DIARE AKUT Pendahuluan Diare merupakan penyakit yang biasa terjadi pada anak-anak dan dapat disebabkan

oleh berbagai macam penyebab dengan variasi penyakit dari yang ringan hingga berat. Diare yang terjadi pada anak-anak biasanya disebabkan oleh karena infeksi, meskipun demikian diet makanan yang tidak sesuai, terjadinya malabsorpsi makanan, dan berbagai macam gangguan pada saluran cerna juga dapat menyebabkan keadaan tersebut. Penyakit diare ini biasanya merupakan penyakit yang sembuh dengan sendirinya (“self-limited”), tetapi manajemen dan tatalaksana yang tidak baik dari infeksi akut tersebut dapat menyebabkan keadaan yang berlarut-larut. Berdasarkan data-data yang diperoleh maka komplikasi yang seringkali terjadi akibat diare adalah kehilangan cairan dari tubuh atau yang disebut dengan dehidrasi (Frye, 2005). Selain dehidrasi maka komplikasi lain yang dapat menyertai diare adalah muntah. Cairan akan masuk ke dalam tubuh melalui saluran pencernaan dan kemudian akan diabsorpsi di dalam tubuh. Jika kemampuan untuk minum untuk mengkompensasi kehilangan cairan akibat diare dan muntah terganggu maka dehidrasi akan terjadi. Kematian yang terjadi akibat diare pada anak-anak terutama disebabkan karena kehilangan cairan dari tubuh dalam jumlah yang besar (Karras, 2005). Definisi Diare adalah suatu keadaan pergerakan tinja yang cepat, konsistensi cair/berair, lembek dan dapat ditambah dengan keadaan saluran cerna yang penuh dengan gas (Karras, 2005). Sedangkan yang dimaksud dengan diare akut adalah buang air besar yang terjadi pada bayi atau anak yang sebelumnya nampak sehat, dengan frekuensi 3 kali atau lebih per hari, disertai perubahan tinja menjadi cair, dengan atau tanpa lendir dan darah (Sunoto, 1991). Pada bayi yang masih mendapat ASI tidak jarang frekuensi defekasinya lebih dari 3-4 kali sehari, keadaan ini tidak dapat disebut diare, melainkan masih bersifat fisiologis atau normal. Kadang-kadang seorang anak defekasi kurang daripada 3 kali sehari, tetapi konsistensinya sudah encer, keadaan ini sudah dapat disebut diare. 1

Ada juga yang mendefinisikan bahwa diare adalah defekasi encer lebih dari tiga kali sehari dengan/tanpa darah dan/atau lendir dalam tinja. Diare akut adalah diare yang terjadi secara mendadak dan berlangsung kurang dari 7 hari dan anak yang sebelumnya sehat (Mansjoer, 2000). Dalam definisi ini terdapat batasan waktu yaitu kurang dari 7 hari dan batasan diare adalah lebih dari tiga kali sehari. Menurut Pedoman Diagnosis dan Terapi Ilmu Kesehatan Anak FK UNPAD – RSHS (2005) maka yang dimaksud dengan diare akut adalah buang air besar dengan konsistensi lebih encer/cair dari biasanya, tiga kali atau lebih dalam satu hari, dapat/tidak disertai dengan lendir/darah yang timbul secara mendadak dan berlangsung kurang dari 2 minggu (14 hari). Jika ada diare akut maka terdapat juga diare kronik. Diare kronik adalah suatu sindroma, bukan penyakit. Diare kronik adalah diare yang berlangsung 2 minggu atau lebih. Pada kesempatan referat kali ini kami hanya akan membatasi permasalahan pada diare akut saja. Epidemiologi Diare merupakan penyakit yang umum terjadi pada hampir semua kelompok usia dan merupakan penyakit kedua tersering setelah influenza ( common cold). Penyakit diare juga merupakan suatu masalah yang kerap kali terjadi di dalam kesehatan masyarakat dan di dalam bagian pelayanan kegawatdaruratan, terutama untuk anak-anak dibawah usia lima tahun. Diperkirakan terdapat 100 juta kasus diare akut setiap tahunnya di Amerika Serikat. Kasus-kasus tersebut merupakan 5% dari keseluruhan kunjungan ke praktek pribadi dan 10% dari pasien-pasien yang dirawat inap (Frye, 2005). Walaupun telah banyak hasil yang diperoleh dibidang penanggulangan diare, namun hingga kini diare masih merupakan penyebab kesakitan dan kematian pada bayi dan balita di negara berkembang. Episode diare setiap tahun di Indonesia masih berkisar sekitar 60 juta dengan kematiannya sebanyak 200.000-250.000. Menurut survei kesehatan rumah tangga yang dilakukan di Indonesia pada tahun 1986 angka kematian karena diare merupakan 12% diantara seluruh angka kematian kasar yang besarnya 7/1000 penduduk. Angka ini merupakan angka yang tertinggi diantara semua penyebab 2

kematian. Sekitar 15% penyebab kematian bayi dan 26% kematian anak balita disebabkan oleh diare (Sunoto, 1991). Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh WHO maka anak-anak dibawah usia 3 tahun mengalami 2-8 episode diare setiap tahunnya. Anak yang lebih besar mengalami kejadian diare 1 kali setiap tahunnya. Dari data-data tersebut maka dapat disimpulkan bahwa sekitar 500 juta anak-anak yang berusia dibawah 5 tahun akan mengalami diare sebanyak 1 kali setiap tahunnya. Di negara maju seperti di Amerika Serikat maka hanya <10% dari kasus-kasus diare tersebut yang dibawa ke tenaga medis untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Hal ini disebabkan karena pengobatan/perawatan di rumah yang efektif (Karras, 2005). Berbeda dengan negara maju, maka di negara yang berkembang yang tidak memiliki sumber pengetahuan yang mencukupi untuk perawatan di rumah, maka angka kematiannya sangat tinggi. Sekitar 2 juta anak di seluruh dunia diperkirakan meninggal setiap tahunnya akibat penyakit diare akut ini, dan hal ini merupakan penyebab kematian kedua tersering setelah, infeksi saluran pernafasan (Frye, 2005). Cara penularan diare pada umumnya adalah secara oro-fecal melalui 1) makanan dan minuman yang telah terkontaminasi oleh enteropatogen, 2) kontak langsung tangan dengan penderita atau baran-barang yang telah tercemar tinja penderita, atau tidak langsung melalui lalat. Di dalam bahasa Inggris maka terdapat 4 F di dalam cara penularan diare ini yaitu (makanan), feces (tinja), finger (jari tangan), and fly (lalat) (Sunoto, 1991). Faktor risiko terjadinya diare adalah faktor risiko yang dapat meningkatkan transmisi enteropatogen, diantaranya adalah 1) tidak cukup tersedianya air bersih, 2) tercemarnya air oleh tinja, 3) tidak ada/kurangnya sarana MCK, 4) higiene perorangan dan sanitasi lingkungan yang buruk, 5) cara penyimpanan dan penyediaan makan yang tidak higienis, dan 6) cara penyapihan bayi yang tidak baik (terlalu cepat disapih, terlalu cepat diberi susu botol, dan terlalu cepat diberi makanan padat). Selain itu terdapat pula beberapa faktor risiko pada pejamu (host) yang dapat meningkatkan kerentanan pejamu terhadap 3 food

antara lain Clostridium perfringens. dan peningkatan motilitas usus. Diare akibat imunodefisiensi ini sering terjadi pada penderita AIDS. 3) Makanan : makanan basi. Diare karena keracunan makanan terjadi akibat dua hal yaitu makanan mengandung zat kimia beracun atau makanan mengandung mikroorganisme yang mengeluarkan toksin. a) Golongan virus : Rotavirus. Trichuris truchiura. Clostridium difficile. dan juga dapat disebabkan oleh makanan lainnya. imunodefisiensi atau imunodepresi. Aeromonas hidrophilia. 4) Alergi terhadap makanan : terutama disebabkan oleh Cow’s milk protein sensitive enteropathy (CMPSE). protozoa : Entamoeba histolytica. 6) Psikologis : rasa takut dan cemas. Bacillus cereus. Astrovirus dan calicivirus biasanya menginfeksi anakanak yang berusia dibawah tahun (Karras. Staphylococcus. b) Golongan bakteri : Shigella spp.. Astrovirus. atau protein seperti beta-laktoglobulin. Yersinia enterocolitica . Etiologi Penyebab diare akut adalah sebagai berikut ini (Mansjoer. Escherecia coli.enteropatogen diantaranya adalah malnutrisi dan bayi berat badan lahir rendah (BBLR). & Sunoto. c) Golongan parasit. Staphylococcus aureus. maka yang paling sering menjadi penyebab diare akut apa anak-anak adalah infeksi virus. Campylobacter jejuni. 2000 . jamur : Candida spp. Vibrio parahaemoliticus. 5) Imunodefisiensi. lemak terutama trigliserida rantai panjang. Dari berbagai macam penyebab diare akut tersebut diatas. Salmonella spp. Calicivirus. 2) Malabsorpsi : karbohidrat (intoleransi laktosa). Adenovirus. cacing perut : Ascariasis.. 1991) : 1) Infeksi : virus. Rotavirus dan adenovirus merupakan penyebab tersering diare akut pada anak dibawah usia 2 tahun. makanan beracun. dan parasit. rendahnya kadar asam lambung. Minirotavirus. Strongiloides stercoralis . Giardia lamblia. Clostridium perfringens. Balantidium coli . 2005). Virus Norwalk. bakteri. Coronavirus. 4 . Vibrio cholera.

yaitu ETEC (Enteropathogenic Escherichia coli). dan Bandung berkisar 40-60% diare akut disebabkan oleh Rotavirus. EIEC (Enteroinvasive Eschericia coli). EAEC (Enteroadherent Escherichia coli). Ternyata kemudian Rotavirus ditemukan di seluruh dunia sebagai penyebab diare akut yang paling sering. Rotavirus pertama kali ditemukan oleh Bishop (1973) di Australia pada biopsi duodenum penderita diare dengan menggunakan mikroskop elektron. dan bentuk mikrovili (brush border) yang tidak teratur. Pada saat ini telah dikenal 5 golongan E.coli yang dapat menyebabkan diare. Transmisinya melalui makanan (makanan sapihan/makanan pendamping). Di Indonesia. pembengkakan mitokondria. ETEC merupakan penyebab utama diare dehidrasi di negara berkembang. yang menyebabkan ETEC dapat melekat pada sel epitel usus halus (enterosit) dan 2) enterotoksin. ETEC. berdasarkan penelitian di beberapa Rumah Sakit di Jakarta.Berikut ini akan dibahas beberapa enteropatogen/penyebab diare akut spesifik yang dianggap merupakan penyebab diare yang utama : Rotavirus. E. yaitu toksin yang tidak tahan panas (heat labile toxin = LT) dan 5 . dan EHEC (Enterohemorrhagic Escherichia coli). Yogyakarta. EPEC (Enteropathogenic Eschericia coli). Sebagai akibat dari semua ini adalah terjadinya gangguan absorpsi cairan/elektrolit pada usus halus dan juga akan terjadi gangguan pencernaan (digesti) dari makanan terutama karbohidrat karena defisiensi enzim disakaridase akibat kerusakan epitel mukosa usus tadi. dan minuman yang telah terkontaminasi. Escherichia coli. Terdapat 2 macam toksin yang dihasilkan oleh ETEC. Gen untuk faktor kolonisasi dan enterotoksin terdapat dalam plasmid. yang dapat ditransmisikan ke bakteri E. yaitu 1) faktor kolonisasi. terutama pada bayi dan anak usia 6-24 bulan. Pada ETEC dikenal 2 faktor virulen. pemendekan jonjot usus.coli lain. coli menyebabkan sekitar 25% diare di negara berkembang dan juga merupakan penyebab diare kedua setelah Rotavirus pada bayi dan anak. Akibat infeksi Rotavirus ini pada usus terjadi kerusakan sel epitel mukosa usus. infeksi sel-sel radang pada lamina propia.

ST saja atau kedua-duanya. Bakteri ETEC dapat menghasilkan LT saja. persisten). dapat menyebabkan diare berair sampai lebih dari 7 hari (prolonged diarrhea). sering ditemukan eritrosit dan leukosit. EIEC. berupa daging yang dimasak kurang matang.coli yang mampu melekat dengan kuat pada mukosa usus halus dan menyebabkan perubahan morfologis. Transmisinya melalui makanan. Melekatnya bakteri ini pada mukosa usus karena adanya plasmid. Baik cAMP maupun cGMP akan menyebabkan perangsangan sekresi cairan ke lumen usus sehingga terjadi diare. Dalam tinja penderita. Toksin LT menyebabkan diare dengan jalan merangsang aktivitas enzim adenil siklase seperti halnya toksin kolera sehingga akan meningkatkan akumulasi cAMP. bakteri ini membentuk koloni melekat pada mukosa usus. akan tetapi tidak mampu menembus dinding usus. Diduga bakteri ini mengeluarkan sitotoksin. EHEC. dapat menembus mukosa usus halus. yang dikenal dapat menyebabkan kolitis hemoragik.. ETEC tidak menyebabkan kerusakan rambut getar (mikrovili) atau menembus mukosa usus halus (invasif). EIEC biasanya apatogen. Diarenya disertai sakit perut hebat (kolik.toksin yang tahan panas (heat stable toxin = ST). tetapi dapat juga lebih lama (menetap. EAEC. EHEC merupakan E. EPEC dapat menyebabkan diare berair disertai muntah dan panas pada bayi dan anak dibawah usia 2 tahun. EAEC merupakan golongan E. Secara biokimiawi dan serologis bakteri ini menyerupai Shigella spp. berkembang biak di dalam kolonosit (sel epitel kolon) dan menyebabkan disentri basiler. EHEC 6 . diare cair disertai darah. Bakteri ini cepat berkembang biak dengan membentuk toksin yang melekat erat pada mukosa usus sehingga timbul diare pada bayi dan sering menimbulkan prolong diarrhea terutama bagi mereka yang tidak minum ASI. Di dalam usus. Diare biasanya berlangsung terbatas antara 3-5 hari.coli serotipe 0157 : H7. sedangkan toksin ST melalui enzim guanil siklase yang akan meningkatkan akumulasi cGMP. EPEC. kram) tanpa atau disertai sedikit panas. tetapi sering pula menyebabkan letusan kecil (KLB) diare karena keracunan makanan ( food borne).

dan tinja yang berlendir dan darah. Diare yang disebabkan Salmonella spp. ini biasanya disebabkan oleh makanan yang berasal dari binatang. susu. telur. seperti daging. Salmonella spp. Golongan Shigella yang sering menyerang manusia di daerah tropis adalah Shigella dysentri. Akan tetapi Salmonellosis ini tidak menyebabkan ulkus seperti pada Shigella. Di dalam klinik. sedangkan Shigella sonnei lebih sering terjadi di daerah sub tropis. dan makanan-makanan daging dalam kaleng. Di dunia terdapat lebih dari 2000 spesies. dan panas. yang paling sering menimbulkan diare pada anak adalah S. B dan C. ini seperti halnya denan Shigella dapat melakukan invasi ke dalam mukosa usus halus sehingga juga dapat dijumpai adanya lendir dan darah pada tinja. Akibat invasi dari bakteri ini terjadi infiltrasi sel-sel PMN dan kerusakan sel epitel mukosa sehingga timbul ulkus kecil-kecil di daerah invasi yang menyebabkan sel-sel darah merah. oleh karena itu infeksi Salmonella spp.menghasilkan sitotoksin yang dapat menyebabkan edem dan perdarahan usus besar. golongan Salmonella yang menyebabkan diare dikenal dengan nama Nontyphoidal Salmonellosis. Shigella flexnori. toksis. Paratyphi A. sel darah putih. Shigella spp. 7 . Daerah yang sering diserang adalah bagian terminal dari ileum dan kolon. Infeksi Shigella pada manusia dapat menyebabkan keadaan mulai dari asimptomatik sampai dengan disentri hebat disertai dengan demam. masuk ke dalam lumen usus dan akhirnya keluar bersama tinja. kejangkejang. Ini adalah karena kemampuannya mengadakan invasi ke epitel sel mukosa usus. plasma protein. namun hanya 6-10 jenis saja yang menyebabkan diare. biasanya disertai dengan rasa mual. kram perut. Binatang merupaka reservoir utama. Patogenesis Salmonella spp. tenesmus ani. Patogenesis terjadinya diare oleh Shigella spp. Disini dia berkembang biak dan mengeluarkan leksotoksin yang bersifat merusak sel (sitotoksin).

Selanjutnya di dalam sel komponen ini akan merangsang sensitifitas enzim adenil siklase dengan hasil selanjutnya akan meningkatkan akumulasi cAMP yang akan merangsang sekresi cairan isotonis dan klorida sehingga timbulah diare berair (Watery diarrhea). jejuni merupakan penyebab 5-10% diare di dunia. edema. Terdapat dua biotipe Vibrio cholera yaitu El Tor dan classic. Pada orang yang kadar asam lambungnya normal maka untuk dapat menimbulkan diare dibutuhkan jumlah kuman yang masuk sebesar 106. Afrika. jejuni ini adalah jejenum. peradangan. Vibrio cholera mempunyai sifat yaitu tidak menyebabkan kerusakan mukosa usus dan mengeluarkan toksin yang menyebabkan diare. Setelah kuman tersebut masuk ke dalam usus maka ia akan mengeluarkan toksin. jejuni mengeluarkan 2 macam toksin yaitu sitotoksin dan toksin LT. serta dua serotipe yaitu Ogawa dan Inaba. juga terdapat gejala sakit perut disekitar pusat. Kemudian komponen A yang terlihat bersama dengan komponen B akan melakukan penetrasi ke dalam sel dan memisahkan diri dari Komponen B. Vibrio cholera masuk ke dalam lumen usus melalui lambung dan peranan asam lambung akan menentukan seseorang apakah rentan terhadap diare atau tidak.3%. Di Indonesia prevalensinya sekitar 5. pembesaran 8 . yang kemudian menjalar ke kanan bawah dan rasa nyerinya menetap di tempat tersebut (seperti pada apendisitis akut). Toksin yang dihasilkan oleh kuman kolera ini yaitu enterotoksin dan terdapat 2 jenis yaitu komponen A dan komponen B. Vibrio cholera pertama kali ditemukan oleh Robert Koch tahun 1883 pada penderita kolera. Campylobacter jejuni. dan colon. Selain diare yang disertai dengan lendir dan darah. akan tetapi jika asam lambungnya kurang (pH menjadi lebih tinggi) maka jumlah 10 4 sudah dapat menimbulkan diare. C. Terdapat kelainan pada mukosa usus. Tempat infeksi yang paling sering dari C. C. dan Amerika Utara. Komponen B ini akan menempel pada reseptor yang ada di dinding sel mukosa usus yang disebut Gmi. ileum. Eropa. El Tor terkenal menyebabkan pandemi yang dimulai dari Sulawesi dan kemudian menyebab ke Asia.Vibrio cholera.

Dahulu dikenal hanya patogen pada binatang saja. membentuk plasmid perantara dan enterotoksin yang tahan panas (ST) dan dapat mengaktifkan enzim guanilat siklase sehingga terjadi nodula akumulasi limphatisi. Gejalanya yang mencolok adalah tenesmusnya. Jonjot usus halus ditemukan memendek dan melebar tetapi tidak konsisten. Pada pemeriksaan histologis terdapat abses-abses kecil di daerah plaque Peyeri dan beberapa menyebabkan limfadenitis mesenterikum dan ileutis. dan dapat menyebabkan abses hati. Insidensi pembawa kista pada anak (carrier) sekitar 5% saja tetapi sebagian besar (90%) asimptomatik dan hanya sebagian kecil (10%) saja yang menjadi sakit. Cryptosporodium Cryptosporodium pada saat ini sedang populer dan dianggap sebagai penyebab diare terbanyak yang disebabkan oleh parasit. misalnya pada penderita AIDS.08809 dengan melakukan invasi ke dalam mukosa usus. Patogenesis terutama oleh strain serotipe 03.kelenjar limfe mesenterium dan adanya cairan bebas di cavum peritonei. cGMP Pada pada sel sehingga penderita akan terjadi diare. Ileum mengalami nekrosis hemoragik karena invasi bakteri ke dinding usus sehingga pada tinja dapat ditemukan adanya darah dan sel-sel radang. Yersinia enterokolitika Yersinia enterokolitika merupakan bakteri baru sebagai penyebab diare dan telah banyak dilaporkan di berbagai negara di Eropa dan Amerika Utara. Entamoeba histolytica Entamoeba histolytica tersebar di seluruh dunia. Di negara berkembang Cryptosporodium merupakan 4-11% penyebab diare pada anak. Insidensinya rendah dan sering terjadi overdiagnosis sehingga pengobatannya juga sering berlebihan (misalnya penggunaan enterovioform). Penularan biasanya melalui makanan atau air (minuman) yang tercemar oleh parasit Entamoeba histolytica. Diare biasanya berlendir disertai darah. terkenal menyebabkan ulkus yang menggaung. Mulainya karena terjadi kerusakan mukosa usus 9 . terkenal dengan nama disentri amoeba. Cryptosporodium merupakan golongan coccidium. sering menyebabkan diare pada manusia yang menderita imunodefisiensi. Penularan melalui oro-fekal dan biasanya diare bersifat akut.

Patogenesis terjadinya diare oleh karena bakteri pada garis besarnya adalah sebagai berikut. Setelah itu sel retikulum akan melebar. Setelah itu virus masuk ke dalam epitel usus halus dan menyebabkan kerusakan bagian apikal vili usus halus. calicivirus. dan air dari dalam sel ke lumen usus (sekresi cairan yang isotonis) serta menghambat absorpsi natrium. kolon seorang anak dapat menyerap sebanyak hingga 10 . Hal ini akan menyebabkan (hiperosmoler). dan air dari lumen usus ke dalam sel. minirotavirus. selain itu juga dapat disebabkan oleh adenovirus. Virus terbanyak penyebab diare adalah rotavirus. Virus masuk ke dalam traktus digestivus bersama makanan dan/atau minuman. Garis besar patogenesisnya sebagai berikut ini. dan kemudian akan terjadi infiltrasi sel limfoid dari lamina propria. yang mempunyai kemampuan merangsang sekresi klorida. peningkatan Kemudian tekanan akan osmotik di dalam lumen usus usus untuk terjadi hiperperistaltik mengeluarkan cairan yang berlebihan di dalam lumen usus tersebut. sehingga terjadi gangguan absorpsi makanan. Dalam keadaan normal. dan sebagainya. Bakteri ini kemudian mengeluarkan toksin yang akan merangsang epitel usus sehingga terjadi peningkatan aktivitas enzim adenili siklase (bila toksin bersifat tidak tahan panas. Pada saat inilah biasanya diare mulai timbul. enterovirus. untuk mengatasi infeksi sampai terjadi penyembuhan (Sunoto. kemudian berkembang biak di dalam usus. Sebagai akibat peningkatan aktivitas enzim-enzim ini akan terjadi peningkatan cAMP atau cGMP. klorida. berbentuk kuboid atau gepeng.oleh perlekatan parasit pada mikrovilus enterosit. Patogenesis Virus. Bakteri masuk ke dalam traktus digestivus. Sel epitel usus halus bagian apikal akan diganti oelh sel dari bagian kripta yang belum matang. kemudian berkembang biak di dalam traktus digestivus tersebut. 1991). sehingga cairan dapat dialirkan dari lumen usus halus ke lumen usus besar (kolon). Bakteri. Akibatnya sel-sel epitel ini tidak dapat berfungsi untuk menyerap air dan makanan. disebut labile toxin = LT) atau enzim guanil siklase (bila toksin bersifat tahan panas atau disebut stable toxin = ST). astrovirus. Sebagai akibat lebih lanjut akan terjadi diare osmotik. Vili usus kemudian akan memendek sehingga kemampuannya untuk menyerap dan mencerna makananpun akan berkurang. natrium.

dan Aeromonas spp. Salmonella. Campylobacter. Oleh karena itu diare pada kolera biasanya sangat hebat. Golongan kuman yang mengandung LT dan merangsang pembentukan cAMP. maka diare dapat dibagi menjadi 3 bagian besar yaitu (Alfa): 1) Diare sekretorik 2) Diare invasif/dysentriform diarrhae 3) Diare osmotik Diare Sekretorik Diare sekretorik adalah diare yang terjadi akibat aktifnya enzim adenil siklase. natrium. 1991). Sedangkan yang mengandung ST dan merangsang pembentukan cGMP adalah ETEC.4400 ml cairan sehari. Diare sekretorik pada anak paling sering disebabkan oleh kolera. Bila kemampuan penyerapan kolon berkurang. Secara umum golongan bakteri yang menghasilkan cAMP akan menyebabkan diare yang lebih hebat dibandingkan dengan golongan bakteri lain yang menghasilkan cGMP.. Cholera. 11 . Yersinia sp. dan Staphylococcus sp. suatu keadaan yang disebut sebagai diare profus (Sunoto. Akumulasi cAMP intrasel akan menyebabkan sekresi aktif ion klorida. Campylobacter sp. kaliumm dan bikarbonat ke dalam lumen usus sehingga terjadi diare dan muntah-muntah sehingga penderita cepat jatuh ke dalam keadaan dehidrasi. yang akan diikuti secara positif ileh air. karena itu produksi atau sekresi cairan sebanyak 400 ml sehari belum menyebabkan diare. Pada anak. Pada kolera sekresi cairan dari usus halus ke usus besar dapat mencapai 10 liter atau lebih sehari. selanjutnya enzim tersebut akan mengubah ATP menjadi cAMP.. Shigella.. ETEC. Toksin yang dihasilkannya tersebut akan merangsang enzim adenil siklase. diare sekretorik ini sering disebabkan oleh toksin yang dihasilkan oleh mikroorganisme Vibrio. Menurut mekanisme terjadinya diare. Shigella spp. maka akan terjadi diare. Clostridium. ETEC. Enzim ini selanjutnya akan mengubah ATP menjadi cAMP. atau sekresi cairan melebihi kapasitas penyerapan kolon. diantaranya adalah V.

3) tidak disertai dengan panas badan. Gejala dysentriform diarrhea adalah 1) tinja berlendir dan berdarah biasanya b. 2) muntah-muntah. kemudian berkembang biak dan masuk ke dalam bagian apikal vili usus halus. Di kolon. Mekanisme diare oleh rotavirus berbeda dengan bakteri yang invasif dimana diare oleh rotavirus tidak berdarah. Di dalam usus pada shigella. Selanjutnya kuman ini dengan bantuan peristaltik usus sampai di usus besar/kolon. 12 . Toksin ini akan merangsang enzim adenil siklase untuk mengubah ATP menjadi cAMP sehingga terjadi diare sekretorik. disebut amoeboma.Gejala dari diare sekretorik ini adalah 1) diare yang cair dan bila disebabkan oleh vibrio biasanya hebat dan berbau amis. kuman ini bisa keluar bersama tinja atau melakukan invasi ke dalam mukosa kolon sehingga terjadi kerusakan mukosa berupa mikro-mikro ulkus yang disertai dengan serbukan sel-sel radang PMN dan menimbulkan gejala tinja berlendir dan berdarah. kuman masuk ke dalam usus halus dan berkembang biak sambil mengeluarkan enterotoksin. (Shigella. dan kadang-kadang prolapsus ani. setelah kuman melewati barier asam lambung. Kemudian sel-sel bagian apikal tersebut akan diganti dengan sel dari bagian kripta yang belum matang/imatur berbentuk kuboid atau gepeng. seringkali menjadi kronis dan meninggalkan jaringan parut pada kolon/rektum.b sering tapi sedikit-sedikit dengan peningkatan panas badan.a. dan 4) penderita biasanya cepat jatuh ke dalam keadaan dehidrasi. oleh Rotavirus. invasif yang Campylobacter. tenesmus ani. Setelah rotavirus masuk ke dalam traktus digestivus bersama makanan/minuman tentunya harus mengatasi barier asam lambung. disebabkan oleh bakteri dan amoeba menyebabkan tinja berlendir dan sering disebut sebgai dysentriform diarrhea. parasit bakteri (amoeba). Diare Invasif Diare invasif adalah diare yang terjadi akibat invasi mikroorganisme dalam mukosa usus sehingga menimbulkan kerusakan pada mukosa usus. 2) bila disebabkan oleh amoeba. Yersinia). Diare invasif ini disebabkan EIEC. nyeri abdomen. Diare Salmonella.

maka akan terjadi defisiensi enzim disakaridase tersebut sehingga akan terjadilah diare osmotik. Bila daerah usus halus yang terkena cukup luas. sehingga terjadi diare berupa watery diarrhea. pH tinja asam. dan pada pemeriksaan dengan klinites terlihat positif. Adanya gas ini terlihat pada perut penderita yang kembung (abdominal distention). 2) seringkali disertai dengan peningkatan panas badan dan batuk pilek.Karna imatur. Gejala diare yang disebabkan oleh rotavirus adalah 1) paling sering pada anak usia dibawah 2 tahun dengan tinja cair. Oleh sebab itu pemberian makanan tambahan yang mengandung karbohidrat kompleks tidak diberikan sebelum usia 4 bulan. 3) muntah. baru akan terbentuk sempurna setelah bayi berusia 3-4 bulan. karena dapat menimbulkan diare osmotik. Kemudian vili usus memendek dan kemampuan absorpsi akan bertambah terganggu lagi dan diare akan bertambah hebat. Gejala dari diare osmotik adalah 1) tinja cair/watery diarrhae akan tetapi biasanya tidak seprogresif diare sekretorik. Perlu diingat bahwa enzim amilase pada bayi. Paling sering terjadinya diare osmotik ini disebabkan oleh malabsorpsi karbohidrat. Disakarida atau karbohidrat yang tidak dapat diabsorpsi tersebut akan difermentasikan di flora usus sehingga akan terjadi asam laktat dan gas hidrogen. Bila terjadi defisiensi enzim ini maka disakarida tersebut tidak dapat diabsorpsi sehingga menimbulkan osmotic load dan terjadi diare. 2) tidak disertai dengan tanda 13 . sel-sel ini tidak dapat berfungsi untuk menyerap air dan makanan sehingga terjadi gangguan absorpsi dan terjadi diare. Sedangkan disakarida harus dihidrolisa dahulu menjadi monosakarida oleh enzim disakaridase yang dihasilkan oleh sel mukosa. Monosakarida biasanya diabsorpsi baik oleh usus secara pasif maupun transpor aktif dengan ion Natrium. Diare Osmotik Diare osmotik adalah diare yang disebabkan karena tingginya tekanan osmotik pada lumen usus sehingga akan menarik cairan dari intra sel ke dalam lumen usus. Selain itu sel-sel yang imatur tersebut tidak dapat menghasilkan enzim disakaridase.

Aeromonas sp. virus) Campylobacter sp. Bentuk yang paling sering dari diare osmotik ini adalah intoleransi laktosa akibat defisiensi enzim laktase yang dapat terjadi karena adanya kerusakan mukosa usus.5 >5. 5) pH tinja asam dan klinitest positif. Astrovirs. Bakteri invasif (E.. Adenovirus.. Karakteristik Tinja dan Menentukan Asalnya Karakteristi Usus Kecil Usus Besar k Tinja Tampilan Watery Mukoid dan/atau berdarah Volume Banyak Sedikit Frekuensi Meningkat Meningkat Darah Kemungkinan positif tetapi Kemungkinan darah segar tidak pernah darah segar pH Kemungkinan <5. Dilaporkan kurang lebih sekitar 25-30% dari diare oleh rotavirus terjadi intoleransi laktosa.klinis umum seperti panas. Calicivirus. Salmonella sp.. 3) pantat anak sering terlihat merah karena tinja yang asam.coli.) histolytica) Tabel 2. Plesiomonas sp) Toksin bakteri (E. 4) distensi abdomen. Toksin bakteri (Clostridium perfringens.. Tabel 1. Parasit (Entamoeba Cryptosporodium sp.5 Substansi Kemungkinan positif Negatif pereduksi WBC < 5 / LPK Kemungkinan > 10 /LPK Serum WBC Normal Kemungkinan leukositosis (bandemia) Organisme Virus (Rotavirus. C. Yersinia sp. Organisme Penyebab Diare dan Gejala yang Sering Timbul Organisme Rotavirus Adenovirus Norwalk virus Astrovirus Calicivirus Aeromonas Inkubasi 1-7 hari 8-10 hari 1-2 hari 1-2 hari 1-4 hari None Durasi 4-8 hari 5-12 hari 2 hari 4-8 hari 4-8 hari 0-2 14 Muntah Ya Delayed Ya +/Ya +/Dema m Rendah Rendah Tidak +/+/+/Nyeri Abdomina l Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak . Vibrio spesies) difficile Parasit (Giardia sp.coli. Norwalk Shigella sp.

Organisme Yang Menyebabkan Keracunan Makanan Riwayat Makanan Susu Telur Daging Daging Sapi Organisme Campylobacter and Salmonella species Salmonella species C perfringens.species Campylobacter species C difficile C perfringens Enterohemorrhagi c E coli Enterotoxigenic E coli Plesiomonas species Salmonella species Shigella species Vibrio species Yersinia enterocolitica Giardia species Cryptosporidium species Entamoeba species 2-4 hari Variable Minimal 1-8 hari 1-3 hari None 0-3 hari 0-2 hari 0-1 hari None 2 mg 5-21 hari 5-7 hari minggu 5-7 hari Variable 1 day 3-6 hari 3-5 hari 0-2 mg 2-7 hari 2-5 hari 5-7 hari 1-46 hari 1+ minggu Bulan 1-2+ mg Tidak Tidak Ringan Tidak Ya +/Ya Tidak Ya Ya Tidak Tidak Tidak Ya Sedikit Tidak +/Rendah +/Ya High Tidak Ya Tidak Rendah Ya Ya Sedikit Ya Ya Ya +/Ya Ya Ya Ya Ya Ya Tidak Tabel 3. Campylobacter. Aeromonas. and Salmonella species Enterohemorrhagic E coli 15 .

and Yersinia sp. Plesiomonas. atau bahan non16 . Plesiomonas. Vibrio cholerae Entamoeba species. and Vibrio species Calicivirus. Penyerapan air oleh usus halus ditentukan oleh perbedaan antara tekanan osmotik di lumen usus dan didalam sel. Plesiomonas and Vibrio species Aeromonas species. Aeromonas. Aeromonas. terutama yang dipengaruhi oleh konsentrasi natrium. Plesiomonas. Giardia. V cholerae Vibrio parahaemolyticus Aeromonas. sedangkan usus besar 1-2 liter sehari. Y enterocolitica Astrovirus. Clostridium species Fisiologi dan Patofisiologi Penyerapan cairan di usus halus. Dalam keadaan normal. V cholerae V cholerae Yersinia species Entamoeba species. Penyerapan natrium ke dalam enterosit dapat melalui tiga cara yaitu 1) berpasangan dengan ion klorida. and Shigella species C perfringens Entamoeba species. usus halus mampu menyerap cairan sebanyak 7-8 liter sehari. Organisme yang Berhubungan Dengan Perjalanan Foreign Travel History Nonspecific Underdeveloped tropics Africa South and Central America Asia Australia – Canada Europe India Japan Mexico New Guinea Organism Enterotoxigenic E coli. Salmonella.Poutry Babi Seafood Oysters Sayuran Campylobacter species C perfringens. Entamoeba. C perfringens Tabel 4.

disentri basiler. Setelah masuk ke dalam enterosit . elektrolitm. Bila sekresi cairan melebihi 4400 ml maka usus besar tidak mampu menyerap seluruhnya lagi. dsb. atau terdapat penambahan ekskresi cairan pada penyakit usus besar. tumor. diare osmotik. bila terjadi sekresi cairan yang berlebihan dari usus halus (ileosekal). 17 . Proses sekresi merupakan kebalikan dari proses absorpsi. Dalam keadaan normal usus besar dapat meningkatkan kemampuan penyerapannya sampai 4400 ml sehari. misalnya karena virus. 2) pertukaran dengan ion hidrogen. cGMP. peptida. dan akhirnya dehidrasi. Secara garis besar diare dapat disebabkan oleh diare sekretorik. Sekresi cairan di usus halus. 3) pasif melalui ruang intraseluler ( tight junction). cairan klorida diserap melalui pertukaran dengan cairan bikarbonat. Penjelasan mengenai mekanisme dari hal-hal tersebut semuanya telah dijelaskan pada uraian diatas pada referat ini. dapat dimengerti bahwa setiap perubahan mekanisme normal absorpsi dan sekresi di dalam usus halus maupun usus besar (kolon). Di dalam ileum dan kolon. peningkatan motilitas usus. dapat menyebabkan diare. Penyerapan pasangan NaCl akan meningkatkan anion klorida di dalam sel kripta dan pada waktu yang bersamaan natrium akan dikeluarkan dari sel kripta dengan bantuan enzim Na-K-ATPase. yang dapat menyebabkan peninggian permeabilitas sel kripta) sehingga klorida dengan mudah keluar ke lumen usus. selebihnya akan dikeluarkan bersama tinja dan terjadilah diare. dll. misalnya cAMP. natrium ini akan dikeluarkan melalui enzim Na-K-ATPase (terdapat di membran basolateral) ke dalam ruang intraseluler dan selanjutnya diteruskan ke dalam pembuluh darah. Sekresi klorida di dalam sel kripta dapat pula ditingkatkan dengan adanya intracellular messenger (berupa cyclic nucleotide.elektrolit seperti glukosa. kehilangan cairan. Dengan demikian. yang dengan cara ini hanya sebagian kecil saja yang dapat diserap. dan defisiensi imun terutama SIgA. misalnya kolitis. Diare dapat juga terjadi karena terbatasnya kemampuan penyerapan usus besar pada keadaan sakit. asam amino. ulkus.

Diperkirakan jumlahnya sekitar 25-30 ml/kgBB/24 jam. 3) besarnya jumlah kehilangan cairan (previous water losses). urin. keringat. Dehidrasi ini terjadi karena 1) hilangnya cairan melalui tinja atau muntah (concomitant water losses) selama diare/muntah berlangsung. Makin muda anak makin banyak kehilangan cairan dan makin bertambah umur makin berkurang Selain itu NWL juga dipengaruhi oleh suhu tubuh. keringat. Lihat : Keadaan umum Baik sadar *Gelisah rewel Mata Normal Cekung Air Mata Ada Tidak ada Mulut dan Lidah Basah Kering Rasa Haus Minum biasa. dan urin ( insensible water losses).Sebagai akibat dari diare akut tersebut diatas maka akan terjadi hal-hal sebagai berikut : 1) Dehidrasi dan gangguan keseimbangan elektrolit dan asam basa 2) Gangguan sirkulasi darah 3) Hipoglikemia 4) Gangguan gizi. Setiap kenaikan suhu 1°C diatas normal (37°C) akan menambah hilangnya cairan sebanyak 10 ml. Tabel 5. Dehidrasi dan gangguan keseimbangan elektrolit dan asam basa. 2) kehilangan cairan melalui pernafasan. Sebagai akibat diare adalah tubuh akan kehilangan cairan dan elektrolit yang dikenal dengan nama dehidrasi. makin tinggi suhu tubuh maka akan bertambah kehilangan cairannya. Hasil Tanpa dehidrasi Pemeriksaan C *Lesu/lunglai/tdk sadar Sangat cekung. CWL ini banyaknya bervariasi tergantung dari berat ringannya penyakit. *Haus ingin tidak haus minum banyak 2. kering Tidak ada Sangat kering *Malas minum/tdk bisa minum *Kembali lambat *Kembali sangat lambat Dehidrasi Ringan/ Dehidrasi Berat Sedang Bila ada 1 tanda * Bila ada 1 tanda * ditambah 1 atau 18 . Penilaian Derajat Dehidrasi Penilaian A B 1. Kehilangan cairan yang normal (normal water losses) adalah banyaknya kehilangan cairan/elektrolit melalui pernafasan. Periksa Turgor Kembali cepat Kulit 3. tergantung dari umur.

oliguria yang dapat berlanjut menjadi anuria. Tonisitas dari plasma sebagian besar ditentukan oleh natrium. 3) Dehidrasi hipertonik. dan hipokalemia (K < 3 mEq/L) Gangguan asam basa. Tanda-tanda asidosis tersebut dapat terlihat berupa pernafasan cepat dan dalam (Kussmaul). Dehidrasi dapat dibagi menjadi 3 menurut tonisitas plasma yaitu : 1) Dehidrasi isotonik/isonatremik bila kadar Na plasma 130-150 mEq/L. Terapi Rencana Terapi A ditambah 1 atau lebih tanda lain lebih tanda lain Rencana Terapi B Rencana Terapi C Gejala dan tanda dari dehidrasi tersebut diatas adalah rasa haus. namun penurunan kalium pada plasma ini biasanya akan diganti dengan kalium yang terdapat pada cairan intraseluler. air mata tidak ada. takikardia. Selain perubahan kadar Na plasma juga kalium dapat mengalami perubahan karena kalium banyak keluar pada tinja. Akibat lain dari keadaan diare adalah keluarnya bikarbonat melalui tinja. hipernatremia (Na >150mEq/L). Pada diare biasa sebesar 26 mEq/L dan pada kolera 96 mEq/L sehingga dapat terjadi hipokalemia. akibatnya pH darah akan menurun bila badan tidak mengadakan koreksi 19 . hipotensi. Akibat hipoksia maka jaringan akan terjadi metabolisme secara anaerobik yang akan menghasilkan produk asam laktat yang selanjutnya akan menyebabkan keadaan asidosis respiratorik/metabolik. dengan tentunya kadar kalium intraseluler akan menurun. Gangguan keseimbangan elektrolit. Dalam praktek di klinik dehidrasi inilah yang terbanyak. mukosa mulut kering. mata cekung. ubun-ubun besar yang cekung pada bayi. dan menurunnya kesadaran. bila Na plasma > 150 mEq/L. bila Na plasma < 130 mEq/L. 2) Dehidrasi hipotonik. menurunnya turgor kulit.4. Akibat kehilangan cairan yang banyak pada diare tersebut diatas maka akan terjadi hemokonsentrasi/hipoksia. Secara singkatnya maka gangguan elektrolit yang sering terjadi pada keadaan diare adalah hiponatremia (Na < 130mEq/L).

Ganaguan sirkulasi Sebagai akibat kehilangan cairan tubuh lebih dari 10% berat badan (dehidrasi berat) akan terjadi gangguan sirkulasi dan dapat terjadi syok. Hipoglikemia Hipoglikemia biasanya dapat terjadi pada anak yang menderita diare dan lebih sering lagi bila sebelumnya menderita gangguan gizi (KEP). kejang-kejang. akibatnya pemberian susu dengan laktosa tinggi akan menambah beratnya diare.dengan jalan mengeluarkan CO2 melalui paru-paru. 2) gangguan penyimpanan glikogen pada hati. dan dapat menimbulkan kematian bila tidak segera ditangani dengan baik. Pada anak yang sebelumnya sudah menderita KEP akan memperberat keadaan KEP nya. yang dalam fase selanjutnya akan memperberat pula diarenya. Sebab yang pasti belum diketahui tapi kemungkinanya adalah 1) gangguan proses glikogenolisis. oliguria atau anuria dan penimbunan asam laktat karena terjadinya hipoksia pada jaringan tubuh. Hal ini disebabkan cairan ekstraseluler banyak berkurang (hipovolemik) sehingga perfusi darah ke jaringan berkurang. Gangguan gizi Gangguan gizi biasanya terjadi akibat diare dimana pemberian makanan selama sakit dihentikan. dan mungkin akan diperberat lagi bila terjadi ketosis. Selain itu akibat infeksi usus terjadi gangguan absorpsi terutama laktosa karena terjadinya defisiensi enzim laktase. 3) gangguan absorpsi dan digesti karbohidrat terutama pada KEP di mana terjadi atropi jonjor usus. Akibat dari hipoglikemia ini cairan ekstraseluler akan menjadi hipotonik dengan kompensasi air akan masuk ke dalam cairan intraseluler sehingga terjadi edema sel-sel otak yang dapat memberikan gejala penurunan kesadaran. Pemeriksaan Fisik 20 . maka terjadilah asidosis metabolik. dengan akibat hipoksia yang akan menambah beratnya asidosis metabolik. Sebagai akibat diare yang hebat dan tubuh tidak sanggup mengadakan kompensasi lagi. penurunan kesadaran.

penurunan kesadaran. Apabila terjadi nyeri perut yang fokal maka nyeri akan bertambah dengan palpasi. Merupakan tanda peningkatan aktivitas peristaltik usus yang menyebabkan auskultasi dan/atau palpasi yang meningkat dari aktivitas saluran pencernaan. Penurunan massa otot dan lemak atau terjadinya edema periferal dapat dijadiakan petunjuk bahwa terjadi malabsorpsi dari karbohidrat. dan terlambatnya capillary refill perlu dijadikan suatu hal yang patut dicurigai kearah dehidrasi. Nyeri biasanya tidak bertambah bila dilakukan palpasi pada perut. 4) Borborygmi. 5) Eritema perianal. membran mukosa yang mengering. maka kita harus curiga terjadinya komplikasi atau curiga terhadap suatu diagnosis yang noninfeksius. Organisme tersering yang dapat menyebabkan malabsorpsi lemak dan diare yang intermiten adalah Giardia sp. Dehidrasi merupakan hal yang utama sebagai penyebab kesakitan dan kematian. Malabsorpsi karbohidrat yang sekunder seringkali merupakan sekunder hasil dapat dari feses yang asam. ubun-ubun besar yang mencekung. Defekasi yang sering dapat menyebabkan kerusakan pada kulit perianal. terutama pada anak-anak yang kecil. dan tingkat keparahan dehidrasinya. Letargi.5 atau kurang dari itu atau menunjukan adanya substansi yang mereduksi maka menandakan adanya intoleransi karbohidrat. turgor kulit yang menurun. mata cekung. Malabsoprsi luka bakar. 2) Gagal untuk tumbuh dan malnutrisi.Dari hasil pemeriksaan fisik pada penderita diare maka dapat ditemukan beberapa hal. 3) Nyeri perut. lemak dan/atau protein. antara lain adalah sebagai berikut ini : 1) Dehidrasi. sehingga perlu dilakukan penilaian pada setiap pasien akan tanda. gejala. Nyeri perut yang nonspesifik dan nonfokal disertai dengan kram perut merupakan hal yang biasa terjadi pada beberapa organisme. Pemeriksaan Laboratorium • Feses yang pH nya 5. yang biasanya disebabkan secara sekunder oleh penyakit virus. 21 asam empedu menyebabkan dermatitis disekitar perianal yang sangat hebat yang seringkali ditandari sebagai suatu . bila terjadi rebound tenderness.

dan Campylobacter serta Yersinia enterocolotica. Shigella. Vibrio sp. 22 .coli. atau bagian dari penyakit inflamasi pada saluran pencernaan (penyakit Crohn. terutama jika terdapat darah di dalam tinja.coli ditemukan di dalam tinja.coli. Medium-medium yang dapat digunakan untuk kultur dapat dilihat pada Tabel 5 dan Tabel 6. Tipe E. dan virus. • Diare yang berdarah dengan riwayat pernah memakan daging-dagingan maka perlu dicurigai kemungkinan etiologi enterohemoragik E. • Selalu lakukan kultur dari tinja untuk organisme-organisme Salmonella. colitis ulseratif). dan false-positif pun seringkali muncul.• Infeksi yang enteroinvasif terhadap usus besar menyebabkan leukosit terutama netrofil akan tampak di dalam tinja. Keberadaan eksudat merupakan suatu hal yang sangat tinggi nilainya untuk memikirkan adanya colitis (80% merupakan nilai prediksi yang positif). terutama pada tampilan gejala klinis yang menandakan adanya colitis atau jika ditemukan adanya leukosit pada tinja. Meskipun demikian. Jika E.coli tersebut merupakan tipe yang sering ditemukan sebagai penyebab dari HUS (hemolytic uremic syndrome). Tidak adanya lekosit pada tinja tidak menghilangkan kemungkinan adanya organisme enteroinvasif.. • Adanya riwayat pernah memakan makanan laut (seafood) atau pernah berpergian keluar negeri maka perlu dilakukan skrining tambahan untuk mencari spesies Vibrio dan Plesiomonas. maka perlu ditentukan apakah E. • Berbagai medium kultur tersedia untuk dapat mengisolasi bakteri. • Lakukan pemeriksaan setiap eksudat yang ditemukan di dalam tinja untuk mencari leukosit. Colitis merupakan suatu yang infeksius. Kejadian falsenegatif sekitar 50%. adanya leukosit di dalam tinja dapat mengeliminasikan kemungkinan penyebab enterotoksigenik E. alergi. • Antigen rotavirus dapat diidentifikasi dengan pemeriksaan enzim immunoassay dan pemeriksaan aglutinasi latex dari tinja.coli tersebut termasuk ke dalam tipe O157:H7 atau bukan. Suatu tingkat kecurigaan terhadap suatu penyebab perlu diketahui terlebih dahulu untuk menentukan media mana yang memungkinkan untuk penyebab diare tersebut tumbuh.

verotoxin (neurotoxin) Oxidase-positive motile curved Vibrio species . xylose-lysinedeoxycholate (XLD). or Hektoen enteric (HE) agar Blood. Medium Kultur Bakteri yang Optimum Organism Aeromonas species Campylobacter species Detection Method Blood agar Skirrow agar Microbiologic Characteristics Oxidase-positive flagellated gramnegative bacillus (GNB) Rapidly motile curved gramnegative rod (GNR). latex agglutination (LA) for protein None available MacConkey eosinmethylene blue (EMB) or SorbitolMacConkey (SM) agar Blood agar Blood. XLD. Campylobacter jejuni 90% and Campylobacter coli 5% of infections Anaerobic spore-forming grampositive rod (GPR). MacConkey EMB. enzyme immunoassay (EIA) for toxin. toxin-mediated diarrhea Lactose-producing GNR Plesiomonas species Salmonella species Oxidase-positive GNR Nonlactose non–H2S-producing GNR Shigella species Nonlactose and H2S-producing GNR. MacConkey EMB. Tabel 6. produces pseudomembranous colitis C difficile Cycloserinecefoxitin-fructoseegg (CCFE) agar.• Antigen Adenovirus (serotipe 40 dan 41) dapat dideteksi dengan cara enzim immunoassay. or HE agar Blood or 23 C perfringens E coli Anaerobic spore-forming GPR. toxin-mediated diarrhea.

Leukositosis seringkali terjadi tetapi tidak secara konstan pada diare yang disebabkan oleh enteroinvasif bakteri. permits lactose fermentation and H2S production Selective for Campylobacter species Selective for enterohemorrhagic E coli Selective for Y enterocolitica Selective for Vibrio species Selective for C difficile MacConkey eosin-methylene blue (EMB) agar Xylose-lysine-deoxycholate (XLD) agar. Medium Kultur yang Digunakan Untuk Mengisolasi Bakteri Blood agar All aerobic bacteria and yeast. Hektoen enteric (HE) agar Skirrow agar Sorbitol-MacConkey (SM) agar Cefsulodin-ingrasan-novobiocin (CIN) agar Thiosulfate-citrate-bile-sucrose (TCBS) agar Cycloserine-cefoxitin-fructose-egg (CCFE) agar • Pemeriksaan tinja untuk mencari ova dan parasit merupakan cara terbaik untuk menemukan parasit penyebab diare. permits lactose fermentation Inhibits gram-positive organisms and nonpathogenic GNB. • Hitung jenis leukosit biasanya tidak meningkat pada diare yang disebabkan oleh virus dan toksin. detects cytochrome oxidase production Inhibits gram-positive organisms. Organisme 24 . Lakukanlah pemeriksaan tinja setiap 3 hari sekali atau setiap 2 hari sekali.thiosulfate-citratebile-salts-sucrose (TCBS) agar Y enterocolitica Cefsulodiningrasannovobiocin (CIN) agar GNB Nonlactose-producing oval GNR Tabel 7.

maka dalam pengelolaannya adalah bersifat suportif. Jika perlu maka dapat dilakukan rehidrasi cairan secara intravena bila pemberian cairan secara oral tidak berhasil mengatasi keadaan. enteroinvasif E. Neonatus dan bayi berada dalam kelompok risiko tinggi untuk mengalami komplikasi sekunder seperti dehidrasi berat dan gangguan elektrolit sehingga memerlukan pengawasan ketat. karena mengingat bahwa diare ini adalah penyakit yang dapat sembuh dengan sendirinya. Rehidrasi secara oral (OR) merupakan terapi utama bagi semua anak-anak yang menderita diare.and fourth-generation cephalosporins Campylobacter Erythromycin shortens illness duration and shedding sp. difficile Discontinue potential causative antibiotics. Pemberian obat antimotilitas tidak memiliki indikasi untuk diare.coli). Penatalaksanaan Karena kebanyakan dari diare ini adalah penyakit yang self-limiting. Use cefixime and most third. • Pada suatu waktu. atau C. Terapi antimikroba juga dilakukan jika penyebab diarenya adalah non-virus. jangan pernah untuk tidak memberikan OR bahkan bila anak tidak berada di dalam keadaan dehidrasi. Cairan yang diberikan untuk rehidrasi idealnya memiliki osmolaritas yang rendah (210-250 mOsm) dan mengandung natrium sekitar 50-60 mmol/L. B. use oral metronidazole or vancomycin.shigella menyebabkan leukositosis dengan tanda bandemia (netrofilia) dengan variasi pada total hitung jenis sel darahnya. Dalam keadaan ini dapat ditemukan keadaan kadar serum albumin yang rendah dan kadar alfa1-antitripsin fekal yang tinggi. Berikut tabel dibawah ini akan memperlihatkan terapi-terapi yang dapat diberikan untuk diare yang non-virus. karena pemeliharaan cairan dalam tubuh merupakan hal yang sangat penting. maka protein-losing enteropathy dapat diketemukan pada pasien dengan inflamasi yang luas di dalam saluran pencernaan akibat infeksi oleh bakteri yang enteroinvasif (seperti Salmonella spp. Tabel 8.. If antibiotics cannot be stopped or this does not result in resolution. Vancomycin is reserved for the child who is seriously ill 25 . Terapi untuk Diare Non-Virus Aeromonas sp. C. Tetapi sebagai patokan dalam pemberian cairan ini tetap mengacu kepada rencana terapi A.

resistance occurs. Salmonella sp. cefixime. or nitazoxanide can be used Use TMP-SMX or any cephalosporin Treatment prolongs carrier state. : 50 mg/kg/hr po/iv dibagi 4 dosis selama 7-10 hari. reserve for complicated cases Dosis obat-obat yang digunakan untuk pengobatan diare : • • • • • • • Cefixime Ceftiaxone 2 gr/hr).v. is effective against C parvum Metronidazole followed by iodoquinol or paromomycin Asymptomatic carriers in nonendemic areas: Iodoquinol or paromomycin Trimethoprim-sulfamethoxazole (TMP-SMX) if moderate or severe.lamblia Plesiomonas sp. TMP-SMX is first-line medication.cholera Yersinia sp. Use ceftriaxone and cefotaxime for invasive disease Treatment shortens illness duration and shedding but does not prevent complications. antibiotic treatment may increase likelihood of HUS. : 8 mg/kg/hr p. TMP-SMX is first-line medication. Cefixime./i. resistance occurs. Nitazoxanide. Shigella sp. metronidazole. : 30-40 mg/kg/hr po dibagi 3 dosis selama 20 hari. is associated with relapse. sickle cell disease). and erythromycin is second-line antibiotic TMP-SMX. ceftriaxone.m. Parenteral second-generation or third-generation cephalosporin for systemic complications Most effectively treated with quinacrine Since this medicine is poorly tolerated because of its bitter taste. ceftriaxone.coli G. Doxycycline is the first-line antibiotic. Do not treat with antibiotics Paromomycin. V. a newer anthelmintic. sehari 4 kali selama 7-10 hari.C. and cefotaxime are used. Cefotaxime Eritromisin Furazolidone Iodoquinol Metronidazol : 50 mg/kg/dosis iv/im sehari 3 kali selama 7-10 hari. and is not indicated for nontyphoid-uncomplicated diarrhea. furazolidone. Treatment does not shorten disease duration. effectiveness is not proven. however. dibagi 2-4 dosis selama 7-10 hari (max 26 . however. Treat infants younger than 3 months and highrisk patients (eg.perfringens Cryptosporodiu m parvum Entamoeba histolytica E. immunocompromised. : 30-50 mg/kg/hr po dibagi 3 dosis selama 10 hari. and cefotaxime are recommended for invasive disease Treat infected individuals and contacts. : 50 mg/kg/hr i. : 5 mg/kg/hr po dibagi 4 dosis selama 7-10 hari.o. however.

Giardia. Kolera : Tetrasiklin 50 mg/kgBB/hari.• • • • • • Paramomycin : 25-30 mg/kg/hr po dibagi 3 dosis selama 7 hari (max 4 gram/hari). Kriptosporodium : Metronidazol 30-50 mg/kgBB/hari. : 11 tahun : 500 mg po dibagi 2 dosis selama 3 hari. Nitazoxonide : < 1 tahun : tidak diketahui dosisnya : 1-4 tahun : 100 mg (5ml) po sehari 2 kali selama 3 hari dan diberikan bersama dengan makanan. Sulfamethoxazole dan trimethoprim : 10 mg/kg/hr po sehari 2 kali selama 710 hari. Vancomycin gram/hari). dibagi 3 dosis selama 5 hari (10 hari untuk kasus berat) Diet : Sesuai dengan penyebab diare 27 . intususepsi atau toksik megakolon dapat muncul juga pada pasien-pasien diare. Tetrasiklin : < 8 tahun tidak diketahui dosisnya : 8 tahun 25-50 mg/kg/hr po dibagi 4 dosis selama 7-14 hari. : 40-50 mg/kg/hr po dibagi 4 dosis selama 10-14 hari (max 2 • Rifaximin : < 12 tahun tidak diketahui dosisnya : 12 tahun : 100 mg po sehari 3 kali. colitis hemoragik. Terapi yang digunakan di bagian Ilmu Kesehatan Anak RSHS : Antidiare tidak diberikan dan Antibiotik digunakan hanya untuk : • • • Diare invasif : Kotrimoksasol 50 mg/kgBB/hari. : 4-11 tahun : 200 mg (10 ml) sehari 2 kali selama 3 hari dan diberikan bersama dengan makanan. Quinocrine : 6 mg/kg/hr po dibagi 3 dosis selama 5 hari. Jika diperlukan dapat berkonsultasi dengan dokter bedah karena beberapa organisme dapat menyebabkan nyeri abdomen dan tinja yang mengandung darah segar. dibagi dalam 4 dosis selama 2-3 hari. dibagi dalam 2 dosis selama hari. Selain itu gejala yang menyerupai apendisitis. Amoeba.

Hiperkalemia : Kadar K darah < 6 mEq/L Terapi Kayeksalat 1 g/kgBB p.75% i.v. gunakan susu protein hidroksilat. maksimal 40 mEq/L.mEq/kgBB.6 x BB(kg) diberikan dalam 4 jam. dengan dosis 3.o.5 – 3. dilarutkan dalam 2 ml/kgBB sorbitol 70%. Hipernatremia Bila terjadi dehidrasi berat disertai syok/presyok maka berikan NaCl 0.o. misalnya NaCl-dekstrosa (2A) atau DG half strength sampai ada diuresis kemudian berikan K 40 mEq/L. larutan 28 .. Tetapi untuk mencapai kadar Na yang aman (125 mEq/L) maka Na yang dibutuhkan menurut rumus sebagai berikut ini : mEq Na = 12 – Na darah x 0.9% atau RL atau Albumin 5%. dibagi dalam 3 dosis.5 mEq/L (dengan atau tanpa gejala) → larutan KCl 3. Hipokalemia : Bila kadar K darah < 2. cukup diberikan K : 75 mg/kgBB/hari p.• • • • Intoleransi karbohidrat : susu rendah sampai bebas laktosa Alergi protein susu sapi : susu kedelai Malabsorpsi lemak : susu yang mengandung medium chain trigliserid (MCT) Apabila dengan terapi dietetik diatas tidak ada respons. Penyulit : • Dehidrasi • Tanpa dehidrasi Dehidrasi berat : Rencana Terapi A : Rencana Terapi B : Rencana Terapi C Dehidrasi ringan-sedang Gangguan elektrolit Hiponatremia Dapat diberikan larutan NaCl hipertonis 3 (13mEq/L) atau % (855mEq/L).5 mEq/L (dengan atau tanpa gejala). Bila kadar K 2. Setelah syok teratasi lalu berikan larutan yang mengandung Na : 75-80 mEq/L.

anemia hemolitik mikroangiopati.1-0. dosis 0.4% (1mEq = 1 ml) atau 7. Bila telah diuresis. Diare dan rash (rose spots) akan timbul setelah 1 minggu gejala awal timbul. Trombositopenia.coli dan Shigella sp.9 mEq = 1ml) sebanyak 2-4 mEq/kgBB. dan bradikardia. typhi. 29 . Bila BE diketahui : mEq NaHCO3 = BE x BB x 0.5 ml/kgBB i. 6-7 mEq/L > 7 mEq/L • NaHCO3 7.3 Alkalosis metabolik Tergantung derajat dehidrasi berikan NaCl 0. dilanjutkan dengan cairan 0.v.5% dekstrosa (2A) 40-80ml/kgBB + KCl 38 mEq/L dalam 8 jam.Kayeksalat 1 g/kgBB enema. • Reiter syndrome (RS) dapat menyebabkan komplikasi infeksi akut dari diare ini dan hal tersebut ditandai dengan adanya arthritis. dilarutkan dalam 10 ml/kgBB larutan sorbitol 70% diberikan melalui kateter folley. 10-20ml/kgBB dalam 1 jam. dengan kecepatan 2 ml/menit Gangguan keseimbangan asam-basa Asidosis metabolik Apabila kadar bikarbonat <22mEq/L dan kadar base excess (BE) tidak diketahui → larutan bikarbonat 8.v. uretritis.9%.45 NaCl atau 2.5% dosis 3 mEq/kgBB secara i. atau 1 unit insulin/5 g glukosa Ca glukonas 10%. dan gagal ginjal akut merupakan tanda-tanda dari HUS. demam. Sindroima tersebut mempunyai gejala seperti malaise. kolesistitis atau perdarahan saluran cerna diperlukan. diklem selama 30-60 menit. Gejala biasanya timbul setelah 1 minggu sejak diare pertama kali timbul. nyeri perut.5% (0. Komplikasi • Demam enterik yang disebabkan oleh S. miokarditis. Hemolytic uremic syndrome (HUS) disebabkan oleh kerusakan endothelial vascular oleh verotoksin yang dihasilkan oleh enterohemoragik E. Bakteri akan menyebar keseluruh tubuh pada saat itu dan pengobatan • untuk mencegah komplikasi sistemik seperti hepatitis.

RS Vibrio species Rapid dehydration Yersinia enterocolitica Appendicitis. peritonitis. RS Rotavirus Isotonic dehydration.difficile biasanya asimptomatik dan dapat ditemukan pada 20% pasien yang dirawat di rumah sakit yang mendapatkan terapi antibiotika dan 50% pada bayi. dan lesi pada mukokutan. RS Shigella species Seizures. gram-negative sepsis. cholecystitis. dan individu-individu yang mempunyai penyakit saluran kandung empedu. Keadaan karier dari Salmonella ini terutama terjadi pada wanita. Reiter syndrome (RS) C difficile Chronic diarrhea C perfringens serotype C Enteritis necroticans Enterohemorrhagic E coli Hemorrhagic colitis Enterohemorrhagic E coli HUS O157:H7 Plesiomonas species Septicemia Salmonella species Enteric fever. liver abscess Prognosis Baik di negara maju maupun di negara berkembang. Apabila terjadi dehidrasi yang berat maka perlu dilakukan pemberian cairan secara parenteral. myocarditis. 1-4% pasien diare akut non tifoid dapat menjadi karier. HUS Bacteremia. pancreatitis.konjungtivitis. Individu dengan RS biasanya tidak menampilkan gejala-gejala tersebut secara keseluruhan saja. Tabel 9. toxic megacolon. cholangitis. dengan penanganan diare yang baik maka prognosis akan sangat baik. urinary tract infection. Komplikasi yang Organisme Aeromonas caviae Campylobacter species Biasa Terjadi Akibat Diare Komplikasi Intussusception. Karier C. Bila terjadi keadaan malnutrisi akibat 30 . bayi. meningitis. Rotavirus dapat diekskresikan secara asimptomatik di dalam tinja seorang anak yang sebelumnya pernah mengalami diare. meningitis. osteomyelitis. perforation. bacteremia. perforation. Kematian biasanya terjadi akibat dari dehidrasi dan malnutrisi yang terjadi secara sekunder akibat dari diarenya itu sendiri. carbohydrate intolerance Giardia species Chronic fat malabsorption Cryptosporidium species Chronic diarrhea Entamoeba species Colonic perforation. intussusception. Setelah terinfeksi oleh Salmonella. HUS. • Pasien yang mengalami diare akut dikemudian hari dapat menjadi seorang karier jika disebabkan oleh organisme tertentu. bacteremia.

gambaran yang terakhir ini mengarah ke infeksi bakteri yang invasif ke mukosa usus (seperti Campylobacter jejuni atau Shigella). Disentri adalah penyebab penting kesakitan dan kematian yang berkaitan dengan diare. Penyebab yang terpenting dan tersering adalah Shigella. akan tetapi gejala ini saja tidak cukup untuk mendiagnosis disentri. Escherichia coli enteroinvasif relatif lebih mirip dengan Shigella dan menyebabkan disentri yang berat. pertama-tama tinja cair kemudian menjadi berdarah setelah 1 atau 2 hari. Episode diare yang dimulai dengan disentri lebih sering menjadi persisten daripada mulai dengan diare cair. Disentri terjadi dengan frekuensi lebih sering dan berat pada anak yang sakit campak atau menderita campak bulan sebelumnya. infeksi dengan kuman ini jarang terjadi. Entamuba histolytica menyebabkan disentri pada anak yang lebih besar. tetapi jarang pada balita. Sekitar 10% episode diare pada balita adalah disentri. Tinja mungkin juga mengandung sel-sel nanah (lekosit polimorfonuklear) yang terlihat dengan mikroskop dan mungkin mengandung lendir dalam jumlah banyak. Juga mempunyai efek yang lebih jelek terhadap status gizi daripada diare cair akut. Pada beberapa episode shigellosis.dysentriae tipe 1. tetapi merupakan penyebab sekitar 15% kematian karena diare.gangguan absorpsi makanan maka pemberian nutrisi secara parenteral pun perlu dilakukan karena bila terjadi gangguan dari absorpsi makanan (malabsorpsi) maka kemungkinan untuk jatuh kedalam keadaan dehidrasi yang lebih berat lagi akan semakin lebih besar. etiologi dan kepentingan Disentri didefinisikan sebagai diare yang disertai darah dalam tinja. Penyebab lain seperti Campylobacter jejuni terutama pada bayi dan lebih jarang adalah Salmonella. Namun begitu.flexeneri dan S. Disentri pada bayi dan anak yang kurang gizi biasanya berat. memperlihatkan dehidrasi pada waktu sakit atau pada anak jarang tidak mendapat ASI. Gambaran Klinis dan diagnosis Diagnosis klinis disentri didasarkan semata-mata pada terlihatnya darah di dalam tinja. 31 . disentri yang disebabkan oleh Salmonella ini biasanya tidak berat. DISENTRI Definisi. khususnya S.

Diare cair ini kadang-kadang berat dan menyebabkan dehidrasi. Hal ini disebabkan oleh anoreksia. Ditemukannya kista tidak cukup untuk mendiagnosis amebiasis. Penderita dengan disentri sering disertai panas. kebutuhan badan terhadap gizi untuk mengatasi infeksi dan memperbaiki kerusakan usus dan kehilangan protein melalui jaringan yang rusak (misal: hilangnya protein karena enteropati). Amubiasis hanya dapat didiagnosis dengan pasti bila trofozoit E. sedangkan antibiotik harus segera diberikan. Kematian karena disentri biasanya disebabkan oleh kerusakan ileum dan kolon. biasanya keluarnya tinja berdarah sedikit-sedikit beberapa kali dan tidak sampai dehidrasi. Komplikasi utama disentri adalah kehilangan berat badan dan status gizi yang dengan cepat memburuk. infeksi sekunder (misal: pneumonia) atau gizi buruk. terutama pada kasus-kasus yang berat. Ini disebabkan karena kira-kira 60% kasus disentri yang datang ke sarana kesehatan dan hampir semua kasus berat dan mengancam kehidupan 32 .histolitika yang mengandung sel darah merah terlihat di dalam tinja yang segar atau pada lendir ulkus rektum (didapatkan pada waktu proktoskopi). sindrom hemolitik uremik dan hiponatremia yang lama. megakolon toksik. atau tetanus juga sering terjadi. Anak yang baru sembuh dari disentri juga meningkat resiko kematiannya karena infeksi lain. terutama bila penyebabnya Shigella. namun anak kecil tidak dapat menggambarkan keluhan ini. Tatalaksana Anak dengan disentri harus dicurigai karena Shigellosis dan diberi pengobatan yang sesuai. tetapi kadang-kadang suhunya rendah. Selain itu paling tidak dibutuhkan waktu 2 hari sebelum hasil biakan ada. Namun. disebabkan buruknya status gizi atau turunnya imunitas. Amubiasis harus dicurigai bila seorang anak disentri tidak membaik setelah diberi antibiotik yang tepat untuk Shigellosis. Sakit kram di perut dan sakit di dubur pada waktu defekasi. Keadaan ini meliputi perforasi usus. Penyebab episode disentri sering tidak diketahui. prolapsus rektum. anemiaseptik. Beberapa komplikasi yang berat dan kemungkinan fatal dapat terjadi pada waktu disentri. Biakan tinja untuk mendeteksi bakteri patogen sering tidak mungkin. kejang-kejang (dengan) atau tanpa hiperpireksil. komplikasi sepsis.

Bila pemeriksaan mikroskopis tinja dibuat dan trofozoit . bakteri mungkin menyebabkan kerusakan usus yang luas dan masuk ke dalam sirkulasi darah yang menyebabkan septikemi. Komplikasi ini lebih sering terjadi pada anak yang kurang gizi atau bayi dan mungkin fatal. Bila pengobatan terlambat atau antibiotika diberikan tidak sensitif. Trimethoprim sulfamethoxasole biasanya merupakan pilihan tetapi di beberapa daerah ampicillin juga efektif. berkuranganya sakit dan darah dalam tinja serta berkurangnya frekuensi BAB. kelemahan dan kadang-kadang syok septik. Bila tidak terjadi. Pengobatan harus diberikan hanya bila ditemukan trofozoit E.histolitika yang mengandung sel darah merah dalam tinja atau bila tinja berdarah menetap setelah pengobatan dengan 2 antibiotika berturut-turut (masing-masing diberikan untuk 2 hari) yang biasanya efektif untuk Shigella. antibiotik harus dihentikan dan diganti dengan yang lain. pengobatan anti amubik harus diberikan.adalah disebabkan Shigella. sangat penting untuk menggunakan antibiotik yang diketahui masih sensitif terhadap Shigella di daerah ini. mis: berkurangnya panas. biasanya penyakitnya lebih ringan dan sembuh sendiri (selg limiting diarrhoea). Anak dengan disentri tidak harus diobati secara rutin untuk amebiasis.histolitika terlihat mengandung eritrosit. Karena sensitivtas Shigella terhadap antibiotika tidak diketahui. seharusnya ada perbaikan setelah 2 hari. Empat komponen kunci pengobatan disentri adalah :     Antibiotika Cairan Makanan Tindak lanjut Pengobatan antimikroba Pengobatan awal Shigellosis dengan antibiotika yang tepat memperpendek lama sakit dan mengurangi risiko komplikasi yang serius serta kematian. Meskipun bakteri lain seperti Campylobacter jejuni dan Salmonella dapat menyebabkan disentri. pengobatan seperti itu hanya efektif bila Shigella sensitif terhadap antibiotika yang diberikan. Pengobatan yang 33 . Meskipun pengobatan dianjurkan untuk 5 hari. Di beberapa daerah mungkin bisa diberikan asam nalidixat. Namun demikian.

Pencegahan Mikroorganisma yang menyebabkan disentri ditularkan melalui tangan. Penderita lain harus diikuti dengan seksama terutama pada anak yang tidak memperlihatkan perbaikan dalam 2 hari dan anak yang mempunyai risiko tinggi terhadap kematian atau komplikasi lain.histolitika perbaikan akan terjadi dalam 2 – 3 hari setelah pengobatan. Semua penderita disentri harus diberi air dan cairan lain yang dianjurkan selama sakit. Cairan Anak dengan disentri harus dievaluasi untuk tanda-tanda dehidrasinya dan diberi pengobatan yang sesuai. anak yang tidak mendapat ASI dan mereka yang mengalami dehidrasi) harus sering diawasi baik penderita bila rawat jalan atau dimasukkan ke rumah sakit untuk rawat inap. karena adanya anoreksia. Penderita ini harus diberi pengobatan selama 5 hari dan biasanya tidak membutuhkan tindak lanjut.dipilih untuk disentri ameba adalah metronidazol. Anak yang tidak menunjukkan perbaikan setelah 2 hari pertama pengobatan antimikroba harus diberi antimikroba lain seperti yang dijelaskan di atas. terutama bila disertai panas. makanan dan air yang tercemar tinja. Penularan Shigellosis melalui tangan sangat efisien karena hanya dibutuhkan jumlah kuman Shigella sangat sedikit (10 – 100 kuman) untuk menimbulkan sakit. Bila disentri disebabkan oleh E. Petunjuk umum pemberian makanan pada rencana pengobatan A harus diikuti. Anak yang berisiko tinggi (misal: bayi. Tindak lanjut Kebanyakan penderita disentri menunjukkan perbaikan yang besar dalam 2 hari setelah pengobatan dengan antimikroba yang efektif. anak kurang gizi. Pemberian makanan Anak dengan disentri harus diteruskan pemberian makanannya untuk mencegah atau mengurangi kekurangan gizi. Penderita disentri dan malnutrisi berat secara rutin harus dirawat inap. Cara pencegahannya ialah cuci tangan yang bersih sebelum masak dan sebelum makan serta penggunaan jamban yang higinis. 34 . Pemberian makanan mungkin sulit.

H. Pediatrics. Hal 1013-1049. Richard E. Nguyen. Sunoto. 2000. John E. dkk. 1999. Diare Akut Pada Anak.com/articles/5917-10. Diarrhea. Melalui <http://www. Hal 448-466. Karras. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Arif. Arthur. dkk. hal 470-477. Terjemahan : Irawati Setiawan.com/> [22/12/05]. 2005. Bandung : SMF Ilmu Kesehatan Anak FK UNPAD/RSHS. Frye. David G. 1991. Penyakit Radang Usus : Infeksi dalam Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI editor A.com/> [22/12/05].C. Markum dkk. Diarrhea. Melalui <http://www. Departemen Kesehatan RI. Melalui <http://www. & Hall. Guyton. Bandung : SMF Ilmu Kesehatan Anak FK UNPAD/RSHS. Jakarta : Media Aesculapius FKUI. Pedoman Diagnosis dan Terapi Ilmu Kesehatan Anak.Daftar Pustaka Alfa. Tanpa tahun. David. Jakarta : FKUI. 2005.emedicinehealth. 35 . Rotavirus.asp> [22/12/05].emedicine.emedicine. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2 Edisi 3. Alfa. 2005. 1996. Buku Ajar Diare (Pegangan Bagi Mahasiswa). Yasmar. Mansjoer. Tanpa tahun. Patogenesis dan Patofisiologi Diare. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC. Yasmar.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful