P. 1
Sol

Sol

|Views: 19|Likes:
Published by Jäck Madridista

More info:

Published by: Jäck Madridista on Jun 11, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/15/2013

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Keperawatan adalah bentuk pelayanan profesional berupa pemenuhan kebutuhan dasar yang diperlukan kepada individu baik yang sehat maupun yang sakit, yang mengalami gangguan fisik, psikis dan agar mencapai derajat kesehatan yang optimal. Diperlukan pendekatan komprehensif baik dari segi fisik maupun psikologis serta bersifat individual bagi setiap pasien. SOL ( Space Occupying Lession ) adalah sebuah lesi yang berasal dari sel-sel otak atau struktur disekelilingnya. Tumor otak terletak pada intrakranial yang menempati ruang didalam tengkorak. Penderita Space Occupying Lession diseluruh dunia mencapai 400000± orang selama tahun 2005. Di Indonesia sudah banyak menderita penyakit tumor otak sekitar 28 % penduduk Indonesia, tetapi pasien itu tidak mengetahui itu sendiri. Sementara itu Rumah Sakit Kariadi Semarang sudah menerima penderita Space Occupying Lession sebanyak 34 orang selama tahun 2010, meningkat 10 % dari tahun 2009. Untuk itu penulis tertarik ingin memberikan asuhan keperawatan dan juga menjabarkan seluas-luasnya tentang Space Occupying Lession / tumor otak. Mulai dari pengertian,

1

penyebab, klasifikasi, patofisiologi, dan penatalaksanan supaya orangorang lebih tau dan waspada terhadap penyakit Space Occupying Lession. Keperawatan medikal bedah merupakan bentuk askep pada klien yang mengalami gangguan fisiologis baik yang sudah nyata atau terperdiksi mengalami gangguan baik karena adanya penyakit, trauma atau kecelakaan. Praktek keperawatan medikal bedah menggunakan langkahlangkah ilmiah. Yaitu komponen-komponen bio-pisko-sosial klien dalam merespon gangguan fisiologis sebagai akibat penyakit, trauma atau kecacatan, (Anonim, 2008). Pentingnya dari asuhan keperawatan pasien dengan Space Occupying Lession ini adalah dengan memberikan penyuluhan,

pengawasan, perlindungan dan pasien dengan Space Occupying Lession itu dapat ditangani dengan baik dan diberi asuhan keperawatan. Maka dari itu pasien Space Occupying Lession ini memerlukan perawatan yang khusus untuk mencegah terjadinya komplikasi lebih lanjut. Oleh karena itu dari data-data diatas, maka penulis tertarik membuat karya tulis ilmiah yang berjudul “ Asuhan keperawatan klien Ny. D dengan post karniotomy diruang A1 ( syaraf ) rumah sakit Dr. Kariadi Semarang “.

2

B. TUJUAN 1. Tujuan umum Dengan diambil kasus Space Occupying Lession / tumor otak, penulis ingin memperkenalkan Space Occupying Lession / tumor otak pada para pembaca dan masyarakat umum serta mampu memberikan asuhan keperawatan dari klien yang menderita Space Occupying Lession. 2. Tujuan khusus Memberikan gambaran kepada pembaca tentang : a. Mengkaji pasien dengan Space Occupying Lession. b. Mendiagnosa keperawatan dalam dengan Space Occupying Lession . c. Memberikan intervensi keperawatan dalam dengan Space Occupying Lession. d. Melakukan implementasi keperawatan dalam dengan Space Occupying Lession . e. Mendokumentasikan asuhan keperawatan dalam dengan Space Occupying Lession.

C. SISTEMATIKA PENULISAN Karya tulis ini disusun secara sistematis yang terdiri dari lima bab yaitu : Bab I : Pendahuluan yang terdiri dari latar belakang, tujuan penulisan, sistematika penulisan.

3

: Penutup terdiri dari kesimpulan dan saran. Bab III : Resume Keperawatan yang terdiri dari pengkajian. etiologi.Bab II : Konsep Dasar yang menguraikan tentang pengertian. Menganalisa terjadinya gangguan tersebut. Bab IV : Pembahasan   Bab V Membandingkan teori dan kenyataan. klasifikasi. manifestasi klinis. pathways. analisa data. Daftar pustaka Lampiran 4 . diagnosa keperawatan. penunjang. fokus intervensi. dan evaluasi. patofisiologi. implementasi. komplikasi. pemeriksaan penatalaksanaan. intervensi. fokus pengkajian.

Tumor otak dinamakan sesuai dengan jaringan dimana tumor itu muncul. Tumor otak jarang bermtastasi keluar dari dari sistem syaraf pusat tapi menyebabkan kematian dengan cara merusak fungsi vital / terlibat secara langsung meningkatkan intrakranial. B. infeksi. Trauma. Tumor otak ( tumor intrakranial ) meliputi lesi benigna dan maligna. ( Reeves C. Tumor otak maligna adalah kanker didalam otak yang berpotensi menyusup dan menghancurkan jaringan sebelahnya / yang telah menyebar keotak dari bagian tubuh lainnya melalui aliran darah. Radiasi merupakan salah satu dari factor penyebab timbulnya tumor otak. Tumor otak benigna adalah pertumbuhan jaringan abnormal didalam otak. ETIOLOGI Penyebab tumor masih sangat sedikit yang diketahui. Tumor otak dapat terjadi pada beberapa struktur area otak dan pada semua kelompk umur.BAB II KONSEP DASAR A.J. 2001. DEFINISI Tumor otak adalah lesi intrakranial yang menempati ruang dalam tulang tengkorak. dan toksin belum dapat dibuktikan sebagai penyebab timbulnya 5 . tetapi tidak ganas. Keperawatan medical bedah ).

Kategori N : N0 = Nodul regional negative. metastase ke kelenjar limfe regional ) dan M ( metastase jauh ). sudah ada perlekatan.tumor otak tetapi bahan industri tertentu seperti nitrosourea adalah krasinogen yang paten. N1 = Nodul regional positif. T3 = Tumor dengan f maksimal > 5 cm. T2 = Tumor dengan f maksimal 2 – 5 cm. mobile ( belum ada perletakan ). N ( nodul regional. N2 = Nodul regional positif. Kategori T : Tx = syarat minimal menentukan indeks T tidak terpenuhi. C. T0 = Tidak ditemukan adanya tumor primer.J. yaitu : T ( tumor primer ). N3 = Nodul jukstregional atau bilateral. KLASIFIKASI Stadium tumor berdasarkan sistem TNM ( stadium TNM ). T4 = Tumor invasi keluar organ. T1 = Tumor dengan f maksimal < 2 cm. ( Reeves C. Limfoma lebih sering terdapat pada mereka yang mendapat imunosupesan seperti pada transplantasi ginjal. Keperawatan medical bedah ). Terdiri dari 3 kategori. 6 . Tis = Tumor in situ. Sumsum tulang dan pada AIDS. 2001.

Benigna umumnya ekstra aksial. atau struktur lain dan menyebabkan kompresi ekstrinsik pada substansi otak. M1 = Ada metastase organ jauh. 2. 7 . yaitu tumbuh dari meningen. Tumor otak dapat diklasifikasikan sebagai berikut menurut (Lionel Ginsberg. nervus kranialis. Neurologi :117) yaitu : 1. metastasis ekstrakranial sangat jarang. Maligna umumnya intra aksial yaitu berasal dari parenkim otak : a) Primer umumnya berasal dari sel glia/neurobia ( glioma ) tumor ini diklasifikasikan maligna karena sifat invasif lokal. M2 = Syarat minimal menentukan indeks M tidak terpenuhi.Kategori M : Mo = Tidak ada metastase organ jauh. dan dikenali sebagai subtipe histologi dan derajat diferensiasi. b) Sekunder metastasis dari tumor maligna dari bagian tubuh lainnya.

Lobus parasentalis Kelemahan ekstrimitas bawah. halusinasi pendengaran. 7. 5. gangguan lokalisasi sensorik. Ceribulum a) Nyeri kepala. gangguan penglihatan. MANIFESTASI KLINIS Menurut lokasi tumor : 1. 3. afasia senorik. gangguan motorik. Lobus frontalis Gangguan mental / gangguan kepribadian ringan : depresi. Lobus oksipintalis Kejang. lidah dan jari. 2. tingkahlaku aneh.D. Lobus parietalis Hilang fungsi sensorik karotikalif. hipotonia. kelumpuhan otot wajah. gangguan penglihatan. hemiparesis. ataksia dan gangguan bicara. Lobus temporalis Tinitus. b) Tanda dan gejala umum : 8 . hiperextrimitas. bingung. Korteks presentalis poterior Kelemahan / kelumpuhan pada otot-otot wajah. sulit memberi argumentasi / menilai salah atau benar. 4. 6. sendi.

Gejala neurologik pada tumor otak biasanya dianggap disebabkan oleh tumor dan tekanan intrakranial. Gangguan vocal terjadi apabila penekanan pada jaringan otak dan infiltrasi / inovasi langsung pada parenkim otak dengan kerusakan jaringan neuron. makin bertambah bila batuk membungkuk. mual. PATOFISIOLOGI Tumor otak menyebabkan gangguan neurolagis. f) Perubahan kepribadian. muntah. afasia. penurunan fungsi pendengaran. 9 . perubahan TTV. g) Gangguan memory. e) Tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial : pandangan kabur.c) Nyeri kepala berat pada pagi hari. Gejala-gejala terjadi berurutan hal ini menekankan pentingnya anamnesis dalam pemeriksaan klien. Gangguan suplai darah arteri pada umumnya bermanifestasi sebagai kehilangan fungsi secara akut dan mungkin dapat dikacaukan dengan gangguan cerebrovaskuler primer. h) Gangguan alam perasaan. E. d) Kejang. Perubahan suplai darah akibat tekanan yang ditimbulkan tumor yang tumbuh menyebabkan nekrosis jaringan otak.

Peningkatan intrakranial akan membahayakan jiwa bila terjadi secara cepat akibat salah satu penyebab yang telah dibicaraknan sebelumnya. Tumor ganas menimbulkan odem dalam jaringan otak. Mekanisme belum sepenuhnya dipahami namun diduga disebabkan selisih osmotik yang menyebabkan pendarahan.Serangan kejang sebagai manifestasi perubahan kepekaan neuro dihubungkan dengan kompersi invasi dan perubahan suplai darah kejaringan otak. volume cairan cerborspinal. 10 . kandungan cairan intrasel dan mengurangi sel-sel parenkim. Pertumbuhan tumor akan menyebabkan bertambahnya massa karena tumor akan mengambilkan ruang yang relatif dari ruang tengkorak yang kaku. terbentuknya oedema sekitar tumor dan perubahan sirkulasi serebrospinal. Peningkatan intrakranial dapat diakibatakan oleh beberapa factor : bertambahnya masa dalam tengkorak . Mekanisme kompensasi ini bekerja menurunkan volume darah intrakranial. Obstruksi vena oedema yang disebabkan kerusakan sawar darah otak semuanya menimbulkan kenaikan volume inntrakranial. Observasi sirkulasi cairan serebrospinal dari vantrikel laseral keruang sub arakhnoid menimbulkan hidrosephalus. Mekanisme kompensasi memrlukan waktu berhari-hari / berbulan-bulan untuk menjadi efektif dan oleh karena itu tidak berguna bila apabila tekanan intrakranial timbul cepat.

2001 ). Pada herniasi serebulum tonsil sebelum bergeser kebawah melalui foramen magnum oleh suatu massa poterior. Brunner.herniasi timbul bila girus medalis lobus temporalis bergeser keinterior melalui insisura tentorial oleh massa dalam hemister otak. 11 . Herniasi menekan ensefalon menyebabkan kehilangan kesadaran dan menekan saraf ke tiga.Kenaikan tekanan yang tidak diobati mengakibatkan herniasi ulkus/ serebulum. ( Suddart.

Fungsi otak Hipoksia jaringan Gang. papileodema. Neurologis fokal Defisit neurologis  Aspirasi sekresi  Obs. muntah. Cidera Perubanah proses pikir Bicara terganggu. Perfusi jaringan Oedema Disorientasi Peningkatan TIK Hidrosefalus Resti. 2001 ) Cemas Gang. Suplai darah Gang. Rasa nyaman Mual. kesadar an Gang. Jln nafas  Dispnea  Henti nafas  Perubahan pola nafas Bertambahnya massa Nekrosis jar. hipertensi sitemik.F. Pertukaran gas ( Suddart. Neuron ( Nyeri ) Kejang Gang. pernafasan Ancaman kematia Gang. Komunikasi verbal Menisefalon tekanan Gang. PATHWAY Idiopatik Tumor otak Penekanan jaringan otak Invasi jaringan otak Kerusakan jar. nyeri kepala 12 . gang. penurunan fungsi pendengaran. pandangan kabur. Brunner. afasia Hernialis ulkus Bradikardi progresif. otak Penyerapan cairan otak Obstruksi vena di otak Gang.

I. Terapi radiasi. Metastase ketempat lain. Hidrosefalus. Prosedur pembedahan otak. Kemoterapi. 2.G. 5. PEMERIKSAAN PENUNJANG 1. MRI. 5. 6. 13 . 3. 3. 5. Kejang. 4. Transplantasi sumsum tulang. Rontgent tengkorak Untuk diagnostik sekurang-kurangnya diambil dari dua arah yaitu antero poterior dan lateral. Scan. Herniasi otak. Edema serebral. H. 4. CT. Tekanan intrakranial meningkat. Laser karbondioksida. EEG. 3. Angiograf serebral. PENATALAKSANAAN MEDIS DAN KEPERAWATAN 1. 2. KOMPLIKASI 1. 2. 4.

afasia. b) Riwayat ksehatan sekarang : kejang. masalah eliminasi dan berkemih. Penglihatan Pendengaran : penurunan lapang pandangan. Pemeriksaan fisik Saraf : kejang. diare. papiladema. gangguan berjalan. perubahan kemampuan mengingat. potensial obstruksi jalan nafas. disorientasi. tingkah laku aneh. Motorik : hiperekstensi. muntah. gangguan tidur dan integritas kulit. nyeri. Implantasi radioisotop. perubahan kepribadian. Riwayat kesehatan a) Keluhan utama : sakit kepala pagi hari. kelemahan sendi. 2. : tinitus. 8. Sietem pernafasan: irama nafas meningkat. anoreksia. berdesis.6. hlusinasi. perubahan status mental dan malaise. kelemahan vokal. disfungsi neuromaskuler. penurunan / kehilangan memory. J. 14 . penglihatan kabur.afek tidak sesuai. penurunan pendengaran. c) Riwayat kesehatan masa lalu : masalah pernafasan. FOKUS PENGKAJIAN 1. DM. kabur penglihatan. dispnea. dan afasia. 7. Relaksasi nafas dalam. Sistem hormonal: amenrea. Ganti balut. rambut rontok.

: Rasa nyeri berkurang. Monitor penurunan gas darah. rasa nyaman nyeri kepala berhubungan dengan 2. klien merintih kesakitan.K. Gangguan peningkatan tekanan intrakranial. Berikan posisi yang nyaman. Tujuan Tindakan     Pantau skala nyeri. Bebaskan jalan nafas. Pantau AGD. Berikan kompres pada area yang sakit. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan disfungsi neuromaskuler ( hilangnya kontrol terhadap otot pernafasan ). Ditandai dengan : perubahan kedalaman nafas. Monitor pola nafas. dispnea. FOKUS INTERVENSI 1. Ditandai dengan : Nyeri kepala terutama pagi hari. aspirasi. Monitor tanda-tanda vital. Pantau vital sign. Kolaborasi O2. Tujuan Tindakan       : : gangguan pertukaran gas dapat teratasi. : 15 . obstruksi jalan nafas.

Tujuan Tindakan     : tidak terjadi cidera. dan kejadian. Kolaborasi pemberian analgetik. Ditandai dengan : kejang. penurunan kesadaran.      Lakukan massage. : Identifikasi bahaya potensial pada lingkungan klien. Observasi tanda nyeri non verbal. emosi dari keadaan seseorang. Catat adanya pengaruh nyeri. Kaji faktor difisid. Orientasikan pasien pada tempat. Tujuan Tindakan  : mempertahakan orientasi mental. orang. Ditandai dengan : disorientasi. Anjurkan klien untuk tidak beraktivitas. 16 . 3. disorientasi. waktu. Resiko tinggi cidera berhubungan dengan disfungsi otot skunder terhadap depresi sistem saraf pusat. 4. muntah. Perubahan proses pikir berhubungan dengan perubahan fisiologis. Pantau tingkat kesadaran.sulit konsentrasi. pendengaran. gangguan penglihatan. prednisan. : Kaji tentang perhatian. Observasi mual. relaksasi.

 Pastikan keluarga untuk membandingkan kepribadian sebelum mengalami trauma dengan respon klien sekarang. Jelaskan pentingnya pemeriksaan neurologis. Dengarkan klien dengan penuh perhatian semua hal yang diungkapkan klien. 17 . Kurangi stimulus yang merangsang.     Pertahankan bantuan yang konsisten.   Instruksikan untuk melakukan relaksasi. kritik yang negatif. Hindari meninggalkan klien sendiri.

30 di ruang A1 syaraf dengan diagnosa SOL ( space occupying lession ) di rumah sakit Dr.BAB III RESUME KEPERAWATAN A. D usia 45 th dengan space occupying lession. alamat kendal. IDENTITAS KLIEN Pengkajian dilakukan pada tanggal 23 Januari 2011. pekerjaan IRT. D. M. Identitas penanggung jawab Tn. hubungan dengan klien adalah suami. Nama Ny. usia 45 tahun. Jam 10. Alamat kendal. usia 33 tahun. : Permpuan. : Pria. Kariadi Semarang. tanggal masuk 17 januari 2011. : Meninggal. jenis kelamin perempuan. : Tinggal satu rumah 18 . Klien Ny. keterangan : : Pasien. PENGKAJIAN 1. pendidikan SD.

Klien menghabiskan 1 porsi. klien . kadangkadang timbul bila menoleh mendadak. skala nyeri 6. hipertensi disangkal oleh keluarganya. 3. hipertensi keluarga klien tidak pernah mengalaminya.Dari anggota keluarga tidak ada yang menderita penyakit seperti klien. sedangkan penyakit lain seperti DM. 2. KEBIASAAN SEHARI-HARI Pengkajian pola kebiasaan sehari-hari pada Ny. D menurut “ Gordon “ diperoleh data : Pola persepsi kesehatan. hanya pusing biasa. dari anggota keluarga tidak ada yang menderita penyakit seperti klien. Dilakukan op. Klien tinggal serumah dengan suami dan anak-anaknya. mikro neoplasma 12 November 2010.merasakan kondisi tubuhnya dan bagaimana menyembuhkan / menguranginya. Riwayat kesehatan dahulu. RIWAYAT KEPERAWATAN Keluhan utama klien adalah nyeri pada kepalanya terutama pada saat beraktivitas seperti ditusuk-tusuk. kemudian dilakukan aspirasi ulang pada tanggal 27 Desember 2010. Riwayat kesehatan sekarang pada Tanggal 6 Desember 2010 pasien pernah mengalami aspirasi seroma. Riwayat keluarga. nasi dan sayuran. 19 . sedangkan penyakit lain seperti DM. pasien tidak pernah mengalami penyakit ini sebelumnya. Pola nutrisi sebelum sakit klien makan 3 kali sehari dengan komposisi lauk.

sebelum sakit klien tidur selama 9 jam sehari. sebelum klien sakit sebagai ibu rumah tangga biasanya berangat kepasar. Pola kognitif dan persepsi. Klien pasrah dengan keadaan dan hanya bisa berdoa. Pola peran. Selama sakit BAB 1 kali sehari dengan konsistensi lunak dan BAK 3-5 kali sehari warna seperti teh dan bau khas. Selama sakit klien tidur / istirahat selama 4 jam. Klien minum 6-8 gelas perhari (1200-1800 cc perhari) yaitu berupa air putih sedangkan minum teh kadang-kadang. Klien juga makan buahbuahan dan roti sebagai cemilan. kemudian memasak untuk seluruh anggota keluarganya. Pola istirahat dan tidur.Kadang-kadang juga makan makanan ringan ( kerupuk. Selama sakit klien hanya bisa tiur-tiduran ditempat tidur sesekali miring kekiri dan kekanan. Makan. sebelum sakit klien BAB 1 kali sehari dengan konsistensi lunak. klien tau dengan penyakit yang dideritanya. klien adalah seorang ibu rumah tangga hubungan dengan anggota keluarga baik. Selama sakit makan makanan yang diberi rumah sakit selalu dimakan walaupun sedikit tapi sering. Pola aktivitas. kue dan buah sebagai makanan tambahan. BAB dan BAK dibantu oleh keluarga. minum. BAK 6-7 kali sehari warna seperti teh dan bau khas. snack ). 20 . Pola eliminasi. Klien minum hanya pada saat makan / ngemil saja sekitar 1000 cc.

penglihatan berkurang. selama sakit klien hanya diseka. klien mempunyai dua orang anak.Pola kebersihan diri. Respirasi : 20 kali/menit. warna sama dengan sekitar. Sebelum sakit klien menjalankan sholat lima waktusecara teratur. Kepercayaan dan keyakinan. Nadi : 80 kali/menit. b) Kesadaran GCS : E4. tidak ada sekret / darah. bola mata nampak merah. klien beragama islam. 21 . f) Hidung Rongga bersih. Pola koping terhadap strees. e) Mata Tidak anemis. Pola seksualitas dan reproduksi. M6. PEMERIKSAAN FISIK a) Keadaan umum Klien tampak lemah. Suhu : 365 oC. sebelum sakit klien mandi 2-3 kali perhari. V5. 4. hanya tiduran ditempat tidur. Selama sakit klien hanya bisa berdoa diatas tempat tidur. d) Kepala Tampak benjolan sebesar buah jeruk. klien nampak cemas. sklera tidak ikterik. 15 composmentis. c) Tanda – tanda vital Tekanan darah : 120/90 mm/Hg.

i) Leher Tidak terdapat kelenjar thiroid.g) Telinga Tampak simetris da n bersih. : tidak ada nyeri tekan. : ictus carotis tak tampak. j) Dada Jantung I P P A Paru I P P A : bentuk nampak simetris saat statis dan dinamis. k) Abdomen I A P P : bentuk datar. : bunyi jantung I – II normal. h) Bibir dan mulut Tidak terjadi sianosis dan bersih. : konfigurasi jantung abnormal. : suara nafas vaskuler. tidak ada venektasi : peristaltik usus 18 kali / menit. : terdengar suara timpani. : ictus carotis teraba di sic V. : suara sonor pada intercostal IV – V dada kanan. l) Ekstrimitas 22 . : taktil formitus normal antara kanan dan kiri.

00 – 11.00 4.20 331.0 – 47.60 – 14.0 3. oedema dan fraktur.0 – 400. edema.80 39.0 14.20 32.00 – 11.65 27.00 N 23 .00 – 5.10 gr % % Juta / mmk pg fl g / dl ribu / mmk ribu / mmk % fl 12.60 11.00 – 96.80 4.36.00 .00 76.00 – 15. PEMERIKSAAN PENUNJANG a) Laboratorium Tanggal 18 Januari 2011.60 27.50 84.00 150.00 35. Hematologi Paket Hemoglobin Hematokrit Eritrosit MCH MCV MCHC Lekosit Trombosit RDW MPV 12.Atas : tidak terdapat lesi.1 4.0 11.00 – 32. terpasang infus disebelah kiri Bawah : tidak terdapat lesi. Pemeriksaan  Hematologi Hasil Satuan Nilai Normal Ket.60 7.00 29. 5.

 Sistem cyrterna terbuka. ukuran 1k.60 – 1. 41. Hasil  Tampak lesi slight hyperdersi dilobus temporopariletalis dextra ( HU 69. Moderate perifokal oedema +.5 X 50. Gryi tumpul dan sulic tampak dangkal .30 136 – 145 3. Suce 3-9 ). Glukosa Sewaktu Ureum Creatinin Natrium Kalium Chlorida b) CT-Scan Tanggal 19 April 2010. Pemeriksaan  Kimia Klinik 167 19 0. cornu anterior et poterior dextra.5 – 5.   Tampak lesi isoderis di sinus sphenoidalis dextra ( slice 2 ).1 98 – 107 L L L H Hasil Satuan Nilai Normal Ket. batas white matter dan gryi matter exopthalmus.70 124 3.Tanggal 22 januari 2011. klasifikasi -. Bentuk membulat.4 90 mg / dl mg / dl mg / dl mmol / l mmol / l mmol / l 80 – 110 15 – 39 0. 24 .1 mm. menimbulkan lateralisasi kesinistra dan menyempitkan ventriculus II.

nyeri yang seperti ditekanETIOLOGI Peningkatan tekanan intrakranial. THERAPI B.    Oedem cerebri. GCS : E4. 15 kompesmentis. Massa sinus spehniodalis curiga infiltrasi tumor. ANALISA DATA DATA S : klien mengatakan nyeri dikepala tekan. 6. Expothalamus OD. 25 . V5. OD tampak exopthalmus. Canalis opticus dextra lebih besar dibandingkan senistra . O : klien tampak lemes merasakan dialami. M6. Q : seperti ditekan-tekan. Kesan :  Massa lobus temporoparietalis dextra dengan lateralisasi kesinistra. PROBLEM Gangguan rasa nyaman nyeri TTD P : benjolan dikepala.

Resiko tinggi cidera berhubungan dengan disfungsi otot skunder. Cemas berhububungan dengan kurang pengetahuan tentang prosedur. S : klien mengatakan sudah tak semangat lagi dan takut meninggal. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. 26 . O : klien tampak lesu dan susah tuk tidur. 2. 3. lemah. O : bola mata tampak kemerah-merahan. S : klien mengatakan klien Disfungsi otot skunder susah melihat. T : saat banyak bergerak. S : 5-6. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan peningkatan tekanan intrakranial. Kurang informasi tentang prosedur Cemas C. badannya Resiko tinggi cidera terasa lemah.R : dikepala atas kanan.

 Berikan posisi nyaman.D. Kamis 28/1/11 10. waktu. 27 . tingkat bahaya pada pemberian analgetik.  Klien melakukan managemen nyeri. Anjurkan relaksasi. Catat adanya pengaruh nyeri. Identifikasi potensial lingkungan klien. Monitor vital. Observasi non verbal.00 2 Setelah dilakukan  tindakan keperawatan 3 X 24 jam tidak terjadi cidera dengan KH :  Klien dapat mengidentifikasi bahaya  Klien tidak terjadi dan kejadian.P Tujuan dan Krirteria Hasil dilakukan  Pantau skala nyeri.  Klien mengatakan mampu  nyeri berkurang.  Kolaborasi obat predinison. RENCANA KEPERAWATAN Hari Tanggal Kamis 28/1/11 09. orang.  Pantau kesadaran.  Orientasiakan klien pada tempat. tanda-tanda Intervensi TTD tinndakan keperawatan  3 x 24 jam nyeri berkurang dengan KH :  Klien dapat   mengenal nyeri.00 1 Setelah D.

00 1  Mengkaji skala S: klien mengatakan nyeri di kepala O: klien merasa nyeri pada D. Q.  Klien nyaman.P Tindakan Respon TTD nyeri dengan P. Beri penjelasan tindakan keperawatan 3  X 24 jam / cemas hilang  mengerti hubungan antara proses penyakit dan gejala. Libatkan keluarga dalam perawatan.  Keluarga melakukan perawatan mandiri mampu merasa E. Jawab setiap pernyataan dengan penuh perhatian. berkurang dengan KH :  Klien tentang penyakit dan  gejala. Kamis 28/1/11 11. IMPLEMENTASI Hari Tanggal Jum’at 29/1/11 09.00 3 Setelah dilakukan  Kaji status mental.cidera  Anjurkan klien untuk tidak beraktivitas. S. 28 . T. R.

yang nyeri memperparah pada saat beraktivitas. O: Tensi: 120/80 mmHg. 11. suhu. seperti tampak ditekan-tekan.S: klien bersedia.10  Mengukur tanda. Nadi: 82 kali permenit.saat bergerak. Suhu: 368 oC. klien tampak meringis. 09. obat O: masuk injeksi ketorolak.15  Memberikan posisi S: klien mengatakan mau yang nyaman melakukan. nafas. klien nyeri tampak terasa cemas. mengatakan tanda vital : tensi. baring. kesakitan. dengan cara tirah O: tampak mersa nyaman. Nafas: 20 kali permenit. skala nyeri 56. S: klien mengatakan mau. nadi.45  Kolaborasi pemberian analgetik. 09. 29 .

15  tingkat S: klien mengatakan mau.10  Menjawab pernyataan setiap S: klien bertanya tentang dengan O: keadaanya sekarang. orang. O: GCS : E4.predinison. keluarga selalu 30 . V5 = 15.00 3  Memberikan penjelasan hubungan S: klien bersedia. menganjurkan klien S: klien mengatakan mau untuk beraktivitas. mengatakan antara O: klien mau mendengarkan dengan baik. tidak mengikuti anjuran. mengorientasiakan klien pada tempat. Jum’at 29/1/11 11. M6. O: klien tampak beristrahat ditempat tidur. klien mendengarkan mengatakan dengan baik. 10. waktu. dan O: kejadian.00  2  memantau kesadaran. Jum’at 29/1/11 10. proses penyakit dan gejala. 10. O: S: keluarga klien mengatakan mau terlibat. 11. klien merasa puas penuh perhatian.15  Melibatkan keluarga dalam perawatan. S: klien bersedia. dengan jawaban.

T : saat banyak bergerak. Q : seperti ditekan-tekan.memotivasi klien untuk istrahat. O : Tensi : 120/80 mmHg Suhu : 368 oC. Nafas : 20 kali permenit. Nadi : 82 kali permenit. S : 3-4. DP Evaluasi TTD 31 . P : benjolan dikepala. P : lanjutakan intervensi dengan merkomendaikan kepada perawat ruangan :   Kaji karakteristik nyeri. A : masalah teratasi sebagaian. EVALUASI Hari Tanggal Sabtu 30/1/11 09. Dorong managemen motivasi klien untuk melakukan posisi nyaman saat nyeri. F.00 1 S : klien mengatakan klien masih merasakan nyeri tapi sedikit sudah berkurang. R : dikepala atas kanan.

P : lanjutkan intervensi dengan merkomendasikan pada perawat ruangan :   Kaji status mental.00 2 Kolaborasi pemberian obat S : klien mengatakan klien hanya tidur-tiduran karena takut terjadi apa-apa. A : masalah teratasi sebagaian. dan kejadian. GCS : E4.   Memantau tingkat kesadaran klien. O : klien hanya tidur-tiduran ditempat tidur. V5 = 15. orang. Orientasikan klien pada tempat. Sabtu 30/1/11 11. Jawab setiap pernyataan dengan penuh perhataian. 32 . A : masalah teratasi sebagaian. M6.  Libatkan keluarga dalam perawatan.00 3 S : klien mengatakan sedikit mulai mengerti tentang penyakit yang diderita klien. O : klien masih terlihat cemas. Sabtu 30/1/11 10. waktu. P : lanjutakan intervensi dengan merekomendasikan pada perawat ruangan :  Identifikasi bahaya potensial pada lingkungan klien.

Penyebab tumor masih sangat sedikit yang di ketahui. D pada bab ini penulis akan membahas kesamaan tersebut. Karena terbentuknya oedema di sekitar tumor maka terjadi peningkatan tekanan intrakranial. Radiasi merupakan salah satu dari factor penyebab timbulnya tumor otak. 33 . Penulis mendapat kesamaan antara teori dan kenyataan yang terjadi pada kasus SOL ( Space Occupying Lession ) yang diderita oleh Ny. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan peningkatan tekanan intrakranial. Masalah ini muncul karena terjadi peningkatan tekanan intrakranial karena peningakatan massa. berakhir dari 1 detik sampai kurang dari 6 bulan.BAB IV PEMBAHASAN Setelah dilakukan Asuhan Keperawatan mulai dari pengkajian sampai dengan evaluasi selama 3 hari penulis tidak mengalami kendala berarti. 2000 : 225 ). ( Linda Jual Carpenito. Nyeri adalah keadaan dimana individu mengalami dan melaporkan adanya ketidaknyamanan berat atau sensasi tak nyaman. sehingga penulis dapat menyeleasikan pengkajian dengan tepat waktu. Diagnosa yang muncul pada kasus antara lain : 1.

34 . c. dan pernafasan. Q. Mengkaji skala nyeri dengan P. R. Rasional tindakan yang telah dilakukan antara lain : a. dan kolaborasi dengan tim medis kemudian penulis mendelegasikan keperawat ruangan karena terbatasnya waktu. S. nadi. berikan posisi nyaman. Kolaborasi pemberian obat analgetik. Hasil evaluasi yang dicapai setelah dilakuakan tindakan keperawatan adalah klien mengatakan klien masih merasakan nyeri tapi sedikit berkurang sehingga masih belum teratasi. lanjutkan intervensi dengan kaji skala nyeri. Resiko tinggi cidera berhubungan dengan disfungsi otot skunder. 2. predinison. T. Data yang menunjang klien mengatakan nyeri di area kepalanya. suhu. yang ditandai peningkatan nadi dengan keringat dingin sehingga dapat terjadi syok neurogenik. terdapat benjolan sebesar buah jeruk.Penulis memprioritaskan masalah nyeri sebagai prioritas pertama karena dengan meningkatnya nyeri yang hebat dan tak tertangani maka akan menyebabkan ansietas. observasi tanda-tanda vital. skala nyeri 5-6. Resiko tinggi cidera adalah keadaan dimana ketika seseorang individu beresiko mendapat bahaya karena defisit perseptual atau fisiologis. Memberikan posisi yang nyaman dengan cara tirah baring. warna sama dengan sekitar. Mengukur tanda-tanda vital yang meliputi tensi. b. Akibat yang terjadi bila masalah tersebut tidak teratasi maka nyeri akan lebih menyebar dan kondisi akan memburuk. d.

Rasional tindakan yang dilakukan antara lain : a. d. lanjutkan intervensi dengan pantau tingkat kesadaran klien. orientasikan klien pada tempat. Pantau tingkat kesadaran. klien tampak lemas sehingga masalah belum teratasi. ( Linda Jual Corpenito. 3. Akibat yang terjadi bila masalah tidak teratasi terhadap kelemahan klien tersebut akan mengakibatkan cidera terhadap klien. c. Anjurkan klien untuk tidak beraktivitas. b. 35 . karena penglihatan klien menurun dan klien mengalami kelemahan. orang. ( Linda Jual carpento. bola mata klien juga terlihat kemerahan. Orientasikan klien pada tempat. Cemas berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang prosedur. dan kejadian. dan anjurkan klien untuk tidak beraktivitas. 2000 : 130 ). Cemas adalah keadaan dimana individu mengalami perasaan gelisah. 2000 : 247 ) Penulis prioritaskan diagnosa resiko tinggi cidera sebagai prioritas kedua. Diagnosa ini di angkat karena klien mengalami kelemahan. atau lanjut usia. dan kejadian. waktu. waktu. orang. Hasil evaluasi yang telah dicapai setelah dilakukan tindakan keperawatan adalah klien hanya tidur-tiduran ditempat tidur. Identifikasi bahaya potensial pada lingkungan klien. data yang menunjang masalah keperawatan ini adalah klien mengatakan anggota geraknya terasa lemah dan penglihatannya menurun.kurangnya kesadaran tentang bahaya.

Libatkan keluarga dalam perawatan. tidak tentram. karena kurangnya pengetahuan klien terhadap penatalaksanannya. dan takut. Jawab setiap pertanyaan dengan penuh perhatian. Data yang menunjang masalah keperawatan ini adalah klien mengatakan takut meninggal dan cemas. Diagnosa ini diangkat karena adanya reaksi emosional individu terhadap penilaian yang subyektif. Beri penjelasan hubungan antara proses penyakit dan gejala.Penulis prioritaskan diagnosa cemas sebagai prioritas ke tiga. yang disebabkan oleh karena kurangnya informasi tentang tindakan yang telah dilakukan oleh individu tersebut. lanjutkan intervensi dengan jawab pertanyaan dengan penuh perhatian dan melibatkan keluarga dalam perawatan kemudian penulis mendeligasikan keperawat ruangan karena terbatasnya waktu. Akibat yang terjadi bila masalah tidak teratasi reaksi emosional individu terhadap penilaian yang hanya subyaktif akan mengakibatkan gelisah. 36 . 3. Rasional tindakan yang telah dilakukan antara lain : 1. Dimana klien selalu memikirkan kematian. Kaji status mental. klien masih tampak cemas sehingga masalah teratasi sebagian. 4. Hasil evaluasi yang telah dicapai setelah dilakukan tindakan keperawatan adalah klien dan keluarga mengatakan tentang penyakit itu (tumor otak). 2.

Tanda dan gejala dari SOL itu sendiri yaitu gangguan kepribadian ringan. 4. Tumor otak dinamakan sesuai dengan jaringan dimana tumor itu muncul. prosedur pembedahan otak. kelemahan ekstrimitas bawah. 2. kejang. dan nyeri kepala. Komplikasi yang terjadi pada SOL adalah edema serebral. 5. hidrosefalus. Pengalaman nyata yang penulis dapatkan dalam memberikan asuhan keperawatan kepada klien dengan SOL adalah adanya kesamaan antara tinjauan teori dan tinjauan kasus. herniasi otak. laser karbondioksida. transplantasi tulang sumsum dan implantasi radioisotop. Tumor otak dapat terjadi pada beberapa struktur area otak dan pada semua kelompk umur. Tumor otak adalah lesi intrakranial yang menempati ruang dalam tulang tengkorak. kelemahan otot wajah. kemoterapi. KESIMPULAN 1. kejang dan metastase ketempat lain. gangguan penglihatan.BAB V PENUTUP A. 37 . tekanan intrakranial meningkat. Tumor otak ( tumor intrakranial )meliputi lesi benigna dan maligna. 3. Penatalaksanaannya yaitu terapi radiasi.

2. SARAN 1. Ilmu atau Profesi Keperawatan 38 . yang dapat menyembuhkan penyakit tersebut di dalam evaluasi yang telah di lakukan sehingga masalah dapat di atasi melalui pendekatan proses keperawatan. Pelayanan kesehatan sebaiknya lebih terbuka dalam memberikan informasi tentang keadaan pasien pada keluarga. b. 3. Instansi atau Rumah sakit Untuk meningkatkan rasa nyaman dan menghindari bakteri nasokomial pada klien. Pelayanan yang di berikan lebih di tingkatkan lagi agar pengguna jasa kesehatan merasa puas dan bisa mewujudkan Indonesia Sehat. sebaiknya pihak rumah sakit lebih memperhatikan kebersihan dan mencuci tangan sebelum dan setelah melakukan tindakan keperawatan. Pelaksana pelayanan di Rumah sakit a.6. penulis menemui beberapa hambatan – hambatan seperti dalam melakukan implementasi dan intervensi pada klien ternyata sesuai dengan teori yang ada. B. Dalam pemberian asuhan keperawatan kepada klien.

b. b. 39 . Untuk mewujudkan Indonesia pandai maka sebagai senior wajib mendidik para juniornya agar tidak melakukan kesalahan dalam memberikan Asuhan keperawatan. Bekali keterampilan mahasiswa yang banyak sebelum terjun dalam proses keperawatan di Rumah Sakit. Bagi pembimbing akademik lebih sering dalam memberikan bimbingan agar tidak di rendahkan oleh profesi lain. Bagi keluarga Di harapkan keluarga dapat memberikan dorongan kepada pasien agar dapat cepat sembuh. 4. 5.a. Institusi Pendidikan a. Tingkatkan pengetahuan ilmu keperawatan agar terbebas dari penyakit yang mematikan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->