P. 1
Makalah Perkembangan Kurikulum

Makalah Perkembangan Kurikulum

|Views: 921|Likes:
Published by danieletegar

More info:

Published by: danieletegar on Jun 12, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/18/2015

pdf

text

original

TUGAS TELAAH KURIKULUM 2 RESUME PERKEMBANGAN KURIKULUM DI INDONESIA

Di Susun Oleh :

Daniele Tegar Abadi Lady Saputra (A1F010014) Chintya Pratiwi (A1F010020) Yeyen Gustiani (A1F010023 )

Dosen Pengampu :

SALASTRI ROHIAT M.Si

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS BENGKULU 2013

Perkembangan Kurikulum di Indonesia

Page 1

BAB I PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang Kurikulum merupakan suatu program pendidikan yang meliputi berbagai mata pelajaran atau mata kuliah yang harus diperlajari peserta didik dari tingkat Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi ang sudah ada sejak ada sistem persekolahan. Di Indonesia sebelum proklamasi kemerdekaan terutama dalam periode penjajahan sejak permulaan abad ke 20 sudah dikenal adanya penjenjangan persekolahan dari tingkat Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi. Sampai tahun 1942 pada tingkat Sekolah Dasar, pendidikan sudah dibedakan mulai dari kurikulum, fasilitas belajar dan gurunya, yaitu antara sekolah untuk rakyat jelata pribuni, pribumi priayi, dan untuk anak-anak orang keturunan China dan Eropa. Untuk SD bagi rakyat jelata pribumi dikenal Sekolah Kelas Dua dari kelas IV sampai kelas V sebagai kelanjutan Sekolah Desa (Volkschool)dengan bahasa pengantar bahasa Melayu dan tulisan Latin. Untuk sekolah bagi anak pribumi dari keluarga priayi disediakan Sekolah Dasar HIS ( Hollandsche Inlandsche School )yang lama belajarnya tujuh tahun dengan bahasa pengantar bahasa Belanda. Sedangkan sekolah untuk kaum penjajah dan anak-anak keturunan Eropa lainnya disediakan ELS ( Europesche Lagere School ). Hanya sebagai segelintir kecil anak-anak pribumi dari kelompok keluarga priayi yang boleh masuk ELS. Untuk pendidikan tingkat SMP dan SMA dibedakan pula berdasarkan strata sosial. Sekolah untuk anak-anak priayi pribumi disediakan MULO( Meer Uitgebreid Lager Onderwijs ). Sekolah setingkat SMA disediakan AMS (Algemeine Midle School). Sedangkan untuk sekolah menengah bagi anakanak Belanda dan Eropa disediakan sekolah HBS ( Hogere Burger School )sebagai kelanjutan dari ELS. Sejak zaman pendudukan Jepang diversivikasi persekolahan menurut strata sosial dihapus dan sejak proklamasi kemerdekaan, Pemerintah menetapkan satu sistem pendidikan nasional yaitu SR ( Sekolah Rakyat atau Sekolah Rendah )

SMP/SGB/ST, SMA/SMK/Sekolah Guru. Sampai tahun 1975 kurikulum sistem persekolahan ditentukan oleh instansi yang mengelola sekolah Sejak proklamasi sampai tahun 1968 kita mengenal kurikulum sebagai berikut :

Perkembangan Kurikulum di Indonesia

Page 2

Kurikulum 1947, Kurikulum 1952, Kurikulum 1964, Kurikulum 1968/69. Struktur dan materi kurikulum pada periode tersebut di SD dan SMP tidak banyak mengalami perubahan kecuali pada kurikulum mata pelajaran Kewarganegaraan dan Sejarah yang diperbaharui karenaperubahan politik, seperti masuknya Manipol Usdek dalam kurikulum 1964. Sebagai bagian dari Pendidikan Kewarganegaraan dan diubahnya materi Pendidikan Kewarganegaraan pada era Orde Baru ( Kurikulum 1968 ) menjadi Pendidikan Moral Pancasila. Pada kurikulum 1968/1969 di tingkat SMA terjadi perubahan penjurusan dan struktur kurikulum antara tahun 1950, 1964 dan 1968/1968. Sampai akhir dekade ke 6 abad ke 20 walaupun kurikulum berubah tetapi mata pelajaran terutamapada tingkat SMA hampir tidak ada perubahan tentang buku pelajaran baik Botani, Aljabar dan Sejarah Dunia. Sehingga buku-buku tersebut dapat diwariskan kepada adik-adik dan generasi berikutnya. Perlu dicatat bahwa sampaidengan tahun 1960-an tujuan pendidikan nasional seperti yang tertulis dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1950 junto Undang-Undang No. 12 Tahun 1954, dan pada era Demokrasi Terpimpin dalam penetapan Presiden. Dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1954 tujuan pendidikan nasional adalah “membentuk manusia Indonesia yang susila dan cakap serta bertanggung jawab”. Adapun dalam era Demokrasi Terpimpin tekanannya pada pembentukan manusia Pancasila dan manusia sosialis Indonesia. Seberapa jauh tujuan tersebut secara terencana diupayakan tercapainya melalui kurikulum? Tidak ada studi yang mencoba menjawab pertanyaan tersebut. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mashuri,SH adalah Menteri Pendidikan dalam sejarah pendidikan Indonesia yang banyak melakukan perubahan (inovasi) . Berbagai perubahan yang dilakukan diantaranya adalah : 1. Diubahnya ujian Negara menjadi ujian sekolah; 2. Pembaruan materi pelajaran seperti diperkenalkannya Matematika Modern dan Modern Science yang berdampak pada penulisan buku pelajaran baru; dan 3. Dilaksanakannya evaluasi nasional pendidikan secara konprehensif ( Education National Assessment ).Mulai periode Menteri Mashuri pembaruan pendidikan ditempuh melalui pendekatan penelitian dan pengembangan. Untuk melaksanakan program tersebut di lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dibentuklah Badan Pengembangan Pendidikan (BPP) yang terdiri dari : 1. Sekretariat Badan 2. Lembaga Pengembangan Kurikulum

Perkembangan Kurikulum di Indonesia

Page 3

3. Lembaga Pengembangan Guru dan tenaga Teknis 4. Lembaga Pengembangan Alat-alat Pendidikan 5. Lembaga Pengembangan Fasilitas Pendidikan 6. Lembaga Penelitian dan Evaluasi Pendidikan 7. Lembaga Pengembangan Perpustakaan Pendidikan. Kemudian nama lembaga tersebutdisederhanakan menjadi : 1. Sekraetariat Badan 2. Lembaga Pengembangan Media Pendidikan 3. Lembaga Pengembangan Kurikulum 4. Lembaga Inovasi dan EvaluasiPendidikan 5. Lembaga Pengembangan Informasi dan Statistik Pendidikan 6. Lembaga Penelitian Pendidikan. Badan Pengembangan Pendidikan (BPP) dipimpin oleh Dr. Kartomo seorang ekonom (dosen Universitas Indonesia), Sedangkan Lembaga Pengembangan Kurikulum pertama kali dipimpin oleh Dr. Soepardjo Adikoesoemo seorang geograf lulusan universitas di Jerman. Tugas utama sebagai fokus yang dilakukan oleh BPP dibawah pimpinan Dr. Kartomo adalah melakukan asesmen pendidikan. Diantara berbagai tim yang dibentuk untuk melaksanakan asesmen pendidikan adalah Tim Sistem Analisis. Tim analisis ini terdiri dari tiga Cluster diantaranya adalah Cluster II yang dipimpin oleh Drs.Soedijarto,M.A. (lulusan University of California) yang tugasnya adalah melakukan identifikasi tujuan-tujuan pendidikan. Sejak Orde Baru walaupun Undang-Undang No. 12 Tahun 1954 tidak pernah dicabut berlakunya, tetapi tujuan pendidikan nasional rumusannya sampai tahun 1989, tidak tercantum dalam UndangUndang, melainkan dalam Ketetapan MPR RI. Pada saat Cluster II melakukan identifikasi tujuan-tujuan pendidikan nasional, TAP MPR yang menggariskan tujuan pendidikan nasional adalah TAP MPRS No. XXVII/66 yang tertulis sebagai berikut : “ Tujuan Pendidikan Nasional adalah untuk membentuk manusia Pancasila sejati berdasarkan ketentuanketentuan seperti yang dikehendaki oleh Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 dan isi Undang-Undang Dasar 1945 (TAP MPRS No.XXVII/MPRS/1966 “ Cluster II Sistem Analisis keanggotaannnya meliputi unsur-unsur yang mewakili Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah ( Soetjipto), Pendidikan Kejuruan (Suradjiman), Pendidikan Dasar ( Anwar Jasin ), Sekretariat Jenderal ( Wardojo ), BPKB Jayagiri ( Maman Suherman), Badan

Perkembangan Kurikulum di Indonesia

Page 4

Pengembangan Pendidikan (Thamrin Gunardi), Angkatan Udara ( Mayor I.B. Arnawa ), Angkatan Laut ( Mayor Tonny Hartono ), Kepolisian ( Mayor Sukarno Shinduputro). Sebagai Ketua Tim adalah Soedijarto (BPP). Dalam melaksanakan fungsinya Cluster II Sistem Analisis didukung oleh para ahli dari Amerika Serikat antara lain : 1. Dr. Vincent Campbell ( Stanford University ) 2. Dr. Frank Womer ( University of Michigan ) 3. Dr. Daryl D. Nichols ( American Institute for Research ) 4. Dr. Ralph Tyler ( University of Chicago ). Berangkat dari latarbelakang ini selanjutnya secara berturut-turut akan diuraikan dan diulas kegiatan yang dilakukan oleh Pusat Pengembangan Kurikulum dari periode : 1974 -1981, 1981-1988, 1988 - 1994 dan 1994 – 2004, 2004-2009, 2009-2013 1.2.Rumusan Masalah A. Bagaimana Kurikulum 1947 ? B. Bagaimana Kurikulum Kurikulum 1952 ? C. Bagaimana Kurikulum Kurikulum 1968 ? D. Bagaimana Kurikulum Kurikulum 1975 ? E. Bagaimana Kurikulum Kurikulum 1984 ? F. Bagaimana Kurikulum Kurikulum 1994 dan Suplemen Kurikulum 1999 ? G. Bagaimana Kurikulum Kurikulum 2004 ? H. Bagaimana Kurikulum KTSP 2006 ? I. Bagaimana Kurikulum 2013 ?

1.3.Tujuan Untuk mengetahui perkembangan kurikulum di Indonesia serta menilai kurikulum manakah yang memiliki dampak positif yang paling baik bagi pendidikan di Indonesia

1.4.Manfaat Adapun dari makalah ini yaitu dapat mengetahui perkembangan kurikulum yang ada di Indonesia.

Perkembangan Kurikulum di Indonesia

Page 5

BAB II ISI

Salah satu komponen penting dari sistem pendidikan adalah kurikulum, karena kurikulum merupakan komponen pendidikan, baik oleh pengelola maupun penyelenggara, khususnya oleh guru dan kepala sekolah. Kurikulum dibuat secara sentralistik, oleh karena itu setiap satuan pendidikan diharuskan untuk melaksanakan dan mengimplementasikannya sesuai dengan petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis yang disusun oleh pemerintah pusat.

Pengembangan kurikulum adalah proses perencanaan dan penyusunan kurikulum oleh pengembang kurikulum (curriculum developer) dan kegiatan yang dilakukan agar kurikulum yang dihasilkan dapat menjadi bahan ajar dan acuan yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.

Berikut adalah Perkembangan Kurikulum MI Di Indonesia :

2.1.

Kurikulum 1947 Kurikulum pertama pada masa kemerdekaan namanya Rencana Pelajaran 1947. Ketika

itu penyebutannya lebih populer menggunakan leer plan (rencana pelajaran) ketimbang istilah curriculum dalam bahasa Inggris. Rencana Pelajaran 1947 bersifat politis, yang tidak mau lagi melihat dunia pendidikan masih menerapkan kurikulum Belanda, yang orientasi pendidikan dan pengajarannya ditujukan untuk kepentingan kolonialis Belanda. Asas pendidikan ditetapkan Pancasila. Situasi perpolitikan dengan gejolak perang revolusi, maka Rencana Pelajaran 1947, baru diterapkan pada tahun 1950. Oleh karena itu Rencana Pelajaran 1947 sering juga disebut kurikulum 1950. Susunan Rencana Pelajaran 1947 sangat sederhana, hanya memuat dua hal pokok, yaitu daftar mata pelajaran dan jam pengajarannya, serta garis-garis besar pengajarannya. Rencana Pelajaran 1947 lebih mengutamakan pendidikan watak, kesadaran bernegara, dan bermasyarakat, daripada pendidikan pikiran. Materi pelajaran dihubungkan dengan kejadian sehari-hari, perhatian terhadap kesenian, dan pendidikan jasmani. Mata pelajaran untuk tingkat Sekolah Rakyat ada 16, khusus di Jawa, Sunda, dan Madura diberikan bahasa daerah. Daftar pelajarannya adalah Bahasa Indonesia, Bahasa Daerah, Berhitung, Ilmu Alam, Ilmu Hayat, Ilmu

Perkembangan Kurikulum di Indonesia

Page 6

Bumi, Sejarah, Menggambar, Menulis, Seni Suara, Pekerjaan Tangan, Pekerjaan Keputrian, Gerak Badan, Kebersihan dan Kesehatan, Didikan Budi Pekerti, dan Pendidikan Agama. Pada awalnya pelajaran agama diberikan mulai kelas IV, namun sejak 1951 agama juga diajarkan sejak kelas 1. Garis-garis besar pengajaran pada saat itu menekankan pada cara guru mengajar dan cara murid mempelajari. Misalnya, pelajaran bahasa mengajarkan bagaimana cara bercakapcakap, membaca, dan menulis. Ilmu Alam mengajarkan bagaimana proses kejadian sehari-hari, bagaimana mempergunakan berbagai perkakas sederhana (pompa, timbangan, manfaat bes berani), dan menyelidiki berbagai peristiwa sehari-hari, misalnya mengapa lokomotif diisi air dan kayu, mengapa nelayan melaut pada malam hari, dan bagaimana menyambung kabel listrik. Pada perkembangannya, rencana pelajaran lebih dirinci lagi setiap pelajarannya, yang dikenal dengan istilah Rencana Pelajaran Terurai 1952. “Silabus mata pelajarannya jelas sekali. Seorang guru mengajar satu mata pelajaran”. Pada masa itu juga dibentuk Kelas Masyarakat. yaitu sekolah khusus bagi lulusan SR 6 tahun yang tidak melanjutkan ke SMP. Kelas masyarakat mengajarkan keterampilan, seperti pertanian, pertukangan, dan perikanan. Tujuannya agar anak tak mampu sekolah ke jenjang SMP, bisa langsung bekerja.

Kelebihan Kurikulum 1947 Mencerminkan kesadaran sebagai bangsa yang berdaulat, dan mendudukkan pendidikan sebagai faktor penting dalam memperkokoh berdirinya negara Indonesia melalui persatuan dan kesatuan untuk mengusir penjajah. A. Memiliki fungsi strategis dalam mempersatukan bangsa Indonesia melalui pendidikan B. Kurikulum 1947 mengadopsi dari pengalaman pendidikan Indonesia yang telah lalu dimas penjajahan, sehingga memudahkan dalam penyusunannya.

Kelemahan Kurikulum 1947 Dibayang-bayangi pendidikan jaman penjajahan, sehingga mengarah pada pola pengajaran penjajah. A. Belum memiliki orientasi ranah kognitif dan psikomotor namun lebih dominan ranah afektif

Perkembangan Kurikulum di Indonesia

Page 7

B. Belum diterapkan di sekolah-sekolah sehingga belum memberikan dampak pada terlaksananya pendidikan dan terbentuknya bangsa Indonesia hingga secara resmi dilaksanakan pada tahun 1950

2.2.

Kurikulum 1952 Kurikulum ini lebih merinci setiap mata pelajaran yang disebut Rencana Pelajaran

Terurai 1952. “Silabus mata pelajarannya jelas sekali. seorang guru mengajar satu mata pelajaran,” kata Djauzak Ahmad, Direktur Pendidikan Dasar Depdiknas periode 1991-1995. Ketika itu, di usia 16 tahun Djauzak adalah guru SD Tambelan dan Tanjung Pinang, Riau. Di penghujung era Presiden Soekarno, muncul Rencana Pendidikan 1964 atau Kurikulum 1964. Fokusnya pada pengembangan daya cipta, rasa, karsa, karya, dan moral (Pancawardhana). Mata pelajaran diklasifikasikan dalam lima kelompok bidang studi: moral, kecerdasan,

emosional/artistik, keprigelan (keterampilan), dan jasmaniah. Pendidikan dasar lebih menekankan pada pengetahuan dan kegiatan fungsional praktis.

Kelebihan Kurikulum 1952 Kurikulum 1952 telah mengarah pada sistem pendidikan nasional, walaupun belum merata pada seluruh wilayah di Indonesia, namun dapat mencerminkan suatu pemahaman dan cita-cita para praktisi pendidikan akan pentingnya pemerataan pendidikan bagi seluruh bangsa Indonesia. A. Pada Kurikulum 1952, materi pelajaran sudah berorientasi pada kebutuhan hidup para siswa, sehingga hasil pembelajaran dapat berguna ketika ditengah masyarakat. B. Karena setiap guru mengajar satu mata pelajaran, maka memiliki keuntungan untuk lebih menguasai bidang pengajarannya dengan lebih baik, dari pada mengajar berbagai mata pelajaran.

Kelemahan Kurikulum 1952 A. Karena kurikulum 1952 baru mengarah pada sistem pendidikan nasional, maka belum mampu menjangkau seluruh wilayah Indonesia.

Perkembangan Kurikulum di Indonesia

Page 8

B. Materi pelajaran

belum orientasi masa depan, karena yang diajarkan berorientasi

kebutuhan untuk hidup dimasyarakat saat itu, dengan demikian belum memiliki visi kebutuhan dimasa mendatang. C. Kurang membangkitkan kreatifitas dan inovasi guru, karena setiap mata pelajaran sudah terinci dalam rencana pelajaran terurai, hal ini mempersempit kreatifitas dan inovasi guru baik dalam perencanaan, pelaksanaan, maupun menentukan sumber materi pelajaran

2.3.

Kurikulum 1968 Kelahiran Kurikulum 1968 bersifat politis: mengganti Rencana Pendidikan 1964 yang

dicitrakan sebagai produk Orde Lama. Tujuannya pada pembentukan manusia Pancasila sejati. Kurikulum 1968 menekankan pendekatan organisasi materi pelajaran: kelompok pembinaan Pancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus. Jumlah pelajarannya 9. Djauzak menyebut Kurikulum 1968 sebagai kurikulum bulat. “Hanya memuat mata pelajaran pokok-pokok saja,” katanya. Muatan materi pelajaran bersifat teoritis, tak mengaitkan dengan permasalahan faktual di lapangan. Titik beratnya pada materi apa saja yang tepat diberikan kepada siswa di setiap jenjang pendidikan.

Kelebihan Kurikulum 1968 A. Kurikulum 1968 dibuat untuk menjadi pedoman penyelenggaraan pendidikan secara nasional, namun penerapannya di daerah (di sekolah) diberi kebebasan menurut situasi dan kondisi daerah atau sekolah yang bersangkutan. B. Kurikulum 1968 telah dikembangkan dalam nuansa otonomi dimana semua komponen kurikulum dilaksanakan oleh sekolah. C. Sistem pembelajaran di ruangan kelas diserahkan kepada masing-masing guru, yang penting tujuan pendidikan dapat tercapai. D. Kurikulum ini berupaya mendorong pengembangan kreativitas dan persaingan kompetitif diantara daerah, sekolah, dan guru untuk mengembangkan kurikulum. E. Kurikulum ini memberikan peluang bagi tamatan sekolah untuk melanjutkan pendidikannya pada jenjang yang lebih tinggi.

Perkembangan Kurikulum di Indonesia

Page 9

Kelemahan Kurikulum 1968 A. Walaupun sudah ada pembelajaran keterampilan namun pada prakteknya kurikulum ini masih kurang memperhatikan pembelajaran praktek. B. Kurikulum ini tidak mengadopsi kebutuhan masyarakat, sehingga pembelajaran di sekolah tidak dapat memenuhi kebutuhan riil dalam kehidupan anak. C. Kurikulum ini yang masih di pengaruhi unsur politis sehingga tidak mengakar pada kebutuhan hidup anak secara individual.

2.4.

Kurikulum 1975 Kurikulum 1975 menekankan pada tujuan, agar pendidikan lebih efisien dan efektif.

“Yang melatarbelakangi adalah pengaruh konsep di bidang manejemen, yaitu MBO (management by objective) yang terkenal saat itu,” kata Drs. Mudjito, Ak, MSi, Direktur Pembinaan TK dan SD Depdiknas. Metode, materi, dan tujuan pengajaran dirinci dalam Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI). Zaman ini dikenal istilah “satuan pelajaran”, yaitu rencana pelajaran setiap satuan bahasan. Setiap satuan pelajaran dirinci lagi: petunjuk umum, tujuan instruksional khusus (TIK), materi pelajaran, alat pelajaran, kegiatan belajar-mengajar, dan evaluasi. Kurikulum 1975 banyak dikritik. Guru dibikin sibuk menulis rincian apa yang akan dicapai dari setiap kegiatan pembelajaran.

Kelebihan Kurikulum 1975 A. Berorientasi pada tujuan B. Mengarah pembentukan tingkah laku siswa C. Relevans dengan kebutuhan masyarakat D. Menggunakan pendekatan psikolog E. Menekankan efektivitas dan efisiensi F. Menekankan fleksibilitas yaitu mempertimbangkan faktor- faktor ekosistem dan kemampuan penyediaan fasilitas yang menunjang terlaksananya program. G. Prinsip berkesinambungan

Perkembangan Kurikulum di Indonesia

Page 10

Kelemahan Kurikulum 1975 A. Terdapat ketidakserasian antara materi kurikulum berbagai bidang studi dengan kemampuan anak didik B. Terdapat kesenjangan antara program kurikulum dan pelaksanaannya di sekolah C. Terlalu padatnya isi kurikulum yang harus diajarkan hampir di setiap jenjang. D. Guru dibuat sibuk menulis rincian apa yang akan dicapai dari setiap kegiatan pembelajaran. E. Pada kurikulum ini menekankan pada pencapaian tujuan pendidikan secara sentralistik, sehingga kurang memberi peluang untuk berkembangnya potensi daerah. F. Kurikulum ini berorientasi pada guru hal ini membentuk persepsi bahwa guru yang mendominasi proses pembelajaran, metode-metode ceramah dan metode dikte menonjol digunakan oleh para guru. G. Kreativitas murid kurang berkembang karena didukung oleh konsep kurikulum yang menempatkan guru sebagai subjek dalam melakukan pembelajaran di kelas

2.5.

Kurikulum 1984 Kurikulum 1984 mengusung process skill approach. Meski mengutamakan pendekatan

proses, tapi faktor tujuan tetap penting. Kurikulum ini juga sering disebut “Kurikulum 1975 yang disempurnakan”. Posisi siswa ditempatkan sebagai subjek belajar. Dari mengamati sesuatu, mengelompokkan, mendiskusikan, hingga melaporkan. Model ini disebut Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) atau Student Active Leaming (SAL). Tokoh penting dibalik lahirnya Kurikulum 1984 adalah Profesor Dr. Conny R. Semiawan, Kepala Pusat Kurikulum Depdiknas periode 1980-1986 yang juga Rektor IKIP Jakarta sekarang Universitas Negeri Jakarta periode 19841992. Konsep CBSA yang elok secara teoritis dan bagus hasilnya di sekolah-sekolah yang diujicobakan, mengalami banyak deviasi dan reduksi saat diterapkan secara nasional. Sayangnya, banyak sekolah kurang mampu menafsirkan CBSA. Yang terlihat adalah suasana gaduh di ruang kelas lantaran siswa berdiskusi, di sana-sini ada tempelan gambar, dan yang menyolok guru tak lagi mengajar model berceramah. Penolakan CBSA bermunculan.

Perkembangan Kurikulum di Indonesia

Page 11

Kelebihan Kurikulum 1984 A. Kurikulum ini memuat materi dan metode yang disebut secara rinci, sehingga guru dan siswa mudah untuk melaksanakannya. B. Prakarsa siswa dapat lebih dalam kegiatan belajar yang ditunjukkan melalui keberanian memberikan pendapat. C. Keterlibatan siswa di dalam kegiatan- kegiatan belajar yang telah berlangsung yang ditunjukkan dengan peningkatan diri dalam melaksanakan tugas. D. Anak dapat belajar dari pengalaman langsung langsung. E. Kualitas interaksi antara siswa sangt tinggi, baik intelektual maupun sosial. F. Memasyarakatkan keterampilan berdiskusi yang diperlukan dengan berpartisipasi secara aktif

Kelemahan Kurikulum 1984 A. Sayangnya, banyak sekolah kurang mampu menafsirkan CBSA. Yang terlihat adalah suasana gaduh di ruang kelas lantaran siswa berdiskusi, di sana-sini ada tempelan gambar, dan yang menyolok. B. Adanya ketergantungan pada guru dan siswa pada materi dalam suatu buku teks dan metode yang disebut secara rinci, sehingga membentuk guru dan siswa tidak kreatif untuk menentukan metode yang tepat dan memiliki sumber belajar sangat terbatas. C. Dapat didominasi oleh seorang atau sejumlah siswa sehingga dia menolak pendapat peserta lain. D. Siswa yang pandai akan bertambah pandai sedangkan yang bodoh akan ketinggalan. E. Peranan guru yang lebih banyak sebagai fasilitator, sehingga prakarsa serta tanggung jawab siswa atau mahasiswa dalam kegiatan belajar sangat kurang. F. Diperlukan waktu yang banyak dalam pembelajaran menyebabkan materi pelajaran tidak dapat tuntas dikuasai siswa. G. Guru kurang komunikatif dengan siswa.

Perkembangan Kurikulum di Indonesia

Page 12

2.6.

Kurikulum 1994 dan Suplemen Kurikulum 1999 Kurikulum 1994 bergulir lebih pada upaya memadukan kurikulum-kurikulum

sebelumnya. “Jiwanya ingin mengkombinasikan antara Kurikulum 1975 dan Kurikulum 1984, antara pendekatan proses,” kata Mudjito menjelaskan. Sayang, perpaduan tujuan dan proses belum berhasil. Kritik bertebaran, lantaran beban belajar siswa dinilai terlalu berat. Dari muatan nasional hingga lokal. Materi muatan lokal disesuaikan dengan kebutuhan daerah masingmasing, misalnya bahasa daerah kesenian, keterampilan daerah, dan lain-lain. Berbagai kepentingan kelompok-kelompok masyarakat juga mendesakkan agar isu-isu tertentu masuk dalam kurikulum. Walhasil, Kurikulum 1994 menjelma menjadi kurikulum super padat. Kejatuhan rezim Soeharto pada 1998, diikuti kehadiran Suplemen Kurikulum 1999. Tapi perubahannya lebih pada menambal sejumlah materi

Kelebihan Kurikulum 1994 A. Kurikulum berstandar nasional dan memberikan ruang untuk pengembangan potensi wilayah. B. Mampu mengadopsi aspirasi berbagai pihak yang berhubungan dengan isu-isu yang berkembang di masyarakat. C. Dalam pelaksanaan pembelajaran guru memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada siswa untuk dapat mengembangkan kemampuan masing-masing dengan beberapa alternatif. D. Terdapat keserasian antara teori dan praktek, sehingga mengembangkan ketiga ranah yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor

Kelemahan Kurikulum 1994 A. Kritik bertebaran, lantaran beban belajar siswa dinilai terlalu berat. B. Berbagai kepentingan kelompok-kelompok masyarakat juga mendesakkan agar isu-isu tertentu masuk dalam kurikulum. Walhasil, Kurikulum 1994 menjelma menjadi kurikulum super pada

Perkembangan Kurikulum di Indonesia

Page 13

C. Pendekatan penguasaan materi (content oriented) memberatkan siswa D. Beban belajar siswa terlalu berat karena banyaknya mata pelajaran dan banyaknya materi/substansi setiap mata pelajaran E. Materi pelajaran dianggap terlalu sukar karena kurang relevan dengan tingkat perkembangan berpikir siswa, dan kurang bermakna karena kurang terkait dengan aplikasi kehidupan sehari-hari. F. Kurikulum pendidikan agama tahun 1994 juga lebih menekankan materi pokok dan lebih bersifat memaksakan target bahan

2.7.

Kurikulum 2004 Bahasa kerennya Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Setiap pelajaran diurai

berdasar kompetensi apakah yang mesti dicapai siswa. Sayangnya, kerancuan muncul bila dikaitkan dengan alat ukur kompetensi siswa, yakni ujian. Ujian akhir sekolah maupun nasional masih berupa soal pilihan ganda. Bila target kompetensi yang ingin dicapai, evaluasinya tentu lebih banyak pada praktik atau soal uraian yang mampu mengukur seberapa besar pemahaman dan kompetensi siswa. Meski baru diujicobakan, toh di sejumlah sekolah kota-kota di Pulau Jawa, dan kota besar di luar Pulau Jawa telah menerapkan KBK. Hasilnya tak memuaskan. Guru-guru pun tak paham betul apa sebenarnya kompetensi yang diinginkan pembuat kurikulum.

Kelebihan Kurikulum 2004 A. Pendidikan berbasis kompetensi menitikberatkan pada pengembangan kemampuan untuk melakukan (kompetensi) tugas-tugas tertentu sesuai dengan standard performance yang telah ditetapkan, sebagai upaya mempersiapkan kemampuan individu. B. Sejalan dengan visi pendidikan yang mengarahkan pada dua pengembangan yaitu untuk memenuhi kebutuhan masa kini dan kebutuhan masa datang. C. Kompetensi dalam kurikulum ini cukup lengkap meliputi: kemampuan melakukan segala sesuatu dalam berbagai konteks, kompetensi menjelaskan pengalaman belajar, kompetensi hasil belajar, kompetensi yang dihasilkan terukur.

Perkembangan Kurikulum di Indonesia

Page 14

Kelemahan Kurikulum 2004 A. Kritik bertebaran, lantaran beban belajar siswa dinilai terlalu berat. B. Berbagai kepentingan kelompok-kelompok masyarakat juga mendesakkan agar isu-isu tertentu masuk dalam kurikulum. C. Pendekatan penguasaan materi (content oriented) memberatkan siswa. D. Beban belajar siswa terlalu berat karena banyaknya mata pelajaran dan banyaknya materi/substansi setiap mata pelajaran. E. Materi pelajaran dianggap terlalu sukar karena kurang relevan dengan tingkat perkembangan berpikir siswa, dan kurang bermakna karena kurang terkait dengan aplikasi kehidupan sehari-hari. F. Kurikulum pendidikan agama tahun 1994 juga lebih menekankan materi pokok dan lebih bersifat memaksakan target bahan ajar

2.8.

KTSP 2006 Awal 2006 ujicoba KBK dihentikan. Muncullah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.

Pelajaran KTSP masih tersendat. Tinjauan dari segi isi dan proses pencapaian target kompetensi pelajaran oleh siswa hingga teknis evaluasi tidaklah banyak perbedaan dengan Kurikulum 2004. Perbedaan yang paling menonjol adalah guru lebih diberikan kebebasan untuk merencanakan pembelajaran sesuai dengan lingkungan dan kondisi siswa serta kondisi sekolah berada. Hal ini disebabkan karangka dasar (KD), standar kompetensi lulusan (SKL), standar kompetensi dan kompetensi dasar (SKKD) setiap mata pelajaran untuk setiap satuan pendidikan telah ditetapkan oleh Departemen Pendidikan Nasional. Jadi pengambangan perangkat pembelajaran, seperti silabus dan sistem penilaian merupakan kewenangan satuan pendidikan (sekolah) dibawah koordinasi dan supervisi pemerintah Kabupaten/Kota.

Perkembangan Kurikulum di Indonesia

Page 15

Kelebihan Kurikulum 2006 A. Secara teori memberikan otonomi secara luas pada sekolah untuk mengembangkan kreativitas dan inovasinya dalam meningkatkan kualitas pendidikan sesuai dengan potensi di daerahnya. B. Tenaga kependidikan termotivasi untuk meningkatkan kreatifitas dan inovasi. untuk menggali potensi sekolah sehingga mampu menjadi agen bagi pembangunan masyarakat yang mengakar pada potensi lokal. C. Sekolah leluasa untuk ambil peranan dalam pendidikan untuk membentuk siswa sebagai pengambil peranan dalam masyarakat. D. Kurikulum ini memberikan kesempatan kepada para siswa untuk mengembangkan dirinya di luar sekolah, karana telah terjadi pengurangan kepadatan jam pelajaran Kelemahan Kurikulum 2006 A. Banyak guru belum memahami hakekat dari kurikulum ini, akibatnya pembelajaran maupun administrasi guru hanya berubah nama dan istilah-istilah B. Belum ada kemampuan dari kalangan penyelenggara pendidikan, sehingga

memungkinkan adanya kopi paste kurikulum yang sekedaar memenuhi persyaratan administrasi, dan aplikasinya pun masih tidak sesuai dengan yang dikehendaki. C. KTSP tidak dibarengi dengan tersedianya waktu, sarana, dan prasarana cukup bagi guruguru untuk menerapkan segala ide-ide kreatifnya. D. Penilaian yang menekankan pada poroses ternyata tidak terlalu dihiraukan, buktinya Ujian Nasional yang merupakan penilaian hasil belajar verbal tertulis masih menjadi standar kelulusan yang dominan.

2.9.

Kurikulum Berkarakter 2013 Pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus, yaitu yang melibatkan aspek

pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action). Menurut Thomas Lickona, tanpa ketiga aspek ini, maka pendidikan karakter tidak akan efektif.

Perkembangan Kurikulum di Indonesia

Page 16

Dengan pendidikan karakter yang diterapkan secara sistematis dan berkelanjutan, seorang anak akan menjadi cerdas emosinya. Kecerdasan emosi ini adalah bekal penting dalam mempersiapkan anak menyongsong masa depan, karena seseorang akan lebih mudah dan berhasil menghadapi segala macam tantangan kehidupan, termasuk tantangan untuk berhasil secara akademis. Terdapat sembilan pilar karakter yang berasal dari nilai-nilai luhur universal, yaitu: pertama, karakter cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya; kedua, kemandirian dan tanggungjawab; ketiga, kejujuran/amanah, diplomatis; keempat, hormat dan santun; kelima, dermawan, suka tolong-menolong dan gotong royong/kerjasama; keenam, percaya diri dan pekerja keras; ketujuh, kepemimpinan dan keadilan; kedelapan, baik dan rendah hati, dan; kesembilan, karakter toleransi, kedamaian, dan kesatuan. Kesembilan pilar karakter itu, diajarkan secara sistematis dalam model pendidikan holistik menggunakan metode knowing the good, feeling the good, dan acting the good. Knowing the good bisa mudah diajarkan sebab pengetahuan bersifat kognitif saja. Setelah knowing the good harus ditumbuhkan feeling loving the good, yakni bagaimana merasakan dan mencintai kebajikan menjadi engine yang bisa membuat orang senantiasa mau berbuat sesuatu kebaikan. Sehingga tumbuh kesadaran bahwa, orang mau melakukan perilaku kebajikan karena dia cinta dengan perilaku kebajikan itu. Setelah terbiasa melakukan kebajikan, maka acting the good itu berubah menjadi kebiasaan. Seiring sosialisasi tentang relevansi pendidikan karakter ini, semoga dalam waktu dekat tiap sekolah bisa segera menerapkannya, agar nantinya lahir generasi bangsa yang selain cerdas juga berkarakter sesuai nilai-nilai luhur bangsa dan agama.* Pendidikan karakter di sekolah sangat diperlukan, walaupun dasar dari pendidikan karakter adalah di dalam keluarga. Kalau seorang anak mendapatkan pendidikan karakter yang baik dari keluarganya, anak tersebut akan berkarakter baik selanjutnya. Namun banyak orang tua yang lebih mementingkan aspek kecerdasan otak ketimbang pendidikan karakter. Selain itu Daniel Goleman juga mengatakan bahwa banyak orang tua yang gagal dalam mendidik karakter anak-anaknya entah karena kesibukan atau karena lebih mementingkan aspek kognitif anak. Namun ini semua dapat dikoreksi dengan memberikan pendidikan karakter di sekolah. Namun masalahnya, kebijakan pendidikan di Indonesia juga lebih mementingkan aspek kecerdasan otak, dan hanya baru-baru ini saja pentingnya pendidikan budi pekerti menjadi bahan pembicaraan ramai. Ada yang mengatakan bahwa kurikulum pendidikan di Indonesia dibuat

