BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Pegawai Negeri adalah mereka yang setelah memenuhi syarat-syarat yang ditentukan dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku, diangkat oleh pejabat yang berwenang dan diserahi tugas dalam sesuatu jabatan Negeri atau diserahi tugas Negara lainnya yang ditetapkan berdasarkan sesuatu peraturan perundang-undangan dan digaji menurut peraturan perundangundangan yang berlaku, Pegawai Negeri Sipil (PNS) menurut UU Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian ialah meliputi Pegawai Negara Sipil Pusat, Pegawai Negara Sipil Daerah, termasuk calon Pegawai Negeri Sipil, dan yang dipersamakan ialah Pegawai bulanan disamping pensiun, Pegawai Bank Milik Negara, Pegawai Badan Usaha Milik Negara, Pegawai Bank Daerah, Pegawai Badan Usaha Milik Daerah, dan Kepala Desa, Perangkat Desa, dan Petugas yang menyelenggarakan urusan Pemerintahan di Desa. PNS sebagai aparatur negara mempunyai posisi sangat strategis dan peranan menentukan dalam menyelenggarakan pemerintahan dan pembangunan. Sebagai aparatur negara, PNS berkewajiban menyelenggarakan tugas pemerintahan dan pembangunan dengan penuh kesetiaan dan ketaatan kepada Pancasila, Undang-undang Dasar 1945, negara dan pemerintah. Untuk itu, PNS sebagai pelaksana perundang-undangan wajib berusaha untuk taat pada setiap peraturan perundang-undangan di dalam melaksanakan tugas kedinasan. Pemerintah melalui PP Nomor 53 Tahun 2010 Tentang Peraturan Disiplin PNS, memberikan pembinaan kepada PNS yang diarahkan untuk menjamin penyelenggaraan tugas pemerintahan dan pembangunan secara berdaya guna dan berhasil guna, melalui atau berdasarkan sistem karir dan sistem prestasi kerja, yang dilakukan secara bertahap sejak pengangkatan, penempatan, pendidikan dan latihan, pemindahan, penghargaan, serta pemberhentian, dengan selalu mengacu kepada kode etik dan peraturan disiplin yang diberlakukan. Semua itu dilakukan dengan tujuan untuk mengoptimalkan kinerja sumber daya aparatur. Demikian juga sebaliknya, jika PNS di dalam melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya melakukan pelanggaran misalnya, mengenai melangsungkan perkawinan pertama dan beristeri lebih dari satu tetapi tanpa seijin atasan sebagaimana diatur dalam PP Nomor 10 Tahun 1983 dan PP Nomor 45 Tahun 1990 ( Tentang
1

dan banyak yang berpoligami (istri lebih dari satu) tanpa izin atasan yang berwenang. B. maka penulis melalui makalah ini mencoba melakukan analisis terhadap Pelaksanaan Perkawinan Pertama dan Poligami bagi PNS. Bagaimanakah proses dan pelaksanaan izin perkawinan pertama dan poligami bagi PNS? 2. tindakan. Ketentuan tentang perkawinan telah diatur dalam Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 yang berlaku bagi segenap warga negara dan penduduk Indonesia. Maka penulis menitik beratkan permasalahannya sebagai berikut: 1.Perubahan dari PP Nomor 10 Tahun 1983). Maka dapat dijatuhi hukuman disiplin sebagaimana diatur dalam pasal 7 PP Nomor 53 Tahun 2010 tentang Disiplin PNS. Perbuatan-perbuatan apa saja yang dilarang dilakukan oleh PNS berkaitan dengan izin perkawinan dan poligami? 2 . Berdasarkan keadaan seperti tersebut di atas. ketaatan kepada peraturan perundang-undangan yang berlaku. juga dalam menyelenggarakan kehidupan berkeluarga. terarah dan tidak meluas. PNS sebagai unsur aparatur negara dan abdi masyarakat harus menjadi teladan dengan memberikan contoh yang baik bagi masyarakat dalam tingkah laku. Namun pada pelaksanaanya banyak PNS yang tidak melaporkan perkawinannya ke atasan. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang penyusun kemukakan di atas. maka dapat dirumuskan masalah-masalah yang timbul dan hubungan dengan analisis ini agar masalah menjadi jelas. tentu termasuk didalamnya adalah warga negara yang berstatus sebagai PNS.

dan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. sedang 3 . Jadi perkawinan itu sama dengan perikatan (verbindtenis) hal ini dilihat dari kalimat UU Nomor 1 Tahun 1974 yang mengatakan bahwa perkawinan ialah “ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita”. dapat diambil kesimpulan bahwa perkawinan yang sah ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga/ rumah tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa yang dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya/ kepercayaannya terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Pengertian Perkawinan. Hal ini berbeda dengan pandangan KUH Perdata tentang perkawinan yang mengatakan bahwa “Undang-undang hanya memandang soal perkawinan dalam hubungan-hubungan perdata”. jadi perkawinan menurut KUH Perdata hanya sebagai perikatan perdata.BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. dan Poligami Pengertian perkawinan apabila dilihat dari pandangan UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.

poliandri (seorang wanita memiliki beberapa suami sekaligus). Ketiga bentuk poligami tersebut ditemukan dalam sejarah. di mana seseorang memiliki hanya satu suami atau istri pada suatu saat).undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan. poligami merupakan praktik pernikahan kepada lebih dari satu suami atau istri (sesuai dengan jenis kelamin orang bersangkutan) sekaligus pada suatu saat (berlawanan dengan monogami. 3. B. Bandung. Hukum Perkawinan Indonesia. Undang-undang Nomor l Tahun 1974 tentang Perkawinan. 1 Hilman Hadikusuma. 2007.1 Sedang Dalam antropologi sosial. Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 1990 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1983 Tentang Izin Perkawinan Dan Perceraian Bagi Pegawai Negeri Sipil.perkawinan menurut UU Nomor 1 Tahub 1974 tidak hanya sebagai perikatan perdata tapi juga perikatan keagamaan. dan pernikahan kelompok (bahasa Inggris: group marriage. Cet. 7. 4. Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1983 tentang Izin Perkawinan Dan Perceraian Bagi Pegawai Negeri Sipil. yaitu kombinasi poligini dan poliandri). Penerbit Mandar Maju. namum poligini merupakan bentuk yang paling umum terjadi.III. 4 . Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang. Terdapat tiga bentuk poligami. yaitu poligini (seorang pria memiliki beberapa istri sekaligus). anatara lain sebagai berikut: 1. Dasar Hukum Perkawinan dan Poligami bagi PNS Dasar hukum perkawinan dan poligami bagi PNS diatur dalam beberapa peraturan perundang-undangan. 2. Jadi yang dimaksud penulis tentang “poligami” disini adalah lebih ke poligini yaitu seorang pria yang memiliki beberapa istri sekaligus. hlm.

6.aturan tambahan terkait dengan jabatan/ kedudukanya sebagai seorang Pegawai Negeri 5 . atau memiliki kedududkan sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) sudah tentu orang tersebut harus mengikuti atau mematuhi aturan. Surat Edaran Kepala Badan Administrasi Kepegawaian Negara Nomor 48/SE/1990 tentang Petunjuk Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 1990 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1983 Tentang Izin Perkawinan Dan Perceraian Bagi Pegawai Negeri Sipil. BAB III PEMBAHASAN Pada bagian ini pembahasan merupakan analisa terhadap proses serta pelaksanaan izin perkawinan dan poligami bagi PNS. 1.5. Surat Edaran Kepala Badan Admisnistrasi Kepegawaian Negara Nomor 08/SE/1983 tentang Izin Perkawinan Dan Perceraian Bagi Pegawai Negeri Sipil. Izin Perkawinan PNS Apabila seorang subyek hukum( Naturlijke Person) berposisi.

html. Dengan demikian UU Nomor 1 Tahun 1974 menganut asas monogami. untuk tata naskah masing-masing instansi. 3 Dalam pasal 1 (b) PP Nomor 10 Tahun 1983 yang dimaksud Pejabat adalah Menteri. • PNS yang melangsungkan perkawinan pertama wajib segera “melapor secara tertulis” kepada pejabat secara hierarkis selambat-lambatnya satu tahun terhitung sejak tanggal perkawinan3. Pimpinan Kesekretariatan Lembaga Tertinggi/Tinggi Negara. Pimpinan Badan Usaha Milik Daerah. b) Pas foto isteri/suami ukuran 3x4 cm sebanyak 3 lembar.17.com/2010/05/analisis-perkawinan-pns. 6 . Ketentuan tambahan pada PP Nomor 45 Tahun 1990 terkait Perkawinan. a) Salinan sah Surat Nikah /Akte perkawinan.Sipil. Karis/Kars 2. Pimpinan Lembaga Pemerintah Non Departemen. Pimpinan Badan Usaha Milik Negara. Izin Poligami PNS Menurut pasal 3 (1) UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dikatakan bahwa “Pada asasnya dalam suatu perkawinan seorang pria hanya boleh mempunyai seorang istri. Kaidah pasal 3 (1) UU Perkawinan agak mirip dengan bunyi pasal 27 KUH Perdata yang mengatakan bahwa “Dalam waktu yang sama seorang lelaki 2 http://agityakresna. Jaksa Agung. • • Hal ini juga berlaku bagi janda/ duda PNS yang melakukan pernikahan kedua. dan perubahan dalam susunan keluarga PNS dilaporkan pada Badan Kepegawaian. dan seterusnya. Laporan perkawinan tersebut diatas dibuat dalam rangkap tiga dan dilampiri. Gubernur Kepala Daerah Tingkat I. Urutan Pejabat Negara sebagai tersebut tidak berarti urutan tingkatan kedudukan dari pejabat tersebut.blogspot. selain UU Nomor 1 Tahun 1974 dan Kompilasi Hukum Islam terhadap Subyek Hukum (orang) yang berkedudukan sebagai Pegawai Negeri Sipil ialah sebagai berikut: • Dimana dalam PP ini setiap perkawinan .  2 lembar dikirim ke BKN untuk Karin. Pimpinan Bank Milik Daerah.2 Ketentuan perkawinan terhadap Pegawai Negeri Sipil ini tertera dalam PP Nomor 45 Tahun 1990 tentang perubahan PP Nomor 10 Tahun 1983 terkait izin perkawinan dan penceraian Pegawai Negeri Sipil (PNS). Seorang wanita hanya boleh mempunyai seorang suami”. perceraian. Pimpinan Bank Milik Negara. ketiga hingga ke empat. pada 30 Desember 2010 pukul 19. yaitu:  1 lembar tata naskah kepegawaian.

cit. Pimpinan Badan Usaha Milik Negara. Gubernur Kepala Daerah Tingkat I. maka pejabat harus meminta keterangan tambahan dari istri PNS yang mengajukan permintaan izin atau dari pihak lain yang dipandang dapat memberikan keterangan yang meyakinkan. Sebelum mengambil keputusan.4 Dikarenakan PNS adalah abdi negara maka PP Nomor 45 Tahun 1990 yang merupakan perubahan atas PP 10 Tahun 1983 dibuat mempersulit PNS untuk terlibat dalam poligami. apabila alasan-alasan dan syarat-syarat yang dikemukakan dalam permintaan izin tersebut kurang meyakinkan. 7 . Pimpinan Bank Milik Negara. Dengan adanya pasal ini maka berarti UU Perkawinan menganut asas monogami terbuka.5 Sedang Menurut pasal 4 (2) PNS wanita dilarang untuk dipoligami. maka ia wajib memperoleh izin lebih dahulu dari pejabat. Pimpinan Lembaga Pemerintah Non Departemen. wajib memperhatikan dengan seksama alasanalasan yang dikemukakan dalam surat permintaan izin dan pertimbangan dari atasan PNS yang bersangkutan. baik untuk melakukan perceraian dan atau untuk beristri lebih dari seorang. Dalam pasal 1 (b) PP Nomor 10 Tahun 1983 yang dimaksud Pejabat adalah Menteri. seorang perempuan hanya satu orang lelaki sebagai suaminya”. Pimpinan Kesekretariatan Lembaga Tertinggi/Tinggi Negara. Permintaan izin itu diajukan kepada pejabat melalui saluran hierarki dan setiap atasan yang menerima permintaan izin dari Pegawai Negeri Sipil dalam lingkungannya. Sesuai pasal 4 (1) PP Nomor 45 Tahun 1990 Apabila PNS laki-laki yang mau berpoligami. Urutan Pejabat Negara sebagai tersebut tidak berarti urutan tingkatan kedudukan dari pejabat tersebut. Perbedaanya terletak pada pasal 3 (2) UU Perkawinan yang mengatakan bahwa “Pengadilan dapat memberi izin kepada seorang suami untuk beristri lebih dari seorang apabila dikehendaki oleh pihak-pihak yang bersangkutan”.hanya diperbolehkan mempunyai satu orang perempuan sebagai isterinya. op. 32. wajib memberikan pertimbangan dan meneruskannya kepada Pejabat melalui saluran hierarki dalam jangka waktu selambat-lambatnya tiga bulan terhitung mulai tanggal ia menerima permintaan izin dimaksud hal ini diatur pada pasal 5 (2) PP Nomor 45 Tahun 1990. oleh karena tidak tertutup kemungkinan dalam keadaan terpaksa suami melakukan poligami yang sifatnya tertutup atau poligami yang tidak begitu saja dapat dibuka tanpa pengawasan hakim. Pimpinan Bank Milik Daerah. Pejabat memanggil PNS yang 4 5 Hilman Hadikusuma. Jaksa Agung. Pimpinan Badan Usaha Milik Daerah. hlm. Pejabat yang menerima izin poligami.. Permintaan izin poligami sebagaimana yang dimaksud diajukan secara tertulis dengan harus mencantumkan alasan lengkap yang mendasari permintaan izin untuk beristri lebih dari seorang hal ini bisa ditemukan di Pasal 4 (3) dan (4) PP Nomor 45 Tahun 1990.

sebagai berikut: 1. atau (3) Isteri tidak dapat melahirkan keturunan. Syarat kumulatif: (1) Ada persetujuan tertulis dari isteri.bersangkutan sendiri atau bersama-sama dengan isterinya untuk diberi nasehat. (2) Tidak memenuhi syarat alternatif dan ketiga syarat kumulatif sebagaimana tersebut diatas. dengan ajaran/peraturan agama yang dianut PNS yang 8 . (2) PNS pria yang bersangkutan mempunyai penghasilan yang cukup untuk membiayai lebih dari seorang isteri dan anak-anaknya yang dibuktikan dengan surat keterangan pajak penghasilan. (3) Bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. (4) Alasan yang dikemukakan bertentangan dengan akal sehat dan atau. 3. (5) Ada kemungkinan mengganggu pelaksanaan tugas kedinasan. Dan izin dari pejabat yang bersangkutan tidak akan diberikan apabila: (1) Bertentangan bersangkutan. Ketentuan ini bisa dilihat di pasal 9 PP Nomor 10 Tahun 1983. Izin untuk beristeri lebih dari seorang hanya dapat diberikan oleh Pejabat apabila memenuhi sekurang-kurangnya salah satu syarat alternatif dan ketiga syarat kumulatif. dan (3) Ada jaminan tertulis dari PNS yang bersangkutan bahwa ia akan berlaku adil terhadap isteri-isteri dan anak-anaknya. (2) isteri mendapat cacat badan atau penyakit yang tidak dapat disembuhkan. 2. Syarat alternatif: (1) Isteri tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai isteri.

maka PNS dan atau atasan/Pejabat. bahkan untuk diketahui pada bulan Desember 2006. pejabat pemerintah dan masyarakat umum. Presiden Republik Indonesia juga berencana memperketat sanksi kepada pelanggar PP.  tidak melaporkan perkawinannya yang kedua/ketiga/keempat kepada Pejabat selambat-lambatnya satu tahun setelah perkawinan dilangsungkan.  melakukan perceraian tanpa memperoleh izin bagi yang berkedudukan sebagai penggugat atau tanpa surat keterangan bagi yang berkedudukan sebagai tergugat. apabila melakukan perbuatan sebagai berikut:  tidak memberitahukan perkawinan pertamanya secara tertulis kepada Pejabat dalam jangka waktu selambat-lambatnya satu tahun setelah perkawinan dilangsungkan. 9 . dijatuhi salah satu hukumuman disiplin berat berdasarkan PP Nomor 30 Tahun l980. Berkaitan mengenai sanksi atau larangan. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta PP tersebut direvisi kembali supaya peraturan yang ada tentang poligami mencakup bukan hanya PNS tetapi juga pejabat negara.   beristeri lebih dari seorang tanpa memperoleh izin terlebih dahulu dari Pejabat. melakukan hidup bersama diluar ikatan perkawinan yang sah dengan wanita yang bukan isterinya atau dengan pria yang bukan suaminya.Ketentuan diatas diatur pada pasal 10 PP Nomor 10 Tahun 1983. terlebih dahulu dari Pejabat.  setiap atasan yang tidak memberikan pertimbangan dan tidak meneruskan permintaan izin untuk beristri lebih dari seorang dalam jangka waktu selambatlambatnya tiga bulan setelah ia menerima permintaan izin atau pemberitahuan tersebut. kecuali Pegawai Bulanan di samping pensiun.

30 Tahun 1983. Sebab atasan dan atau pejabat lah yang memberikan arahan-arahan serta nasehat bagi para PNS yang mengajukan izin perkawinan dan poligami tersebut. Oleh karena itu hal-hal berkaitan tentang izin perkawinan (termasuk poligami) PNS diatur oleh negara. juga dalam menyelenggarakan kehidupan berkeluarga. Pejabat yang tidak memberikan keputusan terhadap permintaan untuk beristri lebih dari seorang dalam jangka waktu selambat-lambatnya tiga bulan setelah ia menerima permintaan izin tersebut. ketaatan kepada peraturan perundang-undangan yang berlaku.  Pejabat yang tidak melakukan pemeriksaan dalam hal mengetahui adanya PNS dalam lingkungannya yang melakukan hidup bersama diluar ikatan perwinan yang sah. seharusnya PP Nomor 10 Tahun 1983 dan atau perubahannya PP Nomor 45 Tahun 1990 juga harus ditinjau kembali atau diperbaiki karena disini hanya mengatur tentang 10 . Peran atasan dan atau pejabat sangat penting dalam kaitannya dengan izin perkawinan dan poligami yang dilakukan oleh PNS. Dan yang harus dikritisi disini apabila PNS sendiri untuk poligami dipersulit.  PNS wanita yang menjadi isteri kedua/ketiga/ keempat dijatuhi hukuman disiplin pemberhentian tidak dengan hormat sebagai PNS berdasarkan PP N0. tindakan. BAB IV PENUTUP Kesimpulan Berdasarkan apa yang dianalis oleh penulis diatas maka dapat disimpulkan bahwa PNS sebagai unsur aparatur negara dan abdi masyarakat harus menjadi teladan dengan memberikan contoh yang baik bagi masyarakat dalam tingkah laku. Bahkan apabila menurut pandangan atasan dan atau pejabat (dalam saluran hierarki) para PNS bersangkutan yang mengajukan izin perkawinan dan poligami tidak layak atau tidak memenuhi syarat maka atasan dan atau pejabat dapat menolak/tidak mengabulkan izin yang diajukan oleh PNS yang bersangkutan.

Pimpinan Lembaga Pemerintah Non Departemen. Pimpinan Badan Usaha Milik Negara. Gubernur Kepala Daerah Tingkat I.izin perkawinan termasuk poligami bagi PNS sedangkan pejabat yang memberi/mengeluarkan izin itu sendiri tidak ada aturan apapun mengenai poligami. Urutan Pejabat Negara sebagai tersebut tidak berarti urutan tingkatan kedudukan dari pejabat tersebut. Pimpinan Bank Milik Daerah. seharusnya para pejabat yang berkedudukan sebagai atasan PNS juga diperlakukan sama dengan PNS tentang hal izin perkawinan sehingga ada rasa keadilan dan bisa menjadi contoh atau panutan yang baik bagi para PNS sebagai salah satu unsur aparatur negara. Pimpinan Bank Milik Negara. Pimpinan Badan Usaha Milik Daerah. Jaksa Agung.6 6 Dalam pasal 1 (b) PP Nomor 10 Tahun 1983 yang dimaksud Pejabat adalah Menteri. 11 . Pimpinan Kesekretariatan Lembaga Tertinggi/Tinggi Negara.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful