Cara Melakukan Pemeriksaan Trauma Oromaksilofasial dan Penanganan Kegawat-daruratan Trauma Oromaksilofasial

Melva Sirait 160121120001

Peserta Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut Dan Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Abstrak : Trauma oromaksilofasial adalah trauma yang menyebabkan cedera pada jaringan lunak mulut, dentoalveolar, serta fraktur wajah. Cedera pada pada jaringan lunak dapat berupa abrasi, kontusio, laserasi dan luka bakar. Kasus trauma oromaksilofasial adalah kasus yang cukup banyak ditemukan di unit gawat darurat hampir sebagian besar rumah sakit. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa penyebab trauma oromaksilofasial paling banyak disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas dan korban tersebut ternyata lebih banyak dialami oleh laki-laki. Terapi yang dilakukan pada penderita pun bervariasi mulai dari hanya pemberian obatobatan, penjahitan luka, pencabutan gigi, alveolektomi, serta reposisi dan fiksasi. Kelainan-kelainan seperti disebut di atas, mengharuskan kita untuk

melakukan pemeriksaan yang lebih lengkap, konsultasi kepada bagian lain yang terkait karena trauma maksilofasial dapat menjadi kasus yang kompleks dan mungkin diperlukan keterlibatan multispesialis dalam manajemennya.

Kata kunci: Trauma oromaksilofasial, pemeriksaan trauma, penanganan trauma

1

BAB I PENDAHULUAN

Trauma oromaksilofasial berhubungan dengan cedera apapun pada wajah atau rahang yang disebabkan oleh kekuatan fisik, benda asing atau luka bakar. Trauma oromaksilofasial termasuk cedera pada salah satu struktur tulang ataupun kulit dan jaringan lunak pada wajah. Setiap bagian dari wajah mungkin dapat terpengaruh. Gigi dapat lepas atau goyang. Mata dengan otot-ototnya, saraf dan pembuluh darahnya mungkin mengalami cedera sehingga dapat menyebabkan gangguan penglihatan, diplopia, pergeseran posisi dari bola mata dan juga seperti halnya rongga mata yang dapat retak oleh pukulan yang kuat. Kerusakan jaringan lunak seperti edema, kontusio, abrasi, laserasi dan avulsi. Rahang bawah (mandibula) dapat mengalami dislokasi. Meskipun dilengkapi oleh otot-otot yang kuat untuk mengunyah, rahang termasuk tidak stabil bila dibandingkan dengan tulang-tulang lainnya sehingga dengan mudah mengalami dislokasi dari sendi temporomandibular yang menempel ke tengkorak.1 Kelainan-kelainan seperti disebut di atas, mengharuskan kita untuk melakukan pemeriksaan yang lebih lengkap, konsultasi kepada bagian lain yang terkait karena trauma maksilofasial dapat menjadi kasus yang kompleks dan mungkin diperlukan keterlibatan multispesialis dalam manajemennya. Trauma oromaksilofasial merupakan salah satu tantangan terbesar untuk pelayanan kesehatan masyarakat di seluruh dunia karena insidennya yang tinggi. Dari penelitian dilaporkan bahwa kecelakaan lalu lintas merupakan penyebab utama dari traumamaksilofacial. Selain itu penyebab lainnya yang tersering ialah kekerasan fisik, konsumsi alkohol yang dapat memicu terjadinya tindakan kekerasan dan kecelakaan, serta trauma oromaksilofasial akibat olahraga.

2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Defenisi Trauma oromaksilofasial adalah suatu ruda paksa yang mengenai wajah dan jaringan sekitarnya.2 Trauma pada jaringan oromaksilofasial dapat mencakup jaringan lunak dan jaringan keras. Yang dimaksud dengan jaringan lunak wajah adalah jaringan lunak yang menutupi jaringan keras wajah. Sedangkan yang dimaksud dengan jaringan keras wajah adalah tulang kepala yang terdiri dari : 1 1. Tulang hidung 2. Tulang arkus zigomatikus 3. Tulang mandibula 4. Tulang maksila 5. Tulang rongga mata 6. Gigi 7. Tulang alveolus 2.2 Etiologi 1,3,4,5,6 Penyebab trauma oromaksilofasial bervariasi, mencakup kecelakaan lalu lintas, kekerasan fisik, terjatuh, olah raga dan trauma akibat senjata api. Kecelakaan lalu lintas adalah penyebab utama trauma oromaksilofasial yang dapat membawa kematian dan kecacatan pada orang dewasa secara umum dibawah usia 50 tahun dan angka terbesar biasanya terjadi pada pria dengan batas usia 21-30 tahun.
a. Fisik

Kecelakaan lalu lintas merupakan penyebab utama fisik terjadinya trauma oromaksilofasial 1. Beberapa literatur mengungkapkan terdapat hubungan antara

3

posisi duduk pengemudi atau penggunaan sistem proteksi terhadap tingkat keparahan cedera oromaksilofasial pada pasien kecelakaan lalu lintas. Selain kecelakaan lalu lintas, etiologi fisik lainnya yang merupakan penyebab trauma oromaksilofasial yaitu jatuh ketika bermain, kecelakaan kerja atau industri, kecelakaan sewaktu berolahraga, gigitan binatang, perkelahian dan lain- lain. b. Kimia Trauma oromaksilofasial akibat bahan kimia biasanya mempunyai manifestasi klinis berupa luka bakar di sekitar mulut dan wajah. Zat kimia seperti kaporit, kalium perpangat, asam kromat, fenol dan fosfor putih dapat bersifat oksidatif, juga larutan basa seperti kalium hidroksida menyebabkan denaturasi protein. Asam sulfat merusak sel karena bersifat cepat menarik air. Gas yang dipakai dalam peperangan menimbulkan luka bakar dan menyebabkan anoksia sel bila berkontak dengan kulit atau mukosa. Trauma oromaksilofasial akibat bahan kimia dapat terjadi akibat kelengahan, pertengkaran, kecelakaan kerja, kecelakaan di industri, laboratorium dan juga akibat penggunaan gas beracun pada perang. c. Elektrik Kecelakaan yang disebabkan faktor elektrik terjadi karena arus listrik mengaliri tubuh, hal ini biasa terjadi pada kecelekaan kerja petugas listrik atau dapat juga akibat petir. Pada kecelakaan tersengat arus listrik didaerah kepala, penderita dapat pingsan lama dan mengalami henti nafas, dapat juga terjadi oedem otak. d. Termis Luka bakar yang terjadi pada wajah juga dikategorikan termasuk dalam trauma oromaksilofasial, yang dapat disebabkan oleh karena benda panas, gesekan, elektrik, radiasi, atau zat kimia. 1 Trauma oromaksilofasial akibat termis dapat terjadi akibat kelengahan seperti kebakaran rumah tangga akibat gas yang meledak dan lain lain. Bagi pasien dengan kecelakaan lalu lintas yang fatal menjadi masalah karena harus rawat inap di rumah sakit dengan cacat permanen yang dapat mengenai ribuan orang per tahunnya. Berdasarkan studi yang dilakukan, 72%

4

kematian oleh trauma oromaksilofasial paling banyak disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas (automobile).

5

Berikut ini tabel etiologi trauma oromaksilofasial. 7 Persentase (%) Dewasa Kecelakaan lalu lintas Penganiayaan Olah raga Jatuh Lain-lain 40-45 10-15 5-10 5 5-10

Anak-anak Kecelakaan lalu lintas Penganiayaan/berkelahi Olah raga(termasuk naik sepeda) Jatuh 10-15 5-10 50-65 5-10

2.3 Klasifikasi Trauma oromaksilofasial dapat diklasifikasikan menjadi dua bagian, yaitu trauma jaringan keras wajah dan trauma jaringan lunak wajah. Trauma jaringan lunak biasanya disebabkan trauma benda tajam, akibat pecahan kaca pada kecelakaan lalu lintas atau pisau dan golok pada perkelahian. 8,9 2.3.1 Trauma jaringan lunak wajah 7,8 Luka adalah kerusakan anatomi, diskontinuitas suatu jaringan oleh karena trauma dari luar. Trauma pada jaringan lunak wajah dapat diklasifikasikan berdasarkan: 1. Berdasarkan jenis luka dan penyebab    Ekskoriasi Luka sayat, luka robek , luka bacok. Luka bakar

6

Luka tembak

2. Berdasarkan ada atau tidaknya kehilangan jaringan 3. Dikaitkan dengan unit estetik

Menguntungkan atau tidak menguntungkan, dikaitkan dengan garis Langer. (Gambar 1)

Gambar 1. (A) Laserasi yang menyilang garis Langer tidak menguntungkan mengakibatkan penyembuhan yang secara kosmetik jelek. B. Insisi fasial ditempatkan sejajar dengan garis Langer 9

2.3.2 Trauma jaringan keras wajah 7,8,10,11 Klasifikasi trauma pada jaringan keras wajah di lihat dari fraktur tulang yang terjadi dan dalam hal ini tidak ada klasifikasi yg definitif. Secara umum dilihat dari terminologinya (pengistilahan) : I. Tipe fraktur 1. Fraktur simpel • • Merupakan fraktur sederhana, liniear yang tertutup misalnya pada kondilus, koronoideus, korpus dan mandibula yang tidak bergigi. Fraktur tidak mencapai bagian luar tulang atau rongga mulut. Termasuk greenstik fraktur yaitu keadaan retak tulang, terutama pada anak dan jarang terjadi.

2. Fraktur kompoun • Fraktur lebih luas dan terbuka atau berhubungan dengan jaringan lunak

7

fraktur mencakup seluruh tulang. hair line.• Biasanya pada fraktur korpus mandibula yang mendukung gigi. 2. 2. Tranversal. 3. tumor ganas. Fraktur komunisi • Benturan langsung terhadap mandibula dengan objek yang tajam seperti peluru yang mengakibatkan tulang menjadi bagian bagian yang kecil atau remuk. 4. Komplit. Tidak komplit. bisa horizontal atau vertikal. dan kropresi ( lekuk ) III. dan hampir selalu tipe fraktur kompoun meluas dari membran periodontal ke rongga mulut. Perluasan tulang yang terlibat 1. II. Hubungan antar Fragmen 1. disini fragmen fraktur terjadi perpindahan tempat 2. seperti pada greenstik. Komunisi (remuk) IV. Konfigurasi ( garis fraktur ) 1. Spiral (berputar) 4. jadi sifatnya juga seperti fraktur kompoun dengan kerusakan tulang dan jaringan lunak. bahkan beberapa luka yang parah dapat meluas dengan sobekan pada kulit. Displacement. bisa terjadi berupa : • Angulasi / bersudut 8 . Undisplacement. • Bisa terbatas atau meluas. Fraktur patologis • keadaan tulang yang lemah oleh karena adanya penyakit penyakit tulang. seperti Osteomyelitis. Oblique ( miring ) 3. kista yang besar dan penyakit tulang sistemis sehingga dapat menyebabkan fraktur spontan.

Prosesus koronoideus d. Dento-alveolar B. Fraktur pada daerah mandibula A. Prosesus kondiloideus c. Ramus mandibula f. Khusus pada maksila fraktur dapat dibedakan : a. Korpus mandibula g. dan Le Fort III c. Fraktur Le Fort I. Le Fort II. Dento alveolar b. berdasarkan lokasi anatomi fraktur dapat mengenai daerah : a. Corpus G. Parasimfisis. Ramus E. Angulus F. Angulus mandibula e.10 V. Midline / simfisis menti h. Simfisis H. Lateral ke midline dalam regio insisivus Gambar 2. Fraktur blow-out (fraktur tulang dasar orbita) b.• • • • Distraksi Kontraksi Rotasi / berputar Impaksi / tertanam Pada mandibula. Kondilar C. Koronoid D. Fraktur segmental maksila 9 .

(A). III Le Fort III (pandangan anterior) (B). I Le Fort I.Gambar 3. III Le Fort III (pandangan sagital) 11 10 . II Le Fort II. I Le Fort I. II Le Fort II.

tanda vital dan mekanisme cedera.8 Pendekatan awal terhadap pasien trauma oromaksilofasial akut sedikit berbeda dengan cedera yang lain. adekuasi dari ventilasi. Primary survey adalah penilaian terhadap keadaan penderita dan prioritas terapi berdasarkan jenis luka. Selama primary survey. keadaan yang mengancam nyawa harus dikenali dan resusitasinya dilakukan saat itu juga. dan kontrol perdarahan eksternal.BAB III PEMBAHASAN Gambar 4. Pemeriksaan Primary Survey (ABCDE) 7.1. Urutan kejadian trauma oromaksilofasial 9 3. Perhatian harus segera diarahkan terhadap saluran pernapasan. tanda. 11 .

Luka yang mengakibatkan gangguan ventilasi berat adalah tension pneumothorax. Bila ada keraguan mengenai kemampuan menjaga airway.Urutan Penanganan Penderita dalam Primary survey 7. Ventilasi dengan alat bag-valve-mask 3. Resusitasi 1. Setiap komponen ini harus dievaluasi secara cepat. Pemberian oksigen konsentrasi tinggi 2. kita perlu dengan segera memperhatikan kelancaran jalan nafas. Airway harus dijaga dengan baik pada semua penderita. Resusitasi: 1. Usaha untuk membebaskan airway dilakukan dengan menjaga jalan nafas dan melindungi vertebra servikal. dan ini hanya dapat dikenali dengan re-evaluasi berulang terhadap airway-ini. Memasang naso-pharingeal airway (pasien sadar) atau oro-pharingeal airway (pada pasien tidak sadar) 5. dan open pneumothorax. Menghilangkan tension pneumothoraks 4. Harus dilakukan segala usaha untuk menjaga jalan napas dan memasang airway definitif bila diperlukan. flail chest dengan contusio paru. Fiksasi leher dengan berbagai cara. Menutup open pneumothoraks 12 .8 A = Airway with C-Spine Protection Pada kasus trauma oromaksilofasial. Tidak kalah pentingnya adalah mengenali kemungkinan gangguan airway yang dapat terjadikemudian.Ventilasi yang baik meliputi fungsi yang baik dari paru. lebih baik memasang airway definitif (intubasi oro atau nasotracheal atau surgical crico-thyroidotomy). B = Breathing / Ventilation / Oxygenation Ini merupakan nilai keadaan oksigenasi dan ventilasi penderita. 2. Membersihkan airway dari benda asing 4. apakah disana ada obstruksi atau tidak. setelah memasang airway.dinding dada dan diafragma. 6. Jaw trust atau chin-lift dapat dipakai 3.

Memasang pulse oximeter 13 .5.

Memasang 2 chateter i. Perdarahan eksternal dihentikan dengan tekanan langsung pada tempat perdarahan. 3. ‡ luka. berikan cairan kristaloid yang dihangatkan atau pemberian darah. yakni tingkat kesadaran. ukuran dan reaksi pupil tanda-tanda lateralisasi. Perdarahan eksternal dihentikan dengan penekanan (direct pressure) pada Tourniquet sebaiknya jangan dipakai karena merusak jaringan dan menyebabkan iskemia distal. sampai terbukti sebaliknya. golongan darah. baik perdarahan eksternal maupun perdarahan internal. serta konsultasi bedah. Parameternya adalah tingkat kesadaran. cross match dan analisis gas darah.C = Circulation & Stop Bleeding Tahap selanjutnya untuk dinilai adalah keadaan hemodinamik pasien. Penurunan 14 . Memasang NG tube dan kateter urin jika tidak ada kontra indikasi. Penurunan kesadaran dapat disebabkan penurunan oksigenasi dan atau penurunan perfusi ke otak yang disebabkan trauma langsung pada otak. Suatu keadaan hipotensi pada penderita trauma harus dianggap sebagai hipovolemia. Mengenal adanya perdarahan internal. 2. ‡ Tiga penemuan klinis yang dalam hitungan detik dapat memberikan informasi keadaan hemodinamik pasien. tes kehamilan. dan tingkat cedera spinal.v ukuran besar. kebutuhan untuk intervensi bedah. analisis kimia. warna kulit dan nadi. D = Disability (Neurologic Status) Hal yang penting selanjutnya adalah penilaian terhadap keadaan neurologis secara cepat. 4. Resusitasi : 1. Cari sumber perdarahan. ambil sampel darah untuk pemeriksaan darah rutin. sehingga tourniquet hanya dipakai bila ada amputasi traumatik.

Penurunan kesadaran dapat disebabkan oleh alkohol dan obat-obatan. ventilasi. Ketika tidak ada respon sama sekali. Apakah ia akan spontan membuka mata tanpa harus dipanggil namanya. (misalkan dengan menekan kuku jari) maka nilai E pasien (2). Respon yang diharapkan ada pada pasien ialah bagaimana reflek membuka matanya. Apabila mata terbuka dengan rangsang suara. Untuk nilai dari respon ini kita nilai (4) atau respon spontan. 15 . nilai respon E nya adalah nilai (3). Apabila pasien dapat membuka mata ketika kita beri rangsang nyeri. respon verbal (V) bicara dan gerakan motorik. seperti kita memanggil nama pasien. hipoksia atau hipovolemia adalah penyebab utamanya. Namun pada kebanyakan pasien dengan trauma oromaksilofasial. tidak ada respon. Gamabar 5 : Eye (respon membuka mata)8 Respon membuka mata ini merupakan respon awal ketika kita bertemu dengan pasien. Rangsangan yang diberikan berbagai hal dengan memperhatikan 3 reaksi yang terdiri dari reaksi membuka mata (Eye (E)). GCS merupakan suatu skala yang digunakan untuk menilai tingkat kesadaran pasien dengan menilai respon pasien terhadap rangsangan yang diberikan. dan perfusi jaringan. disentuh atau diberikan cubitan.kesadaran menuntut dilakukannya re-evaluasi terhadap keadaan oksigenasi. maka kita beri nilai E (1). Tingkat kesadaran dinilai dengan GCS (Glasgow Coma Scale) scoring.

seperti memintanya untuk mengangkat tangan. berbicara mengacau (sering bertanya berulang-ulang) disorientasi tempat dan waktu. Apabila pasien bingung. siapa dirinya. atau ketika kita datang kemudian kita memberikan tangan kita untuk berjabat 16 . Apabila pasien lebih banyak mengerang atau mengeluarkan suara tanpa arti.Tabel 1 : Verbal (respon verbal)8 Setelah reflek membuka mata kita kaji. Ketika masih saja tidak ada respon. orientasi baik. Motor (respon motorik) Respon motorik ini harus dibedakan dengan penilaian kekuatan otot. kalimat yang diucapkan baik. Untuk nilai (3) kita beri ketika pasien berbicara tidak patut seperti berbicara dengan kata-kata kasar dan makian. maka penilaian selanjutnya ialah bagaimana kita menilai respon verbal pasien. maka kita beri nilai verbal pasien (1). maka nilai respon verbal kita beri nilai (4) . maka kita nilai respon verbal pasien (2). Ketika pasien dapat mengetahui dimana dia berada. maka kita nilai respon verbal dengan angka (5) . Pemeriksaan ini hanya digunakan untuk mengetahui tingkat kesadaran pasien dengan memantau respon motorik pasien. Ketika pasien diperintahkan untuk melakukan apa yang kita inginkan.

tangan dengannya. Kita bisa melihat adakah atau tidak respon pasien untuk melakukan hal tersebut (menjabat tangan kita). Tabel 2 : Motor (respon motorik)8 Gambar 6 : Respon motorik nilai 6 8 17 .

Maka kita bisa berikan stimulus nyeri di daerah kukunya dengan tekanan ujung pulpen atau lainnya. maka kita memberikan nilai (5). Pasien akan memperlihatkan flexi siku yang bisa juga diikuti oleh flexi pergelangan tangan.Apabila pasien mengikuti perintah yang kita berikan. 18 . Namun jika pasien hanya dapat menghindar terhadap stimulus nyeri maka kita beri nilai M (4). Gambar 8 :Respon motorik nilai 3 8 Apabila pasien tidak dapat melokalisasi nyeri dari stimulus. Supraorbita dengan cara menggosokan kuku didaerah supraorbita groove dengan tekanan yang makin kuat sampai pasien memberikan respon. untuk kondisi ini kita berikan M (3). maka kita nilai respon motorik pasien (6) Gambar 7 : respon motorik nilai 5 8 Kita bisa memberikan sebuah stimulus berupa rangsangan nyeri di daerah N. Ketika pasien mampu untuk melokalisir nyeri dengan cara menjauhkan stimulus saat diberi rangsang nyeri.

Selanjutnya nilai-nilai dijumlahkan.Gambar 9 : Respon motorik nilai 2 8 Sedangkan untuk memberikan nilai M (2) didapatkan respon pasien berupa extensi abnormal (tangan satu atau keduanya extensi di sisi tubuh. 3. maka untuk kondisi seperti ini kita nilai M (1). Hasil pemeriksaan kesadaran berdasarkan GCS disajikan dalam simbol (EMV) 2. Setelah pakaian dilepas. dengan jari mengepal & kaki extensi saat diberi rangsang nyeri). seperti darah yang keluar dari anus atau luka pada tubuh yang tertutup pakaian. pasien harus segera diselimuti untuk mencegah hipotermi. Nilai GCS yang tertinggi adalah 15 yaitu E4M6V5 dan terendah adalah 3 yaitu E1M1V1. Periksa hal-hal yang mungkin terlewat pada pemeriksaan sebelumnya. 19 . Namun ketika pasien tidak ada respon apapun terhadap nyeri. Menilai status kesadaran klien GCS 14–15 GCS 9–13 GCS 3–8 <3 = cidera kepala ringan = cidera kepala sedang = cidera kepala berat = koma E = Exposure/Environment/Body Temperature Buka pakaian pasien untuk melakukan pemeriksaan secara menyeluruh. Penilaian GCS 8 1.

7 Keadaan tidak sadar (koma). dan peristiwa khusus. syok. Secondary survey baru dilaksanakan setelah primary survey selesai.2. biasanya sulit untuk diajak berkomunikasi. termasuk mencatat skor GCS bila belum dilaksanakan dalam primary survey. riwayat trauma dapat diperoleh dari petugas unit gawat darurat. mulut dan telinga. Apabila cedera disebabkan karena kecelakaan motor. Penting untuk dicatat mengenai tanggal. dan ABC pasien telah dipastikan membaik. apakah ada perdarahan dari hidung. amnesia. Pemeriksaan pada secondary survey meliputi anamnesa. resusitasi sudah dilakukan. Pada situasi ini. Namun.8 Secondary survey adalah pemeriksaan kepala sampai kaki (head to toe examination). atau siapapun yang melihat dengan jelas bagaimana trauma terjadi. apakah korban bertindak sebagai pengemudi atau penumpang. 3. 20 . apakah ia memakai helm atau tidak. perlu dicatat bagaimana kronologis kejadiannya. waktu. diperlukan informasi yang memadai tentang riwayat trauma. bagaimana jenis helmnya full face atau half face. pada pasien yang mendapat cedera pada daerah kepala. orang yang mendampingi yang pasien.1 Anamnesis Untuk menegakan diagnosis dan menentukan rencana perawatan. Prosedur khusus seperti pemeriksaan radiologis. apakah pasien telah mendapatkan pertolongan medis dan pemberian obat sebelumnya dan pertanyaan penting lainnya.2 Pemeriksaan Secondary Survey 7. Pada secondary survey ini. dilakukan pemeriksaan neurologis lengkap. mual dan muntah. termasuk pemeriksaan tanda vital. pemeriksaan fisik ekstra oral seperti kepala dan oromaksilofasial juga pemeriksaan intra oral yang meliputi status lokalis gigi dan jaringan pendukung sekitarnya. pemeriksaan laboratorium juga dapat dikerjakan pada kesempatan ini. apakah ada riwayat pingsan. perawat.3. dan intoksikasi merupakan hambatan yang sering terjadi dalam menjalin komunikasi dengan pasien. tempat kejadian.

Jika ditemukan kasus avulsi gigi di dalam golden period maka prognosis untuk reposisi semakin baik.Riwayat trauma yang akurat sebaiknya diperoleh dari pasien. nomor telepon. WHO? Jawabannya meliputi nama pasien. Jawaban kronologis tentang bagaimana kejadian terjadi mengindikasikan keparahan cedera jaringan dan kemungkinan daerah-daerah mana saja dari tubuh yang terkena trauma. tanggal imunisasi tetanus terakhir. 2. Motor dalam keadaan rusak parah. 3. seorang pengendara sepeda motor sedang dalam pengaruh alkohol mengendarai motornya di cuaca hujan dan gelap gulita. Selain itu riwayat medis yang penting untuk diketahui adalah tentang riwayat alergi. 4. umur. keluarga pasien dan orang yang menyertainya. ada tidaknya penyakit kelainan perdarahan. Sebagai contoh apabila pasien jatuh di daerah yang berpasir maka penting untuk dilakukan debridemen sempurna sampai tidak ada sama sekali pasir yang tertinggal di dalam luka. WHEN? Kapan trauma itu terjadi? Pertanyaan ini merupakan salah satu pertanyaan penting untuk menentukan apakah suatu luka masih dalam golden period. alamat. HOW? Sebagai contoh. Kemudian ia tergelincir di tikungan dan turunan curam dengan keadaan terguling sejauh 10 meter dengan kondisi wajah mengenai aspal. WHERE? Pertanyaan ini penting untuk mengetahui kemungkinan adanya kontaminasi luka. Perlu dicatat juga ada tidaknya tanda-tanda kecanduan alkohol dan obat-obatan. riwayat penyakit yang pernah diderita. dan data demografi lainnya. Meliputi jawaban dari pertanyaanpertanyaan berikut (9): 1. karena tingkat kesadaran 21 .

2.2 Pemeriksaan Fisik 2. Informasi mengenai waktu makan dan minum yang terakhir sangat penting apabila akan dilakukan anestesi umum. pergeseran. dan mandibula. 3.dipengaruhi oleh obat-obatan tersebut. Ekstra Oral a. dan digerakkan dengan tekanan yang stabil sehingga dapat diperoleh kepastian ada atau tidaknya dapatkan mobilitas maksila. Dengan ibu jari dan telunjuk tangan lainnya mencengkram maksila pada satu sisi. Untuk memeriksa adanya mobilitas maksila. sambungan daerah fronto-orbital. 22 .3. maka pemeriksaannya harus meliputi ada atau tidaknya step atau jarak. discontinuitas. dan hilangnya penonjolan.6 I. Pemeriksaan Kepala Pemeriksaan ini meliputi seluruh kerangka kraniomaksilofasial dan jaringan lunak disekitarnya. Pemeriksaan Wajah Bagian Tengah Evaluasi wajah bagian tengah dimulai dengan memperkirakan adanya mobilitas dari maksila sebagai struktur maksila itu sendiri atau hubungannya dengan zygoma atau tulang nasal. kepala pasien harus distabilisasikan dengan cara menekan kening pasien cukup kuat dengan satu tangan. naso-orbital kompleks. Rangka kraniofasial terdiri dari pertautan dan penonjolan tulang. Harus dilakukan palpasi secara hati-hati terhadap kranium. Pasien harus dibersihkan dari semua darah dan benda asing secara hati-hati. b. artikulasi zygomatik.

Pemeriksaan mata secara lengkap sebaiknya dilakukan terlebih dahulu. Pemeriksaan dimulai dari aspek medial dari cincin supraorbital secara bilateral. Bagian-bagian yang mengalami nyeri tekan. Arcus zygomatikus dipalpasi bilateral dan diamati apakah terdapat tandatanda asimetri. dan baal juga dicatat. Cincin infraorbital dipalpasi dari medial ke lateral untuk mengevaluasi sutura zygomatikomaksilaris. Hampir 40% fraktur tengah wajah mengenai daerah mata. Tulang nasal dan saluran nasofrontalis dipalpasi secara bersamaan kanan dan kiri (bidigital). dari aspek posterior atau superior. Pemeriksaan yang akurat sulit dilakukan pada pasien yang mengalami cedera 23 . Vestibulum nasi juga diperiksa karena bisa terjadi pergeseran septum. dan adanya perdarahan atau cairan. karena trauma dapat mengakibatkan kehilangan penglihatan.Gambar 10 : Pemeriksaan mobilitas maksila.9 Cara melakukan pemeriksaan manual atau digital adalah dengan palpasi dimulai dari superior ke inferior. Jaringan lunak yang menutupinya digeser dan sutura dipalpasi apakah terjadi kelainan atau tidak. Palpasi diteruskan ke arah lateral menyilang cincin supraorbital menuju sutura zygomatikofrontalis. karena hal ini menunjukkan adanya fraktur atau cedera pada saraf. Gambar sebelah kanan menunjukkan pemeriksaan bahwa cara ini juga dapat digunakan untuk evaluasi mobilitas tulang nasal.

Dapatkah pasien mengangkat alis dan meretraksi sudut mulutnya. Adanya fraktur septum hidung dan hematoma dapat menyebabkan obstruksi hidung.. Pemeriksaan dapat dilakukan dengan menggunakan hitungan jari. atau terjadi pergeseran ke lateral dan inferior. karena merupakan indikasi terjadinya fraktur basis tulang kranial. Mastoid harus diperiksa dari kemungkinan adanya ekimosis yang disertai dengan hemotimpanum dan otorrhea.7 dites untuk mengetahui apakah terjadi palsi. Pemeriksaan Mandibula Lokasi mandibula terhadap maksila dievaluasi apakah tetap digaris tengah. Pergerakan mandibula juga dievaluasi dengan jalan memerintahkan pasien melakukan gerakan-gerakan tertentu. Kerusakan dan pergerakan tulang hidung harus dicatat. 3 Tiga saraf utama trigeminal harus diperiksa untuk kemungkinan terjadinya anestesi atau parestesi. dan apakah pupil bereaksi terhadap sinar dan berakomodasi. Hematoma aurikuler telinga harus segera didiagnosa dan dilakukan terapi.5 . dan apabila ada penyimpangan juga dicatat. Saraf kranialis 3 . Pada 24 . deteksi gerakan. Adanya laserasi dari daerah telinga bagian luar merupakan tanda waspada terhadap kemungkinan cedera pada kondilus mandibula. apakah bola mata bisa bergerak bebas.6 .4 . c.neurologis. Apabila meatus akustikus eksternus penuh dengan darah dan cairan. Hematoma septum hidung harus didiagnosa dan dievakuasi segera untuk menghindari terjadinya nekrosis tulang rawan septum hidung yang pada akhirnya dapat menyebabkan kerusakan bentuk hidung. Kisaran gerak dievaluasi pada semua arah dan jarak interinsisal dicatat. atau penggunaan sinar. jari telunjuk dapat dimasukkan dengan telapak mengarah ke bawah dan ke depan untuk melakukan palpasi endaural terhadap caput condilus pada saat istirahat dan bergerak.

fraktur subcondilus tertentu. simpel. kominuted. 25 . dan kompoun. body. Sekali lagi nyeri tekan atau baal. bisa dijumpai adanya nyeri tekan atau caput mandibula tidak terdeteksi. Fraktur mandibula dapat diklasifikasikan berdasarkan lokasi anatomi. alveolar. yaitu kondilar. ramus. dan daerah prossessus koronoid. yaitu fraktur greenstick. Selain itu fraktur mandibula juga dapat diklasifikasikan berdasarkan tipe frakturnya. simphisis. angle. Tepi inferior dan posterior mandibula dipalpasi mulai dari prosesus kondilaris sampai ke simphisis mandibula. dan kelainan kontinuitas harus dicatat.

Gambar 11. Gigi tiruan yang lepas juga dapat menyebabkan tersumbatnya jalan pernapasan. Distribusi anatomik dari fraktur mandibula. Kompoun (D). Gigitan terbuka lateral (open bite lateral) juga 26 . Komminuted (C). Adanya gigi yang terhisap dan tertelan dapat dilihat dengan melakukan radiografi pada dada dan perut. Simple (B).2 Gambar 12 : Klasifikasi fraktur mandibula berdasarkan tipe frakturnya: Greenstick (A). Adanya step dan pergeseran oklusi merupakan indikasi terjadinya fraktur dentoalveolar ataupun fraktur rahang. 2 II.7 Pemeriksaan ini meliputi evaluasi oklusi dan penghitungan gigi yang hilang. Intra Oral 3.

ataupun III).3 Pemeriksaan Radiografis Untuk diagnosis penderita yang mengalami trauma dentoalveolar hanya diperlukan radiograf oklusal dan periapikal saja. PT APTT. Meskipun demikian. jahitan subkutis Antibiotika 27 . kemudian dapat dilakukan rontgen foto waters view dan jika memungkinkan dan pasien mampu dapat dilakukan CT-Scan 3 dimensi. membuang jaringan nekrotik dan benda asing. GDS. albumin serum.2. dan sebagian besar fraktur prosessus alveolaris paling baik dirontgen dengan cara ini. BT CT. elektrolit. Leukosit. dan differential sel.2. II. Sedangkan gigitan terbuka anterior ( open bite anterior) mengindikasikan adanya fraktur Le Fort (I.4 Pemeriksaan Laboratorium Pemeriksaan lab yang sering dilakukan pada kasus trauma oromaksilofasial yaitu Hb. analisa gas darah.3 1. Perawatan umum terhadap komplikasi yang menyertai 2. kreatinin. Penatalaksanaan Fraktur Oromaksilofasial 2. trombosit. 3. tidak dibenarkan untuk melakukan pembuatan radiografis untuk mengetahui adanya fraktur bila bukti klinis kurang mendukung.dapat mengindikasikan adanya fraktur mandibula atau gangguan TMJ. Debridement : membersihkan luka. Hemostasis Menghilangkan tegangan pada penutupan luka: undermining. ureum. Detail dari cedera gigi (luksasi dan avulsi). 3. Sedangkan untuk diagnosis penderita yang mengalami trauma maksilofasial harus dilakukan foto panoramik dan schedel AP-Lat segera. Penanganan Luka Jaringan Lunak Imobilisasi dan evaluasi bagian yang terluka untuk mengurangi rasa nyeri dan edema.

Memberikan imobilisasi sementara 7. Melakukan Reduksi. Pemeriksaan klinis yang teliti dan interpretasi foto rontgen yang tepat 4. krepitasi dan funtio laesa. Memilih cara pemberian anastesi yang tepat 8. Mencegah dan merawat infeksi 6. Menentukan tipe dan macam fraktur 5. Fiksasi dan Imobilisasi fraktur Reduksi: Mengembalikan fragmen pada posisi anatomisnya Terdiri dari open dan closed reduction Fiksasi: Mempertahankan fragmen yang telah direposisi tetap pada tempatnya untuk menghasilkan penyembuhan. meniadakan rasa sakit. Imobilisasi : Mempertahankan fiksasi. 28 .3.

dan kontrol perdarahan eksternal. Perhatian harus segera diarahkan terhadap saluran pernapasan. Pemeriksaan dilakukan secara akurat dan menyeluruh pada pasien ini. Pemeriksaan fisik baru bisa dilakukan apabila keadaan umum pasien stabil. anatomi oromaksilofasial. serta jalan nafas telah di tangani. Rangkaian pemeriksaan primary survey dan secondary survey berupa anamnesis yang lengkap.BAB IV KESIMPULAN Pendekatan awal terhadap pasien trauma oromaksilofasial akut sedikit berbeda dengan cedera yang lain. pendarahan. Pemeriksaan radiografis dan pemeriksaan laboraturium dilakukan untuk membantu klinisi menegakkan diagnosa dan rencana perawatan yang tepat pada penderita trauma oromaksilofasial. Pengetahuan tentang jenis trauma. adekuasi dari ventilasi. status kegawatdaruratan serta skala prioritas penanganan cedera oromaksilofasial mutlak dibutuhkan dalam penanganan kegawatdaruratan trauma oromaksilofasial. 29 . pemeriksaan klinis ekstra oral dan intra oral.

Andreasen JO. Jakarta 2. Oral and Maxillofacial Trauma.ac. 2009. 2006. Marciani RD.DAFTAR PUSTAKA 1. Jong WD. 2003. Hipokrates. 1991. Hitosugi M. Ke-2. Fraktur mandibula ( Killeys Fractures of the mandible ).ui.digilib. 2005. Alih bahasa Lilian Yuwono. 3rd ed.1997.et al. Butterworth-Heinemana Ltd. Louis 4. R. penatalaksanaannya di Rumah Sakit Umum Tangerang dalam kurun waktu 1 Oktober 1992 -30 September 1993. St Louis: Elsevier Saunders 3. Fonseca. J Oral Maxillofac Surg 64:1731-1735 5. Sasaki T. London PS. http://www. Buku Ajar Praktis Bedah Mulut. Contemporary Oral and Maxillofacial Surgery. St Louis: Mosby. 1999. Banks P.org/wiki/Glasgow_Coma_Scale 10. EGC. http://en. 9.wikipedia. Juliani KI.pdf 8.Sjamsuhidayat. Braun TW. Pedersen GW. Peterson Lj.id/file?file=pdf/abstrak-81816. Yokoyoma T. 6. Penerjemah. Oral and Maxillofacial Surgery Volume II. Saunders Elsevier. Buku Ajar Ilmu Bedah. London 30 . Jakarta. Munksgaard 7. Motozawa Y. EGC. A Retrospective Análisis of Oral and Maxillofacial Injuries in Motor Vehicle Accidents. The anatomy of injury and its surgical implication. Jakarta 11. Ed.4 th ed. St. Frekuensi-distribusi trauma oromaksilofasial dan Essential of Traumatic Injuries to the Teeth. 1990. Carlson ER. RJ. Penerjemah: Purwanto dan Basoeseno. 1996.

Penyembuhan Luka Jaringan Lunak Dan Saraf Dian Maifara Putri 160121120007 Peserta Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut Dan Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Abstrak : Luka adalah hilang atau rusaknya integritas jaringan tubuh. infeksi 31 . sengatan listrik. Komplikasi dapat terjadi apabila tidak dilakukan terapi dengan adekuat. faktor-faktor yang berpengaruh. atau gigitan hewan. zat kimia. Kata kunci: penyembuhan jaringan lunak. ledakan.1 Penyembuhan luka dan jaringan saraf merupakan hal yang penting untuk mengetahui tahapan luka. perubahan suhu. dan komplikasi. keadaan ini dapat disebabkan oleh trauma benda tajam atau tumpul.

keadaan ini dapat disebabkan oleh trauma benda tajam atau tumpul.1. baik luka itu bersih maupun luka yang kotor dan terinfeksi. nekrose atau gangren dari jaringan. pembentukan keloid yaitu berupa tonjolan jaringan parut.2 Penyembuhan luka adalah proses kinetik dan metabolik yang kompleks yang mengikutsertakan berbagai sel dan jaringan dalam usaha menutup tubuh dari lingkungan luar dengan cara mengembalikan integritas jaringan.2 32 . perubahan suhu.1.BAB I PENDAHULUAN Luka adalah hilang atau rusaknya suatu kesatuan atau komponen integritas jaringan tubuh. atau gigitan hewan. tubuh akan berusaha melakukan penyembuhan luka. pembentukan jaringan parut. proliferasi. infeksi luka. Komplikasi yang sering ditimbulkan pada tahap penyembuhan luka dapat meliputi pembentukan kista implantasi. ledakan. Maka pada setiap perlukaan. dan remodeling atau penyudahan yang merupakan pembentukan kembali dari jaringan. sengatan listrik. zat kimia.1 Proses yang kemudian terjadi pada jaringan yang rusak ialah penyembuhan luka yang dapat dibagi dalam tiga fase yaitu fase inflamasi. dan warna yang berbeda dari jaringan sekitarnya.

biasanya besar dan kemerahan. Hematoma (darah yang terkumpul di jaringan) Prinsipnya sama dengan luka memar tetapi pembuluh darah yang rusak berada jauh di bawah permukaan kulit dan biasanya besar. Luka Tertutup Gambar 1. Vulnus Abrasivum (luka lecet). darah keluar dari pembuluh dan terkumpul di bawah kulit sehingga bisa terlihat dari luar berupa warna merah kebiruan b.Luka Memar 9 a.4.7. Luka memar ( contusio ) Terjadi akibat benturan dengan benda tumpul.8 1.5. 33 . biasanya terjadi di daerah permukaan tubuh. Luka terbuka yang disertai kehilangan jaringan maupun yang tidak disertai kehilangan jaringan a. sehingga yang terlihat adalah bengkak.BAB II TINJAUAN PUSTAKA JENIS-JENIS LUKA Luka terdiri dari: 2.3. terjadi karena gesekan antara suatu benda dengan permukaan jaringan lunak. 2.

Luka Sayat 11 34 . terjadi karena tersayat pisau atau benda tajam lainnya. Vulnus Scissum ( luka sayat ). pinggir luka tajam dan rata serta mempunyai dasar yang sempit.Gambar 2. Vulnus Abrasivum 9 Gambar 3. Gambar 4. Kedalaman Luka Lecet 10 b.

Gambar 6. 35 . adalah luka yang disebabkan oleh benda tumpul yang bentuknya tidak teratur. luka yang terjadi karena tusukan bendabenda yang runcing. Luka Tembus 11 d. Vulnus laceratum ( luka compang camping ). Vulnus Penetratum ( luka tembus ). Vulnus Punctum ( luka tusuk ). adalah luka yang terjadi sampai menembus organ tubuh lain yang lebih dalam. Luka Laserasi 11 e.c. Gambar 5.

luka yang disebabkan oleh tembakan senjata api 36 . B. Luka Tusuk 12 f.Gambar 7. Penampang Luka Tusuk 12 Gambar 9. Vulnus Sclopectorum ( luka tembak). Luka laserasi. A. Luka Tusuk 11 Gambar 8.

Gambar 10. Luka ini ditandai dengan kulit yang terlepas/ hilang sama sekali. Luka Gigitan Binatang 11 h. kelembaban. 1. Vulnus Mossum ( luka karena gigitan binatang).2. yaitu hilangnya substansi jaringan lunak yang biasanya mengenai kulit. menyediakan temperatur. Avulsi. melepaskan jaringan yang mengalami devitalisasi.3 PENATALAKSANAAN LUKA Prioritas dalam penatalaksanaan luka adalah mengatasi perdarahan (hemostasis). otot. dan pH yang optimal untuk sel-sel yang berperan dalam proses penyembuhan. mengeluarkan benda asing yang dapat bertindak sebagai fokus infeksi. Luka Tembak 13 g. dan melindungi luka dari trauma yang lebih lanjut serta terhadap 37 . dan tulang juga bisa terkena. meningkatkan pembentukan jaringan granulasi dan epitelialisasi. Gambar 11. walaupun mukosa. Avulsi biasanya menyertai luka-luka multipel pada wajah dan biasanya pada korban kecelakaan sepeda motor atau luka karena peralatan industri/pertanian. krusta yang tebal dan pus.

Namun tidak semua luka membutuhkan penjahitan. hemostasis harus tercapai. Kecuali untuk luka superficial antibiotik tidak diindikasikan. sabun atau bila perlu dengan disikat. klinisi harus mempertimbangkan pemberian terapi suportif untuk mempercepat penyembuhan seperti pemberian antibiotik dan anti tetanus.masuknya mikroorganisme patogen. luka kecil dapat dibiarkan dan dapat sembuh tanpa penjahitan. 6 Setelah luka dibersihkan. tergantung kedalaman dan posisi luka tersebut. diligatur atau dikauterisasi untuk mengurangi perdarahan yang terjadi akibat luka yang terbuka. Lalu dengan menggunakan larutan saline dilakukan irigasi untuk menghilangkan semua partikel yang tertinggal pada luka. Luka pada gingiva atau mukosa alveolar dapat ditutup dengan penjahitan 1 lapis. maka akan terjadi hematoma di dalam jaringan yang dapat membuka kembali luka yang telah ditutup. 6 Protokol 1: Wound toilet dan debridement Gunakan satu dari 2 antiseptik di bawah ini untuk luka: Larutan Povidone iodine 10% dua kali sehari Cetrimide 15% + chlorhexidine gluconate 1. Bila tidak. tujuan penjahitan adalah mengembalikan jaringan ke posisi semula. dan luka yang lebih dalam membutuhkan penjahitan 3 lapis. Bila penjahitan dianggap perlu. Debridement dilakukan untuk menghilangkan jaringan yang mengalami devitalisasi agar didapat penutupan luka yang baik.6 Luka harus dibersihkan dari kotoran atau debris. Setelah penutupan luka. Sebelum luka ditutup. dilakukan debridement dan hemostasis tercapai. untuk menyingkirkan penyebab aktual atau potensial yang memperlambat penyembuhan dan untuk menciptakan lingkungan lokal yang optimal untuk rekonstruksi dan epitelialisasi vaskular dan jaringan ikat. luka ditutup dengan dijahit. Biasanya dilakukan tindakan anestesi sebelumnya untuk mengurangi rasa sakit. tujuannya adalah untuk melindungi individu dari kerusakan fisiologis lebih lanjut. sedangkan luka pada lidah atau bibir yang melibatkan otot harus dijahit lapisan otot terlebih dahulu dengan benang jahit yang dapat teresorbsi. Pembersihan luka dapat dilakukan dengan bahan pembersih luka.5% 38 . Pembuluh darah dapat diklem.

39 . kontaminasi bakteri tetanus. WHO merekomendasikan injeksi TT (Tetanus Toksoid) atau Td (vaksin tetanus dan diphteri) dan TIG (Immunoglobin tetanus) 3. Untuk pasien terkontaminasi tetanus. Protokol 2: Manajemen luka dengan tetanus 1. vulnus laseratum dengan ukuran lebih dari 5 cm. Tutup luka dengan kasa steril dan kering.000 IU/kg BB dalam sekali pemberian. dan luka bakar. Bersihkan luka dengan sabun dan air matang selama 10 menit. jaringan mati dan rusak secara mekanis.1. 3. Antibiotik profilaksis yang direkomendasikan adalah penisilin G dan metronidazole dalam satu kali pemberian. terdapat jaringan mati dalam jumlah signifikan. Jika pemberian vaksin tetanus dan immunoglobin tetanus dalam satu waktu. luka dengan banyak jaringan nekrotik. Jika analgetik lokal dibutuhkan gunakan lidokain 1% tanpa epinefrin. Ganti kasa minimal sekali sehari. maka harus diberikan dengan syringe yang berbeda dan lokasi pemberian yang berbeda pula. vulnus penetratum. Luka biasanya terinfeksi tetanus jika telah lebih dari 6 jam sebelum pembersihan luka dan memperlihatkan tanda-tanda: tipe luka punctum. Kemudian irigasi luka kembali. tempat yang berisiko tinggi seperti pada ekstremitas. kemudian luka diirigasi dengan larutan salin 2. trauma abdominal. tanda klinis sepsis. Dosis dewasa 8-12 juta IU. Debridement: membersihkan luka dari benda asing. Protokol 3: Antibiotik profilaksis dan antibiotik perawatan Antibiotik profilaksis Antibiotik profilaksis diindikasikan untuk luka yang mempunyai risiko tinggi untuk terinfeksi seperti luka yang terkontaminasi. dan anakanak 200. 2.

berikan antibiotik secara intravena. dan berikan secara peroral 2 hari kemudian jika memungkinkan. Debridement terbagi atas 4 metode 14: a. dan jaringan nekrotik yang terdapat pada luka. hanya jaringan non vital yang dieksisi.5 mg/kg setiap 8 jam secara intravena. Persiapan wound toilet 15: Jangan memakai sabun atau alkohol Gunakan salin steril Irigasi dengan tujuan menghilangkan benda asing 40 . Enzimatic: enzim yang dapat mendegradasi jaringan nekrotik c. Pembuangan dilakukan seminimal mungkin. Dilakukan dengan menggunakan sikat halus steril/ kapas steril dengan larutan garam fisiologis. Metronidazole dewasa 500 mg setiap 8 jam dan anak-anak 7. Surgery: merupakan cara tercepat jika jaringan nekrotik luas b. Dilanjutkan dengan membuang sisa jaringan nekrotik sehingga didapat pinggiran jaringan yang linear. diberikan Penisilin G dan metronidazole untuk 5-7 hari.Antibiotik perawatan Jika infeksi telah terjadi. 6 Langkah-langkah pengelolaan luka jaringan lunak terdiri atas: I. Pembersihan luka (debridement) Adalah tindakan membersihkan daerah luka dari benda-benda asing yang mengkontaminasi luka. Penisilin untuk dosis dewasa 1-5 MIU setiap 6 jam. Pengelolaan vulnus secara umum 7: 1. Mekanikal: dengan cara membilas/irigasi luka Pembersihan luka dilakukan dengan cara: mencuci daerah luka untuk membersihkan debris atau benda asing yang tertinggal. Penisilin untuk dosis anak-anak 100 mg/kg BB setiap hari dibagi dalam beberapa dosis. Autolisis: proses yang normal terjadi pada luka dan tidak melukai jaringan sehat di sekeliling luka d.

Spesifik dengan anti tetanus 2. Setelah semua tindakan di atas dilakukan. Pengelolaan hematoma dan kontusio 1. Jenis luka dapat beraneka ragam dan memiliki penanganan yang berbeda tergantung jenis jaringan yang 41 . dan radiasi. maka dapat diberikan terapi suportif: pencegahan luka dari infeksi 1. Non spesifik dengan pemberian antibiotika LUKA BAKAR I. Definisi Luka bakar adalah luka yang disebabkan oleh kontak dengan suhu tinggi seperti api. air panas. Kompres dingin untuk mengurangi sakit dan perdarahan 2 Beri analgetik dan antiinflamasi 3. Tindakan ini dilakukan beberapa hari hingga sembuh. bahan kimia. Instruksikan pada pasien keesokan harinya jika masih lebam dapat dikompres hangat sehingga terjadi vasodilatasi pembuluh darah menyebabkan vaskularisasi aktif agar PMN bergerak untuk memfagositosis sisa-sisa debris fibril atau leukosit dan trombosit yang mati.- Gunakan 50-100ml/cm salin dengan tekanan Gambar 12: Enzymatic wound debridement 14 II. listrik.

Beratnya Luka Bakar Luka bakar biasanya dinyatakan dengan derajat yang ditentukan oleh kedalaman luka bakar. Seorang korban luka bakar dapat mengalami berbagai macam komplikasi yang fatal termasuk diantaranya kondisi shock. pembuluh darah dan jaringan epidermal yang mengakibatkan kerusakan yang berada di tempat yang lebih dalam dari akhir sistem persarafan. infeksi. luas dan daerah luka.tulang. 14 II. dan komplikasi yang terjadi akibat luka tersebut. Luka tampak sebagai eritema dengan keluhan rasa nyeri atau hipersensitivitas setempat.terkena luka bakar. Dalamnya luka bakar 15 1. 42 . Selain komplikasi yang berbentuk fisik. ketidak seimbangan elektrolit ( inbalance elektrolit) dan masalah distress pernapasan. Umur dan keadaan kesehatan penderita sebelumnya akan sangat mempengaruhi prognosis. Luka bakar dapat merusak jaringan otot. misalnya tersengat matahari. Derajat Luka Bakar Gambar 13. Luka bakar derajat 1 hanya mengenai epidermis serta belum terbentuk lepuhan dan biasanya sembuh dalam 5-7 hari. tingkat keparahan. luka bakar dapat juga menyebabkan distress emosional (trauma) dan psikologis yang berat dikarenakan cacat akibat luka bakar dan bekas luka (scar).14 III. Walaupun demikian beratnya luka bergantung pada dalam.

atau bula berisi cairan eksudat yang keluar dari pembuluh karena permeabilitas dindingnya meninggi. ekstremitas atas kanan.14 43 . atau organ yang lebih dalam. Luka bakar derajat 2 mencapai kedalaman dermis tetapi masih ada elemen epitel sehat yang tersisa.14 IV. Gejala yang timbul adalah nyeri.2. kepala dan leher 18%. badan depan dan belakang masin-masing 18 %. Elemen epitel tersebut misalnya sel epitel basal. pinggang dan bokong. sisanya 1% adalah daerah genitalia. ekstremitas bawah kanan dan kiri masing-masing 14 %. dan pangkal rambut. paha kanan. ekstremitas atas kiri. Kulit tampak pucat abu-abu gelap atau hitam. Rumus ini membantu untuk menaksir luasnya permukaan tubuh yang terbakar bagi orang dewasa. yaitu luas kepala dan leher. paha kiri. luka dapat sembuh sendiri dalam 2 sampai 3 minggu. perut. tungkai dan kaki kanan. karena itu untuk mendapatkan kesembuhan harus dilakukan cangkok kulit. ekstremitas atas kanan dan kiri masing-masing 9 %. Dengan adanya sisa sel epitel ini. serta tungkai dan kaki kiri masing-masing 9%.Karena perbandingan luas permukaan bagian tubuh anak kecil berbeda. Pada orang dewasa digunakan rumus 9. Luka bakar derajat 3 meliputi seluruh kedalaman kulit dan mungkin subkutis. dada. Tidak ada lagi elemen epitel hidup yang tersisa yang memungkinkan penyembuhan dari dasar luka. kelenjar keringat. dengan permukaan lebih rendah dari jaringan sekeliling masih sehat. kelenjar sebasea. Pada anak dan bayi digunakan rumus lain karena luas relative permukaan kepala anak jauh lebih besar dan luas relative permukaan kaki lebih kecil. gelembung. 3. punggung. Luas Luka Bakar Luas luka bakar dinyatakan dalam persen (%) terhadap luas seluruh tubuh. Untuk anak.

3. Berat/Kritis bila : a. atau terdapat di muka.2 44 . kaki dan tangan. Derajat 2 dengan luas 15 . b. b. Sedang bila : a. Derajat 3 dengan luas kuarang 10 %. Ringan bila : a. Luka bakar disertai trauma jalan napas atau jaringan lunak luas. Derajat 2 dengan luas kurang dari 15 %.Gambar 14. Derajat 3 dengan kurang dari 2 %. kecuali terdapat di muka. kaki dan tangan. atau terdapat fraktur. d. b. Klasifikasi Luka Bakar Menurut Keparahannya 1.25 %. 2. Derajat 2 dengan luas lebih dari 25 %. Luka bakar akibat listrik. Luasnya luka bakar 16 V. c. Derajat 3 dengan luas lebih dari 10 %.

diberikan campuran udara lembab dan oksigen. Bila penderita menunjukkan gejala terbakarnya jalan napas. Analgesik diberikan bila penderita kesakitan. kalau perlu dilakukan resusitasi segera bila penderita menunjukkan gejala syok. Pada luka bakar ringan. Pada luka bakar berat. Perawatan lokal adalah mengoleskan luka dengan antiseptik. mencegah infeksi dan memberi kesempatan sisa-sisa sel epitel untuk berproliferasi dan menutup permukaan luka. Kalau terjadi oedem laring dipasang pipa endotrakea atau dibuat trakeostomi. dan pembatasan pembentukan jaringan parut. 17 45 . Pertolongan pertama setelah sumber panas dipadamkan. prinsip penanganan utama adalah mendinginkan daerah yang terbakar dengan air. mengurangi ruang mati dan memudahkan pembersihan jalan napas dari lender atau kotoran. Korban dapat mengusahakanya dengan cepat menjatuhkan diri dan berguling dan mencegah meluasnya bagian pakaian yang terbakar. Kontak dengan bahan yang panas juga harus cepat diakhiri misalnya dengan mencelupkan bagian yang terbakar atau menceburkan diri ke air dingin. Penatalaksanaan Luka Bakar Prinsip penanganan luka bakar adalah penutupan lesi sesegera mungkin. terdiri dari merendam daerah luka bakar dalam air atau menyiraminya dengan air mengalir selama sekurang-kurangnya 15 menit.VI. pencegahan infeksi. selain penanganan umum seperti pada luka bakar ringan. Trakeostomi berfungsi untuk membebaskan jalan napas. Selanjutnya diberikan pencegahan tetanus berupa ATS dan/atau toksoid.2 Upaya pertama saat terbakar adalah mematikan api misalnya dengan menyelimuti dan menutup bagian yang terbakar untuk menghentikan pasokan oksigen bagi api yang menyala. Bila ada dugaan keracunan CO2. atau melepaskan baju yang tersiram air panas. Kalau perlu penderita dimandikan dahulu. pencegahan trauma mekanik pada kulit yang vital dan elemen didalamnya. diberikan O2 murni. mengurangi rasa sakit.

bila mungkin gunakan penyemprot air. Untuk mempertahankan produksi urine 1 cc/ Kg BB/jam pada anak-anak dan BB ≤ 30 Kg. alkali dan hasil-hasil pengolahan minyak. Luka Bakar Karena Bahan Kimia/Kimiawi Luka bakar dapat disebakan oleh asam. Lakukan tindakan ini dalam waktu 20 – 30 menit. diperlukan 46 . Untuk luka bakar alkali. misalnya dinilai produksi urinenya.VII. Volume Sirkulasi Penilaian volume sirkulasi sering sulit pada penderita luka bakar berat. perlu dihitung dengan cermat dan perlu ditambahkan cairan glukosa untuk maintenance. Untuk mengetahui status sirkulasi dilakukan pengukuran produksi urine/jam dengan catatan tidak ada osmotic dieresis. sebab alkali lebih dalam merusak jaringan. Perlu diketahui bahwa rumus penghitungan cairan tersebut merupakan perkiraan volume cairan yang diperlukan. Pemberian cairan disesuaikan dengan respon individual penderita. tanda-tanda vital dan keadaan umum. Sebagai patokan mengetahui sirkulasi yang akurat ialah bila penderita diberi infus cairan dalam jumlah yang menghasilkan urine 1cc/Kg BB/ jam (untuk anak dengan BB ≤ 30 Kg) dan 30 – 50 cc / kg BB / jam (dewasa). Pemberian cairan dilakukan sebagai berikut : ½ dari volume terhitung diberikan 8 jam pertama setelah trauma. Oleh karena itu penderita luka bakar berat harus dipasang kateter. Luka Bakar Khusus 1. ½ dari sisanya diberikan 16 jam berikutnya. Luka bakar alkali lebih berbahaya dari asam. Segeralah bersihkan bahan kimia tersebut dari luka bakar. Segera lakukan irigasi dengan air sebanyak-banyaknya. konsentrasi bahan kimia dan jumlahnya.17 VIII. Kerusakan jaringan akibat luka bakar bahan kimia dipengaruhi oleh lamanya kontak. Pada 24 jam pertama penderita luka bakar berat derajat II dan III memerlukan 2 – 4 cc cairan RL/ Kg BB/ % Luas luka bakar untuk mempertahankan volume sirkulasi dan fungsi ginjal yang adequat. Tekanan darah sukar diukur dan hasilnya tidak dapat dipercaya.

pemasangan infus. Penanganan harus segera dilakukan pada penderita dengan luka bakar listrik meliputi perhatian terhadap jalan nafas. Apabila urine berwarna gelap mungkin urine mengandung hemokhromogens. Bila bahan kimia merupakan bubuk. Bila urine belum tampak jernih. ECG dan pemasangan kateter.5 gr manitol pada tiap penambahan 1 liter cairan untuk mempertahankan diuresis sejumlah tersebut di atas. Luka Bakar Listrik Luka bakar listrik terjadi karena tubuh terkena aliran listrik. dan panas yang ditimbulkannya. Luka bakar listrik sering menyebabkan kerusakan jaringan yang lebih berat dari pada luka bakar yang terlihat pada permukaannya. Untuk irigasi ini dapat digunakan kanula kecil yang dipasang pada sulkus palpebra. sedangkan kulit di atasnya relatif tampak normal. pernafasan.17 47 .waktu yang lebih lama. Tubuh merupakan penghantar tenaga listrik. janganlah menunggu konfirmasi laboratorium untuk melakukan terapi terhadap mioglobunuria. 17 2. Jangan memberikan bahan-bahan penetral (neutralizing agent) sebab reaksi kimia yang terjadi akibat pemberian bahan penetral dapat menimbulkan panas dan akan memperberat kerusakan yang terjadi. menyebabkan luka bakar pada tubuh. Perbedaan kecepatan hilangnya panas dari tubuh superfasial dengan jaringan tubuh yang lebih dalam. berikan segera 25 gr manitol dan tambahkan manitol 12. Bila terjadi asidosis metabolic. sikatlah terlebih dahulu sebelum irigasi. Pemberian cairan harus ditingkatkan sedemikian rupa sehingga tercapai produksi urine sekurang- kurangnya 100 cc/jam (pada dewasa). Untuk luka bakar pada mata. menghasilkan keadaan dimana jaringan yang lebih dalam akan bisa mengalami nekrosis. memerlukan irigasi terus menerus selama 8 jam pertama setelah luka bakar. pertahankan perfusi sebaik mungkin dan berikan Natrium Bikarbonat untuk membuat urine menjadi alkalis dan meningkatkan kelarutan mioglobin dalam urine.

4 Tabel 1. Hemostasis terjadi karena trombosit yang keluar dari pembuluh darah saling melengket. pengeluaran sel-sel radang. sel mast dalam jaringan ikat menghasilkan serotonin dan histamin yang meningkatkan permeabilitas kapiler sehingga terjadi eksudasi cairan. dan bersama dengan fibrin yang terbentuk membekukan darah yang keluar dari pembuluh darah. disertai vasodilatasi setempat yang menyebabkan oedem dan pembengkakan. Sementara terjadi reaksi inflamasi.Fase Penyembuhan Luka 17 FASE INFLAMASI Fase inflamasi berlangsung sejak terjadinya luka sampai kira-kira hari kelima. dan remodelling jaringan. proliferasi. dan reaksi hemostasis. Proses fisiologis penyembuhan luka dapat dibagi dalam tiga fase yaitu : fase inflamasi.1.BAB III PEMBAHASAN MEKANISME PENYEMBUHAN LUKA Proses biokimia dan seluler kemudian terjadi dalam penyembuhan semua cedera jaringan lunak yang rusak ini.2. Pembuluh darah yang terputus pada luka akan menyebabkan perdarahan dan tubuh akan berusaha menghentikannya dengan vasokonstriksi. 48 . pengerutan ujung pembuluh yang putus (retraksi).

Leukosit mengeluarkan enzim hidrolitik yang membantu mencerna bakteri dan kotoran luka. Fase inflamasi 4 49 . Terdapat juga limfosit yang terdiri dari 2 kelompok yaitu limfosit B dan limfosit T. Limfosit. Serum tambahan itu menghasilkan faktorfaktor kemotaksis dan menyebabkan PMN lekosit (neutrofil) menempel pada pembuluh darah (marginasi) dan migrasi melalui dinding pembuluh darah (diapedesis). pendapat lain mengatakan bahwa fase seluler ini disebabkan oleh aktivasi dari serum pada jaringan yang rusak. Pada waktu kontak dengan benda asing netropil melepaskan lisosom yang dikandungnya (degranulasi). serta sel T citotoksis untuk melarutkan sel-sel asing dan antigen.Selain itu akan terjadi aktivitas seluler yang merupakan gerakan leukosit menembus dinding pembuluh darah menuju luka karena daya kemotaksis.5 Gambar 15. Limfosit B berguna untuk mengenali antigen. monosit yang kemudian muncul ikut menghancurkan dan memakan kotoran luka. Sedangkan limfosit T terdiri dari kelompok yaitu T helper untuk merangsang sel B berdeferensiasi dan berproliferasi. menghasilkan antibodi yang membantu mengingatkan sistem pertahanan tubuh untuk mengidentifikasi benda asing dan berinteraksi dengan faktor tambahan untuk melarutkan sel-sel asing.2. Lisosom tersebut merusak bakteri dan benda asing lainnya serta mengangkat jaringan nekrotik.

membantu mengamati benda asing.FASE PROLIFERASI Serat-serat fibrin diperoleh dari darah yang mengalami pembekuan yang menutup luka. Apabila tegangan pada luka terjadi pada awal tahap fibroplastis. Gambaran akhir pada tahap fibroplastis adalah kaku oleh karena banyaknya kolagen dan kemerahan oleh karena vaskularisasi. maka terjadi penarikan di sepanjang garis utama dan luka. menggerakkan sistem pertahanan tubuh. Akan tetapi bila terjadi pada akhir dan tahap ini akan menyebabkan lepasnya hubungan antara serat kolagen yang lama di sepanjang tepi luka dan terbentuk kolagen yang baru. Fibroblas yang terdapat pada tropokolagen akan menghasilkan serat kolagen. Substansia dasar mengandung sejumlah mukopolisakaride yang berguna untuk melekatkan serat-serat kolagen. Fase proliferasi 4 50 . berbentuk seperti anyaman.5 Gambar 16. normalnya antara 2-3 minggu.4.2 Fibrinolisis terjadi disebabkan oleh plasma yang dibawa oleh pembuluh darah kapiler yang baru. Fibroblas mengeluarkan fibronectin yaitu kandungan protein yang mempunyai fungsi membantu mempertahankan kestabilan fibrin. bertindak sebagai faktor kemotaksis dari fibroblas. dan membantu makrophage. Jaringan dengan cepat tumbuh menjadi kuat selama tahap fibroplastis. Fibroblas mulai terbentuk pada substansia dasar dan tropokolagen.

sehingga menyebabkan hilangnya fleksibilitas pada daerah bekas luka. kolagen yang berlebih diserap dan sisanya mengerut sesuai dengan regangan yang ada. pengerutan sesuai dengan gaya gravitasi. Fase ini dapat berlangsung berbulanbulan dan dinyatakan berakhir kalau semua tanda radang sudah lenyap. Metabolisme menurun. Udem dan sel radang diserap. diganti dengan kolagen yang baru guna meningkatkan ketahanan jaringan pada luka. Elastin dan ligamen tidak kembali pada penyembuhan luka. 51 . dan lembut serta mudah digerakkan dari dasar. Tubuh berusaha menormalkan kembali semua yang menjadi abnormal karena proses penyembuhan. Terlihat pengerutan maksimal pada luka. dan akhirnya pembentukan kembali jaringan yang baru. Selama proses ini dihasilkan jaringan parut yang pucat. Selama tahap ini kekuatan jaringan meningkat secara perlahan.5 Lebih jelasnya pada tahap ini kolagen yang lama dihancurkan. tetapi tidak seperti pada tahap fibroplastis. Karena serat kolagen sangat sedikit akibatnya terbentuk bekas luka yang lunak.FASE REMODELING Pada fase ini terjadi proses pematangan yang terdiri dari penyerapan kembali jaringan yang berlebih. kapiler baru menutup dan diserap kembali. sel muda menjadi matang. sistem vaskularisasi berkurang sehingga kemerahan pada bekas luka juga berkurang. Kekuatan jaringan tidak lebih dari 80-85% dibandingkan dengan jaringan yang normal dan hal ini tercapai kira-kira 3-6 bulan setelah penyembuhan. tipis.

3. Hal ini biasanya terjadi pada luka yang terbuka.5. jadi dilakukan bantuan tindakan bedah agar luka menjadi tertutup. kehilangan jaringan yang agak luas. dan akhirnya luka tertutup dengan pertumbuhan epitel dari pinggiran luka. jahitan yang kurang rapat atau luka dengan suatu dead space.6 52 . Jenis penyembuhan ini terjadi pada luka sayat aseptik yang ditutup secara primer. 2. karena infeksi.3. selanjutnya terjadi kontraksi luka sehingga ukuran luka mengecil. Penyembuhan secara tertier Diartikan sebagai penyembuhan pada suatu luka yang sejak awal dibiarkan terbuka atau luka terbuka kembali setelah dijahit primer.5.JENIS-JENIS PENYEMBUHAN LUKA Jenis-jenis penyembuhan luka adalah : 1.6 3. Penyembuhan secara sekunder Luka yang dalam proses penyembuhan terisi dengan jaringan granulasi. yang pada beberapa hari kemudian (3-4 hari) dilakukan penjahitan untuk menutup kembali luka tersebut. Penyembuhan secara primer Penyembuhan luka berlangsung dengan pembentukan jaringan granulasi yang minimal.

Kira-kira 53 . dan tersier (c) 3 FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP PENYEMBUHAN LUKA Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi dan memperlambat penyembuhan luka. Tepian luka yang sedang tumbuh merupakan suatu daerah yang aktivitas metaboliknya sangat tinggi. dalam hal ini hipoksia menghalangi mitosis dalam sel-sel epitel dan fibroblas yang bermigrasi. faktor tersebut dibagi dalam faktor dari pasien (intrinsik) seperti kondisi yang kurang menguntungkan pada tempat luka dan sejumlah kondisi medis yang dapat menyebabkan lingkungan sekitar yang buruk terhadap penyembuhan luka. Penyembuhan primer (a). Untuk itu dibutuhkan suplai darah dari vena dan arteri yang cukup. Aktivitas fagositik dan aktivitas mitosis secara khusus mudah terpengaruh terhadap penurunan temperatur pada tempat luka. Oleh karena itu akan terjadi jaringan yang mati. sekunder (b). jaringan nekrotik. seperti pengelolaan luka yang kurang tepat dan efek-efek terapi lainnya yang kurang menguntungkan.Gambar 17. sintesa kolagen dan kemampuan makrofag untuk menghancurkan bakteri yang tercerna. 2. membutuhkan banyak nutrisi dan pembuangan kotoran. Turunnya temperatur. Faktor lokal yang berpengaruh terhadap penyembuhan luka : 1. racun dan bakteri. Pada daerah dimana suplai darah tidak cukup akan menyebabkan kebutuhan sel-sel tidak terpenuhi. Kurangnya suplai darah dan pengaruh hipoksia. Pada semua luka terdapat peradangan. serta faktor-faktor dari luar (ekstrinsik).

akibatnya terjadi hambatan pada pembentukan 2. Jaringan nekrotik. Oleh karena itu sangat penting untuk mengeluarkan kontaminan organik maupun anorganik secepat mungkin tetapi dengan trauma yang minimum terhadap jaringan utuh. 3.dibawah 28◦C aktivitas leukosit dapat turun sampai nol. pasien dengan penyakit diabetes melitus. gangguan sistem imun. Penyakit sistemik. Mobilisasi. Dengan bertambahnya umur daya regenerasi dari jaringan tubuh akan berkurang. Infeksi. Adanya jaringan nekrotik dan krusta yang berlebihan di tempat luka dapat memperlambat penyembuhan dan meningkatkan resiko terjadi infeksi.1. anemia dan penyakit lain. Penyembuhan luka pada penderita yang masih muda berlangsung lebih cepat. Kekurangan vitamin C menyebabkan fibroblas tidak matang atau berdiferensiasi. Protein berguna untuk mengefektifkan metabolisme penderita dan mengembalikan plasma protein. pergerakan yang terjadi pada luka merupakan trauma yang berulang pada luka tersebut. sehingga dapat mengakibatkan terhambatnya penyembuhan luka.4 54 . 3. 4. krusta yang berlebihan dan benda asing. Umur. Malnutrisi. Dalam keadaan kekurangan protein akan mengakibatkan fibroblas tidak menjadi matang sehingga pembentukan serat kolagen hanya sedikit akibatnya penyembuhan menjadi terhambat. infeksi kronis. gangguan kardiovaskuler. Suatu kebijaksanaan adalah penggunaan antibakteri lokal untuk mengatasi infeksi pada jaringan yang terkontaminasi. Faktor sistemik yang berpengaruh pada penyembuhan luka: 1. Dua bahan nutrisi yang menunjukkan secara langsung untuk penyembuhan adalah protein dan vitamin C. Vitamin C penting untuk mempertahankan ikatan antara sel-sel endotel pada kapiler. 5. Demikian juga adanya segala bentuk benda asing termasuk bahan jahitan dan drain luka. faktor yang penting dan sering menimbulkan masalah pada kasus penyembuhan di tempat praktek.

Bentuk flap yang kurang benar c. b.Benda Asing Benda asing adalah segala sesuatu yang dianggap asing bukan anggota dari tubuh oleh sistem pertahanan tubuh terhadap mikroorganisme. Iskemia Iskemia. Jaringan Nekrotik Jaringan nekrotik. dan antibiotik yang sangat diperlukan. Hipotensi 55 . sehingga dapat menyebabkan terjadinya infeksi pada luka. adalah berkurangnya suplai darah berpengaruh terhadap tahap perbaikan luka. Tahap peradangan diperpanjang dimana sel darah putih mengangkut sisa-sisa jaringan nekrotik melaiui proses larutnya enzim dan paghositosis. Terlalu tegang atau tidak tepatnya lokasi penjahitan b. Iskemia menurunkan pengiriman oksigen dan zat makanan yang diperlukan untuk penyembuhan luka. Merupakan penghambat terbentuknya sel-sel reparasi. Yang termasuk jaringan nekrotik adalah darah yang terkumpul pada luka (hematom) merupakan sumber makanan yang bagus bagi bakteri. sel darah putih. dengan adanya jaringan nekrotik akan menyebabkan masalah antara lain: a. termasuk bakteri. Jaringan nekrotik sebagai tempat berlindungnya bakteri. Bakteri dapat berkembang biak dan menyebabkan infeksi dimana akan mengeluarkan protein bakteri yang dapat merusak jaringan b. c. a. kotoran dan benang jahit. Benda asing sering berbentuk antigen yang memacu terjadinya peradangan kronis. Iskemia dapat mengurangi pengiriman antibodi. Tekanan dari luar dan dalam luka (hematom) d. Iskemia disebabkan oleh beberapa hal yaitu : a. Benda asing yang bukan bakteri tetapi bertindak sebagai bakteri yang dapat meenyebabkan terjadinya infeksi.

Jaringan diliputi oleh benang yang terlalu tegang sehingga menimbulkan iskemia. MEKANISME PENYEMBUHAN JARINGAN SARAF Proses penyembuhan jaringan saraf tergantung pada derajat keparahan dan keluasan luka. tanpa rusaknya akson (selubung myelin masih intak atau terdapat luka yang kecil) penyembuhan dari defisit fungsional berlangsung secara spontan dan umumnya lengkap dalam tiga . Setelah sel saraf terluka. Pada luka badan saraf. sehingga akan meninggalkan tanda yang buruk. Anemia Ketegangan Jaringan Ketegangan jaringan. investing Schwann cells akan memulai beberapa perubahan yang disebut 56 .5. Hal ini akan berpengaruh pada bagian distal dari lokasi luka dan sebagian bagian proksimal dari luka. terjadi degenerasi pada semua akson di badan saraf yang terluka. penggunaan antibiotik topikal yang kurang tepat dan ramuan obat perawatan luka lainnya. Penjahitan dengan benang yang terlalu kencang dapat menimbulkan ketegangan pada jaringan di daerah luka.3. Apabila terlalu lama benang tidak diambil maka akan mendatangkan ketegangan jaringan dan luka cenderung semakin terbuka selama tahap remodeling. penggunaan antiseptik yang tidak bijaksana.empat minggu.e. ketegangan dari luka dapat menghambat terjadinya penyembuhan. serta teknik pembalutan dan penjahitan yang kurang hati-hati adalah penyebab terlambatnya penyembuhan luka yang dapat dihindari. Pada luka yang menyebabkan terganggunya konduksi saraf. Penyakit pembuluh darah tepi f. Apabila ada kerusakan akson (sel Schwann dan jaringan ikat masih intak) akan terjadi perubahan morfologis sebagai manifestasi dari degenerasi aksoplasma. Jika benang diambil terlalu awal maka dapat terjadi pembukaan kembali dari luka sehingga dapat menimbulkan kontraksi dari luka.6 PENATALAKSANAAN LUKA YANG TIDAK TEPAT Gagal mengidentifikasi penyebab yang mendasari sebuah luka atau gagal untuk melakukan identifikasi masalah lokal di tempat luka.

tipe luka. serta menjaga luka tetap bersih. pembengkakan. nutrisi. Bagian yang mengalami dehiscence dapat ditutup lagi atau dibiarkan supaya terjadi penyembuhan sekunder. Proses regenerasi sel saraf berlangsung sekitar 3 bulan dan ditandai dengan terbentuknya akson bermielin.1. tergantung luas daerah dehiscence dan keputusan klinisi. dan eliminasi dead space.4 KOMPLIKASI PENYEMBUHAN LUKA Infeksi Pada Luka Infeksi pada luka umumnya merupakan infeksi dari kontaminasi bakteri pada luka tersebut. Selama 78 jam. Tindakan yang tidak asepsis merupakan penyebab utama terjadinya luka yang terinfeksi. Keloid timbul beberapa bulan setelah luka sembuh. meliputi debridement. rasa nyeri. sel Schwann akan menghubungkan bagian proksimal dan distal dari luka dengan cara membentuk suatu ikatan (Bungner’s band) yang akan menerima akson yang sudah regenerasi dari bagian proksimal. di sepanjang akson distalis dan beberapa akson proksimalis. Setelah debris dapat dibersihkan. peningkatan suhu. dan umumnya disertai dengan terbentuknya pus dan bau. infeksi dapat terjadi akibat daya tahan tubuh host yang menurun atau derajat virulensi bakteri. dan saraf yang terlibat. akson yang terluka akan difagositosis oleh sel Schwann dan makrofag. Berdasarkan hasil penelitian. Proses regenerasi dipengaruhi oleh faktor umur. Infeksi luka dapat dikurangi dengan cara melakukan tindakan bedah yang benar. sedangkan hyperthropic scar timbul segera setelah luka 57 . Jaringan parut Keloid memiliki faktor predileksi hubungan kekerabatan dan ras. Selain itu. hemostasis yang adekuat.degenerasi wallerian. infeksi dapat terjadi bila terdapat 1 x 105 bakteri dalam 1 gram jaringan. Sel Schwann juga dapat mengeluarkan beberapa faktor neurotropik untuk menunjang regenerasi sel saraf. Gejala klinis dari luka yang terinfeksi adalah eritema.7 Dehiscence Dehiscence terjadi akibat tindakan hecting yang tidak optimal. Perlu dibedakan antara keloid dengan hyperthrophic scar.

Hal yang dapat dilakukan adalah menjaga jarak antarjahitan tidak terlalu rapat dan setelah dilakukan hecting.4 58 . pasien dapat diberikan obat anti-keloid (salep kanakeloid atau injeksi kenacort 2x sebulan).sembuh.

tahap fibroblastis dan tahap remodeling. dan jaringan parut yang berlebihan. Proses penyembuhan luka dapat dibagi menjadi tiga tahap dasar yaitu tahap inflamasi. 59 . penyembuhan luka dipengaruhi oleh faktor lokal dan faktor sistemik. dehiscence. iskemia dan ketegangan jaringan. Faktor-faktor yang menghambat proses penyembuhan luka adalah adanya benda asing.BAB IV KESIMPULAN Luka adalah terputusnya kontuinitas jaringan baik tanpa kehilangan jaringan atau disertai dengan kehilangan jaringan. Luka pada jaringan dapat disebabkan oleh peristiwa patologis atau trauma. adanya jaringan nekrotik. Komplikasi yang sering terjadi adalah infeksi.

The Principles of Wound Healing. www. Jakarta: EGC 8. dkk. Media Aesculapius.B Saunders Co. Feinberg. 2003. EGC. M. Cristhoper's Textbook of Surgery.jellygamatluxornet.hal. W. diunduh tanggal 22 Januari 2013 11. www. JM. SE. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta. 15. 2.wordpress. diunduh tanggal 22 Januari 2013 14. 60 . http://www. in Fonseca RJ and Walker RV. 9.B. diunduh tanggal 22 Januari 2013 16. www. 1998. Morison. diunduh tanggal 22 Januari 2013 10.D. www. diunduh tanggal 22 Januari 2013 17.com .300 – 309. hal.com. Oral and Maxillofacial infection. dalam Dasar Patologi Penyakit. Manajemen Luka. Sjamsuhidajat R.G. http://burn-victim-help-center.dc349.com . London: Saunders Company. FK-UI.patient. F.com. edisi 5. 105-107. 20. Wim de Jong. 1998. Philadelphia: W. Healing of Traumatic Injuries. 365-372.DAFTAR PUSTAKA 1. American College of Surgeon.com . Suprohaita. 2002.skwawesome.meddet. diunduh tanggal 22 Januari 2013 13. I. Manual Untuk Peserta ATLS. hal.G and Goldberg M.4shared. hal 28-42. hal. Radang dan perbaikan.com . Pederson W.co.Saunders and Co. 6. Topazian R. 9th ed. Buku Ajar Bedah Mulut. Arif Mansjoer. Cotran. in Loyal Davis. Enquist. 1991. Vol. 4. www. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2. Frying. Robins. Larsen. www.81-91. tahun 1996. Kumar. diunduh tanggal 22 Januari 2013 12. 1996.H. Patient UK.65.bayoesunaryo. Philadelphia. Oral and Maxillofacial Trauma. 7.adam. Alih Bahasa Purwanto.B. Simple Wound Management and Suturing. Pp: 99-111 3. PE. W. 1997.uk 5. 2001. EGC. 4th ed.com .

61 .

menggunakan panas .namun prosedur ini juga membatasi kemampuan mulut sementara waktu.Penanganan Perdarahan / Hemostasis dan Pengelolaan Nutrisi Penderita Trauma Oromaksilofasial Alvin 160121120006 Peserta Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut Dan Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Abstrak : Perdarahan pada penderita oromaksilofasial merupakan suatu jenis kegawatdaruratan yang dapat mengancam jiwa. meletakkan substansi vasokonstriktif. nutrisi 62 . Hal ini berakibat menurunnya daya tahan tubuh. terjadinya edema. trauma. maka dari itu diperlukan suatu penanganan perdarahan secepat mungkin. gangguan enzim dan metabolisme serta kelemahan otot. Pada keadaan trauma (stress dan sepsis) tubuh mengalami rangkaian perubahan hormonal yang menambah laju metabolisme. Oleh karena itu pasien dengan trauma oromaksilofasial memerlukan intervensi nutrisi dalam rawat inap di rumah sakit. Penanganan perdarahan dapat dilakukan dengan membentuk mekanisme hemostasis natural. Kata kunci : perdarahan. Maksud dari penulisan makalah ini adalah untuk memberikan gambaran penanganan perdarahan dan pengelolaan nutrisi penderita trauma oromaksilofasial . pengikatan dengan benang. Pada penderita trauma oromaksilofasial juga diperlukan adanya pengelolaan nutrisi yang adekuat dikarenakan pada penderita trauma kemampuan penggunaan mulut penderita berkurang. Prosedur bedah mulut dan maksilofasial dapat mengeliminasi permasalahan ini dengan suatu prosedur operasi. dan terhambatnya penyembuhan luka gangguan motilitas usus.

BAB I PENDAHULUAN Manajemen pasien yang mengalami trauma jarang dijumpai pada pusat trauma mayor dimana sumber dayanya tidak terbatas. Fraktur-fraktur yang pada jaman dahulu tidak dapat dikenali sama sekali atau hanya bersifat dugaan sekarang ini bisa ditunjukkan sampai hal yang terkecil. atau daerah-daerah lain dengan sumber daya yang terbatas yang biasanya tidak dapat menangani pasien dengan trauma yang kompleks dan frekuensi yang besar. kantor. Kunci penatalaksanaan pasien trauma biasanya melibatkan mobilisasi dari pasien-pasien tersebut dan penyaluran ke pusat trauma untuk penanganan lebih lanjut. Trauma oromaksifasial dapat menimbulkan perdarahan. hanya tekniknya yang berkembang pesat. jalan raya. Dengan tersedianya antibiotik dan peralatan yang khusus. Keadaan ini membutuhkan pertolongan segera yang dapat berupa pertolongan pertama sampai pada pertolongan selanjutnya secara baik di rumah 63 . pasien tersebut sering membutuhkan penanganan medis darurat atau kematian dapat terjadi 1. Perawatan yang terdahulu hanya terdiri atas fiksasi gigi pada oklusi sentrik untuk mengurangi dan mengimobilisasi suatu rahang. Trauma yang terdapat pada regio maksilofasial memerlukan perhatian khusus. Sekarang ini dasar pemikiran perawatan fraktur mandibula dan maksila masih tidak banyak berubah. membuat pendekatan per oral pada perawatan fraktur fasial menjadi aman dan layak dilakukan 2. namun justru dijumpai pada perumahan yang terpencil. Pada mulanya dokter gigi dilibatkan pada perawatan trauma rahang karena mereka menguasai pengetahuan tentang gigi dan oklusi. sehingga memerlukan tindakan di dalam ruang gawat darurat agar tidak menimbulkan kematian 3. Diagnosis didukung dengan adanya teknik radiografis yang berkembang dengan pesat. Ketika trauma yang kompleks terjadi.

Insidensi trauma maksilofasial sering terjadi terutama yang berhubungan dengan kecelakaan kendaraan bermotor.sakit. Fraktur Le Fort I bila fraktur terdapat pada bagian bawah dari midface. Tindakan tersebut dimaksudkan untuk menyelamatkan jiwa mencegah dan membatasi cacat serta meringankan penderitaan dari penderita. Keadaan ini selain membutuhkan pengetahuan dan ketrampilan yang baik dari penolong dan sarana yang memadai. bila fraktur hanya terdapat pada mandibula. Kelompok ketiga tertinggi dari pasien trauma berumur antara 75 dan 85 tahun dan kebanyakan adalah wanita yang terluka karena jatuh atau oleh karena kecelakaan motor. Bagian yang ketiga dari regio maksilofasial adalah wajah bagian bawah. Berikut ini akan dibahas mengenai penanganan perdarahan/hemostasis dan pengelolaan nutrisi pada kegawatdaruratan trauma oromaksilofasial sebelum dilakukan penanganan definitif lebih lanjut. Midface yang bagian atas bila terdapat fraktur Le Fort II dan Le Fort III dan/atau fraktur tulang nasal. sehingga memerlukan tindakan di dalam ruang gawat darurat agar tidak menimbulkan kematian 3. Bagian pertama adalah wajah yang bagian atas. juga dibutuhkan pengorganisasian yang sempurna. Kelompok umur ini adalah kelompok yang paling sering dijumpai oleh spesialis bedah mulut untuk evaluasi dan pengobatan luka fasial 1. 1 64 . bila fraktur melibatkan sinus dan tulang frontal. luka tusuk dan perkelahian). fraktur nasoetmoidal atau kompleks zygomatikomaksilari dan fraktur dasar orbita. Bagian kedua adalah daerah tengah wajah atau midface. 3 Regio maksilofasial terbagi menjadi tiga bagian. Midface dibagi menjadi bagian atas dan bagian bawah. 3 Kematian pada penderita dengan trauma oromaksilofasial salah satunya dapat disebabkan oleh perdarahan yang tidak cepat diatasi. dengan jenis kelamin laki-laki yang paling dominan terluka pada kecelakaan motor dan oleh karena kekerasan (luka tembak. Kelompok utama yang kedua dari pasien trauma berumur antara 35 dan 44 tahun dan didominasi oleh laki-laki yang terluka karena kecelakaan motor. Distribusi umur pasien trauma menunjukkan bahwa pasien trauma berumur antara 17 dan 24 tahun.

Pemeriksaan fisik menyeluruh b. Diagnosis dan penanganan sekunder a. Nutritional support 5. Resusitasi dan pananganan primer a. Circulation) b. Stabilisasi tulang belakang e. PENANGANAN TRAUMA OROMAKSILOFASIAL Pada umumnya penderita dengan trauma oromaksilofasial terjadi bersamaan dengan trauma pada bagian tubuh yang lain (trauma multiple).BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Penanganan yang dilakukan sebelum dibawa ke rumah sakit a. Perawatan non operatif c. Adapun tahap-tahap penanganan trauma adalah sebagai berikut 4: 1. Perawatan Definitif a. Menghentikan perdarahan eksternal c. ABC (Airway. Pembedahan b. Pemantauan 3. Radiografi c. Tranportasi cepat (Ambulatory) 2. Stabilisasi fraktur d. Resusitasi cairan c. Sehingga tahap-tahap penangannnya bersamaan dengan penanganan trauma yang lainnya. Rehabilitasi 65 . Mempertahankan jalan napas b. Resusitasi dan pemantauan lanjut 4. Breathing. Pemeriksaan Laboratorium d.

Perdarahan primer jika terjadi pada waktu terputusnya pembuluh darah karena trauma. waktu perdarahan. Berbagai macam perdarahan yang dibagi menurut pembuluh darah yang terluka. Perdarahan vena. c. Menurut lokasi perdarahan. 2. dengan ciri-ciri warna darah merah gelap karena mengandung karbondioksida dan darah yang keluar mengalir tetap. dengan ciri-ciri warna darah cerah terang karena mengandung oksigen dan perdarahan memancar dengan aliran yang terputus-putus sesuai dengan denyut jantung. 3. perdarahan dapat dibagi menjadi: a. c. Perdarahan eksternal jika darah keluar dari kulit atau jaringan lunak dibawahnya. Perdarahan mekanik yaitu perdarahan terjadi akibat trauma mekanik atau kecelakaan b. Menurut waktu terjadinya perdarahan. TINJAUAN UMUM PERDARAHAN Perdarahan adalah keluarnya darah dari pembuluh darah kedalam ruang ekstravaskuler. Perdarahan internal jika arah tidak keluar. Perdarahan intermediate jika terjadi dalam 24 jam. dan penyebab perdarahan. Perdarahan kapiler. dapat terjadi karena kelainan 66 . b. yang akan diuraikan sebagai berikut1: 1. dibagi menjadi: a. Perdarahan sekunder jika terjadi setelah 24 jam. b. Menurut pembuluh darah yang terluka. Perdarahan spontan/biokemis yaitu perdarahan terjadi akibat kelainan atau gangguan mekanisme hemostasis. Menurut penyebab terjadinya perdarahan maka dibagi menjadi: a. operasi.B. maka dibagi menjadi: a. dan darah merembes dari permukaan luka. dengan ciri-ciri warna darah antara darah arteri dan vena. tetapi masuk kejaringan sekitarnya. Perdarahan arteri. lokasi perdarahan. karena hilangnya kontinuitas pembuluh darah. b. 4.

Hemostasis sekunder. yang termasuk didalamanya adalah faktor pembekuan dan anti pembekuan. Salah satunya adalah menurunnya visibilitas yang dikarenakan perdarahan yang tidak terkontrol. sehingga tekanan darah di dalam kapiler meningkat. Gangguan faktor hemostasis akan mengakibatkan terjadinya perdarahan atau trombosis. Hematoma memberikan tekanan pada luka. HEMOSTASIS Hemostasis adalah proses penghentian perdarahan dari pembuluh darah yang mengalami kerusakan secara spontan. C. Dinding kapiler yang kurang kuat akan menyebabkan darah keluar dan merembes kedalam jaringan sekitarnya sehingga nampak titik merah kecil pada permukaan kulit. hematoma tersebut meningkatkan tarikan pada tepi luka dan berfungsi sebagai media kultur. yang akan diuraikan sebagai berikut: 1.pembuluh darah. yang memungkinkan terjadinya infeksi pada luka 5. Masalah lainnya yang disebabkan oleh perdarahan adalah terbentuknya hematoma. 67 . Percobaan Pembendungan (Tes Rumpel Leede) Menguji ketahanan dinding kapiler darah dengan cara mengenakan pembendungan kepada vena. Akan tetapi pengontrolan hemostasis penting dikarenakan oleh adanya alasan-alasan yang penting juga. yang termasuk didalamanya adalah pembuluh darah dan trombosit. kelainan trombosit dan kelainan mekanisme pembekuan darah. Hemostasis primer. Evaluasi faal hemostasis dapat dilakukan melalui beberapa cara. mengurangi vaskularitas. Pencegahan kehilangan darah yang banyak merupakan hal yang penting untuk menjaga kapasitas transpor oksigen pada pasien tersebut. titik itu disebut petekia. Hemostasis dapat dibagi menjadi5: 1. Trombosis yaitu darah membeku di pembuluh darah. 2. Perdarahan yaitu darah keluar dari pembuluh darah.

protrombin dan fibrinogen.V.000-400. Waktu protrombin 12-14 Detik 68 . Tabel 1. 4. X. IX. kininogen. X. trombositopenia Lebih lama bila berkaitan dengan defisiensi faktor-faktor I. Mungkin abnormal pada penyakit hati.000/ul. Masa Protrombin Plasma (Protrombine Time/PT) Menguji pembekuan darah melalui jalur ekstrinsik dan jalur bersama yaitu faktor pembekuan VII. 5. Pemeriksaan Penyaringan untuk Faktor XIII Digunakan untuk menilai kemampuan faktor XIII dalam menstabilkan fibrin.X. XI.2. Hitung jumlah trombosit Perdarahan tidak terjadi jumlah trombosit lebih dari 100. Tes Koagulasi Jenis Tes Nilai Normal Kegunaan Mengamati fungsi vaskular dan platelet. protrombin dan fibrinogen 6.000/ul digolongkan trombositopenia berat dan perdarahan spontan akan terjadi jika jumlah trombosit kurang dari 20. V. Jumlah trombosit kurang dari 50. defisiensi vitamin K. deteksi penyakit willebrand Waktu perdarahan 2-7 menit Hitung platelet 150. V. prekalikren. 3.II. Trombine Time (TT) Perubahan fibrinogen menjadi firbin 7. Masa tromboplastin parsial teraktivitas ( Activitated Parsial Tromboplastin Time/APTT) Menguji pembekuan darah melalui jalur intrinsik dan jalur bersama yaitu faktor pembekuan XII.000/mm³ Deteksi trombositosis .000/ul. VIII. Masa perdarahan Menilai kemampuan vaskuler dan trombosit untuk menghentikan perdarahan.VII.

bila ada defisiensi faktor pembekuan darah.diaktifkan oleh tromboplastin Diperlukan untuk merubah protrombin menjadi thrombin Tes PT PT PTT III Tromboplastin IV V VI Kalsium Proaccelerin Tidak lagi digunakan Diperlukan pada semua tahap Diperlukan untuk pembentukan tromboplastin PTT PT PTT VII Proconvertin Diperlukan untuk mengubah protrombin menjadi thrombin PT VIII Faktor antihemofilik (AHF) Diperlukan untuk pembentukan tromboplastin IX Komponen Plasma tromboplastin X Faktor Stuart Prower Diperlukan dalam pembentukan tromboplastin dan perubahan dari protrombin menjadi thrombin XI Anteseden tromboplastin plasma XII Faktor Hageman XIII Faktor stabilisasi fibrin PT : Waktu protrombin PTT : Paruh waktu tromboplastin Mengawali proses pembekuan darah in vitro Merubah fibrin menjadi polimer fibrin Diperlukan untuk pembentukan tromboplastin Diperlukan untuk pembentukan tromboplastin PTT PTT PTT PTT PTT PTT 69 . Penggunaan aspirin. kecuali VII Hemofilia Tabel 2. dan anti-radang nonsteroid lain. Faktor Pembekuan Darah Faktor I II Fibrinogen Protrombin Peranan pada pembekuan darah Prekursor fibrin Proensim. Paruh waktu tromboplastin 60-70 detik Lebih lama.terapi warfarin sodium (Coumadin).

dressing tersebut sebaiknya jangan dilepaskan. 8% hingga 9% dari berat badan. Aspek negatif dari suplai darah tersebut adalah hemoragi mayor dapat disebabkan oleh luka pada kulit kepala yang besar.0 nonresobable atau staples tanpa memperhatikan kosmetik pasien.D. volume darah tidak meningkat secara spesifik. Hemoragi dapat secara eksternal maupun internal ke dalam kavitas tubuh. Luka kulit kepala dapat dengan cepat diatasi dengan dijahit menggunakan 2. Luka pada kulit kepala dapat menyebabkan kehilangan darah dalam jumlah besar pada waktu yang singkat karena perembesan darah pada galea dan lapisan jaringan ikat yang renggang. Tekanan langsung kemudian dapat dilakukan pada luka untuk 70 . Tekanan yang kuat dapat diaplikasikan proksimal ke arah arteri mayor untuk mengontrol perdarahan. dan luka tembus pada leher. fraktur nasal atau tengah wajah. volume darah secara umum tinggi per satuan berat. kita mengetahui adanya suplai vaskular yang banyak ke daerah muka dan leher. Sebagai spesialis bedah mulut dan maksilofasial. Pada anak-anak. Pada orang dewasa dengan berat badan yang ideal. Pada individu yang menderita obesitas. seperti air-pillow splints dan blood pressure cuff dapat juga digunakan. PENANGGULANGAN PERDARAHAN KARENA TRAUMA Kehilangan darah akut dari sistem peredaran darah disebut juga sebagai hemoragi. seorang laki-laki dengan berat badan 70 kg memiliki volume darah kurang lebih 5L. Perban tekan. hal tersebut hanya direkomendasikan apabila penekanan langsung pada luka saja tidak efektif 1. memberikan keadaan yang merugikan pada beberapa situasi karena menyebabkan luka vaskular. yang sebelumnya digunakan untuk meningkatkan tekanan darah pada kasus hipotensi yang parah. Hemoragi eksternal biasanya dapat dikontrol dengan melakukan penekanan secara langsung ke luka yang ada. Maka dari itu. Akan tetapi. PASGs dan medical antishock trousers(MASTs). volume darah normal (liter) adalah sebanyak 7% dari berat badan (kilogram). Tekanan yang digunakan untuk mengontrol perdarahan sebaiknya kuat dan kontinu. Ketika dressing yang digunakan menjadi basah. tetapi sebaiknya dressing tambahan digunakan karena apabila dressing dilepaskan maka formasi clot yang telah terbentuk dapat terganggu dan menyebabkan perdarahan kembali.

mengontrol hemoragi dan meminimalkan pembentukan hematoma. fraktur tibia 250 ml hingga 500 ml. dapat dikontrol dengan tekanan dari gauze packing selama beberapa waktu. hal ini biasanya tidak efektif jika digunakan sendiri saja dikarenakan sirkulasi kolateral dari wajah. Ketika pengontrolan langsung pembuluh darah diperlukan. dan ekskremitas. retroperitoneum. Ketika pasien sudah stabil. jahitan dapat dilepaskan dari luka dan penutupan lapisan luka secara kosmetik dapat dilakukan 1. fraktur femur 500 ml hingga 1000 ml. Perdarahan internal arteri maksilaris yang disebabkan fraktur dinding posterior maksila. Pada kasus yang langka. sekaligus dapat menyebabkan kemungkinan rusaknya nervus. visualisasi yang adekuat dari pembuluh darah diperlukan. Pengontrolan perdarahan internal tidak dilakukan pada saat survei primer. Perdarahan internal dapat dikontrol dengan 71 . Fraktur pelvis dapat menyebabkan kehilangan darah sekitar 1000 ml sampai 2000 ml. yang dapat terjadi pada fraktur Le Fort I dan II. merupakan cara yang terbaik untuk mengatasi perdarahan yang tidak dapat dikontrol dengan menggunakan metode yang telah disebutkan di atas 1. Kebanyakan hemoragi dari fraktur fasial dapat dikontrol dengan tekanan langsung atau packing.jika tersedia. kecuali jika hemoragi tersebut menyebabkan keadaan yang merugikan pada sistem pulmonal dan kardiovaskular. ligasi dari arteri karotis eksternal mungkin diperlukan. Penjepitan tanpa melihat pembuluh darah dapat menyebabkan perdarahan dari pembuluh darah dan jaringan lunak. Hipovolemi yang terus menerus tanpa adanya perdarahan eksternal atau ke dalam rongga dada dapat menunjukkan adanya hemoragi abdominal atau hemoragi pada daerah fraktur. Embolisasi dari perdarahan dengan cara intervensi secara radiologi oleh radiologis . Pemeriksaan fisik dan radiografis sangat menolong dalam mengidentifikasi hemoragi ke dalam area tersebut. abdomen. Daerah internal yang potensial untuk tempat terjadinya perdarahan termasuk rongga dada. Fraktur nasal dan tengah wajah dapat menyebabkan robeknya arteri ethmoidal. Akan tetapi. dan tulang-tulang kecil lainnya 125 ml hingga 250 ml. Epinephrine dan cairan trombin dapat juga ditambahkan pada gauze packing dan kepala dapat juga dinaikkan untuk mendapatkan hemostasis.

Tiga kondisi harus dipenuhi untuk memenuhi persyaratan penggunaan koagulasi termal. sehingga arus listrik dapat memasuki tubuh. Mengusap dapat membuka kembali pembuluh darah yang telah tersumbat dengan beku darah 5. pasien harus berhubungan dengan tanah. Cara ketiga untuk membantu terjadinya hemostasis bedah adalah dengan pengikatan dengan benang. oklusi vaskular melalui mekanisme perlindungan. Syarat yang ketiga untuk koagulasi termal adalah pembuangan semua darah atau cairan yang terakumulasi di sekitar pembuluh darah yang akan dikauter. pembentukan clot.menggunakan fiksasi sekunder dari fraktur. Kedua. tip cauter dan intrumen metal lainnya yang disentuh oleh tip kauter tidak boleh menyentuh pasien pada titik lainnya selain pada area pembuluh darah yang berdarah. yang pada akhirnya menyebabkan koagulasi. Yang pertama adalah dengan membentuk mekanisme hemostasis natural. Beberapa pembuluh darah kecil kebanyakan hanya memerlukan tekanan selama 20 hingga 30 detik. Cairan bertindak sebagai penghalang energi dan mencegah sejumlah besar panas mencapai pembuluh darah untuk menyebabkan penutupan 5. Hemostasis luka dapat diperoleh dengan empat cara. atau dengan menyentuh pembuluh darah dengan tip elektrokauter. dan pembuluh darah besar memerlukan 5 hingga 10 menit penekanan yang kontinu. seperti hemostat. refraksi. dan operasi eksplorasi 1. Panas biasanya diaplikasikan melalui tegangan listrik yang dipusatkan oleh ahli bedah pada pembuluh yang mengeluarkan darah dengan memegang pembuluh darah dengan instrumen metal. Kedua metode tersebut menyebabkan stasis dari darah pada pembuluh darah. arus listrik dapat mengalir ke arah yang tidak diinginkan dan menyebabkan luka bakar. Jika pembuluh darah besar telah terpotong. Ahli bedah dan asisten sebaiknya “mencolek” bukan mengusap dengan spons untuk menghilangkan darah yang terekstravasasi. Jika tidak. Cara kedua untuk memperoleh hemostasis adalah dengan menggunakan panas untuk menyebabkan ujung dari pembuluh darah yang terpotong sehingga bersatu (koagulasi termal). Pertama. setiap 72 . Hal ini biasanya diperoleh dengan mengunakan fabric sponge untuk memberikan tekanan pada pembuluh darah atau meletakkan hemostat pada pembuluh darah.

ujungnya dijepit dengan menggunakan hemostat. Penanganan perdarahan di tempat kecelakaan diutamakan pada perdarahan eksternal.. 73 . PENANGANAN SEBELUM KE RUMAH SAKIT Tujuan penanganan sebelum penderita dibawa ke rumah sakit yaitu menyelamatkan jiwa penderita sebelum mendapatkan penanganan yang lebih lanjut di rumah sakit 6. Ahli bedah kemudian mengikat pembuluh darah tersebut dengan benang non-resorbable. dua hemostat dapat di letakkan pada pembuluh darah. Breathing. Perdarahan yang keluar dari hidung dapat diatasi dengan meletakan tampon di lubang hidung depan dan belakang 6. Pada perdarahan internal hanya dapat diatasi di rumah sakit. E. Perawatan penderita cedera akut dengan faktur pada daerah wajah. Circulation). seperti epinefrin.. Ketika pembuluh darah telah terputus. dan sirkulasi (Air ways. Cara mengatasinya dengan melakukan penekanan pada luka dan jika perdarahan masih berlangsung terus dilakukan pengikatan (ligasi). serta kontrol perdarahan 6. Perdarahan pada penderita dengan trauma oromaksilofasial dapat terjadi secara internal maupun eksternal. benang diikatkan pada setiap ujungnya dan hemostat dilepaskan 5. Cara keempat untuk mendapatkan hemostasis adalah dengan meletakkan substansi vasokonstriktif. pertama kali harus ditujukan pada penyelamatan jiwa dengan memperhatikan jalan nafas dan pernafasan. pada luka 5. seperti trombin atau kolagen. dengan jarak yang cukup di anataranya untuk memotong pembuluh darah. Jika pembuluh darah dapat dibebaskan dari jaringan ikat sekitarnya sebelum dipotong. pada luka atau dengan pengaplikasian prokoagulan.

Apabila tersedia. Jika keluarnya darah sangat deras. 74 . maka dapat diputuskan untuk meneruskan atau menghentikan prosedur 4. Sesudah mengontrol perdarahan Intra-operatif. Pergunakan cairan hipertonik 4. Melakukan klem pada daerah perdarahan dimulut sangat sukar dan melakukan pengikatan (ligasi) bahkan lebih sulit lagi. Penanganan Perdarahan Hidung6 Penanganan awal apabila terjadi perdarahan arteri adalah dengan penekanan.Gambar 1. Sering dengan hanya melakukan sudah bisa berhasil mengatasi perdarahan. Untungnya hanya dengan melakukan klem saja sudah cukup diinduksi untuk membuat beku darah. Pemberian cairan intravena dapat diberikan jika transportasi diperkirakan memerlukan waktu lebih dari 30 menit.dapat digunakan elektrokoagulasi dari pembuluh yang diklem sehingga tidak perlu diikat Alternatif yang lain yang biasa digunakan hanya pada pembedahan adalah menggunakan klip hemostatik pada pembuluh darah. misalnya terpotongnya arteri. Penekanan diperoleh dari penekanan langsung dengan jari atau dengan kasa. atau perdarahan berat melebihi 50 cc permenit. maka diklem dengan hemostat.

Pada keadaan ini kita mendahulukan penanganan trauma yang paling mengancam jiwa 1. hendaknya dilakukan bersamaan dengan penanganan jalan nafas. Jika belum dilakukan. keadaan-keadaan itu harus ditangani lebih dahulu oleh karena mengancam jiwa penderita 1. Seringkali trauma oromaksilofasial terjadi bersamaan dengan trauma pada bagian tubuh lain (trauma multiple). fraktur maksila). saraf. misalnya trauma mengenai cerebro kardiovaskuler. dan anggota gerakan lainnya. sinus paranasalis. dada. Untuk penderita dengan trauma oromaksilofasial pendekatan awal sedikit berbeda dengan cedera yang lain.Gambar 2. perkiraan jumlah darah yang dikeluarkan dan waktu yang digunakan untuk mengontrol perdarahan. sebelum melakukan pemeriksaan tanda-tanda vital. Penjepitan pembuluh darah secara acak harus dihindari karena dapat membahayakan pembuluh darah balik dan saraf 1. hidung. nasofaring (dari basis cranii) atau perdarahan dari hidung (fraktur nasalis. Perhatian harus segera diarahkan terhadap saluran pernafasan dan kontrol perdarahan eksternal. 75 . Penjepitan pembuluh darah dengan arteri klem6 Faktor yang mempengaruhi keputusan ini adalah kondisi fisik dan mental pasien (tanda-tanda vital). Penanganan perdarahan eksternal pada trauma oromaksilo fasial sudah harus dilakukan saat sebelum tiba di rumah sakit. Perdarahan dari fraktur oromaksilofasial dapat terjadi perdarahan pada rongga mulut.

pemeriksaan elektrolit (seperti Na. diare. dan perabaan pada daerah akral dari ektremitas. Tabel 3.F. kehilangan darah 10-15%. nafas yang cepat. SYOK HIPOVOLEMIK Syok adalah ketidakmampuan sirkulasi darah untuk memenuhi kebutuhan metabolisme jaringan. kehilangan cairan dan elektrolit (muntah. takikardia. pancreatitis. penyebab syok yang paling sering dan semua jenis syok memiliki komponen hipovolemik 1. PT. Perdarahan adalah sebab tersering dari syok pada trauma. kehilangan Plasma (luka bakar). perdarahan GIT.5 ml/kg BB/jam1. Cl. Resusitasi cairan dapat diberikan sesuai dengan keadaan klinis1. ketolamin (+) dingin. HCO3. APTT. dan hampir semua penderita multi-trauma ada syok. K. Perdarahan yang banyak bisa mengakibatkan syok hipovolemik. Pemeriksaan laboratorium penunjang yang dilakukan untuk menetapkan diagnosis adalah pemeriksaan darah lengkap. denyut nadi yang melemah. urine output <0. kreatinin dan kadar glukosa). Untuk cukup atau tidaknya aliran darah dapat diketahui dengan memperhatikan keadaan-keadaan seperti tensi yang menurun. Selain itu golongan darah dan cross matched juga perlu diperiksa1. analisa gas darah dan pemeriksaan urin rutin (pada pasien dengan trauma). Gejala syok hipovolemik antara lain adalah inadekuat perfusi organ. Klasifikasi perdarahan1 KELAS I Kehilangan Darah (mL) % Kehilangan Darah < 15 % < 750 KELAS II 750-1500 KELAS III 1500-2000 KELAS IV > 2000 15-30% > 40% 76 . dan hematoma). perubahan tanda vital karena adanya mekanisme kompensasi. ekstrimitas lembab dan keterlambatan capillary filling. Etiologi syok hipovolemik adalah kehilangan darah/perdarahan (trauma. Syok hipovolemik adalah suatu kondisi medis yang timbul akibat penurunan sirkulasi volume darah. dan asites) 1. BUN. keringat.

Pilihan tipe cairan yang digunakan adalah koloid dan kristaloid. muka. tangan/kaki. Pemberian pertolongan pertama dan resusitasi cairan yang tepat sangat membantu dalam mengembalikan perfusi jaringan yang adekuat. napas. tensi dan urine). apabila tidak terdapat peningkatan permeabilitas kapiler dan harga cairan ini murah1. dan merupakan pilihan yang terbaik untuk peningkatan Cardiac Output dan volume O2. Selain itu juga dapat memberikan efek pada ekspansi cairan intravaskular tetapi menyebabkan ekspansi berlebihan pada cairan interstisiel. 77 .0 L (RL). 1.5 L (PP) dan 2. denyut nadi. Koloid sangat baik untuk ekspansi volume plasma. Kristaloid sangat baik untuk dehidrasi (kehilangan cairan ekstraseluler) atau perdarahan ringan. Keberhasilan terapi dapat dilihat dari perbaikan gejala klinik tersebut di atas (kesadaran.0 L (RL) untuk kelas III.0 L (PP) dan 3. Kristaloid efektif. Menghentikan perdarahan mutlak harus dilakukan1.Nadi Tekanan Darah Tekanan Nadi Capilary Refill Respirasi Urine (ml/jam) Status Mental Resusitasi Cairan N N N N/(postural) > 120 Menurun > 140 Menurun N ≤ 3o Memanjang Memanjang Memanjang N ≥30 cc/mnt 20-30 20-30 cc/mnt > 30 5-15 cc/mnt > 35 Tidak ada urine Sedikit cemas Cemas Sangat cemas dan bingung Bingung atau letargi Kristaloid & Darah Kristaloid Kristaloid Kristaloid & Darah Apabila darah belum tersedia pada kelas III dan IV sementara dapat diganti dengan tambahan 0. Namun koloid efek udema parunya kurang dan harga cairan ini mahal1.

drainase peritonium. respirasi dsb. Maksud utamanya adalah mengembalikan volume intravaskular dan mendapatkan perfusi jaringan yang adekuat.9% atau RL) atau Koloid (Dextran) secara I. dan memonitor tanda vital. Pada orang dewasa 2–3 liter RL selama 20–30 menit untuk memulihkan tekanan darah.9% dalam 30–60 menit. 78 .V..Bagan 1. Resusitasi Cairan1 FLUID THERAPY RESCUCITATION MAINTENANCE COLLOID CHRYSTALLOID ELLECTROLYTES NUTRITION REPLACE ACUTE LOSS (HEMORRAGHE. Pemasangan 2 jalur Infus I.V. dan diuresis. Sedangkan penatalaksanaan untuk kehilangan cairan gastrointestinal dapat diberikan 1-2 liter NaCl 0. URINE FAECAL ) 2. Penatalaksanaan pada perdarahan akut adalah sebagai berikut 1: 1. 2. dengan pemberian 1-2 liter kristaloid (NaCl 0. dalam 30 –60 menit. Pemberian WB atau PRC hingga HT> 30 % dengan 1-2 unit fresh frozen plasma (FFP) tiap 5 unit darah.drainase toraks. tekanan vena sentral. udema paru diperhatikan. kemudian pengecekan elektrolit dan dikoreksi bila terdapat kelainan lainnya 1. NUTRITION Tujuan yang harus dipenuhi dalam pemberian cairan adalah menganti cairan yang hilang selama trauma atau pembedahan. REPLACE NORMAL LOSS ( IWL. fistula usus. serta penggantian cairan yang hilang dilakukan melalui pipa lambung. GI LOSS) 1.

dan injuri (trauma). Prosedur bedah mulut dan maksilofasial dapat mengeliminasi permasalahan ini dengan suatu prosedur operasi. terjadinya edema. Kemampuan seseorang dalam mengkonsumsi makanan melalui oral dapat berubah dikarenakan neoplasia. Oleh karena itu pasien dengan trauma oromaksilofasial memerlukan intervensi nutrisi dalam rawat inap di rumah sakit 7. Pada keadaan trauma (stress dan sepsis) tubuh mengalami rangkaian perubahan hormonal yang menambah laju metabolisme. jumlah cairan kristaloid dan koloid yang telah diberikan. akral yang sianosis telah berubah menjadi merah. merupakan suatu refleks neurofisiologi yang dirangsang oleh proses trauma. kesadaran sudah membaik.namun prosedur ini juga membatasi kemampuan mulut sementara waktu. jumlah perdarahan yang terjadi. terutama jaras spinothalamicus dan formatioretikularis dengan pengolahan akhir timbul pada medula oblongata. hasil serial pemeriksaan kadar Hb dan Ht. infeksi. sumber perdarahan telah teratasi atau belum. gangguan enzim dan metabolisme serta kelemahan otot. Hal ini berakibat menurunnya daya tahan tubuh. keadaan hemodinamik (tensi dan nadi). Pemberian transfusi darah tetap harus menjadi bahan pertimbangan berdasarkan keadaan umum penderita (kadar Hb dan Ht). meliputi susunan saraf pusat dan susunan saraf tepi. deformitas congenital. dan usia penderita1. Respon neuroendokrin. 79 . PENGELOLAAN NUTRISI PENDERITA TRAUMA OROMAKSILOFASIAL Diantara banyak fungsi rongga mulut adalah sebagai jalan masuk makanan menuju saluran cerna (gastrointerstinal tract). akral yang dingin telah jadi hangat. hipofise dan SSO. H.Beberapa kriteria perfusi jaringan yang telah baik antara lain adalah nadi <100 x/menit. Kemudian respon eferen dimulai pada hipotalamus. bagian-bagian akral yang terjadinya lembab sudah jadi kering. dan terhambatnya penyembuhan luka gangguan motilitas usus. thalamus dan hipothalamus. Aktivitas SSO merangsang kenaikan simpatis dimana kadar katekolamin plasma meningkat 7. produktif urine 1-2cc/kgBB/jam.

Phase Flow (Katabolisme) Ditandai oleh oksidasi protein otot untuk menghasilkan glukagon yang sangat penting untuk pembakaran di otak dan jaringan rusak yang sedang sembuh. 80 . yaitu7: 1. Adanya penghambat simpatis terhadap pengeluaran insulin dari pankreas serta pengeluaran glukokortikoid menambah resistensi insulin di jaringan perifer. Fase ini berlangsung sekitar 3 x 24 jam.Respon kardiovaskuler. mobilisasi darah dari perifer serta vasokonstriksi perifer7. 3. Kortisol tubuh akan meningkat dan demikian pula kadar gula darah. Fase ini akan memanjang bila terjadi perdarahan pasca bedah. Ada tiga fase respon metabolik trauma. Sumber energi berasal dari glikogen dan trigliserida untuk menghasilkan glukosa dan asam lemak. Ketiga hormon ini berkombinasi untuk meningkatkan glukoneogenesis serta lipolosis untuk mobilisasi cadangan energi. Kebutuhan kalori pada phase ini sekitar 5000 kkal. meliputi peningkatan nadi (takikardia). kenaikan curah jantung (cardiac output). katekolamin serta glukagon. Pada phase ini metabolisme tubuh akan menurun serta tubuh kehilangan sensitivitas terhadap sekitar. Kadar gula darah biasanya menurun < 200 mg % bila nutrisi tidak adekuat maka jaringan tubuh akan mulai dikorbankan untuk memenuhi kebutuhan energi. glukagon dan kortisol dalam plasma menurun. 2. Phase Ebb Ditandai dengan terjadinya hipovolemi dengan rangsangan adrenal dan simpatis yang berlangsung sekitar 24 jam. Hormon pengatur stres antara lain: katekolamin. Respon metabolik mencakup kenaikan kadar glukosa dan asam lemak bebas (FFA) plasma serta rangsangan pengeluaran kortisol. Phase Anabolisme atau Konvalesen Pada phase ini tubuh mulai melakukan pemulihan pada sel-sel yang mengalami kerusakan akibat katabolisme sehingga diperoleh kalori yang cukup untuk memenuhi kebutuhan pada hari ke 7 – 10 bisa diberikan.

Setiap pasien dengan penyakit kronis sehingga asuhan nutrisi merupakan komponen penting dalam perawatannya. penyakit hipertensi yang baru didiagnosis. penyakit hati.pasien tersebut mencakup gagal ginjal baik akut maupun kronis. penyakit arteri koronaria. dispilidemia. apakah parentel ataupun enteral 4. fraktur dan infeksi HIV. Berikut adalah pasien – pasien dengan kondisi yang memerlukan konsultasi. rujukan dan intervensi nutrisi7: 1. dan komposisi yang harus diberikan. Setiap pasien dengan anemia nutrisi Setiap pasien dengan deplesi simpanan protein yang bermakna ( misalnya albumin < 3. malnutrisi. Pasien. 3. ataupun gangguan asupan nutrisi. Setiap pasien yang memerlukan dukungan energi khusus.0) yang disertai defisiensi nutrisi 6. malnutrisi. Setiap pasien yang dilaporkan pengunaan megadosis suplemen nutrient atau yang sama sekali menghindari konsumsi kelompok makanan tertentu dari dalam dietnya selama waktu yang lama ( > 1 bulan) I. penyakit paru obstruktif yang menahun ( PPOM ) dengan penurunan berat badan. 2. 5. Setidaknya penderita harus ditentukan 81 . lama. penyakit kanker dengan penurunan berat badan . Setiap pasien dengan penurunan bert badan yang bermakna sebelum masuk rumah sakit 7. Setiap pasien yang mengalami trauma atau sakit dengan kondisi yang kritis.Lemak diperlukan untuk memenuhi kebutuhan asam lemak bebas dan menambah kalori dimana jumlah cairan dibatasi. seperti luka bakar. diabetes mellitus. KEBUTUHAN NUTRISI PADA PASIEN TRAUMA OROMAKSILOFASIAL Penentuan status gizi penderita penting untuk menentukan jumlah.

Anamnesa Penyakit kronis juga alkoholisme dapat berhubungan dengan malnutrisi energi dan protein juga disertai dengan devisiensi vitamin dan mineral. Operasi yang baru dilakukan seperti gastrectomy atau reseksi ileum dapat mempredisposisi malabsorpsi dan terjadi defisiensi vitamin ataupun mineral. atrofi mukosa. kerontokan : Keratokonjunctivitis. vitamin dan trace elemen. 2. tekstur. glossitis. rash. h. rabun senja : Cheilosis. Kulit : Kualitas. meliputi: a. Pemeriksaan klinis dan laboratorium Pemeriksaan fisik. f. 3. deformitas dan kuku b. d. e. Tahapan dalam menilai status gizi adalah sebagai berikut 7: 1. kekuatan otot. tekstur. edema 82 . g. sedang atau berat. Penyakit yang diderita misalnya pada hati dan ginjal seringkali berhubungan dengan defisiensi protein. hiperkeratosis. folikel. kelainan pada gigi Abdomen : Hepatomegali Rectum : Warna feses Neurologis : Neuropathy perifer Ekstrimitas : Ukuran otot.apakah termasuk malnutrisi ringan. Rambut Mata Mulut : Kualitas. c.

1-2.3 Female 16.1 <100 <100 <40 <70 <75 > 2%/week Transferrin (mg/dL)2 Total lympochyte count (cells/μL)2 Creatinine/height Index (%)3 Ideal body weight (%) Usual body weight (%) Weight loss/unite time Skin tests (No.5 29. energi yang terpakai selama proses asimilasi nutrien dan energi yang terpakai pada kerja fisik7.5%/3 months < months Moderate 2.8 . Klasifikasi Malnutrisi Clinical and Laboratory Parameters Albumin (g/dL) 2 Extent of Malnutrition Mild 2. MENGHITUNG KEBUTUHAN NUTRISI Kebutuhan energi total dari seorang pasien dalam keseimbangan metabolik adalah sama dengan pemakaian energi total ( Total Energy Expenditure) yang meliputi kebutuhan basal.2000 60 .Tabel 4.2/4 (weak) 0/0 (anergic) 7.95 < 5%/month <7. 83 .5 28. reactive + No.3.90 85 .250 1200 .80 80 .5%/3 Severe <2.7 100-200 800-1200 30-60 70-80 75-85 < 2%/week < 5%/month < 10%/6 months < 10%/6 months 1 .2 200 . placed) Normal antrophometric measurements Tricep skin fold (mm)4 Midarm circumference (cm) 4/4 (normal) Male 12. peningkatan kebutuhan energi yang disebabkan penyakit.5 J.

kebutuhan energi dasar ( Basal Energy Expenditure/BEE) harus dikaitkan dengan Activity Factor (AF) dan Injury Factor (IF)/stress factor (L. per 1o C Skeletal trauma Mild to moderate infection Major abdominal/thoracic surgery 84 . Morse.Kebutuhan kalori basal didapat dengan penghitungan BMR berdasarkan persamaan Harris-Benedict.15 – 1.1 + [9. 1993) 7.2 1. Untuk menghitung kebutuhan energi total. ACTIVITY AND INJURY FACTOR Activity Factors (AF) 1.0 x height (cm) – [6. Phoenix.57 x weight (kg)] + [5.4 1. Maricopa Medical Center.85 x height (cm) – [4.2 1.3 – 1. AZ.47 + [13.5 Confined to bed Ambulatory Non-stressed on ventilator Congestive heart failure Minor surgery Fever.2 – 1.1 – 1.3 Injury Factors (IF) 1.13 1. Menurut persamaan Harris – Benedict laju metabolisme basal bisa dihitung dengan menggunakan persamaan sebagai berikut7: HARRIS–BENEDICT METHOD FOR DETERMINING ENERGY REQIUREMENTS Pria BEE = 66.68 x age (yrs) = _______kcals/day BEE juga dapat ditetapkan dengan menggunakan 12Lcal/lb untuk pria dan 11 kcal/lb untuk wanita.2 1.2 1.13 1.0 kcal/kg untuk wanita7.0 – 1. atau 5.56 x weight (kg)] + [1.1 – 1.67 x age (yrs) = _______kcals/day Wanita BEE = 665.4 kcal/kg untuk pria and 5.

55 1. penderita dirawat karena perdarahan epidural. Secara keseluruhan.6 kcal/hari Activity Factor = 1.56 x 40) + (1. tinggi badan 150 cm. respon fisiologis terhadap trauma merupakan peningkatan proses biokimia dan metabolik normal.6 1.4 – 1. sepsis. 2.1 + (9. cancer Sepsis Jadi Total kalori yang dibutuhkan pasien = BEE x AF x IF Contoh perhitungan : Seorang wanita. berat badan 40 kg. pasca bedah ringan/sedang.5 Total energi yang dibutuhkan = 1174.28 kcal/hari Terdapat pula cara estimasi kebutuhan kalori yang sederhana dengan menggunakan rumus 3–4–5 dari I.8 Multiple trauma Closed head injury Stressed ventilator dependent Liver failure. pasca bedah dengan penyulit. Bila tidak mendapat dukungan nutrisi yang adekuat.85 x 150) – (4.5 – 1.68 x 30) = 1174.2 x 1. tidak disertai demam. pasien akan banyak kehilangan berat badan dan terjadi komplikasi yang seringkali fatal. BEE = 655.5 1.35 – 1. usia 30 tahun. sehingga biasanya terjadi peningkatan kebutuhan nutrisi yang cukup besar. infeksi berat. Tujuan utama terapi dukungan nutrisi adalah menjaga agar penurunan berat badan seminimal mungkin dengan harapan dapat mencegah komplikasi dan mengurangi morbiditas maupun mortalitas7. 85 .D Syttrar yaitu7: 1. malnutrisi berat. mempertahankan berat badan.1.4 – 1.5 = 2114. 3.2 Injury Factor trauma kepala = 1. 30 kkal/kg BB/hari : kebutuhan basal.6 x 1.6 1. 40 kkal/kg BB/hari : malnutrisi sedang. 50 kkal/kg BB/hari : luka bakar > 40%.

sehingga besarnya faktor stress untuk trauma adalah 31-50%. dan derajat stress berat (51%). Untuk memudahkan. Faktor stress trauma multipel adalah 50%.8-1 g/kgBB/hr) tidak mencukupi kebutuhan pasien yang mengalami trauma oleh karena adanya peningkatan protein turnover. Kebutuhan protein bagi pasien dengan trauma bila tidak terdapat gangguan ginjal dan hati adalah 1. dengan rasio kalori non-nitrogen : nitrogen = 100:17. sedangkan bila tidak di tempat tidur. aktivitas fisik hanya 10%. perlu diberikan asam lemak esensial sebanyak 4-8% dari kalori total sehari7. faktor stress. aktivitas fisik dan spesific dynamic action (SDA). SDA dari makanan tergantung jenis makanan yang diberikan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pemberian emulsi lemak sebesar 30-40% dari kalori total merupakan jumlah yang optimal. yaitu derajat stress ringan (10-30%). aktivitas fisik adalah 20%. SDA nutrisi parenteral adalah 0% sedangkan SDA untuk formula enteral dan makanan peroral kira-kira 10-20%7. Trauma digolongkan ke dalam stress sedang. Rumusan yang dugunakan adalah sebagai berikut 7: KK = KKB + FS + AF + SDA KK KKB FS AF SDA = Kebutuhan kalori total = Kebutuhan kalori basal = Faktor stress = Aktivitas fisik = Spesific dynamic action Faktor stress dinilai berdasarkan penilaian status gizi dan status metabolik. Untuk mencegah terjadinya defisiensi asam lemak esensial. faktor stress dikategorikan dalam 3 kelompok. derajat stress sedang (31-50%). 86 .Kebutuhan energi/kalori total sehari dapat dihitung dari penjumlahan kebutuhan kalori basal (BMR). Pada trauma terjadi katabolisme protein yang relatif konstan yaitu 10-20% dari keluaran energi. Lemak berfungsi sebagai sumber energi. Apabila pasien harus di tempat tidur. Masukan protein untuk orang sehat (0.5-2 g/kgBB/hr.

2. Pada pasien dengan trauma.Karbohidrat juga berfungsi sebagai sumber energi. 5. Kebutuhan tiamin dan niasin berkaitan dengan masukan kalori. Garam fisiologis dan elektrolit intrasel harus diberikan dalam jumlah yang adekuat. sedangkan saluran cerna bagian bawah terutama mengabsorpsi air. Keadaan ini dapat menyebabkan terjadinya defisiensi seng. Oleh karena terjadi peningkatan metabolisme. penggunaan oleh semua organ. Hati merupakan organ yang penting pada proses degradasi zat-zat gizi karena merupakan organ utama 87 . atau selang makanan. pengeluaran zat sisa terutama oleh ginjal dan saluran cerna bagian bawah. maka kebutuhan vitamin B meningkat. seperti tahap pencernaan dan penyerapan dilakukan oleh organ saluran cerna. Perubahan terutama dilakukan oleh hati. mineral dan beberapa vitamin. Untuk dapat melakukan peran dan fungsinya dalam tubuh. Fungsi utama saluran cerna adalah pencernaan dan penyerapan dengan mensekresi enzim-enzim spesifik untuk masing-masing zat gizi. karbohidrat merupakan 40% dari kalori total sehari7. diare. zat-zat gizi mengalami proses metabolisme secara bertahap yaitu 7: 1. terjadi peningkatan ekskresi seng (zinc) yang dianggap berasal dari katabolisme di jaringan otot. 4. 3. fosfor dan magnesium dalam plasma dan seluruh tubuh perlu dipertahankan agar tetap normal supaya didapat respon yang diharapkan dengan pemberian dukungan nutrisi7. Kebutuhan cairan adalah ± 1500 ml per m2 luas permukaan tubuh per hari. Saluran cerna bagian atas terutama mengabsorpsi zat-zat gizi utama. Pada trauma. sehingga pasien trauma perlu mendapatkan suplementasi trace elemen ini7. Banyaknya karbohidrat yang diberikan adalah kebutuhan kalori total dikurangi yang berasal dari lemak. kemudian ditambahkan bila terdapat peningkatan insensible loss melalui keringat. Kadar kalium. Pencernaan (digestion) Penyerapan (absorption) Perubahan (degradation) Penggunaan oleh organ / sel (utilisation) Pengeluaran zat sisa (excretion) Masing-masing tahap metabolisme dilakukan oleh organ-organ yang berbeda.

Ginjal merupakan organ ekskresi yang paling besar dan juga sebagai organ pengatur keseimbangan cairan tubuh. Keuntungan nutrisi enteral dibandingkan parenteral antara lain adalah sebagai berikut9: 1. Lebih efektif Nutrisi enteral lebih efektif. Ini terbukti dengan kenaikan berat badan yang cepat dan keseimbangan N yang cepat menjadi positif. nutrisi parenteral total dapat menyebabkan atrofi mukosa usus halus dan pankreas terutama pada pemberian yang lama karena makanan masuk ke dalam hati melampaui alat cerna (by pass dari luar ke dalam hati). protein dan lemak serta bertanggung jawab terhadap 20% metabolisme basal. sebab makanan masuk ke dalam tubuh melalui saluran cerna yang normal.yang akan memetabolisme zat-zat gizi dan mensekresi enzim yang berperan dalam metabolisme karbohidrat. Hati mensintesis beberapa protein plasma yang penting dan garam empedu serta berperan dalam detoksikasi. sehingga fungsi dan struktur alat cerna tetap dipertahankan. Gangguan penyekit hati dapat dikelompokkan menjadi penyakit hati akut seperti pada hepatitis virus dan penyakit hati kronis seperti pada sirosis hati. Sebaliknya. Bersifat fisiologis Nutrisi enteral bersifat fisiologis. 88 . K. Pemberian nutrisi juga bisa dilakukan dengan cara bolus atau cara infus lewat pompa infus enteral. Selain itu. Gangguan pada ginjal akan menyebabkan gangguan pada ekskresi sisa-sisa hasil metabolisme terutama metabolisme protein serta gangguan cairan dan elektrolit 7. PEMBERIAN NUTRISI PADA PASIEN TRAUMA OROMAKSILOFASIAL Terapi nurisi enteral adalah terapi pemberian nutrisi melalui saluran cerna dengan menggunakan selang/kateter khusus. 2. cara pemberian dapat melalui hidung-lambung (nasogastritic route) atau hidung–usus (nasoduodenal atau naso jejunal route).

pneumothoraks serta gangguan metabolik berupa hipoglikemi atau hiperglikemi tak jarang ditemukan. trauma ganda. Untuk menghindari intoleransi laktosa yang sering terjadi pada penderita malnutrisi sebaiknya suatu nutrisi enteral kurang atau tanpa mengandung laktosa. Kalori tinggi ini diperlukan pada penderita dengan hipermetabolik seperti sepsis. trombosis. 5. 3. Nutrisi enteral yang bebas dari bahan-bahan yang mengandung purin dan kolesterol. Biaya murah Rata-rata nutrisi enteral lebih murah 10-20 kali dari nutrisi parenteral. Selain itu. 6. 4. atau luka bakar. Sedangkan pemberian parenteral harus diberikan melalui vena besar yang letaknya profundal dengan sterilitas tinggi. hematom. Komplikasi kurang Komplikasi nutrisi enteral jauh lebih rendah bila dibandingkan nutrisi parenteral. atau paling tinggi kandungan laktosanya hanya 0.peningkatan imunitas tubuh akan cepat ditemukan pada pemberian nutrisi enteral. Kalori tinggi mudah dicapai Dengan nutrisi enteral kebutuhan kalori tinggi lebih dari 3000 kkal/hari dapat dengan mudah dipenuhi yang dengan parenteral amat sulit mencapainya tanpa komplikasi dan pengawasan yang ketat.5% dari total karbohidrat. Syarat-syarat nutrisi enteral adalah9: 89 . pemberian kalori tinggi dengan nutrisi parenteral sering menimbulkan perlemakan hati yang tidak dijumpai pada nutrisi enteral. Itupun hanya dapat dilakukan oleh dokter yang terlatih. komplikasi-komplkasi berupa sepsis. Tekniknya mudah Pemasangan sonde lambung dapat dengan mudah dilakukan oleh setiap dokter maupun perawat tanpa persyaratan sterilitas yang ketat. Nutrisi parenteral selain membutuhkan pemantauan yang ketat.

5. 90 . molekulmolekulnya berukuran kecil. Sehingga. jumlah kalori sudah dapat tercapai. Nutrisi enteral yang banyak mengandung serat akan bersifat bulk yang pada gilirannya akan meningkatkan frekuensi defekasi. elektrolit dan elemen-elemen lain sesuai dengan jumlah kebutuhan. Oleh karena itu. Tanpa atau kurang mengandung serat dan laktosa Suatu nutrisi enteral hendaknya memiliki sedikit atau tanpa mengandung serat agar efektif dan efisien. osmolaritas yang ideal adalah 350-400 m Osmol. dalam jumlah minimal untuk kebutuhan sehari (2000 kkal) harus sudah mengandung semua komponen nutrisi esensial seperti protein. dengan volume yang tidak terlalu besar. asam amino. Kepadatan kalori yang ideal adalah 1 kkal/ml cairan. maka ia harus berbentuk cair agar mudah melalui sonde. sesuai dengan osmolaritas cairan ekstraseluler. 4. maka ia harus memiliki kepadatan kalori tinggi. Memiliki osmolaritas yang sama dengan osmolaritas cairan tubuh Suatu nutrisi enteral yang memiliki osmolaritas yang tinggi mudah menimbulkan diare sebab cairan tubuh akan ditarik masuk ke dalam lumen usus. 3. Mudah diabsorpsi Bahan-bahan baku suatu nutrisi enteral seharusnya terdiri atas komponenkomponen yang siap diabsorpsi atau paling tidak hanya sedikit memerlukan kegiatan pencernaan untuk dapat diabsorpsi. lemak. Kandungan nutrisinya seimbang Artinya. 2.1. Dengan kata lain. Memiliki kepadatan kalori tnggi Karena nutrisi enteral harus diberikan melalui sonde kecil. vitamin. Agar dalam bentuk cair ini nutrisi enteral tetap memiliki kalori yang cukup.

Dimulai dengan pengenceran ½ pada hari pertama.5 mm). regurgitasi sampai aspirasi ke dalam paru. PVC atau lateks. Guna mengurangi komplikasi-komplikasi di atas. juga tidak tahan terhadap pengaruh cairan lambung maupun duodenum. sonde mudah menjadi kaku setelah zat pelemasnya habis (setelah 24 jam pemakaian). Saat ini sonde-sonde yang dipakai untuk nutrisi enteral terbuat dari silikon atau poliuretan yang selain diameternya kecil (2. Guna menjaga toleransi penerimaan usus. kelemasan dan kelenturannya bertahan lama serta tahan terhadap pengaruh cairan lambung dan cairan duodenum. sebaiknya penderita diposisikan setengah duduk selama pemberian nutrisi enteral. Pemilihan sonde Sebelum tahun 1980-an sonde yang tersedia umumnya terbuat dari polietilen.Prosedur teknik pemberian nutrisi enteral / diet sonde akan diuraikan sebagai berikut9: 1. kemudian pengenceran 2/3 pada hari kedua dan takaran penuh pada hari ketiga dan seterusnya. terutama pada penderita yang kesadarannya menurun atau pada penderita yang berbaring. Sonde yang menjadi kaku akan sangat mengganggu penderita karena selain terasa tidak enak juga dapat menimbulkan erosi atau perlukaan saluran napas atau saluran cerna. Teknik pemberian nutrisi enteral Teknik pemberian secara tetes merupakan yang paling aman. Pola lama yang memberikan secara bolus mengandung banyak komplikasi berupa muntah. 2. 91 . Kekurangan dari sonde-sonde ini selain diameternya besar. kadar cairan nutrisi enteral sebaiknya dinaikkan secara bertahap. Untuk menjaga ketepatan dan ketetapan tetes cairan nutrisi enteral dapat digunakan portable pump. sambil mengawasi dan mengevaluasi keluhan maupun gejala-gejala yang timbul.

seorang dengan tinggi badan 165 cm tanpa stress memiliki BMR (165-100)x20 = 1300 kkal. antara lain akan diuraikan sebagai berikut 9: 92 . 2. fistula. penderita kanker. Indikasi non bedah: anoreksia. Indikasi pemberian nutrisi enteral adalah9: 1. antara lain pemeriksaan darah (Hb. Dengan menambah 10-20% dari kebutuhan BMR dapat diperoleh kebutuhan kalori pada saat aktivitas yang sangat terbatas. Kemajuan atau kemunduran keadaan umum penderita dievaluasi setiap harinya termasuk keseimbangan cairan dan elektrolitnya bila ada fasilitas. albumin total). dan kolon. luka bakar yang luas. pemeriksaan laboratorium sangat diperlukan. volume dan urin rutin. trauma kepala/otak. serum (glukosa. tiap kenaikan 1° + 10% BMR + 25-30% BMR +10% BMR Jadi. ileus. leukosit). depresi berat. Sedangkan pada suatu keadaan katabolik yang tinggi diperlukan penambahan 30100% dari kebutuhan BMR9. yakni pasca bedah: mulut. Ht. saluran empedu. sepsis. esofagus. perdarahan gastrointestinal yang akut. Pengukuran berat badan atau lingkar lengan atas (LLA) setiap minggu merupakan parameter yang objektif. malabsorpsi/maldigesti. peritonitis. Kontrandikasi pemberian nutrisi enteral apabila pasien muntah-muntah. penderita dengan kebutuhan kalori ekstrim. Indikasi bedah.Kebutuhan metabolisme basal dapat dihitung dengan indeks BROCA. Komplikasi nutrisi enteral. dan atoni paska bedah. protein total. sebagai berikut9: BMR = Indeks Stress (Tinggi Badan – 100) x 20 Dimana indeks stress: Paska bedah Fraktur multipel Sepsis. ureum. lambung. Selain itu.

osmotik volume mempertahankan tekanan hidrostatik. yaitu 9: 1. 3. 2. tidak cukup makan. 4. Komplikasi bakteriologik Kontaminasi dengan bakteri gram negatif pada waktu penyediaan nutrisi enteral atau kantong plastiknya dapat menimbulkan syok septik. Komplikasi kimiawi Hal ini berhubungan dengan osmolaritas serta komposisi kimiawi cairan nutrisi enteral yang terlalu tinggi. 93 . Terapi nutrisi parenteral diberikan kepada setiap penderita yang akibat penyakitnya membutuhkan banyak asupan nutrisi tetapi penderita tersebut tidak mau makan. 4. Prinsip keseimbangan pemberian tekanan nutrisi parenteral sehingga adalah mempertahankan interalumen tetap. Secara umum dapat dikelompokkan berdasarkan keadaan kondisi saluran pencernaan (gastriontestinal tract). tidak bisa makan dan tidak boleh makan. Bila saluran pencernaan tidak berfungsi. Cara pemberian dapat melalui vena perifer (nutrisi parenteral perifer) atau vena sentral (nutrisi parenteral total). dan mengatasi kehilangan plasma 9. Bila saluran cerna mengalami obstruksi Bila saluran cerna terlalu pendek Bila terdapat fistula pada saluran cerna. Komplikasi mekanik Komplikasi mekanik berhubungan dengan sondenya sendiri yang dapat mengalami dislokasi atau penyumbatan. Pemberian kadar secara bertahap dapat mengurangi komplikasi ini. Komplikasi metabolik Dehidrasi hipertonik dapat terjadi bila komposisi nutrisi enteralnya memilki osmolaritas yang tinggi. 2.1. Rasa mual sampai muntah dan kram perut atau diare merupakan gejala yang menonjol. 3. Nutrisi parenteral adalah pemberian nutrien melalui pembuluh darah vena.

yaitu 9: 1. fistula enterokutan. dan suplemen terhadap nutrisi enteral. 3. seperti syok. Komplikasi infeksi ditandai oleh demam seperti pada flebitis. dan baru setelah dilakukan kateterisasi pada vena cava superior pemberian menjadi praktis dan aman untuk larutan hiperosmolar demikian bisa digunakan pada pasien bedah. Sedangkan kontra indikasi nutrisi parenteral adalah9: 1. Adapun akses yang digunakan untuk nutrisi parenteral. sindrom malabsorpsi berat. vomitus. Pasien pasca bedah. NPO > 3-5 hari. 2. dan keganasan9. menjaga keseimbangan cairan-elektrolit dan asam basa. Nutrisi Parenteral Perifer Larutan standar yang diberikan untuk nutrisi parenteral total melaui vena sentral memilki tekanan osmotik hampir 2000 mOsm/L. defisit cairan ekstra seluler yang belum terkoreksi dan demam tinggi (hipertermi). Larutan nutrisi yang hanya sedikit hipertonik (antara 600 dan 900 m)sm/L) bisa disiapkan dengan mencampur proporsi sesuai dari asam 94 . Sifat-sifat fisik dari larutan demikian mendorong terjadinya trombosis vena perifer. peritonitis. ileus obstruksi. emboli 6. dengan pemasangan kateter seperti pneumothoraks. menyediakan intake bagi kebutuhan metabolisme secara parenteral9. Kondisi-kondisi yang membutuhkan nutrisi parenteral anatara lain. Pada pasien dengan penyakit terminal (keganasan) atau keadaan vegetatif (brain death). infeksi pada tempat. trauma dalam phase Ebb (24 jam pertama) Pasien yang masih mengalami hemodinamik krisis. diare berat.Tujuan Pemberian Nutrisi Parenteral adalah supaya mempertahankan volume dan perfusi sirkulasi darah. Komplikasi teknis berkaitan udara. 4. malnutrisi protein atau protein-kalori. Indikasi nutrisi parenteral adalah fungsi saluran cerna terganggu (tidak mampu mencerna atau menyerap makanan). Pasien yang mengalami gagal nafas (kecuali dibantu dengan bantuan nafas mekanik dengan ventilator). 5. memelihara hemostatik metabolik umum.

95 . dan kebutuhan akan air serta elektrolit diresepkan secara individual. Campuran glukosa. Campuran nutrien ini memiliki desnitas kalori rendah dan memasok hanya 2500 kcal dalam 3 L larutan.amino. Kunci keberhasilan dari cara ini terletak pada insersi serta perawatan kanul vena sentral. Bila volume cairan besar. Nutrisi Parenteral Sentral Perkembangan kateterisasi vena sentral telah memungkinkan pemberian larutan hipertonik dengan aman. Larutan yang digunakan untuk nutrisi via vena sentral (TPN) biasanya memiliki densitas 1 kcal/ml. larutan-larutan demikian bisa diberikan melalui vena perifer untuk jangka pendek(kira-kira satu minggu). dekstrosa dan emulsi lemak. 2. lemak dan asam amino diberikan melalui kateter vena sentral yang ujungnya berada dalam vena cava superior.

Sebelum keadaan tenang tercapai. masa stabilisasi dimana kadar stres hormon masih tinggi. NPE total hanya akan menambah stres bagi tubuh pasien. yaitu 24 jam setelah trauma atau krisis kegawatan dapat diatasi. Hal ini berlaku pada pasien trauma. pemeriksaan kadar kalium dan natrium.Pendekatan yang digunakan pada pemberian nutrisi parenteral adalah 4 Tepat – 1 Waspada9: Tepat pasien Setiap pasien yang tidak cukup atau tidak mendapat intake oral seharusnya segera mendapat nutrisi parenteral (NPE). emulsi lemak. sepsis. asam amino. Tepat indikasi Dosis NPE parsial dapat diberikan sangat dini. Ini setara dengan 1700 kkal pada pasien 70 kg dengan luas tubuh 1. Agar imbang N tidak terlalu negatif. resting energy expenditure berkisar 1000 kkal/m2/hari. minimal diberikan 20 kkal/kg/hari. Makin berat kondisi pasien. Tepat dosis Quebbeman (1982) menemukan pada pasien trauma berat dan sepsis yang mengalami katabolisme. preeklampsia. makin lambat NPE total dapat dimulai. mineral dan vitamin. Periode 24 jam ini adalah masa ebb-phase. dsb. Dosis kemudian dapat ditingkatkan bertahap dengan memperhatikan perubahan kadar gula darah. eklampsi. Dosis yang tepat harus diukur. Sel-sel resisten insulin dan kadar gula meningkat. Tepat obat/substrat Bahan nutrisi yang digunakan adalah karbohidrat. keadaan umum pasien. katekolamin dan glukagon.73 m2 atau kira-kira 25 kkal/hari. Fase tenang ini ditandai dengan menurunnya kadar kortisol. Dosis NPE total harus diberikan lebih lambat (mulai hari ketiga) karena beban metabolismenya besar. paska bedah ekstensif. 96 .

seharusnya digunakan vena sentral (vena cava. makin mudah terjadi tromboflebitis. peningkatan glukosa 5% menuju 20% harus dilakukan secara bertahap “start low. protein.9. Makin tinggi osmolaritas. bahkan tromboemboli. Osmolaritas plasma 300 mOsm. Waspada efek samping Berbeda dengan orang sehat yang dapat mengatur keseimbangan makan dan kebutuhannya sendiri.8. go slow” tidak diikuti. Hiperglikemi umumnya terjadi jika pola “start low. jugularis) dimana darah mengalir secara cepat sehingga kecepatan tetesan cairan NPE yang pekat tidak sempat merusak vena. Tromboflebitis karena iritasi mudah diikuti radang. dan cairan dan elektrolit (vitamin. Vena perifer dapat menerima sampai 900 mOsm. Cairan 900-1000 mOsm untuk jangka pendek 3-5 hari masih dapat diberikan lewat vena tangan tapi jangan memberikan lewat vena kaki.Untuk menghindari hiperglikemi. pasien dengan bantuan nutrisi khusus terpaksa menerima semua yang diberikan. subclavia. Beban glukosa merangsang pankreas mengeluarkan insulin. mineral). Vena kaki mudah mengalami deep vein thrombosis dan tromboemboli. Agar fluktuasi kadar gula darah bervariasi seminimal mungkin. Pada kasus yang ekstrim dapat terjadi koma. larutan karbohidrat dibagi rata dalam 24 jam. penyulit yang timbul akan menyebabkan morbiditas bahkan kematian. Kelainan ini dapat disertai hyperosmolar state dan diuresis osmotik. Untuk cairan > 900-1000 mOsm jika perlu lebih dari 5 hari. lemak. go slow”. Karbohidrat 97 . Adapun komposisi yang ideal dari nutrisi parenteral adalah kombinasi antara karbohidrat (KH). Osmolaritas dapat dikurangi dengan mencampur cairan menggunakan infus set bercabang 7. atau cara memberikan keliru. Penyulit yang sering dijumpai adalah hiperglikemi. Jika larutan glukosa diselingi cairan lain maka besar kemungkinan kadar gula darah berfluktuasi karean overshoot insulin dari waktu ke waktu. Semuanya akan diuraikan sebagai berikut 9: 1. Jika pilihan atau dosis tidak tepat.

Pemberian kalori dengan glukosa yang melebihi kebutuhan ternyata tidak bermanfaat.25 b. 2. 1993) untuk pemberian karbihidrat dalam keadaan normal adalah 25 – 30 kcal/kg/hari. Glukosa/ dextrosa adalah sumber kalori yang paling fisiologis.Karbohidrat sebagai sumber kalori utama yang layaknya selalu tersedia 4060% dari total kalori (1 gr KH = 4kkal). 98 . sorbitol dan xylitol. Menghitung energi konsumsi Konsumsi nitrogen (mg/24 jam) = ureum urine (mmol) / 24jam x 28 + 4000 mg. Sumber kalori karbihidrat dapat berupa dextrosa. Menghitung nitrogen secara laboratorium relatif mahal biayanya. Kebutuhan protein=konsumsi nitrogen x 6. Karbohidrat tersimpan dalam tubuh dalam bentuk glikogen dihati dan otot. Dosis maksimal bagi kebanyakan penderita adalah 6-7. bahkan justru merugikan sebab akan menyebabkan kadar co2 dalam tubuh meningkat. karena itu pemberiannya harus dilindungi oleh pemberian kalori yang cukup agar protein tidak digunakan sebagai sumber energi. Rekomendasi dari American Society for Parenteral & Enteral Nutrition (ASPEN.5gr/kgbb/hari. fruktosa. Cara yang lebih mudah untuk menghitung kebutuhan asam amino adalah dengan memperkirakan besar kecilnya stress metabolik yang terjadi. Kebutuhan protein (asam amino) dapat dihitung secara tidak langsung dengan menghitung jumlah nitrogen yang dokonsumsi oleh tubuh. maltosa. Secara kasar dapat diperkirakan dengan menghitung jumlah ureum dalam urine 24 jam. Protein Protein diperlukan untuk regenerasi sel dan enzim. dengan rumus sebagai berikut a.

Pemberian lebih dari 60% dari kalori total dapat menyebabkan ketoasidosis. pemberian cairan emulsi lemak dapat diberikan pada nutrisi parental perifer. Besarnya kebutuhan disesuaikan dengan keadaan klinis penderita. Elektrolit. 4. Trace Elements. Kebutuhan ini terutama harus diberikan bila terapi nutrisi parenteral berlangsung lama. dan Vitamin Dalam merencanakan komposisi carain untuk terapi nutrisi pareneral. Lemak Cairan emulsi lemak diberikan dalam nutrisi parental bertujuan untuk mencegah defisiensi asam lemak esensial dan sebagai sumber kalori. Cairan. Misal berat badan pasien 60 kg dengan sepsis Dengan menggunakan tabel dengan stress metabolik Kebutuhan kalori Kebutuhan AA = 60 x 40 kcal = 2400 kcal/hari = 60 x 2 = 120 gr/hari 2 gr/kgbb/hari 40 kcal/kgbb/hari 1 gr/kgbb/hari Kalori 30 kcal/kgbb/hari 3. cairan emulsi lemak diberikan 1-3 gr/kgbb atau dalam proporsi 25 – 40% dari kalori total perhari. trace element. Untuk memenuhi kebutuhan kalori. Kebutuhan air dewasa : 30-50 ml/kgbb/hari Kebutuhan Natrium Kebutuhan Kalium : 2-4 mg/kgbb/hari atau 100-200 meg/hari : 1-2 mg/kgbb/hari atau 50-100 meg/hari 99 . Karena osmolaritasnya yang rendah. harus selalu diperhatikan dan diperhitungkan akan kebutuhan terhadap elektrolit.Perbandingan kebutuhan protein (AA) dan kalori perhari9: Protein (AA) Tanpa stress metabolik Dengan stress metabolik Contoh perhitungan kebutuhan protein. dan vitamin baik yang larut dalam air maupun lemak.

penurunan tekanan darah sistolik yang secara substansial. Tekanan sistolik biasanya tidak berubah. Pada pasien yang lebih tua. dan turunnya tekanan sistolik. penurunan tekanan darah dapat terjadi setelah kehilangan darah sebanyak 10-15%. Respon fisiologi ini dapat dikategorikan berdasarkan persentasi dari kehilangan akut darah. takipneu.BAB III PEMBAHASAN Hemoragi adalah penyebab utama keadaan hipovolemik pada pasien yang mengalami luka multisistem. takipneu. Tingkatan tersebut dapat diukur melalui respon fisiologi terhadap hemoragi. dan hal ini merupakan keadaan yang mengancam nyawa. Hemoragi kelas III diklasifikasikan sebagai kehilangan 30-40% volume darah. Pada kasus yang tidak kompleks. kurangnya urine output. Gejala klinis minimal pada kelas I ini. kehilangan darah sebanyak ini secara konsisten menyebabkan tekanan darah sistolik menurun. Pada dewasa sehat kehilangan 15% volume darah pertama diklasifikasikan sebagai hemoragi kelas I. dan perubahan status mental pasien yang banyak. Pasien dapat terkena serangan jantung bila kehilangan darah sebanyak ini. tetapi tekanan diastol meningkat karena peningkatan dari katekolamin. Dalam kondisi yang tidak kompleks. Gejala klinis meliputi takikardia (denyut nadi >100 pada orang dewasa). Respon tekanan darah awal terhadap kehilangan volume intravaskular tidak memiliki hubungan yang linear 1. perubahan status mental penderita. Hemoragi kelas II diklasifikasikan sebagai kehilangan volume darah sebanyak 15-30%. dan penurunan tekanan darah. peningkatan denyut nadi minimal dengan peningkatan kontraktilitas dari jantung dan peningkatan vasokonstriksi vena dan arteri dapat menjaga tekanan darah. dengan mekanisme kompensasi yang kurang efisien. Gejala klinis meliputi takikardia. tekanan darah yang sangat sempit (tidak adanya tekanan darah diastol). Perlu diperhatikan 100 . Hemoragi kelas IV didefinisikan sebagai kehilangan darah sebanyak >40%. Biasanya hal ini diikuti dnegan takikardia. Kebanyakan pasien tersebut memiliki beberapa tingkatan dari syok hipovolemik.

Kompensasi fisiologi awal pada kehilangan volume intravaskular adalah vasokonstriksi pada pembuluh darah di kulit dan otot. Pelepasan katekolamin menyebabkan keluarnya keringat dan kulit terasa dingin dan lembab pada saat palpasi.bahwa tekanan darah pasien dapat turun tiba-tiba setelah pemeriksaan awal ketika mekanisme kompensasi mereka telah gagal karena kehilangan darah yang terusmenerus. dressing tersebut sebaiknya jangan dilepaskan. sedangkan atlet muda yang sehat dapat memiliki tekanan sistol sebesar 90 mmHg 1. Sulit dilakukan perubahan tekanan darah. karena pada kebanyakan kasus batas bawah dari tekanan ydarah pasien tidak diketahui. Waktu yang diperlukan untuk jarinagn kembali ke warna normalnya mengindikasikan waktu yang diperlukan untuk darah kembali ke pembuluh kapiler. tetapi sebaiknya dressing tambahan digunakan karena apabila dressing dilepaskan maka formasi clot yang telah terbentuk dapat terganggu dan menyebabkan perdarahan kembali. tekanan diaplikasikan ke kuku-kuku jari. Dengan tes tersebut. pasien dengan hipertensi dapat menunjukkan tekanan sistol sebesar 120 mmHg dapat menunjukkan gejala kehilangan darah yang signifikan. kuku ibu jari. Ekskremitas bawah adalah yang pertama terkena. Waktu kurang dari 2 detik biasanya ditemukan pada pasien normovolemik dan mengindikasikan aliran darah normal ke pembuluh kapiler 1. Kapilerkapiler pada kulit adalah yang pertama kali berhenti bekerja sebagai respon terhadap hipovolemik yang dikarenakan stimulus dari sistem saraf simpatik dan kelenjar adrenal melalui pelepasan hormon epinefrin dan nor epinefrin. atau emninesia hipothenar dari tangan untuk mengevakuasi darah dari daerah tersebut dan kemudian tekanan langsung dilepaskan. Salah satu indikator dari rendahnya perfusi jaringan pada pemerikssaan awal adalah perfusi kulit. Hemoragi eksternal biasanya dapat dikontrol dengan melakukan penekanan secara langsung ke luka yang ada. dengan tandatanda pertama dari hipovolemi adalah terasa dinginnya kaki dan regio patella. Tekanan yang digunakan untuk mengontrol perdarahan sebaiknya kuat dan kontinu. Sebagai contoh. Hemoragi dapat secara ekternal maupun internal ke dalam kavitas tubuh. Tekanan 101 . Capillary fill time dapat diukur dengan menggunakan “blanch test”. Ketika dressing yang digunakan menjadi basah. yang dimana memberikan ukuran kehilangan darah ke pembuluh kapiler.

dan merupakan pilihan yang terbaik untuk peningkatan Cardiac Output dan volume O2. Perban tekan. memberikan keadaan yang merugikan pada beberapa situasi karena menyebabkan luka vaskular. jahitan dapat dilepaskan dari luka dan penutupan lapisan luka secara kosmetik dapat dilakukan 1. Tekanan langsung kemudian dapat dilakukan pada luka untuk mengontrol hemoragi dan meminimalkan pembentukan hematoma.yang kuat dapat diaplikasikan proksimal ke arah arteri mayor untuk mengontrol perdarahan. Maksud utamanya adalah mengembalikan volume intravaskular dan mendapatkan perfusi jaringan yang adekuat. Penatalaksanaan pada perdarahan akut adalah sebagai berikut 9: 102 . fistula usus. hal tersebut hanya direkomendasikan apabila penekanan langsung pada luka saja tidak efektif 1. Tujuan yang harus dipenuhi dalam pemberian cairan adalah menganti cairan yang hilang selama trauma atau pembedahan. Akan tetapi.drainase toraks. seperti air-pillow splints dan blood pressure cuff dapat juga digunakan. dan luka tembus pada leher. drainase peritonium. Sebagai spesialis bedah mulut dan maksilofasial. fraktur nasal atau tengah wajah. respirasi dsb. Ketika pasien sudah stabil. kita mengetahui adanya suplai vaskular yang banyak ke daerah muka dan leher. Namun koloid efek udema parunya kurang dan harga cairan ini mahal1. yang sebelumnya digunakan untuk meningkatkan tekanan darah pada kasus hipotensi yang parah.0 nonresobable atau staples tanpa memperhatikan kosmetik pasien. serta penggantian cairan yang hilang dilakukan melalui pipa lambung. Pemberian pertolongan pertama dan resusitasi cairan yang tepat sangat membantu dalam mengembalikan perfusi jaringan yang adekuat. Aspek negatif dari suplai darah tersebut adalah hemoragi mayor dapat disebabkan oleh luka pada kulit kepala yang besar. PASGs dan medical antishock trousers(MASTs). Luka kulit kepala dapat dengan cepat diatasi dengan dijahit menggunakan 2. Koloid sangat baik untuk ekspansi volume plasma. Luka pada kulit kepala dapat menyebabkan kehilangan darah dalam jumlah besar pada waktu yang singkat karena perembesan darah pada galea dan lapisan jaringan ikat yang renggang. Pilihan tipe cairan yang digunakan adalah koloid dan kristaloid.

deformitas congenital. dan injuri (trauma). 4. gangguan enzim dan metabolisme serta kelemahan otot. Sedangkan penatalaksanaan untuk kehilangan cairan gastrointestinal dapat diberikan 1-2 liter NaCl 0. dalam 30 –60 menit. peningkatan kebutuhan energi yang disebabkan penyakit. Kemampuan seseorang dalam mengkonsumsi makanan melalui oral dapat berubah dikarenakan neoplasia. Hal ini berakibat menurunnya daya tahan tubuh.V.9% dalam 30–60 menit.3. dan terhambatnya penyembuhan luka gangguan motilitas usus. Pada orang dewasa 2–3 liter RL selama 20–30 menit untuk memulihkan tekanan darah. infeksi. Oleh karena itu pasien dengan trauma oromaksilofasial memerlukan intervensi nutrisi dalam rawat inap di rumah sakit 7. Kebutuhan kalori basal didapat dengan penghitungan BMR berdasarkan persamaan Harris-Benedict. Salah satu fungsi rongga mulut adalah sebagai jalan masuk makanan menuju saluran cerna (gastrointerstinal tract). tekanan vena sentral. Pada keadaan trauma (stress dan sepsis) tubuh mengalami rangkaian perubahan hormonal yang menambah laju metabolisme. Penentuan status gizi penderita penting untuk jumlah lama dan komposisi yang harus diberikan. dan memonitor tanda vital.namun prosedur ini juga membatasi kemampuan mulut sementara waktu. energi yang terpakai selama proses asimilasi nutrien dan energi yang terpakai pada kerja fisik.. Cara 103 .9% atau RL) atau Koloid (Dextran) secara I. terjadinya edema. dan diuresis. udema paru diperhatikan. sedang atau berat. Kebutuhan energi total dari seorang pasien dalam keseimbangan metabolik adalah sama dengan pemakaian energi total (Total Energy Expenditure) yang meliputi kebutuhan basal. kemudian pengecekan elektrolit dan dikoreksi bila terdapat kelainan lainnya 1. dengan pemberian 1-2 liter kristaloid (NaCl 0.V. Prosedur bedah mulut dan maksilofasial dapat mengeliminasi permasalahan ini dengan suatu prosedur operasi. Pemasangan 2 jalur Infus I. Setidaknya penderita harus ditentukan apakah termasuk malnutrisi ringan. Pemberian WB atau PRC hingga HT> 30 % dengan 1-2 unit fresh frozen plasma (FFP) tiap 5 unit darah. Nutrisi parenteral adalah pemberian nutrien melalui pembuluh darah vena.

104 .pemberian dapat melalui vena perifer (nutrisi parenteral perifer) atau vena sentral (nutrisi parenteral total).9. Tujuan pemberian nutrisi parenteral ini adalah untuk mempertahankan volume dan perfusi sirkulasi darah. dan menyediakan intake bagi kebutuhan metabolisme secara parenteral7. menjaga keseimbangan cairan-elektrolit dan asam basa. tidak bisa makan dan tidak boleh makan. tidak cukup makan. Terapi nutrisi parenteral diberikan kepada setiap penderita yang akibat penyakitnya membutuhkan banyak asupan nutrisi tetapi penderita tersebut tidak mau makan. memelihara hemostatik metabolik umum.8.

dan hampir semua penderita multi-trauma ada syok. enteral dan parenteral.BAB IV KESIMPULAN Trauma oromaksilo fasial dapat menyebabkan kematian jika dapat menyebabkan obstruksi jalan nafas dan perdarahan yang banyak. Pemberian pertolongan pertama dan resusitasi cairan yang tepat sangat membantu dalam mengembalikan perfusi jaringan yang adekuat. 105 . hidung. Sebelum melakukan perawatan fraktur perlu diperhatikan keadaan darurat medik yang harus ditangani lebih dulu.Pemberian nutrisi untuk pasien rawat inap dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu peroral. Pengukuran kebutuhan nutrisi pasien trauma bergantung dari rumus yang didasarkan oleh berbagai faktor yang mempengaruhi. sinus paranasalis. sebelum melakukan pemeriksaan tanda-tanda vital. keadaan-keadaan itu harus ditangani lebih dahulu oleh karena mengancam jiwa penderita. Pemberian nutrisi yang adekuat akan membantu proses penyembuhan pasien. dimana untuk menentukan jenis nutrisi yang akan diberikan kepada pasien tersebut diperlukan kerjasama dengan ahli gizi sehingga benar benar sesuai dengan kebutuhan gizi yang telah ditentukan sebelumya. Perdarahan adalah sebab tersering dari syok pada trauma. Perdarahan dari fraktur oromaksilofasial dapat terjadi perdarahan pada rongga mulut. fraktur maksila). Untuk penderita dengan trauma oromaksilofasial perhatian harus segera diarahkan terhadap saluran pernafasan dan kontrol perdarahan eksternal. nasofaring (dari basis cranii) atau perdarahan dari hidung (fraktur nasalis. Perawatan pasien dengan trauma oromaksilofasial memerlukan terapi nutrisi yang benar. Perdarahan yang banyak bisa mengakibatkan syok hipovolemik.

Contamporary Oral and Maxillofacial Surgery. 7. R. Oral and maxillofacial Trauma.2006. Co. W. EGC. 5.J. 4.W. 3.dkk. edisi kedua. Bandung.R. M. W.IKAPI.Terapi Gizi dan Diet Rumah Sakit. Kedaruratan Medik. Hutchinson and Skinner. 9. Pedoman Penatalaksanaan Praktis. J.dr.. 8. W. Roesli. Alih Bahasa: drg. Mosby Elsevier.W. 6. Enteral. Dasar-dasar Terapi Nutrisi Parenteral pada Dewasa dan Anak.B. 1991. 2005. Jakarta..J. Vol 1. Saunders Company. Ruly. R. Fonseca. Fonseca.B. Agus Purwadianto & Budi Sampurna. Pedersen. Saunders Company.R. Vol I. Vol 1. Philadelphia. dan Parenteral. Philadelphia.. drg. Buku Ajar Praktis Bedah Mulut. Saunders Company.B. G. 2000. London. Kelompok Studi Terapi Cairan. Andry Hartono. 1997. Oral and Maxillofacial Trauma 2nd ed. E.DAFTAR PUSTAKA 1. 2008. Raymond and Wolker. Ellis III. dkk. EGC. Philadelphia. 2. V. Basoeseno.GK. Oral and Maxillofacial Trauma 3rd ed. 106 . 1996. 1997. ABC of Major Trauma 2nd ed BMJ Publishing Group. Hupp. Purwanto. Edisi Revisi. St. 5th ed. Robert. Louis. Sp. 1996. Tucker.

kekerasan dalam rumah tangga dan lain sebagainya.Fraktur Dentoalveolar Sutami Wahyu Prasetya 160121120010 Peserta Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut Dan Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Bandung Abstrak : Fraktur dentoalveolar adalah salah satu fraktur yang banyak kita jumpai di emergency room. Perawatan darurat pada kasus truma gigi anterior meliputi pembersihan luka akibat trauma dengan menggunakan cairan antiseptik. Perawatan darurat merupakan perawatan yang penting dan harus dilakukan dengan segera karena menyangkut prognosa dari penderita. Kata kunci: fraktur dentoalveolar. Pada pasien anak juga sering kita jumpai fraktur dentoalveolar. merupakan faktor predisposisi trauma insisivus maksila. perawatan darurat 107 . dimana anak – anak pada masa pertumbuhan dengan aktivitas bermain yang tinggi seperti terjatuh dari sepeda. menghentikan perdarahan. seperti terlihat pada individu dengan maloklusi Kelas II divisi I atau sebagai akibat kebiasaan buruk menghisap jempol. menghilangkan rasa sakit. dengan melakukan penjahitan dan penutupan luka dengan kain kassa. merawat luka akibat trauma. Trauma secara langsung biasanya menyebabkan cedera pada insisivus sentral maksila karena posisinya yang relatif lebih ke depan. trauma. maloklusi. Adapun penyebab fraktur dentoalveolar yang utama adalah kecelakaan lalu lintas. pencegahan terhadap infeksi. kecelakaan sewaktu berolahraga. Cedera akan meningkat dua kali lebih sering pada anak dengan insisivus yang protrusif dibandingkan dengan seorang anak yang memiliki oklusi normal. Insisivus yang protrusif dengan penutupan bibir yang tidak seimbang.

Cedera dentoalveolar biasanya terjadi karena seseorang terjatuh.1 Fraktur dentoalveolar dapat terjadi dengan atau tanpa kerusakan gigi. penganiayaan. Trauma tidak langsung pada gigi dan struktur pendukung biasanya sebagai akibat dari benturan yang mengenai dagu.1 Trauma secara langsung biasanya menyebabkan cedera pada incisivus central maksilla karena posisinya yang relatif lebih kedepan. Incisivus yang protrusif dengan penutupan bibir yang tidak seimbang. kecelakaan sepeda. ataupun dapat juga berhubungan dengan cedera multisistim. seperti yang terjadi pada kecelakaan kendaraan bermotor. Cedera pada strktur dentoalveolar dapat diakibatkan oleh trauma secara langsung mengenai gigi atau trauma tidak langsung. Cedera yang terjadi dapat hanya mengenai gigi dan struktur pendukungnya saja seperti pada seorang anak yang terjatuh. kecelakaan di taman bermain. kecelakaan sepeda motor. dan 2% dari kasus tersebut melibatkan trauma dentoalveolar. dan kecelakaan olahraga. merupakan faktor predisposisi trauma incisivus maksilla. seperti terlihat pada individu dengan maloklusi kelas II divisi 1 atau sebagai akibat kebiasaan buruk menghisap jempol. biasanya akibat oklusi yang menutup dengan cepat dan kuat antara gigi-geligi mandibula ke gigi-geligi maksilla. Dapat dalam bentuk retak tetapi pada umunya dalam bentuk fragmen alveolar yang sederhana. benturan akan diteruskan ke oklusi gigi-geligi.BAB I PENDAHULUAN Trauma pada gigi dan jaringan pendukungnya sering tejadi pada pasien trauma. menimbulkan kerusakan gigi-gigi posterior atau jaringan lunak anterior. Fraktur dentoalvapaeolar pada umumnya terjadi bersamaan 108 . atau gigi tidak dalam oklusi yang baik. Cedera pada gigi akan meningkat dua kali lebih sering pada anak-anak dengan gigi incisivus yang protrusif dibandingkan dengan seorang anak yang memiliki oklusi normal. Keterlibatan trauma orofasial diperkirakan sekitar 15 % dari semua pasien emergensi.

dengan cidera mulut lainnya. Deteksi dan pengobatan dini dapat meningkatkan kelangsungan hidup dan fungsi dari gigi tersebut. Sekitar 82% gigi yang

mengalami trauma adalah gigi-gigi maksiler. Fraktur gigi maksiler tersebut 64% adalah gigi incisivus sentral, 15% incisivus lateral, dan 3% caninus. Fraktur dentoalveolar pada umumnya terjadi pada kelompok usia anak, remaja, dan dewasa muda dengan rasio laki-laki terhadap perempuan 2-3 : 1. 2 Pemeriksaan klinis pada fraktur dentoalveolar meliputi kemungkinan adanya luka pada bibir dan umumnya terjadi edema dan echymosis. Pada pemeriksaan gigi dan alveolus kemungkinan terdapat laserasi, echymosis dari pada gingival dan perubahan bentuk dari pada alveolus. 3 Selain itu pada saat palpasi hati-hati pada saat memeriksa bibir. Pemeriksaan pada bibir berguna untuk mengetahui apakah ada benda asing atau gigi di dalam jaringan tersebut. Palpasi pada alveolus berfungsi untuk merasakan perubahan bentuk tulang-tulang, dan kadang-kadang terdapat krepitus.1

109

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

I. Etiologi Fraktur Dentoalveolar Trauma dentoalveolar dapat terjadi pada anak-anak, remaja, maupun dewasa. Pada kelompok anak-anak penyebab utama dari trauma ini adalah jatuh. Pada usia 1-3 tahun ketika anak belajar berjalan dan berlari insidennya meningkat yang diakibatkan oleh aktivitas yang tinggi dan kurangnya koordinasi anggota tubuh menyebabkan anak sering jatuh. Pada anak usia sekolah, taman bermain dan cidera akibat bersepeda merupakan penyebab tersering. Selama masa remaja, cidera olahraga merupakan kasus yang umum. Pada usia dewasa, cidera olahraga, kecelakaan sepeda motor, kecelakaan industri dan pertanian, dan kekerasan dalam rumah tangga merupakan penyebab potensial. Rasio laki-laki dan perempuan adalah 2:1. Olahraga yang melibatkan kontak fisik merupakan penyebab umum fraktur dental, seperti sepakbola dan bola basket. Frekuensi fraktur dentoalveolar yang lebih tinggi ditemukan pada pasien dengan retardasi mental dan serebral palsi. Penyalahgunaan obat dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya frakturdental.2 Gigi insisivus maksiler yang menonjol keluar atau ketidakmampuan menutup gigi pada keadaan istirahat dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya fraktur. Benturan atau trauma, baik berupa pukulan langsung terhadap gigi atau berupa pukulan tidak langsung terhadap mandibula, dapat menyebabkan pecahnya tonjolan-tonjolan gigi, terutama gigi-gigi posterior. Selain itu, tekanan oklusal yang berlebihan terutama terhadap tumpatan yang luas dan tonjol-tonjolnya tak terdukung oleh dentin dapat pula menyebabkan fraktur. Keparahan fraktur bisa hanya sekedar retak saja, pecahnya prosesus, sampai lepasnya gigi yang tidak bisa diselamatkan lagi. Trauma langsung kebanyakan mengenai gigi anterior, dan karena arah pukulan mengenai permukaan labial, garis retakannya menyebar ke belakang dan biasanya horizontal atau oblique. Pada fraktur yang lain, tekanan

110

hampir selalu mengenai permukaan oklusal, sehingga frakturnya pada umumnya vertikal. Pukulan terhadap gigi anterior paling sering terjadi pada anak-anak dan apabila dibiarkan maka tubulus dentinnya akan terpapar pada flora normal mulut sehingga dapat menimbulkan infeksi dan inflamasi pulpa sehingga perlu dirawat. 1 Di pihak lain, gigi posterior yang fraktur karena tekanan oklusal yang besar biasanya karena mempunyai tumpatan yang luas. Pada gigi semacam ini, hanya sedikit tubulus dentin yang terbuka yang langsung berhubungan dengan pulpa karena telah terjadinya reaksi terhadap karies dan prosedur penambalannya berupa kalsifikasi tubulus dan penempatan dentin reaksioner di rongga pulpa. Dengan demikian jaringan pulpanya jarang sekali ikut terkena. Trauma terhadap gigi pada umumnya bukan merupakan keadaan yang mengancam nyawa, tetapi cidera maksilofasial lain yang berhubungan dengan trauma dental dapat mengganggu jalan napas. Fraktur biasanya terjadi pada gigi permanen, sedangkan gigi susu biasanya hanya mengalami perubahan letak. Morbiditas yang berhubungan dengan fraktur dental bisa seperti gagalnya pergantian gigi, perubahan warna gigi, abses, hilangnya ruang pada arkus dental, ankylosis, lepasnya gigi secara abnormal, dan resorpsi akar merupakan keadaan yang signifikan. Trauma dental sering berhubungan dengan laserasi intraoral. Ketika ada gigi yang pecah atau hilang dan pada saat yang bersamaan terdapat laserasi intraoral, maka harus diperhatikan bahwa bagian gigi yang hilang dapat tertanam di dalam robekan luka tersebut. 1 Trauma secara langsung biasanya menyebabkan cedera pada incisivus central maksilla karena posisinya yang relatif lebih kedepan. Incisivus yang protrusif dengan penutupan bibir yang tidak seimbang, seperti terlihat pada individu dengan maloklusi kelas II divisi 1 atau sebagai akibat kebiasaan buruk menghisap jempol, merupakan faktor predisposisi trauma incisivus maksilla. Cedera pada gigi akan meningkat dua kali lebih sering pada anak-anak dengan gigi incisivus yang protrusif dibandingkan dengan seorang anak yang memiliki oklusi normal. Trauama tidak langsung pada gigi dan struktur pendukung biasanya sebagai akibat dari benturan yang mengenai dagu, atau gigi tidak dalam

111

oklusi yang baik, benturan akan diteruskan ke oklusi gigi-geligi, menimbulkan kerusakan gigi-gigi posterior atau jaringan lunak anterior. 1 Cedera dentoalveolar ini paling banyak terjadi pada gigi sulung yang terjadi pada saat anak-anak mulai belajar berjalan hingga usia sekolah, yang berusia antara 2-4 tahun, sedangkan pada gigi permanen antara usia 7-10 tahun. Jumlah cedera dentoalveolar yang signifikan juga terjadi berhubungan dengan penatalaksanaan pasien yang tidak sadar atau pasien yang akan menjalani anestetikum umum. Lockhart dan Colleases melakukan survai terhadap 133 program pelatihan anestesi dan menemukan dari setiap 100 tindakan intubasi trachea terdapat 1 kejadian yang mengakibatkan trauma gigi anterior. 1

Gambar 1. Gambaran Klinis Fraktur Dento Alveolar

II. Klasifikasi Ada banyak cara untuk mengklasifikasikan fraktur dental. Klasifikasi Ellis merupakan salah satu yang sering digunakan dalam literatur kegawatdaruratan, tetapi banyak dokter gigi dan ahli bedah maksilofasial yang tidak menggunakan sistem ini. Metode klasifikasi yang paling mudah dimengerti adalah berdasarkan deskripsi cidera. Fraktur mahkota gigi dapat dibedakan menjadi kategori sederhana dan rumit. Fraktur mahkota sederhana melibatkan bagian enamel dan dentin. Yang termasuk fraktur mahkota sederhana adalah fraktur Ellis kelas I dan II. Fraktur Ellis kelas I Fraktur yang tergolong Ellis kelas I hanya melibatkan lapisan enamel gigi. Pada inspeksi tampak sebagai kepingan kecil dengan tepi

112

yang tidak beraturan (kasar). Keluhan yang biasanya muncul adalah rasa tidak nyaman akibat tepi fraktur yang kasar tersebut. Pasien pada umumnya tidak mengeluhkan sensitivitas terhadap temperatur atau udara. Fraktur ini pada umumnya tidak menyebabkan gangguan terhadap rongga pulpa. 1 Sistim WHO yang dimodifikasi oleh Andreasen melibatkan cedera pada gigi, struktur pendukungnya, gusi dan mukosa oral yang berdasarkan anatomi, terapi dan prognosanya. 1 Cedera jaringan keras gigi dan pulpa. 1. Crown Infraction (keretakan mahkota). Merupakan fraktur inkomplit atau retaknya enamel tanpa disertai kehilangan substansi gigi. 2. Uncomplicated crown fracture (fraktur mahkota tidak komplit) Merupakan fraktur yang terbatas pada enamel atau melibatkan enamel dan dentin tanpa disertai terbukanya pulpa. 3. Complicated crown fracture (fraktur mahkota komplit) Merupakan fraktur yang melibatkan enamel dan dentin disertai terbukanya pulpa. 4. Uncomplicated crown-root fracture (fraktur mahkota dan akar tidak komplit) Merupakan fraktur yang melibatkan enamel, dentin dan sementum tanpa disertai terbukanya pulpa. 5. Complicated crown-root fracture (fraktur mahkota dan akar komplit) Merupakan fraktur yang melibatkan enamel, dentin, dan sementum yang disertai dengan terbukanya pulpa. 6. Root fracture (fraktur akar) Merupakan fraktur yang melibatkan dentin, sementum dan pulpa.

113

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

Gambar 2. Cedera jaringan keras gigi dan pulpa.(1) Crown infraction. (2) dan (3) Uncomplicated crown fracture dengan atau tanpa melibatkan dentin. (4) Complicated crown fractured. (5) Uncomplicated crown root fractured. (6) Complicated crown root fracture. (7) Root Fracture. 1

Cedera jaringan periodontal. 1 1. Concussion (sensitif). Merupakan suatu cedera pada struktur pendukung gigi tanpa adanya kehilangan yang abnormal atau pergeseran gigi, tetapi ditandai dengan adanya reaksi sensitif terhadap perkusi. 2. Subluksasi (kegoyangan gigi). Cedera pada struktur pendukung gigi tanpa kehilangan yang abnormal tetapi tanpa pergeseran gigi. 3. Intrusif luxation (central dislocation). Pergeseran gigi ke dalam tulang alveolar tanpa disertai hancurnya atau fraktur soket alveolar. 4. Extrusif luxation (peripheral dislocation, partial avultion) Pergeseran sebagian gigi keluar dari soket alveolar. 5. Lateral luxation Pergeseran gigi dalam arah lateral yang disertai hancur atau fraktur soket alveolar.

114

6. Exarticulation (complete avultion) Pergeseran gigi yang komplit keluar dari soket alveolar.

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

Gambar 3. Cedera jaringan periodontal. (1)Concussion. (2)Subluksasi. (3)Intrusif luksatioin. (4)Extrusif luxation. (5) dan (6) Lateral luxation. (7)Retained root. (8)Exarticulation. 1

Cedera tulang pendukung. 1 1. Comminution alveolar socket. Fraktur atau remuknya soket alveolar mandibula atau maksila. Keadaan ini biasanya ditemukan bersama-sama dengan luksasi intrusi dan luksasi lateral. 2. Fracture of the alveolar socket wall (Fraktur dinding socket alveolar) Fraktur dinding alveolar soket yang ditahan oleh dinding soket fasial atau lingual. 3. Fracture of alveolar process (fraktur prosesus alveolaris). Fraktur prosesus alveolaris yang dapat atau tidak melibatkan soket alveolar. 4. Fraktur maksila atau mandibula.

115

Laserasi gingiva atau mukosa Yaitu luka pada daerah mukosa yang biasanya disebabkan oleh sobekan benda tajam. 116 . (1)Comminution alveolar process. 1 Cedera gingiva atau mukosa oral. dan dapat mengenai prosesus alveolaris atau mungkin juga dengan atau tidak mengenai soket alveolar gigi.Fraktur ini mengenai mandibula atau maksilla. Abrasi gingiva atau mukosa oral. Kontusio gingiva atau mukosa oral. (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Gambar 4. 1 1. (4) dan (5)fracture of the alveolar process. 3. Cedera tulang alveolar. Yaitu luka memar yang biasanya disebabkan oleh pukulan dari benda tumpul dan menyebabkan perdarahan pada daerah submukosa tanpa disertai sobeknya daerah mukosa. (6) dan (7)Fraktur mandibula atau maksila. 2. (2) dan (3)Fracture of the alveolar socket wall. Yaitu luka daerah supefisial yang disebabkan karena gesekan atau goresan yang mengakibatkan daerah mukosa terlihat lecet dan permukaan yang berdarah.

2. Mengenai sepertiga apikal. Fraktur mahkota yang hanya mengenai email 2.3 1. yang dibagi lagi menjadi :3 1. 3 Keretakan mahkota. 4. 5.1. gambaran struktur gigi yang terlibat. Melibatkan pulpa. Gambaran Klinis Fraktur MAhkota Horizontal Fraktur mahkota-akar. Fraktur mahkota yang mengenai email dan dentin. Dapat terjadi secara horizontal atau vertical. Retak atau fraktur yang tidak lengkap dari email tanpa adanya kehilangan struktur gigi. Brady dan Johnson yang relatif lebih sederhana berdasarkan pada diskripsi cedera. Tidak melibatkan pulpa. Fraktur akar horizontal 1 1. Fraktur horizontal atau vertikal. Fraktur secara oblique (mengenai sudut mesioincisal dan distoincisal) Gambar 5. Fraktur mahkota 3 1. 2. 3. Fraktur mahkota yang mengenai email. tipe pergeseran dan arah fraktur akar dan mahkota. 117 .Selain itu ada juga klasifikasi yang dibuat oleh Sanders. dentin dan pulpa.

Perubahan letak gigi. 118 . 4. Gigi sensitif (Concussion) 1 Yaitu trauma pada gigi dan jaringan pendukungnya mengakibatkan gigi sensitive terhadap perkusi. Avulsi Gigi 1 Yaitu perubahan letak keseluruhan gigi keluar dari soketnya. 2.2. tetapai tanpa disertai adanya kegoyangan gigi dan perubahan letak dari gigi. 3. Mengenai sepertiga tengah akar. 5. 4.1 1. Mengenai sepertiga servikal. kemungkinan juga disertai fraktur dinding alveolar). dan kemungkinan bersamaan dengan fraktur dinding alveolar. tetapi tanpa disertai adanya perubahan letak gigi. biasanya disertai dengan kompresi fraktur dari saku alveolar). Perubahan letak gigi ke arah lingual (kemungkinan disertai fraktur dinding lingual). Perubahan letak gigi kea rah lateral (pergeseran gigi ke arah distal atau mesial. Kegoyangan gigi (Subluxation) Yaitu trauma terhadap gigi dan jaringan pendukungnya mengakibatkan gigi menjadi goyang. 3. Horizontal atau vertikal. Perubahan letak gigi ke arah labial (kemungkinan disertai fraktur dinding alveolar). Ekstrusi gigi (gigi sebagian keluar dari soketnya dan memungkinkan tidak disertainya adanya fraktur tulang alveolar). Intrusi gigi (gigi masuk ke dalam soket.

orangtuanya atau orang yang mengetahui informasi yang berhubungan dengan pasiennya. kapan. dimana. 1 Yang dimaksud dengan anamnesis adalah riwayat terjadinya trauma. Kapan Terjadinya Trauma. 1. Riwayat yang komprehensif harus didapatkan dari pasien. Dalam melakukan anamnesis. Gigi Avulsi III. ada beberapa informasi yang harus diketahui antara lain sebagai berikut : a.Gambar 6. Anamnesis dapat dilakukan dengan menanyakan langsung kepada penderita atau pengantar. dan bagaimana kejadiannya.3 Langkah pertama dalam proses mendiagnosa yaitu mendapatkan riwayat kecelakaan yang akurat. Agar penatalaksanaannya tepat dan berhasil. Riwayat mekanisme dan kejadian yang lengkap harus didapatkan dan langsung dilakukan pemeriksaan klinis dan radiografis untuk menjamin diagnosa dan perawatan yang tepat. Pemeriksaan dan Menegakan Diagnosis Cedera pada gigi-gigi dan struktur pendukungnya harus dipertimbangkan sebagai suatu keadaan darurat. terapi apa yang sudah diberikan sebelumnya. dibutuhkan suatu penegakan diagnosa dan perawatan dalam waktu yang cepat. 119 . Anamnesis.

Demikian juga pada kecelakaan mobil perlu diperhitungkan kemungkinan ada pecahan kaca pada bibir dan daerah muka. tekanan darah. 3 Pemeriksaan Fisik. Seperti pada gigi yang mengalami avulsi. tingkat kesadaran dan suhu tubuh. Pemeriksaan Klinis. semakin cepat gigi tersebut di replantasi. Perawatan yang Sudah Didapat. c. e. Pemeriksaan terhadap keadaan umum penderita. Palpasi pada wajah dilakukan untuk melihat diskontinuitas tulang rahang 120 . Penyakit Sistemik yang Diderita. Juga pada fraktur rahang yang proses penyembuhannya akan berpengaruh jika perawatannya ditunda. maka prognosisnya akan semakin baik. Hal ini penting karena mungkin saja penderita memerlukan suntikan anti tetanus karena luka akibat trauma tersebut terjadi di daerah yang kotor yang dengan mudah akan terkontaminasi dengan bakteri. b. h. d. meliputi pemeriksaan denyut nadi. Informasi ini penting untuk mengetahui apakah trauma tersebut mengenai benda keras atau tumpul atau lunak.Karena jarak antara kecelakaan dan perawatan sangat penting diketahui bukan hanya untuk menentukan jenis perawatan yang akan dilakukan tetapi berpengaruh juga terhadap prognosisnya. Dimana Tempat Trauma Terjadi. Keluhan Lain. sedangkan trauma pada benda yang lunak atau tumpul seperti siku biasanya dapat mengakibatkan fraktur akar gigi dan luksasi. g. Gangguan Pengunyahan. pernafasan. Bagaimana Trauma Terjadi. Karena trauma pada benda keras dapat mengakibatkan fraktur ahkota gigi. Pemeriksaan Ekstra Oral Pada kasus trauma gigi anterior ini dapat dilakukan dengan cara visual dan palpasi. Riwayat Trauma pada Gigi f.

kelainan saraf serta hematoma. Pemeriksaan Radiologis.yang menunjukkan adanya fraktur. Pencatatan adanya perubahan warna gigi Pencatatan kerusakan jaringan lunak. Pemeriksaan Intra Oral. Untuk melihat arah garis fraktur Adanya fraktur akar Bagaimana tingkat keparahan dari gigi yang mengalami instrusi atau ekstrusi 4. langitlangit dan lidah. (5) (6) (7) Pencatatan perubahan letak gigi Tes vitalitas dari gigi Pencatatan adanya kerusakan prosesus alveolaris. Adanya kelainan dari jaringan periodontal Tingkat perkembangan akar Ukuran kamar pulpa dan saluran akar Adanya fraktur rahang 121 . gusi. 3. misalnya : 1. Pemeriksaan ini penting untuk mendapatkan informasi agar dapat memberikan pertolongan pertama. Tindakan yang sebaiknya dilakukan pada pemeriksaan intra oral meliputi antara lain : (1) (2) (3) (4) Perkusi gigi Pencatatan kegoyangan abnormal dari gigi atau tulang alveolar. 2. 3 Kegunaan Pemeriksaan Radiologis Pemeriksaan ini diperlukan untuk membantu menegakkan diagnosa kelainan akibat trauma gigi anterior yang tepat dan benar. gangguan pergerakan rahang. 6. seperti pada bibir. Pemeriksaan ini berguna untuk memberikan informasi. Biasanya pemeriksaan radiologis dilakukan pada saat sebelum memulai perawatan dan pada saat kontrol sesudah perawatan sebagai evaluasi terhadap perawatan yang telah dilakukan. 7. dengan cara palpasi prosesus alveolaris. 5.

seperti dasar mulut.8. bibir dan pipi. foto lateral dan foto postero-anterior) jika dengan foto intra oral garis fraktur tidak terlihat. fraktur alveolar crest pada maksila dan fraktur 1/3 apikal akar gigi pada mandibula 122 . Gambar 7. Melihat keadaan fragmen gigi dan jaringan lunak lain disekitar rongga mulut. dan kadangkala diperlukan teknik ekstra oral (foto panoramik. Foto panoramic. Macam-macam foto rontgen yang digunakan Teknik foto rontgen yang biasa digunakan dalam melakukan pemeriksaan riologis pada kasus trauma gigi anterior adalah teknik intra oral ( foto periapikal dan foto oklusal).

Trauma pada gigi merupakan salah satu kasus darurat yang memerlukan penanggulangan yang cepat dan tepat. Perawatan darurat pada kasus trauma gigi anterior meliputi : a. karena keadaan ini mempengaruhi prognosis yang akan datang. c. Menghilangkan rasa sakit e. 123 . maka diagnosis yang tepat juga dapat ditegakkan sehingga langkah perawatan terhadap kelainan akibat trauma pada gigi anterior dapat dilakukan dengan segera. Menghentikan perdarahan d. dengan melakukan penjahitan dan penutupan luka dengan kain kasa. Perawatan Segera Setelah Terjadinya Trauma (Perawatan Darurat) Perawatan darurat merupakan perawatan yang penting dan harus dilakukan dengan segera karena menyangkut prognosa dari penderita. Membersihkan luka akibat trauma dengan menggunakan cairan antiseptik b. yaitu perawatan segera setelah terjadinya trauma (perawatan darurat) dan perawatan terhadap gigi anterior yang mengalami trauma (perawatan definitif). pemeriksaan klinis dan pemeriksaan radiologis telah lengkap. Perawatan trauma gigi anterior dapat dibagi menjadi 2 tahap. Merawat luka akibat trauma. Maka pada prinsipnya perawatan trauma gigi anterior ini adalah perawatan untuk mencegah prognosis yang lebih buruk dan mengurangi rasa sakit akibat trauma.BAB III Perawatan Trauma Pada Gigi Anterior 1 Setelah ananmnesis. Pencegahan terhadap infeksi 1 Perawatan Gigi pada Cedera Dentoalveolar (Perawatan Definitif).

yaitu : keadaan umum pasien. dll. 6. umur pasien. yaitu dengan melakukan reposisi dan fiksasi. pembuatan mahkota jaket. pulpotomi. Yang dimaksud dengan fiksasi adalah suatu tindakan pemasangan alat yang digunakan untuk menstabilkan satu gigi atau lebih dengan mengikat atau menggabungkan gigi goyah atau berubah letak kegigi sebelahnya yang masih kokoh melalui kawat. Pada saat dipakai tidak menyebabkan trauma pada gigi atau gusi. tanpa menyebabkan tekanan pada gigi. misalnya penambalan dengan resin komposit pada mahkota gigi yang terkena trauma. 5. band atau splin dari logam cor. Bersifat pasif pada tempatnya. Perawatan jaringan pulpa. apakah disertai dengan fraktur tulang alveolar. Tidak terdapat sangkutan pada saat oklusi yang normal. misalnya pada perawatan endodontik seperti pulp capping. c. Pada dasarnya perawatan definitif trauma gigi anterior meliputi : a. trauma terjadi pada gigi sulung atau gigi tetap. plastik atau acrylik. b. Tindak berkontak dengan gusi dan tidak mengiritasi gusi. dll. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi untuk mendapatkan fiksasi yang baik 1 . keadaan dari tulang pendukung.yaitu : Dapat dengan mudah dipasang didalam mulut tanpa melalui prosedur laboratorium yang lama. keadaan jaringan periodontal serta gigi-geligi yang ada. 3. 4. Dapat dengan mudah dibersihkan dan dipakai pada oral higiene yang baik. Vitalitas gigi yang terkena trauma.Perawatan gigi anterior yang mengalami trauma pada prinsipnya adalah mengembalikan gigi yang mengalami trauma keposisi semula (reposisi) dan mempertahankannya hingga proses penyembuhan (fiksasi dan imobilisasi). Perawatan pada gigi yang goyang dan berubah letak. Perawatan jaringan keras gigi. 1. 2. lokasi dan luas daerah yang terkena trauma. Ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan sebelum melakukan perawatan definitif pada kasus trauma gigi anterior. 124 .

Dapat memberikan jalan bagi perawatan endodontik. 10. Gambar 8. 125 . Interdental wiring fixation. misalnya pada gigi yang ekstrusi dan avulsi. yaitu fiksasi dengan pengikatan kawat interdental. Harganya murah dan bahan-bahannya mudah diperoleh dipasaran. 3. Ada beberapa macam teknik fiksasi yang digunakan pada kasus trauma gigi anterior ini1. Misalnya dengan metode Erich arch bar. Arch bar wiring. Ernt’s.4. Penggunaan alat Orthodontik bracket. yaitu pengikatan kawat dengan arch bar. yaitu : 1. Sauer’s arch bar. Circumferential arch bar. 6. 8. yaitu splin dengan menggunakan logam cor. 9. Resin komposit splin dengan menggunakan etsa asam. Eyelet (Ivy). Sectional acrylic splint. Dapat dengan mudah dikeluarkan. Misalnya dengan metode Essig. 4. hauptmeye’s arch bar. 5. Metal cast splint.7. Eyelet & Essig Method 1 2. yaitu splin dengan menggunakan bahan dari akrilik. Memperhatikan nilai estetik yang baik.

Fraktur Mahkota – Akar a. B.A B C D Gambar 9. Fiksasi intermaksiler dengan Erich bar & rubber elastic. C.al. Tetapi bila disertai dengan kegoyangan gigi dilakukan juga reposisi gigi dan fiksasi gigi tersebut. Jika fragmen mahkota masih berada ditempat dan tidak goyang. fiksasi dengan Jalenko 1 Berikut ini akan diuraikan berbagai macam perawatan definitif trauma gigi anterior menurut beberapa pakar bedah mulut Fraktur Mahkota Pada fraktur mahkota yang mengenai email. d. Gunning splint untuk rahang edentulous (Miloro et. 2004). Fiksasi intermasiler: A.3 yaitu sebagai berikut : 126 . dentin serta pulpa tanpa disertai kegoyangan gigi biasanya dilakukan penambalan pada gigi yang terkena fraktur dengan resin komposit sistem etsa dengan atau tanpa didahului perawatan endodontik. perawatan yang dilakukan sama dengan perawatan pada fraktur mahkota. maka 1. screw & wire.

b. c.b. Jika garis fraktur sepertiga apikal prognosisnya sangat baik dan biasanya tidak diperlukan perawatan yang khusus. prognosisnya sangat baik terhadap pemulihan pertahanan jaringan pulpa dan penyembuhan dari fraktur akar tersebut. Jika garis fraktur jauh kearah apikal dan gigi masih dapat direstorasi. Dan dalam hal ini diperlukan tindakan reposisi dan fiksasi selama 2-3 bulan. c. 127 . hanya diperlukan pemeriksaan yang rutin dan berlanjut untuk mengevaluasi kesehatan dari jaringan periodontal dan pulpa gigi tersebut dan jika perlu mengurangi kontak incisal untuk mengurangi trauma saat oklusi yang diterima gigi. Jika garis fraktur berada sepertiga tengah akar. Jika terjadi fraktur akar vertikal dilakukan tindakan ekstraksi gigi. Subluksasi Gigi 1 Gigi yang mengalami subluksasi sensitif terhada perkusi dan goyang. maka sebaiknya dilakukan ekstraksi gigi tersebut. Fraktur Akar a. Jika disertai dengan fraktur tulang alveolar. Gigi Sensitif (Concussion) 1 Perawatan yang khusus pada gigi sensitif ini biasanya tidak ada. Perawatan yang diperlukan biasanya perawatan simptomatik yaitu dengan memberikan makanan yang lunak dan jika perlu menghilangkan kontak oklusal/incisal untuk mengurangi trauma saat oklusi yang diterima dari gigi. karena pada periode ini biasanya telah terjadi proses kalsifikasi dari jaringan dan gigi kembali vital. dilakukan fiksasi pada gigi lawannya. Dan apabila kegoyangan gigi sudah sangat ekstrim. maka dilakukan perawatan endodontik.

2. Ekstrusi Gigi dan Luksasi Gigi ke lateral Pada gigi yang mengalami ekstrusi dan perubahan letak kearah lateral dilakukan perawatan reposisi gigi dengan tekanan jari. Keberhasilan replantasi gigi pada gigi yang mengalami avulsi ini tergantung pada lamanya gigi berada diluar soket. kemudian immobilisasi gigi selama 2-3 minggu. dilakukan reposisi dan immobilisasi selama 2-3 bulan. Andreasen dan Hjorting-Hansen 1 mengemukakan bahwa 90% dari gigi yang direplantasi kurang dari 30 menit setelah terjadi avulsi gigi. Avulsi Gigi Pada gigi yang mengalami avulsi. dan penggunaan alat orthodonti juda dapat membantu gigi yang mengalami instrusi dapat kembali keposisi semula. gigi tersebut direndam dahulu dalam larutan garam fisiologis hangat seperti cairan saline untuk mencegah kekeringan dari serat-serat periodontal. Kemudian gigi tersebut dikeringkan dan setelah saku gusi dibersihkan dari gumpalan darah replantasi dapat segera dilakukan. Dan resorpsi akar terlihat pada 95% gigi yang direplantasi setelah lebih dari 2 jam mengalami avulsi. dilakukan replantasi gigi dan stabilisasi gigi. Setelah gigi direplantasi. tidak terdapat resorpsi akar pada gigi tersebut. Apabila akar sudah terbentuk sempurna. maka prognosisnya semakin baik. gigi akan kembali pada posisi semula. biasanya dibiarkan saja karena diharapkan pada saat pertumbuhan. gigi tersebut distabilisasi dengan splint sistem etsa asam atau splint akrilik selama 7-10 hari (pada gigi yang apeksnya sudah terbentuk sempurna) dan 3-4 minggu pada gigi yang apeknya belum terbentuk sempurna.Perawatan Pada Gigi Yang Berubah Letak 1 1. Periode stabilisasi pada kasus cedera dentoalveolar dapat dilihat pada tabel 1. Sebelum melakukan replantasi. 3 128 . Semakin cepat gigi tersebut direplantasi. Intrusi Gigi   Pada apeks yang belum terbentuk sempurna.

7 – 10 hari. Periode stabilisasi pada cedera dentoalveolar. e.Tabel 1. Replantasi gigi (matur) Replantasi gigi (imatur) Durasi Imobilisasi 7 – 10 hari 2 – 3 minggu 2 – 4 bulan. Berapa lama gigi tersebut berada diluar saku alveolar. 3 Cedera Dentoalveolar Gigi yang mobile. c. Tingkat perkembangan akar. Fraktur Tulang Alveolar 1 Fraktur tulang alveolar biasanya disertai dengan fraktur dari beberapa gigi sehingga dengan fraktur tulang alveolar ini juga dapat terjadi fraktur mahkota. Menurut Andreasen. d. sedangkan jika gigi berada diluar saku alveolar lebih dari 2 jam kemungkinan besar akan terjadi komplikasi yaitu resorpsi dari akar gigi dan gigi menjadi non vital. seperti gigi yang berjejal. 3 – 4 minggu. Gigi yang berubah tempat Fraktur akar. b. Gigi tersebut tidak mempunyai kelainan periodontal.Pada pasien yang mengalami 129 . 1 yaitu sebagai berikut : a.Maka perawatan yang dilakukan adalah mengembalikan bagian yang terkena fraktur keposisi semula dan kemudian dilakukan stabilisasi selama 4 minggu sampai terjadi proses penyembuhan tulang serta penjahitan gusi yang mengalami laserasi. Gigi yang berada diluar saku gusi kurang dari 30 menit. Saku alveolar dapat menyediakan tempat bagi gigi yang direplantasi. 2003. merupakan indikasi replantasi yang baik. Tidak ada pertimbangan untuk melakukan perawatan orthodontik. kecuali sebelum direplantasi gigi tersebut dirawat endodontik terlebih dahulu. Soft Tissue and Dentoalveolar Injuries. Sumber : Ellis. fraktur akar dan trauma pada jaringan lunaknya. ada beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam melakukan replantasi gigi yang mengalami avulsi.

tulang alveolar yang lepas dan berukuran kecil dan tidak dapat dipertahankan dibuang dan dilakukan alveolektomi. Jika mukosa mengalami perlukaan maka sebelum tindakan operatif harus diberikan antibiotik terlebih dahulu baru kemudian dilakukan debridemen. Displacement segmen alveolar dan mengakibatkan maloklusi 1 Letak Fraktur pada Daerah Edentulous. 130 .fraktur tulang alveolar yang parah dilakukan tindakan alveolektomi disertai ekstraksi gigi yang mengalami trauma. Finger pressure dapat digunakan untuk menekan fragmen alveolar yang fraktur ke dalam posisinya yang tepat dan jika pasien menggunakan gigi tiruan dapat digunakan sebagai alat bantu memfiksasi. Cedera jenis ini jika mengenai daerah edentulous maksilla dapat menyebabkan terjadinya fistula oro-nasal pada daerah premaksilla atau fistula oroantral di daerah premolar dan molar. fraktur dentoalveolar pada maksila (panah). Kemudian mukosa gingiva atau rongga mulut diperbaiki dengan cara melakukan penjahitan. Foto panoramic. 5 Bentuk cedera pada daerah tidak bergigi ini tidak terlalu berarti. Gambar 10.

Letak Fraktur pada Procesus Alveolaris Bergigi. kecuali gigi pada fragmen tulang alveolaris memerlukan pencabutan segera. jika terdapat gigi pada garis fraktur maka harus dipertimbangkan perawatan lainnya seperti perawatan endodontik diperlukan jika pulpa mengalami nekrosis.Gambar11. Alat Bantu Fiksasi 4 Masalah jangka panjang yang dapat terjadi jika prosesus alveolaris yang lepas berukuran besar akan mengakibatkan kesulitan saat pembuatan gigi tiruan. Prognosis fragmen fraktur dapat ditingkatkan dengan tindakan imobilisasi. Fraktur dentoalveolar pada usia sangat muda dapat membaik tanpa memerlukan imobilisasi dan cukup dirawat dengan pemberian diet lunak. maka perlu dirujuk kepada ahli periodontologi dengan melakukan perawatan splinting metoda Von Weissenfluh. Perawatann ini dilakukan dengan anestesi lokal dibantu dengan sedasi. Kadang-kadang pada fraktur dentoalveolar gigi pada fragmen fraktur tidak mendapat dukungan tulang alveolar terutama pada penderita usia tua. Splinting harus dipertahankan selama 6 minggu. Komplikasi ini memerlukan perawatan pendahuluan sebelum pembuatan protesa yaitu augmentasi ridge. kemudian gigi ditempatkan secara akurat pada posisinya dan juga membebaskan trauma oklusal dari gigi lawannya. 5 Adanya segmen tulang alveolar yang fraktur dan terdapat gigi permanen pada fragmennya maka diperlukan tindakan reduksi dan imobilisasi. seperti diazepam oral atau intra venous. pendalaman sulcus atau teknik implant. 131 . Tetapi bagaimanapun jika fragmen alveolar yang fraktur cukup besar maka tetap diindikasikan untuk pemasangan splint.

Diagnosis ditegakkan dengan anamnesis. Perawatan tergantung pada kasus dan seringkali melibatkan bidang kedokteran gigi lainnya. olahraga. biasanya akibat oklusi yang menutup dengan cepat dan kuat antara gigi-geligi mandibula ke gigi-geligi maksilla. Tujuan perawatan cedera dentoalveolar adalah memperoleh kembali bentuk dan fungsi normal dari organ pengunyahan.BAB IV KESIMPULAN Cedera pada strktur dentoalveolar dapat diakibatkan oleh trauma secara langsung mengenai gigi atau trauma tidak langsung. perkelahian dan domestic abuse. pemeriksaan klinis dan radiologis. Cedera dentoalveolar seringkali melibatkan regio anterior maksila Penyebab tersering cedera dentoalveolar adalah kecelakaan lalu lintas. 132 .

Appliances for Immobilization. Oral and Maxillofacial Trauma. In. In. In. J. Quintessence Publishing Co. Oral and Maxillofacial Traumatology. Fonseca RJ. Vol. 1982. Churchill Livingstone. Contemporary Oral and Maxillofacial Surgery. MP. Volume 1. Philladelphia. 133 . Williams. Philladelphia. 1991. 1994.Daftar Pustaka 1. Ellis. Mosby Year Book Inc.. Rowe and Williams’ Maxillofacial Injuries. WB Saunders Company. Second Ed. Peterson. 1990. E III. Kaban. Pediatric Oral and Maxillofacial Surgery. and Steinhilber. Soft Tissue and Dentoalveolar Injuries. Schwenzer. Sowray. 5. 1. 2003. Diagnosis and management of Dentoalveolar Injuries. Louis. 4. 3. In. E and Schilli. Localized Injuries of the Teeth and Alveolar Process. Third ed. FH. 2. Powers. Kruger. LB. N. St. WB Saunders Company.

Champy Line 134 . Pada teknik tertutup imobilisasi dan reduksi fraktur dicapai dengan penempatan peralatan fiksasi maksilomandibular. Kata Kunci : fraktur. Pada prinsipnya ada dua cara penatalaksanaan fraktur mandibula. Kedua teknik ini tidak selalu dilakukan tersendiri tetapi kadangkadang diaplikasikan bersama atau disebut dengan prosedur kombinasi. Kecelakaan kendaraan bermotor merupakan etiologi utama penyebab fraktur mandibula di dunia. mandibula. reduksi. angulus mandibularis dan daerah mentalis. yaitu cara tertutup atau disebut juga perawatan konservatif dan cara terbuka yang ditempuh dengan cara pembedahan. Pada prosedur terbuka bagian yang mengalami fraktur di buka dengan pembedahan dan segmen fraktur direduksi serta difiksasi secara langsung dengan menggunakan kawat/plat yang disebut dengan wire atau plate osteosynthesis.Fraktur Mandibula Retno Widayanti 160121120003 Peserta Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut Dan Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Abstrak : Mandibula merupakan bagian tulang yang paling rentan mengalami fraktur pada trauma fasialis. Hal ini dapat disebabkan karena posisinya yang menonjol dan merupakan sasaran pukulan dan benturan. fiksasi. Banyak faktor yang dapat menyebabkan terjadinya fraktur mandibula. Daerah mandibula yang lemah adalah daerah subkondilar.

tidak simetrisnya arcus dentalis. kecelakaan saat kerja dan kecelakaan akibat olahraga4. Mandibula adalah tulang rahang bawah pada manusia dan berfungsi sebagai tempat menempelnya gigi geligi3. Patahnya gigi. pengikat rahang atas dan bawah dengan kawat (intermaxilari fixation). Fraktur mandibula merupakan fraktur kedua tersering pada kerangka wajah. Secara khusus penanganan fraktur mandibula dan tulang pada wajah (maksilofasial) mulai diperkenalkan olah Hipocrates (460-375 SM) dengan menggunakan panduan oklusi (hubungan yang ideal antara gigi bawah dan gigigigi rahang atas). 2. gigi yang longgar dan krepitasi menunujukkan kemungkinan adanya fraktur mandibula. adanya laserasi intra oral. adanya gap. namun kecelakaan kendaraan bermotor menjadi penyebab paling umum. tidak ratanya gigi. sebagai dasar pemikiran dan diagnosis fraktur mandibula 4. nyeri tekan. Pada perkembangan selanjutnya oleh para klinisi menggunakan oklusi sebagai konsep dasar penanganan fraktur mandibula dan tulang wajah (maksilofasial) terutama dalam diagnostik dan penatalaksanaannya. Hal ini diikuti dengan perkembangan teknik fiksasi mulai dari penggunaan pengikat kepala ( head bandages). Beberapa penyebab lain berupa kelainan patologis seperti keganasan pada mandibula.BAB I PENDAHULUAN Fraktur mandibula adalah putusnya kontinuitas tulang mandibula 1. Faktor etiologi utama terjadinya fraktur mandibula bervariasi berdasarkan lokasi geografis. dapat berakibat fatal bila tidak ditangani dengan benar2. dan maloklusi5. Selain hal itu mungkin juga terjadi trismus (nyeri waktu rahang digerakkan) 4. bila perlu dilakukan foto waters. serta fiksasi dan 135 . pembengkaan. Evaluasi radiografis pada mandibula mencakup foto polos. CT Scan dan pemeriksaan panoreks4. hal ini disebabkan kondisi mandibula yang terpisah dari kranium. Hilangnya kontinuitas pada rahang bawah (mandibula). Diagnosis fraktur mandibula dapat ditunjukkan dengan adanya : rasa sakit.

136 . Pada semua manajemen fraktur. Restorasi fungsi mandibula sebagai bagian dari sistem stomatognati harus mencakup kemampuan untuk mastikasi yang baik. mencegah terjadinya defek kontur yang dapat timbul.5. tujuan dari perawatannya adalah untuk mengembalikan fungsi dengan memastikan penyatuan dari segmen tulang dan mengembalikan kekuatan seperti sebelum cedera. mencegah terjadinya infeksi. berbicara dengan normal dan menciptakan pergerakan artikulasi seperti sebelum terjadinya trauma.imobilisasi fragmen fraktur dengan menggunakan plat tulang ( plate and screw)2.4.

Bagian bawah korpus mandibula mempunyai tepi yang lengkung dan halus. Permukaan dalam dari korpus mandibula cekung dan didapatkan linea milohiodea yang merupakan origo m. Pada yang lebih muda sudutnya lebih besar dan ramusnya nampak lebih divergens. Angulus mandibula terletak subkutan dan mudah diraba pada 2-3 jari dibawah lobulus aurikularis 10. Permukaan luar dari korpus mandibula pada garis median. Tulang ini terdiri dari korpus. didapatkan tonjolan tulang halus yang disebut simfisis mentum yang merupakan tempat pertemuan embriologis dari dua buah tulang. Pada ujung dari masing-masing ramus didapatkan dua buah penonjolan disebut prosesus kondiloideus dan prosesus koronoideus. memipih dan meninggi pada bagian ramus kanan dan kiri sehingga membentuk pilar. Milohioid. Secara keseluruhan tulang mandibula ini berbentuk tapal kuda melebar di belakang.1 Anatomi Mandibula Mandibula dibentuk oleh dua bagian simetris yang mengadakan fusi dalam tahun pertama kehidupan. Pada pertengahan korpus mandibula kurang lebih 1 inchi dari simfisis didapatkan foramen mentalis yang dilalui oleh vasa dan nervus mentalis. Bagian korpus mandibula membentuk tonjolan disebut prosesus alveolaris yang mempunyai 16 buah lubang untuk tempat gigi. 137 . yaitu suatu lengkungan tapal kuda dan sepasang ramus yang pipih dan lebar yang mengarah keatas pada bagian belakang dari korpus.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. Angulus mandibula adalah pertemuan antara tepi belakang ramus mandibula dan tepi bawah korpus mandibula. ramus membentuk sudut 1200 terhadap korpus pada orang dewasa. Prosessus kondiloideus terdiri dari kaput dan kolum.

M. Masseter yang berinsersi pada sisi lateral angulus dan ramus mandibula. 138 . Pterigodeus medial berinsersi pada sisi medial bawah dari ramus dan angulus mandibula. merupakan gabungan tulang berbentuk L bekerja untuk mengunyah dengan dominasi (terkuat) m. M pterigoideus lateral berinsersi pada bagian depan kapsul sendi temporo-mandibular. diskus artikularis berperan untuk membuka mandibula. M masseter bersama m temporalis merupakan kekuatan untuk menggerakkan mandibula dalam proses menutup mulut.Gambar 2. Fungsi m pterigoid sangat penting dalam proses penyembuhan pada fraktur intrakapsuler. Temporalis yang berinsersi disisi medial pada ujung prosesus koronoideus dan m.1 Anatomi mandibula10 Dari aspek fungsinya.

53mm. 139 . Mandibula mendapat nutrisi dari arteri alveolaris inferior yang merupakan cabang pertama dari arteri maxillaris yang masuk melalui foramen mandibula bersama vena dan nervus alveolaris inferior berjalan dalam kanalis alveolaris. Ditengahnya ditancapi oleh akar-akar geligi yang terbungkus oleh tulang kanselus yang membentuk sistem haversian (osteons) diantara dua korteks tersebut ditengahnya terdapat kanal mandibularis yang dilewati oleh syaraf dan pembuluh darah yang masuk dari foramen mandibularis dan keluar kedepan melalui foramen mentalis. Lebar kanalis mandibula tersebut sekitar 3 mm ( terbesar) dan ketebalan korteks sisi bukal yang tertipis sekitar 2.7mm sedang pada potongan level gigi kaninus kanalnya berdiameter sekitar 1mm dengan ketebalan korteks sekitar 2.2 Insersi Otot pada Mandibula4 Pada potongan melintang tulang mandibula dewasa level molar II berbentuk seperti ”U” dengan komposisi korteks dalam dan korteks luar yang cukup kuat.Gambar 2. Posisis jalur kanalis mandibula ini perlu diingat dan dihindari saat melakukan instrumentasi waktu reposisi dan memasang fiksasi interna pada fraktur mandibula11.

yang selanjutnya mengalirkan darah ke vena facialis anterior.3 Vaskularisasi mandibula12 Gambar 2. Daerah dagu mengalirkan darah ke vena submentalis.4 Inervasi mandibula12 140 . arteri submentalis dan arteri labii inferior. Vena facialis anterior dan vena facialis posterior bergabung menjadi vena fascialis communis yang mengalirkan darah ke vena jugularis interna12.Arteri alveolaris inferior memberi nutrisi ke gigi-gigi bawah serta gusi sekitarnya kemudian di foramen mentalis keluar sebagai a. Arteri mentalis beranastomosis dengan arteri facialis. Arteri submentalis dan arteri labii inferior merupakan cabang dari arteri facialis. Arteri mentalis memberi nutrisi ke dagu. Sebelum keluar dari foramen mentalis bercabang menuju incisivus dan berjalan sebelah anterior ke depan didalam tulang. Mentalis. Aliran darah balik dari mandibula melalui vena alveolaris inferior ke vena facialis posterior. Gambar 2.

luka tembak. Pada fraktur mendibula. fraktur dapat terjadi secara spontan seperti waktu bicara. seringkali garis fraktur berbentuk oblique. Daerah yang tipis pada mandibula adalah angulus dan sub condylus sehingga bagian ini termasuk bagian yang lemah dari mandibula. makan atau mengunyah13. Daerah korpus mandibula terutama terdiri dari tulang kortikal yang padat dengan sedikit substansi spongiosa sebagai tempat lewatnya pembuluh darah dan pembuluh limfe. Garis fraktur dimulai pada regio alveolar kaninus dan insisivus berjalan oblique ke arah midline. Fraktur dapat terjadi akibat trauma atau karena proses patologis.2 DEFINISI FRAKTUR MANDIBULA Fraktur didefinisikan sebagai deformitas linear atau terjadinya diskontinuitas tulang yang disebabkan oleh rudapaksa. Fraktur akibat trauma dapat terjadi akibat perkelahian. Garis fraktur pada mandibula biasa terjadi pada area lemah dari mandibula tergantung mekanisme trauma yang terjadi. Garis fraktur subkondilar umumnya dibawah leher prosesus kondiloideus akibat perkelahian dan berbentuk hampir vertikal. kecelakaan lalulintas. Namun pada kecelakaan lalu lintas garis fraktur terjadi dekat dengan kaput kondilus. jatuh ataupun trauma saat pencabutan gigi. kolum kondilus mandibula terutama bila trauma dari depan langsung mengenai dagu maka gayanya akan diteruskan kearah belakang.2. Pada fraktur corpus mandibula garis fraktur tidak selalu paralel dengan sumbu gigi. tumor jinak atau ganas rahang. atrofi tulang secara menyeluruh atau osteoporosis nekrosis atau metabolic bone disease. osteogenesis imperfecta. kecelakaan kerja. Fraktur patologis dapat terjadi karena kekuatan tulang berkurang akibat adanya kista. osteomalacia. angulus mandibula tempat gigi molar III terutama yang erupsinya sedikit. fragmen yang fraktur mengalami displaced 141 . Mandibula merupakan tulang yang kuat. tetapi pada beberapa tempat dijumpai adanya bagian yang lemah. Pada regio angulus garis fraktur umumnya dibawah atau dibelakang regio mlaor III kearah angulus mandibula. osteomyelitis. Selain itu titik lemah juga didapatkan pada foramen mentale. Akibat adanya proses patologis tersebut. garis fraktur yang terjadi berbentuk oblique.

Demikian juga pada prosesus koronoideus yang terfiksasi oleh M.4 DISTRIBUSI ANATOMIS Lokasi fraktur mandibula terbanyak pada kondilus (29.1%).7%). kondilus dan angulus mandibula tidak banyak berbeda dalam insidensinya dan fraktur ramus serta processus koronoideus sangat jarang. Fraktur yang terjadi pada korpus. Pada daerah ramus mandibula jarang terjadi fraktur. Pada 142 . angulus (24.1%) ramus (1.3 ETIOLOGI Banyak faktor yang dapat menyebabkan terjadinya fraktur mandibula. 7% akibat terjatuh. Beberapa penelitian memperlihatkan etiologi pada lokasi fraktur. Pada kecelakaan pengendara kendaraan roda dua yang terkena adalah daerah simfisis.5%). arah dan sudut garis fraktur. 4% pada kecelakaan olahraga dan sisanya oleh bermacam-macam sebab lainnya. karena daerah ini terfiksasi oleh m masseter pada bagian lateral. dan prosesus koronoideus (1. arah dan kekuatan trauma. Fridrich dkk memperlihatkan bahwa fraktur akibat kecelakaan kendaraan bermotor biasanya pada regio kondilus. Beberapa faktor yang mempengaruhi displacement fraktur mandibula antara lain . simfisis dan parasimfisis (22%). Fraktur pada fasial jauh lebih banyak terjadi pada mereka yang tidak menggunakan pelindung pada saat terjadinya kecelakaan14. 7% kecelakaan kerja. segmen dento alveolar (3. Masseter.3%) 4. Kecelakaan kendaraan bermotor merupakan etiologi utama penyebab fraktur mandibula di dunia4. 34% disebabkan oleh kekerasan. korpus mandibula (16%). 2. arah lepasnya otot dan luasnya kerusakan jaringan lunak. 2. oleh karena itu maka reduksi dan fiksasi pada fraktur mendibula harus menggunakan splinting untuk melawan tarikan dari otototot mastikasi. ada atau tidaknya gigi pada fragmen.akibat tarikan otot-otot mastikasi. Literatur menyebutkan bahwa 43% fraktur mandibula disebabkan oleh kecelakaan kendaraan bermotor. dan medial oleh m pterigoideus medialis.

fraktur yang diakibatkan karena kekerasan biasanya di daerah sudut mandibula14.5 Distribusi anatomis fraktur mandibula 15 Mandibula yang mengalami atropi mempunyai kelemahan pada banyak tempat.3%) 15. dimana fraktur korpus mandibula (43. Gambar 2.15. 143 . tetapi tetap saja regio angulus mandibula dan mentalis yang paling sering menjadi fraktur.6 Distribusi fraktur mandibula pada pasien edentulus 15 Beberapa penelitian menyatakan bahwa terdapat hubungan antara frekuensi fraktur mandibula dengan daerah anatomi.5%). Fraktur subkondilus banyak ditemukan pada anak-anak sedangkan fraktur angulus banyak ditemukan pada remaja dan dewasa muda16. simfisis mandibula (4. Area fraktur cenderung berbeda pada pasien edentulus. angulus (15.2%). Gambar 2.

c. Fraktur kompleks. g. Fraktur dimana tulang terbagi menjadi beberapa bagian atau fragmen-fragmen kecil. Fraktur yang terjadi tidak mempunyai hubungan dengan dunia luar dan tidak terjadi dislokasi atau displacement. mukosa atau bagian yang berdekatan seperti otot. jaringan mukosa dan membran periodontal. Fraktur greenstick. 144 . berdasarkan daerah fraktur dan berdasarkan penyebab fraktur. tetapi dapat terjadi dimana sisi fragmen terdorong kesisi yang berlawanan. Hubungan ini dapat terjadi melalui kulit. Fraktur ini mempunyai hubungan antara tulang yang patah dengan permukaan luar wajah atau dengan rongga mulut. Teleskop atau fraktur impaksi.17 a. Fraktur indirect dan direct. Fraktur direct terjadi langsung pada titik kontak dari trauma sedangkan indirect terjadi jauh dari sisi datangnya trauma. Fraktur tipe ini jarang terlihat pada mandibula. Fraktur jenis ini disebut juga fraktur tertutup atau closed fracture. f. Biasanya fraktur ini terjadi pada regio simfisis mandibula. Fraktur compound.2. Hal ini diakibatkan karena tulang anak-anak masih bersifat lentur. Fraktur yang tidak seluruh kontinuitas tulang terputus. Fraktur sederhana. Fraktur ini merupakan salah satu tipe fraktur yang sering terjadi pada anak-anak. Fraktur jenis ini disebut juga fraktur terbuka atau open fracture. e.5 KLASIFIKASI Secara garis besar fraktur mandibula diklasifikasikan dalam tiga kelompok yaitu berdasarkan jenis fraktur. b. tetapi hanya sebagian saja. Fraktur cominutted. Berdasarkan jenis fraktur16. Fraktur yang melukai jaringan lunak baik kulit. d. karena tulangnya belum sepenuhnya terkalsifikasi. pembuluh darah dan syaraf.

B. Fraktur patologis.h. E. Kompon (D)17 145 . Fraktur yang terjadi pada fungsi normal atau trauma minimal pada tulang yang mengalami gangguan patologis. Fraktur sederhana. C. Fraktur compound. seperti kista atau metastasis tumor.7 Tipe fraktur: A. Fraktur direct dan indirect15.8 Klasifikasi fraktur mandibula berdasarkan tipe frakturnya: Greenstick (A). Komminuted (C). Fraktur impaksi pada subkondilus dekstra dan fraktur patologis pada angulus sinistra. D. Fraktur comminuted. Gambar 2. Gambar 2. Simple (B).

Fraktur mandibula juga dapat diklasifikasikan sebagai fraktur favorable atau unfavorable. Gambar 2. Garis fraktur favorable vertikal menahan gaya tarikan medial pterygoid medial pada fragmen proksimal18.10 Favorable vertikal (kiri) dan unfavorable (kanan)15 146 . Garis fraktur favorable horizontal menahan gaya tarikan ke atas. masing-masing dari arah vertikal dan horisontal tergantung pada otot sekitarnya yang menahan atau memindahkan segment fraktur tersebut.9 Unfavorable horizontal (kiri) dan favorable (kanan)15 Gambar 2. seperti tarikan otot masseter dan temporalis pada fragmen proksimal.

5. Fraktur korpus Fraktur yang terjadi antara prosesus alveolaris hingga ke batas inferior regio antara foramen mentalis hingga ke sisi distal dari molar kedua. Fraktur parasimfisis Fraktur yang terjadi antara prosesus alveolaris hingga ke batas inferior batas distal insisivus lateral hingga ke foramen mentalis. Gaya tersebut dihantarkan melalui 147 . Fraktur prosessus koronoideur Menurut Penyebab Terjadinya Fraktur 1. 6. Fraktur ramus Fraktur horizontal melalui batas anterior dan posterior ramus. 7. fraktur mandibula dibagi atas15: 1. berakibat fraktur kaput radii atau klavikula. Fraktur dentoalveolar Fraktur yang hanya terjadi pada area penyangga gigi pada mandibula dan tidak mengganggu kontinuitas struktur tulang dibawahnya. Terjadi seperti pada penderita yang jatuh dengan tangan menumpu dan lengan atas-bawah lurus. 8. Trauma tidak langsung (indirect). Fraktur simfisis Fraktur pada regio insisivus yang melalui prosessus alveolaris ke batas inferior mandibula dalam arah vertikal atau hampir vertikal. 4.Berdasarkan lokasi anatomis.Trauma tersebut langsung mengenai anggota tubuh penderita. Fraktur prosesus kondiloideus Fraktur yang terjadi dari sigmoid notch ke batas posterior ramus mandibula sepanjang aspek superior dari ramus mandibula. Fraktur angulus Fraktur yang terjadi antara prosesus alveolaris hingga ke batas inferior distal molar kedua hingga ke sudut yang dibentuk oleh korpus dan ramus madibula. 3. Fraktur traumatik Trauma langsung (direct). 2.

disebut juga fraktur tertutup. pemeriksaan terhadap pergeseran segmen tulang. Fraktur komplikasi. oleh karena kulit di sekeliling fraktur sehat dan tidak sobek. Tanda dan gejala terjadinya fraktur adalah adanya maloklusi dihubungkan dengan riwayat trauma seperti terkena pukulan. gigitan terbuka dan prematur kontak. Fraktur juga dapat terjadi akibat tarikan otot seperti fraktur patela karena kontraksi quadrisep yang mendadak. Fraktur terbuka dapat berhubungan dengan ruangan di tubuh yang tidak steril seperti rongga mulut. pembuluh darah. Maloklusi dapat berupa gigitan silang.6 PEMERIKSAAN KLINIS Evaluasi trauma dilakukan secara menyeluruh. pembengkokan (bending) atau kombinasi pembengkokan dengan kompresi yang berakibat fraktur butterfly. kulit di sekitar fraktur sobek sehingga fragmen tulang berhubungan dengan dunia luar (bone expose) dan berpotensi untuk menjadi infeksi. maupun kombinasi gaya berputar. organ viscera atau sendi. 2. Biasanya fraktur terjadi spontan Menurut Hubungan dengan Jaringan Ikat Sekitarnya 1. 148 . Fraktur fatik atau stress Trauma yang berulang dan kronis pada tulang yang mengakibatkan tulang menjadi lemah. fraktur tersebut berhubungan dengan kerusakan jaringan atau struktur lain seperti saraf. 2. 3. traksi manual atau traksi pada lidah dapat menghindarkan obstruksi jalan nafas. kecelakaan atau terjatuh. 3. pembengkokan dan kompresi seperti fraktur oblik dengan garis fraktur pendek. Fraktur patologis Pada tulang telah terjadi proses patologis yang mengakibatkan tulang tersebut rapuh dan lemah. Contohnya pada fraktur fibula pada olahragawan. yaitu penanganan jalan nafas. Jika perlu dapat dilakukan intubasi orotrakhea pada kasus darurat jalan nafas. Fraktur simple/tertutup. Fraktur terbuka. 2.tulang-tulang anggota gerak atas dapat berupa gaya berputar.

Gerakan-gerakan ringan tersebut misalnya waktu berbicara.11 Palpasi bimanual pada mandibula untuk membandingkan struktur anatomis18 Pemeriksaan intraoral memperlihatkan adanya laserasi atau hematoma. Bila digerakkan dengan jari tangan tiap fragmen fraktur akan bergerak sendiri. mengunyah atau waktu palpasi. Gambar 2.Rasa sakit bersifat akut dan dapat diperberat oleh gerakan ringan bagian yang terluka. Pemeriksaan pada rahang saat membuka dan menutup mulut dan memperhatikan deviasi rahang atau mobiliti yang terbatas. Pembengkakan atau oedema tampak pada daerah fraktur yang disebabkan oleh keluarnya darah dan serum ke jaringan sekitar14. Pergerakan abnormal dapat diketahui dengan pemeriksaan jari tangan atau palpasi bimanual. Retraksi pergerakan tulang merupakan kelainan sekunder yang dapat ditemukan pada fraktur zigomatikus yang mengalami displacement dan berdampak pada prossesus koronoideus mandibula17.18. Sering menunjukkan terpisahnya gigi yang satu dengan yang lain dan terputusnya kontinuitas dataran oklusal pada bagian yang mengalami fraktur 149 .

Haematom pada dasar mulut. Terputusnya kontinuitas dataran oklusal14 150 . B.A B Gambar 2.12 A.

Panoramik membutuhkan pasien tegak. c. tidak usah dirawat atau dilakukan reduksi terbuka16. dan tidak memiliki kemampuan melihat secara detail area TMJ. b. Evaluasi radiografis terhadap perluasan pergeseran segmen fraktur. posteroanterior. Penentuan terjadinya pergeseran berperan sebagai petunjuk dalam menentukan terapi.7 PEMERIKSAAN RADIOLOGIS Apabila pemeriksaan klinis sering dapat memberikan gambaran adanya fraktur mandibula. simfisis dan gigi / daerah proses alveolar. maka evaluasi radiologis diperlukan untuk mempertegas hal tersebut atau memberikan data yang lebih akurat. sudut. Pandangan lateral-obliq membantu mendiagnosis ramus. Pemeriksaan radiologis yang dapat membantu untuk menegakkan diagnosa fraktur mandibula adalah14: a. termasuk tulang frontal. kompleks naso-ethmoid- 151 . Tampilan oklusal mandibula menunjukkan perbedaan di posisi tengah dan lateral fraktur body. secara umum relatif akurat kecuali kalau angulasi dan magnifikasi pemotretan tidak baik. tubuh. oklusal. Panoramik Panoramik menyediakan kemampuan untuk melihat seluruh mandibula dalam satu radiograf. CT scan juga dapat membantu: CT scan juga memungkinkan dokter untuk survei fraktur wajah daerah lain. termasuk pandangan lateral-obliq. Plain film. bicuspid dan daerah simfisis seringkali tidak jelas. Bagian kondilus. atau fraktur simfisis. dapat membantu. fraktur pada corpus posterior. angel.2. dan periapikal. Tampilan Caldwell posteroanterior menunjukkan setiap perpindahan medial ataulateral ramus.

CT scan juga ideal untuk fraktur condylar. dan seluruh sistem horizontal dan vertical yang menopang kraniofasial.14 Gambaran radiologis fr mandibula dan alveolaris 18 152 .orbital. orbit. yang sulit untuk memvisualisasikan Panoramik Gambar 2. Rekonstruksi kerangka wajah sering membantu untuk konsep cedera.13 Pencitraan fraktur angulus kanan dan simphisis kiri mandibula pada panoramik foto13 Gambar 2.

16 Pencitraan fraktur korpus dan angulus kiri mandibula pada Lateral Oblique foto19 Reverse Towne A B Gambar 2. B. Pencitraan fraktur kondilus kiri. B. Pencitraan fraktur korpus dan angulus mandibula kiri19 153 . Pencitraan fraktur kondilus kiri pada Posteroanterior foto.17 A.Posteroanterior foto A B Gambar 2.15 A. Pencitraan fraktur korpus mandibula dan angulus kiri pada posteroanterior foto15 Lateral oblique foto Gambar 2.

Pencitraan fraktur comminuted ramus mandibula kiri pada CT scan potongan axial19 A B Gambar 2.18 A.20 Pencitraan fraktur dengan 3 dimensi 19 154 . Pencitraan fraktur kondilus kiri dengan perobahan letak fragmen kondilus proksimal pada CT scan potongan axial.19 A. B. Pencitraan fraktur ramus mandibula kiri pada CT scan direct coronal.CT SCAN / (COMPUTERED TOMOGRAFI) SCAN A B Gambar 2. B. Pencitraan fraktur angulus kiri pada CT scan potongan sagital19 3D Imaging Gambar 2.

head frame plaster of paris. monitor pemberian nutrisi pasca operasi. Evaluasi klinis secara keseluruhan dengan teliti. lokasi. fraktur mandibula lebih baik dilakukan perawatan terlebih dahulu dengan prinsip dari dalam keluar. Jenis-jenis reduksi tertutup diantaranya external appliance seperti head bandage.8 TERAPI Adapun tujuan yang ingin didapatkan pada perawatan fraktur mandibula adalah18: 1) 2) 3) 4) 5) Mendapatkan oklusi yang stabil dalam fungsi dan estetik. Meminimalisir deviasi mandibula Menghasilkan artikulasi yang bebas dari rasa sakit pada saat istirahat dan fungsi 6) Mencegah internal derangement pada TMJ sisi cedera atau sisi yang berlawanan. intermaxillary fixation seperti interdental wiring fixation dan splint fixation. dari bawah keatas. Memperbaiki pembukaan interinsisal dan pergerakan mandibula. Penggunaan antibiotik untuk kasus compound fractures. head gear. pemeriksaan klinis fraktur dilakukan secara benar.2. kerusakan gigi dievaluasi dan dirawat bersamaan dengan perawatan fraktur mandibula. Prinsip dasar umum dalam perawatan fraktur mandibula ialah sebagai berikut. Menciptakan pembukaan mandibula yang maksimal. jumlah dan derajat keparahan fraktur mandibula serta usia dan kesehatan pasien maupun metode yang akan digunakan untuk reduksi dan imobilisasi. Terapi fraktur mandibula secara garis besar dibagi menjadi dua bagian yaitu dengan metode closed reduction (reduksi tertutup) dan metode open reduction (reduksi terbuka) Metode reduksi tertutup adalah suatu tindakan reduksi tertutup tanpa melalui suatu tindakan pembukaan tulang untuk memudahkan lapang pandang secara pembedahan. 155 . Waktu penggunaan fiksasi intermaksiler dapat bervariasi tergantung tipe. 7) Mencegah komplikasi jangka panjang pada gangguan pertumbuhan. mengembalikan oklusi merupakan tujuan dari perawatan fraktur mandibula. Apabila terjadi fraktur mulitple di wajah.

untuk mencegah tergelincir ke anterior dan posterior 156 . merupakan tehnik yang mudah dan efektif tetapi mempunyai kekurangan yaitu mulut tidak dapat dibuka untuk melihat daerah fraktur tanpa mengangkat kawat. Dilakukan pada gigi atas dan bawah sampai oklusi baik.Gambar 2.21 Head bandage16 Tehnik yang digunakan pada terapi fraktur mandibula secara closed reduction adalah fiksasi intermaksiler. Kemudian kedua kawat atas dan bawah digabungkan dan diputar dengan hubungan vertika maupun silang. Kawat tersebut dilingkarkan pada leher gigi. a. Beberapa tehnik fiksasi intermaksilaris . Fiksasi ini dipertahankan 3-4 minggu pada fraktur daerah condylus dan 4-6 minggu pada daerah lain dari mandibula. Tehnik Gilmer . kemudian diputar searah jarum jam sampai tegang.

keuntungan tehnik ini bahan mudah didapat dan sedikit menimbulkan kerusakan jaringan periodontal serta rahang dapat dibuka dengan hanya mengangkat ikatan intermaksilaris. 157 . disertai fraktur maksila.Gambar 2.23 Tehnik eyelet / ivy loop15 c. dan menggunakan karet sebagai traksi yang menghubungkannya d. Kerugiannya kawat mudah putus waktu digunakan untuk fiksasi intermaksiler Gambar 2. terdiri dari formasi loop kawat kecil yang mengelilingi arkus dentis bagian atas dan bawah.22 Tehnik Gilmer 19 b. indikasi pemasangan arch bar antara lain gigi kurang/ tidak cukup untuk pemasangan cara lain. Tehnik eyelet (ivy loop) . Tehnik erich arch bar . Tehnik continous loop (stout wiring) .

dengan menggunakan kawat yang kuat untuk tempat karet dipasang mengelilingi bagian leher gigi. Kerugiannya ialah menyebabkan keradangan pada ginggiva dan jaringan periodontal. biaya murah. Interdental wiring15 B Gambar 2.didapatkan fragmen dentoalveolar pada salah satu ujung rahang yang perlu direduksi sesuai dengan lengkungan rahang sebelum dipasang fiksasi intermaksilaris. e.24 A. B. tidak dapat digunakan pada penderita dengan edentulous luas.25 Tehnik Kazanjian 15 Indikasi untuk metode reduksi tertutup adalah:18 a) Fraktur menguntungkan tanpa adanya pergeseran tempat ( nondisplace favorable fracture) 158 . Keuntungan penggunaan arch bar ialah mudah didapat. Tehnik Kazanjian . A Gambar 2. Tehnik ini untuk gigi yang hanya sendiri atau insufisiensi pada bagian dari pemasangan arch bar. Essig wire. mudah adaptasi dan aplikasinya.

karena open reduction dapat mengganggu vaskularisasi d) Fraktur mandibula pada anak. Kerugiannya meliputi fiksasi yang lama. plat paling baik diletakkan pada permukaan yang paling luas dan setinggi mungkin di daerah linea oblique eksterna. Hasil yang didapatkan dari pemakaian monocortical osteosynthesis adalah tercapainya netralisasi kekuatan tensi dan kompresi serta rotasi pada garis fraktur sehingga diperoleh reduksi anatomis yang fisiologis. mobilisasi lebih dini dan reaproksimasi fragmen tulang yang lebih baik. karena jika menggunakan open reduction. monocortical transoral miniplates pada bagian superior. disamping plat subapikal perlu juga ditambahkan plat lain di dekat batas bawah mandibula untuk menetralkan 159 . resiko ankilosis TMJ dan problem airway. Pada angulus mandibula. Pada regio anterior. gangguan nutrisi karena adanya MMF. diantara kedua foramen mentalis.b) Fraktur comunitted yang luas. Dalam menangani fraktur mandibula umumnya digunakan lebih dari satu modalitas sebab terdapat banyak variasi biomekanik dan problem klinis untuk mencapai mobilitas fiksasi di regio fraktur. paired miniplates. Ada 5 metode yang umum digunakan yaitu dengan biocortical transfacial compression plates pada bagian inferior dengan atau tanpa tension band plate. penggunaan open reduction dapat merusak benih gigi atau gigi yang sedang tumbuh e) f) Fraktur processus koronoidalis Fraktur kondilus Keuntungan dari reposisi tertutup adalah lebih efisien. Keuntungan dari ORIF antara lain . kompresi pada fragmen fraktur dan imobilisasi yang rigid serta perbaikan kekuatan self kompresi fisiologis. Tehnik ini dapat dikerjakan di tingkat poliklinis. Kerugiannya adalah biaya lebih mahal dan diperlukan ruang operasi dan pembiusan untuk tindakannya. lag screws dan noncompression stabilization plates pada bagian inferior. dapat mengganggu vaskularisasi fragmen tulang yang kecil c) Fraktur pada mandibula edentulus (tidak bergigi). angka komplikasi lebih rendah dan waktu operasi yang lebih singkat.

 Fraktur yang tidak menguntungkan pada bodi mandibula atau daerah para simpisis mandibula Otot mylohyoid. Pada bagian mandibula yang bergigi. Penggunaan rigid internal fixation untuk mencegah hilangnya kontrol segmen proksimal. Batas inferior dari angulus sangat tipis dan tidak mungkin dilakukan suatu kompresi. digastrikus. delayed union dan malunion yang dapat terjadi bila digunakan terapi lain. Metode reduksi terbuka adalah suatu tindakan reduksi dengan cara pembedahan untuk memudahkan lapang pandang.kekuatan rotasi pada daerah simfisis tersebut. geniohyoid dan genioglosus dapat menyebabkan perpindahan fragmen lebih jauh. Ketika dilakukan 160 . skrew dan plat. Angulus merupakan bagian yang sulit dicapai lewat intraoral karena adanya otot-otot pengunyah dan otot-otot daerah suprahyoid. Fraktur pada daerah angulus mandibula merupakan problem khusus pada perawatan dengan menggunakan rigid internal fixation. sedangkan pada daerah angulus dan ramus mandibula fungis tersebut baru bisa didapatkan dengan menggunakan plat yang kecil. archbar sudah cukup berfungsi menetralkan kekuatan tension. Pada daerah di belakang foramen mentalis sampai mendekati daerah angulus cukup digunakan satu plat yang dipasang tepat dibawah akar gigi dan diatas nervus alveolaris inferior. Penempatan plat didaerah sepanjang tension trajectory ternyata juga menghasilkan suatu fiksasi yang paling stabil bila ditinjau dari prinsip biomekaniknya. distraksi dari kontak tulang menghambat reduksi dan vaskular dari sisi fraktur dan dapat menjadi sumber infeksi. Jenis-jenis dari metode terbuka contohnya interosseus wiring dan fiksasi dengan bone plate and screw. Indikasi reduksi terbuka adalah19 :  Fraktur yang tidak menguntungkan pada sudut mandibula Fraktur ini diindikasikan untuk reduksi terbuka bila fragmen proksimal berubah tempat ke arah posterior atau median dan reduksi tidak dapat dipertahankan tanpa intraosseus wiring. Adanya gigi molar 3 menyebabkan fraktur mudah terjadi.

Gambar 2. akan terjadi inefisiensi pengunyahan dan perubahan periodontal yang buruk . fraktur parasimpisis cenderung membuka pada border inferior.26 Fraktur menguntungkan dan tidak menguntungkan 19  Fraktur multipel pada tulang wajah Pada kasus ini perawatan reduksi terbuka dari segmen mandibula membuktikan perbaikan yang stabil  Fraktur setengah wajah dan fraktur kondilus bilateral Pada fraktur ini salah satu kondilus yang fraktur harus dirawat dengan reduksi terbuka untuk mempertahankan dimensi vertikal wajah. Pada situasi ini memberikan 161 . Kalau konstriksi ini tidak diperbaiki. sehingga oklusinya tidak menjadi pertimbangan langsung.  Fraktur edentolous mandibula dengan perpindahan yang hebat fragmen fraktur Pada fraktur ini reduksi terbuka dianggap bisa membuat kembali kontinuitas mandibula. Kalau prosedur ini tidak menyelesaikan masalah tipe wiring apapun. seperti dari sutura frontozygomatikus ke daerah mandibula.perawatan reduksi terbuka. Dengan rotasi medial dari body mandibula. dengan aspek dari segmen mandibula berputar ke arah median pada titik fiksasi. Tehnik ini berguna terutama pada mandibula yang nonatropic pada saat tidak ada gigi tiruan. cusp lingual seluruh premolar dan molar bergerak keluar dari kontak oklusal. cenderung gagal dan memaksa fraktur setengah wajah berhimpitan dengan kondilus yang menyebabkan profil wajah menjadi lebih pendek.

 Kondisi sistemik tertentu yang merupakan kontraindikasi intermaxillary fixation Pada situasi dimana mandibula harus tetap bergerak. ekstrim.plat pada mandibula tanpa intermaxilary fixation merupakan Ketika mandibulamenjadi atropik secara kemungkinan yang kuat. Jika diperlukan close reduction maka perlu adanya prostetik pada maxilla. masalah psikiatrik dan neurologik. berbagai tipe osteotomi diperlukan untuk memperbaiki kekurangannya. dan kelainan gastrointestinal. sehingga terjadi jaringan penghubung antara fragmen fraktur yang menghambat osteogenesis.  Malunion Ketika hasil perawatan fraktur mandibula yang buruk.  Perawatan yang tertunda dan Interposisi jaringan lunak antara fragmen fraktur yang tidak kontak Ketika perawatan tertunda dan jaringan lunak ada diantara fragmen fraktur maka diperlukan metode open reduction. contohnya pada pasien yang mengalami kesulitan mengontrol akibat serangan yang tiba-tiba atau epilepsi. dan dapat distabilkan dengan palatal screw atau circum zygomatic wires. Pencangkokkan tulang harus dipeertimbangkan pada fraktur mandibula yang mengalami atropic secara ekstrim. fungsi paru yang harus dikompromikan.  Edontolous maksila dengan Fraktur mandibula Adanya fraktur mandibula dengan edentolous maxila merupakan kesulitan untuk dilakukan intermaxilary fixation. Alasan ditundanya perawatan karena adanya luka kepala atau adanya masalah medis yang serius. harus dipertimbangkan status dari suplai darah ke tulang dan efek dari prosedur reduksi terbuka pada kompromi vaskularisasi. Metode ini dengan fiksasi rigid dengan fraktur mandibula akan menggantikan kebutuhan intermaxilary fiksation.  Fraktur yang membutuhkan osteotomy/ Orthognathi Surgery 162 . maka harus dilakukan metode open reduction.

operator harus memperhatikan sudut mulut pada lapangan operasi untuk memonitor aktifitas nervous facialis dan untuk meyakinkan anestesiologist tidak membuat pasien paralisis dalam waktu yang lama. cabang mandibula marginal dan nervus facialis terletak pada lapisan ini. Ada banyak metode perawatan fraktur mandibula dengan reduksi terbuka diantaranya12. Incisi kulit harus diletakkan pada lipatan kulit untuk menghindari jaringan parut dan dibuat pada sudut yang tepat.27 Insisi submandibular dan preauricular19 Pendekatan Submandibular Pendekatan ini dikenalkan tahun 1934 oleh Risdon. Panjang incisi 4 cm sampai 5 cm. sehingga sangat penting untuk diketahui. Lalu muskulus platymus dipotong untuk mencapai lapisan superficialis pada bagian dalam fascia cervicalis. 163 . Lemak subkutan dan superficial fascia dipisahkan untuk mencapai muskulus platymus. Faktor yang harus diperhatikan adalah isolasi fraktur. Fraktur yang membutuhkan bone graft.20: Pendekatan Bedah Sebelum melakukan operasi pada fraktur mandibula. 2 cm dibawah angulus mandibularis. garis wajah dan posisi nervous. Pendekatan bedah sendiri antara lain (Gambar 3) : Pendekatan submandibular Pendekatan retromandibular Pendekatan preauricular Gambar 2.

Pemotongan dilanjutkan antara fascia sampai kebatas inferior mandibula. bagian belakang batas inferior dari mandibula.28)19. masseter dan fascia cervicalis bagian dalam. Pemotongan dilanjutkan pada muskulus masseter dan bagian atas nervus diretraksi. Pemisahan lalu meluas ke anterior. Incisinya juga digambarkan mengikuti sudut mandibula. Pendekatan Retromandibular Hinds dan Birroti pertama kali menerangkan pendekatan lekatan retromandibular pada tahun 1967. dan sisi fraktur. Kelenjar parotis biasanya di posterior ramus tetapi bisa terletak mengelilingi sudut inferior. Otot. Pembukaan dapat dikurangi dan penutupan dapat diperbaiki dengan penarikan pterygoid medialis dan ligament stylomandibular dari batas interior dan posterior. Setelah otot dilewati lalu dipisahkan pada batas inferior untuk melihat tulang. Otot dan perios diinsisi melewati sudut termasuk 164 . Kelenjar submandibularis dan kapsulnya biasanya berlokasi dibagian batas inferior dari mandibula. Jika pembuluh darah facialis tidak dapat ditarik sempurna dapat dipisahkan dan diikat. Pembukaan lebih jauh dapat dicapai dengan menarik sudut dan batas inferior dengan kawat atau forcep tulang. Kelenjar submandibular dan capsulnya.Baik anterior atau posterior arteri facialis. Incisinya dibuat untuk memasuki parotis. Kapsul keduanya harus dipisahkan selama Sin loceles atau fistula pemisahan. diatas incisi submandibular (Gambar 2. Submandibular nodus lympaticus dapat diidentifikasi berdekatan dengan pembuluh darah facial. akan menjadi bukti dan kutub paling bawah dari parotis dapat ditemukan. Insisi ketulang melewati muskulus masseter biasanya diantara margin mandibular dan cabang buccal dari nervus facialis. Pemisahan ke tulang melewati fascia cervicalis yang dalam dengan menggunakan nerve stimulator. periosteum dan jaringan lunak dipisahkan untuk jalan melihat body. ramus. Kerusakan kelenjar dapat menyebabkan salivarius. melalui fascia cervicalis yang lebih dalam dengan menggunakan stimulus otot. Pada dasarnya pendekatan ini merupakan variasi dari pendekatan submandibular kecuali incisinya kurang lebih 3 cm. seluruh cabangnya berinervasi pada depressor bibir bawah.

Lipatan preauricular didapat dengan menekan telinga dan tragus ke depan. Insisi dibuat kira-kira sepanjang 2.28 Insisi retromandibular19 Pendekatan Preauricular Insisi ini digunakan untuk melihat daerah TMJ dan dengan mudah diperluas melewati daerah temporal. Gambar 2. Pada insisi ini ditemukan pembuluh darah temporalis superfisialis.batas inferior.3.29 Macam-macam Insisi untuk daerah TMJ19 165 .5 cm pada daerah lipatan preauricular. Insisi dibuat 45 ° pada zygoma dari arah superior telinga ke arah inferior perlekatan antara dagu dan telinga (Gambar 2. Gambar 2.5 . Incisi ini memperlihatkan akses superior dari ramus dan regio subkondilus mandibula. yang dapat dihindari dengan menginsisi sepanjang cartilago preauricular. Jaringan lunak dan nervus kemudian ditarik ke superior.29).

Bibir ditarik dan dibuat insisi curvilinear tegak lurus permukaan mukosa. 166 . dagu ditarik ka arah lateral.30 Akses Intra oral pada fraktur parasimpisis19 Pemotongan diteruskan ke arah subperiosteal untuk mengidentifikasikan mental neurovascular borde dibawah premolar kedua maka daerah fraktur terlihat. Musculus mentalis terlihat dan harus diinsisi tegak lurus dengan tulang meninggalkan flap dari perlekatan otot ke tulang untuk penutupan (Gambar 6). Mukosa diinsisi dengan pisau tegak lurus terhadap tulang untuk menjauhi nervus mentalis. Body. dan penggunaan adhesif bandage pada dagu untuk mendukung musculus mentalis.Akses Intra Oral Simpisis dan Parasimpisis Perawatan fraktur anterior mandibula dapat melalui incisi intraoral. Mukosa lalu ditutup. setinggi oklusal plane mandibula. Gambar 2. Sudut dan Ramus Setelah dilakukan anestesi. Pertama dilakukan anestesi dengan lokal anestesi dan vasokonstriktor. Insisi dibuat kurang lebih 5 mm dari mukogingival junction untuk mendapatkan stabilitas jaringan ketika penutupan. Bagian proksimal dari insisi harus disepanjang external oblique ridge. Setelah selesai perawatan fraktur muskulus mentalis dijahit dengan jahitan terputus.

Gambar 2. pistol drill.31 Interosseus wiring15 Transosseus wiring fixation20 Metode tradisional untuk stabilisasi tulang setelah dilakukan open reduction dengan menggunakan kawat untuk mengikat dan mengimobilisasi tulang (Gambar 2. cutting wire bone forceps.Internal fiksasi Untuk Pasien fraktur yang hanya mengalami fraktur yang sederhana serta masih terdapat gigi dan oklusi yang baik. key dan drill point stainless stell wire. tehnik close reduction dengan fiksasi maxillamandibular sudah cukup untuk treatment frakturnya. Untuk fraktur multipel dan fraktur dengan pergerakan yang berat maka diperlukan penggunaan internal fiksasi yang dikombinasikan dengan fiksasi maksilomandibular.32). chisel. sambil diberikan larutan normal salin. Bahan yang diperlukan adalah: periosteotome bone rongeur mallet. 167 . 24 dan 30 Pembuatan lubang menggunakan bor berkecepatan rendah pada awalnya lalu kecepatan makin meningkat. Setelah itu baru kawat bisa diinsersikan.

Kawat langsung dimasukkan ke dalam lubang yang telah dibor 2. f. Ukuran dari lubang Orientasi dari bidang fraktur ke panjang tulang Teknik pemasukkan kawat pada fraktur : 1.33 Teknik pemasukkan kawat20 168 . Kawat dimasukkan melewati hipodermic needle 3. b. Jarak garis fraktur pada outer cortex Jarak ke batas bawah Jarak garis fraktur pada inner cortex Kedekatan lubang dengan kanalis mandibularis.32 Parameter pembuatan lubang dan pengikatan20 Hal yang harus diperhatikan pada penempatan penempatan lubang adalah : a. foramen mentalis dan akar gigi e. d.Gambar 2. Dengan membuat kawat seperti hairpin loop Gambar 2. c.

Jenis plate yang digunakan bermacam-macam ada yang yang lurus dengan beberapa lubang untuk dimasukkan screw (Gambar 11). Transosseus circum-mandibular wire 15 Fiksasi dengan Bone Plate dan Screw Metode ini menggunakan bone plate dan bone screw untuk menyatukan fragmen fraktur.Gambar 2. Figure-of-eight wire. Plate dipasang melintang melewati garis fraktur. maka fragmen fraktur akan lebih stabil dan kaku selama penyembuhan. Walaupun menggunakan menggunakan fiksasi yang kaku diperlukan adanya penyesuaian oklusi terlebih dahulu sebelum dilakukan fiksasi.3517. C.34 Teknik simple wiring.34 Pelindungan jaringan pada pembuatan lubang20 Gambar 2. 169 . B. ada juga yang membulat sehingga dapat dipasang pada margo inferior mandibula (Luhr Mandibular Plate) Gambar 2.

Gambar 2. Fraktur korpus mandibula.35 Luhr's Mandibular Plate17 Gambar 2.37 A.36 Penggunaan Plate dan Screw berdasarkan Champy Line 17 A B Gambar 2. B. Fiksasi dengan plate dan screw15 Gambar 2.38 Plat & Lag Screw17 170 .

gangguan jiwa dan gangguan fungsi paru. Permukaan tulang bersih dari jaringan ikat dan jaringan lunak sehingga plat betul-betul menempel pada tulang mandibula. Gunakan mata bor diameter 1. Sering pasien berlanjut untuk kehilangan berat badan 171 .5mm dengan kecepatan rendah menembus 1 korteks dikukur kedalamannya kemudian dipasang sekrup yang panjangnya sesuai dengan tebal satu korteks. stabil dan arah obeng juga sesuai dengan arah bor sebelumnya. Namun. Tolak ukur keberhasilan operasi pemasangan plat mini maupun IOID wiring pada mandibula adalah oklusi yang baik. penderita epilepsy. Untuk penggunaan bor. sebaiknya arah matabor tangensial. Posisi plat jangan terlalu tinggi karena sekrup akan menembus saraf/akar gigi. tidak trismus. lamanya penggunaan IMF ini bukan tanpa konsekuensi.39 Fiksasi Intermaksiler17 Kontraindikasi penggunaan MMF .Gambar 2. Jangan tergesa melakukan fiksasi sebelum yakin oklusinya sudah sempurna.Pemasangan sekrup dimulai dari satu sisi terlebih dahulu kemudian menyebrang menyilang pada sisi plat satunya. Secara umum lamanya penggunaan IMF untuk orang dewasa dengan fraktur mandibula adalah 6-8 minggu.

Juniper dan Awty mampu menunjukkan 80% fraktur mandibula yang dirawat dengan open reduction atau closed reduction dan IMF secara klinis menyatu dalam 4 minggu.selama masa ini. fraktur pada alkoholik. Situasi yang secara umum membutuhkan IMF yang lebih lama: fraktur comminuted. pasien cacat secara psikososial. kebanyakan fraktur sederhana pada anak-anak menyatu dalam 2-3 minggu. mereka tidak mampu untuk kembali bekerja dan ada beberapa bukti yang menunjukkan adanya perubahan histologis pada TMJ. fraktur yang terlambat dirawat. pada orang dewasa 3-4 minggu dan pada pasien yang lebih tua 6-8 minggu. dan fraktur dengan pencabutan gigi pada garis fraktur16. Terlihat bahwa kasus pada tiap individu harus dievaluasi secara seksama. pasien dengan problem nutrisi. 172 .

22.BAB III FRAKTUR KONDILUS MANDIBULA ( Fraktur TMJ ) Fraktur kondilus merupakan salah satu fraktur yang melibatkan sendi temporomandibula sehingga dapat menyebabkan gangguan sendi temporomandibula.19.19.23. Etiologi Data yang diambil dari etiologi terjadinya fraktur kondilus mandibula adalah sebagai berikut 8:       Kecelakaan kendaraan bermotor : 43% Penyerangan/perkelahian : 34% Kecelakaan kerja : 7% Jatuh : 7% Kecelakaan olah raga : 4% Penyebab lainnya : 5% Persentase terjadinya fraktur kondilus mandibula dibandingkan dengan lokasi lainnya pada mandibula sebagai berikut 19:       Body mandibula : 29% Kondilus mandibula : 26% Angle mandibula : 25% Simfisis mandibula : 17% Ramus mandibula : 4% Prosesus koronoideus : 1% 173 .21. Komplikasi yang sering terjadi akibat fraktur kondilus adalah ankylosis dan gangguan sendi temporomandibula 8.24. Penatalaksanaan fraktur kondilus memerlukan perhatian khusus dan dapat dilakukan dengan metode tertutup atau konservatif dan terbuka atau bedah 8.

Obyek yang menyebabkan fraktur juga mempengaruhi jenis dan banyaknya fraktur.1. Seorang penderita dengan gigi-gigi yang terkunci pada saat terjadinya impak akan menyebabkan terjadinya suatu fraktur alveolar atau gigi 19. Gambar 3. fraktur mandibula pada semua lokasi dan trauma pada sendi temporomandibula serta otot-otot pengunyahan. Semua contoh tersebut hanya beberapa disharmoni oklusi multiple yang muncul akan tetapi setiap perubahan oklusi harus dipertimbangkan sebagai tanda awal suatu fraktur kondilus mandibula19. Perubahan oklusi dapat dihasilkan dari fraktur gigi. fraktur alveolar. Gigitan terbuka pada fraktur kondilus25 Semua perubahan oklusi merupakan tanda adanya fraktur kondilus mandibula. Blow anterior yang langsung mengenai dagu dapt menghasilkan suatu fraktur kondilus bilateral. sedangkan blow ke arah parasimfisis dapat menyebabkan fraktur kondilus kontralateral atau angle mandibula. Kontak prematur gigi posterior atau gigitan terbuka anterior dapat disebabkan fraktur kondilus bilateral atau angle. Pada pemeriksaan klinis harus ditanyakan pada penderita apakah gigitannya terasa berbeda. apabila obyeknya besar maka dapat menyebabkan fraktur lebih dari satu lokasi dan sebaliknya bila kecil akan menyebabkan satu jenis fraktur karena kekuatan impaknya hanya terkonsentrasi pada satu lokasi 19. Oklusi retrognatik biasanya berhubungan dengan fraktur kondilus atau angle dan oklusi prognatik dapat terjadi pada sangat menonjol pada fraktur sendi temporomandibula. Pengetahuan arah kekuatan impak dapat membantu klinisi mendiagnosa fraktur dengan tepat. Setiap penderita dengan 174 .Diagnosa dan gejala klinis Jenis dan arah kekuatan trauma sangat membantu diagnosa.

3. Deviasi pada saat pembukaan ke arah sisi fraktur kondilus mandibula merupakan contoh klasik tanda fraktur kondilus. Kanan: pergerakan abnormal mandibula25 Gambar 3. Deviasi terjadi karena otot pterygoideus lateralis yang berfungsi pada sisi yang tidak terpengaruh tidak dinetralkan oleh otot pterygoideus lateralisnya yang tidak berfungsi sisi berlawanan.2. Pergerakan mandibula lateral dapat dihambat oleh fraktur kondilus dan fraktur ramus dengan pergeseran tulang19.fraktur kondilus mandibula mempunyai keterbatasan pembukaan. Meskipun demikian fraktur kondilus mandibula yang sesungguhnya atau berhubungan dengan fraktur fasial menghasilkan pergerakan mandibula abnormal. Kiri: pergerakan normal mandibula. Kanan: efek tarikan otot pada fraktur kondilus25 175 . Gambar3. Kiri: deviasi mandibula ke arah fraktur. maka terjadilah suatu deviasi.

yaitu: (1) lokasi anatomis fraktur. angle atau body. 176 .27. (2) relasi segmen kondilus terhadap segmen mandibula. Asimetri wajah sebaiknya diperhatikan klinisi terhadap kemungkinan fraktur kondilus mandibula. (3) relasi kepala kondilus terhadap fossa glenoideus. Rasa sakit. posteroanterior mandibula dan transkranial mandibula. Pemeriksaan mendalam terhadap kehilangan gigi dan tulang pendukung dapat membantu diagnosa fraktur alveolar. dengan cara meletakkan ibu jari pada gigi dan telunjuk pada batas bawah mandibula secara hati-hati dan perlahan-lahan memberikan tekanan diantara kedua tangan hingga dapat mendeteksi krepitasi fraktur19. kemerahan. Untuk melihat fraktur kondilus dapat dilakukan pemeriksaan radiolog dengan cara: panoramik. body dan simfisis.Pada pemeriksaan klinis sebaiknya memeriksa wajah dan mandibula dengan kontur yang abnormal. Klinisi sebaiknya melakukan palpasi dengan menggunakan kedua tangannya. meskipun pada kontur fasial mungkin tertutupi pembengkakan. pembengkakan dan panas yang terlokalisir merupakan tanda yang awal yang sempurna suatu trauma dan meningkatkan indeks kecurigaan adanya fraktur mandibula19. diikuti dengan mandibula bergeser ke bawah. towne’s view. lateral oblique mandibula. Pemeriksaan Radiologis Penetapan diagnosis dari fraktur kondilus dapat ditegakkan dar pemeriksaan radiologis yang sering digunakan sebagai dasar penegakan diagnosis. Gambaran wajah yang memanjang diakibatkan fraktur subkondilus. Teknik pencitraan yang lebih jauh adalah CT scan dan MRI digunakan untuk trauma yang lebih kompleks dari kondilus 26. Klasifikasi Menurut De Riu (2001) klasifikasi fraktur kondilus disesuaikan dengan lokasi anatomi (intrakapsuler dan ekstrakapsuler) dan derajat dislokasi kepala artikuler. Klasifikasi fraktur kondilus menurut Lindahl (1977) didasarkan pada beberapa faktor.

Meskipun sangat sulit mendefinisikan dengan tepat kepala kondilus secara radiografik. akan tetapi sangat mudah untuk melihat penyempitan leher kondilus dan kepala kondilus bersandar di atasnya. Displacement ke arah anterior atau overlap posterior e. Fraktur ini mungkin digolongkan sebagai fraktur vertikal. Regio ini terdapat di bawah leher kondilus dan memenjang dari titik terdalam sigmoid notch anterior hingga titik terdalam aspek konkaf poterior ramus mandibula. Leher kondilus merupakan daerah penyempitan tipis di bawah kepala kondilus. Leher kondilus. Ketinggian fraktur kondilus a. Berdasarkan lokasi fraktur maka fraktur ini sering disebut sebagai fraktur subkondilus ”tinggi” atau “rendah”. Relasi segmen kondilus terhadap fragmen mandibula a. Kepala kondilus mempunyai relasi normal terhadap fossa glenoid 177 . Nondisplaced b. Pada fraktur ini. merupakan fraktur intrakapsular karena kapsul melekat pada leher kondilus. 2. Deviated. Nondisplaced.Tidak ada kontak antara fraktur segmen 3. Tarikan muskulus pterygoideus lateral menyebabkan fragmen bergeser ke arah medial d. Subkondilus. fragmen tetap dalam kontak tanpa separasi atau overlap c.Sistim klasifikasi ini memerlukan pencitraan radiografik yang diperoleh sekurangkurangnya dua gambar dari sudut yang tepat 26. Fraktur kondilus. Kepala kondilus. c. Relasi antara kepala kondilus dan fossa glenoideus a. b. melihat definisinya. Fraktur ini merupakan fraktur ekstrakapsular. 1. Displacement ke arah medial atau overlap lateral.

Pengawasan yang ketat wajib dilakukan untuk melihat ketidakstabilan oklusi.21. Dislokasi. Kepala kondilus tertinggal dalam fossa.28. keseimbangan maksilofasial. Displacement. evaluasi klinis dan radiografi. Metode tertutup atau konservatif Fonseca (1997) menyatakan bahwa komplikasi selama perawatan konservatif sangat jarang terjadi. Tujuan perawatan fraktur kondilus adalah mengembalikan fungsi sistim pengunyahan seperti asalnya. eyelet 178 . tetapi ada gangguan sendi c.b. oklusi. Immobilisasi melibatkan intermaxillary fixation (IMF) dengan menggunakan arch bar. Gambar 3.4 Klasifikasi menurut Lindahl19 Perawatan Perawatan fraktur kondilus mandibula masih kontroversial. Adanya tarikan muskulus pterygoideus lateralis menyebabkan segmen kondilus terletak anteromedial. rekonstruksi tersebut melibatkan hubungan antara segmen fraktur. deviasi pad saat pembukaan. terutama disebabkan banyaknya modalitas yang ditawarkan oleh berbagai macam literatur. Indikasi perawatan fraktur kondilus dengan konservatif bila displacement yang terjadi minimal atau tidak ada atau bila garis fraktur terlalu tinggi sehingga sulit dilakukan stabilisasi secara bedah21. Perawatan fraktur kondilus dapat dilakukan dengan cara konservatif atau metode tertutup dan bedah atau metode terbuka 8. peningkatan rasa nyeri.19. Perawatan fraktur kondilus dengan cara konservatif sangat sederhana.

21. Periode ini dapat meningkat atau menurun tergantung pada umur penderita.   Fraktur kondilus bilateral akibat fraktur wajah tengah comminuted Ankylosis kondilus mandibula akibat trauma dan tertunda perawatannya 179 . Lamanya immobilisasi rata-rata sekitar 7 hingga 21 hari. derajat pergeseran dan danya fraktur tambahan.23:      Displacement kondilus ke dalam fossa cranial media Oklusi yang adekuat tidak mungkin didapatkan dengan metode tertutup Dislokasi kondilus ekstrakapsular lateral Fraktur kondilus bilateral pada pasien tidak bergigi Fraktur kondilus bilateral atau unilateral bila splinting tidak direkomendasikan karena keadaan umum pasien atau karena fisioterapi tidak memungkinkan.8.5 Pemakaian arch bar dan splint pada fraktur kondilus19 Metode terbuka atau bedah Perawatan dengan metode terbuka diindikasikan bila 19. Gambar 3. Selanjutnya bila penderita telah mempunyai kemampuan fungsional kembali dan oklusi tetap stabil serta rasa sakit minimal maka elastic guidance dan arch bar dilepas19.8. Apabila intermaxillary fixation telah dilepas maka diikuti dengan penggunaan elastic guidance untuk mengarahkan mandibula pada posisi maximal intercuspation.wires atau splint.

Pemakaian IMF dilakukan selama 3 minggu. Apabila oklusi telah stabil maka elastic guidance dapat dilepas dan fisioterapi dilakukan dengan penempatan tongue-blade diantara insisif sentral untuk mencegah keterbatasan permanen ankylosis8. dilakukan penilaian status sendi temporomandibula terutama jarak pembukaan. pergerakan mandibula dan gejala-gejala yang timbul selama sendi berfungsi. 180 . ikatan diperkuat tiap minggu. Gambar 3. (2) sistim Arbeitgemeinschaff fur Osteosynthesefragen/sistim Association for the Study for Internal Fixation (AO/ASIF) dengan penggunaan stainless steel compression atau plat rekonstruksi dengan bicortical screws dan (3) Teknik Champy miniplate digunakan sepanjang” line of ideal osteosynthesis” memakai moncortical screws8.19.Tiga teknik yang terpisah untuk fiksasi rigid pada perawatan fraktur kondilus dengan metode terbuka. setelah wires dilepas. Apabila oklusi belum stabil maka penggunaan elastic guidance selama 2-3 minggu sangat dianjurkan agar adaptasi neuromuscular dapat tercapai. Pemakaian monocortical screws19 Kondilektomi merupakan salah satu teknik untuk membebaskan ankylosis dan tetap mempertahankan arsitektur sendi temporomandibula. Metode tersebut telah banyak menunjukkan keberhasilan dan jarang menimbulkan reankylosis.6. yaitu: (1) sistim bikortikal Luhr dengan penggunaan plat vitallium.

endaural approach. post auricular approach8.Fiksasi intermaksiler diaplikasikan dalam periode yang pendek. yaitu pre auricular approach. inverted “hockey stick” approach. Risdon approach. Metode pendekatan yang sering digunakan untuk melakukan kondilektomi. diikuti dengan pengawasan yang ketat serta perawatan fisioterapi selama setahun19. 181 .

Gambar 3.22. 182 .24 : Maloklusi Maloklusi yang sering terjadi setelah trauma kondilus dapat disebabkan karena perubahan dari pusat pertumbuhan kondilus dan penyatuan dari segmen fraktur pada posisi yang tidak seharusnya.8 Pre auricular approach26 Gambar 3.7 Metode pendekatan bedah pada kondilektomi19 Gambar 3.21.8.9 Post auricular dan Risdon approach26 Komplikasi Komplikasi fraktur kondilus mandibula selama perawatan jarang terjadi dan yang paling sering terjadi 19.

dan lamanya immobilisasi. lamanya immobilisasi dan kerusakan diskus. Dimana cap kartilago memberikan tekanan sehingga mandibula tumbuh ke arah depan dan bawah. lokasi perlekatan dan tipe jaringan yang terlibat. demikian pula dengan pembentukan jaringan parut fibrous di daerah cedera temporomandibular dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan Gangguan sendi temporomandibula lainnya Internal derangement akibat fraktur kondilus dihasilakan dari trauma langsung pada sendi. Kartilago kondilar merupakan pusat utama pertumbuhan mandibula. Gangguan seperti displacement mandibula dan aposisi tulang diregio kondilus dapat memyebabkan gangguan pertumbuhan mandibula. Gangguan pertumbuhan Beberapa factor yang mempengaruhi efek dari fraktur kondilus terhadap pertumbuhan kerangka wajah yaitu usia pasien. kesehatan mulut dan nutrisi. tempat dan tipe fraktur. Deviasi ke sisi fraktur dapat terjadi pada unilateral. hypermobility dan kadangkadang disk displacement.Ankylosis sendi temporomandibula Ankylosis dapat diklasifikasikan berdasarkan derajat keterbatasan.21. Kerusakan yang terjadi pada fraktur kondilus dapat menimbulkan dearangement sekunder pada sendi kontralateral sehingga terjadi overloading pada sendi yang tidak terkena injuri. sedangkan pada bilateral ankylosis menunjukkan adanya gigitan terbuka anterior dan hampir pembukaan mulut hampir tidak ada 19. Faktor lain yang mempengaruhi terjadinya ankylosis adalah umur pada saat terjadi injuri. tingkat keparahan trauma. 183 . Faktor-faktor ini berpengaruh pada pendekatan penatalaksanaan yang akan dilakukan. Hasil akhir kelainan tersebut akan menyebabkan keterbatasan pergerakan mandibula sehingga terjadi gangguan bicara. Gejala komplikasi tersebut di atas sering disebut dengan “condylar post fracture syndrome” 19.

limfe. 184 . substansia spongiosa. endosteum dan kavum medullare29. namun demikian tulang sangatlah kuat. substansia kompakta. yang dibatasi oleh endosteum yang juga mengandung sel-sel osteoprogenitor. Pada Tulang yang mengandung lebih banyak substansi tulang spongios dibanding tulang kompak disebut “cancellous”. Di bagian dalam tulang terdapat rongga medula/sumsum tulang. Lamela tulang yang mengelilingi kanal havers mempunyai lakuna yang mengandung osteosit yang mengatur aktivitas selular tulang29. Berat tulang hanya sepersepuluh dari berat badan. dimana pada lapisan dalam periosteum terdapat pembuluh darah.1 Gambaran Histologis Struktur Tulang Karakteristik dari tulang mempunyai struktur yang bagian luarnya tersusun atas tulang kompak yang disebut kortek dan pada bagian dalam yang berbentuk seperti anyaman adalah tulang kanselus/spongious/trabecular. Unit fungsional tulang disebut juga sistem havers atau osteon yang terdiri atas kanal havers sentral yang dikelilingi oleh lapisan konsentris tulang/ lamela. dan sel-sel osteoprogenitor yang mempunyai potensi osteogenik yang sangat berperan aktif pada penyembuhan fraktur tulang. Urutan lapis demi lapis struktur tulang dari luar ke dalam adalah: periosteum. dimana tulang rahang termasuk dalam golongan tulang ini. Tulang dilapisi oleh jaringan fibrous yang disebut periosteum. elastis serta mampu melakukan regenerasi bila mengalami trauma/fraktur 29.BAB IV PENYEMBUHAN TULANG DAN KOMPLIKASI PASCA PENYEMBUHAN Tulang merupakan jaringan keras yang membentuk tubuh manusia. 3.

2.1 Osteoblas Osteoblas berfungsi dalam sintesa matrik tulang yang berperan dalam pertumbuhan.Gambar 4. 2. Sel ini mengandung enzim lisosim seperti asam 185 .2 Komposisi Tulang Komposisi tulang terdiri dari 8% air dan 92% benda padat yang tersusun atas unsur organik. 1. Gambaran Histologis Jaringan Tulang29 3. osteosit dan osteoklas29 2. perbaikan dan remodelling tulang.3 Osteoklas Osteoklas merupakan sel tulang yang berfungsi dalam resorbsi tulang. Sel ini berperanan dalam nutrisi tulang berupa transfer oksigen dan metabolit/ kalsium). 2. Unsur organik Unsur organik yang merupakan matrik tulang tersusun dari 28% kolagen dan 5% nonkolagen protein.2 Osteosit Osteosit yang berasal dari osteoblas yang terperangkap dalam matrik tulang yang mengalami mineralisasi. anorganik dan sel-sel tulang. 1. Unsur selular Terdapat tiga jenis sel utama tulang yaitu : Osteoblas. Osteoblas berasal dari sel yang terdapat pada lapisan dalam periosteum atau dari diferensiasi sel-sel mesenkim.

Fungsi mekanis tulang meliputi: 1. 1. 3. sebagai berikut : 1. Pembuluh darah dari periosteum. dimana unsur utamanya berupa garam anorganik hidroksiapatit kristalin. Kristal tulang ini tersusun sejajar dengan sumbu serat kolagen.4 Penyembuhan Jaringan Keras Tulang Pada proses penyembuhan fraktur tulang terdapat fase penyembuhan primer dan sekunder. endosteum dan sistem havers akan menginvasi celah dan membawa sel-sel osteoblastik mesenkim yang akan mendeposit tulang pada fragmen fraktur tanpa 186 .1 Penyembuhan pada celah (Gap Healing) Meskipun fiksasi stabil pada fragmen fraktur. Bila sel ini berkontak dengan permukaan tulang maka akan berpenetrasi ke dalam tulang dan mengeluarkan enzimnya sehingga terjadi resorbsi tulang. Penyembuhan primer.3 Fungsi Tulang Tulang mempunyai dua fungsi utama yaitu: fungsi mekanis dan biokimia. Tempat perlekatan otot 4. 3. Sedangkan fungsi biokimiawinya sebagai tempat penimbunan kalsium dan fosfor dalam proses menjaga keseimbangan kadar mineral di dalam darah. Ca10(PO4)6(OH)2. Pada bagian ini akan terjadi proses penyembuhan dalam waktu beberapa hari setelah fraktur. Unsur anorganik Komposisi tulang secara kimiawi terdiri dari 67% bahan anorganik (Hydroxyapatite). Fungsi sebagai rangka 2. Persendian 3. Pada beberapa bagian segmen tulang dapat terjadi adanya celah yang kecil.fosfat dan katepsin. 3. biasanya reduksi anatomis yang sempurna jarang terjadi. Melindungi alat-alat tubuh penting.

kemudian proses remodeling akan merubah sejajar dengan sumbu tulang. Bila fragmen fraktur kurang dari 0. Perdarahan pada pembuluh darah endosteum.melalui pembentukan kalus.2 Penyembuhan kontak (contact healing) Penyembuhan kontak terjadi pada fragmen fraktur yang tidak terjadi kontak. 1. sedangkan celah antara 0. Penyembuhan primer 29 2. Rekonstruksi lengkap dari kortek tulang memerlukan waktu hingga 6 bulan. Gambar 4.5 1.0 mm akan terisi oleh “woven bone” selanjutnya dalam ruang trabekula akan terisi oleh tulang lamela. Dalam waktu 6 minggu tulang lamelar akan tersusun tegak lurus terhadap fragmen fraktur.1 Tahap awal Pada fraktur tulang akan menimbulkan reaksi inflamasi disertai dengan pengaktifan sistem pertahanan tubuh yang menginduksi pelepasan sejumlah angiogenik vasoaktif sehingga terjadi vasodilatasi dan oedema dalam beberapa jam.2. 187 . Proses ini terjadi melalui regenerasi tulang dimana terjadi aktivitas osteoklas pada bagian fraktur yang menyediakan tempat untuk pertumbuhan dan proliferasi osteoblas guna membentuk tulang baru. Penyembuhan sekunder 2.3mm akan terbentuk langsung tulang lamelar. periosteum dan sistem havers menyebabkan hematoma.

Gambar 4.30. fibrin. Kalus yang terbentuk akan menstabilkan ujung fragmen 188 . Osteoblas bertambah banyak dan osteoklas mulai nampak. fibroblas dan sel kondrogenik (gambar 3). Platelet akan berdegranulasi Zmelepaskan PDGF (Platelet Derived Growth Factor). Terjadi pembentukan kapiler yang bersama kolagen yang berasal dari fibroblas membentuk jaringan granulasi.2 Tahap kalus kartilogenus (soft callus) Pada hari ketiga sampai kelima jaringan granulasi akan berkondensasi membentuk kalus yang terjadi baik internal maupun eksternal (gambar 3). Hematoma yang terjadi mengandung eritrosit . sedangkan sumsum tulang akan mengalami degenerasi lemak. mastosit dan platelet. Keadaan ini memicu aktivitas sel makrofag untuk membersihkan jaringan nekrotik15. fibroblas bermigrasi dan membentuk kolagen selanjutnya berdeferensiasi menjadi kondroblas yang membentuk kartilago.3.fragmen tulang mengalami deposit tulang oleh sel-sel osteoblas dari periosteum. terjadi kalsifikasi kartilago yang menyebabkan kondroblas berubah menjadi kondrosit. FGF(Fibroblastic Growth Factor) yang bersifat kemoatraktan dan mitogenik sehingga dalam waktu 8 . PMN. 29. makrofag. Pase awal stage fibroplastik pembentukan tulang15 2.12 jam akan terjadi proliferasi selular lapisan luar periosteum seperti osteoblas. limposit.

3 Tahap kalus tulang (hard callus) Proses ini terjadi dalam waktu 3 . Pase akhir stage fibroplastik pembentukan tulang15 2. Terdapat beberapa jenis kalus tulang primer. Osteoblas akan mendepositkan osteoid pada kartilago yang mengalami kalsifikasi. yang dikelompokkan berdasarkan pada letak atau berdasarkan pada fungsi dan urutan pembentuknya: Anchoring Callus: Terbentuk jauh dari fragmen fraktur dan mendekati ke arah bridging callus.30. Sealing Callus: Berfungsi menutupi rongga sumsum yang terbuka dan berkembang dari bagian dalam kortek tulang.4.4 minggu. Sel-sel jaringan ikat pada daerah ini akan berdifrensiasi jadi osteoblas dan menghasilkan substansia spongiosa yang melekat erat dengan permukaan tulang. Terbentuk akibat proliferasi endosteum dan membentuk trabekula tulang yang susunannya tidak teratur. volumenya semakin meningkat mendekati garis fraktur membentuk lepeng tulang yang menutupi rongga sumsum. Gambar 4. 189 .30 . kemudian osteoid mengalami kalsifikasi menjadi tulang yang tersusun acak (woven bone). 29. berfungsi untuk menjamin hubungan antara keseluruhan kalus dengan fragmen tulang.fraktur sehingga menguatkan tulang. kalus kartilagenous terisi oleh pembuluh darah yang akan meningkatkan tekanan oksigen dan nutrisi yang akan memacu aktivitas osteoblast 15. selanjutnya berubah menjadi tulang lamela pada tahap remodeling29.

Uniting callus: Terbentuk sepanjang garis fraktur dan berfungsi menyambungkan kedua fragmen fraktur. Saat pembentukan anchoring callus. 190 . 3. Tidak ada rasa nyeri 3.Bridging Callus: Fungsinya sebagai jembatan dari kedua fragmen fraktur dan volumenya paling banyak jika dibandingkan dengan jenis kalus lainnya. Secara fungsional organ telah dapat dipergunakan tetapi masih perlu dibatasi. Pada daerah fraktur kalus dapat diraba sebagai masa bulat dan padat 5. terjadi pula diferensiasi pada daerah bridding callus fibrokartilago. dan dilakukan sebelum perawatan. ossifikasi (pada saat substansia spongiosa anchoring callus telah mencapai kartilago) hingga membentuk tulang baru. setelah reduksi dan fiksasi. ossifikasi terjadi pada jaringan ikat diantara fragmen fraktur dan juga ossifikasi tersebut dapat terjadi secara langsung. 2. serta minimal 1 kali setiap bula selama perawatan serta foto diambil minimal dari dua arah berbeda. selain akan dilepaskan protein morphogenetik tulang (BMP) yang bersifat mitogenetik yang menginduksi diferensiasi sel-sel mesenkim menjadi osteoblas untuk pembentukan tulang sehingga kontur tulang kembali pulih29. kartilago hialin. 3. Dalam remodeling akan terjadi resorpsi tulang oleh osteoklas.15.6 Gambaran Radiologis Penyembuhan Fraktur Pemeriksaan radiologis penting untuk diagnosa dan membantu dalam evaluasi perawatan. Fragmen tidak bergerak dan tidak ada krepitasi 4.5 Tanda-Tanda Klinis Penyembuhan Fraktur 1.30. Gejala hematom menghilang 2.4 Tahap remodeling Osteoklas dan osteoblas merupakan sel yang sangat berperanan dalam remodeling tulang.

molar ±15 kg. Pterigoideus medialis. Temporalis dan masseter dan diperkuat lagi oleh m. Hal tersebut dapat dicapai dengan melakukan imobilisasi menggunakan fiksasi internal dan eksternal . Tujuan dari semua terapi fraktur ialah mengembalikan bentuk dan fungsi seperti semula. nampak adanya trabekulasi sepanjang garis fraktur atau tempat penyatuan. Pada waktu membuka mulut. temporalis. Pterigoideus lateralis bagian inferior. Gambaran rdioopak nampak jika telah terbentuk kalus sekunder. geraham ±90kg. bentuk dan perlekatan ototnya mandibula dapat digambarkan sebagai sebuah struktur yang mengubah tekanan yang diterimanya menjadi suatu 191 . sedang kekuatan menggigit daerah incisivus ±10kg.Gambaran radiologis proses penyembuhan: Secara klinis terjadi penyatuan fragmen fraktur dan secara histopatologis telah terbentuk penulangan namum secara radiologis belum tampak gambaran radioopak yang jelas. pterigoideus lateralis dan medialis. maka yang berkontraksi adalah m. Pada tulang yang telah sembuh sempurna radiolusensi garis fraktur hilang dan diganti gambaran radioopak yang sulit dibedakan dengan radiopasiti pad jaringan tulang normal. 3. yaitu otot masseter. Sedangkan otot yang berperan untuk menutup mulut adalah m. Otot digastricus bukan termasuk otot pengunyah tetapi mempunyai peranan yang penting dalam fungsi mandibula. Konsep biomekanik pada perawatan fraktur mandibula perlu dipahami sebab keadaan statik dan dinamik dapat mempengarui proses penyembuhan fraktur. berdasarkan arsitektur tulang. Rahang bawah memiliki bentuk anatomis yang unik. Kekuatan dinamis dari otot pengunyah orang dewasa pada gigi seri ± 40kg. sehingga dalam melakukan penanganan fraktur mandibula harus benar-benar diperhatikan biomekanik yang terjadi. disusul m pterigoideus lateralis bagian superior ( yang berinsersi pada kapsul sendi) saat mulut membuka lebih lebar. Gerakan mandibula dipengaruhi oleh empat pasang otot yang disebut otot-otot pengunyah.7 Biomekanik Mandibula Mandibula memiliki mobilitas dan gaya yang sangat banyak.

bentuk daya tensi dan kompresi. Pada waktu mandibula mengalami fraktur.6 tension site (+) dan compression site (-) pada mandibula Gambar. Plat sudah cukup stabil untuk menetralkan shear dan torsional stress.16) 192 . sedangkan tension trajectory dengan menggunakan arch bar yang berfungsi sebagai tension band. 4. prinsip perawatan dilakukan dengan mempertimbangkan kekuatan-kekuatan pada kedua sisi dari aksis imajiner tersebut.15. pressure trajectory yang menghasilkan kekuatan kompresi pada mandibula kemudain terjadi distorsi misalnya di rahang yang fraktur dapat diperbaiki dengan pemasangan plat osteosintesis. sehingga kedua kekuatan tegangan yang berlawanan tersebut harus dinetralisir untuk mendapatkan reduksi fungsional yang stabil. Secara umum.14. Gambar 4. Kekuatan kompresi dihasilkan sepanjang daerah basal mandibula sedangkan kekuatan tensi terdapat pada sepanjang daerah alveolar. (3. Tension band berfungsi untuk mengurangi kekuatan yang membengkokkan yang terjadi di bagian alveolar atau kekuatan menahan yang menjauhi plat.7 tension line pada mandibula3 Hal ini dapat ditempuh dengan penggunaan plat dan tension bar system yang secara individual berbeda tergantung dari lokasi dan tipe frakturnya. Aksis tranversal imajiner yang terletak kira-kira sepanjang kanalis mandibula memisahkan prosesus alveolaris yang merupakan daerah tegangan atau disebut dengan tension area dari daerah basal mandibula yang merupakan daerah kompresi atau disebut dengan compression area.

Hal ini bisa disebabkan karena : Fragmen-fragmen tulang tidak ditahan dengan rigid Fraktur dibiarkan terlalu lama Alat Fiksasi terlalu cepat dibuka Adanya jaringan lunak. Delayed union dan nonunion Delayed union adalah keterlambatan penyembuhan karena: Adanya interposisi diantara jaringan lunak diantara fragmen Fiksasi yang kurang baik Kurangnya reparatif vital dari tubuh karena gangguan sistemik Sedangkan pada nonunion tidak terjadinya penyembuhan atau tidak bersambungnya ujung-ujung tulang yang fraktur kecuali dilakukan pembedahan untuk memperbaiki fraktur tersebut. hal ini disebabkan karena banyaknya muskulus dasar mulut yang melekat pada bagian ini sehingga apabila terjadi fraktur pada bagian ini maka dapat timbul rotasi. Stabilisasi fragmen tulang yang fraktur di regio ini digunakan dua miniplate dengan jarak antar plat kurang lebih 5mm untuk menetralkan kekuatan rotasi pada daerah symphisis tersebut. Komplikasi Adapun komplikasi yang dapat terjadi pada penyembuhan tulang adalah15 : 1. serat oto.(17) Selain menggunakan dua miniplate dapat juga digunakan SNT plate untuk fraktur di regio symphisis. jaringan fibrous diantara fragmen tulang 193 .Gambar 4.8 momentum gaya pada mandibula 11 Kekuatan torsional pada mandibula terdapat pada bagian symphisis mandibula.

Dapat disebabkan oleh faktor sistemik seperti alkoholik dan tanpa penggunaan antibiotik.- Gangguan sistemik atau penyakit kronis Delayed union dan nonunion dapat terjadi pada 3 % dari kasus fraktur. Malunion Malunion dapat dijelaskan sebagai penyatuan fraktur tulang dimana displacement tulang masih terlihat. pemberian obat-obatan yang kurang adekuat . Reduksi Inadekuat Dapat disebabkan oleh distraksi fragmen fraktur oleh traksi otot atau oleh interposisi jaringan lunak antara fragmen fraktur. pasien yang kurang koopertif. dapat juga disebabkan oleh : a. b. Infeksi Infeksi dan osteomielitis merupakan komplikasi yang paling sering terjadi. tanpa penggunaan antibiotik dapat terjadi lebih dari 50% kasus fraktur. tindakan debridemen yang kurang sempurna dan sterilisasi yang kurang baik . Pada beberapa penelitian. 2. Fistula pada fraktur mandibula anterior setelah open reduction15 3. Gangguan pada penyembuhan tulang (Malunion) terjadi karena kegagalan transformasi hematoma menjadi matrik osteogenik sehingga yang terbentuk jaringan fibrous nonosteogenik. dan juga faktor lokal seperti reduksi dan fiksasi yang buruk. penyebaran infeksi dari jaringan sekitarnya. Gambar 4. Fiksasi inadekuat 194 .9.

d.Seringkali mengakibatkan mobilitas dari fragmen fraktur sehingga terjadi “delayed union” . e. bila pergerakannya melebihi ambang batas fisiologis maka pembuluh darah kapiler akan terputus dan metabolisme penyembuhan tulang akan terganggu karena hilangnya suplai nutrisi. 5. Kerusakan syaraf bisa disebabkan karena trauma yang hebat pada waktu kecelakaan atau terputusnya syaraf oleh fragmen tulang. 4. 195 . Faktor sistemik Kekurangan vitamin C dan D mengakibatkan gangguan pada metabolisme kolagen dan proses mineralisasi tulang. usia. c. Infeksi Infeksi dapat menimbulkan osteomielitis baik yang mengakibatkan periosteum dan jaringan lunak yang berdekatan tidak berfungsi sehingga terjadi pembentukan lapisan fibrous penyatuan tulang. Injuri nervus Injuri pada nervus alveolaris inferior biasa terjadi pada fraktur korpus dan angulus mandibula. penyakit yang mengganggu aktivitas yang menghalangi menimbulkan reduksi tekanan oksigen selular pada proses penyembuhan tulang. Vaskularisasi Menurunnya vaskularisasi oleh karena trauma. Gangguan pertumbuhan Gangguan pertumbuhan yang merupakan akibat dari trauma pada kondilus dapat diakibatkan oleh trauma langsung pada kondilus atau karena fibrosis atau scarring dari jaringan disekitarnya.

Trismus karena adanya fibrosis atau disfungsi atropi dari otot-otot pengunyahan. 196 .10 Hipoplasia mandibula akibat fraktur kondilus bilateral15 6.Gambar 4. 3. Selanjutnya pada proses remodeling sampai terjadi rekonstruksi lengkap korteks tulang membutuhkan waktu 6 bulan31.8 Lama Penyembuhan Tulang Proses penyembuhan tulang sampai terbentuknya tulang lamela membutuhkan waktu hingga 6 minggu.

keberadaan gigi-geligi dan karakteer fisik. angulus. Dalam tatalaksana fraktur mandibula perlu dipahami biomekanik mandibula sehingga dapat diperkirakan letak fiksasi yang benar dan didapatkan hasil yang memuaskan. Hal ini dapat dicapai dengan pemilihan modalitas yang tepat. ramus.BAB V KESIMPULAN Mandibula merupakan fraktur kedua yang palling sering terjadi pada tulang maksilofasial dikarenakan posisi dan bentuknya yang membusur. segmen dento alveolar. tehnik operasi yang benar terutama dalam pencapaian oklusi mandibula. korpus mandibula. berbicara dengan normal dan menciptakan pergerakan artikulasi seperti sebelum terjadinya trauma. Lokasi fraktur mandibula terbanyak pada kondilus. Perawatan fraktur mandibula terdiri dari dua macam yaitu dengan menggunakan metode tertutup atau dengan menggunakan metode terbuka Harus diperhatikan indikasi dan kontra indikasi bila akan dilakukan perawatan fraktur mandibula dengan metode terbuka. simfisis dan parasimfisis. dan prossesus koronoideus. Sebagai tambahan juga usia pasien. Restorasi fungsi mandibula sebagai bagian dari sistem stomatognati harus mencakup kemampuan untuk mastikasi yang baik. Pemberian diet yang tepat dapat menjaga kesehatan pasien. Lokasi dan pola dari fraktur dapat dibagi berdasarkan mekanisme dan arah dari trauma. Pengelolaan fraktur kondilus mandibula harus sesegera mungkin berdasarkan diagnosa yang akurat sehingga dapat mengurangi atau menghilangkan komplikasi yang akan timbul 197 . serta perawatan pasca operasi dan rehabilitasi.

Snell R. Barrera J.pk/JAMC/PAST/19-3/13%20Samira%20Ajmal. 8. issue 3. Chakranarayan S. Sjamsuhidajat. 2007. Jadoon H. Batuello T. A. Mandibular Fractures. last update 21 Desember 2010 9. Adams G. pemasangan Penanganan Arch-Bar. 2010. Malik S. Volume 19. 2007.medscape. Laub D.. 3. Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Indonesia. R. Soepardi E A. pada Hardjowasito Anak Widanto. Mandibular Angle Fractures: Treatment. Jakarta. Jakarta 6. Menon C. 2006. Edisi 6. Penerbit Buku Kedokteran EGC. last update 12 Desember 2010. Available at http://www. L. 198 . Available at http://emedicine. Jong W D. Penerbit buku kedokteran EGC. Anatomi Klinik untuk mahasiswa kedokteran. R. 7. G. Iskandar N. G. Management protocol of mandibular ractures at Pakistan Institute of Medical sciences.pdf last update 12 Desember 2010 2. Management of Mandibular Fractures.in/maa/t08/i3/maat08i3p218. E. 1997.DAFTAR PUSTAKA 1. Buku Ajar Ilmu Bedah. J Ayub Med Coll Abbottabad. Thapliyal C.2009.nic.com/article/868517-treatment. A. A.com/article/1283150-overview Desember 2010 5. Fraktur Majalah dengan Kedokteran Unibraw. Jakarta. Available at http://emedicine. Boies Buku Ajar penyakit THT.edu. 2005.1996. R. hal 132-156. Islamabad. Buku ajar ilmu kesehatan Telinga Hidung Tenggorokan Kepala Leher. Facial Trauma. Penerbit buku kedokteran EGC. Higler P. Edisi 2. Available at last update 12 http://medind. Edisi 6. A. Bab VII. 2006. Pakistan. Jakarta. Ajmal S. Sugiharto Mandibula Setyo. S. 4. Sinha C. 12:39-41. Boies L. L. C. Khan M.ayubmed.medscape. P.pdf.

20. Vol.J. 18. 1997. 1995. 2002. Fractures Mandible. Churchill Livingstone. J and Frame J.W. St Louis. Philadelphia 19. Fonseca . Edisi 1. St Louis: Elsevier. 58-63. St. Pedersen. 1996. P.1996. St. Buku Ajar Praktis Bedah Mulut . In management of temporomandibular disorder and occlusion . R. Second ed. St Louis 13-21 13.W. Peterson: et al. 2. Hal: 1-16 22.10. 2nd ed. 3rd . Clinically Oriented Anatomy. Wijayahadi R Yoga. Louis: Churchill Livingstone.2005.W. 2. David DJ. Oral and Maxillofacial Surgery. Tucker. 21. L. Okeson JP. Hal: 1-9. 4th ed. G. Oral and Maxillofacial Trauma.2007. et al. Functional anatomy and Biomechanics of the masticatory system. Divisi Ilmu Bedah Kepala & Leher SMF/Lab Ilmu Bedah RSDS/FK Unair Surabaya:25-26. Temporomandibular Joint Syndrome. Booth. Hal:1-3 23. Third ed. London. et all. Mosby Co. Principle’s of Oral and Maxillofacial Surgery. 15. 1997. Maxillofacial Surgery. SR. William-Wilkins hal:143-148 12. Saunders Co. 2004. Fonseca.J. Mosby. eMedecine Journal. Keith L Moore. 2001. R. Vol. Oral and Maxillofacial Surgery.. 98. Craniomaxillofacial Trauma. et al. 16. Ankylosis of TMJ. WB Saunders Co. et al. Surabaya. 2006. 89-95. Louis: Mosby.2001. Vol 2. Hal : 270-283. 14. Oral and Maxillofacial Trauma.Vol 3. Murtedjo Urip. Philadelphia: W. Widell T. Edinburg: Churchill Livingstone. et all. Chaudhary A 2002. 3rd ed.125-132 11. Trauma Maksilofasial Diagnosis dan Penatalaksanaannya.100. eMedecine Journal. 71-71.1993. Pedlar. Okeson Jeffrey P.B.J. Oral and Maxillofacial Surgery eJournal. 17. Peterson. 199 .

London.. Philadelphia. 2002.1991. De Riu G. 1988.. 26. p. louis. Mosby. Hal :1-13. Cross AR. Wolfe Medical Publications Ltd. Condylar and Subcondylar. P. 111-44 29.2001. Oral and Maxillofacial Trauma.. 30. Surgery.. Hal: 386-404.Lewis DD. Fracture Management Bone Healing and Grafting. Fractures Mandible.. Vol 2. Sesenna E.24. Year Book Publishers. Sounders Co. Bianco P. Whitson SW. London. Gamba U. Feinberg SE.Inc. 25. Larsen PE. Diseases. A comparison of open and closed treatment of condylar fractures: a change in philosophy . Anghinoni M. 30: 384 – 389 27. Bramley. Nanci A.. A Textbook and Colour Atlas of the Temporomandibular Joint. 2003.. Int J Oral Maxillofac Surg. Bone In Ten Cate’s Oral Histology. 200 . Goldman KE. JE.. Norman. Schultz RC. 6thed St. Facial Injuries. 1990. 28. WB. Fundamental of Ortopedic Surgery. Hal: 26-51. Disorders.

Le Fort.Fraktur Maksila (Le fort I. Maksud dari penyusunan makalah ini adalah untuk menggambarkan mengenai tipe-tipe fraktur pada maksila. 201 . trauma. biasanya dapat menyebabkan jejas atau fraktur pada maksila dan tulang-tulang di sekitarnya. II. dan perawatan bedah pada wajah. tergantung pada organ-organ yang terlibat. serta penanganannya agar diperoleh hasil pemulihan yang optimal. pemeriksaan. Kata kunci: Fraktur. Penanganan dan rehabilitasi pasien dengan trauma pada maksila meliputi pemahaman terhadap jenis. fiksasi. Le Fort mengklasifikasi pola fraktur pada maksila menjadi fraktur Le Fort tipe I. dan III. evaluasi. reduksi. III) Nurwahida 160121120008 Peserta Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut Dan Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Bandung Abstrak : Suatu trauma yang mengenai bagian tengah wajah. II. Pola fraktur yang terjadi pada maksila biasanya mengikuti area terlemah pada kompleks midfasial.

Melibatkan jalan nafas. 202 . labial superior dan regio palpebral inferior. Nervus ini muncul dari foramen infra orbital dan kemudian berjalan untuk mensyarafi nasal lateral. 2.BAB I PENDAHULUAN Fraktur maksila adalah suatu keadaan dimana hilangnya kontinuitas dari tulang maksila dengan tulang pendukung disekitarnya ataupun dengan bagian – bagian dari tulang masksila itu sendiri. Fraktur ini termasuk yang serius karena menyangkut struktur penting lainnya yang berdekatan seperti rongga hidung. yang harus dilakukan tindakan cepat dan langsung. Sedangkan persyarafan melalui divisi kedua dari nervus trigeminus. sehingga membantu dalam proses penyembuhan yang cepat. Terdapat suplai darah yang sangat bagus ke wajah. sinus maksilaris. Pada regio anterior cabang terminal dari arteri naso palatinus keluar pada foramen insisivus dan mereka mensuplai mukoperiosteum dan palatum bagian anterior. yang dapat membantu sebagai pedoman dalam mengembalikan perlekatan dan stabilisasi fraktur.kombinasi. 3. Menampilkan oklusi gigi.2 Fraktur pada daerah ini mempunyai gambaran yang unik dibandingkan dengan injury pada bagian tubuh yang lain seperti : 1. Fraktur yang disebabkan trauma ini bisa terlokalisir atau muncul dalam kombinasi.1 Pada daerah maksila ini perdarahan disuplai oleh arteri palatina mayor bersama-sama dengan arteri alveolar superior dan posterior yang bermuara pada palatum durum dan mole. termasuk juga mensyarafi labial dan gigi-gigi anterior. rongga mata bahkan dapat melibatkan kerusakan di otak baik secara primer maupun sekunder dari penyebaran infeksi.

3 Gambar 1. Disartikulasi tulang midfasial menggambarkan anatomi maksila.BAB II TINJAUAN PUSTAKA I. Pada regio anterior cabang terminal dari arteri naso palatinus keluar pada foramen insisivus dan mereka mensuplai mukoperiosteum dan palatum bagian anterior. melawan dan mengusir tekanan infrasuperior melalui beberapa tahanan. Ia menyediakan pondasi kepada proyeksi fasial anterior sambil memberikan perlindungan kepada basis tengkorak dan berperan sebagai jangkar kepada ligamen fasial dan perlekatan otot. Nervus ini muncul dari foramen infraorbital dan kemudian berjalan untuk mensyarafi nasal lateral.2 Kompleks midfasial dilengkapi oleh struktur dukungan vertikal untuk menahan tekanan dari bawah. Tetapi midfasial tidak 203 . ANATOMI MAKSILA Midfasial menghubungkan basis kranii dengan dataran oklusal. sagital dan horizontal yang menutupi sinus. zigoma.4 Pada daerah maksila ini perdarahan disuplai oleh arteri palatina mayor bersama-sama dengan arteri alveolar superior dan posterior yang bermuara pada palatum durum dan mole. Sedangkan persyarafan melalui divisi kedua dari nervus trigeminus. labial superior dan regio palpebral inferior. Tulang midfasial terdiri dari rangkaian penebalan vertikal. tulang nasal. dan septum nasal. termasuk juga mensyarafi labial dan gigi-gigi anterior. Midfasial secara efektif menyerap.

zygomaticomaxillary (lateral) dan pterygomaxillary (posterior).3 Gambar 2 menunjukan pilar vertikal terdiri dari pilar medial atau nasomaksilari (V1). memberikan 204 . Pilar horizontal meluas sepanjang rima supraorbita (H1). Struktur dukungan vertikal pada midfasial terdiri atas pilar nasomaksilaris (medial). Pilar vertikal dan pilar horizontal.3 Dukungan superior pada pilar ini adalah arkus yang dibentuk oleh rima orbita superior dan inferior dan arkus zygomaticus. Sisi posterior.dilengkapi dengan kemampuan menahan tekanan dari lateral dan frontal. rima infraorbita (H2) dan prossesus dentoalveolar dan palatum (H3). Lengkung zygoma menyediakan satu-satunya pilar sagital. pilar lateral atau zigomatikomaksilari (V2). 2 Gambar 2. Pilar medial dan lateral memberikan tahanan anterior. dan pilar posterior atau pterygomaxillary (V3) yang berfungsi menahan tekanan kepada basis kranii. Pilar nasomaksilaris memanjang dari apertura piriformis dari kaninus dan anterior maksila melalui prossesus frontalis dari maksila dan naik ke cerukan lakrimal dan dinding medial orbita ke os frontalis. Pilar zygomticomaxillary memanjang tulang alveolaris di atas molar I maksila melalui korpus zygoma naik ke prossesus frontalis dari zygoma ke os frontalis. memandang midfasial mudah untuk kolaps dan mudah bergeser pada segmen sentral. serta pilar sagital (S1). Pilar midfasial horizontal meliputi rima orbita superior dan anterior juga palatum durum. pilar pterygoid mengubungkan maksila ke lempeng pterygoid dari os sphenoidalis dan memberikan stabilisasi kepada dataran vertikal dari midfasial.

Faktor utama Faktor utama terjadinya fraktur pada tulang maksila adalah disebabkan oleh trauma baik yang datang dari luar maupun dari dalam. Tanpa termasuk fraktur nasal. Penyakit ini biasanya menyebabkan tulang menjadi rapuh ataupun melunak. kista. olah raga (2%). luka tembakan (2%). B. 1. wajah tengah terlibat pada 40% 205 . Trauma dapat menyebabkan terjadinya fraktur secara langsungt maupun tidak langsung.3 Rekonstruksi defek struktur midfasial membutuhkan rekonstruksi dari pilar-pilar ini untuk mengembalikan pola tahanan normal pretrauma dan parameter biomekanikal yang penting untuk mempertahankan integritas struktur skeletal. 3 II. Penebalan-penebalan tulang ini memberikan tempat untuk aplikasi pelat fiksasi guna memastikan dukungan dan penyembuhan yang maksimal. Bila resorbsi tulang meluas akibat penyebaran penyakit ini maka dapat terjadi patah tulang spontan tanpa trauma.dukungan struktural kepada fungsi dari mata. tumor. Trauma langsung adalah apabila fraktur terjadi pada bagian yang terkena trauma. Seperti penyakit yang berupa infeksi periapikal. Faktor predisposisi: Yang dimaksud dengan faktor predisposisi adalah faktor yang dapat menimbulkan fraktur selain dari faktor utama. III. Lengkung zygoma berfungsi sebagai satu-satunya pilar sagital (S1). jatuh (9%). ETIOLOGI Penyebab fraktur dapat dibagi menjadi dua golongan yaitu faktor predisposisi dan faktor luar. Trauma tidak langsung adalah apabila fraktur terjadi pada tempat yang jauh dari lokasi trauma. 2. A. hidung dan mulut. perkelahian (24%). osteomielitis. kecelakaan kerja (4%). EPIDEMIOLOGI Penyebab utama dari fraktur maksila adalah kecelakaan lalu lintas (60%).

5. 7. Simple fracture : Fraktur yang tidak menyebabkan luka terbuka atau tidak berhubungan dengan lingkungan luar. Para ahli sepakat bahwa distribusi frekuensi fraktur Le Fort yaitu tipe II > tipe I > tipe III. 3. Compound fracture : Fraktur dengan luka terbuka yang melibatkan kulit. 206 . 6. 2 A. cedera servikal (10%). Fraktur maksila dapat dibedakan atas jenis.3 IV. 2. 4. cedera skeletal (30%) ditemukan pada pasien dengan fraktur midfasial. Single fracture : Fraktur yang memiliki satu garis fraktur saja atau disebut juga fraktur tunggal. KLASIFIKASI FRAKTUR MAKSILA Klasifikasi fraktur maksila dapat dibedakan menurut jenis frakturnya dan lokasi dari fraktur pada daerah tulang maksila itu sendiri. jaringan periodontal atau kulit (closed fracture). Le Fort II mencapai 42%. MENURUT JENISNYA. Tulang pada fraktur ini pecah menjadi fragmen-fragmen yang kecil. yaitu melalui mukosa.jenis atau bentuk dari fraktur itu sendiri. Kejadian cedera bersamaan dengan trauma kepala (50%). Multiple fracture : Fraktur yang melibatkan dua atau lebih garis fraktur pada tulang yang sama dan masing-masingnya saling tidak berhubungan. cedera abdominal (15%).yaitu: 1.dari seluruh kasus. dimana Le Fort I mencapai 30 %. dan fraktur ini dapat terbuka atau tertutup. dan Le Fort III mencapai 28% dari seluruh kasus Le Fort. Impacted fracture : Fraktur yang menyebabkan fragmen tulang yang satu tertekan masuk kesisi fragmen fraktur yang lainnya. Complicated fracture : Fraktur yang melibatkan jaringan lunak sekitarnya atau bagian sekitarnya ikut menjadi rusak. Comminuted fracture : Fraktur yang menyebabkan tulang hancur atau splintered. mukosa atau jaringan periodontal untuk berhubungan dengan dunia luar (opened fracture).

Distracted fracture : Fraktur yang mengalami dislokasi dari segmentsegment fraktur atau perubahan letak tanpa merusak jaringan sekitarnya. Horizontal maxillary fracture. MENURUT LOKASINYA Sedangkan menurut lokasi terjadinya fraktur tersebut telah banyak klasifikasi dibuat olah para ahli seperti: 1. 9. tulang zygoma dan tulang  hidung. Le fort I fracture) Fraktur trasversal yang menyangkut orbital. Fraktur pada maksila dapat terjadi salah satu dari jenis fraktur diatas tetapi juga bisa berupa kombinasi dari bermacam – macam fraktur serta dapat melibatkan fraktur pada tulang lainnya yang berdekatan dengan maksila. 2. Guerin Fracture. Menurut GUSTAV O. Menurut THOMA tahun 1969 Fraktur maksila dibagi atas 4 golongan yaitu:    Fraktur prosesus alveolaris dan prosesus palatine Fraktur horizontal (Transverse maxillary fracture. seperti tulang anak-anak. Fraktur ini dapat terjadi unilateral tetapi berbeda 207 . KRUGER. terjadi pada tulang yang kalsifikasinya belum sempurna. (Transverse facial fracture. Craniofacial disjunction fracture) Fraktur pyramidal yang menyangkut tulang-tulang hidung dan maxilla. B.8. Tahun 1984 Fraktur maksila dibagi atas 4 golongan yaitu :  Fraktur Horizontal ( Le fort I ) Seluruh maksila terpisah dari dasar tengkorak. Displaced fracture : Fraktur yang mengalami perubahan letak dari garis frakturnya sendiri 10. garis fraktur terdapat diatas palatum tetapi dibawah perlekatan prosesus zygomaticus. Incomplete fracture : Fraktur dimana tulang tidak patah sama sekali atau tidak putus.

sehingga dinding samping tulang mata terpisah melalui sutura zygomaticofrontalis  Fraktur Multiple Merupakan kombinasi dari ketiga macam fraktur diatas. begitu juga tulang zigoma dapat terlibat  Fraktur Tranversal (Le fort III) Garis fraktur meliputi daerah mata.dengan fraktur prosesus alveolaris karena pada fraktur alveolaris tidak disertai dengan perluasan kedaerah garis tengah palatum  Fraktur Pyramidal ( Le fort II ) Garis fraktur melalui aspek fasial maksila. 3. Transverse maxillary fracture. Floating maxilla. melibatkan sebagian dari dinding sinus maksilaris. meluas kebagian atas tulang hidung dan tulang ethmoid biasanya sinus maksilaris ikut tersangkut. Horizon maxillary fracture ) Garis fraktur melintang melalui bagian atas dari prosesus alveolaris.  Le fort I ( Fraktur Guerin. daerah tulang hidung dan tulang ethmoid terus ke arcus zygomaticus. Menurut ARCHER Fraktur maksila cukup dibagi atas 2 golongan saja yaitu:  Fraktur dimana sebagian tulang maksila ataupun seluruh tulang maksila beserta beberapa gigi terpisah dari badan tulang maksila ( Le fort I )  Fraktur dimana seluruh tulang maksila bagian atas terpisah dari tulang – tulang dasar tengkorak sebagai suatu unit tunggal atau multiple. Menurut LE FORT : Fraktur Le fort adalah fraktur bilateral horizontal dari rahang atas dan dibagi menjadi 3 jenis Le fort fraktur. 4. palatum dan bagian bawah dari prosesus pterygoideus dan tulang sphenoid  Le fort II ( Pyramidal fracture ) 208 .

bagian bawah mata. Menurut IVY dan CURTIS: Fraktur maksila hanya mengenai prosesus alveolaris. Extensive comminuted fraktur. Menurut KILLEY. Menurut CLARK:  Fraktur pada prosesus alveolaris maksila 209 .  Le fort III ( Transverse facial fracture. maksilo frontal dan nasofrontal. Craniofacial disjunction ) Garis fraktur melalui sutura zygomatiko frontal.          Klas I : Fraktur pada kompleks zygomaticus Klas II : Fraktur pada kompleks nasalis Klas III : Fraktur Le Fort I Klas IV : Fraktur Le Fort II Klas V : Fraktur Le Fort III 6. 5. Fraktur pada muka mulai diatas akar gigi sampai palatum durum ( unilateral ) Fraktur terjadi horizontal dan bilateral yaitu diatas palatum dan dibawah orbita. suatu fraktur yang terjadi dibagian atas maksila disertai dengan fraktur pada tulang nasalis dan tulangtulang lain disekitarnya. pada fraktur ini maksila hanya terikat oleh jaringan lunak terhadap tulang-tulang dasar tengkorak. Berbentuk kerucut makanya disebut fraktur pyramid. Garis fraktur terus ketulang ethmoid dan sphenoid.Garis fraktur melalui tulang lakrimal. 7. Pembagian fraktur rahang atas ini berdasarkan lokasinya menjadi 5 macam. melalui dasar mata berjalan terus kebagian bawah sesuai dengan dinding lateral dari maksila melalui pterygoid plate terus ke fossa pterygomaxilla.

garis fraktur melintas secara horizontal pada kedua antrum dan cavum nasalis. yaitu fraktur dengan beberapa gigi pada tiap fragmen tulangnya Complete fracture. Transverse facial fracture. garis fraktur melintas pada kedua orbita dan bagian atas cavum nasalis. Menurut MEAD : Membagi fraktur maksila berdasarkan lokasinya menjadi 3 macam:    Partial fracture. 1. Partial or complete fracture pada kasus yang edentulous. 9. Pyramidal fracture 3. Pada fraktur seperti ini dapat berupa . Menurut ERICH dan AUSTIN :    Horizon fraktur.   Fraktur dimana setengah bagian dari tulang maksila dipisahkan dari cranium Seluruh tulang maksilla dipisahkan dari karnium disebut juga Floating Maksila karena maksila seperti terapung terlepas dari cranium. Punch type fracture disebabkan karena tembakan sehingga terjadi luka pada tulang yang bergerigi terjadi pada satu atau lebih tulang yang tipis. Pyramidal fraktur. 8. 210 . garis fraktur melintas pada kedua orbita dan hidung Transverse facial fracture. Transverse fracture 2.

nasal dan zygomatik. sedangkan garis fraktur sendiri berjalan vertikal atau disebut juga fraktur Unilateral. 2. Horizontal Frakture. belakang tuberositas maksilaris. Fraktur Le Fort I Fraktur ini disebut juga Fraktur Guerin. Vertical fracture yaitu fraktur pada rahang atas yang meliputi palatum durum. Tranverse Maksila Frakture. Karena tarikan baik dari otot pterigoid eksternal dan internal. Pada fraktur ini. Septum nasal dapat terjadi fraktur. Floating Maksila. dan kartilago nasal mungkin terkena. dan melewati pteriogoid junction. Dapat terlihat arah frontal dari maksila yang melibatkan struktur maksila dari plat pterygoid.1 Fraktur Le Fort I merupakan hasil benturan yang terjadi diatas level gigi. Fraktur pada prosesus alveolaris. 3. Low Level Fracture. Tipe ini dapat melibatkan maksila secara tersendiri dan terpisah dari struktur lain dengan diikuti terputusnya sutura palatina atau fragment maksila. berjalan sepanjang dinding antral lateral.Dari beberapa pendapat para ahli tersebut dapatlah disimpulkan bahwa pada prinsipnya fraktur maksila dapat dibagi menjadi : 1. Yaitu fraktu yang terjadi pada tulang maksila yang meliputi daerah alveolranya saja tanpa melibatkan tulang pendukung yang lain dan tanpa diikuti terputusnya hubungan tulang maksila dengan tulang nasal atau basis cranial. maksila dapat berada pada posisi posterior dan inferior. biasanya tampak open bite klasik. Fraktur yang terjadi mulai dari batas lateral sinus pirimormis.2 211 .

Fraktur Le Fort II. melalui tulang lakrimalis.Gambar 4. Fraktur Le Fort II Fraktur piramidal/subzigomatik yang menyebabkan terpisahnya wajah tengah pusat dari kompleks orbitozigomatikus. Fraktur terjadi sepanjang sutura nasofrontalis. Fraktur le fort I. 1 212 . dan melewati garis infraorbita pada area sutura zigomatikomaksilaris. 1 4. 3 Fraktur Le Fort II terjadi akibat benturan yang didapat pada level tulang nasal.2 .Gambar 3.

Gambar 5. PEMERIKSAAN DAN GEJALA KLINIS 1.5. Jejas pada kepala dan leher seringkali melibatkan jalan nafas dan pembuluh utama. maxillo frontal dan nasofrontal. zygomaticus dan maksila dari basis cranial atau disebut juga pamisahan craniofasial. Craniofacial disjunction. Garis fraktur terus ke tulang ethmoid dan sphenoid. Dimana garis fraktur melalui sutura zygomatiko frontal. dihasilkan oleh suatu tekanan yang besar pada level superior yang dapat memisahkan naso orbital eithmoid komplek. Setiap 213 . Fraktur Le Fort III Fraktur pada daerah ini disebut juga supra zygomatic fraktur.1 V. Fraktur Le Fort III. Pada fraktur ini maxilla hanya terikat oleh jaringan lunak terhadap tulang-tulang dasar tengkorak. oleh karena itu resusitasi ABC harus dilakukan secara ketat pada tahap awal pemeriksaan dan penatalaksanaan pasien dengan fraktur maksilofasial. 1 Sedangkan menurut Le fort fraktur ini disebut juga Transverse facial fracture. Pemeriksaan Awal / Primary Survey Evaluasi awal dan penatalaksanaan yang menyeluruh seringkali menentukan apakah pasien mampu bertahan dari trauma mereka.

Pada penderita yang dapat berbicara. fraktur tulang wajah. Bila alat imobilisasi ini harus dibuka untuk sementara. fleksi atau rotasi dari leher. dapat dianggap bahwa jalan nafas bersih. Selama pemeriksaan awal. 214 . fraktur mandibula atau maksila. Inspeksi dan palpasi dapat memperlihatkan kelainan dinding dada yang mungkin menggangu ventilasi. harus diperhatikan bahwa tidak bleh melakukan ekstensi. Kecurigaan adanya kelainan vertebra servikalis didasarkan riwayat perlukaan. perhatian pertama harus ditujukan langsung pada evaluasi menyeluruh. fraktur laring atau trakea. Pasien dengan jejas pada wajah sebaiknya diperkirakan memiliki jejas lain yang berhubungan. Perkusi dilakukan untuk menilai adanya udara atau darah dalam rongga pleura. 5 A. Dada pasien harus dibuka untuk melihat ekspansi pernafasan. tergantung dari insidensi trauma. dinding dada dan diafragma. Usaha untuk membebaskan airway. maka untuk kepala harus dilakukan imobilisasi manual. Hal ini dapat dimulai dengan melakukan chin lift atau jaw thrust. jejas yang membahayakan hidup dan kondisi medis sistemik harus dievaluasi secara tepat. Selama memeriksa dan memperbaiki airway. Breathing (Pernafasan) Ventilasi yang baik meliputi fungsi yang baik dari paru. Alat imobilisasi ini harus dipakai dipakai sampai kemungkinan fraktur servikal dapat disingkirkan.pasien yang datang dengan jejas trauma. Dalam keadaan kecurigaan fraktur servikal fraktur servikal harus dipakai alat imobilisasi. Airway (Jalan Nafas) Yang harus dinilai adalah kelancaran jalan nafas. harus melindungi vertebra servikal. Ini meliputi pemeriksaan adanya obstruksi jalan nafas yang dapat disebabkan oleh benda asing. B.. walaupun demikian penilaian ulang terhadap airway tetap harus dilakukan. Auskultasi dilakukan untuk memastikan masuknya udara ke dalam paru.

6 Skor 1 2 3 4 5 Mata (E) Respon (-) Terbuka karena rangsang sakit Terbuka bila diminta Terbuka spontan Verbal (V) Respon (-) Tidak dipahami Tidak tepat Bingung Bercakap-cakap Motorik (M) Respon (-) Ekstensi Fleksi Gerakan tidak spesifik Menunjukkan tempat yg sakit Bisa melakukan perintah 6 - - E. sering dengan cara menggunting guna memeriksa dan evaluasi penderita. Perdarahan eksternal dihentikan dengan penekanan pada pada luka. Exposure environmental control Penderita harus dibuka keseluruhan pakaiannya. D. Setelah pakaian dibuka 215 . Disability Menjelang akhir primary survey dilakukan evaluasi terhadap keadaan neurologis secara cepat. Tabel 1. Banyak pasien yang mengalami injuri fasial mengalami hilang kesadaran. Tourniquet sebaiknya jangan dipakai karena merusak jaringan dan menyebabkan iskemia. Circulation (Sirkulasi) Perdarahan luar harus dikelola pada primary survey. GCS) untuk evaluasi cedera kepala.C. walaupun hanya pingsan dalam waktu yang singkat. Skala koma dari Glasgow (Glasgow Coma Scale. Kesemua pasien ini. harus diperiksa secara keseluruhan dengan Skala Koma Glagow (GCS) dan dikonsulkan ke bagian bedah syaraf.

Langkah pertama yaitu memastikan pasien memiliki jalan nafas yang baik serta ventilasi yang adekuat. Selama pemeriksaan awal. sebaiknya dilakukan sesegera mungkin. dan tekanan darah sebaiknya diperiksa dan dicatat.harus dipakaikan selimut hangat. Bagaimanapun. namun dalam prakteknya hal-hal diatas sering dilakukan berbarengan. dapatkan riwayat selengkap mungkin. seperti lidah atau daerah leher atas. Leher harus diimobilisasi sementara hingga jejas pada leher dikatakan baik . Pemeriksaan Riwayat Penyakit Setelah pasien stabil. dan stabilisasi pasien. Pada pasien trauma dengan obstruksi jalan nafas atas komplit.1 Jejas pada daerah wajah tidak hanya melibatkan tulang wajah tapi juga jaringan lunak.1 Selama primary survey. Benturan yang cukup berat yang dapat menyebabkan fraktur pada tulang wajah biasanya tersalurkan ke spina servikalis. nadi. sebaiknya diperiksa.1 Perawatan terhadap jejas kepala dan leher biasanya dilakukan setelah didapat evaluasi menyeluruh. beberapa perawatan awal seringkali penting untuk kestabilan pasien. Seringkali. Pemeriksaan Riwayat dan Klinis a. Tanda klinis. termasuk respirasi. Riwayat ini sebaiknya diperoleh dari pasien. atau dapat berhubungan dengan jejas seperti fraktur laring. seperti perdarahan eksesif. keadaan yang mengancam nyawa harus dikenali dan resusitasinya harus dilakukan pada saat itu juga. perlu dilakukan trakheostomi untuk memberikan jalan nafas yang adekuat. fraktur pada tulang wajah yang berat dapat mengurangi kemampuan pasien dalam menjaga jalan nafas. Penanganan awal. pemeriksaan. 7 2. Selanjutnya pemeriksaan status nerologis pasien dan evaluasi spina servikalis pasien. Penyajian primary survey diatas adalah dalam bentuk berurutan sesuai dengan prioritas dan agar lebih jelas. krikotirotomi merupakan cara paling cepat untuk mengakses trakea. masalah lain yang dapat mengancam kehidupan. ruangan cukup hangat dan diberikan cairan intravena yang sudah dihangatkan. Pada beberapa kasus. tetapi karena kehilangan kesadaran atau status 216 . seperti gigit tampon.

amnesia merupakan hambatan yang sering terjadi dalam menjalin komunikasi dengan pasien. termasuk mengenai alergi. Tanggal. dan imunisasi tetanus terdahulu. Sejumlah faktor bisa membuat pemeriksaan klinis menjadi sulit. Adanya tanda-tanda kecanduan alkohol dan obat-obatan. waktu.1 Mendapatkan riwayat yang adekuat dari korban trauma adalah sulit. termasuk kehadiran edema fasial. atau sebagai penumpang. Apabila cedera disebabkan oleh kecelakaan mobil. maksila yang tumpang tindih atau bahkan pasien yang tidak sadar atau tidak kooperatif. 3. perubahan visual. pengobatan. syok. Keadaan tidak sadar (koma). informasi harus diperoleh dari anggota lain yang mendampingi. karena biasanya mereka tidak mampu memberi respon dengan baik. tempat kejadian dan peristiwa khusus dicatat. termasuk jenis benda yang berkontak. dan maloklusi? Informasi lengkap. Lima pertanyaan penting yang sebaiknya dipertimbangkan: 1. Bagaimana kejadiannya terjadi? Kapan kejadiannya terjadi? Apakah spesifikasi jejasnya. alergi dan tanggal imunisasi tetanus juga dicatat. termasuk nyeri. Apakah terjadi penurunan kesadaran? Gejala apa yang sekarang sedang dirasakan oleh pasien. apakah si korban yang menyetir.6 b. 3 217 . dll. perubahan sensasi. 2. apakah korban memakai sabuk pengaman? Apakah pasien merupakan korban tindak kejahatan dengan senjata tertentu? Apakah pasien jatuh/tidak sadar? Kondisi medis resiko tinggi. temannya. pertimbangan logistik? 4. polisi atau pekerja pada unit gawat darurat. 5.nerologi. Pemeriksaan Klinis Fraktur midfasial biasanya didiagnosa secara klinis dan dikuatkan dengan pemeriksaan radiologis. Informasi mengenai waktu makan dan minum yang terakhir sangat penting apabila akan dilakukan anestesi umum. epistaksis. dicatat karena tingkat kesadaran dipengaruhi oleh obat-obatan tersebut. Sumber terbaik yang dapat digunakan adalah keluarga dekat yang menemaninya. kondisi medis.

Lengkung zigomatikus dipalpasi lalu ke tulang nasal. abrasi. Vestibulum bukalis dipalpasi dengan jari telunjuk.2 Tulang wajah dipalpasi untuk mengetahui adanya diskontinuitas tulang. Fasial dan midfasial sebaiknya dipalpasi untuk melihat adanya gap pada dahi. kepala pasien harus distabilkan dengan menggunakan satu tangan menekan dahi. Jika diduga terdapat cairan serebrospinal. Pertama kita lakukan pemeriksaan rima orbitalis. Oklusi dievaluasi. yang dapat mengobstruksi pergerakan prosesus koronoid ke depan. Asimetri area wajah perlu dicatat. memegang maksila. hidung maupun telinga sebaiknya tidak ditutup tampon. karena dapat menyebabkan infeksi retrograde yang menyebabkan meningitis. Evaluasi midfasial dimulai dengan penilaian mobiliti maksila. Area ekimosis harus dievaluasi secara hati-hati. rima orbita. kontusio. dimana apabila terdapat edema yang cukup besar dapat membuat pemeriksaan menjadi sulit. digoyang dengan hati-hati untuk melihat adanya mobiliti pada maksila. nasal atau zygoma. Wajah dan kranii harus diinspeksi secara hati-hati terhadap kemungkinan trauma termasuk laserasi. Pemeriksaan Ekstraoral Pemeriksaan pada area fasial harus dilakukan dalam teknik yang terorganisir dan berkelanjutan. Untuk menilai mobiliti pada maksila.2 218 .1. sendiri ataupun kombinasi dengan zygoma atau os nasal. edema ataupun hematom dan kemungkinan cacat pada kontur. Pemeriksaan berakhir dengan pemeriksaan maksila dan mandibula. Pemeriksaan sebaiknya dilakukan secara bimanual dan disiplin. Terdapatnya krepitasi dan pergeseran dinding antral lateral dan zigoma dapat mudah didapatkan dengan teknik ini. faktor ini berpengaruh besar terhadap metode perawatan. Dengan menggunakan jempol dan jari telunjuk dari tangan yang lain. dan cairan yang keluar baik dari hidung maupun telinga diasumsikan sebagai cairan serebrospinal hingga terbukti bukan itu. Wajah dievaluasi terhadap kemungkinan terdapatnya laserasi dan depresi tulang yang jelas. lalu berlanjut ke bawah untuk meliputi rima lateral dan infraorbitalis. 1 Pembukaan mandibula dievaluasi baik untuk fraktur lengkung zigoma maupun zigoma yang terdisposisi ke lateral. keadaan dan kualitas gigi perlu dicatat.

Faring diperiksa untuk laserasi atau perdarahan retrofaringeal. merupakan gambaran umum pada fraktur maksila. Kadang timbul parestesi daerah pipi karena trauma pada nervus infraorbita. Pasien sebaiknya ditanya mengenai keluarnya cairan rasa metal dan asin. Terdapat hematom pada sulcus bukalis rahang atas posterior. Keadaan ini disebut sebagai deformitas dish face atau pan face.8 Pada Le Fort II. yang merupakan indikasi terdapatnya drainase cairan serebrospinal.Daerah ekimosis.7 219 . tanda dan gejala yang dapat kita temukan adalah adanya oedem wajah dan terjadi retrusi mid fasial yang menyebabkan wajah terlihat datar. Segmen maksila bergeser ke posterior dan inferior. Gambar 6. terutama pada palatum. Ekimosis subkonjungtival Gambar 7. karena garis fraktur melewati tulang zygoma. hal ini akan menyebabkan kontak prematur gigi molar dan open bite anterior. Ekimosis sirkumorbital bilateral (racoon eyes). Terjadi haemoragi subkonjunctiva dan diplopia.

gigi geligi. Pemeriksaan Intraoral Pemeriksaan intra oral dapat melihat keadaan oklusi. Gangguan pada pergerakan ekstraokular atau enopthalmos menandakan adanya suatu blow out pada dasar orbita. Gangguan pada oklusi dapat melokalisir adanya fraktur. masalah pada retina ataupun masalah neurologic lainnya. Pergerakan abnormal pada tulang dapat didiagnosa dan jika terjadi maka akan diikuti oleh sakit dan krepitasi akibat dari ujung tulang yang keras bergesekan satu sama lain. Le fort III berhubungan dengan adanya cedera pada zygomatikus. Selama pemeriksaan mata dan tulang orbita. dinding sinus maksilaris anterior. serta jarak intercanthal. Perubahan penglihatan menandakan adanya gangguan pada persyarafan mata. Dalam hal kerusakan yang parah pada mata dan tulang orbita dapat dikonsultasikan kepada opthalmologis.Gambar 8. Tidak seperti fraktur Le fort II. Palpasi intra oral dengan jari pada maksila dapat memberikan informasi tentang integritas dinding nasomaksilaris. Hilangnya fungsi pada rahang merupakan hal biasa sebagai akibat dari trismus atau sakit. penglihatan. Peningkatan jarak interchantal menandakan adanya perubahan pada tulang frontomaksilaris atau tulang lacrimalis ataupun adanya avulsi dari ligamentum canthal medialis . pergerakan ektra ocular dan posisi bola mata. 2. dapat dilihat integritas dari lingkar orbita dan dasar orbita. dan dinding zigomatikomaksilaris. tetapi permeriksaan dapat menemukan adanya kehilangan kontinuitas tulang atau displacement.7 220 . Deformitas pada kontur tulang dapat tertutupi oleh pembengkakan. Openbite anterior. stabilitas alveolar ridge dan palatum serta jaringan lunak.

Tangan kiri juga dapat diletakkan pada os nasal untuk menilai mobiliti pada os nasal. Jika gerakan terdeteksi juga pada zigoma (B). maksila digoyang-goyangkan untuk menilai adanya mobiliti. Jika gerakan dapat dipalpasi pada jembatan nasal (A). Gigi anterior dipegang dan maksila dimanipulasi untuk memeriksa adanya pergerakan.3 Gambar 9. Metode palpasi wajah tengah pada fraktur Le Fort. maka terdapat adanya Le Fort II atau III. A. kontak prematur pada molar dan anterior open bite. Dahi difiksasi dengan tangan kiri. B.1 ` Gambar 10.Fraktur transversal pada Le Fort membuat muskulus pterygoid medial yang kuat menciptakan tarikan posteroinferior pada segmen yang bergerak menciptakan maloklusi klas III.5 Gambar 10 menunjukan metode palpasi wajah tengah pada fraktur Le Fort. Pemeriksaan mobiliti pada maksila. maka 221 .1 Gambar 9 menunjukan pemeriksaan mobiliti pada maksila.

4 Perbedaan klinis fraktur maksila: 1. Le fort II 222 .  Palpasi tulang alveolar pada jaringan pendukung akan terasa nyeri  Dapat dilihat dengan jelas pada foto roentgen dan sering adanya gambaran sinus yang berkabut serta gangguan kontinuitas yang bilateral dari dinding sinus maksila. kepala distabilisasi lalu prosesus dentoalveolar dimanipulsi sehingga adanya pergerakan segmen fraktur dapat dideteksi. maka kemungkinan terjadi fraktur Le Fort I. Pergerakan pada sutura nasofrontal menunjukkan kemungkinan terdapatnya fraktur Le Fort II atau III.6 2.terdapat fraktur III. Apabila tidak terdeteksi adanya gerakan pada daerah tersebut namun maksila mengapung.  Kecuali apabila segmen fraktur mengalami impaksi kearah posterior. Le fort I Manifestasi Klinis Le Fort I antara lain adalah:  Seluruh rahang atas dapat digerakan dengan mudah. Gambar 11 menunjukan saat melakukan pemeriksaan fraktur pada maksila. Pemeriksaan fraktur Le Fort II dan III dilakukan dengan cara satu tangan memegang puncak hidung sementara tangan lain memanipulasi maksila.5 Gambar 11. Saat melakukan pemeriksaan fraktur pada maksila.  Terjadinya kontak premature dari gigi posterior karena tulang maksila turun dan menimbulkan open bite yang klasik. kepala distabilisasi lalu prosesus dentoalveolar dimanipulsi sehingga adanya pergerakan segmen fraktur dapat dideteksi.

6 223 . hal ini berguna dalam rencana perawatan dan pertolongan nyawa pasien. 2. luka yang dihasilkan pun berfariasi. Suatu kelainan bentuk ini dapat dideteksi pada daerah rima infra orbital atau daerah sutura naso frontal. Trauma telecantus dapat terasa seperti halnya juga ephypora. sehingga frakmen yang pecah dari lantai orbita atau dinding media bisa terlihat dan ikut bergerak. Suatu maloklusi dapat terjadi bersamaan dengan open bite.Manifestasi klasik Le Fort II antara lain :     Oedema periorbital secara bilateral.posterior. Cara pendeteksian ini dapat dengan mengandalkan genggaman pada gigi anterior maksila dan menggerakannya arah anterior. Le fort III Manifestasi klinis Le Fort III antara lain :    Sering terlihat kebocoran cairan cerebrospinal akibat sobeknya meninge (selaput otak) Oedema yang hebat dan ecchymosis peri orbital terlihat bilateral karena terjadinya perdarahan subkonjungtiva dalam berbagai tingkat keparahan. Ada baiknya temuan ini dikomfirmasikan dengan CT coronal dan sagital scan.   Fraktur ini biasanya diikuti dengan fraktur zygoma. diikuti dengan ecchymosis yang memberikan kesan seperti raccoon sign (menyerupai kucing). 2. Hipoesthesia dari nervus infra orbital juga ditemukan. kondisi ini muncul karena perkembangan odema yang sangat cepat.  Dari gambaran foto roentgen dapat terlihat pemisahan atau pergeseran pada sutura zygomaticomaksilaris serta terputusnya kontinuitas rima orbital inferior didekat sutura tersebut. dan naso orbita eithmoid. Pada waktu dilakukan tes mobilitas dari maksila akan memperlihatkan pergerakan dari seluruh bagian atas wajah.6 5.

Pemeriksaan Radiologis Setelah dilakukan pemeriksaan klinis pada area fasial dan keadaan pasien stabil. lateral dan foto submentovertex. Jika pasien tidak dapat tengkurap. scheidel anteroposterior. minimal foto Water’s. Evaluasi pada fraktur midfasial secara umum ditambahkan dengan gambaran radiografik.2 Gambar 13. Lengkung zigoma paling bagus digambarkan pada foto submentovertex.Gambar 12. pemeriksaan radiologi harus dilakukan untuk memberikan tambahan informasi tentang trauma fasial. Foto Towne’s sangat bermanfaat dalam menggambarkan lengkung zigomatikus dan rami mandibula. Gambaran Klinis Fraktur Le Fort III VI. dapat menggunakan reverse Water’s (frontoosipital). Water’s view memperlihatkan gambaran fraktur Le Fort II yang membentuk segmen fraktur bentuk Piramid. Kekurangannya yaitu bertambahnya jarak antara tulang wajah ke film. Foto Water’s memperlihatkan antrum hampir jelas. Foto lateral skull berguna dalam menggambarkan kehadiran cairan pada sinus paranasal dan udara intrakranial.8 224 .

Gambar 14. Foto water’s lateral menunjukkan fraktur Le Fort II4

Scan yang diambil secara baik dan hasil tepat, dapat menjadi alat diagnostik radiologi tunggal, tanpa foto lain. CT scan juga menggambarkan terdapatnya edema dan kehadiran benda asing yang sering terlewat pada foto konvensional.

Gambar 15. CT scan axial menunjukkan fraktur Le Fort II

Gambar 16. Gambaran 3D fraktur Le Fort II.

VII.

PERAWATAN FRAKTUR

A. Tujuan perawatan Apabila stuktur wajah terkena trauma yang menyebabkan fraktur maksila maka tujuan utama perawatan meliputi: 1. Penyembuhan tulang yang cepat.

225

2. Pengembalian penglihatan yang normal dan sempurna. 3. Kembalinya fungsi hidung untuk bernafas dan penciuman. 4. Kembalinya ruang bicara yang sempurna. 5. Hasil yang baik secara estetik baik dari gigi dan wajah seperti yang diinginkan. Selama perawatan diusahakan meminimalkan hal-hal yang merugikan pasien, seperti pemberian nutrisi, mengurangi rasa sakit dan ketidaknyamanan pasien serta kerusakan yang minimal jika memungkinkan. 1

B. Prinsip perawatan Untuk mencapai hal ini maka prinsip bedah hendaknya mengikuti aturan berikut ini Prinsip perawatan fraktur maksila: 1. Debridement yaitu membersihkan sisi fraktur meticulous. 2. Reduction yaitu mensejajarkan ujung tulang yang patah. 3. Fixation yaitu menstabilkan fraktur tulang, setelah selesai prosedur diatas, baru-baru ini digunakan mini plat tulang dan scrub ( rigid internal fixation ). 4. Imobilisasi yaitu pengikatan Fraktur pada bagian sendi, dicapainya dengan wiring sendi secara bersamaan selama 4-6 minggu dengan penyebaran yang luas menggunakan fixasi interna yang kuat, bagaimanapun prosedur ini sangat cepat dalam membantu penyembuhan. 5. Rehabilitasion yaitu mengistirahatkan total dari region yang terkena trauma seperti perlekatan kembali secara prostetik dari gigi geligi yang hilang akibat trauma dan injury.

C. Metode perawatan Perawatan fraktur maksila dapat dilakukan dengan metode terbuka maupun metode tertutup tergantung dari berat dan ringannya kasus, namun untuk fraktur maksila yang meliputi le fort I, II, III atau yang diikuti kelainan oklusi harus dilakukan dengan metode terbuka.9,2,6

226

1.

Reduksi tertutup ( close red )

Metode ini dilakukan tanpa melakukan insisi untuk mereduksi kembali bagian tulang yang fraktur seperti pada frakmen fraktur ini bergerak, biasanya gigi geligi yang terdapat pada sekmen fraktur mengalami kegoyahan . Pada kasus ini dibutuhkan tekanan berulang (digital) untuk mereduksi tulang yang patah. Pada kasus fraktur unilateral maksila atau terpisahnya sisi kanan dan kiri palatum pada sutura palatine, maka digunakan alat Rowe Disimpaction forceps atau Hayton-Williams forcep untuk mereduksi kembali kedua sisi palatum tersebut. Arch bar dipasang pada lengkung maksila dan mandibula. Gigi yang goyah diikat dengan kawat (wiring) kearch bar maksila, sedangkan gigi yang terdapat pada segment yang tidak fraktur dilindungi dengan fiksasi intermaksila. Kemudian fiksasi dilanjutkan kedaerah fraktur yang telah direduksi tadi. Fiksasi dibiarkan selama 4 sampai 6 minggu didalam mulut pasient dan pasien diberikan diet lunak selama fiksasi. Indikasi dilakukannya metode tertutup pada fraktur maksila adalah:  Dimana pada pemeriksaan klinis dan radiografis tidak memperlihatkan gambaran perobahan letak pada kedua segmen fraktur atau segmen frakturnya terletak pada variable yang stabil dari tekanan otot-otot mastikasi.( Undisplasment fracture )  Pada pasien yang edentulous (tidak bergigi) dan fraktur maksila secara radiology memperlihatkan perobahan letak yang minimal dan letak garis fraktur kemudian menjadi stabil oleh otot-otot pengunyahan. Maka union tulang pada fraktur ini dapat menjadi penghubung yang baik.  Pasien dengan fraktur yang menimbulakan kerusakan pada otak dan tidak adanya rangsangan untuk bangun, maka metode terbuka untuk sementara merupakan kontra indikasi. 2 Reduksi terbuka (open red) Metode ini lebih baik untuk kasus fraktur maksila khususnya yang komplek. Dengan metode ini dapat dicapai immobilisasi fraktur yang sempurna

227

dan fiksasi yang kuat dan rigid. Metode ini dimulai dengan tahapan sebagai berikut: 1. Pembukaan flap dengan insisi vestibular secara bilateral. 2. Sisi fraktur disingkapkan dengan meretraksi flap tadi 3. Dilakukan pembersihan segment pada garis fraktur. 4. Dilakukan perlekatan kembali kontunuitas tulang yang terputus. 5. Fiksasi garis fraktur dengan wiring atau mini dan mikro plat serta bautnya. 6. Tutup daerah operasi dengan mengembalikan flap pada posisi awal dan dijahit 7. Fiksasi inter maksila selama 4 minngu (masa penyembuhan) 8. Pasien diberikan diet lunak selama fiksasi dengan kandungan gizi yang cukup. Indikasi dilakukannya metode fraktur terbuka adalah sebagai berikut:  Apabila metode tertutup gagal dilakukan  Fraktur dengan displacement yang kearah bawah dengan segala

komplikasinya seperti open bite klasik, elongasi fasial dana dish face.  Fraktur fasial kompleks dan multiple seperti Le fort I, II, III .  Fraktur dengan impaksi pada rahang bawah.  Fraktur yang memerlukan pemasangan miniplate dengan skrup untuk reduksi dan stabilitas segment fraktur.  Fraktur yang membutuhkan bone graft.

Mikroplate and screw osteosynthesis Pada abad ke dua puluh mulai diperkenalkannya pemakaian plat sederhana atau yang lebih dikenal dengan Mini plate and screw. Sistem kompensasi plat logam ini menggunakan lobang-lobang plat eksentrik dan skrup- skrup ( beberapa diantaranya ada yang menggunakan swa-ulir ) yang cocok untuk penatalaksanaan fraktur orofasial. Pada tahun –tahun terakhir perkembangan plat dan skrup mengalami revolusi menjadi Mikro plate yang lebih ringan yang terbuat dari titanium dan lebih bisa diterima oleh tubuh. Hal ini di kembangkan karena bentuk

228

dan jenis fraktur maksila yang berfariasi dan sangat komplek sekali.Bentuk dan ukurannyapun disesuaikan dengan anatomi tulang fasial. Beberapa keuntungan pemakaian mikro plat ini adalah: 2,6              Kestabilan yang rigid pada fiksasi anatomi dari bagian –bagian fraktur. Dapat meniadakan pemakaian IMF ( intermaksilari fiksasi ). Mempercepat penyembuhan dan memperpendek durasi perawatan.

Indikasi dilakukannya pemasangan mikro plate pada fraktur maksila adalah: Apabila fiksasi maksilo mandibula sulit dilakukan. Untuk perawatan kasus yang penyembuhannya lama dan pseudoartrosis. Fiksasi pada graft tulang. Fraktur kompleks dan multiple dari Le fort I, II, III. Fraktur maksila pada pasien edentulous dengan displasment

Aplikasi mikor plate dan skrup: Pemaparan perkutan atau peroral dan kemudian dilakukan reduksi fraktur. Lakukan adaptasi dan stabilisasi mikro plat dan pembuatan lobang untuk skrup pada tulang denga bur tulang. Lobang bur dicocokan sampai sesuai dengan besar srkupnya. Skrup dipasang menurut dataran lubang pada plate untuk mendapatkan kompresi. 1-3 skrup diinsersikan pada sisi fraktur

Fiksasi dan Imobilisasi fraktur maksila Ada beberapa macam alat untuk Immobilisasi fraktur maxilla yang mana pada dasarnya menggunakan prinsip berikut ini:6 A. Fiksasi Intramaksila dan Intermaksila. 1. Hanya rahang atas saja yang dipasangkan alat fiksasi misalnya, dengan memakai arch bar dari Erich. Contoh pada kasus fraktur sebagian kecil dari prosesus alveolaris rahang atas (Intramaksila). 2. Pemasangan alat fiksasi pada gigi-geligi di maksila dan mandibula, kemudian pada kedua rahang ini dipasang rubber elastic band melalui

229

kaitan atau hock pada acrh bar yang digunakan. Elastik hanya dipakai pada gigi-geligi yang tidak mengalami fraktur rahang (berguna untuk fraktur unilateral atau segmental ) sehingga tulang alveolar yang mengalami fraktur akan terdorong keatas oleh tekanan gigi-geligi dirahang atas dan rahang bawah (Intermaksila).

Gambar 17. Arch bar dan fiksasi intermaksilaris. 4

B. Fiksasi Internal Teknik ini ditemukan oleh Adam yang mana diindikasikan pada fraktur horizontal yang sederhana dengan tidak terlibatnya tulang orbita. Teknik ini menggunakan kawat suspensi (stainless steel ukuran 0.018 atau 0,2 inchi, 0,45 atau 0,5mm) yang dimasukan (diikatkan) pada titik tertentu di tulang bagian superior. Bagian yang paling sering digunakan adalah Apertura piriformis, Spina nasalis, tonjolan Malar, Arcur zygomatikus, Prosesus zygomatikus ossis frotalis dan pinggiran tulang infra orbita. kemudian kawat menelusuri daerah fasial terus kebawah dan kemudian dihubungkan (diikatkan) pada arch bar yang telah dipasang pada gigi-geligi rahang atas (terhadap maksila) disebut fiksasi kraniomaksila. Sedangkan pada ikatan atau perlekatan kawat terhadap mandibula disebut fiksasi kraniomandibula. Gigi-geligi rahang atas dan rahang bawah dalam keadaan fiksasi Intermaksila (Transosseous wiring fixation). Apabila mandibula utuh atau karena perawatan bisa stabil, maka fiksasi kraniomandibula lebih dianjurkan dibanding perawatan fiksasi kraniomaksila, karena perlekatan ini memberikan hasil terbaik untuk mempertahankan posisi komponen maksila yang mengalami fraktur.

230

C. Fiksasi eksternal 1. Pesawat Cranio-Maxilla. Dimana digunakan suatu alat Head Appliances yang dihubungkan dengan alat lain yang dipasang pada maksila. Head appliances yaitu suatu alat yang dipasang pada kepala yang berfungsi sebagai penahan untuk fiksasi fraktur maksila dengan tulang cranial. Alat ini ada beberapa macam yang biasa digunakan yaitu:       Plaster of Paris head cap. Woodards appliance. Englands appliance. Bisnoffs head band. Crawford head frame. Crawford bloom head appliance

Pesawat Cranio Maxilla sendiri ada beberapa macam yaitu; a. Pesawat C-M yang menggunakan Kingsley splint yang dapat dihubungkan dengan berbagai macam splint yang diletakan pada gigi-gigi dirahang atas seperti:     Wire splint Cast metal splint Band orthodontic Pada pasien edentulous digunakan modifikasi dari kingsley sendiri. b. Pesawat C-M yang menggunakan Steinmann pin, dimana pin ini dimasukan kedalam tulang alveolar rahang atas yang mengalami fraktur melalui pipi lalu pin ini dihubungkan kembali kealat head appliance. c. Pesawat C-M yang menggunakan cranio fasial wire. Ditemukan oleh Erich, dimama kawat dihubungkan dengan arch bar yang telah dipasang sebelumnya pada rahang atas ( gigi-geligi ), kawat ini menembus pipi lalu dihubungkan denga head appliance. Pemakaian alat ini diindikasikan pada fraktur dengan tidak adanya perubahan tempat dari rahang (fragmen) dan mandibula dapat bergerak untuk berbicara dan makan (makanan lunak).
231

Pin ini lalu dihubungkan dengan pin yang telah dipasang pada corpus mandibula melalui suatu batang penghubung (rods) atau rubber elastic band. Pada metode ini gigi-geligi pada kedua rahang berada dalam keadaan oklusi dengan menggunakan Intermaksila wiring fixation dan eksternal traction. dibagian luar dihubungkan dengan Frac-sure link vertical rod dikedua sisi. 3. Pada kasus tidak bergigi digunakan Gunning splint yaitu suatu acrilik aplint yang digunakan sebagai alat fiksasi mandibula.2. Pesawat C-mand dengan menggunakan Traction bandage (head bandage). Frac-sure rods ini dihubungkan dengan head appliance c. Peasawat C-mand dengan menggunakan Steinmann-pin yang dimasukan kedalam corpus mandibula . Pesawat Cranio – Mandibula. b. Pesawat ini ditemukan oleh Gross. Pesawat C-mand dengan half pin hamper sama dengan Steinmann pin. Terdiri dari Barton bandage denagn elastic yang dilekatkan pada kedua sisi dengan menggunakan plaster. d. 232 . Ini untuk perawatan sementara dari fraktur rahang. Pesawat ini pun ada beberapa macam yaitu : a. Pesawat Malar-Mandibula fixation. juga digunakan Frac-sure rods dipakai sebagai penghubung dengan head appliance. yang mana dua buah pin dimasukan kedalam tulang pipi kiri dan kanan.

dan sisi lainnya pada palatum keras (gambar). Tahapan perawatan pada fraktur Le Fort: 1. perlu tenaga tambahan untuk melakukan reduksi sempurna. Perawatan Fraktur Le Fort I Perawatan fraktur maksila dapat dilakukan dengan metode terbuka maupun metode tertutup tergantung dari berat dan ringannya kasus. melakukan fiksasi intermaksilari selama sebulan. dapat ditempatkan ujung karet pada paruh tang. Fraktur impacted atau fraktur yang tidak mudah direduksi karena penyatuan dini oleh jaringan ikut (fibrous union) sebaiknya direduksi dengan menggunakan tang disimpaksi Rowe atau Hayton-Williams. III atau yang diikuti kelainan oklusi sebaiknya dilakukan dengan metode terbuka.2 Aturannya.Gambar 18. Fiksasi kraniomaksilar. II. Di atas 7 hingga 10 hari. Fraktur dr pergeseran minimal direduksi di diimobilisasi secara ideal dengan reduksi terbuka dan immobilisasi diperoleh dengan penempatan plat yang tepat. maksila ditarik ke depan dan ke bawah. Digunakan secara sepasang atau sendiri.7 C. diperlukan perpanjangan periode fiksasi hingga 6 minggu.2 233 . Paruh dari tang Rowe ditempatkan sepanjang dasar hidung. 1. namun untuk fraktur maksila yang meliputi le fort I. reduksi dini fraktur Le Fort I memberikan kesulitan minimal. Gunakan gerakan menekan atau memutar. Pada kasus fraktur remuk yang parah. Untuk melindungi mukosa hidung dan mukoperiosteum palatum. biasanya cukup untuk terjadi penyembuhan. Sebagai alternatif yang kurang ideal.

Gambar 19. Hal tersebut perlu dilakukan untuk mendapat stabilitas dan penyembuhan yang adekuat. Pada umumnya segmen maksila pyramidal yang bebas distabilisasi ke tulang zygoma yang intak. Pada fraktur Le Fort II dilakukan insisi pada sulkus bukalis. Hal ini dapat diperoleh dengan membuka regio sutura zigomatikomaksilaris baik dari rima inferior maupun intraoral. Fiksasi intermaksilari kemudian dilakukan untuk memperbaiki posisi anteroposterior fraktur. terdapat variasi pilihan untuk imobilisasi.2. atau dapat juga menggunakan daerah sutura nasofrontal. Minimal fiksasi tiga-titik atau mungkin empat-titik diperlukan.7 Setelah dilakukan reduksi pada fraktur. Penggunaan tang disimpaksi Rowe untuk mereduksi maksila. Perawatan dimulai dengan pemasangan IDW untuk mendapatkan oklusi.4 2. dapat dilakukan reduksi terbuka. Imobilisasi dilakukan minimal 4 minggu. Sebagai alternatif. Perawatan Fraktur Le Fort II Reduksi tertutup yang dilakukan pada fraktur Le Fort II mudah dilakukan dengan tang disimpaksi Rowe. pembukaan tambahan ke superior sering dibutuhkan untuk akses yang cukup dari orbital rim. Kombinasi yang diperlukan tergantung pada kebutuhan untuk 234 . Fiksasi dapat dilakukan dengan mini plate yang menjangkau penyangga zygomaticomaksilaris. Hal ini dapat dicapai dengan insisi subsiliary atau transkonjunctiva.

Pada gilirannya. reduksi dan imobilisasi zigomatikofrontal. open sky. atau flap kulit kepala bicoronal dapat digunakan untuk topangan tambahan pada tulang frontozigomatik. Insisi jaringan lunak dapat dilakukan di lokasi yang sama seperti untuk fraktur Le Fort II. serta reduksi yang tepat dari maksila ke wajah tengah inferior. Dapat dilakukan dengan bilateral Lynch. atau melalui laserasi yang sudah ada. kita menstabilisasi segmen tulang yang bergerak untuk stabilisasi mandibula dan tulang kranium. Insisi alis lateral. Penempatan plat pada daerah ini dapat memberikan kestabilan dan keamanan dalam arah superior posterior. Pada daerah lateral. 2 Dalam perawatan fraktur Le Fort III. Perawatan Fraktur Le Fort III Fraktur Le Fort III secara esensial merupakan kombinasi fraktur zigoma bilateral dan fraktur pada kompleks nasal-orbital-ethmoid (NOE). Awalnya. tetapi prinsip perawatannya identik dengan yang lain. atau keduanya. atau rekonstruksi rima inferior. Semua pendekatan ini dapat memberikan akses yang baik ke daerah sutura nasofrontalis. Flap bicoronal dapat diperpanjang untuk mencapai akses ke lengkung zigoma.2 Prinsip umum perawatan fraktur ini yaitu. 2 Pilihan lain dari perawatan pada fraktur Le Fort II yaitu imobilisasi sutura nasofrontal.mengeksplor dasar orbita. lipatan glabela. perikranium dapat diinsisi tepat di atas lengkung untuk menjaga suplai darah dari daerah supraorbital dan supratroklearis ke flap. dan sutura nasofrontal. kita melakukan diseksi superfisial dari fasia temporalis. Ketika flap dibuat pada area lengkung orbita. Dalam mencapai lengkung zigomatik. rahang atas harus dalam kondisi tidak terpendam (direposisi) dan MMF dilakukan. Terdapatnya jejas yang remuk dan parah bervariasi. oklusi yang baik harus didapatkan untuk mendapatkan posisi anteroposterior dan lateral wajah tengah. kita lakukan insisi fasia 235 . zigomatikotemporal. Flap bicoronal harus dirancang hati-hati untuk menghindari cedera pada cabang saraf wajah. 3. dan rekonstruksi regio nasofrontal karena daerah ini sering kali terjadi keremukan. atau insisi flap koronal.

Perawatan Post Operasi Untuk meminimalisir edema paska operasi. Gunakan sesedikit mungkin pelat untuk mencapai fiksasi. Sehubungan dengan tindakan fiksasi pada fraktur maksila. Jangan gunakan flap bicoronal dalam situasi dimana flap membutuhkan suplai arteri temporal. maka fiksasi dapat dilakukan. Namun. fiksasi langsung mungkin diperlukan. pelat berlebihan tidak diperlukan. Gunakan template lunak. tempatkan pemotong kawat di 236 . Fiksasi Miniplate saat ini merupakan tipe yang paling dapat diandalkan. Setelah ini dilakukan dan segmen fraktur terlihat. maka perlu diberikan antibiotik profilaksis terhadap organisme gram-positif dan anaerob selama 5-10 hari. dan muntah. Interoseus wiring dan suspension wiring digunakan pada fraktur Le Fort III. D. Patahan tulang kemudian dapat dikurangi dengan elevator kaku. pada daerah operasi. secara umum. Pada fraktur Le Fort III sejati. tetap dibutuhkan fiksasi tambahan (misalnya. masalah pada jalan nafas. Apabila daerah fraktur terbuka terhadap lingkungan eksternal atau terdapat komunikasi dengan intra oral atau ruang nasal.temporalis di atasnya. Jika terpendam atau comminuted. lakukan pembalutan kassa dengan tekanan ringan. Setelah pembedahan. observasi pasien selama semalam terhadap kemungkinan terjadinya perdarahan. dapat diangkat setelah 2-5 hari. nasofrontal. lengkung zigomatic). fiksasi zygomaticofrontal bilateral mungkin sudah cukup. Perluas bidang insisi ke dalam fasia sampai tulang zigoma yang fraktur. kurangi dan stabilkan setiap patahan tulang yang terlibat. lengkung inferior orbital. tetapi hasilnya tidak sebaik miniplate fiksasi karena vektor gaya untuk mempertahankan reduksi kurang akurat dan micromotion meningkat. Garis rambut yang terlalu mundur juga dapat menjadi bahan pertimbangan untuk menggunakan tipe insisi lain. nasomaxillary. Gunakan pelat yang menjangkau seluruh penopang utama. Jika pembalut tetap kering. Jika menggunakan fiksasi dengan kawat pada IMF. pelat pembentuk kontur yang akurat dan monocortical serta sekrup self-tapping.

Selama periode ini. Lepas kawat atau rubber band apabila pasien mulai merasa mual. Panorex dental views. Follow Up Lakukan evaluasi follow-up pada hari ke 5-7 (jahitan kulit dapat dilepas pada saat ini). IMF dapat dilepas. Pada umumnya. Terdapatnya Pergerakan minimal mungkin masih dapat diterima. serta teknik perawatan yang digunakan. Pengambilan foto post-operasi (misal. Pada pemeriksaan post-operasi. Follow-up jangka panjang mungkin dibutuhkan untuk memonitor terjadinya komplikasi postoperasi atau deformitas. instruksikan pasien mengenai cara melepas IMF apabila muntah. serial mandibula. CT scan) dapat membantu pada pasien yang dicurigai terjadi malunion. minggu ke 2-4. Tergantung pada umur dan kesehatan umum pasien. Sehingga IMF perlu dirawat selama periode ini. Tujuan paling penting selama periode awal post-operasi yaitu memelihara imobilisasi. Selain itu. keparahan dan displacement fraktur. MMF dapat dilepas lebih cepat pada fraktur yang diperbaiki dengan 237 . periode ini berkisar antara 4-8 minggu. facial series.dekat pasien setiap saat pada awal periode post-operasi untuk mengeluarkan muntah. pasien diberi tahu untuk membatasi diet yaitu bubur atau cairan. Apabila tulang wajah telah sembuh dengan baik dan didapat oklusi normal. Mobiliti vertikal yang minimal pada midfasial dapat pulih seiring dengan waktu. tapi mobilisasi berlebihan dapat mengindikasikan terjadinya penyembuhan yang buruk. Sebelum pulang. Pergerakan yang berlebihan mengindikasikan terlalu dininya melepas arch bar atau terdapatnya masalah penyatuan tulang. tekankan pasien untuk memelihara kebersihan mulut dengan rajin menyikat gigi dan arch bar dan berkumur dengan saline atau mouthwash antiseptik setiap pagi dan malam serta setiap habis makan. lakukan tes stabilitas tulang wajah dengan mempalpasi geligi rahang atas pasien saat menggigit dan merelaksasi otot pengunyahan. lalu minggu ke 3-8 untuk melepas IMF.10 E.

dan lebih lama pada fraktur yang diperbaiki dengan kawat interosseus atau suspensi.fiksasi miniplate.10 238 .

Infeksi 4. infraorbital 2. Epiphora 11. Reaksi benda asing 12. kondisi ini dapat terjadi sehubungan dengan ekstubasi. Enopthalmus 3. dan pembukaan fikasi intermaksilari dapat efektif menghilangkan 239 . Jaringan parut 13. Pasien dengan fiksasi intermaksilari dan gigi lengkap biasanya mengalami kesulitan pernafasan pada saat ini.BAB III KOMPLIKASI Beberapa komplikasi yang dapat terjadi akibat fraktur maksila dan penyembuhannya biasanya tidak tampak hingga beberapa minggu hingga bulan setelah terjadinya trauma. Reintubasi. Perubahan penglihatan 8. dan dengan edem berat jaringan lunak yang menghalangi pernafasan melalui jalan nafas nasal. Malunion atau maloklusi 10. Nonunion 9. Deviasi septum 6. dengan hematom septum atau nasal packing. Parestesi n. Komplikasi yang mungkin terjadi sehubungan dengan fraktur maksila antara lain:4 1. Bagaimanapun. Sinusitis Terjadinya obstruksi jalan nafas perioperatif dan postoperatif jarang terjadi pada fraktur maksila tunggal. Obstruksi nasal 7. Alat terekspos 5. tetapi potensi kemunculannya dapat diperkirakan selama evaluasi dan perawatan. pembukaan jalan nafas nasofaringeal.

dan menekannya fragmen tulang pada nervus optikus.4 Hemoragi post operatif dapat terjadi jika arteri dan vena tidak diligasi ketika memperbaiki laserasi. Fraktur pada dasar orbita yang tidak terdiagnosa atau ditangani dengan tidak adekuat (sendiri atau kombinasi dengan komponen zigoma) dapat menyebabkan terjadinya enopthalmus dan diplopia. maloklusi) atau pemeriksaan radiografi postoperatif. atau jika arteri sebagian terpotong. Hemoragi dari arteri utama harus segera ditangani. 4 Sinusitis akut dapat terjadi akibat tindakan intubasi trakheal yang berkepanjangan. fraktur maksila tersendiri. 4 Aneurisma dan pseudoaneurisma merupakan komplikasi trauma pada maksilofasial tetapi jarang terjadi akibat 240 . seringkali dengan mekanisme jejas yang lebih berat. hemoragi retrobulbar. Perlu dilakukan prosedur pembedahan kedua untuk memperbaiki komplikasi tersebut.4 Karena kedekatan maksila dengan orbita. karena fraktur dapat mengobstruksi duktus sinus atau ostia. apabila sumbernya tidak dapat diidentifikasi. dan maksila. jika terjadi aneurisma. maka perlu dilakukan arteriografi dan embolisasi. Kebutaan jarang terjadi sehubungan dengan fraktur midfasial dan paling sering terjadi pada pola fraktur yang melibatkan orbita. Laserasi sebaiknya diperiksa ulang sehingga hemoragi dapat dikontrol.gangguan jalan nafas. frontal. Pada perdarahan tulang sebaiknya dilakukan reduksi ulang atau menggunakan bone wax. jika reduksi tulang inadekuat dapat menyebabkan perdarahan berlanjut. sebaiknya didrainase. maka dapat terjadi komplikasi yang berhubungan dengan penglihatan. spasme arteri retinal. Hematom yang ada. Komplikasi ini dapat diidentifikasi melalui pemeriksaan klinis (misal. Sinusitis akut atau kronik dapat juga terjadi pada sinus ethmoid. 4 Komplikasi postoperatif lain yaitu salah penempatan segmen tulang atau alat fiksasi. Faktur pada septum nasal yang tidak diperbaiki dapat menyebabkan terjadinya obstruksi jalan nafas postoperatif yang akan tetap ada hingga semua pembengkakan jaringan lunak hilang. Kebutaan postoperatif imediet dapat merupakan komplikasi reduksi pada fraktur Le Fort III (atau fraktur yang melibatkan orbita) dan terjadi akibat peningkatan hemoragi atau tekanan intraorbital. sphenoid.

6. Perawatan dilakukan sesegera mungkin untuk mensegah terjadinya komplikasi seperti infekasi. Open bite klasik. 3. Mobilitas seluruh rahang atas atau setengah wajah yang menandakan lepasnya kontinuitas maksila dengan basis cranial. 7. Kehilangan kesadaran. pemeriksaan klinis dan didukung dengan pemeriksaan radiology demi tercapainya perawatan yang tepat pula. Dish face. 4. Immobilisasi segmen fraktur merupakan aspek perting untuk mencegah terjadinya kegagalan perlekatan (malunion ). 2. Perkembangan baru dengan memakai miniplate dan skrup untuk menghasilkan fiksasi dari reduksi fragmen yang rigid dengan mengurangi waktu perawatan dan mempercepat penyembuhan.tanda khas terjadinya fraktur Le fort I. malunion dan lain-lain. 5. Perawatan dengan memakai metode tertutup atau terbuka disesuaikan denga indikasinya masing-masing. Pengenalan tanda. 241 . III seperti: Elongasi fasial. II.BAB IV KESIMPULAN Dari penjabaran tentang fraktur maksila secara umum tadi dapatlah diambil kesimpulan bahwa: 1. Obstruksi jalan nafas dan Kebocoran cerebrospinal renorrhoe. Perhatikan komplikasi yang menyertai fraktur maksila seperti Perdarahan yang hebat. Sebaiknya klinisi membuat diagnosa yang tepat dengan memperhatikan anamnesa.

2008. Oral and Maxillofacial Surgery. Pedlar.Dallas: Saunders. Ellis. S. 2005. Peterson. Maxillary and Le Fort Fractures Treatment & Management. 2.. 5th ed.W. St. http://www. 3. Oral and Maxillofacial Trauma vol.J. Assesment of Patients with Facial Fractures.2. McDonald. 2004. K. St.W. Louis: Elsevier. Miami: Marcel Dekker. Moore. Principles of Oral and Maxillofacial Surgery.com/article/1283568- 242 . Hamilton: BC Decker Inc. W. 2004. Hupp. Inc. 7.uk/ibls/US/cal/anatomy/trauma/maxillaclinfeat. http://emedicine. Moe. Buku Ajar Praktis Bedah Mulut. Contemporary Oral and Maxillofacial Surgery. 4. treatment#a1135. 2009. 1996. Principles of Oral and Maxillofacial Surgery.gla.S. Facial Trauma. J and Frame J. 6. 2000.S. Thaller.medscape.htm 9.DAFTAR PUSTAKA 1.ac. 10. Fonseca. G. 2001. Louis: Mosby. 5. 2nd ed. Edinburg: Curchill Livingstone. Pedersen. James R. 8. Edward.R. Jakarta: EGC. U. 5th ed. 2001. Oxford: Blackwell-Science.

Reduksi.FRAKTUR KOMPLEKS ZYGOMA Leidya Valentina Elizabeth 160121120009 Peserta Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut Dan Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Bandung Abstrak Trauma akan menimbulkan jejas baik pada jaringan lunak maupun pada jaringan keras. Insiden yang tinggi ini kemungkinan disebabkan oleh posisi zygoma yang prominen terhadap tulang wajah2. dan imobilisasi. gambaran radiografi. Jejas yang mengenai jaringan keras dapat merupakan suatu fraktur tulang. perawatan serta komplikasi yang dapat terjadi pada fraktur komplek zygoma. Namun karena strukturnya yang kompleks tentu saja penatalaksanaannya pun lebih rumit. dan berada pada urutan kedua setelah fraktur nasal. Fraktur zygoma merupakan cedera wajah yang sering terjadi. fiksasi. Maksud dari penulisan makalah ini adalah untuk memberikan gambaran mengenai gejala klinis. Penatalaksanaan fraktur zygoma pada dasarnya sama dengan penatalaksanaan fraktur maksilofasial lainnya yaitu meliputi reduksi. di antaranya fraktur zygoma4. Kata kunci : Fraktur Kompleks Zygoma. Fiksasi 243 .

etiologi. Fraktur midfasial cenderung terjadi pada sisi benturan dan bagian yang lemah seperti sutura. tergantung pada status sosial. Tulang zygoma memegang peranan penting dalam menentukan lebar wajah dan juga berperan sebagai major buttress (tulang dengan struktur yang tebal. tetapi adanya penonjolan tulang membuat tulang ini juga dapat mengalami fraktur jika mendapatkan trauma yang hebat yang dapat terjadi karena pukulan atau akibat kecelakaan kendaraan bermotor. Tulang zygoma mempunyai permukaan luar yang cembung dan kasar. foramen. Beberapa literatur mengatakan bahwa puncak insidensi dari trauma terjadi antara dekade kedua dan ketiga dari kehidupan. zygoma dan komplek nasoorbital ethmoid. Tulang zygoma mempunyai struktur yang kuat.BAB I PENDAHULUAN Trauma pada wajah midfasial dapat menyebabkan fraktur yang melibatkan maksila. dan seringkali fraktur midfasial melibatkan tulang zygoma. serta membentuk penonjolan pada pipi kiri dan kanan (penonjolan malar). Dalam beberapa penelitian. dan aperture. Insidensi. pendidikan dan politik dari suatu populasi yang diteliti. penyebab fraktur tulang zigoma adalah kekerasan dimana pada sisi yang lain kecelakaan kendaraan bermotor juga merupakan penyebab yang sering terjadi. yang menopang proporsi kraniofasial dalam ukuran tinggi. predileksi umur dan jenis kelamin dari trauma zygoma bervariasi. Dari kebanyakan penelitian menunjukkan bahwa wanita lebih banyak terkena dari pada pria dengan rasio 4 : 1. yaitu antara maksila dan cranium3. Etiologi dari terjadinya fraktur juga dipengaruhi oleh keadaan suatu populasi penduduk dimana pada penelitian terdahulu terlihat bahwa 244 . ekonomi. Tergantung dari mekanisme injuri. lebar dan anteroposterior) pada struktur wajah tengah.

mencapai susunan wajah dan gigi-geligi yang memenuhi estetis serta memperbaiki oklusi dan mengurangi rasa sakit akibat adanya mobilitas segmen tulang. Selain karena tindak kekerasan dan kecelakaan lalu lintas. kecelakaan pabrik. benturan sewaktu olahraga. 245 . hal ini sekaligus mengindikasikan bahwa fraktur zygoma akibat kecelakaan kendaraan bermotor lebih parah jika dibandingkan dengan kasus serupa yang terjadi akibat kekerasan. diperkirakan hanya terjadi sebanyak 4% dari 4067 kasus fraktur zygoma dalam sepuluh tahun yang dilaporkan oleh Ellis dan kawan-kawan. fungsi hidung. perbaikan fungsi bicara. tulang zygoma kiri adalah yang banyak terkena. Fraktur zygoma bilateral jarang terjadi. Keadaan ini berbeda dengan keadaan fraktur zygoma yang disebabkan karena kecelakaan kendaraan bermotor. etiologi dari fraktur zygoma juga dapat disebabkan karena terjatuh. dan mereka juga menemukan bahwa fraktur bilateral hanya terdapat pada kasus kecelakaan. luka tembakan atau berupa fraktur patologis. Tujuan utama perawatan fraktur fasial adalah rehabilitasi penderita secara maksimal yaitu penyembuhan tulang yang cepat.yang banyak mempengaruhi adalah pada populasi dari area industri dengan tingkat pengangguran yang tinggi sehingga kekerasan interpersonal masih banyak terjadi. fungsi. dan kosmetik. pengembalian fungsi okuler. fungsi pengunyah. Pada fraktur zygoma yang disebabkan oleh kekerasan. Penanganan yang tepat dapat menghindari efek samping baik anatomis. yang disebabkan oleh suatu penyakit.

Tulang ini mempunyai satu tonjolan yaitu processus temporalis ossis zygomaticus yang menonjol ke dorsal dan berhubungan dengan processus zygomaticus ossis temporalis yang menuju ke arah ventral. dan infraorbital. dan zygomaticosphenoid (Gambar 1b). Zygoma berartikulasi dengan empat tulang: frontal. Anatomi dan letak tulang zygoma 3 Zygoma memiliki empat proyeksi yang menciptakan bentuk quadrangular atau tetrapod yang meliputi: bidang frontal. Fraktur kompleks zygoma meliputi gangguan pada keempat sutura yang berartikulasi. Tempat-tempat yang mudah patah adalah sutura 246 . Kedua penonjolan arcus ini bersama-sama membentuk arcus zygomaticus. Struktur tulang zygoma adalah kuat. zygomaticomaksilaris. maksila. temporal. zygomaticotemporal.1 ANATOMI TULANG ZYGOMA Tulang zygoma merupakan bagian dari dinding lateral dan dasar rongga orbita (Gambar 1a). yaitu: sutura zygomaticofrontal. maksilaris.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. Pada beberapa individu membentuk lateral atas dari pada sinus maksilaris. temporal. Gambar 1a. dan sphenoid. tetapi bila mendapat trauma atau pukulan hebat mudah patah.

Selain otot-otot. m. Perlekatan otot-otot dan sutura 2 Seluruh fraktur kompleks zygomatik melibatkan dasar orbita. Orbita adalah piramid quadrilateral yang berbasis anterior. zygomaticus. sutura zygomatikotemporalis dan sutura zygomatikosphenoid. Gambar 1b. sutura zygomatikomaksilaris. Beberapa muskulus yang melekat pada tulang zygoma : m. 247 . Pada kasus fraktur adanya rotasi inferior dari tulang zygoma setelah penatalaksanaan reduksi dapat disebabkan karena lokasi m. dan prosesus orbital dari tulang palatinus. maseter ini. pada tulang zygoma juga melekat dua buah ligamen yaitu ligamen kapsular dan ligamen temporomandibular. temporalis. Dasar orbita melandai kearah inferior dan yang paling pendek pada dinding orbita. m.sphenozygomatika. masseter. Muskulus maseter menempel pada aspek inferior dari zygoma. permukaan orbita pada tulang zygomatik. rata-rata 47 mm. dan oleh karena itu sebuah pemahaman gambaran anatomis orbita adalah penting untuk mereka yang merawat cedera ini. pterygoideus externa. Ia terdiri dari lingkaran orbita maksila. m. levator labii superior dan m.

Otot masseter menginsersi sepanjang 248 . Cabang-cabang zygomatik.Dinding medial dan lateral berkonvergen di posterior pada apeks orbital. Nervus infraorbital melewati dasar orbital dan keluar pada foramen infraorbital. tulang lakrimal. Fossa glenoid dan eminensia artikularis terlokasi pada aspek posterior prosesus zygomatikus tulang temporal. Mereka diinervasi oleh nervus kranialis VII. bibir atas. dan temporal keluar dari foramina pada tubuh zygoma dan memberikan sensasi pada pipi dan daerah temporal anterior. Hal ini memberikan sensasi pada pipi anterior. (Gambar 2) Gambar 21 Saraf sensori yang berhubungan dengan zygoma adalah divisi kedua nervus trigeminal. fasial. Dinding orbital lateral adalah yang tertebal dan terbentuk oleh zygoma dan gerater wing dari os sphenoid. dan geligi anterior maksila. Dinding medial terdiri dari prosesus frontal maksila. hidung lateral. Arcus zygomatikus termasuk prosesus temporal zygoma dan prosesus zygomatik dari tulang temporal. lingkaran orbital ethmoid. Otot-otot ekspresi wajah yang berasal dari zygoma termasuk zygomaticus mayor dan labii superioris. dan sebagian kecil dari badan sphenoid. Dasar orbital terdiri dari tulang frontal dan sayap yang lebih kecil dari sphenoid.

permukaan temporal zygoma dan arcus dan diinervasi oleh sebuah cabang dari nervus mandibularis. (Gambar 3) Gambar 32 Fascia temporalis berlekatan ke prosesus frontal dari zygoma dan arcus zygomatik. Gambar 42 249 . Fascia ini menghasilkan resistensi pergeseran inferior dari sebuah fragmen fraktur oleh penarikan kebawah dari otot masseter(Gambar 4).

Fraktur kompleks zygomatik seringkali dibarengi dengan sebuah antimongoloid (kearah bawah) dari daerah canthal lateral yang disebabkan oleh pergeseran zygoma. Gruss dkk (1990) menekankan peran pola fraktur pada zygoma untuk reduksi yang akurat dan mengklasifikasikan fraktur ini menurut tingkat keparahan tulang pada badan zygoma dan arkus zygoma (Trott et al. Segmental 250 . B.tidak ada perawatan Localized segmental fractures .pembukaan dan fiksasi Displaced ‘tripod’ fractures (low velocity) – elevasi sederhana atau elevasi. Intact b. 2. Jackson (1989) Grup I Grup II Grup III Undisplaced fractures . Tendon canthal lateral berlekatan dengan tuberkel Whitnall.Posisi bola mata dalam hubungan dengan aksis dipertahankan oleh ligamen suspensori Lockwood. Gruss dkk (1990) 1. A. Tendon canthal medial berlekatan dengan krista lakrimal anterior dan posterior. Bentuk dan lokasi dari canthi medial dan lateral kelopak mata dipertahankan oleh tendon canthal.2 KLASIFIKASI FRAKTUR ZYGOMA Jackson (1989) membuat klasifikasi fraktur zigomatikus yang disederhanakan menurut pola dan pergeseran serta perawatannya. 1995). pembukaan dan fiksasi Grup IV Displaced comminuted fractures (high velocity) – pembukaan luas dan fiksasi multipel. Perlekatan ini lebih kearah medial hingga aspek posterior dari tulang lakrimal dan lateral terhadap tuberkel orbital (Whitnall) (yang adalah 1 cm dibawah sutura zygomaticofrontal pada aspek medial dari prosesus frontal dari zygoma). Badan zygomatikus a. Undisplaced c.

ke dalam dan sedikit mengarah ke bawah sehingga pipi menjadi rata dan terjadi perubahan bentuk pada tepi infra orbital. Fraktur zygoma dengan perputaran ke median.d. 251 . Menurut Knight dan North. Displaced : inferior dengan depresi dan lateral e. Fraktur zygoma tanpa perputaran. Displaced e. Fraktur arkus zygomatikus dengan displacement. Dalam pemeriksaan radiologis timbul pergeseran ke bawah dari tepi infra orbita. Undisplaced c. fraktur zygoma dapat dikalsifikasikan sebagai berikut2 . Comminuted 2. 1. Intact b. Comminuted C. pergeseran pada sutura zygomatikofrontalis dan penonjolan tulang zygoma ke dalam. Fraktur ini disebabkan oleh pukulan langsung pada arkus zygomatikus. Fraktur ini disebabkan oleh pukulan langsung terhadap penonjolan dari tulang zygoma. Pada umumnya tulang terdorong ke belakang. Arkus Zygomatikus a. menyebabkan busur ini melekuk ke dalam tanpa mempengaruhi sinus maksilaris ataupun rongga mata. 3. Segmenta d. Pemeriksaan secara radiologis menunjukkan adanya fraktur. Dalam hal ini tidak diperlukan penatalaksanaan. 2. Fraktur tanpa displacement. 4. tetapi tidak memperlihatkan pergeseran. sehingga terjadi fraktur dan pergeseran tulang langsung ke dalam sinus maksilaris. hanya retakan saja.

Serpihan mungkin dapat timbul (Gambar 5). Kebanyakan fraktur zygoma terjadi pada arkus dalam meliputi lateral orbital 2. Fraktur-fraktur tipe A adalah fraktur energi rendah tidak lengkap dengan fraktur hanya pada satu pilar zygomatik: arcus zygomatik. masseter pada arah posterior. dinding orbita lateral. Fraktur disebabkan karena pukulan di bawah sumbu datar dari tulang zygoma. Manson et.025 fraktur zygomatik. medial dan inferior. 6. Pemeriksaan radiologis memperlihatkan pergeseran ke bawah dari tepi infraorbital. Zingg dan kolega.al mengajukan sebuah metode klasifikasi yang didasarkan pada pola segmentasi dan pergeseran3: Fraktur yang memperlihatkan sedikit atau tidak ada pergeseran diklasifikasikan sebagai cedera energi-rendah. sutura zygomatikofrontalis keluar atau dapat ke dalam. Fraktur tulang zygoma dengan perputaran ke lateral. sehingga tulang yang mengalami fraktur tergeser ke belakang. Fraktur incomplete (tidak lengkap) pada satu atau lebih artikulasi dapat terlihat. mengklasifikasikan cedera-cedera ini kedalam tiga kategori. Disini termasuk semua kasus dimana didapatkan garis fraktur saling menyilang lebih dari satu. ke dalam dan ke bawah. 5. Fraktur energi-tinggi ditandai dengan serpihan pada orbit lateral dan pergeseran lateral dengan segmentasi pada arcus zygomatik (Gambar 6). Fraktur energi-menengah memperlihatkan fraktur lengkap ( complete) pada seluruh artikulasi dengan pergeseran ringan hingga moderat. atau lingkaran infraorbita. sehingga tulang terdorong ke dalam dan ke belakang. Fraktur arkus zygomatikus menyebabkan depresi pada pipi karena tekanan m.Fraktur dan pergeseran timbul karena pukulan pada penonjolan tulang zygoma di atas sumbu mendatarnya. dalam sebuah tinjauan pada 1. 252 . Pemeriksaan radiologis memperlihatkan pergeseran keluar dari penonjolan tulang zygoma dan ke atas dari tepi infraorbita ataupun keluar sutura zygomatikofrontalis. Pada 1990. Fraktur kompleks.

2. yang ditandai dengan 253 . Selain itu diperhatikan apakah terdapat perdarahan melalui mulut.3 DIAGNOSA FRAKTUR ZYGOMA Riwayat yang terperinci akan banyak membantu dalam menentukan diagnosa. Kecelakaan yang serius dapat menyebabkan kolaps. Keadaan penderita sewaktu terjadi kecelakaan harus diketahui. Skala ini menggunakan 3 parameter: Eye opening. Bila riwayat secara lengkap tidak dapat ditanyakan kepada penderita atau pengantar penderita. Asal mula terjadinya fraktur tulang zygoma harus diketahui. best motor responsen dan best verbal response dimana nilai antara 08 untuk severe head injury. Jennet dan Teasdale memperkenalkan sistem Glasgow Scale (GCS) untuk melihat tingkat kesadaran. telinga atau hidung. apakah dalam keadaan sadar atau tidak. apakah karena kecelakaan lalu lintas atau karena pukulan. terjadi muntah atau tidak dan riwayat penyakit yang pernah diderita. Untuk menegakkan diagnosa fraktur tulang zygoma dilakukan pemeriksaan :  Riwayat kecelakaan Riwayat kecelakaan dapat diketahui dengan memberi pertanyaanpertanyaan kepada penderita untuk memperoleh keterangan yang objektif. maka dapat ditanyakan kemudian setelah penderita agak pulih. dapat kita tanyakan kepada pengantar yang melihat terjadinya kecelakaan.  Pemeriksaan fisik Hal ini penting untuk menentukan rencana penatalaksanaan yang akan dijalankan.Fraktur tipe B mengacu pada fraktur “monofragmen” lengkap dengan fraktur dan pergeseran disepanjang keempat artikulasi. Fraktur “multifragmen” tipe C termasuk fragmentasi badan zygomatik. nilai 9-12 untuk moderate head injury dan nilai antara 13-15 untuk mild head injury9. Bila penderita tidak dapat memberi keterangan-keterangan tersebut. berapa lama dalam keadaan tidak sadar. Kolaps yang lama dan terus menerus akan menyebabkan shok.

Penderita yang berada dalam keadaan yang tidak sadar tidak boleh dilakukan operasi sebelum penderita sadar. lateral hidung atau bibir bagian atas disebabkan rusaknya nervus infraorbitalis. pupil berdilatasi dan penderita apatis. Ketidaknormalan dari pinggir infraorbita dalam pemeriksaan palpasi menyatakan adanya kerusakan dari dasar orbita. dingin dan pucat. bibir dan kuku stanosis. penderita harus segera dibawa ke bagian neurochirurgis. Bila nervus zygomatikofasialis atau nervus zygomatikotemporalis rusak menyebabkan hilangnya perasaan pada pipi dan temporal bagian depan. Gejala neurologis Hilangnya perasaan pada perabaan (anesthesia) dari kelopak mata bawah. nadi cepat tetapi lemah. Perdarahan dari mulut. Perdarahan pada tulang telinga menunjukkan pecahnya basis kranii. Pemeriksaan telinga Bila terjadi perdarahan atau terdapat cairan serebrospinal pada satu atau kedua lubang telinga menunjukkan adanya fraktur pada petrosa tulang temporal. 3. Ketidaksadaran yang lama menandakan adanya kontusio cerebri. 4. kulit lembab. hidung dan telinga menandakan terjadinya fraktur basis kranii. 1. pernafasan cepat dan dangkal. Kerusakan dari syaraf fasialis menyebabkan Bell’s palsy yaitu sudut mulut terkulai dan mata tidak bisa mengedip. Diplopia disebabkan karena kerusakan dari syaraf infraorbita. Gejala-gejala fraktur zygoma Gejala-gejala fraktur ini sangat penting untuk mengetahui tindakan penatalaksanaan apa yang harus didahulukan. Retraksi dari jaringan lunak sudut mata menyatakan adanya penurunan dinding periorbita ke arah sinus maksilaris. Gangguan dari pergerakan bola mata disebabkan karena otot-otot penggerak mata terjepit sehingga fungsinya terganggu. Pemeriksaan mata Pupil berdilatasi menandakan adanya shok. 254 . Misalnya pada fraktur tulang zygoma yang serius sehingga menyebabkan pecahnya basis kranii.tekanan darah rendah. 2.

Pemeriksaan dengan cara palpasi Pemeriksaan zygoma meliputi inspeksi dan palpasi. hematoma. 6. 255 . Harus dicatat tingkat simteris. Metoda yang paling berguna untuk mengevaluasi posisi dari tubuh zygoma adalah dari pandangan superior (. Pemeriksaan visual Diagnosa yang langsung dapat dilihat dari gambaran karakteristik yang segera dapat dikenali yaitu muka terlihat asimetri karena adanya pendataran kontur pada pipi yang mengalami fraktur. Inspeksi dilakukan dari bagian frontal. Gambar 51 Pasien dapat ditempatkan dalam posisi berbaring atau bersandar dikursi. mengevaluasi bagaimana proyeksi anterior dan lateral dari zygoma terhadap tepi supraorbital. superior dan inferior 3. dibandingkan sisi yang satu dengan yang lain3. unilateral epistaksis. retraksi dari sudut mata. sepanjang zygoma. memberikan tekanan pada jaringan yang edema guna palpasi dan mengurangi efek visual dari edema secara simultan. Pandangan superior juga membantu dalam mengevaluasi kemungkinan terjadinya depresi dari arkus zygoma.5. Tidak boleh dilupakan untuk melakukan pemeriksaan intraoral. penurunan bola mata pada sisi yang fraktur. lateral. Ahli bedah menginspeksi dari atas. Pada saat akan melakukan pemeriksaan dengan posisi seperti ini akan memudahkan untuk menempatkan posisi jari telunjuk di bawah tepi infraorbita. adanya edema orbital dan ekimosis subkonjungtival dan proyeksi anterior dan lateral dari zygoma. level pupil. Hilangnya ekspresi pada pipi yang mengalami fraktur.7.

Bila terdapat fraktur. 2. palpasi seringkali harus dilakukan dengan cara yang halus. Tepi orbita dipalpasi dulu.1 TANDA DAN GEJALA FRAKTUR ZYGOMA Adanya tanda dan gejala serta keparahannya sangat tergantung pada luas dan tipe dari luka zygoma. Bengkak yang seringkali masif mungkin terjadi dan paling dramatis pada jaringan periorbital. 256 . Pendataran dari tonjolan pipi. 2. untuk mengetahui adanya hematoma atau irregularitas3. Palpasi harus dilakukan dengan sistematik dan teliti. Tubuh dan arkus zygoma paling baik dipalpasi dengan dua atau tiga jari yang bergerak secara melingkar. Ekimosis mungkin hanya terdapat pada kelopak mata bawah dan derah infraorbita atau di sekitar seluruh tepi orbita. Sama halnya dengan fraktur arkus zygoma yang mungkin kurang mengakibatkan gangguan okuler dibandingkan dengan fraktur kompleks zygoma. Tepi orbita lateral dipalpasi dengan jari telunjuk dan ibu jari. Tepi infraorbita dipalpasi dengan jari telunjuk yang secara ritmik digerakkan dari sisi yang satu ke sisi yang lain sepanjang tepinya. Jari telunjuk juga digunakan sepanjang aspek bagian dalam dari tepi orbita lateral. Edema dan perdarahan ke dalam jaringan ikat longar dari kelopak mata dan derah periorbital adalah tanda yang paling umum yang menyertai fraktur tepi orbita. Misalnya. dibandingkan antara sisi yang satu dengan yang lain. Ekimosis dan edema periorbital. dimana sering ditemukan fraktur dengan melakukan palpalsi di bagian dalam dari tepi orbita yang berlawanan arah sepanjang aspek lateral. dimana kelopak mata mungkin tertutup karena bengkak.3. dibandingkan dengan sisi yang berlawanan. Tonjolan zygoma dari maksila dipalpasi dari dalam mulut dengan satu jari. Tanda dan gejala berikut ini bisa menyertai fraktur zygoma dan oleh karena itu harus dievaluasi3 : 1. pendataran wajah akan lebih nyata pada cedera pada zygoma yang displaced dibandingkan dengan fraktur yang nondisplaced.karena fraktur zygoma sering disertai dengan ekimosis pada sulkus bukalis superior dan oleh fraktur dentoalveolar maksilaris.

Juga sering teraba fragmen tulang yang remuk. Deformitas dari tepi orbita. khususnya di daerah tonjolan zygomatikus dari maksila. Pendataran mungkin sulit untuk dilihat segera setelah terjadinya cedera jika terdapat edema. khususnya jika terdapat distraksi dari sutura frontozygomatikus dan rotasi dan atau remuknya bagian medial. 257 . Jika pada manuver ini tidak teraba tenderness. tetapi adanya nyeri belum tentu ada fraktur. 5. Tidak adanya nyeri menunjukkan tidak adanya fraktur. Palpasi intraoral dari aspek anterior dan lateral dari maksila seringkali menunjukkan irregularitas dari permukaan halus yang normal. nyeri hebat bukan merupakan gambaran yang normal dari cedera zygoma meskipun pasien akan mengeluh karena merasa tidak nyaman sehubugan adanya memar.Ini adalah tanda yng paling biasa ditemukan pada cedera komplek zygoma yang dilaporkan 70-86% kasus. Tanda yang penting dari fraktur zygoma atau fraktur maksila adalah ekimosis pada sulkus bukalis maksila. namun biasanya dapat diperoleh dengan menekankan jari telunjuk pada jaringan lunak darah zygoma dan membandingkan satu sisi dengan yang lainnya dari sebelah atas pasien. 4. Lekukan yang khas atau hilangnya kurvatura cembung yang normal dari daerah temporal menyertai fraktur dari arkus zygoma. Ekimosis dari sulkus bukalis maksila. 3. Nyeri. Pendataran di atas arkus zygoma. 6. mungkin tidak terdapat adanya fraktur. Kecuali jika ada pergerakan dari segmen fraktur. Ekimosis ini bisa terjadi meskipun hanya dengan sedikit gangguan pada maksila lateral atau anterior dan seharusnya tanda ini dicurigai sebagai fraktur zygoma. 7. yang menimbulkan krepitasi. Deformitas pada tonjolan zygomatik dari maksila. karena nyeri bisa ditimbulkan karena cedera pada jaringan lunak atau fraktur maksila. Palpasi dari sisi fraktur juga akan menimbulkan rangsangan nyeri.

jaringan edema. Alasan yang sering dikemukakan untuk terjadinya trismus pasca fraktur adalah bergesernya prosesus koronoideus mandibula pada fragmen zygoma yang berubah posisi. Temuan lain adalah terdapatnya deviasi kearah sisi yang fraktur pada saat mulut dibuka. Penjelasan yang lebih mendekati adalah spasme otot yang terjadi sekunder terhadap pergeseran oleh fragmen yang berubah posisi. Apabila mukosa sinus mengalami gangguan. terjadi pada kira-kira sepertiga kasus. terpotongnya atau kompresi dari nervus infarorbitalis sepanjang kanalis atau 258 . Sebenarnya terjadinya pergeseran ini pada sebagian besar kasus masih meragukan. dan lebih banyak lagi terjadi pada fraktur tertutup dari arkus zygoma (45%). Karena sinus maksilaris dialirkan ke hidung melalui meatus tengaha. Trismus. yang pada saat bengkaknya berkurang. Terbatasnya kemampuan untuk membuka mulut sering terjadi bersamaan cedera zygoma. Parestesi nervus infraorbitalis lebih sering terjadi pada fraktur dengan perubahan posisi daripada yang tidak. perdarahn unilateral dari hidung yang mungkin terjadi adalah kira-kira 30-50% dari cedera komplek zygoma. Epistaksis. menghasilkan perdarahan internal. 10. Deformitas ini sering ditemukan pada tepi infra orbita dan tepi orbita lateral bila terjadi fraktur zygoma. Meskipun sulit untuk membedakan antara anestesia dari sensasi yang berubah pada penelanan. mungkin terjadi perdarahan pada sinus tersebut. Sensibilitas saraf yang abnormal. Kebanyakan fraktur melalui dinding sinus yang hanya mengalami sedikit perubahan posisi akan merobek mukosa yang melapisinya. 9. karena diperlukan perubahan posisi yang cukup besar untuk menyebabkan gangguan mekanik. Gejala penting yang ditemukan pada kira-kira 50-90% dari cedera komplek zygoma adalah berkurangnya sensasi nervus infraorbitalis. khususnya pada otot temporalis.Fraktur yang terjadi sepanjang tepi orbita seringkali menimbulkan celah atau deformitas jika terjadi displacement. 8. Anestesia infraorbital terjadi bila fraktur yang melalui dasar atau maksila naterior menyebabkan robeknya. anestesia nervus orbitalis mulai dirasakan.

Kehadirannya tidak mengesampingkan adanya fraktur tepi orbita. yang akan memproduksi sensasi “crackling” yang khas. cenderung terinflasi oleh udara karena kehilangan sifat areolar. Krepitasi dari emfisema udara. Perubahan posisi dari zygoma juga termasuk palpebra yang menempelnya. Fraktur yang melalui dinding sinus. Signifikan dari emfisema ini adalah berpotensi terjadinya infeksi melalui hubungan antara sinus dan jaringan lunak. Ekimosis subkonjungtiva. Gejala tersebut bisa mempengaruhi sensitivitas gigi dan gusi maksila. Ligamentum palpebra lateralis menempel pada bagian zygoma dari tepi orbita. Perdarahan subkonjungtiva sering ditemukan pada fraktur zygoma. Emfisema ini akan menghilang secara spontan dalam 24 hari tanpa perawatan. Mungkin disertai retak yang sangat tipis melalui tepi orbita jika periosteum telah robek. Perubahan posisi dari celah palpebra. perdarahan yang mungkin terjadi dapat terskumulasi pada lokasi subperiosteal dan tidak tampak dibawah konjungtiva. Hal ini yang paling mudah dikerjakan dengan jalan memutarkan dua jari dengan lembut diseputar jaringan. 11. yang menunjukkan emfisema subkutan. Bila garis fraktur terjadi lateral dari jalur dan foramen infraorbital (lebih jarang terjadi) nervus infraorbitalisnya akan terselamatkan. sekitar 5070% kasus. 13. bibir atas dan bagian lateral hidung. menyebabkan udara bergerak menuju jaringan lunak wajah jika tekanan diantara sinus lebih besar daripada tekanan didalam jaringan. karena tidak adanya gangguan dari periosteum.foramennya. Jika terjadi inflasi dapat dilakukan palpasi dan menimbulkan krepitasi. ekimosis subkonjungtiva biasanya tidak mempunyai batas posterior dan kan tampak berwarna merah cerah sesuai dengan kemampuan oksigen untuk menyebar melalui konjungtiva untuk pengumpulan darah. tetapi potensi untuk terjadinya emfisema udara konstan. Bila terjadi. Jaringan lunak dari daerah periorbita terutama kelopak mata. 12. Hal ini tidak umum ditemukan pada fraktur zygoma. dengan robekan pada mukosa yang melapisi. 259 . Terganggunya nervus orbitalis akan menyebabkan anestesia kelopak mata bawah.

14. dimana kaburnya pandangan hanya terjadi bila melihat dengan kedua mata secara bersamaan. Diagnosa diplopia bisa sangat sulit pada tingkat awal dimana edema atau perdarahan bisa berkurang dalam beberapa hari namun terperangkapnya jaringan orbita tetap tidak berkurang. ligamentum palpebra lateralis juga tertekan. Dengan adanya gangguan dasar orbita dan bagian lateralnya. 15. Karena sekat orbita menempel pada tepi infraorbita. hal ini biasa terjadi kira-kira 10-40% dari cedera zygoma. hifema atau cedera traumatik lain dari bola mata. memerlukan perhatian segera dari ahli mata. Penting untuk membedakan antara dua jenis diplopia. sehingga tampak memendek. Petunjuk yang bermanfaat untuk membedakan penyebab dari diplopia adalah temuan bahwa edema yang menyeluruh dari orbita biasnya menyebabkan diplopia pada pandangan keatas dan kebawah yang ekstrim. Level pupil yang tidak sama. yang paling banyak adalah terperangkapnya otot. Kondisi ini mungkin menyebabkan lebih banyak sklera yang terekspos di bawah iris dan tampak ektropion yang nyata. sementara yang satu tertutup. Forcep kecil digunakan untuk memegang tendon rektus inferior 260 .menghasilkan deformitas visual yang dramatis. Keadaan ini tampak secra klinis berupa level pupil yang tidak sama. Diplopia monocular atau kaburnya pandangan dari satu mata. yang sering menyertai fraktur zygoma. karena biasanya menunjukkan lepasnya lensa. Diplopia. Pada waktu zygoma mengalami perubahan posisi pada arah anterior. hilangnya dukungan tulang dari isi orbita dan perubahan posisi dari kapsul tendon dan ligamentum suspensorium dari bola mata. Adalah nama yang diberikan untuk gejala pandangan kabur. Dapat ditentukan apakah pada fraktur terdapat isi orbita yang melalui dasar orbita dengan forced duction test. Kuarngnya gerakan mata yang hampir lengkap dalam satu arah terjadi dengan pengaruh mekanis atau cedera neuromuskuler. perubahan posisi inferior atau posterior dari tepi orbita inferior menyebabkan tekanan pada kelopak mata yang lebih rendah. dimana pupil pada bagian yang terkena terletak lebih rendah daripada normal. menyebabkan lekukan yang menurun ke celah (kemiringan antimongoloid). Diplopia binokular.

261 . pemindaian CT memberikan visualisasi dan dasar-dasar dari tengkorak wajah tengah: dasar-dasar nasomaksilaris. derajat pergeseran. dan bola mata dimanipulasi melalui seluruh arah gerakan. Tomografi Komputasi CT adalah standar emas untuk evaluasi radiografi fraktur zygomatik. Secara spesifik. infraorbital. Gambaran aksial dan koronal didapat untuk menentukan pola fraktur. adalah standar untuk seluruh pasien dengan dugaan (suspect) fraktur zygomatik.2 PEMERIKSAAN RADIOGRAFIS Diagnosa fraktur zygomatik biasanya dibuat dengan pemeriksaan riwayat dan fisik. zygomaticomaksilaris. atau keduanya atau mengakibatkan berkurangnya volume dari isi orbita yang disebabkan oleh herniasi dari jaringan lunak orbita. 16. Pemindaian CT pada tulang wajah. Manifestasi klinik dari enoftalmus dititikberatkan pada sulkus kelopak atas dan penyempitan fisur palpebra. dan serpihan dan untuk mengevaluasi jaringan lunak orbital.melalui konjungtiva dari forniks inferior. Radiografi membantu untuk konfirmasi dan untuk dokumentasi medikolegal dan untuk menentukan perluasan cedera tulang. Fraktur zygoma yang menunjukkan gejala enoftalmus kira-kira 5% dari seluruh kasus sebelum dilakukan perawatan. dimana edema pada jaringan lunak sekitarnya selalu menimbulkan enoftalmus relatif.3. A). 2. enoftalmus akan tampak lebih nyata dan seringkali dihubungkan denga terjadinya ptosis bola mata. Hal ini harus dilakukan secara rutin pada individu yang tidak bisa menggerakkan bola mata ke arah atas. Ini adalah diagnosa yang sulit dilakukan pada keadaan akut kecuali pada kondisi yang sangat berat. pada bidang aksial dan koronal. Jika cedera zygoma sudah menyebabkan kenaikan volume orbita. pada umumnya disebabkan oleh perubahan posisi lateral dan inferior dari zygoma atau gangguan dinding orbita lateral dan inferior. Ketidakmampuan rotasi bola mata ke arah superior menunjukkan secara pasti terperangkapnya isi orbita dan paralisis yang disebabkan oleh edema atau cedera neuromuskuler. Pada saat bengkaknya sudah hilang. Enoftalmus. dapat enoftalmus. yang menyebabkan pseudoptosis dari kelopak atas.

pasien trauma akan masih menjalani evaluasi radiografi film biasa. sebuah pengetahuan kerja fundamental pada teknik ini diperlukan. dan zygomaticotemporal. A.zygomaticofrontal. terlihat gambaran fraktur kompleks zygomatic dekstra. A B C GAMBAR 6. Ia adalah sebuah proyeksi posteroanterior dengan kepala yang terposisi pada sudut 27° terhadap vertikal dan dagu berada pada kaset (cassette). berguna untuk mengevaluasi otototot ekstraokuler dan untuk mengevaluasi herniasi jaringan orbita kedalam sinus maksilaris. Waters’ view. Water’s View. B). Submentovertex view. Ketika hal ini dikombinasikan dengan sebuah Water’s view yang 262 . orbita lateral. Coronal CT scan. Hal ini memproyeksikan piramida petrosa jauh dari sinus maksilaris. Radiograf Biasa Pemindaian CT (CT scan) telah menggantikan film biasa untuk diagnosa dan penanganan fraktur kompleks zygomatik.1 a.terlihat gambaran displaced fraktur arkus zygomatikus sinistra. Kemampuan untuk membaca dan interpretasi film-film ini menjadi diagnosa dan merawat pasien-pasien ini adalah penting. Radiograf tunggal terbaik untuk evaluasi fraktur kompleks zygomatik adalah Water’s view. Pandangan koronal khususnya membantu dalam evaluasi fraktur dasar orbita (Gambar 6A). zygomaticosphenoid. C. memberikan visualisasi sinus-sinus. B. Pada banyak ruang emergensi dan rumah sakit. Jendela jaringan lunak. pada dataran koronal. terlihat gambaran zygomaticomaxillary buttress dekstra dan fraktur dasar orbital dengan herniation of orbital padamaxillary sinus. dan lingkaran infraorbita (Gambar 6B). Meskipun demikian.

Penelitian ini membantu dalam evaluasi rotasi (disekitar aksis horisontal). proyeksi Water’s view terbalik memberikan informasi yang sama. Caldwell’s View. Submentovertex (jug-handle) view diarahkan dari daerah submandibula ke vertex tengkorak. Pada pasien yang tidak mampu mengira-ngira posisi wajah kebawah. Ia membantu dalam evaluasi arcus zygomatik dan proyeksi malar (Gambar 6C). sebuah pandangan stereografi dari fraktur dapat terlihat.terangkat. b. 263 . c. Submentovertex View. Caldwell’s view adalah sebuah proyeksi posteroanterior dengan wajah pada sudut 15o terhadap cassette.

seperti pada fraktur communite1 Disamping itu fraktur zygoma juga sering melibatkan orbita. 3. Pada kasus ini diantaranya diperlukan rekonstruksi dengan pemakaian implan dasar orbita atau graft untuk mendukung jaringan periorbita7. Berbagai instrumen juga bisa digunakan dengan pendekatan ini antara lain cushing elevetor. Fiksasi hanya diperlukan bila ada indikasi. 264 . karena kita tidak mungkin melakukan manipulasi eksternal1. fiksasi tidak mutlak diperlukan. tang ekstraksi gigi3. Sebagian besar ahli bedah berpendapat. Davies mengemukakan adanya insiden kerusakan (disruption) dasar orbita sebesar 47% pada penderita fraktur zygoma. large Kelly hemostat. Reduksi tertutup tidak bisa dilakukan.1 TEKNIK REDUKSI A). karena scar yang terjadi tidak terlihat.7. Pendekatan Vestibulum Maksila Pendekatan ini paling populer.BAB III PENATALAKSANAAN FRAKTUR KOMPLEK ZYGOMA Tidak semua fraktur zygoma memerlukan intervensi bedah. Pada kasus fraktur yang tidak diikuti pergeseran fragmen ( undisplaced) atau dengan pergeseran minimal tidak diperlukan intervensi bedah. Bila terjadi pergeseran fragmen maka diperlukan suatu reduksi (reposisi) dengan cara terbuka (open reduction). Jika tidak dilakukan intervensi bedah maka pasien sebaiknya diobservasi selama dua sampai tiga minggu dengan diet lunak7. pada fraktur zygoma setelah suatu tindakan reduksi.

Alat yang digunakan Large Kelly hemostat. lateral. Pendekatan Supraorbital Eyebrow Pendekatan ini dilakukan untuk mendapatkan akses ke lateral orbital rim (daerah frontozigoma).3. maksila bagian anterior dan buttress zigomatikomaksila mudah dicapai dengan pendekatan ini7. Pada teknik ini instrumen diinsersikan pada posterior zygoma sepanjang permukaan temporal. B). Fraktur infraorbital rim. Keuntungan dari pendekatan ini adalah scar yang terjadi tersembunyi. lebih cepat dan komplikasinya sedikit 1. biasanya sampai gigi molar pertama. Sebelum melakukan insisi.3 . dan tangan yang lain meraba infraorbital rim dan body zigoma.4. Instrumen digunakan untuk mengangkat zygoma ke anterior. Secara estetis scar yang dihasilkan kurang tersembunyi pada pasien dengan eyebrow yang tidak meluas ke lateral dan disamping itu akses yang didapat tidak terlampau luas1. operator sebaiknya meraba daerah lateral orbital rim untuk menentukan lokasi fraktur.Gambar 7:reduksi melalui pendekatan vestibulum maksila2 Insisi dilakukan kira-kira 3 sampai 5 mm di atas mucogingival junction dari gigi insissivus pertama diperluas ke posterior sesuai keperluan. Dingman Zygomatic Elevator atau urethral sound 1. 265 . Insisi dilakukan sepanjang 2 cm dan bisa meluas ke bawah eyebrow sesuai lokasi fraktur 7. sederhana.

Insisi dibuat pada lipatan kulit di kelopak mata bawah dibawah level tarsus. 266 . Gambar 9: Pendekatan pada kelopak mata atas1.3. Insisi dibuat sekurang-kurangnya 10 mm di atas tepi kelopak mata. baik secara estetis dan komplikasinya minimal1. Scar yang terbentuk didaerah ini tidak menarik perhatian1.Gambar 8: Pendekatan supraorbita eyebrow (alis mata) 1. Keuntungan dari pendekatan subtarsal ini adalah relatif mudah.3.3 C). Insisi dilakukan pada lipatan kulit di kelopak mata atas. Pendekatan Upper Eyelid (Kelopak Mata Atas) Pendekatan ini sering juga disebut upper blepharoplasty atau pendekatan supratarsal fold.4 D). dan dasar orbita. Pendekatan Subtarsal Pendekatan ini paling sering dilakukan untuk mendapatkan akses ke orbital rim.

bila telah sempurna kelopak mata akan jatuh bebas.4 E). Salah satu ujung gunting dikeluarkan dari pocket dan dilakukan penarikan dengan retraktor.3. Mula-mula dilakukan canthotomy dengan menggunakan gunting jaringan pada fisura palpebra lateral dan memotong dalam arah horizontal. 267 . Setelah itu dilakukan diseksi tumpul pada orbital rim1. Dengan menarik tepi kelopak. kemudian dilakukan insisi konjungtiva pada fornik dengan gunting. gunting kemudian diarahkan ke bawah kemudian dilakukan transeksi terhadap tendon chantal lateral (inferior cantholysis). Kemudian dilakukan pemisahan (undermine) palpebra konjungtiva tepat dibawah tarsus ke arah medial sampai lacrimal punctum. Sebelum tindakan ini dilakukan pemasangan pelindung kornea (corneal shell). Pendekatan Subkonjungtiva Pendekatan ini dapat dikombinasi dengan canthotomy lateral untuk membuka dasar orbita.Gambar 10: Pendekatan subtarsal1.

body zigoma dan lengkung zigoma tanpa komplikasi. harus diantisipasi kemungkinan terjadinya kemunduran hairline. Kemudian lapisan superfisial fasia temporal diinsisi. Kedua. Insisi dilakukan dengan menggunakan pisau no. tapi menyediakan akses yang sangat baik ke orbita. Pada tahap ini akan ditemukan jaringan ikat longggar. dilakukan diseksi 268 . serta Scar yang terbentuk tidak terlihat 7. Tepi insisi (anterior dan posterior) diangkat 1 sampai 2 cm untuk pemasangan klip hemostatik (Raney Clips). Pendekatan Koronal Pendekatan ini nampaknya radikal dalam penanganan fraktur zigoma. flap akan dengan cepat (mudah) dilepaskan perikranium. akan terlihat permulaan lengkung zigoma. maka insisi ditempatkan beberapa sentimeter dibelakang hairline. Insisi ditempatkan atas dua pertimbangan. Dari lengkung zigoma.A B C D Gambar 11: Pendekatan subkonjungtiva1. Pertama hairline. 10 menembus kulit. sub kutis dan galea. Flap anterior dipisahkan dengan diseksi tumpul sampai kira kira 2 cm dari body lengkung dan zigoma. untuk keperluan ini insisi koronal dapat meluas ke lobus dari telinga7.3 F). besarnya akses ke inferior yang diperlukan.

Pendekatan Perkutan Ini merupakan teknik yang paling sederhana dan tidak memerlukan diseksi jaringan lunak dan bisa menggunakan beberapa instrument. 269 .3. Gambar 12: Pendekatan koronal1. Carol-girard screw instrument yang bisa digunakan meredukasi zigoma.3. kemudian penutupan scalp dengan dua lapis jahitan yaitu gelea dan kutis dengan benang 2-07. Infraorbital rim dapat terlihat dengan memperluas diseksi dari lateral orbita ke medial1. Alat lain yang sering digunakan adalah Bone hook1. Keuntungan dari penggunaan screw ini adalah dapat dilakukan kontrol yang lebih baik dalam mengembalikan posisi zigioma. Penutupan dimulai dengan penjahitan fasia temporal. screw-nya dapat tertanam dalam zigoma pada lubang yang dibuat sebelumnya.tumpul sampai ke lateral orbita dan lengkung zigoma.4 G).

Kemudian dilakukan insisi pada fasia. Pendekatan Temporal Pada pendekatan ini dibuat insisi sepanjang 2.Gambar 13:Reduksi melalui pendekatan perkutan 1. Gambar 14 : Reduksi melalui pendekatan temporal 1 3. 270 . insisi harus cukup dalam sampai otot temporal terlihat.3 H). dianjurkan untuk memasang pada prosesus frontozigomatik.2 PRINSIP FIKSASI Untuk mempertahankan hasil reduksi. Pape (1997) merekomendasikan untuk menggunakan satu atau dua mikroplate pada zigomatikomaksila buttress7.5 cm menembus kulit dan subkutis sampai terlihat warna putih yang merupakan fasia temporalis. jika hanya memerlukan satu plate. Setelah itu insersikan elevator diantara fasia dan otot temporal dan didorong sampai body zigoma dan mengembalikan posisinya1.

tidak didapat tingkat kesembuhan yang sama pada pasien yang membutuhkan eksplorasi bagian dasar dan rekonstruksi orbita. Plate yang digunakan biasanya sebanyak 4 lubang dengan panjang 5 atau 7 mm7 3. reduksi anatomis pada fraktur dapat meminimalisir tekanan saraf dan dibiarkan untuk pulih.3. pada penelian Vrien. malposisi dari tulang bisa menyebabkan penurunan fungsi mandibula. Komplikasi bisa saja terjadi pada masa awal periode postoperasi atau hanya menjadi manifestasi dikemudian hari. B). ahli bedah harus mengenali tanda-tanda dan gejala untuk dapat memberikan perawatan yang tepat.Pada fraktur Comminuted di infraorbital rim direkonstruksi dengan menggunakan microplate. Malunion yang diketahui sampai 6 minggu setelah cedera masih bisa dikoreksi. Insidensi terjadinya asimetris bervariasi antara 3. Namun. namun angka ini hanya berdasarkan pada penilaian klinis. A). Meskipun pada sebagian besar kasus terdapat defisit kosmetik. KOMPLIKASI Walaupun komplikasi pada fraktur kompleks zygoma dan lengkung zygoma tidak umum terjadi.6-27% pada seluruh fraktur komplek zigomatikomaksilaris. Sepertinya. Sebagian besar fraktur malunion dari zygoma didapatkan karena kekeliruan untuk mengetahui keparahan dari cedera atau reduksi yang tidak stabil. Malunion dan asimetris Fraktur malunion dari zygoma terjadi dalam beberapa tingkat keparahan. telah menemukan bahwa pemulihan sensasi infraorbita yang lebih baik yang menyertai reduksi yang terbuka dan fiksasi internal pada sutura zygomatikofrontal dibandingkan dengan reduksi yang tanpa disertai dengan fiksasi. menggunakan teknik reduksi zygoma rutin. Penelitian oleh Vriens bersama mahasiswanya dan Taicher bersama mahasiswanya. Teknik koreksi yang terlambat meliputi uatograft 271 . Paresthesia Infraorbita Insidensi perubahan sensoris saraf infraorbita yang menyertai trauma zygoma berkisar 18 hingga 83%.

Secara klinis. Pada rumus ini. kontur yang dihaasilkan mungik irreguler dan potensial terjadinya migrasi dan ekstrusi dari implan tersebut sepanjang waktu. mungkin saja untuk dilakukan. Fraktur pada bagian dasar orbita juga merupakan akibat dari enophthalmos dengan pertambahan volume orbita (Gambar 15). kalkulasi volume orbita dan implikasinya terkait dengan fraktur pada bagian dasar orbita. Gambar 151 272 . Meskipun bahan aloplastik telah dianjurkan. radius dikwadratkan dan sedikit penambahan pada radiusnya menghasilkan pertambahan volume yang drastic. C). Posisi lengkung orbita menentukan radius kerucut dan dimensi panjang anteroposterior orbita adalah tinggi dari kerucut. Grant bersama mahasiswa menjelaskan permasalahan klinis ini secara jelas dengan membandingkan bentuk orbit dan bentuk kerucut. Volume kerucut adalah ½ ( r2)h.maupun homograft atau bahan-bahan aloplastik dan ostektomi zygoma. Untuk deformitas minor. kartilago telah terbukti lebih efektif. Enophtahlmos Enophtahlmos merupakan satu dari beberapa komplikasi yang paling mengganggu yang menyertai fraktur-fraktur zygoma. kesejajaran yang buruk dari lingkar orbita dapat menambah volume orbita secara signifikan dan menimbulkan enophthalmos. Peningkatan volume orbita merupakan etiologi yang paling umum. Dengan teknologi CT-scan yang lebih baik. Bagaimanapun defek yang lebih besar memerlukan reposisi kraniofasial atau penempatan tulang.

Perawatan enophthalmos yang telat bisa dikatakan cukup menantang. CT scan pada bagian axial dan coronal serta konsultasi dengan ahli mata perlu dilakukan untuk membantu pelaksanaan evaluasi. dikaitkan dengan enophtahlmos dengan ukuran lebih besar dari 2 mm. atau neurogenic bisa saja diatasi 273 . sedangkan fraktur murni memiliki insidensi yang tinggi. reposisi. Ploder bersama mahasiswa menjelaskan bahwa nilai rata-rata area fraktur sebesar 4. IV. atau VI cranial. Re-draping dari jaringan lunak periorbital termasuk itu canthopexy juga diperlukan. Pada umumnya. kira-kira 1 cm3 jaringan yang bergeser sebanding dengan 1 mm enophthalmos.08 cm atau rata-rata nilai jaringan yang bergeser sebesar 1.5 % insidensi diplopia.4 hingga 74. dan kerusakan saraf III. Fraktur kompleks zygoma non-displaced dan fraktur lengkung zygoma yang terisolir memiliki insidensi diplopia terendah. Ukuran pada kerusakan orbita dan tonjolan abnormal pada jaringan orbita juga telah diteliti. Pada tahun 2002. Insidensinya bervariasi anatar 17 dan 83% dan tergantung dari waktu timbulnya yang menyertai kerusakan dan pola serta tingkat keparahan dari kerusakan. Diplopia Diplopia merupakan kondisi abnormal (sequel) pada fraktur bagian tengah wajah. pada 4 minggu. Pada pengamatan 2067 kasus fraktur kompleks zgoma. hematoma. dan grafting bisanya diperlukan. Akses yang luas dengan oetotomy zygoma. mengakibatkan enophthalmos yang siginifikan (>2mm). Penelitian histologist oleh Iliff bersama mahasiswanya telah menunjukan fibrosis post-traumatik pada otot-otot extraocular sebagai akibat kerusakan yang ditimbulkan.Raskin bersama mahasiswa menunjukan bahwa pertambahan sebesar 13% pada volume orbita. D). Mereka mengajukan hipotesis bahwa hal ini bisa saja merusak contractility dan mengurangi terjadinya penyimpangan otot-otot. Ellis bersama mahasiswa mencatat sebanyak 5. Penyebab-penyebab utama diplopia antara lain adalah edema dan hematoma. terjepitnya otot-otot ekstraokular dan jaringan orbita.89 mL. Diplopia yang berhubungan dengan edema.

Antifibrinolitik sistemik. Proptosis juga mungkin terlihat 274 . dan fixed dilated pupil. Intervensi pembedahan oleh ahli mata jarang dibutuhkan. Penatalaksanaan medis dengan menggunakan cycloplegic topikal. Konsultasi dengan ahli mata diperlukan. Trauma Neuropati Optik Trauma neuropati optik dapat saja bermanifestasi sebagai kondisi yang meluas dari gambaran defisit yang ringan hingga gambaran kehilangan secara keseluruhan. Sindrom Superior Orbital Fissure Sindrom orbital fissure merupakan komplikasi yang tidak umum yang menyertai trauma wajah. Hasil akhir perawatan termasuk pula pencegahan terhadap perdarahan. dan betablocker. F). Penatalaksanaan hyphema terdiri atas terapi suportif termasuk itu mengatur kemiringan bagian kepala tempat tidur dan mengobati bagian mata yang rusak. yang bisa saja terjadi pada 5-30% pasien. G). ophthalmoplegia. Perawatannya bervariasi tergantung dari penyebabnya tapi bisa saja melibatkan penggunaan steroid secara sistemik atau pembedahan dengan dekompresi saraf orbital atau optik. carbonic anhydrase inhibitor. forehead anesthesia. Perawatan pada fraktur wajah dapat ditunda. dan osmotic agent juga diperlukan. Kondisi tersebut membutuhkan perhatian khusus atau pembedahan. Hyphema Traumatik Trauma pada mata bisa mengakibatkan perdarahan di dalam ruang anterior-area di antara kornea dan iris yang berwarna (gambar 15). Keadaannya bisa saja berupa ptosis. Perawatan fraktur dapat ditunda. Diplopia yang menetap membutuhkan perawatan oleh ahli mata. dan mempertahankan keadaan ocular normal. Diplopia yang ditimbulkan oleh entrapment membutuhkan eksplrasi dan reduksi tonjolan abnormal pada jaringan orbita (gambar 19). Konsultasi dengan ahli mata harus dilakukan.tanpa adanya intervensi. E).

A.Perawatannya bisa berupa reduksi fraktur. Gambar 16 A. Perdarahan retrobulbar Perdarahan pada retrobular jarang terjadi namun merupakan komplikasi yang parah yang dapat mengakibatkan kerusakan awal atau koreksi operatif.fiksasi dan dilatasi pupil. eksplorasi apeks orbital dan aspirasi hematoma retrobular. Ord melaporkan insidensi sebanyak 0. Trismus Berkurangnya gerakan mandibula mungkin merupakan komplikasi yang merugikan dari fraktur zygoma. Immediate lateralcanthotomy and cantholysis were performed. Gangguan pada sirkulasi retina dapat mengakibatkan iskemi yang ireversibel dan kebutaan permanen. steroid. pasien dengan keluhan sakit pada periorbital. apabila ada. namun dekompresi dengan canthotomy lateral dan cantholysis sebaiknya tidak ditunda ( gambar 16). Terkenanya zygoma atau arkus zygoma atau koronoidektomi mungkin diperlukan untuk memulihkan gerakan normal dari mandibula 275 . Trismus juga bisa terjadi secara sekunder akibat ankilosis fibrosis atau fibrooseus dari koronoid pada arkus zygoma. B. Konsultasi sesegera mungkin dengan ahli mata diperlukan. proptosis. Penyebab yang paling umum terjadi adalah terkenanya zygoma pada prosesus koronoid dari mandibula. 3 I). H). dan akut progressiveloss of vision dengan hyphema. Pengamatan pada 1405 kasus fraktur orbita.03% pada perdarahan retrobular posoperatif disertai dengan kehilangan penglihatan. Retrobulbar hemorrhage.

276 .

Bila terjadi pergeseran fragmen diperlukan tindakan reduksi terbuka. temporal perkutan dan 277 . sub konjungtiva. koronal. subtarsal. Untuk tindakan reduksi dapat dilakukan pendekatan supra eyebrow (alis mata). kecuali atas indikasi seperti fraktur cumminuted. Setelah tindakan reduksi terbuka tidak selalu diperlukan fikasasi. kelopak mata atas.BAB IV KESIMPULAN Perawatan fraktur zygoma memerlukan tindakan bedah bila tidak ada pergeseran fragmen atau pergeseran minimal.

David D. Facial Trauma. Bailey JS. Craniomaxillofacial Trauma. 1999. London 8. 6. Harle.html 278 . 2004 7. Hamilton. Oral and Maxillofacial Trauma. Feb 2005 no 1 tahun IX hal 41-50. Indonesian journal of oral and maxillofacial surgeons..DAFTAR PUSTAKA 1. Atlas of Craniomaxillofacial Osteosynthesis. All. 3. 2005. 9.Vol 1. Elsevier Saunders. Ochs MW. Dalam : Peterson et al. Dalam : Miloro M et al. Prasetiyono A. Goldwasser MS. Philadelphia.. contemporary oral and maxillofacial surgery. Fonseca. Thieme. Management of facial fractures. 2010. McDonald WS.J. Thaller SR. Oral and Maxillofacial Trauma. 2005. 3rd Ed. WB Saunders Co.bartleby. 1995.J.com/107/40. 2004. Ellis E. Anatomy of The Human Body : The Zygomatic Bone. Management of Zygomatic Complex Fractures. 4. Churchill Livingstone. Penanganan fraktur arkus dan kompleks zigomatikus. New York. 2. 1th ed. Third Ed. Peterson’s principles of Oral and Maxillofacial Surgery 2nd. 2003 5. Tucker MR. St louis: mosby co.. Gray H. Available at : http:// www. et al. New York : Marcel Dekker. 1th ed. F. London : BC Decker Inc. et. R.

alveolar maksila. CT scan dilakukan dengan potongan yang tipis. FRAKTUR PALATAL Leidya Valentina Elizabeth 160121120009 Peserta Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut Dan Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Bandung Abstrak : Fraktur palatal jarang ditemukan sebagai diagnosis tunggal pada pasien dengan trauma kraniofasial.5mm. Kata kunci : Fraktur palatal. atau disruption pada hubungan oklusi pada fraktur dislokasi. setiap 1.0 sampai 1. dan berhubungan dengan fraktur Le Fort (8-13. kehilangan gigi incisivus. Fraktur palatal biasanya berhubungan dengan fraktur midfasial atau panfacial.2%). Gejala klinis fraktur ini antara lain seperti ekimosis palatal pada fraktur tertutup dan laserasi pada bibir atas atau mukosa palatal. menunjukkan fraktur dengan jelas.10. 279 .

kehilangan relasi oklusal karena dislokasi fraktur. Untuk memastikan stabilisasi post operasi yang tepat dan restorasi oklusi sebelum cedera. Fraktur palatal jarang sebagai diagnosa tunggal pada pasien dengan trauma kraniofasial.2% berhubungan dengan kasus fraktur Le Fort. Tanda klinis fraktur ini antara lain palatal eccymosis pada fraktur tertutup dan laserasi bibir atas atau mukosa palatal. dan arch bar untuk fiksasi maxillomandibular untuk fiksasi internal. dan dilaporkan sebanyak 8-13. Biasanya berhubungan dengan fraktur midfasial atau panfasial. 280 . Fraktur palatal ditemukan pada 8% fraktur Lefort dan jarang ditemukan sebagai fraktur palatal sendiri. pendekatan tahap operasi diperlukan untuk setiap kelas fraktur palatal3. kehilangan gigi insisivus. arch bar acylated. Fraktur tidak stabil ini seringkali ditemukan pada pasien trauma maksilofacial. menunjukkan fraktur dengan jelas.0 sampai 1. bersama dengan apertura pyriform atau plating alveolar serta rekonstruksi pilarpilar pada fraktur Le Fort. Sering kali fraktur palatal dihubungkan dengan fraktur midfasial lainnya. dengan plate dan screw yang dipasang dibawah mukosa palatal dan periosteum. Pilihan perawatan untuk fraktur palatal meliputi braket ortodontik.BAB I PENDAHULUAN Fraktur palatal memberikan tantangan unik untuk keterampilan bedah dalam penanganan fraktur midfasial.5mm. CT scan dilakukan dengan potongan yang tipis. setiap 1.

1 ANATOMI TULANG PALATUM Palatum durum terbentuk diantara tujuh tulang pilar kraniomaksilofasial. dengan 45% pasien menderita disruption mukosa palatal dan gingival (Gambar1b). Tanpa memperhatikan crest pada midline. Pada hampir semua pasien yang menderita fraktur palatal. dimana beberapa kasus fraktur palatal dapat terdiagnosa (Gambar 1a).BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. Pada lebih dari 65% penderita fraktur palatal. hampir pada semua trauma center dilengkapi dengan peralatan CT Scanner yang sangat akurat. Foramina berukuran sangat kecil dan berfungsi untuk mengimbangi struktur palatum secara keseluruhan. ketebalannya antara 12 sampai 14 mm. Periosteum lebih melekat kuat pada membran mukosa di dalam kavitas oral dibandingkan dengan tulang palatal. Tulang palatal lebih tebal pada bagian anterior dan berangsur menipis ketika mendekati palatum lunak. palatum keras relatif tipis pada regio sagital dan parasagital. namun menjadi lebih tebal ke arah alveolus. Tebal rata-rata palatal adalah 4. Lebar dan dalam palatum keras serta lebar dan panjang mandibula menunjukkan bangunan tiga dimensi sepertiga wajah bagian bawah. akan memberikan tanda dan gejala yang jelas.5 mm. Pada area alveolus. 2. Foramen terdapat dekat midline palatum dari arah anterior (dibelakang insisivus mesial) dan jauh ke arah posterior (dekat gigi molar). keduanya dikenal sebagai mukoperiosteum. Hampir semua segmen fraktur palatal mengalami pergeseran 281 . Peralatan ini sangat penting terutama untuk mendiagnosa fraktur yang tidak memberikan tanda klinis yang jelas. pasien menderita laserasi bibir. Adanya perubahan oklusi maksila mandibula merupakan tanda yang dapat ditemui juga. Palatum terbentuk dari dua tulang yang bersatu: palatum pada bagian maksila dan bagian horizontal palatum.2 DIAGNOSA Saat ini.

3 KLASIFIKASI FRAKTUR PALATAL Fraktur palatal dibedakan berdasarkan hubungan palatal dengan alveolus maksila. Type I : Fraktur Alveolar (2 type) Type Ia : alveolus anterior. karena penderita dapat mengalami fraktur mandibula juga yang mana dapat mengaburkan diagnosa. Gambar 1. molar beserta alveolusnya. Type Ib : Posterolateral.a) CT-scan b) Klinis fraktur palatal1 2. 282 . meliputi gigi incisivus beserta daerah alveolusnya. Ahli bedah harus berhati-hati dalam menentukan oklusi pada penderita fraktur palatal.baik ke arah anterior dan lateral. gigi dan midline palatal3. meliputi gigi premolar.

Fraktur pada daerah ini berbeda dengan type Ib sebab selain daerah premolar dan molar .a) Tipe Ia b) Tipe Ib2 b). Type ini paling sering ditemukan pada dekade ke 2 dan ke 3 sebab garis tengah palatum belum terlalu mengeras. a) Gambar 3.a) Gambar 2. daerah kaninus juga ikut terlibat. mmhg Type III : Fraktur Parasagital Paling sering ditemui pada dewasa (63%) sebab tulang yang tipis berada di daerah parasagital. Type II : Fraktur Sagital Fraktur type II terjadi pada daerah midline dari palatum. 283 .a) Tipe II b) Tipe III 2 b) Type IV : Fraktur paraalveolar Terjadi dari arah palatal menuju alveolaris maksila dan berisi gigi-gigi insisivus.

membelah maksila pada dataran koronal.Type V : Fraktur compleks/ Comminuted Fraktur yang besar multiple. ke arah oblik atau comminuted fraktur kasar.a) Tipe IV b) Tipe V c) Tipe VI 2 c) 284 . Type VI : Fraktur Transversal Fraktur palatal yang paling jarang terjadi. a) b) Gambar 4.

Reduksi dimulai dengan aplikasi arch bar maksila untuk memasang tension band melewati segmen alveolus maksila. Fraktur palatal tipe II. Ketika segmen yang fraktur terlihat. Saat menggunakan fiksasi internal yang rigid. dan hubungannya dengan fraktur pada maksila dan mandibula. tekanan ke arah mesial menggunakan jari untuk mendapatkan lebar lengkung dan batas oklusal. Untuk memastikan penyatuan awal. III. keadaan gigi geligi. IV dan VI dirawat dengan pendekatan perbagian secara urut untuk mengurangi kesalahan penyatuan segmen-segmen fraktur. supaya penyatuan awal dapat dilakukan. Pendekatan bedah meliputi laserasi atau insisi longitudinal pada palatal untuk mempertahankan suplai darah pada segmen palatal. Fraktur tipe Ib bisa dirawat menggunakan arch bar pada pertemuan segmen fraktur yang terbuka di belakang pilar zygomaticomaxillary untuk menfasilitasi reduksi terbuka dengan fiksasi internal. Kedua cara perawatan ini bisa didukung dengan pemakaian mini plate atau mikroplate menggunakan insisi gingival standar untuk Le Fort I.BAB III PEMBAHASAN Perawatan bedah pada fraktur palatal dimulai dengan identifikasi secara spesifik tipe fraktur. Fraktur palatal tipe Ia bisa dirawat menggunakan Erich bar segmental atau menggunakan braket ortodontik tanpa fiksasi intermaksiler. perhatian dilanjutkan pada fiksasi internal rigid pada daerah palatal yang fraktur. Oklusi harus didapatkan sebelum merawat fraktur ini. pemakaian arch bar. pasien bisa dipasangi fiksasi intermaksiler sementara. Setelah fikasi intermaksiler dilepas. Dianjurkan untuk melakukan fiksasi intermaksiler selama dua atau empat minggu. dan palatal acrylic splint pada fraktur kompleks. paling tidak dua plate digunakan 9 satu anterior dan satunya lagi diposterior) untuk 285 . Kemungkinan perawatan yang bisa dilakukan adalah: kombinasi fiksasi internal.

Model gigi diambil dari pasien untuk membuat model pembedahan di laboratorium dan membuat splint palatal. Setelah aplikasi fiksasi rigid dan penutupan insisi. Pemasangan plate dilakukan di regio piriformis dan sepanjang basis pilar zygomaticomaksilaris. fiksasi intermaksilari dipasang kembali untuk mempersiapkan fiksasi internal rigid pada segmen piriformis dan ridge alveolar. Rekonstruksi secara bedah dilakukan setelah semua stabilisasi dilakukan dan stabilisasi oklusi sudah dipastikan. dan jika suplai darah menjadi perhatian. Gambar 5. Fraktur comminuted pada palatum sebaiknya dirawat dengan pendekatan tertutup (close reduction) dimana suplai darah pada segmen fraktur tidak dapat dikompromikan. Persiapan yang optimal diperlukan pada saat memperbaiki palatum yang fraktur comminuted. insisi vertikal ginggiva kemungkinan perlu dilakukan. Direkomendasikan untuk memasang fiksasi intermaksiler selama 2 sampai 4 minggu diikuti dengan elastic guidance dan diet lunak sampai dilepas. 286 . insisi vestibular standar untuk Le Fort I. menghasilkan lebar lengkung daripada yang direncanakan. Acrylic splint2 Fraktur palatal tipe V membutuhkan aplikasi palatal splint akrilik untuk perawatan.menghindari terjadinya pergerakan segmen fraktur ke arah posterior. Pendekatan bedah meliputi laserasi.

Bisa juga diaplikasikan circumdental wire dengan atau tanpa menggunakan arch bar.Splint sebaiknya tidak diperlebar secara interoklusal diantara mandibula dan maksila. 287 .

288 . dan hubungannya dengan fraktur pada maksila dan mandibula. keadaan gigi geligi. pemakaian arch bar.BAB IV KESIMPULAN Fraktur palatal memberikan tantangan unik untuk keterampilan bedah dalam penanganan fraktur midfasial. Perawatan bedah pada fraktur palatal dimulai dengan identifikasi secara spesifik tipe fraktur. dan palatal acrylic splint pada fraktur kompleks. Kemungkinan perawatan yang bisa dilakukan adalah: kombinasi fiksasi internal. Sering kali fraktur palatal dihubungkan dengan fraktur midfasial lainnya. Fraktur tidak stabil ini seringkali ditemukan pada pasien trauma maksilofacial.

Vol 1. 2. 2005. New York : Marcel Dekker. 2004. Oral and Maxillofacial Trauma. St Louis : Elseviere 289 . 3. Vol 2nd.DAFTAR PUSTAKA 1. Elsevier Saunders. Fonseca et al. Ellis E.2005. Facial Trauma. Oral and Maxillofacial Trauma. McDonald WS. 3rd Ed. Thaller SR.

medial chantal ligament.Fraktur Nasal dan Kompleks Orbita Susanti Bulan 160121120004 Peserta Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut Dan Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Abstrak: Cedera pada nasal. Maksud dari penulisan makalah ini adalah untuk memberikan gambaran mengenai fraktur nasal dan kompleks orbita serta perawatannya. dan arteri ethmoidal di daerah tersebut. Sehingga memudahkan doktergigi jika mendapatkan kasus-kasus kegawatdaruratan Kata Kunci: fraktur. orbita dan ethmoid menjadi suatu tantangan baru baik dari cara mendiagnosa maupun rekonstruksinya pada perawatan setelah trauma. orbita 290 . nasal. perawatan yang dilakukan sedini mungkin dan proses rekonstruksi yang hati-hati. Hal ini menjadi penting karena terdapat lacrimal apparatus. Hasil yang baik akan tercapai dengan penguasaan anatomi yang baik.

Fraktur nasal sering kali dirawat dengan penilaian preoperative yang tidak adekuat. Hal ini terjadi karena pada 291 .BAB I PENDAHULUAN Hidung terdiri dari tulang. jaringan lunak dan kartilago. Menurut Christian. dasar filosofi perawatan adalah reduksi fraktur dengan mengembalikan pada bentuk dan fungsi yang normal. meskipun pada mulanya tampak cukup baik4. Rontgen film biasa sulit menggambarkan derajat keparahan dan lokasi dimana cedera itu terjadi. Perawatan fraktur nasal telah menjadi subjek dalam dunia kedokteran sejak zaman Yunani. dan lebih penting lagi perawatan mana yang paling baik untuk pasien sesuai dengan traumanya2. Kecelakaan kendaraan bermotor sebanyak 70% dan 63% mengalami cedera pada bagian lain yang cukup parah. kita dapat memutuskan pilihan perawatan mana yang akan dilakukan. fraktur nasal paling sering terjadi pada struktur tulang fasial dan menurut Schroeder. Untuk mendiagnosa fraktur didaerah ini biasanya ditentukan melalui pemeriksaan CT-Scan. Selama berabad-abad. Kemudian hidung dirawat dengan cara sederhana dan hasil akhirnya mungkin jauh dari yang diharapkan. Fungsinya sebagai saluran udara ke saluran pernapasan bawah dan paru-paru. Pada penelitian yang dilakukan Cruse dari 182 kasus trauma fasial kirakira 18% adalah fraktur nasal dan kompleks orbita. 50 % fraktur pada tulang fasial terpisah dari piramid nasal. Sebanyak 51% mengalami cedera pada central nervous system dimana 42% nya mengalami keluarnya cairan cerebrospinal2. Fraktur tulang nasal dapat bervariasi tergantung arah dan kekuatan yang mengenainya1. Dengan mengetahui hubungan sebab dan akibat antara keparahan trauma dan derajat deformitas. Perluasan disrupsi struktur nasal sehubungan dengan arah dan derajat kekuatan trauma sering kurang diperhitungkan. Insidensi umur dari pasien adalah 31 tahun.

maka ahli bedah dapat membuat diagnosis yang benar dan memilih rencana perawatan yang tepat untuk pasien. Pada makalah ini akan dibahas dan diharapkan dengan mengetahui kekuatan trauma.gambaran rontgen dapat terjadi overlapping struktur-struktur tulang di daerah tersebut2. dengan kombinasi dengan pilihan perbaikan dan penilaian keputusan yang baik. 292 .

sehingga mata. Daerah ini merupakan perlekatan dari medial chantal tendon yaitu processus frontalis dan tulang lakrimal. Rekonstruksi pada daerah ini dilakukan secara hati-hati dan memerlukan kontrol terhadap volume orbita. Rekonstruksi yang dilakukan satu-persatu akan mendapatkankan hasil yang maksimal. pneumocephalus. dan mulut memberikan keindahan wajah. 293 . Hidung adalah suatu struktur midline sentral fasial yang mempunyai unsur kosmetik dan fungsional. Secara kosmetik. ANATOMI Daerah hidung dan Hidung-Mata-ethmoid disusun oleh cranium. dan cedera pada saraf olfaktori.BAB II TINJAUAN PUSTAKA II. Sehingga penting diperhatikan pada saat rekonstruksi untuk mencegah telechantus. Tulang hidung dekat dengan bagian anterior dari tulang orbita dan berhubungan dengan tulang frontal.1. Jika ada trauma maka dapat timbul cerebropinal fluid rhinorhea. tulang lakrimal. tulang maksila. orbita. dan processus maksilaris. pipi. Fungsi estetiknya memberikan keseimbangan. Secara fungsional. Daerah posterior dari kompleks nasal berhubungan dengan sinus ethmoidalis dan terletak ditengah dan dapat dengan mudah terkena trauma karena posisinya yang berdekatan dengan cribiform plate. Tidak jarang pada cedera yang parah dapat menyebabkan komplikasi intrakranial2 . enophtalmos dan disfungsi dari sisem lakrimal. dan kesimetrisannya adalah penting dalam membentuk simetris wajah. hidung merupakan jalan masuk respirasi nasal manusia pada keadaan normal3. hidung membantu membentuk central frame wajah.

Maksilla Gambar 1: Anatomi Cranium dan os. Nasal5 Gambar 2: Permukaan dan struktur anatomi hidung 3 294 .(1) os nasale (2) os.

berturut-turut untuk tulang nasal. oleh karena itu adanya obstruksi pada hidung diduga telah terjadi kelainan3. Pasangan kartilago lateral bawah. penyatuan fibrous ini sangat kuat. dua pasang kartilago bagian bawah ( lower lateral cartilages) (LLCs)). Lateral krus dari LLCs dapat dibagi atas menjadi daerah puncak 295 . Walaupun penyatuan ini tidak kontinius. flat. Secara lateral. dan struktur supporting ini lebih tebal dan lebih kuat dari tulang hidung sendiri. jadi tulang hidung berbentuk tripod3. Prosesus nasalis tulang frontal dan maksila menyebabkan adanya support dari superior dan lateral. Hubungan ini tidak tepi dengan tepi tetapi overlapping. Pasangan LLCs mempunyai medial crus yang berjalan lateral dari LLCs yang berjalan dari lateral ke kartilago septum caudal. tulang hidung bersatu untuk membentuk suatu tenda “pup tent”. satu septum cartilage midline.Pernapasan mulut adalah merupakan tanda terjadinya kelainan pada saluran pernapasan atas (upper airway). disebut dengan kolumela. Tulang hidung sendiri adalah rata (flat). dengan plat tegak lurus dari dukungan ethmoid pada garis tengah seperti sebuah tenda. Cartilaginous hidung dibentuk kombinasi dari dua pasang kartilago lateral atas (upper lateral cartilages) (ULCs)). ULCs mempunyai perlekatan jaringan lunak pada jaringan fibrofatty dari alae nasal dan lateral hidung. oleh karena itu bagian hidung ini harus dipertimbangkan sebagai tripod. berbentuk lembaran empat persegi panjang (rectangle) yang menebal pada bagian superior. Anastomosis tulang sepanjang garis sutura antara ketiga tulang adalah rigid. yaitu tulang dan kartilago. dan cartilago adalah setengah bagian bawah. Secara anatomi. dan berinterdigitasi dengan tulang frontal dan tipis pada bagian inferior. hidung dibentuk oleh gabungan antara tulang pendukung yang fleksibel dan rigid. dengan tulang nasal yang berada dibawah ULCs. kedua ULCs melekat secara kuat satu dengan yang lainnya dan kartilago kwadrangular dari septum nasal anterior. Pada midline. Pada midline. triangular sections dari cartilage hyaline yang melekat secara kuat ke superior pada tepi inferior dari tulang hidung oleh jaringan fibros konektif yang kuat. Tulang hidung adalah setengah bagian puncak. dan melekat pada bagian atas kartilago lateral hidung. dan suatu cartilage terdapat pada beberapa daerah pada jaringan lunak.

tetapi ini tidak sekuat perlekatan pada ULCs dengan septal. yang membatasi orbit bagian anterior. Kulit hidung sangat bervariasi ketebalannya. Pada daerah midline terdapat perlekatan fibrous antara struktur yang membantu membentuk puncak hidung. Jaringan yang menutupi tulang dan kartilago ini adalah jaringan lunak dan mukosa bagian dalam. yang mendukung alae nasal dan berfungsi untuk menjaga terjadinya kolaps selama fungsi inspirasi. mengontrol pembukaan bola mata anterior. Otot pada hidung adalah otot depressor septi. dan pada segmen lateral. Kartilago yang berjalan sepanjang margin inferior lateral LLC. Orbit memiliki kandungan yang melindungi bola mata serta sruktur visual tambahan yang terdiri atas : Kelopak mata. otot dan kulit. kulit yang menutupi hidung berubah menjadi membran mukos. Levator palpebrae superioris 296 . yang akan membantu menjaga terjadinya rotasi ke posterior dari septum dan kehilangan dukungan puncak hidung. Yang terdiri atas : 1.medial. M. Dinding medial dari dua orbit terpisah oleh sinus ethmoidal dan bagian atas dari rongga hidung yang paralel. Ujung kaudal inferior dari kartilago septum nasal dilekatkan oleh pita jaringan fibrous pada spina nasalis anterior maksila. dimana kartilagenous hidung ini lebih tebal dan lebih melekat pada struktur di bawahnya. Muskulus ekstraokular yang memposisikan bola mata dan menaikkan kelopak mata superior. membentuk mucocutaneous junction3. Pada bagian dalam hidung anterior. dimana ini disebut sebagai ukuran dan besar puncak hidung. axis dari orbit divergen kira-kira 45 derajat. sedangkan dinding lateralnya hampir memnbentuk sudut 40 derajat. Orbit merupakan kavitas tulang yang terbentuk oleh tulang fasial yang menyerupai rongga pyramid quadrangular dengan dasar berada dalam arah anterolaterally dan apeksnya dalam arah posteromedially. Sehingga. Kulit dan jaringan subkutan pada tulang hidung tipis dan mobil. dan procerous-kontribusi pada kumpulan jaringan lunak hidung dan hanya mempunyai sedikit fungsi pada pergerakan fasial atau respirasi. dan mengandung kelenjar keringat yang semakin meningkat jika kulit semakin tebal.

Rectus sup. empat dinding dan suatu apeks. medialis. M. M. yang memisahkan rongga orbita dari fossa cranial anterior.Rectus inf. Tulang membentuk tepi orbita yang memperkuat proteksi kandungan orbita dan memberikan perlekatan untuk septum orbita. Dinding superior (atap orbita) diperkirakan berbentuk horizontal dan terutama dibentuk oleh frontal bone.Rectus lateralis M. inferior dan lateral 3. suatu lapisan fibrous terputus yang meluas ke dalam kelopak mata. sehingga orbit ini tersusun oleh matriks dimana struktur dari orbit melekat.inf. M. Empat m.Obliqus med Chiasma opticus M.rectus yang terdiri atas superior.obliqus .2. Dua otot oblik yang terdiri atas obliqus superior dan inferior Nervus dan pembuluh darah yang melewati bola mata dan muskulus. Bentuk pyramid dari orbit memiliki dasar. Membran mukous (konjungtiva) melapisi kelopak mata dan aspek anterior dari bola mata dan aparatus lacimal yang melubrikasinya. Dasar orbita dibatasi oleh margin orbita yang mengelilingi orbital opening. dinding supeior 297 . Dekat dengan apeks dari orbit. Gambar : Mata tampak lateral Gambar 3: Otot-Otot Mata 5 Gambar : Mata tampak coronal Tidak semuannya ruang di dalam orbit ditempati oleh struktur yang berisi lemak orbita.

dibentuk oleh tulang sphenoid. Dan dibagian anterolateral suatu lekukan pada bagian orbita yang disebut fossa lacrimal. Dinding medial yang posisinya kontralateral dari orbit yang paralel dan terbentuk oleh tulang ethmoid, yang berhubungan dengan tulang lacrimale, sphenoid dan frontal. Dibagian anterior Dinding inferior (dasar orbita), dibentuk terutama oleh tulang maksila dan sebagian tersusun oleh zygoma dan tulang palatina. Dinding inferior yang tipis dibentuk oleh orbit dan sinus maksilaris. Dinding lateral dibentuk oleh prosessus frontalis dari tulang zygomatik dan sayap terbesar dari tulang sphenoid. Ini merupakan dinding yang terkuat dan paling tebal. Ini sangat penting karena daerah ini sangat terbuka dan berpotensi mengalami trauma secara langsung. Bagian posterior dipisahkan orbit dari temporal dan pertengahan fossa cranial. Apeks orbit merupakan suatu canal optik pada sayap tulang sphenoid yang kecil, dibagian medial dari fissure orbital superior. (Moore LK,)

Sphenoid Zygoma

Frontal

Frontal

Gambar : Kavitas

Maksila

Orbita

Gambar 4: Anatomi Kavitas Orbita5

II.2 DEFINISI Fraktur nasal adalah terjadinya kerusakan pada tulang di sekitar pangkal hidung, biasanya disebabkan oleh adanya trauma tumpul dan merupakan fraktur tulang daerah fasial yang paling sering. Trauma yang serius pada hidung dapat menyebabkan masalah yang memerlukan perhatian segera. Tetapi pada trauma

298

hidung yang tidak terlalu berat, perlu diperhatikan lebih baik lagi setelah pembengkakan mereda untuk mengevaluasi efek perluasan trauma. Trauma nasal didefinisikan sebagai adanya trauma pada hidung atau hal lain yang dapat menyebabkan terjadinya deformitas, gangguan pernapasan melalui hidung karena adanya obstruksi, atau adanya gangguan penciuman ( olfaction).

Fraktur orbita biasanya tampak bersamaan dengan trauma midfacal. Tingkat keparahan fraktur mulai dari fraktur yang pergeserannya minimal pada suatu dinding yang terbatas yang tidak membutuhkan intervensi bedah sampai dengan kerusakan yang parah dari orbit. Fraktur orbita mungkin di jelaskan

dengan pertimbangan hubungan anatomi, berikut ini : 1. Fraktur dapat terbatas pada tulang orbital internal. Jenis ini termasuk blow-out dan blow-in, seperti yang tampak pada fraktur pada dasar orbita, dinding medial, dan atap orbita. Fraktur blow out dapat dibagi mengikuti berbagai macam fraktur : Fraktur trapdoor yang disebabkan oleh kekuatan yang ringan. Fraktur medial blow-out yang disebabkan kekuatan menengah. Fraktur lateral blow-out yang sebabkan oleh kekuatan yang tinggi.

2. Fraktur mungkin melibatkan rim orbital. Suatu fraktur rim superior, inferior, dan lateral mungkin sebagai suatu luka yang terbatas, atau ini mungkin berbatasan dengan fraktur dinding internal. 3. Fraktur yang hubungkan dengan fraktur lain pada skeleton facial.

Keterlibatan orbit pada berbagai bentuk fraktur fasial, termasuk zygomaticomaxillary (ZMC), naso-orbito-ethmoid (NOE), sinus frontal, Le Fort II,dan Le Fort III. 4. Fraktur apeks orbita adalah penting untuk diidentifikasi karena ini berhubungan dengan kerusakan pada struktur neurovaskuler dari fissura orbita superior dan kanal optik. Trauma fasial kebanyakan diakibatkan oleh kecelakaan kendaraan bermotor, kecelakaan industri, fasial trauma yang berhubungan dengan olah raga, dan kekerasan. Kecelakaan kendaraan bermotor, khususnya yang tidak

299

menggunakan seatbelt, merupakan kejadian yang paling banyak mengakibatkan trauma maksilofasial, yang ditunjukkan pada sebagian besar negara berkembang. Penatalaksanaan trauma orbita dan fraktur bertujuan untuk meminimalisir dan mencegah kerusakan awal dan lanjutan serta komplikasinya. Tujuan dari intervensi adalah untuk mencegah hilangnya penglihatan dan meminimalisir masalah lebih lanjut, seperti diplopia yang persisten dan malposisi bola mata.

II.3 KLASIFIKASI Pola kerusakan dan perluasan displacement struktur nasal jika terjadi fraktur adalah tergantung pada arah dan derajat kekuatan yang terjadi. Pada tahun 1468, Rowe dan Killey menggambarkan trauma yang terjadi pada nasal dari arah lateral dan anterior. Ini merupakan dasar klasifikasi trauma tulang nasal yang dibuat oleh Stranc dan Robertson (1474). Tetapi kemudian mereka membagi fraktur akibat benturan atas tiga tingkatan trauma dimana peningkatan keparahan merupakan cermin peningkatan kekuatan trauma. Bidang satu, trauma tidak meluas berdasar suatu garis pertemuan tepi bawah tulang nasal ke spina nasalis anterior; bidang dua, trauma terbatas pada daerah hidung eksternal dan tidak mengenai orbital rim; bidang tiga, trauma lebih serius, oleh karena meliputi orbita dan kemungkinan juga struktur intra cranial, biasanya berhubungan dengan trauma pada nasoethmoid serta diagnosa dan perawatannya juga lebih komprehensif 4.

300

Gambar 5: A dan B menunjukkan peningkatan derajat trauma dengan peningkatan daya yang mengenai hidung5

Pada tahun 1486, Murray dan Maran mengemukakan suatu klasifikasi pathologi dari fraktur nasal yang diteliti pada lebih dari lima puluh cadaver. Mereka menemukan tujuh pola yang berbeda dari fraktur nasal dengan berbagai macam derajat keterlibatan septum. Mereka menyimpulkan bahwa kerusakan septum juga berhubungan dengan fraktur nasal. Pada keadaan klinis mereka menetapkan bahwa, jika hidung mengalami deviasi lebih dari setengah kali dari lebar aslinya, tulang akan mengalami deviasi kembali setelah dilakukan manipulasi hanya pada tulang nasal saja4. Klasifikasi dari fraktur orbita adalah: 1. blow out fracture, dibagi menjadi: 1. pure blow out – orbital rim intak 2. impure blow out – terjadi fraktur pada orbital rim 2. fraktur blow in Fraktur dasar orbita blow out merupakan trauma dari tepi orbita atau jaringan lunak di sekitar orbita, fraktur ini disebabkan oleh peningkatan tekanan

301

intra-orbital secara akut yang menekan dinding-dinding orbita. Fraktur dasar orbita blow out dapat timbul bersamaan dengan fraktur dinding medial atau orbita rim.1,2

Gambar 6: Fraktur Blow in dan Blow out 1,2

Klasifikasi fraktur Nasal-Orbit-ethmoid (2) Type I : Klasifikasi yang paling sederhana, hamya melibatkan satu bagian dari nasal-orbita ethmoid yaitu bagian medial orbital rim. Type II : daerah yang terkena lebih luas atau comminuted fraktur Type III: daerah yang terkena luas termasuk bagian tengah dari central fragmen dimana medial canthal tendon melekat, terjadi avulsi dari canthus

302

Gambar 7: Fraktur Nasal, ethmoid4

II.4 PENYEBAB DAN GEJALA KLINIS Penyebab terbanyak adalah trauma kecelakaan kendaraan bermotor, trauma karena olah raga, berkelahi, kecelakaan pekerjaan, aktivitas yang berlebihan, dan terjatuh adalah yang paling sering terjadi pada anak-anak1. Gejala klinis dapat meliputi rasa sakit, pembengkakan, obstruksi pernapasan, epistaksis, krepitasi, septal hematoma, rhinitis, dan stenosis nasal vestibular1. Kebanyakan penderita yang mengalami trauma dasar orbita blow out mempunyai gambaran sebagai berikut : 1. Berkurangnya kemampuan visual. 2. Blepharoptosis. 3. Diplopia binocular vertical atau oblik. 4. Hyperthesia ipsilateral, dysesthesia atau hyperalgesia sesuai dengan distribusi n. infraorbitalis.

303

5. Epistaksis 6. Pembengkakan pada kelopak mata setelah meniupkan udara ke hidung 7. Edema dan ecchymosis periorbita yang disertai dengan rasa sakit merupakan gejala dan tanda eksternal. 8. Enophtalmos mungkin juga terlihat tapi awalnya terjadi

pembengkakan jaringan disekelilingnya. Pembengkakan juga akan membatasi gerak otot ekstraokuler 9. Proptosis juga bisa terjadi dari perdarahan retrobulbar atau peribulbar. 10. Tenderness pada saat palpasi orbita, juga dapat merasakan step pada tulang orbital rim. Pemeriksaan bola mata sangat penting dan mungkin sulit karena adanya edema pada jaringan lunak. Untuk ini diperlukan set desmares retractor. Jika terjadi disfungsi pupil, ditandai dengan menurunnya kemampuan visual, harus diwaspadai terhadap kemungkinan terjadinya neuropathy optikus traumatik. 4 Mata dengan kesejajaran yang tidak sama dapat juga terjadi, hipotropia atau hipertropia serta terbatasnya kemampuan menarik mata ke atas. Wilkin dan Havin melaporkan 30 % terjadi insidensi bola mata yang ruptur bersamaan dengan fraktur orbita, kenyataan ini mengingatkan betapa perlunya pemeriksaan opthalmologis yang menyeluruh dan kompleks. 1 Gambaran klinik dari fraktur blow in terutama berhubungan dengan pengurangan volume pada rongga orbita.4 1. Proptosis (exopthalmus) adalah protrusi atau majunya bola mata (okuli) yang abnormal. Umumnya terjadi di awal kejadian, bersama dengan hematom dan pembengkakan dari jaringan orbita

304

Gambar 8:. Adanya hematoma. Hilangnya refleks kornea diakibatkan karena keterlibatan cabang nasociliary dari subdivisi nervus V. Tidak adanya refleks dan akomodasi terhadap sinar langsung karena terbendungnya aliran efferen oleh paralisis dari mengakibatkan ruptur bola 305 . nervus frontal. menetapnya dilatasi pupil akibat nervus kranial III. Bola mata bergeser lebih jauh pada dataran koronal dan pergerakan bolah mata yang terbatas 3. nervus kranial III (cabang suerior). divisi inferior darinervus kranial III dan vena ophtalmicus. merupakan gejala umum dan berhubungan dengan fraktur pada dinding medial. disebabkan oleh lesi yang diakibatkan oleh trauma. nervus kranial IV. lateral dan atap orbita. edema pada muskulus ekstraokular atau pada fasia di sekitar orbita atau terperangkapnya lemak orbita merupakan penyebab utama. dasar. 5. Gejalanya adalah hilangnya sensasi pada dahi yang diakibatkan oleh cabang frontal dari nervus V. 4. Exopthalmus6 2. tekanan langsung atau suatu penekanan akibat hematom (atau keduanya) pada kandungan fissura orbital superior antara lain : nervus lacrimale. Diplopia (double vision). nervus nasomaksilaris. IV dan VI. Sindrom fissure orbital superior. nervus kranial VI. dan terbendungnya suplai parasimpatik yang dibawa oleh nervus III. Pergeseran fragmen fraktur ke dalam orbit mata. vena ophtalmic superior.

Selain itu juga terjadi edema yang persisten akibat obstruksi vena ophtalmicus2. cedera pada nervus dapat menyebabkan spasme dari pembuluh darah retina. Dengan suatu kekuatan yang lebih besar kedua tulang nasal dapat terjadi fraktur dan displaced dan ini sering kali disertai dengan terjadinya fraktur septum. 8. Ptosis dapat terjadi secara manual dan secara kongenital. Ptosis. II. Cedera pada nervus optikus. merupakan keluarnya penonjolan dari selaput dan bagian otak melalui celah yang terbentuk antara tulang dapat merupakan akibat dari suatu trauma.5 POLA TRAUMA A. Displaced fragmen nasal dapat segera direduksi dengan 306 . ataupun pascaoperasi. 6. Selain itu ditandai oleh gangguan visual dan perubahan respon pupil terhadap respon cahaya.nervus III. Selain itu CSF juga dapat timbul karena adanya fraktur pada basis cranium. Trauma dari Lateral Ini adalah trauma yang paling sering terjadi dan seringkali tidak terlalu parah. berhubungan dengan bengkok atau tertekuknya septum nasal tanpa terjadi fraktur septum. 7. Hasilnya akan lebih stabil sebab tidak terdapat fraktur pada septum. (peter ward booth) 9. hasilnya akan lebih stabil diikuti dengan reduksi fraktur dengan menggunakan Walsham’s forceps dan pelurusan septum nasal dengan menggunakan Asch’s forceps. merupakan jatuhnya kelopak mata atas ke posisi lebih jika dibandingkan dengan posisi normal sebelumnya. Meningoceles dan encephaloceles. Tergantung pada derajat kekuatan. Mungkin ditemukan adanya CSF. Keterbatasan pada muskulus rectus superior atau hematom yang pada kelopak mata bagian atas. 10. Pada keadaan ini umumnya dengan dilakukan manipulasi tertutup sudah cukup memuaskan. karena adanya fraktur sphenoidale dan ethmoid juga fraktur pada sinus frontal sehingga menyebabkan dural tear sehingga terjadi hubungan dengan subarachnoid space. luasnya kerusakan tulang dapat bervariasi dari yang sederhana sampai displacement tulang nasal.

dapat terlepas. b. seluruh piramid nasal.manipulasi tertutup tetapi penting untuk melakukan eksisi berbentuk C pada septum4. terutama pada bagian sepertiga bawah tulang nasal. Dengan daya yang lebih besar lagi. a. Kelompok pertama dirawat dengan manipulasi dan bedah septum tetapi pada kelompok yang kedua. kedua tulang nasal akan fraktur pada ujung bawah dan. terutama dengan adanya ketidakstabilan nasal. 307 . dengan comminuted fracture. Manipulasi dengan sentralisasi septum harus dikombinasi dengan support internal pada nasal seperti yang dikemukakan oleh Sear (1477)4. displacement dan fraktur dari struktur ini sering sekali terjadi. Daya yang lebih besar menimbulkan displacement pada piramid dan septum nasal4 B. Daya yang moderat menimbulkan depressi pada tulang dan septum nasal. oleh karena sebagian besar daya diterima oleh septum nasal. Gambar 9 : Trauma nasal dari arah lateral. termasuk prossesus frontalis dari maksila. Trauma dari Anterior Adanya pukulan atau trauma dengan kekuatan yang moderat dari arah frontal. reseksi submukus akan menimbulkan kolaps yang lebih parah. Fraktur nasal tipe ini bervariasi hubungannya dengan fraktur septum dan terjadi displacement yang menyebabkan terjadinya ketidakstabilan nasal (4).

Plate silastik ini dipertahankan dengan menjahitkannya bersama-sama melalui kulit sedikit di belakang kolumela dan dipertahankan selama 10 – 14 hari4 308 . Daya sedang menimbulkan depressi pada septum dan piramid nasal. dalam pandangan faktor waktu meliputi waktu yang lama dan prosedur operasi yang komplek4.Gambar 10 : Trauma nasal dari anterior. a. Septum harus dikembalikan ke posisinya tetapi tidak boleh dilakukan reseksi septum pada tahap pembedahan primer. Manipulasi tertutup fraktur nasal dianjurkan untuk tetap menggunakan support intranasal. Jika terdapat laserasi yang parah pada mukosa nasal disarankan untuk menggunakan lapisan silastik yang dimasukkan pada nostril untuk menjaga pembentukan adhesi intranasal. nasal endotracheal tube dapat diletakkan pada posisi atau dilakukan trakheostomi. Untuk menjaga kedua penetapan oklusi dan aplikasi fiksasi intermaksila yang masih tetap terpasang sampai pasien sadar dari efek anestesi agar jalan nafas tetap aman. Trauma yang Berhubungan Dengan Fraktur Fasial Lain Fraktur pada tulang wajah. Daya yang lebih besar menimbulkan fraktur comminuted pada piramid nasal dan septum4 C. Alternatif lain. harus dapat direduksi dan distabilisasi terutama untuk reduksi fraktur nasal. terutama pada bagian tengah wajah. b. meskipun sudah indikasi. Ini mungkin perlu untuk merubah nasal endotracheal tube menjadi oral endotracheal tube sebelum reduksi nasal.

309 .

Setengah bagian bawah atau sepertiga dari tulang nasal yang biasanya mengalami fraktur. Salah satu konsep yang selalu salah tentang fraktur nasal adalah terjadinya pelepasan dan displacement tulang nasal. Pada waktu eksplorasi biasanya menunjukkan bahwa dasar piramid tetap intak meskipun terjadi displacement yang hebat ke ruang interorbita 4. kecuali terjadi fraktur nasoethmoid yang parah. meskipun pada mulanya tampak cukup baik4. 50 % fraktur pada tulang fasial terpisah dari fraktur pyramid Fraktur nasal sering kali dirawat dengan penilaian preoperative yang tidak adekuat. Perluasan disrupsi struktur nasal sehubungan dengan arah dan derajat kekuatan trauma jarang diperhitungkan. Dasar dari piramid hidung jarang sekali terlepas dari tulang frontal. Gambar 11 : Trauma nasal lateral menunjukkan adanya displaced fracture pada bagian tengah bawah tulang nasal kiri dan tepi anterior prosesus frontal kiri tulang maksila disertai dengan pembengkokan tulang septum4 310 .BAB III PEMBAHASAN Menurut Christian (1476). Kemudian hidung dirawat dengan cara sederhana dan hasil akhirnya mungkin akan jauh dari yang diharapkan. trauma ini adalah yang paling sering pada skeleton fasial dan menurut Schroeder (1481).

Septum sering kali tidak tetap lurus setelah dilakukan manipulasi dan piramid hidung pada garis septum yang mengalami distorsi. hasilnya akan menjadi lebih baik. Harrison menganjurkan pada fraktur nasal horizontal bagian bawah. Menurut Stell (1480). Kemudian mereka menyimpulkan pada percobaan klinis. Mereka mempelajari mekanisme fraktur nasal dengan meneliti fraktur nasal pada kadaver dan menyimpulkan bahwa tulang nasal yang mengalami deviasi lebih dari setengah lebar jembatan. dan 50 % berfungsi normal dalam jangka waktu lama. harus dilakukan reseksi submukus primer agar tidak terjadi kolaps pada garis jembatan kartilagenous4. Stranc menekankan pada perawatan fraktur nasal bidang dua. Alasan mengapa distorsi tampak progresif dari kartilago septum dijelaskan oleh Fry. Pengertian yang lebih jauh lagi dari mekanisme dan perawatan fraktur nasal dibuat oleh Murray (1484). kemudian ke inferior melalui vomer terminate dengan suatu 311 . hanya 30 % yang menunjukkan penampilan yang normal. ada suatu fraktur berbentuk C yang terjadi bersamaan dari tulang dan cartilaginous septum. dari hasil penelitian retrospektif menunjukkan bahwa. kartilago lateral dan septum nasal dapat terjadi dislokasi tanpa disertai fraktur tulang nasal4. Harrison adalah orang yang pertama menemukan bentuk C fraktur septum ( C-shaped fracture).Posisi dan integritas komponen kartilagenus dari rangka nasal harus selalu ditetapkan. bahwa eksisi pada daerah cartilage pada sisi septum yang mengalami fraktur berbentuk C akan menghasilkan hasil yang lebih baik. bahwa meskipun jarang. dan vertikal posterior. dari 107 fraktur hidung yang dirawat dengan manipulasi tertutup. yaitu pelepasan dari tegangan internal yang terkunci. sebaiknya dilakukan reseksi submukus pada septum nasal dan jika ini dilakukan pada waktu perawatan primer. Tetapi Harrison (1474) menemukan bahwa suatu pola dari suatu fraktur septum dan displacement yang diindentifikasi adalah disebabkan karena manipulasi yang kurang baik. Penempatan manipulasi tertutup dari fraktur hidung masih menjadi pertanyaan. Fraktur berbentuk C dari tulang dan kartilago dimulai dari bawah dorsum hidung berjalan ke posterior melalui perpendicular plate dari ethmoid. Harus tetap diingat.

5 cm posterior dari kolumela. Pita gauze lembut yang dimasukkan pada nasal adalah merupakan stabilisasi yang kurang baik dan packing yang berlebih pada hidung sering kali menyebabkan distorsi dari reduksi yang diinginkan. Kemudian mukoperichondrium dibuka dan biasanya garis fraktur berbentuk C akan segera dapat terlihat. Kartilago dipisahkan dan sisi kontralateral disingkapkan. salah satu faktor yang menyebabkan hasil yang tidak memuaskan dari manipulasi fraktur nasal adalah tidak adanya dukungan nasal internal setelah reduksi. yaitu pada 2. Menurut Murray. Gambar 12 : Skema menunjukkan garis fraktur dengan displacement yang berat disertai fraktur septum berbentuk C4 Untuk operasi pada septum mereka menganjurkan melakukan suatu insisi vertical di posterior. Kemudian dilanjutkan sampai pertemuan ethmoid dan tulang nasal. tetapi harus hati-hati agar tidak terlalu caudal dari tulang nasal atau terlalu dalam karena akan dapat merubah profil. Tulang nasal dimanipulasi dan suatu pack ( light pack) dimasukkan ke dalam nostril4. Light packing pada hidung sebaiknya hanya digunakan untuk mengkontrol epistaksis setelah 312 . Suatu reseksi yang terbatas dari septum kemudian dibuat dengan melakukan suatu eksisi tipis dari kartilago dan tulang pada sisi yang terdapat fraktur C dan diangkat paling sedikit 1 cm dari plate perpendicular dari ethmoid.curve anterior pada kartilago septum 1 cm di atas puncak maksila dekat dengan sudut vomerine4.

dan Asch’s septal forceps4. Rotasi ke arah medial atau lateral yang akan menjauhkan atau mendekatkan fragmen fraktur pada tulang nasal4. Penilaian klinis dan radiografis preoperative yang sangat hati-hati adalah suatu syarat untuk keberhasilan perawatannya. Septum dimanipulasi dengan Asch’s septal forceps.manipulasi tulang nasal. Pada tahap ini. Ronsen foto harus diambil dari dua arah untuk kepentingan diagnosis dan rencana metoda reduksi. metode yang telah dijelaskan di atas akan lebih baik menggunakan anestesi umum. Pangkal hidung harus dipegang di antara jari telunjuk dan ibu jari tangan yang berlawanan yang juga digunakan untuk menambah stabilitas pada kepala terutama pada waktu melakukan manipulasi4. operator harus mempunyai gambaran yang jelas mengenai apa yang seharusnya akan dilakukan. 313 . Instrument yang biasa digunakan adalah Walsham’s forceps. Paruh forceps pertama-tama dimasukkan pada dasar hidung dan sisi yang lainnya pada septum dan dengan tekanan gentle digunakan untuk mengembalikan cartilage septum. Pengggunaan plaster eksternal atau Paris splint tidak akan mendukung fragmen nasal. Sebelum melakukan reduksi fragmen nasal yang mengalami displacement. Metoda manipulasi hidung dibawah anestesi lokal telah dijelaskan sebelumnya. Kemungkinan dapat terjadi relaps dengan resolusi dari pembengkakan jaringan disekitar jaringan yang disebabkan fiksasi yang buruk dari splint plaster. informasi tambahan akan lebih diperoleh dengan inspeksi intranasal dengan bantuan speculum dan lampu kepala ( head light). Paruh yang lebih kecil dari Walsham’s forcep dimasukkan ke dalam lubang hidung dan paruh yang lebih besar (dilapisi dengan karet lembut untuk melindungi kulit) yang terdapat pada eksternal untuk memegang sisi luar hingga dapat memegang dan mengangkat hidung ke arah medial canthus dan sejajar dengan proses frontal tulang maksila. Fragmen tulang yang hilang harus diambil and mukoperikhondral harus tampak jelas. yang digunakan untuk memanipulasi tulang nasal dari prosesus frontal maksila. Hidung harus dibersihkan dari semua debris dan gumpalan darah dengan suction. Septum nasal kemudian diperiksa. Kebanyakan fraktur nasal sederhana tidak memerlukan aplikasi splint eksternal setelah dilakukan reduksi4.

dan tingkat cairan udara dalam sinus maksilaris. antara lain yaitu : 1. Walsham forceps dan Ash Forceps Gambar 13. Gambaran yang lebih luas dari orbita bisa didapatkan dari proyeksi waters. 3. Tang Rekonstruksi Nasal4 PEMERIKSAAN RADIOLOGIS DAN DIAGNOSTIK Penegakan diagnosis selain dari temuan klinis dilakukan dengan bantuan pemeriksaan penunjang. CT scan masih merupakan pemeriksaan imaging yang dipilih untuk evaluasi trauma orbita karena kemampuannnya untuk melihat detail 314 . prolaps isi orbita. 2. Foto AP orbita biasanya diambil dengan berbagai variasi angulasi sinar. Proyeksi Caldwell memperlihatkan visualisasi dasar orbita dan prosessus zygomatiko-orbitalis diatas densitas petrosus pyramidalis.Kemudian paruh dapat diputar ke kiri atau ke kanan dengan memegang septum sepanjang garis jembatan dan tarikan dapat dilakukan untuk elevasi nasal bridge4. Paling umum digunakan adalah proyeksi Cadwell dan Waters. Proyeksi ini menempatkan petrosus piramidalis di bawah sinus maksilaris sehingga memudahkan evaluasi dasar orbita.

CT Scan dalam mengevaluasi fraktur 4 KOMPLIKASI FRAKTUR ORBITA Fraktur orbita akan menyebabkan beberapa komplikasi dan permasalahan. Jika terjadi enophthalmus lebih 315 . 1 Gambar 14.struktur tulang. walaupun MRI bisa memperlihatkan detail regio orbita dengan sangat halus. Fraktur dasar orbita dapat mengakibatkan penambahan volume orbita dan keadaan ini mengakibatkan enophthalmus. test ini dapat menghasilkan konfirmasi klinis yang penting mengenai adanya otot atau jaringan yang terperangkap.1.2 Jika CT scan mempunyai hasil yang samar-samar saat mengevaluasi pasien yang dicurigai terjadi entrapment. Enophthalmus. di antaranya adalah : 1. dilakukan test forced duction. Menilai secara langsung kemampuan atau ketidak mampuan lebih jauh mata saat pasien disuruh melirik ke atas.

Perawatan yang paling baik adalah pada waktu tiga jam pertama saat terjadi trauma. Bola mata juga dapat melesak atau hipo-ophthalmik dibanding sisi kontralateralnya.7 hari. Biasanya. Perawatan fraktur nasal bertujuan untuk memperbaiki dan mengembalikan fungsi dan etetik. Emfisema. Bola mata dapat menjadi robek. kontraktur dan 316 . maka komponen hidung harus direduksi bersamaan dengan fraktur lainnya4. jika ini tidak memungkinkan. Keadaan ini mengakibatkan terhambatnya pergerakan ke atas dari bola mata. Otot rektus inferior atau jaringan orbita dapat terperangkap dalam lokasi fraktur. Waktu dan perlunya intervensi bedah pada perawatan fraktur dasar orbita murni masih dalam perdebatan. untuk mencegah terjadinya pembengkakan yang lebih besar. tetapi pada kasus yang lain. perawatan harus ditunda sampai sepuluh hingga dua belas hari agar pembengkakan dan luka memar menjadi lebih reda. Jika fraktur berhubungan dengan fraktur sepertiga wajah yang lainnya. namun trauma yang tidak begitu berat hanya akan mengakibatkan hyphema atau edema retina.dari 2 mm. Kebanyakan literatur mendukung waktu dua minggu untuk perbaikan sehingga mencegah fibrosis. keadaan ini mengakibatkan ketidakseimbangan. Fraktur nasal yang terpisah dapat dapat dilakukan reduksi dalam waktu 24 jam pertama.1 WAKTU PERAWATAN Waktu perawatan fraktur nasal masih terdapat kontroversial. Diplopia. 3.1 III. 2. Waktu perawatan ini sangat penting oleh karena fraktur nasal lebih dari 10 hari akan mengalami penyembuhan tulang dan kemungkinan memerlukan tindakan termasuk rhinoplasty . maka sebaiknya penanganan dilakukan 3 . dapat terjadi emfisema orbita karena adanya hubungan dengan sinus maksilaris serta bisa juga disertai perdarahan orbita. menyebabkan diplopia.

perawatan harus dilakukan lebih cepat. Sayangnya metode ini tidak hanya menutup jalan nafas tetapi juga merupakan sumber infeksi yang potensial. 317 .2 III. Gauze ini secara hati-hati dimasukkan kedalam lubang hidung dengan bentuk lapis demi lapis dan penting untuk diperhatikan pertama-tama menempatkan pack pada nares superior sepanjang garis jembatan (bridge-line)4. Suport intra nasal yang adekuat tidak akan diperoleh dengan teknik ini untuk menstabilkan hidung4. Ribbon gauze Metode ini sering kali dianjurkan sebagai metoda yang adekuat dan standar untuk memperoleh dukungan internal pada fraktur nasal. 1.2 METODE IMOBILISASI A. Beberapa ahli sering menunggu beberapa hari supaya edema dan perdarahan sudah tidak ada sehingga didapat penilaian yang baik terhadap enopthalmus dan fungsi otot ekstraokuler. tetapi juga merupakan penyebab terjadinya masalah pada telecanthus jika pemasangan pack terlalu berlebihan sehingga menimbulkan terjadinya fraktur lain pada prosessus frontal maksila. dengan menggunakan pita gauze yang dilapisi dengan paravin/ flavine emulsion atau bismuth iodoform paraffin paste (BIPP). Pada kasus dimana terperangkapnya tarikan rektus inferior. Pack ini harus tetap dipertahankan selama 2 – 3 hari.terperangkapnya jaringan. yang mungkin dapat menimbulkan konsekuensi serius berhubungan dengan CSF rhinorrhoea. Tehnik ini tidak mempunyai support intra nasal anterior posterior. Metode ini sebaiknya hanya digunakan sebagai hemostasis pada periode awal operasi dan sebagai support awal pada reposisi tulang nasal dimana pada septum nasal tidak terjadi fraktur. Splint Intranasal 1. keadaan ini mungkin disebabkan oleh tidak adanya tekanan dari eksternal.

318 .5875 mm dan pasangan yang sama dibengkokkan membentuk angka 7 dengan diameter yang lebih lebar pada posisi datar. Metode insersi dan retensi splinting ini seperti gambar yang memperlihatkan tulang nasal dan tepi jaringan lunak tanpa kehilangan palatum keras dianjurkan pada waktu memilih ukuran splint yang cocok4.Gambar 15: Ribbon gauze4 2. Stainless-steel intranasal splint Metoda ini dikemukakan oleh Sear pada tahun 1477.175mm x 1. Splint terbuat dari bahan stainless steel 3. yaitu untuk mendapatkan support internal yang rigid terutama pada kasus terjadinya kolaps anteroposterior.

Bahan ini terdiri dari 4 atau 5 lapis dari potongan 10 cm plaster of Paris bandage yang dilembutkan dengan air. Sangat penting untuk diperhatikan bahwa plaster sudah menempel pada kulit dari daerah medial sampai bagian dalam canthus masing-masing mata yaitu dengan memegang antara jari telunjuk dengan ibu jari. B. Sementara plaster 319 . kelebihan dibuang dengan tekanan antara cotoon gauze sebelum aplikasi. Kemudian dengan hati-hati dilakukan pemasangan plester pada daerah sekitar kepala dan glabela. Splint Eksternal 1. Metoda ini terutama cocok untuk memperoleh support nasal pada pasien dengan fraktur fasial multiple4. Plaster of Paris Splint Teknik ini dikenal dengan bentuk kupu-kupu. tetapi pada beberapa kasus tertentu tidak begitu praktis. nasal bridge line dan duapertiga bagian atas hidung.Gambar 16 : Metode insersi dan retensi splint intra nasal untuk memperoleh support internal4 Metode yang sederhana dan memuaskan untuk memperoleh support internal pada hidung. dan sangat membantu untuk memperoleh suatu pola dengan juga menggunakan gauze atau jaconet cut untuk membentuknya dan mengetahui ukuran yang tepat sebelum diaplikasikan.

Tipe splint eksternal ini sangat memuaskan. Kemudian diaplikasikan pada kontur hidung satu persatu. terutama pada kasus dengan adanya jahitan luka pada hidung dan glabela Tetapi ini tidak tepat pada kasus dengan fraktur septum pada waktu ini dan pembedahan sekunder 320 . Terutama pada fraktur nasal yang disertai dengan fraktur ethmoid. Sehelai lembaran logam lunak (soft metal) dipotong mengikuti bentuknya kemudian diaplikasikan dan konturnya dibentuk. terutama pada daerah yang dekat dengan mata dan sekitar puncak hidung. Kemudian plaster dilekatkan pada daerah kepala dan pipi dengan bahan Elastoplast atau bahan pelekat lain. Kemudian lapisan gauze collodion diaplikasikan dan dibentuk sehingga akhirnya splint tercetak hanya pada bagian medial dari bagian dalam canthi seperti yang diterangkan sebelumnya pada splint Plaster of Paris. Ini adalah untuk menjaga agar tidak terjadi luka pada kulit.mengeras. sehingga akan membentuk cetakan dan diperhalus dengan Howarth’s elevator. biasanya terjadi pembengkakan jaringan lunak pada sekitar hidung4 . Collodion gauze dan soft metal sheet (Ash’s soft metal sheet-tin/lead alloy) Beberapa lapisan gauze dipotong sesuai dengan ukurannya dan direndam dalam larutan collodion. Ketika pembengkakan mulai berkurang splint akan menjadi longgar dan oleh karena itu harus segera diangkat. Sudah menjadi standard untuk membiarkan Plaster of Paris selama 7 – 10 hari. perlekatan dengan kulit dibantu dengan pemberian Compound Tincture of Benzoin. tetapi ini tidak benar. lebih baik pada hari ketiga dan keempat atau lebih jika diperlukan. Gambar 17: Plaster of paris splint4 2.

Beberapa ahli sering menunggu beberapa hari supaya edema dan perdarahan sudah tidak ada sehingga didapat penilaian yang baik terhadap enopthalmus dan fungsi otot ekstraokuler. kontraktur dan terperangkapnya jaringan. Kebanyakan literatur mendukung waktu dua minggu untuk perbaikan sehingga mencegah fibrosis. harus dilakukan perbaikan yang cepat karena kemungkinan kelainan ini bisa menetap sangat tinggi. Hal ini harus 321 . Gambar 18: soft metal sheet4 Waktu dan perlunya intervensi bedah pada perawatan fraktur dasar orbita murni masih dalam perdebatan. pada fraktur dasar orbita bisa timbul diplopia karena terbatasnya gerakan ke atas dan ke bawah. dengan atau tanpa bersamaan dengan fraktur dinding mesial dan dengan prolaps jaringan orbital. Trapdoor atau fraktur anteroposterior dapat ditemukan secara klinis dimana sulit ditemukan secara radiologis. Keadaan ini biasanya mengakibatkan enophtalmos yang signifikan (lebih dari 2 mm) dan ini merupakan indikasi untuk dilakukannya reparasi.mungkin diperlukan pada beberapa waktu kemudian. Jika keterbatasan ini terjadi dalam 30 derajat dari gerakan utamanya dengan test forced-duction positip dan CT Scan menunjukkan adanya fraktur. 1. Pada kasus dimana terperangkapnya tarikan rektus inferior. perawatan harus dilakukan lebih cepat. terutama untuk mengatasi obstruksi pada nasal4. Selain itu.2 Fraktur dasar orbita melibatkan lebih dari 50 % mengenai lantai.

Fraktur lateral orbita Penanganan fraktur pada dinding lateral melalui incisi pada subciliary (blepharoplasty) lateral dikombinasi dengan lateral incisi eyebrow . melalui pembukaan perkutaneous atau pendekatan transmaksilaris. 1 Koreksi bedah merupakan kontra indikasi pada pasien yang secara medis tidak stabil dan tidak bisa mentoleransi anestesi. Selain itu. dengan demikian dapat mengembalikan volume orbita dan menghilangkan semua pergeseran struktur jaringan lunak.4 Perawatan orbital fraktur harus terlebih dahulu melakukan dekompresi dengan segera kemudian melakukam rekonstruksi sesuai dengan lokasi dari fraktur. Selain itu dapat dipergunakan muscle relaxant untuk mencegah spasme muskulus temporal. hal ini bertujuan untuk perbaikan partisi antara orbit dan antrum maksilaris. Fraktur medial orbita 322 . pendekatan ini dilakukan untuk memperbaiki defek tulang dengan mengambil atau mereposisi fragmen tulang.dipertimbangkan. dengan demikian diharapkan dapat memperbaiki semua gangguan motilitas ekstraokuler.4 Fraktur atap orbita Penanganan fraktur pada atap orbita dianjurkan untuk mengeksplorasi atap orbita dengan menggunakan periosteal elevator sehingga segment fraktur dapat dikembalikan ke posisinya atau menjadi datar dan mencegah cederanya muskulus dan nervus. jika hal ini terjadi harus segera dikoreksi untuk menurunkan kemungkinan diplopia yang persisten. Dasar orbita bisa dicapai melalui pendekatan konjungtival. Fraktur blow in yang pergeserannya minimal biasanya tidak membutuhkan perawatan selain perawatan yang bersifat konservatif. 2. Aksesnya dapat dilakukan dengan insisi pada bagian blepaharoplasty bagian atas atau melalui laserasi yang terjadi. Tidak dipergunakannya tranosseus wire tetapi IMF dipertahankan selama seminggu untuk mencegah reduksi yang adekuat dari fragment. Akses pada regio ini memudahkan eksplorasi dan membebaskan jaringan lunak yang bergeser atau terperangkap.

Fraktur dasar orbita Dianjurkan untuk mengeksplorasi dasar orbital dengan menggunakan periosteal elevator sehingga segment fraktur dapat dikembalikan ke posisinya atau menjadi datar dan mencegah cederanya muskulus dan nervusAkses masuk pada bagian dasar orbita dapat dilakukan dengan incisi transkonjungtiva dan infraorbita (subciliary dan subpalpebra). Seperti pada gambar : Gambar 19 : incisi subkonjungtiva3 Gambar 20: Incisi subpalpebra4 323 .Daerah ini sangat tipis khususnya daerah ethmoid. penanganan fraktur pada daerah ini dapat dilakukan dengan pendekatan incisi melalui subciliary dan memberikan kesempatan untuk ekspolarasi dasar orbita.

silicon. cartilago. polylactide. porous polyetilene. dan teflon) Absorbable (polydioanone. Material alloplastik : nan absorbable ( Titanium. contohnya tulang kortikal dan kanselous. 324 .Gambar 21 : incisi subciliary4 Gambar 22 Insisi trans konjungtiva4 Material untuk rekonstruksi fraktur orbita Bahan – bahan material yang biasa dipergunakan adalah : autografts dari tulang. dan polyglactin) Allogenik dura.

mesh vicryl. tidak menjadi tempat infeksi. Gambaran pemasangan material rekonstruksi6 Semua material memiliki keuntungan dan kerugian. Perawatan Pasca Bedah : Segera setelah pembedahan. miniplat metal. Kemampuan visual dan fungsi pupil dinilai setiap 15 menit selama 1 jam pertama dan kemudian setiap 30 menit. Auto bone graft merupakan standar kriteria untuk menyediakan kerangka untuk tulang fasial dan dinding orbita. 325 . Hampir kebanyakan defek pada kasus fraktur dasar orbita dapat direparasi dengan implant sintetik yang terbuat dari polyethylene. juga memiliki aposisi formasi tulang yaitu proses resorbsi dan perbaikan yang baik. atau mesh metal. Beberapa ahli menganjurkan kompres dengan saline dingin di atas mata yang tertutup. kepala pasien ditinggikan dengan sudut kurang lebih 30 o. harganya wajar. Implant yang ideal harus bisa secara mudah diinsersikan dan dimanipulasi. tidak akan mengalami ekstrusi. dan pilihan material biasanya tergantung kepada ahli bedah dan pasiennya. dan tidak merangsang pembentukan jaringan fibrous. silicon.Gambar 23. mudah ditempatkan pada struktur di sekitarnya. Alternatif lain dapat digunakan tulang autogenous dari dinding maksila atau calvarium. Implant Implant myriad tersedia untuk kegunaan rekonstruksi. Cancellous bone graft lebih disenangi daripada kortikal karena vaskularisasinya lebih cepat dan lengkap.

Setelah operasi pasien dilarang untuk meniup lewat hidung. neuralgia. 326 . Kehilangan kemampuan penglihatan merupakan komplikasi yang serius berkaitan dengan reparasi kelainan ini. 1.2 Seperti pembedahan lainnya komplikasi pada reparasi fraktur dasar orbita bisa berupa perdarahan atau infeksi. Demikian juga ekstrusi implant dan enophtalmos yang menetap merupakan sequele postoperasi yang memerlukan intervensi bedah selanjutnya. Selain itu pasien diinstruksikan untuk mengompres dingin selama 48 jam. dan beraktivitas berat. Diplopia yang tetap ada atau new onset. Pemberian steroid dapat membantu pengurangan pembengkakan. dan disfungsi otot ekstraokuler merupakan komplikasi yang mungkin bisa terjadi. dan diberikan antibiotik serta analgetik yang adekuat.

Fraktur orbita bisa terjadi bersamaan dengan fraktur pada daerah wajah lainnya. 327 . maka akan diperoleh hasil yang lebih baik dan lebih memuaskan pasien. Jika pendekatan yang dilakukan pada waktu terjadi trauma sama dengan pemikiran kedepan seperti yang dilakukan pada penanganan elektif kosmetik septorhinoplasty. Pendekatan bedah pada kasus-kasus yang diindikasikan harus dilakukan dengan hati-hati mengingat kemungkinan komplikasi yang akan terjadi. Jenis fraktur ini sering menimbulkan komplikasi berupa enophtalmos. oleh karena itu perlu dilakukan evaluasi radiologis secara seksama. tetapi sering dianggap tidak terlalu berpengaruh.BAB IV KESIMPULAN Fraktur nasal sering terjadi pada fraktur tulang fasial. diplopia. Kesimetrisan hidung dan fungsi adalah penting untuk pasien. dan emfisema. namun pemeriksaan klinis terkadang sulit dilakukan karena adanya edema di daerah orbita. dan perawatan yang tidak tepat dan kurang adekuat akan menimbulkan hasil yang kurang memuaskan.

DAFTAR PUSTAKA

1. Ramirez R.F. 2004. Nasal Trauma. The Thomson Corporation. All right reserved. http://www.ehendrick.com/healty/000561.htm. 2. Fonseca, RJ. et al. 1997. Oral and Maxillofacial Trauma. 2nd edition. Philadelphia: WB. Saunders Co. 3. Pitcock K.J & Bumsted M.R. 1997. Nasal Fractures. In: Raymond J. Fonseca and Robert V. Walker. Oral And Maxillofacial Trauma. Volume II. W.B. Saunders Company. Philadelphia London. Toronto Montreal Sydney Tokyo. p. 775 – 41. 4. Bowerman J.E. 1994. Fracture of the Middle Third of the Facial Skeleton. In: Rowe and William’s. Maxillofacial Injures. Second Edition. Churchill Livingstone. Edinburgh London Madrid Melbourne New York Tokyo. p. 541- 604. 5. Moore, K.L., Arthur F. Dalley II. 1999: Clinically Oriented Anatomy. 4 'h ed. Lippincott Williarli"s & 1Nilkins 6. Archer, H. W. 1975. Oral and Maxillofacial Surgery. 5th ed. Toronto : W. B. Saunders Company. 7. Booth, P. W. et al. 2003. Maxillofacial Trauma and Esthetic Facial Reconstruction. 1st ed. Edinburgh: Churchill Livingstone. Edinburgh. 8. Cohen, AJ. Facial Trauma, Orbital Floor Fracture (Blow out). Available at www.eMedicine.com. Last updated on March 7th 2005. 9. Williams, J. L. 1999. Maxillofacial Injuries. 1st ed. Edinburgh : Churchill Livingstone.

328

Fraktur Panfasial

Yudi Wijaya 160121120002

Peserta PPDGS Ilmu bedah mulut dan Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Abstrak : Regio maksilofasial terbagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama adalah wajah yang bagian atas, Bagian kedua adalah daerah tengah wajah atau midface. Midface dibagi menjadi bagian atas dan bagian bawah. Midface yang bagian atas bila terdapat fraktur Le Fort II dan Le Fort III dan/atau fraktur tulang nasal, fraktur nasoetmoidal atau kompleks zygomatikomaksilari dan fraktur dasar orbita. Fraktur Le Fort I bila fraktur terdapat pada bagian bawah dari midface. Bagian yang ketiga dari regio maksilofasial adalah wajah bagian bawah, bila fraktur hanya terdapat pada mandibula. Fraktur panfasial adalah fraktur yang terjadi pada daerah wajah yang meliputi sepertiga atas, sepertiga tengah dan sepertiga bawah yaitu meliputi fraktur pada regio frontal, kompleks nasalis, kompleks orbitalis, kompleks zigomatikus, maksila dan mandibula. Prinsip umum untuk penatalaksanaan fraktur panfasial yaitu dengan tehnik bottom to top (dari bawah ke atas) atau top to bottom (dari atas ke bawah).

Kata kunci: Fraktur panfasial, bottom to top , top to bottom

329

BAB I PENDAHULUAN

Pada mulanya dokter gigi dilibatkan pada perawatan trauma rahang karena mereka menguasai pengetahuan tentang gigi dan oklusi. Perawatan yang terdahulu hanya terdiri atas fiksasi gigi pada oklusi sentrik untuk mengurangi dan mengimobilisasi suatu rahang. Sekarang ini dasar pemikiran perawatan fraktur pada daerah maksilafasial tidak banyak berubah, hanya tekniknya yang berkembang pesat. Diagnosis didukung dengan adanya teknik radiografis yang berkembang dengan pesat. Fraktur-fraktur yang pada jaman dahulu tidak dapat dikenali sama sekali atau hanya bersifat dugaan sekarang ini bisa ditunjukkan sampai hal yang terkecil.1 Regio maksilofasial terbagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama adalah wajah yang bagian atas, bila fraktur melibatkan sinus dan tulang frontal. Bagian kedua adalah daerah tengah wajah atau midface. Midface dibagi menjadi bagian atas dan bagian bawah. Midface yang bagian atas bila terdapat fraktur Le Fort II dan Le Fort III dan/atau fraktur tulang nasal, fraktur nasoetmoidal atau kompleks zygomatikomaksilari dan fraktur dasar orbita. Fraktur Le Fort I bila fraktur terdapat pada bagian bawah dari midface. Bagian yang ketiga dari regio maksilofasial adalah wajah bagian bawah, bila fraktur hanya terdapat pada mandibula. Insidensi trauma maksilofasial terutama yang berhubungan dengan kecelakaan kendaraan bermotor. 2 Trauma yang mengenai wajah dapat menyebabkan diskontinuitas dari jaringan lunak wajah maupun jaringan kerasnya. Fraktur yang terjadi pada daerah wajah yang meliputi sepertiga atas, sepertiga tengah dan sepertiga bawah yaitu meliputi fraktur pada regio frontal, kompleks nasalis, kompleks orbitalis, kompleks zigomatikus, maksila dan mandibula disebut dengan fraktur panfasial. 2 Fraktur ini biasanya disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas, kecelakaan kerja, kecelakaan olah raga dan lain-lain.2,3 Penelitian pada tahun 2008 di

330

Amerika Serikat, penyebab utama fraktur panfasial adalah perkelahian (36%), kecelakaan kendaraan bermotor (32%), jatuh (18%), olahraga (11%), kecelakaan kerja (3%), dan luka tembak (2%). 2 Lebih banyak terjadi pada laki-laki dewasa muda, perbandingan laki-laki dan wanita adalah 4:1.4

331

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi Kraniofasial Tulang-tulang kraniofasial terdiri atas 22 tulang dengan dikelilingi oleh kavitas-kavitas yang berbeda yaitu kranium, orbita, sinus, hidung dan mulut. Tulang-tulang kraniofasial terdiri atas tulang yang memiliki ketebalan berbeda. Tulang-tulang yang tebal berhubungan dengan tulang- tulang berdinding tipis. Tulang dengan struktur yang tebal disebut sebagai 'buttress' yang menopang/penyangga proporsi kraniofasial dalam proyeksi antero-posterior. 2 Banyak penulis membagi buttres wajah dalam dua bidang yaitu bidang vertikal dan bidang horizontal. Buttres vertikal meliputi buttress nasomaxilaris pada medial,, zigomaticomaxilaris pada lateral, dan pterigomaxilaris pada posterior. Buttress nasomaksilaris meliputi prosessus maksilaris dari frontalis dan prosessus frontalis dari tulang maksila, meluas ke lateral sampai rima piriformis. Buttress zigomaticomaxilaris terdiri dari prosessus zygomatikus dari tulang frontal, rima orbita lateral, tulang zygomatikus lateralis, dan prosessus zygomatikus dari tulang maxilla. Buttress pterigomaksilaris terdiri dari lempeng pterigoid dari tulang sphenoid dan tuberositas maksilaris. Ketiga buttress ini menghasilkan suatu sistem penyangga unit-unit fungsi pada oral, nasal dan orbital. Pada umumnya buttress zygomaticomaksilaris dan buttress nasomaksilaris dilakukan rekonstruksi, tapi buttress pterigomaksilaris tidak dilakukan rekonstruksi karena tidak dapat diakses. 2,4 Buttress horizontal sering juga disebut dengan anterior posterior buttress. Buttress ini meliputi buttress frontal, zygomatik, maxilaris dan mandibular. Buttress frontal terdiri dari rima supraorbital, dan regio glabelar. Buttresss zygomatik terdiri dari zygomatic arch, zygomatic body, dan infraorbital rim. Buttress maxila dan mandibula terdiri dari basis maxila dan lengkung tulang mandibula.4 Keseluruhan buttress ini secara bersama-sama memberikan integritas tulang wajah. Tulang-tulang yang pada umumnya lebih tebal ini berfungsi untuk

332

menetralisir kekuatan pengunyahan dan benturan. Dengan reduksi yang tepat kita dapat merekonstruksi tinggi, lebar dan proyeksi wajah. 2,3

Gbr.1 Buttress vertikal dan horizontal.1

2.2 Klasifikasi Fraktur Panfasial Gruss dkk (1989) membagi fraktur panfasial menjadi tiga kelompok yaitu: 3 1. Fraktur kraniofasial sentral Fraktur terjadi pada bagian sentral yang memisahkan buttress fasial dari basis kranial anterior. Variasinya meliputi tulang frontal dan atap orbital dan sinus frontalis. Pada trauma yang ekstensif terjadi perluasan ke arah vertikal melalui sepertiga tengah wajah dan bagian tengah mandibula. 2. Fraktur kraniofasial lateral Fraktur ini mengakibatkan kerusakan pada buttress fasial lateral yaitu tulang frontozigomatikomaksilaris dengan perluasan ke arah posterior pada sayap tulang sphenoid, temporal dan parietal. Komplikasi intrakranial lebih jarang terjadi, namun perluasan ke bagian bawah wajah lebih sering terlihat 3. Kombinasi fraktur sentral dan lateral

333

Trauma yang ekstrim akan menghasilkan kehancuran elemen fasial sentral dan lateral disertai dengan fraktur sepertiga tengah wajah, mandibula, kondilus dan trauma intrakranial. Kerusakan dapat meliputi kerusakan pada otak yang lokal maupun difus dan diskontinuitas dasar fosa kranial anterior.

334

Adapun tahap-tahap penanganan trauma adalah sebagai berikut: 6 1.3 Penatalaksanaan Pada umumnya penderita dengan trauma oromaksilofasial terjadi bersamaan dengan trauma pada bagian tubuh yang lain (trauma multiple). Tranportasi cepat (Ambulatory) 2. Circulation) b. Perawatan Definitif a. Resusitasi dan pananganan primer a. Sehingga tahap-tahap penangannnya bersamaan dengan penanganan trauma yang lainnya. Mempertahankan jalan napas b. Menghentikan perdarahan eksternal c. Pembedahan b. Stabilisasi fraktur d. Radiografi c.Penanganan yang dilakukan sebelum dibawa ke rumah sakit a. ABC (Airway.BAB III PEMBAHASAN 2. Pemeriksaan Laboratorium d. Rehabilitasi 335 . Pemeriksaan fisik menyeluruh b. Diagnosis dan penanganan sekunder a. Perawatan non operatif c. Breathing. Resusitasi cairan c. Nutritional support 5. Resusitasi dan pemantauan lanjut 4. Stabilisasi tulang belakang e. Pemantauan 3.

Deformitas pada tulang seringkali terlihat dengan hilangnya proyeksi hidung dan gangguan pada proyeksi midfasial. 2.5 Pemeriksaan intraoral dilakukan untuk melihat adanya memar dan laserasi jaringan lunak maupun adanya kehilangan jaringan.1 Evaluasi Evaluasi dimulai dengan menilai jalan nafas. daerah supraorbital ridge dan pangkal hidung. Evaluasi pertama dapat dilakukan dengan data radiologis seperti Water's. pernafasan dan sirkulasi serta tingkat kesadaran (ABC trauma management).6 Pemeriksaan penunjang seperti CT Scan pada negara maju telah menggantikan peranan radiologi konvensional. evaluasi terhadap regio maksilofasial dapat dilakukan. tulang.2. kesimetrisan dan ketinggian wajah. luka memar laserasi pada tonjolan tulang seperti dahi. Selain itu juga untuk mengevaluasi adanya fraktur segmental maupun sagital pada maksila maupun mandibula serta dentoalveolar. gigi geligi dan neurovaskular. Perhatian utama harus ditujukan pada daerah nasoethomid. Pada observasi klinis akan terlihat adanya pembengkakan pada wajah yang difus.2. palatum. Informasi yang lengkap meliputi keadaan wajah penderita.3 Setelah pasien dalam keadaan stabil dan bebas dari trauma tulang spinal servikal. Hal ini dapat diperoleh melalui data fotografi dan rekam medis dental. pergerakan abnormal pada mandibula dengan palpasi pada daerah external auditory canal dan menginstruksikan pasien untuk membuka dan menutup mulut.3 Pemeriksaan fisik harus dilakukan secara sistematis yaitu dengan metode inside out and bottom up yaitu meliputi inspeksi dan palpasi dari dagu hingga kepala serta dari intraoral dan ekstraoral untuk dapat mengidentifikasi luka pada jaringan lunak. mata dan prosesus kondilus. CT Scan dua dimensi dengan potongan 336 .3. oklusi dan fungsi sebelum terjadi trauma amat dibutuhkan. pemeriksaan fisik dan evaluasi radiografis yang baik. Adanya fraktur pada kondilus dapat diperkirakan apabila terdapat krepitus. Perhatian segera yang ditujukan pada kasus berat adalah penatalaksanaan 'life-support' yang tepat dan penilaian komplikasi intrakranial dan ekstrakranial. Dalam mendiagnosa fraktur panfasial dibutuhkan data riwayat trauma yang seksama.

2 Tata laksana Manajemen pasien dengan multiple displaced dan fraktur comminuted sangatlah menantang tidak saja pada ahli bedah yang belum berpengalaman nemun juga pada ahli bedah yang sudah berpengalaman. Akan tetapi. buttress maxilla dan ramus ascenden mandibula.6 Gbr 2. Diagnosa dan rencana perawatan yang tidak tepat akan menyebabkan hasil yang tidak adekuat dan memperlama prosedur bedah.3. CT Scan dua dimensi dengan potongan koronal dan sagital akan memberikan informasi mengenai fraktur pada dinding orbital. dengan melalui gambaran rontgen 337 . Digital imaging fraktur panfasial 1 2.axial akan memberikan informasi penting terhadap perluasan trauma kraniomaksilofasial. 1. Pasien dengan fraktur panfasial 2 Gbr 3. Dengan kemajuan tehnologi CT Scan tiga dimensi akan memberikan peran yang lebih baik dalam menentukan keadaan fraktur dalam hal ada atau tidaknya displacement tulang.

mandibula. sutura sphenozigomatik. mereka dapat digunakan sebagai panduan. 338 . Reduksi permukaan bukal dan lingual memungkinkan untuk didapatkannya hasil fiksasi yang lebih baik. kan terjadi penambahan lebar wajah.7 a. fiksasi yang baik.yang detail. maxxilary buttress. Jjika terdapat fraktur subkondilar yang disertai dengan fraktur simphisis dan/atau ramus mandibula. dan regio intercanthal. Mandibula Reduksi simphisis dan/atau ramus mandibula dapat diperoleh melalui pembukaan ekstraoral. Masalah utama terjadi jika terdapat fraktur midpalatal dan mandibula yang disertai fraktur kondyle. proses rekonstruksi seperti menyusun puzzle. Pendekata ini bisa dilakukan jika fraktur palatal single tanpa kominusi atau avulsi. b. Eksposure ini memungkinkan didapatkannya visualisasi langsung dari inferior border mandibula dan sedikit korteks lingual. Sebagai contoh. tehnik bone graft serta urutan tahapan bedah yang baik. Jika terdapat fraktur subkondilar bilateral.7 Ketika terjadi fraktur wajah multiple yang melibatkan wajah bagian atas. Pengetahuan akan landmark dan anatomi dapat digunakan untuk rekonstruksi yang tepat pada bagian wajah yang mengalami kerusakan. akan didapatkan hasil yang optimal. maxila yang memiliki lengkung yang masih utuh dapat digunakan untuk panduan mendapatkan lebar lengkung mandibula yang tepat. Kondisi ini dapat menyebabkan melebarnya kompleks facial jika segmen fraktur tidak direduksi dengan benar. Perlekatan otot pterigoid lateral pada fovea pterigoideus. Key landmark yang dapat membantu adalah. sebagai nerikut:1. berfungsi untuk mencegah pergerakan lateral yang ekstrem. ketika terjadi fraktur lefort dengan midpalatal yang masih utuh. Solusi untuk mengatasi masalah ini adalah dengan mengembalikan keutuhan maxila dengan melakukan reduksi dan fiksasi fraktur palatal. fraktur tersebut harus dirawat agar didapatkan tinggi dan lebar wajah yang tepat. tengah dan bawah. Lengkung Gigi Ketika salah satu atau kedua lengkung gigi utuh. lengkung gigi.

Sutura sphenozygomatikus biasanya nampak pada sepanjang permukaan internal dari dinding orbita lateral. Ketika zygoma telah berada pada posisi yang tepat. sutura ini dapat menjadi landmark yang penting untuk menempatkan zygoma dan lengkung zygoma pada posisi yang tepat. perlu dipertimbangkan pencangkokan untuk mengembalikan buttress ini. Jika terjadi kehilangan tulang yang signifikan pada regio ini. lokasi dari maksila dapat di tentukan. Likewise . 339 . c. Restorasi jarak interchantus dengan menggunakan reduksi kompleks naso-orbitoethmoid dapat membantu menentukan lebar wajah. Reduksi dan fiksasi sutura sphenozygomatik 1 d.Kondilus mandibula can be reconstitude ramus mandibula untuk mendapatkan tinggi dan lebar wajah. Sutura Sphenozygomatikus Sutura sphenozygomatikus. buttress zigomatikus sangatlah penting dalam menempatkan zygoma dan maksila dalam posisi yang tepat. Daerah Interchantus Daerah interchantus digunakan untuk mengembalikan lebar midfacial setelah jarak interchantus stabil pada rangka wajah orang dewasa. Jika orbital roof dan orbita lateral superior masih baik. Permukaan kontak yang luas ini sangat penting pada proses reduksi dan fiksasi. Gambar 4. disepanjang permukaan dalam dari didingding orbita lateral adalah key landmark pada reduksi dan fiksasi complex zygomatikomaksilaris.

Defek diskontinuitas dapat dilakukan dengan fiksasi maksilomandibular 340 . B. Jumlah kehilangan jaringan lunak. mengurangi rasa sakit. serta perbaikan oklusi gigi. A.7 Tujuan dari perawatan fraktur panfasial adalah merehabilitasi jaringan yang terkena. Defek tulang yang luas atau defek jaringan lunak dapat dipertimbangkan dengan menggunakan rekonstruksi flap yang luas atau graft. Perawatan terhadap jenis fraktur ini sebelumnya sering mengalami kesulitan dalam menentukan waktu perbaikan wajah sehubungan dengan intervensi bedah saraf dan ophtalmologis. Luas kehilangan tulang 5. Sebelum merencanakan perawatan terlebih dahulu perhatikan: 7 1. Pada saat ini perawatan modern unit kraniofasial di negara maju memungkinkan untuk dilakukannya perbaikan kraniofasial dan bedah neurologis dalam merekonstruksi perbaikan fraktur fasial yang multipel dan penutupan fistula kranionasal pada saat yang bersamaan. Lokasi dan luasnya fraktur 2.Gambaran klinis penderita dengan fraktur naso-orbitoethmoid dengan jarak interchantus 43mm.Gambar 5. mukosa dan saraf 4. penyembuhan tulang. Gambaran intraoperatif menunjukkan gambaran fraktur naso-orbitoethmoid. Keadaan trauma dentoalveolar Perawatan jenis trauma yang kompleks ini merupakan rangkuman dari seluruh perbaikan dari semua fraktur fasial dan kranial yang individual. Struktur yang terluka atau terlibat di sepanjang fraktur 3. meliputi kulit. Dibutuhkan perencanaan yang baik untuk meminimalkan operasi ulang dan lamanya perawatan di rumah sakit.

Cangkok tulang definitif dapat dilakukan pada operasi pertama ataupun kedua. plate dan screws. Beberapa penulis menganjurkan untuk fiksasi primer pada 12-48 jam paska trauma. Selain itu diperlukan osteotomi pada garis fraktur akibat telah terjadinya penyatuan tulang. lag screws maupun fiksasi eksternal. 2 Seringkali pasien tersebut membutuhkan waktu lebih dari tiga minggu untuk pengelolaan life-saving yang ekstensi terhadap trauma ekstrakranial. Terdapat dua prinsip umum untuk penatalaksanaan fraktur panfasial 341 . Selain itu adanya rhinorrhoea serebrospinal atau aerocele intrakranial merupakan alasan lain keterlambatan perawatan. Bone graft pada dinding sinus maksila anterior1 Koreksi definitif pada pasien dengan trauma kraniofasial yang kompleks secara ideal dilakukan dalam 5-7 hari.2. Pada banyak kasus keterlambatan koreksi seringkali menyebabkan telah terjadinya union pada tulang dan kontraktur jaringan lunak sehingga diperlukan diseksi jaringan lunak yang ekstensif untuk mendapatkan pemaparan tulang yang baik dalam rangka reduksi dan fiksasi fraktur tulang.baik internal dengan intraosseus wiring.7 Gbr 6. Namun dalam jangka waktu tersebut seringkali tidak cukup untuk memperoleh pemeriksaan radiologis. Pada periode tersebut jaringan lunak berada dalam keadaan pembengkakan sehingga pengelolaan operatif pada saat itu akan menyebabkan proyeksi wajah dan kesimetrisan wajah sulit dicapai. Hilangnya gigi geligi akan mempengaruhi hubungan antara maksila dan mandibula. Rekonstruksi harus meliputi arah 3 dimensi yaitu vertikal.6 Kunci utama dalam penatalaksanaan fraktur panfasial adalah untuk mendapatkan fiksasi dan stabilisasi yang cukup stabil pada daerah-daerah yang tidak stabil. ophtalmologis dan pengelolaan gigi geligi yang adekuat terutama pada pasien dalam keadaan koma dan tidak kooperatif. horisontal dan transversal.

pendekatan dilakukan dalam arah bawah ke atas.6 342 .6 Kerugian pada tehnik bottom to up adalah untuk rekonstruksi dilakukan dimulai dari jarak yang cukup jauh dari elemen simetris yang stabil yaitu basis kranial.6. regio midfasial dapat direkonstruksi dalam arah atas ke bawah. Setelah mandibula terkoreksi dengan baik. Perbaikan dapat dilanjutkan dalam arah atas ke bawah dan bertemu dengan segmen maksilomandibula yang telah terfiksasi. Ketidakakuratan dalam mereduksi dan mereposisi fraktur kondilus akan menyebabkan asimetri wajah. 5.yaitu dengan tehnik bottom to top (dari bawah ke atas) atau top to bottom (dari atas ke bawah).2. 5. Fraktur pada kondilus baik unilateral maupun bilateral memerlukan reduksi segera dan fiksasi internal untuk mempertahankan ketinggian fasial.8 Apabila kranium frontalis masih intak atau terdapat fraktur pada fossa kranial anterior atau fronto-orbital bar tanpa adanya kehilangan tulang atau dimana struktur-struktur tulang tersebut di atas telah terekonstruksi dengan kuat. Bila lengkung mandibula terganggu harus diperbaiki terlebih dahulu.2. rekonstruksi dimulai dari mandibula.5. Hal ini dilakukan agar rekonstruksi pada mandibula dapat menghasilkan hubungan yang intak dalam mereposisi maksila.6 Bila terdapat fraktur sagital pada maksila dilakukan reduksi dan fiksasi untuk mendapatkan kembali lengkung maksila sehingga koreksi terhadap lebar wajah tengah dapat tercapai. hilangnya tulang pada tulang kranial dan diskontinuitas pada dasar fosa kranial anterior atau hilangnya titik referensi.8 Pada tehnik bottom to top. Namun bila terdapat diskontinuitas pada lengkung mandibula. maksila yang mengalami disimpaksi dapat dikoreksi dengan menyesuaikan oklusi pada rahang bawah dan dilakukan fiksasi intermaksilaris. Fiksasi dapat dilakukan dengan menempatkan miniplate secara transversal pada maksila. Selain itu bila basis kranial frontalis diperbaiki dan dilekatkan terhadap tengah wajah dapat menaikkan resiko kerusakan atau perubahan letak terhadap fosa kranialis anterior yang telah diperbaiki.

Gruss dan Mackinon (1986) menyarankan untuk melakukan rekonstruksi pertama-tama pada bagian luar rangka fasial (outer facial frame) pada fraktur panfasial yaitu meliputi lengkung zygomatik. A dan B.Gbr 7. selanjutnya fraktur naso-orbiethmoid dapat direduksi dan fiksasi pada sutura naso frontalis dan sutura frontomaxilary dan infraorbital rim serta piriform. selanjutnya maxiila dapat distabilisasi sepanjang buttress zygomaticomaxilary. reduksi dan fiksasi zygoma dengan menggunakan panduan sutura sphenozygomatik dan sutura zigomatiko maxilary. kompleks malar dan tulang frontalis. E dan F. kemudian fraktur symphisis. 1 Pada tehnik top to bottom. C dan D. G dan H. Kemudian rekonstruksi dilakukan pada bagian dalam 343 . penatalaksanaan fraktur panfacial dapat dimulai dengan fikasi maxilomandibular. Kemudian diikuti dengan reduksi dan fiksasi fraktur subkondil. Tehnik bottom up dan inside out.

Selain itu cangkok tulang dilakukan untuk koreksi sekunder bila 344 . sutura zygomatikofrontalis dan orbital rim. Gbr 8. Teknik top to bottom1 Cangkok tulang biasanya dilakukan untuk merekonstruksi dinding orbital dan hidung.rangka fasial (inner facial frame) atau pada kompleks naso-orbitho-ethmoidal. Setelah itu dilakukan rekonstruksi pada maksila pada Le Fort I dengan menggunakan plat pada buttress. Kemudian reposisi pada fraktur mandibula dan diakhiri dengan fiksasi intermaksilaris.

6 Berbagai macam insisi dilakukan untuk mendapatkan pemaparan tulang yang mengalami fraktur dan merekonstruksinya antara lain dengan insisi koronal. sulkus gingivobukal. parastesi. Kerusakan neurologis seperti adanya anestesi. 2. Insisi koronal akan dapat memberikan pemaparan yang lebih luas pada tulang kranium dan rangka kraniofasial bagian atas. 6. 345 . preaurikular. 5. Kurangnya ketinggian wajah pada bagian posterior. 7. Maloklusi. Selain itu insisi ini dapat memberikan akses yang optimal untuk dapat mereduksi dan memfiksasi fragmen tulang. Gigitan terbuka pada bagian anterior ( openbite anterior). Berkurangnya ukuran proyeksi wajah dalam arah anterior dan posterior. retromandibular atau submandibular. Kebutaan. periorbital. Bertambahnya lebar wajah. Deformitas dan obstruksi hidung dan serta 8. insisi pada kelopak mata bagian bawah. 3.4 Komplikasi Komplikasi yang dapat terjadi pada trauma maksilofasial adalah : 1.dibutuhkan untuk menambah kontur pada regio tertentu dan memperbaiki kesimetrisan wajah. 4.5 2.

346 . Kunci keberhasilan pengelolaan pasien fraktur panfasial adalah dengan mendapatkan lapang pandang yang cukup luas. Prinsip dalam merekonstruksi adalah dengan mereduksi daerah yang anatomi yang memberikan panduan rangka wajah yang maksimal yaitu pada kerangka wajah luar. Daerah-daerah yang mengalami kehilangan tulang yang luas dapat dilakukan cangkok tulang.BAB III KESIMPULAN Penatalaksanaan pasien dengan trauma panfasial memerlukan diagnosa yang cermat untuk mendapatkan hasil yang memuaskan dalam merekonstruksi wajah. reduksi yang cermat dan fiksasi dari fraktur.

Management of Panfacial Fractures 8.A.DAFTAR PUSTAKA 1. Facial Fracture in David. Craniomaxillofacial Trauma. 1996.medscape. Alih Bahasa: drg. J.R.W.medscape. Kuttenberger. http://emedicine.A et al.J. 3. New York: Thieme 7. Craniofacial Trauma. http://emedicine. G. D. http://emedicine. Microplates and Screws. Hard N. Berlin: Springer-Verlag 2.medscape. Jakarta. Diagnosis and Management.J & Simpson D. http://emedicine. 1995. Edinburg: Churchill Livingston 6. Multimedia: Follow-up: Treatment: UTMB Grand Rounds-Maxillary and 347 . Trott.com/article/1283471-overview Facial Trauma. and Champy. Management of Panfacial Fractures 9. http://www. Stuttgart. 1990. Bos.com/article/1283471-overview Workup: Facial Trauma. Basoeseno. 3rd ed. drg. Management of Panfacial Fractures 4.com/article/1283471-overview Facial Trauma. Atlas of Craniomaxillofacial Osteosynthesis Miniplates. 2010.com/article/1283471-overview Facial Trauma. Buku Ajar Praktis Bedah Mulut.net/default Periorbital Fractures 5.M.otohns. 2005.medscape. Management of Panfacial Fractures 10. Oral and Maxillofacial Trauma. M. EGC. R. Purwanto. Pedersen. Fonseca R. St Louis: Elsevier Saunders. Panfacial fractures : Planning an Organized Treatment in Harle F.

fiksasi. fraktur. Maksud dari penulisan makalah ini adalah untuk memberikan gambaran mengenai manajemen penatalaksanaan trauma pada anak-anak. reposisi. Kata kunci : trauma. reduksi. Dengan kemampuan penyembuhan yang cepat. ukuran bagian tubuh yang lebih kecil dan komplikasi yang minimal menjadi karakteristik tersendiri pada pasien anak-anak.Manajemen Trauma Pada Anak-Anak Arismunandar 160121120005 Peserta Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut Dan Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Bandung Abstrak Manajemen trauma oromaksilofasial pada pasien anak-anak sedikit berbeda dengan orang dewasa. 348 . anak-anak. Perlu di perhatikan pada penanganan kegawatdaruratan dan perawatan definitive oleh karena struktur anatomi yang sedikit berbeda dengan orang dewasa.

Pada pasien pediatrik. yang membuat tindak lanjut penanganan jangka panjang pada pasien anak-anak wajib diperhatikan. garis sutura lebih fleksibel. Ini termasuk anatomi wajah yang belum dewasa. Pertama. ada karakteristik tertentu dari trauma orofasial pada anak-anak yang harus selalu diingat. melalui pertumbuhan dan kemampuan yang melekat pada anak-anak untuk beradaptasi. pada pasien anak-anak memiliki keuntungan dari kemampuannya untuk menyembuhkan yang cepat dengan komplikasi yang minimal. 3 Ukuran tubuh anakanak yang lebih kecil juga berpengaruh. oleh karena vaskularisasi jaringan yang baik dari wajah.2 Disamping keuntungan ini. saat terjadi trauma. tingkat metabolisme lebih tinggi.BAB I PENDAHULUAN Pasien trauma orofasial pada anak-anak berbeda dari orang dewasa dengan luka yang serupa oleh karena trauma yang terjadi. dan adanya lapisan adiposa yang menutupi kerangka lebih tebal daripada pada orang dewasa. Anak-anak memiliki permukaan yang lebih tinggi-untuk-rasio volume tubuh.4 Adanya perbedaan antara pasien anak dan dewasa mempunyai dampak terhadap pola trauma pada anak-anak pada umumnya dan trauma maksilofasial khususnya. dan stroke volume lebih kecil daripada orang dewasa. akan menyebabkan gaya yang lebih besar per unit masa tubuh. darah total yang lebih rendah volume. Kedua. pemulihan jaringan orofasial yang rusak dapat dimaksimalkan dan hilangnya fungsi dapat diminimalkan.2 Faktor-faktor ini juga berkontribusi terhadap rendahnya frekuensi fraktur fasial pada anak-anak dan seringya terjadi greenstick dan nondisplaced fraktur pada anak-anak. oxygen demand. tulang lebih elastis. cedera pada wajah karena trauma berpengaruh pada pertumbuhan. mereka lebih rentan menghadapi resiko hipotermia. Kurangnya sinus pneumatization dan tunas gigi dalam rahang berkontribusi terhadap stabilitas dan rendahnya prevalensi pada fraktur midface . 349 . trauma orofasial pada anak-anak tidak dapat dikelola dengan cara yang sama seperti pada orang dewasa. Karena faktor ini.3 Oleh karena itu. 1. dan curah jantung.

hipotensi. serta lebih besar insiden cedera tengkorak dalam kelompok usia yang lebih muda. Ini juga menjelaskan mengapa. pengendalian perdarahan. dan resusitasi awal lebih kritis pada anak-anak daripada orang dewasa.4 350 . Oleh karena itu maka pemeliharaan jalan nafas. anak-anak memiliki rasio cranial to body mass lebih besar. Perlindungan ''relatif'' wajah oleh tulang tengkorak memberikan informasi bahwa. Rasio cranial to body mass diperkirakan 8:1 pada masa bayi dan 2.3.5:1 pada dewasa. dan hipoksia setelah kehilangan darah dan bahkan pembengkakan ringan pada saluran napas atau terjadinya obstruksi mekanis. insidensi fraktur midface dan tulang mandibula pada anak-anak lebih rendah. dengan bertambahnya usia.3 Dibandingkan dengan orang dewasa. insiden patah tulang rahang midface dan meningkat sedangkan insiden cedera kranial berkurang.

Potensi penyembuhan dan remodeling tulang pada anak-anak lebih besar daripada orang dewasa. 2. Otak dan ocular pertumbuhan hampir selesai pada usia tujuh. stabilization.3. Peran dan fungsi rahang sebagai modulator pertumbuhan mandibula tidak terbantahkan. Infant dikategorikan pada usia kurang dari 1 tahun. kategori anak-anak berada pada usia 1-11 tahun. Walaupun kebanyakan dokter mengkategorikan pasien yang sedang dalam masa tumbuh kembang sesuai dengan kesar tubuh anak-anak tersebut. mencapai 80% dari ukuran dewasa pada usia dua tahun. reduction. Oleh karena alasan tersebut maka tulang kranium lebih sering terkena trauma sebelum usia ke-7 daripada trauma yang terjadi pada wajah. Secara keseluruhan menunjukkan bahwa. Tulang kranium kepala besar dan struktur wajah yang relatif kecil.4 Prinsip umum penatalaksanaan fraktur (recognition. penyebab paling umum cedera pada wajah adalah kecelakaan kendaraan bermotor apakah anak sebagai penumpang atau pejalan kaki. Pada perawatan IMF yang menghambat tumbuh kembang 351 . kranium tumbuh lebih cepat daripada wajah.4 Anatomi Dan Patofisiologi Proporsi wajah anak-anak sangat berbeda dari yang orang dewasa.3. Awalnya. anak-anak harus dibedakan berdasarkan usia tumbuh kembangnya. dan dewasa muda berada pada usia 11-19 tahun. & fixation) harus diterapkan disamping tetap mempertimbangkan dampak yang terjadi terhadap tumbuh kembang anak-anak di masa mendatang.BAB II TINJAUAN PUSTAKA Epidemiologi Etiologi cedera pada wajah bervariasi dengan usia. Pertumbuhan fasial terus berlangsung sampai pada dekade kedua kehidupan hingga ratio kraniofasila menjadi 2:1.1 Dilema sering muncul ketika harus memutuskan perawatan yang terbaik untuk penatalaksanaan trauma orofasial terutama pada pasien anak-anak. Rasio kraniofasial saat lahir adalah 8:1 dan wajah tersembunyi di bawah tulang kranium yang relatif besar.

Ketika perawatan open reduction menjadi pilihan. Selama periode infant. trauma dan bedah akan mengganggu alur makan dan tidur infant. Komposisi tulang dengan lebih banyak tulang kanselus menyebabkan kurang kondusif dilakukan screw/ wire fixation untuk internal fiksasi. closed reduction menjadi pilihan solusi penanganan pada kebanyakan fraktur fasial.3 Psikologi anak-anak Stress trauma dan bedah akan berpengaruh pada psikologi anak-anak. Selama fase mixed dentition mungkin akan sulit didapatkan IMF yang stabil pada perawatan closed dan open reduction.2.wajah efeknya bersifat reversible. Aktivitas osteogenic dan bone remodeling yang aktif pada anak-anak menyebabkan fraktur yang terjadi baik pada maksila ataupun pada mandibula yang jika tidak segera dilakukan reduksi dalam beberapa hari maka akan sulit didapatkan reduksi yang adekuat dikemudian hari. Kondisi ini menyebabkan meningkatnya airway resintance. pada anak-anak penyebab umum terjadinya gangguan jantung oleh karena gangguan sekunder pernafasan. rawat inap rumah sakit.1. Pada anak-anak dan bayi rigiditas dada kurang bila dibandingkan dengan dewasa. jika pemasangan IMF dilakukan untuk jangka waktu yang singkat. Oleh karena alasan tersebut. Pada usia yang lebih dewasa. 352 . kesulitan intubasi. depresi dapat terjadi karena tekanan dari ingatan akan trauma dan kehilangan anggota tubuh dapat menghambat perkembangan mental pada anak. dan mudahnya self-extubation.2 Fraktur greenstick lebih sering dijumpai pada pasien anak-anak oleh karena tulang korteks yang tipis dan meningkatnya bagian medulla tulang menyebabkan tulang tahan terhadap benturan. harus diperhatikan bahwa jangan sampai tindakan tersebut mempunyai efek terhadap tumbuh kembang wajah akibat penempatan bone plates. Hampir tidak ada/ jarang ditemukan kasus nonunion pada fraktur fasial pada anak-anak.4 Anatomi jalan nafas pada pasien anak-anak memiliki saluran yang pendek dan diameter yang kecil serta epiglotis yang sempit serta lidah yang besar pada anak. 1. screws ataupun wires. Tidak seperti pada orang dewasa. mudahnya tejadi obstruksi.

18% pada atap orbita. Analisa yang dilakukan Rowe pada 1500 kasus fraktur fasial ditemukan bahwa.4% terjadi faraktur nasal. Konsultasi dengan psikiatri dan layanan social lainnya penting untuk menghasilkan kesehatan yang sempurna pada anak-anak. Walaupun PTSD bukanlah kelainan yang fatal. 15.5% fraktur mandibula. Fraktur pada midface pada anak-anak ditemukan kurang dari 1% dan 4% disertai variasi fraktur Le Fort I. 11. Perawatan khusus harus diberikan untuk menjaga keadaan mental pasien anakanak. trauma kepala sering menyertai fraktur fasial. keadaan ini dapat memicu pertumbuhan mental pasien kea rah yang tidak wajar. Insiden Fraktur Fasial Fasial fraktur pada anak-anak jarang terjadi pada anak-anak. kemudian diikuti trauma pada ekstremitas. 8. Pada pasien anak-anak. 19% pada dinding media. Pada kasus kecelakaan kendaraan bermotor yang terjadi/ melibatkan anak-anak. Posnick et al mendapatkan dari 137 pasien.7 fraktur zygoma dan maksila. 51. menemukan 42 % dengan fraktur fasial (6-12 tahun).Post Traumatic Stres Disorder (PTSD) dapat muncul setelah luka pada individu muda yang tidak pernah mengalami luka yang serius ataupun rawat inap pada lingkungan rumah sakit. 5% dari semua kasus fraktur fasial terjadi pada anak-anak dibawah umur 12 tahun dan kurang dari 1% terjadi pada anak-anak dibawah umur 6 tahun. menemukan bahwa 40% kasus fraktur fasial berkaitan dengan fraktur kranium. 32 % fraktur orbita pada dasar orbita.6% fraktur orbita. 1 Studi yang dilakukan McCoy et al.1 353 .

Perdarahan dari kulit kepala. wajah. Perubahan status mentalis. diare. Maintenance terapi untuk mengkompensasi kehilangan cairan insensible (paru & keringat) dan sensible (urine & stool). leher dan mulut harus dikontrol dengan penekanan dan dilakukan penjahitan bila perlu. jika kurang dari 6 tahun. Pembengkakan karena trauma maksilofasial. pencegahan terjadinya aspirasi. Kemungkinan terjadi kehilangan cairan pada kondisi adanya luka terbuka.4 Cairan Dan Elektrolit Resusitasi cairan merupakan komponen penting pada manajemen perioperatif pada pasien trauma anak-anak. berkurangnya nadi perifer. Jika diduga dehidrasi moderate maka maintenance awal 5mL/ Kg per jam selama 2 354 . delayed capillary refill. Stabilisasi tulang servikal sampai kondisi dinyatakan clear. Kalkulasi terapi maintenance pada anak-anak berkisar 1500 mL + 20 mL/kg untuk berat badan yang lebih dari 20 Kg per hari. akses intraosseus bisa dilakukan sampai akses intravena didapatkan. kontrol perdarahan dan stabilisasi tulang servikal merupakan langkah utama pada manajemen kegawatdaruratan pada pasien anak-anak dengan trauma orofasial. respiratory compromise. Kebutuhan cairan pada anak-anak terdiri dari maintenance dan replacement. resusitasi cairan dengan 2 cateter intravena diperlukan. Untuk terapi maintenance dikalkulasikan dengan estimasi caloric expenditure dari berat badan dan luas permukaan tubuh.BAB III PEMBAHASAN Manajemen Kegawat-daruratan Pemeliharaan jalan nafas. dan hipotermi adalah tanda-tanda shock dan memerlukan segera resusitasi cairan dengan cairan intravena yang hangat untuk mengembalikan ke kondisi semula. Dengan adanya trauma. fragmen fraktur mandibula. muntah. dapat membahayakan saluran pernafasan pada anak-anak dengan trauma maksilofasial. Mulut dan pharynx harus terbebas dari kotoran dan intubasi dilakukan jika diperlukan.

Penggunaan NS bisa memicu terjadinya hipernantremi ketika diberikan untuk maintenance karena kandungan sodium yang tinggi (154 mEq/L) dan juga karena kemampuan bayi untuk mengekskresikan kelebihan sodium berkurang. Bolus diulang sampai total 60 mL/Kg . dan pre renal azotemia. Penggunaan cairan isotonis dianjurkan karena aktif secara osmosis dan menyebabkan ekspansi intravascular. yang mewakili 25% volume darah normal pada anak-anak. Penggunaan cairan hipotonis tidak dianjurkan pada resusitasi karena menyebabkan menurunnya crystalloid osmotic pressure. Pada anak-anak dengan multisystem trauma harus dipertimbangkan kemungkinan terjadinya perdarahan. Compatibility test harus dilakukan sebelum dilakukan transfusi untuk menentukan golongan darah dan Rh recipient.3 Blood Loss Dan Replacement Tujuan utama manjemen terapi cairan pada anak-anak adalah untuk mengenali dan mengatasi kondisi yang mengancam nyawa dan mengeliminasi kondisi sekunder karena trauma yang terjadi.1. Terapi cairan untuk maintenance biasanya larutan hipotonis dengan konsentrasi Na dan K yang memadai ( 5% dextrose [D5] dengan ¼ NS. Output urine diharapkan 1-2 mL/ Kg per jam pada anak-anak. Tanda-tanda shock meliputi tachycardia. karena kandungan chloride didalamnya adalah nonphysiologic chloride.3 355 . pallor. Serta juga dapat menyebabkan hiperchloremic pada neonates jika digunakan dalam jangka waktu yang lama.5-2 mL/ Kg per jam. Pada kasus trauma pada anak-anak operator harus jeli memonitor kondisi klinis pasien jika sewaktu-waktu terjadi shock dan dibutuhkan resusitasi cairan. serta kemungkinan adanya red cell isoantibodies. Darah merupakan agen yang sangat efektif untuk mengoreksi defisit intravascular. poor filling capillary refiil. transfusi PRC 10-20 mL/Kg.karena tiga kali jumlah crystalloid diperlukan untuk menggantikan volume darah yang hilang. Ketika kondisi hemodinamik sudah tidak stabil maka perlu diberikan bolus crystalloid fluid. D5 dengan ½ NS). Resusitasi untuk hipovalemia dapat dimulai dengan pemberian crystalloid bolus 20 mL/Kg.jam pertama dan berkurang sampai 1.1.

Konsultasikan ke neurosurgical jika ada riwayat pingsan. massive edema hindari pemberian makan secara enteral selama kurang lebih 3 hari atau lebih. Ketika terjadi fraktur orbita lakukan tes visual . adakah diplopia. dan krepitasi yang terjadi. Adanya laserasi atau kontusi pada daerah dagu waspadai kemungkinan terjadinnya fraktur pada kondil mandibula. Identifikasi adanya pembengkakan yang terjadi dan kemungkinan terjadinya fraktur pada struktur tulang dibawahnya. intake makanan dalam bentuk mechanical diet yang tidak dikunyah atau dalam bentuk cairan jika terpasang IMF. 1. Sedasi selama periode tersebut mungkin sangat diperlukan tetapi harus dihindari karena kondisi pasien masih dalam masks neurologoc changes.3 Pemeriksaan klinis Perhatikan airway. parestesi wajah. Ketika pasien dalam kondisi severe neurologic injury. terutama pada pasien dengan trauma midface yang parah. Palpasi regio orbita dan nasal untuk mengetahui adanya deformitas tulang pada daerah tersebut. 356 . subcutaneous emphysema. Perhatikan dan observasi tanda-tanda vital untuk menentukan apakah pasien stabil atau dalam kondisi sebaliknya. atau adanya hemotympanum. perdarahan hidung. oedema fasial. berikan secara parenteral.subcutaneous emphysema.Nutrisi Pada pasien anak-anak paska penatalaksanaan tindakan bedah. sering terjadi kondisi hypercatabolic yang memerlukan oral intake yang adekuat untuk mencukupi nutrisi yang dibutuhkan tubuh. Adanya battle’s sign (postauricular echymosis) curigai adanya basal skull fracture. kemudian diikuti evaluasi kardiopulmonal. Pada pasien recovery. battle’s sign. Karena jalan nafas yang relatif sempit maka kemungkinan dampak karena oedem dan pembengkakan semakin besar. subconjunctival hemorrhage. perubahan status mentalis. Adanya kelainan maloklusi. dan kelainan pergerakan bola mata. respiratory failure. dan identifikasi perdarahan dari rongga mulut. atau adanya gigi yang tanggal curigai adanya fraktur rahang. Adanya deviasi waktu membuka mulut curigai adanya fraktur pada kondil mandibula. periorbital ecchymosis. rhinorea.

Water’s view dan submental vertex. Pada fraktur alveolar maksila berkisar antara 5% sampai 65%.1 Gambar 1. Penanganan fraktur alveolar meliputi imobilisasi segmen fraktur dengan arch bar.2 Pemeriksaan Radiologi Pemeriksaa radiologi perlu dilakukan untuk membantu menegakkan diagnosa. Town’s projection.6 % pada trauma fasial pada anak-anak. schede AP lateral. Prosentasenya berkisar 8. os mental atau tulang kranial.Anamnesa yang akurat tentang riwayat trauma pada pasien ataupun pengantar sangat membantu perencanaan tindakan berikutnya.1 % dan 50. Pemeriksaan lengkap pada wajah meliputi. Fiksasi gigi dengan composite supported orthodontic wire extended1 357 . Penggunaan CT-Scan telah menjadi kegiatan rutin dinegara-negara besar dan menjadi standar perawatan menggantikan pemeriksaan radiologi konvensional. Fraktur Alveolar Fraktur mandibular alveolar pada anak-anak merupakan yang paling sering terjadi pada fraktur fasial.2. 1. Pada pasien dengan alveolar bone loss dapat dilakukan autogenous bone grafting dengan pengambilan tulang berasal dari mandibular ramus. 1. wire ligation serta composite supported orthodontic wire extended pada gigi disekitarnya. Panoramic foto merupakan alat diagnostic lainnya yang diperlukan tetapi menuntut kerjasama pasien untuk diam selama berlangsung pemaparan.3 TIPE FRAKTUR 1.

Nasal packs dapat digunakan untuk menyangga tulang dan septum hidung yang telah direposisi. Setelah dilakukan reduksi dengan kaudal traksi. Fraktur nasal yang terjadi sebelum proses tumbuh kembang selesai harus di perlakukan sama seperti fraktur nasal pada orang dewasa. dan membiarkanya beberapa saat selama proses penyembuhan. Fraktur nasal sering terjadi pada cedera midfasial anak-anak. Fraktur Midfasial Fraktur Nasal. Adanya gangguan pertumbuhan setelah terjadinya fraktur nasal akan menyebabkan penutupan premature dari sutura septovomerine. dan hal ini harus dihindari. bukan hiperekstensi kebelakang. Epistaksis sering terjadi menyertai trauma pada hidung dan mudah dikontrol dengan melakukan penekanan pada nostril selama 5-10 menit dengan kepala sedikit ditengadakan. untuk mencegah terjadinya aspirasi dari darah karena darah mengalir ke posterior pharynx. 1 Splinting eksternal dapat membantu untuk mengontrol pembengkakan dan menyediakan perlindungan pada hidung setelah dilakukan reposisi. 358 . Reseksi pada septal cartilage dapat menyebabkan gangguan Pemeriksaan ulang pertumbuhan wajah. dan jika terjadi deformitas maka harus dilakukan closed reduction.2. Jika terjadi terjadi deviasi septum maka harus dilakukan reduksi. Seperti pada fraktur nasal orang dewasa maka oedema terjadi disekitar struktur os nasalis. Tulang hidung dapat direposisi dengan pendekatan intranasal. dilakukan setelah 3-4 hari setelah terjadinya trauma.

Jika terjadi fraktur dan terjadi maloklusi maka dapat dilakukan closed reduction. dinding lateral. Penatalaksanaan fraktur orbita pada anak-anak umur 7 tahun ke atas sama dengan penatalaksanaan pada fraktur orbita orang dewasa. Intervensi bedah pada toothbearing area pada maksila untuk penempatan kawat untuk stabilisasi atau plate meningkatkan insiden terjadinya gangguan perkembangan benih gigi dan sedapat mungkin dihindari.1. cedera pada atap orbita. Sebelum usia 7 tahun. prolaps 359 . kemudian model dipotong untuk memfasilitasi konstruksi pembuatan splint untuk closed reduction. (A) Deviasi ke kanan setelah trauma pada wajah. sebagian besar fraktur pada orbita terjadi pada atap orbita dan meluas ke sinus frontalis. dasar dan sinus frontalis lebih sering terjadi . Aperture piriformis dan dinding zygomaticomaxillary tebal . dan dilakukan pada kondisi tertentu. Adanya disfigurement wajah. (B) Setelah reduksi tertutup. Jejas pada nasal merupakan fraktur wajah yang sering terjadi pada pasien anak-anak. Hal ini dikarenakan sinus masih dalam perkembangan. karena sebagian besar perkembangan orbita telah selesai. Setelah usia 7 tahun. 1 Fraktur Maksila. Fraktur Le fort pada anak-anak jarang ditemui oleh karena maksila pada anak-anak masih tulang kanselus.Gambar 2. Pencetakan dilakukan dan pembuatan model. adanya keterbatasan gerak bola mata. gigi belum tumbuh dan sinus maksilaris masih belum sempurna.2 Fraktur Orbita. dan jaringan lunaknya lebih banyak jaringan lemak.

Untuk eksplorasi daerah infraorbital rim. Fraktur fronto-rima orbitalis superior terjadi karena adanya tumbukan yang cepat kearah benda diam. (A) Edema pada fronto-periorbita dextra dan ekimosis setelah trauma. dan diseksi dilakukan ke otot orbicularis oculli terus sampai ke bawah pada orbital rim. (B) Durante op dengan gambaran impaksi frontal dan rima supra orbita yang memerkukan dilakukannya craniektomi untuk akses dan pebaikan. Untuk menghindari hal tersebut maka sedapat mungkin kawat atau screw harus ditempatkan dengan posisi cephalic diatas rim. Untuk eksplorasi regio frontozygomatico dapat dilakukan insisi di sekitar alis mata. dan jika gigi permanen belum tumbuh. dasar orbita dan dinding medial dapat dilakukan pendekatan dengan melakukan insisi pada lipatan inferior kantung mata atau melalui transconjunctival approach.2 360 . Gambar 3.periorbita ke athrum atau sinus ethmoidalis dan adanya diplopia yang persisten merupakan indikasi dilakukan open orbital exploration. Jika dilakukan fiksasi internal maka kawat ditempatkan pada inferior orbital rim. Karena pada anak-anak lipatan kantung mata belum terbentuk maka insisi bisa dilakukan parallel dengan batas kantung mata dan sedikit bersudut ke inferior hal ini untuk mengurangi terbentuknya jaringan parut. kemungkinan tunas benih gigi akan terkena. Insisi dibuat 7 mm dari tepi bawah kantung mata.

disamping bisa dilakukan insisi pada nasal dorsum dan juga perluasan insisi dari insisi inferior kantung mata yang meluas ke tulang hidung bagian lateral.1. orbita dan septum nasalis. Fraktur ini relatif jarang dijumpai pada anak-anak.2 Fraktur Nasal-Orbita-Ethmiodal. Potongan cross-seksi dari inferior palpebral dan variasi dari insisi pada dasar. Insisi koronal dilakukan 361 .Gambar 4. tapi karena pentingnya harus digaris bawahi karena potensialnya yang bisa menyebabkan gangguan pada pertumbuhan tulang wajah. Menurut Ochs MW FR. Orbital trauma. Pertumbuhan midface tergantung dari pertumbuhan fossa cranii anterior. Open reduction kompleks pada nasal-orbita-ethmoid dilakukan 4 hari setelah trauma dan dengan gangguan seminimal pada septum nasalis. Regio ini dapat diakses melalui pendekatan insisi koronal untuk hasil estetik yang memuaskan. Prolaps yang terjadi harus dikembalikan dan dasar atau dinding harus didukung dengan bone graft untuk mencegah enophthalmus.3 Jika dasar orbita atau dinding medial fraktur maka akan terjadi prolaps bola mata ke anthrum atau sinus ethmoidalis. In: Fonseca RJ. Ketika dilakukan open reduction pada daerah ini maka periosteum akan dipisahkan dari tulang orbita dan nasal dan kondisi ini sendiri berpotensial menghambat pertumbuhan wajah.

41 % dari seluruh populasi trauma pada anak-anak. Studi terbaru menemukan bahwa penyuntikan botulinum pre-op dapat menahan tarikan otot masseter kearah inferior sehingga mengurangi kemungkinan displacement fraktur post reduction oleh karena tarikan otot masseter. sphenoid dan tulang temporal maka reduksi dan reposisi biasanya melalui multiple approaches. Seiring dengan bertambahnya usia tulang zygoma semakin menonjol dan prevalensi kejadian fraktur pada arkus zygomatikus juga meningkat. sublabial.1 Fraktur Arkus Zygomatikus. Penatalaksanaan pada fraktur ini hanya jika dibutuhkan dan sama seperti pada orang dewasa. Jika terjadi fraktur zygoma kompleks atau Quadrapod yang melibatkan disartikulasi tulang zygoma dengan tulang frontal. tetapi jika terjadi depressed dan comminuted fracture perlu dilakukan open reduction dan fiksasi. Fraktur pada arkus zygoma terjadi dengan prosentase 7. Jika terjadi maka pendekatan dilakukan melalui intra oral atau Gilles approach. Penatalaksanaan pada fraktur ini dilakukan jika terdapat deformitas atau terjadi trismus.1.2 362 . Gangguan pertumbuhan oleh karena fraktur ini jarang terjadi.dan transconjuctival.dibelakang hairline pada kulit kepala dan dimulai setinggi dari telinga. meliputi pendekatan hemicoronal. Pada fraktur greenstick atau minimal displaced hanya dibutuhkan observasi saja. maksilaris. Kadang-kadang insisi meluas sampai ke regio preauricular bila diinginkan lapang pandang yang luas.

Gambar 5. (A) Setelah pembengkakan awal. Pendekatan dengan Gilies untuk reduksi arkus zigomatikus2 Penggunaan double ended periostel elevator. (B) Post-bedah dengan reduksi intraoral dan pemasangan plat fiksasi2 Gambar 6. Pasien harus latihan buka tutup mulut. Fraktur Mandibula Fraktur Kondil. Kelly clamp dapat digunakan untuk mereposisi fraktur ini. Kondil mandibula merupakan daerah yang paling sering cedera dengan tingkat 363 . 3. Fraktur pada kondil semasa kanak-kanak berpotensi dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan wajah. keadaan malar dapat dilihat. memajukan mandibula dan lateral excursion. dengan pendekatan insisi pada regio temporalis. Fraktur zigomatic dengan defisiensi malar disertai dengan infraorbital (V2) parastesi. Trismus post-op sering terjadi dan akan berkurang dalam dalam beberapa minggu.

nyeri pada preauricular. keterbatasan pergerakan. dan laserasi submental merupakan pertanda adanya fraktur kondil. oklusi . dan fungsi tanpa gangguan pertumbuhan dimasa mendatang. Goal dari penatalaksanaan pada fraktur kondil mandibula untuk mengembalikan ke simetrisan mandibula. Closed reduction dengan IMF elastis dengan kurun waktu 1-2 minggu. darah pada canalis meatus acusticus. mandibula mengalami deviasi kesisi yang fraktur jika terjadi dislokasi pada proksimal segmen. Mobilisasi segera. Tanda dan gejala fraktur kondil pada anak-anak sama dengan tanda dan gejala pada fraktur kondil orang dewasa. Jika fraktur kondil teridentifikasi. Adanya asimetri maloklusi. Pada pemeriksaan fisik. Karena proses penyembuhan yang cepat pada anakanak. Closed fracture pada kondil dapat dilakukan closed reduction kecuali oklusi normal tidak tercapai. 364 . dan diet lunak menghambat terjadinya fibrosis dan penyatuan tulang serta mengembalikan stimulasi otot-tulang penting untuk kelanjutan pertumbuhan simetris wajah. deviasi mandibula waktu buka dan tutup mulut.5%-60%. anterior open bite. maka pertumbuhan mandibula akan berlangsung secara simetris. maka immobilisasi dilakukan tidak terlalu lama dengan pertimbangan kalau terlalu lama maka akan berpotensi terjadi ankylosis. Jika posisi mandibula dan oklusi dapat dicapai dan dipertahankan selama 6 bulan . terapi fisik. Trismus dan keterbatasan membuka mulut merupakan gejala adanya fraktur pada kondil. pembengkakan. Deviasi terjadi karena pemendekkan ramus. Open reduction dilakukan jika terjadi terjadi displaced segmen kondil pada fossa cranial media atau jika terdapat benda asing.insidensi 14. tetapi tidak terjadi maloklusi maka tidak perlu dilakukan immobilisasi. Perawatan. Fraktur pada kondil mandibula dapat dikategorikan fraktur kondil terbuka (capsular disruption) dan tertutup (intracapsular).

(Posnick JC. maka reduksi untuk mencapai oklusi awal dan posisi mandibula ke posisi awal dapat dicapai dengan IMF atau traksi elastic. dan stabilisasi dari fraktur. Fraktur bodi dam simfisis mandibula pada anak-anak terjadi seiring dengan berkembangnya gigi geligi dan biasanya selalu melibatkan trauma pada rongga mulut. Intervensi bedah diindikasikan jika segmen kondil displaced ke fossa cranial atau adanya keterbatasan gerakan karena posisi segmen fraktur. Pada fraktur ini penatalaksanaan dengan pemberian antibiotic. Sering terjadi greestick fraktur pada regio ini. Open reduction pada pasien anak- 365 . circum-zygomatic. dan wiring.) 2 Fraktur Bodi Dan Simfisis Mandibula. dan terjadi sedikit displacement. Open reduction pada fraktur kondil jarang dilakukan.Ketika terjadi maloklusi atau mandibula asimetri serta adanya fraktur kondil. Pada pasien di bawah 2 tahun biasanya hanya di observasi dan diet lunak. kemungkinan hal ini dikarenakan tulang mandibula yang elastic dan tertanamnya benih gigi sehingga memegang fragmen fraktur.2 Gambar 7. C: 12 tahun). Arch bar dapat dipasang pada gigi sulung dengan bantuan circummandibular.1. B: 6 tahun. infraorbital. piriform atau circumzygomatic wires. Ilustasi 3 kranium dengan usia yang berbeda (A: 2 tahun. Perbedaan metode stabilisasi dengan arch bar pada variasi umur termasuk circummandibula. dilakukan reduksi.

FDA menyetujui penggunaan resorbable plating systems untuk penatalaksanaan fraktur mandibula. Jika memungkinkan. (B) Reduksi intraoral dan plat fiksasi yang dapat di resorbsi. Fraktur mandibular yang menyebabkan openbite. Pada umur antara 5-12 tahun. dapat dilakukan pemasangan circummandibular wires atau fiksasi skeletal.4 (Fig. (C) Penggunaan plat yang dapat di resorbsi pada anak usia 4 tahun.anak jarang dilakukan. 4 366 . (A) fraktur parasimfisis mandibular dengan separasi antara kaninus dan premolar. Fiksasi maksilomandibular dapat dilakukan dengan pemasangan erich arch bar. 4) (C) Gambar 8.1. Hampir pada semua kasus fraktur pada regio ini penatalaksanaannya dapat dengan menggunakan teknik closed reduction. yang terjadi pada posterior ramus dan kondulus. Perkembangan yang terbaru.2. sehingga pada penggunaan sistem ini tanpa dilakukan pengambilan plate dan terjadinya migrasi dari plate oleh karena pertumbuhan tak perlu dikhawatirkan lagi. closed reduction untuk penanganan fraktur tersebut dengan pertimbangan jika dilakukan open reduction akan mengganggu perkembangan tunas gigi.

harus dilakukan dengan hati-hati untuk mencegah terjadinya gangguan pertumbuhan Manajemen trauma oromaksilofasial pada anak-anak sedikit berbeda dengan orang dewasa namun pada intinya sama karena pada anak-anak masih dalam proses tumbuh kembang. Jika memang dibutuhkan tindakan bedah.BAB III KESIMPULAN Fraktur wajah pada anak jarang terjadi. tapi dapat mengakibatkan tingkat morbiditas yang signifikan jika tidak ditangani dengan baik. Mayoritas dari fraktur ini dapat ditangani secara konservatif. 367 . stabilization. & fixation) harus diterapkan disamping tetap mempertimbangkan dampak yang terjadi terhadap tumbuh kembang anak-anak di masa mendatang. reduction. Prinsip umum penatalaksanaan fraktur pada trauma oromaksilofasial pada anak-anak (recognition.

Oral and Maxilofacial Trauma. W. Wesson DE. Pediatric Oral and Maxillofacial Surgery. RJ. New York. Walker. 368 . Taylor & francis Group. Vol 2. Thaller SR. Fonseca.DAFTAR PUSTAKA 1. Pediatric Trauma. Facial Trauma. Philadelphia. RV. NJ.B. W. 3. Philadelphia. 4. Kaban. 2005. Barber HD. Saunders Company. Mc Donald WS.B. 3rd ed. LB. Marcell Dekker. New York. 1990. 2004. Betts. 2. Elsevier-Saunders company. 2006.