Perkembangan Kurikulum di Indonesia

Page 17

hanya cocok untuk diberikan pada 10-20 persen otak-otak terbaik. Artinya sebagian besar anak sekolah (80-90 persen) tidak dapat mengikuti kurikulum pelajaran di sekolah. Akibatnya sejak usia dini, sebagian besar anak-anak akan merasa “bodoh” karena kesulitan menyesuaikan dengan kurikulum yang ada. Ditambah lagi dengan adanya sistem ranking yang telah “memvonis” anakanak yang tidak masuk “10 besar”, sebagai anak yang kurang pandai. Sistem seperti ini tentunya berpengaruh negatif terhadap usaha membangun karakter, dimana sejak dini anak-anak justru sudah “dibunuh” rasa percaya dirinya.

Kelebihan Kurikulum Berkarakter Keberhasilan program pendidikan karakter dapat diketahui terutama melalui pencapaian butirbutir Standar Kompetensi Lulusan oleh peserta didik yang meliputi sebagai berikut:

A. Mengamalkan ajaran agama yang dianut sesuai dengan tahap perkembangan remaja; B. Memahami kekurangan dan kelebihan diri sendiri; C. Menunjukkan sikap percaya diri; D. Mematuhi aturan-aturan sosial yang berlaku dalam lingkungan yang lebih luas; E. Menghargai keberagaman agama, budaya, suku, ras, dan golongan sosial ekonomi dalam lingkup nasional; F. Mencari dan menerapkan informasi dari lingkungan sekitar dan sumber-sumber lain secara logis, kritis, dan kreatif; G. Menunjukkan kemampuan berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif; H. Menunjukkan kemampuan belajar secara mandiri sesuai dengan potensi yang dimilikinya; I. Menunjukkan kemampuan menganalisis dan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari; J. Mendeskripsikan gejala alam dan sosial; K. Memanfaatkan lingkungan secara bertanggung jawab; L. Menerapkan nilai-nilai kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara demi terwujudnya persatuan dalam negara kesatuan Republik Indonesia; M. Menghargai karya seni dan budaya nasional; N. Menghargai tugas pekerjaan dan memiliki kemampuan untuk berkarya;

Perkembangan Kurikulum di Indonesia

Page 18

O. Menerapkan hidup bersih, sehat, bugar, aman, dan memanfaatkan waktu luang dengan baik; P. Berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan santun; Q. Memahami hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam pergaulan di masyarakat; Menghargai adanya perbedaan pendapat; R. Menunjukkan kegemaran membaca dan menulis naskah pendek sederhana; S. Menunjukkan keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris sederhana; T. Menguasai pengetahuan yang diperlukan untuk mengikuti pendidikan menengah; U. Memiliki jiwa kewirausahaan.

Kelemahan Kurikulum Berkarakter

kurikulum 2013 bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional karena penekanan pengembangan kurikulum hanya didasarkan pada orientasi pragmatis. Selain itu, kurikulum 2013 tidak didasarkan pada evaluasi dari pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006 sehingga dalam pelaksanaannya bisa membingungkan guru dan pemangku pendidikan. Kelemahan lainnya, lanjut Wuryadi, pemerintah seolah melihat semua guru dan siswa memiliki kapasitas yang sama dalam kurikulum 2013. Guru juga tidak pernah dilibatkan langsung dalam proses pengembangan kurikulum 2013. Kelemahan penting lainnya, pengintegrasian mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia untuk jenjang pendidikan dasar. Dewan Pendidikan DIY menilai langkah ini tidak tepat karena rumpun ilmu mata pelajaran-mata pelajaran itu berbeda. Wuryadi juga menilai tak adanya keseimbangan antara orientasi proses pembelajaran dan hasil dalam kurikulum 2013. Keseimbangan sulit dicapai karena kebijakan ujian nasional (UN) masih diberlakukan.

Perkembangan Kurikulum di Indonesia

Page 19

BAB III PENUTUP

3.1.

KESIMPULAN Pergantian kurikulum adalah suatu keniscayaan yang harus diberlakukan untuk mengikuti

perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta perilaku dan metode pengajaran yang setiap saat terus berkembang.untuk menyikapi perilaku dan metode pengajaran yang setiap saat terus berkembang. Untuk menyikapi pergantian kurikulum maka harus disapkan adalah kesiapan dari guru itu sendiri, kesiapan sekolah, kesiapan pemerintah dan kesiapan stake holder pendidikan. Adapun faktror yang mendasaari terjadinya perubahan pada kurikulm yaitu : a. Menyesuaikan dengan perkembangan jaman, hal ini b. Kepentingan politisi semata

Perkembangan Kurikulum di Indonesia

Page 20

DAFTAR PUSTAKA

Anam, S. 2006. Sekolah Dasar Pergulatan Mengejar Ketertinggalan. Solo: Wajatri. h. 113-148

Hamalik,

O.

(2009),

Kurikulum

dan

Pembelajaran,

Jakarta

:

Bumi

Aksara

Sanjaya, W. (2009), Kurikulum dan Pembelajaran, Jakarta : Kencana Prenada Group

Perkembangan Kurikulum di Indonesia

Page 21

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->