besi putar ini sederhana dan kuat dalam konsruksi, juga dapat pula dipakai alat yang
mempunyai sudut yang sangat besar. Gaya Elektromagnetis dapat dibangkitkan dengan berbagai
cara yaitu cara tolakan dan tarika.

Gambar -13 Rangkaian Impedansi pada alat ukur besi putar
Untuk pengukuran tegangan DC, induktansi dari kumparan tetap tidak berpengaruh. Untuk
memperbesar skala pada Voltmeter disini dapat dilakukan dengan menambah tahanan yang
dipasang seri dengan impedansi dari voltmeter.
2
8
Gambar-14. Gambar rangkaian impedansi dengan R seri
Jika batas ukur sekarang menjadi (n+1) kali batas ukur semula. Sedangkan untuk pengukuran
tegangan DC bila ditambahkan dengan kapasitor yang dipasang secara paralel dengan Rs untuk
menghilangkan pengaruh frekuensi harga C didapatkan persamaan C= 0,14 L/Rs
2
Dimana Rs= Tahanan yang dipasang seri dengan impedansi dalam dari voltmeter
L = Induktansi dari Voltmeter
C= Kapasitor yang dipasang paralel dengan Rs untuk menghilangkan frekuensi dari
jala-jala.
Gamabar-9c Rangkaian Penghilang frekuensi pada voltmeter
7. ALAT UKUR AZAS ELEKTRODINAMIK
2
8
Gambar-16 Diagaram rangkaian alat ukur Elektrodinamik
Alat ukur elektrodinamik adalah alat ukur moving coil namun medan magnitnya bukan dihasilkan
dari magnet permanent tetapi dari kumparan tetap.
Arus yang lewat kumparan tetap adalah I
1
dan dan pada kumparan bergerak adalah I
2
. Kuat medan
magnit dan juga kerapatan fluk sebanding dengan I
1
Jadi B = KI
1
Kita asumsikan bahwa moving coil berbentuk persegi panjang(dapat juga berbentuk lingkaran)
dengan ukuran l x b. Maka gaya pada masing-masing sisi dari kumparan yang mempunyai N
belitan adalah :
F = BNI
2
l Nuwton
Momen putar atau torsi simpangan pada kumparan adalah :
T
D
= BNI
1
lb = BNI
2
lb Nm
Jika KNlb = K
1
Maka T
D
= K
1
K
2
K
3
Dengan demikian Torsi simpangan sebanding dengan arus yang mengalir pada kumparan tetap dan
arus pada moving coil ( kumparan bergerak ).
Jika alat ukur kita gunakan pengontrol dengan pegas maka:
Tc = Kc θ
Saat seimbang Tc = TD
Kc θ = K
1
I
1
I
2
≈ K
2
= K
1
/Kc
2
8
Salah satu alat ukur arus bolak-balik yang paling penting adalah elektrodinamometer. Dia sering
digunaka sebagai voltmeter dan ampermeter akurat bukan hanya pada frekuensi jala-jala (power
line), tetapi juga dalam daerah frekuensi audio yang rendah. Dengan sedikit modifikasi,
elektrodinamometer dapat digunakan sebagai pengukur daya (wattmeter), pengukur VAR (VAR
meter, pengukur faktor daya (power factor meter) atau pengukur frekuensi (frequency meter).
Gerak elektrodinamometer dapat juga berfungsi sebagai alat ukur alih (transfer instrument), sebab
alat ini dapat dikalibrasi pada arus searah dan digunakan langsung pada arus bolak-balik,
menyatakan cara langsung yang pasti untuk menyamakan pengukuran tegangan dan arus (dc dan
ac )
Kalau gerak d’Arsonval menggunakan magnet permanen untuk menghasilkan medan magnet,
elektrodinamometer memanfaatkan arus yang akan diukur guna menghasilkan fluksi medan yang
diperlukan. Gambar-10 menunjukkan skema alat ini. Sebuah kumparan yang stasioner (diam)
dibuat menjadi dua bagian yang sama membentuk medan magnet didalam mana kumparan itu
berputar. Kedua kumparan ini dihubungkan seri ke kumparan yang stasioner (diam) dibuat
menjadi dua bagian yang sama membentuk medan magnet di dalam mana kumparan itu berputar.
Kedua kumparan ini dihubungkan seri kekumparan yang berputar dan dialiri oleh arus yang
diukur. Kumparan-kumparan yang diam ditempatkan agak berjahuan memberikan tempat pada
poros kumparan berputar. Kumparan berputar menggerakan jarum yang diimbangi oleh beban-
beban lawan. Perputaran jarum dikontrol oleh pegas-pegas pengatur sama halnya seperti
konstruksi d’Arsonval. Keseluruhan peralatan dibungkus oleh penutup yang telah dilaminasi guna
melindungi alat ukur dari medan magnet tersebar (stray magnetic field) yang dapat mempengaruhi
operasinya. Redaman dilengkapi dengan baling-baling alumunium yang bergerak didalam sektor
berbentuk rongga-rongga (chamber). Seluruh peralatan ini dibuat kuat dan kokoh guna
mempertahankan kesetabilan dimensi-dimensi mekanis dan mempertahankan kalibrasi yang tetap
sempurna. Pandangan potongan elektrodinamometer ditunjukan pada gambar-17
2
8
Gambar-17 Gambar maya sebuah elektrodinamometer
Bekerjanya alat ukur ini dapat dipahami dengan meninjau kembali persamaan torsi yang
dibangkitkan oleh sebuah kumparan yang tergantung didalam medan magnet.
Persamaan sebelumnya menyatakan
T = B x A x I x N
Keterangan : T = torsi
B = kerapatan fluksi
A = luas penampang
N = jumlah lilitan
Jika elektrodinamometer semata-mata direncanakan hanya untuk pemakaian arus searah, skla
kuadratnya mudah mati : yaitu tanda-tanda skala yang banyak pada nilai-nilai arus yang sangat
rendah, dan menyebar maju pada nilai arus yang frekuensinya lebih tinggi. Pada pengukuran arus
bolak-balik, torsi yang dibangkitkan setiap saat sebanding dengan kuadrat arus sesaat (I
2
). Nilai
dari I
2
selalu positif dan akibatnya dihasilkan torsi yang bergetar. Namun gerakan jarum tidak
dapat mengikuti perubahan torsi yang cepat sehingga dia menempati suatu posisi dalam mana torsi
rata-rata diimbangi oleh torsi pegas-pegas pengatur. Dengan demikian defleksi alat ukur
2
8
merupakan fungsi rata-rata kuadrat arus. Skala elektrodinamometer biasanya dikalibrasi dalam
akar kuadrat arus rata-rata, dan berarti alat ukur membaca nilai rms atau nilai efektif (effective
value) arus bolak-balik.
Sifat-sifat pengalihan elektrodinamometer menjadi jelas bila kita membandingkan nilai efektif arus
bolak-balik terhadap arus searah berdasrkan efek pemanasan atau pengalihan dayanya. Suatu arus
bolak-balik yang menghasilkan panas didalam sebuah tahanan yang besarnya diketahui pada laju
rata-rata yang sama dengan arus searah (I), menurut definisi akan mempunyai nilai sebesar I
amper. Laju rata-rata pengeluaran panas oleh arus searah sebesar I amper didalam sebuah tahanan
R adalah I
2
R watt. Laju rata-rata pengeluaran panas oleh arus bolak-balik I amper selama satu
periode dalam tahan R yang sama adalah. Berarti bedasarkan definisi dan selanjutnya arus I ini
adalah disebut nilai rms (root mean square) atau nillai efektif dari arus bolak-balik dan sering
disebut nilai arus searah ekivalen.
Jika elektrodinamometer dikalibrasi untuk arus satu amper dan pada skala diberi tanda yang
menyatan nilai satu amper meter ini, maka arus bolak-balik yang akan menyebabkan jarum
menyimpang ke tanda skala untuk satu amper dc tersebut harus memiliki nilai rms sebesar 1 A.
Dengan demikian kita dapat ”mengalihkan” pembacaan yang dihasilkan oleh arus searah ke nilai
bolak-balik yang sesuai dan karena itu menetapkan hubungan antara dc dan ac. Karena itu
elektrodinamometer menjadi sangat bermanfaat sebagai sebuah instrument kalibrasi dan sering
digunakan unutuk keperluan ini karena ketelitian yang dimilikinya.
Namun demikian, elektrodinamometer mempunyai kekurangan-kekurangan tertentu. Salah
satunya adalah konsumsi daya yang besar sebagai akibat langsung dari kontruksinya. Arus yang
diukur tidak hanya harus mengalir melalui kumparan putar tetapi juga harus menghasilkan fluksi
medan. Untuk memperoleh medan magnet yang cukup kuat diperlukan ggm(gaya gerak magnet)
yang tinggi dan untuk itu sumber harus menyalurkan arus dan daya yang tinggi. Berlawanan
dengan konsumsi daya yang besar, medan magnet jauh lebih lemah dari yang dihasilkan oleh
gerak d’Arsonval yang setaraf sebab tidak terdapat besi didalam rangkaian (seluruh lintasan fluksi
berisi udara). Beberapa alat ukur telah dirancang menggunakan baja laminasa khusus bagi
sebagian lintasan fluksi, tetapi penggunaan logam ini menimbulkan masalah kalibrasi oleh
frekuensi dan bentuk gelombang. Nilai khas dari nilai kerapatan fluksi elektrodinamometer adalah
dalam rangkuman sekitar 60 gauss. Ini memberikan perbandingan yang tidak menyenangkan
terhadap gerak d’Arsonval yang baik memiliki rapat fluksi tinggi (1000-4000 gauss). Rapat flusi
yang rendah dengan cepat mempengaruhi fluksi yang dibangkitkan dan dengan demikian
sensivitas alat ukur ini secara khasnya adalah sangat rendah. Penambahan sebuah tahanan seri
mengubah elektrodinamometermenjadi voltmeter. Yang juga dapat digunakan untuk tegangan
2
8
searah dan bolak-balik. Berdasarkan alas an yang telah disebutkan sebelumnya, sensivitas
voltmeter elektrodinamometer adalah rendah yakni sekitar 10 – 30 ohm per volt (terhadap 20Ω/V
pada alat ukur d’Arsonval). Reaktansi dan tahanan kumparan-kumparan juga bertambah terhadap
pertambahan frekuensi sehingga pemakaian voltmeter elektrodinamometer terbatas untuk daerah
frekuensi rendah. Namun alat ini sangat akurat untuk frekuensi jala-jala dank arena itu sering
digunakan sebagaij standar sekunder.
Gerak elektrodinamometer (juga tanpa shunt) dapat dianggap sebagai ampermeter, tetapi untuk
merencanakan sebuah kumparanputar yang dapat membaea arus lebih dari sekitar 100mA menjadi
agak sulit. Arus yang lebih besar ini harus dialirkan kekumparan putar melalui kawat-kawat besar,
yang akan kehilangan fleksibilitasnya. Sebuah shunt bila digunakan biasanya hanya ditempatkan
pararel terhadap kumparan yang berputar. Kemudian kumparan-kumparan yang diam dibuat dari
kawat besar yang dapat mengalirkan arus yang besar dan adalah layak untuk membangun
ampermeter sampai 20 A. nilai-nilai arus yang lebih besar biasanya diukur dengan menggunakan
sebuah transformator arus dan sebuah ampere-ampere standart 5A ac.
8. ALAT UKUR AZAS INDUKSI
TIK: Diharapkan mahasiswa mengetahui prinsip kerja alat induksi dan penggunaan alat ini dalam
kehidupan sehari-hari
Gambar-18 Alat ukur azas Induksi
Alat ukur induksi merupakan alat ukur yang momen geraknya ditibulkan oleh suatu fluks magnit
dan arus bolak-balik alat lazim untuk mengukur energi (KWh meter) walaupun ada juga untuk
arus maupun tegangan.
2
8
Arus energi mempunyai dua fluks magnet yang dihasilkan dari suatu arus mengalir pada kumparan
. Kedua magnet fluks tersebut memotong piringan. Piringan dipotong oleh dua fluks magnet Ф
1
dan Ф
2
pada titik P
1
dan P
2
. Fluks ke-1 Ф
1
menyebabkan arus pusar
I1
. Arus pusar ini melalui titik
P
1
dan P
2
interaksi yang terjadi antara I
1
dan Ф
1
menyebabkan momen gerak 1 ( Mg1) demikian
juga Ф2 menyebabkan momen arus pusar 2 (I2) yang melalui P1 dan interaksi arus pusar 2 (I
2
)
yang melalui P1 dan interaksi arus pusar 2 (I
2
) dan fluks 2 (Ф
2
) menyebabkan momen gerak 2
(Mg2).
Tegangan efektif yang terjadi : E
1
= W. Φ
Arus pusar ini berbeda sudut fasanya terhadap tegangan induksi sebesar α demikian juga di Φ2
dimana tegangan E
2
tertinggal 90
o
terhadap Ф
2
dan I
2
tertinggal α terhadap E
2
sudut fasanya antara
I
1
dan Ф
2
adalah 90
o
– β + α.
Mg
1
= K.Ф
1

2
. cos (90
o
– β + α.)
Beda sudut fasa antara I
2
dan Ф
2
adalah 90
o
+ β + α.
Resultan Kedua momen tersebut menyebabkan berputarnya piringan.
Mg = Mg
1
– Mg
2
Mg = K . Ф
1
. Ф
2
sin β cos α
Untuk mendapatkan momen bergerak yang besar diusahakan :
1. sin β = 1 maka beda fasa sudut antara Ф
1
dan Ф
2
adalah 90
o
2. cos α = 1 maka ada beda sudut fasa antara I dan E
Ada 2 macam tipe AUI, yaitu
8.1. Tipe Ferasis
2
8
Gambar-19 Gabar Alat Besi Putar Tipe Ferasis dan Diagram Vektor
Seperti dalam gambar terpasang 2 pasang kumparan. Pasangan kumparan pertama
dihubungkan seri dengan induktor besar. Kedua pasang kumparan tersebut dihubungkan
dengan tegangan yang sama. Arus yang mengalir pada kumparan pertama (I
R
) mempunyai
beda sudut fasa sebesar β terhadap arus kumparan kedua ( I
L
), harga β hampir mendekati 90
o
Fluksi yang timbul akan merupakan medan putar, medan putar ini akan menyebabkan arus
pusar pada motor. Dan interaksi medan putar dengan arus pusar akan mengakibatkan, momen
gerak yang memutar rotor-rotor tersebut akan berputar searah putaran medan putar seperti
KWh meter.
Tetapi bila rotor tersebut akan berhenti pada saat terjadi keseimbangan. Dimana :
V : Tegangan sumber
I : Arus yang melalui I seri dengan R
I
L
: Arus yang melalui kumparan 2 seri dihasilkan L
Ф
2 :
Fluksi magnetik yang menhasilkan I
R
Ф
L :
Fluksi magnetik yang menghasilkan I
L

E
R :
Tegangan induksi karena Ф
R

E
L :
Tegangan induksi karena Ф
L

I
ER :
Arus pusar karena E
R
I
ER :
Arus pusar karena E
L
Momen yang ditimbulkan adalah :
Mg = K . Ф
1 .
Ф
2
sin β cos α
Mg = K . I
R .
I
L
sin

β cos α
2
8
Harga IR dan IL sebanding dengan arus I dan juga sebanding dengan tegangan
V
Untuk Ampermeter
Mg = K . I
2
. sin β cos α
Momen lawan Me- S θ
θ = I
2
Sin β Cos α
Untuk Volt meter
Mg = KV
2
sin β Cos θ
θ = V
2
sin β Cos α
8.2. Tipe Shaded Pole
Gambar-20 Alat ukur Tipe Shaded Pole
2
8
Pada tipe ini memakai piringan satu kumparan yang menimbulkan fluks magnet agar sistem ini
terdapat 2 fluks yang mempunyai beda fasa tertentu, maka fluks utama tersebut dibagi dua dengan
membagi pada intinya.
Untuk membuat beda fasanya disalah satu dari bagian inti yang terbagi dua tersebut ditambah
cincin/ring tembaga keadaan ini disebut Shaded pole.
Laihan soal
1. Sebutkan bagian – bagian dari kumparan putar. Gambar dan beri keterangan !
2. Jelaskan cara kerja dari kumparan putar!
3. Jelaskan cara kerja alat ukur azas induksi
9. WATTMETER
Alat ukur ini untuk mengetahui besarnya daya nyata (daya aktif). Pada wattmeter terdapat
Spoel/belitan arus dan spoel/belitan tegangan, sehingga cara penyambungan watt pada umumnya
merupakan kombinasi cara penyambungan voltmeter dan ampere meter sebagaimana pada gambar
dibawah in:
2
8
Gambar-21 Pemasangan Wattmeter
Jenis lain dari wattmeter berdasarkan besarannya adalah
- kW-meter (kilo Wattmeter)
- MW-meter (mega wattmeter)
Alat untuk mengukur daya pada beban atau pada rangkaian daya itu adalah nilai rata-rata pada
beban atau pada rangkaian daya itu adalah nilai rata-rata dari perkalian yaitu nilai sesaat dari
tegangan dan arus pada beban atau rangkaian tersebut.
gambar -22 Rangkaian Wattmeter
Rangkaian potensial wattmeter dibuat bersifat resistif, sehingga arus dan tegangan pada
rangkaian tersebut satu fasa iV satu fasa dengan e karena
Zv = Rv
Wattmeter yang didasarkan atas instrumens elektrodinamik
Torsi pada alat ini adalah : Td = K dM/dθ .i
1
.i
2
Maka Td = K.dM/dθ.iV.i
2
8
Dimana iV = e/Zv = e/ Rv
iTd = KdM/dθ . e/Rv
10. KWH – Meter
Kwh-meter digunkan untuk mengukur energi arus bolak-balik, merupakan alt ukur yang sanat
penting, untuk Kwh yang diproduksi, disalurkan atau pun Kwh yang dipakai konsumen-konsumen
listrik. Alat ukur ini sangat populer dikalangan masyarakat umum, karena banyak terpasang pada
rumah-rumah penduduk (konsumen listrik) dan menentukan besar kecilnya rekening listrik si
pemakai.
Mengingat sangat pentingnya arti Kwh meter ini baik bagi PLN ataupun si pemakai, maka agr
diperhatikan benar cara penyambungan ala ukur ini.
Gambar penyabungan adalah sebagai berikut

Gambar -23 kwh meter
2
8
2
8
DAFTAR PUSTAKA
* Sapiie, Soedjana & Osamu Nishito 1976, Pengukuran Dan Alat-Alat Ukur Listrik. Jakarta
Pradanya Pratama.
* Sahat Pakpahan. Ir Intrumen Elektronik dan Pengukuran 1993. Jakarta

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->