1

BAB 1 METODE PENUGASAN DALAM PELAYANAN KEPERAWATAN

Setelah mempelajari bagian ini diharapkan mahasiswa mampu: 1) Menyebutkan macam metode penugasan asuhan keperawatan 2) Menjelaskan metode fungsional dalam pemberian asuhan keperawatan 3) Menjelaskan metode tim dalam pemberian asuhan keperawatan 4) Menjelaskan metode primer dalam pemberian asuhan keperawatan 5) Menjelaskan metode kasus dalam pemberian asuhan keperawatan 6) Menjelaskan metode modifikasi dalam pemberian asuhan keperawatan

A. Pendahuluan Kemajuan jaman menuntut perawat sebagai salah satu tenaga kesehatan untuk bersikap profesional. Profesionalisme perawat dapat diwujudkan dibidang pelayanan kesehatan di rumah sakit. Salah satu usaha untuk memberikan pelayanan yang berkualitas dan profesional tersebut adalah pengembangan model praktek keperawatan profesional (MPKP) yang memungkinkan perawat professional mengatur pemberian asuhan keperawatan termasuk lingkungan untuk menopang pemberian asuhan tersebut. MPKP sangat bermanfaat bagi perawat, dokter, pasien dan profesi lain dalam melaksanakan asuhan keperawatan. Dengan MPKP, perawat dapat memahami tugas dan tanggung jawabnya terhadap pasien sejak masuk hingga keluar rumah sakit. Implementasi MPKP harus ditunjang dengan sumber daya manusia, sarana dan prasarana yang memadai. Banyak metode praktek keperawatan yang telah dikembangkan selama 35 tahun terakhir ini, yang meliputi keperawatan fungsional, keperawatan tim, keperawatan primer, praktik bersama, dan manajemen kasus. Setiap unit keperawatan mempunyai

yang lain memberi bantuan mandi dan tidak ada perawat yang bertanggung jawab penuh untuk perawatan seorang pasien. Pelayanan yang profesional identik dengan pelayanan yang bermutu. model fungsional. model tim. model pemberian asuhan keperawatan ada enam macam. efesien tenaga. dan kebijakan rumah sakit.2 upaya untuk menyeleksi model yang paling tepat berdasarkan kesesuaian antara ketenagaan. waktu dan ruang. serta meningkatkan ketrampilan dan motivasi kerja. seorang yang lain untuk tindakan perawatan luka. seorang lagi mengatur pemberian intravena. Katagori pasien didasarkan atas. Diagnosa atau masalah kesehatan yang dialami pasien dan terapi yang dilakukan (Bron . Seorang perawat bertanggung jawab kepada manajer perawat. sarana dan prasarana. model manajemen perawatan. B. Model ini digambarkan sebagai keperawatan yang berorientasi pada tugas dimana fungsi keperawatan tertentu ditugaskan pada setiap anggota staff. Metode Fungsional Model pemberian asuhan keperawatan ini berorientasi pada penyelesaian tugas dan prosedur keperawatan. kelompok keperawatan yang tidak kalah pentingnya yaitu bagaimana metode penugasan tenaga keperawatan agar dapat dilaksanakan secara teratur. Perawat ditugaskan untuk melakukan tugas tertentu untuk dilaksanakan kepada semua pasien yang dirawat di suatu ruangan. Perawat senior menyibukan diri dengan tugas manajerial. Menurut Tappen (1995). 1987). Setiap staff perawat hanya melakukan 1-2 jenis intervensi keperawatan pada semua pasien dibangsal. untuk meningkatkan mutu asuhan keperawatan dalam melakukan kegiatan Dalam caranya penerapan standart asuhan keperawatan dan pendidikan berkelanjutan. seorang lagi ditugaskan pada penerimaan dan pemulangan. Penugasan yang dilakukan pada model ini berdasarkan . Usia. yaitu: model kasus. sedangkan perawat pelaksana pada tindakan keperawatan. Macam metode penugasan 1. model primer. dan model perawatan berfokus pada pasien. tingkat pelayanan keperawatan yang dibutuhkan pasien . Misalnya seorang perawat bertanggung jawab untuk pemberian obat-obatan.

3 kriteria efisiensi.Persepsi perawat cenderung kepada tindakan yang berkaitan dengan ketrampilan saja .Perawat akan trampil untuk tugas pekerjaan tertentu saja . .Sangat baik untuk rumah sakit yang kekurangan tenaga . Kelemahan : . Model fungsional ini merupakan metode praktek keperawatan yang paling tua yang dilaksanakan oleh perawat dan berkembang pada saat perang dunia kedua.Memudahkan kepala ruangan untuk mengawasi staf atau peserta didik yang melakukan praktek untuk ketrampilan tertentu.Menurunkan tanggung jawab dan tanggung gugat perawat .Tidak memberikan kepuasan pada pasien ataupun perawat lainnya.Perawat cenderung meninggalkan klien setelah melakukan tugas pekerjaan. tugas didistribusikan berdasarkan tingkat kemampuan masingmasing perawat dan dipilih perawat yang paling murah.Efisien karena dapat menyelesaikan banyak pekerjaan dalam waktu singkat dengan pembagian tugas yang jelas dan pengawasan yang baik .Hubungan perawat dank klien sulit terbentuk . . selanjutnya ditetapkan perawat yang akan bertanggung jawab mengerjakan tindakan yang dimaksud.Pelayanan keperawatan terpisah-pisah atau tidak total sehingga kesulitan dalam penerapan proses keperawatan. Kelebihan : .Kekurangan tenaga ahli dapat diganti dengan tenaga yang kurang berpengalaman untuk tugas sederhana. .Mudah memperoleh kepuasan kerja bagi perawat setelah selesai kerja. . . Kepala ruangan terlebih dahulu mengidentifikasm tingkat kesulitan tindakan.

1 : Sistem pemberian asuhan keperawatan fungsional (Marquis & Huston. saat berbagai pemimpin keperawatan memutuskan bahwa pendekatan tim dapat menyatukan perbedaan katagori perawat pelaksana dan sebagai upaya untuk menurunkan masalah yang timbul akibat penggunaan model fungsional. Keperawatan Tim berkembang pada awal tahun 1950-an. Penugasan terhadap pasien dibuat untuk tim yang terdiri dari ketua tim dan anggota tim. 2000). kelompok perawat akan dapat bekerja bersama untuk memenuhi sebagai perawat fungsional. Kelompok ini dipimpin oleh perawat yang berijazah dan berpengalaman kerja serta memiliki pengetahuan dibidangnya (Regestered Nurse). Model tim . Dibawah pimpinan perawat professional. Selain itu ketua group bertugas memberi pengarahan dan menerima laporan kemajuan pelayanan keperawatan klien serta membantu anggota tim dalam menyelesaikan tugas apabila menjalani kesulitan dan selanjutnya ketua tim melaporkan pada kepala ruang tentang kemajuan pelayanan / asuhan keperawatan terhadap klien. perawat bekerja sama memberikan asuhan keperawatan untuk sekelompok pasien di bawah arahan/pimpinan seorang perawat profesional (Marquis & Huston. 1988) 2.4 Gambar 1. Metode TIM Metode tim adalah pengorganisasian pelayanan keperawatan dengan menggunakan tim yang terdiri atas kelompok klien dan perawat. Pada model tim. Pembagian tugas dalam kelompok dilakukan oleh pimpinan kelompok/ ketua group dan ketua group bertanggung jawab dalam mengarahkan anggota group / tim.

anggota tim dan mengarahkan pekerjaan timnya.Pemimpin diharapkan menggunakan gaya kepemimpinan demokratik atau partisipatif dalam berinteraksi dengan anggota tim. mengkoordinasikan aktivitas klien.Tim bertanggung jawab terhadap perawatan total yang diberikan kepada kelompok pasien. Komunikasi meliputi: penu!isan perawatan klien.Pemimpin tim didelegasikan/diberi otoritas untuk membuat penugasan bagi . Perawat yang berperan sebagai ketua tim bertanggung jawab untuk mengetahui kondisi dan kebutuhan semua pasien yang ada di dalam timnya dan merencanakan perawatan klien. . Potensi setiap anggota tim saling melengkapi menjadi suatu kekuatan yang dapat meningkatkan kemampuan kepemimpinan serta menimbulkan rasa kebersamaan dalam setiap upaya dalam pemberian asuhan keperawatan. memberi arahan perawatan untuk klien.Komunikasi di antara anggota tim adalah penting agar dapat sukses. Setiap anggota tim akan merasakan kepuasan karena diakui kontribusmnya di dalam mencapai tujuan bersama yaitu mencapai kualitas asuhan keperawatan yang bermutu. . Pelaksanaan konsep tim sangat tergantung pada filosofi ketua tim apakah berorientasi pada tugas atau pada klien. ada beberapa elemen penting yang harus diperhatikan: . melakukan pendidikan kesehatan. Tugas ketua tim meliputi: mengkaji anggota tim. pentemuan tim untuk mendiskusikan kasus pasien dan umpan balik informal di antara anggota tim. rencana perawatan klien. Menurut Tappen (1995). .5 didasarkan pada keyakinan bahwa setiap anggota kelompok mempunyai kontriibusi dalam merencanakan dan memberikan asuhan keperawatan sehingga timbul motivasi dan rasa tanggung jawab perawat yang tinggi. . laporan untuk dan dari pemimpin tim.

. . .Memungkinkan meningkatkan kemampuan anggota tim yang berbeda-beda secara efektif. berlindung kepada anggota tim yang mampu. .Perawat yang belum trampil dan belum berpengalaman selalu tergantung staf.Memberi kepuasan anggota tim dalam berhubungan interpersonal.Tidak efisien bila dibandingkan dengan model fungsional karena membutuhkan tenaga yang mempunyai keterampilan tinggi. .Peningkatan kerja sama dan komunikasi di antara anggota tim dapat menghasilkan sikap moral yang tinggi.Akontabilitas dari tim menjadi kabur.Dapat memfasilitasi pelayanan keperawatan secara komprehensif. .6 Kelebihan : .Metode ini memotivasi perawat untuk selalu bersama klien selama bertugas Kelemahan : . sehingga komunikasi antar angota tim terganggu. . .Memungkinkan pelaksanaan proses keperawatan. memperbaiki fungsi staf secara keseluruhan. memberikan anggota tim perasaan bahwa ia mempunyai kontribusi terhadap hasil asuhan keperawatan yang diberikan . .Ketua tim menghabiskan banyak waktu untuk koordinasi dan supervisi anggota tim dan harus mempunyai keterampilan yang tinggi baik sebagai perawat pemimpin maupun perawat klinik .Akan menghasilkan kualitas asuhan keperawatan yang dapat melalui rapat dan efektif untuk dipertanggungjawabkan .Rapat tim membutuhkan waktu sehingga pada situasi sibuk rapat tim ditiadakan.Konflik antar staf dapat dikendalikan belajar.Keperawatan tim menimbulkan fragmentasi keperawatan bila konsepnya tidak diimplementasikan dengan total .

.Mengorientasikan tenaga keperawatan yang baru tentang metode/model tim dalam pemberian asuhan keperawatan.Menyelenggarakan konferensi .7 Tanggung jawab Kepala Ruang . . .Melakukan pengkajian. Tanggung jawab ketua tim : .Melakukan pengawasan terhadap seluruh kegiatan yang ada di ruangannya. perencanaan.Membuat perencanaan berdasarkan tugas dan kewenangannya yang didelegasikan oleh kepala ruangan. . . .Mengorganisir pembagian tim dan pasien .Menetapkan standar kinerja yang diharapkan sesuai dengan standar asuhan keperawatan. evaluasi asuhan keperawatan bersama-sama anggota timnya.Memotivasi staf untuk meningkatkan kemampuan melalui riset keperawatan.Mengevaluasi asuhan keperawatan baik proses ataupun hasil yang diharapkan serta mendokumentasikannya. . .Melakukan audit asuhan dan pelayanan keperawatan di ruangannya.Mengkoordinasikan rencana keperawatan dengan tindakan medik.Memfasilitasi kolaborasi tim dengan anggota tim kesehatan yang lainnya. .Menciptakan iklim komunikasi yang terbuka dengan semua staf. .Mengatur jadual dinas timnya yang dikoordinasikan dengan kepala ruangan. .Menjadi nara sumber bagi ketua tim. . . .Memberi kesempatan pada ketua tim untuk mengembangkan kepemimpinan. . .Memberi pengarahan pada perawat pelaksana tentang pelaksanaan asuhan keperawatan.Memberi pengarahan kepada seluruh kegiatan yang ada di ruangannya. pelaksanaan. kemudian menindak lanjutinya.Membuat penugasan kepada setiap anggota tim dan memberikan bimbingan melalui konferens.

. 1998) . .Melaporkan perkembangan kondisi pasien kepada ketua tim. .Melaksanakan tugas berdasarkan rencana asuhan keperawatan. .Melakukan kolaborasi dengan tim kesehatan lainnya dalam pelaksanaan asuhan keperawatan. .Melakukan audit asuhan keperawatan yang menjadi tanggungjawab timnya.Melakukan perbaikan pemberian asuhan keperawatan.2 : Sistem pemberian asuhan keperawatan tim (Marquis & Huston. .8 . Tanggung jawab anggota tim .Menghargai bantuan dan bimbingan dan ketua tim.Mencatat dengan jelas dan tepat asuhan keperawatan yang telah diberikan berdasarkan respon klien.Memberikan laporan Gambar 1.Berpartisipasi dalam setiap memberiikan masukan untuk meningkatkan asuhan keperawatan .

menguasai . perawat primer memberikan perawatan langsung secara total untuk klien. yang ditandai dengan adanya keterkaitan kuat dan terus menerus antara pasien dan perawat yang ditugaskan untuk merencanakan. perawat asosiet. self direction kemampuan mengambil keputusan yang tepat. di antaranya dalam menetapkan kemampuan asertif. Perawatan yang yang diberikan direncanakan dan ditentukan secara total oleh perawat primer. melakukan dan koordinasi asuhan keperawatan selama pasien dirawat. Dengan diberikannya kewenangan tersebut. mengadakan kunjungan rumah. Tanggung jawab mencakup periode 24 jam. Keperawatan primer merupakan suatu metode pemberian asuhan keperawatan di mana perawat primer bertanggung jawab selama 24 jam terhadap perencanaan pelaksanaan pengevaIuasi satu atau beberapa klien dan sejak klien masuk rumah sakit sampai pasien dinyatakan pulang. klien. Pada model ini. Setiap perawat primer mempunyai 4-6 pasien. dokter. perawatan diberikan/didelegasikan kepada perawat asosiet yang mengikuti rencana keperawatan yang telah disusuni oleh perawat primer. keluarga. stafmedik dan staf keperawatan akan mengetahui bahwa pasien tertentu akan merupakan tanggung jawab perawat primer tertentu. menggunakan beberapa konsep dan perawatan total pasien.9 3. Ketika perawat primer tidak sedang bertugas. kontak dengan lembaga sosial masyarakat membuat jadual perjanjian klinik. Selama jam kerja. dan lain sebagainya. Seorang perawat primer mempunyai kewenangan untuk melakukan rujukan kepada pekerja sosial. Walaupun perawat primer membuat rencana keperawatan. Metode Primer. maka dituntut akontabilitas yang tinggi terhadap hasil pelayanan yang diberikan. Model primer dikembangkan pada awal tahun 1970-an. dengan perawat kolega yang memberikan perawatan bila perawat primer tidak ada. Metode keperawatan primer mendorong praktek kemandirian perawat. dan anggota tim kesehatan lain. Perawat primer bertanggung jawab untuk membangun komunikasi yang jelas di antara pasien. umpan balik dari orang lain diperlukan untuk pengkoordinasian asuhan keperawatan klien Dalam menetapkan seseorang menjadi perawat primer perlu berhati-hati karena memerlukan beberapa kriteria.

Kepuasan yang dirasakan oleh perawat primer adalah memungkinkan pengembangan diri melalui penerapan ilmu pengetahuan.Membebaskan manajer perawat klinis untuk melakukan peran manajer operasional dan administrasi .Autoritas. tanggung jawab dan tanggung gugat . .Perawat primer berkonsultasi dengan perawat kepala dan penyelia. Karakteristik modalitas keperawatan primer adalah : .Bersifat kontinuitas dan komprehensif sesuai dengan arahan perawat primer dalam memberikan atau mengarahkan perawatan sepanjang hospitalisasi. dari penerimaan sampai pemulangan . Di negara maju pada umumnya perawat yang ditunjuk sebagai perawat primer adalah seorang perawat spesialis klinik yang mempunyai kualifikasi master dalam bidang keperawatan.Kepuasan kerja perawat tinggi karena dapat memberiikan asuhan keperawatan secara holistik.Pelaksanaan rencana asuhan keperawatan didelegasikan oleh perawat primer kepada perawat sekunder selama shift lain.Perawat primer mendapat akontabilitas yang tinggi terhadap hasil dan memungkinkan untuk pengembangan diri. jadi meningkatkan motivasi.10 keperawatan klinik. . . tanggung gugat dan autonomi ada pada perawat primer Kelebihan : . dan menyusun rencana perawatan.Perawat primer melakukan pengkajian kebutuhan asuhan keperawatan.Perawat primer mempunyai tanggung jawab untuk asuhan keperawatan pasien selama 24 jam sehari. . kolaborasi dengan pasien dan professional kesehatan lain.Staf medis juga merasakan kepuasan karena senantiasa informasi tentang kondisi klien selalu mutakhir dan komprehensif serta informasi dapat diperoleh dari satu perawat yang benar-benar mengetahui keadaan kliennya. . akuntabel serta mampu berkolaborasi dengan baik antar berbagai disiplin ilmu.Memberikan peningkatan autonomi pada pihak perawat. . .

.Biaya relatif tinggi dibanding metode penugasan yang lain. Ketenagaan metode primer .11 .Profesi lain lebih menghargai karena dapat berkonsultasi dengan perawat yang mengetahui semua tentang kliennya.Waktu yang digunakan lebih sedikit dalam aktivitas koordinasi dan supervisi dan lebih banyak waktu untuk aktivitas langsung kepada klien.Asuhan keperawatan berfokus pada kebutuhan klien.Rumah sakit tidak harus mempekerjakan terlalu banyak tenaga keperawatan tetapi harus berkualitas tinggi Kelemahan : . . Pasien merasa dimanusiakan karena terpenuhi kebutuhannya secara individu. . .Hanya dapat dilakukan oleh perawat profesional .Tidak semua perawat merasa siap untuk bertindak mandiri.Metode ini mendukung pelayanan profesional.Akontabilitas yang total dapat membuat jenuh.Beban kasus pasien 4-6 orang untuk satu perawat primer . .Perlu tenaga yang cukup banyak dan mempunyai kemampuan dasar yang sama. . .Meningkatnya hubungan antara perawat dan klien.Setiap perawat primer adalah perawat “bedside” . .Perawat ditantang untuk bekerja total sesuai dengan kapasitas mereka.Menjamin kontinuitas asuhan keperawatan. memiliki akontabilitas dan kemampuan untuk mengkaji serta merencanakan asuhan keperawatan untuk klien. . .Penugasan ditentukan oleh kepala bangsal .Perawat primer dibantu oleh perawat professional lain maupun non professional sebagai perawat asisten . .Pasien terlihat lebih menghargai.

1998) Tanggung jawab Kepala Ruang dalam metode primer .Sebagai konsultan dan pengendalian mutu perawat primer .Menyusun jadual dinas dan memberi penugasan pada perawat asisten .Membuat tujuan dan rencana keperawatan .3 : Diagram system asuhan keperawatan primer (Marquis & Huston.Membuat jadual perjanjian klinis .Orientasi dan merencanakan karyawan baru .Merencanakan dan menyelenggarakan pengembangan staff Tanggung jawab perawat primer : .Mengkomunikasikan dan mengkoordinasikan pelayanan yang diberikan oleh disiplin lain maupun perawat lain .Melaksanakan rencana yang telah dibuat selama ia dinas .Mengevaluasi keberhasilan yang dicapai .Mengorganisir pembagian pasien kepada perawat primer .Melakukan rujukan kepada dimasyarakat .Menyipakan penyuluhan untuk pulang . kontak dengan lembaga sosial .Menerima pasien dan mengkaji kebutuhan pasien secara komprehensif .12 Gambar 1.Mengadakan kunjungan rumah pekarya sosial.

Belum dapatnya diidentifikasi perawat penanngung jawab .13 4. Pada ketenagaan terdapat tenaga perawat dengan kemampuan doktor dalam keperawatan klinik yang berfungsi untuk melakukan riset dan membimbing para perawat melakukan riset serta memanfaatkan hasilhasil riset dalam memberikan asuhan keperawatan b. Pada ketenagaan terdapat tenaga perawat dengan kemampuan spesialis keperawatan yang spesifik untuk cabang ilmu tertentu. Menurut Sudarsono (2000). antara lain adalah: a. Model Praktek Keperawatan Profesional II Pada model ini akan mampu memberikan asuhan keperawatan profesional tingkat II. Metode Modifikasi Metode modifikasi adalah penggunaan metode asuhan keperawatan dengan modifikasi antara tim dan primer. Kelebihan : . Metode penugasan kasus biasa diterapkan untuk perawatan khusus seperti isolasi.Sistem evaluasi da Kekurangan : . Metode Kasus Metode kasus adalah metode dimana perawat bertanggung jawab terhadap pasien tertentu yang didasarkan pada rasio satu perawat untuk satu pasien dengan pemberian perawatan konstan untuk periode tertentu. intensive care.Perawat lebih memahami kasus per kasus . Model Praktek Keperawatan Profesional III Melalui pengembangan model PKP III dapat berikan asuhan keperawatan profesional tingkat III.Perlu tenaga yang cukup banyak dan mempunyai kemampuan dasar yang sama 5. perawat kesehatan komunitas. Disamping itu melakukan riset dan memanfaatkan hasil- . Perawat spesialis berfungsi untuk memberikan konsultasi tentang asuhan keperawatan kepada perawat primer pada area spesialisnya. MPKP dikembangkan beberapa jenis sesuai dengan kondisi sumber daya manusia yang ada.

metode pemberian asuhan keperawatan yang digunakan. d. Keperawatan primer tidak digunakan secara murni. . Model Praktek Keperawatan Profesional Pemula Model Praktek Keperawatan Profesional Pemula (MPKP) merupakan tahap awal untuk menuju model PKP. metode pemberian asuhan keperawatan dan dokumentasi asuhan keperawatan Menurut Ratna S. Jumlah perawat spesialis direncanakan satu orang untuk 10 perawat primer (1:10) c. Keperawatan tim tidak digunakan secara murni . Model ini mampu memberikan asuhan keperawatan profesional tingkat pemula. karena tanggung jawab asuhan keperawatan pasien terfragmentasi pada berbagai tim c. Jumlah perawat spesialis direncanakan satu orang untuk 10 perawat primer pada area spesialisnya. Melalui kombinasi kedua model ini diharapkan komunitas asuhan keperawatan dan akountabilitasnya terdapat pada primer. Pada model ini adalah kombinasi metode keperawatan primer dan metode tim disebut tim primer. Model Praktek Keperawatan Profesional I.14 hasil riset dalam memberikan asuhan keperawatan. yaitu : a. bahwa penetapan sistem model MAKP ii diasarkan pada beberapa alasan. Sudarsono (2000). karena perawat primer harus mempunyai latar belakang pendidikan SI keperawatan atau setara b. Disamping itu melakukan riset dan memanfaatkan hasil-hasil riset dalam memberikan asuhan keperawatan. Pada model ini terdapat 3 komponen utama yaitu: ketenagaan keperawatan. Pada model ini perawat mampu memberikan asuhan keperawatan profesional tingkat I dan untuk itu diperlukan penataan 3 komponen utama yaitu: ketenagaan keperawatan.

15 Disamping itu karena saat ini perawat yang ada di rumah sakit sebagaian besar adalah lulusan SPK. maka akan mendapat bimbingan dari perawat primer atau ketua tim tentang asuhan keperawatan. Sistem pemberian asuhan pasien ( patient care delivery system ) Kegiatan yang ditetapkan pada tiap pilar merupakan kegiatan dasar MPKP yang dapat dikembangkan jika tenaga keperawatan yang bekerja berkualitas. Pendekatan Manajemen (Management Approach ) 2. Hubungan Profesional ( professional relationship) 4. Gambar 1. Nilai-nilai profesional dari penatalaksanaan kegiatan keperawatan diaplikasikan dalam bentuk aktifitas pelayanan profesional yang dipaparkan dalam 4 pilar sebagai berikut : 1. Penghargaan karir ( compensatory rewards ) 3.4 Struktur Organisasi Ruangan A .

BL & Huston. Huber. Model Praktek Keperawatan di Rumah Sakit. tidak dipublikasikan. Kelompok Pekerja Keperawatan . Gillies. the Effevtive Nurse Leader and Menager. Aplikasi dalam Praktek Keperawatan Proffesional. . Makalah seminar dan semiloka MPKP II. Konsorsium Ilmu Kesehatan (1995). Leadershi~ and nursing care management Philadelpia: W. Yulia (2006).. Jakarta : tidak dipublikasikan Russel C. Keliat. Jakarta : Salemba Medika Sitorus.. Bogor: tidak dipublikasi Marquis. hal : 2-5 Douglas. B. Model Pemberian Asuhan Keperawatan Makalah. C. LM. (3 rd edition). Cobell. 124 Cases Studies. Konsep Model Praktek Keperawatan. Philadelphia : JB Lippincott Nursalam (2007).S. I. Nursing Management company a Sistem Approach. the CV Mosby. The efficacy of primary Nursing as a Foundation For Patient Advocacy Nursing Practic.. disampaikan pada seminar keperawatan yang diselenggarakan DPD I PPNI. Nursing Leadership and Management. 3 Ed. Philadelphia.A. Saunders Company.. D.M. ( 1992) . D. Makalah : tidak dipublikasikan Manurung. Cj (1998).B.. Jakarta Sudarsono. Pengantar Kepemimpinan dan Manajemen Keperawatan Untuk Perawat Klinis. (2000). Swanburg .(1994).A. (2001). (2000). W. Saunders. Jawa timur di Surabaya. Penerbit Buku Kedokteran. Jakarta : EGC Tappen. R. Manajemen Keperawatan. Philadelpia: F. Pedoman manajemen sumber daya manusia perawat ruang model praktek keperawatan profesional rumah sakit Marzoeki Mahdi Bogor. St. (1984) . (l 995). (1989) . 11 Desember 1999. Berbagai model praktek keperawatan profesional di rumah sakit. Penataan Struktur dan Proses (Sistem) Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat. Concepts and Practice. Model Praktik Keperawatan Profesional di Rumah Sakit. Louis.16 DAFTAR PUSTAKA Achir Yani.B. Second edition. dkk (2000). R. Management Decision Making For Nurses. Davis Company. R.