FRASA

1. Pebgertian Frasa Banyak sering memeprmasalahkan antara frasa dengan kata, ada yang membedakannya dan ada juga yang mengatakan bahwa keduanya itu sama. Seperti yang telah dipelajari dalam morfologi bahwa kata adalah adalah satuan gramatis yang masih bisa dibagi menjadi bagian yang lebih kecil. Frasa adalah satuan konstruksi yang terdiri dari dua kata atau lebih yang membentuk satu kesatuan (Keraf, 1984:138). Frasa juga didefinisikan sebagai satuan gramatikal yang berupa gabungan kata yang bersifat nonprediktif, atau lazim juga disebut gabungan kata yang mengisi salah satu fungsi sintaksis di dalam kalimat (Chaer, 1991:222). Menurut Prof. M. Ramlan, frasa adalah satuan gramatik yang terdiri atas satu kata atau lebih dan tidak melampaui batas fungsi atau jabatan (Ramlan, 2001:139). Artinya sebanyak apapun kata tersebut asal tidak melebihi jabatannya sebagai Subjek, predikat, objek, pelengkap, atau pun keterangan, maka masih bisa disebut frasa. Contoh: 1. gedung sekolah itu 2. yang akan pergi 3. sedang membaca 4. sakitnya bukan main 5. besok lusa 6. di depan.

Jika contoh itu ditaruh dalam kalimat, kedudukannya tetap pada satu jabatan saja. 1. Gedung sekolah itu(S) luas(P). 2. Dia(S) yang akan pergi(P) besok(Ket). 3. Bapak(S) sedang membaca(P) koran sore(O). 4. Pukulan Budi(S) sakitnya bukan main(P). 5. Besok lusa(Ket) aku(S) kembali(P). 6. Bu guru(S) berdiri(P) di depan(Ket).

Jadi, walau terdiri dari dua kata atau lebih tetap tidak melebihi batas fungsi. Pendapat lain mengatakan bahwa frasa adalah satuan sintaksis terkecil yang merupakan pemadu kalimat. Contoh: 1. Mereka(S) sering terlambat(P). 2. Mereka(S) terlambat(P). Ket: ( _ ) frasa.

Pada kalimat pertama kata ‘mereka’ yang terdiri dari satu kata adalah frasa. Sedangkan pada kedua kata berikutnya hanya kata ‘sering’ saja yang termasuk frasa karena pada jabatan itu terdiri dari sua kata dan kata ‘sering sebagai pemadunya. Pada kalimat kedua, kedua katanya adalah frasa karena hanya terdiri dari satu kata pada tiap jabatannya. Dari kedua pendapat tersebut bisa diambil kesimpulan bahwa frasa bisa terdiri dari satu kata atau lebih selama itu tidak melampaui batas fungsi atau jabatannya yang berupa subjek, predikat, objek, pelengkap, atau pun keterangan. Jumlah frasa yang terdapat dalam sebuah kalimat bergantung pada jumlah fungsi yang terdapat pada kalimat itu juga. Sebelum mengenal lebih jauh tentang frasa, alangkah lebih baiknya jika mengenal tentang fungsi-fungsi sintaksisi, karena fungsi-fungsi itula yang disebut frasa. Fungsi sintaksisi ada lima, yaitu Subjek(S), Predikat(P), Objek(O), Pelengkap(Pel), dan Keterangan(Ket). Dari kelima fungsi tersebut hanya karakteristik dari Keterangan saja yang tidak mempunyai lawan. 1. Subjek dan Predikat. 1. Bagian yang diterangkan predikat. Subjek dapat dicari dengan pertanyaan ‘Apa atau Siapa yang tersebut dalam predikat’. Sedangkan predikat adalah bagian kalimat yang menerangkan subjek. Predikat dapat ditentukan dengan pertanyaan ‘yang tersebut dalam subjek sedang apa, berapa, di mana, dan lain-lain’. Contoh: Sedang belajar(P) mereka itu(S). Fungsi tersebut bisa dibuktikan dengan pertanyaan ‘Siapa yang sedang belajar? Jawabannya ‘mereka itu’.

2. Berupa frasa nomina atau pengganti frasa nomina. Sedangkan predikat bisa berupa frasa nomina, verba, adjektiva, numeralia, atau pun preposisi.

adjektiva. Transitif(memerlukan objek) 1. Objek mengikuti predikat yang berupa verba transitif(memerlukan objek) atau semitransitif dan pelengkap mengikuti predikat yang berupa verba intransitif(tidak memerlukan objek). numeralia. Semi-lengkap. Es kelapa muda(S) diminum(P) orang itu(O). 3. 3. Orang itu(S) minum(P). Orang itu(S) menjual(P) es kelapa muda(O) 2. 2. preposisi. 2. Intransitif(tidak memerlukan objek). Objek berupa frasa nomina atau pengganti frasa nomina. Predikat dapat diberi partikel –kal. Orang itu(S) berjualan(P). Jika diubah menjadi kalimat tanya. Sedang belajarkah mereka itu? Merekakah sedang belajar? (salah) 2. 2.3. Orang itu(S) menjual(P). . Contoh: 1. subjek tidak dapat diberi partikel –kah. Orang itu(S) mandi(P). Orang itu(S) berjualan(P) es kelapa muda(Pel). sedangkan pelengkap berupa frasa nomina. (Salah) 2. Orang itu(S) minum(P) es kelapa muda(O). Objek dan Pelengkap. Objek dapat diubah menjadi subjek dan pelengkap tidak dapat diubah menjadi subjek. Tidak lengkap. 1. 3. verba. dan pengganti nomina. 2. 1. Semi-transitif (bisa atau tidak perlu objek) 1. 1. Contoh: Merka itu(S) sedang belajar(P).

dan konjungsi. frasa endosentris adalah frasa yang memiliki unsur pusat. Dengan kata lain. preposisi. 2. 3. Keterangan. Kalimat tersebut tidak bisa jika hanya ‘Sejumlah di teras’ (salah) karena kata mahasiswa adalah unsur pusat dari subjek. Organisasi itu(S) berlandaskan(P). objek atau pelengkap. 1. kecuali diletakkan diantara predikat dan objek atau predikat dan pelengkap. . predikat. dpat digantikan oleh unsurnya. Berdasarkan Persamaan Distribusi dengan Unsurnya (Pemadunya). 3.3. Unsur frasa yang dapat menggantikan frasa itu dalam fungsi tertentu yang disebut unsur pusat (UP). kedudukan frasa ini dalam fungsi tertentu. 1. yaitu Frasa Endosentris dan Frasa Eksosentris. (salah) 2. Contoh: Dulu(Ket) orang itu(S) menjual(P) es kelapa muda(O) di jalan surabaya(Ket). yaitu berdasarkan persamaan distribusi dengan unsurnya (pemadunya) dan berdasarkan kategori kata yang menjadi unsur pusatnya. Mudah dipindah-pindah. Jenis Frasa Jenis frasa dibagi menjadi dua. 1. ‘Sejumlah mahasiswa’ adalah frasa endosentris. Organisasi itu(S) berlandaskan(P) kegotongroyongan(Pel). Berdasarkan persamaan distribusi dengan unsurnya (pemadunya. Frasa Endosentris. Lengkap. 2. frasa dibagi menjadi dua. Jadi. Contoh: Sejumlah mahasiswa(S) diteras(P). Berupa frasa nomina. Frasa endosentris sendiri masih dibagi menjadi tiga. Keterangan adalah bagian kalimat yang menerangkan subjek. 1.

pembangunan lima tahun 2. 2. ayah ibu 4. yaitu frasa endosentris yang semua unsurnya adalah unsur pusat dan mengacu pada hal yang sama. tapi menerangkan unsur pusat untuk membentuk frasa yang bersangkutan. sedangkan kata-kata yang tidak dicetak miring adalah atributnya. pembinaan dan pembangunan 5. rumah pekarangan 2. malam ini 7. Frasa Endosentris Apositif. Contoh: 1. Frasa Endosentris Koordinatif. Unsur pusat yang satu sebagai aposisi bagi unsur pusat yang lain.1. Frasa Endosentris Atributif. yaitu frasa endosentris yang disamping mempunyai unsur pusat juga mempunyai unsur yang termasuk atribut. sangat bahagia. 3. pembangunan dan pembaharuan 6. Kata-kata yang dicetak miring dalam frasa-frasa di atasseperti adalah unsur pusat. Atribut adalah bagian frasa yang bukan unsur pusat. sekolah Inpres 3. Contoh: 1. suami istri dua tiga (hari) 3. Contoh: . buku baru 4. yaitu frasa endosentris yang semua unsurnya adalah unsur pusat dan mengacu pada hal yang berbeda diantara unsurnya terdapat (dapat diberi) ‘dan’ atau ‘atau’. belajar atau bekerja. orang itu 5. sedang belajar 8.

Yogya. 2. Bapak SBY. 1. sedangkan unsur ‘anak Pak Sastro’ merupakan aposisi. anak Pak Sastro. kota pelajar 2. frasa eksosentris adalah frasa yang tidak mempunyai UP. Berdasarkan Kategori Kata yang Menjadi Unsur Pusatnya. nomina sebenarnya contoh: pasir ini digunakan utnuk mengaspal jalan . Jika diberi unsur frasa yang kedudukannya sama. Jika diberi aposisi. tanah airku 3. frasa yang UP-nya berupa kata yang termasuk kategori nomina. UP frasa nomina itu berupa: 1. atributif. sedang belajar. karena dasar pemilahan ketiganya adalah hubungan gramatik antara unsur yang satu dengan unsur yang lain. Jadi. Frasa nomina. adalah frasa yang tidak mempunyai persamaan distribusi dengan unsurnya. ……. Contoh lain: 1. Berdasarkan kategori kata yang menjadi unsur pusatnya. dan apositif.anak Pak Sastro sedang belajar. Indonesia. Jika diberi atribut. ……….Ahmad. Mamad. menjadi frasa endosentris atributif. Presiden RI 4.sedang belajar. Frasa ini tidak mempunyai unsur pusat. Contoh: Sejumlah mahasiswa di teras. Frasa yang hanya terdiri atas satu kata tidak dapat dimasukkan ke dalalm frasa endosentris koordinatif. frasa dibagi menjadi enam. menjadi frasa endosentris koordinatif 2. menjadi frasa endosentris apositif. temanku. Ahmad. Frasa Eksosentris. Unsur ‘Ahmad’ merupakan unsur pusat.

begitupula dengan dua ekor awalnya frasa numeralia. dan kata ‘sudah’ untuk verba keadaan. tetapi strukturnya berubah menjadi nomina contoh: dia rajin → rajin itu menguntungkan anaknya dua ekor → dua itu sedikit dia berlari → berlari itu menyehatkan kata rajin pada kaliat pertam awalnya adalah frasa ajektiva. frasa verba terdapat (dapat diberi) kata ‘sedang’ untuk verba aktif. kata-kata selain nomina. Frasa Ajektifa. paling agak. Frasa Verba. UP frasa verba biasanya ditandai adanya afiks verba. . 2.(paling). Contoh: Rumahnya besar. dan secara sintaktis dapat diberi kata ‘sedang’ yang menunjukkan verba aktif. Secara sintaktis. 3. nama contoh: Dian itu manis 4. sangat. Frasa ajektiva biasanya menduduki fungsi predikat. Contoh: Dia berlari. Secara morfologis. dan kata berlari yang awalnya adalah frasa verba. Secara morfologis. dan biasanya menduduki fungsi predikat. kata berlari terdapat afiks ber-. Frasa verba tidak dapat diberi kata’ sangat’. pronomina contoh: dia itu musuh saya 3.2. frasa yang UP-nya berupa kata yang termasuk kategori ajektifa. se-nya. frasa yang UP-nya berupa kata yang termasuk kategori verba. UP-nya dapat diberi afiks ter. alangkah-nya.

Jika hal ini yang terjadi. frasa yang ditandai adanya preposisi atau kata depan sebagai penanda dan diikuti kata atau kelompok kata (bukan klausa) sebagai petanda. maka petanda dalam frasa konjungsi selalu mempunyai predikat. frasa yang ditandai adanya konjungsi atau kata sambung sebagai penanda dan diikuti klausa sebagai petanda.Ada pertindian kelas antara verba dan ajektifa untuk beberapa kata tertentu yang mempunyai ciri verba sekaligus memiliki ciri ajektifa. maka yang digunakan sebagai dasar pengelolaan adalah ciri dominan. Yaitu kata-kata yang secara semantis mengatakan bilangan atau jumlah tertentu. . Contoh: dua buah tiga ekor lima biji duapuluh lima orang. frasa yang UP-nya berupa kata yang termasuk kategori numeralia. Frasa Konjungsi. Karena penanda klausa adalah predikat. tidak bisa diberi kata ‘sedang’ atau ‘sudah’. Dalam frasa numeralia terdapat (dapat diberi) kata bantu bilangan: ekor. Contoh: Penanda (konjungsi) + Petanda (klausa. 5. mempunyai P) Sejak kemarin dia terus diam(P) di situ. Tetapi bisa diberi kata ‘sangat’). 4. Contoh: menakutkan (memiliki afiks verba. Frasa Numeralia. Frasa Preposisi. Contoh: Penanda (preposisi) + Petanda (kata atau kelompok kata) di teras ke rumah teman dari sekolah untuk saya 6. buah. dan lain-lain.

dan (3) Klasifikasi klausa berdasarkan kategori frasa yang menduduki fungsi P (BKF). Klausa sudah pasti mempunyai P. 1981:62. sedangkan kalimat belum tentu mempunyai P. dan Ket. Jika mempunyai S. Berikut hasil klasifikasinya : . 2. Klausa ialah unsur kalimat. Klausa belum mempunyai intonasi lengkap. 113). karena sebagian besar kalimat terdiri dari dua unsur klausa (Rusmaji. Oleh karena itu. klausa bukan kalimat. objek. dan mempunyai potensi untuk menjadi kalimat (Kridalaksana dkk. S juga sering juga dibuangkan. karena keterangan menggunakan kata yang termasuk dalam kategori konjungsi. misalnya dalam kalimat luas sebagai akibat dari penggabungan klausa. Klausa merupakan bagian dari kalimat. berupa kelompok kata yang sekurang-kurangnya terdiri dari subjek (S) dan predikat (P). baik diikuti oleh subjek. tetapi yang dianggap sebagai unsure inti klausa adalah S dan P. KLAUSA 1. dan kalimat jawaban (Ramlan.Penanda klausa adalah P. tetapi yang menjadi klausa bukan hanya P. jika tidak memiliki O dan Ket. keterangan atau tidak dan merupakan bagian dari kalimat. Contoh : Pertanyaan : kamu memanggil siapa? Jawaban : teman satu kampus  S dan P-nya dihilangkan. klausa terdiri dari atas S. Sintaksis. tetapi dalam realisasinya P itu bias juga tidak muncul misalnya dalam kalimta jawaban atau dalam bahasa Indonesia lisan tidak resmi.Dalam buku Ilmu Bahasa Insonesia. Unsur inti klausa adalah S dan P. Demikian seterusnya. klausa terdiri atas S dan P. Penanda klausa adalah P. O. ramlan menyebut frasa tersebut sebagai frasa keterangan. Jenis-jenis Klausa Ada tiga dasar yang dapat digunakan untuk mengklasifikasikan klausa. jika mempunyai S. klausa terdiri atas P. pelengkap. Penanda klausa adalah P. P. Ketiga dasar itu adalah (1) Klasifikasi klausa berdasarkan struktur internnya (BSI). Contoh pada bahasa tidak resmi : saya telat!  P-nya dihilangkan. Sementara itu kalimat sudah mempunyai intonasi lengkap yang ditandai dengan adanya kesenyapan awal dan kesenyapan akhir yang menunjukkan bahwa kalimat tersebut sudah selesai. Pengertian Klausa Klausa ialah satuan gramatikal. 1980:208). Namun demikian. (2) Klasifikasi klausa berdasarkan ada tidaknya unsur negasi yang menegatifkan P (BUN). dan O. Dari definisi tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa klausa adalah satuan gramatik yang terdiri atas predikat.

sedangkan P sebagai unsur inti klausa selalu hadir. . Biasanya dalam klausa ini yang hadir hanya S saja atau P saja. Sangat besar rumah itu. Klasifikasi klausa berdasarkan struktur internnya mengacu pada hadir tidaknya unsur inti klausa. Mobil itu masih baru. belum. Atas dasar itu. Klausa Lengkap Klausa lengkap ialah klausa yang semua unsur intinya hadir. 2. yaitu klausa yang P-nya mendahului S. Masih baru mobil itu. Mereka pergi ke kampus. Klausa Tidak Lengkap Klausa tidak lengkap yaitu klausa yang tidak semua unsur intinya hadir. Klasifikasi klausa berdasarkan ada tidaknya unsur negasi yang secara gramatik menegatifkan P. Klausa Positif Klausa poisitif ialah klausa yang ditandai tidak adanya unsur negasi yang menegatifkan P. bukan. Klausa inversi. Unsur negasi yang dimaksud adalah tidak. yaitu S dan P. Klasifikasi klausa berdasarkan struktur internnya.1. Klausa versi. dan jangan. Contoh : Sudah baik kondisinya. Dengan demikian. berikut klasifikasinya : 1. Contoh : Kondisinya sudah baik. 2. Klausa ini diklasifikasikan lagi berdasarkan urutan S dan P menjadi : 1. Rumah itu sangat besar. tak. Sedangkan unsur inti yang lain dihilangkan. Klasifikasi klausa berdasarkan ada tidaknya unsur negasi yang secara gramatik menegatifkan P menghasilkan : 1. 2. unsur ini klausa yang bisa tidak hadir adalah S. maka hasil klasifikasi klausa berdasarkan struktur internnya. Contoh : Ariel seorang penyanyi terkenal. yaitu klausa yang S-nya mendahului P. Mahasiswa itu mengerjakan tugas.

Klausa Negatif Klausa negatif ialah klausa yang ditandai adanya unsur negasi yang menegaskan P. Misalnya dalam klausa Dia tidak mengambil pisau. 3. Mereka tidak pergi ke kampus. 2. . Nenek saya penari. klausa dapat diklasifikasikan menjadi : 1. Contoh : Dia seorang sukarelawan. Klasifikasi klausa berdasarkan kategori frasa yang menduduki fungsi P. Kalau yang dimaksudkan 'Dia tidak mengambil sesuatu apapun'. Mahasiswa itu belum mengerjakan tugas. Klausa Adjektiva Klausa adjektiva ialah klausa yang P-nya berupa frasa yang termasuk kategori frasa adjektiva. kata negasi itu secara sematik bisa menegatifkan P dan bisa menegatifkan O. Mereka bukan sopir angkot. melainkan sendok. memang secara gramatik dan secara semantik menegatifkan P. Contoh : Ariel bukan seorang penyanyi terkenal. misalnya. Contoh : Dia membantu para korban banjir. Kata negasi yang terletak di depan P secara gramatik menegatifkan P. Hotel itu sudah tua. dalam klausa Dia tidak mengambil pisau. Berdasarkan kategori frasa yang menduduki fungsi P. tetapi secara sematik belum tentu menegatifkan P. Tetapi. Klausa Nomina Klausa nomina ialah klausa yang P-nya berupa frasa yang termasuk kategori frasa nomina. Contoh : Adiknya sangat gemuk. Pemuda itu menolong nenek tua. Dalam klausa Dia tidak tidur. 3. maka kata negasi itu menegatifkan O.2. Klausa Verba Klausa verba ialah klausa yang P-nya berupa frasa yang termasuk kategori frasa verba.

6. Klausa bebas adalah sebuah kalimat yang merupakan bagian dari kalimat yang lebih besar. Baju saya di dalam lemari. Klausa Bebas Klausa bebas ialah klausa yang memiliki potensi untuk menjadi kalimat mayor. Contoh : Anak itu badannya panas. . sehingga kembali kepada wujudnya semula. Contoh : Sepatu itu di bawah meja.Gedung itu sangat tinggi. yaitu kalimat. Jadi. tetapi kakinya sangat dingin. 4. Dengan perkataan lain. Temannya dua puluh orang. Klausa Pronomia Klausa pronomial ialah klausa yang P-nya berupa frasa yang termasuk kategoi ponomial. 5. Contoh : Hakim memutuskan bahwa dialah yang bersalah. Sudah diputuskan bahwa ketuanya kamu dan wakilnya saya. 4. Orang tuanya di Jakarta. Klausa Numeralia Klausa numeralia ialah klausa yang P-nya berupa frasa yang termasuk kategori numeralia. klausa bebas memiliki unsur yang berfungsi sebagai subyek dan yang berfungsi sebagai predikat dalam klausa tersebut. Klasifikasi klausa berdasarkan potensinya untuk menjadi kalimat Klasifikasi klausa berdasarkan potensinya untuk menjadi kalimat dapat dibedakan atas : 1. Mahasiswanya sembilan orang. Klausa Preposisiona Klausa preposisiona ialah klausa yang P-nya berupa frasa yang termasuk kategori frasa preposisiona. klausa bebas dapat dilepaskan dari rangkaian yang lebih besar itu. Contoh : Anaknya lima ekor.

Oscar Rusmaji (116) berpendapat mengenai beberapa jenis klausa. Klasifikasi klausa berdasarkan criteria tatarannya dalam kalimat. hanya berpotensi untuk menjadi kalimat minor. Klausa Atasan Klausa atasan ialah klausa yang tidak menduduki f ungsi sintaksis dari klausa yang lain. Berdasarkan fungsi unsur-usurnya . motto. Contoh : Ketika paman datang. Jika tidak ada rotan. Semua orang mengatakan bahwa dialah yang bersalah. kecuali dia. pepatah. kami sedang belajar. Meskipun sedikit. Contoh : Semua murid sudah pulang kecuali yang dihukum. 2. Analisis Klausa Klasifikasi dapat dianalisis berdasarkan tiga dasar. Ariel tidak menerima nasihat dari siapa pun selain dari orang tuanya. Contoh : Dia mengira bahwa hari ini akan hujan. kami tahu tentang hal itu. Klausa Bawahan Klausa bawahan ialah klausa yang menduduki fungsi sintaksis atau menjadi unsur dari klausa yang lain. yaitu : 1. 2.Dosen kita itu rumahnya di jalan Ambarawa. akarpun jadi. Menurutnya klausa juga dapat diklasifikasikan berdasarkan kriteria tatarannya dalam kalimat. dan kalimat telegram. salam. Berdasarkan tatarannya dalam kalimat. 5. Semua tersangkan diinterograsi. Kalimat minor adalah konsep yang merangkum : pangilan. Klausa terikat Klausa terikat ialah klausa yang tidak memiliki potensi untuk menjadi kalimat mayor. 3. judul. klausa dapat dibedakan atas : 1.

P dan Pel. dan mungkin pula terdirri ari golongan-golongan lain. bahkan merupakan lanjutan dari analisis fungsional. Analisis Klausa Berdasarkan Kategori Kata atau Frase yang menjadi Unsurnya. dan dapat terletak di belakang sekali. P dan O. Contoh : Kepala Sekolah(S) akan menyelenggarakan(P) pentas seni(O). P. 1. artinya dapat terletak di depan S. O dan Pel P mungkin terdiri dari golongan kata verbal transitif. Hanya sudah tentu tidak mungkin terletak di antara P dan O. mungkin terdiri dai golongan kata verbal intransitif. Analisis kalusa berdasarkan kategori kata atau frase yang menjadi unsur-unsur klausa ini itu disebut analisis kategorional. Kelima unsur itu tidak selalu bersama-sama ada dalam satu klausa. P dapat terletak diantara S dan P. Analisis Klausa Berdasarkan Fungsi Unsur-unsurnya Klausa terdiri dari unsur-unsur fungsional yang di sini disebut S. karena O dan Pel boleh dikatakan selalu menduduki tempat langsung dibelakang P. dalam suatu klausa Ket pada umumnya letak yang bebas. Unsur fungsional yang cenderung selalu ada dalam klausa ialah P. Analisis ini tidak terlepas dari analisis fungsional.2. P. Contoh : Akibat banjir(Ket) desa-desa itu(S) hancur(P) Desa-desa itu(S) hancur(P) akibat banjir(O) 2. pel. Berdasarkan makna unsur-unsurnya. Contoh : . dan ket. Berbeda dengan O dan Pel yang selalu terletak di belakang dapat. O dan Pel dapat diperkirakan menduduki fungsi Ket. diperlukan adanya O yang mengikuti P itu. O. kadang-kadang terdii dari S. KET Unsur klausa yang tidak menduduki fungsi S. Kadang-kadang terdiri dari P saja. Pentas seni(S) akan dislenggarakan(P) kepala sekolah(O) 3. 1. Kadang-kadang satu klausa hanya terdiri dari S dan P kadang terdiri dari S. P. pel dan ket. S dan P Contoh : Budi(S) tidak berlari-lari(P) Tidak berlari-lari(P) Budi(S) Badannya(S) sangat lemah(P)  Sangat lemah(P) badannya(S) 2. Apabila terdiri dari golongan kata verbal transitif. Berdasarkan kategori kata atau frase yang menjadi unsurnya 3.

FD. V. fungsi P terdiri dari N. N. Contoh : Dinda F K M S N Pelaku Menemani P V Pembuatan Adiknya O N Penderita Di tempat tidur Ket 1) FD Tempat Beberapa saat Ket 2) N Waktu 1. fungsi Pel terdiri dari N. Menyatakan makna "Perbuatan" Contoh : Dinda sedang belajar Frase sedang belajar yang menduduki fungsi P menyatakan makna "Perbuatan" yaitu perbuatan yang sedang dilakukan oleh "pelakunya" yaitu 'Dinda' 2. Dalam analisis fungsional klausa dianalisis berdasarkan fungsi unsur-unsurnya menjadi S. O. FD. V. fungsi O terdiri dari N. Analisis Klausa Berdasarkan Kategori Makna dan Unsur-unsurnya. Makna Unsur Pengisi P 1. Fungsi-fungsi itu disamping terdiri dari kategori-kategori kata atau frase juga terdiri dari makna-makna yang sudah barang tentu makna unsur pengisi fungsi berkaitan dengan makna yang dinyatakan oleh unsur pengisi fungsi yang lain. Bil. Menyatakan makna "Keadaan" Contoh : Rambutnya hitam dan lebat RUMAH itu sangat besar . Bil dan fungsi ket terdiri dari Ket. Pel dan Ket dalam analisis kategorial telah dijelaskan bahwa fungsi S terdiri dari N.Aku F K S N Sudah menghadap P V Komandan O N Tadi Ket Ket 3. P.

dan parah semuanya merupakan makna keadaan. Keadaan ini mudah berubah. Menyatakan Makan 'Keberatan" Contoh : Para tamu di ruang depan Ariel berada diruang baca Dinda tinggal di luar kota Kata yang bercetak miring tersebut menjadi unsur pengisi P tidak menyatakan makna "perbuatan" dan "keadaan" melainkan menyatakan makna "keberadaan". Keadaan relatif singkat. Keadaan yang relatif lama dan kecenderungannya tidak mudah berubah. lebat. Setiap orang menyukai perbuatan baik Orang itu sangat sayang kepada binatang 3. yaitu : 1. Misalnya : Mahasiswa itu sangat rajin Perempuan itu ramah sekali Pohon cemara itu sangat tinggi 3. Misalnya : Hujannya mereda Pengaruhnya semakin meluas 4. 4. besar.Lukanya sangat parah Kata-kata hitam. Keadaan yang merupakan pengalaman kejiwaan. Misalnya : Orang itu dapat memahami keinginan anaknya. Misalnya : Rumah itu sangat bersih Kami sudah mengantuk 2. Makna keadaan dapat dibedakan menjadi empat jenis. Keadaan yang semcam ini secara khusus disebut sifat. Menyatakan makna "pengenal" Contoh : orang itu adalah pegawai kedutaan . Keadaan yang merupakan runtutan perubahan keadaan yang disebut proses.

5. 4. Mahasiswa mengerjakan beberapa tes. 2.Mereka adalah imahasiswa Um Dia adalah teman kecil saya 5. Sebuah gambar menghiasi kamar kerjanya. Menyatakan makna "jumlah" Contoh : Rumah itu dua rumah Anak orang itu lima Kaki meja itu empat 6. Jalan-jalan sedang diperbaiki. Menyatakan makna "alat" Contoh : Truk-truk itu mengangkut beras. Menyatakan Makna "pelaku" Contoh : Seorang perempuan tua membeli beras. Kamar itu panas karena perapian. Makna Unsur Pengisi S 1. Menyatakan makana "perolehan" Contoh : Ariel memiliki mobil Dinda mendapat hadiah Sayur-sayuran itu mengandung banyak vitamin 2. 3. Menyatakan makna "penderita" Contoh : Benda itu dipukulkannya dengan batu lain. Menyatakan makna "hasil" . Menyatakan makna "sebab" Contoh : Banjir besar itu menghancurkan kota.

Menyatakan makna "penderita" Contoh : Ia menebang pohon. . 2. 6. Gua itu belum pernah dimasuki orang. Seorang laki-laki menurunkan dua koper. Dinda membelikan baju baru bagi anaknya. Menyatakan makna "tempat" Contoh : Para turis banyak berkunjung ke pantai kutai. Menyatakan makna "pengalaman" Contoh : Rambutnya hitam dan lebat Lukanya membesar 9. 7. Menyatakan makna "penerima" Contoh : Ahmad membeli buku baru untuk anaknya. Novel itu dikarang oleh pengarang muda dari kalimantan. Menyatakan makna "penerima" Contoh : Seorang ayah membelikan sepeda baru untuk anaknya Gadis itu akan dibuatkan rok oleh ibunya 8. Makna Unsur Pengisi O (1) 1. Menyatakan makna "dikenal" Contoh : Orang itu pegawai kedutaan Dia adalah teman saya 10. Menyatakan makna "terjumlah" Contoh : Kaki meja itu empat Anak orang itu lima 3.Contoh : Rumah-rumah banyak didirikan pemerintah.

2. Menyatakan makna "waktu" Contoh : Bapak kepala daerah pergi ke Jakarta kemarin. 4. . 3. Petani itu menanam ubi-ubian di tegalnya. 5. Menyatakan makna "penderita". 2. Menyatakan makna "alat". Contoh : Ariel membelikan anaknya buku baru. 4. 2. Contoh : Ia bersenjatakan bambu runcing. Contoh : Penjahit membuatkan kebaya ibu.3. Menyatakan makna "alat" Contoh : Polisi menembak penjahat dengan pistolnya Ia mengikatkan tali pada sebatang pohon. Menyatakan makna "tempat" Contoh : Aku mengitari rumah dari samping. 5. Makna Unsur Pengisi O (2) 1. Menyatakan makna "cara" Contoh : Pencuri itu lari dengan skripsi. Menyatakan makna "penderita". Menyatakan makna "hasil". 6. Menyatakan makna "hasil" Contoh : Pemerintah membuat jalan-jalan baru. Makna Unsur Pengisi KET 1. Contoh : Banyak mahasiswa belajar bahasa jerman. Menyatakan makna "tempat" Contoh : Banyak turis mengunjungi candi Borobudur. Makna Unsur Pengisi PEL 1.

8. 7.4. Menyatakan makna "pelaku" Contoh : Senayan mulai dihuni oleh beberapa olahragawan. 6. Menyatakan makna "keseringan" Contoh : Ariel telah menyerukan kata awas beberapa kali. MAKNA PENGISI UNTUK UNSUR KLAUSA Predikat Pembuatan keadaan Keberadaan Pengenal Jumlah Pemerolehan subjek Pelaku Alat Sebab Penderita Hasil Tempat Objek (1) Penderita Penerima Tempat Alat Hasil Objek (2) Penderita Hasil Pelengkap Penderita Alat Keterangan Tempat Waktu Cara Penerima Peserta Alat . 9. Menyatakan makna "sebab" Contoh : Orang itu menjadi gila karena tekanan hidup. Menyatakan makna "peserta" Contoh : Ariel senang bercakap-cakap denganku 5. Menyatakan makna "alat" Contoh : Anak itu menulis dengan tangan kiri. Menyatakan makna "perbandingan" Contoh : Ariel sangat pandai seperti kakaknya. 10. Menyatakan makna "perkecualian" Contoh : Anak-anak itu tidak boleh masuk kecuali saya.

Penerima Pengalaman Dikenal Terjumlah Sebab Pelaku Keseringan Perbandingan Perkecualian KALIMAT 1. pada predikat. Kalimat pendek menjadi panjang atau berkembang karena diberi tambahan-tambahan atau keterangan-keterangan pada subjek. yang mengungkapkan pikiran yang utuh. 1991: 9).Panjang atau pendek. adalah kalimat (Keraf. Menurut Kridalaksana. 1978: 156). dan baik secara actual maupun potensial terdiri dari klausa (Kridalaksan dkk. 2. kalimat adalah satuan gramatik yang ditandai adanya kesenyapan awal dan kesenyapan akhir yang menunjukkan bahwa kalimat itu sudah selesai (lengkap). kalimat hanya dan harus terdiri atas subjek dan predikat. Macam-macam Kalimat Kalimat dapat diklasifikasikan berdasarkan dengan: (1) jumlah dan kenis klausa yang terdapat di dalamnya. . dan (4) ada tidaknya unsure negative pada kalimat utama. 2002: 58). kalimat adalah satuan gramatik yang dibatasi oleh adanya jeda panjang yang disertai nada akhir naik dan turun (Ramlan. Pendapat laing mengatakan. 1984:224). atau pada keduanya (Wijayamartaya. (2) jenis response yang diharapkan. Kalimat adalah satuan bahasa terkecil. 1981:6). (3) sifat hubungan actor_aksi. kalimat adalah suatu bahasa yang secara relative berdiri sendiri. mempunyai pola intonasi final. Sekurang-kurangnya kalimat dalam ragam resmi. Satu bagian nujaran yang didahului dan diikuti kesenyapan. baik lisan maupun tertulis harus memiliki S dan P (Srifin dan Tasai. sedangkan intonasinya menunjukkan bahwa bagian ujaran itu sudah lengkap. Pengertian Untuk memperoleh pengertian yang jelas tentang kalimat dikemukan. dalam wujud lisan atau tulisan.

Kalimat minor tak berstruktur. kalimat minor berstruktur dibedakan atas: Kalimat elips. yaitu kalimat mayor. Kalimat minor berstruktur. yaitu kalimat minor yang terjadi karena pelepasan beberapa bagian dari klausa kalimat tunggal. yaitu kalimat minor yang muncul sebagai lanjutan. yaitu kalimat minor yang terjadi penurunan klausa terikat dari kalimat majemuk subordinat. yaitu kalimat minor yang bertindak sebagai jawaban atas pentanyaan-pertanyaan. 1985:263) Contoh : Karena itu. yaitu kalimat minor yang muncul sebagai akibat pengisian wacana yang ditentukan oleh situasi. (Dia tetap datang) Kalimat urutan. 1985:278). Berdasarkan sumber penurunnya. harga minyak naik. Berdasarkan jumlah dan jenis klausa yang terdapat di dalamnya. Kalimat minor adalah kalimat yang terdiri atas satu klausa terikat atau sama sekali tidak mengandung struktur klausa. 2. Contoh : (Ada yang kau bawa itu?) Lukisan. Contoh : cepat) Meskipun hujan. atau penyempurna kalimat utuh atau klausa lain yang terdahulu dalam wacana (Samsuri.1. pelengkap. Contoh : Bakso! . kalimat dapat dibedakan atas kalimat minor dan kalimat mayor. Kalimat sampingan. (Samsuru. tetapi didahului oleh konjungsi. sehingga menyatakan bahwa kalimat tersebut merupakan bagian kalimat lain. Kalimat minor dibedakan atas: 1. (Penyelesainnya terserah kamu saja) Kalimat jawaban. 1. Contoh: Terserah saja. dibedakan atas: Panggilan.

yaitu kalimat majemuk yang salah satu klausanya menduduki : (a) salah satu fungsi sintaksis dari klausa yang lain atau (b) atribut dari salah satu fungsi sintaksis klausa yang lain. bercerai kita runtuh. terdapat unsure pembentuk yang inti saja. yaitu kalimat minor tak berstruktur yang berisi penghormatan atau persembahan pada awal sebuah karya (buku. dalam kalimat mayor. pembentuk yang inti saja. Semboyan. Salam Contoh : Selamat pagi! Inskripsi. 1. dalam kalimat mayor. Contoh : Bersatu kita teguh.Seruan. Contoh : Yang berkaca mata hitam itu teman saya. biasanya terdiri dari kata yang menyatakan ungkapan perasaan. Kalimat mayor adalah kalimat yang terdiri atas sekurangkurangnya satu klausa bebas. Berdasarkan statusnya. yaitu uangkapan ide secara tegas. Contoh : Dampak negative penayangan TV. Kalimat majemuk subordinatif. merupakan suatu ungkapan topic atau gagasan. tepat dan tanpa hiasan bahasa atau kelengkapan sebuah klausa. Contoh : Halo! Judul. Berdasarkan statusnya. . berdasarkan jumlah klausa yang terdapat didalamnya. Orang itu badannya sangat gemuk. lukisan dsb. kalimat mayor dapat dibedakan atas: 1.). Contoh : Untuk para pengikrar Sumpah Pemuda 1928.

Nada . manusia merupakan keteturunan kera.) seperti ayo. tetapi saya tinggal menempati saja. Saya mengerjakana bagian depan. seperti silahkan. Dalam perang. Kalimat majemuk rapatan. 2. yaitu kalimat majemuk koordinatif yang klausa-klausanya mempunyai kesamaan-kesamaan. dan orang-orang itu bermain kartu. Kalimat pertanyaan adalah kalimat yang dibentuk untuk memancing response yang berupa jawaban. Saya tidak membawa uang sama sekali. 2. kita harus berani membunuh lawan. Berdasarkan response yang diharapkan. Dengan susah payah orang tuaku membangun rumah ini. 3. dipersilahkan. baik kesamaan subjek. kalau tidak kita sendiri yang dibunuh. 1981:10). adik bagian belakang. predikat objek. dan kata larangan (jangan) (Ramlan. 2. Kalimat majemuk koordinat. lalu ditaruhnya cerek diatasnya. Kalimat pernyataan adalah kalimat yang dibentuk untuk menyiarkan informasi tanpa mengharapkan response tertentu. Contoh : Cita-cita anak itu sangat mulia. 1985:316). Menurut teori Darwin. Kalimat pertanyaan dapat dikenal dari pola intonasinya yang bernada akhir naik serta nada terakhir dan pola intonasi kalimat pertanyaan. yaitu kalimat majemuk yang klausa-klausanya tidak menduduki fungsi sintaksis dari klausa lain (Samsuri. kata-kata persilahkan. Cirri untuk mengenal kalimat pernyataan ini yaitu melalui pola intonasinya yang bernada akhir turun (dalam bahasa lisan) dan tanda titik (. maupun keterangan. Contoh : Rumah itu baru saja diperbaiki. kalimat dibedakan atas : 1. Mula-mula dinyalakannya api. Contoh : Semalam suntuk saya tidur di kursi.Polisi telah mengatakan bahwa kabar itu bohong. mari. tetapi sekarang sudah rusak.

Subjek kalimat aktif berperan sebagai perbuatan yang dinyatakan oleh predikat. Predikat kalimat aktif tediri atas verba transitif dan verba intransitive. Kaliamat perintah yang besifat negative beubah menjadi larangan. Ayah membelikan kakak baju baru. Kalimat perintah adalah kalimat yang dibentuk untuk memancing responsi yang berupa tindakan (Samsuri. Contoh : Masuklah! Marilah kita belajar bersama-sama! Jangan membuang sampah di sembarang tempat! 3. digunakan kata jangan yang biasanya ditempatkan pada bagian awal kalimat. . Kalimat perintah ditandai dengan tanda seru (!). Untuk menegatifkan kalimat perintah. Contoh : Anak itu memetik bunga di taman.yang dapat dikombinasikan dengan –I atau –kan. Kalimat perintah dapat bersifat negative.akhir kalimat pertanyaan ditandai dengan tanda Tanya (?) dalam bahasa tulisan. Berdasarkan hubungan actor-aksi.dan ber. kalimat dapat dibedakan atas : 1. 1985:276278). Contoh : Kakak sudah menikah? Mengapa anak itu tidak tidur? Siapa pemilik rumah itu? 3. Afiks yang digunakan dalam pembentukan kata yang berfungsi sebagai perdikat kalimat aktif ialah meN. tetapi penggunaan seru ini biasanya tidak dipakai kalau sifat perintah itu menjadi lemah. demikian juga predikatnya diikuti oleh partikel-lah. Pembantu itu sedang menyapu halaman. Kalimat aktif adalah kalimat yang subjeknya berperan sebagai pelaku actor.

dan saling yang diikuti oleh veba yang berprefiks me. verba dasar yang diikuti oleh kata baku. Kalimat medial adalah kalimat yang subjeknya berperan baik sebagai pelaku maupun sebagai penderita perbuatan yang dinyatakan oleh predikat tersebut.yang dapat bekombinasi dengan sufiks –i dan –kan.atau me-i/kan (Samsuri. 4. Pemuda-pemuda tanggung itu berbaku hantam d tanah lapang. verba berulang yang berkombinasi dengan konfiks ber-kan.yang didahului oleh kata dasarnya. 4. beprefiks ter-. Predikat kalimat pasif terdiri atas verba verba yang berpredikat di. Verba yang berfungsi sebagai predikat pada kalimat respirokal adalah verba yang beprefiks me.2. Kita apakan barang-barang ini? Tidak terlihat olehku benda yang kau tujukan itu. Dua bersaudara itu saling mencintai dan saling menyayangi. 1985:198). 1985:434) Contoh : Badannya dilumuri minyak. berkonfiks ke-an. Kalimat respirokal adalah kalimat yang subjek dan objeknya melakukan sesuatu pebuatan yang berbalas-balasan. Kalimat pasif adalah kalimat yanmhg subjeknya berperan sebagai penderita. Subjek dalam kalimat pasif berperan sebagai penderita perbuatan yang dinyatakan oleh predikat kalimat tersebut. 3. dan verba yang didahului oleh pronominal persona (Samsuri. kalimat dibedakan atas : . Contoh : Kedua Negara itu tuduh-menuduh tentang pelanggaran perbatasan. Contoh : Jangan menyiksa diri sendiri. Bedasarkan ada tidaknya unsure negative pada klausa utama. Wanita itu berhias di depan cermin.

Unsure negatif bukan pada umumnya dipakai di depan nomina/frase nomina dan pronominal/frase pronominal. jangan. Kalimat firmatif. Di Surabaya diresmikan patung Jendral Sudirman. peniadaan. 1985:250) Contoh : Sedikitpun aku tidak ingin berbuat jahat. SINTAKSIS 1. Contoh : Petani itu membajak sawah. peniadaan. tiada (tak). Unsure negative jangan digunakan untuk menegatifkan kalimat printah (samsuri. atau penyangkalan. Bukan buku itu yang saya cari. bukan. atau penyangkalan. seperti tidak. Kami mendengar kabar bahwa pemberontakan di Iran sudah berakhir. Pengertian Sintaksis . 2. Kalimat negative. yaitu kalimat yang berpredikat utamanya tidak tedapat unsure negative. adjektiva. adverbial.1. Jangan kau biarkan adikmu bergaul dengan dia. yaitu kalimat yang predikat utamanya terdapat unsure negative. Unsure negative tidak dipakai di depan verba. dan frase preposisi yang berfungsi sebagai keterangan.

1976:27). dan morfem-morfem suprasegmental (intonasi). Dari definisi-definisi yang telah dikemukakan para ahli bahasa tersebut. baik dalam jumlah aspek yang tercakup di dalamnya. dan (2) Studi tentang kalimat suatu bahasa yang merupakan rangkaian yang berstruktur dari kata-kata. klausa. Berdasarkan definisi tersebut. 1986:31). Cakupan Sintaksis Pembahasan sintaksis mencakup frase. kalimat. Dan definisi tersebut dapat dikemukakan bahwa satuan yang tercakup dalam sintaksis adalah frase dan ka1imat. Bidang sintaksis (Inggris. Tentu saja diantara definisi-definisi yang diberikan oleh para ahli tersebut. Pendapat lain mengatakan. dkk:1). Sintaksis (Yunani:Sun + tattein = mengatur bersama-sama) ialah bagian dari tata bahasa yang mempelajari dasar-dasar dan prosesproses pembentukan kalimat dalam suatu bahasa. tetapi di dalam satuan yang kita sebut kalimat (verhaar. frase dan kalimat (Moeliono. 2001:18). sintaksis adalah studi kaidah kombinasi kata menjadi satuan yang lebih besar. Istilah sintaksis (Belanda. dan frasa (Ibrahim. tidak akan banyak artinya tanpa mempelajari yang unsur-unsur itu sendiri (Samsuri. (Keraf. Dengan demikia. kalimat. maupun redaksi atau kata-kata yang digunakannya. dan frase (Ramlan. Tetapi. Sintaksis secara etimologis berarti menempatkan bersama-sama kata-kata menjadi kelompok kata. karena (1) struktur frase dan kalimat hanya dapat dijelaskan melalui penggolongan (penjenisan) kata (Ramlan. 1976:103).Banyak pengertian dan definisi tentang sintaksis. klausa. dan kalimat. kelompok kata menjadi kalimat. dengan kata sebagai satuan dasarnya. dalam sintaksis. klausa. memiliki persamaan maupun perbedaan. klausa. dapat disimpulkan bahwa sintaksis adalah bagian dari tata bahasa yang membicarakan kaidah kombinasi kata menjadi satuan gramatik yang lebih besar yang berupa frase. serta penempatan morfem-morfem supra sekmental (intonasi) sesuai dengan struktur sematik yang diinginkan oleh pembicara sebagai dasarnya. 1981:70). frase. kalimat. 1985:74). pembicaraan mengenai jenis kata mutlak diperlukan. syntaxis) ialah bagian atau cabang dari ilmu bahasa yang membicarakan seluk beluk wacana. Menurut istilah sintaksis dapat mendefinisikan : bagian dari ilmu bahasa yang membicarakan seluk beluk kalimat. Sintaksis itu mnempelajari hubungan gramatikal di luar batas kata. kelas (jenis) kata tau kategori kata adalah bagian dari sintaksis (Kridalaksana. syntax) menyelidiki semua hubungan antar kelompok kata (atau antar-frase) dalam satuan dasar sintaksis itu. aspek-aspek ketatabahasaan yang tercakup dalam sintaksis adalah jenis kata. dapat disimpulkan bahwa kalimat adalah satuan terbesar dalam sintaksis dan setiap bahasa mempunyai kaidah sintaksis tersendiri yang tidak dapat diterapkan begitu saja pada bahasa yang lain. dan morfem-morfem . 1978:153). 2. Memang. klausa.

Alwi. Aspek-aspek Linguistik. Jakarta: Sastra Budaya. 1998. Aspek-aspek Sintaksis Bahasa Indonesia. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Kilat Grafika. Amran Tasai. 2004. Berbahasa Indonesia dengan Benar. M. Hasan dan Dery Sugono. 1985. . Sugono. Tata Bahasa Indonesia Sintaksis. Ilmu Bahasa Indonesia Sintaksis. Telaah Bahasa dan Sastra. Yogyakarta: C. Dendy. 2002. Samsuri. Asas-asas Linguistik Umum. Yogyakarta: Gadjah Mada university Press. 1983. dkk. Rusnaji. 2002.Daftar Rujukan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. IKIP Malang. Arifin. IKIP Malang. 2001. 1986. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Ramlan. Jakarta: Akademika Pressindo. Jakarta: C. Surabaya: Sinar Wijaya Rusnaji. Bahan Ajar Sintaksis Bahasa Indonesia.V. Syukur. Verhaar.V. Zaenal dan S. Karyono. Cermat Berbahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi. Departemen Pendidikan Nasional Universitas Negeri Malang. Oscar. Oscar. Ibrahim. Tata Bahasa Indonesia. 1984. Wirjosoedjarmo.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times

Cancel anytime.