Estetika Sufi dalam Sastra Melayu dan Jejaknya dalam Sastra Modern Oleh: Abdul Hadi W. M.

Babakan penting sejarah sastra Melayu Nusantara mengambil waktu pada peralihan abad ke-16 – 17 M bersamaan dengan derasnya proses pengislaman penduduk Nusantara dan munculnya kerajaankerajaan Islam di pesisir Sumatra, Semenanjung Malaya, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Nusatenggara. Penerimaan Islam secara luas itu tidak semata-mata disebabkan oleh faktor politik dan perdagangan, tetapi terutama karena Islam yang didakwahkan kepada penduduk kepulauan Nusantara adalah ajaran al-Qur’an dan Sunnah yang ditafsirkan oleh para ahli tasawuf ke dalam berbagai bidang kehidupan dan ilmu seperti etika, hukum, metafisika, estetika, konsep pemerintahan, ekonomi, politik, seni, sastra, adat istiadat, dan sudah barang tentu dalam berbagai bidang ilmu keagamaan seperti syariah, fiqih, kalam, dan ilmu suluk atau tariqat. Ajaran Islam bercorak sufistik yang merupakan hasil penafsiran mendalam ahli-ahli tasawuf itu terutama ditulis dalam bahasa Melayu, menggunakan ungkapan-ungkapan sastra dan tidak jarang menggunakan sarana sastra seperti hikayat dan syair, dan diajarkan di lembaga-lembaga pendidikan Islam, yang selain menggunakan bahasa Arab juga menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar. Sebagai bahasa Nusantara pertama yang mengalami proses islamisasi, bahasa Melayu telah siap menjadi bahasa ilmu pengetahuan, keagamaan, dan sastra, karena perbendaraan katanya telah diperkaya dengan kata-kata dan istilah-istilah konseptual Islam terutama dari bahasa Arab. Terintegrasinya bahasa Melayu ke dalam peradaban Islam itu memungkin ia menjelma sebagai bahasa pergaulan utama antar etnik di Nusantara baik di bidang perdagangan maupun di bidang intelektual-keagamaan dan kebudayaan. Mantapnya kedudukan tersebut diperoleh karena penyebaran agama Islam yang telah marak sejak abad ke-13 M. Orang-orang Islam yang berpengaruh di bidang perdagangan, politik dan kegiatan intelektual menggunakan bahasa Melayu sebagai media utama bagi penyampaian ajaran agama, ilmu-ilmu keagamaan dan falsafah (al-Attas 1970; Braginsky 1992; Abdul Hadi W. M. 2001). Cepatnya perkembangan bahasa Melayu itu bisa terjadi karena pusat-pusat utama penyebaran agama Islam seperti Samudra Pasai (1272-1450), Malaka (1400-1511) dan Aceh Darussalam (1516-1700) merupakan kota-kota dagang dan pelabuhan utama di Selat Malaka. Di kota-kota inilah kapal-kapal asing singgah untuk mengambil barang dagangan, sehingga dengan cepatnya pula kota-kota ini maju dan makmur, yang dengan demikian mudah pula berkembang menjadi pusat kegiatan intelektual dan kebudayaan. Ketiga kerajaan ini pula sejak lama penduduknya menggunakan bahasa Melayu yang diwarisi dari pendahulunya yaitu kerajaan Sriwijaya (Collin 1992; Azyumardi Azra 1995:22-55; Ibrahim Alfian 1999:53) Pada awal abad ke-16 M dengan ditalukkannya Malaka oleh Portugis (1511) serta merta kegiatan penulisan sastra Melayu mandeg untuk beberapa waktu lamanya. Tetapi tidak lama kemudian, pada tahun 1516 M, sebuah kerajaan Islam lain yaitu Aceh Darussalam muncul tidak jauh dari bekas tapak kerajaan Samudra Pasai. Dengan munculnya Aceh kegiatan penulisan kitab keagamaan dan sastra Melayu berkembang pesat. Karya-karya Melayu yang ditulis di Pasai dan Malaka disalin kembali dalam jumlah besar. Majunya perkembangan penulisan kitab itu terutama terjadi pada masa pemerintahan Sultan Ala’uddin Riayat Syah (1589-1604) dan Sultan Iskandar Muda (1607-1636 M) . Taufik Abdullah (2003) menyebutkan pada periode ini terjadi gelombang kedua dalam sejarah intelektual Islam di Nusantara. Gelombang pertama mengambil masa pada abad ke-14-16 M, yaitu sejak munculnya Samudra Pasai hingga berkembangnya Malaka dan Aceh. Pada periode yang sangat gencar dilakukan ialah pengenalan asas-asas kosmopolitan dari ajaran Islam. Karya-karya Arab dan Persia disadur dalam jumlah besar ke dalam bahasa Melayu, dan dengan demikian Islam hadir sebagai realitas dunia baru dalam pikiran bangsa-bangsa Nusantara. Dalam gelombang kedua terjadi proses islamisasi kebudayaan dan realitas

Karya-karya penulis sufi seperti Hamzah Fansuri dan murid-muridnya mereka juga mengungkapkan bahwa manusia. Aceh. dan berperan besar pula sebagai penyebar gagasan dan pandangan dunia yang relevan sampai abad ini. yang saling berkaitan muncul pada masa ini. dan bermulanya penulisan karya-karya yang benar-benar bercorak Islam baik secara estetik maupun isi yang dikandungnya. Ini terlihat mula-mula dalam karya Bukhari al-Jauhari Taj al-Salatin atau Mahkota Raja-raja (1603 M). Madura. Demikianlah yang mereka ajarkan pertama-tama ialah pentingnya individualitas dan tanggungjawab pribadi dalam menjalankan kehidupan keagamaan dan sosial. Kecenderungan kedua ini memunculkan hasrat menyusun etika politik dan teori pemerintahan yang ideal. Islam dipakai sevagai cermin untuk melihat dan memahami realitas. kemudian dalam karya Nuruddin al-Raniri Bustan al-Salatin (1637 M). Dalam kenyataan pengalaman rohani dalam tasawuf hanya bisa diperoleh secara personal. Ini dimungkinkan karena mereka berkarya berdasarkan estetika sufi dan ilmu tasawuf. Zaman ini menandakan berakhirnya zaman peralihan dari tradisi Hindu-Budhha ke tradisi Islam. Mereka juga mengajarkan semangat persaudaraan dan egaliter. Tetapi proses islamisasi benar-benar telah dijalankan pada abad ke-16 dan 17 itu. Bugis Makassar dan lain-lain. Walaupun beberapa sarjana Eropah seperti Overbeck (1920). yang dengan itu sebuah kehidupan masyarakat religius dan beradab dapat diselenggarakan. Sebagai khalifah Tuhan mereka memiliki freewill dan harus menjalani kehidupan berdasarkan freewill atau ikhtiar pribadinya. Realitas yang ditampilkan adalah realitas yang hidup dalam masyarakat dan kebudayaan Melayu Nusantara yang telah berhasil diislamkan. terutama mereka yang sejalan dalam kehidupan rohani dan keagamaan.secara besar-besaran. namun demikian pengalaman itu bisa dibagi kepada orang lain. misalnya alAttas (1970). yaitu di satu pihak kecenderungan untuk memusatkan diri pada renungan-renungan tasawuf yang mendalam dan personal dalam ikhtiar menjawab masalah hubungan manusia dengan Yang Abadi. Pada masa inilah muncul tokoh besar di bidang penulisan sastra keagamaan dan adab seperti tampak pada Hamzah Fansuri. Sunda. Kecuali itu dengan memandang manusia sebagai khalifah Tuhan di muka bumi maka berarti mereka telah menempatkan manusia sebagai pusat dan penggerak utama perputaran peristiwa di dunia. Malahan mereka dapat menunjukkan relevansi serta sumbangan besar penulis-penulis klasik itu bagi perkembangan sastra Indonesia secara keseluruhan. selaku hamba dan khalifah Tuhan di dunia memiliki kedudukan setara di hadapan Tuhan di hadapan Tuhan dan hukum ilahi. bahkan dalam sastra Nusantara lain seperti Jawa. Kebaruan karya para penulis abad ke-16 dan 17 itu ialah pertama-tama. Syamsudin Pasai atau Syamsudin Sumatrani dan Bukhari al-Jauhari. Karya-karya dari zaman Hindu Buddha disadur dan ditransformasikan ke dalam situasi pemikiran Islam. karena karya-karya zaman peralihan – seperti saduran karya-karya Arab dan Parsi dan gubahan dari karya-karya zaman Hindu yang telah diislamkan – masih terus disalin dan digubah dalam sastra Melayu. Teeuw (1994) dan lain-lain memandang lebih arif. dan di pihak lain ikhtiar untuk membangun tatanan kehidupan sosial politik berdasarkan cara pandang Islam. Menurut Braginsky. karena ia telah memainkan peranannya sebagai fundasi utama kebudayaan Melayu Nusantara. Brakel (1979). terletak pada keberanian pengarang untuk mengekspresikan pengalaman dan pengetahuan pribadinya. Windstedt (1920) dan lain-lain memandang sebelah mata terhadap keaslian dan relevansi karya para penulis itu. Braginsky (1992). yaitu kebudayaan Indonesia dan Malaysia. hasil-hasil sastra Melayu Islam sangat penting. tidak sedikit sarjana mutakhir. . Minangkabau. Dua gejala dominan. yang dengan itu kesadaran bersama dan solidaritas kemasyarakatan dapat direalisasikan. Memang akhir masa peralihan ini tidak dapat dibatasi dengan jelas.

(3) Karya yang menggarap lapis Hiburan dan Estetika Zahir. dilengkapi dengan kisahkisah yang telah lama dikenal bangsa Arab dan Ibrani melalui Taurat.. Karya-karya yang menggarap sfera kesempurnaan jiwa ini juga menggambarkan cita-cita manusia mencapai pribadi insan kamil meneladani Nabi Muhammad s. (12) Pelipur lara dan lainlain. Sastra Adab adalah disusun berdasarkan sumber yang beragam seperti al-Qur`an. Termasuk dalam kategori ini ialah syair-syair Tasawuf yang sering dikenal sebagai Syair Tauhid dan Makrifat. (2) Karya yang menggarap lapis Faedah dan Hikmah.. jalan kerohanian (suluk).a. (1).w. Hadis. Hikayat Nabi-nabi sebelum Rasulullah misalnya ditulis berdasarkan sumber-sumber al-Qur’an. termasuk kesaksian kerabat dekat dan sahaba-sahabat Nabi yang mengikuti perjuangannya menyebarkan agama Islam sejak awal.w. (7) Karangan bercorak kesejarahan. (9) Cerita Berbingkai. (6) Karangan bercorak Tasawuf. Hikayat pahlawan-pahlawan Islam digubah berdasar sumber sejarah dan kisah-kisah lain yang bercorak fiksi. Sesuai jenisnya karya-karya tersebut dapat dikelompokkan menjadi: (1) Hikayat Nabi Muhammad s. (10) Syair Rampai. Bugis Makasar. (4) Hikayat Orang-orang Saleh dan Suci. sebagaimana juga sejarah orang-orang saleh dan suci atau para wali. tasawuf dan siyas (politik). Sunda. Dalam karya kategori ini dipaparkan juga jalan pengenalan diri. Arti penting lain ialah karena sampai abad ke-19. dalam batas tertentu. Tarikh. termasuk wawasan estetiknya. Braginsky (1992) mengatakan bahwa karya-karya itu. (2) Hikayat Nabi-nabi sebelum Rasulullah. Peranan Penulis dan Fungsi Sastra Karya-karya penulis Melayu klasik. Cerita Rakyat dan kitab-kitab keagamaan seperti fiqih. berhasil menyadarkan pembaca Nusantara tentang betapa pentingnya budaya membaca dan menulis bagi perkembangan dan kelangsungan peradaban. Braginsky (1993) mengelompokkan karya-karya Melayu warisan peradaban Islam menjadi tiga berdasar peringkat wilayah atau lapisan garapannya: (1) Karya yang menggarap lapis Kesempurnaan dan Estetika Batin. Yang benar-benar bercorak fiksi ialah cerita berbingkai dan pelipur lara. Kisah berhubungan dengan asal-usul kerohanian Nabi Muhammad yang diramu berdasarkan konsep kosmologi sufi ialah Hikayat Kejadian Nur Muhamad. kalam. sehingga tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa sastra Islam itu tidak ada. kerohanian dan keagamaan yang disajikan karya-karya ini juga berkaitan dengan ajaran Islam yang ditemui dalam tafsir al-Qur’an. kitab syariah dan tasawuf. Berdasarkan sumbernya saja dengan segera kita akan melihat betapa karya-karya tersebut benar-benar bercorak Islam. Malahan beberapa gagasan penting mereka. dilanjutkan oleh beberapa penulis abad ke-20 dengan memberinya cita rasa modern. menggambarkan upaya manusia mencapai pengetahuan tertinggi (ma`rifat). (5) Hikayat Pahlawan-pahlawan Islam. Minangkabau. kerinduan seorang `asyik (pencinta) kepada Sang Kekasih (mahbub). Hikayat Para Sahabat Nabi benar-benar didasarkan atas sumber sejarah. Masing-masing jenis dari hikayat ini mempunyai ciri dan fungsi tersendiri. termasuk kisah binatang. Banjar dan lain-lain.a. amat berlimpah dan aneka ragam jenis dan coraknya. (11) Cerita Jenaka. yaitu Yang Satu. yang dihasilkan sejak akhir abad ke-16 sampai menjelang akhir abad ke-19. karya-karya tersebut menjadi teladan dan dijadikan sumber ilham bagi penulisan karya sejenis dalam berbagai bahasa Nusantara lain seperti Jawa. Pesan moral. . (8) Sastra Adab.a. Zabur dan Injil. dan sumber penulisannya juga berbeda-beda. Hikayat Nabi Muhammad s. yang amat penting bagi seorang Muslim untuk mengenal perannya sebagai khalifah Tuhan di atas dunia dan sekaligus hamba-Nya. (3) Hikayat Para Sahabat Nabi. Aceh. Madura.w misalnya bersumber pada sejarah kehidupan Nabi Muhammad dari sumber-sumber paling awal.Mengenai pandangan dunia (worldview) yang mendasar karya para penulis sufi Melayu itu. bentuk pengalaman dan keadaan rohani (maqam dan ahwal) yang diperoleh seorang penempuh jalan rohani (salik) dan lain sebagainya. Khususnya seperti yang dikumpulkan oleh al-Tabari pada abad ke-8 M dalam kitabnya Sirah Nabi Muhammad. Karya-karya yang menggarap sfera kesempurnaan (kamal).

serta karya kesejarahan dan adab. Ikat-ikatan Bahr al-Nisa' (Lautan Perempuan). Karya bercorak sejarah ada yang ditulis dalam bentuk syair dan ada yang ditulis dalam bentuk prosa. Bustan al-Salatin merupakan karya bercorak sejarah dan adab. dengan membeberkan kisah-kisah yang mengandung hikmah dan pengajaran. Salasilah Melayu dan Bugis Salasilah Kutai. Termasuk Hikayat Nabi dan para sahabatnya. Keindahan yang dipaparkan dalam karya-karya katagori ini ialah keindahan tersirat atau keindahan batin. Menurut Ali Ahmad (1991) karya bercorak sejarah yang disebut salasilah memiliki unit cerita yang terdiri dari kisah-kisah dan legenda. Syair Singapura Terbakar. . Karya katagori ini bermaksud memperkuat dan menyempurnakan akal manusia. Syair Pangeran Syarif Hasyim. Syair Siti Zubaidah Perang dengan Cina. dan dengan demikian agama berkembang. serta penyimpangannya terhadap ajaran Islam. Syamsudin Pasai. Hasan Fansuri. Syair Moko-moko. Di antaranya Syair Perahu (dalam tiga versi yang berbeda). Di antara penulis risalah tasawuf dan ta'wil (hermeneutika sufi) yang terkenal ialah Hamzah Fansuri. Syair Kompeni Walanda Perang dengan Cina dan lain-lain. Menurut Braginsky (1993) karya-karya yang termasuk ke dalam kategori ini mempunyai tujuan menyucikan kalbu dan jiwa manusia. misalnya tidak dilaksanakannya keadilan dan raja tidak lagi taat pada undang-undang dan tidak berperan sebagai pelindung rakyat dalam arti yang sebenar-benarnya. Karya bercorak sejarah lain yang terkenal ialah Hikayat Aceh (anonim). Jumlah karya bercorak sejarah sangat banyak. Kecuali karya tiga penulis ini terdapat karya ahli tasawuf lain yang namanya belum diketahui. Di samping itu para sufi amat produktif menulis risalah tasawuf dan interpretasi teks dalam bahasa sastra yang tinggi dengan pengetahuan yang dalam. Babad Madura. Sejarah Raja-raja Riau. Daud Fatani. Abdul Samad Palimbangi. Di antara karya termasuk sastra adab yang terkenal ialah Taj alSalatin (Mahkota Raja-raja) karya Bukhari Jauhari dan Bustan al-Salatin (Taman Raja-raja) karya Nuruddin Raniri dan Nasih Luqman al-Hakim (anonim). Nuruddin Raniri. Syair Sultan Maulana. Hikayat Maulana Hasanuddin. Hikayat Bengkulu dan lain-lain. Hikayat Merong Mahawangsa. (2) Karya-karya yang mengungkap sfera faedah.Selain ditulis dalam bentuk puisi didaktis dan imaginatif simbolik. Krisis yang terjadi dalam sebuah negara. Karya-karya Hamzah Fansuri dan murid-muridnya seperti Abdul Jamal. yang membuat jatuhnya sebuah dinasti atau seorang raja. Hikayat Burung Pingai. Hikayat Banjar. Karya-karya ini menjadi cermin pengajaran dan tuntunan bagi raja-raja. Karya bercorak sejarah yang ditulis dalam bentuk syair di antaranya ialah Syair Perang Mengkasar. Babad Pasundan. Babad Besuki dan lain-lain. Daud Pontiani dan lain-lain. pegawai pemerintahan dan pemimpin masyarakat dalam menjalankan pemerintahan agar tercapai keadilan dan kesejahteraan sosial. juga ada yang ditulis dalam bentuk kisah perumpamaan. Syair Alif dan lain-lain. Selain karya bercorak sejarah dan hikayat-hikayat tertentu. Syair Sultan Zainal Abidin. Syamsudin Pasai. Ki Fakhrudin Palimbangi. karena kalbulah yang merupakan sarana penghayatan intuitif terhadap keberadaan Yang Haq dan Yang Satu. Hikayat Pahlawan Islam. dan juga beberapa karangan Abdul Rauf Singkel dan lain-lain termasuk dalam kategori ini. Hikayat Johor. Syair Dagang (yang agaknya ditulis penyair asal Minangkabau). Di Minangkabau karya kesejarahan disebut tambo. Abdul Rauf Singkili. Arsyad Banjari. selalu dicari sebabnya pada krisis moral dan akhlaq. Selain yang telah disebut. Syair Perang Siak. karya kesejarahan diikat oleh perkembangan kejadian dan hikmah yang dikandung dalam kejadian tersebut. Sedangkan karya bercorak sejarah menggambarkan jatuh bangunnya raja-raja dan dinasti. peristiwa-peristiwa penting yang mempengaruhi kehidupan masyarakat dan jalannya sejarah. karya kesejarahan lain yang masyhur ialah Hikayat Pasai. sebab-sebab kejatuhan dan kebangunannya. karangan-karangan ahli tasawuf ini sangat menarik perhatian pengkaji. Sulalat al-Salatin atau Sejarah Melayu karya Tun Sri Lanang dan Tuhfat alNafis karya Raja Ali Haji. Di Jawa genre serupa disebut babad seperti Babad Tanah Jawi. namun tidak seperti hikayat yang diikat oleh perkembangan tokohnya yang stereotype. Di antara yang masyhur ialah Tambo Minangkabau. Misa Melayu. Hikayat Patani. Yusuf Mengkasari. Babad Giyanti. yaitu sarana intelektualnya.

Pembaharuan yang dilakukan sang sufi dari Barus itu tiga abad mendahului pembaharuan Pujangga Baru dan Chairil Anwar. getaran hati nurani atau pengucapan diri. sebuah sarana penghayatan indrawi atau sensual manusia dalam menanggapi kehidupan. Kesan-kesan kejiwaan yang kacau harus diserasikan dengan nilai moral dan ajaran agama. menggambarkan latar belakang tempat dan kebudayaan Melayu dengan jelasnya di mana Islam telah dihayati pada peringkat fikrah dan amalannya. Begitu pula gagasan tentang kemerdekaan penyair dalam merombak bahasa demi pengucapan estetik. Malahan Teuw (1994) tidak tanggung-tanggung menyebut Hamzah Fansuri sebagai Pemula Puisi Indonesia. memandang Hamzah Fansuri sebagai Bapak Bahasa dan Sastra Melayu. Kecuali itu karya para penyair Sumatra itu membuka babakan baru sejarah kepenyairan kita dengan puisi-puisi. Ini menjadikan nilainya meningkat. bukan baru bermula pada abad ke-20 dengan munculnya Pujangga Baru dan Chairil Anwar. kisah petualangan yang dibumbui kisah-kisah luar biasa atau ajaib. melainkan sebagai representasi pengalaman jiwa manusia yang ruang kejadiannya berlaku di alam misal atau alam imaginal. dalam arti berkaitan dengan soal hubungan manusia dengan Tuhan dan berkaitan pula dengan soal hubungan manusia dengan sesamanya. Pengalaman dan pengetahuan tersebut dicapai melalui upaya intelektual dan spiritual yang disadari. Juga karya-karya itu. dan pada saat yang sama memperkuat dasar keberadaannya. yaitu menghibur atau melipur. kesadaran akan pentingnya individualitas. Karangan-karangan dalam kategori ini termasuk hikayat dan syair percintaan. karena apa yang dialami seseorang dalam alam tersebut merupakan realitas yang menghubungkan pengalaman zahir dengan pengalaman transendental. Alam misal mempunyai tempat tersendiri dalam teori sastra dan estetika Islam. Karena itu tidak mengherankan apabila banyak kritikus. Karya-karya mereka otentik sebab didasarkan atas pengalaman dan pengetahuan pribadi. (3) Karya yang menggarap sfera hiburan dan estetika zahir (luaran). yang disebut licensia poetica. yang menyajikan pencerahan profetik. Tujuan karya seperti itu ialah menyerasikan kesan-kesan kejiwaan yang kacau disebabkan kobaran hawa nafsu. Puisi dan Kesadaran Diri Dalam sejarah sastra Indonesia. Brakel dan Braginsky. Penyajian peristiwa di alam misal juga berfungsi sebagai pemaparan simbolik sebuah kisah. secara kreatif dan luar biasa telah diterapkan dalam penulisan oleh Hamzah Fansuri dan murid-muridnya. Misalnya sebagaimana nampak dalam Hikayat Syekh Mardan yang masyhur itu dan telah dikaji oleh beberapa sarjana.Menurut Ali Ahmad lagi. seorang perintis jalan yang melalui karya-karyanya berhasil membawa sastra Melayu memasuki babakan yang universal dan kosmopolitan dalam semangat penciptaan. Kisah-kisah ajaib ini tidak dimaksudkan sebagai mitos. Dalam hikayat yang tergolong pelipur lara tidak jarang penulis menyelipkan ajaran agama atau tasawuf. termasuk ke dalam jenis ini ialah Pelipur Lara. kian menjadikan kesusastraan Melayu tidak lagi streotaip. yang sesudah itu sang tokoh hikayat turun kembali ke dunia nyata untuk memainkan perannya selaku khalifah Tuhan di atas dunia. Perjalanan tersebut sering digambarkan sebagai perjalanan menuju puncak bukit atau gunung untuk menyucikan diri. yang tidak lain merupakan kias perjalanan manusia dari alam rendah menuju alam tinggi. seperti alAttas. sebab ia menumpukan maknanya pada nilai Tauhid dan konsekwensi moralnya bagi mereka yang menghayati keluasan makna Tauhid. Dengan demikian estetika yang ditonjolkan ialah estetika berkenaan hikmah atau Estetika Hikmah. dan upaya ke arah itu dicapai melalui bantuan keindahan karya sastra yang memberikan semacam psikoterapi kepada jiwa. serta penyebarannya yang luas. tetapi terbuka kepada berbagai-bagai kemungkinan. Hamzah Fansuri dan murid-muridnya telah mempelopori kesadaran tersebut lebih tiga abad sebelum mereka. Di antara pembaharuan itu termasuk: . munculnya karya kesejarahan dan hikayat yang bernaeka ragam itu.

Kedua. dapat diperhatikan melalui contoh berikut: Hamzah miskin hina dan karam Bermain mata dengan Rabb al-`Alam Selamnya sangat terlalu dalam Seperti mayat sudah tertanam Hamzah sesat di dalam hutan Pergi uzlat berbulan-bulan Akan kiblatnya picik dan jawadan Itulah lambat mendapat Tuhan Hamzah miskin orang `uryani Seperti Ismail jadi qurbani Bukannya `Ajami lagi Arabi Nentiasa wasil dengan Yang Baqi . Saya ingin mengutip pernyataan Teeuw: "Mungkin pada penglihatan pertama pembaca menganggap pemakaian kata-kata Arab berlebih-lebihan dan mengganggu. apabila penyair-penyair sebelumnya malu-malu membubuhkan namanya dalam karyanya. begitu pula istilah-istilah sastra lain seperti sajak. Munculnya Hamzah Fansuri membuat zaman Sahibul Hikayat menjadi masa silam. yang kemudian sangat popular. Petikan atau potongan ayat-ayat al-Qur`an itu juga berfungsi sebagai unsur estetik dan sekaligus pelita yang menerangi makna keseluruhan sajak.Pertama. Puisi Hamzah Fansuri memerlukan pengetahuan yang luas di bidang bahasa dan kebudayaan Arab Persia. Puisi Hamzah Fansuri juga kaya dengan unsur puitik: diksi puisinya khas." Pendek kata. syair tidak ada dalam kesusastraan Arab dan Persia. Ketiga. Juga ada kreativitas bunyi. belum termasuk puluhan ungkapan dan potongan ayat-ayat al-Qur'an yang sangat dalam dan luas maknanya. Hamzah Fansuri tidak segan-segan membubuhkan nama pribadi dan gelar atau takhallusnya dalam setiap akhir karangannya. Hamzah Fansuri menciptakan karya yang individual dan modern. Tidak kurang terdapat 800 kata-kata Arab lepas dijumpai dalam 32 ikat-ikatan syairnya. bait dan lain-lain. Namun demikian Hamzah dapat mencipta bentuk puisi tersebut disebabkan pengetahuannya yang dalam mengenai puitika Arab dan Persia. Hamzah Fansuri memperkenalkan bentuk puisi baru. begitu juga tamsil dan imagerinya. tanpa perlu berpikir.. dengan bahasa yang kreatif dan intens. serta puitika Melayu yang hidup dalam tradisi sastra lisan. termasuk pengetahuan tentang Islam dan tasawufnya. yaitu bait penutup ikat-ikatan sajaknya. Sebagai bentuk puisi empat (4) baris dengan skema rima AAAA. Dari perkataan 'syair' itulah perkataan 'penyair' berasal. malahan petikan ayat-ayat al-Qur'an dan Hadis yang sangat bermakna. berasal dari karangan-karangan Hamzah Fansuri. sengaja dimasukkan dengan bebasnya ke dalam baris sajak-sajaknya. Hamzah Fansuri sangat kreatif menggunakan bahasa. menurut Teeuw. yaitu Syair. atau dengan menggunakan istilah Chairil Anwar 'sangat destruktif' terhadap bahasa Melayu..Bagaimana Hamzah Fansuri membubuhkan namanya dalam bait-bait penutup ikat-ikatan syairnya. Melalui kreativitas sang penyair maka lahirlah bahasa Melayu Baru yang sangat berbeda dari bahasa Melayu lama serta lebih kaya dan bertenaga. ungkapan-ungkapannya kaya dan orisinal. dan juga tidak dalam kesusastraan Nusantara sebelumnya.Kata-kata dan ungkapan Arab. Lagi pula bagi seorang sufi puisi tidak lain ialah tafsir spiritual dan estetis terhadap ayat-ayat al-Qur`an tertentu. Kekayaan daya pikir dan luasnya pengetuan yang diperlukan untuk membaca puisi Hamzah Fansuri bukanlah tanda kelemahan atau kegagalan puisi Hamzah Fansuri. serta sangat kreatif terhadap bahasa dan intens dalam berekspresi. akan kecewa membaca puisi Hamzah Fansuri. Pembaca yang terbiasa menganggap puisi dapat dinikmati hanya dengan perasaan semata-mata.

yaitu hakekat terdalam kemanusiaan kita yang bersifat kerohanian di mana rahasia penciptaan tersembunyi dan mesti disingkap oleh mereka yang ingin mengenal Tuhan. Dalam sajak itu Hamzah memakai tamsil burung sebagaimana digunakan Fariduddin `Attar dalam Mantiq al-Tayr (Percakapan Burung) yang masyhur itu. yaitu jiwa seorang faqir yang telah bebas dari beban kepentingan diri dan jiwanya damai mutmaina) karena kerinduannya kepada Yang Satu telah terpenuhi. asal segala sesuatu. Demikianlah Hamzah Fansuri menulis: Tayr al-`uryan unggas sultani Bangsanya nur al-rahmani Tasbihnya Allah subhani Unggas itu terlalu pingai Warnanya terlalu bisai Rumahnya tiada berbidai Duduknya da'im di balik tirai Awalnya itu bernama ruhi Millatnya terlalu safi Mushafnya besar surahnya Kufi Tubuhnya itu terlalu suci `Arasy Allah akan pangkalannya Habib Allah akan taulannya Bayt Allah akan sangkarannya Menghadap Tuhan dengan sopannya Sufinya bukannya kain Fi`l Mekkah da'im bermain Ilmunya zahir dan batin Menyembah Allah terlalu rajin Kitab Allah dipersandangnya Alam Lahut akan kandangnya .Hamzah Fansuri di dalam Mekkah Mencari Tuhan di Bayt al-Ka`bah Di Barus ke Quds terlalu payah Akhirnya dijumpa di dalam rumah Hamzah `uzlat di dalam tubuh Romanya habis sekalian luruh Zahir dan batin menjadi suluh Olehnya itu tiada bermusuh Bersamaan dengan pembubuhan nama dirinya sang penyair mengungkapkan pengalaman kerohanian yang diraihnya dalam jalan tasawuf dan gagasan universal Sufi tentang diri. Salah satu ikat-ikatan syair Hamzah Fansuri yang indah dan mengungkapkan gagasan tentang pencarian diri melalui penerbangan jiwa ke puncak kehidupan ialah ikat-ikatan yang bermula dengan "Tayr al-`uryan" (Burung Fakir). arti harafiahnya burung telanjang. Tamsil burung dipakai untuk menggambarkan jiwa atau roh manusia yang senantiasa gelisah disebabkan kerinduannya yang mendalam kepada Yang Satu. Tayr al`uryan.

tetapi tidak memiliki bakat puitik yang besar. alam malakut (alam batin) dan alam nasut (alam jasmani). bidai = tirai penutup pintu dari rotan. akan tampak pola persajakan kedua penyair tidak jauh berbeda. senantiasa. zikir dan wirid. bisai = elok. sha’im = puasa. musyaf = buku. istilah dalam kosmologi sufi. da’im = selalu. sekaligus penyair besar. serta sangat dalam maknanya. maksudnya menyatu dalam lautan hakikat wujud). sebutan untuk burung simbolis Simurgh atau `Anqa. Tidak mungkin ia ditulis oleh seorang penyajak yang hanya mengetahui tasawuf. syurbat tauhid = minuman tauhid. berasal dari ucapan syatahat Bayaid al-Bhistami. Kita kutip dua bait sajak Sanusi Pane "Dibawa Gelombang" yang mistikal itu: Alun membawa bidukku pelahan Dalam kesunyian malam waktu Tidak berpawang tidak berkawan Entah kemana aku tak tahu Jauh di atas bintang kemilau Seperti sudah berabad-abad Dengan damai mereka meninjau Kehidupan bumi yang kecil amat Bandingkan dengan dua bait sajak Hamzah Fansuri Jika hendak engkau menjeling sawang Ingat-ingat akan ujung karang Jabat kemudi jangan kau mamang Supaya betul ke bandar datang Anak mu`allim tahu akan jalan Da'im berlayar di laut nyaman Markabmu itu tiada berpapan Olehnya itu tiada berlawan . ruhi = bersifat kerohanian.Pada da'irah Hu tempat pandangnya Zikir Allah kiri kanannya Fikir Allah rupa badannya Syurbat Tauhid akan minumannya Da'im bertemu dengan Tuhannya (Catatan: Nur al-rahmani = Cahaya Allah yang maha pengasih. musyaf. Subhani = Maha Terpuji Aku. Bukan hanya penyairpenyair Melayu Klasik berhutang budi kepadanya. Apabila kita baca kembali sajak-sajak Sanusi Pane dan kemudian membandingkannya dengan sajak-sajak Hamzah Fansuri. yang merupakan lambing dari pusat kehidupan rohani. washil = hampir. pingai = cemerlang keemasan. sebagai lambing hakikat ketuhanan dan hakikat diri yang sejati. merujuk pada posisi melingkar para sufi ketika berzikir mmengelilingi guru kerohanian. `isyqi = cinta ilahi. da’irah Hu = Lingkaran Dia. merujuk pada kalimah La ilaha (nafi) ill Allah (itsbat). menyatu. Hamzah Fansuri ialah sufi besar Asia Tenggara. yaitu Tuhan. Sajak yang telah dikutip ini sangat halus dan indah. `Alam lahut = alam ketuhanan. naïf itsbat = meniadakan dan mengiyakan. begitu pula cita rasa estetisnya. maksudnya salat. qa’im = menegakkan salat. anggun. di bawah alam ini berturut-turut ke bawah ialah alam jabarut (alam roh). tetapi juga penyair-penyair Indonesia modern. khususnya Sanusi Pane dan Amir Hamzah. millat = madzab atau aliran keagamaan. maksudnya salat tahajjud pada waktu malam. F al-Mekkah = di negeri Mekkah. bayt Allah = rumah Tuhan. habib Allah = kekasih Tuhan. yaitu Phoenix.

sebuah karya sastra. darimana wawasan estetik mereka diturunkan. tetapi juga dalam hal wawasan estetik dan gambaran dunia (weltanschauung) yang disajikan. hendaknya diusahakan dapat memberi sugesti atau isyarat tentang kehadiran rahasia Tuhan dan keberadaan gaib-Nya di antara ciptaan-ciptaan-Nya. leka. Demikianlah gejala-gejala alam. Estetika sebagai teori seni atau pandangan tentang keindahan seni. asyik. yaitu tangga naik menuju hakekat tertinggi. Ibn `Arabi. Sang Khalik menjelmakan dunia ini dari Perbendaharaan Ilmu-Nya yang tersembunyi (kanz makhfiy) didorong oleh Cinta.Tetapi pengaruh Hamzah Fansuri lebih ketara pada Amir Hamzah. Ananda Wardhana. Pengaruh tersebut tidak terbatas pada aspek puitik dan pola persajakan. `Iraqi. rindu. dunia ditulis dengan kalam Tuhan pada Lembaran Terpelihara (lawh al-mahfudz). Abinawa Gupta dan lain-lain. `Attar. Sesuai dengan gambaran tersebut karya sastra mesti dibentuk menyerupai pribadi manusia. Karena itu mengenal hakekat diri sangat penting bagi manusia (baca Kimia Kebahagiaan karangan Imam al-Ghazali). keindahan obyek yang berbagaibagai di dunia. penulis-penulis Jawa dan Melayu menerapkan estetika India yang didasarkan pada teori Bharata. gharib. ialah melalui peresapan kalbu atau pemahaman intuitif (`isyq). Di antara sajak Amir Hamzah yang mewakili pandangan dunia dan estetika seperti ialah "Berdiri Aku": . Semua itu dihadirkan secara estetik untuk memberi efek tertentu kepada jiwa. Di samping itu karya sastra juga berfungsi sebagai ikhtiar penyucian diri. Sebagaimana dunia. yaitu tanda-tanda-Nya yang menakjubkan. Jalaluddin Rumi. yang banyak dijumpai dalam puisi-puisi Melayu klasik. selain memupuk kesadaran sosial dan kemanusiaan berdasar pemahaman terhadap Tauhid. yang dikenal sebagai Teori Rasa atau Rasa-dhwani (sugesti rasa). merujuk pada keadaan rohani di atas. bukan hal baru bagi para penulis Nusantara. Mahmud al-Shabistari dan lain-lain. Perkataan seperti berahi. sebuah karya sastra agung. khususnya strukturalisme Abdul Qahir al-Jurjani (abad ke-12 M) dan pandangan para sastrawan dan estetikus sufi seperti Imam al-Ghazali. (Braginsky 1993). Hikmah-hikmah tersebut hadir sebagai ayat-ayat-Nya. yang secara struktural merupakan kesatuan bangunan kejiwaan yang kompleks. pribadi manusia juga merupakan sebuah kitab agung. yang bentuk-bentuknya antara lain ialah fana` (persatuan mistik) dan ma`rifat. Namun tidak mungkin kita dapat memahami pertautan tersebut tanpa memahami gambaran atau pandangan dunia penulis Melayu secara keseluruhan. Mereka memandang karya sastra sebagai bangunan struktural yang kompleks dari pengalaman kejiwaan dan spiritual yang diungkapkan melalui bahasa figuratif (majaz) dan simbolik (tamsil). Imaginasi (takhyil) dan pengalaman spiritual sangat menentukan mutu karya yang dihasilkan seorang penyair. peristiwa-peristiwa sosial dan sejarah. mabuk. Ungkapan zahir atau bentuk luar (surah) karya sastra. karib tamasya dan lain-lain. takjub. merupakan manifestasi dari Cinta Tuhan dan Pengetahuan-Nya yang tersembunyi itu. selain dengan jalan akal dan inderawi. Menurut teori Rasa. Mengenai gambaran dunia para penulis Melayu melihat alam semesta sebagai kitab agung yang sangat indah. lena. Setelah agama Islam datang maka yang mempengaruhi wawasan seni penulis Melayu ialah teori Arab dan Persia. salah satu tujuan seni ialah membawa penikmatnya mencapai pengalaman unio-mystica atau meluluhkan rasa dengan kesadaran semesta. Pertautan jiwa Amir Hamzah dengan pendahulunya itu nampak dalam sajaknya "Berdiri Aku". Sebelum agama Islam datang. Cara meresapi dan memahami hakekat penciptaan. Penulis menyajikan obyek-obyek visual dalam karyanya sebagai image dan simbol untuk membawa pembaca mencapai pengalaman transendental `isyq (cinta ilahi). sebagaimana tubuh beserta gerak dan isyarat yang disampaikan anggotaanggotanya. Dalam sistem estetika Melayu ini karya seni dipandang terutama sebagai sarana transendensi. Menurut mereka lagi. Pada manusia keseluruhan hikmah alam semesta direkam dengan diringkas. termasuk Amir Hamzah.

Gerakan-gerakan alam yang disajikan Amir Hamzah juga sangat kuat dalam memberi sugesti akan kehadiran Yang Satu melalui keindahan yang berbagai-bagai di alam ciptaan. image-image dalam puisi di dalam keseluruhan bangunannya. dicipta untuk memberi efek kejiwaan dan moral tertentu kepada pembacanya. 'mengempas emas'. Semua bentuk keindahan zahir itu dapat dijadikan sarana transendensi apabila kita dapat meresapinya dengan kalbu. yang menggambarkan serangkaian keadaan dan pengalaman rohani penyair ketika menyaksikan keindahan alam pada waktu senja hari. Pendek kata melalui sajak tersebut Amir Hamzah memberikan pencerahan (enlightenment) kepada pembacanya sebagaimana penyair-penyair Melayu sebelumnya. Efek kerohanian tertinggi yang dikehendaki penyair melalui sajaknya. Perkembangan lembaga pendidikan telah maju di Aceh sejak zaman Ali . juga penting dihayati pembaca modern yang sehari-harinya sering berhadapan dengan masalah kekosongan spiritual dan ketiadaan makna hidup. Perhatikan ungkapan-ungkapan seperti 'mengurai puncak'.Berdiri aku di senja senyap Camar melayang menepis buih Melayah bakau mengurai puncak Berjulang datang ubur terkembang Angin pulang menyejuk bumi Nenepuk teluk mmengempas emas Lari ke gunung memuncak sunyi Berayun-ayun di atas alas Benang raja mencelup ujung Naik marak menyerak sorak Elang leka sayap tergulung Dimabuk warna berarak-arak Dalam rupa maha sempurna Rindu sendu mengharu kalbu Ingin datang merasa sentosa Mencecap rindu bertentu tuju (dalam Buah Rindu) Menurut Ibn Sina dan al-Jurjani. bukan semata-mata efek inderawi atau sosial. ada pada bait terakhir. khususnya kerinduan kepada Tuhan. 'memuncak sunyi' 'sayap tergulung' dan lain-lain. Penyair-penyair sufi lebih jauh menggunakan image dalam puisi dengan maksud memberi efek kerohanian. Inilah antara lain sumbangan penting penulis Melayu Klasik kepada kita di dunia modern. 'berjulang datang'. Hal seperti itulah yang dijumpai dalam sajak Amir Hamzah. Jakarta 2 Juli 1998 Catatan Kaki 1 Di antara factor-faktor yang membuat kegiatan penulisan kitab dan sastra begitu berkembang pada masa ini ialah: (1) Pesatnya perkembangan lembaga pendidikan tinggi yang mampu melahirkan kaum terpelajar dan cerdik cendikia yang selain menguasai berbagai bidang ilmu keagamaan juga mempunyai apresiasi sastra yang tinggi. yang selain masih merupakan bagian dari sistem kerohanian masyarakat Melayu. Mereka memberikan kepada kita gambaran dunia dan cita rasa estetik. disadari atau tidak.

khususnya tasawuf. Universitas ini dibagi ke dalam beberapa fakultas atau jurusan seperti fakultas Ilmu Tafsir.(1993). Pusat pendidikan terbesar ialah Jami`ah Bayt al-Rahman (Universitas Baitur Rahman) di Kutaraja. Berkat adanya lembaga pendidikan inilah lahir beberapa lokal jenius seperti Hamzah Fansuri. Brakel. dan sastra. Kerajaan ini mewarisi kejayaan lembaga penddikan dari kerajaan Samudra Pasai. M. Azyumardi Azra (1995). M. F. Bukhari al-Jauhari dan lain-lain. Bandung: Mizan. Ceramah di Sudut Penulis Dewan Bahasa dan Pustaka. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka. Pada akhr abad ke-16 kertas merupakan bahan perdagangan yang penting di Nusantara dan Aceh merupakan kerajaan Nusantara paling awal yang mengimpor kertas dalam jumlah besar untuk kepentingan pendidikan dan penulisan kitab (Mahyudin Haji Yahaya 2000:10-12). Abdul Hadi W. (4) Tariqat sufi berkembang pesat. JMBRAS Vol. Adab dan Adat: Refleksi Sastra Nusantara. Al-Jurjani’s Theory of Poetic Imagery. --------------------------. Al-Attas. 1996. Braginsky. Abu Deeb (1979). Kuala Lumpur: Universiti Malay Press.42. M. Ilmu Hisab (matematika).ani Halimi).Mughayat Syah (1511-1530 M). Ali Ahmad (1991).(1970). “Puisi Sufi Perintis Jalan”. kemudian kertas dan tinta yang harganya juga mahal. Jakarta: Paramadina. Wilts: Aris & Philips Ltd.(1991)The Origin of the Malay Sha`ir.(1994) Nada-nada Islam Dalam Sastera Melayu Klasik. Syamsudin Pasai. Tasawuf Yang Tertindas: Kajian Hermeneutik Terhadap Karya-karya Hamzah Fansuri. V. Kepustakaan Abdul Hadi W. Naquib (1969). "The Birthplace of Hamza Fansuri". "The Emergence of Literary Self Awareness and Its Role in the Shaping of Classical Malay Literature". Prelimanary Statement in a General Theory of Islamization of the MalayIndonesia Archipelago. Pulau Pinang: Universiti Sains Malaysia. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka. (3) Sebagai kerajaan yang makmur dan kaya Aceh mampu mengimpor alat-alat baca tulis dalam jumlah besar. ----------------. Desember: 11-15. The Mysticism of Hamzah Fansuri. Dalam sejarah Islam para guru dan pemimpin sufi terkenal sebagai golongan cerdik cendekia yang mempunyai apresiasi tinggi terhadap kegiatan ilmu. 2001). (2001). M. Warminster. (1969) . Jilid 13 Bilangan 12. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka. (1992). “Sejarah Awal Pendidikan Islam di Alam Melayu”. Ilmu Tib (Kimia). pemikiran falsafah dan sastra. . Bunga Rampai Sastera Melayu Warisan Islam. 1993. Ali Ahmad dan Siti Hajar Che' Man. -----------------------. ---------------. Ilmu Siyas (Politik)) dan lain-lain (Ahmad Je. 29-40. Banda Aceh sekarang ini. Kuala Lumpur 27-8 Oktober. Dalam The System of Classical Malay Literature. p. Jakarta: Pusat Bahasa. Leiden: KITLV Press. Abdul Hadi W. (2) Sultan-sultan yang memegang tampuk pemerintahan di Aceh hingga pertenghan abad ke-17 adalah pencinta besar ilmu keagamaan. L. Ahmad Jelani Hilmi (1991). Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII. begitu juga dalam bidang penulisan puisi dan kegiatan seni (Schimmel 1981. Di antaranya ialah naskah-naskah dalam bahasa Arab dan Persia yang sangat mahal ketika itu. Kesusasteraan Melayu Dalam Tasawwur Islam. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka. dkk (2003). I.

lalu melanjutkan ke studi Filsafat Barat di universitas yang sama hingga tingkat doktoral (19681971). Akhirnya ia mendapatkan kesempatan studi dan mengambil gelar Master dan Doktor dari Universiti Sains Malaysia di Pulau Penang (1992-1996). Kuala Lumpur: Oxford University Press. Jawa Timur. Banda Aceh: Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh. Kimia Kebahagiaan. Jakarta: Pustaka Jaya. “Pengislaman Dunia Melayu: Transformasi Kemanusiaan dan Revolusi Kebudayaan”. Tim Mizan. Jerman. “Bahasa Melayu Di Batas Zaman: Renungan Sejarah. November: 36-39. Imam Ghazali. Amerika Serikat (1973-1974) lalu beberapa tahun di Hamburg. Wajah Aceh Dalam Lintasan Sejarah. A History of Classical Malay Literature. Abu Muthar. “Pemikiran Islam di Nusantara Dalam Perspektif Sejarah”. Sastera Sejarah: Interpretasi dan Penilaian. Avicenna's Commentary on the 'Poetics' of Aristotle. Imam al-Ghazali (1985). Karya Klasik Melayu Islam. Kern H. Jakarta: Balai Pustaka. RA. Edwar Djamaris (1990).(2003). K. Dewan Budaya Jilid 12 Bilangan 11. Verspreiche geschrifter VI. Asas-asas Kesusasteraan Islam. Universitas Gadjah Mada hingga tingkat sarjana muda (19651967). (1994) . Bandung: Mizan. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka. Sempat mengikuti International Writing Program di Iowa University. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka. Pemula Puisi Indonesia". Dehiyat (1974) . 24 Juni 1948. juga tidak selesai. Islam dan Masyarakat. Ibrahim Alfian (1999). Ia beralih ke Fakultas Sastra. Ismail M. Kertas Kerja Hari Sastra Malaysia. Hal. Brill. Sejak kecil ia telah mencintai puisi.Collins. Zahrah Ibrahim (1986). Terj. ABDUL HADI WM Dikenal sebagai salah satu ahli filsafat di Indonesia. O (1972). Ramalan Arah”. Teeuw A. untuk mendalami sastra dan filsafat . seorang putridkeraton asa Solo. 44-73. J. Jakarta: LP3ES. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka. Madura. The Hague: Martinus Nijhoff. Universitas Padjadjaran mengambil program studi antropologi (1971-1973). Taufik Abdullah (1987). Mahayudin Haji Yahaya (2000). Socrates. Dalam Indonesia: Antara Kelisanan dan Keberaksaraan. Di masa kecilnya ia sudah berkenalan dengan bacaan-bacaan yang berat pemikir-pemikir kelas dunia seperti Plato. Lahir dari garis keturunan saudagar Tionghoa. Menempuh pendidikan di Fakultas Sastra. Windstedt. Abdul Hadi Widji Muthari dilahirkan di Sumenep. Ayahnya. Leiden: E. Ismail Hamid (1990). "Hamzah Fansuri. Siddiq Fadzil (1990). James (1993). ---------------------. Rabindranath Tagore dan Muhamad Iqbal. namun tidak diselesaikannya. (1917). Jakarta 5 September 2002. Jawa Tengah. seorang saudagar dan guru bahasa Jerman. Ibunya. R. Martiya. Shah Alam Selangor 4 – 7 Juni 1993. Menggeli Khazanah Sastra Melayu Klasiik. Makalah Diskusi Peluncuran Buku Ensiklopedi Tematia Dunia Islam.