P. 1
Tinea Kruris

Tinea Kruris

|Views: 274|Likes:
Published by Stephanie Angeline
Tinea Kruris
Tinea Kruris

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: Stephanie Angeline on Jun 12, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/16/2014

pdf

text

original

Tinea Kruris I.

(Stephanie Angeline/11.2011.222)

DEFINISI

Tinea Kruris adalah dermatofitosis pada sela paha, perineum dan sekitar anus. Kelainan ini dapat bersifat akut atau menahun, bahkan dapat merupakan penyakit yang berlangsung seumur hidup. Lesi kulit dapat terbatas pada daerah genito-krural saja atau bahkan meluas ke daerah sekitar anus, daerah gluteus dan perut bagian bawah atau bagian tubuh yang lain. Tinea kruris mempunyai nama lain eczema marginatum, jockey itch, ringworm of the groin, dhobie itch.

Jamur ini menghasilkan keratinase yang mencerna keratin, sehingga dapat memudahkan invasi ke stratum korneum. Infeksi dimulai dengan kolonisasi hifa atau cabang-cabangnya didalam jaringan keratin yang mati. Hifa ini menghasilkan enzim keratolitik yang berdifusi ke jaringan epidermis dan menimbulkan reaksi peradangan. Pertumbuhannya dengan pola radial di stratum korneum menyebabkan timbulnya lesi kulit dengan batas yang jelas dan meninggi (ringworm). Reaksi kulit semula berbentuk papula yang berkembang menjadi suatu reaksi peradangan. Beberapa faktor yang berpengaruh terhadap timbulnya kelainan di kulit adalah: a. Faktor virulensi dari dermatofita Virulensi ini bergantung pada afinitas jamur apakah jamur antropofilik, zoofilik, geofilik. Selain afinitas ini masing-masing jamur berbeda pula satu dengan yang lain dalam hal afinitas terhadap manusia maupun bagian-bagian dari tubuh misalnya: Trichopyhton rubrum = jarang menyerang rambut, Epidermophython fluccosum= paling sering menyerang lipat paha bagian dalam. Faktor trauma Kulit yang utuh tanpa lesi-lesi kecil lebih susah untuk terserang jamur. Faktor suhu dan kelembapan Kedua faktor ini jelas sangat berpengaruh terhadap infeksi jamur, tampak pada lokalisasi atau lokal, dimana banyak keringat seperti pada lipat paha, sela-sela jari paling sering terserang penyakit jamur. Keadaan sosial serta kurangnya kebersihan Faktor ini memegang peranan penting pada infeksi jamur dimana terlihat insiden penyakit jamur pada golongan sosial dan ekonomi yang lebih rendah sering ditemukan daripada golongan ekonomi yang baik Faktor umur dan jenis kelamin

II.

ETIOLOGI

Penyebab utama dari tinea kruris :

Trichophyhton rubrum (90%), b.

c. Epidermophython fluccosum,

Trichophyton mentagrophytes (4%), Trichopyhton tonsurans (6%)

d.

III.

EPIDEMIOLOGI V.

e.

Tinea kruris dapat ditemui diseluruh dunia dan paling banyak di daerah tropis. Angka kejadian lebih sering pada orang dewasa, terutama laki-laki dibandingkan perempuan. Tidak ada kematian yang berhubungan dengan tinea kruris.Jamur ini sering terjadi pada orang yang kurang memperhatikan kebersihan diri atau lingkungan sekitar yang kotor dan lembab.

MANIFESTASI KLINIS 1. Anamnesis

IV.

PATOFISIOLOGI

Cara penularan jamur dapat secara langsung maupun tidak langsung. Penularan langsung dapat secara fomitis, epitel, rambut yang mengandung jamur baik dari manusia, binatang, atau tanah. Penularan tidak langsung dapat melalui tanaman, kayu yang dihinggapi jamur, pakaian debu. Agen penyebab juga dapat ditularkan melalui kontaminasi dengan pakaian, handuk atau sprei penderita atau autoinokulasi dari tinea pedis, tinea inguium, dan tinea manum.

Keluhan penderita adalah rasa gatal dan kemerahan di regio inguinalis dan dapat meluas ke sekitar anus, intergluteal sampai ke gluteus. Dapat pula meluas ke supra pubis dan abdomen bagian bawah. Rasa gatal akan semakin meningkat jika banyak berkeringat. Riwayat pasien sebelumnya adalah pernah memiliki keluhan yang sama. Pasien berada pada tempat yang beriklim agak lembab, memakai pakaian ketat, bertukar pakaian dengan orang lain, aktif berolahraga, menderita diabetes mellitus. Penyakit ini dapat menyerang pada tahanan penjara, tentara, atlit olahraga dan individu yang beresiko terkena dermatofitosis. 2. Pemeriksaan Fisik Efloresensi terdiri atas bermacam-macam bentuk yang primer dan sekunder. Makula eritematosa, berbatas tegas dengan tepi lebih aktif terdiri dari papula atau pustula. Jika kronis atau menahun maka efloresensi yang tampak hanya makula

1

a. Patogenesisnya dapat terjadi apabila ada predisposisi baik endogen maupun eksogen. Penggunaan lampu wood bisa digunakan untuk menyingkirkan adanya eritrasma dimana akan tampak floresensi merah bata. lipatan kulit perut. kulit. dapat menyerang semua umur. kebiasaan berendam kaki dalam air yang lama menimbulkan maserasi dan memudahkan masuknya jamur.Michael. bronki. endokrinopati. debilitas. DIAGNOSIS Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik dengan melihat gambaran klinis dan lokasi terjadinya lesi serta pemeriksaan penunjang seperti yang telah disebutkan dengan menggunakan mikroskop pada sediaan yang ditetesi KOH 10-20%. Pemeriksaan kultur dengan Sabouraud agar Pemeriksaan ini dilakukan dengan menanamkan bahan klinis pada medium saboraud dengan ditambahkan chloramphenicol dan cyclohexamide (mycobyotic-mycosel) untuk menghindarkan kontaminasi bakterial maupun jamur kontaminan. kegemukan karena banyak keringat. maupun spora berderet (artrospora) pada kelainan kulit yang lama atau sudah diobati. kebersihan kulit kurang. Michael. dan glans penis (balanopostitis). dan sela antar jari. bersisik. jamur akan tampak coklat atau hitam (Wiederkehr.Pemeriksaan dengan sediaan basah Kulit dibersihkan dengan alkohol 70%  kerok skuama dari bagian tepi lesi dengan memakai scalpel atau pinggir gelas taruh di obyek glass tetesi KOH 10-15 % 1-2 tetes  tunggu 10-15 menit untuk melarutkan jaringan  lihat di mikroskop dengan pembesaran 10-45 kali. punch biopsi. vagina. PEMERIKSAAN PENUNJANG Pemeriksaan mikologik untuk membantu penegakan diagnosis terdiri atas pemeriksaan langsung sediaan basah dan biakan.Hampir setengah penderita tinea kruris berhubungan dengan tinea pedis c. DIAGNOSIS BANDING 1. dan proksimal dari abdomen bawah dan pubis . penyakit kronis orang tua dan bayi. imunologik (penyakit genetik). Penyakit ini terdapat di seluruh dunia. Punch biopsy Dapat digunakan untuk membantu menegakkan diagnosis namun sensitifitasnya dan spesifisitasnya rendah.Infeksi kronis bisa oleh karena pemakaian kortikosteroid topikal sehingga tampak kulit eritematus. bagian pusat. Faktor eksogen berupa iklim panas dan kelembapan. Identifikasi jamur biasanya antara 3-6 minggu (Wiederkehr. Manifestasi tinea kruris : . d. dan impetiginasi mungkin muncul karena garukan .Pada infeksi akut. Garukan kronis dapat menimbulkan gambaran likenifikasi. Lesi tersebut dikelilingi oleh lenting-lenting atau papul di sekitarnya berisi nanah yang bila pecah meninggalkan daerah yang luka. baik laki-laki maupun perempuan. Dapat mengenai daerah lipatan kulit. bercak kemerahan. basah.hiperpigmentasi dengan skuama diatasnya dan disertai likenifikasi. bercak-bercak mungkin basah dan eksudatif . sebagai dua garis sejajar. Pada sela jari tangan biasanya antara jari ketiga dan keempat. terbagi oleh sekat. terutama ketiak. Lesi pada penyakit yang akut mulamula kecil berupa bercak yang berbatas tegas. distal lipat paha. dan miselium b.Makula eritematus dengan central healing di lipatan inguinal. selangkangan. Candidosis intertriginosa Kandidosis adalah penyakit jamur yang disebabkan oleh spesies Candida biasanya oleh Candida albicans yang bersifat akut atau subakut dan dapat mengenai mulut. atau penggunaan lampu wood. dan kemerahan. Pengecatan dengan Peridoc Acid–Schiff. akan didapatkan hifa. VII. kadang-kadang disertai rasa panas seperti terbakar. dapat juga mengenai daerah belakang telinga. kontak dengan penderita. ukuran 2-4 mm. bagian bawah payudara. jamur akan tampak merah muda atau menggunakan pengecatan methenamin silver. lipat bokong.Pada infeksi kronis makula hiperpigmentasi dengan skuama diatasnya dan disertai likenifikasi . dan bercabang.Daerah bersisik .Perubahan sekunder dari ekskoriasi. sediaan biakan pada medium Saboraud. berupa lenting-lenting yang dapat berisi nanah berdinding tipis. iatrogenik. Pada pemeriksaan mikologik untuk mendapatkan jamur diperlukan bahan klinis berupa kerokan kulit yang sebelumnya dibersihkan dengan alkohol 70%. kuku. keluhan gatal yang hebat. 2008). Pada bagian tepi kadang-kadang tampak papul dan skuama. dan mungkin terdapat pustula folikuler . dengan pinggir yang 2 . pada sela jari kaki antara jari keempat dan kelima. Kemudian meluas.Penis dan skrotum jarang atau tidak terkena .Area sentral biasanya hiperpigmentasi dan terdiri atas papula eritematus yang tersebar dan sedikit skuama . batas tegas. sedikit berskuama. likenifikasi. VI. Faktor endogen misalkan kehamilan karena perubahan pH dalam vagina. 2008) VIII.

Efloresensi yang sama berupa eritema dan skuama pada seluruh lesi merupakan tanda khas dari eritrasma. Terapi sistemik dapat diberikan jika terdapat kegagalan dengan terapi topical dan atau intoleransi dengan terapi topikal. bekerja dengan menghambat mitosis sel jamur dengan mengikat mikrotubuler dalam sel. Pada bentuk yang kronik. Tidak dianjurkan pada pasien yang menunjukkan hipersensitivitas. kasar dan berkembang seperti lesi utama. b. pakaian dan handuk yang digunakan penderita harus segera dicuci dan direndam air panas. Lesi tidak menimbul dan tidak terlihat vesikulasi.2. PENATALAKSANAAN a. IX. Anjurkan agar menjaga daerah lesi tetap kering 2.Untuk anak-anak 5mg/hari PO selama 1 minggu. Terapi dioleskan sampai 3 cm diluar batas lesi. untuk anak 10-25 mg/kg/hari Edukasi kepada pasien di rumah : 1. tidak ketat dan ganti setiap hari. Obat ini lebih sedikit tingkatkeefektifannya dibanding itrakonazole. Diperlukan juga monitoring terhadap fungsi hepar apabila terapi sistemik diberikan lebih dari 4 minggu. Gunakan pakaian yang terbuat dari bahan yang dapat menyerap keringat seperti katun. Gejala klinis lesi berukuran sebesar milier sampai plakat. Skuama kering yang halus menutupi lesi dan pada perabaan terasa berlemak. Pada infeksi tinea kruris tanpa komplikasi biasanya dapat dipakai anti jamur topikal saja dari golongan imidazole yang tersedia dalam beberapa formulasi. Pengobatan secara sistemik dapat digunakan untuk untuk lesi yang luas atau gagal dengan pengobatan topikal. Lesi eritroskuamosa. Bila gatal.8 minggu. hindari kontak dengan mata. digaruk karena garukan dapat 3. berikut adalah obat sistemik yang digunakan dalam pengobatan tinea kruris: XI. Itrakonazole Sebagai turunan triazole. dan jangan diberikan bersama dengan cisapride karena berhubunngan dengan aritmia jantung. Sebelum memilih obat sistemik hendaknya cek terlebih dahulu interaksi obat-obatan tersebut. Pada infeksi jamur yang kronis dapat terjadi likenifikasi dan hiperpigmentasikulit. Erytrasma Erytrasma adalah penyakit bakteri kronik pada stratum korneum yang disebabkan oleh Corynebacterium minitussismum. Pengobatan dengan ketokonazole dapat dilakukan selama 6 . ketokonazole merupakan obat jamur oral yang berspektrum luas. c. Kulit sela jari tampak merah atau terkelupas. Griseofulfin Termasuk obat fungistatik. Pemberian 200 mg / hari selama 2-4 minggu. Pemberian dosis pada dewasa 500 mg PO selama 2 – 4 minggu. Tempat predileksi kadang di daerah intertriginosa lain terutama pada penderita gemuk. Variasi ini rupanya bergantung pada area lesidan warna kulit penderita. digunakan untuk pemakaian luar. Pada pemeriksaan dengan lampu wood lesi terlihat berfluoresensi merah membara (coral red). dan diteruskan sekurang-kurangnya 2 minggu setelah lesi menyembuh. jangan menyebabkan infeksi. berskuama halus kadang terlihat merah kecoklatan. KOMPLIKASI Tinea kruris dapat terinfeksi sekunder oleh candida atau bakteri yang lain. PROGNOSIS Prognosis penyakit ini baik dengan diagnosis dan terapi yang tepat asalkan kelembapan dan kebersihan kulit selalu dijaga 3 . Perluasan lesi terlihat pada pinggir yang eritematosa dan serpiginose. Pengobatan tinea kruris tersedia dalam bentuk pemberian topikal dan sistemik. Obat secara topikal yang digunakan dalam tinea kruris adalah:  Ketokonazole 2 %  1x / hari Mekanisme kerja ketokonazole sebagai turunan imidazole yang bersifat broadspektrum akan menghambat sintesis ergosterol sehingga komponen sel jamur meningkat menyebabkan sel jamur mati. dan terjadi lecet. X. Ketokonazole Sebagai turunan imidazole. itrakonazole merupakan obat anti jamur oral yang berspektrum luas yang menghambat pertumbuhan sel jamur dengan menghambat sitokrom P-450 dependent sintetis dari ergosterol yang merupakan komponen penting pada selaput sel jamur. ditandai lesi berupa eritemadan skuama halus terutama di daerah ketiak dan lipat paha. Obat ini dikontraindikasikan pada penderita yang hipersensitivitas. Semuanya memberikan keberhasilan terapi yang tinggi 70-100% dan jarang ditemukan efek samping. Obat ini digunakan pagi dan sore hari kira-kira 2-8 minggu. Kerja obat ini fungistatik. Dosis dewasa 200 mg po selama 1 minggu dan dosis dapat dinaikkan 100 mg jika tidak ada perbaikan tetapi tidak boleh melebihi 400mg/hari. Untuk menghindari penularan penyakit. Jaga kebersihan kulit dan kaki bila berkeringat keringkan dengan handuk dan mengganti pakaian yang lembab 4. Pada penelitian disebutkan bahwa itrakonazole lebih baik daripada griseofulvin dengan hasil terbaik 2-3 minggu setelah perawatan. kulit sela jari menebal dan berwarna putih. 5.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->