Cara Melakukan Pemeriksaan Trauma Oromaksilofasial dan Penanganan Kegawat-daruratan Trauma Oromaksilofasial

Melva Sirait 160121120001

Peserta Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut Dan Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Abstrak : Trauma oromaksilofasial adalah trauma yang menyebabkan cedera pada jaringan lunak mulut, dentoalveolar, serta fraktur wajah. Cedera pada pada jaringan lunak dapat berupa abrasi, kontusio, laserasi dan luka bakar. Kasus trauma oromaksilofasial adalah kasus yang cukup banyak ditemukan di unit gawat darurat hampir sebagian besar rumah sakit. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa penyebab trauma oromaksilofasial paling banyak disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas dan korban tersebut ternyata lebih banyak dialami oleh laki-laki. Terapi yang dilakukan pada penderita pun bervariasi mulai dari hanya pemberian obatobatan, penjahitan luka, pencabutan gigi, alveolektomi, serta reposisi dan fiksasi. Kelainan-kelainan seperti disebut di atas, mengharuskan kita untuk

melakukan pemeriksaan yang lebih lengkap, konsultasi kepada bagian lain yang terkait karena trauma maksilofasial dapat menjadi kasus yang kompleks dan mungkin diperlukan keterlibatan multispesialis dalam manajemennya.

Kata kunci: Trauma oromaksilofasial, pemeriksaan trauma, penanganan trauma

1

BAB I PENDAHULUAN

Trauma oromaksilofasial berhubungan dengan cedera apapun pada wajah atau rahang yang disebabkan oleh kekuatan fisik, benda asing atau luka bakar. Trauma oromaksilofasial termasuk cedera pada salah satu struktur tulang ataupun kulit dan jaringan lunak pada wajah. Setiap bagian dari wajah mungkin dapat terpengaruh. Gigi dapat lepas atau goyang. Mata dengan otot-ototnya, saraf dan pembuluh darahnya mungkin mengalami cedera sehingga dapat menyebabkan gangguan penglihatan, diplopia, pergeseran posisi dari bola mata dan juga seperti halnya rongga mata yang dapat retak oleh pukulan yang kuat. Kerusakan jaringan lunak seperti edema, kontusio, abrasi, laserasi dan avulsi. Rahang bawah (mandibula) dapat mengalami dislokasi. Meskipun dilengkapi oleh otot-otot yang kuat untuk mengunyah, rahang termasuk tidak stabil bila dibandingkan dengan tulang-tulang lainnya sehingga dengan mudah mengalami dislokasi dari sendi temporomandibular yang menempel ke tengkorak.1 Kelainan-kelainan seperti disebut di atas, mengharuskan kita untuk melakukan pemeriksaan yang lebih lengkap, konsultasi kepada bagian lain yang terkait karena trauma maksilofasial dapat menjadi kasus yang kompleks dan mungkin diperlukan keterlibatan multispesialis dalam manajemennya. Trauma oromaksilofasial merupakan salah satu tantangan terbesar untuk pelayanan kesehatan masyarakat di seluruh dunia karena insidennya yang tinggi. Dari penelitian dilaporkan bahwa kecelakaan lalu lintas merupakan penyebab utama dari traumamaksilofacial. Selain itu penyebab lainnya yang tersering ialah kekerasan fisik, konsumsi alkohol yang dapat memicu terjadinya tindakan kekerasan dan kecelakaan, serta trauma oromaksilofasial akibat olahraga.

2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Defenisi Trauma oromaksilofasial adalah suatu ruda paksa yang mengenai wajah dan jaringan sekitarnya.2 Trauma pada jaringan oromaksilofasial dapat mencakup jaringan lunak dan jaringan keras. Yang dimaksud dengan jaringan lunak wajah adalah jaringan lunak yang menutupi jaringan keras wajah. Sedangkan yang dimaksud dengan jaringan keras wajah adalah tulang kepala yang terdiri dari : 1 1. Tulang hidung 2. Tulang arkus zigomatikus 3. Tulang mandibula 4. Tulang maksila 5. Tulang rongga mata 6. Gigi 7. Tulang alveolus 2.2 Etiologi 1,3,4,5,6 Penyebab trauma oromaksilofasial bervariasi, mencakup kecelakaan lalu lintas, kekerasan fisik, terjatuh, olah raga dan trauma akibat senjata api. Kecelakaan lalu lintas adalah penyebab utama trauma oromaksilofasial yang dapat membawa kematian dan kecacatan pada orang dewasa secara umum dibawah usia 50 tahun dan angka terbesar biasanya terjadi pada pria dengan batas usia 21-30 tahun.
a. Fisik

Kecelakaan lalu lintas merupakan penyebab utama fisik terjadinya trauma oromaksilofasial 1. Beberapa literatur mengungkapkan terdapat hubungan antara

3

posisi duduk pengemudi atau penggunaan sistem proteksi terhadap tingkat keparahan cedera oromaksilofasial pada pasien kecelakaan lalu lintas. Selain kecelakaan lalu lintas, etiologi fisik lainnya yang merupakan penyebab trauma oromaksilofasial yaitu jatuh ketika bermain, kecelakaan kerja atau industri, kecelakaan sewaktu berolahraga, gigitan binatang, perkelahian dan lain- lain. b. Kimia Trauma oromaksilofasial akibat bahan kimia biasanya mempunyai manifestasi klinis berupa luka bakar di sekitar mulut dan wajah. Zat kimia seperti kaporit, kalium perpangat, asam kromat, fenol dan fosfor putih dapat bersifat oksidatif, juga larutan basa seperti kalium hidroksida menyebabkan denaturasi protein. Asam sulfat merusak sel karena bersifat cepat menarik air. Gas yang dipakai dalam peperangan menimbulkan luka bakar dan menyebabkan anoksia sel bila berkontak dengan kulit atau mukosa. Trauma oromaksilofasial akibat bahan kimia dapat terjadi akibat kelengahan, pertengkaran, kecelakaan kerja, kecelakaan di industri, laboratorium dan juga akibat penggunaan gas beracun pada perang. c. Elektrik Kecelakaan yang disebabkan faktor elektrik terjadi karena arus listrik mengaliri tubuh, hal ini biasa terjadi pada kecelekaan kerja petugas listrik atau dapat juga akibat petir. Pada kecelakaan tersengat arus listrik didaerah kepala, penderita dapat pingsan lama dan mengalami henti nafas, dapat juga terjadi oedem otak. d. Termis Luka bakar yang terjadi pada wajah juga dikategorikan termasuk dalam trauma oromaksilofasial, yang dapat disebabkan oleh karena benda panas, gesekan, elektrik, radiasi, atau zat kimia. 1 Trauma oromaksilofasial akibat termis dapat terjadi akibat kelengahan seperti kebakaran rumah tangga akibat gas yang meledak dan lain lain. Bagi pasien dengan kecelakaan lalu lintas yang fatal menjadi masalah karena harus rawat inap di rumah sakit dengan cacat permanen yang dapat mengenai ribuan orang per tahunnya. Berdasarkan studi yang dilakukan, 72%

4

kematian oleh trauma oromaksilofasial paling banyak disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas (automobile).

5

Berikut ini tabel etiologi trauma oromaksilofasial. 7 Persentase (%) Dewasa Kecelakaan lalu lintas Penganiayaan Olah raga Jatuh Lain-lain 40-45 10-15 5-10 5 5-10

Anak-anak Kecelakaan lalu lintas Penganiayaan/berkelahi Olah raga(termasuk naik sepeda) Jatuh 10-15 5-10 50-65 5-10

2.3 Klasifikasi Trauma oromaksilofasial dapat diklasifikasikan menjadi dua bagian, yaitu trauma jaringan keras wajah dan trauma jaringan lunak wajah. Trauma jaringan lunak biasanya disebabkan trauma benda tajam, akibat pecahan kaca pada kecelakaan lalu lintas atau pisau dan golok pada perkelahian. 8,9 2.3.1 Trauma jaringan lunak wajah 7,8 Luka adalah kerusakan anatomi, diskontinuitas suatu jaringan oleh karena trauma dari luar. Trauma pada jaringan lunak wajah dapat diklasifikasikan berdasarkan: 1. Berdasarkan jenis luka dan penyebab    Ekskoriasi Luka sayat, luka robek , luka bacok. Luka bakar

6

Luka tembak

2. Berdasarkan ada atau tidaknya kehilangan jaringan 3. Dikaitkan dengan unit estetik

Menguntungkan atau tidak menguntungkan, dikaitkan dengan garis Langer. (Gambar 1)

Gambar 1. (A) Laserasi yang menyilang garis Langer tidak menguntungkan mengakibatkan penyembuhan yang secara kosmetik jelek. B. Insisi fasial ditempatkan sejajar dengan garis Langer 9

2.3.2 Trauma jaringan keras wajah 7,8,10,11 Klasifikasi trauma pada jaringan keras wajah di lihat dari fraktur tulang yang terjadi dan dalam hal ini tidak ada klasifikasi yg definitif. Secara umum dilihat dari terminologinya (pengistilahan) : I. Tipe fraktur 1. Fraktur simpel • • Merupakan fraktur sederhana, liniear yang tertutup misalnya pada kondilus, koronoideus, korpus dan mandibula yang tidak bergigi. Fraktur tidak mencapai bagian luar tulang atau rongga mulut. Termasuk greenstik fraktur yaitu keadaan retak tulang, terutama pada anak dan jarang terjadi.

2. Fraktur kompoun • Fraktur lebih luas dan terbuka atau berhubungan dengan jaringan lunak

7

Komunisi (remuk) IV. Spiral (berputar) 4. jadi sifatnya juga seperti fraktur kompoun dengan kerusakan tulang dan jaringan lunak. Tranversal. seperti pada greenstik. seperti Osteomyelitis. kista yang besar dan penyakit tulang sistemis sehingga dapat menyebabkan fraktur spontan. Konfigurasi ( garis fraktur ) 1. disini fragmen fraktur terjadi perpindahan tempat 2. Oblique ( miring ) 3. fraktur mencakup seluruh tulang. dan kropresi ( lekuk ) III. hair line. Fraktur patologis • keadaan tulang yang lemah oleh karena adanya penyakit penyakit tulang. bahkan beberapa luka yang parah dapat meluas dengan sobekan pada kulit. 2. 4. bisa terjadi berupa : • Angulasi / bersudut 8 . Undisplacement. bisa horizontal atau vertikal. Displacement. 2. dan hampir selalu tipe fraktur kompoun meluas dari membran periodontal ke rongga mulut. 3.• Biasanya pada fraktur korpus mandibula yang mendukung gigi. Hubungan antar Fragmen 1. Komplit. Perluasan tulang yang terlibat 1. Tidak komplit. II. tumor ganas. • Bisa terbatas atau meluas. Fraktur komunisi • Benturan langsung terhadap mandibula dengan objek yang tajam seperti peluru yang mengakibatkan tulang menjadi bagian bagian yang kecil atau remuk.

Simfisis H. Angulus mandibula e. Lateral ke midline dalam regio insisivus Gambar 2. Khusus pada maksila fraktur dapat dibedakan : a. Fraktur Le Fort I. Korpus mandibula g. Fraktur blow-out (fraktur tulang dasar orbita) b. Prosesus koronoideus d. Kondilar C. Le Fort II. Ramus E. Dento-alveolar B. Prosesus kondiloideus c.10 V. Fraktur pada daerah mandibula A.• • • • Distraksi Kontraksi Rotasi / berputar Impaksi / tertanam Pada mandibula. Parasimfisis. Angulus F. Fraktur segmental maksila 9 . berdasarkan lokasi anatomi fraktur dapat mengenai daerah : a. Dento alveolar b. dan Le Fort III c. Midline / simfisis menti h. Koronoid D. Corpus G. Ramus mandibula f.

III Le Fort III (pandangan anterior) (B). II Le Fort II. III Le Fort III (pandangan sagital) 11 10 .Gambar 3. I Le Fort I. (A). II Le Fort II. I Le Fort I.

tanda. Selama primary survey.tanda vital dan mekanisme cedera.8 Pendekatan awal terhadap pasien trauma oromaksilofasial akut sedikit berbeda dengan cedera yang lain.1. adekuasi dari ventilasi. Perhatian harus segera diarahkan terhadap saluran pernapasan. Primary survey adalah penilaian terhadap keadaan penderita dan prioritas terapi berdasarkan jenis luka.BAB III PEMBAHASAN Gambar 4. Pemeriksaan Primary Survey (ABCDE) 7. Urutan kejadian trauma oromaksilofasial 9 3. keadaan yang mengancam nyawa harus dikenali dan resusitasinya dilakukan saat itu juga. dan kontrol perdarahan eksternal. 11 .

B = Breathing / Ventilation / Oxygenation Ini merupakan nilai keadaan oksigenasi dan ventilasi penderita. lebih baik memasang airway definitif (intubasi oro atau nasotracheal atau surgical crico-thyroidotomy). Menghilangkan tension pneumothoraks 4. Fiksasi leher dengan berbagai cara. Harus dilakukan segala usaha untuk menjaga jalan napas dan memasang airway definitif bila diperlukan. Jaw trust atau chin-lift dapat dipakai 3. flail chest dengan contusio paru.Ventilasi yang baik meliputi fungsi yang baik dari paru. Pemberian oksigen konsentrasi tinggi 2.8 A = Airway with C-Spine Protection Pada kasus trauma oromaksilofasial. 2. Menutup open pneumothoraks 12 . dan ini hanya dapat dikenali dengan re-evaluasi berulang terhadap airway-ini. Setiap komponen ini harus dievaluasi secara cepat. kita perlu dengan segera memperhatikan kelancaran jalan nafas. setelah memasang airway. Usaha untuk membebaskan airway dilakukan dengan menjaga jalan nafas dan melindungi vertebra servikal. 6. Luka yang mengakibatkan gangguan ventilasi berat adalah tension pneumothorax. Airway harus dijaga dengan baik pada semua penderita.dinding dada dan diafragma. apakah disana ada obstruksi atau tidak. Resusitasi: 1. Memasang naso-pharingeal airway (pasien sadar) atau oro-pharingeal airway (pada pasien tidak sadar) 5. Tidak kalah pentingnya adalah mengenali kemungkinan gangguan airway yang dapat terjadikemudian. dan open pneumothorax. Resusitasi 1.Urutan Penanganan Penderita dalam Primary survey 7. Ventilasi dengan alat bag-valve-mask 3. Bila ada keraguan mengenai kemampuan menjaga airway. Membersihkan airway dari benda asing 4.

5. Memasang pulse oximeter 13 .

Penurunan 14 . sehingga tourniquet hanya dipakai bila ada amputasi traumatik. Suatu keadaan hipotensi pada penderita trauma harus dianggap sebagai hipovolemia. dan tingkat cedera spinal. 2. Penurunan kesadaran dapat disebabkan penurunan oksigenasi dan atau penurunan perfusi ke otak yang disebabkan trauma langsung pada otak. baik perdarahan eksternal maupun perdarahan internal. Perdarahan eksternal dihentikan dengan tekanan langsung pada tempat perdarahan. ukuran dan reaksi pupil tanda-tanda lateralisasi. golongan darah. ‡ Tiga penemuan klinis yang dalam hitungan detik dapat memberikan informasi keadaan hemodinamik pasien. berikan cairan kristaloid yang dihangatkan atau pemberian darah. serta konsultasi bedah. kebutuhan untuk intervensi bedah.v ukuran besar. tes kehamilan. 3. Parameternya adalah tingkat kesadaran. 4. cross match dan analisis gas darah. Memasang NG tube dan kateter urin jika tidak ada kontra indikasi. ‡ luka. yakni tingkat kesadaran. Cari sumber perdarahan. D = Disability (Neurologic Status) Hal yang penting selanjutnya adalah penilaian terhadap keadaan neurologis secara cepat. Memasang 2 chateter i. analisis kimia. Resusitasi : 1.C = Circulation & Stop Bleeding Tahap selanjutnya untuk dinilai adalah keadaan hemodinamik pasien. Perdarahan eksternal dihentikan dengan penekanan (direct pressure) pada Tourniquet sebaiknya jangan dipakai karena merusak jaringan dan menyebabkan iskemia distal. Mengenal adanya perdarahan internal. ambil sampel darah untuk pemeriksaan darah rutin. warna kulit dan nadi. sampai terbukti sebaliknya.

Apakah ia akan spontan membuka mata tanpa harus dipanggil namanya. Gamabar 5 : Eye (respon membuka mata)8 Respon membuka mata ini merupakan respon awal ketika kita bertemu dengan pasien. maka kita beri nilai E (1). dan perfusi jaringan. Ketika tidak ada respon sama sekali. Namun pada kebanyakan pasien dengan trauma oromaksilofasial. disentuh atau diberikan cubitan. respon verbal (V) bicara dan gerakan motorik. seperti kita memanggil nama pasien. hipoksia atau hipovolemia adalah penyebab utamanya. 15 . Apabila mata terbuka dengan rangsang suara. (misalkan dengan menekan kuku jari) maka nilai E pasien (2). GCS merupakan suatu skala yang digunakan untuk menilai tingkat kesadaran pasien dengan menilai respon pasien terhadap rangsangan yang diberikan. Respon yang diharapkan ada pada pasien ialah bagaimana reflek membuka matanya. nilai respon E nya adalah nilai (3). ventilasi. Penurunan kesadaran dapat disebabkan oleh alkohol dan obat-obatan. Rangsangan yang diberikan berbagai hal dengan memperhatikan 3 reaksi yang terdiri dari reaksi membuka mata (Eye (E)). tidak ada respon. Untuk nilai dari respon ini kita nilai (4) atau respon spontan. Tingkat kesadaran dinilai dengan GCS (Glasgow Coma Scale) scoring. Apabila pasien dapat membuka mata ketika kita beri rangsang nyeri.kesadaran menuntut dilakukannya re-evaluasi terhadap keadaan oksigenasi.

Ketika pasien dapat mengetahui dimana dia berada. Pemeriksaan ini hanya digunakan untuk mengetahui tingkat kesadaran pasien dengan memantau respon motorik pasien. maka kita nilai respon verbal dengan angka (5) . Apabila pasien lebih banyak mengerang atau mengeluarkan suara tanpa arti. maka penilaian selanjutnya ialah bagaimana kita menilai respon verbal pasien. kalimat yang diucapkan baik. orientasi baik. atau ketika kita datang kemudian kita memberikan tangan kita untuk berjabat 16 . Ketika pasien diperintahkan untuk melakukan apa yang kita inginkan. berbicara mengacau (sering bertanya berulang-ulang) disorientasi tempat dan waktu. Motor (respon motorik) Respon motorik ini harus dibedakan dengan penilaian kekuatan otot. seperti memintanya untuk mengangkat tangan. siapa dirinya. Ketika masih saja tidak ada respon. Untuk nilai (3) kita beri ketika pasien berbicara tidak patut seperti berbicara dengan kata-kata kasar dan makian. Apabila pasien bingung. maka kita beri nilai verbal pasien (1).Tabel 1 : Verbal (respon verbal)8 Setelah reflek membuka mata kita kaji. maka nilai respon verbal kita beri nilai (4) . maka kita nilai respon verbal pasien (2).

Kita bisa melihat adakah atau tidak respon pasien untuk melakukan hal tersebut (menjabat tangan kita). Tabel 2 : Motor (respon motorik)8 Gambar 6 : Respon motorik nilai 6 8 17 .tangan dengannya.

Ketika pasien mampu untuk melokalisir nyeri dengan cara menjauhkan stimulus saat diberi rangsang nyeri. Gambar 8 :Respon motorik nilai 3 8 Apabila pasien tidak dapat melokalisasi nyeri dari stimulus. Pasien akan memperlihatkan flexi siku yang bisa juga diikuti oleh flexi pergelangan tangan. untuk kondisi ini kita berikan M (3). Namun jika pasien hanya dapat menghindar terhadap stimulus nyeri maka kita beri nilai M (4). 18 . maka kita nilai respon motorik pasien (6) Gambar 7 : respon motorik nilai 5 8 Kita bisa memberikan sebuah stimulus berupa rangsangan nyeri di daerah N.Apabila pasien mengikuti perintah yang kita berikan. Supraorbita dengan cara menggosokan kuku didaerah supraorbita groove dengan tekanan yang makin kuat sampai pasien memberikan respon. maka kita memberikan nilai (5). Maka kita bisa berikan stimulus nyeri di daerah kukunya dengan tekanan ujung pulpen atau lainnya.

3. Hasil pemeriksaan kesadaran berdasarkan GCS disajikan dalam simbol (EMV) 2. maka untuk kondisi seperti ini kita nilai M (1).Gambar 9 : Respon motorik nilai 2 8 Sedangkan untuk memberikan nilai M (2) didapatkan respon pasien berupa extensi abnormal (tangan satu atau keduanya extensi di sisi tubuh. Menilai status kesadaran klien GCS 14–15 GCS 9–13 GCS 3–8 <3 = cidera kepala ringan = cidera kepala sedang = cidera kepala berat = koma E = Exposure/Environment/Body Temperature Buka pakaian pasien untuk melakukan pemeriksaan secara menyeluruh. 19 . Periksa hal-hal yang mungkin terlewat pada pemeriksaan sebelumnya. seperti darah yang keluar dari anus atau luka pada tubuh yang tertutup pakaian. Setelah pakaian dilepas. dengan jari mengepal & kaki extensi saat diberi rangsang nyeri). Penilaian GCS 8 1. Nilai GCS yang tertinggi adalah 15 yaitu E4M6V5 dan terendah adalah 3 yaitu E1M1V1. pasien harus segera diselimuti untuk mencegah hipotermi. Selanjutnya nilai-nilai dijumlahkan. Namun ketika pasien tidak ada respon apapun terhadap nyeri.

biasanya sulit untuk diajak berkomunikasi. mual dan muntah. riwayat trauma dapat diperoleh dari petugas unit gawat darurat.3. perawat. dan peristiwa khusus. apakah korban bertindak sebagai pengemudi atau penumpang. 20 . termasuk pemeriksaan tanda vital. perlu dicatat bagaimana kronologis kejadiannya. Prosedur khusus seperti pemeriksaan radiologis. 7 Keadaan tidak sadar (koma). termasuk mencatat skor GCS bila belum dilaksanakan dalam primary survey. apakah ada perdarahan dari hidung. atau siapapun yang melihat dengan jelas bagaimana trauma terjadi. waktu. pemeriksaan laboratorium juga dapat dikerjakan pada kesempatan ini.2 Pemeriksaan Secondary Survey 7. pemeriksaan fisik ekstra oral seperti kepala dan oromaksilofasial juga pemeriksaan intra oral yang meliputi status lokalis gigi dan jaringan pendukung sekitarnya. dan ABC pasien telah dipastikan membaik. syok. bagaimana jenis helmnya full face atau half face. dilakukan pemeriksaan neurologis lengkap. apakah ia memakai helm atau tidak. diperlukan informasi yang memadai tentang riwayat trauma. dan intoksikasi merupakan hambatan yang sering terjadi dalam menjalin komunikasi dengan pasien. Secondary survey baru dilaksanakan setelah primary survey selesai. pada pasien yang mendapat cedera pada daerah kepala.2. apakah pasien telah mendapatkan pertolongan medis dan pemberian obat sebelumnya dan pertanyaan penting lainnya. Pada situasi ini. resusitasi sudah dilakukan. apakah ada riwayat pingsan. tempat kejadian.1 Anamnesis Untuk menegakan diagnosis dan menentukan rencana perawatan. Pada secondary survey ini. Namun. Penting untuk dicatat mengenai tanggal. mulut dan telinga. Apabila cedera disebabkan karena kecelakaan motor.8 Secondary survey adalah pemeriksaan kepala sampai kaki (head to toe examination). amnesia. 3. orang yang mendampingi yang pasien. Pemeriksaan pada secondary survey meliputi anamnesa.

umur. Selain itu riwayat medis yang penting untuk diketahui adalah tentang riwayat alergi. ada tidaknya penyakit kelainan perdarahan. tanggal imunisasi tetanus terakhir. nomor telepon. alamat. 4.Riwayat trauma yang akurat sebaiknya diperoleh dari pasien. keluarga pasien dan orang yang menyertainya. WHO? Jawabannya meliputi nama pasien. 3. HOW? Sebagai contoh. Jika ditemukan kasus avulsi gigi di dalam golden period maka prognosis untuk reposisi semakin baik. Kemudian ia tergelincir di tikungan dan turunan curam dengan keadaan terguling sejauh 10 meter dengan kondisi wajah mengenai aspal. 2. seorang pengendara sepeda motor sedang dalam pengaruh alkohol mengendarai motornya di cuaca hujan dan gelap gulita. WHEN? Kapan trauma itu terjadi? Pertanyaan ini merupakan salah satu pertanyaan penting untuk menentukan apakah suatu luka masih dalam golden period. Perlu dicatat juga ada tidaknya tanda-tanda kecanduan alkohol dan obat-obatan. Sebagai contoh apabila pasien jatuh di daerah yang berpasir maka penting untuk dilakukan debridemen sempurna sampai tidak ada sama sekali pasir yang tertinggal di dalam luka. Jawaban kronologis tentang bagaimana kejadian terjadi mengindikasikan keparahan cedera jaringan dan kemungkinan daerah-daerah mana saja dari tubuh yang terkena trauma. WHERE? Pertanyaan ini penting untuk mengetahui kemungkinan adanya kontaminasi luka. Motor dalam keadaan rusak parah. Meliputi jawaban dari pertanyaanpertanyaan berikut (9): 1. riwayat penyakit yang pernah diderita. dan data demografi lainnya. karena tingkat kesadaran 21 .

3.dipengaruhi oleh obat-obatan tersebut. Informasi mengenai waktu makan dan minum yang terakhir sangat penting apabila akan dilakukan anestesi umum. kepala pasien harus distabilisasikan dengan cara menekan kening pasien cukup kuat dengan satu tangan. Untuk memeriksa adanya mobilitas maksila. Dengan ibu jari dan telunjuk tangan lainnya mencengkram maksila pada satu sisi.2 Pemeriksaan Fisik 2. dan mandibula. Harus dilakukan palpasi secara hati-hati terhadap kranium. Pemeriksaan Kepala Pemeriksaan ini meliputi seluruh kerangka kraniomaksilofasial dan jaringan lunak disekitarnya. sambungan daerah fronto-orbital. 22 . Pasien harus dibersihkan dari semua darah dan benda asing secara hati-hati. Rangka kraniofasial terdiri dari pertautan dan penonjolan tulang. dan hilangnya penonjolan. Pemeriksaan Wajah Bagian Tengah Evaluasi wajah bagian tengah dimulai dengan memperkirakan adanya mobilitas dari maksila sebagai struktur maksila itu sendiri atau hubungannya dengan zygoma atau tulang nasal.2. naso-orbital kompleks. b. maka pemeriksaannya harus meliputi ada atau tidaknya step atau jarak. 3. artikulasi zygomatik. discontinuitas.6 I. dan digerakkan dengan tekanan yang stabil sehingga dapat diperoleh kepastian ada atau tidaknya dapatkan mobilitas maksila. Ekstra Oral a. pergeseran.

Gambar sebelah kanan menunjukkan pemeriksaan bahwa cara ini juga dapat digunakan untuk evaluasi mobilitas tulang nasal. Jaringan lunak yang menutupinya digeser dan sutura dipalpasi apakah terjadi kelainan atau tidak. Cincin infraorbital dipalpasi dari medial ke lateral untuk mengevaluasi sutura zygomatikomaksilaris.Gambar 10 : Pemeriksaan mobilitas maksila.9 Cara melakukan pemeriksaan manual atau digital adalah dengan palpasi dimulai dari superior ke inferior. dari aspek posterior atau superior. Pemeriksaan dimulai dari aspek medial dari cincin supraorbital secara bilateral. karena trauma dapat mengakibatkan kehilangan penglihatan. Arcus zygomatikus dipalpasi bilateral dan diamati apakah terdapat tandatanda asimetri. Pemeriksaan mata secara lengkap sebaiknya dilakukan terlebih dahulu. Palpasi diteruskan ke arah lateral menyilang cincin supraorbital menuju sutura zygomatikofrontalis. Vestibulum nasi juga diperiksa karena bisa terjadi pergeseran septum. Tulang nasal dan saluran nasofrontalis dipalpasi secara bersamaan kanan dan kiri (bidigital). karena hal ini menunjukkan adanya fraktur atau cedera pada saraf. Pemeriksaan yang akurat sulit dilakukan pada pasien yang mengalami cedera 23 . Bagian-bagian yang mengalami nyeri tekan. Hampir 40% fraktur tengah wajah mengenai daerah mata. dan adanya perdarahan atau cairan. dan baal juga dicatat.

Mastoid harus diperiksa dari kemungkinan adanya ekimosis yang disertai dengan hemotimpanum dan otorrhea. Kerusakan dan pergerakan tulang hidung harus dicatat. Kisaran gerak dievaluasi pada semua arah dan jarak interinsisal dicatat. karena merupakan indikasi terjadinya fraktur basis tulang kranial.. Pemeriksaan Mandibula Lokasi mandibula terhadap maksila dievaluasi apakah tetap digaris tengah. c. Pemeriksaan dapat dilakukan dengan menggunakan hitungan jari. Saraf kranialis 3 . Dapatkah pasien mengangkat alis dan meretraksi sudut mulutnya. Adanya laserasi dari daerah telinga bagian luar merupakan tanda waspada terhadap kemungkinan cedera pada kondilus mandibula.4 . Pada 24 . dan apakah pupil bereaksi terhadap sinar dan berakomodasi. 3 Tiga saraf utama trigeminal harus diperiksa untuk kemungkinan terjadinya anestesi atau parestesi. Adanya fraktur septum hidung dan hematoma dapat menyebabkan obstruksi hidung.neurologis. Hematoma aurikuler telinga harus segera didiagnosa dan dilakukan terapi. deteksi gerakan.6 . Pergerakan mandibula juga dievaluasi dengan jalan memerintahkan pasien melakukan gerakan-gerakan tertentu. jari telunjuk dapat dimasukkan dengan telapak mengarah ke bawah dan ke depan untuk melakukan palpasi endaural terhadap caput condilus pada saat istirahat dan bergerak. atau penggunaan sinar. Apabila meatus akustikus eksternus penuh dengan darah dan cairan. dan apabila ada penyimpangan juga dicatat. atau terjadi pergeseran ke lateral dan inferior. apakah bola mata bisa bergerak bebas.7 dites untuk mengetahui apakah terjadi palsi.5 . Hematoma septum hidung harus didiagnosa dan dievakuasi segera untuk menghindari terjadinya nekrosis tulang rawan septum hidung yang pada akhirnya dapat menyebabkan kerusakan bentuk hidung.

Selain itu fraktur mandibula juga dapat diklasifikasikan berdasarkan tipe frakturnya. Tepi inferior dan posterior mandibula dipalpasi mulai dari prosesus kondilaris sampai ke simphisis mandibula.fraktur subcondilus tertentu. ramus. angle. Sekali lagi nyeri tekan atau baal. Fraktur mandibula dapat diklasifikasikan berdasarkan lokasi anatomi. bisa dijumpai adanya nyeri tekan atau caput mandibula tidak terdeteksi. dan kelainan kontinuitas harus dicatat. 25 . simphisis. simpel. alveolar. dan daerah prossessus koronoid. body. kominuted. yaitu kondilar. yaitu fraktur greenstick. dan kompoun.

7 Pemeriksaan ini meliputi evaluasi oklusi dan penghitungan gigi yang hilang. Kompoun (D). Komminuted (C). Intra Oral 3. Adanya step dan pergeseran oklusi merupakan indikasi terjadinya fraktur dentoalveolar ataupun fraktur rahang. Adanya gigi yang terhisap dan tertelan dapat dilihat dengan melakukan radiografi pada dada dan perut. Simple (B). Gigitan terbuka lateral (open bite lateral) juga 26 . Distribusi anatomik dari fraktur mandibula. 2 II. Gigi tiruan yang lepas juga dapat menyebabkan tersumbatnya jalan pernapasan.Gambar 11.2 Gambar 12 : Klasifikasi fraktur mandibula berdasarkan tipe frakturnya: Greenstick (A).

dan sebagian besar fraktur prosessus alveolaris paling baik dirontgen dengan cara ini.4 Pemeriksaan Laboratorium Pemeriksaan lab yang sering dilakukan pada kasus trauma oromaksilofasial yaitu Hb. kreatinin. Sedangkan untuk diagnosis penderita yang mengalami trauma maksilofasial harus dilakukan foto panoramik dan schedel AP-Lat segera. Perawatan umum terhadap komplikasi yang menyertai 2. Penanganan Luka Jaringan Lunak Imobilisasi dan evaluasi bagian yang terluka untuk mengurangi rasa nyeri dan edema. tidak dibenarkan untuk melakukan pembuatan radiografis untuk mengetahui adanya fraktur bila bukti klinis kurang mendukung. analisa gas darah. albumin serum. PT APTT. ataupun III). BT CT. kemudian dapat dilakukan rontgen foto waters view dan jika memungkinkan dan pasien mampu dapat dilakukan CT-Scan 3 dimensi. 3. Debridement : membersihkan luka. Hemostasis Menghilangkan tegangan pada penutupan luka: undermining. ureum. Leukosit.2. II. Detail dari cedera gigi (luksasi dan avulsi).2. Sedangkan gigitan terbuka anterior ( open bite anterior) mengindikasikan adanya fraktur Le Fort (I. membuang jaringan nekrotik dan benda asing. GDS. jahitan subkutis Antibiotika 27 . trombosit. Penatalaksanaan Fraktur Oromaksilofasial 2.3 1. Meskipun demikian.dapat mengindikasikan adanya fraktur mandibula atau gangguan TMJ.3 Pemeriksaan Radiografis Untuk diagnosis penderita yang mengalami trauma dentoalveolar hanya diperlukan radiograf oklusal dan periapikal saja. dan differential sel. 3. elektrolit.

Memberikan imobilisasi sementara 7. Pemeriksaan klinis yang teliti dan interpretasi foto rontgen yang tepat 4. Fiksasi dan Imobilisasi fraktur Reduksi: Mengembalikan fragmen pada posisi anatomisnya Terdiri dari open dan closed reduction Fiksasi: Mempertahankan fragmen yang telah direposisi tetap pada tempatnya untuk menghasilkan penyembuhan. meniadakan rasa sakit. Menentukan tipe dan macam fraktur 5. 28 . krepitasi dan funtio laesa. Mencegah dan merawat infeksi 6.3. Melakukan Reduksi. Memilih cara pemberian anastesi yang tepat 8. Imobilisasi : Mempertahankan fiksasi.

Perhatian harus segera diarahkan terhadap saluran pernapasan. Pemeriksaan radiografis dan pemeriksaan laboraturium dilakukan untuk membantu klinisi menegakkan diagnosa dan rencana perawatan yang tepat pada penderita trauma oromaksilofasial. Pemeriksaan dilakukan secara akurat dan menyeluruh pada pasien ini.BAB IV KESIMPULAN Pendekatan awal terhadap pasien trauma oromaksilofasial akut sedikit berbeda dengan cedera yang lain. Pemeriksaan fisik baru bisa dilakukan apabila keadaan umum pasien stabil. Pengetahuan tentang jenis trauma. status kegawatdaruratan serta skala prioritas penanganan cedera oromaksilofasial mutlak dibutuhkan dalam penanganan kegawatdaruratan trauma oromaksilofasial. pendarahan. adekuasi dari ventilasi. serta jalan nafas telah di tangani. anatomi oromaksilofasial. pemeriksaan klinis ekstra oral dan intra oral. Rangkaian pemeriksaan primary survey dan secondary survey berupa anamnesis yang lengkap. 29 . dan kontrol perdarahan eksternal.

Louis 4.org/wiki/Glasgow_Coma_Scale 10.digilib. Andreasen JO. Penerjemah: Purwanto dan Basoeseno.id/file?file=pdf/abstrak-81816.1997. R. EGC. EGC. Ke-2. 1991. Hipokrates. Ed. Braun TW. Buku Ajar Praktis Bedah Mulut. J Oral Maxillofac Surg 64:1731-1735 5. The anatomy of injury and its surgical implication. Alih bahasa Lilian Yuwono. Penerjemah.Sjamsuhidayat. Pedersen GW. Munksgaard 7. St. Carlson ER. 1999. Peterson Lj. 2006. Frekuensi-distribusi trauma oromaksilofasial dan Essential of Traumatic Injuries to the Teeth. Banks P. Fraktur mandibula ( Killeys Fractures of the mandible ). Sasaki T. Oral and Maxillofacial Trauma. St Louis: Elsevier Saunders 3. Jakarta 11. London PS.ac. Fonseca.wikipedia. Marciani RD. Yokoyoma T. London 30 . Jakarta. http://www.4 th ed. A Retrospective Análisis of Oral and Maxillofacial Injuries in Motor Vehicle Accidents.et al. Contemporary Oral and Maxillofacial Surgery. 1990. http://en. 2009. St Louis: Mosby. 3rd ed. penatalaksanaannya di Rumah Sakit Umum Tangerang dalam kurun waktu 1 Oktober 1992 -30 September 1993. 2005.pdf 8. 2003. Saunders Elsevier.DAFTAR PUSTAKA 1. Juliani KI. Buku Ajar Ilmu Bedah. 9. Butterworth-Heinemana Ltd. Hitosugi M. Motozawa Y. 6. 1996. Jong WD. Jakarta 2. Oral and Maxillofacial Surgery Volume II. RJ.ui.

faktor-faktor yang berpengaruh. Komplikasi dapat terjadi apabila tidak dilakukan terapi dengan adekuat. perubahan suhu. sengatan listrik. dan komplikasi. zat kimia. Kata kunci: penyembuhan jaringan lunak. infeksi 31 .Penyembuhan Luka Jaringan Lunak Dan Saraf Dian Maifara Putri 160121120007 Peserta Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut Dan Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Abstrak : Luka adalah hilang atau rusaknya integritas jaringan tubuh. ledakan. keadaan ini dapat disebabkan oleh trauma benda tajam atau tumpul.1 Penyembuhan luka dan jaringan saraf merupakan hal yang penting untuk mengetahui tahapan luka. atau gigitan hewan.

2 32 . Maka pada setiap perlukaan. pembentukan jaringan parut. nekrose atau gangren dari jaringan.1 Proses yang kemudian terjadi pada jaringan yang rusak ialah penyembuhan luka yang dapat dibagi dalam tiga fase yaitu fase inflamasi. tubuh akan berusaha melakukan penyembuhan luka. zat kimia. infeksi luka. atau gigitan hewan.2 Penyembuhan luka adalah proses kinetik dan metabolik yang kompleks yang mengikutsertakan berbagai sel dan jaringan dalam usaha menutup tubuh dari lingkungan luar dengan cara mengembalikan integritas jaringan. proliferasi. keadaan ini dapat disebabkan oleh trauma benda tajam atau tumpul. sengatan listrik.BAB I PENDAHULUAN Luka adalah hilang atau rusaknya suatu kesatuan atau komponen integritas jaringan tubuh. perubahan suhu. dan remodeling atau penyudahan yang merupakan pembentukan kembali dari jaringan. baik luka itu bersih maupun luka yang kotor dan terinfeksi.1. dan warna yang berbeda dari jaringan sekitarnya. pembentukan keloid yaitu berupa tonjolan jaringan parut. Komplikasi yang sering ditimbulkan pada tahap penyembuhan luka dapat meliputi pembentukan kista implantasi. ledakan.1.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA JENIS-JENIS LUKA Luka terdiri dari: 2. Luka memar ( contusio ) Terjadi akibat benturan dengan benda tumpul.4.5. Vulnus Abrasivum (luka lecet). 2.8 1. sehingga yang terlihat adalah bengkak. biasanya terjadi di daerah permukaan tubuh. Luka terbuka yang disertai kehilangan jaringan maupun yang tidak disertai kehilangan jaringan a. darah keluar dari pembuluh dan terkumpul di bawah kulit sehingga bisa terlihat dari luar berupa warna merah kebiruan b. terjadi karena gesekan antara suatu benda dengan permukaan jaringan lunak. 33 .Luka Memar 9 a. Hematoma (darah yang terkumpul di jaringan) Prinsipnya sama dengan luka memar tetapi pembuluh darah yang rusak berada jauh di bawah permukaan kulit dan biasanya besar. Luka Tertutup Gambar 1.7.3. biasanya besar dan kemerahan.

Kedalaman Luka Lecet 10 b. Luka Sayat 11 34 . Vulnus Scissum ( luka sayat ). Vulnus Abrasivum 9 Gambar 3. terjadi karena tersayat pisau atau benda tajam lainnya. pinggir luka tajam dan rata serta mempunyai dasar yang sempit.Gambar 2. Gambar 4.

adalah luka yang terjadi sampai menembus organ tubuh lain yang lebih dalam.c. Gambar 6. Luka Laserasi 11 e. Luka Tembus 11 d. luka yang terjadi karena tusukan bendabenda yang runcing. Vulnus laceratum ( luka compang camping ). Vulnus Punctum ( luka tusuk ). 35 . Vulnus Penetratum ( luka tembus ). adalah luka yang disebabkan oleh benda tumpul yang bentuknya tidak teratur. Gambar 5.

B.Gambar 7. Vulnus Sclopectorum ( luka tembak). A. luka yang disebabkan oleh tembakan senjata api 36 . Luka Tusuk 12 f. Luka laserasi. Luka Tusuk 11 Gambar 8. Penampang Luka Tusuk 12 Gambar 9.

dan tulang juga bisa terkena.2. Luka ini ditandai dengan kulit yang terlepas/ hilang sama sekali. Avulsi biasanya menyertai luka-luka multipel pada wajah dan biasanya pada korban kecelakaan sepeda motor atau luka karena peralatan industri/pertanian. melepaskan jaringan yang mengalami devitalisasi. Luka Tembak 13 g. dan pH yang optimal untuk sel-sel yang berperan dalam proses penyembuhan.Gambar 10. Avulsi. dan melindungi luka dari trauma yang lebih lanjut serta terhadap 37 . otot. krusta yang tebal dan pus. Gambar 11. menyediakan temperatur. Luka Gigitan Binatang 11 h. yaitu hilangnya substansi jaringan lunak yang biasanya mengenai kulit. kelembaban. meningkatkan pembentukan jaringan granulasi dan epitelialisasi.3 PENATALAKSANAAN LUKA Prioritas dalam penatalaksanaan luka adalah mengatasi perdarahan (hemostasis). 1. Vulnus Mossum ( luka karena gigitan binatang). walaupun mukosa. mengeluarkan benda asing yang dapat bertindak sebagai fokus infeksi.

Pembersihan luka dapat dilakukan dengan bahan pembersih luka. tergantung kedalaman dan posisi luka tersebut. 6 Protokol 1: Wound toilet dan debridement Gunakan satu dari 2 antiseptik di bawah ini untuk luka: Larutan Povidone iodine 10% dua kali sehari Cetrimide 15% + chlorhexidine gluconate 1. sabun atau bila perlu dengan disikat. tujuan penjahitan adalah mengembalikan jaringan ke posisi semula. Lalu dengan menggunakan larutan saline dilakukan irigasi untuk menghilangkan semua partikel yang tertinggal pada luka. klinisi harus mempertimbangkan pemberian terapi suportif untuk mempercepat penyembuhan seperti pemberian antibiotik dan anti tetanus. 6 Setelah luka dibersihkan. tujuannya adalah untuk melindungi individu dari kerusakan fisiologis lebih lanjut. Pembuluh darah dapat diklem.masuknya mikroorganisme patogen. Sebelum luka ditutup. Luka pada gingiva atau mukosa alveolar dapat ditutup dengan penjahitan 1 lapis. maka akan terjadi hematoma di dalam jaringan yang dapat membuka kembali luka yang telah ditutup.5% 38 . luka ditutup dengan dijahit. untuk menyingkirkan penyebab aktual atau potensial yang memperlambat penyembuhan dan untuk menciptakan lingkungan lokal yang optimal untuk rekonstruksi dan epitelialisasi vaskular dan jaringan ikat. Namun tidak semua luka membutuhkan penjahitan. Setelah penutupan luka. Bila penjahitan dianggap perlu. luka kecil dapat dibiarkan dan dapat sembuh tanpa penjahitan. Debridement dilakukan untuk menghilangkan jaringan yang mengalami devitalisasi agar didapat penutupan luka yang baik.6 Luka harus dibersihkan dari kotoran atau debris. diligatur atau dikauterisasi untuk mengurangi perdarahan yang terjadi akibat luka yang terbuka. hemostasis harus tercapai. Bila tidak. Biasanya dilakukan tindakan anestesi sebelumnya untuk mengurangi rasa sakit. dilakukan debridement dan hemostasis tercapai. sedangkan luka pada lidah atau bibir yang melibatkan otot harus dijahit lapisan otot terlebih dahulu dengan benang jahit yang dapat teresorbsi. Kecuali untuk luka superficial antibiotik tidak diindikasikan. dan luka yang lebih dalam membutuhkan penjahitan 3 lapis.

trauma abdominal. vulnus penetratum. kontaminasi bakteri tetanus. Antibiotik profilaksis yang direkomendasikan adalah penisilin G dan metronidazole dalam satu kali pemberian.1. jaringan mati dan rusak secara mekanis. Jika analgetik lokal dibutuhkan gunakan lidokain 1% tanpa epinefrin. vulnus laseratum dengan ukuran lebih dari 5 cm. Ganti kasa minimal sekali sehari. Kemudian irigasi luka kembali. Untuk pasien terkontaminasi tetanus. tempat yang berisiko tinggi seperti pada ekstremitas. 39 . maka harus diberikan dengan syringe yang berbeda dan lokasi pemberian yang berbeda pula. dan luka bakar. luka dengan banyak jaringan nekrotik. Luka biasanya terinfeksi tetanus jika telah lebih dari 6 jam sebelum pembersihan luka dan memperlihatkan tanda-tanda: tipe luka punctum. Bersihkan luka dengan sabun dan air matang selama 10 menit.000 IU/kg BB dalam sekali pemberian. 2. Protokol 3: Antibiotik profilaksis dan antibiotik perawatan Antibiotik profilaksis Antibiotik profilaksis diindikasikan untuk luka yang mempunyai risiko tinggi untuk terinfeksi seperti luka yang terkontaminasi. WHO merekomendasikan injeksi TT (Tetanus Toksoid) atau Td (vaksin tetanus dan diphteri) dan TIG (Immunoglobin tetanus) 3. Tutup luka dengan kasa steril dan kering. 3. terdapat jaringan mati dalam jumlah signifikan. Jika pemberian vaksin tetanus dan immunoglobin tetanus dalam satu waktu. tanda klinis sepsis. Dosis dewasa 8-12 juta IU. Debridement: membersihkan luka dari benda asing. dan anakanak 200. kemudian luka diirigasi dengan larutan salin 2. Protokol 2: Manajemen luka dengan tetanus 1.

Persiapan wound toilet 15: Jangan memakai sabun atau alkohol Gunakan salin steril Irigasi dengan tujuan menghilangkan benda asing 40 . Pengelolaan vulnus secara umum 7: 1. Enzimatic: enzim yang dapat mendegradasi jaringan nekrotik c. Penisilin untuk dosis anak-anak 100 mg/kg BB setiap hari dibagi dalam beberapa dosis. Dilanjutkan dengan membuang sisa jaringan nekrotik sehingga didapat pinggiran jaringan yang linear. Pembersihan luka (debridement) Adalah tindakan membersihkan daerah luka dari benda-benda asing yang mengkontaminasi luka. Metronidazole dewasa 500 mg setiap 8 jam dan anak-anak 7. Pembuangan dilakukan seminimal mungkin. berikan antibiotik secara intravena. Dilakukan dengan menggunakan sikat halus steril/ kapas steril dengan larutan garam fisiologis. 6 Langkah-langkah pengelolaan luka jaringan lunak terdiri atas: I. Surgery: merupakan cara tercepat jika jaringan nekrotik luas b. Autolisis: proses yang normal terjadi pada luka dan tidak melukai jaringan sehat di sekeliling luka d. Penisilin untuk dosis dewasa 1-5 MIU setiap 6 jam.5 mg/kg setiap 8 jam secara intravena.Antibiotik perawatan Jika infeksi telah terjadi. dan jaringan nekrotik yang terdapat pada luka. Mekanikal: dengan cara membilas/irigasi luka Pembersihan luka dilakukan dengan cara: mencuci daerah luka untuk membersihkan debris atau benda asing yang tertinggal. diberikan Penisilin G dan metronidazole untuk 5-7 hari. hanya jaringan non vital yang dieksisi. dan berikan secara peroral 2 hari kemudian jika memungkinkan. Debridement terbagi atas 4 metode 14: a.

Spesifik dengan anti tetanus 2. maka dapat diberikan terapi suportif: pencegahan luka dari infeksi 1. air panas.- Gunakan 50-100ml/cm salin dengan tekanan Gambar 12: Enzymatic wound debridement 14 II. Instruksikan pada pasien keesokan harinya jika masih lebam dapat dikompres hangat sehingga terjadi vasodilatasi pembuluh darah menyebabkan vaskularisasi aktif agar PMN bergerak untuk memfagositosis sisa-sisa debris fibril atau leukosit dan trombosit yang mati. Pengelolaan hematoma dan kontusio 1. dan radiasi. listrik. bahan kimia. Definisi Luka bakar adalah luka yang disebabkan oleh kontak dengan suhu tinggi seperti api. Kompres dingin untuk mengurangi sakit dan perdarahan 2 Beri analgetik dan antiinflamasi 3. Setelah semua tindakan di atas dilakukan. Jenis luka dapat beraneka ragam dan memiliki penanganan yang berbeda tergantung jenis jaringan yang 41 . Tindakan ini dilakukan beberapa hari hingga sembuh. Non spesifik dengan pemberian antibiotika LUKA BAKAR I.

ketidak seimbangan elektrolit ( inbalance elektrolit) dan masalah distress pernapasan. Derajat Luka Bakar Gambar 13. Beratnya Luka Bakar Luka bakar biasanya dinyatakan dengan derajat yang ditentukan oleh kedalaman luka bakar. dan komplikasi yang terjadi akibat luka tersebut. Luka tampak sebagai eritema dengan keluhan rasa nyeri atau hipersensitivitas setempat. 14 II. infeksi. misalnya tersengat matahari. Walaupun demikian beratnya luka bergantung pada dalam. pembuluh darah dan jaringan epidermal yang mengakibatkan kerusakan yang berada di tempat yang lebih dalam dari akhir sistem persarafan. Dalamnya luka bakar 15 1. Luka bakar derajat 1 hanya mengenai epidermis serta belum terbentuk lepuhan dan biasanya sembuh dalam 5-7 hari.terkena luka bakar. tingkat keparahan.14 III. luka bakar dapat juga menyebabkan distress emosional (trauma) dan psikologis yang berat dikarenakan cacat akibat luka bakar dan bekas luka (scar). Umur dan keadaan kesehatan penderita sebelumnya akan sangat mempengaruhi prognosis. Selain komplikasi yang berbentuk fisik. Luka bakar dapat merusak jaringan otot. 42 . Seorang korban luka bakar dapat mengalami berbagai macam komplikasi yang fatal termasuk diantaranya kondisi shock. luas dan daerah luka.tulang.

dada. pinggang dan bokong. Luas Luka Bakar Luas luka bakar dinyatakan dalam persen (%) terhadap luas seluruh tubuh. atau bula berisi cairan eksudat yang keluar dari pembuluh karena permeabilitas dindingnya meninggi.Karena perbandingan luas permukaan bagian tubuh anak kecil berbeda. ekstremitas bawah kanan dan kiri masing-masing 14 %. dan pangkal rambut. punggung.14 IV. 3. Pada orang dewasa digunakan rumus 9. Elemen epitel tersebut misalnya sel epitel basal. atau organ yang lebih dalam. kepala dan leher 18%. perut. dengan permukaan lebih rendah dari jaringan sekeliling masih sehat. Dengan adanya sisa sel epitel ini. Rumus ini membantu untuk menaksir luasnya permukaan tubuh yang terbakar bagi orang dewasa. Pada anak dan bayi digunakan rumus lain karena luas relative permukaan kepala anak jauh lebih besar dan luas relative permukaan kaki lebih kecil. Tidak ada lagi elemen epitel hidup yang tersisa yang memungkinkan penyembuhan dari dasar luka. paha kiri. karena itu untuk mendapatkan kesembuhan harus dilakukan cangkok kulit. Gejala yang timbul adalah nyeri. gelembung. Luka bakar derajat 2 mencapai kedalaman dermis tetapi masih ada elemen epitel sehat yang tersisa. kelenjar keringat. ekstremitas atas kanan. ekstremitas atas kanan dan kiri masing-masing 9 %. badan depan dan belakang masin-masing 18 %. Luka bakar derajat 3 meliputi seluruh kedalaman kulit dan mungkin subkutis. ekstremitas atas kiri. Untuk anak. serta tungkai dan kaki kiri masing-masing 9%. tungkai dan kaki kanan. paha kanan. sisanya 1% adalah daerah genitalia.2. luka dapat sembuh sendiri dalam 2 sampai 3 minggu.14 43 . yaitu luas kepala dan leher. Kulit tampak pucat abu-abu gelap atau hitam. kelenjar sebasea.

kaki dan tangan. Berat/Kritis bila : a. Derajat 3 dengan luas lebih dari 10 %. Derajat 2 dengan luas lebih dari 25 %. Luasnya luka bakar 16 V. kecuali terdapat di muka. Luka bakar disertai trauma jalan napas atau jaringan lunak luas. b. kaki dan tangan. 2.2 44 .25 %. Derajat 2 dengan luas kurang dari 15 %. b. Luka bakar akibat listrik. atau terdapat fraktur. Derajat 3 dengan kurang dari 2 %. 3. Derajat 3 dengan luas kuarang 10 %.Gambar 14. d. Ringan bila : a. atau terdapat di muka. c. Sedang bila : a. b. Derajat 2 dengan luas 15 . Klasifikasi Luka Bakar Menurut Keparahannya 1.

kalau perlu dilakukan resusitasi segera bila penderita menunjukkan gejala syok. pencegahan infeksi. diberikan campuran udara lembab dan oksigen.VI. Penatalaksanaan Luka Bakar Prinsip penanganan luka bakar adalah penutupan lesi sesegera mungkin. Kontak dengan bahan yang panas juga harus cepat diakhiri misalnya dengan mencelupkan bagian yang terbakar atau menceburkan diri ke air dingin. Bila ada dugaan keracunan CO2. mengurangi ruang mati dan memudahkan pembersihan jalan napas dari lender atau kotoran. Analgesik diberikan bila penderita kesakitan. Pada luka bakar ringan. Kalau perlu penderita dimandikan dahulu. Selanjutnya diberikan pencegahan tetanus berupa ATS dan/atau toksoid. Perawatan lokal adalah mengoleskan luka dengan antiseptik. dan pembatasan pembentukan jaringan parut. mengurangi rasa sakit. Korban dapat mengusahakanya dengan cepat menjatuhkan diri dan berguling dan mencegah meluasnya bagian pakaian yang terbakar. mencegah infeksi dan memberi kesempatan sisa-sisa sel epitel untuk berproliferasi dan menutup permukaan luka.2 Upaya pertama saat terbakar adalah mematikan api misalnya dengan menyelimuti dan menutup bagian yang terbakar untuk menghentikan pasokan oksigen bagi api yang menyala. 17 45 . diberikan O2 murni. Kalau terjadi oedem laring dipasang pipa endotrakea atau dibuat trakeostomi. Pada luka bakar berat. atau melepaskan baju yang tersiram air panas. Bila penderita menunjukkan gejala terbakarnya jalan napas. prinsip penanganan utama adalah mendinginkan daerah yang terbakar dengan air. Trakeostomi berfungsi untuk membebaskan jalan napas. terdiri dari merendam daerah luka bakar dalam air atau menyiraminya dengan air mengalir selama sekurang-kurangnya 15 menit. Pertolongan pertama setelah sumber panas dipadamkan. selain penanganan umum seperti pada luka bakar ringan. pencegahan trauma mekanik pada kulit yang vital dan elemen didalamnya.

17 VIII. Pemberian cairan disesuaikan dengan respon individual penderita. Untuk luka bakar alkali. ½ dari sisanya diberikan 16 jam berikutnya. diperlukan 46 . Pemberian cairan dilakukan sebagai berikut : ½ dari volume terhitung diberikan 8 jam pertama setelah trauma. bila mungkin gunakan penyemprot air. Luka Bakar Khusus 1. Untuk mempertahankan produksi urine 1 cc/ Kg BB/jam pada anak-anak dan BB ≤ 30 Kg. tanda-tanda vital dan keadaan umum. Untuk mengetahui status sirkulasi dilakukan pengukuran produksi urine/jam dengan catatan tidak ada osmotic dieresis. Perlu diketahui bahwa rumus penghitungan cairan tersebut merupakan perkiraan volume cairan yang diperlukan. Luka bakar alkali lebih berbahaya dari asam. Tekanan darah sukar diukur dan hasilnya tidak dapat dipercaya. Segera lakukan irigasi dengan air sebanyak-banyaknya. sebab alkali lebih dalam merusak jaringan. Sebagai patokan mengetahui sirkulasi yang akurat ialah bila penderita diberi infus cairan dalam jumlah yang menghasilkan urine 1cc/Kg BB/ jam (untuk anak dengan BB ≤ 30 Kg) dan 30 – 50 cc / kg BB / jam (dewasa). Oleh karena itu penderita luka bakar berat harus dipasang kateter. Kerusakan jaringan akibat luka bakar bahan kimia dipengaruhi oleh lamanya kontak. Lakukan tindakan ini dalam waktu 20 – 30 menit. Pada 24 jam pertama penderita luka bakar berat derajat II dan III memerlukan 2 – 4 cc cairan RL/ Kg BB/ % Luas luka bakar untuk mempertahankan volume sirkulasi dan fungsi ginjal yang adequat. Luka Bakar Karena Bahan Kimia/Kimiawi Luka bakar dapat disebakan oleh asam.VII. misalnya dinilai produksi urinenya. Volume Sirkulasi Penilaian volume sirkulasi sering sulit pada penderita luka bakar berat. Segeralah bersihkan bahan kimia tersebut dari luka bakar. konsentrasi bahan kimia dan jumlahnya. alkali dan hasil-hasil pengolahan minyak. perlu dihitung dengan cermat dan perlu ditambahkan cairan glukosa untuk maintenance.

sedangkan kulit di atasnya relatif tampak normal. ECG dan pemasangan kateter. 17 2. pemasangan infus. pernafasan. memerlukan irigasi terus menerus selama 8 jam pertama setelah luka bakar. Luka bakar listrik sering menyebabkan kerusakan jaringan yang lebih berat dari pada luka bakar yang terlihat pada permukaannya.waktu yang lebih lama. sikatlah terlebih dahulu sebelum irigasi. Bila bahan kimia merupakan bubuk. Penanganan harus segera dilakukan pada penderita dengan luka bakar listrik meliputi perhatian terhadap jalan nafas.17 47 . Luka Bakar Listrik Luka bakar listrik terjadi karena tubuh terkena aliran listrik. Pemberian cairan harus ditingkatkan sedemikian rupa sehingga tercapai produksi urine sekurang- kurangnya 100 cc/jam (pada dewasa). Bila urine belum tampak jernih.5 gr manitol pada tiap penambahan 1 liter cairan untuk mempertahankan diuresis sejumlah tersebut di atas. Untuk irigasi ini dapat digunakan kanula kecil yang dipasang pada sulkus palpebra. Tubuh merupakan penghantar tenaga listrik. Untuk luka bakar pada mata. dan panas yang ditimbulkannya. Perbedaan kecepatan hilangnya panas dari tubuh superfasial dengan jaringan tubuh yang lebih dalam. Bila terjadi asidosis metabolic. janganlah menunggu konfirmasi laboratorium untuk melakukan terapi terhadap mioglobunuria. Apabila urine berwarna gelap mungkin urine mengandung hemokhromogens. pertahankan perfusi sebaik mungkin dan berikan Natrium Bikarbonat untuk membuat urine menjadi alkalis dan meningkatkan kelarutan mioglobin dalam urine. menyebabkan luka bakar pada tubuh. menghasilkan keadaan dimana jaringan yang lebih dalam akan bisa mengalami nekrosis. Jangan memberikan bahan-bahan penetral (neutralizing agent) sebab reaksi kimia yang terjadi akibat pemberian bahan penetral dapat menimbulkan panas dan akan memperberat kerusakan yang terjadi. berikan segera 25 gr manitol dan tambahkan manitol 12.

Pembuluh darah yang terputus pada luka akan menyebabkan perdarahan dan tubuh akan berusaha menghentikannya dengan vasokonstriksi. 48 . pengerutan ujung pembuluh yang putus (retraksi). Proses fisiologis penyembuhan luka dapat dibagi dalam tiga fase yaitu : fase inflamasi. dan remodelling jaringan. pengeluaran sel-sel radang. proliferasi. dan reaksi hemostasis.BAB III PEMBAHASAN MEKANISME PENYEMBUHAN LUKA Proses biokimia dan seluler kemudian terjadi dalam penyembuhan semua cedera jaringan lunak yang rusak ini. Hemostasis terjadi karena trombosit yang keluar dari pembuluh darah saling melengket. Sementara terjadi reaksi inflamasi. sel mast dalam jaringan ikat menghasilkan serotonin dan histamin yang meningkatkan permeabilitas kapiler sehingga terjadi eksudasi cairan.Fase Penyembuhan Luka 17 FASE INFLAMASI Fase inflamasi berlangsung sejak terjadinya luka sampai kira-kira hari kelima. dan bersama dengan fibrin yang terbentuk membekukan darah yang keluar dari pembuluh darah.1. disertai vasodilatasi setempat yang menyebabkan oedem dan pembengkakan.4 Tabel 1.2.

Fase inflamasi 4 49 . Serum tambahan itu menghasilkan faktorfaktor kemotaksis dan menyebabkan PMN lekosit (neutrofil) menempel pada pembuluh darah (marginasi) dan migrasi melalui dinding pembuluh darah (diapedesis).Selain itu akan terjadi aktivitas seluler yang merupakan gerakan leukosit menembus dinding pembuluh darah menuju luka karena daya kemotaksis.5 Gambar 15. pendapat lain mengatakan bahwa fase seluler ini disebabkan oleh aktivasi dari serum pada jaringan yang rusak. Sedangkan limfosit T terdiri dari kelompok yaitu T helper untuk merangsang sel B berdeferensiasi dan berproliferasi. monosit yang kemudian muncul ikut menghancurkan dan memakan kotoran luka. Leukosit mengeluarkan enzim hidrolitik yang membantu mencerna bakteri dan kotoran luka. Lisosom tersebut merusak bakteri dan benda asing lainnya serta mengangkat jaringan nekrotik. menghasilkan antibodi yang membantu mengingatkan sistem pertahanan tubuh untuk mengidentifikasi benda asing dan berinteraksi dengan faktor tambahan untuk melarutkan sel-sel asing. serta sel T citotoksis untuk melarutkan sel-sel asing dan antigen. Limfosit B berguna untuk mengenali antigen. Limfosit.2. Pada waktu kontak dengan benda asing netropil melepaskan lisosom yang dikandungnya (degranulasi). Terdapat juga limfosit yang terdiri dari 2 kelompok yaitu limfosit B dan limfosit T.

maka terjadi penarikan di sepanjang garis utama dan luka. Akan tetapi bila terjadi pada akhir dan tahap ini akan menyebabkan lepasnya hubungan antara serat kolagen yang lama di sepanjang tepi luka dan terbentuk kolagen yang baru. bertindak sebagai faktor kemotaksis dari fibroblas. normalnya antara 2-3 minggu. Gambaran akhir pada tahap fibroplastis adalah kaku oleh karena banyaknya kolagen dan kemerahan oleh karena vaskularisasi.5 Gambar 16. Jaringan dengan cepat tumbuh menjadi kuat selama tahap fibroplastis.4. Substansia dasar mengandung sejumlah mukopolisakaride yang berguna untuk melekatkan serat-serat kolagen. Fase proliferasi 4 50 . berbentuk seperti anyaman. menggerakkan sistem pertahanan tubuh. Fibroblas mengeluarkan fibronectin yaitu kandungan protein yang mempunyai fungsi membantu mempertahankan kestabilan fibrin.2 Fibrinolisis terjadi disebabkan oleh plasma yang dibawa oleh pembuluh darah kapiler yang baru.FASE PROLIFERASI Serat-serat fibrin diperoleh dari darah yang mengalami pembekuan yang menutup luka. dan membantu makrophage. Apabila tegangan pada luka terjadi pada awal tahap fibroplastis. Fibroblas yang terdapat pada tropokolagen akan menghasilkan serat kolagen. membantu mengamati benda asing. Fibroblas mulai terbentuk pada substansia dasar dan tropokolagen.

sel muda menjadi matang. dan akhirnya pembentukan kembali jaringan yang baru. kolagen yang berlebih diserap dan sisanya mengerut sesuai dengan regangan yang ada. Selama proses ini dihasilkan jaringan parut yang pucat. Udem dan sel radang diserap. Elastin dan ligamen tidak kembali pada penyembuhan luka. pengerutan sesuai dengan gaya gravitasi. tipis. Selama tahap ini kekuatan jaringan meningkat secara perlahan. 51 . tetapi tidak seperti pada tahap fibroplastis. sistem vaskularisasi berkurang sehingga kemerahan pada bekas luka juga berkurang. Kekuatan jaringan tidak lebih dari 80-85% dibandingkan dengan jaringan yang normal dan hal ini tercapai kira-kira 3-6 bulan setelah penyembuhan.5 Lebih jelasnya pada tahap ini kolagen yang lama dihancurkan. dan lembut serta mudah digerakkan dari dasar.FASE REMODELING Pada fase ini terjadi proses pematangan yang terdiri dari penyerapan kembali jaringan yang berlebih. Tubuh berusaha menormalkan kembali semua yang menjadi abnormal karena proses penyembuhan. Metabolisme menurun. Karena serat kolagen sangat sedikit akibatnya terbentuk bekas luka yang lunak. sehingga menyebabkan hilangnya fleksibilitas pada daerah bekas luka. Fase ini dapat berlangsung berbulanbulan dan dinyatakan berakhir kalau semua tanda radang sudah lenyap. kapiler baru menutup dan diserap kembali. Terlihat pengerutan maksimal pada luka. diganti dengan kolagen yang baru guna meningkatkan ketahanan jaringan pada luka.

Jenis penyembuhan ini terjadi pada luka sayat aseptik yang ditutup secara primer.6 3. Hal ini biasanya terjadi pada luka yang terbuka.5. Penyembuhan secara sekunder Luka yang dalam proses penyembuhan terisi dengan jaringan granulasi.JENIS-JENIS PENYEMBUHAN LUKA Jenis-jenis penyembuhan luka adalah : 1.5. selanjutnya terjadi kontraksi luka sehingga ukuran luka mengecil.3. kehilangan jaringan yang agak luas. 3. Penyembuhan secara primer Penyembuhan luka berlangsung dengan pembentukan jaringan granulasi yang minimal. dan akhirnya luka tertutup dengan pertumbuhan epitel dari pinggiran luka. yang pada beberapa hari kemudian (3-4 hari) dilakukan penjahitan untuk menutup kembali luka tersebut. karena infeksi.6 52 . jahitan yang kurang rapat atau luka dengan suatu dead space. Penyembuhan secara tertier Diartikan sebagai penyembuhan pada suatu luka yang sejak awal dibiarkan terbuka atau luka terbuka kembali setelah dijahit primer. jadi dilakukan bantuan tindakan bedah agar luka menjadi tertutup. 2.

Turunnya temperatur. seperti pengelolaan luka yang kurang tepat dan efek-efek terapi lainnya yang kurang menguntungkan. sintesa kolagen dan kemampuan makrofag untuk menghancurkan bakteri yang tercerna. 2. dan tersier (c) 3 FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP PENYEMBUHAN LUKA Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi dan memperlambat penyembuhan luka. Kurangnya suplai darah dan pengaruh hipoksia. Penyembuhan primer (a). faktor tersebut dibagi dalam faktor dari pasien (intrinsik) seperti kondisi yang kurang menguntungkan pada tempat luka dan sejumlah kondisi medis yang dapat menyebabkan lingkungan sekitar yang buruk terhadap penyembuhan luka. Tepian luka yang sedang tumbuh merupakan suatu daerah yang aktivitas metaboliknya sangat tinggi. Pada semua luka terdapat peradangan. Kira-kira 53 . dalam hal ini hipoksia menghalangi mitosis dalam sel-sel epitel dan fibroblas yang bermigrasi. sekunder (b). Oleh karena itu akan terjadi jaringan yang mati. Pada daerah dimana suplai darah tidak cukup akan menyebabkan kebutuhan sel-sel tidak terpenuhi. serta faktor-faktor dari luar (ekstrinsik). jaringan nekrotik. Faktor lokal yang berpengaruh terhadap penyembuhan luka : 1. membutuhkan banyak nutrisi dan pembuangan kotoran. Untuk itu dibutuhkan suplai darah dari vena dan arteri yang cukup.Gambar 17. Aktivitas fagositik dan aktivitas mitosis secara khusus mudah terpengaruh terhadap penurunan temperatur pada tempat luka. racun dan bakteri.

anemia dan penyakit lain. Infeksi. Jaringan nekrotik.1. Oleh karena itu sangat penting untuk mengeluarkan kontaminan organik maupun anorganik secepat mungkin tetapi dengan trauma yang minimum terhadap jaringan utuh. Dengan bertambahnya umur daya regenerasi dari jaringan tubuh akan berkurang. Mobilisasi. pasien dengan penyakit diabetes melitus. Adanya jaringan nekrotik dan krusta yang berlebihan di tempat luka dapat memperlambat penyembuhan dan meningkatkan resiko terjadi infeksi.dibawah 28◦C aktivitas leukosit dapat turun sampai nol. Suatu kebijaksanaan adalah penggunaan antibakteri lokal untuk mengatasi infeksi pada jaringan yang terkontaminasi. 5. faktor yang penting dan sering menimbulkan masalah pada kasus penyembuhan di tempat praktek. Protein berguna untuk mengefektifkan metabolisme penderita dan mengembalikan plasma protein. gangguan kardiovaskuler.4 54 . Penyembuhan luka pada penderita yang masih muda berlangsung lebih cepat. Vitamin C penting untuk mempertahankan ikatan antara sel-sel endotel pada kapiler. gangguan sistem imun. 3. sehingga dapat mengakibatkan terhambatnya penyembuhan luka. infeksi kronis. 3. krusta yang berlebihan dan benda asing. Kekurangan vitamin C menyebabkan fibroblas tidak matang atau berdiferensiasi. Dalam keadaan kekurangan protein akan mengakibatkan fibroblas tidak menjadi matang sehingga pembentukan serat kolagen hanya sedikit akibatnya penyembuhan menjadi terhambat. akibatnya terjadi hambatan pada pembentukan 2. Dua bahan nutrisi yang menunjukkan secara langsung untuk penyembuhan adalah protein dan vitamin C. Malnutrisi. 4. pergerakan yang terjadi pada luka merupakan trauma yang berulang pada luka tersebut. Umur. Demikian juga adanya segala bentuk benda asing termasuk bahan jahitan dan drain luka. Penyakit sistemik. Faktor sistemik yang berpengaruh pada penyembuhan luka: 1.

Tahap peradangan diperpanjang dimana sel darah putih mengangkut sisa-sisa jaringan nekrotik melaiui proses larutnya enzim dan paghositosis. a. Yang termasuk jaringan nekrotik adalah darah yang terkumpul pada luka (hematom) merupakan sumber makanan yang bagus bagi bakteri. Tekanan dari luar dan dalam luka (hematom) d. Jaringan nekrotik sebagai tempat berlindungnya bakteri. sel darah putih. c. Jaringan Nekrotik Jaringan nekrotik. Benda asing sering berbentuk antigen yang memacu terjadinya peradangan kronis. Iskemia disebabkan oleh beberapa hal yaitu : a. Bentuk flap yang kurang benar c. Benda asing yang bukan bakteri tetapi bertindak sebagai bakteri yang dapat meenyebabkan terjadinya infeksi. dengan adanya jaringan nekrotik akan menyebabkan masalah antara lain: a.Benda Asing Benda asing adalah segala sesuatu yang dianggap asing bukan anggota dari tubuh oleh sistem pertahanan tubuh terhadap mikroorganisme. b. termasuk bakteri. kotoran dan benang jahit. dan antibiotik yang sangat diperlukan. Iskemia Iskemia. Terlalu tegang atau tidak tepatnya lokasi penjahitan b. Merupakan penghambat terbentuknya sel-sel reparasi. sehingga dapat menyebabkan terjadinya infeksi pada luka. Hipotensi 55 . Iskemia menurunkan pengiriman oksigen dan zat makanan yang diperlukan untuk penyembuhan luka. Bakteri dapat berkembang biak dan menyebabkan infeksi dimana akan mengeluarkan protein bakteri yang dapat merusak jaringan b. Iskemia dapat mengurangi pengiriman antibodi. adalah berkurangnya suplai darah berpengaruh terhadap tahap perbaikan luka.

e.6 PENATALAKSANAAN LUKA YANG TIDAK TEPAT Gagal mengidentifikasi penyebab yang mendasari sebuah luka atau gagal untuk melakukan identifikasi masalah lokal di tempat luka. sehingga akan meninggalkan tanda yang buruk. Jaringan diliputi oleh benang yang terlalu tegang sehingga menimbulkan iskemia. Jika benang diambil terlalu awal maka dapat terjadi pembukaan kembali dari luka sehingga dapat menimbulkan kontraksi dari luka. Setelah sel saraf terluka. penggunaan antibiotik topikal yang kurang tepat dan ramuan obat perawatan luka lainnya. Anemia Ketegangan Jaringan Ketegangan jaringan. terjadi degenerasi pada semua akson di badan saraf yang terluka. Pada luka badan saraf. Apabila ada kerusakan akson (sel Schwann dan jaringan ikat masih intak) akan terjadi perubahan morfologis sebagai manifestasi dari degenerasi aksoplasma. investing Schwann cells akan memulai beberapa perubahan yang disebut 56 . penggunaan antiseptik yang tidak bijaksana. serta teknik pembalutan dan penjahitan yang kurang hati-hati adalah penyebab terlambatnya penyembuhan luka yang dapat dihindari. Pada luka yang menyebabkan terganggunya konduksi saraf. Penjahitan dengan benang yang terlalu kencang dapat menimbulkan ketegangan pada jaringan di daerah luka. MEKANISME PENYEMBUHAN JARINGAN SARAF Proses penyembuhan jaringan saraf tergantung pada derajat keparahan dan keluasan luka. ketegangan dari luka dapat menghambat terjadinya penyembuhan. Penyakit pembuluh darah tepi f. Apabila terlalu lama benang tidak diambil maka akan mendatangkan ketegangan jaringan dan luka cenderung semakin terbuka selama tahap remodeling. Hal ini akan berpengaruh pada bagian distal dari lokasi luka dan sebagian bagian proksimal dari luka.3.empat minggu.5. tanpa rusaknya akson (selubung myelin masih intak atau terdapat luka yang kecil) penyembuhan dari defisit fungsional berlangsung secara spontan dan umumnya lengkap dalam tiga .

Proses regenerasi sel saraf berlangsung sekitar 3 bulan dan ditandai dengan terbentuknya akson bermielin. tergantung luas daerah dehiscence dan keputusan klinisi. Selama 78 jam. sedangkan hyperthropic scar timbul segera setelah luka 57 . Setelah debris dapat dibersihkan. Bagian yang mengalami dehiscence dapat ditutup lagi atau dibiarkan supaya terjadi penyembuhan sekunder. pembengkakan. Jaringan parut Keloid memiliki faktor predileksi hubungan kekerabatan dan ras.degenerasi wallerian. Gejala klinis dari luka yang terinfeksi adalah eritema.7 Dehiscence Dehiscence terjadi akibat tindakan hecting yang tidak optimal. dan saraf yang terlibat. Berdasarkan hasil penelitian. Infeksi luka dapat dikurangi dengan cara melakukan tindakan bedah yang benar. akson yang terluka akan difagositosis oleh sel Schwann dan makrofag. hemostasis yang adekuat. di sepanjang akson distalis dan beberapa akson proksimalis. rasa nyeri. Keloid timbul beberapa bulan setelah luka sembuh. tipe luka. Sel Schwann juga dapat mengeluarkan beberapa faktor neurotropik untuk menunjang regenerasi sel saraf. infeksi dapat terjadi akibat daya tahan tubuh host yang menurun atau derajat virulensi bakteri. sel Schwann akan menghubungkan bagian proksimal dan distal dari luka dengan cara membentuk suatu ikatan (Bungner’s band) yang akan menerima akson yang sudah regenerasi dari bagian proksimal. Proses regenerasi dipengaruhi oleh faktor umur. serta menjaga luka tetap bersih. infeksi dapat terjadi bila terdapat 1 x 105 bakteri dalam 1 gram jaringan. dan umumnya disertai dengan terbentuknya pus dan bau. peningkatan suhu.4 KOMPLIKASI PENYEMBUHAN LUKA Infeksi Pada Luka Infeksi pada luka umumnya merupakan infeksi dari kontaminasi bakteri pada luka tersebut. Selain itu.1. Perlu dibedakan antara keloid dengan hyperthrophic scar. nutrisi. meliputi debridement. Tindakan yang tidak asepsis merupakan penyebab utama terjadinya luka yang terinfeksi. dan eliminasi dead space.

pasien dapat diberikan obat anti-keloid (salep kanakeloid atau injeksi kenacort 2x sebulan).sembuh.4 58 . Hal yang dapat dilakukan adalah menjaga jarak antarjahitan tidak terlalu rapat dan setelah dilakukan hecting.

59 . tahap fibroblastis dan tahap remodeling. dehiscence. Faktor-faktor yang menghambat proses penyembuhan luka adalah adanya benda asing.BAB IV KESIMPULAN Luka adalah terputusnya kontuinitas jaringan baik tanpa kehilangan jaringan atau disertai dengan kehilangan jaringan. penyembuhan luka dipengaruhi oleh faktor lokal dan faktor sistemik. dan jaringan parut yang berlebihan. iskemia dan ketegangan jaringan. adanya jaringan nekrotik. Proses penyembuhan luka dapat dibagi menjadi tiga tahap dasar yaitu tahap inflamasi. Komplikasi yang sering terjadi adalah infeksi. Luka pada jaringan dapat disebabkan oleh peristiwa patologis atau trauma.

Alih Bahasa Purwanto. Cristhoper's Textbook of Surgery. Robins. 2002. in Loyal Davis. diunduh tanggal 22 Januari 2013 17. I. tahun 1996. diunduh tanggal 22 Januari 2013 12. hal. diunduh tanggal 22 Januari 2013 13. Simple Wound Management and Suturing. www. SE. W. Feinberg.bayoesunaryo.patient. 4th ed. 1997. www. Oral and Maxillofacial Trauma.com. PE. Philadelphia: W. diunduh tanggal 22 Januari 2013 10. EGC. 9. 2003. Sjamsuhidajat R. 9th ed. 15. diunduh tanggal 22 Januari 2013 14. Frying. 20. www.co. Kumar. Jakarta. http://burn-victim-help-center. 6. Pp: 99-111 3. 365-372. FK-UI.4shared. Buku Ajar Bedah Mulut.meddet. Arif Mansjoer. diunduh tanggal 22 Januari 2013 16. London: Saunders Company. Pederson W.DAFTAR PUSTAKA 1.B Saunders Co. Radang dan perbaikan.com .G and Goldberg M.com . Manual Untuk Peserta ATLS. http://www. EGC. 4. Oral and Maxillofacial infection.skwawesome.jellygamatluxornet. Healing of Traumatic Injuries. Vol. Philadelphia. www. F. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2. 2001.65. 60 . Jakarta: EGC 8.G.uk 5. hal. The Principles of Wound Healing.com .Saunders and Co. Larsen.B. 1991. www. edisi 5. Media Aesculapius.com. JM. 1996. 1998.adam. hal 28-42. dkk.H. Wim de Jong. Enquist. Manajemen Luka. Cotran. Patient UK.300 – 309. Suprohaita. 2.81-91.com . dalam Dasar Patologi Penyakit. 7. hal. 1998.com . Morison. Topazian R. M.dc349. American College of Surgeon.B.wordpress. 105-107. W. in Fonseca RJ and Walker RV. www. diunduh tanggal 22 Januari 2013 11. Buku Ajar Ilmu Bedah.hal.D.

61 .

Kata kunci : perdarahan. Prosedur bedah mulut dan maksilofasial dapat mengeliminasi permasalahan ini dengan suatu prosedur operasi. Oleh karena itu pasien dengan trauma oromaksilofasial memerlukan intervensi nutrisi dalam rawat inap di rumah sakit. terjadinya edema. pengikatan dengan benang.namun prosedur ini juga membatasi kemampuan mulut sementara waktu. Maksud dari penulisan makalah ini adalah untuk memberikan gambaran penanganan perdarahan dan pengelolaan nutrisi penderita trauma oromaksilofasial . menggunakan panas . trauma. Penanganan perdarahan dapat dilakukan dengan membentuk mekanisme hemostasis natural. maka dari itu diperlukan suatu penanganan perdarahan secepat mungkin. meletakkan substansi vasokonstriktif. Pada penderita trauma oromaksilofasial juga diperlukan adanya pengelolaan nutrisi yang adekuat dikarenakan pada penderita trauma kemampuan penggunaan mulut penderita berkurang. Hal ini berakibat menurunnya daya tahan tubuh. nutrisi 62 . dan terhambatnya penyembuhan luka gangguan motilitas usus.Penanganan Perdarahan / Hemostasis dan Pengelolaan Nutrisi Penderita Trauma Oromaksilofasial Alvin 160121120006 Peserta Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut Dan Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Abstrak : Perdarahan pada penderita oromaksilofasial merupakan suatu jenis kegawatdaruratan yang dapat mengancam jiwa. gangguan enzim dan metabolisme serta kelemahan otot. Pada keadaan trauma (stress dan sepsis) tubuh mengalami rangkaian perubahan hormonal yang menambah laju metabolisme.

BAB I PENDAHULUAN Manajemen pasien yang mengalami trauma jarang dijumpai pada pusat trauma mayor dimana sumber dayanya tidak terbatas. jalan raya. namun justru dijumpai pada perumahan yang terpencil. Kunci penatalaksanaan pasien trauma biasanya melibatkan mobilisasi dari pasien-pasien tersebut dan penyaluran ke pusat trauma untuk penanganan lebih lanjut. membuat pendekatan per oral pada perawatan fraktur fasial menjadi aman dan layak dilakukan 2. Perawatan yang terdahulu hanya terdiri atas fiksasi gigi pada oklusi sentrik untuk mengurangi dan mengimobilisasi suatu rahang. hanya tekniknya yang berkembang pesat. Fraktur-fraktur yang pada jaman dahulu tidak dapat dikenali sama sekali atau hanya bersifat dugaan sekarang ini bisa ditunjukkan sampai hal yang terkecil. Trauma oromaksifasial dapat menimbulkan perdarahan. Keadaan ini membutuhkan pertolongan segera yang dapat berupa pertolongan pertama sampai pada pertolongan selanjutnya secara baik di rumah 63 . Diagnosis didukung dengan adanya teknik radiografis yang berkembang dengan pesat. Pada mulanya dokter gigi dilibatkan pada perawatan trauma rahang karena mereka menguasai pengetahuan tentang gigi dan oklusi. kantor. Dengan tersedianya antibiotik dan peralatan yang khusus. Sekarang ini dasar pemikiran perawatan fraktur mandibula dan maksila masih tidak banyak berubah. sehingga memerlukan tindakan di dalam ruang gawat darurat agar tidak menimbulkan kematian 3. Trauma yang terdapat pada regio maksilofasial memerlukan perhatian khusus. Ketika trauma yang kompleks terjadi. atau daerah-daerah lain dengan sumber daya yang terbatas yang biasanya tidak dapat menangani pasien dengan trauma yang kompleks dan frekuensi yang besar. pasien tersebut sering membutuhkan penanganan medis darurat atau kematian dapat terjadi 1.

Kelompok utama yang kedua dari pasien trauma berumur antara 35 dan 44 tahun dan didominasi oleh laki-laki yang terluka karena kecelakaan motor. Berikut ini akan dibahas mengenai penanganan perdarahan/hemostasis dan pengelolaan nutrisi pada kegawatdaruratan trauma oromaksilofasial sebelum dilakukan penanganan definitif lebih lanjut. Midface dibagi menjadi bagian atas dan bagian bawah. Kelompok umur ini adalah kelompok yang paling sering dijumpai oleh spesialis bedah mulut untuk evaluasi dan pengobatan luka fasial 1. Kelompok ketiga tertinggi dari pasien trauma berumur antara 75 dan 85 tahun dan kebanyakan adalah wanita yang terluka karena jatuh atau oleh karena kecelakaan motor. fraktur nasoetmoidal atau kompleks zygomatikomaksilari dan fraktur dasar orbita. Bagian kedua adalah daerah tengah wajah atau midface. Insidensi trauma maksilofasial sering terjadi terutama yang berhubungan dengan kecelakaan kendaraan bermotor. bila fraktur hanya terdapat pada mandibula. Fraktur Le Fort I bila fraktur terdapat pada bagian bawah dari midface. 3 Regio maksilofasial terbagi menjadi tiga bagian. Midface yang bagian atas bila terdapat fraktur Le Fort II dan Le Fort III dan/atau fraktur tulang nasal. Distribusi umur pasien trauma menunjukkan bahwa pasien trauma berumur antara 17 dan 24 tahun. sehingga memerlukan tindakan di dalam ruang gawat darurat agar tidak menimbulkan kematian 3. juga dibutuhkan pengorganisasian yang sempurna.sakit. 3 Kematian pada penderita dengan trauma oromaksilofasial salah satunya dapat disebabkan oleh perdarahan yang tidak cepat diatasi. Bagian pertama adalah wajah yang bagian atas. luka tusuk dan perkelahian). Tindakan tersebut dimaksudkan untuk menyelamatkan jiwa mencegah dan membatasi cacat serta meringankan penderitaan dari penderita. dengan jenis kelamin laki-laki yang paling dominan terluka pada kecelakaan motor dan oleh karena kekerasan (luka tembak. Bagian yang ketiga dari regio maksilofasial adalah wajah bagian bawah. Keadaan ini selain membutuhkan pengetahuan dan ketrampilan yang baik dari penolong dan sarana yang memadai. bila fraktur melibatkan sinus dan tulang frontal. 1 64 .

Tranportasi cepat (Ambulatory) 2. Adapun tahap-tahap penanganan trauma adalah sebagai berikut 4: 1. Sehingga tahap-tahap penangannnya bersamaan dengan penanganan trauma yang lainnya. PENANGANAN TRAUMA OROMAKSILOFASIAL Pada umumnya penderita dengan trauma oromaksilofasial terjadi bersamaan dengan trauma pada bagian tubuh yang lain (trauma multiple). Perawatan non operatif c. Breathing. Mempertahankan jalan napas b. Resusitasi dan pemantauan lanjut 4. Pemeriksaan Laboratorium d. Penanganan yang dilakukan sebelum dibawa ke rumah sakit a. Perawatan Definitif a. Pemantauan 3. Stabilisasi tulang belakang e. Pembedahan b. Diagnosis dan penanganan sekunder a. Nutritional support 5.BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. ABC (Airway. Rehabilitasi 65 . Pemeriksaan fisik menyeluruh b. Resusitasi cairan c. Menghentikan perdarahan eksternal c. Resusitasi dan pananganan primer a. Stabilisasi fraktur d. Radiografi c. Circulation) b.

Perdarahan eksternal jika darah keluar dari kulit atau jaringan lunak dibawahnya.B. dengan ciri-ciri warna darah merah gelap karena mengandung karbondioksida dan darah yang keluar mengalir tetap. Perdarahan intermediate jika terjadi dalam 24 jam. b. waktu perdarahan. karena hilangnya kontinuitas pembuluh darah. Perdarahan spontan/biokemis yaitu perdarahan terjadi akibat kelainan atau gangguan mekanisme hemostasis. operasi. b. dengan ciri-ciri warna darah cerah terang karena mengandung oksigen dan perdarahan memancar dengan aliran yang terputus-putus sesuai dengan denyut jantung. tetapi masuk kejaringan sekitarnya. Perdarahan primer jika terjadi pada waktu terputusnya pembuluh darah karena trauma. c. Menurut pembuluh darah yang terluka. Perdarahan sekunder jika terjadi setelah 24 jam. maka dibagi menjadi: a. 2. lokasi perdarahan. Menurut penyebab terjadinya perdarahan maka dibagi menjadi: a. 3. c. dapat terjadi karena kelainan 66 . Perdarahan mekanik yaitu perdarahan terjadi akibat trauma mekanik atau kecelakaan b. Perdarahan internal jika arah tidak keluar. dibagi menjadi: a. b. Berbagai macam perdarahan yang dibagi menurut pembuluh darah yang terluka. Perdarahan arteri. Perdarahan kapiler. dan penyebab perdarahan. perdarahan dapat dibagi menjadi: a. Perdarahan vena. dan darah merembes dari permukaan luka. TINJAUAN UMUM PERDARAHAN Perdarahan adalah keluarnya darah dari pembuluh darah kedalam ruang ekstravaskuler. Menurut lokasi perdarahan. dengan ciri-ciri warna darah antara darah arteri dan vena. 4. Menurut waktu terjadinya perdarahan. yang akan diuraikan sebagai berikut1: 1.

Hemostasis sekunder. kelainan trombosit dan kelainan mekanisme pembekuan darah. Gangguan faktor hemostasis akan mengakibatkan terjadinya perdarahan atau trombosis. C. hematoma tersebut meningkatkan tarikan pada tepi luka dan berfungsi sebagai media kultur. Masalah lainnya yang disebabkan oleh perdarahan adalah terbentuknya hematoma. Dinding kapiler yang kurang kuat akan menyebabkan darah keluar dan merembes kedalam jaringan sekitarnya sehingga nampak titik merah kecil pada permukaan kulit. yang akan diuraikan sebagai berikut: 1. mengurangi vaskularitas. Percobaan Pembendungan (Tes Rumpel Leede) Menguji ketahanan dinding kapiler darah dengan cara mengenakan pembendungan kepada vena. yang termasuk didalamanya adalah pembuluh darah dan trombosit. 2. Perdarahan yaitu darah keluar dari pembuluh darah. titik itu disebut petekia. Hematoma memberikan tekanan pada luka. yang memungkinkan terjadinya infeksi pada luka 5. yang termasuk didalamanya adalah faktor pembekuan dan anti pembekuan. sehingga tekanan darah di dalam kapiler meningkat. Hemostasis dapat dibagi menjadi5: 1.pembuluh darah. Evaluasi faal hemostasis dapat dilakukan melalui beberapa cara. 67 . Pencegahan kehilangan darah yang banyak merupakan hal yang penting untuk menjaga kapasitas transpor oksigen pada pasien tersebut. Trombosis yaitu darah membeku di pembuluh darah. Hemostasis primer. Salah satunya adalah menurunnya visibilitas yang dikarenakan perdarahan yang tidak terkontrol. Akan tetapi pengontrolan hemostasis penting dikarenakan oleh adanya alasan-alasan yang penting juga. HEMOSTASIS Hemostasis adalah proses penghentian perdarahan dari pembuluh darah yang mengalami kerusakan secara spontan.

VII. 4. V.II. Mungkin abnormal pada penyakit hati. X. protrombin dan fibrinogen 6.000-400.000/ul digolongkan trombositopenia berat dan perdarahan spontan akan terjadi jika jumlah trombosit kurang dari 20. Tabel 1. defisiensi vitamin K. Hitung jumlah trombosit Perdarahan tidak terjadi jumlah trombosit lebih dari 100. 3. Masa Protrombin Plasma (Protrombine Time/PT) Menguji pembekuan darah melalui jalur ekstrinsik dan jalur bersama yaitu faktor pembekuan VII. trombositopenia Lebih lama bila berkaitan dengan defisiensi faktor-faktor I. XI. 5. Pemeriksaan Penyaringan untuk Faktor XIII Digunakan untuk menilai kemampuan faktor XIII dalam menstabilkan fibrin. Jumlah trombosit kurang dari 50.000/ul. kininogen. Trombine Time (TT) Perubahan fibrinogen menjadi firbin 7.000/ul.V. Masa tromboplastin parsial teraktivitas ( Activitated Parsial Tromboplastin Time/APTT) Menguji pembekuan darah melalui jalur intrinsik dan jalur bersama yaitu faktor pembekuan XII. IX. prekalikren. V.2. Waktu protrombin 12-14 Detik 68 . deteksi penyakit willebrand Waktu perdarahan 2-7 menit Hitung platelet 150. Tes Koagulasi Jenis Tes Nilai Normal Kegunaan Mengamati fungsi vaskular dan platelet. Masa perdarahan Menilai kemampuan vaskuler dan trombosit untuk menghentikan perdarahan.X. X. VIII. protrombin dan fibrinogen.000/mm³ Deteksi trombositosis .

Faktor Pembekuan Darah Faktor I II Fibrinogen Protrombin Peranan pada pembekuan darah Prekursor fibrin Proensim. kecuali VII Hemofilia Tabel 2.terapi warfarin sodium (Coumadin).diaktifkan oleh tromboplastin Diperlukan untuk merubah protrombin menjadi thrombin Tes PT PT PTT III Tromboplastin IV V VI Kalsium Proaccelerin Tidak lagi digunakan Diperlukan pada semua tahap Diperlukan untuk pembentukan tromboplastin PTT PT PTT VII Proconvertin Diperlukan untuk mengubah protrombin menjadi thrombin PT VIII Faktor antihemofilik (AHF) Diperlukan untuk pembentukan tromboplastin IX Komponen Plasma tromboplastin X Faktor Stuart Prower Diperlukan dalam pembentukan tromboplastin dan perubahan dari protrombin menjadi thrombin XI Anteseden tromboplastin plasma XII Faktor Hageman XIII Faktor stabilisasi fibrin PT : Waktu protrombin PTT : Paruh waktu tromboplastin Mengawali proses pembekuan darah in vitro Merubah fibrin menjadi polimer fibrin Diperlukan untuk pembentukan tromboplastin Diperlukan untuk pembentukan tromboplastin PTT PTT PTT PTT PTT PTT 69 . dan anti-radang nonsteroid lain. Paruh waktu tromboplastin 60-70 detik Lebih lama. Penggunaan aspirin. bila ada defisiensi faktor pembekuan darah.

dressing tersebut sebaiknya jangan dilepaskan. seperti air-pillow splints dan blood pressure cuff dapat juga digunakan. yang sebelumnya digunakan untuk meningkatkan tekanan darah pada kasus hipotensi yang parah. Hemoragi dapat secara eksternal maupun internal ke dalam kavitas tubuh. Pada anak-anak. dan luka tembus pada leher. Maka dari itu. Aspek negatif dari suplai darah tersebut adalah hemoragi mayor dapat disebabkan oleh luka pada kulit kepala yang besar. Tekanan yang kuat dapat diaplikasikan proksimal ke arah arteri mayor untuk mengontrol perdarahan. Akan tetapi. tetapi sebaiknya dressing tambahan digunakan karena apabila dressing dilepaskan maka formasi clot yang telah terbentuk dapat terganggu dan menyebabkan perdarahan kembali. hal tersebut hanya direkomendasikan apabila penekanan langsung pada luka saja tidak efektif 1. Tekanan langsung kemudian dapat dilakukan pada luka untuk 70 . Hemoragi eksternal biasanya dapat dikontrol dengan melakukan penekanan secara langsung ke luka yang ada. Perban tekan. Pada orang dewasa dengan berat badan yang ideal. PASGs dan medical antishock trousers(MASTs). Luka kulit kepala dapat dengan cepat diatasi dengan dijahit menggunakan 2. memberikan keadaan yang merugikan pada beberapa situasi karena menyebabkan luka vaskular.D. Sebagai spesialis bedah mulut dan maksilofasial. Pada individu yang menderita obesitas. kita mengetahui adanya suplai vaskular yang banyak ke daerah muka dan leher. seorang laki-laki dengan berat badan 70 kg memiliki volume darah kurang lebih 5L. volume darah normal (liter) adalah sebanyak 7% dari berat badan (kilogram). Ketika dressing yang digunakan menjadi basah. volume darah secara umum tinggi per satuan berat. Tekanan yang digunakan untuk mengontrol perdarahan sebaiknya kuat dan kontinu. 8% hingga 9% dari berat badan.0 nonresobable atau staples tanpa memperhatikan kosmetik pasien. fraktur nasal atau tengah wajah. volume darah tidak meningkat secara spesifik. Luka pada kulit kepala dapat menyebabkan kehilangan darah dalam jumlah besar pada waktu yang singkat karena perembesan darah pada galea dan lapisan jaringan ikat yang renggang. PENANGGULANGAN PERDARAHAN KARENA TRAUMA Kehilangan darah akut dari sistem peredaran darah disebut juga sebagai hemoragi.

jika tersedia. retroperitoneum. Perdarahan internal dapat dikontrol dengan 71 . Pemeriksaan fisik dan radiografis sangat menolong dalam mengidentifikasi hemoragi ke dalam area tersebut. hal ini biasanya tidak efektif jika digunakan sendiri saja dikarenakan sirkulasi kolateral dari wajah. Daerah internal yang potensial untuk tempat terjadinya perdarahan termasuk rongga dada. merupakan cara yang terbaik untuk mengatasi perdarahan yang tidak dapat dikontrol dengan menggunakan metode yang telah disebutkan di atas 1. abdomen. jahitan dapat dilepaskan dari luka dan penutupan lapisan luka secara kosmetik dapat dilakukan 1. fraktur femur 500 ml hingga 1000 ml. Penjepitan tanpa melihat pembuluh darah dapat menyebabkan perdarahan dari pembuluh darah dan jaringan lunak. dapat dikontrol dengan tekanan dari gauze packing selama beberapa waktu. fraktur tibia 250 ml hingga 500 ml. Fraktur nasal dan tengah wajah dapat menyebabkan robeknya arteri ethmoidal. dan tulang-tulang kecil lainnya 125 ml hingga 250 ml. Kebanyakan hemoragi dari fraktur fasial dapat dikontrol dengan tekanan langsung atau packing. visualisasi yang adekuat dari pembuluh darah diperlukan. Ketika pasien sudah stabil.mengontrol hemoragi dan meminimalkan pembentukan hematoma. Pada kasus yang langka. Ketika pengontrolan langsung pembuluh darah diperlukan. ligasi dari arteri karotis eksternal mungkin diperlukan. Akan tetapi. Fraktur pelvis dapat menyebabkan kehilangan darah sekitar 1000 ml sampai 2000 ml. dan ekskremitas. yang dapat terjadi pada fraktur Le Fort I dan II. Embolisasi dari perdarahan dengan cara intervensi secara radiologi oleh radiologis . Perdarahan internal arteri maksilaris yang disebabkan fraktur dinding posterior maksila. Epinephrine dan cairan trombin dapat juga ditambahkan pada gauze packing dan kepala dapat juga dinaikkan untuk mendapatkan hemostasis. Hipovolemi yang terus menerus tanpa adanya perdarahan eksternal atau ke dalam rongga dada dapat menunjukkan adanya hemoragi abdominal atau hemoragi pada daerah fraktur. kecuali jika hemoragi tersebut menyebabkan keadaan yang merugikan pada sistem pulmonal dan kardiovaskular. Pengontrolan perdarahan internal tidak dilakukan pada saat survei primer. sekaligus dapat menyebabkan kemungkinan rusaknya nervus.

Hemostasis luka dapat diperoleh dengan empat cara. oklusi vaskular melalui mekanisme perlindungan. Jika pembuluh darah besar telah terpotong. Panas biasanya diaplikasikan melalui tegangan listrik yang dipusatkan oleh ahli bedah pada pembuluh yang mengeluarkan darah dengan memegang pembuluh darah dengan instrumen metal.menggunakan fiksasi sekunder dari fraktur. sehingga arus listrik dapat memasuki tubuh. setiap 72 . Cara kedua untuk memperoleh hemostasis adalah dengan menggunakan panas untuk menyebabkan ujung dari pembuluh darah yang terpotong sehingga bersatu (koagulasi termal). pembentukan clot. Ahli bedah dan asisten sebaiknya “mencolek” bukan mengusap dengan spons untuk menghilangkan darah yang terekstravasasi. Kedua. Cara ketiga untuk membantu terjadinya hemostasis bedah adalah dengan pengikatan dengan benang. Cairan bertindak sebagai penghalang energi dan mencegah sejumlah besar panas mencapai pembuluh darah untuk menyebabkan penutupan 5. atau dengan menyentuh pembuluh darah dengan tip elektrokauter. seperti hemostat. Syarat yang ketiga untuk koagulasi termal adalah pembuangan semua darah atau cairan yang terakumulasi di sekitar pembuluh darah yang akan dikauter. Pertama. yang pada akhirnya menyebabkan koagulasi. tip cauter dan intrumen metal lainnya yang disentuh oleh tip kauter tidak boleh menyentuh pasien pada titik lainnya selain pada area pembuluh darah yang berdarah. Beberapa pembuluh darah kecil kebanyakan hanya memerlukan tekanan selama 20 hingga 30 detik. dan pembuluh darah besar memerlukan 5 hingga 10 menit penekanan yang kontinu. Yang pertama adalah dengan membentuk mekanisme hemostasis natural. Mengusap dapat membuka kembali pembuluh darah yang telah tersumbat dengan beku darah 5. Kedua metode tersebut menyebabkan stasis dari darah pada pembuluh darah. Tiga kondisi harus dipenuhi untuk memenuhi persyaratan penggunaan koagulasi termal. pasien harus berhubungan dengan tanah. Hal ini biasanya diperoleh dengan mengunakan fabric sponge untuk memberikan tekanan pada pembuluh darah atau meletakkan hemostat pada pembuluh darah. Jika tidak. refraksi. dan operasi eksplorasi 1. arus listrik dapat mengalir ke arah yang tidak diinginkan dan menyebabkan luka bakar.

pada luka 5. Ahli bedah kemudian mengikat pembuluh darah tersebut dengan benang non-resorbable. seperti trombin atau kolagen. Cara keempat untuk mendapatkan hemostasis adalah dengan meletakkan substansi vasokonstriktif.. Penanganan perdarahan di tempat kecelakaan diutamakan pada perdarahan eksternal. serta kontrol perdarahan 6. Perdarahan pada penderita dengan trauma oromaksilofasial dapat terjadi secara internal maupun eksternal. dua hemostat dapat di letakkan pada pembuluh darah. Circulation). Perdarahan yang keluar dari hidung dapat diatasi dengan meletakan tampon di lubang hidung depan dan belakang 6. E.ujungnya dijepit dengan menggunakan hemostat. Breathing.. 73 . pada luka atau dengan pengaplikasian prokoagulan. Pada perdarahan internal hanya dapat diatasi di rumah sakit. PENANGANAN SEBELUM KE RUMAH SAKIT Tujuan penanganan sebelum penderita dibawa ke rumah sakit yaitu menyelamatkan jiwa penderita sebelum mendapatkan penanganan yang lebih lanjut di rumah sakit 6. dengan jarak yang cukup di anataranya untuk memotong pembuluh darah. pertama kali harus ditujukan pada penyelamatan jiwa dengan memperhatikan jalan nafas dan pernafasan. seperti epinefrin. Perawatan penderita cedera akut dengan faktur pada daerah wajah. dan sirkulasi (Air ways. Jika pembuluh darah dapat dibebaskan dari jaringan ikat sekitarnya sebelum dipotong. benang diikatkan pada setiap ujungnya dan hemostat dilepaskan 5. Ketika pembuluh darah telah terputus. Cara mengatasinya dengan melakukan penekanan pada luka dan jika perdarahan masih berlangsung terus dilakukan pengikatan (ligasi).

Sering dengan hanya melakukan sudah bisa berhasil mengatasi perdarahan. atau perdarahan berat melebihi 50 cc permenit.Gambar 1. Sesudah mengontrol perdarahan Intra-operatif. maka diklem dengan hemostat. Melakukan klem pada daerah perdarahan dimulut sangat sukar dan melakukan pengikatan (ligasi) bahkan lebih sulit lagi. misalnya terpotongnya arteri.dapat digunakan elektrokoagulasi dari pembuluh yang diklem sehingga tidak perlu diikat Alternatif yang lain yang biasa digunakan hanya pada pembedahan adalah menggunakan klip hemostatik pada pembuluh darah. Pergunakan cairan hipertonik 4. Penekanan diperoleh dari penekanan langsung dengan jari atau dengan kasa. 74 . Jika keluarnya darah sangat deras. Penanganan Perdarahan Hidung6 Penanganan awal apabila terjadi perdarahan arteri adalah dengan penekanan. maka dapat diputuskan untuk meneruskan atau menghentikan prosedur 4. Pemberian cairan intravena dapat diberikan jika transportasi diperkirakan memerlukan waktu lebih dari 30 menit. Apabila tersedia. Untungnya hanya dengan melakukan klem saja sudah cukup diinduksi untuk membuat beku darah.

saraf.Gambar 2. dan anggota gerakan lainnya. Perhatian harus segera diarahkan terhadap saluran pernafasan dan kontrol perdarahan eksternal. hendaknya dilakukan bersamaan dengan penanganan jalan nafas. sinus paranasalis. Perdarahan dari fraktur oromaksilofasial dapat terjadi perdarahan pada rongga mulut. perkiraan jumlah darah yang dikeluarkan dan waktu yang digunakan untuk mengontrol perdarahan. keadaan-keadaan itu harus ditangani lebih dahulu oleh karena mengancam jiwa penderita 1. Jika belum dilakukan. dada. Untuk penderita dengan trauma oromaksilofasial pendekatan awal sedikit berbeda dengan cedera yang lain. Seringkali trauma oromaksilofasial terjadi bersamaan dengan trauma pada bagian tubuh lain (trauma multiple). 75 . misalnya trauma mengenai cerebro kardiovaskuler. hidung. nasofaring (dari basis cranii) atau perdarahan dari hidung (fraktur nasalis. Pada keadaan ini kita mendahulukan penanganan trauma yang paling mengancam jiwa 1. fraktur maksila). Penjepitan pembuluh darah secara acak harus dihindari karena dapat membahayakan pembuluh darah balik dan saraf 1. sebelum melakukan pemeriksaan tanda-tanda vital. Penjepitan pembuluh darah dengan arteri klem6 Faktor yang mempengaruhi keputusan ini adalah kondisi fisik dan mental pasien (tanda-tanda vital). Penanganan perdarahan eksternal pada trauma oromaksilo fasial sudah harus dilakukan saat sebelum tiba di rumah sakit.

penyebab syok yang paling sering dan semua jenis syok memiliki komponen hipovolemik 1. Klasifikasi perdarahan1 KELAS I Kehilangan Darah (mL) % Kehilangan Darah < 15 % < 750 KELAS II 750-1500 KELAS III 1500-2000 KELAS IV > 2000 15-30% > 40% 76 . Tabel 3. kehilangan cairan dan elektrolit (muntah. dan asites) 1. SYOK HIPOVOLEMIK Syok adalah ketidakmampuan sirkulasi darah untuk memenuhi kebutuhan metabolisme jaringan. ketolamin (+) dingin.F. dan perabaan pada daerah akral dari ektremitas. Etiologi syok hipovolemik adalah kehilangan darah/perdarahan (trauma. kehilangan darah 10-15%. pemeriksaan elektrolit (seperti Na. Untuk cukup atau tidaknya aliran darah dapat diketahui dengan memperhatikan keadaan-keadaan seperti tensi yang menurun. dan hematoma). APTT. HCO3. kehilangan Plasma (luka bakar).5 ml/kg BB/jam1. keringat. Perdarahan adalah sebab tersering dari syok pada trauma. Syok hipovolemik adalah suatu kondisi medis yang timbul akibat penurunan sirkulasi volume darah. analisa gas darah dan pemeriksaan urin rutin (pada pasien dengan trauma). dan hampir semua penderita multi-trauma ada syok. perubahan tanda vital karena adanya mekanisme kompensasi. BUN. pancreatitis. Cl. PT. kreatinin dan kadar glukosa). ekstrimitas lembab dan keterlambatan capillary filling. Gejala syok hipovolemik antara lain adalah inadekuat perfusi organ. perdarahan GIT. denyut nadi yang melemah. takikardia. nafas yang cepat. Selain itu golongan darah dan cross matched juga perlu diperiksa1. Perdarahan yang banyak bisa mengakibatkan syok hipovolemik. urine output <0. Pemeriksaan laboratorium penunjang yang dilakukan untuk menetapkan diagnosis adalah pemeriksaan darah lengkap. K. diare. Resusitasi cairan dapat diberikan sesuai dengan keadaan klinis1.

5 L (PP) dan 2. Selain itu juga dapat memberikan efek pada ekspansi cairan intravaskular tetapi menyebabkan ekspansi berlebihan pada cairan interstisiel.0 L (RL) untuk kelas III. 1. Kristaloid sangat baik untuk dehidrasi (kehilangan cairan ekstraseluler) atau perdarahan ringan. 77 .Nadi Tekanan Darah Tekanan Nadi Capilary Refill Respirasi Urine (ml/jam) Status Mental Resusitasi Cairan N N N N/(postural) > 120 Menurun > 140 Menurun N ≤ 3o Memanjang Memanjang Memanjang N ≥30 cc/mnt 20-30 20-30 cc/mnt > 30 5-15 cc/mnt > 35 Tidak ada urine Sedikit cemas Cemas Sangat cemas dan bingung Bingung atau letargi Kristaloid & Darah Kristaloid Kristaloid Kristaloid & Darah Apabila darah belum tersedia pada kelas III dan IV sementara dapat diganti dengan tambahan 0.0 L (PP) dan 3.0 L (RL). Namun koloid efek udema parunya kurang dan harga cairan ini mahal1. Kristaloid efektif. tensi dan urine). Koloid sangat baik untuk ekspansi volume plasma. Menghentikan perdarahan mutlak harus dilakukan1. Pemberian pertolongan pertama dan resusitasi cairan yang tepat sangat membantu dalam mengembalikan perfusi jaringan yang adekuat. denyut nadi. apabila tidak terdapat peningkatan permeabilitas kapiler dan harga cairan ini murah1. Keberhasilan terapi dapat dilihat dari perbaikan gejala klinik tersebut di atas (kesadaran. tangan/kaki. Pilihan tipe cairan yang digunakan adalah koloid dan kristaloid. dan merupakan pilihan yang terbaik untuk peningkatan Cardiac Output dan volume O2. napas. muka.

drainase toraks. serta penggantian cairan yang hilang dilakukan melalui pipa lambung. Maksud utamanya adalah mengembalikan volume intravaskular dan mendapatkan perfusi jaringan yang adekuat.V. 2.Bagan 1. dalam 30 –60 menit. 78 . respirasi dsb. dengan pemberian 1-2 liter kristaloid (NaCl 0. dan memonitor tanda vital.. udema paru diperhatikan. NUTRITION Tujuan yang harus dipenuhi dalam pemberian cairan adalah menganti cairan yang hilang selama trauma atau pembedahan. tekanan vena sentral. GI LOSS) 1.9% atau RL) atau Koloid (Dextran) secara I. Pemasangan 2 jalur Infus I. Pemberian WB atau PRC hingga HT> 30 % dengan 1-2 unit fresh frozen plasma (FFP) tiap 5 unit darah. drainase peritonium. REPLACE NORMAL LOSS ( IWL. Sedangkan penatalaksanaan untuk kehilangan cairan gastrointestinal dapat diberikan 1-2 liter NaCl 0.9% dalam 30–60 menit. Penatalaksanaan pada perdarahan akut adalah sebagai berikut 1: 1. dan diuresis. Resusitasi Cairan1 FLUID THERAPY RESCUCITATION MAINTENANCE COLLOID CHRYSTALLOID ELLECTROLYTES NUTRITION REPLACE ACUTE LOSS (HEMORRAGHE. URINE FAECAL ) 2. fistula usus.V. Pada orang dewasa 2–3 liter RL selama 20–30 menit untuk memulihkan tekanan darah. kemudian pengecekan elektrolit dan dikoreksi bila terdapat kelainan lainnya 1.

bagian-bagian akral yang terjadinya lembab sudah jadi kering. terjadinya edema. akral yang dingin telah jadi hangat. hipofise dan SSO. Hal ini berakibat menurunnya daya tahan tubuh. jumlah perdarahan yang terjadi. Kemampuan seseorang dalam mengkonsumsi makanan melalui oral dapat berubah dikarenakan neoplasia. gangguan enzim dan metabolisme serta kelemahan otot. thalamus dan hipothalamus. H. PENGELOLAAN NUTRISI PENDERITA TRAUMA OROMAKSILOFASIAL Diantara banyak fungsi rongga mulut adalah sebagai jalan masuk makanan menuju saluran cerna (gastrointerstinal tract). Pada keadaan trauma (stress dan sepsis) tubuh mengalami rangkaian perubahan hormonal yang menambah laju metabolisme. Kemudian respon eferen dimulai pada hipotalamus. merupakan suatu refleks neurofisiologi yang dirangsang oleh proses trauma. sumber perdarahan telah teratasi atau belum. dan terhambatnya penyembuhan luka gangguan motilitas usus. meliputi susunan saraf pusat dan susunan saraf tepi. dan injuri (trauma). Aktivitas SSO merangsang kenaikan simpatis dimana kadar katekolamin plasma meningkat 7. Prosedur bedah mulut dan maksilofasial dapat mengeliminasi permasalahan ini dengan suatu prosedur operasi. kesadaran sudah membaik. 79 . Pemberian transfusi darah tetap harus menjadi bahan pertimbangan berdasarkan keadaan umum penderita (kadar Hb dan Ht). Oleh karena itu pasien dengan trauma oromaksilofasial memerlukan intervensi nutrisi dalam rawat inap di rumah sakit 7. dan usia penderita1. hasil serial pemeriksaan kadar Hb dan Ht. Respon neuroendokrin. terutama jaras spinothalamicus dan formatioretikularis dengan pengolahan akhir timbul pada medula oblongata. infeksi. akral yang sianosis telah berubah menjadi merah. jumlah cairan kristaloid dan koloid yang telah diberikan.Beberapa kriteria perfusi jaringan yang telah baik antara lain adalah nadi <100 x/menit. keadaan hemodinamik (tensi dan nadi).namun prosedur ini juga membatasi kemampuan mulut sementara waktu. deformitas congenital. produktif urine 1-2cc/kgBB/jam.

mobilisasi darah dari perifer serta vasokonstriksi perifer7. Fase ini akan memanjang bila terjadi perdarahan pasca bedah. Kadar gula darah biasanya menurun < 200 mg % bila nutrisi tidak adekuat maka jaringan tubuh akan mulai dikorbankan untuk memenuhi kebutuhan energi. glukagon dan kortisol dalam plasma menurun. Phase Flow (Katabolisme) Ditandai oleh oksidasi protein otot untuk menghasilkan glukagon yang sangat penting untuk pembakaran di otak dan jaringan rusak yang sedang sembuh. 2. Phase Anabolisme atau Konvalesen Pada phase ini tubuh mulai melakukan pemulihan pada sel-sel yang mengalami kerusakan akibat katabolisme sehingga diperoleh kalori yang cukup untuk memenuhi kebutuhan pada hari ke 7 – 10 bisa diberikan.Respon kardiovaskuler. katekolamin serta glukagon. Hormon pengatur stres antara lain: katekolamin. Respon metabolik mencakup kenaikan kadar glukosa dan asam lemak bebas (FFA) plasma serta rangsangan pengeluaran kortisol. Phase Ebb Ditandai dengan terjadinya hipovolemi dengan rangsangan adrenal dan simpatis yang berlangsung sekitar 24 jam. Kebutuhan kalori pada phase ini sekitar 5000 kkal. Adanya penghambat simpatis terhadap pengeluaran insulin dari pankreas serta pengeluaran glukokortikoid menambah resistensi insulin di jaringan perifer. yaitu7: 1. Pada phase ini metabolisme tubuh akan menurun serta tubuh kehilangan sensitivitas terhadap sekitar. Ketiga hormon ini berkombinasi untuk meningkatkan glukoneogenesis serta lipolosis untuk mobilisasi cadangan energi. meliputi peningkatan nadi (takikardia). Sumber energi berasal dari glikogen dan trigliserida untuk menghasilkan glukosa dan asam lemak. 3. Fase ini berlangsung sekitar 3 x 24 jam. 80 . Ada tiga fase respon metabolik trauma. kenaikan curah jantung (cardiac output). Kortisol tubuh akan meningkat dan demikian pula kadar gula darah.

apakah parentel ataupun enteral 4. ataupun gangguan asupan nutrisi. diabetes mellitus. Setiap pasien dengan penyakit kronis sehingga asuhan nutrisi merupakan komponen penting dalam perawatannya.0) yang disertai defisiensi nutrisi 6. penyakit paru obstruktif yang menahun ( PPOM ) dengan penurunan berat badan. Setiap pasien yang memerlukan dukungan energi khusus. 3. Pasien. Setiap pasien dengan penurunan bert badan yang bermakna sebelum masuk rumah sakit 7. seperti luka bakar. penyakit hipertensi yang baru didiagnosis. dan komposisi yang harus diberikan. rujukan dan intervensi nutrisi7: 1. penyakit kanker dengan penurunan berat badan .Lemak diperlukan untuk memenuhi kebutuhan asam lemak bebas dan menambah kalori dimana jumlah cairan dibatasi. Berikut adalah pasien – pasien dengan kondisi yang memerlukan konsultasi. Setiap pasien yang dilaporkan pengunaan megadosis suplemen nutrient atau yang sama sekali menghindari konsumsi kelompok makanan tertentu dari dalam dietnya selama waktu yang lama ( > 1 bulan) I. penyakit arteri koronaria. fraktur dan infeksi HIV. dispilidemia. Setiap pasien dengan anemia nutrisi Setiap pasien dengan deplesi simpanan protein yang bermakna ( misalnya albumin < 3. KEBUTUHAN NUTRISI PADA PASIEN TRAUMA OROMAKSILOFASIAL Penentuan status gizi penderita penting untuk menentukan jumlah. 5. Setidaknya penderita harus ditentukan 81 . malnutrisi. Setiap pasien yang mengalami trauma atau sakit dengan kondisi yang kritis.pasien tersebut mencakup gagal ginjal baik akut maupun kronis. penyakit hati. malnutrisi. lama. 2.

apakah termasuk malnutrisi ringan. atrofi mukosa. Pemeriksaan klinis dan laboratorium Pemeriksaan fisik. 2. deformitas dan kuku b. Kulit : Kualitas. g. sedang atau berat. rabun senja : Cheilosis. f. Tahapan dalam menilai status gizi adalah sebagai berikut 7: 1. glossitis. vitamin dan trace elemen. edema 82 . d. Operasi yang baru dilakukan seperti gastrectomy atau reseksi ileum dapat mempredisposisi malabsorpsi dan terjadi defisiensi vitamin ataupun mineral. e. Penyakit yang diderita misalnya pada hati dan ginjal seringkali berhubungan dengan defisiensi protein. Anamnesa Penyakit kronis juga alkoholisme dapat berhubungan dengan malnutrisi energi dan protein juga disertai dengan devisiensi vitamin dan mineral. kelainan pada gigi Abdomen : Hepatomegali Rectum : Warna feses Neurologis : Neuropathy perifer Ekstrimitas : Ukuran otot. tekstur. meliputi: a. folikel. kerontokan : Keratokonjunctivitis. rash. tekstur. Rambut Mata Mulut : Kualitas. h. 3. c. hiperkeratosis. kekuatan otot.

3.5 29.80 80 .1 <100 <100 <40 <70 <75 > 2%/week Transferrin (mg/dL)2 Total lympochyte count (cells/μL)2 Creatinine/height Index (%)3 Ideal body weight (%) Usual body weight (%) Weight loss/unite time Skin tests (No.2/4 (weak) 0/0 (anergic) 7.1-2.3 Female 16.7 100-200 800-1200 30-60 70-80 75-85 < 2%/week < 5%/month < 10%/6 months < 10%/6 months 1 .5%/3 months < months Moderate 2. energi yang terpakai selama proses asimilasi nutrien dan energi yang terpakai pada kerja fisik7.Tabel 4.8 . 83 . MENGHITUNG KEBUTUHAN NUTRISI Kebutuhan energi total dari seorang pasien dalam keseimbangan metabolik adalah sama dengan pemakaian energi total ( Total Energy Expenditure) yang meliputi kebutuhan basal. reactive + No.90 85 . Klasifikasi Malnutrisi Clinical and Laboratory Parameters Albumin (g/dL) 2 Extent of Malnutrition Mild 2.2000 60 .5 28. peningkatan kebutuhan energi yang disebabkan penyakit. placed) Normal antrophometric measurements Tricep skin fold (mm)4 Midarm circumference (cm) 4/4 (normal) Male 12.250 1200 .5%/3 Severe <2.95 < 5%/month <7.5 J.2 200 .

ACTIVITY AND INJURY FACTOR Activity Factors (AF) 1.68 x age (yrs) = _______kcals/day BEE juga dapat ditetapkan dengan menggunakan 12Lcal/lb untuk pria dan 11 kcal/lb untuk wanita.0 x height (cm) – [6.0 – 1. Menurut persamaan Harris – Benedict laju metabolisme basal bisa dihitung dengan menggunakan persamaan sebagai berikut7: HARRIS–BENEDICT METHOD FOR DETERMINING ENERGY REQIUREMENTS Pria BEE = 66.2 1.5 Confined to bed Ambulatory Non-stressed on ventilator Congestive heart failure Minor surgery Fever. atau 5.4 kcal/kg untuk pria and 5.13 1.57 x weight (kg)] + [5.15 – 1.4 1. AZ.85 x height (cm) – [4.47 + [13.13 1.0 kcal/kg untuk wanita7.67 x age (yrs) = _______kcals/day Wanita BEE = 665. per 1o C Skeletal trauma Mild to moderate infection Major abdominal/thoracic surgery 84 .2 1.2 1. Untuk menghitung kebutuhan energi total.2 – 1.1 – 1. Maricopa Medical Center. 1993) 7. Morse.1 + [9.Kebutuhan kalori basal didapat dengan penghitungan BMR berdasarkan persamaan Harris-Benedict.3 Injury Factors (IF) 1. Phoenix. kebutuhan energi dasar ( Basal Energy Expenditure/BEE) harus dikaitkan dengan Activity Factor (AF) dan Injury Factor (IF)/stress factor (L.56 x weight (kg)] + [1.2 1.1 – 1.3 – 1.

2. mempertahankan berat badan.35 – 1.68 x 30) = 1174.85 x 150) – (4.6 x 1. sepsis. tidak disertai demam.5 1. Secara keseluruhan. 30 kkal/kg BB/hari : kebutuhan basal. Tujuan utama terapi dukungan nutrisi adalah menjaga agar penurunan berat badan seminimal mungkin dengan harapan dapat mencegah komplikasi dan mengurangi morbiditas maupun mortalitas7.5 = 2114. pasien akan banyak kehilangan berat badan dan terjadi komplikasi yang seringkali fatal. 85 .5 Total energi yang dibutuhkan = 1174.4 – 1. usia 30 tahun.6 1. cancer Sepsis Jadi Total kalori yang dibutuhkan pasien = BEE x AF x IF Contoh perhitungan : Seorang wanita. respon fisiologis terhadap trauma merupakan peningkatan proses biokimia dan metabolik normal. penderita dirawat karena perdarahan epidural. pasca bedah dengan penyulit.4 – 1.1.28 kcal/hari Terdapat pula cara estimasi kebutuhan kalori yang sederhana dengan menggunakan rumus 3–4–5 dari I.8 Multiple trauma Closed head injury Stressed ventilator dependent Liver failure. 40 kkal/kg BB/hari : malnutrisi sedang.6 kcal/hari Activity Factor = 1.5 – 1. berat badan 40 kg.6 1. 3.2 x 1. BEE = 655.56 x 40) + (1. Bila tidak mendapat dukungan nutrisi yang adekuat. malnutrisi berat. sehingga biasanya terjadi peningkatan kebutuhan nutrisi yang cukup besar. tinggi badan 150 cm.D Syttrar yaitu7: 1. infeksi berat.55 1.1 + (9. pasca bedah ringan/sedang.2 Injury Factor trauma kepala = 1. 50 kkal/kg BB/hari : luka bakar > 40%.

Pada trauma terjadi katabolisme protein yang relatif konstan yaitu 10-20% dari keluaran energi. SDA nutrisi parenteral adalah 0% sedangkan SDA untuk formula enteral dan makanan peroral kira-kira 10-20%7. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pemberian emulsi lemak sebesar 30-40% dari kalori total merupakan jumlah yang optimal. Trauma digolongkan ke dalam stress sedang. Masukan protein untuk orang sehat (0. faktor stress dikategorikan dalam 3 kelompok. SDA dari makanan tergantung jenis makanan yang diberikan. perlu diberikan asam lemak esensial sebanyak 4-8% dari kalori total sehari7. dan derajat stress berat (51%). faktor stress. Rumusan yang dugunakan adalah sebagai berikut 7: KK = KKB + FS + AF + SDA KK KKB FS AF SDA = Kebutuhan kalori total = Kebutuhan kalori basal = Faktor stress = Aktivitas fisik = Spesific dynamic action Faktor stress dinilai berdasarkan penilaian status gizi dan status metabolik.5-2 g/kgBB/hr.Kebutuhan energi/kalori total sehari dapat dihitung dari penjumlahan kebutuhan kalori basal (BMR). Untuk mencegah terjadinya defisiensi asam lemak esensial. yaitu derajat stress ringan (10-30%). Apabila pasien harus di tempat tidur.8-1 g/kgBB/hr) tidak mencukupi kebutuhan pasien yang mengalami trauma oleh karena adanya peningkatan protein turnover. derajat stress sedang (31-50%). aktivitas fisik adalah 20%. sehingga besarnya faktor stress untuk trauma adalah 31-50%. Lemak berfungsi sebagai sumber energi. sedangkan bila tidak di tempat tidur. Kebutuhan protein bagi pasien dengan trauma bila tidak terdapat gangguan ginjal dan hati adalah 1. Untuk memudahkan. dengan rasio kalori non-nitrogen : nitrogen = 100:17. aktivitas fisik hanya 10%. aktivitas fisik dan spesific dynamic action (SDA). Faktor stress trauma multipel adalah 50%. 86 .

Saluran cerna bagian atas terutama mengabsorpsi zat-zat gizi utama. 3. Pencernaan (digestion) Penyerapan (absorption) Perubahan (degradation) Penggunaan oleh organ / sel (utilisation) Pengeluaran zat sisa (excretion) Masing-masing tahap metabolisme dilakukan oleh organ-organ yang berbeda. Banyaknya karbohidrat yang diberikan adalah kebutuhan kalori total dikurangi yang berasal dari lemak. pengeluaran zat sisa terutama oleh ginjal dan saluran cerna bagian bawah. Perubahan terutama dilakukan oleh hati.Karbohidrat juga berfungsi sebagai sumber energi. sedangkan saluran cerna bagian bawah terutama mengabsorpsi air. seperti tahap pencernaan dan penyerapan dilakukan oleh organ saluran cerna. 5. Kebutuhan cairan adalah ± 1500 ml per m2 luas permukaan tubuh per hari. Untuk dapat melakukan peran dan fungsinya dalam tubuh. karbohidrat merupakan 40% dari kalori total sehari7. Keadaan ini dapat menyebabkan terjadinya defisiensi seng. penggunaan oleh semua organ. 4. fosfor dan magnesium dalam plasma dan seluruh tubuh perlu dipertahankan agar tetap normal supaya didapat respon yang diharapkan dengan pemberian dukungan nutrisi7. Fungsi utama saluran cerna adalah pencernaan dan penyerapan dengan mensekresi enzim-enzim spesifik untuk masing-masing zat gizi. sehingga pasien trauma perlu mendapatkan suplementasi trace elemen ini7. kemudian ditambahkan bila terdapat peningkatan insensible loss melalui keringat. terjadi peningkatan ekskresi seng (zinc) yang dianggap berasal dari katabolisme di jaringan otot. Kadar kalium. Oleh karena terjadi peningkatan metabolisme. Hati merupakan organ yang penting pada proses degradasi zat-zat gizi karena merupakan organ utama 87 . diare. Pada trauma. zat-zat gizi mengalami proses metabolisme secara bertahap yaitu 7: 1. 2. Pada pasien dengan trauma. Garam fisiologis dan elektrolit intrasel harus diberikan dalam jumlah yang adekuat. maka kebutuhan vitamin B meningkat. mineral dan beberapa vitamin. atau selang makanan. Kebutuhan tiamin dan niasin berkaitan dengan masukan kalori.

sehingga fungsi dan struktur alat cerna tetap dipertahankan. sebab makanan masuk ke dalam tubuh melalui saluran cerna yang normal. Ginjal merupakan organ ekskresi yang paling besar dan juga sebagai organ pengatur keseimbangan cairan tubuh. Hati mensintesis beberapa protein plasma yang penting dan garam empedu serta berperan dalam detoksikasi. Sebaliknya. nutrisi parenteral total dapat menyebabkan atrofi mukosa usus halus dan pankreas terutama pada pemberian yang lama karena makanan masuk ke dalam hati melampaui alat cerna (by pass dari luar ke dalam hati). Selain itu. cara pemberian dapat melalui hidung-lambung (nasogastritic route) atau hidung–usus (nasoduodenal atau naso jejunal route). Ini terbukti dengan kenaikan berat badan yang cepat dan keseimbangan N yang cepat menjadi positif. Lebih efektif Nutrisi enteral lebih efektif. 88 . Keuntungan nutrisi enteral dibandingkan parenteral antara lain adalah sebagai berikut9: 1. Gangguan penyekit hati dapat dikelompokkan menjadi penyakit hati akut seperti pada hepatitis virus dan penyakit hati kronis seperti pada sirosis hati. Bersifat fisiologis Nutrisi enteral bersifat fisiologis. K. protein dan lemak serta bertanggung jawab terhadap 20% metabolisme basal. Pemberian nutrisi juga bisa dilakukan dengan cara bolus atau cara infus lewat pompa infus enteral. 2. Gangguan pada ginjal akan menyebabkan gangguan pada ekskresi sisa-sisa hasil metabolisme terutama metabolisme protein serta gangguan cairan dan elektrolit 7. PEMBERIAN NUTRISI PADA PASIEN TRAUMA OROMAKSILOFASIAL Terapi nurisi enteral adalah terapi pemberian nutrisi melalui saluran cerna dengan menggunakan selang/kateter khusus.yang akan memetabolisme zat-zat gizi dan mensekresi enzim yang berperan dalam metabolisme karbohidrat.

peningkatan imunitas tubuh akan cepat ditemukan pada pemberian nutrisi enteral. Komplikasi kurang Komplikasi nutrisi enteral jauh lebih rendah bila dibandingkan nutrisi parenteral. Nutrisi enteral yang bebas dari bahan-bahan yang mengandung purin dan kolesterol. komplikasi-komplkasi berupa sepsis. Syarat-syarat nutrisi enteral adalah9: 89 . Selain itu. Untuk menghindari intoleransi laktosa yang sering terjadi pada penderita malnutrisi sebaiknya suatu nutrisi enteral kurang atau tanpa mengandung laktosa.5% dari total karbohidrat. Sedangkan pemberian parenteral harus diberikan melalui vena besar yang letaknya profundal dengan sterilitas tinggi. trauma ganda. 5. hematom. 3. Biaya murah Rata-rata nutrisi enteral lebih murah 10-20 kali dari nutrisi parenteral. Kalori tinggi ini diperlukan pada penderita dengan hipermetabolik seperti sepsis. pneumothoraks serta gangguan metabolik berupa hipoglikemi atau hiperglikemi tak jarang ditemukan. atau paling tinggi kandungan laktosanya hanya 0. pemberian kalori tinggi dengan nutrisi parenteral sering menimbulkan perlemakan hati yang tidak dijumpai pada nutrisi enteral. Tekniknya mudah Pemasangan sonde lambung dapat dengan mudah dilakukan oleh setiap dokter maupun perawat tanpa persyaratan sterilitas yang ketat. trombosis. atau luka bakar. 6. Kalori tinggi mudah dicapai Dengan nutrisi enteral kebutuhan kalori tinggi lebih dari 3000 kkal/hari dapat dengan mudah dipenuhi yang dengan parenteral amat sulit mencapainya tanpa komplikasi dan pengawasan yang ketat. Itupun hanya dapat dilakukan oleh dokter yang terlatih. Nutrisi parenteral selain membutuhkan pemantauan yang ketat. 4.

maka ia harus memiliki kepadatan kalori tinggi. 90 . asam amino. vitamin. jumlah kalori sudah dapat tercapai. osmolaritas yang ideal adalah 350-400 m Osmol. Kepadatan kalori yang ideal adalah 1 kkal/ml cairan. Dengan kata lain. Memiliki osmolaritas yang sama dengan osmolaritas cairan tubuh Suatu nutrisi enteral yang memiliki osmolaritas yang tinggi mudah menimbulkan diare sebab cairan tubuh akan ditarik masuk ke dalam lumen usus. Oleh karena itu. Agar dalam bentuk cair ini nutrisi enteral tetap memiliki kalori yang cukup. dengan volume yang tidak terlalu besar. Memiliki kepadatan kalori tnggi Karena nutrisi enteral harus diberikan melalui sonde kecil. 5. Nutrisi enteral yang banyak mengandung serat akan bersifat bulk yang pada gilirannya akan meningkatkan frekuensi defekasi. 3. sesuai dengan osmolaritas cairan ekstraseluler. Tanpa atau kurang mengandung serat dan laktosa Suatu nutrisi enteral hendaknya memiliki sedikit atau tanpa mengandung serat agar efektif dan efisien.1. Mudah diabsorpsi Bahan-bahan baku suatu nutrisi enteral seharusnya terdiri atas komponenkomponen yang siap diabsorpsi atau paling tidak hanya sedikit memerlukan kegiatan pencernaan untuk dapat diabsorpsi. Sehingga. 2. elektrolit dan elemen-elemen lain sesuai dengan jumlah kebutuhan. lemak. maka ia harus berbentuk cair agar mudah melalui sonde. 4. dalam jumlah minimal untuk kebutuhan sehari (2000 kkal) harus sudah mengandung semua komponen nutrisi esensial seperti protein. molekulmolekulnya berukuran kecil. Kandungan nutrisinya seimbang Artinya.

Untuk menjaga ketepatan dan ketetapan tetes cairan nutrisi enteral dapat digunakan portable pump. kemudian pengenceran 2/3 pada hari kedua dan takaran penuh pada hari ketiga dan seterusnya. sambil mengawasi dan mengevaluasi keluhan maupun gejala-gejala yang timbul. kadar cairan nutrisi enteral sebaiknya dinaikkan secara bertahap. kelemasan dan kelenturannya bertahan lama serta tahan terhadap pengaruh cairan lambung dan cairan duodenum. Teknik pemberian nutrisi enteral Teknik pemberian secara tetes merupakan yang paling aman. terutama pada penderita yang kesadarannya menurun atau pada penderita yang berbaring. Sonde yang menjadi kaku akan sangat mengganggu penderita karena selain terasa tidak enak juga dapat menimbulkan erosi atau perlukaan saluran napas atau saluran cerna. 91 . Guna mengurangi komplikasi-komplikasi di atas.5 mm). Guna menjaga toleransi penerimaan usus. juga tidak tahan terhadap pengaruh cairan lambung maupun duodenum. sebaiknya penderita diposisikan setengah duduk selama pemberian nutrisi enteral. Saat ini sonde-sonde yang dipakai untuk nutrisi enteral terbuat dari silikon atau poliuretan yang selain diameternya kecil (2. Pola lama yang memberikan secara bolus mengandung banyak komplikasi berupa muntah. sonde mudah menjadi kaku setelah zat pelemasnya habis (setelah 24 jam pemakaian). Pemilihan sonde Sebelum tahun 1980-an sonde yang tersedia umumnya terbuat dari polietilen. 2. PVC atau lateks. Dimulai dengan pengenceran ½ pada hari pertama.Prosedur teknik pemberian nutrisi enteral / diet sonde akan diuraikan sebagai berikut9: 1. regurgitasi sampai aspirasi ke dalam paru. Kekurangan dari sonde-sonde ini selain diameternya besar.

albumin total). antara lain akan diuraikan sebagai berikut 9: 92 . ureum. serum (glukosa. penderita kanker. peritonitis. Sedangkan pada suatu keadaan katabolik yang tinggi diperlukan penambahan 30100% dari kebutuhan BMR9. sepsis. antara lain pemeriksaan darah (Hb. fistula. 2. lambung. perdarahan gastrointestinal yang akut. luka bakar yang luas. depresi berat.Kebutuhan metabolisme basal dapat dihitung dengan indeks BROCA. penderita dengan kebutuhan kalori ekstrim. dan kolon. Kemajuan atau kemunduran keadaan umum penderita dievaluasi setiap harinya termasuk keseimbangan cairan dan elektrolitnya bila ada fasilitas. Selain itu. Indikasi pemberian nutrisi enteral adalah9: 1. Ht. seorang dengan tinggi badan 165 cm tanpa stress memiliki BMR (165-100)x20 = 1300 kkal. esofagus. Indikasi non bedah: anoreksia. leukosit). tiap kenaikan 1° + 10% BMR + 25-30% BMR +10% BMR Jadi. volume dan urin rutin. Dengan menambah 10-20% dari kebutuhan BMR dapat diperoleh kebutuhan kalori pada saat aktivitas yang sangat terbatas. trauma kepala/otak. malabsorpsi/maldigesti. ileus. saluran empedu. sebagai berikut9: BMR = Indeks Stress (Tinggi Badan – 100) x 20 Dimana indeks stress: Paska bedah Fraktur multipel Sepsis. Kontrandikasi pemberian nutrisi enteral apabila pasien muntah-muntah. protein total. dan atoni paska bedah. Pengukuran berat badan atau lingkar lengan atas (LLA) setiap minggu merupakan parameter yang objektif. pemeriksaan laboratorium sangat diperlukan. yakni pasca bedah: mulut. Komplikasi nutrisi enteral. Indikasi bedah.

Komplikasi bakteriologik Kontaminasi dengan bakteri gram negatif pada waktu penyediaan nutrisi enteral atau kantong plastiknya dapat menimbulkan syok septik. Rasa mual sampai muntah dan kram perut atau diare merupakan gejala yang menonjol. 93 . Pemberian kadar secara bertahap dapat mengurangi komplikasi ini. Prinsip keseimbangan pemberian tekanan nutrisi parenteral sehingga adalah mempertahankan interalumen tetap. 4. Komplikasi metabolik Dehidrasi hipertonik dapat terjadi bila komposisi nutrisi enteralnya memilki osmolaritas yang tinggi. 2.1. Bila saluran pencernaan tidak berfungsi. 2. Bila saluran cerna mengalami obstruksi Bila saluran cerna terlalu pendek Bila terdapat fistula pada saluran cerna. tidak cukup makan. Secara umum dapat dikelompokkan berdasarkan keadaan kondisi saluran pencernaan (gastriontestinal tract). Nutrisi parenteral adalah pemberian nutrien melalui pembuluh darah vena. 3. yaitu 9: 1. 3. 4. tidak bisa makan dan tidak boleh makan. dan mengatasi kehilangan plasma 9. osmotik volume mempertahankan tekanan hidrostatik. Cara pemberian dapat melalui vena perifer (nutrisi parenteral perifer) atau vena sentral (nutrisi parenteral total). Komplikasi mekanik Komplikasi mekanik berhubungan dengan sondenya sendiri yang dapat mengalami dislokasi atau penyumbatan. Komplikasi kimiawi Hal ini berhubungan dengan osmolaritas serta komposisi kimiawi cairan nutrisi enteral yang terlalu tinggi. Terapi nutrisi parenteral diberikan kepada setiap penderita yang akibat penyakitnya membutuhkan banyak asupan nutrisi tetapi penderita tersebut tidak mau makan.

emboli 6. diare berat. seperti syok. ileus obstruksi. 5. NPO > 3-5 hari. dengan pemasangan kateter seperti pneumothoraks. yaitu 9: 1. Komplikasi infeksi ditandai oleh demam seperti pada flebitis. defisit cairan ekstra seluler yang belum terkoreksi dan demam tinggi (hipertermi). infeksi pada tempat. Komplikasi teknis berkaitan udara. Indikasi nutrisi parenteral adalah fungsi saluran cerna terganggu (tidak mampu mencerna atau menyerap makanan). 4. Sedangkan kontra indikasi nutrisi parenteral adalah9: 1. 3. Kondisi-kondisi yang membutuhkan nutrisi parenteral anatara lain. 2. peritonitis. sindrom malabsorpsi berat. trauma dalam phase Ebb (24 jam pertama) Pasien yang masih mengalami hemodinamik krisis. Nutrisi Parenteral Perifer Larutan standar yang diberikan untuk nutrisi parenteral total melaui vena sentral memilki tekanan osmotik hampir 2000 mOsm/L. Larutan nutrisi yang hanya sedikit hipertonik (antara 600 dan 900 m)sm/L) bisa disiapkan dengan mencampur proporsi sesuai dari asam 94 . menjaga keseimbangan cairan-elektrolit dan asam basa. memelihara hemostatik metabolik umum. Pada pasien dengan penyakit terminal (keganasan) atau keadaan vegetatif (brain death). Adapun akses yang digunakan untuk nutrisi parenteral. menyediakan intake bagi kebutuhan metabolisme secara parenteral9. Sifat-sifat fisik dari larutan demikian mendorong terjadinya trombosis vena perifer. vomitus. Pasien yang mengalami gagal nafas (kecuali dibantu dengan bantuan nafas mekanik dengan ventilator). malnutrisi protein atau protein-kalori. Pasien pasca bedah. fistula enterokutan. dan suplemen terhadap nutrisi enteral. dan keganasan9.Tujuan Pemberian Nutrisi Parenteral adalah supaya mempertahankan volume dan perfusi sirkulasi darah. dan baru setelah dilakukan kateterisasi pada vena cava superior pemberian menjadi praktis dan aman untuk larutan hiperosmolar demikian bisa digunakan pada pasien bedah.

Bila volume cairan besar. Campuran glukosa. 2. lemak dan asam amino diberikan melalui kateter vena sentral yang ujungnya berada dalam vena cava superior. dan kebutuhan akan air serta elektrolit diresepkan secara individual. Kunci keberhasilan dari cara ini terletak pada insersi serta perawatan kanul vena sentral. 95 . larutan-larutan demikian bisa diberikan melalui vena perifer untuk jangka pendek(kira-kira satu minggu). Nutrisi Parenteral Sentral Perkembangan kateterisasi vena sentral telah memungkinkan pemberian larutan hipertonik dengan aman. Larutan yang digunakan untuk nutrisi via vena sentral (TPN) biasanya memiliki densitas 1 kcal/ml.amino. dekstrosa dan emulsi lemak. Campuran nutrien ini memiliki desnitas kalori rendah dan memasok hanya 2500 kcal dalam 3 L larutan.

Dosis kemudian dapat ditingkatkan bertahap dengan memperhatikan perubahan kadar gula darah. sepsis. yaitu 24 jam setelah trauma atau krisis kegawatan dapat diatasi. emulsi lemak.Pendekatan yang digunakan pada pemberian nutrisi parenteral adalah 4 Tepat – 1 Waspada9: Tepat pasien Setiap pasien yang tidak cukup atau tidak mendapat intake oral seharusnya segera mendapat nutrisi parenteral (NPE). Makin berat kondisi pasien. Dosis NPE total harus diberikan lebih lambat (mulai hari ketiga) karena beban metabolismenya besar. Tepat indikasi Dosis NPE parsial dapat diberikan sangat dini. Agar imbang N tidak terlalu negatif. keadaan umum pasien. preeklampsia. Periode 24 jam ini adalah masa ebb-phase. Sel-sel resisten insulin dan kadar gula meningkat. NPE total hanya akan menambah stres bagi tubuh pasien. Tepat dosis Quebbeman (1982) menemukan pada pasien trauma berat dan sepsis yang mengalami katabolisme. mineral dan vitamin. masa stabilisasi dimana kadar stres hormon masih tinggi. Tepat obat/substrat Bahan nutrisi yang digunakan adalah karbohidrat. resting energy expenditure berkisar 1000 kkal/m2/hari. dsb. 96 . pemeriksaan kadar kalium dan natrium. katekolamin dan glukagon. Dosis yang tepat harus diukur. Fase tenang ini ditandai dengan menurunnya kadar kortisol. Sebelum keadaan tenang tercapai. makin lambat NPE total dapat dimulai. minimal diberikan 20 kkal/kg/hari.73 m2 atau kira-kira 25 kkal/hari. eklampsi. paska bedah ekstensif. asam amino. Hal ini berlaku pada pasien trauma. Ini setara dengan 1700 kkal pada pasien 70 kg dengan luas tubuh 1.

jugularis) dimana darah mengalir secara cepat sehingga kecepatan tetesan cairan NPE yang pekat tidak sempat merusak vena. Semuanya akan diuraikan sebagai berikut 9: 1. Jika pilihan atau dosis tidak tepat. Vena perifer dapat menerima sampai 900 mOsm. Waspada efek samping Berbeda dengan orang sehat yang dapat mengatur keseimbangan makan dan kebutuhannya sendiri. Vena kaki mudah mengalami deep vein thrombosis dan tromboemboli. lemak. makin mudah terjadi tromboflebitis. pasien dengan bantuan nutrisi khusus terpaksa menerima semua yang diberikan. Untuk cairan > 900-1000 mOsm jika perlu lebih dari 5 hari. Makin tinggi osmolaritas. Agar fluktuasi kadar gula darah bervariasi seminimal mungkin. subclavia. Kelainan ini dapat disertai hyperosmolar state dan diuresis osmotik. Adapun komposisi yang ideal dari nutrisi parenteral adalah kombinasi antara karbohidrat (KH). Jika larutan glukosa diselingi cairan lain maka besar kemungkinan kadar gula darah berfluktuasi karean overshoot insulin dari waktu ke waktu. mineral). Cairan 900-1000 mOsm untuk jangka pendek 3-5 hari masih dapat diberikan lewat vena tangan tapi jangan memberikan lewat vena kaki. Pada kasus yang ekstrim dapat terjadi koma. Beban glukosa merangsang pankreas mengeluarkan insulin.9. dan cairan dan elektrolit (vitamin. go slow” tidak diikuti. Karbohidrat 97 . larutan karbohidrat dibagi rata dalam 24 jam. peningkatan glukosa 5% menuju 20% harus dilakukan secara bertahap “start low. Osmolaritas dapat dikurangi dengan mencampur cairan menggunakan infus set bercabang 7. atau cara memberikan keliru. Tromboflebitis karena iritasi mudah diikuti radang. Penyulit yang sering dijumpai adalah hiperglikemi. penyulit yang timbul akan menyebabkan morbiditas bahkan kematian. go slow”. Hiperglikemi umumnya terjadi jika pola “start low. protein. Osmolaritas plasma 300 mOsm. seharusnya digunakan vena sentral (vena cava. bahkan tromboemboli.8.Untuk menghindari hiperglikemi.

Karbohidrat tersimpan dalam tubuh dalam bentuk glikogen dihati dan otot. sorbitol dan xylitol. fruktosa. karena itu pemberiannya harus dilindungi oleh pemberian kalori yang cukup agar protein tidak digunakan sebagai sumber energi. bahkan justru merugikan sebab akan menyebabkan kadar co2 dalam tubuh meningkat. Sumber kalori karbihidrat dapat berupa dextrosa. Rekomendasi dari American Society for Parenteral & Enteral Nutrition (ASPEN. Kebutuhan protein=konsumsi nitrogen x 6. Kebutuhan protein (asam amino) dapat dihitung secara tidak langsung dengan menghitung jumlah nitrogen yang dokonsumsi oleh tubuh. dengan rumus sebagai berikut a. maltosa. Menghitung energi konsumsi Konsumsi nitrogen (mg/24 jam) = ureum urine (mmol) / 24jam x 28 + 4000 mg. Pemberian kalori dengan glukosa yang melebihi kebutuhan ternyata tidak bermanfaat. Cara yang lebih mudah untuk menghitung kebutuhan asam amino adalah dengan memperkirakan besar kecilnya stress metabolik yang terjadi. 2. Glukosa/ dextrosa adalah sumber kalori yang paling fisiologis. 98 . Menghitung nitrogen secara laboratorium relatif mahal biayanya.25 b.Karbohidrat sebagai sumber kalori utama yang layaknya selalu tersedia 4060% dari total kalori (1 gr KH = 4kkal). Secara kasar dapat diperkirakan dengan menghitung jumlah ureum dalam urine 24 jam.5gr/kgbb/hari. 1993) untuk pemberian karbihidrat dalam keadaan normal adalah 25 – 30 kcal/kg/hari. Dosis maksimal bagi kebanyakan penderita adalah 6-7. Protein Protein diperlukan untuk regenerasi sel dan enzim.

Kebutuhan ini terutama harus diberikan bila terapi nutrisi parenteral berlangsung lama. harus selalu diperhatikan dan diperhitungkan akan kebutuhan terhadap elektrolit. Untuk memenuhi kebutuhan kalori. Cairan. Elektrolit. 4. dan Vitamin Dalam merencanakan komposisi carain untuk terapi nutrisi pareneral. trace element. Karena osmolaritasnya yang rendah. Trace Elements. Besarnya kebutuhan disesuaikan dengan keadaan klinis penderita. dan vitamin baik yang larut dalam air maupun lemak. Pemberian lebih dari 60% dari kalori total dapat menyebabkan ketoasidosis. cairan emulsi lemak diberikan 1-3 gr/kgbb atau dalam proporsi 25 – 40% dari kalori total perhari. pemberian cairan emulsi lemak dapat diberikan pada nutrisi parental perifer. Lemak Cairan emulsi lemak diberikan dalam nutrisi parental bertujuan untuk mencegah defisiensi asam lemak esensial dan sebagai sumber kalori.Perbandingan kebutuhan protein (AA) dan kalori perhari9: Protein (AA) Tanpa stress metabolik Dengan stress metabolik Contoh perhitungan kebutuhan protein. Misal berat badan pasien 60 kg dengan sepsis Dengan menggunakan tabel dengan stress metabolik Kebutuhan kalori Kebutuhan AA = 60 x 40 kcal = 2400 kcal/hari = 60 x 2 = 120 gr/hari 2 gr/kgbb/hari 40 kcal/kgbb/hari 1 gr/kgbb/hari Kalori 30 kcal/kgbb/hari 3. Kebutuhan air dewasa : 30-50 ml/kgbb/hari Kebutuhan Natrium Kebutuhan Kalium : 2-4 mg/kgbb/hari atau 100-200 meg/hari : 1-2 mg/kgbb/hari atau 50-100 meg/hari 99 .

dan turunnya tekanan sistolik. Gejala klinis minimal pada kelas I ini. dan perubahan status mental pasien yang banyak. Biasanya hal ini diikuti dnegan takikardia. Respon fisiologi ini dapat dikategorikan berdasarkan persentasi dari kehilangan akut darah. dan hal ini merupakan keadaan yang mengancam nyawa. penurunan tekanan darah dapat terjadi setelah kehilangan darah sebanyak 10-15%. Tingkatan tersebut dapat diukur melalui respon fisiologi terhadap hemoragi. Kebanyakan pasien tersebut memiliki beberapa tingkatan dari syok hipovolemik. penurunan tekanan darah sistolik yang secara substansial. perubahan status mental penderita. Pada dewasa sehat kehilangan 15% volume darah pertama diklasifikasikan sebagai hemoragi kelas I. kehilangan darah sebanyak ini secara konsisten menyebabkan tekanan darah sistolik menurun. tetapi tekanan diastol meningkat karena peningkatan dari katekolamin. peningkatan denyut nadi minimal dengan peningkatan kontraktilitas dari jantung dan peningkatan vasokonstriksi vena dan arteri dapat menjaga tekanan darah. kurangnya urine output. takipneu. Hemoragi kelas III diklasifikasikan sebagai kehilangan 30-40% volume darah. Dalam kondisi yang tidak kompleks. dengan mekanisme kompensasi yang kurang efisien. Pada kasus yang tidak kompleks. tekanan darah yang sangat sempit (tidak adanya tekanan darah diastol). Respon tekanan darah awal terhadap kehilangan volume intravaskular tidak memiliki hubungan yang linear 1. Gejala klinis meliputi takikardia (denyut nadi >100 pada orang dewasa). Hemoragi kelas II diklasifikasikan sebagai kehilangan volume darah sebanyak 15-30%. Pada pasien yang lebih tua. dan penurunan tekanan darah. Tekanan sistolik biasanya tidak berubah. Perlu diperhatikan 100 . Pasien dapat terkena serangan jantung bila kehilangan darah sebanyak ini. takipneu.BAB III PEMBAHASAN Hemoragi adalah penyebab utama keadaan hipovolemik pada pasien yang mengalami luka multisistem. Hemoragi kelas IV didefinisikan sebagai kehilangan darah sebanyak >40%. Gejala klinis meliputi takikardia.

dengan tandatanda pertama dari hipovolemi adalah terasa dinginnya kaki dan regio patella. Tekanan 101 . Dengan tes tersebut. Waktu kurang dari 2 detik biasanya ditemukan pada pasien normovolemik dan mengindikasikan aliran darah normal ke pembuluh kapiler 1. Kompensasi fisiologi awal pada kehilangan volume intravaskular adalah vasokonstriksi pada pembuluh darah di kulit dan otot. dressing tersebut sebaiknya jangan dilepaskan. Ekskremitas bawah adalah yang pertama terkena. karena pada kebanyakan kasus batas bawah dari tekanan ydarah pasien tidak diketahui. Sebagai contoh. pasien dengan hipertensi dapat menunjukkan tekanan sistol sebesar 120 mmHg dapat menunjukkan gejala kehilangan darah yang signifikan. Salah satu indikator dari rendahnya perfusi jaringan pada pemerikssaan awal adalah perfusi kulit. Pelepasan katekolamin menyebabkan keluarnya keringat dan kulit terasa dingin dan lembab pada saat palpasi. Waktu yang diperlukan untuk jarinagn kembali ke warna normalnya mengindikasikan waktu yang diperlukan untuk darah kembali ke pembuluh kapiler. tekanan diaplikasikan ke kuku-kuku jari. Hemoragi eksternal biasanya dapat dikontrol dengan melakukan penekanan secara langsung ke luka yang ada. Sulit dilakukan perubahan tekanan darah. tetapi sebaiknya dressing tambahan digunakan karena apabila dressing dilepaskan maka formasi clot yang telah terbentuk dapat terganggu dan menyebabkan perdarahan kembali. Kapilerkapiler pada kulit adalah yang pertama kali berhenti bekerja sebagai respon terhadap hipovolemik yang dikarenakan stimulus dari sistem saraf simpatik dan kelenjar adrenal melalui pelepasan hormon epinefrin dan nor epinefrin.bahwa tekanan darah pasien dapat turun tiba-tiba setelah pemeriksaan awal ketika mekanisme kompensasi mereka telah gagal karena kehilangan darah yang terusmenerus. sedangkan atlet muda yang sehat dapat memiliki tekanan sistol sebesar 90 mmHg 1. atau emninesia hipothenar dari tangan untuk mengevakuasi darah dari daerah tersebut dan kemudian tekanan langsung dilepaskan. Hemoragi dapat secara ekternal maupun internal ke dalam kavitas tubuh. kuku ibu jari. yang dimana memberikan ukuran kehilangan darah ke pembuluh kapiler. Ketika dressing yang digunakan menjadi basah. Tekanan yang digunakan untuk mengontrol perdarahan sebaiknya kuat dan kontinu. Capillary fill time dapat diukur dengan menggunakan “blanch test”.

Koloid sangat baik untuk ekspansi volume plasma.yang kuat dapat diaplikasikan proksimal ke arah arteri mayor untuk mengontrol perdarahan. Pemberian pertolongan pertama dan resusitasi cairan yang tepat sangat membantu dalam mengembalikan perfusi jaringan yang adekuat. Pilihan tipe cairan yang digunakan adalah koloid dan kristaloid. Aspek negatif dari suplai darah tersebut adalah hemoragi mayor dapat disebabkan oleh luka pada kulit kepala yang besar.0 nonresobable atau staples tanpa memperhatikan kosmetik pasien. Luka pada kulit kepala dapat menyebabkan kehilangan darah dalam jumlah besar pada waktu yang singkat karena perembesan darah pada galea dan lapisan jaringan ikat yang renggang. fistula usus. seperti air-pillow splints dan blood pressure cuff dapat juga digunakan. drainase peritonium. Tujuan yang harus dipenuhi dalam pemberian cairan adalah menganti cairan yang hilang selama trauma atau pembedahan. kita mengetahui adanya suplai vaskular yang banyak ke daerah muka dan leher.drainase toraks. fraktur nasal atau tengah wajah. serta penggantian cairan yang hilang dilakukan melalui pipa lambung. Namun koloid efek udema parunya kurang dan harga cairan ini mahal1. jahitan dapat dilepaskan dari luka dan penutupan lapisan luka secara kosmetik dapat dilakukan 1. Maksud utamanya adalah mengembalikan volume intravaskular dan mendapatkan perfusi jaringan yang adekuat. hal tersebut hanya direkomendasikan apabila penekanan langsung pada luka saja tidak efektif 1. Luka kulit kepala dapat dengan cepat diatasi dengan dijahit menggunakan 2. PASGs dan medical antishock trousers(MASTs). respirasi dsb. Akan tetapi. Penatalaksanaan pada perdarahan akut adalah sebagai berikut 9: 102 . Tekanan langsung kemudian dapat dilakukan pada luka untuk mengontrol hemoragi dan meminimalkan pembentukan hematoma. memberikan keadaan yang merugikan pada beberapa situasi karena menyebabkan luka vaskular. Perban tekan. dan merupakan pilihan yang terbaik untuk peningkatan Cardiac Output dan volume O2. Ketika pasien sudah stabil. yang sebelumnya digunakan untuk meningkatkan tekanan darah pada kasus hipotensi yang parah. Sebagai spesialis bedah mulut dan maksilofasial. dan luka tembus pada leher.

Salah satu fungsi rongga mulut adalah sebagai jalan masuk makanan menuju saluran cerna (gastrointerstinal tract). dalam 30 –60 menit. Pada orang dewasa 2–3 liter RL selama 20–30 menit untuk memulihkan tekanan darah.namun prosedur ini juga membatasi kemampuan mulut sementara waktu. Pada keadaan trauma (stress dan sepsis) tubuh mengalami rangkaian perubahan hormonal yang menambah laju metabolisme. sedang atau berat. Nutrisi parenteral adalah pemberian nutrien melalui pembuluh darah vena. dan diuresis. dan memonitor tanda vital. Oleh karena itu pasien dengan trauma oromaksilofasial memerlukan intervensi nutrisi dalam rawat inap di rumah sakit 7. infeksi. Sedangkan penatalaksanaan untuk kehilangan cairan gastrointestinal dapat diberikan 1-2 liter NaCl 0. deformitas congenital. Prosedur bedah mulut dan maksilofasial dapat mengeliminasi permasalahan ini dengan suatu prosedur operasi. dan injuri (trauma). Pemasangan 2 jalur Infus I. Setidaknya penderita harus ditentukan apakah termasuk malnutrisi ringan. Kemampuan seseorang dalam mengkonsumsi makanan melalui oral dapat berubah dikarenakan neoplasia. Kebutuhan energi total dari seorang pasien dalam keseimbangan metabolik adalah sama dengan pemakaian energi total (Total Energy Expenditure) yang meliputi kebutuhan basal. peningkatan kebutuhan energi yang disebabkan penyakit. Hal ini berakibat menurunnya daya tahan tubuh. kemudian pengecekan elektrolit dan dikoreksi bila terdapat kelainan lainnya 1.9% atau RL) atau Koloid (Dextran) secara I.. terjadinya edema. gangguan enzim dan metabolisme serta kelemahan otot. 4.V. energi yang terpakai selama proses asimilasi nutrien dan energi yang terpakai pada kerja fisik.V. dan terhambatnya penyembuhan luka gangguan motilitas usus. Penentuan status gizi penderita penting untuk jumlah lama dan komposisi yang harus diberikan.3. dengan pemberian 1-2 liter kristaloid (NaCl 0. Pemberian WB atau PRC hingga HT> 30 % dengan 1-2 unit fresh frozen plasma (FFP) tiap 5 unit darah.9% dalam 30–60 menit. Cara 103 . tekanan vena sentral. Kebutuhan kalori basal didapat dengan penghitungan BMR berdasarkan persamaan Harris-Benedict. udema paru diperhatikan.

Terapi nutrisi parenteral diberikan kepada setiap penderita yang akibat penyakitnya membutuhkan banyak asupan nutrisi tetapi penderita tersebut tidak mau makan. dan menyediakan intake bagi kebutuhan metabolisme secara parenteral7. tidak cukup makan. Tujuan pemberian nutrisi parenteral ini adalah untuk mempertahankan volume dan perfusi sirkulasi darah.8. 104 . tidak bisa makan dan tidak boleh makan.9.pemberian dapat melalui vena perifer (nutrisi parenteral perifer) atau vena sentral (nutrisi parenteral total). menjaga keseimbangan cairan-elektrolit dan asam basa. memelihara hemostatik metabolik umum.

Perdarahan adalah sebab tersering dari syok pada trauma. Pemberian nutrisi yang adekuat akan membantu proses penyembuhan pasien. 105 . Perdarahan yang banyak bisa mengakibatkan syok hipovolemik.BAB IV KESIMPULAN Trauma oromaksilo fasial dapat menyebabkan kematian jika dapat menyebabkan obstruksi jalan nafas dan perdarahan yang banyak. sebelum melakukan pemeriksaan tanda-tanda vital. nasofaring (dari basis cranii) atau perdarahan dari hidung (fraktur nasalis. Untuk penderita dengan trauma oromaksilofasial perhatian harus segera diarahkan terhadap saluran pernafasan dan kontrol perdarahan eksternal. fraktur maksila).Pemberian nutrisi untuk pasien rawat inap dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu peroral. keadaan-keadaan itu harus ditangani lebih dahulu oleh karena mengancam jiwa penderita. Pemberian pertolongan pertama dan resusitasi cairan yang tepat sangat membantu dalam mengembalikan perfusi jaringan yang adekuat. hidung. Perawatan pasien dengan trauma oromaksilofasial memerlukan terapi nutrisi yang benar. dimana untuk menentukan jenis nutrisi yang akan diberikan kepada pasien tersebut diperlukan kerjasama dengan ahli gizi sehingga benar benar sesuai dengan kebutuhan gizi yang telah ditentukan sebelumya. Pengukuran kebutuhan nutrisi pasien trauma bergantung dari rumus yang didasarkan oleh berbagai faktor yang mempengaruhi. dan hampir semua penderita multi-trauma ada syok. Perdarahan dari fraktur oromaksilofasial dapat terjadi perdarahan pada rongga mulut. sinus paranasalis. enteral dan parenteral. Sebelum melakukan perawatan fraktur perlu diperhatikan keadaan darurat medik yang harus ditangani lebih dulu.

Oral and maxillofacial Trauma. Purwanto. Dasar-dasar Terapi Nutrisi Parenteral pada Dewasa dan Anak.. 7. 4. drg. EGC. Tucker.. 3. Saunders Company. Robert. Enteral. Ellis III.R. Louis. Philadelphia. G. EGC. 2005. Oral and Maxillofacial Trauma 2nd ed.W. Sp. W.B. M. Vol I. 2000.2006. 1996. Kelompok Studi Terapi Cairan. 2008. Pedoman Penatalaksanaan Praktis. Roesli. Vol 1. Saunders Company. R. Buku Ajar Praktis Bedah Mulut. 8.B. Agus Purwadianto & Budi Sampurna.dr. London.dkk.B. E. edisi kedua. 5th ed.J. dkk. Edisi Revisi. 1991. Contamporary Oral and Maxillofacial Surgery. Bandung. Fonseca. 2. dan Parenteral. Mosby Elsevier. Pedersen. Saunders Company. 106 . R. Philadelphia. Philadelphia.J. J. Raymond and Wolker. 1997. 1996. Co. 5.GK.IKAPI. Oral and Maxillofacial Trauma 3rd ed. Basoeseno.. Jakarta.DAFTAR PUSTAKA 1. Vol 1.W. Andry Hartono. Hutchinson and Skinner. Alih Bahasa: drg. ABC of Major Trauma 2nd ed BMJ Publishing Group. 1997. 9. 6. Kedaruratan Medik. Hupp. V. W. W. St. Ruly.R. Fonseca.Terapi Gizi dan Diet Rumah Sakit.

menghentikan perdarahan. Trauma secara langsung biasanya menyebabkan cedera pada insisivus sentral maksila karena posisinya yang relatif lebih ke depan. merupakan faktor predisposisi trauma insisivus maksila. dengan melakukan penjahitan dan penutupan luka dengan kain kassa. dimana anak – anak pada masa pertumbuhan dengan aktivitas bermain yang tinggi seperti terjatuh dari sepeda. Insisivus yang protrusif dengan penutupan bibir yang tidak seimbang. pencegahan terhadap infeksi. merawat luka akibat trauma. menghilangkan rasa sakit. Perawatan darurat merupakan perawatan yang penting dan harus dilakukan dengan segera karena menyangkut prognosa dari penderita. maloklusi. perawatan darurat 107 . Perawatan darurat pada kasus truma gigi anterior meliputi pembersihan luka akibat trauma dengan menggunakan cairan antiseptik. Cedera akan meningkat dua kali lebih sering pada anak dengan insisivus yang protrusif dibandingkan dengan seorang anak yang memiliki oklusi normal. kecelakaan sewaktu berolahraga.Fraktur Dentoalveolar Sutami Wahyu Prasetya 160121120010 Peserta Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut Dan Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Bandung Abstrak : Fraktur dentoalveolar adalah salah satu fraktur yang banyak kita jumpai di emergency room. Adapun penyebab fraktur dentoalveolar yang utama adalah kecelakaan lalu lintas. Kata kunci: fraktur dentoalveolar. trauma. Pada pasien anak juga sering kita jumpai fraktur dentoalveolar. kekerasan dalam rumah tangga dan lain sebagainya. seperti terlihat pada individu dengan maloklusi Kelas II divisi I atau sebagai akibat kebiasaan buruk menghisap jempol.

merupakan faktor predisposisi trauma incisivus maksilla. Trauma tidak langsung pada gigi dan struktur pendukung biasanya sebagai akibat dari benturan yang mengenai dagu. kecelakaan sepeda motor. kecelakaan di taman bermain. Cedera dentoalveolar biasanya terjadi karena seseorang terjatuh. biasanya akibat oklusi yang menutup dengan cepat dan kuat antara gigi-geligi mandibula ke gigi-geligi maksilla. menimbulkan kerusakan gigi-gigi posterior atau jaringan lunak anterior. dan kecelakaan olahraga. kecelakaan sepeda. Keterlibatan trauma orofasial diperkirakan sekitar 15 % dari semua pasien emergensi.1 Trauma secara langsung biasanya menyebabkan cedera pada incisivus central maksilla karena posisinya yang relatif lebih kedepan. Fraktur dentoalvapaeolar pada umumnya terjadi bersamaan 108 . dan 2% dari kasus tersebut melibatkan trauma dentoalveolar. seperti terlihat pada individu dengan maloklusi kelas II divisi 1 atau sebagai akibat kebiasaan buruk menghisap jempol. benturan akan diteruskan ke oklusi gigi-geligi. Cedera yang terjadi dapat hanya mengenai gigi dan struktur pendukungnya saja seperti pada seorang anak yang terjatuh. ataupun dapat juga berhubungan dengan cedera multisistim. atau gigi tidak dalam oklusi yang baik. seperti yang terjadi pada kecelakaan kendaraan bermotor. Incisivus yang protrusif dengan penutupan bibir yang tidak seimbang.BAB I PENDAHULUAN Trauma pada gigi dan jaringan pendukungnya sering tejadi pada pasien trauma. Cedera pada gigi akan meningkat dua kali lebih sering pada anak-anak dengan gigi incisivus yang protrusif dibandingkan dengan seorang anak yang memiliki oklusi normal. Cedera pada strktur dentoalveolar dapat diakibatkan oleh trauma secara langsung mengenai gigi atau trauma tidak langsung. Dapat dalam bentuk retak tetapi pada umunya dalam bentuk fragmen alveolar yang sederhana.1 Fraktur dentoalveolar dapat terjadi dengan atau tanpa kerusakan gigi. penganiayaan.

dengan cidera mulut lainnya. Deteksi dan pengobatan dini dapat meningkatkan kelangsungan hidup dan fungsi dari gigi tersebut. Sekitar 82% gigi yang

mengalami trauma adalah gigi-gigi maksiler. Fraktur gigi maksiler tersebut 64% adalah gigi incisivus sentral, 15% incisivus lateral, dan 3% caninus. Fraktur dentoalveolar pada umumnya terjadi pada kelompok usia anak, remaja, dan dewasa muda dengan rasio laki-laki terhadap perempuan 2-3 : 1. 2 Pemeriksaan klinis pada fraktur dentoalveolar meliputi kemungkinan adanya luka pada bibir dan umumnya terjadi edema dan echymosis. Pada pemeriksaan gigi dan alveolus kemungkinan terdapat laserasi, echymosis dari pada gingival dan perubahan bentuk dari pada alveolus. 3 Selain itu pada saat palpasi hati-hati pada saat memeriksa bibir. Pemeriksaan pada bibir berguna untuk mengetahui apakah ada benda asing atau gigi di dalam jaringan tersebut. Palpasi pada alveolus berfungsi untuk merasakan perubahan bentuk tulang-tulang, dan kadang-kadang terdapat krepitus.1

109

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

I. Etiologi Fraktur Dentoalveolar Trauma dentoalveolar dapat terjadi pada anak-anak, remaja, maupun dewasa. Pada kelompok anak-anak penyebab utama dari trauma ini adalah jatuh. Pada usia 1-3 tahun ketika anak belajar berjalan dan berlari insidennya meningkat yang diakibatkan oleh aktivitas yang tinggi dan kurangnya koordinasi anggota tubuh menyebabkan anak sering jatuh. Pada anak usia sekolah, taman bermain dan cidera akibat bersepeda merupakan penyebab tersering. Selama masa remaja, cidera olahraga merupakan kasus yang umum. Pada usia dewasa, cidera olahraga, kecelakaan sepeda motor, kecelakaan industri dan pertanian, dan kekerasan dalam rumah tangga merupakan penyebab potensial. Rasio laki-laki dan perempuan adalah 2:1. Olahraga yang melibatkan kontak fisik merupakan penyebab umum fraktur dental, seperti sepakbola dan bola basket. Frekuensi fraktur dentoalveolar yang lebih tinggi ditemukan pada pasien dengan retardasi mental dan serebral palsi. Penyalahgunaan obat dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya frakturdental.2 Gigi insisivus maksiler yang menonjol keluar atau ketidakmampuan menutup gigi pada keadaan istirahat dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya fraktur. Benturan atau trauma, baik berupa pukulan langsung terhadap gigi atau berupa pukulan tidak langsung terhadap mandibula, dapat menyebabkan pecahnya tonjolan-tonjolan gigi, terutama gigi-gigi posterior. Selain itu, tekanan oklusal yang berlebihan terutama terhadap tumpatan yang luas dan tonjol-tonjolnya tak terdukung oleh dentin dapat pula menyebabkan fraktur. Keparahan fraktur bisa hanya sekedar retak saja, pecahnya prosesus, sampai lepasnya gigi yang tidak bisa diselamatkan lagi. Trauma langsung kebanyakan mengenai gigi anterior, dan karena arah pukulan mengenai permukaan labial, garis retakannya menyebar ke belakang dan biasanya horizontal atau oblique. Pada fraktur yang lain, tekanan

110

hampir selalu mengenai permukaan oklusal, sehingga frakturnya pada umumnya vertikal. Pukulan terhadap gigi anterior paling sering terjadi pada anak-anak dan apabila dibiarkan maka tubulus dentinnya akan terpapar pada flora normal mulut sehingga dapat menimbulkan infeksi dan inflamasi pulpa sehingga perlu dirawat. 1 Di pihak lain, gigi posterior yang fraktur karena tekanan oklusal yang besar biasanya karena mempunyai tumpatan yang luas. Pada gigi semacam ini, hanya sedikit tubulus dentin yang terbuka yang langsung berhubungan dengan pulpa karena telah terjadinya reaksi terhadap karies dan prosedur penambalannya berupa kalsifikasi tubulus dan penempatan dentin reaksioner di rongga pulpa. Dengan demikian jaringan pulpanya jarang sekali ikut terkena. Trauma terhadap gigi pada umumnya bukan merupakan keadaan yang mengancam nyawa, tetapi cidera maksilofasial lain yang berhubungan dengan trauma dental dapat mengganggu jalan napas. Fraktur biasanya terjadi pada gigi permanen, sedangkan gigi susu biasanya hanya mengalami perubahan letak. Morbiditas yang berhubungan dengan fraktur dental bisa seperti gagalnya pergantian gigi, perubahan warna gigi, abses, hilangnya ruang pada arkus dental, ankylosis, lepasnya gigi secara abnormal, dan resorpsi akar merupakan keadaan yang signifikan. Trauma dental sering berhubungan dengan laserasi intraoral. Ketika ada gigi yang pecah atau hilang dan pada saat yang bersamaan terdapat laserasi intraoral, maka harus diperhatikan bahwa bagian gigi yang hilang dapat tertanam di dalam robekan luka tersebut. 1 Trauma secara langsung biasanya menyebabkan cedera pada incisivus central maksilla karena posisinya yang relatif lebih kedepan. Incisivus yang protrusif dengan penutupan bibir yang tidak seimbang, seperti terlihat pada individu dengan maloklusi kelas II divisi 1 atau sebagai akibat kebiasaan buruk menghisap jempol, merupakan faktor predisposisi trauma incisivus maksilla. Cedera pada gigi akan meningkat dua kali lebih sering pada anak-anak dengan gigi incisivus yang protrusif dibandingkan dengan seorang anak yang memiliki oklusi normal. Trauama tidak langsung pada gigi dan struktur pendukung biasanya sebagai akibat dari benturan yang mengenai dagu, atau gigi tidak dalam

111

oklusi yang baik, benturan akan diteruskan ke oklusi gigi-geligi, menimbulkan kerusakan gigi-gigi posterior atau jaringan lunak anterior. 1 Cedera dentoalveolar ini paling banyak terjadi pada gigi sulung yang terjadi pada saat anak-anak mulai belajar berjalan hingga usia sekolah, yang berusia antara 2-4 tahun, sedangkan pada gigi permanen antara usia 7-10 tahun. Jumlah cedera dentoalveolar yang signifikan juga terjadi berhubungan dengan penatalaksanaan pasien yang tidak sadar atau pasien yang akan menjalani anestetikum umum. Lockhart dan Colleases melakukan survai terhadap 133 program pelatihan anestesi dan menemukan dari setiap 100 tindakan intubasi trachea terdapat 1 kejadian yang mengakibatkan trauma gigi anterior. 1

Gambar 1. Gambaran Klinis Fraktur Dento Alveolar

II. Klasifikasi Ada banyak cara untuk mengklasifikasikan fraktur dental. Klasifikasi Ellis merupakan salah satu yang sering digunakan dalam literatur kegawatdaruratan, tetapi banyak dokter gigi dan ahli bedah maksilofasial yang tidak menggunakan sistem ini. Metode klasifikasi yang paling mudah dimengerti adalah berdasarkan deskripsi cidera. Fraktur mahkota gigi dapat dibedakan menjadi kategori sederhana dan rumit. Fraktur mahkota sederhana melibatkan bagian enamel dan dentin. Yang termasuk fraktur mahkota sederhana adalah fraktur Ellis kelas I dan II. Fraktur Ellis kelas I Fraktur yang tergolong Ellis kelas I hanya melibatkan lapisan enamel gigi. Pada inspeksi tampak sebagai kepingan kecil dengan tepi

112

yang tidak beraturan (kasar). Keluhan yang biasanya muncul adalah rasa tidak nyaman akibat tepi fraktur yang kasar tersebut. Pasien pada umumnya tidak mengeluhkan sensitivitas terhadap temperatur atau udara. Fraktur ini pada umumnya tidak menyebabkan gangguan terhadap rongga pulpa. 1 Sistim WHO yang dimodifikasi oleh Andreasen melibatkan cedera pada gigi, struktur pendukungnya, gusi dan mukosa oral yang berdasarkan anatomi, terapi dan prognosanya. 1 Cedera jaringan keras gigi dan pulpa. 1. Crown Infraction (keretakan mahkota). Merupakan fraktur inkomplit atau retaknya enamel tanpa disertai kehilangan substansi gigi. 2. Uncomplicated crown fracture (fraktur mahkota tidak komplit) Merupakan fraktur yang terbatas pada enamel atau melibatkan enamel dan dentin tanpa disertai terbukanya pulpa. 3. Complicated crown fracture (fraktur mahkota komplit) Merupakan fraktur yang melibatkan enamel dan dentin disertai terbukanya pulpa. 4. Uncomplicated crown-root fracture (fraktur mahkota dan akar tidak komplit) Merupakan fraktur yang melibatkan enamel, dentin dan sementum tanpa disertai terbukanya pulpa. 5. Complicated crown-root fracture (fraktur mahkota dan akar komplit) Merupakan fraktur yang melibatkan enamel, dentin, dan sementum yang disertai dengan terbukanya pulpa. 6. Root fracture (fraktur akar) Merupakan fraktur yang melibatkan dentin, sementum dan pulpa.

113

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

Gambar 2. Cedera jaringan keras gigi dan pulpa.(1) Crown infraction. (2) dan (3) Uncomplicated crown fracture dengan atau tanpa melibatkan dentin. (4) Complicated crown fractured. (5) Uncomplicated crown root fractured. (6) Complicated crown root fracture. (7) Root Fracture. 1

Cedera jaringan periodontal. 1 1. Concussion (sensitif). Merupakan suatu cedera pada struktur pendukung gigi tanpa adanya kehilangan yang abnormal atau pergeseran gigi, tetapi ditandai dengan adanya reaksi sensitif terhadap perkusi. 2. Subluksasi (kegoyangan gigi). Cedera pada struktur pendukung gigi tanpa kehilangan yang abnormal tetapi tanpa pergeseran gigi. 3. Intrusif luxation (central dislocation). Pergeseran gigi ke dalam tulang alveolar tanpa disertai hancurnya atau fraktur soket alveolar. 4. Extrusif luxation (peripheral dislocation, partial avultion) Pergeseran sebagian gigi keluar dari soket alveolar. 5. Lateral luxation Pergeseran gigi dalam arah lateral yang disertai hancur atau fraktur soket alveolar.

114

6. Exarticulation (complete avultion) Pergeseran gigi yang komplit keluar dari soket alveolar.

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

Gambar 3. Cedera jaringan periodontal. (1)Concussion. (2)Subluksasi. (3)Intrusif luksatioin. (4)Extrusif luxation. (5) dan (6) Lateral luxation. (7)Retained root. (8)Exarticulation. 1

Cedera tulang pendukung. 1 1. Comminution alveolar socket. Fraktur atau remuknya soket alveolar mandibula atau maksila. Keadaan ini biasanya ditemukan bersama-sama dengan luksasi intrusi dan luksasi lateral. 2. Fracture of the alveolar socket wall (Fraktur dinding socket alveolar) Fraktur dinding alveolar soket yang ditahan oleh dinding soket fasial atau lingual. 3. Fracture of alveolar process (fraktur prosesus alveolaris). Fraktur prosesus alveolaris yang dapat atau tidak melibatkan soket alveolar. 4. Fraktur maksila atau mandibula.

115

Yaitu luka memar yang biasanya disebabkan oleh pukulan dari benda tumpul dan menyebabkan perdarahan pada daerah submukosa tanpa disertai sobeknya daerah mukosa. (6) dan (7)Fraktur mandibula atau maksila. Cedera tulang alveolar. Abrasi gingiva atau mukosa oral. 116 . 2. Kontusio gingiva atau mukosa oral. Laserasi gingiva atau mukosa Yaitu luka pada daerah mukosa yang biasanya disebabkan oleh sobekan benda tajam. (4) dan (5)fracture of the alveolar process. Yaitu luka daerah supefisial yang disebabkan karena gesekan atau goresan yang mengakibatkan daerah mukosa terlihat lecet dan permukaan yang berdarah. dan dapat mengenai prosesus alveolaris atau mungkin juga dengan atau tidak mengenai soket alveolar gigi. (1)Comminution alveolar process. 3. 1 1. (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Gambar 4. 1 Cedera gingiva atau mukosa oral.Fraktur ini mengenai mandibula atau maksilla. (2) dan (3)Fracture of the alveolar socket wall.

Fraktur mahkota yang mengenai email dan dentin. Fraktur secara oblique (mengenai sudut mesioincisal dan distoincisal) Gambar 5. Fraktur horizontal atau vertikal. Melibatkan pulpa. tipe pergeseran dan arah fraktur akar dan mahkota. yang dibagi lagi menjadi :3 1. 4.Selain itu ada juga klasifikasi yang dibuat oleh Sanders. Tidak melibatkan pulpa.1. 5. gambaran struktur gigi yang terlibat. 3 Keretakan mahkota. 3. 2. 2. Fraktur akar horizontal 1 1. Retak atau fraktur yang tidak lengkap dari email tanpa adanya kehilangan struktur gigi. Dapat terjadi secara horizontal atau vertical. Fraktur mahkota 3 1. 117 . Mengenai sepertiga apikal. Gambaran Klinis Fraktur MAhkota Horizontal Fraktur mahkota-akar. dentin dan pulpa.3 1. Fraktur mahkota yang mengenai email. Brady dan Johnson yang relatif lebih sederhana berdasarkan pada diskripsi cedera. Fraktur mahkota yang hanya mengenai email 2.

1 1. 5.2. Mengenai sepertiga tengah akar. Mengenai sepertiga servikal. Intrusi gigi (gigi masuk ke dalam soket. Avulsi Gigi 1 Yaitu perubahan letak keseluruhan gigi keluar dari soketnya. dan kemungkinan bersamaan dengan fraktur dinding alveolar. 118 . 2. Ekstrusi gigi (gigi sebagian keluar dari soketnya dan memungkinkan tidak disertainya adanya fraktur tulang alveolar). 4. kemungkinan juga disertai fraktur dinding alveolar). Perubahan letak gigi ke arah lingual (kemungkinan disertai fraktur dinding lingual). 3. Perubahan letak gigi. Perubahan letak gigi ke arah labial (kemungkinan disertai fraktur dinding alveolar). Gigi sensitif (Concussion) 1 Yaitu trauma pada gigi dan jaringan pendukungnya mengakibatkan gigi sensitive terhadap perkusi. Kegoyangan gigi (Subluxation) Yaitu trauma terhadap gigi dan jaringan pendukungnya mengakibatkan gigi menjadi goyang. tetapi tanpa disertai adanya perubahan letak gigi. Perubahan letak gigi kea rah lateral (pergeseran gigi ke arah distal atau mesial. biasanya disertai dengan kompresi fraktur dari saku alveolar). 3. tetapai tanpa disertai adanya kegoyangan gigi dan perubahan letak dari gigi. 4. Horizontal atau vertikal.

Anamnesis dapat dilakukan dengan menanyakan langsung kepada penderita atau pengantar. 1 Yang dimaksud dengan anamnesis adalah riwayat terjadinya trauma. Riwayat yang komprehensif harus didapatkan dari pasien. 1. Dalam melakukan anamnesis. orangtuanya atau orang yang mengetahui informasi yang berhubungan dengan pasiennya. 119 . dibutuhkan suatu penegakan diagnosa dan perawatan dalam waktu yang cepat. Riwayat mekanisme dan kejadian yang lengkap harus didapatkan dan langsung dilakukan pemeriksaan klinis dan radiografis untuk menjamin diagnosa dan perawatan yang tepat. dan bagaimana kejadiannya.Gambar 6. Gigi Avulsi III. Anamnesis.3 Langkah pertama dalam proses mendiagnosa yaitu mendapatkan riwayat kecelakaan yang akurat. kapan. terapi apa yang sudah diberikan sebelumnya. Agar penatalaksanaannya tepat dan berhasil. dimana. Kapan Terjadinya Trauma. Pemeriksaan dan Menegakan Diagnosis Cedera pada gigi-gigi dan struktur pendukungnya harus dipertimbangkan sebagai suatu keadaan darurat. ada beberapa informasi yang harus diketahui antara lain sebagai berikut : a.

3 Pemeriksaan Fisik. tekanan darah. d. h. Informasi ini penting untuk mengetahui apakah trauma tersebut mengenai benda keras atau tumpul atau lunak. pernafasan. Demikian juga pada kecelakaan mobil perlu diperhitungkan kemungkinan ada pecahan kaca pada bibir dan daerah muka. Hal ini penting karena mungkin saja penderita memerlukan suntikan anti tetanus karena luka akibat trauma tersebut terjadi di daerah yang kotor yang dengan mudah akan terkontaminasi dengan bakteri. Perawatan yang Sudah Didapat. c. g. meliputi pemeriksaan denyut nadi. Gangguan Pengunyahan. sedangkan trauma pada benda yang lunak atau tumpul seperti siku biasanya dapat mengakibatkan fraktur akar gigi dan luksasi. tingkat kesadaran dan suhu tubuh. maka prognosisnya akan semakin baik. semakin cepat gigi tersebut di replantasi. Keluhan Lain. Riwayat Trauma pada Gigi f. Palpasi pada wajah dilakukan untuk melihat diskontinuitas tulang rahang 120 . Pemeriksaan Klinis. Pemeriksaan terhadap keadaan umum penderita. Pemeriksaan Ekstra Oral Pada kasus trauma gigi anterior ini dapat dilakukan dengan cara visual dan palpasi. Juga pada fraktur rahang yang proses penyembuhannya akan berpengaruh jika perawatannya ditunda. Seperti pada gigi yang mengalami avulsi. e. Dimana Tempat Trauma Terjadi. Karena trauma pada benda keras dapat mengakibatkan fraktur ahkota gigi. Bagaimana Trauma Terjadi. b. Penyakit Sistemik yang Diderita.Karena jarak antara kecelakaan dan perawatan sangat penting diketahui bukan hanya untuk menentukan jenis perawatan yang akan dilakukan tetapi berpengaruh juga terhadap prognosisnya.

Pemeriksaan Radiologis. Adanya kelainan dari jaringan periodontal Tingkat perkembangan akar Ukuran kamar pulpa dan saluran akar Adanya fraktur rahang 121 . Untuk melihat arah garis fraktur Adanya fraktur akar Bagaimana tingkat keparahan dari gigi yang mengalami instrusi atau ekstrusi 4. 3. gangguan pergerakan rahang. (5) (6) (7) Pencatatan perubahan letak gigi Tes vitalitas dari gigi Pencatatan adanya kerusakan prosesus alveolaris. dengan cara palpasi prosesus alveolaris.yang menunjukkan adanya fraktur. seperti pada bibir. Pemeriksaan ini berguna untuk memberikan informasi. 7. 3 Kegunaan Pemeriksaan Radiologis Pemeriksaan ini diperlukan untuk membantu menegakkan diagnosa kelainan akibat trauma gigi anterior yang tepat dan benar. Tindakan yang sebaiknya dilakukan pada pemeriksaan intra oral meliputi antara lain : (1) (2) (3) (4) Perkusi gigi Pencatatan kegoyangan abnormal dari gigi atau tulang alveolar. langitlangit dan lidah. misalnya : 1. 2. Pemeriksaan Intra Oral. 5. Pemeriksaan ini penting untuk mendapatkan informasi agar dapat memberikan pertolongan pertama. Biasanya pemeriksaan radiologis dilakukan pada saat sebelum memulai perawatan dan pada saat kontrol sesudah perawatan sebagai evaluasi terhadap perawatan yang telah dilakukan. 6. Pencatatan adanya perubahan warna gigi Pencatatan kerusakan jaringan lunak. kelainan saraf serta hematoma. gusi.

seperti dasar mulut. Gambar 7. Foto panoramic.8. Melihat keadaan fragmen gigi dan jaringan lunak lain disekitar rongga mulut. bibir dan pipi. Macam-macam foto rontgen yang digunakan Teknik foto rontgen yang biasa digunakan dalam melakukan pemeriksaan riologis pada kasus trauma gigi anterior adalah teknik intra oral ( foto periapikal dan foto oklusal). fraktur alveolar crest pada maksila dan fraktur 1/3 apikal akar gigi pada mandibula 122 . dan kadangkala diperlukan teknik ekstra oral (foto panoramik. foto lateral dan foto postero-anterior) jika dengan foto intra oral garis fraktur tidak terlihat.

Pencegahan terhadap infeksi 1 Perawatan Gigi pada Cedera Dentoalveolar (Perawatan Definitif). pemeriksaan klinis dan pemeriksaan radiologis telah lengkap. Perawatan trauma gigi anterior dapat dibagi menjadi 2 tahap. Merawat luka akibat trauma. dengan melakukan penjahitan dan penutupan luka dengan kain kasa. Maka pada prinsipnya perawatan trauma gigi anterior ini adalah perawatan untuk mencegah prognosis yang lebih buruk dan mengurangi rasa sakit akibat trauma. Perawatan darurat pada kasus trauma gigi anterior meliputi : a. maka diagnosis yang tepat juga dapat ditegakkan sehingga langkah perawatan terhadap kelainan akibat trauma pada gigi anterior dapat dilakukan dengan segera. Perawatan Segera Setelah Terjadinya Trauma (Perawatan Darurat) Perawatan darurat merupakan perawatan yang penting dan harus dilakukan dengan segera karena menyangkut prognosa dari penderita. karena keadaan ini mempengaruhi prognosis yang akan datang. Trauma pada gigi merupakan salah satu kasus darurat yang memerlukan penanggulangan yang cepat dan tepat.BAB III Perawatan Trauma Pada Gigi Anterior 1 Setelah ananmnesis. c. yaitu perawatan segera setelah terjadinya trauma (perawatan darurat) dan perawatan terhadap gigi anterior yang mengalami trauma (perawatan definitif). Menghentikan perdarahan d. 123 . Menghilangkan rasa sakit e. Membersihkan luka akibat trauma dengan menggunakan cairan antiseptik b.

misalnya penambalan dengan resin komposit pada mahkota gigi yang terkena trauma. Tidak terdapat sangkutan pada saat oklusi yang normal. apakah disertai dengan fraktur tulang alveolar. 4.Perawatan gigi anterior yang mengalami trauma pada prinsipnya adalah mengembalikan gigi yang mengalami trauma keposisi semula (reposisi) dan mempertahankannya hingga proses penyembuhan (fiksasi dan imobilisasi). Perawatan jaringan pulpa. band atau splin dari logam cor. Ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan sebelum melakukan perawatan definitif pada kasus trauma gigi anterior. 2. lokasi dan luas daerah yang terkena trauma. Bersifat pasif pada tempatnya. 6. misalnya pada perawatan endodontik seperti pulp capping. trauma terjadi pada gigi sulung atau gigi tetap. 1. Perawatan pada gigi yang goyang dan berubah letak. tanpa menyebabkan tekanan pada gigi. umur pasien. keadaan jaringan periodontal serta gigi-geligi yang ada. yaitu : keadaan umum pasien. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi untuk mendapatkan fiksasi yang baik 1 . dll. pembuatan mahkota jaket. plastik atau acrylik. dll. Vitalitas gigi yang terkena trauma. 3. 124 . keadaan dari tulang pendukung. Pada saat dipakai tidak menyebabkan trauma pada gigi atau gusi. Pada dasarnya perawatan definitif trauma gigi anterior meliputi : a. yaitu dengan melakukan reposisi dan fiksasi. Tindak berkontak dengan gusi dan tidak mengiritasi gusi. 5.yaitu : Dapat dengan mudah dipasang didalam mulut tanpa melalui prosedur laboratorium yang lama. c. pulpotomi. Dapat dengan mudah dibersihkan dan dipakai pada oral higiene yang baik. Perawatan jaringan keras gigi. b. Yang dimaksud dengan fiksasi adalah suatu tindakan pemasangan alat yang digunakan untuk menstabilkan satu gigi atau lebih dengan mengikat atau menggabungkan gigi goyah atau berubah letak kegigi sebelahnya yang masih kokoh melalui kawat.

Memperhatikan nilai estetik yang baik. 4. 5.4. 10. Metal cast splint. misalnya pada gigi yang ekstrusi dan avulsi. yaitu : 1. Misalnya dengan metode Erich arch bar. 9. 8. Gambar 8. yaitu fiksasi dengan pengikatan kawat interdental. Ernt’s. Penggunaan alat Orthodontik bracket. Dapat memberikan jalan bagi perawatan endodontik. Interdental wiring fixation. Sauer’s arch bar. Sectional acrylic splint.7. Arch bar wiring. yaitu pengikatan kawat dengan arch bar. yaitu splin dengan menggunakan logam cor. 125 . Eyelet & Essig Method 1 2. Misalnya dengan metode Essig. Dapat dengan mudah dikeluarkan. Circumferential arch bar. Resin komposit splin dengan menggunakan etsa asam. Ada beberapa macam teknik fiksasi yang digunakan pada kasus trauma gigi anterior ini1. hauptmeye’s arch bar. Eyelet (Ivy). yaitu splin dengan menggunakan bahan dari akrilik. 3. 6. Harganya murah dan bahan-bahannya mudah diperoleh dipasaran.

Fiksasi intermasiler: A.3 yaitu sebagai berikut : 126 . Fraktur Mahkota – Akar a. Jika fragmen mahkota masih berada ditempat dan tidak goyang. Tetapi bila disertai dengan kegoyangan gigi dilakukan juga reposisi gigi dan fiksasi gigi tersebut.A B C D Gambar 9. Fiksasi intermaksiler dengan Erich bar & rubber elastic. screw & wire. fiksasi dengan Jalenko 1 Berikut ini akan diuraikan berbagai macam perawatan definitif trauma gigi anterior menurut beberapa pakar bedah mulut Fraktur Mahkota Pada fraktur mahkota yang mengenai email. Gunning splint untuk rahang edentulous (Miloro et. B. perawatan yang dilakukan sama dengan perawatan pada fraktur mahkota. d. dentin serta pulpa tanpa disertai kegoyangan gigi biasanya dilakukan penambalan pada gigi yang terkena fraktur dengan resin komposit sistem etsa dengan atau tanpa didahului perawatan endodontik.al. maka 1. C. 2004).

Fraktur Akar a. Jika garis fraktur berada sepertiga tengah akar. Jika disertai dengan fraktur tulang alveolar.b. 127 . karena pada periode ini biasanya telah terjadi proses kalsifikasi dari jaringan dan gigi kembali vital. c. maka sebaiknya dilakukan ekstraksi gigi tersebut. prognosisnya sangat baik terhadap pemulihan pertahanan jaringan pulpa dan penyembuhan dari fraktur akar tersebut. Dan dalam hal ini diperlukan tindakan reposisi dan fiksasi selama 2-3 bulan. Jika garis fraktur jauh kearah apikal dan gigi masih dapat direstorasi. Subluksasi Gigi 1 Gigi yang mengalami subluksasi sensitif terhada perkusi dan goyang. Gigi Sensitif (Concussion) 1 Perawatan yang khusus pada gigi sensitif ini biasanya tidak ada. Jika terjadi fraktur akar vertikal dilakukan tindakan ekstraksi gigi. dilakukan fiksasi pada gigi lawannya. c. maka dilakukan perawatan endodontik. Jika garis fraktur sepertiga apikal prognosisnya sangat baik dan biasanya tidak diperlukan perawatan yang khusus. Dan apabila kegoyangan gigi sudah sangat ekstrim. Perawatan yang diperlukan biasanya perawatan simptomatik yaitu dengan memberikan makanan yang lunak dan jika perlu menghilangkan kontak oklusal/incisal untuk mengurangi trauma saat oklusi yang diterima dari gigi. hanya diperlukan pemeriksaan yang rutin dan berlanjut untuk mengevaluasi kesehatan dari jaringan periodontal dan pulpa gigi tersebut dan jika perlu mengurangi kontak incisal untuk mengurangi trauma saat oklusi yang diterima gigi. b.

Setelah gigi direplantasi.Perawatan Pada Gigi Yang Berubah Letak 1 1. Avulsi Gigi Pada gigi yang mengalami avulsi. dan penggunaan alat orthodonti juda dapat membantu gigi yang mengalami instrusi dapat kembali keposisi semula. Keberhasilan replantasi gigi pada gigi yang mengalami avulsi ini tergantung pada lamanya gigi berada diluar soket. Semakin cepat gigi tersebut direplantasi. biasanya dibiarkan saja karena diharapkan pada saat pertumbuhan. maka prognosisnya semakin baik. 3 128 . dilakukan replantasi gigi dan stabilisasi gigi. gigi akan kembali pada posisi semula. Andreasen dan Hjorting-Hansen 1 mengemukakan bahwa 90% dari gigi yang direplantasi kurang dari 30 menit setelah terjadi avulsi gigi. Kemudian gigi tersebut dikeringkan dan setelah saku gusi dibersihkan dari gumpalan darah replantasi dapat segera dilakukan. gigi tersebut distabilisasi dengan splint sistem etsa asam atau splint akrilik selama 7-10 hari (pada gigi yang apeksnya sudah terbentuk sempurna) dan 3-4 minggu pada gigi yang apeknya belum terbentuk sempurna. tidak terdapat resorpsi akar pada gigi tersebut. Sebelum melakukan replantasi. kemudian immobilisasi gigi selama 2-3 minggu. dilakukan reposisi dan immobilisasi selama 2-3 bulan. 2. Ekstrusi Gigi dan Luksasi Gigi ke lateral Pada gigi yang mengalami ekstrusi dan perubahan letak kearah lateral dilakukan perawatan reposisi gigi dengan tekanan jari. Periode stabilisasi pada kasus cedera dentoalveolar dapat dilihat pada tabel 1. Dan resorpsi akar terlihat pada 95% gigi yang direplantasi setelah lebih dari 2 jam mengalami avulsi. gigi tersebut direndam dahulu dalam larutan garam fisiologis hangat seperti cairan saline untuk mencegah kekeringan dari serat-serat periodontal. Apabila akar sudah terbentuk sempurna. Intrusi Gigi   Pada apeks yang belum terbentuk sempurna.

3 Cedera Dentoalveolar Gigi yang mobile. Soft Tissue and Dentoalveolar Injuries. Menurut Andreasen. Gigi yang berada diluar saku gusi kurang dari 30 menit. Sumber : Ellis. Berapa lama gigi tersebut berada diluar saku alveolar.Pada pasien yang mengalami 129 .Tabel 1. 3 – 4 minggu. Fraktur Tulang Alveolar 1 Fraktur tulang alveolar biasanya disertai dengan fraktur dari beberapa gigi sehingga dengan fraktur tulang alveolar ini juga dapat terjadi fraktur mahkota. Gigi tersebut tidak mempunyai kelainan periodontal. e. c. 7 – 10 hari. 2003. sedangkan jika gigi berada diluar saku alveolar lebih dari 2 jam kemungkinan besar akan terjadi komplikasi yaitu resorpsi dari akar gigi dan gigi menjadi non vital. fraktur akar dan trauma pada jaringan lunaknya. seperti gigi yang berjejal.Maka perawatan yang dilakukan adalah mengembalikan bagian yang terkena fraktur keposisi semula dan kemudian dilakukan stabilisasi selama 4 minggu sampai terjadi proses penyembuhan tulang serta penjahitan gusi yang mengalami laserasi. b. Tingkat perkembangan akar. d. Saku alveolar dapat menyediakan tempat bagi gigi yang direplantasi. ada beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam melakukan replantasi gigi yang mengalami avulsi. 1 yaitu sebagai berikut : a. Gigi yang berubah tempat Fraktur akar. kecuali sebelum direplantasi gigi tersebut dirawat endodontik terlebih dahulu. Replantasi gigi (matur) Replantasi gigi (imatur) Durasi Imobilisasi 7 – 10 hari 2 – 3 minggu 2 – 4 bulan. Tidak ada pertimbangan untuk melakukan perawatan orthodontik. merupakan indikasi replantasi yang baik. Periode stabilisasi pada cedera dentoalveolar.

fraktur tulang alveolar yang parah dilakukan tindakan alveolektomi disertai ekstraksi gigi yang mengalami trauma. tulang alveolar yang lepas dan berukuran kecil dan tidak dapat dipertahankan dibuang dan dilakukan alveolektomi. 130 . Finger pressure dapat digunakan untuk menekan fragmen alveolar yang fraktur ke dalam posisinya yang tepat dan jika pasien menggunakan gigi tiruan dapat digunakan sebagai alat bantu memfiksasi. Gambar 10. Jika mukosa mengalami perlukaan maka sebelum tindakan operatif harus diberikan antibiotik terlebih dahulu baru kemudian dilakukan debridemen. fraktur dentoalveolar pada maksila (panah). Foto panoramic. Cedera jenis ini jika mengenai daerah edentulous maksilla dapat menyebabkan terjadinya fistula oro-nasal pada daerah premaksilla atau fistula oroantral di daerah premolar dan molar. Kemudian mukosa gingiva atau rongga mulut diperbaiki dengan cara melakukan penjahitan. 5 Bentuk cedera pada daerah tidak bergigi ini tidak terlalu berarti. Displacement segmen alveolar dan mengakibatkan maloklusi 1 Letak Fraktur pada Daerah Edentulous.

131 . seperti diazepam oral atau intra venous.Gambar11. Alat Bantu Fiksasi 4 Masalah jangka panjang yang dapat terjadi jika prosesus alveolaris yang lepas berukuran besar akan mengakibatkan kesulitan saat pembuatan gigi tiruan. maka perlu dirujuk kepada ahli periodontologi dengan melakukan perawatan splinting metoda Von Weissenfluh. Letak Fraktur pada Procesus Alveolaris Bergigi. Perawatann ini dilakukan dengan anestesi lokal dibantu dengan sedasi. Komplikasi ini memerlukan perawatan pendahuluan sebelum pembuatan protesa yaitu augmentasi ridge. 5 Adanya segmen tulang alveolar yang fraktur dan terdapat gigi permanen pada fragmennya maka diperlukan tindakan reduksi dan imobilisasi. jika terdapat gigi pada garis fraktur maka harus dipertimbangkan perawatan lainnya seperti perawatan endodontik diperlukan jika pulpa mengalami nekrosis. Kadang-kadang pada fraktur dentoalveolar gigi pada fragmen fraktur tidak mendapat dukungan tulang alveolar terutama pada penderita usia tua. Fraktur dentoalveolar pada usia sangat muda dapat membaik tanpa memerlukan imobilisasi dan cukup dirawat dengan pemberian diet lunak. kecuali gigi pada fragmen tulang alveolaris memerlukan pencabutan segera. Splinting harus dipertahankan selama 6 minggu. Prognosis fragmen fraktur dapat ditingkatkan dengan tindakan imobilisasi. pendalaman sulcus atau teknik implant. kemudian gigi ditempatkan secara akurat pada posisinya dan juga membebaskan trauma oklusal dari gigi lawannya. Tetapi bagaimanapun jika fragmen alveolar yang fraktur cukup besar maka tetap diindikasikan untuk pemasangan splint.

Tujuan perawatan cedera dentoalveolar adalah memperoleh kembali bentuk dan fungsi normal dari organ pengunyahan. 132 .Diagnosis ditegakkan dengan anamnesis. perkelahian dan domestic abuse. pemeriksaan klinis dan radiologis. Cedera dentoalveolar seringkali melibatkan regio anterior maksila Penyebab tersering cedera dentoalveolar adalah kecelakaan lalu lintas. olahraga.BAB IV KESIMPULAN Cedera pada strktur dentoalveolar dapat diakibatkan oleh trauma secara langsung mengenai gigi atau trauma tidak langsung. biasanya akibat oklusi yang menutup dengan cepat dan kuat antara gigi-geligi mandibula ke gigi-geligi maksilla. Perawatan tergantung pada kasus dan seringkali melibatkan bidang kedokteran gigi lainnya.

Volume 1. 4. 2. Powers. Sowray. LB. Appliances for Immobilization. Quintessence Publishing Co. Second Ed. Williams. 3. FH. 1982. WB Saunders Company. E III. 133 . WB Saunders Company. 1991. Peterson. E and Schilli. Kruger. In. Ellis. 2003.Daftar Pustaka 1. St. Kaban. and Steinhilber. Louis. Philladelphia. Oral and Maxillofacial Traumatology. MP. Mosby Year Book Inc. Third ed. Fonseca RJ. In. In. Philladelphia. N. Diagnosis and management of Dentoalveolar Injuries. Churchill Livingstone. 1990. Rowe and Williams’ Maxillofacial Injuries.. J. Oral and Maxillofacial Trauma. In. 5. 1994. Schwenzer. Contemporary Oral and Maxillofacial Surgery. Soft Tissue and Dentoalveolar Injuries. Vol. Localized Injuries of the Teeth and Alveolar Process. 1. Pediatric Oral and Maxillofacial Surgery.

fiksasi. Kecelakaan kendaraan bermotor merupakan etiologi utama penyebab fraktur mandibula di dunia. yaitu cara tertutup atau disebut juga perawatan konservatif dan cara terbuka yang ditempuh dengan cara pembedahan. Pada teknik tertutup imobilisasi dan reduksi fraktur dicapai dengan penempatan peralatan fiksasi maksilomandibular. Kata Kunci : fraktur. Daerah mandibula yang lemah adalah daerah subkondilar. Kedua teknik ini tidak selalu dilakukan tersendiri tetapi kadangkadang diaplikasikan bersama atau disebut dengan prosedur kombinasi. reduksi. Hal ini dapat disebabkan karena posisinya yang menonjol dan merupakan sasaran pukulan dan benturan. Banyak faktor yang dapat menyebabkan terjadinya fraktur mandibula. mandibula. Champy Line 134 .Fraktur Mandibula Retno Widayanti 160121120003 Peserta Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut Dan Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Abstrak : Mandibula merupakan bagian tulang yang paling rentan mengalami fraktur pada trauma fasialis. Pada prinsipnya ada dua cara penatalaksanaan fraktur mandibula. angulus mandibularis dan daerah mentalis. Pada prosedur terbuka bagian yang mengalami fraktur di buka dengan pembedahan dan segmen fraktur direduksi serta difiksasi secara langsung dengan menggunakan kawat/plat yang disebut dengan wire atau plate osteosynthesis.

Fraktur mandibula merupakan fraktur kedua tersering pada kerangka wajah. bila perlu dilakukan foto waters.BAB I PENDAHULUAN Fraktur mandibula adalah putusnya kontinuitas tulang mandibula 1. Faktor etiologi utama terjadinya fraktur mandibula bervariasi berdasarkan lokasi geografis. hal ini disebabkan kondisi mandibula yang terpisah dari kranium. Diagnosis fraktur mandibula dapat ditunjukkan dengan adanya : rasa sakit. Beberapa penyebab lain berupa kelainan patologis seperti keganasan pada mandibula. 2. Secara khusus penanganan fraktur mandibula dan tulang pada wajah (maksilofasial) mulai diperkenalkan olah Hipocrates (460-375 SM) dengan menggunakan panduan oklusi (hubungan yang ideal antara gigi bawah dan gigigigi rahang atas). Patahnya gigi. kecelakaan saat kerja dan kecelakaan akibat olahraga4. adanya gap. tidak ratanya gigi. dapat berakibat fatal bila tidak ditangani dengan benar2. gigi yang longgar dan krepitasi menunujukkan kemungkinan adanya fraktur mandibula. adanya laserasi intra oral. tidak simetrisnya arcus dentalis. Pada perkembangan selanjutnya oleh para klinisi menggunakan oklusi sebagai konsep dasar penanganan fraktur mandibula dan tulang wajah (maksilofasial) terutama dalam diagnostik dan penatalaksanaannya. nyeri tekan. namun kecelakaan kendaraan bermotor menjadi penyebab paling umum. Evaluasi radiografis pada mandibula mencakup foto polos. CT Scan dan pemeriksaan panoreks4. Mandibula adalah tulang rahang bawah pada manusia dan berfungsi sebagai tempat menempelnya gigi geligi3. Hilangnya kontinuitas pada rahang bawah (mandibula). sebagai dasar pemikiran dan diagnosis fraktur mandibula 4. pembengkaan. dan maloklusi5. Hal ini diikuti dengan perkembangan teknik fiksasi mulai dari penggunaan pengikat kepala ( head bandages). pengikat rahang atas dan bawah dengan kawat (intermaxilari fixation). Selain hal itu mungkin juga terjadi trismus (nyeri waktu rahang digerakkan) 4. serta fiksasi dan 135 .

berbicara dengan normal dan menciptakan pergerakan artikulasi seperti sebelum terjadinya trauma.4. Restorasi fungsi mandibula sebagai bagian dari sistem stomatognati harus mencakup kemampuan untuk mastikasi yang baik. mencegah terjadinya infeksi. 136 . mencegah terjadinya defek kontur yang dapat timbul.5.imobilisasi fragmen fraktur dengan menggunakan plat tulang ( plate and screw)2. Pada semua manajemen fraktur. tujuan dari perawatannya adalah untuk mengembalikan fungsi dengan memastikan penyatuan dari segmen tulang dan mengembalikan kekuatan seperti sebelum cedera.

Angulus mandibula adalah pertemuan antara tepi belakang ramus mandibula dan tepi bawah korpus mandibula. yaitu suatu lengkungan tapal kuda dan sepasang ramus yang pipih dan lebar yang mengarah keatas pada bagian belakang dari korpus.1 Anatomi Mandibula Mandibula dibentuk oleh dua bagian simetris yang mengadakan fusi dalam tahun pertama kehidupan. 137 . didapatkan tonjolan tulang halus yang disebut simfisis mentum yang merupakan tempat pertemuan embriologis dari dua buah tulang. Bagian bawah korpus mandibula mempunyai tepi yang lengkung dan halus. Permukaan luar dari korpus mandibula pada garis median. Secara keseluruhan tulang mandibula ini berbentuk tapal kuda melebar di belakang. Prosessus kondiloideus terdiri dari kaput dan kolum. Tulang ini terdiri dari korpus. Pada ujung dari masing-masing ramus didapatkan dua buah penonjolan disebut prosesus kondiloideus dan prosesus koronoideus. memipih dan meninggi pada bagian ramus kanan dan kiri sehingga membentuk pilar. Angulus mandibula terletak subkutan dan mudah diraba pada 2-3 jari dibawah lobulus aurikularis 10.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. Milohioid. Permukaan dalam dari korpus mandibula cekung dan didapatkan linea milohiodea yang merupakan origo m. Bagian korpus mandibula membentuk tonjolan disebut prosesus alveolaris yang mempunyai 16 buah lubang untuk tempat gigi. ramus membentuk sudut 1200 terhadap korpus pada orang dewasa. Pada yang lebih muda sudutnya lebih besar dan ramusnya nampak lebih divergens. Pada pertengahan korpus mandibula kurang lebih 1 inchi dari simfisis didapatkan foramen mentalis yang dilalui oleh vasa dan nervus mentalis.

Temporalis yang berinsersi disisi medial pada ujung prosesus koronoideus dan m. M. 138 .1 Anatomi mandibula10 Dari aspek fungsinya. Masseter yang berinsersi pada sisi lateral angulus dan ramus mandibula. M masseter bersama m temporalis merupakan kekuatan untuk menggerakkan mandibula dalam proses menutup mulut. merupakan gabungan tulang berbentuk L bekerja untuk mengunyah dengan dominasi (terkuat) m. diskus artikularis berperan untuk membuka mandibula. Fungsi m pterigoid sangat penting dalam proses penyembuhan pada fraktur intrakapsuler.Gambar 2. Pterigodeus medial berinsersi pada sisi medial bawah dari ramus dan angulus mandibula. M pterigoideus lateral berinsersi pada bagian depan kapsul sendi temporo-mandibular.

Posisis jalur kanalis mandibula ini perlu diingat dan dihindari saat melakukan instrumentasi waktu reposisi dan memasang fiksasi interna pada fraktur mandibula11.2 Insersi Otot pada Mandibula4 Pada potongan melintang tulang mandibula dewasa level molar II berbentuk seperti ”U” dengan komposisi korteks dalam dan korteks luar yang cukup kuat.Gambar 2.7mm sedang pada potongan level gigi kaninus kanalnya berdiameter sekitar 1mm dengan ketebalan korteks sekitar 2. Ditengahnya ditancapi oleh akar-akar geligi yang terbungkus oleh tulang kanselus yang membentuk sistem haversian (osteons) diantara dua korteks tersebut ditengahnya terdapat kanal mandibularis yang dilewati oleh syaraf dan pembuluh darah yang masuk dari foramen mandibularis dan keluar kedepan melalui foramen mentalis. Mandibula mendapat nutrisi dari arteri alveolaris inferior yang merupakan cabang pertama dari arteri maxillaris yang masuk melalui foramen mandibula bersama vena dan nervus alveolaris inferior berjalan dalam kanalis alveolaris. Lebar kanalis mandibula tersebut sekitar 3 mm ( terbesar) dan ketebalan korteks sisi bukal yang tertipis sekitar 2.53mm. 139 .

Arteri mentalis beranastomosis dengan arteri facialis. Aliran darah balik dari mandibula melalui vena alveolaris inferior ke vena facialis posterior. Arteri submentalis dan arteri labii inferior merupakan cabang dari arteri facialis.4 Inervasi mandibula12 140 .3 Vaskularisasi mandibula12 Gambar 2. Gambar 2. Vena facialis anterior dan vena facialis posterior bergabung menjadi vena fascialis communis yang mengalirkan darah ke vena jugularis interna12. Mentalis. Arteri mentalis memberi nutrisi ke dagu.Arteri alveolaris inferior memberi nutrisi ke gigi-gigi bawah serta gusi sekitarnya kemudian di foramen mentalis keluar sebagai a. Daerah dagu mengalirkan darah ke vena submentalis. arteri submentalis dan arteri labii inferior. Sebelum keluar dari foramen mentalis bercabang menuju incisivus dan berjalan sebelah anterior ke depan didalam tulang. yang selanjutnya mengalirkan darah ke vena facialis anterior.

tumor jinak atau ganas rahang.2 DEFINISI FRAKTUR MANDIBULA Fraktur didefinisikan sebagai deformitas linear atau terjadinya diskontinuitas tulang yang disebabkan oleh rudapaksa. kecelakaan kerja. Daerah yang tipis pada mandibula adalah angulus dan sub condylus sehingga bagian ini termasuk bagian yang lemah dari mandibula. Garis fraktur dimulai pada regio alveolar kaninus dan insisivus berjalan oblique ke arah midline. osteogenesis imperfecta. seringkali garis fraktur berbentuk oblique. fraktur dapat terjadi secara spontan seperti waktu bicara. Pada fraktur mendibula. osteomalacia. osteomyelitis. makan atau mengunyah13. Garis fraktur pada mandibula biasa terjadi pada area lemah dari mandibula tergantung mekanisme trauma yang terjadi. garis fraktur yang terjadi berbentuk oblique. tetapi pada beberapa tempat dijumpai adanya bagian yang lemah. Pada regio angulus garis fraktur umumnya dibawah atau dibelakang regio mlaor III kearah angulus mandibula. kecelakaan lalulintas. Fraktur patologis dapat terjadi karena kekuatan tulang berkurang akibat adanya kista. Fraktur dapat terjadi akibat trauma atau karena proses patologis.2. angulus mandibula tempat gigi molar III terutama yang erupsinya sedikit. Fraktur akibat trauma dapat terjadi akibat perkelahian. kolum kondilus mandibula terutama bila trauma dari depan langsung mengenai dagu maka gayanya akan diteruskan kearah belakang. luka tembak. Namun pada kecelakaan lalu lintas garis fraktur terjadi dekat dengan kaput kondilus. Pada fraktur corpus mandibula garis fraktur tidak selalu paralel dengan sumbu gigi. atrofi tulang secara menyeluruh atau osteoporosis nekrosis atau metabolic bone disease. Selain itu titik lemah juga didapatkan pada foramen mentale. Garis fraktur subkondilar umumnya dibawah leher prosesus kondiloideus akibat perkelahian dan berbentuk hampir vertikal. Mandibula merupakan tulang yang kuat. jatuh ataupun trauma saat pencabutan gigi. Akibat adanya proses patologis tersebut. fragmen yang fraktur mengalami displaced 141 . Daerah korpus mandibula terutama terdiri dari tulang kortikal yang padat dengan sedikit substansi spongiosa sebagai tempat lewatnya pembuluh darah dan pembuluh limfe.

Fraktur pada fasial jauh lebih banyak terjadi pada mereka yang tidak menggunakan pelindung pada saat terjadinya kecelakaan14. Literatur menyebutkan bahwa 43% fraktur mandibula disebabkan oleh kecelakaan kendaraan bermotor.akibat tarikan otot-otot mastikasi.1%). arah dan sudut garis fraktur. simfisis dan parasimfisis (22%). dan prosesus koronoideus (1. kondilus dan angulus mandibula tidak banyak berbeda dalam insidensinya dan fraktur ramus serta processus koronoideus sangat jarang.5%). Demikian juga pada prosesus koronoideus yang terfiksasi oleh M.1%) ramus (1. arah dan kekuatan trauma. 2. Pada daerah ramus mandibula jarang terjadi fraktur. angulus (24.3 ETIOLOGI Banyak faktor yang dapat menyebabkan terjadinya fraktur mandibula. Fridrich dkk memperlihatkan bahwa fraktur akibat kecelakaan kendaraan bermotor biasanya pada regio kondilus. Beberapa faktor yang mempengaruhi displacement fraktur mandibula antara lain . Beberapa penelitian memperlihatkan etiologi pada lokasi fraktur. karena daerah ini terfiksasi oleh m masseter pada bagian lateral. Pada 142 .4 DISTRIBUSI ANATOMIS Lokasi fraktur mandibula terbanyak pada kondilus (29. Kecelakaan kendaraan bermotor merupakan etiologi utama penyebab fraktur mandibula di dunia4. 34% disebabkan oleh kekerasan. 4% pada kecelakaan olahraga dan sisanya oleh bermacam-macam sebab lainnya. 2. korpus mandibula (16%).7%).3%) 4. arah lepasnya otot dan luasnya kerusakan jaringan lunak. 7% kecelakaan kerja. Masseter. Fraktur yang terjadi pada korpus. oleh karena itu maka reduksi dan fiksasi pada fraktur mendibula harus menggunakan splinting untuk melawan tarikan dari otototot mastikasi. ada atau tidaknya gigi pada fragmen. 7% akibat terjatuh. dan medial oleh m pterigoideus medialis. segmen dento alveolar (3. Pada kecelakaan pengendara kendaraan roda dua yang terkena adalah daerah simfisis.

angulus (15. simfisis mandibula (4.6 Distribusi fraktur mandibula pada pasien edentulus 15 Beberapa penelitian menyatakan bahwa terdapat hubungan antara frekuensi fraktur mandibula dengan daerah anatomi.5%). 143 .fraktur yang diakibatkan karena kekerasan biasanya di daerah sudut mandibula14. tetapi tetap saja regio angulus mandibula dan mentalis yang paling sering menjadi fraktur.2%). Area fraktur cenderung berbeda pada pasien edentulus. Gambar 2. Gambar 2.3%) 15. Fraktur subkondilus banyak ditemukan pada anak-anak sedangkan fraktur angulus banyak ditemukan pada remaja dan dewasa muda16.15.5 Distribusi anatomis fraktur mandibula 15 Mandibula yang mengalami atropi mempunyai kelemahan pada banyak tempat. dimana fraktur korpus mandibula (43.

jaringan mukosa dan membran periodontal. Teleskop atau fraktur impaksi. Fraktur dimana tulang terbagi menjadi beberapa bagian atau fragmen-fragmen kecil. mukosa atau bagian yang berdekatan seperti otot. tetapi dapat terjadi dimana sisi fragmen terdorong kesisi yang berlawanan. Fraktur jenis ini disebut juga fraktur tertutup atau closed fracture. 144 . e.17 a. Hal ini diakibatkan karena tulang anak-anak masih bersifat lentur. d.5 KLASIFIKASI Secara garis besar fraktur mandibula diklasifikasikan dalam tiga kelompok yaitu berdasarkan jenis fraktur. Fraktur jenis ini disebut juga fraktur terbuka atau open fracture. Fraktur cominutted. Fraktur indirect dan direct. karena tulangnya belum sepenuhnya terkalsifikasi. Fraktur tipe ini jarang terlihat pada mandibula. Fraktur yang melukai jaringan lunak baik kulit. Fraktur yang tidak seluruh kontinuitas tulang terputus. Biasanya fraktur ini terjadi pada regio simfisis mandibula. c. tetapi hanya sebagian saja. Fraktur ini mempunyai hubungan antara tulang yang patah dengan permukaan luar wajah atau dengan rongga mulut. Fraktur compound. b. Fraktur yang terjadi tidak mempunyai hubungan dengan dunia luar dan tidak terjadi dislokasi atau displacement. g. Fraktur direct terjadi langsung pada titik kontak dari trauma sedangkan indirect terjadi jauh dari sisi datangnya trauma. Fraktur kompleks. Berdasarkan jenis fraktur16. Hubungan ini dapat terjadi melalui kulit. Fraktur greenstick.2. f. pembuluh darah dan syaraf. berdasarkan daerah fraktur dan berdasarkan penyebab fraktur. Fraktur ini merupakan salah satu tipe fraktur yang sering terjadi pada anak-anak. Fraktur sederhana.

h. Fraktur compound. Kompon (D)17 145 .7 Tipe fraktur: A. Fraktur sederhana. B. Gambar 2. seperti kista atau metastasis tumor. Fraktur direct dan indirect15.8 Klasifikasi fraktur mandibula berdasarkan tipe frakturnya: Greenstick (A). Simple (B). Gambar 2. Komminuted (C). Fraktur yang terjadi pada fungsi normal atau trauma minimal pada tulang yang mengalami gangguan patologis. D. C. Fraktur comminuted. E. Fraktur impaksi pada subkondilus dekstra dan fraktur patologis pada angulus sinistra. Fraktur patologis.

seperti tarikan otot masseter dan temporalis pada fragmen proksimal.10 Favorable vertikal (kiri) dan unfavorable (kanan)15 146 . Garis fraktur favorable horizontal menahan gaya tarikan ke atas. masing-masing dari arah vertikal dan horisontal tergantung pada otot sekitarnya yang menahan atau memindahkan segment fraktur tersebut.9 Unfavorable horizontal (kiri) dan favorable (kanan)15 Gambar 2. Gambar 2.Fraktur mandibula juga dapat diklasifikasikan sebagai fraktur favorable atau unfavorable. Garis fraktur favorable vertikal menahan gaya tarikan medial pterygoid medial pada fragmen proksimal18.

Trauma tersebut langsung mengenai anggota tubuh penderita. Fraktur prosesus kondiloideus Fraktur yang terjadi dari sigmoid notch ke batas posterior ramus mandibula sepanjang aspek superior dari ramus mandibula. 5. 8. berakibat fraktur kaput radii atau klavikula. 3. Fraktur prosessus koronoideur Menurut Penyebab Terjadinya Fraktur 1. Terjadi seperti pada penderita yang jatuh dengan tangan menumpu dan lengan atas-bawah lurus. Fraktur simfisis Fraktur pada regio insisivus yang melalui prosessus alveolaris ke batas inferior mandibula dalam arah vertikal atau hampir vertikal. Fraktur dentoalveolar Fraktur yang hanya terjadi pada area penyangga gigi pada mandibula dan tidak mengganggu kontinuitas struktur tulang dibawahnya. Fraktur ramus Fraktur horizontal melalui batas anterior dan posterior ramus. fraktur mandibula dibagi atas15: 1. Gaya tersebut dihantarkan melalui 147 . 6. Fraktur angulus Fraktur yang terjadi antara prosesus alveolaris hingga ke batas inferior distal molar kedua hingga ke sudut yang dibentuk oleh korpus dan ramus madibula. Trauma tidak langsung (indirect). Fraktur korpus Fraktur yang terjadi antara prosesus alveolaris hingga ke batas inferior regio antara foramen mentalis hingga ke sisi distal dari molar kedua. 2. 7. 4.Berdasarkan lokasi anatomis. Fraktur traumatik Trauma langsung (direct). Fraktur parasimfisis Fraktur yang terjadi antara prosesus alveolaris hingga ke batas inferior batas distal insisivus lateral hingga ke foramen mentalis.

tulang-tulang anggota gerak atas dapat berupa gaya berputar. Fraktur terbuka dapat berhubungan dengan ruangan di tubuh yang tidak steril seperti rongga mulut. fraktur tersebut berhubungan dengan kerusakan jaringan atau struktur lain seperti saraf. disebut juga fraktur tertutup. kulit di sekitar fraktur sobek sehingga fragmen tulang berhubungan dengan dunia luar (bone expose) dan berpotensi untuk menjadi infeksi. Maloklusi dapat berupa gigitan silang. Fraktur patologis Pada tulang telah terjadi proses patologis yang mengakibatkan tulang tersebut rapuh dan lemah. maupun kombinasi gaya berputar. gigitan terbuka dan prematur kontak. Fraktur simple/tertutup. kecelakaan atau terjatuh. Jika perlu dapat dilakukan intubasi orotrakhea pada kasus darurat jalan nafas. Fraktur fatik atau stress Trauma yang berulang dan kronis pada tulang yang mengakibatkan tulang menjadi lemah. Fraktur juga dapat terjadi akibat tarikan otot seperti fraktur patela karena kontraksi quadrisep yang mendadak. pembengkokan dan kompresi seperti fraktur oblik dengan garis fraktur pendek. oleh karena kulit di sekeliling fraktur sehat dan tidak sobek. 148 . pembengkokan (bending) atau kombinasi pembengkokan dengan kompresi yang berakibat fraktur butterfly. traksi manual atau traksi pada lidah dapat menghindarkan obstruksi jalan nafas. 2. Biasanya fraktur terjadi spontan Menurut Hubungan dengan Jaringan Ikat Sekitarnya 1. 2. Tanda dan gejala terjadinya fraktur adalah adanya maloklusi dihubungkan dengan riwayat trauma seperti terkena pukulan. Fraktur terbuka. 3. organ viscera atau sendi. pemeriksaan terhadap pergeseran segmen tulang. Contohnya pada fraktur fibula pada olahragawan. 2. 3.6 PEMERIKSAAN KLINIS Evaluasi trauma dilakukan secara menyeluruh. yaitu penanganan jalan nafas. pembuluh darah. Fraktur komplikasi.

Bila digerakkan dengan jari tangan tiap fragmen fraktur akan bergerak sendiri.Rasa sakit bersifat akut dan dapat diperberat oleh gerakan ringan bagian yang terluka.11 Palpasi bimanual pada mandibula untuk membandingkan struktur anatomis18 Pemeriksaan intraoral memperlihatkan adanya laserasi atau hematoma. Retraksi pergerakan tulang merupakan kelainan sekunder yang dapat ditemukan pada fraktur zigomatikus yang mengalami displacement dan berdampak pada prossesus koronoideus mandibula17. Pemeriksaan pada rahang saat membuka dan menutup mulut dan memperhatikan deviasi rahang atau mobiliti yang terbatas. Pembengkakan atau oedema tampak pada daerah fraktur yang disebabkan oleh keluarnya darah dan serum ke jaringan sekitar14.18. Gerakan-gerakan ringan tersebut misalnya waktu berbicara. mengunyah atau waktu palpasi. Pergerakan abnormal dapat diketahui dengan pemeriksaan jari tangan atau palpasi bimanual. Sering menunjukkan terpisahnya gigi yang satu dengan yang lain dan terputusnya kontinuitas dataran oklusal pada bagian yang mengalami fraktur 149 . Gambar 2.

A B Gambar 2. Terputusnya kontinuitas dataran oklusal14 150 . B. Haematom pada dasar mulut.12 A.

Plain film. tubuh. sudut. CT scan juga dapat membantu: CT scan juga memungkinkan dokter untuk survei fraktur wajah daerah lain. fraktur pada corpus posterior. maka evaluasi radiologis diperlukan untuk mempertegas hal tersebut atau memberikan data yang lebih akurat. angel. oklusal. termasuk tulang frontal. c. kompleks naso-ethmoid- 151 . atau fraktur simfisis. simfisis dan gigi / daerah proses alveolar. Pandangan lateral-obliq membantu mendiagnosis ramus. Panoramik membutuhkan pasien tegak. secara umum relatif akurat kecuali kalau angulasi dan magnifikasi pemotretan tidak baik. Penentuan terjadinya pergeseran berperan sebagai petunjuk dalam menentukan terapi. Bagian kondilus. Evaluasi radiografis terhadap perluasan pergeseran segmen fraktur. Tampilan Caldwell posteroanterior menunjukkan setiap perpindahan medial ataulateral ramus. tidak usah dirawat atau dilakukan reduksi terbuka16. b. dapat membantu. Panoramik Panoramik menyediakan kemampuan untuk melihat seluruh mandibula dalam satu radiograf. dan periapikal. Tampilan oklusal mandibula menunjukkan perbedaan di posisi tengah dan lateral fraktur body. posteroanterior. termasuk pandangan lateral-obliq.7 PEMERIKSAAN RADIOLOGIS Apabila pemeriksaan klinis sering dapat memberikan gambaran adanya fraktur mandibula. Pemeriksaan radiologis yang dapat membantu untuk menegakkan diagnosa fraktur mandibula adalah14: a. bicuspid dan daerah simfisis seringkali tidak jelas. dan tidak memiliki kemampuan melihat secara detail area TMJ.2.

yang sulit untuk memvisualisasikan Panoramik Gambar 2.13 Pencitraan fraktur angulus kanan dan simphisis kiri mandibula pada panoramik foto13 Gambar 2. CT scan juga ideal untuk fraktur condylar. orbit. Rekonstruksi kerangka wajah sering membantu untuk konsep cedera.orbital.14 Gambaran radiologis fr mandibula dan alveolaris 18 152 . dan seluruh sistem horizontal dan vertical yang menopang kraniofasial.

Pencitraan fraktur kondilus kiri.15 A. Pencitraan fraktur kondilus kiri pada Posteroanterior foto.17 A.16 Pencitraan fraktur korpus dan angulus kiri mandibula pada Lateral Oblique foto19 Reverse Towne A B Gambar 2. B. B.Posteroanterior foto A B Gambar 2. Pencitraan fraktur korpus dan angulus mandibula kiri19 153 . Pencitraan fraktur korpus mandibula dan angulus kiri pada posteroanterior foto15 Lateral oblique foto Gambar 2.

Pencitraan fraktur ramus mandibula kiri pada CT scan direct coronal. Pencitraan fraktur angulus kiri pada CT scan potongan sagital19 3D Imaging Gambar 2. Pencitraan fraktur kondilus kiri dengan perobahan letak fragmen kondilus proksimal pada CT scan potongan axial. Pencitraan fraktur comminuted ramus mandibula kiri pada CT scan potongan axial19 A B Gambar 2.18 A.19 A.CT SCAN / (COMPUTERED TOMOGRAFI) SCAN A B Gambar 2.20 Pencitraan fraktur dengan 3 dimensi 19 154 . B. B.

7) Mencegah komplikasi jangka panjang pada gangguan pertumbuhan. Penggunaan antibiotik untuk kasus compound fractures. 155 . pemeriksaan klinis fraktur dilakukan secara benar. Memperbaiki pembukaan interinsisal dan pergerakan mandibula. intermaxillary fixation seperti interdental wiring fixation dan splint fixation.8 TERAPI Adapun tujuan yang ingin didapatkan pada perawatan fraktur mandibula adalah18: 1) 2) 3) 4) 5) Mendapatkan oklusi yang stabil dalam fungsi dan estetik. kerusakan gigi dievaluasi dan dirawat bersamaan dengan perawatan fraktur mandibula. fraktur mandibula lebih baik dilakukan perawatan terlebih dahulu dengan prinsip dari dalam keluar. dari bawah keatas. Evaluasi klinis secara keseluruhan dengan teliti. Prinsip dasar umum dalam perawatan fraktur mandibula ialah sebagai berikut. Jenis-jenis reduksi tertutup diantaranya external appliance seperti head bandage. head gear. head frame plaster of paris.2. Apabila terjadi fraktur mulitple di wajah. lokasi. Waktu penggunaan fiksasi intermaksiler dapat bervariasi tergantung tipe. monitor pemberian nutrisi pasca operasi. Menciptakan pembukaan mandibula yang maksimal. Terapi fraktur mandibula secara garis besar dibagi menjadi dua bagian yaitu dengan metode closed reduction (reduksi tertutup) dan metode open reduction (reduksi terbuka) Metode reduksi tertutup adalah suatu tindakan reduksi tertutup tanpa melalui suatu tindakan pembukaan tulang untuk memudahkan lapang pandang secara pembedahan. mengembalikan oklusi merupakan tujuan dari perawatan fraktur mandibula. Meminimalisir deviasi mandibula Menghasilkan artikulasi yang bebas dari rasa sakit pada saat istirahat dan fungsi 6) Mencegah internal derangement pada TMJ sisi cedera atau sisi yang berlawanan. jumlah dan derajat keparahan fraktur mandibula serta usia dan kesehatan pasien maupun metode yang akan digunakan untuk reduksi dan imobilisasi.

Fiksasi ini dipertahankan 3-4 minggu pada fraktur daerah condylus dan 4-6 minggu pada daerah lain dari mandibula. a. kemudian diputar searah jarum jam sampai tegang. merupakan tehnik yang mudah dan efektif tetapi mempunyai kekurangan yaitu mulut tidak dapat dibuka untuk melihat daerah fraktur tanpa mengangkat kawat. Kemudian kedua kawat atas dan bawah digabungkan dan diputar dengan hubungan vertika maupun silang. Tehnik Gilmer . untuk mencegah tergelincir ke anterior dan posterior 156 .Gambar 2. Dilakukan pada gigi atas dan bawah sampai oklusi baik. Kawat tersebut dilingkarkan pada leher gigi.21 Head bandage16 Tehnik yang digunakan pada terapi fraktur mandibula secara closed reduction adalah fiksasi intermaksiler. Beberapa tehnik fiksasi intermaksilaris .

terdiri dari formasi loop kawat kecil yang mengelilingi arkus dentis bagian atas dan bawah.Gambar 2.22 Tehnik Gilmer 19 b. 157 . Tehnik continous loop (stout wiring) . keuntungan tehnik ini bahan mudah didapat dan sedikit menimbulkan kerusakan jaringan periodontal serta rahang dapat dibuka dengan hanya mengangkat ikatan intermaksilaris. Tehnik eyelet (ivy loop) . Tehnik erich arch bar . Kerugiannya kawat mudah putus waktu digunakan untuk fiksasi intermaksiler Gambar 2. disertai fraktur maksila. dan menggunakan karet sebagai traksi yang menghubungkannya d.23 Tehnik eyelet / ivy loop15 c. indikasi pemasangan arch bar antara lain gigi kurang/ tidak cukup untuk pemasangan cara lain.

Essig wire. e. biaya murah. A Gambar 2. Kerugiannya ialah menyebabkan keradangan pada ginggiva dan jaringan periodontal. mudah adaptasi dan aplikasinya. Tehnik ini untuk gigi yang hanya sendiri atau insufisiensi pada bagian dari pemasangan arch bar.25 Tehnik Kazanjian 15 Indikasi untuk metode reduksi tertutup adalah:18 a) Fraktur menguntungkan tanpa adanya pergeseran tempat ( nondisplace favorable fracture) 158 . dengan menggunakan kawat yang kuat untuk tempat karet dipasang mengelilingi bagian leher gigi. Interdental wiring15 B Gambar 2. Keuntungan penggunaan arch bar ialah mudah didapat.didapatkan fragmen dentoalveolar pada salah satu ujung rahang yang perlu direduksi sesuai dengan lengkungan rahang sebelum dipasang fiksasi intermaksilaris. tidak dapat digunakan pada penderita dengan edentulous luas. B.24 A. Tehnik Kazanjian .

Dalam menangani fraktur mandibula umumnya digunakan lebih dari satu modalitas sebab terdapat banyak variasi biomekanik dan problem klinis untuk mencapai mobilitas fiksasi di regio fraktur. mobilisasi lebih dini dan reaproksimasi fragmen tulang yang lebih baik. angka komplikasi lebih rendah dan waktu operasi yang lebih singkat. karena jika menggunakan open reduction. Keuntungan dari ORIF antara lain . paired miniplates. lag screws dan noncompression stabilization plates pada bagian inferior. penggunaan open reduction dapat merusak benih gigi atau gigi yang sedang tumbuh e) f) Fraktur processus koronoidalis Fraktur kondilus Keuntungan dari reposisi tertutup adalah lebih efisien. Tehnik ini dapat dikerjakan di tingkat poliklinis. Kerugiannya meliputi fiksasi yang lama. Pada angulus mandibula. karena open reduction dapat mengganggu vaskularisasi d) Fraktur mandibula pada anak. kompresi pada fragmen fraktur dan imobilisasi yang rigid serta perbaikan kekuatan self kompresi fisiologis. dapat mengganggu vaskularisasi fragmen tulang yang kecil c) Fraktur pada mandibula edentulus (tidak bergigi). Kerugiannya adalah biaya lebih mahal dan diperlukan ruang operasi dan pembiusan untuk tindakannya. disamping plat subapikal perlu juga ditambahkan plat lain di dekat batas bawah mandibula untuk menetralkan 159 . Ada 5 metode yang umum digunakan yaitu dengan biocortical transfacial compression plates pada bagian inferior dengan atau tanpa tension band plate. Hasil yang didapatkan dari pemakaian monocortical osteosynthesis adalah tercapainya netralisasi kekuatan tensi dan kompresi serta rotasi pada garis fraktur sehingga diperoleh reduksi anatomis yang fisiologis. plat paling baik diletakkan pada permukaan yang paling luas dan setinggi mungkin di daerah linea oblique eksterna. Pada regio anterior.b) Fraktur comunitted yang luas. resiko ankilosis TMJ dan problem airway. gangguan nutrisi karena adanya MMF. diantara kedua foramen mentalis. monocortical transoral miniplates pada bagian superior.

delayed union dan malunion yang dapat terjadi bila digunakan terapi lain.kekuatan rotasi pada daerah simfisis tersebut.  Fraktur yang tidak menguntungkan pada bodi mandibula atau daerah para simpisis mandibula Otot mylohyoid. Batas inferior dari angulus sangat tipis dan tidak mungkin dilakukan suatu kompresi. Penempatan plat didaerah sepanjang tension trajectory ternyata juga menghasilkan suatu fiksasi yang paling stabil bila ditinjau dari prinsip biomekaniknya. digastrikus. sedangkan pada daerah angulus dan ramus mandibula fungis tersebut baru bisa didapatkan dengan menggunakan plat yang kecil. archbar sudah cukup berfungsi menetralkan kekuatan tension. skrew dan plat. Ketika dilakukan 160 . Jenis-jenis dari metode terbuka contohnya interosseus wiring dan fiksasi dengan bone plate and screw. Pada daerah di belakang foramen mentalis sampai mendekati daerah angulus cukup digunakan satu plat yang dipasang tepat dibawah akar gigi dan diatas nervus alveolaris inferior. Pada bagian mandibula yang bergigi. geniohyoid dan genioglosus dapat menyebabkan perpindahan fragmen lebih jauh. Metode reduksi terbuka adalah suatu tindakan reduksi dengan cara pembedahan untuk memudahkan lapang pandang. Fraktur pada daerah angulus mandibula merupakan problem khusus pada perawatan dengan menggunakan rigid internal fixation. Adanya gigi molar 3 menyebabkan fraktur mudah terjadi. Penggunaan rigid internal fixation untuk mencegah hilangnya kontrol segmen proksimal. distraksi dari kontak tulang menghambat reduksi dan vaskular dari sisi fraktur dan dapat menjadi sumber infeksi. Indikasi reduksi terbuka adalah19 :  Fraktur yang tidak menguntungkan pada sudut mandibula Fraktur ini diindikasikan untuk reduksi terbuka bila fragmen proksimal berubah tempat ke arah posterior atau median dan reduksi tidak dapat dipertahankan tanpa intraosseus wiring. Angulus merupakan bagian yang sulit dicapai lewat intraoral karena adanya otot-otot pengunyah dan otot-otot daerah suprahyoid.

Tehnik ini berguna terutama pada mandibula yang nonatropic pada saat tidak ada gigi tiruan.perawatan reduksi terbuka. sehingga oklusinya tidak menjadi pertimbangan langsung.26 Fraktur menguntungkan dan tidak menguntungkan 19  Fraktur multipel pada tulang wajah Pada kasus ini perawatan reduksi terbuka dari segmen mandibula membuktikan perbaikan yang stabil  Fraktur setengah wajah dan fraktur kondilus bilateral Pada fraktur ini salah satu kondilus yang fraktur harus dirawat dengan reduksi terbuka untuk mempertahankan dimensi vertikal wajah. cenderung gagal dan memaksa fraktur setengah wajah berhimpitan dengan kondilus yang menyebabkan profil wajah menjadi lebih pendek. Kalau prosedur ini tidak menyelesaikan masalah tipe wiring apapun. dengan aspek dari segmen mandibula berputar ke arah median pada titik fiksasi. akan terjadi inefisiensi pengunyahan dan perubahan periodontal yang buruk . Kalau konstriksi ini tidak diperbaiki. cusp lingual seluruh premolar dan molar bergerak keluar dari kontak oklusal. fraktur parasimpisis cenderung membuka pada border inferior. Gambar 2. Dengan rotasi medial dari body mandibula.  Fraktur edentolous mandibula dengan perpindahan yang hebat fragmen fraktur Pada fraktur ini reduksi terbuka dianggap bisa membuat kembali kontinuitas mandibula. seperti dari sutura frontozygomatikus ke daerah mandibula. Pada situasi ini memberikan 161 .

sehingga terjadi jaringan penghubung antara fragmen fraktur yang menghambat osteogenesis. contohnya pada pasien yang mengalami kesulitan mengontrol akibat serangan yang tiba-tiba atau epilepsi. ekstrim. Jika diperlukan close reduction maka perlu adanya prostetik pada maxilla.  Perawatan yang tertunda dan Interposisi jaringan lunak antara fragmen fraktur yang tidak kontak Ketika perawatan tertunda dan jaringan lunak ada diantara fragmen fraktur maka diperlukan metode open reduction.  Fraktur yang membutuhkan osteotomy/ Orthognathi Surgery 162 . fungsi paru yang harus dikompromikan. berbagai tipe osteotomi diperlukan untuk memperbaiki kekurangannya. Alasan ditundanya perawatan karena adanya luka kepala atau adanya masalah medis yang serius. dan dapat distabilkan dengan palatal screw atau circum zygomatic wires.  Edontolous maksila dengan Fraktur mandibula Adanya fraktur mandibula dengan edentolous maxila merupakan kesulitan untuk dilakukan intermaxilary fixation.  Malunion Ketika hasil perawatan fraktur mandibula yang buruk. masalah psikiatrik dan neurologik. dan kelainan gastrointestinal. harus dipertimbangkan status dari suplai darah ke tulang dan efek dari prosedur reduksi terbuka pada kompromi vaskularisasi. maka harus dilakukan metode open reduction. Metode ini dengan fiksasi rigid dengan fraktur mandibula akan menggantikan kebutuhan intermaxilary fiksation.  Kondisi sistemik tertentu yang merupakan kontraindikasi intermaxillary fixation Pada situasi dimana mandibula harus tetap bergerak. Pencangkokkan tulang harus dipeertimbangkan pada fraktur mandibula yang mengalami atropic secara ekstrim.plat pada mandibula tanpa intermaxilary fixation merupakan Ketika mandibulamenjadi atropik secara kemungkinan yang kuat.

Pendekatan bedah sendiri antara lain (Gambar 3) : Pendekatan submandibular Pendekatan retromandibular Pendekatan preauricular Gambar 2. Ada banyak metode perawatan fraktur mandibula dengan reduksi terbuka diantaranya12. Lalu muskulus platymus dipotong untuk mencapai lapisan superficialis pada bagian dalam fascia cervicalis. sehingga sangat penting untuk diketahui.27 Insisi submandibular dan preauricular19 Pendekatan Submandibular Pendekatan ini dikenalkan tahun 1934 oleh Risdon. Incisi kulit harus diletakkan pada lipatan kulit untuk menghindari jaringan parut dan dibuat pada sudut yang tepat. Faktor yang harus diperhatikan adalah isolasi fraktur. 2 cm dibawah angulus mandibularis. garis wajah dan posisi nervous. Panjang incisi 4 cm sampai 5 cm. 163 . cabang mandibula marginal dan nervus facialis terletak pada lapisan ini. Fraktur yang membutuhkan bone graft. operator harus memperhatikan sudut mulut pada lapangan operasi untuk memonitor aktifitas nervous facialis dan untuk meyakinkan anestesiologist tidak membuat pasien paralisis dalam waktu yang lama.20: Pendekatan Bedah Sebelum melakukan operasi pada fraktur mandibula. Lemak subkutan dan superficial fascia dipisahkan untuk mencapai muskulus platymus.

ramus. Incisinya dibuat untuk memasuki parotis. diatas incisi submandibular (Gambar 2. Submandibular nodus lympaticus dapat diidentifikasi berdekatan dengan pembuluh darah facial. seluruh cabangnya berinervasi pada depressor bibir bawah.28)19. Otot. Pembukaan dapat dikurangi dan penutupan dapat diperbaiki dengan penarikan pterygoid medialis dan ligament stylomandibular dari batas interior dan posterior. masseter dan fascia cervicalis bagian dalam. Otot dan perios diinsisi melewati sudut termasuk 164 . Kelenjar submandibularis dan kapsulnya biasanya berlokasi dibagian batas inferior dari mandibula. Setelah otot dilewati lalu dipisahkan pada batas inferior untuk melihat tulang. Pemotongan dilanjutkan pada muskulus masseter dan bagian atas nervus diretraksi. Pemisahan ke tulang melewati fascia cervicalis yang dalam dengan menggunakan nerve stimulator. Pembukaan lebih jauh dapat dicapai dengan menarik sudut dan batas inferior dengan kawat atau forcep tulang. Kapsul keduanya harus dipisahkan selama Sin loceles atau fistula pemisahan. periosteum dan jaringan lunak dipisahkan untuk jalan melihat body. Pada dasarnya pendekatan ini merupakan variasi dari pendekatan submandibular kecuali incisinya kurang lebih 3 cm. Jika pembuluh darah facialis tidak dapat ditarik sempurna dapat dipisahkan dan diikat. Kerusakan kelenjar dapat menyebabkan salivarius. Pemotongan dilanjutkan antara fascia sampai kebatas inferior mandibula. bagian belakang batas inferior dari mandibula.Baik anterior atau posterior arteri facialis. Kelenjar submandibular dan capsulnya. Pemisahan lalu meluas ke anterior. Kelenjar parotis biasanya di posterior ramus tetapi bisa terletak mengelilingi sudut inferior. melalui fascia cervicalis yang lebih dalam dengan menggunakan stimulus otot. Incisinya juga digambarkan mengikuti sudut mandibula. Pendekatan Retromandibular Hinds dan Birroti pertama kali menerangkan pendekatan lekatan retromandibular pada tahun 1967. dan sisi fraktur. akan menjadi bukti dan kutub paling bawah dari parotis dapat ditemukan. Insisi ketulang melewati muskulus masseter biasanya diantara margin mandibular dan cabang buccal dari nervus facialis.

Insisi dibuat kira-kira sepanjang 2. Insisi dibuat 45 ° pada zygoma dari arah superior telinga ke arah inferior perlekatan antara dagu dan telinga (Gambar 2.29).3. Gambar 2.5 .28 Insisi retromandibular19 Pendekatan Preauricular Insisi ini digunakan untuk melihat daerah TMJ dan dengan mudah diperluas melewati daerah temporal. Lipatan preauricular didapat dengan menekan telinga dan tragus ke depan.batas inferior. Gambar 2. yang dapat dihindari dengan menginsisi sepanjang cartilago preauricular. Jaringan lunak dan nervus kemudian ditarik ke superior.29 Macam-macam Insisi untuk daerah TMJ19 165 . Pada insisi ini ditemukan pembuluh darah temporalis superfisialis. Incisi ini memperlihatkan akses superior dari ramus dan regio subkondilus mandibula.5 cm pada daerah lipatan preauricular.

166 .30 Akses Intra oral pada fraktur parasimpisis19 Pemotongan diteruskan ke arah subperiosteal untuk mengidentifikasikan mental neurovascular borde dibawah premolar kedua maka daerah fraktur terlihat. Pertama dilakukan anestesi dengan lokal anestesi dan vasokonstriktor. Musculus mentalis terlihat dan harus diinsisi tegak lurus dengan tulang meninggalkan flap dari perlekatan otot ke tulang untuk penutupan (Gambar 6).Akses Intra Oral Simpisis dan Parasimpisis Perawatan fraktur anterior mandibula dapat melalui incisi intraoral. dagu ditarik ka arah lateral. Body. Mukosa diinsisi dengan pisau tegak lurus terhadap tulang untuk menjauhi nervus mentalis. dan penggunaan adhesif bandage pada dagu untuk mendukung musculus mentalis. Setelah selesai perawatan fraktur muskulus mentalis dijahit dengan jahitan terputus. Gambar 2. Bagian proksimal dari insisi harus disepanjang external oblique ridge. Insisi dibuat kurang lebih 5 mm dari mukogingival junction untuk mendapatkan stabilitas jaringan ketika penutupan. setinggi oklusal plane mandibula. Sudut dan Ramus Setelah dilakukan anestesi. Mukosa lalu ditutup. Bibir ditarik dan dibuat insisi curvilinear tegak lurus permukaan mukosa.

key dan drill point stainless stell wire. Bahan yang diperlukan adalah: periosteotome bone rongeur mallet. Gambar 2. Setelah itu baru kawat bisa diinsersikan. Untuk fraktur multipel dan fraktur dengan pergerakan yang berat maka diperlukan penggunaan internal fiksasi yang dikombinasikan dengan fiksasi maksilomandibular. sambil diberikan larutan normal salin. 24 dan 30 Pembuatan lubang menggunakan bor berkecepatan rendah pada awalnya lalu kecepatan makin meningkat.32). chisel. pistol drill. tehnik close reduction dengan fiksasi maxillamandibular sudah cukup untuk treatment frakturnya.Internal fiksasi Untuk Pasien fraktur yang hanya mengalami fraktur yang sederhana serta masih terdapat gigi dan oklusi yang baik. 167 . cutting wire bone forceps.31 Interosseus wiring15 Transosseus wiring fixation20 Metode tradisional untuk stabilisasi tulang setelah dilakukan open reduction dengan menggunakan kawat untuk mengikat dan mengimobilisasi tulang (Gambar 2.

Jarak garis fraktur pada outer cortex Jarak ke batas bawah Jarak garis fraktur pada inner cortex Kedekatan lubang dengan kanalis mandibularis.32 Parameter pembuatan lubang dan pengikatan20 Hal yang harus diperhatikan pada penempatan penempatan lubang adalah : a. foramen mentalis dan akar gigi e. d. c.33 Teknik pemasukkan kawat20 168 . Kawat langsung dimasukkan ke dalam lubang yang telah dibor 2. Dengan membuat kawat seperti hairpin loop Gambar 2.Gambar 2. f. Ukuran dari lubang Orientasi dari bidang fraktur ke panjang tulang Teknik pemasukkan kawat pada fraktur : 1. Kawat dimasukkan melewati hipodermic needle 3. b.

3517.Gambar 2.34 Pelindungan jaringan pada pembuatan lubang20 Gambar 2. Figure-of-eight wire. maka fragmen fraktur akan lebih stabil dan kaku selama penyembuhan. B. Jenis plate yang digunakan bermacam-macam ada yang yang lurus dengan beberapa lubang untuk dimasukkan screw (Gambar 11). 169 .34 Teknik simple wiring. ada juga yang membulat sehingga dapat dipasang pada margo inferior mandibula (Luhr Mandibular Plate) Gambar 2. C. Walaupun menggunakan menggunakan fiksasi yang kaku diperlukan adanya penyesuaian oklusi terlebih dahulu sebelum dilakukan fiksasi. Transosseus circum-mandibular wire 15 Fiksasi dengan Bone Plate dan Screw Metode ini menggunakan bone plate dan bone screw untuk menyatukan fragmen fraktur. Plate dipasang melintang melewati garis fraktur.

B. Fraktur korpus mandibula.35 Luhr's Mandibular Plate17 Gambar 2.Gambar 2.36 Penggunaan Plate dan Screw berdasarkan Champy Line 17 A B Gambar 2. Fiksasi dengan plate dan screw15 Gambar 2.38 Plat & Lag Screw17 170 .37 A.

Permukaan tulang bersih dari jaringan ikat dan jaringan lunak sehingga plat betul-betul menempel pada tulang mandibula. Jangan tergesa melakukan fiksasi sebelum yakin oklusinya sudah sempurna. sebaiknya arah matabor tangensial. Posisi plat jangan terlalu tinggi karena sekrup akan menembus saraf/akar gigi. Untuk penggunaan bor. Secara umum lamanya penggunaan IMF untuk orang dewasa dengan fraktur mandibula adalah 6-8 minggu. gangguan jiwa dan gangguan fungsi paru.5mm dengan kecepatan rendah menembus 1 korteks dikukur kedalamannya kemudian dipasang sekrup yang panjangnya sesuai dengan tebal satu korteks. stabil dan arah obeng juga sesuai dengan arah bor sebelumnya. penderita epilepsy. Sering pasien berlanjut untuk kehilangan berat badan 171 .Pemasangan sekrup dimulai dari satu sisi terlebih dahulu kemudian menyebrang menyilang pada sisi plat satunya. Gunakan mata bor diameter 1.39 Fiksasi Intermaksiler17 Kontraindikasi penggunaan MMF . tidak trismus. Namun. lamanya penggunaan IMF ini bukan tanpa konsekuensi. Tolak ukur keberhasilan operasi pemasangan plat mini maupun IOID wiring pada mandibula adalah oklusi yang baik.Gambar 2.

fraktur pada alkoholik. 172 . fraktur yang terlambat dirawat. pada orang dewasa 3-4 minggu dan pada pasien yang lebih tua 6-8 minggu. Situasi yang secara umum membutuhkan IMF yang lebih lama: fraktur comminuted. dan fraktur dengan pencabutan gigi pada garis fraktur16. Juniper dan Awty mampu menunjukkan 80% fraktur mandibula yang dirawat dengan open reduction atau closed reduction dan IMF secara klinis menyatu dalam 4 minggu. kebanyakan fraktur sederhana pada anak-anak menyatu dalam 2-3 minggu. Terlihat bahwa kasus pada tiap individu harus dievaluasi secara seksama. mereka tidak mampu untuk kembali bekerja dan ada beberapa bukti yang menunjukkan adanya perubahan histologis pada TMJ. pasien dengan problem nutrisi. pasien cacat secara psikososial.selama masa ini.

19. Etiologi Data yang diambil dari etiologi terjadinya fraktur kondilus mandibula adalah sebagai berikut 8:       Kecelakaan kendaraan bermotor : 43% Penyerangan/perkelahian : 34% Kecelakaan kerja : 7% Jatuh : 7% Kecelakaan olah raga : 4% Penyebab lainnya : 5% Persentase terjadinya fraktur kondilus mandibula dibandingkan dengan lokasi lainnya pada mandibula sebagai berikut 19:       Body mandibula : 29% Kondilus mandibula : 26% Angle mandibula : 25% Simfisis mandibula : 17% Ramus mandibula : 4% Prosesus koronoideus : 1% 173 .24.22.BAB III FRAKTUR KONDILUS MANDIBULA ( Fraktur TMJ ) Fraktur kondilus merupakan salah satu fraktur yang melibatkan sendi temporomandibula sehingga dapat menyebabkan gangguan sendi temporomandibula. Penatalaksanaan fraktur kondilus memerlukan perhatian khusus dan dapat dilakukan dengan metode tertutup atau konservatif dan terbuka atau bedah 8. Komplikasi yang sering terjadi akibat fraktur kondilus adalah ankylosis dan gangguan sendi temporomandibula 8.23.21.19.

Blow anterior yang langsung mengenai dagu dapt menghasilkan suatu fraktur kondilus bilateral. Semua contoh tersebut hanya beberapa disharmoni oklusi multiple yang muncul akan tetapi setiap perubahan oklusi harus dipertimbangkan sebagai tanda awal suatu fraktur kondilus mandibula19. apabila obyeknya besar maka dapat menyebabkan fraktur lebih dari satu lokasi dan sebaliknya bila kecil akan menyebabkan satu jenis fraktur karena kekuatan impaknya hanya terkonsentrasi pada satu lokasi 19. Obyek yang menyebabkan fraktur juga mempengaruhi jenis dan banyaknya fraktur. Setiap penderita dengan 174 . Oklusi retrognatik biasanya berhubungan dengan fraktur kondilus atau angle dan oklusi prognatik dapat terjadi pada sangat menonjol pada fraktur sendi temporomandibula.1.Diagnosa dan gejala klinis Jenis dan arah kekuatan trauma sangat membantu diagnosa. Pengetahuan arah kekuatan impak dapat membantu klinisi mendiagnosa fraktur dengan tepat. fraktur mandibula pada semua lokasi dan trauma pada sendi temporomandibula serta otot-otot pengunyahan. Perubahan oklusi dapat dihasilkan dari fraktur gigi. Gigitan terbuka pada fraktur kondilus25 Semua perubahan oklusi merupakan tanda adanya fraktur kondilus mandibula. Pada pemeriksaan klinis harus ditanyakan pada penderita apakah gigitannya terasa berbeda. fraktur alveolar. Kontak prematur gigi posterior atau gigitan terbuka anterior dapat disebabkan fraktur kondilus bilateral atau angle. Gambar 3. sedangkan blow ke arah parasimfisis dapat menyebabkan fraktur kondilus kontralateral atau angle mandibula. Seorang penderita dengan gigi-gigi yang terkunci pada saat terjadinya impak akan menyebabkan terjadinya suatu fraktur alveolar atau gigi 19.

fraktur kondilus mandibula mempunyai keterbatasan pembukaan. Kiri: deviasi mandibula ke arah fraktur.3. Gambar3. Pergerakan mandibula lateral dapat dihambat oleh fraktur kondilus dan fraktur ramus dengan pergeseran tulang19. maka terjadilah suatu deviasi. Kanan: efek tarikan otot pada fraktur kondilus25 175 . Deviasi terjadi karena otot pterygoideus lateralis yang berfungsi pada sisi yang tidak terpengaruh tidak dinetralkan oleh otot pterygoideus lateralisnya yang tidak berfungsi sisi berlawanan. Deviasi pada saat pembukaan ke arah sisi fraktur kondilus mandibula merupakan contoh klasik tanda fraktur kondilus.2. Kiri: pergerakan normal mandibula. Kanan: pergerakan abnormal mandibula25 Gambar 3. Meskipun demikian fraktur kondilus mandibula yang sesungguhnya atau berhubungan dengan fraktur fasial menghasilkan pergerakan mandibula abnormal.

Klasifikasi Menurut De Riu (2001) klasifikasi fraktur kondilus disesuaikan dengan lokasi anatomi (intrakapsuler dan ekstrakapsuler) dan derajat dislokasi kepala artikuler. posteroanterior mandibula dan transkranial mandibula. kemerahan.Pada pemeriksaan klinis sebaiknya memeriksa wajah dan mandibula dengan kontur yang abnormal.27. Gambaran wajah yang memanjang diakibatkan fraktur subkondilus. Klinisi sebaiknya melakukan palpasi dengan menggunakan kedua tangannya. towne’s view. diikuti dengan mandibula bergeser ke bawah. (3) relasi kepala kondilus terhadap fossa glenoideus. Untuk melihat fraktur kondilus dapat dilakukan pemeriksaan radiolog dengan cara: panoramik. Rasa sakit. (2) relasi segmen kondilus terhadap segmen mandibula. Teknik pencitraan yang lebih jauh adalah CT scan dan MRI digunakan untuk trauma yang lebih kompleks dari kondilus 26. Pemeriksaan mendalam terhadap kehilangan gigi dan tulang pendukung dapat membantu diagnosa fraktur alveolar. meskipun pada kontur fasial mungkin tertutupi pembengkakan. lateral oblique mandibula. dengan cara meletakkan ibu jari pada gigi dan telunjuk pada batas bawah mandibula secara hati-hati dan perlahan-lahan memberikan tekanan diantara kedua tangan hingga dapat mendeteksi krepitasi fraktur19. Pemeriksaan Radiologis Penetapan diagnosis dari fraktur kondilus dapat ditegakkan dar pemeriksaan radiologis yang sering digunakan sebagai dasar penegakan diagnosis. Asimetri wajah sebaiknya diperhatikan klinisi terhadap kemungkinan fraktur kondilus mandibula. angle atau body. body dan simfisis. yaitu: (1) lokasi anatomis fraktur. Klasifikasi fraktur kondilus menurut Lindahl (1977) didasarkan pada beberapa faktor. 176 . pembengkakan dan panas yang terlokalisir merupakan tanda yang awal yang sempurna suatu trauma dan meningkatkan indeks kecurigaan adanya fraktur mandibula19.

merupakan fraktur intrakapsular karena kapsul melekat pada leher kondilus. 1. Subkondilus. Displacement ke arah anterior atau overlap posterior e. Deviated. fragmen tetap dalam kontak tanpa separasi atau overlap c. Nondisplaced b. Tarikan muskulus pterygoideus lateral menyebabkan fragmen bergeser ke arah medial d.Tidak ada kontak antara fraktur segmen 3. Fraktur ini mungkin digolongkan sebagai fraktur vertikal. Kepala kondilus mempunyai relasi normal terhadap fossa glenoid 177 . b. 2. Fraktur ini merupakan fraktur ekstrakapsular. akan tetapi sangat mudah untuk melihat penyempitan leher kondilus dan kepala kondilus bersandar di atasnya. Relasi segmen kondilus terhadap fragmen mandibula a. Fraktur kondilus. Kepala kondilus. Pada fraktur ini. Leher kondilus. Berdasarkan lokasi fraktur maka fraktur ini sering disebut sebagai fraktur subkondilus ”tinggi” atau “rendah”. Displacement ke arah medial atau overlap lateral. Meskipun sangat sulit mendefinisikan dengan tepat kepala kondilus secara radiografik.Sistim klasifikasi ini memerlukan pencitraan radiografik yang diperoleh sekurangkurangnya dua gambar dari sudut yang tepat 26. melihat definisinya. Ketinggian fraktur kondilus a. Relasi antara kepala kondilus dan fossa glenoideus a. c. Leher kondilus merupakan daerah penyempitan tipis di bawah kepala kondilus. Regio ini terdapat di bawah leher kondilus dan memenjang dari titik terdalam sigmoid notch anterior hingga titik terdalam aspek konkaf poterior ramus mandibula. Nondisplaced.

Kepala kondilus tertinggal dalam fossa.28. terutama disebabkan banyaknya modalitas yang ditawarkan oleh berbagai macam literatur. Gambar 3.b. tetapi ada gangguan sendi c. eyelet 178 . Displacement. rekonstruksi tersebut melibatkan hubungan antara segmen fraktur. Tujuan perawatan fraktur kondilus adalah mengembalikan fungsi sistim pengunyahan seperti asalnya.19. Metode tertutup atau konservatif Fonseca (1997) menyatakan bahwa komplikasi selama perawatan konservatif sangat jarang terjadi. evaluasi klinis dan radiografi. keseimbangan maksilofasial. Indikasi perawatan fraktur kondilus dengan konservatif bila displacement yang terjadi minimal atau tidak ada atau bila garis fraktur terlalu tinggi sehingga sulit dilakukan stabilisasi secara bedah21. Adanya tarikan muskulus pterygoideus lateralis menyebabkan segmen kondilus terletak anteromedial. peningkatan rasa nyeri. Perawatan fraktur kondilus dengan cara konservatif sangat sederhana.4 Klasifikasi menurut Lindahl19 Perawatan Perawatan fraktur kondilus mandibula masih kontroversial. Perawatan fraktur kondilus dapat dilakukan dengan cara konservatif atau metode tertutup dan bedah atau metode terbuka 8. Immobilisasi melibatkan intermaxillary fixation (IMF) dengan menggunakan arch bar. Dislokasi. deviasi pad saat pembukaan. oklusi.21. Pengawasan yang ketat wajib dilakukan untuk melihat ketidakstabilan oklusi.

5 Pemakaian arch bar dan splint pada fraktur kondilus19 Metode terbuka atau bedah Perawatan dengan metode terbuka diindikasikan bila 19.8. Lamanya immobilisasi rata-rata sekitar 7 hingga 21 hari. Apabila intermaxillary fixation telah dilepas maka diikuti dengan penggunaan elastic guidance untuk mengarahkan mandibula pada posisi maximal intercuspation. Gambar 3.wires atau splint.   Fraktur kondilus bilateral akibat fraktur wajah tengah comminuted Ankylosis kondilus mandibula akibat trauma dan tertunda perawatannya 179 .8. derajat pergeseran dan danya fraktur tambahan.21. Selanjutnya bila penderita telah mempunyai kemampuan fungsional kembali dan oklusi tetap stabil serta rasa sakit minimal maka elastic guidance dan arch bar dilepas19.23:      Displacement kondilus ke dalam fossa cranial media Oklusi yang adekuat tidak mungkin didapatkan dengan metode tertutup Dislokasi kondilus ekstrakapsular lateral Fraktur kondilus bilateral pada pasien tidak bergigi Fraktur kondilus bilateral atau unilateral bila splinting tidak direkomendasikan karena keadaan umum pasien atau karena fisioterapi tidak memungkinkan. Periode ini dapat meningkat atau menurun tergantung pada umur penderita.

Apabila oklusi belum stabil maka penggunaan elastic guidance selama 2-3 minggu sangat dianjurkan agar adaptasi neuromuscular dapat tercapai. Gambar 3. dilakukan penilaian status sendi temporomandibula terutama jarak pembukaan. ikatan diperkuat tiap minggu. setelah wires dilepas. (2) sistim Arbeitgemeinschaff fur Osteosynthesefragen/sistim Association for the Study for Internal Fixation (AO/ASIF) dengan penggunaan stainless steel compression atau plat rekonstruksi dengan bicortical screws dan (3) Teknik Champy miniplate digunakan sepanjang” line of ideal osteosynthesis” memakai moncortical screws8.6. Pemakaian monocortical screws19 Kondilektomi merupakan salah satu teknik untuk membebaskan ankylosis dan tetap mempertahankan arsitektur sendi temporomandibula. pergerakan mandibula dan gejala-gejala yang timbul selama sendi berfungsi.Tiga teknik yang terpisah untuk fiksasi rigid pada perawatan fraktur kondilus dengan metode terbuka. Pemakaian IMF dilakukan selama 3 minggu. 180 .19. Metode tersebut telah banyak menunjukkan keberhasilan dan jarang menimbulkan reankylosis. Apabila oklusi telah stabil maka elastic guidance dapat dilepas dan fisioterapi dilakukan dengan penempatan tongue-blade diantara insisif sentral untuk mencegah keterbatasan permanen ankylosis8. yaitu: (1) sistim bikortikal Luhr dengan penggunaan plat vitallium.

Fiksasi intermaksiler diaplikasikan dalam periode yang pendek. 181 . Risdon approach. yaitu pre auricular approach. post auricular approach8. endaural approach. inverted “hockey stick” approach. Metode pendekatan yang sering digunakan untuk melakukan kondilektomi. diikuti dengan pengawasan yang ketat serta perawatan fisioterapi selama setahun19.

9 Post auricular dan Risdon approach26 Komplikasi Komplikasi fraktur kondilus mandibula selama perawatan jarang terjadi dan yang paling sering terjadi 19.8.22.Gambar 3.21. 182 .8 Pre auricular approach26 Gambar 3.7 Metode pendekatan bedah pada kondilektomi19 Gambar 3.24 : Maloklusi Maloklusi yang sering terjadi setelah trauma kondilus dapat disebabkan karena perubahan dari pusat pertumbuhan kondilus dan penyatuan dari segmen fraktur pada posisi yang tidak seharusnya.

183 . lamanya immobilisasi dan kerusakan diskus. Kerusakan yang terjadi pada fraktur kondilus dapat menimbulkan dearangement sekunder pada sendi kontralateral sehingga terjadi overloading pada sendi yang tidak terkena injuri. dan lamanya immobilisasi.Ankylosis sendi temporomandibula Ankylosis dapat diklasifikasikan berdasarkan derajat keterbatasan. kesehatan mulut dan nutrisi. Faktor lain yang mempengaruhi terjadinya ankylosis adalah umur pada saat terjadi injuri. demikian pula dengan pembentukan jaringan parut fibrous di daerah cedera temporomandibular dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan Gangguan sendi temporomandibula lainnya Internal derangement akibat fraktur kondilus dihasilakan dari trauma langsung pada sendi. Dimana cap kartilago memberikan tekanan sehingga mandibula tumbuh ke arah depan dan bawah. hypermobility dan kadangkadang disk displacement. sedangkan pada bilateral ankylosis menunjukkan adanya gigitan terbuka anterior dan hampir pembukaan mulut hampir tidak ada 19. tempat dan tipe fraktur. tingkat keparahan trauma. Hasil akhir kelainan tersebut akan menyebabkan keterbatasan pergerakan mandibula sehingga terjadi gangguan bicara. Gejala komplikasi tersebut di atas sering disebut dengan “condylar post fracture syndrome” 19. Gangguan pertumbuhan Beberapa factor yang mempengaruhi efek dari fraktur kondilus terhadap pertumbuhan kerangka wajah yaitu usia pasien. Deviasi ke sisi fraktur dapat terjadi pada unilateral. Gangguan seperti displacement mandibula dan aposisi tulang diregio kondilus dapat memyebabkan gangguan pertumbuhan mandibula.21. lokasi perlekatan dan tipe jaringan yang terlibat. Kartilago kondilar merupakan pusat utama pertumbuhan mandibula. Faktor-faktor ini berpengaruh pada pendekatan penatalaksanaan yang akan dilakukan.

1 Gambaran Histologis Struktur Tulang Karakteristik dari tulang mempunyai struktur yang bagian luarnya tersusun atas tulang kompak yang disebut kortek dan pada bagian dalam yang berbentuk seperti anyaman adalah tulang kanselus/spongious/trabecular. Unit fungsional tulang disebut juga sistem havers atau osteon yang terdiri atas kanal havers sentral yang dikelilingi oleh lapisan konsentris tulang/ lamela. 3. dimana pada lapisan dalam periosteum terdapat pembuluh darah. Tulang dilapisi oleh jaringan fibrous yang disebut periosteum. endosteum dan kavum medullare29. Urutan lapis demi lapis struktur tulang dari luar ke dalam adalah: periosteum. yang dibatasi oleh endosteum yang juga mengandung sel-sel osteoprogenitor. 184 . limfe. elastis serta mampu melakukan regenerasi bila mengalami trauma/fraktur 29. Berat tulang hanya sepersepuluh dari berat badan. namun demikian tulang sangatlah kuat.BAB IV PENYEMBUHAN TULANG DAN KOMPLIKASI PASCA PENYEMBUHAN Tulang merupakan jaringan keras yang membentuk tubuh manusia. dan sel-sel osteoprogenitor yang mempunyai potensi osteogenik yang sangat berperan aktif pada penyembuhan fraktur tulang. Lamela tulang yang mengelilingi kanal havers mempunyai lakuna yang mengandung osteosit yang mengatur aktivitas selular tulang29. Pada Tulang yang mengandung lebih banyak substansi tulang spongios dibanding tulang kompak disebut “cancellous”. substansia spongiosa. dimana tulang rahang termasuk dalam golongan tulang ini. Di bagian dalam tulang terdapat rongga medula/sumsum tulang. substansia kompakta.

Sel ini berperanan dalam nutrisi tulang berupa transfer oksigen dan metabolit/ kalsium). perbaikan dan remodelling tulang.2 Osteosit Osteosit yang berasal dari osteoblas yang terperangkap dalam matrik tulang yang mengalami mineralisasi. Unsur selular Terdapat tiga jenis sel utama tulang yaitu : Osteoblas. Sel ini mengandung enzim lisosim seperti asam 185 . Unsur organik Unsur organik yang merupakan matrik tulang tersusun dari 28% kolagen dan 5% nonkolagen protein.3 Osteoklas Osteoklas merupakan sel tulang yang berfungsi dalam resorbsi tulang. 2. 1. 1. osteosit dan osteoklas29 2.Gambar 4.1 Osteoblas Osteoblas berfungsi dalam sintesa matrik tulang yang berperan dalam pertumbuhan. 2. Gambaran Histologis Jaringan Tulang29 3. anorganik dan sel-sel tulang. 2. Osteoblas berasal dari sel yang terdapat pada lapisan dalam periosteum atau dari diferensiasi sel-sel mesenkim.2 Komposisi Tulang Komposisi tulang terdiri dari 8% air dan 92% benda padat yang tersusun atas unsur organik.

3 Fungsi Tulang Tulang mempunyai dua fungsi utama yaitu: fungsi mekanis dan biokimia. biasanya reduksi anatomis yang sempurna jarang terjadi. Pada bagian ini akan terjadi proses penyembuhan dalam waktu beberapa hari setelah fraktur.4 Penyembuhan Jaringan Keras Tulang Pada proses penyembuhan fraktur tulang terdapat fase penyembuhan primer dan sekunder. 3. Fungsi mekanis tulang meliputi: 1. Ca10(PO4)6(OH)2. dimana unsur utamanya berupa garam anorganik hidroksiapatit kristalin. 3. Fungsi sebagai rangka 2. 1. Kristal tulang ini tersusun sejajar dengan sumbu serat kolagen. endosteum dan sistem havers akan menginvasi celah dan membawa sel-sel osteoblastik mesenkim yang akan mendeposit tulang pada fragmen fraktur tanpa 186 . Penyembuhan primer. 3.fosfat dan katepsin. Bila sel ini berkontak dengan permukaan tulang maka akan berpenetrasi ke dalam tulang dan mengeluarkan enzimnya sehingga terjadi resorbsi tulang. sebagai berikut : 1. Pada beberapa bagian segmen tulang dapat terjadi adanya celah yang kecil. Sedangkan fungsi biokimiawinya sebagai tempat penimbunan kalsium dan fosfor dalam proses menjaga keseimbangan kadar mineral di dalam darah. Unsur anorganik Komposisi tulang secara kimiawi terdiri dari 67% bahan anorganik (Hydroxyapatite).1 Penyembuhan pada celah (Gap Healing) Meskipun fiksasi stabil pada fragmen fraktur. Pembuluh darah dari periosteum. Persendian 3. Tempat perlekatan otot 4. Melindungi alat-alat tubuh penting.

Penyembuhan primer 29 2.0 mm akan terisi oleh “woven bone” selanjutnya dalam ruang trabekula akan terisi oleh tulang lamela. Gambar 4. Penyembuhan sekunder 2.2 Penyembuhan kontak (contact healing) Penyembuhan kontak terjadi pada fragmen fraktur yang tidak terjadi kontak. 187 .5 1. 1. periosteum dan sistem havers menyebabkan hematoma. Perdarahan pada pembuluh darah endosteum.2.1 Tahap awal Pada fraktur tulang akan menimbulkan reaksi inflamasi disertai dengan pengaktifan sistem pertahanan tubuh yang menginduksi pelepasan sejumlah angiogenik vasoaktif sehingga terjadi vasodilatasi dan oedema dalam beberapa jam. kemudian proses remodeling akan merubah sejajar dengan sumbu tulang. Proses ini terjadi melalui regenerasi tulang dimana terjadi aktivitas osteoklas pada bagian fraktur yang menyediakan tempat untuk pertumbuhan dan proliferasi osteoblas guna membentuk tulang baru. Rekonstruksi lengkap dari kortek tulang memerlukan waktu hingga 6 bulan. Dalam waktu 6 minggu tulang lamelar akan tersusun tegak lurus terhadap fragmen fraktur. Bila fragmen fraktur kurang dari 0.3mm akan terbentuk langsung tulang lamelar.melalui pembentukan kalus. sedangkan celah antara 0.

2 Tahap kalus kartilogenus (soft callus) Pada hari ketiga sampai kelima jaringan granulasi akan berkondensasi membentuk kalus yang terjadi baik internal maupun eksternal (gambar 3). sedangkan sumsum tulang akan mengalami degenerasi lemak.fragmen tulang mengalami deposit tulang oleh sel-sel osteoblas dari periosteum. fibroblas bermigrasi dan membentuk kolagen selanjutnya berdeferensiasi menjadi kondroblas yang membentuk kartilago. 29. fibroblas dan sel kondrogenik (gambar 3). mastosit dan platelet.3. Kalus yang terbentuk akan menstabilkan ujung fragmen 188 . fibrin. Terjadi pembentukan kapiler yang bersama kolagen yang berasal dari fibroblas membentuk jaringan granulasi. Pase awal stage fibroplastik pembentukan tulang15 2. Platelet akan berdegranulasi Zmelepaskan PDGF (Platelet Derived Growth Factor). PMN.30. Gambar 4.12 jam akan terjadi proliferasi selular lapisan luar periosteum seperti osteoblas. terjadi kalsifikasi kartilago yang menyebabkan kondroblas berubah menjadi kondrosit. FGF(Fibroblastic Growth Factor) yang bersifat kemoatraktan dan mitogenik sehingga dalam waktu 8 . Hematoma yang terjadi mengandung eritrosit . makrofag. limposit. Keadaan ini memicu aktivitas sel makrofag untuk membersihkan jaringan nekrotik15. Osteoblas bertambah banyak dan osteoklas mulai nampak.

fraktur sehingga menguatkan tulang. berfungsi untuk menjamin hubungan antara keseluruhan kalus dengan fragmen tulang. Sel-sel jaringan ikat pada daerah ini akan berdifrensiasi jadi osteoblas dan menghasilkan substansia spongiosa yang melekat erat dengan permukaan tulang. selanjutnya berubah menjadi tulang lamela pada tahap remodeling29.30 . kalus kartilagenous terisi oleh pembuluh darah yang akan meningkatkan tekanan oksigen dan nutrisi yang akan memacu aktivitas osteoblast 15. kemudian osteoid mengalami kalsifikasi menjadi tulang yang tersusun acak (woven bone). Terbentuk akibat proliferasi endosteum dan membentuk trabekula tulang yang susunannya tidak teratur. volumenya semakin meningkat mendekati garis fraktur membentuk lepeng tulang yang menutupi rongga sumsum. 29. Osteoblas akan mendepositkan osteoid pada kartilago yang mengalami kalsifikasi.4.4 minggu.30. Sealing Callus: Berfungsi menutupi rongga sumsum yang terbuka dan berkembang dari bagian dalam kortek tulang. Terdapat beberapa jenis kalus tulang primer. Pase akhir stage fibroplastik pembentukan tulang15 2. 189 . Gambar 4.3 Tahap kalus tulang (hard callus) Proses ini terjadi dalam waktu 3 . yang dikelompokkan berdasarkan pada letak atau berdasarkan pada fungsi dan urutan pembentuknya: Anchoring Callus: Terbentuk jauh dari fragmen fraktur dan mendekati ke arah bridging callus.

Bridging Callus: Fungsinya sebagai jembatan dari kedua fragmen fraktur dan volumenya paling banyak jika dibandingkan dengan jenis kalus lainnya. 2. setelah reduksi dan fiksasi. Gejala hematom menghilang 2. Uniting callus: Terbentuk sepanjang garis fraktur dan berfungsi menyambungkan kedua fragmen fraktur. Secara fungsional organ telah dapat dipergunakan tetapi masih perlu dibatasi. Saat pembentukan anchoring callus. selain akan dilepaskan protein morphogenetik tulang (BMP) yang bersifat mitogenetik yang menginduksi diferensiasi sel-sel mesenkim menjadi osteoblas untuk pembentukan tulang sehingga kontur tulang kembali pulih29. 3.5 Tanda-Tanda Klinis Penyembuhan Fraktur 1. kartilago hialin. ossifikasi terjadi pada jaringan ikat diantara fragmen fraktur dan juga ossifikasi tersebut dapat terjadi secara langsung. Tidak ada rasa nyeri 3. Dalam remodeling akan terjadi resorpsi tulang oleh osteoklas. terjadi pula diferensiasi pada daerah bridding callus fibrokartilago.4 Tahap remodeling Osteoklas dan osteoblas merupakan sel yang sangat berperanan dalam remodeling tulang. Pada daerah fraktur kalus dapat diraba sebagai masa bulat dan padat 5. ossifikasi (pada saat substansia spongiosa anchoring callus telah mencapai kartilago) hingga membentuk tulang baru. 190 . 3. dan dilakukan sebelum perawatan. Fragmen tidak bergerak dan tidak ada krepitasi 4.6 Gambaran Radiologis Penyembuhan Fraktur Pemeriksaan radiologis penting untuk diagnosa dan membantu dalam evaluasi perawatan. serta minimal 1 kali setiap bula selama perawatan serta foto diambil minimal dari dua arah berbeda.15.30.

Kekuatan dinamis dari otot pengunyah orang dewasa pada gigi seri ± 40kg. molar ±15 kg.Gambaran radiologis proses penyembuhan: Secara klinis terjadi penyatuan fragmen fraktur dan secara histopatologis telah terbentuk penulangan namum secara radiologis belum tampak gambaran radioopak yang jelas. Pada tulang yang telah sembuh sempurna radiolusensi garis fraktur hilang dan diganti gambaran radioopak yang sulit dibedakan dengan radiopasiti pad jaringan tulang normal. Tujuan dari semua terapi fraktur ialah mengembalikan bentuk dan fungsi seperti semula. Konsep biomekanik pada perawatan fraktur mandibula perlu dipahami sebab keadaan statik dan dinamik dapat mempengarui proses penyembuhan fraktur. Gerakan mandibula dipengaruhi oleh empat pasang otot yang disebut otot-otot pengunyah. pterigoideus lateralis dan medialis. geraham ±90kg. berdasarkan arsitektur tulang. nampak adanya trabekulasi sepanjang garis fraktur atau tempat penyatuan. Temporalis dan masseter dan diperkuat lagi oleh m. Gambaran rdioopak nampak jika telah terbentuk kalus sekunder. disusul m pterigoideus lateralis bagian superior ( yang berinsersi pada kapsul sendi) saat mulut membuka lebih lebar. Pterigoideus lateralis bagian inferior. Pada waktu membuka mulut. Rahang bawah memiliki bentuk anatomis yang unik. bentuk dan perlekatan ototnya mandibula dapat digambarkan sebagai sebuah struktur yang mengubah tekanan yang diterimanya menjadi suatu 191 . 3. maka yang berkontraksi adalah m. yaitu otot masseter. Hal tersebut dapat dicapai dengan melakukan imobilisasi menggunakan fiksasi internal dan eksternal . temporalis. Otot digastricus bukan termasuk otot pengunyah tetapi mempunyai peranan yang penting dalam fungsi mandibula.7 Biomekanik Mandibula Mandibula memiliki mobilitas dan gaya yang sangat banyak. Sedangkan otot yang berperan untuk menutup mulut adalah m. sehingga dalam melakukan penanganan fraktur mandibula harus benar-benar diperhatikan biomekanik yang terjadi. sedang kekuatan menggigit daerah incisivus ±10kg. Pterigoideus medialis.

Secara umum. Gambar 4.14.6 tension site (+) dan compression site (-) pada mandibula Gambar.15. Pada waktu mandibula mengalami fraktur. sehingga kedua kekuatan tegangan yang berlawanan tersebut harus dinetralisir untuk mendapatkan reduksi fungsional yang stabil.bentuk daya tensi dan kompresi. 4. Kekuatan kompresi dihasilkan sepanjang daerah basal mandibula sedangkan kekuatan tensi terdapat pada sepanjang daerah alveolar. prinsip perawatan dilakukan dengan mempertimbangkan kekuatan-kekuatan pada kedua sisi dari aksis imajiner tersebut. Tension band berfungsi untuk mengurangi kekuatan yang membengkokkan yang terjadi di bagian alveolar atau kekuatan menahan yang menjauhi plat. sedangkan tension trajectory dengan menggunakan arch bar yang berfungsi sebagai tension band. Plat sudah cukup stabil untuk menetralkan shear dan torsional stress. Aksis tranversal imajiner yang terletak kira-kira sepanjang kanalis mandibula memisahkan prosesus alveolaris yang merupakan daerah tegangan atau disebut dengan tension area dari daerah basal mandibula yang merupakan daerah kompresi atau disebut dengan compression area.7 tension line pada mandibula3 Hal ini dapat ditempuh dengan penggunaan plat dan tension bar system yang secara individual berbeda tergantung dari lokasi dan tipe frakturnya. pressure trajectory yang menghasilkan kekuatan kompresi pada mandibula kemudain terjadi distorsi misalnya di rahang yang fraktur dapat diperbaiki dengan pemasangan plat osteosintesis.16) 192 . (3.

jaringan fibrous diantara fragmen tulang 193 .Gambar 4. Hal ini bisa disebabkan karena : Fragmen-fragmen tulang tidak ditahan dengan rigid Fraktur dibiarkan terlalu lama Alat Fiksasi terlalu cepat dibuka Adanya jaringan lunak. hal ini disebabkan karena banyaknya muskulus dasar mulut yang melekat pada bagian ini sehingga apabila terjadi fraktur pada bagian ini maka dapat timbul rotasi. Stabilisasi fragmen tulang yang fraktur di regio ini digunakan dua miniplate dengan jarak antar plat kurang lebih 5mm untuk menetralkan kekuatan rotasi pada daerah symphisis tersebut.(17) Selain menggunakan dua miniplate dapat juga digunakan SNT plate untuk fraktur di regio symphisis. Komplikasi Adapun komplikasi yang dapat terjadi pada penyembuhan tulang adalah15 : 1. Delayed union dan nonunion Delayed union adalah keterlambatan penyembuhan karena: Adanya interposisi diantara jaringan lunak diantara fragmen Fiksasi yang kurang baik Kurangnya reparatif vital dari tubuh karena gangguan sistemik Sedangkan pada nonunion tidak terjadinya penyembuhan atau tidak bersambungnya ujung-ujung tulang yang fraktur kecuali dilakukan pembedahan untuk memperbaiki fraktur tersebut.8 momentum gaya pada mandibula 11 Kekuatan torsional pada mandibula terdapat pada bagian symphisis mandibula. serat oto.

2. Pada beberapa penelitian. tanpa penggunaan antibiotik dapat terjadi lebih dari 50% kasus fraktur. Dapat disebabkan oleh faktor sistemik seperti alkoholik dan tanpa penggunaan antibiotik. Gangguan pada penyembuhan tulang (Malunion) terjadi karena kegagalan transformasi hematoma menjadi matrik osteogenik sehingga yang terbentuk jaringan fibrous nonosteogenik. penyebaran infeksi dari jaringan sekitarnya. dan juga faktor lokal seperti reduksi dan fiksasi yang buruk. tindakan debridemen yang kurang sempurna dan sterilisasi yang kurang baik . Reduksi Inadekuat Dapat disebabkan oleh distraksi fragmen fraktur oleh traksi otot atau oleh interposisi jaringan lunak antara fragmen fraktur. b. Infeksi Infeksi dan osteomielitis merupakan komplikasi yang paling sering terjadi. Fiksasi inadekuat 194 .9. dapat juga disebabkan oleh : a. pemberian obat-obatan yang kurang adekuat . Malunion Malunion dapat dijelaskan sebagai penyatuan fraktur tulang dimana displacement tulang masih terlihat. Fistula pada fraktur mandibula anterior setelah open reduction15 3.- Gangguan sistemik atau penyakit kronis Delayed union dan nonunion dapat terjadi pada 3 % dari kasus fraktur. Gambar 4. pasien yang kurang koopertif.

penyakit yang mengganggu aktivitas yang menghalangi menimbulkan reduksi tekanan oksigen selular pada proses penyembuhan tulang. 4. bila pergerakannya melebihi ambang batas fisiologis maka pembuluh darah kapiler akan terputus dan metabolisme penyembuhan tulang akan terganggu karena hilangnya suplai nutrisi. c. Infeksi Infeksi dapat menimbulkan osteomielitis baik yang mengakibatkan periosteum dan jaringan lunak yang berdekatan tidak berfungsi sehingga terjadi pembentukan lapisan fibrous penyatuan tulang. Faktor sistemik Kekurangan vitamin C dan D mengakibatkan gangguan pada metabolisme kolagen dan proses mineralisasi tulang. Kerusakan syaraf bisa disebabkan karena trauma yang hebat pada waktu kecelakaan atau terputusnya syaraf oleh fragmen tulang. 5. Vaskularisasi Menurunnya vaskularisasi oleh karena trauma. e. Injuri nervus Injuri pada nervus alveolaris inferior biasa terjadi pada fraktur korpus dan angulus mandibula. d. 195 . usia. Gangguan pertumbuhan Gangguan pertumbuhan yang merupakan akibat dari trauma pada kondilus dapat diakibatkan oleh trauma langsung pada kondilus atau karena fibrosis atau scarring dari jaringan disekitarnya.Seringkali mengakibatkan mobilitas dari fragmen fraktur sehingga terjadi “delayed union” .

Selanjutnya pada proses remodeling sampai terjadi rekonstruksi lengkap korteks tulang membutuhkan waktu 6 bulan31. 3.Gambar 4. Trismus karena adanya fibrosis atau disfungsi atropi dari otot-otot pengunyahan.8 Lama Penyembuhan Tulang Proses penyembuhan tulang sampai terbentuknya tulang lamela membutuhkan waktu hingga 6 minggu.10 Hipoplasia mandibula akibat fraktur kondilus bilateral15 6. 196 .

BAB V KESIMPULAN Mandibula merupakan fraktur kedua yang palling sering terjadi pada tulang maksilofasial dikarenakan posisi dan bentuknya yang membusur. Perawatan fraktur mandibula terdiri dari dua macam yaitu dengan menggunakan metode tertutup atau dengan menggunakan metode terbuka Harus diperhatikan indikasi dan kontra indikasi bila akan dilakukan perawatan fraktur mandibula dengan metode terbuka. tehnik operasi yang benar terutama dalam pencapaian oklusi mandibula. Sebagai tambahan juga usia pasien. Lokasi fraktur mandibula terbanyak pada kondilus. dan prossesus koronoideus. segmen dento alveolar. simfisis dan parasimfisis. Hal ini dapat dicapai dengan pemilihan modalitas yang tepat. Restorasi fungsi mandibula sebagai bagian dari sistem stomatognati harus mencakup kemampuan untuk mastikasi yang baik. serta perawatan pasca operasi dan rehabilitasi. Lokasi dan pola dari fraktur dapat dibagi berdasarkan mekanisme dan arah dari trauma. berbicara dengan normal dan menciptakan pergerakan artikulasi seperti sebelum terjadinya trauma. Dalam tatalaksana fraktur mandibula perlu dipahami biomekanik mandibula sehingga dapat diperkirakan letak fiksasi yang benar dan didapatkan hasil yang memuaskan. Pengelolaan fraktur kondilus mandibula harus sesegera mungkin berdasarkan diagnosa yang akurat sehingga dapat mengurangi atau menghilangkan komplikasi yang akan timbul 197 . korpus mandibula. keberadaan gigi-geligi dan karakteer fisik. angulus. Pemberian diet yang tepat dapat menjaga kesehatan pasien. ramus.

P.pdf last update 12 Desember 2010 2. Barrera J. 8. Snell R. Available at last update 12 http://medind. Penerbit buku kedokteran EGC. Buku Ajar Ilmu Bedah. Khan M.1996. Menon C. Jadoon H. Penerbit buku kedokteran EGC. Jong W D.nic. Anatomi Klinik untuk mahasiswa kedokteran.edu. C.medscape. Buku ajar ilmu kesehatan Telinga Hidung Tenggorokan Kepala Leher. G. hal 132-156. Available at http://www. pemasangan Penanganan Arch-Bar.DAFTAR PUSTAKA 1. Facial Trauma. 2007. 2007. Volume 19. 12:39-41. Pakistan. Higler P. Management protocol of mandibular ractures at Pakistan Institute of Medical sciences. R. Edisi 6. Iskandar N. L. A. Malik S.. pada Hardjowasito Anak Widanto. A. Chakranarayan S.pk/JAMC/PAST/19-3/13%20Samira%20Ajmal. Jakarta. Edisi 6. A. R. Available at http://emedicine.2009. Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Indonesia. Jakarta. G. Sinha C. Bab VII. Batuello T. Adams G. E. issue 3. Soepardi E A. Mandibular Angle Fractures: Treatment.medscape. 2005. L. 2006.in/maa/t08/i3/maat08i3p218. Mandibular Fractures. 2010. Management of Mandibular Fractures.com/article/868517-treatment. J Ayub Med Coll Abbottabad. 3. A. 198 . S. Islamabad. 7. last update 21 Desember 2010 9. Jakarta 6. Sjamsuhidajat. Available at http://emedicine. 1997.com/article/1283150-overview Desember 2010 5.pdf. 4. 2006. Edisi 2. Penerbit Buku Kedokteran EGC. R.ayubmed. Sugiharto Mandibula Setyo. Laub D. Jakarta. Boies L. Boies Buku Ajar penyakit THT. Thapliyal C. Ajmal S. last update 12 Desember 2010. Fraktur Majalah dengan Kedokteran Unibraw.

Tucker. St Louis. Widell T. Temporomandibular Joint Syndrome. Oral and Maxillofacial Trauma.. Okeson Jeffrey P.1996. G. 71-71. 20.J. William-Wilkins hal:143-148 12. 14. Louis: Mosby. R. Mosby Co. Craniomaxillofacial Trauma. Keith L Moore. 89-95. 15. eMedecine Journal. 18. 1995. Philadelphia 19. In management of temporomandibular disorder and occlusion . 1996. 17. R. 2001. Divisi Ilmu Bedah Kepala & Leher SMF/Lab Ilmu Bedah RSDS/FK Unair Surabaya:25-26. St. Vol 2. Ankylosis of TMJ. David DJ.2005. Louis: Churchill Livingstone. SR. 2.J. Churchill Livingstone. J and Frame J. Third ed. Okeson JP. Peterson. Peterson: et al. 2004.2001. Hal: 1-16 22. Booth. 2nd ed. et all. WB Saunders Co.2007. Buku Ajar Praktis Bedah Mulut . Pedersen. 58-63. London. 98. St Louis 13-21 13. Clinically Oriented Anatomy. 2002. Fractures Mandible. St Louis: Elsevier. Edisi 1. Murtedjo Urip. Oral and Maxillofacial Trauma.1993. Oral and Maxillofacial Surgery eJournal. L. Edinburg: Churchill Livingstone. Saunders Co. et al.Vol 3. 16. 21. Wijayahadi R Yoga. Oral and Maxillofacial Surgery. et all. Chaudhary A 2002. 1997. 199 . 3rd . Philadelphia: W. Maxillofacial Surgery.10. 2.W. Second ed. Trauma Maksilofasial Diagnosis dan Penatalaksanaannya.J. Vol. et al. P. Surabaya. Vol. Fonseca. 2006. Hal: 1-9. 3rd ed. Pedlar. Mosby. 4th ed. Oral and Maxillofacial Surgery.125-132 11.W.100. Principle’s of Oral and Maxillofacial Surgery. eMedecine Journal.B. Hal:1-3 23.W. et al. 1997. Hal : 270-283. St. Fonseca . Functional anatomy and Biomechanics of the masticatory system.

Year Book Publishers. London. 28. Fractures Mandible. Hal: 26-51. 2003. Facial Injuries.. Cross AR.Lewis DD. Anghinoni M. Schultz RC. A Textbook and Colour Atlas of the Temporomandibular Joint. Wolfe Medical Publications Ltd. Vol 2.24. Gamba U. 30: 384 – 389 27. 25. Philadelphia. Bramley. A comparison of open and closed treatment of condylar fractures: a change in philosophy . 111-44 29.. 30.... WB. 200 . Goldman KE. 1988. p. Oral and Maxillofacial Trauma. Feinberg SE. Sesenna E.. 26. Larsen PE. Norman. Fundamental of Ortopedic Surgery. Condylar and Subcondylar. 6thed St.. Whitson SW. Sounders Co. Bianco P.. louis. JE. Nanci A. 2002. P.Inc.2001. Surgery.1991. Int J Oral Maxillofac Surg. Diseases. London. Mosby. De Riu G. 1990. Hal :1-13. Hal: 386-404. Bone In Ten Cate’s Oral Histology. Disorders. Fracture Management Bone Healing and Grafting.

Kata kunci: Fraktur. 201 .Fraktur Maksila (Le fort I. tergantung pada organ-organ yang terlibat. biasanya dapat menyebabkan jejas atau fraktur pada maksila dan tulang-tulang di sekitarnya. Pola fraktur yang terjadi pada maksila biasanya mengikuti area terlemah pada kompleks midfasial. Le Fort mengklasifikasi pola fraktur pada maksila menjadi fraktur Le Fort tipe I. Penanganan dan rehabilitasi pasien dengan trauma pada maksila meliputi pemahaman terhadap jenis. evaluasi. pemeriksaan. dan perawatan bedah pada wajah. serta penanganannya agar diperoleh hasil pemulihan yang optimal. dan III. III) Nurwahida 160121120008 Peserta Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut Dan Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Bandung Abstrak : Suatu trauma yang mengenai bagian tengah wajah. trauma. II. reduksi. fiksasi. II. Maksud dari penyusunan makalah ini adalah untuk menggambarkan mengenai tipe-tipe fraktur pada maksila. Le Fort.

yang dapat membantu sebagai pedoman dalam mengembalikan perlekatan dan stabilisasi fraktur. Menampilkan oklusi gigi. sinus maksilaris. 2. 202 . 3.2 Fraktur pada daerah ini mempunyai gambaran yang unik dibandingkan dengan injury pada bagian tubuh yang lain seperti : 1. Terdapat suplai darah yang sangat bagus ke wajah.1 Pada daerah maksila ini perdarahan disuplai oleh arteri palatina mayor bersama-sama dengan arteri alveolar superior dan posterior yang bermuara pada palatum durum dan mole. Pada regio anterior cabang terminal dari arteri naso palatinus keluar pada foramen insisivus dan mereka mensuplai mukoperiosteum dan palatum bagian anterior.BAB I PENDAHULUAN Fraktur maksila adalah suatu keadaan dimana hilangnya kontinuitas dari tulang maksila dengan tulang pendukung disekitarnya ataupun dengan bagian – bagian dari tulang masksila itu sendiri. Melibatkan jalan nafas. Fraktur yang disebabkan trauma ini bisa terlokalisir atau muncul dalam kombinasi. termasuk juga mensyarafi labial dan gigi-gigi anterior.kombinasi. sehingga membantu dalam proses penyembuhan yang cepat. labial superior dan regio palpebral inferior. yang harus dilakukan tindakan cepat dan langsung. Nervus ini muncul dari foramen infra orbital dan kemudian berjalan untuk mensyarafi nasal lateral. Fraktur ini termasuk yang serius karena menyangkut struktur penting lainnya yang berdekatan seperti rongga hidung. Sedangkan persyarafan melalui divisi kedua dari nervus trigeminus. rongga mata bahkan dapat melibatkan kerusakan di otak baik secara primer maupun sekunder dari penyebaran infeksi.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA I. sagital dan horizontal yang menutupi sinus.2 Kompleks midfasial dilengkapi oleh struktur dukungan vertikal untuk menahan tekanan dari bawah. ANATOMI MAKSILA Midfasial menghubungkan basis kranii dengan dataran oklusal. 3 Gambar 1. labial superior dan regio palpebral inferior. Tetapi midfasial tidak 203 . Sedangkan persyarafan melalui divisi kedua dari nervus trigeminus. tulang nasal. dan septum nasal. Disartikulasi tulang midfasial menggambarkan anatomi maksila. Pada regio anterior cabang terminal dari arteri naso palatinus keluar pada foramen insisivus dan mereka mensuplai mukoperiosteum dan palatum bagian anterior.4 Pada daerah maksila ini perdarahan disuplai oleh arteri palatina mayor bersama-sama dengan arteri alveolar superior dan posterior yang bermuara pada palatum durum dan mole. zigoma. Tulang midfasial terdiri dari rangkaian penebalan vertikal. Midfasial secara efektif menyerap. Ia menyediakan pondasi kepada proyeksi fasial anterior sambil memberikan perlindungan kepada basis tengkorak dan berperan sebagai jangkar kepada ligamen fasial dan perlekatan otot. termasuk juga mensyarafi labial dan gigi-gigi anterior. melawan dan mengusir tekanan infrasuperior melalui beberapa tahanan. Nervus ini muncul dari foramen infraorbital dan kemudian berjalan untuk mensyarafi nasal lateral.

3 Gambar 2 menunjukan pilar vertikal terdiri dari pilar medial atau nasomaksilari (V1).3 Dukungan superior pada pilar ini adalah arkus yang dibentuk oleh rima orbita superior dan inferior dan arkus zygomaticus. Pilar nasomaksilaris memanjang dari apertura piriformis dari kaninus dan anterior maksila melalui prossesus frontalis dari maksila dan naik ke cerukan lakrimal dan dinding medial orbita ke os frontalis. Pilar horizontal meluas sepanjang rima supraorbita (H1). Pilar medial dan lateral memberikan tahanan anterior. Pilar zygomticomaxillary memanjang tulang alveolaris di atas molar I maksila melalui korpus zygoma naik ke prossesus frontalis dari zygoma ke os frontalis. 2 Gambar 2. Lengkung zygoma menyediakan satu-satunya pilar sagital. Pilar vertikal dan pilar horizontal. memberikan 204 . serta pilar sagital (S1). pilar pterygoid mengubungkan maksila ke lempeng pterygoid dari os sphenoidalis dan memberikan stabilisasi kepada dataran vertikal dari midfasial. Pilar midfasial horizontal meliputi rima orbita superior dan anterior juga palatum durum. memandang midfasial mudah untuk kolaps dan mudah bergeser pada segmen sentral. pilar lateral atau zigomatikomaksilari (V2). Struktur dukungan vertikal pada midfasial terdiri atas pilar nasomaksilaris (medial).dilengkapi dengan kemampuan menahan tekanan dari lateral dan frontal. Sisi posterior. rima infraorbita (H2) dan prossesus dentoalveolar dan palatum (H3). zygomaticomaxillary (lateral) dan pterygomaxillary (posterior). dan pilar posterior atau pterygomaxillary (V3) yang berfungsi menahan tekanan kepada basis kranii.

EPIDEMIOLOGI Penyebab utama dari fraktur maksila adalah kecelakaan lalu lintas (60%). perkelahian (24%). osteomielitis. Trauma dapat menyebabkan terjadinya fraktur secara langsungt maupun tidak langsung. B. Penyakit ini biasanya menyebabkan tulang menjadi rapuh ataupun melunak. luka tembakan (2%). 3 II. tumor. Tanpa termasuk fraktur nasal. Seperti penyakit yang berupa infeksi periapikal. Faktor utama Faktor utama terjadinya fraktur pada tulang maksila adalah disebabkan oleh trauma baik yang datang dari luar maupun dari dalam. jatuh (9%). 1. A. hidung dan mulut. olah raga (2%). Penebalan-penebalan tulang ini memberikan tempat untuk aplikasi pelat fiksasi guna memastikan dukungan dan penyembuhan yang maksimal. Faktor predisposisi: Yang dimaksud dengan faktor predisposisi adalah faktor yang dapat menimbulkan fraktur selain dari faktor utama. Trauma langsung adalah apabila fraktur terjadi pada bagian yang terkena trauma. Bila resorbsi tulang meluas akibat penyebaran penyakit ini maka dapat terjadi patah tulang spontan tanpa trauma. Trauma tidak langsung adalah apabila fraktur terjadi pada tempat yang jauh dari lokasi trauma. Lengkung zygoma berfungsi sebagai satu-satunya pilar sagital (S1). kista. III.dukungan struktural kepada fungsi dari mata. wajah tengah terlibat pada 40% 205 . kecelakaan kerja (4%).3 Rekonstruksi defek struktur midfasial membutuhkan rekonstruksi dari pilar-pilar ini untuk mengembalikan pola tahanan normal pretrauma dan parameter biomekanikal yang penting untuk mempertahankan integritas struktur skeletal. ETIOLOGI Penyebab fraktur dapat dibagi menjadi dua golongan yaitu faktor predisposisi dan faktor luar. 2.

Fraktur maksila dapat dibedakan atas jenis. dimana Le Fort I mencapai 30 %. 2 A. Comminuted fracture : Fraktur yang menyebabkan tulang hancur atau splintered. Single fracture : Fraktur yang memiliki satu garis fraktur saja atau disebut juga fraktur tunggal. cedera abdominal (15%).dari seluruh kasus. dan fraktur ini dapat terbuka atau tertutup. mukosa atau jaringan periodontal untuk berhubungan dengan dunia luar (opened fracture). jaringan periodontal atau kulit (closed fracture). Compound fracture : Fraktur dengan luka terbuka yang melibatkan kulit. 3. Kejadian cedera bersamaan dengan trauma kepala (50%). 5.yaitu: 1. MENURUT JENISNYA. Le Fort II mencapai 42%. Complicated fracture : Fraktur yang melibatkan jaringan lunak sekitarnya atau bagian sekitarnya ikut menjadi rusak. Tulang pada fraktur ini pecah menjadi fragmen-fragmen yang kecil. Multiple fracture : Fraktur yang melibatkan dua atau lebih garis fraktur pada tulang yang sama dan masing-masingnya saling tidak berhubungan. 2.3 IV. 6. yaitu melalui mukosa. 4.jenis atau bentuk dari fraktur itu sendiri. cedera skeletal (30%) ditemukan pada pasien dengan fraktur midfasial. Para ahli sepakat bahwa distribusi frekuensi fraktur Le Fort yaitu tipe II > tipe I > tipe III. Simple fracture : Fraktur yang tidak menyebabkan luka terbuka atau tidak berhubungan dengan lingkungan luar. KLASIFIKASI FRAKTUR MAKSILA Klasifikasi fraktur maksila dapat dibedakan menurut jenis frakturnya dan lokasi dari fraktur pada daerah tulang maksila itu sendiri. cedera servikal (10%). Impacted fracture : Fraktur yang menyebabkan fragmen tulang yang satu tertekan masuk kesisi fragmen fraktur yang lainnya. dan Le Fort III mencapai 28% dari seluruh kasus Le Fort. 206 . 7.

(Transverse facial fracture. Incomplete fracture : Fraktur dimana tulang tidak patah sama sekali atau tidak putus. garis fraktur terdapat diatas palatum tetapi dibawah perlekatan prosesus zygomaticus. B. 9. Fraktur ini dapat terjadi unilateral tetapi berbeda 207 . 2. terjadi pada tulang yang kalsifikasinya belum sempurna. Displaced fracture : Fraktur yang mengalami perubahan letak dari garis frakturnya sendiri 10. Distracted fracture : Fraktur yang mengalami dislokasi dari segmentsegment fraktur atau perubahan letak tanpa merusak jaringan sekitarnya. KRUGER. Menurut THOMA tahun 1969 Fraktur maksila dibagi atas 4 golongan yaitu:    Fraktur prosesus alveolaris dan prosesus palatine Fraktur horizontal (Transverse maxillary fracture. Le fort I fracture) Fraktur trasversal yang menyangkut orbital. MENURUT LOKASINYA Sedangkan menurut lokasi terjadinya fraktur tersebut telah banyak klasifikasi dibuat olah para ahli seperti: 1. tulang zygoma dan tulang  hidung. Craniofacial disjunction fracture) Fraktur pyramidal yang menyangkut tulang-tulang hidung dan maxilla. seperti tulang anak-anak. Fraktur pada maksila dapat terjadi salah satu dari jenis fraktur diatas tetapi juga bisa berupa kombinasi dari bermacam – macam fraktur serta dapat melibatkan fraktur pada tulang lainnya yang berdekatan dengan maksila. Guerin Fracture. Tahun 1984 Fraktur maksila dibagi atas 4 golongan yaitu :  Fraktur Horizontal ( Le fort I ) Seluruh maksila terpisah dari dasar tengkorak.8. Horizontal maxillary fracture. Menurut GUSTAV O.

dengan fraktur prosesus alveolaris karena pada fraktur alveolaris tidak disertai dengan perluasan kedaerah garis tengah palatum  Fraktur Pyramidal ( Le fort II ) Garis fraktur melalui aspek fasial maksila. Menurut LE FORT : Fraktur Le fort adalah fraktur bilateral horizontal dari rahang atas dan dibagi menjadi 3 jenis Le fort fraktur. sehingga dinding samping tulang mata terpisah melalui sutura zygomaticofrontalis  Fraktur Multiple Merupakan kombinasi dari ketiga macam fraktur diatas. 4. Horizon maxillary fracture ) Garis fraktur melintang melalui bagian atas dari prosesus alveolaris. 3. palatum dan bagian bawah dari prosesus pterygoideus dan tulang sphenoid  Le fort II ( Pyramidal fracture ) 208 . meluas kebagian atas tulang hidung dan tulang ethmoid biasanya sinus maksilaris ikut tersangkut. begitu juga tulang zigoma dapat terlibat  Fraktur Tranversal (Le fort III) Garis fraktur meliputi daerah mata.  Le fort I ( Fraktur Guerin. Transverse maxillary fracture. Floating maxilla. melibatkan sebagian dari dinding sinus maksilaris. daerah tulang hidung dan tulang ethmoid terus ke arcus zygomaticus. Menurut ARCHER Fraktur maksila cukup dibagi atas 2 golongan saja yaitu:  Fraktur dimana sebagian tulang maksila ataupun seluruh tulang maksila beserta beberapa gigi terpisah dari badan tulang maksila ( Le fort I )  Fraktur dimana seluruh tulang maksila bagian atas terpisah dari tulang – tulang dasar tengkorak sebagai suatu unit tunggal atau multiple.

Berbentuk kerucut makanya disebut fraktur pyramid. maksilo frontal dan nasofrontal.          Klas I : Fraktur pada kompleks zygomaticus Klas II : Fraktur pada kompleks nasalis Klas III : Fraktur Le Fort I Klas IV : Fraktur Le Fort II Klas V : Fraktur Le Fort III 6. Menurut KILLEY. Pembagian fraktur rahang atas ini berdasarkan lokasinya menjadi 5 macam. pada fraktur ini maksila hanya terikat oleh jaringan lunak terhadap tulang-tulang dasar tengkorak. 5. Craniofacial disjunction ) Garis fraktur melalui sutura zygomatiko frontal. Menurut CLARK:  Fraktur pada prosesus alveolaris maksila 209 . Fraktur pada muka mulai diatas akar gigi sampai palatum durum ( unilateral ) Fraktur terjadi horizontal dan bilateral yaitu diatas palatum dan dibawah orbita. bagian bawah mata. melalui dasar mata berjalan terus kebagian bawah sesuai dengan dinding lateral dari maksila melalui pterygoid plate terus ke fossa pterygomaxilla. Menurut IVY dan CURTIS: Fraktur maksila hanya mengenai prosesus alveolaris.Garis fraktur melalui tulang lakrimal. 7. Extensive comminuted fraktur. Garis fraktur terus ketulang ethmoid dan sphenoid.  Le fort III ( Transverse facial fracture. suatu fraktur yang terjadi dibagian atas maksila disertai dengan fraktur pada tulang nasalis dan tulangtulang lain disekitarnya.

210 . yaitu fraktur dengan beberapa gigi pada tiap fragmen tulangnya Complete fracture. Transverse facial fracture. Pyramidal fracture 3. Punch type fracture disebabkan karena tembakan sehingga terjadi luka pada tulang yang bergerigi terjadi pada satu atau lebih tulang yang tipis.   Fraktur dimana setengah bagian dari tulang maksila dipisahkan dari cranium Seluruh tulang maksilla dipisahkan dari karnium disebut juga Floating Maksila karena maksila seperti terapung terlepas dari cranium. Partial or complete fracture pada kasus yang edentulous. Transverse fracture 2. garis fraktur melintas secara horizontal pada kedua antrum dan cavum nasalis. Pada fraktur seperti ini dapat berupa . Pyramidal fraktur. Menurut MEAD : Membagi fraktur maksila berdasarkan lokasinya menjadi 3 macam:    Partial fracture. 1. garis fraktur melintas pada kedua orbita dan hidung Transverse facial fracture. 9. Menurut ERICH dan AUSTIN :    Horizon fraktur. 8. garis fraktur melintas pada kedua orbita dan bagian atas cavum nasalis.

Fraktur pada prosesus alveolaris. Septum nasal dapat terjadi fraktur. sedangkan garis fraktur sendiri berjalan vertikal atau disebut juga fraktur Unilateral. Dapat terlihat arah frontal dari maksila yang melibatkan struktur maksila dari plat pterygoid. Tipe ini dapat melibatkan maksila secara tersendiri dan terpisah dari struktur lain dengan diikuti terputusnya sutura palatina atau fragment maksila.Dari beberapa pendapat para ahli tersebut dapatlah disimpulkan bahwa pada prinsipnya fraktur maksila dapat dibagi menjadi : 1. Fraktur yang terjadi mulai dari batas lateral sinus pirimormis.1 Fraktur Le Fort I merupakan hasil benturan yang terjadi diatas level gigi. Fraktur Le Fort I Fraktur ini disebut juga Fraktur Guerin. Yaitu fraktu yang terjadi pada tulang maksila yang meliputi daerah alveolranya saja tanpa melibatkan tulang pendukung yang lain dan tanpa diikuti terputusnya hubungan tulang maksila dengan tulang nasal atau basis cranial. Horizontal Frakture. dan melewati pteriogoid junction. biasanya tampak open bite klasik. berjalan sepanjang dinding antral lateral. Pada fraktur ini. Tranverse Maksila Frakture. nasal dan zygomatik. Karena tarikan baik dari otot pterigoid eksternal dan internal.2 211 . dan kartilago nasal mungkin terkena. belakang tuberositas maksilaris. maksila dapat berada pada posisi posterior dan inferior. Low Level Fracture. Floating Maksila. 2. 3. Vertical fracture yaitu fraktur pada rahang atas yang meliputi palatum durum.

Fraktur Le Fort II Fraktur piramidal/subzigomatik yang menyebabkan terpisahnya wajah tengah pusat dari kompleks orbitozigomatikus. Fraktur terjadi sepanjang sutura nasofrontalis.Gambar 4. dan melewati garis infraorbita pada area sutura zigomatikomaksilaris. Fraktur Le Fort II. melalui tulang lakrimalis. 1 4.Gambar 3.2 . Fraktur le fort I. 3 Fraktur Le Fort II terjadi akibat benturan yang didapat pada level tulang nasal. 1 212 .

1 Sedangkan menurut Le fort fraktur ini disebut juga Transverse facial fracture. Jejas pada kepala dan leher seringkali melibatkan jalan nafas dan pembuluh utama. Fraktur Le Fort III. Pemeriksaan Awal / Primary Survey Evaluasi awal dan penatalaksanaan yang menyeluruh seringkali menentukan apakah pasien mampu bertahan dari trauma mereka. Gambar 5. Craniofacial disjunction.1 V. Pada fraktur ini maxilla hanya terikat oleh jaringan lunak terhadap tulang-tulang dasar tengkorak. maxillo frontal dan nasofrontal. PEMERIKSAAN DAN GEJALA KLINIS 1. Dimana garis fraktur melalui sutura zygomatiko frontal. oleh karena itu resusitasi ABC harus dilakukan secara ketat pada tahap awal pemeriksaan dan penatalaksanaan pasien dengan fraktur maksilofasial. Garis fraktur terus ke tulang ethmoid dan sphenoid. dihasilkan oleh suatu tekanan yang besar pada level superior yang dapat memisahkan naso orbital eithmoid komplek. zygomaticus dan maksila dari basis cranial atau disebut juga pamisahan craniofasial. Fraktur Le Fort III Fraktur pada daerah ini disebut juga supra zygomatic fraktur. Setiap 213 .5.

214 . Dada pasien harus dibuka untuk melihat ekspansi pernafasan. Auskultasi dilakukan untuk memastikan masuknya udara ke dalam paru. Pasien dengan jejas pada wajah sebaiknya diperkirakan memiliki jejas lain yang berhubungan. fleksi atau rotasi dari leher.pasien yang datang dengan jejas trauma. Usaha untuk membebaskan airway. Selama pemeriksaan awal. maka untuk kepala harus dilakukan imobilisasi manual. Inspeksi dan palpasi dapat memperlihatkan kelainan dinding dada yang mungkin menggangu ventilasi. fraktur tulang wajah. perhatian pertama harus ditujukan langsung pada evaluasi menyeluruh. Breathing (Pernafasan) Ventilasi yang baik meliputi fungsi yang baik dari paru. Pada penderita yang dapat berbicara. Selama memeriksa dan memperbaiki airway. walaupun demikian penilaian ulang terhadap airway tetap harus dilakukan. Perkusi dilakukan untuk menilai adanya udara atau darah dalam rongga pleura. Bila alat imobilisasi ini harus dibuka untuk sementara. B. Alat imobilisasi ini harus dipakai dipakai sampai kemungkinan fraktur servikal dapat disingkirkan. fraktur laring atau trakea.. tergantung dari insidensi trauma. jejas yang membahayakan hidup dan kondisi medis sistemik harus dievaluasi secara tepat. dapat dianggap bahwa jalan nafas bersih. Hal ini dapat dimulai dengan melakukan chin lift atau jaw thrust. Kecurigaan adanya kelainan vertebra servikalis didasarkan riwayat perlukaan. harus melindungi vertebra servikal. Ini meliputi pemeriksaan adanya obstruksi jalan nafas yang dapat disebabkan oleh benda asing. dinding dada dan diafragma. Dalam keadaan kecurigaan fraktur servikal fraktur servikal harus dipakai alat imobilisasi. 5 A. fraktur mandibula atau maksila. Airway (Jalan Nafas) Yang harus dinilai adalah kelancaran jalan nafas. harus diperhatikan bahwa tidak bleh melakukan ekstensi.

C. Tourniquet sebaiknya jangan dipakai karena merusak jaringan dan menyebabkan iskemia. Banyak pasien yang mengalami injuri fasial mengalami hilang kesadaran. Disability Menjelang akhir primary survey dilakukan evaluasi terhadap keadaan neurologis secara cepat.6 Skor 1 2 3 4 5 Mata (E) Respon (-) Terbuka karena rangsang sakit Terbuka bila diminta Terbuka spontan Verbal (V) Respon (-) Tidak dipahami Tidak tepat Bingung Bercakap-cakap Motorik (M) Respon (-) Ekstensi Fleksi Gerakan tidak spesifik Menunjukkan tempat yg sakit Bisa melakukan perintah 6 - - E. Setelah pakaian dibuka 215 . Kesemua pasien ini. GCS) untuk evaluasi cedera kepala. Perdarahan eksternal dihentikan dengan penekanan pada pada luka. Exposure environmental control Penderita harus dibuka keseluruhan pakaiannya. Circulation (Sirkulasi) Perdarahan luar harus dikelola pada primary survey. walaupun hanya pingsan dalam waktu yang singkat. Tabel 1. harus diperiksa secara keseluruhan dengan Skala Koma Glagow (GCS) dan dikonsulkan ke bagian bedah syaraf. D. sering dengan cara menggunting guna memeriksa dan evaluasi penderita. Skala koma dari Glasgow (Glasgow Coma Scale.

seperti perdarahan eksesif. krikotirotomi merupakan cara paling cepat untuk mengakses trakea. Selanjutnya pemeriksaan status nerologis pasien dan evaluasi spina servikalis pasien.1 Jejas pada daerah wajah tidak hanya melibatkan tulang wajah tapi juga jaringan lunak. pemeriksaan. masalah lain yang dapat mengancam kehidupan. 7 2. dapatkan riwayat selengkap mungkin. Pemeriksaan Riwayat dan Klinis a. ruangan cukup hangat dan diberikan cairan intravena yang sudah dihangatkan. seperti lidah atau daerah leher atas. dan tekanan darah sebaiknya diperiksa dan dicatat. Bagaimanapun. Seringkali. seperti gigit tampon. Langkah pertama yaitu memastikan pasien memiliki jalan nafas yang baik serta ventilasi yang adekuat. perlu dilakukan trakheostomi untuk memberikan jalan nafas yang adekuat. Penyajian primary survey diatas adalah dalam bentuk berurutan sesuai dengan prioritas dan agar lebih jelas. fraktur pada tulang wajah yang berat dapat mengurangi kemampuan pasien dalam menjaga jalan nafas. Tanda klinis. Leher harus diimobilisasi sementara hingga jejas pada leher dikatakan baik . atau dapat berhubungan dengan jejas seperti fraktur laring. sebaiknya dilakukan sesegera mungkin. Selama pemeriksaan awal. Pada pasien trauma dengan obstruksi jalan nafas atas komplit. Pada beberapa kasus. Riwayat ini sebaiknya diperoleh dari pasien.1 Selama primary survey. Benturan yang cukup berat yang dapat menyebabkan fraktur pada tulang wajah biasanya tersalurkan ke spina servikalis.harus dipakaikan selimut hangat. Pemeriksaan Riwayat Penyakit Setelah pasien stabil.1 Perawatan terhadap jejas kepala dan leher biasanya dilakukan setelah didapat evaluasi menyeluruh. Penanganan awal. beberapa perawatan awal seringkali penting untuk kestabilan pasien. tetapi karena kehilangan kesadaran atau status 216 . namun dalam prakteknya hal-hal diatas sering dilakukan berbarengan. sebaiknya diperiksa. keadaan yang mengancam nyawa harus dikenali dan resusitasinya harus dilakukan pada saat itu juga. dan stabilisasi pasien. termasuk respirasi. nadi.

3. Informasi mengenai waktu makan dan minum yang terakhir sangat penting apabila akan dilakukan anestesi umum. termasuk mengenai alergi. termasuk nyeri. dan imunisasi tetanus terdahulu. kondisi medis. karena biasanya mereka tidak mampu memberi respon dengan baik. Keadaan tidak sadar (koma). 2.nerologi. alergi dan tanggal imunisasi tetanus juga dicatat. perubahan visual. maksila yang tumpang tindih atau bahkan pasien yang tidak sadar atau tidak kooperatif. dll. termasuk kehadiran edema fasial. dan maloklusi? Informasi lengkap. Pemeriksaan Klinis Fraktur midfasial biasanya didiagnosa secara klinis dan dikuatkan dengan pemeriksaan radiologis. 5. perubahan sensasi. informasi harus diperoleh dari anggota lain yang mendampingi. epistaksis. Lima pertanyaan penting yang sebaiknya dipertimbangkan: 1. Adanya tanda-tanda kecanduan alkohol dan obat-obatan. syok. termasuk jenis benda yang berkontak. Sumber terbaik yang dapat digunakan adalah keluarga dekat yang menemaninya. atau sebagai penumpang. temannya.6 b. amnesia merupakan hambatan yang sering terjadi dalam menjalin komunikasi dengan pasien. waktu. pengobatan. pertimbangan logistik? 4. 3 217 . Bagaimana kejadiannya terjadi? Kapan kejadiannya terjadi? Apakah spesifikasi jejasnya. Sejumlah faktor bisa membuat pemeriksaan klinis menjadi sulit. tempat kejadian dan peristiwa khusus dicatat. Apabila cedera disebabkan oleh kecelakaan mobil. Apakah terjadi penurunan kesadaran? Gejala apa yang sekarang sedang dirasakan oleh pasien. dicatat karena tingkat kesadaran dipengaruhi oleh obat-obatan tersebut. apakah korban memakai sabuk pengaman? Apakah pasien merupakan korban tindak kejahatan dengan senjata tertentu? Apakah pasien jatuh/tidak sadar? Kondisi medis resiko tinggi. apakah si korban yang menyetir.1 Mendapatkan riwayat yang adekuat dari korban trauma adalah sulit. Tanggal. polisi atau pekerja pada unit gawat darurat.

digoyang dengan hati-hati untuk melihat adanya mobiliti pada maksila. kontusio. Wajah dan kranii harus diinspeksi secara hati-hati terhadap kemungkinan trauma termasuk laserasi. abrasi. Pemeriksaan Ekstraoral Pemeriksaan pada area fasial harus dilakukan dalam teknik yang terorganisir dan berkelanjutan.1. dan cairan yang keluar baik dari hidung maupun telinga diasumsikan sebagai cairan serebrospinal hingga terbukti bukan itu. Asimetri area wajah perlu dicatat. Oklusi dievaluasi. Dengan menggunakan jempol dan jari telunjuk dari tangan yang lain. yang dapat mengobstruksi pergerakan prosesus koronoid ke depan. karena dapat menyebabkan infeksi retrograde yang menyebabkan meningitis. nasal atau zygoma. memegang maksila. 1 Pembukaan mandibula dievaluasi baik untuk fraktur lengkung zigoma maupun zigoma yang terdisposisi ke lateral. Lengkung zigomatikus dipalpasi lalu ke tulang nasal. edema ataupun hematom dan kemungkinan cacat pada kontur.2 Tulang wajah dipalpasi untuk mengetahui adanya diskontinuitas tulang. Terdapatnya krepitasi dan pergeseran dinding antral lateral dan zigoma dapat mudah didapatkan dengan teknik ini. keadaan dan kualitas gigi perlu dicatat. Evaluasi midfasial dimulai dengan penilaian mobiliti maksila. Wajah dievaluasi terhadap kemungkinan terdapatnya laserasi dan depresi tulang yang jelas.2 218 . Area ekimosis harus dievaluasi secara hati-hati. Vestibulum bukalis dipalpasi dengan jari telunjuk. Jika diduga terdapat cairan serebrospinal. hidung maupun telinga sebaiknya tidak ditutup tampon. Fasial dan midfasial sebaiknya dipalpasi untuk melihat adanya gap pada dahi. Untuk menilai mobiliti pada maksila. Pemeriksaan berakhir dengan pemeriksaan maksila dan mandibula. sendiri ataupun kombinasi dengan zygoma atau os nasal. lalu berlanjut ke bawah untuk meliputi rima lateral dan infraorbitalis. faktor ini berpengaruh besar terhadap metode perawatan. Pemeriksaan sebaiknya dilakukan secara bimanual dan disiplin. kepala pasien harus distabilkan dengan menggunakan satu tangan menekan dahi. Pertama kita lakukan pemeriksaan rima orbitalis. rima orbita. dimana apabila terdapat edema yang cukup besar dapat membuat pemeriksaan menjadi sulit.

terutama pada palatum. tanda dan gejala yang dapat kita temukan adalah adanya oedem wajah dan terjadi retrusi mid fasial yang menyebabkan wajah terlihat datar. karena garis fraktur melewati tulang zygoma. Ekimosis subkonjungtival Gambar 7. Pasien sebaiknya ditanya mengenai keluarnya cairan rasa metal dan asin. Faring diperiksa untuk laserasi atau perdarahan retrofaringeal. Ekimosis sirkumorbital bilateral (racoon eyes).7 219 . yang merupakan indikasi terdapatnya drainase cairan serebrospinal. Keadaan ini disebut sebagai deformitas dish face atau pan face. Gambar 6. hal ini akan menyebabkan kontak prematur gigi molar dan open bite anterior. Kadang timbul parestesi daerah pipi karena trauma pada nervus infraorbita.8 Pada Le Fort II. Segmen maksila bergeser ke posterior dan inferior.Daerah ekimosis. Terjadi haemoragi subkonjunctiva dan diplopia. Terdapat hematom pada sulcus bukalis rahang atas posterior. merupakan gambaran umum pada fraktur maksila.

serta jarak intercanthal. pergerakan ektra ocular dan posisi bola mata. 2. Deformitas pada kontur tulang dapat tertutupi oleh pembengkakan. masalah pada retina ataupun masalah neurologic lainnya. Palpasi intra oral dengan jari pada maksila dapat memberikan informasi tentang integritas dinding nasomaksilaris. Peningkatan jarak interchantal menandakan adanya perubahan pada tulang frontomaksilaris atau tulang lacrimalis ataupun adanya avulsi dari ligamentum canthal medialis . Dalam hal kerusakan yang parah pada mata dan tulang orbita dapat dikonsultasikan kepada opthalmologis. Pergerakan abnormal pada tulang dapat didiagnosa dan jika terjadi maka akan diikuti oleh sakit dan krepitasi akibat dari ujung tulang yang keras bergesekan satu sama lain. Openbite anterior. Gangguan pada pergerakan ekstraokular atau enopthalmos menandakan adanya suatu blow out pada dasar orbita.Gambar 8. gigi geligi. Pemeriksaan Intraoral Pemeriksaan intra oral dapat melihat keadaan oklusi. Le fort III berhubungan dengan adanya cedera pada zygomatikus. dapat dilihat integritas dari lingkar orbita dan dasar orbita. Hilangnya fungsi pada rahang merupakan hal biasa sebagai akibat dari trismus atau sakit. Selama pemeriksaan mata dan tulang orbita. tetapi permeriksaan dapat menemukan adanya kehilangan kontinuitas tulang atau displacement. dan dinding zigomatikomaksilaris. stabilitas alveolar ridge dan palatum serta jaringan lunak. penglihatan. Gangguan pada oklusi dapat melokalisir adanya fraktur. Tidak seperti fraktur Le fort II.7 220 . dinding sinus maksilaris anterior. Perubahan penglihatan menandakan adanya gangguan pada persyarafan mata.

maksila digoyang-goyangkan untuk menilai adanya mobiliti. maka terdapat adanya Le Fort II atau III. Gigi anterior dipegang dan maksila dimanipulasi untuk memeriksa adanya pergerakan. Metode palpasi wajah tengah pada fraktur Le Fort. Tangan kiri juga dapat diletakkan pada os nasal untuk menilai mobiliti pada os nasal.5 Gambar 10 menunjukan metode palpasi wajah tengah pada fraktur Le Fort. Jika gerakan dapat dipalpasi pada jembatan nasal (A). kontak prematur pada molar dan anterior open bite.Fraktur transversal pada Le Fort membuat muskulus pterygoid medial yang kuat menciptakan tarikan posteroinferior pada segmen yang bergerak menciptakan maloklusi klas III.1 ` Gambar 10. Jika gerakan terdeteksi juga pada zigoma (B). Pemeriksaan mobiliti pada maksila. maka 221 .1 Gambar 9 menunjukan pemeriksaan mobiliti pada maksila. B. Dahi difiksasi dengan tangan kiri. A.3 Gambar 9.

Apabila tidak terdeteksi adanya gerakan pada daerah tersebut namun maksila mengapung. kepala distabilisasi lalu prosesus dentoalveolar dimanipulsi sehingga adanya pergerakan segmen fraktur dapat dideteksi.  Kecuali apabila segmen fraktur mengalami impaksi kearah posterior. Pemeriksaan fraktur Le Fort II dan III dilakukan dengan cara satu tangan memegang puncak hidung sementara tangan lain memanipulasi maksila. maka kemungkinan terjadi fraktur Le Fort I. Le fort I Manifestasi Klinis Le Fort I antara lain adalah:  Seluruh rahang atas dapat digerakan dengan mudah. Saat melakukan pemeriksaan fraktur pada maksila. Gambar 11 menunjukan saat melakukan pemeriksaan fraktur pada maksila.5 Gambar 11. 4 Perbedaan klinis fraktur maksila: 1.terdapat fraktur III. Pergerakan pada sutura nasofrontal menunjukkan kemungkinan terdapatnya fraktur Le Fort II atau III.  Terjadinya kontak premature dari gigi posterior karena tulang maksila turun dan menimbulkan open bite yang klasik. kepala distabilisasi lalu prosesus dentoalveolar dimanipulsi sehingga adanya pergerakan segmen fraktur dapat dideteksi. Le fort II 222 .6 2.  Palpasi tulang alveolar pada jaringan pendukung akan terasa nyeri  Dapat dilihat dengan jelas pada foto roentgen dan sering adanya gambaran sinus yang berkabut serta gangguan kontinuitas yang bilateral dari dinding sinus maksila.

6 223 . luka yang dihasilkan pun berfariasi.6 5.  Dari gambaran foto roentgen dapat terlihat pemisahan atau pergeseran pada sutura zygomaticomaksilaris serta terputusnya kontinuitas rima orbital inferior didekat sutura tersebut.posterior. sehingga frakmen yang pecah dari lantai orbita atau dinding media bisa terlihat dan ikut bergerak. Ada baiknya temuan ini dikomfirmasikan dengan CT coronal dan sagital scan. Suatu maloklusi dapat terjadi bersamaan dengan open bite. Trauma telecantus dapat terasa seperti halnya juga ephypora. Pada waktu dilakukan tes mobilitas dari maksila akan memperlihatkan pergerakan dari seluruh bagian atas wajah. Cara pendeteksian ini dapat dengan mengandalkan genggaman pada gigi anterior maksila dan menggerakannya arah anterior. 2. Suatu kelainan bentuk ini dapat dideteksi pada daerah rima infra orbital atau daerah sutura naso frontal. dan naso orbita eithmoid. 2. hal ini berguna dalam rencana perawatan dan pertolongan nyawa pasien.   Fraktur ini biasanya diikuti dengan fraktur zygoma.Manifestasi klasik Le Fort II antara lain :     Oedema periorbital secara bilateral. Hipoesthesia dari nervus infra orbital juga ditemukan. diikuti dengan ecchymosis yang memberikan kesan seperti raccoon sign (menyerupai kucing). kondisi ini muncul karena perkembangan odema yang sangat cepat. Le fort III Manifestasi klinis Le Fort III antara lain :    Sering terlihat kebocoran cairan cerebrospinal akibat sobeknya meninge (selaput otak) Oedema yang hebat dan ecchymosis peri orbital terlihat bilateral karena terjadinya perdarahan subkonjungtiva dalam berbagai tingkat keparahan.

minimal foto Water’s. scheidel anteroposterior. lateral dan foto submentovertex. Pemeriksaan Radiologis Setelah dilakukan pemeriksaan klinis pada area fasial dan keadaan pasien stabil. Foto Towne’s sangat bermanfaat dalam menggambarkan lengkung zigomatikus dan rami mandibula. Foto lateral skull berguna dalam menggambarkan kehadiran cairan pada sinus paranasal dan udara intrakranial. dapat menggunakan reverse Water’s (frontoosipital). Evaluasi pada fraktur midfasial secara umum ditambahkan dengan gambaran radiografik. Kekurangannya yaitu bertambahnya jarak antara tulang wajah ke film. Jika pasien tidak dapat tengkurap. pemeriksaan radiologi harus dilakukan untuk memberikan tambahan informasi tentang trauma fasial. Foto Water’s memperlihatkan antrum hampir jelas.Gambar 12. Gambaran Klinis Fraktur Le Fort III VI.8 224 .2 Gambar 13. Lengkung zigoma paling bagus digambarkan pada foto submentovertex. Water’s view memperlihatkan gambaran fraktur Le Fort II yang membentuk segmen fraktur bentuk Piramid.

Gambar 14. Foto water’s lateral menunjukkan fraktur Le Fort II4

Scan yang diambil secara baik dan hasil tepat, dapat menjadi alat diagnostik radiologi tunggal, tanpa foto lain. CT scan juga menggambarkan terdapatnya edema dan kehadiran benda asing yang sering terlewat pada foto konvensional.

Gambar 15. CT scan axial menunjukkan fraktur Le Fort II

Gambar 16. Gambaran 3D fraktur Le Fort II.

VII.

PERAWATAN FRAKTUR

A. Tujuan perawatan Apabila stuktur wajah terkena trauma yang menyebabkan fraktur maksila maka tujuan utama perawatan meliputi: 1. Penyembuhan tulang yang cepat.

225

2. Pengembalian penglihatan yang normal dan sempurna. 3. Kembalinya fungsi hidung untuk bernafas dan penciuman. 4. Kembalinya ruang bicara yang sempurna. 5. Hasil yang baik secara estetik baik dari gigi dan wajah seperti yang diinginkan. Selama perawatan diusahakan meminimalkan hal-hal yang merugikan pasien, seperti pemberian nutrisi, mengurangi rasa sakit dan ketidaknyamanan pasien serta kerusakan yang minimal jika memungkinkan. 1

B. Prinsip perawatan Untuk mencapai hal ini maka prinsip bedah hendaknya mengikuti aturan berikut ini Prinsip perawatan fraktur maksila: 1. Debridement yaitu membersihkan sisi fraktur meticulous. 2. Reduction yaitu mensejajarkan ujung tulang yang patah. 3. Fixation yaitu menstabilkan fraktur tulang, setelah selesai prosedur diatas, baru-baru ini digunakan mini plat tulang dan scrub ( rigid internal fixation ). 4. Imobilisasi yaitu pengikatan Fraktur pada bagian sendi, dicapainya dengan wiring sendi secara bersamaan selama 4-6 minggu dengan penyebaran yang luas menggunakan fixasi interna yang kuat, bagaimanapun prosedur ini sangat cepat dalam membantu penyembuhan. 5. Rehabilitasion yaitu mengistirahatkan total dari region yang terkena trauma seperti perlekatan kembali secara prostetik dari gigi geligi yang hilang akibat trauma dan injury.

C. Metode perawatan Perawatan fraktur maksila dapat dilakukan dengan metode terbuka maupun metode tertutup tergantung dari berat dan ringannya kasus, namun untuk fraktur maksila yang meliputi le fort I, II, III atau yang diikuti kelainan oklusi harus dilakukan dengan metode terbuka.9,2,6

226

1.

Reduksi tertutup ( close red )

Metode ini dilakukan tanpa melakukan insisi untuk mereduksi kembali bagian tulang yang fraktur seperti pada frakmen fraktur ini bergerak, biasanya gigi geligi yang terdapat pada sekmen fraktur mengalami kegoyahan . Pada kasus ini dibutuhkan tekanan berulang (digital) untuk mereduksi tulang yang patah. Pada kasus fraktur unilateral maksila atau terpisahnya sisi kanan dan kiri palatum pada sutura palatine, maka digunakan alat Rowe Disimpaction forceps atau Hayton-Williams forcep untuk mereduksi kembali kedua sisi palatum tersebut. Arch bar dipasang pada lengkung maksila dan mandibula. Gigi yang goyah diikat dengan kawat (wiring) kearch bar maksila, sedangkan gigi yang terdapat pada segment yang tidak fraktur dilindungi dengan fiksasi intermaksila. Kemudian fiksasi dilanjutkan kedaerah fraktur yang telah direduksi tadi. Fiksasi dibiarkan selama 4 sampai 6 minggu didalam mulut pasient dan pasien diberikan diet lunak selama fiksasi. Indikasi dilakukannya metode tertutup pada fraktur maksila adalah:  Dimana pada pemeriksaan klinis dan radiografis tidak memperlihatkan gambaran perobahan letak pada kedua segmen fraktur atau segmen frakturnya terletak pada variable yang stabil dari tekanan otot-otot mastikasi.( Undisplasment fracture )  Pada pasien yang edentulous (tidak bergigi) dan fraktur maksila secara radiology memperlihatkan perobahan letak yang minimal dan letak garis fraktur kemudian menjadi stabil oleh otot-otot pengunyahan. Maka union tulang pada fraktur ini dapat menjadi penghubung yang baik.  Pasien dengan fraktur yang menimbulakan kerusakan pada otak dan tidak adanya rangsangan untuk bangun, maka metode terbuka untuk sementara merupakan kontra indikasi. 2 Reduksi terbuka (open red) Metode ini lebih baik untuk kasus fraktur maksila khususnya yang komplek. Dengan metode ini dapat dicapai immobilisasi fraktur yang sempurna

227

dan fiksasi yang kuat dan rigid. Metode ini dimulai dengan tahapan sebagai berikut: 1. Pembukaan flap dengan insisi vestibular secara bilateral. 2. Sisi fraktur disingkapkan dengan meretraksi flap tadi 3. Dilakukan pembersihan segment pada garis fraktur. 4. Dilakukan perlekatan kembali kontunuitas tulang yang terputus. 5. Fiksasi garis fraktur dengan wiring atau mini dan mikro plat serta bautnya. 6. Tutup daerah operasi dengan mengembalikan flap pada posisi awal dan dijahit 7. Fiksasi inter maksila selama 4 minngu (masa penyembuhan) 8. Pasien diberikan diet lunak selama fiksasi dengan kandungan gizi yang cukup. Indikasi dilakukannya metode fraktur terbuka adalah sebagai berikut:  Apabila metode tertutup gagal dilakukan  Fraktur dengan displacement yang kearah bawah dengan segala

komplikasinya seperti open bite klasik, elongasi fasial dana dish face.  Fraktur fasial kompleks dan multiple seperti Le fort I, II, III .  Fraktur dengan impaksi pada rahang bawah.  Fraktur yang memerlukan pemasangan miniplate dengan skrup untuk reduksi dan stabilitas segment fraktur.  Fraktur yang membutuhkan bone graft.

Mikroplate and screw osteosynthesis Pada abad ke dua puluh mulai diperkenalkannya pemakaian plat sederhana atau yang lebih dikenal dengan Mini plate and screw. Sistem kompensasi plat logam ini menggunakan lobang-lobang plat eksentrik dan skrup- skrup ( beberapa diantaranya ada yang menggunakan swa-ulir ) yang cocok untuk penatalaksanaan fraktur orofasial. Pada tahun –tahun terakhir perkembangan plat dan skrup mengalami revolusi menjadi Mikro plate yang lebih ringan yang terbuat dari titanium dan lebih bisa diterima oleh tubuh. Hal ini di kembangkan karena bentuk

228

dan jenis fraktur maksila yang berfariasi dan sangat komplek sekali.Bentuk dan ukurannyapun disesuaikan dengan anatomi tulang fasial. Beberapa keuntungan pemakaian mikro plat ini adalah: 2,6              Kestabilan yang rigid pada fiksasi anatomi dari bagian –bagian fraktur. Dapat meniadakan pemakaian IMF ( intermaksilari fiksasi ). Mempercepat penyembuhan dan memperpendek durasi perawatan.

Indikasi dilakukannya pemasangan mikro plate pada fraktur maksila adalah: Apabila fiksasi maksilo mandibula sulit dilakukan. Untuk perawatan kasus yang penyembuhannya lama dan pseudoartrosis. Fiksasi pada graft tulang. Fraktur kompleks dan multiple dari Le fort I, II, III. Fraktur maksila pada pasien edentulous dengan displasment

Aplikasi mikor plate dan skrup: Pemaparan perkutan atau peroral dan kemudian dilakukan reduksi fraktur. Lakukan adaptasi dan stabilisasi mikro plat dan pembuatan lobang untuk skrup pada tulang denga bur tulang. Lobang bur dicocokan sampai sesuai dengan besar srkupnya. Skrup dipasang menurut dataran lubang pada plate untuk mendapatkan kompresi. 1-3 skrup diinsersikan pada sisi fraktur

Fiksasi dan Imobilisasi fraktur maksila Ada beberapa macam alat untuk Immobilisasi fraktur maxilla yang mana pada dasarnya menggunakan prinsip berikut ini:6 A. Fiksasi Intramaksila dan Intermaksila. 1. Hanya rahang atas saja yang dipasangkan alat fiksasi misalnya, dengan memakai arch bar dari Erich. Contoh pada kasus fraktur sebagian kecil dari prosesus alveolaris rahang atas (Intramaksila). 2. Pemasangan alat fiksasi pada gigi-geligi di maksila dan mandibula, kemudian pada kedua rahang ini dipasang rubber elastic band melalui

229

kaitan atau hock pada acrh bar yang digunakan. Elastik hanya dipakai pada gigi-geligi yang tidak mengalami fraktur rahang (berguna untuk fraktur unilateral atau segmental ) sehingga tulang alveolar yang mengalami fraktur akan terdorong keatas oleh tekanan gigi-geligi dirahang atas dan rahang bawah (Intermaksila).

Gambar 17. Arch bar dan fiksasi intermaksilaris. 4

B. Fiksasi Internal Teknik ini ditemukan oleh Adam yang mana diindikasikan pada fraktur horizontal yang sederhana dengan tidak terlibatnya tulang orbita. Teknik ini menggunakan kawat suspensi (stainless steel ukuran 0.018 atau 0,2 inchi, 0,45 atau 0,5mm) yang dimasukan (diikatkan) pada titik tertentu di tulang bagian superior. Bagian yang paling sering digunakan adalah Apertura piriformis, Spina nasalis, tonjolan Malar, Arcur zygomatikus, Prosesus zygomatikus ossis frotalis dan pinggiran tulang infra orbita. kemudian kawat menelusuri daerah fasial terus kebawah dan kemudian dihubungkan (diikatkan) pada arch bar yang telah dipasang pada gigi-geligi rahang atas (terhadap maksila) disebut fiksasi kraniomaksila. Sedangkan pada ikatan atau perlekatan kawat terhadap mandibula disebut fiksasi kraniomandibula. Gigi-geligi rahang atas dan rahang bawah dalam keadaan fiksasi Intermaksila (Transosseous wiring fixation). Apabila mandibula utuh atau karena perawatan bisa stabil, maka fiksasi kraniomandibula lebih dianjurkan dibanding perawatan fiksasi kraniomaksila, karena perlekatan ini memberikan hasil terbaik untuk mempertahankan posisi komponen maksila yang mengalami fraktur.

230

C. Fiksasi eksternal 1. Pesawat Cranio-Maxilla. Dimana digunakan suatu alat Head Appliances yang dihubungkan dengan alat lain yang dipasang pada maksila. Head appliances yaitu suatu alat yang dipasang pada kepala yang berfungsi sebagai penahan untuk fiksasi fraktur maksila dengan tulang cranial. Alat ini ada beberapa macam yang biasa digunakan yaitu:       Plaster of Paris head cap. Woodards appliance. Englands appliance. Bisnoffs head band. Crawford head frame. Crawford bloom head appliance

Pesawat Cranio Maxilla sendiri ada beberapa macam yaitu; a. Pesawat C-M yang menggunakan Kingsley splint yang dapat dihubungkan dengan berbagai macam splint yang diletakan pada gigi-gigi dirahang atas seperti:     Wire splint Cast metal splint Band orthodontic Pada pasien edentulous digunakan modifikasi dari kingsley sendiri. b. Pesawat C-M yang menggunakan Steinmann pin, dimana pin ini dimasukan kedalam tulang alveolar rahang atas yang mengalami fraktur melalui pipi lalu pin ini dihubungkan kembali kealat head appliance. c. Pesawat C-M yang menggunakan cranio fasial wire. Ditemukan oleh Erich, dimama kawat dihubungkan dengan arch bar yang telah dipasang sebelumnya pada rahang atas ( gigi-geligi ), kawat ini menembus pipi lalu dihubungkan denga head appliance. Pemakaian alat ini diindikasikan pada fraktur dengan tidak adanya perubahan tempat dari rahang (fragmen) dan mandibula dapat bergerak untuk berbicara dan makan (makanan lunak).
231

yang mana dua buah pin dimasukan kedalam tulang pipi kiri dan kanan. Ini untuk perawatan sementara dari fraktur rahang.2. Pesawat C-mand dengan menggunakan Traction bandage (head bandage). Pesawat Malar-Mandibula fixation. Terdiri dari Barton bandage denagn elastic yang dilekatkan pada kedua sisi dengan menggunakan plaster. Pesawat ini ditemukan oleh Gross. Frac-sure rods ini dihubungkan dengan head appliance c. Pesawat Cranio – Mandibula. Pada kasus tidak bergigi digunakan Gunning splint yaitu suatu acrilik aplint yang digunakan sebagai alat fiksasi mandibula. 232 . Peasawat C-mand dengan menggunakan Steinmann-pin yang dimasukan kedalam corpus mandibula . b. juga digunakan Frac-sure rods dipakai sebagai penghubung dengan head appliance. 3. dibagian luar dihubungkan dengan Frac-sure link vertical rod dikedua sisi. Pada metode ini gigi-geligi pada kedua rahang berada dalam keadaan oklusi dengan menggunakan Intermaksila wiring fixation dan eksternal traction. d. Pesawat ini pun ada beberapa macam yaitu : a. Pin ini lalu dihubungkan dengan pin yang telah dipasang pada corpus mandibula melalui suatu batang penghubung (rods) atau rubber elastic band. Pesawat C-mand dengan half pin hamper sama dengan Steinmann pin.

2 Aturannya. Gunakan gerakan menekan atau memutar. Sebagai alternatif yang kurang ideal. reduksi dini fraktur Le Fort I memberikan kesulitan minimal.Gambar 18. Digunakan secara sepasang atau sendiri.2 233 . diperlukan perpanjangan periode fiksasi hingga 6 minggu. biasanya cukup untuk terjadi penyembuhan. 1. III atau yang diikuti kelainan oklusi sebaiknya dilakukan dengan metode terbuka. Tahapan perawatan pada fraktur Le Fort: 1.7 C. maksila ditarik ke depan dan ke bawah. Fraktur impacted atau fraktur yang tidak mudah direduksi karena penyatuan dini oleh jaringan ikut (fibrous union) sebaiknya direduksi dengan menggunakan tang disimpaksi Rowe atau Hayton-Williams. Paruh dari tang Rowe ditempatkan sepanjang dasar hidung. namun untuk fraktur maksila yang meliputi le fort I. Untuk melindungi mukosa hidung dan mukoperiosteum palatum. perlu tenaga tambahan untuk melakukan reduksi sempurna. Perawatan Fraktur Le Fort I Perawatan fraktur maksila dapat dilakukan dengan metode terbuka maupun metode tertutup tergantung dari berat dan ringannya kasus. Fiksasi kraniomaksilar. dan sisi lainnya pada palatum keras (gambar). Fraktur dr pergeseran minimal direduksi di diimobilisasi secara ideal dengan reduksi terbuka dan immobilisasi diperoleh dengan penempatan plat yang tepat. dapat ditempatkan ujung karet pada paruh tang. melakukan fiksasi intermaksilari selama sebulan. Pada kasus fraktur remuk yang parah. Di atas 7 hingga 10 hari. II.

Kombinasi yang diperlukan tergantung pada kebutuhan untuk 234 .7 Setelah dilakukan reduksi pada fraktur. Fiksasi intermaksilari kemudian dilakukan untuk memperbaiki posisi anteroposterior fraktur. Sebagai alternatif. Perawatan Fraktur Le Fort II Reduksi tertutup yang dilakukan pada fraktur Le Fort II mudah dilakukan dengan tang disimpaksi Rowe. dapat dilakukan reduksi terbuka.2. Pada fraktur Le Fort II dilakukan insisi pada sulkus bukalis.Gambar 19. Minimal fiksasi tiga-titik atau mungkin empat-titik diperlukan. atau dapat juga menggunakan daerah sutura nasofrontal. Hal ini dapat dicapai dengan insisi subsiliary atau transkonjunctiva. terdapat variasi pilihan untuk imobilisasi. Perawatan dimulai dengan pemasangan IDW untuk mendapatkan oklusi. Hal ini dapat diperoleh dengan membuka regio sutura zigomatikomaksilaris baik dari rima inferior maupun intraoral. Fiksasi dapat dilakukan dengan mini plate yang menjangkau penyangga zygomaticomaksilaris. pembukaan tambahan ke superior sering dibutuhkan untuk akses yang cukup dari orbital rim. Hal tersebut perlu dilakukan untuk mendapat stabilitas dan penyembuhan yang adekuat. Imobilisasi dilakukan minimal 4 minggu. Penggunaan tang disimpaksi Rowe untuk mereduksi maksila.4 2. Pada umumnya segmen maksila pyramidal yang bebas distabilisasi ke tulang zygoma yang intak.

Terdapatnya jejas yang remuk dan parah bervariasi. Flap bicoronal harus dirancang hati-hati untuk menghindari cedera pada cabang saraf wajah. perikranium dapat diinsisi tepat di atas lengkung untuk menjaga suplai darah dari daerah supraorbital dan supratroklearis ke flap. Penempatan plat pada daerah ini dapat memberikan kestabilan dan keamanan dalam arah superior posterior. Pada gilirannya. Insisi jaringan lunak dapat dilakukan di lokasi yang sama seperti untuk fraktur Le Fort II. 2 Dalam perawatan fraktur Le Fort III. atau melalui laserasi yang sudah ada. rahang atas harus dalam kondisi tidak terpendam (direposisi) dan MMF dilakukan. serta reduksi yang tepat dari maksila ke wajah tengah inferior. kita menstabilisasi segmen tulang yang bergerak untuk stabilisasi mandibula dan tulang kranium. dan rekonstruksi regio nasofrontal karena daerah ini sering kali terjadi keremukan. zigomatikotemporal. Dalam mencapai lengkung zigomatik. atau rekonstruksi rima inferior. kita lakukan insisi fasia 235 . kita melakukan diseksi superfisial dari fasia temporalis. lipatan glabela. Awalnya. Pada daerah lateral.2 Prinsip umum perawatan fraktur ini yaitu. Ketika flap dibuat pada area lengkung orbita. tetapi prinsip perawatannya identik dengan yang lain. atau keduanya.mengeksplor dasar orbita. Flap bicoronal dapat diperpanjang untuk mencapai akses ke lengkung zigoma. Insisi alis lateral. atau insisi flap koronal. atau flap kulit kepala bicoronal dapat digunakan untuk topangan tambahan pada tulang frontozigomatik. 3. Semua pendekatan ini dapat memberikan akses yang baik ke daerah sutura nasofrontalis. 2 Pilihan lain dari perawatan pada fraktur Le Fort II yaitu imobilisasi sutura nasofrontal. oklusi yang baik harus didapatkan untuk mendapatkan posisi anteroposterior dan lateral wajah tengah. open sky. Perawatan Fraktur Le Fort III Fraktur Le Fort III secara esensial merupakan kombinasi fraktur zigoma bilateral dan fraktur pada kompleks nasal-orbital-ethmoid (NOE). Dapat dilakukan dengan bilateral Lynch. reduksi dan imobilisasi zigomatikofrontal. dan sutura nasofrontal.

pada daerah operasi. tetap dibutuhkan fiksasi tambahan (misalnya. Setelah pembedahan. Pada fraktur Le Fort III sejati. Gunakan pelat yang menjangkau seluruh penopang utama. Fiksasi Miniplate saat ini merupakan tipe yang paling dapat diandalkan. Apabila daerah fraktur terbuka terhadap lingkungan eksternal atau terdapat komunikasi dengan intra oral atau ruang nasal. lakukan pembalutan kassa dengan tekanan ringan. tetapi hasilnya tidak sebaik miniplate fiksasi karena vektor gaya untuk mempertahankan reduksi kurang akurat dan micromotion meningkat. kurangi dan stabilkan setiap patahan tulang yang terlibat. Jika terpendam atau comminuted. Jika menggunakan fiksasi dengan kawat pada IMF. masalah pada jalan nafas.temporalis di atasnya. D. Jika pembalut tetap kering. Gunakan sesedikit mungkin pelat untuk mencapai fiksasi. Interoseus wiring dan suspension wiring digunakan pada fraktur Le Fort III. fiksasi zygomaticofrontal bilateral mungkin sudah cukup. dapat diangkat setelah 2-5 hari. fiksasi langsung mungkin diperlukan. maka fiksasi dapat dilakukan. Setelah ini dilakukan dan segmen fraktur terlihat. pelat pembentuk kontur yang akurat dan monocortical serta sekrup self-tapping. Perluas bidang insisi ke dalam fasia sampai tulang zigoma yang fraktur. nasofrontal. lengkung inferior orbital. Jangan gunakan flap bicoronal dalam situasi dimana flap membutuhkan suplai arteri temporal. observasi pasien selama semalam terhadap kemungkinan terjadinya perdarahan. lengkung zigomatic). Gunakan template lunak. Garis rambut yang terlalu mundur juga dapat menjadi bahan pertimbangan untuk menggunakan tipe insisi lain. Patahan tulang kemudian dapat dikurangi dengan elevator kaku. tempatkan pemotong kawat di 236 . dan muntah. nasomaxillary. Perawatan Post Operasi Untuk meminimalisir edema paska operasi. secara umum. pelat berlebihan tidak diperlukan. Sehubungan dengan tindakan fiksasi pada fraktur maksila. Namun. maka perlu diberikan antibiotik profilaksis terhadap organisme gram-positif dan anaerob selama 5-10 hari.

Panorex dental views. Apabila tulang wajah telah sembuh dengan baik dan didapat oklusi normal. minggu ke 2-4. Selain itu. lakukan tes stabilitas tulang wajah dengan mempalpasi geligi rahang atas pasien saat menggigit dan merelaksasi otot pengunyahan. serta teknik perawatan yang digunakan. IMF dapat dilepas. Pengambilan foto post-operasi (misal.10 E. Follow-up jangka panjang mungkin dibutuhkan untuk memonitor terjadinya komplikasi postoperasi atau deformitas. CT scan) dapat membantu pada pasien yang dicurigai terjadi malunion. Pergerakan yang berlebihan mengindikasikan terlalu dininya melepas arch bar atau terdapatnya masalah penyatuan tulang.dekat pasien setiap saat pada awal periode post-operasi untuk mengeluarkan muntah. Terdapatnya Pergerakan minimal mungkin masih dapat diterima. Selama periode ini. pasien diberi tahu untuk membatasi diet yaitu bubur atau cairan. Tujuan paling penting selama periode awal post-operasi yaitu memelihara imobilisasi. Pada pemeriksaan post-operasi. Follow Up Lakukan evaluasi follow-up pada hari ke 5-7 (jahitan kulit dapat dilepas pada saat ini). Pada umumnya. instruksikan pasien mengenai cara melepas IMF apabila muntah. Tergantung pada umur dan kesehatan umum pasien. tekankan pasien untuk memelihara kebersihan mulut dengan rajin menyikat gigi dan arch bar dan berkumur dengan saline atau mouthwash antiseptik setiap pagi dan malam serta setiap habis makan. Mobiliti vertikal yang minimal pada midfasial dapat pulih seiring dengan waktu. tapi mobilisasi berlebihan dapat mengindikasikan terjadinya penyembuhan yang buruk. Sehingga IMF perlu dirawat selama periode ini. serial mandibula. MMF dapat dilepas lebih cepat pada fraktur yang diperbaiki dengan 237 . keparahan dan displacement fraktur. Lepas kawat atau rubber band apabila pasien mulai merasa mual. Sebelum pulang. periode ini berkisar antara 4-8 minggu. lalu minggu ke 3-8 untuk melepas IMF. facial series.

dan lebih lama pada fraktur yang diperbaiki dengan kawat interosseus atau suspensi.fiksasi miniplate.10 238 .

Epiphora 11. Pasien dengan fiksasi intermaksilari dan gigi lengkap biasanya mengalami kesulitan pernafasan pada saat ini. Reaksi benda asing 12. pembukaan jalan nafas nasofaringeal. Parestesi n. dan dengan edem berat jaringan lunak yang menghalangi pernafasan melalui jalan nafas nasal. Komplikasi yang mungkin terjadi sehubungan dengan fraktur maksila antara lain:4 1. Jaringan parut 13. dengan hematom septum atau nasal packing. Sinusitis Terjadinya obstruksi jalan nafas perioperatif dan postoperatif jarang terjadi pada fraktur maksila tunggal. Malunion atau maloklusi 10. dan pembukaan fikasi intermaksilari dapat efektif menghilangkan 239 . Deviasi septum 6. Reintubasi. tetapi potensi kemunculannya dapat diperkirakan selama evaluasi dan perawatan. Enopthalmus 3. Bagaimanapun. Nonunion 9. Infeksi 4.BAB III KOMPLIKASI Beberapa komplikasi yang dapat terjadi akibat fraktur maksila dan penyembuhannya biasanya tidak tampak hingga beberapa minggu hingga bulan setelah terjadinya trauma. Obstruksi nasal 7. Alat terekspos 5. kondisi ini dapat terjadi sehubungan dengan ekstubasi. infraorbital 2. Perubahan penglihatan 8.

sebaiknya didrainase.gangguan jalan nafas. dan maksila. 4 Aneurisma dan pseudoaneurisma merupakan komplikasi trauma pada maksilofasial tetapi jarang terjadi akibat 240 .4 Hemoragi post operatif dapat terjadi jika arteri dan vena tidak diligasi ketika memperbaiki laserasi. Fraktur pada dasar orbita yang tidak terdiagnosa atau ditangani dengan tidak adekuat (sendiri atau kombinasi dengan komponen zigoma) dapat menyebabkan terjadinya enopthalmus dan diplopia. jika reduksi tulang inadekuat dapat menyebabkan perdarahan berlanjut. apabila sumbernya tidak dapat diidentifikasi.4 Karena kedekatan maksila dengan orbita. Kebutaan postoperatif imediet dapat merupakan komplikasi reduksi pada fraktur Le Fort III (atau fraktur yang melibatkan orbita) dan terjadi akibat peningkatan hemoragi atau tekanan intraorbital. maloklusi) atau pemeriksaan radiografi postoperatif. Laserasi sebaiknya diperiksa ulang sehingga hemoragi dapat dikontrol. Hemoragi dari arteri utama harus segera ditangani. sphenoid. Faktur pada septum nasal yang tidak diperbaiki dapat menyebabkan terjadinya obstruksi jalan nafas postoperatif yang akan tetap ada hingga semua pembengkakan jaringan lunak hilang. hemoragi retrobulbar. Sinusitis akut atau kronik dapat juga terjadi pada sinus ethmoid. atau jika arteri sebagian terpotong. maka perlu dilakukan arteriografi dan embolisasi. frontal. Komplikasi ini dapat diidentifikasi melalui pemeriksaan klinis (misal. karena fraktur dapat mengobstruksi duktus sinus atau ostia. Pada perdarahan tulang sebaiknya dilakukan reduksi ulang atau menggunakan bone wax. Kebutaan jarang terjadi sehubungan dengan fraktur midfasial dan paling sering terjadi pada pola fraktur yang melibatkan orbita. spasme arteri retinal. fraktur maksila tersendiri. Perlu dilakukan prosedur pembedahan kedua untuk memperbaiki komplikasi tersebut. seringkali dengan mekanisme jejas yang lebih berat. dan menekannya fragmen tulang pada nervus optikus. 4 Sinusitis akut dapat terjadi akibat tindakan intubasi trakheal yang berkepanjangan. jika terjadi aneurisma. maka dapat terjadi komplikasi yang berhubungan dengan penglihatan. 4 Komplikasi postoperatif lain yaitu salah penempatan segmen tulang atau alat fiksasi. Hematom yang ada.

Pengenalan tanda. III seperti: Elongasi fasial. Dish face. pemeriksaan klinis dan didukung dengan pemeriksaan radiology demi tercapainya perawatan yang tepat pula. Perhatikan komplikasi yang menyertai fraktur maksila seperti Perdarahan yang hebat. 7. 241 . 2. malunion dan lain-lain. Sebaiknya klinisi membuat diagnosa yang tepat dengan memperhatikan anamnesa.BAB IV KESIMPULAN Dari penjabaran tentang fraktur maksila secara umum tadi dapatlah diambil kesimpulan bahwa: 1. Open bite klasik. Perawatan dilakukan sesegera mungkin untuk mensegah terjadinya komplikasi seperti infekasi. 3. II. 4. Obstruksi jalan nafas dan Kebocoran cerebrospinal renorrhoe. Immobilisasi segmen fraktur merupakan aspek perting untuk mencegah terjadinya kegagalan perlekatan (malunion ). Mobilitas seluruh rahang atas atau setengah wajah yang menandakan lepasnya kontinuitas maksila dengan basis cranial. 6. 5.tanda khas terjadinya fraktur Le fort I. Kehilangan kesadaran. Perawatan dengan memakai metode tertutup atau terbuka disesuaikan denga indikasinya masing-masing. Perkembangan baru dengan memakai miniplate dan skrup untuk menghasilkan fiksasi dari reduksi fragmen yang rigid dengan mengurangi waktu perawatan dan mempercepat penyembuhan.

Jakarta: EGC. W. K. 5th ed.W. Oxford: Blackwell-Science. 2005. 8.Dallas: Saunders. S.ac.S. Facial Trauma. 2001. McDonald.com/article/1283568- 242 . Maxillary and Le Fort Fractures Treatment & Management. James R. U. Oral and Maxillofacial Trauma vol. Hamilton: BC Decker Inc. St. 4. J and Frame J. 1996.S. 5. 2000. Contemporary Oral and Maxillofacial Surgery. Inc.2. St. 2008. Fonseca.gla. 7.medscape. 3. Pedersen.. Louis: Mosby. 2004. Principles of Oral and Maxillofacial Surgery. Hupp. Ellis. 10. 2009. Peterson.J. Edward. Principles of Oral and Maxillofacial Surgery. 2001. 2. Assesment of Patients with Facial Fractures.htm 9. Buku Ajar Praktis Bedah Mulut.uk/ibls/US/cal/anatomy/trauma/maxillaclinfeat.R. 6. http://emedicine. Moe.DAFTAR PUSTAKA 1. G. Thaller. http://www. 2nd ed. Moore. treatment#a1135. 5th ed. Louis: Elsevier. Pedlar. 2004.W. Oral and Maxillofacial Surgery. Miami: Marcel Dekker. Edinburg: Curchill Livingstone.

Namun karena strukturnya yang kompleks tentu saja penatalaksanaannya pun lebih rumit. di antaranya fraktur zygoma4. Fraktur zygoma merupakan cedera wajah yang sering terjadi. gambaran radiografi. Fiksasi 243 . Insiden yang tinggi ini kemungkinan disebabkan oleh posisi zygoma yang prominen terhadap tulang wajah2. dan berada pada urutan kedua setelah fraktur nasal. Maksud dari penulisan makalah ini adalah untuk memberikan gambaran mengenai gejala klinis. Penatalaksanaan fraktur zygoma pada dasarnya sama dengan penatalaksanaan fraktur maksilofasial lainnya yaitu meliputi reduksi. Jejas yang mengenai jaringan keras dapat merupakan suatu fraktur tulang. Reduksi.FRAKTUR KOMPLEKS ZYGOMA Leidya Valentina Elizabeth 160121120009 Peserta Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut Dan Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Bandung Abstrak Trauma akan menimbulkan jejas baik pada jaringan lunak maupun pada jaringan keras. Kata kunci : Fraktur Kompleks Zygoma. dan imobilisasi. perawatan serta komplikasi yang dapat terjadi pada fraktur komplek zygoma. fiksasi.

Tergantung dari mekanisme injuri. foramen. Insidensi. Tulang zygoma memegang peranan penting dalam menentukan lebar wajah dan juga berperan sebagai major buttress (tulang dengan struktur yang tebal. Beberapa literatur mengatakan bahwa puncak insidensi dari trauma terjadi antara dekade kedua dan ketiga dari kehidupan. pendidikan dan politik dari suatu populasi yang diteliti. ekonomi. Dalam beberapa penelitian. dan aperture. Dari kebanyakan penelitian menunjukkan bahwa wanita lebih banyak terkena dari pada pria dengan rasio 4 : 1. lebar dan anteroposterior) pada struktur wajah tengah. Tulang zygoma mempunyai struktur yang kuat. Etiologi dari terjadinya fraktur juga dipengaruhi oleh keadaan suatu populasi penduduk dimana pada penelitian terdahulu terlihat bahwa 244 . yaitu antara maksila dan cranium3. serta membentuk penonjolan pada pipi kiri dan kanan (penonjolan malar). zygoma dan komplek nasoorbital ethmoid. Tulang zygoma mempunyai permukaan luar yang cembung dan kasar. etiologi. yang menopang proporsi kraniofasial dalam ukuran tinggi. dan seringkali fraktur midfasial melibatkan tulang zygoma. tetapi adanya penonjolan tulang membuat tulang ini juga dapat mengalami fraktur jika mendapatkan trauma yang hebat yang dapat terjadi karena pukulan atau akibat kecelakaan kendaraan bermotor. tergantung pada status sosial.BAB I PENDAHULUAN Trauma pada wajah midfasial dapat menyebabkan fraktur yang melibatkan maksila. penyebab fraktur tulang zigoma adalah kekerasan dimana pada sisi yang lain kecelakaan kendaraan bermotor juga merupakan penyebab yang sering terjadi. Fraktur midfasial cenderung terjadi pada sisi benturan dan bagian yang lemah seperti sutura. predileksi umur dan jenis kelamin dari trauma zygoma bervariasi.

fungsi hidung. dan mereka juga menemukan bahwa fraktur bilateral hanya terdapat pada kasus kecelakaan. tulang zygoma kiri adalah yang banyak terkena. luka tembakan atau berupa fraktur patologis. perbaikan fungsi bicara. Pada fraktur zygoma yang disebabkan oleh kekerasan. kecelakaan pabrik. yang disebabkan oleh suatu penyakit. Tujuan utama perawatan fraktur fasial adalah rehabilitasi penderita secara maksimal yaitu penyembuhan tulang yang cepat. diperkirakan hanya terjadi sebanyak 4% dari 4067 kasus fraktur zygoma dalam sepuluh tahun yang dilaporkan oleh Ellis dan kawan-kawan. 245 . Fraktur zygoma bilateral jarang terjadi. hal ini sekaligus mengindikasikan bahwa fraktur zygoma akibat kecelakaan kendaraan bermotor lebih parah jika dibandingkan dengan kasus serupa yang terjadi akibat kekerasan. etiologi dari fraktur zygoma juga dapat disebabkan karena terjatuh. Keadaan ini berbeda dengan keadaan fraktur zygoma yang disebabkan karena kecelakaan kendaraan bermotor. benturan sewaktu olahraga.yang banyak mempengaruhi adalah pada populasi dari area industri dengan tingkat pengangguran yang tinggi sehingga kekerasan interpersonal masih banyak terjadi. dan kosmetik. Selain karena tindak kekerasan dan kecelakaan lalu lintas. pengembalian fungsi okuler. fungsi pengunyah. Penanganan yang tepat dapat menghindari efek samping baik anatomis. mencapai susunan wajah dan gigi-geligi yang memenuhi estetis serta memperbaiki oklusi dan mengurangi rasa sakit akibat adanya mobilitas segmen tulang. fungsi.

temporal. Struktur tulang zygoma adalah kuat. temporal. dan infraorbital. zygomaticomaksilaris. Kedua penonjolan arcus ini bersama-sama membentuk arcus zygomaticus. Tulang ini mempunyai satu tonjolan yaitu processus temporalis ossis zygomaticus yang menonjol ke dorsal dan berhubungan dengan processus zygomaticus ossis temporalis yang menuju ke arah ventral. dan zygomaticosphenoid (Gambar 1b). Fraktur kompleks zygoma meliputi gangguan pada keempat sutura yang berartikulasi.1 ANATOMI TULANG ZYGOMA Tulang zygoma merupakan bagian dari dinding lateral dan dasar rongga orbita (Gambar 1a). Tempat-tempat yang mudah patah adalah sutura 246 .BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. tetapi bila mendapat trauma atau pukulan hebat mudah patah. Zygoma berartikulasi dengan empat tulang: frontal. maksila. maksilaris. yaitu: sutura zygomaticofrontal. zygomaticotemporal. Anatomi dan letak tulang zygoma 3 Zygoma memiliki empat proyeksi yang menciptakan bentuk quadrangular atau tetrapod yang meliputi: bidang frontal. Pada beberapa individu membentuk lateral atas dari pada sinus maksilaris. Gambar 1a. dan sphenoid.

sutura zygomatikomaksilaris. zygomaticus. Orbita adalah piramid quadrilateral yang berbasis anterior. Ia terdiri dari lingkaran orbita maksila. levator labii superior dan m. m. Muskulus maseter menempel pada aspek inferior dari zygoma. sutura zygomatikotemporalis dan sutura zygomatikosphenoid. Dasar orbita melandai kearah inferior dan yang paling pendek pada dinding orbita. permukaan orbita pada tulang zygomatik. temporalis. Selain otot-otot. Gambar 1b. m.sphenozygomatika. Beberapa muskulus yang melekat pada tulang zygoma : m. Pada kasus fraktur adanya rotasi inferior dari tulang zygoma setelah penatalaksanaan reduksi dapat disebabkan karena lokasi m. masseter. dan oleh karena itu sebuah pemahaman gambaran anatomis orbita adalah penting untuk mereka yang merawat cedera ini. maseter ini. dan prosesus orbital dari tulang palatinus. m. Perlekatan otot-otot dan sutura 2 Seluruh fraktur kompleks zygomatik melibatkan dasar orbita. pterygoideus externa. pada tulang zygoma juga melekat dua buah ligamen yaitu ligamen kapsular dan ligamen temporomandibular. 247 . rata-rata 47 mm.

Otot-otot ekspresi wajah yang berasal dari zygoma termasuk zygomaticus mayor dan labii superioris. lingkaran orbital ethmoid. Otot masseter menginsersi sepanjang 248 . bibir atas. Dinding medial terdiri dari prosesus frontal maksila. Mereka diinervasi oleh nervus kranialis VII. Dasar orbital terdiri dari tulang frontal dan sayap yang lebih kecil dari sphenoid. tulang lakrimal. Fossa glenoid dan eminensia artikularis terlokasi pada aspek posterior prosesus zygomatikus tulang temporal. Arcus zygomatikus termasuk prosesus temporal zygoma dan prosesus zygomatik dari tulang temporal. dan geligi anterior maksila. Nervus infraorbital melewati dasar orbital dan keluar pada foramen infraorbital.Dinding medial dan lateral berkonvergen di posterior pada apeks orbital. hidung lateral. Hal ini memberikan sensasi pada pipi anterior. dan temporal keluar dari foramina pada tubuh zygoma dan memberikan sensasi pada pipi dan daerah temporal anterior. (Gambar 2) Gambar 21 Saraf sensori yang berhubungan dengan zygoma adalah divisi kedua nervus trigeminal. dan sebagian kecil dari badan sphenoid. Cabang-cabang zygomatik. fasial. Dinding orbital lateral adalah yang tertebal dan terbentuk oleh zygoma dan gerater wing dari os sphenoid.

permukaan temporal zygoma dan arcus dan diinervasi oleh sebuah cabang dari nervus mandibularis. Gambar 42 249 . Fascia ini menghasilkan resistensi pergeseran inferior dari sebuah fragmen fraktur oleh penarikan kebawah dari otot masseter(Gambar 4). (Gambar 3) Gambar 32 Fascia temporalis berlekatan ke prosesus frontal dari zygoma dan arcus zygomatik.

Perlekatan ini lebih kearah medial hingga aspek posterior dari tulang lakrimal dan lateral terhadap tuberkel orbital (Whitnall) (yang adalah 1 cm dibawah sutura zygomaticofrontal pada aspek medial dari prosesus frontal dari zygoma). Undisplaced c. Bentuk dan lokasi dari canthi medial dan lateral kelopak mata dipertahankan oleh tendon canthal.tidak ada perawatan Localized segmental fractures . Tendon canthal lateral berlekatan dengan tuberkel Whitnall.pembukaan dan fiksasi Displaced ‘tripod’ fractures (low velocity) – elevasi sederhana atau elevasi. 1995). A. 2.2 KLASIFIKASI FRAKTUR ZYGOMA Jackson (1989) membuat klasifikasi fraktur zigomatikus yang disederhanakan menurut pola dan pergeseran serta perawatannya. pembukaan dan fiksasi Grup IV Displaced comminuted fractures (high velocity) – pembukaan luas dan fiksasi multipel.Posisi bola mata dalam hubungan dengan aksis dipertahankan oleh ligamen suspensori Lockwood. Gruss dkk (1990) menekankan peran pola fraktur pada zygoma untuk reduksi yang akurat dan mengklasifikasikan fraktur ini menurut tingkat keparahan tulang pada badan zygoma dan arkus zygoma (Trott et al. Jackson (1989) Grup I Grup II Grup III Undisplaced fractures . Intact b. B. Badan zygomatikus a. Gruss dkk (1990) 1. Fraktur kompleks zygomatik seringkali dibarengi dengan sebuah antimongoloid (kearah bawah) dari daerah canthal lateral yang disebabkan oleh pergeseran zygoma. Segmental 250 . Tendon canthal medial berlekatan dengan krista lakrimal anterior dan posterior.

Displaced e. pergeseran pada sutura zygomatikofrontalis dan penonjolan tulang zygoma ke dalam. 1. hanya retakan saja. Comminuted C. Intact b. Fraktur tanpa displacement. sehingga terjadi fraktur dan pergeseran tulang langsung ke dalam sinus maksilaris. Fraktur ini disebabkan oleh pukulan langsung pada arkus zygomatikus. tetapi tidak memperlihatkan pergeseran. Pemeriksaan secara radiologis menunjukkan adanya fraktur. Comminuted 2. Pada umumnya tulang terdorong ke belakang. Fraktur zygoma tanpa perputaran. Fraktur ini disebabkan oleh pukulan langsung terhadap penonjolan dari tulang zygoma. fraktur zygoma dapat dikalsifikasikan sebagai berikut2 .d. menyebabkan busur ini melekuk ke dalam tanpa mempengaruhi sinus maksilaris ataupun rongga mata. Fraktur arkus zygomatikus dengan displacement. Fraktur zygoma dengan perputaran ke median. Dalam pemeriksaan radiologis timbul pergeseran ke bawah dari tepi infra orbita. ke dalam dan sedikit mengarah ke bawah sehingga pipi menjadi rata dan terjadi perubahan bentuk pada tepi infra orbital. Dalam hal ini tidak diperlukan penatalaksanaan. Arkus Zygomatikus a. Menurut Knight dan North. Undisplaced c. 2. Segmenta d. 4. Displaced : inferior dengan depresi dan lateral e. 3. 251 .

Fraktur energi-tinggi ditandai dengan serpihan pada orbit lateral dan pergeseran lateral dengan segmentasi pada arcus zygomatik (Gambar 6). atau lingkaran infraorbita. ke dalam dan ke bawah. Kebanyakan fraktur zygoma terjadi pada arkus dalam meliputi lateral orbital 2. 6. sutura zygomatikofrontalis keluar atau dapat ke dalam. dinding orbita lateral. Fraktur tulang zygoma dengan perputaran ke lateral. Fraktur kompleks. Fraktur-fraktur tipe A adalah fraktur energi rendah tidak lengkap dengan fraktur hanya pada satu pilar zygomatik: arcus zygomatik. Serpihan mungkin dapat timbul (Gambar 5). sehingga tulang terdorong ke dalam dan ke belakang. Fraktur incomplete (tidak lengkap) pada satu atau lebih artikulasi dapat terlihat. masseter pada arah posterior.Fraktur dan pergeseran timbul karena pukulan pada penonjolan tulang zygoma di atas sumbu mendatarnya. Disini termasuk semua kasus dimana didapatkan garis fraktur saling menyilang lebih dari satu. Zingg dan kolega.025 fraktur zygomatik. Fraktur arkus zygomatikus menyebabkan depresi pada pipi karena tekanan m. Pada 1990. mengklasifikasikan cedera-cedera ini kedalam tiga kategori. dalam sebuah tinjauan pada 1.al mengajukan sebuah metode klasifikasi yang didasarkan pada pola segmentasi dan pergeseran3: Fraktur yang memperlihatkan sedikit atau tidak ada pergeseran diklasifikasikan sebagai cedera energi-rendah. Manson et. Pemeriksaan radiologis memperlihatkan pergeseran ke bawah dari tepi infraorbital. Fraktur energi-menengah memperlihatkan fraktur lengkap ( complete) pada seluruh artikulasi dengan pergeseran ringan hingga moderat. 5. Pemeriksaan radiologis memperlihatkan pergeseran keluar dari penonjolan tulang zygoma dan ke atas dari tepi infraorbita ataupun keluar sutura zygomatikofrontalis. Fraktur disebabkan karena pukulan di bawah sumbu datar dari tulang zygoma. 252 . medial dan inferior. sehingga tulang yang mengalami fraktur tergeser ke belakang.

maka dapat ditanyakan kemudian setelah penderita agak pulih. Jennet dan Teasdale memperkenalkan sistem Glasgow Scale (GCS) untuk melihat tingkat kesadaran.  Pemeriksaan fisik Hal ini penting untuk menentukan rencana penatalaksanaan yang akan dijalankan. nilai 9-12 untuk moderate head injury dan nilai antara 13-15 untuk mild head injury9. Bila penderita tidak dapat memberi keterangan-keterangan tersebut.3 DIAGNOSA FRAKTUR ZYGOMA Riwayat yang terperinci akan banyak membantu dalam menentukan diagnosa. apakah dalam keadaan sadar atau tidak. terjadi muntah atau tidak dan riwayat penyakit yang pernah diderita. Untuk menegakkan diagnosa fraktur tulang zygoma dilakukan pemeriksaan :  Riwayat kecelakaan Riwayat kecelakaan dapat diketahui dengan memberi pertanyaanpertanyaan kepada penderita untuk memperoleh keterangan yang objektif. berapa lama dalam keadaan tidak sadar. 2. Skala ini menggunakan 3 parameter: Eye opening. Kolaps yang lama dan terus menerus akan menyebabkan shok. Asal mula terjadinya fraktur tulang zygoma harus diketahui. Keadaan penderita sewaktu terjadi kecelakaan harus diketahui. dapat kita tanyakan kepada pengantar yang melihat terjadinya kecelakaan.Fraktur tipe B mengacu pada fraktur “monofragmen” lengkap dengan fraktur dan pergeseran disepanjang keempat artikulasi. Selain itu diperhatikan apakah terdapat perdarahan melalui mulut. Bila riwayat secara lengkap tidak dapat ditanyakan kepada penderita atau pengantar penderita. yang ditandai dengan 253 . Fraktur “multifragmen” tipe C termasuk fragmentasi badan zygomatik. Kecelakaan yang serius dapat menyebabkan kolaps. telinga atau hidung. apakah karena kecelakaan lalu lintas atau karena pukulan. best motor responsen dan best verbal response dimana nilai antara 08 untuk severe head injury.

Penderita yang berada dalam keadaan yang tidak sadar tidak boleh dilakukan operasi sebelum penderita sadar. Pemeriksaan telinga Bila terjadi perdarahan atau terdapat cairan serebrospinal pada satu atau kedua lubang telinga menunjukkan adanya fraktur pada petrosa tulang temporal. Ketidaknormalan dari pinggir infraorbita dalam pemeriksaan palpasi menyatakan adanya kerusakan dari dasar orbita. Bila nervus zygomatikofasialis atau nervus zygomatikotemporalis rusak menyebabkan hilangnya perasaan pada pipi dan temporal bagian depan. 254 . Misalnya pada fraktur tulang zygoma yang serius sehingga menyebabkan pecahnya basis kranii. 2. pernafasan cepat dan dangkal. Gejala neurologis Hilangnya perasaan pada perabaan (anesthesia) dari kelopak mata bawah. dingin dan pucat. hidung dan telinga menandakan terjadinya fraktur basis kranii. Gejala-gejala fraktur zygoma Gejala-gejala fraktur ini sangat penting untuk mengetahui tindakan penatalaksanaan apa yang harus didahulukan. Retraksi dari jaringan lunak sudut mata menyatakan adanya penurunan dinding periorbita ke arah sinus maksilaris. Pemeriksaan mata Pupil berdilatasi menandakan adanya shok. Ketidaksadaran yang lama menandakan adanya kontusio cerebri. lateral hidung atau bibir bagian atas disebabkan rusaknya nervus infraorbitalis. pupil berdilatasi dan penderita apatis. 4. Gangguan dari pergerakan bola mata disebabkan karena otot-otot penggerak mata terjepit sehingga fungsinya terganggu. penderita harus segera dibawa ke bagian neurochirurgis. Kerusakan dari syaraf fasialis menyebabkan Bell’s palsy yaitu sudut mulut terkulai dan mata tidak bisa mengedip. Perdarahan dari mulut. Diplopia disebabkan karena kerusakan dari syaraf infraorbita. 1. nadi cepat tetapi lemah.tekanan darah rendah. kulit lembab. Perdarahan pada tulang telinga menunjukkan pecahnya basis kranii. 3. bibir dan kuku stanosis.

unilateral epistaksis.5.7. Harus dicatat tingkat simteris. Metoda yang paling berguna untuk mengevaluasi posisi dari tubuh zygoma adalah dari pandangan superior (. memberikan tekanan pada jaringan yang edema guna palpasi dan mengurangi efek visual dari edema secara simultan. level pupil. dibandingkan sisi yang satu dengan yang lain3. penurunan bola mata pada sisi yang fraktur. Hilangnya ekspresi pada pipi yang mengalami fraktur. 6. lateral. Inspeksi dilakukan dari bagian frontal. Tidak boleh dilupakan untuk melakukan pemeriksaan intraoral. retraksi dari sudut mata. Pada saat akan melakukan pemeriksaan dengan posisi seperti ini akan memudahkan untuk menempatkan posisi jari telunjuk di bawah tepi infraorbita. 255 . Gambar 51 Pasien dapat ditempatkan dalam posisi berbaring atau bersandar dikursi. Pemeriksaan visual Diagnosa yang langsung dapat dilihat dari gambaran karakteristik yang segera dapat dikenali yaitu muka terlihat asimetri karena adanya pendataran kontur pada pipi yang mengalami fraktur. adanya edema orbital dan ekimosis subkonjungtival dan proyeksi anterior dan lateral dari zygoma. hematoma. superior dan inferior 3. Ahli bedah menginspeksi dari atas. Pandangan superior juga membantu dalam mengevaluasi kemungkinan terjadinya depresi dari arkus zygoma. mengevaluasi bagaimana proyeksi anterior dan lateral dari zygoma terhadap tepi supraorbital. sepanjang zygoma. Pemeriksaan dengan cara palpasi Pemeriksaan zygoma meliputi inspeksi dan palpasi.

dimana sering ditemukan fraktur dengan melakukan palpalsi di bagian dalam dari tepi orbita yang berlawanan arah sepanjang aspek lateral. untuk mengetahui adanya hematoma atau irregularitas3. Jari telunjuk juga digunakan sepanjang aspek bagian dalam dari tepi orbita lateral. Bengkak yang seringkali masif mungkin terjadi dan paling dramatis pada jaringan periorbital. 2. Ekimosis dan edema periorbital.karena fraktur zygoma sering disertai dengan ekimosis pada sulkus bukalis superior dan oleh fraktur dentoalveolar maksilaris. Tepi infraorbita dipalpasi dengan jari telunjuk yang secara ritmik digerakkan dari sisi yang satu ke sisi yang lain sepanjang tepinya. pendataran wajah akan lebih nyata pada cedera pada zygoma yang displaced dibandingkan dengan fraktur yang nondisplaced. Tepi orbita dipalpasi dulu. dimana kelopak mata mungkin tertutup karena bengkak. Ekimosis mungkin hanya terdapat pada kelopak mata bawah dan derah infraorbita atau di sekitar seluruh tepi orbita. Sama halnya dengan fraktur arkus zygoma yang mungkin kurang mengakibatkan gangguan okuler dibandingkan dengan fraktur kompleks zygoma.1 TANDA DAN GEJALA FRAKTUR ZYGOMA Adanya tanda dan gejala serta keparahannya sangat tergantung pada luas dan tipe dari luka zygoma. Pendataran dari tonjolan pipi. Tonjolan zygoma dari maksila dipalpasi dari dalam mulut dengan satu jari. Tepi orbita lateral dipalpasi dengan jari telunjuk dan ibu jari. dibandingkan dengan sisi yang berlawanan. Misalnya. Tubuh dan arkus zygoma paling baik dipalpasi dengan dua atau tiga jari yang bergerak secara melingkar. Bila terdapat fraktur. dibandingkan antara sisi yang satu dengan yang lain.3. palpasi seringkali harus dilakukan dengan cara yang halus. Edema dan perdarahan ke dalam jaringan ikat longar dari kelopak mata dan derah periorbital adalah tanda yang paling umum yang menyertai fraktur tepi orbita. Tanda dan gejala berikut ini bisa menyertai fraktur zygoma dan oleh karena itu harus dievaluasi3 : 1. Palpasi harus dilakukan dengan sistematik dan teliti. 256 . 2.

4. 3. Ekimosis ini bisa terjadi meskipun hanya dengan sedikit gangguan pada maksila lateral atau anterior dan seharusnya tanda ini dicurigai sebagai fraktur zygoma. 6. karena nyeri bisa ditimbulkan karena cedera pada jaringan lunak atau fraktur maksila. Nyeri. Jika pada manuver ini tidak teraba tenderness. namun biasanya dapat diperoleh dengan menekankan jari telunjuk pada jaringan lunak darah zygoma dan membandingkan satu sisi dengan yang lainnya dari sebelah atas pasien. yang menimbulkan krepitasi. 5. Pendataran mungkin sulit untuk dilihat segera setelah terjadinya cedera jika terdapat edema. Pendataran di atas arkus zygoma. Deformitas pada tonjolan zygomatik dari maksila. Lekukan yang khas atau hilangnya kurvatura cembung yang normal dari daerah temporal menyertai fraktur dari arkus zygoma. Kecuali jika ada pergerakan dari segmen fraktur. Palpasi dari sisi fraktur juga akan menimbulkan rangsangan nyeri.Ini adalah tanda yng paling biasa ditemukan pada cedera komplek zygoma yang dilaporkan 70-86% kasus. mungkin tidak terdapat adanya fraktur. Tanda yang penting dari fraktur zygoma atau fraktur maksila adalah ekimosis pada sulkus bukalis maksila. khususnya jika terdapat distraksi dari sutura frontozygomatikus dan rotasi dan atau remuknya bagian medial. Juga sering teraba fragmen tulang yang remuk. 257 . Deformitas dari tepi orbita. Ekimosis dari sulkus bukalis maksila. Tidak adanya nyeri menunjukkan tidak adanya fraktur. khususnya di daerah tonjolan zygomatikus dari maksila. tetapi adanya nyeri belum tentu ada fraktur. 7. Palpasi intraoral dari aspek anterior dan lateral dari maksila seringkali menunjukkan irregularitas dari permukaan halus yang normal. nyeri hebat bukan merupakan gambaran yang normal dari cedera zygoma meskipun pasien akan mengeluh karena merasa tidak nyaman sehubugan adanya memar.

Terbatasnya kemampuan untuk membuka mulut sering terjadi bersamaan cedera zygoma. Epistaksis. Parestesi nervus infraorbitalis lebih sering terjadi pada fraktur dengan perubahan posisi daripada yang tidak. Trismus. menghasilkan perdarahan internal. Anestesia infraorbital terjadi bila fraktur yang melalui dasar atau maksila naterior menyebabkan robeknya. yang pada saat bengkaknya berkurang. Temuan lain adalah terdapatnya deviasi kearah sisi yang fraktur pada saat mulut dibuka. mungkin terjadi perdarahan pada sinus tersebut. Deformitas ini sering ditemukan pada tepi infra orbita dan tepi orbita lateral bila terjadi fraktur zygoma. anestesia nervus orbitalis mulai dirasakan. Sensibilitas saraf yang abnormal. dan lebih banyak lagi terjadi pada fraktur tertutup dari arkus zygoma (45%). Karena sinus maksilaris dialirkan ke hidung melalui meatus tengaha. jaringan edema. 10. Sebenarnya terjadinya pergeseran ini pada sebagian besar kasus masih meragukan. 8. karena diperlukan perubahan posisi yang cukup besar untuk menyebabkan gangguan mekanik. terpotongnya atau kompresi dari nervus infarorbitalis sepanjang kanalis atau 258 . Kebanyakan fraktur melalui dinding sinus yang hanya mengalami sedikit perubahan posisi akan merobek mukosa yang melapisinya. Gejala penting yang ditemukan pada kira-kira 50-90% dari cedera komplek zygoma adalah berkurangnya sensasi nervus infraorbitalis.Fraktur yang terjadi sepanjang tepi orbita seringkali menimbulkan celah atau deformitas jika terjadi displacement. Apabila mukosa sinus mengalami gangguan. khususnya pada otot temporalis. 9. Penjelasan yang lebih mendekati adalah spasme otot yang terjadi sekunder terhadap pergeseran oleh fragmen yang berubah posisi. Meskipun sulit untuk membedakan antara anestesia dari sensasi yang berubah pada penelanan. terjadi pada kira-kira sepertiga kasus. perdarahn unilateral dari hidung yang mungkin terjadi adalah kira-kira 30-50% dari cedera komplek zygoma. Alasan yang sering dikemukakan untuk terjadinya trismus pasca fraktur adalah bergesernya prosesus koronoideus mandibula pada fragmen zygoma yang berubah posisi.

Ekimosis subkonjungtiva. Perdarahan subkonjungtiva sering ditemukan pada fraktur zygoma. bibir atas dan bagian lateral hidung. Emfisema ini akan menghilang secara spontan dalam 24 hari tanpa perawatan. Bila garis fraktur terjadi lateral dari jalur dan foramen infraorbital (lebih jarang terjadi) nervus infraorbitalisnya akan terselamatkan. menyebabkan udara bergerak menuju jaringan lunak wajah jika tekanan diantara sinus lebih besar daripada tekanan didalam jaringan. Gejala tersebut bisa mempengaruhi sensitivitas gigi dan gusi maksila. Terganggunya nervus orbitalis akan menyebabkan anestesia kelopak mata bawah. 12. yang akan memproduksi sensasi “crackling” yang khas. Hal ini tidak umum ditemukan pada fraktur zygoma. Mungkin disertai retak yang sangat tipis melalui tepi orbita jika periosteum telah robek. Perubahan posisi dari celah palpebra. Perubahan posisi dari zygoma juga termasuk palpebra yang menempelnya. yang menunjukkan emfisema subkutan. karena tidak adanya gangguan dari periosteum. ekimosis subkonjungtiva biasanya tidak mempunyai batas posterior dan kan tampak berwarna merah cerah sesuai dengan kemampuan oksigen untuk menyebar melalui konjungtiva untuk pengumpulan darah. sekitar 5070% kasus. Krepitasi dari emfisema udara. Fraktur yang melalui dinding sinus. Ligamentum palpebra lateralis menempel pada bagian zygoma dari tepi orbita. 11. cenderung terinflasi oleh udara karena kehilangan sifat areolar. 259 . tetapi potensi untuk terjadinya emfisema udara konstan. perdarahan yang mungkin terjadi dapat terskumulasi pada lokasi subperiosteal dan tidak tampak dibawah konjungtiva. 13. Hal ini yang paling mudah dikerjakan dengan jalan memutarkan dua jari dengan lembut diseputar jaringan. Signifikan dari emfisema ini adalah berpotensi terjadinya infeksi melalui hubungan antara sinus dan jaringan lunak. Jika terjadi inflasi dapat dilakukan palpasi dan menimbulkan krepitasi. Bila terjadi. dengan robekan pada mukosa yang melapisi. Jaringan lunak dari daerah periorbita terutama kelopak mata. Kehadirannya tidak mengesampingkan adanya fraktur tepi orbita.foramennya.

hilangnya dukungan tulang dari isi orbita dan perubahan posisi dari kapsul tendon dan ligamentum suspensorium dari bola mata. Diagnosa diplopia bisa sangat sulit pada tingkat awal dimana edema atau perdarahan bisa berkurang dalam beberapa hari namun terperangkapnya jaringan orbita tetap tidak berkurang. dimana kaburnya pandangan hanya terjadi bila melihat dengan kedua mata secara bersamaan. Dapat ditentukan apakah pada fraktur terdapat isi orbita yang melalui dasar orbita dengan forced duction test. dimana pupil pada bagian yang terkena terletak lebih rendah daripada normal. Adalah nama yang diberikan untuk gejala pandangan kabur. Diplopia binokular. ligamentum palpebra lateralis juga tertekan. Diplopia monocular atau kaburnya pandangan dari satu mata. Dengan adanya gangguan dasar orbita dan bagian lateralnya. Kondisi ini mungkin menyebabkan lebih banyak sklera yang terekspos di bawah iris dan tampak ektropion yang nyata. sehingga tampak memendek. Penting untuk membedakan antara dua jenis diplopia. perubahan posisi inferior atau posterior dari tepi orbita inferior menyebabkan tekanan pada kelopak mata yang lebih rendah. Forcep kecil digunakan untuk memegang tendon rektus inferior 260 . Pada waktu zygoma mengalami perubahan posisi pada arah anterior. Keadaan ini tampak secra klinis berupa level pupil yang tidak sama. 14. Petunjuk yang bermanfaat untuk membedakan penyebab dari diplopia adalah temuan bahwa edema yang menyeluruh dari orbita biasnya menyebabkan diplopia pada pandangan keatas dan kebawah yang ekstrim. Diplopia. yang sering menyertai fraktur zygoma. 15.menghasilkan deformitas visual yang dramatis. Kuarngnya gerakan mata yang hampir lengkap dalam satu arah terjadi dengan pengaruh mekanis atau cedera neuromuskuler. yang paling banyak adalah terperangkapnya otot. hal ini biasa terjadi kira-kira 10-40% dari cedera zygoma. sementara yang satu tertutup. memerlukan perhatian segera dari ahli mata. hifema atau cedera traumatik lain dari bola mata. Level pupil yang tidak sama. menyebabkan lekukan yang menurun ke celah (kemiringan antimongoloid). Karena sekat orbita menempel pada tepi infraorbita. karena biasanya menunjukkan lepasnya lensa.

Ini adalah diagnosa yang sulit dilakukan pada keadaan akut kecuali pada kondisi yang sangat berat. Secara spesifik. pemindaian CT memberikan visualisasi dan dasar-dasar dari tengkorak wajah tengah: dasar-dasar nasomaksilaris. Jika cedera zygoma sudah menyebabkan kenaikan volume orbita. A).3. pada bidang aksial dan koronal. yang menyebabkan pseudoptosis dari kelopak atas. Enoftalmus. infraorbital. Manifestasi klinik dari enoftalmus dititikberatkan pada sulkus kelopak atas dan penyempitan fisur palpebra. derajat pergeseran. zygomaticomaksilaris. Tomografi Komputasi CT adalah standar emas untuk evaluasi radiografi fraktur zygomatik. Hal ini harus dilakukan secara rutin pada individu yang tidak bisa menggerakkan bola mata ke arah atas. enoftalmus akan tampak lebih nyata dan seringkali dihubungkan denga terjadinya ptosis bola mata. Fraktur zygoma yang menunjukkan gejala enoftalmus kira-kira 5% dari seluruh kasus sebelum dilakukan perawatan. dapat enoftalmus. dimana edema pada jaringan lunak sekitarnya selalu menimbulkan enoftalmus relatif.2 PEMERIKSAAN RADIOGRAFIS Diagnosa fraktur zygomatik biasanya dibuat dengan pemeriksaan riwayat dan fisik. Ketidakmampuan rotasi bola mata ke arah superior menunjukkan secara pasti terperangkapnya isi orbita dan paralisis yang disebabkan oleh edema atau cedera neuromuskuler. dan bola mata dimanipulasi melalui seluruh arah gerakan. Pemindaian CT pada tulang wajah. 16. Pada saat bengkaknya sudah hilang. pada umumnya disebabkan oleh perubahan posisi lateral dan inferior dari zygoma atau gangguan dinding orbita lateral dan inferior. Gambaran aksial dan koronal didapat untuk menentukan pola fraktur. 2. adalah standar untuk seluruh pasien dengan dugaan (suspect) fraktur zygomatik. 261 . Radiografi membantu untuk konfirmasi dan untuk dokumentasi medikolegal dan untuk menentukan perluasan cedera tulang.melalui konjungtiva dari forniks inferior. atau keduanya atau mengakibatkan berkurangnya volume dari isi orbita yang disebabkan oleh herniasi dari jaringan lunak orbita. dan serpihan dan untuk mengevaluasi jaringan lunak orbital.

dan zygomaticotemporal. Coronal CT scan. Kemampuan untuk membaca dan interpretasi film-film ini menjadi diagnosa dan merawat pasien-pasien ini adalah penting. terlihat gambaran zygomaticomaxillary buttress dekstra dan fraktur dasar orbital dengan herniation of orbital padamaxillary sinus.terlihat gambaran displaced fraktur arkus zygomatikus sinistra. Hal ini memproyeksikan piramida petrosa jauh dari sinus maksilaris. zygomaticosphenoid. B. A B C GAMBAR 6. sebuah pengetahuan kerja fundamental pada teknik ini diperlukan. Ketika hal ini dikombinasikan dengan sebuah Water’s view yang 262 . terlihat gambaran fraktur kompleks zygomatic dekstra. Ia adalah sebuah proyeksi posteroanterior dengan kepala yang terposisi pada sudut 27° terhadap vertikal dan dagu berada pada kaset (cassette). Jendela jaringan lunak. orbita lateral. Submentovertex view. Pada banyak ruang emergensi dan rumah sakit. pada dataran koronal. Radiograf tunggal terbaik untuk evaluasi fraktur kompleks zygomatik adalah Water’s view. memberikan visualisasi sinus-sinus.1 a. C. dan lingkaran infraorbita (Gambar 6B). Radiograf Biasa Pemindaian CT (CT scan) telah menggantikan film biasa untuk diagnosa dan penanganan fraktur kompleks zygomatik. A. Meskipun demikian. Waters’ view. pasien trauma akan masih menjalani evaluasi radiografi film biasa. berguna untuk mengevaluasi otototot ekstraokuler dan untuk mengevaluasi herniasi jaringan orbita kedalam sinus maksilaris. Pandangan koronal khususnya membantu dalam evaluasi fraktur dasar orbita (Gambar 6A). Water’s View. B).zygomaticofrontal.

sebuah pandangan stereografi dari fraktur dapat terlihat. proyeksi Water’s view terbalik memberikan informasi yang sama. Caldwell’s View. Submentovertex View. Caldwell’s view adalah sebuah proyeksi posteroanterior dengan wajah pada sudut 15o terhadap cassette. Penelitian ini membantu dalam evaluasi rotasi (disekitar aksis horisontal). b. Pada pasien yang tidak mampu mengira-ngira posisi wajah kebawah. c. Ia membantu dalam evaluasi arcus zygomatik dan proyeksi malar (Gambar 6C).terangkat. Submentovertex (jug-handle) view diarahkan dari daerah submandibula ke vertex tengkorak. 263 .

karena kita tidak mungkin melakukan manipulasi eksternal1. Pendekatan Vestibulum Maksila Pendekatan ini paling populer. Reduksi tertutup tidak bisa dilakukan. pada fraktur zygoma setelah suatu tindakan reduksi.BAB III PENATALAKSANAAN FRAKTUR KOMPLEK ZYGOMA Tidak semua fraktur zygoma memerlukan intervensi bedah.1 TEKNIK REDUKSI A). Pada kasus fraktur yang tidak diikuti pergeseran fragmen ( undisplaced) atau dengan pergeseran minimal tidak diperlukan intervensi bedah. Sebagian besar ahli bedah berpendapat. karena scar yang terjadi tidak terlihat. tang ekstraksi gigi3. 264 . large Kelly hemostat. Fiksasi hanya diperlukan bila ada indikasi.7. fiksasi tidak mutlak diperlukan. Berbagai instrumen juga bisa digunakan dengan pendekatan ini antara lain cushing elevetor. 3. Pada kasus ini diantaranya diperlukan rekonstruksi dengan pemakaian implan dasar orbita atau graft untuk mendukung jaringan periorbita7. seperti pada fraktur communite1 Disamping itu fraktur zygoma juga sering melibatkan orbita. Davies mengemukakan adanya insiden kerusakan (disruption) dasar orbita sebesar 47% pada penderita fraktur zygoma. Jika tidak dilakukan intervensi bedah maka pasien sebaiknya diobservasi selama dua sampai tiga minggu dengan diet lunak7. Bila terjadi pergeseran fragmen maka diperlukan suatu reduksi (reposisi) dengan cara terbuka (open reduction).

265 . Dingman Zygomatic Elevator atau urethral sound 1. Secara estetis scar yang dihasilkan kurang tersembunyi pada pasien dengan eyebrow yang tidak meluas ke lateral dan disamping itu akses yang didapat tidak terlampau luas1. sederhana. Keuntungan dari pendekatan ini adalah scar yang terjadi tersembunyi. dan tangan yang lain meraba infraorbital rim dan body zigoma. Insisi dilakukan sepanjang 2 cm dan bisa meluas ke bawah eyebrow sesuai lokasi fraktur 7. lebih cepat dan komplikasinya sedikit 1. Instrumen digunakan untuk mengangkat zygoma ke anterior. Alat yang digunakan Large Kelly hemostat.Gambar 7:reduksi melalui pendekatan vestibulum maksila2 Insisi dilakukan kira-kira 3 sampai 5 mm di atas mucogingival junction dari gigi insissivus pertama diperluas ke posterior sesuai keperluan. lateral. Pada teknik ini instrumen diinsersikan pada posterior zygoma sepanjang permukaan temporal. operator sebaiknya meraba daerah lateral orbital rim untuk menentukan lokasi fraktur. Sebelum melakukan insisi.4. B). biasanya sampai gigi molar pertama.3 .3. maksila bagian anterior dan buttress zigomatikomaksila mudah dicapai dengan pendekatan ini7. Pendekatan Supraorbital Eyebrow Pendekatan ini dilakukan untuk mendapatkan akses ke lateral orbital rim (daerah frontozigoma). Fraktur infraorbital rim.

Scar yang terbentuk didaerah ini tidak menarik perhatian1. Insisi dilakukan pada lipatan kulit di kelopak mata atas. Pendekatan Upper Eyelid (Kelopak Mata Atas) Pendekatan ini sering juga disebut upper blepharoplasty atau pendekatan supratarsal fold.4 D).3. dan dasar orbita. Gambar 9: Pendekatan pada kelopak mata atas1.3 C). Insisi dibuat sekurang-kurangnya 10 mm di atas tepi kelopak mata. Insisi dibuat pada lipatan kulit di kelopak mata bawah dibawah level tarsus. Keuntungan dari pendekatan subtarsal ini adalah relatif mudah. 266 .Gambar 8: Pendekatan supraorbita eyebrow (alis mata) 1. Pendekatan Subtarsal Pendekatan ini paling sering dilakukan untuk mendapatkan akses ke orbital rim. baik secara estetis dan komplikasinya minimal1.3.

Salah satu ujung gunting dikeluarkan dari pocket dan dilakukan penarikan dengan retraktor.Gambar 10: Pendekatan subtarsal1. Sebelum tindakan ini dilakukan pemasangan pelindung kornea (corneal shell). 267 . gunting kemudian diarahkan ke bawah kemudian dilakukan transeksi terhadap tendon chantal lateral (inferior cantholysis). Dengan menarik tepi kelopak. Setelah itu dilakukan diseksi tumpul pada orbital rim1. kemudian dilakukan insisi konjungtiva pada fornik dengan gunting.4 E). Pendekatan Subkonjungtiva Pendekatan ini dapat dikombinasi dengan canthotomy lateral untuk membuka dasar orbita. bila telah sempurna kelopak mata akan jatuh bebas. Mula-mula dilakukan canthotomy dengan menggunakan gunting jaringan pada fisura palpebra lateral dan memotong dalam arah horizontal.3. Kemudian dilakukan pemisahan (undermine) palpebra konjungtiva tepat dibawah tarsus ke arah medial sampai lacrimal punctum.

Pada tahap ini akan ditemukan jaringan ikat longggar. Insisi dilakukan dengan menggunakan pisau no. harus diantisipasi kemungkinan terjadinya kemunduran hairline. Kedua. Insisi ditempatkan atas dua pertimbangan. maka insisi ditempatkan beberapa sentimeter dibelakang hairline.A B C D Gambar 11: Pendekatan subkonjungtiva1. flap akan dengan cepat (mudah) dilepaskan perikranium.3 F). sub kutis dan galea. Pendekatan Koronal Pendekatan ini nampaknya radikal dalam penanganan fraktur zigoma. Pertama hairline. dilakukan diseksi 268 . tapi menyediakan akses yang sangat baik ke orbita. 10 menembus kulit. serta Scar yang terbentuk tidak terlihat 7. Flap anterior dipisahkan dengan diseksi tumpul sampai kira kira 2 cm dari body lengkung dan zigoma. Kemudian lapisan superfisial fasia temporal diinsisi. untuk keperluan ini insisi koronal dapat meluas ke lobus dari telinga7. Dari lengkung zigoma. Tepi insisi (anterior dan posterior) diangkat 1 sampai 2 cm untuk pemasangan klip hemostatik (Raney Clips). besarnya akses ke inferior yang diperlukan. body zigoma dan lengkung zigoma tanpa komplikasi. akan terlihat permulaan lengkung zigoma.

Pendekatan Perkutan Ini merupakan teknik yang paling sederhana dan tidak memerlukan diseksi jaringan lunak dan bisa menggunakan beberapa instrument.3. Gambar 12: Pendekatan koronal1. Infraorbital rim dapat terlihat dengan memperluas diseksi dari lateral orbita ke medial1. kemudian penutupan scalp dengan dua lapis jahitan yaitu gelea dan kutis dengan benang 2-07. Penutupan dimulai dengan penjahitan fasia temporal.3. Carol-girard screw instrument yang bisa digunakan meredukasi zigoma. Keuntungan dari penggunaan screw ini adalah dapat dilakukan kontrol yang lebih baik dalam mengembalikan posisi zigioma.tumpul sampai ke lateral orbita dan lengkung zigoma. screw-nya dapat tertanam dalam zigoma pada lubang yang dibuat sebelumnya. Alat lain yang sering digunakan adalah Bone hook1.4 G). 269 .

3 H). dianjurkan untuk memasang pada prosesus frontozigomatik. 270 .2 PRINSIP FIKSASI Untuk mempertahankan hasil reduksi. Pape (1997) merekomendasikan untuk menggunakan satu atau dua mikroplate pada zigomatikomaksila buttress7.5 cm menembus kulit dan subkutis sampai terlihat warna putih yang merupakan fasia temporalis.Gambar 13:Reduksi melalui pendekatan perkutan 1. Gambar 14 : Reduksi melalui pendekatan temporal 1 3. Setelah itu insersikan elevator diantara fasia dan otot temporal dan didorong sampai body zigoma dan mengembalikan posisinya1. Kemudian dilakukan insisi pada fasia. jika hanya memerlukan satu plate. Pendekatan Temporal Pada pendekatan ini dibuat insisi sepanjang 2. insisi harus cukup dalam sampai otot temporal terlihat.

ahli bedah harus mengenali tanda-tanda dan gejala untuk dapat memberikan perawatan yang tepat.3. Paresthesia Infraorbita Insidensi perubahan sensoris saraf infraorbita yang menyertai trauma zygoma berkisar 18 hingga 83%. Plate yang digunakan biasanya sebanyak 4 lubang dengan panjang 5 atau 7 mm7 3. Malunion yang diketahui sampai 6 minggu setelah cedera masih bisa dikoreksi. KOMPLIKASI Walaupun komplikasi pada fraktur kompleks zygoma dan lengkung zygoma tidak umum terjadi.Pada fraktur Comminuted di infraorbital rim direkonstruksi dengan menggunakan microplate. pada penelian Vrien. namun angka ini hanya berdasarkan pada penilaian klinis. A). Sebagian besar fraktur malunion dari zygoma didapatkan karena kekeliruan untuk mengetahui keparahan dari cedera atau reduksi yang tidak stabil. telah menemukan bahwa pemulihan sensasi infraorbita yang lebih baik yang menyertai reduksi yang terbuka dan fiksasi internal pada sutura zygomatikofrontal dibandingkan dengan reduksi yang tanpa disertai dengan fiksasi. Insidensi terjadinya asimetris bervariasi antara 3. Meskipun pada sebagian besar kasus terdapat defisit kosmetik. reduksi anatomis pada fraktur dapat meminimalisir tekanan saraf dan dibiarkan untuk pulih. Namun. Teknik koreksi yang terlambat meliputi uatograft 271 . malposisi dari tulang bisa menyebabkan penurunan fungsi mandibula. Penelitian oleh Vriens bersama mahasiswanya dan Taicher bersama mahasiswanya. tidak didapat tingkat kesembuhan yang sama pada pasien yang membutuhkan eksplorasi bagian dasar dan rekonstruksi orbita. B). Malunion dan asimetris Fraktur malunion dari zygoma terjadi dalam beberapa tingkat keparahan. Komplikasi bisa saja terjadi pada masa awal periode postoperasi atau hanya menjadi manifestasi dikemudian hari. menggunakan teknik reduksi zygoma rutin.6-27% pada seluruh fraktur komplek zigomatikomaksilaris. Sepertinya.

Meskipun bahan aloplastik telah dianjurkan. kalkulasi volume orbita dan implikasinya terkait dengan fraktur pada bagian dasar orbita. Secara klinis. Posisi lengkung orbita menentukan radius kerucut dan dimensi panjang anteroposterior orbita adalah tinggi dari kerucut. Gambar 151 272 . Volume kerucut adalah ½ ( r2)h. Peningkatan volume orbita merupakan etiologi yang paling umum. Fraktur pada bagian dasar orbita juga merupakan akibat dari enophthalmos dengan pertambahan volume orbita (Gambar 15). Bagaimanapun defek yang lebih besar memerlukan reposisi kraniofasial atau penempatan tulang. Untuk deformitas minor. Pada rumus ini.maupun homograft atau bahan-bahan aloplastik dan ostektomi zygoma. kontur yang dihaasilkan mungik irreguler dan potensial terjadinya migrasi dan ekstrusi dari implan tersebut sepanjang waktu. mungkin saja untuk dilakukan. kartilago telah terbukti lebih efektif. radius dikwadratkan dan sedikit penambahan pada radiusnya menghasilkan pertambahan volume yang drastic. Grant bersama mahasiswa menjelaskan permasalahan klinis ini secara jelas dengan membandingkan bentuk orbit dan bentuk kerucut. C). Dengan teknologi CT-scan yang lebih baik. Enophtahlmos Enophtahlmos merupakan satu dari beberapa komplikasi yang paling mengganggu yang menyertai fraktur-fraktur zygoma. kesejajaran yang buruk dari lingkar orbita dapat menambah volume orbita secara signifikan dan menimbulkan enophthalmos.

hematoma. IV. Diplopia yang berhubungan dengan edema.5 % insidensi diplopia. mengakibatkan enophthalmos yang siginifikan (>2mm). kira-kira 1 cm3 jaringan yang bergeser sebanding dengan 1 mm enophthalmos. pada 4 minggu. dikaitkan dengan enophtahlmos dengan ukuran lebih besar dari 2 mm. Pada tahun 2002. atau neurogenic bisa saja diatasi 273 . Pada umumnya. Insidensinya bervariasi anatar 17 dan 83% dan tergantung dari waktu timbulnya yang menyertai kerusakan dan pola serta tingkat keparahan dari kerusakan. terjepitnya otot-otot ekstraokular dan jaringan orbita.Raskin bersama mahasiswa menunjukan bahwa pertambahan sebesar 13% pada volume orbita. dan kerusakan saraf III. Re-draping dari jaringan lunak periorbital termasuk itu canthopexy juga diperlukan. Ukuran pada kerusakan orbita dan tonjolan abnormal pada jaringan orbita juga telah diteliti. Mereka mengajukan hipotesis bahwa hal ini bisa saja merusak contractility dan mengurangi terjadinya penyimpangan otot-otot.08 cm atau rata-rata nilai jaringan yang bergeser sebesar 1. Akses yang luas dengan oetotomy zygoma. Diplopia Diplopia merupakan kondisi abnormal (sequel) pada fraktur bagian tengah wajah. Pada pengamatan 2067 kasus fraktur kompleks zgoma. CT scan pada bagian axial dan coronal serta konsultasi dengan ahli mata perlu dilakukan untuk membantu pelaksanaan evaluasi. dan grafting bisanya diperlukan. sedangkan fraktur murni memiliki insidensi yang tinggi. Ellis bersama mahasiswa mencatat sebanyak 5. Fraktur kompleks zygoma non-displaced dan fraktur lengkung zygoma yang terisolir memiliki insidensi diplopia terendah. Penyebab-penyebab utama diplopia antara lain adalah edema dan hematoma. Ploder bersama mahasiswa menjelaskan bahwa nilai rata-rata area fraktur sebesar 4. Perawatan enophthalmos yang telat bisa dikatakan cukup menantang. Penelitian histologist oleh Iliff bersama mahasiswanya telah menunjukan fibrosis post-traumatik pada otot-otot extraocular sebagai akibat kerusakan yang ditimbulkan. D).89 mL.4 hingga 74. atau VI cranial. reposisi.

F). Diplopia yang ditimbulkan oleh entrapment membutuhkan eksplrasi dan reduksi tonjolan abnormal pada jaringan orbita (gambar 19). Perawatan fraktur dapat ditunda. dan mempertahankan keadaan ocular normal. Antifibrinolitik sistemik. Trauma Neuropati Optik Trauma neuropati optik dapat saja bermanifestasi sebagai kondisi yang meluas dari gambaran defisit yang ringan hingga gambaran kehilangan secara keseluruhan. Perawatan pada fraktur wajah dapat ditunda. Kondisi tersebut membutuhkan perhatian khusus atau pembedahan. Penatalaksanaan hyphema terdiri atas terapi suportif termasuk itu mengatur kemiringan bagian kepala tempat tidur dan mengobati bagian mata yang rusak. ophthalmoplegia. Keadaannya bisa saja berupa ptosis. dan osmotic agent juga diperlukan.tanpa adanya intervensi. Intervensi pembedahan oleh ahli mata jarang dibutuhkan. Sindrom Superior Orbital Fissure Sindrom orbital fissure merupakan komplikasi yang tidak umum yang menyertai trauma wajah. Hasil akhir perawatan termasuk pula pencegahan terhadap perdarahan. Perawatannya bervariasi tergantung dari penyebabnya tapi bisa saja melibatkan penggunaan steroid secara sistemik atau pembedahan dengan dekompresi saraf orbital atau optik. Proptosis juga mungkin terlihat 274 . yang bisa saja terjadi pada 5-30% pasien. E). Penatalaksanaan medis dengan menggunakan cycloplegic topikal. forehead anesthesia. Konsultasi dengan ahli mata diperlukan. Diplopia yang menetap membutuhkan perawatan oleh ahli mata. Hyphema Traumatik Trauma pada mata bisa mengakibatkan perdarahan di dalam ruang anterior-area di antara kornea dan iris yang berwarna (gambar 15). dan betablocker. carbonic anhydrase inhibitor. Konsultasi dengan ahli mata harus dilakukan. G). dan fixed dilated pupil.

fiksasi dan dilatasi pupil. Penyebab yang paling umum terjadi adalah terkenanya zygoma pada prosesus koronoid dari mandibula. dan akut progressiveloss of vision dengan hyphema. B. Ord melaporkan insidensi sebanyak 0. Immediate lateralcanthotomy and cantholysis were performed. Trismus Berkurangnya gerakan mandibula mungkin merupakan komplikasi yang merugikan dari fraktur zygoma. Retrobulbar hemorrhage. Perdarahan retrobulbar Perdarahan pada retrobular jarang terjadi namun merupakan komplikasi yang parah yang dapat mengakibatkan kerusakan awal atau koreksi operatif. Gambar 16 A. Trismus juga bisa terjadi secara sekunder akibat ankilosis fibrosis atau fibrooseus dari koronoid pada arkus zygoma. pasien dengan keluhan sakit pada periorbital. namun dekompresi dengan canthotomy lateral dan cantholysis sebaiknya tidak ditunda ( gambar 16). steroid. Pengamatan pada 1405 kasus fraktur orbita. 3 I). eksplorasi apeks orbital dan aspirasi hematoma retrobular. H).03% pada perdarahan retrobular posoperatif disertai dengan kehilangan penglihatan.Perawatannya bisa berupa reduksi fraktur. A. Terkenanya zygoma atau arkus zygoma atau koronoidektomi mungkin diperlukan untuk memulihkan gerakan normal dari mandibula 275 . Gangguan pada sirkulasi retina dapat mengakibatkan iskemi yang ireversibel dan kebutaan permanen. Konsultasi sesegera mungkin dengan ahli mata diperlukan. proptosis. apabila ada.

276 .

subtarsal. sub konjungtiva.BAB IV KESIMPULAN Perawatan fraktur zygoma memerlukan tindakan bedah bila tidak ada pergeseran fragmen atau pergeseran minimal. Bila terjadi pergeseran fragmen diperlukan tindakan reduksi terbuka. Untuk tindakan reduksi dapat dilakukan pendekatan supra eyebrow (alis mata). kelopak mata atas. kecuali atas indikasi seperti fraktur cumminuted. koronal. Setelah tindakan reduksi terbuka tidak selalu diperlukan fikasasi. temporal perkutan dan 277 .

2003 5.. R. Goldwasser MS. David D. McDonald WS. Atlas of Craniomaxillofacial Osteosynthesis. Elsevier Saunders. Indonesian journal of oral and maxillofacial surgeons. 1th ed. St louis: mosby co. Thaller SR. All. Tucker MR..J. et al. Philadelphia. Available at : http:// www. 4.html 278 . Anatomy of The Human Body : The Zygomatic Bone. 9.J.bartleby. 2010. Harle.com/107/40. Churchill Livingstone. Peterson’s principles of Oral and Maxillofacial Surgery 2nd. 6. London 8. Bailey JS. et. 2. Prasetiyono A.Vol 1. 2005. WB Saunders Co. contemporary oral and maxillofacial surgery. Management of Zygomatic Complex Fractures. Ellis E. London : BC Decker Inc. Facial Trauma. 1999. Gray H. Dalam : Miloro M et al. New York : Marcel Dekker. F. 1th ed. 2005. 2004 7. Fonseca. Craniomaxillofacial Trauma. Oral and Maxillofacial Trauma. Third Ed. New York. 3rd Ed. Dalam : Peterson et al. 1995. Penanganan fraktur arkus dan kompleks zigomatikus. 3. Feb 2005 no 1 tahun IX hal 41-50. Management of facial fractures. Oral and Maxillofacial Trauma.. 2004. Ochs MW. Hamilton. Thieme.DAFTAR PUSTAKA 1.

Gejala klinis fraktur ini antara lain seperti ekimosis palatal pada fraktur tertutup dan laserasi pada bibir atas atau mukosa palatal.0 sampai 1. dan berhubungan dengan fraktur Le Fort (8-13.10. alveolar maksila. CT scan dilakukan dengan potongan yang tipis. 279 . menunjukkan fraktur dengan jelas. Kata kunci : Fraktur palatal. kehilangan gigi incisivus. FRAKTUR PALATAL Leidya Valentina Elizabeth 160121120009 Peserta Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut Dan Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Bandung Abstrak : Fraktur palatal jarang ditemukan sebagai diagnosis tunggal pada pasien dengan trauma kraniofasial. Fraktur palatal biasanya berhubungan dengan fraktur midfasial atau panfacial. atau disruption pada hubungan oklusi pada fraktur dislokasi. setiap 1.5mm.2%).

dan arch bar untuk fiksasi maxillomandibular untuk fiksasi internal. kehilangan gigi insisivus. Biasanya berhubungan dengan fraktur midfasial atau panfasial. pendekatan tahap operasi diperlukan untuk setiap kelas fraktur palatal3. 280 . dan dilaporkan sebanyak 8-13. Sering kali fraktur palatal dihubungkan dengan fraktur midfasial lainnya. bersama dengan apertura pyriform atau plating alveolar serta rekonstruksi pilarpilar pada fraktur Le Fort. Fraktur tidak stabil ini seringkali ditemukan pada pasien trauma maksilofacial. setiap 1. dengan plate dan screw yang dipasang dibawah mukosa palatal dan periosteum. menunjukkan fraktur dengan jelas. CT scan dilakukan dengan potongan yang tipis. arch bar acylated. Pilihan perawatan untuk fraktur palatal meliputi braket ortodontik.2% berhubungan dengan kasus fraktur Le Fort. kehilangan relasi oklusal karena dislokasi fraktur. Tanda klinis fraktur ini antara lain palatal eccymosis pada fraktur tertutup dan laserasi bibir atas atau mukosa palatal.0 sampai 1. Untuk memastikan stabilisasi post operasi yang tepat dan restorasi oklusi sebelum cedera. Fraktur palatal jarang sebagai diagnosa tunggal pada pasien dengan trauma kraniofasial.5mm.BAB I PENDAHULUAN Fraktur palatal memberikan tantangan unik untuk keterampilan bedah dalam penanganan fraktur midfasial. Fraktur palatal ditemukan pada 8% fraktur Lefort dan jarang ditemukan sebagai fraktur palatal sendiri.

Hampir semua segmen fraktur palatal mengalami pergeseran 281 . akan memberikan tanda dan gejala yang jelas.5 mm. Pada hampir semua pasien yang menderita fraktur palatal. dengan 45% pasien menderita disruption mukosa palatal dan gingival (Gambar1b).1 ANATOMI TULANG PALATUM Palatum durum terbentuk diantara tujuh tulang pilar kraniomaksilofasial. Tulang palatal lebih tebal pada bagian anterior dan berangsur menipis ketika mendekati palatum lunak. 2. keduanya dikenal sebagai mukoperiosteum. Adanya perubahan oklusi maksila mandibula merupakan tanda yang dapat ditemui juga. Periosteum lebih melekat kuat pada membran mukosa di dalam kavitas oral dibandingkan dengan tulang palatal. palatum keras relatif tipis pada regio sagital dan parasagital. pasien menderita laserasi bibir. hampir pada semua trauma center dilengkapi dengan peralatan CT Scanner yang sangat akurat. Tanpa memperhatikan crest pada midline. Foramen terdapat dekat midline palatum dari arah anterior (dibelakang insisivus mesial) dan jauh ke arah posterior (dekat gigi molar). Pada lebih dari 65% penderita fraktur palatal. Lebar dan dalam palatum keras serta lebar dan panjang mandibula menunjukkan bangunan tiga dimensi sepertiga wajah bagian bawah. Peralatan ini sangat penting terutama untuk mendiagnosa fraktur yang tidak memberikan tanda klinis yang jelas. dimana beberapa kasus fraktur palatal dapat terdiagnosa (Gambar 1a).2 DIAGNOSA Saat ini. Tebal rata-rata palatal adalah 4. Pada area alveolus. Foramina berukuran sangat kecil dan berfungsi untuk mengimbangi struktur palatum secara keseluruhan. ketebalannya antara 12 sampai 14 mm. namun menjadi lebih tebal ke arah alveolus.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. Palatum terbentuk dari dua tulang yang bersatu: palatum pada bagian maksila dan bagian horizontal palatum.

282 . molar beserta alveolusnya.baik ke arah anterior dan lateral.a) CT-scan b) Klinis fraktur palatal1 2. meliputi gigi premolar. Type Ib : Posterolateral. gigi dan midline palatal3. Gambar 1. Type I : Fraktur Alveolar (2 type) Type Ia : alveolus anterior. karena penderita dapat mengalami fraktur mandibula juga yang mana dapat mengaburkan diagnosa. meliputi gigi incisivus beserta daerah alveolusnya.3 KLASIFIKASI FRAKTUR PALATAL Fraktur palatal dibedakan berdasarkan hubungan palatal dengan alveolus maksila. Ahli bedah harus berhati-hati dalam menentukan oklusi pada penderita fraktur palatal.

a) Tipe Ia b) Tipe Ib2 b).a) Gambar 2. a) Gambar 3. Fraktur pada daerah ini berbeda dengan type Ib sebab selain daerah premolar dan molar . mmhg Type III : Fraktur Parasagital Paling sering ditemui pada dewasa (63%) sebab tulang yang tipis berada di daerah parasagital. daerah kaninus juga ikut terlibat. 283 .a) Tipe II b) Tipe III 2 b) Type IV : Fraktur paraalveolar Terjadi dari arah palatal menuju alveolaris maksila dan berisi gigi-gigi insisivus. Type II : Fraktur Sagital Fraktur type II terjadi pada daerah midline dari palatum. Type ini paling sering ditemukan pada dekade ke 2 dan ke 3 sebab garis tengah palatum belum terlalu mengeras.

a) Tipe IV b) Tipe V c) Tipe VI 2 c) 284 . Type VI : Fraktur Transversal Fraktur palatal yang paling jarang terjadi.Type V : Fraktur compleks/ Comminuted Fraktur yang besar multiple. ke arah oblik atau comminuted fraktur kasar. membelah maksila pada dataran koronal. a) b) Gambar 4.

paling tidak dua plate digunakan 9 satu anterior dan satunya lagi diposterior) untuk 285 . Kemungkinan perawatan yang bisa dilakukan adalah: kombinasi fiksasi internal. dan palatal acrylic splint pada fraktur kompleks. pasien bisa dipasangi fiksasi intermaksiler sementara. Pendekatan bedah meliputi laserasi atau insisi longitudinal pada palatal untuk mempertahankan suplai darah pada segmen palatal. Untuk memastikan penyatuan awal. Fraktur palatal tipe II.BAB III PEMBAHASAN Perawatan bedah pada fraktur palatal dimulai dengan identifikasi secara spesifik tipe fraktur. Fraktur tipe Ib bisa dirawat menggunakan arch bar pada pertemuan segmen fraktur yang terbuka di belakang pilar zygomaticomaxillary untuk menfasilitasi reduksi terbuka dengan fiksasi internal. Kedua cara perawatan ini bisa didukung dengan pemakaian mini plate atau mikroplate menggunakan insisi gingival standar untuk Le Fort I. Reduksi dimulai dengan aplikasi arch bar maksila untuk memasang tension band melewati segmen alveolus maksila. Setelah fikasi intermaksiler dilepas. Saat menggunakan fiksasi internal yang rigid. perhatian dilanjutkan pada fiksasi internal rigid pada daerah palatal yang fraktur. keadaan gigi geligi. Fraktur palatal tipe Ia bisa dirawat menggunakan Erich bar segmental atau menggunakan braket ortodontik tanpa fiksasi intermaksiler. IV dan VI dirawat dengan pendekatan perbagian secara urut untuk mengurangi kesalahan penyatuan segmen-segmen fraktur. tekanan ke arah mesial menggunakan jari untuk mendapatkan lebar lengkung dan batas oklusal. supaya penyatuan awal dapat dilakukan. III. pemakaian arch bar. Ketika segmen yang fraktur terlihat. Dianjurkan untuk melakukan fiksasi intermaksiler selama dua atau empat minggu. dan hubungannya dengan fraktur pada maksila dan mandibula. Oklusi harus didapatkan sebelum merawat fraktur ini.

Gambar 5. dan jika suplai darah menjadi perhatian. Pendekatan bedah meliputi laserasi. Direkomendasikan untuk memasang fiksasi intermaksiler selama 2 sampai 4 minggu diikuti dengan elastic guidance dan diet lunak sampai dilepas. Rekonstruksi secara bedah dilakukan setelah semua stabilisasi dilakukan dan stabilisasi oklusi sudah dipastikan.menghindari terjadinya pergerakan segmen fraktur ke arah posterior. Acrylic splint2 Fraktur palatal tipe V membutuhkan aplikasi palatal splint akrilik untuk perawatan. Persiapan yang optimal diperlukan pada saat memperbaiki palatum yang fraktur comminuted. 286 . Setelah aplikasi fiksasi rigid dan penutupan insisi. menghasilkan lebar lengkung daripada yang direncanakan. Model gigi diambil dari pasien untuk membuat model pembedahan di laboratorium dan membuat splint palatal. fiksasi intermaksilari dipasang kembali untuk mempersiapkan fiksasi internal rigid pada segmen piriformis dan ridge alveolar. insisi vestibular standar untuk Le Fort I. Fraktur comminuted pada palatum sebaiknya dirawat dengan pendekatan tertutup (close reduction) dimana suplai darah pada segmen fraktur tidak dapat dikompromikan. Pemasangan plate dilakukan di regio piriformis dan sepanjang basis pilar zygomaticomaksilaris. insisi vertikal ginggiva kemungkinan perlu dilakukan.

287 .Splint sebaiknya tidak diperlebar secara interoklusal diantara mandibula dan maksila. Bisa juga diaplikasikan circumdental wire dengan atau tanpa menggunakan arch bar.

dan hubungannya dengan fraktur pada maksila dan mandibula. Kemungkinan perawatan yang bisa dilakukan adalah: kombinasi fiksasi internal. 288 . pemakaian arch bar.BAB IV KESIMPULAN Fraktur palatal memberikan tantangan unik untuk keterampilan bedah dalam penanganan fraktur midfasial. Fraktur tidak stabil ini seringkali ditemukan pada pasien trauma maksilofacial. Sering kali fraktur palatal dihubungkan dengan fraktur midfasial lainnya. keadaan gigi geligi. Perawatan bedah pada fraktur palatal dimulai dengan identifikasi secara spesifik tipe fraktur. dan palatal acrylic splint pada fraktur kompleks.

2005. 2005. Elsevier Saunders. 2004. 3rd Ed. Thaller SR. Fonseca et al.Vol 1.DAFTAR PUSTAKA 1. 3. Vol 2nd. Facial Trauma. Oral and Maxillofacial Trauma. St Louis : Elseviere 289 . New York : Marcel Dekker. Ellis E. 2. McDonald WS. Oral and Maxillofacial Trauma.

Fraktur Nasal dan Kompleks Orbita Susanti Bulan 160121120004 Peserta Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut Dan Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Abstrak: Cedera pada nasal. nasal. Hal ini menjadi penting karena terdapat lacrimal apparatus. perawatan yang dilakukan sedini mungkin dan proses rekonstruksi yang hati-hati. orbita 290 . Hasil yang baik akan tercapai dengan penguasaan anatomi yang baik. medial chantal ligament. Sehingga memudahkan doktergigi jika mendapatkan kasus-kasus kegawatdaruratan Kata Kunci: fraktur. dan arteri ethmoidal di daerah tersebut. orbita dan ethmoid menjadi suatu tantangan baru baik dari cara mendiagnosa maupun rekonstruksinya pada perawatan setelah trauma. Maksud dari penulisan makalah ini adalah untuk memberikan gambaran mengenai fraktur nasal dan kompleks orbita serta perawatannya.

Fraktur tulang nasal dapat bervariasi tergantung arah dan kekuatan yang mengenainya1. jaringan lunak dan kartilago. Dengan mengetahui hubungan sebab dan akibat antara keparahan trauma dan derajat deformitas. Hal ini terjadi karena pada 291 . Fraktur nasal sering kali dirawat dengan penilaian preoperative yang tidak adekuat. kita dapat memutuskan pilihan perawatan mana yang akan dilakukan. Selama berabad-abad. Kecelakaan kendaraan bermotor sebanyak 70% dan 63% mengalami cedera pada bagian lain yang cukup parah. Sebanyak 51% mengalami cedera pada central nervous system dimana 42% nya mengalami keluarnya cairan cerebrospinal2. meskipun pada mulanya tampak cukup baik4. Rontgen film biasa sulit menggambarkan derajat keparahan dan lokasi dimana cedera itu terjadi. Perluasan disrupsi struktur nasal sehubungan dengan arah dan derajat kekuatan trauma sering kurang diperhitungkan. 50 % fraktur pada tulang fasial terpisah dari piramid nasal. Untuk mendiagnosa fraktur didaerah ini biasanya ditentukan melalui pemeriksaan CT-Scan. dan lebih penting lagi perawatan mana yang paling baik untuk pasien sesuai dengan traumanya2. Perawatan fraktur nasal telah menjadi subjek dalam dunia kedokteran sejak zaman Yunani.BAB I PENDAHULUAN Hidung terdiri dari tulang. fraktur nasal paling sering terjadi pada struktur tulang fasial dan menurut Schroeder. Fungsinya sebagai saluran udara ke saluran pernapasan bawah dan paru-paru. Kemudian hidung dirawat dengan cara sederhana dan hasil akhirnya mungkin jauh dari yang diharapkan. Pada penelitian yang dilakukan Cruse dari 182 kasus trauma fasial kirakira 18% adalah fraktur nasal dan kompleks orbita. Menurut Christian. Insidensi umur dari pasien adalah 31 tahun. dasar filosofi perawatan adalah reduksi fraktur dengan mengembalikan pada bentuk dan fungsi yang normal.

gambaran rontgen dapat terjadi overlapping struktur-struktur tulang di daerah tersebut2. maka ahli bedah dapat membuat diagnosis yang benar dan memilih rencana perawatan yang tepat untuk pasien. dengan kombinasi dengan pilihan perbaikan dan penilaian keputusan yang baik. 292 . Pada makalah ini akan dibahas dan diharapkan dengan mengetahui kekuatan trauma.

Tidak jarang pada cedera yang parah dapat menyebabkan komplikasi intrakranial2 . hidung merupakan jalan masuk respirasi nasal manusia pada keadaan normal3. enophtalmos dan disfungsi dari sisem lakrimal. Secara kosmetik. Rekonstruksi yang dilakukan satu-persatu akan mendapatkankan hasil yang maksimal.1. Daerah ini merupakan perlekatan dari medial chantal tendon yaitu processus frontalis dan tulang lakrimal. Hidung adalah suatu struktur midline sentral fasial yang mempunyai unsur kosmetik dan fungsional. Daerah posterior dari kompleks nasal berhubungan dengan sinus ethmoidalis dan terletak ditengah dan dapat dengan mudah terkena trauma karena posisinya yang berdekatan dengan cribiform plate. dan kesimetrisannya adalah penting dalam membentuk simetris wajah. Fungsi estetiknya memberikan keseimbangan. Jika ada trauma maka dapat timbul cerebropinal fluid rhinorhea. pipi. pneumocephalus.BAB II TINJAUAN PUSTAKA II. 293 . orbita. tulang maksila. hidung membantu membentuk central frame wajah. sehingga mata. tulang lakrimal. dan mulut memberikan keindahan wajah. Sehingga penting diperhatikan pada saat rekonstruksi untuk mencegah telechantus. Rekonstruksi pada daerah ini dilakukan secara hati-hati dan memerlukan kontrol terhadap volume orbita. dan processus maksilaris. Secara fungsional. dan cedera pada saraf olfaktori. Tulang hidung dekat dengan bagian anterior dari tulang orbita dan berhubungan dengan tulang frontal. ANATOMI Daerah hidung dan Hidung-Mata-ethmoid disusun oleh cranium.

Nasal5 Gambar 2: Permukaan dan struktur anatomi hidung 3 294 .(1) os nasale (2) os. Maksilla Gambar 1: Anatomi Cranium dan os.

Walaupun penyatuan ini tidak kontinius. Hubungan ini tidak tepi dengan tepi tetapi overlapping.Pernapasan mulut adalah merupakan tanda terjadinya kelainan pada saluran pernapasan atas (upper airway). oleh karena itu bagian hidung ini harus dipertimbangkan sebagai tripod. Pada midline. Prosesus nasalis tulang frontal dan maksila menyebabkan adanya support dari superior dan lateral. Anastomosis tulang sepanjang garis sutura antara ketiga tulang adalah rigid. Secara anatomi. hidung dibentuk oleh gabungan antara tulang pendukung yang fleksibel dan rigid. flat. dan berinterdigitasi dengan tulang frontal dan tipis pada bagian inferior. dan suatu cartilage terdapat pada beberapa daerah pada jaringan lunak. berturut-turut untuk tulang nasal. jadi tulang hidung berbentuk tripod3. dua pasang kartilago bagian bawah ( lower lateral cartilages) (LLCs)). dengan tulang nasal yang berada dibawah ULCs. ULCs mempunyai perlekatan jaringan lunak pada jaringan fibrofatty dari alae nasal dan lateral hidung. Secara lateral. oleh karena itu adanya obstruksi pada hidung diduga telah terjadi kelainan3. Lateral krus dari LLCs dapat dibagi atas menjadi daerah puncak 295 . disebut dengan kolumela. Pada midline. Tulang hidung sendiri adalah rata (flat). Cartilaginous hidung dibentuk kombinasi dari dua pasang kartilago lateral atas (upper lateral cartilages) (ULCs)). Pasangan LLCs mempunyai medial crus yang berjalan lateral dari LLCs yang berjalan dari lateral ke kartilago septum caudal. penyatuan fibrous ini sangat kuat. dan melekat pada bagian atas kartilago lateral hidung. Pasangan kartilago lateral bawah. yaitu tulang dan kartilago. kedua ULCs melekat secara kuat satu dengan yang lainnya dan kartilago kwadrangular dari septum nasal anterior. dengan plat tegak lurus dari dukungan ethmoid pada garis tengah seperti sebuah tenda. triangular sections dari cartilage hyaline yang melekat secara kuat ke superior pada tepi inferior dari tulang hidung oleh jaringan fibros konektif yang kuat. berbentuk lembaran empat persegi panjang (rectangle) yang menebal pada bagian superior. dan cartilago adalah setengah bagian bawah. dan struktur supporting ini lebih tebal dan lebih kuat dari tulang hidung sendiri. tulang hidung bersatu untuk membentuk suatu tenda “pup tent”. Tulang hidung adalah setengah bagian puncak. satu septum cartilage midline.

Orbit memiliki kandungan yang melindungi bola mata serta sruktur visual tambahan yang terdiri atas : Kelopak mata. Jaringan yang menutupi tulang dan kartilago ini adalah jaringan lunak dan mukosa bagian dalam. Ujung kaudal inferior dari kartilago septum nasal dilekatkan oleh pita jaringan fibrous pada spina nasalis anterior maksila. dan pada segmen lateral. otot dan kulit. Sehingga. dan mengandung kelenjar keringat yang semakin meningkat jika kulit semakin tebal. yang akan membantu menjaga terjadinya rotasi ke posterior dari septum dan kehilangan dukungan puncak hidung. membentuk mucocutaneous junction3. tetapi ini tidak sekuat perlekatan pada ULCs dengan septal. Pada bagian dalam hidung anterior. Muskulus ekstraokular yang memposisikan bola mata dan menaikkan kelopak mata superior. Levator palpebrae superioris 296 . Otot pada hidung adalah otot depressor septi. Kulit hidung sangat bervariasi ketebalannya. Orbit merupakan kavitas tulang yang terbentuk oleh tulang fasial yang menyerupai rongga pyramid quadrangular dengan dasar berada dalam arah anterolaterally dan apeksnya dalam arah posteromedially. mengontrol pembukaan bola mata anterior. dimana kartilagenous hidung ini lebih tebal dan lebih melekat pada struktur di bawahnya. kulit yang menutupi hidung berubah menjadi membran mukos. Kulit dan jaringan subkutan pada tulang hidung tipis dan mobil. Kartilago yang berjalan sepanjang margin inferior lateral LLC. yang mendukung alae nasal dan berfungsi untuk menjaga terjadinya kolaps selama fungsi inspirasi. yang membatasi orbit bagian anterior. dimana ini disebut sebagai ukuran dan besar puncak hidung.medial. Dinding medial dari dua orbit terpisah oleh sinus ethmoidal dan bagian atas dari rongga hidung yang paralel. axis dari orbit divergen kira-kira 45 derajat. dan procerous-kontribusi pada kumpulan jaringan lunak hidung dan hanya mempunyai sedikit fungsi pada pergerakan fasial atau respirasi. Pada daerah midline terdapat perlekatan fibrous antara struktur yang membantu membentuk puncak hidung. Yang terdiri atas : 1. sedangkan dinding lateralnya hampir memnbentuk sudut 40 derajat. M.

Gambar : Mata tampak lateral Gambar 3: Otot-Otot Mata 5 Gambar : Mata tampak coronal Tidak semuannya ruang di dalam orbit ditempati oleh struktur yang berisi lemak orbita. Tulang membentuk tepi orbita yang memperkuat proteksi kandungan orbita dan memberikan perlekatan untuk septum orbita.Rectus lateralis M. Empat m.Rectus inf. M.2. yang memisahkan rongga orbita dari fossa cranial anterior.inf. Dua otot oblik yang terdiri atas obliqus superior dan inferior Nervus dan pembuluh darah yang melewati bola mata dan muskulus. medialis. Bentuk pyramid dari orbit memiliki dasar. sehingga orbit ini tersusun oleh matriks dimana struktur dari orbit melekat. Dekat dengan apeks dari orbit. M. Membran mukous (konjungtiva) melapisi kelopak mata dan aspek anterior dari bola mata dan aparatus lacimal yang melubrikasinya. inferior dan lateral 3. Dasar orbita dibatasi oleh margin orbita yang mengelilingi orbital opening. suatu lapisan fibrous terputus yang meluas ke dalam kelopak mata. dinding supeior 297 . M. Dinding superior (atap orbita) diperkirakan berbentuk horizontal dan terutama dibentuk oleh frontal bone.Obliqus med Chiasma opticus M.rectus yang terdiri atas superior.obliqus .Rectus sup. empat dinding dan suatu apeks.

dibentuk oleh tulang sphenoid. Dan dibagian anterolateral suatu lekukan pada bagian orbita yang disebut fossa lacrimal. Dinding medial yang posisinya kontralateral dari orbit yang paralel dan terbentuk oleh tulang ethmoid, yang berhubungan dengan tulang lacrimale, sphenoid dan frontal. Dibagian anterior Dinding inferior (dasar orbita), dibentuk terutama oleh tulang maksila dan sebagian tersusun oleh zygoma dan tulang palatina. Dinding inferior yang tipis dibentuk oleh orbit dan sinus maksilaris. Dinding lateral dibentuk oleh prosessus frontalis dari tulang zygomatik dan sayap terbesar dari tulang sphenoid. Ini merupakan dinding yang terkuat dan paling tebal. Ini sangat penting karena daerah ini sangat terbuka dan berpotensi mengalami trauma secara langsung. Bagian posterior dipisahkan orbit dari temporal dan pertengahan fossa cranial. Apeks orbit merupakan suatu canal optik pada sayap tulang sphenoid yang kecil, dibagian medial dari fissure orbital superior. (Moore LK,)

Sphenoid Zygoma

Frontal

Frontal

Gambar : Kavitas

Maksila

Orbita

Gambar 4: Anatomi Kavitas Orbita5

II.2 DEFINISI Fraktur nasal adalah terjadinya kerusakan pada tulang di sekitar pangkal hidung, biasanya disebabkan oleh adanya trauma tumpul dan merupakan fraktur tulang daerah fasial yang paling sering. Trauma yang serius pada hidung dapat menyebabkan masalah yang memerlukan perhatian segera. Tetapi pada trauma

298

hidung yang tidak terlalu berat, perlu diperhatikan lebih baik lagi setelah pembengkakan mereda untuk mengevaluasi efek perluasan trauma. Trauma nasal didefinisikan sebagai adanya trauma pada hidung atau hal lain yang dapat menyebabkan terjadinya deformitas, gangguan pernapasan melalui hidung karena adanya obstruksi, atau adanya gangguan penciuman ( olfaction).

Fraktur orbita biasanya tampak bersamaan dengan trauma midfacal. Tingkat keparahan fraktur mulai dari fraktur yang pergeserannya minimal pada suatu dinding yang terbatas yang tidak membutuhkan intervensi bedah sampai dengan kerusakan yang parah dari orbit. Fraktur orbita mungkin di jelaskan

dengan pertimbangan hubungan anatomi, berikut ini : 1. Fraktur dapat terbatas pada tulang orbital internal. Jenis ini termasuk blow-out dan blow-in, seperti yang tampak pada fraktur pada dasar orbita, dinding medial, dan atap orbita. Fraktur blow out dapat dibagi mengikuti berbagai macam fraktur : Fraktur trapdoor yang disebabkan oleh kekuatan yang ringan. Fraktur medial blow-out yang disebabkan kekuatan menengah. Fraktur lateral blow-out yang sebabkan oleh kekuatan yang tinggi.

2. Fraktur mungkin melibatkan rim orbital. Suatu fraktur rim superior, inferior, dan lateral mungkin sebagai suatu luka yang terbatas, atau ini mungkin berbatasan dengan fraktur dinding internal. 3. Fraktur yang hubungkan dengan fraktur lain pada skeleton facial.

Keterlibatan orbit pada berbagai bentuk fraktur fasial, termasuk zygomaticomaxillary (ZMC), naso-orbito-ethmoid (NOE), sinus frontal, Le Fort II,dan Le Fort III. 4. Fraktur apeks orbita adalah penting untuk diidentifikasi karena ini berhubungan dengan kerusakan pada struktur neurovaskuler dari fissura orbita superior dan kanal optik. Trauma fasial kebanyakan diakibatkan oleh kecelakaan kendaraan bermotor, kecelakaan industri, fasial trauma yang berhubungan dengan olah raga, dan kekerasan. Kecelakaan kendaraan bermotor, khususnya yang tidak

299

menggunakan seatbelt, merupakan kejadian yang paling banyak mengakibatkan trauma maksilofasial, yang ditunjukkan pada sebagian besar negara berkembang. Penatalaksanaan trauma orbita dan fraktur bertujuan untuk meminimalisir dan mencegah kerusakan awal dan lanjutan serta komplikasinya. Tujuan dari intervensi adalah untuk mencegah hilangnya penglihatan dan meminimalisir masalah lebih lanjut, seperti diplopia yang persisten dan malposisi bola mata.

II.3 KLASIFIKASI Pola kerusakan dan perluasan displacement struktur nasal jika terjadi fraktur adalah tergantung pada arah dan derajat kekuatan yang terjadi. Pada tahun 1468, Rowe dan Killey menggambarkan trauma yang terjadi pada nasal dari arah lateral dan anterior. Ini merupakan dasar klasifikasi trauma tulang nasal yang dibuat oleh Stranc dan Robertson (1474). Tetapi kemudian mereka membagi fraktur akibat benturan atas tiga tingkatan trauma dimana peningkatan keparahan merupakan cermin peningkatan kekuatan trauma. Bidang satu, trauma tidak meluas berdasar suatu garis pertemuan tepi bawah tulang nasal ke spina nasalis anterior; bidang dua, trauma terbatas pada daerah hidung eksternal dan tidak mengenai orbital rim; bidang tiga, trauma lebih serius, oleh karena meliputi orbita dan kemungkinan juga struktur intra cranial, biasanya berhubungan dengan trauma pada nasoethmoid serta diagnosa dan perawatannya juga lebih komprehensif 4.

300

Gambar 5: A dan B menunjukkan peningkatan derajat trauma dengan peningkatan daya yang mengenai hidung5

Pada tahun 1486, Murray dan Maran mengemukakan suatu klasifikasi pathologi dari fraktur nasal yang diteliti pada lebih dari lima puluh cadaver. Mereka menemukan tujuh pola yang berbeda dari fraktur nasal dengan berbagai macam derajat keterlibatan septum. Mereka menyimpulkan bahwa kerusakan septum juga berhubungan dengan fraktur nasal. Pada keadaan klinis mereka menetapkan bahwa, jika hidung mengalami deviasi lebih dari setengah kali dari lebar aslinya, tulang akan mengalami deviasi kembali setelah dilakukan manipulasi hanya pada tulang nasal saja4. Klasifikasi dari fraktur orbita adalah: 1. blow out fracture, dibagi menjadi: 1. pure blow out – orbital rim intak 2. impure blow out – terjadi fraktur pada orbital rim 2. fraktur blow in Fraktur dasar orbita blow out merupakan trauma dari tepi orbita atau jaringan lunak di sekitar orbita, fraktur ini disebabkan oleh peningkatan tekanan

301

intra-orbital secara akut yang menekan dinding-dinding orbita. Fraktur dasar orbita blow out dapat timbul bersamaan dengan fraktur dinding medial atau orbita rim.1,2

Gambar 6: Fraktur Blow in dan Blow out 1,2

Klasifikasi fraktur Nasal-Orbit-ethmoid (2) Type I : Klasifikasi yang paling sederhana, hamya melibatkan satu bagian dari nasal-orbita ethmoid yaitu bagian medial orbital rim. Type II : daerah yang terkena lebih luas atau comminuted fraktur Type III: daerah yang terkena luas termasuk bagian tengah dari central fragmen dimana medial canthal tendon melekat, terjadi avulsi dari canthus

302

Gambar 7: Fraktur Nasal, ethmoid4

II.4 PENYEBAB DAN GEJALA KLINIS Penyebab terbanyak adalah trauma kecelakaan kendaraan bermotor, trauma karena olah raga, berkelahi, kecelakaan pekerjaan, aktivitas yang berlebihan, dan terjatuh adalah yang paling sering terjadi pada anak-anak1. Gejala klinis dapat meliputi rasa sakit, pembengkakan, obstruksi pernapasan, epistaksis, krepitasi, septal hematoma, rhinitis, dan stenosis nasal vestibular1. Kebanyakan penderita yang mengalami trauma dasar orbita blow out mempunyai gambaran sebagai berikut : 1. Berkurangnya kemampuan visual. 2. Blepharoptosis. 3. Diplopia binocular vertical atau oblik. 4. Hyperthesia ipsilateral, dysesthesia atau hyperalgesia sesuai dengan distribusi n. infraorbitalis.

303

5. Epistaksis 6. Pembengkakan pada kelopak mata setelah meniupkan udara ke hidung 7. Edema dan ecchymosis periorbita yang disertai dengan rasa sakit merupakan gejala dan tanda eksternal. 8. Enophtalmos mungkin juga terlihat tapi awalnya terjadi

pembengkakan jaringan disekelilingnya. Pembengkakan juga akan membatasi gerak otot ekstraokuler 9. Proptosis juga bisa terjadi dari perdarahan retrobulbar atau peribulbar. 10. Tenderness pada saat palpasi orbita, juga dapat merasakan step pada tulang orbital rim. Pemeriksaan bola mata sangat penting dan mungkin sulit karena adanya edema pada jaringan lunak. Untuk ini diperlukan set desmares retractor. Jika terjadi disfungsi pupil, ditandai dengan menurunnya kemampuan visual, harus diwaspadai terhadap kemungkinan terjadinya neuropathy optikus traumatik. 4 Mata dengan kesejajaran yang tidak sama dapat juga terjadi, hipotropia atau hipertropia serta terbatasnya kemampuan menarik mata ke atas. Wilkin dan Havin melaporkan 30 % terjadi insidensi bola mata yang ruptur bersamaan dengan fraktur orbita, kenyataan ini mengingatkan betapa perlunya pemeriksaan opthalmologis yang menyeluruh dan kompleks. 1 Gambaran klinik dari fraktur blow in terutama berhubungan dengan pengurangan volume pada rongga orbita.4 1. Proptosis (exopthalmus) adalah protrusi atau majunya bola mata (okuli) yang abnormal. Umumnya terjadi di awal kejadian, bersama dengan hematom dan pembengkakan dari jaringan orbita

304

dan terbendungnya suplai parasimpatik yang dibawa oleh nervus III. nervus nasomaksilaris. merupakan gejala umum dan berhubungan dengan fraktur pada dinding medial. Exopthalmus6 2. lateral dan atap orbita. Bola mata bergeser lebih jauh pada dataran koronal dan pergerakan bolah mata yang terbatas 3. Sindrom fissure orbital superior. Gejalanya adalah hilangnya sensasi pada dahi yang diakibatkan oleh cabang frontal dari nervus V. nervus frontal. 5. nervus kranial IV. divisi inferior darinervus kranial III dan vena ophtalmicus. IV dan VI. disebabkan oleh lesi yang diakibatkan oleh trauma. Diplopia (double vision). Hilangnya refleks kornea diakibatkan karena keterlibatan cabang nasociliary dari subdivisi nervus V. menetapnya dilatasi pupil akibat nervus kranial III. edema pada muskulus ekstraokular atau pada fasia di sekitar orbita atau terperangkapnya lemak orbita merupakan penyebab utama. 4. Adanya hematoma. Tidak adanya refleks dan akomodasi terhadap sinar langsung karena terbendungnya aliran efferen oleh paralisis dari mengakibatkan ruptur bola 305 . dasar. tekanan langsung atau suatu penekanan akibat hematom (atau keduanya) pada kandungan fissura orbital superior antara lain : nervus lacrimale. nervus kranial VI. vena ophtalmic superior. Pergeseran fragmen fraktur ke dalam orbit mata.Gambar 8:. nervus kranial III (cabang suerior).

Tergantung pada derajat kekuatan. cedera pada nervus dapat menyebabkan spasme dari pembuluh darah retina. 8. hasilnya akan lebih stabil diikuti dengan reduksi fraktur dengan menggunakan Walsham’s forceps dan pelurusan septum nasal dengan menggunakan Asch’s forceps. 10. (peter ward booth) 9. karena adanya fraktur sphenoidale dan ethmoid juga fraktur pada sinus frontal sehingga menyebabkan dural tear sehingga terjadi hubungan dengan subarachnoid space. Ptosis dapat terjadi secara manual dan secara kongenital. Trauma dari Lateral Ini adalah trauma yang paling sering terjadi dan seringkali tidak terlalu parah. Pada keadaan ini umumnya dengan dilakukan manipulasi tertutup sudah cukup memuaskan. Cedera pada nervus optikus. Meningoceles dan encephaloceles. 6. merupakan keluarnya penonjolan dari selaput dan bagian otak melalui celah yang terbentuk antara tulang dapat merupakan akibat dari suatu trauma. 7. Hasilnya akan lebih stabil sebab tidak terdapat fraktur pada septum. Displaced fragmen nasal dapat segera direduksi dengan 306 . Dengan suatu kekuatan yang lebih besar kedua tulang nasal dapat terjadi fraktur dan displaced dan ini sering kali disertai dengan terjadinya fraktur septum. Selain itu ditandai oleh gangguan visual dan perubahan respon pupil terhadap respon cahaya.nervus III. Keterbatasan pada muskulus rectus superior atau hematom yang pada kelopak mata bagian atas. luasnya kerusakan tulang dapat bervariasi dari yang sederhana sampai displacement tulang nasal. Mungkin ditemukan adanya CSF. Ptosis. Selain itu CSF juga dapat timbul karena adanya fraktur pada basis cranium. II.5 POLA TRAUMA A. ataupun pascaoperasi. berhubungan dengan bengkok atau tertekuknya septum nasal tanpa terjadi fraktur septum. merupakan jatuhnya kelopak mata atas ke posisi lebih jika dibandingkan dengan posisi normal sebelumnya. Selain itu juga terjadi edema yang persisten akibat obstruksi vena ophtalmicus2.

Trauma dari Anterior Adanya pukulan atau trauma dengan kekuatan yang moderat dari arah frontal. Kelompok pertama dirawat dengan manipulasi dan bedah septum tetapi pada kelompok yang kedua. dengan comminuted fracture. seluruh piramid nasal. Gambar 9 : Trauma nasal dari arah lateral. b. Dengan daya yang lebih besar lagi. termasuk prossesus frontalis dari maksila. Daya yang lebih besar menimbulkan displacement pada piramid dan septum nasal4 B. Fraktur nasal tipe ini bervariasi hubungannya dengan fraktur septum dan terjadi displacement yang menyebabkan terjadinya ketidakstabilan nasal (4). dapat terlepas.manipulasi tertutup tetapi penting untuk melakukan eksisi berbentuk C pada septum4. reseksi submukus akan menimbulkan kolaps yang lebih parah. a. Daya yang moderat menimbulkan depressi pada tulang dan septum nasal. oleh karena sebagian besar daya diterima oleh septum nasal. terutama dengan adanya ketidakstabilan nasal. kedua tulang nasal akan fraktur pada ujung bawah dan. displacement dan fraktur dari struktur ini sering sekali terjadi. 307 . terutama pada bagian sepertiga bawah tulang nasal. Manipulasi dengan sentralisasi septum harus dikombinasi dengan support internal pada nasal seperti yang dikemukakan oleh Sear (1477)4.

Gambar 10 : Trauma nasal dari anterior. Septum harus dikembalikan ke posisinya tetapi tidak boleh dilakukan reseksi septum pada tahap pembedahan primer. nasal endotracheal tube dapat diletakkan pada posisi atau dilakukan trakheostomi. meskipun sudah indikasi. Daya yang lebih besar menimbulkan fraktur comminuted pada piramid nasal dan septum4 C. Daya sedang menimbulkan depressi pada septum dan piramid nasal. harus dapat direduksi dan distabilisasi terutama untuk reduksi fraktur nasal. dalam pandangan faktor waktu meliputi waktu yang lama dan prosedur operasi yang komplek4. Manipulasi tertutup fraktur nasal dianjurkan untuk tetap menggunakan support intranasal. Trauma yang Berhubungan Dengan Fraktur Fasial Lain Fraktur pada tulang wajah. Alternatif lain. b. terutama pada bagian tengah wajah. a. Untuk menjaga kedua penetapan oklusi dan aplikasi fiksasi intermaksila yang masih tetap terpasang sampai pasien sadar dari efek anestesi agar jalan nafas tetap aman. Jika terdapat laserasi yang parah pada mukosa nasal disarankan untuk menggunakan lapisan silastik yang dimasukkan pada nostril untuk menjaga pembentukan adhesi intranasal. Plate silastik ini dipertahankan dengan menjahitkannya bersama-sama melalui kulit sedikit di belakang kolumela dan dipertahankan selama 10 – 14 hari4 308 . Ini mungkin perlu untuk merubah nasal endotracheal tube menjadi oral endotracheal tube sebelum reduksi nasal.

309 .

Kemudian hidung dirawat dengan cara sederhana dan hasil akhirnya mungkin akan jauh dari yang diharapkan. Perluasan disrupsi struktur nasal sehubungan dengan arah dan derajat kekuatan trauma jarang diperhitungkan. Dasar dari piramid hidung jarang sekali terlepas dari tulang frontal. meskipun pada mulanya tampak cukup baik4. Setengah bagian bawah atau sepertiga dari tulang nasal yang biasanya mengalami fraktur. Salah satu konsep yang selalu salah tentang fraktur nasal adalah terjadinya pelepasan dan displacement tulang nasal. Gambar 11 : Trauma nasal lateral menunjukkan adanya displaced fracture pada bagian tengah bawah tulang nasal kiri dan tepi anterior prosesus frontal kiri tulang maksila disertai dengan pembengkokan tulang septum4 310 . Pada waktu eksplorasi biasanya menunjukkan bahwa dasar piramid tetap intak meskipun terjadi displacement yang hebat ke ruang interorbita 4. kecuali terjadi fraktur nasoethmoid yang parah. 50 % fraktur pada tulang fasial terpisah dari fraktur pyramid Fraktur nasal sering kali dirawat dengan penilaian preoperative yang tidak adekuat.BAB III PEMBAHASAN Menurut Christian (1476). trauma ini adalah yang paling sering pada skeleton fasial dan menurut Schroeder (1481).

Harrison adalah orang yang pertama menemukan bentuk C fraktur septum ( C-shaped fracture). Pengertian yang lebih jauh lagi dari mekanisme dan perawatan fraktur nasal dibuat oleh Murray (1484). hasilnya akan menjadi lebih baik. kemudian ke inferior melalui vomer terminate dengan suatu 311 . Mereka mempelajari mekanisme fraktur nasal dengan meneliti fraktur nasal pada kadaver dan menyimpulkan bahwa tulang nasal yang mengalami deviasi lebih dari setengah lebar jembatan. Septum sering kali tidak tetap lurus setelah dilakukan manipulasi dan piramid hidung pada garis septum yang mengalami distorsi. Menurut Stell (1480). hanya 30 % yang menunjukkan penampilan yang normal. kartilago lateral dan septum nasal dapat terjadi dislokasi tanpa disertai fraktur tulang nasal4. sebaiknya dilakukan reseksi submukus pada septum nasal dan jika ini dilakukan pada waktu perawatan primer. bahwa eksisi pada daerah cartilage pada sisi septum yang mengalami fraktur berbentuk C akan menghasilkan hasil yang lebih baik. bahwa meskipun jarang. Stranc menekankan pada perawatan fraktur nasal bidang dua. Penempatan manipulasi tertutup dari fraktur hidung masih menjadi pertanyaan. Kemudian mereka menyimpulkan pada percobaan klinis. Harrison menganjurkan pada fraktur nasal horizontal bagian bawah. dan 50 % berfungsi normal dalam jangka waktu lama. harus dilakukan reseksi submukus primer agar tidak terjadi kolaps pada garis jembatan kartilagenous4. Tetapi Harrison (1474) menemukan bahwa suatu pola dari suatu fraktur septum dan displacement yang diindentifikasi adalah disebabkan karena manipulasi yang kurang baik. dari 107 fraktur hidung yang dirawat dengan manipulasi tertutup. Alasan mengapa distorsi tampak progresif dari kartilago septum dijelaskan oleh Fry. dan vertikal posterior. Fraktur berbentuk C dari tulang dan kartilago dimulai dari bawah dorsum hidung berjalan ke posterior melalui perpendicular plate dari ethmoid. dari hasil penelitian retrospektif menunjukkan bahwa.Posisi dan integritas komponen kartilagenus dari rangka nasal harus selalu ditetapkan. ada suatu fraktur berbentuk C yang terjadi bersamaan dari tulang dan cartilaginous septum. yaitu pelepasan dari tegangan internal yang terkunci. Harus tetap diingat.

salah satu faktor yang menyebabkan hasil yang tidak memuaskan dari manipulasi fraktur nasal adalah tidak adanya dukungan nasal internal setelah reduksi.curve anterior pada kartilago septum 1 cm di atas puncak maksila dekat dengan sudut vomerine4. Pita gauze lembut yang dimasukkan pada nasal adalah merupakan stabilisasi yang kurang baik dan packing yang berlebih pada hidung sering kali menyebabkan distorsi dari reduksi yang diinginkan. Suatu reseksi yang terbatas dari septum kemudian dibuat dengan melakukan suatu eksisi tipis dari kartilago dan tulang pada sisi yang terdapat fraktur C dan diangkat paling sedikit 1 cm dari plate perpendicular dari ethmoid. Tulang nasal dimanipulasi dan suatu pack ( light pack) dimasukkan ke dalam nostril4. Gambar 12 : Skema menunjukkan garis fraktur dengan displacement yang berat disertai fraktur septum berbentuk C4 Untuk operasi pada septum mereka menganjurkan melakukan suatu insisi vertical di posterior.5 cm posterior dari kolumela. Kemudian mukoperichondrium dibuka dan biasanya garis fraktur berbentuk C akan segera dapat terlihat. Kemudian dilanjutkan sampai pertemuan ethmoid dan tulang nasal. yaitu pada 2. tetapi harus hati-hati agar tidak terlalu caudal dari tulang nasal atau terlalu dalam karena akan dapat merubah profil. Menurut Murray. Light packing pada hidung sebaiknya hanya digunakan untuk mengkontrol epistaksis setelah 312 . Kartilago dipisahkan dan sisi kontralateral disingkapkan.

Pada tahap ini. metode yang telah dijelaskan di atas akan lebih baik menggunakan anestesi umum. Kebanyakan fraktur nasal sederhana tidak memerlukan aplikasi splint eksternal setelah dilakukan reduksi4. dan Asch’s septal forceps4. Metoda manipulasi hidung dibawah anestesi lokal telah dijelaskan sebelumnya. Instrument yang biasa digunakan adalah Walsham’s forceps. operator harus mempunyai gambaran yang jelas mengenai apa yang seharusnya akan dilakukan. Pengggunaan plaster eksternal atau Paris splint tidak akan mendukung fragmen nasal. Septum nasal kemudian diperiksa. informasi tambahan akan lebih diperoleh dengan inspeksi intranasal dengan bantuan speculum dan lampu kepala ( head light). Paruh yang lebih kecil dari Walsham’s forcep dimasukkan ke dalam lubang hidung dan paruh yang lebih besar (dilapisi dengan karet lembut untuk melindungi kulit) yang terdapat pada eksternal untuk memegang sisi luar hingga dapat memegang dan mengangkat hidung ke arah medial canthus dan sejajar dengan proses frontal tulang maksila. Kemungkinan dapat terjadi relaps dengan resolusi dari pembengkakan jaringan disekitar jaringan yang disebabkan fiksasi yang buruk dari splint plaster. Sebelum melakukan reduksi fragmen nasal yang mengalami displacement. Septum dimanipulasi dengan Asch’s septal forceps. Fragmen tulang yang hilang harus diambil and mukoperikhondral harus tampak jelas. Penilaian klinis dan radiografis preoperative yang sangat hati-hati adalah suatu syarat untuk keberhasilan perawatannya. yang digunakan untuk memanipulasi tulang nasal dari prosesus frontal maksila. Hidung harus dibersihkan dari semua debris dan gumpalan darah dengan suction. Ronsen foto harus diambil dari dua arah untuk kepentingan diagnosis dan rencana metoda reduksi. Pangkal hidung harus dipegang di antara jari telunjuk dan ibu jari tangan yang berlawanan yang juga digunakan untuk menambah stabilitas pada kepala terutama pada waktu melakukan manipulasi4.manipulasi tulang nasal. 313 . Paruh forceps pertama-tama dimasukkan pada dasar hidung dan sisi yang lainnya pada septum dan dengan tekanan gentle digunakan untuk mengembalikan cartilage septum. Rotasi ke arah medial atau lateral yang akan menjauhkan atau mendekatkan fragmen fraktur pada tulang nasal4.

Proyeksi ini menempatkan petrosus piramidalis di bawah sinus maksilaris sehingga memudahkan evaluasi dasar orbita. Tang Rekonstruksi Nasal4 PEMERIKSAAN RADIOLOGIS DAN DIAGNOSTIK Penegakan diagnosis selain dari temuan klinis dilakukan dengan bantuan pemeriksaan penunjang. prolaps isi orbita. antara lain yaitu : 1. dan tingkat cairan udara dalam sinus maksilaris. Foto AP orbita biasanya diambil dengan berbagai variasi angulasi sinar. 3. Gambaran yang lebih luas dari orbita bisa didapatkan dari proyeksi waters. Walsham forceps dan Ash Forceps Gambar 13. 2. CT scan masih merupakan pemeriksaan imaging yang dipilih untuk evaluasi trauma orbita karena kemampuannnya untuk melihat detail 314 . Paling umum digunakan adalah proyeksi Cadwell dan Waters. Proyeksi Caldwell memperlihatkan visualisasi dasar orbita dan prosessus zygomatiko-orbitalis diatas densitas petrosus pyramidalis.Kemudian paruh dapat diputar ke kiri atau ke kanan dengan memegang septum sepanjang garis jembatan dan tarikan dapat dilakukan untuk elevasi nasal bridge4.

Jika terjadi enophthalmus lebih 315 . 1 Gambar 14. di antaranya adalah : 1. Enophthalmus. dilakukan test forced duction. CT Scan dalam mengevaluasi fraktur 4 KOMPLIKASI FRAKTUR ORBITA Fraktur orbita akan menyebabkan beberapa komplikasi dan permasalahan.2 Jika CT scan mempunyai hasil yang samar-samar saat mengevaluasi pasien yang dicurigai terjadi entrapment.struktur tulang. walaupun MRI bisa memperlihatkan detail regio orbita dengan sangat halus. test ini dapat menghasilkan konfirmasi klinis yang penting mengenai adanya otot atau jaringan yang terperangkap. Fraktur dasar orbita dapat mengakibatkan penambahan volume orbita dan keadaan ini mengakibatkan enophthalmus. Menilai secara langsung kemampuan atau ketidak mampuan lebih jauh mata saat pasien disuruh melirik ke atas.1.

kontraktur dan 316 . 2. Otot rektus inferior atau jaringan orbita dapat terperangkap dalam lokasi fraktur. 3. tetapi pada kasus yang lain. Waktu dan perlunya intervensi bedah pada perawatan fraktur dasar orbita murni masih dalam perdebatan. jika ini tidak memungkinkan. Perawatan fraktur nasal bertujuan untuk memperbaiki dan mengembalikan fungsi dan etetik. Biasanya. dapat terjadi emfisema orbita karena adanya hubungan dengan sinus maksilaris serta bisa juga disertai perdarahan orbita. maka sebaiknya penanganan dilakukan 3 . Jika fraktur berhubungan dengan fraktur sepertiga wajah yang lainnya.1 WAKTU PERAWATAN Waktu perawatan fraktur nasal masih terdapat kontroversial. Waktu perawatan ini sangat penting oleh karena fraktur nasal lebih dari 10 hari akan mengalami penyembuhan tulang dan kemungkinan memerlukan tindakan termasuk rhinoplasty . maka komponen hidung harus direduksi bersamaan dengan fraktur lainnya4.1 III.7 hari. Diplopia. Perawatan yang paling baik adalah pada waktu tiga jam pertama saat terjadi trauma.dari 2 mm. Bola mata juga dapat melesak atau hipo-ophthalmik dibanding sisi kontralateralnya. Kebanyakan literatur mendukung waktu dua minggu untuk perbaikan sehingga mencegah fibrosis. Bola mata dapat menjadi robek. untuk mencegah terjadinya pembengkakan yang lebih besar. perawatan harus ditunda sampai sepuluh hingga dua belas hari agar pembengkakan dan luka memar menjadi lebih reda. keadaan ini mengakibatkan ketidakseimbangan. Keadaan ini mengakibatkan terhambatnya pergerakan ke atas dari bola mata. Emfisema. menyebabkan diplopia. Fraktur nasal yang terpisah dapat dapat dilakukan reduksi dalam waktu 24 jam pertama. namun trauma yang tidak begitu berat hanya akan mengakibatkan hyphema atau edema retina.

Pack ini harus tetap dipertahankan selama 2 – 3 hari. yang mungkin dapat menimbulkan konsekuensi serius berhubungan dengan CSF rhinorrhoea. Sayangnya metode ini tidak hanya menutup jalan nafas tetapi juga merupakan sumber infeksi yang potensial. dengan menggunakan pita gauze yang dilapisi dengan paravin/ flavine emulsion atau bismuth iodoform paraffin paste (BIPP). Metode ini sebaiknya hanya digunakan sebagai hemostasis pada periode awal operasi dan sebagai support awal pada reposisi tulang nasal dimana pada septum nasal tidak terjadi fraktur. Pada kasus dimana terperangkapnya tarikan rektus inferior. keadaan ini mungkin disebabkan oleh tidak adanya tekanan dari eksternal. Beberapa ahli sering menunggu beberapa hari supaya edema dan perdarahan sudah tidak ada sehingga didapat penilaian yang baik terhadap enopthalmus dan fungsi otot ekstraokuler.terperangkapnya jaringan.2 III. Splint Intranasal 1. perawatan harus dilakukan lebih cepat. tetapi juga merupakan penyebab terjadinya masalah pada telecanthus jika pemasangan pack terlalu berlebihan sehingga menimbulkan terjadinya fraktur lain pada prosessus frontal maksila. Ribbon gauze Metode ini sering kali dianjurkan sebagai metoda yang adekuat dan standar untuk memperoleh dukungan internal pada fraktur nasal.2 METODE IMOBILISASI A. 317 . Suport intra nasal yang adekuat tidak akan diperoleh dengan teknik ini untuk menstabilkan hidung4. Tehnik ini tidak mempunyai support intra nasal anterior posterior. Gauze ini secara hati-hati dimasukkan kedalam lubang hidung dengan bentuk lapis demi lapis dan penting untuk diperhatikan pertama-tama menempatkan pack pada nares superior sepanjang garis jembatan (bridge-line)4. 1.

yaitu untuk mendapatkan support internal yang rigid terutama pada kasus terjadinya kolaps anteroposterior. 318 . Stainless-steel intranasal splint Metoda ini dikemukakan oleh Sear pada tahun 1477.175mm x 1. Splint terbuat dari bahan stainless steel 3.5875 mm dan pasangan yang sama dibengkokkan membentuk angka 7 dengan diameter yang lebih lebar pada posisi datar. Metode insersi dan retensi splinting ini seperti gambar yang memperlihatkan tulang nasal dan tepi jaringan lunak tanpa kehilangan palatum keras dianjurkan pada waktu memilih ukuran splint yang cocok4.Gambar 15: Ribbon gauze4 2.

tetapi pada beberapa kasus tertentu tidak begitu praktis. Metoda ini terutama cocok untuk memperoleh support nasal pada pasien dengan fraktur fasial multiple4. kelebihan dibuang dengan tekanan antara cotoon gauze sebelum aplikasi. Plaster of Paris Splint Teknik ini dikenal dengan bentuk kupu-kupu. nasal bridge line dan duapertiga bagian atas hidung. dan sangat membantu untuk memperoleh suatu pola dengan juga menggunakan gauze atau jaconet cut untuk membentuknya dan mengetahui ukuran yang tepat sebelum diaplikasikan.Gambar 16 : Metode insersi dan retensi splint intra nasal untuk memperoleh support internal4 Metode yang sederhana dan memuaskan untuk memperoleh support internal pada hidung. Kemudian dengan hati-hati dilakukan pemasangan plester pada daerah sekitar kepala dan glabela. Splint Eksternal 1. Bahan ini terdiri dari 4 atau 5 lapis dari potongan 10 cm plaster of Paris bandage yang dilembutkan dengan air. Sangat penting untuk diperhatikan bahwa plaster sudah menempel pada kulit dari daerah medial sampai bagian dalam canthus masing-masing mata yaitu dengan memegang antara jari telunjuk dengan ibu jari. Sementara plaster 319 . B.

Ketika pembengkakan mulai berkurang splint akan menjadi longgar dan oleh karena itu harus segera diangkat. Kemudian diaplikasikan pada kontur hidung satu persatu. Kemudian lapisan gauze collodion diaplikasikan dan dibentuk sehingga akhirnya splint tercetak hanya pada bagian medial dari bagian dalam canthi seperti yang diterangkan sebelumnya pada splint Plaster of Paris. Tipe splint eksternal ini sangat memuaskan. terutama pada daerah yang dekat dengan mata dan sekitar puncak hidung. Sehelai lembaran logam lunak (soft metal) dipotong mengikuti bentuknya kemudian diaplikasikan dan konturnya dibentuk. Terutama pada fraktur nasal yang disertai dengan fraktur ethmoid. Sudah menjadi standard untuk membiarkan Plaster of Paris selama 7 – 10 hari. sehingga akan membentuk cetakan dan diperhalus dengan Howarth’s elevator. biasanya terjadi pembengkakan jaringan lunak pada sekitar hidung4 . Ini adalah untuk menjaga agar tidak terjadi luka pada kulit. tetapi ini tidak benar. Collodion gauze dan soft metal sheet (Ash’s soft metal sheet-tin/lead alloy) Beberapa lapisan gauze dipotong sesuai dengan ukurannya dan direndam dalam larutan collodion. terutama pada kasus dengan adanya jahitan luka pada hidung dan glabela Tetapi ini tidak tepat pada kasus dengan fraktur septum pada waktu ini dan pembedahan sekunder 320 .mengeras. lebih baik pada hari ketiga dan keempat atau lebih jika diperlukan. perlekatan dengan kulit dibantu dengan pemberian Compound Tincture of Benzoin. Kemudian plaster dilekatkan pada daerah kepala dan pipi dengan bahan Elastoplast atau bahan pelekat lain. Gambar 17: Plaster of paris splint4 2.

mungkin diperlukan pada beberapa waktu kemudian. Gambar 18: soft metal sheet4 Waktu dan perlunya intervensi bedah pada perawatan fraktur dasar orbita murni masih dalam perdebatan. dengan atau tanpa bersamaan dengan fraktur dinding mesial dan dengan prolaps jaringan orbital. Pada kasus dimana terperangkapnya tarikan rektus inferior. kontraktur dan terperangkapnya jaringan. Hal ini harus 321 . perawatan harus dilakukan lebih cepat.2 Fraktur dasar orbita melibatkan lebih dari 50 % mengenai lantai. terutama untuk mengatasi obstruksi pada nasal4. Beberapa ahli sering menunggu beberapa hari supaya edema dan perdarahan sudah tidak ada sehingga didapat penilaian yang baik terhadap enopthalmus dan fungsi otot ekstraokuler. pada fraktur dasar orbita bisa timbul diplopia karena terbatasnya gerakan ke atas dan ke bawah. Keadaan ini biasanya mengakibatkan enophtalmos yang signifikan (lebih dari 2 mm) dan ini merupakan indikasi untuk dilakukannya reparasi. Jika keterbatasan ini terjadi dalam 30 derajat dari gerakan utamanya dengan test forced-duction positip dan CT Scan menunjukkan adanya fraktur. Selain itu. harus dilakukan perbaikan yang cepat karena kemungkinan kelainan ini bisa menetap sangat tinggi. Kebanyakan literatur mendukung waktu dua minggu untuk perbaikan sehingga mencegah fibrosis. Trapdoor atau fraktur anteroposterior dapat ditemukan secara klinis dimana sulit ditemukan secara radiologis. 1.

Fraktur blow in yang pergeserannya minimal biasanya tidak membutuhkan perawatan selain perawatan yang bersifat konservatif.4 Fraktur atap orbita Penanganan fraktur pada atap orbita dianjurkan untuk mengeksplorasi atap orbita dengan menggunakan periosteal elevator sehingga segment fraktur dapat dikembalikan ke posisinya atau menjadi datar dan mencegah cederanya muskulus dan nervus.4 Perawatan orbital fraktur harus terlebih dahulu melakukan dekompresi dengan segera kemudian melakukam rekonstruksi sesuai dengan lokasi dari fraktur. Dasar orbita bisa dicapai melalui pendekatan konjungtival. Selain itu dapat dipergunakan muscle relaxant untuk mencegah spasme muskulus temporal. pendekatan ini dilakukan untuk memperbaiki defek tulang dengan mengambil atau mereposisi fragmen tulang. dengan demikian dapat mengembalikan volume orbita dan menghilangkan semua pergeseran struktur jaringan lunak.dipertimbangkan. hal ini bertujuan untuk perbaikan partisi antara orbit dan antrum maksilaris. 1 Koreksi bedah merupakan kontra indikasi pada pasien yang secara medis tidak stabil dan tidak bisa mentoleransi anestesi. Aksesnya dapat dilakukan dengan insisi pada bagian blepaharoplasty bagian atas atau melalui laserasi yang terjadi. 2. Fraktur medial orbita 322 . melalui pembukaan perkutaneous atau pendekatan transmaksilaris. Tidak dipergunakannya tranosseus wire tetapi IMF dipertahankan selama seminggu untuk mencegah reduksi yang adekuat dari fragment. dengan demikian diharapkan dapat memperbaiki semua gangguan motilitas ekstraokuler. Selain itu. Akses pada regio ini memudahkan eksplorasi dan membebaskan jaringan lunak yang bergeser atau terperangkap. jika hal ini terjadi harus segera dikoreksi untuk menurunkan kemungkinan diplopia yang persisten. Fraktur lateral orbita Penanganan fraktur pada dinding lateral melalui incisi pada subciliary (blepharoplasty) lateral dikombinasi dengan lateral incisi eyebrow .

Seperti pada gambar : Gambar 19 : incisi subkonjungtiva3 Gambar 20: Incisi subpalpebra4 323 . Fraktur dasar orbita Dianjurkan untuk mengeksplorasi dasar orbital dengan menggunakan periosteal elevator sehingga segment fraktur dapat dikembalikan ke posisinya atau menjadi datar dan mencegah cederanya muskulus dan nervusAkses masuk pada bagian dasar orbita dapat dilakukan dengan incisi transkonjungtiva dan infraorbita (subciliary dan subpalpebra). penanganan fraktur pada daerah ini dapat dilakukan dengan pendekatan incisi melalui subciliary dan memberikan kesempatan untuk ekspolarasi dasar orbita.Daerah ini sangat tipis khususnya daerah ethmoid.

silicon. 324 . porous polyetilene. dan teflon) Absorbable (polydioanone. Material alloplastik : nan absorbable ( Titanium. dan polyglactin) Allogenik dura. contohnya tulang kortikal dan kanselous. polylactide.Gambar 21 : incisi subciliary4 Gambar 22 Insisi trans konjungtiva4 Material untuk rekonstruksi fraktur orbita Bahan – bahan material yang biasa dipergunakan adalah : autografts dari tulang. cartilago.

kepala pasien ditinggikan dengan sudut kurang lebih 30 o. Implant yang ideal harus bisa secara mudah diinsersikan dan dimanipulasi. Hampir kebanyakan defek pada kasus fraktur dasar orbita dapat direparasi dengan implant sintetik yang terbuat dari polyethylene. mudah ditempatkan pada struktur di sekitarnya. harganya wajar. dan pilihan material biasanya tergantung kepada ahli bedah dan pasiennya. Auto bone graft merupakan standar kriteria untuk menyediakan kerangka untuk tulang fasial dan dinding orbita. 325 . Gambaran pemasangan material rekonstruksi6 Semua material memiliki keuntungan dan kerugian. dan tidak merangsang pembentukan jaringan fibrous. tidak akan mengalami ekstrusi. Alternatif lain dapat digunakan tulang autogenous dari dinding maksila atau calvarium. atau mesh metal. Perawatan Pasca Bedah : Segera setelah pembedahan. silicon. Beberapa ahli menganjurkan kompres dengan saline dingin di atas mata yang tertutup. juga memiliki aposisi formasi tulang yaitu proses resorbsi dan perbaikan yang baik. Cancellous bone graft lebih disenangi daripada kortikal karena vaskularisasinya lebih cepat dan lengkap.Gambar 23. mesh vicryl. Implant Implant myriad tersedia untuk kegunaan rekonstruksi. miniplat metal. tidak menjadi tempat infeksi. Kemampuan visual dan fungsi pupil dinilai setiap 15 menit selama 1 jam pertama dan kemudian setiap 30 menit.

326 . dan beraktivitas berat. Pemberian steroid dapat membantu pengurangan pembengkakan. Kehilangan kemampuan penglihatan merupakan komplikasi yang serius berkaitan dengan reparasi kelainan ini. 1. neuralgia. Diplopia yang tetap ada atau new onset.2 Seperti pembedahan lainnya komplikasi pada reparasi fraktur dasar orbita bisa berupa perdarahan atau infeksi. dan disfungsi otot ekstraokuler merupakan komplikasi yang mungkin bisa terjadi. dan diberikan antibiotik serta analgetik yang adekuat. Selain itu pasien diinstruksikan untuk mengompres dingin selama 48 jam.Setelah operasi pasien dilarang untuk meniup lewat hidung. Demikian juga ekstrusi implant dan enophtalmos yang menetap merupakan sequele postoperasi yang memerlukan intervensi bedah selanjutnya.

namun pemeriksaan klinis terkadang sulit dilakukan karena adanya edema di daerah orbita. Kesimetrisan hidung dan fungsi adalah penting untuk pasien. dan emfisema. maka akan diperoleh hasil yang lebih baik dan lebih memuaskan pasien. tetapi sering dianggap tidak terlalu berpengaruh. oleh karena itu perlu dilakukan evaluasi radiologis secara seksama. Fraktur orbita bisa terjadi bersamaan dengan fraktur pada daerah wajah lainnya. Pendekatan bedah pada kasus-kasus yang diindikasikan harus dilakukan dengan hati-hati mengingat kemungkinan komplikasi yang akan terjadi. dan perawatan yang tidak tepat dan kurang adekuat akan menimbulkan hasil yang kurang memuaskan. 327 .BAB IV KESIMPULAN Fraktur nasal sering terjadi pada fraktur tulang fasial. Jenis fraktur ini sering menimbulkan komplikasi berupa enophtalmos. Jika pendekatan yang dilakukan pada waktu terjadi trauma sama dengan pemikiran kedepan seperti yang dilakukan pada penanganan elektif kosmetik septorhinoplasty. diplopia.

DAFTAR PUSTAKA

1. Ramirez R.F. 2004. Nasal Trauma. The Thomson Corporation. All right reserved. http://www.ehendrick.com/healty/000561.htm. 2. Fonseca, RJ. et al. 1997. Oral and Maxillofacial Trauma. 2nd edition. Philadelphia: WB. Saunders Co. 3. Pitcock K.J & Bumsted M.R. 1997. Nasal Fractures. In: Raymond J. Fonseca and Robert V. Walker. Oral And Maxillofacial Trauma. Volume II. W.B. Saunders Company. Philadelphia London. Toronto Montreal Sydney Tokyo. p. 775 – 41. 4. Bowerman J.E. 1994. Fracture of the Middle Third of the Facial Skeleton. In: Rowe and William’s. Maxillofacial Injures. Second Edition. Churchill Livingstone. Edinburgh London Madrid Melbourne New York Tokyo. p. 541- 604. 5. Moore, K.L., Arthur F. Dalley II. 1999: Clinically Oriented Anatomy. 4 'h ed. Lippincott Williarli"s & 1Nilkins 6. Archer, H. W. 1975. Oral and Maxillofacial Surgery. 5th ed. Toronto : W. B. Saunders Company. 7. Booth, P. W. et al. 2003. Maxillofacial Trauma and Esthetic Facial Reconstruction. 1st ed. Edinburgh: Churchill Livingstone. Edinburgh. 8. Cohen, AJ. Facial Trauma, Orbital Floor Fracture (Blow out). Available at www.eMedicine.com. Last updated on March 7th 2005. 9. Williams, J. L. 1999. Maxillofacial Injuries. 1st ed. Edinburgh : Churchill Livingstone.

328

Fraktur Panfasial

Yudi Wijaya 160121120002

Peserta PPDGS Ilmu bedah mulut dan Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Abstrak : Regio maksilofasial terbagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama adalah wajah yang bagian atas, Bagian kedua adalah daerah tengah wajah atau midface. Midface dibagi menjadi bagian atas dan bagian bawah. Midface yang bagian atas bila terdapat fraktur Le Fort II dan Le Fort III dan/atau fraktur tulang nasal, fraktur nasoetmoidal atau kompleks zygomatikomaksilari dan fraktur dasar orbita. Fraktur Le Fort I bila fraktur terdapat pada bagian bawah dari midface. Bagian yang ketiga dari regio maksilofasial adalah wajah bagian bawah, bila fraktur hanya terdapat pada mandibula. Fraktur panfasial adalah fraktur yang terjadi pada daerah wajah yang meliputi sepertiga atas, sepertiga tengah dan sepertiga bawah yaitu meliputi fraktur pada regio frontal, kompleks nasalis, kompleks orbitalis, kompleks zigomatikus, maksila dan mandibula. Prinsip umum untuk penatalaksanaan fraktur panfasial yaitu dengan tehnik bottom to top (dari bawah ke atas) atau top to bottom (dari atas ke bawah).

Kata kunci: Fraktur panfasial, bottom to top , top to bottom

329

BAB I PENDAHULUAN

Pada mulanya dokter gigi dilibatkan pada perawatan trauma rahang karena mereka menguasai pengetahuan tentang gigi dan oklusi. Perawatan yang terdahulu hanya terdiri atas fiksasi gigi pada oklusi sentrik untuk mengurangi dan mengimobilisasi suatu rahang. Sekarang ini dasar pemikiran perawatan fraktur pada daerah maksilafasial tidak banyak berubah, hanya tekniknya yang berkembang pesat. Diagnosis didukung dengan adanya teknik radiografis yang berkembang dengan pesat. Fraktur-fraktur yang pada jaman dahulu tidak dapat dikenali sama sekali atau hanya bersifat dugaan sekarang ini bisa ditunjukkan sampai hal yang terkecil.1 Regio maksilofasial terbagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama adalah wajah yang bagian atas, bila fraktur melibatkan sinus dan tulang frontal. Bagian kedua adalah daerah tengah wajah atau midface. Midface dibagi menjadi bagian atas dan bagian bawah. Midface yang bagian atas bila terdapat fraktur Le Fort II dan Le Fort III dan/atau fraktur tulang nasal, fraktur nasoetmoidal atau kompleks zygomatikomaksilari dan fraktur dasar orbita. Fraktur Le Fort I bila fraktur terdapat pada bagian bawah dari midface. Bagian yang ketiga dari regio maksilofasial adalah wajah bagian bawah, bila fraktur hanya terdapat pada mandibula. Insidensi trauma maksilofasial terutama yang berhubungan dengan kecelakaan kendaraan bermotor. 2 Trauma yang mengenai wajah dapat menyebabkan diskontinuitas dari jaringan lunak wajah maupun jaringan kerasnya. Fraktur yang terjadi pada daerah wajah yang meliputi sepertiga atas, sepertiga tengah dan sepertiga bawah yaitu meliputi fraktur pada regio frontal, kompleks nasalis, kompleks orbitalis, kompleks zigomatikus, maksila dan mandibula disebut dengan fraktur panfasial. 2 Fraktur ini biasanya disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas, kecelakaan kerja, kecelakaan olah raga dan lain-lain.2,3 Penelitian pada tahun 2008 di

330

Amerika Serikat, penyebab utama fraktur panfasial adalah perkelahian (36%), kecelakaan kendaraan bermotor (32%), jatuh (18%), olahraga (11%), kecelakaan kerja (3%), dan luka tembak (2%). 2 Lebih banyak terjadi pada laki-laki dewasa muda, perbandingan laki-laki dan wanita adalah 4:1.4

331

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi Kraniofasial Tulang-tulang kraniofasial terdiri atas 22 tulang dengan dikelilingi oleh kavitas-kavitas yang berbeda yaitu kranium, orbita, sinus, hidung dan mulut. Tulang-tulang kraniofasial terdiri atas tulang yang memiliki ketebalan berbeda. Tulang-tulang yang tebal berhubungan dengan tulang- tulang berdinding tipis. Tulang dengan struktur yang tebal disebut sebagai 'buttress' yang menopang/penyangga proporsi kraniofasial dalam proyeksi antero-posterior. 2 Banyak penulis membagi buttres wajah dalam dua bidang yaitu bidang vertikal dan bidang horizontal. Buttres vertikal meliputi buttress nasomaxilaris pada medial,, zigomaticomaxilaris pada lateral, dan pterigomaxilaris pada posterior. Buttress nasomaksilaris meliputi prosessus maksilaris dari frontalis dan prosessus frontalis dari tulang maksila, meluas ke lateral sampai rima piriformis. Buttress zigomaticomaxilaris terdiri dari prosessus zygomatikus dari tulang frontal, rima orbita lateral, tulang zygomatikus lateralis, dan prosessus zygomatikus dari tulang maxilla. Buttress pterigomaksilaris terdiri dari lempeng pterigoid dari tulang sphenoid dan tuberositas maksilaris. Ketiga buttress ini menghasilkan suatu sistem penyangga unit-unit fungsi pada oral, nasal dan orbital. Pada umumnya buttress zygomaticomaksilaris dan buttress nasomaksilaris dilakukan rekonstruksi, tapi buttress pterigomaksilaris tidak dilakukan rekonstruksi karena tidak dapat diakses. 2,4 Buttress horizontal sering juga disebut dengan anterior posterior buttress. Buttress ini meliputi buttress frontal, zygomatik, maxilaris dan mandibular. Buttress frontal terdiri dari rima supraorbital, dan regio glabelar. Buttresss zygomatik terdiri dari zygomatic arch, zygomatic body, dan infraorbital rim. Buttress maxila dan mandibula terdiri dari basis maxila dan lengkung tulang mandibula.4 Keseluruhan buttress ini secara bersama-sama memberikan integritas tulang wajah. Tulang-tulang yang pada umumnya lebih tebal ini berfungsi untuk

332

menetralisir kekuatan pengunyahan dan benturan. Dengan reduksi yang tepat kita dapat merekonstruksi tinggi, lebar dan proyeksi wajah. 2,3

Gbr.1 Buttress vertikal dan horizontal.1

2.2 Klasifikasi Fraktur Panfasial Gruss dkk (1989) membagi fraktur panfasial menjadi tiga kelompok yaitu: 3 1. Fraktur kraniofasial sentral Fraktur terjadi pada bagian sentral yang memisahkan buttress fasial dari basis kranial anterior. Variasinya meliputi tulang frontal dan atap orbital dan sinus frontalis. Pada trauma yang ekstensif terjadi perluasan ke arah vertikal melalui sepertiga tengah wajah dan bagian tengah mandibula. 2. Fraktur kraniofasial lateral Fraktur ini mengakibatkan kerusakan pada buttress fasial lateral yaitu tulang frontozigomatikomaksilaris dengan perluasan ke arah posterior pada sayap tulang sphenoid, temporal dan parietal. Komplikasi intrakranial lebih jarang terjadi, namun perluasan ke bagian bawah wajah lebih sering terlihat 3. Kombinasi fraktur sentral dan lateral

333

Trauma yang ekstrim akan menghasilkan kehancuran elemen fasial sentral dan lateral disertai dengan fraktur sepertiga tengah wajah, mandibula, kondilus dan trauma intrakranial. Kerusakan dapat meliputi kerusakan pada otak yang lokal maupun difus dan diskontinuitas dasar fosa kranial anterior.

334

Radiografi c. Circulation) b. Tranportasi cepat (Ambulatory) 2. ABC (Airway. Nutritional support 5. Pemeriksaan Laboratorium d. Mempertahankan jalan napas b. Adapun tahap-tahap penanganan trauma adalah sebagai berikut: 6 1. Pemeriksaan fisik menyeluruh b. Pembedahan b. Menghentikan perdarahan eksternal c.3 Penatalaksanaan Pada umumnya penderita dengan trauma oromaksilofasial terjadi bersamaan dengan trauma pada bagian tubuh yang lain (trauma multiple). Breathing. Perawatan non operatif c.Penanganan yang dilakukan sebelum dibawa ke rumah sakit a. Perawatan Definitif a. Resusitasi cairan c. Pemantauan 3. Stabilisasi tulang belakang e. Stabilisasi fraktur d. Resusitasi dan pananganan primer a.BAB III PEMBAHASAN 2. Diagnosis dan penanganan sekunder a. Rehabilitasi 335 . Sehingga tahap-tahap penangannnya bersamaan dengan penanganan trauma yang lainnya. Resusitasi dan pemantauan lanjut 4.

Pada observasi klinis akan terlihat adanya pembengkakan pada wajah yang difus.2. kesimetrisan dan ketinggian wajah.5 Pemeriksaan intraoral dilakukan untuk melihat adanya memar dan laserasi jaringan lunak maupun adanya kehilangan jaringan.3 Pemeriksaan fisik harus dilakukan secara sistematis yaitu dengan metode inside out and bottom up yaitu meliputi inspeksi dan palpasi dari dagu hingga kepala serta dari intraoral dan ekstraoral untuk dapat mengidentifikasi luka pada jaringan lunak.1 Evaluasi Evaluasi dimulai dengan menilai jalan nafas. pernafasan dan sirkulasi serta tingkat kesadaran (ABC trauma management). evaluasi terhadap regio maksilofasial dapat dilakukan. 2. gigi geligi dan neurovaskular.3. Perhatian segera yang ditujukan pada kasus berat adalah penatalaksanaan 'life-support' yang tepat dan penilaian komplikasi intrakranial dan ekstrakranial.3 Setelah pasien dalam keadaan stabil dan bebas dari trauma tulang spinal servikal. Dalam mendiagnosa fraktur panfasial dibutuhkan data riwayat trauma yang seksama. Deformitas pada tulang seringkali terlihat dengan hilangnya proyeksi hidung dan gangguan pada proyeksi midfasial. CT Scan dua dimensi dengan potongan 336 . palatum. Perhatian utama harus ditujukan pada daerah nasoethomid. mata dan prosesus kondilus. Informasi yang lengkap meliputi keadaan wajah penderita. pergerakan abnormal pada mandibula dengan palpasi pada daerah external auditory canal dan menginstruksikan pasien untuk membuka dan menutup mulut. Adanya fraktur pada kondilus dapat diperkirakan apabila terdapat krepitus. oklusi dan fungsi sebelum terjadi trauma amat dibutuhkan. luka memar laserasi pada tonjolan tulang seperti dahi. tulang.6 Pemeriksaan penunjang seperti CT Scan pada negara maju telah menggantikan peranan radiologi konvensional. Hal ini dapat diperoleh melalui data fotografi dan rekam medis dental. daerah supraorbital ridge dan pangkal hidung. Selain itu juga untuk mengevaluasi adanya fraktur segmental maupun sagital pada maksila maupun mandibula serta dentoalveolar. pemeriksaan fisik dan evaluasi radiografis yang baik. Evaluasi pertama dapat dilakukan dengan data radiologis seperti Water's.2.

Akan tetapi. buttress maxilla dan ramus ascenden mandibula.6 Gbr 2.2 Tata laksana Manajemen pasien dengan multiple displaced dan fraktur comminuted sangatlah menantang tidak saja pada ahli bedah yang belum berpengalaman nemun juga pada ahli bedah yang sudah berpengalaman. dengan melalui gambaran rontgen 337 . Pasien dengan fraktur panfasial 2 Gbr 3. CT Scan dua dimensi dengan potongan koronal dan sagital akan memberikan informasi mengenai fraktur pada dinding orbital. Dengan kemajuan tehnologi CT Scan tiga dimensi akan memberikan peran yang lebih baik dalam menentukan keadaan fraktur dalam hal ada atau tidaknya displacement tulang. Diagnosa dan rencana perawatan yang tidak tepat akan menyebabkan hasil yang tidak adekuat dan memperlama prosedur bedah.3. Digital imaging fraktur panfasial 1 2. 1.axial akan memberikan informasi penting terhadap perluasan trauma kraniomaksilofasial.

mandibula. lengkung gigi. maxxilary buttress. Kondisi ini dapat menyebabkan melebarnya kompleks facial jika segmen fraktur tidak direduksi dengan benar. Jika terdapat fraktur subkondilar bilateral. mereka dapat digunakan sebagai panduan. fraktur tersebut harus dirawat agar didapatkan tinggi dan lebar wajah yang tepat. sebagai nerikut:1. tengah dan bawah.7 Ketika terjadi fraktur wajah multiple yang melibatkan wajah bagian atas. ketika terjadi fraktur lefort dengan midpalatal yang masih utuh. Sebagai contoh. b.7 a. Solusi untuk mengatasi masalah ini adalah dengan mengembalikan keutuhan maxila dengan melakukan reduksi dan fiksasi fraktur palatal. tehnik bone graft serta urutan tahapan bedah yang baik. Mandibula Reduksi simphisis dan/atau ramus mandibula dapat diperoleh melalui pembukaan ekstraoral. kan terjadi penambahan lebar wajah. akan didapatkan hasil yang optimal. Eksposure ini memungkinkan didapatkannya visualisasi langsung dari inferior border mandibula dan sedikit korteks lingual. berfungsi untuk mencegah pergerakan lateral yang ekstrem. Pengetahuan akan landmark dan anatomi dapat digunakan untuk rekonstruksi yang tepat pada bagian wajah yang mengalami kerusakan. 338 . proses rekonstruksi seperti menyusun puzzle. Jjika terdapat fraktur subkondilar yang disertai dengan fraktur simphisis dan/atau ramus mandibula. Pendekata ini bisa dilakukan jika fraktur palatal single tanpa kominusi atau avulsi. Masalah utama terjadi jika terdapat fraktur midpalatal dan mandibula yang disertai fraktur kondyle. Perlekatan otot pterigoid lateral pada fovea pterigoideus. Lengkung Gigi Ketika salah satu atau kedua lengkung gigi utuh.yang detail. dan regio intercanthal. maxila yang memiliki lengkung yang masih utuh dapat digunakan untuk panduan mendapatkan lebar lengkung mandibula yang tepat. Key landmark yang dapat membantu adalah. Reduksi permukaan bukal dan lingual memungkinkan untuk didapatkannya hasil fiksasi yang lebih baik. fiksasi yang baik. sutura sphenozigomatik.

339 . lokasi dari maksila dapat di tentukan. Likewise . Sutura Sphenozygomatikus Sutura sphenozygomatikus. disepanjang permukaan dalam dari didingding orbita lateral adalah key landmark pada reduksi dan fiksasi complex zygomatikomaksilaris. Restorasi jarak interchantus dengan menggunakan reduksi kompleks naso-orbitoethmoid dapat membantu menentukan lebar wajah. Permukaan kontak yang luas ini sangat penting pada proses reduksi dan fiksasi. Daerah Interchantus Daerah interchantus digunakan untuk mengembalikan lebar midfacial setelah jarak interchantus stabil pada rangka wajah orang dewasa. buttress zigomatikus sangatlah penting dalam menempatkan zygoma dan maksila dalam posisi yang tepat. c. Reduksi dan fiksasi sutura sphenozygomatik 1 d. Ketika zygoma telah berada pada posisi yang tepat. Sutura sphenozygomatikus biasanya nampak pada sepanjang permukaan internal dari dinding orbita lateral. Jika orbital roof dan orbita lateral superior masih baik. perlu dipertimbangkan pencangkokan untuk mengembalikan buttress ini.Kondilus mandibula can be reconstitude ramus mandibula untuk mendapatkan tinggi dan lebar wajah. sutura ini dapat menjadi landmark yang penting untuk menempatkan zygoma dan lengkung zygoma pada posisi yang tepat. Jika terjadi kehilangan tulang yang signifikan pada regio ini. Gambar 4.

serta perbaikan oklusi gigi. Jumlah kehilangan jaringan lunak. Defek diskontinuitas dapat dilakukan dengan fiksasi maksilomandibular 340 .Gambaran klinis penderita dengan fraktur naso-orbitoethmoid dengan jarak interchantus 43mm.Gambar 5. Dibutuhkan perencanaan yang baik untuk meminimalkan operasi ulang dan lamanya perawatan di rumah sakit. Sebelum merencanakan perawatan terlebih dahulu perhatikan: 7 1. Perawatan terhadap jenis fraktur ini sebelumnya sering mengalami kesulitan dalam menentukan waktu perbaikan wajah sehubungan dengan intervensi bedah saraf dan ophtalmologis. Defek tulang yang luas atau defek jaringan lunak dapat dipertimbangkan dengan menggunakan rekonstruksi flap yang luas atau graft. Struktur yang terluka atau terlibat di sepanjang fraktur 3. Gambaran intraoperatif menunjukkan gambaran fraktur naso-orbitoethmoid. A.7 Tujuan dari perawatan fraktur panfasial adalah merehabilitasi jaringan yang terkena. B. penyembuhan tulang. Luas kehilangan tulang 5. meliputi kulit. Keadaan trauma dentoalveolar Perawatan jenis trauma yang kompleks ini merupakan rangkuman dari seluruh perbaikan dari semua fraktur fasial dan kranial yang individual. mengurangi rasa sakit. mukosa dan saraf 4. Lokasi dan luasnya fraktur 2. Pada saat ini perawatan modern unit kraniofasial di negara maju memungkinkan untuk dilakukannya perbaikan kraniofasial dan bedah neurologis dalam merekonstruksi perbaikan fraktur fasial yang multipel dan penutupan fistula kranionasal pada saat yang bersamaan.

Namun dalam jangka waktu tersebut seringkali tidak cukup untuk memperoleh pemeriksaan radiologis. Cangkok tulang definitif dapat dilakukan pada operasi pertama ataupun kedua. Pada banyak kasus keterlambatan koreksi seringkali menyebabkan telah terjadinya union pada tulang dan kontraktur jaringan lunak sehingga diperlukan diseksi jaringan lunak yang ekstensif untuk mendapatkan pemaparan tulang yang baik dalam rangka reduksi dan fiksasi fraktur tulang.baik internal dengan intraosseus wiring. Pada periode tersebut jaringan lunak berada dalam keadaan pembengkakan sehingga pengelolaan operatif pada saat itu akan menyebabkan proyeksi wajah dan kesimetrisan wajah sulit dicapai. Hilangnya gigi geligi akan mempengaruhi hubungan antara maksila dan mandibula. 2 Seringkali pasien tersebut membutuhkan waktu lebih dari tiga minggu untuk pengelolaan life-saving yang ekstensi terhadap trauma ekstrakranial. horisontal dan transversal. Terdapat dua prinsip umum untuk penatalaksanaan fraktur panfasial 341 . Selain itu adanya rhinorrhoea serebrospinal atau aerocele intrakranial merupakan alasan lain keterlambatan perawatan.2. Beberapa penulis menganjurkan untuk fiksasi primer pada 12-48 jam paska trauma. ophtalmologis dan pengelolaan gigi geligi yang adekuat terutama pada pasien dalam keadaan koma dan tidak kooperatif.7 Gbr 6. Rekonstruksi harus meliputi arah 3 dimensi yaitu vertikal. lag screws maupun fiksasi eksternal. Bone graft pada dinding sinus maksila anterior1 Koreksi definitif pada pasien dengan trauma kraniofasial yang kompleks secara ideal dilakukan dalam 5-7 hari. Selain itu diperlukan osteotomi pada garis fraktur akibat telah terjadinya penyatuan tulang. plate dan screws.6 Kunci utama dalam penatalaksanaan fraktur panfasial adalah untuk mendapatkan fiksasi dan stabilisasi yang cukup stabil pada daerah-daerah yang tidak stabil.

6 Bila terdapat fraktur sagital pada maksila dilakukan reduksi dan fiksasi untuk mendapatkan kembali lengkung maksila sehingga koreksi terhadap lebar wajah tengah dapat tercapai.8 Apabila kranium frontalis masih intak atau terdapat fraktur pada fossa kranial anterior atau fronto-orbital bar tanpa adanya kehilangan tulang atau dimana struktur-struktur tulang tersebut di atas telah terekonstruksi dengan kuat. 5. rekonstruksi dimulai dari mandibula. maksila yang mengalami disimpaksi dapat dikoreksi dengan menyesuaikan oklusi pada rahang bawah dan dilakukan fiksasi intermaksilaris.6 342 .2.8 Pada tehnik bottom to top. Perbaikan dapat dilanjutkan dalam arah atas ke bawah dan bertemu dengan segmen maksilomandibula yang telah terfiksasi.6.yaitu dengan tehnik bottom to top (dari bawah ke atas) atau top to bottom (dari atas ke bawah). regio midfasial dapat direkonstruksi dalam arah atas ke bawah. Setelah mandibula terkoreksi dengan baik. hilangnya tulang pada tulang kranial dan diskontinuitas pada dasar fosa kranial anterior atau hilangnya titik referensi.6 Kerugian pada tehnik bottom to up adalah untuk rekonstruksi dilakukan dimulai dari jarak yang cukup jauh dari elemen simetris yang stabil yaitu basis kranial. Hal ini dilakukan agar rekonstruksi pada mandibula dapat menghasilkan hubungan yang intak dalam mereposisi maksila. Selain itu bila basis kranial frontalis diperbaiki dan dilekatkan terhadap tengah wajah dapat menaikkan resiko kerusakan atau perubahan letak terhadap fosa kranialis anterior yang telah diperbaiki.5. pendekatan dilakukan dalam arah bawah ke atas.2. Namun bila terdapat diskontinuitas pada lengkung mandibula. Fraktur pada kondilus baik unilateral maupun bilateral memerlukan reduksi segera dan fiksasi internal untuk mempertahankan ketinggian fasial. 5. Bila lengkung mandibula terganggu harus diperbaiki terlebih dahulu. Fiksasi dapat dilakukan dengan menempatkan miniplate secara transversal pada maksila. Ketidakakuratan dalam mereduksi dan mereposisi fraktur kondilus akan menyebabkan asimetri wajah.

penatalaksanaan fraktur panfacial dapat dimulai dengan fikasi maxilomandibular. C dan D. Kemudian rekonstruksi dilakukan pada bagian dalam 343 . Tehnik bottom up dan inside out. 1 Pada tehnik top to bottom.Gbr 7. reduksi dan fiksasi zygoma dengan menggunakan panduan sutura sphenozygomatik dan sutura zigomatiko maxilary. G dan H. Gruss dan Mackinon (1986) menyarankan untuk melakukan rekonstruksi pertama-tama pada bagian luar rangka fasial (outer facial frame) pada fraktur panfasial yaitu meliputi lengkung zygomatik. Kemudian diikuti dengan reduksi dan fiksasi fraktur subkondil. E dan F. A dan B. selanjutnya maxiila dapat distabilisasi sepanjang buttress zygomaticomaxilary. kemudian fraktur symphisis. kompleks malar dan tulang frontalis. selanjutnya fraktur naso-orbiethmoid dapat direduksi dan fiksasi pada sutura naso frontalis dan sutura frontomaxilary dan infraorbital rim serta piriform.

Setelah itu dilakukan rekonstruksi pada maksila pada Le Fort I dengan menggunakan plat pada buttress. sutura zygomatikofrontalis dan orbital rim. Selain itu cangkok tulang dilakukan untuk koreksi sekunder bila 344 . Kemudian reposisi pada fraktur mandibula dan diakhiri dengan fiksasi intermaksilaris.rangka fasial (inner facial frame) atau pada kompleks naso-orbitho-ethmoidal. Gbr 8. Teknik top to bottom1 Cangkok tulang biasanya dilakukan untuk merekonstruksi dinding orbital dan hidung.

6. 345 . sulkus gingivobukal. periorbital. retromandibular atau submandibular.dibutuhkan untuk menambah kontur pada regio tertentu dan memperbaiki kesimetrisan wajah. Berkurangnya ukuran proyeksi wajah dalam arah anterior dan posterior. 7. Bertambahnya lebar wajah. Gigitan terbuka pada bagian anterior ( openbite anterior). 3. Deformitas dan obstruksi hidung dan serta 8. 5. insisi pada kelopak mata bagian bawah. Kerusakan neurologis seperti adanya anestesi. Kurangnya ketinggian wajah pada bagian posterior.4 Komplikasi Komplikasi yang dapat terjadi pada trauma maksilofasial adalah : 1. Maloklusi. 2. Selain itu insisi ini dapat memberikan akses yang optimal untuk dapat mereduksi dan memfiksasi fragmen tulang. 4. Insisi koronal akan dapat memberikan pemaparan yang lebih luas pada tulang kranium dan rangka kraniofasial bagian atas.5 2. Kebutaan. preaurikular. parastesi.6 Berbagai macam insisi dilakukan untuk mendapatkan pemaparan tulang yang mengalami fraktur dan merekonstruksinya antara lain dengan insisi koronal.

Prinsip dalam merekonstruksi adalah dengan mereduksi daerah yang anatomi yang memberikan panduan rangka wajah yang maksimal yaitu pada kerangka wajah luar. 346 . Kunci keberhasilan pengelolaan pasien fraktur panfasial adalah dengan mendapatkan lapang pandang yang cukup luas. reduksi yang cermat dan fiksasi dari fraktur.BAB III KESIMPULAN Penatalaksanaan pasien dengan trauma panfasial memerlukan diagnosa yang cermat untuk mendapatkan hasil yang memuaskan dalam merekonstruksi wajah. Daerah-daerah yang mengalami kehilangan tulang yang luas dapat dilakukan cangkok tulang.

Bos. 2005. St Louis: Elsevier Saunders. EGC. 3. Trott. Edinburg: Churchill Livingston 6. Craniofacial Trauma.J. Management of Panfacial Fractures 8.com/article/1283471-overview Facial Trauma.DAFTAR PUSTAKA 1. Management of Panfacial Fractures 4. New York: Thieme 7.A et al. Oral and Maxillofacial Trauma. http://emedicine. Buku Ajar Praktis Bedah Mulut. Hard N.otohns. Craniomaxillofacial Trauma.medscape.com/article/1283471-overview Facial Trauma.A. Pedersen. 2010. J. http://www. http://emedicine. D. 1996. Berlin: Springer-Verlag 2. Diagnosis and Management.com/article/1283471-overview Facial Trauma. Management of Panfacial Fractures 9.W.M. Multimedia: Follow-up: Treatment: UTMB Grand Rounds-Maxillary and 347 .net/default Periorbital Fractures 5.medscape. R.J & Simpson D. Atlas of Craniomaxillofacial Osteosynthesis Miniplates. drg. M. http://emedicine. Panfacial fractures : Planning an Organized Treatment in Harle F.medscape. Management of Panfacial Fractures 10. Basoeseno. 1990. 1995. http://emedicine. Facial Fracture in David. Stuttgart. Purwanto. Fonseca R.com/article/1283471-overview Workup: Facial Trauma. Microplates and Screws. 3rd ed. Jakarta.medscape. Kuttenberger. Alih Bahasa: drg.R. and Champy. G.

Dengan kemampuan penyembuhan yang cepat. anak-anak. reduksi. fiksasi. Maksud dari penulisan makalah ini adalah untuk memberikan gambaran mengenai manajemen penatalaksanaan trauma pada anak-anak.Manajemen Trauma Pada Anak-Anak Arismunandar 160121120005 Peserta Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut Dan Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Bandung Abstrak Manajemen trauma oromaksilofasial pada pasien anak-anak sedikit berbeda dengan orang dewasa. Perlu di perhatikan pada penanganan kegawatdaruratan dan perawatan definitive oleh karena struktur anatomi yang sedikit berbeda dengan orang dewasa. fraktur. ukuran bagian tubuh yang lebih kecil dan komplikasi yang minimal menjadi karakteristik tersendiri pada pasien anak-anak. reposisi. 348 . Kata kunci : trauma.

dan stroke volume lebih kecil daripada orang dewasa. dan curah jantung. Pertama. Kurangnya sinus pneumatization dan tunas gigi dalam rahang berkontribusi terhadap stabilitas dan rendahnya prevalensi pada fraktur midface .3 Oleh karena itu.2 Disamping keuntungan ini. mereka lebih rentan menghadapi resiko hipotermia. 349 . Ini termasuk anatomi wajah yang belum dewasa. akan menyebabkan gaya yang lebih besar per unit masa tubuh.4 Adanya perbedaan antara pasien anak dan dewasa mempunyai dampak terhadap pola trauma pada anak-anak pada umumnya dan trauma maksilofasial khususnya.2 Faktor-faktor ini juga berkontribusi terhadap rendahnya frekuensi fraktur fasial pada anak-anak dan seringya terjadi greenstick dan nondisplaced fraktur pada anak-anak.BAB I PENDAHULUAN Pasien trauma orofasial pada anak-anak berbeda dari orang dewasa dengan luka yang serupa oleh karena trauma yang terjadi. ada karakteristik tertentu dari trauma orofasial pada anak-anak yang harus selalu diingat. 1. Karena faktor ini. cedera pada wajah karena trauma berpengaruh pada pertumbuhan. 3 Ukuran tubuh anakanak yang lebih kecil juga berpengaruh. dan adanya lapisan adiposa yang menutupi kerangka lebih tebal daripada pada orang dewasa. tingkat metabolisme lebih tinggi. tulang lebih elastis. yang membuat tindak lanjut penanganan jangka panjang pada pasien anak-anak wajib diperhatikan. Pada pasien pediatrik. saat terjadi trauma. trauma orofasial pada anak-anak tidak dapat dikelola dengan cara yang sama seperti pada orang dewasa. oleh karena vaskularisasi jaringan yang baik dari wajah. pemulihan jaringan orofasial yang rusak dapat dimaksimalkan dan hilangnya fungsi dapat diminimalkan. garis sutura lebih fleksibel. Anak-anak memiliki permukaan yang lebih tinggi-untuk-rasio volume tubuh. darah total yang lebih rendah volume. Kedua. pada pasien anak-anak memiliki keuntungan dari kemampuannya untuk menyembuhkan yang cepat dengan komplikasi yang minimal. melalui pertumbuhan dan kemampuan yang melekat pada anak-anak untuk beradaptasi. oxygen demand.

Oleh karena itu maka pemeliharaan jalan nafas. dan resusitasi awal lebih kritis pada anak-anak daripada orang dewasa. serta lebih besar insiden cedera tengkorak dalam kelompok usia yang lebih muda. Rasio cranial to body mass diperkirakan 8:1 pada masa bayi dan 2. pengendalian perdarahan. Ini juga menjelaskan mengapa. insidensi fraktur midface dan tulang mandibula pada anak-anak lebih rendah.5:1 pada dewasa. dan hipoksia setelah kehilangan darah dan bahkan pembengkakan ringan pada saluran napas atau terjadinya obstruksi mekanis. Perlindungan ''relatif'' wajah oleh tulang tengkorak memberikan informasi bahwa.3.3 Dibandingkan dengan orang dewasa. insiden patah tulang rahang midface dan meningkat sedangkan insiden cedera kranial berkurang. anak-anak memiliki rasio cranial to body mass lebih besar.4 350 . dengan bertambahnya usia.hipotensi.

4 Prinsip umum penatalaksanaan fraktur (recognition.1 Dilema sering muncul ketika harus memutuskan perawatan yang terbaik untuk penatalaksanaan trauma orofasial terutama pada pasien anak-anak. reduction. kranium tumbuh lebih cepat daripada wajah. dan dewasa muda berada pada usia 11-19 tahun. stabilization. Awalnya. Walaupun kebanyakan dokter mengkategorikan pasien yang sedang dalam masa tumbuh kembang sesuai dengan kesar tubuh anak-anak tersebut.BAB II TINJAUAN PUSTAKA Epidemiologi Etiologi cedera pada wajah bervariasi dengan usia. 2. Pada perawatan IMF yang menghambat tumbuh kembang 351 .3. Tulang kranium kepala besar dan struktur wajah yang relatif kecil. Pertumbuhan fasial terus berlangsung sampai pada dekade kedua kehidupan hingga ratio kraniofasila menjadi 2:1. Infant dikategorikan pada usia kurang dari 1 tahun. Otak dan ocular pertumbuhan hampir selesai pada usia tujuh. & fixation) harus diterapkan disamping tetap mempertimbangkan dampak yang terjadi terhadap tumbuh kembang anak-anak di masa mendatang. kategori anak-anak berada pada usia 1-11 tahun.3. mencapai 80% dari ukuran dewasa pada usia dua tahun. Secara keseluruhan menunjukkan bahwa.4 Anatomi Dan Patofisiologi Proporsi wajah anak-anak sangat berbeda dari yang orang dewasa. Peran dan fungsi rahang sebagai modulator pertumbuhan mandibula tidak terbantahkan. Potensi penyembuhan dan remodeling tulang pada anak-anak lebih besar daripada orang dewasa. anak-anak harus dibedakan berdasarkan usia tumbuh kembangnya. Rasio kraniofasial saat lahir adalah 8:1 dan wajah tersembunyi di bawah tulang kranium yang relatif besar. penyebab paling umum cedera pada wajah adalah kecelakaan kendaraan bermotor apakah anak sebagai penumpang atau pejalan kaki. Oleh karena alasan tersebut maka tulang kranium lebih sering terkena trauma sebelum usia ke-7 daripada trauma yang terjadi pada wajah.

kesulitan intubasi. Kondisi ini menyebabkan meningkatnya airway resintance. harus diperhatikan bahwa jangan sampai tindakan tersebut mempunyai efek terhadap tumbuh kembang wajah akibat penempatan bone plates. Pada anak-anak dan bayi rigiditas dada kurang bila dibandingkan dengan dewasa. dan mudahnya self-extubation. Tidak seperti pada orang dewasa. rawat inap rumah sakit.4 Anatomi jalan nafas pada pasien anak-anak memiliki saluran yang pendek dan diameter yang kecil serta epiglotis yang sempit serta lidah yang besar pada anak. mudahnya tejadi obstruksi. 352 . Selama periode infant. Oleh karena alasan tersebut. jika pemasangan IMF dilakukan untuk jangka waktu yang singkat. Ketika perawatan open reduction menjadi pilihan. Aktivitas osteogenic dan bone remodeling yang aktif pada anak-anak menyebabkan fraktur yang terjadi baik pada maksila ataupun pada mandibula yang jika tidak segera dilakukan reduksi dalam beberapa hari maka akan sulit didapatkan reduksi yang adekuat dikemudian hari. depresi dapat terjadi karena tekanan dari ingatan akan trauma dan kehilangan anggota tubuh dapat menghambat perkembangan mental pada anak. pada anak-anak penyebab umum terjadinya gangguan jantung oleh karena gangguan sekunder pernafasan.2. Pada usia yang lebih dewasa. screws ataupun wires.1.wajah efeknya bersifat reversible. trauma dan bedah akan mengganggu alur makan dan tidur infant. Komposisi tulang dengan lebih banyak tulang kanselus menyebabkan kurang kondusif dilakukan screw/ wire fixation untuk internal fiksasi. closed reduction menjadi pilihan solusi penanganan pada kebanyakan fraktur fasial.2 Fraktur greenstick lebih sering dijumpai pada pasien anak-anak oleh karena tulang korteks yang tipis dan meningkatnya bagian medulla tulang menyebabkan tulang tahan terhadap benturan.3 Psikologi anak-anak Stress trauma dan bedah akan berpengaruh pada psikologi anak-anak. Hampir tidak ada/ jarang ditemukan kasus nonunion pada fraktur fasial pada anak-anak. 1. Selama fase mixed dentition mungkin akan sulit didapatkan IMF yang stabil pada perawatan closed dan open reduction.

Fraktur pada midface pada anak-anak ditemukan kurang dari 1% dan 4% disertai variasi fraktur Le Fort I. menemukan 42 % dengan fraktur fasial (6-12 tahun). kemudian diikuti trauma pada ekstremitas. Pada kasus kecelakaan kendaraan bermotor yang terjadi/ melibatkan anak-anak. 18% pada atap orbita. Pada pasien anak-anak. 8. 15.6% fraktur orbita. Analisa yang dilakukan Rowe pada 1500 kasus fraktur fasial ditemukan bahwa. Posnick et al mendapatkan dari 137 pasien. 5% dari semua kasus fraktur fasial terjadi pada anak-anak dibawah umur 12 tahun dan kurang dari 1% terjadi pada anak-anak dibawah umur 6 tahun. 11. 51.5% fraktur mandibula. 1 Studi yang dilakukan McCoy et al.1 353 . Walaupun PTSD bukanlah kelainan yang fatal.7 fraktur zygoma dan maksila. 32 % fraktur orbita pada dasar orbita. keadaan ini dapat memicu pertumbuhan mental pasien kea rah yang tidak wajar. Insiden Fraktur Fasial Fasial fraktur pada anak-anak jarang terjadi pada anak-anak.Post Traumatic Stres Disorder (PTSD) dapat muncul setelah luka pada individu muda yang tidak pernah mengalami luka yang serius ataupun rawat inap pada lingkungan rumah sakit. 19% pada dinding media.4% terjadi faraktur nasal. Perawatan khusus harus diberikan untuk menjaga keadaan mental pasien anakanak. menemukan bahwa 40% kasus fraktur fasial berkaitan dengan fraktur kranium. Konsultasi dengan psikiatri dan layanan social lainnya penting untuk menghasilkan kesehatan yang sempurna pada anak-anak. trauma kepala sering menyertai fraktur fasial.

akses intraosseus bisa dilakukan sampai akses intravena didapatkan. berkurangnya nadi perifer. Mulut dan pharynx harus terbebas dari kotoran dan intubasi dilakukan jika diperlukan. delayed capillary refill. diare. kontrol perdarahan dan stabilisasi tulang servikal merupakan langkah utama pada manajemen kegawatdaruratan pada pasien anak-anak dengan trauma orofasial. wajah. Dengan adanya trauma. leher dan mulut harus dikontrol dengan penekanan dan dilakukan penjahitan bila perlu. Untuk terapi maintenance dikalkulasikan dengan estimasi caloric expenditure dari berat badan dan luas permukaan tubuh. Stabilisasi tulang servikal sampai kondisi dinyatakan clear. Kebutuhan cairan pada anak-anak terdiri dari maintenance dan replacement. dan hipotermi adalah tanda-tanda shock dan memerlukan segera resusitasi cairan dengan cairan intravena yang hangat untuk mengembalikan ke kondisi semula. resusitasi cairan dengan 2 cateter intravena diperlukan. Perubahan status mentalis. jika kurang dari 6 tahun.BAB III PEMBAHASAN Manajemen Kegawat-daruratan Pemeliharaan jalan nafas. Perdarahan dari kulit kepala. Jika diduga dehidrasi moderate maka maintenance awal 5mL/ Kg per jam selama 2 354 . Kalkulasi terapi maintenance pada anak-anak berkisar 1500 mL + 20 mL/kg untuk berat badan yang lebih dari 20 Kg per hari. fragmen fraktur mandibula. Kemungkinan terjadi kehilangan cairan pada kondisi adanya luka terbuka. Maintenance terapi untuk mengkompensasi kehilangan cairan insensible (paru & keringat) dan sensible (urine & stool). respiratory compromise.4 Cairan Dan Elektrolit Resusitasi cairan merupakan komponen penting pada manajemen perioperatif pada pasien trauma anak-anak. muntah. dapat membahayakan saluran pernafasan pada anak-anak dengan trauma maksilofasial. Pembengkakan karena trauma maksilofasial. pencegahan terjadinya aspirasi.

karena kandungan chloride didalamnya adalah nonphysiologic chloride. pallor.5-2 mL/ Kg per jam. serta kemungkinan adanya red cell isoantibodies. Pada anak-anak dengan multisystem trauma harus dipertimbangkan kemungkinan terjadinya perdarahan.1.3 Blood Loss Dan Replacement Tujuan utama manjemen terapi cairan pada anak-anak adalah untuk mengenali dan mengatasi kondisi yang mengancam nyawa dan mengeliminasi kondisi sekunder karena trauma yang terjadi. Compatibility test harus dilakukan sebelum dilakukan transfusi untuk menentukan golongan darah dan Rh recipient. D5 dengan ½ NS). Ketika kondisi hemodinamik sudah tidak stabil maka perlu diberikan bolus crystalloid fluid. Bolus diulang sampai total 60 mL/Kg .jam pertama dan berkurang sampai 1. Serta juga dapat menyebabkan hiperchloremic pada neonates jika digunakan dalam jangka waktu yang lama. Darah merupakan agen yang sangat efektif untuk mengoreksi defisit intravascular. Pada kasus trauma pada anak-anak operator harus jeli memonitor kondisi klinis pasien jika sewaktu-waktu terjadi shock dan dibutuhkan resusitasi cairan. Output urine diharapkan 1-2 mL/ Kg per jam pada anak-anak. dan pre renal azotemia.3 355 . Terapi cairan untuk maintenance biasanya larutan hipotonis dengan konsentrasi Na dan K yang memadai ( 5% dextrose [D5] dengan ¼ NS.1. transfusi PRC 10-20 mL/Kg. yang mewakili 25% volume darah normal pada anak-anak. Tanda-tanda shock meliputi tachycardia. Resusitasi untuk hipovalemia dapat dimulai dengan pemberian crystalloid bolus 20 mL/Kg. Penggunaan NS bisa memicu terjadinya hipernantremi ketika diberikan untuk maintenance karena kandungan sodium yang tinggi (154 mEq/L) dan juga karena kemampuan bayi untuk mengekskresikan kelebihan sodium berkurang. Penggunaan cairan isotonis dianjurkan karena aktif secara osmosis dan menyebabkan ekspansi intravascular. Penggunaan cairan hipotonis tidak dianjurkan pada resusitasi karena menyebabkan menurunnya crystalloid osmotic pressure. poor filling capillary refiil.karena tiga kali jumlah crystalloid diperlukan untuk menggantikan volume darah yang hilang.

atau adanya gigi yang tanggal curigai adanya fraktur rahang. 356 . Adanya deviasi waktu membuka mulut curigai adanya fraktur pada kondil mandibula. battle’s sign. Perhatikan dan observasi tanda-tanda vital untuk menentukan apakah pasien stabil atau dalam kondisi sebaliknya. kemudian diikuti evaluasi kardiopulmonal. Sedasi selama periode tersebut mungkin sangat diperlukan tetapi harus dihindari karena kondisi pasien masih dalam masks neurologoc changes. parestesi wajah. Konsultasikan ke neurosurgical jika ada riwayat pingsan. intake makanan dalam bentuk mechanical diet yang tidak dikunyah atau dalam bentuk cairan jika terpasang IMF. 1. rhinorea.Nutrisi Pada pasien anak-anak paska penatalaksanaan tindakan bedah. Karena jalan nafas yang relatif sempit maka kemungkinan dampak karena oedem dan pembengkakan semakin besar. subcutaneous emphysema. Ketika pasien dalam kondisi severe neurologic injury. oedema fasial. dan krepitasi yang terjadi. dan identifikasi perdarahan dari rongga mulut. Pada pasien recovery. Adanya battle’s sign (postauricular echymosis) curigai adanya basal skull fracture. adakah diplopia. berikan secara parenteral. perdarahan hidung. sering terjadi kondisi hypercatabolic yang memerlukan oral intake yang adekuat untuk mencukupi nutrisi yang dibutuhkan tubuh. Adanya kelainan maloklusi. Ketika terjadi fraktur orbita lakukan tes visual .subcutaneous emphysema. Palpasi regio orbita dan nasal untuk mengetahui adanya deformitas tulang pada daerah tersebut.3 Pemeriksaan klinis Perhatikan airway. respiratory failure. Identifikasi adanya pembengkakan yang terjadi dan kemungkinan terjadinya fraktur pada struktur tulang dibawahnya. terutama pada pasien dengan trauma midface yang parah. subconjunctival hemorrhage. dan kelainan pergerakan bola mata. massive edema hindari pemberian makan secara enteral selama kurang lebih 3 hari atau lebih. atau adanya hemotympanum. perubahan status mentalis. periorbital ecchymosis. Adanya laserasi atau kontusi pada daerah dagu waspadai kemungkinan terjadinnya fraktur pada kondil mandibula.

1.2 Pemeriksaan Radiologi Pemeriksaa radiologi perlu dilakukan untuk membantu menegakkan diagnosa. wire ligation serta composite supported orthodontic wire extended pada gigi disekitarnya.1 Gambar 1. Prosentasenya berkisar 8.3 TIPE FRAKTUR 1. 1. Fiksasi gigi dengan composite supported orthodontic wire extended1 357 .Anamnesa yang akurat tentang riwayat trauma pada pasien ataupun pengantar sangat membantu perencanaan tindakan berikutnya. Fraktur Alveolar Fraktur mandibular alveolar pada anak-anak merupakan yang paling sering terjadi pada fraktur fasial. schede AP lateral. Town’s projection.6 % pada trauma fasial pada anak-anak.1 % dan 50. Pemeriksaan lengkap pada wajah meliputi.2. Panoramic foto merupakan alat diagnostic lainnya yang diperlukan tetapi menuntut kerjasama pasien untuk diam selama berlangsung pemaparan. Water’s view dan submental vertex. Pada fraktur alveolar maksila berkisar antara 5% sampai 65%. Pada pasien dengan alveolar bone loss dapat dilakukan autogenous bone grafting dengan pengambilan tulang berasal dari mandibular ramus. Penanganan fraktur alveolar meliputi imobilisasi segmen fraktur dengan arch bar. Penggunaan CT-Scan telah menjadi kegiatan rutin dinegara-negara besar dan menjadi standar perawatan menggantikan pemeriksaan radiologi konvensional. os mental atau tulang kranial.

dilakukan setelah 3-4 hari setelah terjadinya trauma. Seperti pada fraktur nasal orang dewasa maka oedema terjadi disekitar struktur os nasalis. dan jika terjadi deformitas maka harus dilakukan closed reduction. Jika terjadi terjadi deviasi septum maka harus dilakukan reduksi. untuk mencegah terjadinya aspirasi dari darah karena darah mengalir ke posterior pharynx. 1 Splinting eksternal dapat membantu untuk mengontrol pembengkakan dan menyediakan perlindungan pada hidung setelah dilakukan reposisi. bukan hiperekstensi kebelakang. dan membiarkanya beberapa saat selama proses penyembuhan.2. Nasal packs dapat digunakan untuk menyangga tulang dan septum hidung yang telah direposisi. Tulang hidung dapat direposisi dengan pendekatan intranasal. Reseksi pada septal cartilage dapat menyebabkan gangguan Pemeriksaan ulang pertumbuhan wajah. Epistaksis sering terjadi menyertai trauma pada hidung dan mudah dikontrol dengan melakukan penekanan pada nostril selama 5-10 menit dengan kepala sedikit ditengadakan. Setelah dilakukan reduksi dengan kaudal traksi. Fraktur nasal sering terjadi pada cedera midfasial anak-anak. dan hal ini harus dihindari. 358 . Fraktur nasal yang terjadi sebelum proses tumbuh kembang selesai harus di perlakukan sama seperti fraktur nasal pada orang dewasa. Fraktur Midfasial Fraktur Nasal. Adanya gangguan pertumbuhan setelah terjadinya fraktur nasal akan menyebabkan penutupan premature dari sutura septovomerine.

sebagian besar fraktur pada orbita terjadi pada atap orbita dan meluas ke sinus frontalis. cedera pada atap orbita. Hal ini dikarenakan sinus masih dalam perkembangan. dan jaringan lunaknya lebih banyak jaringan lemak. Penatalaksanaan fraktur orbita pada anak-anak umur 7 tahun ke atas sama dengan penatalaksanaan pada fraktur orbita orang dewasa.1. Intervensi bedah pada toothbearing area pada maksila untuk penempatan kawat untuk stabilisasi atau plate meningkatkan insiden terjadinya gangguan perkembangan benih gigi dan sedapat mungkin dihindari. (B) Setelah reduksi tertutup. Pencetakan dilakukan dan pembuatan model. dasar dan sinus frontalis lebih sering terjadi . dan dilakukan pada kondisi tertentu. 1 Fraktur Maksila. gigi belum tumbuh dan sinus maksilaris masih belum sempurna. Fraktur Le fort pada anak-anak jarang ditemui oleh karena maksila pada anak-anak masih tulang kanselus. (A) Deviasi ke kanan setelah trauma pada wajah. Adanya disfigurement wajah. prolaps 359 . Aperture piriformis dan dinding zygomaticomaxillary tebal . karena sebagian besar perkembangan orbita telah selesai.2 Fraktur Orbita. Jika terjadi fraktur dan terjadi maloklusi maka dapat dilakukan closed reduction. adanya keterbatasan gerak bola mata. Sebelum usia 7 tahun.Gambar 2. Setelah usia 7 tahun. Jejas pada nasal merupakan fraktur wajah yang sering terjadi pada pasien anak-anak. kemudian model dipotong untuk memfasilitasi konstruksi pembuatan splint untuk closed reduction. dinding lateral.

Untuk eksplorasi regio frontozygomatico dapat dilakukan insisi di sekitar alis mata. (B) Durante op dengan gambaran impaksi frontal dan rima supra orbita yang memerkukan dilakukannya craniektomi untuk akses dan pebaikan. dasar orbita dan dinding medial dapat dilakukan pendekatan dengan melakukan insisi pada lipatan inferior kantung mata atau melalui transconjunctival approach. dan diseksi dilakukan ke otot orbicularis oculli terus sampai ke bawah pada orbital rim. Untuk menghindari hal tersebut maka sedapat mungkin kawat atau screw harus ditempatkan dengan posisi cephalic diatas rim.periorbita ke athrum atau sinus ethmoidalis dan adanya diplopia yang persisten merupakan indikasi dilakukan open orbital exploration. Karena pada anak-anak lipatan kantung mata belum terbentuk maka insisi bisa dilakukan parallel dengan batas kantung mata dan sedikit bersudut ke inferior hal ini untuk mengurangi terbentuknya jaringan parut. Untuk eksplorasi daerah infraorbital rim. Insisi dibuat 7 mm dari tepi bawah kantung mata. kemungkinan tunas benih gigi akan terkena.2 360 . Gambar 3. (A) Edema pada fronto-periorbita dextra dan ekimosis setelah trauma. dan jika gigi permanen belum tumbuh. Jika dilakukan fiksasi internal maka kawat ditempatkan pada inferior orbital rim. Fraktur fronto-rima orbitalis superior terjadi karena adanya tumbukan yang cepat kearah benda diam.

3 Jika dasar orbita atau dinding medial fraktur maka akan terjadi prolaps bola mata ke anthrum atau sinus ethmoidalis. Orbital trauma. tapi karena pentingnya harus digaris bawahi karena potensialnya yang bisa menyebabkan gangguan pada pertumbuhan tulang wajah. orbita dan septum nasalis. Insisi koronal dilakukan 361 . Menurut Ochs MW FR.Gambar 4. Fraktur ini relatif jarang dijumpai pada anak-anak. Pertumbuhan midface tergantung dari pertumbuhan fossa cranii anterior. Open reduction kompleks pada nasal-orbita-ethmoid dilakukan 4 hari setelah trauma dan dengan gangguan seminimal pada septum nasalis. Regio ini dapat diakses melalui pendekatan insisi koronal untuk hasil estetik yang memuaskan. In: Fonseca RJ. Prolaps yang terjadi harus dikembalikan dan dasar atau dinding harus didukung dengan bone graft untuk mencegah enophthalmus. Ketika dilakukan open reduction pada daerah ini maka periosteum akan dipisahkan dari tulang orbita dan nasal dan kondisi ini sendiri berpotensial menghambat pertumbuhan wajah. Potongan cross-seksi dari inferior palpebral dan variasi dari insisi pada dasar. disamping bisa dilakukan insisi pada nasal dorsum dan juga perluasan insisi dari insisi inferior kantung mata yang meluas ke tulang hidung bagian lateral.2 Fraktur Nasal-Orbita-Ethmiodal.1.

41 % dari seluruh populasi trauma pada anak-anak. Fraktur pada arkus zygoma terjadi dengan prosentase 7. meliputi pendekatan hemicoronal. tetapi jika terjadi depressed dan comminuted fracture perlu dilakukan open reduction dan fiksasi. sphenoid dan tulang temporal maka reduksi dan reposisi biasanya melalui multiple approaches.1 Fraktur Arkus Zygomatikus. Pada fraktur greenstick atau minimal displaced hanya dibutuhkan observasi saja. Jika terjadi fraktur zygoma kompleks atau Quadrapod yang melibatkan disartikulasi tulang zygoma dengan tulang frontal.dan transconjuctival. Seiring dengan bertambahnya usia tulang zygoma semakin menonjol dan prevalensi kejadian fraktur pada arkus zygomatikus juga meningkat. Penatalaksanaan pada fraktur ini dilakukan jika terdapat deformitas atau terjadi trismus. Jika terjadi maka pendekatan dilakukan melalui intra oral atau Gilles approach. maksilaris. Gangguan pertumbuhan oleh karena fraktur ini jarang terjadi. sublabial. Studi terbaru menemukan bahwa penyuntikan botulinum pre-op dapat menahan tarikan otot masseter kearah inferior sehingga mengurangi kemungkinan displacement fraktur post reduction oleh karena tarikan otot masseter.dibelakang hairline pada kulit kepala dan dimulai setinggi dari telinga. Kadang-kadang insisi meluas sampai ke regio preauricular bila diinginkan lapang pandang yang luas.2 362 . Penatalaksanaan pada fraktur ini hanya jika dibutuhkan dan sama seperti pada orang dewasa.1.

Pendekatan dengan Gilies untuk reduksi arkus zigomatikus2 Penggunaan double ended periostel elevator. (B) Post-bedah dengan reduksi intraoral dan pemasangan plat fiksasi2 Gambar 6. dengan pendekatan insisi pada regio temporalis. keadaan malar dapat dilihat. (A) Setelah pembengkakan awal. Pasien harus latihan buka tutup mulut. 3. Kondil mandibula merupakan daerah yang paling sering cedera dengan tingkat 363 . Fraktur zigomatic dengan defisiensi malar disertai dengan infraorbital (V2) parastesi. Fraktur pada kondil semasa kanak-kanak berpotensi dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan wajah.Gambar 5. memajukan mandibula dan lateral excursion. Fraktur Mandibula Fraktur Kondil. Trismus post-op sering terjadi dan akan berkurang dalam dalam beberapa minggu. Kelly clamp dapat digunakan untuk mereposisi fraktur ini.

dan laserasi submental merupakan pertanda adanya fraktur kondil. oklusi . 364 .5%-60%. Karena proses penyembuhan yang cepat pada anakanak. terapi fisik. mandibula mengalami deviasi kesisi yang fraktur jika terjadi dislokasi pada proksimal segmen. pembengkakan. Perawatan. Jika fraktur kondil teridentifikasi. Deviasi terjadi karena pemendekkan ramus. Closed fracture pada kondil dapat dilakukan closed reduction kecuali oklusi normal tidak tercapai. Goal dari penatalaksanaan pada fraktur kondil mandibula untuk mengembalikan ke simetrisan mandibula. maka pertumbuhan mandibula akan berlangsung secara simetris. Tanda dan gejala fraktur kondil pada anak-anak sama dengan tanda dan gejala pada fraktur kondil orang dewasa. Closed reduction dengan IMF elastis dengan kurun waktu 1-2 minggu.insidensi 14. darah pada canalis meatus acusticus. keterbatasan pergerakan. Trismus dan keterbatasan membuka mulut merupakan gejala adanya fraktur pada kondil. tetapi tidak terjadi maloklusi maka tidak perlu dilakukan immobilisasi. dan fungsi tanpa gangguan pertumbuhan dimasa mendatang. nyeri pada preauricular. maka immobilisasi dilakukan tidak terlalu lama dengan pertimbangan kalau terlalu lama maka akan berpotensi terjadi ankylosis. deviasi mandibula waktu buka dan tutup mulut. dan diet lunak menghambat terjadinya fibrosis dan penyatuan tulang serta mengembalikan stimulasi otot-tulang penting untuk kelanjutan pertumbuhan simetris wajah. Adanya asimetri maloklusi. Fraktur pada kondil mandibula dapat dikategorikan fraktur kondil terbuka (capsular disruption) dan tertutup (intracapsular). Open reduction dilakukan jika terjadi terjadi displaced segmen kondil pada fossa cranial media atau jika terdapat benda asing. Pada pemeriksaan fisik. anterior open bite. Jika posisi mandibula dan oklusi dapat dicapai dan dipertahankan selama 6 bulan . Mobilisasi segera.

(Posnick JC. piriform atau circumzygomatic wires. Perbedaan metode stabilisasi dengan arch bar pada variasi umur termasuk circummandibula. dilakukan reduksi.2 Gambar 7. B: 6 tahun.Ketika terjadi maloklusi atau mandibula asimetri serta adanya fraktur kondil. Pada fraktur ini penatalaksanaan dengan pemberian antibiotic.1. infraorbital. Open reduction pada pasien anak- 365 . Intervensi bedah diindikasikan jika segmen kondil displaced ke fossa cranial atau adanya keterbatasan gerakan karena posisi segmen fraktur. C: 12 tahun). dan terjadi sedikit displacement. Arch bar dapat dipasang pada gigi sulung dengan bantuan circummandibular. Ilustasi 3 kranium dengan usia yang berbeda (A: 2 tahun. circum-zygomatic. maka reduksi untuk mencapai oklusi awal dan posisi mandibula ke posisi awal dapat dicapai dengan IMF atau traksi elastic. Open reduction pada fraktur kondil jarang dilakukan. Fraktur bodi dam simfisis mandibula pada anak-anak terjadi seiring dengan berkembangnya gigi geligi dan biasanya selalu melibatkan trauma pada rongga mulut. Pada pasien di bawah 2 tahun biasanya hanya di observasi dan diet lunak. kemungkinan hal ini dikarenakan tulang mandibula yang elastic dan tertanamnya benih gigi sehingga memegang fragmen fraktur. dan wiring. dan stabilisasi dari fraktur.) 2 Fraktur Bodi Dan Simfisis Mandibula. Sering terjadi greestick fraktur pada regio ini.

(C) Penggunaan plat yang dapat di resorbsi pada anak usia 4 tahun. (A) fraktur parasimfisis mandibular dengan separasi antara kaninus dan premolar. Fiksasi maksilomandibular dapat dilakukan dengan pemasangan erich arch bar. Perkembangan yang terbaru.4 (Fig. yang terjadi pada posterior ramus dan kondulus.1.2. Pada umur antara 5-12 tahun.anak jarang dilakukan. FDA menyetujui penggunaan resorbable plating systems untuk penatalaksanaan fraktur mandibula. 4 366 . (B) Reduksi intraoral dan plat fiksasi yang dapat di resorbsi. Fraktur mandibular yang menyebabkan openbite. dapat dilakukan pemasangan circummandibular wires atau fiksasi skeletal. 4) (C) Gambar 8. sehingga pada penggunaan sistem ini tanpa dilakukan pengambilan plate dan terjadinya migrasi dari plate oleh karena pertumbuhan tak perlu dikhawatirkan lagi. closed reduction untuk penanganan fraktur tersebut dengan pertimbangan jika dilakukan open reduction akan mengganggu perkembangan tunas gigi. Jika memungkinkan. Hampir pada semua kasus fraktur pada regio ini penatalaksanaannya dapat dengan menggunakan teknik closed reduction.

BAB III KESIMPULAN Fraktur wajah pada anak jarang terjadi. reduction. Prinsip umum penatalaksanaan fraktur pada trauma oromaksilofasial pada anak-anak (recognition. Mayoritas dari fraktur ini dapat ditangani secara konservatif. Jika memang dibutuhkan tindakan bedah. & fixation) harus diterapkan disamping tetap mempertimbangkan dampak yang terjadi terhadap tumbuh kembang anak-anak di masa mendatang. 367 . harus dilakukan dengan hati-hati untuk mencegah terjadinya gangguan pertumbuhan Manajemen trauma oromaksilofasial pada anak-anak sedikit berbeda dengan orang dewasa namun pada intinya sama karena pada anak-anak masih dalam proses tumbuh kembang. stabilization. tapi dapat mengakibatkan tingkat morbiditas yang signifikan jika tidak ditangani dengan baik.

DAFTAR PUSTAKA 1. 2005. Walker. 1990. New York. Pediatric Trauma. Philadelphia. LB. Mc Donald WS. NJ. Philadelphia. Betts. Vol 2. Pediatric Oral and Maxillofacial Surgery. Taylor & francis Group. Kaban. 2006. Oral and Maxilofacial Trauma. Barber HD. RJ. Thaller SR. Wesson DE. 3rd ed. Marcell Dekker. 4. New York. 368 . Saunders Company. W. Facial Trauma. 2004. RV. Fonseca. 3.B. 2.B. W. Elsevier-Saunders company.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful