P. 1
kejadian luar biasa

kejadian luar biasa

|Views: 647|Likes:
Published by Florensius Gogol
kejadian luar biasa
kejadian luar biasa

More info:

Published by: Florensius Gogol on Jun 14, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/05/2014

pdf

text

original

PROSEDUR TETAP PENANGGULANGAN
KEJADIAN LUAR BIASA (KLB)
DINAS KESEHATAN KABUPATEN TEGAL
TAHUN 2011

Daftar Penyakit Potensial KLB:
1.Anthraks ………………………………………………………………….. . 2
2.Campak

…………………………………………………………………

5

3.Chikungunya

………………………………………………………… 13

4.DBD

………………………………………………………………… 18

5.Diare

………………………………………………………………… 21

6.Difteri

………………………………………………………………… 24
7.Hepatitis A………………………………………………………………… 28
8.Leptospirosis

………………………………………………………… 29

9.Malaria

………………………………………………………………… 31
10.Pes………………………………………………………………………… 33
11.Rabies

………………………………………………………………… 35

12.Keracunan Makanan

………………………………………………… 38

13.Thypoid

………………………………………………………………… 40

14.Tetanus Neonatorum

………………………………………………… 40

15.Tetanus Toxoid

………………………………………………………… 42

16.Varicela

………………………………………………………………… 42
17.Meningitis Meningokokus ………………………………………………… 45
18.Bencana……………………………………………………………………... 46
19.H5N1/ H1N1 baru
20.Kalender mingguan

Sumber:
1.

Revisi Buku Pedoman Penyelidikan dan Penanggulangan Kejadian Luar Biasa
( Pedoman Epidemiologi Penyakit, Depkes RI Dirjen P2& PL 007

2.

Protap Penanggulangan KLB & Bencana Prop Jawa Tengah, Dinkes Prop 2006

1. ANTHRAKS

Penanggulangan KLB Antraks diarahkan untuk memutuskan rantai penularan hewan
penular ke manusia atau tanah tercemar ke manusia. Pengobatan dini penderita dan mencegah
pencemaran lingkungan oleh spora antraks. Penanggulangan KLB Antraks pada hewan
merupakan bagian dari upaya penanggulangan KLB antraks pada manusia.

(1)Penyelidikan Epidemiologi

Penyelidikan epidemiologi dilakukan terhadap kasus-kasus yang dilaporkan dari
Rumah sakit, Puskesmas maupun laporan masyarakat. Penyelidikan lapangan dilakukan
untuk mengidentifikasi kemungkinan adanya kasus lain, terutama pada kelompok rentan
terpapar kuman atau spora antraks.
Diagnosis dapat ditegakkan dengan pemeriksaan laboratorium pewarnaan, biakan,
serologi atau percobaan binatang. Spesimen yang digunakan adalah cairan atau pus pada
bentuk lesi kulit, sputum pada bentuk pulmonal, tinja pada bentuk intestinal, darah pada
bentuk septikimia, dan cairan Liquor Cerebrospinalis (LSC) pada bentuk meningitis.
KLB Antraks adalah terjadinya satu kasus baru Antraks atau lebih pada manusia
dengan sebagian kasus menunjukkan tanda-tanda patogomonik atau adanya bukti
laboratorium. SKD – KLB Antraks harus diidentifikasi apabila terdapat sejumlah kematian
pada binatang yang diduga karena antraks.
Penyelidikan KLB Antraks dapat menggambarkan penyebaran, kecenderungan dan
identifikasi sumber dan cara penularan serta populasi rentan serangan KLB Antraks :
Kurva epidemi menurut tanggal mulai timbulnya gejala pada kasus baru, sehingga
dapat teridentifikasi mulai dan berakhirnya KLB Antraks, kecenderungan dan pola
serangan.

Tabel distribusi kasus baru menurut umur, jenis kelamin dan pekerjaan yang diduga
berhubungan dengan penularan antraks.
Tabel dan peta distribusi kasus-kasus kesakitan dan kematian hewan tersangka antraks.
Distribusi kasus juga digambarkan dalam peta sebaran (spot map) dan hubungannya
dengan dstribusi kasus-kasus kesakitan dan kematian hewan tersangka antraks. Peta
dibuat secara bersambung menurut minggu kejadian, sehingga dapat dicermati
perkembangan penyebaran kasus dari waktu ke waktu.
Seringkali pelacakan kasus dilakukan untuk mengetahui penyebaran dari satu wilayah
ke wilayah lain, termasuk identifikasi hewan, produk hewan atau tanah tercemar
sebagai sumber penular.

(2)Penanggulangan KLB

Penanggulangan KLB diprioritaskan pada pengobatan dini penderita dengan
pengobatan yang memadai, penanggulangan KLB Antraks pada hewan penular serta
produk hewan tercemar sehingga terputusnya mata rantai penularan serta manajemen
hewan tersangka dan produk hewan tercemar :
Penyuluhan masyarakat tentang antraks dan upaya penanggulangannya. Setiap orang
yang menderita penyakit dengan gejala-gejala antraks segera berobat ke puskesmas
atau RS terdekat.
Memandikan tubuh orang yang meninggal karena antraks harus berkonsultasi dengan
petugas kesehatan tentang tatacara memandikan penderita anktraks, agar tidak terjadi
penularan.

Hewan harus disembelih di Rumah Potong Hewan (RPH), bila dipotong diluar RPH
harus mendapat ijin dahulu dari Dinas Peternakan setempat.
Tidak diperbolehkan menyembelih hewan sakit antraks.
Tidak diperbolehkan mengkonsumsi daging yang berasal dari hewan yang sakit

antraks.

Dilarang membuat atau memproduksi barang-barang yang berasal dari hewan sakit
atau mati karena penyakit atraks.
Hewan yang rentan terhadap penyakit antraks seperti sapi, kerbau, kambing, domba,
kuda secara rutin harus divaksinasi terhadap penyakit antraks. Vaksinasi dilakukan oleh
Dinas Peternakan setempat.

2

Dalam rangka menanggulangi KLB antraks di lapangan, perlu kerjasama yang baik
antara masyarakat, petugas Puskesmas, Rumah Sakit, Dinas Kesehatan dan Dinas
Pertanian termasuk laboratorium.
Pada daerah yang belum pernah terjangkit KLB antraks, petugas belum terlatih untuk
mengidentifikasi adanya kasus antrtaks, diagnosis antraks sering rancu dengan penyakit
kulit dan penyakit perut lainnya. Oleh karena itu pelatihan singkat terhadap petugas perlu
dilakukan.

Lampiran I

Form Penyelidikan Kejadian Luar Biasa Antraks
Form Penyelidikan KLB Antraks

3

Puskesmas : ……………

Kecamatan : …………… Kab/Kota: ………………
Provinsi: ………………

Nama : ……………

L / P

Umur : ………………

Pekerjaan : ……………

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->