P. 1
Pembaharuan Sistem Pendidikan Islam Di Indonesia

Pembaharuan Sistem Pendidikan Islam Di Indonesia

|Views: 105|Likes:
Published by Ochim Spdi
STAIN
STAIN

More info:

Published by: Ochim Spdi on Jun 14, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/11/2013

pdf

text

original

PEMBAHARUAN SISTEM PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA (Menggagas Format Pendidikan Islam Ideal di Tengah Arus Perubahan) Oleh: Ali

Murtadlo MS.

A. Pendahuluan. Menggagas soal pendidikan, pada dasarnya adalah menggagas soal kebudayaan dan peradaban manusia. Bahkan secara spesifik, gagasan-gagasan tentang dari, oleh, dan untuk pendidikan itu akan merambah masuk secara dinamis kepada wilayah pembentukan peradaban manusia di masa depan. Hal ini lebih disebabkan karena pendidikan merupakan upaya umat manusia untuk merekonstruksi pengalaman-pengalaman peradabannya di masa lalu secara berkelanjutan guna memenuhi tugas kehidupannya dalam meraihkebudayaandanperadabanmasadepanyanglebihbaik. Dengankatalainpendidikanmerupakansebuahsistemdancarameningkatkankualitashidup manusia dalam segala aspek kehidupannya.

Dalam sejarah umat manusia, sekalipun dalam masyarakat yang masih terbelakang (primitif), hampir tidak ada kelompok manusia yang tidak menggunakan pendidikan sebagai alat pembudayaan dan peningkatan kualitasnya. Pendidikan dijadikan sebagai usaha sadar yang dibutuhkan untuk menyiapkan anak manusia demi menunjang perannya dalam dinamika perubahan kebudayaan masyarakat di masa datang. Karena itu, upaya pendidikan yang dilakukan oleh suatu bangsa tentu memiliki hubungan yang sangat signifikan dengan blue print peradaban bangsa itu di masa mendatang. Upaya ini menunjukkan bahwa pendidikan merupakan salah satu kebutuhan asasi manusia. Lebih jauh dari itu, M. Natsir pernah menegaskan bahwa pendidikan merupakan salah satu faktor yang ikut menentukan maju mundurnya kehidupan masyarakat tersebut.[1] 1Pernyataan M. Natsir ini menunjukkan bahwa pendidikan memegang peran yang sangat vital dalam bagi menentukan maju mundurnya kehidupan manusia. Pendidikan menjadi pemicu masyarakat untuk meningkatkan kualitasnya dalam segala aspek kehidupan demi mencapai kemajuan, dan untuk menjunjung perannya di masa datang. Hal ini terbukti dalam kehidupan sekarang pendidikan tampil dengan daya pengaruh yang sangat besar dan menjadi
1

Rangkaian persoalan itu tidak dapat dipisahkan. Dalam konteks inilah akan dijumpai betapa pendidikan Islam—yang dari segi kuantitas menunjukkan perkembangan yang dinamis mulai dari taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi—menghadapi berbagai persoalan.variabel pokok masa depan manusia. pendidikan yang kurang memberikan janji masa depan tidak akan mengundang minat atau antusiasme masyarakat. maka pendidikan yang akan dipilihnya adalah pendidikan yang dapat memberikan kemampuan secara teknologis fungsional. Yang pertama berkaitan dengan perubahan yang berhubungan dengan ide-ide dan nilai-nilai yang dianut oleh kelompok masyarakat. Selain itu pendidikan 2 . organisasi. Sebaliknya. susunan dan stratifikasi kemasyarakatan serta lembaga kemasyarakatan. Perubahan peradaban dan kebudayaan masyarakat. pada akhirnya kita mempertanyakan posisi dan peran pendidikan Islam di Indonesia. nilai-nilai. dewasa ini. Sesuai dengan ciri masyarakat seperti ini. berjalan secara cepat dan berkelindan. dan terbuka. kemampuan secara etik dan moral yang dapat dikembangkan melalui agama.[2]2 Dalam kajian teoritik seringkali diperdebatkan. Dinamika Masyarakat: Pergeseran Pandangan terhadap Pendidikan Secara umum. Karena itu. apakah perubahan atau dinamika dalam masyarakat merupakan perubahan budaya (cultural change) atau perubahan sosial (social change). Dan yang lebih penting lagi. langkah penyelesaiannya harus bersifat menyeluruh dan tidak bisa dengan cara parsial atau kasuistik. Sedangkan yang kedua berkaitan dengan perubahan di bidang pola hubungan dalam masyarakat dan perkembangan kelembagaannya. Dari semua itu. individual. B. Kedua perubahan itu mempunyai hubungan timbal balik. Tidak saja pada persoalan tataran normatiffilosofis. Dipandang dari perspektif fungsional—suatu teori yang berpandangan bahwa masyarakat merupakan kesatuan sistem yang saling tergantung dan berhubungan—pendidikan dituntut melakukan penyesuaian terus-menerus dengan perkembangan masyarakat. perubahan dipahami sebagai terjadinya perubahan di semua sektor kehidupan masyarakat. Perubahan dapat terjadi di bidang norma-norma. tetapi juga menyangkut orientasi kultural di masa depan. informatif. Pendidikan yang akan dipilih masyarakat sudah barang tentu yang dapat mengembangkan kualitas dirinya sesuai dengan perkembangan perubahan itu. Perubahan ini tentu saja akan mempengaruhi pilihan masyarakat terhadap pendidikan sebagai agent of change. karena terdapat kaitan yang bersifat causal relationship. pola-pola perilaku.

Karenanya. Kini. proses perkembangan ilmu pengetahuan yang membentuk kebudayaan umat manusia di suatu bangsa. Karena itu. tetapi sudah berlaku secara universal dalam masyarakat. dinamika dan perkembangan kehidupan umat manusia yang dahsyat sekarang ini. jika pendidikan kita masih saja terus menerus jalan di tempat dan tidak mengikuti dinamika dan perkembangan kehidupan manusia. Di sinilah dituntut kemampuan proyektif dari pendidikan dalam menangkap kecenderungan yang akan terjadi di masa depan. wajar saja apabila saat ini masyarakat sudah mulai selektif dalam memilih lembaga pendidikan dari tingkat taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi. secara ontologis.juga harus memainkan peran yang terarah sejalan dengan karakteristiknya selaku institusi teleologis. berapa besar investasi serta keuntungan atau efektivitas yang akan diperolehnya. baik modal maupun manusia (human and capital investmen) untuk membantu meningkatkan keterampilan dan pengetahuan sekaligus mempunyai kemampuan produktif di masa depan yang diukur dari tingkat penghasilan yang diperolehnya. 3 4 5 . Di sisi lain pendidikan dipandang sebagai bentuk investasi. Pertimbangan demikian tampaknya tidak hanya berlaku dalam kebijakan ekonomi makro suatu negara.[3]3 Berkaitan dengan kemampuan proyektif ini. perubahan yang terjadi di dalam masyarakat dalam bidang yang lain mempengaruhi pula pandangan dan pilihan masyarakat terhadap pendidikan. maka tidak mustahil jika citra kebudayaan bangsa tetap akan memegang predikat tertinggal. Menurut Musya Asy‟ari. kebudayaan ada karena adanya manusia. tetapi juga dipandang sebagai pembentuk citra kebudayaan bangsa untuk waktu yang akan datang. terjadi karena adanya pergerakan dinamis pengetahuan manusia. masyarakat melihat pendidikan tidak lagi dipandang hanya sebagai bentuk pemenuhan kebutuhan terhadap perolehan pengetahuan dan keterampilan dalam konteks waktu sekarang. yang sering ditangkap dengan jelas dalam masyarakat akhir-akhir ini adalah adanya pergeseran pandangan terhadap pendidikan seiring dengan tuntutan masyarakat (social demand) yang berkembang dalam skala yang lebih makro. Perubahan demikian merupakan akibat dari rangkaian perubahan yang terjadi dalam skala makro. tidak mengherankan apabila pendidikan selalu dipertimbangkan nilai imbalannya (rate of return).[4]4 Ini menunjukkan bahwa pendidikan menjadi generator penggerak dan pembentuk kebudayaan. Artinya. Yakni. Harus disadari.[5]5 Karena itu. Inilah yang disebut masyarakat sebagai kesatuan sistem.

yakni perubahan dari hubungan yang mempribadi dan emosional ke hubungna yang tidak mempribadi dan berjarak. perilaku. Kondisi Pendidikan di Indonesia di Tengah Arus Perubahan Mencermati kondisi pendidikan di Indonesia dewasa ini. sebagaimana dikatakan oleh Parson.[6]6 Terjadinya revolusi ini secara sistematis berpengaruh terhadap ide. Keberadaan seseorang sangat ditentukan sejauh mana ia fungsional bagi orang lain. yaitu makin dominannya pertimbangan efisiensi dan produktivitas. Kedua. tujuan pembaruan itu pada akhirnya adalah sebatas “untuk menjaga agar produk pendidikan kita tetap relevan dengan kebutuhan dunia kerja atau persyaratan bagi pendidikan lanjut pada jenjang pendidikan berikutnya. masyarakat padat informasi. Karena itu kemampuan seseorang secara individual sangat dibutuhkan. pendidikan dan media masa. yakni masyarakat yang sepenuhnya berjalan dan diatur oleh sistem yang terbuka (open system). Dalam masyarakat seperti ini hubungan sosial hanya dilihat dari sudut kegunaan dan kepentingan semata. C. Masyarakat tekonologis ditandai dengan adanya pembakuan kerja dan perubahan nilai. norma. terjadinya teknologisasi kehidupan sebagai akibat adanya loncatan revolusi di bidang ilmu pengetahuan dan tekonologi. hubungna sosial dan kelembagaan dalam masyarakat dengan corak dan cirinya yang lebih baru. Ahmad Watik Pratiknya[7]7 lebih jelas menggambarkan corak dan ciri-ciri masyarakat yang akan berkembang di masa sekarang dan masa yang akan datang. Dan bahkan berjalan secara revolutif seperti terjadinya revolusi di bidang teknologi. membawa kepada kesadaran bahwa sebenarnya telah banyak dilakukan berbagai pembaruan di berbagai bidang. Jadi dalam masyarakat seperti itu terjadi pergeseran pola hubungan sosial dari affective ke effective neutral. komunikasi. Dalam masyarakat seperti ini. Ketiga. “pendidikan nasional terperangkap di dalam sistem kehidupan yang operatif sehingga telah terkungkung di dalam paradigma-paradigma yang tunduk kepada kekuasaan otoriter dan memperbodoh rakyat 6 7 8 .Dalam kajian sosiologis digambarkan. Hanya saja. bahwa perubahan tersebut bersifat universal (universal change) yang meliputi berbagai aspek kehidupan manusia. Keempat. kehidupan yang makin sistemik dan terbuka. pertama. keberadaan seseorang sangat ditentukan oleh berapa banyak dan sejauh mana ia menguasi informasi. kecenderungan perilaku masyarakat yang semakin fungsional.”[8]8 Tampaknya hal itu disebabkan karena.

tetapi mementingkan interest pribadi maupun kelompok. Kualitas lembaga pendidikan Islam secara umum masih menyedihkan. dan hanya sekedar mengandalkan ijazah resmi dari bidang studi dan dari suatu lembaga pendidikan tertentu dengan kemampuan yang sangat terbatas atau pas-pasan. Ketiga. pada kenyataannya sistem pendidikan kita sekarang ini belum mengantisipasi masa depan dan masyarakat “madani” artinya belum mampu menyiapkan output yang sesuai dengan permintaan pasar dan kondisi riil perubahan masyarakat. juga menghadapi nasib yang sama dengan pendidikan nasional. Nepotisme (KKN) dan koncoisme (cronyism). yaitu pertama. telah sirna dan diganti dengan praktik-praktik “memberatkan” rakyat untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas. tetapi secara umum kualitas madrasah dan sekolah-sekolah serta perguruan tinggi Islam masih belum memadai. Pendidikan pada masa Orde Baru memiliki empat ciri utama. Adalah suatu kenyataan bahwa dalam rangking kelulusan Ebtanas. sistem pendidikan tidak berorientasi pada pemberdayaan masyarakat. sistem yang kaku dan sentralistik. sistem pendidikan tidak mengutamakan kualitas. Barangkali tidaklah berlebihan kalau ciri ini menyebabkan get nothing and lose everything. kendatipun secara jujur kita juga harus mengakui bahwa rezim ini memang telah mampu menunjukkan prestasinya yang cukup baik di bidang pendidikan berupa kemajuan-kemajuan pendidikan secara kuantitatif.banyak. kondisi pendidikan Islam di Indonesia. Akibatnya. Meskipun telah ada beberapa madrasah yang sudah mampu menggungguli kualitas sekolah umum. madrasah dan sekolah-sekolah Islam pada umumnya. 9 10 . yaitu suatu sistem pendidikan yang terperangkap di dalam kekuasaan otoritas pasti dan sistem birokrasi yang kaku sifatnya. Citra lembaga pendidikan Islam relatif rendah. sebagaimana diamanatkan dalam pembukaan UndangUndang Dasar 1945. mulai dari taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi. sistem pendidikan nasional di dalam pelaksanaannya telah diracuni oleh unsur-unsur Korupsi. Ciri ini tidak hanya menyebabkan terbunuhnya kreatifitas dan potensi anak didik khususnya. Kedua.[10]10 Keempat. Secara umum.”[9]9 Era rezim Orde Baru yang otoriter dan birokratis telah melahirkan sistem pendidikan yang tidak mampu melakukan pemberdayaan masyarakat secara efektif. kurang memiliki kemampuan bersaing secara kompetitif dan kreatif. Kolusi. tetapi juga tenggelamnya pluralitas budaya lokal. sehingga tujuan pendidikan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

baik internal maupn eksternal. serta manajemen pendidikan Islam. perencanaan dan penyusunan materi. Latar belakdang siswa-siswi lembaga pendidikan Islam pada umumnya dari kelas menengah ke bawah.[11]11 Secara lebih khusus. absolutis.berada dalam urutan bawah sekolah-sekolah negeri dan swasta lainnya. yaitu berupa persoalan dikotomi pendidikan. kemajemukan masyarakat yang beragam yang masih belum siap untuk berbeda paham dan justru cenderung bersikap apologis.[12]12 Adanya tantangan eksternal tersebut membuat kita semakin sadar dan harus mengakui dengan jujur bahwa pendidikan Islam hingga saat ini kelihatan sering terlambat merumuskan diri untuk merespon perubahan dan kecenderungan perkembangan masyarakat kita sekarang dan masa yang akan datang. orientasi pendidikan Islam yang kurang tepat. pendidikan. Tidak sedikit guru madrasah swasta yang gajinya di bawah tingkat upah minimum regional (UMR). maka out put pendidikannya dengan sendirinya akan rendah. Jika gurunya berkualitas rendah dan rasio guru murid tidak memadai. Tantangan eksternal yang dihadapi berupa berbagai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berdampak pada munculnya scientific criticism terhadap pelajaran agama yang bersifat konservatif. Gaji guru secara umum masih kecil. Kelemahan juga terlihat pada kualitas dan kuantitas guru yang masih belum memadai. Tantangan internal yang dihadapi menyangkut dengan sisi pendidikan Islam sebagai program pendidikan. Guru adalah kunci keberhasilan sekolah. serta truth claim yang dibungkus dalam simpul-simpul interest. sempitnya pemahaman terhadap esensi ajaran Islam. tradisional. sumber daya. pendidikan Islam menghadapi berbagai persoalan dan kesenjangan dalam berbagai aspek yang lebih kompleks daripada pendidikan nasional. tujuan. Sistem pendidikan Islam kebanyakan masih lebih cenderung mengorientasikan diri pada bidang-bidang humaniora dan ilmu-ilmu sosial ketimbang ilmu-ilmu eksakta semacam 11 12 . Tantangan pada era globalisasi di bidang informasi. perubahan sosial ekonomi dan budaya dengan segala dampaknya. kurikulum. fanatik. Memperhatikan kelemahan-kelemahan pendidikan Islam di atas. baik interest pribadi maupun yang bersifat politik ataupun sosiologis. pelaksanaan dan penyelenggaraan pendidikan Islam masih bersikap eksklusif dan belum mampu berinteraksi dan berkomunikasi dengan yang lainnya. tekstual dan skriptualistik. yaitu persoalan dikotomi. tampaknya pendidikan Islam menghadapi tantangan yang begitu kompleks. metodologi dan evaluasi yang kurang tepat.

Pendidikan Islam: …. kalau kita mau jujur. 1991). sebagaimana pendidikan nasional. kimia. Sebab usaha pembaharuan atau peningkatan itu dilakukan sekenanya atau seingatnya. pendidikan Islam belum mampu mengintegrasikan ilmu sebagaimana idealisasinya.[13]13 Di sisi lain. 59 14 . maka sebenarnya “sistem pendidikan Islam haruslah senantiasa mengorientasikan diri kepada menjawab kebutuhan dan tantangan yang muncul dalam 13 M. dikotomi masih sangat kuat dan pelaksanaan pendidikan Islam hanya mampu menyesuiakan diri dengan kecenderungan pendidikan yang lebih berorientasi pada materialistis dalam segala aspeknya dan kondisi inipun cukup diperparah dengan kuatnya kecenderungan sekularistik pada sistem pendidikan Islam dewasa ini. Sistem pendidikan Islam tetap cenderung berorientasi ke masa silam ketimbang berorientasi ke masa depan. Ilmu-ilmu eksakta ini belum mendapat apresiasi dan tempat yang sepatutnya dalam sistem pendidikan Islam. Pendidikan Islam di Indonesia Antara Cita dan Fakta. Rusli Karim. “Pendidikan Islam di Indonesia dalam Transformasi Sosial Budaya” dalam Muslih Usa (ed). maka tidak terjadi perubahan esensial dalam sistem pendidikan Islam.”[15]15 Dengan kenyataan ini. atau kurang bersifat future oriented. Tetapi sekarang ini. selama ini sebenarnya juga telah ada berbagai usaha pembaaharuan dan peningkatan kualitas pendidikan Islam. kondisi pendidikan Islam sekarang ini berada pada posisi determinisme historik dan realisme. Hal inipun didukung oleh sebagian umat Islam yang kurang meminati ilmu-ilmu umum dan bahkan sampai pada tingkat mengharamkan. Padahal keempat ilmu ini mutlak diperlukan dan pengembangan teknologi canggih. (Yogyakarta: Tiara Wacana. 129 15 ] Azyumardi Azra.fisika. Menyadari kondisi pendidikan Islam. sebagian besar sistem pendidikan Islam belum dikelola secara profesional. h. artinya dalam realitas praktis sekarang ini pendidikan Islam seakan-akan tidak berdaya karena dihadapkan dengan realitas perkembangan masyarakat industri modern. Ketika itu dunia Islam mampu melahirkan tokoh-tokoh ilmu pengetahuan yang berkaliber dunia dan bersama dengan perkembangan ilmu tersebut berkembang dan maju dalam peradaban Islam. pada sejarah awalnya pendidikan Islam pernah mencapai puncak kejayaannya. dan matematika modern. kita menyadari bahwa “usaha pembaharuan dan peningkatan pendidikan Islam sering bersifat sepotong-sepotong atau tidak komprehensif dan menyeluruh. Dalam kondisi ini.[14]14 Dalam posisi yang sangat tergantung dengan peradaban industri ini. biologi. h. kondisi yang terjadi sebaliknya. Artinya. Hanya saja. Selain itu.

Pada satu segi. seperti selama ini dilakukan. Dengan kian baiknya ekonomi masyarakat. atau semakin banyak pula warga kita yang mampu menunaikan ibadah haji yang menuntut biaya besar itu.[17]17 Kompleksitas tantangan itu dapat dilihat dari kenyataan bahwa berbarengan dengan semakin tingginya tuntutan terhadap penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. kita melihat dan merasakan terjadinya akselerasi pembangunan yang menuntut iptek yang kian canggih. kini harus memberikan penekanan khusus kepada penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. kian disadari pual perlunya pemantapan penghayatan dan pengamalan ajaran agama. Di Indonesia kita melihat begitu jelas kaitan antara peningkatan kondisi ekonomi masyarakat dengan intensifikasi penghayatan dan pengamalan ajaran agama. h. dengan memperhatikan budaya lokal dan 16 17 Azyumardi Azra. Menggagas Pendidikan Islam yang Ideal Dengan mempertimbangkan semua perkembangan dan dinamika masyarakat itu.masyarakat kita sebagai konsekuensi logis dari perubahan”[16]16 dan hanya dengan respon yang tepat. D. sistem pendidikan Islam jelas selain mesti berorientasi kepada pembinaan dan pengembangan nilai-nilai agama dalam diri anak didik. di mana terjadi proses sekularisasi dan penyingkiran agama dalam kehidupan publik. kedua penanaman pemahaman dan pengamalan ajaran agama. pendidikan Islam dapat diharapkan lebih fungsional dalam mempersiapkan anak didik untuk menjawab tantangan perkembangan Indonesia modern yang terus semakin kompleks. Pendidikan Islam: …. Singkat kata berbeda dengan pengalaman proses modernisasi di banyak negara Barat. pragmatik. tetapi pada saat yang sama kita menyadari pula bahwa agama semakin diperlukan untuk menyantuni masyarakat yang menghadapi kegoncangan nilai atau gegar budaya. 58 . h. pertama. sistem pendidikan Islam harus memenuhi dua tantangan pokok tadi. 57 Azyumardi Azra. Gejala ini terlihat jelas di dalam masyarakat kita. Dengan kata lain. semakin banyak pula dibangun rumah-rumah ibadah. intesifikasi penghayatan dan pengamalan ajaran-ajaran agama. Kedua-duanya dilakukan secara integral. Perkembangan ini tentu saja sangat sehat dan positif. Pendidikan Islam: …. humanistik. sebaliknya di Indonesia pembangunan justru menghasilkan gairah atau antusiasme baru dan peningkatan kesetiaan kepada agama. Dalam konteks terakhir ini. kita melihat terjadinya “kebangkitan agama” atau dengan istilah yang lebih moderat.

dan mengembangkan hidup. sifat ingin memberi dan menerima. 187 18 19 . yang menguasai iptek dan berkeimanan dan mengamalkan agama. dan individu-sosial. yang bisa menyatu dengan dirinya sendiri (sehingga tidak memiliki kepribadian belah). Sebagai makhluk batas—antara hewan dan malaikat—ia menghargai hak-hak asasi manusia. hak untuk berbuat kasih sayang dan sebagainya. dan berakar budaya kuat. Berdasarkan pertimbangan tersebut. dengan mengembalikan manusia kepada fitrahnya sebagai sebaik-baik makhluk. seperti hak untuk berlaku dan diperlakukan dengan adil. yakni makhluk ciptaan Tuhan dengan fitrah-fitrah tertentu. (Jakarta: Qalam. Pendidikan yang humanistik diharapkan dapat mengembalikan hati manusia di tempatnya yang semula. dan berkemauan. Hanya dengan cara ini pula kita secara sistematis dan programatis dapat melakukan pengentasan kemiskinan—secara bertahap namun pasti. dengan sifat kasih sayang kepada sesama manusia. manusia. yaitu pendidikan yang integralistik. 2002). mempertahankan. [19]19 Pendidikan yang integralistik diharapkan bisa menghasilkan manusia yang memiliki integritas tinggi. intelektual-perasaan. pendidikan yang humanistik memandang manusia sebagai manusia. Sebagai makhluk hidup. pragmatik. maka pendidikan Islam diharapkan mampu menjadi pendidikan yang ideal. sifat saling menolong. egoistik. A Global Ethics for Global Politics and Economics. yang bisa bersyukur dan menyatu dengan kehendak Tuhan-nya. dan alam pada umumnya sebagai suatu yang integral bagi terwujudnya kehidupan yang baik. berasa. pendidikan yang integralistik mengandung komponen-komponen kehidupan yang meliputi: Tuhan.didasarkan kepada nilai-nilai religiusitas. ia harus melangsungkan. dan bisa menyatu dengan alam (sehingga tidak membuat kerusakan). Manusia “yang manusiawi” yang dihasilkan oleh pendidikan yang humanistik diharapkan bisa berpikir. sifat ingin mencari Hans Kung. serta pendidikan yang menganggap manusia sebagai sebuah pribadi jasmani-rohani. menyatu dengan masyarakat (sehingga bisa menghilangkan disintegrasi sosial). Hanya dengan cara ini pendidikan Islam bisa fungsional di tengah-tengah masyarakat dalam menyiapkan dan membina SDM masa depan menuju tatanan masyarakat global[18]18 seutuhnya. Pertama. hak menyuarakan kebenaran. h. Kedua. Ali Noer Zaman “Etika Ekonomi-Politik Global: Mencari Visi Baru bagi Kelangsungan Agama Abad XXI. serta integralistik dalam orientasi pendidikan yang filosofis dengan kepentingan pragmatis. dan bertindak sesuai dengan nilai-nilai luhur kemanusiaan yang bisa mengganti sifat individualistik. humanistik. egosentrik. terj.

papan. harga diri. dan membangun peradaban berdasarkan budayanya sendiri yang merupakan warisan monumental dari nenek moyangnya. pendidikan yang pragmatik adalah pendidikan yang memandang manusia sebagai makhluk hidup yang selalu membutuhkan sesuatu untuk melangsungkan. aktualisasi diri. baik sejarah kemanusiaan pada umumnya maupun sejarah kebudayaan suatu bangsa atau kelompok etnis tentang. Tetapi bukan orang yang anti kemodernan.al. Pendidikan yang pragmatik diharapkan dapat mencetak manusia pragmatik yang sadar akan kebutuhan-kebutuhan hidupnya.. dan sebagainya. Paradigma …. sandang. kasih sayang dan keadilan maupun kebutuhan sukmawi seperti dorongan untuk berhubungan dengan Tuhan. yang ditandai dengan peningkatan kecerdasan. yaitu pendidikan yang tidak meninggalkan akarakar sejarah. Ketiga. seperti pangan. 46 . Dengan demikian. pengetahuan. pendidikan Islam diharapkan menjadi wahana yang strategis bagi upaya peningkatan mutu kehidupan dengan terbentuknya berbagai pilihan dan kesempatan untuk mengembangkan diri di masa depan. pendidikan yang berakar budaya kuat. percaya pada diri sendiri. pendidikan Islam harus berusaha untuk membangun manusia berkualitas. yang menolak begitu saja arus transformasi budaya dari luar (al-muhafadhah „ala al‟qadim al-sholih wa al-akhdzu bi al-jadid alashlah). maka “sistem pendidikan Islam diharapkan dapat mengintegrasikan nilai-nilai ilmu pengetahuan. sehingga mampu melahirkan manusia-manusia yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi dan memiliki kematangan profesional serta sekaligus hidup dalam nilai-nilai agama. Sebagai pendidikan yang ideal. Pendidikan yang berakar budaya kuat diharapkan dapat membentuk manusia yang mempunyai kepribadian. Keempat. karena pendidikan memiliki peran sentral dalam proses mendorong individu dan masyarakat untuk mencapai kemajuan pada semua aspek kehidupan yang didasarkan pada nilai-nilai ajaran Islam. mempertahankan dan mengembangkan hidupnya baik bersifat jasmani. nilai-nilai agama dan etik. 20 Muhaimin et. juga yang bersifat rohani seperti berpikir. peka terhadap masalah-masalah kemanusiaan dan dapat membedakan manusia dari kondisi dan situasi yang tidak manusiawi.kesamaan dan sebagainya. merasa.”[20]20 Harapan ini tidaklah berlebihan mengingat dalam proses. h. keterampilan dan ketakwaan sebagai realisasi dari adanya relasi vertikal-horizontal dengan nilainilai ilahiyah.

bangsa dan negara serta kepentingan umat di mana pendidikan itu diterapkan. dan ajaran Islam. pendidikan akan menjadi tidak relevan dengan kebutuhan masyarakat. bangsa. Tanpa kerangka dasar “filosofis” dan “teoritis” yang kuat.Langkah awal yang harus dilakukan dalam mengadakan perubahan pendidikan adalah merumuskan kerangka dasar filosofis yang sesuai dengan ajaran Islam kemudian mengembangkan teori pendidikan yang didasarkan pada sumsi-asumsi dasar tentang manusia yang hubungannya dengan masyarakat. Apabila terlepas dari konteks ini. yaitu kerangka dasar filosofis dan teoritis pendidikan Islam harus ditempatkan dalam konteks supra-sistem masyarakat. maka pembaruan pendidikan Islam tidak mempunyai pondasi yang kuat dan juga tidak mempunyai arah yang pasti. . lingkungan. Langkah berikutnya adalah mengembangkan kerangka dasar sistematik. dan negara Indonesia dalam menghadapi tuntutan perubahan.

Yogyakarta: Lembaga Studi Filsafat Islam Selo Soemarjan dan Soelaman Soemardi. Jakarta: FE UI. Bandung: Remaja Rosdakarya Musa Asy‟ari. Yogyakarta: Tiara Wacana Muhaimin et. Bandung: Remaja Rosdakarya Azyumardi Azra. Rusli Karim. 1999. A Global Ethics for Global Politics and Economics. 2001. terj.R.A. 2002. 1974 Suyanto dan Djihad Hasyim.DAFTAR PUSTAKA A. Perspective on Modernization: Toward a General Theology of Third World Development. 1984. Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan Nasional dalam Perspektif Abad 21. 1973. (Jakarta: FE UI. Filsafat Kebudayaan: Sebuah Pengantar. Malang: Cendekia Putramulya Hans Kung. Paradigma Pendidikan Islam Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah. 1973). Analisis Kebijakan Pendidikan Suatu Pengantar. Filsafat Islam tentang Kebudayaan. Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru. (Jakarta: Bulan Bintang. Magelang: Tera Indonesia H. 2002.. Natsir. 1973 M. Kapita Selecta. 1999.al. Francis Abraham. Jakarta: Fajar Dunia Ace Suryadi dan H. Quo Vadis Pendidikan Islam: Pembacaan Realitas Pendidikan Islam. 1993. h. 1991. Bambang Pranowo. Reorientasi Pendidikan Islam.. Dja‟far eds. Jakarta: Bulan Bintang. Ali Noer Zaman “Etika Ekonomi-Politik Global: Mencari Visi Baru bagi Kelangsungan Agama Abad XXI. Pendidikan Islam di Indonesia Antara Cita dan Fakta.R. 1974) . Sosial dan Pengetahuan. Kapita Selecta. 1974. Jakarta: Kanisius M. Bakker SJ. “Reformasi Pendidikan Islam dalam Millenium III” dalam Mudjia Rahardjo. Natsir.A. Tilaar. 1980.W. Setangkai Bunga Sosiologi. “Pendidikan Islam di Indonesia dalam Transformasi Sosial Budaya” dalam Muslih Usa ed.M. Malik Fajar. Setangkai Bunga Sosiologi. Dhorifi Umar dan Sulthon Fa. Jakarta: Qalam J. 1998. Jakarta: Logos H.M.. Yogyakarta: Adicipta Karya Nusa [1] M. 2000. University Press of America M. Tilaar. 1999. Refleksi dan Reformasi Pendidikan di Indonesia Memasuki Millenium III. 77 [2] Selo Soemarjan dan Soelaman Soemardi.

A. Malik Fajar. Pendidikan Islam: ….77 [8] Suyanto dan Djihad Hasyim. h. h. h. 1980) [7] Dalam A. Filsafat Islam tentang Kebudayaan. Tilaar.A. kedua. 2001). (Jakarta: Fajar Dunia. h. Malik Fajar.W. 2002).. 1999). 59 [16] Azyumardi Azra. 61. 1998). Pendidikan Islam di Indonesia Antara Cita dan Fakta. Rusli Karim.. Tilaar. J. 59 [14] M. h. h. (University Press of America. Pendidikan Islam: …. (Malang: Cendekia Putramulya. “Pendidikan Islam di Indonesia dalam Transformasi Sosial Budaya” dalam Muslih Usa (ed).R. Paradigma Pendidikan Islam Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah.M.75—81 [4] Musa Asy‟ari. 1993) [6] M. h. Tilaar. Beberapa Agenda …. Perspective on Modernization: Toward a General Theology of Third World Development. Dja‟far (eds). 2000).R.[3] Lihat A. h. Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan Nasional dalam Perspektif Abad 21. 22 [9] H. 1984). Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru. Analisis Kebijakan Pendidikan Suatu Pengantar. Bambang Pranowo. 14 [5] Ace Suryadi dan H. h. 1999). 57 [17] Azyumardi Azra. “Reformasi Pendidikan Islam dalam Millenium III” dalam Mudjia Rahardjo. h. Reorientasi …. Bakker SJ. h. Reorientasi Pendidikan Islam. Dhorifi Umar dan Sulthon Fa. (Jakarta: Logos.al. Filsafat Kebudayaan: Sebuah Pengantar. h. (Yogyakarta: Lembaga Studi Filsafat Islam. (Bandung: Remaja Rosdakarya. (Magelang: Tera Indonesia. (Bandung: Remaja Rosdakarya. 1999).. h. (Yogyakarta: Tiara Wacana. 26 [10] H.A. ketiga. Empat kewajiban itu adalah: pertama komitmen terhadap budaya anti kekerasan dan hormat terhadap kehidupan. 58 [18] Tatanan global mensyaratkan terpenuhinya empat kewajiban etika global. 36—37 [12] Muhaimin et. Francis Abraham. Pendidikan Islam: ….R. komitmen . 129 [15] Azyumardi Azra. (Yogyakarta: Adicipta Karya Nusa. Sosial dan Pengetahuan.M. 1991). komitmen terhadap budaya solidaritas dan keteraturan ekonomi.92 [13] Azyumardi Azra. Quo Vadis Pendidikan Islam: Pembacaan Realitas Pendidikan Islam. h. (Jakarta: Kanisius. Refleksi dan Reformasi Pendidikan di Indonesia Memasuki Millenium III. 26 [11] H.

pendidikan pada dasarnya sebagai suatu instrumen strategis pengembangan potensi dasar yang dimiliki oleh setiap manusia. (Jakarta: Qalam.terhadap budaya toleransi dan hidup penuh kebenaran. [20] Muhaimin et. Kedua. h. baik secara negatif maupun positif. 2002). h. Paradigma …. pertama. Ali Noer Zaman “Etika Ekonomi-Politik Global: Mencari Visi Baru bagi Kelangsungan Agama Abad XXI. misalnya potensi moral yang menjadikan manusia secara esensial dan eksistensial sebagai makhluk religius. tetapi sekaligus secara dialektikal sebagai subyek yang terlibat secara aktif dan kreatif dengan proses kebudayaan disamping tidak menutup kemungkinan mendapatkan pengaruh. terjadinya perubahan secara continue menuju masa depan. 46 . dan keempat. A Global Ethics for Global Politics and Economics. dalam proses ini. komitmen terhadap equalitas dan komitmen partnership. terj. manusia tidak hanya recipient. Ketiga. Hans Kung. 187 [19] Alasan mendasar perlunya integralistik ini..al. baik secara evolutif maupun revolutif. realitas sosiologis yang selalu terlibat dengan proses dialektika fundamental dalam kehidupan masyarakat.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->