Visum et repertum disingkat VeR adalah keterangan tertulis yang dibuat oleh dokter dalam ilmu kedokteran forensik

[1] (Lihat: Patologi forensik) atas permintaan penyidik yang berwenang mengenai hasil pemeriksaan medik terhadap manusia, baik hidup atau mati ataupun bagian atau diduga bagian tubuh manusia, berdasarkan keilmuannya dan di bawah sumpah, untuk kepentingan pro yustisia. Visum et repertum kemudian digunakan bukti yang sah secara hukum mengenai keadaan terakhir korban penganiayaan, pemerkosaan, maupun korban yang berakibat kematian dan dinyatakan oleh dokter setelah memeriksa (korban). Khusus untuk perempuan visum et repertum termasuk juga pernyataan oleh dokter apakah seseorang masih perawan atau tidak. A. Untuk orang hidup
  

VeR Biasa, perlukaan (termasuk keracunan) VeR Lanjutan, kejahatan susila VeR Sementara, psikiatrik

B. Untuk Orang Mati

VeR jenazah

Lima bagian tetap VeR
Ada lima bagian tetap dalam laporan Visum et repertum, yaitu:

Pro Justisia. Kata ini diletakkan di bagian atas untuk menjelaskan bahwa visum et repertum dibuat untuk tujuan peradilan. VeR tidak memerlukan materai untuk dapat dijadikan sebagai alat bukti di depan sidang pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum . Pendahuluan. Kata pendahuluan sendiri tidak ditulis dalam VeR, melainkan langsung dituliskan berupa kalimat-kalimat di bawah judul. Bagian ini menerangkan penyidik pemintanya berikut nomor dan tanggal, surat permintaannya, tempat dan waktu pemeriksaan, serta identitas korban yang diperiksa. Pemberitaan. Bagian ini berjudul "Hasil Pemeriksaan", berisi semua keterangan pemeriksaan. Temuan hasil pemeriksaan medik bersifat rahasia dan yang tidak berhubungan dengan perkaranya tidak dituangkan dalam bagian pemberitaan dan dianggap tetap sebagai rahasia kedokteran. Kesimpulan. Bagian ini berjudul "kesimpulan" dan berisi pendapat dokter terhadap hasil pemeriksaan, berisikan: 1. 2. 3. 4. 5. 6. Jenis luka Penyebab luka Sebab kematian Mayat Luka TKP

Dasar hukum Dalam KUHAP pasal 186 dan 187.7. Psikiatrik  Penutup. biasanya korban akan mengalami depresi atau tekanan jiwa. Visum et repertum jenazah irwansyah Visum et repertum psikiatrik . Barang bukti 9. Kedua pasal tersebut termasuk dalam alat bukti yang sah sesuai dengan ketentuan dalam KUHAP. Bagian ini tidak berjudul dan berisikan kalimat baku "Demikianlah visum et repertum ini saya buat dengan sesungguhnya berdasarkan keilmuan saya dan dengan mengingat sumpah sesuai dengan kitab undang-undang hukum acara pidana/KUHAP". Visum et repertum pada perlukaan Visum et Repertum pada perlukaan Derajat luka luka derajat satu: yang tidak menyebabkan gangguan pada pekerjaan luka derajat dua: yang menyebabkan gangguan sementara pada pekerjaan luka derajat tiga: sesuai definisi luka berat pada KUHP Visum et repertum pada korban kejahatan susila terdapat beberapa luka pada bagian tertentu. Penggalian jenazah 8. (adopsi: Ordonansi tahun 1937 nomor 350 pasal 1)   Pasal 186: Keterangan ahli adalah apa yang seorang ahli nyatakan di sidang pengadilan. Pasal 187(c): Surat keterangan dari seorang ahli yang dimuat pendapat berdasarkan keahliannya mengenai sesuatu hal atau sesuatu keadaan yang diminta secara resmi daripadanya. dan terdapat beberapa ciri khusus dalam bagianbagian tertentu korban.

Kekerasan psikis. diakibatkan oleh apa. Di RSU Dr M Djamil Padang. Pengaduan dan visum terhadap KDRT berupa kekerasan fisik memang sebaiknya dilakukan sesegera mungkin. Ahli ini bisa kembali dihadirkan di persidangan guna mengungkap kebenaran materil menyangkut kekerasan psikis tersebut. jangan ragu untuk menanyakan (sebaiknya tertulis) kepada aparat atau pimpinan tempat pengaduan diajukan. Dokterlah yang memiliki legitimasi yuridis dan keilmuan untuk mengeluarkan visum demikian.http://id. dan/atau penderitaan psikis berat pada seseorang—juga sebaiknya ditindaklanjuti oleh penegak hukum. Bila dalam jangka waktu tertentu belum ada tindak lanjut terhadap pengaduan tersebut. jaksa dan hakim tidak memiliki legitimasi yuridis dan keilmuan untuk menentukan secara persis mengenai bentuk dan penyebab kekerasan fisik demikian. Ini memang problem lapangan. penelantaran ekonomi keluarga dan kekerasan seksual adalah juga tergolong KDRT sebagaimana ditentukan UU No 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Perlihatkan bukti pengaduan. Terhadap pengaduan kekerasan psikis—berupa perbuatan yang mengakibatkan ketakutan. Masing-masing kejahatan KDRT tersebut diancam pidana maksimal 5 tahun penjara (kekerasan fisik). Penting untuk terus memantau pengaduan yang sudah dilakukan. yang untuk itu terlebih dahulu ybs harus divisum. Sekali lagi perlu ditegaskan. apakah setiap laporan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) harus divisum dulu sebelum diproses lebih lanjut oleh aparat kepolisian? Yang bersangkutan mengadukan KDRT yang dilakukan suaminya. visum terhadap KDRT tidak dikenai biaya apapun alias gratis. tidak dijadikan perhatian oleh aparat. misalnya. Polisi. jadi perihal suratnya tidak hanya berbunyi ‘permintaan visum et repertum’ seperti permintaan visum dalam tindak pidana penganiyaan biasa (tindak pidana umum). Visum ini berguna sebagai salah satu alat bukti otentik bahwa telah terjadi kekerasan fisik. seketika setelah KDRT terjadi. akan tetapi hanya kekerasan fisik berupa penganiyaan saja yang ditanya dan diselidiki oleh petugas piket. dan 15 tahun penjara (kekerasan seksual) atau (alternatif) pidana denda. Syaratnya. dan ukuran lukanya. Hal ini agar tanda-tanda fisik bekas penganiayaan tidak keburu hilang. Sedangkan pengaduan menyangkut tekanan psikis (batin) yang dilakukan suami. bahwa KDRT bukan hanya kekerasan fisik. rasa tidak berdaya.org/wiki/Visum_et_repertum Ada yang bertanya pada saya. Terhadap kekerasan fisik akan dilakukan visum et repertum. Untuk menambah alat bukti dan memperkuat penyidikan penegak hukum dapat meminta ahli (psikiater/psikolog) untuk dimintai pendapatnya mengenai kekerasan psikis ini. dan juga suami yang tidak memberi nafkah lahir. . hilangnya kemampuan untuk bertindak.wikipedia. hilangnya rasa percaya diri. maksimal 3 tahun tahun penjara (kekerasan psikis dan penelantaran ekonomi). permintaan visum secara tertulis yang diajukan kepolisian harus mencantumkan perihal ‘permintaan visum et repertum KDRT’ dalam rangkap tiga.

TATA CARA PERMINTAAN VISUM et REPERTUM Seperti tercantum dalam KUHAP pasal 133 ayat 1. b. Dengan berlakunya KUHAP maka Lembaran Negara tahun 1937 Nomor 350 ini seharusnya dicabut. 2. Namun karena isi Lembaran Negara tersebut tidak bertentangan dengan KUHAP sedang istilah Visum et Repertum tidak ditemukan dalam KUHAP. maupun atas sumpah khusus seperti tercantum dalam pasal 2. mempunyai daya bukti yang syah dalam perkara pidana selama visa et Reperta tersebut berisi keterangan mengenai hal hal yang diamati oleh Dokter itu pada benda-benda yang diperiksa.Kadang kala masyarakat pencari keadilan harus terlihat ‘rewel’ agar pengaduannya cepat ditindaklanjuti. disarankan kepada Kepolisian dalam semua tingkatan memiliki bagian khusus yang menerima laporan KDRT. Mengingat KDRT memiliki kharakteristik dan hambatan psikologis tersendiri bagi pelapor yang umumnya wanita yang dihadapkan kepada petugas piket yang kebanyakan adalah lelaki http://hukum. tidak hanya di Polresta. Dokter ahli Kedokteran Kehakiman atau Dokter dan atau Dokter lainnya. adapun tata cara permintaannya sabagai berikut : a.UM.06 tahun 1983 pasal 10 menyatakan bahwa hasil pemeriksaan Ilmu Kedokteran Kehakiman disebut Visum et Repertum.Oleh karena itu keterangan ahli/keterangan hasil pemeriksaan Ilmu Kedokteran Kehakiman seperti dimaksud KUHAP tidak lain adalah Visum et Repertum. dimana dalam hal penyidik atau kepentingan peradilan menangani seorang korban baik luka. Keterangan ahli merupakan keterangan yang diberikan oleh Ahli Kedokteran Kehakiman atau Dokter bukan Ahli Kedokteran Kehakiman. Istilah Visum et Repertum ini dapat ditemukan dalam lembaran Negara tahun 1937 Nomor : 350 Pasal I yang terjemahannya : Visa et Reperta pada Dokter yang dibuat baik atas sumpah Dokter yang diucapkan pada waktu menyelesaikan pelajarannya di Negeri Belanda atau Indonesia. Karena itu.com/2012/06/26/pengaduan-dan-visum-kdrt/ KETENTUAN VISUM KETERANGAN AHLI / KETERANGAN VISUM ET REPERTUM 1. PENDAHULUAN. keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan tindak pidana.01. harus diajukan secara tertulis dengan menggunakan formulir sesuai dengan kasusnya dan ditanda tangani oleh penyidik yang berwenang. tentang pelaksanaan KUHAP pasal 2 yang berbunyi : 1) .kompasiana. Surat permintaan Visum et Repertum kepada Dokter. Syarat kepangkatan Penyidik seperti ditentukan oleh Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 27 tahun 1983. tentang seorang korban baik luka. ia berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli Kedokteran Kehakiman atau Dokter dan atau Dokter lainnya. yang diduga karena peristiwa tindak pidana. keracunan ataupun mati. Keterangan ini dibuat dalam bentuk tulisan yang dahulu dikenal sebagai Visum et Repertum. 04. maka Menteri Kehakiman dalam peraturan Nomor : M.

korban menjadi sembuh atau meninggal dunia. di lak dengan diberi cap jabatan . keracunan. permintaan Visum et Repertum lanjutan perlu dimintakan lagi. Bila korban sembuh Visum et Repertum definitif perlu diminta lagi karena Visum et Repertum ini akan memberikan kesimpulan tentang hasil akhir keadaan korban. Kemungkinan yang lain adalah korban meninggal dunia. karena data-data itu dapat membantu Dokter mengarahkan pemeriksaan mayat yang sedang diperiksa. Khusus bagi korban kecelakaan lalu lintas. Contoh : .2) 3) Penyidik adalah Pejabat Polri yang sekurang-kurang berpangkat Pelda Polis Penyidik Pembantu adalah Pejabat Polri yang sekurang-kurangnya berpangkat Serda Polisi Kapolsek yang berpangkat Bintara dibawah Pelda Polisi karena Jabatannya adalah Penyidik Catatan : Kapolsek yang dijabat oleh Bintara berpangkat Serda Polisi. Visum et Repertum ini akan berguna bagi santunan kecelakaan. diletakkan pada ibu jari atau bagian lain badan mayat. Bila korban memerlukan / meminta pindah perawatan ke Rumah Sakit lain. Dalam hal korban luka. Mayat selanjutnya dikirim ke Rumah Sakit (Kamar Jenazah) bersama surat permintaan Visum et Repertum yang dibawa oleh petugas Penyidik yang melakukan pemeriksaan TKP. luka akibat kejahatan kesusilaan menjadi sakit. 2) Korban Hidup. Dalam hal korban mati jenis Visum et Repertum yang diminta merupakan Visum et Repertum Jenazah. agar diisi selengkapnya. untuk itu permintaan Visum et Repertum Jenazah diperlukan guna mengetahui secara pasti apakah luka paksa yang terjadi pada korban merupakan penyebab kematian langsung atau adakah penyebab kematian lainnya. kelangkapan data-data jalannya peristiwa dan data lain yang tercantum dalam formulir. Dalam perawatan ini dapat terjadi dua kemungkinan. Petugas penyidik selanjutnya memberi informasi yang diperlukan Dokter dan mengikuti pemeriksaan badan mayat untuk memperoleh barang-barang bukti lain yang ada pada korban serta keterangan segera tentang sebab dan cara kematiannya. memerlukan perawatan/berobat jalan. Untuk keperluan ini penyidik harus memperlakukan mayat dengan penuh penghormatan. sesuai dengan ketentuan Peraturan Pemerintah No 27 tahun 1983 Pasal 2 ayat (2). penyidik perlu memintakan Visum et Repertum sementara tentang keadaan korban. maka Kapolsek yang berpangkat Serda tersebut karena Jabatannya adalah Penyidik. Dalam surat permintaan Visum et Repertum. menaruh label yang memuat identitas mayat. d. Barang bukti yang dimintakan Visum et Repertum dapat merupakan : 1) Korban Mati. Penilaian keadaan korban ini dapat digunakan untuk mempertimbangkan perlu atau tidaknya tersangka ditahan. c.

cantumkan keterangan tentang tanda-tanda atau gejala-gejala keracunan (dari saksi serta perkiraan racun yang dipergunakan. keadaan korban di TKP hal-hal lain yang diperlukan. Sebaiknya petugas penyidik dapat segera memperoleh informasi yang perlu tentang korban seperti : .) Bersama dengan korban perlu dikirim sisa-sisa makanan/racun yang dicurigai sebagai penyebab 4) Pada kasus diduga bunuh diri data-data tentang alat ataupun racun yang dipergunakan korban agar diisi slengkapnya.1) Pada kecelakaan lalu lintas perlu dicantumkan apakah korban pejalan kaki/pengemudi/penumpang dan jenis kendaraan yang menabrak. 2) Dalam kasus pembunuhan jangan hanya diisi. sebutkan keterangan tentang jenis senjata yang diduga dipergunakan pelaku. baru dimintakan ke Dokter swasta 4) Korban. agar memudahkan Dokter mencari sebab dan cara kematian korban. sehingga dapat diperiksa apakah senjata / alat yang ditemukan sesuai dengan luka-luka yang terdapat pada tubuh korban. Sebaiknya petugas yang meminta Visum / petugas penyidik hadir ditempat otopsi dilakukan untuk dapat memberikan informasi kepada Dokter yang membedah mayat tentang situasi TKP. korban diduga meninggal karena pembunuhan atau penganiayaan saja. Bila hal ini tidak memungkinkan. sertakan salinan rekaman medis pada waktu perawatan e. Dalam pelaksanaannya maka sebaiknya : 1) Prioritas Dokter Pemerintah. Catatan : Dokter ahli Kedokteran Kehakiman biasanya hanya ada di Ibu Kota Propinsi yang terdapat Fakultas Kedokteran nya Ditempat-tempat dimana tidak ada Dokter ahli Kedokteran Kehakiman maka biasanya surat permintaan Visum et Repertum ini ditujukan kepada Dokter. Permintaan Visum et Repertum ini diajukan kepada Dokter ahli Kedokteran Kehakiman atau Dokter dan atau ahli lainnya. Sebaiknya jenis senjata yang diduga dipergunakan pelaku diikut sertakan sebagai barang bukti. permintaan ditujukan kepada Dokter pemerintah di Puskesmas atau Dokter ABRI/ khususnya Dokter Polri. barang-barang bukti relevan yang ditemukan. Gambaran luka-luka dan tempat luka pada tubuh dapat menggambarkan bagaimana posisi korban pada waktu terjadi kecelakaan. Apabila korban dirawat. permintaan ditujukan kepada bagian yang sesuai yaitu : Untuk korban hidup : a) Terluka dan kecelakaan lalu lintas : kebagian bedah b) Kejahatan susila / perkosaan : ke bagian kebidanan Untuk korban mati : bagian Kedokteran Kehakiman 3) Ditempat yang tidak memiliki fasilitas tersebut. 2) Ditempat yang ada fasilitas rumah sakit umum / Fakultas Kedokteran. ditempat dinasnya (bukan tempat praktek partikelir). senjata tajam. baik hidup ataupun mati harus diantar sendiri oleh petugas Polri. senjata api. disertai surat permintaannya f. racun. g. 3) Pada kasus keracunan atau yang diduga mati karena keracunan.

b. maka pelaksanaan pencabutan harus diajukan tertulis secara resmi dengan menggunakan formulir pencabutan dan ditanda tangani oleh Pejabat. Bila timbul keberatan dari pihak keluarga. serta terlebih dahulu membahasnya secara mendalam. 10) Apakah korban minum obat-obatan atau minuman keras sebelum meninggal. namun kadang kala dijumpai hambatan dari keluarga korban yang keberatan untuk dilaksanakan beda mayat dengan alasan larangan Agama.1) Berapa lama korban hidup setelah terjadi serangan yang fatal. 4) Dengan pencabutan permintaan Visum et Repertum maka penyidik harus menyadari sepenuhnya bahwa tidak ada sesuatu yang jelas dapat diharapkan lagi sebagai keterangan dari barang bukti berupa manusia sebagai corpus delicti yang berkaian erat dengan masalah penyidikan yang sedang ditangani. dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya sembilan bulan atau denda paling banyak tiga ratus rupiah. 2) Sejauh mana korban masih dapat berlari / jalan. 3. Untuk kepentingan penguasa / pemerintah setempat misalnya pemindahan tempat pemakaman sehubungan dengan pembangunan ditempat tersebut untuk keperluan/ pengembangan kota. maka penyidik wajib menerangkan sejelas-jelasnya tentang maksud dan tujuan bedah jenazah tersebut. 3) Bilamana permintaan Visum et Repertum terpaksa harus dibatalkan. sesuai dengan ketentuan KUHAP Pasal 134 ayat 2. Pencabutan permintaan Visum et Repertum pada prinsipnya tidak dibenarkan. 3) Apakah korban dipindah 4) Senjata/alat jenis apa yang melukai korban 5) Apakah jenis alat/ senjata yang ditemukan di TKP sesuai dengan bentuk luka yang ada pada tubuh korban 6) Bagaimana caranya alat /senjata tersebut mengenai tubuh korban 7) Apakah ada tanda-tanda perlawanan. PEMBONGKARAN KUBURAN Pembokaran kuburan kadang-kadang diperlukan untuk tujuan tertentu sesuai dengan kepentingannya : 1. TATA CARA PENCABUTAN VISUM et REPERTUM a. adat dan lain-lain. Disamping itu perlu pula dijelaskan bahwa bedah mayat Forensik : 1) Menurut Agama Islam hukumnya ?Mubah? Fatwa Majelis Kesehatan dan Syurat Nomor 4 / 1955. 8) Apakah luka-luka yang ada pada tubuh korban terjadi sebelum atau sesudah kematian. 2) Bila keluarga tetap menghalangi bedah mayat penyidik dapat memberi penjelasan tentang ketentuan KUHP Pasal 2 yang tertulis : ?Barang siapa dengan sengaja mencegah menghalangi atau menggagalkan pemeriksaan mayat untuk pengadilan. 1. Untuk kepentingan peradilan (forensik) 2. petugas yang berwenang dimana pangkatnya satu tingkat diatas peminta. Penggalian / pembongkaran kuburan untuk Peradilan Untuk kepentingan penyidikan Kepolisian kadang-kadang suatu kuburan perlu digali kembali untuk memeriksa dan membuat Visum et Repertum dari jenazah yang berapa waktu yang lalu . 9) Kapan kira-kira korban meninggal.

b. Pedoman Bila mayat baru beberapa hari di kuburkan maka penggalian kuburan harus segera dilakukan. karena diduga kematian tersebut tidak wajar dan menimbulkan kecurigaan. berapa tingginya dan bagaimana bentuknya. 9) Jam berapa peti mayat/papan penutup diangkat. 10) Bagaiamana keadaan jenazah. 11) Saat Dokter mulai mengadakan pemeriksaan (otopsi) sampai selesai. 3) Identitas. tidak boleh ditunda-tunda. tanggal kematian dan sebagainya. d. Surat pernyataan dari keluarga. Hal ini terjadi atas dasar laporan / pengaduan masyarakat agar Polisi dapat melakukan penyidikan atas kematian orang yang dikuburkan tadi. Dokter Polri / Dokter setempat untuk pemeriksaan mayat Cq. juru kubur. misalnya nisan dibuat dari apa. penggalian kuburan. pasir. 6) Misalnya jam 09. Contoh : 1) Jam berapa dimulai pemeriksaan kuburan (dari luar) 2) Tanda-tanda yang ada dicatat. g. Atau suatu kematian yang pada waktu itu dianggap / dibuat seolah-olah kematian wajar sehingga pada waktu itu tidak dimintakan Visum et Repertum ternyata beberapa waktu kemudian diketahui bahwa kematian itu tidak wajar. Untuk pelaksanaan pembongkaran kuburan perlu persiapan-persiapan dan syarat kelengkapan serta sarana-sarana tertentu serta pengadaan sarana untuk pelaksanan penggalian. jenazah diangkat dari liang lahat. 8) Pada jam berapa mencapai papan penutup liang lahat / peti mati mayat dan sebagainya dan pada kedalaman berapa meter jangan lupa selalu dibuat fotonya. posisi mayat keadaan kain kafan dan lain-lain. petugas pemerintah setempat / saksi-saksi lain yang menyatakan bahwa kuburan tersebut memang kuburan dari orang yang meninggal yang dimaksudkan. Tetapi bila telah beberapa bulan dikuburkan maka penundaan beberapa hari tidak menjadi masalah yang penting segala persiapan harus rapi dan lengkap. e. Kadang-kadang korban suatu pembunuhan atau tindak kejahatan lain dimana korban ditanam / dikubur disuatu tempat. Berita acara pemakaman kembali.telah dikubur. Berita acara pembongkaran kuburan harus dibuat secara kronologis serta sesuai metode kriminalistik yang membuat semua kejadian-kejadian sejak pertama kali kuburan itu dibongkar. komposisi tanah. f. atau bila tidak ada peti. Surat permintaan Visum et Repertum kepada Dokter pemerintah. 2.30 mencapai kedalaman 1 meter. Berita acara penyerahan kembali kuburan kepada keluarga. Adapun persiapan-persiapan yang perlu adalah sebagai berikut : a. 5) Setiap mencapai kedalaman tertentu harus dicatat diukur dengan mistar dan difoto. mendung. 7) Keadaan tanah. 4) Keadaan cuaca. tanah liat warna merah/coklat dan sebagainya. c. Surat penyitaan dari kuburan yang akan digali sebagai barang bukti yang dikuasai oleh penyidik (Kepolisian) untuk sementara. Surat persetujuan dari keluarga yang meninggal yang menyatakan tidak berkeberatan bahwa makam / kuburan tersebut dibongkar. nama. . panas dan sebagainya.

atau yang menimbulkan bahaya mati. 6) Terganggunya daya pikir selama empat minggu lebih. 5) Untuk mengukur dapat disediakan mistar kayu 1 mater atau meteran dari pita logam . PASAL KUHP YANG BERKAITAN DENGAN VISUM et REPERTUM Pasal 90 KUHP f. . Luka berat berarti : 1) Jatuh sakit atau mendapat luka yang tidak memberi harapan akan sembuh sama sekali. Mungkin masih diperlukan peran serta Polri dari segi pengamanan pelaksanaan sehingga hanya untuk mencegah seandainya terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Jangan sampai lupa menyediakan meja untuk otopsi. Penggalian kuburan non forensik / bukan untuk pengadilan a) Biasanya dilakukan untuk keperluan-keperluan kota.h. Tidak diperkenankan wartawan / wartawan foto berada dilokasi penggalian. (2) Jika perbuatan mengakibatkan luka-luka berat yang bersalah diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun. Untuk pelaksanaan biasanya ada petunjuk pelaksanaan yang diatur oleh pemerintah setempat bekerja sama dengan keluarga. 1) Sebelum penggalian. Untuk tujuan ini sudah ada tata cara tertentu dan biasanya tidak menjadi urusan Kepolisian. 5) Menderita sakit lumpuh. 4) Mendapat cacat berat. disegel dan sebagainya sebelum dikirim ke Rumah Sakit dan harus disertai dengan Berita Acara dan sebagainya. 2) Tidak mampu untuk terus menerus untuk menjalankan tugas jabatan atau pekerjaan pencarian. 3) Kehilangan salah satu panca indera. sekitar kuburan harus ditutup dengan tabir (dari bahan apa saja ) asalkan dapat menutupi kuburan sehingga tidak menjadi tontonan umum. 2) Apabila otopsi akan dikerjakan dikuburan maka selain tabir perlu penutup untuk Dokter dan petugas lain yang melakukan pemeriksaan mayat. Peralatan dan sarana lain yang diperlukan. 6) Peralatan fotografi dilengkapi flash unit dengan film hitam putih oleh petugas Polri sendiri. Pasal 351 KUHP (1) Penganiayaan diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah. 3) Air sangat perlu disediakan untuk keperluan Dokter selama otopsi. Oleh karena itu sifatnya lebih sederhana dan tidak perlu ikut sertanya Polri dalam pelaksanaan tersebut. 2.2 -5 meter. pembangunan gedung-gedung dan sebagainya atas perintah dari penguasa pemerintah setempat. b) Kadang-kadang atas kemauan keluarga sendiri untuk menindahkan kuburan seseorang ke kuburan lain atau ke kota lain. 4) Seandainya otopsi akan dilakukan di Rumah Sakit maka mayat / peti mayat sebagai barang bukti harus dibungkus. diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun. (3) Jika mengakibatkan mati. 7) Gugur atau matinya kandungan seorang perempuan.

(2) Jika perbuatan itu mengakibatkan kematian yang bersalah diancam dengan pidana penjara paling lama sepuluh tahun. diancam karena membunuh anak sendiri. Pasal 352 KUHP Kecuali yang tersebut dalam pasal 353 dan 356. Pasal 353 KUHP (1) Penganiayaan dengan rencana lebih dahulu. diancam karena akan pembunuhan anak sendiri dengan rencana. sebagai penganiayaan ringan dengan pidana penjara paling lama tiga bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah. . diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun. Pasal 285 KUHP Barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa bersetubuh dengan dia di luar perkawinan. Pasal 354 KUHP (1) Barang siapa melakukan penganiayaan kepada orang dengan pidana penjara paling lama delapan tahun. (1) Jika perbuatan itu mengakibatkan luka-luka berat.(4) Dengan penganiayaan dimaksud sengaja merusak kesehatan. atau menjadi bawahannya. dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun. yang berarti dekenakan pidana penjara pailing lama tujuh tahun. dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun. (3) Jika perbuatan itu mengakibatkan kematian. dengan sengaja mematikan anaknya. Pasal 286 KUHP Barang siapa bersetubuh dengan seorang wanita diluar perkawinan hal itu diketahui bahwa wanita itu dalam keadaan pingsan atau tidak berdaya. Pasal 341 KUHP Seorang ibu yang karena takut akan ketahuan melahirkan anak. (2) Percobaan untuk melakukan kejahatan ini tidak dipidana. maka penganiayaan yang tidak menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau pencarian. pada saat anak dilahirkan atau tidak lama kemudian merampas nyawa anaknya. dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun. diancam. Pasal 342 KUHP Seorang ibu yang untuk melaksanakan niat yang ditentukan karena akan ketahuan bahwa ia akan melahirkan anak. diancam karena memperkosa. Pasal 89 KUHP Membuat orang pingsan atau tidak berdaya disamakan dengan menggunakan kekerasan. (5) Percobaan untuk melakukan kejahatan ini tidak dipidana. yang bersalah diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun. Pidana dapat ditambah sepertiga bagi orang yang melakukan kejahatan atau terhadap orang yang bekerja padanya. diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun. pada anak yang dilahirkan atau tidak lama kemudian.

bahwa belum waktunya untuk dikawin. karena melakukan perbuatan yang menyerang kehormatan kesusilaan dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun. Jakarta. apabila perbuatan mengakibatkan luka-luka diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun. maka hakim dapat memerintahkan supaya orang itu dimasukkan ke rumah sakit jiwa. (2) Jika ternyata perbuatan itu tidak dapat dipertanggungkan kepada pelakunya karena pertumbuhan jiwanya cacat atau terganggu karena penyakit. Pasal 222 KHUP Barang siapa dengan sengaja mencegah. diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun. (3) Jika mengakibatkan mati. (2) Penuntutan hanya dilakukan atas pengaduan. SH KOLONEL POLISI NRP. atau kalau umurnya tidak jelas. diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah. Pasal 44 KHUP (1) Barang siapa melakukan perbuatan yang tidak dapat dipertanggungkan kepadanya karena jiwanya cacat dalam pertumbuhan atau terganggu karena penyakit. paling lama satu tahun sebagai waktu percobaan. dijatuhkan pidana penjara paling lama dua belas ahun.html .blogspot. dan Pengadilan Negeri.Pasal 287 KUHP (1) Barang siapa bersetubuh dengan seorang wanita diluar perkawinan padahal diketahuinya atau sepatutnya harus diduganya bahwa belum lima belas tahun. Pasal 289 KUHP Barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul. Mei 2000 PENYUSUN Drs. dijatuhkan penjara paling lama delapan tahun. menghalang-halangi atau menggagalkan pemeriksaan mayat forensik. MULYO HADI. Pasal 288 KUHP (1) Barang siapa dalam perkawinan bersetubuh dengan seorang yang diketahuinya atau sepatutnya harus diduganya bahwa yang bersangkutan belum waktunya untuk dikawin. 47050178 http://aldiavanza. (2) Jika perbuatan mengakibatkan luka-luka berat.com/2010/04/ketentuan-visum. tidak dipidana. kecuali jika wanita belum sampai dua belas tahun atau jika ada salah satu berdasarkan pasal 291 dan pasal 294. (3) Ketentuan dalam ayat 2 hanya berlaku bagi Mahkamah Agung pengadilan Tinggi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful