PENDIDIKAN KARAKTER: Konsep dan Implementasinya dalam Pembelajaran di Sekolah/Madrasah1 Oleh Muzhoffar Akhwan2

Pendahuluan Penguatan pendidikan moral (moral education)3 atau pendidikan karakter (character education)4 dalam konteks sekarang sangat relevan untuk mengatasi krisis moral yang sedang melanda di negara kita. Krisis tersebut antara lain berupa meningkatnya pergaulan bebas, maraknya angka kekerasan anak-anak dan remaja, kejahatan terhadap teman, pencurian remaja, kebiasaan menyontek, penyalahgunaan obat-obatan, pornografi, dan perusakan milik orang lain sudah menjadi masalah sosial yang hingga saat ini belum dapat diatasi secara tuntas. Krisis yang melanda pelajar (juga elite politik) mengindikasikan bahwa pendidikan agama dan moral yang didapat di bangku sekolah (kuliah) tidak berdampak terhadap perubahan perilaku manusia Indonesia. Bahkan yang terlihat adalah begitu banyak manusia Indonesia yang tidak koheren antara ucapan dan tindakannya. Kondisi demikian, diduga berawal dari apa yang dihasilkan oleh dunia pendidikan.5 Demoralisasi tejadi karena proses pembelajaran cenderung mengajarkan pendidikan moral dan budi pekerti sebatas teks dan kurang mempersiapkan siswa untuk menyikapi dan menghadapi kehidupan yang kontradiktif. Dalam konteks pendidikan formal di sekolah/madrasah, bisa jadi salah satu penyebabnya karena pendidikan di Indonesia lebih menitik beratkan kepada pengembangan intelektual atau kognitif semata, sedangkan aspek soft skill atau nonakademik sebagai unsur utama pendidikan moral belum diperhatikan. Padahal, pencapaian hasil belajar siswa tidak dapat hanya dilihat dari ranah kognitif dan psikomotorik, sebagaimana selama ini terjadi dalam praktik pendidikan kita, tetapi harus juga dilihat dari hasil afektif, Ketiga ranah berhubungan secara resiprokal, meskipun kekuatan hubungannya bervariasi dari satu kasus ke kasus yang lain. Beberapa

Makalah dipersiapkan dan disajikan dalam diskusi dosen Fakultas Ilmu Agama Islam UII, tanggal 2 Nopember 2011. 2 Dosen Fakultas Ilmu Agama Islam UII. 3 3Moral, karakter dan akhlak memiliki perbedaan. Moral adalah pengetahuan seseorang terhadap hal baik dan buruk yang ada dan melekat dalam diri seseorang. Istilah moral berasal dari bahasa Latin mores dari suku kata mos, yang artinya adat istiadat, kelakuan tabiat, watak. Moral merupakan konsep yang berbeda. Moral adalah prinsip baik buruk sedangkan mor litas merupakan kualiras pertimbangan baik buruk. Pendidikan moral adalah moral pendidikan. Moral pendidikan adalah nilai-nilai yang terkandung secara built in dalam setiap bahan ajar atau ilmu pengetahuan. Akhlak (bahasa Arab), bentuk plural dari khuluq adalah sifat manusia yang terdidik. Baca Muhammad al-Abd, t.t., al-khlāq fi al-Islām, (Cairo: alJami’ah al-Qahirah, t.t.), hln. 11. 4 Karakter adalah tabiat seseorang yang lansung di-drive oleh otak. Munculnya tawaran istilah pendidikan karakter (character education) merupakan kritik dan kekecewaan terhadap praktik pendidikan moral selama ini. Walaupun secara substansial, keduanya tidak memiliki perbedaan yang prinsipiil. 5 Zubaidi, 2011. Desain Pendidikan Karakter, (Jakarta: Prenada Media Group, 2011), hlm. 2.

1

1

Muntholi’ah (ed. keinginan untuk berbuat baik.hasil penelitian menunjukkan bahwa efektivitas pencapaian hasil kognitif terjadi sejalan dengan efektivitas pencapaian ranah afektif. maka makalah ini akan membahas tentang Pendidikan Karakter: Konsep dan Implementasinya dalam Pembelajaran . Bagan dibawah ini merupakan bagan kterkaitanketiga kerangka pikir ini. Guru Besar Bicara Mengembangkan Keilmuan Pendidikan Islam. Namun. Desain. penerapan pendidikan karakter di sekolah/ madrasah memerlukan pemahaman tentang konsep. 29. maka diperlukan kerja keras semua pihak. sikap moral (moral felling). Berdasarkan persoalan di atas.7 Berdasarkan ketiga komponen ini dapat dinyatakanbahwa karakter yang baikdidukung oleh pengetahuan tentang kebaikan... teori. 6 2 . Pendidikan karakter dapat diartikan sebagai the deliberate us of all dimensions of school life to foster optimal character development (usaha kita secara sengaja dari seluruh dimensi kehidupan sekolah/madrasah untuk membantu pembentukan karakter secara optimal. dan melakukan perbuatan kebaikan. (Semarang: Fakultas Tarbiyah IAIN Walisanga dan RaSAIL Media Group.). 2010). tetapi juga untuk warga masyarakat secara keseluruhan. hlm. 215. Kons ep moral Karakt er/ Watak Peril aku moral Sika p mora l Gambar: keterkaitan antara komponen moral dalam rangka pembentukan Karakter yang baik menurut Lickona Hadjar.. bukan hanya untuk kepentingan individu warga negara. Menurut Lickona. dan perilaku moral (moral behavior).. terutama terhadap program-program yang memiliki kontribusi besar terhadap peradaban bangsa harus benar-benar dioptimalkan. hlm. “Evaluasi Hasil Belajar Afektif Pendidikan Agama: Konsep dan Pengukurannya”. Semoga bermanfaat.6 Dalam Renstra Kemendiknas 2010-2014 telah dicanangkan visi penerapan pendidikan karakter. Konsep Pendidikan Karakter Pendidikan karakter telah menjadi perhatian berbagai negara dalam rangka mempersiapkan generasi yang berkualitas. metodologi dan aplikasi yang relevan dengan pembentukan karakter (character building) dan pendidikan karakter (character education). karakter berkaitan dengan konsep moral (moral knonwing). 7 Zubaedi.

Dengan demikian. baik secara pribadi maupun sosial. (Jakarta: Kencana Prenda Media Group. 2010). Sedangkan pembelajaran moral doing akan lebih banyak menggunakan pendekatan individual melalui pendampingan pemanfaatan potensi dan peluang yang sesuai dengan kondisi lingkungan siswa. 9 Kurikulum berfungsi sebagai pedoman yang memberikan arah dan tujuan pendidikan. kemauan dan keterampilan dalam berbuat kebaikan. pengalaman belajar. Strategi pembelajaran yang berkenaan dengan moral knowing akan lebih banyak belajar melalui sumber belajar dan nara sumber. 8 Pendidikan karakter selama ini baru dilaksanakan pada jenjang pendidikan pra sekolah/madrasah (taman kanak-kanak atau raudhatul athfāl). Pembelajaran moral loving akan terjadi pola saling membelajarkan secara seimbang di antara siswa. hasil pembelajarannya ialah terbentuknya kebiasaan berpikir dalam arti peserta didik memiliki pengetahuan. hlm. Humanisasi Pendidikan. komponen pengalaman belajar. (Jakarta: PT Bumi Aksara. Ketiga strategi pembelajaran tersebut sebaiknya dirancang secara sistematis agar para siswa dan guru dapat memanfaatkan segenap nilai-nilai dan moral yang sesuai dengan potensi dan peluang yang tersedia di lingkungannya. dan perilaku shaleh. serta implementasi dari dokumen yang dirancang dalam kehidupan nyata. Sanjaya. Sementara pada jenjang sekolah dasar dan seterusnya kurikulum di Indonesia masih belum optimal dalam menyentuh aspek karakter ini. hlm. strategi dan cara yang dapat dikembangkan. 9 8 3 . Nilai-nilai ini juga digambarkan sebagai perilaku moral. Padahal jika Indonesia ingin memperbaiki mutu sumber daya manusia dan segera bangkit dari ketinggalannya. Melalui pemahaman yang komprehensif ini diharapkan dapat menyiapkan pola-pola manajemen pembelajaran yang dapat menghasilkan anak didik yang memiliki karakter yang kuat dalam arti memiliki ketangguhan dalam keilmuan.Berdasarkan tujuan pendidikan nasional. maka Indonesia harus merombak sistem pendidikan yang ada. 39. Di era kurikulum 2004-2008 yang menggunakan kurikulum KBK dan KTSP. isi materi dan pengalaman belajar yang harus dilakukan peserta didik. Tujuan pendidikan karakter adalah mengajarkan nilai-nilai tradisional tertentu. dan komponen evaluasi. antara lain memperkuat pendidikan karakter. maka pendiikan karakter adalah suatu program pendidikan (sekolah dan luar dekolah) yang mengorganisasikan dan menyederhanakan sumber-sumber moral dan disajikan dengan memerhatikan pertimbangan psikologis untuk pertimbangan pendidikan. terdiri dari tujuan yang menjadi arah pendidikan. keimanan. nilai-nilai yang diterima secara luas sebagai landasan perilaku yang baik dan bertanggung jawab. evaluasi yang dirancang untuk mengumpulkan informasi tentang pencapaian tujuan. 16. pembelajaran lebih mendapatkan penegasan pada kewenangan guru untuk menentukan indikator. dan rangkaian belajar yang bisa mengantarkan tercapainya Zuchdi. Kurikulum dapat diartikan sebagai sebuah dokumen perencanaan yang berisi tujuan yang harus dicapai. Kurikulum dan Pembelajaran. komponen strategi pencapaian tujuan. meskipun sudah ada materi pelajaran Pancasila dan Kewarganegaraan. Komponen-komponen kurikulum saling berkaitan dan saling mempengaruhi. 2009). Konsep Kurikulum Kurikulum merupakan rencana tertulis yang berisi tentang ide-ide dan gagasangagasan yang dirumuskan oleh pengembang kurikulum.

tetapi suatu proses pengintegrasian moral pengetahuan. maka kebermaknaan yang diajarkannya akan lebih efektif dalam menunjang pendidikan karakter. bukan belajar untuk berprestasi dalam kehidupan. (7) keadilan dan kepemimpinan. tetapi lebih merupakan proses pembiasaan perilaku bermoral. metodologi dan aplikasi setiap bidang studi. Kalau saja mata pelajaran ini bisa diturunkan dalam pembelajaran nyata di sekolah/madrasah. 17.. seharusnya sudah bisa memberi harapan yang jauh lebih baik untuk memperbaiki akhlak siswa dibanding dengan harapan pada kurikulum sebelumnya. kreatif.. kerja keras dan pantang menyerah. peduli. dan persatuan. contoh teladan. Desain. lingkungan masyarakat. Salah satu alasannya ialah karena para guru mengajarkan masih seputar teori dan konsep. dan toleransi. metode (tharekat) dan aplikasi (ma’rifat). Sampai saat ini. (6) percaya diri. dalam setiap proses pembelajaran mencakup aspek konsep (hakekat). Desain kurikulum pendidikan karakter bukan sebagai teks bahan ajar yang diajarkan secara akademik. budi pekerti. sehingga seluruh proses pendidikan merupakan proses moralisasi perilaku peserta didik.. Bukan proses pemberian pengetahuan moral. (2) tanggung jawab. teori.Kompetensi Dasar dan Standar Kompetensi yang sudah dibuat oleh pemerintah pusat. keluarga. hlm. (5) kasih sayang. 2011. cinta damai. 10 Penamaan pendidikan karakter tidak bisa hanya sekedar transfer ilmu pengetahuan atau melatih suatu keterampilan tertentu. dan pengalaman dalam bentuk perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai luhur yang menjadi jati dirinya. Jika para guru sudah mengajarkan kurikulum secara komprehensif melalui konsep. dan (2) Karakter yang builtin dalam setiap mata pelajaran. baik dan rendah hati. Integrasi nilai karakter bangsa pada kegiatan pembelajaran dapat dilakukan melalui tahap-tahap perencanaan. Dari pengalaman ada dua pendekatan dalam pendidikan karakter. (3) jujur. 4 . Idealnya. Bahkan untuk pendidikan agama (PAI) dan pendidikan kewarganegaraan sudah mendapatkan pembobotan yang jelas. penghayatan dalam bentuk sikap. dan kepribadian. disiplin dan mandiri. (4) hormat dan santun. mapun lingkungan media massa. Namun untuk melakukan penguatan bagi perubahan perilaku peserta didik yang semakin berakhlak yang mengarah pada perolehan nilai-nilai hidup. pembiasaan atau pembudayaan dalam lingkungan peserta didik dalam lingkungan sekolah/madrasah. belum sampai ke ranah metodologi dan aplikasinya dalam kehidupan. yaitu: (1) Karakter yang diposisikan sebagai mata pelajaran tersendiri. Untuk implementasinya memerlukan kajian dan aplikasi nilai-nilai yang terkandung dalam karakter bangsa pada kegiatan pembelajaran di sekolah/madrasah. Pendidikan karakter dipahami sebagai upaya menanamkan kecerdasan dalam berpikir. Nilai moral dapat diajarkan secara tersendiri maupun diintegrasikan dengan seluruh mata pelajaran dengan mengangkat moral pendidikan atau moral kehidupan. yakni PAI dengan akhlak mulia atau budi pekerti dan PPKN terkonsentrasi pada kepribadian. dan kerja sama. bukan semata-mata nilai angka yang hanya menggambarkan prestasi akademik. dengan fokus dan pendekatan yang jelas pada akhlak mulia. implementasi. Pendidikan karakter perlu proses. Implementasi 10 Zubaidi. teori (syare’at). dan evaluasi. pendekatan pertama ternyata lebih efektif dibandingkan pendekatan kedua. Nilai-nilai karakter antara lain: (1) Cinta kepada Allah dan alam semesta beserta isinya.

. keteladanan (modeling. dan (6) hasil pembelajaran dapat berkembang sesuai dengan minat dan kebutuhan peserta didik.. memberikan penghargaan. (4) mengemukakan keragu-raguan disertai alasan. (8) tetap membuka komunikasi dengan pihak yang tidak setuju..qudwah). (2) memperlakukan orang lain secara adil.. metode. Dengan demikian. Pertama.. peserta didik akan memahami konsep yang dipelajari melalui pengalam langsung dan menghubungkannya dengan konsep lain yang sudah dipahaminya melalui kesempatan mempelajari apa yang berhubungan dengan tema atau peristiwa autentik (alami). perlu dilakukan pemetaan berdasarkan kedekatan materi dengan karakter yang akan dikembangkan. Untuk dapat menggunakan strategi ini ada dua syarat harus dipenuhi. Dalam pendidikan karakter. Zuchdi. (2) memberikan pengalam langsung kepada peserta didik. menghargai pendapat anak dan mengeritik orang lain dengan santun..Proses pembelajaran pendidikan karakter secara terpadu bisa dibenarkan karena sejauh ini muncul keyakinan bahwa anak akan tumbuh dengan baik jika dilibatkan secara alamiah dalam proses belajar. misalnya Nabi Muhammad saw. guru harus berperan sebagai model yang baik bagi peserta didik dan anaknya. dan memberikan konsekuensi disertai alasan. Pendidikan karakter seharusnya tidak menggunakan metode induktrinasi yang memiliki ciri-ciri yang bertolak belakang dengan inkulkasi. Dikatakan bermakna karena dalam pembelajaran terpadu. Tidak semua substansi materi pelajaran cocok untuk semua karakter yang akan dikembangkan. hlm. Pengajaran terpadu dapat didefinisikan: suatu konsep dapat dikatakan sebagai pendekatan belajar yang melibatkan beberapa bidang studi untuk memberikan pengalaman yang bermakna bagi peserta didik. apabila sampai pada tingkat yang tidak dapat diteriuma. namun agar tidak terjadi tumpang-tindih dan terabaikannya salah satu karakter yang akan dikembangkan. (4) menyajikan konsep dari berbagai bidang studi dalam suatu proses pembelajaran..11 Integrasi pembelajaran dapat dilakukan dalam substansi materi. 5 . (5) tidak sepenuhnya mengontrol lingkungan untuk meningkatkan kemungkinan penyampaian nilai-nilai yang dikehendaki. (5) bersifat luwes. pendekatan. Dari segi pendekatan dan metode meliputi inkulkasi (inculcation). Kedua. dan pengembangan keterampilan (skill building). fasilitasi (facilitation). 268. dan dengan rasa hormat. dan model evaluasi yang dikembangkan. (7) membuat aturan. 46-50. merupakan perilaku yang secara alami dijadikan model bagi anak. hlm. dan (9) memberikan kebebasan bagi adanya perilaku yang berbeda-beda.. Humanisasi. Desain. peserta didik harus meneladani orang terkenal yang berakhlak mulia. pemodelan atau pemberian teladan merupakan strategi yang biasa digunakan. (3) menghargai pandangan orang lain. ciri pendidikan terpadu adalah: (1) berpusat pada peserta didik. perlu dilakukan seleksi materi dan sinkronisasi dengan karakter yang akan dikembangkan. (3) pemisahan bidang studi tidak begitu jelas. Cara guru menyelsaikan masalah dengan adil.12 Inkulkasi (penanaman) nilai memiliki ciri-ciri: (1) mengomunikasikan kepercayaan disertai alasan yang mendasarinya. Istilah terpadu dalam pembelajaran berarti pembelajaran menekankan pengalaman belajar dalam konteks yang bermakna. 11 12 Zubaedi. (6) menciptakan pengalaman sosial dan emosional mengenai nilai-nilai yang dikehendaki secara tidak ekstrem. diarahkan untuk memberikan kemungkinan berubah. Pada prinsipnya semua mata pelajaran dapat digunakan sebagai alat untuk mengembangkan semua karakter peserta didik.

melalui metode ceramah. edisi ke-25. 2007). tetapi pembiasaan bermoral. Manusia memiliki kemampuan lebih optimal untuk menangkap makna. hlm. orang akan melakukan proses identifikasi. (3) mencoba memperoleh informasi 13 Dalam dunia pendidikan. karena moral bukan sekedar pengetahuan. mudah gugup atau grogi. Ada yang memiliki temperamen tenang. keterampilan. Verbal. dengan rumus tiga V. hlm. Ada yang mudah paham dengan isyarat saja apabila salah dan ada yang tidak bisa berubah. Keterampilan berpikir kritis. seyogianya guru tidak menggunakannya sebelum mencoba dulu dengan cara lain. Ushul al-Tarbiyah al-Islāmiyah wa Asālibuhā fi al-Bait wa alMadrasah wa al-Mujtama’. Pembelajaran moral bagi peserta didik akan lebih efektif apabila disajikan dalam bentuk gambar. (Bogor: Ghalia Indonesia.14 Beberapa keterampilan yang diperlukan agar seseorang dapat mengamalkan nilai yang dianut sehingga berperilaku konstruktif dan bermoral dalam masyarakat. maka tayangan tentang derita orang-orang yang dipenjara karena korban narkoba jauh lebih bermakna daripada disampaikan secara lisan. Sekalipun hukuman pukulan merupakan salah satu metode dalam pendidikan. 14 Al-Nahlawi. bisa dilanjutkan dengan metode renungan ( almuhasabah) setelah terkondisikan dengan baik melalui cerita dalam film yang baru saja ditayangkan. Fasilitasi melatih peserta didik mengatasi masalah-masalah tersebut. (Damaskus: Dar al-Fikr. Metode hukuman digunakan untuk menggugah serta mendidik perasaan rabbaniyah. meniru. Namun demikian. Vocal. sedng visual. Baca Mursidin. Kecerdasan. hlm. Moral Sumber Pendidikan. seseorang akan memiliki komitmen yang hebat. Sebuah Formula Pendidikan Budi Pekerti di Sekolah/Madrasah. bila ingin lebih mendalam tingkat penerimaan mereka. sehingga peserta didik bukan saja menangkap maknanya dari pesan verbal mono-pesan. apabila disertai dengan warna suara yang variatif dan intonasi yang tepat. 3. terutama yang berkaitan dengan pembelajaran. Albert Meharabien menemukan peran media dalam menyampaikan informasi. yaitu perasaan khauf (takut) dan khusyu’ ketika mengingat Allah dan membaca Al-Qur’an. hanyalah menabur benih ke tengah lautan. Kitāb al-Akhlāq. 81-82. Pembiasaan dalam penanaman moral merupakan tahapan penting yang seyogianya menyertai perkembangan setiap mata pelajaran. peran media pembelajaran begitu kuat. sebagaimana perbedaan dalam temperamen dan wataknya. 232-233. Mengajari moral tanpa pembiasaan melakukannya. melainkan bisa menangkap pesan yang multi-pesan dari gambar. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan peserta didik dalam melaksanakan metode fasilitasi membawa dampak positif pada perkembangn kepribadian peserta didik. 6 . keterkaitan antargambar dan peristiwa dalam alur cerita yang disajikan. ancaman. dan ketangkasan seseorang berbeda-beda.Bandingkan Amin. Keterampilan tersebut antara lain: a. bisa mencapai angka keefektifan hingga 55%. Dengan metode pembiasaan.Inkulkasi dan metode keteladanan (al-qudwah) mendemonstrasikan kepada peserta didik merupakan cara terbaik untuk mengatasi berbagai masalah. (2) mencari alasan. (Cairo: Dar al-kutub al-Mishriyah. dan memeragakannya. bisa menyampaian 38%. melalui kesan yang bersifat visual dibandingkan yang verbal dan vocal. hanya bisa menyampaikan 7%. seperti film. 1929). 13 Contoh: penyampaian pesan bahwa narkoba itu harus dihindari. dengan ciri-ciri sebagai berikut: (1) mencari kejelasan pernyataan atau pertanyaan. 2011). bahkan dengan bentakan. kecuali setelah melihat mata membelalak. dan hukuman secara fisik.

Pendidikan yang hakiki merupakan ikhtiat untuk memperoleh nilai hidup. tidak takut berbuat dosa dan kesalahan. Perilaku moral (moral action) dapat dievaluasi secara akurat dengan melakukan observasi dalam jangka waktu yang relatif lama dan secara terus menerus. perlu diajarkan cara mengatasinya yang konstruktif. Tak ada proses belajar. bukan nilai angka sebagaimana lazimnya saat ini. Soal-soal pada saat ulangan atau ujian nasional pun lebih banyak menuntut kemampuan kognitif daripada mengukur ranah afektif. Pengamat atau pengobservasi harus orang yang sudah mengenal orang-orang yang diobservasi agar penafsirannya terhadap perilaku yang muncul tidak salah. Di antara metode pembelajaran yang sesuai adalah metode keteladanan (al-qudwah). serta tidak resah bila berbuat kezaliman. (7) bersikap terbuka. (6) mencari alternatif. Kesimpulan 1. Keterampilan mengatasi masalah. metode pembiasaan. akibatnya produk pendidikannya. (5) mempertimbangkan keseluruhan situasi. padahal cara demikian itu biasa digunakan oleh binatang.yang benar. tetapi menghasilkan makna dari setiap pengetahuan yang dipelajarinya. 2. 7 . Pendidikan karakter memerlukan metode khusus yang tepat agar tujuan pendidikan dapat tercapai. b. (4) menggunakan sumber yang dapat dipercaya. 3. Masih banyak orang mengatasi konflik dengan kekuatan fisik. Pemerolehan makna menjadi ukuran dari setiap proses pembelajaran. Dunia pendidikan kita lebih sering menggunakan tes yang mengukur ranah pengetahuan ketimbang untuk mengukur ranah afektif. Tidak malu melakukan korupsi. output atau outcome. bila belum menghasilkan rekonstruksi makna baru yang dapat memberikan pencerahan bagi si pembelajar. kurang memiliki moralitas yang baik. dan metode pujian dan hukuman. Manusia yang menggunakan nilai religius dan prinsip moral dalam penyelesaian masalah kehidupan.

George R. Filsafat Pendidikan. Zuchdi. 8 . Contemporary Issues in Educational Psychology. Syed Muhammad Al-Naquib. Boston. Humanisasi Pendidikan.. Crisis Muslim Education. Ashraf. 1999. dalam Sajjad Husain dan Ali Ashraf (eds). Cairo: Dar al-Fikr al-`Arabiy. Jeddah: Hodder and Stughton King Abdul Aziz University. `Ali Khalil. Bairut: Dār al-Fikr. Knight. Muchsin. Inc. Clarizio et all (ed).t. “What are Schools for” dalam Harvey F. Al-Abrasyi. edisi ke-25. Bashori. Mastuhu. Abd al-Rahman. Jakarta: Ghalia Indonesia. llyn and Bacon. Al-Abd. t. Jakarta: Logos Wacana Ilmu. 1977. al-Akhlāq fi Al-Islām. Abdullatīf Muhammad.BIBLIOGRAFI Abul `Ainain. 2011. Damaskus: Dar al-Fikr. Membumikan Sistem Pendidikan Islam. Cairo: Universitas Cairo. 2007. cet. “Aim and Objectives of Islamic Education”. Al-Nahlawy.. Cairo: Dar al-kutub al-Mishriyah. Issues and Alternatives in Educational Philosophy. Amin.. 1987. 1980. 1982. Ushūl al-Tarbiyah al-Islāmiyah wa Asālibuha fi al-Bait wa al-Madrasah wa al-Mujtama’. Robert L. Athiyah. 1979. Falsafah al-Tarbiyat al-Islāmiyah fi al-Qur`ān al-Karīm . 1997. Al-Attas. 2010. Zakiyah. 1996. 1929. Moh Sulthon. Kitāb al-Akhlāq. 2009. M. Yogyakarta: Andi Offset. Daradjat. _______. al. Darmiyati. dan Abdul Wahid. Jakarta: Bumi Aksara. Pendidikan Islam Humanistik. Ali. Bandung: Mizan. et. Barnadib. Konsep Pendidikan dalam Islam. Ahmad. Imam. Dasar-Dasar Kependidikan. Bandung: Refika Aditama. 1969. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara. Michigan: Andrews University Press. al-Tarbiyah al-Islāmiyah wa Falāsifatuhā. 9. Ebel.

9 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful