Estetika Sufi dalam Sastra Melayu dan Jejaknya dalam Sastra Modern Oleh: Abdul Hadi W. M.

Babakan penting sejarah sastra Melayu Nusantara mengambil waktu pada peralihan abad ke-16 – 17 M bersamaan dengan derasnya proses pengislaman penduduk Nusantara dan munculnya kerajaankerajaan Islam di pesisir Sumatra, Semenanjung Malaya, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Nusatenggara. Penerimaan Islam secara luas itu tidak semata-mata disebabkan oleh faktor politik dan perdagangan, tetapi terutama karena Islam yang didakwahkan kepada penduduk kepulauan Nusantara adalah ajaran al-Qur’an dan Sunnah yang ditafsirkan oleh para ahli tasawuf ke dalam berbagai bidang kehidupan dan ilmu seperti etika, hukum, metafisika, estetika, konsep pemerintahan, ekonomi, politik, seni, sastra, adat istiadat, dan sudah barang tentu dalam berbagai bidang ilmu keagamaan seperti syariah, fiqih, kalam, dan ilmu suluk atau tariqat. Ajaran Islam bercorak sufistik yang merupakan hasil penafsiran mendalam ahli-ahli tasawuf itu terutama ditulis dalam bahasa Melayu, menggunakan ungkapan-ungkapan sastra dan tidak jarang menggunakan sarana sastra seperti hikayat dan syair, dan diajarkan di lembaga-lembaga pendidikan Islam, yang selain menggunakan bahasa Arab juga menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar. Sebagai bahasa Nusantara pertama yang mengalami proses islamisasi, bahasa Melayu telah siap menjadi bahasa ilmu pengetahuan, keagamaan, dan sastra, karena perbendaraan katanya telah diperkaya dengan kata-kata dan istilah-istilah konseptual Islam terutama dari bahasa Arab. Terintegrasinya bahasa Melayu ke dalam peradaban Islam itu memungkin ia menjelma sebagai bahasa pergaulan utama antar etnik di Nusantara baik di bidang perdagangan maupun di bidang intelektual-keagamaan dan kebudayaan. Mantapnya kedudukan tersebut diperoleh karena penyebaran agama Islam yang telah marak sejak abad ke-13 M. Orang-orang Islam yang berpengaruh di bidang perdagangan, politik dan kegiatan intelektual menggunakan bahasa Melayu sebagai media utama bagi penyampaian ajaran agama, ilmu-ilmu keagamaan dan falsafah (al-Attas 1970; Braginsky 1992; Abdul Hadi W. M. 2001). Cepatnya perkembangan bahasa Melayu itu bisa terjadi karena pusat-pusat utama penyebaran agama Islam seperti Samudra Pasai (1272-1450), Malaka (1400-1511) dan Aceh Darussalam (1516-1700) merupakan kota-kota dagang dan pelabuhan utama di Selat Malaka. Di kota-kota inilah kapal-kapal asing singgah untuk mengambil barang dagangan, sehingga dengan cepatnya pula kota-kota ini maju dan makmur, yang dengan demikian mudah pula berkembang menjadi pusat kegiatan intelektual dan kebudayaan. Ketiga kerajaan ini pula sejak lama penduduknya menggunakan bahasa Melayu yang diwarisi dari pendahulunya yaitu kerajaan Sriwijaya (Collin 1992; Azyumardi Azra 1995:22-55; Ibrahim Alfian 1999:53) Pada awal abad ke-16 M dengan ditalukkannya Malaka oleh Portugis (1511) serta merta kegiatan penulisan sastra Melayu mandeg untuk beberapa waktu lamanya. Tetapi tidak lama kemudian, pada tahun 1516 M, sebuah kerajaan Islam lain yaitu Aceh Darussalam muncul tidak jauh dari bekas tapak kerajaan Samudra Pasai. Dengan munculnya Aceh kegiatan penulisan kitab keagamaan dan sastra Melayu berkembang pesat. Karya-karya Melayu yang ditulis di Pasai dan Malaka disalin kembali dalam jumlah besar. Majunya perkembangan penulisan kitab itu terutama terjadi pada masa pemerintahan Sultan Ala’uddin Riayat Syah (1589-1604) dan Sultan Iskandar Muda (1607-1636 M) . Taufik Abdullah (2003) menyebutkan pada periode ini terjadi gelombang kedua dalam sejarah intelektual Islam di Nusantara. Gelombang pertama mengambil masa pada abad ke-14-16 M, yaitu sejak munculnya Samudra Pasai hingga berkembangnya Malaka dan Aceh. Pada periode yang sangat gencar dilakukan ialah pengenalan asas-asas kosmopolitan dari ajaran Islam. Karya-karya Arab dan Persia disadur dalam jumlah besar ke dalam bahasa Melayu, dan dengan demikian Islam hadir sebagai realitas dunia baru dalam pikiran bangsa-bangsa Nusantara. Dalam gelombang kedua terjadi proses islamisasi kebudayaan dan realitas

. Kecuali itu dengan memandang manusia sebagai khalifah Tuhan di muka bumi maka berarti mereka telah menempatkan manusia sebagai pusat dan penggerak utama perputaran peristiwa di dunia. Kecenderungan kedua ini memunculkan hasrat menyusun etika politik dan teori pemerintahan yang ideal. bahkan dalam sastra Nusantara lain seperti Jawa. Brakel (1979). Mereka juga mengajarkan semangat persaudaraan dan egaliter.secara besar-besaran. Madura. Tetapi proses islamisasi benar-benar telah dijalankan pada abad ke-16 dan 17 itu. Walaupun beberapa sarjana Eropah seperti Overbeck (1920). Teeuw (1994) dan lain-lain memandang lebih arif. Ini terlihat mula-mula dalam karya Bukhari al-Jauhari Taj al-Salatin atau Mahkota Raja-raja (1603 M). hasil-hasil sastra Melayu Islam sangat penting. Windstedt (1920) dan lain-lain memandang sebelah mata terhadap keaslian dan relevansi karya para penulis itu. Menurut Braginsky. misalnya alAttas (1970). Demikianlah yang mereka ajarkan pertama-tama ialah pentingnya individualitas dan tanggungjawab pribadi dalam menjalankan kehidupan keagamaan dan sosial. Sebagai khalifah Tuhan mereka memiliki freewill dan harus menjalani kehidupan berdasarkan freewill atau ikhtiar pribadinya. yaitu kebudayaan Indonesia dan Malaysia. tidak sedikit sarjana mutakhir. Kebaruan karya para penulis abad ke-16 dan 17 itu ialah pertama-tama. dan bermulanya penulisan karya-karya yang benar-benar bercorak Islam baik secara estetik maupun isi yang dikandungnya. terutama mereka yang sejalan dalam kehidupan rohani dan keagamaan. Pada masa inilah muncul tokoh besar di bidang penulisan sastra keagamaan dan adab seperti tampak pada Hamzah Fansuri. Sunda. dan berperan besar pula sebagai penyebar gagasan dan pandangan dunia yang relevan sampai abad ini. yang saling berkaitan muncul pada masa ini. dan di pihak lain ikhtiar untuk membangun tatanan kehidupan sosial politik berdasarkan cara pandang Islam. yang dengan itu sebuah kehidupan masyarakat religius dan beradab dapat diselenggarakan. karena ia telah memainkan peranannya sebagai fundasi utama kebudayaan Melayu Nusantara. Dalam kenyataan pengalaman rohani dalam tasawuf hanya bisa diperoleh secara personal. Dua gejala dominan. Zaman ini menandakan berakhirnya zaman peralihan dari tradisi Hindu-Budhha ke tradisi Islam. yang dengan itu kesadaran bersama dan solidaritas kemasyarakatan dapat direalisasikan. Malahan mereka dapat menunjukkan relevansi serta sumbangan besar penulis-penulis klasik itu bagi perkembangan sastra Indonesia secara keseluruhan. Memang akhir masa peralihan ini tidak dapat dibatasi dengan jelas. selaku hamba dan khalifah Tuhan di dunia memiliki kedudukan setara di hadapan Tuhan di hadapan Tuhan dan hukum ilahi. karena karya-karya zaman peralihan – seperti saduran karya-karya Arab dan Parsi dan gubahan dari karya-karya zaman Hindu yang telah diislamkan – masih terus disalin dan digubah dalam sastra Melayu. terletak pada keberanian pengarang untuk mengekspresikan pengalaman dan pengetahuan pribadinya. Minangkabau. Syamsudin Pasai atau Syamsudin Sumatrani dan Bukhari al-Jauhari. yaitu di satu pihak kecenderungan untuk memusatkan diri pada renungan-renungan tasawuf yang mendalam dan personal dalam ikhtiar menjawab masalah hubungan manusia dengan Yang Abadi. Aceh. Braginsky (1992). Realitas yang ditampilkan adalah realitas yang hidup dalam masyarakat dan kebudayaan Melayu Nusantara yang telah berhasil diislamkan. Islam dipakai sevagai cermin untuk melihat dan memahami realitas. Bugis Makassar dan lain-lain. Karya-karya penulis sufi seperti Hamzah Fansuri dan murid-muridnya mereka juga mengungkapkan bahwa manusia. Ini dimungkinkan karena mereka berkarya berdasarkan estetika sufi dan ilmu tasawuf. Karya-karya dari zaman Hindu Buddha disadur dan ditransformasikan ke dalam situasi pemikiran Islam. namun demikian pengalaman itu bisa dibagi kepada orang lain. kemudian dalam karya Nuruddin al-Raniri Bustan al-Salatin (1637 M).

(4) Hikayat Orang-orang Saleh dan Suci. kalam. Tarikh. (2) Karya yang menggarap lapis Faedah dan Hikmah. (9) Cerita Berbingkai. Malahan beberapa gagasan penting mereka. karya-karya tersebut menjadi teladan dan dijadikan sumber ilham bagi penulisan karya sejenis dalam berbagai bahasa Nusantara lain seperti Jawa..Mengenai pandangan dunia (worldview) yang mendasar karya para penulis sufi Melayu itu. Sesuai jenisnya karya-karya tersebut dapat dikelompokkan menjadi: (1) Hikayat Nabi Muhammad s. dan sumber penulisannya juga berbeda-beda. Sunda. . Yang benar-benar bercorak fiksi ialah cerita berbingkai dan pelipur lara. Banjar dan lain-lain. dilanjutkan oleh beberapa penulis abad ke-20 dengan memberinya cita rasa modern. Cerita Rakyat dan kitab-kitab keagamaan seperti fiqih.a. Karya-karya yang menggarap sfera kesempurnaan jiwa ini juga menggambarkan cita-cita manusia mencapai pribadi insan kamil meneladani Nabi Muhammad s. dalam batas tertentu. bentuk pengalaman dan keadaan rohani (maqam dan ahwal) yang diperoleh seorang penempuh jalan rohani (salik) dan lain sebagainya. Khususnya seperti yang dikumpulkan oleh al-Tabari pada abad ke-8 M dalam kitabnya Sirah Nabi Muhammad. Hikayat Nabi Muhammad s. tasawuf dan siyas (politik). Minangkabau. Aceh. Berdasarkan sumbernya saja dengan segera kita akan melihat betapa karya-karya tersebut benar-benar bercorak Islam. (1).w.. sehingga tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa sastra Islam itu tidak ada. yang dihasilkan sejak akhir abad ke-16 sampai menjelang akhir abad ke-19. (3) Hikayat Para Sahabat Nabi. Masing-masing jenis dari hikayat ini mempunyai ciri dan fungsi tersendiri. Zabur dan Injil. Braginsky (1992) mengatakan bahwa karya-karya itu. Hadis. menggambarkan upaya manusia mencapai pengetahuan tertinggi (ma`rifat).w misalnya bersumber pada sejarah kehidupan Nabi Muhammad dari sumber-sumber paling awal.a. Kisah berhubungan dengan asal-usul kerohanian Nabi Muhammad yang diramu berdasarkan konsep kosmologi sufi ialah Hikayat Kejadian Nur Muhamad. (12) Pelipur lara dan lainlain. (8) Sastra Adab. kerohanian dan keagamaan yang disajikan karya-karya ini juga berkaitan dengan ajaran Islam yang ditemui dalam tafsir al-Qur’an.a. (5) Hikayat Pahlawan-pahlawan Islam. Braginsky (1993) mengelompokkan karya-karya Melayu warisan peradaban Islam menjadi tiga berdasar peringkat wilayah atau lapisan garapannya: (1) Karya yang menggarap lapis Kesempurnaan dan Estetika Batin. Hikayat Para Sahabat Nabi benar-benar didasarkan atas sumber sejarah. Hikayat Nabi-nabi sebelum Rasulullah misalnya ditulis berdasarkan sumber-sumber al-Qur’an. Hikayat pahlawan-pahlawan Islam digubah berdasar sumber sejarah dan kisah-kisah lain yang bercorak fiksi. kerinduan seorang `asyik (pencinta) kepada Sang Kekasih (mahbub). (3) Karya yang menggarap lapis Hiburan dan Estetika Zahir. sebagaimana juga sejarah orang-orang saleh dan suci atau para wali. dilengkapi dengan kisahkisah yang telah lama dikenal bangsa Arab dan Ibrani melalui Taurat.w. Pesan moral. Sastra Adab adalah disusun berdasarkan sumber yang beragam seperti al-Qur`an. yang amat penting bagi seorang Muslim untuk mengenal perannya sebagai khalifah Tuhan di atas dunia dan sekaligus hamba-Nya. Peranan Penulis dan Fungsi Sastra Karya-karya penulis Melayu klasik. (2) Hikayat Nabi-nabi sebelum Rasulullah. termasuk kisah binatang. termasuk wawasan estetiknya. Karya-karya yang menggarap sfera kesempurnaan (kamal). Bugis Makasar. berhasil menyadarkan pembaca Nusantara tentang betapa pentingnya budaya membaca dan menulis bagi perkembangan dan kelangsungan peradaban. Dalam karya kategori ini dipaparkan juga jalan pengenalan diri. jalan kerohanian (suluk). (7) Karangan bercorak kesejarahan. Termasuk dalam kategori ini ialah syair-syair Tasawuf yang sering dikenal sebagai Syair Tauhid dan Makrifat. Madura. (10) Syair Rampai. Arti penting lain ialah karena sampai abad ke-19. (6) Karangan bercorak Tasawuf. amat berlimpah dan aneka ragam jenis dan coraknya. termasuk kesaksian kerabat dekat dan sahaba-sahabat Nabi yang mengikuti perjuangannya menyebarkan agama Islam sejak awal. kitab syariah dan tasawuf. (11) Cerita Jenaka. yaitu Yang Satu.

Selain karya bercorak sejarah dan hikayat-hikayat tertentu. Di antara karya termasuk sastra adab yang terkenal ialah Taj alSalatin (Mahkota Raja-raja) karya Bukhari Jauhari dan Bustan al-Salatin (Taman Raja-raja) karya Nuruddin Raniri dan Nasih Luqman al-Hakim (anonim). Yusuf Mengkasari. dan dengan demikian agama berkembang. Karya-karya Hamzah Fansuri dan murid-muridnya seperti Abdul Jamal. Hikayat Banjar. karena kalbulah yang merupakan sarana penghayatan intuitif terhadap keberadaan Yang Haq dan Yang Satu. Hikayat Patani. Syair Alif dan lain-lain. Babad Madura. . Babad Besuki dan lain-lain. Syair Moko-moko. Hikayat Bengkulu dan lain-lain. Abdul Samad Palimbangi. Syair Singapura Terbakar. serta karya kesejarahan dan adab. Syamsudin Pasai. misalnya tidak dilaksanakannya keadilan dan raja tidak lagi taat pada undang-undang dan tidak berperan sebagai pelindung rakyat dalam arti yang sebenar-benarnya. karya kesejarahan lain yang masyhur ialah Hikayat Pasai. Daud Pontiani dan lain-lain. Karya bercorak sejarah yang ditulis dalam bentuk syair di antaranya ialah Syair Perang Mengkasar. Ki Fakhrudin Palimbangi. Karya-karya ini menjadi cermin pengajaran dan tuntunan bagi raja-raja. Hikayat Merong Mahawangsa. Abdul Rauf Singkili. Di antaranya Syair Perahu (dalam tiga versi yang berbeda). yang membuat jatuhnya sebuah dinasti atau seorang raja. sebab-sebab kejatuhan dan kebangunannya. Karya katagori ini bermaksud memperkuat dan menyempurnakan akal manusia. Krisis yang terjadi dalam sebuah negara. Hikayat Pahlawan Islam. Kecuali karya tiga penulis ini terdapat karya ahli tasawuf lain yang namanya belum diketahui. Misa Melayu. Syair Perang Siak. Syair Kompeni Walanda Perang dengan Cina dan lain-lain. Nuruddin Raniri. Syair Siti Zubaidah Perang dengan Cina. juga ada yang ditulis dalam bentuk kisah perumpamaan. Salasilah Melayu dan Bugis Salasilah Kutai. Di samping itu para sufi amat produktif menulis risalah tasawuf dan interpretasi teks dalam bahasa sastra yang tinggi dengan pengetahuan yang dalam. Di antara penulis risalah tasawuf dan ta'wil (hermeneutika sufi) yang terkenal ialah Hamzah Fansuri. dan juga beberapa karangan Abdul Rauf Singkel dan lain-lain termasuk dalam kategori ini. Arsyad Banjari. Selain yang telah disebut. Hikayat Maulana Hasanuddin. Ikat-ikatan Bahr al-Nisa' (Lautan Perempuan). Keindahan yang dipaparkan dalam karya-karya katagori ini ialah keindahan tersirat atau keindahan batin. Syair Dagang (yang agaknya ditulis penyair asal Minangkabau). selalu dicari sebabnya pada krisis moral dan akhlaq. Bustan al-Salatin merupakan karya bercorak sejarah dan adab. Daud Fatani. Babad Pasundan. (2) Karya-karya yang mengungkap sfera faedah. Syair Sultan Zainal Abidin. Di Jawa genre serupa disebut babad seperti Babad Tanah Jawi. Termasuk Hikayat Nabi dan para sahabatnya. Di Minangkabau karya kesejarahan disebut tambo. Sejarah Raja-raja Riau.Selain ditulis dalam bentuk puisi didaktis dan imaginatif simbolik. Hikayat Burung Pingai. Karya bercorak sejarah ada yang ditulis dalam bentuk syair dan ada yang ditulis dalam bentuk prosa. Syair Pangeran Syarif Hasyim. Hasan Fansuri. serta penyimpangannya terhadap ajaran Islam. Menurut Braginsky (1993) karya-karya yang termasuk ke dalam kategori ini mempunyai tujuan menyucikan kalbu dan jiwa manusia. Hikayat Johor. Syamsudin Pasai. namun tidak seperti hikayat yang diikat oleh perkembangan tokohnya yang stereotype. dengan membeberkan kisah-kisah yang mengandung hikmah dan pengajaran. pegawai pemerintahan dan pemimpin masyarakat dalam menjalankan pemerintahan agar tercapai keadilan dan kesejahteraan sosial. karya kesejarahan diikat oleh perkembangan kejadian dan hikmah yang dikandung dalam kejadian tersebut. Syair Sultan Maulana. Babad Giyanti. Menurut Ali Ahmad (1991) karya bercorak sejarah yang disebut salasilah memiliki unit cerita yang terdiri dari kisah-kisah dan legenda. Karya bercorak sejarah lain yang terkenal ialah Hikayat Aceh (anonim). karangan-karangan ahli tasawuf ini sangat menarik perhatian pengkaji. Di antara yang masyhur ialah Tambo Minangkabau. yaitu sarana intelektualnya. Sedangkan karya bercorak sejarah menggambarkan jatuh bangunnya raja-raja dan dinasti. Sulalat al-Salatin atau Sejarah Melayu karya Tun Sri Lanang dan Tuhfat alNafis karya Raja Ali Haji. Jumlah karya bercorak sejarah sangat banyak. peristiwa-peristiwa penting yang mempengaruhi kehidupan masyarakat dan jalannya sejarah.

(3) Karya yang menggarap sfera hiburan dan estetika zahir (luaran). Perjalanan tersebut sering digambarkan sebagai perjalanan menuju puncak bukit atau gunung untuk menyucikan diri. Brakel dan Braginsky. yaitu menghibur atau melipur. Kecuali itu karya para penyair Sumatra itu membuka babakan baru sejarah kepenyairan kita dengan puisi-puisi. Ini menjadikan nilainya meningkat. Malahan Teuw (1994) tidak tanggung-tanggung menyebut Hamzah Fansuri sebagai Pemula Puisi Indonesia. seorang perintis jalan yang melalui karya-karyanya berhasil membawa sastra Melayu memasuki babakan yang universal dan kosmopolitan dalam semangat penciptaan. Pengalaman dan pengetahuan tersebut dicapai melalui upaya intelektual dan spiritual yang disadari. Puisi dan Kesadaran Diri Dalam sejarah sastra Indonesia. menggambarkan latar belakang tempat dan kebudayaan Melayu dengan jelasnya di mana Islam telah dihayati pada peringkat fikrah dan amalannya. kian menjadikan kesusastraan Melayu tidak lagi streotaip. Karena itu tidak mengherankan apabila banyak kritikus. sebuah sarana penghayatan indrawi atau sensual manusia dalam menanggapi kehidupan. termasuk ke dalam jenis ini ialah Pelipur Lara. dan upaya ke arah itu dicapai melalui bantuan keindahan karya sastra yang memberikan semacam psikoterapi kepada jiwa. Begitu pula gagasan tentang kemerdekaan penyair dalam merombak bahasa demi pengucapan estetik. yang disebut licensia poetica. serta penyebarannya yang luas. Dalam hikayat yang tergolong pelipur lara tidak jarang penulis menyelipkan ajaran agama atau tasawuf. sebab ia menumpukan maknanya pada nilai Tauhid dan konsekwensi moralnya bagi mereka yang menghayati keluasan makna Tauhid. bukan baru bermula pada abad ke-20 dengan munculnya Pujangga Baru dan Chairil Anwar. yang sesudah itu sang tokoh hikayat turun kembali ke dunia nyata untuk memainkan perannya selaku khalifah Tuhan di atas dunia. Pembaharuan yang dilakukan sang sufi dari Barus itu tiga abad mendahului pembaharuan Pujangga Baru dan Chairil Anwar. dan pada saat yang sama memperkuat dasar keberadaannya. Karya-karya mereka otentik sebab didasarkan atas pengalaman dan pengetahuan pribadi. secara kreatif dan luar biasa telah diterapkan dalam penulisan oleh Hamzah Fansuri dan murid-muridnya. Misalnya sebagaimana nampak dalam Hikayat Syekh Mardan yang masyhur itu dan telah dikaji oleh beberapa sarjana. memandang Hamzah Fansuri sebagai Bapak Bahasa dan Sastra Melayu. Di antara pembaharuan itu termasuk: . tetapi terbuka kepada berbagai-bagai kemungkinan. Kisah-kisah ajaib ini tidak dimaksudkan sebagai mitos. Hamzah Fansuri dan murid-muridnya telah mempelopori kesadaran tersebut lebih tiga abad sebelum mereka. seperti alAttas. munculnya karya kesejarahan dan hikayat yang bernaeka ragam itu. Dengan demikian estetika yang ditonjolkan ialah estetika berkenaan hikmah atau Estetika Hikmah. Kesan-kesan kejiwaan yang kacau harus diserasikan dengan nilai moral dan ajaran agama. Karangan-karangan dalam kategori ini termasuk hikayat dan syair percintaan. Penyajian peristiwa di alam misal juga berfungsi sebagai pemaparan simbolik sebuah kisah. melainkan sebagai representasi pengalaman jiwa manusia yang ruang kejadiannya berlaku di alam misal atau alam imaginal. dalam arti berkaitan dengan soal hubungan manusia dengan Tuhan dan berkaitan pula dengan soal hubungan manusia dengan sesamanya. Tujuan karya seperti itu ialah menyerasikan kesan-kesan kejiwaan yang kacau disebabkan kobaran hawa nafsu. kesadaran akan pentingnya individualitas. kisah petualangan yang dibumbui kisah-kisah luar biasa atau ajaib.Menurut Ali Ahmad lagi. getaran hati nurani atau pengucapan diri. Juga karya-karya itu. karena apa yang dialami seseorang dalam alam tersebut merupakan realitas yang menghubungkan pengalaman zahir dengan pengalaman transendental. yang menyajikan pencerahan profetik. yang tidak lain merupakan kias perjalanan manusia dari alam rendah menuju alam tinggi. Alam misal mempunyai tempat tersendiri dalam teori sastra dan estetika Islam.

Juga ada kreativitas bunyi. Lagi pula bagi seorang sufi puisi tidak lain ialah tafsir spiritual dan estetis terhadap ayat-ayat al-Qur`an tertentu. Dari perkataan 'syair' itulah perkataan 'penyair' berasal. Hamzah Fansuri memperkenalkan bentuk puisi baru. syair tidak ada dalam kesusastraan Arab dan Persia. belum termasuk puluhan ungkapan dan potongan ayat-ayat al-Qur'an yang sangat dalam dan luas maknanya. Puisi Hamzah Fansuri memerlukan pengetahuan yang luas di bidang bahasa dan kebudayaan Arab Persia. Kekayaan daya pikir dan luasnya pengetuan yang diperlukan untuk membaca puisi Hamzah Fansuri bukanlah tanda kelemahan atau kegagalan puisi Hamzah Fansuri. Pembaca yang terbiasa menganggap puisi dapat dinikmati hanya dengan perasaan semata-mata. malahan petikan ayat-ayat al-Qur'an dan Hadis yang sangat bermakna. Ketiga. ungkapan-ungkapannya kaya dan orisinal." Pendek kata. serta sangat kreatif terhadap bahasa dan intens dalam berekspresi. dapat diperhatikan melalui contoh berikut: Hamzah miskin hina dan karam Bermain mata dengan Rabb al-`Alam Selamnya sangat terlalu dalam Seperti mayat sudah tertanam Hamzah sesat di dalam hutan Pergi uzlat berbulan-bulan Akan kiblatnya picik dan jawadan Itulah lambat mendapat Tuhan Hamzah miskin orang `uryani Seperti Ismail jadi qurbani Bukannya `Ajami lagi Arabi Nentiasa wasil dengan Yang Baqi . Hamzah Fansuri menciptakan karya yang individual dan modern. Tidak kurang terdapat 800 kata-kata Arab lepas dijumpai dalam 32 ikat-ikatan syairnya. tanpa perlu berpikir. Kedua. begitu pula istilah-istilah sastra lain seperti sajak. Munculnya Hamzah Fansuri membuat zaman Sahibul Hikayat menjadi masa silam. menurut Teeuw. Saya ingin mengutip pernyataan Teeuw: "Mungkin pada penglihatan pertama pembaca menganggap pemakaian kata-kata Arab berlebih-lebihan dan mengganggu. termasuk pengetahuan tentang Islam dan tasawufnya.. bait dan lain-lain. akan kecewa membaca puisi Hamzah Fansuri. Puisi Hamzah Fansuri juga kaya dengan unsur puitik: diksi puisinya khas. Hamzah Fansuri tidak segan-segan membubuhkan nama pribadi dan gelar atau takhallusnya dalam setiap akhir karangannya. yang kemudian sangat popular. Sebagai bentuk puisi empat (4) baris dengan skema rima AAAA. atau dengan menggunakan istilah Chairil Anwar 'sangat destruktif' terhadap bahasa Melayu. sengaja dimasukkan dengan bebasnya ke dalam baris sajak-sajaknya. begitu juga tamsil dan imagerinya. Melalui kreativitas sang penyair maka lahirlah bahasa Melayu Baru yang sangat berbeda dari bahasa Melayu lama serta lebih kaya dan bertenaga.. serta puitika Melayu yang hidup dalam tradisi sastra lisan. dan juga tidak dalam kesusastraan Nusantara sebelumnya. Petikan atau potongan ayat-ayat al-Qur`an itu juga berfungsi sebagai unsur estetik dan sekaligus pelita yang menerangi makna keseluruhan sajak.Pertama. Hamzah Fansuri sangat kreatif menggunakan bahasa. apabila penyair-penyair sebelumnya malu-malu membubuhkan namanya dalam karyanya.Kata-kata dan ungkapan Arab. dengan bahasa yang kreatif dan intens. yaitu bait penutup ikat-ikatan sajaknya. berasal dari karangan-karangan Hamzah Fansuri. yaitu Syair. Namun demikian Hamzah dapat mencipta bentuk puisi tersebut disebabkan pengetahuannya yang dalam mengenai puitika Arab dan Persia.Bagaimana Hamzah Fansuri membubuhkan namanya dalam bait-bait penutup ikat-ikatan syairnya.

yaitu jiwa seorang faqir yang telah bebas dari beban kepentingan diri dan jiwanya damai mutmaina) karena kerinduannya kepada Yang Satu telah terpenuhi. yaitu hakekat terdalam kemanusiaan kita yang bersifat kerohanian di mana rahasia penciptaan tersembunyi dan mesti disingkap oleh mereka yang ingin mengenal Tuhan.Hamzah Fansuri di dalam Mekkah Mencari Tuhan di Bayt al-Ka`bah Di Barus ke Quds terlalu payah Akhirnya dijumpa di dalam rumah Hamzah `uzlat di dalam tubuh Romanya habis sekalian luruh Zahir dan batin menjadi suluh Olehnya itu tiada bermusuh Bersamaan dengan pembubuhan nama dirinya sang penyair mengungkapkan pengalaman kerohanian yang diraihnya dalam jalan tasawuf dan gagasan universal Sufi tentang diri. Demikianlah Hamzah Fansuri menulis: Tayr al-`uryan unggas sultani Bangsanya nur al-rahmani Tasbihnya Allah subhani Unggas itu terlalu pingai Warnanya terlalu bisai Rumahnya tiada berbidai Duduknya da'im di balik tirai Awalnya itu bernama ruhi Millatnya terlalu safi Mushafnya besar surahnya Kufi Tubuhnya itu terlalu suci `Arasy Allah akan pangkalannya Habib Allah akan taulannya Bayt Allah akan sangkarannya Menghadap Tuhan dengan sopannya Sufinya bukannya kain Fi`l Mekkah da'im bermain Ilmunya zahir dan batin Menyembah Allah terlalu rajin Kitab Allah dipersandangnya Alam Lahut akan kandangnya . Dalam sajak itu Hamzah memakai tamsil burung sebagaimana digunakan Fariduddin `Attar dalam Mantiq al-Tayr (Percakapan Burung) yang masyhur itu. Tamsil burung dipakai untuk menggambarkan jiwa atau roh manusia yang senantiasa gelisah disebabkan kerinduannya yang mendalam kepada Yang Satu. Salah satu ikat-ikatan syair Hamzah Fansuri yang indah dan mengungkapkan gagasan tentang pencarian diri melalui penerbangan jiwa ke puncak kehidupan ialah ikat-ikatan yang bermula dengan "Tayr al-`uryan" (Burung Fakir). Tayr al`uryan. asal segala sesuatu. arti harafiahnya burung telanjang.

maksudnya menyatu dalam lautan hakikat wujud). alam malakut (alam batin) dan alam nasut (alam jasmani). qa’im = menegakkan salat. Tidak mungkin ia ditulis oleh seorang penyajak yang hanya mengetahui tasawuf. zikir dan wirid. menyatu. `isyqi = cinta ilahi. berasal dari ucapan syatahat Bayaid al-Bhistami. syurbat tauhid = minuman tauhid. khususnya Sanusi Pane dan Amir Hamzah. serta sangat dalam maknanya. habib Allah = kekasih Tuhan. tetapi juga penyair-penyair Indonesia modern. anggun. bayt Allah = rumah Tuhan. bidai = tirai penutup pintu dari rotan. Bukan hanya penyairpenyair Melayu Klasik berhutang budi kepadanya. washil = hampir. begitu pula cita rasa estetisnya. istilah dalam kosmologi sufi. sekaligus penyair besar. F al-Mekkah = di negeri Mekkah. merujuk pada kalimah La ilaha (nafi) ill Allah (itsbat). Sajak yang telah dikutip ini sangat halus dan indah. sha’im = puasa. Subhani = Maha Terpuji Aku. Hamzah Fansuri ialah sufi besar Asia Tenggara. sebagai lambing hakikat ketuhanan dan hakikat diri yang sejati. millat = madzab atau aliran keagamaan. merujuk pada posisi melingkar para sufi ketika berzikir mmengelilingi guru kerohanian. naïf itsbat = meniadakan dan mengiyakan. senantiasa. yang merupakan lambing dari pusat kehidupan rohani. di bawah alam ini berturut-turut ke bawah ialah alam jabarut (alam roh). Kita kutip dua bait sajak Sanusi Pane "Dibawa Gelombang" yang mistikal itu: Alun membawa bidukku pelahan Dalam kesunyian malam waktu Tidak berpawang tidak berkawan Entah kemana aku tak tahu Jauh di atas bintang kemilau Seperti sudah berabad-abad Dengan damai mereka meninjau Kehidupan bumi yang kecil amat Bandingkan dengan dua bait sajak Hamzah Fansuri Jika hendak engkau menjeling sawang Ingat-ingat akan ujung karang Jabat kemudi jangan kau mamang Supaya betul ke bandar datang Anak mu`allim tahu akan jalan Da'im berlayar di laut nyaman Markabmu itu tiada berpapan Olehnya itu tiada berlawan . Apabila kita baca kembali sajak-sajak Sanusi Pane dan kemudian membandingkannya dengan sajak-sajak Hamzah Fansuri. tetapi tidak memiliki bakat puitik yang besar. yaitu Tuhan. bisai = elok. pingai = cemerlang keemasan. yaitu Phoenix. akan tampak pola persajakan kedua penyair tidak jauh berbeda. maksudnya salat. da’im = selalu. musyaf. musyaf = buku.Pada da'irah Hu tempat pandangnya Zikir Allah kiri kanannya Fikir Allah rupa badannya Syurbat Tauhid akan minumannya Da'im bertemu dengan Tuhannya (Catatan: Nur al-rahmani = Cahaya Allah yang maha pengasih. `Alam lahut = alam ketuhanan. maksudnya salat tahajjud pada waktu malam. da’irah Hu = Lingkaran Dia. ruhi = bersifat kerohanian. sebutan untuk burung simbolis Simurgh atau `Anqa.

Menurut teori Rasa. yaitu tanda-tanda-Nya yang menakjubkan. khususnya strukturalisme Abdul Qahir al-Jurjani (abad ke-12 M) dan pandangan para sastrawan dan estetikus sufi seperti Imam al-Ghazali. Namun tidak mungkin kita dapat memahami pertautan tersebut tanpa memahami gambaran atau pandangan dunia penulis Melayu secara keseluruhan. dunia ditulis dengan kalam Tuhan pada Lembaran Terpelihara (lawh al-mahfudz). takjub. mabuk. Ibn `Arabi. asyik. darimana wawasan estetik mereka diturunkan. merupakan manifestasi dari Cinta Tuhan dan Pengetahuan-Nya yang tersembunyi itu. Mengenai gambaran dunia para penulis Melayu melihat alam semesta sebagai kitab agung yang sangat indah. Mahmud al-Shabistari dan lain-lain. Semua itu dihadirkan secara estetik untuk memberi efek tertentu kepada jiwa. Setelah agama Islam datang maka yang mempengaruhi wawasan seni penulis Melayu ialah teori Arab dan Persia. gharib. Perkataan seperti berahi. Sebelum agama Islam datang. `Attar. Jalaluddin Rumi. Ungkapan zahir atau bentuk luar (surah) karya sastra. keindahan obyek yang berbagaibagai di dunia. penulis-penulis Jawa dan Melayu menerapkan estetika India yang didasarkan pada teori Bharata. leka. peristiwa-peristiwa sosial dan sejarah. yaitu tangga naik menuju hakekat tertinggi. rindu. yang secara struktural merupakan kesatuan bangunan kejiwaan yang kompleks. Mereka memandang karya sastra sebagai bangunan struktural yang kompleks dari pengalaman kejiwaan dan spiritual yang diungkapkan melalui bahasa figuratif (majaz) dan simbolik (tamsil). Imaginasi (takhyil) dan pengalaman spiritual sangat menentukan mutu karya yang dihasilkan seorang penyair. Abinawa Gupta dan lain-lain. Sebagaimana dunia. selain memupuk kesadaran sosial dan kemanusiaan berdasar pemahaman terhadap Tauhid.Tetapi pengaruh Hamzah Fansuri lebih ketara pada Amir Hamzah. sebagaimana tubuh beserta gerak dan isyarat yang disampaikan anggotaanggotanya. Sang Khalik menjelmakan dunia ini dari Perbendaharaan Ilmu-Nya yang tersembunyi (kanz makhfiy) didorong oleh Cinta. Demikianlah gejala-gejala alam. Di antara sajak Amir Hamzah yang mewakili pandangan dunia dan estetika seperti ialah "Berdiri Aku": . yang dikenal sebagai Teori Rasa atau Rasa-dhwani (sugesti rasa). pribadi manusia juga merupakan sebuah kitab agung. Sesuai dengan gambaran tersebut karya sastra mesti dibentuk menyerupai pribadi manusia. Di samping itu karya sastra juga berfungsi sebagai ikhtiar penyucian diri. Estetika sebagai teori seni atau pandangan tentang keindahan seni. sebuah karya sastra agung. `Iraqi. yang banyak dijumpai dalam puisi-puisi Melayu klasik. lena. Pertautan jiwa Amir Hamzah dengan pendahulunya itu nampak dalam sajaknya "Berdiri Aku". ialah melalui peresapan kalbu atau pemahaman intuitif (`isyq). Ananda Wardhana. Menurut mereka lagi. (Braginsky 1993). yang bentuk-bentuknya antara lain ialah fana` (persatuan mistik) dan ma`rifat. tetapi juga dalam hal wawasan estetik dan gambaran dunia (weltanschauung) yang disajikan. karib tamasya dan lain-lain. Penulis menyajikan obyek-obyek visual dalam karyanya sebagai image dan simbol untuk membawa pembaca mencapai pengalaman transendental `isyq (cinta ilahi). Pengaruh tersebut tidak terbatas pada aspek puitik dan pola persajakan. merujuk pada keadaan rohani di atas. Dalam sistem estetika Melayu ini karya seni dipandang terutama sebagai sarana transendensi. Pada manusia keseluruhan hikmah alam semesta direkam dengan diringkas. selain dengan jalan akal dan inderawi. sebuah karya sastra. termasuk Amir Hamzah. Hikmah-hikmah tersebut hadir sebagai ayat-ayat-Nya. Cara meresapi dan memahami hakekat penciptaan. Karena itu mengenal hakekat diri sangat penting bagi manusia (baca Kimia Kebahagiaan karangan Imam al-Ghazali). bukan hal baru bagi para penulis Nusantara. hendaknya diusahakan dapat memberi sugesti atau isyarat tentang kehadiran rahasia Tuhan dan keberadaan gaib-Nya di antara ciptaan-ciptaan-Nya. salah satu tujuan seni ialah membawa penikmatnya mencapai pengalaman unio-mystica atau meluluhkan rasa dengan kesadaran semesta.

khususnya kerinduan kepada Tuhan. Perhatikan ungkapan-ungkapan seperti 'mengurai puncak'. juga penting dihayati pembaca modern yang sehari-harinya sering berhadapan dengan masalah kekosongan spiritual dan ketiadaan makna hidup. Efek kerohanian tertinggi yang dikehendaki penyair melalui sajaknya. Pendek kata melalui sajak tersebut Amir Hamzah memberikan pencerahan (enlightenment) kepada pembacanya sebagaimana penyair-penyair Melayu sebelumnya. yang menggambarkan serangkaian keadaan dan pengalaman rohani penyair ketika menyaksikan keindahan alam pada waktu senja hari. Perkembangan lembaga pendidikan telah maju di Aceh sejak zaman Ali . Semua bentuk keindahan zahir itu dapat dijadikan sarana transendensi apabila kita dapat meresapinya dengan kalbu.Berdiri aku di senja senyap Camar melayang menepis buih Melayah bakau mengurai puncak Berjulang datang ubur terkembang Angin pulang menyejuk bumi Nenepuk teluk mmengempas emas Lari ke gunung memuncak sunyi Berayun-ayun di atas alas Benang raja mencelup ujung Naik marak menyerak sorak Elang leka sayap tergulung Dimabuk warna berarak-arak Dalam rupa maha sempurna Rindu sendu mengharu kalbu Ingin datang merasa sentosa Mencecap rindu bertentu tuju (dalam Buah Rindu) Menurut Ibn Sina dan al-Jurjani. Gerakan-gerakan alam yang disajikan Amir Hamzah juga sangat kuat dalam memberi sugesti akan kehadiran Yang Satu melalui keindahan yang berbagai-bagai di alam ciptaan. Mereka memberikan kepada kita gambaran dunia dan cita rasa estetik. image-image dalam puisi di dalam keseluruhan bangunannya. disadari atau tidak. 'memuncak sunyi' 'sayap tergulung' dan lain-lain. yang selain masih merupakan bagian dari sistem kerohanian masyarakat Melayu. 'mengempas emas'. ada pada bait terakhir. Inilah antara lain sumbangan penting penulis Melayu Klasik kepada kita di dunia modern. dicipta untuk memberi efek kejiwaan dan moral tertentu kepada pembacanya. Jakarta 2 Juli 1998 Catatan Kaki 1 Di antara factor-faktor yang membuat kegiatan penulisan kitab dan sastra begitu berkembang pada masa ini ialah: (1) Pesatnya perkembangan lembaga pendidikan tinggi yang mampu melahirkan kaum terpelajar dan cerdik cendikia yang selain menguasai berbagai bidang ilmu keagamaan juga mempunyai apresiasi sastra yang tinggi. bukan semata-mata efek inderawi atau sosial. Penyair-penyair sufi lebih jauh menggunakan image dalam puisi dengan maksud memberi efek kerohanian. 'berjulang datang'. Hal seperti itulah yang dijumpai dalam sajak Amir Hamzah.

. F.(1994) Nada-nada Islam Dalam Sastera Melayu Klasik. Ilmu Siyas (Politik)) dan lain-lain (Ahmad Je. pemikiran falsafah dan sastra. 1996. Brakel. p. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka. khususnya tasawuf. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka. “Sejarah Awal Pendidikan Islam di Alam Melayu”. (1992). (2) Sultan-sultan yang memegang tampuk pemerintahan di Aceh hingga pertenghan abad ke-17 adalah pencinta besar ilmu keagamaan. Jakarta: Pusat Bahasa. Bunga Rampai Sastera Melayu Warisan Islam.ani Halimi). Braginsky. ----------------. 1993. M. M. Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII. Abdul Hadi W. Ali Ahmad (1991). Desember: 11-15. Abu Deeb (1979). Wilts: Aris & Philips Ltd. begitu juga dalam bidang penulisan puisi dan kegiatan seni (Schimmel 1981. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka. Tasawuf Yang Tertindas: Kajian Hermeneutik Terhadap Karya-karya Hamzah Fansuri. (2001). Kuala Lumpur 27-8 Oktober. Ilmu Hisab (matematika).42. Syamsudin Pasai. dkk (2003). 2001). (4) Tariqat sufi berkembang pesat. Bukhari al-Jauhari dan lain-lain. ---------------. Bandung: Mizan. Leiden: KITLV Press. Ceramah di Sudut Penulis Dewan Bahasa dan Pustaka. Abdul Hadi W. "The Birthplace of Hamza Fansuri". Ilmu Tib (Kimia). -----------------------. --------------------------. Ahmad Jelani Hilmi (1991). (3) Sebagai kerajaan yang makmur dan kaya Aceh mampu mengimpor alat-alat baca tulis dalam jumlah besar. Jakarta: Paramadina.Mughayat Syah (1511-1530 M). Kepustakaan Abdul Hadi W. Warminster.(1991)The Origin of the Malay Sha`ir. Naquib (1969). Pulau Pinang: Universiti Sains Malaysia. Kerajaan ini mewarisi kejayaan lembaga penddikan dari kerajaan Samudra Pasai. kemudian kertas dan tinta yang harganya juga mahal. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka. Azyumardi Azra (1995). V. Dalam sejarah Islam para guru dan pemimpin sufi terkenal sebagai golongan cerdik cendekia yang mempunyai apresiasi tinggi terhadap kegiatan ilmu. Adab dan Adat: Refleksi Sastra Nusantara. I. (1969) . Di antaranya ialah naskah-naskah dalam bahasa Arab dan Persia yang sangat mahal ketika itu. M. Kesusasteraan Melayu Dalam Tasawwur Islam. Al-Attas. Ali Ahmad dan Siti Hajar Che' Man. M. Al-Jurjani’s Theory of Poetic Imagery. "The Emergence of Literary Self Awareness and Its Role in the Shaping of Classical Malay Literature". Universitas ini dibagi ke dalam beberapa fakultas atau jurusan seperti fakultas Ilmu Tafsir. Berkat adanya lembaga pendidikan inilah lahir beberapa lokal jenius seperti Hamzah Fansuri. Dalam The System of Classical Malay Literature. The Mysticism of Hamzah Fansuri. “Puisi Sufi Perintis Jalan”. Prelimanary Statement in a General Theory of Islamization of the MalayIndonesia Archipelago. L. Kuala Lumpur: Universiti Malay Press. Pusat pendidikan terbesar ialah Jami`ah Bayt al-Rahman (Universitas Baitur Rahman) di Kutaraja. dan sastra. JMBRAS Vol.(1970). 29-40. Jilid 13 Bilangan 12.(1993). Pada akhr abad ke-16 kertas merupakan bahan perdagangan yang penting di Nusantara dan Aceh merupakan kerajaan Nusantara paling awal yang mengimpor kertas dalam jumlah besar untuk kepentingan pendidikan dan penulisan kitab (Mahyudin Haji Yahaya 2000:10-12). Banda Aceh sekarang ini.

Dewan Budaya Jilid 12 Bilangan 11. Abu Muthar. Imam al-Ghazali (1985). seorang saudagar dan guru bahasa Jerman. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka. Jakarta 5 September 2002. Universitas Padjadjaran mengambil program studi antropologi (1971-1973). Bandung: Mizan. R. Kern H. Amerika Serikat (1973-1974) lalu beberapa tahun di Hamburg.Collins. “Bahasa Melayu Di Batas Zaman: Renungan Sejarah. Universitas Gadjah Mada hingga tingkat sarjana muda (19651967). Kimia Kebahagiaan. Socrates. Taufik Abdullah (1987). Pemula Puisi Indonesia". Islam dan Masyarakat. O (1972). ABDUL HADI WM Dikenal sebagai salah satu ahli filsafat di Indonesia. juga tidak selesai. Brill. Kuala Lumpur: Oxford University Press. J. Martiya. “Pemikiran Islam di Nusantara Dalam Perspektif Sejarah”. Ramalan Arah”. Ia beralih ke Fakultas Sastra. lalu melanjutkan ke studi Filsafat Barat di universitas yang sama hingga tingkat doktoral (19681971). Wajah Aceh Dalam Lintasan Sejarah. Zahrah Ibrahim (1986). November: 36-39. Ismail Hamid (1990). Rabindranath Tagore dan Muhamad Iqbal. Ibrahim Alfian (1999). Hal. Jawa Timur. (1917). Mahayudin Haji Yahaya (2000).(2003). Madura. Lahir dari garis keturunan saudagar Tionghoa. Di masa kecilnya ia sudah berkenalan dengan bacaan-bacaan yang berat pemikir-pemikir kelas dunia seperti Plato. K. Avicenna's Commentary on the 'Poetics' of Aristotle. Sejak kecil ia telah mencintai puisi. RA. The Hague: Martinus Nijhoff. Edwar Djamaris (1990). Verspreiche geschrifter VI. 44-73. A History of Classical Malay Literature. Imam Ghazali. Terj. Banda Aceh: Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh. Jerman. Tim Mizan. Jakarta: Balai Pustaka. untuk mendalami sastra dan filsafat . ---------------------. Karya Klasik Melayu Islam. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka. Abdul Hadi Widji Muthari dilahirkan di Sumenep. Siddiq Fadzil (1990). Ibunya. "Hamzah Fansuri. Menggeli Khazanah Sastra Melayu Klasiik. Ismail M. Kertas Kerja Hari Sastra Malaysia. (1994) . 24 Juni 1948. namun tidak diselesaikannya. Sastera Sejarah: Interpretasi dan Penilaian. Leiden: E. Menempuh pendidikan di Fakultas Sastra. Jawa Tengah. Asas-asas Kesusasteraan Islam. Sempat mengikuti International Writing Program di Iowa University. Jakarta: Pustaka Jaya. Ayahnya. Akhirnya ia mendapatkan kesempatan studi dan mengambil gelar Master dan Doktor dari Universiti Sains Malaysia di Pulau Penang (1992-1996). seorang putridkeraton asa Solo. Shah Alam Selangor 4 – 7 Juni 1993. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka. Dalam Indonesia: Antara Kelisanan dan Keberaksaraan. “Pengislaman Dunia Melayu: Transformasi Kemanusiaan dan Revolusi Kebudayaan”. Jakarta: LP3ES. Makalah Diskusi Peluncuran Buku Ensiklopedi Tematia Dunia Islam. Teeuw A. James (1993). Windstedt. Dehiyat (1974) .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful