Apakah amandemen UUD 1945 perlu dilakukan?

Sebelum kita menjawab pertanyaan itu, terlebih dahulu kita harus memahami apa yang dimaksud dengan amandemen itu sendiri. Setelah itu barulah kita akan mengerti maksud dan tujuan dari diladakannya amandemen UUD 1945.

Secara etimologis, amandemen berasal dari Bahasa Inggris: to amend diartikan sebagai to make better, to remove the faults. Selanjutnya amandement diartikan sebagai a change for the better; a correction of error, faults etc. Sementara itu, dalam istilah pengertian ketatanegaraan (US Convention) amendment adalah an addition to, or a change of a constitution or an organic act which is a pendent to the document rather than intercalated in the text (Smith and Zurcher 1966:14). Menurut Sujatmiko, amandemen yang pokok itu tidak serampangan dan merupakan hal yang serius. Konstitusi itu merupakan aturan tertinggi bernegara. Beliau berpendapat bahwa konstitusi di negara kita belum sepenuhnya sempurna. Jika ingin menyempurnakan konstitusi satu-satunya pilihan ialah amandemen. Dari beberapa referensi di atas amandemen haruslah difahami sebagai penambahan, atau perubahan pada sebuah konstitusi yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari naskah aslinya, dan diletakkan pada dokumen yang bersangkutan. Pemahaman lebih lanjut adalah amandemen bukan sekedar menyisipkan kata-kata atau perihal baru dalam teks. Di sisi lain, amandemen bukan pula penggantian. Mengganti berarti melakukan perubahan total dengan merumuskan konstitusi baru mencakup hal-hal mendasar seperti mengganti bentuk negara, dasar negara, maupun bentuk pemerintahan. Dalam amandemen UUD 1945 kiranya jelas bahwa tidak ada maksud-maksud mengganti dasar negara Pancasila, bentuk negara kKesatuan, maupun bentuk pemerintahan presidensiil. Salah satu bentuk komitmen untuk tidak melakukan perubahan terhadap hal-hal mendasar di atas adalah kesepakatan untuk tidak melakukan perubahan atas Preambul/Pembukaan UUD 1945. Dari penjelasan tersebut jelas bahwa yang harus mendasari Amandemen UUD 1945 adalah semangat menyempurnakan, memperjelas, memperbaiki kesalahan, dan melakukan koreksi terhadap pasal-pasal yang ada, tanpa harus melakukan perubahan terhadap hal-hal yang mendasar dalam UUD 1945 itu sendiri.

Dari pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa tujuan dari amandemen UUD 1945 ialah untuk menyempurnakan UUD yang sudah ada agar tetap sesuai dengan perkembangan zaman. Adapun amandemen yang dilakukan bertujuan untuk membawa bangsa ini menuju perubahan yang lebih baik di berbagai bidang dengan senantiasa selalu memperhatikan kepentingan rakyat.

KEPUSTAKAAN

Iskandar, E. (2005). Kewarganegaraan SMA Kelas XI. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Sujatmiko.(2007). Amandemen UUD 45 Jangan Serampangan.http://www.

tempointeraktif.com/hg/nasional/2007/02/26/brk,20070226-94281,id.html

Amandemen adalah proses perubahan terhadap ketentuan dalam sebuah peraturan. Berupa penambahan maupun pengurangan/penghilangan ketentuan tertentu. Amandemen hanya merubah sebagai ( kecil ) dari peraturan. Sedangkan penggantian peraturan terhadap ketentuan dalam UUD 1945. Amandemen UUD 1945 dilakukan sebanyak 4 kali. Keempat tahap amandemen tersebut adalah sebagai berikut: Amandemen pertama: dalam sidang umum MPR oktober 1999 Amandemen kedua: dalam sidang tahunan MPR tahun 2000 Amandemen ketiga: dalam sidang tahunan MPR oktober 2001 Amandemen keempat: dalam siding tahunan MPR Agustus 2002

A.

Amandemen pertama menyakut 5 persoalan pokok. Kelima persoalan itu meliputi:

- perubahan tentang lembaga pemegang kekuasaan membuat undangundang - perubahan tentang masa jabatan presiden - perubahan tentang hak prerogative presiden - perubahan tentang fungsi menteri - perubahan redaksional B. Amandemen kedua dilakukan terhadap 9 persoalan. Kesembilan persoalan tersebut

meliputi pengaturan mengenai: - Wilayah Negara - hak hak asasi manusia - DPR - Pemerintahan Daerah - Pertahan dan keamanan - Lambang Negara - Lagu kebangsaan C. Amandemen ketiga berkenaan dengan 16 persoalan pokok. Persoalan itu meliputi: - Kedaulatan rakyat - tugas MPR - syarat syarat presiden dan wakil presiden - Pemilihan presiden dan wakil presiden secara langsung - pemberentian Presiden - Presiden berhalangan tetap - kekosongan wakil presiden - perjanjian internasional - kementrian Negara

amandemen tersebut dinilai sebagai keberhasilan. Menurut mereka.Komisi yudisial .dewan pertimbangan yang bertugas member nasihat presiden .pemilu presiden dan wakil presiden .Pemilihan umun .DPD .Kekuasaan kehakiman dan Mahkamah Agung .Pendidikan .Mahkamah Konstitusi D.APBN.presiden dan wakil presiden tidak dapat menjalankan kewajiban dalam masa jabatan secara bersamaan .Kebudayaan Bagi pendukungnya. 1 ) tidak perlu . semestinya UUD 1945 ( konstitusi diamandemenkan.badan badan lain dalam kekuasan kehakiman . Tidak demikian halnya bagi penentangnya.Bank sentral .mata uang ..Badan pemeriksa keuangan .komposisi keanggotaan MPR .pajak dan keuangan Negara . Persoalan tersebut adalah: . Amandemen keempat berkenaan dengan 12 persoalan.

Tuntutan tersebut antara lain dilatar belakangi oleh praktek penyelenggaraan negara pada masa pemerintahan rezim Suharto yang otoriter sentralistik dengan menggunakan Undang-Undang Dasar sebagai instrument untuk melanggengkan kekuasaannya. sosiologis. because the uncertainty of ground rules in the bureaucratic culture of state or because we have not changed much. extension of guarantees for human rights and decentralization of authority to autonomous regions. politis. historical. There are a number of weaknesses and substance sistimatika Basic Law after changes such as inconsistencies. Still requires time and effort that is more serious and consistent in moving from changing the constitution to change the community culture. 2001 sampai dengan tahun 2002 Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) melakukan perubahan terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. management practices Basic Law of our country is still far from complete. with a clear separation of powers between organs of State accompanied by the principle of checks and balances. by law. juridical. The claim is. Perubahan tersebut mengalir begitu saja sebagai respon terhadap tuntutan reformasi. among others. Also the idea to change the Basic Law received wide support from various levels of society. 2001 until the year 2002 the Assembly (MPR) made changes to RI State Constitution Act 1945. Philosophical. political. Abstrak Selama 4 tahun mulai tahun 1999. 2000. ambiguities system of government and administrative systems that are not clear. 2000. Constitution Amendment Act was not by itself foster constitutional obedience. These changes flow in response to demands for reform. As a result. and theoretically reasons sufficient to support the need for changes to the constitution. sociological. dan teoritis cukup mendukung perlunya . after more than 10 (ten) years of change. against the background by the practice of statecraft in the reign of the centralized authoritarian Suharto regime using the Basic Law as an instrument to perpetuate his rule. Viewed in quantitative and qualitative changes made in the MPR session very much and fundamental that the original Basic Law is not recognized anymore because in principle has been completely changed. For that seeding and fertilizing spirit of constitutionalism in different layers of society is a must along with the example of the leaders. yuridis. historis. Alasan filosofis.Abstract During the 4 (four ) years starting in 1999. Can be said that through these amendments to the Assembly 4 (four) times actually has formed a new Basic Law in order to build a democratic constitutional system. Changes in RI State Constitution Act 1945 was not without problems.

Untuk itu penyemaian dan pemupukan spirit konstitusionalisme diberbagai lapisan masyarakat merupakan suatu keharusan disertai keteladanan dari para pemimpin. perluasan jaminan hak asasi manusia dan desentralisasi kewenangan kepada daerah otonom. Terdapat sejumlah kelemahan sistimatika dan substansi Undang-Undang Dasar pasca perubahan seperti inkonsisten. kerancuan sistem pemerintahan dan sistem ketatanegaraan yang tidak jelas. Gerakan reformasi menghendaki ditegakkannya pemerintahan demokratis berdasarkan hukum dengan desentralisasi kekuasaan. Sementara itu DPDRI (2009:53) mengemukakan ”penyebab utama mengapa konstitusi harus mengalami perubahan tentu saja karena konstitusi itu dianggap sudah ditinggalkan oleh zamannya. sosiologis. Akibatnya setelah lebih dari 10 tahun perubahan Undang-Undang Dasar praktek penyelenggaraan negara kita masih jauh dari harapan. Suharto penguasa Orde Baru yang berkuasa selama lebih dari 3 dekade lengser keprabon dilanda oleh kekuatan rakyat yang mengusung tema reformasi kekuasaan otoriter birokratik yang sentralitik. Perubahan Undang-Undang Dasar ternyata tidak dengan sendirinya menumbuhkan budaya taat berkonstitusi. Selain itu gagasan untuk mengubah Undang-Undang Dasar mendapat dukungan luas dari berbagai lapisan masyarakat. sudah tak sesuai lagi . yuridis. yaitu dilihat dari perspektif filosofis. dengan pemisahan kekuasaan yang jelas antar organ negara disertai prinsip check and balances. Betapa tidak. Perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 bukannya tanpa masalah. Slamet Effendi Yusuf dan Umar Basalim (2000:55) mengemukakan berbagai alasan mengapa UUDNRI Tahun 1945 perlu diubah. Dilihat secara kuantitatif dan kualitatif perubahan yang dilakukan dalam sidang MPR sangat banyak dan mendasar sehingga Undang-Undang Dasar aslinya tidak dikenali lagi karena secara prinsipil sudah berubah sama sekali. praktek ketatanegaraan. karena kegamangan aturan dasar dalam bernegara maupun karena budaya birokrasi kita belum banyak berubah. Masih diperlukan waktu dan upaya yang lebih serius serta konsisten untuk bergerak dari perubahan konstitusi ke perubahan budaya masyarakat. A. berdasarkan hukum. Dapat dikatakan bahwa melalui 4 kali amandemen tersebut MPR sesungguhnya telah membentuk Undang-Undang Dasar baru dalam rangka membangun sistem ketatanegaraan yang demokratis. Desakralisasi Undang-undang Dasar tak terbendung.perubahan terhadap konstitusi. historis. Pendahuluan Kata reformasi sangat bertuah pada penghujung tahun 1990-an sampai pada awal tahun 2000-an. Instrumen terpenting yang digunakan Suharto melanggengkan kekuasaanya yaitu Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang semula sangat disakralkan digugat. dan materi.

(9) pembentukan Mahkamah Konstitusi. (8) negara mengembangkan sistem jaminan . Perubahan fundamental terpenting berkaitan dengan 8 hal. (3) penegasan fungsi dan hak DPR. Perubahan keempat ditetapkan pada Sidang Tahunan MPR tanggal 10 Agustus 2002. dan (8) pengaturan bendera. bahasa. yaitu (1) perubahan susunan MPR menjadi terdiri dari anggota DPR dan anggota DPD yang dipilih melalui pemilihan umum. Perubahan ketiga ini merupakan perubahan yang paling luas mencakup 25 Pasal dan 3 Bab tambahan. Ada 9 Pasal yang diubah secara mendasar. (6) pemilihan umum. dan (2) pembatasan masa jabatan presiden selama 5 tahun dan sesudahnya dapat dipilih kembali dalam jabatan yang sama. (5) perluasan jaminan konstitusional hak asasi manusia. Perubahan mendasar meliputi 12 hal. yaitu (1) pergeseran kekuasaan membentuk undang-undang dari Presiden ke DPR. Perubahan mendasar meliputi 10 hal. (4) Dewan Pertimbangan Presiden menggantikan Dewan Pertimbangan Agung yang dihapuskan. (2) perubahan struktur dan kewenangan MPR. lambang Negara. (4) mekanisme pemakzulan Presiden dan/atau Wakil Presiden. (2) pengakuan serta penghormatan terhadap satuan pemerintahan daerah yang bersifat khusus atau bersifat istimewa dan terhadap kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya. (7) pembaharuan kelembagaan Badan Pemeriksa Keuangan. (6) hak mendapat pendidikan bagi setiap warga negara dan prioritas anggaran pendidikan sekurangkurangnya 20%. Ada dua perubahan fundamental yang dilakukan. dan (10) pembentukan Komisi Yudisial. yaitu (1) otonomi daerah/desentralisasi. (2) melengkapi aturan pemilihan Presiden dan Wakil Presiden. 2 pasal aturan tambahan dan perubahan 2 bab. (7) negara memajukan kebudayaan nasional. (7) pemisahan struktur dan fungsi TNI dengan Polri.” Perubahan pertama ditetapkan pada Sidang MPR tanggal 19 Oktober 1999. Perubahan ketiga ditetapkan pada Sidang Tahunan MPR tanggal 9 November 2001. Ada 25 Pasal perubahan/tambahan dan perubahan dan perubahan 5 Bab. Perubahan kedua ditetapkan pada Sidang MPR tanggal 18 Agustus tahun 2000. Ada 23 Pasal perubahan/tambahan dan 3 Bab tambahan. (5) bank sentral. (4) penegasan NKRI sebagai sebuah negara kepulauan yang berciri Nusantara dengan wilayah yang batas-batas dan hak-haknya ditetapkan dengan undang-undang. yaitu (1) penegasan Indonesia sebagai negara demokratis berdasar hukum berbasis konstitusionalisme. menghormati dan memelihara bahasa daerah sebagai kekayaan budaya nasional. (8) perubahan kewenangan dan proses pemilihan dan penetapan hakim agung. dan lagu kebangsaan. (3) pelaksana tugas kepresidenan. (6) sistem pertahanan dan keamanan Negara. meliputi 13 pasal. hanya untuk satu kali masa jabatan. (3) pemilihan Presiden dan wakil Presiden langsung oleh rakyat.dengan kebutuhan rakyat yang membuatnya. 3 pasal aturan peralihan. (5) kelembagaan Dewan Perwakilan Daerah.

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 terdiri atas Pembukaan dan pasal-pasal. Empat kali perubahan Undang-Undang Dasar yang dilakukan secara bertahap dalam waktu relatif singkat selama 4 tahun. Ada dua alasan mengapa pembahasan berjalan lancar. dan (2) tercapainya kesepakatan dasar dalam Panitia Ad Hoc I MPR yang dijadikan pegangan oleh para anggota MPR dalam melakukan perubahan terhadap UUDNRI Tahun 1945 yang meliputi (a) tidak mengubah Pembukaan UUDNRI Tahun 1945. (c) mempertegas sistem pemerintahan presidensial. . (10) tenggat waktu pembentukan Mahkamah Konstitusi paling lambat 17 Agustus 2003 dan sebelum dibentuk segala kewenangannya dilakukan oleh Mahkamah Agung. Hanya nama saja yang dipertahankan sebagai UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Jimly Asshiddiqie (2006:61) antara lain mengemukakan ”Dari segi kuantitatif saja sudah dapat disimpulkan bahwa sesungguhnya UUDNRI Tahun 1945 setelah mengalami empat kali perubahan. (11) penugasan kepada MPR untuk melakukan peninjauan terhadap materi dan status hukum ketetapan MPRS dan ketetapan MPR untuk diambil putusan pada sidang MPR tahun 2003.sosial bagi selusuh rakyat dan bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak. Pembahasan dalam sidang MPR tidak mengalami kendala berarti meskipun perdebatan sering berjalan tajam dan alot dengan argumentasi yang yang mendalam. dan (12) dengan ditetapkannya perubahan Undang-Undang Dasar ini. sedangkan isinya sudah berubah secara besar-besaran. anggota MPR dan para aktivis. Perubahan Mendasar Perubahan mendasar pasca empat kali amandemen secara garis besar dapat dikemukakan sebagai berikut: ditegaskannya demokrasi konstitusional dan negara hukum. (d) penjelasan UUDNRI Tahun 1945 ditiadakan serta hal-hal yang normatif dalam penjelasan dimasukkan dalam pasal-pasal. dan (e) perubahan dilakukan dengan “addendum”.” B. sudah berubah sama sekali menjadi satu konstitusi baru. Dalam empat kali perubahan Undang-Undang Dasar secara kuantitatif dan kualitatif sebetulnya wajah Undang-Undang Dasar sebelum perubahan nyaris tak dikenali lagi. kesetaraan antar lembaga negara dengan sistem pemisahan kekuasaan dan check and balances. (b) tetap mempertahankan NKRI. yaitu (1) romantisme reformasi masih hangat dalam hati partai politik. (9) syarat perubahan Undang-Undang Dasar. restukturisasi dan refungsionalisasi kelembagaan negara serta dihapuskannya sistem mandataris MPR. yaitu dari tahun 1999-2002 berjalan begitu saja tanpa suatu grand design yang jelas.

sistem pemerintahan presidensiil dengan pemilihan Presiden langsung oleh rakyat. penyelenggaraan pemilihan umum secara langsung. DPRD. BPK yang bebas dan mandiri untuk memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab tentang keuangan Negara. efisiensi. umum. lingkungan Peradilan Militer.pergeseran kekuasaan membentuk undang-undang dari tangan Presiden ke tangan DPR. jujur. bebas. demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan. berkelanjutan. anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20% dari APBN dan APBD. dan adil setiap 5 tahun sekali oleh suatu Komisi Pemilihan Umum yang bersifat nasional. serta menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional. Pemerintahan Daerah menjalankan otonomi seluas-luasnya kecuali urusan pemerintahan yang oleh undang-undang ditentukan sebagai urusan Pemerintah Pusat. APBN dilaksanakan secara terbuka dan bertanggung jawab untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Perubahan UUDNRI Tahun 1945 telah berhasil mengubah kekuasaan pemerintahan yang otoriter dan sentralistik menjadi kekuasaan yang demokratis berdasarkan atas hukum dan desentralistis. lembaga perwakilan yang unik terdiri DPR dan DPD. kemandirian. berkeadilan. Hubungan pusat dan daerah juga lebih proporsional dengan . perluasan jaminan hak asasi manusia. karena lembaga negara diposisikan setara dengan prinsip check and balances. tetap. Rakyat mendapatkan kembali kedaulatannya yang sempat digenggam oleh Presiden sebagai Mandataris MPR selama lebih dari tiga dekade. dan mandiri. Penyelenggaraan negara yang berpusat pada negara (state) bergeser berbasis kepada rakyat sebagai pemegang kedaulatan. negara memiliki suatu bank sentral independen. lingkungan Peradilan Tata Usaha Negara. serta MPR yang terdiri dari anggota DPR dan Anggota DPD. syarat dan tata cara perubahan pasal-pasal UUDNRI Tahun 1945 serta khusus mengenai bentuk NKRI tidak dapat dilakukan perubahan. Hubungan antar lembaga negara juga mengalami perubahan. rahasia. berwawasan lingkungan. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 terdiri atas Pembukaan dan pasal-pasal. dan dengan ditetapkannya perubahan UUDNRI Tahun 1945 tersebut. NKRI negara kepulauan yang berciri nusantara. serta Presiden dan Wakil Presiden. lingkungan Peradilan Agama. pemisahan TNI dengan Kepolisian Negara RI. dan oleh sebuah Mahkamah Konstitusi. kekuasaan kehakiman yang merdeka dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan peradilah yang berada di bawahnya dalam lingkungan Peradilan Umum. peran partai politik dalam pemilihan umum untuk memilih anggota DPR.

Rakyat terlibat dalam proses politik yang menelan biaya cukup tinggi untuk menghasilkan pemimpin politik di lembaga eksekutif dan legislatif yang memperoleh legitimasi rakyat. menegakkan hukum.diberikannya kewenangan bagi pemerintahan daerah menjalankan otonomi seluas-luasnya. tetapi belum menyentuh aspek yang paling mendasar dalam kehidupan bernegara seperti yang dituntut oleh gerakan reformasi. Setelah pemilihan umum berlalu “permainan politik” berada ditangan aktor politik hasil pilihan rakyat yang dengan lantang menyatakan mereka berjuang untuk rakyat dan demi kesejahteraan rakyat. padahal rakyat hanya memilih calon yang disodorkan oleh partai politik atau oleh elit politik secara perseorangan. presiden terpilih yang mendapat dukungan mayoritas dari pemilih ternyata tidak didukung oleh mayoritas suara di DPR. bertanggung jawab dan bebas dari korupsi. kolusi dan nepotisme? Apakah hukum telah ditegakkan secara adil terhadap semua orang tanpa pandang bulu? Singkatnya setelah 10 tahun lebih perubahan UUDNRI Tahun 1945 apakah kultur penyelenggara negara telah mengalami reformasi atau belum? Kalau kita mau jujur perbaikan memang ada. dan hak asasi manusia serta dalam membangun kepribadian dan jati diri bangsa yang Bhineka Tunggal Ika dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUDNRI Tahun 1945. Mahkamah Konstitusi diberi kewenangan menguji undang-undang terhadap UUDNRI Tahun 1945 dan Mahkamah Agung menguji peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang terhadap undang-undang. berkata. apakah kedaulatan betul-betul ditangan rakyat atau dengan kata lain demokrasi politik dan demokrasi ekonomi telah mampu mengantarkan rakyat menjadi lebih sejahtera? Apakah pemerintahan yang dipilih melalui pemilihan umum mengabdi untuk kepentingan rakyat dan menjalankan pemerintahan secara adil. Kekuasaan kehakiman mendapat jaminan konstitusional sebagai kekuasaan yang merdeka untuk menyelenggaran peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan. kecuali urusan pemerintahan yang oleh undang-undang ditentukan sebagai urusan Pemerintah Pusat. Setelah 10 Tahun Perubahan Permasalahannya sekarang ialah setelah lebih dari 10 tahun perubahan UUDNRI Tahun 1945 dilakukan. dan bertindak secara benar dalam menegakkan demokrasi di bidang politik dan ekonomi. C. Rakyat diberi kesan menjadi penentu dalam rekrutmen kepemimpinan nasional. Perlu ditambahkan bahwa pasca perubahan UUDNRI Tahun 1945 khususnya setelah Presiden dan Wakil Presiden dipilih langsung oleh rakyat. Karena itulah . Dalam 10 tahun terakhir ini ritual demokrasi telah dilakukan secara berkala. Selain itu kekuasaan kehakiman diberikan kewenangan untuk menguji peraturan perundang-undangan sebagai wujud supremasi hukum. Kata reformasi kehilangan kekuatannya untuk merombak kultur penyelenggara negara apalagi kultur masyarakat agar menjadi masyarakat yang berpikir.

dan sarana pendukungnya belum mengikuti. Kekuasaan DPR sangat kuat. serta dalam mengawasi pemerintah. Selain itu soal perimbangan keuangan antara pusat dan daerah masih merupakan masalah krusial. dalam membentuk undang-undang. Sebelum reformasi kekuasaan lebih berat ke eksekutif (executive heavy). Mafia hukum. dan yudikatif di pusat dan daerah yang diseret ke meja hijau. Seiring dengan menyebarnya kekuasaan secara horizontal dan vertikal maka korupsi. Koalisi semacam ini ternyata mudah goyah terutama jika dihadapkan kepada isu politik yang menarik perhatian publik. Sering urusan sudah diserahkan ke daerah. Meski terlalu dini masyarakat mulai bertanya apakah Satuan Tugas ini akan mampu memberantas mafia hukum yang sudah menyebar kemana-mana dan membersihkan dunia peradilan dari kanker ganas yang merusak citra aparat penegak hukum? Belum tuntas penanganan mafia hukum muncul lagi mafia pajak dan mungkin mafia lainnya yang mengindikasikan bahwa administrasi negara kita belum bersih dari praktek korupsi. sebab hal tersebut sangat penting artinya bagi pembangunan daerah. dalam rekrutmen jabatan publik dan berbagai kebijakan negara lainnya. karena kuatnya lembaga legislatif dalam mengontrol pemerintahan. Dilihat dari hubungan eksekutif-legislatif pasca perubahan UUDNRI Tahun 1945. Itu pun dengan catatan kinerja Komisi Pemberantasan Korupsi. Kejaksaan. negarawan Inggris. dan nepotisme yang dikecam habis pada era reformasi. DPR sangat berperan dalam menentukan anggaran. Karena itu Presiden merasa perlu membentuk Satuan Tugas untuk memerangi mafia hukum. bahkan ada yang menyebutnya sebagai sistem pemerintahan parlementer. dan Kepolisian belum optimal. karena masingmasing memiliki kepentingan untuk melukan “investasi politik” menyongsong pemilihan umum berikutnya. Hak-hak warga negara yang dijamin dalam konstitusi . kolusi. dan nepotisme mengikuti kekuasaan tersebut. tetapi pendanaan. Pelaksanaan otonomi daerah juga belum menggembirakan. Penegakkan hukum dan hak asasi manusia juga belum memuaskan rakyat. Beberapa daerah otonom bersuara keras mengenai soal ini. Prinsip money follow fungtion dalam penyelenggaraan otonomi daerah tidak sepenuhnya diikuti. bahkan belakangan tercium adanya gejala resentralisasi urusan yang membuat desentralisasi tertatih-tatih. Simak saja berapa banyak pejabat di lingkungan eksekutif. menyatakan ”power trend to corrupt” masih berlaku. Sehingga terjadi anomali sistem pemerintahan presidensial. Dalil Lord Acton. kolusi. personil. perang antara “cicak dan buaya“ mencemari dunia peradilan kita. kini kekuasaan lebih berat ke legislatif (legislative heavy). legislatif. pendulum berayun kencang kearah legislatif. makelar kasus. Mitra koalisi tidak sepenuhnya dapat diharapkan mendukung kebijakan partai politik pendukung presiden.koalisi taktis dilakukan antar partai politik pendukung presiden terpilih dengan partai politik lainnya yang memperoleh kursi di DPR. Mengenai hubungan negara dengan masyarakat pasca perubahan UUDNRI Tahun 1945 belum menunjukkan perubahan yang signifikan. Tak heran apabila sistem pemerintahan kita disebut sebagai sistem pemerintahan semi presidensial.

dan kewajiban negara untuk memenuhinya belum sepenuhnya terwujud. (5) kesimpulannya empat kali perubahan UUDNRI Tahun 1945 oleh MPR justru menciptakan . Ketua DPD RI masa bakti 2004-2009. (4) MPR tidak tegas menetapkan sistem pemerintahan yang dianut. yang intinya sebagai berikut (1) perubahan UUDNRI Tahun 1945 yang dilakukan oleh MPR tidak lagi dapat disebut sebagai amandemen melainkan sudah merupakan penggantian (alternation). apakah sistem presidensial atau parlementer murni atau semu. persamaan perlakuan/tidak diskriminatif. Namun gerakan dari regulasi menuju implementasi undang-undang berjalan lamban. profesionalisme. hasil perubahan yang dilakukan oleh MPR sangat membingungkan. serta ketidaklengkapan sehingga membutuhkan peninjauan kembali…” (DPD RI 2009:iv) . Belum Menjadi Kenyataan? Mengapa setelah lebih dari 10 tahun perubahan UUDNRI Tahun 1945 harapan yang menyertai perubahan UUDNRI Tahun 1945 tersebut belum menjadi kenyataan? Apakah karena kelemahan yang inheren dengan UUDNRI Tahun 1945 pasca perubahan ataukah karena bangsa kita kehabisan energi sosial untuk semakin mendekatkan kenyataan dengan harapan? Ginandjar Kartasasmita. memang telah dijabarkan dalam UndangUndang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik. D. kepastian hukum. Prinsip kedaulatan negara masih menonjol daripada kedaulatan rakyat. fasilitas dan perlakuan khusus bagi kelompok rentan. keterbukaan. kesamaan hak. Sementara itu Centre for Strategic and International Studies (CSIS) memberikan beberapa catatan terhadap perubahan UUDNRI Tahun 1945 (DPD RI 64-66). keseimbangan hak dan kewajiban. (3) berkaitan dengan sistem politik khususnya pelaksanaan kedaulatan ditemui kerancuan. sistem politik dan pemerintahan. ketepatan waktu. (2) baik ditinjau dari aspek landasan filosofis maupun ketatanegaraan. partisipatif. dan pelayanan administratif. serta kemudahan dan keterjangkauan baru sebatas wacana dan belum menjadi kenyataan dalam kehidupan sehari-hari. Aparat negara masih bermental “pangreh” ketimbang “pamong” apalagi “abdi” rakyat. Amanat Pembukaan UUDNRI Tahun 1945 untuk memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa yang mengandung makna negara berkewajiban memenuhi kebutuhan setiap warga negara melalui sistim pemerintahan yang mendukung terciptanya penyelenggaraan pelayanan publik yang prima dalam rangka memenuhi kebutuhan dasar dan hak sipil setiap warga negara atas barang publik. Rakyat belum sepenuhnya menjadi subyek yang mesti diberikan pelayanan oleh negara. dalam kata sambutannya pada buku Konstitusi RI Menuju Perubahan Ke-5 antara lain mengemukakan ”Perubahan UndangUndang Dasar 1945 yang sudah dilakukan 4 kali ternyata masih menyisakan banyak kelemahan dan inkonsistensi. jasa publik. pelayanan publik yang berasaskan kepentingan umum. akuntabilitas.

berpihak kepada rakyat. harga bahan bakar minyak. penanganan krisis ekonomi sebagai dampak krisis keuangan global. Mengapa semua itu terjadi? Albert Hasibuan. Belum lagi keterlibatan intens warga negara dalam pemilihan umum menguras tenaga. dana dan waktu yang tidak sedikit mengingat seringnya diadakan pemilihan umum untuk berbagai keperluan rekrutmen lembaga legislatif. ekonomi.sistem politik dan sistem ketatanegeraan Indonesia yang tidak jelas dan menghasilkan rumusan pasal-pasal yang multi interpretatif. untuk menyelesaikan masalah sosial. memerangi korupsi yang semakin meluas. Wakil Ketua Lembaga Kajian Konstitusi. adil. ujian nasional. sehingga dapat menimbulkan instabilitas hukum maupun politik. menghormati hak asasi manusia dan menjaga kelestarian lingkungan hidup. Selain itu isu politik yang hangat dalam berbagai aspek kehidupan bernegara mulai dari soal tarif dasar listrik. harga sembilan bahan pokok. Tidak kelihatan aspek equilibrium berdasarkan pengawasan dan perimbangan yang berlaku dalam suatu konstitusi. bargaining. kepemimpinan nasional dan kepemimpinan daerah. Justru yang kelihatan adalah disequilibrium dengan adanya dominasi kekuasaan legislatif. Selanjutnya Albert menyimpulkan “…dalam UUD 1945 pasca perubahan kurang nampak check and balances atau pengawasan dan perimbangan di antara lembaga lembaga negara. ” Sangat boleh jadi kelemahan dan kekurangan UUDNRI Tahun 1945 pasca perubahan merupakan kendala dalam mewujudkan harapan rakyat yang begitu besar pada era reformasi yang mendambakan pemerintahan demokratis. mafia pajak. dan mampu meningkatkan kesejahteraan rakyat di seluruh pelosok tanah air melalui pelaksanaan pembangunan yang berkelanjutan. energi sosial bangsa kita terkuras untuk menghadapi berbagai bencana alam yang silih berganti menimpa beberapa wilayah NKRI. politik dan hukum peninggalan rezim Soeharto. kamar mewah di lembaga pemasyarakatan untuk . penggusuran pedagang kaki lima atau rumah pensiunan prajurit. mafia hukum. memerangi terorisme dan kejahatan transnasional terorganisir lainya. konstitusional. Hal ini juga ditambah aspek legitimasi yang terkait dengan aspek metodologis yang kurang melibatkan peran serta masyarakat. dalam sambutannya atas penerbitan buku Konstitusi RI Menuju Perubahan Ke-5 (DPD RI:2009:viii-ix) antara lain mengemukakan ”…. Penyebab lainnya tidak adanya kerangka acuan atau naskah akademik yang dibutuhkan sebelum melakukan perubahan UUD 1945. kekurangan dan kelemahan rumusan UUD 1945 pasca perubahan dari MPR itu antara lain disebabkan oleh adanya proses kompetisi. dan kompromi dalam merumuskan UUD 1945. Disamping kelemahan UUDNRI Tahun 1945 pasca perubahan. untuk menyelesaikan konflik sosial di beberapa daerah. Disamping itu pengalaman anggota MPR memegang peranan besar yang menimbulkan kekurangan dan kelemahan UUD 1945 pasca perubahan.

mengembangkan demokrasi demi kesejahteraan rakyat dan kehormatan Indonesia di dunia internasional. Sebab undang-undang dasar suatu negara bersifat dinamis. E. Sebagai masyarakat yang majemuk yang demokratis keterlibatan masyarakat dalam membahas masalah nyata yang dihadapi sehari-hari adalah hal yang wajar. Bahkan para penguasa atau pejabat yang berwenang mengambil keputusan sebatas ikut meramaikan wacana. Amanat Pembukaan UUDNRI Tahun 1945 yang berkenaan dengan tujuan pembentukan Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum. sehingga masalah yang sama akan muncul kembali selang beberapa lama. Elit yang berkuasa silih berganti. dan keadilan sosial. pengendalian peredaran narkoba dari lembaga pemasyarakatan sampai prokontra kunjungan Obama ke Indonesia. Masyarakat beralih dari isu yang satu ke isu yang lain sebelum ditemukan penyelesaian yang memadai atas sesuatu isu. para pakar dan masyarakat pada umumnya. Karena itu pembentuk . Melelahkan dan tidak memperbaiki keadaan. menegakkan hukum tanpa pandang bulu. anomalinya ialah ketika tidak ada kebijakan strategis yang diambil berdasarkan hukum untuk menyelesaikan permasalahan tersebut secara tuntas. Masih banyak lagi deretan masalah yang menyita perhatian pemerintah. meskipun sebagian telah mengalir ke dalam batang tubuh atau pasal-pasal UUDNRI Tahun 1945. Berbagai isu hangat tersebut diperdebatkan dengan sengit dan sering tanpa solusi yang jelas. dan lebih banyak yang diingkari tanpa rasa bersalah. perdamaian abadi. mencerdaskan kehidupan bangsa. penegak hukum. Kadangkadang seperti mengunyah permen karet yang tinggal karetnya saja. Itulah sebabnya realitas sosial dalam kehidupan masyarakat pasca perubahan UUDNRI Tahun 1945 belum berubah secara signifikan. Tetapi rakyat mencatat bahwa hanya sedikit janji yang dipenuhi. bukan mengambil kebijakan untuk menyelesaikannya. mengikuti gerak masyarakatnya. disertai visi yang aspiratif. namun belum mengalir ke dalam undang-undang dan peraturan pelaksanaannya serta ke dalam semangat para penyelenggara negara. Grand Design dan Visioner Dimasa yang akan datang perubahan ke-5 UUDNRI Tahun 1945 perlu dilakukan dengan suatu grand design yang jelas. dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan. bahkan diharapkan dapat menjadi guiding star yang memandu kehidupan masyarakatnya dalam meraih cita-cita bersama. lembaga legislatif. menjaga keutuhan NKRI.narapidana atau tahanan berduit. dan mereka mengucapkan janji yang sama untuk melaksanakan UUDNRI Tahun 1945.

sarana pengendalian masyarakat (social control). pengatur hubungan antar organ kekuasaan negara dengan warga. Jimly Asshiddiqie (2006:33-34) merinci fungsi konstisusi sebagai berikut: Penentu dan pembatas kekuasaan organ negara. Spirit konstitusionalisme harus disemai dan terus dipupuk agar tumbuh subur dalam kesadaran masyarakat. Perubahan undang-undang dasar harus diikuti pula oleh perubahan budaya masyarakat. sarana perekayasaan dan pembaharuan masyarakat (social engineering atau social reform). perubahan budaya birokrasi yang kondusif untuk pelaksanaan nilai-nilai konstitusi untuk menjadi bangsa yang sejahtera dan bermartabat. Perubahan UUDNRI Tahun 1945 nanti harus dapat merevitalisasi fungsi konstitusi. sebagai pusat upacara (center of ceremony). Bangsa Indonesia harus bergerak dari regulasi ke implementasi secara konsisten dengan kecerdasan menangkap peluang-peluang yang terbuka di hadapan kita. baik dalam arti sempit dan hanya di bidang politik maupun dalam arti luas mencakup bidang sosial dan ekonomi. baik dalam arti sempit maupun dalam arti luas. pemberi atau sumber legitimasi terhadap kekuasaan negara ataupun kegiatan penyelenggaraan kekuasaan negara. Mengubah undang-undang dasar tidak mudah. terutama dikalangan para penyelenggara negara dan para pemimpin politik.undang-undang dasar dan perubahannya harus mampu menangkap semangat zaman dan sekaligus berfikir visioner. tetapi yang tidak kalah sulitnya ialah membangun budaya taat berkonstitusi. . pengatur hubungan kekuasaan antar organ negara. simbolik sebagai rujukan identitas dan keagungan kebangsaan (identity of nation). penyalur atau pengalih kewenangan dari sumber kekuasaan yang asli (yang dalam sistem demokrasi adalah rakyat) kepada organ negara. Sebab tanpa perubahan budaya tersebut jurang pemisah antara harapan dan kenyataan akan tetap lebar. Untuk itu diperlukan upaya yang bersungguh-sungguh dan dilakukan secara berkelanjutan oleh segenap lapisan masyarakat dengan keteladanan dari para pemimpin. simbolik sebagai pemersatu (symbol of unity).

serta kenyataan rumusan UUD 1945 tentang semangat penyelenggara negara yang belum cukup didukung ketentuan konstitusi. tanggal 1-11 Agustus 2002 → Perubahan Keempat UUD 1945 . Tujuan perubahan UUD 1945 waktu itu adalah menyempurnakan aturan dasar seperti tatanan negara. 37 pasal. dan 2 ayat Aturan Tambahan). tetap mempertahankan susunan kenegaraan (staat structuur) kesatuan atau selanjutnya lebih dikenal sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). tanggal 1-9 November 2001 → Perubahan Ketiga UUD 1945 Sidang Tahunan MPR 2002. Dalam kurun waktu 1999-2002. kedaulatan rakyat. UUD 1945 memiliki 21 bab.Perubahan (Amandemen) Terhadap UUD 1945 Naskah Undang-Undang Dasar 1945 Sebelum dilakukan Perubahan. Latar belakang tuntutan perubahan UUD 1945 antara lain karena pada masa Orde Baru. Perubahan UUD 1945 dengan kesepakatan diantaranya tidak mengubah Pembukaan UUD 1945. 49 ayat. Perubahan UUD 1945 Salah satu tuntutan Reformasi 1998 adalah dilakukannya perubahan (amandemen) terhadap UUD 1945. diterbitkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Dalam Satu Naskah. Sebagai Naskah Perbantuan dan Kompilasi Tanpa Ada Opini. Batang Tubuh (16 bab. pembagian kekuasaan. 170 ayat. UUD 1945 mengalami 4 kali perubahan yang ditetapkan dalam Sidang Umum dan Sidang Tahunan MPR: Sidang Umum MPR 1999. tanggal 14-21 Oktober 1999 → Perubahan Pertama UUD 1945 Sidang Tahunan MPR 2000. UUD 1945 terdiri atas Pembukaan. tanggal 7-18 Agustus 2000 → Perubahan Kedua UUD 1945 Sidang Tahunan MPR 2001. dan 2 pasal Aturan Tambahan. kekuasaan yang sangat besar pada Presiden. kekuasaan tertinggi di tangan MPR (dan pada kenyataannya bukan di tangan rakyat). HAM. Setelah dilakukan 4 kali perubahan. Dalam Risalah Sidang Tahunan MPR Tahun 2002. 4 pasal Aturan Peralihan. adanya pasal-pasal yang terlalu "luwes" (sehingga dapat menimbulkan mulitafsir). eksistensi negara demokrasi dan negara hukum. serta hal-hal lain yang sesuai dengan perkembangan aspirasi dan kebutuhan bangsa. serta Penjelasan. 37 pasal. serta mempertegas sistem pemerintahan presidensiil. 3 pasal Aturan Peralihan.

tanggal 7-18 Agustus 2000 → Perubahan Kedua UUD 1945 Sidang Tahunan MPR 2001.addendum : MPR sebagai perwakilan rakyat ideal dalam mewakili kedaulatan rakyat. kekuasaan tertinggi di tangan MPR (dan pada kenyataannya bukan di tangan rakyat). . HAM. Perubahan UUD 1945 dengan kesepakatan diantaranya tidak mengubah Pembukaan UUD 1945. kekuasaan yang sangat besar pada Presiden. tetap mempertahankan susunan kenegaraan (staat structuur) kesatuan atau selanjutnya lebih dikenal sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Tujuan perubahan UUD 1945 waktu itu adalah menyempurnakan aturan dasar seperti tatanan negara.Abdul Azis Arjoso Salah satu tuntutan Reformasi 1998 adalah dilakukannya perubahan (amandemen) terhadap UUD 1945. bukan mob-ruling democray seperti perlu penulis ketengahkan bahwa Aristoteles telah kemukakan lebih dari 2 milenia lampau bahwa . UUD 1945 mengalami 4 kali perubahan yang ditetapkan dalam Sidang Umum dan Sidang Tahunan MPR: Sidang Umum MPR 1999. pembagian kekuasaan. tanggal 1-9 November 2001 → Perubahan Ketiga UUD 1945 Sidang Tahunan MPR 2002. tanggal 1-11 Agustus 2002 → Perubahan Keempat UUD 1945. Dalam kurun waktu 1999-2002. serta kenyataan rumusan UUD 1945 tentang semangat penyelenggara negara yang belum cukup didukung ketentuan konstitusi. Latar belakang tuntutan perubahan UUD 1945 antara lain karena pada masa Orde Baru. janganlah kita silau akan intervensi pembodohan Neo-Kolonialisme (Neo-Kolim) . demokrasi Pancasila adalah perwakilan. adanya pasal-pasal yang terlalu "luwes" (sehingga dapat menimbulkan mulitafsir). tanggal 14-21 Oktober 1999 → Perubahan Pertama UUD 1945 Sidang Tahunan MPR 2000. kedaulatan rakyat. kelanjutan suatu Negara terikat kepada “ruh” Undang-Undang Dasarnya dan bentuk pemerintahan Polity atau Repubik (Negara yang dipimpin oleh perwakilan banyak orang yang berpengaruh dalam pengambilan keputusan) dalam laju dinamikanya jika tidak dapat mempertahankan cita-cita berbangsa dan kepentingan unum maka derajad suatu pemerintahan Polity atau Republik akan menurun menjadi pemerintahan Demokrasi yang hanya didasarkan kepada angka terbanyak. serta mempertegas sistem pemerintahan presidensiil. eksistensi negara demokrasi dan negara hukum. mari kita kembali ke jati diri bangsa UUD 1945 yang disahkan PPKI pada 18-Agustus 1945. serta hal-hal lain yang sesuai dengan perkembangan aspirasi dan kebutuhan bangsa.

AMANDEMEN UNDANG-UNDANG DASAR 1945 oleh Oleh: BOY YENDRA TAMIN (Dosen Hukum Tata Negara FH UBH) Beberapa masalah yang dikemukakan di atas tentu saja dengan memahami. bila kita berandai-andai dari seluruh penduduk Indonesia. setiap amandemen UUD 1945 akan menimbulkan gejolak. Disisi lain. pengelolaan Negara yang membutuhkan energi. Selain dari menaruh harapan yang begitu besar akan perubahan kehidupan bernegara kearah yang lebih baik. namun ketika dihadapan pada sejauh mana perubahan yang membuahkan kebahagian bagi rakyat atas perubahan UUD 1945 di luar nikmat yang dirasakan para elit dan mungkin termasuk para intelektual. substansi amandemen UUD 1945 itu sendiri harus jelas. berapa persen pula dari penduduk Indonesia yang merasa berkepentingan dengan amandemen UUD 1945? Berapa persenkah dari penduduk Indonesia yang merasa memerlukan dan atau mendapat suatu pemenuhan atas harapan hidup mereka sebagai warga dan rakyat Indonesia ? AMANDEMEN UNDANG-UNDANG DASAR 1945 oleh Oleh: BOY YENDRA TAMIN (Dosen Hukum Tata Negara FH UBH) Memang pertanyaan-pertanyaan di atas bagi sebagian orang akan ditangkap sebagai suatu pandangan yang betolak belakang dengan isu-isu yang berkembang dan dipublis pada masa-masa menjelang reformasi dan pasca reformasi. AMANDEMEN UNDANG-UNDANG DASAR 1945 oleh Oleh: BOY YENDRA TAMIN (Dosen Hukum Tata Negara FH UBH) Pandangan saya ini mudah-mudahan salah dan mungkin skeptis. Muladi (Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional) Dalam acara konvensi ikatan alumni lembaga mengatakan bahwa ada tiga masalah mendasar untuk mengamandemen UUD 1945. Pertama. Mengapa ? AMANDEMEN UNDANG-UNDANG DASAR 1945 oleh Oleh: BOY YENDRA TAMIN (Dosen Hukum Tata Negara FH UBH) Prof. bahwa amandemen tidak semata-mata hanya pemenuhan syarat terhadap pasal 37 yang mencantumkan persyaratan . Masalah ini tentu akan menjadi kontradiktif dengan para pengajur perubahan. dan tidak hanya dengan atas nama rakyat. Tetapi.PENDAHULUAN. termasuk para pengajur dan pendorong amandemen terhadap UUD 1945 harus mengakaji ulang atas berbagai amandemen terhadap UUD 1945. Percaya atau tidak amandemen UUD 1945 bisa hanya menjadi kepentingan para elit politik dan bukan merupakan kebutuhan rakyat secara keseluruhan. Ketiga. Amandemen untuk rakyat harus teruji dan valid. berapa persenkah yang memahami dengan baik amanden UUD 1945. krisis baik ekonomi maupun instabilitas politik. Kedua. menurut hemat saya pengajur perubahan. agaknya tidak begitu banyak masyarakat Indonesia yang memahami betul apa substansi dan konsekuensi atas amandemen terhadap UUD 1945.

keinginan-keinginan untuk mengamademen UUD 1945 masih terus bergulir. apalagi disentuh sebagaimana kita memperlakukan dan menyentuh UU. Bagi saya melakukan amandemen terhadap UUD 1945 dalam waktu yang relative singkat dari satu amandemen ke amandemen yang lainnya. "Tetapi harus memenuhi syarat filosofis.Mahfud MD:2000. AMANDEMEN UNDANG-UNDANG DASAR 1945 oleh Oleh: BOY YENDRA TAMIN (Dosen Hukum Tata Negara FH UBH) UUD 1945: SEBAGAI KONSTITUSI. dan Politis. ia setidaknya sebagai refleksi atas ketidaktuntasan atau pun sebagai respon atas gagasan-gasasan yang belum tertampung dalam amandemen UUD 1945 yang sudah berlansung. dan kini berkembang lagi gagasan untuk mengandemen UUD 1945 yang kelima. AMANDEMEN UNDANG-UNDANG DASAR 1945 oleh Oleh: BOY YENDRA TAMIN (Dosen Hukum Tata Negara FH UBH) Amandemen UUD 1945 yang sudah berlansung sebanyak empat kali sejak era reformasi bergulir.dan mekanisme pengubahan UUD oleh/ di MPR. ia sebenarnya pekerjaan yang penuh resiko dan resiko itu cenderung hanya dapat dielimnir di atas kertas dan konseptual. Namun. Setelah itu konstitusi mempunya kedudukan sangat penting karena ia harus menjadi landasan penyelenggaraan negara dari berbagai segi sehingga setiap tingkah laku atau kebijaksanaan politik dari setiap pemimpin negara akan senantiasa terlihat relevansinya dengan ketentuan undang-undang dasar (Moh. Ketentuan-ketentuan ini sebagian bersifat aturan hukum dan sebagian bersifat non legal atau ektra legal.40). Sebagai sebuah konstitusi. Ujungnya mungkin penyelesalan. dan yang paling penting apakah rakyat membutuhkannya. AMANDEMEN UNDANG-UNDANG DASAR 1945 oleh Oleh: BOY YENDRA TAMIN (Dosen Hukum Tata Negara FH UBH) . sosiologis. AMANDEMEN UNDANG-UNDANG DASAR 1945 oleh Oleh: BOY YENDRA TAMIN (Dosen Hukum Tata Negara FH UBH) Di dalam dunia politik istilah konstitusi biasanya sekurang-kurangnya dipergunakan untuk melukiskan seluruh sistem pemerintahan suatu negara. AMANDEMEN UNDANG-UNDANG DASAR 1945 oleh Oleh: BOY YENDRA TAMIN (Dosen Hukum Tata Negara FH UBH) Hal itu tentu saja apabila dipahami bahwa UUD 1945 telah menjadi darah kehidupan bangsa Indonesia dan menjadi urat nadi ketatanegaraan Indonesia selama puluhan tahun. bila dicermati. yuridis. yaitu kumpulan ketentuan-ketentuan tentang menetapkan dan yang mengatur pemerintahan. Dibalik yang tampak bisa diatasi ada resiko jangka panjang yang harus dibayar mahal. Setidaknya inilah yang menjadi alasan mengapa UUD 1945 saat diperlakukan layaknya sebagai sebuah UU dan terbaikan sebagai sebuah konstitusi. bahwa sebuah konstitusi atau UUD merupakan kristalisasi dari berbagai pemikiran politik ketika negara akan didirikan atau ketika konstitusi itu disusun. UUD 1945 tentulah tidak bisa diperlakukan. Â Dengan demikian tidak heran apabila kemudian dinyatakan banyak ahli.

jika dihubungkan dengan amandemen UUD 1945 sepertinya relevan. bahwa sebuah konstitusi tidak dapat berlaku seterusnya tanpa perubahan. Konstitusi sebagai hukum dasar (induk seluruh ketentuan hukum di sebuah negara) merefleksikan banyak hal penting bagi negara bersangkutan. Demikian pula halnya dengan UUD 1945 sebagai konstitusi negara Indonesia. maka jelas dalam sebuah konstitusi terkandung suatu ideologi dari bangsa negara. Sebagian substansi konstitusi merefleksikan hal-hal yang monumental dimasa lalu. maka jelas amandemen terhadapnya tidak boleh didorong kebutuhan-kebutuhan temporer.Karena konstitusi itu merupakan kristalisasi dari berbagai pemikiran politik. karena konstitusi adalah karya manusia maka tentunya tidak tidak lepas dari kekurangan-kekurangan. Terhadap hal ini Lito Exposto mengemukakan. Karenanya tidak heran kalau bangsa tertentu memandang konstitusi seakan-akan sebagai barang keramat yang tidak dapat disentuh. Dimanika kehidupan sosial bergerak begitu cepat sering kali tidak bisa diprediksikan para pembuat konstitusi pada saat konstitusi disusun. Ide-ide tentang negara itu tidak dapat dilepaskan dari ideologi yang hidup dan tumbuh dalam diri bangsa Indonesia. Disisi lain secara historis UUD 1945 pada waktu ditetapkan sebagai konstitusi Negara Indonesia tanggal 18 Agustus 1945 . Masalahnya mengapa diperlukan perubahan terhadap UUD 1945 dan untuk kepentingan apa ? AMANDEMEN UNDANG-UNDANG DASAR 1945 oleh Oleh: BOY YENDRA TAMIN (Dosen Hukum Tata Negara FH UBH) Dua hal penting yang mendasari perubahan UUD sebagaimana dikemukakan Lito Exposto. Memahami eksistensi yang demikian. Ia juga bukan sebuah dogma yang harus berlaku abadi tanpa diutak-atik. masa kini dan harapan masa datang. ia merupakan kristalisasi ide-ide tentang negara menjelang lahirnya negara Indonesia. AMANDEMEN UUD 1945 : EVALUASI AMANDEMEN UNDANG-UNDANG DASAR 1945 oleh Oleh: BOY YENDRA TAMIN (Dosen Hukum Tata Negara FH UBH) Seperti dikemukakan sebelumnya. Beberapa ahli menyebut bahwa perubahan itu penting karena dua hal: (a) ia sesungguhnya adalah hasil sebuah kompromi dari beberapa kekuatan politik dengan kepentingan-kepentingan yang berbeda dan (b) kemampuan para penyusunnya yang terbatas. bahwa Konstitusi pada kurun waktu tertentu mungkin dianggap sempurna tetapi pada lain waktu dianggap tidak memadai lagi. maka sebuah konstitusi bukan sekedar aturan belaka mengenai ketatanegaraan. sebuah konstitusi tidak dapat berlaku seterusnya tanpa perubahan. UUD 1945 sebagai sebuah konstitusi. Oleh karena itu. sesaat dan apalagi semata-mata dilatar belajangi kepentingan politik praktis dan berkaitan dengan kekuasaan Disisi lain.

*** . sebelum berfikir untuk melakukan amandemen ke lima. amandemen yang sudah ada saja belum seluruh masyarakat mengetahui dan memahaminya. yang pasti amandemen terhadap UUD 1945 yang sudah berlansung sebanyak 4 kali telah membahwa perubahan yang mendasar dalam sistem ketatanegaraan Indonesia. memerlukan evaluasi dan optimaisasi. Soekarno sebagai UUD sementara. Kenapa ? Dari empat kali amandemen saja. AMANDEMEN UNDANG-UNDANG DASAR 1945 oleh Oleh: BOY YENDRA TAMIN (Dosen Hukum Tata Negara FH UBH) Dari sejumlah amandademen yang telah dilakukan yang telah melahirkan mendasar dalam system ketenanegaraan Indonesia. perubahan-perubahan itu juga mempengaruhi struktur dan mekanisme structural organ-organ negara Republik Indonesia yang tidak dapat lagi dijelaskan menurut cara berpikir lama. AMANDEMEN UNDANG-UNDANG DASAR 1945 oleh Oleh: BOY YENDRA TAMIN (Dosen Hukum Tata Negara FH UBH) PENUTUP. Demikian pandangan sekilas saya sebagai pengantar seminar dan sosialisasi mengenai Amandemen UUD 1945 yang secara mendalam dan mendetil akan disampaikan pembicara Patrialis Akbar. maka setelah empat kali mengalami perubahan. dan (d) pengeuatan cita persatuan dan keragaman dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia. beban dan pkerjaan ketatanegaraan yang harus dibenahi dan dipikul bangsa Indonesia agaknya sudah cukup berat. Sekurang-kurangnya sampai saat ini. kini jumlah materi muatan UUD 1945 seluruhnya mencakup 199 butir ketentuan. Menurut Jimly Assihddiqie. (b) pemisahan kekuasaan dan prinsip checks and balances(c) pemurnian system pemerintah presidential. AMANDEMEN UNDANG-UNDANG DASAR 1945 oleh Oleh: BOY YENDRA TAMIN (Dosen Hukum Tata Negara FH UBH) Jika naskah asli UUD 1945 berisi 71 butir ketentuan. AMANDEMEN UNDANG-UNDANG DASAR 1945 oleh Oleh: BOY YENDRA TAMIN (Dosen Hukum Tata Negara FH UBH) Banyak pokok-pokok pikiran baru yang diadopsikan ke dalam kerangka UUD 1945 itu.dikatakan oleh Ir. Empat diantaranya adalah (a) penegasan dianutnya citademokrasi dan nomokrasi secara sekaligus dan saling melengkapi secara komplamenter. SH. tetapi ini acapkali dijadukan dalil untuk mematahkan kalangan yang tidak menginginkan amandemen terhadap UUD 1945. Tampa mempersoalkan lebih jauh apa yang menjadi latar belakang di amandemen 1945.

keadilan. otoriter. dan memperkokoh Negara Kesatuan Republik Indonesia. Selain itu. kolusi dan nepotisme). persamaan dan persaudaraan. Tuntutuan itu dalam perkembangannya menjadi kebutuhan bersama bangsa Indonesia. tuntutuan itu diwujudkan secara menyeluruh. b. saling mengawasi dan mengimbangi (checks and . yaitu perubahan pertama. Menyempurnakan aturan dasar mengenai tatanan negara dalam mencapai tujuan nasional yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945. Era reformasi memberikan harapan besar terjadinya perubahan menuju penyelenggaraan Negara yang lebih demokratis. Kemudian. yang berbunyi: (1) untuk mengubah Undang-Undang Dasar sekurangkurangnya 2/3 daripada jumlah anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat harus hadir. reformasi juga diharapkan menjadi titik tolak perubahan mental bangsa Indonesia sehingga menjadi bangsa yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran. Menyempurnakan aturan dasar penyelenggaraan negara secara demokratis dan modern melalui pembagian kekuasaan yang Iebih tegas. tanggung jawab. Salah satu tuntutan yang berkembang di masyarakat adalah dilakukannya Amandemen (Perubahan) UUD 1945. dan perubahan keempat. Ø Latar Belakang Lahirnya Amandemen Berhentinya Presiden Soeharto pada tanggal 21 Mei 1998 menjadi awal dimulainya era reformasi di Indonesia. perubahan kedua. Perubahan perubahan itu tetap merupakan satu rangkaian dan satu sistem kesatuan. Amandemen merupakan salah satu upaya inovasi dan kreativitas bangsa Indonesia dalam bernegara. Tuntutan itu didasarkan pada pandangan bahwa UUD 1945 belum cukup memuat landasan kehidupan yang demokratis.Pengertian Amandemen UUD Ø Amandemen adalah perubahan terhadap UUD dengan tujuan untuk memperkuat fungsi dan posisi dari UUD dengan cara mengakomodasi aspirasi politik yang berkembang untuk mencapai tujuan Negara seperti halnya dirumuskan oleh konstitusi itu sendiri. Menyempurnakan aturan dasar mengenai jaminan dan perlindungan hak asasi manusia c. tertutup dan sarat perilaku KKN (korupsi. kejujuran. bertahap dan sistematis dalam empat kali perubahan UUD 1945. pasal-pasalnya bersifat multi tafsir dan membuka peluang terjadinya penyelenggaraan negara yang sentralistik. yaitu pasal 37. pemberdayaan rakyat dan penghormatan pada hak asasi manusia. Ø Adapun dasar hukum perubahan UUD 1945 adalah UUD 1945 itu sendiri. perubahan ketiga. (2) putusan diambil dengan persetujuan sekurang-kurangnya 2/3 daripada jumlah anggota yang hadir. Ø Tujuan Perubahan UUD 1945 Adapun tujuan dilakukannya perubahan UUD 1945 adalah sebagai berikut: a.

11. Ø Perubahan UUD 1945 yang dilakukan oleh MPR yang dilaksanakan empat kali yaitu: . Ø Beberapa contoh sikap positif terhadap pelaksanaan UUD’45 dalam kehidupan berbangsa dan bernegara adalah sebagai berikut. Menaati hukum yang berlaku dengan penuh kesadaran yang tinggi. 9. pasal 17 ayat (2) dan (3). rasional. Dalam sidang yang ditutup pada tanggal 18 Agustus 2000 MPR menetapkan sebagai berikut: . Setelah mempelajari. 7. Menghargai hak dan kewajiban orang lain. 10. pemilihan presiden dan wakil presiden. 3. dan bertanggung jawab. Berpartisipasi dalam kegiatan pemilihan umum secara sukarela. pemilihan kepala daerah secara langsung. Mengikuti pemilihan umum angota legislatif. 2. Melengkapi aturan dasar yang sangat penting dalam penyelenggaraan negara yang demokratis. Pasal 9. menelaah. Pasal 14. Pasal 13 ayat (2). 4. pasal 15.balances) yang lebih ketat dan transparan dan pembentukan lembaga-lembaga negara yang baru sesuai dengan kebutuhan dan tantangan zaman. 8. 6. dan pasal 21. Dalam sidang yang ditutup pada 19 Oktober 1999 MPR menetapkan sebagai berikut: Dengan rahmat Tuhan Yang Maha Esa Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia. Menyempurnakan aturan dasar mengenai jaminan konstitusional dan kewajiban negara terhadap warga negara e. Tidak main hakim sendiri dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapi. Tidak melakukan perbuatan yang anarkis.Perubahan pertama yang ditetapkan dalam Sidang Umum MPR 1999 mencakup sembilan pasal. seperti merusak sarana dan prasarana umum. f. Pasal 7. d. kebutuhan dan kepentingan bangsa dan negara. bangsa dan negara. Pasal 20. Menghormati lembaga-lembaga negara dan pemerintahan sebagai organisasi yang mengatur kehidupan masyarakat. Melakukan budaya kritik kepada pemerintah sesuai dengan prosedur dan aturan yang ada. serta dengan kewenangannya berdasarkan pasal 37 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia mengubah pasal 5 ayat (1). 1. Menyempurnakan aturan dasar mengenai kehidupan bernegara dan berbangsa sesuai dengan perkembangan aspirasi. 5. Menghormati dan menerima adanya aturan pembatasan masa jabatan presiden menjadi 2 kali periode. Perubahan kedua dilaksanakan dalam Sidang Tahunan MPR 2000 menyangkut tujuh bab mendasar. dan mempertimbangkan dengan saksama dan sungguhsungguh hal-hal yang bersifat mendasar yang dihadapi oleh rakyat. Menjunjung tinggi hak asasi manusia dalam kehidupan keseharian. Tidak memaksakan kehendak atau pendapat kepada orang lain dalam musyawarah.

Pasal 28B. IXA.Pasal 18B. serta dengan kewenangannya berdasarkan pasal 37 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia mengubah dan/atau menambah Pasal 18. Pasal 28D. Setelah mempelajari.Dengan rahmat Tuhan Yang Maha Esa Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia. Bab XII. Pasal 28C. Pasal 28 H. Pasal 28F.Pasal 28 I. Pasal 22A. Pasal 28G. Pasal 22B. Pasal 20 Ayat (5). Bab X. Pasal 28 A. Pasal 25E. Pasal 28 J. Pasal 26 Ayat (2) dan Ayat (3). Pasal 20A.hal-hal yang bersifat mendasar yang dihadapi oleh rakyat. Bab XA. Pasal 28 E. bangsa dan negara. Pasal 27 Ayat (3). Bab. Pasal 18 A. . menelaah. dan mempertimbangkan dengan saksama dan sungguhsungguh . Pasal 19.

tentang kelemahan-kelemahan UUD 1945 pasca amandemen. “Nantiâ€�?. majelis itu sudah harus menyelesaikan tugasnya menyusun undang-undang dasar yang baru. UUD itu sesungguhnya tidaklah dimaksudkan sebagai undang-undang dasar yang bersifat permanen. termasuk membentuk Majelis Permusyawaratan Rakyat. Dimensi perubahan itu juga menyentuh tatanan kehidupan politik di tanah air. kata Soekarno. yang menjadi ruang lingkup kajian hukum tata negara. UUD 1945 dan Perubahan Sejak awal disahkannya UUD 1945 pada tanggal 18 Agustus 1945. kita akan membentuk Majelis Permusyawaratan Rakyat. politik. yang dibuat secara “kilatâ€�?. Aturan Tambahan UUD 1945 telah secara implisit menyebutkan bahwa UUD 1945 yang disahkan tanggal 18 Agustus 1945 itu. tetapi juga bidang-bidang hukum yang lain. serta membawa implikasi perubahan yang cukup besar di bidang sosial. yang akan menyusun undang-undang dasar yang lebih lengkap dan sempurna. Dalam 6 bulan setelah MPR terbentuk. gagasan dan hasil-hasil perubahan. Soekarno yang mengetuai sidang-sidang pengesahan UUD itu dengan tegas menyebutkan bahwa UUD 1945 itu adalah undang-undang dasar sementara. Ir.  Â . dan hubungan internasional. saya tentu harus menjelaskan sedikit latar belakang sejarah. Terkait dengan hal itu. jika keadaan telah memungkinkan. yang tidak saja berkaitan dengan hukum tata negara. pertahanan. dan mungkin pula dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan bagi penyempurnaan UUD 1945 pasca amandemen. Tentu semua cakupan masalah yang begitu luas. seperti hukum administrasi. hak asasi manusia dan lain-lan. Dalam enam bulan sesudah berakhirnya Perang Asia Timur Raya. yang menunjukkan adanya perbedaan-perbedaan dengan UUD 1945 sebelum amandemen. Saya ingin pula mengetengahkan serba sedikit analisis. untuk menjadi bahan telaah lebih mendalam.Sistem Ketatanegaraan Pasca Perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Thursday. hanya akan berlaku 12 bulan lamanya. 22 March 2007 Yusril Ihza Mahendra Menteri Sekretaris Negara Republik Indonesia Pendahuluan Sistem ketatanegaraan kita pasca amandemen UUD 1945. sesungguhnya mengandung dimensi yang sangat luas. tidak dapat saya ketengahkan dalam ceramah yang singkat ini. Presiden sudah harus menyelesaikan tugasnya menyusun segala peraturan dan membentuk lembaga-lembaga negara sebagaimana diatur oleh UUD 1945. ekonomi. Ceramah ini hanya akan menyoroti beberapa aspek perubahan konstitusi dan pengaruhnya terhadap lembaga-lembaga negara.

Apa yang terjadi ialah “pergantianâ€�? undang-undang dasar. negara kita ini baru bubar. sampai tibanya era reformasi. sebelum berhasil menyelesaikan tugasnya. tanggal 17 Agustus 1950. dan undang-undang dasar kita akan disempurnakan menurut kehendak rakyat yang terbanyak. yang menyerukan kepada rakyat untuk membentuk partai politik dalam rangka penyelenggaraan pemilihan umum. Mungkin dengan pemilihan umum itu. sebagaimana diatur dalam Ketetapan MPR. tanpa menyebabkan bubarnya negara itu. Pendapat Profesor Notonagoro ketika itu. Saya berpendapat bahwa TAP MPR itu menyalahi ketentuan Pasal 37 UUD 1945. setelah bubarnya Republik Indonesia Serikat. sehingga digantikan dengan Konstitusi Republik Indonesia Serikat. juga dijadikan pegangan. Saya berpendapat. pusat pemerintahan pindah dari Jakarta ke Yogyakarta. Pemahaman itu didukung pula oleh fakta sejarah.   Â Karena Pemilu tidak dapat dilaksanakan. Pendapat yang dikembangkan pada masa itu ialah UUD 1945 tidak dapat diubah. Banyak negara di dunia ini yang mengubah seluruh konstitusinya. demikian dikatakan dalam maklumat. maka UUD 1945 tetap berlaku. dalam sejarah ketatanegaraan Indonesia. yang menjadi latar belakang perumusan ketentuan Aturan Peralihan itu. jika kita mencabut teks Proklamasi tanggal 17 . Pemerintah kita akan berubah. menegaskan berlakunya kembali UUD 1945. Situasi dalam negeri memburuk akibat kedatangan tentara sekutu yang diboncengi pasukan Belanda. bukanlah pendapat yang populer di era sebelum reformasi. dijadikan sebagai acuan dalam perdebatan Badan Pekerja MPR. Istilah yang saya gunakan ini. sebenarnya tidak pernah terjadi “perubahan†�? undang-undang dasar. Pemilihan Umum 1955 telah menghasilkan terbentuknya Konstituante untuk menyusun UUD yang bersifat tetap. Sayangnya pemilihan umum 1 Februari 1946 itu tidak dapat dilaksanakan. seperti saya uraikan tadi.Pemahaman dan penafsiran saya terhadap ketentuan Aturan Peralihan di atas.        Pandangan saya bahwa UUD 1945 harus diubah mengingat latar belakang historis penyusunanannya. bahwa Pembukaan UUD 1945 tidak boleh diubah. Jika pembukaan diubah. pada tanggal 27 Desember 1949. Kalau ingin diubah harus melalui referendum. ketika membahas perubahan UUD 1945 di era reformasi. UUD inipun diganti lagi dengan UUD Sementara Tahun 1950. dengan diterbitkannya Maklumat Pemerintah tanggal 3 November 1945. dari yang satu ke yang lainnya. maka akan terjadi pembubaran negara. Perang Kemerdekaan berkecamuk. Dalam maklumat itu antara lain dikatakan bahwa pemilu diperlukan agar pemerintahan negara kita dapat disusun secara demokratis. maupun tuntutan perkembangan zaman. didasarkan atas notulen perdebatan dalam rapat-rapat pengesahan UUD 1945. Jadi. Dekrit itu. Namun majelis ini dibubarkan Presiden Soekarno melalui Dekrit Presiden tanggal 5 Juli 1959. yang akan dilaksanakan tanggal 1 Februari 1946. dengan segala kontroversi yang terdapat di dalamnya. dan kita kembali ke susunan Negara Kesatuan.

mungkin akan menjadi “pahlawan�?. Majelis Permusyawaratan Rakyat. sehingga majelis itu tidak berdaya dalam mengawasi Presiden. dan bahkan tidak dapat melaksanakan tugas dan kewenangannya secara optimal. memberikan titik berat kekuasaan kepada Presiden. Jika cara ini ditempuh. menyatakan berhenti di era awal reformasi. sehingga mengandung segi-segi kelemahan. atas desakan berbagai pihak. sebagaimana ditunjukkan baik pada masa Presiden Soekarno maupun Presiden Soeharto. tetapi masalah politik. Mereka yang terlibat dalam revolusi yang berhasil. tanggal 21 Mei 1998. Sebaliknya kaum revolusioner yang gagal. Di luar cara itu. Negara kita sudah ada sejak tanggal 17 Agustus 1945.     Ketidakinginan melakukan perubahan terhadap UUD 1945 di zaman sebelum reformasi. maka perubahan itu dengan sendirinya pula akan gagal. Latar Belakang Perubahan Keinginan politik untuk mengubah UUD 1945 di era reformasi didorong oleh pengalamanpengalaman politik selama menjalankan UUD itu dalam dua periode.        . yakni periode yang disebut sebagai Orde Lama (1959-1966) dan periode yang disebut sebagai Orde Baru (1966-1998).         Presiden Soekarno bahkan mengangkat seluruh anggota MPR tanpa proses Pemilu. Tentu perubahan itu dilakukan dengan cara-cara demokratis dan konstitusional. UUD 1945 memang dibuat dalam keadaan tergesagesa. dan penjelmaan seluruh rakyat. mungkin akan dituduh sebagai “pengkhianat�?. UUD 1945 sebelum amandemen. Jika berhasil. baik terang-terangan maupun terselubung. Presiden Soeharto telah merekayasa undang-undang susunan dan kedudukan MPR. MPR Orde Baru berkali-kali mengangkat Presiden Soeharto. MPRS pernah mengangkat Presiden Soekarno sebagai presiden seumur hidup. Keinginan untuk menghindari kediktatoran. maka sangat tergantung apakah tindakan itu dapat dipertahankan atau tidak. meskipun disebut sebagai pelaksana kedaulatan rakyat. dan membangun pemerintahan yang demokratis. sampai akhirnya. baik terbuka maupun terselubung.Agustus 1945. UUD 1945 juga mengandung ketidakjelasan mengenai batas periode masa jabatan Presiden. adalah perubahan melalui revolusi. yang memungkinkan munculnya pemerintahan diktator. Politik dapat menentukan diubah atau tidaknya UUD. dalam kenyataannya susunan dan kedudukannya diserahkan untuk diatur dalam undang-undang. bukanlah masalah hukum tata negara. Jika gagal. tanpa bergantung kepada UUD 1945 yang baru disahkan sehari kemudian. Seperti saya katakan di awal ceramah ini. maka konstitusi itu akan diterima dan kemudian menjadi sah. menjadi latar belakang yang penting yang mendorong proses perubahan UUD 1945 pada era reformasi.

Akhinya terjadilah empat kali perubahan. Demikian pula keinginan untuk memperjuangkan tegaknya hukum dan pengakuan serta perlindungan terhadap hak asasi manusia. ternyata lebih banyak materi muatannya dari naskah sebelum dilakukan perubahan. yang tidak selalu mudah dipahami dari sudut pandang hukum tata negara. agar terciptanya “check and balances�? juga terasa begitu kuatnya. Dengan demikian. memang menunjukkan keinginan fraksi-fraksi untuk menghindari perdebatan yang bersifat filsafat dan ideologi. Batang . Dalam situasi seperti itu. Itulah antara lain. Proses perubahan itu dipersiapkan oleh Panita Ad Hoc MPR. namun semua fraksi yang ada di MPR sejak awal telah menyepakati untuk tidak mengubah Pembukaan UUD 1945. sehingga kewenangan-kewenangan Pemerintah Daerah juga perlu diperkuat. memang cukup besar. Pada akhirnya.Keinginan untuk menata ulang kedudukan lembaga-lembaga negara. Usul perubahan itu kemudian mereka tarik. Keinginan untuk memberikan perhatian yang lebih besar kepada daerah-daerah juga demikian menguat. Kesepakatan untuk tidak mengubah Pembukaan ini. pikiran-pikiran dasar bernegara sebagaimana termaktub di dalamnya. yang telah lama menjadi harapan dan impian. tetap seperti semula. yang secara keseluruhan. sebagaimana teks Piagam Jakarta. terasa demikian menguat pada era reformasi. Perubahan Mendasar Di Bidang Ketatanegaraan Secara umum dapat kita katakan bahwa perubahan mendasar setelah empat kali amandemen UUD 1945 ialah komposisi dari UUD tersebut. dalam bentuk penambahan dan penghapusan ayat-ayat. latar belakang keinginan dan aspirasi yang mengiringi perubahan Undang-Undang Dasar 1945. yang semula terdiri atas Pembukaan. baik dalam proses penyusunan UUD 1945 di masa pendudukan Jepang maupun perdebatan-perdebatan yang sama di Konstituante. yang ternyata tidak menghasilkan kekuatan mayoritas. yang mencerminkan kekuatan fraksi-fraksi yang ada di dalamnya. Namun perubahan itu dilaksanakan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat hasil Pemilu 1999. yakni Fraksi Partai Persatuan Pembangunan dan Fraksi Partai Bulan Bintang memang mengusulkan perubahan ketentuan Pasal 29 ayat (2) UUD 1945. dapat dipahami jika perumusan pasal-pasal perubahan penuh dengan kompromi-kompromi politik. khusus yang berkaitan dengan syariat Islam. namun secara keseluruhan. Fraksi PBB menegaskan bahwa mereka menunda memperjuangkan amandemen Pasal 29 itu sampai tiba saat yang memungkinkan untuk memperjuangkannya. yang nampaknya memetik pelajaran dari sejarah perdebatan. Namun perubahan itu tidak mereka tujukan kepada Pembukaan sebagaimana kedudukan awal dari Piagam Jakarta. Meskipun terjadi empat kali perubahan. mengingat kemungkinan gagal memperoleh kesepakatan. Dua fraksi. tetap terdiri atas 37 Pasal. untuk mencegah terjadinya disintegrasi. yang diikuti oleh partai-partai politik. keinginan yang teguh untuk membangun kesejahteraan rakyat. Namun implementasi pikiran-pikiran dasar itu ke dalam struktur ketatanegaraan. baik lama maupun baru. sebagaimana akan saya jelaskan nanti.

namun sifat “kuasi federal�? tercermin dalam keberadaan DPD dan penegasan Undang-Undang Dasar tentang otonomi daerah. MPR disebut sebagai “lembaga tertinggi negara�?. Dengan demikian. Komposisi keanggotaan MPR yang semula terdiri atas anggota DPR ditambah dengan utusan daerah dan golongan-golongan juga diubah. Tugas-tugas MPR menjadi lebih terbatas pada mengubah Undang-Undang Dasar. demikian besar dan luas kewenangannya. Indonesia tetaplah sebuah negara kesatuan. sebuah lembaga baru yang dibentuk sebagai hasil dari amandemen UUD 1945. Wacana negara federal sempat meramaikan diskusi selama awal era reformasi. menetapkan Garis-garis Besar Haluan Negara. dalam hal Wakil Presiden yang ada menggantikan Presiden di tengah masa jabatannya. yang semula ada dan kedudukannya mengandung kontroversi karena tidak turut disahkan oleh PPKI tanggal 18 Agustus 1945. dihapuskan. Ada sejumlah tugas dan kewenangan DPD yang dirumuskan UUD 1945 pasca amandemen. Kesepakatan yang dicapai ialah. sebagian dimasukkan.         Keberadaan DPD. memberhentikan Presiden dalam proses “impeachment�? dan memilih Wakil Presiden yang baru.Tubuh dan Penjelasannya. Materi yang dikandungnya. yang juga berwenang mengeluarkan ketetapan-ketetapan yang hierarki hukumnya berada di bawah Undang-Undang Dasar dan di atas undang-undang. diubah dan ada pula yang dirumuskan kembali ke dalam pasal-pasal amandemen. dilaksanakan sepenuhnya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat. MPR tidak lagi menempati posisi sebagai lembaga tertinggi negara. Ini berarti semua lembaga negara yang disebutkan di dalam Undang-Undang Dasar sama-sama melaksanakan kedaulatan rakyat. antara . maka sebelum amandemen.         Karena kewenangan dan posisinya yang demikian penting. Penjelasan UUD 1945. namun dilaksanakan “menurut undang-undang dasar�?. sesuai dengan tugas dan kewenangan masing-masing. berawal dari upaya untuk mencari kompromi antara gagasan untuk tetap mempertahankan susunan negara kesatuan. juga berkaitan dengan pelaksana kedaulatan rakyat. Majelis yang terdiri atas anggota-anggota DPR ditambah dengan utusan dari daerah-daerah dan golongan-golongan itu. berubah menjadi hanya terdiri atas Pembukaan dan pasal-pasal. Kewenangan MPR mengeluarkan Ketetapan-ketetapan juga dihapuskan. serta mengubah Undang-Undang Dasar. kedaulatan yang berada di tangan rakyat. kedaulatan rakyat tidak lagi dilaksanakan oleh MPR. Sebelum amandemen. menjadi terdiri atas anggota DPR dan anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD). dengan gagasan membentuk negara federal. Antara lain mengangkat dan memberhentikan Presiden.        Perubahan mendasar UUD 1945 setelah empat kali amandemen. Setelah amandemen. dan penjelmaannya ke dalam lembaga-lembaga negara.

amandemen membentuk lembaga itu. baik yang datang dari DPR maupun dari Presiden. namun dewan itu tidak dapat mengajukannya langsung kepada Presiden. merupakan hal baru dalam UUD 1945. juga telah membalikkan kekuasaan membentuk undang-undang. Pada akhirnya. baik oleh MK maupun oleh MA. Amandemen UUD 1945. Namun kewenangan yudikatif. bahkan sejak awal proses penyusunan UUD 1945. Keberadaan Mahkamah Konstitusi telah lama menjadi wacana. kewenangan legislatif tetap berada pada DPR dan Presiden. tidak lagi berada dalam satu lembaga. menjadi kekuasaan DPR. Sampai empat kali amandemen. dalam sebuah proses “impeachment�?. Namun kewenangan yudikatif tetap berdiri sendiri dan tidak dapat dicampuri oleh lembaga yang lain. memutus sengketa kewenangan antar lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh UUD. rancangan undang-undang itu tidak dapat disahkan menjadi undang-undang. serta perimbangan keuangan pusat dan daerah. pemekaran dan penggabungan daerah.        Meskipun DPD berwenang mengajukan RUU di bidang-bidang tertentu. RUU yang diajukan DPD dapat saja ditolak oleh DPR untuk dijadikan sebagai usul inisiatif. memutus pembubaran partai politik dan memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum. Kewenangan ini. dengan kewenangan untuk menguji undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar. yang semula berada di tangan Presiden. sejak awal UUD 1945 memang tidak menerapkan Trias Politica Montisquie dalam hal kekuasaan penyelengaraan kewenangan legislatif. Kewenangan untuk menguji peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang diserahkan kepada Mahkamah Agung. Berbagai wacana mengenai keberadaan lembaga itu muncul kembali menjelang dan di awal era reformasi.        . Mahkamah ini juga berwenang memberikan putusan atas pendapat DPR bahwa mengenai dugaan bahwa Presiden dan atau Wakil Presiden yang melakukan pelanggaran terhadap Undang-Undang Dasar. Adanya kewenangan untuk melakukan pengujian terhadap peraturan perundangundangan. hubungan pusat dan daerah. Amandemen telah menciptakan badan yudikatif baru yakni Mahkamah Konstitusi. Namun setiap rancangan undang-undang. yang berkaitan dengan otonomi daerah. dan kasus-kasus tertentu. dimaksudkan untuk menciptakan “check and balances�? antara kewenangan Presiden dan DPR dalam bidang legislatif. pembentukan. DPD juga diberi kewenangan untuk melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan undang-undang tertentu sebagaimana disebutkan dalam Pasal 22 D ayat (3) UUD 1945. wajib untuk dibahas bersama untuk mendapatkan persetujuan bersama.lain dapat mengajukan rancangan undang-undang kepada DPR. Dengan demikian. yakni Mahkamah Agung seperti sebelum amandemen. Tanpa persetujuan kedua pihak. pengelolaan sumber daya alam dan sumberdaya ekonomi lainnya. Sebagaimana kita maklumi.

DPR bersama-sama dengan Presiden memegang kewenangan legislasi dalam membentuk undang-undang. mengingat pada waktu itu Indonesia berada di bawah pendudukan Jepang. usulan dan pernyataan pendapat. seperti sebelum amandeman.Amandemen UUD 1945. Sepanjang sejarah UUD 1945. yang bertugas memberikan nasihat dan pertimbangan kepada Presiden. Amandemen juga menciptakan lembaga baru seperti Komisi Yudisial. DPR diberikan kewenangan untuk melakukan pengawasan terhadap jalannya pemerintahan. Syarat untuk menjadi Presiden yang semula harus orang Indonesia asli. GBHN juga dihapuskan. dan meneguhkan posisi bank sentral. dan kasuskasus lain.       Presiden dan Wakil Presiden tidak lagi diangkat dan diberhentikan oleh MPR karena melanggar haluan negara seperti sebelum amandemen. Soekarno mengajak beliau keluar ruangan dan meyakinkan Baswedan. Karena itu tidak lagi bertanggung jawab kepada MPR. Salah seorang anggota PPKI. tidak banyak mengalami perubahan dibandingkan dengan keadaan sebelum amandemen. walaupun diakui bahwa sistem pemilihan presiden pasca amandemen UUD 1945 itu. namun tuduhan itu harus diputuskan terbukti atau tidaknya oleh Mahkamah . menentang rumusan pasal itu. Ir. Wakil Presiden dan para menteri tidak terikat pada kewajiban untuk melaksanakan kemauan DPR. Presiden dan Wakil Presiden dipilih langsung oleh rakyat. Namun Presiden. selain menciptakan lembaga-lembaga baru. tidak pernah ada penafsiran resmi tentang apa yang dimaksudkan dengan orang Indonesia asli itu. Abdurrahman Baswedan. beliau mengatakan kepada saya. Benar tidaknya keterangan Baswedan. Namun Presiden. Dewan Pertimbangan Agung. Namun keberadaan Badan Pemeriksa Keuangan. telah diubah menjadi warganegara Indonesia sejak kelahirannya. tetapi juga menghapuskan lembaga-lembaga yang ada sebelumnya. Calon Presiden dan Wakil Presiden harus menyusun programnya sendiri untuk ditawarkan kepada rakyat dalam proses pemilihan. merupakan sistem pemilihan Presiden yang paling rumit di dunia. bahwa rumusan itu adalah taktik agar Presiden Indonesia nanti bukan orang Jepang. setelah amandemen UUD 1945. Kini tibalah saatnya bagi saya untuk menguraikan perubahan-perubahan penting dan mendasar tentang lembaga Presiden. DPR dapat “menuduh�? Presiden melakukan pelanggaran terhadap undang-undang dasar. saya tidak dapat memastikannya karena tidak didukung oleh data pendukung lainnya. misalnya dihapuskan. Dalam praktik pemilihan Presiden pertama secara langsung. Memang tidak mudah untuk memahami kriteria orang Indonesia asli. dan tidak pernah memperoleh kewarganegaraan lain atas kehendaknya sendiri. menunjukkan keberhasilan. Sebagai gantinya Presiden membentuk sebuah dewan pertimbangan. dan BPUPKI juga dibentuk atas inisiatif Pemerintah pendudukan Jepang. Presiden tidak dapat membubarkan DPR. Wakil Presiden dan para menteri. dari Partai Arab Indonesia. Namun. yang sebelumnya hanya diatur di dalam undang-undang. tidak bertanggung jawab kepada lembaga itu. baik disampaikan dalam bentuk rekomendasi. saran.

Kewenangan Presiden untuk mengangkat duta dan menerima duta negara lain. Dimasukkannya pasal-pasal HAM memang menandai era baru Indonesia. juga dilakukan dengan memperhatikan pertimbangan DPR. DPR baru-baru ini. Selain perubahan-perubahan mendasar pada lembaga-lembaga negara.         Amandemen UUD 1945 memang berusaha untuk mengurangi kekuasaan yang begitu besar yang berada di tangan Presiden. yang begitu banyak melakukan pembubaran. Tuduhan itu tidak dapat ditujukan kepada para menteri yang menjadi pembantu Presiden. Pemerintah dan DPR. karena Presiden telah kehilangan hak prerogatif untuk mengangkat dan memberhentikan kedua pejabat itu. dan Presiden menyusun programnya sendiri. Aturan seperti ini tidak lazim dalam konstitusi yang ada di dunia ini. Dalam menjalankan tugasnya Presiden dibantu oleh satu orang Wakil Presiden dan menterimenteri negara. Memang UUD 1945 sebelum amandemen. Rumusan pembentukan dan pembubaran kementerian negara harus diatur dengan undangundang. baik para pakar konstitusi. aturan itu kini telah ada di dalam UUD 1945 pasca amandemen. GBHN sudah tidak ada lagi. Presiden tentu harus membentuk kabinet yang diperkirakan akan dapat melaksanakan program-programnya yang telah didukung oleh rakyat. di samping juga mensahkan undang-undang tentang HAM pada masa pemerintahan Presiden Habibie. Namun. muncul sebagai reaksi atas perilaku Presiden Abdurrahman Wahid. amandemen UUD 1945 juga telah memuat begitu banyak pasal-pasal tentang pengakuan hak asasi manusia. sehingga menjadi bahan kritik. Namun pembentukan dan pembubaran kementerian negara diatur dengan undang-undang. Penutup . Demikian pula dalam pengangkatan dan pemberhentian Panglima TNI dan Kapolri. Ketentuan yang terakhir ini. boleh dikatakan sangat sedikit memuat ketentuan-ketentuan tentang hal itu. kecuali dalam sistem pemerintahan parlementer. sebagaimana diterapkan oleh Presiden Soekarno dan Soeharto.Konstitusi. pembentukan serta pergantian menteri. Untuk melaksanakan program itu. bagaimanapun juga. menyebabkan panglima TNI dan Kapolri bukan lagi pejabat setingkat menteri negara dan menjadi anggota kabinet. Masa jabatan Presiden dibatasi hanya dua periode. dilakukan Presiden setelah mendapat pertimbangan DPR. juga telah mensahkan berbagai instrument HAM internasional. maupun politisi dan aktivis HAM. telah mengajukan RUU tentang Kementerian Negara kepada Presiden. yang kita harapkan akan lebih memperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan hak asasi manusia. sebelum dilanjutkan pada sidang MPR untuk meng�?impeach�? Presiden. untuk mencegah terulangnya pemerintahan tanpa batasan yang jelas seperti di masa lalu.

Sebagian besar undangundang pelaksanaannya. kecuali undang-undang tentang kementerian negara seperti saya katakan tadi. telah selesai disusun. Penerapan perubahan itu. . serta kedewasaan bernegara para pelaksananya. tidaklah mudah. dan menjadi bagian sejarah perjalanan bangsa ke depan.Saya telah menguraikan perubahan-perubahan mendasar sistem ketatanegaraan kita pasca amandemen UUD 1945. Sistematika perumusan pasal-pasal juga menyulitkan penafsiran sistematis. dan merumuskan ulang seluruh hasil amandemen itu secara sistematis. Hal ini disebabkan oleh keengganan MPR untuk menambah jumlah pasal UUD 1945. seperti istilah “tindak pidana berat�? dan “perbuatan tercela�? yang dapat dijadikan sebagai alasan impeachment kepada Presiden dan Wakil Presiden. Namun. Tentu saja penerapan dan pelaksanaan sebuah undang-undang dasar akan sangat dipengaruhi oleh situasi perkembangan zaman. sangatlah mutlak diperlukan untuk mengatasi kekurangan dan kelemahan rumusan sebuah undang-undang dasar. Tanpa itu. semoga perubahan itu membawa perjalanan bangsa dan negara kita ke arah yang lebih baik. dapat diselewengkan ke arah yang berlawanan. maupun penerapannya dalam praktik. apapun juga. seringkali pula disebabkan oleh ketidakjelasan rumusan pasal-pasal UUD 1945 pasca amandemen. Saya hanya berharap. Bahasa yang digunakan kerapkali bukan bahasa hukum. masih mengandung banyak kelemahan dan kekurangan. sehingga perlu untuk terus-menerus disempurnakan. baik dalam merumuskan undang-undang pelaksanaanya. Kesulitan merumuskan undang-undang pelaksanaannya itu. Adanya semangat para penyelenggara negara yang benar-benar berjiwa kenegerawanan. Namun. amandemen konstitusi itu telah terjadi. undang-undang dasar yang baik dan sempurna pun.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful