P. 1
Penerapan Model Pembelajaran Problem Posing Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa SMP Pada Mata Pelajaran Tik

Penerapan Model Pembelajaran Problem Posing Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa SMP Pada Mata Pelajaran Tik

|Views: 289|Likes:
Published by Bocah Bocah Unpam

More info:

Published by: Bocah Bocah Unpam on Jun 14, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/18/2015

pdf

text

original

Penerapan Model Pembelajaran Problem Posing Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa SMP Pada Mata Pelajaran Tik

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM POSING UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA SMP PADA MATA PELAJARAN TIK (MUSTIKA, Kiki Dina - www.repository.upi.edu)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) merupakan keterampilan yang memerlukan kemampuan intelektual, materinya berupa tematema esensial, aktual serta global yang berkembang dalam kemajuan teknologi pada masa kini, TIK adalah perpaduan dari cabang-cabang ilmu pengetahuan, materi TIK melibatkan berbagai disiplin ilmu dan mencakup berbagai aspek kehidupan masyarakat. Sering kali siswa merasa kesulitan memahami materi TIK yang diberikan guru dan kurang terampil menggunakan aplikasi dalam pelajaran TIK. Hal ini terjadi karena sampai saat ini masih banyak guru yang tidak menggunakan model pembelajaran, guru membacakan atau memberikan bahan yang disiapkannya sedangkan siswa mendengarkan, mencatat dengan teliti dan mencoba menyelesaikan soal sebagaimana yang dicontohkan oleh guru. Hal tersebut menjadikan sikap siswa cenderung pasif, pada akhirnya membuat siswa hanya mampu menyelesaikan sesuatu permasalahan terbatas kepada masalah yang dicontohkan saja. Kemudian merasa kesulitan ketika diberikan permasalahan yang baru. Selengkapnya BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Model Pembelajaran Makna model pembelajaran adalah sebagai suatu rencana mengajar yang memperlihatkan pola pembelajaran tertentu, dalam pola tersebut dapat terlihat kegiatan guru-peserta didik di dalam mewujudkan kondisi belajar atau sistem lingkungan yang menyebabkan terjadinya belajar pada peserta didik. Di dalam pola pembelajaran yang dimaksud terdapat karakteristik berupa rentetan atau tahapan perbuatan/kegiatan guru-peserta didik yang dikenal dengan istilah sintaks. Ada beberapa ciri-ciri model pembelajaran secara khusus diantaranya adalah : a. Rasional teoritik yang logis yang disusun oleh para pencipta atau pengembangnya. b. Landasan pemikiran tentang apa dan bagaimana siswa belajar. c. Tingkah laku mengajar yang diperlukan agar model tersebut dapat dilaksanakan dengan berhasil. Selengkapnya BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan penelitian quasi eksperimen. Bentuk desain eksperimen ini merupakan pengembangan dari true eksperimental design, yang sulit dilaksanakan. Walaupun demikian desain ini lebih baik dari preeksperimental design. Quasi eksperimental design, digunakan karena pada kenyataannya sulit

Arikunto. dan kejadian yang terjadi pada saat ini.mendapatkan kelompok kontrol yang digunakan untuk penelitian. Jakarta : Rineka Cipta Xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx . Suharsimi. peneliti melakukan studi literature mengenai model pembelajaran problem posing dan mencari penelitian-penelitian lain yang mendukung mengenai hal-hal yang berhubungan dengan model pembelajaran problem posing. Evaluasi Pembelajaran. (2011). metode ini juga sesuai dengan salah satu tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui peningkatan hasil belajar peserta didik setelah diterapkan model pembelajaran problem posing dengan melihat perbedaan antara pretest dan posttest. Identifikasi Awal Peneliti mencari sekolah yang memberikan izin untuk melaksanakan penelitian. penulis dapat mengemukakan kesimpulan sebagai berikut : 1. Setelah memperoleh izin. Tahap Analisis Permasalahan Pada tahap ini. Peserta didik menyukai atau memberi respon positif terhadap pembelajaran TIK dengan menerapkan model pembelajaran Problem Posing. Selengkapnya BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Jakarta : Bumi Aksara Arikunto. Prosedur Penelitian. Selengkapnya BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Selain itu. (2000). Menurut Sudjana (2005) penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menginformasikan suatu gejala atau peristiwa. Metode ini digunakan dengan alasan bahwa tidak mungkin ada dua kelas yang memiliki peserta didik yang kondisinya sama persis. dan keadaan peserta didik. peneliti mencari informasi mengenai tentang keadaan sekolah. sarana dan prasarana (laboratorium). Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian quasi eksperimen dalam penerapan model pembelajaran problem posing untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik pada pembelajaran TIK di SMP Negeri 23 Bandar Lampung. Suharsimi. Tahap Persiapan 1. Selengkapnya DAFTAR PUSTAKA Arifin. Penerapan model pembelajaran Problem Posing dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik secara signifikan pada mata pelajaran TIK pada masingmasing pertemuan. Bandung : Remaja Rosdakarya. (2003). diantaranya mengidentifikasi silabus mata pelajaran TIK. Suharsimi. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Zainal. B. Sekolah yang memberikan izin untuk dijadikan sebagai tempat penelitian adalah SMP Negeri 23 Bandar Lampung. Jakarta : Rineka Cipta Arikunto. Manajemen Penelitian. 2. (2008)..

yang berakar pada nilai-nilai agama. mandiri. sehat. nilai keagamaan. Pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945. cakap. penghayatan dan kesadaran yang tinggi akan hak-hak dan kewajibannya serta mampu dan cakap melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari di segala bidang kehidupan dengan dilandasi oleh prinsip proporsionalitas. masyarakat. nilai-nilai pluralitas sosio-budaya. dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. LATAR BELAKANG MASALAH Dalam kehidupan suatu negara. kecerdasan. kebudayaan nasional Indonesia. nilai-nilai spiritualitas keagamaan. pendidikan memegang peranan yang amat penting untuk menjamin kelangsungan hidup bangsa dan negara. pengendalian diri. Betapa tidak? Pendidikan Kewarganegaraan merupakan mata pelajaran yang memiliki karakteristik spesifik dalam hal orientasinya untuk membentuk pribadi peserta didik agar menjadi warga negara yang baik yang memiliki pemahaman. nilai-nilai nasionalisme kultural. kreatif. Terkait dengan paparan ideal-normatif tersebut kiranya dapat dikatakan di sini bahwa mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) benar-benar memiliki peranan yang sentral dan strategis dalam kerangka keseluruhan sistem dan struktur kurikulum pendidikan nasional guna mewujudkan tujuan pendidikan yang telah digariskan. serta nilai-nilai persatuan dan kesatuan bangsa. berakhlak mulia. tetapi lebih dimaksudkan untuk menggugah dan membangun kesadaran para sejawat dan se-profesi guru. karena pendidikan merupakan wahana untuk meningkatkan dan mengembangkan kualitas sumber daya manusia.BAB I PENDAHULUAN A. akhlak mulia. Sementara itu. serta keterampilan yang diperlukan dirinya. nilai kultural. dan kemajemukan bangsa. bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. dan tanggap terhadap tuntutan perubahan jaman. khususnya . Adapun fungsi dan tujuan pendidikan nasional adalah untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Searah dengan itu. Hal itu semua kiranya tidak diartikan sebagai isapan jempol ataupun melebih-lebihkan. berilmu. pinsip penyelenggaraan pendidikan di negara kita salah satunya adalah pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia. kepribadian. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritiual keagamaan. bangsa dan negara.

efektif dan menyenangkan (PAIKEM). Marsinah. ada pula masalah-masalah pendidikan yang secara spesifik dan kasuistis harus diatasi dan sepertinya menjadi tanggung jawab individual penulis sehubungan dengan menjalankan tugas profesi sebagai seorang guru dalam proses pembelajaran di kelas. Kupang. sampai dengan peristiwa pemboman Masjid Istiqlal dan belakangan yang sempat menggegerkan dunia. terutama berkaitan dengan kualitas. kreatif. (3) masih rendahnya efisiensi internal sistem pendidikan. Tragedi Semanggi. yaitu peristiwa bom Bali. di samping masalahmasalah besar pendidikan nasional yang menjadi tanggung jawab bersama seluruh komponen bangsa. (2) pemerataan kesempatan belajar. kecuali bagi yang memiliki daya tahan dan daya-suai yang tinggi serta pedoman dan pegangan hidup yang kuat. Manusia ibarat buih di lautan lepas yang mudah terseret oleh ombak dan tergulung oleh gelombang. Mereka siswa sepertinya tidak bergairah mengikuti proses pembelajaran dan bahkan . Haur Koneng. para guru. Peristiwa Ketapang.guru bidang studi PKn. DOM Aceh. yang pemecahannya perlu melibatkan seluruh komponen masyarakat bangsa kita. Menghadapi masalah besar seperti itu semua. (4) status kelembagaan. Peristiwa Banjarmasin. Pembantaian Banyuwangi. Sebagai seorang guru. Kasus Udin. Sederetan pelanggaran HAM terjadi dalam kehidupan masyarakat mulai dari peristiwa Tanjung Periok. inovatif. dan setahap demi setahap kualitas manusia Indonesia seperti diamanatkan dalam UUD 1945 dan UUSPN 2003 bisa diwujudkan. menemukan dan menerapkan metode-metode pembelajaran yang aktif. Khusus dalam kaitannya dengan pelaksanaan hak asasi manusia. Di era globalisasi dan pasar bebas sekarang ini manusia dihadapkan pada perubahan-perubahan besar yang tidak menentu dan sulit diprediksi. yaitu: (1) menurunnya akhlak dan moral peserta didik. sudah barang tentu penulis tidak terlepas dari masalah-masalah besar yang dihadapi oleh pendidikan nasional dewasa ini. apalagi di era globalisasi sekarang ini. serta mudah kehilangan arah dalam melangkah. lebih terinspirasi dan lebih termotivasi untuk mencari. utamanya guru PKn dengan spesifikasi dan karakteristik yang ada pada bidang ajarnya harus lebih tergugah. Bangsa Indonesia dengan laju pembangunannya selama ini ditengarahi oleh banyak pihak masih menghadapi masalah pendidikan yang berat. Irian Jaya. menyeluruh. Belakangan ini penulis mengamati gejala rendahnya partisipasi aktif dan motivasi belajar siswa di kelas dalam mata pelajaran PKn. bertahap dan berkesinambungan. Lampung. di kalangan masyarakat bangsa kita masih banyak dan sering terjadi pelanggaran-pelanggaran disebabkan oleh sistem pemerintahan yang sentralistisbirokratik. sehingga setahap demi setahap kualitas pendidikan nasional bisa ditingkatkan. dan dari segi waktu perlu adanya perencanaan yang matang. dan (6) sumber daya yang belum profesional. Peristiwa Trisakti. Namun. Peristiwa Timor Timur. relevansi dan efisiensi pendidikan. Dalam kaitan ini Tilaar mensinyalir adanya beberapa masalah pokok sistem pendidikan nasional. bahwa tantangan yang dihadapi guru PKn tidaklah ringan. tepatnya guru PKn. panjang menjangkau ke depan. (5) manajemen pendidikan yang tidak sejalan dengan pembangunan nasional.

malahan ada yang cenderung di bawah batas minimal. karena berakibat pada rendahnya daya serap siswa terhadap materi pembelajaran dan penguasaan kompetensi dasar yang telah ditetapkan. ada yang mengantuk. bisa dari faktor internal siswa seperti tingkat IQ atau intelegensi. Salah satu solusi alternatif yang dipilih untuk diterapkan di sini dan yang diharapkan bisa mengatasi masalah khusus kegiatan pembelajaran dalam bidang studi PKn tersebut adalah model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Instruction). membuktikan asumsi. Sebagai indikatornya. Hal ini terjadi terutama pada siswa SMP Negeri 2 Sugio kelas VII Semester Genap. dan lain sebagainya. strategi. Pembelajaran Berbasis Masalah adalah suatu model (termasuk di dalamnya orientasi filosofis. dan sebagainya. bisa juga dari faktor eksternal seperti faktor sarana dan prasaranan belajar di sekolah. di mana skor rerata keberanian siswa dalam bertanya dan . ada yang asyik bernyanyi sendiri secara lirih. antara lain dengan penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dan melaksanakannya secara konsekuen di depan kelas. dan mendengarkan perspektif yang berbeda di antara mereka. Tugas guru selebihnya adalah mengarahkan siswa untuk bertanya. Kemudian siswa diminta untuk mencatat permasalahan-permasalahan yang muncul. Suasana belajar yang tidak kondusif seperti itu jelas merupakan masalah yang harus segera diatasi. Disadari banyak faktor yang menyebabkan rendahnya partisipasi dan motivasi belajar serta prestasi hasil belajar siswa. motif berprestasi. pre-tes dan post-tes. faktor kurikulum. metode dan teknik) dalam proses belajar mengajar di kelas yang mana siswa terlebih dahulu diminta untuk mengobservasi suatu fenomena sosial yang ada di sekelilingnya atau di lingkungan sekitarnya. masih banyak siswa yang bicara sendiri dengan temannya ketika proses pembelajaran sedang berlangsung. namun tetap saja partisipasi dan motivasi belajar siswa beserta prestasi hasil belajarnya kurang memuaskan. Aston L. kebiasaan belajar.banyak yang bersikap seolah mata pelajaran PKn tidak penting dan tidak banyak gunanya bagi mereka. bahkan ada yang berani bergurau dengan temannya. rata-rata hanya sampai batas ketuntasan minimal. metode dan strategi pembelajaran. melakukan perubahan metode pembelajaran dari metode ceramah ke metode tanya jawab atau metode diskusi dan penugasan. analisis butir soal berikut revisi soal-soal yang dinilai kurang layak. dengan Materi Pokok Pembelajaran: “Perlindungan dan Penegakan HAM”. Untuk itu berbagai upaya diagnosa dan perbaikan metode pembelajaran yang standar telah pula dilakukan. suasana proses pembelajaran. Bertolak dari kenyataan seperti itu maka perlu dicari alternatif solusinya terutama yang berhubungan dengan faktor kegiatan pembelajaran. dan ujung-ujungnya prestasi hasil belajar mereka rendah. Toruan dalam PTK-PKn-nya untuk mengatasi masalah yang hampir sama di lingkungan siswa kelas X Ak SMK Negeri 3 Jakarta dengan hasil yang boleh dikata cukup memuaskan. bahkah disusul pula dengan pemberian remedi kelas maupun remedi individual. dan selanjutnya tugas guru adalah merangsang siswa untuk berpikir kritis dalam memecahkan masalah yang ada. bakat dan minat. sumber bahan belajar. ada pula yang terang-terangan mengerjakan soal-soal atau tugas mata pelajaran selain PKn. Pendekatan yang sama pernah dilakukan oleh sejawat seprofesi. melakukan penilaian proses.

bahwa untuk mengatasi masalah khusus yang muncul dalam proses pembelajaran dengan materi pokok Perlindungan dan Penegakan HAM dalam bidang studi PKn pada siswa kelas VII Semester Genap SMP Negeri 2 Sugio Kabupaten Lamongan Tahun . Toruan tersebut. Cara Pemecahan Masalah Seperti telah disinggung pada bagian terdahulu dalam tulisan ini.82% pada siklus pertama meningkat menjadi 7. sebagai berikut: 1. subyek penelitian. yaitu sama-sama guru PKn dan sama-sama menghadapi masalah terkait materi pokok pembelajaran HAM. B. Adapun formulasi judul PTK kali ini selengkapnya adalah sebagai berikut: Upaya Meningkatkan Motivasi dan Prestasi Belajar Siswa Terhadap Materi Perlindungan dan Penegakah HAM Pada Bidang Studi Pendidikan Kewarganegaraan Melalui Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Penelitian Tindakan Kelas Pada Siswa Kelas VII Semester Genap SMP Negeri 2 Sugio Kabupaten Lamongan Jawa Timur Tahun Pelajaran 2007/2008).33% pada siklus pertama meningkat menjadi 85. jenjang pendidikan.mengemukakan pendapat mengalami peninggkatan yang cukup berarti dari 70. Perumusan Masalah Untuk memberikan arahan bagi langkah-langkah penelitian selanjutnya maka perlu dirumuskan masalahmasalah khusus penelitian. Kabupaten Lamongan. Satu-satunya kesamaan yang ada antara PTK yang telah dilakukan oleh Aston dengan yang dilakukan oleh penulis di sini hanyalah menyangkut kesamaan ruang lingkup spesialisasi bidang ajar. Lihat link terkait di sini! Berdasarkan semua latar pemikiran yang telah terurai itulah maka dalam PTK-PKn kali ini juga diterapkan strategi pembelajaran berbasis masalah. antara lain perbedaan dari segi latar setting penelitian. Apakah penerapan model pembelajaran berbasis masalah (problem based learning) bisa meningkatkan motivasi dan partisipasi belajar siswa terhadap materi Perlindungan dan Penegakan HAM pada bidang studi PKn di kelas VII SMP Negeri 2 Sugio Kabupaten Lamongan? 2. dan perbedaan faktor-faktor lainnya. meskipun dalam hal ini terdapat banyak perbedaan kondisional. sebagaimana telah berhasil dicapai oleh sejawat Aston L. Sedangkan skor rerata pemahaman dan ketuntasan belajar siswa tentang materi pembelajaran HAM juga mengalami peningkatan yang menurut kriteria Aston tergolong baik.80% pada siklus kedua untuk aspek pemahaman dan 89. masing-masing dari 7. Sementara skor rerata aktivitas siswa yang kurang relevan dengan pembelajaran mengalami penurunan yang juga cukup berarti dari 21.22%). Apakah penerapan model pembelajaran berbasis masalah bisa meningkatkan prestasi belajar dan ketuntasan belajar siswa terhadap materi Perlindungan dan Penegakan HAM pada bidang studi Pendidikan Kewarganegaraan di kelas VII SMP Negeri 2 Sugio Kabupaten Lamongan? C.55% pada siklus kedua (mengalami kenaikan sebesar 15.25% (mengalami penurunan sebesar 12.26% pada siklus pertama menurun menjadi 9. Propinsi Jawa Timur.01% dan 74.01%). dengan harapan bisa mengatasi masalah pembelajaran yang muncul pada siswa kelas VII SMP Negeri 2 Sugio.96% pada siklus kedua untuk aspek ketuntasan.

Dipilihnya model pembelajaran tersebut sebagai solusi alternatif dalam masalah ini setidaknya karena terinspirasi oleh hasil dari pengalaman serupa yang telah dicapai oleh sejawat seprofesi. Penelitian ini memberikan pengalaman yang sangat berharga bagi diri pribadi si guru (peneliti) sebagai upaya untuk mengembangkan dan meningkatkan kualitas diri dan profesionalisme guru.Jawa Timur. 4.Pelajaran 2007/2008 dilakukan dengan cara menerapkan model pembelajaran berbasis masalah (Problem based learning). setidaknya bisa menambah dan memperkaya referensi tentang alternatif penerapan model-model pembelajaran yang sesuai untuk mengatasi masalah-masalah khusus pembelajaran di kelasnya masingmasing. Hasil penelitian ini juga bermanfaat bagi guru pada umumnya. yaitu adanya kesamaan inti dan sifat masalah. meskipun di sana-sini terdapat perbedaan kondisional antara masalah yang dihadapi oleh Anton dalam PTK-nya dengan masalah yang dihadapi oleh penulis di sini. Manfaat Hasil Penelitian 1. efektif dan menyenangkan (PAIKEM) yang sangat didambakan oleh siswa maupun guru . Singkatnya. sehingga proses belajar-mengajar tidak dirasakan sebagai sesuatu yang menjemukan. melainkan sebaliknya sebagai sesuatu yang menyenangkan ( Learning is fun). Untuk meningkatkan motivasi dan partisipasi belajar siswa dalam proses pembelajaran HAM bidang studi PKn di kelas VII SMP Negeri 2 Sugio Kabupaten Lamongan melalui penerapan model pembelajaran berbasis masalah. inovatif. hasil penelitian ini diharapkan bisa menjadi bagian dan ikon dari proses pembelajaran aktif. Untuk meningkatkan prestasi belajar dan ketuntasan belajar siswa tentang materi pokok pembelajaran HAM bidang studi Pendidikan Kewarganegaraan di kelas VII SMP Negeri 2 Sugio Kabupaten Lamongan melalui penerapan model pembelajaran berbasis masalah. Alasan lain dipilihnya model pembelajaran berbasis masalah dalam PTK ini adalah karena mengingat kelebihankelebihan yang dimiliki oleh model pembelajaran berbasis masalah itu sendiri (Lebih lanjut akan diuraikan dalam bagian kajian teori atau kerangka berpikir). 2. 3. Namun satu hal yang boleh dibilang pasti. khususnya guru bidang studi PKn. Tujuan Penelitian Tujuan Penelitian Tindakan Kelas ini adalah: 1. Hasil penelitian ini diharapkan lebih jauh agar bisa memacu aktivitas dan kreativitas belajar siswa serta aktivitas dan kreativitas mengajar dari guru. E. 1. kreatif. khususnya proses pembelajaran dalam mata pelajaran PKn di SMP Negeri 2 Sugio Kabupaten Lamongan . Toruan tersebut. Hasil penelitian ini bisa bermanfaat bagi perbaikan proses pembelajaran. Anton L. D.

Saran DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN . Teknik Analisis Data BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Latar Belakang Masalah B. Siklus 1 B. Tujuan Penelitian E. Hakekat Pembelajaran B. Rumusan Masalah D. Setting Penelitian B. Hakekat Metode Tanya Jawab C. Persiapan penelitian C. Teknik Pengumpulan Data E. Siklus Penelitian D. Simpulan B. Hipotesis Tindakan BAB III METODELOGI PENELITIAN A. Manfaat Penelitian F. Siklus 2 C. Sistematika Penulisan BAB II LANDASAN TEORI A. Permasalahan C.DAFTAR ISI hal i ii iii iv 1 2 2 2 3 3 4 14 17 18 18 19 20 21 23 27 32 36 36 38 39 LEMBARAN PENGESAHAN KATA PENGANTAR DAFTAR ISI ABSTRAK BAB I PENDAHULUAN A. Siklus 3 BAB V KESIMPULAN A.

muncul perasaan tidak adil. Bahkan banyak penelitian menunjukkan bahwa pengajaran oleh rekan sebaya (pear teaching) ternyata lebih efektif daripada pengajaran oleh guru. Jika kerja kelompok tidak berhasil. peranan yang harus dimainkan oleh dunia pendidikan dalam mempersiapkan anak didik untuk berpartisipasi secara utuh dalam kehidupan bermasyarakat di abad 21 akan sangat berbeda dengan peranan tradisional yang selama ini dipegang oleh sekolah-sekolah. Ada beberapa alas an penting mengapa system pengajaran ini perlu dipakai lebih sering di sekolahsekolah. Sudah seyogyanya kegiatan belajar mengajar juga lebih mempertimbangkan siswa. siswa cenderung saling menyalahkan. ekonomi. . juga terjadi transformasi social. metode kerja kelompok sering dianggap kurang efektif. Siswa bukanlah sebuah botol kosong yang bisa diisi dengan muatan-muatan informasi apa saja yang dianggap perlu oleh guru. otak seorang anak sepeti botol kosong yang siap diisi dengan segala ilmu pengetahuan dan kebikaksanaan sang mahaguru. Sayangnya. Latar Belakang Masalah Dalam dunia pendidikan paradigma lama mengenai proses belajar mengajar bersumber pada teori (atau lebih tepatnya asumsi) tabula rasa John Locke yang menyatakan bahwa pikiran anak seperti kertas kosong yang putih dan siap menunggu coretan-coretan gurunya. Sebaliknya jika berhasil. Persepsi umum ini menganggap bahwa sudah merupakan tugas guru untuk mengajar dan menyodori siswa dengan muatan-muatan informasi dan pengetahua. Kita tidak bisa lagi mempertahankan paradigma lama tersebut. Sesungguhnya. System pengajaran yang memberi kesempatan kepada anak didik untuk bekerjasama dengan sesame siswa dalam tugas-tugas yang terstruktur disebut sebagai system “ pembelajaran gotong royong” atau cooperative learning. guru bertindak sebagai fasilitator. Berbagai sikap dan kesan negative memang bermunculan dalam pelaksanaan metode kerja kelompok. Guru perlu bersikap atau setidaknya dipandang oleh siswa sebagai yang mahatahu dan sumber informasi . Siswa bisa juga saling mengajar dengan sesame siswa yang lainnya. Kita perlu menelaah kembali praktikpraktif pembelajaran di sekolah-sekolah . penelitian dan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar membuktikan bahwa para guru sudah harus mengubah paradigma pengajaran. Selain itu. lebih celaka lagi siswa belajar dalam situasi yang membebani dan menakutkan karena dibayangi oleh tuntutan-tuntutan mengajar nilai-nilai tes dan ujian yang tinggi. Tuntutan dalam dunia pendidikan sudah banyak berubah. dan demografis yang mengharuskan sekolah untuk lebih menyiapkan anak didik dengan keterampilan-keterampilan baru untuk bisa ikut berpartisipasi dalam dunia yang berubah dan berkembang pesat. Seiring dengan proses globalisasi. Dalam system ini. alur proses belajar tidak harus berasal dari guru menuju siswa. Teori. bagi guru-guru di negeri ini metode gotong royong tidak terlampau asing dan mereka telah sering menggunakannya dan mengenalnya sebagai metode kerja kelompok. Dengan kata lain.PENELITIAN TINDAKAN KELAS KODE 005 Peningkatan Prestasi Belajar PKn melalui Metode Pembelajaran Kooperatif Model Struktural pada Siswa BAB I PENDAHULUAN A. Memang tidak bisa disangkal bahwa banyak guru telah sering menugarkan para siswa untuk bekerja dalam kelompok. Ada persepsi umum yang sudah berakar dalam dunia pendidikan juga sudah menjadi harapan masyarakat. Tampaknya perlu adanya perubahan dalam menelaah proses belajar siswa interaksi antara siswa dan guru.

Tahun pelajaran ………………… 2. Metode pembelajaran gotong royong distruktur sedemikian rupa sehingga masing-masing anggota dalam satu kelompok melaksanakan tanggung jawab pribadinya karena ada system akuntabilitas individu. bahkan kadang-kadang orang tua pun merasa was-was jika anak mereka dimasukkan dalam satu kelompok dengan siswa lain yang dianggap kurang seimbang. Akibatnya metode kerja kelompok yang seharusnya bertujuan mulia. Hasil dan temuan penelitian ini dapat memberikan informasi tentang pembelajaran kooperatif model Struktural dalam Pembelajaran PKn 2. Siswa tidak bisa begitu saja membonceng jerih payah rekannya dan usaha setiap siswa akan dihargai sesuai dengan poin-poin perbaikannya.. Tahun pelajaran…………………………………………. Manfaat Hasil Penelitian 1. yakni menanamkan rasa persaudaraan dan kemampuan bekerja sama. Sebagai penentuan kebijakan dalam upaya meningkatkan prestasi belajar siswa khususnya pada mata pelajaran PKn . D. Dari latar belakang masalah tersebut. Ingin mengetahui bagaimanakah pemahaman dan penguasaan mata pelajaran PKn setelah diterapkannya pembelajaran kooperatif model Struktural pada siswa ……………………………. 1993). Yang termasuk di dalam struktur ini adalah lima unsure pokok (Johnson & Johnson. interaksi personal.tahun pelajaran……………………………… 2. tanggung jawab individual. Yang diperkenalkan dalam metode pembelajaran cooperative learning bukan sekedar kerja kelompok melainkan pada penstrukturannya. siswa bukannya belajar secara maksimal. Tujuan Penelitian Berdasarkan atas rumusan masalah di atas . Rumusan Masalah Merujuk pada uraian latar belakang di atas dapat dikaji ada beberapa permasalahan yang dirumuskan sebagai berikut: 1. yaitu saling ketergantungan positif. maka peneliti merasa terdorong untuk melihat pengaruh pembelajaran kooperatif model Struktural terhadap prestasi belajar siswa dengan mengambil judul “ Peningkatan Prestasi Belajar PKn melalui Metode Pembelajaran Kooperatif Model Struktural pada Siswa kelas ………………………. B. . Seberapa tinggi tingkat penguasaan materi pelajaran PKn dengan diterapkannya metode pembelajaran kooperatif model Struktural pada siswa kelas……………………………tahun pelajaran………………………… C. Ingin mengetahui pengaruh pembelajaran kooperatif model Numbered Head Together terhadap hasil belajar PKn siswa kelas……………………………. melainkan belajar mendominasi ataupun melempar tanggung jawab. Bukan hanya guru dan siswa yang merasa pesimis mengenai penggunaan metode kerja kelompok. maka tujuan dilaksanakannya penelitian ini adalah: 1.Siswa yang pandai/rajin merasa rekannya yang kurang mampu telah membonceng pada hasil kerja mereka. justru bisa berakhir dengan ketidakpuasan dan kekecewaan. Kekawatiran bahwa semangat siswa dalam mengembangkan diri secara individual bisa terancam dalam menggunaan metode kerja kelompok bisa dimengerti karena dalam penugasan kelompok yang dilakukan secara sembarangan. Apakah pembelajaran kooperatif model Struktural berpengaruh terhadap hasil belajar PKn siswa kelas …………………………………. Berbagai dampak negative dalam menggunakan metode kerja kelompok tersebut seharusnya bisa dihindari jika saja guru mau meluangkan lebih banyak waktu dan perhatian dalam mempersiapkan dan menyusun metode kerja kelompok. keahlian bekerjasama dan proses kelompok. Tahun Pelajaran………………. jadi system pengajaran cooperative learning bisa didefinisikan sebagai kerja/belajar kelompok yang terstruktur.

Sumbangan pemikiran bagi guru PKn dalam mengajar dan meningkatkan pemahaman siswa belajar PKn E. 3. dan silih asuh antar sesame siswa sebgai latihan hidup di dalam masyarakat nyata. Prestasi belajar adalah Hasil belajar yang dinyatakan dalam bentuk nilai atau dalam bentuk skor. Definisi Operasional Variabel Agar tidak terjadi salah persepsi terhadap judul penelitian ini. maka perlu didefinisikan hal-hal sebagai berikut: 1.. F. Meteri yang disampaikan adalah pokok bahasan……………………… Ssambungan . Penelitian ini hanya dikenakan pada siswa kelas…………………tahun pelajaran………………………… 2. Metode pembelajaran kooperatif adalah Pembelajaran yang secara sadar dan sistematis mengembangkan interaksi yang silih asah. Motivesi belajar adalah Suatu proses untuk menggiatkan motif-motif menjadi perbuatan atau tingkah laku untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan. Penelitian ini dilakukan pada bulan April semester genap tahun pelajaran …………………………. setelah siswa mengikuti pelajaran. Batasan Masalah Karena keterbatasan waktu. Dapat meningkatkan motivasi belajar dan melatih sikap social untuk saling peduli terhadap keberhasilan siswa lain dalam mencapai tujuan belajar. 2. maka diperlukan pembatasan masalah meliputi: 1. 4. atau keadaan dan kesiapan dalam diri individu yang mendorong tingkah lakunya untuk berbuat sesuatu dalam mencapai tujuan tertentu.3 Sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan metode pembelajaran yang dapat memberikan manfaat bagi siswa. 5. Menambah pengetahuan dan wawaan penulis tentang peranan guru PKn dalam meningkatkan pemahaman siswa belajar PKn 6. silih asih. 3.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->