Artikel: Penerapan Metode Simulasi Tematis Untuk Peningkatan Kemampuan Bahasa Inggris siswa

Bahan ini cocok untuk Informasi / Pendidikan Umum. Nama & E-mail (Penulis): Nurdin Somantri Saya Guru di SMU 8 Yogyakarta Tanggal: 26 Januari 2003 Judul Artikel: Penerapan Metode Simulasi Tematis Untuk Peningkatan Kemampuan Bahasa Inggris siswa Topik: Metode Peningkatan Kemampuan Bahasa Inggris Siswa Artikel: Ini naskah lomba keberhasilan guru dalam pembelajaran tahun 2002 lalu. Meskipun belum berhasil memenangkan lomba tersebut, tetapi saya melihat penting untuk diketahui publik.Semoga bermanfaat. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Ada pepatah Yunani yang mengatakan bahwa Non scolae sed vitae discimus yang apabila diartikan secara bebas bahwa sekolah itu tujuannya bukan untuk mencari skor/angka-angka tetapi sekolah itu belajar untuk kehidupan, bahkan hidup itu sendiri. Kata sekolah itu sendiri berasal dari kata skhole, scolae, atau schola yang berarti waktu luang atau waktu senggang. Pada waktu senggang tersebut dahulunya para orang tua Yunani menitipkan anak-anaknya kepada orang yang dianggap pintar agar memperoleh pengetahuan dan pendidikan tentang filsafat, alam dan sejenis itu lainnya. Sekolah pada jaman itu adalah suatu aktifitas yang mengasyikkan, menyenangkan karena mereka dapat memperoleh berbagai hal yang ingin mereka ketahui. Mencoba melihat kondisi sekarang sekolah masih dianggap suatu aktifitas yang menyenangkan oleh sebagian siswa justru di luar jam pelajaran tetapi jika di dalam jam pelajaran adalah suatu aktifitas yang membebani. Belum ada penelitian yang khusus mengkaji tentang hal tersebut, tetapi sepanjang pengamatan penulis, jika para siswa berada di kelas mereka inginnya keluar kelas atau pulang, jika ada pengumuman pulang pagi, atau libur, mereka gembiranya tidak kepalang, bersorak sorai, seolah terlepas dari beban berat yang menghimpit. Hal serupa juga terjadi pada diri penulis dan mungkin guru yang lain. Rasanya pergi ke sekolah bukan lagi sebagai kegiatan yang diidam-idamkan ketika pertama kali melamar menjadi guru tetapi sudah cenderung menjadi rutinitas. Apa yang penulis rasakan sepertinya cocok dengan karakter guru yang dikemukan Zamroni dalam bukunya Paradigma Pendidikan Masa Depan. Ada lima karakter kerja guru. Kelima karakter tersebut

adalah pertama, pekerjaan guru bersifat individualistis non colaboratif, kedua dilakukan dalam ruang terisolir dan menyerap seluruh waktu, ketiga kemungkinan terjadinya kontak akademis antar guru rendah, keempat tidak pernah mendapatkan umpan balik, dan kelima pekerjaan guru memerlukan waktu untuk mendukung waktu kerja di ruang kelas (Zamroni, 2000:76). Senada dengan itu Paul Suparno mengemukakan alasan mengapa guru sulit melakukan perubahan antara lain pertama, guru sering tidak jelas mengerti apa isi kurikulum baru ataupun perubahan yang diinginkan. Kedua, banyak guru meragukan perubahan atau pembaruan yang ada. Ketiga banyak guru lama telah bertahun-tahun terbiasa dengan cara mereka yang mapan dan sudah merasa enak. Keempat, moral guru sebagai tukang yang pasif dan menanti. Kelima penghargaan guru yang kecil. Keenam, pendidikan guru yang statis. Ketujuh, tugas guru dipahami sebagai konservatif. Kedelapan, menjadi guru karena terpaksa (Suparno, 2002: 4). Padahal dalam sistem pendidikan kita guru itu adalah sentral. Sebagai pusat, apa konsekuensi bagi guru apabila hasil pembelajaran tidak menghasilkan generasi yang diharapkan? Kritik terhadap guru datang dari mana-mana. Musman Hadiatmadja, 20 tahun yang lalu, mengatakan bahwa guru lebih tepat disebut melaksanakan mengajar saja secara tradisional dan konservatif. Tradisional karena melaksanakan tugas dengan mendasarkan diri pada tradisi atau apa yang telah dilaksanakan oleh para guru terdahulu tanpa ada usaha memperbaiki dengan daya kreasi yang ada padanya. Konservatif karena bertindak secara kolot menurut cara-cara lama yang kurang atau tidak sesuai dengan perubahan dan kemajuan jaman. Akibatnya siswa dijejali dengan berbagai pengetahuan sesuai kehendak guru atau kurikulum karena siswa adalah ibarat botol kosong yang tidak diberi kesempatan berfikir, mengolah atau mencerna apalagi berkreasi. Mereka pasif dan reseptif saja (Hadiatmadja, 1982:39). Mungkin sebagian guru masih seperti itu, sering penulis masuk kelas menemukan situasi yang tidak menyenangkan. Penglihatan para siswa sayu, raganya nampak ada di depan penulis, tetapi pandangannya kosong. Penulis mencoba menghidupkan situasi, dan berhasil untuk saat tersebut, tetapi pada kesempatan berikutnya keadaan itu tidak berubah. Apa yang harus penulis lakukan? Di sisi lain penulis melihat keanehan atas kondisi kemampuan Bahasa Inggris para siswa. Sudah minimal 4 tahun mereka belajar Bahasa Inggris, dari SLTP kelas 1 sampai dengan SMU kelas 1, bahkan ada yang mulai kelas 4 SD, tetapi mengapa sebagian besar mereka masih belum mampu berbicara Bahasa Inggris? Jika kita melihat input prestasi siswa ketika masuk, di sekolah swasta yang belum begitu baik, mungkin saja mereka tidak mampu berbahasa Inggris karena nilai EBTANAS Bahasa Inggris mereka rata-rata di bawah 5, tetapi di sekolah negeri favoritpun hal tersebut terjadi juga, padahal rata-rata nilai masuk mereka adalah 7 ke atas. Bahkan penulis pernah menemukan beberapa siswa yang nilai EBTANAS Bahasa Inggris SLTP-nya 10, tetapi mereka tidak bisa berkomunikasi dengan penulis. Mungkin ini yang disebut oleh Zamroni sebagai dampak problem pendidikan kita yang pertama, cenderung menjadi stratifikasi sosial. Kedua, pendidikan sistem persekolahan hanya mentransfer the dead knowledge, pengetahuan yang telalu bersifat text bookish yang ibarat sudah diceraikan baik dari akar sumbernya maupun aplikasinya karena tersusun dalam struktur yang bersifat rigid, manajemen bersifat sentralistis, kurikulum penuh dengan pengetahuan dan teori-

teori (Zamroni, Ibid.:2-5). Penulis sering mempertanyakan bagaimana para siswa akan mensiasati hidup mereka padahal dunia mereka adalah dunia global yang penuh dengan komunikasi dalam Bahasa Inggris? Sebagai contoh internet, mereka mungkin tidak gagap teknologi karena mereka cukup mengenal kemajuan teknologi tersebut, tetapi Bahasa pergaulan yang dipakai sehubungan dengan teknologi tersebut adalah Bahasa Inggris, bagaimana mereka bisa menang dalam kompetisi global tersebut? Dari dua kenyataan tersebut, suasana belajar yang tidak menyenangkan, proses pembelajaran Bahasa Inggris yang belum berhasil meski sudah bertahun-tahun, menyiratkan ada masalah yang menghadang di hadapan kita. Menyadari hal tersebut, penulis banyak bertanya kepada para senior baik di lingkungan SMU 8 Yogyakarta sendiri maupun di forum MGMP. Penulis juga mencoba berkirim email di situs-situs Bahasa Inggris dan saling bertukar pikiran dan pendapat dengan mereka. Dari banyak persinggungan dengan banyak pihak tersebut penulis mendapatkan ide untuk membuat media bantu yang disamping murah juga membantu penulis meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris para siswa khususnya speaking sekaligus membuat suasana kelas menyenangkan bagi para siswa. Media bantu tersebut adalah berbentuk papan simulasi yang sederhana yang bisa dibuat secara manual atau dengan komputer, dari karton atau papan. Selain itu dibutuhkan dadu dan beberapa asesoris sebagai identitas. Dan yang lebih penting adalah kumpulan pertanyaan atau instruksi yang sesuai dengan tema yang kita bawakan di kelas. Untuk tujuan ini penulis membuat contoh tema Culture and Art, tahun lalu penulis membuat yang berkaitan dengan tema Work. Untuk kegiatan ekstra kurikuler penulis pernah membuat tema Tourism (tema untuk kelas I), sedangkan untuk kelas tiga tema Women Role. Media tersebut tidak saja bisa difokuskan pada speaking tetapi juga bisa digabungkan dengan bermain peran dalam bentuk instruksi. Bermain peran bisa juga dalam bentuk hukuman yang ditentukan oleh kelompok. Hal ini merupakan penjabaran dari pepatah cina yang mengatakan "Saya dengar dan saya lupa, saya lihat dan saya ingat, saya kerjakan dan saya mengerti". Sepanjang pengalaman penulis, media ini sangat cocok dipakai di kelas yang siswanya sudah mendapatkan materi untuk komunikasi dasar atau sederhana khususnya kelas 2 SMU. Apa yang penulis lakukan didasarkan pada pemikiran bahwa siswa harus dipandang sebagai pribadi yang utuh, unik, memiliki nilai sendiri, bukan hanya bereaksi tetapi juga beraksi dan tak dapat diukur. Lebih-lebih apabila penulis mendasarkan pada hasil angket bahwa para siswa tidak percaya diri apabila guru Bahasa Inggris memberi pertanyaan atau mengajak bicara mereka dalam Bahasa Inggris. Hal tersebut penulis artikan bahwa komunikasi tidak berjalan wajar maka perlu dilakukan pewajaran komunikasi. Komunikasi yang harus digunakan adalah komunikasi sebagai transaksi yang di dalamnya terjadi relasi yang seimbang antara pribadi yang satu dengan pribadi yang lain. Dengan bantuan analisa transaksional akan memungkinkan seorang guru mengatur dan merencanakan komunikasinya dengan para siswa dalam rangka mempercepat tercapainya tujuan pembelajaran sesuai dengan tingkat perkembangan pribadi siswa (Hadiatmadja, Ibid.:47). Melalui media ini penulis melihat ada komunikasi yang wajar baik antara

penulis dengan para siswa maupun diantara para siswa sendiri. B. Permasalahan 1. Mengapa suasana kelas begitu membosankan bagi para siswa dan juga mungkin guru? Apakah karena faktor guru? Siswa? Sekolah? Atau muatan kurikulum? Banyak orang mengatakan bahwa beban kurikulum kita terlalu padat, tidak lagi mencerminkan suara masyarakat. Peran sekolah cenderung hanya mengajar dan tidak lagi mendidik. Otak anak dijejali kurikulum yang belum tentu perlu. Menghargai NEM tinggi, nilai hafalan nama kecamatan, nama tokoh, tahun sejarah, dan hal-hal yang tak ada keperluannya buat bekal memecahkan masalah hidup yang di negara maju diangap hanya menambah sempit disket memori otak anak (Nadesul, 2002:4). Penulis pernah membandingkan kurikulum Bahasa Inggris dengan guru Bahasa Inggris dari Yunani dan Norwegia. Mereka mengatakan bahwa kurikulum Bahasa Inggris Indonesia aneh. Apabila pembelajaran Bahasa Inggris itu meliputi empat keahlian membaca, menulis, mendengar, dan berbicara, mengapa dalam ujian justru tidak ada ujian mendengar dan berbicara? Lalu untuk apa prose s pembelajaran speaking dan listening selama ini? 2. Mengapa menjamur kursus-kursus Bahasa Inggris? Mengapa para siswa masih mencari lembaga lain di luar sekolah untuk belajar Bahasa Inggris khususnya speaking? Kalau begitu apa fungsi sekolah dan atau guru-guru Bahasa Inggris? Bahkan seorang pejabat di Kanwil Depdiknas DIY pernah mengatakan dalam suatu pelatihan bagi guru Bahasa Inggris yang diadakan atas kerjasama Kanwil dan Global Partners bahwa siswa yang mampu berbahasa Inggris di DIY hanya 5% saja, itupun mereka yang ikut kursus di lembaga Bahasa Inggris di luar sekolah. Banyak guru Bahasa Inggris protes, lalu meminta kanwil untuk mengadakan penelitian yang mendalam tentang data tersebut. Apabila memang kondisinya demikian, berarti fungsi guru Bahasa Inggris itu sangat kecil. Dengan demikian terjadi pemubaziran anggaran negara untuk membayar sekian ribu guru Bahasa Inggris negeri, belum yang dibayarkan masyarakat ke sekolah-sekolah swasta. Apabila kita melihat dari sudut pengeluaran masyarakat, maka mereka membayar dua kali, ke sekolah dan ke lembaga-lembaga Bahasa Inggris tadi. Dan yang bisa membayar adalah mereka dari keluarga yang paling tidak memiliki dana cukup. Yang tidak punya dana? Mereka tetap mengandalkan sekolah dan akhirnya harus rela dengan kemampuan Bahasa Inggris yang lemah, maka bersiaplah nasib mereka untuk kalah dalam kompetisi global ini. Kasihan, sudah miskin, juga diprediksikan akan bernasib miskin pula pada masa datang. 3. Kurikulum Bahasa Inggris 1994, suplemen 1999, jelas-jelas menekankan pada reading dengan mengadopsi bacaan-bacaan yang bersifat ilmiah. Akibatnya sudah bisa ditebak, para siswa lebih mengerti industrialisasi, tentang Astronomi, atau halhal lain seperti tuntutan kurikulum, tetapi mungkin tidak tahu apa Bahasa Inggrisnya selokan, celengan, atau kata-kata yang sangat penting jika ada turis tersesat, misalnya arah utara selatan. Apakah siswa jika berkomunikasi dalam kehidupan nyata akan berdiskusi langsung tentang Astronomi, Politik atau Ekonomi? 4. Buku-buku paket Bahasa Inggris baik terbitan pemerintah lebih-lebih swasta lebih berorientasi uang atau keuntungan. Ada LKS Bahasa Inggris yang hampir tiap tahun ganti cover dan halaman depannya saja, yang lainnya sama, hanya agar siswa tidak menggunakan LKS bekas tahun lalu. Isi LKS tersebut adalah soal-soal. Para siswa harus membeli buku dan LKS agar nilai ulangan atau ujian baik, tetapi tetap mereka tidak bisa berbicara Bahasa Inggris meskipun nilai ulangan atau latihan LKS-nya 9 bahkan 10. Apa kegunaan buku dan LKS tersebut apabila ternyata para siswa tidak mampu berbicara Bahasa Inggris? Mengapa kemampuan

Pengertian Simulasi adalah sebuah metode permainan bernomor yang disertai kartu-kartu berisi instruksi atau pertanyaan tertentu dari setiap nomor. D. Hal ini penting agar proses pembelajaran tidak melenceng dari tujuan semula dan masih terkait dengan kurikulum. karena dikaitkan dengan tema-tema atau sub-sub tema dalam GBPP Mata Pelajaran Bahasa Inggris. 5. sehingga mereka dapat mengungkapan kemampuannya. 2. BAB II PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS .6 siswa. Apa dampak psikologis terhadap siswa apabila guru Bahasa Inggris menanyai mereka dalam Bahasa Inggris dan bagaimana dampaknya jika peran guru itu diganti oleh teman sekelas/sebaya dengan mereka? Apakah pendekatan tutor sebaya mampu memotivasi para siswa sehingga mereka mendapat pengalaman berbicara Bahasa Inggris? Apakah keterampilan emosional para siswa juga berkembang? C. karena harus dilakukan secara berkelompok minimal 2 orang. Salah satu keuntungan yang jelas adalah dapat mendorong anggota kelompok untuk secara aktif melakukan apa yang telah menjadi kesepakatan kelompok tersebut. 3. identitas peserta. sudah mempelajari buku paket dan LKS? Apakah faktor intern atau ekstern siswa? 5. Metode ini membutuhkan media bantu lain seperti dadu. Kelompok. berlatih speaking secara bebas dan leluasa. Untuk kelas klasikal idealnya beranggotakan 5 . Tematis. speaking maupun writing. Permainan ini seperti monopoli atau ular tangga hanya lebih sederhana. kartu-kartu dan amplop-amplop kecil untuk menyimpan kartu-kartu. 4. membuka buku paket. Pembagian kelas ke dalam kelompok-kelompok kecil bisa menjadi solusi masalah-masalah pembelajaran Bahasa Inggris. mengerjakan LKS. Untuk memberikan suatu gambaran bagi para rekan sejawat. Untuk melihat apakah ada perubahan kemampuan para siswa yang signifikan setelah dilakukan metode simulasi tematis baik itu dalam pemahaman. Sebagai alat bantu untuk memperlancar proses tanya jawab tentang tema tertentu dengan pendekatan teman sebagai tutor sebaya dengan demikian diharapkan terjadi pemahaman yang lebih baik atas tema yang dibawakan di kelas. sehingga para siswa tidak merasa jenuh/bosan di kelas. membuka wawasan bahwa mereka bisa menggunakan metode simulasi tematis selain metode yang ada untuk meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris siswa. Untuk memberikan suasana baru dan memunculkan imej baru kepada para siswa bahwa belajar Bahasa Inggris tidak harus selalu melalui metode konvensional. Suapaya siswa berlatih untuk memiliki rasa percaya diri dengan mengurangi peran dominan guru.speaking para siswa lemah padahal mereka sudah minimal 4 tahun belajar Bahasa Inggris. Tujuan 1.

42%) sedangkan bagian terbesar merasa sedang-sedang saja yakni sebanyak 141 siswa (58.75%) dan tidak memilih ada 4 siswa (1.33%) saja. buruk sekali ada 13 siswa (5.25%). menjawab semampunya ada 10 siswa (4.42%). yang merasa bagus sekali kemampuan berbicara Bahasa Inggrisnya hanya 1 orang (0. nervous ada 12 siswa (5%). Kondisi demikian bisa terjadi karena berdasarkan pengakuan mereka. sedangkan sisanya tetap tidak tahu harus menjawab apa sebanyak 21 siswa (8. Sebanyak 57 siswa atau 23. dan 2 siswa (0.67%) memberikan bukti bahwa orang asing mengerti perkataannya dan tidak ada kesalahpahaman. Sedangkan yang merasa percaya diri dan menjawab/merespon guru tersebut kurang dari seperempatnya yakni hanya 56 siswa (23. Pada tahap ini berbagai metode penulis coba baik dalam reading. listening dan speaking termasuk juga grammar dan vocabulary. 69 siswa (48. 1 orang (16.42%) merasa nervous dan tidak tahu harus menjawab apa.94%).25%). Persiapan 1. kemudian penulis menyebarkan angket agar diperoleh hasil yang lebih valid (Angket pra simulasi lihat LAMPIRAN VIII). Sebanyak 63 siswa atau 26.67%) memilih diam saja. memilih tetap diam saja ada 17 siswa (7.5%) merasa kadang-kadang mengerti kadang-kadang tidak dan karenanya menjawab semampunya.75%). Dari 6 kelas.08%).33%) memberi bukti bahwa orang asing atau guru Bahasa Inggris mengerti perkataannya tetapi kadang-kadang ada kesalahpahaman. Siswa yang merasa kemampuan berbicara Bahasa Inggrisnya bagus sekali memberikan bukti bahwa orang asing dan guru Bahasa Inggris jika berbicara dengannya sangat mengerti perkataannya dan tidak ada kesalahpahaman. Rasa percaya diri siswa justeru muncul jika yang mengajukan pertanyaan atau mengajak berbicara Bahasa Inggris tersebut adalah teman sekelas/sebaya dengan mereka yakni ada 173 siswa (72. merasa bagus ada 6 siswa (2.08%). Sedangkan yang merasa tidak mengerti pembicaraan teman mereka ada 3 siswa (1.67%).75% merasa nervous. yang merasa biasanya sama sekali tidak mengerti pertanyaan atau pembicaraan guru tersebut sebanyak 15 siswa (6. hadir 240 siswa/responden. Yang merasa kualitasnya bagus. sedangkan 3 orang (50%) memberi bukti bahwa guru Bahasa Inggris mengerti perkataanya dan tidak ada kesalahpahaman. writing. merasa berkemampuan bicara sedang dengan memberikan bukti bahwa guru Bahasa Inggris cukup mengerti perkataan mereka . 28 siswa (11. penulis pertama-tama melakukan pengamatan dalam beberapa kali tatap muka sambil mencari masukan-masukan langsung. Jumlah terbesar. yang merasa tidak tahu harus menjawab apa ada 21 siswa (8.67%).5%) merasa buruk 76 siswa (31. Kemampuan berbahasa Inggris kelas 2 angkatan 2002/2003 SMU 8 Yogyakarta berdasarkan angket Guna mendapatkan gambaran yang jelas mengenai kondisi dan persebaran kemampuan berbahasa Inggris para siswa kelas 2 angkatan 2002/2003 SMU 8 Yogyakarta. 1 siswa (0.DENGAN METODE SIMULASI TEMATIS A.84%) tidak menjawab. 18 siswa (7.25% merasa bingung dan tidak tahu harus menjawab apa apabila guru Bahasa Inggris bertanya atau berbicara kepada mereka. Setelah mendapatkan hipotesahipotesa tentang kondisi kemampuan Bahasa Inggris siswa per kelas.75%). 2 orang (33.17%). Berikut ini hasil angket yang dilakukan pada tanggal 21 Agustus 2002.

Hal ini bisa dipahami karena meskipun ada ujian di sekolah tetapi tidak ada tes khusus speaking. Alasan-alasan bahwa kualitas speaking mereka termasuk dalam kategori tertentu didasarkan pada pengalaman mereka. 77 siswa (32.46) memberikan bukti bahwa orang asing atau guru Bahasa Inggris cukup mengerti perkataan mereka dan kadang-kadang ada kesalahpahaman.63%) merasa orang asing kadangkadang mengerti kadang-kadang tidak perkataan mereka.69%) merasa guru Bahasa Inggris sama sekali tidak mengerti perkataannya kecuali yang sangat sederhana.77%) memberi alasan bahwa mereka tidak mengerti perkataan mereka sendiri kecuali yang sederhana. vocabulary. sedangkan sisanya 4 siswa (30. mendapat nilai buruk sekali ada 1 siswa (0. dan yang lebih penting lagi jangan menyerah. Meskipun begitu 43 siswa (17. 28 siswa (36. sedangkan 27 siswa (35. pronunciation. nilai buruk ada 28 siswa (24.53%) memberikan alasan beragam misalnya mereka dan orang lain sama-sama tidak mengerti. Sebanyak 13 siswa merasa buruk sekali dengan perincian 6 siswa (46. Mereka yang merasa berkemampuan speaking buruk. Sebanyak 56 siswa (23. Sedangkan sisanya 22 siswa (19. sering dikoreksi guru Bahasa Inggris jika bicara. 28 siswa (24.35%) merasa diberi saran oleh penguji antara lain harus meningkatkan kemampuan dengan memperbanyak praktek baik itu pada grammar. Yang pernah dinilai speaking. atau tidak mengerti jika guru Bahasa Inggris bicara dalam Bahasa Inggris.dan kadang-kadang ada kesalahpahaman. sering berkomunikasi dengan orang asing atau guru Bahasa Inggris. sisanya 5 siswa (2.35%) mengatakan bahwa kemampuan speaking mereka bagus.15%) memberi bukti bahwa orang asing atau guru Bahasa Inggris sama sekali tidak mengerti perkataan mereka kecuali yang sangat sederhana dan sering terjadi kesalahpahaman.84%) memberi bukti bahwa orang asing atau guru Bahasa Inggris kadang-kadang mengerti kadang-kadang tidak perkataan mereka dan cukup sering terjadi kesalahpahaman. guru Bahasa Inggris.83%) dengan cara mempraktekkan teori dari buku paket. Sebanyak 115 siswa (47. 2 siswa (2. 4 siswa (2.33%) dengan cara kursus di lembaga Bahasa Inggris. Para siswa sendiri sudah memiliki solusi untuk peningkatan kemampuan speaking. mendapat nilai sedang ada 57 siswa (49. native speaker atau guide.35%). 1 siswa (1.87%) dan 2 siswa (1.94%) mengkombinasikan cara-cara yang . 13 siswa (5. 1 siswa (7.32%) tidak memberikan bukti apa-apa.42%) memanggil guru privat. mengerti tetapi tidak bisa merespon.74%) menjawab tidak jelas. orang tua atau anggota keluarga.57%).92%) pernah mendapatkan penilaian kualitas speaking.08%) tidak menjawab. lafal dan grammar buruk.42%) dengan cara berbicara sebanyak mungkin dengan guru Bahasa Inggris. 1 siswa (0.92%) merasa belum pernah dites speaking. atau sikap dengan menonton film berbahasa Inggris. 7 siswa (2. instruktur kursus atau ekstra kurikuler.84%) merasa orang asing cukup mengerti perkataan mereka dan kadang-kadang ada kesalahpahaman. baik oleh teman sebangsa atau asing. 97 siswa (84.68%) merasa guru Bahasa Inggris kadang-kadang mengerti kadangkadang tidak perkataan mereka.13%) merasa tidak diberi saran oleh penguji.77%) merasa bahwa komunikasi mereka nyambung baik dengan teman atau guru meski memiliki lafal dan grammar yang salah. juri perlombaan. 26 siswa (10. 18 siswa (23.08%) merasa lupa atau tidak tahu. 2 siswa (15.38%) merasa orang asing sama sekali tidak mengerti perkataan mereka kecuali yang sangat sederhana. Dari yang pernah dites speaking. sebanyak 50 siswa (35. sedangkan sisanya sebanyak 18 siswa (12.

les di bimbingan belajar.67%) berpendapat bahwa metode konvensional hanya membuat mereka bingung. Hanya 15 siswa (6.54%) memberi jawaban tidak jelas.5%) menganggap kosa katanya mudah dipelajari dan diingat. Dikaitkan dengan penerimaan siswa terhadap pola pembelajaran Bahasa Inggris di sekolah-sekolah.17%) memilih bermain peran.sudah disebutkan tadi. Sebanyak 120 siswa (50%) menyimpulkan bahwa guru sangat perlu membawa permainan/simulasi di kelas untuk meningkatkan kemampuan speaking mereka. sisanya 36 siswa (15%) menjawab sangat jenuh. dan sisanya 136 siswa (56. ada 186 siswa (77. 7 siswa (2. sisanya 1 siswa (0. mendengarkan lagu-lagu barat atau siaran radio Bahasa Inggris. atau di tempat kursus. 8 siswa (3.83%) pernah mendapatkan metode tersebut baik itu di SLTP.31 siswa.25%) yang tidak pernah mendapatkan metode tersebut.5%) merasa bosan/jenuh dengan metode pembelajaran Bahasa Inggris yang konvensional misalnya dengan melalui text book/ceramah. 3 siswa (1.67%) menjawab tidak perlu. Untuk keperluan ini penulis membuat sendiri dengan menggunakan program MS Excell. Jumlah yang sama . 31 siswa (16. dan sisanya 2 siswa (0.5%) merasa tidak tahu. 18 siswa (7.08%) merasa jarang sekali mendapatkan metode simulasi. 3 siswa (18. Metode simulasi/game disarankan diterapkan untuk peningkatan speaking karena 208 siswa (85.84%) berpendapat gabungan dari semuanya itu dan 1 siswa (0. 84 siswa (35%) merasa sedikit dukungannya.83%) tidak memberi jawaban. 113 siswa (47%) menjawab perlu. Sedangkan yang berpendapat metode konvensional tidak membosankan.67%) dengan cara praktek sendiri. 43 siswa (17. dan hanya 16 siswa (6.255) menjawab tidak tahu. di SMU. atau mengantuk/melamun.92%) hanya 1 kali.42%) tidak memberi jawaban. kadang-kadang jenuh kadang-kadang tidak. Sebanyak 113 siswa (47.42%) tidak memberi jawaban. menonton film atau berita Bahasa Inggris di TV. Jika kelasnya klasikal maka metode yang sebaiknya diterapkan menurut 128 siswa (53. Metode pembelajaran Bahasa Inggris secara keseluruhan katanya mendukung kemampuan speaking mereka diungkapkan oleh 112 siswa (46. 9 siswa (4. 22 siswa (9.5%) pernah mendapatkan 2-3 kali.67%).75%) memberikan alasan karena metode tersebut mampu membuat mereka berkomunikasi. sedangkan sisanya 4 siswa (25%) memberi alasan gabungan yang disebutkan tadi dan memudahkan sistem pembelajaran. 4 siswa (1. 3 siswa juga merasa guru sangat bagus menerangkannya. melalui internet.33%) meminta dikelompokkan berdasarkan kemampuan. sisanya 1 siswa (0. 3 siswa (1. 24 siswa (10%) memilih metode diskusi. dan sisanya 1 siswa (0. Media Yang Dibutuhkan Adapun media bantu yang dibutuhkan adalah sejenis papan ular tangga. 24 siswa (10%) pernah sebanyak 4-5 kali. 2. 57 siswa (23. .67%) menjawab tidak bosan/jenuh. sedangkan sisanya 25 siswa (10.42%) tidak memberikan jawaban.75%) memilih gabungan ketiganya. malah membingungkan. 6 siswa (37. menganggap selama ini terlalu banyak kosa kata sulit yang terlalu jauh dengan kehidupan mereka. 66 siswa (27.33%) adalah simulasi/game.42%) tidak memberi jawaban.35%) merasa bahan semuanya dari buku (kurikulum). dalam pelajaran ekstra. 36 siswa (19.61%) menganggap bahan semuanya dari guru.70%) tidak membuat mereka mampu berkomunikasi.92%) menganggap tidak mendukung. Rasa bosan/jenuh membuat mereka tidak apresiatif terhadap Bahasa Inggris sebab metode konvensional menurut 85 siswa (45.

Supaya awet dan dapat digunakan berulang-ulang kita perlu melaminatingnya. batu-batu karang kecil. Sebenarnya pertanyaan bisa langsung di kertas begitu saja asalkan bagian belakangnya dinomori. permen. hanya yang penting di sini adalah memberi warna atau diprint warna. Setiap siswa dalam kelompok wajib menyediakan kertas kosong yang digunakan untuk menulis setiap kata baru yang ia dapatkan selama permainan simulasi tersebut. atau sejenis itu. sedang menari atau sejenis itu. Alangkah baiknya juga berwarna dan diberi gambar latar belakang.! Atau sejenis itu lainnya. Pertanyaan-pertanyaan/instruksi-instruksi itu kita tuliskan di kertas-kertas kecil seukuran amplop kecil. Paling tidak kita harus menyediakan 19 pertanyaan/instruksi. tetapi lebih baik kertas-kertas tadi dimasukkan ke dalam amplop-amplop kecil dan amplopnyalah yang dinomori. Pada akhir permainan kertaskertas tersebut dikumpulkan untuk dilihat guru kemudian nantinya dikembalikan kepada siswa. Terakhir adalah aturan permainan yang berisi langkah-langkah yang harus dilakukan selama permainan simulasi berlangsung. Jumlah papan yang kita buat disesuaikan dengan kebutuhan berdasa rkan jumlah siswa per kelas. Media ini bisa dipakai secara berpasangan atau berkelompok. Dadu minimal harus 2 buah guna mengantisipasi angka yang muncul kecil terus atau sama terus padahal papan simulasi ini sampai nomor 19. peraturan simulasi lihat . Apabila kita membuat dengan ukuran folio maka perlu difotokopi/diperbesar baru diberi warna yang kemungkinan disukai siswa. Di tengah-tengah papan tersebut kita tuliskan kata-kata yang bisa menggugah semangat mereka. sehingga menimbulkan daya tarik sendiri bagi siswa. Penulis biasanya menggunakan bendabenda dari pantai. Hal inipun bisa kita dapatkan dari MS Word.Dulu pertama kali penulis membuat media ini dengan 15 nomor/angka dan setelah diujicobakan ternyata kurang jika digunakan di kelas berisi 40 siswa. keong. Bisa pula kita membuatnya dari kayu yang dicat dan dinomori. Untuk tema Culture and Art bisa berupa orang sedang bermain musik. yang penting menarik bagi para siswa. Selanjutnya kertas koleksi kosa kata baru. Hal ini guna tetap mempertahanka n rasa ingin tahu siswa dan keterkejutan atas pertanyaan/instruksi. untuk papan simulasi lihat LAMPIRAN XI. Bisa juga kita meminta siswa membawa sendirisendiri. Media lain yang dibutuhkan adalah daftar pertanyaan atau instruksi yang berkaitan dengan tema/sub-tema. Let's talk about . tutup pensil. Pembuatannya tidak terlalu sukar. kartu kendali simulasi lihat LAMPIRAN II. tetapi sampai sekarang maksimal nomor yang bisa dibuat hanya sampai 19 nomor. Kita juga harus menyediakan pertanyaan/instruksi cadangan untuk mengantisipasi dadu jatuh pada nomor yang sudah dibaca/dilakukan instruksinya sehingga siswa tidak bosan dan tetap ingin tahu. Untuk pertanyaan/instruksi cadangan bisa dimasukkan ke dalam amplop tersendiri. kadang-kadang kalau yang penulis bawa tidak cukup mereka menggunakan karet penghapus. Usahakan dadunya berwarna warni pula sehingga bisa menarik para siswa. Perangkat lainnya adalah kartu kendali simulasi untuk mencek apa yang terjadi di dalam kelompok apakah pertanyaan/instruksi dilakukan dengan tepat atau tidak. Identitas pemain juga perlu disediakan. atau potongan kapur. Oleh karena itu kita harus membuat mereka mengerti dulu permainan simulasi ini sebelum itu dibawakan dalam kelompok (Contoh-contoh media yang penulis buat. Apabila satu kelas berisi 40 siswa paling tidak kita harus membuatnya 8 sehingga per kelompok ada 5 siswa. bekel. Sediakan pula dadu masing-masing 2 buah atau lebih per kelompok. misalnya: Let's speak up!. Organizer atau pengatur memegang peranan penting dalam hal ini. Let's improve our English!.

3. Kadang-kadang guru juga harus memberikan respon apabila ada siswa yang terkena hukuman yang mungkin karena malu atau hal lainnya menjadi tidak sportif. Kadang-kadang ada siswa yang tidak paham dengan pertanyaan atau instruksi. maka guru harus memilih mana yang terbaik untuk siswa tersebut apakah dijelaskan dalam Bahasa Indonesia atau disuruh membuka kamus. Untuk pengisian kartu kendali simulasi bisa dijelaskan sambil proses berjalan supaya menghemat waktu.6 siswa termasuk pengatur. Setelah semuanya siap. dan post Activity. Untuk kepentingan ini. setelah itu dicek ada berapa siswa yang tidak masuk. Langkah kedua adalah pemberian tes sebagai pre-test yang berhubungan dengan tema Culture and Art. 2. Untuk tema Culture and Art penulis kebetulan memiliki foto-foto upacara Sekatenan di Kraton Yogyakarta sehingga dengan mudah para siswa diarahkan ke tema. Begitulah seterusnya sampai waktu yang disediakan untuk simulasi tesebut selesai. penulis dibantu seorang siswa kelas 3 yang tahun lalu mendapatkan metode serupa. Waktu untuk mengerjakan tes ini 10 menit. melakukan pengambilan gambar menggunakan handycam. kemudian mereka disuruh maju ke depan untuk menerima penjelasan lebih rinci.LAMPIRAN III. setelah selesai guru memberi salam dan menanyakan kabar mereka. seperti biasa para siswa kita ajak berdoa. Guna mengetahui apakah ada perubahan yang signifikan pada kemampuan berbahasa Inggris siswa maka perlu diadakan tes baik sebelum maupun sesudah proses pembelajaran (Untuk butir-butir soal tes lihat LAMPIRAN I). Biasanya 3 putaran sudah dapat mencakup semua pertanyaan/instruksi. Pengambilan gambar ini dilakukan di kelas yang untuk pertama kalinya mendapatkan metode simulasi tematis. Kemudian para siswa kita arahkan ke tema yang akan dibahas misalnya dengan menanyakan beberapa pertanyaan atau memperlihatkan gambar/foto. Post-Activity . Organizer tersebut akan menerima 1 papan simulasi dan perlengkapan lainnya seperti telah disebutkan di muka. 1. Pre-Activity Pertama-tama. Langkah berikutnya penjelasan umum kepada siswa mengenai metode simulasi yang akan digunakan dalam proses pembelajaran. maka simulasi sudah bisa dimulai. B. maka guru perlu mendorong supaya mereka memiliki rasa percaya diri. Whilst-Activity Selama simulasi berjalan tugas guru yang utama adalah memonitor jalannya simulasi. mencatat ungkapan-ungkapan berbahasa Inggris yang salah yang perlu didiskusikan sambil memberikan penilaian proses. begitu pula bisa dievaluasi kelemahan-kelemahannya. Setelah terpilih 8 orang organizers. sehingga proses pembelajaran ini bisa dipelajari dengan jelas. apabila jam pelajaran dimulai pada jam pertama. mengingatkan mereka apabila tidak menggunakan Bahasa Inggris. Pemilihan pengatur bisa berdasarkan pendapat siswa atau kita yang menentukan. daftar pertanyaan/instruksi lihat LAMPIRAN IV). whilst-Activity. sehingga penulis sendiri masih melihat banyak kekurangannya. guru harus bergerak dari satu kelompok ke kelompok lain guna melihat apakah simulasi berjalan sesuai yang dinginkan atau tidak. memilih organizer atau pengatur dan pembagian kelompok berisi 5 . Proses Pembelajaran Langkah-langkah pembelajaran meliputi pre-Activity.

Kemudian penulis menyebarkan angket guna mengetahui tanggapan mereka tentang metode simulasi tematis ini (Angket pasca simulasi lihat LAMPIRAN IX). Begitu pula setelah selesai kegiatan tersebut diadakan post test. Berikut ini hasil skor pre dan post test dari 3 kelas sampel (Untuk hasil selengkapnya lihat LAMPIRAN V). 3 orang sedang. Pertanyaan pertama adalah What do you thnik about western culture compared with eastern culture? Kedua.08 / 1. Tabel 1 NILAI RATA-RATA PRE & POST TEST PEMAHAMAN SISWA Kelas Jumlah Siswa Hadir Mean Pre-Test Mean Post test Skor terendah Pre/Post Skor tertinggi Pre/Post Deviasi Standar Pre/Post 2A 40 7. Tell me the uniqueness of your province! Pre-test dilakukan pada Hari Jumat tanggal 5 September 2002 sedangkan post test dilaksanakan berbeda-beda. C. 1977:11) Adapun hasil pre dan post test Kelas 2 B adalah sebagai berikut : Tabel 2 NILAI PRE-TEST SPEAKING SISWA Nomor Sampel Pronunciation and Accent Grammar Vocabulary Fluency . karena post test untuk kelas 2B langsung dilakukan setelah selesai simulasi. Vocabulary.91 2. langkah selanjutnya adalah mendiskusikan kesalahan-kesalahan ungkapan Bahasa Inggris tadi kemudian menyimpulkan.9 siswa untuk di tes kemampuan speaking-nya dengan diberi tiga pertanyaan yang sama baik pada pretest maupun post test speaking. dan 3 orang dianggap buruk. Grammar. Adapun ketiga pertanyaan tersebut penulis ambil dari bahan pertanyaan/instruksi simulasi. Hasil Pembelajaran Pada Kemampuan Speaking Dari 3 kelas yang dijadikan sampel.42 2B 42 7. Untuk kepentingan ini penulis paparkan hasil pre dan post test kelas 2B. proses pembelajaran bisa diakhiri dengan membaca hamdalah dan mengucap salam (Untuk proses langkah demi langkah bisa dilihat di LAMPIRAN XIII). Hasil Pembelajaran 1.36 7. Do you know the differences between Javanese dances and Balinese dances? Ketiga. Untuk kelas 2D dilaksanakan Hari Rabu tanggal 18 September 2002. Untuk pemilihan sampel didasarkan pada pendapat siswa yakni 3 orang yang dianggap baik speaking-nya. penulis mengambil 8 . Langkah terakhir adalah memberikan post test. dan kecepatan kelancaran umum (Harris.13 4 / 5 9 / 9 1. Untuk norma penilaian penulis mengacu pada norma Princeton Evaluation (lihat LAMPIRAN XII) yang meliputi Pronunciation and Accent. penulis mengadakan pre-test tentang tema Culture and Art yang akan dibawakan. Fluency. kosa kata.16 / 1.43 4 / 5 9 / 9 2.05 7.Setelah selesai. Untuk keperluan penulisan makalah ini soal post test sama dengan soal pre-test oleh karena itu para siswa dapat mengerjakannya lebih cepat dari waktu yang disediakan selama 10 menit. Bandingkan dengan Harris yang menggunakan norma penilaian yang meliputi fonologi. Hasil Pembelajaran Dalam Ranah Kognitif Sebelum diterapkan metode simulasi tematis ini.42 2D 37 7. struktur. Kemudian dicocokkan pendapat itu kepada yang bersangkutan dan terakhir penulis minta pendapat dari rekan guru Bahasa Inggris yang juga mengampu kelas tersebut.03 7. Comprehension. Untuk kelas 2A dilakukan sebagian siswa Hari Kamis tanggal 12 September 2002 sebagian lagi Hari Selasa tanggal 17 September 2002.03 4 / 4 9 / 9 2. Setelah selesai.94 / 1.

Javanese dances like classic? .72 6. Western I think western culture is more wild I mean western culture there usually wear clothes different with eastern culture they wear like thing top. In Javanese dances we do very slow moving and then and Bali dance is a very what is it very emh why I don't know.2. They can do may be a free sex like a wine because oh yes in the eastern religion is very strong and that makes the differences too. Sampel 4 2.00 7 50 55 60 45 60 270 5.1.40 3 70 70 75 70 75 360 7.50 5. sampel 4 mewakili yang sedang dan sampel 9 mewakili yang buruk.1.505 50.40 9 55 55 55 50 60 275 5. It's very usual in city but in eastern culture is very strange we wear in eastern culture like in Indonesia and about the language I think eastern culture is more polite than western culture emh I think that's.20 8 40 45 50 40 45 220 4.40 9 50 55 60 55 60 280 5.39 6.50 5 65 75 70 65 70 345 6.67 6.50 TOTAL 495 500 505 505 500 2.50 RERATA 5.56 5.2.Comprehension Total Rerata 1 70 65 70 75 60 340 6. The uniqueness? I think the kraton is the most uniqueness in my city. we have very traditional tradition like garebegan and so on and then we have sultan emh we have a lot of dances and my city may be the only city that emh the best keeping for their culture in Indonesia.90 6 55 60 65 55 65 300 6.57 Tabel 3 NILAI POST TEST SPEAKING SISWA Nomor Sampel Pronunciation and Accent Grammar Vocabulary Fluency Comprehension Total Rerata 1 70 70 75 65 75 355 7.20 3 70 70 70 70 65 345 6. 1. Sampel 1 1.40 8 50 55 60 45 60 270 5.61 5.70 7 40 40 40 45 45 210 4. 2. I think it's very different culture because we know that in the western we don't emh they don't have emh like javanese emh no like sopan santun is different and different emh freedom and then in the eastern we have kraton that very what is it very great culture like in the western.10 2 60 65 70 55 70 320 6.10 5 50 60 50 55 50 265 5.3. 1. 1.10 RERATA 5.90 4 65 60 60 60 60 305 6. Untuk sampel yang lain lihat LAMPIRAN VII.60 TOTAL 530 575 605 515 600 2. We have very strong culture that famous in the world we have batik.72 5.89 6.20 4 60 70 70 60 65 325 6.825 56.28 Berikut ini naskah dari pre dan post test speaking sample 1 mewakili yang baik. Yes may be a little.80 2 60 60 65 60 65 310 6.56 5. 2.61 5. That's all.30 6 45 45 45 50 50 235 4.

I think Javanese dance is more slowly. I think eastern culture have emh eastern culture more fine than western culture. My province have a very big place..1. has more classic art. 1. Yogya has a good culture like a what is it like a dance like a song and etc. 3. and Bali like too but the symbol is so different like Javanese Dances. I think but eastern is more polite and has many art classic than western. about the custom (costum?) is more beautiful like the textile and in Bali they use a glitter for their eyes but I think Bali is more beautiful because they use their eyes because like flower to dance and to dancing some dances. and Yogya has many predict for Yogya never ending Asia and Yogya kota pelajar in Indonesia and Yogyakarta has a predict unique province like daerah istimewa just Yogya and Aceh and a Yogya has emh very very what is it Yogya has more a more what is it more Yogya has more tourist object like Parangtritis. The other town I think the culture in other town I think not as strong as my province. 3. impolite but in the western the impolite is not too strong than in the eastern. . Borobudur and song. There is Yogya has emh very very friendly people has friendly 3 language like kromo ingggil. Srimpi dance from Kraton Yogyakarta Hadiningrat. So for example the eastern have a kraton. My province have very much emh ceremony that Kraton held and then we still have the king sultan and then I think . That's all.Western culture and eastern culture have very differences cultures.3. There is just a few rules and about eastern culture has a more rules than western culture. is still strong the religion strong and then we have so many what is it emh kerajinan tangan like batik and then ukirukir that's all. what is it. Ok? 1. Sampel 9 3.2. have a very strong. 2. It is very complicated differences. I think emh western culture is more exotic I mean like the clothes. I think like the dance about classic dance like Gambir Anom or ya I think like Prambanan emh dance.1. I think western culture has a free emh free from rules. Javanese dance has a very slowly and very beautifully and about Balinese dance is very-very fast like Kecak dance and like what just like Kecak and manymany that have that Javanese dance have like emh symbol of glory. The culture is still strong until now.3. Of Yogyakarta? The unique province of Yogyakarta. It's very special if we from Indonesia province it does especially. I think western culture is more impolite. 2. We get hot season and the western have a cold season so is make the clothes and everything different and the western and the eastern have a very different habits may be in the western free sex is usually teenagers usually do that and it's not big problem for them and in the eastern we have big problem if we do that. Prambanan.1.. ngoko Naskah Post Test Speaking 1. 2. symbol of war etc. They more vulgar.. Sampel 1 1. I think that's all. Balinese dance have the movement is more dynamic and then the Javanese is slow and may be Balinese may apa use the eyes more than Javanese like some stress the movement may be.2. 3.I think is more emh the body is more beautiful than Bali about the make up is more thick in the face and in Bali usually they use their eyes with dances in Bali dances. Yogyakarta has many traditional food like gudeg and about the tourist object they have Borobudur and Kraton. Excuse me? Unique.2. Sampel 4 2. It is kraton . eastern culture is polite and about the art I think in eastern culture is more slow and classic.3. I think Yogya has more fine culture like Bedoyo dance.

85 4.Yes like before.1. Untuk sampel di sini penulis mengambil kelas 2A dan 2C dengan pertimbangan kelas tersebut lebih dulu melakukan tes writing ini sehingga penulis koreksi lebih dahulu pula.ACEN. Para siswa harus menulis di kertas yang sudah disediakan yang formatnya sudah penulis buat yakni yang biasa penulis pakai untuk peningkatan kemampuan writing siswa (Lihat LAMPIRAN XIV). the Balinese dance is very very fast and the Javanese dance is very slow and has more what is it. Tanggapan Siswa Terhadap Metode Simulasi Tematis Melalui Angket. 4 siswa (3. Javanese dance is more fine than Balinese dance because Javanese dance is more beautifully that Balinese dance. Ok. Sampel 9 3. Berikut hasil tes writing dari 2 kelas. fine culture and friendly people and more tourist object. tanggapan-tanggapan yang muncul adalah sebagai berikut: Ada 52 siswa (43. And Yogya has more predicate like emh kota pelajar.525 6. That's the one of Yogyakarta. Excuse me? Emh I think like Indonesia has. and the western culture is have many many negatif thinking like free sex. is very very have form of what is it very-very . My province is Yogyakarta has fine art.OR. I think that western culture is very-very free and the south culture is .KR . Hasil Pembelajaran Pada Kemampuan Writing Pada minggu berikutnya yaitu tanggal 18 September 2002 diadakan tes writing bagi seluruh kelas baik untuk kelas yang telah melaksanakan metode simulasi tematis (2A. Format tersebut mampu meningkatkan kemampuan writing siswa.325 2.445 2.480 9. 19 siswa (15.640 2. Vocabulary. Yogya has Prambanan emh and Kasultanan Yogyakarta. 2A dengan simulasi.36%) merasa tidak mengerti pertanyaan/instruksi tersebut dan tidak tahu harus menjawab apa. 42 siswa (35. yang kemudian diberi angket. Dari 3 kelas atau 119 siswa yang menjadi sampel pelaksanaan simulasi tematis tersebut. yes like something to .97%) merasa tidak mengerti sebagian kecil pertanyaan/instruksi tersebut. Tahun lalu penulis gunakan juga untuk kelas 2 sebelum mereka menerima tugas penulisan Autobioghraphy. sorry has . Pertanyaannya juga sama seperti pertanyaan untuk tes speaking. I think that's all. sisanya 2 siswa (0. Tabel 4 Nilai Writing Test Kelas Sampel Kelas Sampel Jml Siswa hadir Ortoghraphy Grammar Vocabulary Comprehension Total Rerata 2A 39 2. 2B. Yes.WEBZINE .70%) yang mengerti sebagian saja pertanyaan/instruksi dari simulasi tersebut. I think I think the tourist object of Yogyakarta is is is more fine that the other. etc. 3.560 2. kota gudeg. Adapun norma untuk tes writing ini mengacu pada tulisan Harris yaitu meliputi Ortoghraphy. 3.705 10. I think that's all.2.2. 3.2F). it's so bad and the east culture is more fine that western culture. too much what is it.42 2C 40 2.830 5. It's very beautiful to see and like Sekaten there and other province there's no Sekaten because Sekaten is special for Yogya and about dance Yogya has many dances like Jago Menak and so on.580 2. Yes.2E. (Hasil proses ini sudah penulis tuliskan dalam artikel berjudul "Improving Writing Skill Through Power Point" yang sedang dalam proses publikasi di WWW.3.84%) merasa tidak tertarik dengan pertanyaan/instruksi tersebut . 3.29%) merasa mengerti pertanyaan/instruksi simulasi tersebut dan tahu harus menjawab apa. Hasil Pembelajaran Pada Ranah Afeksi 4.620 2. 2C tidak (Hasil selengkapnya lihat LAMPIRAN VI). dan Comprehension (OGVC). 2D) maupun yang tidak (2C.1.. That's enough.3. Grammar.

Sedangkan sisanya 11 siswa (9. sisanya 1 siswa (0. dapat membiasakan diri berbicara Bahasa Inggris dengan orang lain.08%) merasa kurang bermanfaat karena kurang memotivasi mereka untuk berbicara dalam Bahasa Inggris. 1 siswa (1.88%) merasa yakin sekali simulasi tersebut meningkatkan kemampuan speaking.25%). ada penambahan kosa kata baru. dapat menjawab pertanyaan dengan senang hati.77%) merasa percaya diri dan menjawab pertanyaan atau melakukan instruksi. Sisanya 6 siswa (5. 41 siswa (34. menambah percaya diri.25%) mengatakan kata-kata dalam simulasi tersebut tidak berhubungan dengan kesenangannya. Adapun penilaian mereka terhadap simulasi ini dalam hubungannya dengan peningkatan kemampuan speaking mereka adalah sebanyak 63 siswa (52.38%) merasa percaya diri meskipun harus meminta pertanyaan/instruksi dibacakan lagi oleh teman mereka.98%) merasa cukup yakin bahwa simulasi tersebut meningkatkan kemampuan speaking-nya. membuat berfikir untuk menjawab dalam Bahasa Inggris.94%) merasa cukup bermanfaat dan mereka termotivasi untuk berbicara Bahasa Inggris. Dalam hal confidence atau rasa percaya diri siswa ketika mendapat giliran pertanyaan/instruksi dari simulasi tersebut. 39 siswa (32.04%) merasa tidak percaya diri dan lebih baik menerima sangsi. menjadi mudah berbicara.09%) mendapat 21 .sehingga memilih diam saja. dapat mempraktekkan Bahasa Inggris. 10 siswa (10.84%) tidak memberi jawaban. 6 siswa (5.45%) saja yang merasa tidak ada penambahan kosa kata.45%) merasa kurang yakin meningkatkan kemampuan speaking mereka. ternyata ada 69 siswa (57. termotivasi untuk menjawab pertanyaan dalam Bahasa Inggris.36%) merasa nervous. Seberapa banyak penambahan kosa kata baru bagi mereka. ada yang menjawab sedikit. 77 siswa (83.93%) merasa bermanfaat dan mampu membangkitkan motivasi mereka untuk berbicara dalam Bahasa Inggris.87%) antara 11 . bisa menjawab pertanyaan dengan lancar karena dibantu teman. membuat mulai berbicara dalam Bahasa Inggris. teman mulai mengerti ucapan mereka. Dalam hubungannya dengan kemampuan speaking.88%) tidak percaya diri karena tidak tahu harus menjawab/melakukan apa. dan 1 orang (6.35%) menjawab ada yang kurang dari 5 kata. ada penambahan kosa kata baru. sisanya 2 siswa (1. mulai terbiasa berbicara dalam Bahasa Inggris. 7 siswa (5. tidak nervous.04%) merasa tidak tahu bermanfaat atau tidak bagi mereka. ada keharusan berbicara dalam Bahasa Inggris. Simulasi tersebut menurut siswa ternyata mampu menambah kosa kata baru. dapat memperbaiki struktur kalimat. 6 siswa (5.5%) mengaku kata-kata simulasi sudah mereka ketahui. menambah wawasan. dan tidak malu karena tidak ada yang mengejek.04%) merasa bingung. dapat berbicara Bahasa Inggris secara leluasa. hal ini diutarakan oleh 92 siswa (77. 38 siswa (31. 12 siswa (10. sudah mulai berani bicara meski kosa kata yang digunakan salah.70%) menjawab antara 5 .10 kata.30 kata. membuat mereka membuka kamus. bicara Bahasa Inggris menjadi menyenangkan. 54 siswa (45. bisa berekspresi dalam Bahasa Inggris. Siswa yang merasa kurang yakin memberikan bukti antara lain: tidak mendapat . Siswa yang merasa cukup yakin memberikan bukti antara lain mereka menjadi berani meskipun sering salah yang penting berbicara dulu. menumbuhkan minat untuk berbicara dalam Bahasa Inggris meskipun belum betul. menjadi tahu kosa kata baru.68%) merasa tidak yakin simulasi tersebut meningkatkan kemampuan speaking-nya. lebih nyaman berbicara di depan teman. dan 4 siswa (3. 7 siswa (5.20 kata. mendorong untuk berusaha menjawab pertanyaan karena ada sangsi. Hanya 16 siswa (13. 4 siswa (4.24%) merasa tidak tahu. dapat memahami ucapan teman. 6 siswa (37.31%). kita dituntun untuk berbicara Bahasa Inggris. Keenam belas siswa yang menjawab tidak ada penambahan kosa kata memberikan alasan bahwa kata-kata dalam simulasi tersebut sudah cukup mereka kenal yakni 9 siswa (56. menimbulkan rasa percaya diri. Beragam bukti yang mereka ungkapkan mengapa mereka yakin sekali simulasi tematis tersebut mampu meningkatkan kemampuan speaking antara lain membuat berani/tidak grogi.

kosa kata baru. 19 siswa (15. menghilangkan kejenuhan.32%) melihat bahwa siswa terfokus pada permainan bukan pada belajar karena mereka sibuk memikirkan sangsi atau hukuman. teman-teman tidak memberi kesempatan menjawab lengkap. 10 siswa (8. tidak bisa menjawab tetapi tidak ada teman yang membantu. 26 siswa (21. topik dibuat semenarik mungkin. siswa harus memperhatikan yang dihukum. lebih baik menerima sangsi. kurang ramai. grammar dan struktur kalimat tidak dipedulikan. 23 siswa (19. Sedangkan kesan negatif dinyatakan oleh 8 siswa (6. mungkin keasyikan dengan simulasi tersebut sehingga tidak menemukan titik titik lemahnya. hanya bicara kalimat singkat.21%) menyatakan bahwa simulasi tematis ini menarik dan menyenangkan tetapi kelas menjadi ramai.36%) menyatakan biasa saja. ramai. membangkitkan semangat. 4 siswa (3. memotivasi. tidak serius. kurang serius/bergurau. belum bisa menyusun kata-kata dalam Bahasa Inggris. sulit dijalankan dan membosankan. Sedangkan sisanya 5 siswa (4. Adapun saran-saran yang diajukan siswa untuk kebaikan simulasi tersebut antara lain permainan harap ditingkatkan sebanyak 47 siswa (39. dan menimbulkan rasa gembira. ada kosa kata yang tidak tahu artinya. Adapun pandangan siswa tentang kelemahan/kerugian simulasi tersebut antara lain sebanyak 32 siswa (26. very great. dapat berekspresi di depan umum. bisa hiburan/refreshing. masih campur Bahasa Indonesia/Jawa.96%) menyatakan bahwa banyak waktu terbuang. kurang berkesan. kurang bermanfaat. kebingungan menjawab karena sulit mengungkapkannya. kurang mampu memotivasi untuk speaking. tidak ngantuk.12%) menyatakan kelas jadi ramai sehingga suasana belajar tidak nyaman. masih gagu. tidak ada waktu untuk mengingat kosa kata baru. . asyik. kemampuan speaking kurang. tidak membosankan. lumayan. kurang tertib. bagus. tidak ada kosa kata baru. menjengkelkan. tidak banyak mengembangkan kemampuan dan tidak ada pengawasan.40%) menyatakan program belajar kurang terencana. lebih memikirkan hukuman daripada jawaban.34%) menyatakan bahwa simulasi tersebut menarik. masih bingung/tidak mengerti pertanyaan. Ada 30 siswa (25. tambah waktu.08%) menyatakan tidak efektif dan efisien karena banyak waktu bercanda. cukup baik. hukuman terlalu mudah. sudah terlanjur diberi hukuman sebelum menjawab. pertanyaan tidak monoton. sangat menantang.89%) menyatakan tidak ada. suasana akrab. tidak merasa kemampuan speaking bertambah. bahan diskusi diperluas. 4 siswa juga menyatakan lucu. kosa kata kurang banyak.20%) menyatakan tidak tahu. banyak kata-kata Indonesia yang Inggrisnya tidak tahu. suasana baru. dan kurang mengerti pertanyaan. seru. harus diawasi dan dilihat jika ada kosa kata yang tidak dimengerti harus dibantu. Yang merasa tidak yakin memberikan bukti antara lain waktu terlalu singkat. sisanya memberikan saran yang bervariasi antara lain dibuat seperti monopoli. memilih menerima hukuman. menyimpang dari sasaran. Bahasa Inggris menjadi menyenangkan/enak. Sebagian besar siswa memberikan kesan positif terhadap metode simulasi tematis ini yakni 73 siswa (61.72%) bahwa simulasi ini memaksa siswa untuk melakukan sesuatu/kurang berkenan dihati. kemampuan tidak bertambah karena tidak percaya diri.84%) menyarankan agar lebih sering diadakan. 12 siswa (10. 18 siswa (15. masih dipengaruhi bertanya dalam Bahasa Indonesia/Jawa. membuat anak aktif. mengesankan. tidak maksimal menyampaikan pendapat karena dibatasi waktu. selang seling dengan . dan kurang bervariasi. melatih untuk percaya diri dan kekompakan. menambah wawasan bidang seni dan budaya.49%).

jangan ada sangsi. Hasil Pembelajaran Pada Penambahan Kosa Kata Berdasarkan hasil angket. kelompok ditentukan guru. terutama kemampuan komunikasi oral. ban sepeda bocor atau sejenis itu. yang meminjam VCD proses pembelajaran menggunakan metode simulasi tematis ini berkomentar bahwa kemampuan speaking siswa tidak jelas nampak dalam VCD tersebut. lebih diperbanyak. Penulis menduga terjadi penambahan kosa kata umum baik yang berhubungan dengan tema Culture and Art ataupun tidak. mencakup semua tema. hukuman/sangsi tidak sama. berjenjang dari yang mudah ke yang sulit.31%) siswa menyatakan adanya penambahan kosa kata yang bervariasi. Astronomi tetapi malah tidak tahu kata-kata yang justeru berkaitan erat dengan dunia mereka misalnya membolos. diberi kesempatan untuk menjawab. Memang dilematis bagi guru yang mengajar siswa yang input NEM masuknya sudah baik. Politik. guru BP. topik harus mengena dengan dunia siswa (remaja). Bukan hanya nilai rapot sebab nilai rapot belum menjamin siswa tersebut mampu. permainan tebaktebakan. kelompok dicampur putra-putri. waktu game jangan terlalu lama. 5. diadakan secara reguler. 4. Tanggapan Rekan Sejawat Terhadap Metode Simulasi Tematis Beragam komentar terhadap simulasi tematis ini khususnya ketika metode ini penulis bawakan pada forum pelatihan guru Bahasa Inggris yang diadakan oleh Kanwil Depdiknas dan Global Partners 3 tahun lalu. Seperti penulis kemukakan dalam Bab I bahwa sering anak justeru mengerti kosa kata tentang Ekonomi. BAB III ANALISIS HASIL PEMBELAJARAN Sebenarnya fungsi dan peran guru Bahasa Inggris yang dituntut masyarakat itu seperti apa? Hal tersebut tentu berkaitan dengan kemampuan siswa dalam masyarakat baik ketika masih sekolah maupun setelah lulus. organizer harus valid. Ian Briggs.metode konvensional. Apakah para siswa memiliki kemampuan sesuai harapan orang tua mereka? Seorang pendidik dari Australia. Padahal motivasi berperan penting dalam . ada 92 siswa (77. tidak ada kelompok. dilakukan di ekstra kurikuler. bobot soal ditingkatkan. dan harus lebih teratur. hukuman jangan kekanakkanakan. simulasi harus berguna. Akhirnya sering muncul istilah 'ngaji' kependekan dari ngarang biji sewaktu pengumpulan nilai rapot.2. Tetapi apakah kosa katanya yang berkaitan dengan tema yang disimulasikan atau juga termasuk kata-kata yang sederhana yang mereka tidak ketahui. dibuat lebih menarik dengan komputer. diberi pengarahan. Seorang senior guru Bahasa Inggris yang aktif di bimbingan belajar Primagama juga meminjam media ini untuk digunakan dalam pelatihan instruktur Bahasa Inggris seluruh Indonesia. Seorang rekan. Apabila kita beri nilai jelek. salah-salah dikira kita tidak bisa mengajar. dan memang kenyataannya siswa tersebut tidak mendapatkan hasil yang baik meskipun sudah dites perbaikan. banyak peran aktif melakukan pekerjaan. tidak boleh kacau. dalam sebuah seminar "Towards More Innovative and Communicative English Language Teaching" mengatakan bahwa banyak lulusan SLTA tak mampu berbahasa Inggris dengan baik kendati sudah mempelajarinya selama 6 tahun di sekolah formal. Banyak diantara mereka yang meminjam media tersebut untuk digunakan di kelas-kelas mereka. penambahan kosa kata dalam tema tersebut cukup signifikan. kesalahannya bukan pada materi pelajaran tapi karena guru kurang aktif menciptakan strategi pengajaran yang dapat memotivasi siswa. didampingi orang yang mampu berbahasa Inggris. menang dapat hadiah. Tetapi apabila penulis perhatikan hasil post test speaking ataupun writing test.

Perubahan tersebut tidak hanya terjadi pada nilai rata-rata tetapi juga pada skor sebagian siswa yang dalam pretest menjawab A (jawaban yang benar) setelah simulasi menjawab B (salah). dan mengenai kelemahannya sebelumnya sudah diprediksikan bahwa suasana kelas akan ramai (Tillit and Mary Newton Bruder. mengatakan bahwa siswa yang pasif dapat dibantu dengan menggunakan metode diskusi dalam kelompok-kelompok kecil. sehingga mendapatkan tes sesulit apapun mereka tidak terkejut. Strategi tersebut perlu dilakukan terutama di kelas yang berisi lebih dari 30 siswa karena dalam kondisi semacam itu guru tidak cukup waktu melatih percakapan setiap siswa. A. ia tentu akan mengajak anggota yang lain untuk aktif dalam percakapan. Di pundak pengatur itulah kesuksesan simulasi tersebut sebenarnya terletak.mempelajari Bahasa Inggris. Praktek kelompok ini disarankan untuk dilakukan secara simultan. dengan memilih organizer yang dianggap lebih mampu dari yang lain dalam kelompoknya akan mendorong mereka untuk berbicara dalam Bahasa Inggris. Berarti proses simulasi tersebut telah memberikan perubahan pada visi siswa. Jika setiap kelompok memiliki seorang pembicara aktif. Ada keraguan pada diri penulis untuk mengadakan tes speaking Apakah hasilnya subjektif atau objektif? Oleh karena itu penulis berdiskusi dahulu dengan para senior dan menyediakan alat perekam agar hasil tes tersebut bisa dituliskan sehingga ada pembanding. Untuk kelas 2D meskipun prosentasenya mengalami penurunan tetapi persebaran nilainya relatif lebih mendekati rata-rata. Perlu diketahui bahwa para siswa SMU 8 Yogyakarta sudah terbiasa menghadapi tes-tes seperti itu. Materi soalnya mengacu pada materi UAN dan SPMB. Jadi secara implisit simulasi tematis telah merubah daya resepsi siswa.08% 2D 32. Suwandi. merubah daya resepsi/tanggapan yang terdahulu dimiliki siswa. Hal itu bisa dilihat pada LAMPIRAN V nilai terendah 4 menjadi hanya 1 yang pada pre-test ada 2. Pengelompokan merupakan cara yang efektif. Untuk kepentingan penulisan makalah ini.15% 2B 34. Metode Simulasi Tematis Dengan Kemampuan Pemahaman Siswa Apabila diperhatikan tabel 1 di muka.88% 33.23% Dari tabel tersebut terjadi perubahan pemahaman siswa yakni 2 kelas mengalami kenaikan dan 1 kelas mengalami penurunan. maka perbandingan nilai pre-test dengan post test diprosentasekan sbb: Tabel 5 Perubahan Pemahaman Siswa Kelas Prosentase Pre-Test Prosentase Post Test Keterangan 2A 32.79% 32.41% Naik 0.30 pagi guna mengikuti tes pendalaman materi selama 45 menit termasuk Bahasa Inggris.56% Turun 0. meskipun dari sudut kebenaran jawabannya pilihan kedua (second choice) tersebut salah. guru dapat mudah mengetahui siswa mana yang aktif berbicara. penulis juga .03% Naik 0. B. Metode Simulasi Tematis Dengan Kemampuan Speaking Siswa Seorang dosen Akaba 17 Semarang. Dengan diskusi kecil.33% 34. 1985:ix). Kelas 2 dan 3 harus masuk pukul 6. Metode simulasi yang penulis praktekkan nampaknya sesuai dengan anjuran dosen tersebut.

Dari 2 sampel kelas. lebih sering berubah-ubah. C.15% 19. Hal ini masuk akal karena mana mungkin pengucapan dan aksen dan kefasihan seseorang dapat berubah dalam waktu cepat hanya karena simulasi? Meskipun kemungkinan tersebut tetap ada. reseptif dan fisikal.mencoba mentransfernya ke CD sehingga pihak lain dapat memberikan penilaian pula. Metode Simulasi Tematis Dengan Kemampuan Writing Siswa Dalam kemampuan menulis siswa.36% 21. Yang menarik adalah bahwa metode simulasi tematis ini mampu menghilangkan rasa nervous dan justru membangkitkan rasa percaya diri bagi siswa yang rendah rasa percaya dirinya. Masalahnya adalah terdapat perbedaan antara komunikasi lisan dan komunikasi tulis.41% 18.:6-8).22% 21. Berbicara dengan bantuan alat peraga diyakini akan menghasilkan penangkapan informasi yang lebih baik pada pihak penyimak (Tarigan. tidak tetap. Penurunan tersebut juga diakibatkan semakin banyaknya kosa kata yang mereka dapatkan yang pengucapannya belum sempurna sehingga nilai untuk bidang tersebut turun. penulis menggunakan Princeton Evaluation yang lebih lengkap. Namun tidak serta merta stimuli teman itu menghilangkan rasa nervous. grammar dan comprehension.97% 20. Apabila kita perhatikan naskah pre dan post speaking maka akan nampak kejanggalan-kejanggalan. terjadi perbedaan yang cukup signifikan antara kelas yang mendapatkan simulasi tematis dengan kelas yang tidak.32% sedangkan untuk kelas . bagi siswa tertentu mungkin malah sebagai penghambat kelancarannya berbicara. Adapun perkembangan kemampuan speaking siswa sebelum simulasi tematis dapat diprosentasekan sebagai berikut: Tabel 6 Prosentase Kemampuan Speaking Siswa Pra Simulasi Pronunciation and Accent Grammar Vocabulary Fluency Comprehension 19. keduanya merupakan cara untuk mengekspresikan makna atau arti (Ibid. Namun begitu berbicara dan menulis erat hubungannya.76% 20. 1985:5). Tarigan mengatakan bahwa ekspresi lisan cenderung ke arah kurang berstruktur.97% Sedangkan prosentase kemampuan speaking siswa setelah simulasi adalah sebagai berikut: Tabel 7 Prosentase Kemampuan Speaking Siswa Pasca Simulasi Pronunciation and Accent Grammar Vocabulary Fluency Comprehension 18.25% Peningkatan kemampuan speaking siswa terjadi pada vocabulary. dan biasanya lebih kacau serta membingungkan. apresiatif.15% 20.76% 19. dapat penulis kemukakan bahwa untuk kelas 2 A yang menggunakan metode simulasi tematis prosentase nilanya adalah 52. Lain halnya apabila stimuli itu diberikan oleh teman sebaya dengan demikian mereka juga mengembangkan listening yang sifatnya juga langsung. perlu bantuan alat peraga. sedangkan kemampuan pronunciation and accent dan fluency mengalami penurunan. Keterampilan berbicara memang secara teoritis langsung. Sedangkan untuk norma penilaian. produktif dan ekspresif yang apabila itu dirangsang oleh seorang guru.

Untuk itu lihat kembali Bab II tentang tanggapan siswa. Hal tersebut sangat mendukung mereka mengembangkan kecerdasan emosional yang juga penting selain . tidak gampang menyalahkan orang lain dan bekerjasama dengan orang lain untuk meningkatkan kemampuan berbahasa. suasana hati. sebagian besar siswa tahu bahwa Bahasa Inggris itu penting sehubungan dengan tuntutan dunia global. Bahkan penulis pernah menemukan dalam catatan kartu kendali simulasi. Disamping motivasi adalah mood. umumnya sedang ada dalam puncak hormon. mereka merasa nilai manfaatnya berkurang. perlu ada stimulus atau perlu dimunculkan. 2002:16-21). Metode simulasi yang penulis kembangkan sangat memungkinkan untuk membangkitkan mood dan motivasi siswa. rebutan pacar dan sejenis itu lainnya sangat mempengaruhi resepsi/tanggapan mereka terhadap semua mata pelajaran. merekalah yang harus menata mood dan menjaga agar motivasinya tetap kuat untuk belajar sesuatu. siswa juga tidak akan mempertanyakan Apa Manfaatnya Bagiku (AMBAK) belajar Bahasa Inggris. tidak berlebih-lebihan atau memutar-mutar. untuk tidak asal menghukum. Sebenarnya mood dan motivasi adalah urusan intern siswa. munculnya kesadaran dan filter terhadap seks bebas. but we very very very happy and enjoy it. kelompok yang menulis 'We think this day is a bad day.64%. Seorang guru perlu menyikapi hal tersebut misalnya dengan mengembangkan metode. Mereka berlatih untuk menahan diri.2 C yang tidak menggunakan metode simulasi tematis prosentase nilainya adalah 47. memang motivasi memegang peranan penting dalam belajar Bahasa Inggris. yang jauh dari dunia keseharian. pemilihan sub-tema yang cocok amatlah penting. para siswa belajar keterampilan emosional. sedangkan yang tidak mendapatkan simulasi cenderung sebaliknya. Dengan metode tersebut ada 3 hal yang diperoleh yakni pertama.' dan 'less variation. Oleh karena itu. karena penulis yakin. Kelas 2 SMU menurut penulis. kedua. adanya peningkatan imtaq berupa kehendak untuk menjauhi seks bebas (Somantri. dan ketiga. tetapi kenyataannya tidak begitu. belajar sabar mendengarkan pendapat orang lain. Penulis pernah mengembangkan tema Culture and Art dengan sub-tema free sex justru karena siswa memintanya. maka dengan merespon keinginan mereka tersebut muncullah proses penulisan dan pendiskusian makalah berbahasa Inggris sub-tema seks bebas oleh kelas 2 angkatan 2001/2002 SMU 8 Yogyakarta. Ini berarti terjadi perbedaan 4. Dalam hal pengungkapan ide atau gagasan. Barangkali untuk Bahasa Inggris lebih mudah membangkitkan motivasi siswa. Metode Simulasi Dengan Perubahan Sikap Seperti yang dikatakan Ian Briggs di muka. Disamping itu. Motivasi tentu tidak muncul begitu saja pada diri siswa. adanya peningkatan kemampuan Bahasa Inggris baik dalam speaking maupun writing. siswa yang mendapatkan simulasi tematis cenderung menjawab lebih baik daripada yang tidak dan langsung pada permasalahan.68%. not so cool but make the class alive'. Kebetulan waktu itu penulis sedang mengaitkan pembelajaran Bahasa Inggris dengan nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan siswa. termasuk Bahasa Inggris. Hanya jika penulis perhatikan ketika mereka harus bicara yang muluk-muluk. Sehubungan dengan itu pula. Hal-hal yang menganggu suasana hati mereka seperti putus pacar. Justru banyak sikap dan metode guru yang menghilangkan mood dan motivasi siswa dan banyak pula guru yang dengan metode yang baik justru membangkitkan mood dan motivasi siswa . D.

yang penting para siswa mampu menggunakan kosa kata yang sudah mereka miliki. metode ini fleksibel. lebih-lebih secara oral. baik yang berkaitan dengan tema Culture and Art maupun kosa kata sehari-hari. E. metode pembelajaran Bahasa Inggris . kosa kata yang didapatkan para siswa kemungkinan kosa kata umum. Oleh karena itu perlu dicari solusinya. dapat digunakan untuk semua tema dan dapat dimulai dari tingkat kemampuan siswa yang sudah memiliki kemampuan komunikasi dasar. dalam simulasi tematis ini.kecerdasan kognitif (Goleman. Ketiga. mungkin dalam satu tahun pelajaran hanya 4 . Dan hal tersebut terbukti dalam hasil tes speaking maupun writing bahwa kosa kata siswa sampel dan kelas sampel cenderung mengalami peningkatan. Metode Simulasi Tematis Dengan Penambahan Kosa Kata Kosa kata memegang pernan penting dalam komunikasi. Adapun keuntungannya. membahas banyak tema yang belum tentu dianggap para siswa bermanfaat dalam kehidupan mereka. Metode simulasi tematis disamping mampu membuat suasana kelas hidup dan menyenangkan. maka aplikasi kemampuan kosa kata itulah yang penting. Meskipun begitu ada pula kelemahan metode ini. Salah satu solusi adalah melalui penerapan metode pembelajaran. Bagi penulis. Oleh karena itu. mempertahankan yang sudah siswa ketahui saja kadang-kadang sulit. BAB IV PENUTUP A. para siswa sering lupa untuk terus menggunakan Bahasa Inggris dalam simulasi tersebut. Hal tersebut mengakibatkan tidak adanya apresiasi siswa terhadap pelajaran Bahasa Inggris yang ujung-ujungnya kemampuan berbahasa Inggris tidak sebanding dengan jumlah anggaran yang dikeluarkan negara dan kerja keras para guru Bahasa Inggris maupun siswa itu sendiri. membuat kelas menjadi ramai sehingga kadang-kadang sulit membedakan apakah keramaian itu memberikan suatu proses pembelajaran atau tidak. rata-rata dan pilihan. memerlukan pengawasan yang lebih daripada proses pembelajaran biasa karena dalam situasi yang demikian ramai.5 kali penggunaan dalam kelas yang sama. Artinya. Diyakini bahwa semakin banyak kosa kata yang dimiliki siswa maka semakin mudah pula mereka mengembangkan empat kemampuan berbahasa. membuat suasana pembelajaran atau suasana kelas dalam pandangan para siswa membosankan. Pertama. 2000:397-406). sebab jangankan menambah. Kesimpulan Muatan kurikulum Bahasa Inggris yang terlalu padat. Diyakini pula bahwa dengan bertambahnya kosa kata siswa akan menambah baik pula kefasihan berbicara dan menulis. dengan tidak dibarengi metode pembelajaran yang menyenangkan. tetapi seperti dugaan penulis. tidak bisa dipakai berulang-ulang secara terus menerus. juga mengindikasikan adanya peningkatan kemampuan berbahasa Inggris siswa yang cenderung lebih baik dalam bentuk pemahaman terhadap tema tertentu maupun dalam kemampuan speaking dan writing. Menurut Endang Adi. penulis mencoba menyusun pertanyaan/instruksi didasarkan pada 3 prinsip yakni frekuensi. Kedua. tetapi kosa kata apa yang penting bagi siswa? Dari hasil angket ternyata para siswa mendapatkan penambahan kosa kata.

Petunjuk Teknis Mata Pelajaran: Bahasa Inggris. Artikel. Jakarta.April 2002. Gordon dan Jeannette Voss 2000 Revolusi Cara Belajar Bagian I Keajaiban Pikiran. Bandung. Sekolah harus membantu guru dan siswa untuk kreatif misalnya dengan menyediakan sarana prasarana yang mendukung untuk proses pembelajaran khususnya pembelajaran Bahasa Inggris. guru dituntut untuk selalu mengingat sumpah jabatan. Garis-Garis Besar Program Pengajaran. mendorong siswa untuk secara otomatis berbicara Bahasa Inggris karena menuntut kelompok untuk membangun suasana pembelajaran Bahasa Inggris. Nurul Isnaini dan Armon 1997 Teaching Speaking. Syaiful Bahri dan Aswan Zain. Jakarta. Disajikan pada Latihan Kerja Instruktur PKG Bahasa Inggris Tahun 1997/1998 Jakarta 14-25 Juni 1997 Depdikbud. Denmas. Edisi 6 TH. Penulis mencoba menyatukannya dengan kurikulum dan menyesuaikan dengan kemampuan siswa kelas 2 SMU. Malik. Yang dihadapi adalah para siswa. Djamarah. Bobbi dan Mike Hernacki 2000 Quantum Learning. 5. Fajar. 4. 3. Pihak penerbit selayaknya tidak saja berorientasi pada keuntungan akan tetapi terus mengembangkan dan menerbitkan buku-buku pegangan yang bermutu yang memang berkorelasi positif dengan kemampuan berbahasa Inggris siswa. Rineka Cipta. Endang. 2002 "Kartu Simulasi. Kurikulum Bahasa Inggris perlu dikaji ulang dengan mengedepankan pendekatan kepada siswa dilihat dari sudut psikologis. Kaifa. usia. (Adi. et al. maka mau tidak mau guru harus profesional yang salah satu indikasinya selalu mengembangkan metode. B. DAFTAR PUSTAKA Adi. maha karya Tuhan yang luar biasa sekaligus merupakan 'future decision makers' atau dalam bahasa Kahlil Gibran sebagai anak panah yang melesat ke masa depan. Membiasakan Belajar Nyaman Dan Menyenangkan. tanpa harus mengacu pada kurikulum yang berlaku. Aspek Kemanusiaan Sebagai Basis Pembaharuan Paradigma Pendidikan Nasional". Majalah Gerbang. Bandung. DePorter. 2002 "Pendidikan Sebagai Praksis Humanisasi. Mempraktikkan Quantum Learning Di Ruang-Ruang Kelas. A. 2002 Strategi Belajar Mengajar. Dryden. 2001 Quantum Teaching. 2. Meskipun sering gaji yang rendah sebagai alasan utama. Para siswa sendiri harus membantu para guru untuk kreatif. Kaifa. Jika menjadi guru sudah menjadi pilihan hidup. Saran-saran 1. Bandung. Media Bantu Pemerolehan Bahasa Inggris Bagi Anak-Anak". B. Kedua. 1995 Kurikulum SMU. . 2002:37). Kaifa. I.melalui simulasi ini sifatnya nor formal sehingga penentuan materi pembelajaran bisa bersifat longgar. Dept P dan K 1995 Kurikulum SMU dan SLTP 1994. DePorter. Maret . Oleh karena itu guru hukumnya wajib mempersiapkan mereka dan memberikan yang terbaik pada mereka. Sekolah yang dianggap mampu diberi kebebasan untuk menentukan standar kurikulum sendiri sehingga para guru di lapanganlah yang lebih tahu permasalahan atau kondisi para sisiwa yang dihadapinya. Klien guru adalah para siswa.

Visipro.II. WEBZINE/BESTPRACTICE. 18 September 2002. www. Tidak diterbitkan. PT Gramedia Pustaka Utama. SEAMO Regional Language Centre. 2002b Teaching English by Using Multimedia.net. M. Siswari. et al. Rooijakkers. Composition and Grammar. David L. Hongkong. Singapore. PT Grasindo. Supriadi. 2002c Penulisan dan Pendiskusian Makalah Bahasa Inggris Sub-tema Seks Bebas Oleh Kelas 2 Angkatan 2001/2002 SMU N 8 Yogyakarta Sebagai Wacana Peningkatakan Imtaq. Ad. Tata Mc Graw Hill Publishing Company. Bruce and Mary Newton Bruder. 22 Agustus 2002. Longman. Australia. Tarigan. . John E. Rajawali. Jakarta. Naskah Lomba. Suparno. Essex. S. 2000 Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran. Nelson. John. 1997a English is Fun first Edition. Daniel. A Collection of Games and Activities for Low to Mid-Intermediate Students of English. Laidlaw Brother's Publisher. PT Remaja Rosdakarya. New Delhi.pendidikan. Kompas. Nelson. Paul.25 June 1997 Somantri. 1962 Using Good English.Majalah GERBANG. Rogers. Yogyakarta. Angkasa. Hadiatmadja. Musman. 1993 Mengajar Dengan Sukses. 2001 Metode Research. 1977 Group Activities for Language Learning. Esther Sri dan Budiono. Nurdin. Jakarta. Agustus 2002. Dedi.Australia. Bumi Aksara. 1985 Berbicara Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Petunjuk Untuk Merencanakan dan Menyampaikan Pengajaran. 2000 Mengangkat Citra dan Martabat Guru. Tittil. 2002a Visi Keberagamaan Kita Sekarang dan Masa Depan. Brewton. Communication Skills in American English. 1977 Testing English as a Second Language. 1992 Tombola. Edisi 2 TH. Jakarta. 2002 "Guru dan Reformasi Pendidikan". Bandung. Palim. 1997b English is Fun second Edition. Hadfield. Ngalim. John. 1996 Intermediate Communication Games. 1997 The Teaching of Vocabulary An Article. Jakarta. Adicita Karya Nusa. Cambridge University Press. Illinois. Jakarta. Kompas. 2nd Edition. et al. Goleman. Jakarta. Presented in the English LKI Jakarta 14 . 1985 Speaking Naturally. Henry Guntur. David P. Bandung. 2000 Kecerdasan Emosional . Purwanto. Harris. Larcom. 1982 "Analisa Transaksional Dalam Proses Belajar Mengajar" dalam Kumpulan Pikiran-Pikiran Dalam Pendidikan. "MBS Mendobrak Kebakuan Berpikir Anak Didik". Jill 1984 Elementary Communication Games. Melbourne . Nasution. Visipro.

dan metode pengajaran tersebut? Berikut ulasakan kafeilmu tentang pengajaran bahasa komunikatif. pendapat atau kepercayaan Pendidikan Network. Bandung. . Activities For Effective Communication. 1991 Tuntunan Penyusunan Karya Ilmiah. Makalah Pengajaran Bahasa Komunikatif Pengajaran bahasa mempunyai metode yang bermacam-macam berdasarkan hasil penelitian dan pencarian efektifitas belajar mengajar. Oxford. Memahami Konsep Pengajaran Bahasa Komunikatif (Communicative Language Teaching). t. London. Salahsatu metode pengajaran bahasa yang dianggap mempunyai keefektifan tinggi dalam pengajaran bahasa asing adalah teknik pengajaran bahasa komunikatif. Bigraf Publishing. From Practice to Principle. . Penguin Books. 2000 Paradigma Pendidikan Masa Depan. Zamroni. Peter. CATATAN: Artikel-artikel yang muncul di sini akan tetap di pertanggungjawabkan oleh penulis-penulis artikel masing-masing dan belum tentu mencerminkan sikap. Pergamon Institue of English.Strevens. Bagaimana sejarah.Yogyakarta. 1988 Pair Work. Nana. prosedur. Watcyn-Jones. Sinar Baru. Saya Nurdin Somantri setuju jika bahan yang dikirim dapat dipasang dan digunakan di Homepage Pendidikan Network dan saya menjamin bahwa bahan ini hasil karya saya sendiri dan sah (tidak ada copyright).t. Sudjana. Teaching English as an International Language. Peter.

karya Amerika dalam sosiolinguistik (Dell Hymes. Para ahli yang mendukung pandangan bahasa ini seperti Cristopher Candlin dan Henry Widdowson. bahwa penyampaian yang tidak cukup dalam pendekatan sekarang pada pengajaran bahasa pada waktu itu fungsional dan potensi bahasa komunikatif. M. Pada tahun 1971 beberapa ahli memulai investigasi kemungkinan pengajaran bahasa dalam bentuk unit kredit. Chomsky telah menunjukkan bahwa teori struktur bahasa standar sekarang tidak dapat digunakan sebagai dasar pertimbangan bagi dasar karakter bahasa yang mendasar – kreativitas dan keunikan dan kalimat individu.K. sebuah sistem dimana tugas siswa dibagi dalam beberapa unit-unit. Halliday).Sejarah Pengajaran Bahasa Komunikatif Asal communicative language teaching (CLT) dapat ditemukan pada perubahan dalam pengajaran bahasa Inggris mulai dari akhir tahun 60-an. Sampai saat itu pengajaran bahasa situasional menggambarkan sebagian besar teknik pengajaran bahasa Inggris dinegara Inggris sebagai bahasa asing. Inggris menghimbau pakar linguistik untuk mulai menyelidiki pertanyaan dugaan-dugaan teoritis pada pengajaran bahasa nasional. Tetapi karena teori linguistik yang menggaris bawahi aliran audio-lingual ditolak di Amerika Serikat dipertengahan 1960-an. Mereka melihat kebutuhan untuk fokus pada pengajaran bahasa dalam kelancaran komunikasi daripada hanya menguasai struktur. John Gumferz dan William Labov). menggambarkan karya ahli bahasa fungsional Inggris (John Firth. . Dalam pengajaran bahasa situasional bahasa diajarkan dengan mempraktekkan struktur dasar dalam aktivitas yang berdasarkan situasi. Termasuk memberikan tanggapan pada kritik pakar linguistik Amerika Noam Chomsky yang telah menurunkan teori linguistik struktural dalam buku klasiknya Syntactic Structures (1957). dan juga karya dalam filosofi (John Austin dan John Searle). unit-unit tersebut berhubungan dengan keinginan-keinginan siswa yang secara langsung berkesinambungan dengan pola dan tujuan pembelajaran yang lain.A. Inggris menerapkan ahli bahasa yang menekankan pada dimensi bahasa dasar.

Buku inilah yang mendasari proses pembentukan metode CLT. dan frekswensi. Kontribusi Wilkins adalah analisanya mengenai makna-makna komunikatif.  Kemampuan dan keakuratan dilihat sebagai prinsip-prinsip yang saling mendasari teknikteknik komunikasi. D. meminta. Apa itu Pengajaran Bahasa Komunikatif? CLT lebih dikenal sebagai sebuah pendekatan bukan sebagai metode. kategori nasional meliputi konsep-konsep seperti. tidak terima dll. menyuruh. daripada mendeskripsikan proses pengajaran bahasa yang sulit. sebagaimana konsep pengajaran tradisional yang lebih mengacu pada grammar dan kosa kata. jumlah. Dan kategori fungsi komunikasi seperti. Setelah direfisi. Pada saat ini kemampuan mungkin harus mengambil lebih banyak . untuk tujuan yang berarti. otentik. karena dengan pengertian fungsional inilah. waktu. menolak. dan sebagian dokumen terdahulu yang telah ditunjukkan para linguist Inggris.  Teknik-teknik bahasa di desain untuk mengkomunikasikan pembelajar dengan penggunaan bahasa yang pragmatis. Oleh karena itu sebuah kesatuan tetapi meluas yang berdasarkan posisi teoritis tentang sifat-sifat bahasa dalam pengajaran dan pembelajaran bahasa. dimana siswa butuh dan berekspresi. lokasi. dia mendeskripsikan mengenai dua jenis makna. konsep tersebut akhirnya menjadi sebuah buku yakni National Syllabus. jarak. fungsional. Penyusunan bentukbentuk bahasa bukanlah inti dari fokus tetapi lebih pada aspek-aspek bahasa yang dapat membuat pembelajar untuk menyempurnakan tujuan-tujuan tertentu.A Wilkins mengajukan pengertian mengenai fungsional komunikatif bahasa. 4 ciri-ciri yang saling berkaitan sebagai definisi pengajaran komunikatif:  Tujuan-tujuan kelas difokuskan pada komponen kompetensi komunikasi dan tidak terbatas pada kompetensi gramatikal dan ilmu bahasa. dasar-dasar pembentukan silabi pengajaran bahasa komunikatif (CLT) dapat dibentuk. Wilkins menunjukkan bahwa sistem makna yang mendasari bahasa sebagai alat komunikasi.Para ahli tersebut menggunakan penelitiannya mengenai keinginan-keinginan siswa Eropa.

internet. para pelajar harus menggunakan bahasa secara produktif dan dapat diterima. Karena institusi-institusi pendidikan dan politik di berbagai negara menjadi lebih sensitive pada kebutuhan pengajaran bahasa asing dengan tujuan komunikasi maka kita seharusnya mempunyai kemampuan untuk mencapai tujuan-tujuan pengajaran komunikasi berbahasa. Hal ini penting. Keempat ciri-ciri CLT sering membuat guru-guru yang bukan penutur asli yang kurang mahir dalam bahasa asing dapat mengajar secara efektif. TV. Chambers (1997) dalam Brown (1980:226) menyatakan bahwa CLT sangat mengurangi perhatian pada presentasi dan diskusi terbuka dalam aturan-aturan gramatika daripada yang dilakukan oleh pakar tradisional. Keempat ciri-ciri CLT sering membuat guru-guru yang bukan penutur asli yang kurang mahir dalam bahasa asing dapat mengajar secara efektif. dan diskusi-diskusi dalam bahasa pertama. Pada akhirnya spontanitas tercipta dalam komunikasi di kelas.kepentingan (lebih di prioritaskan) daripada keakuratan untuk membuat para pembelajar tetap berikutserta di dalam penggunaan bahasa. Sebagian besar penggunaan bahasa otentik dinyatakan oleh CLT. Apalagi dalam beberapa dekade terakhir kita telah melihat peningkatan tingkat kemahiran para guru Bahasa Inggris di seluruh dunia. Teknologi (video. Kelemahan ini seharusnya tidak menghalangi pencapaian tujuan-tujuan komunikasi di kelas. latihan-latihan. . dalam konteks-konteks yang mendadak. karena kemampuan sebaiknya dikembangkan dalam komunikasi yang jelas. karena mencoba meningkatkan kemampuan (Chambers 1997). CLT menyarankan bahwa struktur gramatikal mungkin lebih baik digolongkan dalam bermacammacam kategori fungsional. dan langsung. perangkat komputer) bisa membantu para guru. Murid-murid didukung untuk menghadapi situasi-situasi mendadak atau diluar rencana dengan arahan-arahan para guru. Dengan kata lain permulaan-permulaan itu adalah sebuah produk yang bertahap dari pengembangan banyak metode-metode yang memberi ciri sebuah jejak panjang dalam sejarah. Guru-guru tersebut lebih mudah menghadapi dialogdialog.  Dalam komunikasi di kelas. Brown (1980:266-267) Keempat ciri-ciri tersebut mewakili beberapa permulaan dari pendekatan-pendekatan awal. tidak ambigu. audio tape.

bukan sebagai komponen kultural tambahan yang cuma dilekatkan. Metode pengajaran yang berhasil diterapkan pada kelompok-kelompok kecil dalam situasi dan kondisi tertentu. belum tentu dapat berhasil bila diterapkan pada kelompok-kelompok besar dalam situasi dan kondisi yang berbeda pula. Faktor-faktor yang menyebabkan sukses tidaknya metode pengajaran bahasa asing adalah faktor linguistik dan non-linguistik. Sedangkan Hymes (1972) menafsirkan bahwa Kompetensi Komunikasi tidak hanya memasukkan bentuk-bentuk linguistik tetapi juga aturan-aturan sosial. Tafsiran pertama memusatkan pada pengajaran arti referensial dari bahasa melalui pendekatan bentuk formal (formal approach). yang memungkinkan kita untuk mengenal struktur batin dan struktur lahir. dan untuk mengerti kalimat-kalimat yang belum pernah kita dengar atau kita katakana sebelumnya. apalagi kalau diterapkan secara nasional. untuk dapat membedakan antara kalimat yang benar dan kalimat yang salah. Disamping itu juga dimasukkan aturan sosio-kultural bagi penggunaan bahasa. yaitu pengetahuan tentang kapan. dan kepada siapa bentuk-bentuk tersebut patut dipakai. yaitu dalam suatu transaksi spontan yang melibatkan lebih dari satu orang.Pendekatan Komunikatif (Communicative Approach) Pendekatan Komunikatif dalam pengajaran bahasa didasarkan atas apa yang dinamakan Kompetensi Komunikatif (Communicative Competence). Kompetensi adalah penguasaan atas system dari aturan-aturan bahasa yang benar-benar dihayati. Paulson (1979) dalam Sadtono menafsirkan bahwa Kompetensi Komunikasi adalah interaksi linguistik dalam bahasa sasaran yaitu kemampuan untuk berfungsi dalam setting yang betul-betul komunikatif. bagaimana. yang sangat berbeda dari Jepang atau Korea. Berhasil tidaknya suatu metode pengajaran bahasa asing sangat tergantung pada segudang faktor. lebih lagi nasional dalam arti Indonesia. yang lebih homogen situasi kependidikannya. . Kompetensi Komunikatif menurut Kridalaksana (1981) dalam Sadtono adalah kemampuan bahasawan untuk mempergunakan bahasa yang secara sosial dapat diterima dan memadai. Sedangkan tafsiran kedua memasukkan arti sosial bahasa lewat pendekatan fungsional. tetapi juga sebagai bagian yang integral dari pengajaran bahasa.

Komunikasi antar manusia selalu terpengaruh lingkungan. Keempat faktor tersebut harus diperhitungkan jika saat kita berkomunikasi secara komunikatif. Faktor penyebab dominan antara lain Fungsi Bahasa dalam penggunaan sehari-hari. dan Senggolan-senggolan Sosiokultural yang dimiliki oleh para bahasawan. dan sikap psikologis penutur.Dalam Kompetensi Komunikatif pemakaian ragam bahasa informal. b. formal dan netral merupakan suatu keharusan (John Blundell dalam Sadtono 1997:58). kekecewaan. kesenangan. maka variasinya sangat banyak. Hubungan ini membuat hidup dengan orang lain baik dan . Fungsi Bahasa Fungsi bahasa dibagi menjadi lima fungsi yang besar (Finocchiaro dalam Sadtono 1997:59-60). antara lain setting (di mana dan kapan). topik. demikian juga faktor penyebabnya. 1. misalnya cinta. hubungan sosial antara para penutur. Fungsi Interpersonal Fungsi interpersonal adalah kemampuan untuk membina dan menjalin hubungan kerja dan hubungan sosial dengan orang lain. yaitu perasaan penutur tentang topik maupun tentang lawan bicaranya. Ada beberapa faktor yang menyebabkan pemakaian ragam-ragam tersebut. Variasi Bahasa. dsb. Fungsi Personal Fungsi personal adalah kemampuan pembicara atau penulis untuk menyatakan pikiran atau perasannya. yaitu: a. kemarahan.

rasa senang atas keberhasilan orang lain. yang berhubungan dengan kelas sosial. Fungsi Imajinatif Fungsi imajinatif adalah kemampuan untuk dapat menyusun irama. Fungsi ini sulit diajarkan. faktor sosial. e. status. 2. membujuk. kekhawatiran. kecuali kalau siswanya memang berbakat untuk hal-hal semacam itu. dsb. Termasuk dalam kategori ini misalnya rasa simpati . Variasi Bahasa Variasi bahasa ini biasanya dipengaruhi oleh tiga faktor. sajak. Fungsi Direktif Fungsi direktif memungkinkan kita untuk dapat mengajukan permintaan. Yang dinyatakan dalam bahasa. yaitu faktor geografis. d. dan „registers‟ yang menggambarkan . dsb. meyakinkan. yang menimbulkan dialek geografis.menyenangkan. c. cerita tertulis maupun lisan. Fungsi Referensial Fungsi referensial adalah yang berhubungan dengan kemampuan untuk menulis atau berbicara tentang lingkungan terdekat dan juga mengenai bahasa itu sendiri. dan latar belakang pendidikan – yang kemudian menimbulkan dialek sosial. saran.

Pendekatan komunikatif dalam pengajaran bahasa. bukan struktur tatabahasa. Sosiokultural Kalau bahasa dan variasi bahasa dapat diajarkan. Kalau kita mau benar-benar menerapkan pendekatan kompetensi komunikatif dalam pengajaran bahasa. ia tetap tidak memakai bahasa itu dalam situasi yang sebenarnya. maka kita harus mengajarkan kepada siswa bermacam-macam variabel yang dapat dipakainya dalam bermacam-macam situasi. Dalam pendekatan komunikatif yang menjadi acuan adalah kebutuhan siswa san fungsi bahasa.ragam bahasa yang berbeda-beda sesuai dengan formal atau tidak formalnya sesuatu situasi. maka faktor sosiokultural ini sangat sulit diajarkan. agar ia dapat berkomunikasi dengan baik dan benar. dan sarana bahasa tulis atau lisan. geografi dan kebudayaan bahasa yang dipelajarinya sehingga ia dapat berpartisipasi sepenuhnya dalam percakapan. tetapi ia tetap tidak bisa mempraktekkan untuk berkomunikasi (language use). Oleh karena itu para ahli pengajaran bahasa asing lalu mencari jalan keluar dan menghasilkan pendekatan komunikatif. Silabus-silabus yang berdasarkan pendekatan komunikatif yang perbedaannya terletak pada soal tekanan saja. . timbul karena para ahli pengajaran bahasa asing berpendapat bahwa pengajaran bahasa asing dengan pendekatan sintetik gramatikal kurang berhasil. dan bertujuan agar siswa dapat berkomunikasi dalam situasi sebenarnya. Yang dimaksud dengan kurang berhasil adalah setelah siswa menyelasaikan studi bahasa asing. Siswa sudah mempelajari aturan-aturan bahasa (language usage). Penelitian di beberapa negara menunjukkan bahwa pelajar bahasa asing susah sekali untuk dapat menguasai pengetahuan secara cukup tentang sejarah. khususnya bahasa asing. Struktur tatabahasa yang dianggap sulit dalam pendekatan gramatikal dapat diajarkan pada tingkat permulaan jika struktur tersebut memang diperlukan untuk berkomunikasi dalam situasi yang sesungguhnya. Acuan setiap unit pelajaran adalah fungsi bahasa. profesi. 3.

Strategi belajar mengajar dalam pendekatan komunikatif ini didasarkan atas teknik-teknik keaktifan siswa sendiri untuk menemukan apa yang hendak dipelajarinya lewat pengalaman-pengalaman belajarnya. maka guru harus melepaskan peranan sebagai orang yang “memberi ilmu” dan bertindak sebagai penerima informasi. Pendekatan komunikatif mengajarkan ungkapan-ungkapan stereotip yang rutin. tetapi hal ini tidak sama dengan mengajarkan strategi untuk menghubungkan bentuk-bentuk bahasa dengan fungsifungsi komunikatif. siswa harus disadarkan akan adanya hubungan yang kompleks antara bentuk-bentuk bahasa dan fungsi. bukan metode pengajaran bahasa. dan “memberitahukan arah” dsb. di mana dan kepada ragam bahasa-ragam itu dipakai. Guru akhirnya berfungsi sebagai pengelola kelas dan pembimbing untuk menolong siswa menyampaikan apa yang datang dari dalam dirinya. Dalam pendekatan ini guru-guru bukan penutur asli menghadapi beban yang sangat berat. Siswa dilatih untuk memberanikan diri untuk tidak takut berbuat kesalahan dan kesalahan harus diterima sebagai hal yang wajar dan tak dapat dielakkan.Pendekatan kompetensi komunikatif sebenarnya berarti pendekatan pada desain silabus. karena mereka praktis harus menguasai bahasa asing secara “sempurna”. Ia harus mengetahui macam-macam ragam bahasa. pendekatan komunikatif ini lebih terpusat pada siswa sendiri. “menyatakan pendapat”. misalnya tentang “meminta keterangan”. Tetapi pada tingkat lanjutan. Dengan kata lain. Dalam pendekatan komunikatif peranan guru minim. murid dapat membuat kriteria sendiri tentang bentuk-bentuk bahasa mana yang sesuai untuk mengungkapkan pikiran-pikiran dalam bahasa asing yang sedang dipelajarinya. bukan datang dari guru. dan bukan pada guru. Dalam pendekatan ini materi pelajaran disusun kembali dengan memperhatikan fungsi-fungsi bahasa atau pemakaian bahasa. Bagi mereka yang belum pernah tinggal di luar negeri di negara bahasa asing tersebut digunakan akan mengalami banyak kesulitan memahami teksnya dan . bukan atas penyajian guru. kapan. Jika siswa ingin berkomunikasi. Dengan demikian. Pendekatan ini juga memberikan bahan-bahan bahasa yang umum dijumpai.

Dalam evaluasi kemampuan berkomunikasi. konsep kesahihan (validity) dan keandalan (reliability) tes tak dapat dipakai.kemungkinan salah menafsirkan. walaupun begitu tingkat kelayakan dari sebuah teori dapat di bedakan dari . Di samping itu komunikasi pun dapat berlangsung dengan „baik‟ yaitu para pembacanya saling mengerti. Untuk mampu membedakan ragam-ragam bahasa itu mereka harus tinggal di negara itu cukup lama dan benar-benar memperhatikan ragam-ragam tersebut. karena jawaban siswa bisa berbeda-beda. Komunikasi seperti ini sukar untuk diramalkan dan sukar untuk dinilai dalam tes objektif. 1986:73) Kesimpulan Pengajaran Bahasa Komunikatif lebih tepat disebut sebagai sebuah pendekatan (approach) daripada sebuah metode. Kemampuan berkomunikasi melibatkan “empan-papan” bahasa (language appropriateness). meskipun mungkin banyak terdapat kesalahan gramatikal (Sadtono 1997:71) Desain Pengajaran Bahasa Komunikatif Tujuan Pengajaran Bahasa Komunikatif  Pipheo (1981) menunjukkan beberapa tingkatan tujuan dalam pola pendekatan CLT tingkat integratif dan isi (bahasa sebagai cara berekspresi)   level linguistik dan instrumental (bahasa sebagai sistem semiotik dan menjadi tujuan belajar) level afeksi. yakni hubungan-hubungan interpersonal dan kedekatan (bahasa sebagai cara mengutarakan nilai dan penilaian seseorang kepada yang lain)   level kebutuhan indifidu (pembelajaran ulang yang didasarkan pada analisis kesalahan) level umum dari keseluruhan tingkatan yang ada dan berupa pemberian pembelajaran bahasa tambahan (pembelajaran bahasa dengan menggunakan kurikulum sekolah) (Richard. dan keempan-papanan bahasa harus diukur dalam konteks penggunaan bahasa yang sesungguhnya.

Jakarta: PPLPTK Depdikbud. CLT banyak membutuhkan alat peraga. . CLT tidak melulu berkonsentrasi pada struktur dan unsur-unsur gramatikal dalam pengajaran bahasa.teori pembelajaran dan teori bahasa. Masih banyak ruang interpretasi yang memungkinkan lebih berkembangnya CLT. sebagaimana kemampuan guru-guru bahasa yang ada sekarang. Referensi  Sadtono. model. CLT juga mempunyai beberapa permasalahan yang tentunya membutuhkan pembenahan-pembenahan. Dalam pendekatan ini guru-guru bukan penutur asli menghadapi beban yang sangat berat. Meski begitu. akan dapat semakin berkembang sesuai dengan karakteristik masing-masing pengguna CLT sebagai cara pendekatan. lebih-lebih pada bagian desain dan prosedur. Sehingga kebanyakan tenaga pengajar masih merasa kesulitan. Karena membutuhkan alat-alat pembantu. siswa harus disadarkan akan adanya hubungan yang kompleks antara bentuk-bentuk bahasa dan fungsi. tentunya membutuhkan kelas yang lebih banyak. Pengajaran Bahasa Komunikatif lebih mendasarkan diri pada fungsi dan kekuatan bahasa itu sendiri sebagai medium komunikasi. serta jenis-jenis latihan serta aktivitas dalam kelas. sehingga pembiayaannya pun bertambah. Antologi Pengajaran Bahasa Asing Khususnya Bahasa Inggris. seperti permainan dan lingkungan yang sesuai. karena mereka praktis harus menguasai bahasa asing secara “sempurna”. karena pembiasaan-pembiasaan mengekspresikan bahasa. yang kebanyakan mereka tidak secara langsung bersentuhan dengan penutur asli maupun kulturnya. Karena sifatnya yang demikian. CLT mempunyai metode-metode yang mampu membawa peserta didik secara tidak langsung memahami struktur bahasa yang dipelajarinya. Pada tingkat lanjutan. CLT sebagaimana karakteristiknya yang lebih mengutamakan sentuhan indifidual. meskipun hal itu juga penting. Bahkan berbagai bentuk silabus. 1987. taman atau ruang-ruang non-kelas.

Fourth Edition. Inc. I had shifted across a spectrum of learners. and discuss ways of adapting materials to make lessons more communicative or interactive. I am frequently asked to include an overview of communicative language teaching (CLT). & Theodore S. Rodgers. Principles of Languages Learning and Teaching.com/2012/05/pengajaran-bahasa-komunikatif.  Brown. Most groups are enthusiastic about the lesson opportunities which CLT offers. I began to question the appropriateness of CLT for some of these diverse learner groups. they queried the relevance of CLT to their situation.html KUMPULAN ARTIKEL BAHASA INGGRIS TENTANG THE ADVANTAGES OF COMMUNICATIVE LANGUAGE TEACHING Label: THE ADVANTAGES OF COMMUNICATIVE LANGUAGE TEACHING THE ADVANTAGES OF COMMUNICATIVE LANGUAGE TEACHING Introduction As a teacher trainer working with international groups. Richard. where many of the students never used English outside the classroom.  http://kafeilmu. Douglas. In addition. Cambridge: Cambridge University Press. In contrast. some also indicated they felt constrained by the system under which they operated. New Jersey: Prentice Hall. It really does benefit the students in a variety of ways. the more I defended the continued suitability of CLT. H. 1986. However. 2000. especially those teaching in settings which are particularly exam-focused. the titles of some articles (see the Reference list) made me think I should give up the support for CLT then and there. However. the more I read on the topic. This was supported by current reading on the topic. Approaches and Method in Language Teaching: A Description and Analysis. Jack C. Taking my colleagues' concerns on board. enthusiastically taking CLT along with me as universally appropriate. .

orange. canvas tent. and how often we rely on a set phrase. The aim is that the length and complexity of exchanges. and confident delivery. I have given students an exercise where they have to produce a phrase with a string of adjectives. there is also the implication that spoken exchanges should be authentic and meaningful. Nevertheless. Firstly. The other example is directions – we have students follow a map and negotiate exhaustive directions which suggest maze-like complexity. it is those very elements. take an opportunity for correction. and accuracy is their choice if they want to deal with students getting things right. many of a learner's utterances are very formulaic. a proficient teacher will provide a context so that class interactions are realistic and meaningful but with the support needed to assist students to generate the target language. As an aside. or the stage of a particular lesson. or gauge the success of their teaching." This is very unnatural. most of us probably are only involved in a three-phase set of directions. consider just what percentage of our own English expressions are unique.e. and the name itself. and less teacher intervention. which have been used to challenge the future relevance of CLT. While CLT implies the . such as "a strong. In fact. In fact. For example. the label implies a focus on communication and some might argue that this method can't be employed genuinely with low levels as there is no authentic communication. for example. Freer speaking involves more choice. teacher . before a nurse gives a real injection. One example is adjective order. This focus on accuracy versus fluency is one of the issues not often considered in a discussion of CLT. With the emphasis on communication. Accuracy as Well as Fluency It might also be argued that the extent of some of the structures or functions may never be used in real life. due to a limited vocabulary and restricted range of functions.created) interactions makes CLT an oxymoron. they have punctured many a piece of fruit to hone their technique.Elements of CLT Communication – According to Ability Whether CLT should be considered an approach or a methodology is a more abstract debate and here I want to deal with its more practical aspects. In reality. just because it is delivered unselfconsciously and with natural intonation does not make it original. detractors claim that the artificial nature of classroom – based (i. Norwegian. The teacher decides to pay attention to one or other end of this band. depending on the type of lesson. We need to consider that producing language is a skill and when we learn a skill we practise in improvised settings. what we are doing with these exercises is exposing students to patterns which they can later activate. will grow with the student's language ability. Initially. therefore more ambiguity. as most times we only combine two or three adjectives.

. Sometimes the participation is hardly what we would define as 'negotiation'. but merely a contribution. accuracy practice is the bridge to a fluency activity. this does not mean they are un-structured. They consider someone competent in English should demonstrate both rules of grammar and use. then students are more likely to contribute. sociolinguistic discourse and strategic.. Promoting Learning This returns us to the consideration of who we are teaching. and why. in Guangwei Hu. Canale and Swain's model of communicative competence. in terms of approach. After all. According to Richards and Rodgers. or do they want to be able to interact in English? For those inclined to maintain the dichotomy between learning and acquisition. if that is their goal. and who argue that our primary focus is learners. The reference to strategies introduces the matter of grammatical versus communicative competence. It is timely to review an early definition of CLT. Then again." It is this involvement we need to harness and build on. structures and functions. CLT still has relevance. they will certainly be able to perform better in exams.. Motivation One of the constant discussions in all my teacher training groups was how to motivate students. just uttering a word or a phrase can be an achievement.lessons are more student-centred. CLT is basically about promoting learning. and that is setting up activities so that communication actually happens. If we view the two as mutually exclusive. referred to by Guangwei Hu. One way of developing this is to allow pair-checking of answers before open-class checking occurs. The teacher does have a very important role in the process. Are our students aiming to learn or acquire English? Do they need to know lexical items and linguistic rules as a means of passing an exam. if the students master the language. There is a lot of preparation. namely grammatical. This suggests that the focus on passing the exam was not always enough. CLT involves equipping students with vocabulary. includes four sub-categories. Evelyn Doman suggests that "The need for ongoing negotiation during interaction increases the learners' overt participation. to enable them to interact successfully. then we are likely to champion one over the other. In fact. and refer to language mastery instead. Another way is to include an opportunity for students to discuss a topic in small groups before there is any expectation that they speak in front of the whole class. For a few students. Motivation relates to engaging students but also includes confidence building. curriculum or whatever else determines and defines our classroom teaching. By implication. In addition. as well as strategies. Mark Lowe suggests that we follow Halliday's lead and drop the distinction between learning and acquisition. those who do see a purpose beyond classroom-related English will be better equipped for using the language socially. If there is a climate of trust and support in the classroom.

Language. after writing their first note or email in English. Doman.. there seem to be dichotomies which are employed to argue for its irrelevance. there are many other tasks which may be more appropriate. aiding motivation. CLT addresses another area which constantly challenges teachers. Conclusion Too often. reject and supplement. Article 8 Retrieved October 20.. Moreover. Guangwei (2002) Potential Cultural Resistance to Pedagogical Imports: The Case of Communicative Language Teaching in China. where students read a dialogue. 2006 from http://www.. a 'new' approach appears to completely dismiss the previous one.pdf  . perhaps more through misunderstanding or by association. CLT will vary each time we employ it.net/lcc/015/0093/lcc0150093. some of the teachers in the training sessions said this was the goal they set for their more reticent pupils. although I acknowledge both need to be stretched.. Modern English Teacher Vol 14. If teachers consider an activity to be irrelevant or not engaging enough. leading from a focus on form to one of fluency. And I have had students who. such as surveys. or supporting learning. This is not always the intention. 2006 from http://www. but probably more a result of the enthusiasm of practitioners exploring and implementing fresh activities or opportunities. while those with an average ability still feel their effort is valid. Also. using a stimulus picture and prompt questions (Who. it has a lot to offer the EFL teacher. throughout the CLT debate.. When the lesson progresses to a freer-speaking activity.com/ December_05_ed. Issue 4. This compares with the less creative opportunities offered by some textbooks. Evelyn (2005) Current Debates in SLA. but it is actually not as incompatible with other valued practices as it is sometimes made to appear. students can contribute according to their ability and confidence.php Hu. so if the course book is inadequate we need to employ the following steps: select.).. In practical terms. perhaps doing a substitution activity. whether assisting mixed-ability classes. A basic responsibility is considering and responding to the needs of our students. the mixed-ability class. Simon (2005) The CLT Police: Questioning the communicative approach. expressed their pride at being able to do so. In this respect..What.Indeed. References   Andrewes. So there is a challenge for the more capable students. When. for example. Asian EFL Journal Vol 7. Where.multilingualmatters. It is evident that CLT has gathered a range of characteristics. because each class we teach has its own characteristics and needs. or a series of pictures which need to be sequenced before a story is discussed. adapt. Culture and Curriculum Retrieved October 20.. No 2.asian-efl-journal.

Achievement of the validity and reliability of the data was done by using triangulation and auditrail.. No 1. by giving praise and rewards to students. EXAMPLES: Application of Communicative Approach in Indonesian Learning Class II Elementary School.Strengthening language skills through activities reported events experienced.. and to provide an overview of the benefits of what will be gained by the students learn the material related to child language. (e) There are students who lack in declaimed. The solution in the face of obstacles that arise are: (a) Using a text that has a difficulty level from low to high and gradually granted... and learning to read literary works are expressive... 2009. (3) To describe an effective way to provide a solution to the constraints that arise in the implementation of the communicative approach to learning Indonesian Class II Elementary School . Thesis. speaking communicative. (f) Many teachers take up time. The results of the study are (1) Step-by-step implementation of the communicative approach is done by conveying the significance of language skills and interpret the meaning of the unit served through both language and poetry readings.. (2) Describe the factors inhibiting the implementation of the communicative approach to learning Indonesian Elementary School Grade II . (g) provides learning difficulties for students who have not advanced reading and writing. (c) There are students who are less able to interpret a poem. Indonesian.. Keywords: Communicative Approach. using the study subjects were teachers. Learning to read and write still delivered. Implementation research is the odd semester of school year 2007/2008. Department of Education Studies Program Language Indonesian Language. Lowe. (b) undergo a motivation (urge) to students through an individual approach that is better than the teacher. . The constraints faced are (a) There are students who are less able to understand the content of the text.. Descriptive qualitative research methods. students. Mark (2005) The Shibboleths of TEFL: Straightening out our thinking Modern English Teacher Vol 14. University of . This study aims to (1) Describe the steps in the implementation of the communicative approach to learning Indonesian Elementary School Grade II . learning compose essays. (h) the difficulty of the communicative approach implemented old. (d) There are students who have difficulty in using the right wording to ask. and provide replication routine. (b) There are students who can not verbally respond. Learning grammatical delivered integrated in units of language and poetry reading and writing activities. and principals.. . Data collection was performed by in-depth interviews and documentation..

kontekstual. THE COMMUNICATIVE APPROACH (Communicative Language Teaching) Mumbly (1978) menyebut Pendekatan Komunikatif sebagai ‘Communicative Syllabus’. dan semantik). kosakata. Widdowson menyebutnya sebagai ‘Communicative Approach’.VIII. Istilah-istilah seperti NotionolFunctional Approach atau Functional Approach. sintaksis. dan sesuai. 2. sosiolinguistik. Beberapa pemerian mengenai kompetensi komunikatif secara umum berpandangan bahwa makna profisiensi dalam sebuah bahasa tidak hanya sekedar mengetahui sistem kaidahkaidah gramatikal (fonologi. Fokus metode ini pada dasarnya adalah elaborasi dan implementasi program dan metodologi yang menunjang kemampuan bahasa fungsional melalui pertisipasi pembelajaran dalam kegiatan-kegiatan komunikatif. Kemampuan komunikatif berbahasa (communicative language ability) meliputi pengetahuan atau kompetensi dan kecakapan dalam penerapan kompetensi tersebut dalam penggunaan bahasa yang komunikatif. Communicative Aproach/ CA (Communicative Language Teaching) berasal dari perubahan pada tradisi pengajaran bahasa di Inggris pada akhir tahun 1960 dan kemunculannya dipertegas oleh: 1. Di bawah ini adalah perbandingan antara Audio Lingual Method dan Communicative Approach: Audio Lingual Method Communicative Approach . CA bertujuan untuk menjadikan kompetensi komunikatif (communicative competence) sebagai tujuan pengajaran bahasa dan untuk mengembangkan teknik-teknik dan prosedur pengajaran ketrampilan bahasa yang didasarkan atas aspek saling bergantung antara bahasa dan komunikasi. Pandangan Chomsky tentang kreatifitas dan keunikan kalimat sebagai ciri dasar sebuah bahasa. Kompetensi Komunikatif mencakup kompetensi gramatika. dan strategi. sedangkan Richards & Rogers menyebutnya ‘Communicative Language Teaching’ (CLT). Kegagalan Audio Lingual Method yang menghasilkan penutur-penutur bahasa asing atau baha ysa kedua yang baik dan fasih tetapi tidak mampu menggunakan bahasa yang dipelajari dalam interaksi yang bermakna.

.Membaca dan menulis ditunda sampai ketrampilan berbicara dikuasai. .Penggunaan bahasa ibu dihindari. . . dll. bervariasi berdasarkan umur. . . bunyi. maka difokuskan pada fungsi-fungsi komunikatif dan tidak dihafal.Sistem bahasa sasaran dipelajari melalui pengajaran nyata tentang pola-pola system .Penjelasan tentang gramatika dihindari. . .Usaha pebelajar untuk berkomunikasi didorong dari saat awal pembelajaran.Pembelajaran bahasa adalah pembelajaran struktur.Menuntut penghafalan dialog yang berisi struktur-struktur tertentu.Drilling menjadi teknik utama pengajaran. .Butir-butir bahasa tidak harus kontekstual .Pelafalan yang dapat dipahami menjadi tujuan .Jika diperlukan penggunaan bahasa ibu pebelajar dibenarkan.Sistem bahasa sasaran paling baik dipelajari melalui proses usaha untuk berkomunikasi. .Membaca dan menulis dapat dimulai dari hari pertama pembelajaran jika dikehendaki. motivasi pebelajar. .Belajar bahasa adalah belajar untuk berkomunikasi.Pelafalan seperti penutur asli menjadi tujuan. . .Makna adalah yang utama .Penerjemahan dihindari pada tingkattingkat awal.Asalkan membantu pebelajar cara atau teknik apapun dapat digunakan. minat.Penerjemahan dapat dilakukan bila pebelajar mendapatkan manfaat dari pelaksanaannya. . .Kontekstualisasi menjadi premis dasar.. . . .Driling dapat dilakukan tetapi tidak menjadi yang utama dalam pembelajaran.Komunikasi efektif menjadi tujuan.Penguasaan atau overlearning menjadi tujuan. .Lebih memperhatikan struktur dan bentuk daripada makna. . . .Kegiatan komunikatif dilaksanakan setelah proses panjang drilling dan latihan-latihan. dan kosakata.Jika dialog digunakan.

Bahasa diperoleh oleh seseorang sering melalui ‘trial and error’. .Guru harus menyatakan bahasa yang harus digunakan oleh siswa. . . . . . . . tetapi cukup diketahui oleh pebelajar. . sehingga kesalahan harus dihindari sama sekali. fungsi.Variasi bahasa menjadi konsep utama di dalam bahan dan metode yang dipakai. .Variasi-variasi bahasa ditekankan.Siswa diharapkan berinteraksi dengan orang lain.Kompetensi komunikatif menjadi tujuan yang ingin dicapai.Urutan penyajian unit-unit ditentukan berdasarkan pertimbangan isi.Guru mengawasi siswa dan menjaga agar mereka tidak melakukan kegiatan yang bertentangan dengan teori pembelajaran.bahasa tersebut. .Guru tidak dapat mengetahui bahasa yang akan digunakan oleh siswa.Siswa diharapkan berinteraksi dengan system bahasa. . .Kompetensi bahasa menjadi tujuan yang ingin dicapai.Guru membantu pebelajar dengan berbagai cara yang dapat memberi motivasi kepada mereka dalam belajar bahasa. . . . .Urutan penyajian unit-unit pelajaran ditentukan hanya berdasarkan pada prinsipprinsip kerumitan bahasa.Kefasihan dan bahasa yang dapat diterima merupakan tujuan pembelajaran.Motivasi intrinsic akan timbul dari minat terhadap apa yang dikomunikasikan oleh bahasa sasaran. yaitu kemampuan untuk menggunakan system bahasa secara efektif dan efisien.Bahasa itu adalah kebiasaan.Ketepatan penggunaan bahasa formal menjadi tujuan utama.Motivasi intrinsic akan timbul dari munculnya minat pada struktur bahasa sasaran. dan makna yang dapat tetap menjaga minat pebelajar. . .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful