P. 1
Pert 11 Analisis Hirarki I

Pert 11 Analisis Hirarki I

|Views: 73|Likes:
Published by Eko Nursubiyantoro

More info:

Published by: Eko Nursubiyantoro on Jun 10, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/09/2013

pdf

text

original

6/10/2013

Analisa Keputusan 122 47 2
Eko Nursubiyantoro – TI UPNVY

Pertemuan keke-11

The Analytical Hierarchy Process
Metoda Proses Analisis Hierarki dikembangkan oleh Dr, Thomas L, Saaty dari Wharton School of Bussiness pada tahan 1970 1970-an untuk mengorganisasikan informasi dan judgement dalam memilih alternatif yang paling disukai (Saaty, 1983), 1983), Metoda ini adalah sebuah kerangka pengambilan keputusan yang efektif atas persoalan yang kompleks, dengan : • menyederhanakan dan mempercepat proses pengambilan keputusan dalam memecahkan persoalan kedalam bagianbagian-bagiannya,

1

6/10/2013

• •

menata bagian atau variabel kedalam suatu susunan hirarki, memberi member i nilai numerik pada pertimbangan subjektif tentang pentingnya tiap variabel, mensintesis berbagai pertimbangan untuk menetapkan variabel yang mana yang memiliki prioritas paling tinggi, bertindak untuk mempengaruhi hasil pada situasi tersebut,

Keuntungan dari

AHP

Berbagai keuntungan AHP menurut Saaty (1993) 1993) adalah : 1. Kesatuan : AHP memberi satu model tunggal yang mudah dimengerti, luwes untuk aneka ragam persoalan terstruktur, 2. Kompleksitas : AHP memadukan rancangan berdasarkan sistem dalam memecahkan persoalan kompleks, 3. Saling ketergantungan : AHP dapat menangani saling ketergantungan elemenelemen-elemen dalam suatu sistem dan tidak memaksakan pemikiran linier,

2

6/10/2013

4. Penyusunan hierarki : AHP mencerminkan kecenderungan pikiran untuk memilah memilah-milah elemen elemenelemen suatu sistem dalam berbagai tingkat berlainan dan mengelompokkan unsur yang serupa dalam setiap tingkat, 5. Pengukuran : AHP memberi suatu skala untuk mengukur halhal -hal dan tanwujud suatu metode untuk menetapkan priioritas, 6. Konsistensi : AHP melacak konsistensi logis dari pertimbanganpertimbangan -pertimbangan yang digunakan dalam menetapkan berbagai prioritas, 7. Sintesis : AHP menuntun ke suatu taksiran menyeluruh tentang kebaikan setiap alternatif,

8, Tawar menawar : AHP mempertimbangkan prioritasprioritasprioritas relatif dari berbagai faktor sistem dan memungkinkan orang memilih alternatif terbaik berdasarkan fujuanfujuan-tujuan mereka, 9, Penilaian dan konsensus : AHP tak memaksakan konsensus tetapi mensintesis suatu hasil yang representatif dari berbagai penilaian yang berbedaberbeda-beda, 10 10, , Pengulangan proses : AHP memungkinkan orang memperhalus definisi mereka pada suatu persoalan dan memperbaiki pertimbangan dan pengertian mereka melatui pengulangan,

3

6/10/2013

PrinsipPrinsip -prinsip Dasar dalam Pemecahan Masalah dengan

AHP

l, Prinsip menyusun hirarki (Decomposition) yaitu memecah persoalan yang utuh menjadi unsurunsurnya, Pemecahan juga dilakukan terhadap unsurunsurnya sehingga didapatkan beberapa tingkatan dari persoalan tadi, karena alasan ini maka proses analisis dinamai hirarki (Hierarchy)

lI, Prinsip menentukan prioritas (Comparative Judgement) Membuat penilaian tentang kepentingan relatif dua elemen pada suatu tingkat tertentu dalam kaitannya dengan tingkat yang diatasnya, Penilaian ini merupakan inti dari AHP, karena akan berpengaruh terhadap prioritas elemen-elemen, Hasil dari penilaian ini akan ditempatkan dalam bentuk matriks yang dinamakan matriks pairwise comparison, Tahapan ahapan-tahapan dalam melakukan penilaian terhadap elemenelemen -elemen yang diperbandingkan : a. Elemen mana yang lebih (penting/disukai/ berpengaruh/lainnya) b, Berapa kali sering (penting/disukai/berpengaruh/lainnya)

4

6/10/2013

Intensitas Kepentingannya

Definisi

Penjelasan

1 3

Kedua elemen pentingnya

sama Dua elemen menyumbang sama besar pada sifat itu

Elemen yang satu sedikit Pengalaman dan pertimbangan lebih penting daripada sedikit menyokong satu elemen lainnya atas lainnya Elemen yang satu esensial Pengalaman dan pertimbangan atau sangat penting dengan kuat menyokong satu daripada elemen lainnya elemen atas elemen lainnya Satu elemen jelas lebih Satu elemen dengan kuat penting dari elemen lainnya disokong, dan dominannya telah terlihat dalam praktek

5

7

Intensitas Kepentingannya

Definisi

Penjelasan

9

Satu elemen mutlak lebih penting Bukti yang menyokong daripada elemen yang lainnya elemen yang satu atas lainnya memiliki tingkat penegasan tertinggi yang mungkin menguatkan, Nilai-nilai diantara dua Kompromi diperlukan pertimbangan yang berdekatan antara dua pertimbangan, Jika untuk aktivitas I mendapat satu angka bila dibandingkan dengan suatu aktivitas j, maka j mempunyai nilai kebalikannya bila dibandingkan dengan aktivitas i. Pengalaman dan pertimbangan dengan kuat menyokong satu elemen atas elemen lainnya

2, 4, 6, 8

5

6/10/2013

Dalam penilaian kepentingan relatif dua elemen berlaku aksioma reciprocal, artinya jika elemen i dinilai 3 kali lebih penting dibanding j, maka elemen j harus sama dengan 1/3 kali pentingnya dibanding elemen i, Disamping itu, perbandingan dua elemen yang sama akan menghasilkan angka 1, artinya sama penting, Dua elemen yang berlainan dapat saja dinilai sama penting, Jika terdapat m elemen, maka akan diperoleh matriks pairwise comparison berukuran m x n, Banyaknya penilaian yang diperlukan dalam menyusun matriks ini adalah n(nn(n-1)/ )/2 2 karena matriks reciprocal dan elemen-elemen diagonalnya sama dengan 1

lII II, , Prinsip Synthesis of Priority Dari setiap matriks pairwise comparison kemudian dicari nilai eigen vectornya untuk mendapatkan local priority, Karena matriks-matriks pairwise comparison terdapat pada setiap tingkat, maka untuk mendapatkan global priority harus dilakukan sintesis antara local priority, Pengurutan elemen-elemen menurut kepentingan relatif melalui prosedur sintesis dinamakan priority setting,

6

6/10/2013

lV, Prinsip Konsistensi Logis (Logical Consistency) Konsistensi memiliki dua makna, pertama adalah objekobjek yang serupa dapat dikelompokkan sesuai dengan keseragaman dan relevansi, Arti kedua adalah menyangkut tingkat hubungan antara objek-objek yang didasarkan pada kriteria tertentu

LangkahLangkah -langkah dasar dengan

AHP

1. Mendefinisikan masalah dan menetapkan tujuan, Bila AHP digunakan untuk memilih alternatif atau penyusunan prioritas alternatif, maka pada tahap ini dilakukan pengembangan alternatif, 2. Menyusun masalah dalam struktur hirarki, Setiap permasalahan yang kompleks dapat ditinjau dari sisi yang detail dan terstruktur, 3. Menyusun prioritas untuk tiap elemen masalah pada tingkat hirarki, Proses ini menghasilkan bobot elemen terhadap pencapaian tujuan, sehingga elemen dengan bobot tertinggi memiliki prioritas penanganan,

7

6/10/2013

Langkah pertama pada tahap ini adalah menyusun perbandingan berpasangan yang ditransformasikan dalam bentuk matriks, sehingga matriks ini disebut matriks perbandingan berpasangan, C merupakan kriteria dan memiliki n dibawahnya, yaitu A1 sampai dengan An, Nilai perbandingan elemen Ai terhadap elemen Aj dinyatakan dalam aij yang menyatakan hubungan seberapa jauh tingkat kepentingan Ai bila dibandingkan dengan Aj, Bila nilai aij diketahui, maka secara teoritis nilai aji adalah 1/aij, sedangkan dalam situasi i=j adalah mutlak 1, Nilai numerik yang dikenakan untuk perbandingan diatas diperoleh dari skala perbandingan yang dibuat oleh Saaty pada tabel diatas,

Untuk menyusun suatu matriks yang akan diolah datanya, langkah pertama yang dilakukan adalah menyatukan pendapat para responden melalui rata-rata geometrik yang secara sistematis ditulis sebagai berikut:

Aij = (Z1,Z2,Z3,…,Zn)1/n
Dimana aij menyatakan nilai rata-rata geometrik, Z1 menyatakan nilai perbandingan antar kriteria untuk responden ke 1, dan n menyatakan jumlah partisipan, Pendekatan yang dilakukan untuk memperoleh nilai bobot kriteria adalah dengan langkah-langkah berikut:

8

6/10/2013

a. Menyusun matriks perbandingan, C A1 A2 --An A1
a11 a21 --an1

A2
a12 a22 --an2

---------

An
a1n a2n --ann

b. Matriks perbandingan hasil normalisasi, C A1 A2 --a11 a12 --A1 a21 a22 --A2 --An
--an1 --an2 ---

An
a1n a2n --ann

4. Melakukan pengujian konsistensi terhadap perbandingan antar elemen yang didapatkan pada tiap tingkat hirarki, Konsistensi perbandingan ditinjau dari per matriks perbandingan dan keseluruhan hirarki untuk memastikan bahwa urutan prioritas yang dihasilkan didapatkan dari suatu rangkaian perbandingan yang masih berada dalam batasbatas preferensi yang logis, Setelah melakukan perhitungan bobot elemen, langkah selanjutnya adalah melakukan pengujian konsistensi matriks

9

6/10/2013

Untuk melakukan perhitungan ini diperlukan bantuan table Random Index (RI) yang nilainya untuk setiap ordo matriks dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Urutan Matrik

1
0,00

2
0,00

3
0,58

4
0,90

5
1,12

6
1,24

7
1,32

8
1,41

9
1,45

10
1,49

(RI)

Dengan tetap menggunakan matriks diatas, pendekatan yang digunakan dalam pengujian konsistensi matriks perbandingan adalah:

a. Melakukan perkalian antara bobot elemen dengan nilai awal matriks dan kemudian membagi jumlah perkalian bobot elemen dan nilai awal matriks dengan bobot untuk mendapatkan nilai eigen.
Tujuan Sub-1 Sub-2 Sub-3 Sub-1 (1) 0,13 0,26 0,52 Sub-2 (2) 0,11 0,21 0,84 Sub-3 (3) 0,17 0,17 0,66 Jumlah (4)=1+2+3 0,41 0,63 1,97 Bobot (W) (5)=(4)/3 0,13 0,21 0,66 Nilai Eigen (6)=(5)/(4) 3,15 3,05 3,06

b, Mencari nilai matriks, Nilai matriks merupakan nilai rata-rata dari nilai eigen yang didapatkan dari perhitungan sebelumnya,

10

6/10/2013

c, Mencari Consistency Index (CI),

d, Mencari Consistency Ratio (CR),

Suatu matriks perbandingan disebut konsisten jika nilai CR < 0,10,

5, Melakukan pengujian konsistensi hirarki, Pengujian ini bertujuan untuk menguji kekonsistensian perbandingan antara kriteria yang dilakukan untuk seluruh hirarki, Total CI dari suatu hirarki diperoleh dengan jalan melakukan pembobotan tiap CI dengan prioritas elemen yang berkaitan dengan faktorfaktor yang diperbandingkan, dan kemudian menjumlahkan seluruh hasilnya, Dasar dalam membagi konsistensi dari suatu level matriks hirarki adalah mengetahui konsistensi indeks (CI) dan vektor eigen dari suatu matriks perbandingan berpasangan pada tingkat hirarki tertentu,

11

6/10/2013

dimana, CR Hij = Rasio konsistensi hirarki dari matriks perbandingan berpasangan matriks I hirarki pada tingkat j yang dikatakan konsistensi jika nilainya <10%, CI Hij = Indeks konsistensi hirarki dari matriks perbandingan i pada tingkat j, RI Hij = Indeks random hirarki dari matriks perbandingan berpasangan i pada hirarki tingkat j, CIi,j = Indeks konsistensi dari matriks perbandingan berpasangan i pada hirarki tingkat j, EVi,j = Vektor eigen dari matriks perbandingan berpasangan i pada hirarki tingkat j yang berupa vektor garis,

CIi,j

+ 1

RIi,j RIi,j
+

= Indeks konsistensi dari matriks berpasangan yang dibawahi matriks tingkat j+1 j+1 berupa vektor kolom, = Indeks random dari matriks berpasangan i hirarki pada tingkat j, 1 = Indeks rasio dari orde matriks berpasangan yang dibawahi matriks tingkat j+1 j+1 berupa vektor kolom,

perbandingan i pada hirarki perbandingan perbandingan i pada hirarki

12

6/10/2013

Contoh Kasus : Perangkingan Requirement Sofware Umum
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. R1 : Sistem harus bisa melakukan pencetakan laporan ke kertas, R2 : Sistem harus menggunakan sistem login sebelum menjalankannya, R3 : Sistem harus mempunyai koneksi internet, R4 : Sistem harus bisa merestorasi dari kegagalan listrik, R5 : Sistem handal dalam menangani transaksi pengguna secara bersamaan, R6 : Sistem mampu melakukan backup database secara berkala, R7 : Sistem mampu bekerja 24 jam nonstop setiap hari, R8 : Sistem menyediakan bantuan bagi user dalam menjalankan menu software R9 : Sistem tersedia secara online di internet,

LangkahLangkah -langkah penyelesaian
1. 2. 3. 4. 5.

AHP

Membuat matrik perbandingan berpasangan Menormalisasikan matrik Menghitung Eigenvektor Menghitung rasio konsistensi (CR) Mengurutkan nilai Eigenvektor

13

6/10/2013

• Memasukkan kebutuhan yang akan diperingkatkan kedalam tabel matrik perbandingan dibaris pertama dan kolom pertama secara urut,
R1 R1 R2 R3 R4 R5 R6 R7 R8 R9 R2 R3 R4 R5 R6 R7 R8 R9

Langkah 1

Langkah 2
• Melakukan perbandingan berpasangan spesifikasi kebutuhan dalam matrik menurut sejumlah kriteria, • Kombinasi 9 requirement : 1–2 , 1–3, 1-4, 2-3, 2-4, 3-4, …, 8-9 • Untuk mengetahui jumlah pasangan 2 dari sejumlah spesifikasi kebutuhan bisa didapat dengan rumus : J = n(n-1)/2

Langkah 3
• Menjumlahkan nilai tiap kolom pada tabel

14

6/10/2013

R1 R1 R2 R3 R4 R5 R6 R7 R8 R9 1 4 7 6 3 9 3 2 2 37

R2 0,25 1 2 2 0,5 3 0,5 0,5 0,5

R3

R4

R5

R6

R7

R8 0,5 2 4 3 2 5 2 1 1 20,5

R9 0,5 2 4 3 2 5 2 1 1 20,5

0,1429 0,1667 0,3333 0,1111 0,3333 0,5 1 0,5 0,3333 2 0,3333 0,25 0,25 0,5 2 1 0,5 2 0,5 0,3333 0,3333 2 3 2 1 3 1 0,5 0,5 0,3333 0,5 0,5 0,3333 1 0,3333 0,2 0,2 2 3 2 1 3 1 0,5 0,5

10,25 5,3095

7,3333 13,333 3,5111 13,333

Langkah 4
R1 R1 R2 R3 R4 R5 R6 R7 R8 R9
0,027 0,1081 0,1892 0,1622 0,0811 0,2432 0,0811 0,0541 0,0541

• Menormalisasikan tabel matriks perbandingan
R2
0,0244 0,0976 0,1951 0,1951 0,0488 0,2927 0,0488 0,0488 0,0488

R3
0,0269 0,0942 0,1883 0,0942 0,0628 0,3767 0,0628 0,0471 0,0471

R4
0,0227 0,0682 0,2727 0,1364 0,0682 0,2727 0,0682 0,0455 0,0455

R5
0,025 0,15 0,225 0,15 0,075 0,225 0,075 0,0375 0,0375

R6
0,0316 0,0949 0,1424 0,1424 0,0949 0,2848 0,0949 0,057 0,057

R7
0,025 0,15 0,225 0,15 0,075 0,225 0,075 0,0375 0,0375

R8
0,0244 0,0976 0,1951 0,1463 0,0976 0,2439 0,0976 0,0488 0,0488

R9
0,0244 0,0976 0,1951 0,1463 0,0976 0,2439 0,0976 0,0488 0,0488

1

1

1

1

1

1

1

1

1

15

6/10/2013

Langkah 5
R1 R1 R2 R3 R4 R5 R6 R7 R8 R9
0,027 0,1081 0,1892 0,1622 0,0811 0,2432 0,0811 0,0541 0,0541

• Menghitung eigenvektor sbg, penjumlahan pada tiap barisnya
R2
0,0244 0,0976 0,1951 0,1951 0,0488 0,2927 0,0488 0,0488 0,0488

R3
0,0269 0,0942 0,1883 0,0942 0,0628 0,3767 0,0628 0,0471 0,0471

R4
0,0227 0,0682 0,2727 0,1364 0,0682 0,2727 0,0682 0,0455 0,0455

R5
0,025 0,15 0,225 0,15 0,075 0,225 0,075 0,0375 0,0375

R6
0,0316 0,0949 0,1424 0,1424 0,0949 0,2848 0,0949 0,057 0,057

R7
0,025 0,15 0,225 0,15 0,075 0,225 0,075 0,0375 0,0375

R8
0,0244 0,0976 0,1951 0,1463 0,0976 0,2439 0,0976 0,0488 0,0488

R9
0,0244 0,0976 0,1951 0,1463 0,0976 0,2439 0,0976 0,0488 0,0488

EV
0,0257 0,1065 0,2031 0,147 0,0779 0,2676 0,0779 0,0472 0,0472

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

Langkah 6

• Menghitung konstanta rasio (CR) • λmaksimum = 37 * 0,0257 + 10,25 * 0,1065 + 5,3095 * 0,2031 + 7,3333 * 0,147 + 13,3333 * 0,0779 + 3,5111 * 0,2676 + 13,3333 * 0,0779 + 20,5 * 0,0472 + 20,5 * 0,0472
λmaksimum = 9,1509

• CI = (9,1509-9) / (9-1)
CI = 0,0189

• Berdasarkan tabel Saaty, nilai RI untuk matrik perbandingan berordo 9x9 adalah 1,45 • CR = CI/RI = 0,0189/1,45
CR = 0,0130

• Karena nilai CR adalah 1,30% maka konsistensi jawaban perbandingan berpasangan masih dapat diterima

16

6/10/2013

Langkah 7
Peringkat 1 2 3 4 5 6 7 8 9

• Mengurutkan hasil pemeringkatan pada nilai eigenvektor secara menurun
Req R6 R3 R4 R2 R5 R7 R8 R9 R1 Eigenvektor 0,2676 0,2031 0,1470 0,1065 0,0779 0,0779 0,0472 0,0472 0,0257

17

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->