P. 1
Bappenans RPJMN

Bappenans RPJMN

|Views: 28|Likes:

More info:

Published by: Rano Kurnia Sinuraya on Jun 10, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/29/2014

pdf

text

original

EVALUASI SATU TAHUN

PELAKSANAAN RPJMN 2010–2014
Kement er i an Per enc anaan Pembangunan Nasi onal /
Badan Per enc anaan Pembangunan Nasi onal
Tahun 2011
ii Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014
iv Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014
vi Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014
Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014 vii
MENTERIPERENCANAANPEMBANGUNANNASIONAL/
KEPALABADANPERENCANAANPEMBANGUNANNASIONAL

KATAPENGANTAR

Assalamu’alaikumwarahmatullahiwabarakatuh,
Salamsejahterauntuksemua,

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010–
2014 sebagaimana telah ditetapkan melalui Peraturan Presiden RI
Nomor 5 Tahun 2010 merupakan penjabaran dari Visi, Misi, dan
Program Presiden dan Wakil Presiden terpilih yang berpedoman
padaRencanaPembangunanJangkaPanjangNasional(RPJPN)2005–
2025. RPJMN 2010–2014 adalah RPJMN keͲ2 dari 4 RPJMN yang
diamanatkandalamRPJPN2005–2025.
Tahun 2011 ini, pelaksanaan RPJMN 2010–2014 telah memasuki
tahunkedua,yangartinyapembangunantahunpertama(2010)telah
diselesaikan. Berbagai capaian pelaksanaan pembangunan di tahun
2010 merupakan capaian prioritas nasional dan prioritas bidang pembangunan lainnya sesuai
amanatRPJMN2010–2014.
UndangͲUndangNomor25Tahun2004tentangSistemPerencanaanPembangunanNasionalyang
lebih lanjut dijabarkan dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 2006
tentang Tata Cara Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan,
mengamanatkan bahwa Bappenas mengemban kewajiban untuk melakukan evaluasi terhadap
pelaksanaanRPJMN.Disampingitu,untukmenjagaketercapaianprioritaspembangunannasional
di tahun 2014 maka evaluasi setiap tahun pelaksanaan RPJMN 2010–2014 perlu dilakukan,
termasuk pelaksanaan tahun 2010. Hal ini selain bermanfaat sebagai laporan hasil kerja
Pemerintahselamatahun2010,jugadapatdigunakansebagaibahanpertimbangandanmasukan
dalamperencanaandanpenyusunankebijakanpembangunanpadatahunberikutnya.
Dari pencermatan yang dilakukan selama satu tahun terhadap pelaksanaan RPJMN 2010–2014,
secara umum dapat disimpulkan bahwa pelaksanaannya telah berjalan dengan baik dan
menunjukkan kemajuan yang cukup berarti bagi pembangunan Indonesia. Pelaksanaan prioritas
pembangunannasionalcukupbaik,terlihatdaricapaianͲcapaianprioritaspembangunannasional
yang mendukung percepatan pembangunan infrastruktur fisik yang antara lain ditandai dengan
terlaksananya pembangunan infrastruktur dan pembangunan pertanian sesuai dengan target
yangdirencanakan.
Sementaraitu,capaianpelaksanaanprioritaspembangunannasionalyangmendukungperbaikan
infrastruktur lunak tercermin antara lain dari semakin meningkatnya Angka Indeks Korupsi di
Indonesia dan semakin tertatanya regulasi yang harus diikuti oleh para investor dan pengusaha.
viii Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014
Untuk capaian prioritas pembangunan nasional yang mendukung penguatan infrastruktur sosial
terlihat antara lain dari semakin meningkatnya taraf pendidikan dan taraf kesehatan masyarakat,
serta semakin menurunnya angka kemiskinan di Indonesia. Sedangkan capaian prioritas
pembangunan nasional yang merupakan upaya pembangunan kre vitas ditandai dengan
semakin berkembangnya kebhinekaan budaya, karya seni, dan ilmu serta apresiasinya.
Akhirnya, upaya dan kerja keras yang telah dilakukan pada awal palaksanaan RPJMN 2010–2014
dalam rangka mewujudkan prioritas pembangunan nasional telah memberikan hasil yang
sepadan. Namun demikian, kerja keras tetap harus terus dilakukan agar hasil yang telah tercapai
sesuai target dapat terus ditngkatkan hingga akhir tahun 2014. Sedangkan untuk pelaksanaan
pembangunan yang capaiannya masih belum sesuai dengan rencana, memerlukan upaya lebih
keras lagi sehingga pada tahun-tahun berikutnya dapat memberikan hasil yang lebih baik dan
target prioritas pembangunan nasional dapat dicapai pada tahun 2014. Terima kasih.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,


Jakarta, September 2011
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/
Kepala Bappenas




Armida S. Alisjahbana







Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014 ix
DAFTAR ISI
Halaman Judul ............................................................................................................................ i
Kata Pengantar ........................................................................................................................... vii
DaŌar Isi .............................................................................................................................. ix
DaŌar Tabel .............................................................................................................................. x
DaŌar Gambar ............................................................................................................................ xi
BAGIAN I PENDAHULUAN ................................................................................................. 1
Bab 1.1 Pengantar ........................................................................................... 3
Bab 1.2 RPJMN 2010–2014 .............................................................................. 4

BAGIAN II CAPAIAN PRIORITAS PEMBANGUNAN NASIONAL ..................................... 11
Bab 2.1 Prioritas 1: Reformasi Birokrasi dan Tata Kelola ............................. 13
Bab 2.2 Prioritas 2: Pendidikan ................................................................... 23
Bab 2.3 Prioritas 3: Kesehatan .................................................................... 31
Bab 2.4 Prioritas 4: Penanggulangan Kemiskinan ....................................... 39
Bab 2.5 Prioritas 5: Ketahanan Pangan ....................................................... 55
Bab 2.6 Prioritas 6: Infrastruktur ................................................................. 65
Bab 2.7 Prioritas 7: Iklim Investasi dan Usaha ............................................. 75
Bab 2.8 Prioritas 8: Energi ........................................................................... 85
Bab 2.9 Prioritas 9: Lingkungan Hidup dan Pengelolaan Bencana .............. 91
Bab 2.10 Prioritas 10: Daerah TerƟnggal, Terdepan, Terluar, dan
Pascakonflik ................................................................. 99
Bab 2.11 Prioritas 11: Kebudayaan KreaƟvitas, dan Inovasi Teknologi ........... 109
Bab 2.12 Prioritas Lainnya Bidang PoliƟk, Hukum, dan Keamanan ................... 115
Bab 2.13 Prioritas Lainnya Bidang Perekonomian ............................................. 133
Bab 2.14 Prioritas Lainnya Bidang Kesejahteraan Rakyat .................................. 139
BAGIAN III PENUTUP ........................................................................................................... 153

x Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1.1 . Pencapaian Pembangunan Prioritas Nasional 1: Reformasi Birokrasi
dan Tata Kelola, Tahun 2010 ................................................................................ 18
Tabel 2.2.1. Pencapaian Pembangunan Prioritas Nasional 2: Pendidikan, Tahun
2010 ..................................................................................................................... 28
Tabel 2.3.1. Pencapaian Pembangunan Prioritas Nasional 3: Kesehatan, Tahun
2010 .................................................................................................................... 36
Tabel 2.4.1. Pencapaian Pembangunan Prioritas Nasional 4: Penanggulangan
Kemiskinan, Tahun 2010 ..................................................................................... 48
Tabel 2.5.1. Capaian Sasaran Prioritas Nasional 5: Ketahanan Pangan, Tahun 2010 .............. 56
Tabel 2.5.2. Pencapaian Pembangunan Prioritas Nasional 5: Ketahanan Pangan,
Tahun 2010 .......................................................................................................... 59
Tabel 2.6.1. Pencapaian Pembangunan Prioritas Nasional 6: Infrastruktur, Tahun
2010 .................................................................................................................... 70
Tabel 2.7.1. Pencapaian Pembangunan Prioritas Nasional 7: Iklim Investasi dan
Iklim Usaha, Tahun 2010 ..................................................................................... 79
Tabel 2.8.1. Pencapaian Pembangunan Prioritas Nasional 8: Energi, Tahun 2010 ................. 89
Tabel 2.9.1. Pencapaian Pembangunan Prioritas Nasional 9: Lingkungan Hidup .
dan Pengelolaan Bencana, Tahun 2010 ............................................................... 95
Tabel 2.10.1. Pencapaian Pembangunan Prioritas Nasional 10: Daerah TerƟnggal,
Terdepan, Terluar, Dan Pascakonflik, Tahun 2010 ............................................... 104
Tabel 2.11.1. Pencapaian Pembangunan Prioritas Nasional 11: Kebudayaan,
KreaƟvitas, Inovasi Teknologi, Tahun 2010 .......................................................... 111
Tabel 2.12.1. Pencapaian Pembangunan Prioritas Lainnya Bidang PoliƟk, Hukum dan
Keamanan, Tahun 2010 ........................................................................................ 125
Tabel 2.13.1. Pencapaian Pembangunan Prioritas Lainnya Bidang Perekonomian,
Tahun 2010 .......................................................................................................... 137
Tabel 2.14.1. Perkembangan Pembangunan Kepariwisataan, Tahun 2009–2010 .................... 141
Tabel 2.14.2. Pencapaian Pembangunan Prioritas Lainnya Kesejahteraan Rakyat,
Tahun 2010 .......................................................................................................... 147
Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014 xi
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.4.1 . Perkembangan Angka Kemiskinan Indonesia, Tahun 2004–2010 ..................... 40
Gambar 2.8.1 . Perkembangan Produksi Minyak Bumi, Tahun 2005–2010 ............................... 87
Gambar 2.8.2. Perkembangan Rasio Elektrifikasi, Tahun 2005–2010 ....................................... 87
xii Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014
BAGIAN I
PENDAHULUAN

Bab 1.1 Pengantar
Bab 1.2 RPJMN 2010–2014
2 Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014
Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014 3
187

BagianI PENDAHULUAN

Bab1.1.Pengantar
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010–2014 telah ditetapkan melalui
Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan
Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2010–2014. Sebagaimana diketahui Visi, Misi, dan
Program PresidenͲWakil Presiden terpilih periode 2009–2014 kemudian dijabarkan menjadi
RPJMN 2010–2014 dan diuraikan dalam format Visi, Misi, Program Aksi, dan Prioritas
Pembangunan Nasional. Perlu menjadi catatan bahwa semua uraian tersebut tidak terlepas dari
koridor yang telah ditetapkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN)
2005–2025.
Dengan berlalunya tahun 2010 yang merupakan tahun pertama pelaksanaan RPJMN 2010–2014,
maka evaluasi terhadap capaian prioritas pembangunan nasional yang tertuang dalam Buku I
RPJMN 2010–2014 perlu dilakukan. Evaluasi ini akan berguna sebagai bahan pertimbangan dan
masukan dalam penyusunan perencanaan pembangunan nasional tahunͲtahun berikutnya, baik
yang merupakan prioritas pembangunan nasional (Buku I RPJMN 2010–2014), pembangunan
bidang (Buku II RPJMN 2010–2014), maupun pembangunan kewilayahan (Buku III RPJMN 2010–
2014).
4 Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014
Laporan Evaluasi ini terdiri dari ga bagian, yaitu Pendahuluan, Capaian Prioritas Pembangunan
Nasional, dan Penutup; dengan uraian sebagai berikut:
Bagian I Pendahuluan. Pada bagian ini dijelaskan struktur penulisan Buku Laporan
Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014 dan gambaran singkat RPJMN 2010–
2014, yang melipu : (1) Visi, (2) Misi, (3) Agenda Pembangunan, (4) Sasaran
Pembangunan, dan (5) Prioritas Pembangunan Nasional.
Bagian II Capaian Prioritas Pembangunan Nasional. Pada bagian ini diuraikan hasil-hasil
pembangunan yang telah dicapai oleh 11 (sebelas) Prioritas Pembangunan Nasional dan 3
ga) Prioritas Pembangunan Nasional Lainnya, selama satu tahun pelaksanaan RPJMN
2010–2014. Capaian pembangunuan diuraikan berdasarkan Substansi yang telah
ditetapkan dalam dokumen RPJMN 2010–2014, berdasarkan indikator yang di
dalam proses evaluasi. Uraian hasil pembangunan dikelompokkan dalam pencapaian
pembangunan, permasalahan pencapaian, dan rencana ndak lanjut.
Bagian III Penutup. Bagian ini merupakan rangkuman singkat capaian masing-masing
prioritas pembangunan nasional.

Bab 1.2. RPJMN 2010–2014
1.2. 1. Visi Pembangunan
Kerangka Visi Indonesia 2014 yang tertuang dalam RPJMN 2010–2014, adalah: TERWUJUDNYA
INDONESIA YANG SEJAHTERA, DEMOKRATIS, DAN BERKEADILAN dengan penjelasan sebagai berikut:
Kesejahteraan Rakyat. Terwujudnya peningkatan kesejahteraan rakyat, melalui pembangunan
ekonomi yang berlandaskan pada keunggulan daya saing, kekayaan sumber daya
alam, sumber daya manusia dan budaya bangsa. Tujuan pe ng ini dikelola
melalui kemajuan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Demokrasi. Terwujudnya masyarakat, bangsa dan negara yang de berbudaya,
bermartabat dan menjunjung nggi kebebasan yang bertanggung jawab serta
hak asasi manusia.
Keadilan. Terwujudnya pembangunan yang adil dan merata, yang dilakukan oleh seluruh
masyarakat secara yang hasilnya dapat dinikma oleh seluruh bangsa
Indonesia.

1.2.2. Misi Pembangunan
Misi pemerintah dalam periode 2010–2014 diarahkan untuk mewujudkan Indonesia yang lebih
sejahtera, aman dan damai, serta meletakkan fondasi yang lebih kuat bagi Indonesia yang adil dan
demo s. Untuk mewujudkan visi Indonesia 2014 dilakukan berbagai upaya dengan
menjabarkannya dalam misi pemerintah tahun 2010–2014 sebagai berikut.

Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014 5

Misi1:MelanjutkanPembangunanMenujuIndonesiayangSejahtera
Sesuai dengan Pembukaan UUD 1945, tujuan akhir dari pembentukan negara Indonesia adalah
Indonesia yang sejahtera secara moril dan material. Tujuan tersebut mengarahkan rakyat
Indonesia untuk mengejar citaͲcita ideal, dan berpartisipasi dalam proses pembangunan secara
kreatif, inovatif, dan konstruktif. Secara lebih luas, pengertian membangun Indonesia yang
sejahtera mencakup jaminan keadaan yang mencukupi dan memiliki kemampuan bertahan dalam
mengatasi gejolak yang terjadi, baik dari luar maupun dari dalam. Salah satu contoh pengalaman
penting adalah ancaman krisis energi dan pangan yang terjadi pada periode 2005–2008, yang telah
mengakibatkan adanya ancaman kesejahteraan bagi rakyat meskipun pemerintah telah
menjalankan kebijakan subsidi pangan dan energi. Hal ini mencerminkan bahwa membangun dan
mempertahankan ketahanan pangan (foodsecurity) dan ketahanan energi (energysecurity) secara
berkelanjutan merupakan salah satu elemen penting dalam misi mencapai kesejahteraan rakyat
Indonesia.
Selain itu krisis keuangan global yang juga berpengaruh terhadap perekonomian global
mengharuskan Indonesia untuk menetapkan misi dan arah kebijakan pembangunan Indonesia,
sekaligus memantapkan langkah dan peran strategis Indonesia di dunia Internasional. Hal ini
dilakukan untuk menjamin agar Indonesia dapat terus mencapai citaͲcita kemandirian dalam
memakmurkan rakyatnya. Salah satu upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan
rakyat adalah penciptaan lapangan kerja yang mampu memberikan nilai tambah tinggi, baik secara
ekonomis maupun harkat hidup manusia (decent jobs). Hal ini perlu didukung oleh pertumbuhan
ekonomi yang cukup tinggi dan sehat, serta pengelolaan ekonomi yang baik, efisien, dan adil.
Lebih lanjut, kemajuan ekonomi yang terjadi di Indonesia selama ini telah mendorong perubahan
struktural dalam banyak elemen bangsa Indonesia. Salah satunya adalah pembangunan ekonomi
yang terkonsentrasi di perkotaan yang mengakibatkan tingginya urbanisasi dari wilayah perdesaan
ke wilayah perkotaan sekaligus menyebabkan kesenjangan kesejahteraan antara perdesaanͲ
perkotaan. Kondisi tersebut memerlukan perhatian baik terhadap wilayah perkotaan maupun
perdesaan, diantaranya dengan menciptakan daya tarik pembangunan di wilayah perdesaan serta
menciptakan keterkaitan pembangunan ekonomi antara desaͲkota.
Misi2:MemperkuatPilarͲPilarDemokrasi
Sebagai salah satu negara demokrasi terbesar di dunia, pilarͲpilar demokrasi harus benarͲbenar
kuat. Sejalan dengan itu, memperkuat pilarͲpilar demokrasi menjadi salah satu misi pembangunan
Indonesia 2010–2014. Penguatan pilarͲpilar demokrasi dilakukan dengan penyempurnaan struktur
politik dengan titik berat kepada pelembagaan demokrasi dan peningkatan kinerja lembagaͲ
lembaga penyelenggara negara. Selain itu, juga dilakukan penataan proses politik dengan titik
berat pada representasi kekuasaan dan pengembangan budaya politik dengan titik berat pada
penanaman nilaiͲnilai demokratis. Hal ini dilakukan untuk mencapai demokrasi yang lebih matang
dan dewasa sekaligus mewujudkan masyarakat yang demokratis dengan tetap berlandaskan pada
aturan hukum.
Misi3:MemperkuatDimensiKeadilandiSemuaBidang
Memperkuat dimensi keadilan di semua bidang ditujukan untuk mewujudkan Indonesia yang maju,
mandiri dan adil. Kondisi ini akan terwujud bila pembangunan dilaksanakan secara adil dan merata,
serta dapat dinikmati oleh seluruh bangsa Indonesia.
Pembangunan yang berkeadilan dan merata ini dilaksanakan melalui percepatan pembangunan
dan pertumbuhan wilayahͲwilayah strategis dan cepat tumbuh, pemberdayaan masyarakat,
pengembangan wilayahͲwilayah perbatasan dan pulauͲpulau kecil terluar dengan mengubah arah
6 Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014
kebijakan pembangunan yang selama ini cenderung berorientasi inwardlookingmenjadi outward
looking. Pembangunan berkeadilan, juga diwujudkan dengan pembangunan yang merata di semua
bidang, baik pembangunan antara kotaͲkota metropolitan, besar, menengah, dan kecil yang
diseimbangkan pertumbuhannya, serta mendorong pembangunan wilayah perdesaan.
Pembangunan kesejahteraan sosial juga berperan dalam pembangunan yang berkeadilan ini,
dengan memberi perhatian yang lebih besar pada kelompok masyarakat yang kurang beruntung
melalui penguatan lembaga jaminan sosial. Sedangkan untuk mewujudkan keadilan dan
kesetaraan gender dilaksanakan melalui peningkatan akses dan partisipasi perempuan dalam
pembangunan, serta peningkatan kualitas perlindungan perempuan dan anak.

1.2.3.AgendaPembangunan
Dalam mewujudkan visi dan misi pembangunan nasional 2010–2014, ditetapkan lima agenda
utama pembangunan nasional tahun 2010–2014, yaitu:
Agenda I : Pembangunan Ekonomi dan Peningkatan Kesejahteraan Rakyat
Agenda II : Perbaikan Tata Kelola Pemerintahan
Agenda III : Penegakan Pilar Demokrasi
Agenda IV : Penegakkan Hukum dan Pemberantasan Korupsi
Agenda V : Pembangunan Yang Inklusif Dan Berkeadilan
AgendaI.PembangunanEkonomidanPeningkatanKesejahteraanRakyat
Agenda pembangunan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan rakyat tetap menjadi prioritas
dalam program pembangunan periode 2010–2014. Perbaikan kesejahteraan akan tercermin pada
peningkatan pendapatan, penurunan tingkat pengangguran dan perbaikan kualitas hidup rakyat.
Perbaikan kesejahteraan rakyat diwujudkan melalui sejumlah program pembangunan untuk
penanggulangan kemiskinan dan penciptaan kesempatan kerja, serta peningkatan program di
bidang pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur dasar.
Program pembangunan 2010–2014 tetap konsisten untuk melanjutkan berbagai program
perbaikan kesejahteraan rakyat yang sudah berjalan dengan memberikan penekanan lebih lanjut
dalam membuat kebijakan yang lebih efektif dan terarah dalam bentuk pengarustamaan anggaran
dan kebijakan. Pengarusutamaan ini tidak hanya terbatas antarsektor tetapi juga antara
pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Pengarusutamaan harus juga mencakup berbagai
kebijakan agar tujuan dapat tercapai dengan sumber daya yang minimal.
Penyelenggaraan program peningkatan kesejahteraan rakyat akan dilaksanakan seiring dengan
upaya peningkatan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Selain itu, juga dilakukan dengan
mendorong sektor riil dan pemihakan kepada usaha kecil menengah dan koperasi, serta terus
menjaga stabilitas ekonomi makro.
AgendaII.PerbaikanTataKelolaPemerintahan
Perbaikan tata kelola pemerintahan yang baik menjadi isu yang penting dalam konteks nasional
dan internasional. Salah satu penyebab terjadinya krisis ekonomi dan krisis keuangan global adalah
buruknya tata kelola pemerintahan, baik di sektor pemerintahan maupun swasta. Oleh karena itu,
tatakelola pemerintahan manjadi salah satu agenda pembangunan Indonesia. Perbaikan tata
kelola pemerintahan antara lain dapat dilihat dari penurunan tingkat korupsi yang ditunjukkan
Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014 7

dengan semakin mambaiknya Indeks Persepsi Korupsi (IPK), perbaikan pelayanan publik, dan
pengurangan ekonomi biaya tinggi.
Perbaikan tata kelola pemerintah dilakukan pula dengan reformasi birokrasi yang akan
dilaksanakan di seluruh kementerian/lembaga (K/L) untuk selanjutnya diteruskan pada tingkat
pemerintah daerah. Selain itu, untuk mendukung reformasi birokrasi dilakukan pula reformasi di
bidang hukum. Cakupan perbaikan dalam tata kelola pemerintahan tidak hanya terbatas pada
sektor pemerintahan, tetapi juga meliputi sektor swasta termasuk pengelolaan BUMN.
AgendaIII.PenegakanPilarDemokrasi
Indonesia yang demokratis diwujudkan melalui penghargaan terhadap hak asasi manusia (HAM),
terjaminnya kebebasan berpendapat, adanya checks and balances, jaminan akan keberagaman
yang tercermin dengan adanya perlindungan terhadap segenap warga negara tanpa membedakan
paham, asalͲusul, golongan, dan gender. Untuk mewujudkan hal tersebut, penegakan pilar
demokrasi sangat penting dalam pembangunan Indonesia.
Penegakan pilar demokrasi antara lain dilakukan melalui penguatan lembagaͲlembaga demokrasi
dengan cara menegakkan nilaiͲnilai demokrasi misalnya dengan menjaga kebebasan berpendapat,
kebebasan pers, dan mengutamakan supremasi hukum. Selanjutnya, arah pembangunan
demokrasi adalah untuk mencapai tingkat demokrasi yang substansial dengan terlebih dahulu
memperbaiki masalah prosedural yang ada.
AgendaIV.PenegakanHukum
Untuk mewujudkan Indonesia yang demokratis, penegakan hukum merupakan agenda yang
penting dalam pembangunan. Wujud dari penegakan hukum adalah adanya kepastian hukum bagi
seluruh rakyat Indonesia yang akan memberikan rasa aman, rasa adil dan kepastian berusaha.
Salah satu persoalan yang dianggap kerap mengganggu masuknya investasi ke Indonesia adalah
lemahnya kepastian hukum. Penegakan hukum diharapkan akan membawa dampak yang positif
bagi perbaikan iklim investasi yang pada gilirannya akan memberi dampak positif bagi
perekonomian Indonesia
Dalam upaya konsolidasi demokrasi agenda bidang hukum mencakup proses pembuatan undang–
undang, proses penjabarannya, proses pengawasan, dan juga penegakan aturan hukum, serta
menjamin proses peradilan yang bebas. Sementara itu, pembenahan pada substansi hukum,
struktur hukum, dan budaya hukum dilakukan antara lain dengan memperkecil tumpang tindih
dan inkosistensi peraturan perundangͲundangan, menghilangkan hambatan pada implementasi
peraturan perundangan, mengupayakan perjanjian ekstradisi dengan negaraͲnegara yang
berpotensi menjadi tempat pelarian pelaku tindak pidana korupsi dan tindak pidana lainnya.
Sedangkan terkait dengan pemberantasan korupsi, penegakan hukum merupakan elemen yang
sangat penting. Oleh karena itu, proses penegakan hukum harus dilakukan tanpa tebang pilih.
AgendaV.PembangunanyangInklusifdanBerkeadilan
Peningkatan kualitas pembangunan yang inklusif dan berkeadilan menjadi agenda prioritas dalam
pembangunan periode 2010–2014, mengingat pelaksanaan agenda keadilan sampai saat ini belum
mampu mewujudkan hasil yang diinginkan. Hal ini disebabkan antara lain proses pembangunan
yang partisipatif belum banyak diterapkan sehingga keadilan dan keikutsertaan secara luas belum
terlaksana.
Keadilan dan keikutsertaan dapat diwujudkan dalam berbagai dimensi. Dalam bidang ekonomi,
keadilan dapat diwujudkan dalam bentuk perbaikan, atau terjadinya proses afirmasi terhadap
kelompok yang tertinggal, orang cacat, dan terpinggirkan. Dalam bidang sosialͲpolitik, perwujudan
8 Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014
keadilan dan keikutsertaan (inklusif) dapat berupa perbaikan akses semua kelompok terhadap
kebebasan berpolitik, kesetaraan gender dalam politik dan penghapusan segala macam bentuk
diskriminasi.
Penguatan dimensi keadilan keikutsertaan akan dilakukan untuk setiap kegiatan atau program
pembangunan. Misalnya melalui Program Keluarga Harapan (PKH), masyarakat sangat miskin akan
diberi bantuan tunai bersyarat dalam bentuk dukungan biaya pendidikan dan kesehatan. Di
samping itu, pemerintah akan mempertajam pula kualitas program perlindungan dan bantuan
sosial dalam gugus/cluster 1 untuk menjadi bantuan sosial berbasis keluarga. Program lain dalam
agenda pembangunan yang inklusif dan berkeadilan yang akan dilanjutkan adalah program aksi
perkuatan usaha mikro, kecil, dan menengah yang diharapkan dapat memperbaiki distribusi
pendapatan masyarakat. Selain itu, dengan perluasan cakupan Program Nasional Pemberdayaan
Masyarakat (PNPM) diharapkan keterlibatan masyarakat dalam proses pembangunan dapat
meningkat.

1.2.4. SasaranPembangunan
Sasaran Pembangunan selama lima tahun yang tertuang dalam RPJMN 2010–2014 meliputi tiga
sasaran, yaitu: (1) Sasaran Pembangunan Ekonomi dan Kesejahteraan; (2) Sasaran Perkuatan
Pembangunan Demokrasi; dan (3) Sasaran Penegakan Hukum
(1) SasaranPembangunanEkonomidanKesejahteraan
Dengan pulihnya perekonomian global dalam 1Ͳ2 tahun mendatang, capaian tertinggi yang pernah
dicapai oleh laju pertumbuhan perekonomian Indonesia sebelum krisis sekitar 7 persen telah
dapat dipenuhi sebelum tahun terakhir periode 2010–2014.
Percepatan laju pertumbuhan ekonomi ini diharapkan mampu menurunkan tingkat pengangguran
terbuka hingga sekitar 5Ͳ6 persen pada akhir tahun 2014, dan kesempatan kerja yang tercipta
antara 9,6 jutaͲ10,7 juta pekerja selama periode 2010–2014. Kombinasi antara percepatan
pertumbuhan ekonomi dan berbagai kebijakan intervensi pemerintah yang terarah diharapkan
dapat mempercepat penurunan tingkat kemiskinan menjadi sekitar 8Ͳ10 persen pada akhir 2014.
Untuk memenuhi sasaran percepatan pertumbuhan ekonomi tersebut, pemerintah akan terus
melanjutkan kebijakan makroekonomi yang terukur dan berhatiͲhati, sehingga inflasi dapat
dikendalikan pada tingkat rendah yang sebanding dengan negaraͲnegara setaraf dengan Indonesia
yaitu sekitar 4Ͳ6 persen per tahun. Inflasi yang terkendali memungkinkan nilai tukar dan suku
bunga yang kompetitif sehingga mendorong sektor riil bergerak dan berkembang dengan sehat.
Dalam bidang pendidikan, sasaran pembangunan ditujukan untuk meningkatkan akses masyarakat
terhadap pendidikan dan meningkatnya mutu pendidikan, yang antara lain ditandai oleh
menurunnya jumlah penduduk buta huruf, meningkatnya persentase penduduk yang dapat
menyelesaikan program wajib belajar 9 tahun dan pendidikan lanjutan, serta berkembangnya
pendidikan kejuruan yang ditandai oleh meningkatnya jumlah tenaga terampil.
Sementara itu, di bidang kesehatan, sasaran pembangunan ditujukan untuk peningkatan akses
masyarakat terhadap pelayanan kesehatan, yang antara lain ditunjukkan oleh meningkatnya angka
harapan hidup, menurunnya tingkat kematian bayi, dan menurunnya kematian ibu melahirkan.
Dalam bidang pangan, sasaran pembangunan ditujukan untuk terciptanya kemandirian dalam
bidang pangan pada akhir tahun 2014 ditandai dengan meningkatnya ketahanan pangan rakyat,
berupa perbaikan status gizi ibu dan anak pada golongan masyarakat yang rawan pangan,
Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014 9
membaiknya akses rumah tangga golongan miskin terhadap pangan, terpelihara dan terus
meningkatnya kemampuan swasembada beras dan komoditas pangan utama lainnya, menjaga
harga pangan yang terjangkau bagi masyarakat kelompok pendapatan menengah bawah, menjaga
nilai tukar petani agar dapat meniŬŵĂƟ kemakmuran, dan meningkatkan daya tawar komoditas
Indonesia dan keunggulan kompĂƌĂƟf (comƉĂƌĂƟǀĞ aĚǀantagĞͿ dari sektor pertanian Indonesia di
kawasan regional Asia dan Global.
Di bidang energi, sasaran pembangunan ditujukan untuk membangun ketahanan energi dengan
mencapai diverƐŝĮkasi energi yang menjamin keberlangsungan dan jumlah pasokan energi di
seluruh Indonesia dan untuk seluruh penduduk Indonesia dengan ƟŶŐŬĂƚ pendapatan yang
berbeda-beda, meningkatkan penggunaan energi terbarukan (rĞŶĞǁaďůĞ ĞnĞƌgyͿ dan
ďĞƌƉĂƌƟƐƉĂƐŝ ĂŬƟĨ dan memanfaatkan berkembangnya perdagangan karbon secara global,
meningkatkan eĮƐŝensi konsumsi dan penghematan energi baik di lingkungan rumah tangga
maupun industri dan sektor transportasi, dan memproduksi energi yang bersih dan ekonomis.
Dalam bidang lingkungan hidup, sasaran yang hendak dicapai adalah perbaikan mutu lingkungan
hidup dan pengelolaan sumber daya alam di perkotaan dan pedesaan, penahanan laju kerusakan
lingkungan dengan peningkatan daya dukung dan daya tampung lingkungan; peningkatan
kapasitas adaptasi dan miƟgasi perubahan iklim. Selain itu terus dilakukan program reboisasi,
penghutanan kembali (reforestasi) dan program pengurangan emisi karbon.
Dalam rangka mengatasi dampak pemanasan global untuk mencapai pembangunan berkelanjutan,
pada tahun 2009, dalam pertemuan G 20 di PŝƩsburgh dan Konvensi Internasional tentang
Perubahan Iklim di Copenhagen, Indonesia telah berinisitaif memberikan komitmen miƟgasi
dampak perubahan iklim berupa penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) pada tahun 2020 sebesar
26 persen dari kondisi tanpa rencana aksi (businĞƐƐ as usual – BAU) dengan usaha sendiri serta
penurunan sebesar 41 persen dengan dukungan internasional. Upaya penurunan emisi GRK
tersebut terutama difokuskan pada kegiatan-kegiatan kehutanan, lahan gambut, limbah dan
energi yang didukung oleh langkah-langkah kebijakan di berbagai sektor dan kebijakan Įskal.
Bidang infrastruktur meneruskan pembangunan dan pasokan infrastruktur yang ditunjukkan oleh
meningkatnya kuanƟƚĂƐ dan kualitas berbagai prasarana penunjang pembangunan sepeƌƟ jalan
raya, jalan kereta api, pelabuhan laut, pelabuhan udara, listrik, irigasi, air bersih dan sanitasi serta
pos dan telekomunikasi.
Dalam bidang Usaha Kecil dan Menengah, langkah-langkah yang dilakukan adalah, meningkatkan
dan memajukan usaha kecil menengah dengan menambah akses terhadap modal termasuk
perluasan Kredit Usaha Rakyat (KUR), meningkatkan bantuan teknis dalam aspek pengembangan
produk dan pemasaran, melaksanakan kebijakan pemihakan untuk memberikan ruang usaha bagi
pengusaha kecil dan menengah, serta menjaga fungsi, keberadaan serta eĮƐŝensi pasar tradisional.
(2) Sasaran Perkuatan Pembangunan Demokrasi
Sasaran penegakan pilar demokrasi adalah membangun dan semakin memantapkan sistem
demokrasi di Indonesia yang dapat menghasilkan pemerintahan dan lembaga leŐŝƐƚĂƟf yang
kredibel, bermutu, efeŬƟĨ͕ dan mampu menyelenggarakan amanah dan tugas serta tanggung
jawabnya secara baik, seimbang dengan peningkatan kepatuhan terhadap pranata hukum.
Dengan demikian, fungsi ĐŚĞcks and balancĞs dapat dilakukan secara santun, ďĞƌĞƟŬĂ͕ dan ĞĨĞŬƟĨ
sehingga penyelenggaraan negara ƟĚĂŬ terhambat oleh mekanisme dan sistem demokrasi, namun
sebaliknya akan makin meningkat kualitas hasil dan akuntabilitasnya. Sasaran di bidang ini juga
adalah untuk menjamin ƐĞƟap lima tahun terselenggaranya proses pemilu yang memenuhi azas-
10 Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014
azas demokrasi yang baik, yaitu jujur, adil, dan menjamin seluruh warga negara pemilih dapat
melaksanakan hak memilihnya secara bebas dan bertanggung jawab.
(3) Sasaran Penegakan Hukum
Penegakan Hukum merupakan elemen yang ƟĚĂŬ dapat dipisahkan dan sangat penƟŶŐ dalam
menjaga sistem demokrasi yang berkualitas dan juga mendukung iklim berusaha yang baik agar
kegiatan ekonomi dapat berjalan dengan ƉĂƐƟ, aman dan ĞĮsisen, dalam rangka mencapai
kesejahteraan rakyat.
Sasaran reformasi penegakan hukum adalah tercapainya suasana dan kepasƟan keadilan melalui
penegakan hukum (rule of law) dan terjaganya ŬĞƚĞƌƟban umum. Sasaran tersebut tercermin dari
persepsi masyarakat pencari keadilan untuk merasakan kenyamanan, ŬĞƉĂƐƟĂŶ͕ keadilan dan
keamanan dalam berinteraksi dan mendapat pelayanan dari para penegak hukum (kepolisian dan
kejaksaaan). Dengan demikian, reformasi kepolisian dan kejaksaan, dan lembaga peradilan harus
dilakukan untuk tumbuhnya kepercayaan dan penghormatan publik kepada aparat dan lembaga
penegak hukum karena mereka dipercaya akan selalu melindungi masyarakat berdasarkan azas
keadilan dan kepatuhan pada aturan dan hukum tanpa pembedaan dan diskriminasi.
Selain berbagai bidang yang telah disebutkan di atas, pemerintah tetap mengembangkan sektor-
sektor pembangunan lainnya secara konsisten, terkoordinasi dan terintegrasi. Dengan demikian,
pada akhir RPJMN 2010ʹ2014 Indonesia akan berhasil mencapai berbagai sasaran pembangunan
nasional untuk mewujudkan Indonesia yang sejahtera, demŽŬƌĂƟs, dan berkeadilan.

1.2.5. Prioritas Pembangunan Nasional
Dalam mewujudkan visi dan misi Presiden terpilih, dalam RPJMN 2010–2014 telah ditetapkan 11
Prioritas Pembangunan Nasional dan 3 Prioritas Nasional Lainnya. Kebijakan pembangunan dalam
periode ini akan diprioritaskan kapada pelaksanaan pembangunan ke 11 prioritas nasional dan 3
prioritas lainnya tersebut. Prioritas pembangunan nasional tersebut adalah:
1. Prioritas 1: Reformasi Birokrasi dan Tatakelola
2. Prioritas 2: Pendidikan
3. Prioritas 3: Kesehatan
4. Prioritas 4: Penanggulangan Kemiskinan
5. Prioritas 5: Ketahanan Pangan
6. Prioritas 6: Infrastruktur
7. Prioritas 7: Iklim Investasi dan Iklim Usaha
8. Prioritas 8: Energi
9. Prioritas 9: Lingkungan Hidup dan Bencana
10. Prioritas 10: Daerah TerƟŶŐŐĂů, Terdepan, Terluar, dan PascakŽŶŇŝk
11. Prioritas 11: Kebudayaan, KrĞĂƟvitas, dan Inovasi Teknologi
12.
Prioritas Lainnya Bidang Perekonomian 13.
Prioritas Lainnya Bidang PoliƟk, Hukum, dan Keamanan
14. Prioritas Lainnya Bidang Kesejahteraan Rakyat

Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014 11
BAGIAN II
CAPAIAN PRIORITAS PEMBANGUNAN NASIONAL
Bab 2.1 Prioritas 1 : Reformasi Birokrasi dan Tata Kelola
Bab 2.2 Prioritas 2 : Pendidikan
Bab 2.3 Prioritas 3 : Kesehatan
Bab 2.4 Prioritas 4 : Penanggulangan Kemiskinan
Bab 2.5 Prioritas 5 : Ketahanan Pangan
Bab 2.6 Prioritas 6 : Infrastruktur
Bab 2.7 Prioritas 7 : Iklim Investasi dan Iklim Usaha
Bab 2.8 Prioritas 8 : Energi
Bab 2.9 Prioritas 9 : Lingkungan Hidup dan Pengelolaan Bencana
Bab 2.10 Prioritas 10 : Daerah TerƟnggal, Terdepan, Terluar, dan
Paskakonflik
Bab 2.11 Prioritas 11: Kebudayaan KreaƟvitas, dan Inovasi
Teknologi
Bab 2.12 Prioritas Lainnya Bidang PoliƟk, Hukum, dan Keamanan
Bab 2.13 Prioritas Lainnya Bidang Perekonomian
Bab 2.14 Prioritas Lainnya Bidang Kesejahteraan Rakyat
12 Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014
Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014 13
9

BAB2.1. PRIORITASNASIONAL1:REFORMASIBIROKRASI
DANTATAKELOLA

2.1.1. Pengantar
Salah satu tantangan yang dihadapi pemerintah untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang
sejahtera, adil, dan demokratis di tengah persaingan global yang semakin meningkat adalah
perbaikan kualitas birokrasi dan tata kelola. Untuk menjawab tantangan tersebut pemerintah telah
menetapkan prioritas nasional Reformasi Birokrasi dan Tata Kelola, yang dilakukan melalui
terobosan kinerja secara terpadu, penuh integritas, akuntabel, taat kepada hukum yang
berwibawa, dan transparan. Selain itu, juga dilaksanakan peningkatan kualitas pelayanan publik
yang ditopang oleh efisiensi struktur pemerintahan di pusat dan di daerah, kapasitas pegawai
pemerintah yang memadai, dan data kependudukan yang baik.

Pelaksanaan Prioritas Nasional 1: Reformasi Birokrasi dan Tata Kelola dilakukan melalui tujuh
substansi inti yaitu: 1) penataan struktur kelembagaan instansi pemerintah; 2) penataan otonomi
daerah; 3) penyempurnaan kebijakan pengelolaan SDM aparatur; 4) peningkatan sinkronisasi dan
harmonisasi peraturan perundangͲundangan; 5) sinergi antara pusat dan daerah; 6) penegakan
hukum; dan 7) pengembangan data kependudukan.
14 Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014

2.1.2. PencapaianPrioritasNasional1:ReformasiBirokrasidanTata
Kelola
Selama tahun 2010 telah dilaksanakan berbagai kegiatan prioritas dalam rangka reformasi
birokrasi dan tata kelola, yang ditunjukkan dengan berbagai capaian penting yang telah dihasilkan.
Untuk memberikan landasan yang kuat bagi pelaksanaan reformasi birokrasi, telah ditetapkan
Peraturan Presiden Nomor 81 Tahun 2010 tentang Grand Design Reformasi Birokrasi 2010–2025
dan Peraturan Menteri PAN dan RB Nomor 20 tahun 2010 tentang RoadMap Reformasi Birokrasi
2010–2014. Disamping itu, untuk meningkatkan koordinasi, menajamkan dan mengawal
pelaksanaan reformasi birokrasi, telah dibentuk kelembagaan untuk mengelola reformasi birokrasi
nasional yang ditetapkan dalam Keppres 14 Tahun 2010 tentang Pembentukan Komite Pengarah
8ĞĨŽƌŵĂƐŝ 8ŝƌŽŬƌĂƐŝ nĂƐŝŽŶĂů ĚĂŶ 1ŝŵ 8ĞĨŽƌŵĂƐŝ 8ŝƌŽŬƌĂƐŝ nĂƐŝŽŶĂů͕ LJĂŶŐ ĚŝƐĞŵƉƵƌŶĂŬĂŶ ŵĞŶũĂĚŝ
Keppres Nomor 23 Tahun 2010; Keputusan Menpan dan RB Nomor 355 Tahun 2010 tentang
Pembentukan Tim Independen, dan Keputusan Menpan dan RB Nomor 356 Tahun 2010 tentang
Pembentukan Tim Penjamin Kualitas (QualityAssurance).

Pada tahun 2010, sebanyak 9 kementerian/lembaga (K/L) telah melaksanakan reformasi birokrasi
instansi (RBI), sehingga saat ini sudah terdapat 14 K/L yang telah melaksanakan RBI. Pelaksanaan
reformasi birokrasi dan tata kelola dilakukan antara lain dengan penataan struktur kelembagaan
instansi pemerintah. Untuk itu, telah dilakukan konsolidasi struktural dan peningkatan kapasitas
K/L yang menangani aparatur negara sebagai pijakan untuk penyempurnaan struktur kementerian
dan lembaga dan penyempurnaan tupoksi, serta penataan hubungan kerja yang efektif dan efisien
sesuai dengan prinsip structure follows function. Pelaksanaan konsolidasi struktural dan
peningkatan kapasitas K/L yang menangani aparatur negara ini masih dilanjutkan pada tahun
2011. Demikian juga dengan penataan kelembagaan instansi pemerintah lainnya.

Dalam konteks otonomi daerah, pada tahun 2010 telah difokuskan pada penghentian/pembatasan
pemekaran wilayah, peningkatan efisiensi dan efektivitas penggunaan dana perimbangan daerah,
dan penyempurnaan pelaksanaan pemilihan kepala daerah. Dalam upaya membatasi pemekaran
wilayah maka telah tersusun rancangan Desain Besar Penataan Daerah sebagai pedoman
pengkajian usulan pembentukan Daerah Otonom Baru (DOB). Desain Besar ini mendukung
Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2007 tentang Tata Cara Pembentukan, Penghapusan, dan
Penggabungan Daerah. Selanjutnya, untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas penggunaan
dana perimbangan daerah maka halͲhal yang telah dicapai antara lain 70 persen daerah telah
memanfaatkan Dana Alokasi Khusus (DAK) sesuai petunjuk pelaksanaan (Juklak), 80 persen daerah
telah optimal (100 persen) menyerap DAK, tersusunnya kebijakan/regulasi dana perimbangan yang
dapat diterapkan di daerah berupa 1 Permendagri tentang juknis DAK dan 1 Surat Edaran Menteri
Dalam Negeri, 31 persen daerah memiliki proporsi belanja langsung yang lebih besar dari belanja
tidak langsung, 23 persen rataͲrata belanja modal yang digunakan terhadap total belanja daerah,
91 persen APBD disahkan secara tepat waktu, 15 daerah berͲLKPD dengan status wajar tanpa
pengecualian (WTP), serta 63 persen daerah yang melakukan penetapan serta penyampaian
Raperda pertanggungjawaban pelaksanaan APBD yang disahkan secara tepat waktu. Terkait
dengan penyempurnaan pelaksanaan pemilihan kepala daerah, pada tahun 2010 dilakukan
penyusunan naskah akademis dan Rancangan UndangͲUndang (RUU) Pemilihan Kepala Daerah.

Pelaksanaan Reformasi Birokrasi dan Tata Kelola juga dilakukan melalui penyempurnaan berbagai
kebijakan dalam pengelolaan SDM aparatur. Dalam hal ini, telah disusun beberapa Rancangan
Peraturan Pemerintah (RPP) yaitu RPP tentang Sistem Pengadaan/Rekrutmen dan Seleksi PNS, RPP
Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014 15
tentang Kebutuhan Pegawai, RPP tentang Remunerasi dan Tunjangan Kinerja Pegawai Negeri, RPP
tentang Penilaian Kinerja Pegawai, dan RPP tentang Sistem Pengelolaan Dana Pensiun PNS. Dalam
rangka menyempurnakan kebijakan disiplin PNS sebagaimana amanat pasal 30 UndangͲUndang
No. 43 Tahun 1999 tentang Perubahan atas UndangͲUndang Nomor 8 Tahun 1974 tentang PokokͲ
Pokok Kepegawaian, telah diterbitkan PP Nomor 53 Tahun 2010 tentang Disiplin PNS, yang
memberikan landasan bagi peningkatan disiplin, integritas, dan kinerja pegawai. Selanjutnya,
implementasi PP Nomor 53 Tahun 2010 tersebut diatur melalui Peraturan Kepala BKN Nomor 21
Tahun 2010 tentang Ketentuan Pelaksanaan PP Nomor 53 Tahun 2010. Disamping itu, juga telah
disusun RUU tentang SDM Aparatur Negara.

Selanjutnya, dalam upaya percepatan harmonisasi dan sinkronisasi peraturan perundangͲ
undangan di tingkat pusat dan daerah, pada tahun 2010 telah dilaksanakan inventarisasi dan
pengkajian peraturan daerah sebanyak 3.000 perda. Selain itu, dilakukan juga upaya peningkatan
sinergi antara pusat dan daerah antara lain melalui peningkatan jumlah SPM (Standar Pelayanan
Minimum) yang ditetapkan dan diterapkan oleh daerah. Selama tahun 2010, terdapat 8 SPM baru
yang telah ditetapkan, sehingga secara keseluruhan sudah terdapat 13 SPM yang sudah ditetapkan
melalui peraturan menteri terkait, dan telah dilakukan fasilitasi penerapan untuk 5 SPM.
Pelaksanaan pelayanan terpadu satu pintu (PTSP) atau one stop service (OSS) juga telah semakin
membaik dengan meningkatnya jumlah pemda yang menerapkan PTSP/OSS dari 360 OSS menjadi
394 OSS. Untuk memberikan jaminan kepastian penyediaan pelayanan bagi masyarakat, saat ini
telah disusun 2 (dua) RPP sebagai pelaksanaan dari UU Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan
Publik.

Dalam penegakan hukum, peningkatan integritas dan sinergi antar lembaga penegak hukum
menjadi prioritas yang menentukan kualitas penegakan hukum di Indonesia. Pemantapan integrasi
dan integritas penegakan hukum, dilakukan melalui peningkatan kualitas SDM Kejaksaan dalam
penerimaan pegawai, pelaksanaan diklat penjenjangan serta pendidikan pasca sarjana, di samping
dengan menerapkan rewardandpunishment.Kesiapan Kejaksaan Agung dan Kementerian Hukum
dan HAM untuk menerapkan reformasi birokrasi diharapkan dapat terpenuhi tahun 2011. Dalam
rangka pengawasan terhadap perilaku hakim, peran Komisi Yudisial semakin meningkat dengan
2.915 berkas pengaduan masyarakat yang masuk dan 214 berkas yang telah ditindak lanjuti.
Peningkatan penegakan hukum juga dilakukan melalui peningkatan kualitas pembinaan warga
binaan melalui perbaikan lembaga pemasyarakatan dan rumah tahanan untuk mencegah
terjadinya perilaku korupsi dan praktik mafia hukum.

Pencegahan korupsi juga diintensifkan melalui pelaporan Laporan Hasil Kekayaan Pejabat Negara
(LHKPN). Dari 144.557 wajib LHKPN sebanyak 118.340 telah melaporkan dan sebanyak 114.570
telah diumumkan. Di bidang penindakan, pada tahun 2010 Komisi Pemberantas Korupsi (KPK)
telah melakukan penyelidikan terhadap 54 perkara tindak pidana korupsi, penyidikan terhadap 62
perkara tindak pidana korupsi, penuntutan terhadap 55 perkara dan eksekusi terhadap 38
keputusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap. Kegiatan koordinasi dan supervisi
dilakukan terhadap beberapa perkara, dan telah berhasil menyelamatkan potensi kerugian negara
mencapai lebih dari Rp500 miliar.

Terkait dengan dengan pencapaian dalam penyelenggaraan Nomor Induk Kependudukan (NIK)
hingga tahun 2010 telah diterbitkan NIK di 329 kabupaten/kota, sedangkan untuk pelaksanaan
Sistem Informasi dan Administrasi Kependudukan (SIAK) masih dalam proses persiapan.
16 Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014
Terlepas dari berbagai capaian yang telah dihasilkan pada tahun 2010, masih terdapat berbagai
permasalahan yang harus diselesaikan terkait dengan substansi inti dalam Reformasi Birokrasi dan
Tata Kelola. Dari aspek struktur/kelembagaan, masih terdapat instansi pemerintah yang struktur
organisasi dan tatalaksananya belum sepenuhnya mendukung tupoksi sehingga berdampak pada
rendahnya kinerja.

Dalam penataan otonomi daerah, permasalahan yang dihadapi adalah masih terdapat usulan
pembentukan DOB; belum ditetapkannya Desain Besar Penataan Daerah (Desertada); dan belum
optimalnya penggunaan dana perimbangan dalam mendukung investasi pemerintah daerah dan
pembangunan daerah. Secara keseluruhan, pelaksanaan bidangͲbidang yang didanai DAK 2010
berjalan sesuai perundangan/petunjuk teknis (juknis) yang berlaku. Khusus DAK bidang
pendidikan, tidak dapat terlaksana dengan baik (terjadi keterlambatan) di tiap daerah, dikarenakan
adanya perubahan juknis/juklak DAK pendidikan yangg semula dilaksanakan dengan mekanisme
swakelola hibah diubah menjadi mekanisme pengadaan barang dan jasa berdasarkan amanat
pasal 18 ayat 5 B dalam UndangͲUndang Nomor 2 Tahun 2010 tentang perubahaan atas UndangͲ
Undang Nomor 47 Tahun 2010 tentang APBN. Permasalahan yang dihadapi terkait DAK adalah
terjadi keterlambatan penetapan alokasi DAK per bidang untuk daerah, serta arah penggunaan
DAK dalam juknis terlalu spesifik, sehingga secara teknis mengurangi fleksibilitas daerah dalam
penggunaannya. Selain itu, K/L sulit untuk mengendalikan pencapaian sasaran DAK di daerah.

Terkait dengan sumber daya manusia aparatur, masih memperlihatkan bahwa integritas,
kompetensi, netralitas, kesejahteraan dan profesionalisme PNS perlu terus ditingkatkan. Di sisi
lain, masih terdapat adanya pola rekrutmen, mutasi dan promosi, serta pemberian penghargaan
yang tidak berdasarkan kompetensi dan kinerja.

Dalam hal regulasi, masih banyak ditemukan peraturan daerah yang bertentangan dengan
peraturan perundangͲundangan di atasnya, dan banyak yang tidak kondusif bagi investasi. Dari
aspek sinergi pusat dan daerah, permasalahan yang dihadapi terkait SPM adalah belum
tersusunnya dua SPM oleh instansi pusat yang menangani urusan wajib dan belum diterapkannya
SPM dalam penyelenggaraan pemerintahan di daerah karena belum terintegrasinya SPM dalam
dokumen perencanaan dan anggaran, belum mencukupinya kapasitas keuangan daerah, dan
terbatasnya ketersediaan dan kapasitas personil daerah.

Pada aspek penegakan hukum, terjadi penurunan penyelesaian tindak pidana pada tahun 2010
untuk seluruh wilayah yang hanya mencapai 54,6 persen, sedangkan pada tahun 2009 rataͲrata
mencapai 64,7 persen. Permasalahan yang masih dirasakan adalah upaya penuntasan kejahatan
belum sepenuhnya menyentuh rasa keadilan seluruh lapisan masyarakat. Transparansi dan
akuntabilitas penegakan hukum perlu dilaksanakan dalam rangka pemberantasan korupsi,
sehingga opini bahwa keadilan hanya memihak kepada yang memiliki akses ekonomi kuat dapat
dihindarkan. Masih adanya kasus korupsi yang menarik perhatian masyarakat dengan melibatkan
aparatur negara dan belum dapat diselesaikan menjadi salah satu penyebab stagnansi Indeks
Persepsi Korupsi (IPK) untuk tahun 2010 sama dengan tahun 2009 yaitu 2,8. Beberapa perbaikan
telah dilaksanakan khususnya untuk peningkatan pelayanan public, namun harus diakui masih
belum optimal.
Terkait dengan data kependudukan, permasalahan utama adalah masih banyaknya daerah yang
belum menggunakan SIAK; masih adanya penduduk dengan Kartu Tanda Penduduk (KTP) ganda,
KTP palsu, NIK ganda, serta NIK yang tidak mencerminkan data yang faktual.

2.1.3. PermasalahanPencapaian
Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014 17
2.1.4. Rencana Tindak Lanjut
Berdasarkan capaian yang telah dihasilkan dan untuk mengatasi berbagai permasalahan yang
dihadapi maka akan terus diupayakan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Penataan kelembagaan birokrasi pemerintah melalui konsolidasi struktural berdasarkan tugas
pokok dan fungsi instansi pemerintah, perbaikan tata laksana (business process),
pengembangan manajemen SDM aparatur berbasis merit, dan pencapaian kinerja secara
opƟmal. Penataan yang dilakukan berpedoman pada Grand Design sistem kelembagaan
pemerintah. Selain itu, juga akan dilakukan pengembangan sistem dan analisis eĮƐiensi dan
ĞĨĞŬƟvitas kinerja kelembagaan, pengembangan indikator utama pembangunan aparatur
negara khususnya birokrasi pemerintah, serta diperkuat dengan database yang komprehensif;
2. Dari sisi ketatalaksanaan, untuk menciptakan peningkatan ĞĮsiensi, transparansi, dan
akuntabilitas dalam proses kerja instansi pemerintahan, terus diupayakan penyelesaian RUU
tentang Administrasi Pemerintahan dan RUU tentang LƟka Penyelenggara Negara, pada tahun
2011. UU tersebut diharapkan dapat menjadi landasan bagi sistem ketatalaksanaan yang
ĞĮƐŝĞŶ͕ transparan dan akuntabel;
3. Dalam hal SDM Aparatur, upaya pembenahan dilakukan melalui penyusunan landasan
kebijakan berupa UU SDM Aparatur yang ditargetkan selesai pada tahun 2012. Di samping itu,
upaya untuk meningkatkan kompetensi SDM Aparatur juga dilakukan melalui penerapan
sistem diklat pola baru, pengembangan sistem magang, dan pengembangan sistem informasi
dan database kepegawaian untuk mendukung pengelolaan manajemen kepegawaian secara
nasional dan terpadu;
4. Terkait dengan agenda Reformasi Birokrasi, perluasan implementasi Reformasi Birokrasi
Instansi di Ɵngkat pusat terus dilanjutkan. Pada ƟŶŐŬat daerah, sedang dilakukan persiapan
pelaksanaan pilot project Reformasi Birokrasi Instansi di beberapa provinsi/
kabupaten/kotamadya terpilih;
5. Penataan otonomi daerah melalui peningkatan peran gubernur sebagai wakil pemerintah
pusat di wilayah provinsi, pengheŶƟĂn/pembatasan pemekaran wilayah, peningkatan ĞĮsiensi
dan eĨĞŬƟvitas penggunaan dana perimbangan daerah, serta efekƟvitas dan ĞĮsiensi
pelaksanaan Pemilihan Umum Kepala Daerah tahun 2012;
6. Percepatan harmonisasi dan sinkronisasi peraturan perundang-undangan di ƟŶŐŬĂƚ pusat dan
daerah hingga tercapai keselarasan arah dalam implementasi pembangunan;
7. Penetapan dan penerapan sistem indikator kinerja utama pelayanan publik yang selaras antara
pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Di samping penerapan sistem Indikator Kinerja
Utama (IKU), juga akan diupayakan langkah-langkah untuk mengembangkan sistem evaluasi
kinerja pelayanan publik, penerapan standar pelayanan, dan pembenahan manajemen
pelayanan pada instansi pemerintah melalui perluasan penerapan PTSP, penerapan Teknologi
Informasi Komunikasi (TIK), dan pelaksanaan diklat bagi SDM pelayanan;
8. Peningkatan integrasi dan integritas penerapan dan penegakan hukum melalui peningkatan
kinerja penegakan hukum dan pemberantasan korupsi sehingga kepercayaan masyarakat
makin meningkat. Dalam rangka peningkatan IPK perlu dilakukan langkah perbaikan yang
mendukung pelayanan publik termasuk penegakan hukum. Fokus perbaikan yang akan
dilakukan di K/L adalah pada upaya pencegahan penyuapan (bribery) di lingkup pelayanan
pajak, bea cukai, dan perizinan serta penegakan hukum yaitu fokus pada korupsi poliƟŬ dan
pemberantasan mĂĮa hukum.
9. Penetapan NIK dan pengembangan SIAK dengan aplikasi pertama pada KTP.

18 Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014
Tabel2.1.1.PencapaianPembangunanPrioritasNasional1:
ReformasiBirokrasidanTataKelola,Tahun2010

No
RPJMN2010–2014
CAPAIAN
2009
CAPAIAN
2010 SUBSTANSIINTI SASARAN INDIKATOR
TARGET
2010
1.

STRUKTUR
Konsolidasi struktural dan
peningkatan kapasitas
kementerian/lembaga
yang menangani aparatur
negara yaitu Kementerian
Negara Pendayagunaan
Aparatur Negara (PAN),
Badan Kepegawaian
Negara (BKN), dan
Lembaga Administrasi
Negara (LAN) pada 2010;
Restrukturisasi lembaga
pemerintah lainnya,
terutama bidang
penguatan keberdayaan
UMKM, pengelolaan
energi, pemanfaatan
sumber daya kelautan,
restrukturisasi BUMN,
hingga pemanfaatan
tanah dan penataan
ruang bagi kepentingan
rakyat banyak selambat
lambatnya 2014
Terlaksananya
konsolidasi struktural
dan peningkatan
kapasitas Kemeneg
PAN dan RB, BKN, dan
LAN
Persentase
penyelesaian
konsolidasi struktural
dan peningkatan
kapasitas Kemeneg
PAN dan RB, BKN, dan
LAN
100%



Ͳ


30%




Terlaksananya
penataan kelembagaan
instansi pemerintah
lainnya

Persentase
Kementerian Negara
dan LPNK yang telah
tertata
kelembagaannya
20% Ͳ 20%
Persentase LNS yang
telah tertata organisasi
dan tata kerjanya.
20% Ͳ 20%
Pemantapan
pelaksanaan reformasi
birokrasi

Jumlah kebijakan
pelaksanaan reformasi
birokrasi yang
diterbitkan (grand
design RBN dan
kebijakan
pelaksanaannya)
1 Perpres
dan 1
Permen PAN
& RB
Ͳ 1 Perpres,
1 Keppres,
1 Permen
PAN & RB,
2 Kepmen
PAN & RB.
Jumlah instansi
pemerintah yang telah
melaksanakan
reformasi birokrasi
11 5 9
2. OTONOMIDAERAH
Penataan Otonomi
Daerah melalui: 1)
Penghentian/pembatasan
pemekaran wilayah; 2)
Peningkatan efisiensi dan
efektivitas penggunaan
dana perimbangan
daerah; dan 3)
Penyempurnaan
pelaksanaan pemilihan
kepala daerah
Terlaksananya seluruh
mekanisme
pengusulan pemekaran
dan penggabungan
daerah sesuai dengan
PP No 78 tahun 2007,
dalam rangka
penghentian/
pembatasan
pemekaran
wilayah/pembentukan
daerah otonom baru
Jumlah Strategi Dasar
Penataan Daerah
1 paket

Ͳ

Desertada
sudah disusun
namun belum
disepakati oleh
DPR RI

Peningkatan efektifitas
pemanfaatan DAK
sesuai Petunjuk
Pelaksanaan (juklak)
Persentase Provinsi,
Kab/Kota yang telah
memanfaatkan DAK
sesuai Juklak
70%



Ͳ


70%
Optimalisasi
penyerapan DAK oleh
daerah
Persentase daerah
yang telah Optimal
(100%) menyerap DAK
70%

Ͳ 80%
Terwujudnya tertib
administrasi
Jumlah rekomendasi
kebijakan untuk
dukungan materi
sebagai masukan
terhadap revisi UU No.
32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah
dan UU No. 33 Tahun
1 Paket Ͳ 1 paket
(100%)
Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014 19
No
RPJMN2010ʹ2014
CAPAIAN
2009
CAPAIAN
2010 SUBSTANSIINTI SASARAN INDIKATOR
TARGET
2010
2004 tentang
Perimbangan
Keuangan antara
Pemerintah dan
Pemerintahan Daerah.
Tersusunnya
kebijakan/ regulasi di
bidang fasilitasi dana
perimbangan yang
dapat diterapkan di
daerah
Jumlah Permendagri 6 Ͳ 1 Permendagri
tentang Juknis
DAK
Jumlah Surat Edaran
Mendagri
2 SE Ͳ 1 SE
Peningkatan kualitas
belanja daerah dalam
APBD
Persentase daerah
yang proporsi belanja
langsungnya lebih
besar dari belanja tidak
langsung
30% Ͳ 31%
Persentase rataͲrata
belanja modal
terhadap total belanja
daerah
26% Ͳ 23%
Penetapan APBD
secara tepat waktu
Persentase jumlah
APBD yang disahkan
secara tepat waktu.
60% Ͳ 91%
Provinsi dan
kabupaten/ kota
memiliki Laporan
Keuangan Pemerintah
Daerah (LKPD)
berstatus Wajar Tanpa
Pengecualian (WTP).
Persentase daerah
provinsi, Kab/Kota berͲ
LKPD dengan status
WTP.
15% Ͳ 15 daerah
Penetapan dan
penyampaian Raperda
pertanggungjawaban
pelaksanaan APBD
secara tepat waktu
Persentase penetapan
dan penyampaian
Raperda pertanggung
jawaban pelaksanaan
APBD yang disahkan
secara tepat waktu.
40% Ͳ 63%
Peningkatan Efektifitas
dan Efisiensi
Pengelolaan Dana
Transfer
Persentase ketepatan
jumlah penyaluran
jumlah dana transfer
ke daerah
100% Ͳ 100%
Terciptanya Tata Kelola
yang Tertib Sesuai
Peraturan PerundangͲ
undangan, Transparan,
adil, proporsional,
Kredibel, Akuntabel,
dan Profesional dalam
Pelaksanaan Transfer
ke Daerah
Ketepatan waktu
penyelesaian dokumen
pelaksanaan
penyaluran dana
transfer ke daerah
4 hari Ͳ 100%
(4 hari)
Tersusunnya UU
tentang PEMILU Kepala
Daerah dan Wakil
Kepala Daerah dan
terselengga ranya
Pilkada yang efisien
Persentase revisi
terbatas UU No. 32
tahun 2004 terkait
dengan efisiensi
pelaksanaan Pilkada
100%



Ͳ

Dalam proses
penyusunan
Naskah
Akademik
Jumlah UU tentang
PEMILU Kepala Daerah
dan Wakil Kepala
Daerah
1 UU Ͳ
20 Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014
No
RPJMN2010ʹ2014
CAPAIAN
2009
CAPAIAN
2010 SUBSTANSIINTI SASARAN INDIKATOR
TARGET
2010
3. SUMBERDAYAMANUSIA
Penyempurnaan
pengelolaan PNS yang
meliputi sistem
rekrutmen, pendidikan,
penempatan, promosi,
dan mutasi PNS secara
terpusat selambatͲ
lambatnya 2011
Tersusunnya kebijakan
tentang manajemen
keͲpegawaian (UU
tentang SDM Aparatur
Negara)
Jumlah RUU dan
peraturan
pelaksanaannya

1 RUU Ͳ 1 RUU
Tersusunnya kebijakan
(PP) tentang sistem
pengadaan
/rekruitmen dan
Seleksi PNS
Jumlah PP

1PP

Ͳ 1 RPP
Tersusunnya kebijakan
(PP) tentang
Kebutuhan Pegawai
Jumlah PP

1 PP

Ͳ 1 RPP
Tersusunnya kebijakan
(UU/ PP) tentang
remunerasi dan
tunjangan kinerja
Pegawai Negeri
Jumlah PP

1 PP

Ͳ 1 RPP
Tersusunnya kebijakan
tentang penilaian
kinerja pegawai (SKP)
Jumlah PP 1 PP Ͳ 1 RPP
Tersusunnya kebijakan
tentang sistem
pengelolaan dana
pensiun PNS
Jumlah PP 1 PP Ͳ 1 RPP
4. REGULASI
Percepatan harmonisasi
dan sinkronisasi
peraturan perundangan
di tingkat pusat maupun
daerah hingga tercapai
keselarasan arah dalam
implementasi
pembangunan, di
antaranya penyelesaian
kajian 12.000 peraturan
daerah selambatͲ
lambatnya 2011
Percepatan
harmonisasi dan
sinkronisasi peraturan
perundangͲ undangan
di tingkat pusat dan
daerah hingga tercapai
keselarasan arah dalam
implementasi
pembangunan
Jumlah perda yang
dikaji
3.000 perda Ͳ 3.000 perda
5. SINERGIANTARAPUSAT
DANDAERAH
Penetapan dan
penerapan sistem
Indikator Kinerja Utama
Pelayanan Publik yang
selaras antara
pemerintah pusat dan
pemerintah daerah
Meningkatnya
Implementasi Urusan
Pemerintahan Daerah
dan Standar Pelayanan
Minimal (SPM) di
Daerah
Jumlah SPM yang
ditetapkan
13 SPM 5 SPM 13 SPM
Jumlah Standar
Pelayanan Minimal
(SPM) yang telah
diterapkan oleh Daerah
5 SPM Ͳ 5 SPM
(fasilitasi
penerapan)
Terlaksananya asistensi
untuk mendorong
penerapan OSS/PTSP

Persentase Pemda
yang menerapkan OSS
(pelayanan terpadu
satu pintu)
70% 68%
(360) OSS
70%
(394) OSS
Tersusunnya peraturan
pelaksanaan dari UU
No. 25 Tahun 2009
tentang Pelayanan
Publik

Jumlah PP tentang
peraturan pelaksanaan
UU No. 25 Tahun 2009
tentang Pelayanan
Publik

5 PP Ͳ 2 RPP (Setelah
dilakukan
harmonisasi,
peraturan
pelaksanaan
nya cukup
dengan 2 PP
saja)
Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014 21
No
RPJMN 2010ʹ2014
CAPAIAN
2009
CAPAIAN
2010 SUBSTANSI INTI SASARAN INDIKATOR
TARGET
2010
Tersusunnya kebijakan
percepatan
peningkatan kualitas
pelayanan publik


Jumlah Inpres 1 - 0
(menunggu
diselesaikan
nya PP
pelaksanaan
UU no. 25
tahun 2009).
6. PENEGAKAN HUKUM
Peningkatan integrasi dan
integritas penerapan dan
penegakan hukum oleh
seluruh lembaga dan
aparat hukum
Penanganan LHKPN LHKPN yang
diumumkan dalam TBN
(Jumlah
Penyelenggara Negara)
21.000 93.570 114.570
Penyelesaian laporan
pengaduan hakim yang
diduga melanggar kode
ĞƟŬ dan pedoman
perilaku hakim serta
meningkatnya
kemampuan
profesionalisme hakim
Jumlah laporan
pengaduan masyarakat
yang ditangani hingga
tuntas
70 43 112
Jumlah sidang
pelanggaran kode ĞƟŬ
dan pedoman perilaku
hakim yang diproses
sampai ƟŶgkat Majelis
Kehormatan Hakim
(MKH)
15 3 9
Jumlah pelaƟhan
kemampuan dan
profesionalisme hakim
yang dilaksanakan
5 9 6
7. DATA KEPENDUDUKAN
Penetapan Nomor Induk
Kependudukan (NIK) dan
pengembangan Sistem
Informasi dan
Administrasi
Kependudukan (SIAK)
dengan aplikasi pertama
pada Kartu Tanda
Penduduk selambat-
lambatnya pada 2011
Terlaksananya ƚĞƌƟď
administrasi
kependudukan dengan
tersedianya data dan
informasi penduduk
yang akurat dan
terpadu.
Jumlah
kabupaten/kota yang
memberikan Nomor
Induk Kependudukan
(NIK) kepada ƐĞƟĂƉ
penduduk
497
kabupaten/
kota



-


329
kabupaten/
kota
Jumlah penduduk yang
menerima e-KTP
berbasis NIK dengan
perekaman sidik jari
4,2 juta jiwa di 6
kabupaten/kota
- masih dalam
proses
persiapan
Sumber:
1. Laporan monitoring kegiatan pembangunan bidang aparatur negara tahun 2010 (Direktorat Aparatur Negara, Bappenas)
2. Laporan Pemantauan Rencana Kerja Pemerintah 2010 Bidang Desentralisasi dan Otonomi Daerah.
22 Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014

EvaluasiSatuTahunPelaksanaanRPJMN2010Ͳ2014 36



Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014 23























BAB 2.2. PRIORITAS NASIONAL 2: PENDIDIKAN


2.2.1. Pengantar
Pembangunan bidang pendidikan menempĂƟ peran sangat strategis dalam keseluruhan upaya
membangun kehidupan berbangsa dan bernegara. Pembukaan UUD 1945 menyebutkan bahwa
tujuan bernegara adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan memajukan kesejahteraan
rakyat. Seiring dengan makin meningkatnya komitmen dari semua pihak, anggaran pendidikan dari
tahun ke tahun terus mengalami peningkatan yang ďĞƌĂƌƟ. Mulai tahun 2009, anggaran
pendidikan sebesar 20 persen dari APBN dan APBD dapat diwujudkan.
Dalam rangka meningkatkan daya jangkau dan daya tampung sekolah, hingga saat ini telah
dilakukan berbagai kebijakan sehingga kesenjangan parƟsipasi pendidikan antarkelompok status
ekonomi bisa dipersempit. Selain kegiatan pembangunan sekolah baru dan penambahan ruang
kelas baru, pemerintah juga menyediakan Bantuan Operasional Sekolah (BOS) untuk seluruh
sekolah, madrasah, pesantren ƐĂůĂĮyah, dan sekolah keagamaan nonIslam yang
menyelenggarakan wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun. Program tersebut bertujuan
untuk membebaskan biaya pendidikan bagi siswa yang ƟĚĂŬ mampu dan meringankan beban
biaya bagi siswa yang lain. Untuk meningkatkan kemampuan masyarakat miskin menyekolahkan
anaknya disediakan pula beasiswa bagi siswa miskin untuk semua jenjang pendidikan, termasuk
menyediakan jalur pendidikan nonformal (pendidikan kesetaraan Paket A setara SD, Paket B
24 Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014
setara SMP, dan Paket C setara SMA) untuk menampung anakͲanak yang putus sekolah dan
mereka yang tidak dapat mengikuti jenjang pendidikan formal. Untuk meningkatkan kualitas tata
kelola pendidikan, penerapan manajemen berbasis sekolah (MBS) dan upaya penyelerasan
pelembagaan otonomi Perguruan Tinggi (PT) dilakukan sebagai mekanisme perbaikan manajemen
pendidikan.

2.2.2. PencapaianPrioritasNasional2:Pendidikan
Sampai tahun 2009/2010, upaya pembangunan pendidikan telah berhasil meningkatkan taraf
pendidikan masyarakat Indonesia yang ditandai dengan meningkatnya rataͲrata lama sekolah
penduduk usia 15 tahun ke atas yang mencapai 7,7 tahun, menurunnya proporsi buta aksara
penduduk usia 15 tahun ke atas menjadi 5,30 persen, serta meningkatnya angka partisipasi
pendidikan pada semua jenjang pendidikan. Pada jenjang pendidikan dasar dan menengah,
perbaikan akses terhadap pendidikan ditunjukkan oleh meningkatnya angka partisipasi murni
(APM) SD/SDLB/MI/Paket A dan APM SMP/SMPLB/MTs/Paket B pada tahun 2010 masingͲmasing
menjadi 95,41 persen dan 75,64 persen. Pada tahun yang sama, angka partisipasi kasar (APK)
jenjang pendidikan menengah (SMA/SMK/SMLB/MA/Paket C) juga meningkat menjadi 70,53
persen meskipun tidak mencapai target. Sementara itu, APK PT pada tahun 2010 telah mencapai
26,34 persen.
Dalam meningkatkan dan mempertahankan partisipasi masyarakat terhadap pendidikan,
pemerintah telah berupaya menyediakan pendidikan yang semakin terjangkau. Pemerintah
menyediakan dana BOS yang ditujukan untuk meringankan beban orang tua dalam menanggung
biaya operasional pembelajaran. Pada tahun 2009, Pemerintah menyediakan BOS bagi 27.130.968
siswa SD, 9.465.836 siswa SMP, dan 5.946.329 siswa di MI/MTs/Salafiyah Ula/Salafiyah Wustha.
Target cakupan program BOS meningkat pada tahun 2010 menjadi 27.672.820 siswa SD, 9.660.639
siswa SMP, dan 6.794.516 siswa MI/MTs/Salafiyah Ula/Salafiyah Wustha. Pada akhir Desember
2010, BOS dapat disalurkan kepada 26.630.889 siswa SD dan 9.387.670 siswa SMP serta 6.058.192
siswa MI/MTs/Salafiyah Ula/Salafiyah Wustha. Perbedaan target dan capaian terjadi karena
koreksi jumlah siswa yang seringkali terjadi pada awal tahun ajaran baru (bulan Juli). Dalam rangka
meningkatkan akuntabilitas pemanfaatan dana BOS, setiap satuan pendidikan diwajibkan untuk
menyampaikan laporan pemanfaatan dana BOS setiap triwulan (empat kali dalam satu tahun).
Dalam hal penyediaan sarana dan prasarana, pemerintah telah berusaha menyediakan bahan ajar
yang bermutu dan murah serta melengkapi sekolah dengan sambungan internet yang memuat
tentang pendidikan agar siswa dapat mengakses ilmu pengetahuan seluasͲluasnya. Dalam hal
penyediaan bahan ajar, Pemerintah secara bertahap membeli hak cipta buku sehingga harga jual
buku menjadi lebih murah. Upaya tersebut telah dilakukan sejak tahun 2009 dengan membeli hak
cipta 1.232 judul buku dari 345 jilid buku jenjang SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA, dan SLB, dan
dilanjutkan pada tahun 2010 dengan membeli 305 judul buku dari 57 jilid buku untuk semua
jenjang pendidikan. Jumlah sekolah yang dilengkapi dengan internet juga semakin bertambah.
Pada tahun 2010, proporsi satuan pendidikan jenjang SMA/SMK yang telah memiliki sambungan
internet yang memuat tentang pendidikan meningkat dari capaian pada tahun 2009.
Dalam rangka meningkatkan metodologi pembelajaran, Pemerintah terus mendorong
pengembangan dan penyempurnaan kurikulum yang memperhatikan kemampuan sosial, watak,
budi pekerti, kecintaan terhadap budaya bahasa Indonesia melalui penyempurnaan kurikulum di
jenjang pendidikan dasar dan menengah. Pada tahun 2010, kurikulum yang telah disempurnakan
ini diujicobakan di 125 satuan pendidikan untuk kemudian diperluas penerapannya pada tahunͲ
tahun berikutnya. Selain itu, Pemerintah juga telah mengembangkan soalͲsoal ujian nasional (UN)
serta melakukan evaluasi pelaksanaannya.
Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014 25
Kapasitas pengelolaan juga terus menerus ditingkatkan melalui peningkatan kapasitas kepala
sekolah agar dapat berperan sebagai manajer yang handal, serta pengembangan kemampuan
pengawas agar dapat berperan dalam penjaminan kualitas (quality assurance) proses dan hasil
pembelajaran. Peningkatan kapasitas dilaksanakan melalui pelatihan kepada kepala sekolah
jenjang SD, SMP, SMA, dan SMK serta pengawas sekolah. Pada tahun 2010, 36.662 kepala sekolah
di semua jenjang dan 21.558 pengawas sekolah di seluruh Indonesia telah mengikuti pelatihan
peningkatan kapasitas.
Pengetahuan kewirausahaan lulusan merupakan salah satu hal yang juga dipandang penting oleh
Pemerintah dalam menjamin lulusan agar tidak menganggur dan bahkan menciptakan lapangan
kerja mandiri. Dengan pengetahuan dan kemampuan kewirausahaan yang cukup, cara pandang
lulusan dapat diubah dari jobseeker menjadi jobcreator sehingga lulusan yang tidak melanjutkan
ke jenjang lebih tinggi atau siswa yang putus sekolah memiliki alternatif lain selain bekerja sebagai
pekerja upahan. Pendidikan kewirausahaan dilaksanakan di semua jenjang pendidikan dengan
memasukkan muatan kewirausahaan dalam kurikulum yang ada. Berbagai model kurikulum
pendidikan kewirausahaan telah dikembangkan dan telah diujicobakan di 125 satuan pendidikan,
dan akan dilanjutkan ke 125 satuan pendidikan lainnya pada tahun 2011 untuk kemudian
diterapkan secara nasional.
Seiring dengan peningkatan input (akses pendidikan) dan proses pembelajaran (metodologi),
Pemerintah juga memberikan perhatian terhadap peningkatan kualitas pendidikan yang dilakukan
melalui peningkatan kapasitas guru dalam mengajar, penerapan sistem evaluasi kinerja profesional
tenaga pengajar, dan perbaikan distribusi guru. Sampai dengan tahun 2010, 20 persen guru telah
mengikuti program peningkatan kompetensi dan profesionalisme melalui continuous professional
development. Pemerintah juga telah mengembangkan standar, sistem, program, bahan dan model
diklat bagi guru yang digunakan untuk menerapkan sistem evaluasi kinerja guru.
Pada tingkat pendidikan tinggi, peningkatan kualitas dan daya saing pendidikan jenjang pendidikan
tinggi ditandai dengan jumlah perguruan tinggi yang masuk ke dalam peringkat 500 terbaik versi
lembaga pemeringkat independen internasional. Sampai tahun 2010, terdapat delapan universitas
di Indonesia yang berhasil menembus peringkat 200 besar di wilayah Asia, yaitu UI, UGM, UNAIR,
ITB, IPB, UNDIP, UNS, dan UNIBRAW. Sebagai instrumen penjaminan mutu, Pemerintah
menggunakan pemilikan sertifikasi ISO 9001:2000 oleh PTN, PTS, dan SMK.
Selain pendidikan umum, kualitas pendidikan agama dan keagamaan juga mendapat perhatian
dari Pemerintah ditandai dengan tersusunnya rancangan Standar Nasional Pendidikan untuk
pendidikan agama dan keagamaan pada tahun 2010. Standar Nasional Pendidikan ini rencananya
akan disosialisasikan, diujicobakan, dan diterapkan ke seluruh satuan pendidikan agama dan
keagamaan.

2.2.3. PermasalahanPencapaian
Merujuk pencapaian sampai dengan tahun 2010, masih terdapat beberapa permasalahan yang
menyebabkan beberapa target dalam substansi inti pembangunan pendidikan belum tercapai
serta tantangan baru bagi target yang telah tercapai. Meskipun APM dan APK di semua jenjang
pendidikan terus meningkat, peningkatan APK SMA/SMK/MA/Paket C masih berada di bawah
target. Kemungkinan target RPJMN untuk APK SMA/SMK/MA/Paket C pada tahun 2014 sebesar 85
persen tidak dapat tercapai apabila tidak dilakukan langkahͲlangkah perbaikan. Sementara itu,
capaian penyaluran dana BOS yang sudah 100 persen masih menghadapi tantangan dalam
penyaluran dana BOS yang tepat waktu, terutama pada daerah terpencil atau dengan kondisi
geografis yang sulit dijangkau.
26 Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014
Berkaitan dengan pengembangan kurikulum, target jumlah satuan pendidikan yang representatif
untuk pengembangan uji coba kurikulum tidak dapat dicapai sesuai rencana. Dari target sebanyak
250 satuan pendidikan yang menjadi target pengembangan uji coba kurikulum, baru 125 satuan
pendidikan yang bisa tercapai. Kekurangan target satuan pendidikan harus dipenuhi pada tahun
berikutnya sebelum diterapkan untuk seluruh satuan pendidikan.
Sementara itu, penyediaan TIK yang memuat tentang pendidikan harus terus dilanjutkan karena
belum semua satuan pendidikan dapat melakukan pembelajaran dengan memanfaatkan fasilitas
tersebut. Begitu juga dengan penyediaan buku bahan ajar yang berkualitas dan murah, baru 50
persen dari target jumlah judul buku yang telah dibeli dan dialihkan hak ciptanya oleh Pemerintah.
Terkait dengan penerapan kurikulum yang telah disempurnakan, uji coba penerapan kurikulum
baru dapat dilaksanakan di 125 satuan pendidikan (50 persen dari target). Pada tahun berikutnya,
penerapan uji coba ke 125 satuan pendidikan lainnya harus dijamin pelaksanaannya.
Bila merujuk kembali pada pencapaian sampai dengan tahun 2010, sebenarnya masih tersisa
permasalahan dan tantangan yang dihadapi dalam pembangunan bidang pendidikan, yaitu belum
optimalnya peningkatan akses, kualitas dan relevansi pendidikan, permasalahan ketenagaan,
sarana dan prasarana, serta pembangunan pendidikan secara umum.
Peningkatan akses, kualitas, dan relevansi pendidikan yang belum tercapai secara optimal masih
menjadi tantangan dalam beberapa tahun ke depan. Pertama, belum meratanya akses terhadap
pendidikan di semua jenjang, termasuk akses terhadap pendidikan agama dan pendidikan
keagamaan. Kedua, belum optimalnya tingkat kesiapan anak bersekolah. Ketiga, kemampuan
kognitif, karakter, dan softͲskill lulusan yang harus ditingkatkan. Keempat, belum optimalnya
kualitas dan relevansi pendidikan menengah. Kelima, perlunya peningkatan kualitas, relevansi dan
daya saing pendidikan tinggi termasuk kualitas penelitiannya. Keenam, kualitas pendidikan agama
dan pendidikan keagamaan yang belum optimal.
Tantangan yang dihadapi dalam hal ketenagaan dan sarana dan prasarana diantaranya pertama,
belum meratanya distribusi guru. Kedua, kualifikasi akademik dan profesionalisme guru yang perlu
peningkatan. Ketiga, belum tuntasnya rehabilitasi gedung sekolah dan ruang kelas yang rusak.
Keempat, belum optimalnya penyediaan buku mata pelajaran, laboratorium dan perpustakaan
berkualitas. Kelima, belum maksimalnya pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi dalam
pendidikan.

2.2.4. RencanaTindakLanjut
Untuk menjawab permasalahan di atas, pembangunan pendidikan jenjang pendidikan dasar pada
tahun berikutnya antara lain akan diarahkan pada: pemantapan/rasionalisasi implementasi BOS
termasuk dengan mengalokasikan dana BOS melalui transfer daerah; peningkatan mutu proses
pembelajaran; dan penguatan pelaksanaan proses belajar mengajar dengan iklim sekolah yang
mendukung tumbuhnya sikap saling menghargai, sportif, kerja sama, kepemimpinan, kemandirian,
partisipatif, kreatif, dan inovatif (softskills). Pada jenjang pendidikan menengah, diambil langkahͲ
langkah: peningkatan akses pendidikan menengah jalur formal dan nonformal untuk dapat
menampung meningkatnya lulusan SMP/MTs/sederajat sebagai dampak penuntasan Wajib Belajar
Pendidikan Dasar Sembilan Tahun, rehabilitasi gedungͲgedung SMA/SMK/MA/sederajat, serta
peningkatan pendidikan kewirausahaan untuk jenjang pendidikan menengah.
Pada jenjang pendidikan tinggi, kebijakan yang diambil antara lain adalah peningkatan akses dan
pemerataan pendidikan tinggi dengan memperhatikan keseimbangan antara jumlah program studi
sejalan dengan tuntutan kebutuhan pembangunan; penguatan otonomi dan manajemen
Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014 27
pendidikan tinggi dalam rangka membangun universitas riset (research university) menuju
terwujudnya universitas kelas dunia (worldclassuniversity); peningkatan ketersediaan dan kualitas
sarana dan prasarana pendidikan tinggi, seperti perpustakaan dan laboratorium; peningkatan
kualifikasi dosen melalui pendidikan S2/S3 baik di dalam maupun di luar negeri; peningkatan
pendidikan kewirausahaan, termasuk technopreneurbagi dosen dan mahasiswa; serta pemberian
beasiswa perguruan tinggi untuk siswa SMA/SMK/MA yang berprestasi dan kurang mampu.
Dalam hal tenaga pendidik dan kependidikan, tindak lanjut antara lain akan difokuskan pada
peningkatan kualifikasi akademik, sertifikasi, evaluasi, pelatihan, pendidikan, dan penyediaan
berbagai tunjangan guru; penguatan kemampuan guru, termasuk kepala sekolah dan pengawas
sekolah, dalam menjalankan paradigma pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, entrepreneurial,
dan menyenangkan; peningkatan kompetensi guru melalui pengembangan profesional
berkelanjutan (continuous professional development); pemberdayaan peran kepala sekolah
sebagai manajer sistem pendidikan yang unggul; revitalisasi peran pengawas sekolah sebagai
entitas quality assurance; peningkatan efisiensi, efektivitas, pengelolaan, dan pemerataan
distribusi guru; serta penyediaan tenaga pendidik di daerah terpencil, perbatasan, dan kepulauan
sesuai dengan standar pelayanan minimal.
Peningkatan kualitas pendidikan agama dan keagamaan juga akan ditindaklanjuti melalui
peningkatan jumlah dan kapasitas guru, kapasitas penyelenggara, pemberian bantuan dan fasilitasi
penyelenggaraan pendidikan, serta pengembangan kurikulum dan metodologi pembelajaran
pendidikan agama dan keagamaan yang efektif sesuai dengan Standar Pendidikan Nasional (SNP)
paling lambat pada tahun 2013.
Upaya di atas akan didukung oleh: penguatan sistem evaluasi, akreditasi dan sertifikasi termasuk
sistem pengujian dan penilaian pendidikan dalam rangka penilaian kualitas dan akuntabilitas
penyelenggaraan pendidikan di tingkat satuan pendidikan, kabupaten/kota, provinsi, dan nasional;
peningkatan ketersediaan dan kualitas sarana dan prasarana pendidikan seperti laboratorium,
perpustakaan, dan didukung oleh ketersediaan bukuͲbuku mata pelajaran yang berkualitas dan
murah, untuk memenuhi standar pelayanan minimal termasuk di daerah pemekaran baru; serta
peningkatan penerapan dan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi di bidang
pendidikan termasuk penyediaan internet yang memuat pendidikan mulai jenjang pendidikan
dasar sampai pendidikan tinggi. Seluruh kebijakan di atas juga akan ditujukan untuk mengurangi
kesenjangan taraf pendidikan antarwilayah, gender, dan antartingkat sosial ekonomi.

28 Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014
Tabel 2.2.1. Pencapaian Pembangunan Prioritas Nasional 2:
Pendidikan, Tahun 2010

No.
RPJMN 2010ʹ2014
CAPAIAN
2009*
CAPAIAN
2010** SUBSTANSI INTI SASARAN INDIKATOR
TARGET
2010
1. AKSES PENDIDIKAN
DASAR-MENENGAH:
Peningkatan Angka
PaƌƟsipasi Murni (APM)
pendidikan dasar dari
95% di 2009 menjadi
96% di 2014 dan APM
pendidikan sĞƟngkat
SMP dari 73% menjadi
76% dan Angka
PaƌƟsipasi Kasar (APK)
pendidikan sĞƟngkat
SMA dari 69% menjadi
85%; Pemantapan/
rasionalisasi
implementasi BOS,
penurunan harga buku
standar di Ɵngkat
sekolah dasar dan
menengah sebesar 30-
50% selambat-lambatnya
2012 dan penyediaan
sambungan internet ber-
content pendidikan ke
sekolah Ɵngkat
menengah selambat-
lambatnya 2012 dan
terus diperluas ke Ɵngkat
sekolah dasar.


Meningkatnya Angka
PaƌƟsipasi Murni
(APM) pendidikan
dasar dari 95% di
2009 menjadi 96% di
2014


APM SD/SDLB/MI/
Paket A


95,2%
a





95,23%
b





95,41%
b


Meningkatnya APM
pendidikan sĞƟngkat
SMP dari 73% di 2009
menjadi 76% di 2014.
APM
SMP/SMPLB/MTs/
Paket B
74,0%
a
74,52%
b
75,64%
b
Meningkatnya APK
pendidikan sĞƟngkat
SMA dari 69%
menjadi 85% di 2014.
APK
SMA/SMK/SMLB/
MA/ Paket C
73,0%
a
69,6%
b
70,53%
b
Memantapkan
implementasi BOS

Jumlah siswa
penerima dana
BOS:
SD/SDLB
SMP/SMPLB
MlͬSĂůĂĮyah
uůĂͬM1ƐͬSĂůĂĮLJ
ah Wustha


27.672.820
a
9.660.639
a
6.794.516
a



27.130.968
b
9.465.836
b
5.946.329
d



26.630.889
c
9.387.670
c
6.058.192
d

Menurunkan harga
buku standar di
ƟŶŐkat sekolah dasar
melalui pembelian
dan pengalihan hak
cipta buku teks
pelajaran
Pengalihan Hak
Cipta sejumlah
judul buku teks
pelajaran :
SD / sederajat
SMP/sederajat
SMA/sederajat
SMK/Sederajat




95
c
47
c
41
c
37
c




507
b
219
b
284
b
222
b




179
c
47
c
49
c
30
c
Menyediakan
sambungan internet
ber-content
pendidikan ke
sekolah Ɵngkat
menengah selambat-
lambatnya 2012 dan
terus diperluas ke
ƟŶŐkat sekolah dasar.
Jumlah satuan
pendidikan jenjang
SMP dan SMA yang
menerapkan
pembelajaran
berbasis TIK
9.352
c
- 9.352
c
2. AKSES PENDIDIKAN
TINGGI:
Peningkatan APK
pendidikan Ɵnggi
menjadi 25% di 2014


Meningkatnya APK
pendidikan Ɵnggi
menjadi 25% di 2014


APK pendidikan
ƟŶŐŐi


24,8%
a


21,57 %
b


26,34%
b

3.

METODOLOGI:
Penerapan metodologi
pendidikan yang Ɵdak
lagi berupa pengajaran
demi kelulusan ujian
(teaching to the test),
namun pendidikan
menyeluruh yang

Diterapkannya
metodologi
pendidikan
pendidikan
menyeluruh yang
memperhaƟkan
kemampuan sosial,

Kesesuaian Sistem
Ujian Akhir
Nasional dengan
memperhaƟkan
kemampuan sosial,
watak, budi
pĞŬĞƌƟ, kecintaan

80%

-

80%
Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014 29
No.
RPJMN 2010ʹ2014
CAPAIAN
2009*
CAPAIAN
2010** SUBSTANSI INTI SASARAN INDIKATOR
TARGET
2010
memperha kan
kemampuan sosial,
watak, budi peker ,
kecintaan terhadap
budaya-bahasa
Indonesia melalui:
Penyesuaian sistem
Ujian Akhir Nasional
pada 2011; dan
Penyempurnaan
kurikulum sekolah
dasar-menengah
sebelum tahun 2011
yang diterapkan di 25%
sekolah pada 2012 dan
100% pada 2014
watak, budi peker ,
kecintaan terhadap
budaya-bahasa
Indonesia


terhadap budaya-
bahasa Indonesia
Persentase sekolah
yang menerapkan
kurikulum yang
telah
disempurnakan
10%









- 10%









4. PENGELOLAAN:
Pemberdayaan peran
Kepala Sekolah sebagai
manajer sistem
pendidikan yang unggul,
revitalisasi peran
Pengawas Sekolah
sebagai en tas quality
assurance, mendorong
ak peran Komite
Sekolah untuk
menjamin keterlibatan
pemangku kepe ngan
dalam proses
pembelajaran, dan
Dewan Pendidikan di
kat Kabupaten.

Meningkatnya
kapasitas kepala
sekolah semua
jenjang pendidikan
sehingga mampu
berperan sebagai
manajer sistem
pendidikan yang
unggul




Persentase kepala
sekolah dan TK/SD,
SMP, dan
SMA/SMK yang
sudah mengiku
pe an kepala
sekolah
terakreditasi yang
berkuaůŝĮkasi
menurut
kabupaten/kota

15%
c
(36.102
orang)






-

15,23%
c
(36.662
orang)





Meningkatnya
kapasitas pengawas
sekolah untuk
memperkuat
perannya sebagai
en tas quality
assurance
Persentase kepala
sekolah dan
pengawas TK/SD,
SMP, dan
SMA/SMK yang
sudah mengiku
pe an kepala
Sekolah
terakreditasi yang
berkuaůŝĮkasi
menurut
kabupaten kota
15%
c
(21.913
orang)
- 14,78%
c
(21.558
orang)
5.

KURIKULUM:
Penataan ulang
kurikulum sekolah yang
dibagi menjadi
kurikulum gkat
nasional, daerah, dan
sekolah dengan
memasukkan
pendidikan
kewirausahaan.

Tersusunnya
kurikulum sekolah
dengan memasukkan
pendidikan
kewirausahaan



Jumlah PT yang
mengembangkan
pendidikan
berbasis
entrepreneurship

95
c

-

110
c
Jumlah model
kurikulum yang
disusun:
- SD/MI
- SMP/MTs
- SMA/MA
- SMK





1
b
1
b
1
b
1
b



-
-
-
-



1
1
1
1
6.

KUALITAS:
Peningkatan kualitas

Meningkatnya

Persentase guru

20%
e

110.494

20%
30 Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014
No.
RPJMN 2010ʹ2014
CAPAIAN
2009*
CAPAIAN
2010** SUBSTANSI INTI SASARAN INDIKATOR
TARGET
2010
guru, pengelolaan dan
layanan sekolah,
melalui: 1) program
remediasi kemampuan
mengajar guru; 2)
penerapan sistem
evaluasi kinerja
profesional tenaga
pengajar; 3) Įkasi
ISO 9001:2008 di 100%
PTN, 50% PTS, 100%
SMK sebelum 2014; 4)
membuka luas
kerjasama PTN dengan
lembaga pendidikan
internasional; 5)
mendorong 11 PT
masuk Top 500 THES
pada 2014; 6)
memas kan
perbandingan
guru:murid di se ap SD
& MI sebesar 1:32 dan
di se SMP & MTs
1:40; dan 7)
memas kan
tercapainya Standar
Nasional Pendidikan
(SNP) bagi Pendidikan
Agama dan Keagamaan
paling lambat tahun
2013.
kualitas guru,
pengelolaan dan
layanan sekolah
melalui:
Program remediasi
kemampuan
mengajar guru;
yang mengiku
peningkatan
kompetensi dan
profesionalisme
orang
Penerapan sistem
evaluasi kinerja
profesional tenaga
pengajar;
Jumlah
pengembangan
standar, sistem,
program, bahan
dan model diklat
bagi guru per
tahun
4
e
- 4
Se Įkasi ISO
9001:2008 di 100%
PTN, 50% PTS, 100%
SMK sebelum 2014;
Persentase
s Įkasi ISO
9001:2008
- PTN
- PTS
- SMK



29%
e
18%
e
26%
e


-
-
-



29%
18%
26%
Membuka luas
kerjasama PTN
dengan lembaga
pendidikan
internasional;
Jumlah PT
mengembangkan
Kerjasama
Kelembagaan
Dalam dan Luar
Negeri
40%
e
- 40%
e
Mendorong 11 PT
masuk Top 500 THES
pada 2014;
Jumlah PT masuk
500 terbaik versi
Lembaga
Pemeringkatan
Independen
Internasional
8
b
7
b
8
b
Mem kan
perbandingan
guru:murid di se ap
SD & MI sebesar 1:32
dan di se ap SMP &
MTs 1:40;
Persentase
kab/kota yang
memiliki
perbandingan guru
dan murid:
- 1:32 untuk
SD/MI
- 1:40 untuk
SMP/MTs



48,0%
e
47,4%
e



-



48,0 %
47,4%
Mem kan
tercapainya Standar
Nasional Pendidikan
(SNP) bagi Pendidikan
Agama dan
Keagamaan paling
lambat tahun 2013.
Penyusunan dan
penerapan Standar
Nasional
Pendidikan (SNP)
untuk pendidikan
agama dan
keagamaan
Tersusunnya
SNP
100%
c
- Tersusunnya
100%
SNP


d

Keterangan:
* Capaian masih kosong karena indikator belum dipantau pada tahun 2009
** Capaian 2010 yang belum tersedia datanya dies masi 100% dari target
Sumber:
(a) : RKP 2010, (b) : Kemdiknas, (c) : Laporan Inpres 1/2010, Kemdiknas, (d) : Kemenag, ( e) : RPJMN 2010ʹ2014
Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014 31

BAB2.3. PRIORITASNASIONAL3:KESEHATAN

2.3.1. Pengantar
Pembangunan kesehatan merupakan komponen penting dalam pembangunan kualitas sumber
daya manusia yang produktif secara sosial dan ekonomi. Dengan mewujudkan derajat kesehatan
masyarakat yang setinggiͲtingginya, pembangunan kesehatan menjadi bagian dalam mendukung
pertumbuhan ekonomi dan penanggulangan kemiskinan. Status kesehatan dan gizi masyarakat
Indonesia yang diukur antara lain dengan Umur Harapan Hidup (UHH), Angka Kematian Ibu (AKI),
Angka Kematian Bayi (AKB), dan prevalensi kekurangan gizi pada balita terus menunjukkan
perbaikan. Perbaikan status kesehatan dan gizi masyarakat terus dilakukan melalui berbagai
upaya, antara lain: peningkatan akses upaya kesehatan yang bermutu dan terjangkau oleh
masyarakat; penyediaan sumber daya kesehatan; pemberdayaan peran aktif masyarakat dalam
upaya kesehatan; penyediaan jaminan kesehatan; penyediaan, pemerataan, dan keterjangkauan
obat dan perbekalan kesehatan; dan pengembangan manajemen dan informasi kesehatan.
Sementara itu, jumlah penduduk yang besar merupakan tantangan utama pembangunan kualitas
sumber daya manusia, terutama dalam hal penyediaan pelayanan dasar dan lapangan kerja.
Sumber daya manusia tanpa disertai kualitas yang baik tentunya hanya akan menambah berat
beban pembangunan. Untuk itu, dalam rangka pengendalian kuantitas penduduk, program KB
32 Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014
menjadi salah satu prioritas dalam pembangunan. Berdasarkan hasil Sensus Penduduk/SP, dalam
periode 10 tahun (2000–2010), rataͲrata laju pertumbuhan penduduk (LPP) Indonesia meningkat
dari 1,45 persen menjadi sebesar 1,49 persen, dan secara absolut jumlah penduduk meningkat
sebanyak 32,5 juta jiwa, yaitu dari sebanyak 205,8 juta jiwa pada tahun 2000 (SP 2000) menjadi
sebanyak 237,6 juta jiwa pada tahun 2010 (SP 2010). Pertambahan jumlah penduduk yang
demikian besar merupakan warning bahwa program dan kelembagaan KB perlu terus diperkuat
baik di tingkat pusat maupun di daerah. Melalui program keluarga berencana telah dapat
dihindarkan pertambahan dan pertumbuhan penduduk yang tidak terkendali sehingga setiap
keluarga dapat merencanakan kehidupannya menjadi lebih berkualitas dan sejahtera, dengan
membentuk keluarga kecil yang berkualitas.

2.3.2. PencapaianPrioritasNasional3:Kesehatan
Status kesehatan dan gizi masyarakat terus menunjukkan kemajuan antara lain ditandai dengan:
(1) meningkatnya umur harapan hidup (UHH) menjadi 70,9 tahun (2010), (2) menurunnya angka
kematian ibu (AKI) menjadi sebesar 228 per 100.000 kelahiran hidup (2007), (3) menurunnya
angka kematian bayi (AKB) menjadi sebesar 34 per 1.000 kelahiran hidup (2007), (4) menurunnya
prevalensi kekurangan gizi menjadi sebesar 17,9 persen (2010), dan (5) menurunnya prevalensi
anak balita yang pendek (stunting) menjadi sebesar 35,6 persen (2010).
Dalam rangka peningkatan upaya kesehatan preventif terpadu, pertolongan persalinan oleh
tenaga kesehatan yang menjadi indikator antara (proksi) dalam upaya penurunan kematian ibu
terus meningkat menjadi 82,2 persen (Riskesdas, 2010). Kunjungan ibu hamil ke fasilitas
pelayanan kesehatan untuk mendapatkan pelayanan antenatal pada trimester pertama kehamilan
(K1) mencapai 72,3 persen, lebih tinggi dari kunjungan keempat (K4) yaitu sebesar 61,4 persen
(Riskesdas, 2010). Selanjutnya dalam rangka meningkatkan status kesehatan anak, upaya
perbaikan akses dan kualitas pelayanan imunisasi terus membaik ditandai dengan cakupan
imunisasi lengkap anak balita yang mencapai 53,8 persen (Riskesdas, 2010). Kunjungan ke
pelayanan kesehatan pada saat bayi berumur 6Ͳ48 jam (kunjungan neonatal pertama/KN1)
mencapai 71,4 persen (Riskesdas, 2010). Cakupan pelayanan kesehatan bayi mencapai 84,01
persen dan cakupan pelayanan kesehatan balita mencapai 78,1 persen (Kemkes, 2010).
Penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan, seperti puskesmas, puskesmas pembantu, poskesdes,
serta rumah sakit sebagai salah satu komponen untuk perbaikan upaya kesehatan juga terus
ditingkatkan. Rasio puskesmas terhadap penduduk meningkat dari 3,6 per 100.000 penduduk
pada tahun 2007 menjadi 3,78 per 100.000 penduduk pada tahun 2009 (Profil Kesehatan, 2009).
Sementara itu, pada tahun 2009, rasio tempat tidur (TT) rumah sakit terhadap penduduk sebesar
70,74 TT per 100.000 penduduk (Profil Kesehatan, 2009).
Dalam rangka meningkatkan keterjangkauan masyarakat terhadap obat, ketersediaan obat dan
vaksin di sarana pelayanan kesehatan terus ditingkatkan dan mencapai 82 persen (2010). Berbagai
upaya yang telah dilakukan mencakup: penyediaan jumlah dan jenis obat generik; pemberlakuan
daftar obat esensial nasional (DOEN) sebagai sebagai dasar pengadaan obat; evaluasi dan
penilaian terhadap harga obat, khususnya obat generik; labelisasi obat generik termasuk
pencantuman harga eceran tertinggi (HET); peningkatan akses kefarmasian; serta penyuluhan dan
penyebaran informasi, agar obat digunakan secara tepat dan rasional.
Selanjutnya, dalam rangka perlindungan terhadap risiko finansial akibat masalah kesehatan,
pelaksanaan Jamkesmas telah berhasil mendorong peningkatan cakupan jaminan
pembiayaan/asuransi kesehatan. Seluruh penduduk miskin telah tercakup dalam skema
Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014 33
pembiayaan Jamkesmas dan selanjutnya penerapan asuransi kesehatan akan diperluas secara
bertahap untuk seluruh penduduk. Sampai dengan akhir Desember tahun 2010, cakupan asuransi
kesehatan telah mencapai sekitar 59,07 persen. Cakupan tersebut terdiri dari asuransi kesehatan
pegawai negeri sipil (PNS dan TNI/POLRI) sebesar 7,32 persen; Jamsostek sebesar 2,08 persen;
asuransi perusahan sebesar 2,72 persen; asuransi swasta lainnya sebesar 1,21 persen; jaminan
kesehatan masyarakat (Jamkesmas) sebesar 32,37 persen; dan 13,37 persen tercakup dalam
Jamkesda bagi penduduk miskin (Kemkes, 2010).
Sementara itu, dalam pelaksanaan program KB, angka pemakaian kontrasepsi/contraceptive
prevalence rate (CPR) terus meningkat yang ditandai dengan meningkatnya jumlah peserta KB,
yaitu: (1) meningkatnya pencapaian jumlah peserta KB baru dari sasaran sebanyak 7,2 juta
menjadi sebanyak 8,6 juta yang terdiri dari jumlah peserta KB baru miskin (keluarga praͲ
sejahtera/KPS dan keluarga sejahtera I/KS 1) dan rentan lainnya sebanyak 3,8 juta, jumlah peserta
KB baru yang menggunakan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) sebanyak 1,2 juta, serta
jumlah peserta KB baru pria sebanyak 713,2 ribu; (2) meningkatnya pencapaian jumlah peserta KB
aktif dari sasaran sebanyak 26,7 juta menjadi sebanyak 33,7 juta yang terdiri dari peserta KB aktif
miskin (KPS dan KS 1) dan rentan lainnya menjadi sebanyak 14,3 juta, jumlah peserta KB aktif
MKJP menjadi sebanyak 7,9 juta, serta jumlah peserta KB aktif pria sebanyak 1,1 juta.
Upaya pengendalian penyakit terus ditingkatkan baik dalam aspek yang bersifat preventif dan
promotif maupun aspek yang bersifat kuratif dan rehabilitatif. Hingga tahun 2009, pengendalian
prevalensi HIV terus diupayakan mencapai kurang dari 0,2 persen (Hasil Estimasi Prevalensi HIV
Kemkes, 2009). Persentase kasus baru tuberkulosis (TB) paru (BTA positif) yang ditemukan dan
yang disembuhkan masingͲmasing mencapai 74,7 persen dan 86,4 persen, serta angka penemuan
kasus malaria (annual parasite index/API) mencapai 1,96 per 1.000 penduduk (Kemkes 2010).
Selanjutnya, pada aspek kesehatan lingkungan, akses penduduk terhadap air minum dan sanitasi
yang layak masih rendah yaitu sebesar 45,7 persen dan 55,5 persen (Riskesdas, 2010).

2.3.3. PermasalahanPencapaian
Permasalahan yang harus dipecahkan dan diatasi dalam meningkatkan status kesehatan
masyarakat antara lain adalah: (1) masih tingginya angka kematian ibu dan anak, yang ditandai
dengan masih rendahnya persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan, masih rendahnya
cakupan pelayanan antenatal, masih rendahnya cakupan imunisasi lengkap pada bayi, masih
rendahnya cakupan kunjungan neonatal, dan belum optimalnya upaya perbaikan status gizi
masyarakat; (2) masih rendahnya kualitas kesehatan lingkungan, yang ditandai dengan masih
rendahnya akses penduduk terhadap air minum dan sanitasi layak; (3) masih rendahnya akses
masyarakat terhadap fasilitas pelayanan kesehatan yang berkualitas; dan (4) masih terbatasnya
sumber daya manusia kesehatan, yang ditandai dengan masih rendahnya jumlah, distribusi dan
kualitas tenaga kesehatan, terutama di daerah tertinggal, perbatasan dan kepulauan.
Selanjutnya, ketersediaan obat serta pengawasan obat dan makanan masih terbatas, yang
ditandai dengan belum optimalnya penyediaan dan pemerataan obat esensial generik dan alat
kesehatan dasar; belum optimalnya penyelenggaraan pelayanan kefarmasian yang berkualitas;
dan belum optimalnya cakupan pengawasan sarana produksi obat dan makanan. Dalam rangka
meningkatkan cakupan asuransi kesehatan nasional, pembiayaan kesehatan untuk memberikan
jaminan perlindungan kesehatan masyarakat masih terbatas yang ditandai dengan masih
rendahnya cakupan jaminan kesehatan bagi masyarakat terutama bagi pekerja sektor informal.
34 Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014
Permasalahan yang dihadapi dalam rangka revitalisasi program keluarga berencana, antara lain:
(1) rendahnya aksesibilitas dan kualitas pelayanan KB bagi keluarga Pasangan Usia Subur (PUS),
terutama PUS yang miskin (KPS dan KSͲI); (2) masih rendahnya pengetahuan PUS mengenai KB
dan kesehatan reproduksi; (3) adanya kekhawatiran terhadap efek samping dan komplikasi dari
pemakaian alat dan obat kontrasepsi; (4) masih tingginya disparitas pemakaian alat dan obat
kontrasepsi dan kebutuhan berͲKB yang tidak terpenuhi, baik antarprovinsi, antarwilayah desaͲ
kota, dan antarstatus sosial ekonomi; serta (5) masih terbatasnya kapasitas kelembagaan dan
sumber daya manusia petugas lini lapangan KB di daerah.
Dalam rangka pengendalian penyakit, angka kesakitan dan kematian akibat penyakit menular
(terutama tuberkulosis, HIV dan AIDS, malaria, diare, dan DBD) masih cukup tinggi. Hal ini
disebabkan oleh masih buruknya kondisi kesehatan lingkungan, perilaku masyarakat yang belum
mengikuti pola perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), dan belum optimalnya upaya
penanggulangan penyakit.

2.3.4. RencanaTindakLanjut
Dengan memperhatikan permasalahan di atas, maka rencana tindak lanjut diprioritaskan pada
upaya:
1. Peningkatan upaya kesehatan preventif terpadu, melalui: (a) penyediaan sarana kesehatan
yang mampu melaksanakan PONED dan PONEK; (b) pemenuhan kebutuhan tenaga kesehatan
strategis untuk meningkatkan pertolongan persalinan oleh tenaga terlatih; (c) peningkatan
cakupan kunjungan ibu hamil (K1 dan K4); (d) peningkatan cakupan pasien komplikasi
kebidanan yang ditangani; (e) peningkatan cakupan peserta KB aktif yang dilayani sektor
pemerintah; (f) peningkatan cakupan kunjungan neonatal pertama; (g) peningkatan cakupan
pelayanan kesehatan bayi; (h) peningkatan cakupan pelayanan kesehatan anak balita; (i)
peningkatan cakupan persalinan di sarana pelayanan kesehatan dasar dan rumah sakit
pemerintah; dan (j) perbaikan status gizi masyarakat dengan meningkatkan pendidikan ibu
tentang penimbangan balita, ASI eksklusif, garam beryodium, suplementasi gizi mikro (vitamin
A dan tablet Fe), tatalaksana gizi buruk, dan fortifikasi; dan (k) peningkatan kesehatan
lingkungan dengan menekankan pada peningkatan akses dan kualitas air minum dan sanitasi
yang layak serta perubahan perilaku hygiene dan sanitasi.
2. Peningkatan ketersediaan, keterjangkauan, pemerataan, mutu dan penggunaan obat,
terutama obat esensial generik.
3. Peningkatan efektivitas pelaksanaan program KB, melalui: (a) pembinaan dan peningkatan
kemandirian KB dengan cara: (i) meningkatkan pembinaan kesertaan dan kemandirian berͲKB
melalui 23.500 klinik KB pemerintah dan swasta yaitu dengan memberikan dukungan sarana
dan prasarana klinik serta menyediakan alat/obat kontrasepsi (alokon) dan pelayanan KB
gratis bagi PUS miskin; (ii) mendekatkan pelayanan KB kepada sasaran PUS miskin dengan
menggunakan pelayanan mobile secara berkala; (iii) meningkatkan kualitas pelayanan KB
melalui pemberian informed choice; dan (iv) meningkatkan kapasitas sumber daya
penyelenggara program KB di semua tingkatan; (b) peningkatan promosi dan penggerakan
masyarakat dengan cara: (i) meningkatkan KIE (komunikasi, informasi, dan edukasi) mengenai
kependudukan dan KB serta kesehatan reproduksi, terutama pada remaja dan PUS miskin; (ii)
meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat terkait pengendalian jumlah
penduduk, KB dan kesehatan reproduksi; (iii) meningkatkan komitmen dan peran serta rumah
sakit, rumah bersalin dan bidan terkait pelaksanaan KB pasca persalinan dan pasca keguguran;
Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014 35
dan (iv) menggalang dan memperkuat kemitraan dengan Lembaga Swadaya Masyarakat
(LSM), swasta, dan masyarakat dalam penyelenggaraan program kependudukan dan KB.
4. Pengendalian penyakit menular serta penyakit tidak menular, antara lain melalui: (a)
peningkatan kemampuan pencegahan dan penanggulangan faktor risiko; (b) penguatan
penemuan penderita dan tata laksana kasus; (c) peningkatan cakupan imunisasi dan sarana
distribusi vaksin dalam jumlah cukup di lapangan; dan (d) peningkatan KIE untuk mendorong
gaya hidup sehat.
5. Peningkatan upaya kesehatan yang menjamin terintegrasinya pelayanan kesehatan primer,
sekunder, dan tersier, termasuk peningkatan kualitas layanan fasilitas pelayanan kesehatan
rujukan yang memenuhi standar bertaraf internasional.
6. Pengembangan sistem pembiayaan jaminan kesehatan, melalui: (a) peningkatan cakupan
jaminan kesehatan secara bertahap; (b) peningkatan pembiayaan pelayanan kesehatan bagi
penduduk miskin; (c) penyediaan pembiayaan jaminan persalinan (Jampersal) yang mencakup
pelayanan antenatal, persalinan, nifas, dan KB; dan (d) perluasan cakupan jaminan kesehatan
melalui jaminan kesehatan kelas III di rumah sakit.
36 Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014
Tabel 2.3.1. Pencapaian Pembangunan Prioritas Nasional 3:
Kesehatan, Tahun 2010

No.
RPJMN 2010ʹ2014
CAPAIAN
2009
CAPAIAN
2010 SUB STANSI INTI SASARAN INDIKATOR
TARGET
2010
1. KESEHATAN MASYARAKAT
Pelaksanaan upaya kesehatan
preveŶƟf terpadu yang
meliƉƵƟ: penurunan ƟŶgkat
kemĂƟĂn ibu saat melahirkan
dari 228 (2007) menjadi 118
per 100.000 kelahiran hidup
(2014); penurunan ƟŶgkat
kemĂƟĂn bayi dari 34 (2007)
menjadi 24 per 1.000
kelahiran hidup (2014);
pemberian imunisasi dasar
kepada 90% bayi pada tahun
2014 penyediaan akses
sumber air bersih yang
menjangkau 67% penduduk
dan akses terhadap sanitasi
dasar berkualitas yang
menjangkau 75% penduduk
sebelum tahun 2014

Penurunan ƟŶgkat
kemĂƟĂn ibu saat
melahirkan dari 228
(2007) menjadi 118 per
100.000 kelahiran
hidup (2014)

AKI




226



228
a)




228
a)




Penurunan ƟŶgkat
kemĂƟĂn bayi dari 34
(2007) menjadi 24 per
1.000 kelahiran hidup
(2014)
AKB

34 34
a)
34
a)

Pemberian imunisasi
dasar kepada 90% bayi
pada tahun 2014
Persentase bayi
penerima
imunisasi dasar
80 46,2
b)
53,8
c)

Penyediaan akses
sumber air bersih yang
menjangkau 67%
penduduk dan akses
terhadap sanitasi dasar
berkualitas yang
menjangkau 75%
penduduk sebelum
tahun 2014
Persentase
jangkauan akses
sumber air bersih
62


47,7
d)



45,7
c)


Persentase
jangkauan sanitasi
dasar berkualitas
64 51,19
d)
55,5
c)

2. SARANA KESEHATAN
Ketersediaan dan peningkatan
kualitas layanan rumah sakit
berakreditasi internasional di
minimal 5 kota besar di
Indonesia dengan target 3
kota pada tahun 2012 dan 5
kota pada tahun 2014

Meningkatnya kualitas
layanan rumah sakit
berakreditasi
internasional di
minimal 5 kota besar di
Indonesia dengan
target 3 kota pada
tahun 2012 dan 5 kota
pada tahun 2014

Jumlah kota yang
memiliki rumah
sakit berakreditasi
internasional

1 kota

-
(kegiatan
dimulai tahun
2010)

2 kota
*)

3. OBAT
Pemberlakuan uĂŌĂƌ Obat
Esensial Nasional sebagai
dasar pengadaan obat di
seluruh Indonesia dan
pembatasan harga obat
generik bermerek pada 2010

Diberlakukannya DOEN
dan HET dalam
pengadaan obat
generik

Persentase
diberlakukannya
DOEN dan HET
dalam pengadaan
obat di seluruh
Indonesia

100%

-
(kegiatan
dimulai tahun
2010)

100%
e)


4. ASURANSI KESEHATAN
NASIONAL
Penerapan Asuransi Kesehatan
Nasional untuk seluruh
keluarga miskin dengan
cakupan 100% pada tahun
2011 dan diperluas secara
bertahap untuk keluarga
Indonesia lainnya antara tahun
2012-2014

Diterapkannya
Asuransi Kesehatan
Nasional untuk seluruh
keluarga miskin dengan
cakupan 100% pada
tahun 2011 dan
diperluas secara
bertahap untuk
keluarga Indonesia
lainnya antara tahun

Persentase
cakupan keluarga
miskin yang
memiliki jaminan
Kesehatan

100%

100%
f)


100%
e)

2012-2014
Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014 37
5. KELUARGA BERENCANA
Peningkatan kualitas dan
jangkauan layanan KB melalui
23.500 klinik pemerintah dan
swasta selama 2010ʹ2014

Meningkatnya
pembinaan, kesertaan,
dan kemandirian ber-
KB melalui 23.500
klinik KB pemerintah
dan swasta

Peserta KB ĂŬƟf


26,7 juta

32,5 juta


33,7 juta
g)


Peserta KB baru 7,2 juta 6,7 juta 8,6 juta
g)

6. PENGENDALIAN PENYAKIT
MENULAR
Menurunnya angka kesakitan
akibat penyakit menular pada
2014, yang ditandai dengan:
Menurunnya prevalensi
Tuberculosis dari 235 menjadi
224 per 100.000 penduduk;
Menurunnya kasus malaria
(Annual Parasite Index-API)
dari 2 menjadi 1 per 1.000
penduduk; Terkendalinya
prevalensi HIV pada populasi
dewasa (persen) hingga
menjadi < 0,5.

Menurunnya
prevalensi Tuberculosis
dari 235 menjadi 224
per 100.000 penduduk

Prevalensi
Tuberculosis


235


244
h)


244
h)

Menurunnya kasus
malaria (Annual
Parasite Index-API) dari
2 menjadi 1 per 1.000
penduduk
Annual Parasite
Index (API)

2 1,85
f)
1,96
e)

Terkendalinya
prevalensi HIV pada
populasi dewasa
(persen) hingga
menjadi < 0,5
Prevalensi HIV 0,2 0,2
i)
0,2
i)

Keterangan :
*)
RSCM Jakarta dan RS Sanglah Denpasar dalam proses untuk mendapatkan akreditasi world class
Sumber data :
a)
SDKI, 2007;
b)
Riskesdas, 2007;
c)
Riskesdas 2010;
d)
Susenas, 2009;
e)
Kemkes, 2010;
f)
Kemkes 2009;
g)
SƚĂƟƐƟŬ RuƟn
BKKBNN, 2010;
h)
Laporan Global TB WHO, 2009;
i)
Hasil LƐƟmasi Prevalensi HIV Kemkes 2009
No.
RPJMN 2010ʹ2014
CAPAIAN
2009
CAPAIAN
2010 SUBSTANSI INTI SASARAN INDIKATOR
TARGET
2010
38 Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014

EvaluasiSatuTahunPelaksanaanRPJMN2010Ͳ2014 36



Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014 39

BAB2.4. PRIORITASNASIONAL4:PENANGGULANGAN
KEMISKINAN

2.4.1. Pengantar

Penanggulangan kemiskinan merupakan program lintas bidang yang dalam pelaksanaannya
melibatkan dukungan dari berbagai pihak, baik kementerian/lembaga (K/L) di tingkat pusat,
maupun dinas teknis di tingkat daerah serta didukung oleh para pihak baik perguruan tinggi,
lembaga swadaya masyarakat maupun masyarakat sendiri. ProgramͲprogram penanggulangan
kemiskinan dibagi menjadi 3 klaster sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 15 Tahun 2010
tentang Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan dimana Menteri PPN/Kepala
Bappenas sebagai salah satu anggotanya. ProgramͲprogram pada klaster I adalah program
perlindungan sosial berbasis keluarga, melalui program ini pemerintah memberikan pemenuhan
hakͲhak dasar, pengurangan biaya hidup, dan perbaikan kualitas hidup pada rumah tangga sasaran
dan kelompok rentan lainnya. ProgramͲprogram klaster I antara lain: Program Keluarga Harapan
(PKH), Program Beras untuk Masyarakat Miskin (Raskin), Program Jaminan Kesehatan Masyarakat
(Jamkesmas), dan Program Beasiswa untuk Siswa Miskin. Sementara itu, pada klaster II adalah
program yang berbasis pada pemberdayaan masyarakat, yaitu Program Nasional Pemberdayaan
40 Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014
Masyarakat Mandiri (PNPM Mandiri), melalui program ini pemerintah mendorong pemberdayaan
masyarakat terutama masyarakat miskin untuk mengembangkan potensi dan memperkuat
kapasitasnya untuk ikut berpartisipasi dalam pembangunan. Program pada klaster III adalah
program berbasis pemberdayaan usaha mikro dan kecil, yaitu Program Kredit Usaha Rakyat (KUR),
yang ditujukan untuk meningkatkan akses pembiayaan dan penguatan ekonomi bagi pelaku usaha
mikro, kecil, dan menengah, dan koperasi.
Pencapaian targetͲtarget penanggulangan kemiskinan tidak terlepas dari upaya koordinasi
program penanggulangan kemiskinan yang efektif diantaranya dalam hal pengarusutamaan
kebijakan, perencanaan dan penganggaran, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi, penguatan
kelembagaan penanggulangan kemiskinan, dan sebagainya. Secara umum, dari hasil pelaksanaan
program ketiga klaster tersebut, pemerintah dapat memenuhi target pencapaian penurunan angka
kemiskinan, yaitu sebesar 13,33 persen, dengan target yang ditetapkan untuk tahun 2010 adalah
pada kisaran 12,0Ͳ13,5 persen.

2.4.2. PencapaianPrioritasNasional4:PenanggulanganKemiskinan
Pelaksanaan programͲprogram penanggulangan kemiskinan di atas juga didukung oleh
pertumbuhan ekonomi. Pada tahun 2010, pertumbuhan ekonomi mencapai 6,1 persen atau
melebihi dari target yang ditetapkan sebesar 5,8 persen. Hal tersebut telah menyumbang
penurunan tingkat kemiskinan dari 14,15 persen pada tahun 2009 menjadi 13,33 persen pada
tahun 2010. Meskipun menurun, pada tahun 2010, secara absolut masih terdapat 31,02 juta
orang yang hidup di bawah garis kemiskinan dan juga terjadi pelambatan penurunan tingkat
kemiskinan. Pada tahun 2008 ke 2009 tingkat kemiskinan menurun sebesar 1,27 persen,
sedangkan dari tahun 2009 ke 2010 hanya menurun 0,82 persen. Perkembangan angka kemiskinan
dari tahun 2004Ͳ2010 disajikan dalam Gambar 2.4.1.
Gambar2.4.1.PerkembanganAngkaKemiskinanIndonesia,Tahun2010–2014

Sumber: BPS, berbagai tahun (diolah)
ProgramͲprogram bantuan sosial terpadu yang dilaksanakan dengan tujuan memberikan
pemenuhan hakͲhak dasar, pengurangan biaya hidup, dan perbaikan kualitas hidup pada rumah
tangga sasaran dan kelompok rentan lainnya telah terlaksana dengan baik selama tahun 2010.
Pelaksanaan PKH dimaksudkan untuk menjaga agar anakͲanak dari rumah tangga sangat miskin
tetap berada di sekolah untuk menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah serta memelihara
kesehatan balita dan ibu yang sedang hamil. PKH terus ditingkatkan pelaksanaannya baik dari segi
Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014 41
cakupan wilayah ataupun jumlah penerima. Pada tahun 2009, pelaksanaan PKH ŵĞůŝƉƵƟ 70
kabupaten/kota di 13 provinsi dan total penerima PKH sebanyak 726.376 Rumah Tangga Sangat
Miskin (RTSM). Sedangkan pada tahun 2010, cakupan PKH telah diperluas di 88 kabupaten/kota di
20 provinsi, dan jumlah penerima sekitar 772.830 RTSM. Namun pencapaian jumlah penerima
tersebut di bawah target RPJMN 2010–2014 yaitu 816.000 RTSM.
Pada tahun 2010, pembayaran bantuan PKH telah dilakukan dengan frekuensi empat kali dalam
setahun sesuai rancangan awal. Di sebagian besar daerah yang melaksanakan PKH sejak tahun
2007–2009
, pembayaran bantuan sudah dilakukan berdasarkan hasil pemenuhan kewajiban
peserta (hasil veriĮkasi). Sebagian daerah juga telah menggunakan Sistem Informasi dan
Manajemen (SIM) PKH untuk verŝĮkasi pemenuhan kewajiban para penerima. Di tahun 2010,
pelaksanaan PKH juga ditujukan untuk mendukung perluasan kepesertaan dan persiapan
pengembangan PKH di tahun 2011 yakni melalui: (1) rekrutmen pendamping, operator,
koordinator wilayah, dan tenaga pendukung lainnya; (2) ƉĞůĂƟŚan pendamping, operator, dan
petugas penyedia layanan pendidikan dan kesehatan; dan (3) sosialisasi oleh berbagai pihak.
Raskin merupakan program nasional yang bertujuan untuk mengurangi beban pengeluaran Rumah
Tangga Sasaran (RTS) melalui pemenuhan sebagian kebutuhan pangan pokok dalam bentuk beras.
Pada tahun 2010, jumlah penerima Raskin sebanyak 17,488,007 RTSM. Penetapan jumlah tersebut
berdasarkan atas hasil Pendataan Program Perlindungan Sosial (PPLS) tahun 2008 yang dilakukan
oleh Badan Pusat SƚĂƟƐƟŬ (BPS). Alokasi Raskin untuk ƐĞƟap penerima yaitu 15 kg beras selama 12
bulan, dengan harga tebus beras sebesar Rp1.600 per kg neƩŽ di ƟƟk distribusi. Realisasi
penyaluran Raskin tahun 2010 (per Februari 2011) yaitu sebesar 98,67 persen. Dari total pagu
Raskin sebanyak 2,97 juta ton beras, sebanyak 2,93 juta ton beras yang dapat disalurkan ke
penerima. Realisasi penyaluran Raskin tahun 2010 ini lebih baik jika dibandingkan dengan realisasi
Raskin tahun 2009 yang sebesar 97,74 persen.
Selanjutnya, dalam rangka perlindungan terhadap resiko ĮŶĂŶƐŝĂů akibat masalah kesehatan,
pelaksanaan Jamkesmas juga telah berhasil mendorong peningkatan cakupan jaminan kesehatan.
Sampai dengan akhir Desember tahun 2010, persentase penduduk miskin yang memiliki jaminan
kesehatan telah mencapai sekitar 59,07 persen, realisasi Jamkesmas hingga Desember 2010
sebesar Rp4,2 triliun yang ditujukan bagi 76,4 juta masyarakat miskin. Jumlah puskesmas dan RS
yang memberikan pelayanan dasar bagi penduduk miskin juga mengalami peningkatan dari tahun
2009.
Untuk meningkatkan kemampuan masyarakat miskin menyekolahkan anaknya, Pemerintah
menyediakan beasiswa bagi siswa miskin untuk semua jenjang pendidikan, termasuk menyediakan
jalur pendidikan non formal (pendidikan kesetaraan Paket A setara SD, Paket B setara SMP, dan
Paket C setara SMA) untuk menampung anak-anak yang putus sekolah dan mereka yang Ɵdak
dapat mengikƵƟ jenjang pendidikan formal. Pada pelaksanaan program beasiswa miskin untuk
ƟŶŐkat SD sampai perguruan ƟŶŐŐŝ͕ selama tahun 2010 telah membantu sebanyak 4,7 juta siswa.
Hal ini dapat memberikan kesempatan bagi siswa miskin untuk dapat mengenyam pendidikan
sebagai bekal kehidupan mereka dan diharapkan bisa menjadi pemutus rantai kemiskinan melalui
pendidikan.
Dari program Keluarga Berencana (KB), pada tahun 2010 telah berhasil meningkatkan pencapaian
jumlah peserta KB baru dari sasaran sebanyak 7,2 juta menjadi sebanyak 8,6 juta yang terdiri dari
jumlah peserta KB baru miskin (keluarga pra-sejahtera/KPS dan keluarga sejahtera I/KS 1) dan
rentan lainnya sebanyak 3,8 juta dan meningkatnya jumlah peserta KB aŬƟf dari sasaran sebanyak
26,7 juta menjadi sebanyak 33,7 juta yang terdiri dari peserta KB ĂŬƟĨ (KPS dan KS 1) dan rentan
lainnya menjadi sebanyak 14,3 juta.
42 Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014
Pelaksanaan program Klaster II, yaitu PNPM Mandiri perkotaan dan perdesaan terus diperluas dan
ditingkatkan kualitasnya, agar semakin efektif dalam mewujudkan pemberdayaan masyarakat
terutama masyarakat miskin untuk mengembangkan potensi dan memperkuat kapasitasnya untuk
ikut berpartisipasi dalam pembangunan. Pada tahun 2010 sudah dilaksanakan sesuai dengan
target yang ditetapkan yaitu pelayanan PNPM Mandiri yang didukung dengan penyaluran bantuan
langsung masyarakat sebesar Rp10,31 triliun yang berasal dari dana APBN dan APBD. Hasil
pencapaian PNPM Mandiri Perkotaan telah dilaksanakan di 10.948 desa/kelurahan pada tahun
2010 dalam rangka pemberdayaan masyarakat dan percepatan penanggulangan kemiskinan dan
pengangguran. Sedangkan beberapa hasil pencapaian PNPM Mandiri Perdesaan di tahun 2010
antara lain: (1) capaian PNPM Inti sebesar 100 persen sesuai targetnya yaitu pada 4.805
kecamatan di 495 kabupaten/kota di 32 provinsi, sedangkan pencapaian PNPM Penguatan yang
terdiri dari PNPM Generasi sebesar 100 persen dari target yang ditetapkan, PNPM Integrasi SPPͲ
SPPN telah dilaksanakan pada 40 kabupaten dari 33 kabupaten target yang ditetapkan, dan PNPM
Perbatasan sebesar 100 persen dari target yang ditetapkan; (2) cakupan wilayah kegiatan
rekonstruksi dan rehabilitasi pasca bencana krisis di Kabupaten Nias dan Nias Selatan meningkat
dari capaian tahun sebelumnya yaitu 2 kabupaten/5 kecamatan menjadi 2 kabupaten/9
kecamatan sesuai targetnya; (3) PNPM Mandiri KP telah dilaksanakan di 120 kabupaten/kota yang
diarahkan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat kelautan dan perikanan menuju
kemandirian; (4) pengembangan usaha ekonomi masyarakat tertinggal termasuk PNPM PISEW
telah dilaksanakan di 9 (sembilan) provinsi, 34 kabupaten yaitu sebesar 100 persen dari target
yang sudah ditentukan; (5) lokasi garapan PAMSIMAS dengan tujuan penyediaan air bersih dan
sanitasi bagi masyarakat perdesaan mengalami peningkatan capaian dari target yang telah
ditentukan sebesar 32 kabupaten menjadi 109 kabupaten/kota di 15 provinsi; (6) PNPMͲLMP yang
diarahkan untuk kegiatan agar aspek lingkungan dan pengelolaan sumber daya alam menjadi
bagian integral dari aktivitas pembangunan masyarakat di perdesaan belum mencapai target 2010,
yaitu sebesar 78 kecamatan di 26 kabupaten di 8 provinsi; (7) infrastruktur pendukung kegiatan
ekonomi dan sosial (RISE) telah dilaksanakan di 237 kecamatan; (8i) infrastruktur perdesaan (RIS)
sudah terlaksana sesuai target tahun 2010 yaitu sebanyak 215 kecamatan; (9) persentase Pemda
yang mengimplementasikan kebijakan terkait dengan PNPMͲPISEW (9 provinsi, 34 kabupaten)
sebesar 100 persen; (10) SANIMAS yang diarahkan untuk infrastruktur air limbah telah
dilaksanakan pada 38 kawasan dari targetnya sebesar 27 kabupaten/kota; (11) jumlah desa yang
terfasilitasi air minum (PAMSIMAS) sebesar 1569 desa meningkat dari target yang ditentukan
sebesar 1472 desa; (12) PNPMͲP2DTK telah dilaksanakan pada 32 kabupaten yang diarahkan untuk
pengembangan kawasan perdesaan, percepatan pembangunan daerah tertinggal, dan
peningkatan kapasitas kelembagaan perencanaan; (13) PNPM Pariwisata yang diarahkan untuk
menggerakkan perekonomian masyarakat dan membangkitkan kesadaran wisata pada tahun 2010
telah dapat mengembangkan 200 desa wisata, yang mencakup pengembangan daya tarik wisata di
desa, pengembangan usaha masyarakat berbasis kreatif pariwisata, dan pengembangan desa
pendukung usaha pariwisata; dan (14) beberapa program PUAP belum berjalan sesuai target 2010,
yaitu model pembiayaan bersubsidi baru menghasilkan 1 dari 4 model yang ditargetkan serta
penguatan modal Gapoktan PUAP yang baru tercapai 8.587 kelompok dari target sebesar 10.000
kelompok.
ProgramͲprogram Klaster III secara umum menunjukkan pencapaian target yang tinggi. Penyaluran
Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk UMKM dan koperasi sejak tahun 2007 sampai dengan akhir tahun
2010 mencapai hampir Rp34,42 triliun, dan mencakup sekitar 3,81 juta nasabah. Jumlah dana
penjaminan kredit yang disediakan untuk mendukung penyaluran KUR pada tahun 2010 dapat
dipenuhi 100 persen, sehingga pada tahun 2010 KUR dapat disalurkan sebesar Rp17,23 triliun
dengan jumlah nasabah lebih dari 1,44 juta nasabah, dan rataͲrata kredit/pembiayaan sebesar
Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014 43
Rp11,98 juta. Pelaksanaan Klaster III juga diperluas melalui penyediaan dana melalui koperasi
untuk 2.600 koperasi/kelompok UMKM, dengan pencapaian sebesar 99,46 persen. Sekitar 5.737
koperasi dan UMKM juga menerima dukungan pemasaran pada tahun 2010, yang berarti
pencapaian sebesar 80,55 persen dari target yang ditetapkan. Target peningkatan kualitas
kelembagaan koperasi dan pemahaman aparat pembina pada tahun 2010 juga dapat dicapai 100
persen, yang ditunjukkan oleh penerbitan 5 kebijakan dan penguatan 1.000 pembina.
Dalam rangka percepatan penanggulangan kemiskinan, sejumlah upaya koordinasi dan sinkronisasi
kebijakan program penanggulangan kemiskinan juga telah dilakukan yaitu antara lain dalam hal
pengarusutamaan kebijakan dan anggaran penanggulangan kemiskinan, pemberdayaan
masyarakat dan kawasan, penguatan kebijakan kelembagaan dan kemitraan, kebijakan penguatan
kelembagaan koordinasi penanggulangan kemiskinan melalui Tim Nasional Percepatan
Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) , dahulu disebut Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan
(TKPK) serta pengembangan kebijakan keuangan mikro dan pemanfaatan Teknologi Tepat Guna
(TTG). Pada tahun 2010, untuk mendukung koordinasi kebijakan dalam pengarusutamaan
kebijakan dan anggaran penanggulangan kemiskinan telah dilaksanakan delapan kegiatan
koordinasi dan sinkronisasi kebijakan dan peraturan perundangan penanggulangan kemiskinan di
bidang pengarusutamaan kebijakan serta empat kegiatan koordinasi dan sinkronisasi kebijakan
penanggulangan kemiskinan di bidang pengarusutamaan anggaran. Adapun hasilnya berupa
rekomendasi kebijakan tentang pengarusutamaan kebijakan dan anggaran. Kegiatan koordinasi
kebijakan penguatan kelembagaan penanggulangan kemiskinan dilakukan dengan mengadakan
delapan koordinasi dan sinkronisasi kebijakan kelembagaan TNP2K. Hasil dari kegiatan tersebut
yaitu rekomendasi mengenai pengembangan dukungan kelembagaan koordinasi penanggulangan
kemiskinan (TNP2K).
Pelaksanaan koordinasi dan sinkronisasi kebijakan penguatan masyarakat dan kawasan dilakukan
dengan menggelar 9 kegiatan koordinasi dan sinkronisasi pelaksanaan kebijakan pemberdayaan
masyarakat dalam penguatan masyarakat dan kawasan perkotaan serta 10 koordinasi dan
sinkronisasi pelaksanaan kebijakan pemberdayaan masyarakat dalam penguatan masyarakat dan
kawasan perdesaan. Hasil dari upaya tersebut yaitu rekomendasi tentang kebijakan koordinasi
berbagai komponen yang ada di dalam PNPM Mandiri, pemetaan programͲprogram
pemberdayaan masyarakat lainnya yang ada di K/L, koordinasi pengembangan PNPM Pariwisata,
PNPM Perumahan, PNPM Peduli, dan PNPM Kehutanan. Kegiatan koordinasi kelembagaan dan
kemitraan dijalankan dengan mengadakan 8 koordinasi dan sinkronisasi penguatan kelembagaan
penanggulangan kemiskinan serta 6 koordinasi dan sinkronisasi pelaksanaan kemitraan
penanggulangan kemsikinan. Upaya tersebut telah memberikan rekomendasi tentang
pengembangan kerjasama kemitraan dengan program Corporate Social Responsibility (CSR),
Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL), serta kerjasama regional ASEAN dan kerjasama
internasional lainnya (dengan China, Jepang, dan sebagainya). Selanjutnya koordinasi kebijakan
keuangan mikro dan pemanfaatan teknologi tepat guna 7 koordinasi dan sinkronisasi persiapan
LKM dengan K/L maupun masyarakat serta 5 koordinasi dan sinkronisasi pengembangan dan
pemanfaatan teknologi tepat guna. Hasil dari kegiatan tersebut berupa rekomendasi kebijakan
untuk mengembangkan Lembaga Pengemban Dana Amanah (LPDA), sosialisasi MoU tentang
Strategi Pengembangan Lembaga Keuangan Mikro di daerahͲdaerah, koordinasi perluasan realisasi
Kredit Usaha Rakyat (KUR) di daerah, serta penguatan koordinasi pemanfaatan teknologi tepat
guna di daerah.


44 Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014
2.4.3. Permasalahan Pencapaian
Pencapaian atas sasaran yang telah ditetapkan masih belum opƟmal mengingat kompleksnya
masalah yang dihadapi sehingga penanganannya ƟĚĂŬ dapat dilakukan dalam waktu yang singkat.
Beberapa faktor yang secara umum mempengaruhi melambatnya laju penurunan kemiskinan di
tahun 2010 secara umum antara lain adalah ƟŶgginya ƟŶŐŬĂƚ ŝŶŇĂsi pada tahun 2010, yaitu
sebesar 6,96 persen jika dibandingkan tahun 2009 yang hanya 2,78 persen. lŶŇasi tersebut
sebagian besar disumbang dari komponen bahan makanan yang berpengaruh terhadap daya beli
masyarakat miskin dan laju pertumbuhan penduduk yang meningkat terutama jumlah penduduk
yang rentan untuk jatuh miskin baik karena guncangan ekonomi maupun kurangnya akses
terhadap pelayanan dasar dan sosial.
Pelaksanaan PKH secara keseluruhan masih belum opƟmal, meskipun telah lebih baik dari tahun-
tahun sebelumnya. Permasalahan pencapaian pelaksanaan kegiatan PKH tahun 2010 diantaranya:
(1) Ɵdak tercapainya target RPJMN 2010–20 14 untuk menjangkau 816.000 RTSM. Hal ini
disebabkan oleh: (a) pergerakan RTSM menjadi ƟĚĂŬ eligible terhadap kriteria PKH (pindah rumah,
anak lulus dari SMP, dll); (b) data PPLS 2008 yang digunakan sudah mengalami perubahan,
sehingga data RTSM penerima PKH hanya ± 88,6 persen yang eligible; (2) pembayaran masih
belum tepat waktu; (3) aspek pendataan masih mengalami masalah di lapangan, pelaksanaan
validasi dan pemutakhiran juga masih belum opƟmal; (4) masih ada sebagian petugas pada
layanan kesehatan dan pendidikan (guru) yang keberatan dalam melakukan verŝĮkasi secara
ŬŽŶƟnu; (5) distribusi formulir verŝĮkasi masih menemui kendala di beberapa kabupaten/kota
terutama karena letak geograĮƐ; (6) sosialisasi PKH belum berjalan dengan baik sehingga banyak
pemangku keƉĞŶƟngan Ɵdak memahami PKH sebagai bantuan bersyarat; (7) koordinasi antar
Departemen-Dinas Teknis dan koordinasi di ƟŶŐkat provinsi belum opƟmal; (8) dukungan sarana
dan prasarana oleh Pemerintah Daerah belum memadai; dan (9) prosedur dan Ɵndak lanjut
pengaduan belum berjalan sepenuhnya. Meskipun demikian, pelaksanaan PKH mengalami
peningkatan kualitas dengan terjalinnya koordinasi antara beberapa program lain ƐĞƉĞƌƟ
Jamkesmas dan beasiswa miskin.
Penyaluran Raskin di beberapa daerah telah berjalan dengan baik atau sesuai dengan rencana.
Namun di beberapa daerah lainnya, pelaksanaan Raskin belum mencapai target yang ditetapkan.
Hal tersebut akibat adanya sejumlah kendala, antara lain: (1) beberapa daerah menolak
menyalurkan Raskin karena jumlah RTS dari data hasil PPLS 2008 lebih kecil dibandingkan dengan
data riil jumlah Rumah Tangga Miskin di Desa/Kelurahan setempat; (2) kondisi geogrĂĮƐ tempat
ƟŶŐŐĂů penerima manfaat yang relĂƟf jauh dari ƟƟk distribusi; (3) kondisi infrastruktur dan cuaca
yang kurang baik menghambat penyaluran Raskin; (4) masih ditemukan kualitas beras yang kurang
baik; (5) masih ditemukan penyusutan jumlah beras (dalam satu karung); (6) beberapa provinsi
masih memiliki tunggakan (utang) pembayaran Raskin; (7) belum tersedianya dana pendampingan
untuk program Raskin di beberapa kabupaten/kota; dan (8) sosialisasi Raskin dirasakan masih
kurang opƟmal.
Dari sektor pendidikan, tantangan yang masih dihadapi yaitu masih belum ŽƉƟŵĂůŶLJĂ peningkatan
akses, kualitas dan relevansi pendidikan, permasalahan ketenagaan, sarana dan prasarana, serta
pembangunan pendidikan secara umum.
Sedangkan dalam pelaksanaan program KB, permasalahan yang masih ditemui di lapangan yaitu:
(1) rendahnya aksesibilitas dan kualitas pelayanan KB bagi keluarga Pasangan Usaha Subur (PUS)
miskin; (2) masih rendahnya pengetahuan keluarga PUS miskin mengenai KB dan kesehatan
reproduksi; (3) adanya kekhawĂƟƌĂŶ terhadap efek samping dan komplikasi dari pemakaian alat
dan obat kontrasepsi; (4) masih Ɵngginya disparitas pemakaian alat kontrasepsi dan kebutuhan
Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014 45
berͲKB yang tidak terpenuhi, baik antarprovinsi, antarwilayah desaͲkota, dan antarstatus sosial
ekonomi.
Permasalahan yang terjadi pada programͲprogram di klaster II secara umum antara lain: (1)
adanya pemekaran kecamatan/desa sehingga pelaksanaan tidak sesuai dengan perencanaan dan
alokasi sebelumnya; (2) dana bergulir hanya berasal dari BLM pada tahun anggaran berjalan,
bukan berasal dari tabungan dana bergulir yang ada di masyarakat; (3) partisipasi perempuan
meningkat, terutama dari kalangan menengah/atas, tetapi dominasi lakiͲlaki masih ada; dan (4)
terkait dengan perencanaan partisipatif, keterlibatan warga dalam pengambilan keputusan pada
program openmenu dan dana bergulir masih sebatas formalitas. Sedangkan permasalahan khusus
yang terjadi di PNPM Perdesaan antara lain : (1) masih terdapat kasus korupsi di level kelompok
masyarakat dan fasilitator; (2) pada PNPMͲKP, kemiskinan masyarakat kelautan dan perikanan
berakar pada kurangnya akses masyarakat terhadap sumberͲsumber peningkatan kesejahteraan,
seperti permodalan, teknologi, informasi, pemasaran serta kultur kewirausahaan dan sosial yang
kurang kondusif; (3) terdapat beberapa lokasi PNPM RIS khususnya di perdesaan dimana proses
perencanaan tidak dapat menghasilkan dokumen perencanaan desa, sehingga hal tersebut
menghambat pelaksanaan program; (4) untuk PNPMͲP2DTK meskipun anggaran sudah terserap di
rekening masyarakat, namun terdapat pekerjaan fisik yang masih terhambat karena belum adanya
FinancialManagementSpecialist (FMS) dan belum adanya SK Satker di masingͲmasing Kabupaten;
(5) mekanisme usulan untuk dukungan desa wisata belum sepenuhnya sesuai dengan kriteria dan
ketentuan yang berlaku, belum optimalnya proses rembug desa, belum memadainya jumlah
tenaga pendamping PNPM Mandiri Pariwisata, belum memadainya sarana dan prasarana
pendukung pariwisata, dan belum optimalnya dukungan media massa dalam promosi pariwisata;
(6) pada program PUAP masih terdapat biaya administrasi untuk menjadi peserta program PUAP
sebesar 1 juta, masih kurang jelasnya penentuan peserta penerima bantuan PUAP sehingga
banyak terjadi salah sasaran, dan petunjuk teknis PUAP dipandang masih terlalu umum sehingga
menimbulkan interpretasi yang beragam.
Selanjutnya beberapa permasalahan yang ditemukan dalam pelaksanaan program dan kegiatan
pemberdayaan koperasi dan UMKM yaitu kurangnya efektivitas pelaksanaan kegiatan yang
disebabkan keterbatasan kapasitas aparat pembina, dan kurangnya sinergi antar pemangku
kepentingan terutama mengingat keragaman sektor dan lokasi usaha koperasi dan UMKM.
Koperasi dan UMKM juga menghadapi masalah kurangnya kesempatan usaha, keterbatasan akses
kepada sumber daya produktif, dan rendahnya kualitas sumber daya manusia. Hal ini
menyebabkan perkembangan kegiatan ekonomi produktif di daerah belum mampu mendorong
peningkatan pendapatan yang berkelanjutan dan pertumbuhan ekonomi di daerah.
Pelaksanaan koordinasi kebijakan mengenai pengarusutamaan kebijakan dan anggaran
penanggulangan kemiskinan masih menghadapi sejumlah kendala yaitu berbagai daerah belum
dapat mengembangkan perencanaan dan penganggaran yang proͲpoor serta masih banyak
kegiatan penanggulangan kemiskinan di daerah yang belum terkoordinasikan di dalam forum Tim
Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (TKPKD). Kendala juga ditemui pada koordinasi
kebijakan penguatan kelembagaan penanggulangan kemiskinan yakni TNP2K di tingkat nasional
yang masih dalam perintisan sehingga belum memberikan kontribusi yang cukup kuat di dalam
penguatan TKPKD. Sedangkan masalah yang ditemui dalam koordinasi penguatan masyarakat dan
kawasan yakni masih tingginya egosektor dan egodaerah dalam melaksanakan programͲprogram
pemberdayaan masyarakat, termasuk pada kegiatan yang dilakukan oleh lembaga swadaya
masyarakat, sehingga perlu diupayakan integrasi dan sinkronisasi. Kendala dari implementasi
koordinasi kebijakan kelembagaan dan kemitraan yaitu belum terjalinnya kerjasama yang cukup
memadai antara pemerintah dengan dunia usaha, perguruan tinggi, dan lembaga swadaya
46 Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014
masyarakat, khususnya pada daerahͲdaerah yang potensial, sehingga perlu dikembangkan
kebijakan sinergitas antar pelaku. Sementara itu, kendala dalam koordinasi kebijakan keuangan
mikro dan pemanfaatan teknologi tepat guna yaitu meskipun program keuangan mikro dan
teknologi tepat guna telah dikembangkan di beberapa daerah namun kemanfaatan dari program
tersebut belum dioptimalkan.

2.4.4. RencanaTindakLanjut
Pemerintah telah menetapkan penanggulangan kemiskinan sebagai prioritas utama
pembangunan, maka dalam rangka mendukung pembangunan, upayaͲupaya penurunan tingkat
kemiskinan untuk mencapai target pada tahun 2014, yaitu tingkat kemiskinan sebesar 8Ͳ10 persen
perlu diperluas baik sasaran maupun cakupan kegiatannya yang ditujukan untuk meningkatkan
kesejahteraan masyarakat. Pemerintah juga menyiapkan langkahͲlangkah pengamanan di tingkat
makro, berupa langkah pengamanan bidang keuangan dan fiskal, maupun mikro berupa
pengendalian dampak krisis global terhadap kemiskinan. Beberapa langkahͲlangkah tersebut
antara lain :
1. Menjaga stabilitas harga barangͲbarang kebutuhan pokok dan menjaga tingkat inflasi di
tahunͲtahun mendatang;
2. Mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkualitas dan proͲrakyat miskin dengan memberi
perhatian khusus pada usahaͲusaha yang melibatkan orangͲorang miskin serta usahaͲusaha
yang dapat menciptakan lapangan pekerjaan;
3. Meningkatkan kualitas dan intensitas serta memperluas kebijakan afirmatif/keberpihakan
untuk penanggulangan kemiskinan melalui perluasan 3 (tiga) klaster program proͲrakyat yang
dituangkan dalam pelaksanaan klaster 4 yang akan dimulai pada tahun 2012;
4. Mengendalikan pertumbuhan penduduk yang mengakibatkan peningkatan penduduk
kategori miskin untuk mempercepat pencapaian target melalui peningkatan dan efektifitas
pelaksanaan Program KB, misalnya dengan meningkatkan advokasi dan KIE (komunikasi,
informasi, dan edukasi) mengenai KB dan kesehatan reproduksi, terutama pada keluarga PUS
miskin;
5. Rencana tindak lanjut pelaksanaan PKH diantaranya: (a) peningkatan cakupan sasaran PKH
yaitu 1.116.000 RTSM, serta perluasan jangkauan lokasi PKH di 118 kabupaten/kota di 25
provinsi; (b) pelaksanaan PPLS 2011 untuk memperbaharui data PPLS tahun 2008; (c)
memperkuat sinergi PKH dengan program/kegiatan di sektor lain yaitu beasiswa miskin,
Jamkesmas, dan penerbitan KTP bagi penduduk peserta PKH;(d) penguatan koordinasi lintas
sektor dan Pemda; (e) bimbingan teknis bagi pendamping dan operator; (f) bimbingan teknis
bagi petugas layanan kesehatan dan pendidikan; dan (g) penerapan SOP mengenai
pencetakan dan distribusi dokumen verifikasi;
6. Beberapa penyempurnaan untuk pelaksanaan program Raskin antara lain: (a) verifikasi data
RTS akibat perubahan karena meninggal, pindah, atau sudah tidak miskin lagi sesuai hasil
musyawarah desa yang diikuti oleh perwakilan RTS dari setiap Satuan Lingkungan Setempat
(SLS); (b) Pemerintah Daerah diharapkan dapat berperan dalam mendistribusikan beras dari
titik distribusi (TD) ke titik bagi (TB); (c) peningkatan mutu beras melalui pemeriksaan beras
sebelum penyaluran oleh Tim Raskin Provinsi/Kabupaten/Kota; (d) Pemerintah Provinsi,
Kabupaten/Kota, Kecamatan, dan Desa/Kelurahan harus membantu kelancaran pembayaran
Harga Pembelian Beras (HPB) Raskin atau dapat memberikan dana talangan bagi penerima
Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014 47
yang ƟĚĂŬ mampu; (e) meniŶŐŬaƚŬĂŶ ŬoorĚŝŶĂƐŝ baiŬ antar ŬĞůŽŵƉŽŬ ŬĞƌja ;ÞŽŬũa) maupun
antar ƉƵƐĂƚ ĚĂn Ěaerah; (f) menggaůĂŬŬĂn ƐŽƐŝĂůŝƐĂƐi 8ĂƐŬin Ěan ĚŝůĂŬƵŬan berjenjang ĚĂƌŝ
ƟŶŐŬat ÞƵƐĂƚ hingga ŬĞ penerima manfaat; (g) monitoring ĚĂŶ evaůuaƐŝ penyaůuran 8ĂƐŬin
ĚĂŶ pengaĚuan ĚĂƌŝ ŵĂƐLJĂƌĂŬĂƚ ĚŝƟŶĚaŬůĂŶũƵƟ͖ (h) Pemerintah Daerah ĚŝŵŝŶƚĂ untƵŬ
ŵĞŶLJĞĚŝĂŬĂŶ Ěana peŶĚampingan untuŬ ƉĞůĂŬƐĂŶĂan RĂƐŬin; ĚĂŶ (i) mengimƉůemenƚĂƐiŬĂŶ
ƉŽůa pembayaran tunai (cash & carry);
7. UŶƚƵŬ rencana ƟŶĚĂŬ ůĂŶũƵt program-program Ěi ŬůĂƐƚer II antara ůĂin: (a) meningŬĂƚŬĂŶ
evaůƵaƐi ĚĂŶ penghitungan ƵůĂŶŐ untuŬ meůŝŚat ƐĞďerapa ďĞƐĂƌ ĚĂna yang bergƵůŝƌ Ěi
ŵĂƐLJĂƌĂŬĂƚ ĚaůĂŵ rangŬĂ meningŬatŬan ƐwĂĚaya ŵĂƐLJaƌĂŬĂƚ terhĂĚap program-program
PNPM yang ƐeĚang ďĞƌůĂngƐung; (b) opƟmaůŝƐĂƐŝ forum pra ŵƵƐƌĞŶďĂng, Ěŝmana forum
ƚĞƌƐĞďƵƚ ďŝƐa ĚŝŵĂŶĨĂĂtŬĂŶ ƐĞďĂŐĂŝ ĚŝƐŬƵƐi ĚĂŶ ƐŝŶŬƌŽŶŝƐĂƐi antara uƐƵůĂŶ maƐyaraŬat Ěan
rencana ŬĞƌũĂ SKPD, ƚĞƌŬĂŝƚ peningŬĂƚan ŬƵĂůŝƚĂƐ perencanaan ƉĂƌƟƐiƉĂƟĨ͖ (c) ŵĞůaŬƵŬan
perubahan ŵĞŬĂŶiƐŵe pĞƌƐLJĂƌĂƚĂŶ paĚĂ ŵƵƐƌĞŶďang inƚĞŐƌĂƐŝ Ŭecamatan ĚŝŵĂŶĂ ĂƉĂďŝůĂ
ĚĞůĞŐĂƐŝ ĚĂƌŝ ĚĞƐĂ ƟĚĂŬ mengiŬƵƚƐĞƌƚĂŬĂn peran Ěan parƟƐŝƉĂƐi perempuan, ŵĂŬĂ ƵƐƵůĂŶ
ĚĞƐĂ ƚĞƌƐĞďƵƚ ƟĚĂŬ ĂŬĂŶ ĚibahaƐ paĚa ŵƵƐƌĞŶďang Ŭecamatan, ƐĞŚingga ďŝƐa ĚŝƉĂƐƟŬĂŶ
ƵƐƵůĂŶ ĚĞƐĂ ƚĞƌƐĞďƵƚ ƟĚaŬ ĂŬĂŶ terĚanai paĚa tahun beriŬutnya; (Ě) meninŐŬĂƚŬĂŶ
ŬĞƐĞũĂŚƚĞƌĂan ŵĂƐLJĂƌĂŬĂƚ ŬĞůĂƵƚĂŶ Ěan ƉĞƌŝŬĂŶan meůaůƵi penyeĚŝaan mŽĚaů ŬĞpaĚĂ
ŬĞůŽŵƉŽŬ ŶĞůayan, pembƵĚiĚĂya, pengŽůah, Ěan pemaƐar hĂƐiů ƉĞƌŝŬĂŶĂŶ͕ Ɛerta petĂŵďĂŬ
garam meůaůƵi ƉĞŵďĞƌĚayaan ƵƐĂŚĂ mina perĚĞƐĂĂŶ ĚĂn ƉĞŵďĞƌĚayaan ƵƐĂŚĂ garam ƌĂŬLJĂƚ͘
Upaya ůĂŝn aĚĂůĂŚ Ěengan memberiŬĂŶ ĨĂƐŝůŝƚĂƐ ŬĞŵƵĚĂŚĂŶ guna mĞŶŐĂŬƐĞƐ permŽĚĂůĂŶ
meůaůƵi ůĞŵďĂŐĂ perbĂŶŬan; (e) opƟmĂůŝƐĂƐi penyiapan ĚĂŶ perencanaan Ŭegiatan PNPM
ManĚiri 8ŝĚĂng PariwŝƐĂƚĂ, terutama ĚĂůam ŵĞŬĂŶŝƐme pengƵƐƵůan Ěan penyĞĚŝĂan tenaga
penĚamping Ɛerta ŬŽŽƌĚiŶĂƐŝ ůŝŶƚĂƐ ƐĞŬƚŽƌ untuŬ peningŬatan ĚuŬungan Ɛarana ĚĂŶ praƐarana
ĚĂŶ peningŬatan promoƐŝ ĚĞƐa wŝƐĂta; (f) tĞƌŬĂit program PNPM RIS ĚĂpat ĚŝůĂŬuŬĂŶ evaůuaƐi
ƚĞƌŚĂĚap ĚĞƐĂ-ĚĞƐĂ yang terĚapat ŬŽŶŇŝŬ antara ŬĞƉĂůa ĚĞƐĂ ĚĂŶ baĚan pĞƌǁĂŬŝůan ĚĞƐĂ͕
untuŬ ƐĞŐĞƌĂ ŵĞŶLJĞůĞƐĂŝŬĂŶ ĚŽŬƵŵĞŶ perencanaannya; (g) untuŬ ŬĞgiatan program PNPM-
P2DTK perůu ŵĞůĂŬƵŬĂŶ percepatan pengaĚaan ĚĂn ŵŽďŝůŝƐĂƐi Financial Management
Specialist (FMS) untuŬ Ŭabupaten-Ŭabupaten yang teƌĚĂƉĂƚ penumpuŬan anggaran Ěi
ƌĞŬĞŶŝŶŐ maƐLJĂƌĂŬĂƚ ĚĂn memperpanjang jangŬa ǁĂŬƚu pemberůĂŬuan SK SatŬĞƌ Kabupaten
ƉĞƌŝŽĚĞ ƐebeůƵŵŶya; (h) untƵŬ program PUAP, ƉĞƌůƵnya ŵĞŬĂŶŝƐme vaůŝĚĂƐi ůĂƉĂŶg Žůeh
Kementerian Pertanian Ɛehingga ƟĚĂŬ ĂŬan terjaĚi ƐĂůĂh ƐaƐaran ĚĂůam penyĂůƵƌan PUAP,
perůƵnya perbaiŬĂŶ terhĂĚap petunjuŬ teŬniƐ PUAP, Ěan ƉĞƌůunya ŬŽŽrĚŝŶĂƐŝ ŬŚƵƐƵƐ antara
program PNPM Penguatan ĚĂŶ program PUAP agar tercipta ŬĞƐŝnambungan program;
8. 8ĞƌĚĂƐĂƌŬan pĞƌŬĞŵbangan ƉĞůĂŬƐĂŶĂan program Ěan Ŭegiatan pemberĚĂLJaan ŬopeƌĂƐi ĚĂŶ
UMKM paĚa tahun 2010, pemerintah meůĂŬƐĂŶĂŬan beberapa ůĂŶŐŬĂh untuŬ menangani
ƉĞƌŵĂƐĂůĂŚĂŶ yang aĚa meůĂůƵŝ: (a) meniŶŐŬaƚŬĂŶ caŬupan Ŭegiatan-ŬĞŐŝĂƚan yang ƚĞƌŬĂŝƚ
ĚĞngan penguatan Ɛumber ĚĂya ŵĂŶƵƐia ŬŽƉĞƌĂƐŝ ĚĂŶ UMKM, ŬhuƐƵƐŶya ƚĞƌŬĂŝƚ ƉƌĂŬƟŬ
ďĞƌŬŽƉĞƌĂƐŝ ĚĂn ŬĞǁirauƐĂhaan; (b) menĚƵŬung ƉĞƌůƵaƐĂŶ KUR meůaůƵi ƉĞŶLJĞůenggaraan
ƐŽƐŝĂůŝƐĂƐi program KUR Ěan penyĞĚŝĂan penĚampingan bagi UMKM yang ĂŬĂŶ ŵĞŶũĂĚŝ
ĐĂůŽŶ ĚĞďŝtur KUR; (c) meniŶŐŬaƚŬĂŶ ŬuaůŝƚĂƐ ŬĞůĞŵďĂŐaan, SDM pengeůoůa ĚĂŶ ŬĂpĂƐiƚĂƐ
pembiayaan KSP/KJKS ĚĂn LKM bagi UMKM; Ěan (Ě) meningŬatŬan janŐŬauan ĚĂƌŝ ƐŝƐƚem
penĚuŬung Ŭeuangan untƵŬ meningŬĂƚŬan ĂŬƐĞƐ pembiayaan UMKM; Ěan
9. Rencana ƟŶĚĂŬ ůĂŶjut ĚĂůam peningŬatan ƐŝŶŬƌŽŶŝƐĂƐi ĚĂŶ ĞĨĞŬƟviƚĂƐ ŬoŽƌĚŝŶĂƐŝ
penanggƵůĂngan ŬĞŵiƐŬinan Ɛerta harmoniƐĂƐŝ antar ƉĞůĂŬƵ antara ůain: (a) Ŭegiatan
ŬŽŽƌĚŝŶĂƐŝ ŬĞbiũĂŬĂŶ ƉĞŶŐĂƌƵƐƵƚĂŵĂĂŶ ŬeďŝũĂŬĂŶ Ěan anggaran penangguůĂŶgan ŬĞŵiƐŬinan
ĚŝŚĂƌĂpŬĂŶ ĚĂpat mengembangŬan ŬebijaŬan tentang perencanaan ĚĂŶ penganggaran yang
pro-poor Ěan terintegraƐi Ěi ƟngŬĂƚ ĚĂĞƌah, ĚĞngan ĚŝƐĞƌƚĂŝ penguatan ŬĞůĞŵďĂŐĂan TKPKD;
48 Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014
(b) penguatan Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan di daerah dapat dilaksanakan
dengan mengembangkan kelembagaan yang sesuai dengan struktur organisasi yang baru
sesuai Perpres 15/2010; (c) koordinasi penguatan masyarakat dan kawasan perlu dipayungi
dengan kebijakan yang mengurangi tingginya ego sektor dan ego daerah serta meningkatkan
integrasi program pemberdayaan masyarakat lainnya agar memberikan sinergitas yang lebih
tinggi di dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat; (d) koordinasi kebijakan kelembagaan
dan kemitraan masih perlu mengembangkan kebijakan yang meningkatkan sinergitas antar
pelaku di dalam penanggulangan kemiskinan, yakni memperkuat kemitraan antara
pemerintah dengan dunia usaha, perguruan tinggi, dan lembaga swadaya masyarakat
(masyarakat madani); (e) koordinasi kebijakan keuangan mikro dan pemanfaatan TTG
ditujukan untuk lebih menyosialisasikan program/kegiatan keuangan mikro dan pemanfaatan
TTG serta meningkatkan efektivitas program di daerah.

Tabel2.4.1.PencapaianPembangunanPrioritasNasional4:
PenanggulanganKemiskinan,Tahun2010

NO
RPJMN2010ʹ2014
CAPAIAN
2009*
CAPAIAN
2010*
SUBSTANSIINTI SASARAN INDIKATOR
TARGET
2010*
1

BANTUANSOSIAL
TERPADU:
Integrasi program
perlindungan sosial
berbasis keluarga yang
mencakup program baik
yang bersifat insidensial
atau kepada kelompok
marginal, program
keluarga harapan,
bantuan pangan,
jaminan sosial bidang
kesehatan, beasiswa
bagi anak keluarga
berpendapatan rendah,
Pendidikan Anak Usia
Dini (PAUD), dan
ParentingEducation
mulai 2010 dan
diperluas menjadi
program nasional mulai
2011Ͳ2012
Terumuskannya
kebijakan pembiayaan
dan jaminan kesehatan
Persentase
penduduk (termasuk
seluruh penduduk
miskin) yang
memiliki jaminan
kesehatan
59 48
a

59,07
b

Meningkatnya
pelayanan kesehatan
dasar bagi penduduk
miskin di puskesmas
Jumlah puskesmas
yang memberikan
pelayanan
kesehatan dasar bagi
penduduk miskin
8.481 8.541
c

8.967
b

Meningkatnya
pelayanan kesehatan
rujukan bagi penduduk
miskin di RS
Persentase RS yang
melayani pasien
penduduk miskin
peserta program
Jamkesmas
75 62
d

75
b

Tersalurkannya subsidi
pendidikan bagi siswa
SD/SDLB, SMP/SMPLB,
SMA, SMK, dan
mahasiswa
Jumlah siswa :
SD/SDLB
SMP/SMPLB
SMA
SMK
PTN/PTS

2.767.282
966.064
378.783
305.535
65.000

Ͳ
Ͳ
Ͳ
Ͳ
Ͳ

2.246.800
871.193
248.800
305.950
65.000
Meningkatnya
pembinaan, kesertaan,
dan kemandirian berͲ
KB melalui 23.500
klinik pemerintah dan
swasta
Jumlah peserta KB
baru miskin (KPS dan
KS 1) dan rentan
lainnya yang
mendapatkan
pembinaan dan
alokon gratis melalui
23.500 klinik KB
pemerintah dan
swasta
3,75 juta 2,95 juta 3,76 juta
Jumlah peserta KB
aktif miskin (KPS dan
KS 1) dan rentan
lainnya yang
11,9 juta 13,10 juta 14,26 juta
Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014 49
NO
RPJMN 2010ʹ014
CAPAIAN
2009*
CAPAIAN
2010*
SUBSTANSI INTI SASARAN INDIKATOR
TARGET
2010*
mendapatkan
pembinaan dan
alokon ŐƌĂƟs melalui
23.500 klinik KB
pemerintah dan
swasta
Meningkatnya
pembinaan dan
kemandirian ber-KB
keluarga Pra-S dan KS-1
Jumlah PUS anggota
Kelompok Usaha
Ekonomi ProdukƟf
yang menjadi
peserta KB mandiri
e
22.000
kelompok
1.224.059
keluarga
1.026.929
keluarga
Jumlah mitra kerja
yang memberikan
bantuan modal dan
pembinaan
kewirausahaan
kepada Kelompok
Usaha Ekonomi
ProdukƟf
34 34 34
Jumlah mitra kerja
yang menjadi
pendamping
kelompok Usaha
Ekonomi ProdukƟf
3 3 3
Terlaksananya
pemberian Bantuan
Tunai Bersyarat bagi
RTSM (PKH)
Jumlah RTSM yang
mendapatkan
Bantuan Tunai
Bersyarat PKH
(RTSM)
816.000 726.376 772.830
Penyediaan beras
untuk seluruh Rumah
Tangga Sasaran (RTS)
dengan jumlah yang
memadai dalam satu
tahun
Jumlah RTS
penerima Raskin
(dengan 15 kg per
RTS selama 12
bulan)
17.488.007 18.497.302 17.488.007
2. PNPM MANDIRI :
Penambahan anggaran
PNPM Mandiri dari Rp.
10,3 trilyun pada 2009
menjadi Rp. 12,1 trilyun
pada 2010, pemenuhan
Bantuan Langsung
Masyarakat (BLM) Rp.3
Milyar per kecamatan
untuk minimal 30%
kecamatan termiskin di
perdesaan, dan integrasi
secara ƐĞůĞŬƟĨ PNPM
Pendukung
Pemberdayaan
masyarakat dan
percepatan
penanggulangan
kemiskinan &
pengangguran di
kelurahan/ kecamatan
(PNPM Perkotaan)
Keswadayaan
Masyarakat
(kelurahan)
10.948
Desa/Kel
11.039
Desa/Kel
10.948
Desa/Kel
Pemberdayaan
masyarakat dan
percepatan
penanggulangan
kemiskinan &
pengangguran di
kecamatan dan desa/
(PNPM Perdesaan)
Cakupan penerapan
PNPM-MP dan
Penguatan PNPM

a. PNPM InƟ 4.805 kec di
495
kabupaten/kota
di 32 provinsi
4.371 kec di
465
kabupaten/
kota di 32
provinsi
4.805 kec di 495
kabupaten/kota
di 32 provinsi
b. PNPM Penguatan
(termasuk di
dalam lokasi
PNPM InƟ)

50 Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014
NO
RPJMN 2010014
CAPAIAN
2009*
CAPAIAN
2010*
SUBSTANSI INTI SASARAN INDIKATOR
TARGET
2010*
- PNPM
Generasi
189 kec 164 kec di
21 kab di 5
prov
189 kec di 25
kab di 6 prov
- PNPM
Integrasi SPP-
SPPN
33 kab 10 kab di 8
prov
40 kab
- PNPM
Perbatasan
80 kec 80 kec 80 kec di 15
kab di 4 prov
Cakupan wilayah
kegiatan
rekonstruksi dan
rehabilitasi pasca
bencana krisis di
Kab. Nias dan Nias
Selatan
2 kab/9 kec 2 kab/5 kec 2 kab/9 kec
PNPM Mandiri
Kelautan dan
Perikanan
120 kab/kota 120
kab/kota
120 kab/kota
Jumlah fasilitasi
Pemda dalam
pengembangan
usaha ekonomi
masyarakat
ƚĞƌƟnggal termasuk
PNPM PISEW
9 prov, 32 kab 9 prov, 32
kab
9 prov, 34
kab
Jumlah cakupan
lokasi garapan
PAMSIMAS
32 kab 109
kab/kota di
15 prov
109 kab/kota
di 15 prov
Cakupan PNPM-LMP 72 kec 78 kec di 26
kab
78 kec di 26
kab di 4 8
prov
Infrastruktur
pendukung kegiatan
ekonomi & sosial
(RISE)
237 kecamatan 237 kecamatan
Infrastruktur
Perdesaan (RIS)
215 kecamatan 479
kecamatan
215 kecamatan
Persentase Pemda
yang
mengimplementasikan
kebijakan terkait
dengan PNPM-PISEW
(9 provinsi, 34
kabupaten)
100% 100% 100%
Infrastruktur air
limbah (SANIMAS)
27 kab/kota 97 kawasan 38 kawasan
Jumlah desa yang
terfasilitasi air
minum (PAMSIMAS)
1472 desa 1571 desa 1569 desa
Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014 51
NO
RPJMN2010ʹ2014
CAPAIAN
2009*
CAPAIAN
2010*
SUBSTANSIINTI SASARAN INDIKATOR
TARGET
2010*
Jumlah kabupaten
tertinggal yang
mengembangkan
mekanisme
pengarusutamaan
kegiatan dalam
pengembangan
kawasan perdesaan,
mendapatkan
bantuan stimulan
dalam
pembangunan
infrastruktur untuk
percepatan
pembangunan
daerah tertinggal,
dan mendapatkan
bantuan stimulant
untuk meningkatkan
kapasitas
kelembagaan
perencanaan
(PNPMͲP2DTK)
32 Kab 32 Kab 32 Kab
Meningkatnya jumlah
desa wisata melalui
PNPM bidang
pariwisata
Jumlah desa wisata
(PNPM Pariwisata)
200 desa 104 desa 200 desa
Meningkatnya akses
petani/peternak pada
skim kredit bersubsidi,
sistem bagi hasil,
komersial, bantuan
langsung dan
penumbuhan
kelembagaan
keuangan mikro untuk
mendukung
peningkatan produksi
pertanian.
Tersusunnya model
pembiayaan
bersubsidi
4 Ͳ 1
Penguatan modal
Gapoktan PUAP
(Gapoktan)
10.000 Ͳ 8.587
Tersusunnya
kebijakan
pembiayaan
pertanian
1 Ͳ 1
3 KREDITUSAHARAKYAT
(KUR):
Pelaksanaan
penyempurnaan
mekanisme penyaluran
KUR mulai 2010 dan
perluasan cakupan KUR
mulai 2011
Meningkatnya
penyaluran KUR
Penyediaan
penjaminan,
sosialisasi dan
pendampingan KUR
100% Ͳ 100%
Meningkatnya
kapasitas dan
jangkauan penyediaan
modal/pembiayaan
bagi koperasi dan
UMKM
Jumlah koperasi dan
UMKM yang
menerima bantuan
modal/pembiayaan
2.600 koperasi/
kelompok
Ͳ 99,46%
Meningkatnya kualitas
kelembagaan koperasi
dan pemahaman
masyarakat dan aparat
pembina mengenai
praktek berkoperasi
sesuai prinsip dan jati
Jumlah pelaksanaan
pengembangan
koperasi skala besar,
pengelola koperasi,
pemasyarakatan
perkoperasian dan
perbaikan diklatluh
5 kebijakan/
1.000 orang
pembina
Ͳ 100%
52 Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014
NO
RPJMN2010ʹ2014
CAPAIAN
2009*
CAPAIAN
2010*
SUBSTANSIINTI SASARAN INDIKATOR
TARGET
2010*
diri koperasi perkoperasian
Berkembangnya sarana
usaha pemasaran
KUMKM
Jumlah dukungan
dan fasilitasi sarana
pemasaran melalui
koperasi
5.737 KUMKM 53,60% 80,55%
4 TIM
PENANGGULANGAN
KEMISKINAN:
Revitalisasi Komite
Nasional
Penanggulangan
Kemiskinan (KNPK) di
bawah koordinasi Wakil
Presiden, penggunaan
unified database untuk
penetapan sasaran
program mulai 2009Ͳ
2010, dan penerapan
sistem monitoring dan
evaluasi yang akurat
sebagai dasar keputusan
dan alokasi anggaran
Meningkatnya jumlah
koordinasi,
sinkronisasi, kajian
serta pemantauan dan
evaluasi kebijakan
penanggulangan
kemiskinan di bidang
pengarusutamaan
kebijakan dan
anggaran
Jumlah penyiapan
kegiatan koordinasi
dan sinkronisasi
kebijakan dan
peraturan
perundangan
penanggulangan
kemiskinan di bidang
pengarusutamaan
kebijakan
8 kegiatan 8 kegiatan 8 kegiatan
Jumlah penyiapan
kegiatan koordinasi
dan sinkronisasi
kebijakan
penanggulangan
kemiskinan di bidang
pengarusutamaan
anggaran
4 kegiatan 4 kegiatan 4 kegiatan
Tingkat (indeks)
koordinasi kebijakan
dan anggaran
penanggulangan
kemiskinan dan
peraturan
perundangannya
100% 100% 100%
Meningkatnya jumlah
koordinasi,
sinkronisasi, kajian
serta pemantauan dan
evaluasi kebijakan
penanggulangan
kemiskinan di bidang
penguatan
kelembagaan TKPK
Jumlah penyiapan
kegiatan koordinasi
dan sinkronisasi
kebijakan
kelembagaan TKPK
8 kegiatan 8 kegiatan 8 kegiatan
Jumlah usulan
rekomendasi
kebijakan penguatan
kelembagaan TKPK
6 kegiatan 6 kegiatan 6 kegiatan
Tingkat (indeks)
usulan rekomendasi
kebijakan yang
menjadi kebijakan
formal
100% 100% 100%
Meningkatnya jumlah
koordinasi,
sinkronisasi, kajian
serta pemantauan dan
evaluasi kebijakan
penanggulangan
kemiskinan di bidang
penguatan masyarakat
dan kawasan
Jumlah penyiapan
kegiatan koordinasi
dan sinkronisasi
pelaksanaan
kebijakan
pemberdayaan
masyarakat dalam
penguatan
masyarakat dan
kawasan perkotaan
9 kegiatan 9 kegiatan 9 kegiatan
Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014 53
NO
RPJMN2010ʹ2014
CAPAIAN
2009*
CAPAIAN
2010*
SUBSTANSIINTI SASARAN INDIKATOR
TARGET
2010*
Jumlah penyiapan
kegiatan koordinasi
dan sinkronisasi
pelaksanaan
kebijakan
pemberdayaan
masyarakat dalam
penguatan
masyarakat dan
kawasan perdesaan
10 kegiatan 10 kegiatan 10 kegiatan
Tingkat (indeks)
koordinasi dan
sinkronisasi
kebijakan
pemberdayaan
masyarakat dalam
penguatan
masyarakat dan
kawasan perkotaan
dan perdesaan
100% 100% 100%
Meningkatnya jumlah
koordinasi,
sinkronisasi, kajian
serta pemantauan dan
evaluasi kebijakan
penanggulangan
kemiskinan di bidang
kelembagaan dan
kemitraan
Jumlah penyiapan
kegiatan koordinasi
dan sinkronisasi
penguatan
kelembagaan
penanggulangan
kemiskinan
8 kegiatan 7 kegiatan 8 kegiatan
Jumlah penyiapan
kegiatan koordinasi
dan sinkronisasi
pelaksanaan
kemitraan
penanggulangan
kemsikinan
6 kegiatan 6 kegiatan 6 kegiatan
Tingkat (indeks)
koordinasi dan hasil
sinkronisasi
pelaksanaan
penguatan
kelembagaan dan
kemitraan
100% 100% 100%
Meningkatnya jumlah
koordinasi,
sinkronisasi, kajian
serta pemantauan dan
evaluasi kebijakan
penanggulangan
kemiskinan di bidang
Keuangan Mikro dan
Pemanfaatan TTG
Jumlah penyiapan
kegiatan koordinasi
dan sinkronisasi
persiapan LKM
dengan K/L maupun
masyarakat
7 kegiatan 8 kegiatan 7 kegiatan
Jumlah penyiapan
kegiatan koordinasi
dan sinkronisasi
pengembangan dan
pemanfaatan
Teknologi Tepat
Guna
5 kegiatan 4 kegiatan 5 kegiatan
54 Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014
NO
RPJMN 2010ʹ2014
CAPAIAN
2009*
CAPAIAN
2010*
SUBSTANSI INTI SASARAN INDIKATOR
TARGET
2010*
Tingkat (indeks)
koordinasi kebijakan
pelaksanaan LKM
dan pengembangan
Teknologi Tepat
Guna
100% 100% 100,00%
Catatan: *) Data masukan dari sektor-sektor terkait di Bappenas
Sumber:
a. Kementerian Kesehatan, 2009
b. Kementerian Kesehatan, 2010
c. ÞƌŽĮl Kesehatan, 2009
d. Dihitung dari ÞƌŽĮl Kesehatan, 2009
e. Angka ini merupakan jumlah keluarga Pra KS dan KS 1 yang akƟf berusaha pada kelompok UPPKS. Data UPPKS
yang menjadi KB Mandiri tahun 2009-2010 sulit diperoleh mengingat kegiatan ini membutuhkan sinergi antara
program kemiskinan lainnya untuk mendukung peningkatan ekonomi keluarga.
Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014 55

BAB2.5.PRIORITASNASIONAL5:KETAHANANPANGAN

2.5.1. Pengantar
Ketahanan Pangan merupakan salah satu prioritas nasional dalam RPJMN 2010–2014. Ketahanan
Pangan memainkan peran dalam pembangunan terutama dalam: (1) memenuhi kebutuhan
konsumsi pangan dalam negeri dan industri, (2) mendukung peningkatan kualitas SDM, (3)
menyerap tenaga kerja, (4) memberikan kontribusi besar terhadap PDB dan ekspor nasional, (5)
mendukungkeberhasilanpembangunansektorlainnya,dan(6)menjagastabilitasnasionalsecara
umum. Sesuai dengan RPJMN 2010–2014, prioritas nasional ini diarahkan untuk meningkatkan
ketahanan dan kemandirian pangan serta kecukupan gizi masyarakat secara luas. Selain itu,
pembangunanketahananpangandiarahkanpulauntukmelanjutkandanmeningkatkanrevitalisasi
pertanian dalam rangka meningkatkan daya saing produk pertanian, peningkatan kesejahteraan
petanisertapelestariansumberdayaalamdanlingkunganhidup.
Berdasarkan sasaran utama pembangunan ketahanan pangan pada RPJMN 2010–2014, sasaran
dan target untuk tahun 2010 ialah meningkatnya produksi komoditas pangan utama, yaitu padi
sebesar 65Ͳ66 juta ton Gabah Kering Giling (GKG), jagung 19,8 juta ton, kedelai 1,5 juta ton, gula
sebesar 2,9 juta ton, serta daging sapi sebesar 414 ribu ton; meningkatnya PDB sektor pertanian
56 Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014
sebesar 3,6 persen; terjaganya stabilitas harga pangan serta meningkatnya kesejahteraan petani
yang diindikasikan dengan meningkatnya Nilai Tukar Petani menjadi 105-110.
2.5.2. Pencapaian Prioritas Nasional 5: Ketahanan Pangan
Keberhasilan pencapaian pemantapan ketahanan pangan pada tahun 2010 ditunjukkan oleh
peningkatan produksi bahan pangan. Produksi padi berhasil mencapai 66,5 juta ton GKG, jagung
mencapai 18,3 juta ton pipilan kering, kedelai mencapai 907,0 ribu ton biji kering, gula mencapai
2,7 juta ton Gula Kristal WƵƟh (GKP), daging sapi mencapai 440 ribu ton karkas, serta ikan 10,83
juta ton. Berdasarkan data tersebut, produksi padi dan daging sapi telah mampu mencapai target
yang ditetapkan, sedangkan untuk produksi jagung, kedelai, dan gula, pemerintah dan masyarakat
masih perlu berupaya bersama untuk dapat lebih meningkatkan jumlah produksinya.
Pada tahun 2010 pertumbuhan PDB sektor pertanian, perikanan dan kehutanan mencapai 2,9
persen. Angka tersebut lebih rendah dari angka sasaran yaitu sebesar 3,6 persen. Dibandingkan
dengan tahun 2009, PDB sektor pertanian tahun 2010 juga mengalami penurunan dari 4,0 persen.
Dari sisi ketenagakerjaan, sektor pertanian, perikanan dan kehutanan mampu memberikan
lapangan kerja bagi sekitar 41,5 juta orang. Sedangkan dari sisi Nilai Tukar Petani (NTP) dan Nilai
Tukar Nelayan (NTN) pada tahun 2010 masing-masing mampu mencapai 102,75 dan 105,5.
Capaian indeks NTP dan NTN masih lebih rendah dari target yang ditetapkan.
Tabel 2.5.1
Capaian Sasaran Prioritas Nasional 5: Ketahanan Pangan Tahun 2010
Indikator Satuan Target Capaian
Produksi Padi juta ton GKG 66,9 66,5
Produksi Jagung juta ton 19,8 18,3
Produksi Kedelai ribu ton 1.300 907,0
Produksi Tebu/Gula juta ton 3,0 2,7
Produksi Daging Sapi ribu ton 412 440
Produksi Perikanan juta ton - 10,83
Pertumbuhan PDB % 3,6 – 3,7 2,9
Penyerapan Tenaga Kerja juta orang 43,7 41,5
Indeks NTP/NTN >105/105 102,75/105,5
Konsumsi Kalori Kkal/kapita/hari - 1.957,0
Skor PPH 86,4 80,6
Sumber: BPS (ATAP, 2011), Kementerian Pertanian dan Kementerian Kelautan Perikanan (2011).

Kondisi harga bahan pangan cukup ŇuktuĂƟf dengan kecenderungan yang semakin meningkat
yang dipengaruhi oleh kemunduran musim panen serta permasalahan distribusi dan logiƐƟk bahan
pangan antarwaktu dan antarwilayah. Untuk menjamin aksesibilitas masyarakat miskin terhadap
pangan, khususnya beras, pada tahun 2010 Pemerintah telah menyalurkan beras melalui Program
Raskin bagi seluruh rumah tangga sasaran sebanyak 2,93 juta ton beras. Berdasarkan hasil
Susenas, konsumsi kalori penduduk Indonesia pada tahun 2010 meningkat dari rata-rata 1.927,6
kkal/kapita/hari pada tahun 2009 menjadi 1.957,0 kkal/kapita/hari. Konsumsi ikan mencapai 30,47
kg/kapita/tahun, meningkat sebesar 4,78 persen dibandingkan dengan konsumsi pada tahun 2009
yang mencapai 29,08 kg/kapita/tahun. Sedangkan untuk skor Pola Pangan Harapan (PPH), pada
tahun 2010 mencapai 80,6, lebih rendah dari target yaitu sebesar 86,4.



Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014 57
2.5.3. PermasalahanPencapaian
Pembangunan ketahanan pangan tahun 2010 mampu mencapai beberapa sasaran utama,
terutamaproduksipadi,daging,ikan,dankonsumsipanganmasyarakat.Dilainpihak,pencapaian
sasaran pembangunan ketahanan pangan juga menghadapi beberapa kendala. PermasalahanͲ
permasalahan tersebut terutama terkait dengan lahan, infrastruktur, penelitian dan
pengembangan,investasidanpembiayaan,pangandangizi,sertaadanyaperubahaniklim.
Tingginya tekanan terhadap lahan pertanian pangan menjadi salah satu permasalahan utama
dalam pembangunan ketahanan pangan. Target pengembangan areal pertanian baru pada tahun
2010 seluas 32,5 ribu hektar masih belum terpenuhi. Luasan areal sawah dan lahan kering yang
dikembangkan masih sekitar 9,8 ribu hektar. Alih fungsi dan kompetisi penggunaan lahan
pertanian pangan sangat membatasi pencapaian produksi bahan pangan. Pemanfaatan lahan
kering dan lahan terlantar juga masih menghadapi beberapa kendala, diantaranya yaitu
ketersediaan air irigasi. Deforestasi dan degradasi lahan juga mengakibatkan penurunan kualitas
lahan dan dukungan ketersediaan air. Luasan lahan yang berhasil dioptimasi pada tahun 2010
seluas 9,4 ribu hektar juga masih belum mencapai target seluas 25 ribu hektar. Sebagai dampak
darikendalatersebut,capaianbeberapatargetsasaranproduksi(jagung,kedelai,gula)masihlebih
rendah dari target yang diharapkan. Selain itu, produksi perikanan tangkap di laut sudah mulai
terbatas pertumbuhannya karena beberapa kawasan perairan sudah mengalami fullyͲ
exploited/overfishing.
Sarana dan prasarana pertanian dan perdesaan belum sepenuhnya mampu melayani seluruh
wilayah produsen pangan. Jaringan irigasi yang ada masih belum berfungsi secara optimal
sehingga memerlukan upaya peningkatan dan rehabilitasi terutama di daerah sentra produksi
pangan dan daerahͲdaerah irigasi besar. Pelaksanaan pembangunan waduk/embung/situ masih
terkendala oleh pembebasan tanah dan permasalahan sosial, sedangkan untuk pengembangan
rawadihadapkanpadaisulingkungandanmoratoriumijinpemanfaatanlahangambut.Saranadan
prasarana perhubungan dan logistik pendukung distribusi pangan belum mampu menjangkau
seluruh lapisan masyarakat. Sementara itu, produksi perikanan budidaya mengalami kendala
berupa adanya keterbatasan akses ke input produksi (benih, bibit, dan modal) dan belum
memadainya sarana dan prasarana budidaya (tambak dan irigasi) sehingga produksi perikanan
budidaya belum meningkat secara optimal. Kondisi infrastruktur jalan yang masih terbatas
meningkatkanbiayatransaksidanmenurunkanmutuprodukhasilpertaniandanperikanan.Selain
itucakupaninfrastrukturdankualitaspenyuluhanpertaniandanperikananmasihrendah.
Penelitiandanpengembangandalambidangpertaniandanperikananmasihperludikembangkan.
Selain itu, masih lemahnya diseminasi teknologi dan pemanfaatan teknologi tersebut kepada
masyarakat secara luas menjadi kendala bagi adopsi penerapan teknologi untuk meningkatkan
produksi. Mekanisme investasi dan pembiayaan pertanian dan perikanan yang ada masih belum
dapatdijangkauolehmasyarakat.
Perubahan iklim mempengaruhi musim, cuaca, curah hujan, dan bencana. Perubahan tersebut
berdampak terhadap produksi bahan pangan. Dampak perubahan iklim tersebut tidak hanya
dirasakan pada kegiatan onͲfarm namun juga dihadapi dalam kegiatan offͲfarm, seperti
pengolahanpascapanendanpemasaranhasilpertaniandanperikanan.
KendalaͲkendala di atas tidak berdiri sendiri, namun saling terkait dalam mempengaruhi upaya
pencapaian sasaran ketahanan pangan. Capaian produksi jagung, kedelai, dan gula terutama
terkendalaolehkombinasimasalahalihfungsilahandankompetisilahandengankomoditaspadi,
dukungan infrastruktur pertanian, dan perubahan iklim. Tingginya curah hujan menyebabkan
58 Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014
petanilebihmemilihuntukmenanampadi.Kondisiiklimbasahinijugamenyebabkanpeningkatan
serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) bagi jagung dan kedelai serta menurunnya
tingkatrendemengula.
PDBsektorpertaniantahun2010mamputumbuhpositifdengantingkatpertumbuhan2,9persen.
Namundemikianpembangunanketahananpangandiharapkanmampulebihmendongkraksektor
pertanianuntuktumbuhsekitar3,6persen.Capaiansasaraniniterkendalaolehtingginyatekanan
terhadap lahan dan air sehingga pertumbuhan produksi dan produktivitas pertanian, perikanan
dan kehutanan belum optimal. Selain itu, nilai tambah ekonomi dan mutu hasil pertanian,
perikanan dan kehutanan juga masih perlu ditingkatkan. Penerapan teknologi dan aksesibilitas
pembiayaan pertanian akan menjadi faktor penting dalam peningkatan aktivitas ekonomi sektor
pertanian.
Walaupun telah meningkat, tingkat kesejahteraan masyarakat pertanian masih perlu terus
diperhatikan. Rendahnya tingkat penguasaan lahan merupakan kendala utama. Selain itu
peningkatan produktivitas dan kualitas hasil juga akan menentukan pendapatan petani dan
nelayan. Lebih lanjut, peran penyuluhan untuk mendiseminasikan teknologi dalam mengangkat
nilai tambah produk juga masih belum berjalan optimal. Berbagai kendala tersebut selama ini
menjadi permasalahan dalam pencapaian target kesejahteraan masyarakat pertanian, perikanan
dankehutanan.

2.5.4. RencanaTindakLanjut
Secara umum, pada tahun 2010, produksi bahan pangan mampu tumbuh secara positif dan
beberapa target sasaran produksi telah tercapai. Selain itu, PDB sektor pertanian dan tingkat
kesejahteraan petani meningkat namun masih belum tumbuh seperti yang diharapkan. Masih
terdapat beberapa permasalahan yang menjadi kendala pencapaian target pembangunan. Oleh
karena itu diperlukan beberapa tindak lanjut dalam upaya mencapai sasaran pembangunan
ketahananpangankedepan.
Ketersediaan input produksi terbukti mampu mempertahankan dan bahkan meningkatkan
produksi dan produktivitas selama ini. Oleh karena itu, penyaluran input produksi (terutama
pupuk, benih/bibit) akan tetap dilanjutkan dan lebih ditingkatkan. Selain itu, kondisi curah hujan
sepanjang tahun selama ini juga sangat berperan dalam proses budidaya bahan pangan. Dengan
demikian pengelolaan lahan dan irigasi yang didukung dengan informasi iklim akan lebih
ditingkatkankedepan.
Di lain pihak, permasalahan lahan akan ditindaklanjuti dengan implementasi perlindungan lahan
pertanianpanganberkelanjutan.Selainitu,pemerintahtetapakanmeminimalisiralihfungsilahan
gunameningkatkanketersediaanpangannasional,sertadiiringidenganperluasanarealpertanian
baru. UpayaͲupaya tersebut diharapkan akan mampu mengatasi masalah: (1) laju produktivitas
yang mengalami kemandegan, (2) alih fungsi lahan pangan ke penggunaan lain yang belum
berhasilditekanketingkatminimal,(3)penyusutanlahanpangankarenanaiknyaparasmukalaut
akibat pemanasan global, dan (4) skala penguasaan garapan usahatani sehingga pendapatan
petanimeningkat.
Upaya pengelolaan sumber daya perikanan dilakukan melalui pengendalian dan penataan
perikanan tangkap dan peningkatan pertumbuhan produksi perikanan budidaya. Upaya
pengelolaanpenangkapandilautlebihdiarahkanpadapengendaliandanpenataanfaktorproduksi
untuk menghasilkan pemanfaatan yang berkesinambungan. Untuk meningkatkan produksi
perikanan budidaya, dapat dilakukan peningkatan kegiatan upaya intensifikasi dan ekstensifikasi
Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014 59
usaha perikanan melalui peningkatan produktivitas dengan penyediaan sarana perikanan seperti
bantuanbenih,penerapanteknologidanpenyuluhan;sertapeningkatanpemanfataanlahantidur
untukusahaperikanansertapengembangankawasanminapolitan.
Mengingat sebagian besar kegiatan usaha tani berlokasi di perdesaan, maka ketersediaan dan
kualitas sarana dan prasarana pertanian dan perdesaan akan terus diperhatikan. Pembangunan
sarana dan prasarana pertanian dan perdesaan akan dilanjutkan untuk mendukung pemanfaatan
lahan kering dan lahan terlantar. Pemerintah juga akan mengidentifikasi potensi daerah irigasi
baru, terutama di luar Pulau Jawa dan meningkatkan kualitas infrastruktur pada daerahͲdaerah
irigasi terbangun. Pembenahan sarana dan prasarana distribusi transportasi akan pula
dikembangkan guna mendukung distribusi bahan pangan antarwaktu dan antarwilayah
(connectivity).Selainitu,peningkatancakupanpenyuluhandankualitaspenyuluhanpertaniandan
perikananakanlebihdifokuskangunamendukungpencapaianketahananpangan.
Pembangunan ketahanan pangan juga akan diperkokoh dengan percepatan penganekaragaman
konsumsi masyarakat untuk mengantisipasi peningkatan pertumbuhan dan kualitas permintaan
masyarakat terhadap bahan pangan. Selain itu, perbaikan mutu, keamanan pangan, kandungan
residu dan bahan berbahaya dalam proses pengolahan, perbaikan lingkungan dan penyakit
zoonosis akan tetap diperkuat. Yang tidak kalah penting, langkahͲlangkah stabilisasi harga dan
penguatancadanganbahanpangandalamnegeriakanterusmenjadifokuskebijakankedepan.
Mekanisme diseminasi hasil penelitian dan pengembangan di bidang pertanian, penyediaan dan
peningkatanaksespermodalansertapendampinganbagimasyarakatpetaniakanterusdiperbaiki.
Upayatersebutdiharapkandapatmeningkatkanpengetahuandankesejahteraanpetani,sehingga
petanilebihmandiri.
Terkait dengan perubahan iklim, upaya adaptasi dan mitigasi akan lebih diperkuat. Dalam
hubungan ini telah dirumuskan langkahͲlangkah nyata pengamanan produksi pangan dalam
mengahadapi iklim ekstrim terutama melalui Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2011 tentang
Pengamanan Produksi Beras Nasional dalam Menghadapi Kondisi Iklim Ekstrim. Upaya antisipasi
inimenuntutkoordinasi,kerjasamadanmonitoringevaluasiantarinstansiyangsangatintensif.

Tabel2.5.2.PencapaianPembangunanPrioritasNasional5:
KetahananPangan,Tahun2010

No
RPJMN2010–2014
CAPAIAN
2009
CAPAIAN
2010 SUBSTANSIINTI SASARAN INDIKATOR
TARGET
2010
1 LAHAN,
PENGEMBANGAN
KAWASANDAN
TATARUANG
PERTANIAN:
Penataanregulasi
untukmenjamin
kepastianhukum
ataslahan
pertanian,
pengembangan
arealpertanian
baruseluas2juta
Penataanregulasi
untukmenjamin
kepastianhukum
ataslahan
pertanian

Jumlahpaketrancangan
peraturanperundangͲ
undangandankebijakandi
bidangpertanahandalam
rangkamendukung
pelaksanaanUndangͲundang
PerlindunganLahanPertanian
PanganBerkelanjutan
1paket

Ͳ 1paket
Pengembangan
arealpertanian
baruseluas2juta
hektar
Luasan(Ha)perluasanareal
tanamanpangan(sawahdan
lahankering),hortikultura,
perkebunandankawasan
peternakan
32.505 14.517
(sawah)
1.125
(lahan
kering)
8.856
(sawah)
1.077,5(lahan
kering)
60 Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014
No
RPJMN2010–2014
CAPAIAN
2009
CAPAIAN
2010 SUBSTANSIINTI SASARAN INDIKATOR
TARGET
2010
hektar,
penertibanserta
optimalisasi
penggunaanlahan
terlantar
Penertiban,serta
optimasi
penggunaanlahan
terlantar

Luasan(Ha)lahanyang
dioptimasi,dikonservasidan
direhabilitasi,direklamasi
(Pengembanganrumah
kompos)
25.709 12.370
(optimasi)
9.434
(optimasi)
235rumah
kompos
2. INFRASTRUKTUR:
Pembangunan
danpemeliharaan
sarana
transportasidan
angkutan,
pengairan,
jaringanlistrik,
sertateknologi
komunikasidan
sisteminformasi
nasionalyang
melayanidaerahͲ
daerahsentra
produksi
pertaniandemi
peningkatan
kuantitasdan
kualitasproduksi
sertakemampuan
pemasarannya

Pembangunan
danpemeliharaan
sarana
transportasidan
angkutanyang
melayanidaerahͲ
daerahsentra
produksi
pertaniandemi
peningkatan
kuantitasdan
kualitasproduksi
sertakemampuan
pemasarannya
Tersedianyajalansepanjang
12.500kmuntukJalanUsaha
Tani(JUT)danjalanproduksi,
sertatersedianyadatabidang
tanahpetaniyanglayak
disertifikasi
952 Ͳ 483(JUT)
469(jalan
produksi)
72.600persil
(tanahyg
disertifikasi)
Jumlahpelabuhanperikanan
denganfokuspembangunandi
lingkarluardandaerah
perbatasanyangpotensial
968

816 816
Pembangunan
danpemeliharaan
pengairanyang
melayanidaerahͲ
daerahsentra
produksi
pertaniandemi
peningkatan
kuantitasdan
kualitasproduksi

Tersedianyaoptimasi
pemanfaatanairirigasimelalui
perbaikanjaringanirigasitingkat
usahatani(JITUT)/Jaringan
irigasidesa(JIDES)dan
pengembanganTataAirMikro
(TAMyangberfungsi(ha)
108.486 Ͳ 57.527(jitut)
44.227(jides)
6.030(TAM)
Jumlahpengadaankapal
perikanan>30GT(kapal)
60

N/A 46
Jumlahunitperbenihanyang
bersertifikat
51 N/A 57
Luaslayananjaringanirigasi
yangmeningkat(ha)
115ribu 88,81ribu* 115ribu
Luaslayananjaringanirigasi
yangdirehabilitasi(ha)
200ribu 623,91ribu* 293ribu
Luaslayananjaringanirigasi
yangdioperasikandan
dipelihara(ha)
2,32juta 83,37ribu 2,32juta
Luaslayananjaringanrawayang
meningkat(Ha)
10ribu 102,97ribu* 8,08ribu
Luaslayananjaringanrawayang
direhabilitasi(Ha)
85ribu 159,42ribu 79,37ribu
Luaslayananjaringanrawayang
dioperasikandandipelihara(ha)
800ribu 376,32ribu 1,108juta
Jumlahsumurairtanahyang
dibangun/ditingkatkan(unit)
70 94 84
Jumlahsumurairtanahyang
direhabilitasi(unit)
230sumurair
tanah
3,03ribu
hektar
97sumurair
tanah
Jumlahsumurairtanahyang
dioperasikandandipelihara
(unit)
425sumurair
tanah
3ribuhektar 188sumurair
tanah
Luaslayananjaringantataair
tambakyangdibangun/
ditingkatkan(ha)
1.000 Ͳ 1.021
Luaslayananjaringantataair
tambakyangdirehabilitasi(ha)
4.000 Ͳ 2.800
Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014 61
No
RPJMN 2010–2014
CAPAIAN
2009
CAPAIAN
2010 SUBSTANSI INTI SASARAN INDIKATOR
TARGET
2010
Jumlah waduk yang dibangun:
- waduk selesai dibangun 1 2 -
- embung/ situ selesai
dibangun
20 12 45
- waduk dalam pelaksanaan 5 - 8
Jumlah waduk yang
direhabilitasi

- waduk selesai direhabilitasi 2 2 12
- waduk dalam pelaksanaan
rehabilitasi
9 - -
- Embung/ situ selesai
direhabilitasi
37 11 21
Jumlah waduk/embung/situ
yang dioperasikan dan
dipelihara
182 171 14
3



PENELITIAN DAN
PENGEMBANGAN:
Peningkatan upaya
peneůŝƟĂŶ dan
pengembangan
bidang pertanian
yang mampu
menciptakan benih
unggul dan hasil
peneůŝƟĂŶ lainnya
menuju kualitas dan
produŬƟǀŝƚĂƐ hasil
pertanian nasional
yang Ɵnggi
Peningkatan
inŽǀĂƐi teknologi
pertanian untuk
mendukung
peningkatan
ketahanan pangan
untuk tercapainya
swasembada dan
swasembada
berkelanjutan








Inoǀasi teknologi benih, bibit,
pupuk, obat hewan dan
tanaman, alsintan, dan produk
olahan
66 - 100
Inoǀasi teknologi pengelolaan
sumberdaya pertanian
68 - 82
Rekomendasi kebijakan
pertanian
60 - 63
Diseminasi inoǀĂsi teknologi
benih, bibit, pupuk, obat hewan
dan tanaman, alsintan dan
produk olahan
32 - 24
Jumlah ǀĂƌŝĞƚĂƐ unggul baru
tanaman pangan
5 – 6 - 25
Jumlah benih sumber yang
diperbanyak oleh UPBS
6 - 6
Jumlah teknologi penanganan
segar produk horƟkultura
5 - 6
Benih unggul
berbasis biologi
molekuler
Jumlah ǀĂƌŝĞƚĂƐ benih unggul 1 - 100 %
1 ǀĂƌŝĞƚĂƐ padi
tahan
penggerek
batang telah di
Uji DƵůƟ
Lokasi di 10
daerah untuk
persiapan
pelepasan
ǀĂƌŝĞƚĂƐ benih
unggul tahun
2011.
Pupuk organik
dari mikroba
hayĂƟ Indonesia
Percontohan produksi pupuk
organik di pedesaan
1 100 %
Pengembang
an proses
produksi
pupuk
organik
100 %
Aplikasi di
Desa Cicurug,
Sukabumi
Keanekaragaman
pangan
Jumlah ǀĂƌŝĞƚĂƐ 2 Tahap
pengemban
gan
75 %
1 ǀĂƌŝĞƚĂƐ ubi
kayu
62 Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014
No
RPJMN2010–2014
CAPAIAN
2009
CAPAIAN
2010 SUBSTANSIINTI SASARAN INDIKATOR
TARGET
2010
beramilosa
tinggidan
pengembanga
nvarietas
kentanghitam
Terbangunnya
fasilitaslitbang
bioteknologi
peternakan
modern
FasilitasLaboratoriumdan
peralatannya
2 100%
1fasilitas
Feed
100%
2Unitfasilitas
risetyaitu
DairyPlant
danKandang
Otomatis
Peningkatan
upayapenelitian
dan
pengembangan
bidangpertanian
yangmampu
menciptakan
benihungguldan
hasilpeneilitian
lainnyamenuju
kualitasdan
produktivitashasil
pertaniannasional
yangtinggi.
Varietaspadi(padisawah,
padigogo,padidatarantinggi
danpadihibrida)
Ͳ 1
Varietaskedelai(jenisbiji
besar,genjah,produksitinggi
danjenisbijihitam)
1 Ͳ 1
Varietasgandumtropisdan
sorghum
1 Ͳ 1
4 INVESTASI,
PEMBIAYAAN,
DANSUBSIDI:
Doronganuntuk
investasipangan,
pertanian,dan
industri
perdesaan
berbasisproduk
lokalolehpelaku
usahadan
pemerintah,
penyediaan
pembiayaanyang
terjangkau,serta
sistemsubsidi
yangmenjamin
ketersediaan
benihvarietas
unggulyangteruji,
pupuk,teknologi
dansaranapasca
panenyangsesuai
secaratepat
waktu,tepat
jumlah,dan
terjangkau

Doronganuntuk
investasipangan,
pertanian,dan
industri
perdesaan
berbasisproduk
sistemoleh
pelakuusahadan
pemerintah

SLPTTpadi(ribuha) 2.500 Ͳ 2.394
SLPTTJagunghibrida(ribuha) 150 Ͳ 149
SLPTTkedelai(ribuha) 250 Ͳ 186
Lajupertumbuhanproduksi
tanamanbuah
0,05 Ͳ 3,8
Lajupertumbuhanproduksi
tanamansayurandan
biofarmaka
3,5% Ͳ 3,77%
Capaianluasareal(ribu
hektar)pembinaandan
pengembangantanaman
tebuuntukmendukung
SwasembadaGulaNasional
465 Ͳ 434
Capaianluasareal(ribu
hektar)pembinaandan
pengembanganuntuk
pengembangankomoditas
eksportembakau
205 Ͳ 194
Peningkatanluasareal(ribu
hektar)pembinaandan
pengembanganuntuk
komoditasekspor

Ͳ Kopi 1.291 Ͳ 1.268
Ͳ Teh 129 Ͳ 125
Ͳ Kakao 1.655 Ͳ 1.652
Ͳ Lada 192 Ͳ 186
Pengembangankomoditas
pemenuhankonsumsidalam
negeri

Ͳ Cengkeh 465 Ͳ 470
Pengembanganternakpotong 21.000 Ͳ 820sapi
Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014 63
No
RPJMN 2010–2014
CAPAIAN
2009
CAPAIAN
2010 SUBSTANSI INTI SASARAN INDIKATOR
TARGET
2010




(ekor) 150 kerbau
Pengembangan sapi perah
(ekor)
1.250 - 123
Pengembangan kelompok
unggas lokal
230 - 200
Pengembangan kelompok non
unggas
28 - 25
Meningkatnya jumlah ekspor
hasil pertanian
15% - 15%
Meningkatnya jumlah surplus
neraca perdagangan hasil
pertanian
30% - 52%
Jumlah kelembagaan
penyuluhan pertanian yang
terbentuk
333 - 333
Jumlah kelembagaan petani
(gapoktan)
30.000 - 30.636
Jumlah BPP model 4.200 4.245
Penyediaan
pembiayaan yang
terjangkau

Laporan Keuangan Belanja
Subsidi Lain-lain (BSBL) yang
lengkap dan tepat waktu
100% - 100%
Pengalokasian belanja
pemerintah pusat yang tepat
waktu dan eĮƐŝen
100% - 100%
Penyediaan anggaran secara
tepat waktu dan tepat jumlah
untuk menunjang program di
bidang pangan, pertanian, dan
industri perdesaan sesuai
dengan persetujuan
100% - 100%
Sistem subsidi
yang menjamin
ketersediaan
benih varietas
unggul yang teruji,
pupuk, teknologi
dan sarana pasca
panen yang sesuai
secara tepat
waktu, tepat
jumlah, dan
terjangkau.

Jumlah benih tanaman pangan
bersubsidi (ribu ton)
178,18 - 74,84
(padi-BLBU)
13,35
(jagung-BLBU)
19,78
(kedelai-BLBU)
Jumlah pupuk bersubsidi (juta
ton)
11,06 - 7,36
Jumlah unit perbenihan ikan
yang ďĞƌƐĞƌƟĮŬĂƚ
51 unit N/A 57
5





PANGAN DAN
GIZI:
Peningkatan
Kualitas Gizi dan
Keanekaragaman
Pangan Melalui
Pola Pangan
Harapan



Meningkatnya
pemantapan
ketersediaan
pangan dan
penanganan
rawan pangan.
Jumlah Desa Mandiri Pangan
yang dikembangkan.
1.750 desa - 1.994 desa
Meningkatnya
pemantapan
distribusi dan
harga pangan.
Lembaga Distribusi Pangan
Masyarakat (LDPM)
750 - 716
Meningkatnya
pemantapan
Desa P2KP (Percepatan
Penganekaragaman Konsumsi
2.000 desa - 1.950 desa
64 Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014
No
RPJMN2010–2014
CAPAIAN
2009
CAPAIAN
2010 SUBSTANSIINTI SASARAN INDIKATOR
TARGET
2010
penganekaragamaŶ
kŽŶsƵŵƐŝ
pangandan
keamananpangan
Pangan).
Meningkatnya
kualitas
penanganan
masalahgizi
masyarakat
Persentasebalitaditimbang
beratbadannya(D/S)
65% 45,4%
(Riskesdas,
2007)
49,4%
(Riskesdas,
2010)
6 ADAPTASI
PERUBAHAN
IKLIM:
Pengambilan
langkahͲlangkah
kongkritterkait
adaptasidan
antisipasisistem
pangandan
pertanian
terhadap
perubahaniklim
Meningkatnya
populasidan
produksihasil
olahanternak
ruminansiaterkait
denganDampak
PerubahanIklim
Pengembangandan
pembinaanBiogasAsalTernak
BersamaMasyarakat
(BATAMAS)terutamadisentra
terpencildanpadatternak
(unit)(DampakPerubahan
Iklim)
100 Ͳ 100
Pengembanganintegrasi
ternakdantanamanmelalui
pengelolaankotoranternak
(padatdancair)menjadi
pupukorganikdanpengolahan
limbahtanamanuntukternak
terutamadisentra
perkebunan,tanamanpangan
danhortikultura(klp)(Dampak
PerubahanIklim)
75 Ͳ 55
Catatan :*)termasukcapaianstimulusfiskal2009
Sumber :LAKIPTahun2010K/Lterkait

Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014 65

BAB2.6. PRIORITASNASIONAL6:INFRASTRUKTUR

2.6.1.Pengantar
Pembangunan infrastruktur nasional memiliki peranan yang sangat penting dalam mendukung
aktivitas ekonomi, sosial, budaya, serta kesatuan dan persatuan bangsa, terutama sebagai modal
dasardalammemfasilitasiinteraksidankomunikasidiantarakelompokmasyarakat,sertamengikat
dan menghubungkan antarwilayah. Pengembangan infrastruktur sumber daya air ditujukan untuk
mendukung ketahanan pangan nasional dan penyediaan air untuk keperluan masyarakat,
pembangkit tenaga listrik dan pengendalian banjir. Infrastruktur lainnya seperti jalan, jembatan,
prasarana dan sarana dasar permukiman menjadi modal esensial masyarakat dalam memenuhi
kebutuhansosialͲekonominya.Sementarapengembanganinfrastrukturkomunikasidaninformatika
ditujukan untuk menjamin kelancaran komunikasi dan arus informasi baik untuk mendukung
kegiatanpemerintahan,perekonomianmaupunsosial.
Program percepatan pembangunan infrastruktur pada RPJMN 2010–2014 difokuskan pada: (1)
perbaikan pelayanan dan penyediaan infrastruktur di bidang sumber daya air, transportasi,
komunikasi dan informatika, serta perumahan, air minum, limbah, persampahan, dan drainase
guna mendorong pertumbuhan ekonomi; dan (2) percepatan pembangunan infrastruktur yang
66 Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014
didorong melalui peningkatan peran swasta dengan meletakkan dasar-dasar kebijakan dan regulasi
serta reformasi dan restrukturisasi kelembagaan.

2.6.2. Pencapaian Prioritas Nasional 6: Infrastruktur
Pencapaian pembangunan infrastruktur selama tahun 2010 mencakup pengelolaan tata ruang,
pembangunan jalan, perhubungan, perumahan rakyat, pengendalian banjir, telekomunikasi dan
transportasi perkotaan.
Pada tahun 2010, kegiatan pengelolaan pertanahan provinsi dengan sasaran penyusunan neraca
penatagunaan tanah pada 100 kab/kota sesuai dengan target atau sebanyak 20 persen dari total
target RPJMN 2010–2014. Selanjutnya, inventarisasi penguasaan dan pemilikan tanah, serta
pemanfaatan dan penggunaan tanah juga telah dilaksanakan sesuai dengan target, yakni 335.665
bidang atau sebesar 20 persen dari total target RPJMN 2010–2014. Selain itu, telah tersusun satu
paket peraturan perundang-undangan pengadaan tanah untuk pembangunan kepenƟngan umum.
Melalui Amanat Presiden tanggal 15 Desember 2010, Rancangan Undang-Undang (RUU) tersebut
telah diajukan kepada DPR RI untuk dilakukan pembahasan sebelum disyahkan menjadi undang-
undang.
Pembangunan infrastruktur transportasi mencakup prasarana jalan, angkutan sungai danau dan
penyeberangan (ASDP), perkeretaapian, angkutan laut, dan angkutan udara. Untuk prasarana jalan,
pada tahun 2010 telah dicapai kondisi mantap jalan nasional sebesar 87 persen dan
bertambahnya jumlah lajur-Km jalan menjadi sepanjang 93.094 lajur-Km pada jalan nasional. Untuk
ASDP telah dilaksanakan pembangunan baru dan lanjutan dermaga penyeberangan sebanyak
enam unit dan pembangunan baru dan lanjutan dermaga danau 36 unit, serta pembangunan baru
dan lanjutan kapal penyeberangan perinƟs 30 unit. Untuk perkeretaapian telah berhasil dilakukan
antara lain: peningkatan jalan rel 1.849,62 km dan pembangunan jalur kereta api (KA) baru 68,67
km; dimulainya pembangunan Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta; melanjutkan pembangunan
double track Manggarai-Cikarang; serta pengadaan kereta kelas ekonomi (K3). Sementara itu,
capaian pembangunan transportasi laut selama tahun 2010 diantaranya: pengerukan dan
pemeliharaan alur pelayaran sebanyak 6,3 juta m3 di 19 lokasi; pembangunan baru dan lanjutan
pelabuhan di lebih dari 55 lokasi yang tersebar di seluruh Indonesia; pengembangan Pelabuhan
Tanjung Priok dan Belawan; serta pemasangan sistem NaƟonal Single Window di pelabuhan
Tanjung Priok. Sedangkan dari sisi transportasi udara yang telah dilaksanakan diantaranya adalah:
pengembangan empat bandar udara (bandara) pada daerah rawan bencana dan daerah
perbatasan; rehabilitasi dan pemeliharaan fasilitas landasan, fasilitas terminal, dan fasilitas
bangunan pada 205 bandara; lanjutan pembangunan bandara Medan Baru; pembangunan,
rehabilitasi dan pemeliharaan prasarana navigasi penerbangan sebanyak 124 paket; serta
pemberian subsidi operasi angkutan udara perinƟs pada 118 rute.
Penyediaan rumah layak huni, khususnya untuk masyarakat berpenghasilan rendah, mencakup
pembangunan rumah baru, antara lain Rumah Sederhana Sehat (RSH), rumah susun sederhana
milik (rusunami), rumah susun sederhana sewa (rusunawa), dan perumahan swadaya; serta
peningkatan kualitas perumahan dan permukiman melalui penyediaan prasarana, sarana dan
ƵƟlitas (PSU). Cakupan penyediaan rumah layak huni yang menjadi substansi inƟ perumahan rakyat
terdiri dari pembangunan RSH bersubsidi, rusunawa dan rusunami. Selama tahun 2010 telah
terbangun 87.001 RSH bersubsidi, 500 unit rusunami, 89 twin block rusunawa yang diperkirakan
menyediakan rumah layak huni untuk 96.045 keluarga yang kurang mampu, baik yang dilakukan
oleh Pemerintah untuk penyediaan PSU RSH dan pembangunan rusunawa, maupun melalui peran
Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014 67
serta sektor swasta untuk pembangunan RSH dan rusunami. Pembangunan rusunawa masih di
bawah target yang telah ditetapkan yaitu 89 twin block dari 140 twin block. Sementara untuk
substansi inƟ perumahan rakyat lainnya ƟĚĂk dapat diukur pencapaiannya karena ƟĚak ditetapkan
target per tahunnya.
Pencapaian pembangunan infrastruktur sumber daya air adalah sebagai berikut: 1) dalam rangka
mengendalikan dan mengurangi dampak bencana akibat banjir, lahar dingin gunung berapi, dan
pengamanan pantai telah dibangun prasarana pengendali banjir sepanjang 321 km, 13 buah
pengendali lahar, dan pengaman pantai sepanjang 25,11 km, serta rehabilitasi prasarana
pengendali banjir sepanjang 171,2 km, 5 buah pengendali lahar, dan pengaman pantai sepanjang
10 km untuk mengamankan kawasan seluas 27.576 hektar; 2) untuk mengurangi daerah genangan
akibat banjir telah diselesaikan pembangunan Kanal Banjir Timur paket 22 sampai dengan 29; serta
3) sebagai bagian dari penanganan terpadu Daerah Aliran Sungai (DAS) Bengawan Solo, telah mulai
dilaksanakan pembangunan 4 buah waduk dan 2 unit pompa sebagai prasarana pengendali banjir,
dan 8 buah waduk dalam pelaksanaan rehabilitasi.
Pembangunan infrastruktur komunikasi dan informaƟka yang terkait dengan substansi inƟ adalah
pembentukan InforŵĂƟon CommunicaƟon and Technology (ICT) Fund dan pembangunan Desa
Dering dan Pusat Layanan Internet Kecamatan PLIK. ICT Fund merupakan salah satu sumber
pembiayaan Palapa Ring yaitu pembangunan jaringan tulang punggung (backbone) serat opƟk yang
bertujuan untuk menjamin kelancaran arus komunikasi dan informasi dalam rangka memperkuat
konekƟǀŝtas nasional (virtual domesƟĐ conneĐŝƟǀŝƚy), serta mendukung peningkatan pertumbuhan
ekonomi dan daya saing nasional. Saat ini, jaringan tulang punggung serat opƟk sudah tersedia di
sebagian besar ibukota kota/kabupaten di wilayah barat Indonesia, yaitu 66 persen ibukota
kab/kota di Sumatera, 98 persen di Jawa, dan 100 persen di Bali. Kondisi sebaliknya terjadi di
wilayah Indonesia bagian Ɵmur. Jaringan tulang punggung serat opƟk baru menjangkau 98 dari
total 219 ibukota kab/kota (44,7 persen) di wilayah Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku,
dan Papua. Hal ini mengakibatkan pertukaran informasi di wilayah Ɵmur ƟĚĂŬ secepat dan
sehandal di wilayah barat. Rendahnya demand di wilayah tersebut dan kondisi geograĮs yang lebih
sulit menyebabkan penyelenggara jaringan serat opƟk Ɵdak memprioritaskan pembangunan di
wilayah Ɵmur. Salah satu upaya Pemerintah untuk mempercepat pembangunan jaringan tulang
punggung serat opƟk di wilayah Ɵmur adalah melalui pemanfaatan ICT Fund sebagai salah satu
sumber pembiayaan. ICT Fund pada prinsipnya merupakan ŽƉƟŵĂůŝƐĂƐi pemanfaatan dana
Universal Service ObligaƟon (USO) yang merupakan kontribusi dari penyelenggara telekomunikasi
sebesar 1,25 persen dari pendapatan kotor tahunan dan dikumpulkan ƐĞƟap tahunnya. Saat ini
Dana USO baru dimanfaatkan untuk menutup wilayah blank spot melalui pemerataan penyediaan
infrastruktur akses dan layanan komunikasi dan informaƟka. Kementerian Komunikasi dan
InformaƟka pada tahun 2010 telah menyelesaikan penyusunan konsep ICT Fund yang dituangkan
dalam dokumen Kebijakan Pengelolaan dan Pengembangan Teknologi Infromasi dan Komunikasi
(TIK) di Indonesia dan menyampaikannya ke Kementerian Keuangan untuk disetujui. Karena hingga
akhir tahun 2010 pembahasan dengan Kementerian Keuangan belum mencapai kesepakatan,
pembahasan ICT Fund dilanjutkan dan dijadwalkan untuk ditetapkan pada semester kedua tahun
2011. Terkait penyediaan akses telekomunikasi dan akses internet, pembangunan Desa Dering
telah dilakukan di 27.670 desa (83,4 persen dari target) dan PLIK dilakukan di 4.269 desa (74,3
persen dari target).
2.6.3. Permasalahan Pencapaian
Permasalahan yang dihadapi terkait dengan inǀentarisasi penguasaan dan pemilikan tanah, serta
pemanfaatan dan penggunaan tanah antara lain: kurangnya sosialisasi pada masyarakat,
68 Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014
dikarenakan keterbatasan sumber daya manusia (SDM). Terkait dengan penyusunan peraturan
perundangͲundangan, permasalahan yang dihadapi antara lain berlarutͲlarutnya pembahasan di
DPR.
Permasalahan yang dihadapi dalam pelaksanaan pencapaian pembangunan sektor transportasi,
antaralain:(1)masihrendahnyatingkatkeselamatanpelayananjasatransportasi;(2)menurunnya
kualitas dan kapasitas sarana dan prasarana transportasi; (3) belum optimalnya dukungan
infrastruktur dalam peningkatan daya saing sektor riil; (4) masih terbatasnya aksesibilitas
pelayanan transportasi di wilayah terpencil dan perbatasan; (5) masih belum optimalnya peran
serta masyarakat dan swasta dalam investasi pembangunan infrastruktur transportasi; serta (6)
terdapat permasalahan sosial dalam proses pembebasan lahan, sehingga pekerjaan fisik menjadi
tertunda.
Secara umum permasalahan penyediaan rumah layak huni pada tahun 2010 antara lain adalah
terbatasnya akses masyarakat berpenghasilan rendah terhadap penguasaan dan legalitas lahan,
terbatasnya akses masyarakat terhadap pembiayaan perumahan, belum mantapnya kelembagaan
penyelenggaraanpembangunanperumahandanpermukiman,belummantapnyapasarprimerdan
pembiayaansekunderperumahan,efisiensidalampembangunanperumahanmasihrendah,serta
belumoptimalnyapemanfaatansumberdayaperumahandanpermukiman.Khususterkaitdengan
pembangunanRSH,rusunawadanrusunami,permasalahanpencapaiantargetdidominasidengan
kesiapanlahan,perijinandaninfrastrukturpendukungsepertilistrik,airminum,sanitasidanmoda
transportasi. Selain itu adanya transisi perubahan mekanisme subsidi selisih bunga/uang muka
menjadi Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) menyebabkan penyaluran subsidi baru
optimaldisemesterke2tahun2010.
Secara umum, pencapaian pelaksanaan pembangunan sumber daya air sepanjang tahun 2010
hampir memenuhi target yang ditetapkan, meskipun demikian masih terdapat beberapa kegiatan
yang belum dapat diselesaikan, antara lain: 1) belum selesainya proses pembebasan lahan serta
penanganan masalah sosial pada pembangunan infrastruktur sumber daya air seperti
pembangunan wadukͲwaduk pengendali banjir di DAS Bengawan Solo dan Kanal Banjir Timur
Jakarta; 2) anomali cuaca/curah hujan sehingga cukup mengganggu pelaksanaan pembangunan
infrastruktur sumber daya air, terutama bangunanͲbangunan yang terletak pada badan sungai,
sepertipembangunanWadukGonggangdiDASBengawanSolo.
Permasalahan dalam pembentukan ICT Fund adalah lamanya pembahasan tentang model bisnis.
Melalui surat Menkominfo kepada Menteri Keuangan No. 368/M.KOMINFO/7/2010 tanggal 30 Juli
2010 dan No. 481/M.KOMINFO/10/2010 tanggal 19 Oktober 2010, Kementerian Kominfo
menyampaikan dokumen kebijakan ICT Fund termasuk model bisnis untuk mendapatkan
persetujuan.NamunpembahasandenganKementerianKeuanganbarudilakukanpadaNovember
2010 dan belum mencapai kesepakatan. Dengan demikian, Kementerian Kominfo perlu
menyempurnakan konsep tersebut dan pembahasan pembentukan ICT Fund diteruskan hingga
tahun 2011. Sementara itu, keterlambatan pembangunan Desa Dering terdapat untuk
pembangunan wilayah Indonesia Timur yang terutama disebabkan oleh kondisi geografis dan
ketersediaanmitralokalPLIK.

2.6.4. RencanaTindakLanjut
Sebagai tindak lanjut pelaksanaan pembangunan tahun 2010, upaya percepatan pembangunan
infrastruktur perlu dilakukan pada tahun 2011 untuk seluruh sektor infrastruktur. Tindak lanjut
terkait tanah dan tata ruang adalah dengan terus melakukan upaya pendekatan dan sosialisasi
pada masyarakat. Sedangkan yang berkaitan dengan jalan, perhubungan dan transportasi
Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014 69
perkotaan, tindak lanjut secara umum adalah percepatan pembangunan sarana dan prasarana
transportasi sehingga dapat mengurangi kesenjangan permintaan dan penawaran, mendorong
pertumbuhan ekonomi dan sektor rill, serta mengurangi disparitas antarkawasan. Disamping itu,
juga terus dilakukan upaya meningkatkan kualitas dan jangkauan pelayanan dalam kondisi yang
terbatas, termasuk mempertahankan dan meningkatkan keselamatan pengguna jasa transportasi.
Selainitu,dalamrangkaketerjangkauanseluruhmasyarakatuntukmemanfaatkanjasatransportasi
perlu dikaji ulang untuk optimalisasi kebijakan subsidi dan Public Service Obligation (PSO),
terutamauntukangkutankelasekonomi,baikangkutanjalan,angkutanKA,angkutanlaut,maupun
angkutan udara. Sementara upaya yang diperlukan untuk mencapai sasaran bidang kelembagaan
dan regulasi untuk melanjutkan reformasi, restrukturisasi, dan pemantapan desentralisasi sektor
transportasi,antaralain:(1)pengembanganjaringanpelayanantransportasisecaraantarmodadan
intermoda;(2)penyelesaiandansosialisasirevisiundangͲundangsektortransportasidanperaturan
pelaksanaannya; (3) peningkatan iklim kompetisi secara sehat agar dapat meningkatkan efisiensi
dan memberikan alternatif bagi pengguna jasa dengan tetap mempertahankan keberpihakan
Pemerintah sebagai regulator terhadap pelayanan umum yang terjangkau oleh masyarakat; (4)
penyusunan standar pelayanan minimal dan pelaksanaan desentralisasi sektor transportasi; (5)
peningkatan kelembagaan, SDM dan teknologi untuk peningkatan daya saing produk lokal/dalam
negeridisektortransportasi.
Tindak lanjut penyediaan rumah layak huni adalah optimasi pelaksanaan FLPP, peningkatan
pembangunan rumah, peningkatan penyediaan prasarana dan sarana dasar permukiman,
deregulasi/regulasi peraturan terkait pembangunan perumahan, peningkatan koordinasi dan
sinkronisasipembangunanperumahan.
Tindak lanjut pelaksanaan pembangunan sumber daya air adalah percepatan pelaksanaan sisa
target kegiatan multiyears waduk dan embung, selain itu dilakukan pula penyusunan MoU
penyelesaian permasalahan sosial dalam pembangunan infrastruktur sumber daya air antara
PemerintahPusat(KementerianPU,KementerianTenagaKerjadanTransmigrasi,danKementerian
PerumahanRakyat)denganPemerintahDaerah(PemerintahProvinsidanPemerintahKab/Kota).
Berkaitan dengan sektor telekomunikasi yaitu dalam hal penyelesaian konsep ICT Fund,
penyempurnaan konsep dilakukan pada semester pertama 2011, sedangkan penetapan ICT Fund
dijadwalkan pada semester kedua 2011. Dengan demikian, ICT Fund sudah dapat terbentuk dan
dapat dioperasionalkan pada akhir tahun 2011. Sedangkan tindak lanjut penyelesaian
permasalahan Desa Dering dan PLIK sudah dilaksanakan, antara lain penyedia jasa Desa Dering
wilayah timur sudah melakukan pelelangan ulang untuk mendapatkan mitra baru, serta
Kementerian Komunikasi dan Informatika sudah memfasilitasi penyedia jasa PLIK untuk
mendapatkanbantuanpembiayaan.Denganadanyalangkahpenyelesaian permasalahantersebut,
pembangunan Desa Dering dan PLIK diharapkan dapat diselesaikan seluruhnya pada September
2011.Selainpenyelesaianpembangunan,pemanfaatanfasilitasDesaDeringdanPLIKjugamenjadi
perhatian.Halinidilakukanagarfasilitastersebutdapatdimanfaatkanolehmasyarakatluassecara
optimal.Pemanfaataniniakandilakukanlintaskementerian/lembagasertamelibatkanpemerintah
daerahpadalokasipembangunan.
70 Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014
Tabel2.6.1PencapaianPembangunanPrioritasNasional6:
Infrastruktur,Tahun2010

No.
RPJMN2010–2014
CAPAIAN
2009
CAPAIAN
2010 SUBSTANSIINTI SASARAN INDIKATOR
TARGET
2010
1. TANAHDANTATA
RUANG:
Konsolidasikebijakan
penanganandan
pemanfaatantanah
untukkepentingan
umumsecara
menyeluruhdibawah
satuatapdan
pengelolaantataruang
secaraterpadu
Terlaksananyapengaturan
danpenataan
penguasaandan
pemilikantanah,serta
pemanfaatandan
penggunaantanahsecara
optimal.
Neraca
PenatagunaanTanah
didaerah
100kab/kota 298kab/kota 98kab/kota
Terlaksananyapengaturan
danpenataanpenguasaan
danpemilikantanah,
sertapemanfaatandan
penggunaantanahsecara
optimal.
InventarisasiP4T 335.665bidang 1.165.451bidang 335.665
bidang
Terlaksananya
pengembanganperaturan
perundangͲundangan
bidangpertanahandan
HubunganMasyarakat
Tersusunnya
peraturan
perundangͲ
undangan
pengadaantanah
untukkepentingan
umum
1paket 1paket
Serasinyarencanatata
ruangdenganrencana
pembangunan
Jumlahrencanatata
ruangyangtelah
disinkronkanprogram
pembangunannya
33Provinsi 33Provinsi 33Provinsi
2.

JALAN:
Penyelesaian
pembangunanLintas
Sumatera,Jawa,Bali,
Kalimantan,Sulawesi,
NTB,NTT,danPapua
sepanjang19.370km
Selesainyapembangunan
jalanLintasSumatera,
Jawa,Bali,Kalimantan,
Sulawesi,NTB,NTT,dan
Papuasepanjang19.370
km
Jumlahkmjalan
yangditingkatkan
kapasitasnya
(pelebaran)
sepanjang19.370
Km
3.660,30

1.715

2.530

3. PERHUBUNGAN:
Pembangunanjaringan
prasaranadan
penyediaansarana
transportasiantarͲ
modadanantarͲpulau
yangterintegrasisesuai
denganSistem
TransportasiNasional
danCetakBiru
TransportasiMultimoda
danpenurunantingkat
kecelakaantransportasi
sehinggapada2014
lebihkecildari50%
keadaansaatini
Terbangunnyaterminal
antarnegaradan
antarprovinsidi
15lokasipertahun
Lokasi 15 PM 15
Terbangunnya954,43km
jalurKAbaru/jalurganda
Panjangkm 68,67 PM 68,67
Meningkatnyajalanrel
1.849,62km
Panjangkm 1.849,62 1.849,62
Terlaksananya71paket
peningkatanpelistrikan
(diantaranyaelektrifikasi
sepanjang289km)
Jumlahpaket 13 7 13
Tersedianyaalur
pelayaranyangaman
untukkapalmelalui
pengerukan61,7jutam3
sedimen
volumelumpur/
sedimenyangdikeruk
(jutam3)
6 3 6,3
Terbangunnya/
Meningkatnyakapasitas
275lokasiprasaranadan
fasilitaspelabuhan
Jumlahlokasi 55 45 55
Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014 71
No.
RPJMN 2010–2014
CAPAIAN
2009
CAPAIAN
2010 SUBSTANSI INTI SASARAN INDIKATOR
TARGET
2010
utama, pengumpul,
pengumpan ( non
strategis)
Tersedianya 186 unit
Sarana KA (Lokomo f,
KRDI, KRDE, KRL, Tram,
Railbus)
Jumlah unit 22 20 22
Terbangunnya Bandara
Kualanamu
Jumlah Paket 1 1 1
Dikembangkannya/
direhabilitasinya 205
paket bandara yang
Jumlah bandar
udara
205 183 205
Dikembangkannya 28
paket bandara di daerah
perbatasan dan rawan
bencana
Jumlah Bandar udara 4 14 4
Menurunnya gkat
kecelakaan transportasi
sehingga pada 2014 lebih
kecil dari 50% keadaan
saat ini
Tingkat kecelakaan
(orang)
PM 17.732 PM
Terlaksananya rehabilitasi
fasilitas keselamatan
sebanyak 5 Paket
Paket 1 1 1
Tersedianya peralatan/
fasilitas sarana dan
keselamatan
perkeretaapian sebanyak
72 paket
Paket 11 PM 11
Terbangunnya fasilitas
telekomunikasi dan
sarana bantu navigasi
pelayaran di Alur Laut
Kepulauan Indonesia
Unit 15 PM 15
Tersedianya 1.423
Paket/unit/set peralatan
navigasi penerbangan
Paket/Unit/set 124 6 124
4. PERUMAHAN RAKYAT:
Pembangunan 685.000
Rumah Sederhana
Sehat Bersubsidi, 180
Rusunami dan 650 twin
block berikut fasilitas
pendukung kawasan
permukiman yang
dapat menampung
836.000 keluarga yang
kurang mampu pada
2012
Terbangunnya 685.000
Rumah Sederhana Sehat
Bersubsidi, 180 Rusunami
dan 650 twin block
berikut fasilitas
pendukung kawasan
permukiman yang dapat
menampung 836.000
keluarga yang kurang
mampu pada 2012
Jumlah unit Rumah
Sederhana Sehat
Bersubsidi yang
terbangun
-


119.638 unit


87.001 unit


Jumlah unit
Rusunami yang
terbangun
-

4.083 unit

500 unit
Jumlah twin block
yang terbangun
140 twin block 99 twin block

89 twin block

Jumlah keluarga
yang tertampung
oleh Rumah
Sederhana Sehat
Bersubsidi,
Rusunami, dan twin
block yang
terbangun
-

133.225 keluarga


96.045 keluarga



72 Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014
No.
RPJMN 2010–2014
CAPAIAN
2009
CAPAIAN
2010 SUBSTANSI INTI SASARAN INDIKATOR
TARGET
2010
PENGENDALIAN 5.
BANJIR:

Penyelesaian
pembangunan
prasarana pengendalian

banjir, diantaranya
Banjir Kanal Timur
Jakarta sebelum 2012
dan penanganan secara

terpadu Daerah Aliran
Sungai Bengawan Solo
sebelum 2013
seluas 48,66 ribu hektar
dari
Terlindunginya kawasan
bahaya banjir dan
terlindunginya kawasan
pantai sepanjang 80 km
dari abrasi pantai serta
terkendalinya 16 juta m3
lahar gunung
berapi/sedimen
Panjang sarana/
prasarana pengendali r
banjir yang dibangun
(216 km)

Panjang
sarana/prasarana
pengendali banjir
yang direhabilitasi
(386 km)
139 km
168 km
147,98 km
69,93 km
171,19 km
321,00 km
Panjang
sarana/prasarana
pengendali banjir
yang dioperasikan
dan dipelihara
(2.000 km) untuk
mengamankan
kawasan seluas 35,7
ribu hektar
700 km 104,28 km 611,00 km
Jumlah
sarana/prasarana
pengendali
lahar/sedimen yang
dibangun (28 buah)
untuk
mengendalikan
lahar/sedimen
dengan volume 16
juta m3
28 buah 10,00 km 13 buah
Jumlah
sarana/prasarana
pengendali
lahar/sedimen yang
direhabilitasi (85
unit) untuk
mengendalikan
lahar/sedimen
dengan volume 6
juta m3
4 buah 10 buah 5 buah
Jumlah
sarana/prasarana
pengendali
lahar/sedimen yang
dioperasikan dan
dipelihara (150 unit)
untuk
mengendalikan
lahar/sedimen
dengan volume 12
juta m3
10 buah 8 buah 11 buah
Panjang
sarana/prasarana
pengaman pantai
yang dibangun (30
km)
30 km 31,20 km 25,11 km
Panjang
sarana/prasarana
3 km 0,65 km 10 km
Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014 73
No.
RPJMN2010–2014
CAPAIAN
2009
CAPAIAN
2010 SUBSTANSIINTI SASARAN INDIKATOR
TARGET
2010
pengamanpantai
yangdirehabilitasi
(50km)
Panjang
sarana/prasarana
pengamanpantai
yangdipelihara(50
km)
30km 1,59km 10,00km
Diselesaikannyadan
berfungsinyaBanjirKanal
Timuruntukmengurangi
daerahgenanganakibat
banjirdiWilayahJakarta
Terkendalinyabahaya
banjirdiDaerahAliran
SungaiBengawanSolo
Diselesaikannya
pembangunankanal
timurpaket22s/d
29
Paket22s/d29 Ͳ 100%
Terbangunnya
prasarana
pengendalibanjir
pompabanjirdi
5lokasi
Ͳ 2unitpompadi1
lokasi(Kab.
Madiun)
Terbangunnya
prasarana
pengendalibanjir
DASBengawanSolo
7waduk Ͳ 4wadukdalam
pelaksanaan
Terehabilitasinya
prasarana
pengendalibanjirdi
DASBengawanSolo
(8Lokasi)
8waduk Ͳ 8wadukdalam
pelaksanaan
Terpeliharanya
wadukdiDAS
BengawanSolo
1Paket Ͳ 100%(kegiatan
rutin)
6. TELEKOMUNIKASI:
Penuntasan
pembangunanjaringan
seratoptikdiIndonesia
bagiantimursebelum
2013danmaksimalisasi
tersedianyaakses
komunikasidatadan
suarabagiseluruh
rakyat
Meningkatnyalayanan
aksesinformasidan
komunikasidiwilayah
nonkomersial
Persentase(%)
IbukotaProvinsi
yangterhubung
denganjaringan
backbonenasional
seratoptik

Berlanjutnya
pembangunan
ringtimurPalapa
Ringyang
menghubungkan
Sulawesi,
Maluku,Papua,
danNusa
Tenggara

Mulai
dibangunlink
MataramͲ
Kupang
sepanjang
1.237,8km
olehPTTelkom
sebagaibagian
dariPalapa
Ring

Penyusunankonsep
ICTFundsebagai
salahsatu
pembiayaanPalapa
Ring.Status:masih
menunggu
penetapantentang
pemanfaatͲan
sebagiandanaUSO
sebagaiICTFund
Persentase(%)desa
yangdilayaniakses
telekomunikasiatau
sejumlah33.186
desa(daritotal
72.800desadi
Indonesia)
100% 24.051desa
(72,3%)
27.670desa
(83,4%)
Persentase(%)desa
yangdilayaniakses
internet(5.748desa)
5% Mulaidilakukan
prosespelelangan
4.269desa(74,3%)
7. TRANSPORTASI
PERKOTAAAN:
Perbaikansistemdan
jaringantransportasidi
4kotabesar(Jakarta,
Bandung,Surabaya,
Medan)sesuaidengan
Tersusunnya100%
rencanadanprogram
sistemtransportasidan
evaluasipelaksanaan
program
Jumlahrencana
IndukAngkutan
Perkotaan,Rencana
IndukSistem
InformasiLaluLintas
Perkotaan,Laporan
evaluasi,
1Paket PM 1Paket

74 Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014
No.
RPJMN 2010–2014
CAPAIAN
2009
CAPAIAN
2010 SUBSTANSI INTI SASARAN INDIKATOR
TARGET
2010
Cetak Biru Transportasi
Perkotaan, termasuk
penyelesaian
pembangunan
angkutan kereta listrik
di Jakarta (MRT dan
Monorail) selambat-
lambatnya 2014
Terselenggarannya
ATCS, Jumlah
Fasilitas Keselamatan
Transportasi
Perkotaan.
Terselenggaranya
Transportasi Perkotaan
Jumlah
Pengembangan Bus
Rapid Transit (BRT),
Kota Percontohan,
Kawasan
Percontohan.
1 Paket 1 Paket
(pengadaan bus
ukuran sedang
dan besar untuk
BRT mencapai 40
unit; 60 unit bus
sedang non AC, 45
unit bus sedang
AC)
1 Paket
Terselenggaranya
Transportasi Ramah
lingkungan
Jumlah
Penyelenggaraan
Transportasi Ramah
Lingkungan
1 Paket PM 1 Paket
Terselesaikannya
pembangunan angkutan
listrik di Jakarta (MRT dan
Monorail)
*) Sasaran ƟĚĂk tercapai
dikarenakan besar pagu
Ditjen KA Kemenhub
hanya 30,79 T maka besar
pagu untuk MRT dan
Monorail baru ditampung
sebagian
Paket Monorail dan
Paket MRT
2 paket 1 Paket
(Persiapan)
1 paket
Sumber: E-monitoring Ditjen Binamarga-PU, Renstra Kementerian Perhubungan 2010ʹ2014, RKP 2011, Kementerian
Perumahan Rakyat, Kementerian Pekerjaan Umum

Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014 75

BAB2.7. PRIORITASNASIONAL7:IKLIMINVESTASIDAN
IKLIMUSAHA

2.7.1. Pengantar
Dalam rangka meningkatkan pertumbuhan ekonomi, diperlukan peningkatan investasi melalui
penciptaan kepastian hukum, penyederhanaan prosedur dan pengembangan Kawasan Ekonomi
Khusus (KEK). Khusus terkait dengan penyederhanaan prosedur pelayanan penanaman modal
telah diterapkan Sistem Pelayanan Informasi dan Perizinan Investasi Secara Elektronik (SPIPISE)
pada Sistem Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) di beberapa kota. Sementara itu dalam upaya
untuk meningkatkan daya saing investasi dan pengembangan suatu wilayah agar menjadi motor
pertumbuhan ekonomi pada wilayah tersebut, perlu dilakukan pengembangan Kawasan Ekonomi
Khusus (KEK) di wilayah yang bersangkutan. Pada akhirnya, dengan peningkatan pertumbuhan
ekonomidiharapkandapatmeningkatkanpenciptaanlapangankerja.

76 Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014
2.7.2. PencapaianPrioritasNasional7:IklimInvestasidanIklimUsaha
Untukmendorongterciptanyakepastianhukum,telahdilakukankegiatanperancanganperaturan
perundangͲundangan. Pada tahun 2010 telah dilakukan pembahasan terhadap tiga Rancangan
UndangͲUndang (RUU), yaitu: RUU tentang Perubahan Desain Industri, RUU tentang Perubahan
UU Paten, dan RUU tentang Perubahan UU Pengadilan Anak. Sementara itu, di tingkat peraturan
pemerintah,telahdisusunRancanganPeraturanpemerintah(RPP)tentangpelaksanaanUUMerek
, RPP tentang Pelaksanaan Hak Cipta, dan RPP tentang Visa Ijin masuk dan Ijin Keimigrasian.
Adanya peraturan perundangͲundangan baru yang terkait dengan perlindungan hak kekayaan
intelektual serta keimigrasian akan sangat besar pengaruhnya dengan penciptaan iklim investasi
dan iklim usaha di Indonesia. Sementara itu, dalam rangka untuk mencegah agar tidak terjadi
tumpang tindih dan permasalahan yang terkait dengan suatu rancangan perundangͲundangan
baru, telah dilakukan tahapan harmonisasi. Pada tahun 2010, dari 219 permohonan harmonisasi
Peraturan PerundangͲundangan, telah dapat diselesaikan harmonisasi 140 (atau 66 persen)
peraturanperundangͲundangan.
Terkait dengan penyederhanaan prosedur melalui penerapan Sistem Pelayanan Informasi dan
Perizinan Investasi Secara Elektronik (SPIPISE) pada Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP), pada
tahun 2010 telah dicapai target sebanyak 33 Provinsi dan 40 Kabupaten/Kota yang telah
menggunakan SPIPISE pada PTSP. Kabupaten/Kota dimaksud adalah Kabupaten Purwakarta,
Kabupaten Subang, Kabupaten Sumedang, Kabupaten Majalengka, Kabupaten Kuningan,
Kabupaten Bogor, Kota Bogor, Kabupaten Sukabumi, Kota Sukabumi, Kabupaten Indramayu,
Kabupaten Bintan, Kabupaten Ciamis, Kota Bandung, Kota Cimahi, Kota Serang, Kabupaten
Pandeglang, Kabupaten Lebak, Kabupaten Karanganyar, Kabupaten Semarang, Kota Semarang,
Kabupaten Batang, Kota Pekalongan, Kabupaten Sragen, Kota Tegal, Kabupaten Banyumas,
Kabupaten Gresik, Kabupaten Lamongan, Kabupaten Probolinggo, Kota Pasuruan, Kabupaten
Mojokerto, Kabupaten Jombang, Kota Kediri, Kabupaten Trenggalek, Kabupaten Pacitan,
Kabupaten Blitar, Kota Blitar, Kota Malang, Kabupaten Malang, Kabupaten Pasuruan dan
KabupatenSidoarjo.
Sementara itu, dalam rangka mendukung pengembangan sistem logistik nasional, pemerintah
telahmelakukanbeberapaupayayangantaralainadalahpeningkatankelancarandistribusibahan
pokok dan pembangunan sarana distribusi perdagangan. Hasil yang telah dicapai dari upaya ini
antara lain adalah barang kebutuhan pokok bagi masyarakat tersedia sebanyak 90 persen dari
kebutuhan, 10 perijinan di bidang pembinaan pasar dan distribusi yang dapat dilayani secara
online (dari target sebanyak 6 perijinan) sehingga memudahkan dan mempercepat proses
perijinan, serta proses perijinan dan nonperijinan dibidang pembinaan pasar dan distribusi yang
dapat diselesaikan dalam waktu 6 hari. Selain itu, dalam rangka pembangunan sarana distribusi
perdagangan, 12 pasar telah dibangun melalui dana tugas perbantuan (dari target sebanyak 13
pasar)dantelahdibangunnya2pusatdistribusidiwilayahIndonesiaTimur.
Dalam kaitannya dengan pengembangan sistem informasi, Implementasi National Single Window
(NSW) telah memasuki tahap Implementasi Nasional (tahap 5). NSWͲimpor telah diberlakukan
secara wajib tanggal 29 Januari 2010 bagi semua importir di 5 pelabuhan utama, yaitu: Tanjung
Priok, Tanjung Emas, Tanjung Perak,Belawan, dan Bandara SoekarnoͲHatta. Sejalan dengan
pelaksanaanNSW,padatanggal10Agustus2010,pelayananperijinanperdagangansecaraonline
(INATRADE) yang diiringi dengan penyederhanaan perijinan impor dari semula sebanyak 78 ijin
menjadi 53 ijin. Selama tahun 2010, jumlah pengguna INATRADE adalah sebanyak 1536
perusahaan.
Sedangkan untuk pengembangan investasi di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) telah dilakukan
kegiatan sosialisasi dan promosi di 6 daerah (Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Kalimantan
Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014 77
Timur, Sulawesi Utara, Kepulauan Riau, Jawa Barat dan Papua) dan 4 negara (Australia, Uzbekistan,
Ukraina dan Lebanon).
Terkait kebijakan ketenagakerjaan, Pemerintah melaksanakan sinkronisasi kebijakan
ketenagakerjaan dan iklim usaha, antara lain dengan menyelesaikan naskah akademis dan konsep
perubahan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Konsep
penyempurnaan ini selanjutnya disampaikan kepada lembaga ůĞŐŝƐůĂƟf untuk masuk ke dalam
program legislasi nasional.
Terkait dengan penyelesaian masalah hubungan industrial, Pemerintah terus mendorong
terlaksananya proses negosiasi ďŝƉĂƌƟƚ di perusahaan. Tahun 2010, jumlah lembaga kerja sama
(LKS) ďŝƉĂƌƟƚ yang terbentuk di perusahaan mencapai 13.246 LKS atau naik 11,95 persen, lebih
Ɵnggi dari target RPJMN yang naik 5 persen. Dalam hal peningkatan kapasitas organisasi pelaku
negosiasi, pada tahun 2010, sesuai target, Pemerintah telah meůĂƟh 500 orang perwakilan pekerja,
serikat pekerja/serikat buruh, dan pengusaha. Selain itu, perusahaan yang menerapkan
manajemen keselamatan dan kesehatan kerja (K3) naik 13,36 persen, yaitu dari 440 perusahaan
tahun 2009 menjadi 508 perusahaan pada tahun 2010. Jumlah tenaga pengawas K3 yang
ďĞƌƐĞƌƟĮkat kompetensi pun meningkat 21,74 persen menjadi 84 tenaga pengawas.

2.7.3. Permasalahan Pencapaian
Dalam rangka perancangan peraturan perundang-undangan khususnya pembahasan suatu RUU
sangat terkait dengan kesepakatan dari lembaga legislĂƟf sehingga penetapan suatu RUU menjadi
suatu UU prosesnya ƟĚak seluruhnya berada di bawah kontrol pemerintah. Disamping itu adanya
pandangan bahwa ƐĞƟap permasalahan akan dapat diselesaikan dengan dibuat suatu undang-
undang menyebabkan permintaan untuk melakukan harmonisasi suatu peraturan perundang-
undangan menjadi sangat besar, sementara itu draŌ peraturan perundang-undangan yang akan
dibuat tersebut belum dilengkapi dengan kajian yang mendalam sehingga potensi adanya tumpang
ƟŶĚŝŚ dan tabrakan dengan peraturan perundang-undangan lain masih sangat besar. Disamping
itu, masih Ɵngginya ego sektoral dan ego Kementerian/Lembaga juga menjadi salah satu penyebab
proses harmonisasi membutuhkan waktu yang relĂƟf lama.
Kondisi perekonomian dunia pada tahun 2010 yang kurang baik, berakibat kepada peningkatan
persaingan antar negara untuk menarik investor asing. Banyak negara terus melakukan
pembenahan dalam meningkatkan daya saing iklim investasi antara lain melalui upaya pemberian
berbagai inseŶƟf dan meningkatkan penyediaan infrastruktur. Dengan demikian, permasalahan
yang dihadapi dan perlu segera untuk dibenahi agar dapat meningkatkan daya tarik investasi yaitu
(1) harmonisasi dan simƉůŝĮkasi berbagai peraturan yang berkaitan investasi baik di pusat maupun
di daerah; (2) terpenuhinya kebutuhan infrastruktur secara merata; (3) terpenuhinya kebutuhan
energi termasuk pengembangan energi alteƌŶĂƟĨ guna memenuhi kebutuhan investasi di berbagai
industri; dan (4) terpenuhinya ketersediaan tenaga kerja baik jumlah maupun kualitas untuk
memenuhi kebutuhan investasi di berbagai sektor.
Meskipun secara umum hasil yang dicapai masih sesuai dengan target yang telah ditetapkan,
namun masih ada beberapa permasalahan yang muncul sĞƉĞƌƟ persentase rata-rata perbedaan
ƟŶŐkat harga Bahan Pokok antarprovinsi yang awalnya ditargetkan 1,7 persen; sedangkan
realisasinya adalah sebesar 1,8 persen. Salah satu penyebabnya adalah naiknya harga komoditas di
pasar global, khususnya biji-bijian (gandum, kedelai, jagung, dan beras), sebagai akibat dari
keterbatasan suplai yang menyebabkan semua negara membatasi ekspor hasil/produk pangan
untuk mengamankan pasokan kebutuhan dalam negerinya. Permasalahan lain adalah adanya satu
unit sarana distribusi perdagangan (pasar tradisional) yang Ɵdak dapat terlaksana di bangun di
78 Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014
Kota Pariaman sampai dengan akhir tahun karena adanya permasalahan tanah adat, sehingga
Pemdatidakdapatmenggunakannyauntukpembangunanpasar.
Upaya penciptaan lapangan kerja, terutama lapangan kerja di sektor industri manufaktur, masih
menghadapibanyakkendala,yangsalahsatunyaadalahhambatanperaturanketenagakerjaan.Di
sisi lain, jumlah penganggur berpendidikan menengah ke atas pada Agustus 2010 masih tinggi,
yaitumencapaienamjutaorang.Olehkarenaitu,tantanganyangdihadapiadalahmenghilangkan
berbagai hambatan agar peluang lapangan kerja di industri manufaktur dapat terisi oleh tenaga
kerjayangkompetenuntukmendorongproduktivitas.
Peraturan mengenai kontrak berjangka waktu tertentu dan subͲkontrak masih menjadi kendala
bagiberkembangnyaindustri.Selainitu,peraturanmengenaiupahpesangontelahmengakibatkan
lambatnya penyesuaian dalam permintaan tenaga kerja. Tantangan ke depan adalah meninjau
keduaperaturantersebutsebagaibagiandariupayapenciptaankesempatankerja.

