P. 1
makalah kalkulus integral tak wajar

makalah kalkulus integral tak wajar

|Views: 1,067|Likes:
makalah kalkulus integral tak wajar
makalah kalkulus integral tak wajar

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: Rozygynaga Xavierra Lummina on Jun 14, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/18/2014

pdf

text

original

MAKALAH KALKULUS II

“INTEGRAL TAK WAJAR”
Dosen : Ridha Endarani, Spd.




Disusun Oleh:
Roji Muhidin






STMIK MUHAMMADIYAHBANTEN
2013

June 12,
2013


M a k a l a h K a l k u l u s I I “ I n t e g r a l T a k W a j a r ” D o s e n : R i d h a E n d a r a n i . S p d


KATA PENGANTAR

Puji dan syukur senantiasa penulis panjatkan kehadlirat Allah swt. atas limpahan
rahmat dan karunia-Nya, sehingga ditengah-tengah kesibukan dan rutinitas penulis serta
dengan segala kekurangannya, dapat menyusun makalah ini yang diharapkan dapat
membantu pribadi penulis dan mahasiswa secara umumnya dalam mempelajari
Kalkulus II tentang “Integral”.
Makalah ini dimaksudkan untuk memberikan bekal kepada pribadi penulis dan
mahasiswa Jurusan Sistem Informasi, STMIK Muhammadiyah Banten yang sedang
mengikuti perkuliahan Kalkulus II. Kekurangan dan belum sempurnanya makalah ini
menjadi ‘tuntutan” penulis sehingga yang seharusnya teman-teman menerima banyak
pengetahuan tentang Kalkulus Integral dari makalah ini belum dapat terwujud
seluruhnya.
Terselesaikannya penulisan makalah ini tentu tidak terlepas dari bantuan rekan-
rekan seprofesi penulis di STMIK Muhammadiyah Banten, lebih-lebih teman-teman
kelas ku yang menjadi motivasi penulis untuk segera menyelesaikan makalah ini.
Semoga materi yang telah dituangkan dalam makalah ini, akan sangat berguna
bagi pribadi penulis dan mahasiswa STMIK Muhammadiyah Banten umumnya.
Kekurangan dan kekhilafan disana sini Insyaallah diperbaiki dikemudian hari.

Lebak, 12 Juni 2013
Penulis


June 12,
2013



M a k a l a h K a l k u l u s I I “ I n t e g r a l T a k W a j a r ” D o s e n : R i d h a E n d a r a n i . S p d


DAFTAR ISI

Kata Pengantar …………………………………………………………............ i
Daftar Isi ……………………………………………………………………….. ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ……………………………………………….. 1
1.2 Rumusan Masalah ……………………………………............. 2
1.3 Tujuan ....................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Integral Tak Wajar.................................................... 3
2.2 Integral tak wajar dengan integran diskontinu........................... 5
2.3 Integral tak wajar dengan batas tak hingga................................ 8
2.4 Rumus-rumus dasar Integral...................................................... 11
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan ............................................................................... 21
3.2 Saran-saran ............................................................................... 22
DAFTAR PUSTAKA PUSTAKA ………………………………………………………. 23












June 12,
2013


M a k a l a h K a l k u l u s I I “ I n t e g r a l T a k W a j a r ” D o s e n : R i d h a E n d a r a n i . S p d


BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
Konon dalam sejarah matematika, pelajaran integral lebih dikenal
dengan anti-differensial atau kalo di sekolah atau perguruan tinggi, kita lebih
mengenal kata “turunan” dibanding kata “differensial”. Jadi Integral itu adalah
kebalikan dari turunan. Baik integral ataupun differensial, keduanya merupakan
bagian dari ilmu Kalkulus dalam Matematika. Menurut sejarah, tokoh yang
mengembangkan dan memperkenalkan konsep differensial dan anti-differensial
(integral) dalam ilmu matematika adalah Gottfried Wilhelm Leibniz, atau lebih
dikenal dengan Leibniz saja.

Lambang integral seperti cacing berdiri dahulunya dikenal dengan
“Notasi Leibniz”, karena Leibniz lah yang memperkenalkan konsep integral dalam
Matematika, lambang integral seperti ini : ∫, diambil dari huruf pertama nama si
Leibniz, yaitu huruf “L”, namun pada zaman dahulu orang menuliskan huruf “L”
dalam bentuk yang indah, seperti berikut :
Ilmuwan dalam Perkembangan Matematika Hitung Integral
Sejak ilmu matematika berkembang dari abad sebelum masehi sampai abad
sesudah masehi juga sampai sekarang jaman modern. Ilmu tentang integral
mengalami perkembangan yang cukup bagus. Dari integral yang dikembangkan
oleh Leibnizh pada abad sesudah masehi sampai integral yang kembangkan oleh
Henstock-kurzweill jaman modern sekarang ini . menurut sejarahnya, orang yang
tercatat pertama kali mengemukakan ide tentang integral adalah Archimides,
seorang ahli matematika bangsa Yunani yang berasal dari Syracusa (287 – 212
SM). Ia menggunakan ide itu untuk menghitung luas daerah lingkaran, daerah
yang dibatasi parabola dan tali busur, dan sebagainya.

Hitung integral merupakan metode matematika dengan latar belakang
sejarah yang cukup unik. Banyak ilmuwan, baik matematika maupun non-
matematika, yang berminat terhadap perkembangan matematika hitung integral, di
antrannya sebagai berikut.

Tokoh-Tokoh Matematika dalam integral:

1. Archimedes (287-212 SM), seorang fisikawan sekaligus matematikawan dari
Syracuse, Yunani. Pada abad kedua sebelum masehi, Archimedes talah
menemukan ide penjumlahan untuk menentukan luas sebuah daerah tertutup
dan volume dari benda putar. Diantaranya adalah rumus lingkaran, luas segmen
parabola, volume bola, volume kerucut, serta volume benda putar yang lain. Ide
penjumlahan ini merupakan salah satu konsep dasar dari Kalkulus Integral.

June 12,
2013



M a k a l a h K a l k u l u s I I “ I n t e g r a l T a k W a j a r ” D o s e n : R i d h a E n d a r a n i . S p d

2. Isaac Newton (1642-1727 M), seorang matematikawan sekaligus fisikawan dari
Inggris. Isaac Newton dan Gottfried wilhelm Leibniz dalam kurun waktu yang
hampir bersamaan, meskipun bekerja sendiri-sendiri, telah menemukan
hubungan antara Kalkulus Differansial dan Kalkulus Integral. Walaupun
konsep luas daerah yang dibatasi oleh kurva tertutup (integral tertentu) telah
lebih dahulu diketahui, tetapi I Newton dan Leibniz merupakan dua tokoh
terkemuka dalam sejarah Kalkulus. Sebab, mereka mampu mengungkapkan
hubungan yang erat antara antiderivatif dengan intagral tertentu. Hubungan ini
dikenal dengan Teorema Dasar Kalkulus.

3. Gottfried wilhelm Leibniz (1646-1716 M), seorang ilmuwan jenius dari
Leipzig, Jerman. Leibniz seorang ilmuwan serba-bisa. Ia mendalami bidang
hukum, agama, filsafat, sejarah, politik, geologi, dan matematika. Selain
Teorema Dasar Kalkulus yang dikembangkan bersama Newton, Leibniz juga
terkenal dengan pemakaian lambang matematika. Lambang dx/dy bagi turunan
dan lambang ∫ bagi integral merupakan lambang-lambang yang diusulkan oleh
Leibniz dalam Hitung Differensial dan Hitung Integral.

4. George Friedrich Bernhard Riemann (1826-1866 M), seorang matematikawan
dari Gottingen, Jerman. Meskipun Teorema Dasar Kalkulus telah dikemukakan
oleh Newton, namun Riemann memberi definisi mutakhir tentang integral
tentu. Atas sumbangannya inilah integral tentu sering disebut sebagai Integral
Riemann.


1.2 Rumusan Masalah
Pengertian Integral
Pembagian Integral Tak Wajar
Integral Tak Wajar dengan integran diskontinu
Integral Tak Wajar dengan batas integrasi di tak hingga
1.3 Tujuan
 Agar kita dapat mengetahui pengertian Integral, Khususnya Integral tak
wajar
 Dapat Mengetahui Pembagian Integral tak wajar
 Dapat menyelesaikan Integral Tak Wajar dengan integrasi diskontinu
 Dapat menyelesaikan Integral Tak Wajar dengan batas integrasi tak hingga.




June 12,
2013



M a k a l a h K a l k u l u s I I “ I n t e g r a l T a k W a j a r ” D o s e n : R i d h a E n d a r a n i . S p d

BAB II
PEMBAHASAN

3.1 Pengertian Integral Tak Wajar
Sebelum membahas konsep tentang integral tak wajar, marilah kita ingat
kembali teorema dasar kalkulus pada integral tertentu.
Teorema:
Misal f(x) adalah fungsi yang kontinu dan terintegralkan pada I = [a,b], dan F(x)
sebarang antiturunan pada I, maka
}
b
a
dx x f ) ( = | | ) ( ) ( ) ( a F b F x F
b
a
÷ =
Contoh :
1.
4
2
4
2
2
2
1
) 1 (
} (
¸
(

¸

÷ = ÷ x x dx x
= (4- ½ .16) – (2- ½ 4)
= -4 – 0
= -4
2. | |
2
1
2
1
1 ln
1
}
+ =
+
x
x
dx

= ln (1+2) – ln (1+1)
= ln 3 – ln 2
3.
}
÷
2
1
1 x
dx
, tidak dapat diselesaikan dengan teorem di atas karena integran
f(x) =
x ÷ 1
1
tidak terdefinisi pada x = 1.
4.
}
÷
1
1
x
dx
, tidak dapat diselesaikan dengan teorema di atas, karena integran f(x) =
x
1

tidak terdefinisi di x = 0


June 12,
2013



M a k a l a h K a l k u l u s I I “ I n t e g r a l T a k W a j a r ” D o s e n : R i d h a E n d a r a n i . S p d

Dengan demikian tidak semua integral fungsi dapat diselesaikan dengan
teorema dasar kalkulus. Persoalan-persoalan integral seperti pada contoh 3 dan 4
dikategorikan sebagai integral tidak wajar.
Bentuk
}
b
a
dx x f ) ( disebut Integral Tidak Wajar jika:
a. Integran f(x) mempunyai sekurang-kurangnya satu titik yang tidak kontinu
(diskontinu) di [a,b], sehingga mengakibatkan f(x) tidak terdefinisi di titik
tersebut.
Pada kasus ini teorema dasar kalkulus
}
b
a
dx x f ) ( = F(b) – F(a) tidak berlaku lagi.
Contoh :
1)
}
÷
4
0
4 x
dx
, f(x) tidak kontinu di batas atas x = 4 atau f(x) kontinu di [0,4)
2)
}
÷
2
1
1 x
dx
, f(x) tidak kontinu di batas bawah x = 1 atau f(x) kontinu di (1,2]
3)
}
÷
4
0 3
2
) 2 ( x
dx
, f(x) tidak kontinu di x = 2 e[0,4] atau f(x) kontinu di [0,2)
(2,4]

b. Batas integrasinya paling sedikit memuat satu tanda tak hingga
1)
}
·
+
0
2
4 x
dx
, integran f(x) memuat batas atas di x = ·
2)
}
· ÷
0
2
dx e
x
, integran f(x) memuat batas bawah di x = - ·
3)
}
·
· ÷
+
2
4 1 x
dx
, integran f(x) memuat batas atas di x = ·dan batasa bawah di x =
- ·
Pada contoh a (1,2,3) adalah integral tak wajar dengan integran f(x) tidak
kontinu dalam batas-batas pengintegralan, sedangkan pada contoh b (1, 2, 3) adalah
integral tak wajar integran f(x) mempunyai batas di tak hingga ( ·).
June 12,
2013



M a k a l a h K a l k u l u s I I “ I n t e g r a l T a k W a j a r ” D o s e n : R i d h a E n d a r a n i . S p d

Integral tak wajar selesaiannya dibedakan menjadi Integral tak wajar dengan
integran diskontinu Integral tak wajar dengan batas integrasi tak hingga.

3.2 Integral tak wajar dengan integran diskontinu
a. f(x) kontinu di [a,b) dan tidak kontinu di x = b
Karena f(x) tidak kontinu di x = b, maka sesuai dengan syarat dan definsi
integral tertentu integran harus ditunjukkan kontinu di x = b - c ( ÷ c
+
0 ),
sehingga
} +
÷
=
b
a
dx x f
0
lim ) (
c

}
÷c b
a
dx x f ) (
Karena batas atas x = b - c ( x ÷b
÷
), maka
}
÷
÷
=
b
a
b t
dx x f lim ) (
}
t
a
dx x f ) (
Perhatikan beberapa contoh di bawah ini.
1)
} }
÷
÷
÷
=
÷
+
c
c
4
0
0
4
0
4
lim
4 x
dx
x
dx
, f(x) tidak kontinu di batas atas x = 4, sehingga
=
c
c
÷
÷
(
¸
(

¸

÷ ÷
+
4
0
0
4 2 lim x
= -2
+
÷0
lim
c
| | ) 0 4 ( ) 4 ( 4 ÷ ÷ ÷ ÷ c
= -2 ( 4 lim
0
÷
+
÷
c
c
)
= -2(0-2)
= 4
Cara lain :
} }
÷
=
÷
÷
÷
t
t
x
dx
x
dx
0
4
4
0
4
lim
4

= | |
t
t
x
0
4
4 2 lim ÷ ÷
÷
÷

= | | 0 4 2 4 2 lim
4
÷ + ÷ ÷
÷
÷
t
t

= -2(0)+2(2)
= 4


June 12,
2013



M a k a l a h K a l k u l u s I I “ I n t e g r a l T a k W a j a r ” D o s e n : R i d h a E n d a r a n i . S p d

2)
}
÷
÷
2
2
2
4 x
dx
, f(x) =
2
4
1
x ÷

Fungsi di atas tidak kontinu di x = 2 dan x = -2, sehingga:
maka =
÷
}
÷
2
2
2
4 x
dx
2
}
÷
2
0
2
4 x
dx

= 2
}
÷
2
0
2
4 x
dx

= 2
c
c
÷
÷
(
¸
(

¸

+
2
0
0
2
arcsin
x
Lim
= 2 ( ) 0
2
÷
t

= t

b. f(x) kontinu di (a,b] dan tidak kontinu di x = a
Karena f(x) tidak kontinu di x = a, maka sesuai dengan syarat dan definsi
integral tertentu integrannya harus ditunjukkan kontinu di x = a + c ( ÷ c
+
0 ),
sehingga
} +
÷
=
b
a
dx x f
0
lim ) (
c

}
+
b
a
dx x f
c
) (
Karena batas bawah x = a + c ( x ÷a
÷
) maka dapat dinyatakan dalam bentuk
lain:
}
+
÷
=
b
a
a t
dx x f lim ) (
}
b
t
dx x f ) (
Perhatikan beberapa contoh dibawah ini.
1) =
÷
}
4
3
3
3
x
dx
}
÷
+
÷
4
3
3
3
lim
t
t
x
dx

= | |
4
3
3 ) 2 ( 3 lim
t
t
x ÷
+
÷

= | | 3 6 3 4 6 lim
3
÷ ÷ ÷
+
÷
t
t

= 6(1) – 6(0)
= 6
June 12,
2013



M a k a l a h K a l k u l u s I I “ I n t e g r a l T a k W a j a r ” D o s e n : R i d h a E n d a r a n i . S p d

2)
} }
+
÷
+
=
1
0
1
0
0
lim
c
c
x
dx
x
dx
,f(x) tidak kontinu di batas bawah x = 0 sehingga
diperoleh:
| |
1
0
1
0
0
2 lim
c
c
+
÷
} +
= x
x
dx

= | | c
c
+ ÷
+
÷
0 2 1 2 lim
0

= 2 – 0
= 2
c. f(x) kontinu di [a,c) (c,b] dan tidak kontinu di x = c
Karena f(x) tidak terdefinisi di x = c, maka sesuai dengan syarat dan definsi
integral tertentu integrannya harus ditunjukkan kontinu di x = c + c dan x = c -
c ( ÷ c
+
0 ), sehingga
} } }
+ =
b
a
c
a
b
c
dx x f dx x f dx x f ) ( ) ( ) (
=
+
÷0
lim
c
}
÷c c
a
dx x f ) ( +
}
÷
÷
+
b
c
x f Lim
c
c
) (
0

Dapat juga dinyatakan dengan :
}
÷
÷
=
b
a
b t
dx x f lim ) (
}
t
a
dx x f ) ( +
+
÷a t
lim
}
b
t
dx x f ) (

Perhatikan beberapa contoh dibawah ini.
1)
}
÷
4
0
3
1 x
dx
, f(x) tidak kontinu di x = 1, sehingga diperoleh
} }
÷
+
÷
1
0
4
1
3 3
1 1 x
dx
dx
x
dx
, berdasarkan contoh sebelumnya didapat:
} }
+
÷
÷
÷
÷
+
÷
+ +
4
1
3
0
1
0
3
0
1
lim
1
lim
c
c
c
c
x
dx
x
dx

=
4
1
3
2
0
1
0
3
2
0
) 1 (
2
3
lim ) 1 (
2
3
lim
c
c
c
c
+
÷
÷
÷
(
¸
(

¸

÷ +
(
¸
(

¸

÷
+ +
x x
June 12,
2013



M a k a l a h K a l k u l u s I I “ I n t e g r a l T a k W a j a r ” D o s e n : R i d h a E n d a r a n i . S p d

=
2
3
) 1 0 ( ) 1 ) 1 ( lim
2
3
3
2
3
2
0
+
(
¸
(

¸

÷ ÷ ÷ ÷
+
÷
c
c
(
¸
(

¸

÷ + ÷ ÷
+
÷
3
2
3
2
0
) 1 ) 1 (( ) 1 4 ( lim c
c

= ) 9 1 (
2
3
3
+ ÷
2)
}
÷
÷
8
1
3
1
, dx x f(x) tidak kontinu di x = 0, sehingga diperoleh
dx x dx x
} }
÷
÷
÷
+
8
0
3
1 0
1
3
1

= dx x dx x
} }
+
÷
÷
÷
÷
÷
÷
+ +
+
8
0
3
1
0
0
1
3
1
0
lim lim
c
c
c
c

=
8
0
3
2
0
0
1
3
2
0
2
3
lim
2
3
lim
c
c
c
c
+
÷
÷
÷
÷
(
¸
(

¸

+
(
¸
(

¸

+ +
x x
= - 6
2
3
+
=
2
9


3.3 Integral tak wajar dengan batas tak hingga
Bentuk integral tak wajar dengan batas tak hingga jika sekurang-kurangnya
batas-batas integrasinya memuat tak hingga. Selesaiannya berbeda dengan integral
tak wajar yang integrannya tidak kontinu di salah satu batas intergrasinya.
a. Intergral tak wajar dengan batas atas x = ·.
Selesaiannya cukup dengan mengganti batas atas dengan sebarang variable
dimana variable tersebut mendekati tak hingga. Dengan demikian integral tak
wajar dengan batas atas tak hingga mempunyai selesaian berbentuk.
} }
· ÷
·
=
t
a
t
a
dx x f dx x f ) ( lim ) (
Perhatikan contoh berikut ini :
1)
}
·
+
0
2
1 x
dx
=
}
+
· ÷
t
t
x
dx
0
2
4
lim
June 12,
2013



M a k a l a h K a l k u l u s I I “ I n t e g r a l T a k W a j a r ” D o s e n : R i d h a E n d a r a n i . S p d

=
t
t
x
0
2
arctan
2
1
lim
(
¸
(

¸

÷·

=
(
¸
(

¸

÷
· ÷
0 arctan
2
1
2
arctan
2
1
lim
t
t

= ( ½ .
2
t
- ½ .0)
=
4
t

2)
}
·
1
2
x
dx
=
· ÷ t
lim
}
t
x
dx
1
2

=
t
t
x
1
1
lim
(
¸
(

¸

÷
· ÷

=
t
t
t
1
1
1
lim
(
¸
(

¸

+ ÷
· ÷

= 1

b. Integral tak wajar dengan batas bawah di x = - ·
Selesaiannya cukup dengan mengganti batas bawah dengan sebarang variable
dimana variable tersebut mendekati (negative) tak hingga. Dengan demikian
integral tak wajar dengan batas bawah tak hingga mempunyai selesaian:

} }
· ÷
÷· ÷
=
a
t
a
t
dx x f dx x f ) ( lim ) (
Perhatikan contoh berikut ini:
1.
}
· ÷
0
2x
e dx =
0
2
2
1
lim
t
x
t
e
(
¸
(

¸

÷· ÷

=
(
¸
(

¸

÷
÷· ÷
t
t
e
2
2
1
1 .
2
1
lim
= ½ - 0
= ½
June 12,
2013



M a k a l a h K a l k u l u s I I “ I n t e g r a l T a k W a j a r ” D o s e n : R i d h a E n d a r a n i . S p d

2.
}
· ÷
÷
0
2
) 4 ( x
dx
=
0
) 4 (
1
lim
t
t
x
(
¸
(

¸

÷
÷· ÷

=
(
¸
(

¸

÷
+
÷
÷· ÷
) 0 4 (
1
) 4 (
1
lim
t
t

= 0 +
4
1

= ¼
c. Integral tak wajar batas atas x = · dan batas bawah di x = - ·
Khusus untuk bentuk integral ini diubah terlebih dahulu menjadi penjumlahan
dua integral tak wajar dengan
} } }
·
· ÷ · ÷
·
+ =
a
a
dx x f dx x f x x f ) ( ) ( ) ( , sehingga bentuk
penjumlahan integral tak wajar ini dapat diselesaikan dengan cara a dan b
tersebut di atas, atau diperoleh bentuk:

} } }
·
· ÷ · ÷
·
+ =
a
a
dx x f dx x f x x f ) ( ) ( ) (
=
} }
· ÷ ÷· ÷
+
t
a
a
t
t t
dx x f dx x f ) ( lim ) ( lim
Perhatikan beberapa contoh dibawah ini:
1.
}
·
· ÷
+
2
4 1 x
dx

=
} }
· ÷
·
+
+
+
0
0
2 2
4 1 4 1 x
dx
x
dx

= | |
0
4 lim
t
t
x arctg
÷· ÷
+ | |
t
t
x arctg
0
4 lim
· ÷

=
2
t

2.
}
·
· ÷
+1
2x
x
e
dx e
=
}
· ÷
+
0
2
1
x
x
e
dx e
+
}
·
+
0
2
1
x
x
e
dx e

=
÷· ÷ t
lim
}
+
0
2
1
t
x
x
e
dx e
+
`
lim
· ÷ t
}
+
t
x
x
e
dx e
0
2
1

June 12,
2013



M a k a l a h K a l k u l u s I I “ I n t e g r a l T a k W a j a r ” D o s e n : R i d h a E n d a r a n i . S p d

=
÷· ÷ t
lim (arc tgn e
x
)
0
t
+
· ÷ t
lim (arc tgn e
x
)
t
0

= + ÷
4 2
t t
0
4
÷
t
=
2
t

3.4 Rumus-rumus dasar Integral
Misal u adalah suatu fungsi yang terintegralkan dan C sebuah konstanta,
dengan memperhatikan sifat-sifat operasi Aljabar fungsi (penjumlahan,
pengurangan, perkalian dan pembagian) dapat diperikan beberapa sifat Integral tak
tentu fungsi yang terintegralkan. Sifat-sifat berikut berlaku untuk syarat yang
diberikan.
1.
}
n
u du =
1
1
+
+
n
u
n
+ C, jika n = -1
2. | |
| |
C
n
x u
dx x u x u
n
n
+
+
=
+
}
1
) (
) ( ' ) (
1
, jika n = -1
3.
}
u
du
= ln u + C atau
}
+ = C x f dx
x f
x f
) ( ln
) (
) ( '

4.
}
e
u
du = e
u
+ C
5.
}
a
u
du =
u
a
u
ln
+ C
6.
}
u dv = uv -
}
v du
7.
}
sin du = - cos u + C
8.
}
cos u du = sin u + C
9.
}
sec
2
u du = tan u + C
10.
}
csc
2
u du = - cot u + C
11.
}
sec u tan u du = sec u + C
12.
}
csc u cot u du = - csc u + C
13.
}
tan u du = ln u sec + C
14.
}
cot u du = ln u sin + C
June 12,
2013



M a k a l a h K a l k u l u s I I “ I n t e g r a l T a k W a j a r ” D o s e n : R i d h a E n d a r a n i . S p d

15.
}
sec u du = ln u u tan sec + + C
16.
}
csc u du = ln u u c cot sec ÷ + C
17.
}
2 2
u a
du
÷
= arc sin
a
u
+C
18.
} 2 2
u a
du
+
=
a
1
arc tan
a
u
+ C
19.
}
=
÷
2 2
u a
du

a 2
1
ln
a u
a u
÷
+
+ C
20.
}
=
÷
2 2
a u
du

a 2
1
ln
a u
a u
+
÷
+ C
21.
}
+
2 2
a u
du
= ln (u +
2 2
a u + ) + C
22.
}
÷
2 2
a u
du
= ln (u +
2 2
a u ÷ ) + C
23.
}
2 2
u a ÷ du = ½ u ÷ ÷
2 2
a u C
a
u
a + arcsin
2
1
2

24.
}
2 2
a u u
du
÷
=
a
1
arc sec
a
u
+ C
25.
}
÷
2 2
a u du = ½ u ÷ ÷
2 2
a u
2 2 2
ln
2
1
a u u a ÷ + + C
26.
}
+
2 2
a u du = ½ u + +
2 2
a u
2 2 2
ln
2
1
a u u a + + + C
27.
}
sin
2
u du =
2
1
u –
4
1
sin 2u + C
28.
}
cos
2
u du =
2
1
u + ¼ sin 2u + C
29.
}
tan
2
u du = -u + tan u + C
30.
}
cot
2
u du = - u – cot u + C
31.
}
sin
3
u du = -
3
1
( 2 + sin
2
u ) cos u + C
32.
}
cos
3
u du =
3
1
( 2 + cos
2
u ) sin u + C
June 12,
2013



M a k a l a h K a l k u l u s I I “ I n t e g r a l T a k W a j a r ” D o s e n : R i d h a E n d a r a n i . S p d

33.
}
tan
3
u du =
2
1
tgn
2
u + ln u cos + C
34.
}
cot
3
u du = -
2
1
cot
2
u - ln u sin + C
35.
}
sec
3
u du =
2
1
sec u tan u +
2
1
ln u u tan sec + + C
36.
}
csc
3
u du = -
2
1
csc u cot u +
2
1
ln u u c cot sec ÷ + C
37.
}
sin au sin bu du =
) ( 2
) sin(
b a
u b a
÷
÷
-
) ( 2
) sin(
b a
u b a
+
+
+ C, jika a
2
= b
2

38.
}
cos au cos bu du =
) ( 2
) sin(
b a
u b a
÷
÷
+
) ( 2
) sin(
b a
u b a
+
+
+ C, jika a
2
= b
2

39.
}
sin au cos bu du = -
) ( 2
) cos(
b a
u b a
÷
÷
-
) ( 2
) cos(
b a
u b a
+
+
+ C, jika a
2
= b
2

40.
}
sin
n
u du = -
n
u u
n
cos sin
1 ÷
+
n
n 1 ÷

}
sin
n-2
u du
41.
}
cos
n
u du =
n
u u
n
sin cos
1 ÷
+
n
n 1 ÷

}
cos
n-2
u du
42.
}
tan
n
u du =
1
1
÷ n
tan
n-1
u -
}
÷2
tan
n
u du jika n = 1
43.
}
cot
n
u du = -
1
1
÷ n
cot
n-1
u -
}
÷2
cot
n
gn u du jika n = 1
44.
}
sec
n
u du =
1
1
÷ n
sec
n-2
u tgn u +
1
2
÷
÷
n
n
}
sec
n-2
u du, jika n = 1
45.
}
csc
n
u du= -
1
1
÷ n
csc
n-2
u cot u +
1
2
÷
÷
n
n
}
csc
n-2
u du, n = 1
46.
}
sin
n
ucos
m
u du = -
m n
u u
m n
+
+ ÷ 1 1
cos sin
+
m n
n
+
÷1
}
sin
n-2
u cos
m
u du,
n = -m
47.
}
u sin u du = sin u – u cos u + C
48.
}
u cos u du = cos u + u sin u + C
49.
}
u
n
sin u du = -u
n
cos u + n
}
u
n-1
cos u du
50.
}
u
n
cos u du = u
n
sin u + n
}
u
n-1
sin u du
June 12,
2013



M a k a l a h K a l k u l u s I I “ I n t e g r a l T a k W a j a r ” D o s e n : R i d h a E n d a r a n i . S p d

51.
}
sin u d(sin u) =
2
1
sin
2
u + C
52.
}
cos u d(cos u) =
2
1
cos
2
u + C
53.
}
tan u d(tan u) =
2
1
tan
2
u + C
54.
}
cot u d(cot u) = ½ cot
2
u + C
55.
}
sec u d(sec u) = ½ sec
2
u + C
56.
}
csc u d(csc u) = ½ csc
2
u + C
57.
}
2 2
a u ± du =
2
u
2 2
a u ± ±
2
2
a
ln
2 2
a u u ± + + C
58.
}
u
a u
2 2
+
du =
2 2
a u + - a ln
|
|
.
|

\
|
÷ ±
u
u u a
2 2
+ C
59.
}
2 2
a u
du
±
= ln
2 2
a u u ± + + C
60.
}
u
a u
2 2
÷
du =
2 2
a u ÷ - a arc sec
a
u
+ C
61.
}
u
2 2 2
u a ± du =
8
u
(2a
2
± u
2
)
2 2
u a ± -
8
4
a
ln
2 2
u a u ± + + C
62.
}
2 2
2
a u
u
±
du =
2
u
2 2
u a ± ±
2
2
a
ln
2 2
u a u ± + + C
63.
}
2 2 2
a u u
du
±
= ±
u a
a u
2
2 2
±
+ C
64.
} 2
2 2
u
a u ±
du = -
u
a u
2 2
±
- ln
2 2
u a u ± + + C
65.
}
2
3
2 2
) ( a u
du
±
=
2 2 2
a u a
u
±
± + C
66.
}
÷
2 2
u a
udu
= -
2 2
u a ÷ + C
67.
}
(
2 2
a u ± )
3/2
du =
8
u
(2u
2
± 5a
2
)
2 2
a u ± +
8
3
4
a
ln
2 2
a u u ± + + C
June 12,
2013



M a k a l a h K a l k u l u s I I “ I n t e g r a l T a k W a j a r ” D o s e n : R i d h a E n d a r a n i . S p d

68.
}
2 2
u a ÷ du =
2
a
2 2
u a ÷ +
u
a
2
arc sin
-1

a
u
+ C
69.
}
2 2
2
u a
u
÷
du = -
2
a
2 2
u a ÷ +
u
a
2
arc sin
-1

a
u
+ C
70.
}
u
u a
2 2
÷
du =
2 2
u a ÷ - a ln
u
u a a
2 2
÷ +
+ C
71.
}
u
2 2 2
u a ÷ du =
8
u
(2u
2
- a
2
)
2 2
u a ÷ +
8
4
a
arc sin
-1

a
u
+ C
72.
}
2 2 2
u a u
du
÷
= -
u a
u a
2
2 2
÷
+ C
73.
} 2
2 2
u
a u ÷
du = -
u
a u
2 2
÷
- arc sin
-1

a
u
+ C
74.
}
2 2
u a u
du
÷
= -
a
1
ln
u
u a a
2 2
÷ +
+ C
75.
}
÷u u
du
1
= ln
x
x
÷ +
÷ ÷
1 1
1 1
+ C
76.
}
+ u
u
1
du = 2 u - 2 arc tan u + Cl
77.
}
+ ) 1 ( u u
du
= 2 ln (1+ u )
78.
}
2
3
2 2
) ( u a
du
÷
=
2 2 2
u a a
u
÷
+ C
79.
}
(
2 2
u a ÷ )
3/2
du =
8
u
(5a
2
- 2u
2
)
2 2
u a ÷ +
8
3
4
a
arc sin
-1

a
u
+ C
80.
}
ue
u
du = (u-1)e
u
+ C
81.
}
u
n
e
u
du = u
n
e
u
– n
}
u
n-1
e
u
du
82.
}
ln u du = u ln u – u + C
83.
}
u
n
ln u du =
1
1
+
+
n
u
n
ln u -
2
1
) 1 ( +
+
n
u
n
+ C
June 12,
2013



M a k a l a h K a l k u l u s I I “ I n t e g r a l T a k W a j a r ” D o s e n : R i d h a E n d a r a n i . S p d

84.
}
e
au
sin bu du =
2 2
b a
e
au
+
(a sin bu – b cos bu) + C
85.
}
e
au
cos bu du =
2 2
b a
e
au
+
(a cos bu + b sin bu) + C
86.
}
arc sin
-1
u du = u arc sin
-1
u +
2
1 u ÷ + C
87.
}
arc tan u du = u arc tan u -
2
1
ln
2
1 u + + C
88.
}
arc sec u du = u arc sin u – ln
2
1 u u + + + C
89.
}
u arc sin u du = ¼ (2u
2
– 1) arc sin u +
4
u

2
1 u ÷ + C
90.
}
u arc tan u du = ½ (u
2
+ 1) arc tan u -
2
u
+ C
91.
}
u arc sec u du =
2
2
u
arc sec u – ½ 1
2
÷ u + C
92.
}
u arc sin u du =
1
1
+
+
n
u
n
arc sin u -
1
1
+ n
}
÷
+
2
1
1 u
u
n
du + C, jika n = -1
93.
}
u
n
arc tan u du =
1
1
+
+
n
u
n
arc tan u -
1
1
+ n
}
+
+
2
1
1 u
u
n
du + C, jika n = -1
94.
}
u
n
arc sec u du =
1
1
+
+
n
u
n
arc sec u -
1
1
+ n
}
÷
+
1
2
1
u
u
n
du + C, jika n = -1
95.
}
sinh u du = cosh u + C
96.
}
cosh u du = sinh u + C
97.
}
tanh u du = ln (cosh u ) + C
98.
}
coth u du = ln u sinh + C
99.
}
sech u du = arc tan u sinh + C
100.
}
csch u du = ln
2
tanh
u
+ C
101.
}
sinh
2
u du = ¼ sinh u -
2
u
+ C
June 12,
2013



M a k a l a h K a l k u l u s I I “ I n t e g r a l T a k W a j a r ” D o s e n : R i d h a E n d a r a n i . S p d

102.
}
cosh
2
u du = ¼ sinh u +
2
u
+ C
103.
}
tanh
2
u du = u - tanh u + C
104.
}
coth
2
u du = u – coth u + C
105.
}
sech
2
u du = tanh u + C
106.
}
csch
2
u du = -coth u + C
107.
}
sech u tgnh u du = - sech u + C
108.
}
csch u coth u du = - csch u + C
109.
}
u(au+b)
-1
du =
2
a
b
a
u
÷ ln b au + + C
110.
}
u(au + b)
-2
du =
(
¸
(

¸

+
+ +
b au
b
b au
a
ln
1
2
+ C
111.
}
u(au+b)
n
du =
2
1
) (
a
b au
n+
+
(
¸
(

¸

+
÷
+
+
1 2 n
b
n
b au
+ C, jika n = -1, -2
112.
} n
u a
du
) (
2 2
±
=
(
¸
(

¸

±
÷ +
± ÷
} ÷ ÷ 1 2 2 1 2 2 2
) (
) 1 2 (
) ( ) 1 ( 2
1
n n
u a
du
n
u a
u
n a
+ C, n = 1
113.
}
u b au + du = C b au b au
a
+ + ÷
2
3
2
) )( 2 3 (
15
2

114.
}
u
n
b au + du =
|
|
.
|

\
|
+ ÷ +
+
}
÷
b au u nb b au u
n a
n n 1
2
3
) (
) 3 2 (
2
+ C
115.
}
b au
udu
+
= b au b au
a
+ ÷ ) 2 (
3
2
2
+ C
116.
}
b au
du u
n
+
=
) 1 2 (
2
+ n a
( ) b au u
n
+ -nb
}
+
÷
du
b au
u
n 1

117.
}
b au u
du
+
=
b
1
ln
b b au
b b au
+ +
÷ +
+ C
118.
}
b au u
du
n
+
= -
}
+
÷
÷
÷
÷
+
÷ ÷
b au u
du
b n
a n
u n b
b au
n n 1 1
) 2 2 (
) 3 2 (
) 1 (
+ C, jika n = 1
119.
}
2
2 u au ÷ = arc
n
a
u au
a u
2
2
2
2
+ ÷
÷
sin
a
a u ÷
+ C
June 12,
2013



M a k a l a h K a l k u l u s I I “ I n t e g r a l T a k W a j a r ” D o s e n : R i d h a E n d a r a n i . S p d

120.
}
2
2 u au
du
÷
= arc sin
a
a u ÷
+ C
121.
}
u
n 2
2 u au ÷ = +
+
÷
÷
2
) 2 (
2
3
2 1
n
u au u
n
2
) 1 2 (
+
+
n
a n
}
÷
÷ 2 1
2 u au u
n
du
122.
}
2
2 u au
du u
n
÷
= -
2
1
2 u au
n
u
n
÷
÷
+
}
÷
n
a n ) 1 2 (
2
1
2 u au
du u
n
÷
÷
+ C
123.
}
u
u au
2
2 ÷
= + ÷
2
2 u au a arc sin
a
a u ÷
+ C
124.
} n
u
u au
2
2 ÷
= +
÷
÷
n
au n
u au
) 2 3 (
) 2 (
2
3
2
} ÷
÷
÷
÷
du
u
u au
a n
n
n 1
2
2
) 3 2 (
3

125.
}
) 2 (
2
u au u
du
n
÷
=
}
÷
÷
÷
+
÷
÷
÷ 2 1
2
2
) 1 2 (
1
) 2 1 (
2
u u u
du
a n
n
u n a
u au
n
n

126.
}
(
2
2 u au ÷ )
2
=
}
÷
÷
+
1 2
2
) 2 (
1
n
u au
n
na
du
127.
}
4 2
) 2 ( u au
du
÷
= ( )
}
÷
÷
÷
+ ÷
÷
÷
÷
2
3
2
2
2
2
2
) 2 (
) 2 (
3
2
) 2 (
u au
du
a n
n
u au
n
a u
n
du
128. 1
2
1
tan ln
1 cos sin
÷ =
÷ ÷
}
u
u u
du
+ C
129. u
u u
du
2
1
tan 1 ln
cos sin 1
+ =
+ +
}
+ C
130.
}
+
du
u
udu
2
sin 1
sin
= 2
4
1
ln
2 2 3
2
tan
2 2 3
2
tan
2
2
+ +
÷ +
u
u
+ C
131.
}
=
÷ u
udu u
cos 1
cos sin
cos u + ln (1-cos u) + C
132.
}
sin u du = - u 2 cos u + 2 sin u + C
133.
}
÷ u
du
sin 2 1
=
3 2
2
tan
3 2
2
tan
ln
3
3
+ ÷
÷ ÷
u
u
+ C
June 12,
2013



M a k a l a h K a l k u l u s I I “ I n t e g r a l T a k W a j a r ” D o s e n : R i d h a E n d a r a n i . S p d

134.
}
+ u
du
sin 2
=
3
1
2
2
3
2
+
u
tgn
arctgn + C
135.
}
+ u
du
sin 5 3
=
3
2
tan
1
2
tan 3
ln
4
1
+
+
u
u
+ C

136.
}
+ u
du
sin 3 5
= arctan
2
1
4
3
2
tan 5 +
u
+ C
137.
}
u u
du
cos sin 1 ÷ +
= ln
2
tan 1
2
tan
u
u
+
+ C
138.
}
÷ u
du
cos 2
= )
2
tan 3 arctan(
3
2 u
+ C
139. C
u
u
du
+
+
=
+
}
3
4
2
tan 5
arctan
3
2
sin 4 5

140. C
u
u
du
+
|
|
.
|

\
|
=
+
}
2
tan
3
3
arctan
3
3 2
cos 2

141.
}
C
u
u
du
+ =
÷
)
2
tan 5 arctan(
5
5 2
2 3

142. C
u
u
u u
udu
+
+
=
+
}
cos
cos 1
ln
) cos 1 ( cos
sin
2
2

143. + + =
+
+
}
u
u
udu u
tan 1 ln
tan 1
sec ) tan 2 (
2
2 2
C
u
+
÷
3
1 tan 2
arctan
3
2

144.
}
=
÷
2
sin 1
x
dx
2(tan C
x x
+ + )
2
sec
2

145.
}
+
÷
=
+
C
x
x
x
dx
3 sin 3
3 cos 1
3 cos 1

June 12,
2013



M a k a l a h K a l k u l u s I I “ I n t e g r a l T a k W a j a r ” D o s e n : R i d h a E n d a r a n i . S p d

146. C
x
x
xdx
+ =
+
}
2 2
2 sin
arctan
8
2
8 2 sin
2 cos
2

147.
2
1
tan 4 1
sec
2
2
=
÷
}
x
xdx
arc sin(2 tan x) + C
148.
}
+ =
+
C
x
x
xdx
3
4 sin
arctan
12
1
4 sin 9
8 sin
2
2

149.
}
+ ax
dx
sec 1
= x +
a
1
(cot ax-csc ax) + C
150. C
a
x
a dx
a
x
a
x
+ =
}
2 2
tan
2
1
tan sec























June 12,
2013



M a k a l a h K a l k u l u s I I “ I n t e g r a l T a k W a j a r ” D o s e n : R i d h a E n d a r a n i . S p d

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dalam kalkulus, integral takwajar adalah limit dari integral tentu dengan
batas pengintegralan mendekati bilangan riil tertentu, atau ∞ −∞ atau, pada beberapa
kasus, keduanya.
Dengan kata lain, integral tak wajar adalah limit dalam bentuk


atau dalam bentuk

dengan limit diambil pada salah satu batas atau keduanya. (Apostol 1967, §10.23).
Integral takwajar juga dapat terjadi pada titik dalam domain pengintegralan, atau
pada beberapa titik seperti itu.

Integral takwajar sering perlu digunakan untuk menghitung nilai integral
yang tidak ada dalam arti konvensional (misalnya sebagai integral Riemann), karena
adanya singularitas pada fungsi yang hendak diintegralkan, atau salah satu batas
adalah takhingga..
Bentuk
}
b
a
dx x f ) ( disebut Integral Tidak Wajar jika:
a. Integran f(x) mempunyai sekurang-kurangnya satu titik yang tidak kontinu
(diskontinu) di [a,b], sehingga mengakibatkan f(x) tidak terdefinisi di titik
tersebut.
b. Batas integrasinya paling sedikit memuat satu tanda tak hingga

Integral tak wajar selesaiannya dibedakan menjadi Integral tak wajar dengan
integran diskontinu dan dengan batas integrasi tak hingga.
Integral tak wajar dengan integran diskontinue, yaitu diantaranya :
 f(x) kontinu di [a,b) dan tidak kontinu di x = b
 f(x) kontinu di (a,b] dan tidak kontinu di x = a
 f(x) kontinu di [a,c) (c,b] dan tidak kontinu di x = c
Integral tak wajar dengan batas tak hingga, yaitu seperti:
 Intergral tak wajar dengan batas atas x = ·.
 Integral tak wajar dengan batas bawah di x = - ·
 Integral tak wajar batas atas x = · dan batas bawah di x = - ·
June 12,
2013



M a k a l a h K a l k u l u s I I “ I n t e g r a l T a k W a j a r ” D o s e n : R i d h a E n d a r a n i . S p d


3.2 Saran-Saran
Demikian makalah ini kami selesaikan sebagai salah satu tugas perkuliahan
pada semester 2 ini. Namun kami sebagai penyusun , menyadari terdapat
kekurangan maupun kekhilafan atau kesalahan, baik dalam penyelesaian maupun
pemaparan dari makalah kami ini.
Dari itu, kami sangat mengharap dari para pembaca atau pendengar sekalian,
baik teman-teman maupun Ibu Dosen sebagai pembimbing dalam mata kuliah ini,
untuk turut serta dalam memberikan kritik yang membangun dan saran yang baik
tentunya agar kedepanya nanti kami akan dan bisa menjadi lebih maju dan baik dari
sebelumnya. Amin Ya Rabbal ‘Alamin.!























June 12,
2013



M a k a l a h K a l k u l u s I I “ I n t e g r a l T a k W a j a r ” D o s e n : R i d h a E n d a r a n i . S p d

DAFTAR PUSTAKA

Dale Varberg., Edwin J. Purcell. 2001. Kalkulus Jilid I (edisi 7). Alih Bahasa I
Nyoman Susila. Batam: Interaksara.

Koko Martono, 1993. Kalkulus Integral I. Bandung: Alva Gracia

Achsanul In’am, 2000. Kalkulus I. Malang: UMM Press.












You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->