Penetapan Target Inflasi Target atau sasaran inflasi merupakan tingkat inflasi yang harus dicapai oleh Bank

Indonesia, berkoordinasi dengan Pemerintah. Penetapan sasaran inflasi

berdasarkan UU mengenai Bank Indonesia dilakukan oleh Pemerintah. Dalam Nota Kesepahaman antara Pemerintah dan Bank Indonesia, sasaran inflasi ditetapkan untuk tiga tahun ke depan melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK). Berdasarkan PMK No.66/PMK.011/2012 tentang Sasaran Inflasi tahun 2013, 2014, dan 2015 tanggal 30 April 2012 sasaran inflasi yang ditetapkan oleh Pemerintah untuk periode 2013 – 2015, masing-masing sebesar 4,5%, 4,5%, dan 4% masing-masing dengan deviasi ±1%. Sasaran inflasi tersebut diharapkan dapat menjadi acuan bagi pelaku usaha dan masyarakat dalam melakukan kegiatan ekonominya ke depan sehingga tingkat inflasi dapat diturunkan pada tingkat yang rendah dan stabil. Pemerintah dan Bank Indonesia akan senantiasa berkomitmen untuk mencapai sasaran inflasi yang ditetapkan tersebut melalui koordinasi kebijakan yang konsisten dengan sasaran inflasi tersebut. Salah satu upaya pengendalian inflasi menuju inflasi yang rendah dan stabil adalah dengan membentuk dan mengarahkan ekspektasi inflasi masyarakat agar mengacu (anchor) pada sasaran inflasi yang telah ditetapkan (Lihat Peraturan Menteri Keuangan tentang sasaran inflasi 2013, 2014, dan 2015) Angka target atau sasaran inflasi dapat dilihat pada web site Bank Indonesia atau web site instansi Pemerintah lainnya seperti Departemen Keuangan, Kantor Menko Perekonomian, atau Bappenas. Sebelum UU No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia, sasaran inflasi ditetapkan oleh Bank Indonesia. Sementara setelah UU tersebut, dalam rangka meningkatkan kredibilitas Bank Indonesia maka sasaran inflasi ditetapkan oleh Pemerintah. Tabel perbandingan Target Inflasi dan Aktual Inflasi Tahun Target Inflasi 2001 2002 2003 2004 4% - 6% 9% - 10% 9 +1% 5,5 +1% Inflasi Aktual (%, yoy) 12,55 10,03 5,06 6,40

5+1% 2015* 4+1% *) berdasarkan PMK No.66/PMK.79 4.5+1% 2014* 4.78 6.11 6.60 6.011/2012 tanggal 30 April 2012.06 2. .5 +1% 5+1% 5+1% 4.59 11.5+1% 17.96 3.30 - 2013* 4.2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 6 +1% 8 +1% 6 +1% 5 +1% 4.

Benarkah? 2. investor/produsen dan konsumen. ternyata menjadi benchmark situasi perekonomian tahun 2006. Dan bila hal ini dipercayai para pelaku ekonomi. Korea Selatan dan Amerika Serikat sejak Bernanke menggantikan Greenspan. target inflasi adalah fokus kebijakan moneter (dan seharusnya juga fiskal). Inggris. transparent dan yang lebih penting tanpa kuatir atas perubahan tingkat inflasi yang terlalu besar. Australia.Inflation Targeting Framework (ITF) yang dikenalkan BI sejak Juli 2005 telah menjadi praktek kebijakan moneter beberapa Negara seperti New Zealand. sustainable. Dengan target inflasi. Para pendukung ITF percaya bahwa dengan menetapkan besaran target inflasi di awal tahun atau akhir tahun untuk ekspektasi inflasi tahun berikutnya. Intinya adalah membangun kepercayaan publik sehingga ekspektasi inflasi mendekati target inflasi yang telah ditetapkan. Kenaikan harga BBM 1 Oktober 2005. Dengan kepercayaan target inflasi akan “pasti” tercapai.1%. yang walaupun menurun di November 2005 (1. Kanada. perilaku spekulatif pelaku ekonomi akan semakin ditekan seminimal mungkin dan perekonomian berkembang secara rasional. walau UU BI menyatakan bahwa tanggungjawab utama BI adalah untuk menstabilkan daya beli rupiah (inflasi terkendali) dan nilai tukar rupiah (terhadap valas). ternyata di tahun 2005 hal itu tidak terjadi sama sekali. Angka inflasi ini per Desember 30. misalnya. yang merupakan angka inflasi tertinggi selama 6 tahun ini.4% (YoY).7% (MoM) merupakan puncak tingkat inflasi bulanan selama tahun 2005. Yang menarik. suku bunga dapat segera diturunkan. telah mendongkrak angka inflasi menjadi 18. Inflasi Oktober 2005 yang mencapai 8. Sebutlah.Tahun 2005 ternyata memberikan pelajaran yang amat berharga dalam konteks ITF. bila tingkat inflasi (aktual) berada di atas target. kebijakan ekonomi-makro yang mendukung pertumbuhan ekonomi dapat diharapkan lebih stabil. dan sebelum Maret 2005. maka roda perekonomian akan bergerak sesuai dengan yang direncanakan. BI dan Pemerintah tentu (seharusnya) akan bekerjasama secara erat agar target itu betul-betul dapat tercapai. maka kebijakan BI selayaknya menaikkan suku bunga (dalam hal ini SBI). menjadi 17.INFLATION TARGETING FRAMEWORK BANK INDONESIA 1. sebaliknya bila inflasi berada di bawah target. 2005 (YoY).3%). Dengan pola ini. angka yang jauh dari target UU .

bandingkan dengan Februari 2005 (YoY) 7. Inflasi sampai bulan Februari 2006 (YoY) masih amat tinggi 17. Bila ini benar. Gubernur BI memprediksi inflasi tahun 2005 sebesar 14% (Kompas. Inflasi yang mencapai dua digit ini (CPI) jauh melampaui angka target inflasi APBN (8. sehingga karena itu pula tidak ada kewajiban untuk menepatinya ? c) Dimana letak early warning system yang dapat memberitahu kepada kita bahwa target yang telah ditetapkan sesungguhnya mustahil untuk dicapai? BI dan Pemerintah selalu menggunakan alasan bahwa faktor eksternal. Inflasi dua digit diperkirakan tidak banyak berubah sampai Q3 tahun 2006. 25 Oktober 2005) dan bahkan Menteri PPN/BAPPENAS (ketika itu dijabat Sri Mulyani) lebih berani lagi menjanjikan inflasi 2005 tidak akan lebih 12% (Suara Karya. yang menunjukkan kebijakan BI tidak sepenuhnya efektif. Pertanyaannya.4%.APBN-P II No 9/2005. Misalnya. BI? Pemerintah? DPR? Atau ketiga lembaga ini? b) Mungkinkah tidak terjadi koordinasi yang baik antara pejabat moneter dan fiskal sehingga target inflasi yang telah ditetapkan sebenarnya bukan target inflasi seperti yang dimaksud dalam konsep ITF (karena itu disebut “asumsi” bukan target). Yang menarik. berapakali ia boleh berubah dan apa . 26 Oktober 2005).92%. inflasi tahun 2005 adalah 17.6%) atau angka inflasi nota Keuangan 2005 (7%) yang disampaikan Presiden tanggal 16 Agustus di Sidang Paripurna DPR. khususnya harga BBM dunia dan suku bunga Fed sebagai “penyebab utama” target inflasi sulit dicapai. seberapa jauh early warning system kita dapat berfungsi? d) Kalau besaran target inflasi boleh berubah. Penyumbang inflasi terbesar adalah kenaikan biaya transportasi lebih 40% dan harga bahan makanan 18%. mengapa prediksi pejabat yang paling berwenang di Indonesia ini keliru dan berbeda dengan kehendak UU 9/2005 tentang APBN-P II? Beberapa pertanyaannya layak didaftar seperti: a) Apakah target inflasi yang ditetapkan APBN itu keliru? Bila keliru mengapa DPR yang seharusnya mengawasi kinerja moneter dan fiskal di Indonesia ikut menyetujui? Siapa yang paling bertanggungjawab kalau ternyata perumusan “besaran” target itu ternyata tidak tepat.6%. Seperti disebut di atas.15% dan Februari 2004 (YoY) 4. yang akan berimplikasi luas bagi perekonomian tahun 2006. Core inflation pun naik menjadi 9.1%.

5% (Juli) menjadi 9. apalagi kesalahan 5. Gap negatif yang sekarang ini mencapai 3. yang bila dikonversi kepada lapangan kerja kita kehilangan peluang penciptaan lapangan kerja sekitar 1.5%.25% ). Kalau mungkin mana yang lebih bisa diandalkan atau yang lebih bisa dijadikan pegangan hukum? 3. maka 6 juta orang miskin bisa tertolong di tahun itu. SBI naik 50 bps. kemudian September 10% SBI dan 9. setelah bertahan agak lama di 12.5%. mungkinkah ITF yang ditetapkan BI dapat berbeda dengan asumsi inflasi yang ditetapkan APBN.akibatnya terhadap kepercayaan publik/pasar? e) Terakhir. Dengan target SBI 9. atau bahkan gap itu lebih besar lagi bila disbanding target APBN-P II tahun 2005 sebesar 8. Dengan dependensi rasio 4. menjadi 12.5.75%. seperti diprediksi sebelumnya oleh BI. hampir sama dengan nilai subsidi BBM sebesar Rp93T akibat kenaikan harga BBM. Tingkat suku bunga SBI yang semula 8.60% (YoY). APBN menetapkan angka inflasi sebesar 8% dan SBI sebesar 9. Mungkinkah kesalahan yang sama akan terjadi lagi di tahun 2006 ini? 4. jauh lebih rendah dari inflasi tahunan Mei (2005-2006). Hal ini terjadi hanya karena kesalahan gap angka prediksi dan aktual inflasi sebesar 3.1% antara SBI dan inflasi ini tentu tidak banyak memiliki kemampuan mendorong perekonomian sampai akhir September (Q3) tahun 2006.1% (prediksi BAPPENAS yang 12%). Kini. dan terus bertahan menjadi di bulan November 2005 (SBI 12. walau tingkat inflasi kalendar sampai Mei hanya 2.1% (prediksi BI yang 14%).5%.Agenda apa yang harus diperhatikan oleh otoritas moneter dan fiskal dalam rangka menegakkan ITF? a)Koordinasi antara kedua otoritas ini jelas harus makin diperjelaskan baik dalam menetapkan target inflasi maupun dalam menangani faktor-faktor yang dapat .3% di bulan Agustus 2005. menjadi kontraproduktif pada bulan Oktober 11% SBI dan 17.41% atau 0.9% inflasi.3 juta (dengan asumsi 20% dari Rp 80T untuk biaya TK dengan upah minimal Rp 1 juta/bulan). Pada 14 Desember 2005.5% masih di atas tingkat inflasi 8. sanggupkah BI mencapainya selama 6 (enam) bulan ke depan? 5. Angka inflasi sampai Mei 2006 adalah 15. SBI turun 25 bps menjadi 12. dan tingkat suku bunga SBI yang sekarang masih 12.1% inflasi.Kekeliruan prediksi ini menyebabkan perekonomian Indonesia kehilangan peluang peningkatan PDB sekitar Rp 80T di tahun 2005.5% dalam APBN tahun 2006.75%.Pada tahun 2006.5%.37% di bulan Mei 2006.

dengan tanggungjawab yang jelas dan mandiri. secara sendiri-sendiri atau bersamasama. perlu dipikirkan atau bahkan dibiayai suatu lembaga independent (misalnya perguruan tinggi atau yang lainnya) untuk secara rutin mempublikasi dampak positif-negatif kebijakankebijakan yang mempengaruhi target inflasi. Kegagalan dalam mencapai target inflasi jelas mempengaruhi kepercayaan publik/pasar atas kredibilitas. seperti misalnya. c)Bila kedua lembaga ini terikat oleh subjektifitasnya masing-masing. yang harus dihindari semaksimal mungkin oleh kedua lembaga ini. b)Perlu makin diperjelas. e)Khusus hubungannnya dengan lembaga legislatif (DPR dan DPD). faktor-faktor apa saja yang dapat dikendalikan (endogenous variables) secara sendiri-sendiri atau bersama-sama dari kedua lembaga ini dan faktor-faktor apa saja yang tidak dapat dikendalikan (exogenous variables). Tidak dipungkiri bahwa inflasi dapat disebabkan oleh kedua otoritas tersebut. yang dalam . siapa diuntungkan dan dirugikan. Koordinasi di antara kedua lembaga ini amat ditentukan oleh Tim Koordinasi yang dibentuk dan mengambil peran yang penting dalam mengkoordinasikan kebijakan-kebijakan di dua institusi ini. akuntabiltas dan profesionalisme kedua lembaga itu. yang akibatnya telah kita ketahui bersama. Karena mereka sesungguhnya adalah pejabat publik yang professional. efeknya terhadap APBN. sector riel atau perekonomian pada umumnya.mempengaruhi pencapaian target inflasi tersebut. Ada baiknya dipikirkan juga anggota-anggota Tim yang mewakili stackholders yang bukan hanya dari kedua lembaga ini saja. konsistensi. don’t worry b e happy atau saya masih bisa tidur nyenyak kok! Komunikasi para pejabat di dua lembaga ini harus lebih mampu mencerminkan profesionalisme argumen tinimbang bersifat sloganistik. Lempar tanggungjawab atau mencari kambing hitam atas kegagalan pencapaian target iflasi yang telah ditetapkan jelas akan menambah ketidakpercayaan publik/pasar. d)Komunikasi publik yang dilakukan oleh kedua lembaga ini tidak cukup dilakukan dengan pola penyampaian slogan politik. bukan pejabat publik politik. lembaga ini ini sebenarnya lebih berfungsi sebagai lembaga pengawasan politik.

karena itu perannya lamat terbatas secara teknikal.banyak kasus baru dapat memberikan kebijakannya setelah incident tidak dalam konteks precedent. Lembaga legislatif yang ada sekarang ini. . secara kelembagaan. tidak memiliki/dibantu tenaga expertise dalam bidang ini yang cukup memadai.

dividen. Pada sektor perusahaan. Sedangkan hubungan dengan Dunia Internasional. Dan untuk hubungan dengan Perusahaan. sewa. upah. Pada sektor pemerintah. penghasilan non balas jasa.1 Definisi Kebijakan Fiskal (Fiscal Policy) Kebijakan Fiskal adalah kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah dalam rangka mendapatkan dana-dana dan kebijaksanaan yang ditempuh oleh pemerintah untuk membelanjakan dananya tersebut dalam rangka melaksanakan pembangunan. pemerintah mendapatkan penerimaan pajak dari pengusaha dan Pemerintah membeli produk dari perusahaan berdasarkan dana anggaran belanja yang ada. perusahaan akan membayar pajak kepada pemerintah dan menjual produk dan jasa kepada pemerintah. Sedangkan hubungan dengan Pemerintah. Pada sektor Dunia Internasional / Luar Negeri. upah. Pada sektor rumah tangga(RTK). dimana rumah tangga melakukan pembelian barang dan jasa yang dihasilkan oleh perusahaan untuk konsumsi daan mendapatkan pendapatan berupa gaji. bunga. Sedangkan dengan Dunia Internasional adalah rumah tangga mengimpor barang dan jasa dari luar negeri untuk memenuhi kebutuhan hidup. kegiatan ekonomi memiliki hubungan dengan rumah tangga yaitu perusahaan menghasilkan produk-produk barupa barang dan jasa yang dikonsumsi oleh masyarakat dan memberikan penghasilah dan keuntungan kepada rumah tangga barupa gaji. sewa. bunga.2. Kebijakan ini mirip dengan kebijakan moneter untuk mengatur jumlah uang beredar. dll. namun kebijakan fiskal lebih menekankan pada pengaturan pendapatan dan belanja pemerintah. Kebijakan Fiskal adalah suatu kebijakan ekonomi dalam rangka mengarahkan kondisi perekonomian untuk menjadi lebih baik dengan jalan mengubah penerimaan dan pengeluaran pemerintah. deviden. dll dari perusahaan. perusahaan melakukan impor atas produk barang maupun jasa dari luar negri. kegiatan ekonomi yang berhubungan dengan RumahTangga dimana pemerintah menerima setoran pajak rumah tangga untuk kebutuhan operasional. kegiatan ekonomi dengan Pemerintah adalah rumah tangga menyetorkan sejumah uang sebagai pajak dan menerima penerimaan berupa gaji. Atau dengan kata lain. pembangunan. dimana Hubungan dengan RumahTangga adalah dunia internasional menyediakan barang dan jasa untuk . bunga. Instrumen kebijakan fiskal adalah penerimaan dan pengeluaran pemerintah yang berhubungan erat dengan pajak.

Dari semua unsure APBN hanya pembelanjaan Negara atau pengeluaran dan Negara dan pajak yang dapat diatur oleh pemerintah dengan kebijakan fiscal. Artinya. sebagaimana yang dipublikasikan oleh BI.kepentingan rumah tangga. Pengaruh krisis ekonomi pada kebijakan fiskal. Contoh kebijakan fiscal adalah apabila perekonomian nasional mengalami inflasi. orientasi pemerintah dalam mengelola perekonomian telah bergeser ke arah makin kecilnya peran pemerintah. Meski sebenarnya terjadi peningkatan penerimaan. terjadi penurunan tabungan. Dimana Tingginya tingkat krisis yang dialami negeri kita ini diindikasikan dengan laju inflasi yang cukup tinggi. dan untuk Hubungan dengan Perusahaan. semakin banyak modal yang dilarikan ke luar negeri. serta terhambatnya pertumbuhan ekonomi. Negara Indonesia yang sedang dilanda krisis ekonomi yang berlangsung sejak beberapa tahun yang lalu. Sebagai dampak atas inflasi. Dominasi kebijakan moneter dibanding kebijakan fiskal dan deregulasi sektor riil menyebabkan terjadinya kebijakan makro ekonomi yang tidak seimbang. Kondisi seperti ini tak bisa dibiarkan untuk terus berlanjut dan memaksa pemerintah untuk menentukan suatu kebijakan dalam mengatasinya. Kebijakan moneter dengan menerapkan target inflasi yang diambil oleh pemerintah mencerminkan arah ke sistem pasar. Kebijakan tersebut cukup efektif dalam menjaga stabilisasi ekonomi dan ongkos yang harus dibayar relatif murah. dimana Berdasarkan AD/ART pemerintah negara Indonesia. Kebijakan moneter yang ditempuh saat ini berupa open market operation memerlukan ongkos yang mahal. namun ternyata besarnya peningkatan penerimaan masih jauh lebih rendah dibanding peningkatan pengeluaran. berkurangnya investasi. Pada saat itu pemerintah melakukan kebijakan moneter berupa contractionary monetary policy dan vice versa. untuk semester pertama tahun anggaran 2000 terlihat bahwa telah terjadi defisit anggaran yang disebabkan oleh peningkatan pengeluaran untuk subsidi dan pembayaran bunga hutang. . yaitu pengaruh pasar keuangan internasional. dunia internasional mengekspor produknya kepada bisnis-bisnis perusahaan. Kondisi ekonomi negara Indonesia pada masa orde baru sudah pernah memanas. Cara demikian disebut dengan pengelolaan anggaran. Kondisi ini diperparah dengan adanya kendala yang lebih besar.pemerintah dapat mengurangi kelebihan permintaan masyarakat dengan cara memperkecil pembelanjaan dan atau menaikkan pajak agar tercipta kestabilan lagi.

Dari sisi pajak jelas jika mengubah tarif pajak yang berlaku akan berpengaruh pada ekonomi. Umumnya sangat baik digunakan jika keaadaan ekonomi sedang resesif. 2. Hal ini dilakukan dengan jalan memperbesar dan memperkecil pengeluaran komsumsi pemerintah (G).Instrumen kebijakan fiskal adalah penerimaan dan pengeluaran pemerintah yang berhubungan erat dengan pajak. Dan sebaliknya kenaikan pajak akan menurunkan daya beli masyarakat serta menurunkan output industri secara umum. Anggaran Surplus (Surplus Budget) / Kebijakan Fiskal Kontraktif Anggaran surplus adalah kebijakan pemerintah untuk membuat pemasukannya lebih besar daripada pengeluarannya. dan jumlah pajak (Tx) yang diterima pemerintah sehingga dapat mempengaruhi tingkat pendapatn nasional (Y) dan tingkat kesempatan kerja (N). Anggaran Berimbang (Balanced Budget) Anggaran berimbang terjadi ketika pemerintah menetapkan pengeluaran sama besar dengan pemasukan. Usaha tersebut dilakukan agar terjadi kestabilan harga dan inflasi serta terjadinya peningkatan output keseimbangan. 3. 2. Tujuan politik anggaran berimbang yakni terjadinya kepastian anggaran serta meningkatkan disiplin. . Jika pajak diturunkan maka kemampuan daya beli masyarakat akan meningkat dan industri akan dapat meningkatkan jumlah output. Tujuan kebijakan fiscal adalah untuk mempengaruhi jalannya perekonomian. jumlah transfer pemerntah (Tr). Anggaran Defisit (Defisit Budget) / Kebijakan Fiskal Ekspansif Anggaran defisit adalah kebijakan pemerintah untuk membuat pengeluaran lebih besar dari pemasukan negara guna memberi stimulus pada perekonomian. Kebijakan Anggaran / Politik Anggaran : 1. Baiknya politik anggaran surplus dilaksanakan ketika perekonomian pada kondisi yang ekspansi yang mulai memanas (overheating) untuk menurunkan tekanan permintaan.2 Definisi Kebijakan Moneter (monetary policy) Kebijakan Moneter adalah suatu usaha dalam mengendalikan keadaan ekonomi makro agar dapat berjalan sesuai dengan yang diinginkan melalui pengaturan jumlah uang yang beredar dalam perekonomian.

bank sentral. Jika pengumuman tentang target inflasi yang rendah tingkat dibuat tetapi tidak diyakini oleh agen-agen swasta. Jika seorang karyawan berharap harga akan tinggi di masa depan. Kebijakan Moneter bertumpu pada hubungan antara tingkat bunga dalam suatu perekonomian. ia akan membuat kontrak upah dengan upah yang tinggi untuk mencocokkan harga-harga. jika . Sebuah upah yang tinggi akan meningkatkan permintaan konsumen ( demand pull inflation ) dan biaya sebuah perusahaan ( cost push inflation ). Kebijakan moneter menggunakan berbagai alat untuk mengontrol salah satu atau kedua. sehingga inflasi meningkat. (ii) ketersediaan uang. inflasi. otoritas moneter memiliki kemampuan untuk mengubah jumlah uang beredar dan dengan demikian mempengaruhi tingkat suku bunga (untuk mencapai kebijakan gol). yaitu agen-agen swasta harus percaya bahwa pengumuman ini akan mencerminkan kebijakan masa depan yang sebenarnya. atau dimana ada sistem diatur menerbitkan mata uang melalui bank-bank yang terkait dengan bank sentral. Adalah penting bagi para pembuat kebijakan untuk membuat pengumuman kredibel. Oleh karena itu. dan pasokan total uang. mereka akan mengantisipasi harga di masa depan lebih rendah daripada yang (bagaimana ekspektasi yang terbentuk adalah hal yang sama sekali berbeda. Jika agen-agen swasta ( konsumen dan perusahaan ) percaya bahwa para pembuat kebijakan berkomitmen untuk menurunkan inflasi . nilai tukar dengan mata uang lainnya dan pengangguran. penetapan upah akan mengantisipasi tingkat inflasi yang tinggi dan upah akan semakin tinggi dan inflasi akan meningkat. harapan upah yang lebih rendah tercermin dalam perilaku penetapan upah antara karyawan dan majikan (upah lebih rendah karena harga diharapkan lebih rendah) dan karena upah tersebut sebenarnya lebih rendah tidak ada demand pull inflasi karena karyawan menerima upah lebih kecil dan tidak ada biaya tekanan inflasi karena majikan membayar kurang dari upah. Dimana mata uang adalah di bawah monopoli penerbitan. Oleh karena itu. untuk mempengaruhi hasil seperti pertumbuhan ekonomi.Dengan kata lain. atau otoritas moneter suatu negara kontrol suplai (i) uang. yaitu harga di mana uang yang bisa dipinjam. Untuk mencapai tingkat inflasi rendah. pembuat kebijakan harus memiliki pengumuman kredibel.Kebijakan moneter adalah proses di mana pemerintah. dan (iii) biaya uang atau suku bunga untuk mencapai menetapkan tujuan berorientasi pada pertumbuhan dan stabilitas ekonomi. misalnya membandingkan ekspektasi rasional dengan ekspektasi adaptif ).

dengan asumsi agen-agen swasta memiliki ekspektasi rasional . reputasi kepala bank sentral mungkin berasal sepenuhnya dari ideologi nya. bank sentral yang sama tidak mungkin telah memilih bentuk komitmen tertentu (seperti penargetan rentang tertentu untuk inflasi).pengumuman seorang pembuat kebijakan tentang kebijakan moneter yang tidak dapat dipercaya. maka. agen-agen swasta tahu bahwa jika mereka mengantisipasi inflasi yang rendah. Jika pembuat kebijakan percaya bahwa agen-agen swasta mengantisipasi inflasi yang rendah. Pengumuman dapat dilakukan kredibel dalam berbagai cara. perhatikan bahwa di bawah ekspektasi rasional. Reputasi memainkan peran penting dalam menentukan berapa pasar percaya pengumuman komitmen tertentu untuk tujuan kebijakan tetapi kedua konsep tidak boleh berasimilasi. namun. sebagai contoh. pernyataan publik. Oleh karena itu. bonus upah untuk kepala bank) untuk meningkatkan reputasi dan sinyal komitmen yang kuat untuk tujuan kebijakan. antisipasi ini dipenuhi melalui harapan adaptif (perilaku upah-setting). mereka tahu bahwa para pembuat kebijakan memiliki insentif ini. kebijakan tidak akan memiliki efek yang diinginkan. kecuali pengumuman kredibel dapat dibuat. Oleh karena itu. Tapi gagasan reputasi tidak harus bingung dengan komitmen. anggaran yang lebih besar. Juga. kebijakan ekspansionis akan diadopsi yang menyebabkan peningkatan inflasi. latar belakang profesional . Salah satunya adalah untuk mendirikan bank sentral yang independen dengan target inflasi yang rendah (tapi tidak ada target output). Bank-bank sentral dapat diberikan insentif untuk memenuhi target (misalnya. dll . (kecuali para pembuat kebijakan dapat membuat pengumuman inflasi yang rendah mereka kredibel). Akibatnya. Sementara bank sentral mungkin memiliki reputasi baik karena kinerja yang baik dalam melakukan kebijakan moneter. Oleh karena itu. agen-agen swasta tahu bahwa inflasi akan rendah karena sudah diatur oleh badan independen. agen-agen swasta mengharapkan inflasi yang tinggi. ada inflasi yang lebih tinggi (tanpa manfaat produksi meningkat). mereka memiliki insentif untuk mengadopsi kebijakan moneter ekspansionis (dimana manfaat marjinal meningkatkan output ekonomi melampaui biaya marjinal inflasi). Reputasi merupakan elemen penting dalam pelaksanaan kebijakan moneter. kebijakan moneter yang ekspansif akan gagal. tidak perlu bagi pembuat kebijakan untuk telah menetapkan reputasi melalui tindakan kebijakan masa lalu.

kurangnya definisi dapat mendorong orang untuk percaya bahwa mereka mendukung satu kebijakan tertentu kredibilitas ketika mereka benarbenar mendukung lain. di bawah sebuah definisi tertentu seperti Indeks Harga Konsumen . Target inflasi ini dicapai melalui penyesuaian berkala kepada Bank Sentral suku bunga target.2. untuk menerapkan semua jenis kebijakan moneter alat utama yang digunakan adalah memodifikasi jumlah uang primer yang beredar. Sementara semua orang setuju kemungkinan besar bank sentral tidak boleh berbohong kepada publik. The multiplier effect perbankan cadangan fraksional memperkuat dampak dari tindakan. kurangnya kejelasan tersebut dapat berfungsi untuk memimpin kebijakan jauh dari apa yang diyakini paling menguntungkan. Tingkat bunga yang digunakan adalah umumnya tingkat antar bank di mana bank meminjamkan kepada satu sama lain semalam untuk .1 Jenis-jenis kebijakan moneter Dalam prakteknya. kepala bank sentral harus memiliki kebencian yang lebih besar untuk inflasi dari sisa ekonomi pada rata-rata. Otoritas moneter melakukan hal ini dengan membeli atau menjual aset keuangan (biasanya kewajiban pemerintah). melainkan untuk pengaturan kelembagaan tertentu bahwa pasar dapat digunakan untuk membentuk ekspektasi inflasi. makna yang tepat dari kredibilitas jarang didefinisikan. 1. perselisihan luas ada di bagaimana bank sentral dapat melayani kepentingan publik. Meskipun sering diskusi kredibilitas yang berkaitan dengan kebijakan moneter. kemampuan untuk melayani kepentingan umum adalah salah satu definisi dari kredibilitas sering dikaitkan dengan bank sentral. 2. Oleh karena itu reputasi bank sentral tertentu tidak perlu terikat pada kinerja masa lalu. Oleh karena itu. Keandalan dengan mana suatu bank sentral janjinya juga merupakan definisi umum.Bahkan telah berpendapat bahwa untuk mencegah beberapa patologi terkait dengan inkonsistensi waktu pelaksanaan kebijakan moneter (inflasi berlebihan tertentu). transaksi pasar Konstan oleh otoritas moneter memodifikasi pasokan mata uang dan ini dampak variabel pasar lain seperti suku bunga jangka pendek dan nilai tukar. Inflasi penargetan Berdasarkan pendekatan kebijakan target adalah untuk menjaga inflasi . Ini operasi pasar terbuka berubah baik jumlah uang atau likuiditas (jika bentuk cair kurang dari uang yang dibeli atau dijual). Misalnya. dalam kisaran yang diinginkan.

Hal ini saat ini digunakan di Australia . pendekatan ini difokuskan pada jumlah moneter. Swedia . Tergantung pada negara ini tingkat bunga tertentu yang bisa disebut uang bunga atau sesuatu yang serupa. yang Republik Ceko . 1. Islandia . Taylor dari Universitas Stanford . Di Amerika Serikat ini pendekatan kebijakan moneter dihentikan dengan pemilihan Alan Greenspan sebagai Ketua Fed. Pendekatan ini disaring untuk memasukkan kelas yang berbeda dari uang dan kredit (M0. M1 dll). Target suku bunga dipertahankan untuk jangka waktu tertentu menggunakan operasi pasar terbuka. Kanada . Turki . Harga Penargetan Tingkat Harga penargetan tingkat mirip dengan inflation targeting kecuali bahwa pertumbuhan CPI dalam satu tahun atas atau di bawah target tingkat harga jangka panjang adalah offset pada tahun-tahun berikutnya sehingga tingkat harga yang ditargetkan tercapai dari waktu ke waktu. satu metode sederhana inflation targeting disebut aturan Taylor menyesuaikan tingkat suku bunga sebagai respon terhadap perubahan dalam tingkat inflasi dan kesenjangan output . Pendekatan ini juga kadang-kadang disebut monetarisme . Sementara kebijakan yang paling moneter berfokus pada sinyal harga satu bentuk atau lain. Agregat Moneter Pada 1980-an. Filipina . Sebagai contoh. Kolombia . Target suku bunga biasanya ditinjau secara bulanan atau kuartalan oleh komite kebijakan. Selandia Baru . Dalam inflation targeting apa yang terjadi pada tahun-tahun terakhir segera tidak diperhitungkan atau disesuaikan dalam tahun berjalan dan masa depan. beberapa negara menggunakan pendekatan yang didasarkan pada pertumbuhan konstan dalam jumlah uang beredar. dan Inggris . 1. 1. Penargetan inflasi pendekatan untuk pendekatan kebijakan moneter ini dipelopori di Selandia Baru.keperluan arus kas. Afrika Selatan . Brazil . Nilai Tukar Tetap . memberikan kepastian lebih lanjut tentang masa depan kenaikan harga kepada konsumen. Aturan diusulkan oleh John B. misalnya lima tahun. Polandia . Biasanya durasi bahwa target suku bunga dipertahankan konstan akan bervariasi antara bulan dan tahun. Chile . Perubahan target suku bunga dibuat sebagai tanggapan terhadap berbagai indikator pasar dalam upaya untuk memperkirakan tren ekonomi dan dengan demikian pasar tetap pada jalur untuk mencapai sasaran inflasi yang ditetapkan. Norwegia .

yang dapat peringkat dalam kaitannya dengan cara kaku kurs tetap adalah dengan bangsa jangkar. nilai tukar tetap dengan tingkat tetap dapat dilihat sebagai kasus khusus dari kurs tetap dengan band-band di mana band-band yang diatur ke nol. Sebaliknya. mata uang asing (biasanya dolar AS. Dalam dolarisasi . Dalam hal ini ada tingkat pasar gelap tukar dimana perdagangan mata uang pada pasar / nilai tidak resmi. tingkat dipaksakan oleh-konvertibilitas tindakan-tindakan non (misalnya kontrol modal . mata uang dibeli dan dijual oleh bank sentral atau otoritas moneter setiap hari untuk mencapai nilai tukar target. . keterbukaan. dll). Hal ini memastikan bahwa basis moneter lokal tidak akan mengembang tanpa didukung oleh mata uang keras dan menghilangkan segala kekhawatiran tentang berjalan di mata uang lokal dengan mereka yang ingin mengkonversi mata uang lokal ke mata uang (jangkar) keras. (Dalam kasus ini. Hal ini dapat terjadi karena penduduk setempat telah kehilangan iman semua dalam mata uang lokal. saluran kredit dan faktor ekonomi lainnya. Ada berbagai tingkat nilai tukar tetap. pemerintah daerah atau otoritas moneter menyatakan nilai tukar tetap tetapi tidak aktif membeli atau menjual mata uang untuk mempertahankan tingkat. Di bawah sistem fixed-konvertibilitas. baik secara eksklusif atau paralel dengan mata uang lokal. Kebijakan ini sering turun tahta kebijakan moneter dengan otoritas moneter asing atau pemerintah sebagai kebijakan moneter di negara mengelompokkan harus menyelaraskan dengan kebijakan moneter dalam jangkar bangsa untuk mempertahankan nilai tukar. atau mungkin juga kebijakan dari pemerintah (biasanya untuk mengendalikan inflasi dan impor kebijakan moneter kredibel).) Di bawah sistem nilai tukar tetap dikelola oleh suatu dewan mata uang setiap unit mata uang lokal harus didukung oleh unit mata uang asing (mengoreksi nilai tukar). Di bawah sistem nilai fiat tetap. impor / lisensi ekspor. Tingkat mungkin target tingkat tetap atau sebuah band tetap di mana nilai tukar dapat berfluktuasi sampai otoritas moneter campur tangan untuk membeli atau menjual yang diperlukan untuk mempertahankan nilai tukar dalam band. Tingkat dimana kebijakan moneter lokal menjadi tergantung pada jangkar bangsa tergantung pada faktor-faktor seperti mobilitas modal. maka istilah “dolarisasi”) digunakan secara bebas sebagai media pertukaran.Kebijakan ini didasarkan pada mempertahankan nilai tukar tetap dengan mata uang asing.

pemerintah menurunkan rasio cadangan wajib. Untuk membuat jumlah uang bertambah. pemerintah menurunkan tingkat bunga bank sentral. pemerintah akan membeli surat berharga pemerintah. Fasilitas Diskonto (Discount Rate) Fasilitas diskonto adalah pengaturan jumlah duit yang beredar dengan memainkan tingkat bunga bank sentral pada bank umum. Operasi Pasar Terbuka (Open Market Operation) Operasi pasar terbuka adalah cara mengendalikan uang yang beredar dengan menjual atau membeli surat berharga pemerintah (government securities). 3. Jika ingin menambah jumlah uang beredar. 2. Kebijakan moneter dapat digolongkan menjadi dua. Kebijakan moneter dapat dilakukan dengan menjalankan instrumen kebijakan moneter. pemerintah menaikkan rasio.Pengaturan jumlah uang yang beredar pada masyarakat diatur dengan cara menambah atau mengurangi jumlah uang yang beredar. maka pemerintah akan menjual surat berharga pemerintah kepada masyarakat. yaitu : 1. Kebijakan Moneter Kontraktif / Monetary Contractive Policy Adalah suatu kebijakan dalam rangka mengurangi jumlah uang yang beredar. serta sebaliknya menaikkan tingkat bunga demi membuat uang yang beredar berkurang. 4. Kebijakan Moneter Ekspansif / Monetary Expansive Policy Adalah suatu kebijakan dalam rangka menambah jumlah uang yang beedar. yaitu antara lain : 1. Bank umum terkadang mengalami kekurangan uang sehingga harus meminjam ke bank sentral. Contohnya seperti . Untuk menambah jumlah uang. Disebut juga dengan kebijakan uang ketat (tight money policy). Namun. Surat berharga pemerintah antara lain diantaranya adalah SBI atau singkatan dari Sertifikat Bank Indonesia dan SBPU atau singkatan atas Surat Berharga Pasar Uang. Rasio Cadangan Wajib (Reserve Requirement Ratio) Rasio cadangan wajib adalah mengatur jumlah uang yang beredar dengan memainkan jumlah dana cadangan perbankan yang harus disimpan pada pemerintah. Untuk menurunkan jumlah uang beredar. 2. bila ingin jumlah uang yang beredar berkurang. Himbauan Moral (Moral Persuasion) Himbauan moral adalah kebijakan moneter untuk mengatur jumlah uang beredar dengan jalan memberi imbauan kepada pelaku ekonomi.

menghimbau perbankan pemberi kredit untuk berhati-hati dalam mengeluarkan kredit untuk mengurangi jumlah uang beredar dan menghimbau agar bank meminjam uang lebih ke bank sentral untuk memperbanyak jumlah uang beredar pada perekonomian. Kondisi di pasar barang dan jasa ini akan menentukan tingkat harga dan kesempatan kerja akan menentukan tingkat pendapatan dan tingkat upah yang di harapkan. yang pada giliranya permintaan dan penawaran agregat itu akan menentukan keadaan di pasar barang dan jasa. dan pasar uang dan surat berhargta itu akan menentukan tinggi rendahnya tingkat bunga. Sedangkan kebijakan campuran adalah merupakan campuran daari dua kebijakan bdiatas yang di lakukan dengan cara mengubah pengeluaran. Bagi negara sedang berkembang sebenarnya sulit untuk menyesuaikan antara pendapatan negara yang sedang berkembang rendah sedangkan kebutuhan untuk menyediakan barang dan jasa serta membelanjai pengeluaran yang lainya lebih besar. 2. Keduanya akan memiliki umpan balik yaitu pendapatan akan memberikan umpan balik terhadap permintaan agregat dan upah harapan mempunyai umpan balik terhadap penawaran agregat dan pasar uang serta pasar surat berharga. untuk mempertahankan produksi Yang mendekati full employment dan untuk mempertahankan tingkat harga barang dan jasa agar inflasi dan deflasi tidak terjadi. Kebijakan fiskal dan moneter adalah kebijakan yang di lakukan dengan tujuan untuk mengelola isi permintaan barang dan jasa. dan tingkat bunga akan memperngaruhi tingkat agregat. Kebijakan fiskal akan mempunyai pengaruh terhadap permintaan dan penawaran agregat. .3 Hubungan Antara Kebijakan Fiskal Dan Moneter Sebagaiman kita ketahui bahwa kebijakan moneter akan mempengaruhi pasar uang dan pasar surat berharga. pengenaan pajak ataupun jumlah uang yang beredar secara bersama-sama.