2.7.4. RencanaTindakLanjut
Salah satu upaya untuk mengatasi permasalahan peraturan perundangͲundangan adalah dengan
meningkatkan kualitas dari Program Legislasi Nasional (Prolegnas) sehingga diharapkan prioritas
suatu RUU yang masuk dalam Prolegnas sudah harus melalui tahapan yang ada dan sudah
dilengkapidenganhasilkajiansertanaskahakademisyangberkualitas.
Sementaraitu,untukmeningkatkanIklimInvestasipadatahunmandatangperludilakukanantara
lain: (1) Penyederhanaan prosedur melalui penerapan Sistem Pelayanan Informasi dan Perizinan
Investasi Secara Elektronik (SPIPISE) pada Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) akan ditargetkan
untuk 40 kabupaten/kota, (2) Sosialisasi dan promosi dalam rangka pengembangan investasi di
KawasanEkonomiKhusus(KEK)akandilaksanakandi3daerahdan3negara.
Sedangkan untuk untuk memperlancar implementasi kegiatan perdagangan, adalah: (i) terus
meningkatkan kelancaran arus barang untuk dapat mengurangi disparitas harga, dengan tetap
berkomitmen mengembangkan sistem logistik nasional, dengan menggabungkan sistem
transportasi dan pembangunan daerah yang terintegrasi menjadi sebuah konektivitas nasional;
serta(ii)meningkatkankomitmendaerahdanpartisipasimasyarakatdalampembangunansarana
distribusiperdagangan,termasukjaringandistribusinya.
Dalam rangka mendorong penciptaan kesempatan kerja baru dan menurunkan tingkat
pengangguran,Pemerintahakan:(1)mempercepatprosespenyempurnaanUUNo.13Tahun2003
tentang Ketenagakerjaan; (2) mendorong pencapaian proses negosiasi bipartit; (3) memperkuat
kapasitasorganisasiserikatpekerjadanasosiasipengusaha;dan(4)memberikanpemahamandan
menyamakan persepsi tentang peraturan/kebijakan ketenagakerjaan dengan cara melakukan
dialogtentangtatacarapenanganandanpenyelesaianperselisihanhubunganindustrial.

Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014 79


Tabel 2.7.1. Pencapaian Pembangunan Prioritas Nasional 7:
Iklim Investasi dan Iklim Usaha, Tahun 2010

No.
RPJMN 2010–2014
CAPAIAN
2009
CAPAIAN
2010 SUBSTANSI INTI SASARAN INDIKATOR
TARGET
2010
1. KEPASTIAN HUKUM
Reformasi regulasi
secara bertahap di
gkat nasional dan
daerah sehingga terjadi
harmonisasi peraturan
perundang-undangan
yang k menimbulkan
dakjelasan dan
inkonsistensi dalam
implementasinya
Terwujudnya
harmonisasi
peraturan
perundang-
undangan yang k
menimbulkan
dakjelasan dan
inkonsistensi dalam
implementasinya,
yang diwujudkan
melalui:

- Perancangan
Peraturan
Perundang-
undangan
20% N/A



Tercapai 25%
yaitu 3 RUU dan 3
RPP, RUU terdiri
dari
1. Perubahan UU
Desain Industri,
2. RUU
perubahan UU
Paten,
3. RUU
perubahan UU
Pengadilan Anak.
1. RPP pelaks UU
Merek,
2. RPP Visa Ijin
masuk dan Ijin
Keimigrasian,
3. RPP Pelaks
Hak Cipta

- Harmonisasi
Peraturan
Perundang-
undangan

- Penyusunan 12
RUU
- Pembahasan 18
RUU
- Penyusunan 10
RPP
- Harmonisasi
dan sosialisasi
90 PP
- Penyusunan 12
Naskah RUU
- Pengkajian 15
kegiatan
- Pene 7
kegiatan.

N/A Dari 219
permohonan
harmonisasi Perat
PerUUan yang
dapat
diselesaikan
harmonisasinya
adalah 140
peraturan
perundang-
undangan atau
(66%).
2. PENYEDERHANAAN
PROSEDUR
Penerapan Sistem
Pelayanan Informasi
dan Perizinan Investasi
Secara Elektronik
(SPIPISE) pada
Pelayanan Terpadu Satu
Diterapkannya
SPIPISE pada PTSP di
33 provinsi dan 40
kabupaten/kota
Jumlah provinsi
dan kabupaten/
kota yg telah
menerapkan
SPIPISE
33 provinsi dan
40 kabupaten/
kota
-- 100%
80 Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014
No.
RPJMN2010–014
CAPAIAN
2009
CAPAIAN
2010 SUBSTANSIINTI SASARAN INDIKATOR
TARGET
2010
Pintu(PTSP)di
beberapakotayang
dimulaidiBatam,
pembatalanPerda
bermasalahdan
penguranganbiaya
untukmemulaiusaha
sepertiTandaDaftar
Perusahaan(TDP)dan
SuratIjinUsaha
Perdagangan(SIUP)
3. LOGISTIKNASIONAL:
Pengembangandan
penetapanSistem
LogistikNasionalyang
menjaminkelancaran
arusbarangdan
mengurangibiaya
transaksi/ekonomibiaya
tinggi
Terlaksananya
kebijakandan
bimbinganteknis
dalamrangka
peningkatan
kelancarandistribusi
danstabilisasiharga
bahanpokok
Jumlahrumusan
kebijakandan
standar,norma,
kriteriadan
prosedurdi
bidangpembinaan
pasardan
distribusi(jenis)
6 Ͳ 6

Jumlahpelaku
usahayang
mengikuti
pembinaan,
pelatihandan
bimbinganteknis
1.920 1.800

PersentaserataͲ
rataperbedaan
tingkatharga
BahanPokok
antarprovinsi
1,7 1,8

Persentase
ketersediaan
barangkebutuhan
pokokbagi
masyarakat
90% 90%

Jumlahperijinan
dibidang
pembinaanpasar
dandistribusi
yangdijalani
secaraonline
6 10

Waktu
penyelesaian
perijinandan
nonperijinan
dibidang
pembinaanpasar
dandistribusi
(hari)
6 6

Terbangunnya
saranadistribusi
dalamrangka
kelancarandistribusi
barangpokok
Jumlahpasar
percontohan
(unit)
13 12

Jumlah
pembangunan
pusatdistribusi
Ͳ 2

Jumlah
rekomendasi
penataansistem
distribusi)
2 2
4. SISTEMINFORMASI:
Beroperasinyasecara
penuhNationalSingle
Window(NSW)untuk
impor(sebelumJanuari
2010)danekspor.
Percepatanrealisasi
Tersedianya
kebijakan,
Koordinasi,
BimbinganTeknis,
Monitoringdan
Evaluasidibidang
fasilitasiekspordan
Jumlah
penerbitan
kebijakanfasilitasi
ekspordanimpor;
(peraturan)
4 Ͳ 4

Jumlah
pengembangan
2 2

Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014 81
No.
RPJMN 2010–2014
CAPAIAN
2009
CAPAIAN
2010 SUBSTANSI INTI SASARAN INDIKATOR
TARGET
2010
proses penyelesaian bea
cukai di luar pelabuhan
dengan implementasi
tahap pertama Custom
Advanced Trade System
(CATS) di dry port
Cikarang
impor sistem elektronik
bidang fasilitasi
pelayanan publik;
(Kegiatan)





Jumlah pengguna
perijinan ekspor/
impor online
melalui INATRADE
(perusahaan)
1.500 1536




Jumlah bimbingan
teknis bidang
fasilitasi
perdagangan;
(kegiatan)
5 5




Jumlah koordinasi
bidang fasilitasi
perdagangan;
(kegiatan)
60 60



Jumlah paƌƟsipasi
sidang-sidang
fasilitasi
perdagangan
didalam dan luar
negeri; (kegiatan)
17 -





Jumlah laporan
evaluasi
pelaksanaan
monitoring
fasilitasi
perdagangan
5 -

5. KAWASAN EKONOMI
KHUSUS (KEK):
Pengembangan KEK di 5
lokasi melalui skema
Public-Private
Partnership sebelum
2012
Meningkatnya
peranan sektor
perdagangan di
kawasan ekonomi
khusus
ƒ Jumlah PP
tentang
Kawasan
Ekonomi
Khusus
(peraturan)
1 - 1




0
ƒ Jumlah
kebijakan
perdagangan
yang
dilimpahkan ke
KEK
(peraturan)
1
Terlaksananya
pengembangan KEK
di 5 lokasi melalui
skema Public-Private
Partnership sebelum
2012
Terlaksananya
sosialisasi dan
promosi dalam
rangka
pengembangan
investasi di
Kawasan Ekonomi
Khusus (KEK)
Terlaksananya
sosialisasi dan
promosi di 6
daerah dan 4
negara dalam
rangka
pengembangan
investasi di
Kawasan
Ekonomi
Khusus (KEK)
-- 100%
*)
82 Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014
No.
RPJMN 2010ʹ2014
CAPAIAN
2009
CAPAIAN
2010 SUBSTANSI INTI SASARAN INDIKATOR
TARGET
2010
6.



KEBIJAKAN KETENAGA-
KERJAAN:
Penyempurnaan
Peraturan
Ketenagakerjaan


Peraturan yang
dapat mendorong
penciptaan
kesempatan kerja
dan memperkuat
lembaga HI


Tersusunnya
peraturan
kompensasi &
penetapan PHK,
hubungan kerja
(PKWT &
Outsourcing),
pengupahan,
perlindungan
pekerja, mogok
kerja


Naskah
akademis


Penyerahan
Dr
Perubahan UU
13/2003 ke
Presiden







Peraturan tentang
organisasi
pekerja/ buruh
- 1.Tersusun rencana
pelaksanaan
kegiatan kajian
(TOR) tentang
organisasi
pekerja/ buruh
2.Proses
pengadaan
jasa pengkajian
peraturan
organisasi
pekerja/ buruh
Peraturan tentang
penyelesaian
perselisihan HI
-

1.Tersusun rencana
pelaksanaan
kegiatan kajian
(TOR) tentang
penyelesai-an
perselisihan
hubungan
industrial
2. Proses
pengadaan jasa
pengkajian
penyelesaian
perselisihan
hubungan
industrial
Sinkronisasi kebijakan
ketenagakerjaan (Pusat)
dengan kebijakan/
peraturan daerah
Tersusunnya
peraturan
ketenagakerjaan
pusat dan daerah
yang sinergis
Harmonisasi
kebijakan jaminan
sosial
- Penyampaian
rancangan
peraturan
perundang-
undangan di
bidang jaminan
sosial tenaga
kerja kepada
Kemkumham
untuk
diharmonisasi
Selarasnya
peraturan bidang HI
Inventarisasi
Perda HI
Rekomendasi
penyelarasan
perda
ketenagakerjaan
g n a d i b
hubungan
industrial dan
jaminan sosial
Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014 83
No.
RPJMN 2010ʹϮ014
CAPAIAN
2009
CAPAIAN
2010 SUBSTANSI INTI SASARAN INDIKATOR
TARGET
2010
Pengelolaan
Kelembagaan dan
Pemasyarakatan
Hubungan Industrial
Tercapainya
kesepakatan dalam
hubungan kerja
ƒ Mekanisme
perundingan
secara bipar t,
pencatatan,
keterwakilan
dan verŝĮkasi
SP/SB
ƒ Jumlah
lembaga
kerjasama (LKS)
bipar t di
perusahaan
ƒ Jumlah
perwakilan
pekerja, SP/SB
& pengusaha
yang mendapat
pendidikan
teknik
bernegosiasi
2 Naskah






Naik 5 %




500










Terbentuk
13.246 LKS
(naik 11,95%)


500
Diterapkannya
manajemen dan
standar K3.

ƒ Jumlah
perusahaan
yang
menerapkan
manajemen K3
naik 10% 440
perusahaan
508 perusahaan
(naik 15,45%)
ƒ persentase
kenaikan tenaga
pengawas K3
berser kat
kompetensi
20% 69 pengawas
K3
84 pengawas
K3 (naik
21,74%)
Sumber : 1. RPJMN 2010ʹ2014;
2. Roren Kementerian Perdagangan;
3. Biro Perencanaan, Program, dan Anggaran, BKPM;
4. Biro Perencanaan Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi

Catatan : *)
Percepatan Pelaksanaan Prioritas Pembangunan Nasional Tahun 2010



84 Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014
Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014 85























BAB 2.8. PRIORITAS NASIONAL 8: ENERGI


2.8.1. Pengantar
Minyak bumi, gas bumi, dan batubara mempunyai peranan besar sebagai sumber energi untuk
mendukung berbagai kegiatan ekonomi dan sosial masyarakat. Selain sebagai pendukung
pembangunan ekonomi, keƟŐĂ komoditas energi tersebut juga berperan sebagai sumber
penerimaan devisa negara yang sangat penƟng. Pada tahun 2009, penerimaan dari minyak, gas
bumi, dan batubara termasuk mineral mencapai Rp235,3 trilliun.
Dalam rangka menjaga ketahanan dan kemandirian energi, upaya-upaya peningkatan produksi
minyak, gas bumi, dan batubara, upaya-upaya penganekaragaman (diverƐŝĮkasi) berupa
peningkatan pemanfaatan terus dilakukan. Upaya-upaya tersebut antara lain adalah peningkatan
pemanfaatan gas dan batubara untuk industri dan pembangkit listrik, serta energi baru terbarukan
(EBT) untuk pembangkit listrik, ƐĞƉĞƌƟ pembangkit listrik tenaga panas bumi, tenaga surya dan
angin, mikrohidro, serta bahan bakar alterŶĂƟf non BBM, ƐĞƉĞƌƟ bahan bakar naďĂƟ (BBN) dan
batubara cair dan gas (ůŝƋƵŝĮĞĚ dan ŐĂƐŝĮĞĚ coal).
Prioritas pembangunan nasional di bidang energi pada tahun 2010 diarahkan untuk mencapai
target: (1) produksi minyak bumi sebesar 965 MBOPD; (2) pemanfaatan panas bumi untuk
86 Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014
pembangkit listrik dengan kapasitas terpasang sebesar1.261 MW;(3) pembangunan jaringangas
kota untuk 16.000 SR di 3 kota; (4) penetapan kebijakan sub bidang ketenagalistrikan; dan (5)
peningkatan kapasitas pembangkit listrik dan rasio elektrifikasi serta peningkatan pemanfaatan
energi terbarukan (geothermal) untuk pembangkit listrik. Di samping itu, juga dilakukan
penyusunan dan penetapan berbagai kebijakan dalam rangka memberikan kepastian hukum dan
mendukungpembangunannasionaldibidangenergi.

2.8.2. PencapaianPrioritasNasional8:Energi
Untuk mendukung terwujudnya ketahanan dan kemandirian energi, telah disusun berbagai
kebijakan melalui regulasi maupun deregulasi. Selama tahun 2010, hasil yang dicapai dalam
penetapan kebijakan di bidang energi antara lain sebagai berikut: (1) penyusunan rencana induk
jaringantransmisidandistribusigasbuminasionaldanneracagasbumiIndonesia2010—2025;(2)
kebijakan energi nasional (masih dalam proses penyusunan), dan telah ditetapkan pokokͲpokok
kebijakan, antara lain: (a) perubahan paradigma dalam memandang sumber daya energi sebagai
komoditas menjadi sumber daya energi sebagai modal pembangunan, (b) peningkatan peran
sumberdayaEBTdalambauranenerginasional,(iii)pengamananpasokanenergi,khususnyalistrik
dan migasnasional, baik ituuntuk jangkapendek maupun jangka menengah dan jangka panjang;
(3) Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2010 tentang Wilayah Pertambangan; (4) Peraturan
PemerintahNomor23Tahun2010tentangPelaksanaanKegiatanPertambanganMineraldanBatu
Bara; (5) Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2010 tentang Pembinaan dan Pengawasan
Penyelenggaraan Pengelolaan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara; (6) Peraturan
PemerintahNomor78Tahun2010tentangReklamasidanPascaTambang;(7)PeraturanPresiden
Nomor 4 Tahun 2010 tentang Penugasan kepada PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) untuk
Melakukan Percepatan Pembangunan Pembangkit Tenaga Listrik yang Menggunakan Energi
Terbarukan, Batu Bara dan Gas; dan (8) Peraturan Menteri ESDM Nomor 2 Tahun 2010 tentang
Daftar ProyekͲProyek Percepatan Pembanguan Pembangkit Tenaga Listrik yang Menggunakan
Energi Baru Terbarukan, Batu Bara, dan Gas serta Transmisi Terkait; dan (9) telah disusun
rancangan peraturan pemerintah sebagai pelaksanaan UU Nomor 30 Tahun 2009 tentang
Ketenagalistrikan antara lain Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tentang Usaha Penyediaan
Tenaga Listrik, RPP tentang Usaha Penunjang Tenaga Listrik, dan RPP tentang Jual Beli Tenaga
ListrikLintasNegara.

HasilͲhasilkegiatanpembangunanselamatahun2010dibidangenergiadalahsebagaiberikut:
1. Produksiminyakbumipadatahun2014diharapkandapatmencapai1,01jutabarrelperhari.
Pada tahun 2010, produksi minyak bumi mencapai 954 ribu barrel per hari. Pencapaian ini
relatiftidakberbedajauhdenganpencapaianpadatahun2009yaitusebesar944ribubarrel
per hari. Perkembangan produksi minyak bumi dari tahun 2005–2010 sebagaimana Gambar
2.8.1berikutini:
Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014 87

Gambar 2.8.1. Perkembangan Produksi Minyak Bumi, Tahun 2005ʹ2010



2. Pencapaian pembangunan ketenagalistrikan pada tahun 2010 adalah peningkatan rasio
elektriĮkasi nasional mencapai 67,15 persen dan rasio desa terlistriki 92,5 persen. Hal
tersebut didukung oleh peningkatan kapasitas pembangkit sebesar 787 MW beserta
pembangunan jaringan transmisi dan distribusinya. Di sisi lain, pemanfaatan energi baru
terbarukan untuk pembangkit listrik terus dikembangkan, antara lain: (a) pembangkit listrik
dari sumber energi mikrohidro dengan kapasitas terpasang sebesar 217,89 MW; (b)
pembangkit listrik dari sumber energi surya dengan kapasitas terpasang sebesar 13,58 MW;
(c) pembangkit listrik dari sumber energi angin dengan kapasitas terpasang sebesar 1,8 MW;
(d) pemanfaatan panas bumi dengan kapasitas terpasang 1.189 MW. Perkembangan rasio
elektriĮkasi dari tahun 2005–2010 sebagaimana Gambar 2.8.2 berikut ini:

Gambar 2.8.2. Perkembangan Rasio ElektriĮŬĂƐŝ͕ Tahun 2005ʹ2010



3. Pembangunan jaringan gas kota yang dilaksanakan di beberapa wilayah, yaitu: (a) Tarakan,
3.400 sambungan rumah tangga; (b) Depok, 3.366 sambungan rumah tangga; (c) Sidoarjo,
1.750 sambungan rumah tangga, dan (d) Bekasi, 1.800 sambungan rumah tangga.




Sumber Data: Kementerian ESDM.
Sumber Data: Kementerian ESDM.
88 Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014
2.8.3. Permasalahan Pencapaian
Permasalahan dan tantangan pokok di bidang energi antara lain adalah: (1) rendahnya minat
dalam investasi untuk pengusahaan migas, mineral, dan batu bara; (2) kurangnya kemampuan
teknis dan manajerial aparat pemerintah daerah; (3) kurangnya penggunaan teknologi ƟŶŐŐŝ͖ (4)
masih ƟŶŐŐŝŶLJĂ dampak negaƟf yang diakibatkan oleh proses pertambangan; (5) belum
terpadunya konsep penataan ruang sehingga sering menimbulkan kŽŶŇŝk lahan dan keƟĚĂŬƉĂƐƟan
iklim investasi; dan (6) terkait pengembangan energi baru terbarukan dan konservasi energi yaitu:
biaya investasi awal yang Ɵnggi sehingga harga per unit energi menjadi Ɵnggi dan mengakibatkan
ƟĚĂŬ dapat bersaing dengan energi konvensional; infrastruktur yang kurang mendukung; dan
kurangnya kebijakan yang bersifat operasional untuk energi terbarukan.
Permasalahan yang dihadapi khususnya dalam upaya penambahan kapasitas pembangkit listrik
pada tahun 2010 diantaranya adalah: (1) terbatasnya pendanaan dari pemerintah sedangkan
pendanaan oleh pihak swasta (melalui skema KPS) juga belum memberikan hasil sebagaimana
yang diharapkan; (2) ketergantungan teknologi yang dipakai, baik untuk pembangkit maupun
transmisi dan distribusi, pada teknologi asing; (3) masih belum tersedianya energi primer
(terutama batubara dan gas) yang cukup untuk pembangkit dalam negeri; (4) proses pembebasan
tanah yang masih belum jelas; (5) tumpang ƟŶĚŝŚ lahan terutama menyangkut kawasan hutan; (6)
pengembangan energi nuklir menghadapi kendala kekhawĂƟran masyarakat terhadap keamanan
PLTN, investasi yang mahal dan persiapan pembangunan yang kompleks; dan (7) energi surya
belum dapat berkembang untuk skala besar karena biaya komponen dan pemasangannya masih
ƟŶŐŐŝ͘
Demikian pula halnya dengan penambahan kapasitas pembangkit listrik masih sangat jauh dari
target yang diharapkan 3.000 MW, hanya mencapai sebesar 787 MW. Hal ini disebabkan juga oleh
keterlambatan program 10.000 MW tahap I dan proyek-proyek Independent Power Plant (IPP).
Pencapaian produksi minyak bumi yang masih di bawah target sebesar 965 ribu barrel per hari,
yaitu sebesar 954 ribu barrel per hari. Rendahnya pencapaian target ini disebabkan beberapa hal
antara lain: (1) unplanned shutdown; (2) produksi hasil pemboran ƟĚĂk mencapai target akibat
kendala subsurface; (3) permasalahan terkait Žŏaker, dan (4) perpanjangan planned shutdown.
Sementara itu, capaian pemanfaatan panas bumi untuk pembangkit listrik relĂƟf ŵĞŶĚĞŬĂƟ target
yaitu kapasitas terpasang PLTP sebesar 1.189 MW dari 1.261 MW yang direncanakan. Kendala
yang dihadapi adalah: (1) adanya bencana alam tanah longsor; (2) masalah negosiasi harga dan
kesepakatan kerjasama; (3) masalah persiapan pelaksanaan; dan (4) masalah revisi alokasi
anggaran.

2.8.4. Rencana Tindak Lanjut
Tindak lanjut yang masih diperlukan di bidang energi, antara lain: (1) peningkatan infrastruktur
jaringan transmisi dan distribusi gas bumi khususnya untuk memperluas jaringan gas kota di
berbagai daerah; (2) meningkatkan keamanan pasokan bahan bakar minyak dan gas bumi, dengan
sasaran opƟmalisasi pemanfaatan gas bumi dalam negeri dan terpenuhinya kebutuhan BBM dan
minyak mentah dalam negeri; (3) penyediaan konsep alih teknologi dan peningkatan kehandalan
peralatan produksi; (4) peningkatan dukungan masyarakat sekitar atas kegiatan usaha migas; (5)
penyelesaian regulasi terkait RPP mengenai pemanfaatan energi baru terbarukan dan RPP
mengenai penyediaan dan pemanfaatan energi; (6) peningkatan upaya opƟmasi lapangan produksi
dan pengembangan lapangan; (7) menyelesaikan rancangan dan rumusan Kebijakan Energi
Nasional dan menetapkan Rencana Umum Energi Nasional (RUEN); (8) meningkatkan koordinasi
baik antar sektor maupun antar region dalam rangka sinkronisasi kebijakan dan implementasinya;
Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014 89
(9) meningkatkan ketersediaan energi primer untuk pembangkit listrik yang bertumpu pada
sebanyak-banyaknya kemampuan sumber daya dari dalam negeri diantaranya melalui
pembangunan infrastruktur gas bumi (sep LNG Receiving Terminal) dan mendorong
pembangunan sarana dan prasarana pengangkutan batubara untuk keperluan pasar dalam negeri;
(10) meningkatkan eĮsiensi pemanfaatan energi dan menyediakan subsidi energi tepat sasaran;
dan (11) meningkatkan peran serta swasta dan pemerintah daerah dalam pembangunan
infrastruktur energi.

Tabel 2.8.1. Pencapaian Pembangunan Prioritas Nasional 8:
Energi, Tahun 2010


No.
RPJMN 2010ʹ 2014
CAPAIAN
2009
CAPAIAN
2010 SUBSTANSI INTI SASARAN INDIKATOR
TARGET
2010
1. KEBIJAKAN:
Penetapan kebijakan
energi yang memas kan
penanganan energi
nasional yang terintegrasi
sesuai dengan Rencana
Induk Energi Nasional

Ditetapkannya kebijakan
energi yang memas kan
penanganan energi nasional
yang terintegrasi sesuai
dengan Rencana Induk
Energi Nasional

Jumlah aturan
perundang-
undangan

PP: 3
RPP: 3
Dokumen
Rencana: 7


UU: 2
PP: 2

PP: 4
RPP: 5
Dokumen
Rencana: 7

2. RESTRUKTURISASI
BUMN:
Transformasi dan
konsolidasi BUMN bidang
energi dimulai dari PLN
dan Pertamina yang
selesai selambat-
lambatnya 2010 dan
diiku oleh BUMN lainnya

Terlaksananya transformasi
dan konsolidasi BUMN
bidang energi dimulai dari
PLN dan Pertamina yang
selesai selambat-lambatnya
2010 dan diiku oleh BUMN
lainnya

Pelaksanaan
penetapan
target,
monitoring dan
evaluasi kinerja
BUMN

2 BUMN Besar
dan Strategis

-

2 BUMN
Besar dan
Strategis
3. KAPASITAS ENERGI:
Peningkatan kapasitas
pembangkit listrik
sebesar rata-rata 3.000
MW per tahun mulai
2010 dengan rasio
ĞůĞŬƚƌŝĮŬasi yang
mencakup 62% pada
2010 dan 80% pada 2014;
dan produksi minyak
bumi sebesar lebih dari
1,01 juta barrel per hari
mulai 2014

Meningkatnya kapasitas
pembangkit listrik sebesar
rata-rata 3.000 MW per
tahun mulai 2010 dengan
rasio ĞůĞŬƚƌŝĮŬĂsi yang
mencakup 62% pada 2010
dan 80% pada 2014; dan
produksi minyak bumi
sebesar lebih dari 1,01 juta
barrel per hari mulai 2014

Penambahan
kapasitas
pembangkit
listrik per tahun

3.000 MW



473 MW



787 MW



Rasio
ĞůĞŬƚƌŝĮŬasi
67,20% 65,79% 67,15%
Produksi
minyak bumi
per hari
965 ribu barrel
per hari
944 ribu
barrel per
hari
954 ribu
barrel per
hari
4. ENERGI ALTERNATIF:
Peningkatan
pemanfaatan energi
terbarukan termasuk
energi
geothermal sehingga
mencapai 2.000 MW
pada 2012 dan 5.000 MW
pada 2014 dan
dimulainya produksi coal
bed methane untuk
membangkitkan listrik
pada 2011 disertai

Meningkatnya
pemanfaatan energi
terbarukan termasuk
energi
geothermal sehingga
mencapai 2.000 MW pada
2012 dan 5.000 MW pada
2014

Kapasitas energi

geothermal yang
termanfaatkan




1.261 MW





1.189 MW


1.189 MW





Terlaksananya kegiatan
produksi coal bed methane
untuk membangkitkan
listrik pada 2011 disertai
Total produksi
coal bed
methane yang
digunakan
NA NA NA
90 Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014
No.
RPJMN2010ʹ2014
CAPAIAN
2009
CAPAIAN
2010 SUBSTANSIINTI SASARAN INDIKATOR
TARGET
2010
pemanfaatanpotensi
tenagasurya,
microhydro,bioͲenergy,
dannuklirsecara
bertahap
pemanfaatanpotensi
tenagasurya,microhydro,
bioͲenergy,dannuklir
secarabertahap
untuk
pembangkit
listrik
5. HASILIKUTANDAN
TURUNANMINYAKBUMI
/GAS:
Revitalisasiindustri
pengolahhasil
ikutan/turunanminyak
bumidangassebagai
bahanbakuindustri
tekstil,pupukdanindustri
hilirlainnya

Berkembangnyaklaster
industriberbasismigas

Lokasi

2

Ͳ

2
6. KONVERSIMENUJU
PENGGUNAANGAS:
Perluasanprogram
konversiminyaktanahke
gassehinggamencakup
42jutaKepalaKeluarga
pada2010;penggunaan
gasalamsebagaibahan
bakarangkutanumum
perkotaandiPalembang,
Surabaya,danDenpasar

Terlaksananyaperluasan
programkonversiminyak
tanahkegas

Cakupanjumlah
kepalakeluarga
penerima
program
konversi
minyaktanah
kegas

42jutaKK

NA

47,6jutaKK

Terlaksananya
pembangunanjaringangas
perkotaan
Lokasi/SR

3lokasi/16.000
SR
NA 4lokasi/10.316
SR
Terlaksananyaperluasan
penggunaangasalam
sebagaibahanbakar
angkutanumumdi
Palembang,Surabaya,dan
Denpasar
Pembangunan
SPBG(gas
untuk
transportasi)

FEEDdanDEDC
di1kota
Ͳ FEEDdan
DEDCuntuk
pengembangͲ
anSPBGdi
Palembang
SumberData:LampiranPidatoPresiden2010,RKP2011,danbahanpaparanKESDM

Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014 91

BAB2.9. PRIORITASNASIONAL9:LINGKUNGANHIDUP
DANPENGELOLAANBENCANA

2.9.1.Pengantar
Aktivitas pembangunan yang pesat, di satu sisi memberikan pertumbuhan ekonomi yang
signifikan, namun di sisi lain juga berimplikasi pada terjadinya pencemaran dan kerusakan
lingkungan.Kondisiinidiiringipulaolehlajupertumbuhanpendudukdanindustrialisasi,pesatnya
pembangunan infrastruktur, pola hidup masyarakat yang cenderung konsumtif, terjadinya
perubahan iklim, lemahnya penegakan hukum, serta belum optimalnya kapasitas sumber daya
manusia dalam pengelolaan lingkungan hidup. Kerusakan lingkungan berakibat pada timbulnya
bencanasepertibanjir,longsor,danjugakekeringanyangakhirͲakhirinisemakinseringterjadidan
berdampak luas. Kerugian yang ditimbulkan tidak hanya bersifat materi, namun juga
mengakibatkanhilangnyajiwapendudukyangterkenabencana,terutamamerekayangberadadi
daerahyangrawanbencana.
Menyikapi situasi tersebut, diperlukan kebijakan pembangunan yang komprehensif dimana
pembangunan ekonomi terus ditingkatkan dengan tetap memperhatikan aspek sosial dan
lingkungan,sehinggadapatmencapaipembangunanyangberkelanjutandanlestari.
92 Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014
2.9.2.PencapaianPrioritasNasional9:LingkunganHidupĚan
PengelolaanBencana
Sebagai bentuk antisipasi dalam mengatasi perubahan iklim telah dilakukan berbagai upaya
untuk memperbaiki kerusakan lingkungan yang mengarah kepada upaya mitigasi dan adaptasi
perubahan iklim global. Sebagai wujud komitmen Indonesia untuk menurunkan emisi gas rumah
kaca sebesar 26 persen pada tahun 2020, pada tahun 2010 telah disusun Rancangan Peraturan
Presiden mengenai Rencana Aksi Nasional Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca (RANͲGRK), yang
selanjutnyaakandilaksanakanolehmasingͲmasingsektorterkait.Disampingitu,ditingkatdaerah
juga akan disusun Rencana Aksi Daerah (RADͲGRK) dalam kurun waktu 12 bulan sejak RANͲGRK
ditandatangani. Selanjutnya, dalam mendukung target penurunan emisi sebesar 26 persen, maka
disusun pula Rancangan Peraturan Presiden tentang Inventarisasi Gas Rumah Kaca. Kebijakan ini
diperlukan mengingat inventarisasi merupakan dasar utama untuk menentukan berapa besar
penurunan emisi GRK yang diperlukan dari masingͲmasing sektor dan wilayah, serta memenuhi
prinsipterukur,terlaporkan,danterverifikasi(measureable,reportable,andverifiable).
Upayalainyangtelahdilakukanuntukmengatasiperubahaniklimadalahupayarehabilitasihutan
dan lahan kritis pada Daerah Aliran Sungai (DAS) prioritas yaitu seluas 204.211 ha serta
pengembangan hutan kota seluas 1.175 ha. Selain itu, dilakukan pula pengelolaan hutan melalui
pemberdayaan masyarakat, diantaranya melalui pengembangan hutan kemasyarakatan (HKm)
seluas 415.153 ha, pengembangan hutan kemitraan untuk bahan baku kayu pertukangan seluas
50.506 ha, dan pengembangan hutan desa seluas 113.354 ha. Upaya lain adalah dengan
melakukan rehabilitasi pesisir dan konservasi laut melalui pengelolaan kawasan konservasi
perairan yang mencapai 13,95 juta ha pada tahun 2010 serta kerjasama internasional dalam
rangka konservasi laut melalui Coral Triangle Initiative (CTI) dan SuluͲSulawesi Marine Ecoregion
(SSME).
Upaya pengendalian kerusakan lingkungan dilakukan untuk mempertahankan pelestarian
lingkungan dan meningkatkan kualitas daya dukung lingkungan. Pada tahun 2010, pelaksanaan
Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan (Proper) memperoleh hasil yang memuaskan,
dimana jumlah perusahaan peserta Proper mencapai 705 perusahaan, melebihi target di tahun
2010, yaitu sebanyak 680 perusahaan. Untuk pelaksanaan Program Adipura, jumlah kota dengan
kualitas lingkungan baik mengalami peningkatan, dari sebanyak 140 kota di tahun 2009 menjadi
162kotaditahun2010.
Di sektor kehutanan, telah dilakukan pengendalian kebakaran hutan melalui upaya menurunkan
jumlah hotspot menjadi 9.841 titik dari target penurunan kumulatif menjadi 58.890 titik. Capaian
ini menjadi melebihi target penurunan hotspot sebesar 20 persen per tahun, karena sepanjang
tahun 2010 hujan turun sehingga jumlah hotspot jauh berkurang dan sedikit sekali terjadi
kebakaran hutan dan lahan. Sejalan dengan hal itu, luas kawasan hutan yang terbakar hanya
sebesar1.535,28ha,jauhlebihrendahdibandingkanperkiraansebesar6.113,77ha.Upayalainnya
yaitumelaluikomunikasiparapihakdilingkunganDASdanmembangunrencanapengelolaanDAS
pada22DASPrioritas.
Dalam pengembangan sistem peringatan dini, pencapaian yang dapat dihasilkan adalah
terkelolanya Sistem Peringatan Dini Tsunami (TEWS) dan Sistem Peringatan Dini Cuaca (MEWS)
sertaSistemPeringatanDiniIklim(CEWS).Untukkegiatanpengelolaangempabumidantsunami,
tahun2010telahdilakukanpemeliharaanTEWSduapaket,pemeliharaansistemdiseminasisirine
1 paket, pemasangan sistem diseminasi TEWS di 3 lokasi, pembangunan CCTV untuk monitoring
gelombang tsunami 5 unit, peningkatan kemampuan Ina TEWS 1 paket, penyempurnaan fasilitas
operasional gempa bumi dan tsunami 1 paket dan penyediaan handling Inklaring 1 paket. Untuk
Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014 93
pengelolaan meteorologi publik, di tahun 2010 telah dilakukan pengadaan tanah untuk radar
cuaca di satu lokasi, pembangunan radar cuaca di 1 lokasi, pemeliharaan radar di 12 lokasi dan
integrasiRadarCuaca4lokasi.Selanjutnya,untukpengelolaaniklimagroklimatdaniklimmaritim,
ditahun2010telahdilakukanpemasanganAutomaticWeatherStation(AWS)10lokasi,Automatic
RainGauge(ARG)10lokasi,pembangunanPosAgroklimat1lokasidanpemasanganpenakarhujan
observasi(PH.Obs)di1.000lokasi.
Upaya untuk mengurangi bencana dilakukan melalui peningkatan kapasitas aparatur pemerintah
dan masyarakat dalam penanggulangan bahaya kebakaran hutan di enam DAOPS selama tahun
2010. UpayaͲupayapenanggulangan bencana dan pengurangan risiko bencana sebagai salah satu
prioritas pembangunan nasional telah banyak dilakukan oleh pemerintah, antara lain melalui
kegiatan: (1) dukungan penyediaan peralatan dan pemenuhan logistik di 16 provinsi; (2)
pembentukantimSatuanReaksiCepatPenanggulanganBencana(SRCͲPB)denganbasisdi2(dua)
lokasi (Jakarta dan Malang); dan (3) koordinasi dan pelaksanaan tanggap darurat di wilayah
pascabencana banjir bandang di Wasior, Kabupaten Teluk Wondama, Provinsi Papua Barat,
pascabencana gempa bumi dan tsunami di Kepulauan Mentawai, serta bencana erupsi Gunung
MerapidiProvinsiDIYogyakartadanJawaTengahtelahselesaidilaksanakan.

2.9.3.PermasalahanPencapaian
Beberapapermasalahandalamupayamengantisipasidampakperubahaniklim,antaralainadalah:
(1) banyaknya pemangku kepentingan dalam penanggulangan dampak perubahan iklim sehingga
diperlukan sinkronisasi dan koordinasi yang kuat antar K/L; (2) rendahnya kesiapan institusi dan
kapasitassumberdayamanusia;(3)masihkurangnyakebijakandanperaturanyangberpihakpada
pelaksana kegiatan di bidang perubahan iklim; (4) masih terbatasnya sumberͲsumber pendanaan
bagi kegiatan penanganan dampak perubahan iklim; serta (5) belum terciptanya sistem dan
mekanismeinsentif/disinsentif.Selainitupermasalahanyangdihadapidisektorkehutananadalah
masihtingginyalajudeforestasidandegradasiyangdisebabkanolehaktivitasilegallogging,serta
permasalahan di bidang kelautan dan perikanan antara lain adanya pemanfaatan sumber daya
kelautan yang tidak terkendali dan tidak memperhatikan keseimbangan ekosistem alam yang
berakibat pada rusaknya ekosistem pesisir dan laut (mangrove dan terumbu karang) yang dapat
menyebabkanmenurunnyaketersediaansumberdayaplasmanutfah,sertaerosipantai.
Dariaspekpengendaliankerusakanlingkungan,masalahyangdihadapiadalah:(1)kecenderungan
meningkatnya pencemaran lingkungan; (2) meningkatnya luas wilayah yang tercemar dan rusak
berat;(3)masihrendahnyakapasitassumberdayamanusiadaninstitusipengelola;dan(4)masih
rendahnya kesadaran masyarakat. Selain itu di bidang kehutanan masih dihadapi permasalahan
adanya pembukaan kawasan secara tidak sah serta kebakaran hutan, serta masih luasnya lahan
kritisakibataktivitaspemulihankawasanyangmasihrendah.
Permasalahan dalam sistem peringatan dini adalah masih kurangnya kemampuan dan jangkauan
SistemPeringatanDiniCuaca(MEWS),SistemPeringatanDiniIklim(CEWS),danSistemPeringatan
Dini Tsunami (TEWS), dalam memberikan data dan informasi kepada masyarakat secepatnya.
Selainitu,masihrendahnyakualitassumberdayamanusiapengelolasistemperingatandini.
Permasalahan terkait penanggulangan bencana adalah masih belum memadainya kinerja
penanggulanganbencana,terutamaterkaitdengankapasitasdalampenanggulanganbencanabaik
di tingkat pemerintah maupun di tingkat masyarakat yang masih terbatas. Permasalahan yang
dihadapi antara lain: (1) belum seluruhnya terbentuk kelembagaan penanggulangan bencana di
daerah; dan (2) masih tingginya ketergantungan pendanaan pada pemerintah pusat dalam
pelaksanaan tanggap darurat. Sementara itu, permasalahan yang dihadapi dalam pelaksanaan
94 Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014
rehabilitasi dan rekonstruksi wilayah pascabencana adalah: (1) belum tersedianya basis data
wilayah pascabencana yang termutahirkan; (2) keterbatasan peta wilayah pascabencana yang
menghambat analisa kerusakan dan kerugian; (3) koordinasi penilaian kerusakan dan kerugian
serta perencanaan rehabilitasi dan rekonstruksi yang terpusat; dan (4) keterbatasan alokasi
pendanaan pemerintah pusat dan daerah serta ketergantungan pendanaan pemulihan kepada
pemerintahpusat.
Kesadaran terhadap risiko bencana dan pemahaman terhadap kesiapsiagaan dalam menghadapi
bencana juga masih rendah. Terkait dengan pengurangan risiko bencana, permasalahan yang
dihadapi antara lain: (1) belum optimalnya penjabaran kebijakan pengurangan risiko bencana ke
dalam kebijakan di daerah; (2) kurangnya sosialisasi pengurangan risiko bencana kepada seluruh
pemangku kepentingan; dan (3) kurangnya informasi dan keterbatasan media komunikasi yang
efektif dalam penyebarluasan informasi pengurangan risiko bencana. Sementara itu dalam hal
kesiapsiagaan, permasalahan yang muncul utamanya terkait dengan: (1) masih terbatasnya
kebijakan penanggulangan bencana di daerah; (2) keterbatasan kapasitas kelembagaan
penanggulanganbencanadidaerah;dan(3)keterbatasanalokasipendanaanbagipenanggulangan
bencanayangbersumberdaripendanaandaerah.

2.9.4.RencanaTindakLanjut
Tindak lanjut penanganan perubahan iklim terkait dengan penyusunan RAN GRK adalah
mempersiapkan rencana sosialisasi RAN GRK di pusat dan daerah, serta persiapan penyusunan
RAD GRK setelah Perpres RAN GRK disahkan. Perpres RAN GRK mengamanatkan kepada
daerah/provinsi untuk menyusun RAD GRK dalam jangka waktu satu tahun setelah Perpres
diterbitkan. Untuk itu disiapkan rencana sosialisasi, bimbingan, dan pelatihan yang efektif untuk
daerah.
Peningkatanupayarehabilitasihutandanlahandalamrangkapenangananperubahaniklim,terus
dilakukan melalui kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan kritis termasuk hutan mangrove, pantai,
gambut, dan rawa pada DAS prioritas secara intensif dengan target kumulatif sebesar 2,5 juta ha
pada akhir tahun 2014. Upaya rehabilitasi ini diharapkan dapat menurunkan laju deforestasi dan
degradasi hutan. Selain itu, pengelolaan hutan melalui pemberdayaan masyarakat terus
dikembangkan melalui hutan kemasyarakatan seluas 2 juta ha, hutan rakyat kemitraan seluas
250.000 ha serta hutan desa seluas 500.000 ha sampai dengan akhir tahun 2014. Upaya ini
diharapkan akan meningkatkan ekonomi masyarakat melalui akses terhadap pengelolaan hutan
danpemanfaatanhasilhutan.
Dalam upaya peningkatan pengelolaan sumber daya kelautan, diperlukan peningkatan upaya
rehabilitasi, konservasi, dan pengendalian sumber daya kelautan antara lain melalui pengelolaan
kawasankonservasidankerjasamakonservasinasional,regional,danglobal.
Dari aspek pengendalian kerusakan lingkungan, di samping penguatan kapasitas SDM pengelola
terus dilakukan, peran aktif masyarakat dalam melakukan pengelolaan lingkungan hidup juga
ditingkatkan. Selain itu, revitalisasi Program Adipura guna meningkatkan efektifitas dalam
pelaksanaannya perlu dilakukan. Pengendalian terhadap kebakaran hutan juga perlu terus
ditingkatkan untuk menekan kawasan hutan yang terbakar hingga 50 persen dalam lima tahun
dibanding kondisi rataͲrata 2005ʹ20 09. Sejalan dengan hal itu, hotspot akan terus ditekan hingga
sebesar20persensetiaptahundarirataͲrata2005ʹ2009.Sementaraitu, pengendaliankerusakan
lingkungan pada DAS akan terus ditingkatkan melalui penyusunan rencana pengelolaan DAS
terpadudi108DASprioritasdanbaselinedatapengelolaanDASdi108DASpadaakhirtahun2014.
Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014 95
Untuk memasƟkan tetap terkelolanya Sistem Peringatan Dini Cuaca (MEWS) dan Sistem
Peringatan Dini Iklim (CEWS) serta Sistem Peringatan Dini Tsunami (TEWS), diperlukan
peningkatan kualitas SDM pengelola melalui pendidikan dan ƉĞůĂƟhan. Dari segi peralatan,
pemeliharan ƌƵƟŶ peralatan yang telah terpasang terus dilakukan, serta opƟmalisasi dalam
pemanfaatan peralatan yang tersedia.
Di bidang penanggulangan bencana, perlu dilakukan peningkatan kapasitas aparatur pemerintah
dan masyarakat dalam penanggulangan bahaya kebakaran hutan di 30 DAOPS. Selain itu, upaya
ƟŶĚĂŬ lanjut yang diperlukan dalam rangka peningkatan kinerja penanggulangan bencana dan
pengurangan risiko bencana antara lain: (1) pengurangan risiko bencana sebagai prioritas nasional
dan daerah melalui: (a) penguatan kelembagaan penanggulangan bencana di pusat dan daerah, (b)
pengintegrasian kebijakan pengurangan risiko bencana dalam perencanaan pembangunan di
daerah, (c) dukungan penyediaan peralatan dan logisƟk kebencanaan di daerah dengan ƟŶŐŬat
kerawanan ƟŶŐŐŝ͕ dan (d) penguatan kapasitas masyarakat dalam pengurangan risiko bencana
serta mendorong keterlibatan dan parƟƐŝƉĂƐi masyarakat dalam upaya penanggulangan bencana
dan pengurangan risiko bencana; (2) peningkatan kapasitas penanganan kedaruratan dan korban
di wilayah pascabencana, yang terkoordinasi, ĞĨĞŬƟĨ dan terpadu melalui: (a) peningkatan
kemampuan dan kapasitas satuan reaksi cepat penanggulangan bencana, dan (b) peningkatan
kinerja pelaksanaan penanganan darurat di wilayah yang terkena bencana; dan (3) percepatan
penyelesaian pemulihan wilayah pascabencana, khususnya di Provinsi Jawa Barat dan Provinsi
Sumatera Barat, serta pelaksanaan pemulihan awal di wilayah pascabencana Wasior, Mentawai
dan Merapi yang akan dilanjutkan dengan pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi di wilayah
pascabencana tersebut.
Tabel 2.9.1. Pencapaian Pembangunan Prioritas Nasional 9:
Lingkungan Hidup Dan Pengelolaan Bencana, Tahun 2010
No
RPJMN 2010ʹ2014
CAPAIAN
2009
CAPAIAN
2010
SUBSTANSI
INTI
SASARAN INDIKATOR
TARGET
2010
1. PERUBAHAN
IKLIM:

Penurunan Emisi GRK
sebesar 26% dari
baseline
Laporan
inventarisasi emisi
GRK pada tahun
2020 menurun
sebesar 26% dari
baseline
Tersusunnya
draŌ Perpres
RAN-GRK, serta
draŌ Perpres
Inventarisasi
GRK
Penyusunan
dokumen RAN
untuk
Menghadapi
Perubahan Iklim,
dokumen
Indonesia Climate
Change Sectoral
Roadmap.
Tersusunnya draŌ
Perpres RAN-GRK,
dan draŌ Perpres
Inventarisasi GRK
Berkurangnya lahan
ŬƌŝƟƐ melalui
rehabilitasi dan
reklamasi hutan
Terjaminnya
tanaman
rehabilitasi hutan
dan lahan ŬƌŝƟƐ
pada DAS prioritas*
100.000 ha*

NA

204.211 ha

Terjaminnya hutan
kota
1000 ha NA

1.175 ha

Meningkatnya
pengelolaan hutan
melalui
pemberdayaan
masyarakat
Terjaminnya hutan
kemasyarakatan
400.000 ha

NA 415.153 ha

Terjaminnya izin
usaha pengelolaan
HKm
100 kelompok

NA 107 kelompok
Terjaminnya
kemitraan usaha
HKm
10 unit NA 22 unit

Terjaminnya hutan
kemitraan untuk
bahan kayu
pertukangan
50.000 ha

NA 50.506 ha

Terjaminnya sentra
HHBK unggulan
6 lokasi

NA 6 lokasi

96 Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014
No
RPJMN 2010ʹ2014
CAPAIAN
2009
CAPAIAN
2010
SUBSTANSI
INTI
SASARAN INDIKATOR
TARGET
2010
terbentuk dan
beroperasi
Terjaminnya hutan
desa
100.000 ha

NA 113.354 ha

Peningkatan hasil
rehabilitasi seluas
500.000 ha per tahun
Kawasan konservasi
laut dan kawasan
konservasi perairan
tawar dan payau
yang dikelola secara
berkelanjutan
Pengelolaan
900 ribu ha
Luas kawasan
konservasi
perairan 13,5 juta
Pengelolaan 900
ribu ha, dan total
luas kawasan
konservasi perairan
13,95 juta ha
2.


Pengendalian
Kerusakan
Lingkungan:
Penurunan
beban
pencemaran
lingkungan
melalui
pengawasan
ketaatan
pengendalian
pencemaran
air limbah dan
emisi di 680
kegiatan
industri dan
jasa pada 2010
dan terus
berlanjut;
penurunan
jumlah hotspot

kebakaran
hutan sebesar
20% per tahun
Penurunan beban
pencemaran
lingkungan melalui
pengawasan ketaatan
pengendalian
pencemaran air
limbah dan emisi di
680 kegiatan industri
dan jasa pada 2010
dan terus berlanjut;


Menurunnya
pencemaran air
dan udara limbah
dari sumber
industri :
agroindustri, Usaha
Skala Kecil (USK),
Manufaktur,
Prasarana, dan
Jasa, serta Industri
Pertambangan
Energi dan Migas
(melalui Proper),
serta peningkatan
penyelenggaraan
peningkatan
pengelolaan
sampah (melalui
ADIPURA)
Jumlah
perusahaan
mengiku
Proper: 680

Jumlah
perusahaan
mengiku Proper:
627

Jumlah perusahaan
mengiku Proper:
705

Jumlah kota
peserta
ADIPURA
dengan kualitas
baik: 250

Jumlah kota
peserta ADIPURA
dengan kualitas
baik: 140

Jumlah kota peserta
ADIPURA dengan
kualitas baik: 162

Meningkatnya sistem
pencegahan
pemadaman,
penanggulanan
dampak kebakaran
hutan dan lahan
Terjaminnya
hotspot di Pulau
Kalimantan, Pulau
Sumatera, dan
Pulau Sulawesi
berkurang 20%
tahun dari
rerata 2005-2009
20%
;ϱϴ͘ϴϵϬƟƟŬͿ





39.463





400% (9.841 k)






Terjaminnya
kawasan hutan
yang terbakar
ditekan hingga 50%
dalam 5 tahun
dibanding kondisi
rerata 2005-2009
10%
(6.113,77 ha)
6.783,08 ha 1.535,28 ha
Terselengganya
pengelolaan DAS
secara terpadu pada
DAS prioritas
Terjaminnya
rencana
pengelolaan DAS
terpadu di DAS
prioritas
(22 DAS)


NA


22 DAS


Terjaminnya
baseline data
pengelolaan DAS
(7 DAS)

NA 7 DAS

Tersedianya data
dan peta lahan
di BPDAS
(7 BPDAS)

NA 7 BPDAS
3. SISTEM
PERINGATAN
DINI:
Penjaminan
berjalannya
fungsi Sistem
Peringatan
Dini Tsunami
(TEWS) dan
Sistem
Peringatan
Dini Cuaca
Penjaminan
berjalannya fungsi
Sistem Peringatan
Dini Tsunami (TEWS)
dan Sistem
Peringatan Dini Cuaca
(MEWS) yang dimulai
pada 2010, serta
Sistem Peringatan
Dini Iklim (CEWS)
pada 2013
Terkelolanya Sistem
Peringatan Dini
Cuaca (MEWS) dan
Sistem Peringatan
Dini Iklim (CEWS)
serta Sistem
Peringatan Dini
Tsunami (TEWS)
1. Pengelolaan
Gempa Bumi
dan Tsunami
BMKG:
- Pemelihara-
an TEWS 2
paket
- Pemeliharaa
n system
diseminasi
sirine 1
paket
Terpeliharanya
Sistem peringatan
dini tsunami
(TEWS) yang
meli 148
stasiun
pengamatan
gempa bumi
(seismograf) yang
terdiri atas 102
stasiun BMKG dan
stasiun lainnya
1. Pengelolaan Gempa
Bumi dan Tsunami
BMKG:
- Pemeliharan
TEWS 2 paket
- Pemeliharaan
system
diseminasi sirine
1 paket
- pemasangan
sistem diseminasi
TEWS di 3 lokasi
PENGENDALI-
AN KERUSAK-
AN LINGKUNG-
AN:
Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014 97
No
RPJMN 2010ʹ2014
CAPAIAN
2009
CAPAIAN
2010
SUBSTANSI
INTI
SASARAN INDIKATOR
TARGET
2010
(MEWS) yang
dimulai pada
2010, serta
Sistem
Peringatan
Dini Iklim
(CEWS) pada
2013
- pemasangan
sistem
diseminasi
TEWS di 3
lokasi
- Pembangun
an CCTV
untuk
monitoring
Tsunami 5
unit
- Peningkatan
kemampuan
Ina TEWS 1
paket.
- Penyempurn
aan fasilitas
operasional
gempabumi
dan tsunami
1 paket
- Tersedianya
Handling
Inklaring di 1
paket
2. Pengelolaan
Metorologi
Publik BMKG
- Pengadaan
Tanah untuk
Radar Cuaca
di 1 lokasi
- Pemeliharaan
Radar Cuaca di
12 lokasi
- Pembangun
an Radar
Cuaca di 1
lokasi
(Pekanbaru)
3. Pengelolaan
Iklim Agroklimat
dan Iklim
BMKG
- Pemasangan
Automa c
Weather

(AWS) 10
lokasi
- Pemasangan
Automa c
Rain Gauge
(ARG) 10
lokasi
- Pemasangan
Penakar
Hujan
Observasi
(PH. Obs) di
1.000 lokasi.
dan
dikembangkannya
system peringatan
dini iklim (CEWS)
yang meli
antara lain
Automa c Digital
Rain Gauge 42
lokasi dan Auto
ma c Weather
System 26 lokasi
dan untuk
pembangunan
peringatan dini
cuaca (MEWS)
meli Radar
Cuaca 8 lokasi,
pemeliharaan
Radar Cuaca 12
lokasi.
- Pembangunan
CCTV untuk
monitoring
Tsunami 5 unit
- Peningkatan
kemampuan Ina
TEWS 1 paket.
- Penyempurnaan
fasilitas
operasional
gempabumi dan
tsunami 1 paket
- Tersedianya
Handling
Inklaring di 1
paket
2. Pengelolaan
Metorologi Publik
BMKG
- Pengadaan Tanah
untuk Radar
Cuaca di 1 lokasi
- Pemeliharaan
Radar Cuaca di 12
lokasi
- Pembangunan
Cuaca di 1
lokasi
(Pekanbaru)
3. Pengelolaan Iklim
Agroklimat dan
Iklim BMKG
- Pemasangan
Automa c
Weather
(AWS) 10 lokasi
- Pemasangan
Automa c Rain
Gauge (ARG) 10
lokasi
- Pemasangan
Penakar Hujan
Observasi (PH.
Obs) di 1.000
lokasi.
4. PENANG-
GULANGAN
BENCANA:
Peningkatan
kemampuan
Pemenuhan dan
pendistribusian
logis k dan peralatan
kebencanaan.
Terlaksananya
Pemenuhan dan
pendistribusian
logis k dan
peralatan
16 Provinsi




33 Provinsi


16 Provinsi
98 Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014
No
RPJMN2010ʹ2014
CAPAIAN
2009
CAPAIAN
2010
SUBSTANSI
INTI
SASARAN INDIKATOR
TARGET
2010
penanggulangͲ
anbencana
melalui:1)
penguatan
kapasitas
aparatur
pemerintah
dan
masyarakat
dalamusaha
mitigasirisiko
serta
penanganan
bencanadan
bahaya
kebakaran
hutandi33
provinsi,dan2)
pembentukan
timgerak
cepat(unit
khusus
penanganan
bencana)
dengan
dukungan
peralatandan
alat
transportasi
yangmemadai
denganbasisdi
dualokasi
strategis
(Jakartadan
Malang)yang
dapat
menjangkau
seluruh
wilayah
Indonesia.
kebencanaan
Terlaksananya
kesiapsiagaandengan
satuanreaksicepat
penanggulangan
bencana
Terbentuknya
SatuanReaksi
Cepat
Penanggulangan
Bencana(SRCͲPB).

5lokasi

SRCͲPBsudah
dibentukdi2
(dua)lokasi
strategis(Jakarta
danMalang)

5provinsi

Koordinasidan
pelaksanaan
penanganantanggap
daruratdipusatdan
daerah.
Terlaksananya
koordinasidan
penanganan
tanggapdaruratdi
pusatdandaerah.
55lokasi 2lokasi(Sumatera
BaratdanJawa
Barat)
4lokasi(Wasior,
MentawaidanBarat
DIYogyakartadan
JawaTengah)
Meningkatnyasistem
pencegahan
pemadaman,
penanggulangan
dampakkebakaran
hutandanlahan.
Peningkatan
kapasitasaparatur
pemerintahdan
masyarakatdalam
penanggulangan
bahayakebakaran
hutandi30DAOPS
(10provinsi)
6DAOPS NA 6DAOPS
Keterangan:
*TargetberdasarkanRencanaStrategisKementerianKehutanan2010ʹ201 4
Sumber:
a. Laporan1TahunMenteriNegaraLingkunganHidup,2010
b. BadanMeteorologi,Klimatologi,danGeofisika,2010
c. KementerianKehutanan,2010
d. BadanNasionalPenanggulanganBencana,2010

Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014 99
15



























BAB 2.10. PRIORITAS NASIONAL 10: DAERAH TERTINGGAL
TERDEPAN, TERLUAR, DAN PASCAKONFLIK


2.10.1. Pengantar
Pemihakan terhadap upaya pembangunan di daerah ƚĞƌƟnggal, terdepan, terluar, dan pascakŽŶŇŝk
merupakan salah satu perhĂƟan utama RPJM Nasional 2010–2014yang dituangkan dalam Prioritas
Nasional 10 mengenai Daerah TeƌƟŶŐŐĂů, Terdepan, Terluar, dan WĂƐĐĂŬŽŶŇŝŬ͘ Prioritas ini
merupakan program aksi yang disusun dengan pendekatan kewilayahan, sehingga penanganannya
memerlukan dukungan lintas bidang͘ Penyelenggaraan koordinasi yang efekƟf dan sinergitas
kebijakan dan program antar Kementerian/Lembaga merupakan kunci untuk mempercepat upaya-
upaya penanganan daerah tĞƌƟnggal, terdepan, dan terlƵĂƌ͘ Program aksi untuk daerah ƚĞƌƟŶŐŐĂl,
terdepan, terluar, dan pascakonŇik ditujukan untuk pengutamaan dan penjaminan pertumbuhan
di daerah terƟŶŐŐĂů͕ terdepan, terluar serta keberlangsungan kehidupan damai di wilayah
ƉĂƐĐĂŬŽŶŇŝŬ͕ yang dijabarkan ke dalam empat substansi ŝŶƟ ŵĞůŝƉƵƟ :
1͘ Kebijakan, yaitu pelaksanaan kebijakan khusus dalam bidang infrastruktur dan pendukung
kesejahteraan lainnya yang dapat mendorong pertumbuhan di daerah tĞƌƟnggal, terdepan,
terluar, dan pascakonŇik selambat-lambatnya dimulai pada tahun 2011;
2͘ Kerjasama internasional, yaitu pembentukan kerja sama dengan negara-negara tetangga
dalam rangka pengamanan wilayah dan sumber daya kelautan;
100 Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014
3. Keutuhan wilayah, yaitu penyelesaian pemetaan wilayah perbatasan RI dengan Malaysia,
PapuaNugini,TimorLeste,danFilipinapadatahun2010;dan
4. Daerah tertinggal, yaitu pengentasan daerah tertinggal di sedikitnya 50 kabupaten paling
lambattahun2014.
SasarandantargetpembangunanPrioritasNasional10:DaerahTertinggal,Terdepan,Terluar,dan
Pascakonflikpadatahun2010dirumuskansebagaiberikut:
1. Terlaksananya kebijakan khusus dalam bidang infrastruktur dan pendukung kesejahteraan
lainnya yang dapat mendorong pertumbuhan di daerah tertinggal, terdepan, terluar, dan
pascakonflik selambatͲlambatnya dimulai pada tahun 2011. Target sasaran ini adalah
terumuskannya delapan kebijakan atau program khusus dalam penanganan permasalahan
daerah tertinggal, terdepan, terluar, dan pascakonflik di lokasiͲlokasi yang telah ditetapkan
dalamRPJMN2010ʹ2014dengan alokasianggaranyangmemadaipadasetiapK/Lyangterkait
denganpelaksanaanprogramaksi.
2. MeningkatnyakerjasamadengannegaraͲnegaratetanggadalamrangkapengamananwilayah
dan sumber daya kelautan, yang didukung oleh ketersediaan sarana prasarana pengamanan
dan pengawasan yang handal. Target sasaran ini adalah: (a) terselenggaranya kerjasama
pengamanan wilayah dan sumber daya kelautan dengan sepuluh negara tetangga yang
berbatasandaratdanlaut;(b)terwujudnyapertumbuhansaranadanprasaranapertahanandi
tujuhPosPengamananPerbatasan(PosPamtas);(c)terwujudnyaperkembangankualitasdan
kuantitas pembinaan wilayah pertahanan hingga mencapai 45 persen; dan (d) menurunnya
aktivitasIllegal,Unregulated,andUnreported(IUU)fishingdi3WPPBaratdan6WPPTimur.
3. Tersusunnya pemetaan wilayah perbatasan RI dengan Malaysia, Papua Nugini, Timor Leste,
danFilipinapada2010–2014yangdisertaidenganupayapercepatanpenyelesaiandelimitasi
batas pada segmenͲsegmen batas yang belum disepakati. Target dari sasaran ini adalah: (a)
tersusunnya72NomorLembarPeta(NLP)petaperbatasandan25pulau,(b)terselenggaranya
12perundinganperbatasan.
4. Meningkatnya rataͲrata pertumbuhan ekonomi, persentase penduduk miskin, dan kualitas
sumber daya manusia (IPM) di daerah tertinggal dengan target masingͲmasing sebesar 6.6
persen,18.8persen,dan67,7.

2.10.2. Pencapaian Prioritas Nasional 10: Daerah Tertinggal, Terdepan,
Terluar,danPascakonflik

Pencapaian sasaran substansi inti pertama dari Prioritas Nasional 10 terkait dengan pelaksanaan
berbagaikegiatanprioritasnasionalolehK/Lterkaituntukmendukungpembangunaninfrastruktur
danpendukungkesejahteraanlainnyadidaerahtertinggal,terdepan,danpascakonflik.HasilͲhasil
yang dicapai pada tahun 2010 adalah terlaksananya delapan kebijakan khusus yang dapat
mendorongpertumbuhandidaerahtertinggal,terdepan,terluar,danpascakonflik,antaralain:(1)
terbangunnyapermukimantransmigrasi untuk4925KK; (2) terlaksananya pengadaan37unitbus
perintis,pemberiansubsidioperasi143rutebusperintis,pembangunanbarudanlanjutan5unit
kapal penumpang dan perintis, subsidi 58 trayek angkutan laut perintis, pembangunan baru dan
lanjutan30unit kapalpenyeberanganperintis,pembangunan28unitbusair,pengoperasian76
lintaskapal penyeberangan perintis dalam provinsi dan 8 lintas antarprovinsi, serta pemberian
subsidioperasiangkutanudaraperintisuntuk96rutedi15provinsiuntukmemberikanpelayanan
jasa transportasi di wilayah tertinggal dan terpencil; (3) terlaksananya penyediaan jasa akses
telekomunikasimelaluiDesaDeringdenganrealisasi27.670 desa(83.4persen),sertapenyediaan
Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014 101
jasa akses layanan internet melalui Pusat Layanan Internet Kecamatan (PLIK) dengan realisasi
4.269 desa ibukota kecamatan (74.3 persen); (4) terfasilitasinya penyediaan infrastruktur di 30
pulauͲpulau kecil terluar; (5) teridentifikasinya potensi dan pemetaan di 20 pulauͲpulau kecil,
termasuk5pulaukecilterluar/terdepan,sertapenyediaaninfrastrukturantaralainberupasarana
airbersihdanlistriktenagasurya;(6)terbentuknyaBadanNasionalPengelolaPerbatasan(BNPP)
melalui Perpres 12/2010; (7) tersalurkannya subsidi pendidikan bagi siswa SD/SDLB (2.246.800),
SMP/SMPLB (871.193), SMA (248.800), SMK (305.950), dan mahasiswa (65.000); dan (8)
terbangunnya76puskesmasperawatandiperbatasandanpulauͲpulaukecilterluarberpenduduk;
terselenggaranyapelayanankesehatandi101Puskesmasprioritasdiperbatasandanpulauterluar;
terlaksananya pelayanan pelayanan kesehatan rujukan di 14 RS bergerak di Daerah Terpencil,
Perbatasan, dan Kepulauan (DTPK); tersedianya tenaga kesehatan sebanyak 1.323 orang yang
didayagunakan di DTPK; tersedianya insentif bagi 1.421 residen senior dan tenaga kesehatan
melaluipendayagunaandiDTPK;tersedianya370residensenioryangdidayagunakandiDTPK.
Substansi inti kedua mengenai pembentukan kerja sama dengan negaraͲnegara tetangga dalam
rangka pengamanan wilayah dan sumber daya kelautan pada tahun 2010 diwujudkan melalui
kerjasamapengamananwilayahdansumberdayakelautandengantujuhnegaratetanggameliputi:
(1) operasi dan patroli bersama antara Indonesia, Malaysia, dan Singapura melalui Malaca Strait
Sea Patrol (MSSP) yang mampu menekan tindak perompakan di Selat Malaka secara drastis; (2)
kerjasama pengawasan sumber daya kelautan danperikanan dengan Australia dan Malaysia; dan
(3) pengendalian illegal, unreported, and unregulated (IUU) fishing dan pengawasan dalam
pemanfaatan sumber daya di wilayah setiga terumbu karang di n Indonesia dengan Filipina,
Malaysia,Solomon,PapuaNewGuinea,danTimorLeste.Selainmelaluikerjasamadengannegara
tetangga,upayapengamananwilayahdansumberdayakelautanperludidukungolehketersediaan
saranadanprasaranapengamanansertapengawasanyanghandal.Beberapaupayayangdicapai
pada tahun 2010 antara lain: (1) terlaksananya pemberian tunjangan khusus kepada prajurit TNI
yang bertugas di wilayah perbatasan dan pulauͲpulau kecil terluar melalui Perpres Nomor 49
tahun2010;(2)terbangunnya2pospertahanandiwilayahKodamVI/TPRTanjungPuradan5pos
pertahanan di wilayah Kodam XVII/Cen Cendrawasih; dan (3) terselenggaranya pengawasan
sumberdaya kelautan secara intensif di WPP melalui pemeriksaan terhadap 2.253 kapal
perikanan,dimanasebanyak183kapaldiindikasikanmelakukanpelanggaran.
Dalam hal penyelesaian pemetaan wilayah perbatasan RI dengan Malaysia, Papua Nugini, Timor
Leste, dan Filipina, pada tahun 2010 telah tersusun: (1) peta perbatasan RIͲPNG Skala 1:50.000
sebanyak37NomorLembarPeta(NLP),dan(2)petafotodanpetagarispulauͲpulaukecilterluar
sebanyak 48 NLP. Dalam upaya penegasan batas (termasuk pemetaan) di segmenͲsegmen batas
lainnya,perludidahuluidenganpenyelesaiandelimitasibatasmaritimmelaluikesepakatandengan
negara tetangga. Selama tahun 2010, telah dilakukan 17 kali perundingan untuk membahas
segmenͲsegmen batas RIͲMalaysia, 2 kali perundingan batas Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE)
IndonesiaͲVietnam, 2 kali perundingan batas ZEE dan LK IndonesiaͲPalau, dan 1 penjajakan
perundingan delimitasi batas maritim RI–Thailand. Selain itu, telah dilakukan ratifikasi terhadap
Perjanjian tentang Penetapan Garis Batas Laut Wilayah di Bagian Barat Selat Singapura melalui
UndangͲUndangNomor4Tahun2010.
Sedangkan dalam hal pencapaian sasaran substansi inti keempat mengenai pengentasan daerah
tertinggaldisedikitnya50kabupatenpalinglambattahun2014,padatahun2010terkendalaoleh
belum tersedianya data perekonomian daerah, IPM dan kemiskinan tahun 2010 yang resmi
dipublikasikan oleh BPS, akan tetapi dari sisi pencapaian output kegiatan yang mendukung
pengentasan daerah tertinggal di sedikitnya 50 kabupaten adalah: (1) terlaksananya koordinasi
lintas sektor dan fasilitasi bantuan stimulan dalam pembangunan daerah tertinggal melalui
insrumen P2KPDT di 120 kabupaten, P4DT di 5 pusat pertumbuhan, P2WP di 24 kabupaten
102 Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014
perbatasan, P2IPDT di 185 Kabupaten, dan P2SEDT di 151 Kabupaten; (2) DAK SPP di 233
kabupaten, dan PNPMͲDTK di 51 Kab. Adapun dana total block grant yang sudah dicairkan untuk
P2DTKNADͲNias(tahun2006–2ϬϭϬ) sebesarRp236.3miliar(72persen)daritotalalokasiRp327.9
miliar, sedangkan untuk P2DTK Nasional pencairan tahun 2007ʹϮϬ10 sebesar Rp757.4 miliar (99
persen) dari total alokasi Rp761.4 miliar; (3) tersusunnya konsep Pembangunan Perdesaan
Terpadu (Bedah Desa) dan Pengembangan Produk Unggulan Kabupaten (PRUKAB) sebagai
instrumen utama dalam koordinasi lintas sektor yangdikoordinasikanoleh KPDT;(4) tersusunnya
Kesepakatan Bersama (MoU) yang diinisiasi oleh Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal
(KPDT) dengan melibatkan K/L dan swasta dalam rangka percepatan pembangunan ekonomi
masyarakat daerah tertinggal; dan (5) tersedianya kebutuhan dasar, aksesibilitas dan pelayanan
sosial dasar bagi warga Komunitas Adat Terpencil meliputi permukiman dan infrastruktur
pendukungnyasertapemberianjaminanhidupuntuk2.300KepalaKeluarga.

2.10.3. PermasalahanPencapaian
Isu strategisyangterkaitdengan pencapaian sasaran dan target Prioritas Nasional10 pada tahun
2010antaralain:
1. Belum optimalnya perumusan dan pelaksanaan kebijakan dan program khusus beserta dan
alokasipendanaanyangbelumsesuaidengankebutuhanspesifikdaerahtertinggal,terdepan,
terluar,danpascakonflikdilokasiͲlokasiyangsudahditetapkan;
2. Belum idealnya jumlah dan kualitas sarana prasarana pengamanan dan pengawasan yang
tersedia untuk menyelenggarakan upaya pengamanan wilayah dan sumber daya kelautan
secara intensif termasuk untuk mendukung pengamanan melalui kerjasama dengan negara
tetangga;
3. Belum optimalnya koordinasi antar instansi dalam penyediaan dan pemanfaatan peta batas
wilayahdankawasanperbatasan;dan
4. Belum optimalnya pencapaian pertumbuhan ekonomi, pengurangan kemiskinan, dan
peningkatan kualitas sumberdaya manusia di daerah tertinggal karena dihadapkan pada
beberapa kendala antara lain belum optimalnya pengelolaan potensi sumber daya lokal,
belum optimalnya tindakan afirmatif kepada daerah tertinggal, masih lemahnya koordinasi
antarpelakupembangunan,danterbatasnyasaranadanprasaranadasarwilayah.

2.10.4. RencanaTindakLanjut
RencanatindaklanjutpelaksanaanprogramaksiPrioritasNasional10antaralain:
1. Meningkatkan kualitas perumusan kebijakan dan program khusus untuk menuntaskan
permasalahan daerah tertinggal, terdepan, terluar, dan pascakonflik yang memerlukan
intervensispesifikdalampenanganannya.
2. Meningkatkan sinergitas pelaksanaan kebijakan dan program antarsektor, antardaerah,
maupunantarapusatͲdaerahbesertakeberpihakanpendanaandalampelaksanaankebijakan
khusus untuk mempercepat pembangunan di daerah tertinggal, terdepan, terluar, dan
pascakonflikdilokasiͲlokasiyangtelahditetapkan.
3. Mempererat kerjasama antar negara dalam upaya pengamanan wilayah dan pengawasan
sumber daya kelautan yang didukung oleh upaya peningkatan ketersediaan sarana prasana
pengamanandanpengawasan.
Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014 103
4. Meningkatkan koordinasi antarinstansi dalam rangka pelaksanaan kegiatan pemetaan batas
wilayah dan kecamatan perbatasan serta mendorong pemanfaatan hasil pemetaan oleh
instansiterkaitdipusatdandaerah.
5. Meningkatkan upaya diplomasi batas untuk mempercepat penyelesaian delimitasi batas
negara.
6. Meningkatkan koordinasi dan sinergitas antar pelaku pembangunan termasuk fasilitasi
kegiatanstimulandidaerahtertinggal,terdepan,terluar,danpascakonflikmelaluioptimalisasi
peran Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal dan Badan Nasional Pengelola
Perbatasan.
104 Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014
Tabel 2.10.1. Pencapaian Pembangunan Prioritas Nasional 10:
Daerah Ter Terdepan, Terluar, dan PascakonŇik, Tahun 2010
No
RPJMN 2010ʹ2014
CAPAIAN
2009*
CAPAIAN
2010*
SUBSTANSI
INTI
SASARAN** INDIKATOR**
TARGET
2010*
1. KEBIJAKAN :
Pelaksanaan
kebijakan
khusus dalam
bidang
infrastruktur
dan
pendukung
kesejahteraan
lainnya yang
dapat
mendorong
pertumbuhan
di daerah
nggal,
terdepan,
terluar, dan
pascakonŇik
selambat-
lambatnya
dimulai pada
2011
Terlaksananya
kebijakan
khusus dalam
bidang
infrastruktur
dan
pendukung
kesejahteraan
lainnya
yang dapat
mendorong
pertumbuhan
di daerah
nggal,
terdepan,
terluar, dan
pascĂŬŽŶŇŝŬ
selambat-
lambatnya
dimulai pada
2011
Jumlah kebijakan
khusus yang
dirumuskan







8 kebijakan
khusus
Terlaksananya 5
kebijakan khusus
yang dapat
mendorong
pertumbuhan di
daerah nggal,
terdepan, terluar,
dan pascĂŬŽŶŇŝŬ͕
antara lain:
1. Terbangunnya
permukiman
transmigrasi di
82 lokasi untuk
10.025 KK
2. Tersedianya
kapal
penumpang dan
perin s 4 unit,
subsidi perin s
angkutan laut
58 trayek,
pelayanan
keperin san
angkutan jalan
(78 bus perin s
dan 138 lintas
peri s), 3
Sarana
Keperin san
SDP, 81
pelayanan
Keperin san
SDP, 94 rute
perin s udara
3. Terbangunnya
sarpras kominfo
(24.051 Desa
berdering, 70
Desa pintar)
4. Terfasilitasinya
peningkatan
sarana dan
prasarana di 4
pulau-pulau
kecil terluar
5. Jumlah residen
senior yang
didayagunakan
di DTPK (83)

Terlaksananya 8 kebijakan
khusus yang dapat mendorong
pertumbuhan di daerah
nggal, terdepan, terluar, dan
pascĂŬŽŶŇŝŬ͕ antara lain:
1. Terbangunnya permukiman
transmigrasi untuk
2. 4925 KK
3. Tersedianya 37 unit bus
perin s, pemberian subsidi
operasi 143 rute bus perin s,
pembangunan baru dan
lanjutan 5 unit kapal
penumpang dan perin s,
subsidi 58 trayek angkutan
laut perin s, pembangunan
baru dan lanjutan 30 unit
kapal penyeberangan
perin s, pembangunan 28
unit bus air, pengoperasian
76 lintaskapal penyeberangan
perin s dalam provinsi dan 8
lintas antarprovinsi, serta
pemberian subsidi operasi
angkutan udara perin s untuk
96 rute di 15 provinsi
4. Terbangunnya sarpras
kominfo (27.670 desa
berdering, 4.269 desa Pusat
Layanan Internet Kecamatan
(PLIK)
5. Terfasilitasinya penyediaan
infrastruktur pulau-pulau kecil
terluar (30 pulau)
6. Teriden Įkasi dan
terpetakannya potensi 20
pulau-pulau kecil, termasuk 5
pulau kecil terluar
7. Terbentuknya Badan Nasional
Pengelola Perbatasan melalui
Perpres 12/2010
8. Tersalurkannya subsidi
pendidikan bagi siswa
SD/SDLB (2.246.800),
SMP/SMPLB (871.193), SMA
(248.800), SMK (305.950),
dan mahasiswa (65.000)
9. Terbangunnya 76 puskesmas
perawatan di perbatasan dan
pulau-pulau kecil terluar
berpenduduk;
Terselenggaranya pelayanan
kesehatan di 101 Puskesmas
prioritas di perbatasan dan
pulau terluar, Terlaksananya
pelayanan pelayanan
kesehatan rujukan di 14 RS
bergerak di Daerah Terpencil,
Perbatasan, dan Kepulauan
(DTPK), Tersedianya tenaga
kesehatan sebanyak 1.323
orang yang didayagunakan di
Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014 105
No
RPJMN2010ʹ2014
CAPAIAN
2009*
CAPAIAN
2010*
SUBSTANSI
INTI
SASARAN** INDIKATOR**
TARGET
2010*
DTPK,Tersedianyainsentif
bagi1.421residenseniordan
tenagakesehatanmelalui
pendayagunaandiDTPK,
Tersedianya370residen
senioryangdidayagunakandi
DTPK.
2. KERJASAMA
INTERNASIO
NAL:
Pembentukan
kerjasama
dengan
negaraͲnegara
tetangga
dalamrangka
pengamanan
wilayahdan
sumberdaya
kelautan
Meningkatnya
kerjasama
dengan
negaraͲnegara
tetangga
dalamrangka
pengamanan
wilayahdan
sumberdaya
kelautanyang
didukungoleh
ketersediaan
sarana
prasarana
pengamanan
dan
pengawasan
yanghandal

Jumlahnegara
tetanggayang
melakukan
kerjasamadalam
rangka
pengamanan
wilayahdan
sumberdaya
kelautan

10negara
tetanggayang
berbatasan
(Malaysia,
PNG,Timor
Leste,
Singapura,
Australia,
Filipina,India,
Thailand,
Vietnam,
Palau)

Terwujudnyakerja
samadengan
negaratetangga
dalam
pengelolaan
ekosistempesisir
danlautseperti
SuluͲSulawesi
MarineEcoregion
(SSME)dan
BismarckͲSouth
SolomonMarine
Ecoregion
(BSSME),Arafura
andTimorSeas
Action(ATSEA),
sertapeluncuran
CoralTriangle
Initiative(CTI)

Terwujudnyakerjasama
pengamananwilayahdan
sumberdayakelautandengan7
negaratetanggamelalui:(a)
Operasidanpatrolibersama
antaraIndonesia,Malaysia,dan
SingapuramelaluiMalacaStrait
SeaPatrol(MSSP);(b)
Terwujudnyakerjasama
pengawasansumberdaya
kelautandanperikanandengan
AustraliadanMalaysia;(c)
Terwujudnyapeningkatan
pengendalianillegal,unreported,
andunregulated(IUU)fishing
danpengawasandalam
pemanfaatansumberdayadi
wilayahsetigaterumbukarangdi
wilayahsegitigaterumbukarang
(coraltriangle)melaluikerjasama
CTI(coraltriangleinitiative)
antaraIndonesiadenganFilipina,
Malaysia,Solomon,PapuaNew
Guinea,danTimorLeste
Jumlahpos
pengamanan
perbatasan
(pamtas)yang
dibangundi
wilayah
perbatasan
7PosPamtas Terbangun2pospamtasdi
wilayahKodamVI/TPRTanjung
Puradan5pospamtasdi
wilayahKodamXVII/Cen
Cendrawasih

Persentase
kualitasdan
kuantitas
pembinaan
wilayah
pertahanan
45% TelahterlaksanaPemberian
tunjangankhususkepadaprajurit
TNIyangbertugasdiwilayah
perbatasandanpulauͲpulaukecil
terluarmelaluiPerpresNomor
49tahun2010.
JumlahWilayah
Pengelolaan
PerikananBagian
BaratdanTimur
yangbebasIUU
Fishing
3 WPP Barat
dan 6 WPP
Timur
Telahdilakukanpemeriksaan
terhadap2.253kapalperikanan,
sebanyak183kapaldiindikasikan
melakukanpelanggaran.
3. KEUTUHAN
WILAYAH:
Penyelesaian
pemetaan
wilayah
perbatasan
RIdengan
Malaysia,
Papua
Nugini,Timor
Leste,dan
Filipinapada
2010ʹ2014
Tersusunnya
pemetaan
wilayah
perbatasan
RIdengan
Malaysia,
Papua
Nugini,Timor
Leste,dan
Filipinapada
2010Ͳ2014
disertai
dengan
upaya
percepatan
penyelesaian
JuumlahNLP
(pemetaan
kecamatan
kawasan
perbatasan
darat)dan
jumlahpulau
(pemetaanpulau
terluar)
72NLPdan25
pulau
Secaraakumulatif,
hinggaakhirtahun
2009telahtersusun
:(1)Petabatas
wilayahnegaraRIͲ
PNGskala1:50.000
dan1:25.00018
NLP,(2)Petabatas
wilayahnegaraRIͲ
Malaysiaskala
1:50.000dan
1:25.00018NLP,(3)
Petabataswilayah
negaraRIͲRDTL
skala1:50.000dan
1:25.00034;(4)
1. Tersusunnya:(a)Peta
perbatasanRIͲPNGSkala
1:50.000sebanyak37NLP,dan
(b)petafotodanpetagaris
pulauͲpulaukecilterluar
sebanyak48NomorLembar
Peta(NLP)
2. Terlaksananyapenyusunan
kebijakanInventarisasi
WilayahPesisir,PulauͲPulau
Kecil,PerbatasandanWilayah
Tertentuditingkatpusatdan
pelaksanaannyadidaerah
sebanyak186SP(satuan
pekerjaan)

106 Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014
No
RPJMN 2010ʹ2014
CAPAIAN
2009*
CAPAIAN
2010*
SUBSTANSI
INTI
SASARAN** INDIKATOR**
TARGET
2010*
delimitasi
batas pada
segmen-
segmen
batas yang
belum
disepak .
Peta Zona Ekonomi
Eksklusif (ZEE) skala
1:1.000.000 16 NLP,
(5) Peta Garis
Pangkal skala
1:200.000 41 NLP,
(6) Peta Negara
Kesatuan Republik
Indonesia (NKRI)
skala 1:5.000.000 1
NLP, dan (7) Peta
pulau-pulau kecil
terluar 56 pulau.
(sumber data : RKP
2011)
Jumlah
pelaksanaan
perundingan
batas darat dan
laut
12 perundingan
Telah terlaksana :
(a) 15 kali
perundingan
masalah
penetapan batas
mari m
Indonesia-
Malaysia melalui
forum Joint
Technical Working
Group ; (b)
Pendantanganan
perjanjian tentang
Penetapan Garis
Batas Laut
Wilayah RI-
Singapura di
Bagian Barat Selat
Singapura pada
tanggal 10 Maret
2009.
Terlaksannaya: 17 (tujuh belas)
kali perundingan untuk
membahas segmen-segmen
batas RI-Malaysia, 2 (dua) kali
perundingan batas ZEE
Indonesia-Vietnam, 2 (dua) kali
perundingan batas ZEE dan LK
Indonesia-Palau, 1 (satu) kali
penjajagan perundingan
delimitasi batas mari m RI–
Thailand, serta r kasi
terhadap Perjanjian tentang
Penetapan Garis Batas Laut
Wilayah di Bagian Barat Selat
Singapura melalui Undang-
Undang No. 4 Tahun 2010.
4. DAERAH
TERTINGGAL:
Pengentasan
daerah
nggal di
sedikitnya 50
kabupaten
paling lambat
2014
Meningkatnya
rata-rata
pertumbuhan
ekonomi di
daerah
nggal

Rata-rata
pertumbuhan
ekonomi di
daerah nggal





6.6%













Mengingat belum
tersedianya data
penunjang tahun
2009, maka
capaian kegiatan
dalam rangka
mendukung
substansi in
adalah:
1. Koordinasi
lintas sektor
dan fasilitasi
bantuan
s mulan dalam
pembangunan
daerah
nggal
melalui:
ͻP2KPDT di
105 kab
ͻP4DT di 20
kab ng
ͻP2WP di 18
Mengingat belum tersedianya
data penunjang tahun 2010,
maka capaian kegiatan dalam
rangka mendukung substansi in
adalah:
1. Koordinasi lintas sektor dan
fasilitasi bantuan s mulant
dalam pembangunan daerah
nggal melalui:
ͻP2KPDT di 120 kab
ͻP4DT di 5 pusat
pertumbuhan
ͻP2WP di 24 kab nggal,
perbatasan
ͻP2IPDT di 185 Kab
ͻP2SEDT di 151 Kab
ͻPelaksanaan DAK SPP di
233 kab
ͻPNPM-DTK di 51 Kab. Dana
total block grant yang
sudah dicairkan untuk
P2DTK NAD-Nias (tahun
2006–2010) sebesar Rp
Berkurangnya
persentase
penduduk
miskin di
daerah
nggal

Persentase
penduduk miskin
di daerah
nggal

18.8%

Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014 107
No
RPJMN2010ʹ2014
CAPAIAN
2009*
CAPAIAN
2010*
SUBSTANSI
INTI
SASARAN** INDIKATOR**
TARGET
2010*
Meningkatn
yakualitas
sumberͲ
daya
manusiadi
daerah
tertinggal
yang
ditunjukkan
oleh
peningkatͲ
anindeks
pembaͲ
ngunan
manusia
(IPM)
Indeks
pembangunan
manusia(IPM)di
daerahtertinggal
67.7 kab
tertinggal,
perbatasan
x P2IPDTdi
118Kab
x P2SEDTdi
148Kab
x Pelaksanaan
DAKSPPdi
110kab
x PNPMͲDTKdi
51Kab.Dana
totalblock
grantyang
sudah
dicairkan
untukP2DTK
NADͲNias
(tahun2006–
2009)
sebesar
Rp.156.59M
(72%)dari
totalalokasi
Rp244.74M,
sedangkan
untukP2DTK
Nasional
pencairan
tahun2007Ͳ
2009sebesar
Rp.86.97M
(99%)dari
totalalokasi
Rp.590.9M
2. Tersedianya
permukiman
danpemberian
jaminanhidup
bagi10.301KK
KomunitasAdat
Terpencil(KAT)

236.3M(72%)daritotal
alokasiRp327.9M,
sedangkanuntukP2DTK
Nasionalpencairantahun
2007Ͳ2010sebesar
Rp.757.4M(99%)daritotal
alokasiRp.761.4M.
2. Tersusunnyakonsep
PembangunanPerdesaan
Terpadu(BedahDesa)dan
PengembanganProduk
UnggulanKabupaten
(PRUKAB)sebagaiinstrumen
utamadalamkoordinasilintas
sektoryangdikoordinasikan
olehKPDT
3. TersusunnyaKesepakatan
Bersama(MoU)yangdiinisiasi
olehKPDTdenganmelibatkan
K/Ldanswastadalamrangka
percepatanpembangunan
ekonomimasyarakatdaerah
tertinggal.
4. Tersedianyapermukimandan
infrastrukturpendukungnya
sertapemberianjaminan
hidupuntuk2.300KK
KomunitasAdatTerpencil.
Sumber:
* :RKP2011,RKP2012,BPS2008Datadiolah,DirektoratBappenas
** :RPJMN,hasilpenyesuaian

108 Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014
Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014 109

BAB2.11. PRIORITASNASIONAL11:KEBUDAYAAN,
KREATIVITAS,DANINOVASITEKNOLOGI

2.11.1.Pengantar
Kebudayaan, kreativitas dan inovasi teknologi mempunyai peran yang strategis dalam upaya
pengembangan dan perlindungan kebhinekaan budaya, karya seni, dan ilmu serta apresiasinya,
untuk memperkaya khazanah artistik dan intelektual bagi tumbuhͲmapannya jati diri dan
kemampuan adaptif kompetitif bangsa yang disertai pengembangan inovasi, ilmu pengetahuan,
danteknologi.Berbagaiupayapengembangankebudayaan,kreativitasdaninovasiteknologipada
tahun 2010 telah menunjukkan kemajuan yang cukup berarti yang ditandai antara lain oleh: (1)
meningkatnya komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) akan pentingnya pembangunan karakter
danjatidiribangsa;(2)meningkatnyaapresiasimasyarakatterhadapkeragamansenidanbudaya;
(3) meningkatnya kualitas pengelolaan, perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan warisan
budaya; (4) meningkatnyakapasitas sumber daya pembangunan kebudayaan sertameningkatnya
layananperpustakaan.

110 Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014
2.11.2. Pencapaian Prioritas Nasional 11: Kebudayaan,
<ƌĞĂƟǀŝƚĂƐ͕ dan /ŶŽǀĂƐŝ Teknologi
Pencapaian sasaran Prioritas Nasional 11: Kebudayaan, <ƌĞĂƟvitas, dan Inovasi Teknologi pada
tahun 2010, antara lain: (1) Kesepakatan Bentuk Lembaga Pengelolaan Terpadu Warisan Budaya
Dunia Candi Borobudur dan Kajian Bentuk Pengelolaan Terpadu Kawasan Warisan Budaya Dunia
Situs Manusia Purba Sangiran dan Candi Prambanan; (2) revitalisasi 6 museum, yaitu: Museum
Negeri Jawa Timur (Surabaya), Museum Negeri Kalimantan Barat (PonƟanak), Museum Negeri
Jambi (Jambi), Museum Negeri Nusa Tenggara Barat (Mataram), Museum Negeri Sumatera Utara,
dan Museum Negeri Batak TB Silalahi di Balige Sumatera Utara; (3) peningkatan layanan jasa
perpustakaan dan informasi dengan capaian 33 perpustakaan provinsi memiliki e-library dan
pengembangan perpustakaan dan pembudayaan gemar membaca, dengan capaian 88 mobil
perpustakaan keliling, 3 unit perpustakaan terapung, 33 perpustakaan provinsi, 250 perpustakaan
kabupaten/kota, dan 2.143 perpustakaan desa; (4) fasilitasi sarana bagi pengembangan,
pendalaman dan pergelaran seni budaya di 5 provinsi dan 20 kabupaten/kota; (5) 13 peneliƟan di
bidang kebudayaan dan 144 ƉĞŶĞůŝƟĂŶ di bidang arkeologi; (6) fasilitasi 20 pergelaran, pameran,
fesƟval, lomba, dan pawai; (7) fasilitasi 18 event ĨĞƐƟǀĂl Įům dalam dan luar negeri; (8)
pelaksanaan sensor terhadap 40.000 judul ĮůŵͬǀŝĚĞŽͬŝŬlan; (9) fasilitasi peningkatan kapasitas di
bidang iptek dan imtaq bagi 3.180 orang pemuda kader dan fasilitasi peningkatan kapasitas di
bidang seni, budaya, dan industri ŬƌĞĂƟĨ bagi 3.180 orang pemuda kader; (10) terselenggaranya 44
paket riset dasar, 78 paket riset terapan, dan 130 paket riset ŝŶƐĞŶƟĨ͘

2.11.3. Permasalahan Pencapaian
Permasalahan yang dihadapi dalam pengembangan kebudayaan antara lain adalah: (1) belum
ŽƉƟŵĂůŶLJĂ upaya pelestarian nilai-nilai tradisi luhur seperƟ, cinta tanah air, nilai solidaritas sosial,
dan keramahtamahan yang menjadi ŝĚĞŶƟtas budaya; (2) terbatasnya pemahaman dan apresiasi
masyarakat terhadap seni dan budaya serta perlindungan terhadap hak atas kekayaan intelektual
(HKI); (3) belum ŽƉƟmalnya upaya perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan warisan
budaya sebagai sarana rekreasi, edukasi, dan pengembangan kebudayaan; dan (4) terbatasnya
kapasitas sumber daya pembangunan kebudayaan.

2.11.4. Rencana Tindak Lanjut
Tindak lanjut yang diperlukan dalam pembangunan kebudayaan untuk mencapai sasaran prioritas
nasional adalah: (1) meningkatkan kualitas perlindungan, pemeliharaan, pengembangan, dan
pemanfaatan benda cagar budaya (BCB)/situs dan kawasan kepurbakalaan secara terpadu melalui
pengembangan pengelolaan peninggalan kepurbakalaan; (2) meningkatkan kualitas pengelolaan
dan pelayanan museum, termasuk museum daerah melalui pengembangan pengelolaan
permuseuman (3) meningkatkan kegiatan layanan jasa perpustakaan dan informasi yang didukung
oleh sarana dan prasarana yang memadai dan meningkatkan upaya pengembangan perpustakaan
dan budaya gemar membaca; (4) memberikan fasilitasi sarana bagi pengembangan, pendalaman
dan pergelaran seni budaya terutama di kota-kota besar; (5) melakukan peneliƟan dan
pengembangan di bidang kebudayaan dan arkeologi dalam mendukung kebijakan pembangunan
kebudayaan; (6) memberikan fasilitasi ĨĞƐƟval Įům baik di dalam maupun di luar negeri; (7)
melakukan sensor Įům dan fasilitasi pergelaran, pameran, fesƟval, lomba dan pawai; (8)
memberikan fasilitasi bagi kader pemuda di bidang iptek dan imtaq serta di bidang seni, budaya,
dan industri krĞĂƟĨ͘
Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014 111
Tabel 2.11.1. Pencapaian Pembangunan Prioritas Nasional 11:
Kebudayaan, Kre vitas dan Inovasi Teknologi, Tahun 2010

No.
RPJMN 2010ʹ2014
CAPAIAN
2009
CAPAIAN
2010 SUBSTANSI INTI SASARAN INDIKATOR
TARGET
2010
1. PERAWATAN:
Penetapan dan
pembentukan
pengelolaan
terpadu untuk
pengelolaan Cagar
Budaya,
revitalisasi
museum dan
perpustakaan di
seluruh Indonesia
sebelum Oktober
2011
Terlaksananya
penetapan dan
pembentukan
pengelolaan
terpadu untuk
pengelolaan
cagar budaya,
revitalisasi
museum dan
perpustakaan di
seluruh
Indonesia
ditargetkan
sebelum
Oktober 2011.
Jumlah
penetapan dan
pembentukan
pengelolaan
terpadu cagar
budaya
3 Penetapan dan
pembentukan
pengelolaan terpadu
cagar budaya, yang
meli :
ͻ Kesepakatan
Bentuk
Pengelolaan
Terpadu Cagar
Budaya Kawasan
Warisan Budaya
Dunia Candi
Borobudur.
ͻ Kajian Awal
Bentuk
Pengelolaan
Terpadu
Warisan Budaya
Dunia Situs
Manusia Purba
Sangiran
ͻ Kajian Awal
Bentuk
Pengelolaan
Terpadu
Warisan Budaya
Dunia Candi
Prambanan.

ͻ Hasil Kesepakatan Bentuk
Lembaga Pengelolaan
Terpadu Warisan Budaya
Dunia Candi Borobudur
ͻ Hasil Kajian Bentuk
Pengelolaan Terpadu
Kawasan Warisan
Budaya Dunia Situs
Manusia Purba Sangiran
ͻ Hasil Kajian Bentuk
Pengelolaan Terpadu
Kawasan Warisan
Budaya Dunia Candi
Prambanan
Jumlah
museum
yang
direvitalisasi
Dilaksanakannya
revitalisasi 4
museum untuk:
Museum Negeri
m (Surabaya),
Museum Negeri
Kalbar (Pon anak),
Museum Negeri
Jambi (Jambi),
Museum Negeri NTB
(Mataram).
Terselesaikannya
Revitalisasi 6 museum:
Museum Negeri m
(Surabaya), Museum Negeri
Kalbar anak) Museum
Negeri Jambi (Jambi)
Museum Negeri NTB
(Mataram), Museum Negeri
Sumatera Utara, dan
Museum Negeri Batak TB
Silalahi di Balige Sumatera
Utara.
Jumlah
perpustaka-
an provinsi
yang
memiliki
perangkat
perpustaka-
an digital
(
e-library)
dan jumlah
perpustakaa
n umum
yang di-
kembangkan
.

Peningkatan layanan
jasa perpustakaan
dan informasi
dengan target 33
perpustakaan
provinsi memiliki
e-library dan
pengembangan
perpustakaan dan
pembudayaan
gemar membaca,
dengan target 88
mobil perpustakaan
keliling, 3 unit
perpustakaan
terapung, 33
perpustakaan
provinsi, 250
perpustakaan
Terlaksananya peningkatan
layanan jasa perpustakaan
dan informasi dengan
capaian 33 perpustakaan
provinsi memiliki e-library
dan pengembangan
perpustakaan dan
pembudayaan gemar
membaca, dengan capaian
88 mobil perpustakaan
keliling, 3 unit perpustakaan
terapung, 33 perpustakaan
provinsi, 250 perpustkaan
kabupaten/kota, dan 2.143
perpustakaan desa.
112 Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014
No.
RPJMN 2010ʹ2014
CAPAIAN
2009
CAPAIAN
2010 SUBSTANSI INTI SASARAN INDIKATOR
TARGET
2010
kabupaten/kota, dan
2.143 perpustakaan
desa.
2. SARANA:
Penyediaan sarana
yang memadai
bagi
pengembangan,
pendalaman dan
pagelaran seni
budaya di kota
besar dan ibukota
kabupaten
selambat-
lambatnya
Oktober 2012
Meningkatnya
penyediaan
sarana yang
memadai bagi
pengembangan
, pendalaman
dan pagelaran
seni budaya di
kota besar dan
ibukota
kabupaten
selambat-
lambatnya
Oktober 2012
Jumlah
fasilitasi
sarana bagi
pengembang
an,
pendalaman
dan pagelaran
seni budaya.
- Propinsi
- Kab/Kota
Terlaksananya
fasilitasi sarana bagi
pengembangan,
pendalaman dan
pergelaran seni
budaya di 5 provinsi
dan 20
Kabupaten/kota
Terselesaikannya fasilitasi
sarana bagi pengembangan,
pendalaman dan pergelaran
seni budaya di 5 provinsi
dan 20 Kabupaten/kota
3. PENCIPTAAN:
Pengembangan
kapasitas nasional
untuk pelaksanaan
PeneůŝƟĂn,
Penciptaan dan
Inovasi dan
memudahkan
akses dan
penggunaannya
oleh masyarakat
luas
Meningkatnya
litbang bidang
kebudayaan
dan bidang
arkeologi dalam
mendukung
kebijakan
pembangunan
kebudayaan
Jumlah
peneůŝƟĂŶ
dan
pengembang
an bidang
kebudayaan
serta bidang
arkeologi.
13 peneůŝƟĂŶ di
bidang kebudayaan
dan 144 peneůŝƟĂŶ di
bidang arkeologi.
Terlaksananya 13 peneůŝƟĂŶ
di bidang kebudayaan dan
144 peneůŝƟĂŶ di bidang
arkeologi.
4. KEBIJAKAN :
Peningkatan
perhĂƟan dan
kesertaan
Pemerintah dalam
program-program
seni budaya yang
diinisiasi oleh
mayarakat dan
mendorong
berkembangnya
apresiasi terhadap
kemajemukan
budaya
Meningkatnya
apresiasi,
ŬƌĞĂƟǀŝƚĂƐ͕ dan
produŬƟǀŝƚĂƐ
para pelaku
seni
Jumlah
fasilitasi
pergelaran,
pameran,
feƐƟval,
lomba, dan
pawai
20 pergelaran,
pameran, feƐƟval,
lomba, dan pawai
yang difasilitasi
Terlaksananya fasilitasi 20
pergelaran, pameran,
feƐƟval, lomba, dan pawai.
Meningkatnya
kualitas dan
ŬƵĂŶƟƚĂs
produksi Įům
nasional
Jumlah
fasilitasi
feƐƟval Įům
dalam dan
luar negeri
18 even ĨĞƐƟǀĂů Įům
dalam dan luar
negeri
Terlaksananya fasilitasi 18
even ĨĞƐƟǀĂů Įlm dalam dan
luar negeri.
Meningkatnya
kualitas dan
ŬƵĂŶƟƚĂs
layanan
lembaga sensor
Įům
Jumlah
Įům/video/ikl
an lulus
sensor
40.000 judul
Įům/video/iklan
yang lulus sensor
Terlaksananya 40.000 judul
Įům/video/iklan yang lulus
sensor yang di sensor.
5. INOVASI
TEKNOLOGI :
Peningkatan
keunggulan
kompĂƌĂƟf
menjadi
keunggulan
kompĞƟƟf yang
mencakup
pengelolaan
sumber daya
mariƟm menuju
ketahanan energi,
pangan, dan
ĂŶƟƐŝƉĂƐŝ
perubahan iklim;
dan
pengembangan
penguasaan
teknologi dan
Meningkatnya
kapasitas
pemuda kader
di bidang ilmu
pengetahuan
dan teknologi,
serta iman dan
taqwa
Jumlah
pemuda
kader yang
difasilitasi
dalam
peningkatan
kapasitas di
bidang iptek
dan imtaq
3.180 orang pemuda Terlaksananya 3.180 orang
pemuda kader yang
difasilitasi dalam
peningkatan kapasitas di
bidang iptek dan imtaq.
Meningkatnya
ŬƌĞĂƟǀŝƚĂƐ
pemuda kader
di bidang seni,
budaya, dan
industri ŬƌĞĂƟĨ
Jumlah
pemuda
kader yang
difasilitasi
dalam
peningkatan
kapasitas di
bidang seni,
budaya, dan
industrŝŬƌĞĂƟĨ
3.180 orang pemuda Terlaksananya 3.180 orang
pemuda kader yang
difasilitasi dalam dalam
peningkatan kapasitas di
bidang seni, budaya, dan
industri ŬƌĞĂƟĨ͘
Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014 113
No.
RPJMN 2010ʹ2014
CAPAIAN
2009
CAPAIAN
2010 SUBSTANSI INTI SASARAN INDIKATOR
TARGET
2010
ŬƌĞĂƟǀŝƚĂƐ
pemuda
dĞƌƐĞůĞŶŐŐĂƌĂŶ
ya pakeƚ-pakeƚ
rŝƐeƚ daƐar,
ƚĞraƉĂŶ, daŶ
pakeƚ rŝƐeƚ
ŝŶƐeŶƟf
Jumůah pakeƚ
rŝƐeƚ daƐar,
Jumůah pakeƚ
rŝƐeƚ ƚĞraƉĂŶ,
jumůah pakeƚ
rŝƐeƚ ŝŶƐeŶƟf
44 pakeƚ rŝƐeƚ daƐar,
78 pakeƚ rŝƐeƚ
ƚĞraƉĂŶ, 130 pakeƚ
rŝƐeƚ ŝŶƐeŶƟf
Semua pakeƚ rŝƐeƚ
ƚĞƌƐĞůĞŶŐŐĂƌĂ





























114 Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014
Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014 115

BAB2.12. PRIORITASLAINNYABIDANGPOLITIK,HUKUM,
DANKEAMANAN

2.12.1. Pengantar
Upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat, sebagai tujuan utama pelaksanaan pembangunan
sangatdipengaruhiolehkondisipolitik,penegakanhukumdantingkatkeamanan.
Pelaksanaan pembangunan dibidang politik diprioritaskan untuk peningkatan peran Indonesia
dalammewujudkanperdamaianduniadanmeningkatkanpelayanantenagakerjaIndonesiadiluar
negeri.Prioritas pelaksanaanpembangunandibidanghukumditekankanpada(1)penguatandan
pemantapan hubungan kelembagaan pencegahan dan pemberantasan korupsi; (2) pelaksanaan
perlindungansaksidanpelapor;(3)pengembalianaset(assetrecovery);(4)peningkatankepastian
hukum;(5)penguatanperlindunganHAM.Sedangkandibidangkeamanan,prioritaspembangunan
difokuskan pada: (1) pelaksanaan koordinasi terhadap mekanisme prosedur penanganan
terorisme; (2) pelaksanan program deradikalisasi untuk menangkal terorisme; dan (3)
pemberdayaanindustristrategispertahanan.

116 Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014
2.12.2. PencapaianPrioritasLainnyaBidangPolitik,Hukum,dan
Keamanan
Terkait peningkatan peran Indonesia dalam mewujudkan perdamaian dunia, pada tahun 2010
PemerintahIndonesiatelahmengajukantigaprakarsa,yaitu:
1. Indonesia telah menyampaikan posisi dasar mengenai lima isu kunci Reformasi DKͲPBB
kepada fasilitator negosiasi Reformasi DKͲPBB sebagai masukan bagi negosiasi lanjutan,
masingͲmasing berkaitan dengan isu: a) Categories of membership; b) Question of veto; c)
Regionalrepresentation;d)SizeoftheenlargedSecurityCouncilanditsworkingmethods;dan
e)TherelationshipbetweentheSecurityCouncilandtheGeneralAssembly;
2. Telah menyelesaikan draft Keppres mengenai pembentukan Tim Koordinasi Misi
Pemeliharaan Perdamaian. Draft dimaksudkan untuk menjadi dasar hukum dalam
meningkatkan partisipasi Indonesia pada berbagai United Nations (UN) Peacekeeping
OperationsyangdibentukmelaluiresolusiDKͲPBB;
3. Menyelenggarakan Focused Group Discussion (FGD) mengenai Peningkatan Peran Peace
Keeping Operations (PKOs) Indonesia, pada 10Ͳ12 November 2010 di Bandung (Indonesia)
yang membahas potensi dan peluang Pasukan Pemeliharaan Perdamaian Indonesia
khususnyadalamkerangkaASEAN.
Sedangkan terkait capaian pelaksanaan kerjasama multilateral, sebagian besar rencana program
kegiatan telah dapat dilaksanakan. Hal ini dapat dilihat dari ikut sertanya Indonesia secara aktif
dalamberbagaipertemuanyangantaralainmembahasisudanagenda:operasiperdamaiandunia
dalam pertemuan kelompok kerja di New York; nuklir dan perlucutan senjata nuklir dalam
KonferensiPBBkeͲ22diJepang,InternationalAtomicEnergyAgency(IAEA),danpadapertemuan
States Parties of Cluster Munitions Coalition (CCM) di VientianeͲLaos; interfaith dialogue dan
penguatan peran kawasan Asia dan Timur Tengah; serta counter terrorism di PBB, ASEAN dan
expert group meeting di Wina. Capaian lainnya dapat dilihat dari pelaksanaan inisiatif Indonesia
untuk melaksanakan delapan pertemuan internasional, dimana Indonesia menjadi tuan rumah,
untuk membahas isu dan agenda perdamaian dunia melalui peace keeping dan post conflict
building; penguatan pelaksanaan program aksi tentang Small Arms and Light Weapon (SALW);
transparansi dalam perlucutan senjata; perlindungan, permukiman kembali, dan repatriasi yang
terkaitdenganpenyelundupanorang,perdaganganmanusia,dankejahatantransnasional,counter
terorrism melalui workshop yang diikuti oleh perwakilan dari Kepolisian RI dan Kejaksaan, dan
lokakarya untuk membahas pelaksanaan strategi global counter terrorism; serta membahas isu
pengurangan ancaman nuklir yang diperuntukkan bagi para pengambil keputusan. Hasil
pertemuan tersebut menjadi bahan masukan untuk reformasi PBB, dan dalam rangka menjaga
keamanannasionaldaninternasional.
Indonesia juga telah berhasil menampilkan sikap/posisinya dan diterima dalam sidangͲ
internasional.PencapaiantersebutdapatdilihatmelaluihalͲhalberikut:
1. Terkait pengiriman Pasukan Penjaga Perdamaian/Peacekeeping Operations, atas upaya
Pemerintah Indonesia sepanjang tahun 2010 Indonesia berpartisisipasi dalam 7 misi
pemeliharaan perdamaian PBB dengan total personil sejumlah 1.795 orang yang
menempatkanIndonesiapadaposisikeͲ16negarapenyumbangpasukanpadamisiͲmisiPBB.
SelainPersonilPolridanTNI,IndonesiajugamengirimkanKapalKRIKaisiepountukbergabung
padaMaritimeTaskForce(MTF)diUNIFIL.
2. Pemerintah Indonesia turut berpartisipasi dalam Konferensi London mengenai Afghanistan
pada 30 Januari 2010 yang bertujuan menggalang berbagai sumber dan dukungan
Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014 117
masyarakat internasional terhadap programͲprogram bagi kemajuan masa depan
Afghanistan.
3. Indonesia selaku negara penggagas dan Ketua/Koordinator Gerakan Non Blok (GNB) dalam
isuperlucutansenjataberhasilmengajukanresolusikepadaMajelisUmumPBBterkaitupaya
meningkatkan keamanan internasional dan perdamaian dunia melalui perlucutan senjata.
InisiatifIndonesiatersebuttelahberhasilmendorongdisahkannya7resolusidisidangMajelis
UmumPBBpadaDesember2010.
4. Pemerintah Indonesia telah menyampaikan posisinya dalam KTT Keamanan Nuklir (Nuclear
Security Summit) pada 12Ͳ13 April 2010 di Washington, DC yang mensahkan dokumen Joint
CommuniquédanWorkPlan.DokumenJointCommuniquémemuatkomitmendankeinginan
politik negara peserta untuk meningkatkan keamanan material nuklir dan mengatasi
ancamanterorismenuklirsedangkandokumenWorkPlanmemuatlangkahͲlangkahkongkrit
dan bersifat teknis untuk mendukung upaya bersama dalam meningkatkan keamanan
materialnuklirdimasingͲmasingnegarapeserta.
5. Indonesia memainkan peranan penting dalam menjembatani (bridge building) perbedaan
antar negara dan kelompok negara sebagai koordinator dan negosiator Non Aligned
MovementWorkingGrouponDisarmamentterutamadalamsidangNonͲProliferationTearty
(NPT) Review Conference pada 3Ͳ28 Mei 2010 di New York, sehingga berhasil menyepakati
sebuahFinalDocument.FinalDocumenttersebuttelahmemberikanharapanbarumengenai
prospekperlucutansenjatanuklirdidalamkerangkamultilateraldimasamendatang.
6. Menteri Luar Negeri RI telah menyampaikan draft Rancangan UndangͲUndang (RUU)
Ratifikasi Comprehensive Test Ban Treaty (CTBT) kepada DPR RI pada 1 Desember 2010.
Pemerintah Indonesia memutuskan untuk meneruskan proses Ratifikasi CTBT, karena
bergulirnya perkembangan positif terciptanya momentum ”Dunia tanpa nuklir” yang
didukung mayoritas negara di dunia dan tercapainya konsensus pada sidangNPT Review
Conferencepada3Ͳ8Mei2010.
7. Mengenai implementasi Konvensi PBB tentang Anti Korupsi/UN Convention Against
Corruption (UNCAC), Pemerintah Indonesia menyampaikan posisi untuk turut serta dalam
Putaran Pertama Review atas implementasi Konvensi PBB tentang Anti Korupsi. Melalui
keikutsertaan Indonesia dalam Putaran Pertama Review atas implementasi Konvensi PBB
tentang Anti Korupsi tersebut, Indonesia akan diͲreview Inggris dan Uzbekistan terutama
pada bagian kriminalisasi dan penegakan hukum. Selain itu, pada 11Ͳ13 Oktober di Jakarta
telah dilaksanakan pelatihan bagi para pakar yang tergabung dalam Implementation Review
Group(IRG)darikawasanAsiaPasifik.
8. Dalam kerangka Bali Process on People Smuggling, Trafficking in Persons and Related
Transnational Crime, Indonesia telah menjadi tuan rumah beberapa rangkaian kegiatan,
yaitu:BaliProcessWorkshoponProtection,ResettlementandRepatriationdanTheThirdAd
Hoc Group Senior Officials’ Meeting of the Bali Process (AHG III SOM) pada 7Ͳ11 Juni 2010.
Sebagai CoͲchair Bali Process, inisiatif Pemerintah Indonesia yang telah berhasil disepakati
dalam dua kegiatan tersebutberupa sejumlah action items antara lain adalah pembentukan
Regional Immigration Liaison Officers Network (RILON), yaitu jejaring pejabat imigrasi di
bandaraͲbandara utama di wilayah Asia Pasifik; menyusun consistent standards for
protection, resettlement and repatriation serta kriminalisasi kejahatan; menyusun program
information campaign untuk mencegah irregular migration; dan peningkatan kerjasama
dalam menangani permasalahan penyelundupan manusia lewat laut. Melalui inisiatif
Pemerintah Indonesia, telah disepakati pula mengenai prinsip shared responsibility dan
consistentapproachdalampenangananirregularmigrationditingkatnasionaldanregional.
118 Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014
9. DalamkerangkaUNConventionagainstTransnationalOrganizedCrime(UNTOC),Pemerintah
IndonesiatelahsepakatuntukberpartisipasidalamVoluntaryPilotReviewofImplementation
Programme (PRIP) dari UNTOC. Hal ini berdasarkan hasil review terhadap UndangͲUndang
(UU) Nomor 5 tahun 2009 tentang Pengesahan UNTOC (Konvensi PBB Menentang Tindak
Pidana Transnasional yang Terorganisasi); UU Nomor 14 Tahun 2009 tentang Pengesahan
Protocol To Prevent, Surpress and Punish Trafficking in Persons, Especially Women and
Children, Supplementing UNTOC (Protokol untuk Mencegah, Menindak dan Menghukum
Perdagangan Orang, terutama Perempuan dan AnakͲAnak, melengkapi Konvensi PBB
MenentangTindakPidanaTransnasionalyangTerorganisasi);sertaUUNomor15tahun2009
tentang Pengesahan Protocol Against the Smuggling of the Migrants by Land, Sea and Air,
SupplementingUNTOC(ProtokolMenentangPenyelundupanMigranmelaluiDarat,Lautdan
Udara Melengkapi Konvensi PBB Menentang Tindak Pidana Transnasional yang
Terorganisasi).
10. PemerintahIndonesiaterusmendorongratifikasikonvensidanintrumeninternasionalterkait
penanggulangan terorisme. Sebagai implementasi Resolusi DK PBB Nomor 1373 dan 1267,
hingga saat ini Pemerintah Indonesia telah meratifikasi 7 dari 16 Konvensi dan Instrumen
Hukuminternasionalterkaitpenanggulanganterorisme.
11. Dalam rangka kerjasama dengan Terrorism Prevention Branch – United Nations Office of
DrugsandCrimes(TPBͲUNODC),PemerintahIndonesiamenerimatawaranTPBͲUNODCuntuk
kerjasamajangkapanjangdalamkurunwaktu2011Ͳ2013.
12. Sebagai kepatuhan terhadap implementasi Resolusi DK PBB Nomor 1267 tentang
ConsolidatedListPBB,hinggaJuni2010masihterdapat16namaWNIdan2entitasIndonesia
yang tercantum dalam Consolidated List PBB. Pemerintah Indonesia terus berupaya agar
Komite 1267 PBB meninjau kembali Consolidated List PBB tersebut. Atas upaya Pemerintah
Indonesiatersebut,hinggaakhirDesember2010Komite1267PBBtelahmenghapus3nama
WNIdaridaftarConsolidatedListPBB,sehinggatersisa13namaWNIdan2entitasIndonesia
yangmasihtercantum.
DalamupayameningkatkanpelayanantenagakerjaIndonesiadiluarnegeri,PemerintahIndonesia
padatahun2010telahmelakukanpenguatanbagi24citizenservice,yaitupadaKBRIAmman,KBRI
BandarSriBegawan,KBRIDamaskus,KBRIDoha,KBRISeoul,KBRISingapura,KBRIAbuDhabi,KBRI
Kuwait City, KBRI Kuala Lumpur, KBRI Riyadh, KJRI Jeddah, KJRI Dubai, KJRI Kota Kinabalu, KJRI
Johor Baru, KJRI Hong Kong, KJRI Penang, KJRI Kuching, KRI Darwin, KJRI Sydney, KJRI Perth, KBRI
Tokyo, KJRI Osaka, KJRI Los Angeles dan KJRI New York. Disamping itu, sebagai bentuk nyata
pelayanan terhadap TKI/WNI, Pemerintah telah memulangkan 6.287 repatrian dan 28.721
deportan WNI/TKI bermasalah dari negaraͲnegara tujuan penempatan TKI di Timur Tengah dan
AsiaTenggarasampaiakhirtahun2010.
Capaian lainnya adalah telah ditandatanganinya enam perjanjian yang menyangkut perlindungan
TKI di luar negeri dengan Republik Korea, Malaysia, Lebanon, Timor Leste dan Turki. Pemerintah
Indonesiajugatelahmenyelenggarakan65pertemuandalamrangkameningkatkanpelayanandan
perlindungan WNI/BHI, seperti pemantauan dan evaluasi pelayanan warga di 15 perwakilan,
pembahasan dan penyelesaian amandemen MoU tentang rekrutmen dan penempatan tenaga
kerja domestik, pembahasan employment permit system untuk memayungi pengiriman TKI ke
Korea Selatan, pembahasan MoU dengan Kuwait tentang Penempatan TKI di Sektor Formal dan
MoU tentang Penempatan TKI di Sektor Domestik (Pekerja Rumah Tangga) serta pertemuan
penandatanganan MoU Ketenagakerjaan antara Pemerintah Indonesia masingͲmasing dengan
PemerintahPersatuanEmiratArab(PEA),YordaniadanAustralia.
Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014 119
UntukmeningkatkankesadaranpublikmengenaiperlindunganWNIdiluarnegeri,khususnyasejak
proses pra hingga pasca penempatan secara menyeluruh dan terpadu, pada tahun 2010 telah
diselenggarakan 6 kali sosialisasi dan diseminasi informasi melalui media elektronik (radio) di 15
kota yang merupakan kantongͲkantong sumber TKI atau merupakan daerah di mana arus
pergerakan WNI ke luar negeri sangat tinggi, diantaranya Ciamis, Lampung, Banjarmasin,
Ponorogo, Purwokerto, Medan, Dumai, Madura, Singkawang, Mataram, Sukabumi, Bali, Bitung,
Tegal,AcehdanMamuju.
Pencapaian pembangunan di Bidang Hukum dan HAM, rataͲrata pencapaian target pelaksanaan
kegiatan di bidang hukum di tahun 2010 mencapai target yang ditentukan. Untuk penanganan
penyidikan tipikor telah diselesaikan 148 perkara dari target 145 perkara. Namun untuk
penuntutan perkara dari 145 perkara yang ditargetkan di tahun 2010, hanya dapat diselesaikan
sebanyak48perkara.Sedangkanpenangananperkaratipikordantindakpidanakhususlainnyadi
Kejati, Kejari dan Cabjari mencapai 2.315 penyidikan perkara dan 1.715 perkara yang telah
dilakukanpenuntutan.
Dalam rangka pengembalian aset hasil tindak pidana korupsi, telah dilaksanakan pendidikan dan
pelatihan teknis bagi hakim dan sertifikasi hakim tipikor. Selain itu juga telah dilaksanakan
kerjasamahukumdalamrangkaprosespenelusurandanpengembalianasetnegarahasiltipikordi
beberapanegarasepertiSingapura,BelandadanRumania.
Upaya percepatan penanganan perkara sebagai bentuk pelayanan hukum, telah dilaksanakan
denganpenyelesaianperkaraͲperkarayangmasihtertunggak.Ditahun2010,penyelesaianperkara
yang dicapai adalah sebanyak 13.891 perkara melebihi dari target sebanyak 10.000 perkara.
DemikianpuladenganrataͲratapenyelesaianperkaradiperadilantingkatpertamasampaidengan
banding baik dilingkungan peradilan umum, peradilan agama dan peradilan militer dan TUN
mendekati80persendaritargetyangditetapkanuntuktahun2010.
Di bidang penguatan perlindungan HAM, melalui lembaga peradilan telah dilaksanakan
penyelenggaraan bantuan hukum baik di lingkungan peradilan umum, peradilan agama dan
peradilan militer dan TUN. Pelaksanaankegiatan ini semakin diperkuat dengan adanya SEMA No.
10 Tahun 2010 mengenai Pelaksanaan Bantuan Hukum di Pengadilan yang mengatur
penyelenggaraan bantuan hukum di dalam tiga bentuk pelayanan seperti penyelenggaraan
prodeo, pelayanan Pos Bantuan Hukum dan operasionalisasi sidang keliling atau pelaksanaan
zittingplaatz.
Dalam bidang Keamanan, upaya pemerintah menangani tindakan terorisme menunjukkan hasil
yang semakin membaik. Pada awal Maret 2010, Polri berhasil menewaskan tokoh penting
terorisme internasional. Hasil ini memberikan harapan semakin kondusifnya keamanan dalam
negeridariancamanterorisme.Hasillainadalah:penangkapan kelompokjaringanterorisdiAceh
yang pemimpinnya diperkirakan berasal dari luar Aceh; penangkapan 12 orang diduga teroris di
Pejaten, Menteng dan Bekasi yang diperkirakan terkait dengan kelompok teroris di Aceh; dan
penangkapan tokoh teroris di Klaten, Jawa Tengah yang diduga sebagai pemasok dana bagi
kelompokͲkelompok teror di Indonesia. Untuk melembagakan penanganan penanggulangan
terorisme telah dibentuk Badan Nasional Penanggulangan Terorisme melalui Peraturan Presiden
Nomor46Tahun2010.
Darisisipertahanan,dalamrangkamembentukposturminimumessentialforcesertaterwujudnya
kemandirian pertahanan, peningkatan peran industri pertahanan nasional sangat dibutuhkan,
terutama untuk produkͲproduk militer yang secara teknis mampu diproduksi di dalam negeri.
Guna mewujudkan hal tersebut, melalui Perpres Nomor 42 Tahun 2010, pemerintah membentuk
Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) sebagai institusi yang merumuskan kebijakan
pembelianAlutsistaTNIdanAlutPolri,diselesaikannyaMasterPlanIndustriPertahanandanRoad
120 Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014
Map menuju revitalisasi industri pertahanan dalam negeri. Upaya tersebut, didukung dengan
mengopƟmalkan hasil peneliƟan dan pengembangan alutsista TNI yang dapat dimanfaatkan untuk
kepenƟngan pertahanan.

2.12.3. Permasalahan Pencapaian
Permasalahan dalam melaksanakan peran Indonesia dalam reformasi PBB dan DK PBB adalah
adanya perbedaan mendasar di antara negara anggota DK PBB dimana beberapa anggota DK PBB
masih mempertahankan posisi tradisionalnya terhadap pencalonan beberapa Anggota Tetap DK
PBB. Negara anggota PBB telah berulangkali menyampaikan posisi mereka, namun sampai saat ini
belum terdapat kesepakatan mengenai proses reformasi tersebut. Pemerintah Indonesia ƟĚĂŬ bisa
memaksakan prakarsa untuk mereformasi DK PBB kepada seluruh negara anggota PBB, sehingga
dari target 4 kali prakarsa hanya dapat dilaksanakan 3 kali prakarsa.
Terkait pengiriman pasukan penjaga perdamaian, meningkatnya ketegangan di berbagai wilayah
akan menuntut peran PBB untuk mencegah kŽŶŇŝk terbuka diantaranya melalui penggelaran UN
PKOs. Dalam kaitan ini, PBB mengharapkan agar Indonesia dapat menambah jumlah personil
dalam pasukan penjaga perdamaian. Indonesia akan terus mendorong ĞĨĞŬƟĮƚĂƐ penggelaran
personil Indonesia antara lain melalui pembentukan Tim Koordinasi Misi Pemeliharaan
Perdamaian. Selain itu diperlukan juga analisis yang mendalam serta komprehensif dengan instansi
terkait untuk memutuskan ĞĨĞŬƟĮƚĂƐ penggelaran personil Indonesia dalam pasukan penjaga
perdamaian, ƉĞƌƟŵďĂngan keselamatan dan aspek poliƟs yang diƟmbulkan dari penggelaran
tersebut.
Permasalahan yang dihadapi Indonesia dalam kerjasama mulƟlateral khususnya yang terkait
dengan kejahatan lintas negara adalah Indonesia menjadi negara transit sebelum meneruskan
perjalanan ke negara tujuan, ƐĞƉĞƌƟ Australia, Selandia Baru dan negara-negara maju lainnya.
Keberadaan imigran gelap tersebut berpotensi menimbulkan kerawanan baik di bidang keamanan,
sosial dan ekonomi sehingga Indonesia perlu meningkatkan peran aŬƟfnya dalam kerja sama
regional dan mulƟlateral termasuk kerja sama melalui Bali Process, UNHCR dan IOM. Perlu
ĚŝƉĞƌŚĂƟkan juga mengenai aspek prioritas dalam kerangka kerjasama dengan kedua organisasi
tersebut, yaitu repatriasi imigran yang Ɵdak memenuhi syarat sebagai pengungsi (non-refugee)
dan reseƩlement bagi imigran yang ditetapkan sebagai pengungsi (refugee).
Selain itu, Indonesia juga masih menghadapi ancaman terorisme dan munculnya beragam bentuk
dan semakin luasnya jaringan kejahatan lintas negara. Indonesia akan terus berperan ĂŬƟĨ dalam
berbagai upaya bilateral, regional dan ŵƵůƟůĂƚeral untuk mengatasi ancaman terorisme. Kebijakan
luar negeri difokuskan untuk melakukan pembangunan kapasitas kelembagaan, pertukaran
informasi dan intelijen, serta kerjasama teknis. Dalam konteks mulƟlateral khususnya, Indonesia
akan terus mendorong terbentuknya Comprehensive ConveŶƟŽŶ on InteƌŶĂƟŽnal Terrorism (CCIT).
Penanggulangan terorisme dengan mengedepankan strategi ‘ƐŽŌ power’ serta perlindungan
terhadap HAM akan tetap menjadi ƉĞƌŚĂƟan utama kebijakan Pemerintah Indonesia.
Permasalahan yang dihadapi Indonesia dalam pelayanan dan perlindungan WNI di luar negeri
bersumber dari Ɵga faktor, yaitu faktor individu, faktor Pemerintah Indonesia maupun faktor
negara penempatan. Permasalahan yang muncul dari faktor individu adalah kepenƟngan
keuntungan ekonomi, kemiskinan dan pengangguran, proses rekrutmen dan pelĂƟŚĂŶ serta
penempatan TKI di luar negeri yang ƟĚĂk sesuai dengan regulasi, rendahnya kemampuan adaptasi
TKI, rendahnya ƟŶŐŬĂƚ pendidikan dan keterampilan dan rendahnya kesadaran TKI, sehingga
mudah dieksploitasi.
Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014 121
Akar permasalahan TKI di luar negeri didominasi permasalahan di sisi hulu daripada hilir. Masih
terdapat banyak kekurangan dalam tahap praͲpenempatan, penempatan dan purnaͲpenempatan
TKI,yaitusebagaiberikut:
a. Dalam tahap praͲpenempatan, proses perekrutan tidak menetapkan standar pendidikan
minimum bagi TKI yang akan ditempatkan, sehingga banyak TKI yang tidak memiliki latar
belakang pendidikan dan kompetensi yang memadai dapat berangkat ke luar negeri.
Minimnya pendidikan dasar yang dimiliki TKI juga berpengaruh terhadap sulitnya TKI untuk
menyerap materi pelatihan yang dilakukan dalam waktu singkat. Selain itu, minimnya
pendidikan membuat sebagian besar TKI tidak dapat melakukan pekerjaan sesuai harapan
majikannya.
b. Untuk memenuhi pangsa pasar sektor informal di luar negeri yang terbuka lebar (business
oriented), penekanan aspek kuantitas TKI yang dikirim juga memicu terjadinya penempatan
TKI di bawah umur. Upaya pemenuhan kuota dan mencari keuntungan membuka peluang
lebar bagi praktekͲpraktek penempatan non prosedural, tindak pidana pemalsuan dokumen
danperdaganganorang.
c. Minimnya pendidikan TKI ditambah dengan rendahnya pemahaman terhadap kultur negara
tujuan penempatan memicu culture shock yang dihadapi para TKI di negara penempatan.
Meskikurikulumdanalokasiwaktuuntukpelatihan(200jam)telahdiaturmelaluiPeraturan
Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Permenakertrans) Nomor 23/MEN/IX/2009 tentang
Pendidikan dan Pelatihan Kerja Bagi Calon Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri, dalam
prakteknya pelaksanaan pelatihan tersebut dinilai tidak optimal. Hal ini disebabkan
penghematan biaya untuk memperbesar marjin dan keuntungan PPTKIS melalui
mempersingkat waktu dan tidak melaksanakan pelatihan sama sekali bagi TKI yang akan
ditempatkan.
ProsespemulanganTKIbermasalahyangberadadipenampunganPerwakilanRItidaksecaraserta
merta dapat langsung dilakukan. Kendala pertama adalah pengurusan exit permit bagi para TKI
bermasalah untuk dapat meninggalkan negara penempatan dan kembali ke Indonesia.
Pengeluaran exitͲpermit tersebut merupakan syarat utama bagi TKI untuk meninggalkan negara
tujuan penempatan yang pemberiannya merupakan kewenangan mutlak otoritas imigrasi dan
instansi terkait lainnya di negara tersebut. Pemerintah setempat biasanya tidak akan
mengeluarkanexitpermitbagiTKIyangmasihmemilikimasalah,baikyangsifatnyahukum(pidana
atauperdata)maupunketenagakerjaan.
Dalam praktek pada beberapa negara di Timur Tengah, exit permit yang telah diberikan dapat
dibatalkan seketika dengan adanya laporan majikan kepada pihak kepolisian terhadap perbuatan
pidanayangdisangkakankepadaTKI.Disampingitu,beberapanegaramembebankanbiayauntuk
pengurusanexitͲpermitdenganjangkawaktuberlakuyangsingkat.Apabilajangkawaktutersebut
terlampaui dan TKI belum meninggalkan negara tersebut, maka yang bersangkutan diharuskan
untuk membayar denda. Selain masalah birokrasi, pemulangan TKI juga dipengaruhi dengan
masalahteknissepertiketersediaandanapemulangandanpenerbangan.
PermasalahanjugamunculdarifaktorpemerintahIndonesia,antaralainmasihtumpangtindihnya
regulasi, belum optimalnya koordinasi antarinstansi terkait, tidak optimalnya penegakan hukum
danperbedaanpendekatandalampelaksanaanperaturan.Semuahaliniturutmelemahkanposisi
tawarIndonesiadengannegarapenempatan.
Di lain pihak, faktor negara penempatan juga dapat menjadi sumber permasalahan. Beberapa
negara penempatan belum mempunyai peraturan perundangan tentang ketenagakerjaan yang
memadai serta beberapa negara lainnya beranggapan bahwa pekerja rumah tangga merupakan
122 Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014
bagian dari keluarga atau merupakan masalah perseorangan, bukan masalah pemerintah atau
negara.
Sebagai contoh adalah permasalahan mendasar yang kerap terjadi pada masa penempatan TKI di
luar negeri adalah ƟĚĂŬ diaturnya masalah pekerja migran, khususnya yang bekerja pada sektor
informal dalam peraturan perburuhan nasional di negara-negara tujuan penempatan. Kekosongan
hukum tersebut menyulitkan perlindungan TKI yang bekerja sebagai Penata Laksana Rumah
Tangga (PLRT), sehingga TKI hanya dapat mengandalkan klausul yang ada pada Perjanjian Kerja
yang ditandatangani TKI dan majikannya. Untuk mengatasi masalah tersebut, Pemerintah
Indonesia mendorong dibentuknya Memorandum of Understanding (MoU) serta perjanjian
mengenai Mandatory Consular EŽƟĮĐĂƟon (MCN) antara Pemerintah RI dengan Pemerintah
negara tujuan penempatan.
Namun demikian perlu ĚŝƉĞƌŚĂƟŬan bahwa pada umumnya MoU bilateral ƟĚĂŬ dapat
menggĂŶƟŬan kedudukan hukum perburuhan nasional negara setempat. Misalkan sekalipun MoU
mengatur upah minimum, namun jika hukum perburuhan negara setempat ƟĚĂŬ mengatur hal
tersebut, maka yang dipakai adalah hukum perburuhan negara setempat. MoU lebih bersifat
membuka dan memperkuat koordinasi antara negara untuk memaksimalkan perlindungan. Kondisi
demikian membuat perlindungan TKI, khususnya di daerah Timur Tengah dan Malaysia, menjadi
dilemĂƟƐ.
Selain permasalahan yang berasal dari faktor individu, Pemerintah Indonesia, maupun negara
penempatan, terdapat pula permasalahan lain dalam pelayanan dan perlindungan WNI/BHI antara
lain belum adanya Mandatory Consular EŽƟĮĐĂƟŽŶƐ (MCN) antara Indonesia dengan negara-
negara yang memiliki konsentrasi WNI/TKI ƟŶŐŐŝ͕ misalnya dengan Malaysia dan Arab Saudi.
Indonesia baru memiliki MCN dengan Australia. Di samping itu, Pemerintah Indonesia menghadapi
keterbatasan penampungan, ƟĚĂŬ memadainya bantuan dan advokasi hukum serta keterbatasan
fasilitasi pemulangan. Khusus diseminasi informasi melalui iklan, sampai akhir tahun 2010, belum
dapat dilaksanakan, karena anggaran yang disediakan ƟĚĂk mencukupi untuk biaya pemasangan
iklan yang ideal.
Permasalahan pencapaian yang ƟĚak memenuhi target untuk ƟŶŐŬat penuntutan perkara Tipikor
antara lain disebabkan karena ƟĚĂk semua perkara dari hasil penyidikan Tipikor diteruskan ke
bidang penuntutan dengan alasan:
1. Tidak cukup buŬƟ dari berkas awal yang ada yang dapat memenuhi unsur Ɵndak pidana
sehingga perkara dihenƟŬĂn, namun apabila terdapat buŬƟ baru perkara tersebut dapat
dibuka kembali.
2. Proses penyidikan ĚŝŚĞŶƟkan karena setelah diproses bukan merupakan ƟŶĚĂŬ pidana.
3. Penanganan penyidikan ƟŶĚĂk pidana korupsi (Tipikor) untuk diproses dalam penuntutan di
tahun 2010, masuk pada tahun 2011 sehingga sudah lewat dari proses laporan di tahun 2010.
Proses beracara penanganan pelanggaran HAM Berat yang dilakukan ƟĚĂŬ sepenuhnya dapat
dijalankan dan diterima oleh masing-masing instansi yang menangani proses pemeriksaan dalam
rangka penegakan HAM untuk menangani perkara HAM Berat sepĞƌƟ contohnya: (i) Kasus
Semanggi 1 dan Semanggi 2; (ii) Kasus Wasior; (iii) Kasus penghilangan orang secara paksa; (iv)
Kasus G-30S PKI dan (v) Kasus Talangsari, sehingga memperlambat upaya penyelesaian perkara
menjadi berlarut-larut.
Jumlah pencapaian dalam bidang penanganan perkara pelanggaran HAM Berat yang diselesaikan
dalam tahap penuntutan oleh Kejaksaan belum dapat mencapai target yang ditetapkan. Upaya
yang telah dilaksanakan adalah pada tahapan pemeriksaan tahap awal kasus yang diterima dari
Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014 123
Komnas HAM dan telah dikembalikan disertai petunjuk dari Jaksa Ahli Peneliti ke Komnas HAM
untukdiperbaikiberdasarkanprosedurpemeriksaanyangberlakudiKejaksaan.
Penyelenggaraan bantuan hukum di lingkungan peradilan belum dapat menunjukkan hasil yang
optimal. Kendala utama adalah belum adanya petunjuk teknis dari SEMA No. 10/2010 yang
menyebabkan adanya keengganan pengadilan untuk menyalurkan alokasi anggaran BH tersebut
kepadamasyarakatyangmenjaditargetutama.
Akar masalah yang ditengarai menjadi media tumbuh suburnya jaringan terorisme di Indonesia
diantaranya adalah kondisi sosial dan ekonomi masyarakat yang lemah, sehingga sangat mudah
diarahkan dan direkrut menjadi anggota jaringan. Salah satu tantangan utama yang dihadapi
dalampenuntasanmasalahterorismeadalahbagaimanamembangunkesadaranmasyarakatagar
memahamibahwaterorismeadalahmusuhbersamadandalammengatasinyasangatdibutuhkan
peranaktifmasyarakat.Tantanganlainnyaadalahmeyakinkandanmengoptimalkanperanseluruh
komponenmasyarakatdannegarabahwaterorismeadalahmusuhyangharusdihadapibersamaͲ
sama, serta perlu ditangani secara terkoordinasi, terintegrasi dan komprehensif. Tantangan lain
adalah mewaspadai ancaman nyata dari persoalan imigran gelap, penyelundupan manusia,
kejahatanlintasnegaradanterorisme.
Dari sisi industri pertahanan, secara umum peran industri pertahanan nasional dalam upaya
menciptakan keamanan nasional relatif belum maksimal. Potensi industri pertahanan belum
sepenuhnyadapatdirealisasikandantermanfaatkandalamsistemkeamanannasional.Disisilain,
industripertahanannasionalsaatinimasihkurangefisien,kurangkompetitif,dankurangmemiliki
keunggulan komparatif, sehingga tidak mampu memenuhi spesifikasi teknis yang diperlukan oleh
pengguna. Di samping itu, industri pertahanan nasional perlu mentransformasi perilaku bisnisnya
agar mampu mengemban kepercayaan yang telah diberikan, untuk memenuhi kesesuaian harga
dan kualitas produk serta ketepatan waktu penyerahan. Berbagai permasalahan dalam
pengembangan industri pertahanan ini sangat terkait dengan ketersediaan dan belum kuatnya
payunghukum,kelembagaan,dukunganpenelitiandanpengembangan,sertadukunganfinansial.
Untuk itu penuntasan berbagai permasalahan dalam lima tahun mendatang agar peran industri
pertahanannasionalsemakinsignifikandalammewujudkankeamanannasional.

2.12.4. RencanaTindakLanjut
Terkait dengan reformasi Dewan Keamanan PBB (DKͲPBB), Indonesia akan melanjutkan perannya
untuk menjembatani perbedaan tersebut antara lain dengan mengedepankan intermediate
approach yang saat ini semakin mendapat dukungan luas dari negaraͲnegara anggota PBB.
IndonesiajugaterusmenyerukanagarnegaraͲnegaraanggotaPBBdapatmenunjukkanfleksibilitas
agarprosesreformasitersebutdapatdilanjutkan.
Terkait pengiriman pasukan penjaga perdamaian, Indonesia akan terus mendorong efektifitas
penggelaran personil Indonesia. Terkait dengan kejahatan lintas negara terorganisir, Pemerintah
Indonesia akan terus berperan aktif dalam kerja sama regional dan multilateral termasuk kerja
sama melalui Bali Process, UNHCR dan IOM. Selain itu, Pemerintah Indonesia akan terus
mendorong terbentuknya Comprehensive Convention on International Terrorism (CCIT). Kebijakan
LuarNegeriIndonesiaterkaitpenanggulanganterorismeterusmengedepankanstrategisoftpower
danperlindunganterhadapHAM.
DalamhalperlindunganbagiTKI,Indonesiasebagainegaraasaltenagakerja,terusberperanaktif
dalamupayaperlindunganTKIdiluarnegeri.TindaklanjutyangdiperlukandalamperlindunganTKI
adalah meningkatkan pelaksanaan sosialisasi di daerah asal TKI, meningkatkan diplomasi terkait
124 Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014
perjanjianketenagakerjaan,pemberianfasilitasipenampungan,pemulangan,bantuanhukumbagi
WNI/BHIdiluarnegerisertapenguatancitizenservice.
DalamkonteksASEAN,Indonesiasenantiasamendorongterwujudnyainstrumenperlindungandan
pemajuanhakͲhaktenagakerjamigrandiASEAN(InstrumentontheProtectionandPromotionon
theRightsofMigrantWorkers)sesuaidenganstandarinternasional.
Dalam mendukung perlindungan hak para pekerja migran di kawasan, sebagaimana yang
diamanatkan para pemimpin ASEAN dalam Declaration on the Protection and Promotion of the
Rights of Migrant Workers yang disahkan pada KTT ASEAN keͲ12 di Cebu, Filipina tahun 2007,
ASEAN saat ini masih menyusun pembentukan Instrumen ASEAN tentang Perlindungan dan
PromosiHakͲhakPekerjaMigran.
DalamupayamemberikanperlindunganyanglebihbaikbagitenagakerjaIndonesiadiluarnegeri,
pembuatan perjanjian bilateral di bidang ketenagakerjaan merupakan salah satu cara yang dapat
diambil Pemerintah Indonesia. Kerjasama bilateral di bidang ketenagakerjaan yang dilakukan
Pemerintah RI memiliki karakter yang sangat spesifik, yaitu mengedepankan semangat
perlindungandanpromositenagakerjaIndonesia(TKI)dinegaratujuanpenempatan.
Sampai saat ini mayoritas pengiriman TKI masih didominasi profesi PLRT, pekerja sektor
perkebunan dan konstruksi, khususnya ke negaraͲnegara Timur Tengah, Malaysia, Brunei dan
Singapura.NamundemikianpengirimanTKIyangterlatih/memilikikeahliankhususjugameningkat
secara signifikan, dengan tujuan Timur Tengah (sektor pertambangan/minyak), Republik Korea
(manufacture) serta Jepang, Amerika Serikat dan Belanda (tenaga medis/perawat dan pengasuh
orangjompo).Disampingitusektorperhubunganlautdanpariwisata(kapalpesiar)diluarnegeri
jugabanyakmemanfaatkankeahliantenagakerjaasalIndonesia.
Denganlatarbelakangtersebut,dalammelakukanperundinganperjanjianbilateraldengannegara
penempatanTKI,PemerintahRImengambilduamacampendekatan,yaitu:
a. Dengan negaraͲnegara yang belum memiliki peraturan nasional mengenai ketenagakerjaan
atau masih lemah perlindungan terhadap tenaga kerja asing, substansi perjanjian bilateral
akan menonjolkan aspek perlindungan TKI. Dengan negara yang memiliki karakteristik
demikian, Indonesia telah berhasil membuat perjanjian dengan Malaysia, Yordania dan
Lebanon.
b. DengannegaraͲnegarayangtelahmemilikimekanismeperlindungantenagakerjaasingyang
memadai, perjanjian bilateral akan lebih memfokuskan pada prosedur administratif
penempatan TKI. Dengan negara yang memiliki karakteristik demikian, Indonesia telah
berhasilmembuatperjanjiandenganJepang.
Untuk meningkatkan penguatan dan pemantapan hubungan kelembagaan pencegahan dan
pemberantasan korupsi, tindak lanjut yang akan dilakukan adalah melaksanakan kegiatan yang
lebih efektif dan efisien antar Kementerian/Lembaga terkait sesuai dengan kebutuhan dan
berupayamencapaitargetyangtelahditetapkan.
Untuk meningkatkan pengembalian aset hasil tindak pidana korupsi, akan ditindaklanjuti melalui
upaya peningkatan koordinasi dan kerjasama antara lembaga penegak hukum dan lembaga
lainnyayangterkaitdalamrangkapengembalianasethasiltindakpidanakorupsi.
Untuk meningkatkan kepastian hukum, sebagaimana rencana pembaruan MAͲRI, di masa yang
akandatangakandibuatsistempembatasanperkarayangmenyeleksiperkaraͲperkarayanglayak
untuk ditangani sampai dengan tingkat Mahkamah Agung (PK) dan pemanfaatan teknologi
informasi untuk memantau alur penanganan perkara. Dari 1.143 perkara tunggakan diselesaikan
801 perkara oleh tim Kikis dan telah dibuat template putusan berbasis database (percepatan
Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014 125
minutasi perkara) serta pengembangan sistem database utk mengontrol perkara yg berusia 1
tahun atau kurang dari 1 tahun dan lokasi perkara.
Sedangkan dalam rangka penguatan dan perlindungan HAM, ndak lanjut yang diperlukan
pembahasan dan pertemuan antara pimpinan kedua lembaga terkait tentang teknis penanganan
pelanggaran HAM Berat sesuai dengan UU No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM. Dalam
rangka meningkatkan penyelenggaraan bantuan hukum melalui peradilan, akan disusun Juknis
pelaksanaan SEMA 10/2010 dan akan diujicobakan di beberapa pengadilan percontohan baik di
lingkungan peradilan umum, peradilan agama dan peradilan militer dan TUN.
Dalam upaya meningkatkan kemampuan deteksi dini terhadap ancaman ak kejahatan
terorisme dan meningkatkan efek vitas proses deradikalisasi, maka perlu dilakukan
penyempurnaan tata kelola koordinasi pencegahan dan penanggulangan ak kejahatan
terorisme, serta pemberdayaan masyarakat dalam pencegahan ndak terorisme.
Pemberdayaan industri pertahanan nasional bagi kemandirian pertahanan secara op mal dipacu
dengan meningkatkan kemandirian alutsista TNI dan alat utama Polri baik dari sisi tas,
kualitas, maupun variasinya, serta menyusun cetak biru beserta penguatan road map revitalisasi
industry pertahanan nasional, meningkatkan peneli an dan pengembangan, dan mendukung
pendanaannya.

Tabel 2.12.1. Pencapaian Pembangunan Prioritas Lainnya
Bidang Po Hukum, dan Keamanan, Tahun 2010

No.
RPJMN 2010ʹ2014
CAPAIAN
2009
CAPAIAN
2010 SUBSTANSI INTI SASARAN INDIKATOR
TARGET
2010
1. Pelaksanaan
koordinasi
terhadap
mekanisme
prosedur
penanganan
terorisme
Terlaksananya
penanganan
perkara
terorisme yang
didukung oleh

operasi militer
selain perang,
operasi intelijen,
forum kemitraan
polisi dan
masyarakat
Penyelesaian
kasus ndak
pidana terorisme
100% Terduga teroris
sebanyak 465
orang telah
ditangkap oleh
aparat kepolisian,
sekitar 334 orang
sudah diadili dan
dihukum dan 24
orang dipulangkan
Terduga teroris
sebanyak 583 orang
telah ditangkap oleh
aparat kepolisian,
sekitar 388 orang
sudah diadili dan
dihukum dan 37 orang
dipulangkan
Jumlah dan
cakupan wilayah
OMSP
30 % Jumlah
dan cakupan
Terlaksananya
OMSP di wilayah
perbatasan dan
rawan ŬŽŶŇik
Terlaksananya OMSP di
wilayah perbatasan
dan rawan konŇik
Jumlah forum
kemitraan
Terbentuk
forum
kemitraan
yang
melibatkan
sebanyak
41.000 orang
Terselenggaranya
forum kemitraan di
gkat desa dan
kecamatan
Jumlah petugas Polmas
yang berperan dalam
pemeliharaan
Ka bnas sebanyak
32.611 orang
2. Pelaksaan
program
deradikalisasi
untuk menangkal
terorisme
Terciptanya rasa
aman bagi
masyarakat
Pelaksanaan
pembinaan
masyarakat
dalam
menangkal ATHG
45% dari
kualitas dan
s
ideal
Terlaksananya
pembinaan
masyarakat oleh
babinsa
Terlaksananya
pembinaan masyarakat
oleh babinsa
Terlaksananya
dukungan
operasi
penegakan
intelijen
30% dari
rasio ideal
Tercukupinya
sarana dan
prasarana
kebutuhan
operasi
penegakan
ban
Terungkapnya
Terbentuknya Badan
Nasional
Penanggulangan
Terorisme
Pengungkapan jaringan
pela han kelompok
teroris di NAD
126 Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014
No.
RPJMN 2010–2014
CAPAIAN
2009
CAPAIAN
2010 SUBSTANSI INTI SASARAN INDIKATOR
TARGET
2010
jaringan terorisme
M. Jibril
3. Peningkatan
peran Republik
Indonesia dalam
mewujudkan
perdamaian dunia
Meningkatnya
pa sipasi
Indonesia dalam
forum
PBB dan DK PBB
Jumlah prakarsa
Indonesia untuk
mendorong
reformasi Dewan
Keamanan PBB
4 kali
prakarsa

N/A

3 kali prakarsa
a)


Meningkatnya
kerjasama
mul lateral
untuk menjaga
perdamaian
dunia dalam isu
keamanan
internasional,
senjata
pemusnah
massal dan
senjata
konvesional,
kejahatan lintas
negara dan
terorisme
Jumlah
koordinasi teknis

19 kali 3 kali
b)
8 kali
c)

Jumlah posisi
pemri yang
disampaikan
dalam sidang
internasional
10 Posisi 14
b)


12
c)

Jumlah
pa sipasi
Indonesia pada
sidang
internasional
yang dihadiri
7 kali 51sidang
b)
8 kali
c)


Jumlah
penyelenggaraan
pertemuan/kerja
sama
0

19

kali
b)

8

kali

c)

4.



Peningkatan
pelayanan dan
perlindungan
Tenaga Kerja
Indonesia (TKI)
di lur negeri


Terlaksananya
penguatan
sistem
pelayanan warga
( service)
Jumlah

service yang
diperkuat
24 18 (9 telah ada, 9
penambahan
baru)
d)

24
e)


Terlaksananya
pertemuan dan
perundingan
dengan negara
sahabat terkait
dengan
perlindungan
WNI/BHI
Jumlah
pertemuan
dengan negara
sahabat terkait
perlindungan
WNI/BHI dengan
negara lain
d)

5 Kali 4 Kali 4 Kali
e)


Tertanganinya
kasus TKI di luar
negeri
Tersedianya
database
mengenai
penyebaran WNI
terd di
seluruh
perwakilan di
luar negeri
Database
WNI/BHI di
seluruh
perwakilan
Terselesaikannya
Sistem Informasi
TKI
d)

75%
a)


Jumlah WNI/TKI
yang
memperoleh
fasilitas di
penampungan
- N/A 15.766 orang
e)

Jumlah WNI/TKI
yang direpatriasi
- Repatriasi 320 WNI
asal Papua dan
Papua Barat dari
PNG
d)

6.287 orang
e)

Jumlah WNI/TKI
yang dideportasi
- 764 orang dari
Kuwait dan Arab
Saudi 427 orang
dari Yordania dan
304 dari Malaysia
d)

28.721 orang
e)

Prosentase
pemberian
bantuan hukum
- N/A 90,92% dari 16.064
kasus
e)

Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014 127
No.
RPJMN 2010–2014
CAPAIAN
2009
CAPAIAN
2010 SUBSTANSI INTI SASARAN INDIKATOR
TARGET
2010
(advokasi dan
lawyer) bagi WNI
terutama tenaga
kerja wanita
Sosialisasi dan
Koordinasi Teknis


Terlaksananya
sosialisasi dan
koordinasi teknis
pelayanan dan
perlindungan
WNI di luar
negeri
Jumlah laporan
monitoring dan
evaluasi
pelayanan dan
perlindungan
WNI/TKI
- 9
d)
15
e)

Jumlah sosialisasi
untuk PJTKI
tentang
pelayanan dan
perlindungan
WNI di luar
negeri

3
N/A 3
e)

Jumlah
koordinasi
dengan instansi
terkait baik di
dalam maupun di
luar negeri

65
N/A 65
e)

Jumlah kota
yang menjadi
program
diseminasi
perlindungan
WNI melalui
media elektronik
15 19
f)
15
a)

Jumlah tayangan
iklan tentang
pelayanan dan
perlindungan
WNI/BHI di luar
negeri
6 N/A N/A
5.
6.
Penguatan dan
pemantapan
hubungan
kelembagaan
pencegahan dan
pemberantasan
korupsi
Penanganan
penyidikan dan
penuntutan
perkara ndak
pidana korupsi
dan ndak
pidana khusus
lainnya
Jumlah
penyidikan
perkara ndak
pidana korupsi
yang diselesaikan
di Kejagung

145 perkara N/A 148 perkara
Jumlah perkara
ndak pidana
korupsi yang
diselesaikan
dalam tahap
penuntutan di
Kejagung
145 perkara N/A 48 perkara
Meningkatnya
penyelesaian
perkara Tipikor
yang cepat, tepat
dan akuntabel
yang
dilaksanakan di
seluruh daerah
jajaran Kejaksaan
di daerah
1.700
perkara
1.528 penyidikan
penanganan
perkara Tindak
Pidana Khusus
termasuk perkara
Korupsi di
Kejagung,
Kejari dan Cabjari

1.369 penanganan
penuntutan
perkara korupsi di
Kejagung,
Kejari dan Cabjari
Penyidikan : 2.315
perkara









Penuntutan : 1.706
perkara
Pelaksanaan
perlindungan
saksi dan pelapor
Peningkatan
kualitas RUU dan
peraturan
perundang-
Peraturan
Perundang-
undangan di
bidang
1 RUU N/A UU No. 13 Tahun 2006
tentang Perlindungan
Saksi dan Korban
dianggap belum bisa
128 Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014
No.
RPJMN 2010–2014
CAPAIAN
2009
CAPAIAN
2010 SUBSTANSI INTI SASARAN INDIKATOR
TARGET
2010
undangan di
bawah UU di
DPR serta tenaga
fungsional
perancang
peraturan
perundang-
undangan
mekanisme
perlindungan
saksi dan
pelapor

memberikan
perlindungan yang
op mal terhadap
pelapor utama
menyangkut kejahatan
yang terorganisir,
sehingga baru pada
tahun 2011 akan
dilakukan harmonisasi
dan diharapkan dapat
prioritas dalam
Prolegnas 2012



































Pengembalian
asset (asset
recovery)
Peningkatan
pengembalian
aset hasil
Meningkatnya
kegiatan
kerjasama
hukum dalam
kesepakatan
MLA dalam
rangka
penelusuran dan
pengembalian
aset negara hasi
ndak pidana
korupsi yang
disembunyikan
di luar negeri.

7 kegiatan N/A Kejaksaan telah
melaksanakan
kerjasama hukum
dalam rangka proses
penelusuran dan
pengembalian asset
negara hasil ndak
pidana korupsi di
beberapa negara yaitu
di Singapura, Belanda ,
Swiss, Inggris,
Hongkong, Cina,
Amerika Serikat,
Australia dan Kanada
Jmlh pela han
bagi
Hakim/Hakim
Adhoc dan
tenaga teknis
lainnya
mengenai
Tipikor, asset
recovery dll
N/A Pela han
ser kasi Hakim
Tipikor 290 org
dan 1.599 org
untuk diklat teknis
hukum dan
peradilan.
238 orang untuk hakim
di gkat kasasi,
gkat banding dan
gkat pertama.
Peraturan
Perundang-
undangan di
bidang yg
mendorong
pemberantasan
korupsi
1 RUU - Telah dilakukan
sosialisasi RUU tentang
Perampasan Asset
Tindak Pidana. Pada
Tahun 2011 RUU
Perampasan Asset
menjadi prioritas yang
akan dibahas di DPR
bersama dengan RUU
KUHAP, KUHP dan RUU
Pemberantasan
Tipikor.
Peningkatan
kep an hukum
Peningkatan
pelayanan
hukum yang
sederhana,
cepat, dan
murah bagi
pencari keadilan
Jumlah
percepatan
penyelesaian
perkara di
gkat MA

10.000
perkara
Penanganan
Perkara 20.820
pkr dan putus
11.985 perkara
(jumlah Hakim
Agung berkurang
karena masa
purna bak .
13.891 perkara

Jumlah
penyelesaian
administrasi
perkara (yg
sederhana, dan
tepat waktu) di
gkat Pertama
dan Banding di
lingkungan
Peradilan
Peradilan
Umum =
145.000
perkara

Penyelesaian
Perkara di
Lingkungan
Peradilan Umum:

Tingkat Pertama:
t Perkara yang
ditangani =
3.196.298
perkara
t Putus=3.179.0
52 perkara
Penyelesaian Perkara
di Lingkungan
Peradilan Umum:

Tingkat Pertama :
t Perkara yang
ditangani =
2.742.169 pkr

t Putus = 2.703.265
perkara
7.
8.
Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014 129
No.
RPJMN 2010ʹ2014
CAPAIAN
2009
CAPAIAN
2010 SUBSTANSI INTI SASARAN INDIKATOR
TARGET
2010
Tingkat Banding:
t Perkara yg
ditangani =
11.013 perkara
t Putus=10.423
perkara
t Perkara yg ditangani
=13.488 perkara

t Putus = 10.795
perkara
Peradilan
Agama =
80.000
perkara

Penyelesaian
Perkara di
Lingkungan
Peradilan Agama:

Tingkat Pertama:
t Perkara yang
ditangani =
330.984
perkara
t Putus=274.545
perkara
Tingkat Banding:
Perkara yg
ditangani =
2.015 perkara
t
t Putus=1.837
perkara
Penyelesaian Perkara
di Lingkungan
Peradilan Agama


Tingkat Pertama :
t Perkara yang
ditangani: 377.382
perkara

t Putus: 314.407
perkara
Tingkat Banding :
t Perkara yg
ditangani: 935
perkara
t Putus : 751 perkara
Peradilan
Militer =
3.000
perkara
Penyelesaian
Perkara di
Lingkungan
Peradilan Militer:
Tingkat Pertama:
t Perkara yang
ditangani =
16.241
perkara
t Putus=2.700
perkara
Tingkat Banding:
t Perkara yg
ditangani = 590
perkara
t Putus=428
perkara
Penyelesaian Perkara
di Lingkungan
Peradilan Militer:

Tingkat Pertama :
t Perkara yang
ditangani: 3.641
perkara

t Putus: 3.149 perkara

Tingkat Banding :
t Perkara yg
ditangani: 460
perkara
t Putus : 374 perkara
Peradilan
TUN = 2.000
perkara
Penyelesaian
Perkara di
Lingkungan
Peradilan TUN:
Tingkat Pertama:
t Perkara yang
ditangani =
3.331 perkara
t Putus=2.700
perkara
Tingkat Banding:
t Perkara yg
ditangani = 823
perkara
t Putus=707
perkara
Penyelesaian Perkara
di Lingkungan
Peradilan Umum:

Tingkat Pertama :
t Perkara yang
ditangani: 1.768
perkara
t Putus: 1.107perkara

Tingkat Banding :
t Perkara yg
ditangani: 460
perkara
t Putus : 374 perkara
Tingkat Banding :
130 Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014
No.
RPJMN 2010– 2014
CAPAIAN
2009
CAPAIAN
2010 SUBSTANSI INTI SASARAN INDIKATOR
TARGET
2010
9. Penguatan
perlindungan
HAM
Peningkatan
perlindungan,
pemenuhan dan
penegakan HAM
di Indonesia
Peningkatan
pelayanan
bantuan hukum
kepada
masyarakat yang
k mampu
Penyediaan
Bantuan
hukum di
lingkungan
peradilan:
- Umum =
26.320 pkr
- Agama =
26.320 pkr
- Militer
dan TUN =
26.320 pkr
N/A Penyelesaian perkara
prodeo di pengadilan
agama sebanyak 4.823
dengan rincian perkara
cerai gugat 3.175,
perkara cerai talak 510,
dan perkara lain-lain
1.138

Peningkatan
penanganan
penyidikan dan
penuntutan
pelanggaran
HAM Berat
5 perkara Nihil Nihil
Peningkatan
kerjasama
dalam/luar
negeri dalam
rangka pemajuan
HAM
6 instrumen.
HAM
Internasional
dan 2 Naskah
Akademis
N/A 8 instrumen HAM dan
6 Naskah Akademis
Jumlah program
pembelajaran
HAM
10 N/A 8 program pela han
HAM dengan peserta
320 orang orang.
Diinformasikan juga
terdapat pela han
HAM yang
diselenggarakan
bekerjasama dengan
lembaga lain sebanyak
7 angkatan dengan
peserta sebanyak 280
orang
10. Pemberdayaan
industri strategis
bidang
pertahanan
Meningkatnya
kemampuan
produksi industri
pertahanan
dalam negeri
yang didukung
oleh tersedianya
kajian
pengembangan
peralatan
pertahanan dan
keamanan
Penyusunan
payung hukum
Revitalisasi
industri
pertahanan
dalam negeri
Tersusunnya
payung
hukum untuk
mendukung
revitalisasi
industri
pertahanan
dalam negeri
Tersusunnya
payung hukum
pelaksanaan
Pinjaman Dalam
Negeri, berupa PP
dan Permen
PPN/Ka. Bappenas
ͻ Tersusunnya Dr
RUU tentang
Revitalisasi industri
pertahanan
nasional;
ͻ Ditetapkannya
Perpres No. 42/2010
tentang Komite
Kebijakan Industri
Pertahanan.

Jumlah produksi
dan jenis
Alutsista yang
dipenuhi oleh
Industri dalam
negeri
Meningkatnya
pemenuhan
Alutsista TNI
melalui
industri dalam
negeri
sebanyak
12,65% dari
jumlah akuisisi
Alutsista TNI
dan 7,1%
untuk Alsus
Polri
Terlaksananya
pemenuhan
kebutuhan
kendaraan tempur
TNI melalui
Panser Anoa,
MKK, dan Senjata
produksi dalam
negeri
Terlaksananya
pemenuhan kebutuhan
Alutsista TNI dan Alsus
Polri dari industri
dalam negeri (Kapal
Cepat Rudal, pesawat
patrol/angkut, sistem
radar, munisi,
peralatan personnel,
dll.)
Jumlah model
dan/atau
prototype alat
Terlaksananya
pengembang-
an 5 prototype
Terlaksananya
kerjasama
litbanghan untuk
ͻ Modernisasi Alutsista
TNI yang sudah tua
oleh Industri dalam
Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014 131
No.
RPJMN2010ʹ2014
CAPAIAN
2009
CAPAIAN
2010 SUBSTANSIINTI SASARAN INDIKATOR
TARGET
2010
peralatan
pertahanandan
keamanan
peralatan
pertahanan
dankeamanan
olehlitbang
dalamnegeri
UAV,Roket,dan
peralatan
pendukungC4SIR.
negeri(overhaulKRI)
x Dimulainya
mekanismePinjaman
DalamNegeriuntuk
pendanaan
kebutuhanAlutsista
TNIdanAlutPolri
olehindustri
pertahanandalam
negeri
x Inisiasirencanakerja
samapengembangan
prototypepesawat
tempurRIͲKorsel
x Pengembangan
prototypeUAV,
platformKCRtipeͲ40
Keterangan:
a)
LAKIPKEMLU2010
b)
LAKIPDirektoratJenderalMultilateral2009
c)
LAKIPDirektoratJenderalMultilateral2010
d)
LAKIPKEMLU2009
e)
LAKIPDirektoratJenderalProtokoldanKonsuler2010
f)
LAKIPDirektoratJenderalProtokoldanKonsuler
2009
132 Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014
Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014 133

BAB2.13.PRIORITASLAINNYABIDANGPEREKONOMIAN

2.13.1.Pengantar
Pengembangan sektor perindustrian yang mendukung prioritas nasional lainnya bidang
perekonomian antara lain dilaksanakan melalui pengembangan klaster industri pertanian
oleochemicaldanpengembanganklasterindustriberbasismigaskondensat.Industrioleochemical
merupakan industri penghasil bahan baku utama untuk berbagai produk industri bernilai tambah
tinggi dan potensi pengembangannya sangat besar mengingat luasnya lahan perkebunan di
Indonesia. Demikian pula industri berbasis migas kondensat juga sangat perlu dikembangkan
mengingatsaatinibahankondensatmigassangatsedikityangdiolahdidalamnegeri,padahalnilai
tambahnyasangattinggidanmemilikibanyakprodukturunan.
Kemudian untuk sektor perdagangan, peran Indonesia di berbagai fora internasional terlihat
semakin penting. Di forum multilateral, Indonesia aktif dalam perundingan World Trade
Organization (WTO) dan berperan penting dalam berbagai kelompok inti, seperti: G33, G20, dan
ASEAN,sehinggaposisiIndonesiasemakindiperhitungkandiforuminternasionaldanregional.
Pada sektor ketenagakerjaan, kegiatanͲkegiatan yang dilaksanakan untuk mendukung prioritas
nasional lainnya bidang perekonomian adalah peningkatan pelayanan dan perlindungan tenaga
134 Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014
kerja Indonesia (TKI) selama proses penyiapan, pemberangkatan dan kepulangan, serta
peningkatan upaya perlindungan TKI di luar negeri. Dalam RPJMN 2010–2014, pemerintah
berupayauntukmeningkatkanpelayanandanperlindungankepadaTKIsecaralebihkomprehensif
denganmelibatkankementerian/lembaga(K/L)terkaitsesuaitugasdanfungsinyamasingͲmasing.

2.13.2. PencapaianPrioritasLainnyaBidangPerekonomian
Padasektorperindustrian,hasilyangdicapaiantaralainpengembanganklasterindustripertanian
oleochemical melalui fasilitasi kawasan industri berbasis CPO di tiga provinsi (Sumatera Utara,
KalimantanTimur,danRiau).Fasilitasiyangdilakukanberupapenyusunanbusinessplannasional,
Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL), dan Feasibility Study (FS) untuk industri hilir
kelapa sawit oleh Pemda Sumut, Kaltim, dan Riau (Kuala Enok dan Dumai), yang sinkron dengan
RencanaStrategis(Renstra)KementerianPerindustrian.
Hasillainnyaadalahpersiapanawalpembangunanklasterindustriberbasismigaskondensatdalam
bentuk penyusunan kajian pembangunan refinery di Jatim, koordinasi pengalokasian bahan baku
migas dan kondensat di Jawa Timur dan Kaltim, penyusunan kajian bahan baku alternatif serta
penyusunanbusinessplanindustripetrokimianasional.
Untuk sektor perdagangan, perjuangan Indonesia dalam meningkatkan akses pasar di forum
multilateraldilakukanmelaluikerjasamadanperundinganinternasionaldiforumWTO.Indonesia
adalahanggotaG20yangsaatinimenjadisalahsatunegaradengankondisiekonomiyangsemakin
diperhitungkan dunia pascakrisis finansial. Posisi Indonesia juga semakin mantap di dalam
kelompokCIVITS (China, India,Vietnam, Indonesia, Turkey, South Africa), sebagai sebuah hotspot
investasibaruyangmenjadialternatifBRIC(Brazil,Russia,India,China).
Berbagaiperundinganinternasionaltelahdilakukansebagaiupayadaripartisipasiaktifdiberbagai
forum internasional. Jumlah partisipasi dalam perundingan perdagangan internasional telah
dilakukansebanyak41kalidengan41buahposisirunding.Sedangkanjumlahsidanginternasional
didalamnegeriyangtelahdilakukanadalahsebanyak17sidang(dengantarget8sidang).Dengan
demikian, jumlah hasil perundingan Perdagangan Internasional (MRA, MOU, Agreement, Agreed
Minutes, Declaration, Chair Report) telah diperoleh sebanyak 34 buah. Sementara itu, kegiatan
forum konsultasi publik (sosialisasi) kesepakatan perundingan internasional telah juga
dilaksanakanmelaluikerjasamadenganDinasProvinsidanKamarDagangdanIndustri(KADIN)di
beberapaProvinsi.
TerkaitdenganpelayanankepadaTKI,padatahun2010infrastrukturdanaplikasisisteminformasi
layanan TKI (SIMͲTKI) telah terbangun. SIMͲTKI ini nantinya akan mengintegrasikan sistem
informasiterkaitlayananTKIdi13K/L.AplikasiSIMͲTKIinidibangundandikelolaolehKementerian
Komunikasi dan Informasi. Selanjutnya, pada tahun 2010 Badan Nasional Penempatan dan
Perlindungan TKI (BNP2TKI) telah merintis pembentukan pusat layanan 24 jam (hotline
service/crisiscenter)sebagaipusatpenerimaanpengaduandanfasilitasipenyelesaianmasalahTKI.
Kemudian Pemerintah juga telah meluncurkan program Kredit Usaha Rakyat bagi TKI (KUR TKI).
TujuanpenyaluranKURTKIadalahmembantuTKIuntukmembiayaiprosespenempatanbekerjadi
luarnegeri,sehinggaTKIakanterhindardarijeratutangrentenir.Padaakhirtahun2010,tigabank
siap menyalurkan KUR TKI yaitu Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Mandiri, dan Bank Negara
Indonesia(BNI).
Sementara itu, dari target 500.000 TKI yang ditempatkan oleh Pemerintah, 100 persennya telah
mendapat layanan dokumen sesuai standar dan tercatat di Dinas Tenaga Kerja Provinsi dan
Kabupaten/Kota.Daritargettersebut,100persenTKItelahditempatkansesuaijoborder.Namun,
target 500.000 TKI untuk beberapa indikator tidak dapat tercapai. Jumlah TKI yang memperoleh
Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014 135
layanan pembuatan Kartu Tenaga Kerja Luar Negeri (KTKLN) sesuai Nomor Induk Kependudukan
(NIK) dan jumlah TKI yang mendapat pelatihan mengenai prinsipͲprinsip HAM hanya mencapai
200.000 TKI (40 persen). Rendahnya pencapaian ini karena belum selesainya pengadministrasian
NIKditingkatnasional.

2.13.3. PermasalahanPencapaian
Pada sektor perindustrian, pencapaian target telah berjalan sesuai harapan, permasalahanͲ
permasalahanyangdihadapisejauhinihanyasebataspermasalahanadministratifdankoordinasi
denganpihakͲpihakluaryangterkait.Untukselanjutnyaprosesdankelengkapanadministrasiakan
terus dibenahi dan koordinasi dengan pihakͲpihak terkait akan terus dilakukan agar target yang
ditetapkandapatterusdicapaidenganbaik.
Sedangkan untuk sektor perdagangan, jumlah sosialisasi kesepakatan perundingan internasional
yang ditargetkan pada tahun 2010 adalah sebanyak 6 kegiatan, dimana realisasinya hanya bisa
dilakukan sebanyak 4 kegiatan. Hal ini disebabkan karena keterbatasan waktu para pihak yang
terkaityangmenyebabkantidakmemungkinkanuntukmelaksanakankegiatantersebut.Selainitu,
banyaknya kebutuhan anggaran untuk menghadiri sidang di luar negeri yang meningkat sehingga
dilakukanpemindahananggarandarianggaransosialisasi tersebutkeanggaranpartisipasiaktifdi
berbagaiforainternasional.
Di lain pihak, penyelenggaraan sidang internasional di dalam negeri pada tahun 2010 yang
ditargetkansebanyak8sidang,dalamrealisasinyamelebihijumlahtargetnya,yaitu17sidangyang
sudah dilakukan. Hal ini disebabkan banyaknya permintaan sidang internasional di dalam negeri
yang harus diselenggarakan, sehingga jumlahnya melebihi target yang telah ditetapkan
sebelumnya.
Pada sektor ketenagakerjaan, permasalahan yang dihadapi terkait peningkatan pelayanan dan
perlindungan TKI selama penyiapan, pemberangkatan, dan kepulangan adalah kualitas pelayanan
dan perlindungan bagi TKI masih rendah, yang ditunjukkan oleh keterbatasan akses informasi
mengenai prosedur bekerja di luar negeri, mahalnya biaya persiapan keberangkatan, masih
maraknya praktek percaloan, pemalsuan dokumen, dan penempatan ilegal di luar negeri, masih
rendahnyapengetahuandankompetensicalonTKI,danlainͲlain.HalinimenyebabkanjumlahTKI
yangmenghadapimasalahsaatbekerjadiluarnegerimasihtinggi.PenangananTKIbermasalahini
menimbulkan biaya tinggi bagi Pemerintah. Oleh karena itu, tantangan pokok ke depan adalah
meningkatkan pelayanan bagi TKI di dalam negeri serta meningkatkan pengetahuan dan
kompetensi TKI. Terkait dengan SIMͲTKI, tantangan yang dihadapi adalah memperluas jangkauan
SIMͲTKIkeseluruhIndonesia,sejalandenganselesainyapengadministrasianNIKsecaranasional.
PermasalahanlainnyaadalahyangterkaitdenganpeningkatanpelayanandanperlindunganTKIdi
luar negeri. Untuk membantu TKI bermasalah di luar negeri, Pemerintah telah membangun
penampungan (shelter)bagiTKI bermasalah di beberapaperwakilanRIdi luar negeri.Diharapkan
denganadanyapenampunganinimakapenyelesaiankasusͲkasusyangmenimpaTKIdiluarnegeri
dapat lebih mudah. Tantangan lainnya adalah menyelesaikan masalahͲmasalah TKI yang masih
belumselesai(pending)denganpemberianbantuanhukumataulawyer.

2.13.4 RencanaTindakLanjut
Pada sektor perindustrian, rencana tindak lanjut akan diimplementasikan melalui kegiatan
revitalisasidanpenumbuhanindustrihasilhutandanperkebunan.Sasarandarikegiataniniadalah
terbentuknya kawasan industri berbasis Minyak Sawit Mentah (MSM) di tiga provinsi (Sumatera
136 Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014
Utara,KalimantanTimur,danRiau).Indikatoroutputdarikegiataniniberupajumlahkawasanyang
terbentuk,jumlahinstansidanperusahaanterkaitdengankawasanindustriyangterbentuk,serta
jumlah dokumen studi pengembangan untuk kawasan industri tersebut. Kemudian Kementerian
Perindustrian akan terus melanjutkan koordinasi dengan Kementerian ESDM, BP Migas,
Pemerintah Daerah dan Industri terkait pengadaan bahan baku kondensat untuk klaster industri
aromatikdanbahanbakugasblokCepudiJawaTimur;bahanbakugasuntukIndustriPetrokimia
di Kalimantan Timur antara lain Kaltim Pasifik Amoniak, Kaltim Parna Industri, Kaltim Metanol
Industri, dan Pupuk Kaltim; serta akan dilakukan perbaruan/perpanjangan kontrak untuk
pengadaanbahanbakugastersebut.
Sedangkan untuk sektor perdagangan, pada tahun 2011, anggaran partisipasi aktif telah
ditingkatkan sehingga diharapkan dapat mengakomodasi partisipasi aktif di berbagai fora
internasional sesuai kebutuhan. Untuk menghindari keterbatasan waktu, penjadwalan untuk
kegiatan sosialisasi saat ini telah dilakukan dengan meningkatkan koordinasi dengan pihakͲpihak
terkait sedini mungkin sehingga target indikator jumlah sosialisasi hasilͲhasil kerja sama
perdaganganinternasionaldapatdipenuhi.
Padasektorketenagakerjaan,untuktahun2011ditargetkantigaK/LtelahterhubungdenganSIM
TKIdanjugaakandiintegrasikandenganlayanankependudukan,yaituNIKditigakabupaten/kota
sebagai uji coba dan pada tahun 2012 SIMͲTKI telah mengintegrasikan sistem informasi yang
dimilikiolehK/LterkaityangmendukungpelayanandanperlindunganTKI.Terkaitpengembangan
hotline service/crisis center, mekanisme penanganan pengaduan akan disusun dan ditetapkan
pada tahun 2011, sehingga diharapkan pada tahun 2012 seluruh pengaduan yang diterima oleh
hotline service tersebut dapat ditangani dalam waktu 2x24 jam. Sementara itu, terkait dengan
pemulangan TKI bermasalah, tahun 2011 Pemerintah berencana untuk memulangkan WNI/TKI
overstayer yang jumlahnya diperkirakan mencapai 20.000 orang. Upaya lainnya yang akan
dilakukan adalah mewujudkan pos pelayanan TKI di kecamatan di daerahͲdaerah kantong TKI,
merevisiUUNomor39Tahun2004tentangPenempatandanPerlindunganTenagaKerjaIndonesia
diLuarNegeri,danmeningkatkanlayananbantuanhukumdiperwakilanRIdiluarnegeri.
Pemerintah juga berupaya untuk memformalkan lembaga penyelenggara pengiriman uang
nonbankagarprosestransferuangolehTKIkeIndonesia(remitansi)menjadilebihmurah,efisien
danhandal.SalahsatuupayayangdilakukanadalahmemberlakukanUndangͲUndang(UU)Nomor
3 Tahun 2011 tentang Transfer Dana. UU ini mengatur bahwa pengiriman uang hanya bisa
dilakukan oleh perbankan atau lembaga nonbank yang berbadan hukum, sedangkan perorangan
tidaklagidiperbolehkan.Denganadanyaketentuanini,diharapkanpenyelenggararemitansidapat
meningkatkanlayanannyadanmemilikikepastiantanggungjawab.

Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014 137

Tabel 2.13.1. Pencapaian Pembangunan Prioritas Lainnya
Bidang Perekonomian, Tahun 2010

No.
RPJMN 2010–2014
CAPAIAN
2009*
CAPAIAN
2010** SUBSTANSI INTI SASARAN INDIKATOR
TARGET
2010*
1. Pelaksanaan
pengembangan
industri sesuai
dengan Peraturan
Presiden
No.28/2008 tentang
Kebijakan Industri
Nasional
Terbentuknya
Kawasan Industri
Berbasis CPO di 3
Provinsi
Provinsi Sumut,
K m, dan Riau
20% - 100% dari target
Jumlah Perusahaan 40 - 100% dari target
Pilot project industri
turunan kelapa sawit
1 - 100% dari target
Terbangunnya klaster
industri berbasis
migas kondensat
Kajian
pembangunan
rĞĮnery di m
1 - 100% dari target
Laporan Koordinasi
pengalokasian
bahan baku migas
dan kondensat di
Jawa Timur dan
K
1 - 100% dari target
Kajian bahan baku
Kajian
bahan baku

1 - 100% dari target
Business Plan
Industri Petrokimia
Nasional
1 - 100% dari target
2. Peningkatan peran
dan kemampuan
Republik Indonesia
dalam diplomasi
perdagangan
internasional
Meningkatnya peran
dan kemampuan
Indonesia di bidang
diplomasi
perdagangan
internasional guna
pembukaan,
peningkatan dan
pengamanan akses
pasar
Jumlah pa sipasi
dalam perundingan
perdagangan
internasional
40 - 41

Jumlah posisi
runding yang
disusun
40 - 41
Jumlah
penyelenggaraan
sidang internasional
di Dalam Negeri
8 - 17
Jumlah
hasilperundingan
Perdagangan
Internasional (MRA,
MOU, Agreement,
Agreed Minutes,
Decl on, Chair
Report)
34 - 34
Jumlah forum
konsultasi teknis
kesepakatan
perundingan
internasional
6 - 4
3. Regulasi dan
ser kasi Sistem
Elektronik Jasa
Aplikasi dan Konten
Tersedianya sistem
informasi layanan TKI
antarinstansi/
lembaga
Adanya sistem
informasi layanan
TKI
Electronic
form;
Document
mgmt; Job
Order mgmt;
Recruitment
mgmt;
Selec on
mgmt;
Security; Inter-
operability;
Placement
mgmt;
Campaign
mgmt;
Operasional
-- Infrastruktur dan
aplikasi sistem
informasi layanan
TKI (SIM-TKI) telah
terbangun.
4. Pelayanan Advokasi Terlaksananya Kemudahan - 7.709 orang 1.921 orang
138 Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014
No.
RPJMN 2010ʹ2014
CAPAIAN
2009*
CAPAIAN
2010** SUBSTANSI INTI SASARAN INDIKATOR
TARGET
2010*
dan Perlindungan
Hukum
Pelayanan Advokasi
dan Perlindungan
Hukum TKI
penyampaian
pengaduan 24 jam
(bebas pulsa)
menyampai
kan
pengaduan
menyampaikan
pengaduan
Jumlah pengaduan
yang ditangani
100%
pengaduan
tertangani
7.709 kasus
yang sudah
diselesaikan
6.374 kasus
(83,68%)
1.858 kasus yang
sudah
diselesaikan 398
kasus (21,42%)
Jumlah orang yang
berminat bekerja ke
luar negeri yang
mendapat advokasi
50.000 1.245 57.735
Persentase TKI
purna bermasalah
yang direhabilitasi
60% TKI
bermasalah
ditangani
100% 99,79%
5. Pembinaan
Penempatan dan
Perlindungan TKI
Luar Negeri
Tersedianya regulasi
yang melindungi TKI
RĂƟĮŬĂƐŝ konvensi
buruh migran dan
keluarganya
Penyiapan
ƌĂƟĮkasi
konvensi
buruh migran
- Hasil Kajian
ƌĂƟĮkasi konvensi
buruh migran
telah selesai
disiapkan
Amandemen UU
39/2004
Persiapan
amandemen
UU 39/2004
- Kajian akademis
revisi UU39/2004
Jumlah atase
ketenagakerjaan
yang memberi
perlindungan TKI
13 atase - Telah
dilaksanakan
penempatan
atase/staf teknis
tenaga kerja di 15
negara
Terintegrasinya
pelayanan
penempatan calon
TKI di daerah
% calon TKI yang
terlayani dan
tercatat pada Dinas
Tenaga Kerja
Provinsi dan
Kab/Kota
100% calon
TKI terlayani
- 100% calon TKI
terlayani dan
tercatat pada
Dinas Tenaga
Kerja provinsi dan
Kab/Kota
Catatan:
*) Sumber : RPJMN 2010ʹ2014
**) Sumber : Biro Perencanaan, Kementerian Perdagangan


Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014 139

BAB2.14. PRIORITASLAINNYABIDANGKESEJAHTERAAN
RAKYAT

2.14.1. Pengantar
Pelaksanaan pembangunan Prioritas Lainnya Bidang Kesejahteraan Rakyat didukung oleh
pelaksanaanPembangunanAgama,Pariwisata,PengarusutamaanGenderdanPerlindunganAnak,
sertaPemudadanOlahraga.
PembangunanAgama
Pembangunan agama dilaksanakan melalui lima fokus prioritas, yaitu: (1) Peningkatan Kualitas
Pemahaman dan Pengamalan Agama, (2) Peningkatan Kualitas Kerukunan Umat Beragama, (3)
Peningkatan Kualitas Pelayanan Kehidupan Beragama, (4) Peningkatan Kualitas Penyelenggaraan
IbadahHaji,dan(5)PeningkatanTataKelolaPembangunanBidangAgama.Adapunfokusprioritas
pembangunan bidang agama yang menjadi isu strategis nasional adalah Peningkatan Kualitas
PenyelenggaraanIbadahHaji,danPeningkatanKualitasKerukunanUmatBeragama.
140 Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014
Penyelenggaraan Ibadah Haji merupakan salah satu bentuk pelayanan keagamaan yang cukup
penting, karena bersentuhan dengan kepentingan masyarakat banyak, sehingga menjadi salah
satu indikator kunci tolok ukur kinerja pembangunan bidang agama. Selain itu, kerukunan umat
beragama sebagai pilar kerukunan nasional juga memiliki peran yang sangat penting terutama
dalamupayamewujudkantujuanpembangunannasional,yaitudemiterciptanyamasyarakatyang
aman,damai,dansejahtera.
Pariwisata
Pariwisata merupakan salah satu industri jasa yang mempunyai peran strategis dalam
pembangunan nasional melalui penerimaan devisa yang dihasilkan dari kunjungan wisatawan
mancanegara dan mendorong perluasan lapangan kerja yang pada akhirnya meningkatkan
kesejahteraanmasyarakat.Padatahun2010,kinerjapembangunankepariwisataannasionaltelah
menunjukkanperkembanganyangmeningkat,yangantaralainditunjukkanolehjumlahkunjungan
wisatawanmancanegara(wisman)danperjalananwisatawannusantara(wisnus).
PengarusutamaanGenderdanPerlindunganAnak
Peningkatan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan merupakan salah satu upaya
untuk mewujudkan pembangunan yang dapat dinikmati secara adil, efektif, dan akuntabel oleh
seluruhpendudukIndonesia,baiklakiͲlakimaupunperempuan.Upayatersebutdilakukandengan
mengarusutamakan gender ke dalam proses pembangunan di setiap bidang. Penerapan
pengarusutamaan gender (PUG) akan menghasilkan kebijakan publik yang lebih efektif untuk
mewujudkanpembangunanyanglebihadildanmeratabagiseluruhpendudukIndonesia,baiklakiͲ
lakimaupunperempuan.
Selain itu, perlindungan anak ditujukan untuk memenuhi hakͲhak anak Indonesia. Sesuai dengan
UndangͲUndang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, hak anak meliputi hak untuk
hidup,tumbuh,berkembang,danberpartisipasidalamberbagaiaspekkehidupan,sertamendapat
perlindungan dari berbagai tindak kekerasan, perdagangan anak, eksploitasi, dan diskriminasi.
Dengan demikian, pemenuhan hakͲhak anak mencakup setiap bidang pembangunan.
Pembangunan perlindungan anak yang terintegrasi dan komprehensif akan menghasilkan
kebijakan publik yang lebih efektif dalam mewujudkan kehidupan yang layak bagi seluruh anak
Indonesia,baiklakiͲlakimaupunperempuan.
PemudadanOlahraga
Pembangunan pemuda dan olahraga mempunyai peran strategis dalam mendukung peningkatan
sumber daya manusia Indonesia yang berkualitas dan berdaya saing di tingkat regional dan
internasional. Dari sisi Pemuda dan Olahraga, pembangunan kepemudaan dan keolahragaan
selamatahun2010telahmenunjukkanhasilyangcukupmenggembirakan.Gerakanpramukatelah
disahkanmelaluiUndangͲUndangNomor12Tahun2010tentangGerakanPramuka.Sementaraitu
prestasiolahragasemakinmembaikyangditandaidenganmeningkatnyaperingkatIndonesiapada
kejuaraanAsianGames.

2.14.2. PencapaianPrioritasLainnyaBidangKesejahteraanRakyat
PembangunanAgama
Pada tahun 2010, dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan ibadah haji kepada 221.000
orang jemaah telah dilakukan penerapan sistem manajamen mutu dengan didapatkannya ISO
Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014 141
9001:2008. Sejalan dengan hal tersebut, kehidupan umat beragama semakin harmonis dan
kondusif, yang ditandai dengan menurunnya kŽŶŇŝk sosial bernuansa keagamaan, berdirinya
forum-forum kerukunan, dan berkembangnya kerjasama lintas agama. Berbagai upaya untuk
membangun kerukunan intern maupun antarumat beragama telah dilaksanakan berbagai kegiatan
antara lain pembangunan forum kerukunan umat beragama di 15 kabupaten/kota, pemberian
bantuan operasional Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) pada ƟŶŐŬĂƚ Provinsi dan
Kabupaten/Kota di 33 provinsi dan 150 kabupaten/ kota, dan upaya pemulihan pascakonŇik
melalui pelayanan dan bimbingan konseling bagi masyarakat korban kŽŶŇŝk sosial, dan
pascakerusuhan.
Pariwisata
Keberhasilan pembangunan kepariwisataan ditandai dengan meningkatnya kunjungan wisatawan
mancanegara (wisman) pada tahun 2010 yang mencapai 7 juta orang, atau meningkat sebesar 7,88
persen dibandingkan kunjungan wisman tahun 2009 yang mencapai 6,32 juta orang. Sementara
itu, pergerakan wisatawan nusantara (wisnus) juga mengalami peningkatan dari 229,73 juta
pergerakan pada tahun 2009 menjadi 234,38 juta pergerakan pada tahun 2010. Hal ini berdampak
pada meningkatnya total pengeluaran wisnus dari Rp137,91 trilliun menjadi Rp150,49 trilliun.

Tabel 2.14.1 Perkembangan Pembangunan Kepariwisataan, Tahun 2009ʹ2010

URAIAN 2009 2010
Wisatawan Mancanegara (wisman)
- Jumlah (juta orang)
- Rata-rata pengeluran per kunjungan (US $)
- Rata-rata lama Ɵnggal (hari)
- Rata-rata pengeluaran per hari (US $)
- Perkiraan penerimaan devisa (miliar US $)

6,32
995,93
7,69
129,57
6,3

7,00
1.085,75
8,04
135,01
7,6
Wisatawan Nusantara (wisnus)
- Jumlah pergerakan (juta pergerakan)
- Total pengeluaran (triliun rp)

229,73
137,91

234,38
150,49
Sumber: BPS

Keberhasilan pembangunan pariwisata ƟĚĂŬ terlepas dari dukungan pengelolaan ĚĞƐƟŶĂƐŝ
pariwisata antara lain: (1) pengembangan deƐƟnaƟon management organiƐĂƟon (DMO) dan
dukungan pada amenitas pariwisata; (2) pengembangan usaha, industri dan investasi pariwisata
melalui penyusunan 8 pola perjalanan (travel paƩern); (3) pengembangan 115 daya tarik wisata di
desa; (4) pengembangan 50 desa pendukung usaha pariwisata melalui PNPM Mandiri bidang
Pariwisata; (5) pengembangan 50 usaha masyarakat desa berbasis ŬƌĞĂƟĨ pariwisata; (6)
pengembangan standardisasi pariwisata melalui ƉĞůĂƟŚan kepada 140 orang master assessor; (7)
penyelenggaraan fasilitasi sĞƌƟĮkasi kompetensi di daerah 3.700 orang; dan (8) pelaksanaan
kegiatan sadar wisata untuk 950 orang dan 217 kelompok masyarakat
Dalam pelaksanaan promosi dan pemasaran, telah dilaksanakan: (1) promosi pariwisata di luar
negeri melalui (a) ƉĂƌƟƐŝƉĂsi pada 36 bursa pariwisata internasional; (b) pelaksanaan 9 misi
penjualan (sales mission) di fokus pasar wisatawan, 8 event ĨĞƐƟval Indonesia di luar negeri, dan
(c) penyelenggaraan Indonesia tourism prŽŵŽƟŽŶ represĞŶƚĂƟǀĞ ŽĸĐers di 12 negara; (2) promosi
pariwisata dalam negeri melalui penyelenggaraan 10 promosi langsung (direĐt ƉƌŽŵŽƟŽŶ) dan 27
event pariwisata berskala nasional dan internasional; (3) penyediaan sarana dan prasarana
promosi pariwisata mencakup pencetakan 743 ribu eksemplar bahan promosi, publikasi pada 51
media, diseminasi 436 ribu eksemplar bahan promosi cetak, diseminasi 56 ribu bahan promosi
142 Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014
elektronik, dan pengembangan kelengkapan data dan informasi di 60 destinasi; (4) penyediaan
informasipasarpariwisatadenganmenyusun14naskahhasilanalisispasardalamdanluarnegeri,
427eksemplarinformasiprodukpariwisataIndonesia,famillirizationtrip/famtripyangmelibatkan
254 orang peserta; dan 42 event internasional dan promosi 8 (delapan) event terkait dengan
Meeting,Incentive,Convention,andExhibiton(MICE).
PengarusutamaanGenderdanPerlindunganAnak
Berbagai kemajuan dalam pembangunan tahun 2010 yang responsif gender telah dicapai. Hal ini
antaralainditunjukkandenganmeningkatnyaIndeksPembangunanGender(IPG)dari0,639pada
tahun 2004 menjadi 0,668 pada tahun 2009 (KNPPͲBPS, 2010). Selain itu, indeks pemberdayaan
gender (IDG) yang mengukur partisipasi perempuan di bidang ekonomi, politik, dan pengambilan
keputusan juga mengalami peningkatan dari 0,597 pada tahun 2004 menjadi 0,635 pada tahun
2009(KNPPͲBPS,2010).
Di bidang pendidikan, upaya untuk meningkatkan kesetaraan gender dan pemberdayaan
perempuandilakukandenganmengintegrasikanperspektifgenderkedalampendidikanagama.Di
bidang kesehatan, kemajuan yang telah dicapai adalah terlaksananya pemetaan isu gender di
bidang kesehatan, khususnya untuk penanganan HIV/AIDS. Di bidang politik dan pengambilan
keputusan telah disusun Peraturan Menteri Negara PP dan PA Nomor 27 Tahun 2010 tentang
PanduanUmumPelaksanaanPUGdalamPendidikanPolitikpadaPemilihanUmum;danPedoman
Perencanaan dan Penganggaran yang Responsif Gender (PPRG) Bidang Pendayagunaan Aparatur
Negara dan Reformasi Birokrasi. Di bidang ketenagakerjaan, telah tercapai peningkatan akses
lapangankerjabagiperempuanyangditunjukkandenganpenurunanangkapengangguranterbuka
perempuan dari 13,7 persen pada tahun 2006, menjadi 8,23 persen pada tahun 2010 (Sakernas,
2006ʹ2010).
Dalam upaya melindungi perempuan dari berbagai tindak kekerasan telah diterbitkan Peraturan
Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Nomor 1 Tahun 2010 tentang Standar Pelayanan
Minimal Pelayanan Bidang Layanan Terpadu Bagi Perempuan dan Anak Korban Kekerasan.
Ditetapkannya peraturan tersebut sekaligus menjadi dasar yang kuat bagi pemerintah, dunia
usaha, dan masyarakat untuk meningkatkan perlindungan perempuan dari berbagai tindak
kekerasanmelaluiupayapencegahan,pelayanan,danpemberdayaan.
Upaya peningkatan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan tersebut juga didukung
oleh penguatan kapasitas kelembagaan PUG dan pemberdayaan perempuan, termasuk di
dalamnya PPRG. Kemajuan yang dicapai adalah dengan ditetapkannya Peraturan Menteri
KeuanganNomor104/PMK.02/2010tentangPetunjukPenyusunandanPenelaahanRencanaKerja
dan Anggaran K/L Tahun Anggaran 2011. Sementara itu terkait dengan data gender, telah
dilakukanpenandatangananMoUdenganBPStentangPenyediaanDatadanInformasiGenderdan
Anak; serta tersusunnya Pedoman Pengelolaan Data Gender di Kementerian Negara
Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Selain itu, telah dilaksanakan pula advokasi,
sosialisasi,fasilitasiPUG,danpelatihananalisisgenderdi39K/L,33provinsi.
Pencapaiandalamperlindungananakdariberbagaibentukkekerasan,eksploitasi,dandiskriminasi
ditunjukkan antara lain oleh pencapaian di bidang ketenagakerjaan. Data Sakernas menunjukkan
penurunan jumlah pekerja anak usia 10Ͳ17 tahun dari 1.713,2 ribu pada tahun 2008 menjadi
1.679,1ribupadatahun2009.Dalamupayamenurunkanjumlahpekerjaanak,telahdilaksanakan
penarikan pekerja anak dari bentukͲbentuk pekerjaan terburuk untuk anak (BPTA) dalam rangka
Program Keluarga Harapan. Pekerja anak yang telah ditarik tersebut diusahakan masuk dalam
satuanpendidikan,baikpendidikanformal,kesetaraan,maupunnonͲformal.Sementaraitu,dalam
memenuhi hak anak untuk mendapatkan identitas dan legalitas kependudukan, cakupan anak
Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014 143
balita (0-4 tahun) yang telah memiliki akte kelahiran sekitar 42,82 persen menurut Supas 2005
menjadi 52,5 persen menurut Susenas 2009.
Untuk meningkatkan perlindungan bagi anak yang berhadapan dengan hukum (ABH), pada tahun
2010 telah tersusun RUU tentang Sistem Peradilan Pidana Anak dan ditetapkan kebijakan terpadu
tentang penanganan ABH berbasis ƌĞƐƚŽƌĂƟǀe ũƵƐƟĐĞ͘ Selain itu telah pula ditetapkan Permen PP
dan PA Nomor 02 Tahun 2010 tentang Rencana Aksi Nasional (RAN) Pencegahan dan Penanganan
Kekerasan terhadap Anak.
Pemuda dan Olahraga
Pada tahun 2010, upaya peningkatan parƟƐŝƉĂƐi dan peran aŬƟf pemuda, serta budaya dan
prestasi olahraga dilakukan melalui beberapa kegiatan, antara lain: (1) ƉĞůĂƟŚan kepemimpinan,
kepeloporan, dan kewirausahaan pemuda; (2) pemberian penghargaan kepada atlet internasional,
regional, nasional, serta pelaƟh dan mantan atlet yang berprestasi; (3) pelaksanaan berbagai Ğǀent
olahraga untuk menggairahkan semangat dan budaya olahraga di masyarakat; dan (4)
keikutsertaan dalam berbagai event olahraga internasional dan regional.
Melalui upaya tersebut, pembangunan pemuda dan olahraga selama tahun 2010 telah
menunjukkan hasil yang semakin meningkat, yang ditunjukkan antara lain dengan: (1)
meningkatnya ĐŚĂƌĂĐƚĞƌ building melalui gerakan revitalisasi dan konsolidasi kepemudaan melalui:
(a) penyelenggaraan fasilitasi ƉĞůĂƟŚĂŶ kepemimpinan, manajemen, dan perencanaan program
bagi 6.000 pengelola organisasi kepemudaan; (b) penyelenggaraan fasilitasi peningkatan wawasan
kebangsaan, perdamaian, dan lingkungan hidup bagi 5.500 orang; (c) ƉĞůĂƟŚĂŶ pemuda kader
kepemimpinan bagi 4.500 orang; (d) penyelenggaraan fasilitasi pengembangan kewirausahaan
bagi 3.175 orang; (e) penyelenggaraan fasilitasi pendidikan kepramukaaan bagi 1.000 orang; (2)
meningkatnya upaya perolehan medali di Asian Games Tahun 2010 melalui: (a) penyelenggaraan
fasilitasi penyediaan prasarana olahraga sebanyak 4 fasilitasi, (b) penyediaan sarana olahraga
sebanyak 44 sarana; (c) peningkatan peringkat Indonesia pada kejuaraan Asian Games dari
peringkat ke-22 pada Asian Games XVI di Doha tahun 2006 menjadi peringkat ke-15 pada Asian
Games XVII tahun 2010 di Guangzhou China dengan perolehan 4 medali emas, 9 medali perak dan
13 medali perunggu.

2.14.3. Permasalahan Pencapaian
Pembangunan Agama
Pencapaian pembangunan bidang agama masih dihadapkan pada berbagai permasalahan di
antaranya: (1) keberagamaan masyarakat dalam sikap dan perilaku sosial belum opƟmal; (2)
harmoni sosial dalam kehidupan umat beragama belum sepenuhnya terwujud; (3) masih belum
ŽƉƟŵĂůŶLJĂ manajemen penyelenggaraan haji; (4) kualitas penyuluhan agama di tengah
masyarakat saat ini masih belum memadai; (5) belum ŽƉƟŵĂůŶLJĂ pendidikan agama dan
keagamaan bagi peserta didik; (6) sarana dan prasarana peribadatan belum merata; (7) belum
ŽƉƟŵĂůŶLJĂ pengelolaan dana sosial keagamaan; dan (8) peran lembaga sosial keagamaan dan
lembaga pendidikan keagamaan belum ŽƉƟmal.
Terkait fokus prioritas pembangunan bidang agama maka permasalahan yang dihadapi adalah
manajemen penyelenggaraan haji yang belum opƟmal, dan harmoni sosial dalam kehidupan umat
beragama belum sepenuhnya terwujud. Walaupun penyelenggaraan haji telah sistem operasi dan
prosedur (SOP) dan mendapatkan ƐĞƌƟĮkat manajemen mutu ISO 9001:2008, namun masih saja
terjadi kekurangan dan kesalahan teknis di lapangan. Pelayanan ibadah haji, terutama selama di
144 Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014
Arab Saudi, masih belum memuaskan sebagian jemaah haji, seperti masalah konsumsi, kondisi
pemondokan, jarak pemondokan yang masih jauh dari Masjidil Haram, serta pelayanan
transportasi. Selain itu masih beragamnya tingkat pemahaman para jemaah haji mengenai
kesehatan, seperti pencegahan penyakit, ketidakmengertian mengenai lokasi balai kesehatan,
hingga bagaimana memanfaatkan para petugas kesehatan selama masa haji, menjadi
permasalahantersendiri.Tantangankedepanadalahpenerapanstandarpelayananminimal(SPM)
dalampenyelenggaraanibadahhaji.
Harmonisosialdalamkehidupanumatberagamabelumsepenuhnyaterwujud,yangdapatdilihat
darimasihmunculnyapermasalahan,baikdiinternmaupunantarumatberagama.Tantanganke
depan adalah bagaimana menjadikan agama berperan dalam upaya perdamaian dan mendorong
tumbuhnyakerjasamayangpositifdikalanganinterndanantarumatberagama.
Pariwisata
Permasalahan yang masih dihadapi terkait pembangunan kepariwisataan, antara lain sebagai
berikut:
1. Belum optimalnya kesiapan destinasi pariwisata yang disebabkan antara lain oleh belum
meratanya pembangunan kepariwisataan antardaerah dan kawasan, serta kurang
memadainyasaranadanprasaranamenujudestinasipariwisata;
2. Belum optimalnya pemasaran pariwisata yang disebabkan antara lain oleh kurangnya
pemanfaatanmediabaikelektronik,cetakmaupunyangberbasisteknologiinformasisebagai
saranapromosi,belumoptimalnyapemerintahdaerahdalammendukungpromosidaerahnya
sebagai destinasi wisata, dan masih terdapat berbagai peraturan daerah yang menghambat
pengembanganpariwisata
3. Belum optimalnya kemitraan antar pelaku pariwisata yang disebabkan terutama oleh
kurangnya koordinasi, integrasi, dan sinkronisasi intra dan antarlembaga, pusat dan daerah
dalampeningkatandayasaingsumberdayamanusia(SDM)pariwisata.
PengarusutamaanGenderdanPerlindunganAnak
Permasalahan yang masih dihadapi terkait pengarusutamaan gender dan perlindungan anak,
antaralainsebagaiberikut:
1. Belum optimalnya kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Walaupun berbagai
kebijakan telah dikeluarkan dan berbagai kemajuan telah dicapai dalam peningkatan
kesetaraan gender, namun kualitas hidup dan peran perempuan masih belum optimal. Hal
tersebut ditunjukkan dengan lambatnya peningkatan nilai IDG setiap tahunnya, yang antara
lain disebabkan oleh: (1) masih terdapat kesenjangan gender dalam hal akses, manfaat, dan
partisipasi dalam pembangunan, serta penguasaan terhadap sumber daya, terutama di
bidang politik, jabatanͲjabatan publik, dan ekonomi, baik pada tataran antarprovinsi dan
antarkabupaten/kota;dan(2)rendahnyakesiapanperempuandalammengantisipasidampak
perubahan iklim, krisis energi, krisis ekonomi, bencana alam, dan konflik sosial, serta
terjadinya penyakit. Sementara itu, perlindungan bagi perempuan terhadap berbagai tindak
kekerasanjugamasihbelummencukupi,yangterlihatdarimasihbelummemadainyajumlah
dan kualitas tempat pelayanan bagi perempuan korban kekerasan karena banyaknya jumlah
korbanyangharusdilayanidanluasnyacakupanwilayahyangharusdijangkau.Permasalahan
tersebut muncul antara lain disebabkan belum efektifnya kelembagaan PUG dan
pemberdayaanperempuan.
Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014 145
2. Masih ƟŶŐŐŝŶLJa ƟŶĚak kekerasĂŶ terhĂĚap aŶak. Data SuseŶas 2006 meŶƵŶjukkaŶ bahwa
prevaleŶsi kekĞƌĂƐĂŶ terhaĚap aŶak ĂĚĂůah sebesar 3,02 ƉĞƌƐĞŶ͕ atau sekitar 4 juta ĂŶak
ŵĞŶŐĂůĂŵŝ keŬĞƌĂƐĂŶ ƐĞƟap taŚƵŶ͘ SemĞŶƚĂƌĂ itu, Ěata Bareskrim POLRI meŶuŶjukkaŶ
bahwa ĚĂůĂŵ ƉĞƌŝŽĚĞ ƚĂŚƵŶ 2004 sampai ĚeŶŐaŶ Oktober 2009 ƚĞƌĚĂƉĂƚ 538 ĂŶak ĚĂƌŝ 1.722
ŬŽƌďĂŶ perĚaŐĂŶŐaŶ ŽƌĂŶŐ͘ PerĚĂŐaŶŐaŶ aŶak ďŝĂƐĂŶLJĂ ĚŝƚƵũuŬĂŶ uŶtuk ŵĞŶũĂĚŝ peŵďĂŶtu
rumah taŶŐŐĂ͕ pekerja seks komersial, peŶŐemis Ěi ũĂůĂŶ͕ peŶŐeĚĂƌ Ŷarkoba, Ěŝeksploitasi Ěi
tempat-tempat kerja berbahĂLJĂ ƐĞƉĞƌƟ jermal, pertamďĂŶŐĂŶ͕ ĚaŶ perkebƵŶaŶ͘ <ŽŶĚŝƐŝ
tersebut, ĚŝƐĞďĂďŬaŶ ĂŶƚĂƌĂ laiŶ oleh masih baŶLJakŶLJa rumah ƚĂŶŐŐa LJĂŶŐ ŚŝĚup Ěi bawah
ŐĂƌŝƐ kemiskŝŶĂŶ, masih terĚapat Ŷilai-Ŷilai buĚĂLJa LJaŶŐ permisif terhĂĚap kekĞƌĂƐĂŶ ĚĂŶ
eksploitasi ĂŶak, masih reŶĚaŚŶLJa ƟŶŐkat peŶŐetahuaŶ ĚaŶ ƉĞŶĚŝĚŝŬĂŶ sebaŐiaŶ besar ŽƌĂŶŐ
tua, masih leŵĂŚŶLJa peŶeŐakaŶ hukum, ĚĂŶ belum terbĞŶtuŬŶLJĂ mekaŶŝsme ĚaŶ struktur
ƉĞƌůŝŶĚuŶŐaŶ aŶak LJĂŶŐ kŽŵƉƌĞŚĞŶƐif sampai paĚa ƟŶŐkat ŵĂƐLJĂƌakat.
3. Masih reŶĚahŶLJa kapasitas ŬĞůĞŵďĂŐaĂŶ ƉĞƌůŝŶĚuŶŐaŶ ĂŶĂŬ͘ Hal ŝŶŝ aŶtara laiŶ ĚŝƚuŶũƵkkĂŶ
ĚeŶŐĂŶ: (1) masih ƚĞƌĚĂƉaƚŶLJĂ peratuƌĂŶ perƵŶĚaŶŐ-ƵŶĚĂŶŐĂŶ ĚĂŶ kebiũĂŬĂŶ LJaŶŐ ƟĚĂŬ
ŬŽŶƐŝƐƚĞŶ ĚĞŶŐĂŶ KoŶǀĞŶƐŝ Hak AŶak (KHA) ĚaŶ UŶĚĂŶŐ-UŶĚĂŶŐ WĞƌůŝŶĚuŶŐaŶ AŶak LJĂŶŐ
berpoteŶsi meruŐikaŶ ĚaŶ ŵĞŶŐhambat pemeŶuhaŶ hak-hak aŶak, ĚĂŶ (2) belum
ƚĞƌďĞŶtuŬŶLJĂ ŬĞůĞŵďĂŐaĂŶ ƉĞƌůŝŶĚuŶŐaŶ ĂŶĂŬ LJĂŶŐ koŵƉƌĞŚĞŶƐŝĨ ĚaŶ ŵĞŶũĂŶŐŬĂu semua
ǁŝůĂLJĂŚ͕ serta (3) masih lemaŚŶLJa ŵĞŬĂŶisme peŶŐĂǁĂƐaŶ ĚaŶ peŶĚataĂŶ͘
Pemuda dan Olahraga
PermasalahĂŶ LJĂŶŐ masih ĚŝhĂĚĂƉŝ ĚĂlam ƉĞŶĐapĂŝĂŶ terkait pembaŶŐuŶĂŶ peŵƵĚĂ ĚĂŶ olahraŐĂ
ĂŶƚĂƌĂ laiŶ sebĂŐĂŝ berikut:
1. Belum ŽƉƟŵĂůŶLJĂ ƉĂƌƟƐŝƉĂƐŝ ĚĂŶ ƉĞƌĂŶ akƟf peŵƵĚĂ ĚĂlam ďĞƌďĂŐĂŝ biĚaŶŐ pembĂŶŐƵŶaŶ
ĚŝƐĞďĂďkĂŶ aŶtara laiŶ oleh terbatĂƐŶLJĂ ƉĞƌĂŶ serta peŵƵĚĂ sebĂŐĂi ŬĞŬƵĂƚĂŶ moral,
ŬŽŶƚƌŽů sosial, ĚĂŶ aŐĞŶ perubahĂŶ͕ masih terũĂĚiŶLJa masalah-masalah sosial sepeƌƟ
krimŝŶalitas, preŵĂŶŝƐŵe, pĞŶLJalahŐƵŶĂaŶ ŶarkoƟka, psikotropika, ĚaŶ zat ĂĚikƟf (NAPZA),
serta peŶularaŶ HIV ĚaŶ AIDS, ƌĞŶĚĂŚŶLJĂ ĂŶŐŬĂ ƉĂƌƟƐŝƉĂƐŝ sekolah peŶĚuĚuk usia 16-18
ƚĂŚƵŶ ĚaŶ 19-24 tahuŶ͕ serta ƟŶŐŐŝŶLJa ƟŶŐŬĂƚ peŶŐaŶŐŐƵƌĂŶ terbuka (TPT) usia 15 taŚƵŶ ke
atas;
2. Belum opƟmalŶLJa peŶŝŶŐkĂƚĂŶ prestasi olahraŐĂ͕ LJaŶŐ ĚŝƐĞďabkaŶ aŶtara laiŶ oleh
ƌĞŶĚĂhŶLJa ƟŶŐŬĂƚ parƟƐŝƉĂƐi ŵĂƐLJĂƌĂŬĂƚ ĚĂůĂŵ ŬĞŐŝaƚĂŶ olahraŐa, ƚĞƌďĂƚĂƐŶLJĂ ƌƵĂŶŐ
terbuka olahƌĂŐĂ͕ terbĂƚĂƐŶLJĂ jumlah ĚaŶ kualitas SDM ŬĞŽůĂŚƌĂŐĂaŶ, belum opƟmaůŶLJĂ
upaLJa pembibiƚĂŶ atlet uŶŐŐulaŶ, serta masih terbatas apresiasi ĚĂŶ peŶŐharŐaaŶ ďĂŐi
ŽůĂŚƌĂŐĂǁaŶ ĚĂŶ teŶĂŐĂ keolĂŚƌĂŐaĂŶ LJĂŶŐ berprestasi.


2.14.4. Rencana Tindak Lanjut
Pembangunan Agama
UpaLJa pelaksaŶĂĂŶ ibaĚah haji LJĂŶŐ ƚĞƌƟb ĚĂŶ laŶĐĂƌ aŬĂŶ ĚŝůakuŬĂŶ melalui: (1) pĞŶŝŶŐkĂƚĂŶ
kualitas ƉĞŶLJĞlĞŶŐŐĂƌĂĂŶ ibaĚah haji sesuai ƐƚĂŶĚĂƌ pelaLJĂŶĂŶ ŵŝŶŝŵĂl ĚĂůĂŵ ƌĂŶŐka ƉĞůĂŬƐĂŶĂaŶ
ƐĞƌƟĮkat ISO 9001:2008; (2) pemaŶƚĂpĂŶ ƉĞŶĞƌaƉĂŶ ĚĂŶ pemaŶĨĂĂtĂŶ sistem ŝŶformasi haji
terpaĚu (Siskohat); (3) peŶLJĞĚŝĂĂŶ jarŝŶŐaŶ Siskohat Ěi seluruh kabupaƚĞŶͬŬŽƚĂ͖ (4) pĞŶŝŶŐkĂƚĂŶ
eĮƐŝeŶƐŝ, ƚƌĂŶspĂƌĂŶƐŝ͕ ĚĂŶ akƵŶtabilitas peŶLJĞůĞŶŐŐĂƌĂĂŶ ibaĚah haji; (5) ƉĞŵĂŶtapaŶ laŶĚĂƐĂŶ
peratuƌĂŶ perƵŶĚaŶŐ-uŶĚaŶŐaŶ teŶƚĂŶŐ profeƐŝŽŶalisme ƉĞŶLJĞůĞŶŐŐĂƌaĂŶ ibaĚah haji; (6)
peŶLJŝĂƉĂŶ ƌĂŶĐĂŶŐĂŶ uŶĚaŶŐ-uŶĚaŶŐ teŶƚĂŶŐ ƉĞŶŐĞlŽůĂĂŶ ĚĂŶa haji; ĚĂŶ (7) ƉĞŶŝŶŐkataŶ
pelaLJaŶĂŶ kesĞŚĂƚĂŶ jemaah haji.
146 Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014
Disampingitu,upayapeningkatankualitaskerukunanumatberagamaakandilakukanmelalui:(1)
pembentukan dan peningkatan efektivitas forum kerukunan umat beragama; (2) pengembangan
sikap dan perilaku keberagamaan yang inklusif dan toleran; (3) penguatan kapasitas masyarakat
dalammenyampaikandanmengartikulasikanaspirasiͲaspirasikeagamaanmelaluicaraͲcaradamai;
(4) peningkatan dialog dan kerja sama intern dan antarumat beragama, dan pemerintah dalam
pembinaan kerukunan umat beragama; (5) peningkatan koordinasi antarinstansi/lembaga
pemerintah dalam upaya penanganan konflik terkait isuͲisu keagamaan; (6) pengembangan
wawasanmultikulturbagiguruͲguruagama,penyuluhagama,siswa,mahasiswadanparapemuda
calon pemimpin agama; (7) peningkatan peran Indonesia dalam dialog lintas agama di dunia
internasional; dan (8) penguatan peraturan perundangͲundangan terkait kehidupan keagamaan,
sepertiperlunyapenyusunanundangͲundangtentangperlindungandankebebasanberagama.
Pariwisata
Tindaklanjutyangdiperlukanterkaitpembangunankepariwisataan,antaralainsebagaiberikut:
1. Pengembangandestinasipariwisataberbasisbudaya,alam,bahari,danolahraga;penyebaran
pengembangandestinasipariwisatadiluarJawadanBalitermasukpengembangandestinasi
pariwisatadipulauͲpulauperbatasandanterpencil;fasilitasikemitraandengansektorterkait
dalam upaya peningkatan kenyamanan dan kemudahan akses di destinasi wisata;
pengembangansisteminformasipariwisatayangterintegrasidipusatdandaerah;
2. Peningkatan pemanfaatan berbagai media dan teknologi informasi sebagai sarana promosi
pariwisata; pengembangan kerja sama pemasaran dan promosi pariwisata dengan lembaga
terkait di dalam dan di luar, terutama kerja sama antar agen perjalanan dan antar tour
operatordidalammaupundiluarnegeri;dan
3. Pengembanganprofesionalismesumberdayamanusiadibidangpariwisata.
PengarusutamaanGenderdanPerlindunganAnak
Untuk mengatasi permasalahan pembangunan pengarusutamaan gender, maka rencana tindak
lanjut dalam pembangunan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan pada tahun 2011
adalah dengan meningkatkan efektivitas kelembagaan PUG dalam perencanaan, penganggaran,
pelaksanaan, pemantauan, dan evaluasi kebijakan dan program pembangunan yang responsif
gender di tingkat nasional dan daerah melalui: penyusunan kebijakan pelaksanaan PUG bidang
pendidikan, kesehatan, politik dan pengambilan keputusan, ketenagakerjaan; penyusunan
kebijakanperlindunganperempuandaritindakkekerasan,masalahsosialperempuan,dankorban
perdaganganorang;sertapenyusunankebijakanterkaitpenyusunandatagender.
Sedangkantindaklanjutyangakandilaksanakankedepandalamupayapeningkatanperlindungan
anak antara lain: (1) meningkatkan koordinasi pelaksanaan dan penegakan hukum yang terkait
dengan perlindungan bagi anak terhadap segala bentuk kekerasan dan diskriminasi; dan (2)
meningkatkan kapasitas kelembagaan perlindungan anak, ketersediaan data dan informasi,
koordinasi pelaksanaan, dan harmonisasi peraturan perundangͲundangan yang terkait dengan
perlindungananak.
PemudadanOlahraga
Tindak lanjut yang diperlukan terkait pembangunan pemuda dan olahraga, antara lain sebagai
berikut:
1. Dalam rangka peningkatan partisipasi dan peran aktif pemuda dalam berbagai bidang
pembangunandilakukanupaya:(1)peningkatancharacterbuildingmelaluigerakan,revitalisasi
dan konsolidasi gerakan kepemudaan yang meliputi: (a) peningkatan jumlah pemuda yang
Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014 147
difasilitasi dalam peningkatan wawasan kebangsaan, perdamaian, dan lingkungan hidup; (b)
peningkatan jumlah pengelola organisasi kepemudaan yang difasilitasi dalam pelatihan
kepemimpinan, manajemen, dan perencanaan program; (c) peningkatan jumlah organisasi
kepemudaan yang difasilitasi dalam memenuhi kualifikasi berdasarkan standar organisasi
kepemudaan; (d) peningkatan jumlah pemuda kader kepemimpinan; dan (e) peningkatan
jumlahpemudayangdifasilitasisebagaikaderkewirausahaan;(2)revitalisasiGerakanPramuka
dilakukan dengan peningkatan jumlah pemuda yang difasilitasi dalam pendidikan
kepramukaan;dan
2. Peningkatan budaya dan prestasi olahraga didorong melalui penetapan target pencapaian
posisi papan atas pada South East Asia (SEA) Games pada tahun 2011 dan Olimpiade tahun
2012 dengan peningkatan kualitas dan kuantitas prasarana dan sarana olahraga serta
peningkatanpembinaanolahragaprestasi.

Tabel2.14.2.PencapaianPembangunanPrioritasLainnya
BidangKesejahteraanRakyat,Tahun2010

No.
RPJMN2010ʹ2014
CAPAIAN
2009
CAPAIAN
2010 SUBSTANSIINTI SASARAN INDIKATOR
TARGET
2010
1. Pelaksanaanibadah
hajiyangtertibdan
lancarpalinglambat
pada2010
Meningkatnya
Pelayanan
KesehatanHaji
1

Meningkatnya
penyelenggaraa
nibadahhaji
danumrah
Jumlahjamaahhaji
penerimalayanan
kesehatanhaji
221.000

221.000

221.000

Jumlahjamaahhaji
yangmelaksanakan
ibadahhajidanumrah
221.000 221.000 221.000
2. Peningkatan
kerukunanumat
beragamamelalui
pembentukandan
peningkatan
efektivitasForum
KerukunanUmat
Beragama(FKUB)
Meningkatnya
dan
terpeliharanya
kondisidan
suasanayang
amandan
damaidi
kalanganumat
beragama
Pembangunan
SekretariatBersama
FKUBKab/Kota(unit)
15

392
2
15

OperasionalFKUB(unit)
a. TkProvinsi
b. Kab/Kota

33
150

Ͳ

33
150
PemulihanPaska
Konflik(Kegiatan)
1 Ͳ 1
3. Peningkatanjumlah
wisatawan
mancanegaradan
wisatawan
nusantarasebesar
20%secara
bertahapdalam5
tahun
Meningkatnya
jumlah
wisatawan
mancanegara
danwisatawan
nusantara
sebesar20%
secara
bertahapdalam
5tahun
Jumlahwisatawan
mancanegara

6.750.000

6.323.730

7.002.944

Jumlahwisatawan
nusantara
230.000.000 229.731.000 234.377.000
4. Promosi10tujuan
pariwisataIndonesia
melaluisaluran
pemasarandan
pengiklananyang
kreatifdanefektif
Terlaksananya
promosi10
tujuan
pariwisata
Indonesia
melaluisaluran
pemasarandan
pengiklanan
yangkreatif
Partisipasipadabursa
pariwisata
internasional,
pelaksanaanmisi
penjualan(sales
mission),dan
pendukungan
penyelenggaraan
festival(event)
72 Ͳ 78
148 Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014
No.
RPJMN2010ʹ2014
CAPAIAN
2009
CAPAIAN
2010 SUBSTANSIINTI SASARAN INDIKATOR
TARGET
2010
danefektif Penyelenggaraan
perwakilanpromosi
pariwisataIndonesia
(IndonesiaTourism
Promotion
Representative
Officers)diluarnegeri
(VITO)
12 Ͳ 12
Penyelenggaraan
promosilangsung
(directpromotion),dan
penyelenggaraanevent
pariwisataberskala
nasionaldan
internasional(event)
43 Ͳ 47
5. Perbaikandan
peningkatankualitas
jaringanprasarana
dansarana
pendukung
pariwisata
Meningkatnya
kualitas
jaringan
prasaranadan
sarana
pendukung
pariwisata
Jumlahdukungan
fasilitaspariwisata
(dayatarik)
7 Ͳ 7
6. Peningkatan
kapasitas
pemerintahdan
pemangku
kepentingan
pariwisatalokal
untukmencapai
tingkatmutu
pelayanandan
hospitality
managementyang
kompetitifdi
kawasanAsia

Meningkatnya
kapasitas
pemerintahdan
pemangku
kepentingan
pariwisatalokal
untukmencapai
tingkatmutu
pelayanandan
hospitality
management
yangkompetitif
dikawasanAsia
Jumlahtenagakerja
yangmemiliki
sertifikasitenagakerja
bidangpariwisata(ribu
orang)
10 Ͳ 10
Jumlahsumberdaya
yangdilatihdibidang
kebudayaandan
kepariwisataan(orang)
1.150 820 1.150
Jumlahlulusan
pendidikanpariwisata
di4UPTpendidikan
tinggipariwisata
(orang)
1.241 1.067 1.249
7 Perumusan
kebijakandan
pedomanbagi
penerapan
pengarusutamaan
(mainstreaming)
Gender(PUG)oleh
Kementeriandan
Lembaga
Pemerintah
Nonkementerian
lainnya,termasuk
perlindunganbagi
perempuandan
anakterhadap
berbagaitindak
kekerasan
Meningkatnya
jumlah
kebijakan
pelaksanaan
PUGbidang
pendidikan
Jumlahkebijakan
pelaksanaanPUG
dalamrangka
peningkatankualitas
pendidikan
2

Ͳ
3
2

JumlahK/Ldanpemda
yangdifasilitasidalam
penerapanARGdi
bidangpendidikan(K/L
danprov)
1K/L
5Prov
Ͳ 1K/L
10Prov
Meningkatnya
jumlah
kebijakan
pelaksanaan
PUGbidang
kesehatan
Jumlahkebijakan
pelaksanaanPUGdi
bidangkesehatan
3

Ͳ 3

JumlahK/Ldanpemda
yangdifasilitasidalam
penerapanARGdi
bidangkesehatan(K/L
danprov)
1K/L
5Prov
Ͳ 1K/L
5Prov
Meningkatnya
jumlahkebijakan
Jumlahkebijakan
pelaksanaanPUGdi
2

Ͳ 2

Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014 149
No.
RPJMN2010ʹ2014
CAPAIAN
2009
CAPAIAN
2010 SUBSTANSIINTI SASARAN INDIKATOR
TARGET
2010
partisipasi
perempuandi
bidangpolitikdan
pengambilan
keputusan
bidangpolitikdan
pengambilan
keputusan

JumlahK/Ldanpemda
yangdifasilitasidalam
penerapanARGdibidang
politikdanpengambilan
keputusan(K/Ldanprov)
3K/L
7Prov
Ͳ 3K/L
7Prov
Meningkatnya
jumlahkebijakan
pelaksanaanPUG
bidang
ketenagakerjaan
Jumlahkebijakan
pelaksanaanPUGdi
bidang
ketenagakerjaan
1

Ͳ 1

JumlahK/Ldanpemda
yangdifasilitasidalam
penerapanARGdi
bidang
ketenagakerjaan(K/L
danprov)
1K/L
5Prov
Ͳ 1K/L
5Prov
Meningkatnya
jumlah
kebijakan
perlindungan
perempuandari
tindak
kekerasan
Jumlahkebijakan
perlindungan
perempuandaritindak
kekerasan
5

Ͳ 5

JumlahK/Ldanpemda
yangdifasilitasidalam
penerapankebijakan
perlindungan
perempuandaritindak
kekerasan(K/Ldan
prov)
3K/L
6Prov
Ͳ 3K/L
14Prov
Meningkatnya
jumlahkebijakan
penerapansistem
datagender
Jumlahkebijakan
penerapansistemdata
gender
2

Ͳ 1

JumlahK/Ldanpemda
yangdifasilitasidalam
penerapankebijakan
penerapansistemdata
terpilahgender(K/L
danprov)
1K/L
Ͳ
Ͳ 1K/L
Ͳ
Meningkatnya
jumlahkebijakan
perlindungan
tenagakerja
perempuan
Jumlahkebijakan
perlindungantenaga
kerjaperempuan
1

Ͳ 1

JumlahK/Ldanpemda
yangdifasilitasidalam
penerapankebijakan
perlindungantenaga
kerjaperempuan(K/L
danprov)
1K/L
5Prov
Ͳ 1K/L
5Prov
Meningkatnya
jumlahkebijakan
perlindungan
korbantindak
pidana
perdagangan
orang
Jumlahkebijakan
perlindungankorban
tindakpidana
perdaganganorang
2

Ͳ 1

JumlahK/Ldanpemda
yangdifasilitasidalam
penerapankebijakan
perlindungankorban
tindakpidana
1K/L
5Prov
Ͳ 1K/L
15Prov
150 Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014
No.
RPJMN 2010ʹ2014
CAPAIAN
2009
CAPAIAN
2010 SUBSTANSI INTI SASARAN INDIKATOR
TARGET
2010
perdagangan orang
(K/L dan prov)
Meningkatnya
jumlah kebijakan
penghapusan
kekerasan pada
anak
Jumlah kebijakan
penghapusan
kekerasan pada anak
1


- 1


Jumlah K/L dan pemda
yang difasilitasi
tentang penghapusan
kekerasan pada anak
(K/L dan prov)
1 K/L
5 Prov
- 15 K/L
6 Prov
8. Pencapaian posisi
papan atas pada
South East Asia
(SEA) Games pada
tahun 2011,
peningkatan
perolehan medali di
Asian Games tahun
2010 dan Olimpiade
tahun 2012
Meningkatnya
penyediaan
prasarana dan
sarana
keolahragaan
yang memenuhi
standar
kelayakan
Jumlah fasilitasi
penyediaan prasarana
olahraga.
4 - 4
Jumlah penyediaan
sarana olahraga
44 - 44
Meningkatnya
pembinaan
olahraga
prestasi
Jumlah olahragawan
andalan nasional
520 - 520
Jumlah fasilitasi
keikutsertaan pada
Asian Games, SEA
Games, Olympic
Games, Asian Para
Games, Para Games,
dan Paralympic Games
2 - 2
9. Peningkatan
character building
melalui gerakan,
revitalisasi dan
konsolidasi gerakan
kepemudaan
Meningkatnya
jumlah
pemuda yang
difasilitasi
dalam
peningkatan
wawasan
kebangsaan,
perdamaian,
dan lingkungan
hidup
Jumlah pemuda yang
difasilitasi dalam
peningkatan wawasan
kebangsaan,
perdamaian, dan
lingkungan hidup
5500 - 5500
Meningkatnya
keberdayaan
organisasi
pemuda
Jumlah pengelola
organisasi
kepemudaan yang
difasilitasi dalam
pelaƟhan
kepemimpinan,
manajemen, dan
pencanaan program
6000 - 6000
Jumlah organisasi
kepemudaan yang
difasilitasi dalam
memenuhi kuĂůŝĮŬĂƐŝ
berdasarkan standar
organisasi
38 - 38
Berkembangnya
kepemimpinan
pemuda
Jumlah pemuda kader
kepemimpinan
4500 - 4500
Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014 151
No.
RPJMN 2010ʹ2014
CAPAIAN
2009
CAPAIAN
2010 SUBSTANSI INTI SASARAN INDIKATOR
TARGET
2010


Berkembangnya
kewirausahaan
pemuda
Jumlah pemuda yang
difasilitasi sebagai
kader kewirausahaan
3175 - 3175
10. Revitalisasi Gerakan
Pramuka
Pengembangan
gerakan
kepramukaan
Jumlah pemuda yang
difasilitasi dalam
pendidikan
kepramukaan
1000 - 1000
Catatan:
1. Dilaksanakan oleh Kementerian Kesehatan
2. Merupakan pembentukan FKUB di kat Provinsi dan Kabupaten/Kota di seluruh Indonesia
3. Capaian tahun 2009 k dapat diisi karena struktur program dan kegiatan RPJMN 2004–2009 dan RPJMN 2010 –
2014 sangat berbeda sebagai dampak dari reformasi birokrasi di Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan
Perlindungan Anak.




152 Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014
Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014 153
BAGIAN III
PENUTUP
154 Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014
Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014 155















Bagian III
PENUTUP

Berbagai capaian pembangunan telah berhasil diraih selama satu tahun pelaksanaan RPJMN 2010–
2014. Berdasarkan capaian pelaksanaan pembangunan prioritas nasional dalam tahun 2010,
secara umum dapat disimpulkan bahwa pembangunan masih dalam alur yang diharapkan,
meskipun masih terdapat beberapa substansi ŝŶƟ yang perlu diupayakan lebih keras untuk
mencapai sasaran pada akhir pelaksanaan RPJMN 2010–2014.
Prioritas 1. Reformasi Birokrasi dan Tata Kelola. Selama tahun 2010 Prioritas Reformasi Birokrasi
dan Tata Kelola telah menunjukkan berbagai capaian penƟŶg. Untuk memberikan landasan kuat
bagi pelaksanaan reformasi birokrasi, telah ditetapkan Peraturan Presiden No. 81 Tahun 2010
tentang Grand Design Reformasi Birokrasi 2010–2025 dan Peraturan Menteri PAN dan RB No. 20
tahun 2010 tentang Road Map Reformasi Birokrasi 2010–2014. Dalam konteks otonomi daerah,
tahun 2010 difokuskan pada penghenƟan/pembatasan pemekaran wilayah, peningkatan eĮƐŝensi
156 Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014

dan ĞĨĞŬƟvitas penggunaan dana perimbangan daerah, dan penyempurnaan pelaksanaan
pemilihan kepala daerah. Selanjutnya, dalam rangka penyempurnaan berbagai kebijakan dalam
pengelolaan SDM aparatur telah dilakukan penyusunan beberapa Rancangan Peraturan
Pemerintah (RPP) antara lain RPP tentang Sistem Pengadaan/Rekrutmen dan Seleksi PNS, RPP
tentang Remunerasi dan Tunjangan Kinerja Pegawai Negeri, dan RPP tentang Penilaian Kinerja
Pegawai. Terkait dengan upaya percepatan harmonisasi dan sinkronisasi peraturan perundang-
undangan di Ɵngkat pusat dan daerah, pada tahun 2010 telah dilaksanakan inventarisasi dan
pengkajian peraturan daerah sebanyak 3.000 Perda. Sementara itu, dalam upaya penegakan
hukum, pemantapan integrasi dan integritas penegakan hukum telah dilakukan melalui
peningkatan kualitas SDM Kejaksaan dalam penerimaan pegawai, pelaksanaan diklat
penjenjangan, serta pendidikan lanjutan (pascasarjana), di samping menerapkan reward and
punishment. Sedangkan dalam konteks pencegahan korupsi, antara lain dilakukan melalui
pelaporan Laporan Hasil Kekayaan Pejabat Negara (LHKPN). Dari 144.557 wajib LHKPN, sebanyak
118.340 telah melaporkan dan telah diumumkan 114.570 laporan.
Prioritas 2. Pendidikan. Upaya pembangunan pendidikan telah berhasil meningkatkan taraf
pendidikan masyarakat Indonesia yang ditandai dengan meningkatnya rata-rata lama sekolah
penduduk usia 15 tahun ke atas yang mencapai 7,7 tahun, menurunnya proporsi buta aksara
penduduk usia 15 tahun ke atas menjadi 5,30 persen, serta meningkatnya angka ƉĂƌƟƐŝƉĂƐŝ
pendidikan pada semua jenjang. Pada jenjang pendidikan dasar dan menengah, perbaikan akses
terhadap pendidikan ditunjukkan oleh meningkatnya angka parƟƐŝƉĂƐi murni (APM)
SD/SDLB/MI/Paket A dan APM SMP/SMPLB/MTs/Paket B pada tahun 2010 menjadi 95,41 persen
dan 75,64 persen. Pada tahun yang sama, angka ƉĂƌƟƐŝƉĂƐŝ kasar jenjang pendidikan menengah
(SMA/SMK/SMLB/MA/Paket C) meningkat pula menjadi 70,53 persen. Sementara itu, APK PT pada
tahun 2010 telah mencapai angka 23,9 persen.
Prioritas 3. Kesehatan. Upaya pembangunan kesehatan ƟĚĂŬ hanya dilakukan melalui pendekatan
ŬƵƌĂƟĨ tetapi juga ƉƌĞǀĞŶƟĨ serta melalui peningkatan kesehatan masyarakat dan lingkungan.
Secara keseluruhan keberhasilan pendekatan ini pada 2010 antara lain dapat ditunjukkan oleh
meningkatnya angka harapan hidup dari 70,7 tahun pada tahun 2009 menjadi 70,9 tahun,
menurunnya angka ŬĞŵĂƟan ibu (AKI) menjadi sebesar 228 per 100.000 kelahiran hidup, dan
menurunnya angka ŬĞŵĂƟĂŶ bayi (AKB) menjadi sebesar 34 per 1.000 kelahiran hidup. Selain itu
pendekatan tersebut telah pula berkontribusi dalam menurunkan prevalensi kekurangan gizi
menjadi sebesar 17,9 persen, menurunkan prevalensi anak balita yang pendek (stuŶƟng) menjadi
sebesar 35,6 persen serta mendukung pencapaian sasaran Millenium Development Goals (MDGs).
Prioritas 4. Penanggulangan Kemiskinan. Dalam pelaksanaan penanggulangan kemiskinan,
program-program dibagi menjadi Ɵga klaster yaitu program perlindungan sosial berbasis
keluarga, program berbasis pemberdayaan masyarakat, dan program berbasis pemberdayaan
usaha mikro dan kecil. Secara umum, hasil pelaksanaan ŬĞƟŐĂ klaster tersebut dapat memacu
penurunan angka kemiskinan dari 14,15 persen pada tahun 2009 menjadi 13,33 persen pada tahun
2010 (Target 2010 12,0-13,5 persen).
Prioritas 5. Ketahanan Pangan. Pencapaian Prioritas Ketahanan Pangan pada tahun 2010 antara
lain ditunjukkan dengan: 1) meningkatnya produksi bahan pangan, yaitu padi mencapai 66,4 juta
ton Gabah Kering Giling (GKG), jagung mencapai 18,4 juta ton pipilan kering, kedelai mencapai 908
ribu ton biji kering, gula mencapai 2,4 juta ton Gula Kristal WƵƟŚ (GKP), daging sapi mencapai 440
ribu ton karkas, serta ikan 10,83 juta ton; 2) pertumbuhan PDB sektor pertanian, perikanan dan
kehutanan mencapai 2,9 persen; dan 3) meningkatnya Nilai Tukar Petani (NTP) dan Nilai Tukar
Nelayan (NTN) masing-masing mampu mencapai 100,79 dan 105,5.
Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014 157

Prioritas 6. Infrastruktur. Pencapaian pembangunan infrastruktur selama tahun 2010 mencakup
pengelolaantataruang,pembangunaninfrastrukturtransportasi,perumahanrakyat,pengendalian
banjir, dan telekomunikasi. Pencapaian tersebut antara lain adalah terpenuhinya kondisi mantap
jalannasionalsebesar87persen,terbangunnya87.001RumahSederhanaSehat(RSH)bersubsidi,
500 unit rusunami, 89 twin block rusunawa yang diperkirakan menyediakan rumah layak huni
untuk96.045keluargayangkurangmampu.Pencapaianpembangunaninfrastruktursumberdaya
airyangterkaitdenganpengendalianbanjirantaralainadalahdibangunnyaprasaranapengendali
banjir sepanjang 321 km, 13 buah pengendali lahar, pengaman pantai sepanjang 25,11 km, serta
rehabilitasiprasaranapengendalibanjirsepanjang171,2km.Untukpembangunantelekomunikasi,
pembangunan Desa Dering telah dilakukan di 27.670 desa (83,4 persen dari target) dan Pusat
LayananInternetKecamatan(PLIK)dilakukandi4.269desa(74,3persendaritarget).
Prioritas7.IklimInvestasidanIklimUsaha.Pencapaianprioritasinitelahmeningkatkaninvestasi
melalui perbaikan kepastian hukum, penyederhanaan prosedur, perbaikan sistem informasi, dan
pengembanganKawasanEkonomiKhusus(KEK).Terkaitdenganperbaikankepastianhukum,telah
dilakukan perancangan peraturan perundangͲundangan dengan pembahasan RUU tentang
Perubahan Desaign Industri, RUU tentang Perubahan UU Paten, dan RUU tentang Perubahan UU
Pengadilan Anak, serta penyelesaian harmonisasi 140 peraturan perundangͲundangan. Capaian
penyederhanaan prosedur melalui penerapan Sistem Pelayanan Informasi dan Perizinan Investasi
SecaraElektronik(SPIPISE)padaPelayananTerpaduSatuPintu(PTSP),padatahun2010sebanyak
33 provinsi dan 40 kabupaten/kota yang telah menggunakan SPIPISE pada PTSP. Sementara itu,
untuk mendukung pengembangan sistem logistik nasional telah dilakukan beberapa upaya yang
antaralainmerupakanpeningkatankelancarandistribusibahanpokokdanpembangunansarana
distribusi perdagangan. Dalam kaitannya dengan pengembangan sistem informasi, implementasi
NSW telah diberlakukan secara wajib bagi semua importir di 5 pelabuhan utama dan pelayanan
perijinan perdagangan secara online (INATRADE) dengan jumlah pengguna sebanyak 1.536
perusahaan.
Prioritas 8. Energi. Untuk mendukung terwujudnya ketahanan dan kemandirian energi, selama
tahun 2010 telah disusun berbagai kebijakan melalui regulasi maupun deregulasi. HasilͲhasil
kegiatan pembangunan selama tahun2010 dibidang energi antara lain meliputi produksi minyak
bumi,peningkatankapasitaspembangkitlistrik,rasioelektrifikasisertapembangunanjaringangas
diperkotaan.Produksiminyakbumipadatahun2014diharapkandapatmencapai1,01jutabarrel
per hari. Sementara pada tahun 2010, produksi minyak bumi mencapai 954 ribu barrel per hari.
Pembangunan jaringan gas kota telah dilaksanakan di beberapa wilayah, antara lain: (i) Tarakan,
3.400 sambungan rumah tangga; (ii) Depok, 3.366 sambungan rumah tangga; (iii) Sidoarjo, 1.750
sambungan rumah tangga, dan (iv) Bekasi, 1.800 sambungan rumah tangga. Pencapaian
pembangunanketenagalistrikanpadatahun2010adalahmeningkatnyarasioelektrifikasinasional
yang mencapai 67,15 persen dan rasio desa terlistriki 92,5 persen. Hal tersebut didukung oleh
peningkatankapasitaspembangkitsebesar787MWbesertapembangunanjaringantransmisidan
distribusinya.
Prioritas9.LingkunganHidupdanPengelolaanBencana.Prioritasinitelahmenunjukkancapaian
yang cukup baik terkait dengan konservasi dan pemanfaatan lingkungan hidup yang mendukung
keberlanjutan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan, disertai penguasaan dan pengelolaan
risiko bencana untuk mengantisipasi perubahan iklim. Capaian tersebut antara lain: (1) Upaya
perbaikan kerusakan lingkungan yang mengarah kepada upaya mitigasi dan adaptasi perubahan
iklim global; (2) Mendukung target penurunan emisi sebesar 26 persen, melalui penyusunan
RancanganPeraturanPresidententangInventarisasiGasRumahKaca;(3)Pengendaliankerusakan
158 Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014

lingkungan untuk mempertahankan pelestarian lingkungan dan meningkatkan kualitas daya
dukung lingkungan melalui pelaksanaan Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan(Proper)
di 705 perusahaan (Melebihi target tahun 2010 yang sebesar 680 perusahaan); (4) Pengendalian
kebakaran hutan melalui upaya menurunkan jumlah hotspot melebihi target penurunan sebesar
20 persen per tahun; (5) Pengembangan sistem peringatan dini, dengan terkelolanya Sistem
Peringatan Dini Tsunami (TEWS) dan Sistem Peringatan Dini Cuaca (MEWS) serta Sistem
PeringatanDiniIklim(CEWS);dan(6)Upayamengurangibencanamelaluipeningkatankapasitas
aparaturpemerintahdanmasyarakatdalampenanggulanganbahayakebakaranhutandi6DAOPS.
Prioritas 10. Daerah Tertinggal, Terdepan, Terluar, dan Pascakonflik. Pencapaian sasaran
substansiintiuntukmendukungpembangunaninfrastrukturdanpendukungkesejahteraanlainnya
di daerah tertinggal, terdepan,danpasca konflik, antara lain dapatdilihat dari: (1) Terbangunnya
permukiman transmigrasi untuk 4925 KK; (2) Terlaksananya pembangunan, pengoperasian, dan
pengadaan berbagai sarana dan prasarana angkutan perintis; (3) Terlaksananya penyediaan jasa
akses telekomunikasi dan layanan internetDesa Dering(83.4persen) dan Pusat Layanan Internet
Kecamatan (PLIK) di desa ibukota kecamatan (74.3 persen); (4) Terfasilitasinya penyediaan
infrastruktur di 30 pulauͲpulau kecil terluar; dan (5) Terbentuknya Badan Nasional Pengelola
Perbatasan (BNPP) melalui Peraturan Presiden (Perpres) No. 12 Tahun 2010. Dalam hal
pembentukankerjasamadengannegaraͲnegaratetanggagunapengamananwilayahdansumber
daya kelautan, telah diselenggarakan kerjasama pengamanan wilayah dan sumber daya kelautan
dengan 7 negara tetangga yaitu Malaysia, Singapura, Australia, Filipina, Solomon, Papua New
Guinea,danTimorLeste.Sementaraitu,capaianSubstansiIntiuntukkeutuhanwilayahantaralain
adalah pembuatan peta batas RIͲPNG dan peta foto garis pulauͲpulau kecil terluar, serta
perundingandengannegaraͲnegaratetangga,yaituMalaysia,Vietnam,Thailand,danSingapura.
Prioritas 11. Kebudayaan, Kreativitas, dan Inovasi Teknologi. Dalam prioritas pembangunan
nasional ini,padatahun2010telahberhasildicapaiantaralain:(1) KesepakatanBentukLembaga
Pengelolaan Terpadu Warisan Budaya Dunia Candi Borobudur dan Kajian Bentuk Pengelolaan
TerpaduKawasanWarisanBudayaDuniaSitusManusiaPurbaSangirandanCandiPrambanan;(2)
RevitalisasiMuseumNegeriJawaTimur(Surabaya),MuseumNegeriKalimantanBarat(Pontianak),
MuseumNegeriJambi(Jambi),MuseumNegeriNusaTenggaraBarat(Mataram),MuseumNegeri
Sumatera Utara, dan Museum Negeri Batak TB Silalahi di Balige Sumatera Utara; (3) Peningkatan
layanan jasa perpustakaan dan informasi dengan capaian 33 perpustakaan provinsi memiliki eͲ
librarydanpengembanganperpustakaandanpembudayaangemarmembaca,dengancapaian88
mobil perpustakaan keliling, 3 unit perpustakaan terapung, 33 perpustakaan provinsi, 250
perpustakaan kabupaten/kota, dan 2.143 perpustakaan desa; (4) Fasilitasi sarana bagi
pengembangan,pendalamandanpergelaransenibudayadi5provinsidan20kabupaten/kota;(5)
13 penelitian di bidang kebudayaan dan 144 penelitian di bidang arkeologi; (6) Fasilitasi 20
pergelaran,pameran,festival,lomba,danpawai;(7)Fasilitasi18eventfestivalfilmdalamdanluar
negeri; (8) Pelaksanaan sensor terhadap 40.000 judul film/video/iklan; (9) Fasilitasi peningkatan
kapasitas di bidang iptek dan imtaq (iman dan taqwa) bagi 3.180 orang pemuda kader dan di
bidangseni,budaya,danindustrikreatifbagi3.180orangpemudakader.
Prioritas lainnya Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan. Capaian Prioritas ini tercermin dari: (1)
Keamanan, upaya pemerintah menangani tindak terorisme menunjukkan hasil yang semakin
membaik. Pada 9 Maret 2010, Polri berhasil menewaskan tokoh penting terorisme internasional.
Hasil ini memberikan harapan semakin kondusifnya keamanan dalam negeri dari ancaman
terorisme;(2)Pertahanan,melaluiPerpresNo.42Tahun2010tentangKomiteKebijakanIndustri
Pertahanan (KKIP), pemerintah membentuk KKIP sebagai institusi yang merumuskan kebijakan
Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014 159

pembelian Alutsista TNI dan Alut Polri. Selain itu, juga telah diselesaikan Master Plan Industri
PertahanandanRoadMapmenujurevitalisasiindustripertahanandalamnegeri;(3)Perdamaian,
pada tahun 2010 Pemerintah Indonesia telah mengajukan tiga prakarsa, yaitu (a) Menyampaikan
posisidasarmengenailimaisukunciReformasiDKͲPBBkepadafasilitatornegosiasiReformasiDKͲ
PBBsebagaimasukanbaginegosiasilanjutan,masingͲmasingberkaitandenganisu:i)Categoriesof
membership; ii) Question of veto; iii) Regional representation; iv) Size of the enlarged Security
Council and its working methods; dan v) The relationship between the Security Council and the
General Assembly; (b) Telah menyelesaikan rancangan keputusan presiden mengenai
pembentukan Tim Koordinasi Misi Pemeliharaan Perdamaian; (c) Menyelenggarakan Focused
GroupDiscussion(FGD)mengenaiPeningkatanPeranPeaceKeepingOperations(PKOs)Indonesia;
(4)Ketenagakerjaan,dalamupayameningkatkanpelayanantenagakerjaIndonesiadiluarnegeri,
Pemerintah Indonesia pada tahun 2010 telah melakukan penguatan bagi 24 citizen service.
Selanjutnya, sampai tahun 2010 Pemerintah telah memulangkan 6.287 repatrian dan 28.721
deportan WNI/TKI bermasalah dari negaraͲnegara tujuan penempatan TKI di Timur Tengah dan
AsiaTenggara.
Prioritas Lainnya Bidang Perekonomian. Capaian prioritas ini terlihat dari: (1) pelaksanaan
pengembanganklasterindustripertanianoleochemicalmelaluifasilitasikawasanindustriberbasis
CPO di tiga provinsi (Sumatera Utara, Kalimantan Timur, dan Riau) serta pembangunan klaster
industri berbasis migas kondensat; (2) peningkatan peran dan kemampuan Republik Indonesia
dalam diplomasi perdagangan internasional yang diwujudkan dalam pelaksanaan berbagai
perundingan internasional sebagai upaya partisipasi aktif di forum internasional. Partisipasi
perundingan perdagangan internasional telah dilakukan sebanyak 41 kali dengan 41 buah posisi
runding. Sidang internasional dalam negeri sebanyak 17 sidang dan perundingan Perdagangan
Internasional (MRA, MOU, Agreement, Agreed Minutes, Declaration, Chair Report) sebanyak 34
buah; (3) peningkatan pelayanan dan perlindungan tenaga kerja indonesia (TKI) selama proses
penyiapan, pemberangkatan, dan kepulangan melalui pembangunan infrastruktur dan aplikasi
sistem informasi layanan TKI (SIMͲTKI) yang nantinya akan mengintegrasikan sistem informasi
terkaitlayananTKIdi13K/L;serta(4)peningkatanupayapelayanandanperlindunganTKIdiluar
negeri melalui pembentukan pusat layanan 24 jam (hotline service/crisis center) sebagai pusat
penerimaanpengaduandanfasilitasipenyelesaianmasalahTKI.
Prioritas Lainnya Bidang Kesejahteraan Rakyat. Capaian Prioritas Lainnya Bidang Kesejahteraan
Rakyattahun2010tercerminantaralaindarimeningkatnyakualitaspelayananibadahhajikepada
221.000 jemaah dengan penerapan sistem manajamen mutu yang mendapatkan ISO 9001:2008.
Selain itu, kehidupan umat beragama semakin harmonis dan kondusif ditandai dengan
menurunnya konflik sosial bernuansa keagamaan, berdirinya forumͲforum kerukunan, dan
berkembangnyakerjasamalintasagama.Dalamhalpembangunankepariwisataanditandaidengan
meningkatnyakunjunganwisatawanmancanegara(wisman)padatahun2010yangmencapai7,00
juta orang, atau meningkat sebesar 7,88 persen dibandingkan kunjungan wisman tahun 2009.
Sementaraitu,pergerakanwisatawannusantara(wisnus)jugamengalamipeningkatandari229,73
juta pergerakan pada tahun 2009 menjadi 234,38 juta pergerakan pada tahun 2010. Terkait
denganpenerapanpengarusutamaangendertermasukperlindunganperempuandananak,antara
lain telah dilakukan upaya peningkatan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan di
berbagai bidang pembangunan, seperti pendidikan, kesehatan, politik dan pengambilan
keputusan, serta ketenagakerjaan. Sedangkan upaya dalam perlindungan anak dari berbagai
tindak kekerasan, perdagangan anak, eksploitasi, dan diskriminasi ditunjukkan antara lain oleh
telah disusunnya RUU tentang Sistem Peradilan Pidana Anak, ditetapkannya kebijakan terpadu
tentang penanganan ABH berbasis restorative justice, dan ditetapkannya Peraturan Menteri
160 Evaluasi Satu Tahun Pelaksanaan RPJMN 2010–2014
Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak No. 2 Tahun 2010 tentang RAN Pencegahan
dan Penanganan Kekerasan terhadap Anak. Selanjutnya, pembangunan pemuda dan olahraga
selamatahun2010telahmenunjukkancapaianyangsemakinmeningkat,yangditunjukkanantara
lain dengan: (1) Meningkatnya character building melalui gerakan revitalisasi dan konsolidasi
kepemudaan,dan(2)MeningkatnyaperolehanmedalidiAsianGamesTahun2010.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->