P. 1
ringkasan-hadis

ringkasan-hadis

|Views: 137|Likes:
hadis
hadis

More info:

Published by: Dwi Prasetyo Pujo Wibowo on Jun 13, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/10/2013

pdf

text

original

ANASIR HADIS

[Sanad, Rawi dan Matan] Hadis pada hakikatnya terdiri dari dua unsur pokok: Sanad dan Matan. Kedudukan sanad dalam hadis sangat penting, karena hadis yang diperoleh/diriwayatkan akan mengikuti siapa yang meriwayatkannya. Dengan sanad, suatu periwayatan hadis dapat diketahui mana yang dapat diterima (maqbul) atau ditolak (mardud); dan mana hadis yang sahih atau tidak, untuk dijadikan dasar/argumentasi/dalil hukum dan diamalkan isi/pemahaman matan hadisnya. Sanad merupakan jalan untuk menetapkan hukum-hukum Islam. PENGERTIAN SANAD DAN MATAN HADIS Sanad dari segi bahasa artinya sanad yaitu: (sandaran, tempat bersandar, yang menjadi sandaran). Sedangkan menurut istilah ahli hadis,

(Jalan yang menyampaikan kepada matan hadis). Contoh :

"Dikhabarkan kepada kami oleh Malik yang menerimanya dari Nafi, yang menerimanya dari Abdullah ibnu Umar bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Janganlah sebagian dari antara kamu membeli barang yang sedang dibeli oleh sebagian yang lainnya." (Al-Hadis) Dalam hadis tersebut yang dinamakan sanad adalah:

(Dikhabarkan kepada kami oleh Malik yang menerimanya dari nafi yang menerimanya dari Abdullah ibnu Umar bahwa Rasulullah SAW bersabda:...) Nama-nama orang yang ada dalam rangkaian sanad tersebut adalah Rawi/Periwayat. Adapun matan dari segi bahasa artinya membelah, mengeluarkan, mengikat. Sedangkan menurut istilah ahli hadis, matan yaitu:

(perkataan yang disebut pada akhir sanad, yakni sabda Nabi SAW yang disebut sesudah habis disebutkan sanadnya) .

" Dari Muhammad yang diterima dari Abu Salamah yang diterimanya dari Abu Hurairah. bahwa Rasulullah SAW bersabda; "Seandainya tidak memberatkan terhadap umatku, niscaya aku suruh mereka untuk bersiwak (menggosok gigi) setiap akan melakukan salat. " (Al-Hadis) Yang disebut matan dalam hadis tersebut yaitu:

‫لو ل أن أشق على أرمتي لرمرتهم بالسواك عند كل صلة‬
Mansur Zahri Materi Unsur Pokok Sebuah Hadis Fakultas Syari’ah UIN Sukijo

1

KEDUDUKAN SANAD DAN MATAN HADIS Para ahli hadis sangat hati-hati dalam menerima suatu hadis kecuali apabila mengenal dari siapa mereka menerima setelah benar-benar dapat dipercaya. Pada umumnya riwayat dari golongan sahabat tidak disyaratkan apa-apa untuk diterima periwayatannya. Akan tetapi mereka pun sangat hati-hati dalam menerima hadis . Pada masa Abu bakar r.a. dan Umar r.a. periwayatan hadis ’diawasi’ secara hati-hati dan tidak akan diterima jika tidak disaksikan kebenarannya oleh orang lain. Ali bin Abu Thalib tidak menerima hadis sebelum yang meriwayatkannya disumpah terlebih dahulu bahwa apa yang disampaikannya itu adalah benar-benar hadis Nabi Saw. Meminta seorang saksi kepada perawi, bukanlah merupakan keharusan dan hanya merupakan jalan untuk menguatkan hati dalam menerima yang berisikan itu. Jika dirasa tak perlu meminta saksi atau sumpah para perawi, mereka pun menerima periwayatannya. Adapun meminta seseorang saksi atau menyeluruh perawi untuk bersumpah untuk membenarkan riwayatnya, tidak dipandang sebagai suatu undang-undang umum diterima atau tidaknya periwayatan hadis. Yang diperlukan dalam menerima hadis adalah adanya kepercayaan penuh kepada perawi. Jika sewaktu-waktu ragu tentang riwayatnya, maka perlu didatangkan saksi/keterangan. Ada beberapa hadis dan atsar yang menerangkan keutamaan sanad, di antaranya yaitu: Diriwayatkan oleh muslim dari Ibnu Sirin, bahwa beliau berkata:

"Ilmu ini (hadis ini), idlah agama, karena itu telitilah orang-orang yang kamu mengambil agamamu dari mereka," Abdullah lbnu Mubarak berkata:

"Menerangkan sanad hadis, termasuk tugas agama Andaikata tidak diperlukan sanad, tentu siapa saja dapat mengatakan apa yang dikehendakinya. Antara kami dengan mereka, ialah sanad. Perumpamaan orang yang mencari hukum-hukum agamanya, tanpa memerlukan sanad, adalah seperti orang yang menaiki loteng tanpa tangga." Asy-Syafii berkata.

"Perumpamaan orang yang mencari (menerima) hadis tanpa sanad, sama dengan orang yang mengumpulkan kayu api di malam hari. " Perhatian terhadap sanad di masa sahabat yaitu dengan menghapal sanad-sanad itu dan mereka mempuyai daya ingat yang luar biasa. Dengan adanya perhatian mereka maka terpelihara sunnah Rasul dari tangan-tangan ahli bid'ah dan para pendusta. Karenanya pula imam- imam hadis berusaha pergi dan melawat ke berbagai kota untuk memperoleh sanad yang terdekat dengan Rasul yang dilakukan sanad 'aali Ibn Hazm mengatakan bahwa nukilan orang kepercayaan dari Orang yang dipercaya hingga sampai kepada Nabi SAW. dengan bersambung-sambung perawi-perawinya adalah suatu keistimewaan dari Allah khususnya kepada orang-orang Islam. Memperhatikan sanad riwayat adalah suatu keistimewaan dari ketentuan-ketentuan umat Islam. SKEMA SANAD HADIS Skema sanad hadis sebenarnya ditujukan untuk lebih memudahkan dalam mengenali dan mengetahui mata rantai / transmisi periwayatan hadis. Melalui skema ini juga bisa diketahui jalur periwayatan mana yang mengalami cacat dan tidak dalam sanad hadisnya, yakni dengan cara memperbandingkan berbagai jalur periwayatan hadis yang ada. Contoh skema sanad hadis sebagaimana terlampir dalam file tersendiri.[] KLASIFIKASI KITAB-KITAB HADIS DARI SEGI KUANTITAS – KUALITAS – KERAGAMAN MATERI DENGAN DASAR-DASARNYA

Mansur Zahri Materi Unsur Pokok Sebuah Hadis Fakultas Syari’ah UIN Sukijo

2

sebagaimana yang telah disebutkan Imam Abu Dawud dalam tulisan beliau hadisnya berjumlah 4.J. f. Sunan Ibnu Majah. menurut Ibnu al-Shalah dalam muqaddimahnya. 3.956 hadis. c.939 hadis. didalamnya terdapat 40. Shahih Muslim. Seluruh hadis yang mausul tanpa mengulang sebanyak 2.000 hadis. 4. Sunan al-Tirmidzi. Sunan Abu Dawud. Musnad Ahmad ibn Hanbal. Fuad ‘Abd al-Baqi kitab ini memuat 3.761 hadis. b. Jika tanpa mengulang sebanyak 4000 hadis. Klasifikasi Berdasarkan Kuantitas Hadis 1.397. Wensinck menyatakan ada 1.612 hadis. Jika tanpa pengulangan sebanyak 4. 6. 8. Dalam versi lain Sunan al-Nasa’i berisi 4.000 hadits. Shahih Bukhari. Shahih Bukhari Sebagian ulama’ ada yang mengatakan bahwa Shahih Bukhari adalah sebagai rujukan umat Islam setelah Al-Qur’an.A. jumlah hadis Bukhari diperinci sebagai berikut: a. kurang lebih 10. 10. sebagaimana yang dikatakan Imam Muhyiddin Abdul Hamid.275 hadis termasuk yang diulang. Menurut Ajjaj al-Khatib memuat 5. Namun sebagian ulama ada yang menghitungnya sebanyak 5. berjumlah 4.804 hadis. 7.800 dari 500. Klasifikasi Berdasarkan Kualitas Hadis 1. Al-Harasi mengatakan ada 700 hadis.030 hadis tanpa pengulangan. mengistimbat hukum darinya. Jumlah seluruhnya termasuk yang diulang sebanyak 9. memuat 7. berjumlah 3. Ibnu Hazm menyatakan ada 500 hadis lebih. 5.602. e. Al-Muwaththa’ karya Imam Malik dapat diperinci sebagai berikut. 9. meneliti para rawinya. Ad-darimi. Sedangkan menurut perhitungan M.000 hadis seperti yang dikatakan Ibnu Shalah dari Abu Quraisy. Ibnu Habbab yang dikutip oleh Abu Bakar al-‘Arabi dalam Syarah al-Tirmidzi. Para ulama mensyarahkan semua hadis dalam kitab Shahih Bukhari.274 hadis. Belum ada kitab hadis yang mendapat perhatian besar selain kitab ini. 2. Jumlah matan hadis yang mu’allaq tetapi marfu’ yang tidak disambung pada tempat lain sebanyak 159. menyatakan dalam kitab beliau ada 500 hadis. Jumlah hadis mutabi’ sebanyak 344.082 hadis.033 hadis. Sedangkan menurut Ibnu Hajar dalam muqaddimah Fathu al-Bari. Shuhudi Ismail menyebutkan ada 1. Ajjaj al-Khatib mengatakan 3. Hasil karyanya yang terkenal adalah Sunan Ad-Darimi yang mengandung 39 buah hadis mursal dan 240 hadis maqthu’. B. A.000 hadis termasuk yang diulang. Al-Mustadrok ‘Ala Al-Shohihain karangan Imam Al-Hakim An-Nasaiburi yang memuat 8690 hadis.000 diantaranya dengan diulang-ulang.000 hadis yang disaring. Sunan al-Nasa’i. Jumlah semua hadis termasuk yang diulang sebanyak 7. Abu Bakar al-Abhari menyatakan dalam kitab Imam Malik memuat 1726 hadis. d. Tambahan dari puteranya Abdullah ibn Ahmad sekitar 10. Mansur Zahri Materi Unsur Pokok Sebuah Hadis Fakultas Syari’ah UIN Sukijo 3 . Kitab ini diterima baik oleh umat Islam. Jumlah hadis mu’allaq sebanyak 1341 hadis.000 hadis sera beberapa tambahan dari Ahmad ibn Ja’far al-Qathiliy. Sebagaimana yang dikatakan oleh penulis Shahih Muslim bahwa didalamnya memuat 12.

munqathi’.dan maqthu’. Dalam mencatat hadis shahih. Kitab ini masuk dalam deretan terakhir dalam kutubu al-sittah. Komentar pujian para ulama ditujukan terhadap karya beliau.seperti yang dikemukakan oleh Al-Habib. waro’ dan zuhud. meskipun ada yang menilai semuanya shahih. Sedangkan yang menjadi sebab tingkatan Imam Muslim lebih rendah dari imam Bukhori. Sehingga kitab ini tidak termasuk dalam kutubu al-sittah Menurut Sufyan Ibn Uyainah dan As-Suyuti mengatakan bahwa seluruh hadis yang diriwayatkan Imam Malik adalah shohih. Imam Daraqutni mengatakan bahwa jika tidak ada Imam Bukhari. Sunan Ad-Darimi Kitab ini berisikan hadis-hadis marfu’. sangat kurang menarik perhatian ulama’. Ibnu Kasir dan Ibnu al-Subki. Dengan demikian kitab ini juga memuat hadis dla’if. Imam Nasa’i mengatakan bahwa tidak ada kitab hadis yang paling baik selain karya Muhammad ibn Isma’il al-Bukhari. namun beliau memberikan karyanya kepada ulama lain untuk mengoreksinya. Diantara pujian yang menyangkut karya beliau dilontarkan oleh Ibnu al-Atsir dalam muqaddimah Jami’ al-Ushul. tsiqoh. Kitab ini juga memuat hadis selain shahih. C. . Secara umum karya Imam Bukhari ini adalah kitab yang paling Shahih diantara kitab-kitab hadis yang ada. ada yang dlaif bahkan maudlu’. Oleh para ulama’ kitab ini tidak dimasukkan dalam kutubu al-sittah. Kitab beliau juga termasuk yang paling sedikit memuat hadis. Sunan al-Nasa’i Didalamnya memuat hadis shahih. 6. 2. Banyak kalangan ulama’ yang menilai bahwa Al-Hakim adalah seorang ahli hadis yang tsiqoh. sebagaimana yang dikatakan beliau sendiri ketika ditanya oleh Amir al-Ramlah. Sunan al-Tirmidzi Imam Tirmidzi tidak hanya memuat hadis shahih. Shahih Muslim berada satu tingkat dibawah Bukhari. 3. Sedikit sekali komentar yang ditulis. Shahih Muslim Dikatakan bahwa kitab ini adalah termasuk dua kitab yang paling shahih setelah al-Qur’an.mauquf. Musnad Ahmad Ibn Hanbal Dilihat dari nilai hadis yang ada didalam kitab. Adapun yang menonjol penambahannya pada atsar. maka ia tidak memerlukan kitab lain. sedangkan Imam Muslim tidak mengharuskan itu. Hal inilah yang menyebabkan kedudukan Tirmidzi lebih rendah dari Imam Abu Dawud. Ibnu Shalah. matruk. Al-Mustadrok Al-Hakim Kitab al-Mustadrok memuat hadis shoheh dan tidak shoheh. Sebagian ulama’ melakukan kritik terhadap beberapa hadis beliau dan menilai maudlu’. Klasifikasi Berdasarkan Sistimatika dan Keragaman Materi hadis Mansur Zahri Materi Unsur Pokok Sebuah Hadis Fakultas Syari’ah UIN Sukijo 4 . Alasan kenapa kedudukan sunan Abu Dawud lebih rendah dibanding dengan Sunan Bukhori dan Muslim. 9. hasan. dla’if. menurut ulama’ derajat kitab ini dibawah kitab sunan. seperti Imam Nawawi. 5. dla’if bahkan ada yang mungkar. Al-Muwaththa’ Dalam al-Muwaththa’ terdapat hadis yang shahih. 8. Hal ini berdasarkan pendapat Imam Daraqutni diatas. Kitab ini sedikit dibawah Sunan Abu Dawud.alasannya karena diriwayatkan oleh orang-orang yang terpecaya. Namun hadis-hadis tersebut adalah hal yang berkaitan dengan Fadla’ilu al-A’mal.Ia kemukakan di mukoddimah dalam Fadloil Al-Qur’an. ada pula yang mendekati keduanya. karena ada yang berpendapat bahwa kitab ini seluruhnya shahih. beliau tidak hanya mengikuti kriterianya sendiri. tetapi juga memuat hadis hasan dan dla’if dengan diberi penjelasan mengenai kelemahan hadis tersebut. niscaya tidak ada Imam Muslim. Dan masih banyak pujian yang diberikan terhadap karya beliau.namun ini hanya sedikit saja. tidak hanya memuat hadis sahih saja seperti Bukhari dan Muslim. sebagaimana yang dikatakan Ibnu al-‘Arabi bahwa apabila seseorang sudah memiliki kitabullah dan kitab Sunan Abu Dawud. teguh. karena Abu Dawud lebih terfokus hadis-hadis yang diperlukan fukaha’ dan lebih banyak perhatiannya dalam matan-matan hadis yang ada tambahannya. dan pendusta.masdud dan hadis maqthu’. 4.karena dalam penentuan keshohihan hadisnya Bukhori mengharuskan antara guru dan murid terjadi pertemuan. Yang dimaksud “baik” adalah “shahih”. sehingga kriteria shahih dapat diterima seluruh ulama lain. pengklasifikasiannya didasarkan pada bersambung atau tidaknya sanad. Ini juga dapat dilihat dalam penilaian Ulama’hadis sebagai pengarang yang terkenal hafidz. 7. Imam al-Ghazali berkata: “Sunan Abu Dawud sudah cukup bagi para mujtahid untuk mengetahui hadis hukum”. Sunan Abu Dawud Dalam Sunan Abu Dawud. dan mu’dhal. mursal. Hal ini diakui oleh para ulama kritikus hadis. karena lemahnya syarat standar penilaian hadis.karena dalam kitad sunan abu dawud selain memuat hadis shohih juga memuat hadis hasan dan dloif. tetapi ada juga hadis hasan. 10.Penilaian yang positif dan termasuk dalam tingkat tinggi ditujukan kepada kitab beliau. Para periwayatnya banyak yang dinilai negatif oleh kritikus hadis. Sunan Ibnu Majah Kitab Sunan Ibnu Majah.

2. Dengan kata lain al-Tirmidzi dalam menulis hadis dengan mengklasifikasikan sistematikanya dengan model Juz. dengan urutan diawali Thaharah dan diakhiri Zuhud. diakhiri kitab Tafsir. Sunan al-Tirmidzi Kitab ini disusun berdasar urutan bab Fiqh. ‫ أى ان صحة النسناد ليست رموجبة لصحة المتن‬. 10. dengan diawali muqaddimah kemudian dilanjutkan bab Thaharah dan ditutup Fadhoil al-Qur’an. doa. 6. Al-Muwaththa’ Kitab al-Muwaththo adalah kitab hadis yang bersistematika Fiqh berdasar kitab yang telah ditahqiq oleh Muhammad Fuad alBaqi. 5.2 . Kitab ini kemudian dinamakan al-Fath ar-Rabbany. adab. dan sub bab. Sunan Ad-Darimi Sistematika penyusunan berdasarkan tata urutan dan sistematika kitab Fiqh yang terangkai dalam 24 kitab. Sunan Ibnu Majah Sistematika dalam kitabnya dibagi dalam beberapa kitab (bab) atau dengan kata lain sistematika Fiqh. Al-Mustadrok Al-Hakim Kitab ini terdiri atas empat jilid 2561 halaman. Kitab ini disusun dengan menggunakan sistematika sunan yaitu dengan membagi menjadi beberapa judul tertentu berdasarkan urutan fiqh yang terdiri dari 44 kitab dan tujuh juz diawali oleh muqaddimah. pakaian. Juz pertama waktu shalat diakhiri haji. ibadah. juz kedua : Jihad dan diakhiri nama-nama Nabi.‫ لكنها كما هو معلوم مختصة بعلل الساند فقط‬.‫ ولم يوجد فيه انه يعلل حديثا واحدا بالنظر الى متنه‬. 4. kemudian dibagi lagi menjadi beberapa sub judul dengan istilah bab berjumlah 4550 bab dengan dimulai dengan bab Bad’u al-Wahy kemudian disusun kitab al-Iman.‫ الطضطراب‬. 61 kitab (bab). ‫ ل نه قد يصح او يحسن ال سناد دون المتن لشذوذ او علة‬: ‫قال النووى‬ . sholat. Kitab al-Muwaththa’ terdiri dari 2 juz. zakat dan diakhiri dengan kitab Adab. 7. muamalah. Musnad Ahmad Ibn Hanbal Kitab Ibn Hambal pada perkembangannya disusun berdasarkan susunan fiqh oleh Abdurrahman Ibn Muhammad al-Banna yang terkenal dengan as-Sa’aty dan dijadikan tujuh bagian. jihad. dan keutamaan-keutamaan. ‫وكتاب " علل الحديث " لبن ابى حاتم فى مجلدين وهو اكبر كتاب مطبوع فى العلل‬        : ‫رمقايس نقد الحديث‬ ‫عرض الحديث على القرآن‬ ‫عرض السنة بعضها على بعض‬ ‫النظر العقلى‬ : ‫رمقايس النقد عند الفقهاء‬ ‫ عرض الحديث على القرآن‬. kitab al-‘Ilm. dari Fadhoil dan lain-lain.1. ‫ ولم يوجد فيه مايتعلق بالمتن‬. Secara garis besar urutannya adalah kitab iman. 8. ‫ومن الكتب المؤلفة فى نقد الحديث كتب العلل‬ . Adapun urutan penulisan hadisnya dalam kitab sunannya dengan memulai pembahasannya tentang Thaharah. bab. Kitab ini memuat hadis-hadis mengenai ajaran Islam yaitu hal-hal yang menyangkut keimanan sampai masalah sejarah masa silam. kitab. ‫ وكتاب " العلل " للترمذى‬. ‫ "علل الحديث ومعرفة الرجال " لبن المدينى‬: ‫ومن كتب العلل‬ . Sunan Abu Dawud Kitab Sunan Abu Daud dalam menyusun kitabnya menurut sistematika/urutan bab-bab fiqh yang dapat memudahkan pembaca. ‫ليس كل رما صح نسنده صح رمتنه‬ . dari bab Thaharah seterusnya sampai dengan bab Aklaq. 9.1 ‫ عرض روايات الحديث الواحد بعضها على بعض‬. Sunan al-Nasa’i Kitab sunan Nasa’i dikualifikasikan menurut hukum Islam yang disusun dengan cara mengumpulkan sanadsanad hadis di satu tempat. makanan dan minuman. dan mencakup pokok bahasan sekitar 50 bab dan 896 hadis. Shahih Muslim Diawali dengan muqoddimah dan diteruskan dengan bab-bab fiqhiyah.( 43 ‫ والحكم بالصحة او الحسن على السناد ل يلزم منه الحكم بذلك على المتن اذ قد يكون شاذا او معلل ) اختصار علوم الحديث‬: ‫قال ابن كثير‬ .( 113 ‫قال ابن الصل ح قد يقال هذا حديث صحيح ال نسناد ول يصح لكونه شذوذا او رمعلل ) مقدمة‬ ( 6 ‫) التقريب ص‬. ratusan bab. 3.( ‫ لحمد بن حنبل وكتاب " التاريخ والعلل " ليحيى بن معين ) مخطوط‬: ‫وكذلك كتاب " العلل ومعرفة الرجال‬ ‫ حديثا وليس فيها تعليل للمتون بل كل ذلك للساند‬2940 ‫ ذكر فيه علل‬. Shahih Bukhari Sistematika yang dipakai oleh al-Bukhori adalah memakai metode sunan yaitu dengan membagi menjadi beberapa judul tertentu dengan istilah kitab yang mana berjumlah 97 kitab.‫أ‬ Mansur Zahri Materi Unsur Pokok Sebuah Hadis Fakultas Syari’ah UIN Sukijo 5 . Kitab wudu’ dan seterusnya.

Artinya bahwa berita yang disampaikan itu benar-benar merupakan hasil pemikiran semata atau rangkuman dari peristiwa-peristiwa yang lain dan yang semacamnya. Ada yang melihat atau mendengar. 1. juga segala berita yang diriwayatkan oleh orang banyak. tidak terdapat kejanggalan jumlah pada setiap tingkatan. Sedangkan menurut istilah ialah: "Suatu hasil hadis tanggapan pancaindera. yang menurut kebiasaan mustahil mereka berkumpul dan bersepakat untuk dusta. Dalam hal ini para ulama berbeda pendapat tentang batasan jumlah untuk tidak memungkinkan bersepakat dusta. yang dapat mengalahkan orang-orang kafir sejumlah 200 orang (lihat surat Al-Anfal ayat 65). Hal tersebut diqiyaskan dengan firman Allah: Mansur Zahri Materi Unsur Pokok Sebuah Hadis Fakultas Syari’ah UIN Sukijo 6 . d. Ashabus Syafi'i menentukan minimal 5 orang. 2. Syarat-Syarat Hadits Mutawatir Suatu hadits dapat dikatakan mutawatir apabila telah memenuhi persyaratan sebagai berikut : 1.‫ القلب‬. Apabila jumlah yang meriwayatkan demikian banyak yang secara mudah dapat diketahui bahwa sekian banyak perawi itu tidak mungkin bersepakat untuk berdusta. b. Sebagian ulama menetapkan sekurang-kurangnya 20 orang. maka dalam hal ini pada garis besarnya hadits dibagi menjadi dua macam.‫د‬ ‫عرض السنة بعضها على بعض‬ . Hadits Mutawatir a. Bilangan para perawi mencapai suatu jumlah yang menurut adat mustahil mereka untuk berdusta . Karena kita tidak mendengar hadis itu langsung dari Nabi Muhammad SAW. Untuk mendapatkan hadits tersebut tidaklah mudah karena hadits yang ada sangatlah banyak dan sumbernya pun berasal dari berbagai kalangan.‫عرض متن الحديث على الوقائع والمعلومات التاريخية‬ ‫ركاكة لفظ الحديث وبعد رمعناه‬ ‫رمخالفة الحديث للصول الشرعية والقواعد المقررة‬ ‫اشتمال الحديث على ارمر رمنكر او رمستحيل‬ . Disamping itu. misalnya dengan lafaz diberitakan dan sebagainya. yaitu segala berita yang diriwayatkan dengan tidak bersandar pada pancaindera." ‫ما رواه جمع تحل العادة تواطئهم على الكذب عن مثلهم من أول السند إلى منتهاه على أن يحتل هذا الجمع في أي طبقة من طبقات السند‬ Artinya: "Hadits mutawatir ialah suatu (hadits) yang diriwayatkan sejumlah rawi yang menurut adat mustahil mereka bersepakat berbuat dusta. maka tidak dapat disebut hadits mutawatir walaupun rawi yang memberikan itu mencapai jumlah yang banyak. Dalam sejarah para perawi diketahui bagaimana cara perawi menerima dan menyampaikan hadits. A. Hadits yang dapat dijadikan pegangan dasar hukum suatu perbuatan haruslah diyakini kebenarannya. maka penyampaian itu adalah secara mutawatir. DARI SEGI JUMLAH PERIWAYATNYA Hadits ditinjau dari segi jumlah rawi atau banyak sedikitnya perawi yang menjadi sumber berita. b. dapat diketahui pula banyak atau sedikitnya orang yang meriwayatkan hadits itu. a.5 . yang diriwayatkan oleh sejumlah besar rawi. Hal tersebut berdasarkan ketentuan yang telah difirmankan Allah tentang orang-orang mukmin yang tahan uji. Abu Thayib menentukan sekurang-kurangnya 4 orang. Hadits (khabar) yang diberitakan oleh rawi-rawi tersebut harus berdasarkan tanggapan (daya tangkap) pancaindera.3 . hal tersebut seimbang dari permulaan sanad hingga akhirnya." Tidak dapat dikategorikan dalam hadits mutawatir.‫ج‬ . Hal tersebut diqiyaskan dengan jumlah para Nabi yang mendapatkan gelar Ulul Azmi. Ta'rif Hadits Mutawatir Kata mutawatir Menurut lughat ialah mutatabi yang berarti beriring-iringan atau berturut-turut antara satu dengan yang lain.4 . baik yang terpuji maupun yang tercela.7 KUALITAS & KLASIFIKASI HADIS NABI SAW Hadits yang dapat dijadikan pegangan adalah hadits yang dapat diyakini kebenarannya. Ulama yang lain menetapkan jumlah tersebut sekurang-kurangnya 40 orang. maka jalan penyampaian hadits itu atau orang-orang yang menyampaikan hadits itu harus dapat memberikan keyakinan tentang kebenaran hadits tersebut. c. Hal tersebut diqiyaskan dengan jumlah saksi yang diperlukan oleh hakim. dalam arti tidak merupakan hasil tanggapan pancaindera (tidak didengar atau dilihat) sendiri oleh pemberitanya.6 . seperti meriwayatkan tentang sifat-sifat manusia. tetapi mereka berkumpul untuk bersepakat mengadakan berita-berita secara dusta. yakni hadits mutawatir dan hadits ahad. ‫ زيادة الثقة‬. ada pula yang dengan tidak melalui perantaraan pancaindera.‫ب‬ ‫ التصحيف والتحريف‬.

Umat Islam telah sepakat tentang faedah hadits mutawatir seperti tersebut di atas dan bahkan orang yang mengingkari hasil ilmu daruri dari hadits mutawatir sama halnya dengan mengingkari hasil ilmu daruri yang berdasarkan musyahailat (penglibatan pancaindera). dapatlah dikatakan bahwa penelitian terhadap rawi-rawi hadits mutawatir tentang keadilan dan kedlabitannya tidak diperlukan lagi. c. Ibnu Hajar Al-Asqalani berpendapat bahwa pendapat tersebut di atas tidak benar. susunan Muhammad Abdullah bin Jafar Al-Khattani (1345 H). tetapi jumlahnya hanya sedikit. kelakuan dan sifat-sifat perawi yang dapat memustahilkan hadits mutawatir itu banyak jumlahnya sebagaimana dikemukakan dalam kitab-kitab yang masyhur bahkan ada beberapa kitab yang khusus menghimpun hadits-hadits mutawatir. d. "Barangsiapa yang sengaja berdusta atas namaku. sejak dalam thabaqat (lapisan/tingkatan) pertama maupun thabaqat berikutnya."Wahai nabi cukuplah Allah dan orang-orang yang mengikutimu (menjadi penolongmu)." Silsilah/urutan rawi hadits di atas ialah sebagai berikut : Mansur Zahri Materi Unsur Pokok Sebuah Hadis Fakultas Syari’ah UIN Sukijo 7 . yakni keharusan untuk menerimanya secara bulat sesuatu yang diberitahukan mutawatir karena ia membawa keyakinan yang qath'i (pasti). Pembagian Hadits Mutawatir Para ulama membagi hadits mutawatir menjadi 3 (tiga) macam : 1. Hadits Mutawatir Lafzi Muhadditsin memberi pengertian Hadits Mutawatir Lafzi antara lain : ". karena kuantitas/jumlah rawi-rawinya mencapai ketentuan yang dapat menjamin untuk tidak bersepakat dusta. Seimbang jumlah para perawi. 3.Suatu yang diriwayatkan dengan bunyi lafaznya oleh sejumlah rawi dari sejumlah rawi dari sejumlah rawi " Contoh Hadits Mutawatir Lafzi : "Rasulullah SAW bersabda. maka hendaklah ia bersedia menduduki tempat duduk di neraka.Suatu (hadits) yang sama (mufakat) bunyi lafaz menurut para rawi dan demikian juga pada hukum dan maknanya " Pengertian lain hadits mutawatir lafzi adalah : ". susunan Imam As-Suyuti(911 H). Al-Anfal: 64). Oleh karenanya wajiblah bagi setiap muslim menerima dan mengamalkan semua hadits mutawatir. bahkan Ibnu Hibban dan Al-Hazimi menyatakan bahwa hadits mutawatir tidak mungkin terdapat karena persyaratan yang demikian ketatnya. seperti Al-Azharu al-Mutanatsirah fi al-Akhabri al-Mutawatirah." (QS. Sedangkan Ibnu Salah berpendapat bahwa mutawatir itu memang ada. Faedah Hadits Mutawatir Hadits mutawatir memberikan faedah ilmu daruri. dengan seyakin-yakinnya bahwa Nabi Muhammad SAW benar-benar menyabdakan atau mengerjakan sesuatu seperti yang diriwayatkan oleh rawi-rawi mutawatir. Hadits mutawatir yang memenuhi syarat-syarat seperti ini tidak banyak jumlahnya. Nadmu al-Mutasir Mina al-Haditsi al-Mutawatir. Dengan demikian. Ibnu Hajar mengemukakan bahwa mereka kurang menelaah jalan-jalan hadits.

tetapi dapat diambil dari kesimpulannya atau satu makna yang umum." :Artinya ". hadits tersebut diatas diriwayatkan oleh 40 orang sahabat.Menurut Abu Bakar Al-Bazzar." 3. namun terdapat persesuaian atau kesamaan dalam maknanya. Contoh : Artinya : "Rasulullah SAW tidak mengangkat kedua tangan beliau dalam doa-doanya selain dalam doa salat istiqa' dan beliau mengangkat tangannya. Al-Hakim dan Abu Daud yang berbunyi : Artinya : "Rasulullah SAW mengangkat tangan sejajar dengan kedua pundak beliau." (HR.Hadis yang disepakati penulisannya atas maknanya tanpa menghiraukan perbedaan pada lafaz " Jadi hadis mutawatir maknawi adalah hadis mutawatir yang para perawinya berbeda dalam menyusun redaksi hadis tersebut. Hadis Mutawatir Amali Hadis Mutawatir Amali adalah : Mansur Zahri Materi Unsur Pokok Sebuah Hadis Fakultas Syari’ah UIN Sukijo 8 . Bukhari Muslim) Hadis yang semakna dengan hadis tersebut di atas ada banyak. 2. sehingga nampak putih-putih kedua ketiaknya. Antara lain hadis-hadis yang ditakhrijkan oleh Imam ahmad. kemudian Imam Nawawi dalam kita Minhaju al-Muhadditsin menyatakan bahwa hadits itu diterima 200 sahabat. yaitu tidak kurang dari 30 buah dengan redaksi yang berbeda-beda. Hadits mutawatir maknawi Hadits mutawatir maknawi adalah : Artinya : "Hadis yang berlainan bunyi lafaz dan maknanya.

tapi diketahui mana yang terkemudian. 2. Bila dua buah hadis menentukan keadaan rawi dan keadaan matan yang sama. Mereka memasukkan hadis mutawatir amali ke dalam mutawatir maknawi. Jika terlepas dari perlawanan maka hadis itu kita sebut muhkam. boleh kita berhujjah dengannya.Artinya : "Sesuatu yang mudah dapat diketahui bahwa hal itu berasal dari agama dan telah mutawatir di antara kaum muslimin bahwa Nabi melakukannya atau memerintahkan untuk melakukannya atau serupa dengan itu. sesudah nyata sahih atau hasannya. Ketiga hal tersebut menetukan tinggi-rendahnya suatu hadis. dan keadaan matan. hendaklah kita periksa apakah ada muaridnya yang berlawanan dengan maknanya. empat orang. atau hasan). Oleh karenanya hadis mutawatir hanya dibagi menjadi mutawatir lafzi dan mutawatir maknawi. dalam arti maqbul. Hadis ahad hanya memfaedahkan zan. bertawaqquflah kita dahulu. kita tinggalkan yang marjuh. baik ia muhkam. Jika dua buah hadis memiliki keadaan matan jumlah rawi (sanad) yang sama. baik pemberita itu seorang." b. Dan kalau temyata telah diketahui bahwa." Contoh : Kita melihat dimana saja bahwa salat Zuhur dilakukan dengan jumlah rakaat sebanyak 4 (empat) rakaat dan kita tahu bahwa hal itu adalah perbuatan yang diperintahkan oleh Islam dan kita mempunyai sangkaan kuat bahwa Nabi Muhammad SAW melakukannya atau memerintahkannya demikian. atau kita takwilkan salah satunya supaya tidak bertentangan lagi maknanya. maka hadis yang diriwayatkan oleh dua orang rawi lebih tinggi tingkatannya dari hadis yang diriwayatkan oleh satu orang rawi. oleh karena itu masih perlu diadakan penyelidikan sehingga dapat diketahui maqbul dan mardudnya. barulah dapat kita dapat berhujjah dengan suatu hadis. Kemudian apabila telah nyata bahwa hadis itu (sahih. tetapi jumlah tersebut tidak memberi pengertian bahwa hadis tersebut masuk ke dalam hadis mutawatir: " Ada juga yang memberikan tarif sebagai berikut: Artinya: "Suatu hadis yang padanya tidak terkumpul syara-syarat mutawatir. Di samping pembagian hadis mutawatir sebagimana tersebut di atas. Jika kita tidak mengetahui sejarahnya. kita tidak dapat iktiqatkan dan tidak dapat pula kita mengamalkannya. ialah memeriksa "Apakah hadis tersebut maqbul atau mardud". sebagaimana hadis mutawatir. Hadis Ahad a. lima orang dan seterusnya. DARI SEGI KUALITAS SANAD DAN MATAN HADIS Penentuan tinggi rendahnya tingkatan suatu hadis bergantung kepada tiga hal. yang terkemudian kita ambil. hadis tersebut tidak tertolak. kita usahakan menarjihkan salah satunya. dua orang. tiga orang. kita pandang mansukh. dan hadis yang diriwayatkan oleh tiga orang rawi lebih tinggi tingkatannya daripada hadis yang diriwayatkan oleh dua orang rawi. Kalau mardud. Jika ada. Walhasil. tarif hadis ahad antara laian adalah: Artinya: "Suatu hadis (khabar) yang jumlah pemberitaannya tidak mencapai jumlah pemberita hadis mutawatir. Pengertian hadis ahad Menurut Istilah ahli hadis. Mansur Zahri Materi Unsur Pokok Sebuah Hadis Fakultas Syari’ah UIN Sukijo 9 . Faedah hadis ahad Para ulama sependapat bahwa hadis ahad tidak Qat'i. Jika tak dapat ditarjihkan salah satunya. Kalau tak mungkin dikumpulkan. kita pandang nasikh. yaitu jumlah rawi. Kalau maqbul. maka mereka sepakat bahwa hadis tersebut wajib untuk diamalkan sebagaimana hadis mutawatir. juga ulama yang membagi hadis mutawatir menjadi 2 (dua) macam saja. maka yang terdahulu kita tinggalkan. keadaan (kualitas) rawi. atau mukhtakif adalah jika dia tidak marjuh dan tidak mansukh. B. Bahwa neraca yang harus kita pergunakan dalam berhujjah dengan suatu hadis. kita kumpulkan antara keduanya. Kita ambil yang rajih. maka hadis yang diriwayatkan oleh rawi yang kuat ingatannya.

yang diberikan oleh ulama. jumlah rawi. Tingkatan{martabat) hadis ialah taraf kepastian atau taraf dugaan tentang benar atau palsunya hadis berasal dari Rasulullah. keadaan rawi. hdis mutawatir. hasan. hadis yng benar berasal dari Rasulullah SAW. Contoh hadis : Artinya : "Sesungguhnya amal-amal itu tergantung niatnya. hadis hasan. Batasan hadis sahih. hasan berarti bagus atau baik. Dengan demikian mengecualikan masalah-masalah keyakinan yang disandarkan pada akal. : Artinya ". lebih tinggi tingkatannya dari hadis yang matannya buruk atau bertentangan dengan ayat-ayat Al-quran.Dan Musa memilih tujuh puluh orang dari kaumnya untuk (memohon tobat kepada kami) pada waktu yang telah kami tentukan " Pendapat lain membatasi jumlah mereka empat pulu orang. antara lain : Artinya : "Hadis sahih adalah hadis yng susunan lafadnya tidak cacat dan maknanya tidak menyalahi ayat (al-Quran). Hadis yang rendah tingkatannya berarti hadis yang rehdah taraf kepastiannya atau taraf dugaan tentang benarnya ia berasal dari Rasulullah SAW. Menurut Imam Turmuzi hasis hasan adalah : Mansur Zahri Materi Unsur Pokok Sebuah Hadis Fakultas Syari’ah UIN Sukijo 10 . namun pada pertengahan sanadnya menjadi mutawatir." Awal hadis tersebut adalah ahad. Hadis yang tinggi tingkatannya berarti hadis yang tinggi taraf kepastiannya atau tinggi taraf dugaan tentang benarnya hadis itu berasal Rasulullah SAW. dan hadis yang diriwayatkan oleh rawi yang jujur lebih tinggi tingkatannya daripada hadis yang diriwayatkan oleh rawi pendusta. bahkan ada yang membatasi cukup dengan empat orang pertimbangan bahwa saksi zina itu ada empat orang. Tinggi rendahnya tingkatan suatu hadis menentukan tinggi rendahnya kedudukan hadis sebagai sumber hukum atau sumber Islam. atau ijimak serta para rawinya adil dan dabit. 2. 1. Maka hadis yang demikian bukan termsuk hadis mutawatir. Pada umumnya para ulama tidak mengemukakan. Hadis Hasan Menurut bahasa. Hadis Sahih Hadis sahih menurut bahasa berarti hadis yng bersih dari cacat. seperti pernyataan bahwa satu itu separuhnya dua. seperti pernyataan tentang keesaan firman Allah dan mengecualikan pernyataanpernyataan rasional murni. "kami melihat Nabi SAW berbuat begini". yaitu hadis sahih. maka hadis yang matannya seiring atau tidak bertentangan dengan ayatayat Al-Quran. dan daif. Kata-kata (dan sandaran mereka adalah pancaindera) seperti sikap dan perkataan beliau yang dapat dilihat atau didengar sabdanya.lebih tinggi tingkatannya daripada hadis yang diriwayatkan oleh rawi yang lemah tingkatannya. Para ulama membagi hadis ahad dalam tiga tingkatan. Hal ini dikarenakan bahwa yang menjadi pertimbangan adalah akal bukan berita. Misalnya para sahabat menyatakan." Keterangan lebih luas mengenai hadis sahih diuraikan pada bab tersendiri. dan hadis daif. Bila dua hadis memiliki rawi yang sama keadaan dan jumlahnya. Kata-kata (dari sejumlah rawi yng semisal dan seterusnya sampai akhir sanad) mengecualikan hadis ahad yang pada sebagian tingkatannya terkadang diriwayatkan oleh sejumlah rawi mutawatir. dan keadaan matan dalam menentukan pembagian hadis-hadis tersebut menjadi hadis sahih.

Disamping itu. C. yang dibenarkan. Hadis maqmulun bihi • • Jumhur ulama berpendapat bahwa hadis maqbul ini wajib diterima. hadis ahad ahad ditinjau dari segi dapat diterima atau tidaknya terbagi menjadi 2 (dua) macam yaitu hadis maqbul dan hadis mardud. yaitu setiap hadis yang diriwayatkan melalui sanad di dalamnya tidak terdapat rawi yang dicurigai berdusta. matan hadisnya. sedangkan yang datang terdahulu (yang dihapus) disebut dengan hadis mansukh. Para ulama memberi batasan bagi hadis daif : Artinya : "Hadis daif adalah hadis yang tidak menghimpun sifat-sifat hadis sahih. 1. Hadis Daif Hadis daif menurut bahasa berarti hadis yang lemah.Hadis yang menunjuki suatu keterangan bahwa Nabi Muhammad SAW menyabdakannya " Hadis hasan baik yang lizatihi maupun yang ligairihi. melainkan juga tidak memenuhi syarat-syarat hadis hasan." Jadi hadis daif itu bukan saja tidak memenuhi syarat-syarat hadis sahih. sedangkan yang lemah disebut dengan hadis marjuh. mengingat dalam kenyataan terdapat hadis-hadis yang telah dihapuskan hukumnya disebabkan datangnya hukum atau ketentuan barn yangjugaditetapkan oleh hadis Rasulullah SAW. penyelidikan dan pemhahasan yang seksama khususnya hadis ahad. Memang berbeda dengan hadis mutawatir yang memfaedahkan ilmu darury.Artinya : "yang kami sebut hadis hasan dalam kitab kami adalah hadis yng sannadnya baik menurut kami. a. Sehubungan dengan hal tersebut di atas. namun demikian para muhaddisin dan juga ulama yang lain sependapat bahwa tidak semua hadis yang maqbul itu harus diamalkan. baik yang lizatihu maupun yang ligairihi. Hadis Maqbul Maqbul menurut bahasa berarti yang diambil. yaitu suatu keharusan menerima secara bulat. karena hadis tersebut tidak mencapai derajat mutawatir. DARI SEGI KEDUDUKAN DALAM HUJJAH Sebagaimana telah dijelaskan bahwa suatu hadis perlu dilakukan pemeriksaan. Dalam hal ini hadis yang kuat disebut dengan hadis rajih. Sedangkan menurut urf Muhaditsin hadis Maqbul ialah: :Artinya ". dan juga tidak menghimpun sifat-sifat hadis hasan." 3. Adapun hadis maqbul yang datang kemudian (yang menghapuskan)disebut dengan hadis nasikh. Mansur Zahri Materi Unsur Pokok Sebuah Hadis Fakultas Syari’ah UIN Sukijo 11 . Apabila ditinjau dari segi kemakmurannya. Sedangkan yang temasuk dalam kategori hadis maqbul adalah: Hadis sahih. Pada hadis daif itu terdapat hal-hal yang menyebabkan lebih besarnya dugaan untuk menetapkan hadis tersebut bukan berasal dari Rasulullah SAW. yang diterima. maka hadis maqbul dapat dibagi menjadi 2 (dua) yakni hadis maqbulun bihi dan hadis gairu ma'mulin bihi. tidak janggal diriwayatkan melalui sanad yang lain pula yang sederajat. yakni para ulama memiliki dugaan yang lemah (keci atau rendah) tentang benarnya hadis itu berasal dari Rasulullah SAW. terdapat pula hadis-hadis maqbul yang maknanya berlawanan antara satu dengan yang lainnya yang lebih rajih (lebih kuat periwayatannya). Hadis yang demikian kami sebut hadis hasan. Kedua macam hadis tersebut di atas adalah hadis-hadis maqbul yang wajib diterima.

Hadis mukhtalif. Hadis marjuh. 2." Ada juga yang menarifkan hadis mardud adalah: Artinya: "Hadis yang tidak terdapat di dalamnya sifat hadis Maqbun. Hadis nasih d. Mereka menjelaskan. Artinya: "Hadis muttasil adalah hadis yang didengar oleh masing-masing rawinya dari rawi yang di atasnya sampai kepada ujung sanadnya. yaitu dua hadis yang pada lahimya saling berlawanan yang mungkin dikompromikan dengan mudah c. yaitu hadis muthalif yang tidak dapat dikompromikan. Hadis rajih. dari Nafi' dari Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah SAW bersabda: Artinya: "Orang yang tidak mengerjakan shalat Asar seakan-akan menimpakan bencana kepada keluarga dan hartanya" Contoh hadis mutasil maukuf adalah hadis yang diriwayatkan oleh Malik dari Nafi' bahwa ia mendengar Abdullah bin Umar berkata: Artinya: "Barang siapa yang mengutangi orang lain maka tidak boleh menentukan syarat lain kecuali keharusan membayarnya. tetapi adanya dengan ketidakadaannya bersamaan." Mansur Zahri Materi Unsur Pokok Sebuah Hadis Fakultas Syari’ah UIN Sukijo 12 .Hadis maqmulun bihi adalah hadis yang dapat diamalkan apabila yang termasuk hadis ini ialah: a. Al-Mukatabah." Sebagaimana telah diterangkan di atas bahwa jumhur ulama mewajibkan untuk menerima hadis-hadis maqbul. D. Hadis muhkam. DARI SEGI PERKEMBANGAN SANADNYA 1. Jadi. maka sebaliknya setiap hadis yang mardud tidak boleh diterima dan tidak boleh diamalkan (harus ditolak). B. Di antara hadis-hadis maqbul yang tidak dapat diamalkan ialah: a. dan Al-Ijasah. Hadis mansuh c. hadis mardud adalah semua hadis yang telah dihukumi daif. bahwa para ulama Mutaakhirin menggunakan kata 'an dalam menyampaikan hadis yang diterima melalui Al-Ijasah dan yang demikian tidaklah menafikan hadis yang bersangkutan dari batas Hadis Muttasil. yaitu hadis yang tidak mempunyai perlawanan b. Hadis mutawaqaf. sehubungan dengan hadis Mu 'an 'an. Al-Sahihah. seperti AlArz. yang tidak diterima." Kata-kata "hadis yang didengar olehnya" mencakup pula hadis-hadis yang diriwayatkan melalui cara lain yang telah diakui. Contoh Hadis Muttasil Marfu' adalah hadis yang diriwayatkan oleh Malik. Sedangkan menurut urf Muhaddisin. Dalam definisi di atas digunakan kata-kata "yang didengar" karena cara penerimaan demikian ialah cara periwayatan yang paling banyak ditempuh. Hadis Mardud Mardud menurut bahasa berarti yang ditolak. Hadis Muttasil Hadis muttasil disebutjuga Hadis Mausul. tidak dapat ditansihkan dan tidak pula dapat ditarjihkan b. Hadis gairo makmulinbihi Hadis gairu makmulinbihi ialah hadis maqbul yang tidak dapat diamalkan. baik hadis marfu' maupun hadis mauquf. hadis mardud ialah : Artinya: "Hadis yang tidak menunjuki keterangan yang kuat akan adanya dan tidak menunjuki keterangan yang kuat atas ketidakadaannya.

yakni terputus. baik yang disandarkan kepada Nabi SAW." Definisi ini menjadikan hadis munqati' berbeda dengan hadis-hadis yang terputus sanadnya yang lain. penyusun Al-Manzhumah Al-Baiquniyyah mengatakan: Artinya: Setiap hadis yang tidak bersambung sanadnya bagaimanapun keadannya adalah termasuk Hadis Munqati' (terputus) persambungannya. dari awal sampai akhir. "Hadis maqtu tidak dapat disebut hadis mausul atau muttasil secara mutlak." Demikianlah para ulama Mutaqaddimin mengklasifikasikan hadis. Adapun hadis Maqtu yakni hadis yang disandarkan kepada tabi'in. Sehubungan dengan itu. yakni: Artinya: "Hadis Munqati adalah setiap hadis yang tidak bersambung sanadnya. dan Muhaddis lainnya". mestinya dikatakan "Hadis ini bersambung sampai kepada Sayid bin Al-Musayyab dan sebagainya ". dengan catatan bahwa rawi yang gugur pada setiap tempat tidak lebih dari seorang dan tidak terjadi pada awal sanad. karena masing-masing rawinya mendengarnya dari periwayat di atasnya. bila sanadnya bersambung. "Klasifikasi tersebut adalah sahih dan dipilih oleh para fuqaha. "Sebelum sahabat" definisi ini tidak mencakup hadis mursal. Tidak diperselisihkan bahwa hadis maqtu termasuk jenis Hadis muttasil. melainkan hendaknya disertai kata-kata yang membedakannya dengan Hadis mausul sebelumnya.Masing-masing hadis di atas adalah muttasil atau mausul. Hadis Munqati' Kata Al-Inqita' (terputus) berasal dari kata Al-Qat (pemotongan) yang menurut bahasa berarti memisahkan sesuatu dari yang lain. Para ulama berbeda pendapat dalam memahami istilah ini dengan perbedaan yang tajam. yaitu hadis yang berpangkal pada tabi'in dinamai hadis maqtu. mereka membedakannya dengan menyadarkannya kepada tabi'in. Al-Khatib.[] Mansur Zahri Materi Unsur Pokok Sebuah Hadis Fakultas Syari’ah UIN Sukijo 13 . Oleh karena itu. Yang dimaksud di sini adalah gugurnya sebagaian rawi pada rangkaian sanad. Menurut kami. 2. Secara etimologis hadis maqtu' adalah lawan Hadis mausul. Adapun ahli hadis Mutaakhirin menjadikan istilah tersebut sebagai berikut: Artinya: "Hadis Munqati adalah hadis yang gugur salah seorang rawinya sebelum sahabat di satu tempat atau beberapa tempat. tetapi jumhur mudaddisin berkata. dengan kata-kata. Ibnu Abdil Barr. Seakan-akan pendapat yang dikemukakan jumhur. Dengan ketentuan "Salah seorang rawinya" defnisi ini tidak mencakup hadis mu'dal." Hadis yang tidak bersambung sanadnya adalah hadis yang pada sanadnya gugur seorang atau beberapa orang rawi pada tingkatan (tabaqat) mana pun. dan dengan penjelasan kata-kata "Tidak pada awal sanad" definisi ini tidak mencakup hadis muallaq. An-Nawawi berkata. diikutkan kepada kedua hadis mausul di atas. Kata inqita' adalah lawan kata ittisal (bersambung) dan Al-Wasl. hadis munqati' merupakan suatu judul yang umum yangmencakup segala macam hadis yang terputus sanadnya. Sebagian ulama membolehkan penyebutan hadis maqtu sebagai hadis mausul atau muttasil secara mutlak tanpa batasan. Definisi Munqati' yang paling utama adalah definisi yang dikemukakan oleh Al-Hafizh Ibnu Abdil Barr. hal ini dikarenakan berkembangnya pemakaian istilah tersebut dari masa ulama mutaqaddimin sampai masa ulama mutaakhirin. Dan kata inqita' merupakan akibatnya. maupun disandarkan kepada yang lain. Oleh karena itu. Dengan demikian.

1 yaitu golongan yang menolak seluruh Hadis Nabi. 1977) hlm 178-188. perbuatan. disini kita akan membahas sedikit tentang hukum berhujjah dengannya dan persyaratannya. CATATAN: Ada ulama yang menambahkan satu syarat lagi. Vol. matan4 (teks) Hadis itu sendiri yang berisi sabda. Ibn al-Qayyim mengisyaratkan dimungkinkannya untuk menggunakan Hadits Dla’if tersebut ketika dalam kondisi akan menguatkan dua di antara ucapan yang seimbang. Surat Ali Imran (3): 32. 2 Al Banani. Hadis yang Shahih Setiap Hadis yang periwayatannya sampai saat ini tentu mengandung tiga unsur.1890. Golongan ini disebut inkar alsunnah. Kedudukan Hadis sebagai sumber ajaran Islam telah disepakati oleh hampir seluruh ulama dan umat Islam. Dar Ihya Al Kutub al-Arabiyyah). Imam an-Nawawy telah menukil ijma’ para ulama mengenai hukum mengamalkan hadits Dla’if dalam masalah Fadlâ`il al-A’mâl padahal sebenarnya ada banyak ulama terkenal yang tidak sependapat dengan hal itu. Berhujjah dengan hadits Dla’if dan mengamalkannya perlu ada perinciannya: 1. ketika berhujjah dengan hadits Dla’if dan menyampaikannya di dalam suatu majlis. Ibn Taimiyah dan Ibn al-Qayyim serta petunjuk yang didapat di dalam dua kitab Shahih. 2. asySyawkany dan ulama kontemporer. maka harus disebutkan ke -dla’if-an haditst tersebut. dan oleh Imam asy-Syafi’i disebut al-Taifah al-lati raddat al-akhbar kullaha. Oleh karena itu. Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadis.’Abdul Karim bin ‘Abdullah al-Khudlair [Dosen pada Fakultas Ushuluddin di Jâmi’ah al-Imam Muhammad bin Su’ûd]. Sedangkan pengamalannya di dalam Fadlâ`il al-A’mâl (amalan-amalan yang memiliki keutamaan). Hasyyah Jam’al Jawami (Ttp. Hamisy berjudul. Dalam buku ini Syaikh Husen Makhluf menyebut aliran Inkar Al Sunnah dengan istilah Inkar Al Sunnah Khurujun an Al Islam. Gerakan Inkar Al Sunnah dan Jawabannya. Pemahaman Hadis Secara Tekstual dan Kontekstual A. Pendahuluan Hadis adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW baik berupa sabda. Namun pendapat yang tepat adalah bahwa hadits Dla’if tidak boleh diamalkan secara mutlak selama dugaan terhadap validitasnya masih lemah dan selama ia tidak mencapai derajat Hasan Li Ghairihi (Menjadi Hasan karena ada penguat/pendukungnya dari sisi sanad dan matan yang lain). Media Dakwah. 3. (Disarikan dari Jawaban Syaikh DR. hlm. Lihat Hasbi Ash Shidiqi. Majallah ‘ad-Da’wah’. persetujuan dan segala sifat pribadi Nabi.2 B. Dalam sejarah. Ketika mengamalkan hadits Dla’if tersebut. yaitu. mata rantai transmisi sanad3 atau isnad yang menyebutkan rangkaian nama-nama periwayat Hadis yang bersambung sampai kepada Nabi. Kitab Ikhtilaf Al Hadis(Ttp Daar al_Kitab al-Arabi. dan Surat an-Nisa (4): 80. Pengamalannya di dalam masalah-masalah hukum (al-Ahkâm) tidak diperbolehkan juga menurut mayoritas Ulama. Permasalahan yang dibicarakan di dalam hadits yang Dla’if tersebut masih berada di dalam kawasan prinsip dasar umum. Di antaranya adalah ayat al-Quran yang tersebut dalam Surat al-Hasyr (59): 7. yaitu: 1. 1981) hlm. yang disebut dengan bayan ta’kid. dan ada yang bersifat memperjelas. membagi penjelasan lebih detail (merinci) atau membatasi pengertian lahir ayat-ayat Al-Qur'an. Ibn al-‘Araby. Muhammad bin Idris Al-Syafi’i (selanjutnya disebut Al-Syafi’i) . Shahîh al-Bukhary dan Shahîh Muslim. al-Maghâziy (berita-berita seputar peperangan-peperangan) dan Sirah. Abu Zur’ah. cet. Kedudukan Hadis Nabi sebagai sumber ajaran Islam kedua itu telah dilegitimasi oleh ayat-ayat al-Quran yang memerintahkan agar Nabi Muhammad harus ditaati oleh umat Islam. padahal implikasinya amat berbahaya sekali. (Jakarta. Dari beberapa ayat tersebut dapat disimpulkan bahwa mematuhi dan mentaati Nabi Muhammad (Hadis Nabi) berarti telah mematuhi ketentuan Allah (al-Quran). 2. Pengamalannya di dalam masalah-masalah ‘aqidah tidak boleh secara ijma’. 4 Matan adalah materi berita atau teks Hadis Mansur Zahri Materi Unsur Pokok Sebuah Hadis Fakultas Syari’ah UIN Sukijo 1 14 . Tgl. terdapat segolongan kecil dari kalangan ulama dan umat Islam yang menolak Hadis sebagai sumber ajaran Islam. Juz VII. Maka berdasarkan hal ini. Bulan Bintang. Penjelasan Nabi terhadap ayat-ayat Al-Qur'an ada yang bersifat sekedar menguatkan kembali apa yang telah dijelaskan al-Quran. Syaikh al-Albany. 1967). Wallahu a’lam. 29-02-1424 H ). Al -Um. (Jakarta. Demikian pula pendapat yang tersirat dari ucapan Syaikhul Islam. 250-260. Peranan dan fungsi Nabi Muhammad (Hadis Nabi) adalah menjelaskan tentang maksud firman-firman (wahyu) Allah. yang disebut bayan tafsir. Ulama-ulama Ahlul Atsar maupun Ahl Al Ra’ya menerangkan bahwa fungsi Al Hadis terhadap Al-Qur'an dengan membagi beberapa macam bayan. III. Alias bukan terpisah dan sudah menjadi cabang tersendiri. hadits Dla’if tidak boleh diamalkan secara mutlak dalam bab apapun di dalam dien ini . mayoritas para ulama membolehkannya dengan syarat-syarat sebagai berikut:    Hadits yang dijadikan hujjah/diamalkan tersebut tidak Dla’if (Lemah) sekali. perbuatan atau persetujuan atau hal ihwal mengenai pribadi Nabi. 41-46. Juz II hlm 97-98. diantaranya Abu Hâtim. perlu kiranya diketahui kapan berhujjah dan mengamalkan hadits Dla’if itu dibenarkan dan apa pula persyaratannya? Untuk itu. dan ketika diucapkan/dibicarakan semata hal itu untuk sekedar pendekatan (bersifat preventif). tidak meyakini kevalidannya (bahwa ia adalah hadits yang shahih) bahkan harus meyakininya sebagai sikap preventif. Lihat juga Ahmad Husnan. 3 Sanad adalah rangkaian orang-orang sanad yang meriwayatkan Hadis yang menyampaikan matan Hadis.Berhujjah Dengan Hadits Dla'if Salah satu fenomena yang marak dilakukan adalah pengamalan hadits Dla’if secara serampangan tanpa pilah dan pilih terlebih dahulu.

Ibnu Khaldun berpendapat bahwa ulama Hadis dalam melakukan penelitian Hadis lebih banyak perhatiannya pada penelitian sanad Hadis ketimbang pada penelitian matan Hadis. hlm 113 dan M. 8 Zanni al-wurud adalah jika Hadis ahad itu dilihat dari segi periwayatannya mempunyai kedudukan yang tidak mutlak tingkat kebenarannya. Sedangkan Hadis muttawattir adalah Hadis yang disampaikan oleh banyak orang pada setiap tingkat riwayatnya dan yang menurut adat kebiasaan mustahil mereka akan sepakat berbuat dusta. Penelitian tentang kualitas Hadis sangat erat kaitannya dengan apakah Hadis yang diteliti itu dapat atau tidak dijadikan hujjah (dalil) agama. 1992) hlm. Sementara itu Imam asy-Syafi’i berpendapat bahwa kaedah kesahihan Hadis itu harus memenuhi kriteria sebagai berikut: 1. Syuhudi Ismail. Dar al Fikr. yaitu (1) kegiatan menerima Hadis dari periwayat Hadis.7 sedangkan Hadis ahad bernilai zanni al-wurud. hlm 122 dan Metodologi Penelitian Hadis Nabi. 132 dan Metodologi Penelitian. (ttp. yang disebut dengan tahammud al-riwayah. e. Hadis muttawatir tidak pelu diteliti karena bernilai qat’i al-wurud dan qat’i al-dilalah. Illat pada matan Hadis terjadi jika sanad sebuah Hadis tampaknya muttasil. Dia dabit. hlm. Bukti sejarah menunjukkan bahwa sistem isnad itu sudah dilakukan sejak jaman Nabi meskipun masih bersifat sederhana. sedangkan arti zanni al dalalah. bersambung sanadnya. 12 Tidak ada syaz.13 maka Hadis itu bernilai shahih. Bulan Bintang. 1977) hlm 146-147 dan lihat Ajjaj al-Khatib. dan mukharrij dalam Metodologi Penelitian Hadis Nabi. Syuhudi Ismail. matan dan mukharrijnya. cacat Hadis yang terdapat dalam sanad dan matan Hadis. 4. taat beragama Isalam. Usul Al Hadis. (Jakarta. Metodologi Penelitian Hadis Nabi. hlm. dan zanni al-dilalah. mampu menyampaikan Hadis yang dihafalkan kapan dan di mana saja kepada orang lain serta mampu memahami dengan baik Hadis yang dihafalkan. Ulum al Hadis wa mustawahuh (Beirut. Syuhudi Ismail. Periwayatnya a. (2) kegiatan menyampaikan Hadis kepada orang lain yang disebut dengan istilah ada’u al-riwayah. Hadis itu berasal dari Nabi atau tidak. 1988). 7 Qat’i al-wurud. Syuhudi Ismail. tt) hlm. 9 Adil adalah seorang periwayat Hadis yang jujur. Untuk memahami tentang sanad Hadis. selanjutnya disebut Usul al Hadis (Beirut. hendaknya memahami riwayat Hadis yang terdiri dari dua unsur. kemungkinannya ada yang sedikit atau banyak orang yang ikut meriwayatkan Hadis itu pada setiap tingkat generasi (tabaqat. Bulan Bintang. matan. Lihat M. artinya antara seorang periwayat dengan periwayat lain dalam sebuah sanad itu masing-masing pernah bertemu. tetapi setelah diteliti kenyataannya mauquf (bersandar pada sahabat Nabi) atau mursal (bersandar pada tabi’in) atau terjadi kekeliruan penyebutan nama periwayat yang mempunyai kemiripan atau kesamaan nama dengan periwayat lain yang berbeda kualitas. tetapi yang menjadi obyek penelitian ulama Hadis adalah Hadis yang dikategorikan sebagai Hadis ahad. para ulama telah membuat kaedah penelitian Hadis.14 Pandangan Ahmad Amin sejalan dengan pendapat Ibnu Khaldun. Kaedah Kesahihan Sanad Hadis. 4-5. misalnya Imam Al Bukhori dan Imam Muslim. 67-69 10 Dabit ialah periwayat Hadis yang hafal dengan sempurna Hadis yang diterimanya. 6 Hadis muttawatir tidak menjadi obyek penelitian. Lihat juga Syuhudi Ismail. Metodologi Penelitian Hadis Nabi (Jakarta. untuk mengetahui nilai suatu Hadis apakah Hadis yang diteliti itu sahih atau tidak. Para sahabat Nabi yang sempat menyaksikan lahir atau munculnya Hadis Nabi. Untuk kepentingan penelitian kualitas Hadis ini. orangnya dapat dipercaya dan tidak ada tadlis di dalamnya (penyembunyia cacat). hlm. 1992). hlm. Kaedah Kesahihan Sanad Hadis.mukharrrij. yang mana periwayatan Hadisnya memuat sanad dan matannya. Dapat meriwayatkan Hadis itu dengan matannya dengan baik. terpercaya dan mempunyai syarat dia beragama Islam. Memahami dengan baik Hadis yang diriwayatkan baik mengenai sanad dan matannya d. tidak meriwayatkan dengan maknanya. Syuhudi Ismail. tetapi riwayatnya bertentangan dengan riwayat yang dikemukakan oleh riwayat-riwayat lain yang siqoh juga. sedangkan qat’i al dillalah. hlm. (Jakarta. Lihat M. 302-303. 82-84. Cara untuk mengetahui ada tidaknya syaz dalam satu periwayatan Hadis maka harus ditempuh jalan perbandingan antata berbagai sanad Hadis Hadis yang topik matannya memiliki segi kesamaan. Ulumuh wa mustalahuh. Dikenal sebagai orang yang jujur (adil) c. artinya jika Hadis itu dilihat dari petunjuk dalalahnya mempunyai kedudukan yang mutlak kebenaran dalalahnya. Hadis itu otentik dari Nabi atau bukan. dabit10. dan ketika periwayat itu menyampaikan Hadis kepada orang lain haruslah disebutkan susunan mata rantai sanad. ibid. dewasa. Bulan Bintang. hlm. dapat meriyawatkan Hadis itu dengan hafalannya atau catatannya g. Kaidah Kesahihan. 6 Hadis ahad adalah Hadis yang disampaikan oleh satu atau dua orang atau lebih. dan bersandar pada Nabi. Penyebutan mata rantai sanad Hadis hanya terjadi di dalam aktivitas periwayatan Hadis. sahabat atau tabi’in) dalam sanandnya sebagian besar periwayatan Hadis itu terjadi secara ahad dan sedikit terjadi secara muttawatir. mereka mempunyai kewajiban moral untuk meriwayatkan Hadis Nabi kepada sahabat lain yang tidak sempat hadir di hadapan Nabi.12 serta tidak ada illatnya. dan menjaga kehormatan diri (muru’ah) Lihat M. Dar al Ilm li al malayin. 70--71 11 Bersambung sanadnya. artinya Hadis yang diriwayatkan oleh seorang yang siqoh. dan h. 1409 H/ 1989). Dalam satu periwayatan Hadis. hlm 87-89 14 Muhammad Ibn Khaldun. bersambung sanandnya. Lihat Subkhi al Salih. berakal sehat. Lihat M. Matan yang diriwayatkannya tidak berbeda dengan matan Hadis yang diriwayatkan periwayat lain. bahwa Hadis ahad itu jika dilihat dari segi dalalahnya mempunyai kedudukan yang tidak mutlak kebenaran dalalahnya. Muqodimah Ibn Khaldun. Dapat dipercaya b.8 Penelitian kualitas Hadis Nabi secara kesejarahan adalah untuk menilai apakah sesuatu yang dikatakan sebagai Hadis Nabi benar-benar dapat dibuktikan secara ilmiah keshahihannya. Metodologi Penelitian Hadis. f. 37 Mansur Zahri Materi Unsur Pokok Sebuah Hadis Fakultas Syari’ah UIN Sukijo 5 15 . Jika suatu penelitian terhadap suatu Hadis itu membuktikan bahwa Hadis Nabi itu diriwayatkan oleh periwayat-periwayat yang menurut Ibn as-Salah memenuhi syarat sebagai orang yang adil9.5 yaitu orang yang meriwayatkan Hadis lengkap dengan sanad dan matannya. Dar Al Fikr. artinya jika Hadis itu dilihat dari segi periwatannya mempunyai kedudukan yang mutlak kebenaran beritanya. Mukharrij adalah seorang periwayat Hadis yang menghimpun Hadis-Hadis yang diriwayatkan dalam kitab Hadis yang disusunnya. 13 Tidak ada illatnya. Syhudi Ismail.. namun tidak mencapai derajat Hadis mutawattir. hlm.11 tidak syaz. Lihat selanjutnya pengertian sanad. lihat M. 85-87. Terlepas dari perbuatan tadlis (menyembunyikan cacat) 3. Jika terjadi perubahan redaksi pada Hadis ia mengetahui perubahan maknanya.

hlm. ‘Ulum Al Hadis. analogi atau illat yang terdapat dalam teks al-Quran atau Hadis Nabi. dan f. Di samping itu posisi. Tidak bertentangan dengan dalil yang telah pasti. Subkhu Al Salih. Mereka itu cenderung berpegang pada arti lahiriah dari nas al-Quran atau Hadis Nabi. panglima perang. 24-25. Sebagian ulama berpandangan jika sanad Hadis itu bernilai sahih. manusia biasa. Di antara para sahabat ada yang dapat menghafalkan dan sekaligus menghimpun banyak Hadis dalam hafalannya. 18 Muhammad Ajjaj Al Khatib. Muhammad Al Baqir dengan judul Studi Kritis Hadis Nabi SAW. hlm. tetapi sanadnya da’if. Tidak bertentangan dengan Hadis ahad yang lebih kuat kualitas kesahihannya. 20 Ibid. Jika dalam menghadapi sesuatu masalah tidak menemukan ketentuannya dalam al-Quran maupun Hadis. Sedangkan kebenaran yang diperoleh secara rasional dan akal manusia bersifat nisbi (relatif). Massa’ah Al Sa’adah. 21 QS. Demikian pendapat Mustafa as-Siba’i dan Muhammad Abu Syuhbah. Yunus (10) : 36 16 15 Mansur Zahri Materi Unsur Pokok Sebuah Hadis Fakultas Syari’ah UIN Sukijo 16 . Tidak bertentangan dengan akal sehat b. apakah beliau sebagai rasul. (Yogyakarta. 1991). hlm 129-130. Metodologi Penelitian Hadis Nabi. Isi kandungannya bertentangan dengan petunjuk al-Quran dan Hadis muttawatir.17 Kemudian menurut Jumhur ulama Hadis. c. terutama Hadis-Hadis yang tidak dalam bentuk sabda. Pustaka Pelajar. hlm. Aisyah. 1966). Al Sunnah wa makanatuha di Tasyri Al Islami (ttp. Tidak bertentangan dengan amalan yang telah menjadi kesepakatan ulama salaf.2. Hadis-Hadis Sekte. 206-207. tetapi ada yang bernilai sahih sanadnya tetapi matannya da’if. Ahl al-Hadis dan Ahl ar-Ra’yu Sejak generasi Nabi yang awal yakni sahabat dan tabi'in ada sementara mereka yang dalam memberikan fatwa-fatwanya mendasarkan pada nas-nas al-Quran dan Hadis Nabi saja. tanda-tanda matan Hadis yang tidak sahih (palsu) sebagai berikut: a. Hal ini mungkin karena tertarik terhadap apa yang disabdakan. suami. Dar Al Qaumiyyah. latar belakang budaya sekelilingnya. Maktabah Dar al-Turas. seperti amalan yang kecil dibalas dengan pahala yang sangat besar. dengan menetapkan kaidah kesahihan matan. diteliti dan disyarakh oleh Ahmad Muhammad Syakir (Kairo. Muhammad Abu Rayyah dan Muhammad al-Ghazali. Nabi Muhammad sendiri adalah seorang yang dikenal sebagai orang yang fasih dalam berbicara. Tidak bertentangan dengan ayat al-Quran yang muhkam (ketetapan hukumnya telah tetap) c. demikian pula Hadis yang muttawatir itu mengandung kebenaran yang mutlak (qat’i). atau persetujuan Nabi atas perbuatan atau peristiwa-peristiwa tertentu. b. 20 Kritik terhadap matan Hadis sesungguhnya sudah dilakukan oleh beberapa tokoh shahabat seperi Umar bin Khattab. Al Kifayah Fi Ilmi Al Ruwayah (Mesir. Dar al Afaq Al Jadidah. bahkan kadang-kadang sabdanya itu berbentuk jawami al-halim (ungkapannya pendek tetapi maknanya padat).16 Menurut al-Khatib al-Bagdadi (w. Tidak bertentangan dengan Hadis mutawatir d. C. kepala negara. 428-432. Dengan kata lain. tidak mutlak. Metodologi Penelitian Hadis Nabi. Susunan bahasanya rancu. Syuhudi Ismail. Mizan. e. 1979) hlm 369-371. Al-Sunnah al Nabawiyyah baina Ahl Al Fiqh wa Ahl Al Hadis. padahal Nabi seorang yang fasih dalam berbicara. Karena kondisi saat disampaikan oleh Nabi. Aisyah. 1996). 1972) hlm. Ada kalanya sebuah Hadis dinilai sahih sanadnya dan matannya. Isi kandungannya bertentangan dengan fakta sejarah e. atau matannya sahih. pemahaman Hadis secara tekstual dan kontekstual harus dikembangkan agar ajaran Islam semakin membumi. Hal ini dimaksudkan agar Hadis itu dapat dipahami dengan sebaik-baiknya dan sebenar-benarnya. Usul Al Hadis. Isi kandungan bertentangan dengan ukuran kewajaran. Semua faktor di atas harus diperhatikan dan diketahui agar dalam memahami sebuah hadis dapat tepat sasaran. Hanya Hadis-hadis Nabi yang berbentuk qauliyah (sabda Nabi) kemungkinan besar yang dapat diriwayatkan secara lafaznya persis seperti apa yang disabdakan Nabi. 463 H/1072 M) bahwa suatu matan Hadis dikatakan sahih. Al-Quran sendiri menyatakan bahwa sesuatu yang nisbi (zauni) tidak dapat untuk mencapai kebenaran. kebanyakan Hadis Nabi diriwayatkan secara lisan. Sikap mereka menolak pendekatan rasional karena beralasan bahwa al-Quran sebagai wahyu Allah yang diriwayatkan secara muttawatir. 272-274. demikian pula latar belakang para sahabat pun yang berbeda-beda. Kadangkala sebuah hadis menuntut dipahami secara tekstual tapi hadis lain menuntut dipahami secara kontekstual. peranan dan fungsi Nabi ketika menyampaikan hadis itu berbeda-beda. da M. tidak secara tertulis. hakim. 19 Sa’dullah Assa’idi. Dalam menilai sahih atau tidaknya sebuah Hadis. (Bandung. hlm 296-303. Manhaj Naqdil Matan (Beirut. Lihat Muhammad Al Ghazali. Mustafa Al Siba’i . terj. yakni HadisHadis yang berupa perbuatan Nabi. walaupun sahih sanad dan matannya. bahkan ada Hadis yang da’if sanad dan matannya. hlm 236 dan lihat Al Khatib Al Bagdadi. pembicarannya berbobot. Lihat juga M Syuhudi Ismail. jika memenuhi syarat sebagai berikut: a. Sesuatu yang nisbi tidak dapat menjangkau atau menyampaikan kepada sesuatu yang mutlak. maka Hadis itu dinilai sahih seperti hadis-hadis yang sahih sanadnya dalam kitab Sahih al-Bukhori dan Sahih Muslim. atau yang lain. dan lain-lain. Jika mereka menghadapi masalah yang tidak ada ketentuannya dalam al-Quran dan Hadis Nabi. 1983). Isi kandungannya bertentangan dengan akal sehat dan sulit diterima oleh akal sehat. 26-27. inilah pendapat Ahmad Amin. maka Hadis itu dianggap lemah. f. Sanadnya itu bersambung sampai kepada Nabi.21 Sementara itu ada sebagian sahabat dan tabi'in yang juga menyandarkan fatwa-fatwanya kepada nas-nas al-Quran dan Hadis Nabi. mereka tidak mau menggunakan qiyas. 17 Sihabud Din bin Ahmad Al Adlabi. Sebagian ulama lain berpandangan jika sebuah Hadis itu matannya bertentangan dengan al-Quran. Demikian pula kebanyakan Hadis diriwayatkan dengan maknanya. kadang sabdanya diulang-ulang tiga sampai empat kali dan kadang sabdanya itu merupakan perincian dari masalah yang ditanyakan atau yang dijelaskan19 dan juga karena para sahabat yang banyak hafalan Hadisnya dekat pergaulannya dengan Nabi. 18 Secara historis tidak seluruh Hadis sudah ditulis oleh para sahabat. hlm 128. para ulama berbeda pendapat. dapat menggunakan bahasa yang sesuai dengan kemampuan akal. mereka menetapkan masalah itu dengan Al Syafi’i . seperti Abu Hurairah. hlm. Isi kandungan bertentangan dengan hukum alam (sunatullah) d. dan lainlain. Jika matan Hadis itu memenuhi syarat tidak syadz (janggal) dan tidak ada illatnya. Al Risalah.15 Kritik matan pada dasarnya juga sudah dilakukan oleh para ulama ahli Hadis (atsar). Antara Pemahaman Tekstual dan Kontekstual.

apalagi dengan mengaitkan pemahamannya dengan keadaan sosio historis pada masa awalnya dan dengan keadaan sosial budaya yang berlaku sekarang. dan Ahmad bin Hambali. Kelompok pertama kemudian dapat disebut kelompok ulama salaf. Dari ayat ini dapat diambil dua makna sebagai berikut. dan Hambaliyah melakukan pemahaman suatu teks dari al-Quran atau Hadis Nabi dengan membagi kata pada arti yang tersurat atau terucapkan (mantuq) dan yang tersirat (mafhum). dan Malik bin Anas. maka masalah itu dikembalikan kepada hukum asalnya. yaitu Abu Hanifah. yakni penjelasan terhadap ungkapan ayat al-Quran dan Hadis Nabi yang tersirat (tersembunyi). Contoh pemahaman dengan model tersebut di atas adalah seperti yang dikemukakan oleh ulama-ulama Hanafiyah. Jika ada sesuatu masalah yang tidak ditentukan hukumnya dalam al-Quran dan Hadis Nabi. asy-Syafi’i. No. Bayan tagyir. Makna ibaratnya. Muhammad bin Idris asy-Syafi’i. dapat diambil dari : 1. yakni bahwa binatang ternak yang digembalakan itu wajib dizakati jika sudah sampai nisabnya. ada aliran tekstual lain yang lebih bersifat rasional. Makna isyarat suatu kata. seperti QS al-Baqarah 275. Pemahaman dengan model seperti ini telah dilakukan oleh sebagian ulama sahabat dan tabi’in23. Dikatakan demikan karena aliran ini dalam memahami teks-teks dalam nas al-Quran dan Hadis Nabi meskipun secara tekstual tetapi mereka berpendapat bahwa dalam teks-teks nas itu ada yang mempunyai arti tersurat dan atau tersirat. Dalam majalah Suara Muhammadiyah. Bahwa jual beli itu tidak sama dengan sistem riba. yang terbagi menjadi : 1. yaitu penjelasan yang mengandung perubahan dari satu makna kepada makna lain yang mengakibatkan perubahan pada hukumnya. maka pemahaman teks-teks seperti itu dapat dikatagorikan sebagai pemahaman secara kontekstual. secara komprehensif dan terpadu. menolak segala bentuk ar-ra’yu atau ijtihad atau pemahamannya itu tidak dikaitkan realitas sosial-historis yang ada. 2. Sementara kelompok kedua dapat disebut kelompok moderat atau kelompok ulama tekstual yang rasional. artinya bahwa pemahaman itu dapat diperoleh dari petunjuk yang tersirat (tak terlihat) pada maksud susunan katanya (kalimatnya). tetapi diperoleh dari kelanjutannya. Al-Baqarah 233 yang artinya: “Dan kewajiban suami itu memberikan makan dan pakaian kepada istrinya dengan cara yang ma’ruf”. yakni penjelasan atau penguatan terhadap maksud ayat al-Quran dan teks Hadis Nabi. Kelompok sahabat dan tabi'in yang pertama yang dalam memberikan fatwa berpegang teguh pada teks nas al-Quran atau Hadis Nabi disebut Ahl al-Hadis. Dalam perkembangan selanjutnya kelompok pertama itu diikuti oleh mayoritas ulama hijaz. b. Dawud az-Zahiri. Kesimpulan ini ada perbedaan prinsip antara hukum jual beli dan riba. Ibnu Hazim. Pemahaman dengan model ini telah dilakukan oleh tokoh-tokoh mahzab yang empat. yaitu menggunakan pendekatan rasional disebut Ahl ar-Ra’yu. 10 tahun ke 89 tanggal 16-31 Mei 2004. Tokohnya Abu Hanifah. a. Dapat juga kelompok pertama disebut golongan ulama tekstual. Adapun pemahaman sebaliknya (mafhum mukhalafah) adalah bahwa kambing yang tidak digembalakan tidak wajib dikeluarkan zakatnya. yang artinya: “Dan Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”. yaitu penjelasan yang tidak berwujud kata-kata tetapi berupa suatu yang tidak dikatakan (tersirat) dan hal itu mengandung suatu hukum yang disebut dalalah al sukut. Para ulama Malikiyah. dengan tokohnya Ibnu Taimiyah. Pemahaman seperti ini dapat dikatagorikan sesuai dengan pemahaman yang cocok dengan teks redaksinya (mafhum muwafaqah). Sementara itu ulama-ulama Hanafiyah juga berusaha memahami teks ayat al-Quran dan teks Hadis Nabi dengan metode al bayan. 4. Dalam memahami arti suatu kata atau lafaz (teks) al-Quran atau Hadis Nabi. Contoh QS. Tentunya dalam penggunaan qiyas didahului pendekatan rasional. Ijtihad dengan menggunakan pendekatan rasional ini didasarkan pada sebuah hadis Nabi yang masyhur yang berisi dialog antara Nabi SAW dengan sabahat Mu’az bin Jabal ketika ditanya oleh Nabi. 25 Sebenarnya pemahaman teks al-Quran atau Hadis Nabi dengan cara mengambil maknanya secara tersirat. E. Tekstual. Bayan tafsir. Pemahaman secara tersurat (tekstual) dari hadis di atas adalah pemahaman yang sesuai dengan teks redaksinya. hlm. Pemahaman Tekstual dan Kontekstual atas Hadis Nabi Pemahaman tekstual terhadap al-Quran dan Hadis Nabi adalah pemahaman yang terbatas pada bunyi teks atau lafaz.menggunakan qiyas. 4. Aliran ini dalam menetapkan hukum hanya berdasarkan teks al-Quran dan Hadis Nabi serta ajaran sahabat. Malik bin Anas. Bahwa jual beli halal hukumnya sedangkan riba itu hukumnya haram. D. Tekstualisasi dan Kontekstualisasi Terhadap Hadis Nabi Asymuni Abdurrahman. Mereka juga menggunakan metode qiyas jika dalam menghadapi suatu masalah tidak diketemukan ketentuannya secara jelas dalam nas al-Quran dan Hadis Nabi. Pengertian semacam ini diperoleh dengan cara menghubungkan dengan ayat sebelumnya. Mansur Zahri Materi Unsur Pokok Sebuah Hadis Fakultas Syari’ah UIN Sukijo 22 17 . atau mencari ta’lilnya yang ada dalam teks al-Quran ataupun Hadis Nabi. Metode bayan ini digunakan untuk memecahkan berbagai persoalan hukum dengan mendasarkan pada nas-nas al-Quran atau Hadis Nabi yang dilakukan dengan komprehensif dan terpadu dengan mengaitkan antara satu ayat dengan ayat lain atau satu ayat dengan Hadis. 2. Dari ayat ini dapat diambil isyarat bahwa anak itu bernasab (dinisbahkan) kepada ayah (suami) bukan kepada ibu (isteri)24. Adapun kelompok sahabat dan tabi'in yang kedua yang dalam memberikan fatwa-fatwanya tidak menemukan ketentuan hukumnya dalam teks nas al-Quran atau Hadis Nabi. Bayan darurat. 23 ibid 24 ibid 25 Ibid. sedangkan kelompok kedua diikuti oleh mayoritas ulama Irak dan negeri-negeri yang jauh dari Hijaz. Kontekstual dan Liberal. 3. Syafi’iyah.22 Menurut Asymuni Abdurrahman. Bayan taqrir. Contoh memahami kata yang tersurat adalah Hadis Nabi yang menyatakan “Kambing yang digembalakan itu kena zakat”. hlm 25. bagaimana jika anda (Muaz) tidak menemukan nas dalam al-Quran dan Hadis Nabi dalam menetapkan hukumnya sesuatu? Dijawab oleh Muaz bahwa dia akan menggunakan ijtihad dengan rasionya (ra’yunya).

yaitu orang kaum muslimin selamat dari (gangguan) mulutnya dan tangannya. Terhadap Hadis-hadis yang berkaitan dengan keimanan terhadap malaikat. Demikian pula beliau tidak memberikan harta rampasan perang yang berupa tanah kepada tentara yang ikut berperang. mizan. Dalam menghadapi beberapa kasus Nabi terkadang menetapkan hukum yang berlawanan satu sama lain karena adanya perbedaan konteks. Hadis ahad dikatakan sahih jika sanadnya bersambung. Sebagian budaya Arab yang sudah berjalan tidak semua dihapus oleh Islam. Mereka berpendapat demikian karena mengkaitkan dengan Hadis Nabi yang lain yang menyatakan bahwa sorang lelaki tidak boleh menyepi dengan seorang wanita yang bukan mahramnya karena teman ketiganya adalah syetan. Kontekstualisasi dalam bidang ibadah hanya boleh dilakukan jika berkaitan dengan aspek teknis. Tahun ke-90. seperti cerai yang terjadi karena zihar (QS. Pemahaman terhadap Hadis-hadis muttawatir atau Hadis ahad yang bernilai sahih yang berkaitan dengan aqidah atau keimanan. dabit. Beliau melakukan kebijaksanaan tersebut karena realita sosial waktu itu mendorong beliau untuk memutuskan bahwa golongan muallaf tidak perlu lagi diberi bagian zakat dan bagi tentara yang ikut perang tidak perlu diberi harta rampasan perang berupa tanah karena akan menyulitkan pembagian sehingga tidak menjadi efisien. karena ia memahai secara tekstual. Sementara itu ulama lain berpendapat bahwa talak yang dijatuhkan tiga kali sekalius tidak sah talaknya. misalnya kasus tentang ziarah kubur. zakat. Tapi dalam kesempatan yang lain ketika ditanya dengan pertanyaan yang sama seperti di atas. tidak ada jalan lain kcuali membenarkan dan mengimaninya. Abu Dawud. puasa dan cara haji. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim. Hal ini sebagai kontekstualisasi terhadap Hadis yang diriwayatkan Imam Muslim dari Jabir bin Samurah. maka tidak ada jalan lain yang paling selamat dalam pemahamannya. Pemahaman Hadis-hadis Nabi secara kontekstual saat ini menjadi suatu keharusan dan suatu keniscayaan jika hadis-hadis Nabi yang merupakan sumber ajaran Islam kedua setelah al-Quran atau tetap diberlakukan secara benar dan tepat sesuai nilai-nilai yang ada dalam alQuran dan Hadis Nabi itu sendiri. jawaban beliau itu disesuaikan dengan konteks si penanya. karena hal itu tidak sesuai dengan perintah Rasulullah (Hadis riwayat Muslim). No. bedug. yaitu orang yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya dan seterusnya. 2). Para ulama berbeda pendapat dalam memahami makna hadis tentang sabda Nabi yang menyatakan bahwa seorang lelaki yang melamar seorang wanita diharapkan dapat melihat wanita yang dipinangnya agar dengan melihat itu dapat mengekalkan perkawinannya (Hadis riwayat Imam yang lima kecuali Abu Dawud). kamu tampak olehku seperti punggung ibuku. Padahal dalam Hadis hanya 3 sebab saja seseorang dapat dihukum bunuh. misalnya ketika beliau ditanya tentang amalan Islam yang mana yang lebih utama (ayyul Islami afdal?)Berdasarkan Hadis yang disepakati oleh al-Bukhari dan Muslim dari Abu Musa al-Asy’ari ini. Abu Dawud az-Zahiri menyatakan bahwa lelaki itu boleh melihat seluruh badannya. yang semula dilarang kemudian lalu diperbolehkan (Hadis riwayat Muslim. penggunaan bahasa Indonesia dalam khutbah jum’at agar isi khutbah dapat dipahami oleh para jamaah Jum'at. Tidak kalah penting dalam rangka memahami makna dan maksud hadis perlu diketahui dalam peranan dan posisi apa Nabi pada waktu mengucapkan. berzina. atau cerai yang terjadi karena suatu sumpah. Tetapi pada zaman Umar bin al-Khattab memerintah dinyatakan bahwa talak yang djatuhkan tiga kali sekaligus jatuh tiga kali juga. Bahwa sahabat Abu Bakar pernah menumpas orang yang tidak mau membayar zakat. Al-Baqarah (2): 226-227).Para ulama Hadis sepakat bahwa Hadis Nabi menjadi sumber ajaran Islam kedua setelah al-Quran. aktual. Al-Mujadalah (58) . atau majaz. syafa’at. Mansur Zahri Materi Unsur Pokok Sebuah Hadis Fakultas Syari’ah UIN Sukijo 18 . melakukan sesuatu atau menyetujui perbuatan sahabatnya. Dan menurut kebanyakan ulama bahwa wajah wanita dan kedua telapak tangannya itu bukan termasuk aurat wanita. At-Taubah 60. tetapi Imam an-Nawawi menyatakan bahwa lelaki itu ketika melamar wanita hanya boleh melihat wajah dan dua telapak tangannya. 3. beliau menjawab. terlebih karena ada sementara Hadis-hadis Nabi yang menggunakan kata-kata yang musykil (sulit). dan kontekstual sesuai dengan tempat dan perkembangan jaman dengan tanpa meninggalkan prinsip-prinsip ajaran Islam demi tegaknya kemaslahatan. Untuk mengantisipasi perkembangan jaman yang selalu berubah-rubah. Bahwa masyarakat Arab yang menjadi obyek dakwah Nabi bukan masyarakat yang hampa atau kosong dari budaya setempat. dan atTurmudzi). seluruh periwayat dalam rangkaian sanad itu bersifat adil. neraka dan lain sebagainya. adalah dengan cara tekstual. baik hadis muttawatir. 5. kitabkitab Allah. illa’ (QS. Suara Muhammadiyah. Jika terdapat periwayat yang kurang dabit tetapi periwayatnya memenuhi syarat-syarat lain seperti di atas maka hadis itu bernilai hasan. yang berisi bahwa suami bersumpah tidak akan mencampuri isterinya selama empat bulan atau lebih. Jumhur ulama menambahkan bahwa ketika seorang lelaki melamar wanita dan melihatnya dalam rangka ta’aruf tidak boleh berduaan di tempat yang sepi. beliau menjawab. Hadis Imam Ahmad dari Ibnu Abbas menyatakan bahwa talak yang dijatuhkan tiga kali sekaligus hanya jatuh satu kali. Hadis sahih dan Hadis hasan dapat dijadikan hujjah dan dapat diamalkan sebagai dasar hukum. Penelitian matan Hadis lebih rumit jika dibandingkan dengan penelitian sanad. alam barzah. 4. maka teks-teks ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad ada yang harus diberikan interpretasi secara tepat. sebagai kontekstualisasi Hadis yang diriwayatkan Imam Ahmad dari 26 Ibid. sebab-sebab munculnya Hadis itu atau digali illat yang terkandung di dalamnya. 2. Dan sekali tempo dalam mencari makna suatu Hadis Nabi perlu digali. seperti tentang cara sholat.4. di mana seorang suami berkata kepada isterinya. maupun hadis ahad asalkan memenuhi syarat-syarat kesahihan hadis. misalnya dibolehkan menggunakan kenthongan. maka makna dan maksud sebuah hadis akan dapat dipahami secara kontekstual jika dikaitkan dengan realita sosio kultural yang berkembang saat ini. dalam periwayatannya dan tidak ada syaz dan berillat sanadnya. 6. sehingga tentu tidak bisa berlaku di Indonesia atau di negara lain. Jika hal-hal tersebut di atas dapat berhasil diketahui dengan baik. 26 Demikian pula Umar bin Khattab pernah tidak memberikan bagian zakat bagi orang muallaf sebagaimana yang diceritakan dalam QS. Hadis ahad yang tidak memenuhi salah satu lima syarat itu disebut Hadis da’if. garib (jarang digunakan). Kedua macam perceraian ini menjadi khas budaya Arab. Demikian pula pemahaman terhadap Hadis-hadis muttawatir atau Hadis ahad yang sahih yang berkaitan dengan ibadah. hlm. Penggunaan sikat gigi sebagai alternatif pengganti dari siwak. atau karena murtad (keluar dari Islam). 24. dan Abu Hurairah. maka pemahamannya yang paling selamat adalah secara tekstual. Ajaran Islam yang tertuang ajarannya dalam al-Qur'an maupun Hadis Nabi sebagai petunjuk Allah yang dibawa oleh Nabi Muhammad sebagai rasul terakhir berlaku untuk semua manusia sepanjang masa dan untuk menjadi rahmatan lil alamin. surga. Terhadap kata-kata tersebut harus dicari arti yang ada di balik kata-kata itu dengan ta’wil. Hal ini dimaksudkan agar orang tidak main-main terhadap talak. Adapun alasannya adalah sebagai berikut: 1. sound system untuk keperluan tanda waktu adzan. Bahwa Nabi sendiri dalam menjawab pertanyaan tentang suatu masalah tertentu dari beberapa orang sahabat. karena hal ini sesuai dengan kesepakatan yang berlaku dalam masyarakat. yaitu karena membunuh. tanggal 13 – 28 Februari 2005.

Jadi kewajiban membayar zakat itu merupakan kewajiban yang bersifat universal sedang yang berhubungan bahan atau material zakat hanya dilakukan pemahaman kontekstual. 193 29 Yusuf Qardawi. seperti Hadis Nabi : ‫ من يسألني فأعتي له ومن‬. Dia mengatakan bahwa akal manusia itu terbatas sehingga tidak mampu memahami hal-hal yang gaib.. Allah memang tidak menganugerahi kemampuan kepada manusia untuk dapat memahami soal-soal gaib dengan sebenarnya. tidak sempurna. manakala umat Islam sudah menguasai ilmu pengetahuan hisab dengan baik. tidak amanah. (Allah) berfirman: Barang siapa yang berdoa kepada-Ku. Allah tidak menciptakan hal itu kcuali dengan haq. Hadis Nabi yang Tekstual dan Kontekstual. Hadis yang berkaitan dengan ibadah puasa didapatkan bahwa berpuasa Ramadan itu dimulai dengan melihat bulan. kecuali terhadap Hadis-hadis yang menggunakan ungkapan simbolik maka Hadis itu dipahami secara kontekstual. Islamunna Press.30 Hadis lain adalah sebagai berikut : ‫أن رسول ال صلى ال عليه وسلم ذكر الدجال بين ظهراني الناس فقال إن ال تعالى ليس بأعور أل وإن المسيح الدجال أعور العين‬ (‫اليمنى كأن عينه عنبة طافئة )رواه البخارى و مسلم وغيره عن ابن عمر‬ Artinya : bahwa Rasulullah SAW menyebut ad-Dajjal di muka banyak orang. Dalam keadaan ummi tdak mungkin mereka itu dapat menentukan tanggal satu Ramadan dan Syawal dengan perhitungan hisab apalagi menggunakan alat-alat teknologi canggih seperti sekarang ini. Apabila cuaca mendung sehingga bulan (terlindungi) dari pemandangan kamu sekalian. 27 Selanjutnya dia mengatakan bahwa sikap yang benar yang harus ada pada logika keimanan dan tidak ditolak oleh logika akal adalah mengatakan: Kami beriman dan percaya”.‫ينزل ربنا تبارك وتعالى كل ليلة إلى السماء الدنيا حين يبقى ثلث الليل يقول من يدعوني فأستجب له‬ (‫يستغفرني فأغفر له )متفق عليه عن أبي هريرة‬ Artinya : Tuhan kita tabaraka ta’ala setiap malam turun ke langit dunia pada saat malam di pertiga akhir. Perintah Nabi berpuasa setelah menyaksikan tanggal satu bulan Qamariyah bersifat temporal. cet V (Bandung. A Najiyullah (Jakarta. Kemudian Nabi bersabda: Sesungguhnya Allah itu tidak buta sebelah mata. Hadis tersebut ada hubungannya dengan Hadis lain yang artinya: “Kami umat yang ummi. Kajian Kritis …. 1994). Jadi penggunaan hasil penemuan manusia terhadap gejala-gejala alam seperti ilmu astronomi atau ilmu hisab seperti yang ditunjukkan dari ayat tersebut di atas tidaklah bertentangan. niscaya Aku mengampuni. adakalanya duapuluh sembilan hari)” (Hadis riwayat al-Bukhori dan Muslim dan lain-lain dari Ibnu Umar).supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu. Bulan Bintang. orang muslim tidak diperhatikan dan kemaksiatan merajalela sehingga kekuasaannya itu jelek. terj. hlm. sagu atau harganya sebagaimana berlaku di Indonesia untuk menggantikan kurma atau gandum sebagaimana kontekstualisasi ketentuan dalam Hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim dari sahabat Ibnu Umar. yang artinya: Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan tempat-tempat bagi perjalanan bulan itu. Muslim dan lain-lain dari Ibnu Umar) Kalimat Inna Allaha Ta’ala laisa bi a’wara. 243 30 M. Antara Pemahaman Tekstual dan Kontekstual. 1994). 1977). 246 28 Yusuf Qardawi. sedangkan matanya seperti buah anggur yang timbul. sirat dan tentang melihat Allah secara langsung bagi orang yang beriman besuk pada hari akhirat. walaupun hal-hal yang gaib itu diterangkan oleh Hadis-hadis yang sahih. 29 Dalam kitab-kitab syarah Hadis. dan barangsiapa meminta ampun kepada-Ku. Perintah Nabi untuk mulai puasa dan berhari raya atas dasar melihat tanggal satu bulan Qamariyah dengan melihatnya secara langsung (mata telanjang). niscaya Aku memberinya. Yunus 5. maka boleh menentukan tanggal satu bulan Ramadan dan Syawal itu dengan perhitungan hisab. Yusuf Qaradawi berpendapat bahwa dalam masalah akidah kewajiban kita adalah mengimani apa yang disebutkan dalam nas al-Qur'an dan Hadis-hadis Nabi. Bisa juga untuk substitusi. dan berhari rayalah kamu sekalian setelah melihat bulan (tanggal satu Syawal). karena hal itu tidak dibutuhkan manusia dalam tugasnya sebagai khalifah di muka bumi. barang siapa meminta sesuatu kepada-Ku. hlm 20 31 Ibid. dalam hal ini Nabi bersabda: (‫صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته فإن غمي عليكم فأكملوا عددة شعبان ثلثين )رواه البخارى و مسلم وغيره عن أبى هريرة‬ Artinya: Berpuasalah kamu sekalian karena telah melihat bulan (tanggal satu Ramadan). diartikan secara kontekstual sebagai penguasa yang zalim.Abu Hurairah. Kajian Praktis Pemahaman Hadis. Hadis tentang mizan. Bagaimana Memahami Hadis Nabi SAW. Perintah ini didasarkan pada pertimbangan keadaan umat Islam waktu itu yang hampir semuanya buta huruf. diartikan secara kontekstual .28 Pendapat Yusuf Qaradawi tersebut di atas berbeda sangat dengan pandangan orang-orang mu’tazilah yang menolak keterangan Hadishadis yang dianggap mustahil menurut akal. Karisma. Kalimat yanzilu rabbuna kulla lailatin ila as-sama’ ad-dunya diartikan yang turun itu adalah limpahan rahmat Allah bukan Allah turun ke langit dunia. Hadis-hadis itu dipahami secara tekstual. seperti mengeluarkan zakat fitri dengan beras. (Jakarta. setiap kali dihadapkan pada masalah-masalah gaib yang telah ditetapkan dalam Islam. hlm. terj Muhammad Al Baqir. tetapi sempurna. Syuhudi Ismail. Dia menjelaskan tanda-tanda kebesaran-Nya kepada orang-orang yang mengetahui. 27 Yusuf Qardawi. para ulama pada umumnya dalam memahami Hadis-hadis yang berkaitan dengan masalah-masalah yang gaib (aqidah). niscaya Aku kabulkan doanya itu. tanpa bertanya tentang hakekatnya dan tanpa mencari rinciannya. maka sempurnakanlah (bilangan hari) untuk bulan sya’ban menjadi tiga puluh hari. ketahuilan sesungguhnya al-Masih ad-Dajjal itu buta matanya sebelah kanan. (Hadis riwayat al-Bukhari. hlm. yaitu bahwa kekusaan Allah itu tidak ada cacatnya. Sikap mereka itu sudah melampui batas akibat sangat mengagungkan akalnya. sebagaimana dikatakan “ Kami mendengar dan kami mematuhi” setiap amalan ibadah yang dijawibkan kepada umat Islam. Mereka tak percaya kepada Hadis-hadis Nabi yang menerangkan tentang nikmat dan siksa kubur. tidak pandai menulis dan tidak pandai menghitung (melakukan hisab) bulan itu begini dan begini (yakni adakalanya tiga puluh hari. hlm 53-55 Mansur Zahri Materi Unsur Pokok Sebuah Hadis Fakultas Syari’ah UIN Sukijo 19 . 31 Pemahaman kontekstual terhadap Hadis tersebut dikaitkan dengan QS. Kalimat al-masih ad-dajjal a’war al-'ain al-yumna.

Namun pemahaman Hadis secara kontekstual dalam bidang muamalat terbuka lebar asalkan tetap berpegang pada prinsip menjunjung tinggi nilai-nilai Islam dan asas kemaslahatan. Lalu Abu Bakar berkata Ya Rasulullah sebelah ujung kainku memanjang ke bawah. Yang terbaik adalah jika seseorang berpakaian menurut adat istiadat setempat dan pakaiannya itu menutup aurat serta tidak disertai rasa sombong. Mansur Zahri Materi Unsur Pokok Sebuah Hadis Fakultas Syari’ah UIN Sukijo 20 . yaitu orang yang memanjangkan kain. siapa mereka itu ya Rasulullah orang yang kecewa dan merugi? Rasulullah menjawab. Dengan mengkaitkan dua buah hadis di atas mempunyai arti khusus. dimana dan kapan dilakukan.2 (‫النبي صلى ال عليه وسلم لست ممن يصنعه خيلء )رواه البخارى عن سالم بن عبد ال‬ Artinya : Barangsiapa memanjangkan kain (sarungnya) dengan sikap sombong. maka Allah tidak akan memandangnya pada hari kiamat. dan saya akan memperhatikan (peringatan) tentang hal itu. komprehensif terhadap ajaran Islam. Rasulullah mengatakan hal itu 3 kali. Pemahaman Hadis secara kontekstual merupakan suatu pendekatan yang seharusnya dikembangkan dalam kaitannya dengan pemahaman yang lebih utuh. Bahkan Hadis di atas dikuatkan dengan Hadis lain : (‫ما أسفل من الكعبين من الزار ففي النار)رواه البخارى عن أبى هريرة‬ Artinya : Kain sarung melewati di bawah kedua mata kaki akan membawa ke neraka (Hadis riwayat Al Bukhori dar Abu Hurairah). Rasulullah lalu berkata. Demikian pendapat Yusuf Al Qaradawi. apakah kainnya itu di atas atau di bawah tumit. Allah akan membenamkan orang itu atau menjadikan orang itu terpelanting besok pada hari kiamat. yakni bahwa orang yang memanjangkan kainnya dengan rasa sombong Allah akan memberikan siksaan pada hari kiamat. Penutup Dari sedikit uraian di atas dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: 1. (Hadis riwayat al-Bukhari dari Abu Hurairah). F. 2. Dengan cara seperti ini maknanya menjadi jelas.Salah satu cara memahami Hadis secara kontekstual adalah dengan jalan menghimpun Hadis-hadis sahih yang temanya sama. yang mutlak menjadi muqayyad dan Hadis yang bermakna umum menjadi khusus sehingga diperoleh pemahaman yang terpadu. yang masih syubhat menjadi muhkam. Pemahaman Hadis yang berkaitan mengenai bidang aqidah dan ibadah lebih baik dilakukan secara tekstual untuk menghindarkan dari kesalahan dengan timbulnya bid’ah atau khurafat. Hadis di atas bersifat umum tanpa memandang siapa yang melakukan. bahwa orang yang memanjangkan kain di bawah mata kaki diancam siksaan yang pedih. itulah yang paling afdal. Sebagai contoh adalah Hadis-hadis berikut : ‫ثلثة ل يكلمهم ال ول ينظر إليهم يوم القيامة ول يزكيهم ولهم عذاب أليم قلت من هم يا رسول ال قد خابوا وخسروا فأعادها ثلثا قلت‬ (‫ر‬ ّ( ‫من هم يا رسول ال خابوا وخسروا فقال المسبل والمنان والمنفق سلعته بالحلف الكاذب )رواه ابو داود عن أبي ذ‬ Artinya: Ada tiga macam manusia yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat. Sebaliknya orang yang memanjangkan kainnya di bawah tumit atau memendekkan kainnya di atas tumit dengan disertai kesombongan tetap tidak diperbolehkan. Tetapi di bawah ini ada beberapa Hadis yang membicarakan hal yang sama tetapi mempunyai makna yang lain. yakni orang yang memanjangkan kain sampai di bawah tumit akan masuk neraka. orang-orang yang menyebut-nyebut pmberiannya dan orang yang melariskan dagangannya dengan sumpah bohong (Hadis riwayat Abu Dawud dari Abu Zaar Ra). dengan 3 hadis yang mempunyai makna khusus. tidak dipandang dan tidak disucikan. mereka itu akan mendapatkan siksaan yang pedih. yaitu: (‫ ل ينظر ال إلى من جر ثوبه خيلء )رواه البخارى عن أبن عمر‬. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa orang yang memanjangkan tanpa ada niat untuk sombong (sebagai niatnya) maka diperbolehkan. (‫ بينما رجل يمشي في حلة تعجبه نفسه مرجل جمته إذ خسف ال به فهو يتجلجل إلى يوم القيامة )رواه البخارى عن أبى هريرة‬.1 Artinya : Sesungguhnya Allah tidak akan memandang orang yang memanjangkan kainnya karena sombong (Hadis riwayat Al Bukhari dari Ibnu Umar Ra). bahwa kamu tidak termasuk orang yang berlaku sombong (Hadis riwayat al-Bukhari dari Salim bin Abdullah). utuh dan komprehensif. ‫ من جر ثوبه خيلء لم ينظر ال إليه يوم القيامة قال أبو بكر يا رسول ال إن أحد شقي إزاري يسترخي إل أن أتعاهد ذلك منه فقال‬.3 Artinya : Satu saat ada seseorang laki-laki memanjangkan kainya yang kelihatan sombong dengan panjang ujung kainnya. Kemudian Abu Zaar bertanya.

_______. dkk. 4 tahun 90 tanggal 16-28 Februari 2005. "Metode Memahami Hadis". Mustafa. Perempuan Tertindas. ataukah daif. Ar-Risalah¸ terj. tanggal 27 November 2004. Universitas Islam Indonesia. yaitu: 1. M. Assa’idi. dalam majalah Suara Muhammadiyah. 1994. 1999. PSW IAIN Sunan Kalijaga. III. Nuansa Madani. Kapan Hadis-Hadis. TM Hasbi. Kontekstual dan Liberal". 1977.ttp. Bulan Bintang. Muhibbin. Bila ia mengakhirinya dengan kata Akhrajahul Muslim berarti hadis tersebut terdapat dalam kitab Sahih Muslim. Ulum al-Hadis wa Mustilalahu. hasan. 1996. Nizar. terj. UII Press. bahkan mungkin bisa jadi maudhu’ setelah diadakan penelitian dari segi matan maupun sanadnya. No. Vol. Sebuah Kajian Hermenutik. Pustaka Pelajar. Yogyakarta. UMY. terj. II. Hadis Nabi Yang Tekstual dan Kontektual. kemudian ia mencari sanad hadis tersebut yang berbeda dengan sanad yang telah ditetapkan oleh imam Muslim. Fiqh Islam. Yogyakarta. Kajian Hadis-hadis Yogyakarta. Jakarta. Tekstualitas. 1996. As-Syafi’i. Ismail. Yogyakarta. Jakarta. 2001. Attahiriyyah. Najiyullah. Sulaiman. Karisma. 1997. Husnan. 1977. Hadis-Hadis Sekte. Oktober 2000. tp. 1994. Kontekstualitas Pemahaman Hadis dalam Muhammadiyah. 1992. Muhammad Al Baqir. artinya bahwa hadis yang dinukil itu terdapat kitab Jami’us Sahih Bukhari. Antara Pemahaman Tekstual dan Kontekstual. Memahami Hadis Nabi (Metode dan Pendekatan). Rasyid. Ismail. 1967. as-Sunnah wa Maknatuha fi at-Tasyri al-Islami. Bulan Bintang. Pedoman Praktis Pemahaman Hadis. Bagaimana Memahami Hadis Nabi SAW. Tanya Jawab Agama I. Jakarta. M Syuhudi. Kairo: Daar Al Syuruq. Yogyakarta. Yogyakarta. Beirut. Bulan Bintang. Jakarta. Usaha semacam ini dinamakan juga istikhraj. Ali. Sa’dullah. Yusuf. TAKHRIJ AL-HADIS Salah satu manfaat dari takhrijul hadis adalah dapat memberikan informasi bahwa suatu hadis tertentu apakah berkualitas sahih. Qaradhawi. Buchori. Hamid. tt As-Salih. Gerakan Inkar Al Sunnah dan Jawabannya. Makalah Seminar di Lembaga Pengkajian dan Pengamalan Islam (LPPI). Ahmad. Jurnal Ilmu Dakwah. Mansur Zahri Materi Unsur Pokok Sebuah Hadis Fakultas Syari’ah UIN Sukijo 21 . M. YPI-Al Rahmah. Dar al-Ilmi lil al-Malayin. Ahmadie Thoha. Metode Pemahaman Hadis. Suara Muhammadiyah. 10 tahun ke-89 tanggal 16-31 Mei 2004 dan No. penyusun hadis mengakhiri penulisan hadisnya dengan kata-kata: "Akhrajahul Bukhari". Adapun pengertian takhrij menurut ahli hadis memiliki tiga (3) macam pengertian. Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadis. "Tekstual. 1995.Daftar Pustaka Abdurrahman. Pustaka Pelajar. Jakarta. Yogyakarta. Tim PP Muhammadiyah Majelis Tarjih. Jakarta. 1981. Saad. 2. Jakarta. Pustaka Pelajar. M Syuhudi. Subkhi. Media Dakwah. Hadis-Hadis Politik. _______. Misalnya seseorang mengambil sebuah hadis dari kitab Jami’ al-Sahih karya Muslim. Hamim. Misalnya. Kaifa Nata’amalu ma’a Al Sunnah Al Nabawiyyah. 2. Abdurrahim. Jakarta. dan IV. al-Siba’i. Bandung. Ilyas. A. Metodologi Penelitian Hadis Nabi. Islamuna Press. 2003. Pengertian Kata Takhij adalah bentuk masdar dari fi’il madi yang secara bahasa berarti mengeluakan sesuatu dari tempatnya. Asymuni. Usaha mencari sanad hadis yang terdapat dalam kitab hadis karya orang lain. 1995. 3. Suatu keterangan bahwa hadis yang dinukilkan ke dalam kitab susunannya itu terdapat dalam kitab lain yang telah disebutkan nama penyusunnya. Soeparma. Quran Karim dan Terjemahan Artinya. 2000. No. yang tidak sama dengan sanad yang terdapat dalam kitab tersebut. Assiddiqie.

ataupun daif. adalah kitab yang menjelaskan derajat-derajat hadis yang terdapat dalam kitab Ihya Ulumuddin karya Al-Ghazali. 2. AI-Bugyatu fi Tartibi Ahadasi al-Hilyah Kitab ini disusun oleh Sayyid Abdul Aziz bin Al-Sayyid Muhammad bin Sayyid Siddiq AI-Qammari. Menguatkan keyakinan bahwa suatu hadis adalah benar-benar berasal dari Rasulullah Saw yang harus kita ikuti karena adanya bukti-bukti yang kuat tentang kebenaran hadis tersebut. Hidayatul bari ila tartibi ahadisil Bukhari Penyusun kitab ini adalah Abdur Rahman Ambar AI-Misri At-Tahtawi. Miftahut Tartibi li Ahadisi Tarikhil Khatib yang disusun oleh Sayyid Ahmad bin Sayyid Muhammad bin Sayyid As-Siddiq AI-Qammari yang memuat dan menerangkan hadis-hadis yang tercantum dalam kitab sejarah yang disusun oleh Abu Bakar bin Ali bin Subit bin Ahmad AI-Bagdadi yang dikenal dengan AI-Khatib AlBagdadi ( w. Kitab ini disusun khusus untuk mencari hadis-hadis yang termuat dalam Sahih AI-Bukhari. atau lainnya. Adapun kitab-kitab tersebut antara lain: 1. Dengan demikian. Manfaat Takhrij al-Hadis Ada beberapa manfaat dari takhrijul hadis antara lain sebagai berikut: 1. Memberikan kemudahan bagi orang yang mau mengamalkan setelah tahu bahwa suatu hadis adalah hadis maqbul (dapat diterima). bila kebetulan hadis tersebut juga diriwayatkan oleh Bukhari. 5. Memberikan informasi bahwa apakah suatu hadis itu termasuk kategori hadis sahih. Kitab-Kitab Yang Diperlukan dalam Melakukan Takhrij al-Hadis Ada beberapa kitab yang diperlukan untuk melakukan takhrij al-hadis. Suatu usaha mencari derajat. perbedaan lafal dalam matan hadis riwayat Al-Bukhari tidak dapat diketahui lewat kamus tersebut. Kitab ini dapat digunakan untuk mencari hadis-hadis yang diriwayatkan oleh Muslim. apakah sahih. Mu’jam Al-Fazi wala Siyyama al-Garibu minha atau Fihris li Tartibi Ahadisi Sahihi Muslim Kitab tersebut merupakan salah satu juz. Akan tetapi hadis-hadis yang dimuat dalam kitab ini hanyalah hadis-hadis yang berupa sabda ( qauliyah) saja. Kitab hadis tersebut memuat dan menerangkan hadis-hadis yang tercantum dalam kitab yang disusun Abu Nuaim AI-Asabuni (w. Sejenis dengan kitab tersebut di atas adalah kitab. Dan sebaliknya tidak mengamalkannya apabila diketahui bahwa suatu hadis adalah mardud (tertolak). 430 H) yang berjudul: Hilyatul Auliyai wa Tabaqatul Asfiyai. Namun hadis-hadis yang dikemukakan secara berulang dalam Sahih Bukhari tidak dimuat secara berulang dalam kitab tersebut. Lafal-lafal hadis disusun menurut aturan urutan huruf abjad Arab. Hadis tersebut disusun menurut abjad dari awal lafal hadis lafal matan hadis.  Al-Mugny An Haml al-Asfal. karya Abdurrahim Al-Iraqy.  Daftar nama para sahabat Nabi yang meriwayatkan hadis yang termuat dalam Sahih Muslim. 3. hasan. sanad. dan rawi hadis yang tidak diterangkan oleh penyusun atau pengarang suatu kitab. Jus V ini merupakan kamus terhadap Juz ke-I sampai IV yang berisi:  Daftar urutan judul kitab serta nomor hadis dan juz yang memuatnya.  Daftar awal matan hadis dalam bentuk sabda yang tersusun menurut abjad serta diterangkan nomor-nomor hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari.Miftahus Sahihain Kitab ini disusun oleh Muhammad Syarif bin Mustafa Al-Tauqiah. Misalnya:  Takhrij Ahadis al-Kasysyaaf. 4.3. 3. 2. hasan. setelah diadakan penelitian dari segi matan maupun sanadnya. baik dari segi sanad maupun matan. Susunan kitabnya diberi judul Tarikhu Bagdadi yang terdiri atas 4 jilid. yakni juz ke-V dari Kitab Sahih Muslim yang disunting oleh Muhammad Abdul Baqi. Mansur Zahri Materi Unsur Pokok Sebuah Hadis Fakultas Syari’ah UIN Sukijo 22 . 463 H). karyanya Jamaluddin Al-Hanafi adalah suatu kitab yang mengusahakan dan menerangkan derajat hadis yang terdapat dalam kitab Tafsir AI-Kasysyaaf yang oleh pengarangya tidak diterangkan derajat hadisnya.

lafal yang dicari berada pada halaman 2014 juz IV. Contohnya hadis Nabi: Untuk mengetahui lafal lengkap dari penggalan matan tersebut. yakni kitab Jam'ul Jawami’. Berbagai lafal yang disajikan tidak dibatasi hanya lafal-lafal yang berada di tengah dan bagian-bagian lain dari matan hadis. Al-Jami’us Shagir Kitab ini disusun oleh Imam Jalaludin Abdurrahman As-Suyuti (w. Sunan Ibnu Majjah. negeri Belanda. Biasanya kalimat yang dipakai adalah Nama sahabat periwayat hadis dalam contoh di atas adalah Abu Hurairah. CARA MELAKUKAN TAKHRIJ AL-HADIS Secara garis besar menakhrij hadis (takhrijul hadis) dapat dibagi menjadi dua cara dengan menggunakan kitab-kitab sebagaimana telah disebutkan di atas. Sunan Turmuzi. maka sesudah lafal matan dan nama sahabat periwayat hadis yang bersangkutan ditulis." Apabila hadis tersebut dikutip dalam karya tulis ilmiah. Arnold John Wensinck (w. Di antara anggota tim yang paling aktif dalam kegiatan proses penyusunan ialah Dr. kalimat yang dipakai berbunyi : Mansur Zahri Materi Unsur Pokok Sebuah Hadis Fakultas Syari’ah UIN Sukijo 23 . yakni: Sahih Bukhari. Sahih Muslim. Sunan Abu Dawud. Hadis yang dimuat dalam kitab Jami’us Shagir disusun berdasarkan urutan abjad dari awal lafal matan hadis. Muwatta Malik. Dengan demikian. tetapi yang disebut sebagai orang yang kuat adalah orang yang mampu menguasai dirinya tatkala dia marah. Berarti. Ternyata halaman yang ditunjuk memuat penggalan lafal tersebut adalah halaman 2014. maka diketahuilah bahwa bunyi lengkap matan hadis yang dicari adalah: Artinya: "(Hadis) riwayat Abu Hurairah bahwa Rasullulah bersabda. AI-Mu’jam al-Mufahras li Alfazil Hadis Nabawi Penyusun kitab ini adalah sebuah tim dari kalangan orientalis. asal saja sebagian dari lafal matan yang dicarinya itu telah diketahuinya. 7. dapat pula ditulis sesudah nama Muslim dan tidak ditulis di awal matan. Sebagian dari hadis-hadis itu ada yang ditulis secara lengkap dan ada pula yang ditulis sebagian-sebagian saja. Adapun dua macam cara takhrijul hadis yaitu: 1. "(Ukuran) orang yang kuat (perkasa) itu bukanlah dari kekuatan orang itu dalam berkelahi. 1939 m). seorang profesor bahasa-bahasa Semit. Kitab kamus hadis tersebut memuat hadis-hadis yang terhimpun dalam kitab himpunan kutipan hadis yang disusun oleh As-suyuti juga. Kitab Mu'jam ini terdiri dari tujuh Juz dan dapat digunakan untuk mencari hadis-hadis yang terdapat dalam sembilan kitab hadis. hampir setiap hadis yang dikutip dijelaskan kualitasnya menurut penilaian yang dilakukan atau disetujui oleh As-suyuti. Setelah diperiksa.91h). Selain itu. kitab Mu'jam mampu memberikan informasi kepada pencari matan dan sanad hadis. namun telah mengandung pengertian yang cukup. Menakhrij hadis telah diketahui awal matannya Maka hadis tersebut dapat dicari atau ditelusuri dalam kitab-kitab kamus hadis dengan dicarikan huruf awal yang sesuai diurutkan dengan abjad. Kitab ini dimaksudkan untuk mencari hadis berdasarkan petunjuk lafal matan hadis. langkah yang harus dilakukan adalah menelusuri penggalan matan itu pada urutan awal matan yang memuat penggalan matan yang dimaksud. Sunan Daromi. nama Imam Muslim disertakan. termasuk bahasa Arab di Universitas Leiden.6. dan Musnad Ahmad. Kitab hadis tersebut juga menerangkan nama-nama sahabat Nabi yang meriwayatkan hadis yang bersangkutan dan nama-nama Mukharijnya (periwayat hadis yang menghimpun hadis dalam kitabnya). Sunan Nasai.

nomor urut hadis 1734. Wensinck adalah juga penyusun utama kitab kamus hadis: Bahasa asli dari kitab Miftah Kunuzis-Sunnah adalah bahasa Inggris dengan judul a Handbook of Early Muhammadan. Kamus yang disusun oleh Muhamad Fuad Abdul Baqi tersebut tidak mengemukakan lafal hadis Nabi yang dalam bentuk selain sabda. Dr. nama dan beberapa hal yang berhubungan dengan kitab-kitab tersebut dikemukakan dalam bentuk lambang. Dalam kamus hadis tersebut dikemukakan berbagai topik. Kitab tersebut merupakan kamus hadis yang disusun berdasarkan topik masalah. seorang orientalis yang besar jasanya dalam dunia perkamusan hadis. padahal Sahih Muslim memuatnya dalam juz III halaman 1359. Naskah yang berbahasa Inggris diterbitkan untuk pertama kalinya pada tahun 1927 dan terjemahannya pada tahun 1934.Dalam kitab Sahih Muslim dicantumkan dicatatan kaki sebagaimana lazimnya. dan untuk setiap subtopik dikemukakan data hadis dan kitab yang menjelaskannya. yakni: Dalam kamus. yaitu: = juz pertama (awal) = bab Mansur Zahri Materi Unsur Pokok Sebuah Hadis Fakultas Syari’ah UIN Sukijo 24 . yang berkenaan dengan masalah-masalah yang berkaitan dengan petunjuk Nabi maupun yang berkenaan dengan masalah-masalah yang berkaitan dengan nama. pengkajian teks dan konteks hadis menurut riwayat dari berbagai periwayat akan mudah dilakukan. A.J. Menakhrij hadis dengan berdasarkan topik permasalahan (takhrijul hadis bit Mundu'i) Upaya mencari hadis terkadang tidak didasarkan pada lafal matan (materi) hadis. Padahal untuk memahami topik tertentu tentang petunjuk hadis. Pencarian matan hadis berdasarkan topik masalah tertentu itu dapat ditempuh dengan cara membaca berbagai kitab himpunan kutipan hadis. diperlukan pengkajian terhadap teks-teks hadis menurut periwayatnya masing-masing. Sebagaimana telah dibahas dalam uraian terdahulu. Salah satu kamus hadis itu ialah: (Untuk empat belas kitab hadis dan kitab tarikh Nabi). Pencarian matan hadis berdasarkan topik masalah sangat menolong pengkaji hadis yang ingin memahami petunjuk-petunjuk hadis dalam segala konteksnya. Untuk setiap topik biasanya disertakan beberapa subtopik. Contoh berbagai lambang yang dipakai dalam kamus hadis Miftah Kunuzis-Sunnah.J. Kitab-kitab yang menjadi rujukan kamus tidak hanya kitab-kitab hadis saja. bahkan hadis yang berupa sabda pun tidak disebutkan seluruhnya. Pengarang asli kamus hadis tersebut adalah Dr. Muhamad Fuad tidak hanya menerjemahkan saja. Jumlah kitab rujukan itu ada empat belas kitab. A. tetapi juga kitab-kitab sejarah ( tarikh) Nabi. namun berbagai kitab itu biasanya tidak menunjukkan teks hadis menurut para periwayatnya masing-masing. Kamus hadis yang berbahasa Inggris tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Arab sebagaimana tercantum di atas oleh Muhamad Fuad Abdul-Baqi. Hadis yang dimuat dalam kamus adalah hadis yang semakna yang terdapat dalam juz dan halaman yang sama dengan nomor urut hadis 1733. tetapi juga mengoreksi berbagai data yang salah. baik. Contoh: Lafal hadis tersebut tidak termuat dalam kamus. Wensinck (Wafat 1939 M). Dengan bantuan kamus hadis tertentu. lafalnya berbunyi: 2. tetapi didasarkan pada topik masalah.

Mansur Zahri Materi Unsur Pokok Sebuah Hadis Fakultas Syari’ah UIN Sukijo 25 .= sahih al-bukhari = Sunan Abi Daud = Sunan At-Turmuzi = Juz ketiga = juz kedua = Juz = Hadis = Musnad Ahmad = juz kelima = juz keempat = Musnad Zaid bin Ali = juz keenam = halaman (Sathah) = Musnad Abi Daud At-Thayalisi = Tabaqat Ibni Saad = Bagian Kitab (Qismul-kitab) = Konfirmasikan data yang sebelumnya dengan data yang sesudahnya = Magazi AI-Waqidi = Kitab (dalam arti bagian) = Muwatta' Malik = Sunan Ibni Majah = Sahih Muslim = Hadis terulang beberapa kali = Sunan Ad-Darimi = Sunan An-Nasai = Sirah Ibni Hisyam Angka kecil yang berada di sebelah kiri bagian atas dari angka Yang umum = hadis yang bersangkutan termuat sebanyak angka kecil itu pada halaman atau bab yang angkanya disertai dengan angka kecil tersebut. Setiap halaman kamus terbagi dalam tiga kolom. Setiap topik biasanya mengandung beberapa subtopik. topik Yang dicari dalam kamus adalah topik tentang nazar. dan pada setiap subtopik dikemukakan data kitab yang memuat hadis yang bersangkutan. Cara penggunaannya seperti berbagai hadis yang dicari adalah yang memberi petunjuk tentang pemenuhan nazar: Dengan demikian. Setiap kolom memuat topik.

halaman 419. juz ll. Data Yang tercantum dalam subtopik tersebut adalah sebagai berikut : Dengan memahami kembali maksud lambang-lambang yang telah dikemukakan dalam uraian sebelumnya. di halaman 498. Topik tersebut ada di halaman 211. juz lII. maka topik yang dicari dalam kamus adalah topik Ramadan. Sunan Ad-Darimi. kolom ketiga.Dalam kamus (Miftah Kunuzis-Sunnah) terbitan Lahore (pakistan). Setelah data diperoleh. Sunan At-Turmuzi. hadis dimaksud dimuat dua kali) . 3. Subtopik yang dicari berada pada urutan subtopik keenam dan terletak di halaman 212.nomor utut bab: 18. Sunan lbnu Majah. Mansur Zahri Materi Unsur Pokok Sebuah Hadis Fakultas Syari’ah UIN Sukijo 26 . nomor urut bab: 22. kolom ketiga. kolom ketiga. nomor urut kitab (bagian): 21. halaman 266 ( dalam halaman itu. Musnad Ahmad. yakni dalam Sahih Al-Bukhari. Sunan Abu Daud. Sunan Abu Daud. halaman 159. maka data tersebut dapat dipahami maksudnya. maka dapat diketahui bahwa maksud data di atas ialah: 1. Sahih Muslim. Subtopik Yang dicari berada pada urutan kedua belas. nomor urut bab: 1. 5. Apabila yang dicari. Subtopik untuk Ramadan ada dua puluh satu macam. Data yang dikemukakan adalah : Dengan memeriksa lambing-lambang yang telah dikemukanan dalam pembahasan terlebih dahulu. topik nazar termuat di halaman 497. Sesudah itu lalu diperiksa hadis-hadis yang termuat dalam keenam kitab hadis tersebut. 2. nomor urut kitab (bagian): 14. misalnya berbagai hadis Nabi tentang tata cara salat malam yang dilakukan Nabi pada bulan Ramadan. yakni dalam hal ini hadis yang membahas pemenuhan nazar diperiksa pada kelima kitab hadis di atas. 4. nomor urut kitab (bagian): 11. Judul-judul kitab (dalam arti bagian) yang ditunjuk dalam data di atas dapat diperiksa pada daftar nama kitab (dalam arti bagian) yang termuat pada Bab IV tulisan ini untuk masing-masing kitab hadis yang bersangkutan. dan juz VI. nomor urut kitab (bagian): 22 nomor urut bab: 3. maka hadis yang dicari. Topik tersebut mengandung empat belas subtopik. Muatta ' Malik. kolom kedua (tengah). Sunan An-Nasai dan Musnad Ahmad.

Nama Abu Jahal ternyata terletak di halaman l5 kolom kedua. Untuk memperlancar pencarian hadis berdasarkan topik tersebut. Data untuk subtopik yang pertama. Pengamalannya di dalam masalah-masalah hukum (al-Ahkâm) tidak diperbolehkan juga menurut mayoritas Ulama. Demikian pula pendapat yang tersirat dari ucapan Syaikhul Islam. Majallah ‘ad-Da’wah’. al-Maghâziy (berita-berita seputar peperangan-peperangan) dan Sirah. ketika berhujjah dengan hadits Dla’if dan menyampaikannya di dalam suatu majlis. Tgl. Mansur Zahri Materi Unsur Pokok Sebuah Hadis Fakultas Syari’ah UIN Sukijo 27 . Vol. Abu Zur’ah. maka nama tersebut ditelusuri dalam kamus. Namun pendapat yang tepat adalah bahwa hadits Dla’if tidak boleh diamalkan secara mutlak selama dugaan terhadap validitasnya masih lemah dan selama ia tidak mencapai derajat Hasan Li Ghairihi (Menjadi Hasan karena ada penguat/pendukungnya dari sisi sanad dan matan yang lain). (Disarikan dari Jawaban Syaikh DR. Imam an-Nawawy telah menukil ijma’ para ulama mengenai hukum mengamalkan hadits Dla’if dalam masalah Fadlâ`il al-A’mâl padahal sebenarnya ada banyak ulama terkenal yang tidak sependapat dengan hal itu. Musnad Ahmad. Berhujjah Dengan Hadits Dla'if belum dijelaskan Salah satu fenomena yang marak dilakukan adalah pengamalan hadits Dla’if secara serampangan tanpa pilah dan pilih terlebih dahulu. 29-02-1424 H ). diantaranya Abu Hâtim. CATATAN: Ada ulama yang menambahkan satu syarat lagi. nomor urut kitab (bagian): 50. Ketika mengamalkan hadits Dla’if tersebut. Perlu ditegaskan bahwa berbagai hadis yang ditunjuk oleh kamus kualitasnya. Dengan demikian untuk mengetahui keburukan tingkah laku AbuJahal kepada Nabi Muhamad. padahal implikasinya amat berbahaya sekali. 5. Ibn al-‘Araby. Berhujjah dengan hadits Dla’if dan mengamalkannya perlu ada perinciannya: 4. Ibn al-Qayyim mengisyaratkan dimungkinkannya untuk menggunakan Hadits Dla’if tersebut ketika dalam kondisi akan menguatkan dua di antara ucapan yang seimbang. Ibn Taimiyah dan Ibn al-Qayyim serta petunjuk yang didapat di dalam dua kitab Shahih. mayoritas para ulama membolehkannya dengan syarat-syarat sebagai berikut:    Hadits yang dijadikan hujjah/diamalkan tersebut tidak Dla’if (Lemah) sekali. misalnya Abu Jahal.1890. Sahih Muslim.Sekiranya topik yang dikaji berkaitan dengan nama orang. hadits Dla’if tidak boleh diamalkan secara mutlak dalam bab apapun di dalam dien ini . juz II. dapat diperiksa hadis-hadis yang termuat dalam: 1. Pengamalannya di dalam masalah-masalah ‘aqidah tidak boleh secara ijma’. 6. asySyawkany dan ulama kontemporer. dan ketika diucapkan/dibicarakan semata hal itu untuk sekedar pendekatan (bersifat preventif). perlu dilakukan praktek pencarian hadis berdasarkan data yang dikemukakan oleh kamus. Untuk mengetahui kualitasnya diperlukan penelitian tersendiri. Permasalahan yang dibicarakan di dalam hadits yang Dla’if tersebut masih berada di dalam kawasan prinsip dasar umum. Alias bukan terpisah dan sudah menjadi cabang tersendiri. halaman 184. Shahîh al-Bukhary dan Shahîh Muslim. Data tersebut agar dikonfirmasikan dengan data yang dikemukakan sebelumnya dan sesudahnya. Sedangkan pengamalannya di dalam Fadlâ`il al-A’mâl (amalan-amalan yang memiliki keutamaan).’Abdul Karim bin ‘Abdullah al-Khudlair [Dosen pada Fakultas Ushuluddin di Jâmi’ah al-Imam Muhammad bin Su’ûd]. Wallahu a’lam. halaman 370. yaitu. pada nomor urut hadis: 28 2. 3. perlu kiranya diketahui kapan berhujjah dan mengamalkan hadits Dla’if itu dibenarkan dan apa pula persyaratannya? Untuk itu. Oleh karena itu. misalnya berbunyi sebagai berikut (Keburukan tingkah laku Abu Jahal terhadap Nabi SAW. tidak meyakini kevalidannya (bahwa ia adalah hadits yang shahih) bahkan harus meyakininya sebagai sikap preventif. Syaikh al-Albany. disini kita akan membahas sedikit tentang hukum berhujjah dengannya dan persyaratannya. maka harus disebutkan ke -dla’if-an haditst tersebut. Sirah Ibnu Hisyam. Maka berdasarkan hal ini. subtopiknya ada empat macam.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->