Cara Melakukan Pemeriksaan Trauma Oromaksilofasial dan Penanganan Kegawat-daruratan Trauma Oromaksilofasial

Melva Sirait 160121120001

Peserta Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut Dan Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Abstrak : Trauma oromaksilofasial adalah trauma yang menyebabkan cedera pada jaringan lunak mulut, dentoalveolar, serta fraktur wajah. Cedera pada pada jaringan lunak dapat berupa abrasi, kontusio, laserasi dan luka bakar. Kasus trauma oromaksilofasial adalah kasus yang cukup banyak ditemukan di unit gawat darurat hampir sebagian besar rumah sakit. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa penyebab trauma oromaksilofasial paling banyak disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas dan korban tersebut ternyata lebih banyak dialami oleh laki-laki. Terapi yang dilakukan pada penderita pun bervariasi mulai dari hanya pemberian obatobatan, penjahitan luka, pencabutan gigi, alveolektomi, serta reposisi dan fiksasi. Kelainan-kelainan seperti disebut di atas, mengharuskan kita untuk

melakukan pemeriksaan yang lebih lengkap, konsultasi kepada bagian lain yang terkait karena trauma maksilofasial dapat menjadi kasus yang kompleks dan mungkin diperlukan keterlibatan multispesialis dalam manajemennya.

Kata kunci: Trauma oromaksilofasial, pemeriksaan trauma, penanganan trauma

1

BAB I PENDAHULUAN

Trauma oromaksilofasial berhubungan dengan cedera apapun pada wajah atau rahang yang disebabkan oleh kekuatan fisik, benda asing atau luka bakar. Trauma oromaksilofasial termasuk cedera pada salah satu struktur tulang ataupun kulit dan jaringan lunak pada wajah. Setiap bagian dari wajah mungkin dapat terpengaruh. Gigi dapat lepas atau goyang. Mata dengan otot-ototnya, saraf dan pembuluh darahnya mungkin mengalami cedera sehingga dapat menyebabkan gangguan penglihatan, diplopia, pergeseran posisi dari bola mata dan juga seperti halnya rongga mata yang dapat retak oleh pukulan yang kuat. Kerusakan jaringan lunak seperti edema, kontusio, abrasi, laserasi dan avulsi. Rahang bawah (mandibula) dapat mengalami dislokasi. Meskipun dilengkapi oleh otot-otot yang kuat untuk mengunyah, rahang termasuk tidak stabil bila dibandingkan dengan tulang-tulang lainnya sehingga dengan mudah mengalami dislokasi dari sendi temporomandibular yang menempel ke tengkorak.1 Kelainan-kelainan seperti disebut di atas, mengharuskan kita untuk melakukan pemeriksaan yang lebih lengkap, konsultasi kepada bagian lain yang terkait karena trauma maksilofasial dapat menjadi kasus yang kompleks dan mungkin diperlukan keterlibatan multispesialis dalam manajemennya. Trauma oromaksilofasial merupakan salah satu tantangan terbesar untuk pelayanan kesehatan masyarakat di seluruh dunia karena insidennya yang tinggi. Dari penelitian dilaporkan bahwa kecelakaan lalu lintas merupakan penyebab utama dari traumamaksilofacial. Selain itu penyebab lainnya yang tersering ialah kekerasan fisik, konsumsi alkohol yang dapat memicu terjadinya tindakan kekerasan dan kecelakaan, serta trauma oromaksilofasial akibat olahraga.

2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Defenisi Trauma oromaksilofasial adalah suatu ruda paksa yang mengenai wajah dan jaringan sekitarnya.2 Trauma pada jaringan oromaksilofasial dapat mencakup jaringan lunak dan jaringan keras. Yang dimaksud dengan jaringan lunak wajah adalah jaringan lunak yang menutupi jaringan keras wajah. Sedangkan yang dimaksud dengan jaringan keras wajah adalah tulang kepala yang terdiri dari : 1 1. Tulang hidung 2. Tulang arkus zigomatikus 3. Tulang mandibula 4. Tulang maksila 5. Tulang rongga mata 6. Gigi 7. Tulang alveolus 2.2 Etiologi 1,3,4,5,6 Penyebab trauma oromaksilofasial bervariasi, mencakup kecelakaan lalu lintas, kekerasan fisik, terjatuh, olah raga dan trauma akibat senjata api. Kecelakaan lalu lintas adalah penyebab utama trauma oromaksilofasial yang dapat membawa kematian dan kecacatan pada orang dewasa secara umum dibawah usia 50 tahun dan angka terbesar biasanya terjadi pada pria dengan batas usia 21-30 tahun.
a. Fisik

Kecelakaan lalu lintas merupakan penyebab utama fisik terjadinya trauma oromaksilofasial 1. Beberapa literatur mengungkapkan terdapat hubungan antara

3

posisi duduk pengemudi atau penggunaan sistem proteksi terhadap tingkat keparahan cedera oromaksilofasial pada pasien kecelakaan lalu lintas. Selain kecelakaan lalu lintas, etiologi fisik lainnya yang merupakan penyebab trauma oromaksilofasial yaitu jatuh ketika bermain, kecelakaan kerja atau industri, kecelakaan sewaktu berolahraga, gigitan binatang, perkelahian dan lain- lain. b. Kimia Trauma oromaksilofasial akibat bahan kimia biasanya mempunyai manifestasi klinis berupa luka bakar di sekitar mulut dan wajah. Zat kimia seperti kaporit, kalium perpangat, asam kromat, fenol dan fosfor putih dapat bersifat oksidatif, juga larutan basa seperti kalium hidroksida menyebabkan denaturasi protein. Asam sulfat merusak sel karena bersifat cepat menarik air. Gas yang dipakai dalam peperangan menimbulkan luka bakar dan menyebabkan anoksia sel bila berkontak dengan kulit atau mukosa. Trauma oromaksilofasial akibat bahan kimia dapat terjadi akibat kelengahan, pertengkaran, kecelakaan kerja, kecelakaan di industri, laboratorium dan juga akibat penggunaan gas beracun pada perang. c. Elektrik Kecelakaan yang disebabkan faktor elektrik terjadi karena arus listrik mengaliri tubuh, hal ini biasa terjadi pada kecelekaan kerja petugas listrik atau dapat juga akibat petir. Pada kecelakaan tersengat arus listrik didaerah kepala, penderita dapat pingsan lama dan mengalami henti nafas, dapat juga terjadi oedem otak. d. Termis Luka bakar yang terjadi pada wajah juga dikategorikan termasuk dalam trauma oromaksilofasial, yang dapat disebabkan oleh karena benda panas, gesekan, elektrik, radiasi, atau zat kimia. 1 Trauma oromaksilofasial akibat termis dapat terjadi akibat kelengahan seperti kebakaran rumah tangga akibat gas yang meledak dan lain lain. Bagi pasien dengan kecelakaan lalu lintas yang fatal menjadi masalah karena harus rawat inap di rumah sakit dengan cacat permanen yang dapat mengenai ribuan orang per tahunnya. Berdasarkan studi yang dilakukan, 72%

4

kematian oleh trauma oromaksilofasial paling banyak disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas (automobile).

5

Berikut ini tabel etiologi trauma oromaksilofasial. 7 Persentase (%) Dewasa Kecelakaan lalu lintas Penganiayaan Olah raga Jatuh Lain-lain 40-45 10-15 5-10 5 5-10

Anak-anak Kecelakaan lalu lintas Penganiayaan/berkelahi Olah raga(termasuk naik sepeda) Jatuh 10-15 5-10 50-65 5-10

2.3 Klasifikasi Trauma oromaksilofasial dapat diklasifikasikan menjadi dua bagian, yaitu trauma jaringan keras wajah dan trauma jaringan lunak wajah. Trauma jaringan lunak biasanya disebabkan trauma benda tajam, akibat pecahan kaca pada kecelakaan lalu lintas atau pisau dan golok pada perkelahian. 8,9 2.3.1 Trauma jaringan lunak wajah 7,8 Luka adalah kerusakan anatomi, diskontinuitas suatu jaringan oleh karena trauma dari luar. Trauma pada jaringan lunak wajah dapat diklasifikasikan berdasarkan: 1. Berdasarkan jenis luka dan penyebab    Ekskoriasi Luka sayat, luka robek , luka bacok. Luka bakar

6

Luka tembak

2. Berdasarkan ada atau tidaknya kehilangan jaringan 3. Dikaitkan dengan unit estetik

Menguntungkan atau tidak menguntungkan, dikaitkan dengan garis Langer. (Gambar 1)

Gambar 1. (A) Laserasi yang menyilang garis Langer tidak menguntungkan mengakibatkan penyembuhan yang secara kosmetik jelek. B. Insisi fasial ditempatkan sejajar dengan garis Langer 9

2.3.2 Trauma jaringan keras wajah 7,8,10,11 Klasifikasi trauma pada jaringan keras wajah di lihat dari fraktur tulang yang terjadi dan dalam hal ini tidak ada klasifikasi yg definitif. Secara umum dilihat dari terminologinya (pengistilahan) : I. Tipe fraktur 1. Fraktur simpel • • Merupakan fraktur sederhana, liniear yang tertutup misalnya pada kondilus, koronoideus, korpus dan mandibula yang tidak bergigi. Fraktur tidak mencapai bagian luar tulang atau rongga mulut. Termasuk greenstik fraktur yaitu keadaan retak tulang, terutama pada anak dan jarang terjadi.

2. Fraktur kompoun • Fraktur lebih luas dan terbuka atau berhubungan dengan jaringan lunak

7

seperti Osteomyelitis. bisa horizontal atau vertikal. II. tumor ganas. bahkan beberapa luka yang parah dapat meluas dengan sobekan pada kulit. Tidak komplit. 4. Komunisi (remuk) IV. seperti pada greenstik. Komplit. Tranversal. Displacement. fraktur mencakup seluruh tulang. jadi sifatnya juga seperti fraktur kompoun dengan kerusakan tulang dan jaringan lunak. kista yang besar dan penyakit tulang sistemis sehingga dapat menyebabkan fraktur spontan. Undisplacement. Hubungan antar Fragmen 1. disini fragmen fraktur terjadi perpindahan tempat 2. Fraktur komunisi • Benturan langsung terhadap mandibula dengan objek yang tajam seperti peluru yang mengakibatkan tulang menjadi bagian bagian yang kecil atau remuk. 3. hair line. bisa terjadi berupa : • Angulasi / bersudut 8 . Oblique ( miring ) 3. dan kropresi ( lekuk ) III.• Biasanya pada fraktur korpus mandibula yang mendukung gigi. dan hampir selalu tipe fraktur kompoun meluas dari membran periodontal ke rongga mulut. Fraktur patologis • keadaan tulang yang lemah oleh karena adanya penyakit penyakit tulang. Konfigurasi ( garis fraktur ) 1. • Bisa terbatas atau meluas. 2. Perluasan tulang yang terlibat 1. Spiral (berputar) 4. 2.

Ramus E. Le Fort II. dan Le Fort III c.10 V. Fraktur pada daerah mandibula A. Dento alveolar b. Prosesus koronoideus d. Fraktur blow-out (fraktur tulang dasar orbita) b. Ramus mandibula f. Midline / simfisis menti h. berdasarkan lokasi anatomi fraktur dapat mengenai daerah : a. Fraktur segmental maksila 9 . Korpus mandibula g. Fraktur Le Fort I. Kondilar C. Parasimfisis. Corpus G. Angulus F. Angulus mandibula e. Koronoid D. Prosesus kondiloideus c. Dento-alveolar B.• • • • Distraksi Kontraksi Rotasi / berputar Impaksi / tertanam Pada mandibula. Lateral ke midline dalam regio insisivus Gambar 2. Simfisis H. Khusus pada maksila fraktur dapat dibedakan : a.

I Le Fort I. II Le Fort II. II Le Fort II. III Le Fort III (pandangan anterior) (B).Gambar 3. III Le Fort III (pandangan sagital) 11 10 . I Le Fort I. (A).

Urutan kejadian trauma oromaksilofasial 9 3. Pemeriksaan Primary Survey (ABCDE) 7.tanda vital dan mekanisme cedera.1.BAB III PEMBAHASAN Gambar 4. tanda.8 Pendekatan awal terhadap pasien trauma oromaksilofasial akut sedikit berbeda dengan cedera yang lain. Primary survey adalah penilaian terhadap keadaan penderita dan prioritas terapi berdasarkan jenis luka. 11 . adekuasi dari ventilasi. Perhatian harus segera diarahkan terhadap saluran pernapasan. dan kontrol perdarahan eksternal. Selama primary survey. keadaan yang mengancam nyawa harus dikenali dan resusitasinya dilakukan saat itu juga.

Pemberian oksigen konsentrasi tinggi 2. Jaw trust atau chin-lift dapat dipakai 3. Memasang naso-pharingeal airway (pasien sadar) atau oro-pharingeal airway (pada pasien tidak sadar) 5. Bila ada keraguan mengenai kemampuan menjaga airway. dan ini hanya dapat dikenali dengan re-evaluasi berulang terhadap airway-ini. Setiap komponen ini harus dievaluasi secara cepat.dinding dada dan diafragma. flail chest dengan contusio paru.8 A = Airway with C-Spine Protection Pada kasus trauma oromaksilofasial. lebih baik memasang airway definitif (intubasi oro atau nasotracheal atau surgical crico-thyroidotomy). dan open pneumothorax. Resusitasi 1. setelah memasang airway. Luka yang mengakibatkan gangguan ventilasi berat adalah tension pneumothorax. Menutup open pneumothoraks 12 . Menghilangkan tension pneumothoraks 4. Airway harus dijaga dengan baik pada semua penderita. Fiksasi leher dengan berbagai cara. B = Breathing / Ventilation / Oxygenation Ini merupakan nilai keadaan oksigenasi dan ventilasi penderita. 2. Membersihkan airway dari benda asing 4. apakah disana ada obstruksi atau tidak. Tidak kalah pentingnya adalah mengenali kemungkinan gangguan airway yang dapat terjadikemudian. Resusitasi: 1. Harus dilakukan segala usaha untuk menjaga jalan napas dan memasang airway definitif bila diperlukan. kita perlu dengan segera memperhatikan kelancaran jalan nafas. 6. Usaha untuk membebaskan airway dilakukan dengan menjaga jalan nafas dan melindungi vertebra servikal.Ventilasi yang baik meliputi fungsi yang baik dari paru.Urutan Penanganan Penderita dalam Primary survey 7. Ventilasi dengan alat bag-valve-mask 3.

5. Memasang pulse oximeter 13 .

tes kehamilan. analisis kimia. ‡ luka. 3. serta konsultasi bedah. Suatu keadaan hipotensi pada penderita trauma harus dianggap sebagai hipovolemia. berikan cairan kristaloid yang dihangatkan atau pemberian darah. Penurunan 14 . Penurunan kesadaran dapat disebabkan penurunan oksigenasi dan atau penurunan perfusi ke otak yang disebabkan trauma langsung pada otak. Mengenal adanya perdarahan internal. Perdarahan eksternal dihentikan dengan penekanan (direct pressure) pada Tourniquet sebaiknya jangan dipakai karena merusak jaringan dan menyebabkan iskemia distal. Resusitasi : 1. sehingga tourniquet hanya dipakai bila ada amputasi traumatik. Perdarahan eksternal dihentikan dengan tekanan langsung pada tempat perdarahan. D = Disability (Neurologic Status) Hal yang penting selanjutnya adalah penilaian terhadap keadaan neurologis secara cepat.C = Circulation & Stop Bleeding Tahap selanjutnya untuk dinilai adalah keadaan hemodinamik pasien. Parameternya adalah tingkat kesadaran. ‡ Tiga penemuan klinis yang dalam hitungan detik dapat memberikan informasi keadaan hemodinamik pasien. cross match dan analisis gas darah. sampai terbukti sebaliknya. 4. golongan darah. Memasang 2 chateter i. dan tingkat cedera spinal. kebutuhan untuk intervensi bedah. warna kulit dan nadi. yakni tingkat kesadaran. baik perdarahan eksternal maupun perdarahan internal. ambil sampel darah untuk pemeriksaan darah rutin. Memasang NG tube dan kateter urin jika tidak ada kontra indikasi.v ukuran besar. Cari sumber perdarahan. 2. ukuran dan reaksi pupil tanda-tanda lateralisasi.

Apabila pasien dapat membuka mata ketika kita beri rangsang nyeri. Namun pada kebanyakan pasien dengan trauma oromaksilofasial. Respon yang diharapkan ada pada pasien ialah bagaimana reflek membuka matanya. ventilasi. 15 . respon verbal (V) bicara dan gerakan motorik.kesadaran menuntut dilakukannya re-evaluasi terhadap keadaan oksigenasi. (misalkan dengan menekan kuku jari) maka nilai E pasien (2). Untuk nilai dari respon ini kita nilai (4) atau respon spontan. hipoksia atau hipovolemia adalah penyebab utamanya. Rangsangan yang diberikan berbagai hal dengan memperhatikan 3 reaksi yang terdiri dari reaksi membuka mata (Eye (E)). seperti kita memanggil nama pasien. maka kita beri nilai E (1). tidak ada respon. Penurunan kesadaran dapat disebabkan oleh alkohol dan obat-obatan. nilai respon E nya adalah nilai (3). Ketika tidak ada respon sama sekali. GCS merupakan suatu skala yang digunakan untuk menilai tingkat kesadaran pasien dengan menilai respon pasien terhadap rangsangan yang diberikan. Tingkat kesadaran dinilai dengan GCS (Glasgow Coma Scale) scoring. Apabila mata terbuka dengan rangsang suara. dan perfusi jaringan. disentuh atau diberikan cubitan. Gamabar 5 : Eye (respon membuka mata)8 Respon membuka mata ini merupakan respon awal ketika kita bertemu dengan pasien. Apakah ia akan spontan membuka mata tanpa harus dipanggil namanya.

Ketika masih saja tidak ada respon. maka penilaian selanjutnya ialah bagaimana kita menilai respon verbal pasien. Ketika pasien diperintahkan untuk melakukan apa yang kita inginkan. maka nilai respon verbal kita beri nilai (4) . maka kita nilai respon verbal pasien (2). Motor (respon motorik) Respon motorik ini harus dibedakan dengan penilaian kekuatan otot. Pemeriksaan ini hanya digunakan untuk mengetahui tingkat kesadaran pasien dengan memantau respon motorik pasien. atau ketika kita datang kemudian kita memberikan tangan kita untuk berjabat 16 .Tabel 1 : Verbal (respon verbal)8 Setelah reflek membuka mata kita kaji. Untuk nilai (3) kita beri ketika pasien berbicara tidak patut seperti berbicara dengan kata-kata kasar dan makian. Apabila pasien bingung. Ketika pasien dapat mengetahui dimana dia berada. Apabila pasien lebih banyak mengerang atau mengeluarkan suara tanpa arti. kalimat yang diucapkan baik. maka kita beri nilai verbal pasien (1). maka kita nilai respon verbal dengan angka (5) . seperti memintanya untuk mengangkat tangan. orientasi baik. berbicara mengacau (sering bertanya berulang-ulang) disorientasi tempat dan waktu. siapa dirinya.

tangan dengannya. Tabel 2 : Motor (respon motorik)8 Gambar 6 : Respon motorik nilai 6 8 17 . Kita bisa melihat adakah atau tidak respon pasien untuk melakukan hal tersebut (menjabat tangan kita).

untuk kondisi ini kita berikan M (3).Apabila pasien mengikuti perintah yang kita berikan. Maka kita bisa berikan stimulus nyeri di daerah kukunya dengan tekanan ujung pulpen atau lainnya. Gambar 8 :Respon motorik nilai 3 8 Apabila pasien tidak dapat melokalisasi nyeri dari stimulus. Ketika pasien mampu untuk melokalisir nyeri dengan cara menjauhkan stimulus saat diberi rangsang nyeri. Pasien akan memperlihatkan flexi siku yang bisa juga diikuti oleh flexi pergelangan tangan. Supraorbita dengan cara menggosokan kuku didaerah supraorbita groove dengan tekanan yang makin kuat sampai pasien memberikan respon. maka kita memberikan nilai (5). Namun jika pasien hanya dapat menghindar terhadap stimulus nyeri maka kita beri nilai M (4). maka kita nilai respon motorik pasien (6) Gambar 7 : respon motorik nilai 5 8 Kita bisa memberikan sebuah stimulus berupa rangsangan nyeri di daerah N. 18 .

19 . 3. Hasil pemeriksaan kesadaran berdasarkan GCS disajikan dalam simbol (EMV) 2. Nilai GCS yang tertinggi adalah 15 yaitu E4M6V5 dan terendah adalah 3 yaitu E1M1V1. Selanjutnya nilai-nilai dijumlahkan. Setelah pakaian dilepas. dengan jari mengepal & kaki extensi saat diberi rangsang nyeri).Gambar 9 : Respon motorik nilai 2 8 Sedangkan untuk memberikan nilai M (2) didapatkan respon pasien berupa extensi abnormal (tangan satu atau keduanya extensi di sisi tubuh. seperti darah yang keluar dari anus atau luka pada tubuh yang tertutup pakaian. Periksa hal-hal yang mungkin terlewat pada pemeriksaan sebelumnya. Menilai status kesadaran klien GCS 14–15 GCS 9–13 GCS 3–8 <3 = cidera kepala ringan = cidera kepala sedang = cidera kepala berat = koma E = Exposure/Environment/Body Temperature Buka pakaian pasien untuk melakukan pemeriksaan secara menyeluruh. pasien harus segera diselimuti untuk mencegah hipotermi. Penilaian GCS 8 1. maka untuk kondisi seperti ini kita nilai M (1). Namun ketika pasien tidak ada respon apapun terhadap nyeri.

biasanya sulit untuk diajak berkomunikasi. diperlukan informasi yang memadai tentang riwayat trauma.3.2 Pemeriksaan Secondary Survey 7. pemeriksaan fisik ekstra oral seperti kepala dan oromaksilofasial juga pemeriksaan intra oral yang meliputi status lokalis gigi dan jaringan pendukung sekitarnya. dan peristiwa khusus. dilakukan pemeriksaan neurologis lengkap. mulut dan telinga. dan intoksikasi merupakan hambatan yang sering terjadi dalam menjalin komunikasi dengan pasien. perawat. syok. apakah pasien telah mendapatkan pertolongan medis dan pemberian obat sebelumnya dan pertanyaan penting lainnya. pemeriksaan laboratorium juga dapat dikerjakan pada kesempatan ini. Pada situasi ini. apakah ada riwayat pingsan. mual dan muntah. 20 . amnesia. Penting untuk dicatat mengenai tanggal. Pemeriksaan pada secondary survey meliputi anamnesa.1 Anamnesis Untuk menegakan diagnosis dan menentukan rencana perawatan. Pada secondary survey ini. termasuk pemeriksaan tanda vital. Prosedur khusus seperti pemeriksaan radiologis. apakah ada perdarahan dari hidung. bagaimana jenis helmnya full face atau half face.8 Secondary survey adalah pemeriksaan kepala sampai kaki (head to toe examination). perlu dicatat bagaimana kronologis kejadiannya. apakah ia memakai helm atau tidak. termasuk mencatat skor GCS bila belum dilaksanakan dalam primary survey. atau siapapun yang melihat dengan jelas bagaimana trauma terjadi. resusitasi sudah dilakukan. waktu. riwayat trauma dapat diperoleh dari petugas unit gawat darurat. Namun. apakah korban bertindak sebagai pengemudi atau penumpang. orang yang mendampingi yang pasien. pada pasien yang mendapat cedera pada daerah kepala. Apabila cedera disebabkan karena kecelakaan motor. Secondary survey baru dilaksanakan setelah primary survey selesai.2. 7 Keadaan tidak sadar (koma). tempat kejadian. dan ABC pasien telah dipastikan membaik. 3.

Meliputi jawaban dari pertanyaanpertanyaan berikut (9): 1. Jawaban kronologis tentang bagaimana kejadian terjadi mengindikasikan keparahan cedera jaringan dan kemungkinan daerah-daerah mana saja dari tubuh yang terkena trauma. seorang pengendara sepeda motor sedang dalam pengaruh alkohol mengendarai motornya di cuaca hujan dan gelap gulita. WHO? Jawabannya meliputi nama pasien. HOW? Sebagai contoh. nomor telepon. ada tidaknya penyakit kelainan perdarahan. WHEN? Kapan trauma itu terjadi? Pertanyaan ini merupakan salah satu pertanyaan penting untuk menentukan apakah suatu luka masih dalam golden period. 3. umur. Selain itu riwayat medis yang penting untuk diketahui adalah tentang riwayat alergi. WHERE? Pertanyaan ini penting untuk mengetahui kemungkinan adanya kontaminasi luka. alamat. Kemudian ia tergelincir di tikungan dan turunan curam dengan keadaan terguling sejauh 10 meter dengan kondisi wajah mengenai aspal. Perlu dicatat juga ada tidaknya tanda-tanda kecanduan alkohol dan obat-obatan. keluarga pasien dan orang yang menyertainya. Sebagai contoh apabila pasien jatuh di daerah yang berpasir maka penting untuk dilakukan debridemen sempurna sampai tidak ada sama sekali pasir yang tertinggal di dalam luka. Jika ditemukan kasus avulsi gigi di dalam golden period maka prognosis untuk reposisi semakin baik. 4. tanggal imunisasi tetanus terakhir. dan data demografi lainnya. riwayat penyakit yang pernah diderita. karena tingkat kesadaran 21 .Riwayat trauma yang akurat sebaiknya diperoleh dari pasien. 2. Motor dalam keadaan rusak parah.

Pemeriksaan Wajah Bagian Tengah Evaluasi wajah bagian tengah dimulai dengan memperkirakan adanya mobilitas dari maksila sebagai struktur maksila itu sendiri atau hubungannya dengan zygoma atau tulang nasal. Harus dilakukan palpasi secara hati-hati terhadap kranium.3. Untuk memeriksa adanya mobilitas maksila. artikulasi zygomatik. naso-orbital kompleks.2 Pemeriksaan Fisik 2. Dengan ibu jari dan telunjuk tangan lainnya mencengkram maksila pada satu sisi. dan hilangnya penonjolan. 22 . dan mandibula. Pemeriksaan Kepala Pemeriksaan ini meliputi seluruh kerangka kraniomaksilofasial dan jaringan lunak disekitarnya. Informasi mengenai waktu makan dan minum yang terakhir sangat penting apabila akan dilakukan anestesi umum. maka pemeriksaannya harus meliputi ada atau tidaknya step atau jarak. kepala pasien harus distabilisasikan dengan cara menekan kening pasien cukup kuat dengan satu tangan.2. Ekstra Oral a. 3.6 I. dan digerakkan dengan tekanan yang stabil sehingga dapat diperoleh kepastian ada atau tidaknya dapatkan mobilitas maksila.dipengaruhi oleh obat-obatan tersebut. sambungan daerah fronto-orbital. discontinuitas. Rangka kraniofasial terdiri dari pertautan dan penonjolan tulang. pergeseran. b. Pasien harus dibersihkan dari semua darah dan benda asing secara hati-hati.

karena hal ini menunjukkan adanya fraktur atau cedera pada saraf. Gambar sebelah kanan menunjukkan pemeriksaan bahwa cara ini juga dapat digunakan untuk evaluasi mobilitas tulang nasal.9 Cara melakukan pemeriksaan manual atau digital adalah dengan palpasi dimulai dari superior ke inferior. Arcus zygomatikus dipalpasi bilateral dan diamati apakah terdapat tandatanda asimetri. Cincin infraorbital dipalpasi dari medial ke lateral untuk mengevaluasi sutura zygomatikomaksilaris. Vestibulum nasi juga diperiksa karena bisa terjadi pergeseran septum. dan adanya perdarahan atau cairan. Bagian-bagian yang mengalami nyeri tekan. Pemeriksaan dimulai dari aspek medial dari cincin supraorbital secara bilateral. karena trauma dapat mengakibatkan kehilangan penglihatan. Jaringan lunak yang menutupinya digeser dan sutura dipalpasi apakah terjadi kelainan atau tidak. Tulang nasal dan saluran nasofrontalis dipalpasi secara bersamaan kanan dan kiri (bidigital). Palpasi diteruskan ke arah lateral menyilang cincin supraorbital menuju sutura zygomatikofrontalis. dari aspek posterior atau superior. Pemeriksaan yang akurat sulit dilakukan pada pasien yang mengalami cedera 23 . Hampir 40% fraktur tengah wajah mengenai daerah mata. Pemeriksaan mata secara lengkap sebaiknya dilakukan terlebih dahulu. dan baal juga dicatat.Gambar 10 : Pemeriksaan mobilitas maksila.

4 . Hematoma aurikuler telinga harus segera didiagnosa dan dilakukan terapi. Apabila meatus akustikus eksternus penuh dengan darah dan cairan. Dapatkah pasien mengangkat alis dan meretraksi sudut mulutnya. jari telunjuk dapat dimasukkan dengan telapak mengarah ke bawah dan ke depan untuk melakukan palpasi endaural terhadap caput condilus pada saat istirahat dan bergerak. Saraf kranialis 3 . dan apabila ada penyimpangan juga dicatat.6 .7 dites untuk mengetahui apakah terjadi palsi. atau penggunaan sinar. Adanya laserasi dari daerah telinga bagian luar merupakan tanda waspada terhadap kemungkinan cedera pada kondilus mandibula.. Pada 24 . atau terjadi pergeseran ke lateral dan inferior. Pemeriksaan dapat dilakukan dengan menggunakan hitungan jari.5 . Hematoma septum hidung harus didiagnosa dan dievakuasi segera untuk menghindari terjadinya nekrosis tulang rawan septum hidung yang pada akhirnya dapat menyebabkan kerusakan bentuk hidung. Kisaran gerak dievaluasi pada semua arah dan jarak interinsisal dicatat. Kerusakan dan pergerakan tulang hidung harus dicatat. dan apakah pupil bereaksi terhadap sinar dan berakomodasi. Mastoid harus diperiksa dari kemungkinan adanya ekimosis yang disertai dengan hemotimpanum dan otorrhea. c. karena merupakan indikasi terjadinya fraktur basis tulang kranial. Pemeriksaan Mandibula Lokasi mandibula terhadap maksila dievaluasi apakah tetap digaris tengah. Pergerakan mandibula juga dievaluasi dengan jalan memerintahkan pasien melakukan gerakan-gerakan tertentu. Adanya fraktur septum hidung dan hematoma dapat menyebabkan obstruksi hidung. 3 Tiga saraf utama trigeminal harus diperiksa untuk kemungkinan terjadinya anestesi atau parestesi. apakah bola mata bisa bergerak bebas. deteksi gerakan.neurologis.

bisa dijumpai adanya nyeri tekan atau caput mandibula tidak terdeteksi. Sekali lagi nyeri tekan atau baal. yaitu fraktur greenstick. dan kelainan kontinuitas harus dicatat. Tepi inferior dan posterior mandibula dipalpasi mulai dari prosesus kondilaris sampai ke simphisis mandibula. ramus. alveolar. Fraktur mandibula dapat diklasifikasikan berdasarkan lokasi anatomi. body. 25 .fraktur subcondilus tertentu. simpel. Selain itu fraktur mandibula juga dapat diklasifikasikan berdasarkan tipe frakturnya. dan daerah prossessus koronoid. kominuted. yaitu kondilar. angle. simphisis. dan kompoun.

Distribusi anatomik dari fraktur mandibula. Kompoun (D). Adanya gigi yang terhisap dan tertelan dapat dilihat dengan melakukan radiografi pada dada dan perut. Gigitan terbuka lateral (open bite lateral) juga 26 . Gigi tiruan yang lepas juga dapat menyebabkan tersumbatnya jalan pernapasan.Gambar 11. Simple (B). 2 II. Adanya step dan pergeseran oklusi merupakan indikasi terjadinya fraktur dentoalveolar ataupun fraktur rahang.2 Gambar 12 : Klasifikasi fraktur mandibula berdasarkan tipe frakturnya: Greenstick (A). Intra Oral 3. Komminuted (C).7 Pemeriksaan ini meliputi evaluasi oklusi dan penghitungan gigi yang hilang.

4 Pemeriksaan Laboratorium Pemeriksaan lab yang sering dilakukan pada kasus trauma oromaksilofasial yaitu Hb. Perawatan umum terhadap komplikasi yang menyertai 2. Leukosit. ureum. kreatinin. dan differential sel. dan sebagian besar fraktur prosessus alveolaris paling baik dirontgen dengan cara ini. 3. Penatalaksanaan Fraktur Oromaksilofasial 2.3 1. Detail dari cedera gigi (luksasi dan avulsi). membuang jaringan nekrotik dan benda asing.2. ataupun III). Sedangkan untuk diagnosis penderita yang mengalami trauma maksilofasial harus dilakukan foto panoramik dan schedel AP-Lat segera.dapat mengindikasikan adanya fraktur mandibula atau gangguan TMJ. Debridement : membersihkan luka. tidak dibenarkan untuk melakukan pembuatan radiografis untuk mengetahui adanya fraktur bila bukti klinis kurang mendukung. elektrolit. GDS. albumin serum. Hemostasis Menghilangkan tegangan pada penutupan luka: undermining. Penanganan Luka Jaringan Lunak Imobilisasi dan evaluasi bagian yang terluka untuk mengurangi rasa nyeri dan edema. jahitan subkutis Antibiotika 27 . kemudian dapat dilakukan rontgen foto waters view dan jika memungkinkan dan pasien mampu dapat dilakukan CT-Scan 3 dimensi. trombosit.2. Meskipun demikian. PT APTT. BT CT. Sedangkan gigitan terbuka anterior ( open bite anterior) mengindikasikan adanya fraktur Le Fort (I.3 Pemeriksaan Radiografis Untuk diagnosis penderita yang mengalami trauma dentoalveolar hanya diperlukan radiograf oklusal dan periapikal saja. analisa gas darah. 3. II.

28 . krepitasi dan funtio laesa. Memilih cara pemberian anastesi yang tepat 8. Pemeriksaan klinis yang teliti dan interpretasi foto rontgen yang tepat 4. Menentukan tipe dan macam fraktur 5. Imobilisasi : Mempertahankan fiksasi.3. Fiksasi dan Imobilisasi fraktur Reduksi: Mengembalikan fragmen pada posisi anatomisnya Terdiri dari open dan closed reduction Fiksasi: Mempertahankan fragmen yang telah direposisi tetap pada tempatnya untuk menghasilkan penyembuhan. Mencegah dan merawat infeksi 6. meniadakan rasa sakit. Memberikan imobilisasi sementara 7. Melakukan Reduksi.

BAB IV KESIMPULAN Pendekatan awal terhadap pasien trauma oromaksilofasial akut sedikit berbeda dengan cedera yang lain. Pemeriksaan dilakukan secara akurat dan menyeluruh pada pasien ini. 29 . Perhatian harus segera diarahkan terhadap saluran pernapasan. dan kontrol perdarahan eksternal. pemeriksaan klinis ekstra oral dan intra oral. Rangkaian pemeriksaan primary survey dan secondary survey berupa anamnesis yang lengkap. adekuasi dari ventilasi. Pengetahuan tentang jenis trauma. pendarahan. status kegawatdaruratan serta skala prioritas penanganan cedera oromaksilofasial mutlak dibutuhkan dalam penanganan kegawatdaruratan trauma oromaksilofasial. anatomi oromaksilofasial. Pemeriksaan fisik baru bisa dilakukan apabila keadaan umum pasien stabil. Pemeriksaan radiografis dan pemeriksaan laboraturium dilakukan untuk membantu klinisi menegakkan diagnosa dan rencana perawatan yang tepat pada penderita trauma oromaksilofasial. serta jalan nafas telah di tangani.

Braun TW. 6. Munksgaard 7.ui. Hitosugi M. RJ.et al. Buku Ajar Ilmu Bedah.id/file?file=pdf/abstrak-81816. http://en. R. Frekuensi-distribusi trauma oromaksilofasial dan Essential of Traumatic Injuries to the Teeth. Banks P. Penerjemah. London 30 . Peterson Lj. 1991.pdf 8. St Louis: Elsevier Saunders 3. Jakarta 11. Jong WD. Penerjemah: Purwanto dan Basoeseno. Juliani KI. 1999. Motozawa Y. J Oral Maxillofac Surg 64:1731-1735 5.org/wiki/Glasgow_Coma_Scale 10. Pedersen GW. Jakarta. 2009. EGC. penatalaksanaannya di Rumah Sakit Umum Tangerang dalam kurun waktu 1 Oktober 1992 -30 September 1993. http://www. Marciani RD. Oral and Maxillofacial Trauma. London PS. Contemporary Oral and Maxillofacial Surgery. Saunders Elsevier. Fraktur mandibula ( Killeys Fractures of the mandible ). 9.1997. Jakarta 2. 1996. Yokoyoma T.Sjamsuhidayat.4 th ed. 2003. Oral and Maxillofacial Surgery Volume II. Ed. St. 1990. Ke-2. Butterworth-Heinemana Ltd.digilib. Buku Ajar Praktis Bedah Mulut. Hipokrates.ac. Sasaki T. St Louis: Mosby.DAFTAR PUSTAKA 1. Fonseca.wikipedia. Carlson ER. EGC. The anatomy of injury and its surgical implication. 2005. Andreasen JO. 2006. A Retrospective Análisis of Oral and Maxillofacial Injuries in Motor Vehicle Accidents. Louis 4. Alih bahasa Lilian Yuwono. 3rd ed.

keadaan ini dapat disebabkan oleh trauma benda tajam atau tumpul. atau gigitan hewan. Kata kunci: penyembuhan jaringan lunak.1 Penyembuhan luka dan jaringan saraf merupakan hal yang penting untuk mengetahui tahapan luka. ledakan. sengatan listrik. Komplikasi dapat terjadi apabila tidak dilakukan terapi dengan adekuat. perubahan suhu. infeksi 31 . faktor-faktor yang berpengaruh. dan komplikasi.Penyembuhan Luka Jaringan Lunak Dan Saraf Dian Maifara Putri 160121120007 Peserta Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut Dan Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Abstrak : Luka adalah hilang atau rusaknya integritas jaringan tubuh. zat kimia.

Komplikasi yang sering ditimbulkan pada tahap penyembuhan luka dapat meliputi pembentukan kista implantasi. perubahan suhu.1. tubuh akan berusaha melakukan penyembuhan luka. sengatan listrik. ledakan.2 32 . pembentukan keloid yaitu berupa tonjolan jaringan parut.1.BAB I PENDAHULUAN Luka adalah hilang atau rusaknya suatu kesatuan atau komponen integritas jaringan tubuh. baik luka itu bersih maupun luka yang kotor dan terinfeksi. keadaan ini dapat disebabkan oleh trauma benda tajam atau tumpul. Maka pada setiap perlukaan. dan remodeling atau penyudahan yang merupakan pembentukan kembali dari jaringan. atau gigitan hewan. zat kimia. dan warna yang berbeda dari jaringan sekitarnya. pembentukan jaringan parut.1 Proses yang kemudian terjadi pada jaringan yang rusak ialah penyembuhan luka yang dapat dibagi dalam tiga fase yaitu fase inflamasi. infeksi luka. nekrose atau gangren dari jaringan.2 Penyembuhan luka adalah proses kinetik dan metabolik yang kompleks yang mengikutsertakan berbagai sel dan jaringan dalam usaha menutup tubuh dari lingkungan luar dengan cara mengembalikan integritas jaringan. proliferasi.

Vulnus Abrasivum (luka lecet).Luka Memar 9 a. biasanya besar dan kemerahan.5.4. terjadi karena gesekan antara suatu benda dengan permukaan jaringan lunak.8 1. darah keluar dari pembuluh dan terkumpul di bawah kulit sehingga bisa terlihat dari luar berupa warna merah kebiruan b. Luka Tertutup Gambar 1. 33 . Luka memar ( contusio ) Terjadi akibat benturan dengan benda tumpul. Luka terbuka yang disertai kehilangan jaringan maupun yang tidak disertai kehilangan jaringan a. biasanya terjadi di daerah permukaan tubuh. Hematoma (darah yang terkumpul di jaringan) Prinsipnya sama dengan luka memar tetapi pembuluh darah yang rusak berada jauh di bawah permukaan kulit dan biasanya besar.BAB II TINJAUAN PUSTAKA JENIS-JENIS LUKA Luka terdiri dari: 2.7. 2. sehingga yang terlihat adalah bengkak.3.

pinggir luka tajam dan rata serta mempunyai dasar yang sempit. terjadi karena tersayat pisau atau benda tajam lainnya. Kedalaman Luka Lecet 10 b. Gambar 4.Gambar 2. Luka Sayat 11 34 . Vulnus Abrasivum 9 Gambar 3. Vulnus Scissum ( luka sayat ).

35 . Gambar 6. adalah luka yang disebabkan oleh benda tumpul yang bentuknya tidak teratur. Vulnus Penetratum ( luka tembus ). Vulnus Punctum ( luka tusuk ). Gambar 5. adalah luka yang terjadi sampai menembus organ tubuh lain yang lebih dalam. luka yang terjadi karena tusukan bendabenda yang runcing. Luka Tembus 11 d. Luka Laserasi 11 e.c. Vulnus laceratum ( luka compang camping ).

Luka laserasi.Gambar 7. luka yang disebabkan oleh tembakan senjata api 36 . Luka Tusuk 12 f. Luka Tusuk 11 Gambar 8. Vulnus Sclopectorum ( luka tembak). A. Penampang Luka Tusuk 12 Gambar 9. B.

menyediakan temperatur. meningkatkan pembentukan jaringan granulasi dan epitelialisasi. dan pH yang optimal untuk sel-sel yang berperan dalam proses penyembuhan. Vulnus Mossum ( luka karena gigitan binatang). Gambar 11. Luka Gigitan Binatang 11 h.2.3 PENATALAKSANAAN LUKA Prioritas dalam penatalaksanaan luka adalah mengatasi perdarahan (hemostasis). Luka Tembak 13 g. otot. dan melindungi luka dari trauma yang lebih lanjut serta terhadap 37 . kelembaban. Avulsi biasanya menyertai luka-luka multipel pada wajah dan biasanya pada korban kecelakaan sepeda motor atau luka karena peralatan industri/pertanian. dan tulang juga bisa terkena. mengeluarkan benda asing yang dapat bertindak sebagai fokus infeksi. Luka ini ditandai dengan kulit yang terlepas/ hilang sama sekali. 1. yaitu hilangnya substansi jaringan lunak yang biasanya mengenai kulit. walaupun mukosa.Gambar 10. krusta yang tebal dan pus. melepaskan jaringan yang mengalami devitalisasi. Avulsi.

maka akan terjadi hematoma di dalam jaringan yang dapat membuka kembali luka yang telah ditutup.6 Luka harus dibersihkan dari kotoran atau debris. luka kecil dapat dibiarkan dan dapat sembuh tanpa penjahitan. Sebelum luka ditutup. Namun tidak semua luka membutuhkan penjahitan. Kecuali untuk luka superficial antibiotik tidak diindikasikan. diligatur atau dikauterisasi untuk mengurangi perdarahan yang terjadi akibat luka yang terbuka. Bila tidak. tujuan penjahitan adalah mengembalikan jaringan ke posisi semula. tergantung kedalaman dan posisi luka tersebut. tujuannya adalah untuk melindungi individu dari kerusakan fisiologis lebih lanjut.5% 38 . untuk menyingkirkan penyebab aktual atau potensial yang memperlambat penyembuhan dan untuk menciptakan lingkungan lokal yang optimal untuk rekonstruksi dan epitelialisasi vaskular dan jaringan ikat. Lalu dengan menggunakan larutan saline dilakukan irigasi untuk menghilangkan semua partikel yang tertinggal pada luka. Setelah penutupan luka. sabun atau bila perlu dengan disikat. Biasanya dilakukan tindakan anestesi sebelumnya untuk mengurangi rasa sakit.masuknya mikroorganisme patogen. klinisi harus mempertimbangkan pemberian terapi suportif untuk mempercepat penyembuhan seperti pemberian antibiotik dan anti tetanus. Bila penjahitan dianggap perlu. hemostasis harus tercapai. Luka pada gingiva atau mukosa alveolar dapat ditutup dengan penjahitan 1 lapis. dan luka yang lebih dalam membutuhkan penjahitan 3 lapis. sedangkan luka pada lidah atau bibir yang melibatkan otot harus dijahit lapisan otot terlebih dahulu dengan benang jahit yang dapat teresorbsi. Pembersihan luka dapat dilakukan dengan bahan pembersih luka. luka ditutup dengan dijahit. 6 Protokol 1: Wound toilet dan debridement Gunakan satu dari 2 antiseptik di bawah ini untuk luka: Larutan Povidone iodine 10% dua kali sehari Cetrimide 15% + chlorhexidine gluconate 1. dilakukan debridement dan hemostasis tercapai. Pembuluh darah dapat diklem. Debridement dilakukan untuk menghilangkan jaringan yang mengalami devitalisasi agar didapat penutupan luka yang baik. 6 Setelah luka dibersihkan.

Protokol 2: Manajemen luka dengan tetanus 1.000 IU/kg BB dalam sekali pemberian. Jika pemberian vaksin tetanus dan immunoglobin tetanus dalam satu waktu. terdapat jaringan mati dalam jumlah signifikan. Luka biasanya terinfeksi tetanus jika telah lebih dari 6 jam sebelum pembersihan luka dan memperlihatkan tanda-tanda: tipe luka punctum. dan anakanak 200. trauma abdominal. 2. kemudian luka diirigasi dengan larutan salin 2. kontaminasi bakteri tetanus. Bersihkan luka dengan sabun dan air matang selama 10 menit. tanda klinis sepsis. Kemudian irigasi luka kembali. Tutup luka dengan kasa steril dan kering. Jika analgetik lokal dibutuhkan gunakan lidokain 1% tanpa epinefrin. Dosis dewasa 8-12 juta IU. Protokol 3: Antibiotik profilaksis dan antibiotik perawatan Antibiotik profilaksis Antibiotik profilaksis diindikasikan untuk luka yang mempunyai risiko tinggi untuk terinfeksi seperti luka yang terkontaminasi. jaringan mati dan rusak secara mekanis. dan luka bakar. 39 . Antibiotik profilaksis yang direkomendasikan adalah penisilin G dan metronidazole dalam satu kali pemberian. vulnus penetratum. tempat yang berisiko tinggi seperti pada ekstremitas. 3. WHO merekomendasikan injeksi TT (Tetanus Toksoid) atau Td (vaksin tetanus dan diphteri) dan TIG (Immunoglobin tetanus) 3. maka harus diberikan dengan syringe yang berbeda dan lokasi pemberian yang berbeda pula. Ganti kasa minimal sekali sehari. Untuk pasien terkontaminasi tetanus. vulnus laseratum dengan ukuran lebih dari 5 cm. Debridement: membersihkan luka dari benda asing. luka dengan banyak jaringan nekrotik.1.

Pengelolaan vulnus secara umum 7: 1. Pembuangan dilakukan seminimal mungkin. diberikan Penisilin G dan metronidazole untuk 5-7 hari. Pembersihan luka (debridement) Adalah tindakan membersihkan daerah luka dari benda-benda asing yang mengkontaminasi luka. Debridement terbagi atas 4 metode 14: a. berikan antibiotik secara intravena. Autolisis: proses yang normal terjadi pada luka dan tidak melukai jaringan sehat di sekeliling luka d. Dilakukan dengan menggunakan sikat halus steril/ kapas steril dengan larutan garam fisiologis. Surgery: merupakan cara tercepat jika jaringan nekrotik luas b. dan berikan secara peroral 2 hari kemudian jika memungkinkan. Mekanikal: dengan cara membilas/irigasi luka Pembersihan luka dilakukan dengan cara: mencuci daerah luka untuk membersihkan debris atau benda asing yang tertinggal. Penisilin untuk dosis anak-anak 100 mg/kg BB setiap hari dibagi dalam beberapa dosis.Antibiotik perawatan Jika infeksi telah terjadi. hanya jaringan non vital yang dieksisi. 6 Langkah-langkah pengelolaan luka jaringan lunak terdiri atas: I. Persiapan wound toilet 15: Jangan memakai sabun atau alkohol Gunakan salin steril Irigasi dengan tujuan menghilangkan benda asing 40 .5 mg/kg setiap 8 jam secara intravena. Metronidazole dewasa 500 mg setiap 8 jam dan anak-anak 7. Penisilin untuk dosis dewasa 1-5 MIU setiap 6 jam. Enzimatic: enzim yang dapat mendegradasi jaringan nekrotik c. dan jaringan nekrotik yang terdapat pada luka. Dilanjutkan dengan membuang sisa jaringan nekrotik sehingga didapat pinggiran jaringan yang linear.

Jenis luka dapat beraneka ragam dan memiliki penanganan yang berbeda tergantung jenis jaringan yang 41 . maka dapat diberikan terapi suportif: pencegahan luka dari infeksi 1. air panas.- Gunakan 50-100ml/cm salin dengan tekanan Gambar 12: Enzymatic wound debridement 14 II. Spesifik dengan anti tetanus 2. Definisi Luka bakar adalah luka yang disebabkan oleh kontak dengan suhu tinggi seperti api. Setelah semua tindakan di atas dilakukan. Instruksikan pada pasien keesokan harinya jika masih lebam dapat dikompres hangat sehingga terjadi vasodilatasi pembuluh darah menyebabkan vaskularisasi aktif agar PMN bergerak untuk memfagositosis sisa-sisa debris fibril atau leukosit dan trombosit yang mati. dan radiasi. Kompres dingin untuk mengurangi sakit dan perdarahan 2 Beri analgetik dan antiinflamasi 3. Tindakan ini dilakukan beberapa hari hingga sembuh. bahan kimia. Non spesifik dengan pemberian antibiotika LUKA BAKAR I. Pengelolaan hematoma dan kontusio 1. listrik.

luka bakar dapat juga menyebabkan distress emosional (trauma) dan psikologis yang berat dikarenakan cacat akibat luka bakar dan bekas luka (scar).terkena luka bakar. luas dan daerah luka. 42 . 14 II. Selain komplikasi yang berbentuk fisik. Walaupun demikian beratnya luka bergantung pada dalam. infeksi. misalnya tersengat matahari. tingkat keparahan.tulang. Luka bakar dapat merusak jaringan otot. ketidak seimbangan elektrolit ( inbalance elektrolit) dan masalah distress pernapasan. Luka bakar derajat 1 hanya mengenai epidermis serta belum terbentuk lepuhan dan biasanya sembuh dalam 5-7 hari. dan komplikasi yang terjadi akibat luka tersebut. Derajat Luka Bakar Gambar 13. pembuluh darah dan jaringan epidermal yang mengakibatkan kerusakan yang berada di tempat yang lebih dalam dari akhir sistem persarafan. Luka tampak sebagai eritema dengan keluhan rasa nyeri atau hipersensitivitas setempat. Seorang korban luka bakar dapat mengalami berbagai macam komplikasi yang fatal termasuk diantaranya kondisi shock. Beratnya Luka Bakar Luka bakar biasanya dinyatakan dengan derajat yang ditentukan oleh kedalaman luka bakar. Umur dan keadaan kesehatan penderita sebelumnya akan sangat mempengaruhi prognosis. Dalamnya luka bakar 15 1.14 III.

2. Luka bakar derajat 3 meliputi seluruh kedalaman kulit dan mungkin subkutis. punggung. dada. badan depan dan belakang masin-masing 18 %. Pada orang dewasa digunakan rumus 9.Karena perbandingan luas permukaan bagian tubuh anak kecil berbeda. pinggang dan bokong. Kulit tampak pucat abu-abu gelap atau hitam. Untuk anak. karena itu untuk mendapatkan kesembuhan harus dilakukan cangkok kulit. luka dapat sembuh sendiri dalam 2 sampai 3 minggu. tungkai dan kaki kanan. Pada anak dan bayi digunakan rumus lain karena luas relative permukaan kepala anak jauh lebih besar dan luas relative permukaan kaki lebih kecil. ekstremitas atas kanan dan kiri masing-masing 9 %. Luas Luka Bakar Luas luka bakar dinyatakan dalam persen (%) terhadap luas seluruh tubuh. Luka bakar derajat 2 mencapai kedalaman dermis tetapi masih ada elemen epitel sehat yang tersisa. Gejala yang timbul adalah nyeri.14 43 . gelembung. dan pangkal rambut. 3. Rumus ini membantu untuk menaksir luasnya permukaan tubuh yang terbakar bagi orang dewasa. kelenjar sebasea. Elemen epitel tersebut misalnya sel epitel basal. ekstremitas atas kanan. serta tungkai dan kaki kiri masing-masing 9%. atau organ yang lebih dalam.14 IV. paha kiri. dengan permukaan lebih rendah dari jaringan sekeliling masih sehat. ekstremitas atas kiri. yaitu luas kepala dan leher. Dengan adanya sisa sel epitel ini. perut. paha kanan. kelenjar keringat. ekstremitas bawah kanan dan kiri masing-masing 14 %. sisanya 1% adalah daerah genitalia. atau bula berisi cairan eksudat yang keluar dari pembuluh karena permeabilitas dindingnya meninggi. Tidak ada lagi elemen epitel hidup yang tersisa yang memungkinkan penyembuhan dari dasar luka. kepala dan leher 18%.

Sedang bila : a. kecuali terdapat di muka. d. 2. c. Derajat 2 dengan luas 15 . Derajat 3 dengan luas kuarang 10 %. Ringan bila : a. 3. atau terdapat di muka. b. b. Luka bakar akibat listrik.Gambar 14. Derajat 2 dengan luas lebih dari 25 %. Luka bakar disertai trauma jalan napas atau jaringan lunak luas. Derajat 2 dengan luas kurang dari 15 %. Luasnya luka bakar 16 V. atau terdapat fraktur. kaki dan tangan. b. Derajat 3 dengan luas lebih dari 10 %. Berat/Kritis bila : a. kaki dan tangan.25 %. Derajat 3 dengan kurang dari 2 %. Klasifikasi Luka Bakar Menurut Keparahannya 1.2 44 .

Selanjutnya diberikan pencegahan tetanus berupa ATS dan/atau toksoid. Kalau perlu penderita dimandikan dahulu.2 Upaya pertama saat terbakar adalah mematikan api misalnya dengan menyelimuti dan menutup bagian yang terbakar untuk menghentikan pasokan oksigen bagi api yang menyala. selain penanganan umum seperti pada luka bakar ringan. Penatalaksanaan Luka Bakar Prinsip penanganan luka bakar adalah penutupan lesi sesegera mungkin. Bila ada dugaan keracunan CO2. Analgesik diberikan bila penderita kesakitan. terdiri dari merendam daerah luka bakar dalam air atau menyiraminya dengan air mengalir selama sekurang-kurangnya 15 menit. 17 45 . Pada luka bakar ringan. prinsip penanganan utama adalah mendinginkan daerah yang terbakar dengan air. Bila penderita menunjukkan gejala terbakarnya jalan napas. mengurangi rasa sakit. Trakeostomi berfungsi untuk membebaskan jalan napas. diberikan O2 murni. Kalau terjadi oedem laring dipasang pipa endotrakea atau dibuat trakeostomi.VI. pencegahan infeksi. Pada luka bakar berat. Perawatan lokal adalah mengoleskan luka dengan antiseptik. kalau perlu dilakukan resusitasi segera bila penderita menunjukkan gejala syok. mengurangi ruang mati dan memudahkan pembersihan jalan napas dari lender atau kotoran. dan pembatasan pembentukan jaringan parut. pencegahan trauma mekanik pada kulit yang vital dan elemen didalamnya. atau melepaskan baju yang tersiram air panas. diberikan campuran udara lembab dan oksigen. Korban dapat mengusahakanya dengan cepat menjatuhkan diri dan berguling dan mencegah meluasnya bagian pakaian yang terbakar. mencegah infeksi dan memberi kesempatan sisa-sisa sel epitel untuk berproliferasi dan menutup permukaan luka. Pertolongan pertama setelah sumber panas dipadamkan. Kontak dengan bahan yang panas juga harus cepat diakhiri misalnya dengan mencelupkan bagian yang terbakar atau menceburkan diri ke air dingin.

konsentrasi bahan kimia dan jumlahnya. Untuk luka bakar alkali. Untuk mempertahankan produksi urine 1 cc/ Kg BB/jam pada anak-anak dan BB ≤ 30 Kg. Perlu diketahui bahwa rumus penghitungan cairan tersebut merupakan perkiraan volume cairan yang diperlukan. sebab alkali lebih dalam merusak jaringan. Lakukan tindakan ini dalam waktu 20 – 30 menit. Segeralah bersihkan bahan kimia tersebut dari luka bakar. Luka bakar alkali lebih berbahaya dari asam. diperlukan 46 . alkali dan hasil-hasil pengolahan minyak. Pada 24 jam pertama penderita luka bakar berat derajat II dan III memerlukan 2 – 4 cc cairan RL/ Kg BB/ % Luas luka bakar untuk mempertahankan volume sirkulasi dan fungsi ginjal yang adequat. Segera lakukan irigasi dengan air sebanyak-banyaknya. Luka Bakar Khusus 1.VII. ½ dari sisanya diberikan 16 jam berikutnya. Untuk mengetahui status sirkulasi dilakukan pengukuran produksi urine/jam dengan catatan tidak ada osmotic dieresis. Tekanan darah sukar diukur dan hasilnya tidak dapat dipercaya. Luka Bakar Karena Bahan Kimia/Kimiawi Luka bakar dapat disebakan oleh asam. Oleh karena itu penderita luka bakar berat harus dipasang kateter. Volume Sirkulasi Penilaian volume sirkulasi sering sulit pada penderita luka bakar berat. perlu dihitung dengan cermat dan perlu ditambahkan cairan glukosa untuk maintenance. Pemberian cairan dilakukan sebagai berikut : ½ dari volume terhitung diberikan 8 jam pertama setelah trauma. Sebagai patokan mengetahui sirkulasi yang akurat ialah bila penderita diberi infus cairan dalam jumlah yang menghasilkan urine 1cc/Kg BB/ jam (untuk anak dengan BB ≤ 30 Kg) dan 30 – 50 cc / kg BB / jam (dewasa). bila mungkin gunakan penyemprot air. misalnya dinilai produksi urinenya. Kerusakan jaringan akibat luka bakar bahan kimia dipengaruhi oleh lamanya kontak.17 VIII. Pemberian cairan disesuaikan dengan respon individual penderita. tanda-tanda vital dan keadaan umum.

memerlukan irigasi terus menerus selama 8 jam pertama setelah luka bakar. Pemberian cairan harus ditingkatkan sedemikian rupa sehingga tercapai produksi urine sekurang- kurangnya 100 cc/jam (pada dewasa). Luka bakar listrik sering menyebabkan kerusakan jaringan yang lebih berat dari pada luka bakar yang terlihat pada permukaannya. Untuk luka bakar pada mata. Untuk irigasi ini dapat digunakan kanula kecil yang dipasang pada sulkus palpebra. menyebabkan luka bakar pada tubuh. berikan segera 25 gr manitol dan tambahkan manitol 12. Jangan memberikan bahan-bahan penetral (neutralizing agent) sebab reaksi kimia yang terjadi akibat pemberian bahan penetral dapat menimbulkan panas dan akan memperberat kerusakan yang terjadi. ECG dan pemasangan kateter. Apabila urine berwarna gelap mungkin urine mengandung hemokhromogens. 17 2. Bila bahan kimia merupakan bubuk. pernafasan. sedangkan kulit di atasnya relatif tampak normal. sikatlah terlebih dahulu sebelum irigasi. dan panas yang ditimbulkannya. Bila terjadi asidosis metabolic. pertahankan perfusi sebaik mungkin dan berikan Natrium Bikarbonat untuk membuat urine menjadi alkalis dan meningkatkan kelarutan mioglobin dalam urine.5 gr manitol pada tiap penambahan 1 liter cairan untuk mempertahankan diuresis sejumlah tersebut di atas. menghasilkan keadaan dimana jaringan yang lebih dalam akan bisa mengalami nekrosis.17 47 . Bila urine belum tampak jernih.waktu yang lebih lama. Penanganan harus segera dilakukan pada penderita dengan luka bakar listrik meliputi perhatian terhadap jalan nafas. pemasangan infus. Luka Bakar Listrik Luka bakar listrik terjadi karena tubuh terkena aliran listrik. Tubuh merupakan penghantar tenaga listrik. janganlah menunggu konfirmasi laboratorium untuk melakukan terapi terhadap mioglobunuria. Perbedaan kecepatan hilangnya panas dari tubuh superfasial dengan jaringan tubuh yang lebih dalam.

dan remodelling jaringan.2. Pembuluh darah yang terputus pada luka akan menyebabkan perdarahan dan tubuh akan berusaha menghentikannya dengan vasokonstriksi. dan reaksi hemostasis. disertai vasodilatasi setempat yang menyebabkan oedem dan pembengkakan. proliferasi. sel mast dalam jaringan ikat menghasilkan serotonin dan histamin yang meningkatkan permeabilitas kapiler sehingga terjadi eksudasi cairan.Fase Penyembuhan Luka 17 FASE INFLAMASI Fase inflamasi berlangsung sejak terjadinya luka sampai kira-kira hari kelima.1.4 Tabel 1.BAB III PEMBAHASAN MEKANISME PENYEMBUHAN LUKA Proses biokimia dan seluler kemudian terjadi dalam penyembuhan semua cedera jaringan lunak yang rusak ini. pengerutan ujung pembuluh yang putus (retraksi). Proses fisiologis penyembuhan luka dapat dibagi dalam tiga fase yaitu : fase inflamasi. 48 . Sementara terjadi reaksi inflamasi. pengeluaran sel-sel radang. Hemostasis terjadi karena trombosit yang keluar dari pembuluh darah saling melengket. dan bersama dengan fibrin yang terbentuk membekukan darah yang keluar dari pembuluh darah.

Leukosit mengeluarkan enzim hidrolitik yang membantu mencerna bakteri dan kotoran luka. Pada waktu kontak dengan benda asing netropil melepaskan lisosom yang dikandungnya (degranulasi). pendapat lain mengatakan bahwa fase seluler ini disebabkan oleh aktivasi dari serum pada jaringan yang rusak. Fase inflamasi 4 49 . Limfosit B berguna untuk mengenali antigen. Lisosom tersebut merusak bakteri dan benda asing lainnya serta mengangkat jaringan nekrotik.5 Gambar 15.Selain itu akan terjadi aktivitas seluler yang merupakan gerakan leukosit menembus dinding pembuluh darah menuju luka karena daya kemotaksis. serta sel T citotoksis untuk melarutkan sel-sel asing dan antigen. Sedangkan limfosit T terdiri dari kelompok yaitu T helper untuk merangsang sel B berdeferensiasi dan berproliferasi. menghasilkan antibodi yang membantu mengingatkan sistem pertahanan tubuh untuk mengidentifikasi benda asing dan berinteraksi dengan faktor tambahan untuk melarutkan sel-sel asing. Serum tambahan itu menghasilkan faktorfaktor kemotaksis dan menyebabkan PMN lekosit (neutrofil) menempel pada pembuluh darah (marginasi) dan migrasi melalui dinding pembuluh darah (diapedesis). Limfosit.2. monosit yang kemudian muncul ikut menghancurkan dan memakan kotoran luka. Terdapat juga limfosit yang terdiri dari 2 kelompok yaitu limfosit B dan limfosit T.

Jaringan dengan cepat tumbuh menjadi kuat selama tahap fibroplastis. berbentuk seperti anyaman. Gambaran akhir pada tahap fibroplastis adalah kaku oleh karena banyaknya kolagen dan kemerahan oleh karena vaskularisasi. Fibroblas mulai terbentuk pada substansia dasar dan tropokolagen. dan membantu makrophage. bertindak sebagai faktor kemotaksis dari fibroblas. Fibroblas mengeluarkan fibronectin yaitu kandungan protein yang mempunyai fungsi membantu mempertahankan kestabilan fibrin. Fase proliferasi 4 50 .FASE PROLIFERASI Serat-serat fibrin diperoleh dari darah yang mengalami pembekuan yang menutup luka. membantu mengamati benda asing. Akan tetapi bila terjadi pada akhir dan tahap ini akan menyebabkan lepasnya hubungan antara serat kolagen yang lama di sepanjang tepi luka dan terbentuk kolagen yang baru. normalnya antara 2-3 minggu.4. menggerakkan sistem pertahanan tubuh. maka terjadi penarikan di sepanjang garis utama dan luka.5 Gambar 16. Apabila tegangan pada luka terjadi pada awal tahap fibroplastis.2 Fibrinolisis terjadi disebabkan oleh plasma yang dibawa oleh pembuluh darah kapiler yang baru. Fibroblas yang terdapat pada tropokolagen akan menghasilkan serat kolagen. Substansia dasar mengandung sejumlah mukopolisakaride yang berguna untuk melekatkan serat-serat kolagen.

Udem dan sel radang diserap. Elastin dan ligamen tidak kembali pada penyembuhan luka. kolagen yang berlebih diserap dan sisanya mengerut sesuai dengan regangan yang ada. dan lembut serta mudah digerakkan dari dasar. sehingga menyebabkan hilangnya fleksibilitas pada daerah bekas luka. Selama proses ini dihasilkan jaringan parut yang pucat. Fase ini dapat berlangsung berbulanbulan dan dinyatakan berakhir kalau semua tanda radang sudah lenyap. sistem vaskularisasi berkurang sehingga kemerahan pada bekas luka juga berkurang. kapiler baru menutup dan diserap kembali. dan akhirnya pembentukan kembali jaringan yang baru. 51 . pengerutan sesuai dengan gaya gravitasi. diganti dengan kolagen yang baru guna meningkatkan ketahanan jaringan pada luka. Karena serat kolagen sangat sedikit akibatnya terbentuk bekas luka yang lunak. Tubuh berusaha menormalkan kembali semua yang menjadi abnormal karena proses penyembuhan.5 Lebih jelasnya pada tahap ini kolagen yang lama dihancurkan.FASE REMODELING Pada fase ini terjadi proses pematangan yang terdiri dari penyerapan kembali jaringan yang berlebih. tipis. Terlihat pengerutan maksimal pada luka. tetapi tidak seperti pada tahap fibroplastis. Kekuatan jaringan tidak lebih dari 80-85% dibandingkan dengan jaringan yang normal dan hal ini tercapai kira-kira 3-6 bulan setelah penyembuhan. Selama tahap ini kekuatan jaringan meningkat secara perlahan. sel muda menjadi matang. Metabolisme menurun.

jadi dilakukan bantuan tindakan bedah agar luka menjadi tertutup.6 3. Jenis penyembuhan ini terjadi pada luka sayat aseptik yang ditutup secara primer. Hal ini biasanya terjadi pada luka yang terbuka. yang pada beberapa hari kemudian (3-4 hari) dilakukan penjahitan untuk menutup kembali luka tersebut. kehilangan jaringan yang agak luas.5. Penyembuhan secara primer Penyembuhan luka berlangsung dengan pembentukan jaringan granulasi yang minimal.3. Penyembuhan secara tertier Diartikan sebagai penyembuhan pada suatu luka yang sejak awal dibiarkan terbuka atau luka terbuka kembali setelah dijahit primer. jahitan yang kurang rapat atau luka dengan suatu dead space. dan akhirnya luka tertutup dengan pertumbuhan epitel dari pinggiran luka.5.JENIS-JENIS PENYEMBUHAN LUKA Jenis-jenis penyembuhan luka adalah : 1. Penyembuhan secara sekunder Luka yang dalam proses penyembuhan terisi dengan jaringan granulasi.6 52 . karena infeksi. 3. selanjutnya terjadi kontraksi luka sehingga ukuran luka mengecil. 2.

membutuhkan banyak nutrisi dan pembuangan kotoran. jaringan nekrotik. Faktor lokal yang berpengaruh terhadap penyembuhan luka : 1. Oleh karena itu akan terjadi jaringan yang mati. Tepian luka yang sedang tumbuh merupakan suatu daerah yang aktivitas metaboliknya sangat tinggi. sintesa kolagen dan kemampuan makrofag untuk menghancurkan bakteri yang tercerna. dan tersier (c) 3 FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP PENYEMBUHAN LUKA Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi dan memperlambat penyembuhan luka. Penyembuhan primer (a). dalam hal ini hipoksia menghalangi mitosis dalam sel-sel epitel dan fibroblas yang bermigrasi. serta faktor-faktor dari luar (ekstrinsik). sekunder (b). racun dan bakteri. Pada daerah dimana suplai darah tidak cukup akan menyebabkan kebutuhan sel-sel tidak terpenuhi. Pada semua luka terdapat peradangan. Kurangnya suplai darah dan pengaruh hipoksia. Untuk itu dibutuhkan suplai darah dari vena dan arteri yang cukup. seperti pengelolaan luka yang kurang tepat dan efek-efek terapi lainnya yang kurang menguntungkan.Gambar 17. Kira-kira 53 . faktor tersebut dibagi dalam faktor dari pasien (intrinsik) seperti kondisi yang kurang menguntungkan pada tempat luka dan sejumlah kondisi medis yang dapat menyebabkan lingkungan sekitar yang buruk terhadap penyembuhan luka. Aktivitas fagositik dan aktivitas mitosis secara khusus mudah terpengaruh terhadap penurunan temperatur pada tempat luka. Turunnya temperatur. 2.

Dengan bertambahnya umur daya regenerasi dari jaringan tubuh akan berkurang.4 54 . pergerakan yang terjadi pada luka merupakan trauma yang berulang pada luka tersebut. Protein berguna untuk mengefektifkan metabolisme penderita dan mengembalikan plasma protein. sehingga dapat mengakibatkan terhambatnya penyembuhan luka. 3. Penyakit sistemik. Vitamin C penting untuk mempertahankan ikatan antara sel-sel endotel pada kapiler. Oleh karena itu sangat penting untuk mengeluarkan kontaminan organik maupun anorganik secepat mungkin tetapi dengan trauma yang minimum terhadap jaringan utuh. gangguan kardiovaskuler. Mobilisasi. Jaringan nekrotik. Suatu kebijaksanaan adalah penggunaan antibakteri lokal untuk mengatasi infeksi pada jaringan yang terkontaminasi. faktor yang penting dan sering menimbulkan masalah pada kasus penyembuhan di tempat praktek. Faktor sistemik yang berpengaruh pada penyembuhan luka: 1. Demikian juga adanya segala bentuk benda asing termasuk bahan jahitan dan drain luka. akibatnya terjadi hambatan pada pembentukan 2. infeksi kronis. gangguan sistem imun. Malnutrisi. Penyembuhan luka pada penderita yang masih muda berlangsung lebih cepat. Umur. Infeksi. anemia dan penyakit lain. pasien dengan penyakit diabetes melitus. Dua bahan nutrisi yang menunjukkan secara langsung untuk penyembuhan adalah protein dan vitamin C. 4. 3.1. Kekurangan vitamin C menyebabkan fibroblas tidak matang atau berdiferensiasi. Adanya jaringan nekrotik dan krusta yang berlebihan di tempat luka dapat memperlambat penyembuhan dan meningkatkan resiko terjadi infeksi. 5.dibawah 28◦C aktivitas leukosit dapat turun sampai nol. krusta yang berlebihan dan benda asing. Dalam keadaan kekurangan protein akan mengakibatkan fibroblas tidak menjadi matang sehingga pembentukan serat kolagen hanya sedikit akibatnya penyembuhan menjadi terhambat.

Bentuk flap yang kurang benar c. Benda asing yang bukan bakteri tetapi bertindak sebagai bakteri yang dapat meenyebabkan terjadinya infeksi. a. Hipotensi 55 . c. termasuk bakteri. Iskemia Iskemia. Jaringan Nekrotik Jaringan nekrotik. Iskemia menurunkan pengiriman oksigen dan zat makanan yang diperlukan untuk penyembuhan luka. Iskemia disebabkan oleh beberapa hal yaitu : a. sel darah putih. Benda asing sering berbentuk antigen yang memacu terjadinya peradangan kronis. kotoran dan benang jahit. Iskemia dapat mengurangi pengiriman antibodi. Tahap peradangan diperpanjang dimana sel darah putih mengangkut sisa-sisa jaringan nekrotik melaiui proses larutnya enzim dan paghositosis. b. Terlalu tegang atau tidak tepatnya lokasi penjahitan b. Jaringan nekrotik sebagai tempat berlindungnya bakteri.Benda Asing Benda asing adalah segala sesuatu yang dianggap asing bukan anggota dari tubuh oleh sistem pertahanan tubuh terhadap mikroorganisme. dan antibiotik yang sangat diperlukan. sehingga dapat menyebabkan terjadinya infeksi pada luka. Tekanan dari luar dan dalam luka (hematom) d. Bakteri dapat berkembang biak dan menyebabkan infeksi dimana akan mengeluarkan protein bakteri yang dapat merusak jaringan b. adalah berkurangnya suplai darah berpengaruh terhadap tahap perbaikan luka. dengan adanya jaringan nekrotik akan menyebabkan masalah antara lain: a. Merupakan penghambat terbentuknya sel-sel reparasi. Yang termasuk jaringan nekrotik adalah darah yang terkumpul pada luka (hematom) merupakan sumber makanan yang bagus bagi bakteri.

Penyakit pembuluh darah tepi f. serta teknik pembalutan dan penjahitan yang kurang hati-hati adalah penyebab terlambatnya penyembuhan luka yang dapat dihindari.5. tanpa rusaknya akson (selubung myelin masih intak atau terdapat luka yang kecil) penyembuhan dari defisit fungsional berlangsung secara spontan dan umumnya lengkap dalam tiga .e. Penjahitan dengan benang yang terlalu kencang dapat menimbulkan ketegangan pada jaringan di daerah luka. Setelah sel saraf terluka. penggunaan antiseptik yang tidak bijaksana. MEKANISME PENYEMBUHAN JARINGAN SARAF Proses penyembuhan jaringan saraf tergantung pada derajat keparahan dan keluasan luka. terjadi degenerasi pada semua akson di badan saraf yang terluka.6 PENATALAKSANAAN LUKA YANG TIDAK TEPAT Gagal mengidentifikasi penyebab yang mendasari sebuah luka atau gagal untuk melakukan identifikasi masalah lokal di tempat luka. investing Schwann cells akan memulai beberapa perubahan yang disebut 56 . penggunaan antibiotik topikal yang kurang tepat dan ramuan obat perawatan luka lainnya. sehingga akan meninggalkan tanda yang buruk. Anemia Ketegangan Jaringan Ketegangan jaringan.empat minggu. Apabila terlalu lama benang tidak diambil maka akan mendatangkan ketegangan jaringan dan luka cenderung semakin terbuka selama tahap remodeling. Hal ini akan berpengaruh pada bagian distal dari lokasi luka dan sebagian bagian proksimal dari luka. ketegangan dari luka dapat menghambat terjadinya penyembuhan. Pada luka yang menyebabkan terganggunya konduksi saraf. Pada luka badan saraf.3. Jaringan diliputi oleh benang yang terlalu tegang sehingga menimbulkan iskemia. Jika benang diambil terlalu awal maka dapat terjadi pembukaan kembali dari luka sehingga dapat menimbulkan kontraksi dari luka. Apabila ada kerusakan akson (sel Schwann dan jaringan ikat masih intak) akan terjadi perubahan morfologis sebagai manifestasi dari degenerasi aksoplasma.

1. tipe luka. Infeksi luka dapat dikurangi dengan cara melakukan tindakan bedah yang benar. peningkatan suhu. Tindakan yang tidak asepsis merupakan penyebab utama terjadinya luka yang terinfeksi. Setelah debris dapat dibersihkan. Selama 78 jam. Gejala klinis dari luka yang terinfeksi adalah eritema. dan eliminasi dead space. di sepanjang akson distalis dan beberapa akson proksimalis. Bagian yang mengalami dehiscence dapat ditutup lagi atau dibiarkan supaya terjadi penyembuhan sekunder. nutrisi. infeksi dapat terjadi akibat daya tahan tubuh host yang menurun atau derajat virulensi bakteri. rasa nyeri. sedangkan hyperthropic scar timbul segera setelah luka 57 . serta menjaga luka tetap bersih. Keloid timbul beberapa bulan setelah luka sembuh. pembengkakan. infeksi dapat terjadi bila terdapat 1 x 105 bakteri dalam 1 gram jaringan. dan umumnya disertai dengan terbentuknya pus dan bau. akson yang terluka akan difagositosis oleh sel Schwann dan makrofag. Perlu dibedakan antara keloid dengan hyperthrophic scar. Proses regenerasi sel saraf berlangsung sekitar 3 bulan dan ditandai dengan terbentuknya akson bermielin. dan saraf yang terlibat. Proses regenerasi dipengaruhi oleh faktor umur. sel Schwann akan menghubungkan bagian proksimal dan distal dari luka dengan cara membentuk suatu ikatan (Bungner’s band) yang akan menerima akson yang sudah regenerasi dari bagian proksimal. tergantung luas daerah dehiscence dan keputusan klinisi. Jaringan parut Keloid memiliki faktor predileksi hubungan kekerabatan dan ras. Selain itu. Berdasarkan hasil penelitian. Sel Schwann juga dapat mengeluarkan beberapa faktor neurotropik untuk menunjang regenerasi sel saraf. meliputi debridement.4 KOMPLIKASI PENYEMBUHAN LUKA Infeksi Pada Luka Infeksi pada luka umumnya merupakan infeksi dari kontaminasi bakteri pada luka tersebut.degenerasi wallerian. hemostasis yang adekuat.7 Dehiscence Dehiscence terjadi akibat tindakan hecting yang tidak optimal.

Hal yang dapat dilakukan adalah menjaga jarak antarjahitan tidak terlalu rapat dan setelah dilakukan hecting. pasien dapat diberikan obat anti-keloid (salep kanakeloid atau injeksi kenacort 2x sebulan).4 58 .sembuh.

Proses penyembuhan luka dapat dibagi menjadi tiga tahap dasar yaitu tahap inflamasi. tahap fibroblastis dan tahap remodeling. dehiscence.BAB IV KESIMPULAN Luka adalah terputusnya kontuinitas jaringan baik tanpa kehilangan jaringan atau disertai dengan kehilangan jaringan. dan jaringan parut yang berlebihan. 59 . Faktor-faktor yang menghambat proses penyembuhan luka adalah adanya benda asing. Komplikasi yang sering terjadi adalah infeksi. iskemia dan ketegangan jaringan. penyembuhan luka dipengaruhi oleh faktor lokal dan faktor sistemik. adanya jaringan nekrotik. Luka pada jaringan dapat disebabkan oleh peristiwa patologis atau trauma.

Manajemen Luka.com. SE. Frying. Robins. www. Buku Ajar Ilmu Bedah.com . Alih Bahasa Purwanto. Healing of Traumatic Injuries. diunduh tanggal 22 Januari 2013 12. 60 . EGC. Topazian R.uk 5.skwawesome. Jakarta: EGC 8. EGC. Larsen. www.dc349. Sjamsuhidajat R.G and Goldberg M.65. London: Saunders Company. Pp: 99-111 3. Cotran.300 – 309. 2002.Saunders and Co. 4.B. 1998. www. Jakarta. The Principles of Wound Healing. JM.bayoesunaryo. Kumar.B Saunders Co. www.hal. Pederson W. hal.adam. W. 365-372. Wim de Jong. diunduh tanggal 22 Januari 2013 10. F. 1997.81-91. in Fonseca RJ and Walker RV. 105-107. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2.com .D.jellygamatluxornet. Oral and Maxillofacial Trauma. Philadelphia: W. 2. 9. 2001. M. Arif Mansjoer. Patient UK. Morison. Enquist. hal. Philadelphia. 1996. Vol. diunduh tanggal 22 Januari 2013 13. W. 9th ed. Buku Ajar Bedah Mulut.B. http://www. www. in Loyal Davis. FK-UI. 4th ed.4shared. www. Suprohaita. Manual Untuk Peserta ATLS. American College of Surgeon.patient. diunduh tanggal 22 Januari 2013 14. PE.com . Media Aesculapius. dalam Dasar Patologi Penyakit. hal. 1991.com . 15. diunduh tanggal 22 Januari 2013 16. Cristhoper's Textbook of Surgery. Radang dan perbaikan. edisi 5. 20. I. hal 28-42.meddet.co. diunduh tanggal 22 Januari 2013 17. 1998. Feinberg.wordpress. dkk. 2003. Simple Wound Management and Suturing.G.com .com. diunduh tanggal 22 Januari 2013 11. 7.H. http://burn-victim-help-center. Oral and Maxillofacial infection. tahun 1996.DAFTAR PUSTAKA 1. 6.

61 .

pengikatan dengan benang. Oleh karena itu pasien dengan trauma oromaksilofasial memerlukan intervensi nutrisi dalam rawat inap di rumah sakit. Pada penderita trauma oromaksilofasial juga diperlukan adanya pengelolaan nutrisi yang adekuat dikarenakan pada penderita trauma kemampuan penggunaan mulut penderita berkurang. Maksud dari penulisan makalah ini adalah untuk memberikan gambaran penanganan perdarahan dan pengelolaan nutrisi penderita trauma oromaksilofasial . nutrisi 62 . menggunakan panas .namun prosedur ini juga membatasi kemampuan mulut sementara waktu.Penanganan Perdarahan / Hemostasis dan Pengelolaan Nutrisi Penderita Trauma Oromaksilofasial Alvin 160121120006 Peserta Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut Dan Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Abstrak : Perdarahan pada penderita oromaksilofasial merupakan suatu jenis kegawatdaruratan yang dapat mengancam jiwa. Prosedur bedah mulut dan maksilofasial dapat mengeliminasi permasalahan ini dengan suatu prosedur operasi. Penanganan perdarahan dapat dilakukan dengan membentuk mekanisme hemostasis natural. maka dari itu diperlukan suatu penanganan perdarahan secepat mungkin. Hal ini berakibat menurunnya daya tahan tubuh. terjadinya edema. trauma. dan terhambatnya penyembuhan luka gangguan motilitas usus. meletakkan substansi vasokonstriktif. Pada keadaan trauma (stress dan sepsis) tubuh mengalami rangkaian perubahan hormonal yang menambah laju metabolisme. gangguan enzim dan metabolisme serta kelemahan otot. Kata kunci : perdarahan.

Dengan tersedianya antibiotik dan peralatan yang khusus. kantor. namun justru dijumpai pada perumahan yang terpencil. Trauma yang terdapat pada regio maksilofasial memerlukan perhatian khusus.BAB I PENDAHULUAN Manajemen pasien yang mengalami trauma jarang dijumpai pada pusat trauma mayor dimana sumber dayanya tidak terbatas. Perawatan yang terdahulu hanya terdiri atas fiksasi gigi pada oklusi sentrik untuk mengurangi dan mengimobilisasi suatu rahang. Fraktur-fraktur yang pada jaman dahulu tidak dapat dikenali sama sekali atau hanya bersifat dugaan sekarang ini bisa ditunjukkan sampai hal yang terkecil. Kunci penatalaksanaan pasien trauma biasanya melibatkan mobilisasi dari pasien-pasien tersebut dan penyaluran ke pusat trauma untuk penanganan lebih lanjut. Sekarang ini dasar pemikiran perawatan fraktur mandibula dan maksila masih tidak banyak berubah. Trauma oromaksifasial dapat menimbulkan perdarahan. jalan raya. Keadaan ini membutuhkan pertolongan segera yang dapat berupa pertolongan pertama sampai pada pertolongan selanjutnya secara baik di rumah 63 . membuat pendekatan per oral pada perawatan fraktur fasial menjadi aman dan layak dilakukan 2. Ketika trauma yang kompleks terjadi. sehingga memerlukan tindakan di dalam ruang gawat darurat agar tidak menimbulkan kematian 3. hanya tekniknya yang berkembang pesat. atau daerah-daerah lain dengan sumber daya yang terbatas yang biasanya tidak dapat menangani pasien dengan trauma yang kompleks dan frekuensi yang besar. Pada mulanya dokter gigi dilibatkan pada perawatan trauma rahang karena mereka menguasai pengetahuan tentang gigi dan oklusi. Diagnosis didukung dengan adanya teknik radiografis yang berkembang dengan pesat. pasien tersebut sering membutuhkan penanganan medis darurat atau kematian dapat terjadi 1.

fraktur nasoetmoidal atau kompleks zygomatikomaksilari dan fraktur dasar orbita. Distribusi umur pasien trauma menunjukkan bahwa pasien trauma berumur antara 17 dan 24 tahun. Tindakan tersebut dimaksudkan untuk menyelamatkan jiwa mencegah dan membatasi cacat serta meringankan penderitaan dari penderita. sehingga memerlukan tindakan di dalam ruang gawat darurat agar tidak menimbulkan kematian 3. bila fraktur melibatkan sinus dan tulang frontal. 3 Kematian pada penderita dengan trauma oromaksilofasial salah satunya dapat disebabkan oleh perdarahan yang tidak cepat diatasi. 1 64 . Midface yang bagian atas bila terdapat fraktur Le Fort II dan Le Fort III dan/atau fraktur tulang nasal. Bagian pertama adalah wajah yang bagian atas. Kelompok utama yang kedua dari pasien trauma berumur antara 35 dan 44 tahun dan didominasi oleh laki-laki yang terluka karena kecelakaan motor. Kelompok umur ini adalah kelompok yang paling sering dijumpai oleh spesialis bedah mulut untuk evaluasi dan pengobatan luka fasial 1. luka tusuk dan perkelahian). dengan jenis kelamin laki-laki yang paling dominan terluka pada kecelakaan motor dan oleh karena kekerasan (luka tembak.sakit. 3 Regio maksilofasial terbagi menjadi tiga bagian. Berikut ini akan dibahas mengenai penanganan perdarahan/hemostasis dan pengelolaan nutrisi pada kegawatdaruratan trauma oromaksilofasial sebelum dilakukan penanganan definitif lebih lanjut. bila fraktur hanya terdapat pada mandibula. Kelompok ketiga tertinggi dari pasien trauma berumur antara 75 dan 85 tahun dan kebanyakan adalah wanita yang terluka karena jatuh atau oleh karena kecelakaan motor. Bagian yang ketiga dari regio maksilofasial adalah wajah bagian bawah. juga dibutuhkan pengorganisasian yang sempurna. Bagian kedua adalah daerah tengah wajah atau midface. Fraktur Le Fort I bila fraktur terdapat pada bagian bawah dari midface. Keadaan ini selain membutuhkan pengetahuan dan ketrampilan yang baik dari penolong dan sarana yang memadai. Midface dibagi menjadi bagian atas dan bagian bawah. Insidensi trauma maksilofasial sering terjadi terutama yang berhubungan dengan kecelakaan kendaraan bermotor.

Pemeriksaan Laboratorium d. Resusitasi cairan c. Diagnosis dan penanganan sekunder a. Pemantauan 3. Perawatan Definitif a. Rehabilitasi 65 . ABC (Airway. Stabilisasi fraktur d. Resusitasi dan pemantauan lanjut 4. Penanganan yang dilakukan sebelum dibawa ke rumah sakit a. Sehingga tahap-tahap penangannnya bersamaan dengan penanganan trauma yang lainnya. Perawatan non operatif c. Mempertahankan jalan napas b. Breathing. PENANGANAN TRAUMA OROMAKSILOFASIAL Pada umumnya penderita dengan trauma oromaksilofasial terjadi bersamaan dengan trauma pada bagian tubuh yang lain (trauma multiple). Radiografi c. Circulation) b. Stabilisasi tulang belakang e. Menghentikan perdarahan eksternal c. Resusitasi dan pananganan primer a. Pembedahan b.BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Adapun tahap-tahap penanganan trauma adalah sebagai berikut 4: 1. Pemeriksaan fisik menyeluruh b. Tranportasi cepat (Ambulatory) 2. Nutritional support 5.

Menurut waktu terjadinya perdarahan. Perdarahan eksternal jika darah keluar dari kulit atau jaringan lunak dibawahnya. tetapi masuk kejaringan sekitarnya. dengan ciri-ciri warna darah antara darah arteri dan vena. perdarahan dapat dibagi menjadi: a. 2. Perdarahan internal jika arah tidak keluar. b. yang akan diuraikan sebagai berikut1: 1. maka dibagi menjadi: a. dan penyebab perdarahan. Perdarahan mekanik yaitu perdarahan terjadi akibat trauma mekanik atau kecelakaan b. Perdarahan vena. operasi. Menurut pembuluh darah yang terluka. Berbagai macam perdarahan yang dibagi menurut pembuluh darah yang terluka. 3. dan darah merembes dari permukaan luka. Perdarahan spontan/biokemis yaitu perdarahan terjadi akibat kelainan atau gangguan mekanisme hemostasis. dengan ciri-ciri warna darah cerah terang karena mengandung oksigen dan perdarahan memancar dengan aliran yang terputus-putus sesuai dengan denyut jantung. waktu perdarahan. b. karena hilangnya kontinuitas pembuluh darah. dengan ciri-ciri warna darah merah gelap karena mengandung karbondioksida dan darah yang keluar mengalir tetap. Perdarahan intermediate jika terjadi dalam 24 jam. Perdarahan sekunder jika terjadi setelah 24 jam. c. Menurut penyebab terjadinya perdarahan maka dibagi menjadi: a. 4. c. dapat terjadi karena kelainan 66 . Perdarahan primer jika terjadi pada waktu terputusnya pembuluh darah karena trauma. Perdarahan arteri. b. dibagi menjadi: a. Menurut lokasi perdarahan. TINJAUAN UMUM PERDARAHAN Perdarahan adalah keluarnya darah dari pembuluh darah kedalam ruang ekstravaskuler.B. Perdarahan kapiler. lokasi perdarahan.

Masalah lainnya yang disebabkan oleh perdarahan adalah terbentuknya hematoma. Hemostasis primer. Hemostasis dapat dibagi menjadi5: 1. yang akan diuraikan sebagai berikut: 1. Hemostasis sekunder. C. yang termasuk didalamanya adalah pembuluh darah dan trombosit. 2. sehingga tekanan darah di dalam kapiler meningkat. kelainan trombosit dan kelainan mekanisme pembekuan darah. yang memungkinkan terjadinya infeksi pada luka 5. Perdarahan yaitu darah keluar dari pembuluh darah. Akan tetapi pengontrolan hemostasis penting dikarenakan oleh adanya alasan-alasan yang penting juga. 67 . Trombosis yaitu darah membeku di pembuluh darah. Dinding kapiler yang kurang kuat akan menyebabkan darah keluar dan merembes kedalam jaringan sekitarnya sehingga nampak titik merah kecil pada permukaan kulit. mengurangi vaskularitas. Hematoma memberikan tekanan pada luka. titik itu disebut petekia. Percobaan Pembendungan (Tes Rumpel Leede) Menguji ketahanan dinding kapiler darah dengan cara mengenakan pembendungan kepada vena. Pencegahan kehilangan darah yang banyak merupakan hal yang penting untuk menjaga kapasitas transpor oksigen pada pasien tersebut. yang termasuk didalamanya adalah faktor pembekuan dan anti pembekuan. hematoma tersebut meningkatkan tarikan pada tepi luka dan berfungsi sebagai media kultur. Salah satunya adalah menurunnya visibilitas yang dikarenakan perdarahan yang tidak terkontrol. Gangguan faktor hemostasis akan mengakibatkan terjadinya perdarahan atau trombosis. HEMOSTASIS Hemostasis adalah proses penghentian perdarahan dari pembuluh darah yang mengalami kerusakan secara spontan.pembuluh darah. Evaluasi faal hemostasis dapat dilakukan melalui beberapa cara.

Masa Protrombin Plasma (Protrombine Time/PT) Menguji pembekuan darah melalui jalur ekstrinsik dan jalur bersama yaitu faktor pembekuan VII. XI. Tabel 1.000-400. trombositopenia Lebih lama bila berkaitan dengan defisiensi faktor-faktor I. deteksi penyakit willebrand Waktu perdarahan 2-7 menit Hitung platelet 150. Trombine Time (TT) Perubahan fibrinogen menjadi firbin 7.000/ul digolongkan trombositopenia berat dan perdarahan spontan akan terjadi jika jumlah trombosit kurang dari 20. Masa perdarahan Menilai kemampuan vaskuler dan trombosit untuk menghentikan perdarahan. V. defisiensi vitamin K.2. 4. X. protrombin dan fibrinogen 6. Tes Koagulasi Jenis Tes Nilai Normal Kegunaan Mengamati fungsi vaskular dan platelet. prekalikren. Hitung jumlah trombosit Perdarahan tidak terjadi jumlah trombosit lebih dari 100.V. X. 3.X.000/ul.II. VIII. V. Waktu protrombin 12-14 Detik 68 . 5. IX.000/ul. Mungkin abnormal pada penyakit hati. Masa tromboplastin parsial teraktivitas ( Activitated Parsial Tromboplastin Time/APTT) Menguji pembekuan darah melalui jalur intrinsik dan jalur bersama yaitu faktor pembekuan XII. kininogen. Jumlah trombosit kurang dari 50. protrombin dan fibrinogen.000/mm³ Deteksi trombositosis . Pemeriksaan Penyaringan untuk Faktor XIII Digunakan untuk menilai kemampuan faktor XIII dalam menstabilkan fibrin.VII.

dan anti-radang nonsteroid lain.diaktifkan oleh tromboplastin Diperlukan untuk merubah protrombin menjadi thrombin Tes PT PT PTT III Tromboplastin IV V VI Kalsium Proaccelerin Tidak lagi digunakan Diperlukan pada semua tahap Diperlukan untuk pembentukan tromboplastin PTT PT PTT VII Proconvertin Diperlukan untuk mengubah protrombin menjadi thrombin PT VIII Faktor antihemofilik (AHF) Diperlukan untuk pembentukan tromboplastin IX Komponen Plasma tromboplastin X Faktor Stuart Prower Diperlukan dalam pembentukan tromboplastin dan perubahan dari protrombin menjadi thrombin XI Anteseden tromboplastin plasma XII Faktor Hageman XIII Faktor stabilisasi fibrin PT : Waktu protrombin PTT : Paruh waktu tromboplastin Mengawali proses pembekuan darah in vitro Merubah fibrin menjadi polimer fibrin Diperlukan untuk pembentukan tromboplastin Diperlukan untuk pembentukan tromboplastin PTT PTT PTT PTT PTT PTT 69 . bila ada defisiensi faktor pembekuan darah. kecuali VII Hemofilia Tabel 2.terapi warfarin sodium (Coumadin). Faktor Pembekuan Darah Faktor I II Fibrinogen Protrombin Peranan pada pembekuan darah Prekursor fibrin Proensim. Penggunaan aspirin. Paruh waktu tromboplastin 60-70 detik Lebih lama.

Tekanan langsung kemudian dapat dilakukan pada luka untuk 70 . yang sebelumnya digunakan untuk meningkatkan tekanan darah pada kasus hipotensi yang parah. Ketika dressing yang digunakan menjadi basah. fraktur nasal atau tengah wajah. Hemoragi dapat secara eksternal maupun internal ke dalam kavitas tubuh. volume darah normal (liter) adalah sebanyak 7% dari berat badan (kilogram). Akan tetapi. volume darah secara umum tinggi per satuan berat. kita mengetahui adanya suplai vaskular yang banyak ke daerah muka dan leher.D. Luka pada kulit kepala dapat menyebabkan kehilangan darah dalam jumlah besar pada waktu yang singkat karena perembesan darah pada galea dan lapisan jaringan ikat yang renggang. Maka dari itu. hal tersebut hanya direkomendasikan apabila penekanan langsung pada luka saja tidak efektif 1. tetapi sebaiknya dressing tambahan digunakan karena apabila dressing dilepaskan maka formasi clot yang telah terbentuk dapat terganggu dan menyebabkan perdarahan kembali. PENANGGULANGAN PERDARAHAN KARENA TRAUMA Kehilangan darah akut dari sistem peredaran darah disebut juga sebagai hemoragi. Pada individu yang menderita obesitas. Tekanan yang digunakan untuk mengontrol perdarahan sebaiknya kuat dan kontinu. Aspek negatif dari suplai darah tersebut adalah hemoragi mayor dapat disebabkan oleh luka pada kulit kepala yang besar. memberikan keadaan yang merugikan pada beberapa situasi karena menyebabkan luka vaskular. Perban tekan. seorang laki-laki dengan berat badan 70 kg memiliki volume darah kurang lebih 5L. Hemoragi eksternal biasanya dapat dikontrol dengan melakukan penekanan secara langsung ke luka yang ada. 8% hingga 9% dari berat badan. Pada orang dewasa dengan berat badan yang ideal. volume darah tidak meningkat secara spesifik. Sebagai spesialis bedah mulut dan maksilofasial. Pada anak-anak. PASGs dan medical antishock trousers(MASTs). dressing tersebut sebaiknya jangan dilepaskan. Luka kulit kepala dapat dengan cepat diatasi dengan dijahit menggunakan 2. dan luka tembus pada leher.0 nonresobable atau staples tanpa memperhatikan kosmetik pasien. Tekanan yang kuat dapat diaplikasikan proksimal ke arah arteri mayor untuk mengontrol perdarahan. seperti air-pillow splints dan blood pressure cuff dapat juga digunakan.

merupakan cara yang terbaik untuk mengatasi perdarahan yang tidak dapat dikontrol dengan menggunakan metode yang telah disebutkan di atas 1. Akan tetapi. fraktur femur 500 ml hingga 1000 ml. Fraktur pelvis dapat menyebabkan kehilangan darah sekitar 1000 ml sampai 2000 ml. ligasi dari arteri karotis eksternal mungkin diperlukan. retroperitoneum. Ketika pasien sudah stabil. Perdarahan internal dapat dikontrol dengan 71 . Perdarahan internal arteri maksilaris yang disebabkan fraktur dinding posterior maksila. Daerah internal yang potensial untuk tempat terjadinya perdarahan termasuk rongga dada. fraktur tibia 250 ml hingga 500 ml. Penjepitan tanpa melihat pembuluh darah dapat menyebabkan perdarahan dari pembuluh darah dan jaringan lunak. Kebanyakan hemoragi dari fraktur fasial dapat dikontrol dengan tekanan langsung atau packing. Ketika pengontrolan langsung pembuluh darah diperlukan. Embolisasi dari perdarahan dengan cara intervensi secara radiologi oleh radiologis . kecuali jika hemoragi tersebut menyebabkan keadaan yang merugikan pada sistem pulmonal dan kardiovaskular. sekaligus dapat menyebabkan kemungkinan rusaknya nervus. jahitan dapat dilepaskan dari luka dan penutupan lapisan luka secara kosmetik dapat dilakukan 1. Pemeriksaan fisik dan radiografis sangat menolong dalam mengidentifikasi hemoragi ke dalam area tersebut. hal ini biasanya tidak efektif jika digunakan sendiri saja dikarenakan sirkulasi kolateral dari wajah. dan ekskremitas. Fraktur nasal dan tengah wajah dapat menyebabkan robeknya arteri ethmoidal. Epinephrine dan cairan trombin dapat juga ditambahkan pada gauze packing dan kepala dapat juga dinaikkan untuk mendapatkan hemostasis. Pengontrolan perdarahan internal tidak dilakukan pada saat survei primer. visualisasi yang adekuat dari pembuluh darah diperlukan.jika tersedia. dan tulang-tulang kecil lainnya 125 ml hingga 250 ml.mengontrol hemoragi dan meminimalkan pembentukan hematoma. Hipovolemi yang terus menerus tanpa adanya perdarahan eksternal atau ke dalam rongga dada dapat menunjukkan adanya hemoragi abdominal atau hemoragi pada daerah fraktur. yang dapat terjadi pada fraktur Le Fort I dan II. abdomen. Pada kasus yang langka. dapat dikontrol dengan tekanan dari gauze packing selama beberapa waktu.

Mengusap dapat membuka kembali pembuluh darah yang telah tersumbat dengan beku darah 5. Syarat yang ketiga untuk koagulasi termal adalah pembuangan semua darah atau cairan yang terakumulasi di sekitar pembuluh darah yang akan dikauter. Kedua metode tersebut menyebabkan stasis dari darah pada pembuluh darah. Hal ini biasanya diperoleh dengan mengunakan fabric sponge untuk memberikan tekanan pada pembuluh darah atau meletakkan hemostat pada pembuluh darah. Pertama. tip cauter dan intrumen metal lainnya yang disentuh oleh tip kauter tidak boleh menyentuh pasien pada titik lainnya selain pada area pembuluh darah yang berdarah. Kedua. yang pada akhirnya menyebabkan koagulasi. Yang pertama adalah dengan membentuk mekanisme hemostasis natural. Cara ketiga untuk membantu terjadinya hemostasis bedah adalah dengan pengikatan dengan benang. oklusi vaskular melalui mekanisme perlindungan.menggunakan fiksasi sekunder dari fraktur. dan operasi eksplorasi 1. Panas biasanya diaplikasikan melalui tegangan listrik yang dipusatkan oleh ahli bedah pada pembuluh yang mengeluarkan darah dengan memegang pembuluh darah dengan instrumen metal. Jika pembuluh darah besar telah terpotong. refraksi. Jika tidak. pasien harus berhubungan dengan tanah. setiap 72 . pembentukan clot. Cairan bertindak sebagai penghalang energi dan mencegah sejumlah besar panas mencapai pembuluh darah untuk menyebabkan penutupan 5. sehingga arus listrik dapat memasuki tubuh. Tiga kondisi harus dipenuhi untuk memenuhi persyaratan penggunaan koagulasi termal. dan pembuluh darah besar memerlukan 5 hingga 10 menit penekanan yang kontinu. atau dengan menyentuh pembuluh darah dengan tip elektrokauter. Hemostasis luka dapat diperoleh dengan empat cara. Cara kedua untuk memperoleh hemostasis adalah dengan menggunakan panas untuk menyebabkan ujung dari pembuluh darah yang terpotong sehingga bersatu (koagulasi termal). seperti hemostat. Beberapa pembuluh darah kecil kebanyakan hanya memerlukan tekanan selama 20 hingga 30 detik. Ahli bedah dan asisten sebaiknya “mencolek” bukan mengusap dengan spons untuk menghilangkan darah yang terekstravasasi. arus listrik dapat mengalir ke arah yang tidak diinginkan dan menyebabkan luka bakar.

. seperti trombin atau kolagen. 73 .ujungnya dijepit dengan menggunakan hemostat. serta kontrol perdarahan 6. Cara keempat untuk mendapatkan hemostasis adalah dengan meletakkan substansi vasokonstriktif. benang diikatkan pada setiap ujungnya dan hemostat dilepaskan 5. seperti epinefrin. pada luka 5. pada luka atau dengan pengaplikasian prokoagulan. Ahli bedah kemudian mengikat pembuluh darah tersebut dengan benang non-resorbable. Ketika pembuluh darah telah terputus. Pada perdarahan internal hanya dapat diatasi di rumah sakit. Circulation). Perawatan penderita cedera akut dengan faktur pada daerah wajah. Breathing. dan sirkulasi (Air ways. Jika pembuluh darah dapat dibebaskan dari jaringan ikat sekitarnya sebelum dipotong. Perdarahan yang keluar dari hidung dapat diatasi dengan meletakan tampon di lubang hidung depan dan belakang 6. dengan jarak yang cukup di anataranya untuk memotong pembuluh darah. E. Cara mengatasinya dengan melakukan penekanan pada luka dan jika perdarahan masih berlangsung terus dilakukan pengikatan (ligasi). Perdarahan pada penderita dengan trauma oromaksilofasial dapat terjadi secara internal maupun eksternal. dua hemostat dapat di letakkan pada pembuluh darah. PENANGANAN SEBELUM KE RUMAH SAKIT Tujuan penanganan sebelum penderita dibawa ke rumah sakit yaitu menyelamatkan jiwa penderita sebelum mendapatkan penanganan yang lebih lanjut di rumah sakit 6. Penanganan perdarahan di tempat kecelakaan diutamakan pada perdarahan eksternal.. pertama kali harus ditujukan pada penyelamatan jiwa dengan memperhatikan jalan nafas dan pernafasan.

atau perdarahan berat melebihi 50 cc permenit. Penanganan Perdarahan Hidung6 Penanganan awal apabila terjadi perdarahan arteri adalah dengan penekanan. misalnya terpotongnya arteri. Jika keluarnya darah sangat deras.dapat digunakan elektrokoagulasi dari pembuluh yang diklem sehingga tidak perlu diikat Alternatif yang lain yang biasa digunakan hanya pada pembedahan adalah menggunakan klip hemostatik pada pembuluh darah. Penekanan diperoleh dari penekanan langsung dengan jari atau dengan kasa. 74 . maka dapat diputuskan untuk meneruskan atau menghentikan prosedur 4. Apabila tersedia. Pergunakan cairan hipertonik 4.Gambar 1. Pemberian cairan intravena dapat diberikan jika transportasi diperkirakan memerlukan waktu lebih dari 30 menit. Melakukan klem pada daerah perdarahan dimulut sangat sukar dan melakukan pengikatan (ligasi) bahkan lebih sulit lagi. Untungnya hanya dengan melakukan klem saja sudah cukup diinduksi untuk membuat beku darah. Sesudah mengontrol perdarahan Intra-operatif. maka diklem dengan hemostat. Sering dengan hanya melakukan sudah bisa berhasil mengatasi perdarahan.

Seringkali trauma oromaksilofasial terjadi bersamaan dengan trauma pada bagian tubuh lain (trauma multiple). Jika belum dilakukan. misalnya trauma mengenai cerebro kardiovaskuler. 75 . dan anggota gerakan lainnya. Perdarahan dari fraktur oromaksilofasial dapat terjadi perdarahan pada rongga mulut. saraf. hendaknya dilakukan bersamaan dengan penanganan jalan nafas. sebelum melakukan pemeriksaan tanda-tanda vital. Perhatian harus segera diarahkan terhadap saluran pernafasan dan kontrol perdarahan eksternal. fraktur maksila). hidung. Penanganan perdarahan eksternal pada trauma oromaksilo fasial sudah harus dilakukan saat sebelum tiba di rumah sakit. Penjepitan pembuluh darah secara acak harus dihindari karena dapat membahayakan pembuluh darah balik dan saraf 1. nasofaring (dari basis cranii) atau perdarahan dari hidung (fraktur nasalis. dada. sinus paranasalis. keadaan-keadaan itu harus ditangani lebih dahulu oleh karena mengancam jiwa penderita 1. Penjepitan pembuluh darah dengan arteri klem6 Faktor yang mempengaruhi keputusan ini adalah kondisi fisik dan mental pasien (tanda-tanda vital).Gambar 2. Pada keadaan ini kita mendahulukan penanganan trauma yang paling mengancam jiwa 1. perkiraan jumlah darah yang dikeluarkan dan waktu yang digunakan untuk mengontrol perdarahan. Untuk penderita dengan trauma oromaksilofasial pendekatan awal sedikit berbeda dengan cedera yang lain.

takikardia. Pemeriksaan laboratorium penunjang yang dilakukan untuk menetapkan diagnosis adalah pemeriksaan darah lengkap. Cl. Perdarahan adalah sebab tersering dari syok pada trauma. Etiologi syok hipovolemik adalah kehilangan darah/perdarahan (trauma. Tabel 3. SYOK HIPOVOLEMIK Syok adalah ketidakmampuan sirkulasi darah untuk memenuhi kebutuhan metabolisme jaringan. Selain itu golongan darah dan cross matched juga perlu diperiksa1. nafas yang cepat. kehilangan Plasma (luka bakar). dan asites) 1. kehilangan cairan dan elektrolit (muntah.F. BUN. perdarahan GIT. ketolamin (+) dingin. Gejala syok hipovolemik antara lain adalah inadekuat perfusi organ. keringat. urine output <0. kreatinin dan kadar glukosa). APTT. perubahan tanda vital karena adanya mekanisme kompensasi. analisa gas darah dan pemeriksaan urin rutin (pada pasien dengan trauma). denyut nadi yang melemah. dan perabaan pada daerah akral dari ektremitas. Untuk cukup atau tidaknya aliran darah dapat diketahui dengan memperhatikan keadaan-keadaan seperti tensi yang menurun. pemeriksaan elektrolit (seperti Na. Syok hipovolemik adalah suatu kondisi medis yang timbul akibat penurunan sirkulasi volume darah. penyebab syok yang paling sering dan semua jenis syok memiliki komponen hipovolemik 1. diare. ekstrimitas lembab dan keterlambatan capillary filling. K. dan hampir semua penderita multi-trauma ada syok.5 ml/kg BB/jam1. Resusitasi cairan dapat diberikan sesuai dengan keadaan klinis1. pancreatitis. kehilangan darah 10-15%. dan hematoma). Perdarahan yang banyak bisa mengakibatkan syok hipovolemik. HCO3. PT. Klasifikasi perdarahan1 KELAS I Kehilangan Darah (mL) % Kehilangan Darah < 15 % < 750 KELAS II 750-1500 KELAS III 1500-2000 KELAS IV > 2000 15-30% > 40% 76 .

Selain itu juga dapat memberikan efek pada ekspansi cairan intravaskular tetapi menyebabkan ekspansi berlebihan pada cairan interstisiel. 77 . 1.5 L (PP) dan 2. apabila tidak terdapat peningkatan permeabilitas kapiler dan harga cairan ini murah1. Namun koloid efek udema parunya kurang dan harga cairan ini mahal1. napas. Menghentikan perdarahan mutlak harus dilakukan1.Nadi Tekanan Darah Tekanan Nadi Capilary Refill Respirasi Urine (ml/jam) Status Mental Resusitasi Cairan N N N N/(postural) > 120 Menurun > 140 Menurun N ≤ 3o Memanjang Memanjang Memanjang N ≥30 cc/mnt 20-30 20-30 cc/mnt > 30 5-15 cc/mnt > 35 Tidak ada urine Sedikit cemas Cemas Sangat cemas dan bingung Bingung atau letargi Kristaloid & Darah Kristaloid Kristaloid Kristaloid & Darah Apabila darah belum tersedia pada kelas III dan IV sementara dapat diganti dengan tambahan 0.0 L (PP) dan 3. Koloid sangat baik untuk ekspansi volume plasma. Kristaloid sangat baik untuk dehidrasi (kehilangan cairan ekstraseluler) atau perdarahan ringan. Keberhasilan terapi dapat dilihat dari perbaikan gejala klinik tersebut di atas (kesadaran. Pemberian pertolongan pertama dan resusitasi cairan yang tepat sangat membantu dalam mengembalikan perfusi jaringan yang adekuat. Kristaloid efektif. muka.0 L (RL) untuk kelas III. denyut nadi. Pilihan tipe cairan yang digunakan adalah koloid dan kristaloid.0 L (RL). dan merupakan pilihan yang terbaik untuk peningkatan Cardiac Output dan volume O2. tensi dan urine). tangan/kaki.

udema paru diperhatikan. serta penggantian cairan yang hilang dilakukan melalui pipa lambung.9% atau RL) atau Koloid (Dextran) secara I.drainase toraks. dalam 30 –60 menit. Maksud utamanya adalah mengembalikan volume intravaskular dan mendapatkan perfusi jaringan yang adekuat.. 78 . drainase peritonium. kemudian pengecekan elektrolit dan dikoreksi bila terdapat kelainan lainnya 1. tekanan vena sentral.9% dalam 30–60 menit.Bagan 1. respirasi dsb. dan memonitor tanda vital. GI LOSS) 1. 2. REPLACE NORMAL LOSS ( IWL. dengan pemberian 1-2 liter kristaloid (NaCl 0. Penatalaksanaan pada perdarahan akut adalah sebagai berikut 1: 1. NUTRITION Tujuan yang harus dipenuhi dalam pemberian cairan adalah menganti cairan yang hilang selama trauma atau pembedahan. fistula usus. Pada orang dewasa 2–3 liter RL selama 20–30 menit untuk memulihkan tekanan darah.V. dan diuresis. Pemberian WB atau PRC hingga HT> 30 % dengan 1-2 unit fresh frozen plasma (FFP) tiap 5 unit darah. URINE FAECAL ) 2.V. Resusitasi Cairan1 FLUID THERAPY RESCUCITATION MAINTENANCE COLLOID CHRYSTALLOID ELLECTROLYTES NUTRITION REPLACE ACUTE LOSS (HEMORRAGHE. Pemasangan 2 jalur Infus I. Sedangkan penatalaksanaan untuk kehilangan cairan gastrointestinal dapat diberikan 1-2 liter NaCl 0.

PENGELOLAAN NUTRISI PENDERITA TRAUMA OROMAKSILOFASIAL Diantara banyak fungsi rongga mulut adalah sebagai jalan masuk makanan menuju saluran cerna (gastrointerstinal tract). Respon neuroendokrin. akral yang dingin telah jadi hangat. dan terhambatnya penyembuhan luka gangguan motilitas usus. produktif urine 1-2cc/kgBB/jam. dan usia penderita1. Hal ini berakibat menurunnya daya tahan tubuh. thalamus dan hipothalamus. infeksi. akral yang sianosis telah berubah menjadi merah. Aktivitas SSO merangsang kenaikan simpatis dimana kadar katekolamin plasma meningkat 7.namun prosedur ini juga membatasi kemampuan mulut sementara waktu. Pemberian transfusi darah tetap harus menjadi bahan pertimbangan berdasarkan keadaan umum penderita (kadar Hb dan Ht). 79 . jumlah cairan kristaloid dan koloid yang telah diberikan. Pada keadaan trauma (stress dan sepsis) tubuh mengalami rangkaian perubahan hormonal yang menambah laju metabolisme. hasil serial pemeriksaan kadar Hb dan Ht. Kemampuan seseorang dalam mengkonsumsi makanan melalui oral dapat berubah dikarenakan neoplasia. bagian-bagian akral yang terjadinya lembab sudah jadi kering. Prosedur bedah mulut dan maksilofasial dapat mengeliminasi permasalahan ini dengan suatu prosedur operasi. dan injuri (trauma). deformitas congenital. hipofise dan SSO. kesadaran sudah membaik. Oleh karena itu pasien dengan trauma oromaksilofasial memerlukan intervensi nutrisi dalam rawat inap di rumah sakit 7. H.Beberapa kriteria perfusi jaringan yang telah baik antara lain adalah nadi <100 x/menit. meliputi susunan saraf pusat dan susunan saraf tepi. sumber perdarahan telah teratasi atau belum. merupakan suatu refleks neurofisiologi yang dirangsang oleh proses trauma. gangguan enzim dan metabolisme serta kelemahan otot. Kemudian respon eferen dimulai pada hipotalamus. jumlah perdarahan yang terjadi. keadaan hemodinamik (tensi dan nadi). terjadinya edema. terutama jaras spinothalamicus dan formatioretikularis dengan pengolahan akhir timbul pada medula oblongata.

Kortisol tubuh akan meningkat dan demikian pula kadar gula darah. Fase ini akan memanjang bila terjadi perdarahan pasca bedah. meliputi peningkatan nadi (takikardia).Respon kardiovaskuler. Phase Flow (Katabolisme) Ditandai oleh oksidasi protein otot untuk menghasilkan glukagon yang sangat penting untuk pembakaran di otak dan jaringan rusak yang sedang sembuh. yaitu7: 1. Phase Ebb Ditandai dengan terjadinya hipovolemi dengan rangsangan adrenal dan simpatis yang berlangsung sekitar 24 jam. 3. Kebutuhan kalori pada phase ini sekitar 5000 kkal. Ada tiga fase respon metabolik trauma. Respon metabolik mencakup kenaikan kadar glukosa dan asam lemak bebas (FFA) plasma serta rangsangan pengeluaran kortisol. glukagon dan kortisol dalam plasma menurun. Ketiga hormon ini berkombinasi untuk meningkatkan glukoneogenesis serta lipolosis untuk mobilisasi cadangan energi. kenaikan curah jantung (cardiac output). 80 . mobilisasi darah dari perifer serta vasokonstriksi perifer7. 2. katekolamin serta glukagon. Pada phase ini metabolisme tubuh akan menurun serta tubuh kehilangan sensitivitas terhadap sekitar. Adanya penghambat simpatis terhadap pengeluaran insulin dari pankreas serta pengeluaran glukokortikoid menambah resistensi insulin di jaringan perifer. Sumber energi berasal dari glikogen dan trigliserida untuk menghasilkan glukosa dan asam lemak. Hormon pengatur stres antara lain: katekolamin. Kadar gula darah biasanya menurun < 200 mg % bila nutrisi tidak adekuat maka jaringan tubuh akan mulai dikorbankan untuk memenuhi kebutuhan energi. Phase Anabolisme atau Konvalesen Pada phase ini tubuh mulai melakukan pemulihan pada sel-sel yang mengalami kerusakan akibat katabolisme sehingga diperoleh kalori yang cukup untuk memenuhi kebutuhan pada hari ke 7 – 10 bisa diberikan. Fase ini berlangsung sekitar 3 x 24 jam.

malnutrisi. dispilidemia. diabetes mellitus. Setiap pasien yang mengalami trauma atau sakit dengan kondisi yang kritis. KEBUTUHAN NUTRISI PADA PASIEN TRAUMA OROMAKSILOFASIAL Penentuan status gizi penderita penting untuk menentukan jumlah. seperti luka bakar. rujukan dan intervensi nutrisi7: 1. penyakit hipertensi yang baru didiagnosis. penyakit paru obstruktif yang menahun ( PPOM ) dengan penurunan berat badan. 2. Setiap pasien yang dilaporkan pengunaan megadosis suplemen nutrient atau yang sama sekali menghindari konsumsi kelompok makanan tertentu dari dalam dietnya selama waktu yang lama ( > 1 bulan) I.Lemak diperlukan untuk memenuhi kebutuhan asam lemak bebas dan menambah kalori dimana jumlah cairan dibatasi. Setiap pasien dengan penurunan bert badan yang bermakna sebelum masuk rumah sakit 7.pasien tersebut mencakup gagal ginjal baik akut maupun kronis. 5. penyakit kanker dengan penurunan berat badan . Setiap pasien dengan anemia nutrisi Setiap pasien dengan deplesi simpanan protein yang bermakna ( misalnya albumin < 3. penyakit arteri koronaria. Setiap pasien dengan penyakit kronis sehingga asuhan nutrisi merupakan komponen penting dalam perawatannya. penyakit hati. ataupun gangguan asupan nutrisi. Setidaknya penderita harus ditentukan 81 . Pasien.0) yang disertai defisiensi nutrisi 6. 3. Berikut adalah pasien – pasien dengan kondisi yang memerlukan konsultasi. dan komposisi yang harus diberikan. lama. malnutrisi. Setiap pasien yang memerlukan dukungan energi khusus. fraktur dan infeksi HIV. apakah parentel ataupun enteral 4.

hiperkeratosis. vitamin dan trace elemen. atrofi mukosa. Penyakit yang diderita misalnya pada hati dan ginjal seringkali berhubungan dengan defisiensi protein. 2. tekstur. kelainan pada gigi Abdomen : Hepatomegali Rectum : Warna feses Neurologis : Neuropathy perifer Ekstrimitas : Ukuran otot. meliputi: a. tekstur. deformitas dan kuku b. Pemeriksaan klinis dan laboratorium Pemeriksaan fisik. c. kekuatan otot.apakah termasuk malnutrisi ringan. sedang atau berat. rash. folikel. Rambut Mata Mulut : Kualitas. glossitis. g. Anamnesa Penyakit kronis juga alkoholisme dapat berhubungan dengan malnutrisi energi dan protein juga disertai dengan devisiensi vitamin dan mineral. d. f. Tahapan dalam menilai status gizi adalah sebagai berikut 7: 1. Kulit : Kualitas. rabun senja : Cheilosis. e. kerontokan : Keratokonjunctivitis. edema 82 . 3. h. Operasi yang baru dilakukan seperti gastrectomy atau reseksi ileum dapat mempredisposisi malabsorpsi dan terjadi defisiensi vitamin ataupun mineral.

250 1200 .5 29. peningkatan kebutuhan energi yang disebabkan penyakit. energi yang terpakai selama proses asimilasi nutrien dan energi yang terpakai pada kerja fisik7.1 <100 <100 <40 <70 <75 > 2%/week Transferrin (mg/dL)2 Total lympochyte count (cells/μL)2 Creatinine/height Index (%)3 Ideal body weight (%) Usual body weight (%) Weight loss/unite time Skin tests (No.90 85 . Klasifikasi Malnutrisi Clinical and Laboratory Parameters Albumin (g/dL) 2 Extent of Malnutrition Mild 2.5%/3 months < months Moderate 2.5%/3 Severe <2.2000 60 .3 Female 16.2/4 (weak) 0/0 (anergic) 7.Tabel 4. reactive + No.5 28.3.95 < 5%/month <7. MENGHITUNG KEBUTUHAN NUTRISI Kebutuhan energi total dari seorang pasien dalam keseimbangan metabolik adalah sama dengan pemakaian energi total ( Total Energy Expenditure) yang meliputi kebutuhan basal.8 .7 100-200 800-1200 30-60 70-80 75-85 < 2%/week < 5%/month < 10%/6 months < 10%/6 months 1 .5 J. 83 . placed) Normal antrophometric measurements Tricep skin fold (mm)4 Midarm circumference (cm) 4/4 (normal) Male 12.80 80 .2 200 .1-2.

2 1.15 – 1.2 1. atau 5.5 Confined to bed Ambulatory Non-stressed on ventilator Congestive heart failure Minor surgery Fever. kebutuhan energi dasar ( Basal Energy Expenditure/BEE) harus dikaitkan dengan Activity Factor (AF) dan Injury Factor (IF)/stress factor (L. ACTIVITY AND INJURY FACTOR Activity Factors (AF) 1.1 – 1.13 1.0 x height (cm) – [6. Maricopa Medical Center.0 kcal/kg untuk wanita7. Phoenix. per 1o C Skeletal trauma Mild to moderate infection Major abdominal/thoracic surgery 84 .1 – 1.2 1.67 x age (yrs) = _______kcals/day Wanita BEE = 665.3 Injury Factors (IF) 1.56 x weight (kg)] + [1.Kebutuhan kalori basal didapat dengan penghitungan BMR berdasarkan persamaan Harris-Benedict. 1993) 7.3 – 1.13 1.68 x age (yrs) = _______kcals/day BEE juga dapat ditetapkan dengan menggunakan 12Lcal/lb untuk pria dan 11 kcal/lb untuk wanita. Menurut persamaan Harris – Benedict laju metabolisme basal bisa dihitung dengan menggunakan persamaan sebagai berikut7: HARRIS–BENEDICT METHOD FOR DETERMINING ENERGY REQIUREMENTS Pria BEE = 66.2 – 1. AZ.47 + [13.0 – 1.4 1.1 + [9. Morse. Untuk menghitung kebutuhan energi total.57 x weight (kg)] + [5.2 1.4 kcal/kg untuk pria and 5.85 x height (cm) – [4.

5 – 1. pasca bedah ringan/sedang.D Syttrar yaitu7: 1.6 1.2 Injury Factor trauma kepala = 1. pasca bedah dengan penyulit. tinggi badan 150 cm.5 1. sehingga biasanya terjadi peningkatan kebutuhan nutrisi yang cukup besar.1.55 1. respon fisiologis terhadap trauma merupakan peningkatan proses biokimia dan metabolik normal.6 1.2 x 1.68 x 30) = 1174. BEE = 655.8 Multiple trauma Closed head injury Stressed ventilator dependent Liver failure.5 = 2114. 30 kkal/kg BB/hari : kebutuhan basal.6 x 1. tidak disertai demam.5 Total energi yang dibutuhkan = 1174.4 – 1. Tujuan utama terapi dukungan nutrisi adalah menjaga agar penurunan berat badan seminimal mungkin dengan harapan dapat mencegah komplikasi dan mengurangi morbiditas maupun mortalitas7. pasien akan banyak kehilangan berat badan dan terjadi komplikasi yang seringkali fatal. mempertahankan berat badan. 85 . berat badan 40 kg. infeksi berat. cancer Sepsis Jadi Total kalori yang dibutuhkan pasien = BEE x AF x IF Contoh perhitungan : Seorang wanita. usia 30 tahun.56 x 40) + (1. 3.6 kcal/hari Activity Factor = 1.1 + (9. Secara keseluruhan. 2. Bila tidak mendapat dukungan nutrisi yang adekuat.4 – 1. 50 kkal/kg BB/hari : luka bakar > 40%.28 kcal/hari Terdapat pula cara estimasi kebutuhan kalori yang sederhana dengan menggunakan rumus 3–4–5 dari I. 40 kkal/kg BB/hari : malnutrisi sedang. penderita dirawat karena perdarahan epidural.85 x 150) – (4.35 – 1. malnutrisi berat. sepsis.

derajat stress sedang (31-50%). aktivitas fisik hanya 10%.Kebutuhan energi/kalori total sehari dapat dihitung dari penjumlahan kebutuhan kalori basal (BMR). SDA dari makanan tergantung jenis makanan yang diberikan. Faktor stress trauma multipel adalah 50%. Rumusan yang dugunakan adalah sebagai berikut 7: KK = KKB + FS + AF + SDA KK KKB FS AF SDA = Kebutuhan kalori total = Kebutuhan kalori basal = Faktor stress = Aktivitas fisik = Spesific dynamic action Faktor stress dinilai berdasarkan penilaian status gizi dan status metabolik.5-2 g/kgBB/hr. Masukan protein untuk orang sehat (0. dengan rasio kalori non-nitrogen : nitrogen = 100:17. Apabila pasien harus di tempat tidur. faktor stress dikategorikan dalam 3 kelompok. Untuk memudahkan. faktor stress. Untuk mencegah terjadinya defisiensi asam lemak esensial. yaitu derajat stress ringan (10-30%). perlu diberikan asam lemak esensial sebanyak 4-8% dari kalori total sehari7. Trauma digolongkan ke dalam stress sedang. sehingga besarnya faktor stress untuk trauma adalah 31-50%. Lemak berfungsi sebagai sumber energi. sedangkan bila tidak di tempat tidur. SDA nutrisi parenteral adalah 0% sedangkan SDA untuk formula enteral dan makanan peroral kira-kira 10-20%7. Kebutuhan protein bagi pasien dengan trauma bila tidak terdapat gangguan ginjal dan hati adalah 1. aktivitas fisik adalah 20%. Pada trauma terjadi katabolisme protein yang relatif konstan yaitu 10-20% dari keluaran energi. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pemberian emulsi lemak sebesar 30-40% dari kalori total merupakan jumlah yang optimal. 86 . aktivitas fisik dan spesific dynamic action (SDA). dan derajat stress berat (51%).8-1 g/kgBB/hr) tidak mencukupi kebutuhan pasien yang mengalami trauma oleh karena adanya peningkatan protein turnover.

Garam fisiologis dan elektrolit intrasel harus diberikan dalam jumlah yang adekuat. 4. 2. kemudian ditambahkan bila terdapat peningkatan insensible loss melalui keringat.Karbohidrat juga berfungsi sebagai sumber energi. atau selang makanan. 5. Pada trauma. Kebutuhan cairan adalah ± 1500 ml per m2 luas permukaan tubuh per hari. Kadar kalium. mineral dan beberapa vitamin. sehingga pasien trauma perlu mendapatkan suplementasi trace elemen ini7. Banyaknya karbohidrat yang diberikan adalah kebutuhan kalori total dikurangi yang berasal dari lemak. Untuk dapat melakukan peran dan fungsinya dalam tubuh. Perubahan terutama dilakukan oleh hati. fosfor dan magnesium dalam plasma dan seluruh tubuh perlu dipertahankan agar tetap normal supaya didapat respon yang diharapkan dengan pemberian dukungan nutrisi7. Kebutuhan tiamin dan niasin berkaitan dengan masukan kalori. 3. zat-zat gizi mengalami proses metabolisme secara bertahap yaitu 7: 1. Keadaan ini dapat menyebabkan terjadinya defisiensi seng. penggunaan oleh semua organ. karbohidrat merupakan 40% dari kalori total sehari7. seperti tahap pencernaan dan penyerapan dilakukan oleh organ saluran cerna. Saluran cerna bagian atas terutama mengabsorpsi zat-zat gizi utama. diare. Pada pasien dengan trauma. pengeluaran zat sisa terutama oleh ginjal dan saluran cerna bagian bawah. Fungsi utama saluran cerna adalah pencernaan dan penyerapan dengan mensekresi enzim-enzim spesifik untuk masing-masing zat gizi. Pencernaan (digestion) Penyerapan (absorption) Perubahan (degradation) Penggunaan oleh organ / sel (utilisation) Pengeluaran zat sisa (excretion) Masing-masing tahap metabolisme dilakukan oleh organ-organ yang berbeda. Oleh karena terjadi peningkatan metabolisme. Hati merupakan organ yang penting pada proses degradasi zat-zat gizi karena merupakan organ utama 87 . sedangkan saluran cerna bagian bawah terutama mengabsorpsi air. maka kebutuhan vitamin B meningkat. terjadi peningkatan ekskresi seng (zinc) yang dianggap berasal dari katabolisme di jaringan otot.

K. Hati mensintesis beberapa protein plasma yang penting dan garam empedu serta berperan dalam detoksikasi. Ginjal merupakan organ ekskresi yang paling besar dan juga sebagai organ pengatur keseimbangan cairan tubuh. PEMBERIAN NUTRISI PADA PASIEN TRAUMA OROMAKSILOFASIAL Terapi nurisi enteral adalah terapi pemberian nutrisi melalui saluran cerna dengan menggunakan selang/kateter khusus. sehingga fungsi dan struktur alat cerna tetap dipertahankan. sebab makanan masuk ke dalam tubuh melalui saluran cerna yang normal.yang akan memetabolisme zat-zat gizi dan mensekresi enzim yang berperan dalam metabolisme karbohidrat. 2. cara pemberian dapat melalui hidung-lambung (nasogastritic route) atau hidung–usus (nasoduodenal atau naso jejunal route). Sebaliknya. Ini terbukti dengan kenaikan berat badan yang cepat dan keseimbangan N yang cepat menjadi positif. Pemberian nutrisi juga bisa dilakukan dengan cara bolus atau cara infus lewat pompa infus enteral. Gangguan penyekit hati dapat dikelompokkan menjadi penyakit hati akut seperti pada hepatitis virus dan penyakit hati kronis seperti pada sirosis hati. Bersifat fisiologis Nutrisi enteral bersifat fisiologis. protein dan lemak serta bertanggung jawab terhadap 20% metabolisme basal. Lebih efektif Nutrisi enteral lebih efektif. Keuntungan nutrisi enteral dibandingkan parenteral antara lain adalah sebagai berikut9: 1. nutrisi parenteral total dapat menyebabkan atrofi mukosa usus halus dan pankreas terutama pada pemberian yang lama karena makanan masuk ke dalam hati melampaui alat cerna (by pass dari luar ke dalam hati). 88 . Selain itu. Gangguan pada ginjal akan menyebabkan gangguan pada ekskresi sisa-sisa hasil metabolisme terutama metabolisme protein serta gangguan cairan dan elektrolit 7.

Selain itu. pemberian kalori tinggi dengan nutrisi parenteral sering menimbulkan perlemakan hati yang tidak dijumpai pada nutrisi enteral. 5. 6. trombosis. Tekniknya mudah Pemasangan sonde lambung dapat dengan mudah dilakukan oleh setiap dokter maupun perawat tanpa persyaratan sterilitas yang ketat. pneumothoraks serta gangguan metabolik berupa hipoglikemi atau hiperglikemi tak jarang ditemukan.5% dari total karbohidrat. 3.peningkatan imunitas tubuh akan cepat ditemukan pada pemberian nutrisi enteral. Sedangkan pemberian parenteral harus diberikan melalui vena besar yang letaknya profundal dengan sterilitas tinggi. Komplikasi kurang Komplikasi nutrisi enteral jauh lebih rendah bila dibandingkan nutrisi parenteral. Untuk menghindari intoleransi laktosa yang sering terjadi pada penderita malnutrisi sebaiknya suatu nutrisi enteral kurang atau tanpa mengandung laktosa. Kalori tinggi ini diperlukan pada penderita dengan hipermetabolik seperti sepsis. hematom. Nutrisi parenteral selain membutuhkan pemantauan yang ketat. atau paling tinggi kandungan laktosanya hanya 0. komplikasi-komplkasi berupa sepsis. Syarat-syarat nutrisi enteral adalah9: 89 . 4. Itupun hanya dapat dilakukan oleh dokter yang terlatih. atau luka bakar. Kalori tinggi mudah dicapai Dengan nutrisi enteral kebutuhan kalori tinggi lebih dari 3000 kkal/hari dapat dengan mudah dipenuhi yang dengan parenteral amat sulit mencapainya tanpa komplikasi dan pengawasan yang ketat. Biaya murah Rata-rata nutrisi enteral lebih murah 10-20 kali dari nutrisi parenteral. trauma ganda. Nutrisi enteral yang bebas dari bahan-bahan yang mengandung purin dan kolesterol.

asam amino. 2. 4. Kepadatan kalori yang ideal adalah 1 kkal/ml cairan. sesuai dengan osmolaritas cairan ekstraseluler. maka ia harus memiliki kepadatan kalori tinggi. Dengan kata lain. Kandungan nutrisinya seimbang Artinya. molekulmolekulnya berukuran kecil. maka ia harus berbentuk cair agar mudah melalui sonde. Oleh karena itu. osmolaritas yang ideal adalah 350-400 m Osmol. Mudah diabsorpsi Bahan-bahan baku suatu nutrisi enteral seharusnya terdiri atas komponenkomponen yang siap diabsorpsi atau paling tidak hanya sedikit memerlukan kegiatan pencernaan untuk dapat diabsorpsi.1. Sehingga. Tanpa atau kurang mengandung serat dan laktosa Suatu nutrisi enteral hendaknya memiliki sedikit atau tanpa mengandung serat agar efektif dan efisien. dengan volume yang tidak terlalu besar. Memiliki osmolaritas yang sama dengan osmolaritas cairan tubuh Suatu nutrisi enteral yang memiliki osmolaritas yang tinggi mudah menimbulkan diare sebab cairan tubuh akan ditarik masuk ke dalam lumen usus. Memiliki kepadatan kalori tnggi Karena nutrisi enteral harus diberikan melalui sonde kecil. dalam jumlah minimal untuk kebutuhan sehari (2000 kkal) harus sudah mengandung semua komponen nutrisi esensial seperti protein. jumlah kalori sudah dapat tercapai. lemak. 90 . 3. Nutrisi enteral yang banyak mengandung serat akan bersifat bulk yang pada gilirannya akan meningkatkan frekuensi defekasi. 5. Agar dalam bentuk cair ini nutrisi enteral tetap memiliki kalori yang cukup. elektrolit dan elemen-elemen lain sesuai dengan jumlah kebutuhan. vitamin.

Guna mengurangi komplikasi-komplikasi di atas. kadar cairan nutrisi enteral sebaiknya dinaikkan secara bertahap. Saat ini sonde-sonde yang dipakai untuk nutrisi enteral terbuat dari silikon atau poliuretan yang selain diameternya kecil (2. kelemasan dan kelenturannya bertahan lama serta tahan terhadap pengaruh cairan lambung dan cairan duodenum. PVC atau lateks. regurgitasi sampai aspirasi ke dalam paru. sebaiknya penderita diposisikan setengah duduk selama pemberian nutrisi enteral. terutama pada penderita yang kesadarannya menurun atau pada penderita yang berbaring. kemudian pengenceran 2/3 pada hari kedua dan takaran penuh pada hari ketiga dan seterusnya. Guna menjaga toleransi penerimaan usus. Untuk menjaga ketepatan dan ketetapan tetes cairan nutrisi enteral dapat digunakan portable pump. Sonde yang menjadi kaku akan sangat mengganggu penderita karena selain terasa tidak enak juga dapat menimbulkan erosi atau perlukaan saluran napas atau saluran cerna. Pemilihan sonde Sebelum tahun 1980-an sonde yang tersedia umumnya terbuat dari polietilen. Pola lama yang memberikan secara bolus mengandung banyak komplikasi berupa muntah. 91 . 2. Dimulai dengan pengenceran ½ pada hari pertama. Teknik pemberian nutrisi enteral Teknik pemberian secara tetes merupakan yang paling aman. sambil mengawasi dan mengevaluasi keluhan maupun gejala-gejala yang timbul. juga tidak tahan terhadap pengaruh cairan lambung maupun duodenum. sonde mudah menjadi kaku setelah zat pelemasnya habis (setelah 24 jam pemakaian).5 mm).Prosedur teknik pemberian nutrisi enteral / diet sonde akan diuraikan sebagai berikut9: 1. Kekurangan dari sonde-sonde ini selain diameternya besar.

dan kolon. luka bakar yang luas. esofagus. Kemajuan atau kemunduran keadaan umum penderita dievaluasi setiap harinya termasuk keseimbangan cairan dan elektrolitnya bila ada fasilitas. Selain itu. yakni pasca bedah: mulut. albumin total). Indikasi bedah. Pengukuran berat badan atau lingkar lengan atas (LLA) setiap minggu merupakan parameter yang objektif. fistula. serum (glukosa. Sedangkan pada suatu keadaan katabolik yang tinggi diperlukan penambahan 30100% dari kebutuhan BMR9. Komplikasi nutrisi enteral. Dengan menambah 10-20% dari kebutuhan BMR dapat diperoleh kebutuhan kalori pada saat aktivitas yang sangat terbatas. perdarahan gastrointestinal yang akut. antara lain pemeriksaan darah (Hb. peritonitis. volume dan urin rutin. ileus. protein total. leukosit). pemeriksaan laboratorium sangat diperlukan. penderita kanker. ureum. lambung. dan atoni paska bedah. sebagai berikut9: BMR = Indeks Stress (Tinggi Badan – 100) x 20 Dimana indeks stress: Paska bedah Fraktur multipel Sepsis. malabsorpsi/maldigesti. depresi berat. antara lain akan diuraikan sebagai berikut 9: 92 . sepsis. saluran empedu. seorang dengan tinggi badan 165 cm tanpa stress memiliki BMR (165-100)x20 = 1300 kkal. 2. penderita dengan kebutuhan kalori ekstrim. trauma kepala/otak. Indikasi pemberian nutrisi enteral adalah9: 1. Kontrandikasi pemberian nutrisi enteral apabila pasien muntah-muntah. Ht. tiap kenaikan 1° + 10% BMR + 25-30% BMR +10% BMR Jadi. Indikasi non bedah: anoreksia.Kebutuhan metabolisme basal dapat dihitung dengan indeks BROCA.

3. Terapi nutrisi parenteral diberikan kepada setiap penderita yang akibat penyakitnya membutuhkan banyak asupan nutrisi tetapi penderita tersebut tidak mau makan. 2. Prinsip keseimbangan pemberian tekanan nutrisi parenteral sehingga adalah mempertahankan interalumen tetap. osmotik volume mempertahankan tekanan hidrostatik. tidak bisa makan dan tidak boleh makan. Komplikasi metabolik Dehidrasi hipertonik dapat terjadi bila komposisi nutrisi enteralnya memilki osmolaritas yang tinggi. tidak cukup makan. Pemberian kadar secara bertahap dapat mengurangi komplikasi ini. Komplikasi kimiawi Hal ini berhubungan dengan osmolaritas serta komposisi kimiawi cairan nutrisi enteral yang terlalu tinggi. 3. Bila saluran pencernaan tidak berfungsi. Rasa mual sampai muntah dan kram perut atau diare merupakan gejala yang menonjol. 4. Secara umum dapat dikelompokkan berdasarkan keadaan kondisi saluran pencernaan (gastriontestinal tract). Komplikasi bakteriologik Kontaminasi dengan bakteri gram negatif pada waktu penyediaan nutrisi enteral atau kantong plastiknya dapat menimbulkan syok septik.1. Cara pemberian dapat melalui vena perifer (nutrisi parenteral perifer) atau vena sentral (nutrisi parenteral total). Nutrisi parenteral adalah pemberian nutrien melalui pembuluh darah vena. Komplikasi mekanik Komplikasi mekanik berhubungan dengan sondenya sendiri yang dapat mengalami dislokasi atau penyumbatan. Bila saluran cerna mengalami obstruksi Bila saluran cerna terlalu pendek Bila terdapat fistula pada saluran cerna. 2. 93 . dan mengatasi kehilangan plasma 9. yaitu 9: 1. 4.

memelihara hemostatik metabolik umum. dengan pemasangan kateter seperti pneumothoraks. dan baru setelah dilakukan kateterisasi pada vena cava superior pemberian menjadi praktis dan aman untuk larutan hiperosmolar demikian bisa digunakan pada pasien bedah. 3. 2. Komplikasi teknis berkaitan udara. Adapun akses yang digunakan untuk nutrisi parenteral. vomitus. sindrom malabsorpsi berat. 5. trauma dalam phase Ebb (24 jam pertama) Pasien yang masih mengalami hemodinamik krisis. seperti syok. Kondisi-kondisi yang membutuhkan nutrisi parenteral anatara lain. defisit cairan ekstra seluler yang belum terkoreksi dan demam tinggi (hipertermi). dan keganasan9. Komplikasi infeksi ditandai oleh demam seperti pada flebitis. Sifat-sifat fisik dari larutan demikian mendorong terjadinya trombosis vena perifer. malnutrisi protein atau protein-kalori. infeksi pada tempat. Pada pasien dengan penyakit terminal (keganasan) atau keadaan vegetatif (brain death). Indikasi nutrisi parenteral adalah fungsi saluran cerna terganggu (tidak mampu mencerna atau menyerap makanan). Nutrisi Parenteral Perifer Larutan standar yang diberikan untuk nutrisi parenteral total melaui vena sentral memilki tekanan osmotik hampir 2000 mOsm/L. Pasien pasca bedah. menyediakan intake bagi kebutuhan metabolisme secara parenteral9. Sedangkan kontra indikasi nutrisi parenteral adalah9: 1. emboli 6. menjaga keseimbangan cairan-elektrolit dan asam basa. fistula enterokutan. ileus obstruksi. diare berat. peritonitis. dan suplemen terhadap nutrisi enteral. yaitu 9: 1. NPO > 3-5 hari. Pasien yang mengalami gagal nafas (kecuali dibantu dengan bantuan nafas mekanik dengan ventilator). Larutan nutrisi yang hanya sedikit hipertonik (antara 600 dan 900 m)sm/L) bisa disiapkan dengan mencampur proporsi sesuai dari asam 94 .Tujuan Pemberian Nutrisi Parenteral adalah supaya mempertahankan volume dan perfusi sirkulasi darah. 4.

2. lemak dan asam amino diberikan melalui kateter vena sentral yang ujungnya berada dalam vena cava superior. Campuran glukosa. Larutan yang digunakan untuk nutrisi via vena sentral (TPN) biasanya memiliki densitas 1 kcal/ml. Bila volume cairan besar. Campuran nutrien ini memiliki desnitas kalori rendah dan memasok hanya 2500 kcal dalam 3 L larutan. dan kebutuhan akan air serta elektrolit diresepkan secara individual. Nutrisi Parenteral Sentral Perkembangan kateterisasi vena sentral telah memungkinkan pemberian larutan hipertonik dengan aman.amino. Kunci keberhasilan dari cara ini terletak pada insersi serta perawatan kanul vena sentral. larutan-larutan demikian bisa diberikan melalui vena perifer untuk jangka pendek(kira-kira satu minggu). dekstrosa dan emulsi lemak. 95 .

makin lambat NPE total dapat dimulai. mineral dan vitamin. Sebelum keadaan tenang tercapai. NPE total hanya akan menambah stres bagi tubuh pasien. masa stabilisasi dimana kadar stres hormon masih tinggi. Tepat obat/substrat Bahan nutrisi yang digunakan adalah karbohidrat.73 m2 atau kira-kira 25 kkal/hari. keadaan umum pasien. Fase tenang ini ditandai dengan menurunnya kadar kortisol. resting energy expenditure berkisar 1000 kkal/m2/hari. sepsis. yaitu 24 jam setelah trauma atau krisis kegawatan dapat diatasi. dsb. asam amino. Makin berat kondisi pasien. Dosis kemudian dapat ditingkatkan bertahap dengan memperhatikan perubahan kadar gula darah. minimal diberikan 20 kkal/kg/hari.Pendekatan yang digunakan pada pemberian nutrisi parenteral adalah 4 Tepat – 1 Waspada9: Tepat pasien Setiap pasien yang tidak cukup atau tidak mendapat intake oral seharusnya segera mendapat nutrisi parenteral (NPE). Dosis yang tepat harus diukur. emulsi lemak. Hal ini berlaku pada pasien trauma. Agar imbang N tidak terlalu negatif. katekolamin dan glukagon. preeklampsia. eklampsi. Dosis NPE total harus diberikan lebih lambat (mulai hari ketiga) karena beban metabolismenya besar. 96 . Sel-sel resisten insulin dan kadar gula meningkat. Periode 24 jam ini adalah masa ebb-phase. Tepat indikasi Dosis NPE parsial dapat diberikan sangat dini. Ini setara dengan 1700 kkal pada pasien 70 kg dengan luas tubuh 1. paska bedah ekstensif. Tepat dosis Quebbeman (1982) menemukan pada pasien trauma berat dan sepsis yang mengalami katabolisme. pemeriksaan kadar kalium dan natrium.

Osmolaritas plasma 300 mOsm. seharusnya digunakan vena sentral (vena cava. Penyulit yang sering dijumpai adalah hiperglikemi. Adapun komposisi yang ideal dari nutrisi parenteral adalah kombinasi antara karbohidrat (KH). bahkan tromboemboli. Kelainan ini dapat disertai hyperosmolar state dan diuresis osmotik. Jika larutan glukosa diselingi cairan lain maka besar kemungkinan kadar gula darah berfluktuasi karean overshoot insulin dari waktu ke waktu. Hiperglikemi umumnya terjadi jika pola “start low. Osmolaritas dapat dikurangi dengan mencampur cairan menggunakan infus set bercabang 7. Vena perifer dapat menerima sampai 900 mOsm. protein. peningkatan glukosa 5% menuju 20% harus dilakukan secara bertahap “start low. penyulit yang timbul akan menyebabkan morbiditas bahkan kematian. Untuk cairan > 900-1000 mOsm jika perlu lebih dari 5 hari. Pada kasus yang ekstrim dapat terjadi koma. Cairan 900-1000 mOsm untuk jangka pendek 3-5 hari masih dapat diberikan lewat vena tangan tapi jangan memberikan lewat vena kaki. Jika pilihan atau dosis tidak tepat.9. Makin tinggi osmolaritas. atau cara memberikan keliru. go slow”. dan cairan dan elektrolit (vitamin. Waspada efek samping Berbeda dengan orang sehat yang dapat mengatur keseimbangan makan dan kebutuhannya sendiri. Tromboflebitis karena iritasi mudah diikuti radang. jugularis) dimana darah mengalir secara cepat sehingga kecepatan tetesan cairan NPE yang pekat tidak sempat merusak vena. pasien dengan bantuan nutrisi khusus terpaksa menerima semua yang diberikan. Vena kaki mudah mengalami deep vein thrombosis dan tromboemboli. go slow” tidak diikuti. Agar fluktuasi kadar gula darah bervariasi seminimal mungkin.Untuk menghindari hiperglikemi. mineral). Karbohidrat 97 . larutan karbohidrat dibagi rata dalam 24 jam. subclavia. Beban glukosa merangsang pankreas mengeluarkan insulin. lemak. Semuanya akan diuraikan sebagai berikut 9: 1.8. makin mudah terjadi tromboflebitis.

Menghitung nitrogen secara laboratorium relatif mahal biayanya.5gr/kgbb/hari. sorbitol dan xylitol. Sumber kalori karbihidrat dapat berupa dextrosa. bahkan justru merugikan sebab akan menyebabkan kadar co2 dalam tubuh meningkat. Kebutuhan protein=konsumsi nitrogen x 6. Kebutuhan protein (asam amino) dapat dihitung secara tidak langsung dengan menghitung jumlah nitrogen yang dokonsumsi oleh tubuh. 98 . fruktosa. Secara kasar dapat diperkirakan dengan menghitung jumlah ureum dalam urine 24 jam.Karbohidrat sebagai sumber kalori utama yang layaknya selalu tersedia 4060% dari total kalori (1 gr KH = 4kkal). 2. dengan rumus sebagai berikut a.25 b. maltosa. Pemberian kalori dengan glukosa yang melebihi kebutuhan ternyata tidak bermanfaat. karena itu pemberiannya harus dilindungi oleh pemberian kalori yang cukup agar protein tidak digunakan sebagai sumber energi. Karbohidrat tersimpan dalam tubuh dalam bentuk glikogen dihati dan otot. Menghitung energi konsumsi Konsumsi nitrogen (mg/24 jam) = ureum urine (mmol) / 24jam x 28 + 4000 mg. Protein Protein diperlukan untuk regenerasi sel dan enzim. 1993) untuk pemberian karbihidrat dalam keadaan normal adalah 25 – 30 kcal/kg/hari. Rekomendasi dari American Society for Parenteral & Enteral Nutrition (ASPEN. Cara yang lebih mudah untuk menghitung kebutuhan asam amino adalah dengan memperkirakan besar kecilnya stress metabolik yang terjadi. Glukosa/ dextrosa adalah sumber kalori yang paling fisiologis. Dosis maksimal bagi kebanyakan penderita adalah 6-7.

Untuk memenuhi kebutuhan kalori. Kebutuhan air dewasa : 30-50 ml/kgbb/hari Kebutuhan Natrium Kebutuhan Kalium : 2-4 mg/kgbb/hari atau 100-200 meg/hari : 1-2 mg/kgbb/hari atau 50-100 meg/hari 99 . pemberian cairan emulsi lemak dapat diberikan pada nutrisi parental perifer. Besarnya kebutuhan disesuaikan dengan keadaan klinis penderita. cairan emulsi lemak diberikan 1-3 gr/kgbb atau dalam proporsi 25 – 40% dari kalori total perhari. dan vitamin baik yang larut dalam air maupun lemak. Cairan. 4. Lemak Cairan emulsi lemak diberikan dalam nutrisi parental bertujuan untuk mencegah defisiensi asam lemak esensial dan sebagai sumber kalori. Kebutuhan ini terutama harus diberikan bila terapi nutrisi parenteral berlangsung lama.Perbandingan kebutuhan protein (AA) dan kalori perhari9: Protein (AA) Tanpa stress metabolik Dengan stress metabolik Contoh perhitungan kebutuhan protein. Karena osmolaritasnya yang rendah. trace element. Pemberian lebih dari 60% dari kalori total dapat menyebabkan ketoasidosis. dan Vitamin Dalam merencanakan komposisi carain untuk terapi nutrisi pareneral. harus selalu diperhatikan dan diperhitungkan akan kebutuhan terhadap elektrolit. Elektrolit. Trace Elements. Misal berat badan pasien 60 kg dengan sepsis Dengan menggunakan tabel dengan stress metabolik Kebutuhan kalori Kebutuhan AA = 60 x 40 kcal = 2400 kcal/hari = 60 x 2 = 120 gr/hari 2 gr/kgbb/hari 40 kcal/kgbb/hari 1 gr/kgbb/hari Kalori 30 kcal/kgbb/hari 3.

peningkatan denyut nadi minimal dengan peningkatan kontraktilitas dari jantung dan peningkatan vasokonstriksi vena dan arteri dapat menjaga tekanan darah. Hemoragi kelas II diklasifikasikan sebagai kehilangan volume darah sebanyak 15-30%. Hemoragi kelas III diklasifikasikan sebagai kehilangan 30-40% volume darah. Pada kasus yang tidak kompleks. dan turunnya tekanan sistolik. dengan mekanisme kompensasi yang kurang efisien. Gejala klinis meliputi takikardia. takipneu. Tingkatan tersebut dapat diukur melalui respon fisiologi terhadap hemoragi. Biasanya hal ini diikuti dnegan takikardia. tekanan darah yang sangat sempit (tidak adanya tekanan darah diastol). Tekanan sistolik biasanya tidak berubah. Respon tekanan darah awal terhadap kehilangan volume intravaskular tidak memiliki hubungan yang linear 1. Gejala klinis meliputi takikardia (denyut nadi >100 pada orang dewasa). Dalam kondisi yang tidak kompleks. Pada dewasa sehat kehilangan 15% volume darah pertama diklasifikasikan sebagai hemoragi kelas I.BAB III PEMBAHASAN Hemoragi adalah penyebab utama keadaan hipovolemik pada pasien yang mengalami luka multisistem. perubahan status mental penderita. Respon fisiologi ini dapat dikategorikan berdasarkan persentasi dari kehilangan akut darah. kehilangan darah sebanyak ini secara konsisten menyebabkan tekanan darah sistolik menurun. Perlu diperhatikan 100 . penurunan tekanan darah sistolik yang secara substansial. dan hal ini merupakan keadaan yang mengancam nyawa. kurangnya urine output. dan penurunan tekanan darah. dan perubahan status mental pasien yang banyak. Kebanyakan pasien tersebut memiliki beberapa tingkatan dari syok hipovolemik. takipneu. tetapi tekanan diastol meningkat karena peningkatan dari katekolamin. Pasien dapat terkena serangan jantung bila kehilangan darah sebanyak ini. penurunan tekanan darah dapat terjadi setelah kehilangan darah sebanyak 10-15%. Gejala klinis minimal pada kelas I ini. Hemoragi kelas IV didefinisikan sebagai kehilangan darah sebanyak >40%. Pada pasien yang lebih tua.

Kompensasi fisiologi awal pada kehilangan volume intravaskular adalah vasokonstriksi pada pembuluh darah di kulit dan otot. tekanan diaplikasikan ke kuku-kuku jari. Dengan tes tersebut. Salah satu indikator dari rendahnya perfusi jaringan pada pemerikssaan awal adalah perfusi kulit. pasien dengan hipertensi dapat menunjukkan tekanan sistol sebesar 120 mmHg dapat menunjukkan gejala kehilangan darah yang signifikan. karena pada kebanyakan kasus batas bawah dari tekanan ydarah pasien tidak diketahui. Sulit dilakukan perubahan tekanan darah. Waktu kurang dari 2 detik biasanya ditemukan pada pasien normovolemik dan mengindikasikan aliran darah normal ke pembuluh kapiler 1.bahwa tekanan darah pasien dapat turun tiba-tiba setelah pemeriksaan awal ketika mekanisme kompensasi mereka telah gagal karena kehilangan darah yang terusmenerus. yang dimana memberikan ukuran kehilangan darah ke pembuluh kapiler. kuku ibu jari. Hemoragi dapat secara ekternal maupun internal ke dalam kavitas tubuh. Sebagai contoh. Ketika dressing yang digunakan menjadi basah. sedangkan atlet muda yang sehat dapat memiliki tekanan sistol sebesar 90 mmHg 1. Pelepasan katekolamin menyebabkan keluarnya keringat dan kulit terasa dingin dan lembab pada saat palpasi. tetapi sebaiknya dressing tambahan digunakan karena apabila dressing dilepaskan maka formasi clot yang telah terbentuk dapat terganggu dan menyebabkan perdarahan kembali. Tekanan yang digunakan untuk mengontrol perdarahan sebaiknya kuat dan kontinu. Ekskremitas bawah adalah yang pertama terkena. Hemoragi eksternal biasanya dapat dikontrol dengan melakukan penekanan secara langsung ke luka yang ada. Tekanan 101 . Kapilerkapiler pada kulit adalah yang pertama kali berhenti bekerja sebagai respon terhadap hipovolemik yang dikarenakan stimulus dari sistem saraf simpatik dan kelenjar adrenal melalui pelepasan hormon epinefrin dan nor epinefrin. atau emninesia hipothenar dari tangan untuk mengevakuasi darah dari daerah tersebut dan kemudian tekanan langsung dilepaskan. dengan tandatanda pertama dari hipovolemi adalah terasa dinginnya kaki dan regio patella. dressing tersebut sebaiknya jangan dilepaskan. Capillary fill time dapat diukur dengan menggunakan “blanch test”. Waktu yang diperlukan untuk jarinagn kembali ke warna normalnya mengindikasikan waktu yang diperlukan untuk darah kembali ke pembuluh kapiler.

memberikan keadaan yang merugikan pada beberapa situasi karena menyebabkan luka vaskular. yang sebelumnya digunakan untuk meningkatkan tekanan darah pada kasus hipotensi yang parah. Penatalaksanaan pada perdarahan akut adalah sebagai berikut 9: 102 .drainase toraks. Aspek negatif dari suplai darah tersebut adalah hemoragi mayor dapat disebabkan oleh luka pada kulit kepala yang besar. Tekanan langsung kemudian dapat dilakukan pada luka untuk mengontrol hemoragi dan meminimalkan pembentukan hematoma. Koloid sangat baik untuk ekspansi volume plasma. fistula usus. hal tersebut hanya direkomendasikan apabila penekanan langsung pada luka saja tidak efektif 1. dan merupakan pilihan yang terbaik untuk peningkatan Cardiac Output dan volume O2. Sebagai spesialis bedah mulut dan maksilofasial. drainase peritonium. Namun koloid efek udema parunya kurang dan harga cairan ini mahal1. Pilihan tipe cairan yang digunakan adalah koloid dan kristaloid. seperti air-pillow splints dan blood pressure cuff dapat juga digunakan. fraktur nasal atau tengah wajah. jahitan dapat dilepaskan dari luka dan penutupan lapisan luka secara kosmetik dapat dilakukan 1. Luka kulit kepala dapat dengan cepat diatasi dengan dijahit menggunakan 2. kita mengetahui adanya suplai vaskular yang banyak ke daerah muka dan leher. Tujuan yang harus dipenuhi dalam pemberian cairan adalah menganti cairan yang hilang selama trauma atau pembedahan. Perban tekan.0 nonresobable atau staples tanpa memperhatikan kosmetik pasien. dan luka tembus pada leher. PASGs dan medical antishock trousers(MASTs).yang kuat dapat diaplikasikan proksimal ke arah arteri mayor untuk mengontrol perdarahan. Ketika pasien sudah stabil. Luka pada kulit kepala dapat menyebabkan kehilangan darah dalam jumlah besar pada waktu yang singkat karena perembesan darah pada galea dan lapisan jaringan ikat yang renggang. Pemberian pertolongan pertama dan resusitasi cairan yang tepat sangat membantu dalam mengembalikan perfusi jaringan yang adekuat. respirasi dsb. serta penggantian cairan yang hilang dilakukan melalui pipa lambung. Maksud utamanya adalah mengembalikan volume intravaskular dan mendapatkan perfusi jaringan yang adekuat. Akan tetapi.

9% dalam 30–60 menit. Pada orang dewasa 2–3 liter RL selama 20–30 menit untuk memulihkan tekanan darah. Prosedur bedah mulut dan maksilofasial dapat mengeliminasi permasalahan ini dengan suatu prosedur operasi.3.namun prosedur ini juga membatasi kemampuan mulut sementara waktu. peningkatan kebutuhan energi yang disebabkan penyakit. Penentuan status gizi penderita penting untuk jumlah lama dan komposisi yang harus diberikan.V. Nutrisi parenteral adalah pemberian nutrien melalui pembuluh darah vena.. Sedangkan penatalaksanaan untuk kehilangan cairan gastrointestinal dapat diberikan 1-2 liter NaCl 0. dan terhambatnya penyembuhan luka gangguan motilitas usus. Hal ini berakibat menurunnya daya tahan tubuh. Pada keadaan trauma (stress dan sepsis) tubuh mengalami rangkaian perubahan hormonal yang menambah laju metabolisme. Kebutuhan energi total dari seorang pasien dalam keseimbangan metabolik adalah sama dengan pemakaian energi total (Total Energy Expenditure) yang meliputi kebutuhan basal. Cara 103 . 4. kemudian pengecekan elektrolit dan dikoreksi bila terdapat kelainan lainnya 1. dan memonitor tanda vital. tekanan vena sentral. dan diuresis. terjadinya edema. Setidaknya penderita harus ditentukan apakah termasuk malnutrisi ringan. udema paru diperhatikan. Pemasangan 2 jalur Infus I. Kemampuan seseorang dalam mengkonsumsi makanan melalui oral dapat berubah dikarenakan neoplasia. deformitas congenital. dalam 30 –60 menit. Salah satu fungsi rongga mulut adalah sebagai jalan masuk makanan menuju saluran cerna (gastrointerstinal tract). Pemberian WB atau PRC hingga HT> 30 % dengan 1-2 unit fresh frozen plasma (FFP) tiap 5 unit darah. sedang atau berat.9% atau RL) atau Koloid (Dextran) secara I. dan injuri (trauma).V. energi yang terpakai selama proses asimilasi nutrien dan energi yang terpakai pada kerja fisik. Kebutuhan kalori basal didapat dengan penghitungan BMR berdasarkan persamaan Harris-Benedict. gangguan enzim dan metabolisme serta kelemahan otot. infeksi. dengan pemberian 1-2 liter kristaloid (NaCl 0. Oleh karena itu pasien dengan trauma oromaksilofasial memerlukan intervensi nutrisi dalam rawat inap di rumah sakit 7.

dan menyediakan intake bagi kebutuhan metabolisme secara parenteral7. tidak bisa makan dan tidak boleh makan. tidak cukup makan. Tujuan pemberian nutrisi parenteral ini adalah untuk mempertahankan volume dan perfusi sirkulasi darah.pemberian dapat melalui vena perifer (nutrisi parenteral perifer) atau vena sentral (nutrisi parenteral total). 104 . memelihara hemostatik metabolik umum. Terapi nutrisi parenteral diberikan kepada setiap penderita yang akibat penyakitnya membutuhkan banyak asupan nutrisi tetapi penderita tersebut tidak mau makan. menjaga keseimbangan cairan-elektrolit dan asam basa.8.9.

Perawatan pasien dengan trauma oromaksilofasial memerlukan terapi nutrisi yang benar. fraktur maksila). enteral dan parenteral. Perdarahan yang banyak bisa mengakibatkan syok hipovolemik. Pemberian nutrisi yang adekuat akan membantu proses penyembuhan pasien. dan hampir semua penderita multi-trauma ada syok. Pengukuran kebutuhan nutrisi pasien trauma bergantung dari rumus yang didasarkan oleh berbagai faktor yang mempengaruhi. Perdarahan dari fraktur oromaksilofasial dapat terjadi perdarahan pada rongga mulut. dimana untuk menentukan jenis nutrisi yang akan diberikan kepada pasien tersebut diperlukan kerjasama dengan ahli gizi sehingga benar benar sesuai dengan kebutuhan gizi yang telah ditentukan sebelumya. Untuk penderita dengan trauma oromaksilofasial perhatian harus segera diarahkan terhadap saluran pernafasan dan kontrol perdarahan eksternal. nasofaring (dari basis cranii) atau perdarahan dari hidung (fraktur nasalis. Sebelum melakukan perawatan fraktur perlu diperhatikan keadaan darurat medik yang harus ditangani lebih dulu. sebelum melakukan pemeriksaan tanda-tanda vital. Pemberian pertolongan pertama dan resusitasi cairan yang tepat sangat membantu dalam mengembalikan perfusi jaringan yang adekuat. 105 .Pemberian nutrisi untuk pasien rawat inap dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu peroral. keadaan-keadaan itu harus ditangani lebih dahulu oleh karena mengancam jiwa penderita. hidung. sinus paranasalis. Perdarahan adalah sebab tersering dari syok pada trauma.BAB IV KESIMPULAN Trauma oromaksilo fasial dapat menyebabkan kematian jika dapat menyebabkan obstruksi jalan nafas dan perdarahan yang banyak.

Oral and Maxillofacial Trauma 2nd ed. Purwanto. London.dkk. Raymond and Wolker. Hutchinson and Skinner. St. Edisi Revisi.J. Pedoman Penatalaksanaan Praktis. G. 5. Philadelphia.B. 6. 7. Saunders Company. V. Contamporary Oral and Maxillofacial Surgery. Louis.2006.R. 2. Basoeseno. 2005. Fonseca. Ruly. Agus Purwadianto & Budi Sampurna. Enteral. Dasar-dasar Terapi Nutrisi Parenteral pada Dewasa dan Anak. 2000.R.. Mosby Elsevier. 1997. Oral and maxillofacial Trauma. EGC. Buku Ajar Praktis Bedah Mulut. 9. Saunders Company. ABC of Major Trauma 2nd ed BMJ Publishing Group. Co. M.B. 1991. Ellis III. 1997. 5th ed. W.W. 4. 106 . W. Alih Bahasa: drg. Vol 1. dkk. Kelompok Studi Terapi Cairan. Tucker. Hupp.IKAPI. 1996. dan Parenteral.B.. Philadelphia.Terapi Gizi dan Diet Rumah Sakit. Bandung. Vol 1. Vol I. drg. Oral and Maxillofacial Trauma 3rd ed. 8.dr. Roesli. R. R. Saunders Company. Fonseca. Pedersen. Andry Hartono. EGC. 1996. Sp. edisi kedua. E.GK.DAFTAR PUSTAKA 1. Robert.. 2008.W. 3. Kedaruratan Medik. W. J.J. Philadelphia. Jakarta.

dimana anak – anak pada masa pertumbuhan dengan aktivitas bermain yang tinggi seperti terjatuh dari sepeda. kecelakaan sewaktu berolahraga. trauma. dengan melakukan penjahitan dan penutupan luka dengan kain kassa. Cedera akan meningkat dua kali lebih sering pada anak dengan insisivus yang protrusif dibandingkan dengan seorang anak yang memiliki oklusi normal. Pada pasien anak juga sering kita jumpai fraktur dentoalveolar. kekerasan dalam rumah tangga dan lain sebagainya. pencegahan terhadap infeksi. merawat luka akibat trauma. perawatan darurat 107 . Adapun penyebab fraktur dentoalveolar yang utama adalah kecelakaan lalu lintas. menghilangkan rasa sakit. Perawatan darurat merupakan perawatan yang penting dan harus dilakukan dengan segera karena menyangkut prognosa dari penderita. maloklusi. Perawatan darurat pada kasus truma gigi anterior meliputi pembersihan luka akibat trauma dengan menggunakan cairan antiseptik. merupakan faktor predisposisi trauma insisivus maksila.Fraktur Dentoalveolar Sutami Wahyu Prasetya 160121120010 Peserta Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut Dan Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Bandung Abstrak : Fraktur dentoalveolar adalah salah satu fraktur yang banyak kita jumpai di emergency room. Insisivus yang protrusif dengan penutupan bibir yang tidak seimbang. Kata kunci: fraktur dentoalveolar. menghentikan perdarahan. seperti terlihat pada individu dengan maloklusi Kelas II divisi I atau sebagai akibat kebiasaan buruk menghisap jempol. Trauma secara langsung biasanya menyebabkan cedera pada insisivus sentral maksila karena posisinya yang relatif lebih ke depan.

kecelakaan sepeda motor. merupakan faktor predisposisi trauma incisivus maksilla. Trauma tidak langsung pada gigi dan struktur pendukung biasanya sebagai akibat dari benturan yang mengenai dagu. Fraktur dentoalvapaeolar pada umumnya terjadi bersamaan 108 . benturan akan diteruskan ke oklusi gigi-geligi. Cedera dentoalveolar biasanya terjadi karena seseorang terjatuh.BAB I PENDAHULUAN Trauma pada gigi dan jaringan pendukungnya sering tejadi pada pasien trauma. ataupun dapat juga berhubungan dengan cedera multisistim. dan 2% dari kasus tersebut melibatkan trauma dentoalveolar. penganiayaan. Dapat dalam bentuk retak tetapi pada umunya dalam bentuk fragmen alveolar yang sederhana. seperti terlihat pada individu dengan maloklusi kelas II divisi 1 atau sebagai akibat kebiasaan buruk menghisap jempol. biasanya akibat oklusi yang menutup dengan cepat dan kuat antara gigi-geligi mandibula ke gigi-geligi maksilla. Keterlibatan trauma orofasial diperkirakan sekitar 15 % dari semua pasien emergensi. kecelakaan sepeda. kecelakaan di taman bermain. Cedera pada gigi akan meningkat dua kali lebih sering pada anak-anak dengan gigi incisivus yang protrusif dibandingkan dengan seorang anak yang memiliki oklusi normal. Cedera yang terjadi dapat hanya mengenai gigi dan struktur pendukungnya saja seperti pada seorang anak yang terjatuh. menimbulkan kerusakan gigi-gigi posterior atau jaringan lunak anterior. dan kecelakaan olahraga.1 Fraktur dentoalveolar dapat terjadi dengan atau tanpa kerusakan gigi. Incisivus yang protrusif dengan penutupan bibir yang tidak seimbang. atau gigi tidak dalam oklusi yang baik.1 Trauma secara langsung biasanya menyebabkan cedera pada incisivus central maksilla karena posisinya yang relatif lebih kedepan. Cedera pada strktur dentoalveolar dapat diakibatkan oleh trauma secara langsung mengenai gigi atau trauma tidak langsung. seperti yang terjadi pada kecelakaan kendaraan bermotor.

dengan cidera mulut lainnya. Deteksi dan pengobatan dini dapat meningkatkan kelangsungan hidup dan fungsi dari gigi tersebut. Sekitar 82% gigi yang

mengalami trauma adalah gigi-gigi maksiler. Fraktur gigi maksiler tersebut 64% adalah gigi incisivus sentral, 15% incisivus lateral, dan 3% caninus. Fraktur dentoalveolar pada umumnya terjadi pada kelompok usia anak, remaja, dan dewasa muda dengan rasio laki-laki terhadap perempuan 2-3 : 1. 2 Pemeriksaan klinis pada fraktur dentoalveolar meliputi kemungkinan adanya luka pada bibir dan umumnya terjadi edema dan echymosis. Pada pemeriksaan gigi dan alveolus kemungkinan terdapat laserasi, echymosis dari pada gingival dan perubahan bentuk dari pada alveolus. 3 Selain itu pada saat palpasi hati-hati pada saat memeriksa bibir. Pemeriksaan pada bibir berguna untuk mengetahui apakah ada benda asing atau gigi di dalam jaringan tersebut. Palpasi pada alveolus berfungsi untuk merasakan perubahan bentuk tulang-tulang, dan kadang-kadang terdapat krepitus.1

109

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

I. Etiologi Fraktur Dentoalveolar Trauma dentoalveolar dapat terjadi pada anak-anak, remaja, maupun dewasa. Pada kelompok anak-anak penyebab utama dari trauma ini adalah jatuh. Pada usia 1-3 tahun ketika anak belajar berjalan dan berlari insidennya meningkat yang diakibatkan oleh aktivitas yang tinggi dan kurangnya koordinasi anggota tubuh menyebabkan anak sering jatuh. Pada anak usia sekolah, taman bermain dan cidera akibat bersepeda merupakan penyebab tersering. Selama masa remaja, cidera olahraga merupakan kasus yang umum. Pada usia dewasa, cidera olahraga, kecelakaan sepeda motor, kecelakaan industri dan pertanian, dan kekerasan dalam rumah tangga merupakan penyebab potensial. Rasio laki-laki dan perempuan adalah 2:1. Olahraga yang melibatkan kontak fisik merupakan penyebab umum fraktur dental, seperti sepakbola dan bola basket. Frekuensi fraktur dentoalveolar yang lebih tinggi ditemukan pada pasien dengan retardasi mental dan serebral palsi. Penyalahgunaan obat dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya frakturdental.2 Gigi insisivus maksiler yang menonjol keluar atau ketidakmampuan menutup gigi pada keadaan istirahat dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya fraktur. Benturan atau trauma, baik berupa pukulan langsung terhadap gigi atau berupa pukulan tidak langsung terhadap mandibula, dapat menyebabkan pecahnya tonjolan-tonjolan gigi, terutama gigi-gigi posterior. Selain itu, tekanan oklusal yang berlebihan terutama terhadap tumpatan yang luas dan tonjol-tonjolnya tak terdukung oleh dentin dapat pula menyebabkan fraktur. Keparahan fraktur bisa hanya sekedar retak saja, pecahnya prosesus, sampai lepasnya gigi yang tidak bisa diselamatkan lagi. Trauma langsung kebanyakan mengenai gigi anterior, dan karena arah pukulan mengenai permukaan labial, garis retakannya menyebar ke belakang dan biasanya horizontal atau oblique. Pada fraktur yang lain, tekanan

110

hampir selalu mengenai permukaan oklusal, sehingga frakturnya pada umumnya vertikal. Pukulan terhadap gigi anterior paling sering terjadi pada anak-anak dan apabila dibiarkan maka tubulus dentinnya akan terpapar pada flora normal mulut sehingga dapat menimbulkan infeksi dan inflamasi pulpa sehingga perlu dirawat. 1 Di pihak lain, gigi posterior yang fraktur karena tekanan oklusal yang besar biasanya karena mempunyai tumpatan yang luas. Pada gigi semacam ini, hanya sedikit tubulus dentin yang terbuka yang langsung berhubungan dengan pulpa karena telah terjadinya reaksi terhadap karies dan prosedur penambalannya berupa kalsifikasi tubulus dan penempatan dentin reaksioner di rongga pulpa. Dengan demikian jaringan pulpanya jarang sekali ikut terkena. Trauma terhadap gigi pada umumnya bukan merupakan keadaan yang mengancam nyawa, tetapi cidera maksilofasial lain yang berhubungan dengan trauma dental dapat mengganggu jalan napas. Fraktur biasanya terjadi pada gigi permanen, sedangkan gigi susu biasanya hanya mengalami perubahan letak. Morbiditas yang berhubungan dengan fraktur dental bisa seperti gagalnya pergantian gigi, perubahan warna gigi, abses, hilangnya ruang pada arkus dental, ankylosis, lepasnya gigi secara abnormal, dan resorpsi akar merupakan keadaan yang signifikan. Trauma dental sering berhubungan dengan laserasi intraoral. Ketika ada gigi yang pecah atau hilang dan pada saat yang bersamaan terdapat laserasi intraoral, maka harus diperhatikan bahwa bagian gigi yang hilang dapat tertanam di dalam robekan luka tersebut. 1 Trauma secara langsung biasanya menyebabkan cedera pada incisivus central maksilla karena posisinya yang relatif lebih kedepan. Incisivus yang protrusif dengan penutupan bibir yang tidak seimbang, seperti terlihat pada individu dengan maloklusi kelas II divisi 1 atau sebagai akibat kebiasaan buruk menghisap jempol, merupakan faktor predisposisi trauma incisivus maksilla. Cedera pada gigi akan meningkat dua kali lebih sering pada anak-anak dengan gigi incisivus yang protrusif dibandingkan dengan seorang anak yang memiliki oklusi normal. Trauama tidak langsung pada gigi dan struktur pendukung biasanya sebagai akibat dari benturan yang mengenai dagu, atau gigi tidak dalam

111

oklusi yang baik, benturan akan diteruskan ke oklusi gigi-geligi, menimbulkan kerusakan gigi-gigi posterior atau jaringan lunak anterior. 1 Cedera dentoalveolar ini paling banyak terjadi pada gigi sulung yang terjadi pada saat anak-anak mulai belajar berjalan hingga usia sekolah, yang berusia antara 2-4 tahun, sedangkan pada gigi permanen antara usia 7-10 tahun. Jumlah cedera dentoalveolar yang signifikan juga terjadi berhubungan dengan penatalaksanaan pasien yang tidak sadar atau pasien yang akan menjalani anestetikum umum. Lockhart dan Colleases melakukan survai terhadap 133 program pelatihan anestesi dan menemukan dari setiap 100 tindakan intubasi trachea terdapat 1 kejadian yang mengakibatkan trauma gigi anterior. 1

Gambar 1. Gambaran Klinis Fraktur Dento Alveolar

II. Klasifikasi Ada banyak cara untuk mengklasifikasikan fraktur dental. Klasifikasi Ellis merupakan salah satu yang sering digunakan dalam literatur kegawatdaruratan, tetapi banyak dokter gigi dan ahli bedah maksilofasial yang tidak menggunakan sistem ini. Metode klasifikasi yang paling mudah dimengerti adalah berdasarkan deskripsi cidera. Fraktur mahkota gigi dapat dibedakan menjadi kategori sederhana dan rumit. Fraktur mahkota sederhana melibatkan bagian enamel dan dentin. Yang termasuk fraktur mahkota sederhana adalah fraktur Ellis kelas I dan II. Fraktur Ellis kelas I Fraktur yang tergolong Ellis kelas I hanya melibatkan lapisan enamel gigi. Pada inspeksi tampak sebagai kepingan kecil dengan tepi

112

yang tidak beraturan (kasar). Keluhan yang biasanya muncul adalah rasa tidak nyaman akibat tepi fraktur yang kasar tersebut. Pasien pada umumnya tidak mengeluhkan sensitivitas terhadap temperatur atau udara. Fraktur ini pada umumnya tidak menyebabkan gangguan terhadap rongga pulpa. 1 Sistim WHO yang dimodifikasi oleh Andreasen melibatkan cedera pada gigi, struktur pendukungnya, gusi dan mukosa oral yang berdasarkan anatomi, terapi dan prognosanya. 1 Cedera jaringan keras gigi dan pulpa. 1. Crown Infraction (keretakan mahkota). Merupakan fraktur inkomplit atau retaknya enamel tanpa disertai kehilangan substansi gigi. 2. Uncomplicated crown fracture (fraktur mahkota tidak komplit) Merupakan fraktur yang terbatas pada enamel atau melibatkan enamel dan dentin tanpa disertai terbukanya pulpa. 3. Complicated crown fracture (fraktur mahkota komplit) Merupakan fraktur yang melibatkan enamel dan dentin disertai terbukanya pulpa. 4. Uncomplicated crown-root fracture (fraktur mahkota dan akar tidak komplit) Merupakan fraktur yang melibatkan enamel, dentin dan sementum tanpa disertai terbukanya pulpa. 5. Complicated crown-root fracture (fraktur mahkota dan akar komplit) Merupakan fraktur yang melibatkan enamel, dentin, dan sementum yang disertai dengan terbukanya pulpa. 6. Root fracture (fraktur akar) Merupakan fraktur yang melibatkan dentin, sementum dan pulpa.

113

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

Gambar 2. Cedera jaringan keras gigi dan pulpa.(1) Crown infraction. (2) dan (3) Uncomplicated crown fracture dengan atau tanpa melibatkan dentin. (4) Complicated crown fractured. (5) Uncomplicated crown root fractured. (6) Complicated crown root fracture. (7) Root Fracture. 1

Cedera jaringan periodontal. 1 1. Concussion (sensitif). Merupakan suatu cedera pada struktur pendukung gigi tanpa adanya kehilangan yang abnormal atau pergeseran gigi, tetapi ditandai dengan adanya reaksi sensitif terhadap perkusi. 2. Subluksasi (kegoyangan gigi). Cedera pada struktur pendukung gigi tanpa kehilangan yang abnormal tetapi tanpa pergeseran gigi. 3. Intrusif luxation (central dislocation). Pergeseran gigi ke dalam tulang alveolar tanpa disertai hancurnya atau fraktur soket alveolar. 4. Extrusif luxation (peripheral dislocation, partial avultion) Pergeseran sebagian gigi keluar dari soket alveolar. 5. Lateral luxation Pergeseran gigi dalam arah lateral yang disertai hancur atau fraktur soket alveolar.

114

6. Exarticulation (complete avultion) Pergeseran gigi yang komplit keluar dari soket alveolar.

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

Gambar 3. Cedera jaringan periodontal. (1)Concussion. (2)Subluksasi. (3)Intrusif luksatioin. (4)Extrusif luxation. (5) dan (6) Lateral luxation. (7)Retained root. (8)Exarticulation. 1

Cedera tulang pendukung. 1 1. Comminution alveolar socket. Fraktur atau remuknya soket alveolar mandibula atau maksila. Keadaan ini biasanya ditemukan bersama-sama dengan luksasi intrusi dan luksasi lateral. 2. Fracture of the alveolar socket wall (Fraktur dinding socket alveolar) Fraktur dinding alveolar soket yang ditahan oleh dinding soket fasial atau lingual. 3. Fracture of alveolar process (fraktur prosesus alveolaris). Fraktur prosesus alveolaris yang dapat atau tidak melibatkan soket alveolar. 4. Fraktur maksila atau mandibula.

115

3. (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Gambar 4. 1 1. dan dapat mengenai prosesus alveolaris atau mungkin juga dengan atau tidak mengenai soket alveolar gigi.Fraktur ini mengenai mandibula atau maksilla. 2. 116 . Abrasi gingiva atau mukosa oral. (6) dan (7)Fraktur mandibula atau maksila. Laserasi gingiva atau mukosa Yaitu luka pada daerah mukosa yang biasanya disebabkan oleh sobekan benda tajam. Cedera tulang alveolar. (2) dan (3)Fracture of the alveolar socket wall. (1)Comminution alveolar process. 1 Cedera gingiva atau mukosa oral. (4) dan (5)fracture of the alveolar process. Kontusio gingiva atau mukosa oral. Yaitu luka memar yang biasanya disebabkan oleh pukulan dari benda tumpul dan menyebabkan perdarahan pada daerah submukosa tanpa disertai sobeknya daerah mukosa. Yaitu luka daerah supefisial yang disebabkan karena gesekan atau goresan yang mengakibatkan daerah mukosa terlihat lecet dan permukaan yang berdarah.

tipe pergeseran dan arah fraktur akar dan mahkota. Fraktur mahkota yang mengenai email.Selain itu ada juga klasifikasi yang dibuat oleh Sanders.3 1. yang dibagi lagi menjadi :3 1. Dapat terjadi secara horizontal atau vertical. gambaran struktur gigi yang terlibat. Fraktur horizontal atau vertikal. Fraktur mahkota yang hanya mengenai email 2. Brady dan Johnson yang relatif lebih sederhana berdasarkan pada diskripsi cedera. 4. Gambaran Klinis Fraktur MAhkota Horizontal Fraktur mahkota-akar. Retak atau fraktur yang tidak lengkap dari email tanpa adanya kehilangan struktur gigi. Melibatkan pulpa.1. Mengenai sepertiga apikal. Fraktur akar horizontal 1 1. Fraktur secara oblique (mengenai sudut mesioincisal dan distoincisal) Gambar 5. 117 . Fraktur mahkota yang mengenai email dan dentin. Tidak melibatkan pulpa. dentin dan pulpa. 3. 5. 2. 3 Keretakan mahkota. 2. Fraktur mahkota 3 1.

Intrusi gigi (gigi masuk ke dalam soket. Ekstrusi gigi (gigi sebagian keluar dari soketnya dan memungkinkan tidak disertainya adanya fraktur tulang alveolar). Mengenai sepertiga servikal. 4. tetapai tanpa disertai adanya kegoyangan gigi dan perubahan letak dari gigi. Perubahan letak gigi ke arah labial (kemungkinan disertai fraktur dinding alveolar). Perubahan letak gigi. biasanya disertai dengan kompresi fraktur dari saku alveolar). 118 . 2.2. 4. 3. Perubahan letak gigi kea rah lateral (pergeseran gigi ke arah distal atau mesial. dan kemungkinan bersamaan dengan fraktur dinding alveolar. Horizontal atau vertikal. 3. Gigi sensitif (Concussion) 1 Yaitu trauma pada gigi dan jaringan pendukungnya mengakibatkan gigi sensitive terhadap perkusi. 5. kemungkinan juga disertai fraktur dinding alveolar).1 1. Perubahan letak gigi ke arah lingual (kemungkinan disertai fraktur dinding lingual). Mengenai sepertiga tengah akar. Avulsi Gigi 1 Yaitu perubahan letak keseluruhan gigi keluar dari soketnya. tetapi tanpa disertai adanya perubahan letak gigi. Kegoyangan gigi (Subluxation) Yaitu trauma terhadap gigi dan jaringan pendukungnya mengakibatkan gigi menjadi goyang.

Pemeriksaan dan Menegakan Diagnosis Cedera pada gigi-gigi dan struktur pendukungnya harus dipertimbangkan sebagai suatu keadaan darurat. Riwayat mekanisme dan kejadian yang lengkap harus didapatkan dan langsung dilakukan pemeriksaan klinis dan radiografis untuk menjamin diagnosa dan perawatan yang tepat. Gigi Avulsi III. Dalam melakukan anamnesis. Agar penatalaksanaannya tepat dan berhasil. dimana. dibutuhkan suatu penegakan diagnosa dan perawatan dalam waktu yang cepat. Kapan Terjadinya Trauma. 1. terapi apa yang sudah diberikan sebelumnya. ada beberapa informasi yang harus diketahui antara lain sebagai berikut : a. 1 Yang dimaksud dengan anamnesis adalah riwayat terjadinya trauma. 119 .Gambar 6. dan bagaimana kejadiannya.3 Langkah pertama dalam proses mendiagnosa yaitu mendapatkan riwayat kecelakaan yang akurat. kapan. Riwayat yang komprehensif harus didapatkan dari pasien. Anamnesis dapat dilakukan dengan menanyakan langsung kepada penderita atau pengantar. Anamnesis. orangtuanya atau orang yang mengetahui informasi yang berhubungan dengan pasiennya.

b. Perawatan yang Sudah Didapat. d. c. Juga pada fraktur rahang yang proses penyembuhannya akan berpengaruh jika perawatannya ditunda. 3 Pemeriksaan Fisik. g. maka prognosisnya akan semakin baik. semakin cepat gigi tersebut di replantasi. pernafasan. e. Riwayat Trauma pada Gigi f. Karena trauma pada benda keras dapat mengakibatkan fraktur ahkota gigi. Pemeriksaan Klinis. meliputi pemeriksaan denyut nadi. Seperti pada gigi yang mengalami avulsi. Dimana Tempat Trauma Terjadi. Bagaimana Trauma Terjadi. Demikian juga pada kecelakaan mobil perlu diperhitungkan kemungkinan ada pecahan kaca pada bibir dan daerah muka. tekanan darah. Hal ini penting karena mungkin saja penderita memerlukan suntikan anti tetanus karena luka akibat trauma tersebut terjadi di daerah yang kotor yang dengan mudah akan terkontaminasi dengan bakteri. sedangkan trauma pada benda yang lunak atau tumpul seperti siku biasanya dapat mengakibatkan fraktur akar gigi dan luksasi.Karena jarak antara kecelakaan dan perawatan sangat penting diketahui bukan hanya untuk menentukan jenis perawatan yang akan dilakukan tetapi berpengaruh juga terhadap prognosisnya. Gangguan Pengunyahan. Informasi ini penting untuk mengetahui apakah trauma tersebut mengenai benda keras atau tumpul atau lunak. Keluhan Lain. Palpasi pada wajah dilakukan untuk melihat diskontinuitas tulang rahang 120 . tingkat kesadaran dan suhu tubuh. Penyakit Sistemik yang Diderita. Pemeriksaan Ekstra Oral Pada kasus trauma gigi anterior ini dapat dilakukan dengan cara visual dan palpasi. Pemeriksaan terhadap keadaan umum penderita. h.

Tindakan yang sebaiknya dilakukan pada pemeriksaan intra oral meliputi antara lain : (1) (2) (3) (4) Perkusi gigi Pencatatan kegoyangan abnormal dari gigi atau tulang alveolar.yang menunjukkan adanya fraktur. 7. Pemeriksaan ini berguna untuk memberikan informasi. Adanya kelainan dari jaringan periodontal Tingkat perkembangan akar Ukuran kamar pulpa dan saluran akar Adanya fraktur rahang 121 . gusi. 3 Kegunaan Pemeriksaan Radiologis Pemeriksaan ini diperlukan untuk membantu menegakkan diagnosa kelainan akibat trauma gigi anterior yang tepat dan benar. misalnya : 1. seperti pada bibir. Pemeriksaan ini penting untuk mendapatkan informasi agar dapat memberikan pertolongan pertama. kelainan saraf serta hematoma. Pemeriksaan Intra Oral. 5. 2. 3. Pencatatan adanya perubahan warna gigi Pencatatan kerusakan jaringan lunak. Biasanya pemeriksaan radiologis dilakukan pada saat sebelum memulai perawatan dan pada saat kontrol sesudah perawatan sebagai evaluasi terhadap perawatan yang telah dilakukan. 6. Untuk melihat arah garis fraktur Adanya fraktur akar Bagaimana tingkat keparahan dari gigi yang mengalami instrusi atau ekstrusi 4. langitlangit dan lidah. Pemeriksaan Radiologis. (5) (6) (7) Pencatatan perubahan letak gigi Tes vitalitas dari gigi Pencatatan adanya kerusakan prosesus alveolaris. gangguan pergerakan rahang. dengan cara palpasi prosesus alveolaris.

bibir dan pipi. Foto panoramic. fraktur alveolar crest pada maksila dan fraktur 1/3 apikal akar gigi pada mandibula 122 . dan kadangkala diperlukan teknik ekstra oral (foto panoramik. Macam-macam foto rontgen yang digunakan Teknik foto rontgen yang biasa digunakan dalam melakukan pemeriksaan riologis pada kasus trauma gigi anterior adalah teknik intra oral ( foto periapikal dan foto oklusal). seperti dasar mulut. foto lateral dan foto postero-anterior) jika dengan foto intra oral garis fraktur tidak terlihat. Melihat keadaan fragmen gigi dan jaringan lunak lain disekitar rongga mulut.8. Gambar 7.

pemeriksaan klinis dan pemeriksaan radiologis telah lengkap. Perawatan trauma gigi anterior dapat dibagi menjadi 2 tahap. Maka pada prinsipnya perawatan trauma gigi anterior ini adalah perawatan untuk mencegah prognosis yang lebih buruk dan mengurangi rasa sakit akibat trauma. Perawatan Segera Setelah Terjadinya Trauma (Perawatan Darurat) Perawatan darurat merupakan perawatan yang penting dan harus dilakukan dengan segera karena menyangkut prognosa dari penderita. yaitu perawatan segera setelah terjadinya trauma (perawatan darurat) dan perawatan terhadap gigi anterior yang mengalami trauma (perawatan definitif). Pencegahan terhadap infeksi 1 Perawatan Gigi pada Cedera Dentoalveolar (Perawatan Definitif). 123 . Perawatan darurat pada kasus trauma gigi anterior meliputi : a. c. dengan melakukan penjahitan dan penutupan luka dengan kain kasa.BAB III Perawatan Trauma Pada Gigi Anterior 1 Setelah ananmnesis. Menghilangkan rasa sakit e. maka diagnosis yang tepat juga dapat ditegakkan sehingga langkah perawatan terhadap kelainan akibat trauma pada gigi anterior dapat dilakukan dengan segera. Membersihkan luka akibat trauma dengan menggunakan cairan antiseptik b. Trauma pada gigi merupakan salah satu kasus darurat yang memerlukan penanggulangan yang cepat dan tepat. Menghentikan perdarahan d. Merawat luka akibat trauma. karena keadaan ini mempengaruhi prognosis yang akan datang.

2. dll. Perawatan jaringan pulpa. Perawatan pada gigi yang goyang dan berubah letak. umur pasien. Dapat dengan mudah dibersihkan dan dipakai pada oral higiene yang baik. 5. Perawatan jaringan keras gigi.yaitu : Dapat dengan mudah dipasang didalam mulut tanpa melalui prosedur laboratorium yang lama. band atau splin dari logam cor. keadaan jaringan periodontal serta gigi-geligi yang ada. Pada saat dipakai tidak menyebabkan trauma pada gigi atau gusi. tanpa menyebabkan tekanan pada gigi. Bersifat pasif pada tempatnya. plastik atau acrylik. dll. 1. Tidak terdapat sangkutan pada saat oklusi yang normal. pembuatan mahkota jaket. yaitu : keadaan umum pasien. Vitalitas gigi yang terkena trauma. misalnya pada perawatan endodontik seperti pulp capping. Tindak berkontak dengan gusi dan tidak mengiritasi gusi. b. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi untuk mendapatkan fiksasi yang baik 1 . Yang dimaksud dengan fiksasi adalah suatu tindakan pemasangan alat yang digunakan untuk menstabilkan satu gigi atau lebih dengan mengikat atau menggabungkan gigi goyah atau berubah letak kegigi sebelahnya yang masih kokoh melalui kawat. Ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan sebelum melakukan perawatan definitif pada kasus trauma gigi anterior. c. Pada dasarnya perawatan definitif trauma gigi anterior meliputi : a. 6. lokasi dan luas daerah yang terkena trauma. misalnya penambalan dengan resin komposit pada mahkota gigi yang terkena trauma. 124 .Perawatan gigi anterior yang mengalami trauma pada prinsipnya adalah mengembalikan gigi yang mengalami trauma keposisi semula (reposisi) dan mempertahankannya hingga proses penyembuhan (fiksasi dan imobilisasi). apakah disertai dengan fraktur tulang alveolar. keadaan dari tulang pendukung. pulpotomi. yaitu dengan melakukan reposisi dan fiksasi. 4. 3. trauma terjadi pada gigi sulung atau gigi tetap.

misalnya pada gigi yang ekstrusi dan avulsi. 8. yaitu fiksasi dengan pengikatan kawat interdental. Misalnya dengan metode Erich arch bar. yaitu splin dengan menggunakan bahan dari akrilik. Harganya murah dan bahan-bahannya mudah diperoleh dipasaran. Penggunaan alat Orthodontik bracket. Dapat memberikan jalan bagi perawatan endodontik. 9. Eyelet & Essig Method 1 2. Sectional acrylic splint. 6. Resin komposit splin dengan menggunakan etsa asam. Ernt’s.4. yaitu pengikatan kawat dengan arch bar. Sauer’s arch bar. hauptmeye’s arch bar. Gambar 8. Interdental wiring fixation. Arch bar wiring. 4. 125 . yaitu : 1.7. Dapat dengan mudah dikeluarkan. 5. Metal cast splint. 10. Circumferential arch bar. Eyelet (Ivy). yaitu splin dengan menggunakan logam cor. 3. Memperhatikan nilai estetik yang baik. Misalnya dengan metode Essig. Ada beberapa macam teknik fiksasi yang digunakan pada kasus trauma gigi anterior ini1.

C.al. Fiksasi intermasiler: A. Tetapi bila disertai dengan kegoyangan gigi dilakukan juga reposisi gigi dan fiksasi gigi tersebut. Gunning splint untuk rahang edentulous (Miloro et. dentin serta pulpa tanpa disertai kegoyangan gigi biasanya dilakukan penambalan pada gigi yang terkena fraktur dengan resin komposit sistem etsa dengan atau tanpa didahului perawatan endodontik. Jika fragmen mahkota masih berada ditempat dan tidak goyang. Fraktur Mahkota – Akar a.A B C D Gambar 9. B. screw & wire. fiksasi dengan Jalenko 1 Berikut ini akan diuraikan berbagai macam perawatan definitif trauma gigi anterior menurut beberapa pakar bedah mulut Fraktur Mahkota Pada fraktur mahkota yang mengenai email. perawatan yang dilakukan sama dengan perawatan pada fraktur mahkota. d. Fiksasi intermaksiler dengan Erich bar & rubber elastic.3 yaitu sebagai berikut : 126 . maka 1. 2004).

Dan dalam hal ini diperlukan tindakan reposisi dan fiksasi selama 2-3 bulan. Dan apabila kegoyangan gigi sudah sangat ekstrim. dilakukan fiksasi pada gigi lawannya. b. Subluksasi Gigi 1 Gigi yang mengalami subluksasi sensitif terhada perkusi dan goyang. Jika garis fraktur sepertiga apikal prognosisnya sangat baik dan biasanya tidak diperlukan perawatan yang khusus. c. 127 . c. maka dilakukan perawatan endodontik. Perawatan yang diperlukan biasanya perawatan simptomatik yaitu dengan memberikan makanan yang lunak dan jika perlu menghilangkan kontak oklusal/incisal untuk mengurangi trauma saat oklusi yang diterima dari gigi.b. maka sebaiknya dilakukan ekstraksi gigi tersebut. Fraktur Akar a. Jika disertai dengan fraktur tulang alveolar. karena pada periode ini biasanya telah terjadi proses kalsifikasi dari jaringan dan gigi kembali vital. hanya diperlukan pemeriksaan yang rutin dan berlanjut untuk mengevaluasi kesehatan dari jaringan periodontal dan pulpa gigi tersebut dan jika perlu mengurangi kontak incisal untuk mengurangi trauma saat oklusi yang diterima gigi. Jika garis fraktur jauh kearah apikal dan gigi masih dapat direstorasi. Jika terjadi fraktur akar vertikal dilakukan tindakan ekstraksi gigi. Jika garis fraktur berada sepertiga tengah akar. Gigi Sensitif (Concussion) 1 Perawatan yang khusus pada gigi sensitif ini biasanya tidak ada. prognosisnya sangat baik terhadap pemulihan pertahanan jaringan pulpa dan penyembuhan dari fraktur akar tersebut.

Semakin cepat gigi tersebut direplantasi.Perawatan Pada Gigi Yang Berubah Letak 1 1. gigi akan kembali pada posisi semula. dilakukan reposisi dan immobilisasi selama 2-3 bulan. maka prognosisnya semakin baik. Setelah gigi direplantasi. dan penggunaan alat orthodonti juda dapat membantu gigi yang mengalami instrusi dapat kembali keposisi semula. Avulsi Gigi Pada gigi yang mengalami avulsi. tidak terdapat resorpsi akar pada gigi tersebut. biasanya dibiarkan saja karena diharapkan pada saat pertumbuhan. Keberhasilan replantasi gigi pada gigi yang mengalami avulsi ini tergantung pada lamanya gigi berada diluar soket. kemudian immobilisasi gigi selama 2-3 minggu. Ekstrusi Gigi dan Luksasi Gigi ke lateral Pada gigi yang mengalami ekstrusi dan perubahan letak kearah lateral dilakukan perawatan reposisi gigi dengan tekanan jari. Kemudian gigi tersebut dikeringkan dan setelah saku gusi dibersihkan dari gumpalan darah replantasi dapat segera dilakukan. 2. gigi tersebut direndam dahulu dalam larutan garam fisiologis hangat seperti cairan saline untuk mencegah kekeringan dari serat-serat periodontal. Andreasen dan Hjorting-Hansen 1 mengemukakan bahwa 90% dari gigi yang direplantasi kurang dari 30 menit setelah terjadi avulsi gigi. Apabila akar sudah terbentuk sempurna. Periode stabilisasi pada kasus cedera dentoalveolar dapat dilihat pada tabel 1. gigi tersebut distabilisasi dengan splint sistem etsa asam atau splint akrilik selama 7-10 hari (pada gigi yang apeksnya sudah terbentuk sempurna) dan 3-4 minggu pada gigi yang apeknya belum terbentuk sempurna. dilakukan replantasi gigi dan stabilisasi gigi. 3 128 . Dan resorpsi akar terlihat pada 95% gigi yang direplantasi setelah lebih dari 2 jam mengalami avulsi. Sebelum melakukan replantasi. Intrusi Gigi   Pada apeks yang belum terbentuk sempurna.

Pada pasien yang mengalami 129 . e. Periode stabilisasi pada cedera dentoalveolar. 2003. 3 – 4 minggu. Sumber : Ellis. Tidak ada pertimbangan untuk melakukan perawatan orthodontik. Saku alveolar dapat menyediakan tempat bagi gigi yang direplantasi. 7 – 10 hari. Gigi yang berada diluar saku gusi kurang dari 30 menit. Tingkat perkembangan akar. kecuali sebelum direplantasi gigi tersebut dirawat endodontik terlebih dahulu. Menurut Andreasen. Gigi tersebut tidak mempunyai kelainan periodontal. fraktur akar dan trauma pada jaringan lunaknya.Tabel 1. 3 Cedera Dentoalveolar Gigi yang mobile. Replantasi gigi (matur) Replantasi gigi (imatur) Durasi Imobilisasi 7 – 10 hari 2 – 3 minggu 2 – 4 bulan. 1 yaitu sebagai berikut : a. b. c. d. Soft Tissue and Dentoalveolar Injuries. merupakan indikasi replantasi yang baik. sedangkan jika gigi berada diluar saku alveolar lebih dari 2 jam kemungkinan besar akan terjadi komplikasi yaitu resorpsi dari akar gigi dan gigi menjadi non vital. ada beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam melakukan replantasi gigi yang mengalami avulsi. Fraktur Tulang Alveolar 1 Fraktur tulang alveolar biasanya disertai dengan fraktur dari beberapa gigi sehingga dengan fraktur tulang alveolar ini juga dapat terjadi fraktur mahkota. seperti gigi yang berjejal. Berapa lama gigi tersebut berada diluar saku alveolar. Gigi yang berubah tempat Fraktur akar.Maka perawatan yang dilakukan adalah mengembalikan bagian yang terkena fraktur keposisi semula dan kemudian dilakukan stabilisasi selama 4 minggu sampai terjadi proses penyembuhan tulang serta penjahitan gusi yang mengalami laserasi.

Foto panoramic. 5 Bentuk cedera pada daerah tidak bergigi ini tidak terlalu berarti. Displacement segmen alveolar dan mengakibatkan maloklusi 1 Letak Fraktur pada Daerah Edentulous. Cedera jenis ini jika mengenai daerah edentulous maksilla dapat menyebabkan terjadinya fistula oro-nasal pada daerah premaksilla atau fistula oroantral di daerah premolar dan molar. tulang alveolar yang lepas dan berukuran kecil dan tidak dapat dipertahankan dibuang dan dilakukan alveolektomi. fraktur dentoalveolar pada maksila (panah). Finger pressure dapat digunakan untuk menekan fragmen alveolar yang fraktur ke dalam posisinya yang tepat dan jika pasien menggunakan gigi tiruan dapat digunakan sebagai alat bantu memfiksasi. Kemudian mukosa gingiva atau rongga mulut diperbaiki dengan cara melakukan penjahitan. Jika mukosa mengalami perlukaan maka sebelum tindakan operatif harus diberikan antibiotik terlebih dahulu baru kemudian dilakukan debridemen.fraktur tulang alveolar yang parah dilakukan tindakan alveolektomi disertai ekstraksi gigi yang mengalami trauma. Gambar 10. 130 .

Fraktur dentoalveolar pada usia sangat muda dapat membaik tanpa memerlukan imobilisasi dan cukup dirawat dengan pemberian diet lunak. kemudian gigi ditempatkan secara akurat pada posisinya dan juga membebaskan trauma oklusal dari gigi lawannya. pendalaman sulcus atau teknik implant. Komplikasi ini memerlukan perawatan pendahuluan sebelum pembuatan protesa yaitu augmentasi ridge. maka perlu dirujuk kepada ahli periodontologi dengan melakukan perawatan splinting metoda Von Weissenfluh.Gambar11. 5 Adanya segmen tulang alveolar yang fraktur dan terdapat gigi permanen pada fragmennya maka diperlukan tindakan reduksi dan imobilisasi. Kadang-kadang pada fraktur dentoalveolar gigi pada fragmen fraktur tidak mendapat dukungan tulang alveolar terutama pada penderita usia tua. Tetapi bagaimanapun jika fragmen alveolar yang fraktur cukup besar maka tetap diindikasikan untuk pemasangan splint. Prognosis fragmen fraktur dapat ditingkatkan dengan tindakan imobilisasi. kecuali gigi pada fragmen tulang alveolaris memerlukan pencabutan segera. 131 . Alat Bantu Fiksasi 4 Masalah jangka panjang yang dapat terjadi jika prosesus alveolaris yang lepas berukuran besar akan mengakibatkan kesulitan saat pembuatan gigi tiruan. jika terdapat gigi pada garis fraktur maka harus dipertimbangkan perawatan lainnya seperti perawatan endodontik diperlukan jika pulpa mengalami nekrosis. Splinting harus dipertahankan selama 6 minggu. Perawatann ini dilakukan dengan anestesi lokal dibantu dengan sedasi. seperti diazepam oral atau intra venous. Letak Fraktur pada Procesus Alveolaris Bergigi.

Tujuan perawatan cedera dentoalveolar adalah memperoleh kembali bentuk dan fungsi normal dari organ pengunyahan. olahraga.BAB IV KESIMPULAN Cedera pada strktur dentoalveolar dapat diakibatkan oleh trauma secara langsung mengenai gigi atau trauma tidak langsung. perkelahian dan domestic abuse. 132 . Cedera dentoalveolar seringkali melibatkan regio anterior maksila Penyebab tersering cedera dentoalveolar adalah kecelakaan lalu lintas.Diagnosis ditegakkan dengan anamnesis. Perawatan tergantung pada kasus dan seringkali melibatkan bidang kedokteran gigi lainnya. biasanya akibat oklusi yang menutup dengan cepat dan kuat antara gigi-geligi mandibula ke gigi-geligi maksilla. pemeriksaan klinis dan radiologis.

. and Steinhilber. Fonseca RJ. Pediatric Oral and Maxillofacial Surgery. Philladelphia. Kaban. Diagnosis and management of Dentoalveolar Injuries. E and Schilli. 3. Oral and Maxillofacial Traumatology. Second Ed. Oral and Maxillofacial Trauma. 1994. Volume 1. Rowe and Williams’ Maxillofacial Injuries. N. Schwenzer. Vol. St. Louis. Mosby Year Book Inc. Quintessence Publishing Co. Localized Injuries of the Teeth and Alveolar Process. Appliances for Immobilization. 5. In. Philladelphia. Kruger. Third ed. Ellis. Soft Tissue and Dentoalveolar Injuries. Sowray. 4. 1990. J. LB. 2. WB Saunders Company. FH. In. 1991. 2003. 1982. Peterson. 133 . In. E III. 1. Churchill Livingstone.Daftar Pustaka 1. Williams. Contemporary Oral and Maxillofacial Surgery. Powers. MP. WB Saunders Company. In.

reduksi. Kecelakaan kendaraan bermotor merupakan etiologi utama penyebab fraktur mandibula di dunia. Kedua teknik ini tidak selalu dilakukan tersendiri tetapi kadangkadang diaplikasikan bersama atau disebut dengan prosedur kombinasi. Champy Line 134 . Kata Kunci : fraktur.Fraktur Mandibula Retno Widayanti 160121120003 Peserta Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut Dan Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Abstrak : Mandibula merupakan bagian tulang yang paling rentan mengalami fraktur pada trauma fasialis. Banyak faktor yang dapat menyebabkan terjadinya fraktur mandibula. angulus mandibularis dan daerah mentalis. yaitu cara tertutup atau disebut juga perawatan konservatif dan cara terbuka yang ditempuh dengan cara pembedahan. Pada prosedur terbuka bagian yang mengalami fraktur di buka dengan pembedahan dan segmen fraktur direduksi serta difiksasi secara langsung dengan menggunakan kawat/plat yang disebut dengan wire atau plate osteosynthesis. Pada teknik tertutup imobilisasi dan reduksi fraktur dicapai dengan penempatan peralatan fiksasi maksilomandibular. Daerah mandibula yang lemah adalah daerah subkondilar. Hal ini dapat disebabkan karena posisinya yang menonjol dan merupakan sasaran pukulan dan benturan. Pada prinsipnya ada dua cara penatalaksanaan fraktur mandibula. mandibula. fiksasi.

Hilangnya kontinuitas pada rahang bawah (mandibula). sebagai dasar pemikiran dan diagnosis fraktur mandibula 4. Diagnosis fraktur mandibula dapat ditunjukkan dengan adanya : rasa sakit. kecelakaan saat kerja dan kecelakaan akibat olahraga4. Pada perkembangan selanjutnya oleh para klinisi menggunakan oklusi sebagai konsep dasar penanganan fraktur mandibula dan tulang wajah (maksilofasial) terutama dalam diagnostik dan penatalaksanaannya.BAB I PENDAHULUAN Fraktur mandibula adalah putusnya kontinuitas tulang mandibula 1. adanya gap. Beberapa penyebab lain berupa kelainan patologis seperti keganasan pada mandibula. Fraktur mandibula merupakan fraktur kedua tersering pada kerangka wajah. bila perlu dilakukan foto waters. pembengkaan. adanya laserasi intra oral. dan maloklusi5. Evaluasi radiografis pada mandibula mencakup foto polos. pengikat rahang atas dan bawah dengan kawat (intermaxilari fixation). gigi yang longgar dan krepitasi menunujukkan kemungkinan adanya fraktur mandibula. nyeri tekan. Mandibula adalah tulang rahang bawah pada manusia dan berfungsi sebagai tempat menempelnya gigi geligi3. tidak ratanya gigi. Patahnya gigi. tidak simetrisnya arcus dentalis. hal ini disebabkan kondisi mandibula yang terpisah dari kranium. CT Scan dan pemeriksaan panoreks4. serta fiksasi dan 135 . 2. Hal ini diikuti dengan perkembangan teknik fiksasi mulai dari penggunaan pengikat kepala ( head bandages). dapat berakibat fatal bila tidak ditangani dengan benar2. Faktor etiologi utama terjadinya fraktur mandibula bervariasi berdasarkan lokasi geografis. Selain hal itu mungkin juga terjadi trismus (nyeri waktu rahang digerakkan) 4. Secara khusus penanganan fraktur mandibula dan tulang pada wajah (maksilofasial) mulai diperkenalkan olah Hipocrates (460-375 SM) dengan menggunakan panduan oklusi (hubungan yang ideal antara gigi bawah dan gigigigi rahang atas). namun kecelakaan kendaraan bermotor menjadi penyebab paling umum.

Pada semua manajemen fraktur.4.5. mencegah terjadinya defek kontur yang dapat timbul. Restorasi fungsi mandibula sebagai bagian dari sistem stomatognati harus mencakup kemampuan untuk mastikasi yang baik. berbicara dengan normal dan menciptakan pergerakan artikulasi seperti sebelum terjadinya trauma. 136 . tujuan dari perawatannya adalah untuk mengembalikan fungsi dengan memastikan penyatuan dari segmen tulang dan mengembalikan kekuatan seperti sebelum cedera.imobilisasi fragmen fraktur dengan menggunakan plat tulang ( plate and screw)2. mencegah terjadinya infeksi.

Permukaan luar dari korpus mandibula pada garis median. memipih dan meninggi pada bagian ramus kanan dan kiri sehingga membentuk pilar. Pada yang lebih muda sudutnya lebih besar dan ramusnya nampak lebih divergens. Angulus mandibula adalah pertemuan antara tepi belakang ramus mandibula dan tepi bawah korpus mandibula.1 Anatomi Mandibula Mandibula dibentuk oleh dua bagian simetris yang mengadakan fusi dalam tahun pertama kehidupan.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. Prosessus kondiloideus terdiri dari kaput dan kolum. Permukaan dalam dari korpus mandibula cekung dan didapatkan linea milohiodea yang merupakan origo m. Pada ujung dari masing-masing ramus didapatkan dua buah penonjolan disebut prosesus kondiloideus dan prosesus koronoideus. 137 . Pada pertengahan korpus mandibula kurang lebih 1 inchi dari simfisis didapatkan foramen mentalis yang dilalui oleh vasa dan nervus mentalis. Bagian bawah korpus mandibula mempunyai tepi yang lengkung dan halus. Milohioid. Secara keseluruhan tulang mandibula ini berbentuk tapal kuda melebar di belakang. yaitu suatu lengkungan tapal kuda dan sepasang ramus yang pipih dan lebar yang mengarah keatas pada bagian belakang dari korpus. Angulus mandibula terletak subkutan dan mudah diraba pada 2-3 jari dibawah lobulus aurikularis 10. Tulang ini terdiri dari korpus. ramus membentuk sudut 1200 terhadap korpus pada orang dewasa. didapatkan tonjolan tulang halus yang disebut simfisis mentum yang merupakan tempat pertemuan embriologis dari dua buah tulang. Bagian korpus mandibula membentuk tonjolan disebut prosesus alveolaris yang mempunyai 16 buah lubang untuk tempat gigi.

Pterigodeus medial berinsersi pada sisi medial bawah dari ramus dan angulus mandibula.Gambar 2. merupakan gabungan tulang berbentuk L bekerja untuk mengunyah dengan dominasi (terkuat) m.1 Anatomi mandibula10 Dari aspek fungsinya. Fungsi m pterigoid sangat penting dalam proses penyembuhan pada fraktur intrakapsuler. 138 . Masseter yang berinsersi pada sisi lateral angulus dan ramus mandibula. M masseter bersama m temporalis merupakan kekuatan untuk menggerakkan mandibula dalam proses menutup mulut. M. Temporalis yang berinsersi disisi medial pada ujung prosesus koronoideus dan m. M pterigoideus lateral berinsersi pada bagian depan kapsul sendi temporo-mandibular. diskus artikularis berperan untuk membuka mandibula.

7mm sedang pada potongan level gigi kaninus kanalnya berdiameter sekitar 1mm dengan ketebalan korteks sekitar 2.2 Insersi Otot pada Mandibula4 Pada potongan melintang tulang mandibula dewasa level molar II berbentuk seperti ”U” dengan komposisi korteks dalam dan korteks luar yang cukup kuat. Mandibula mendapat nutrisi dari arteri alveolaris inferior yang merupakan cabang pertama dari arteri maxillaris yang masuk melalui foramen mandibula bersama vena dan nervus alveolaris inferior berjalan dalam kanalis alveolaris.53mm. Ditengahnya ditancapi oleh akar-akar geligi yang terbungkus oleh tulang kanselus yang membentuk sistem haversian (osteons) diantara dua korteks tersebut ditengahnya terdapat kanal mandibularis yang dilewati oleh syaraf dan pembuluh darah yang masuk dari foramen mandibularis dan keluar kedepan melalui foramen mentalis.Gambar 2. 139 . Lebar kanalis mandibula tersebut sekitar 3 mm ( terbesar) dan ketebalan korteks sisi bukal yang tertipis sekitar 2. Posisis jalur kanalis mandibula ini perlu diingat dan dihindari saat melakukan instrumentasi waktu reposisi dan memasang fiksasi interna pada fraktur mandibula11.

Mentalis. Vena facialis anterior dan vena facialis posterior bergabung menjadi vena fascialis communis yang mengalirkan darah ke vena jugularis interna12. Gambar 2. Aliran darah balik dari mandibula melalui vena alveolaris inferior ke vena facialis posterior.Arteri alveolaris inferior memberi nutrisi ke gigi-gigi bawah serta gusi sekitarnya kemudian di foramen mentalis keluar sebagai a. arteri submentalis dan arteri labii inferior. Arteri mentalis memberi nutrisi ke dagu. Arteri submentalis dan arteri labii inferior merupakan cabang dari arteri facialis. Sebelum keluar dari foramen mentalis bercabang menuju incisivus dan berjalan sebelah anterior ke depan didalam tulang.4 Inervasi mandibula12 140 . Daerah dagu mengalirkan darah ke vena submentalis. Arteri mentalis beranastomosis dengan arteri facialis.3 Vaskularisasi mandibula12 Gambar 2. yang selanjutnya mengalirkan darah ke vena facialis anterior.

Pada fraktur corpus mandibula garis fraktur tidak selalu paralel dengan sumbu gigi. osteomyelitis. Garis fraktur dimulai pada regio alveolar kaninus dan insisivus berjalan oblique ke arah midline. makan atau mengunyah13. Fraktur dapat terjadi akibat trauma atau karena proses patologis. Fraktur akibat trauma dapat terjadi akibat perkelahian. jatuh ataupun trauma saat pencabutan gigi. kecelakaan lalulintas. Pada fraktur mendibula. Pada regio angulus garis fraktur umumnya dibawah atau dibelakang regio mlaor III kearah angulus mandibula. Selain itu titik lemah juga didapatkan pada foramen mentale. Fraktur patologis dapat terjadi karena kekuatan tulang berkurang akibat adanya kista. angulus mandibula tempat gigi molar III terutama yang erupsinya sedikit. garis fraktur yang terjadi berbentuk oblique. kolum kondilus mandibula terutama bila trauma dari depan langsung mengenai dagu maka gayanya akan diteruskan kearah belakang. Akibat adanya proses patologis tersebut.2 DEFINISI FRAKTUR MANDIBULA Fraktur didefinisikan sebagai deformitas linear atau terjadinya diskontinuitas tulang yang disebabkan oleh rudapaksa. Garis fraktur subkondilar umumnya dibawah leher prosesus kondiloideus akibat perkelahian dan berbentuk hampir vertikal. Garis fraktur pada mandibula biasa terjadi pada area lemah dari mandibula tergantung mekanisme trauma yang terjadi.2. atrofi tulang secara menyeluruh atau osteoporosis nekrosis atau metabolic bone disease. kecelakaan kerja. tumor jinak atau ganas rahang. osteomalacia. Daerah korpus mandibula terutama terdiri dari tulang kortikal yang padat dengan sedikit substansi spongiosa sebagai tempat lewatnya pembuluh darah dan pembuluh limfe. Namun pada kecelakaan lalu lintas garis fraktur terjadi dekat dengan kaput kondilus. seringkali garis fraktur berbentuk oblique. Mandibula merupakan tulang yang kuat. fragmen yang fraktur mengalami displaced 141 . tetapi pada beberapa tempat dijumpai adanya bagian yang lemah. fraktur dapat terjadi secara spontan seperti waktu bicara. osteogenesis imperfecta. luka tembak. Daerah yang tipis pada mandibula adalah angulus dan sub condylus sehingga bagian ini termasuk bagian yang lemah dari mandibula.

oleh karena itu maka reduksi dan fiksasi pada fraktur mendibula harus menggunakan splinting untuk melawan tarikan dari otototot mastikasi. Pada kecelakaan pengendara kendaraan roda dua yang terkena adalah daerah simfisis. Kecelakaan kendaraan bermotor merupakan etiologi utama penyebab fraktur mandibula di dunia4. dan prosesus koronoideus (1. dan medial oleh m pterigoideus medialis.3 ETIOLOGI Banyak faktor yang dapat menyebabkan terjadinya fraktur mandibula. 7% kecelakaan kerja. ada atau tidaknya gigi pada fragmen.4 DISTRIBUSI ANATOMIS Lokasi fraktur mandibula terbanyak pada kondilus (29. Masseter.5%). 34% disebabkan oleh kekerasan. Pada 142 .1%) ramus (1. 2. 4% pada kecelakaan olahraga dan sisanya oleh bermacam-macam sebab lainnya. karena daerah ini terfiksasi oleh m masseter pada bagian lateral. Fraktur yang terjadi pada korpus.akibat tarikan otot-otot mastikasi. segmen dento alveolar (3. Beberapa penelitian memperlihatkan etiologi pada lokasi fraktur. Fridrich dkk memperlihatkan bahwa fraktur akibat kecelakaan kendaraan bermotor biasanya pada regio kondilus.7%). Demikian juga pada prosesus koronoideus yang terfiksasi oleh M. arah lepasnya otot dan luasnya kerusakan jaringan lunak.1%). kondilus dan angulus mandibula tidak banyak berbeda dalam insidensinya dan fraktur ramus serta processus koronoideus sangat jarang. Pada daerah ramus mandibula jarang terjadi fraktur. simfisis dan parasimfisis (22%). 7% akibat terjatuh. korpus mandibula (16%). 2.3%) 4. Literatur menyebutkan bahwa 43% fraktur mandibula disebabkan oleh kecelakaan kendaraan bermotor. Fraktur pada fasial jauh lebih banyak terjadi pada mereka yang tidak menggunakan pelindung pada saat terjadinya kecelakaan14. angulus (24. arah dan sudut garis fraktur. arah dan kekuatan trauma. Beberapa faktor yang mempengaruhi displacement fraktur mandibula antara lain .

5%). dimana fraktur korpus mandibula (43. 143 . Gambar 2. Area fraktur cenderung berbeda pada pasien edentulus.6 Distribusi fraktur mandibula pada pasien edentulus 15 Beberapa penelitian menyatakan bahwa terdapat hubungan antara frekuensi fraktur mandibula dengan daerah anatomi. Gambar 2. simfisis mandibula (4. angulus (15.2%). Fraktur subkondilus banyak ditemukan pada anak-anak sedangkan fraktur angulus banyak ditemukan pada remaja dan dewasa muda16.15. tetapi tetap saja regio angulus mandibula dan mentalis yang paling sering menjadi fraktur.fraktur yang diakibatkan karena kekerasan biasanya di daerah sudut mandibula14.5 Distribusi anatomis fraktur mandibula 15 Mandibula yang mengalami atropi mempunyai kelemahan pada banyak tempat.3%) 15.

Fraktur yang melukai jaringan lunak baik kulit. Fraktur dimana tulang terbagi menjadi beberapa bagian atau fragmen-fragmen kecil. b. d. Berdasarkan jenis fraktur16. pembuluh darah dan syaraf. g. tetapi dapat terjadi dimana sisi fragmen terdorong kesisi yang berlawanan. Fraktur ini mempunyai hubungan antara tulang yang patah dengan permukaan luar wajah atau dengan rongga mulut. e. Hubungan ini dapat terjadi melalui kulit. berdasarkan daerah fraktur dan berdasarkan penyebab fraktur. Hal ini diakibatkan karena tulang anak-anak masih bersifat lentur. Fraktur ini merupakan salah satu tipe fraktur yang sering terjadi pada anak-anak. Fraktur jenis ini disebut juga fraktur terbuka atau open fracture. karena tulangnya belum sepenuhnya terkalsifikasi. mukosa atau bagian yang berdekatan seperti otot. Fraktur tipe ini jarang terlihat pada mandibula. Fraktur yang tidak seluruh kontinuitas tulang terputus. Fraktur cominutted.17 a. Fraktur kompleks. Fraktur sederhana. Fraktur indirect dan direct. tetapi hanya sebagian saja. Biasanya fraktur ini terjadi pada regio simfisis mandibula.5 KLASIFIKASI Secara garis besar fraktur mandibula diklasifikasikan dalam tiga kelompok yaitu berdasarkan jenis fraktur. Fraktur jenis ini disebut juga fraktur tertutup atau closed fracture. Teleskop atau fraktur impaksi. f. Fraktur greenstick. Fraktur compound. 144 . Fraktur direct terjadi langsung pada titik kontak dari trauma sedangkan indirect terjadi jauh dari sisi datangnya trauma.2. Fraktur yang terjadi tidak mempunyai hubungan dengan dunia luar dan tidak terjadi dislokasi atau displacement. c. jaringan mukosa dan membran periodontal.

Gambar 2. Komminuted (C). Simple (B). Fraktur yang terjadi pada fungsi normal atau trauma minimal pada tulang yang mengalami gangguan patologis. seperti kista atau metastasis tumor. B.7 Tipe fraktur: A. D.h. Fraktur direct dan indirect15. Fraktur comminuted. Fraktur compound.8 Klasifikasi fraktur mandibula berdasarkan tipe frakturnya: Greenstick (A). Gambar 2. Fraktur patologis. Fraktur impaksi pada subkondilus dekstra dan fraktur patologis pada angulus sinistra. E. Kompon (D)17 145 . Fraktur sederhana. C.

10 Favorable vertikal (kiri) dan unfavorable (kanan)15 146 .9 Unfavorable horizontal (kiri) dan favorable (kanan)15 Gambar 2. seperti tarikan otot masseter dan temporalis pada fragmen proksimal. Garis fraktur favorable horizontal menahan gaya tarikan ke atas.Fraktur mandibula juga dapat diklasifikasikan sebagai fraktur favorable atau unfavorable. Gambar 2. Garis fraktur favorable vertikal menahan gaya tarikan medial pterygoid medial pada fragmen proksimal18. masing-masing dari arah vertikal dan horisontal tergantung pada otot sekitarnya yang menahan atau memindahkan segment fraktur tersebut.

Fraktur simfisis Fraktur pada regio insisivus yang melalui prosessus alveolaris ke batas inferior mandibula dalam arah vertikal atau hampir vertikal. Terjadi seperti pada penderita yang jatuh dengan tangan menumpu dan lengan atas-bawah lurus.Trauma tersebut langsung mengenai anggota tubuh penderita. Trauma tidak langsung (indirect). Fraktur korpus Fraktur yang terjadi antara prosesus alveolaris hingga ke batas inferior regio antara foramen mentalis hingga ke sisi distal dari molar kedua. 3. 2. Fraktur traumatik Trauma langsung (direct). Fraktur angulus Fraktur yang terjadi antara prosesus alveolaris hingga ke batas inferior distal molar kedua hingga ke sudut yang dibentuk oleh korpus dan ramus madibula. Fraktur prosessus koronoideur Menurut Penyebab Terjadinya Fraktur 1. Gaya tersebut dihantarkan melalui 147 . berakibat fraktur kaput radii atau klavikula. Fraktur ramus Fraktur horizontal melalui batas anterior dan posterior ramus. fraktur mandibula dibagi atas15: 1. 8. 6. 4. Fraktur parasimfisis Fraktur yang terjadi antara prosesus alveolaris hingga ke batas inferior batas distal insisivus lateral hingga ke foramen mentalis. 7. 5. Fraktur prosesus kondiloideus Fraktur yang terjadi dari sigmoid notch ke batas posterior ramus mandibula sepanjang aspek superior dari ramus mandibula.Berdasarkan lokasi anatomis. Fraktur dentoalveolar Fraktur yang hanya terjadi pada area penyangga gigi pada mandibula dan tidak mengganggu kontinuitas struktur tulang dibawahnya.

Fraktur terbuka dapat berhubungan dengan ruangan di tubuh yang tidak steril seperti rongga mulut. 3. pembengkokan (bending) atau kombinasi pembengkokan dengan kompresi yang berakibat fraktur butterfly. organ viscera atau sendi. pemeriksaan terhadap pergeseran segmen tulang. pembuluh darah.6 PEMERIKSAAN KLINIS Evaluasi trauma dilakukan secara menyeluruh. Fraktur simple/tertutup. 2. Fraktur patologis Pada tulang telah terjadi proses patologis yang mengakibatkan tulang tersebut rapuh dan lemah. oleh karena kulit di sekeliling fraktur sehat dan tidak sobek.tulang-tulang anggota gerak atas dapat berupa gaya berputar. kulit di sekitar fraktur sobek sehingga fragmen tulang berhubungan dengan dunia luar (bone expose) dan berpotensi untuk menjadi infeksi. Contohnya pada fraktur fibula pada olahragawan. pembengkokan dan kompresi seperti fraktur oblik dengan garis fraktur pendek. fraktur tersebut berhubungan dengan kerusakan jaringan atau struktur lain seperti saraf. Tanda dan gejala terjadinya fraktur adalah adanya maloklusi dihubungkan dengan riwayat trauma seperti terkena pukulan. Fraktur terbuka. Maloklusi dapat berupa gigitan silang. traksi manual atau traksi pada lidah dapat menghindarkan obstruksi jalan nafas. Fraktur komplikasi. maupun kombinasi gaya berputar. 2. 2. disebut juga fraktur tertutup. 148 . Fraktur fatik atau stress Trauma yang berulang dan kronis pada tulang yang mengakibatkan tulang menjadi lemah. Fraktur juga dapat terjadi akibat tarikan otot seperti fraktur patela karena kontraksi quadrisep yang mendadak. Biasanya fraktur terjadi spontan Menurut Hubungan dengan Jaringan Ikat Sekitarnya 1. gigitan terbuka dan prematur kontak. kecelakaan atau terjatuh. Jika perlu dapat dilakukan intubasi orotrakhea pada kasus darurat jalan nafas. 3. yaitu penanganan jalan nafas.

18.11 Palpasi bimanual pada mandibula untuk membandingkan struktur anatomis18 Pemeriksaan intraoral memperlihatkan adanya laserasi atau hematoma. Sering menunjukkan terpisahnya gigi yang satu dengan yang lain dan terputusnya kontinuitas dataran oklusal pada bagian yang mengalami fraktur 149 . Bila digerakkan dengan jari tangan tiap fragmen fraktur akan bergerak sendiri. Gambar 2.Rasa sakit bersifat akut dan dapat diperberat oleh gerakan ringan bagian yang terluka. Pembengkakan atau oedema tampak pada daerah fraktur yang disebabkan oleh keluarnya darah dan serum ke jaringan sekitar14. Retraksi pergerakan tulang merupakan kelainan sekunder yang dapat ditemukan pada fraktur zigomatikus yang mengalami displacement dan berdampak pada prossesus koronoideus mandibula17. Pergerakan abnormal dapat diketahui dengan pemeriksaan jari tangan atau palpasi bimanual. mengunyah atau waktu palpasi. Pemeriksaan pada rahang saat membuka dan menutup mulut dan memperhatikan deviasi rahang atau mobiliti yang terbatas. Gerakan-gerakan ringan tersebut misalnya waktu berbicara.

Terputusnya kontinuitas dataran oklusal14 150 .A B Gambar 2.12 A. Haematom pada dasar mulut. B.

dan tidak memiliki kemampuan melihat secara detail area TMJ. termasuk tulang frontal. Pemeriksaan radiologis yang dapat membantu untuk menegakkan diagnosa fraktur mandibula adalah14: a. Panoramik membutuhkan pasien tegak. sudut. tubuh. Tampilan oklusal mandibula menunjukkan perbedaan di posisi tengah dan lateral fraktur body. c.7 PEMERIKSAAN RADIOLOGIS Apabila pemeriksaan klinis sering dapat memberikan gambaran adanya fraktur mandibula. dan periapikal. simfisis dan gigi / daerah proses alveolar. atau fraktur simfisis. angel.2. fraktur pada corpus posterior. Penentuan terjadinya pergeseran berperan sebagai petunjuk dalam menentukan terapi. Evaluasi radiografis terhadap perluasan pergeseran segmen fraktur. secara umum relatif akurat kecuali kalau angulasi dan magnifikasi pemotretan tidak baik. Pandangan lateral-obliq membantu mendiagnosis ramus. dapat membantu. CT scan juga dapat membantu: CT scan juga memungkinkan dokter untuk survei fraktur wajah daerah lain. Panoramik Panoramik menyediakan kemampuan untuk melihat seluruh mandibula dalam satu radiograf. tidak usah dirawat atau dilakukan reduksi terbuka16. Bagian kondilus. termasuk pandangan lateral-obliq. bicuspid dan daerah simfisis seringkali tidak jelas. posteroanterior. oklusal. b. Plain film. Tampilan Caldwell posteroanterior menunjukkan setiap perpindahan medial ataulateral ramus. kompleks naso-ethmoid- 151 . maka evaluasi radiologis diperlukan untuk mempertegas hal tersebut atau memberikan data yang lebih akurat.

yang sulit untuk memvisualisasikan Panoramik Gambar 2.orbital. Rekonstruksi kerangka wajah sering membantu untuk konsep cedera. orbit. CT scan juga ideal untuk fraktur condylar. dan seluruh sistem horizontal dan vertical yang menopang kraniofasial.14 Gambaran radiologis fr mandibula dan alveolaris 18 152 .13 Pencitraan fraktur angulus kanan dan simphisis kiri mandibula pada panoramik foto13 Gambar 2.

B. Pencitraan fraktur kondilus kiri pada Posteroanterior foto. Pencitraan fraktur kondilus kiri. Pencitraan fraktur korpus mandibula dan angulus kiri pada posteroanterior foto15 Lateral oblique foto Gambar 2.17 A. Pencitraan fraktur korpus dan angulus mandibula kiri19 153 .Posteroanterior foto A B Gambar 2. B.16 Pencitraan fraktur korpus dan angulus kiri mandibula pada Lateral Oblique foto19 Reverse Towne A B Gambar 2.15 A.

CT SCAN / (COMPUTERED TOMOGRAFI) SCAN A B Gambar 2.19 A. Pencitraan fraktur ramus mandibula kiri pada CT scan direct coronal. Pencitraan fraktur kondilus kiri dengan perobahan letak fragmen kondilus proksimal pada CT scan potongan axial. B. B.18 A. Pencitraan fraktur comminuted ramus mandibula kiri pada CT scan potongan axial19 A B Gambar 2. Pencitraan fraktur angulus kiri pada CT scan potongan sagital19 3D Imaging Gambar 2.20 Pencitraan fraktur dengan 3 dimensi 19 154 .

Jenis-jenis reduksi tertutup diantaranya external appliance seperti head bandage. 155 .2. Memperbaiki pembukaan interinsisal dan pergerakan mandibula. head frame plaster of paris. kerusakan gigi dievaluasi dan dirawat bersamaan dengan perawatan fraktur mandibula. Penggunaan antibiotik untuk kasus compound fractures. intermaxillary fixation seperti interdental wiring fixation dan splint fixation. Meminimalisir deviasi mandibula Menghasilkan artikulasi yang bebas dari rasa sakit pada saat istirahat dan fungsi 6) Mencegah internal derangement pada TMJ sisi cedera atau sisi yang berlawanan. Apabila terjadi fraktur mulitple di wajah. monitor pemberian nutrisi pasca operasi.8 TERAPI Adapun tujuan yang ingin didapatkan pada perawatan fraktur mandibula adalah18: 1) 2) 3) 4) 5) Mendapatkan oklusi yang stabil dalam fungsi dan estetik. Prinsip dasar umum dalam perawatan fraktur mandibula ialah sebagai berikut. jumlah dan derajat keparahan fraktur mandibula serta usia dan kesehatan pasien maupun metode yang akan digunakan untuk reduksi dan imobilisasi. Terapi fraktur mandibula secara garis besar dibagi menjadi dua bagian yaitu dengan metode closed reduction (reduksi tertutup) dan metode open reduction (reduksi terbuka) Metode reduksi tertutup adalah suatu tindakan reduksi tertutup tanpa melalui suatu tindakan pembukaan tulang untuk memudahkan lapang pandang secara pembedahan. pemeriksaan klinis fraktur dilakukan secara benar. Menciptakan pembukaan mandibula yang maksimal. mengembalikan oklusi merupakan tujuan dari perawatan fraktur mandibula. head gear. lokasi. Waktu penggunaan fiksasi intermaksiler dapat bervariasi tergantung tipe. 7) Mencegah komplikasi jangka panjang pada gangguan pertumbuhan. Evaluasi klinis secara keseluruhan dengan teliti. fraktur mandibula lebih baik dilakukan perawatan terlebih dahulu dengan prinsip dari dalam keluar. dari bawah keatas.

Beberapa tehnik fiksasi intermaksilaris . a. untuk mencegah tergelincir ke anterior dan posterior 156 .21 Head bandage16 Tehnik yang digunakan pada terapi fraktur mandibula secara closed reduction adalah fiksasi intermaksiler. merupakan tehnik yang mudah dan efektif tetapi mempunyai kekurangan yaitu mulut tidak dapat dibuka untuk melihat daerah fraktur tanpa mengangkat kawat. Fiksasi ini dipertahankan 3-4 minggu pada fraktur daerah condylus dan 4-6 minggu pada daerah lain dari mandibula.Gambar 2. Tehnik Gilmer . kemudian diputar searah jarum jam sampai tegang. Kemudian kedua kawat atas dan bawah digabungkan dan diputar dengan hubungan vertika maupun silang. Kawat tersebut dilingkarkan pada leher gigi. Dilakukan pada gigi atas dan bawah sampai oklusi baik.

Tehnik erich arch bar . Kerugiannya kawat mudah putus waktu digunakan untuk fiksasi intermaksiler Gambar 2.22 Tehnik Gilmer 19 b. 157 .Gambar 2. disertai fraktur maksila. dan menggunakan karet sebagai traksi yang menghubungkannya d. terdiri dari formasi loop kawat kecil yang mengelilingi arkus dentis bagian atas dan bawah. keuntungan tehnik ini bahan mudah didapat dan sedikit menimbulkan kerusakan jaringan periodontal serta rahang dapat dibuka dengan hanya mengangkat ikatan intermaksilaris. indikasi pemasangan arch bar antara lain gigi kurang/ tidak cukup untuk pemasangan cara lain.23 Tehnik eyelet / ivy loop15 c. Tehnik continous loop (stout wiring) . Tehnik eyelet (ivy loop) .

tidak dapat digunakan pada penderita dengan edentulous luas. Keuntungan penggunaan arch bar ialah mudah didapat.didapatkan fragmen dentoalveolar pada salah satu ujung rahang yang perlu direduksi sesuai dengan lengkungan rahang sebelum dipasang fiksasi intermaksilaris. Kerugiannya ialah menyebabkan keradangan pada ginggiva dan jaringan periodontal. Interdental wiring15 B Gambar 2. Tehnik Kazanjian . mudah adaptasi dan aplikasinya. Tehnik ini untuk gigi yang hanya sendiri atau insufisiensi pada bagian dari pemasangan arch bar.24 A. biaya murah. B. dengan menggunakan kawat yang kuat untuk tempat karet dipasang mengelilingi bagian leher gigi. A Gambar 2.25 Tehnik Kazanjian 15 Indikasi untuk metode reduksi tertutup adalah:18 a) Fraktur menguntungkan tanpa adanya pergeseran tempat ( nondisplace favorable fracture) 158 . e. Essig wire.

Keuntungan dari ORIF antara lain . diantara kedua foramen mentalis. disamping plat subapikal perlu juga ditambahkan plat lain di dekat batas bawah mandibula untuk menetralkan 159 . Pada angulus mandibula. Tehnik ini dapat dikerjakan di tingkat poliklinis. mobilisasi lebih dini dan reaproksimasi fragmen tulang yang lebih baik. Kerugiannya adalah biaya lebih mahal dan diperlukan ruang operasi dan pembiusan untuk tindakannya. Kerugiannya meliputi fiksasi yang lama. karena jika menggunakan open reduction. paired miniplates. penggunaan open reduction dapat merusak benih gigi atau gigi yang sedang tumbuh e) f) Fraktur processus koronoidalis Fraktur kondilus Keuntungan dari reposisi tertutup adalah lebih efisien. resiko ankilosis TMJ dan problem airway. angka komplikasi lebih rendah dan waktu operasi yang lebih singkat. plat paling baik diletakkan pada permukaan yang paling luas dan setinggi mungkin di daerah linea oblique eksterna.b) Fraktur comunitted yang luas. dapat mengganggu vaskularisasi fragmen tulang yang kecil c) Fraktur pada mandibula edentulus (tidak bergigi). Pada regio anterior. gangguan nutrisi karena adanya MMF. lag screws dan noncompression stabilization plates pada bagian inferior. Hasil yang didapatkan dari pemakaian monocortical osteosynthesis adalah tercapainya netralisasi kekuatan tensi dan kompresi serta rotasi pada garis fraktur sehingga diperoleh reduksi anatomis yang fisiologis. karena open reduction dapat mengganggu vaskularisasi d) Fraktur mandibula pada anak. Dalam menangani fraktur mandibula umumnya digunakan lebih dari satu modalitas sebab terdapat banyak variasi biomekanik dan problem klinis untuk mencapai mobilitas fiksasi di regio fraktur. kompresi pada fragmen fraktur dan imobilisasi yang rigid serta perbaikan kekuatan self kompresi fisiologis. Ada 5 metode yang umum digunakan yaitu dengan biocortical transfacial compression plates pada bagian inferior dengan atau tanpa tension band plate. monocortical transoral miniplates pada bagian superior.

digastrikus. geniohyoid dan genioglosus dapat menyebabkan perpindahan fragmen lebih jauh. archbar sudah cukup berfungsi menetralkan kekuatan tension. Angulus merupakan bagian yang sulit dicapai lewat intraoral karena adanya otot-otot pengunyah dan otot-otot daerah suprahyoid. Fraktur pada daerah angulus mandibula merupakan problem khusus pada perawatan dengan menggunakan rigid internal fixation. distraksi dari kontak tulang menghambat reduksi dan vaskular dari sisi fraktur dan dapat menjadi sumber infeksi.  Fraktur yang tidak menguntungkan pada bodi mandibula atau daerah para simpisis mandibula Otot mylohyoid. Batas inferior dari angulus sangat tipis dan tidak mungkin dilakukan suatu kompresi. Pada bagian mandibula yang bergigi. skrew dan plat. Metode reduksi terbuka adalah suatu tindakan reduksi dengan cara pembedahan untuk memudahkan lapang pandang. delayed union dan malunion yang dapat terjadi bila digunakan terapi lain. Penggunaan rigid internal fixation untuk mencegah hilangnya kontrol segmen proksimal. Adanya gigi molar 3 menyebabkan fraktur mudah terjadi. sedangkan pada daerah angulus dan ramus mandibula fungis tersebut baru bisa didapatkan dengan menggunakan plat yang kecil. Pada daerah di belakang foramen mentalis sampai mendekati daerah angulus cukup digunakan satu plat yang dipasang tepat dibawah akar gigi dan diatas nervus alveolaris inferior. Ketika dilakukan 160 .kekuatan rotasi pada daerah simfisis tersebut. Penempatan plat didaerah sepanjang tension trajectory ternyata juga menghasilkan suatu fiksasi yang paling stabil bila ditinjau dari prinsip biomekaniknya. Indikasi reduksi terbuka adalah19 :  Fraktur yang tidak menguntungkan pada sudut mandibula Fraktur ini diindikasikan untuk reduksi terbuka bila fragmen proksimal berubah tempat ke arah posterior atau median dan reduksi tidak dapat dipertahankan tanpa intraosseus wiring. Jenis-jenis dari metode terbuka contohnya interosseus wiring dan fiksasi dengan bone plate and screw.

seperti dari sutura frontozygomatikus ke daerah mandibula. Gambar 2. Tehnik ini berguna terutama pada mandibula yang nonatropic pada saat tidak ada gigi tiruan. cusp lingual seluruh premolar dan molar bergerak keluar dari kontak oklusal.26 Fraktur menguntungkan dan tidak menguntungkan 19  Fraktur multipel pada tulang wajah Pada kasus ini perawatan reduksi terbuka dari segmen mandibula membuktikan perbaikan yang stabil  Fraktur setengah wajah dan fraktur kondilus bilateral Pada fraktur ini salah satu kondilus yang fraktur harus dirawat dengan reduksi terbuka untuk mempertahankan dimensi vertikal wajah. Kalau konstriksi ini tidak diperbaiki. akan terjadi inefisiensi pengunyahan dan perubahan periodontal yang buruk . cenderung gagal dan memaksa fraktur setengah wajah berhimpitan dengan kondilus yang menyebabkan profil wajah menjadi lebih pendek. Kalau prosedur ini tidak menyelesaikan masalah tipe wiring apapun. Dengan rotasi medial dari body mandibula. dengan aspek dari segmen mandibula berputar ke arah median pada titik fiksasi.perawatan reduksi terbuka. sehingga oklusinya tidak menjadi pertimbangan langsung.  Fraktur edentolous mandibula dengan perpindahan yang hebat fragmen fraktur Pada fraktur ini reduksi terbuka dianggap bisa membuat kembali kontinuitas mandibula. fraktur parasimpisis cenderung membuka pada border inferior. Pada situasi ini memberikan 161 .

ekstrim. Pencangkokkan tulang harus dipeertimbangkan pada fraktur mandibula yang mengalami atropic secara ekstrim. dan kelainan gastrointestinal.plat pada mandibula tanpa intermaxilary fixation merupakan Ketika mandibulamenjadi atropik secara kemungkinan yang kuat. sehingga terjadi jaringan penghubung antara fragmen fraktur yang menghambat osteogenesis. Alasan ditundanya perawatan karena adanya luka kepala atau adanya masalah medis yang serius. masalah psikiatrik dan neurologik.  Kondisi sistemik tertentu yang merupakan kontraindikasi intermaxillary fixation Pada situasi dimana mandibula harus tetap bergerak. harus dipertimbangkan status dari suplai darah ke tulang dan efek dari prosedur reduksi terbuka pada kompromi vaskularisasi. dan dapat distabilkan dengan palatal screw atau circum zygomatic wires.  Edontolous maksila dengan Fraktur mandibula Adanya fraktur mandibula dengan edentolous maxila merupakan kesulitan untuk dilakukan intermaxilary fixation. contohnya pada pasien yang mengalami kesulitan mengontrol akibat serangan yang tiba-tiba atau epilepsi. Jika diperlukan close reduction maka perlu adanya prostetik pada maxilla. berbagai tipe osteotomi diperlukan untuk memperbaiki kekurangannya.  Malunion Ketika hasil perawatan fraktur mandibula yang buruk. Metode ini dengan fiksasi rigid dengan fraktur mandibula akan menggantikan kebutuhan intermaxilary fiksation.  Perawatan yang tertunda dan Interposisi jaringan lunak antara fragmen fraktur yang tidak kontak Ketika perawatan tertunda dan jaringan lunak ada diantara fragmen fraktur maka diperlukan metode open reduction.  Fraktur yang membutuhkan osteotomy/ Orthognathi Surgery 162 . maka harus dilakukan metode open reduction. fungsi paru yang harus dikompromikan.

Faktor yang harus diperhatikan adalah isolasi fraktur. Incisi kulit harus diletakkan pada lipatan kulit untuk menghindari jaringan parut dan dibuat pada sudut yang tepat. Fraktur yang membutuhkan bone graft. operator harus memperhatikan sudut mulut pada lapangan operasi untuk memonitor aktifitas nervous facialis dan untuk meyakinkan anestesiologist tidak membuat pasien paralisis dalam waktu yang lama. cabang mandibula marginal dan nervus facialis terletak pada lapisan ini. Lalu muskulus platymus dipotong untuk mencapai lapisan superficialis pada bagian dalam fascia cervicalis.27 Insisi submandibular dan preauricular19 Pendekatan Submandibular Pendekatan ini dikenalkan tahun 1934 oleh Risdon. Ada banyak metode perawatan fraktur mandibula dengan reduksi terbuka diantaranya12.20: Pendekatan Bedah Sebelum melakukan operasi pada fraktur mandibula. Panjang incisi 4 cm sampai 5 cm. garis wajah dan posisi nervous. 2 cm dibawah angulus mandibularis. Pendekatan bedah sendiri antara lain (Gambar 3) : Pendekatan submandibular Pendekatan retromandibular Pendekatan preauricular Gambar 2. 163 . sehingga sangat penting untuk diketahui. Lemak subkutan dan superficial fascia dipisahkan untuk mencapai muskulus platymus.

Setelah otot dilewati lalu dipisahkan pada batas inferior untuk melihat tulang. Pemotongan dilanjutkan pada muskulus masseter dan bagian atas nervus diretraksi.28)19. ramus. Pembukaan dapat dikurangi dan penutupan dapat diperbaiki dengan penarikan pterygoid medialis dan ligament stylomandibular dari batas interior dan posterior. Jika pembuluh darah facialis tidak dapat ditarik sempurna dapat dipisahkan dan diikat. Kerusakan kelenjar dapat menyebabkan salivarius. akan menjadi bukti dan kutub paling bawah dari parotis dapat ditemukan. seluruh cabangnya berinervasi pada depressor bibir bawah. Pemotongan dilanjutkan antara fascia sampai kebatas inferior mandibula. periosteum dan jaringan lunak dipisahkan untuk jalan melihat body.Baik anterior atau posterior arteri facialis. Otot. bagian belakang batas inferior dari mandibula. Incisinya dibuat untuk memasuki parotis. Pembukaan lebih jauh dapat dicapai dengan menarik sudut dan batas inferior dengan kawat atau forcep tulang. masseter dan fascia cervicalis bagian dalam. Insisi ketulang melewati muskulus masseter biasanya diantara margin mandibular dan cabang buccal dari nervus facialis. Pemisahan lalu meluas ke anterior. Otot dan perios diinsisi melewati sudut termasuk 164 . Kelenjar submandibular dan capsulnya. Submandibular nodus lympaticus dapat diidentifikasi berdekatan dengan pembuluh darah facial. Pada dasarnya pendekatan ini merupakan variasi dari pendekatan submandibular kecuali incisinya kurang lebih 3 cm. Pendekatan Retromandibular Hinds dan Birroti pertama kali menerangkan pendekatan lekatan retromandibular pada tahun 1967. Kapsul keduanya harus dipisahkan selama Sin loceles atau fistula pemisahan. melalui fascia cervicalis yang lebih dalam dengan menggunakan stimulus otot. Pemisahan ke tulang melewati fascia cervicalis yang dalam dengan menggunakan nerve stimulator. dan sisi fraktur. Incisinya juga digambarkan mengikuti sudut mandibula. Kelenjar submandibularis dan kapsulnya biasanya berlokasi dibagian batas inferior dari mandibula. Kelenjar parotis biasanya di posterior ramus tetapi bisa terletak mengelilingi sudut inferior. diatas incisi submandibular (Gambar 2.

29 Macam-macam Insisi untuk daerah TMJ19 165 .28 Insisi retromandibular19 Pendekatan Preauricular Insisi ini digunakan untuk melihat daerah TMJ dan dengan mudah diperluas melewati daerah temporal. Gambar 2. yang dapat dihindari dengan menginsisi sepanjang cartilago preauricular.5 .29). Insisi dibuat 45 ° pada zygoma dari arah superior telinga ke arah inferior perlekatan antara dagu dan telinga (Gambar 2. Insisi dibuat kira-kira sepanjang 2. Gambar 2. Jaringan lunak dan nervus kemudian ditarik ke superior. Lipatan preauricular didapat dengan menekan telinga dan tragus ke depan. Incisi ini memperlihatkan akses superior dari ramus dan regio subkondilus mandibula. Pada insisi ini ditemukan pembuluh darah temporalis superfisialis.3.batas inferior.5 cm pada daerah lipatan preauricular.

166 . Mukosa lalu ditutup. dagu ditarik ka arah lateral. Body. Gambar 2. Pertama dilakukan anestesi dengan lokal anestesi dan vasokonstriktor. Mukosa diinsisi dengan pisau tegak lurus terhadap tulang untuk menjauhi nervus mentalis. Sudut dan Ramus Setelah dilakukan anestesi. Musculus mentalis terlihat dan harus diinsisi tegak lurus dengan tulang meninggalkan flap dari perlekatan otot ke tulang untuk penutupan (Gambar 6). Insisi dibuat kurang lebih 5 mm dari mukogingival junction untuk mendapatkan stabilitas jaringan ketika penutupan. Bagian proksimal dari insisi harus disepanjang external oblique ridge. Setelah selesai perawatan fraktur muskulus mentalis dijahit dengan jahitan terputus.Akses Intra Oral Simpisis dan Parasimpisis Perawatan fraktur anterior mandibula dapat melalui incisi intraoral. Bibir ditarik dan dibuat insisi curvilinear tegak lurus permukaan mukosa. dan penggunaan adhesif bandage pada dagu untuk mendukung musculus mentalis. setinggi oklusal plane mandibula.30 Akses Intra oral pada fraktur parasimpisis19 Pemotongan diteruskan ke arah subperiosteal untuk mengidentifikasikan mental neurovascular borde dibawah premolar kedua maka daerah fraktur terlihat.

24 dan 30 Pembuatan lubang menggunakan bor berkecepatan rendah pada awalnya lalu kecepatan makin meningkat. key dan drill point stainless stell wire. pistol drill. cutting wire bone forceps. tehnik close reduction dengan fiksasi maxillamandibular sudah cukup untuk treatment frakturnya. Gambar 2. chisel. 167 . Untuk fraktur multipel dan fraktur dengan pergerakan yang berat maka diperlukan penggunaan internal fiksasi yang dikombinasikan dengan fiksasi maksilomandibular. Setelah itu baru kawat bisa diinsersikan.32). sambil diberikan larutan normal salin.31 Interosseus wiring15 Transosseus wiring fixation20 Metode tradisional untuk stabilisasi tulang setelah dilakukan open reduction dengan menggunakan kawat untuk mengikat dan mengimobilisasi tulang (Gambar 2.Internal fiksasi Untuk Pasien fraktur yang hanya mengalami fraktur yang sederhana serta masih terdapat gigi dan oklusi yang baik. Bahan yang diperlukan adalah: periosteotome bone rongeur mallet.

d.32 Parameter pembuatan lubang dan pengikatan20 Hal yang harus diperhatikan pada penempatan penempatan lubang adalah : a.Gambar 2. f. b. Jarak garis fraktur pada outer cortex Jarak ke batas bawah Jarak garis fraktur pada inner cortex Kedekatan lubang dengan kanalis mandibularis.33 Teknik pemasukkan kawat20 168 . Dengan membuat kawat seperti hairpin loop Gambar 2. c. Kawat langsung dimasukkan ke dalam lubang yang telah dibor 2. foramen mentalis dan akar gigi e. Ukuran dari lubang Orientasi dari bidang fraktur ke panjang tulang Teknik pemasukkan kawat pada fraktur : 1. Kawat dimasukkan melewati hipodermic needle 3.

34 Teknik simple wiring. B. C. Jenis plate yang digunakan bermacam-macam ada yang yang lurus dengan beberapa lubang untuk dimasukkan screw (Gambar 11). 169 . Figure-of-eight wire.Gambar 2. Plate dipasang melintang melewati garis fraktur. Walaupun menggunakan menggunakan fiksasi yang kaku diperlukan adanya penyesuaian oklusi terlebih dahulu sebelum dilakukan fiksasi. ada juga yang membulat sehingga dapat dipasang pada margo inferior mandibula (Luhr Mandibular Plate) Gambar 2. maka fragmen fraktur akan lebih stabil dan kaku selama penyembuhan.34 Pelindungan jaringan pada pembuatan lubang20 Gambar 2.3517. Transosseus circum-mandibular wire 15 Fiksasi dengan Bone Plate dan Screw Metode ini menggunakan bone plate dan bone screw untuk menyatukan fragmen fraktur.

38 Plat & Lag Screw17 170 .Gambar 2.35 Luhr's Mandibular Plate17 Gambar 2. B.37 A. Fiksasi dengan plate dan screw15 Gambar 2. Fraktur korpus mandibula.36 Penggunaan Plate dan Screw berdasarkan Champy Line 17 A B Gambar 2.

39 Fiksasi Intermaksiler17 Kontraindikasi penggunaan MMF . Namun. penderita epilepsy. Untuk penggunaan bor. tidak trismus. Sering pasien berlanjut untuk kehilangan berat badan 171 . Tolak ukur keberhasilan operasi pemasangan plat mini maupun IOID wiring pada mandibula adalah oklusi yang baik. Jangan tergesa melakukan fiksasi sebelum yakin oklusinya sudah sempurna.5mm dengan kecepatan rendah menembus 1 korteks dikukur kedalamannya kemudian dipasang sekrup yang panjangnya sesuai dengan tebal satu korteks. stabil dan arah obeng juga sesuai dengan arah bor sebelumnya. Permukaan tulang bersih dari jaringan ikat dan jaringan lunak sehingga plat betul-betul menempel pada tulang mandibula. Gunakan mata bor diameter 1. gangguan jiwa dan gangguan fungsi paru. sebaiknya arah matabor tangensial. Secara umum lamanya penggunaan IMF untuk orang dewasa dengan fraktur mandibula adalah 6-8 minggu.Pemasangan sekrup dimulai dari satu sisi terlebih dahulu kemudian menyebrang menyilang pada sisi plat satunya. Posisi plat jangan terlalu tinggi karena sekrup akan menembus saraf/akar gigi. lamanya penggunaan IMF ini bukan tanpa konsekuensi.Gambar 2.

172 . dan fraktur dengan pencabutan gigi pada garis fraktur16. Terlihat bahwa kasus pada tiap individu harus dievaluasi secara seksama.selama masa ini. Juniper dan Awty mampu menunjukkan 80% fraktur mandibula yang dirawat dengan open reduction atau closed reduction dan IMF secara klinis menyatu dalam 4 minggu. pada orang dewasa 3-4 minggu dan pada pasien yang lebih tua 6-8 minggu. fraktur yang terlambat dirawat. Situasi yang secara umum membutuhkan IMF yang lebih lama: fraktur comminuted. kebanyakan fraktur sederhana pada anak-anak menyatu dalam 2-3 minggu. fraktur pada alkoholik. pasien dengan problem nutrisi. pasien cacat secara psikososial. mereka tidak mampu untuk kembali bekerja dan ada beberapa bukti yang menunjukkan adanya perubahan histologis pada TMJ.

24.23. Etiologi Data yang diambil dari etiologi terjadinya fraktur kondilus mandibula adalah sebagai berikut 8:       Kecelakaan kendaraan bermotor : 43% Penyerangan/perkelahian : 34% Kecelakaan kerja : 7% Jatuh : 7% Kecelakaan olah raga : 4% Penyebab lainnya : 5% Persentase terjadinya fraktur kondilus mandibula dibandingkan dengan lokasi lainnya pada mandibula sebagai berikut 19:       Body mandibula : 29% Kondilus mandibula : 26% Angle mandibula : 25% Simfisis mandibula : 17% Ramus mandibula : 4% Prosesus koronoideus : 1% 173 .BAB III FRAKTUR KONDILUS MANDIBULA ( Fraktur TMJ ) Fraktur kondilus merupakan salah satu fraktur yang melibatkan sendi temporomandibula sehingga dapat menyebabkan gangguan sendi temporomandibula.22.19.21.19. Komplikasi yang sering terjadi akibat fraktur kondilus adalah ankylosis dan gangguan sendi temporomandibula 8. Penatalaksanaan fraktur kondilus memerlukan perhatian khusus dan dapat dilakukan dengan metode tertutup atau konservatif dan terbuka atau bedah 8.

Pengetahuan arah kekuatan impak dapat membantu klinisi mendiagnosa fraktur dengan tepat. Obyek yang menyebabkan fraktur juga mempengaruhi jenis dan banyaknya fraktur. Kontak prematur gigi posterior atau gigitan terbuka anterior dapat disebabkan fraktur kondilus bilateral atau angle. Semua contoh tersebut hanya beberapa disharmoni oklusi multiple yang muncul akan tetapi setiap perubahan oklusi harus dipertimbangkan sebagai tanda awal suatu fraktur kondilus mandibula19. Gigitan terbuka pada fraktur kondilus25 Semua perubahan oklusi merupakan tanda adanya fraktur kondilus mandibula.Diagnosa dan gejala klinis Jenis dan arah kekuatan trauma sangat membantu diagnosa. apabila obyeknya besar maka dapat menyebabkan fraktur lebih dari satu lokasi dan sebaliknya bila kecil akan menyebabkan satu jenis fraktur karena kekuatan impaknya hanya terkonsentrasi pada satu lokasi 19. Gambar 3. Perubahan oklusi dapat dihasilkan dari fraktur gigi. Blow anterior yang langsung mengenai dagu dapt menghasilkan suatu fraktur kondilus bilateral. fraktur mandibula pada semua lokasi dan trauma pada sendi temporomandibula serta otot-otot pengunyahan. Pada pemeriksaan klinis harus ditanyakan pada penderita apakah gigitannya terasa berbeda. fraktur alveolar. Setiap penderita dengan 174 . Seorang penderita dengan gigi-gigi yang terkunci pada saat terjadinya impak akan menyebabkan terjadinya suatu fraktur alveolar atau gigi 19. sedangkan blow ke arah parasimfisis dapat menyebabkan fraktur kondilus kontralateral atau angle mandibula.1. Oklusi retrognatik biasanya berhubungan dengan fraktur kondilus atau angle dan oklusi prognatik dapat terjadi pada sangat menonjol pada fraktur sendi temporomandibula.

2.fraktur kondilus mandibula mempunyai keterbatasan pembukaan. Kiri: pergerakan normal mandibula. Gambar3. Pergerakan mandibula lateral dapat dihambat oleh fraktur kondilus dan fraktur ramus dengan pergeseran tulang19.3. Meskipun demikian fraktur kondilus mandibula yang sesungguhnya atau berhubungan dengan fraktur fasial menghasilkan pergerakan mandibula abnormal. Kanan: pergerakan abnormal mandibula25 Gambar 3. Deviasi terjadi karena otot pterygoideus lateralis yang berfungsi pada sisi yang tidak terpengaruh tidak dinetralkan oleh otot pterygoideus lateralisnya yang tidak berfungsi sisi berlawanan. Kiri: deviasi mandibula ke arah fraktur. Kanan: efek tarikan otot pada fraktur kondilus25 175 . maka terjadilah suatu deviasi. Deviasi pada saat pembukaan ke arah sisi fraktur kondilus mandibula merupakan contoh klasik tanda fraktur kondilus.

posteroanterior mandibula dan transkranial mandibula. body dan simfisis. (2) relasi segmen kondilus terhadap segmen mandibula. 176 . Klasifikasi Menurut De Riu (2001) klasifikasi fraktur kondilus disesuaikan dengan lokasi anatomi (intrakapsuler dan ekstrakapsuler) dan derajat dislokasi kepala artikuler. Gambaran wajah yang memanjang diakibatkan fraktur subkondilus. meskipun pada kontur fasial mungkin tertutupi pembengkakan. dengan cara meletakkan ibu jari pada gigi dan telunjuk pada batas bawah mandibula secara hati-hati dan perlahan-lahan memberikan tekanan diantara kedua tangan hingga dapat mendeteksi krepitasi fraktur19. Pemeriksaan mendalam terhadap kehilangan gigi dan tulang pendukung dapat membantu diagnosa fraktur alveolar. kemerahan. (3) relasi kepala kondilus terhadap fossa glenoideus. pembengkakan dan panas yang terlokalisir merupakan tanda yang awal yang sempurna suatu trauma dan meningkatkan indeks kecurigaan adanya fraktur mandibula19. Asimetri wajah sebaiknya diperhatikan klinisi terhadap kemungkinan fraktur kondilus mandibula. yaitu: (1) lokasi anatomis fraktur. Pemeriksaan Radiologis Penetapan diagnosis dari fraktur kondilus dapat ditegakkan dar pemeriksaan radiologis yang sering digunakan sebagai dasar penegakan diagnosis. towne’s view. Untuk melihat fraktur kondilus dapat dilakukan pemeriksaan radiolog dengan cara: panoramik. Rasa sakit. Klinisi sebaiknya melakukan palpasi dengan menggunakan kedua tangannya. Teknik pencitraan yang lebih jauh adalah CT scan dan MRI digunakan untuk trauma yang lebih kompleks dari kondilus 26.Pada pemeriksaan klinis sebaiknya memeriksa wajah dan mandibula dengan kontur yang abnormal. angle atau body. diikuti dengan mandibula bergeser ke bawah.27. Klasifikasi fraktur kondilus menurut Lindahl (1977) didasarkan pada beberapa faktor. lateral oblique mandibula.

Pada fraktur ini. Fraktur ini merupakan fraktur ekstrakapsular. Kepala kondilus. Leher kondilus merupakan daerah penyempitan tipis di bawah kepala kondilus. Fraktur ini mungkin digolongkan sebagai fraktur vertikal. c. b. Leher kondilus. melihat definisinya. fragmen tetap dalam kontak tanpa separasi atau overlap c. Nondisplaced b. akan tetapi sangat mudah untuk melihat penyempitan leher kondilus dan kepala kondilus bersandar di atasnya. Relasi segmen kondilus terhadap fragmen mandibula a. Displacement ke arah anterior atau overlap posterior e. Meskipun sangat sulit mendefinisikan dengan tepat kepala kondilus secara radiografik. Kepala kondilus mempunyai relasi normal terhadap fossa glenoid 177 . Fraktur kondilus. Displacement ke arah medial atau overlap lateral. Tarikan muskulus pterygoideus lateral menyebabkan fragmen bergeser ke arah medial d. 1.Tidak ada kontak antara fraktur segmen 3. 2. Relasi antara kepala kondilus dan fossa glenoideus a.Sistim klasifikasi ini memerlukan pencitraan radiografik yang diperoleh sekurangkurangnya dua gambar dari sudut yang tepat 26. Deviated. Subkondilus. Nondisplaced. Regio ini terdapat di bawah leher kondilus dan memenjang dari titik terdalam sigmoid notch anterior hingga titik terdalam aspek konkaf poterior ramus mandibula. merupakan fraktur intrakapsular karena kapsul melekat pada leher kondilus. Berdasarkan lokasi fraktur maka fraktur ini sering disebut sebagai fraktur subkondilus ”tinggi” atau “rendah”. Ketinggian fraktur kondilus a.

Displacement.19. keseimbangan maksilofasial. Gambar 3. Adanya tarikan muskulus pterygoideus lateralis menyebabkan segmen kondilus terletak anteromedial. Dislokasi. Indikasi perawatan fraktur kondilus dengan konservatif bila displacement yang terjadi minimal atau tidak ada atau bila garis fraktur terlalu tinggi sehingga sulit dilakukan stabilisasi secara bedah21.b. Pengawasan yang ketat wajib dilakukan untuk melihat ketidakstabilan oklusi. Perawatan fraktur kondilus dengan cara konservatif sangat sederhana.4 Klasifikasi menurut Lindahl19 Perawatan Perawatan fraktur kondilus mandibula masih kontroversial. Perawatan fraktur kondilus dapat dilakukan dengan cara konservatif atau metode tertutup dan bedah atau metode terbuka 8. oklusi. Kepala kondilus tertinggal dalam fossa.21. eyelet 178 . Metode tertutup atau konservatif Fonseca (1997) menyatakan bahwa komplikasi selama perawatan konservatif sangat jarang terjadi. tetapi ada gangguan sendi c. Tujuan perawatan fraktur kondilus adalah mengembalikan fungsi sistim pengunyahan seperti asalnya. rekonstruksi tersebut melibatkan hubungan antara segmen fraktur. terutama disebabkan banyaknya modalitas yang ditawarkan oleh berbagai macam literatur. Immobilisasi melibatkan intermaxillary fixation (IMF) dengan menggunakan arch bar. deviasi pad saat pembukaan.28. evaluasi klinis dan radiografi. peningkatan rasa nyeri.

  Fraktur kondilus bilateral akibat fraktur wajah tengah comminuted Ankylosis kondilus mandibula akibat trauma dan tertunda perawatannya 179 . derajat pergeseran dan danya fraktur tambahan.wires atau splint.5 Pemakaian arch bar dan splint pada fraktur kondilus19 Metode terbuka atau bedah Perawatan dengan metode terbuka diindikasikan bila 19.8. Lamanya immobilisasi rata-rata sekitar 7 hingga 21 hari. Gambar 3. Apabila intermaxillary fixation telah dilepas maka diikuti dengan penggunaan elastic guidance untuk mengarahkan mandibula pada posisi maximal intercuspation.21.8. Selanjutnya bila penderita telah mempunyai kemampuan fungsional kembali dan oklusi tetap stabil serta rasa sakit minimal maka elastic guidance dan arch bar dilepas19. Periode ini dapat meningkat atau menurun tergantung pada umur penderita.23:      Displacement kondilus ke dalam fossa cranial media Oklusi yang adekuat tidak mungkin didapatkan dengan metode tertutup Dislokasi kondilus ekstrakapsular lateral Fraktur kondilus bilateral pada pasien tidak bergigi Fraktur kondilus bilateral atau unilateral bila splinting tidak direkomendasikan karena keadaan umum pasien atau karena fisioterapi tidak memungkinkan.

pergerakan mandibula dan gejala-gejala yang timbul selama sendi berfungsi. 180 . Metode tersebut telah banyak menunjukkan keberhasilan dan jarang menimbulkan reankylosis. Apabila oklusi telah stabil maka elastic guidance dapat dilepas dan fisioterapi dilakukan dengan penempatan tongue-blade diantara insisif sentral untuk mencegah keterbatasan permanen ankylosis8. ikatan diperkuat tiap minggu.6. setelah wires dilepas. (2) sistim Arbeitgemeinschaff fur Osteosynthesefragen/sistim Association for the Study for Internal Fixation (AO/ASIF) dengan penggunaan stainless steel compression atau plat rekonstruksi dengan bicortical screws dan (3) Teknik Champy miniplate digunakan sepanjang” line of ideal osteosynthesis” memakai moncortical screws8.Tiga teknik yang terpisah untuk fiksasi rigid pada perawatan fraktur kondilus dengan metode terbuka. Gambar 3. dilakukan penilaian status sendi temporomandibula terutama jarak pembukaan. Apabila oklusi belum stabil maka penggunaan elastic guidance selama 2-3 minggu sangat dianjurkan agar adaptasi neuromuscular dapat tercapai. Pemakaian monocortical screws19 Kondilektomi merupakan salah satu teknik untuk membebaskan ankylosis dan tetap mempertahankan arsitektur sendi temporomandibula. yaitu: (1) sistim bikortikal Luhr dengan penggunaan plat vitallium.19. Pemakaian IMF dilakukan selama 3 minggu.

Metode pendekatan yang sering digunakan untuk melakukan kondilektomi. post auricular approach8. Risdon approach. 181 . inverted “hockey stick” approach.Fiksasi intermaksiler diaplikasikan dalam periode yang pendek. endaural approach. yaitu pre auricular approach. diikuti dengan pengawasan yang ketat serta perawatan fisioterapi selama setahun19.

24 : Maloklusi Maloklusi yang sering terjadi setelah trauma kondilus dapat disebabkan karena perubahan dari pusat pertumbuhan kondilus dan penyatuan dari segmen fraktur pada posisi yang tidak seharusnya.7 Metode pendekatan bedah pada kondilektomi19 Gambar 3.22.9 Post auricular dan Risdon approach26 Komplikasi Komplikasi fraktur kondilus mandibula selama perawatan jarang terjadi dan yang paling sering terjadi 19.Gambar 3.8 Pre auricular approach26 Gambar 3.8. 182 .21.

Faktor-faktor ini berpengaruh pada pendekatan penatalaksanaan yang akan dilakukan. 183 . Faktor lain yang mempengaruhi terjadinya ankylosis adalah umur pada saat terjadi injuri.Ankylosis sendi temporomandibula Ankylosis dapat diklasifikasikan berdasarkan derajat keterbatasan. Deviasi ke sisi fraktur dapat terjadi pada unilateral. kesehatan mulut dan nutrisi. lamanya immobilisasi dan kerusakan diskus. dan lamanya immobilisasi.21. tempat dan tipe fraktur. sedangkan pada bilateral ankylosis menunjukkan adanya gigitan terbuka anterior dan hampir pembukaan mulut hampir tidak ada 19. hypermobility dan kadangkadang disk displacement. lokasi perlekatan dan tipe jaringan yang terlibat. Gangguan pertumbuhan Beberapa factor yang mempengaruhi efek dari fraktur kondilus terhadap pertumbuhan kerangka wajah yaitu usia pasien. Dimana cap kartilago memberikan tekanan sehingga mandibula tumbuh ke arah depan dan bawah. tingkat keparahan trauma. Kerusakan yang terjadi pada fraktur kondilus dapat menimbulkan dearangement sekunder pada sendi kontralateral sehingga terjadi overloading pada sendi yang tidak terkena injuri. demikian pula dengan pembentukan jaringan parut fibrous di daerah cedera temporomandibular dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan Gangguan sendi temporomandibula lainnya Internal derangement akibat fraktur kondilus dihasilakan dari trauma langsung pada sendi. Gejala komplikasi tersebut di atas sering disebut dengan “condylar post fracture syndrome” 19. Kartilago kondilar merupakan pusat utama pertumbuhan mandibula. Gangguan seperti displacement mandibula dan aposisi tulang diregio kondilus dapat memyebabkan gangguan pertumbuhan mandibula. Hasil akhir kelainan tersebut akan menyebabkan keterbatasan pergerakan mandibula sehingga terjadi gangguan bicara.

substansia kompakta. elastis serta mampu melakukan regenerasi bila mengalami trauma/fraktur 29. endosteum dan kavum medullare29. 3. dan sel-sel osteoprogenitor yang mempunyai potensi osteogenik yang sangat berperan aktif pada penyembuhan fraktur tulang.1 Gambaran Histologis Struktur Tulang Karakteristik dari tulang mempunyai struktur yang bagian luarnya tersusun atas tulang kompak yang disebut kortek dan pada bagian dalam yang berbentuk seperti anyaman adalah tulang kanselus/spongious/trabecular. Unit fungsional tulang disebut juga sistem havers atau osteon yang terdiri atas kanal havers sentral yang dikelilingi oleh lapisan konsentris tulang/ lamela. 184 . namun demikian tulang sangatlah kuat. dimana pada lapisan dalam periosteum terdapat pembuluh darah. substansia spongiosa. limfe. Urutan lapis demi lapis struktur tulang dari luar ke dalam adalah: periosteum. Pada Tulang yang mengandung lebih banyak substansi tulang spongios dibanding tulang kompak disebut “cancellous”. Berat tulang hanya sepersepuluh dari berat badan. Di bagian dalam tulang terdapat rongga medula/sumsum tulang. dimana tulang rahang termasuk dalam golongan tulang ini. Lamela tulang yang mengelilingi kanal havers mempunyai lakuna yang mengandung osteosit yang mengatur aktivitas selular tulang29. yang dibatasi oleh endosteum yang juga mengandung sel-sel osteoprogenitor. Tulang dilapisi oleh jaringan fibrous yang disebut periosteum.BAB IV PENYEMBUHAN TULANG DAN KOMPLIKASI PASCA PENYEMBUHAN Tulang merupakan jaringan keras yang membentuk tubuh manusia.

1 Osteoblas Osteoblas berfungsi dalam sintesa matrik tulang yang berperan dalam pertumbuhan. Gambaran Histologis Jaringan Tulang29 3. perbaikan dan remodelling tulang.2 Komposisi Tulang Komposisi tulang terdiri dari 8% air dan 92% benda padat yang tersusun atas unsur organik. Unsur organik Unsur organik yang merupakan matrik tulang tersusun dari 28% kolagen dan 5% nonkolagen protein. Sel ini mengandung enzim lisosim seperti asam 185 . 2. 2. osteosit dan osteoklas29 2. 1.3 Osteoklas Osteoklas merupakan sel tulang yang berfungsi dalam resorbsi tulang.Gambar 4. Osteoblas berasal dari sel yang terdapat pada lapisan dalam periosteum atau dari diferensiasi sel-sel mesenkim. Sel ini berperanan dalam nutrisi tulang berupa transfer oksigen dan metabolit/ kalsium). 2. anorganik dan sel-sel tulang. Unsur selular Terdapat tiga jenis sel utama tulang yaitu : Osteoblas. 1.2 Osteosit Osteosit yang berasal dari osteoblas yang terperangkap dalam matrik tulang yang mengalami mineralisasi.

Penyembuhan primer. Tempat perlekatan otot 4. Persendian 3. Kristal tulang ini tersusun sejajar dengan sumbu serat kolagen. Sedangkan fungsi biokimiawinya sebagai tempat penimbunan kalsium dan fosfor dalam proses menjaga keseimbangan kadar mineral di dalam darah. Bila sel ini berkontak dengan permukaan tulang maka akan berpenetrasi ke dalam tulang dan mengeluarkan enzimnya sehingga terjadi resorbsi tulang. biasanya reduksi anatomis yang sempurna jarang terjadi. 3. 3.fosfat dan katepsin. Ca10(PO4)6(OH)2. Fungsi mekanis tulang meliputi: 1. 3. Fungsi sebagai rangka 2.3 Fungsi Tulang Tulang mempunyai dua fungsi utama yaitu: fungsi mekanis dan biokimia. Pada beberapa bagian segmen tulang dapat terjadi adanya celah yang kecil. 1.1 Penyembuhan pada celah (Gap Healing) Meskipun fiksasi stabil pada fragmen fraktur. sebagai berikut : 1. Unsur anorganik Komposisi tulang secara kimiawi terdiri dari 67% bahan anorganik (Hydroxyapatite). Pembuluh darah dari periosteum. endosteum dan sistem havers akan menginvasi celah dan membawa sel-sel osteoblastik mesenkim yang akan mendeposit tulang pada fragmen fraktur tanpa 186 .4 Penyembuhan Jaringan Keras Tulang Pada proses penyembuhan fraktur tulang terdapat fase penyembuhan primer dan sekunder. dimana unsur utamanya berupa garam anorganik hidroksiapatit kristalin. Pada bagian ini akan terjadi proses penyembuhan dalam waktu beberapa hari setelah fraktur. Melindungi alat-alat tubuh penting.

2. Bila fragmen fraktur kurang dari 0. Penyembuhan sekunder 2. 187 . sedangkan celah antara 0. Rekonstruksi lengkap dari kortek tulang memerlukan waktu hingga 6 bulan. Proses ini terjadi melalui regenerasi tulang dimana terjadi aktivitas osteoklas pada bagian fraktur yang menyediakan tempat untuk pertumbuhan dan proliferasi osteoblas guna membentuk tulang baru.melalui pembentukan kalus.0 mm akan terisi oleh “woven bone” selanjutnya dalam ruang trabekula akan terisi oleh tulang lamela. Perdarahan pada pembuluh darah endosteum.2 Penyembuhan kontak (contact healing) Penyembuhan kontak terjadi pada fragmen fraktur yang tidak terjadi kontak. Dalam waktu 6 minggu tulang lamelar akan tersusun tegak lurus terhadap fragmen fraktur.3mm akan terbentuk langsung tulang lamelar. Gambar 4.1 Tahap awal Pada fraktur tulang akan menimbulkan reaksi inflamasi disertai dengan pengaktifan sistem pertahanan tubuh yang menginduksi pelepasan sejumlah angiogenik vasoaktif sehingga terjadi vasodilatasi dan oedema dalam beberapa jam. 1. kemudian proses remodeling akan merubah sejajar dengan sumbu tulang. Penyembuhan primer 29 2.5 1. periosteum dan sistem havers menyebabkan hematoma.

2 Tahap kalus kartilogenus (soft callus) Pada hari ketiga sampai kelima jaringan granulasi akan berkondensasi membentuk kalus yang terjadi baik internal maupun eksternal (gambar 3). Osteoblas bertambah banyak dan osteoklas mulai nampak. sedangkan sumsum tulang akan mengalami degenerasi lemak.3. mastosit dan platelet. makrofag. Platelet akan berdegranulasi Zmelepaskan PDGF (Platelet Derived Growth Factor). limposit. fibrin. FGF(Fibroblastic Growth Factor) yang bersifat kemoatraktan dan mitogenik sehingga dalam waktu 8 . Kalus yang terbentuk akan menstabilkan ujung fragmen 188 . fibroblas bermigrasi dan membentuk kolagen selanjutnya berdeferensiasi menjadi kondroblas yang membentuk kartilago. Pase awal stage fibroplastik pembentukan tulang15 2.fragmen tulang mengalami deposit tulang oleh sel-sel osteoblas dari periosteum. 29. Keadaan ini memicu aktivitas sel makrofag untuk membersihkan jaringan nekrotik15. fibroblas dan sel kondrogenik (gambar 3). Terjadi pembentukan kapiler yang bersama kolagen yang berasal dari fibroblas membentuk jaringan granulasi. Hematoma yang terjadi mengandung eritrosit .12 jam akan terjadi proliferasi selular lapisan luar periosteum seperti osteoblas. PMN. Gambar 4.30. terjadi kalsifikasi kartilago yang menyebabkan kondroblas berubah menjadi kondrosit.

Gambar 4. berfungsi untuk menjamin hubungan antara keseluruhan kalus dengan fragmen tulang. Terbentuk akibat proliferasi endosteum dan membentuk trabekula tulang yang susunannya tidak teratur. 189 . yang dikelompokkan berdasarkan pada letak atau berdasarkan pada fungsi dan urutan pembentuknya: Anchoring Callus: Terbentuk jauh dari fragmen fraktur dan mendekati ke arah bridging callus. Osteoblas akan mendepositkan osteoid pada kartilago yang mengalami kalsifikasi.4. Sel-sel jaringan ikat pada daerah ini akan berdifrensiasi jadi osteoblas dan menghasilkan substansia spongiosa yang melekat erat dengan permukaan tulang. volumenya semakin meningkat mendekati garis fraktur membentuk lepeng tulang yang menutupi rongga sumsum. Terdapat beberapa jenis kalus tulang primer. kemudian osteoid mengalami kalsifikasi menjadi tulang yang tersusun acak (woven bone). selanjutnya berubah menjadi tulang lamela pada tahap remodeling29. Pase akhir stage fibroplastik pembentukan tulang15 2. Sealing Callus: Berfungsi menutupi rongga sumsum yang terbuka dan berkembang dari bagian dalam kortek tulang.30 .fraktur sehingga menguatkan tulang. 29.30.4 minggu.3 Tahap kalus tulang (hard callus) Proses ini terjadi dalam waktu 3 . kalus kartilagenous terisi oleh pembuluh darah yang akan meningkatkan tekanan oksigen dan nutrisi yang akan memacu aktivitas osteoblast 15.

Saat pembentukan anchoring callus. setelah reduksi dan fiksasi. Pada daerah fraktur kalus dapat diraba sebagai masa bulat dan padat 5.Bridging Callus: Fungsinya sebagai jembatan dari kedua fragmen fraktur dan volumenya paling banyak jika dibandingkan dengan jenis kalus lainnya.6 Gambaran Radiologis Penyembuhan Fraktur Pemeriksaan radiologis penting untuk diagnosa dan membantu dalam evaluasi perawatan. kartilago hialin. Dalam remodeling akan terjadi resorpsi tulang oleh osteoklas.30. terjadi pula diferensiasi pada daerah bridding callus fibrokartilago. serta minimal 1 kali setiap bula selama perawatan serta foto diambil minimal dari dua arah berbeda. ossifikasi terjadi pada jaringan ikat diantara fragmen fraktur dan juga ossifikasi tersebut dapat terjadi secara langsung. Tidak ada rasa nyeri 3. Uniting callus: Terbentuk sepanjang garis fraktur dan berfungsi menyambungkan kedua fragmen fraktur. Secara fungsional organ telah dapat dipergunakan tetapi masih perlu dibatasi.4 Tahap remodeling Osteoklas dan osteoblas merupakan sel yang sangat berperanan dalam remodeling tulang. 2. ossifikasi (pada saat substansia spongiosa anchoring callus telah mencapai kartilago) hingga membentuk tulang baru. 190 .5 Tanda-Tanda Klinis Penyembuhan Fraktur 1. 3. Gejala hematom menghilang 2. Fragmen tidak bergerak dan tidak ada krepitasi 4.15. selain akan dilepaskan protein morphogenetik tulang (BMP) yang bersifat mitogenetik yang menginduksi diferensiasi sel-sel mesenkim menjadi osteoblas untuk pembentukan tulang sehingga kontur tulang kembali pulih29. 3. dan dilakukan sebelum perawatan.

Pterigoideus lateralis bagian inferior. geraham ±90kg. Gerakan mandibula dipengaruhi oleh empat pasang otot yang disebut otot-otot pengunyah. Kekuatan dinamis dari otot pengunyah orang dewasa pada gigi seri ± 40kg. maka yang berkontraksi adalah m. temporalis. 3. pterigoideus lateralis dan medialis. disusul m pterigoideus lateralis bagian superior ( yang berinsersi pada kapsul sendi) saat mulut membuka lebih lebar.7 Biomekanik Mandibula Mandibula memiliki mobilitas dan gaya yang sangat banyak. sedang kekuatan menggigit daerah incisivus ±10kg. Gambaran rdioopak nampak jika telah terbentuk kalus sekunder. Pada waktu membuka mulut. bentuk dan perlekatan ototnya mandibula dapat digambarkan sebagai sebuah struktur yang mengubah tekanan yang diterimanya menjadi suatu 191 . Tujuan dari semua terapi fraktur ialah mengembalikan bentuk dan fungsi seperti semula. Pada tulang yang telah sembuh sempurna radiolusensi garis fraktur hilang dan diganti gambaran radioopak yang sulit dibedakan dengan radiopasiti pad jaringan tulang normal. molar ±15 kg. Pterigoideus medialis. nampak adanya trabekulasi sepanjang garis fraktur atau tempat penyatuan. Temporalis dan masseter dan diperkuat lagi oleh m. Otot digastricus bukan termasuk otot pengunyah tetapi mempunyai peranan yang penting dalam fungsi mandibula. Sedangkan otot yang berperan untuk menutup mulut adalah m. Rahang bawah memiliki bentuk anatomis yang unik. Konsep biomekanik pada perawatan fraktur mandibula perlu dipahami sebab keadaan statik dan dinamik dapat mempengarui proses penyembuhan fraktur. yaitu otot masseter. sehingga dalam melakukan penanganan fraktur mandibula harus benar-benar diperhatikan biomekanik yang terjadi. berdasarkan arsitektur tulang.Gambaran radiologis proses penyembuhan: Secara klinis terjadi penyatuan fragmen fraktur dan secara histopatologis telah terbentuk penulangan namum secara radiologis belum tampak gambaran radioopak yang jelas. Hal tersebut dapat dicapai dengan melakukan imobilisasi menggunakan fiksasi internal dan eksternal .

14. Aksis tranversal imajiner yang terletak kira-kira sepanjang kanalis mandibula memisahkan prosesus alveolaris yang merupakan daerah tegangan atau disebut dengan tension area dari daerah basal mandibula yang merupakan daerah kompresi atau disebut dengan compression area. (3. 4. Plat sudah cukup stabil untuk menetralkan shear dan torsional stress. prinsip perawatan dilakukan dengan mempertimbangkan kekuatan-kekuatan pada kedua sisi dari aksis imajiner tersebut.bentuk daya tensi dan kompresi. Secara umum. Tension band berfungsi untuk mengurangi kekuatan yang membengkokkan yang terjadi di bagian alveolar atau kekuatan menahan yang menjauhi plat. sehingga kedua kekuatan tegangan yang berlawanan tersebut harus dinetralisir untuk mendapatkan reduksi fungsional yang stabil.15. Kekuatan kompresi dihasilkan sepanjang daerah basal mandibula sedangkan kekuatan tensi terdapat pada sepanjang daerah alveolar.6 tension site (+) dan compression site (-) pada mandibula Gambar.7 tension line pada mandibula3 Hal ini dapat ditempuh dengan penggunaan plat dan tension bar system yang secara individual berbeda tergantung dari lokasi dan tipe frakturnya. pressure trajectory yang menghasilkan kekuatan kompresi pada mandibula kemudain terjadi distorsi misalnya di rahang yang fraktur dapat diperbaiki dengan pemasangan plat osteosintesis.16) 192 . Gambar 4. sedangkan tension trajectory dengan menggunakan arch bar yang berfungsi sebagai tension band. Pada waktu mandibula mengalami fraktur.

Gambar 4.(17) Selain menggunakan dua miniplate dapat juga digunakan SNT plate untuk fraktur di regio symphisis.8 momentum gaya pada mandibula 11 Kekuatan torsional pada mandibula terdapat pada bagian symphisis mandibula. Delayed union dan nonunion Delayed union adalah keterlambatan penyembuhan karena: Adanya interposisi diantara jaringan lunak diantara fragmen Fiksasi yang kurang baik Kurangnya reparatif vital dari tubuh karena gangguan sistemik Sedangkan pada nonunion tidak terjadinya penyembuhan atau tidak bersambungnya ujung-ujung tulang yang fraktur kecuali dilakukan pembedahan untuk memperbaiki fraktur tersebut. Hal ini bisa disebabkan karena : Fragmen-fragmen tulang tidak ditahan dengan rigid Fraktur dibiarkan terlalu lama Alat Fiksasi terlalu cepat dibuka Adanya jaringan lunak. Stabilisasi fragmen tulang yang fraktur di regio ini digunakan dua miniplate dengan jarak antar plat kurang lebih 5mm untuk menetralkan kekuatan rotasi pada daerah symphisis tersebut. serat oto. hal ini disebabkan karena banyaknya muskulus dasar mulut yang melekat pada bagian ini sehingga apabila terjadi fraktur pada bagian ini maka dapat timbul rotasi. Komplikasi Adapun komplikasi yang dapat terjadi pada penyembuhan tulang adalah15 : 1. jaringan fibrous diantara fragmen tulang 193 .

Fiksasi inadekuat 194 . tindakan debridemen yang kurang sempurna dan sterilisasi yang kurang baik . pasien yang kurang koopertif. pemberian obat-obatan yang kurang adekuat . Dapat disebabkan oleh faktor sistemik seperti alkoholik dan tanpa penggunaan antibiotik. dapat juga disebabkan oleh : a.9. Fistula pada fraktur mandibula anterior setelah open reduction15 3. Pada beberapa penelitian. tanpa penggunaan antibiotik dapat terjadi lebih dari 50% kasus fraktur. penyebaran infeksi dari jaringan sekitarnya. 2. dan juga faktor lokal seperti reduksi dan fiksasi yang buruk. Gangguan pada penyembuhan tulang (Malunion) terjadi karena kegagalan transformasi hematoma menjadi matrik osteogenik sehingga yang terbentuk jaringan fibrous nonosteogenik.- Gangguan sistemik atau penyakit kronis Delayed union dan nonunion dapat terjadi pada 3 % dari kasus fraktur. Infeksi Infeksi dan osteomielitis merupakan komplikasi yang paling sering terjadi. Gambar 4. b. Reduksi Inadekuat Dapat disebabkan oleh distraksi fragmen fraktur oleh traksi otot atau oleh interposisi jaringan lunak antara fragmen fraktur. Malunion Malunion dapat dijelaskan sebagai penyatuan fraktur tulang dimana displacement tulang masih terlihat.

Faktor sistemik Kekurangan vitamin C dan D mengakibatkan gangguan pada metabolisme kolagen dan proses mineralisasi tulang. c. usia. 4. Gangguan pertumbuhan Gangguan pertumbuhan yang merupakan akibat dari trauma pada kondilus dapat diakibatkan oleh trauma langsung pada kondilus atau karena fibrosis atau scarring dari jaringan disekitarnya. Injuri nervus Injuri pada nervus alveolaris inferior biasa terjadi pada fraktur korpus dan angulus mandibula. Vaskularisasi Menurunnya vaskularisasi oleh karena trauma. Infeksi Infeksi dapat menimbulkan osteomielitis baik yang mengakibatkan periosteum dan jaringan lunak yang berdekatan tidak berfungsi sehingga terjadi pembentukan lapisan fibrous penyatuan tulang. e.Seringkali mengakibatkan mobilitas dari fragmen fraktur sehingga terjadi “delayed union” . bila pergerakannya melebihi ambang batas fisiologis maka pembuluh darah kapiler akan terputus dan metabolisme penyembuhan tulang akan terganggu karena hilangnya suplai nutrisi. 195 . penyakit yang mengganggu aktivitas yang menghalangi menimbulkan reduksi tekanan oksigen selular pada proses penyembuhan tulang. Kerusakan syaraf bisa disebabkan karena trauma yang hebat pada waktu kecelakaan atau terputusnya syaraf oleh fragmen tulang. 5. d.

Trismus karena adanya fibrosis atau disfungsi atropi dari otot-otot pengunyahan.Gambar 4. 196 .8 Lama Penyembuhan Tulang Proses penyembuhan tulang sampai terbentuknya tulang lamela membutuhkan waktu hingga 6 minggu. 3.10 Hipoplasia mandibula akibat fraktur kondilus bilateral15 6. Selanjutnya pada proses remodeling sampai terjadi rekonstruksi lengkap korteks tulang membutuhkan waktu 6 bulan31.

serta perawatan pasca operasi dan rehabilitasi. simfisis dan parasimfisis. berbicara dengan normal dan menciptakan pergerakan artikulasi seperti sebelum terjadinya trauma. Sebagai tambahan juga usia pasien. tehnik operasi yang benar terutama dalam pencapaian oklusi mandibula.BAB V KESIMPULAN Mandibula merupakan fraktur kedua yang palling sering terjadi pada tulang maksilofasial dikarenakan posisi dan bentuknya yang membusur. Lokasi dan pola dari fraktur dapat dibagi berdasarkan mekanisme dan arah dari trauma. Perawatan fraktur mandibula terdiri dari dua macam yaitu dengan menggunakan metode tertutup atau dengan menggunakan metode terbuka Harus diperhatikan indikasi dan kontra indikasi bila akan dilakukan perawatan fraktur mandibula dengan metode terbuka. korpus mandibula. Pengelolaan fraktur kondilus mandibula harus sesegera mungkin berdasarkan diagnosa yang akurat sehingga dapat mengurangi atau menghilangkan komplikasi yang akan timbul 197 . angulus. Dalam tatalaksana fraktur mandibula perlu dipahami biomekanik mandibula sehingga dapat diperkirakan letak fiksasi yang benar dan didapatkan hasil yang memuaskan. keberadaan gigi-geligi dan karakteer fisik. Lokasi fraktur mandibula terbanyak pada kondilus. dan prossesus koronoideus. Pemberian diet yang tepat dapat menjaga kesehatan pasien. Hal ini dapat dicapai dengan pemilihan modalitas yang tepat. segmen dento alveolar. Restorasi fungsi mandibula sebagai bagian dari sistem stomatognati harus mencakup kemampuan untuk mastikasi yang baik. ramus.

2005. Jadoon H. Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Indonesia. Jakarta. Batuello T. hal 132-156. L.pdf. 7. Edisi 6. Malik S. 2006. Volume 19.ayubmed. R.com/article/868517-treatment. Jakarta. Buku Ajar Ilmu Bedah. Laub D. 4.1996. 198 . Adams G. 2010. Ajmal S. P. A. G. Jakarta. Management protocol of mandibular ractures at Pakistan Institute of Medical sciences. Boies L. Barrera J. Available at http://www. 8. last update 21 Desember 2010 9. Penerbit buku kedokteran EGC. Facial Trauma. S. Mandibular Angle Fractures: Treatment. pemasangan Penanganan Arch-Bar. 2006. Sjamsuhidajat. last update 12 Desember 2010. Available at last update 12 http://medind. R.medscape. Higler P.in/maa/t08/i3/maat08i3p218.2009. Sinha C. Management of Mandibular Fractures. A. 12:39-41. Menon C. Bab VII. Islamabad. Jakarta 6. Khan M.medscape. C. Edisi 6. Pakistan.DAFTAR PUSTAKA 1. A. 2007.edu. Edisi 2. 2007. Buku ajar ilmu kesehatan Telinga Hidung Tenggorokan Kepala Leher. Thapliyal C. Fraktur Majalah dengan Kedokteran Unibraw. R.. issue 3. G. L.com/article/1283150-overview Desember 2010 5. Available at http://emedicine. Iskandar N. Anatomi Klinik untuk mahasiswa kedokteran. Jong W D. Chakranarayan S. E.pdf last update 12 Desember 2010 2. Mandibular Fractures. Snell R. Penerbit buku kedokteran EGC.nic. Soepardi E A. Sugiharto Mandibula Setyo. Available at http://emedicine. 3. Boies Buku Ajar penyakit THT. A.pk/JAMC/PAST/19-3/13%20Samira%20Ajmal. 1997. pada Hardjowasito Anak Widanto. Penerbit Buku Kedokteran EGC. J Ayub Med Coll Abbottabad.

In management of temporomandibular disorder and occlusion . L. 98. 2006. London.1996. Edinburg: Churchill Livingstone. St Louis.Vol 3. et al. Pedlar. Mosby. Louis: Mosby. Wijayahadi R Yoga. Tucker. 71-71. Peterson. Fonseca. 4th ed. Oral and Maxillofacial Surgery. Louis: Churchill Livingstone.2001. Pedersen. David DJ. Oral and Maxillofacial Surgery. Vol. Hal: 1-9. eMedecine Journal. St Louis 13-21 13. Functional anatomy and Biomechanics of the masticatory system. 2004. Peterson: et al. 199 . Hal:1-3 23. Buku Ajar Praktis Bedah Mulut .W.J. 2001. Widell T. Oral and Maxillofacial Trauma.1993. R.125-132 11. 2nd ed.B. Principle’s of Oral and Maxillofacial Surgery. 3rd ed. Edisi 1. Churchill Livingstone. Philadelphia 19.2005. Saunders Co. Chaudhary A 2002. 1997. Booth. P. Vol. R. Keith L Moore. et al. 2002. 3rd .J. Okeson Jeffrey P. Temporomandibular Joint Syndrome. Hal : 270-283. Fractures Mandible. 1995. 15.2007. Oral and Maxillofacial Trauma. Fonseca . WB Saunders Co. Okeson JP. St. St Louis: Elsevier. et al. et all. 20. 58-63. William-Wilkins hal:143-148 12. G. J and Frame J.J.W. 2. Mosby Co. Maxillofacial Surgery. Hal: 1-16 22. eMedecine Journal. 14.. 17. Surabaya. 89-95. et all. Divisi Ilmu Bedah Kepala & Leher SMF/Lab Ilmu Bedah RSDS/FK Unair Surabaya:25-26. Clinically Oriented Anatomy. 18.100. Vol 2.10. 1997. Third ed. Ankylosis of TMJ. SR. Murtedjo Urip. 1996. Philadelphia: W. Trauma Maksilofasial Diagnosis dan Penatalaksanaannya. 16. St.W. 2. 21. Second ed. Oral and Maxillofacial Surgery eJournal. Craniomaxillofacial Trauma.

. Condylar and Subcondylar. louis. A comparison of open and closed treatment of condylar fractures: a change in philosophy . Philadelphia. Bone In Ten Cate’s Oral Histology.. Hal :1-13.2001. 1990. p. London. WB. A Textbook and Colour Atlas of the Temporomandibular Joint. Vol 2.24. Mosby. Cross AR. Bianco P.Lewis DD. Hal: 26-51. Nanci A. 1988.Inc. Whitson SW. P. Goldman KE.. JE. Disorders. Gamba U.1991. Sesenna E. De Riu G. Facial Injuries. Surgery. Feinberg SE. Fractures Mandible. 6thed St. Fundamental of Ortopedic Surgery. 200 . 111-44 29.. Sounders Co. Norman. Year Book Publishers. 2002. 25. Larsen PE. Fracture Management Bone Healing and Grafting. Diseases. Wolfe Medical Publications Ltd. 30: 384 – 389 27. Schultz RC... Oral and Maxillofacial Trauma. Int J Oral Maxillofac Surg... London. 26. Anghinoni M. 30. Hal: 386-404. Bramley. 28. 2003.

201 . Maksud dari penyusunan makalah ini adalah untuk menggambarkan mengenai tipe-tipe fraktur pada maksila. Penanganan dan rehabilitasi pasien dengan trauma pada maksila meliputi pemahaman terhadap jenis. trauma. II. dan III. biasanya dapat menyebabkan jejas atau fraktur pada maksila dan tulang-tulang di sekitarnya. serta penanganannya agar diperoleh hasil pemulihan yang optimal. tergantung pada organ-organ yang terlibat. Le Fort mengklasifikasi pola fraktur pada maksila menjadi fraktur Le Fort tipe I. evaluasi. Le Fort.Fraktur Maksila (Le fort I. dan perawatan bedah pada wajah. fiksasi. pemeriksaan. III) Nurwahida 160121120008 Peserta Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut Dan Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Bandung Abstrak : Suatu trauma yang mengenai bagian tengah wajah. reduksi. II. Pola fraktur yang terjadi pada maksila biasanya mengikuti area terlemah pada kompleks midfasial. Kata kunci: Fraktur.

Fraktur ini termasuk yang serius karena menyangkut struktur penting lainnya yang berdekatan seperti rongga hidung. sinus maksilaris. termasuk juga mensyarafi labial dan gigi-gigi anterior. Terdapat suplai darah yang sangat bagus ke wajah. labial superior dan regio palpebral inferior.BAB I PENDAHULUAN Fraktur maksila adalah suatu keadaan dimana hilangnya kontinuitas dari tulang maksila dengan tulang pendukung disekitarnya ataupun dengan bagian – bagian dari tulang masksila itu sendiri.2 Fraktur pada daerah ini mempunyai gambaran yang unik dibandingkan dengan injury pada bagian tubuh yang lain seperti : 1. yang dapat membantu sebagai pedoman dalam mengembalikan perlekatan dan stabilisasi fraktur. Nervus ini muncul dari foramen infra orbital dan kemudian berjalan untuk mensyarafi nasal lateral.1 Pada daerah maksila ini perdarahan disuplai oleh arteri palatina mayor bersama-sama dengan arteri alveolar superior dan posterior yang bermuara pada palatum durum dan mole. Pada regio anterior cabang terminal dari arteri naso palatinus keluar pada foramen insisivus dan mereka mensuplai mukoperiosteum dan palatum bagian anterior. sehingga membantu dalam proses penyembuhan yang cepat. yang harus dilakukan tindakan cepat dan langsung. rongga mata bahkan dapat melibatkan kerusakan di otak baik secara primer maupun sekunder dari penyebaran infeksi. Menampilkan oklusi gigi.kombinasi. Fraktur yang disebabkan trauma ini bisa terlokalisir atau muncul dalam kombinasi. 202 . Melibatkan jalan nafas. 2. 3. Sedangkan persyarafan melalui divisi kedua dari nervus trigeminus.

4 Pada daerah maksila ini perdarahan disuplai oleh arteri palatina mayor bersama-sama dengan arteri alveolar superior dan posterior yang bermuara pada palatum durum dan mole. Ia menyediakan pondasi kepada proyeksi fasial anterior sambil memberikan perlindungan kepada basis tengkorak dan berperan sebagai jangkar kepada ligamen fasial dan perlekatan otot. labial superior dan regio palpebral inferior. Tulang midfasial terdiri dari rangkaian penebalan vertikal. Midfasial secara efektif menyerap.2 Kompleks midfasial dilengkapi oleh struktur dukungan vertikal untuk menahan tekanan dari bawah. 3 Gambar 1. dan septum nasal. Sedangkan persyarafan melalui divisi kedua dari nervus trigeminus. melawan dan mengusir tekanan infrasuperior melalui beberapa tahanan. Nervus ini muncul dari foramen infraorbital dan kemudian berjalan untuk mensyarafi nasal lateral. termasuk juga mensyarafi labial dan gigi-gigi anterior. zigoma. Disartikulasi tulang midfasial menggambarkan anatomi maksila. tulang nasal. sagital dan horizontal yang menutupi sinus.BAB II TINJAUAN PUSTAKA I. Tetapi midfasial tidak 203 . ANATOMI MAKSILA Midfasial menghubungkan basis kranii dengan dataran oklusal. Pada regio anterior cabang terminal dari arteri naso palatinus keluar pada foramen insisivus dan mereka mensuplai mukoperiosteum dan palatum bagian anterior.

zygomaticomaxillary (lateral) dan pterygomaxillary (posterior). dan pilar posterior atau pterygomaxillary (V3) yang berfungsi menahan tekanan kepada basis kranii. Lengkung zygoma menyediakan satu-satunya pilar sagital. Sisi posterior. serta pilar sagital (S1). Pilar zygomticomaxillary memanjang tulang alveolaris di atas molar I maksila melalui korpus zygoma naik ke prossesus frontalis dari zygoma ke os frontalis.dilengkapi dengan kemampuan menahan tekanan dari lateral dan frontal. Pilar nasomaksilaris memanjang dari apertura piriformis dari kaninus dan anterior maksila melalui prossesus frontalis dari maksila dan naik ke cerukan lakrimal dan dinding medial orbita ke os frontalis. rima infraorbita (H2) dan prossesus dentoalveolar dan palatum (H3). Pilar vertikal dan pilar horizontal. pilar pterygoid mengubungkan maksila ke lempeng pterygoid dari os sphenoidalis dan memberikan stabilisasi kepada dataran vertikal dari midfasial. 2 Gambar 2. memandang midfasial mudah untuk kolaps dan mudah bergeser pada segmen sentral. Struktur dukungan vertikal pada midfasial terdiri atas pilar nasomaksilaris (medial). Pilar horizontal meluas sepanjang rima supraorbita (H1). Pilar midfasial horizontal meliputi rima orbita superior dan anterior juga palatum durum. pilar lateral atau zigomatikomaksilari (V2).3 Dukungan superior pada pilar ini adalah arkus yang dibentuk oleh rima orbita superior dan inferior dan arkus zygomaticus. Pilar medial dan lateral memberikan tahanan anterior. memberikan 204 .3 Gambar 2 menunjukan pilar vertikal terdiri dari pilar medial atau nasomaksilari (V1).

B. 3 II. 2. Faktor predisposisi: Yang dimaksud dengan faktor predisposisi adalah faktor yang dapat menimbulkan fraktur selain dari faktor utama. 1. tumor. Bila resorbsi tulang meluas akibat penyebaran penyakit ini maka dapat terjadi patah tulang spontan tanpa trauma. hidung dan mulut. A. Penyakit ini biasanya menyebabkan tulang menjadi rapuh ataupun melunak. Penebalan-penebalan tulang ini memberikan tempat untuk aplikasi pelat fiksasi guna memastikan dukungan dan penyembuhan yang maksimal. Trauma tidak langsung adalah apabila fraktur terjadi pada tempat yang jauh dari lokasi trauma. wajah tengah terlibat pada 40% 205 . Trauma dapat menyebabkan terjadinya fraktur secara langsungt maupun tidak langsung. jatuh (9%). kista. Tanpa termasuk fraktur nasal. III.dukungan struktural kepada fungsi dari mata. Faktor utama Faktor utama terjadinya fraktur pada tulang maksila adalah disebabkan oleh trauma baik yang datang dari luar maupun dari dalam. perkelahian (24%). Seperti penyakit yang berupa infeksi periapikal. luka tembakan (2%). EPIDEMIOLOGI Penyebab utama dari fraktur maksila adalah kecelakaan lalu lintas (60%).3 Rekonstruksi defek struktur midfasial membutuhkan rekonstruksi dari pilar-pilar ini untuk mengembalikan pola tahanan normal pretrauma dan parameter biomekanikal yang penting untuk mempertahankan integritas struktur skeletal. Trauma langsung adalah apabila fraktur terjadi pada bagian yang terkena trauma. ETIOLOGI Penyebab fraktur dapat dibagi menjadi dua golongan yaitu faktor predisposisi dan faktor luar. kecelakaan kerja (4%). olah raga (2%). osteomielitis. Lengkung zygoma berfungsi sebagai satu-satunya pilar sagital (S1).

Complicated fracture : Fraktur yang melibatkan jaringan lunak sekitarnya atau bagian sekitarnya ikut menjadi rusak. 206 . dimana Le Fort I mencapai 30 %. Single fracture : Fraktur yang memiliki satu garis fraktur saja atau disebut juga fraktur tunggal. yaitu melalui mukosa. 3. Comminuted fracture : Fraktur yang menyebabkan tulang hancur atau splintered. dan Le Fort III mencapai 28% dari seluruh kasus Le Fort. Kejadian cedera bersamaan dengan trauma kepala (50%). mukosa atau jaringan periodontal untuk berhubungan dengan dunia luar (opened fracture). 6.jenis atau bentuk dari fraktur itu sendiri. 4. 2 A. Multiple fracture : Fraktur yang melibatkan dua atau lebih garis fraktur pada tulang yang sama dan masing-masingnya saling tidak berhubungan. 2. Para ahli sepakat bahwa distribusi frekuensi fraktur Le Fort yaitu tipe II > tipe I > tipe III. 5. cedera servikal (10%). KLASIFIKASI FRAKTUR MAKSILA Klasifikasi fraktur maksila dapat dibedakan menurut jenis frakturnya dan lokasi dari fraktur pada daerah tulang maksila itu sendiri. Impacted fracture : Fraktur yang menyebabkan fragmen tulang yang satu tertekan masuk kesisi fragmen fraktur yang lainnya. Compound fracture : Fraktur dengan luka terbuka yang melibatkan kulit.yaitu: 1. 7. cedera skeletal (30%) ditemukan pada pasien dengan fraktur midfasial. Simple fracture : Fraktur yang tidak menyebabkan luka terbuka atau tidak berhubungan dengan lingkungan luar. Le Fort II mencapai 42%. Tulang pada fraktur ini pecah menjadi fragmen-fragmen yang kecil. dan fraktur ini dapat terbuka atau tertutup. cedera abdominal (15%). Fraktur maksila dapat dibedakan atas jenis.3 IV.dari seluruh kasus. jaringan periodontal atau kulit (closed fracture). MENURUT JENISNYA.

Fraktur ini dapat terjadi unilateral tetapi berbeda 207 . Displaced fracture : Fraktur yang mengalami perubahan letak dari garis frakturnya sendiri 10. KRUGER. Distracted fracture : Fraktur yang mengalami dislokasi dari segmentsegment fraktur atau perubahan letak tanpa merusak jaringan sekitarnya. Incomplete fracture : Fraktur dimana tulang tidak patah sama sekali atau tidak putus. Horizontal maxillary fracture. Craniofacial disjunction fracture) Fraktur pyramidal yang menyangkut tulang-tulang hidung dan maxilla.8. garis fraktur terdapat diatas palatum tetapi dibawah perlekatan prosesus zygomaticus. Tahun 1984 Fraktur maksila dibagi atas 4 golongan yaitu :  Fraktur Horizontal ( Le fort I ) Seluruh maksila terpisah dari dasar tengkorak. (Transverse facial fracture. Le fort I fracture) Fraktur trasversal yang menyangkut orbital. terjadi pada tulang yang kalsifikasinya belum sempurna. Menurut GUSTAV O. B. seperti tulang anak-anak. Guerin Fracture. Menurut THOMA tahun 1969 Fraktur maksila dibagi atas 4 golongan yaitu:    Fraktur prosesus alveolaris dan prosesus palatine Fraktur horizontal (Transverse maxillary fracture. tulang zygoma dan tulang  hidung. MENURUT LOKASINYA Sedangkan menurut lokasi terjadinya fraktur tersebut telah banyak klasifikasi dibuat olah para ahli seperti: 1. Fraktur pada maksila dapat terjadi salah satu dari jenis fraktur diatas tetapi juga bisa berupa kombinasi dari bermacam – macam fraktur serta dapat melibatkan fraktur pada tulang lainnya yang berdekatan dengan maksila. 9. 2.

4. begitu juga tulang zigoma dapat terlibat  Fraktur Tranversal (Le fort III) Garis fraktur meliputi daerah mata. daerah tulang hidung dan tulang ethmoid terus ke arcus zygomaticus. Horizon maxillary fracture ) Garis fraktur melintang melalui bagian atas dari prosesus alveolaris. meluas kebagian atas tulang hidung dan tulang ethmoid biasanya sinus maksilaris ikut tersangkut.  Le fort I ( Fraktur Guerin.dengan fraktur prosesus alveolaris karena pada fraktur alveolaris tidak disertai dengan perluasan kedaerah garis tengah palatum  Fraktur Pyramidal ( Le fort II ) Garis fraktur melalui aspek fasial maksila. sehingga dinding samping tulang mata terpisah melalui sutura zygomaticofrontalis  Fraktur Multiple Merupakan kombinasi dari ketiga macam fraktur diatas. melibatkan sebagian dari dinding sinus maksilaris. Floating maxilla. Menurut ARCHER Fraktur maksila cukup dibagi atas 2 golongan saja yaitu:  Fraktur dimana sebagian tulang maksila ataupun seluruh tulang maksila beserta beberapa gigi terpisah dari badan tulang maksila ( Le fort I )  Fraktur dimana seluruh tulang maksila bagian atas terpisah dari tulang – tulang dasar tengkorak sebagai suatu unit tunggal atau multiple. Transverse maxillary fracture. Menurut LE FORT : Fraktur Le fort adalah fraktur bilateral horizontal dari rahang atas dan dibagi menjadi 3 jenis Le fort fraktur. 3. palatum dan bagian bawah dari prosesus pterygoideus dan tulang sphenoid  Le fort II ( Pyramidal fracture ) 208 .

Menurut IVY dan CURTIS: Fraktur maksila hanya mengenai prosesus alveolaris. suatu fraktur yang terjadi dibagian atas maksila disertai dengan fraktur pada tulang nasalis dan tulangtulang lain disekitarnya. melalui dasar mata berjalan terus kebagian bawah sesuai dengan dinding lateral dari maksila melalui pterygoid plate terus ke fossa pterygomaxilla. bagian bawah mata. Menurut KILLEY.Garis fraktur melalui tulang lakrimal. 5. pada fraktur ini maksila hanya terikat oleh jaringan lunak terhadap tulang-tulang dasar tengkorak. Menurut CLARK:  Fraktur pada prosesus alveolaris maksila 209 . 7. Extensive comminuted fraktur. Pembagian fraktur rahang atas ini berdasarkan lokasinya menjadi 5 macam.  Le fort III ( Transverse facial fracture. Craniofacial disjunction ) Garis fraktur melalui sutura zygomatiko frontal. Fraktur pada muka mulai diatas akar gigi sampai palatum durum ( unilateral ) Fraktur terjadi horizontal dan bilateral yaitu diatas palatum dan dibawah orbita.          Klas I : Fraktur pada kompleks zygomaticus Klas II : Fraktur pada kompleks nasalis Klas III : Fraktur Le Fort I Klas IV : Fraktur Le Fort II Klas V : Fraktur Le Fort III 6. Berbentuk kerucut makanya disebut fraktur pyramid. Garis fraktur terus ketulang ethmoid dan sphenoid. maksilo frontal dan nasofrontal.

garis fraktur melintas pada kedua orbita dan hidung Transverse facial fracture. Pyramidal fraktur. Pada fraktur seperti ini dapat berupa . Transverse facial fracture. 1. 8. Menurut MEAD : Membagi fraktur maksila berdasarkan lokasinya menjadi 3 macam:    Partial fracture. 9. garis fraktur melintas secara horizontal pada kedua antrum dan cavum nasalis. Punch type fracture disebabkan karena tembakan sehingga terjadi luka pada tulang yang bergerigi terjadi pada satu atau lebih tulang yang tipis. Menurut ERICH dan AUSTIN :    Horizon fraktur. Transverse fracture 2. garis fraktur melintas pada kedua orbita dan bagian atas cavum nasalis. yaitu fraktur dengan beberapa gigi pada tiap fragmen tulangnya Complete fracture.   Fraktur dimana setengah bagian dari tulang maksila dipisahkan dari cranium Seluruh tulang maksilla dipisahkan dari karnium disebut juga Floating Maksila karena maksila seperti terapung terlepas dari cranium. 210 . Partial or complete fracture pada kasus yang edentulous. Pyramidal fracture 3.

Septum nasal dapat terjadi fraktur. berjalan sepanjang dinding antral lateral. Tipe ini dapat melibatkan maksila secara tersendiri dan terpisah dari struktur lain dengan diikuti terputusnya sutura palatina atau fragment maksila. nasal dan zygomatik. Horizontal Frakture. belakang tuberositas maksilaris. biasanya tampak open bite klasik. Floating Maksila. Pada fraktur ini.Dari beberapa pendapat para ahli tersebut dapatlah disimpulkan bahwa pada prinsipnya fraktur maksila dapat dibagi menjadi : 1. Low Level Fracture. Fraktur yang terjadi mulai dari batas lateral sinus pirimormis. 3. dan melewati pteriogoid junction.2 211 . Vertical fracture yaitu fraktur pada rahang atas yang meliputi palatum durum. Tranverse Maksila Frakture. sedangkan garis fraktur sendiri berjalan vertikal atau disebut juga fraktur Unilateral. Fraktur pada prosesus alveolaris.1 Fraktur Le Fort I merupakan hasil benturan yang terjadi diatas level gigi. maksila dapat berada pada posisi posterior dan inferior. 2. Karena tarikan baik dari otot pterigoid eksternal dan internal. Yaitu fraktu yang terjadi pada tulang maksila yang meliputi daerah alveolranya saja tanpa melibatkan tulang pendukung yang lain dan tanpa diikuti terputusnya hubungan tulang maksila dengan tulang nasal atau basis cranial. Fraktur Le Fort I Fraktur ini disebut juga Fraktur Guerin. dan kartilago nasal mungkin terkena. Dapat terlihat arah frontal dari maksila yang melibatkan struktur maksila dari plat pterygoid.

dan melewati garis infraorbita pada area sutura zigomatikomaksilaris. 1 212 . Fraktur terjadi sepanjang sutura nasofrontalis.2 . 1 4. Fraktur le fort I. Fraktur Le Fort II. Fraktur Le Fort II Fraktur piramidal/subzigomatik yang menyebabkan terpisahnya wajah tengah pusat dari kompleks orbitozigomatikus. melalui tulang lakrimalis. 3 Fraktur Le Fort II terjadi akibat benturan yang didapat pada level tulang nasal.Gambar 4.Gambar 3.

5.1 V. zygomaticus dan maksila dari basis cranial atau disebut juga pamisahan craniofasial. Fraktur Le Fort III Fraktur pada daerah ini disebut juga supra zygomatic fraktur. Pemeriksaan Awal / Primary Survey Evaluasi awal dan penatalaksanaan yang menyeluruh seringkali menentukan apakah pasien mampu bertahan dari trauma mereka. oleh karena itu resusitasi ABC harus dilakukan secara ketat pada tahap awal pemeriksaan dan penatalaksanaan pasien dengan fraktur maksilofasial. Pada fraktur ini maxilla hanya terikat oleh jaringan lunak terhadap tulang-tulang dasar tengkorak. 1 Sedangkan menurut Le fort fraktur ini disebut juga Transverse facial fracture. PEMERIKSAAN DAN GEJALA KLINIS 1. Fraktur Le Fort III. dihasilkan oleh suatu tekanan yang besar pada level superior yang dapat memisahkan naso orbital eithmoid komplek. Jejas pada kepala dan leher seringkali melibatkan jalan nafas dan pembuluh utama. maxillo frontal dan nasofrontal. Garis fraktur terus ke tulang ethmoid dan sphenoid. Craniofacial disjunction. Gambar 5. Dimana garis fraktur melalui sutura zygomatiko frontal. Setiap 213 .

fraktur laring atau trakea. Auskultasi dilakukan untuk memastikan masuknya udara ke dalam paru. jejas yang membahayakan hidup dan kondisi medis sistemik harus dievaluasi secara tepat. B. tergantung dari insidensi trauma. Dalam keadaan kecurigaan fraktur servikal fraktur servikal harus dipakai alat imobilisasi. Pasien dengan jejas pada wajah sebaiknya diperkirakan memiliki jejas lain yang berhubungan. fraktur mandibula atau maksila. Selama memeriksa dan memperbaiki airway. Alat imobilisasi ini harus dipakai dipakai sampai kemungkinan fraktur servikal dapat disingkirkan. dinding dada dan diafragma. dapat dianggap bahwa jalan nafas bersih. maka untuk kepala harus dilakukan imobilisasi manual. Pada penderita yang dapat berbicara. Breathing (Pernafasan) Ventilasi yang baik meliputi fungsi yang baik dari paru. Dada pasien harus dibuka untuk melihat ekspansi pernafasan. fleksi atau rotasi dari leher. Inspeksi dan palpasi dapat memperlihatkan kelainan dinding dada yang mungkin menggangu ventilasi. walaupun demikian penilaian ulang terhadap airway tetap harus dilakukan. Selama pemeriksaan awal. Hal ini dapat dimulai dengan melakukan chin lift atau jaw thrust. Ini meliputi pemeriksaan adanya obstruksi jalan nafas yang dapat disebabkan oleh benda asing. Kecurigaan adanya kelainan vertebra servikalis didasarkan riwayat perlukaan. 214 . perhatian pertama harus ditujukan langsung pada evaluasi menyeluruh. Bila alat imobilisasi ini harus dibuka untuk sementara. Usaha untuk membebaskan airway. harus diperhatikan bahwa tidak bleh melakukan ekstensi. Airway (Jalan Nafas) Yang harus dinilai adalah kelancaran jalan nafas.. harus melindungi vertebra servikal. Perkusi dilakukan untuk menilai adanya udara atau darah dalam rongga pleura. fraktur tulang wajah.pasien yang datang dengan jejas trauma. 5 A.

Banyak pasien yang mengalami injuri fasial mengalami hilang kesadaran. sering dengan cara menggunting guna memeriksa dan evaluasi penderita. walaupun hanya pingsan dalam waktu yang singkat. Tourniquet sebaiknya jangan dipakai karena merusak jaringan dan menyebabkan iskemia. GCS) untuk evaluasi cedera kepala. Kesemua pasien ini. Circulation (Sirkulasi) Perdarahan luar harus dikelola pada primary survey. Tabel 1.C. D. Skala koma dari Glasgow (Glasgow Coma Scale. harus diperiksa secara keseluruhan dengan Skala Koma Glagow (GCS) dan dikonsulkan ke bagian bedah syaraf. Setelah pakaian dibuka 215 . Perdarahan eksternal dihentikan dengan penekanan pada pada luka. Exposure environmental control Penderita harus dibuka keseluruhan pakaiannya. Disability Menjelang akhir primary survey dilakukan evaluasi terhadap keadaan neurologis secara cepat.6 Skor 1 2 3 4 5 Mata (E) Respon (-) Terbuka karena rangsang sakit Terbuka bila diminta Terbuka spontan Verbal (V) Respon (-) Tidak dipahami Tidak tepat Bingung Bercakap-cakap Motorik (M) Respon (-) Ekstensi Fleksi Gerakan tidak spesifik Menunjukkan tempat yg sakit Bisa melakukan perintah 6 - - E.

tetapi karena kehilangan kesadaran atau status 216 . ruangan cukup hangat dan diberikan cairan intravena yang sudah dihangatkan. Pada beberapa kasus. atau dapat berhubungan dengan jejas seperti fraktur laring.harus dipakaikan selimut hangat. Pemeriksaan Riwayat Penyakit Setelah pasien stabil. keadaan yang mengancam nyawa harus dikenali dan resusitasinya harus dilakukan pada saat itu juga. Riwayat ini sebaiknya diperoleh dari pasien. seperti perdarahan eksesif. nadi. dapatkan riwayat selengkap mungkin. sebaiknya diperiksa. masalah lain yang dapat mengancam kehidupan. sebaiknya dilakukan sesegera mungkin. perlu dilakukan trakheostomi untuk memberikan jalan nafas yang adekuat. Seringkali.1 Jejas pada daerah wajah tidak hanya melibatkan tulang wajah tapi juga jaringan lunak. 7 2. dan tekanan darah sebaiknya diperiksa dan dicatat.1 Perawatan terhadap jejas kepala dan leher biasanya dilakukan setelah didapat evaluasi menyeluruh. termasuk respirasi. Penanganan awal. Penyajian primary survey diatas adalah dalam bentuk berurutan sesuai dengan prioritas dan agar lebih jelas. dan stabilisasi pasien. Pemeriksaan Riwayat dan Klinis a. Benturan yang cukup berat yang dapat menyebabkan fraktur pada tulang wajah biasanya tersalurkan ke spina servikalis. Leher harus diimobilisasi sementara hingga jejas pada leher dikatakan baik . Selama pemeriksaan awal.1 Selama primary survey. Selanjutnya pemeriksaan status nerologis pasien dan evaluasi spina servikalis pasien. krikotirotomi merupakan cara paling cepat untuk mengakses trakea. namun dalam prakteknya hal-hal diatas sering dilakukan berbarengan. seperti gigit tampon. Pada pasien trauma dengan obstruksi jalan nafas atas komplit. pemeriksaan. Tanda klinis. beberapa perawatan awal seringkali penting untuk kestabilan pasien. seperti lidah atau daerah leher atas. Langkah pertama yaitu memastikan pasien memiliki jalan nafas yang baik serta ventilasi yang adekuat. fraktur pada tulang wajah yang berat dapat mengurangi kemampuan pasien dalam menjaga jalan nafas. Bagaimanapun.

apakah si korban yang menyetir. apakah korban memakai sabuk pengaman? Apakah pasien merupakan korban tindak kejahatan dengan senjata tertentu? Apakah pasien jatuh/tidak sadar? Kondisi medis resiko tinggi. Sejumlah faktor bisa membuat pemeriksaan klinis menjadi sulit. 5. karena biasanya mereka tidak mampu memberi respon dengan baik. 3. Sumber terbaik yang dapat digunakan adalah keluarga dekat yang menemaninya. polisi atau pekerja pada unit gawat darurat. Pemeriksaan Klinis Fraktur midfasial biasanya didiagnosa secara klinis dan dikuatkan dengan pemeriksaan radiologis. Apabila cedera disebabkan oleh kecelakaan mobil. pengobatan. epistaksis. termasuk kehadiran edema fasial. syok. 3 217 . termasuk jenis benda yang berkontak. termasuk nyeri. 2. maksila yang tumpang tindih atau bahkan pasien yang tidak sadar atau tidak kooperatif. Adanya tanda-tanda kecanduan alkohol dan obat-obatan. dicatat karena tingkat kesadaran dipengaruhi oleh obat-obatan tersebut. temannya. waktu. termasuk mengenai alergi. atau sebagai penumpang. Informasi mengenai waktu makan dan minum yang terakhir sangat penting apabila akan dilakukan anestesi umum. dan maloklusi? Informasi lengkap. Apakah terjadi penurunan kesadaran? Gejala apa yang sekarang sedang dirasakan oleh pasien. dll. tempat kejadian dan peristiwa khusus dicatat.6 b. informasi harus diperoleh dari anggota lain yang mendampingi. perubahan visual. Lima pertanyaan penting yang sebaiknya dipertimbangkan: 1. alergi dan tanggal imunisasi tetanus juga dicatat. perubahan sensasi. Bagaimana kejadiannya terjadi? Kapan kejadiannya terjadi? Apakah spesifikasi jejasnya. dan imunisasi tetanus terdahulu. kondisi medis.nerologi.1 Mendapatkan riwayat yang adekuat dari korban trauma adalah sulit. Keadaan tidak sadar (koma). amnesia merupakan hambatan yang sering terjadi dalam menjalin komunikasi dengan pasien. pertimbangan logistik? 4. Tanggal.

dimana apabila terdapat edema yang cukup besar dapat membuat pemeriksaan menjadi sulit.2 Tulang wajah dipalpasi untuk mengetahui adanya diskontinuitas tulang. Area ekimosis harus dievaluasi secara hati-hati. sendiri ataupun kombinasi dengan zygoma atau os nasal. Vestibulum bukalis dipalpasi dengan jari telunjuk. Pertama kita lakukan pemeriksaan rima orbitalis. abrasi. Wajah dan kranii harus diinspeksi secara hati-hati terhadap kemungkinan trauma termasuk laserasi.2 218 . Pemeriksaan sebaiknya dilakukan secara bimanual dan disiplin. hidung maupun telinga sebaiknya tidak ditutup tampon. Terdapatnya krepitasi dan pergeseran dinding antral lateral dan zigoma dapat mudah didapatkan dengan teknik ini. yang dapat mengobstruksi pergerakan prosesus koronoid ke depan. kontusio. Asimetri area wajah perlu dicatat. digoyang dengan hati-hati untuk melihat adanya mobiliti pada maksila. Pemeriksaan Ekstraoral Pemeriksaan pada area fasial harus dilakukan dalam teknik yang terorganisir dan berkelanjutan. edema ataupun hematom dan kemungkinan cacat pada kontur. Wajah dievaluasi terhadap kemungkinan terdapatnya laserasi dan depresi tulang yang jelas. faktor ini berpengaruh besar terhadap metode perawatan. Oklusi dievaluasi. Jika diduga terdapat cairan serebrospinal. Pemeriksaan berakhir dengan pemeriksaan maksila dan mandibula. Evaluasi midfasial dimulai dengan penilaian mobiliti maksila. rima orbita. kepala pasien harus distabilkan dengan menggunakan satu tangan menekan dahi. keadaan dan kualitas gigi perlu dicatat. Dengan menggunakan jempol dan jari telunjuk dari tangan yang lain. Lengkung zigomatikus dipalpasi lalu ke tulang nasal. dan cairan yang keluar baik dari hidung maupun telinga diasumsikan sebagai cairan serebrospinal hingga terbukti bukan itu. nasal atau zygoma. memegang maksila. Untuk menilai mobiliti pada maksila. karena dapat menyebabkan infeksi retrograde yang menyebabkan meningitis.1. 1 Pembukaan mandibula dievaluasi baik untuk fraktur lengkung zigoma maupun zigoma yang terdisposisi ke lateral. lalu berlanjut ke bawah untuk meliputi rima lateral dan infraorbitalis. Fasial dan midfasial sebaiknya dipalpasi untuk melihat adanya gap pada dahi.

Daerah ekimosis. tanda dan gejala yang dapat kita temukan adalah adanya oedem wajah dan terjadi retrusi mid fasial yang menyebabkan wajah terlihat datar. terutama pada palatum. Kadang timbul parestesi daerah pipi karena trauma pada nervus infraorbita. Faring diperiksa untuk laserasi atau perdarahan retrofaringeal. hal ini akan menyebabkan kontak prematur gigi molar dan open bite anterior. Pasien sebaiknya ditanya mengenai keluarnya cairan rasa metal dan asin. Segmen maksila bergeser ke posterior dan inferior.7 219 . Keadaan ini disebut sebagai deformitas dish face atau pan face. Ekimosis subkonjungtival Gambar 7. yang merupakan indikasi terdapatnya drainase cairan serebrospinal. Terjadi haemoragi subkonjunctiva dan diplopia. Ekimosis sirkumorbital bilateral (racoon eyes). merupakan gambaran umum pada fraktur maksila. Terdapat hematom pada sulcus bukalis rahang atas posterior. karena garis fraktur melewati tulang zygoma. Gambar 6.8 Pada Le Fort II.

Gangguan pada pergerakan ekstraokular atau enopthalmos menandakan adanya suatu blow out pada dasar orbita. 2. Le fort III berhubungan dengan adanya cedera pada zygomatikus. stabilitas alveolar ridge dan palatum serta jaringan lunak. tetapi permeriksaan dapat menemukan adanya kehilangan kontinuitas tulang atau displacement. Perubahan penglihatan menandakan adanya gangguan pada persyarafan mata. penglihatan. pergerakan ektra ocular dan posisi bola mata. Gangguan pada oklusi dapat melokalisir adanya fraktur. Peningkatan jarak interchantal menandakan adanya perubahan pada tulang frontomaksilaris atau tulang lacrimalis ataupun adanya avulsi dari ligamentum canthal medialis . Openbite anterior. masalah pada retina ataupun masalah neurologic lainnya.7 220 . Selama pemeriksaan mata dan tulang orbita. Pemeriksaan Intraoral Pemeriksaan intra oral dapat melihat keadaan oklusi. Hilangnya fungsi pada rahang merupakan hal biasa sebagai akibat dari trismus atau sakit. serta jarak intercanthal. Pergerakan abnormal pada tulang dapat didiagnosa dan jika terjadi maka akan diikuti oleh sakit dan krepitasi akibat dari ujung tulang yang keras bergesekan satu sama lain. Tidak seperti fraktur Le fort II. dapat dilihat integritas dari lingkar orbita dan dasar orbita. Palpasi intra oral dengan jari pada maksila dapat memberikan informasi tentang integritas dinding nasomaksilaris.Gambar 8. gigi geligi. Deformitas pada kontur tulang dapat tertutupi oleh pembengkakan. dan dinding zigomatikomaksilaris. dinding sinus maksilaris anterior. Dalam hal kerusakan yang parah pada mata dan tulang orbita dapat dikonsultasikan kepada opthalmologis.

Pemeriksaan mobiliti pada maksila. Jika gerakan terdeteksi juga pada zigoma (B).5 Gambar 10 menunjukan metode palpasi wajah tengah pada fraktur Le Fort.1 Gambar 9 menunjukan pemeriksaan mobiliti pada maksila. Jika gerakan dapat dipalpasi pada jembatan nasal (A). maka 221 . maka terdapat adanya Le Fort II atau III. Gigi anterior dipegang dan maksila dimanipulasi untuk memeriksa adanya pergerakan. Tangan kiri juga dapat diletakkan pada os nasal untuk menilai mobiliti pada os nasal. Metode palpasi wajah tengah pada fraktur Le Fort. kontak prematur pada molar dan anterior open bite.3 Gambar 9.1 ` Gambar 10.Fraktur transversal pada Le Fort membuat muskulus pterygoid medial yang kuat menciptakan tarikan posteroinferior pada segmen yang bergerak menciptakan maloklusi klas III. maksila digoyang-goyangkan untuk menilai adanya mobiliti. Dahi difiksasi dengan tangan kiri. B. A.

Saat melakukan pemeriksaan fraktur pada maksila.  Kecuali apabila segmen fraktur mengalami impaksi kearah posterior.5 Gambar 11. Apabila tidak terdeteksi adanya gerakan pada daerah tersebut namun maksila mengapung. Pergerakan pada sutura nasofrontal menunjukkan kemungkinan terdapatnya fraktur Le Fort II atau III. 4 Perbedaan klinis fraktur maksila: 1.  Terjadinya kontak premature dari gigi posterior karena tulang maksila turun dan menimbulkan open bite yang klasik.terdapat fraktur III. maka kemungkinan terjadi fraktur Le Fort I. Pemeriksaan fraktur Le Fort II dan III dilakukan dengan cara satu tangan memegang puncak hidung sementara tangan lain memanipulasi maksila. Le fort I Manifestasi Klinis Le Fort I antara lain adalah:  Seluruh rahang atas dapat digerakan dengan mudah. kepala distabilisasi lalu prosesus dentoalveolar dimanipulsi sehingga adanya pergerakan segmen fraktur dapat dideteksi. kepala distabilisasi lalu prosesus dentoalveolar dimanipulsi sehingga adanya pergerakan segmen fraktur dapat dideteksi.6 2. Le fort II 222 . Gambar 11 menunjukan saat melakukan pemeriksaan fraktur pada maksila.  Palpasi tulang alveolar pada jaringan pendukung akan terasa nyeri  Dapat dilihat dengan jelas pada foto roentgen dan sering adanya gambaran sinus yang berkabut serta gangguan kontinuitas yang bilateral dari dinding sinus maksila.

dan naso orbita eithmoid.Manifestasi klasik Le Fort II antara lain :     Oedema periorbital secara bilateral. 2. sehingga frakmen yang pecah dari lantai orbita atau dinding media bisa terlihat dan ikut bergerak. kondisi ini muncul karena perkembangan odema yang sangat cepat. diikuti dengan ecchymosis yang memberikan kesan seperti raccoon sign (menyerupai kucing). hal ini berguna dalam rencana perawatan dan pertolongan nyawa pasien.6 5.  Dari gambaran foto roentgen dapat terlihat pemisahan atau pergeseran pada sutura zygomaticomaksilaris serta terputusnya kontinuitas rima orbital inferior didekat sutura tersebut. 2. Suatu kelainan bentuk ini dapat dideteksi pada daerah rima infra orbital atau daerah sutura naso frontal.posterior.   Fraktur ini biasanya diikuti dengan fraktur zygoma.6 223 . Trauma telecantus dapat terasa seperti halnya juga ephypora. Cara pendeteksian ini dapat dengan mengandalkan genggaman pada gigi anterior maksila dan menggerakannya arah anterior. Ada baiknya temuan ini dikomfirmasikan dengan CT coronal dan sagital scan. Le fort III Manifestasi klinis Le Fort III antara lain :    Sering terlihat kebocoran cairan cerebrospinal akibat sobeknya meninge (selaput otak) Oedema yang hebat dan ecchymosis peri orbital terlihat bilateral karena terjadinya perdarahan subkonjungtiva dalam berbagai tingkat keparahan. Pada waktu dilakukan tes mobilitas dari maksila akan memperlihatkan pergerakan dari seluruh bagian atas wajah. Suatu maloklusi dapat terjadi bersamaan dengan open bite. luka yang dihasilkan pun berfariasi. Hipoesthesia dari nervus infra orbital juga ditemukan.

Gambar 12.2 Gambar 13. Water’s view memperlihatkan gambaran fraktur Le Fort II yang membentuk segmen fraktur bentuk Piramid. Kekurangannya yaitu bertambahnya jarak antara tulang wajah ke film. Lengkung zigoma paling bagus digambarkan pada foto submentovertex.8 224 . Foto Water’s memperlihatkan antrum hampir jelas. pemeriksaan radiologi harus dilakukan untuk memberikan tambahan informasi tentang trauma fasial. lateral dan foto submentovertex. dapat menggunakan reverse Water’s (frontoosipital). Pemeriksaan Radiologis Setelah dilakukan pemeriksaan klinis pada area fasial dan keadaan pasien stabil. Foto lateral skull berguna dalam menggambarkan kehadiran cairan pada sinus paranasal dan udara intrakranial. scheidel anteroposterior. Evaluasi pada fraktur midfasial secara umum ditambahkan dengan gambaran radiografik. Gambaran Klinis Fraktur Le Fort III VI. Jika pasien tidak dapat tengkurap. minimal foto Water’s. Foto Towne’s sangat bermanfaat dalam menggambarkan lengkung zigomatikus dan rami mandibula.

Gambar 14. Foto water’s lateral menunjukkan fraktur Le Fort II4

Scan yang diambil secara baik dan hasil tepat, dapat menjadi alat diagnostik radiologi tunggal, tanpa foto lain. CT scan juga menggambarkan terdapatnya edema dan kehadiran benda asing yang sering terlewat pada foto konvensional.

Gambar 15. CT scan axial menunjukkan fraktur Le Fort II

Gambar 16. Gambaran 3D fraktur Le Fort II.

VII.

PERAWATAN FRAKTUR

A. Tujuan perawatan Apabila stuktur wajah terkena trauma yang menyebabkan fraktur maksila maka tujuan utama perawatan meliputi: 1. Penyembuhan tulang yang cepat.

225

2. Pengembalian penglihatan yang normal dan sempurna. 3. Kembalinya fungsi hidung untuk bernafas dan penciuman. 4. Kembalinya ruang bicara yang sempurna. 5. Hasil yang baik secara estetik baik dari gigi dan wajah seperti yang diinginkan. Selama perawatan diusahakan meminimalkan hal-hal yang merugikan pasien, seperti pemberian nutrisi, mengurangi rasa sakit dan ketidaknyamanan pasien serta kerusakan yang minimal jika memungkinkan. 1

B. Prinsip perawatan Untuk mencapai hal ini maka prinsip bedah hendaknya mengikuti aturan berikut ini Prinsip perawatan fraktur maksila: 1. Debridement yaitu membersihkan sisi fraktur meticulous. 2. Reduction yaitu mensejajarkan ujung tulang yang patah. 3. Fixation yaitu menstabilkan fraktur tulang, setelah selesai prosedur diatas, baru-baru ini digunakan mini plat tulang dan scrub ( rigid internal fixation ). 4. Imobilisasi yaitu pengikatan Fraktur pada bagian sendi, dicapainya dengan wiring sendi secara bersamaan selama 4-6 minggu dengan penyebaran yang luas menggunakan fixasi interna yang kuat, bagaimanapun prosedur ini sangat cepat dalam membantu penyembuhan. 5. Rehabilitasion yaitu mengistirahatkan total dari region yang terkena trauma seperti perlekatan kembali secara prostetik dari gigi geligi yang hilang akibat trauma dan injury.

C. Metode perawatan Perawatan fraktur maksila dapat dilakukan dengan metode terbuka maupun metode tertutup tergantung dari berat dan ringannya kasus, namun untuk fraktur maksila yang meliputi le fort I, II, III atau yang diikuti kelainan oklusi harus dilakukan dengan metode terbuka.9,2,6

226

1.

Reduksi tertutup ( close red )

Metode ini dilakukan tanpa melakukan insisi untuk mereduksi kembali bagian tulang yang fraktur seperti pada frakmen fraktur ini bergerak, biasanya gigi geligi yang terdapat pada sekmen fraktur mengalami kegoyahan . Pada kasus ini dibutuhkan tekanan berulang (digital) untuk mereduksi tulang yang patah. Pada kasus fraktur unilateral maksila atau terpisahnya sisi kanan dan kiri palatum pada sutura palatine, maka digunakan alat Rowe Disimpaction forceps atau Hayton-Williams forcep untuk mereduksi kembali kedua sisi palatum tersebut. Arch bar dipasang pada lengkung maksila dan mandibula. Gigi yang goyah diikat dengan kawat (wiring) kearch bar maksila, sedangkan gigi yang terdapat pada segment yang tidak fraktur dilindungi dengan fiksasi intermaksila. Kemudian fiksasi dilanjutkan kedaerah fraktur yang telah direduksi tadi. Fiksasi dibiarkan selama 4 sampai 6 minggu didalam mulut pasient dan pasien diberikan diet lunak selama fiksasi. Indikasi dilakukannya metode tertutup pada fraktur maksila adalah:  Dimana pada pemeriksaan klinis dan radiografis tidak memperlihatkan gambaran perobahan letak pada kedua segmen fraktur atau segmen frakturnya terletak pada variable yang stabil dari tekanan otot-otot mastikasi.( Undisplasment fracture )  Pada pasien yang edentulous (tidak bergigi) dan fraktur maksila secara radiology memperlihatkan perobahan letak yang minimal dan letak garis fraktur kemudian menjadi stabil oleh otot-otot pengunyahan. Maka union tulang pada fraktur ini dapat menjadi penghubung yang baik.  Pasien dengan fraktur yang menimbulakan kerusakan pada otak dan tidak adanya rangsangan untuk bangun, maka metode terbuka untuk sementara merupakan kontra indikasi. 2 Reduksi terbuka (open red) Metode ini lebih baik untuk kasus fraktur maksila khususnya yang komplek. Dengan metode ini dapat dicapai immobilisasi fraktur yang sempurna

227

dan fiksasi yang kuat dan rigid. Metode ini dimulai dengan tahapan sebagai berikut: 1. Pembukaan flap dengan insisi vestibular secara bilateral. 2. Sisi fraktur disingkapkan dengan meretraksi flap tadi 3. Dilakukan pembersihan segment pada garis fraktur. 4. Dilakukan perlekatan kembali kontunuitas tulang yang terputus. 5. Fiksasi garis fraktur dengan wiring atau mini dan mikro plat serta bautnya. 6. Tutup daerah operasi dengan mengembalikan flap pada posisi awal dan dijahit 7. Fiksasi inter maksila selama 4 minngu (masa penyembuhan) 8. Pasien diberikan diet lunak selama fiksasi dengan kandungan gizi yang cukup. Indikasi dilakukannya metode fraktur terbuka adalah sebagai berikut:  Apabila metode tertutup gagal dilakukan  Fraktur dengan displacement yang kearah bawah dengan segala

komplikasinya seperti open bite klasik, elongasi fasial dana dish face.  Fraktur fasial kompleks dan multiple seperti Le fort I, II, III .  Fraktur dengan impaksi pada rahang bawah.  Fraktur yang memerlukan pemasangan miniplate dengan skrup untuk reduksi dan stabilitas segment fraktur.  Fraktur yang membutuhkan bone graft.

Mikroplate and screw osteosynthesis Pada abad ke dua puluh mulai diperkenalkannya pemakaian plat sederhana atau yang lebih dikenal dengan Mini plate and screw. Sistem kompensasi plat logam ini menggunakan lobang-lobang plat eksentrik dan skrup- skrup ( beberapa diantaranya ada yang menggunakan swa-ulir ) yang cocok untuk penatalaksanaan fraktur orofasial. Pada tahun –tahun terakhir perkembangan plat dan skrup mengalami revolusi menjadi Mikro plate yang lebih ringan yang terbuat dari titanium dan lebih bisa diterima oleh tubuh. Hal ini di kembangkan karena bentuk

228

dan jenis fraktur maksila yang berfariasi dan sangat komplek sekali.Bentuk dan ukurannyapun disesuaikan dengan anatomi tulang fasial. Beberapa keuntungan pemakaian mikro plat ini adalah: 2,6              Kestabilan yang rigid pada fiksasi anatomi dari bagian –bagian fraktur. Dapat meniadakan pemakaian IMF ( intermaksilari fiksasi ). Mempercepat penyembuhan dan memperpendek durasi perawatan.

Indikasi dilakukannya pemasangan mikro plate pada fraktur maksila adalah: Apabila fiksasi maksilo mandibula sulit dilakukan. Untuk perawatan kasus yang penyembuhannya lama dan pseudoartrosis. Fiksasi pada graft tulang. Fraktur kompleks dan multiple dari Le fort I, II, III. Fraktur maksila pada pasien edentulous dengan displasment

Aplikasi mikor plate dan skrup: Pemaparan perkutan atau peroral dan kemudian dilakukan reduksi fraktur. Lakukan adaptasi dan stabilisasi mikro plat dan pembuatan lobang untuk skrup pada tulang denga bur tulang. Lobang bur dicocokan sampai sesuai dengan besar srkupnya. Skrup dipasang menurut dataran lubang pada plate untuk mendapatkan kompresi. 1-3 skrup diinsersikan pada sisi fraktur

Fiksasi dan Imobilisasi fraktur maksila Ada beberapa macam alat untuk Immobilisasi fraktur maxilla yang mana pada dasarnya menggunakan prinsip berikut ini:6 A. Fiksasi Intramaksila dan Intermaksila. 1. Hanya rahang atas saja yang dipasangkan alat fiksasi misalnya, dengan memakai arch bar dari Erich. Contoh pada kasus fraktur sebagian kecil dari prosesus alveolaris rahang atas (Intramaksila). 2. Pemasangan alat fiksasi pada gigi-geligi di maksila dan mandibula, kemudian pada kedua rahang ini dipasang rubber elastic band melalui

229

kaitan atau hock pada acrh bar yang digunakan. Elastik hanya dipakai pada gigi-geligi yang tidak mengalami fraktur rahang (berguna untuk fraktur unilateral atau segmental ) sehingga tulang alveolar yang mengalami fraktur akan terdorong keatas oleh tekanan gigi-geligi dirahang atas dan rahang bawah (Intermaksila).

Gambar 17. Arch bar dan fiksasi intermaksilaris. 4

B. Fiksasi Internal Teknik ini ditemukan oleh Adam yang mana diindikasikan pada fraktur horizontal yang sederhana dengan tidak terlibatnya tulang orbita. Teknik ini menggunakan kawat suspensi (stainless steel ukuran 0.018 atau 0,2 inchi, 0,45 atau 0,5mm) yang dimasukan (diikatkan) pada titik tertentu di tulang bagian superior. Bagian yang paling sering digunakan adalah Apertura piriformis, Spina nasalis, tonjolan Malar, Arcur zygomatikus, Prosesus zygomatikus ossis frotalis dan pinggiran tulang infra orbita. kemudian kawat menelusuri daerah fasial terus kebawah dan kemudian dihubungkan (diikatkan) pada arch bar yang telah dipasang pada gigi-geligi rahang atas (terhadap maksila) disebut fiksasi kraniomaksila. Sedangkan pada ikatan atau perlekatan kawat terhadap mandibula disebut fiksasi kraniomandibula. Gigi-geligi rahang atas dan rahang bawah dalam keadaan fiksasi Intermaksila (Transosseous wiring fixation). Apabila mandibula utuh atau karena perawatan bisa stabil, maka fiksasi kraniomandibula lebih dianjurkan dibanding perawatan fiksasi kraniomaksila, karena perlekatan ini memberikan hasil terbaik untuk mempertahankan posisi komponen maksila yang mengalami fraktur.

230

C. Fiksasi eksternal 1. Pesawat Cranio-Maxilla. Dimana digunakan suatu alat Head Appliances yang dihubungkan dengan alat lain yang dipasang pada maksila. Head appliances yaitu suatu alat yang dipasang pada kepala yang berfungsi sebagai penahan untuk fiksasi fraktur maksila dengan tulang cranial. Alat ini ada beberapa macam yang biasa digunakan yaitu:       Plaster of Paris head cap. Woodards appliance. Englands appliance. Bisnoffs head band. Crawford head frame. Crawford bloom head appliance

Pesawat Cranio Maxilla sendiri ada beberapa macam yaitu; a. Pesawat C-M yang menggunakan Kingsley splint yang dapat dihubungkan dengan berbagai macam splint yang diletakan pada gigi-gigi dirahang atas seperti:     Wire splint Cast metal splint Band orthodontic Pada pasien edentulous digunakan modifikasi dari kingsley sendiri. b. Pesawat C-M yang menggunakan Steinmann pin, dimana pin ini dimasukan kedalam tulang alveolar rahang atas yang mengalami fraktur melalui pipi lalu pin ini dihubungkan kembali kealat head appliance. c. Pesawat C-M yang menggunakan cranio fasial wire. Ditemukan oleh Erich, dimama kawat dihubungkan dengan arch bar yang telah dipasang sebelumnya pada rahang atas ( gigi-geligi ), kawat ini menembus pipi lalu dihubungkan denga head appliance. Pemakaian alat ini diindikasikan pada fraktur dengan tidak adanya perubahan tempat dari rahang (fragmen) dan mandibula dapat bergerak untuk berbicara dan makan (makanan lunak).
231

b. Pesawat ini pun ada beberapa macam yaitu : a. Frac-sure rods ini dihubungkan dengan head appliance c. yang mana dua buah pin dimasukan kedalam tulang pipi kiri dan kanan. Pesawat Malar-Mandibula fixation. Pesawat C-mand dengan menggunakan Traction bandage (head bandage). d. Ini untuk perawatan sementara dari fraktur rahang.2. Pesawat Cranio – Mandibula. Pin ini lalu dihubungkan dengan pin yang telah dipasang pada corpus mandibula melalui suatu batang penghubung (rods) atau rubber elastic band. Pada metode ini gigi-geligi pada kedua rahang berada dalam keadaan oklusi dengan menggunakan Intermaksila wiring fixation dan eksternal traction. Pesawat C-mand dengan half pin hamper sama dengan Steinmann pin. Peasawat C-mand dengan menggunakan Steinmann-pin yang dimasukan kedalam corpus mandibula . 3. Terdiri dari Barton bandage denagn elastic yang dilekatkan pada kedua sisi dengan menggunakan plaster. juga digunakan Frac-sure rods dipakai sebagai penghubung dengan head appliance. 232 . Pada kasus tidak bergigi digunakan Gunning splint yaitu suatu acrilik aplint yang digunakan sebagai alat fiksasi mandibula. Pesawat ini ditemukan oleh Gross. dibagian luar dihubungkan dengan Frac-sure link vertical rod dikedua sisi.

dan sisi lainnya pada palatum keras (gambar). reduksi dini fraktur Le Fort I memberikan kesulitan minimal. Fraktur dr pergeseran minimal direduksi di diimobilisasi secara ideal dengan reduksi terbuka dan immobilisasi diperoleh dengan penempatan plat yang tepat.7 C.2 233 . Digunakan secara sepasang atau sendiri. II. III atau yang diikuti kelainan oklusi sebaiknya dilakukan dengan metode terbuka. Fiksasi kraniomaksilar. maksila ditarik ke depan dan ke bawah. Perawatan Fraktur Le Fort I Perawatan fraktur maksila dapat dilakukan dengan metode terbuka maupun metode tertutup tergantung dari berat dan ringannya kasus. Pada kasus fraktur remuk yang parah. Tahapan perawatan pada fraktur Le Fort: 1. Sebagai alternatif yang kurang ideal. Fraktur impacted atau fraktur yang tidak mudah direduksi karena penyatuan dini oleh jaringan ikut (fibrous union) sebaiknya direduksi dengan menggunakan tang disimpaksi Rowe atau Hayton-Williams. diperlukan perpanjangan periode fiksasi hingga 6 minggu. biasanya cukup untuk terjadi penyembuhan. Untuk melindungi mukosa hidung dan mukoperiosteum palatum. perlu tenaga tambahan untuk melakukan reduksi sempurna.2 Aturannya. namun untuk fraktur maksila yang meliputi le fort I. Paruh dari tang Rowe ditempatkan sepanjang dasar hidung.Gambar 18. dapat ditempatkan ujung karet pada paruh tang. melakukan fiksasi intermaksilari selama sebulan. 1. Di atas 7 hingga 10 hari. Gunakan gerakan menekan atau memutar.

atau dapat juga menggunakan daerah sutura nasofrontal.4 2. Hal ini dapat dicapai dengan insisi subsiliary atau transkonjunctiva.2. Penggunaan tang disimpaksi Rowe untuk mereduksi maksila. Perawatan dimulai dengan pemasangan IDW untuk mendapatkan oklusi. Minimal fiksasi tiga-titik atau mungkin empat-titik diperlukan. Perawatan Fraktur Le Fort II Reduksi tertutup yang dilakukan pada fraktur Le Fort II mudah dilakukan dengan tang disimpaksi Rowe. Kombinasi yang diperlukan tergantung pada kebutuhan untuk 234 . dapat dilakukan reduksi terbuka. Hal tersebut perlu dilakukan untuk mendapat stabilitas dan penyembuhan yang adekuat. Fiksasi intermaksilari kemudian dilakukan untuk memperbaiki posisi anteroposterior fraktur. Sebagai alternatif. pembukaan tambahan ke superior sering dibutuhkan untuk akses yang cukup dari orbital rim. Pada umumnya segmen maksila pyramidal yang bebas distabilisasi ke tulang zygoma yang intak. Hal ini dapat diperoleh dengan membuka regio sutura zigomatikomaksilaris baik dari rima inferior maupun intraoral.7 Setelah dilakukan reduksi pada fraktur. Pada fraktur Le Fort II dilakukan insisi pada sulkus bukalis.Gambar 19. terdapat variasi pilihan untuk imobilisasi. Fiksasi dapat dilakukan dengan mini plate yang menjangkau penyangga zygomaticomaksilaris. Imobilisasi dilakukan minimal 4 minggu.

atau melalui laserasi yang sudah ada. Flap bicoronal dapat diperpanjang untuk mencapai akses ke lengkung zigoma. Flap bicoronal harus dirancang hati-hati untuk menghindari cedera pada cabang saraf wajah. Semua pendekatan ini dapat memberikan akses yang baik ke daerah sutura nasofrontalis. Awalnya. 2 Pilihan lain dari perawatan pada fraktur Le Fort II yaitu imobilisasi sutura nasofrontal. serta reduksi yang tepat dari maksila ke wajah tengah inferior. rahang atas harus dalam kondisi tidak terpendam (direposisi) dan MMF dilakukan. Ketika flap dibuat pada area lengkung orbita. Insisi alis lateral. Dapat dilakukan dengan bilateral Lynch. kita melakukan diseksi superfisial dari fasia temporalis. Dalam mencapai lengkung zigomatik. oklusi yang baik harus didapatkan untuk mendapatkan posisi anteroposterior dan lateral wajah tengah. open sky. zigomatikotemporal. Penempatan plat pada daerah ini dapat memberikan kestabilan dan keamanan dalam arah superior posterior. Terdapatnya jejas yang remuk dan parah bervariasi. atau flap kulit kepala bicoronal dapat digunakan untuk topangan tambahan pada tulang frontozigomatik.2 Prinsip umum perawatan fraktur ini yaitu. atau keduanya. Insisi jaringan lunak dapat dilakukan di lokasi yang sama seperti untuk fraktur Le Fort II.mengeksplor dasar orbita. perikranium dapat diinsisi tepat di atas lengkung untuk menjaga suplai darah dari daerah supraorbital dan supratroklearis ke flap. Perawatan Fraktur Le Fort III Fraktur Le Fort III secara esensial merupakan kombinasi fraktur zigoma bilateral dan fraktur pada kompleks nasal-orbital-ethmoid (NOE). atau insisi flap koronal. kita lakukan insisi fasia 235 . dan rekonstruksi regio nasofrontal karena daerah ini sering kali terjadi keremukan. tetapi prinsip perawatannya identik dengan yang lain. dan sutura nasofrontal. kita menstabilisasi segmen tulang yang bergerak untuk stabilisasi mandibula dan tulang kranium. atau rekonstruksi rima inferior. Pada daerah lateral. reduksi dan imobilisasi zigomatikofrontal. 3. lipatan glabela. Pada gilirannya. 2 Dalam perawatan fraktur Le Fort III.

lengkung zigomatic). maka perlu diberikan antibiotik profilaksis terhadap organisme gram-positif dan anaerob selama 5-10 hari. Jika terpendam atau comminuted. D. Perawatan Post Operasi Untuk meminimalisir edema paska operasi.temporalis di atasnya. dapat diangkat setelah 2-5 hari. kurangi dan stabilkan setiap patahan tulang yang terlibat. nasofrontal. lengkung inferior orbital. nasomaxillary. Apabila daerah fraktur terbuka terhadap lingkungan eksternal atau terdapat komunikasi dengan intra oral atau ruang nasal. observasi pasien selama semalam terhadap kemungkinan terjadinya perdarahan. Fiksasi Miniplate saat ini merupakan tipe yang paling dapat diandalkan. Gunakan pelat yang menjangkau seluruh penopang utama. pelat pembentuk kontur yang akurat dan monocortical serta sekrup self-tapping. Jangan gunakan flap bicoronal dalam situasi dimana flap membutuhkan suplai arteri temporal. Interoseus wiring dan suspension wiring digunakan pada fraktur Le Fort III. Jika menggunakan fiksasi dengan kawat pada IMF. pelat berlebihan tidak diperlukan. Setelah ini dilakukan dan segmen fraktur terlihat. tetapi hasilnya tidak sebaik miniplate fiksasi karena vektor gaya untuk mempertahankan reduksi kurang akurat dan micromotion meningkat. Pada fraktur Le Fort III sejati. Garis rambut yang terlalu mundur juga dapat menjadi bahan pertimbangan untuk menggunakan tipe insisi lain. maka fiksasi dapat dilakukan. fiksasi zygomaticofrontal bilateral mungkin sudah cukup. Perluas bidang insisi ke dalam fasia sampai tulang zigoma yang fraktur. Gunakan template lunak. Sehubungan dengan tindakan fiksasi pada fraktur maksila. secara umum. tempatkan pemotong kawat di 236 . Setelah pembedahan. Jika pembalut tetap kering. Namun. dan muntah. lakukan pembalutan kassa dengan tekanan ringan. masalah pada jalan nafas. tetap dibutuhkan fiksasi tambahan (misalnya. Patahan tulang kemudian dapat dikurangi dengan elevator kaku. pada daerah operasi. fiksasi langsung mungkin diperlukan. Gunakan sesedikit mungkin pelat untuk mencapai fiksasi.

keparahan dan displacement fraktur. tapi mobilisasi berlebihan dapat mengindikasikan terjadinya penyembuhan yang buruk. instruksikan pasien mengenai cara melepas IMF apabila muntah. Follow Up Lakukan evaluasi follow-up pada hari ke 5-7 (jahitan kulit dapat dilepas pada saat ini). Sebelum pulang. facial series.10 E. tekankan pasien untuk memelihara kebersihan mulut dengan rajin menyikat gigi dan arch bar dan berkumur dengan saline atau mouthwash antiseptik setiap pagi dan malam serta setiap habis makan. Pada pemeriksaan post-operasi. MMF dapat dilepas lebih cepat pada fraktur yang diperbaiki dengan 237 . Pada umumnya. Tujuan paling penting selama periode awal post-operasi yaitu memelihara imobilisasi. Sehingga IMF perlu dirawat selama periode ini. Panorex dental views. Selama periode ini. pasien diberi tahu untuk membatasi diet yaitu bubur atau cairan. periode ini berkisar antara 4-8 minggu. Lepas kawat atau rubber band apabila pasien mulai merasa mual. IMF dapat dilepas. serta teknik perawatan yang digunakan. Apabila tulang wajah telah sembuh dengan baik dan didapat oklusi normal.dekat pasien setiap saat pada awal periode post-operasi untuk mengeluarkan muntah. Pergerakan yang berlebihan mengindikasikan terlalu dininya melepas arch bar atau terdapatnya masalah penyatuan tulang. Selain itu. Follow-up jangka panjang mungkin dibutuhkan untuk memonitor terjadinya komplikasi postoperasi atau deformitas. minggu ke 2-4. CT scan) dapat membantu pada pasien yang dicurigai terjadi malunion. Terdapatnya Pergerakan minimal mungkin masih dapat diterima. Pengambilan foto post-operasi (misal. serial mandibula. Tergantung pada umur dan kesehatan umum pasien. Mobiliti vertikal yang minimal pada midfasial dapat pulih seiring dengan waktu. lalu minggu ke 3-8 untuk melepas IMF. lakukan tes stabilitas tulang wajah dengan mempalpasi geligi rahang atas pasien saat menggigit dan merelaksasi otot pengunyahan.

dan lebih lama pada fraktur yang diperbaiki dengan kawat interosseus atau suspensi.10 238 .fiksasi miniplate.

dan dengan edem berat jaringan lunak yang menghalangi pernafasan melalui jalan nafas nasal. Enopthalmus 3. Obstruksi nasal 7. tetapi potensi kemunculannya dapat diperkirakan selama evaluasi dan perawatan. infraorbital 2. dengan hematom septum atau nasal packing. Infeksi 4. dan pembukaan fikasi intermaksilari dapat efektif menghilangkan 239 . kondisi ini dapat terjadi sehubungan dengan ekstubasi. Parestesi n. Sinusitis Terjadinya obstruksi jalan nafas perioperatif dan postoperatif jarang terjadi pada fraktur maksila tunggal. Jaringan parut 13. Nonunion 9. Epiphora 11. Pasien dengan fiksasi intermaksilari dan gigi lengkap biasanya mengalami kesulitan pernafasan pada saat ini.BAB III KOMPLIKASI Beberapa komplikasi yang dapat terjadi akibat fraktur maksila dan penyembuhannya biasanya tidak tampak hingga beberapa minggu hingga bulan setelah terjadinya trauma. Komplikasi yang mungkin terjadi sehubungan dengan fraktur maksila antara lain:4 1. Perubahan penglihatan 8. Reaksi benda asing 12. Bagaimanapun. Malunion atau maloklusi 10. Alat terekspos 5. Reintubasi. pembukaan jalan nafas nasofaringeal. Deviasi septum 6.

Hematom yang ada.gangguan jalan nafas. dan maksila. Faktur pada septum nasal yang tidak diperbaiki dapat menyebabkan terjadinya obstruksi jalan nafas postoperatif yang akan tetap ada hingga semua pembengkakan jaringan lunak hilang. sebaiknya didrainase. dan menekannya fragmen tulang pada nervus optikus. Perlu dilakukan prosedur pembedahan kedua untuk memperbaiki komplikasi tersebut. Sinusitis akut atau kronik dapat juga terjadi pada sinus ethmoid. 4 Komplikasi postoperatif lain yaitu salah penempatan segmen tulang atau alat fiksasi. Fraktur pada dasar orbita yang tidak terdiagnosa atau ditangani dengan tidak adekuat (sendiri atau kombinasi dengan komponen zigoma) dapat menyebabkan terjadinya enopthalmus dan diplopia. atau jika arteri sebagian terpotong. Laserasi sebaiknya diperiksa ulang sehingga hemoragi dapat dikontrol.4 Hemoragi post operatif dapat terjadi jika arteri dan vena tidak diligasi ketika memperbaiki laserasi. jika reduksi tulang inadekuat dapat menyebabkan perdarahan berlanjut. maloklusi) atau pemeriksaan radiografi postoperatif. jika terjadi aneurisma. fraktur maksila tersendiri.4 Karena kedekatan maksila dengan orbita. seringkali dengan mekanisme jejas yang lebih berat. 4 Aneurisma dan pseudoaneurisma merupakan komplikasi trauma pada maksilofasial tetapi jarang terjadi akibat 240 . hemoragi retrobulbar. 4 Sinusitis akut dapat terjadi akibat tindakan intubasi trakheal yang berkepanjangan. spasme arteri retinal. apabila sumbernya tidak dapat diidentifikasi. Komplikasi ini dapat diidentifikasi melalui pemeriksaan klinis (misal. Kebutaan jarang terjadi sehubungan dengan fraktur midfasial dan paling sering terjadi pada pola fraktur yang melibatkan orbita. karena fraktur dapat mengobstruksi duktus sinus atau ostia. maka perlu dilakukan arteriografi dan embolisasi. Kebutaan postoperatif imediet dapat merupakan komplikasi reduksi pada fraktur Le Fort III (atau fraktur yang melibatkan orbita) dan terjadi akibat peningkatan hemoragi atau tekanan intraorbital. maka dapat terjadi komplikasi yang berhubungan dengan penglihatan. Hemoragi dari arteri utama harus segera ditangani. frontal. sphenoid. Pada perdarahan tulang sebaiknya dilakukan reduksi ulang atau menggunakan bone wax.

pemeriksaan klinis dan didukung dengan pemeriksaan radiology demi tercapainya perawatan yang tepat pula. III seperti: Elongasi fasial. Kehilangan kesadaran. Dish face. Perawatan dengan memakai metode tertutup atau terbuka disesuaikan denga indikasinya masing-masing. Obstruksi jalan nafas dan Kebocoran cerebrospinal renorrhoe. 6. Perkembangan baru dengan memakai miniplate dan skrup untuk menghasilkan fiksasi dari reduksi fragmen yang rigid dengan mengurangi waktu perawatan dan mempercepat penyembuhan. Mobilitas seluruh rahang atas atau setengah wajah yang menandakan lepasnya kontinuitas maksila dengan basis cranial. Pengenalan tanda. Immobilisasi segmen fraktur merupakan aspek perting untuk mencegah terjadinya kegagalan perlekatan (malunion ). 7.BAB IV KESIMPULAN Dari penjabaran tentang fraktur maksila secara umum tadi dapatlah diambil kesimpulan bahwa: 1. 3. malunion dan lain-lain. 241 . Open bite klasik. 4. Perhatikan komplikasi yang menyertai fraktur maksila seperti Perdarahan yang hebat. 2. Sebaiknya klinisi membuat diagnosa yang tepat dengan memperhatikan anamnesa.tanda khas terjadinya fraktur Le fort I. 5. Perawatan dilakukan sesegera mungkin untuk mensegah terjadinya komplikasi seperti infekasi. II.

6. Hupp. U. Miami: Marcel Dekker.gla. Louis: Mosby. Contemporary Oral and Maxillofacial Surgery. Principles of Oral and Maxillofacial Surgery. 2000. 2004. 2nd ed. 3.S. 2008. Hamilton: BC Decker Inc.S. 2001. Jakarta: EGC. 2001. Ellis. Pedersen. 2009. Oral and Maxillofacial Trauma vol. W. Oxford: Blackwell-Science. Edward. Pedlar. 1996.DAFTAR PUSTAKA 1. Moore. 2005. http://emedicine. 5th ed. Buku Ajar Praktis Bedah Mulut. 4. Thaller. K. Principles of Oral and Maxillofacial Surgery. 7. Peterson. Maxillary and Le Fort Fractures Treatment & Management.medscape. Inc. Assesment of Patients with Facial Fractures.ac. 5.com/article/1283568- 242 . James R. 8.W. St.Dallas: Saunders.2. G. 2. Louis: Elsevier. 5th ed.uk/ibls/US/cal/anatomy/trauma/maxillaclinfeat. Facial Trauma. http://www. Edinburg: Curchill Livingstone.R. 10.htm 9..W. 2004. Fonseca.J. J and Frame J. Oral and Maxillofacial Surgery. McDonald. S. Moe. treatment#a1135. St.

Maksud dari penulisan makalah ini adalah untuk memberikan gambaran mengenai gejala klinis. dan berada pada urutan kedua setelah fraktur nasal. Jejas yang mengenai jaringan keras dapat merupakan suatu fraktur tulang. dan imobilisasi. Fiksasi 243 . Namun karena strukturnya yang kompleks tentu saja penatalaksanaannya pun lebih rumit. Penatalaksanaan fraktur zygoma pada dasarnya sama dengan penatalaksanaan fraktur maksilofasial lainnya yaitu meliputi reduksi. di antaranya fraktur zygoma4. gambaran radiografi. perawatan serta komplikasi yang dapat terjadi pada fraktur komplek zygoma. Fraktur zygoma merupakan cedera wajah yang sering terjadi. Kata kunci : Fraktur Kompleks Zygoma. fiksasi. Reduksi.FRAKTUR KOMPLEKS ZYGOMA Leidya Valentina Elizabeth 160121120009 Peserta Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut Dan Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Bandung Abstrak Trauma akan menimbulkan jejas baik pada jaringan lunak maupun pada jaringan keras. Insiden yang tinggi ini kemungkinan disebabkan oleh posisi zygoma yang prominen terhadap tulang wajah2.

dan seringkali fraktur midfasial melibatkan tulang zygoma. ekonomi.BAB I PENDAHULUAN Trauma pada wajah midfasial dapat menyebabkan fraktur yang melibatkan maksila. foramen. Tulang zygoma mempunyai permukaan luar yang cembung dan kasar. Tergantung dari mekanisme injuri. Fraktur midfasial cenderung terjadi pada sisi benturan dan bagian yang lemah seperti sutura. zygoma dan komplek nasoorbital ethmoid. Tulang zygoma memegang peranan penting dalam menentukan lebar wajah dan juga berperan sebagai major buttress (tulang dengan struktur yang tebal. pendidikan dan politik dari suatu populasi yang diteliti. tetapi adanya penonjolan tulang membuat tulang ini juga dapat mengalami fraktur jika mendapatkan trauma yang hebat yang dapat terjadi karena pukulan atau akibat kecelakaan kendaraan bermotor. etiologi. serta membentuk penonjolan pada pipi kiri dan kanan (penonjolan malar). penyebab fraktur tulang zigoma adalah kekerasan dimana pada sisi yang lain kecelakaan kendaraan bermotor juga merupakan penyebab yang sering terjadi. Dari kebanyakan penelitian menunjukkan bahwa wanita lebih banyak terkena dari pada pria dengan rasio 4 : 1. Beberapa literatur mengatakan bahwa puncak insidensi dari trauma terjadi antara dekade kedua dan ketiga dari kehidupan. Dalam beberapa penelitian. Tulang zygoma mempunyai struktur yang kuat. dan aperture. yang menopang proporsi kraniofasial dalam ukuran tinggi. predileksi umur dan jenis kelamin dari trauma zygoma bervariasi. tergantung pada status sosial. Insidensi. lebar dan anteroposterior) pada struktur wajah tengah. Etiologi dari terjadinya fraktur juga dipengaruhi oleh keadaan suatu populasi penduduk dimana pada penelitian terdahulu terlihat bahwa 244 . yaitu antara maksila dan cranium3.

Pada fraktur zygoma yang disebabkan oleh kekerasan. dan kosmetik.yang banyak mempengaruhi adalah pada populasi dari area industri dengan tingkat pengangguran yang tinggi sehingga kekerasan interpersonal masih banyak terjadi. yang disebabkan oleh suatu penyakit. dan mereka juga menemukan bahwa fraktur bilateral hanya terdapat pada kasus kecelakaan. benturan sewaktu olahraga. Penanganan yang tepat dapat menghindari efek samping baik anatomis. perbaikan fungsi bicara. Selain karena tindak kekerasan dan kecelakaan lalu lintas. luka tembakan atau berupa fraktur patologis. Tujuan utama perawatan fraktur fasial adalah rehabilitasi penderita secara maksimal yaitu penyembuhan tulang yang cepat. fungsi. hal ini sekaligus mengindikasikan bahwa fraktur zygoma akibat kecelakaan kendaraan bermotor lebih parah jika dibandingkan dengan kasus serupa yang terjadi akibat kekerasan. tulang zygoma kiri adalah yang banyak terkena. etiologi dari fraktur zygoma juga dapat disebabkan karena terjatuh. Keadaan ini berbeda dengan keadaan fraktur zygoma yang disebabkan karena kecelakaan kendaraan bermotor. Fraktur zygoma bilateral jarang terjadi. 245 . fungsi pengunyah. diperkirakan hanya terjadi sebanyak 4% dari 4067 kasus fraktur zygoma dalam sepuluh tahun yang dilaporkan oleh Ellis dan kawan-kawan. kecelakaan pabrik. pengembalian fungsi okuler. mencapai susunan wajah dan gigi-geligi yang memenuhi estetis serta memperbaiki oklusi dan mengurangi rasa sakit akibat adanya mobilitas segmen tulang. fungsi hidung.

1 ANATOMI TULANG ZYGOMA Tulang zygoma merupakan bagian dari dinding lateral dan dasar rongga orbita (Gambar 1a). Tulang ini mempunyai satu tonjolan yaitu processus temporalis ossis zygomaticus yang menonjol ke dorsal dan berhubungan dengan processus zygomaticus ossis temporalis yang menuju ke arah ventral. zygomaticotemporal. temporal. tetapi bila mendapat trauma atau pukulan hebat mudah patah. maksila. Pada beberapa individu membentuk lateral atas dari pada sinus maksilaris. maksilaris. Kedua penonjolan arcus ini bersama-sama membentuk arcus zygomaticus. dan sphenoid. Fraktur kompleks zygoma meliputi gangguan pada keempat sutura yang berartikulasi.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. Tempat-tempat yang mudah patah adalah sutura 246 . dan infraorbital. dan zygomaticosphenoid (Gambar 1b). Anatomi dan letak tulang zygoma 3 Zygoma memiliki empat proyeksi yang menciptakan bentuk quadrangular atau tetrapod yang meliputi: bidang frontal. Zygoma berartikulasi dengan empat tulang: frontal. Gambar 1a. yaitu: sutura zygomaticofrontal. zygomaticomaksilaris. temporal. Struktur tulang zygoma adalah kuat.

pada tulang zygoma juga melekat dua buah ligamen yaitu ligamen kapsular dan ligamen temporomandibular. 247 . sutura zygomatikomaksilaris. zygomaticus. m. pterygoideus externa. permukaan orbita pada tulang zygomatik. Orbita adalah piramid quadrilateral yang berbasis anterior. m. dan oleh karena itu sebuah pemahaman gambaran anatomis orbita adalah penting untuk mereka yang merawat cedera ini. Dasar orbita melandai kearah inferior dan yang paling pendek pada dinding orbita. Gambar 1b. Ia terdiri dari lingkaran orbita maksila. Pada kasus fraktur adanya rotasi inferior dari tulang zygoma setelah penatalaksanaan reduksi dapat disebabkan karena lokasi m. m. sutura zygomatikotemporalis dan sutura zygomatikosphenoid. dan prosesus orbital dari tulang palatinus. maseter ini. Muskulus maseter menempel pada aspek inferior dari zygoma. masseter. Beberapa muskulus yang melekat pada tulang zygoma : m. Perlekatan otot-otot dan sutura 2 Seluruh fraktur kompleks zygomatik melibatkan dasar orbita. rata-rata 47 mm.sphenozygomatika. Selain otot-otot. levator labii superior dan m. temporalis.

(Gambar 2) Gambar 21 Saraf sensori yang berhubungan dengan zygoma adalah divisi kedua nervus trigeminal. Cabang-cabang zygomatik.Dinding medial dan lateral berkonvergen di posterior pada apeks orbital. hidung lateral. Dinding medial terdiri dari prosesus frontal maksila. dan temporal keluar dari foramina pada tubuh zygoma dan memberikan sensasi pada pipi dan daerah temporal anterior. tulang lakrimal. Otot masseter menginsersi sepanjang 248 . Hal ini memberikan sensasi pada pipi anterior. Dinding orbital lateral adalah yang tertebal dan terbentuk oleh zygoma dan gerater wing dari os sphenoid. Fossa glenoid dan eminensia artikularis terlokasi pada aspek posterior prosesus zygomatikus tulang temporal. Nervus infraorbital melewati dasar orbital dan keluar pada foramen infraorbital. fasial. Otot-otot ekspresi wajah yang berasal dari zygoma termasuk zygomaticus mayor dan labii superioris. Mereka diinervasi oleh nervus kranialis VII. Arcus zygomatikus termasuk prosesus temporal zygoma dan prosesus zygomatik dari tulang temporal. dan sebagian kecil dari badan sphenoid. lingkaran orbital ethmoid. Dasar orbital terdiri dari tulang frontal dan sayap yang lebih kecil dari sphenoid. bibir atas. dan geligi anterior maksila.

permukaan temporal zygoma dan arcus dan diinervasi oleh sebuah cabang dari nervus mandibularis. (Gambar 3) Gambar 32 Fascia temporalis berlekatan ke prosesus frontal dari zygoma dan arcus zygomatik. Gambar 42 249 . Fascia ini menghasilkan resistensi pergeseran inferior dari sebuah fragmen fraktur oleh penarikan kebawah dari otot masseter(Gambar 4).

2 KLASIFIKASI FRAKTUR ZYGOMA Jackson (1989) membuat klasifikasi fraktur zigomatikus yang disederhanakan menurut pola dan pergeseran serta perawatannya.pembukaan dan fiksasi Displaced ‘tripod’ fractures (low velocity) – elevasi sederhana atau elevasi. Tendon canthal medial berlekatan dengan krista lakrimal anterior dan posterior. Intact b. Gruss dkk (1990) 1. Badan zygomatikus a. Perlekatan ini lebih kearah medial hingga aspek posterior dari tulang lakrimal dan lateral terhadap tuberkel orbital (Whitnall) (yang adalah 1 cm dibawah sutura zygomaticofrontal pada aspek medial dari prosesus frontal dari zygoma). Undisplaced c.tidak ada perawatan Localized segmental fractures . B. pembukaan dan fiksasi Grup IV Displaced comminuted fractures (high velocity) – pembukaan luas dan fiksasi multipel. Fraktur kompleks zygomatik seringkali dibarengi dengan sebuah antimongoloid (kearah bawah) dari daerah canthal lateral yang disebabkan oleh pergeseran zygoma.Posisi bola mata dalam hubungan dengan aksis dipertahankan oleh ligamen suspensori Lockwood. 1995). Segmental 250 . Tendon canthal lateral berlekatan dengan tuberkel Whitnall. 2. Jackson (1989) Grup I Grup II Grup III Undisplaced fractures . Gruss dkk (1990) menekankan peran pola fraktur pada zygoma untuk reduksi yang akurat dan mengklasifikasikan fraktur ini menurut tingkat keparahan tulang pada badan zygoma dan arkus zygoma (Trott et al. A. Bentuk dan lokasi dari canthi medial dan lateral kelopak mata dipertahankan oleh tendon canthal.

Intact b. Fraktur ini disebabkan oleh pukulan langsung pada arkus zygomatikus. Undisplaced c. tetapi tidak memperlihatkan pergeseran. Fraktur zygoma dengan perputaran ke median. 4. Comminuted C. pergeseran pada sutura zygomatikofrontalis dan penonjolan tulang zygoma ke dalam. Fraktur ini disebabkan oleh pukulan langsung terhadap penonjolan dari tulang zygoma. Displaced e. Fraktur tanpa displacement. Dalam pemeriksaan radiologis timbul pergeseran ke bawah dari tepi infra orbita. Comminuted 2. hanya retakan saja. fraktur zygoma dapat dikalsifikasikan sebagai berikut2 . Segmenta d. 2. Dalam hal ini tidak diperlukan penatalaksanaan. Pada umumnya tulang terdorong ke belakang. Arkus Zygomatikus a. menyebabkan busur ini melekuk ke dalam tanpa mempengaruhi sinus maksilaris ataupun rongga mata. ke dalam dan sedikit mengarah ke bawah sehingga pipi menjadi rata dan terjadi perubahan bentuk pada tepi infra orbital. 1. Fraktur zygoma tanpa perputaran. sehingga terjadi fraktur dan pergeseran tulang langsung ke dalam sinus maksilaris. Displaced : inferior dengan depresi dan lateral e. Pemeriksaan secara radiologis menunjukkan adanya fraktur. Fraktur arkus zygomatikus dengan displacement. 3.d. 251 . Menurut Knight dan North.

Pemeriksaan radiologis memperlihatkan pergeseran ke bawah dari tepi infraorbital. Kebanyakan fraktur zygoma terjadi pada arkus dalam meliputi lateral orbital 2. Fraktur kompleks. sutura zygomatikofrontalis keluar atau dapat ke dalam. atau lingkaran infraorbita. Zingg dan kolega. Fraktur energi-menengah memperlihatkan fraktur lengkap ( complete) pada seluruh artikulasi dengan pergeseran ringan hingga moderat. Serpihan mungkin dapat timbul (Gambar 5). Fraktur arkus zygomatikus menyebabkan depresi pada pipi karena tekanan m. Fraktur energi-tinggi ditandai dengan serpihan pada orbit lateral dan pergeseran lateral dengan segmentasi pada arcus zygomatik (Gambar 6). sehingga tulang yang mengalami fraktur tergeser ke belakang. Manson et. dalam sebuah tinjauan pada 1. Fraktur tulang zygoma dengan perputaran ke lateral. sehingga tulang terdorong ke dalam dan ke belakang. Fraktur incomplete (tidak lengkap) pada satu atau lebih artikulasi dapat terlihat. 5. 6.Fraktur dan pergeseran timbul karena pukulan pada penonjolan tulang zygoma di atas sumbu mendatarnya. Disini termasuk semua kasus dimana didapatkan garis fraktur saling menyilang lebih dari satu. ke dalam dan ke bawah. dinding orbita lateral.025 fraktur zygomatik. Fraktur-fraktur tipe A adalah fraktur energi rendah tidak lengkap dengan fraktur hanya pada satu pilar zygomatik: arcus zygomatik. 252 . Pemeriksaan radiologis memperlihatkan pergeseran keluar dari penonjolan tulang zygoma dan ke atas dari tepi infraorbita ataupun keluar sutura zygomatikofrontalis. Fraktur disebabkan karena pukulan di bawah sumbu datar dari tulang zygoma. Pada 1990. mengklasifikasikan cedera-cedera ini kedalam tiga kategori. masseter pada arah posterior. medial dan inferior.al mengajukan sebuah metode klasifikasi yang didasarkan pada pola segmentasi dan pergeseran3: Fraktur yang memperlihatkan sedikit atau tidak ada pergeseran diklasifikasikan sebagai cedera energi-rendah.

Bila penderita tidak dapat memberi keterangan-keterangan tersebut. Skala ini menggunakan 3 parameter: Eye opening. Asal mula terjadinya fraktur tulang zygoma harus diketahui. nilai 9-12 untuk moderate head injury dan nilai antara 13-15 untuk mild head injury9. apakah karena kecelakaan lalu lintas atau karena pukulan. Kolaps yang lama dan terus menerus akan menyebabkan shok. Jennet dan Teasdale memperkenalkan sistem Glasgow Scale (GCS) untuk melihat tingkat kesadaran. dapat kita tanyakan kepada pengantar yang melihat terjadinya kecelakaan. Bila riwayat secara lengkap tidak dapat ditanyakan kepada penderita atau pengantar penderita.Fraktur tipe B mengacu pada fraktur “monofragmen” lengkap dengan fraktur dan pergeseran disepanjang keempat artikulasi. Fraktur “multifragmen” tipe C termasuk fragmentasi badan zygomatik. apakah dalam keadaan sadar atau tidak. Keadaan penderita sewaktu terjadi kecelakaan harus diketahui. maka dapat ditanyakan kemudian setelah penderita agak pulih. berapa lama dalam keadaan tidak sadar. Untuk menegakkan diagnosa fraktur tulang zygoma dilakukan pemeriksaan :  Riwayat kecelakaan Riwayat kecelakaan dapat diketahui dengan memberi pertanyaanpertanyaan kepada penderita untuk memperoleh keterangan yang objektif. telinga atau hidung. best motor responsen dan best verbal response dimana nilai antara 08 untuk severe head injury. terjadi muntah atau tidak dan riwayat penyakit yang pernah diderita. yang ditandai dengan 253 .  Pemeriksaan fisik Hal ini penting untuk menentukan rencana penatalaksanaan yang akan dijalankan.3 DIAGNOSA FRAKTUR ZYGOMA Riwayat yang terperinci akan banyak membantu dalam menentukan diagnosa. Kecelakaan yang serius dapat menyebabkan kolaps. 2. Selain itu diperhatikan apakah terdapat perdarahan melalui mulut.

Pemeriksaan telinga Bila terjadi perdarahan atau terdapat cairan serebrospinal pada satu atau kedua lubang telinga menunjukkan adanya fraktur pada petrosa tulang temporal. Ketidaknormalan dari pinggir infraorbita dalam pemeriksaan palpasi menyatakan adanya kerusakan dari dasar orbita. Ketidaksadaran yang lama menandakan adanya kontusio cerebri. 254 . kulit lembab. nadi cepat tetapi lemah. Gejala neurologis Hilangnya perasaan pada perabaan (anesthesia) dari kelopak mata bawah. Perdarahan dari mulut. 1. Retraksi dari jaringan lunak sudut mata menyatakan adanya penurunan dinding periorbita ke arah sinus maksilaris.tekanan darah rendah. bibir dan kuku stanosis. Gangguan dari pergerakan bola mata disebabkan karena otot-otot penggerak mata terjepit sehingga fungsinya terganggu. Misalnya pada fraktur tulang zygoma yang serius sehingga menyebabkan pecahnya basis kranii. pernafasan cepat dan dangkal. dingin dan pucat. Perdarahan pada tulang telinga menunjukkan pecahnya basis kranii. Gejala-gejala fraktur zygoma Gejala-gejala fraktur ini sangat penting untuk mengetahui tindakan penatalaksanaan apa yang harus didahulukan. Pemeriksaan mata Pupil berdilatasi menandakan adanya shok. 4. 2. hidung dan telinga menandakan terjadinya fraktur basis kranii. Penderita yang berada dalam keadaan yang tidak sadar tidak boleh dilakukan operasi sebelum penderita sadar. penderita harus segera dibawa ke bagian neurochirurgis. Diplopia disebabkan karena kerusakan dari syaraf infraorbita. Bila nervus zygomatikofasialis atau nervus zygomatikotemporalis rusak menyebabkan hilangnya perasaan pada pipi dan temporal bagian depan. Kerusakan dari syaraf fasialis menyebabkan Bell’s palsy yaitu sudut mulut terkulai dan mata tidak bisa mengedip. lateral hidung atau bibir bagian atas disebabkan rusaknya nervus infraorbitalis. 3. pupil berdilatasi dan penderita apatis.

dibandingkan sisi yang satu dengan yang lain3. Pemeriksaan dengan cara palpasi Pemeriksaan zygoma meliputi inspeksi dan palpasi. memberikan tekanan pada jaringan yang edema guna palpasi dan mengurangi efek visual dari edema secara simultan. adanya edema orbital dan ekimosis subkonjungtival dan proyeksi anterior dan lateral dari zygoma. unilateral epistaksis. lateral. superior dan inferior 3. penurunan bola mata pada sisi yang fraktur. retraksi dari sudut mata. mengevaluasi bagaimana proyeksi anterior dan lateral dari zygoma terhadap tepi supraorbital. sepanjang zygoma. 255 . Metoda yang paling berguna untuk mengevaluasi posisi dari tubuh zygoma adalah dari pandangan superior (. Tidak boleh dilupakan untuk melakukan pemeriksaan intraoral. level pupil. Ahli bedah menginspeksi dari atas. Inspeksi dilakukan dari bagian frontal. Hilangnya ekspresi pada pipi yang mengalami fraktur.7. 6. Pada saat akan melakukan pemeriksaan dengan posisi seperti ini akan memudahkan untuk menempatkan posisi jari telunjuk di bawah tepi infraorbita. Pandangan superior juga membantu dalam mengevaluasi kemungkinan terjadinya depresi dari arkus zygoma. Harus dicatat tingkat simteris. Pemeriksaan visual Diagnosa yang langsung dapat dilihat dari gambaran karakteristik yang segera dapat dikenali yaitu muka terlihat asimetri karena adanya pendataran kontur pada pipi yang mengalami fraktur. hematoma.5. Gambar 51 Pasien dapat ditempatkan dalam posisi berbaring atau bersandar dikursi.

dimana kelopak mata mungkin tertutup karena bengkak.1 TANDA DAN GEJALA FRAKTUR ZYGOMA Adanya tanda dan gejala serta keparahannya sangat tergantung pada luas dan tipe dari luka zygoma. 2.karena fraktur zygoma sering disertai dengan ekimosis pada sulkus bukalis superior dan oleh fraktur dentoalveolar maksilaris. Tepi orbita dipalpasi dulu. Ekimosis mungkin hanya terdapat pada kelopak mata bawah dan derah infraorbita atau di sekitar seluruh tepi orbita. Jari telunjuk juga digunakan sepanjang aspek bagian dalam dari tepi orbita lateral.3. Tubuh dan arkus zygoma paling baik dipalpasi dengan dua atau tiga jari yang bergerak secara melingkar. Palpasi harus dilakukan dengan sistematik dan teliti. 2. pendataran wajah akan lebih nyata pada cedera pada zygoma yang displaced dibandingkan dengan fraktur yang nondisplaced. Tanda dan gejala berikut ini bisa menyertai fraktur zygoma dan oleh karena itu harus dievaluasi3 : 1. Pendataran dari tonjolan pipi. Misalnya. Edema dan perdarahan ke dalam jaringan ikat longar dari kelopak mata dan derah periorbital adalah tanda yang paling umum yang menyertai fraktur tepi orbita. Sama halnya dengan fraktur arkus zygoma yang mungkin kurang mengakibatkan gangguan okuler dibandingkan dengan fraktur kompleks zygoma. dibandingkan dengan sisi yang berlawanan. dimana sering ditemukan fraktur dengan melakukan palpalsi di bagian dalam dari tepi orbita yang berlawanan arah sepanjang aspek lateral. untuk mengetahui adanya hematoma atau irregularitas3. dibandingkan antara sisi yang satu dengan yang lain. 256 . palpasi seringkali harus dilakukan dengan cara yang halus. Bengkak yang seringkali masif mungkin terjadi dan paling dramatis pada jaringan periorbital. Tonjolan zygoma dari maksila dipalpasi dari dalam mulut dengan satu jari. Tepi infraorbita dipalpasi dengan jari telunjuk yang secara ritmik digerakkan dari sisi yang satu ke sisi yang lain sepanjang tepinya. Tepi orbita lateral dipalpasi dengan jari telunjuk dan ibu jari. Ekimosis dan edema periorbital. Bila terdapat fraktur.

yang menimbulkan krepitasi. Tidak adanya nyeri menunjukkan tidak adanya fraktur. Tanda yang penting dari fraktur zygoma atau fraktur maksila adalah ekimosis pada sulkus bukalis maksila. mungkin tidak terdapat adanya fraktur. karena nyeri bisa ditimbulkan karena cedera pada jaringan lunak atau fraktur maksila. Deformitas dari tepi orbita. Nyeri. tetapi adanya nyeri belum tentu ada fraktur. Juga sering teraba fragmen tulang yang remuk. Ekimosis dari sulkus bukalis maksila. Pendataran di atas arkus zygoma. namun biasanya dapat diperoleh dengan menekankan jari telunjuk pada jaringan lunak darah zygoma dan membandingkan satu sisi dengan yang lainnya dari sebelah atas pasien. 257 . nyeri hebat bukan merupakan gambaran yang normal dari cedera zygoma meskipun pasien akan mengeluh karena merasa tidak nyaman sehubugan adanya memar. Pendataran mungkin sulit untuk dilihat segera setelah terjadinya cedera jika terdapat edema. 7. Lekukan yang khas atau hilangnya kurvatura cembung yang normal dari daerah temporal menyertai fraktur dari arkus zygoma. 5. Palpasi dari sisi fraktur juga akan menimbulkan rangsangan nyeri. khususnya jika terdapat distraksi dari sutura frontozygomatikus dan rotasi dan atau remuknya bagian medial. Deformitas pada tonjolan zygomatik dari maksila. Jika pada manuver ini tidak teraba tenderness. khususnya di daerah tonjolan zygomatikus dari maksila. 3. Kecuali jika ada pergerakan dari segmen fraktur. 6.Ini adalah tanda yng paling biasa ditemukan pada cedera komplek zygoma yang dilaporkan 70-86% kasus. Ekimosis ini bisa terjadi meskipun hanya dengan sedikit gangguan pada maksila lateral atau anterior dan seharusnya tanda ini dicurigai sebagai fraktur zygoma. 4. Palpasi intraoral dari aspek anterior dan lateral dari maksila seringkali menunjukkan irregularitas dari permukaan halus yang normal.

Temuan lain adalah terdapatnya deviasi kearah sisi yang fraktur pada saat mulut dibuka. anestesia nervus orbitalis mulai dirasakan. Karena sinus maksilaris dialirkan ke hidung melalui meatus tengaha. Kebanyakan fraktur melalui dinding sinus yang hanya mengalami sedikit perubahan posisi akan merobek mukosa yang melapisinya. Terbatasnya kemampuan untuk membuka mulut sering terjadi bersamaan cedera zygoma. Anestesia infraorbital terjadi bila fraktur yang melalui dasar atau maksila naterior menyebabkan robeknya. 9. Penjelasan yang lebih mendekati adalah spasme otot yang terjadi sekunder terhadap pergeseran oleh fragmen yang berubah posisi. Apabila mukosa sinus mengalami gangguan. perdarahn unilateral dari hidung yang mungkin terjadi adalah kira-kira 30-50% dari cedera komplek zygoma. Deformitas ini sering ditemukan pada tepi infra orbita dan tepi orbita lateral bila terjadi fraktur zygoma. Epistaksis. menghasilkan perdarahan internal. jaringan edema. Trismus. Alasan yang sering dikemukakan untuk terjadinya trismus pasca fraktur adalah bergesernya prosesus koronoideus mandibula pada fragmen zygoma yang berubah posisi. Meskipun sulit untuk membedakan antara anestesia dari sensasi yang berubah pada penelanan. terjadi pada kira-kira sepertiga kasus. 8.Fraktur yang terjadi sepanjang tepi orbita seringkali menimbulkan celah atau deformitas jika terjadi displacement. mungkin terjadi perdarahan pada sinus tersebut. dan lebih banyak lagi terjadi pada fraktur tertutup dari arkus zygoma (45%). Parestesi nervus infraorbitalis lebih sering terjadi pada fraktur dengan perubahan posisi daripada yang tidak. khususnya pada otot temporalis. Gejala penting yang ditemukan pada kira-kira 50-90% dari cedera komplek zygoma adalah berkurangnya sensasi nervus infraorbitalis. Sebenarnya terjadinya pergeseran ini pada sebagian besar kasus masih meragukan. yang pada saat bengkaknya berkurang. Sensibilitas saraf yang abnormal. 10. karena diperlukan perubahan posisi yang cukup besar untuk menyebabkan gangguan mekanik. terpotongnya atau kompresi dari nervus infarorbitalis sepanjang kanalis atau 258 .

perdarahan yang mungkin terjadi dapat terskumulasi pada lokasi subperiosteal dan tidak tampak dibawah konjungtiva. Hal ini yang paling mudah dikerjakan dengan jalan memutarkan dua jari dengan lembut diseputar jaringan. Krepitasi dari emfisema udara. Perubahan posisi dari celah palpebra. Fraktur yang melalui dinding sinus. Jaringan lunak dari daerah periorbita terutama kelopak mata. Perubahan posisi dari zygoma juga termasuk palpebra yang menempelnya. Kehadirannya tidak mengesampingkan adanya fraktur tepi orbita. ekimosis subkonjungtiva biasanya tidak mempunyai batas posterior dan kan tampak berwarna merah cerah sesuai dengan kemampuan oksigen untuk menyebar melalui konjungtiva untuk pengumpulan darah. Ekimosis subkonjungtiva. Bila garis fraktur terjadi lateral dari jalur dan foramen infraorbital (lebih jarang terjadi) nervus infraorbitalisnya akan terselamatkan. 12. Perdarahan subkonjungtiva sering ditemukan pada fraktur zygoma. sekitar 5070% kasus. yang menunjukkan emfisema subkutan. Gejala tersebut bisa mempengaruhi sensitivitas gigi dan gusi maksila. yang akan memproduksi sensasi “crackling” yang khas. Signifikan dari emfisema ini adalah berpotensi terjadinya infeksi melalui hubungan antara sinus dan jaringan lunak. Ligamentum palpebra lateralis menempel pada bagian zygoma dari tepi orbita. Emfisema ini akan menghilang secara spontan dalam 24 hari tanpa perawatan. cenderung terinflasi oleh udara karena kehilangan sifat areolar. 11. karena tidak adanya gangguan dari periosteum. Bila terjadi. Hal ini tidak umum ditemukan pada fraktur zygoma.foramennya. tetapi potensi untuk terjadinya emfisema udara konstan. 259 . Jika terjadi inflasi dapat dilakukan palpasi dan menimbulkan krepitasi. dengan robekan pada mukosa yang melapisi. Mungkin disertai retak yang sangat tipis melalui tepi orbita jika periosteum telah robek. bibir atas dan bagian lateral hidung. menyebabkan udara bergerak menuju jaringan lunak wajah jika tekanan diantara sinus lebih besar daripada tekanan didalam jaringan. 13. Terganggunya nervus orbitalis akan menyebabkan anestesia kelopak mata bawah.

karena biasanya menunjukkan lepasnya lensa. hal ini biasa terjadi kira-kira 10-40% dari cedera zygoma. ligamentum palpebra lateralis juga tertekan.menghasilkan deformitas visual yang dramatis. memerlukan perhatian segera dari ahli mata. Diplopia monocular atau kaburnya pandangan dari satu mata. Diplopia. 14. menyebabkan lekukan yang menurun ke celah (kemiringan antimongoloid). Adalah nama yang diberikan untuk gejala pandangan kabur. dimana kaburnya pandangan hanya terjadi bila melihat dengan kedua mata secara bersamaan. sementara yang satu tertutup. Level pupil yang tidak sama. dimana pupil pada bagian yang terkena terletak lebih rendah daripada normal. perubahan posisi inferior atau posterior dari tepi orbita inferior menyebabkan tekanan pada kelopak mata yang lebih rendah. hifema atau cedera traumatik lain dari bola mata. Karena sekat orbita menempel pada tepi infraorbita. yang sering menyertai fraktur zygoma. Penting untuk membedakan antara dua jenis diplopia. Petunjuk yang bermanfaat untuk membedakan penyebab dari diplopia adalah temuan bahwa edema yang menyeluruh dari orbita biasnya menyebabkan diplopia pada pandangan keatas dan kebawah yang ekstrim. Kuarngnya gerakan mata yang hampir lengkap dalam satu arah terjadi dengan pengaruh mekanis atau cedera neuromuskuler. yang paling banyak adalah terperangkapnya otot. hilangnya dukungan tulang dari isi orbita dan perubahan posisi dari kapsul tendon dan ligamentum suspensorium dari bola mata. Diplopia binokular. Kondisi ini mungkin menyebabkan lebih banyak sklera yang terekspos di bawah iris dan tampak ektropion yang nyata. Dapat ditentukan apakah pada fraktur terdapat isi orbita yang melalui dasar orbita dengan forced duction test. sehingga tampak memendek. Pada waktu zygoma mengalami perubahan posisi pada arah anterior. 15. Keadaan ini tampak secra klinis berupa level pupil yang tidak sama. Forcep kecil digunakan untuk memegang tendon rektus inferior 260 . Dengan adanya gangguan dasar orbita dan bagian lateralnya. Diagnosa diplopia bisa sangat sulit pada tingkat awal dimana edema atau perdarahan bisa berkurang dalam beberapa hari namun terperangkapnya jaringan orbita tetap tidak berkurang.

enoftalmus akan tampak lebih nyata dan seringkali dihubungkan denga terjadinya ptosis bola mata. Jika cedera zygoma sudah menyebabkan kenaikan volume orbita.2 PEMERIKSAAN RADIOGRAFIS Diagnosa fraktur zygomatik biasanya dibuat dengan pemeriksaan riwayat dan fisik. 261 . Ketidakmampuan rotasi bola mata ke arah superior menunjukkan secara pasti terperangkapnya isi orbita dan paralisis yang disebabkan oleh edema atau cedera neuromuskuler. infraorbital. dimana edema pada jaringan lunak sekitarnya selalu menimbulkan enoftalmus relatif. dan serpihan dan untuk mengevaluasi jaringan lunak orbital. derajat pergeseran. A). adalah standar untuk seluruh pasien dengan dugaan (suspect) fraktur zygomatik. dan bola mata dimanipulasi melalui seluruh arah gerakan. Fraktur zygoma yang menunjukkan gejala enoftalmus kira-kira 5% dari seluruh kasus sebelum dilakukan perawatan. Radiografi membantu untuk konfirmasi dan untuk dokumentasi medikolegal dan untuk menentukan perluasan cedera tulang. yang menyebabkan pseudoptosis dari kelopak atas. pemindaian CT memberikan visualisasi dan dasar-dasar dari tengkorak wajah tengah: dasar-dasar nasomaksilaris. Pemindaian CT pada tulang wajah. Gambaran aksial dan koronal didapat untuk menentukan pola fraktur. 16. 2. Tomografi Komputasi CT adalah standar emas untuk evaluasi radiografi fraktur zygomatik. zygomaticomaksilaris. dapat enoftalmus. Enoftalmus. Ini adalah diagnosa yang sulit dilakukan pada keadaan akut kecuali pada kondisi yang sangat berat. atau keduanya atau mengakibatkan berkurangnya volume dari isi orbita yang disebabkan oleh herniasi dari jaringan lunak orbita. Pada saat bengkaknya sudah hilang. Secara spesifik. pada umumnya disebabkan oleh perubahan posisi lateral dan inferior dari zygoma atau gangguan dinding orbita lateral dan inferior. Hal ini harus dilakukan secara rutin pada individu yang tidak bisa menggerakkan bola mata ke arah atas.3.melalui konjungtiva dari forniks inferior. pada bidang aksial dan koronal. Manifestasi klinik dari enoftalmus dititikberatkan pada sulkus kelopak atas dan penyempitan fisur palpebra.

terlihat gambaran fraktur kompleks zygomatic dekstra. dan lingkaran infraorbita (Gambar 6B). berguna untuk mengevaluasi otototot ekstraokuler dan untuk mengevaluasi herniasi jaringan orbita kedalam sinus maksilaris.zygomaticofrontal. zygomaticosphenoid. B). dan zygomaticotemporal. sebuah pengetahuan kerja fundamental pada teknik ini diperlukan. A. Waters’ view. Pada banyak ruang emergensi dan rumah sakit. terlihat gambaran zygomaticomaxillary buttress dekstra dan fraktur dasar orbital dengan herniation of orbital padamaxillary sinus. Hal ini memproyeksikan piramida petrosa jauh dari sinus maksilaris. Submentovertex view. pada dataran koronal. memberikan visualisasi sinus-sinus.terlihat gambaran displaced fraktur arkus zygomatikus sinistra.1 a. orbita lateral. Radiograf tunggal terbaik untuk evaluasi fraktur kompleks zygomatik adalah Water’s view. Ketika hal ini dikombinasikan dengan sebuah Water’s view yang 262 . Kemampuan untuk membaca dan interpretasi film-film ini menjadi diagnosa dan merawat pasien-pasien ini adalah penting. Jendela jaringan lunak. Meskipun demikian. Coronal CT scan. Water’s View. Radiograf Biasa Pemindaian CT (CT scan) telah menggantikan film biasa untuk diagnosa dan penanganan fraktur kompleks zygomatik. A B C GAMBAR 6. pasien trauma akan masih menjalani evaluasi radiografi film biasa. C. B. Ia adalah sebuah proyeksi posteroanterior dengan kepala yang terposisi pada sudut 27° terhadap vertikal dan dagu berada pada kaset (cassette). Pandangan koronal khususnya membantu dalam evaluasi fraktur dasar orbita (Gambar 6A).

Penelitian ini membantu dalam evaluasi rotasi (disekitar aksis horisontal). b. proyeksi Water’s view terbalik memberikan informasi yang sama. Pada pasien yang tidak mampu mengira-ngira posisi wajah kebawah. 263 . Caldwell’s view adalah sebuah proyeksi posteroanterior dengan wajah pada sudut 15o terhadap cassette. Ia membantu dalam evaluasi arcus zygomatik dan proyeksi malar (Gambar 6C). Submentovertex (jug-handle) view diarahkan dari daerah submandibula ke vertex tengkorak. Submentovertex View.terangkat. Caldwell’s View. sebuah pandangan stereografi dari fraktur dapat terlihat. c.

1 TEKNIK REDUKSI A). 264 . Jika tidak dilakukan intervensi bedah maka pasien sebaiknya diobservasi selama dua sampai tiga minggu dengan diet lunak7. 3. Pendekatan Vestibulum Maksila Pendekatan ini paling populer. fiksasi tidak mutlak diperlukan. Reduksi tertutup tidak bisa dilakukan. Fiksasi hanya diperlukan bila ada indikasi. karena kita tidak mungkin melakukan manipulasi eksternal1.7. Pada kasus fraktur yang tidak diikuti pergeseran fragmen ( undisplaced) atau dengan pergeseran minimal tidak diperlukan intervensi bedah.BAB III PENATALAKSANAAN FRAKTUR KOMPLEK ZYGOMA Tidak semua fraktur zygoma memerlukan intervensi bedah. pada fraktur zygoma setelah suatu tindakan reduksi. large Kelly hemostat. Davies mengemukakan adanya insiden kerusakan (disruption) dasar orbita sebesar 47% pada penderita fraktur zygoma. karena scar yang terjadi tidak terlihat. seperti pada fraktur communite1 Disamping itu fraktur zygoma juga sering melibatkan orbita. Berbagai instrumen juga bisa digunakan dengan pendekatan ini antara lain cushing elevetor. Sebagian besar ahli bedah berpendapat. Pada kasus ini diantaranya diperlukan rekonstruksi dengan pemakaian implan dasar orbita atau graft untuk mendukung jaringan periorbita7. Bila terjadi pergeseran fragmen maka diperlukan suatu reduksi (reposisi) dengan cara terbuka (open reduction). tang ekstraksi gigi3.

lateral. Pendekatan Supraorbital Eyebrow Pendekatan ini dilakukan untuk mendapatkan akses ke lateral orbital rim (daerah frontozigoma). maksila bagian anterior dan buttress zigomatikomaksila mudah dicapai dengan pendekatan ini7. Dingman Zygomatic Elevator atau urethral sound 1.3. Instrumen digunakan untuk mengangkat zygoma ke anterior. sederhana. Keuntungan dari pendekatan ini adalah scar yang terjadi tersembunyi.Gambar 7:reduksi melalui pendekatan vestibulum maksila2 Insisi dilakukan kira-kira 3 sampai 5 mm di atas mucogingival junction dari gigi insissivus pertama diperluas ke posterior sesuai keperluan. Alat yang digunakan Large Kelly hemostat. 265 . Secara estetis scar yang dihasilkan kurang tersembunyi pada pasien dengan eyebrow yang tidak meluas ke lateral dan disamping itu akses yang didapat tidak terlampau luas1. Sebelum melakukan insisi. operator sebaiknya meraba daerah lateral orbital rim untuk menentukan lokasi fraktur. B). dan tangan yang lain meraba infraorbital rim dan body zigoma. Insisi dilakukan sepanjang 2 cm dan bisa meluas ke bawah eyebrow sesuai lokasi fraktur 7. Fraktur infraorbital rim.4. Pada teknik ini instrumen diinsersikan pada posterior zygoma sepanjang permukaan temporal.3 . lebih cepat dan komplikasinya sedikit 1. biasanya sampai gigi molar pertama.

dan dasar orbita.Gambar 8: Pendekatan supraorbita eyebrow (alis mata) 1. Gambar 9: Pendekatan pada kelopak mata atas1.3 C). Keuntungan dari pendekatan subtarsal ini adalah relatif mudah. Insisi dibuat pada lipatan kulit di kelopak mata bawah dibawah level tarsus. Insisi dilakukan pada lipatan kulit di kelopak mata atas. 266 .4 D).3.3. Insisi dibuat sekurang-kurangnya 10 mm di atas tepi kelopak mata. baik secara estetis dan komplikasinya minimal1. Pendekatan Subtarsal Pendekatan ini paling sering dilakukan untuk mendapatkan akses ke orbital rim. Pendekatan Upper Eyelid (Kelopak Mata Atas) Pendekatan ini sering juga disebut upper blepharoplasty atau pendekatan supratarsal fold. Scar yang terbentuk didaerah ini tidak menarik perhatian1.

4 E). 267 . Mula-mula dilakukan canthotomy dengan menggunakan gunting jaringan pada fisura palpebra lateral dan memotong dalam arah horizontal. Sebelum tindakan ini dilakukan pemasangan pelindung kornea (corneal shell). Salah satu ujung gunting dikeluarkan dari pocket dan dilakukan penarikan dengan retraktor. Pendekatan Subkonjungtiva Pendekatan ini dapat dikombinasi dengan canthotomy lateral untuk membuka dasar orbita. gunting kemudian diarahkan ke bawah kemudian dilakukan transeksi terhadap tendon chantal lateral (inferior cantholysis). Setelah itu dilakukan diseksi tumpul pada orbital rim1. bila telah sempurna kelopak mata akan jatuh bebas.Gambar 10: Pendekatan subtarsal1. Dengan menarik tepi kelopak. Kemudian dilakukan pemisahan (undermine) palpebra konjungtiva tepat dibawah tarsus ke arah medial sampai lacrimal punctum. kemudian dilakukan insisi konjungtiva pada fornik dengan gunting.3.

Insisi ditempatkan atas dua pertimbangan. 10 menembus kulit. Pada tahap ini akan ditemukan jaringan ikat longggar. body zigoma dan lengkung zigoma tanpa komplikasi. Pertama hairline. Kemudian lapisan superfisial fasia temporal diinsisi. Kedua. tapi menyediakan akses yang sangat baik ke orbita. harus diantisipasi kemungkinan terjadinya kemunduran hairline. Tepi insisi (anterior dan posterior) diangkat 1 sampai 2 cm untuk pemasangan klip hemostatik (Raney Clips). Flap anterior dipisahkan dengan diseksi tumpul sampai kira kira 2 cm dari body lengkung dan zigoma. Pendekatan Koronal Pendekatan ini nampaknya radikal dalam penanganan fraktur zigoma.A B C D Gambar 11: Pendekatan subkonjungtiva1. serta Scar yang terbentuk tidak terlihat 7. sub kutis dan galea. dilakukan diseksi 268 . Insisi dilakukan dengan menggunakan pisau no. maka insisi ditempatkan beberapa sentimeter dibelakang hairline. untuk keperluan ini insisi koronal dapat meluas ke lobus dari telinga7. akan terlihat permulaan lengkung zigoma. Dari lengkung zigoma. flap akan dengan cepat (mudah) dilepaskan perikranium.3 F). besarnya akses ke inferior yang diperlukan.

Keuntungan dari penggunaan screw ini adalah dapat dilakukan kontrol yang lebih baik dalam mengembalikan posisi zigioma. screw-nya dapat tertanam dalam zigoma pada lubang yang dibuat sebelumnya.3.tumpul sampai ke lateral orbita dan lengkung zigoma.3. Penutupan dimulai dengan penjahitan fasia temporal. Pendekatan Perkutan Ini merupakan teknik yang paling sederhana dan tidak memerlukan diseksi jaringan lunak dan bisa menggunakan beberapa instrument.4 G). 269 . Gambar 12: Pendekatan koronal1. Carol-girard screw instrument yang bisa digunakan meredukasi zigoma. Infraorbital rim dapat terlihat dengan memperluas diseksi dari lateral orbita ke medial1. Alat lain yang sering digunakan adalah Bone hook1. kemudian penutupan scalp dengan dua lapis jahitan yaitu gelea dan kutis dengan benang 2-07.

insisi harus cukup dalam sampai otot temporal terlihat. Setelah itu insersikan elevator diantara fasia dan otot temporal dan didorong sampai body zigoma dan mengembalikan posisinya1. Pape (1997) merekomendasikan untuk menggunakan satu atau dua mikroplate pada zigomatikomaksila buttress7.Gambar 13:Reduksi melalui pendekatan perkutan 1. Gambar 14 : Reduksi melalui pendekatan temporal 1 3. jika hanya memerlukan satu plate. Pendekatan Temporal Pada pendekatan ini dibuat insisi sepanjang 2.5 cm menembus kulit dan subkutis sampai terlihat warna putih yang merupakan fasia temporalis. Kemudian dilakukan insisi pada fasia.3 H).2 PRINSIP FIKSASI Untuk mempertahankan hasil reduksi. 270 . dianjurkan untuk memasang pada prosesus frontozigomatik.

B). Namun. A). tidak didapat tingkat kesembuhan yang sama pada pasien yang membutuhkan eksplorasi bagian dasar dan rekonstruksi orbita. ahli bedah harus mengenali tanda-tanda dan gejala untuk dapat memberikan perawatan yang tepat. Plate yang digunakan biasanya sebanyak 4 lubang dengan panjang 5 atau 7 mm7 3. Komplikasi bisa saja terjadi pada masa awal periode postoperasi atau hanya menjadi manifestasi dikemudian hari. telah menemukan bahwa pemulihan sensasi infraorbita yang lebih baik yang menyertai reduksi yang terbuka dan fiksasi internal pada sutura zygomatikofrontal dibandingkan dengan reduksi yang tanpa disertai dengan fiksasi. menggunakan teknik reduksi zygoma rutin. Sepertinya. reduksi anatomis pada fraktur dapat meminimalisir tekanan saraf dan dibiarkan untuk pulih. pada penelian Vrien. KOMPLIKASI Walaupun komplikasi pada fraktur kompleks zygoma dan lengkung zygoma tidak umum terjadi. Sebagian besar fraktur malunion dari zygoma didapatkan karena kekeliruan untuk mengetahui keparahan dari cedera atau reduksi yang tidak stabil. malposisi dari tulang bisa menyebabkan penurunan fungsi mandibula.Pada fraktur Comminuted di infraorbital rim direkonstruksi dengan menggunakan microplate. Meskipun pada sebagian besar kasus terdapat defisit kosmetik. Malunion yang diketahui sampai 6 minggu setelah cedera masih bisa dikoreksi. Malunion dan asimetris Fraktur malunion dari zygoma terjadi dalam beberapa tingkat keparahan.6-27% pada seluruh fraktur komplek zigomatikomaksilaris. Paresthesia Infraorbita Insidensi perubahan sensoris saraf infraorbita yang menyertai trauma zygoma berkisar 18 hingga 83%. Insidensi terjadinya asimetris bervariasi antara 3.3. Penelitian oleh Vriens bersama mahasiswanya dan Taicher bersama mahasiswanya. Teknik koreksi yang terlambat meliputi uatograft 271 . namun angka ini hanya berdasarkan pada penilaian klinis.

Posisi lengkung orbita menentukan radius kerucut dan dimensi panjang anteroposterior orbita adalah tinggi dari kerucut. C). Secara klinis. radius dikwadratkan dan sedikit penambahan pada radiusnya menghasilkan pertambahan volume yang drastic. Dengan teknologi CT-scan yang lebih baik. Peningkatan volume orbita merupakan etiologi yang paling umum. mungkin saja untuk dilakukan. kontur yang dihaasilkan mungik irreguler dan potensial terjadinya migrasi dan ekstrusi dari implan tersebut sepanjang waktu. Bagaimanapun defek yang lebih besar memerlukan reposisi kraniofasial atau penempatan tulang. Fraktur pada bagian dasar orbita juga merupakan akibat dari enophthalmos dengan pertambahan volume orbita (Gambar 15). Meskipun bahan aloplastik telah dianjurkan.maupun homograft atau bahan-bahan aloplastik dan ostektomi zygoma. Pada rumus ini. Grant bersama mahasiswa menjelaskan permasalahan klinis ini secara jelas dengan membandingkan bentuk orbit dan bentuk kerucut. Volume kerucut adalah ½ ( r2)h. Enophtahlmos Enophtahlmos merupakan satu dari beberapa komplikasi yang paling mengganggu yang menyertai fraktur-fraktur zygoma. kesejajaran yang buruk dari lingkar orbita dapat menambah volume orbita secara signifikan dan menimbulkan enophthalmos. Untuk deformitas minor. kartilago telah terbukti lebih efektif. kalkulasi volume orbita dan implikasinya terkait dengan fraktur pada bagian dasar orbita. Gambar 151 272 .

4 hingga 74. atau VI cranial. Fraktur kompleks zygoma non-displaced dan fraktur lengkung zygoma yang terisolir memiliki insidensi diplopia terendah. kira-kira 1 cm3 jaringan yang bergeser sebanding dengan 1 mm enophthalmos. Diplopia yang berhubungan dengan edema. Ellis bersama mahasiswa mencatat sebanyak 5. Pada umumnya. pada 4 minggu.08 cm atau rata-rata nilai jaringan yang bergeser sebesar 1. dan grafting bisanya diperlukan. Re-draping dari jaringan lunak periorbital termasuk itu canthopexy juga diperlukan. Ukuran pada kerusakan orbita dan tonjolan abnormal pada jaringan orbita juga telah diteliti. Akses yang luas dengan oetotomy zygoma. CT scan pada bagian axial dan coronal serta konsultasi dengan ahli mata perlu dilakukan untuk membantu pelaksanaan evaluasi. Ploder bersama mahasiswa menjelaskan bahwa nilai rata-rata area fraktur sebesar 4. mengakibatkan enophthalmos yang siginifikan (>2mm). Penyebab-penyebab utama diplopia antara lain adalah edema dan hematoma.5 % insidensi diplopia. reposisi. atau neurogenic bisa saja diatasi 273 . Pada tahun 2002. IV. Pada pengamatan 2067 kasus fraktur kompleks zgoma. hematoma. Diplopia Diplopia merupakan kondisi abnormal (sequel) pada fraktur bagian tengah wajah. sedangkan fraktur murni memiliki insidensi yang tinggi. D).Raskin bersama mahasiswa menunjukan bahwa pertambahan sebesar 13% pada volume orbita. Mereka mengajukan hipotesis bahwa hal ini bisa saja merusak contractility dan mengurangi terjadinya penyimpangan otot-otot. Perawatan enophthalmos yang telat bisa dikatakan cukup menantang. dikaitkan dengan enophtahlmos dengan ukuran lebih besar dari 2 mm. Penelitian histologist oleh Iliff bersama mahasiswanya telah menunjukan fibrosis post-traumatik pada otot-otot extraocular sebagai akibat kerusakan yang ditimbulkan. terjepitnya otot-otot ekstraokular dan jaringan orbita. Insidensinya bervariasi anatar 17 dan 83% dan tergantung dari waktu timbulnya yang menyertai kerusakan dan pola serta tingkat keparahan dari kerusakan.89 mL. dan kerusakan saraf III.

E). Antifibrinolitik sistemik. dan fixed dilated pupil. F). Hyphema Traumatik Trauma pada mata bisa mengakibatkan perdarahan di dalam ruang anterior-area di antara kornea dan iris yang berwarna (gambar 15). G). Perawatan fraktur dapat ditunda. Diplopia yang ditimbulkan oleh entrapment membutuhkan eksplrasi dan reduksi tonjolan abnormal pada jaringan orbita (gambar 19). Trauma Neuropati Optik Trauma neuropati optik dapat saja bermanifestasi sebagai kondisi yang meluas dari gambaran defisit yang ringan hingga gambaran kehilangan secara keseluruhan.tanpa adanya intervensi. carbonic anhydrase inhibitor. yang bisa saja terjadi pada 5-30% pasien. Hasil akhir perawatan termasuk pula pencegahan terhadap perdarahan. Intervensi pembedahan oleh ahli mata jarang dibutuhkan. Keadaannya bisa saja berupa ptosis. ophthalmoplegia. Perawatan pada fraktur wajah dapat ditunda. Perawatannya bervariasi tergantung dari penyebabnya tapi bisa saja melibatkan penggunaan steroid secara sistemik atau pembedahan dengan dekompresi saraf orbital atau optik. Penatalaksanaan hyphema terdiri atas terapi suportif termasuk itu mengatur kemiringan bagian kepala tempat tidur dan mengobati bagian mata yang rusak. Kondisi tersebut membutuhkan perhatian khusus atau pembedahan. Diplopia yang menetap membutuhkan perawatan oleh ahli mata. forehead anesthesia. Sindrom Superior Orbital Fissure Sindrom orbital fissure merupakan komplikasi yang tidak umum yang menyertai trauma wajah. dan osmotic agent juga diperlukan. dan mempertahankan keadaan ocular normal. Konsultasi dengan ahli mata diperlukan. Penatalaksanaan medis dengan menggunakan cycloplegic topikal. dan betablocker. Proptosis juga mungkin terlihat 274 . Konsultasi dengan ahli mata harus dilakukan.

Gangguan pada sirkulasi retina dapat mengakibatkan iskemi yang ireversibel dan kebutaan permanen. H). pasien dengan keluhan sakit pada periorbital. Penyebab yang paling umum terjadi adalah terkenanya zygoma pada prosesus koronoid dari mandibula. Immediate lateralcanthotomy and cantholysis were performed. Terkenanya zygoma atau arkus zygoma atau koronoidektomi mungkin diperlukan untuk memulihkan gerakan normal dari mandibula 275 . Trismus Berkurangnya gerakan mandibula mungkin merupakan komplikasi yang merugikan dari fraktur zygoma. Trismus juga bisa terjadi secara sekunder akibat ankilosis fibrosis atau fibrooseus dari koronoid pada arkus zygoma. Retrobulbar hemorrhage. namun dekompresi dengan canthotomy lateral dan cantholysis sebaiknya tidak ditunda ( gambar 16). Ord melaporkan insidensi sebanyak 0. Gambar 16 A. apabila ada. Pengamatan pada 1405 kasus fraktur orbita.fiksasi dan dilatasi pupil. proptosis. Konsultasi sesegera mungkin dengan ahli mata diperlukan. dan akut progressiveloss of vision dengan hyphema. Perdarahan retrobulbar Perdarahan pada retrobular jarang terjadi namun merupakan komplikasi yang parah yang dapat mengakibatkan kerusakan awal atau koreksi operatif. 3 I).03% pada perdarahan retrobular posoperatif disertai dengan kehilangan penglihatan.Perawatannya bisa berupa reduksi fraktur. A. steroid. eksplorasi apeks orbital dan aspirasi hematoma retrobular. B.

276 .

BAB IV KESIMPULAN Perawatan fraktur zygoma memerlukan tindakan bedah bila tidak ada pergeseran fragmen atau pergeseran minimal. kelopak mata atas. kecuali atas indikasi seperti fraktur cumminuted. subtarsal. temporal perkutan dan 277 . Bila terjadi pergeseran fragmen diperlukan tindakan reduksi terbuka. Setelah tindakan reduksi terbuka tidak selalu diperlukan fikasasi. Untuk tindakan reduksi dapat dilakukan pendekatan supra eyebrow (alis mata). sub konjungtiva. koronal.

Management of Zygomatic Complex Fractures. et al. 2004. 2004 7. et. Facial Trauma.. 2005. Philadelphia. Anatomy of The Human Body : The Zygomatic Bone.J. 3.com/107/40. 1995. 1999. 1th ed. R. Management of facial fractures. Oral and Maxillofacial Trauma. 3rd Ed. 2. Available at : http:// www. Atlas of Craniomaxillofacial Osteosynthesis. Oral and Maxillofacial Trauma. 2010. 9. London 8. St louis: mosby co. Thieme.html 278 . 4. Feb 2005 no 1 tahun IX hal 41-50.DAFTAR PUSTAKA 1. All. 2003 5. contemporary oral and maxillofacial surgery. Ellis E. Prasetiyono A. Gray H. WB Saunders Co. Churchill Livingstone. Dalam : Peterson et al. Peterson’s principles of Oral and Maxillofacial Surgery 2nd. David D. Tucker MR. Goldwasser MS.. Fonseca. Harle. Ochs MW. Elsevier Saunders.bartleby. McDonald WS.. Craniomaxillofacial Trauma. Thaller SR. 6. London : BC Decker Inc. Dalam : Miloro M et al. Bailey JS. F. Indonesian journal of oral and maxillofacial surgeons. Third Ed.Vol 1. 1th ed. Hamilton. 2005. New York : Marcel Dekker. New York.J. Penanganan fraktur arkus dan kompleks zigomatikus.

Gejala klinis fraktur ini antara lain seperti ekimosis palatal pada fraktur tertutup dan laserasi pada bibir atas atau mukosa palatal.0 sampai 1. atau disruption pada hubungan oklusi pada fraktur dislokasi. dan berhubungan dengan fraktur Le Fort (8-13. setiap 1.5mm. alveolar maksila. CT scan dilakukan dengan potongan yang tipis. FRAKTUR PALATAL Leidya Valentina Elizabeth 160121120009 Peserta Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut Dan Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Bandung Abstrak : Fraktur palatal jarang ditemukan sebagai diagnosis tunggal pada pasien dengan trauma kraniofasial. Kata kunci : Fraktur palatal. menunjukkan fraktur dengan jelas.2%).10. kehilangan gigi incisivus. Fraktur palatal biasanya berhubungan dengan fraktur midfasial atau panfacial. 279 .

dengan plate dan screw yang dipasang dibawah mukosa palatal dan periosteum.5mm. Biasanya berhubungan dengan fraktur midfasial atau panfasial. setiap 1. Pilihan perawatan untuk fraktur palatal meliputi braket ortodontik. arch bar acylated. kehilangan gigi insisivus. menunjukkan fraktur dengan jelas. dan dilaporkan sebanyak 8-13. bersama dengan apertura pyriform atau plating alveolar serta rekonstruksi pilarpilar pada fraktur Le Fort.BAB I PENDAHULUAN Fraktur palatal memberikan tantangan unik untuk keterampilan bedah dalam penanganan fraktur midfasial.2% berhubungan dengan kasus fraktur Le Fort. Sering kali fraktur palatal dihubungkan dengan fraktur midfasial lainnya. 280 . pendekatan tahap operasi diperlukan untuk setiap kelas fraktur palatal3. Tanda klinis fraktur ini antara lain palatal eccymosis pada fraktur tertutup dan laserasi bibir atas atau mukosa palatal. Untuk memastikan stabilisasi post operasi yang tepat dan restorasi oklusi sebelum cedera.0 sampai 1. kehilangan relasi oklusal karena dislokasi fraktur. dan arch bar untuk fiksasi maxillomandibular untuk fiksasi internal. Fraktur palatal ditemukan pada 8% fraktur Lefort dan jarang ditemukan sebagai fraktur palatal sendiri. CT scan dilakukan dengan potongan yang tipis. Fraktur palatal jarang sebagai diagnosa tunggal pada pasien dengan trauma kraniofasial. Fraktur tidak stabil ini seringkali ditemukan pada pasien trauma maksilofacial.

Hampir semua segmen fraktur palatal mengalami pergeseran 281 . akan memberikan tanda dan gejala yang jelas. Adanya perubahan oklusi maksila mandibula merupakan tanda yang dapat ditemui juga. Pada hampir semua pasien yang menderita fraktur palatal.1 ANATOMI TULANG PALATUM Palatum durum terbentuk diantara tujuh tulang pilar kraniomaksilofasial.2 DIAGNOSA Saat ini. Tanpa memperhatikan crest pada midline. 2. ketebalannya antara 12 sampai 14 mm. Peralatan ini sangat penting terutama untuk mendiagnosa fraktur yang tidak memberikan tanda klinis yang jelas. dengan 45% pasien menderita disruption mukosa palatal dan gingival (Gambar1b). Tulang palatal lebih tebal pada bagian anterior dan berangsur menipis ketika mendekati palatum lunak.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. palatum keras relatif tipis pada regio sagital dan parasagital. Foramen terdapat dekat midline palatum dari arah anterior (dibelakang insisivus mesial) dan jauh ke arah posterior (dekat gigi molar). namun menjadi lebih tebal ke arah alveolus. keduanya dikenal sebagai mukoperiosteum. Palatum terbentuk dari dua tulang yang bersatu: palatum pada bagian maksila dan bagian horizontal palatum. Foramina berukuran sangat kecil dan berfungsi untuk mengimbangi struktur palatum secara keseluruhan. Periosteum lebih melekat kuat pada membran mukosa di dalam kavitas oral dibandingkan dengan tulang palatal. hampir pada semua trauma center dilengkapi dengan peralatan CT Scanner yang sangat akurat. Tebal rata-rata palatal adalah 4. Pada lebih dari 65% penderita fraktur palatal. dimana beberapa kasus fraktur palatal dapat terdiagnosa (Gambar 1a). Pada area alveolus. pasien menderita laserasi bibir. Lebar dan dalam palatum keras serta lebar dan panjang mandibula menunjukkan bangunan tiga dimensi sepertiga wajah bagian bawah.5 mm.

Gambar 1. molar beserta alveolusnya.3 KLASIFIKASI FRAKTUR PALATAL Fraktur palatal dibedakan berdasarkan hubungan palatal dengan alveolus maksila. gigi dan midline palatal3. 282 . Type Ib : Posterolateral.a) CT-scan b) Klinis fraktur palatal1 2.baik ke arah anterior dan lateral. Ahli bedah harus berhati-hati dalam menentukan oklusi pada penderita fraktur palatal. karena penderita dapat mengalami fraktur mandibula juga yang mana dapat mengaburkan diagnosa. meliputi gigi incisivus beserta daerah alveolusnya. Type I : Fraktur Alveolar (2 type) Type Ia : alveolus anterior. meliputi gigi premolar.

a) Tipe Ia b) Tipe Ib2 b). a) Gambar 3. Fraktur pada daerah ini berbeda dengan type Ib sebab selain daerah premolar dan molar . Type ini paling sering ditemukan pada dekade ke 2 dan ke 3 sebab garis tengah palatum belum terlalu mengeras. daerah kaninus juga ikut terlibat. 283 .a) Gambar 2. mmhg Type III : Fraktur Parasagital Paling sering ditemui pada dewasa (63%) sebab tulang yang tipis berada di daerah parasagital.a) Tipe II b) Tipe III 2 b) Type IV : Fraktur paraalveolar Terjadi dari arah palatal menuju alveolaris maksila dan berisi gigi-gigi insisivus. Type II : Fraktur Sagital Fraktur type II terjadi pada daerah midline dari palatum.

ke arah oblik atau comminuted fraktur kasar. a) b) Gambar 4.Type V : Fraktur compleks/ Comminuted Fraktur yang besar multiple.a) Tipe IV b) Tipe V c) Tipe VI 2 c) 284 . membelah maksila pada dataran koronal. Type VI : Fraktur Transversal Fraktur palatal yang paling jarang terjadi.

Fraktur palatal tipe Ia bisa dirawat menggunakan Erich bar segmental atau menggunakan braket ortodontik tanpa fiksasi intermaksiler. dan palatal acrylic splint pada fraktur kompleks. Kemungkinan perawatan yang bisa dilakukan adalah: kombinasi fiksasi internal. Dianjurkan untuk melakukan fiksasi intermaksiler selama dua atau empat minggu. Saat menggunakan fiksasi internal yang rigid. tekanan ke arah mesial menggunakan jari untuk mendapatkan lebar lengkung dan batas oklusal. Pendekatan bedah meliputi laserasi atau insisi longitudinal pada palatal untuk mempertahankan suplai darah pada segmen palatal. Kedua cara perawatan ini bisa didukung dengan pemakaian mini plate atau mikroplate menggunakan insisi gingival standar untuk Le Fort I. III. Reduksi dimulai dengan aplikasi arch bar maksila untuk memasang tension band melewati segmen alveolus maksila.BAB III PEMBAHASAN Perawatan bedah pada fraktur palatal dimulai dengan identifikasi secara spesifik tipe fraktur. Fraktur tipe Ib bisa dirawat menggunakan arch bar pada pertemuan segmen fraktur yang terbuka di belakang pilar zygomaticomaxillary untuk menfasilitasi reduksi terbuka dengan fiksasi internal. Setelah fikasi intermaksiler dilepas. Fraktur palatal tipe II. dan hubungannya dengan fraktur pada maksila dan mandibula. Untuk memastikan penyatuan awal. supaya penyatuan awal dapat dilakukan. IV dan VI dirawat dengan pendekatan perbagian secara urut untuk mengurangi kesalahan penyatuan segmen-segmen fraktur. paling tidak dua plate digunakan 9 satu anterior dan satunya lagi diposterior) untuk 285 . Ketika segmen yang fraktur terlihat. pasien bisa dipasangi fiksasi intermaksiler sementara. keadaan gigi geligi. perhatian dilanjutkan pada fiksasi internal rigid pada daerah palatal yang fraktur. pemakaian arch bar. Oklusi harus didapatkan sebelum merawat fraktur ini.

Fraktur comminuted pada palatum sebaiknya dirawat dengan pendekatan tertutup (close reduction) dimana suplai darah pada segmen fraktur tidak dapat dikompromikan. Setelah aplikasi fiksasi rigid dan penutupan insisi. Acrylic splint2 Fraktur palatal tipe V membutuhkan aplikasi palatal splint akrilik untuk perawatan. Persiapan yang optimal diperlukan pada saat memperbaiki palatum yang fraktur comminuted. dan jika suplai darah menjadi perhatian. insisi vestibular standar untuk Le Fort I. insisi vertikal ginggiva kemungkinan perlu dilakukan. Rekonstruksi secara bedah dilakukan setelah semua stabilisasi dilakukan dan stabilisasi oklusi sudah dipastikan. Gambar 5. fiksasi intermaksilari dipasang kembali untuk mempersiapkan fiksasi internal rigid pada segmen piriformis dan ridge alveolar. menghasilkan lebar lengkung daripada yang direncanakan. Pemasangan plate dilakukan di regio piriformis dan sepanjang basis pilar zygomaticomaksilaris. Pendekatan bedah meliputi laserasi. Model gigi diambil dari pasien untuk membuat model pembedahan di laboratorium dan membuat splint palatal.menghindari terjadinya pergerakan segmen fraktur ke arah posterior. 286 . Direkomendasikan untuk memasang fiksasi intermaksiler selama 2 sampai 4 minggu diikuti dengan elastic guidance dan diet lunak sampai dilepas.

Splint sebaiknya tidak diperlebar secara interoklusal diantara mandibula dan maksila. Bisa juga diaplikasikan circumdental wire dengan atau tanpa menggunakan arch bar. 287 .

dan palatal acrylic splint pada fraktur kompleks.BAB IV KESIMPULAN Fraktur palatal memberikan tantangan unik untuk keterampilan bedah dalam penanganan fraktur midfasial. Sering kali fraktur palatal dihubungkan dengan fraktur midfasial lainnya. Fraktur tidak stabil ini seringkali ditemukan pada pasien trauma maksilofacial. dan hubungannya dengan fraktur pada maksila dan mandibula. keadaan gigi geligi. 288 . Kemungkinan perawatan yang bisa dilakukan adalah: kombinasi fiksasi internal. pemakaian arch bar. Perawatan bedah pada fraktur palatal dimulai dengan identifikasi secara spesifik tipe fraktur.

Ellis E. 2. St Louis : Elseviere 289 . McDonald WS. 2005. 3. Facial Trauma. Thaller SR. Oral and Maxillofacial Trauma. Vol 2nd.2005. New York : Marcel Dekker. 2004. 3rd Ed. Fonseca et al.Vol 1.DAFTAR PUSTAKA 1. Elsevier Saunders. Oral and Maxillofacial Trauma.

dan arteri ethmoidal di daerah tersebut. Hasil yang baik akan tercapai dengan penguasaan anatomi yang baik. medial chantal ligament. Sehingga memudahkan doktergigi jika mendapatkan kasus-kasus kegawatdaruratan Kata Kunci: fraktur. Hal ini menjadi penting karena terdapat lacrimal apparatus. Maksud dari penulisan makalah ini adalah untuk memberikan gambaran mengenai fraktur nasal dan kompleks orbita serta perawatannya. orbita dan ethmoid menjadi suatu tantangan baru baik dari cara mendiagnosa maupun rekonstruksinya pada perawatan setelah trauma. nasal. orbita 290 .Fraktur Nasal dan Kompleks Orbita Susanti Bulan 160121120004 Peserta Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut Dan Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Abstrak: Cedera pada nasal. perawatan yang dilakukan sedini mungkin dan proses rekonstruksi yang hati-hati.

Hal ini terjadi karena pada 291 .BAB I PENDAHULUAN Hidung terdiri dari tulang. Rontgen film biasa sulit menggambarkan derajat keparahan dan lokasi dimana cedera itu terjadi. Pada penelitian yang dilakukan Cruse dari 182 kasus trauma fasial kirakira 18% adalah fraktur nasal dan kompleks orbita. Fraktur nasal sering kali dirawat dengan penilaian preoperative yang tidak adekuat. meskipun pada mulanya tampak cukup baik4. Kemudian hidung dirawat dengan cara sederhana dan hasil akhirnya mungkin jauh dari yang diharapkan. dasar filosofi perawatan adalah reduksi fraktur dengan mengembalikan pada bentuk dan fungsi yang normal. 50 % fraktur pada tulang fasial terpisah dari piramid nasal. kita dapat memutuskan pilihan perawatan mana yang akan dilakukan. Kecelakaan kendaraan bermotor sebanyak 70% dan 63% mengalami cedera pada bagian lain yang cukup parah. Dengan mengetahui hubungan sebab dan akibat antara keparahan trauma dan derajat deformitas. Fraktur tulang nasal dapat bervariasi tergantung arah dan kekuatan yang mengenainya1. dan lebih penting lagi perawatan mana yang paling baik untuk pasien sesuai dengan traumanya2. Menurut Christian. fraktur nasal paling sering terjadi pada struktur tulang fasial dan menurut Schroeder. Sebanyak 51% mengalami cedera pada central nervous system dimana 42% nya mengalami keluarnya cairan cerebrospinal2. Fungsinya sebagai saluran udara ke saluran pernapasan bawah dan paru-paru. Perluasan disrupsi struktur nasal sehubungan dengan arah dan derajat kekuatan trauma sering kurang diperhitungkan. Untuk mendiagnosa fraktur didaerah ini biasanya ditentukan melalui pemeriksaan CT-Scan. Perawatan fraktur nasal telah menjadi subjek dalam dunia kedokteran sejak zaman Yunani. Selama berabad-abad. jaringan lunak dan kartilago. Insidensi umur dari pasien adalah 31 tahun.

Pada makalah ini akan dibahas dan diharapkan dengan mengetahui kekuatan trauma.gambaran rontgen dapat terjadi overlapping struktur-struktur tulang di daerah tersebut2. 292 . maka ahli bedah dapat membuat diagnosis yang benar dan memilih rencana perawatan yang tepat untuk pasien. dengan kombinasi dengan pilihan perbaikan dan penilaian keputusan yang baik.

orbita. enophtalmos dan disfungsi dari sisem lakrimal. Secara kosmetik. Daerah ini merupakan perlekatan dari medial chantal tendon yaitu processus frontalis dan tulang lakrimal. Sehingga penting diperhatikan pada saat rekonstruksi untuk mencegah telechantus. hidung merupakan jalan masuk respirasi nasal manusia pada keadaan normal3. Secara fungsional. hidung membantu membentuk central frame wajah.BAB II TINJAUAN PUSTAKA II. pipi. sehingga mata. Tidak jarang pada cedera yang parah dapat menyebabkan komplikasi intrakranial2 . Daerah posterior dari kompleks nasal berhubungan dengan sinus ethmoidalis dan terletak ditengah dan dapat dengan mudah terkena trauma karena posisinya yang berdekatan dengan cribiform plate. pneumocephalus. Rekonstruksi yang dilakukan satu-persatu akan mendapatkankan hasil yang maksimal. dan cedera pada saraf olfaktori. tulang maksila. Fungsi estetiknya memberikan keseimbangan. ANATOMI Daerah hidung dan Hidung-Mata-ethmoid disusun oleh cranium. Jika ada trauma maka dapat timbul cerebropinal fluid rhinorhea.1. Hidung adalah suatu struktur midline sentral fasial yang mempunyai unsur kosmetik dan fungsional. dan processus maksilaris. tulang lakrimal. Rekonstruksi pada daerah ini dilakukan secara hati-hati dan memerlukan kontrol terhadap volume orbita. dan mulut memberikan keindahan wajah. dan kesimetrisannya adalah penting dalam membentuk simetris wajah. 293 . Tulang hidung dekat dengan bagian anterior dari tulang orbita dan berhubungan dengan tulang frontal.

Nasal5 Gambar 2: Permukaan dan struktur anatomi hidung 3 294 .(1) os nasale (2) os. Maksilla Gambar 1: Anatomi Cranium dan os.

dan suatu cartilage terdapat pada beberapa daerah pada jaringan lunak. hidung dibentuk oleh gabungan antara tulang pendukung yang fleksibel dan rigid. Lateral krus dari LLCs dapat dibagi atas menjadi daerah puncak 295 . Anastomosis tulang sepanjang garis sutura antara ketiga tulang adalah rigid. satu septum cartilage midline. berbentuk lembaran empat persegi panjang (rectangle) yang menebal pada bagian superior. dengan plat tegak lurus dari dukungan ethmoid pada garis tengah seperti sebuah tenda. dua pasang kartilago bagian bawah ( lower lateral cartilages) (LLCs)). Tulang hidung adalah setengah bagian puncak. Pasangan kartilago lateral bawah. triangular sections dari cartilage hyaline yang melekat secara kuat ke superior pada tepi inferior dari tulang hidung oleh jaringan fibros konektif yang kuat. tulang hidung bersatu untuk membentuk suatu tenda “pup tent”. kedua ULCs melekat secara kuat satu dengan yang lainnya dan kartilago kwadrangular dari septum nasal anterior. ULCs mempunyai perlekatan jaringan lunak pada jaringan fibrofatty dari alae nasal dan lateral hidung. Tulang hidung sendiri adalah rata (flat). Pasangan LLCs mempunyai medial crus yang berjalan lateral dari LLCs yang berjalan dari lateral ke kartilago septum caudal. Pada midline. Prosesus nasalis tulang frontal dan maksila menyebabkan adanya support dari superior dan lateral. penyatuan fibrous ini sangat kuat. flat. dan berinterdigitasi dengan tulang frontal dan tipis pada bagian inferior. disebut dengan kolumela. Pada midline. dan struktur supporting ini lebih tebal dan lebih kuat dari tulang hidung sendiri. Cartilaginous hidung dibentuk kombinasi dari dua pasang kartilago lateral atas (upper lateral cartilages) (ULCs)). Secara anatomi. oleh karena itu adanya obstruksi pada hidung diduga telah terjadi kelainan3. berturut-turut untuk tulang nasal. Walaupun penyatuan ini tidak kontinius. Hubungan ini tidak tepi dengan tepi tetapi overlapping. dan cartilago adalah setengah bagian bawah. Secara lateral. dengan tulang nasal yang berada dibawah ULCs. oleh karena itu bagian hidung ini harus dipertimbangkan sebagai tripod. yaitu tulang dan kartilago. jadi tulang hidung berbentuk tripod3.Pernapasan mulut adalah merupakan tanda terjadinya kelainan pada saluran pernapasan atas (upper airway). dan melekat pada bagian atas kartilago lateral hidung.

dan procerous-kontribusi pada kumpulan jaringan lunak hidung dan hanya mempunyai sedikit fungsi pada pergerakan fasial atau respirasi. yang mendukung alae nasal dan berfungsi untuk menjaga terjadinya kolaps selama fungsi inspirasi. dimana ini disebut sebagai ukuran dan besar puncak hidung. dan mengandung kelenjar keringat yang semakin meningkat jika kulit semakin tebal. tetapi ini tidak sekuat perlekatan pada ULCs dengan septal. Otot pada hidung adalah otot depressor septi. Yang terdiri atas : 1. mengontrol pembukaan bola mata anterior. Sehingga. Orbit merupakan kavitas tulang yang terbentuk oleh tulang fasial yang menyerupai rongga pyramid quadrangular dengan dasar berada dalam arah anterolaterally dan apeksnya dalam arah posteromedially. yang membatasi orbit bagian anterior. otot dan kulit. Levator palpebrae superioris 296 . Ujung kaudal inferior dari kartilago septum nasal dilekatkan oleh pita jaringan fibrous pada spina nasalis anterior maksila. Kulit hidung sangat bervariasi ketebalannya. yang akan membantu menjaga terjadinya rotasi ke posterior dari septum dan kehilangan dukungan puncak hidung. M. Kulit dan jaringan subkutan pada tulang hidung tipis dan mobil. dimana kartilagenous hidung ini lebih tebal dan lebih melekat pada struktur di bawahnya. axis dari orbit divergen kira-kira 45 derajat. membentuk mucocutaneous junction3. Pada daerah midline terdapat perlekatan fibrous antara struktur yang membantu membentuk puncak hidung. Kartilago yang berjalan sepanjang margin inferior lateral LLC. Pada bagian dalam hidung anterior. Orbit memiliki kandungan yang melindungi bola mata serta sruktur visual tambahan yang terdiri atas : Kelopak mata. Dinding medial dari dua orbit terpisah oleh sinus ethmoidal dan bagian atas dari rongga hidung yang paralel. kulit yang menutupi hidung berubah menjadi membran mukos. Muskulus ekstraokular yang memposisikan bola mata dan menaikkan kelopak mata superior.medial. sedangkan dinding lateralnya hampir memnbentuk sudut 40 derajat. dan pada segmen lateral. Jaringan yang menutupi tulang dan kartilago ini adalah jaringan lunak dan mukosa bagian dalam.

Dekat dengan apeks dari orbit.2.Rectus sup.Obliqus med Chiasma opticus M.rectus yang terdiri atas superior. Dua otot oblik yang terdiri atas obliqus superior dan inferior Nervus dan pembuluh darah yang melewati bola mata dan muskulus. Gambar : Mata tampak lateral Gambar 3: Otot-Otot Mata 5 Gambar : Mata tampak coronal Tidak semuannya ruang di dalam orbit ditempati oleh struktur yang berisi lemak orbita. Empat m. dinding supeior 297 .Rectus lateralis M. M. suatu lapisan fibrous terputus yang meluas ke dalam kelopak mata. M.obliqus . sehingga orbit ini tersusun oleh matriks dimana struktur dari orbit melekat. empat dinding dan suatu apeks. Tulang membentuk tepi orbita yang memperkuat proteksi kandungan orbita dan memberikan perlekatan untuk septum orbita. Dinding superior (atap orbita) diperkirakan berbentuk horizontal dan terutama dibentuk oleh frontal bone.Rectus inf. Dasar orbita dibatasi oleh margin orbita yang mengelilingi orbital opening. Membran mukous (konjungtiva) melapisi kelopak mata dan aspek anterior dari bola mata dan aparatus lacimal yang melubrikasinya. medialis.inf. Bentuk pyramid dari orbit memiliki dasar. M. yang memisahkan rongga orbita dari fossa cranial anterior. inferior dan lateral 3.

dibentuk oleh tulang sphenoid. Dan dibagian anterolateral suatu lekukan pada bagian orbita yang disebut fossa lacrimal. Dinding medial yang posisinya kontralateral dari orbit yang paralel dan terbentuk oleh tulang ethmoid, yang berhubungan dengan tulang lacrimale, sphenoid dan frontal. Dibagian anterior Dinding inferior (dasar orbita), dibentuk terutama oleh tulang maksila dan sebagian tersusun oleh zygoma dan tulang palatina. Dinding inferior yang tipis dibentuk oleh orbit dan sinus maksilaris. Dinding lateral dibentuk oleh prosessus frontalis dari tulang zygomatik dan sayap terbesar dari tulang sphenoid. Ini merupakan dinding yang terkuat dan paling tebal. Ini sangat penting karena daerah ini sangat terbuka dan berpotensi mengalami trauma secara langsung. Bagian posterior dipisahkan orbit dari temporal dan pertengahan fossa cranial. Apeks orbit merupakan suatu canal optik pada sayap tulang sphenoid yang kecil, dibagian medial dari fissure orbital superior. (Moore LK,)

Sphenoid Zygoma

Frontal

Frontal

Gambar : Kavitas

Maksila

Orbita

Gambar 4: Anatomi Kavitas Orbita5

II.2 DEFINISI Fraktur nasal adalah terjadinya kerusakan pada tulang di sekitar pangkal hidung, biasanya disebabkan oleh adanya trauma tumpul dan merupakan fraktur tulang daerah fasial yang paling sering. Trauma yang serius pada hidung dapat menyebabkan masalah yang memerlukan perhatian segera. Tetapi pada trauma

298

hidung yang tidak terlalu berat, perlu diperhatikan lebih baik lagi setelah pembengkakan mereda untuk mengevaluasi efek perluasan trauma. Trauma nasal didefinisikan sebagai adanya trauma pada hidung atau hal lain yang dapat menyebabkan terjadinya deformitas, gangguan pernapasan melalui hidung karena adanya obstruksi, atau adanya gangguan penciuman ( olfaction).

Fraktur orbita biasanya tampak bersamaan dengan trauma midfacal. Tingkat keparahan fraktur mulai dari fraktur yang pergeserannya minimal pada suatu dinding yang terbatas yang tidak membutuhkan intervensi bedah sampai dengan kerusakan yang parah dari orbit. Fraktur orbita mungkin di jelaskan

dengan pertimbangan hubungan anatomi, berikut ini : 1. Fraktur dapat terbatas pada tulang orbital internal. Jenis ini termasuk blow-out dan blow-in, seperti yang tampak pada fraktur pada dasar orbita, dinding medial, dan atap orbita. Fraktur blow out dapat dibagi mengikuti berbagai macam fraktur : Fraktur trapdoor yang disebabkan oleh kekuatan yang ringan. Fraktur medial blow-out yang disebabkan kekuatan menengah. Fraktur lateral blow-out yang sebabkan oleh kekuatan yang tinggi.

2. Fraktur mungkin melibatkan rim orbital. Suatu fraktur rim superior, inferior, dan lateral mungkin sebagai suatu luka yang terbatas, atau ini mungkin berbatasan dengan fraktur dinding internal. 3. Fraktur yang hubungkan dengan fraktur lain pada skeleton facial.

Keterlibatan orbit pada berbagai bentuk fraktur fasial, termasuk zygomaticomaxillary (ZMC), naso-orbito-ethmoid (NOE), sinus frontal, Le Fort II,dan Le Fort III. 4. Fraktur apeks orbita adalah penting untuk diidentifikasi karena ini berhubungan dengan kerusakan pada struktur neurovaskuler dari fissura orbita superior dan kanal optik. Trauma fasial kebanyakan diakibatkan oleh kecelakaan kendaraan bermotor, kecelakaan industri, fasial trauma yang berhubungan dengan olah raga, dan kekerasan. Kecelakaan kendaraan bermotor, khususnya yang tidak

299

menggunakan seatbelt, merupakan kejadian yang paling banyak mengakibatkan trauma maksilofasial, yang ditunjukkan pada sebagian besar negara berkembang. Penatalaksanaan trauma orbita dan fraktur bertujuan untuk meminimalisir dan mencegah kerusakan awal dan lanjutan serta komplikasinya. Tujuan dari intervensi adalah untuk mencegah hilangnya penglihatan dan meminimalisir masalah lebih lanjut, seperti diplopia yang persisten dan malposisi bola mata.

II.3 KLASIFIKASI Pola kerusakan dan perluasan displacement struktur nasal jika terjadi fraktur adalah tergantung pada arah dan derajat kekuatan yang terjadi. Pada tahun 1468, Rowe dan Killey menggambarkan trauma yang terjadi pada nasal dari arah lateral dan anterior. Ini merupakan dasar klasifikasi trauma tulang nasal yang dibuat oleh Stranc dan Robertson (1474). Tetapi kemudian mereka membagi fraktur akibat benturan atas tiga tingkatan trauma dimana peningkatan keparahan merupakan cermin peningkatan kekuatan trauma. Bidang satu, trauma tidak meluas berdasar suatu garis pertemuan tepi bawah tulang nasal ke spina nasalis anterior; bidang dua, trauma terbatas pada daerah hidung eksternal dan tidak mengenai orbital rim; bidang tiga, trauma lebih serius, oleh karena meliputi orbita dan kemungkinan juga struktur intra cranial, biasanya berhubungan dengan trauma pada nasoethmoid serta diagnosa dan perawatannya juga lebih komprehensif 4.

300

Gambar 5: A dan B menunjukkan peningkatan derajat trauma dengan peningkatan daya yang mengenai hidung5

Pada tahun 1486, Murray dan Maran mengemukakan suatu klasifikasi pathologi dari fraktur nasal yang diteliti pada lebih dari lima puluh cadaver. Mereka menemukan tujuh pola yang berbeda dari fraktur nasal dengan berbagai macam derajat keterlibatan septum. Mereka menyimpulkan bahwa kerusakan septum juga berhubungan dengan fraktur nasal. Pada keadaan klinis mereka menetapkan bahwa, jika hidung mengalami deviasi lebih dari setengah kali dari lebar aslinya, tulang akan mengalami deviasi kembali setelah dilakukan manipulasi hanya pada tulang nasal saja4. Klasifikasi dari fraktur orbita adalah: 1. blow out fracture, dibagi menjadi: 1. pure blow out – orbital rim intak 2. impure blow out – terjadi fraktur pada orbital rim 2. fraktur blow in Fraktur dasar orbita blow out merupakan trauma dari tepi orbita atau jaringan lunak di sekitar orbita, fraktur ini disebabkan oleh peningkatan tekanan

301

intra-orbital secara akut yang menekan dinding-dinding orbita. Fraktur dasar orbita blow out dapat timbul bersamaan dengan fraktur dinding medial atau orbita rim.1,2

Gambar 6: Fraktur Blow in dan Blow out 1,2

Klasifikasi fraktur Nasal-Orbit-ethmoid (2) Type I : Klasifikasi yang paling sederhana, hamya melibatkan satu bagian dari nasal-orbita ethmoid yaitu bagian medial orbital rim. Type II : daerah yang terkena lebih luas atau comminuted fraktur Type III: daerah yang terkena luas termasuk bagian tengah dari central fragmen dimana medial canthal tendon melekat, terjadi avulsi dari canthus

302

Gambar 7: Fraktur Nasal, ethmoid4

II.4 PENYEBAB DAN GEJALA KLINIS Penyebab terbanyak adalah trauma kecelakaan kendaraan bermotor, trauma karena olah raga, berkelahi, kecelakaan pekerjaan, aktivitas yang berlebihan, dan terjatuh adalah yang paling sering terjadi pada anak-anak1. Gejala klinis dapat meliputi rasa sakit, pembengkakan, obstruksi pernapasan, epistaksis, krepitasi, septal hematoma, rhinitis, dan stenosis nasal vestibular1. Kebanyakan penderita yang mengalami trauma dasar orbita blow out mempunyai gambaran sebagai berikut : 1. Berkurangnya kemampuan visual. 2. Blepharoptosis. 3. Diplopia binocular vertical atau oblik. 4. Hyperthesia ipsilateral, dysesthesia atau hyperalgesia sesuai dengan distribusi n. infraorbitalis.

303

5. Epistaksis 6. Pembengkakan pada kelopak mata setelah meniupkan udara ke hidung 7. Edema dan ecchymosis periorbita yang disertai dengan rasa sakit merupakan gejala dan tanda eksternal. 8. Enophtalmos mungkin juga terlihat tapi awalnya terjadi

pembengkakan jaringan disekelilingnya. Pembengkakan juga akan membatasi gerak otot ekstraokuler 9. Proptosis juga bisa terjadi dari perdarahan retrobulbar atau peribulbar. 10. Tenderness pada saat palpasi orbita, juga dapat merasakan step pada tulang orbital rim. Pemeriksaan bola mata sangat penting dan mungkin sulit karena adanya edema pada jaringan lunak. Untuk ini diperlukan set desmares retractor. Jika terjadi disfungsi pupil, ditandai dengan menurunnya kemampuan visual, harus diwaspadai terhadap kemungkinan terjadinya neuropathy optikus traumatik. 4 Mata dengan kesejajaran yang tidak sama dapat juga terjadi, hipotropia atau hipertropia serta terbatasnya kemampuan menarik mata ke atas. Wilkin dan Havin melaporkan 30 % terjadi insidensi bola mata yang ruptur bersamaan dengan fraktur orbita, kenyataan ini mengingatkan betapa perlunya pemeriksaan opthalmologis yang menyeluruh dan kompleks. 1 Gambaran klinik dari fraktur blow in terutama berhubungan dengan pengurangan volume pada rongga orbita.4 1. Proptosis (exopthalmus) adalah protrusi atau majunya bola mata (okuli) yang abnormal. Umumnya terjadi di awal kejadian, bersama dengan hematom dan pembengkakan dari jaringan orbita

304

Hilangnya refleks kornea diakibatkan karena keterlibatan cabang nasociliary dari subdivisi nervus V. Gejalanya adalah hilangnya sensasi pada dahi yang diakibatkan oleh cabang frontal dari nervus V. dasar. vena ophtalmic superior. nervus nasomaksilaris. dan terbendungnya suplai parasimpatik yang dibawa oleh nervus III. nervus frontal. merupakan gejala umum dan berhubungan dengan fraktur pada dinding medial. nervus kranial IV. tekanan langsung atau suatu penekanan akibat hematom (atau keduanya) pada kandungan fissura orbital superior antara lain : nervus lacrimale. Diplopia (double vision). Tidak adanya refleks dan akomodasi terhadap sinar langsung karena terbendungnya aliran efferen oleh paralisis dari mengakibatkan ruptur bola 305 . lateral dan atap orbita. 4. Pergeseran fragmen fraktur ke dalam orbit mata.Gambar 8:. IV dan VI. disebabkan oleh lesi yang diakibatkan oleh trauma. Bola mata bergeser lebih jauh pada dataran koronal dan pergerakan bolah mata yang terbatas 3. divisi inferior darinervus kranial III dan vena ophtalmicus. 5. nervus kranial VI. Sindrom fissure orbital superior. menetapnya dilatasi pupil akibat nervus kranial III. nervus kranial III (cabang suerior). Adanya hematoma. Exopthalmus6 2. edema pada muskulus ekstraokular atau pada fasia di sekitar orbita atau terperangkapnya lemak orbita merupakan penyebab utama.

nervus III.5 POLA TRAUMA A. Mungkin ditemukan adanya CSF. 10. cedera pada nervus dapat menyebabkan spasme dari pembuluh darah retina. ataupun pascaoperasi. Ptosis. luasnya kerusakan tulang dapat bervariasi dari yang sederhana sampai displacement tulang nasal. Keterbatasan pada muskulus rectus superior atau hematom yang pada kelopak mata bagian atas. Dengan suatu kekuatan yang lebih besar kedua tulang nasal dapat terjadi fraktur dan displaced dan ini sering kali disertai dengan terjadinya fraktur septum. Cedera pada nervus optikus. merupakan jatuhnya kelopak mata atas ke posisi lebih jika dibandingkan dengan posisi normal sebelumnya. Hasilnya akan lebih stabil sebab tidak terdapat fraktur pada septum. Pada keadaan ini umumnya dengan dilakukan manipulasi tertutup sudah cukup memuaskan. merupakan keluarnya penonjolan dari selaput dan bagian otak melalui celah yang terbentuk antara tulang dapat merupakan akibat dari suatu trauma. Selain itu juga terjadi edema yang persisten akibat obstruksi vena ophtalmicus2. 8. karena adanya fraktur sphenoidale dan ethmoid juga fraktur pada sinus frontal sehingga menyebabkan dural tear sehingga terjadi hubungan dengan subarachnoid space. (peter ward booth) 9. 7. Displaced fragmen nasal dapat segera direduksi dengan 306 . Ptosis dapat terjadi secara manual dan secara kongenital. Selain itu CSF juga dapat timbul karena adanya fraktur pada basis cranium. hasilnya akan lebih stabil diikuti dengan reduksi fraktur dengan menggunakan Walsham’s forceps dan pelurusan septum nasal dengan menggunakan Asch’s forceps. berhubungan dengan bengkok atau tertekuknya septum nasal tanpa terjadi fraktur septum. Tergantung pada derajat kekuatan. Meningoceles dan encephaloceles. Trauma dari Lateral Ini adalah trauma yang paling sering terjadi dan seringkali tidak terlalu parah. Selain itu ditandai oleh gangguan visual dan perubahan respon pupil terhadap respon cahaya. 6. II.

b. Fraktur nasal tipe ini bervariasi hubungannya dengan fraktur septum dan terjadi displacement yang menyebabkan terjadinya ketidakstabilan nasal (4). seluruh piramid nasal. Manipulasi dengan sentralisasi septum harus dikombinasi dengan support internal pada nasal seperti yang dikemukakan oleh Sear (1477)4. Gambar 9 : Trauma nasal dari arah lateral. reseksi submukus akan menimbulkan kolaps yang lebih parah. kedua tulang nasal akan fraktur pada ujung bawah dan.manipulasi tertutup tetapi penting untuk melakukan eksisi berbentuk C pada septum4. 307 . dapat terlepas. displacement dan fraktur dari struktur ini sering sekali terjadi. Daya yang lebih besar menimbulkan displacement pada piramid dan septum nasal4 B. a. oleh karena sebagian besar daya diterima oleh septum nasal. terutama pada bagian sepertiga bawah tulang nasal. Kelompok pertama dirawat dengan manipulasi dan bedah septum tetapi pada kelompok yang kedua. Trauma dari Anterior Adanya pukulan atau trauma dengan kekuatan yang moderat dari arah frontal. terutama dengan adanya ketidakstabilan nasal. dengan comminuted fracture. termasuk prossesus frontalis dari maksila. Dengan daya yang lebih besar lagi. Daya yang moderat menimbulkan depressi pada tulang dan septum nasal.

Plate silastik ini dipertahankan dengan menjahitkannya bersama-sama melalui kulit sedikit di belakang kolumela dan dipertahankan selama 10 – 14 hari4 308 . Daya yang lebih besar menimbulkan fraktur comminuted pada piramid nasal dan septum4 C. terutama pada bagian tengah wajah. b. a. Manipulasi tertutup fraktur nasal dianjurkan untuk tetap menggunakan support intranasal. Ini mungkin perlu untuk merubah nasal endotracheal tube menjadi oral endotracheal tube sebelum reduksi nasal. Jika terdapat laserasi yang parah pada mukosa nasal disarankan untuk menggunakan lapisan silastik yang dimasukkan pada nostril untuk menjaga pembentukan adhesi intranasal.Gambar 10 : Trauma nasal dari anterior. dalam pandangan faktor waktu meliputi waktu yang lama dan prosedur operasi yang komplek4. Trauma yang Berhubungan Dengan Fraktur Fasial Lain Fraktur pada tulang wajah. Untuk menjaga kedua penetapan oklusi dan aplikasi fiksasi intermaksila yang masih tetap terpasang sampai pasien sadar dari efek anestesi agar jalan nafas tetap aman. nasal endotracheal tube dapat diletakkan pada posisi atau dilakukan trakheostomi. Alternatif lain. harus dapat direduksi dan distabilisasi terutama untuk reduksi fraktur nasal. Septum harus dikembalikan ke posisinya tetapi tidak boleh dilakukan reseksi septum pada tahap pembedahan primer. Daya sedang menimbulkan depressi pada septum dan piramid nasal. meskipun sudah indikasi.

309 .

Pada waktu eksplorasi biasanya menunjukkan bahwa dasar piramid tetap intak meskipun terjadi displacement yang hebat ke ruang interorbita 4. Setengah bagian bawah atau sepertiga dari tulang nasal yang biasanya mengalami fraktur. Salah satu konsep yang selalu salah tentang fraktur nasal adalah terjadinya pelepasan dan displacement tulang nasal. trauma ini adalah yang paling sering pada skeleton fasial dan menurut Schroeder (1481). meskipun pada mulanya tampak cukup baik4.BAB III PEMBAHASAN Menurut Christian (1476). kecuali terjadi fraktur nasoethmoid yang parah. Perluasan disrupsi struktur nasal sehubungan dengan arah dan derajat kekuatan trauma jarang diperhitungkan. Dasar dari piramid hidung jarang sekali terlepas dari tulang frontal. 50 % fraktur pada tulang fasial terpisah dari fraktur pyramid Fraktur nasal sering kali dirawat dengan penilaian preoperative yang tidak adekuat. Gambar 11 : Trauma nasal lateral menunjukkan adanya displaced fracture pada bagian tengah bawah tulang nasal kiri dan tepi anterior prosesus frontal kiri tulang maksila disertai dengan pembengkokan tulang septum4 310 . Kemudian hidung dirawat dengan cara sederhana dan hasil akhirnya mungkin akan jauh dari yang diharapkan.

Harrison menganjurkan pada fraktur nasal horizontal bagian bawah. dan 50 % berfungsi normal dalam jangka waktu lama. dari hasil penelitian retrospektif menunjukkan bahwa. dari 107 fraktur hidung yang dirawat dengan manipulasi tertutup.Posisi dan integritas komponen kartilagenus dari rangka nasal harus selalu ditetapkan. bahwa eksisi pada daerah cartilage pada sisi septum yang mengalami fraktur berbentuk C akan menghasilkan hasil yang lebih baik. Tetapi Harrison (1474) menemukan bahwa suatu pola dari suatu fraktur septum dan displacement yang diindentifikasi adalah disebabkan karena manipulasi yang kurang baik. bahwa meskipun jarang. Penempatan manipulasi tertutup dari fraktur hidung masih menjadi pertanyaan. hasilnya akan menjadi lebih baik. Fraktur berbentuk C dari tulang dan kartilago dimulai dari bawah dorsum hidung berjalan ke posterior melalui perpendicular plate dari ethmoid. sebaiknya dilakukan reseksi submukus pada septum nasal dan jika ini dilakukan pada waktu perawatan primer. kemudian ke inferior melalui vomer terminate dengan suatu 311 . hanya 30 % yang menunjukkan penampilan yang normal. Septum sering kali tidak tetap lurus setelah dilakukan manipulasi dan piramid hidung pada garis septum yang mengalami distorsi. Stranc menekankan pada perawatan fraktur nasal bidang dua. harus dilakukan reseksi submukus primer agar tidak terjadi kolaps pada garis jembatan kartilagenous4. Kemudian mereka menyimpulkan pada percobaan klinis. yaitu pelepasan dari tegangan internal yang terkunci. kartilago lateral dan septum nasal dapat terjadi dislokasi tanpa disertai fraktur tulang nasal4. Menurut Stell (1480). Mereka mempelajari mekanisme fraktur nasal dengan meneliti fraktur nasal pada kadaver dan menyimpulkan bahwa tulang nasal yang mengalami deviasi lebih dari setengah lebar jembatan. Pengertian yang lebih jauh lagi dari mekanisme dan perawatan fraktur nasal dibuat oleh Murray (1484). dan vertikal posterior. Harus tetap diingat. Harrison adalah orang yang pertama menemukan bentuk C fraktur septum ( C-shaped fracture). Alasan mengapa distorsi tampak progresif dari kartilago septum dijelaskan oleh Fry. ada suatu fraktur berbentuk C yang terjadi bersamaan dari tulang dan cartilaginous septum.

Tulang nasal dimanipulasi dan suatu pack ( light pack) dimasukkan ke dalam nostril4. salah satu faktor yang menyebabkan hasil yang tidak memuaskan dari manipulasi fraktur nasal adalah tidak adanya dukungan nasal internal setelah reduksi. yaitu pada 2.5 cm posterior dari kolumela. tetapi harus hati-hati agar tidak terlalu caudal dari tulang nasal atau terlalu dalam karena akan dapat merubah profil. Menurut Murray. Gambar 12 : Skema menunjukkan garis fraktur dengan displacement yang berat disertai fraktur septum berbentuk C4 Untuk operasi pada septum mereka menganjurkan melakukan suatu insisi vertical di posterior. Pita gauze lembut yang dimasukkan pada nasal adalah merupakan stabilisasi yang kurang baik dan packing yang berlebih pada hidung sering kali menyebabkan distorsi dari reduksi yang diinginkan. Kartilago dipisahkan dan sisi kontralateral disingkapkan. Kemudian mukoperichondrium dibuka dan biasanya garis fraktur berbentuk C akan segera dapat terlihat. Light packing pada hidung sebaiknya hanya digunakan untuk mengkontrol epistaksis setelah 312 . Kemudian dilanjutkan sampai pertemuan ethmoid dan tulang nasal.curve anterior pada kartilago septum 1 cm di atas puncak maksila dekat dengan sudut vomerine4. Suatu reseksi yang terbatas dari septum kemudian dibuat dengan melakukan suatu eksisi tipis dari kartilago dan tulang pada sisi yang terdapat fraktur C dan diangkat paling sedikit 1 cm dari plate perpendicular dari ethmoid.

Pangkal hidung harus dipegang di antara jari telunjuk dan ibu jari tangan yang berlawanan yang juga digunakan untuk menambah stabilitas pada kepala terutama pada waktu melakukan manipulasi4. Pada tahap ini. Fragmen tulang yang hilang harus diambil and mukoperikhondral harus tampak jelas. operator harus mempunyai gambaran yang jelas mengenai apa yang seharusnya akan dilakukan. Kebanyakan fraktur nasal sederhana tidak memerlukan aplikasi splint eksternal setelah dilakukan reduksi4. Metoda manipulasi hidung dibawah anestesi lokal telah dijelaskan sebelumnya. Paruh yang lebih kecil dari Walsham’s forcep dimasukkan ke dalam lubang hidung dan paruh yang lebih besar (dilapisi dengan karet lembut untuk melindungi kulit) yang terdapat pada eksternal untuk memegang sisi luar hingga dapat memegang dan mengangkat hidung ke arah medial canthus dan sejajar dengan proses frontal tulang maksila. Sebelum melakukan reduksi fragmen nasal yang mengalami displacement. Instrument yang biasa digunakan adalah Walsham’s forceps. Penilaian klinis dan radiografis preoperative yang sangat hati-hati adalah suatu syarat untuk keberhasilan perawatannya. metode yang telah dijelaskan di atas akan lebih baik menggunakan anestesi umum. Septum dimanipulasi dengan Asch’s septal forceps. Kemungkinan dapat terjadi relaps dengan resolusi dari pembengkakan jaringan disekitar jaringan yang disebabkan fiksasi yang buruk dari splint plaster.manipulasi tulang nasal. 313 . Ronsen foto harus diambil dari dua arah untuk kepentingan diagnosis dan rencana metoda reduksi. Rotasi ke arah medial atau lateral yang akan menjauhkan atau mendekatkan fragmen fraktur pada tulang nasal4. informasi tambahan akan lebih diperoleh dengan inspeksi intranasal dengan bantuan speculum dan lampu kepala ( head light). dan Asch’s septal forceps4. Pengggunaan plaster eksternal atau Paris splint tidak akan mendukung fragmen nasal. Paruh forceps pertama-tama dimasukkan pada dasar hidung dan sisi yang lainnya pada septum dan dengan tekanan gentle digunakan untuk mengembalikan cartilage septum. Septum nasal kemudian diperiksa. Hidung harus dibersihkan dari semua debris dan gumpalan darah dengan suction. yang digunakan untuk memanipulasi tulang nasal dari prosesus frontal maksila.

CT scan masih merupakan pemeriksaan imaging yang dipilih untuk evaluasi trauma orbita karena kemampuannnya untuk melihat detail 314 . Proyeksi Caldwell memperlihatkan visualisasi dasar orbita dan prosessus zygomatiko-orbitalis diatas densitas petrosus pyramidalis. Gambaran yang lebih luas dari orbita bisa didapatkan dari proyeksi waters. Tang Rekonstruksi Nasal4 PEMERIKSAAN RADIOLOGIS DAN DIAGNOSTIK Penegakan diagnosis selain dari temuan klinis dilakukan dengan bantuan pemeriksaan penunjang. Walsham forceps dan Ash Forceps Gambar 13. 2. antara lain yaitu : 1. dan tingkat cairan udara dalam sinus maksilaris. Paling umum digunakan adalah proyeksi Cadwell dan Waters. 3.Kemudian paruh dapat diputar ke kiri atau ke kanan dengan memegang septum sepanjang garis jembatan dan tarikan dapat dilakukan untuk elevasi nasal bridge4. Proyeksi ini menempatkan petrosus piramidalis di bawah sinus maksilaris sehingga memudahkan evaluasi dasar orbita. Foto AP orbita biasanya diambil dengan berbagai variasi angulasi sinar. prolaps isi orbita.

dilakukan test forced duction. 1 Gambar 14. Jika terjadi enophthalmus lebih 315 . Enophthalmus. walaupun MRI bisa memperlihatkan detail regio orbita dengan sangat halus.2 Jika CT scan mempunyai hasil yang samar-samar saat mengevaluasi pasien yang dicurigai terjadi entrapment. CT Scan dalam mengevaluasi fraktur 4 KOMPLIKASI FRAKTUR ORBITA Fraktur orbita akan menyebabkan beberapa komplikasi dan permasalahan. Menilai secara langsung kemampuan atau ketidak mampuan lebih jauh mata saat pasien disuruh melirik ke atas. test ini dapat menghasilkan konfirmasi klinis yang penting mengenai adanya otot atau jaringan yang terperangkap. Fraktur dasar orbita dapat mengakibatkan penambahan volume orbita dan keadaan ini mengakibatkan enophthalmus.1.struktur tulang. di antaranya adalah : 1.

menyebabkan diplopia. Diplopia.1 III. Keadaan ini mengakibatkan terhambatnya pergerakan ke atas dari bola mata. Perawatan yang paling baik adalah pada waktu tiga jam pertama saat terjadi trauma.dari 2 mm. 2.7 hari.1 WAKTU PERAWATAN Waktu perawatan fraktur nasal masih terdapat kontroversial. Waktu perawatan ini sangat penting oleh karena fraktur nasal lebih dari 10 hari akan mengalami penyembuhan tulang dan kemungkinan memerlukan tindakan termasuk rhinoplasty . Waktu dan perlunya intervensi bedah pada perawatan fraktur dasar orbita murni masih dalam perdebatan. Kebanyakan literatur mendukung waktu dua minggu untuk perbaikan sehingga mencegah fibrosis. dapat terjadi emfisema orbita karena adanya hubungan dengan sinus maksilaris serta bisa juga disertai perdarahan orbita. jika ini tidak memungkinkan. maka sebaiknya penanganan dilakukan 3 . Biasanya. keadaan ini mengakibatkan ketidakseimbangan. Bola mata juga dapat melesak atau hipo-ophthalmik dibanding sisi kontralateralnya. 3. Emfisema. tetapi pada kasus yang lain. Otot rektus inferior atau jaringan orbita dapat terperangkap dalam lokasi fraktur. Bola mata dapat menjadi robek. namun trauma yang tidak begitu berat hanya akan mengakibatkan hyphema atau edema retina. kontraktur dan 316 . Jika fraktur berhubungan dengan fraktur sepertiga wajah yang lainnya. perawatan harus ditunda sampai sepuluh hingga dua belas hari agar pembengkakan dan luka memar menjadi lebih reda. Fraktur nasal yang terpisah dapat dapat dilakukan reduksi dalam waktu 24 jam pertama. Perawatan fraktur nasal bertujuan untuk memperbaiki dan mengembalikan fungsi dan etetik. maka komponen hidung harus direduksi bersamaan dengan fraktur lainnya4. untuk mencegah terjadinya pembengkakan yang lebih besar.

Tehnik ini tidak mempunyai support intra nasal anterior posterior. Splint Intranasal 1. Sayangnya metode ini tidak hanya menutup jalan nafas tetapi juga merupakan sumber infeksi yang potensial. 1. Ribbon gauze Metode ini sering kali dianjurkan sebagai metoda yang adekuat dan standar untuk memperoleh dukungan internal pada fraktur nasal. yang mungkin dapat menimbulkan konsekuensi serius berhubungan dengan CSF rhinorrhoea. tetapi juga merupakan penyebab terjadinya masalah pada telecanthus jika pemasangan pack terlalu berlebihan sehingga menimbulkan terjadinya fraktur lain pada prosessus frontal maksila. Gauze ini secara hati-hati dimasukkan kedalam lubang hidung dengan bentuk lapis demi lapis dan penting untuk diperhatikan pertama-tama menempatkan pack pada nares superior sepanjang garis jembatan (bridge-line)4. keadaan ini mungkin disebabkan oleh tidak adanya tekanan dari eksternal. Pada kasus dimana terperangkapnya tarikan rektus inferior.2 III.2 METODE IMOBILISASI A. Beberapa ahli sering menunggu beberapa hari supaya edema dan perdarahan sudah tidak ada sehingga didapat penilaian yang baik terhadap enopthalmus dan fungsi otot ekstraokuler. perawatan harus dilakukan lebih cepat. Suport intra nasal yang adekuat tidak akan diperoleh dengan teknik ini untuk menstabilkan hidung4.terperangkapnya jaringan. Pack ini harus tetap dipertahankan selama 2 – 3 hari. Metode ini sebaiknya hanya digunakan sebagai hemostasis pada periode awal operasi dan sebagai support awal pada reposisi tulang nasal dimana pada septum nasal tidak terjadi fraktur. 317 . dengan menggunakan pita gauze yang dilapisi dengan paravin/ flavine emulsion atau bismuth iodoform paraffin paste (BIPP).

5875 mm dan pasangan yang sama dibengkokkan membentuk angka 7 dengan diameter yang lebih lebar pada posisi datar. 318 . Metode insersi dan retensi splinting ini seperti gambar yang memperlihatkan tulang nasal dan tepi jaringan lunak tanpa kehilangan palatum keras dianjurkan pada waktu memilih ukuran splint yang cocok4. Stainless-steel intranasal splint Metoda ini dikemukakan oleh Sear pada tahun 1477.Gambar 15: Ribbon gauze4 2. Splint terbuat dari bahan stainless steel 3. yaitu untuk mendapatkan support internal yang rigid terutama pada kasus terjadinya kolaps anteroposterior.175mm x 1.

kelebihan dibuang dengan tekanan antara cotoon gauze sebelum aplikasi.Gambar 16 : Metode insersi dan retensi splint intra nasal untuk memperoleh support internal4 Metode yang sederhana dan memuaskan untuk memperoleh support internal pada hidung. Sangat penting untuk diperhatikan bahwa plaster sudah menempel pada kulit dari daerah medial sampai bagian dalam canthus masing-masing mata yaitu dengan memegang antara jari telunjuk dengan ibu jari. Metoda ini terutama cocok untuk memperoleh support nasal pada pasien dengan fraktur fasial multiple4. Bahan ini terdiri dari 4 atau 5 lapis dari potongan 10 cm plaster of Paris bandage yang dilembutkan dengan air. tetapi pada beberapa kasus tertentu tidak begitu praktis. dan sangat membantu untuk memperoleh suatu pola dengan juga menggunakan gauze atau jaconet cut untuk membentuknya dan mengetahui ukuran yang tepat sebelum diaplikasikan. B. Kemudian dengan hati-hati dilakukan pemasangan plester pada daerah sekitar kepala dan glabela. nasal bridge line dan duapertiga bagian atas hidung. Sementara plaster 319 . Splint Eksternal 1. Plaster of Paris Splint Teknik ini dikenal dengan bentuk kupu-kupu.

Collodion gauze dan soft metal sheet (Ash’s soft metal sheet-tin/lead alloy) Beberapa lapisan gauze dipotong sesuai dengan ukurannya dan direndam dalam larutan collodion. lebih baik pada hari ketiga dan keempat atau lebih jika diperlukan. sehingga akan membentuk cetakan dan diperhalus dengan Howarth’s elevator. perlekatan dengan kulit dibantu dengan pemberian Compound Tincture of Benzoin. Ini adalah untuk menjaga agar tidak terjadi luka pada kulit. Kemudian diaplikasikan pada kontur hidung satu persatu. Terutama pada fraktur nasal yang disertai dengan fraktur ethmoid. Tipe splint eksternal ini sangat memuaskan. biasanya terjadi pembengkakan jaringan lunak pada sekitar hidung4 . Kemudian plaster dilekatkan pada daerah kepala dan pipi dengan bahan Elastoplast atau bahan pelekat lain. Kemudian lapisan gauze collodion diaplikasikan dan dibentuk sehingga akhirnya splint tercetak hanya pada bagian medial dari bagian dalam canthi seperti yang diterangkan sebelumnya pada splint Plaster of Paris. Gambar 17: Plaster of paris splint4 2. Sehelai lembaran logam lunak (soft metal) dipotong mengikuti bentuknya kemudian diaplikasikan dan konturnya dibentuk. tetapi ini tidak benar. Sudah menjadi standard untuk membiarkan Plaster of Paris selama 7 – 10 hari. terutama pada kasus dengan adanya jahitan luka pada hidung dan glabela Tetapi ini tidak tepat pada kasus dengan fraktur septum pada waktu ini dan pembedahan sekunder 320 . terutama pada daerah yang dekat dengan mata dan sekitar puncak hidung.mengeras. Ketika pembengkakan mulai berkurang splint akan menjadi longgar dan oleh karena itu harus segera diangkat.

Pada kasus dimana terperangkapnya tarikan rektus inferior. 1. Keadaan ini biasanya mengakibatkan enophtalmos yang signifikan (lebih dari 2 mm) dan ini merupakan indikasi untuk dilakukannya reparasi.mungkin diperlukan pada beberapa waktu kemudian. perawatan harus dilakukan lebih cepat. Hal ini harus 321 . Selain itu. Trapdoor atau fraktur anteroposterior dapat ditemukan secara klinis dimana sulit ditemukan secara radiologis. Beberapa ahli sering menunggu beberapa hari supaya edema dan perdarahan sudah tidak ada sehingga didapat penilaian yang baik terhadap enopthalmus dan fungsi otot ekstraokuler. Gambar 18: soft metal sheet4 Waktu dan perlunya intervensi bedah pada perawatan fraktur dasar orbita murni masih dalam perdebatan. pada fraktur dasar orbita bisa timbul diplopia karena terbatasnya gerakan ke atas dan ke bawah.2 Fraktur dasar orbita melibatkan lebih dari 50 % mengenai lantai. Kebanyakan literatur mendukung waktu dua minggu untuk perbaikan sehingga mencegah fibrosis. dengan atau tanpa bersamaan dengan fraktur dinding mesial dan dengan prolaps jaringan orbital. harus dilakukan perbaikan yang cepat karena kemungkinan kelainan ini bisa menetap sangat tinggi. Jika keterbatasan ini terjadi dalam 30 derajat dari gerakan utamanya dengan test forced-duction positip dan CT Scan menunjukkan adanya fraktur. kontraktur dan terperangkapnya jaringan. terutama untuk mengatasi obstruksi pada nasal4.

Fraktur medial orbita 322 . dengan demikian diharapkan dapat memperbaiki semua gangguan motilitas ekstraokuler. Akses pada regio ini memudahkan eksplorasi dan membebaskan jaringan lunak yang bergeser atau terperangkap. 2.4 Perawatan orbital fraktur harus terlebih dahulu melakukan dekompresi dengan segera kemudian melakukam rekonstruksi sesuai dengan lokasi dari fraktur. 1 Koreksi bedah merupakan kontra indikasi pada pasien yang secara medis tidak stabil dan tidak bisa mentoleransi anestesi. Aksesnya dapat dilakukan dengan insisi pada bagian blepaharoplasty bagian atas atau melalui laserasi yang terjadi.4 Fraktur atap orbita Penanganan fraktur pada atap orbita dianjurkan untuk mengeksplorasi atap orbita dengan menggunakan periosteal elevator sehingga segment fraktur dapat dikembalikan ke posisinya atau menjadi datar dan mencegah cederanya muskulus dan nervus. Selain itu. Fraktur blow in yang pergeserannya minimal biasanya tidak membutuhkan perawatan selain perawatan yang bersifat konservatif. hal ini bertujuan untuk perbaikan partisi antara orbit dan antrum maksilaris.dipertimbangkan. pendekatan ini dilakukan untuk memperbaiki defek tulang dengan mengambil atau mereposisi fragmen tulang. Dasar orbita bisa dicapai melalui pendekatan konjungtival. Tidak dipergunakannya tranosseus wire tetapi IMF dipertahankan selama seminggu untuk mencegah reduksi yang adekuat dari fragment. jika hal ini terjadi harus segera dikoreksi untuk menurunkan kemungkinan diplopia yang persisten. melalui pembukaan perkutaneous atau pendekatan transmaksilaris. Selain itu dapat dipergunakan muscle relaxant untuk mencegah spasme muskulus temporal. dengan demikian dapat mengembalikan volume orbita dan menghilangkan semua pergeseran struktur jaringan lunak. Fraktur lateral orbita Penanganan fraktur pada dinding lateral melalui incisi pada subciliary (blepharoplasty) lateral dikombinasi dengan lateral incisi eyebrow .

Daerah ini sangat tipis khususnya daerah ethmoid. Fraktur dasar orbita Dianjurkan untuk mengeksplorasi dasar orbital dengan menggunakan periosteal elevator sehingga segment fraktur dapat dikembalikan ke posisinya atau menjadi datar dan mencegah cederanya muskulus dan nervusAkses masuk pada bagian dasar orbita dapat dilakukan dengan incisi transkonjungtiva dan infraorbita (subciliary dan subpalpebra). penanganan fraktur pada daerah ini dapat dilakukan dengan pendekatan incisi melalui subciliary dan memberikan kesempatan untuk ekspolarasi dasar orbita. Seperti pada gambar : Gambar 19 : incisi subkonjungtiva3 Gambar 20: Incisi subpalpebra4 323 .

contohnya tulang kortikal dan kanselous. dan polyglactin) Allogenik dura. silicon.Gambar 21 : incisi subciliary4 Gambar 22 Insisi trans konjungtiva4 Material untuk rekonstruksi fraktur orbita Bahan – bahan material yang biasa dipergunakan adalah : autografts dari tulang. porous polyetilene. Material alloplastik : nan absorbable ( Titanium. 324 . cartilago. polylactide. dan teflon) Absorbable (polydioanone.

tidak akan mengalami ekstrusi. dan pilihan material biasanya tergantung kepada ahli bedah dan pasiennya. Alternatif lain dapat digunakan tulang autogenous dari dinding maksila atau calvarium. Gambaran pemasangan material rekonstruksi6 Semua material memiliki keuntungan dan kerugian. Implant Implant myriad tersedia untuk kegunaan rekonstruksi. Hampir kebanyakan defek pada kasus fraktur dasar orbita dapat direparasi dengan implant sintetik yang terbuat dari polyethylene. mudah ditempatkan pada struktur di sekitarnya. kepala pasien ditinggikan dengan sudut kurang lebih 30 o. dan tidak merangsang pembentukan jaringan fibrous. 325 . miniplat metal. atau mesh metal. Auto bone graft merupakan standar kriteria untuk menyediakan kerangka untuk tulang fasial dan dinding orbita. Beberapa ahli menganjurkan kompres dengan saline dingin di atas mata yang tertutup.Gambar 23. tidak menjadi tempat infeksi. harganya wajar. Perawatan Pasca Bedah : Segera setelah pembedahan. Kemampuan visual dan fungsi pupil dinilai setiap 15 menit selama 1 jam pertama dan kemudian setiap 30 menit. juga memiliki aposisi formasi tulang yaitu proses resorbsi dan perbaikan yang baik. silicon. Implant yang ideal harus bisa secara mudah diinsersikan dan dimanipulasi. mesh vicryl. Cancellous bone graft lebih disenangi daripada kortikal karena vaskularisasinya lebih cepat dan lengkap.

2 Seperti pembedahan lainnya komplikasi pada reparasi fraktur dasar orbita bisa berupa perdarahan atau infeksi. 326 . Demikian juga ekstrusi implant dan enophtalmos yang menetap merupakan sequele postoperasi yang memerlukan intervensi bedah selanjutnya.Setelah operasi pasien dilarang untuk meniup lewat hidung. dan beraktivitas berat. dan disfungsi otot ekstraokuler merupakan komplikasi yang mungkin bisa terjadi. dan diberikan antibiotik serta analgetik yang adekuat. Selain itu pasien diinstruksikan untuk mengompres dingin selama 48 jam. Kehilangan kemampuan penglihatan merupakan komplikasi yang serius berkaitan dengan reparasi kelainan ini. Diplopia yang tetap ada atau new onset. neuralgia. Pemberian steroid dapat membantu pengurangan pembengkakan. 1.

diplopia. Jenis fraktur ini sering menimbulkan komplikasi berupa enophtalmos. oleh karena itu perlu dilakukan evaluasi radiologis secara seksama. Kesimetrisan hidung dan fungsi adalah penting untuk pasien. dan emfisema. Pendekatan bedah pada kasus-kasus yang diindikasikan harus dilakukan dengan hati-hati mengingat kemungkinan komplikasi yang akan terjadi. 327 . Jika pendekatan yang dilakukan pada waktu terjadi trauma sama dengan pemikiran kedepan seperti yang dilakukan pada penanganan elektif kosmetik septorhinoplasty. namun pemeriksaan klinis terkadang sulit dilakukan karena adanya edema di daerah orbita. dan perawatan yang tidak tepat dan kurang adekuat akan menimbulkan hasil yang kurang memuaskan. maka akan diperoleh hasil yang lebih baik dan lebih memuaskan pasien. Fraktur orbita bisa terjadi bersamaan dengan fraktur pada daerah wajah lainnya. tetapi sering dianggap tidak terlalu berpengaruh.BAB IV KESIMPULAN Fraktur nasal sering terjadi pada fraktur tulang fasial.

DAFTAR PUSTAKA

1. Ramirez R.F. 2004. Nasal Trauma. The Thomson Corporation. All right reserved. http://www.ehendrick.com/healty/000561.htm. 2. Fonseca, RJ. et al. 1997. Oral and Maxillofacial Trauma. 2nd edition. Philadelphia: WB. Saunders Co. 3. Pitcock K.J & Bumsted M.R. 1997. Nasal Fractures. In: Raymond J. Fonseca and Robert V. Walker. Oral And Maxillofacial Trauma. Volume II. W.B. Saunders Company. Philadelphia London. Toronto Montreal Sydney Tokyo. p. 775 – 41. 4. Bowerman J.E. 1994. Fracture of the Middle Third of the Facial Skeleton. In: Rowe and William’s. Maxillofacial Injures. Second Edition. Churchill Livingstone. Edinburgh London Madrid Melbourne New York Tokyo. p. 541- 604. 5. Moore, K.L., Arthur F. Dalley II. 1999: Clinically Oriented Anatomy. 4 'h ed. Lippincott Williarli"s & 1Nilkins 6. Archer, H. W. 1975. Oral and Maxillofacial Surgery. 5th ed. Toronto : W. B. Saunders Company. 7. Booth, P. W. et al. 2003. Maxillofacial Trauma and Esthetic Facial Reconstruction. 1st ed. Edinburgh: Churchill Livingstone. Edinburgh. 8. Cohen, AJ. Facial Trauma, Orbital Floor Fracture (Blow out). Available at www.eMedicine.com. Last updated on March 7th 2005. 9. Williams, J. L. 1999. Maxillofacial Injuries. 1st ed. Edinburgh : Churchill Livingstone.

328

Fraktur Panfasial

Yudi Wijaya 160121120002

Peserta PPDGS Ilmu bedah mulut dan Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Abstrak : Regio maksilofasial terbagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama adalah wajah yang bagian atas, Bagian kedua adalah daerah tengah wajah atau midface. Midface dibagi menjadi bagian atas dan bagian bawah. Midface yang bagian atas bila terdapat fraktur Le Fort II dan Le Fort III dan/atau fraktur tulang nasal, fraktur nasoetmoidal atau kompleks zygomatikomaksilari dan fraktur dasar orbita. Fraktur Le Fort I bila fraktur terdapat pada bagian bawah dari midface. Bagian yang ketiga dari regio maksilofasial adalah wajah bagian bawah, bila fraktur hanya terdapat pada mandibula. Fraktur panfasial adalah fraktur yang terjadi pada daerah wajah yang meliputi sepertiga atas, sepertiga tengah dan sepertiga bawah yaitu meliputi fraktur pada regio frontal, kompleks nasalis, kompleks orbitalis, kompleks zigomatikus, maksila dan mandibula. Prinsip umum untuk penatalaksanaan fraktur panfasial yaitu dengan tehnik bottom to top (dari bawah ke atas) atau top to bottom (dari atas ke bawah).

Kata kunci: Fraktur panfasial, bottom to top , top to bottom

329

BAB I PENDAHULUAN

Pada mulanya dokter gigi dilibatkan pada perawatan trauma rahang karena mereka menguasai pengetahuan tentang gigi dan oklusi. Perawatan yang terdahulu hanya terdiri atas fiksasi gigi pada oklusi sentrik untuk mengurangi dan mengimobilisasi suatu rahang. Sekarang ini dasar pemikiran perawatan fraktur pada daerah maksilafasial tidak banyak berubah, hanya tekniknya yang berkembang pesat. Diagnosis didukung dengan adanya teknik radiografis yang berkembang dengan pesat. Fraktur-fraktur yang pada jaman dahulu tidak dapat dikenali sama sekali atau hanya bersifat dugaan sekarang ini bisa ditunjukkan sampai hal yang terkecil.1 Regio maksilofasial terbagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama adalah wajah yang bagian atas, bila fraktur melibatkan sinus dan tulang frontal. Bagian kedua adalah daerah tengah wajah atau midface. Midface dibagi menjadi bagian atas dan bagian bawah. Midface yang bagian atas bila terdapat fraktur Le Fort II dan Le Fort III dan/atau fraktur tulang nasal, fraktur nasoetmoidal atau kompleks zygomatikomaksilari dan fraktur dasar orbita. Fraktur Le Fort I bila fraktur terdapat pada bagian bawah dari midface. Bagian yang ketiga dari regio maksilofasial adalah wajah bagian bawah, bila fraktur hanya terdapat pada mandibula. Insidensi trauma maksilofasial terutama yang berhubungan dengan kecelakaan kendaraan bermotor. 2 Trauma yang mengenai wajah dapat menyebabkan diskontinuitas dari jaringan lunak wajah maupun jaringan kerasnya. Fraktur yang terjadi pada daerah wajah yang meliputi sepertiga atas, sepertiga tengah dan sepertiga bawah yaitu meliputi fraktur pada regio frontal, kompleks nasalis, kompleks orbitalis, kompleks zigomatikus, maksila dan mandibula disebut dengan fraktur panfasial. 2 Fraktur ini biasanya disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas, kecelakaan kerja, kecelakaan olah raga dan lain-lain.2,3 Penelitian pada tahun 2008 di

330

Amerika Serikat, penyebab utama fraktur panfasial adalah perkelahian (36%), kecelakaan kendaraan bermotor (32%), jatuh (18%), olahraga (11%), kecelakaan kerja (3%), dan luka tembak (2%). 2 Lebih banyak terjadi pada laki-laki dewasa muda, perbandingan laki-laki dan wanita adalah 4:1.4

331

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi Kraniofasial Tulang-tulang kraniofasial terdiri atas 22 tulang dengan dikelilingi oleh kavitas-kavitas yang berbeda yaitu kranium, orbita, sinus, hidung dan mulut. Tulang-tulang kraniofasial terdiri atas tulang yang memiliki ketebalan berbeda. Tulang-tulang yang tebal berhubungan dengan tulang- tulang berdinding tipis. Tulang dengan struktur yang tebal disebut sebagai 'buttress' yang menopang/penyangga proporsi kraniofasial dalam proyeksi antero-posterior. 2 Banyak penulis membagi buttres wajah dalam dua bidang yaitu bidang vertikal dan bidang horizontal. Buttres vertikal meliputi buttress nasomaxilaris pada medial,, zigomaticomaxilaris pada lateral, dan pterigomaxilaris pada posterior. Buttress nasomaksilaris meliputi prosessus maksilaris dari frontalis dan prosessus frontalis dari tulang maksila, meluas ke lateral sampai rima piriformis. Buttress zigomaticomaxilaris terdiri dari prosessus zygomatikus dari tulang frontal, rima orbita lateral, tulang zygomatikus lateralis, dan prosessus zygomatikus dari tulang maxilla. Buttress pterigomaksilaris terdiri dari lempeng pterigoid dari tulang sphenoid dan tuberositas maksilaris. Ketiga buttress ini menghasilkan suatu sistem penyangga unit-unit fungsi pada oral, nasal dan orbital. Pada umumnya buttress zygomaticomaksilaris dan buttress nasomaksilaris dilakukan rekonstruksi, tapi buttress pterigomaksilaris tidak dilakukan rekonstruksi karena tidak dapat diakses. 2,4 Buttress horizontal sering juga disebut dengan anterior posterior buttress. Buttress ini meliputi buttress frontal, zygomatik, maxilaris dan mandibular. Buttress frontal terdiri dari rima supraorbital, dan regio glabelar. Buttresss zygomatik terdiri dari zygomatic arch, zygomatic body, dan infraorbital rim. Buttress maxila dan mandibula terdiri dari basis maxila dan lengkung tulang mandibula.4 Keseluruhan buttress ini secara bersama-sama memberikan integritas tulang wajah. Tulang-tulang yang pada umumnya lebih tebal ini berfungsi untuk

332

menetralisir kekuatan pengunyahan dan benturan. Dengan reduksi yang tepat kita dapat merekonstruksi tinggi, lebar dan proyeksi wajah. 2,3

Gbr.1 Buttress vertikal dan horizontal.1

2.2 Klasifikasi Fraktur Panfasial Gruss dkk (1989) membagi fraktur panfasial menjadi tiga kelompok yaitu: 3 1. Fraktur kraniofasial sentral Fraktur terjadi pada bagian sentral yang memisahkan buttress fasial dari basis kranial anterior. Variasinya meliputi tulang frontal dan atap orbital dan sinus frontalis. Pada trauma yang ekstensif terjadi perluasan ke arah vertikal melalui sepertiga tengah wajah dan bagian tengah mandibula. 2. Fraktur kraniofasial lateral Fraktur ini mengakibatkan kerusakan pada buttress fasial lateral yaitu tulang frontozigomatikomaksilaris dengan perluasan ke arah posterior pada sayap tulang sphenoid, temporal dan parietal. Komplikasi intrakranial lebih jarang terjadi, namun perluasan ke bagian bawah wajah lebih sering terlihat 3. Kombinasi fraktur sentral dan lateral

333

Trauma yang ekstrim akan menghasilkan kehancuran elemen fasial sentral dan lateral disertai dengan fraktur sepertiga tengah wajah, mandibula, kondilus dan trauma intrakranial. Kerusakan dapat meliputi kerusakan pada otak yang lokal maupun difus dan diskontinuitas dasar fosa kranial anterior.

334

Perawatan Definitif a. Perawatan non operatif c.BAB III PEMBAHASAN 2. ABC (Airway. Diagnosis dan penanganan sekunder a. Circulation) b. Mempertahankan jalan napas b. Pemeriksaan fisik menyeluruh b. Adapun tahap-tahap penanganan trauma adalah sebagai berikut: 6 1. Rehabilitasi 335 . Radiografi c. Resusitasi dan pemantauan lanjut 4. Stabilisasi tulang belakang e. Pemantauan 3. Stabilisasi fraktur d. Nutritional support 5.Penanganan yang dilakukan sebelum dibawa ke rumah sakit a. Breathing. Sehingga tahap-tahap penangannnya bersamaan dengan penanganan trauma yang lainnya.3 Penatalaksanaan Pada umumnya penderita dengan trauma oromaksilofasial terjadi bersamaan dengan trauma pada bagian tubuh yang lain (trauma multiple). Resusitasi cairan c. Pemeriksaan Laboratorium d. Menghentikan perdarahan eksternal c. Pembedahan b. Tranportasi cepat (Ambulatory) 2. Resusitasi dan pananganan primer a.

Evaluasi pertama dapat dilakukan dengan data radiologis seperti Water's. Hal ini dapat diperoleh melalui data fotografi dan rekam medis dental. tulang.2. pergerakan abnormal pada mandibula dengan palpasi pada daerah external auditory canal dan menginstruksikan pasien untuk membuka dan menutup mulut. 2. luka memar laserasi pada tonjolan tulang seperti dahi. Dalam mendiagnosa fraktur panfasial dibutuhkan data riwayat trauma yang seksama. pernafasan dan sirkulasi serta tingkat kesadaran (ABC trauma management).5 Pemeriksaan intraoral dilakukan untuk melihat adanya memar dan laserasi jaringan lunak maupun adanya kehilangan jaringan. pemeriksaan fisik dan evaluasi radiografis yang baik. evaluasi terhadap regio maksilofasial dapat dilakukan. CT Scan dua dimensi dengan potongan 336 .3 Setelah pasien dalam keadaan stabil dan bebas dari trauma tulang spinal servikal. Perhatian segera yang ditujukan pada kasus berat adalah penatalaksanaan 'life-support' yang tepat dan penilaian komplikasi intrakranial dan ekstrakranial. gigi geligi dan neurovaskular. oklusi dan fungsi sebelum terjadi trauma amat dibutuhkan.1 Evaluasi Evaluasi dimulai dengan menilai jalan nafas.3 Pemeriksaan fisik harus dilakukan secara sistematis yaitu dengan metode inside out and bottom up yaitu meliputi inspeksi dan palpasi dari dagu hingga kepala serta dari intraoral dan ekstraoral untuk dapat mengidentifikasi luka pada jaringan lunak. Pada observasi klinis akan terlihat adanya pembengkakan pada wajah yang difus. mata dan prosesus kondilus. palatum. kesimetrisan dan ketinggian wajah. daerah supraorbital ridge dan pangkal hidung.2. Informasi yang lengkap meliputi keadaan wajah penderita.6 Pemeriksaan penunjang seperti CT Scan pada negara maju telah menggantikan peranan radiologi konvensional.3. Selain itu juga untuk mengevaluasi adanya fraktur segmental maupun sagital pada maksila maupun mandibula serta dentoalveolar. Deformitas pada tulang seringkali terlihat dengan hilangnya proyeksi hidung dan gangguan pada proyeksi midfasial. Adanya fraktur pada kondilus dapat diperkirakan apabila terdapat krepitus. Perhatian utama harus ditujukan pada daerah nasoethomid.

CT Scan dua dimensi dengan potongan koronal dan sagital akan memberikan informasi mengenai fraktur pada dinding orbital. Akan tetapi.6 Gbr 2. Dengan kemajuan tehnologi CT Scan tiga dimensi akan memberikan peran yang lebih baik dalam menentukan keadaan fraktur dalam hal ada atau tidaknya displacement tulang. 1.axial akan memberikan informasi penting terhadap perluasan trauma kraniomaksilofasial. buttress maxilla dan ramus ascenden mandibula. Pasien dengan fraktur panfasial 2 Gbr 3.2 Tata laksana Manajemen pasien dengan multiple displaced dan fraktur comminuted sangatlah menantang tidak saja pada ahli bedah yang belum berpengalaman nemun juga pada ahli bedah yang sudah berpengalaman. Digital imaging fraktur panfasial 1 2.3. Diagnosa dan rencana perawatan yang tidak tepat akan menyebabkan hasil yang tidak adekuat dan memperlama prosedur bedah. dengan melalui gambaran rontgen 337 .

berfungsi untuk mencegah pergerakan lateral yang ekstrem. akan didapatkan hasil yang optimal. Kondisi ini dapat menyebabkan melebarnya kompleks facial jika segmen fraktur tidak direduksi dengan benar. b. Pendekata ini bisa dilakukan jika fraktur palatal single tanpa kominusi atau avulsi. mereka dapat digunakan sebagai panduan. sebagai nerikut:1. ketika terjadi fraktur lefort dengan midpalatal yang masih utuh. Sebagai contoh. Key landmark yang dapat membantu adalah. Lengkung Gigi Ketika salah satu atau kedua lengkung gigi utuh. kan terjadi penambahan lebar wajah. tehnik bone graft serta urutan tahapan bedah yang baik. tengah dan bawah. Jjika terdapat fraktur subkondilar yang disertai dengan fraktur simphisis dan/atau ramus mandibula. Mandibula Reduksi simphisis dan/atau ramus mandibula dapat diperoleh melalui pembukaan ekstraoral. maxila yang memiliki lengkung yang masih utuh dapat digunakan untuk panduan mendapatkan lebar lengkung mandibula yang tepat. Solusi untuk mengatasi masalah ini adalah dengan mengembalikan keutuhan maxila dengan melakukan reduksi dan fiksasi fraktur palatal.7 Ketika terjadi fraktur wajah multiple yang melibatkan wajah bagian atas. proses rekonstruksi seperti menyusun puzzle. fraktur tersebut harus dirawat agar didapatkan tinggi dan lebar wajah yang tepat. lengkung gigi. maxxilary buttress.yang detail. Pengetahuan akan landmark dan anatomi dapat digunakan untuk rekonstruksi yang tepat pada bagian wajah yang mengalami kerusakan.7 a. 338 . Eksposure ini memungkinkan didapatkannya visualisasi langsung dari inferior border mandibula dan sedikit korteks lingual. fiksasi yang baik. Masalah utama terjadi jika terdapat fraktur midpalatal dan mandibula yang disertai fraktur kondyle. dan regio intercanthal. Reduksi permukaan bukal dan lingual memungkinkan untuk didapatkannya hasil fiksasi yang lebih baik. Perlekatan otot pterigoid lateral pada fovea pterigoideus. sutura sphenozigomatik. Jika terdapat fraktur subkondilar bilateral. mandibula.

buttress zigomatikus sangatlah penting dalam menempatkan zygoma dan maksila dalam posisi yang tepat. 339 . perlu dipertimbangkan pencangkokan untuk mengembalikan buttress ini. sutura ini dapat menjadi landmark yang penting untuk menempatkan zygoma dan lengkung zygoma pada posisi yang tepat. Sutura Sphenozygomatikus Sutura sphenozygomatikus. Daerah Interchantus Daerah interchantus digunakan untuk mengembalikan lebar midfacial setelah jarak interchantus stabil pada rangka wajah orang dewasa. c.Kondilus mandibula can be reconstitude ramus mandibula untuk mendapatkan tinggi dan lebar wajah. Ketika zygoma telah berada pada posisi yang tepat. Likewise . lokasi dari maksila dapat di tentukan. disepanjang permukaan dalam dari didingding orbita lateral adalah key landmark pada reduksi dan fiksasi complex zygomatikomaksilaris. Jika terjadi kehilangan tulang yang signifikan pada regio ini. Sutura sphenozygomatikus biasanya nampak pada sepanjang permukaan internal dari dinding orbita lateral. Restorasi jarak interchantus dengan menggunakan reduksi kompleks naso-orbitoethmoid dapat membantu menentukan lebar wajah. Jika orbital roof dan orbita lateral superior masih baik. Reduksi dan fiksasi sutura sphenozygomatik 1 d. Permukaan kontak yang luas ini sangat penting pada proses reduksi dan fiksasi. Gambar 4.

Perawatan terhadap jenis fraktur ini sebelumnya sering mengalami kesulitan dalam menentukan waktu perbaikan wajah sehubungan dengan intervensi bedah saraf dan ophtalmologis. Defek tulang yang luas atau defek jaringan lunak dapat dipertimbangkan dengan menggunakan rekonstruksi flap yang luas atau graft.Gambar 5. Gambaran intraoperatif menunjukkan gambaran fraktur naso-orbitoethmoid. penyembuhan tulang.Gambaran klinis penderita dengan fraktur naso-orbitoethmoid dengan jarak interchantus 43mm. Struktur yang terluka atau terlibat di sepanjang fraktur 3. Pada saat ini perawatan modern unit kraniofasial di negara maju memungkinkan untuk dilakukannya perbaikan kraniofasial dan bedah neurologis dalam merekonstruksi perbaikan fraktur fasial yang multipel dan penutupan fistula kranionasal pada saat yang bersamaan. mukosa dan saraf 4. Jumlah kehilangan jaringan lunak.7 Tujuan dari perawatan fraktur panfasial adalah merehabilitasi jaringan yang terkena. meliputi kulit. B. A. Sebelum merencanakan perawatan terlebih dahulu perhatikan: 7 1. Keadaan trauma dentoalveolar Perawatan jenis trauma yang kompleks ini merupakan rangkuman dari seluruh perbaikan dari semua fraktur fasial dan kranial yang individual. Dibutuhkan perencanaan yang baik untuk meminimalkan operasi ulang dan lamanya perawatan di rumah sakit. Defek diskontinuitas dapat dilakukan dengan fiksasi maksilomandibular 340 . Luas kehilangan tulang 5. serta perbaikan oklusi gigi. mengurangi rasa sakit. Lokasi dan luasnya fraktur 2.

Pada banyak kasus keterlambatan koreksi seringkali menyebabkan telah terjadinya union pada tulang dan kontraktur jaringan lunak sehingga diperlukan diseksi jaringan lunak yang ekstensif untuk mendapatkan pemaparan tulang yang baik dalam rangka reduksi dan fiksasi fraktur tulang. Hilangnya gigi geligi akan mempengaruhi hubungan antara maksila dan mandibula. Namun dalam jangka waktu tersebut seringkali tidak cukup untuk memperoleh pemeriksaan radiologis. Selain itu diperlukan osteotomi pada garis fraktur akibat telah terjadinya penyatuan tulang.7 Gbr 6. 2 Seringkali pasien tersebut membutuhkan waktu lebih dari tiga minggu untuk pengelolaan life-saving yang ekstensi terhadap trauma ekstrakranial. horisontal dan transversal. Terdapat dua prinsip umum untuk penatalaksanaan fraktur panfasial 341 . Cangkok tulang definitif dapat dilakukan pada operasi pertama ataupun kedua.6 Kunci utama dalam penatalaksanaan fraktur panfasial adalah untuk mendapatkan fiksasi dan stabilisasi yang cukup stabil pada daerah-daerah yang tidak stabil. Selain itu adanya rhinorrhoea serebrospinal atau aerocele intrakranial merupakan alasan lain keterlambatan perawatan. lag screws maupun fiksasi eksternal. Rekonstruksi harus meliputi arah 3 dimensi yaitu vertikal. Bone graft pada dinding sinus maksila anterior1 Koreksi definitif pada pasien dengan trauma kraniofasial yang kompleks secara ideal dilakukan dalam 5-7 hari. plate dan screws. Pada periode tersebut jaringan lunak berada dalam keadaan pembengkakan sehingga pengelolaan operatif pada saat itu akan menyebabkan proyeksi wajah dan kesimetrisan wajah sulit dicapai.baik internal dengan intraosseus wiring. ophtalmologis dan pengelolaan gigi geligi yang adekuat terutama pada pasien dalam keadaan koma dan tidak kooperatif.2. Beberapa penulis menganjurkan untuk fiksasi primer pada 12-48 jam paska trauma.

8 Apabila kranium frontalis masih intak atau terdapat fraktur pada fossa kranial anterior atau fronto-orbital bar tanpa adanya kehilangan tulang atau dimana struktur-struktur tulang tersebut di atas telah terekonstruksi dengan kuat. hilangnya tulang pada tulang kranial dan diskontinuitas pada dasar fosa kranial anterior atau hilangnya titik referensi.6 342 . Namun bila terdapat diskontinuitas pada lengkung mandibula. Setelah mandibula terkoreksi dengan baik.5. 5.2. pendekatan dilakukan dalam arah bawah ke atas. 5.yaitu dengan tehnik bottom to top (dari bawah ke atas) atau top to bottom (dari atas ke bawah).6 Bila terdapat fraktur sagital pada maksila dilakukan reduksi dan fiksasi untuk mendapatkan kembali lengkung maksila sehingga koreksi terhadap lebar wajah tengah dapat tercapai. Bila lengkung mandibula terganggu harus diperbaiki terlebih dahulu.6 Kerugian pada tehnik bottom to up adalah untuk rekonstruksi dilakukan dimulai dari jarak yang cukup jauh dari elemen simetris yang stabil yaitu basis kranial. regio midfasial dapat direkonstruksi dalam arah atas ke bawah. Fraktur pada kondilus baik unilateral maupun bilateral memerlukan reduksi segera dan fiksasi internal untuk mempertahankan ketinggian fasial. Selain itu bila basis kranial frontalis diperbaiki dan dilekatkan terhadap tengah wajah dapat menaikkan resiko kerusakan atau perubahan letak terhadap fosa kranialis anterior yang telah diperbaiki. Perbaikan dapat dilanjutkan dalam arah atas ke bawah dan bertemu dengan segmen maksilomandibula yang telah terfiksasi.6.8 Pada tehnik bottom to top. Ketidakakuratan dalam mereduksi dan mereposisi fraktur kondilus akan menyebabkan asimetri wajah. Fiksasi dapat dilakukan dengan menempatkan miniplate secara transversal pada maksila. Hal ini dilakukan agar rekonstruksi pada mandibula dapat menghasilkan hubungan yang intak dalam mereposisi maksila. rekonstruksi dimulai dari mandibula. maksila yang mengalami disimpaksi dapat dikoreksi dengan menyesuaikan oklusi pada rahang bawah dan dilakukan fiksasi intermaksilaris.2.

Kemudian diikuti dengan reduksi dan fiksasi fraktur subkondil. penatalaksanaan fraktur panfacial dapat dimulai dengan fikasi maxilomandibular. selanjutnya maxiila dapat distabilisasi sepanjang buttress zygomaticomaxilary. E dan F. G dan H. selanjutnya fraktur naso-orbiethmoid dapat direduksi dan fiksasi pada sutura naso frontalis dan sutura frontomaxilary dan infraorbital rim serta piriform. A dan B.Gbr 7. Kemudian rekonstruksi dilakukan pada bagian dalam 343 . kemudian fraktur symphisis. 1 Pada tehnik top to bottom. Gruss dan Mackinon (1986) menyarankan untuk melakukan rekonstruksi pertama-tama pada bagian luar rangka fasial (outer facial frame) pada fraktur panfasial yaitu meliputi lengkung zygomatik. kompleks malar dan tulang frontalis. reduksi dan fiksasi zygoma dengan menggunakan panduan sutura sphenozygomatik dan sutura zigomatiko maxilary. C dan D. Tehnik bottom up dan inside out.

Gbr 8.rangka fasial (inner facial frame) atau pada kompleks naso-orbitho-ethmoidal. Selain itu cangkok tulang dilakukan untuk koreksi sekunder bila 344 . Setelah itu dilakukan rekonstruksi pada maksila pada Le Fort I dengan menggunakan plat pada buttress. sutura zygomatikofrontalis dan orbital rim. Kemudian reposisi pada fraktur mandibula dan diakhiri dengan fiksasi intermaksilaris. Teknik top to bottom1 Cangkok tulang biasanya dilakukan untuk merekonstruksi dinding orbital dan hidung.

6. insisi pada kelopak mata bagian bawah.5 2. 2. 345 . 3. retromandibular atau submandibular. Deformitas dan obstruksi hidung dan serta 8.dibutuhkan untuk menambah kontur pada regio tertentu dan memperbaiki kesimetrisan wajah. Gigitan terbuka pada bagian anterior ( openbite anterior). 7. Kebutaan.4 Komplikasi Komplikasi yang dapat terjadi pada trauma maksilofasial adalah : 1. Berkurangnya ukuran proyeksi wajah dalam arah anterior dan posterior. periorbital. Kurangnya ketinggian wajah pada bagian posterior. Maloklusi. preaurikular. 5. sulkus gingivobukal. parastesi. Insisi koronal akan dapat memberikan pemaparan yang lebih luas pada tulang kranium dan rangka kraniofasial bagian atas. Kerusakan neurologis seperti adanya anestesi.6 Berbagai macam insisi dilakukan untuk mendapatkan pemaparan tulang yang mengalami fraktur dan merekonstruksinya antara lain dengan insisi koronal. 4. Selain itu insisi ini dapat memberikan akses yang optimal untuk dapat mereduksi dan memfiksasi fragmen tulang. Bertambahnya lebar wajah.

reduksi yang cermat dan fiksasi dari fraktur. Kunci keberhasilan pengelolaan pasien fraktur panfasial adalah dengan mendapatkan lapang pandang yang cukup luas. Daerah-daerah yang mengalami kehilangan tulang yang luas dapat dilakukan cangkok tulang. Prinsip dalam merekonstruksi adalah dengan mereduksi daerah yang anatomi yang memberikan panduan rangka wajah yang maksimal yaitu pada kerangka wajah luar. 346 .BAB III KESIMPULAN Penatalaksanaan pasien dengan trauma panfasial memerlukan diagnosa yang cermat untuk mendapatkan hasil yang memuaskan dalam merekonstruksi wajah.

J. 1996. Pedersen. drg. Management of Panfacial Fractures 9. Basoeseno. http://emedicine. 1990. M. Diagnosis and Management. Trott.A et al. Buku Ajar Praktis Bedah Mulut. Atlas of Craniomaxillofacial Osteosynthesis Miniplates.J & Simpson D. http://www. D.medscape. J. New York: Thieme 7. St Louis: Elsevier Saunders. Management of Panfacial Fractures 4. Management of Panfacial Fractures 10.com/article/1283471-overview Facial Trauma. http://emedicine. Oral and Maxillofacial Trauma. G. Facial Fracture in David. Edinburg: Churchill Livingston 6. Fonseca R. 2010. R. Microplates and Screws.medscape.com/article/1283471-overview Workup: Facial Trauma.M. 2005.medscape.R. http://emedicine. 3. http://emedicine. Hard N. and Champy.com/article/1283471-overview Facial Trauma. Berlin: Springer-Verlag 2. Craniomaxillofacial Trauma. Management of Panfacial Fractures 8.DAFTAR PUSTAKA 1. 3rd ed. Bos. Kuttenberger. Alih Bahasa: drg. Multimedia: Follow-up: Treatment: UTMB Grand Rounds-Maxillary and 347 .W. Stuttgart. Panfacial fractures : Planning an Organized Treatment in Harle F. Purwanto. Craniofacial Trauma. EGC. Jakarta.net/default Periorbital Fractures 5.medscape.otohns.A.com/article/1283471-overview Facial Trauma. 1995.

Dengan kemampuan penyembuhan yang cepat. 348 . fraktur. reposisi. Maksud dari penulisan makalah ini adalah untuk memberikan gambaran mengenai manajemen penatalaksanaan trauma pada anak-anak. fiksasi. ukuran bagian tubuh yang lebih kecil dan komplikasi yang minimal menjadi karakteristik tersendiri pada pasien anak-anak. reduksi. anak-anak. Kata kunci : trauma. Perlu di perhatikan pada penanganan kegawatdaruratan dan perawatan definitive oleh karena struktur anatomi yang sedikit berbeda dengan orang dewasa.Manajemen Trauma Pada Anak-Anak Arismunandar 160121120005 Peserta Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut Dan Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Bandung Abstrak Manajemen trauma oromaksilofasial pada pasien anak-anak sedikit berbeda dengan orang dewasa.

4 Adanya perbedaan antara pasien anak dan dewasa mempunyai dampak terhadap pola trauma pada anak-anak pada umumnya dan trauma maksilofasial khususnya. Kurangnya sinus pneumatization dan tunas gigi dalam rahang berkontribusi terhadap stabilitas dan rendahnya prevalensi pada fraktur midface . ada karakteristik tertentu dari trauma orofasial pada anak-anak yang harus selalu diingat. Karena faktor ini. tulang lebih elastis. mereka lebih rentan menghadapi resiko hipotermia.2 Faktor-faktor ini juga berkontribusi terhadap rendahnya frekuensi fraktur fasial pada anak-anak dan seringya terjadi greenstick dan nondisplaced fraktur pada anak-anak. 349 . Anak-anak memiliki permukaan yang lebih tinggi-untuk-rasio volume tubuh. oleh karena vaskularisasi jaringan yang baik dari wajah. Kedua.3 Oleh karena itu. garis sutura lebih fleksibel. 3 Ukuran tubuh anakanak yang lebih kecil juga berpengaruh. darah total yang lebih rendah volume. tingkat metabolisme lebih tinggi.BAB I PENDAHULUAN Pasien trauma orofasial pada anak-anak berbeda dari orang dewasa dengan luka yang serupa oleh karena trauma yang terjadi. pemulihan jaringan orofasial yang rusak dapat dimaksimalkan dan hilangnya fungsi dapat diminimalkan. dan adanya lapisan adiposa yang menutupi kerangka lebih tebal daripada pada orang dewasa. 1. dan stroke volume lebih kecil daripada orang dewasa. Ini termasuk anatomi wajah yang belum dewasa. Pada pasien pediatrik. cedera pada wajah karena trauma berpengaruh pada pertumbuhan.2 Disamping keuntungan ini. oxygen demand. akan menyebabkan gaya yang lebih besar per unit masa tubuh. pada pasien anak-anak memiliki keuntungan dari kemampuannya untuk menyembuhkan yang cepat dengan komplikasi yang minimal. trauma orofasial pada anak-anak tidak dapat dikelola dengan cara yang sama seperti pada orang dewasa. Pertama. melalui pertumbuhan dan kemampuan yang melekat pada anak-anak untuk beradaptasi. yang membuat tindak lanjut penanganan jangka panjang pada pasien anak-anak wajib diperhatikan. dan curah jantung. saat terjadi trauma.

Oleh karena itu maka pemeliharaan jalan nafas. serta lebih besar insiden cedera tengkorak dalam kelompok usia yang lebih muda. insiden patah tulang rahang midface dan meningkat sedangkan insiden cedera kranial berkurang.3.5:1 pada dewasa.hipotensi. Ini juga menjelaskan mengapa.3 Dibandingkan dengan orang dewasa. dengan bertambahnya usia. dan resusitasi awal lebih kritis pada anak-anak daripada orang dewasa. insidensi fraktur midface dan tulang mandibula pada anak-anak lebih rendah. dan hipoksia setelah kehilangan darah dan bahkan pembengkakan ringan pada saluran napas atau terjadinya obstruksi mekanis. pengendalian perdarahan. Perlindungan ''relatif'' wajah oleh tulang tengkorak memberikan informasi bahwa.4 350 . Rasio cranial to body mass diperkirakan 8:1 pada masa bayi dan 2. anak-anak memiliki rasio cranial to body mass lebih besar.

Secara keseluruhan menunjukkan bahwa.1 Dilema sering muncul ketika harus memutuskan perawatan yang terbaik untuk penatalaksanaan trauma orofasial terutama pada pasien anak-anak. kategori anak-anak berada pada usia 1-11 tahun.4 Prinsip umum penatalaksanaan fraktur (recognition. anak-anak harus dibedakan berdasarkan usia tumbuh kembangnya. Tulang kranium kepala besar dan struktur wajah yang relatif kecil.BAB II TINJAUAN PUSTAKA Epidemiologi Etiologi cedera pada wajah bervariasi dengan usia. Pertumbuhan fasial terus berlangsung sampai pada dekade kedua kehidupan hingga ratio kraniofasila menjadi 2:1. penyebab paling umum cedera pada wajah adalah kecelakaan kendaraan bermotor apakah anak sebagai penumpang atau pejalan kaki. Pada perawatan IMF yang menghambat tumbuh kembang 351 . Infant dikategorikan pada usia kurang dari 1 tahun. reduction.3. 2. Awalnya.4 Anatomi Dan Patofisiologi Proporsi wajah anak-anak sangat berbeda dari yang orang dewasa. stabilization. kranium tumbuh lebih cepat daripada wajah. Rasio kraniofasial saat lahir adalah 8:1 dan wajah tersembunyi di bawah tulang kranium yang relatif besar. dan dewasa muda berada pada usia 11-19 tahun. Oleh karena alasan tersebut maka tulang kranium lebih sering terkena trauma sebelum usia ke-7 daripada trauma yang terjadi pada wajah. Walaupun kebanyakan dokter mengkategorikan pasien yang sedang dalam masa tumbuh kembang sesuai dengan kesar tubuh anak-anak tersebut.3. Otak dan ocular pertumbuhan hampir selesai pada usia tujuh. Peran dan fungsi rahang sebagai modulator pertumbuhan mandibula tidak terbantahkan. Potensi penyembuhan dan remodeling tulang pada anak-anak lebih besar daripada orang dewasa. & fixation) harus diterapkan disamping tetap mempertimbangkan dampak yang terjadi terhadap tumbuh kembang anak-anak di masa mendatang. mencapai 80% dari ukuran dewasa pada usia dua tahun.

Komposisi tulang dengan lebih banyak tulang kanselus menyebabkan kurang kondusif dilakukan screw/ wire fixation untuk internal fiksasi. 352 . kesulitan intubasi. screws ataupun wires. jika pemasangan IMF dilakukan untuk jangka waktu yang singkat. closed reduction menjadi pilihan solusi penanganan pada kebanyakan fraktur fasial. Tidak seperti pada orang dewasa.3 Psikologi anak-anak Stress trauma dan bedah akan berpengaruh pada psikologi anak-anak.wajah efeknya bersifat reversible.2. Selama periode infant. Selama fase mixed dentition mungkin akan sulit didapatkan IMF yang stabil pada perawatan closed dan open reduction.2 Fraktur greenstick lebih sering dijumpai pada pasien anak-anak oleh karena tulang korteks yang tipis dan meningkatnya bagian medulla tulang menyebabkan tulang tahan terhadap benturan.1. pada anak-anak penyebab umum terjadinya gangguan jantung oleh karena gangguan sekunder pernafasan. dan mudahnya self-extubation.4 Anatomi jalan nafas pada pasien anak-anak memiliki saluran yang pendek dan diameter yang kecil serta epiglotis yang sempit serta lidah yang besar pada anak. depresi dapat terjadi karena tekanan dari ingatan akan trauma dan kehilangan anggota tubuh dapat menghambat perkembangan mental pada anak. rawat inap rumah sakit. trauma dan bedah akan mengganggu alur makan dan tidur infant. Oleh karena alasan tersebut. mudahnya tejadi obstruksi. Ketika perawatan open reduction menjadi pilihan. harus diperhatikan bahwa jangan sampai tindakan tersebut mempunyai efek terhadap tumbuh kembang wajah akibat penempatan bone plates. 1. Aktivitas osteogenic dan bone remodeling yang aktif pada anak-anak menyebabkan fraktur yang terjadi baik pada maksila ataupun pada mandibula yang jika tidak segera dilakukan reduksi dalam beberapa hari maka akan sulit didapatkan reduksi yang adekuat dikemudian hari. Pada usia yang lebih dewasa. Pada anak-anak dan bayi rigiditas dada kurang bila dibandingkan dengan dewasa. Hampir tidak ada/ jarang ditemukan kasus nonunion pada fraktur fasial pada anak-anak. Kondisi ini menyebabkan meningkatnya airway resintance.

7 fraktur zygoma dan maksila. 5% dari semua kasus fraktur fasial terjadi pada anak-anak dibawah umur 12 tahun dan kurang dari 1% terjadi pada anak-anak dibawah umur 6 tahun. Perawatan khusus harus diberikan untuk menjaga keadaan mental pasien anakanak. Walaupun PTSD bukanlah kelainan yang fatal. 1 Studi yang dilakukan McCoy et al. Analisa yang dilakukan Rowe pada 1500 kasus fraktur fasial ditemukan bahwa. kemudian diikuti trauma pada ekstremitas. 15. 11. Fraktur pada midface pada anak-anak ditemukan kurang dari 1% dan 4% disertai variasi fraktur Le Fort I. Konsultasi dengan psikiatri dan layanan social lainnya penting untuk menghasilkan kesehatan yang sempurna pada anak-anak. Posnick et al mendapatkan dari 137 pasien. 51. 19% pada dinding media.6% fraktur orbita. 32 % fraktur orbita pada dasar orbita. 8.1 353 . trauma kepala sering menyertai fraktur fasial. 18% pada atap orbita. Pada kasus kecelakaan kendaraan bermotor yang terjadi/ melibatkan anak-anak. keadaan ini dapat memicu pertumbuhan mental pasien kea rah yang tidak wajar. Pada pasien anak-anak. Insiden Fraktur Fasial Fasial fraktur pada anak-anak jarang terjadi pada anak-anak. menemukan 42 % dengan fraktur fasial (6-12 tahun).Post Traumatic Stres Disorder (PTSD) dapat muncul setelah luka pada individu muda yang tidak pernah mengalami luka yang serius ataupun rawat inap pada lingkungan rumah sakit. menemukan bahwa 40% kasus fraktur fasial berkaitan dengan fraktur kranium.4% terjadi faraktur nasal.5% fraktur mandibula.

fragmen fraktur mandibula. Perdarahan dari kulit kepala. Perubahan status mentalis. Jika diduga dehidrasi moderate maka maintenance awal 5mL/ Kg per jam selama 2 354 . berkurangnya nadi perifer. Kalkulasi terapi maintenance pada anak-anak berkisar 1500 mL + 20 mL/kg untuk berat badan yang lebih dari 20 Kg per hari. Maintenance terapi untuk mengkompensasi kehilangan cairan insensible (paru & keringat) dan sensible (urine & stool). Pembengkakan karena trauma maksilofasial. muntah. jika kurang dari 6 tahun. delayed capillary refill. Stabilisasi tulang servikal sampai kondisi dinyatakan clear.BAB III PEMBAHASAN Manajemen Kegawat-daruratan Pemeliharaan jalan nafas.4 Cairan Dan Elektrolit Resusitasi cairan merupakan komponen penting pada manajemen perioperatif pada pasien trauma anak-anak. akses intraosseus bisa dilakukan sampai akses intravena didapatkan. wajah. kontrol perdarahan dan stabilisasi tulang servikal merupakan langkah utama pada manajemen kegawatdaruratan pada pasien anak-anak dengan trauma orofasial. pencegahan terjadinya aspirasi. Kemungkinan terjadi kehilangan cairan pada kondisi adanya luka terbuka. diare. leher dan mulut harus dikontrol dengan penekanan dan dilakukan penjahitan bila perlu. resusitasi cairan dengan 2 cateter intravena diperlukan. Mulut dan pharynx harus terbebas dari kotoran dan intubasi dilakukan jika diperlukan. dan hipotermi adalah tanda-tanda shock dan memerlukan segera resusitasi cairan dengan cairan intravena yang hangat untuk mengembalikan ke kondisi semula. Kebutuhan cairan pada anak-anak terdiri dari maintenance dan replacement. Dengan adanya trauma. dapat membahayakan saluran pernafasan pada anak-anak dengan trauma maksilofasial. respiratory compromise. Untuk terapi maintenance dikalkulasikan dengan estimasi caloric expenditure dari berat badan dan luas permukaan tubuh.

Tanda-tanda shock meliputi tachycardia. Pada anak-anak dengan multisystem trauma harus dipertimbangkan kemungkinan terjadinya perdarahan. Bolus diulang sampai total 60 mL/Kg . Penggunaan NS bisa memicu terjadinya hipernantremi ketika diberikan untuk maintenance karena kandungan sodium yang tinggi (154 mEq/L) dan juga karena kemampuan bayi untuk mengekskresikan kelebihan sodium berkurang. D5 dengan ½ NS). Terapi cairan untuk maintenance biasanya larutan hipotonis dengan konsentrasi Na dan K yang memadai ( 5% dextrose [D5] dengan ¼ NS. Output urine diharapkan 1-2 mL/ Kg per jam pada anak-anak. Serta juga dapat menyebabkan hiperchloremic pada neonates jika digunakan dalam jangka waktu yang lama. yang mewakili 25% volume darah normal pada anak-anak. pallor. serta kemungkinan adanya red cell isoantibodies. Penggunaan cairan isotonis dianjurkan karena aktif secara osmosis dan menyebabkan ekspansi intravascular. karena kandungan chloride didalamnya adalah nonphysiologic chloride.karena tiga kali jumlah crystalloid diperlukan untuk menggantikan volume darah yang hilang.3 Blood Loss Dan Replacement Tujuan utama manjemen terapi cairan pada anak-anak adalah untuk mengenali dan mengatasi kondisi yang mengancam nyawa dan mengeliminasi kondisi sekunder karena trauma yang terjadi.1. Penggunaan cairan hipotonis tidak dianjurkan pada resusitasi karena menyebabkan menurunnya crystalloid osmotic pressure.1.3 355 . dan pre renal azotemia. Compatibility test harus dilakukan sebelum dilakukan transfusi untuk menentukan golongan darah dan Rh recipient.5-2 mL/ Kg per jam. Darah merupakan agen yang sangat efektif untuk mengoreksi defisit intravascular. poor filling capillary refiil. Ketika kondisi hemodinamik sudah tidak stabil maka perlu diberikan bolus crystalloid fluid.jam pertama dan berkurang sampai 1. Resusitasi untuk hipovalemia dapat dimulai dengan pemberian crystalloid bolus 20 mL/Kg. Pada kasus trauma pada anak-anak operator harus jeli memonitor kondisi klinis pasien jika sewaktu-waktu terjadi shock dan dibutuhkan resusitasi cairan. transfusi PRC 10-20 mL/Kg.

dan identifikasi perdarahan dari rongga mulut. dan kelainan pergerakan bola mata. Sedasi selama periode tersebut mungkin sangat diperlukan tetapi harus dihindari karena kondisi pasien masih dalam masks neurologoc changes. respiratory failure. Identifikasi adanya pembengkakan yang terjadi dan kemungkinan terjadinya fraktur pada struktur tulang dibawahnya. Pada pasien recovery. atau adanya hemotympanum. berikan secara parenteral. Palpasi regio orbita dan nasal untuk mengetahui adanya deformitas tulang pada daerah tersebut.3 Pemeriksaan klinis Perhatikan airway. perdarahan hidung. 1. kemudian diikuti evaluasi kardiopulmonal.subcutaneous emphysema. adakah diplopia. parestesi wajah. Karena jalan nafas yang relatif sempit maka kemungkinan dampak karena oedem dan pembengkakan semakin besar. Adanya deviasi waktu membuka mulut curigai adanya fraktur pada kondil mandibula. Perhatikan dan observasi tanda-tanda vital untuk menentukan apakah pasien stabil atau dalam kondisi sebaliknya. 356 . subcutaneous emphysema. oedema fasial. Ketika terjadi fraktur orbita lakukan tes visual . sering terjadi kondisi hypercatabolic yang memerlukan oral intake yang adekuat untuk mencukupi nutrisi yang dibutuhkan tubuh. Konsultasikan ke neurosurgical jika ada riwayat pingsan. battle’s sign. intake makanan dalam bentuk mechanical diet yang tidak dikunyah atau dalam bentuk cairan jika terpasang IMF. rhinorea. Adanya battle’s sign (postauricular echymosis) curigai adanya basal skull fracture. periorbital ecchymosis. subconjunctival hemorrhage. massive edema hindari pemberian makan secara enteral selama kurang lebih 3 hari atau lebih. terutama pada pasien dengan trauma midface yang parah. Adanya kelainan maloklusi. Ketika pasien dalam kondisi severe neurologic injury. atau adanya gigi yang tanggal curigai adanya fraktur rahang.Nutrisi Pada pasien anak-anak paska penatalaksanaan tindakan bedah. dan krepitasi yang terjadi. perubahan status mentalis. Adanya laserasi atau kontusi pada daerah dagu waspadai kemungkinan terjadinnya fraktur pada kondil mandibula.

1. Town’s projection. Pada pasien dengan alveolar bone loss dapat dilakukan autogenous bone grafting dengan pengambilan tulang berasal dari mandibular ramus. schede AP lateral. Pemeriksaan lengkap pada wajah meliputi. Penggunaan CT-Scan telah menjadi kegiatan rutin dinegara-negara besar dan menjadi standar perawatan menggantikan pemeriksaan radiologi konvensional. Fiksasi gigi dengan composite supported orthodontic wire extended1 357 .1 % dan 50. Panoramic foto merupakan alat diagnostic lainnya yang diperlukan tetapi menuntut kerjasama pasien untuk diam selama berlangsung pemaparan. 1.2 Pemeriksaan Radiologi Pemeriksaa radiologi perlu dilakukan untuk membantu menegakkan diagnosa.Anamnesa yang akurat tentang riwayat trauma pada pasien ataupun pengantar sangat membantu perencanaan tindakan berikutnya.2. Prosentasenya berkisar 8. os mental atau tulang kranial.3 TIPE FRAKTUR 1. Water’s view dan submental vertex. wire ligation serta composite supported orthodontic wire extended pada gigi disekitarnya. Pada fraktur alveolar maksila berkisar antara 5% sampai 65%.6 % pada trauma fasial pada anak-anak. Penanganan fraktur alveolar meliputi imobilisasi segmen fraktur dengan arch bar.1 Gambar 1. Fraktur Alveolar Fraktur mandibular alveolar pada anak-anak merupakan yang paling sering terjadi pada fraktur fasial.

Fraktur nasal sering terjadi pada cedera midfasial anak-anak. Epistaksis sering terjadi menyertai trauma pada hidung dan mudah dikontrol dengan melakukan penekanan pada nostril selama 5-10 menit dengan kepala sedikit ditengadakan. dilakukan setelah 3-4 hari setelah terjadinya trauma. Tulang hidung dapat direposisi dengan pendekatan intranasal. dan hal ini harus dihindari.2. dan jika terjadi deformitas maka harus dilakukan closed reduction. Nasal packs dapat digunakan untuk menyangga tulang dan septum hidung yang telah direposisi. Seperti pada fraktur nasal orang dewasa maka oedema terjadi disekitar struktur os nasalis. Setelah dilakukan reduksi dengan kaudal traksi. untuk mencegah terjadinya aspirasi dari darah karena darah mengalir ke posterior pharynx. Fraktur Midfasial Fraktur Nasal. dan membiarkanya beberapa saat selama proses penyembuhan. 358 . Fraktur nasal yang terjadi sebelum proses tumbuh kembang selesai harus di perlakukan sama seperti fraktur nasal pada orang dewasa. Jika terjadi terjadi deviasi septum maka harus dilakukan reduksi. Reseksi pada septal cartilage dapat menyebabkan gangguan Pemeriksaan ulang pertumbuhan wajah. bukan hiperekstensi kebelakang. 1 Splinting eksternal dapat membantu untuk mengontrol pembengkakan dan menyediakan perlindungan pada hidung setelah dilakukan reposisi. Adanya gangguan pertumbuhan setelah terjadinya fraktur nasal akan menyebabkan penutupan premature dari sutura septovomerine.

Intervensi bedah pada toothbearing area pada maksila untuk penempatan kawat untuk stabilisasi atau plate meningkatkan insiden terjadinya gangguan perkembangan benih gigi dan sedapat mungkin dihindari. Jika terjadi fraktur dan terjadi maloklusi maka dapat dilakukan closed reduction. Sebelum usia 7 tahun.2 Fraktur Orbita. kemudian model dipotong untuk memfasilitasi konstruksi pembuatan splint untuk closed reduction. dan jaringan lunaknya lebih banyak jaringan lemak. dinding lateral. (A) Deviasi ke kanan setelah trauma pada wajah. sebagian besar fraktur pada orbita terjadi pada atap orbita dan meluas ke sinus frontalis. cedera pada atap orbita. Jejas pada nasal merupakan fraktur wajah yang sering terjadi pada pasien anak-anak. Hal ini dikarenakan sinus masih dalam perkembangan. dan dilakukan pada kondisi tertentu. Penatalaksanaan fraktur orbita pada anak-anak umur 7 tahun ke atas sama dengan penatalaksanaan pada fraktur orbita orang dewasa. (B) Setelah reduksi tertutup. Aperture piriformis dan dinding zygomaticomaxillary tebal . dasar dan sinus frontalis lebih sering terjadi . Fraktur Le fort pada anak-anak jarang ditemui oleh karena maksila pada anak-anak masih tulang kanselus. Setelah usia 7 tahun. Adanya disfigurement wajah. 1 Fraktur Maksila.1. Pencetakan dilakukan dan pembuatan model.Gambar 2. adanya keterbatasan gerak bola mata. prolaps 359 . gigi belum tumbuh dan sinus maksilaris masih belum sempurna. karena sebagian besar perkembangan orbita telah selesai.

2 360 . Untuk eksplorasi regio frontozygomatico dapat dilakukan insisi di sekitar alis mata. Untuk eksplorasi daerah infraorbital rim. Karena pada anak-anak lipatan kantung mata belum terbentuk maka insisi bisa dilakukan parallel dengan batas kantung mata dan sedikit bersudut ke inferior hal ini untuk mengurangi terbentuknya jaringan parut. dan jika gigi permanen belum tumbuh. (B) Durante op dengan gambaran impaksi frontal dan rima supra orbita yang memerkukan dilakukannya craniektomi untuk akses dan pebaikan. Fraktur fronto-rima orbitalis superior terjadi karena adanya tumbukan yang cepat kearah benda diam. Untuk menghindari hal tersebut maka sedapat mungkin kawat atau screw harus ditempatkan dengan posisi cephalic diatas rim.periorbita ke athrum atau sinus ethmoidalis dan adanya diplopia yang persisten merupakan indikasi dilakukan open orbital exploration. Insisi dibuat 7 mm dari tepi bawah kantung mata. Jika dilakukan fiksasi internal maka kawat ditempatkan pada inferior orbital rim. kemungkinan tunas benih gigi akan terkena. dasar orbita dan dinding medial dapat dilakukan pendekatan dengan melakukan insisi pada lipatan inferior kantung mata atau melalui transconjunctival approach. (A) Edema pada fronto-periorbita dextra dan ekimosis setelah trauma. dan diseksi dilakukan ke otot orbicularis oculli terus sampai ke bawah pada orbital rim. Gambar 3.

tapi karena pentingnya harus digaris bawahi karena potensialnya yang bisa menyebabkan gangguan pada pertumbuhan tulang wajah. Menurut Ochs MW FR. Pertumbuhan midface tergantung dari pertumbuhan fossa cranii anterior.3 Jika dasar orbita atau dinding medial fraktur maka akan terjadi prolaps bola mata ke anthrum atau sinus ethmoidalis.Gambar 4. Prolaps yang terjadi harus dikembalikan dan dasar atau dinding harus didukung dengan bone graft untuk mencegah enophthalmus. disamping bisa dilakukan insisi pada nasal dorsum dan juga perluasan insisi dari insisi inferior kantung mata yang meluas ke tulang hidung bagian lateral. Fraktur ini relatif jarang dijumpai pada anak-anak. In: Fonseca RJ. Insisi koronal dilakukan 361 . orbita dan septum nasalis. Ketika dilakukan open reduction pada daerah ini maka periosteum akan dipisahkan dari tulang orbita dan nasal dan kondisi ini sendiri berpotensial menghambat pertumbuhan wajah. Potongan cross-seksi dari inferior palpebral dan variasi dari insisi pada dasar. Regio ini dapat diakses melalui pendekatan insisi koronal untuk hasil estetik yang memuaskan. Orbital trauma.1.2 Fraktur Nasal-Orbita-Ethmiodal. Open reduction kompleks pada nasal-orbita-ethmoid dilakukan 4 hari setelah trauma dan dengan gangguan seminimal pada septum nasalis.

Studi terbaru menemukan bahwa penyuntikan botulinum pre-op dapat menahan tarikan otot masseter kearah inferior sehingga mengurangi kemungkinan displacement fraktur post reduction oleh karena tarikan otot masseter. tetapi jika terjadi depressed dan comminuted fracture perlu dilakukan open reduction dan fiksasi.dibelakang hairline pada kulit kepala dan dimulai setinggi dari telinga. Penatalaksanaan pada fraktur ini dilakukan jika terdapat deformitas atau terjadi trismus. Jika terjadi maka pendekatan dilakukan melalui intra oral atau Gilles approach. Seiring dengan bertambahnya usia tulang zygoma semakin menonjol dan prevalensi kejadian fraktur pada arkus zygomatikus juga meningkat.2 362 .1. meliputi pendekatan hemicoronal. Pada fraktur greenstick atau minimal displaced hanya dibutuhkan observasi saja. maksilaris. sublabial. sphenoid dan tulang temporal maka reduksi dan reposisi biasanya melalui multiple approaches.41 % dari seluruh populasi trauma pada anak-anak. Gangguan pertumbuhan oleh karena fraktur ini jarang terjadi. Kadang-kadang insisi meluas sampai ke regio preauricular bila diinginkan lapang pandang yang luas. Fraktur pada arkus zygoma terjadi dengan prosentase 7. Penatalaksanaan pada fraktur ini hanya jika dibutuhkan dan sama seperti pada orang dewasa. Jika terjadi fraktur zygoma kompleks atau Quadrapod yang melibatkan disartikulasi tulang zygoma dengan tulang frontal.dan transconjuctival.1 Fraktur Arkus Zygomatikus.

Pasien harus latihan buka tutup mulut. memajukan mandibula dan lateral excursion. keadaan malar dapat dilihat. Kelly clamp dapat digunakan untuk mereposisi fraktur ini. Fraktur Mandibula Fraktur Kondil. Fraktur pada kondil semasa kanak-kanak berpotensi dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan wajah. Fraktur zigomatic dengan defisiensi malar disertai dengan infraorbital (V2) parastesi. (A) Setelah pembengkakan awal. (B) Post-bedah dengan reduksi intraoral dan pemasangan plat fiksasi2 Gambar 6. Pendekatan dengan Gilies untuk reduksi arkus zigomatikus2 Penggunaan double ended periostel elevator. dengan pendekatan insisi pada regio temporalis. Trismus post-op sering terjadi dan akan berkurang dalam dalam beberapa minggu. Kondil mandibula merupakan daerah yang paling sering cedera dengan tingkat 363 . 3.Gambar 5.

Closed reduction dengan IMF elastis dengan kurun waktu 1-2 minggu. nyeri pada preauricular. dan laserasi submental merupakan pertanda adanya fraktur kondil. Jika fraktur kondil teridentifikasi. anterior open bite. Trismus dan keterbatasan membuka mulut merupakan gejala adanya fraktur pada kondil. Mobilisasi segera. tetapi tidak terjadi maloklusi maka tidak perlu dilakukan immobilisasi. keterbatasan pergerakan. darah pada canalis meatus acusticus.5%-60%. Karena proses penyembuhan yang cepat pada anakanak. Pada pemeriksaan fisik. Fraktur pada kondil mandibula dapat dikategorikan fraktur kondil terbuka (capsular disruption) dan tertutup (intracapsular). 364 .insidensi 14. mandibula mengalami deviasi kesisi yang fraktur jika terjadi dislokasi pada proksimal segmen. oklusi . maka pertumbuhan mandibula akan berlangsung secara simetris. Jika posisi mandibula dan oklusi dapat dicapai dan dipertahankan selama 6 bulan . pembengkakan. Adanya asimetri maloklusi. Tanda dan gejala fraktur kondil pada anak-anak sama dengan tanda dan gejala pada fraktur kondil orang dewasa. dan diet lunak menghambat terjadinya fibrosis dan penyatuan tulang serta mengembalikan stimulasi otot-tulang penting untuk kelanjutan pertumbuhan simetris wajah. maka immobilisasi dilakukan tidak terlalu lama dengan pertimbangan kalau terlalu lama maka akan berpotensi terjadi ankylosis. Perawatan. Open reduction dilakukan jika terjadi terjadi displaced segmen kondil pada fossa cranial media atau jika terdapat benda asing. terapi fisik. Goal dari penatalaksanaan pada fraktur kondil mandibula untuk mengembalikan ke simetrisan mandibula. Deviasi terjadi karena pemendekkan ramus. deviasi mandibula waktu buka dan tutup mulut. Closed fracture pada kondil dapat dilakukan closed reduction kecuali oklusi normal tidak tercapai. dan fungsi tanpa gangguan pertumbuhan dimasa mendatang.

Pada pasien di bawah 2 tahun biasanya hanya di observasi dan diet lunak. Sering terjadi greestick fraktur pada regio ini. dan wiring. Ilustasi 3 kranium dengan usia yang berbeda (A: 2 tahun. dilakukan reduksi. Arch bar dapat dipasang pada gigi sulung dengan bantuan circummandibular. Open reduction pada pasien anak- 365 .Ketika terjadi maloklusi atau mandibula asimetri serta adanya fraktur kondil. circum-zygomatic. dan terjadi sedikit displacement. kemungkinan hal ini dikarenakan tulang mandibula yang elastic dan tertanamnya benih gigi sehingga memegang fragmen fraktur. piriform atau circumzygomatic wires. Fraktur bodi dam simfisis mandibula pada anak-anak terjadi seiring dengan berkembangnya gigi geligi dan biasanya selalu melibatkan trauma pada rongga mulut. B: 6 tahun. (Posnick JC.) 2 Fraktur Bodi Dan Simfisis Mandibula. Open reduction pada fraktur kondil jarang dilakukan. infraorbital. C: 12 tahun). maka reduksi untuk mencapai oklusi awal dan posisi mandibula ke posisi awal dapat dicapai dengan IMF atau traksi elastic.1. Perbedaan metode stabilisasi dengan arch bar pada variasi umur termasuk circummandibula. Pada fraktur ini penatalaksanaan dengan pemberian antibiotic. dan stabilisasi dari fraktur.2 Gambar 7. Intervensi bedah diindikasikan jika segmen kondil displaced ke fossa cranial atau adanya keterbatasan gerakan karena posisi segmen fraktur.

1.2. 4) (C) Gambar 8.anak jarang dilakukan. Fraktur mandibular yang menyebabkan openbite. Pada umur antara 5-12 tahun. (B) Reduksi intraoral dan plat fiksasi yang dapat di resorbsi. Jika memungkinkan. Perkembangan yang terbaru. yang terjadi pada posterior ramus dan kondulus. FDA menyetujui penggunaan resorbable plating systems untuk penatalaksanaan fraktur mandibula. (C) Penggunaan plat yang dapat di resorbsi pada anak usia 4 tahun. (A) fraktur parasimfisis mandibular dengan separasi antara kaninus dan premolar. dapat dilakukan pemasangan circummandibular wires atau fiksasi skeletal. Fiksasi maksilomandibular dapat dilakukan dengan pemasangan erich arch bar. closed reduction untuk penanganan fraktur tersebut dengan pertimbangan jika dilakukan open reduction akan mengganggu perkembangan tunas gigi. 4 366 .4 (Fig. sehingga pada penggunaan sistem ini tanpa dilakukan pengambilan plate dan terjadinya migrasi dari plate oleh karena pertumbuhan tak perlu dikhawatirkan lagi. Hampir pada semua kasus fraktur pada regio ini penatalaksanaannya dapat dengan menggunakan teknik closed reduction.

Mayoritas dari fraktur ini dapat ditangani secara konservatif. stabilization. Jika memang dibutuhkan tindakan bedah. reduction. 367 . & fixation) harus diterapkan disamping tetap mempertimbangkan dampak yang terjadi terhadap tumbuh kembang anak-anak di masa mendatang.BAB III KESIMPULAN Fraktur wajah pada anak jarang terjadi. harus dilakukan dengan hati-hati untuk mencegah terjadinya gangguan pertumbuhan Manajemen trauma oromaksilofasial pada anak-anak sedikit berbeda dengan orang dewasa namun pada intinya sama karena pada anak-anak masih dalam proses tumbuh kembang. tapi dapat mengakibatkan tingkat morbiditas yang signifikan jika tidak ditangani dengan baik. Prinsip umum penatalaksanaan fraktur pada trauma oromaksilofasial pada anak-anak (recognition.

1990. Kaban. Fonseca. Vol 2. Marcell Dekker. Taylor & francis Group.DAFTAR PUSTAKA 1. NJ. 2004. Wesson DE. Thaller SR. Oral and Maxilofacial Trauma. 3. W. Barber HD. Mc Donald WS. 3rd ed. 2. 2005. Betts. RV. Facial Trauma. W. Saunders Company. Pediatric Trauma. LB. 4.B. 368 . New York. Philadelphia.B. New York. Elsevier-Saunders company. Pediatric Oral and Maxillofacial Surgery. Walker. Philadelphia. RJ. 2006.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful