Peran perawat dalam Pemberian Obat

23 NOVEMBER, 2008

Anastasia Anna, SKp. MKes. Pendahuluan

Perawat bertanggung jawab dalam pemberian obat – obatan yang aman . Perawat harus mengetahui semua komponen dari perintah pemberian obat dan mempertanyakan perintah tersebut jika tidak lengkap atau tidak jelas atau dosis yang diberikan di luar batas yang direkomendasikan . Secara hukum perawat bertanggung jawab jika mereka memberikan obat yang diresepkan dan dosisnya tidak benar atau obat tersebut merupakan kontraindikasi bagi status kesehatan klien . Sekali obat telah diberikan , perawat bertanggung jawab pada efek obat yang diduga bakal terjadi. Buku-buku referensi obat seperti , Daftar Obat Indonesia ( DOI ) , Physicians‘ Desk Reference (PDR), dan sumber daya manusia , seperti ahli farmasi , harus dimanfaatkan perawat jika merasa tidak jelas mengenai reaksi terapeutik yang diharapkan , kontraindikasi , dosis , efek samping yang mungkin terjadi , atau reaksi yang merugikan dari pengobatan ( Kee and Hayes, 1996 ). A. Enam Hal yang Benar dalam Pemberian Obat Supaya dapat tercapainya pemberian obat yang aman , seorang perawat harus melakukan enam hal yang benar : klien yang benar, obat yang benar, dosis yang bena, waktu yang benar, rute yang benar, dan dokumentasi yang benar. Pada waktu lampau, hanya ada lima hal yang benar dalam pemberian obat. Tetapi kini ada hal keenam yang dimasukkan yaitu dokumentasi. Dua hal tambahan klien juga dapat ditambahkan : hak klien untuk mengetahui alasan pemberian obat, hak klien untuk menolak penggunaan sebuah obat. Klien yang benar dapat dipastikan dengan memeriksa identitas klien, dan meminta klien menyebutkan namanya sendiri. Beberapa klien akan menjawab dengan nama sembarang atau tidak berespon, maka gelang identifikasi harus diperiksa pada setiap klien pada setiap kali pengobatan. Pada keadan gelang identifikasi hilang, perawat harus memastikan identitas klien sebelum setiap obat diberikan. Dalam keadaan dimana klien tidak memakai gelang identifikasi (sekolah, kesehatan kerja, atau klinik berobat jalan), perawat juga bertanggung jawab untuk secara tepat mengidentifikasi setiap orang pada saat memberikan pengobatan. Obat yang benar berarti klien menerima obat yang telah diresepkan. Perintah pengobatan mungkin diresepkan oleh seorang dokter, dokter gigi, atau pemberi asuhan kesehatan yang memiliki izin praktik dengan wewenang dari pemerintah. Perintah melalui telepon untuk pengobatan harus ditandatangani oleh dokter yang menelepon dalam waktu 24 jam. Komponen dari perintah pengobatan adalah : (1) tanggal dan saat perintah ditulis, (2) nama obat, (3) dosis obat, (4) rute pemberian, (5) frekuensi pemberian, dan (6) tanda tangan dokter atau pemberi asuhan kesehatan. Meskipun merupakan tanggung jawab perawat untuk mengikuti perintah yang tepat, tetapi jika salah satu komponen tidak ada atau perintah pengobatan tidak lengkap, maka obat tidak boleh diberikan dan harus segera menghubungi dokter tersebut untuk mengklarifikasinya ( Kee and Hayes, 1996 ).

Untuk menghindari kesalahan. dan empat rute parenteral : intradermal . sehingga kadar obat dalam plasma dapat dipertahankan.i. Berikan obat-obat yang terpengaruh oleh makanan seperti captopril.d ( tiga kali sehari ). .d ( dua kali sehari ). maka obat diberikan sekali sehari. (2) sebelum menuang / mengisap obat dan (3) setelah menuang / mengisap obat. 4. kaplet . tes darah puasa. hidung . telinga . seperti kalium dan aspirin. Rute yang lebih sering dari absorpsi adalah (1) oral ( melalui mulut ): cairan . 1996 . quinidin dan quinine. (2) sublingual ( di bawah lidah untuk absorpsi vena ) . Beberapa obat diberikan sebelum makan dan yang lainnya diberikan pada saat makan atau bersama makanan ( Kee and Hayes. atau kapsul . seperti endoskopi. berat badan klien juga harus dipertimbangkan. q. Dosis obat harian diberikan pada waktu tertentu dalam sehari. yang merupakan kontraindikasi pemberian obat. suspensi . perawat harus mempunyai dasar pengetahuan mengenai rasio dan proporsi. misalnya 3 mg/KgBB/hari. Periksa tanggal kadaluarsa. 2. 6. rektum atau vagina ) .d ) untuk menjaga kadar darah terapeutik. subkutan .pil . 1997) Implikasi dalam keperawatan mencakup : 1.i.d ( empat kali sehari ). t. Perawat harus ingat bahwa obat-obat tertentu mempunyai nama yang bunyinya hampir sama dan ejaannya mirip. Berikan obat pada saat yang khusus. Dosis yang benar adalah dosis yang diberikan untuk klien tertentu. Jika telah melewati tanggalnya. sebelum makan 3.i. (3) topikal ( dipakai pada kulit ) . Berikan obat-obat. Rute yang benar perlu untuk absorpsi yang tepat dan memadai. Tanggung jawab perawat untuk memeriksa apakah klien telah dijadwalkan untuk pemeriksaan diagnostik. Dalam kebanyakan kasus. Perawat harus menghitung setiap dosis obat secara akurat. Obat-obat dapat diberikan ½ jam sebelum atau sesudah waktu yang tertulis dalam resep. label obat harus dibaca tiga kali : (1) pada saat melihat botol atau kemasan obat. (2) dalam keadaan tertentu. 5. atau q6h ( setiap 6 jam ). yang dapat mengiritasi perut ( mukosa lambung ) bersama-sama dengan makanan. (5)instilasi ( pada mata . Jika ragu-ragu. Sebelum menghitung dosis obat. dan intravena. Obat-obat dengan waktu paruh pendek diberikan beberapa kali sehari pada selang waktu yang tertentu . misalnya digoksin dan digitoksin. dst.i. dengan mempertimbangkan variable berikut : (1) tersedianya obat dan dosis obat yang diresepkan (diminta). dosis obat harus dihitung kembali dan diperiksa oleh perawat lain. seperti b. Antibiotika harus diberikan dalam selang waktu yang sama sepanjang 24 jam ( misalnya setiap 8 jam bila di resep tertulis t. Jika obat mempunyai waktu paruh (t ½ ) yang panjang. Waktu yang benar adalah saat dimana obat yang diresepkan harus diberikan. Trounce. (4) inhalasi ( semprot aerosol ) . buang atau kembalikan ke apotik ( tergantung peraturan ). Implikasi dalam keperawatan termasuk : . intramuskular . Demerol dan dikumarol. dosis diberikan dalam batas yang direkomendasikan untuk obat yang bersangkutan.

Perawat yang memberikan obat-obatan pada klien diharapkan mempunyai pengetahuan dasar mengenai obat dan prinsip-prinsip dalam pemberian obat. c. Nilai kemampuan klien untuk menelan obat sebelum memberikan obat – obat per oral b. alasan penolakan dan mengambil langkah – langkah yang perlu untuk mengusahakan agar klien mau menerima pengobatan . Hak Klien untuk Menolak Pengobatan Klien dapat menolak untuk pemberian suatu pengobatan . penolakan ini harus segera didokumentasikan. Ini meliputi nama obat . Kee and Hayes. Jika suatu pengobatan dtolak . Lillis and LeMone. Respon klien terhadap pengobatan perlu di catat untuk beberapa macam obat seperti (1) narkotik – bagaimana efektifitasnya dalam menghilangkan rasa nyeri – atau (2) analgesik non-narkotik. Hak – Hak Klien dalam Pemberian Obat 1. B. (3) sedativa. d. perawat primer. Adalah tanggung jawab perawat untuk menentukan . seperti dalam pemberian insulin. . jika memungkinkan . dosis . Teknik steril dibutuhkan dalam rute parenteral . 1996 ). 2. 1993 . jelaslah bahwa pemberian obat pada klien merupakan fungsi dasar keperawatan yang membutuhkan ketrampilan teknik dan pertimbangan terhadap perkembangan klien. misalnya pada pemberian insulin atau warfarin ( Taylor. yang berdasarkan pengetahuan individu yang diperlukan untuk membuat suatu keputusan . (4) antiemetik (5) reaksi yang tidak diharapkan terhadap pengobatan. Tindak lanjut juga diperlukan jika terjadi perubahan pada hasil pemeriksaan laboratorium . seperti irigasi gastrointestinal atau tanda – tanda kepekaan kulit.a. Dokumentasi yang benar membutuhkan tindakan segera dari seorang perawat untuk mencatat informasi yang sesuai mengenai obat yang telah diberikan . 1993 . Lillis and LeMone. Penundaan dalam mencatat dapat mengakibatkan lupa untuk mencatat pengobatan atau perawat lain memberikan obat itu kembali karena ia berpikir obat itu belum diberikan (Taylor. atau dokter harus diberitahu jika pembatalan pemberian obat ini dapat membahayakan klien. Perawat yang bertanggung jawab. Pergunakan teknik aseptik sewaktu memberikan obat . Tetaplah bersama klien sampai obat oral telah ditelan. waktu dan tanggal . rute . Hak Klien Mengetahui Alasan Pemberian Obat Hak ini adalah prinsip dari memberikan persetujuan setelah mendapatkan informasi ( Informed concent ) . Kee and Hayes.obat pada tempat yang sesuai . Berdasarkan hal-hal tersebut di atas. Berikan obat. inisial dan tanda tangan perawat . 1996 ).

Copyright 2010 Fakultas Keperawatan Universitas Padjadjaran Hak Cipta Dilindungi Undang Undang .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful