“Sosok rasionalis dan bukanlah seorang Free Thinker…” (Philip K.

Hitti) Prolog Kehadirannya dalam sejarah intelektualisme islam signifikan baik bagi usaha mengurai benang kusut pemikiran maupun dalam menghidupkan kembali filsafat yang telah memasuki titik nadir. Hal terpenting dari kiprah Ibnu Rusyd dalam bidang ilmu pengetahuan adalah usahanya untuk menerjemahkan dan melengkapi karya-karya pemikir Yunani, terutama karya Aristoteles dan Plato, yang mempunyai pengaruh selama berabad-abad lamanya. Antara tahun 1169-1195 M. Ibnu Rusyd banyak menulis komentar dan penjelasan terhadap karangan para filosof yunani khususnya Aristoteles baik dalam komentar singkat (al-jami‟), sederhana (talkhis), ataupun komentar luas (tafsir), sehingga Ibnu Rusyd juga populer dengan sebutan ”al-Syarih al-Akbar / the great commentator”. Analisanya telah mampu menghadirkan secara lengkap pemikiran Aristoteles. Ia pun melengkapi telaahnya dengan menggunakan komentar-komentar klasik dari Themisius, Alexander of Aphiordisius, al Farabi dengan Falasifah-nya, dan komentar Ibnu Sina. Komentarnya terhadap percobaan Aristoteles mengenai ilmu-ilmu alam, memperlihatkan kemampuan luar biasa dalam menghasilkan sebuah observasi. Filosof muslim cordova ini dianggap sebagai pensyarah pertama yang paling berpengaruh di dataran Eropa. Banyak tokoh Eropa melakukan kajian terhadap karya-karya beliau dalam beberapa bahasa, seperti bahasa latin, dan bahasa Ibrani. Dimana pemikiran dan karya-karya Ibnu Rusyd ini sampai ke dunia Barat melalui Ernest Renan. Bagaimana Ibnu Rusyd menguraikan lebih lanjut teori rasionalnya, inilah yang akan menjadi pokok masalah dalam tulisan berikut. A. Logika ( pemikiran Ibnu Rusyd) Dalam permasalahan logika satuan proposisi terkecil yakni “kata”. Kata menjadi penting karena merupakan unsur dalam membentuk pemikiran. Pada praktiknya kata dapat dilihat berdasarkan beberapa pengertian yakni positif (penegasan adanya sesuatu), negatif (tidak adanya sesuatu), universal (mengikat keseluruhan), partikular (mengikat keseluruhan tapi tak banyak), singular (mengikat sedikit/terbatas), konkret (menunjuk sebuah benda), abstrak (menunjuk sifat, keadaan, kegiatan yang terlepas dari objek tertentu), mutlak (dapat difahami sendiri tanpa hubungan dengan benda lain), relatif (dapat difahami sendiri jika ada hubungan dengan benda lain), bermakna/tak bermakna, dsb. Logika sebagai teori penyimpulan, berlandaskan pada suatu konsep yang dinyatakan dalam bentuk kata atau istilah, dan dapat diungkapkan dalam bentuk himpunan sehingga setiap konsep mempunyai himpunan, mempunyai keluasan. Dengan dasar himpunan karena semua unsur penalaran dalam logika pembuktiannya menggunakan diagram himpunan, dan ini merupakan pembuktian secara formal jika diungkapkan dengan diagram himpunan sah dan tepat karena sah dan tepat pula penalaran tersebut.

sementara ta‟wil secara tertulis dalam bentuk karya. untuk para pengguna metode ilmu pengetahuan secara dialetik ini ta‟wil juga sulit diterapkan. melainkan juga membuat orang yang bersangkutan mampu berpikir sendiri secara tepat dan kemudian mampu untuk membedakan penalaran yang tepat dari penalaran yang tidak tepat. Namun . dialektik dan demonstratif) • Teks yang maknanya hanya dapat diketahui dengan metode demonstrasi. yaitu teks yang mengandungi idea-idea itu sendiri dan hanya dapat difahami oleh yang disebut ahli al-burhan. Makna yang terkandung dalam teks ini terdiri dari: a) makna dzahir. yang digunakan untuk menyimpulkan ketentuan hukum. dengan begitu al-Quran tidak dapat di ta‟wilkan. harus juga diakui bahwa orang yang telah mempelajari logika (sudah memiliki pengetahuan mengenai metode-metode dan prinsip-prinsip berpikir). mempunyai kemungkinan lebih besar untuk berpikir secara tepat ketimbang orang yang sama sekali tidak pernah berkenalan dengan prinsipprinsip dasar yang melandasi setiap kegiatan penalaran. metode ilmu pngetahuan yang sesuai untuk ahli awam ini adalah khathabi (retoris). Ibnu Rusyd membagi kedalam tiga kelompok: Pertama “kelompok ahli awam”. Dari pemahaman tersebut merupakan asas bagi kesimpulan Ibn Rushd yang menyatakan bahwa para filosof memiliki otoritas untuk menta‟wilkan al-Quran. Kedua. karena mereka hanya orang-orang yang memahami al-Quran secara tertulis. Ibnu Rusyd berargumentasi bahwa di dalam al-Qur‟an terdapat banyak ayat-ayat yang memerintahkan kita untuk menggunakan akal untuk memahami segala yang wujud.Pengertian ini tidak bermaksud untuk mengatakan bahwa seseorang dengan sendirinya mampu menalar atau berpikir secara tepat hanya jika ia mempelajari logika. Dengan ini hendak dikatakan bahwa suatu studi yang tepat tentang logika tidak hanya memungkinkan seseorang untuk memperoleh pengetahuan mengenai metode-metode dan prinsip-prinsip berpikir tepat saja. . maka metode yang terbaik menurut sang poinir rasionalis ini adalah metode demonstrasi (qiyas al-burhani). “kelompok pendebat”. Syari’ah dzahir dan batin wahyu dibagi kedalam tiga bentuk makna yang terkandung didalamnya yaitu : • Teks yang maknanya dapat difahami dengan tiga metode yang berbeda (metode retorik. dan ketiga adalah “kelompok ahli hikmah (ahli fikir)”. hanya bisa diperuntukkan bagi kaum ahli hikmah ini. Berasaskan pada kemampuan akal manusia. Sama seperti qiyas dalam ilmu Fiqh (qiyas al-fiqhi). yaitu teks yang mengandung simbol-simbol (amtsal) yang dibuat untuk menerangkan idea-idea yang dimaksud. merekalah orang-orang yang menggunakan metode burhani (demonstratif). di lain pihak. metode demonstrasi (qiyas al-burhan) digunakan untuk mamahami segala yang wujud (al-maujudat). Karena akal ini tidak lain daripada proses berfikir yang menggunakan metode logika analogi (qiyas al-„aqli). B. b) makna batin.

ia dengan tegas menguraikan argumentasi tentang keqidaman alam. Dalam penciptaan alam. ada yang menurut konteksnya dan ada pula yang difahami sesuai dengan ikatan-ikatan yang ada didalamnya. Walaupun demukian. Dalam pandangannya perkataan dzahir yang dapat difahami dari lafadz bermacam-macam bentuknya. Kepada masyarakat awam. Dikatakan demikian. ia tetap menekankan pada kesesuaiannya dengan makna dzahir dari lafadz ucapan itu. Menurut filsuf Muslim Ibn Rusyd. alam ini selalu bergerak memenuhi tujuan penciptaan. maka sejengkal alam juga ayat. sedangkan dalm beberapa kitabnya untuk kajian filosofis. Untuk itu. alam semesta justru merupakan ayat-ayat Allah yang pertama. hanya sekedar mengemukakan teorinya tentang peciptaan alam. bukan dalam pengertian tidak memiliki „illah atau tidak diciptakan oleh Tuhan. Yang dimaksud dengan Qadimya alam yaitu qadim hanya dari segi zaman. sosok yang banyak dipengaruhi oleh madzhab Aristoteles ini menganut teori “Kausalitas” (hukum sebab akibat). Karena itu. dalam memahami alam harus dengan dalil-dalil tertentu agar dapat sampai pada hakikat dan eksistensi alam. Allah telah menciptakan alam jagat raya ini.Penciptaan alam ayat-ayat Allah terbagi atas dua macam: yaitu ayat-ayat berupa Kitab Suci (qauliyah) dan yang Kedua adalah ayat-ayat berupa alam semesta sebagai ciptaan Allah (kauniyah). Ibnu Rusyd tidak berpendapat tentang Qadimnya alam. Oleh itu kita tidak boleh menta‟wilkan lafadz-lafadz al-Qur‟an dengan sesuka hati tanpa mengkaji maksud yang sesungguhnya sesuai dengan konteks masing-masing lafadz. dalam artian ia menolak pendapat bahwa materi adalah „illah bagi dirinya sendiri. pada hakikatnya Ibnu Rusyd melakukannya sekedar untuk menjaga keutuhan teorinya pada setiapkarya-karyanya. karena sebelum Allah SWT menurunkan Kitab Taurat. 2) menjaga agar maknanya sesuai dengan yang dimaksudkan oleh pembicara dalam konteks lafaznya. penelitian terhadap alam diduga kuat dapat mengantar manusia menemukan dan meyakini wujud Allah dan kuasa-Nya. Sebagai ayat. sehingga tidak ada bedanya dengan dzat Tuhan. Sebagian pengkaji filsafat menilai bahwa Ibnu Rusyd memiliki dua pendapat tentang asal-usul alam. maka sebagaimana sepotong firman adalah ayat. Maka itu ia memahami istilah “ta‟wil” sebagai penafsiran dan penjelasan ucapan. agar ta‟wil itu dapat diterima: 1) menjaga agar lafadz itu sesuai dengan makna yang terdapat dalam Bahasa Arab dan maksud al-syari‟ serta tidak memahami dengan makna lain. dan al-Quran. .• Teks yang bersifat ambiguos antara dzahir dan batin. Ibnu Rusyd menetapkan tiga syarat. C. Klassifikasi teks wahyu ini juga merujuk kepada kemungkinan untuk dapat difahami dengan akal. Karena alam adalah ayat. Injil. 3) memperhatikan “mustawa al-ma‟rifi” (tingkatan nalar dan pengetahuan) kepada siapa “ta‟wil” itu dihadapkan.

ditegaskan lagi bahwa langit dan bumi diciptakan setelah air. seperti terjadinya air. tahta. Dari keterangan diatas. kemudian dipecah menjadi dua benda yang berlainan. yaitu wujud air. ini adalah benda yang kejadiannya bisa terlihat oleh panca indra. yang diatasnya terdapat tahta kekuasaan Tuhan. tidak karena sesuatu. Jika alam tidak bermula. bumi. baik oleh umat Islam atau non Islam terutama di dunia Barat. Ibnu Rusyd dan para Filosof Islam mengatakan bahwa alam adalah qodim. Surat Fushilat : ayat 11 . wujud itu adalah “alam dan keseluruhan D. yang mungkin terjadi adalah “ada” (maujud) yang awal kemudian berubah menjadi “ada” (maujud) dalam bentuk lain. kemudian Tuhan naik ke langit. namun al-Ghazali mengingkari hal ini. dsb. dan masa. maka tampak bahwa kejadian alam terjadi dengan adanya “sebab akibat” (hokum kausalitas). Untuk menengahi bahwa alam itu qodim. namun dengan kata lain diciptakan dari yg ada dahulu. dikatakan secara garis besar. Hal ini ia perkuat dengan mengusung dalil dalam al-Quran: Surat Hud : ayat 7 . tetapi wujud karena sesuatu (yaitu zat pembuat). seperti “Tuhan” • Wujud Antara (Wujud diantara kedua wujud ini) wujud yang bukan dari sesuatu. hewan. dan kerena sesuatu.Para teolog dan Imam Ghazali dalam karya monumentalnya (Tahfut al-Falasifah). sehingga muncul suatu ungkapan “Aristoteles dikembalikan tanpa basa basi ke Barat yang merupakan dunianya bersama Averroes muridnya yang besar” . dan tidak didahului oleh zaman. bahwa sebelum ada wujud langit dan bumi telah ada wujud lain. Surat al-Anbiya’ : ayat 30 . sehingga dita‟wilkan langit tercipta dari uap. maka alam tidak diciptakan sehingga Tuhan bukanlah maha pencipta. tumbuh-tumbuhan. Ibnu Rusyd mengatakan bahwa sebenarnya antara Filosof dan ahli Syari‟ah telah sepakat bahwa ada tiga macam “wujud” (yang berkaitan dengan hal ini) : • Wujud baru (karena sebab sesuatu) Dari sesuatu yang lain. dikatakn bahwa bumi dan langit pada mulanya adalah satu unsur yang sama. Yakni zat pembuat dari benda. Politik Membicarakan Ibnu Rusyd sebagai seorang failosuf bukanlah sesuatu yang asing. menyatakan bahwa alam hadits dan mempercayai bahwa Tuhan adalah pencipta sehingga Ia mengadakan sesuatu dari “tiada” (al-„adam). • Wujud Qodim (tanpa sebab sesuatu) yaitu wujud yang bukan dari sesuatu. dan tidak didahului oleh zaman. karena ia terkenal dengan pemikiran filsafatnya. dikatakan bahwa Tuhan menciptakan 2 bumi dalam 2 masa menghiasi bumi dengan gunung dan diisi dengan berbagai macam makanan. yang masih merupakan uap. Wujud ini tidak dapat diketahui dengan bukti-bukti fikiran. udara.

yang sejajar kedudukannya dengan politik Islam lainnya. Dari perspektif penulis. Beliau sangat menyayangkan terjadinya perpecahan dikalangan kaum Muslimin. Bukti beliau pernah berpolitik :Ibnu Rusyd menjabat pekerjaan hakim dalam pemerintahan sampai tingkat yang tinggi yaitu sebagai Ketua Mahkamah Agung (Qadhi all Jama‟ah). ada beberapa alasan untuk menelusuri pemikiran “politik” Ibnu Rusyd. Dengan pemikiran-pemikirannya dan pendapat-pendapatnya ia tidak bermaksud menimbulkan golongan baru. ada suatu penilaian khusus dengan menempatkan filsafat Ibnu Rusyd secara lebih proporsional. sedang lainnya sesat. Dalam pandangan ini. Kedua. . jabatan hakim dipangkunya selama 16 tahun (565 sampai 521H). menjadi golongan-golongan seperti Mu‟tazilah. aktivitas Ibnu Rusyd sendiri yang memberi komentar-komentar terhadap buku-buku dari failosuf-failosuf Yunani (Aristoteles dan Plato). Ibnu Rusyd termasuk salah seorang Failosuf muslim tidak mungkin meninggalkan satu bagian dari falsafat yaitu “Ilmu Politik”. la fi sabil ummah” Epilog Filosof muslim penganut madzhab maliki dalam bidang fikih ini telah menorehkan warna filsafat yang lebih spesifik. Anehnya sejarah tidak memasukkan Ibnu Rusyd sebagai seorang “politikus” yang ulung. Tujuan filosof besar ini tak lain hanya ingin mengharmonikan antara agama dan akal. tidak mungkin kosong sama sekali dari seorang politikus. tidak masuk akal. Sejarah tidak bersikap adil terhadap orang besar seperti Ibnu Rusyd mengenai jasanya dibidang politik. Kebesaran di lapangan falsafat dibesar-besarkan di zaman pertengahan. Kendatipun demikian. dan kebesarannya di bidang kedokteran. bukan tidak pernah dia bekerja dilapangan pemerintahan. sarjana seperti Ibnu Rusyd tidak mempunyai apa-apa dalam Ilmu Politik. Syi‟ah dll. Ketiga. Ibnu Rusyd yang dikenal sebagai bapa sekuler di dataran Barat ini membantah terhadap pemerintahan yang diktator pada masanya: sebuah hukum yang dikatakan Ibn Rusyd dengan istilah yang diciptakannya sendiri dengan istilah Wahdaniyyah Al-Tasalluth (kekuasaan yang egois). baik hasil karyanya yang mengagungkan. pertama. pemerintahan Islam di tempat kelahirannya (Andalusia) yang berjalan lebih kurang 8 abad yang mengakui kejayaannya. dan sangat mengajarkan pada kita tuk saling menghargai dan ramah tamah. Tetapi di lapangan “politik” tidak pernah disinggung kebesaran Ibnu Rusyd. tetapi ia hendak mengemukakan argumentasi-argumentasi kepercayaankeprcayaan agama yang tepat diterima oleh setiap orang. Ibnu Rusyd bukan seorang materialis murni. Sebagaimana telah ia tegaskan bahwa pemimpin yang zalim “alladzi yaqumu bi al-hukmi fi sabili nafsihi. Dan tidak kurang pendapat yang dilahirkannya mempunyai nilai yang tinggi. Astronomi dan lapangan ilmu lainnya. Hal ini tidak lain dikarenakan salah memahami maksud Syari‟at. Masing-masing mengaku telah mencapai kebenaran. Bukan tidak ada buku-buku hasil karyanya di dalam politik.Lain halnya membicarakan Ibnu Rusyd sebagai seorang politik tidak sepopuler dia sebagai seorang failosuf. khawarij.

Manna Ahmad Abu Zaid. Sejatinya Ibnu Rusyd hanya ingin menghidupkan kembali cahaya filsafat yang pada saat itu semakin meredup. meskipun tidak seindah di barat (ini adalah bukti perjuangannya). hal. .juga bukan seorang idealis religius sejati. Cairo. Darul maghrib al-Islamy bairut. Dr. Abu Hamid Ghazali. Yang diterjemahkan „Adil Za‟iyyah dalam bukunya “Ibnu Rusyd wa rusydiyah” maktabah al-tsaqofah al-Diniyyah. Hal. Cairo 6. al-Dhorury fi ushul al-fiqh. namun lebih sesuai sebagai filosof muslim yang berusaha merambah jalan tengah diantara dua belantara pemikiran. Akhir kalam.68 2. 4.64 65. Ibnu Rusyd. hakikat kebenaran hanya Allah Swt yang mengetahui dan memilikinya. Abu al-Walid Muhammad ibnu Rusyd. apapun pandangan filosofis Ibnu Rusyd sama sekali tidak bermaksud mengatakan bahwa pemikiranya adalah paling benar (karena itu hanya merupakan sebuah ijtihad) Ijtihad seorang manusia bisa saja benar dan bisa saja salah. Cairo 5. 3. Muhammad „Abid al-Jabiri. Ernest Renan. Dr. makalah al-Madrasah al-Falsafiyah fi al-Maghrib wa alAndalus. bahkan umat islam sampai sekarangpun masih dapat menikmati panorama filsafat itu. Tahafut-Tahafut. Musu‟ah al-Falsafah al-Islamiyah. Tahafut al-Falasifah. Averroes and Averroisme. wallahu a‟lam bishawab Daftar Pustaka 1.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful