Kasus Malpraktek

Dalam Praktek Kedokteran

. Saat melapor ke LBH Jakarta. saya tidak bisa bicara. Jl Diponegoro 74. • Menurut pengacara korban. korban mendatangi sebuah rumah sakit di Kramat. Jakarta Pusat. perempuan 55 tahun itu meminta rumah sakit yang menangani tenggorokannya bertanggung jawab." ucap Tomy. Saat itu. Dibuat lubang di tenggorokan (karena hidung tidak bisa). • "Tanpa memberitahukan penyakit pasien (sesak nafas) si dokter langsung merujuk ke RSCM. Tommy Tobing. Kemudian sesak nafas. Di rumah sakit itu. kejadian itu bermula Februari lalu. dengan keluhan sesak nafas pasca operasi gondok. ia ditangani dokter berinisial T. Ia terdengar gagu dengan suara sayup-sayup terdengar. • "Awalnya saya operasi gondok." kata Siti dengan suara yang kurang jelas saat mengadu di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta. Setelahnya.ILUSTRASI • Suara Siti Chomsatun tiba-tiba hilang. Jakarta Pusat.

Tubuhnya semakin lemas karena tidak bisa tidur atau makan. Bahkan makin parah hingga mendekati derajat IV." imbuh pengacara publik ini. "Lubang itu dipergunakan untuk bernafas. • Namun demikian. .• Lantaran tidak diberitahu penyakitnya." imbuh Tommy. minta bertemu tetapi tetap saja tidak bisa. • Pada tahapan ini. korban enggan ke RSCM. sesak nafas Siti Chomsatun makin buruk. • Lantaran tidak memperoleh perawatan maksimal. tindakan medis rumah sakit tidak membuat sesak nafas korban mereda. Besoknya. Melihat perkembangan yang tidak membaik. Dr F membuat lubang pengganti hidung di tenggorokan. Alasannya sudah pulang. dokter R. Siti Chomsatun memilih untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter spesialis THT yang pernah merawatnya di rumah sakit tersebut. • "Tetapi tidak bisa menemui. akhirnya Siti Chomsatun dipindah ke RSCM. Ia masuk ke derajat I dari IV--tingkat derajat sesak nafas terparah.

• Di rumah sakit pemerintah tersebut. • Pun demikian. • "Terdapat dugaan kuat tindakan malpraktik. baik korban maupun pengacara belum berencana membawa rumah sakit itu ke meja hijau. ia langsung dioperasi karena telah masuk derajat IV. Dokter T tidak menjelaskan penyakit yang diderita malah langsung merujuk ke rumah sakit lain. Kondisi kritis tersebut lantaran perawat yang ikut membawa pasien ke RSCM tidak diberi riwayat medis pasien sehingga dokter jaga RSCM kesulitan mendiagnosa. . pingsan. dan kulit tangan membiru. Suster yang mengantar ke RSCM tidak dibekali informasi medis memadai sehingga korban masuk derajat terburuk derajat IV. Korban akan mengajukan kasus itu ke Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDI) untuk meminta pertanggungjawaban terlebih dahulu." imbuh Tommy.

. tanpa memberitahukan penyakit pasien (sesak nafas) si dokter langsung merujuk ke RSCM dan tidak memberitahukan alasan dokter merujuk pasien ke RSCM.Undang-undang RI Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan Pasal 8 Setiap orang berhak memperoleh informasi tentang data kesehatan dirinya termasuk tindakan dan pengobatan yang telah maupun yang akan diterimanya dari tenaga kesehatan. Dokter ahli yang diharapkan pasien untuk berkonsultasi tentang penyakitnya tidak mau memberikan menemui pasien dengan alasan sibuk. Berdasarkan Kasus Pada kasus di atas.

kecuali bila ia yakin ada orang lain yang bertugas dan mampu melakukannya e. bahkan juga setelah pasien itu meninggal dunia d. Menambah ilmu pengetahuan dan mengikuti perkembangan ilmu kedokteran atau kedokteran gigi. Merujuk pasien ke dokter atau dokter gigi lain yang mempunyai keahlian atau kemampuan yang lebih baik.UU Praktik Kedokteran No 29 Tahun 2004 Pasal 51 Dokter atau dokter gigi dalam melaksanakan praktik kedokteran mempunyai kewajiban : a. c. Merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang pasien. Memberikan pelayanan medis sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur operasional serta kebutuhan medis pasien b. Melakukan pertolongan darurat atas dasar perikemanusiaan. apabila tidak mampu melakukan suatu pemeriksaan atau pengobatan. .

Sesuai dengan dengan kasus di atas tindakan dokter pertama untuk melakukan rujuk ke rumah sakit yang lebih lengkap lantaran ketidakmampuan dokter dalam memangani pasien. . namun disayangkan dokter tidak menjelaskan tentang penyakit pasien dan alasan pasien dirujuk ke rumah sakit lain. Pada kasus ini dokter kedua sudah benar dengann melakukan tindakan melubangi tenggorokan pasien untuk mengatasi kesulitan pasien dalam bernapas yang dianggap sudah dalam berbahaya.

mempunyai kewajiban : a. dalam menerima pelayanan pada praktik kedokteran. c. • • • • . Memberikan imbalan jasa atas pelayanan yang diterima.UU Praktik Kedokteran No 29 Tahun 2004 Pasal 53 Pasien. Mematuhi ketentuan yang berlaku di sarana pelayanan kesehatan. dan d. Mematuhi nasihat dan petunjuk dokter atau dokter gigi. b. Memberikan informasi yang lengkap dan jujur tentang masalah kesehatannya.

.Pada kasus ini dokter kedua sudah benar dengann melakukan tindakan melubangi tenggorokan pasien untuk mengatasi kesulitan pasien dalam bernapas yang dianggap sudah dalam berbahaya.

UU Praktik Kedokteran No 29 Tahun 2004 Pasal 52 Pasien dalam menrima pelayanan pada praktik kedokteran. mempunyai hak : A. Meminta pendapat dokter atau dokter gigi lain C. Mendapatkan isi rekam medis . Mendapatkan penjelasan secara lengkap tentang tindakan medis sebagai mana dimaksud dalam pasal 45 ayat 3 B. Mendapatkan pelayanan sesuai dengan kebutuhan medis D. Menolak tindakan medis E.

.Pada kasus ini pasien belum medapatkan hak sepenuhnya sebagai pasien karena penolakan dokter ahli untuk dimintakan pendapatnya.

(2) Barang siapa karena kesalahannya menyebabkan orang luka sedemikian rupa sehingga orang itu menjadi sakit sementara atau tidak dapat menjalankan jabatan atau pekerjaannya sementara. dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya sembilan bulan atau hukuman kurungan selama-lamanya enam bulan atau hukuman denda setinggitingginya tiga ratus rupiah .KUHP pasal 360 (1) Barangsiapa karena kesalahannya menyebabkan orang luka berat dihukum penjara selama-lamanya lima tahun atau hukuman kurungan selamalamanya satu tahun.

Tapi pada kasus ini perlu diteliti tentang SOP yang digunakan dokter dalam melakukan tracheostomy.Tracheostomy yang dilakukan pada pasien dapat dianggap sebagai luka berat karena keadaan pasien menjadi bertambah buruk dan mengganggu aktivitas keseharian pasien. .

Pasal 1371 KUH Perdata : Penyebab luka atau cacatnya sesuatu anggota badan dengan sengaja atau karena kurang hati-hati memberikan hak kepada si korban untuk selain penggantian biaya-biaya penyembuhan. tetapi juga untuk kerugian yang disebabkan perbuatan orang-orang yang menjadi tanggungannya atau disebabkan oleh barang-barang yang berada di bawah pengawasannya. menuntut penggantian kerugian yang disebabkan oleh luka atau cacat tersebut.KUH perdata • Pasal 1365 KUH Perdata : tiap perbuatan melanggar hukum. Pasal 1366 KUH Perdata : setiap orang bertanggung-jawa tidak saja untuk kerugian yang disebabkan perbuatannya. Juga penggantian kerugian ini dinilai menurut kedudukan dan kemampuan kedua belah pihak. mengganti kerugian tersebut. dan menurut keadaan. yang membawa kerugian kepada seorang lain. tetapi juga untuk kerugian yang disebabkan kelalaian atau kurang hati-hatiannya Pasal 1367 KUH Perdata : seorang tidak saja bertanggungjawab untuk kerugian yang disebabkan perbuatannya sendiri. mewajibkan orang yang karena salahnya menerbitkan kerugian itu. • • • .

8 / 1999 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN • Menurut Pasal 1 angka 1 UU No. 8 Tahun 1999 adalah segala upaya yang menjamin adanya kepastian hukum untuk memberi perlindungan kepada konsumen. Pengertian tersbut menjelaskan bahwa konsumen dan pengusaha memiliki hukum yang menimbulkan hak dan kewajiban secara timbal balik .UU NO.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful