Estetika Sufi dalam Sastra Melayu dan Jejaknya dalam Sastra Modern Oleh: Abdul Hadi W. M.

Babakan penting sejarah sastra Melayu Nusantara mengambil waktu pada peralihan abad ke-16 – 17 M bersamaan dengan derasnya proses pengislaman penduduk Nusantara dan munculnya kerajaankerajaan Islam di pesisir Sumatra, Semenanjung Malaya, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Nusatenggara. Penerimaan Islam secara luas itu tidak semata-mata disebabkan oleh faktor politik dan perdagangan, tetapi terutama karena Islam yang didakwahkan kepada penduduk kepulauan Nusantara adalah ajaran al-Qur’an dan Sunnah yang ditafsirkan oleh para ahli tasawuf ke dalam berbagai bidang kehidupan dan ilmu seperti etika, hukum, metafisika, estetika, konsep pemerintahan, ekonomi, politik, seni, sastra, adat istiadat, dan sudah barang tentu dalam berbagai bidang ilmu keagamaan seperti syariah, fiqih, kalam, dan ilmu suluk atau tariqat. Ajaran Islam bercorak sufistik yang merupakan hasil penafsiran mendalam ahli-ahli tasawuf itu terutama ditulis dalam bahasa Melayu, menggunakan ungkapan-ungkapan sastra dan tidak jarang menggunakan sarana sastra seperti hikayat dan syair, dan diajarkan di lembaga-lembaga pendidikan Islam, yang selain menggunakan bahasa Arab juga menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar. Sebagai bahasa Nusantara pertama yang mengalami proses islamisasi, bahasa Melayu telah siap menjadi bahasa ilmu pengetahuan, keagamaan, dan sastra, karena perbendaraan katanya telah diperkaya dengan kata-kata dan istilah-istilah konseptual Islam terutama dari bahasa Arab. Terintegrasinya bahasa Melayu ke dalam peradaban Islam itu memungkin ia menjelma sebagai bahasa pergaulan utama antar etnik di Nusantara baik di bidang perdagangan maupun di bidang intelektual-keagamaan dan kebudayaan. Mantapnya kedudukan tersebut diperoleh karena penyebaran agama Islam yang telah marak sejak abad ke-13 M. Orang-orang Islam yang berpengaruh di bidang perdagangan, politik dan kegiatan intelektual menggunakan bahasa Melayu sebagai media utama bagi penyampaian ajaran agama, ilmu-ilmu keagamaan dan falsafah (al-Attas 1970; Braginsky 1992; Abdul Hadi W. M. 2001). Cepatnya perkembangan bahasa Melayu itu bisa terjadi karena pusat-pusat utama penyebaran agama Islam seperti Samudra Pasai (1272-1450), Malaka (1400-1511) dan Aceh Darussalam (1516-1700) merupakan kota-kota dagang dan pelabuhan utama di Selat Malaka. Di kota-kota inilah kapal-kapal asing singgah untuk mengambil barang dagangan, sehingga dengan cepatnya pula kota-kota ini maju dan makmur, yang dengan demikian mudah pula berkembang menjadi pusat kegiatan intelektual dan kebudayaan. Ketiga kerajaan ini pula sejak lama penduduknya menggunakan bahasa Melayu yang diwarisi dari pendahulunya yaitu kerajaan Sriwijaya (Collin 1992; Azyumardi Azra 1995:22-55; Ibrahim Alfian 1999:53) Pada awal abad ke-16 M dengan ditalukkannya Malaka oleh Portugis (1511) serta merta kegiatan penulisan sastra Melayu mandeg untuk beberapa waktu lamanya. Tetapi tidak lama kemudian, pada tahun 1516 M, sebuah kerajaan Islam lain yaitu Aceh Darussalam muncul tidak jauh dari bekas tapak kerajaan Samudra Pasai. Dengan munculnya Aceh kegiatan penulisan kitab keagamaan dan sastra Melayu berkembang pesat. Karya-karya Melayu yang ditulis di Pasai dan Malaka disalin kembali dalam jumlah besar. Majunya perkembangan penulisan kitab itu terutama terjadi pada masa pemerintahan Sultan Ala’uddin Riayat Syah (1589-1604) dan Sultan Iskandar Muda (1607-1636 M) . Taufik Abdullah (2003) menyebutkan pada periode ini terjadi gelombang kedua dalam sejarah intelektual Islam di Nusantara. Gelombang pertama mengambil masa pada abad ke-14-16 M, yaitu sejak munculnya Samudra Pasai hingga berkembangnya Malaka dan Aceh. Pada periode yang sangat gencar dilakukan ialah pengenalan asas-asas kosmopolitan dari ajaran Islam. Karya-karya Arab dan Persia disadur dalam jumlah besar ke dalam bahasa Melayu, dan dengan demikian Islam hadir sebagai realitas dunia baru dalam pikiran bangsa-bangsa Nusantara. Dalam gelombang kedua terjadi proses islamisasi kebudayaan dan realitas

namun demikian pengalaman itu bisa dibagi kepada orang lain. dan bermulanya penulisan karya-karya yang benar-benar bercorak Islam baik secara estetik maupun isi yang dikandungnya. Tetapi proses islamisasi benar-benar telah dijalankan pada abad ke-16 dan 17 itu. Mereka juga mengajarkan semangat persaudaraan dan egaliter. Aceh. Walaupun beberapa sarjana Eropah seperti Overbeck (1920). misalnya alAttas (1970). yang dengan itu kesadaran bersama dan solidaritas kemasyarakatan dapat direalisasikan. Karya-karya dari zaman Hindu Buddha disadur dan ditransformasikan ke dalam situasi pemikiran Islam. Islam dipakai sevagai cermin untuk melihat dan memahami realitas. . yaitu di satu pihak kecenderungan untuk memusatkan diri pada renungan-renungan tasawuf yang mendalam dan personal dalam ikhtiar menjawab masalah hubungan manusia dengan Yang Abadi. Madura. karena karya-karya zaman peralihan – seperti saduran karya-karya Arab dan Parsi dan gubahan dari karya-karya zaman Hindu yang telah diislamkan – masih terus disalin dan digubah dalam sastra Melayu. dan berperan besar pula sebagai penyebar gagasan dan pandangan dunia yang relevan sampai abad ini. hasil-hasil sastra Melayu Islam sangat penting. Ini terlihat mula-mula dalam karya Bukhari al-Jauhari Taj al-Salatin atau Mahkota Raja-raja (1603 M). yang saling berkaitan muncul pada masa ini. Braginsky (1992).secara besar-besaran. Syamsudin Pasai atau Syamsudin Sumatrani dan Bukhari al-Jauhari. Malahan mereka dapat menunjukkan relevansi serta sumbangan besar penulis-penulis klasik itu bagi perkembangan sastra Indonesia secara keseluruhan. Dua gejala dominan. bahkan dalam sastra Nusantara lain seperti Jawa. Dalam kenyataan pengalaman rohani dalam tasawuf hanya bisa diperoleh secara personal. Ini dimungkinkan karena mereka berkarya berdasarkan estetika sufi dan ilmu tasawuf. terletak pada keberanian pengarang untuk mengekspresikan pengalaman dan pengetahuan pribadinya. Karya-karya penulis sufi seperti Hamzah Fansuri dan murid-muridnya mereka juga mengungkapkan bahwa manusia. dan di pihak lain ikhtiar untuk membangun tatanan kehidupan sosial politik berdasarkan cara pandang Islam. Pada masa inilah muncul tokoh besar di bidang penulisan sastra keagamaan dan adab seperti tampak pada Hamzah Fansuri. tidak sedikit sarjana mutakhir. Windstedt (1920) dan lain-lain memandang sebelah mata terhadap keaslian dan relevansi karya para penulis itu. Demikianlah yang mereka ajarkan pertama-tama ialah pentingnya individualitas dan tanggungjawab pribadi dalam menjalankan kehidupan keagamaan dan sosial. Kecuali itu dengan memandang manusia sebagai khalifah Tuhan di muka bumi maka berarti mereka telah menempatkan manusia sebagai pusat dan penggerak utama perputaran peristiwa di dunia. Memang akhir masa peralihan ini tidak dapat dibatasi dengan jelas. selaku hamba dan khalifah Tuhan di dunia memiliki kedudukan setara di hadapan Tuhan di hadapan Tuhan dan hukum ilahi. kemudian dalam karya Nuruddin al-Raniri Bustan al-Salatin (1637 M). karena ia telah memainkan peranannya sebagai fundasi utama kebudayaan Melayu Nusantara. Bugis Makassar dan lain-lain. Menurut Braginsky. Teeuw (1994) dan lain-lain memandang lebih arif. terutama mereka yang sejalan dalam kehidupan rohani dan keagamaan. Sebagai khalifah Tuhan mereka memiliki freewill dan harus menjalani kehidupan berdasarkan freewill atau ikhtiar pribadinya. Realitas yang ditampilkan adalah realitas yang hidup dalam masyarakat dan kebudayaan Melayu Nusantara yang telah berhasil diislamkan. yang dengan itu sebuah kehidupan masyarakat religius dan beradab dapat diselenggarakan. Brakel (1979). Kebaruan karya para penulis abad ke-16 dan 17 itu ialah pertama-tama. yaitu kebudayaan Indonesia dan Malaysia. Sunda. Minangkabau. Kecenderungan kedua ini memunculkan hasrat menyusun etika politik dan teori pemerintahan yang ideal. Zaman ini menandakan berakhirnya zaman peralihan dari tradisi Hindu-Budhha ke tradisi Islam.

termasuk kisah binatang. Madura. dalam batas tertentu. Hikayat Nabi-nabi sebelum Rasulullah misalnya ditulis berdasarkan sumber-sumber al-Qur’an. kalam.w.w. Peranan Penulis dan Fungsi Sastra Karya-karya penulis Melayu klasik. berhasil menyadarkan pembaca Nusantara tentang betapa pentingnya budaya membaca dan menulis bagi perkembangan dan kelangsungan peradaban. jalan kerohanian (suluk). Braginsky (1992) mengatakan bahwa karya-karya itu. . sehingga tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa sastra Islam itu tidak ada. Sastra Adab adalah disusun berdasarkan sumber yang beragam seperti al-Qur`an. (5) Hikayat Pahlawan-pahlawan Islam. Minangkabau.Mengenai pandangan dunia (worldview) yang mendasar karya para penulis sufi Melayu itu. yaitu Yang Satu. (2) Hikayat Nabi-nabi sebelum Rasulullah. Masing-masing jenis dari hikayat ini mempunyai ciri dan fungsi tersendiri. dan sumber penulisannya juga berbeda-beda. (3) Karya yang menggarap lapis Hiburan dan Estetika Zahir. Berdasarkan sumbernya saja dengan segera kita akan melihat betapa karya-karya tersebut benar-benar bercorak Islam. Karya-karya yang menggarap sfera kesempurnaan jiwa ini juga menggambarkan cita-cita manusia mencapai pribadi insan kamil meneladani Nabi Muhammad s. (11) Cerita Jenaka. (3) Hikayat Para Sahabat Nabi.a. yang amat penting bagi seorang Muslim untuk mengenal perannya sebagai khalifah Tuhan di atas dunia dan sekaligus hamba-Nya. Khususnya seperti yang dikumpulkan oleh al-Tabari pada abad ke-8 M dalam kitabnya Sirah Nabi Muhammad. amat berlimpah dan aneka ragam jenis dan coraknya. karya-karya tersebut menjadi teladan dan dijadikan sumber ilham bagi penulisan karya sejenis dalam berbagai bahasa Nusantara lain seperti Jawa. dilengkapi dengan kisahkisah yang telah lama dikenal bangsa Arab dan Ibrani melalui Taurat. Cerita Rakyat dan kitab-kitab keagamaan seperti fiqih. (10) Syair Rampai. Kisah berhubungan dengan asal-usul kerohanian Nabi Muhammad yang diramu berdasarkan konsep kosmologi sufi ialah Hikayat Kejadian Nur Muhamad. (9) Cerita Berbingkai. Arti penting lain ialah karena sampai abad ke-19. sebagaimana juga sejarah orang-orang saleh dan suci atau para wali. menggambarkan upaya manusia mencapai pengetahuan tertinggi (ma`rifat).a. dilanjutkan oleh beberapa penulis abad ke-20 dengan memberinya cita rasa modern. Hadis. Aceh. (2) Karya yang menggarap lapis Faedah dan Hikmah. Braginsky (1993) mengelompokkan karya-karya Melayu warisan peradaban Islam menjadi tiga berdasar peringkat wilayah atau lapisan garapannya: (1) Karya yang menggarap lapis Kesempurnaan dan Estetika Batin.a. yang dihasilkan sejak akhir abad ke-16 sampai menjelang akhir abad ke-19.. (8) Sastra Adab. termasuk kesaksian kerabat dekat dan sahaba-sahabat Nabi yang mengikuti perjuangannya menyebarkan agama Islam sejak awal.w misalnya bersumber pada sejarah kehidupan Nabi Muhammad dari sumber-sumber paling awal. (12) Pelipur lara dan lainlain. (6) Karangan bercorak Tasawuf. Yang benar-benar bercorak fiksi ialah cerita berbingkai dan pelipur lara. (4) Hikayat Orang-orang Saleh dan Suci. kerinduan seorang `asyik (pencinta) kepada Sang Kekasih (mahbub). Tarikh. Bugis Makasar. termasuk wawasan estetiknya. Pesan moral. Banjar dan lain-lain. Hikayat Nabi Muhammad s. kerohanian dan keagamaan yang disajikan karya-karya ini juga berkaitan dengan ajaran Islam yang ditemui dalam tafsir al-Qur’an. Dalam karya kategori ini dipaparkan juga jalan pengenalan diri. kitab syariah dan tasawuf. Zabur dan Injil. Hikayat pahlawan-pahlawan Islam digubah berdasar sumber sejarah dan kisah-kisah lain yang bercorak fiksi. Sesuai jenisnya karya-karya tersebut dapat dikelompokkan menjadi: (1) Hikayat Nabi Muhammad s. Hikayat Para Sahabat Nabi benar-benar didasarkan atas sumber sejarah. Malahan beberapa gagasan penting mereka.. Termasuk dalam kategori ini ialah syair-syair Tasawuf yang sering dikenal sebagai Syair Tauhid dan Makrifat. (1). Karya-karya yang menggarap sfera kesempurnaan (kamal). (7) Karangan bercorak kesejarahan. tasawuf dan siyas (politik). bentuk pengalaman dan keadaan rohani (maqam dan ahwal) yang diperoleh seorang penempuh jalan rohani (salik) dan lain sebagainya. Sunda.

Karya bercorak sejarah ada yang ditulis dalam bentuk syair dan ada yang ditulis dalam bentuk prosa. Menurut Ali Ahmad (1991) karya bercorak sejarah yang disebut salasilah memiliki unit cerita yang terdiri dari kisah-kisah dan legenda. Di Minangkabau karya kesejarahan disebut tambo. Yusuf Mengkasari. Bustan al-Salatin merupakan karya bercorak sejarah dan adab. pegawai pemerintahan dan pemimpin masyarakat dalam menjalankan pemerintahan agar tercapai keadilan dan kesejahteraan sosial. misalnya tidak dilaksanakannya keadilan dan raja tidak lagi taat pada undang-undang dan tidak berperan sebagai pelindung rakyat dalam arti yang sebenar-benarnya. Syair Sultan Maulana. sebab-sebab kejatuhan dan kebangunannya. karya kesejarahan lain yang masyhur ialah Hikayat Pasai. Ikat-ikatan Bahr al-Nisa' (Lautan Perempuan). peristiwa-peristiwa penting yang mempengaruhi kehidupan masyarakat dan jalannya sejarah. dan dengan demikian agama berkembang.Selain ditulis dalam bentuk puisi didaktis dan imaginatif simbolik. Keindahan yang dipaparkan dalam karya-karya katagori ini ialah keindahan tersirat atau keindahan batin. Syamsudin Pasai. Syair Sultan Zainal Abidin. Karya bercorak sejarah yang ditulis dalam bentuk syair di antaranya ialah Syair Perang Mengkasar. karya kesejarahan diikat oleh perkembangan kejadian dan hikmah yang dikandung dalam kejadian tersebut. Di antaranya Syair Perahu (dalam tiga versi yang berbeda). Jumlah karya bercorak sejarah sangat banyak. Karya-karya ini menjadi cermin pengajaran dan tuntunan bagi raja-raja. Syair Perang Siak. (2) Karya-karya yang mengungkap sfera faedah. Syair Pangeran Syarif Hasyim. dan juga beberapa karangan Abdul Rauf Singkel dan lain-lain termasuk dalam kategori ini. Babad Giyanti. Sulalat al-Salatin atau Sejarah Melayu karya Tun Sri Lanang dan Tuhfat alNafis karya Raja Ali Haji. . Syair Siti Zubaidah Perang dengan Cina. Di antara karya termasuk sastra adab yang terkenal ialah Taj alSalatin (Mahkota Raja-raja) karya Bukhari Jauhari dan Bustan al-Salatin (Taman Raja-raja) karya Nuruddin Raniri dan Nasih Luqman al-Hakim (anonim). serta karya kesejarahan dan adab. namun tidak seperti hikayat yang diikat oleh perkembangan tokohnya yang stereotype. Salasilah Melayu dan Bugis Salasilah Kutai. Di samping itu para sufi amat produktif menulis risalah tasawuf dan interpretasi teks dalam bahasa sastra yang tinggi dengan pengetahuan yang dalam. Daud Pontiani dan lain-lain. Termasuk Hikayat Nabi dan para sahabatnya. Hikayat Burung Pingai. Hikayat Pahlawan Islam. Abdul Samad Palimbangi. Babad Madura. Hikayat Banjar. Daud Fatani. Arsyad Banjari. karangan-karangan ahli tasawuf ini sangat menarik perhatian pengkaji. Selain yang telah disebut. Sejarah Raja-raja Riau. Menurut Braginsky (1993) karya-karya yang termasuk ke dalam kategori ini mempunyai tujuan menyucikan kalbu dan jiwa manusia. Di antara penulis risalah tasawuf dan ta'wil (hermeneutika sufi) yang terkenal ialah Hamzah Fansuri. Syair Singapura Terbakar. karena kalbulah yang merupakan sarana penghayatan intuitif terhadap keberadaan Yang Haq dan Yang Satu. Hikayat Bengkulu dan lain-lain. Hikayat Maulana Hasanuddin. Syair Moko-moko. Di antara yang masyhur ialah Tambo Minangkabau. serta penyimpangannya terhadap ajaran Islam. Syair Alif dan lain-lain. Karya bercorak sejarah lain yang terkenal ialah Hikayat Aceh (anonim). Selain karya bercorak sejarah dan hikayat-hikayat tertentu. Babad Besuki dan lain-lain. Hikayat Patani. yaitu sarana intelektualnya. Syair Kompeni Walanda Perang dengan Cina dan lain-lain. Krisis yang terjadi dalam sebuah negara. Di Jawa genre serupa disebut babad seperti Babad Tanah Jawi. yang membuat jatuhnya sebuah dinasti atau seorang raja. Karya katagori ini bermaksud memperkuat dan menyempurnakan akal manusia. juga ada yang ditulis dalam bentuk kisah perumpamaan. Babad Pasundan. Syamsudin Pasai. Hikayat Johor. dengan membeberkan kisah-kisah yang mengandung hikmah dan pengajaran. Ki Fakhrudin Palimbangi. Misa Melayu. Sedangkan karya bercorak sejarah menggambarkan jatuh bangunnya raja-raja dan dinasti. Karya-karya Hamzah Fansuri dan murid-muridnya seperti Abdul Jamal. Nuruddin Raniri. selalu dicari sebabnya pada krisis moral dan akhlaq. Syair Dagang (yang agaknya ditulis penyair asal Minangkabau). Kecuali karya tiga penulis ini terdapat karya ahli tasawuf lain yang namanya belum diketahui. Hikayat Merong Mahawangsa. Abdul Rauf Singkili. Hasan Fansuri.

yaitu menghibur atau melipur. Misalnya sebagaimana nampak dalam Hikayat Syekh Mardan yang masyhur itu dan telah dikaji oleh beberapa sarjana. melainkan sebagai representasi pengalaman jiwa manusia yang ruang kejadiannya berlaku di alam misal atau alam imaginal. dan pada saat yang sama memperkuat dasar keberadaannya. getaran hati nurani atau pengucapan diri. Malahan Teuw (1994) tidak tanggung-tanggung menyebut Hamzah Fansuri sebagai Pemula Puisi Indonesia. sebuah sarana penghayatan indrawi atau sensual manusia dalam menanggapi kehidupan. dalam arti berkaitan dengan soal hubungan manusia dengan Tuhan dan berkaitan pula dengan soal hubungan manusia dengan sesamanya. Pembaharuan yang dilakukan sang sufi dari Barus itu tiga abad mendahului pembaharuan Pujangga Baru dan Chairil Anwar. Tujuan karya seperti itu ialah menyerasikan kesan-kesan kejiwaan yang kacau disebabkan kobaran hawa nafsu. (3) Karya yang menggarap sfera hiburan dan estetika zahir (luaran). Begitu pula gagasan tentang kemerdekaan penyair dalam merombak bahasa demi pengucapan estetik. dan upaya ke arah itu dicapai melalui bantuan keindahan karya sastra yang memberikan semacam psikoterapi kepada jiwa. tetapi terbuka kepada berbagai-bagai kemungkinan. Brakel dan Braginsky. sebab ia menumpukan maknanya pada nilai Tauhid dan konsekwensi moralnya bagi mereka yang menghayati keluasan makna Tauhid. kesadaran akan pentingnya individualitas. secara kreatif dan luar biasa telah diterapkan dalam penulisan oleh Hamzah Fansuri dan murid-muridnya. seperti alAttas. Alam misal mempunyai tempat tersendiri dalam teori sastra dan estetika Islam. Karena itu tidak mengherankan apabila banyak kritikus.Menurut Ali Ahmad lagi. Di antara pembaharuan itu termasuk: . menggambarkan latar belakang tempat dan kebudayaan Melayu dengan jelasnya di mana Islam telah dihayati pada peringkat fikrah dan amalannya. Puisi dan Kesadaran Diri Dalam sejarah sastra Indonesia. Karangan-karangan dalam kategori ini termasuk hikayat dan syair percintaan. kisah petualangan yang dibumbui kisah-kisah luar biasa atau ajaib. bukan baru bermula pada abad ke-20 dengan munculnya Pujangga Baru dan Chairil Anwar. Ini menjadikan nilainya meningkat. memandang Hamzah Fansuri sebagai Bapak Bahasa dan Sastra Melayu. Kisah-kisah ajaib ini tidak dimaksudkan sebagai mitos. karena apa yang dialami seseorang dalam alam tersebut merupakan realitas yang menghubungkan pengalaman zahir dengan pengalaman transendental. yang disebut licensia poetica. Pengalaman dan pengetahuan tersebut dicapai melalui upaya intelektual dan spiritual yang disadari. Kesan-kesan kejiwaan yang kacau harus diserasikan dengan nilai moral dan ajaran agama. Hamzah Fansuri dan murid-muridnya telah mempelopori kesadaran tersebut lebih tiga abad sebelum mereka. yang menyajikan pencerahan profetik. termasuk ke dalam jenis ini ialah Pelipur Lara. Dengan demikian estetika yang ditonjolkan ialah estetika berkenaan hikmah atau Estetika Hikmah. seorang perintis jalan yang melalui karya-karyanya berhasil membawa sastra Melayu memasuki babakan yang universal dan kosmopolitan dalam semangat penciptaan. Perjalanan tersebut sering digambarkan sebagai perjalanan menuju puncak bukit atau gunung untuk menyucikan diri. Penyajian peristiwa di alam misal juga berfungsi sebagai pemaparan simbolik sebuah kisah. yang sesudah itu sang tokoh hikayat turun kembali ke dunia nyata untuk memainkan perannya selaku khalifah Tuhan di atas dunia. Karya-karya mereka otentik sebab didasarkan atas pengalaman dan pengetahuan pribadi. Dalam hikayat yang tergolong pelipur lara tidak jarang penulis menyelipkan ajaran agama atau tasawuf. munculnya karya kesejarahan dan hikayat yang bernaeka ragam itu. serta penyebarannya yang luas. Juga karya-karya itu. kian menjadikan kesusastraan Melayu tidak lagi streotaip. yang tidak lain merupakan kias perjalanan manusia dari alam rendah menuju alam tinggi. Kecuali itu karya para penyair Sumatra itu membuka babakan baru sejarah kepenyairan kita dengan puisi-puisi.

termasuk pengetahuan tentang Islam dan tasawufnya. Puisi Hamzah Fansuri juga kaya dengan unsur puitik: diksi puisinya khas. malahan petikan ayat-ayat al-Qur'an dan Hadis yang sangat bermakna. Munculnya Hamzah Fansuri membuat zaman Sahibul Hikayat menjadi masa silam. Ketiga. begitu juga tamsil dan imagerinya. yang kemudian sangat popular. berasal dari karangan-karangan Hamzah Fansuri. Puisi Hamzah Fansuri memerlukan pengetahuan yang luas di bidang bahasa dan kebudayaan Arab Persia. Namun demikian Hamzah dapat mencipta bentuk puisi tersebut disebabkan pengetahuannya yang dalam mengenai puitika Arab dan Persia.. dan juga tidak dalam kesusastraan Nusantara sebelumnya. yaitu bait penutup ikat-ikatan sajaknya. Hamzah Fansuri tidak segan-segan membubuhkan nama pribadi dan gelar atau takhallusnya dalam setiap akhir karangannya. apabila penyair-penyair sebelumnya malu-malu membubuhkan namanya dalam karyanya. ungkapan-ungkapannya kaya dan orisinal. dapat diperhatikan melalui contoh berikut: Hamzah miskin hina dan karam Bermain mata dengan Rabb al-`Alam Selamnya sangat terlalu dalam Seperti mayat sudah tertanam Hamzah sesat di dalam hutan Pergi uzlat berbulan-bulan Akan kiblatnya picik dan jawadan Itulah lambat mendapat Tuhan Hamzah miskin orang `uryani Seperti Ismail jadi qurbani Bukannya `Ajami lagi Arabi Nentiasa wasil dengan Yang Baqi . akan kecewa membaca puisi Hamzah Fansuri. menurut Teeuw. Hamzah Fansuri menciptakan karya yang individual dan modern. Juga ada kreativitas bunyi. Kedua. Lagi pula bagi seorang sufi puisi tidak lain ialah tafsir spiritual dan estetis terhadap ayat-ayat al-Qur`an tertentu. begitu pula istilah-istilah sastra lain seperti sajak. Hamzah Fansuri memperkenalkan bentuk puisi baru.." Pendek kata. belum termasuk puluhan ungkapan dan potongan ayat-ayat al-Qur'an yang sangat dalam dan luas maknanya. Kekayaan daya pikir dan luasnya pengetuan yang diperlukan untuk membaca puisi Hamzah Fansuri bukanlah tanda kelemahan atau kegagalan puisi Hamzah Fansuri.Kata-kata dan ungkapan Arab. serta sangat kreatif terhadap bahasa dan intens dalam berekspresi. Melalui kreativitas sang penyair maka lahirlah bahasa Melayu Baru yang sangat berbeda dari bahasa Melayu lama serta lebih kaya dan bertenaga. Saya ingin mengutip pernyataan Teeuw: "Mungkin pada penglihatan pertama pembaca menganggap pemakaian kata-kata Arab berlebih-lebihan dan mengganggu. syair tidak ada dalam kesusastraan Arab dan Persia. Petikan atau potongan ayat-ayat al-Qur`an itu juga berfungsi sebagai unsur estetik dan sekaligus pelita yang menerangi makna keseluruhan sajak. dengan bahasa yang kreatif dan intens. yaitu Syair. atau dengan menggunakan istilah Chairil Anwar 'sangat destruktif' terhadap bahasa Melayu.Bagaimana Hamzah Fansuri membubuhkan namanya dalam bait-bait penutup ikat-ikatan syairnya.Pertama. sengaja dimasukkan dengan bebasnya ke dalam baris sajak-sajaknya. bait dan lain-lain. Hamzah Fansuri sangat kreatif menggunakan bahasa. Tidak kurang terdapat 800 kata-kata Arab lepas dijumpai dalam 32 ikat-ikatan syairnya. tanpa perlu berpikir. Dari perkataan 'syair' itulah perkataan 'penyair' berasal. Pembaca yang terbiasa menganggap puisi dapat dinikmati hanya dengan perasaan semata-mata. serta puitika Melayu yang hidup dalam tradisi sastra lisan. Sebagai bentuk puisi empat (4) baris dengan skema rima AAAA.

Dalam sajak itu Hamzah memakai tamsil burung sebagaimana digunakan Fariduddin `Attar dalam Mantiq al-Tayr (Percakapan Burung) yang masyhur itu. Salah satu ikat-ikatan syair Hamzah Fansuri yang indah dan mengungkapkan gagasan tentang pencarian diri melalui penerbangan jiwa ke puncak kehidupan ialah ikat-ikatan yang bermula dengan "Tayr al-`uryan" (Burung Fakir). Tamsil burung dipakai untuk menggambarkan jiwa atau roh manusia yang senantiasa gelisah disebabkan kerinduannya yang mendalam kepada Yang Satu. yaitu jiwa seorang faqir yang telah bebas dari beban kepentingan diri dan jiwanya damai mutmaina) karena kerinduannya kepada Yang Satu telah terpenuhi. arti harafiahnya burung telanjang.Hamzah Fansuri di dalam Mekkah Mencari Tuhan di Bayt al-Ka`bah Di Barus ke Quds terlalu payah Akhirnya dijumpa di dalam rumah Hamzah `uzlat di dalam tubuh Romanya habis sekalian luruh Zahir dan batin menjadi suluh Olehnya itu tiada bermusuh Bersamaan dengan pembubuhan nama dirinya sang penyair mengungkapkan pengalaman kerohanian yang diraihnya dalam jalan tasawuf dan gagasan universal Sufi tentang diri. yaitu hakekat terdalam kemanusiaan kita yang bersifat kerohanian di mana rahasia penciptaan tersembunyi dan mesti disingkap oleh mereka yang ingin mengenal Tuhan. Demikianlah Hamzah Fansuri menulis: Tayr al-`uryan unggas sultani Bangsanya nur al-rahmani Tasbihnya Allah subhani Unggas itu terlalu pingai Warnanya terlalu bisai Rumahnya tiada berbidai Duduknya da'im di balik tirai Awalnya itu bernama ruhi Millatnya terlalu safi Mushafnya besar surahnya Kufi Tubuhnya itu terlalu suci `Arasy Allah akan pangkalannya Habib Allah akan taulannya Bayt Allah akan sangkarannya Menghadap Tuhan dengan sopannya Sufinya bukannya kain Fi`l Mekkah da'im bermain Ilmunya zahir dan batin Menyembah Allah terlalu rajin Kitab Allah dipersandangnya Alam Lahut akan kandangnya . asal segala sesuatu. Tayr al`uryan.

sebutan untuk burung simbolis Simurgh atau `Anqa. anggun. `isyqi = cinta ilahi. `Alam lahut = alam ketuhanan. Subhani = Maha Terpuji Aku. tetapi tidak memiliki bakat puitik yang besar. millat = madzab atau aliran keagamaan. merujuk pada posisi melingkar para sufi ketika berzikir mmengelilingi guru kerohanian. zikir dan wirid. Bukan hanya penyairpenyair Melayu Klasik berhutang budi kepadanya. maksudnya salat. Sajak yang telah dikutip ini sangat halus dan indah. pingai = cemerlang keemasan. ruhi = bersifat kerohanian. serta sangat dalam maknanya. di bawah alam ini berturut-turut ke bawah ialah alam jabarut (alam roh). musyaf.Pada da'irah Hu tempat pandangnya Zikir Allah kiri kanannya Fikir Allah rupa badannya Syurbat Tauhid akan minumannya Da'im bertemu dengan Tuhannya (Catatan: Nur al-rahmani = Cahaya Allah yang maha pengasih. qa’im = menegakkan salat. sekaligus penyair besar. bayt Allah = rumah Tuhan. Tidak mungkin ia ditulis oleh seorang penyajak yang hanya mengetahui tasawuf. da’irah Hu = Lingkaran Dia. yaitu Phoenix. Apabila kita baca kembali sajak-sajak Sanusi Pane dan kemudian membandingkannya dengan sajak-sajak Hamzah Fansuri. berasal dari ucapan syatahat Bayaid al-Bhistami. da’im = selalu. habib Allah = kekasih Tuhan. bisai = elok. yang merupakan lambing dari pusat kehidupan rohani. tetapi juga penyair-penyair Indonesia modern. naïf itsbat = meniadakan dan mengiyakan. maksudnya salat tahajjud pada waktu malam. begitu pula cita rasa estetisnya. musyaf = buku. sebagai lambing hakikat ketuhanan dan hakikat diri yang sejati. menyatu. Hamzah Fansuri ialah sufi besar Asia Tenggara. istilah dalam kosmologi sufi. syurbat tauhid = minuman tauhid. senantiasa. yaitu Tuhan. khususnya Sanusi Pane dan Amir Hamzah. alam malakut (alam batin) dan alam nasut (alam jasmani). merujuk pada kalimah La ilaha (nafi) ill Allah (itsbat). Kita kutip dua bait sajak Sanusi Pane "Dibawa Gelombang" yang mistikal itu: Alun membawa bidukku pelahan Dalam kesunyian malam waktu Tidak berpawang tidak berkawan Entah kemana aku tak tahu Jauh di atas bintang kemilau Seperti sudah berabad-abad Dengan damai mereka meninjau Kehidupan bumi yang kecil amat Bandingkan dengan dua bait sajak Hamzah Fansuri Jika hendak engkau menjeling sawang Ingat-ingat akan ujung karang Jabat kemudi jangan kau mamang Supaya betul ke bandar datang Anak mu`allim tahu akan jalan Da'im berlayar di laut nyaman Markabmu itu tiada berpapan Olehnya itu tiada berlawan . maksudnya menyatu dalam lautan hakikat wujud). washil = hampir. akan tampak pola persajakan kedua penyair tidak jauh berbeda. F al-Mekkah = di negeri Mekkah. sha’im = puasa. bidai = tirai penutup pintu dari rotan.

Mengenai gambaran dunia para penulis Melayu melihat alam semesta sebagai kitab agung yang sangat indah. khususnya strukturalisme Abdul Qahir al-Jurjani (abad ke-12 M) dan pandangan para sastrawan dan estetikus sufi seperti Imam al-Ghazali. Cara meresapi dan memahami hakekat penciptaan. sebuah karya sastra agung. darimana wawasan estetik mereka diturunkan. sebuah karya sastra. Mahmud al-Shabistari dan lain-lain. selain dengan jalan akal dan inderawi. yaitu tanda-tanda-Nya yang menakjubkan. Abinawa Gupta dan lain-lain. bukan hal baru bagi para penulis Nusantara. salah satu tujuan seni ialah membawa penikmatnya mencapai pengalaman unio-mystica atau meluluhkan rasa dengan kesadaran semesta. takjub. `Iraqi. Karena itu mengenal hakekat diri sangat penting bagi manusia (baca Kimia Kebahagiaan karangan Imam al-Ghazali). Mereka memandang karya sastra sebagai bangunan struktural yang kompleks dari pengalaman kejiwaan dan spiritual yang diungkapkan melalui bahasa figuratif (majaz) dan simbolik (tamsil). lena. Pertautan jiwa Amir Hamzah dengan pendahulunya itu nampak dalam sajaknya "Berdiri Aku". Dalam sistem estetika Melayu ini karya seni dipandang terutama sebagai sarana transendensi. yang bentuk-bentuknya antara lain ialah fana` (persatuan mistik) dan ma`rifat. Ananda Wardhana. hendaknya diusahakan dapat memberi sugesti atau isyarat tentang kehadiran rahasia Tuhan dan keberadaan gaib-Nya di antara ciptaan-ciptaan-Nya. tetapi juga dalam hal wawasan estetik dan gambaran dunia (weltanschauung) yang disajikan. dunia ditulis dengan kalam Tuhan pada Lembaran Terpelihara (lawh al-mahfudz). penulis-penulis Jawa dan Melayu menerapkan estetika India yang didasarkan pada teori Bharata. gharib. Sang Khalik menjelmakan dunia ini dari Perbendaharaan Ilmu-Nya yang tersembunyi (kanz makhfiy) didorong oleh Cinta. merupakan manifestasi dari Cinta Tuhan dan Pengetahuan-Nya yang tersembunyi itu.Tetapi pengaruh Hamzah Fansuri lebih ketara pada Amir Hamzah. Namun tidak mungkin kita dapat memahami pertautan tersebut tanpa memahami gambaran atau pandangan dunia penulis Melayu secara keseluruhan. pribadi manusia juga merupakan sebuah kitab agung. termasuk Amir Hamzah. keindahan obyek yang berbagaibagai di dunia. selain memupuk kesadaran sosial dan kemanusiaan berdasar pemahaman terhadap Tauhid. asyik. Ibn `Arabi. Pengaruh tersebut tidak terbatas pada aspek puitik dan pola persajakan. leka. Sebelum agama Islam datang. Ungkapan zahir atau bentuk luar (surah) karya sastra. Setelah agama Islam datang maka yang mempengaruhi wawasan seni penulis Melayu ialah teori Arab dan Persia. (Braginsky 1993). Hikmah-hikmah tersebut hadir sebagai ayat-ayat-Nya. Menurut mereka lagi. rindu. karib tamasya dan lain-lain. Menurut teori Rasa. `Attar. Sesuai dengan gambaran tersebut karya sastra mesti dibentuk menyerupai pribadi manusia. peristiwa-peristiwa sosial dan sejarah. Demikianlah gejala-gejala alam. sebagaimana tubuh beserta gerak dan isyarat yang disampaikan anggotaanggotanya. Sebagaimana dunia. merujuk pada keadaan rohani di atas. Semua itu dihadirkan secara estetik untuk memberi efek tertentu kepada jiwa. Penulis menyajikan obyek-obyek visual dalam karyanya sebagai image dan simbol untuk membawa pembaca mencapai pengalaman transendental `isyq (cinta ilahi). Pada manusia keseluruhan hikmah alam semesta direkam dengan diringkas. yang banyak dijumpai dalam puisi-puisi Melayu klasik. mabuk. yang secara struktural merupakan kesatuan bangunan kejiwaan yang kompleks. Perkataan seperti berahi. yang dikenal sebagai Teori Rasa atau Rasa-dhwani (sugesti rasa). Di antara sajak Amir Hamzah yang mewakili pandangan dunia dan estetika seperti ialah "Berdiri Aku": . yaitu tangga naik menuju hakekat tertinggi. Jalaluddin Rumi. Estetika sebagai teori seni atau pandangan tentang keindahan seni. Imaginasi (takhyil) dan pengalaman spiritual sangat menentukan mutu karya yang dihasilkan seorang penyair. Di samping itu karya sastra juga berfungsi sebagai ikhtiar penyucian diri. ialah melalui peresapan kalbu atau pemahaman intuitif (`isyq).

Hal seperti itulah yang dijumpai dalam sajak Amir Hamzah. Mereka memberikan kepada kita gambaran dunia dan cita rasa estetik. 'memuncak sunyi' 'sayap tergulung' dan lain-lain. ada pada bait terakhir. yang menggambarkan serangkaian keadaan dan pengalaman rohani penyair ketika menyaksikan keindahan alam pada waktu senja hari. Pendek kata melalui sajak tersebut Amir Hamzah memberikan pencerahan (enlightenment) kepada pembacanya sebagaimana penyair-penyair Melayu sebelumnya. Penyair-penyair sufi lebih jauh menggunakan image dalam puisi dengan maksud memberi efek kerohanian. Efek kerohanian tertinggi yang dikehendaki penyair melalui sajaknya. Gerakan-gerakan alam yang disajikan Amir Hamzah juga sangat kuat dalam memberi sugesti akan kehadiran Yang Satu melalui keindahan yang berbagai-bagai di alam ciptaan. juga penting dihayati pembaca modern yang sehari-harinya sering berhadapan dengan masalah kekosongan spiritual dan ketiadaan makna hidup. bukan semata-mata efek inderawi atau sosial. yang selain masih merupakan bagian dari sistem kerohanian masyarakat Melayu. dicipta untuk memberi efek kejiwaan dan moral tertentu kepada pembacanya. Inilah antara lain sumbangan penting penulis Melayu Klasik kepada kita di dunia modern. Semua bentuk keindahan zahir itu dapat dijadikan sarana transendensi apabila kita dapat meresapinya dengan kalbu. khususnya kerinduan kepada Tuhan.Berdiri aku di senja senyap Camar melayang menepis buih Melayah bakau mengurai puncak Berjulang datang ubur terkembang Angin pulang menyejuk bumi Nenepuk teluk mmengempas emas Lari ke gunung memuncak sunyi Berayun-ayun di atas alas Benang raja mencelup ujung Naik marak menyerak sorak Elang leka sayap tergulung Dimabuk warna berarak-arak Dalam rupa maha sempurna Rindu sendu mengharu kalbu Ingin datang merasa sentosa Mencecap rindu bertentu tuju (dalam Buah Rindu) Menurut Ibn Sina dan al-Jurjani. Perhatikan ungkapan-ungkapan seperti 'mengurai puncak'. Jakarta 2 Juli 1998 Catatan Kaki 1 Di antara factor-faktor yang membuat kegiatan penulisan kitab dan sastra begitu berkembang pada masa ini ialah: (1) Pesatnya perkembangan lembaga pendidikan tinggi yang mampu melahirkan kaum terpelajar dan cerdik cendikia yang selain menguasai berbagai bidang ilmu keagamaan juga mempunyai apresiasi sastra yang tinggi. disadari atau tidak. image-image dalam puisi di dalam keseluruhan bangunannya. Perkembangan lembaga pendidikan telah maju di Aceh sejak zaman Ali . 'berjulang datang'. 'mengempas emas'.

Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka. Bunga Rampai Sastera Melayu Warisan Islam. (1969) . Kuala Lumpur 27-8 Oktober. The Mysticism of Hamzah Fansuri. Pusat pendidikan terbesar ialah Jami`ah Bayt al-Rahman (Universitas Baitur Rahman) di Kutaraja. M. Universitas ini dibagi ke dalam beberapa fakultas atau jurusan seperti fakultas Ilmu Tafsir. Braginsky. 1996. 1993. dan sastra. (2001).42. “Puisi Sufi Perintis Jalan”. Jakarta: Pusat Bahasa. (3) Sebagai kerajaan yang makmur dan kaya Aceh mampu mengimpor alat-alat baca tulis dalam jumlah besar.(1970). Jilid 13 Bilangan 12. Pada akhr abad ke-16 kertas merupakan bahan perdagangan yang penting di Nusantara dan Aceh merupakan kerajaan Nusantara paling awal yang mengimpor kertas dalam jumlah besar untuk kepentingan pendidikan dan penulisan kitab (Mahyudin Haji Yahaya 2000:10-12). Di antaranya ialah naskah-naskah dalam bahasa Arab dan Persia yang sangat mahal ketika itu. Ilmu Siyas (Politik)) dan lain-lain (Ahmad Je. M. khususnya tasawuf. Ahmad Jelani Hilmi (1991). Berkat adanya lembaga pendidikan inilah lahir beberapa lokal jenius seperti Hamzah Fansuri.Mughayat Syah (1511-1530 M). Leiden: KITLV Press. Kepustakaan Abdul Hadi W. Abdul Hadi W. Wilts: Aris & Philips Ltd. --------------------------. M. Ali Ahmad dan Siti Hajar Che' Man. Al-Attas. Prelimanary Statement in a General Theory of Islamization of the MalayIndonesia Archipelago. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka. ---------------. Kesusasteraan Melayu Dalam Tasawwur Islam. Ceramah di Sudut Penulis Dewan Bahasa dan Pustaka. “Sejarah Awal Pendidikan Islam di Alam Melayu”. Naquib (1969). Kuala Lumpur: Universiti Malay Press. Azyumardi Azra (1995). M. Dalam sejarah Islam para guru dan pemimpin sufi terkenal sebagai golongan cerdik cendekia yang mempunyai apresiasi tinggi terhadap kegiatan ilmu.ani Halimi). I. "The Birthplace of Hamza Fansuri". Adab dan Adat: Refleksi Sastra Nusantara. (1992). JMBRAS Vol. V. Bukhari al-Jauhari dan lain-lain. F. Pulau Pinang: Universiti Sains Malaysia. . Syamsudin Pasai. begitu juga dalam bidang penulisan puisi dan kegiatan seni (Schimmel 1981. -----------------------. Abu Deeb (1979). Brakel. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka. Al-Jurjani’s Theory of Poetic Imagery. Tasawuf Yang Tertindas: Kajian Hermeneutik Terhadap Karya-karya Hamzah Fansuri.(1994) Nada-nada Islam Dalam Sastera Melayu Klasik. dkk (2003). Abdul Hadi W. "The Emergence of Literary Self Awareness and Its Role in the Shaping of Classical Malay Literature".(1991)The Origin of the Malay Sha`ir. ----------------. Banda Aceh sekarang ini. Ilmu Hisab (matematika). Desember: 11-15. pemikiran falsafah dan sastra. L. (2) Sultan-sultan yang memegang tampuk pemerintahan di Aceh hingga pertenghan abad ke-17 adalah pencinta besar ilmu keagamaan. Dalam The System of Classical Malay Literature. Warminster. Kerajaan ini mewarisi kejayaan lembaga penddikan dari kerajaan Samudra Pasai. Bandung: Mizan. Ilmu Tib (Kimia). 2001). Jakarta: Paramadina.(1993). p. 29-40. Ali Ahmad (1991). Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII. (4) Tariqat sufi berkembang pesat. kemudian kertas dan tinta yang harganya juga mahal. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.

Mahayudin Haji Yahaya (2000).Collins. November: 36-39. Banda Aceh: Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh. Menempuh pendidikan di Fakultas Sastra. Tim Mizan. Dalam Indonesia: Antara Kelisanan dan Keberaksaraan. Verspreiche geschrifter VI. ---------------------. Dehiyat (1974) . lalu melanjutkan ke studi Filsafat Barat di universitas yang sama hingga tingkat doktoral (19681971). Jakarta: Pustaka Jaya. Leiden: E. Jakarta: Balai Pustaka. The Hague: Martinus Nijhoff. A History of Classical Malay Literature. Karya Klasik Melayu Islam. Amerika Serikat (1973-1974) lalu beberapa tahun di Hamburg. Imam Ghazali. 24 Juni 1948. Brill. Jakarta 5 September 2002. Edwar Djamaris (1990). Ibrahim Alfian (1999). Bandung: Mizan. O (1972). Sempat mengikuti International Writing Program di Iowa University. Taufik Abdullah (1987). Avicenna's Commentary on the 'Poetics' of Aristotle. Universitas Padjadjaran mengambil program studi antropologi (1971-1973). Dewan Budaya Jilid 12 Bilangan 11. Makalah Diskusi Peluncuran Buku Ensiklopedi Tematia Dunia Islam. Imam al-Ghazali (1985). Ismail Hamid (1990). Ramalan Arah”. Kimia Kebahagiaan. Shah Alam Selangor 4 – 7 Juni 1993. Kern H. Jerman. “Pengislaman Dunia Melayu: Transformasi Kemanusiaan dan Revolusi Kebudayaan”. (1917). Islam dan Masyarakat. (1994) . Abdul Hadi Widji Muthari dilahirkan di Sumenep. Martiya. Jawa Tengah. juga tidak selesai. K. “Bahasa Melayu Di Batas Zaman: Renungan Sejarah. Kuala Lumpur: Oxford University Press. namun tidak diselesaikannya.(2003). Teeuw A. Lahir dari garis keturunan saudagar Tionghoa. Windstedt. “Pemikiran Islam di Nusantara Dalam Perspektif Sejarah”. Zahrah Ibrahim (1986). Ayahnya. 44-73. "Hamzah Fansuri. RA. James (1993). Sejak kecil ia telah mencintai puisi. Di masa kecilnya ia sudah berkenalan dengan bacaan-bacaan yang berat pemikir-pemikir kelas dunia seperti Plato. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka. Ibunya. Terj. Pemula Puisi Indonesia". seorang putridkeraton asa Solo. Universitas Gadjah Mada hingga tingkat sarjana muda (19651967). ABDUL HADI WM Dikenal sebagai salah satu ahli filsafat di Indonesia. Hal. Menggeli Khazanah Sastra Melayu Klasiik. Jawa Timur. Madura. R. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka. seorang saudagar dan guru bahasa Jerman. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka. Ia beralih ke Fakultas Sastra. Akhirnya ia mendapatkan kesempatan studi dan mengambil gelar Master dan Doktor dari Universiti Sains Malaysia di Pulau Penang (1992-1996). Kertas Kerja Hari Sastra Malaysia. untuk mendalami sastra dan filsafat . J. Siddiq Fadzil (1990). Socrates. Sastera Sejarah: Interpretasi dan Penilaian. Wajah Aceh Dalam Lintasan Sejarah. Asas-asas Kesusasteraan Islam. Abu Muthar. Jakarta: LP3ES. Rabindranath Tagore dan Muhamad Iqbal. Ismail M.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful