PEMERIKSAAN FISIK PADA ANAK A KEPALA  Bentuk kepala ; makrosefali atau mikrosefali

Tulang tengkorak :

Anencefali : tidak ada tulang tengkorak

Encefalokel : tidak menutupnya fontanel occipital

Fontanel anterior menutup : 18 bulan Fontanel posterior : menutup 2 – 6 bulan

Caput succedeneum : berisi serosa , muncul 24 jam pertama dan hilang dalam 2 hari Cepal hematoma : berisi darah,muncul 24 – 48 jam dan hilang 2 – 3 minggu

Distribusi rambut dan warna

Jika rambut berwearna / kuning dan gampang tercabut merupakan indikasi adanya gangguan nutrisi Ukuran lingkar kepala 33 – 34 atau < 49 dan diukur dari bagian frontal kebagian occipital.

B. MUKA

simetris kiri kanan

Tes nervus 7 ( facialis )  Sensoris : Menyentuhkan air dingin atau air hangat daerah maksilla dan mandibula dan menyebutkan apa yang dirasakan.  Motorik : pasien diminta mengerutkan dahi,kemudian menutup mata kuat-kuat sementara jari-jari pemeriksa menahan kedua kelopak mata agar tetap terbuka.

Tes nervus 5 ( trigeminus )  Sensorik : menyentuhkan kapas pada daerah wajah dan apakah ia merasakan sentuh tersebut  Motorik : menganjurkan klien untuk mengunyah dan pemeriksa meraba otot masenter dan mandibula.

C. MATA
  

Simetris kanan kiri Alis tumbuh umur 2-3 bulan Kelopak mata :  Oedema  Ptosis turun.  Enof kelopak mata mnyempit karena kelopak mata atas dan bawah tertarik kebelakang.  Exoptalmus : pelebaran celah kelopak mata, karena kelopak mata atas dan bawah tertarik kebelakang. : celah kelopak matamenyempit karena kelopak mata atas

Pemeriksaan nervus II ( optikus),test konfrontasi dan penglihatan.  Sebagai objek mempergunakan jari

ketajaman

 Pemeriksa dan pasaien duduk berhadapan ,mata yang akan diperiksa berhadapan dengan mata pemeriksa ,yang biasanya berlawanan, mata kiri dengan mata kanan,pada garis ketinggian yang sama.  Jarak antara keduanya berkisar 60 – 100 cm. Mata yang lain ditutup,obyek mulai digerakkkan oleh pemeriksa mulai dari samping telinga ,apabila obyek sudah tidak terlihat oleh pemeriksa maka secara normal obyek tersebut dapat dillihat oleh pasien.  Anak dapat disuruh membaca atau diberikan Snellen Chart.

Pemeriksaan nervus III ( Oculomotoris refleks cahaya)  Pen light dinyalakan mulai dari samping) atrau, kemudian cahaya diarahkan pada salah satu pupil yang akan diperiksa, maka akan ada rekasi miosis.  Apakah pupil isokor kiri atau kanan

Pemeriksaan Nervus IV ( Troclearis ) pergerakan bola mata  Menganjurkan klien untuk melihat ke atas dan ke bawah.  Pemeriksaan nervus VI ( Abdusen )  Menganjurkan klien untuk melihat ke kanan dan ke kiri.

Pemeriksaan nervus V( Trigeminus) Refleks kornea      Tutup mata yang satu dengan penutup Minta klien untuk melirik kearah laterosuperior ( mata yang tidak diperiksa) Sentuhkan pilinan kapas pada kornea, respon refleks berupa kedipan kedua mata secara cepat. Glaberal refleks: mengetuk dahi diantara kedua mata,hasil positif bila tiap ketukan mengakibatkan kedua mata klien berkedip. Doll eye refleks : bayi dipalingkan dan mata akan ikut ,tapi hanya berfookus pada satu titik.

D.HIDUNG
 

Posisi hidung apakah simetris kiri kanan Jembatan hidung apakah ada atau tidak ada, jika tidak ada diduga down syndrome.

 

Cuping hidung masih keras pada umur < 40 hari Pasase udara : gunakan kapas dan letakkan di depan hidung, dan apabila bulu kapas bergerak, berarti bayi bernafas.

Gunakan speculum untuk melihat pembuluh darah mukosa, secret, poliup, atau deviasi septum.

 

Pemeriksaan nervus I ( Olfaktoris) Tutup salah satu lubang hidung klien ,berikan bau bauan , lalu klien diminta untuk menyebutkan bau apa.Tiap hidung diuji secara terpisah.

E. MULUT
   

Bibir kering atau pecah – pecah Periksa labio schizis Periksa gigi dan gusi apakah ada perdarahan atau pembengkakan. Tekan pangkal lidah dengan menggunakan spatel,hasil positif bila ada refleks muntah ( Gags refleks)

  

Perhatikan ovula apakah simetris kiri dan kanan Pemeriksaan nervus X ( VAGUS ) Tekan lidah dengan menggunakan spatel, dan anjurkan klien untuk memngatakan “ AH “ dan perhatikan ovula apakah terngkat.

-Pemeriksaan nervus VII ( facialis) sensoris  Tetesi bagian 2/3 anterior lidah dengan rasa asin, manis dan pahit, kemudian menentukan zat apa yang dirasakan dan 1/3 bagian belakang lidah untuk pemeeriksaan Nervus IX.  Pemeriksaan Nervus XI Hipoglosus  Menyuruh pasien untuk menjulurkan lidah lurus lurus kemudian menarik dengan cepat dan disuruh menggerakkan lidah ke kiri dan ke kanan dan sementara itu pemeriksa melakukan palpasi pada kedua pipi untuk merasakan kekuatn lidah.

masukkan jari kelingking kedalam mulut.  Pemeriksaan nervus XII (Asesoris) . mata akan berkedip. LEHER.kemudian tangan ditarik kebelakang. Periksa arteri karotis Vena Jugularis posisi pasien semifowler 45 dan dimiringkan.  Cana.dan p[asien disuruh untuk menelan. atau tes bisik.     Lipatan leher 2-3 kali lipat lebih pendek dari orang dewasa.apakah ada pembesaran atau tidak.  Dengan memakai sarung tangan. G. hasil positif jika ada refleks mengisap (Sucking Refleks) F.  Neck rigting refleks refleks : posisi terlentang.untuk melihat apakah ada serumen atau cairan.  Raba tiroid : daerah tiroid ditekan.lis auditorious ditarik kebawah kemudian kebelakang. raba palatum keras dan lunak apabila ada lubang berarti labio palato shizis.  Tonick neck refleks : kedua tangan ditarik.kemudian taruh jari kelingking diatas lidah .pertama badan ikut berbalik diikuti dengan kepala. Mendengarkan garpu tala (Tes Rinne.tekan daerah nodus krokoideus maka akan tampak adanya vena. TELINGA   Simetris kiri dan kanan Daun telinga dilipat. dan lama baru kembali keposisi semula menunjukkan tulang rawan masih lunak. Rooting refleks : bayi akan mencari benda yang diletakkan disekitar mulut dan kemudian akan mengisapnya.  Taruh mistar pada awal dan akhir pembesaran vena tersebut kemudian tarik garis imajiner untuk menentukan panjangnya.     Pemeriksaan tes nervus VIII (Acustikus) menggesekkan rambut.Weber) Starter refleks :tepuk tangan dekat telinga. kepala akan mengimbangi.

teraba 1 – 2 cm dibawah costa.intensitas keraspada ICS 4-5 1:3  -Suara broncho vesikuler : pada bronchus sebelum alveolus. intensitas tinggi. panjangnya pada garis media clavikula 6 – 12 cm. intensitas rendah 3:1  Wheezing terdengar pada saat inspirasi dan rales pada saat ekspirasi  Perkusi pada daerah paru suara yang ditimbulkan adalah sonor   Apeks jantung pada mid klavikula kiri intercostals 5 Batas jantung pada sternal kanan ICS 2 ( bunyi katup aorta). Observasi distensi abdomen. pada saat udara masuk . Observasi adanya pembengkakan atau perdarahan. Palpasi pada daerah hati. Terdengar suara peristaltic usus.pemeriksa memberi tahanan terhadap kepala. ABDOMEN       Tali pusat : Dua arteri satu vena. Menganjurkan klien memalingkan kepala. Observasi vena apakah terbayang atau tidak.  Palpasi pada daerah limpa pada kuadran kiri atas Perkusi pada daerah hati suara yang ditimbulkan adakah pekak Perkusi pada daerah lambung suara yang ditimbulkan adalah timpani . DADA   Bentuk dada apakah simetris kiri dan kanan Bentuk dada barrel anterior – posterior dan tranversal hampir sama 1:1 dan dewasa 1: 2   Suara tracheal : pada daerah trachea. sternal kiri mid klavikula ICS 5 ( bunyi katup mitral). intensitas sedang ICS 5. H. sternal kiri ICS 3-4 ( bunyi katup tricuspid). I.  Perkusi mpada daerah jantung adalah pekak. ICS 2 1:1 suara bronchial : pada percabangan bronchus.sambil meraba otot sternokleidomasatodeus. sternal kiri ICS 2 ( bunyi katup pulmonal).  suara vesikuler : pada seluruh bagian lateral paru. lalu disuruh untuk menghadap kedepan .

sindaktil ( jari – jari bersatu) Pada anak kuku dikebawakan. TANGAN   Jumlah jari – jari polidaktil ( . dan tidak patah .   Waddling gait : jalan seperti bebek. Refleks kremaster : gores pada abdomen mulai dari sisi lateral kemedial .sakit dan lutut kiri akan terangkat . kalau patah diduga kelainan nutrisi. lihat posisi pelvis apakah simetris kiri dan kanan.  Rib hum and Flank: dalam posisi bungkuk jika tulang belakang rata/simetris ( scoliosis postueral) sedangkan jika asimetris atau bahu tinggi sebelah dan vertebra bengkok ( scoliosis structural) skoliometer >40 K.terlihat kontraksi.akan menggengam K.bila lebih 180 diduga kelainan system pernafasan  Grasping refleks : meletakkan jari pada tangan bayi. apakah ada spina bivida okulta : ada lekukan pada lumbo sacral.   Ujung jaru\i halus Kuku klubbing finger < 180 .  Spina bivida sistika : dengan herniasi . J.> dari 5 ) .tanpa herniasi dan distribusi lanugo lebih banyak. Thomas test : lutut kanan ditekuk dan dirapatkan kedada. maka refleks akan menggengam.  Palmar refleks : tekan pada telapak tangan .  Susuri tulang belakang . lipatan paha simetris kiri kanan Ortholani test : lutut ditekuk sama tinggi/tidak Barlow test : kedua lutut ditekuk dan regangkan kesamping akan terdengar bunyi klik  Tredelenburg test : berdiri angkat satu kaki. PELVIS    CDH : test gluteal . PUNGGUNG. meningokel ( berisi meningen dan CSF) dan mielomeningokel ( meningen + CSF + saraf spinal).

M.  Reflek patella. dan hamstring.L. kaki jatuh kedepan. Talipes : kaki bengkok kedalam. 2/3. Clubfoot : otot-otot kaki tidak sama panjang. bagian seluruh telapak kaki. KAKI       Lipatan kaki apakah 1/3. Pelaksanaan . LUTUT  Ballotemen patella : tekan mendorong kuat akan menimbulkan bunyi klik jika ada cairan diantaranya  Mengurut kantong supra patella kebawah akan timbul tonjolan pada kedua sisi tibia jika ada cairan diduga ada atritis. Gula / garam Persiapan lingkungan Menyuiapkan lingkungan yang tenang Memaasang tirai sekitar pasien Persiapan Pasien Melakukan pendekatan kepada anak / ibu dan menjelaskan tentrang pemeriksaan yang akan dilakukan. Refleks babinsky Refleks Chaddok Staping Refleks PEMERIKSAAN SISTEM NEUROLOGIS Persiapan Alat Penlight Penggaris Kapas lilin Bahan / benda untuk dcium Jarum Air hangat atau dingin.

Status mental Orentasi Daya ingat Perhatian dan Perhitungan Fungsi bahasa  Ektensi abnormal ( Decerebrasi ) (6) (5) (4) (5) (4) (3) (2) (1) (4) (3) (2) (1) = 5 = 6 ( Dekortikasi ) (3) (2) (1) c.1. Pengkajian bicara Proeses resertif : ucap baca Proses exspresive : ekspresi . TES FUNGSI SEREBRAL a. Tingkat kesedaran GCS ( Nilai normal 15 ) 1) Respon membuka mata = 4 2) Respon verbal 3) Respon motorik Pemeriksaan : 1) Respon mata  Membuka mata spontan  Buka mata atas perintah  Buka mata terhadap nyeri  Tidak ada respon 2) Respon verbal  Respon verbal tepat  Bingung  Berkata-kata respon tidak tepat  Respon tidak bermakana  Tidak ada respon 3) Respon motorik  Sesuai perintah verbal  Mengenali nyeri local  Menarik diri dari rangsangan nyeri  Fleksi abnormal  Tidak da respon b.

berikan bau bauan . atropi. 2) Tonus otot : Hipertonik atau hipotonik 3) Kekuatan otot : Pemeriksa menggerakan pasien menahan tau pasien menggerakan pasien menahan. Nervus I ( Olfaktorius ) Prosedur : Tutup salah satu lubang hidung klien . Tes fungsi sensorik a. Sentuhan kapas e.2. d. Cek satu-satu lubang hidung dengan bau-bauan ( sebaiknya gunakan baubauan yang berbeda ) .Tiap hidung diuji secara terpisah. Posisi : ujung jari –jari disentuh dengan ibu jari. two poin stimulation. grafhestesia. Postur tubuh 3. Vibrasi : Pemeriksaan dengan garpu tala c. 4. Tes Fungsi Motorik Terdapat 3 hal yang perlu diperhatikan : 1)Masa otot : Hipertropi. Rasa sakit b. lalu klien diminta untuk menyebutkan bau apa. Tes Fungsi Nervus Kranial 1. Diskriminasi: stereogenesis. Fungsi koordinasi c. normal. Untuk keseimbangan : Jalan dengan satu kaki dalam satu garis luus b. Penilaian : 0 1 2 3 4 5 Tidak ada kontraksi Terlihat kontraksi tapi tidak ada pergerakan pada sendi Ada gerakan pada sendi tapi tidak dapat melawan grafitasi Bisa melawan gravitasi tapi tidak bisa menahan tahanan pemeriksa Bisa bergerak melawan tahanan pemeriksa dengan tahanan minimal Dapat melawan kekuatan pemeriksa dengan kekuatan maksimal. Tes Funfsi Cerebelum a.

mata kiri dengan mata kanan.VI ( dilakukan bersamaan )  Pen light dinyalakan mulai dari samping) atrau. Nervus II ( Opticus ) penglihatan Sebagai objek mempergunakan jari Pemeriksa dan pasien duduk berhadapan.  Apakah pupil isokor kiri atau kanan IV: 4. obyek mulai digerakkkan oleh pemeriksa mulai dari samping telinga . kemudian cahaya diarahkan pada salah satu pupil yang akan diperiksa.pada garis ketinggian yang sama. maka akan ada rekasi miosis. IV.  Tes nevus V dan VII Prosedur tes sensorik Tutup mata .apabila obyek sudah tidak terlihat oleh pemeriksa maka secara normal obyek tersebut dapat dillihat oleh pasien.2. Tes nervus III : Nervus III . 5. . Jarak antara keduanya berkisar 60 – 100 cm. bila langsung berkedip refleks kornea baik. Tes nervus V 6.Refleks kornea . Tes Nervus VI :   Minta klien untuk melihat kearah lateral kiri dan kanan Perhatikan gerakan mata ke arah lateral kiri dan kanan. mata yang akan diperiksa berhadapan dengan mata pemeriksa yang biasanya berlawanan.minta klien untuk melirik kearah lateral superior . Anak dapat disuruh membaca atau diberikan Snellen Chart. dan bandingkan refleks kedua mata. Nervus V dan VII ( dilakukan bersamaan ) . 3. Mata yang lain ditutup. Tes nervus   Minta klien untuk melihat kearah bawah dan ke arah atas Perhatikan gerakan mata ke bawah dan keatas.Sentuhkan ujung kapas yang sudah dipilin pada kornea.

- Untuk sensoris : Perhatikan tonus otot dan catat kesimetrisan Sensoris : Menyentuhkan air dingin atau air hangat daerah maksilla dan mandibula dan menyebutkan apa yang dirasakan Motorik : pasien diminta mengerutkan dahi. Sentuh ujung palatum soft bagian posterior.kemudian menutup mata kuat-kuat sementara jari-jari pemeriksa menahan kedua kelopak mata agar tetap terbuka. apakah kelemahan. 8. lihat adanya respon bergerak ke atas. Nervus IX dan X ( glasopaaaringeus ddan vagus ). Rasa kecap : tes rasa asin. Menyuruh pasien untuk menjulurkan lidah lurus lurus kemudian menarik dengan cepat dan disuruh menggerakkan lidah ke kiri dan ke kanan dan sementara itu pemeriksa melakukan palpasi pada kedua pipi untuk merasakan kekuatan lidah. Apakah simetris. Nervus VIII ( Akustikus )   Garputala ( Rinne. atropi.  Untuk Trapezius Pasien suruh angkat bahu Bahu pasien didorong oleh pemeriksa - . Masukan tong spatel atau minta pasien mengatakan “ Ah “ Lihat soft palatum. Nervus XI Untuk Sternoeloedomastoideus  Kepala pasien minta ke kanan. Weber. terjaadi deviasi. pahit dan apakah klien dapat membedakan atau tidak.    9. dan Swabach) Tes bisik. kita putar kearah depan ( tarik dengan kekuatan )  Inspeksi dan palpasi otot sternoeloedomastoideus . Prosedur tes motorik Minta pasien memperlihatkan gigi Palpasi temporal dan otot maseter bilateral 7.

    Perhatikan lidah dalam posisi istirahat Apakah simetris atau ada fasikulasi Bagaimana refleks lidah waktu ditekan dengan spatel Minta pasien mendorong lidahnya untuk menahan depressor Menganjurkan klien memalingkan kepala.sambil meraba otot sternokleidomasatodeus.10 Nervus XII ( Hipoglosus). . pemeriksa memberi tahanan terhadap kepala. lalu disuruh untuk menghadap kedepan.

Tujuan Imunisasi a) Menurunkan angka kesakitan dan kematian b) Menghindari kecacatan c) Mencegah suatu penyakit tertentu 4. Imunisasi Ulang : Pemberian kekebalan setelah Imunisasi Dasar 3. Dari kata ini pula di turunkan kata imunitas. III. 2.“IMUNISASI” 1. Imunisasi Dasar : Pemberian kekebalan I. II. dalam hal ini yang di maksud adalah kekebalan terhadap penyakit. pada bayi b. umumnya penyakit infeksi. Pengertian Imunisasi berasal dari kata latin imun yang berarti kebal. Imunisasi terbagi atas 2 yaitu : a. Istilah imunitas berarti upaya untuk memperoleh kekebalan. yang berarti kekebalan. Manfaat Imunisasi a) Untuk Anak : Mencegah penderitaan yang disebabkan oleh penyakit dan kemungkinan cacat atau kematian b) Untuk Keluarga : Menghilangkan kecemasan dan biaya pengobatan bila anak sakit c) Untuk Negara : Memperbaiki tingkat kesehatan bangsa yang kuat dan berakal untuk melanjutkan pembangunan negara .

Berbeda dengan vaksin berisi kuman mati. Meski ada juga petugas medis yang melakukan penyuntikan di paha. segera setelah lahir si kecil diimunisasikan BCG 3. Jika ada penderita TB yang tinggal serumah atau sering bertandang ke rumah. Namun pada beberapa anak timbul pembengkakan kelenjar getah bening di ketiak atau leher bagian bawah (atau selangkangan bila penyuntikan dilakukan di paha). Sebab vaksin BCG berisi kuman hidup sehingga antibodi yang dihasilkannya tinggi terus. Vaksinasi dilakukan bila hasil tesnya negatif. Loksi penyuntikan Lengan kanan atas. Imunisasi BCG (Bacillus Calmette Guerin) BCG adalah vaksin bentuk beku kering yang mengandung mycobacterium bovis hidup yang sudah dilemahkan dari strain Paris no. Usia pemberian immunisasi BCG Dibawah usia 2 bulan.IMUNISASI DASAR adalah imunisasi yang diberikan untuk mendapatkan kekebalan awal secara aktif A. tak perlu diulang (booster). Jumlah pemberian immunisasi BCG Cukup 1 kali saja.P2. Jika baru diberikan setelah usia 2 bulan. sesuai anjuran WHO. sehingga memerlukan pengulangan 2. Efek samping Umumnya tidak ada. disarankan tes Mantoux (tuberkulin) dahulu untuk mengetahui apakah si bayi sudah kemasukan kuman Mycrobacterium tuberculosis atau belum. Biasanya akan sembuh sendiri . 1173. 4. 1.

hanya saja dalam kadar rendah. Pertusis dan Tetanus Difteri dan tetanus : toksoid yang dimurnikan Pertusis : bakteri mati. medki bisul tak muncul.5. Kontra indikasi Tak dapat diberikan pada anak berpenyakit TB atau menunjukkan Mantoux positif B. Imunisasi DPT ini merupakan vaksin yang mengandung racun kuman difteri yang telah dihilangkan sifat racunnya akan tetapi masih dapat merangsang pembentukkan zat anti (toksoid). Dengan kata lain. infeksi alamiah akan selalu ada. karena di daerah endemis TB. Bisul akan sembuh sendiri dan meninggalkan luka parut. Pertusis. kedua dan ketiga terbentuk zat anti yang cukup (Alimul. Frekuensi pemberian imunisasi DPT adalah tiga kali. antibodi tetap terbentuk. Jadi. Vaksin DPT (Difteria. terabsorbsi dalam alumunium fosfat . 2008) 1. Tujuan pemberian immunisasi DPT Tujuan pemberian vaksin ini adalah untuk memberikan kekebalan aktif yang bersamaan terhadap penyakit Difteri. Tetanus) Imunisasi DPT (Diphteri. Tanda keberhasilan immunisasi BCG Muncul bisul kecil dan bernanah di daerah bekas suntikan setelah 4-6 minggu. Pertusis dan Tetanus) merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit difteri. Imunisasi BCG pun tak perlu diulang. dengan maksud pemberian pertama zat anti terbentuk masih sangat sedikit (tahap pengenalan) terhadap vaksin dan mengaktifkan organ-organ tubuh membuat zat anti. Tidak menimbulkan nyeri dan tidak diiringi panas. 6. anak akan mendapat vaksinasi alamiah.

Toksoid Difteria a. Kombinasi toxoid difteri dan tetanus (DT) 3. Kemasan tunggal (TT) b. Kemasan dengan vaksin difteri (DT) c. 24 OU pertusis. DT atau TT dilaksanakan berdasarkan perkiraan lama waktu perlindungan sebagai berikut : . Kemasan dengan vaksin difteri dan pertusis (DPT) Kuman yang telah dimatikan yang digunakan untuk imunisasi pasif (ATS) 5.Tiap 1 ml terdiri dari 40Lf toksoid difteria. alumunium fosfat 3 mg. Umumnya diberikan kombinasi bersama toxoid difteri dan tetanus 4. Imunisasi rutin pada anak. thimerosal 0. Untuk imunisasi yang dipakai adalah vaksin pertusis whole-cell (alum precipitated vaccine) yaitu vaksin yang merupakan suspensi kuman B pertusis mati b. diberikan dengan 5 dosis yaitu pada usia 2. Vaksin pertusis a. Jadwal pemberian Upaya depkes dan kesos melaksanakan program eliminasi tetanus neonatorum (ETN) DPT I.1 mg 2. 6 bulan yang diberikan bersamaan dengan polio. Untuk imunisasi primer terhadap difteri digunakan toksoid difteri (alum precipitated formol toxoid) yang digabung dengan tetanus toxoid dan vaksin pertusis b. Dosis ulangan pada 15-18 bulan dan saat masuk sekolah harus diberikan sekurang-kurangnya 6 bulan setelah dosis ketiga c. Toksoid tetanusin Vaksin tetanus dikenal 2 macam vaksin yaitu : Vaksin yang digunakan untuk imunisasi aktif adalah toxoid tetanus yang telah dilemahkan a. 4. 15 Lf toksoid tetanus.

Dengan 6 dosis toxoid tetanus pada anak dihitung setara dengan 5 dosis toxoid pada dewasa e. Toxoid tetanus kelima (DPT 5) diberikan pada usia sekolah. DT. Imunisasi Spacing Masa perlindungan T1 Mengembangkan kekebalan pada infeksi T2 4 pekan setelah 3 tahun T1 T3 6 bulan setelah 5 tahun T2 T4 1 tahun setelah 10 tahun T3 Menyempurnakan kekebalan Menguatkan kekebalan Menguatkan kekebalan tubuh Tujuan . TT) 5x untuk memberikan perlindungan seumur hidup sehingga wanita usia subur (WUS) mendapat perlindungan terhadap bayi yang dilahirkan terhadap tetanus neonatorum. Imunisasi DPT 3x akan memberikan imunitas 1-3 tahun. akan memperpanjang imunitas 10 tahun lagi sampai umur 17-18 tahun. Tetanus toxoid tambahan yang diberikan pada tahun berikutnya di sekolah (DT 6 atau DT) akan memperpanjang imunitas 20 tahun lagi. Ulangan DPT pada umur 18-24 bulan (DPT 4) akan memperpanjang imunitas 5 tahun yaitu sampai dengan umur 6-7 tahun. dihitung setara dengan 2 dosis toxoid pad anak besar atau dewasa b. Dengan 5 toxoid tetanus pada anak dihitung setara dengan 4 dosis toxoid dewasa d. Dengan 4 dosis toxoid tetanus pada bayi dan anak dihitung setara dengan 3 dosis pada dewasa c. Jadi PPI merekomendasikan tetanus toxoid (DPT. Dengan 3 dosis toxoid tetannus pada bayi.a.

Vaksin virus polio oral (OPV) Vaksin polio inactivated (IPV) 1. Ensefalopati pasca DPT sebelumnya Lokasi pemberiannya 7. Indikasi kontra a. KIPI a.T5 1 tahun setelah 25 tahun T4 Mendapatkan kekebalan penuh 6. Riwayat anafilaksis b. Polio Ada 2 macam jenis vaksin polio 1. menangis terus menerus c. Lokal : bengkak. OPV dapat disimpan beku pada temperatur 20ᴼC. OPV berisi virus polio tipe 1. 2 dan 3 adalah strain/suku sabin yang masih hidup tapi sudah dilemahkan (attenuated). Reaksi anafilaktik.000 dos C. Demam. ensefalopati 1/50. Virus vaksin ini kemudian menempatkan diri di usus san memacu pembentukan antibodi baik dalam darah maupun pada epitelium usus. yang menghasilkan pertahanan lokal terhadap virus polio liar yang datang masuk kemudian c. Vaksin . 2. Vaksin polio oral harus disimpan tertutup pada suhu 2-8ᴼC. kemerahan. Vaksin ini digunakan secara rutin sejak bayi lahir dengan dosis 2 tetes oral. vaksin ini dibuat dalam biakan jaringan ginjal kera yang distabilkan dengan sukrosa b. nyeri pada tempat suntikan b. Vaksin virus polio oral (OPV) a. gelisah.

IPV berisi tipe 1. Imunitas mukosa yang ditimbulkan IPV lebih rendah dibandingkan dengan yang ditimbulkan OPV e. Kemudian diteruskan dengan imunisasi dasar mulai umur 2-3 bulan yang diberikan 3 dosis terpisah berturut-turut dengan interval waktu 6-8 minggu g.1 ml) diberikan per oral pada umur 2-3 bulan dapat diberikan bersama-sama waktunya dengan suntikan vaksin DPT dan hepatitis B 1. Dosis penguat OPV harus diberikan sebelum masuk sekolah. 2 dan 3 dibiakan pada sel-sel fero ginjal kera dan dibuat tidak aktif dengan formaldehid b. Vaksin polio inactivated (IPV) atau vaksin polio injeksi a.yang beku dapat cepat dicairkan dengan cara ditempatkan antara kedua telapak tangan dan digulir-gulirkan. IPV harus disimpan pada suhu 2-8ᴼC dan tidak boleh dibekukan c. Satu dosis sebanyak 2 tetes (0. kemudian dipakai lagi sampai warna berubah dengan catatan tanggal kadaluarsa harus selalu diperhatikan. maka sisa vaksin yang telah terpakai dapat dibekukan lagi. SC 3x berturutturut dengan jarak masing-masing dosis 2 bulan d.5 ml. OPV diberikan pada BBL sebagai dosis awal. Imunisasi penguat (booster) a. sesuai dengan Pengembangan Program Imunisasi (PPI) dan Program Eradiksi Polio (ERAPO) tahun 2000 f. 2. Bila keadaan tersebut dapat terpenuhi. yaitu bersamaan pada saat diberikan dosis DPT sebagai penguat . Pemberian dengan dosis 0. dijaga agar warna tidak berubah yaitu merah muda sampai orange muda (sebagai indikator pH).

Menderita infeksi HIV/anggota keluarga sebagai kontak . Untuk orang dewasa sebagai imunisasi primer (dasar) dianjurkan diberikan 3 dosis berturut-turut OPV 2 tetes dengan jarak 4-8 minggu b. KIPI Setelah vakisnasi. Demua orang dewasa seharusnya divaksinasi terhadap poliomielinitis dan tidak boleh ada yang tertinggal 3. tidak diperlukan vaksinasi penguat. kecuali mereka yang dalam resiko khusus. Sedang dalam proses pengobatan kortikosteroid atau imuno supresif oral maupun suntikan.5 C) b.b. Keganasan (untuk pasien dan kontak) yang berhubungan dengan sistem retikuloendotelial seperti limfoma. Orang dewasa yang telah mendapatkan imunisasi sebelumnya. sebagian kecil resipien dapat mengalami gejala a. Diare ringan c. Imunisasi untuk orang dewasa a. Dosis OPV berikutnya harus diberikan pada umur 15-19 tahun atau sebelum meninggalkan sekolah c. misal pada hipo-gamaglobulinemia e. Sakit pada otot 4. Interval minimal antara 2 dosis vaksinasi dapat diperpanjang dan dapat menyelesaikan vaksinasinya tanpa mengulang lagi c. leukimia. Muntah atau diare c. dan anak dengan mekanisme imunologik yang terganggu. juga pengobatan radiasi umum d. Penyakit akut atau demam (suhu >38. indikasi pemberian OPV a. Pusing-pusing b. 2.

Dosis minimal untuk vaksin yang dilemahkan adalah 0. 100 mcg kanamisin. Vaksin campak Tahun 1963 dibuat dua jenis vaksin campak a. biasanya setelah hari ke 5-6 dan berlangsung selama 2 hari b. Vaksin yang berasal dari virus campak yang hidup dan dilemahkan. Dosis dan cara pemberian a. Yaitu Polisakarida H. Vaksin yang berasal dari virus campak yang dimatikan (virus campak yang berada dalam larutan formalin yang dicampur dengan garam alumunium) c. Imunisasi ulangan diberikan pada saat anak masuk sekolah usia 6-7 tahun dalam program BIAS 2. Influenza tipe b dikonjugasikan pada toksoid tetanus.5 C. Vaksin Haemophilus Influenza type B 1. Ruam. Kombinasi dengan DTaP/DTwP . Tiap 0. timbul pada hari ke 7-10 dan berlangsung selama 24 hari 3. Demam >39. Mempunyai riwayat alergI A. Jadwal pemberian campak pada bayi umur 9-11 bulan c.5 ml secara subcutan atau intra muscular b. Kontra indikasi a. Demam tinggi b. trometamol. sukrosa dan NaCl 2. Reaksi KIPI a. Sedang memperoleh pengobatan imunosupresi c. Hamil d. Suspensi berkabut keputihan 3.5 ml mengandung 1000 u virus strain CAM 70.D. 30 mg eritromisin 1. jangan terkena sinar matahari b.

Indikasi : anak usia > 2 tahun. pasca imunoglobulin. Imunogenitas rendah pada umur < 2 tahuN 5. Serokonversi pada >95% kasus 7. Direkomendasikan pada usia 12-18 bulan 6. hipersensitif terhadap komponen vaksin 4. 8. Penyuntikan dilakukan secara subcutan atau intramuscular 5. Indikasi kontra : demam. endemis. tinggal di panti asuhan 3. Tidak melindungi terhadap Salmonella paratyphi A dan B D. Kontraindikasi : imunodepresi. pada usia > 2 tahun 3. Imunitas 2-3 minggu pasca vaksinasi 4. transfusi darah (tunda 6-12 minggu).4. Protektif pada 95-100% . Virus inaktif dalam formaldehid 2. hamil. Vaksin Mumps Morbili Rubela (MMR) 1. Komposisi terdiri dari polisakarida kapsul VI Salmonella typhi. Tidak ada bukti sahih berkaitan dengan autisme C. Vaksin Hepatitis A 1. NaHPO3H 2. gondongan ataupun rubella 9. Diberikan secara intramuscular 5. Perlindungan 3 tahun 6. Virus gondong Urabe dibiak dalam telur ayam 3. Virus rubela Wistar dibiak pada sel deploid manusia 4. Virus campak Schwarz hidup yang dilemahkan dalam embrio ayam 2. Vaksin Demam Thypoid 1. Lokasi penyuntikan umur <2 tahun di paha mid anterolateral dan usia > 2 tahun di deltoid B. Nacl. Diberikan secara intramuscular. infeksi akut. sering transfusi (hemofilia). Tetap diberikan pada anak yang pernah campak. Fenol.

formaldehid 3. Infanrix-Hib : kombinasi DPaT+Hib 3. Virus hidup dilemahkan. Penyimpanan pada suhu 2-8ᴼC . Strain 2004 untuk daerah selatan     H1N1 (new Caledonia/20/99) H3N2 (Fujian/411/2002) Hongkong/330/2001 Penyuntikan dilakukan secara intramuscular atau subcutan dosis 0.5 ml. Jangan diberikan bersama vaksin hidup lain 5. Tidak efektif bila transfusi gamma globulin 7.25 ml. sakit akut 4. Jangan hamil dalam 2 bulan 6. efektif dan ekonomis F. Aman. 100% (6 minggu setelah vaksinasi) 10. Hib dalam PFS (prefilled syringe) . Diberikan secara subcutan 3. strain Oka 2.E. Vaksin Influenza-1 1. Bahan lain : telur. Vaksin Varisela 1. Virus tidak aktif dalam prefilled syringe (PFS) 2. Serokonversi : 94% (2 minggu setelah vaksinasi). jangan terkena sinar matahari maupun beku 4. Kontra indikasi : demam. Vaksin kombinasi (tetract-Hib dan Infantrix-Hib) 1. Diberikan pada anak usia 1-13 tahun 8. <8 tahun perlu booster 4 minggu kemudian  Vaksinasi diulang tiap tahun G. Rekomendasi IDAI muali usia 5 tahun 9. neomisin. DPwT/DpaT dalam vial. Tetract-Hib : kombinasi DPwT+Hib 2. >36 bulan dosis 0. Tiap tahun starin dapat berbeda berdasarkan rekomendasi WHO : selatan dan utara 5.

9V. radang paru (pneumonia). 14. dan perlakuan dengan formaldehid 1.5 ml diberikan secara intramuscular 5. kromatografi kolom. Manfaat : mengurangi resiko invasive pneumococcal disease (IPD). 18C. berasal dari HBsAg yang dihasilkan dalam sel ragi (Hansenula polymorpha) menggunakan teknologi DNA rekombinan. Hepatitis C atau virus lain yang diketahui dapat menginfeksi hati. Dosis 0. Vaksin Pneumokokkus (Prevenar) 1. Occult becteremia. Vaksin ini merupakan suspensi berwarna putih yang diproduksi dari jaringan sel ragi yang mengandung gene HBsAg. Sebelum disuntikan. pembawa kuman (nashoparyngeal carriage). Bebas pengawet dan bebas thimerosal 4. tidak dapat mencegah infeksi yang disebabkan oleh virus lain seperti virus Hepatitis A. Dapat diberikan pada semua usia dan direkomendasikan terutama . dicampur dengan menyedot DPwT/DpaT ke dalam PFS Hib 5. radang telinga tengah dan pengobatannya. 19F.4. Indikas Untuk Imunisasi aktif terhadap infeksi yang disebabkan oleh virus Hepatitis B.yang dimurnikan dan diinaktivasi melalui beberapa tahap proses fisiko kimia seperti ultrasentrifuse. 6B. Terdiri dari 7 sakarida yang berbeda (serotipe 4. dan mungkin efektif pada anak yang tak responsif dengan vaksin pneumokokkus polisakarida (PPV) E. Vaksin hepatitis B Vaksin Hepatitis B Rekombinan adalah vaksin virus rekombinan yang telah diinaktivasi dan bersifat non-infectious. Kontra indikasi Sama dengan komponen masing-masing vaksin H. Konjugasi dengan 20 ug dari masing-masing 6 serotipe 3. 23F) 2.

b. homoseks. . Setiap 0. ahli kebersihan gigi. Pasien yang sering menerima transfusi darah dan produk darah lainnya seperti pada unit hemodialisa dan onkologi. Petugas lembaga . 2. sickle-cell anaemia. ahli siropodis. Orang yang beresiko tinggi karena aktivitas seksualnya : Orang yang berhubungan seks secara berganti-ganti pasangan.5 mg. penderita thallasemia. hematologi petugas laboratorium yang menangani darah dan sampel klinis lain. kaumtunaausila. perawat. Petugas kesehatan: dokter. dokter gigi. petugas di lembaga untuk penderita gangguan mental. b.5 ml vaksin mengandung HBsAg 10 mcg yang teradsorbsi pada Aluminium hidroksida 0. Setiap 1 ml vaksin mengandung HBsAg 20 mcg yang teradsorbsi pada Aluminium hidroksida 0. d. Seluruh formulasi mengandung Thimerosal 0. petugas kebersihan yang menangani pembuangan. Pasien. petugas pemakaman dan kamar mayat.25 mg. dokter ahli bedah. petugas gawat darurat dan petugas ambulans. Orang yang sering kontak dengan kelompok beresiko tinggi: narapidana dan petugas penjara. staf unit hemodialisis. orang yang terkena penyakit kelamin. dll. Komposisi a.untuk orang-orang yang mempunyai resiko tinggi terinfeksi virus Hepatitis B termasuk: a.01 w/v% sebagai pengawet. perawat gigi. onkologi. c. petugas bank darah dan fraksinasi plasma. sirosis dan haemofilia. petugas paramedis yang kontak dengan dan pasien.

Vaksin Hepatitis B rekombinan dapat diberikan secara subkutan khusus pada pasien yang mempunyai kecenderungan perdarahan berat (seperti hemofili). b. kemerahan dan pembengkakan di sekitar tempat penyuntikan. Vaksin harus dikocok dahulu sebelum digunakan. Vaksin Hepatitis B rekombinan dapat diberikan serempak dengan Hepatitis B immunoglobulin pada tempat penyuntikan terpisah. Keluhan sistemik seperti demam. 5. pusing dan rasa lelah belum dapat dibuktikan disebabkan oleh pemberian vaksin.5 ml. sedangkan dosis untuk bayi/anak (< 10 tahun) 0.3. Vaksinasi ulang diperlukan setiap 5 tahun setelah vaksinasi dasar. jangan disuntikkan secara intravena atau intradermal. vaksin Hepatitis B Rekombinan tidak boleh . d. sedangkan pada bayi sebaiknya pada anterolateral paha. Dosis untuk Dewasa (> 10 tahun) 1. Efek samping Reaksi lokal seperti rasa sakit. Dan juga dapat diberikan bersamasama dengan vaksin DTP.0 ml. Vaksin Hepatitis B disuntikkan secara intramuskuler. Kontraindikasi Hipersensitif terhadap komponen vaksin. OPV dengan menggunakan jarum suntik dan lokasi penyuntikan yang terpisah. 4. dan tidak akan mengganggu respon imun terhadap vaksinvaksin tersebut. c. Reaksi yang terjadi bersifat ringan dan biasan ya hilang setelah 2 hari. Pada Anak/Dewasa > 1 tahun sebaiknya disuntikkan pada otot deltoid. Dosis dan Cara Pemberian a. sakit kepala. e. mual. f. Vaksinasi dasar terdiri dari 3 dosis intramuskuler dengan jadual 0-1-6 bulan. Sama halnya seperti vaksin-vaksin lain.

 Pada pasien dialisis dan orang yang mempunyai kelemahan sistem imun. respon antibodi mungkin tidak cukup setelah vaksinasi dasar. Daluarsa : 26 bulan a. karena itu perlu diberikan vaksinasi ulang. Kemasan Vaksin tersedia dalam kemasan vial multi dosis 2. Penyimpanan dan Daluarsa Vaksin harus disimpan pada suhu 2O-8OC . Peringatan dan Perhatian  Efek antigen terhadap janin belum diketahui dan karena itu vaksinasi terhadap wanita hamil tidak direkomendasikan.diberikan kepada penderita infeksi berat yang disertai kejang. Tetapi vaksinasi dapat diberikan kepada penderita infeksi ringan. dan jangan diberikan secara intravena. b. kecuali pada keadaan resiko tinggi  Epinephrine sebaiknya selalu tersedia untuk penanganan reaksi anafilaktik  Mengingat masa inkubasi virus Hepatitis B panjang ada kemungkinan terjadi infeksi yang tidak diketahui pada saat vaksinasin  Jangan diberikan pada daerah gluteal atau intra-dermal karena tidak akan memberikan respon imun yang optimal.5 ml .

objek dingin/ hangat 9.atau lebih baik di pangkuan orang tua sebelum 4 sampai 4 bulan: dapat ditempatkan diatas meja pemeriksaan. Arloji berdetik 6. Menjelaskan tujuan dan prosedur pelaksanaan 3. Berikan kotak kecil di kedua tangan bayi yang lebih besar. 1991). Tahap pra interaksi 1. Lanjutkan dengan arah biasa. Persiapan alat 1. otoscop) (farber. Memberikan salam dan menyapa nama pasien 2. Optalmoskop 5. Tahap kerja 1. Mengecek program terapi 2.  URUTAN Bila tenang. auskultasi jantung. Garpu tala 11. Tahap orientasi 1. Senter 13. Manset dan stetoskop 7. paru. obyek terang. Spatel lidah 10. Mencuci tangan 3. kapas. sampai pelepasan volunter berkembang di akhir tahun pertama. bunyi-bunyi dengan mulut. Oksilometri 8. bicara.      . Lakukan prosedur     PERSIAPAN Lepaskan semua pakaian bila suhu ruangan memungkinkan. Snellen 12.STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PEMERIKSAAN FISIK PADA BAYI DAN ANAK A. bayi tidak mampu menggenggam obyek (Misal:stethoscope. Catat frekuensi jantung dan pernafasan. Biarkan popok terpasang pada bayi laki-laki. TEHNIK PEMERIKSAAN FISIK SESUAI USIA POSISI  Bayi Sebelum dapat duduk sendiri: Terlentang atau telungkup. abdomen. Thermometer dan speculum 4. kepala ke kaki. Tingkatkan kerja sama dengan distraksi. Palpasi dan perkusi area yang sama. Peniti. Menanyakan persetujuan/kesiapan pasien C. Gambar warna B. Pengukur/ meteran/ penggaris/ stadiometer 2. Penimbang BB 3.

menunjukkan penggunaan alat biasanya tidak efektif. Hargai kerja sama.       Minta anak melepaskan pakaiannya. percusi.  Setelah dapat duduk sendiri: gunakan posisi duduk di pangkuan orang tua jika mungkin.  Jika koopertif. tunjukkan dengan singkat penggunaannya.     Minta orang tua melepaskan pakaian bagian luar. Auskultasi. Jika diatas meja. melalui permainan “hitung jari” gelitik jari kaki. palpasi bila tenang. lakukan seperti pada anak usia bermain. Biasanya kooperatif dengan posisi telungkup/ terlentang. mulut (sambil menangis). gunakan pernyataan positif: “buka mulutmu”. Tenangkan dengan sebotol air gula atau makanan. Hindari gerakan yang kasar dan mengejutkan.   Kenalkan alat dengan perlahan. gunakan kalimat pendek. Lepaskan pakaian dalam saat bagian tubuh tersebut diperiksa.   .  Gunakan kontak fisik uang minimal diawal pemeriksaan. Inspeksi area tubuh.    Tersenyum pada bayi.  Bila tidak kooperatif. Gunakan tekhnik boneka kertas. Minta bantuan orang tua untuk memegang bayi pada pemeriksaan telinga. Lakukan prosedur traumatic terakhir (sama pada bayi). mulut. Gunakan restrain bila tepat. Bicarakan pemeriksaan bila daapt bekerja sama. Munculkan reflek-refleks saat bagian tubuh tersebut di periksa. Azinkan untuk melihat-lihat alat. Buat “cerita” tentang prosedur : “saya mau melihat seberapa kuat otot-ototmu” (tekanan ah).  Anak pra sekolah :  Lebih suka berdiri atau duduk. gunakan suara yang lembut dan perlahan. Lakukan pemeriksaan reflek Moro di bagian akhir. Beri pilihan jika mungkin. lakukan dari kepala ke jari kaki.   traumatic di bagian akhir mata. lakukan prosedur dengan cepat.  Telungkup atau terlentang dipangkuan orang tua.  Usia bermain :  Duduk atau berdiri diatas / disamping orang tua. Berikan pujian untuk perilaku kooperatif. Izinkan untuk menggunakan celana dalam bila malu. telinga. minat bantuan orang tua. tempatkan dan pandangan penuh pada orang tua.     Jika tidak kooperatif. Berikan kesempatan untuk melihat alat.

Hargai kebutuhan privacy. Beri skort untuk dipakai. PENGKAJIAN FISIK BAYI BARU LAHIR PENGKAJIAN TEMUAN BIASA VARIASI UMUM/ ABNORMALITAS MINOR Pengukuran umum  Lingkar kepala 33 sampai 35 cm  Lingkar dada 30. Jelaskan tujuan peralatan dan kepentingan prosedur. Sama dengan anak usia sekolah yang lebih besar.       Izinkan melepas pakaian sendiri.5 sampai 33 cm Lingkar kepala harus kira-kira 2 sampai 3 cm lebih besar dari lingkar dada  Panjang kepala    Molding setelah kelahiran dapat mengubah atau menurunkan lingkar kepala Lingkar kepala dan lingkar dada mungkin sama untuk 1 sampi 2 hari pertama setelah kelahiran Berat badan lahir menurun 10% dalam minggu pertama.    2. dapat dilakukan di akhir. yang diperlukan untuk mendengar. Ajarkan tentang fungsi tubuhnya dan perawatannya.  Berikan pilihan tentang keberadaan orang tua. Beri keterangan tentang perkembangan seksual: “payudaramu sedang berkembang seperti seharusnya”. Buka hanya area yang akan diperiksa. Periksa genetalia seperti bagian tubuh yang lain. Tekankan kenormalan perkembangan. Beri skort. Jelaskan temuan-temuan selama pemeriksaan.  Pemeriksaan genetalia boleh dilakukan paling akhir pada anak yang lebih besar. seperti otoskop untuk meliaht gendang telinga.      Minta untuk melepas pakaian sendiri. Remaja :  Sama dengan anak usia sekolah. “ototmu kuat dan padat”. Anak yang lebih besar menyukai privasi   Lakukan dari kepala ke kaki. meningkat kembali dalam 10 sampai 14 hari  TANDA POTENSIAL KEGAWATAN/ ABNORMALITAS UTAMA Lingkar kepala < persentil ke-10 atau > persentil ke90 Berat badan lahir < persentil ke-10 atau > persentil ke-90   .Anak usia sekolah :   Menyukai duduk Kooperatif hampir semua posisi anak kecil menyukai kehadiran orang  tua. Biarkan untuk memakai celana dalam. Hargai kebutuhan privasi.

tidur akan menurunkan  Apnea > 15-20 detik  frekuensi pernafasan Selam periode pertama reaktivasi (6 sampai 8 jam).ketumit 48 sampai 53 cm  Berat badan lahir 2700 sampai 4000g TANDA VITAL:Suhu Axila : 36. frekuensi dapat mencapai 80 kali / menit .5° sampai 37°C  Menangis dapat sedikit meningkatkan suhu tubuh   Hipotermi Hipertermi  Frekuensi jantung Apikal : 120 sampai 140 denyut / menit  Radian penghangat akan meningkatkan suhu axila Menangis akan meningkatkan frekuensi jantung. frekuensi dibawah 60 kali / menit    Selama periode pertama reaktivitas (6 sampai 8 jam). frekuensi dapat mencapai 180 denyut / menit Pernafasan 30 sampai 60 kali / menit  Menangis akan meningkatkan frekuensi pernafasan . tidur akan menurunkan frekuensi jantung  Bradikardia : frekuensi istirahat dibawah 80 sampai 100 denyut / menit  Takikardia : frekunsi kirakira 160 sampai 180 denyut / menit Irama tidak teratur Takipne .

kering    Verniks caseosa Lanugo Edema disekitar mata. punggung tangan. ekimosis. merah terang. kaki. atau. dengan istirahat telentang dan telungkup. diabduksikan dan paha dirotasi penuh. atau          ung. dapat tampak dalam 24 sampai 48 jam dan hilang setelah beberapa hari Perubahan warna Harlequin : perubahan warna jelas terlihat saat bayi berbaring miring . bokong. dan abdomen . ekstensi ekstremitasnya Kulit  Pada saat lahir. dan scrotum atau labia petekie yang menetap Skelerema : kulitkeras dan kaku Turgor kulit buruk Ruam. setengah bawah tubuh menjadi merah muda dan setengah atas pucat Postur timpang. dagu. punggung. merah muda. halus. telapak. khususnya pada wajah Eritema toksikum : ruam papular merah muda dengan vesikel yang tumpang tindih pada dada. lepuh Bercak Cafe au lait : bercak coklat terang  Perubahan warna normal : Akrosianosis : sianosis tangan dan kaki Kutis marmorata . khususnya pada 24 jam pertama Kulitmemucat Sianosis umum Pucat Keabu-abuan Pletora (darah dalam jumlah berlebihan) Mottling : umum dan menetap Hemoragi. Hari kedua sampai ketiga. leher diekstensikan  Ikterik neonatus setelah 48 jam pertama Ekimosis atau petekie karena trauma kelahiran Milia: kelenjar sebasea terdistensi tampak sebagai papula putih kecil pada pipi. menggelemb  Ikterik berlanjut.Tekanan darah 65 / 41 mmHg  Menangis akan meningkatkan tekanan darah  Tekanan sistolik pada manset kurang dari 6 sampai 9 mmHg kurang dari tekanan diekstremitas atas Penampilan umum Postur : Fleksi kepala dan ekstremitas. wajah. Frank breech: Kaki diektensikan. mengelupas. oksiput didatarkan. dan hidung Miliaria atau sudamina : kelenjar keringat terdistensi (ekrin) yang tampak sebagai vesikel menit. pustula.

dan padat  Bagian terlebar dari fontanel diukur dari tulang ke tulang.0 cm   Molding setelah persalinan vaginalSagital ketiga (parietal) fontanel Penonjolan fontanel karena menangis atau batuk Kaput Fontanel posterior:  bentuk segitiga 0. afrika. terlihat terutama pada bayi baru lahir dari orang asli amerika. bukan dari sutura ke sutura suksedaneum :  edema jaringankulit kepala yang lunak yang melewati garis sutura Sefalhematoma(tidak rumit) : diantara periosteum dan tulang tengkorak yang dibatasi dengan batas khusus dan tidak melewati garis sutura    Sutura menyatu Penonjolan atau depresi fontanel ketika bayi tenang Pelebaran sutura dan fontanel Kraniotabes :  sensasi tajam sepanjang sutura lambdoidal yang mirip lekukan bola pingpong . biasanay pada bagian sakral dan gluteal.5 sampai 1 cm  Fontanel harus datar. atau keturunan hispanik Telangiektatik nevi (gigitan bangau) : area terlokalisir merah muda dalam. asia.Nevus flammeus : merah kebiruan gelap (port-wine stain) biasanya pada leher dan wajah Mongolian spots : area ireguler pigmentasi biru tua. 2.5 sampai 4. datar biasanya terlihat dibagian belakang leher Kepala Fontanel anterior: bentuk berlian. lunak.

6. timbang anak yang lebih besar dengan memakai pakaian dalam (tanpa sepatu) pada timbangan tegak 3. pengukuran ketebalan lipatan kulit trisep  dengan lengan kanan anak fleksi 90˚ pada siku. pungung tegak kepala digaris tengah. tempatkan terlentang dengan kepala digaris tengah. tandi titik tengah antara akromion dan olekranon pada aspek posterior lengan  dengan lengan menggantung bebas. 4. tinggi berdiri pada anak lebih dari 24 sampai 36 bulan. dan mata melihat lurus kedepan. idealnya lakukan pengukuran selama inspirasi dan ekspirasi. 2.. mata dan pinna telinga ketonjolan oksipital tengkorak. timbang bayi dan anak kecil telanjang diatas skala tipe platform. 1. pegang lutut dan dorong dengan perlahan kearah meja untuk kaki ekstensi penuh. periksa apakah skala seimbang sebelum digunakan. ukur sampai cm atau ¼ inci yang terdekat. Berat badan 1. 8. 4. catat rata-rat dari dua nilai. ukur puncak kepala sampai permukaan berdiri.3. Lingkar kepala (HC) Ukur dengan kertas atau pita tembaga pada lingkar yang terbesar dari puncak alis. lepaskan kaus kaki dan sepatu. 10. kemerosotan bahu. 5. minta anak berdiri setinggi mungkin. ukur sampai 10gr atau ½ once yang terdekat untuk bayi dan 100gr atau ¼ pon untuk anak-anak. 7. PROSEDUR PENGKAJIAN PENGKAJIAN Tinggi / panjang badan PROSEDUR 1. 5. ukur melingkari dada pada garis putting susu. genggaman lipatan kulit antara ibu jari dan jari tengah 1 cm di atas titik tengah  dengan perlahan trik lapisan menjauh dari otot dasardan terus pegang sampai pengukuran selesai Lingkar dada . periksa fleksi lutut. ukur dari verteks (puncak) kepala sampai tumit kaki (jari kaki mengarah keatas). 3. panjang rekumben pada anak dibawah usi 24 sampai 36 bulan 2. peninggian tumit. tutupi timbangan dengan selembar kertas bersih untuk masing-masing anak. lindungi bayi dengan menempatkan tangan diatas tubuh untuk mencegahnya menjatuhkan skala. 9. Ketebalan lipatankulit dan lingkar lengan 1. 2.

5cm (1 inci) ke dalam rektum.0mm. bukan pakaian. karenanya. yang di ukur akan tampak pada display digital dalam 60 detik . pegang thermometer dengan hati-hati dengan anus b. tutup penis. Masukkan ujung yang telah diberi pelumas tidak lebih dari 2. Anak dapat dimiringkan. Anak kecil dapat ditempatkan pada posisi telungkup dipangkuan orang tua Thermometer electronic 1) Pengukuran suhu dengan komponen elektronik disebut tesmitor yang ditempel pada ujung plastic dan alat tembaga dari baja yang dihubungkan ke alat pencatat elektronik suhu. bukan di depan lidah. minta nak untuk tetap mengatupkan mulutnya tanpa menggigit termometer  Suhu aksila Tempatkan di bawah lengan dengan ujungnya dibagian tengah aksila dan dekatkan dengan kulit. Suhu Idealnya. atau posisi telungkup (misal. a. tempatkan caliper jaws (jangka lengkung) di atas lipatankulit pada tanda tengah . terlentang dengan lutut fleksi kearah abdomen). d. 2-3 detik setelah pemberian tekanan lakukan pengukuran sampai kelipatan 1mm  2. ikuti arahn tersebut untuk jangka yang lain  perkiraan pembacan sampai paling dekat 1. diukur ketika anak tenang. beri tekanan dengan ibu jari untuk mensejajarkan garis pada jangka. tahan tangan anak untuk menjepitnya  Suhu rectal a. catat nilai dan perhatikan aktivitas seperti menangis. telentang. Thermometer kaca mercuri Suhu oral Letakkan di bawah lidah di dalm kantong sublingual posterior kanan atu kiri. Adipometer Ross). karena prosedur ini sering merangsang urinasi c. pengukuran lingkar lengan tengah  ikuti prosedur seperti di atas. b. tegang kertas atau pita ukur tembaga  melingkari lengan atas pada titik tengah ukur sampai dekat 1cm Pengukuran fisiologis(tandatanda vital): 1. tetapi sebagai ganti penggenggaman lipat kulit dan penggunaan jangka lengkung. bila menggunakan jangka lengkung plastic (missal.

lakukan 3 pengukuran. aksila (3 menit). Tempatkan pada dahi sampai terjadi perubahan warna. perenggangan liang telinga untuk sensor mengukur panas dari gendang telinga. rectum seperti thermometer merkuri 3) Sensor membran timpani a) Thermometer infra merah mengukur radiasi termal dari membrani timpani.2 derajat 2) Digunakan seperti termometer merkuri diletakkan pada mulut (1 menit). suhu yang di ukur akan tampak pada display digital dalam 1 detik b) Masukkan ujung alat yang tertutup dengan perlahan ke dalam liang telinga kea rah titik tengah antara alis mata dan cabang yang berlawanan c) Untuk hasil yang paling akurat. bukan sisi liang. Perubahan warna sebagai respon terhadap perubahan suhu 2. dan rektum (3 menit). dan catat pembacaan yang tertinggi d) Thermometer strip plastic (termograf) 1. biasanya memerlukan waktu kurang dari 15 detik 3. Beberapa-digunakan seperti thermometer merkuri oral 4. aksila. yang menerjemahkan sinyal ke dalam derajat dan mengirimkan penguukuran suhu b) Digunakan seperti termometer c) merkuri Tempa Dot 1) Penggunaan tunggal termometer sekali pakai dengan campuran kimia tertentu pada setiap lingkaran yang mengubah warna untuk mengukur peningkatan suhu setiap 0. Thermometer digital a) Terdiri dari alat yang berhubungan dengan chipe mikro prosesor. perubahan warna dibaca 10-15 detik setelah mengangkat termometer .2) Tempatkan prob di dalam mulut.

Panjang yang cukup untuk melingkar penuh pada anggota gerak dengan atau tanpa putaran ulang 3. dapat digunakan meskipun ukuran anggota gerak (misal. Titik nadi radialis pada anak-anak usia lebih dari 2 samapi 3 tahun 2. panduan tersebut diatas. Kembungkan manset dengan cepat kira-kira 20 mmHg diatas titik dimana nadi radial menghilang . 1988) menganjurkan: 1. misal. Lebar 40% sampai 50% lingkar anggota gerak. Gunakan posisi yang sama. 3. observasi gerakan abdomen pada anak yang lebih besar. 4. Ruang yang cukup pada tepi atas untuk mencegah obstruksi pada aksila American Health Association (Frohlich. Ruang yang cukup pada fosa antekubital untuk menempatkan stetoskop 4. bukan kain atau plastik penutupnya) Report of the Second Task Force (1987) menganjurkan: 1. Untuk sisi pengukuran lain. Lebar yang cukup untuk penutup kira-kira 75 % lengan atas diantara puncak bahu dan elekranon 2. Nadi  Ukuran nadi apikal pada anak-anak usia 2 sampai 3 tahun Titik intensitas maksimum terletak di bagian lateral sampai ke puting susu pada ruang antar iga keempat sampai ke lima atau garis midklavikular. 1. bentuk paha konikal) mungkin membuat penempatan manset kurang tepat 4. dan lengan kanan untuk pengukuran 5. hitung nadi selama 15 atau 30 detik dan kalikan dengan 4 dan 2. Posisikan anggota gerak setinggi jantung 6. Panjang yang cukup untuk melingkar penuh atau melingkar penuh pada tungkai atau tanpa putaran ulang 3. berbaring atau duduk. diukur pada lengan atas bagian tengah antara bahu puncak dan olekranon 2. observasi gerakan toraks. Pernafasan observasi frekuensi pernafasan selama 1 menit penuh pada bayi dan ank kecil. Untuk mengulang pengukuran. Hitung nadi selama 1 menit penuh.2. berturut-turut 3. Tekanan darah  Gunakan ukuran manset yang tepat (ukuran maset mengacu hanya pada kantong bagian dalam yang dapat dikembangkan. khususnya bila terjadi ketidakteraturan.

keempat sisi dapat digunakan. elastisitas dan hygiene Kuku inspeksi warna. lidah. Dengan alat oskilometrik (misal. mukosa bukal. Stabilkan anggota gerak selama pengembangan maset. kualitas. Lepaskan tekanan manset dengan kecepatan kira-kira 2-3 mmHg per detik selama auskultasi arteri 8. telapak tangan. dan lepaskan dengan cepat Lekukan lekukkan kulit dengan jari Rambut inspeksi warna. lengan atas. distribusi. Catat tekanan diastol pada bunyi korotkop ke 4(K4) dan kelima (K5) (hilangnya semua suara) sejalan dengan tekanan sistolik. dan suhu Suhu bandingkan setiap bagian tubuh untuk semua yang sama Turgor genggam kulit pada abdomen antara ibu jari dan telunjuk. dengan maset anak dan menggunakan auskultasi 11. tarik. karena gerakkan akan mengganggu kemampuan alat untuk mengukur tekanan darah dengan akurat Penampilan umum Observasi hal-hal berikut: Kulit   Wajah Postur Hygiene Nutrisi Perilaku Perkembangan Status kesadaran Observasi kulit pada cahaya matahari alami atau sinar buatan netral Warna paling baik jika di kaji pada skera. kekasaran. kehalusan. kualitas. tekstur. ikuti petunjuk pabrik dan panduan diatas untuk ukuran maset yang benar 12. punggung kuku. anggota gerak. konjuntiva.7. Baca manometer grafisasi air raksa setinggi mata 9. dan telapak kaki Tekstur perhatikan kelembaban. TD = 100/60/54 mmHg. integritas kulit. Catat nilai tekanan sitolik sebagai awal dari bunyi berdeak yang jernih(bunyi korotkop 1) 10. duduk. dinamp). tekstur. Jika menguganakan monitor elektronik. distribusi. misal. elastisitas dan hygiene Dermatoglifik observasi lipatan fleksi pada telapak tangan Palpasi menggunakkan distal jari Tekan dengan perlahan tapi tegas dengan gerakkan melingkar     Struktur aksesori    Nodus limfe   . posisi. tetapi jadikan paha sebagai pilihan terakhir karena sisi tersebut paling membuat tidak nyaman 13. ukuran manset dan metode.

dan adanya perubahan pada pembesaran nodus Submaksilaris tundukkan sedikit ke bawah Servikal tegadahkkan kepala sedikit keatas Axila rilekskan lengan disamping tetapi sedikit terabduksi Inguinalis tempatkan anak pada posisi terlentang Perhatikan bentuk dan kesimetrisan Perhatikan kontrol kepala (khususnya pada bayi) dan postur kepalanya Evaluasi rentang gerak Palpasi tengkorak akan adanya fontanel. kekerasan. nodus. suhu.     Kepala       Perhatikan ukuran mobilitas. kehilanggan rambut. perkusi sinus frontal pada anak-anak usia 7 tahun Leher Inspeksi ukuran  Trakea Palpasi adanya deviasi.  Tiroid Palpasi. rasakan setiap lobus secara lateral dan posterior. kesimetrisan nyeri tekan. Inspeksi penempatan dan kesejajaran 2. gerakan dan warna. atau pembengkakan yang nyata Lakukan transluminat tengkorak di ruang gelap. perubahan warna. ukur jarak kantus bagian dalam  Kemiringan palpebra tarik garis imajinasi melalui dua titik medial (bagian dalam) kantus  Lipatan epikantus Observasi adanya kelebihan lipatan dari atap hidung sampai terminasi dalam alis mata  Kelopak mata Observasi adanya penempatan.  Arteri karotis Palpasi di kedua sisi Mata 1. tanda trauma. nodul.. bentuk. dengan benar pasang senter ke arah karet pada beragai titik Periksa hygiene kulit kepala. Bila abnormalitas dicurigai. inspeksi. letakkan ibu jari dan telunjuk pada setiap sisi dan gerakan jari ke depan dan ke belakang. perhatikan ukuran. tempatkan bantalan jari telunjuk dan jari tengah di bawah kartilago krikoid. ada tidaknya lesi.  Konjungtiva palpebra  Tarik kelopak mata bawah kea rah bawah sementara anak melihat keatas. rasaktimus (jaringan penyambung lobus) naik ketika menelan. .

biarkan anak memfokuskan pada objek dari jarak jauh dan membawa objek mendekat ke wajah. bentuk. Uji akomodasi. tutup salah satu mata dan observasi gerakan mata yang tidak ditutup  Tes cover alternative Sama dengan tes cover.  Lensa Inspeksi  Fundus  Periksa dengan oftalmoskop yang diset pada angka mendekati anak dari sudut 15 derajat.  Tarik kelopak mata atas dengan memegang bulu mata dan tarikke bawah dank e depan Observasi warna  Konjungtiva bulbar Observasi warna  Pungtum lakrimalis Observasi warna  Bulu mata dan alis mata Observasi distribusi dan area pertumbuhannya  Sklera Observasi warna  Kornea periksa terhadap opasitas dengan sinar terang terhadap mata.5 cm      Tes cover Minta anak mendekati objek (33 cm) atau menjauhi (50cm) objek. dan gerakan Uji reaksi terhadap sinar. warna. ubah diopter ke positif atau minus untuk menghasilkan focus yang jelas Ukur struktur dalam hubungannya dengan diameter discus (DD) Untuk memudahkan penempatan makula.  Pupil    Bandingkan ukuran.  Iris Observasi terhadap bentuk. sumber sinar terang terhadap dan menjauh dari mata. dan kejelasan. ukuran. minta anak secara singkat melihat langsung pada sinar Kaji penglihatan Gunakan tes berikut untuk penglihatan binorukular Tes refleks cahaya corneal (disebut juga Gemini refleks merah atau tes Hirschberg)-arahkan cahaya langsung ke dalam mata dari jarak kira-kira 40. kecuali menutup satu mata yang lain beberapa kali. observasi gerakan mata yang ditutup ketika tidak ditutup .

Pinna : Inspeksi Penempatan Dan Kesejajaran  Ukur Tinggi Pinna Dengan Menarik Garis Imajiner Dari Orbit Di Luar Mata Ke Oksipital Tengkorak  Ukur Sudut Pinna Dengan Menarik Garis Perpendicular Dari Garis Horizontal Imajiner Dan Sejajarkan Pinna Setelah Tanda Ini 2. Anak Dibawah 3 Tahun.25cm. gerakan objek seperti jari anda. letakkan batang vibrasi dan garpu tala pada tulang mastoid sampai anak tidak lagi mendengar bunyinya. Penglihatan perifer Minta anak melihat lurus. minta anak untuk memberi tanda segera saat objek terlihat. 1) Kaji Pendengaran 2) Tes rinne. Gunakan Salah Satu Dari Posisi Yang Telah Disebutkan Diatas)   Tarik Pinna Keatas Dan Kebelakang Pada Posisi Jam 10 Masukkan Spekulum 0. Warna) 5.  Ubah Posisi: Dudukkan Anak Pada Posisi Miring Di Atas Pangkuan Orang Tua Minta Orang Tua Memeluk Anaknya Dengan Aman Melingkari Tubuh Dan Tangan Serta Puncak Kepala   b. Atau Sinus 4. Rabas. Gunakan Spekulum Yang Terlebar Yang Mudah Masuk Ke Diameter Kanal. 1. gerakan gigi garpu dekat lubang telinga.Posisikan Telengkup Dengan Telinga Diperiksa Menghadap Atap. Perhatikan Adanya Lubang-Lubang Abnormal. melebihi lapang pandang anak tersebut ke dalam pandangan. Gunakan Bagian Tubuh Atasuntuk Merestrin Tangan Dan Tubuh. PenebalanKulit. Periksa Saat Duduk Dengan Kepala Miring Sedikit Menjauh Dari Periksa (Bila Anak Perlu Restrin. .6 Sampai 1. Periksa Struktur Luar Kanal Dan Telinga Tengah Dengan Otoskop a. Observasi Tanda Pinna Umum 3. perkirakan sudut dari garis lurus penglihatan ke deteksi pertama penglihatan perifer  Telinga Penglihatan warna Gunakan tes Ishihara atau tes Hardy-Rand Rittler. Sandarkan Anak. Masukkan Spekulum Diantara Posisi Jam 3 Dan 9 Dengan Miring Ke Bawah Dan Ke Depan Tarik Pinna Ke Bawah Dan Ke Belakang Pada Rentang Jam 6 Sampai 9 Anak Lebih Dari 3 Tahun . Inspeksi Hygiene (Bau.Dan Tangan Yang Memeriksa Untuk Merestrin Kepala.

Fremitus vocal-palpasi seperti diatas dan anak mengatakan “99” atau “eee” 4. anak duduk atau terlentang 6. Tekstur. untuk mendeteksi perforasi septum. gerakan dan perkembangan payudara 2. mungkin perlu menggunakan spatel lidah. minta orang tua memobilisasi kepala. gunakan lampu senter untuk penyinaran yang baik Dada 1. tempatkan kedua tangan datar di punggung atau dada dengan ibu jari digaris tengah sepanjang tepi kostal bawah 3. penempatan. Gambarkan pertemuan sesuai garis gemografis dan imajiner 3. Petunjuk lain a. kualitas. Untuk paru-paru anterior. anak duduk 7. dengan mempalpasi dada secara inferior dari iga ke dua 4. Mulut dan tenggorok 1. tengadahkan kepala ke belakang. Dengan anak pada posisi duduk.tarik garis vertikal imajiner dari titik tengah antara mata dan titik bibir atas Hidung Vestibula anterior. dan kesejajaran. c. dorong ujung telinga keatas. Perhatikan Warna. kuantitas dan karakter 2.kesemetrisan. irama. Bibir. Untuk paru-paru posterior.3) Tes weber. Inspeksi ukuran bentuk. pegang garpu tala pada garistengah kepala atau dahi 4) Inspeksi ukuran. durasi relative dan inpsirasi dan ekspirasi . Dan Lesi Sebelumnya 2. b. ruang langsung dibawah iga. Lokalisasi ruang interkosta (ICS). Auskultasi pernapasan dan bunyi suara: intensitas nada. Struktur Internal  Minta kerjasama anak untuk membuka mulut lebar-lebar dan mengatakan “aahh”. Perkusi kedua sisi dada dalam urutan dari apeks ke dasar 5. dan sinari lubang dengan sinar kilat. d. kedalaman. tetapi hindari menimbulkan reflek muntah dengan menekan hanya bagian samping lidah. biasanya tidak perlu  menggunakan spatel lidah Dengan anak posisi telentang kedua tangan diangkat disepanjang sisi kepala. Putting biasanya pada ICS ke 4 Ujung iga ke-11 teraba pada lateral Ujung iga ke-12 teraba pada posterior Ujung scapula pada iga Paru-paru 1. arahkan cahaya kesalah satu lubang hidung dan observasi lewatnya sinar melalui perforasi. Evaluasi gerakan pernapasan: frekuensi.

Nadi water. Pulsus paradoksus. yang hilang dan timbul.Jantung Instruksi umum 1. Sinus aritmia. Tekanan kulit sedikit pada kulit spada kulit seperti dahi dan sisi perifer seperti bagian atas tangan atau kaki untuk sedikit menghasilkan sedikit pemucatan. Inpeksi ukuran dengan anak berada pada posisi semifoler. Kaji waktu yang diperlukan area yang memucat untuk kembali pada warna asalnya. denyut kuat diikuti denyut lemah Pulsus begiminus. 2. Palpasi kulit untuk waktu pengisian kapiler : tekan kulit sedikit pada sisi tengah. 2. Mulai dengan inspeksi. nadi radialias gandauntuk setiap denyut apical Nadi lemah. seperti bagian atas tangan atau kaki. intensitas. penurunan frekuensi Pulsus alternal. garis midklavikuler kiri (ruang intercostal ketiga sampai keempat dan lateral pada garis midklavikular kiri pada bayi) Pola Frekuensi Jantung Takikardi. Evaluasi kualitas. Ikuti urutan berikut :     area aortic : ruang intercostal kanan kedua dekat sternum area pulmonik : ruang intercostals kiri kedua dekat sternum titik Erb :ruang intercostals ketiga dan kedua kiri dekat sternum area apikal atau mitral :ruang intercostals kelima. frekuensi dan irama bunyi. impuls jantung paling lateral yang dapat disamakan dengan apeks. observasi dinding dari sebuah sudut. intensitas atau kekuatan nadi menurun dengan ekspirasi. 4. dan sisi perifer. Perkusi tidak dilakukan karena nilainya yang terbatas dalam mendefinisikan batasan atau ukuran jantung. Nadi dikrotorik. menurun dengan ekspirasi. khususnya denyut kuat yang disebabkan oleh tekanan nadi yang sanagt lebar. Gunakan stetoskop bagian diafragma dan bel dada. untuk menghasilkan sedikit pemucatan  kaji waktu yang diperlukan area yang memucat untuk kembali pada warna aslinya 1. dan irama bunyi 3. frekuensi.  5. seperti dahi. 2. 3. nadi lemah. kemudian auskultasi. pasangan irama dimana denyut teraba dalam pasangaan karena denyut premature. intensitas. 3.  Dengarkan dengan anak dalam posisi duduk dan stndar 1. cepat. Auskultasi bunyi jantung :    dengarkan dengan anak dalam posisi duduk dan bersandar gunakan stetoskop bagian diagfragma dan bel dada evaluasi kualitas. diikuti dengan palpasi. frekuensi meningkat dengan inspirasi. Palpasi untuk menentukan lokasi impuls apical. peningkatn frekuensi Bradikardi. .

gunakan hal-hal berikut:     Tempatkan anak pada posisi terlentang dengan kaki fleksi pada panggul dan lutut Alihkan perhatian anak dengan pernyataan seperti “saya akan menebak apa yang kamu makan dengan memegang perutnya” Minta anak untuk“membantu”mempalpasi dengan menempatkan tangannya sendiri di atas tangan pemeriksa yang mempalpasi Minta anak menempatkan tangannya pada abdomen dengan jari memegang dan palpasi diantara jari-jari. Perhatikan kondisi kulit 2. Dahulukan dari kuadran bawah ke atas untuk menghindari terlewatnya tepi pembesaran organ. Observasi adanya hernia:   Inguinalis. Untuk meminimalkan ketidak nyamanan dan mendorong kerjasama.1. Auskultasi bising usus dan pulsasi aortik 2. Perhatikan gerakan 3. Femoralis. Inspeksi umbilikus akan adanya herniasi. dan rabas 4. Inspeksi. ukuran. hygene. garis midklavikula kiri (ruang intercosta ketiga sampai keempat dan lateral pada garis midklavikula kiri pada bayi) Abdomen Intruksi umum 1. Kuadran kanan atas (KKaA) Kuadran kanan bawah (KKaB) Kuadran kiri atas (KKiA) Kuadran kiri bawah (KKiB) 1. Urutkan jari kelingking ke cincin inguinalis eksternal di dasar skrotum. 1. Perkusi Abdomen 3. fistula. Gunakan garis imajiner pada umbilikus untuk membagi abdomen menjadi kuadran. 3. inspeksi kontur. 2. yang dapat mengubah bunyi abdomen normal. dan tonus 1. perkusi dan palpasi. Timbulkan Refleks Abdomen : regangkan kulit dari samping ke garis tengah pada setiap kuadran . Palpasi Nadi Femoralis : tempatkan ujung dua atau tiga jari kira-kira di tengah antara puncak iliaka dan simfisis pubis 2. Palpasi organ abdomen:        Tempatkan satu tangan datar diatas punggung dan gunakan palpasi tangan untuk ”merasakan” organ diantara kedua tangan. Area apical atau mitral ruang interkosta ke 5. Palpasi mungkin tidak nyaman untuk anak palpasi dalam menyebabkan perasaan tekanan dan palpasi superficial menyebabkan sensasi geli. diikuti dengan auskultasi. minta anak untuk batuk. Tempatkan jari diatas kanalis femoralis (cari dengan meletakkan jari telunjuk di atas nadi femoralis dan jari tengah di kulit menghadap jari tengah).

Sekrotum – inspeksi ukuran. jelaskan prosebur dan maknanya sebelum melakukan. Lanjutkan dengan cara yang sama seperti pemeriksasan area lain. seperti mempalpasi testis. Gunakan kesempatan untuk mendiskusikan keamana seksual dengan anak keci. gunakan sarung tangan.Genetalia Instruksi umum 1. Meatus uretral – inspeksi terhadap lokasi. Orifisium vaginalis – pemeriksaan internal biasanya tidak dilakukan. Genetalia eksterna– inspeksi struktur. Kelenjar Bartholin – palpasi atau inspeksi. Meatus uretral – inspeksi lokasi dan perhatikan adanya rabas. 5. 3.inspeksi ukuran 2. Anus 1. Gunakan kesempatan untuk mendiskuskusikan masalah tentang perkembangan seksual dengan anak yang lebih besar dan remaja. Testis – palpasi setiap kantong sekrotium dengan menggunakan ibu jari dan jari telunjuk. 3. inspeksi terhadap lubang sebelumnya. 4. Hargai privasi setiap waktu 3. Labia – palpasi adanya masa. Area anus – inspeksi penampiolan umum. Genetalia laki-laki 1. 2. lesi kulit. 2. lokasi kulit. 5. inflamasi. Reflek anal – munculkan dengan mengerutkan atau merenggangkan area perineal dengan perlahan Punggung dan ekstremitas 1. Kelen jar skene – palpasi atau inspeksi 4. Penis . tempatkan anak pada posisi setengah bersandar pada pangkuan orang tua dengan lutut menekuk dan telapak kaki saling bersebelahan Genetalia wanita 1. dan distribusi rambut. Bila ada kontak dengan substansi tubuh. Prepusium – inspeksi pada pria yang disirkumsisi. 4. kondisi kulit 2. teridentifikasi seperti bentuk – V dengan merenggangkan kearah bawah dari klitoris keperineum. Glans dan batang – inspeksi adanya tanda-tanda pembengkakan. 7. 6. menjelaskan bahwa ini adalah area pribadi mereka dan bila seseorang menyentuhnya dengan cara yang tidak nyaman mereka harus selalu membeti tahu orang tua mereka atau orang lain yang dipercaya. Inspeksi kurvatura dan simetris tulang belakang . 5.

observasi dari samping dan perhatikan ketidak simetrisan atau penonjolan tulang rangka. Ukur jarak antar lutut ketika anak berdiri dengan maleolus saling bersebelahan 2. nyeri tekan. Uji kekuatan Pengkajian neurologis Inspeksi setiap sendi ekstremitas untuk kesimetrisan. mobilitas. warna. suhu. Inspeksi cara berjalan :   Minta anak berjalan pada garis lurus Perkirakan sudut cara berjalan dengan menarik garis imajiner melalui bagian tengah kaki dan garis progresi. observasi dari belakang dan perhatikan ketidak simetrisan bahu dan panggul. sisi telapak kaki.Uji adanya perkembangan displasia panggul Kaji bentuk tulang 1. Kaji bentuk tulang:    Ukur jarak antara lutut ketika anak berdiri dengan maleolus saling bersebelahan. ukuran. Inspeksi setiap sendi ekstremitas untuk kesimetrisan ukuran. Inspeksi telapak kaki. sisi telapak kaki. 1. Ukur jarak antar maleolus bila anak berdiri dengan kedua lutut merapat 3.kemudian kedalam.2. uji apakah deformitas kaki pada saat lahir merupakan akibat dari posisi fetal atau perkembangan oleh peregangan keluar. mobilitas. Inspeksi posisi telapak kaki. . 3. 1. 2. Perhatikan mobilitas tulang belakang. Uji adanya perkembangan displasia panggul. Biarkan anak membungkuk kedepan pada pnggul sampai punggung parallel pada lantai. Inspeksi perkembangan dan tonus otot 2. Ukur jarak antara maleolus bila anak berdiri dengan kedua lutut merapat. Refleks plantars Timbulkan refleks dengan mengusap telapak kai lateral dari tumit kedepan ke ibu jaru kaki melewati haluks 1. nyeri tekan. uji apakah deformitas kaki pada saat lahir merupakan akibat dari posisi fetal atau perkembangan oleh peregangan keluar. 4. kaki mengambil sudut kanan terhadap kaki Inspeksi cara berjalan: Minta anak berjalan pada garis lurus Perkirakan sudut cara berjalan dengan menarik garis imaginer melalui bagian tengah kaki dan garis progresi. Uji adanya skoliasis:   Biarkan anak berdiri tegak. warna. suhu. bila dapat normal dengan sendirinya. 1. kemudian kedalam.

Refleks Plantar. Lengan. Telapak kaki. Mencuci tangan 4. Inspeksi perkembangan dan tonus otot. Telapak tangan. Uji kekuatan: 1. timbulkan refleks dengan mengusap telapak kaki lateral dari tumit ke depan ke ibu jari kaki melewati haluks. minta anak memfleksikanplantar (dorong telapak kaki ke arah lantai) sambil menekan telapak kaki. Mencatat kegiatan dalam lembar catatan keperawatan . lanjutkan seperti pada tangan 3. minta anak mengangkat tangan sambil melawan tekanan dari tangan anda 2. minta anak meremas jari anda sekencang mungkin 4. D. Melakukan evaluasi tindakan 2. Tahap Terminasi 1. minta anak duduk dengan kaki menggantung. Kaki . Berpamitan dengan klien 3.