P. 1
6. Farmakologi Dan Polifarmasi Usia Lanjut

6. Farmakologi Dan Polifarmasi Usia Lanjut

|Views: 323|Likes:
Published by Putri Ramadhani

More info:

Published by: Putri Ramadhani on Jun 11, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPTX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/15/2015

pdf

text

original

LEARNING OBJECTIVE

6

Farmakologi dan Polifarmasi usia lanjut

Ciri-ciri Geriatrik
1. Gangguan fungsi organ dan regulasi homeostatik (menurun) 2. Perubahan farmakokinetik obat 3. Banyak mengidap penyakit kronis; polifarmasi (polimedisinal) 4. Kemampuan penggunaan obat menurun (Pelupa, bingung, tremor, visus, dsb) usia > 65 tahun 5. ADR (adverse drug reaction) atau reaksi obat yang tidak diharapkan sering terjadi toksisitas

Kondisi patologi pada golongan usia lanjut. memang banyak masalahnya. karena beberapa obat sering berinteraksi.FARMAKOLOGI Pemberian obat atau terapi untuk kaum lansia. cenderung membuat lansia mengkonsumsi lebih banyak obat dibandingkan dengan pasien yang lebih muda sehingga memiliki risiko lebih besar untuk mengalami efek samping dan interaksi obat yang merugikan .

Penyakit pada usia lanjut sering terjadi pada banyak organ sehingga pemberian obat sering terjadi polifarmasi. lebih dari yang dibutuhkan secara logis-rasional dihubungkan dengan diagnosis yang diperkirakan. Diantara demikian banyak obat yang ditelan pasti terjadi interaksi obat yang sebagian dapat bersifat serius dan sering menyebabkan hospitalisasi atau kematian. Polifarmasi berarti pemakaian banyak obat sekaligus pada seorang pasien. .

penglihatan dan pendengaran. Semua keadaan ini menyebabkan lansia memperoleh pengobatan yang banyak jenisnya . diabetes mellitus. keseimbangan badan. Penyakit utama yang menyerang lansia ialah hipertensi. gagal jantung dan infark serta gangguan ritme jantung. gangguan fungsi ginjal dan hati.Kejadian ini lebih sering terjadi pada pasien yang sudah berusia lanjut yang biasanya menderita lebih dari satu penyakit. Selain itu. juga terjadi keadaan yang sering mengganggu lansia seperti gangguan fungsi kognitif.

KONSEP DASAR PEMAKAIAN OBAT Ada tiga faktor yang menjadi acuan dasar dalam pembuatan atau peresepan obat · Diagnosis dan patofisiologi penyakit · Kondisi organ tubuh · Farmakologi klinik obat .

Pada usia lanjut banyak hal-hal yang lainnya yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan obat. . karena pada golongan lansia berbagai perubahan fisiologik pada organ dan sistema tubuh akan mempengaruhi tanggapan tubuh terhadap obat.Setelah dokter mendiagnosis penyakit pasien. maka sebelum penentuan obat yang dibeikan perlu dipertimbangkan kondisi organ tubuh serta farmakologi dari obat yang akan diresepkan.

Pilihlah obat yang memberikan rasio manfaat yang paling menguntungkandan tidak berinteraksi dengan obat yang lain atau penyakit lainnya 3. Bila diperlukan efek plasebo berikan plasebo yang sesungguhnya 2.Adapun prinsip umum penggunaan obat pada usia lanjut : 1. Berikan obat hanya yang betul-betul diperlukan artinya hanya bila ada indikasi yang tepat. Mulai pengobatan dengan dosis separuh lebih sedikit dari dosis yang biasa diberikan pada orang dewasa yang masih muda. .

4. Berikan regimen dosis yang sederhana dan sediaan obat yang mudah ditelan untuk memelihara kepatuhan pasien 6. Dosis penuNjang yang tepat umumnya lebih rendah. Periksa secara berkala semua obat yang dimakan pasien. dan bila perlu dengan memonitor kadar plasma pasien. Sesuaikan dosis obat berdasarkan dosis klinik pasien. 5. dan hentikan obat yang tidak diperlukan lagi .

kecuali pada beberapa obat seperti fenotain. kecepatan dan tingkat absorbsi obat tidak berubah pada usia lanjut.FARMAKOKINETIK Pada usia lanjut perubahan terjadi pada saluran cerna yang diduga mengubah absorbsi obat. barbiturat. menurunnya aliran darah ke usus akibat penurunan curah jantung dan perubahan waktu pengosongan lambung dan gerak saluran cerna. dan prozasin . Oleh karena itu. misalnya meningkatnya pH lambung.

sedangkan absorpsi levodopa meningkat karena penurunan jumlah enzim dopadekarboksilase pada mukosa gaster ▫ Mengurangi/memperlambat absorpsi obat basa lemah ▫ Mempercepat absorpsi obat asam lemah • Penurunan kecepatan pengosongan gaster .Efek Penuaan terhadap Absorpsi • Berkurangnya permukaan absorptif dan penurunan aliran darah splanknik • Peningkatan pH gaster akibat penurunan sekresi HCl dan sekret gastrointestinal lainnya ▫ Memperlambat absorpsi obat secara keseluruhan • Perubahan motilitas gastrointestin ▫ Mempengaruhi laju absorpsi obat melalui efeknya pada derajat ionisasi obat asam atau basa lemah ▫ Absorpsi vitamin B12 berkurang.

Pada distribusi obat terdapat hubungan antara penyebaran obat dalam cairan tubuh dan ikatannya dengan protein plasma (biasanya dengan albumin. bergizi buruk atau sangat lemah. Selain itu juga dapat menyebabkan meningkatnya fraksi obat bebas dan aktif pada beberapa obat dan kadang-kadang membuat efek obat lebih nyata tetapi eliminasi lebih cepat. penambahan lemak tubuh dan penurunan albumin plasma. . tetapi pada beberapa obat dengan protein lain seperti asam alfa 1 protein). dengan sel darah merah dan jaringan tubuh termasuk organ target. Pada usia lanjut terdapat penurunan yang berarti pada massa tubuh tanpa lemak dan cairan tubuh total. Penurunan albumin sedikit sekali terjadi pada lansia yang sehat dapat lebih menjadi berarti bila terjadi pada lansia yang sakit.

memiliki Vd lebih besar. massa otot (lean body mass). dan klormetiazole ▫ Konsentrasi obat bebas dikompensasi oleh eliminasi yang lebih cepat sehingga tidak menimbulkan efek yang terlalu bermakna ▫ Sebagian besar pasien geriatri tidak memiliki perubahan kadar albumin serum. ethanol.Efek Penunaan pada Distribusi Obat • Penurunan jumlah kandungan air total dalam tubuh. kecuali pada penyakit kronik stadium lanjut atau malnutrisi berat • Peningkatan massa lemak . tiopenton. lignokain. seperti gentamisin. dan cimetidin ▫ Obat nonpolar sebaliknya. seperti diazepam. teofilin. dan kadar albumin serum atau protein transporter lainnya (alfa-glikoprotein) ▫ Obat-obat polar memiliki Vd yang lebih kecil sehingga konsentrasinya menjadi lebih besar. digoksin.

Sejumlah obat sangat mudah diekskresi oleh hati.metabolisme Munculnya efek obat sangat ditentukan oleh kecapatan penyerapan dan cara penyebarannya. Durasi (lama berlangsungnya efek) lebih banyak dipengaruhi oleh kecepatan ekskresi obat terutama oleh penguraian di hati yang biasanya membuat obat menjadi lebih larut dalam air dan menjadi metabolit yang kurang aktif atau dengan ekskresi metabolitnya oleh ginjal. dan propanolol. lidokain. Pada usia lanjut. . penurunan aliran darah ke hati dan juga kemungkinan pengurangan ekskresi obat yang tinggi terjadi pada labetolol. antara lain melalui ambilan (uptake) oleh reseptor dihati dan melalui metabolisme sehingga bersihannya tergantung pada kecepatan pengiriman ke hati oleh darah.

• Efek ini belum sepenuhnya dapat diprediksi dengan tepat  sehingga pasien geriatri dengan hasil tes fungsi liver yang baik belum tentu metabolisme obat seefisien individu yang lebih muda.Efek Penuaan pada Metabolisme Obat • Sangat kompleks dan sulit untuk diperkirakan.laki. • Fase kedua (biotransformasi. reduksi dan hidrolisis) mengalami penurunan seiring bertambahnya usia. • Bergantung pada jalur metabolisme dan beberapa faktor lain (gender dan rokok). • Terdapat bukti bahwa kemampuan faktor lingkungan (terutama merokok) untuk menginduksi enzim merabolisme obat ikut menurun. . • Terdapat beberapa bukti bahwa fase awal metabolisme obat (oksidasi. termasuk asetilasi dan glukuronidasi)  lebih tidak terpengaruh terhadap umur yang bertambah. Didapatkan juga bahwa penurunan ini lebih menonjol terjadi pada laki .

Misalnya digoksin dan antibiotik golongan aminoglikosida. begitu juga dengan aliran darah ke ginjal sehingga kecepatan filtrasi glomerolus berkurang sekitar 30 % dibandingkan pada orang yang lebih muda. yang secara aktif disekresi oleh tubulus ginjal. mengalami penurunan faali glomerolus dan tubulus . Umumnya obat diekskresi melalui filtrasi glomerolus yang sederhana dan kecepatan ekskresinya berkaitan dengan kecepatan filtrasi glomerolus (oleh karena itu berhubungan juga dengan bersihan kreatinin). fungsi ginjal berkurang. Pada usia lanjut. Akan tetapi.ekskresi Efek usia pada ginjal berpengaruh besar pada ekskresi beberapa obat. Fungsi tubulus juga memburuk akibat bertambahnya usia dan obat semacam penicilin dan litium. kisarannya cukup lebar dan banyak lansia yang fungsi glomerolusnya tetap normal.

. karena itu efek aging pada ekskresi lebih dapat diperkirakan.Efek Penuaan pada Ekskresi Obat • Fungsi ekskresi banyak dikaitkan dengan fungsi ginjal.obat ini dikeluarkan dari tubuh lebih lambat. • Penurunan fungsi ginjal  mempengaruhi farmakokinetik obat – obat yang dieliminasi lebih banyak oleh ginjal  obat . waktu paruh serta durasi aksinya lebih panjang  kecenderungan untuk terjadi akumulasi menuju konsentrasi yang berpotensi toksik.

Digoksin juga mempunyai waktu-paruh panjang dan merupakan obat lansia yang menimbulkan efek samping terbanyak di Jerman karena dokter Jerman memakainya berlebihan. perlu diberikan dengan dosis terbagi yang lebih kecil ketimbang dosis tunggal besar yang dianjurkan produsen. sehingga memperpanjang intensitas kerjanya. Glibenklamid. obat diabetes dengan masa kerja panjang (tergantung besarnya dosis) misalnya.INTERAKSI FARMAKOKINETIK 1. Obat yang mempunyai half-life panjang perlu diberi dalam dosis lebih kecil bila efek sampingnya berbahaya. Hal ini menyebabkan ekskresi obat sering berkurang. walaupun sekarang digoksin sudah digantikan dengan furosemid untuk mengobati payah jantung sebagai first-line drug . Fungsi Ginjal Perubahan paling berarti saat memasuki usia lanjut ialah berkurangnya fungsi ginjal dan menurunnya creatinine clearance. walaupun tidak terdapat penyakit ginjal atau kadar kreatininnya normal. Dua obat yang sering diberikan kepada lansia ialah glibenklamid dan digoksin.

maka harus digunakan nilai creatinineclearance untuk memperkirakan dosis obat yang renal-toxic.Karena kreatinin tidak bisa dipakai sebagai kriteria fungsi ginjal. sehingga kedua obat ini juga perlu diberi dalam dosis lebih kecil pada lansia. dua obat yang sering digunakan pada lansia dapat memproduksi metabolit aktif. . Alopurinol dan petidin. Penyakit akut seperti infark miokard dan pielonefritis akut juga sering menyebabkan penurunan fungsi ginjal dan ekskresi obat. Dosis yang lebih kecil diberikan bila terjadi penurunan fungsi ginjal. khususnya bila memberi obat yang mempunyai batas keamanan yang sempit. misalnya aminoglikoside seperti gentamisin.

ALT tidak mencerminkan fungsi tetapi lebih merupakan marker kerusakan sel hati dan karena kapasitas hati sangat besar. Ini tentu terjadi hingga suatu batas. Kejenuhan metabolisme oleh hati bisa terjadi bila diperlukan bantuan hati untuk metabolisme dengan obat-obat tertentu. sehingga penurunan fungsinya tidak begitu berpengaruh.2. Misalnya pemakaian methylprednisolon. Batas ini lebih sulit ditentukan karena peninggian nilai ALT tidak seperti penurunan creatinine-clearance. kerusakan sebagian sel dapat diambil alih oleh sel-sel hati yang sehat. ALT juga tidak bisa dipakai sebagai parameter kapan perlu membatasi obat tertentu. prednison dimetabolisme menjadi prednisolon oleh hati. Fungsi Hati Hati memiliki kapasitas yang lebih besar daripada ginjal. Hal ini tidak begitu perlu untuk dilakukan bila dosis prednison normal atau bila hati berfungsi normal. . Hanya anjuran umum bisa diberlakukan bila ALT melebihi 2-3 kali nilai normal sebaiknya mengganti obat dengan yang tidak dimetabolisme oleh hati.

Kadar yang kemudian ditemukan dalam plasma merupakan bioavailability suatu produk yang dinyatakan dalam prosentase dari dosis yang ditelan. . Hati akan melakukan metabolisme obat yang disebut first-pass effect dan mekanisme ini dapat mengurangi kadar plasma hingga 30% atau lebih. Obat yang diberikan secara intra-vena tidak akan melalui hati dahulu tapi langsung masuk dalam sirkulasi umum. Karena itu untuk obat-obat tertentu yang mengalami first-pass effect dosis IV sering jauh lebih kecil daripada dosis oral.First-pass effect dan pengikatan obat oleh protein (protein-binding) berpengaruh penting secara farmakokinetik. Obat yang diberikan oral diserap oleh usus dan sebagian terbesar akan melalui Vena porta dan langsung masuk ke hati sebelum memasuki sirkulasi umum.

Obat yang diikat banyak oleh protein dapat digeser oleh obat lain yang berkompetisi untuk ikatan dengan protein seperti aspirin. Warfarin. Aspirin sebagai antiplatelet juga akan menambah intensitas perdarahan. Proses redistribusi menyebabkan 1% ini dipertahankan selama obat bekerja. Hal ini juga dapat terjadi pada aspirin yang mempunyai waktu-paruh plasma hanya 15 menit. tetapi untuk obat yang batas keamanannya sempit dapat membahayakan penderita . misalnya. aspirin menggeser ikatan warfarin kepada protein sehingga kadar warfarin-bebas naik mendadak. diikat oleh protein (albumin) sebanyak 99% dan hanya 1% merupakan bagian yang bebas dan aktif. sehingga kadar aktif obat pertama meninggi sekali dalam darah dan menimbulkan efek samping.Protein-binding juga dapat menimbulkan efek samping serius. Sebagian besar mungkin tidak berpengaruh secara klinis. yang akhirnya menimbulkan efek samping perdarahan spontan. Bila kemudian diberi aspirin yang 80-90% diikat oleh protein.

Penurunan ini sangat menonjol pada respon homeostatik yang berlangsung secara fisiologis. Sedangkan obat-obat yang kerjanya menghambat proses biokimia seluler. Respon seluler pada lansia secara keseluruhan akan menurun. intensitas pengaruhnya akan menurun misalnya agonis untuk terapi asma bronkial diperlukan dosis yang lebih besar. Pada umumnya obat-obat yang cara kerjanya merangsang proses biokimia selular. padahal jika dosisnya besar maka efek sampingnya akan besar juga sehingga index terapi obat menurun. pengaruhnya akan terlihat bila mekanisme regulasi homeostatis melemah .FARMAKODINAMIK Farmakodinamik adalah pengaruh obat terhadap tubuh.

INTERAKSI FARMAKODINAMIK Interkasi farmakodinamik pada usia lanjut dapat menyebabkan respons reseptor obat dan target organ berubah. diuretik furosemide dan antidepresan trisiklik dapat juga menyebabkannya . Misalnya opiod dan benzodiazepin menimbulkan efek yang sangat nyata terhadap susunan saraf pusat. Antihistamin sedatif seperti klorfeniramin (CTM) juga perlu diberi dalam dosis lebih kecil (tablet 4 mg memang terlalu besar) pada lansia. sehingga sensitivitas terhadap efek obat menjadi lain. Benzodiazepin dalam dosis “normal” dapat menimbulkan rasa ngantuk dan tidur berkepanjangan. Ini menyebabkan kadang dosis harus disesuaikan dan sering harus dikurangi. dapat menimbulkan hipotensi ortostatik. suatu α1 adrenergic blocker. antihipertensi lain. Mekanisme terhadap baroreseptor biasanya kurang sempurna pada usia lanjut. sehingga obat antihipertensi seperti prazosin.

3. maka dosis tersebut perlu disesuaikan terhadap penurunan fungsi organ eliminasi . kurve log dosis-respons dengan memperhitungkan jenis kelamin. dengan interval waktu antar dosis diperpanjang terhadap interval yang lazim. Ada beberapa rumus dosis obat pada Geriatrik berdasar pola mic. umur. Hati-hati peningkatan dosis dan harus diketahui batas atas dosis obat tersebut. Sayangnya rumus tersebut terlalu rumit dan tidak praktis dalam pengobatan. sebagai berikut : 65 – 74 tahun : Dosis biasa – 10% 75 – 84 tahun : Dosis biasa – 20% ≥ 85 tahun : Dosis biasa – 30% *) Jika lansia juga mengidap penurunan fungsi organ eliminasi. Dosis diturunkan : tiap 10 tahun kenaikan usia. dan berat badan. dosis diturunkan 10% dari dosis biasa.Perhitungan dosis obat pada Geriatrik antara lain : 1. 2. Gunakan dosis efektif terkecil.

. Contoh : peremukan menghilangkan lapisan pelindung : pentoxifilin berakibat perut tidak nyaman. lansia kurang mampu memahami cara penggunaan berbelit-belit. 5) Etiket obat harus jelas tulisan dan maksudnya.l. Elixir).Hal penting untuk dipertimbangkan penggunaan obat pada Lansia : 1) Gunakan jenis obat sedikit mungkin terhadap kebutuhan penderita. Hindari : tablet. karena dapat berubah absorpsi. sehingga preparat teofilin potensial terjadi toksisitas. mudah ditakar dan digunakan. tablet s. tablet retard. . 3) Hindari pengubahan bentuk sediaan obat (Padat) menjadi serbuk / cair. maka berikan regimen sederhana. 2) Gunakan BSO yang mudah ditelan (obat bentuk cair . capsul bagi yang kesulitan menelan. 4) Kelemahan fisik serius dan penurunan berbagai fungsi organ terutama otak. seperti : tablet enterik. peremukan berakibat pelepasan obat dosis besar tablet retard. obat dalam wadah yang mudah dibuka. guna mengurangi IO karena polifarmasi. dst. waktu paruh dan toksisitas.

Polifarmasi: Definisi dan Penyebab • Polifarmasi adalah meresepkan obat melebihi indikasi klinis. pengobatan yang mencakup paling tidak satu obat yang tidak perlu • Penyebab: ▫ ▫ ▫ ▫ ▫ ▫ Penyakit yang diderita banyak dan kronis Obat diresepkan oleh beberapa dokter kurangnya koordinasi dalam pengelolaan pasien Gejala yang dirasakan pasien tidak jelas Pasien meminta resep Penambahan obat untuk menghilangkan efek samping obat .

pada farmakokinetik maupun dinamik 4. Farmakologi FKUI. Efek samping meningkat 2. Meningkatkan biaya pengobatan pasien dengan polifarmasi (obat tanpa indikasi yang jelas) Setiabudy R. Bila timbul efek samping. 2011 . baik inkompatibilitas. Dept. sulit menentukan penyebabnya dan mengacaukan antara gejala penyakit yang dialami pasien dengan gejala yang timbul akibat efek samping 3.Kerugian Akibat Polifarmasi 1. Masalah Polifarmasi dan Peresepan Obat Racikan. Interaksi obat yang merugikan pasien.

▫ Tatalaksana kausal. interaksi ▫ Pasien  over-the-counter • Gunakan dosis minimum yang paling efektif • Pantau efek samping dengan ketat! ▫ Terutama  kelemahan. Diagnosis dan etiologi harus tegak terlebih dahulu! ▫ Simptomatik  antinyeri ▫ Selalu pertimbangkan benefit/efek samping • Reevaluasi pemberian obat secara berkala ▫ Teman sejawat  obat yang sama. BB turun. hasil lab memburuk . kebingungan.kognitif.Menghindari ADE pada Pasien Geriatri • Tahu apa tujuan pemberian obat. anoreksia. gg.

Prinsip Pemberian Obat Menurut Leipzig: 1. Mulai dengan dosis rendah naikan perlahan 6. Dorongan untuk patuh berobat 8. Obat sesuai patokan 7. Hati-hati menggunakan obat baru . Jangan menggunakan obat terlalu lama 4. Riwayat pengobatan lengkap 2. Jangan memberikan obat sebelum waktunya 3. Kenali obat yang digunakan 5.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->