P. 1
Pengkajian Umum Sistem Persyarafan

Pengkajian Umum Sistem Persyarafan

|Views: 40|Likes:
Published by Aprilia Wulandari

More info:

Published by: Aprilia Wulandari on Jun 14, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/11/2014

pdf

text

original

1

MAKALAH PENGKAJIAN UMUM SISTEM PERSYARAFAN

Disusun Oleh: Gusrianda Marpindi Irfah Baroroh Kurnia Lesmana

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLITEKNIK KESEHATAN BENGKULU PRODI DIPLOMA IV KEPERAWATAN BENGKULU 2013

2

PENGKAJIAN UMUM SISTEM PERSYARAFAN

A. Anamnesa 1. Riwayat Kesehatan Tujuan diperolehnya riwayat kesehatan klien adalah menentukan status kesehatan saat ini dan masa lalu dan memperoleh gambaran kapan mulainya penyakit yang diderita saat ini. Riwayat kesehatan ini meliputi : data biografi, keluhan utama dan riwayat penyakit saat ini, riwayat kesehatan masa lalu, riwayat keluarga, riwayat psikososial dan pemeriksaan sistem tubuh. a. Data Biografi : Termasuk diantaranya adalah identitas klien, sumber informasi (klien sendiri atau orang terdekat/significant other). Data Biografi : Perawat memperoleh gambaran secara detail pada kondisi yang utama dialami klien. Memperoleh informasi tentang perkembangan, tanda-tanda dan gejala-gejala : onset (mulainya), faktor pencetus dan lamanya. Perlu menentukan kapan mulainya gejala tersebut serta perkembangannya. b. Riwayat kesehatan masa lalu : Mencakup penyakit yang pernah dialami sebelumnya, penyakit infeksi yang dialami sering pada masa kanak-kanak, pengobatan, periode perinatal, tumbuh mempengaruhi kemampuan fungsi-fungsi tubuh. Perawat perlu kembang, riwayat keluarga, riwayat psikososial dan pola hidup. Penyakit saraf menanyakan perubahan tingkat kesadaran, nyeri kepala, kejang-kejang, pusing, vertigo, gerakan dan postur tubuh. c. Masalah kesehatan utama dan hospitalisasi : Berbagai penyakit yang berhubungan dengan perubahan akibat gangguan persarafan misalnya diabetes mellitus, anemia pernisiosa, kanker, berbagai

3

penyakit infeksi dan hipertensi. Penyakit hati dan ginjal yang menahun akan mengakibatkan gangguan metabolisme misalnya gangguan keseimbangan cairan elektrolit dan asam basa akan mempengaruhi fungsi mental.

d. Pengobatan : Perawat akan memperoleh informasi sehubungan dengan obat-obatan yang diperoleh klien. Banyak obat-obat anti alergi dan pilek yang bisa dikomsumsi dapat mengakibatkan klien mengantuk. e. Riwayat keluarga : Perawat akan menanyakan pada keluarga sehubungan dengan gangguan persarafan guna menentukan faktor-faktor resiko / genetik yang ada. Misalnya epilepsi, hipertensi, stroke, retardasi mental dan gangguan psikiatri. f. Riwayat psikososial dan pola hidup : Perawat mengajukan pertanyaan sehubungan faktor psikososial klien seperti yang berhubungan dengan latar belakang pendidikan, tingkat penampilan dan perubahan kepribadian. Perawat memperoleh informasi tentang aktifitas klien sehari-hari. Juga menanyakan adanya perubahan pola tidur, aktifitas olahraga, hobi dan rekreasi, pekerjaan, stressor yang dialami dan perhatian terhadap kebutuhan seksual. 2. Pengkajian neurologik a. NUTRITIONAL – METABOLIC Tanyakan tentang kebiasaan makan klien selama 24 jam. Apaka klien makan makanan dari semua golongan makanan atau tidak adakag makanan pantang bagi klien. Apakah klien memiliki kesukaran mengunyah atau menelan b. ELIMINATION Apakah klien mengalami perubahan pada kebiasaan b a k atau b a b Apakah klien menggunakan laksatif, suppositoria, bantuan enema, jenis apa dan seberapa sering. Apakah klien mampu berjalan ke kamar mandi dengan bantuan atau tanpa dibantu. Uraikan kebiasaan rutin klien

4

c. ACTIVITY – EXERCISE Jelaskan jnis aktifitas kliens selama 24 jam Apakah klien memiliki kesulitan terhadap keseimbangan, koordinasi atau berjalan. Apakah klien menggunakan alat bantu jalan Apakah klien menaglami kelemahan pada lengan atau kaki Apakah klien mampu menggerakkan seluruh bagian tubuhnya Jika klien kejang, apakah klien mampu mengidentifikasi faktor pencetusnya. Bagaimana perasaannya setelah kejang Apakah klien memiliki pengalaman tremor/gemetar. Dimana bagian mana? Apakah masalah kesehatan ini memiliki pengaruh terhadap kemampuan tidur dan isitrahat. Jika demikian, bagaimana ? Apakah klien pernah memilki nyeri yang timbul pada malam hari, Jelaskan Uraikan tentang tingkat energi. Apakah tidur dan istirahat menyimpan kekuatan dan energy e. COGNITIVE-PERCEPTUAL Uraikan tentang pengalaman sakit kepala klien termasuk frekuensi, jenis, lokasi dan faktor pencetusnya Pernahkah klien merasakan pingsan atau pusing. Pernahkah klien merasakan berada di ruangan pemintalan Apakah klien pernah mengalami perasaan kebas, terbakar atau perasaan geli. Dimana areanya dan kapan Apakah klien pernah mengalami masalah visual seperti penglihatan ganda, penglihatan seperti dibatasi embun f. SELF PERCEPTION-SELF CONCEPT Bagaimana masalah neurologik mempengaruhi perasaanmu tentang dirimu Bagaimana masalah neurologik mempengaruhi perasaanmu tentang hidupmu Bagaimanaperasaannmu tentang kelemahan yang mungkin disebabkan dari masalah neurologic g. ROLE-RELATIONSHIP d. SLEEP-REST

5

-

Adakah riwayat masalah neurologik keluarga seperti alzheimer disease, tumor otak, epilepsy Apakah klien sulit mengekspresikan dirinya. Apakah masalah neurologik berpengaruh terhadap perannya dalam keluarganya. Bagaimana Apakah masalah neurologik berpengaruh terhadap interaksi dengan anggota keluarga yang lain, dengan teman-temannya, pekerjaannya, dan aktifitas sosialnya

-

Apakah maslah neurologik berpengaruh terhadap kemampuan kerjanya Apakah aktifitas sexual klien mengalami gangguan oleh adanya masalah neurologic Apakah klien pernah menerima informasi tentang cara lain dalam mengekspresikan aktifitas sexual jika klien mengalami gangguan neurologic Uraikan bagaimana masalah neurologik membuat klien merasakan dirinya lakilaki atau wanita

h. SEXUALITY-REPRODUCTIVE

i. COPING-STRESS Uraikan apa yang klien lakukan untuk mengatasi stress Bagaimana gangguan neurologik mempengaruhi cara klien mengatasi stress Apakah dengan stres yang meningkat semakin memperburuk masalah neurologic Siapa dan apa yang dapat membantu klien dalam mengatasi stres dengan masalah neurologic

6

B. Pemeriksaan Fisik 1. Pemeriksaan Fisik Tingkat Kesadaran a. Tingkat kesadaran 1) Alert : Composmentis / kesadaran penuh Pasien berespon secara tepat terhadap stimulus minimal, tanpa stimuli individu terjaga dan sadar terhadap diri dan lingkungan. 2) Lethargic : Kesadaran Klien seperti tertidur jika tidak di stimuli, tampak seperti enggan bicara. Dengan sentuhan ringan, verbal, stimulus minimal, mungkin klien dapat berespon dengan cepat. Dengan pertanyaan kompleks akan tampak bingung. 3) Obtuned Klien memerlukan rangsangan yang lebih besar agar dapat memberikan respon misalnya rangsangan sakit, respon verbal dan kalimat membingungkan. 4) Stuporus Klien dengan rangsang kuat tidak akan memberikan rangsang verbal. Pergerakan tidak berarti berhubungan dengan stimulus. 5) Koma Tidak dapat meberikan respon walaupun diberikan stimulus b. Glasgow Coma Scale (GCS) Score : 3–4 : vegetatif, hanya organ otonom yang bekerja

7

11 15

: moderate disability : composmentis

Adapun scoring tersebut adalah : 1) Eye ( Respon membuka mata) 4 3 2 1 : Spontan : Dengan perintah : Dengan nyeri : Tidak berespon

2) Verbal ( Respon verbal) 5 4 3 2 1 6 5 4 3 2 1 : Berorientasi : Bicara membingungkan : Kata-kata tidak tepat : Suara tidak dapat dimengerti : Tidak ada respon : Dengan perintah : Melokalisasi nyeri : Menarik area yang nyeri : Menjauhi rangsangan nyeri (fleksi abnormal)/postur dekortikasi : Ekstensi abnormal/postur deserebrasi : Tidak berespon

3) Motorik (Respon motorik)

2. Pemeriksaan Fisik Nervus Cranial 1. Test nervus I (Olfactory) Fungsi penciuman

8

• Test pemeriksaan, klien tutup mata dan minta klien mencium benda yang baunya mudah dikenal seperti sabun, tembakau, kopi dan sebagainya. • Bandingkan dengan hidung bagian kiri dan kanan. 2. Test nervus II ( Optikus) Fungsi aktifitas visual dan lapang pandang: • Test aktifitas visual, tutup satu mata klien kemudian suruh baca dua baris di koran, ulangi untuk satunya. • Test lapang pandang, klien tutup mata kiri, pemeriksa di kanan, klien memandang hidung pemeriksa yang memegang pena warna cerah, gerakkan perlahan obyek tersebut, informasikan agar klien langsung memberitahu klien melihat benda tersebut, ulangi mata kedua. 3. Test nervus III, IV, VI (Oculomotorius, Trochlear dan Abducens) Fungsi koordinasi gerakan mata dan kontriksi pupil mata (N III). • Test N III Oculomotorius (respon pupil terhadap cahaya), menyorotkan senter kedalam tiap pupil mulai menyinari dari arah belakang dari sisi klien dan sinari satu mata (jangan keduanya), perhatikan kontriksi pupil kena sinar. • Test N IV Trochlear, kepala tegak lurus, letakkan obyek kurang lebih 60 cm sejajar mid line mata, gerakkan obyek kearah kanan. Observasi adanya deviasi bola mata, diplopia, nistagmus. • Test N VI Abducens, minta klien untuk melihat kearah kiri dan kanan tanpa menengok. 4. Test nervus V (Trigeminus) a. Fungsi sensasi, caranya : dengan mengusap pilihan kapas pada kelopak mata atas dan bawah. • Refleks kornea langsung maka gerakan mengedip ipsilateral.

9

• Refleks kornea consensual maka gerakan mengedip kontralateral. Usap pula dengan pilihan kapas pada maxilla dan mandibula dengan mata klien tertutup. Perhatikan apakah klien merasakan adanya sentuhan. b. Fungsi motorik, caranya : klien disuruh mengunyah, pemeriksa melakukan palpasi pada otot temporal dan masseter. 5. Test nervus VII (Facialis) a. Fungsi sensasi, kaji sensasi rasa bagian anterior lidah, terhadap asam, manis, asin pahit. Klien tutup mata, usapkan larutan berasa dengan kapas/teteskan, klien tidak boleh menarik masuk lidahnya karena akan merangsang pula sisi yang sehat. • Otonom, lakrimasi dan salivasi b. Fungsi motorik, kontrol ekspresi muka dengancara meminta klien untuk : tersenyum, mengerutkan dahi, menutup mata sementara pemeriksa berusaha membukanya 6. Test nervus VIII (Acustikus) Fungsi sensoris : • Cochlear (mengkaji pendengaran), tutup satu telinga klien, pemeriksa berbisik di satu telinga lain, atau menggesekkan jari bergantian kanan-kiri. • Vestibulator (mengkaji keseimbangan), klien diminta berjalan lurus, apakah dapat melakukan atau tidak. 7. Test nervus IX (Glossopharingeal) dan nervus X (Vagus) • N IX, mempersarafi perasaan mengecap pada 1/3 posterior lidah, tapi bagian ini sulit di test demikian pula dengan M.Stylopharingeus. Bagian parasimpatik N IX mempersarafi M. Salivarius inferior. • N X, mempersarafi organ viseral dan thoracal, pergerakan ovula, palatum lunak, sensasi pharynx, tonsil dan palatum lunak.

10

Test : inspeksi gerakan ovula (saat klien menguapkan “ah”) apakah simetris dan tertarik keatas. Refleks menelan : dengan cara menekan posterior dinding pharynx dengan tong spatel, akan terlihat klien seperti menelan. 8. Test nervus XI (Accessorius) • Klien disuruh menoleh kesamping melawan tahanan. Apakah

Sternocledomastodeus dapat terlihat ? apakah atropi ? kemudian palpasi kekuatannya. • Minta klien mengangkat bahu dan pemeriksa berusaha menahan —- test otot trapezius. 9. Nervus XII (Hypoglosus) • Mengkaji gerakan lidah saat bicara dan menelan • Inspeksi posisi lidah (mormal, asimetris / deviasi) • Keluarkan lidah klien (oleh sendiri) dan memasukkan dengan cepat dan minta untuk menggerakkan ke kiri dan ke kanan.

3. Pemeriksaan Fisik Fungsi Motorik dan Sensorik a. Fungsi Motorik Sistem motorik sangat kompleks, berasal dari daerah motorik di corteks cerebri, impuls berjalan ke kapsula interna, bersilangan di batang traktus pyramidal medulla spinalis dan bersinaps dengan lower motor neuron. Pemeriksaan motorik dilakukan dengan cara observasi dan pemeriksaan kekuatan. 1. Massa otot : hypertropi, normal dan atropi

11

2. Tonus otot : Dapat dikaji dengan jalan menggerakkan anggota gerak pada berbagai persendian secara pasif. Bila tangan / tungkai klien ditekuk secara berganti-ganti dan berulang dapat dirasakan oleh pemeriksa suatu tenaga yang agak menahan pergerakan pasif sehingga tenaga itu mencerminkan tonus otot. Bila tenaga itu terasa jelas maka tonus otot adalah tinggi. Keadaan otot disebut kaku. Bila kekuatan otot klien tidak dapat berubah, melainkan tetap sama. Pada tiap gerakan pasif dinamakan kekuatan spastis. Suatu kondisi dimana kekuatan otot tidak tetap tapi bergelombang dalam melakukan fleksi dan ekstensi extremitas klien. Sementara penderita dalam keadaan rileks, lakukan test untuk menguji tahanan terhadap fleksi pasif sendi siku, sendi lutut dan sendi pergelangan tangan. Normal, terhadap tahanan pasif yang ringan / minimal dan halus. 3. Kekuatan otot : Aturlah posisi klien agar tercapai fungsi optimal yang diuji. Klien secara aktif menahan tenaga yang ditemukan oleh sipemeriksa. Otot yang diuji biasanya dapat dilihat dan diraba. Gunakan penentuan singkat kekuatan otot dengan skala Lovett’s (memiliki nilai 0 – 5) 0 1 2 3 4 5 = tidak ada kontraksi sama sekali. = gerakan kontraksi. = kemampuan untuk bergerak, tetapi tidak kuat kalau melawan tahanan atau gravitasi. = cukup kuat untuk mengatasi gravitasi. = cukup kuat tetapi bukan kekuatan penuh. = kekuatan kontraksi yang penuh.

b. Fungsi Sensorik Pemeriksaan sensorik adalah pemeriksaan yang paling sulit diantara pemeriksaan sistem persarafan yang lain, karena sangat subyektif sekali. Oleh sebab itu sebaiknya dilakukan paling akhir dan perlu diulang pada kesempatan

12

yang lain (tetapi ada yang menganjurkan dilakukan pada permulaan pemeriksaan karena pasien belum lelah dan masih bisa konsentrasi dengan baik). Gejala paresthesia (keluhan sensorik) oleh klien digambarkan sebagai perasaan geli (tingling), mati rasa (numbless), rasa terbakar/panas (burning), rasa dingin (coldness) atau perasaan-perasaan abnormal yang lain. Bahkan tidak jarang keluhan motorik (kelemahan otot, twitching / kedutan, miotonia, cramp dan sebagainya) disajikan oleh klien sebagai keluhan sensorik. Bahan yang dipakai untuk pemeriksaan sensorik meliputi: 1. Jarum yang ujungnya tajam dan tumpul (jarum bundel atau jarum pada perlengkapan refleks hammer), untuk rasa nyeri superfisial. 2. 3. 4. 5. Kapas untuk rasa raba. Botol berisi air hangat / panas dan air dingin, untuk rasa suhu. Garpu tala, untuk rasa getar. Lain-lain (untuk pemeriksaan fungsi sensorik diskriminatif) seperti : - Jangka, untuk 2 (two) point tactile dyscrimination. Benda-benda berbentuk (kunci, uang logam, botol, dan sebagainya), untuk pemeriksaan stereognosis Pen / pensil, untuk graphesthesia.

4. Reflek Fisiologis dan Patologis a. Reflek Fisiologis Pemeriksaan aktifitas refleks dengan ketukan pada tendon menggunakan refleks hammer. Skala untuk peringkat refleks yaitu : 0 = tidak ada respon 1 = hypoactive / penurunan respon, kelemahan ( + )

13

2 = normal ( ++ ) 3 = lebih cepat dari rata-rata, tidak perlu dianggap abnormal ( +++ ) 4 = hyperaktif, dengan klonus ( ++++) Refleks-refleks yang diperiksa adalah : 1. Refleks patella Pasien berbaring terlentang, lutut diangkat ke atas sampai fleksi kurang lebih 300. Tendon patella (ditengah-tengah patella dan tuberositas tibiae) dipukul dengan refleks hammer. Respon berupa kontraksi otot quadriceps femoris yaitu ekstensi dari lutut. 2. Refleks biceps Lengan difleksikan terhadap siku dengan sudut 900 , supinasi dan lengan bawah ditopang pada alas tertentu (meja periksa). Jari pemeriksa ditempatkan pada tendon m. biceps (diatas lipatan siku), kemudian dipukul dengan refleks hammer.Normal jika timbul kontraksi otot biceps, sedikit meningkat bila terjadi fleksi sebagian dan gerakan pronasi. Bila hyperaktif maka akan terjadi penyebaran gerakan fleksi pada lengan dan jari-jari atau sendi bahu. 3. Refleks triceps Lengan ditopang dan difleksikan pada sudut 900 ,tendon triceps diketok dengan refleks hammer (tendon triceps berada pada jarak 1-2 cm diatas olekranon). Respon yang normal adalah kontraksi otot triceps, sedikit meningkat bila ekstensi ringan dan hyperaktif bila ekstensi siku tersebut menyebar keatas sampai otot-otot bahu atau mungkin ada klonus yang sementara. 4. Refleks achilles

14

Posisi kaki adalah dorsofleksi, untuk memudahkan pemeriksaan refleks ini kaki yang diperiksa bisa diletakkan / disilangkan diatas tungkai bawah kontralateral. Tendon achilles dipukul dengan refleks hammer, respon normal berupa gerakan plantar fleksi kaki. 5. Refleks abdominal Dilakukan dengan menggores abdomen diatas dan dibawah umbilikus. Kalau digores seperti itu, umbilikus akan bergerak keatas dan kearah daerah yang digores. 6. Refleks Babinski Merupakan refleks yang paling penting . Ia hanya dijumpai pada penyakit traktus kortikospinal. Untuk melakukan test ini, goreslah kuat-kuat bagian lateral telapak kaki dari tumit kearah jari kelingking dan kemudian melintasi bagian jantung kaki. Respon Babinski timbul jika ibu jari kaki melakukan dorsifleksi dan jari-jari lainnya tersebar. Respon yang normal adalah fleksi plantar semua jari kaki. b. Reflek Patologis
1. Babinsky

Cara : penggoresan telapak kaki bagian lateral dari posterior ke anterior Respon : ekstensi ibu jari kaki dan pengembangan jari kaki lainnya
2. Gordon

Cara : penekanan betis secara keras Respon : seperti babinsky
3. Schaefer

15

Cara : memencet tendon achilles secara keras Respon : seperti babinsky
4. Sucking reflex

Cara : sentuhan pada bibir Respon : gerakan bibir, lidah dn rahang bawah seolah-olah menyusu
5. Snout reflex

Cara : ketukan pada bibir atas Respon : kontrksi otot-otot disekitar bibir / di bawah hidung
6. Grasps reflex

Cara : penekanan / penekanan jari pemeriksa pada telapak tangan pasien Respon : tangan pasien mengepal
7. Palmo-mental reflex

Cara : goresan ujung pena terhadap kulit telapak tangan bagian thenar Respon : kontaksi otot mentalis dan orbikularis oris (ipsi lateral)

5. Tes Iritasi Meningen

16

Untuk mengetahui rangsangan selaput otak (misalnya pada meningitis) dilakukan pemeriksaan : 1. Kaku kuduk Bila leher ditekuk secara pasif terdapat tahanan, sehingga dagu tidak dapat menempel pada dada —- kaku kuduk positif (+). 2. Tanda Brudzinski I Letakkan satu tangan pemeriksa dibawah kepala klien dan tangan lain didada klien untuk mencegah badan tidak terangkat. Kemudian kepala klien difleksikan kedada secara pasif. Brudzinski I positif (+) bila kedua tungkai bawah akan fleksi pada sendi panggul dan sendi lutut. 3. Tanda Brudzinski II Tanda Brudzinski II positif (+) bila fleksi tungkai klien pada sendi panggul secara pasif akan diikuti oleh fleksi tungkai lainnya pada sendi panggul dan lutut. 4. Tanda Kernig Fleksi tungkai atas tegak lurus, lalu dicoba meluruskan tungkai bawah pada sendi lutut. Normal, bila tungkai bawah membentuk sudut 1350 terhadap tungkai atas. Kernig + bila ekstensi lutut pasif akan menyebabkan rasa sakit terhadap hambatan. 5. Test Laseque Fleksi sendi paha dengan sendi lutut yang lurus akan menimbulk an nyeri sepanjang m. ischiadicus.

17

C. Tes Diagnostik Persarafan Lima Prosedur diagnostik yang lazim dilakukan yaitu Lumbal Pungsi, Angiografi, Elekto Encephalografi, Elektromiografi, Computerized Axial Tomografi Scan (CT Scan) Otak a. Lumbal Pungsi 1) Pengertian Adalah suatu cara pengambilan cairan cerebrospinal melalui pungsi pada daerah lumbal 2) Tujuan Mengambil cauran cerebrospinaluntuk kepentingan pemeriksaan/diagnostik maupun kepentingan therapi 3) Indikasi Untuk diagnostic: - kecurigaan meningitis - Kecurigaan perdarahan sub arachnoid - Pemberian media kontras pada pemeriksaan myelografi - Evaluasi hasil pengobatan Untuk Therapi: - Pemberian obat anti neoplastik atau anti mikroba intra tekal - Pemberian anesthesi spinal - Mengurangi atau menurunkan tekanan CS 4) Persiapan

18

a. Persiapan pasien - Memberi penyuluhan kepada pasien dan keluarga tentang lumbal pungsi meliputi tujuan, prosedur, posisi, lama tindakan, sensasi-sensasi yang akan dialami dan hal-hal yang mungkin terjadi berikut upaya yang diperlukan untuk mengurangi hal-hal tersebut - Meminta izin dari pasien/keluarga dengan menadatangani formulir kesediaan dilakukan tindakan lumbal pungsi. Meyakinkan klien tentang tindakan yang akan dilakukan

b. Persiapan Alat Bak streil berisi jarum lumbal, spuit dan jarum, sarung tangan, kassa

dan lidi kapas, botol kecil (bila akan dilakukan pemeriksaan bakteriologis), dan duk bolong. Tabung reaksi tiga buah Bengkok Pengalas

- Desinfektan (jodium dan alkohol) pada tempat - Plester dan gunting - Manometer - Lidokain/Xilocain - Masker. Gaun, tutup kepala 5) Prosedur pelaksanaan

19

a. Posisi pasien lateral recumbent dengan bagian punggung di pinggir tempat tidur. Lutut pada posisi fleksi menempel pada abdomen, leher fleksi kedepan dagunya menepel pada dada (posisi knee chest) b. Pilih lokasi pungsi. Tiap celah interspinosus vertebral dibawah L2 dapat digunakan pada orang dewasa, meskipun dianjurkan L4-L5 atau L5-S1 (Krista iliaca berada dibidang prosessus spinosus L4). Beri tanda pada celah interspinosus yang telah ditentukan. c. Dokter mengenakan masker, tutup kepala, pakai sarung tangan dan gaun steril. d. Desinfeksi kulit degan larutan desinfektans dan bentuk lapangan steril dengan duk penutup. e. Anesthesi kulit dengan Lidokain atau Xylokain, infiltrasi jaringan lebih dapam hingga ligamen longitudinal dan periosteum f. Tusukkan jarum spinal dengan stilet didalamnya kedalam jaringan subkutis. Jarum harus memasuki rongga interspinosus tegak lurus terhadap aksis panjang vertebra. g. Tusukkan jarum kedalam rongga subarachnoid dengan perlahanlahan, sampai terasa lepas. Ini pertanda ligamentum flavum telah ditembus. Lepaskan stilet untuk memeriksa aliran cairan serebrospinal. Bila tidak ada aliran cairan CSF putar jarumnya karena ujung jarum mungkin tersumbat. Bila cairan tetap tidak keluar. Masukkan lagi stiletnya dan tusukka jarum lebih dalam. Cabut stiletnya pada interval sekitar 2 mm dan periksa untuk aliran cairan CSF. Ulangi cara ini sampai keluar cairan. h. Bila akan mengetahui tekananCSF, hubungkan jarum lumbal dengan manometer pemantau tekanan, normalnya 60 - 180 mmHg dengan posisi pasien berrbaring lateral recumbent. Sebelum mengukur tekanan, tungkai dan kepala pasien harus diluruskan. Bantu pasien meluruskan kakinya perlahan-lahan. i. Anjurkan pasien untuk bernafas secara normal, hindarkan mengedan.

20

j. Untuk mengetahui apakah rongga subarahnoid tersumbat atau tidak, petugas dapat melakukan test queckenstedt dengan cara mengoklusi salah satu vena jugularis selama I\10 detik. Bila terdapat obstruksi medulla spinalis maka tekanan tersebut tidak naik tetapi apabila tidak terdapat obstruksi pada medulla spinalis maka setelah 10 menit vena jugularis ditekan, tekanan tersebut akan naik dan turun dalam waktu 30 detik k. Tampung cairan CSF untuk pemeriksaan. Masukkan cairan tesbut dalam 3 tabung steril dan yang sudah berisi reagen, setiap tabung diisi 1 ml cairan CSF. Cairan ini digunakan untuk pemeriksaan hitung jenis dan hitung sel, biakan dan pewarnaan gram, protein dan glukosa. Untuk pemeriksaan none-apelt prinsipnya adalah globulin mengendap dalam waktu 0,5 jam pada larutan asam sulfat. Cara pemeriksaanya adalah kedalam tabung reaksi masukkan reagen 0,7 ml dengan menggunakan pipet, kemudian masukkan cairan CSF 0,5 . diamkan selama 2 - 3 menit perhatikan apakah terbentuk endapan putih. Cara penilainnya adalah sebagai berikut: a) Cincin putih tidak dijumpai (-) b) Cincin putih sangat tipis dilihat dengan latar belakang hitam dan bila dikocok tetap putih (+) c) Cincin putih sangat jelas dan bila dikocok cairan menjadi opolecement (++) d) Cincin putih jelas dan bila dikocok cairan menjadi keruh (++ +) e) Cincin putih sangat jelas dan bila dikocok cairan menjadi sangat keruh (++++) Untuk test pandi bertujuan untuk mengetahui apakah ada peningkatan globulin dan albumin, prinsipnya adalah protein mengendap pada larutan jenuh fenol dalam air. cAranya adalah isilah tabung gelas arloji dengan 1 cc cairan reagen pandi

21

kemudian teteskan 1 tetes cairan CSF, perhatikan reaksi yang terjadi apakah ada kekeruhan. l. Bila lumbal pungsi digunakan untuk mengeluarkan cairan liquor pada pasien dengan hydrocepalus berat maka maksimal cairan dikeluarkan adalah 100 cc. m. Setelah semua tindakan selesai, manometer dilepaskan masukan kembali stilet jarum lumbal kemudian lepaskan jarumnya. Pasang balutan pada bekas tusukan 6) Setelah Prosedur a. Klien tidur terletang tanpa bantal selama 2 - 4 jam b. Observasi tempat pungsi terhadap kemungkinan pengeluaran cairan CSF c. Bila timbul sakit kepala, lakukan kompres es pada kepala, anjurkan tekhnik relaksasi, bila perlu pemberian analgetik dan tidur sampai sakit kepala hilang 7) Komplikasi a. Herniasi Tonsiler b. Meningitis dan empiema epidural atau sub dural c. Sakit pinggang d. Infeksi e. Kista epidermoid intraspinal f. Kerusakan diskus intervertebralis b. Angiografi 1) Pengertian Melihat secara langsung sistem pembuluh darah otak. Zat kontras dimasukkan melalui arteri. Biasanya pada arteri carotis dan arteri vertebra, atau mungkin juga pada arteri brchialis dan arteri femoralis

22

2)

Angiografi dapat mendeteksi : a. sumbatan pada pembuluh darah cerebral seperti pada stroke b. Anomali congenital pembuluh darah c. Pergeseran pembuluh darah yang mungkin mengindikasikan SOL (Space Ocupaying Lession) d. Malformasi vaskuler, seperti pada aneurisma atau angioma

3)

Persiapan Pasien Menciptakan rasa aman dan nyaman pada diri klien. Persiapan ini meliputi : a. Menjelaskan prosedur pelaksanaan, sensasi yang terjadi (rasa terbakar saat penyuntikan zat kontras yang lama kelamaan akan menghilang) b. Hal yang perlu dilakukan setelah tindakan dilakukan c. Surat izin tindakan telah ditandatangani klien

4)

Komplikasi a. Hematom pada daerah suntikan. Dapat dicegah dengan melakukan balut tekan pada daerah suntikan b. Keracunan zat kontras. Dapat dicegah dengan pemberian anti alergi sesuai program

5)

Setelah prosedur a. observasi tanda-tanda vital setiap jam sampai kondisi stabil b. Kompres es pada daerah suntikan untuk menghilangkan rasa nyeri dan mengurangi/mencegah hematom c. Klien tidur terlentang tanpa bantal selama 24 jam.

23

d. ika penyuntikan dilakukan pada daerah femoralis, tungkai harus tetap lurus selama 6-8 jam e. Catat perubahan-perubahan neurologi setelah tindakan angiografi.

c.

Elektro Encephalografi (EEG) 1. Pengertian Adalah suatu cara untuk merekam aktifitas listrik otak melalui tengkorak yang utuh. 2. Prinsip Kerja Dengan elektroda yang ditempelkan pada berbagai daerah tengkorak, potensial permukaan otak direkam. Perekaman ini berlangsung terus menerus untuk beberapa menit. Tegangan yang tercatat pada kertas yang bergerak berupa gelombang-gelombang. Dengan memasang 16 elektroda pada tengkorak aktivitas seluruh otak dapat di tekan dan diselidiki. Tegangan otak sebesar 50 mikrovolt agar dapat direkam harus diperkuat sampai 1 juta kali. Oleh karena itu aliran listrik dari sumber lain seperti gerakan otot kepala atau generator listrik juga ikut tercatat (artefak) Seluruh korteks serebri merupakan medan listrik yang diproduksi pada ujung-ujung dendrit. Tegangan potensial neuron pada setiap waktu berbeda sehingga potensial dendrit juga berubah-ubah. Fluktuasi ini yang tercatat pada kertas EEG. 4. Indikasi Pemasangan a. Penderita dicurigai atau dengan epilepsy b. Membedakan kelainan otak organic

24

c. Mengidentifikasi infark pembuluh darah atau adanya lesi (tumor, hematom, abses) d. Diagnosa retardasi mental atau over dosis obat e. Menentukan kematian jaringan otak

d.

Elektromyegrafi (EMG) 1. Pengertian Adalah suatu cara yang dilakukan untuk mengukur dan mencatat aliran listrik yang ditimbulkan oleh otot-otot skeletal. Dalam keadaan istirahat otot tidak melepaskan listrik, tetapi bila oto berkontraksi secara volunter potensial aksi dapat direkam. 2. Tujuan a. membantu membedakan antara gangguan otot primer seperti distrofi otot dan gangguan sekunder b. membantu menetukan penyakit degeneratif saraf sentral c. membantu mendiagnosa gangguan neuromuskular seperti myestania grafis

e. Computerized Axial Tomografi (CT Scan) 1. Pengertian CT Scan adalah suatu prosedur yang digunakan untuk mendapatkan gambaran dari berbagai sudut kecil dari tulang tengkorak dan otak. 2. pemeriksaan ini mendeteksi :

25

a. gambaran lesi dari tumor, hematoma dan abses b. perubahan vaskuler : malformasi, naik turunnya vaskularisasi dan infark c. brain contusion, brain atrofi, hydrocephalus d. inflamasi

DAFTAR PUSTAKA

Hudak & Gallo. 2002. Keperawatan Kritis. Jakarta: EGC Price. 2005. Anatomi Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta: Gramedia Smeltzer, Suzanne C & Bare, Brenda G. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal bedah. Jakarta : EGC Syarifussin, H. 1997. Anatomi Fisiologi Untuk siswa Perawat. Jakarta: EGC

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->