P. 1
Ilmu Bedah Mulut Traumatologi

Ilmu Bedah Mulut Traumatologi

|Views: 1,392|Likes:
Published by Arismunandar Sosilo
oleh drg, Endang Syamsudin, Sp.BM
oleh drg, Endang Syamsudin, Sp.BM

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: Arismunandar Sosilo on Jun 15, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/04/2014

pdf

text

original

Cara Melakukan Pemeriksaan Trauma Oromaksilofasial dan Penanganan Kegawat-daruratan Trauma Oromaksilofasial

Melva Sirait 160121120001

Peserta Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut Dan Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Abstrak : Trauma oromaksilofasial adalah trauma yang menyebabkan cedera pada jaringan lunak mulut, dentoalveolar, serta fraktur wajah. Cedera pada pada jaringan lunak dapat berupa abrasi, kontusio, laserasi dan luka bakar. Kasus trauma oromaksilofasial adalah kasus yang cukup banyak ditemukan di unit gawat darurat hampir sebagian besar rumah sakit. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa penyebab trauma oromaksilofasial paling banyak disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas dan korban tersebut ternyata lebih banyak dialami oleh laki-laki. Terapi yang dilakukan pada penderita pun bervariasi mulai dari hanya pemberian obatobatan, penjahitan luka, pencabutan gigi, alveolektomi, serta reposisi dan fiksasi. Kelainan-kelainan seperti disebut di atas, mengharuskan kita untuk

melakukan pemeriksaan yang lebih lengkap, konsultasi kepada bagian lain yang terkait karena trauma maksilofasial dapat menjadi kasus yang kompleks dan mungkin diperlukan keterlibatan multispesialis dalam manajemennya.

Kata kunci: Trauma oromaksilofasial, pemeriksaan trauma, penanganan trauma

1

BAB I PENDAHULUAN

Trauma oromaksilofasial berhubungan dengan cedera apapun pada wajah atau rahang yang disebabkan oleh kekuatan fisik, benda asing atau luka bakar. Trauma oromaksilofasial termasuk cedera pada salah satu struktur tulang ataupun kulit dan jaringan lunak pada wajah. Setiap bagian dari wajah mungkin dapat terpengaruh. Gigi dapat lepas atau goyang. Mata dengan otot-ototnya, saraf dan pembuluh darahnya mungkin mengalami cedera sehingga dapat menyebabkan gangguan penglihatan, diplopia, pergeseran posisi dari bola mata dan juga seperti halnya rongga mata yang dapat retak oleh pukulan yang kuat. Kerusakan jaringan lunak seperti edema, kontusio, abrasi, laserasi dan avulsi. Rahang bawah (mandibula) dapat mengalami dislokasi. Meskipun dilengkapi oleh otot-otot yang kuat untuk mengunyah, rahang termasuk tidak stabil bila dibandingkan dengan tulang-tulang lainnya sehingga dengan mudah mengalami dislokasi dari sendi temporomandibular yang menempel ke tengkorak.1 Kelainan-kelainan seperti disebut di atas, mengharuskan kita untuk melakukan pemeriksaan yang lebih lengkap, konsultasi kepada bagian lain yang terkait karena trauma maksilofasial dapat menjadi kasus yang kompleks dan mungkin diperlukan keterlibatan multispesialis dalam manajemennya. Trauma oromaksilofasial merupakan salah satu tantangan terbesar untuk pelayanan kesehatan masyarakat di seluruh dunia karena insidennya yang tinggi. Dari penelitian dilaporkan bahwa kecelakaan lalu lintas merupakan penyebab utama dari traumamaksilofacial. Selain itu penyebab lainnya yang tersering ialah kekerasan fisik, konsumsi alkohol yang dapat memicu terjadinya tindakan kekerasan dan kecelakaan, serta trauma oromaksilofasial akibat olahraga.

2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Defenisi Trauma oromaksilofasial adalah suatu ruda paksa yang mengenai wajah dan jaringan sekitarnya.2 Trauma pada jaringan oromaksilofasial dapat mencakup jaringan lunak dan jaringan keras. Yang dimaksud dengan jaringan lunak wajah adalah jaringan lunak yang menutupi jaringan keras wajah. Sedangkan yang dimaksud dengan jaringan keras wajah adalah tulang kepala yang terdiri dari : 1 1. Tulang hidung 2. Tulang arkus zigomatikus 3. Tulang mandibula 4. Tulang maksila 5. Tulang rongga mata 6. Gigi 7. Tulang alveolus 2.2 Etiologi 1,3,4,5,6 Penyebab trauma oromaksilofasial bervariasi, mencakup kecelakaan lalu lintas, kekerasan fisik, terjatuh, olah raga dan trauma akibat senjata api. Kecelakaan lalu lintas adalah penyebab utama trauma oromaksilofasial yang dapat membawa kematian dan kecacatan pada orang dewasa secara umum dibawah usia 50 tahun dan angka terbesar biasanya terjadi pada pria dengan batas usia 21-30 tahun.
a. Fisik

Kecelakaan lalu lintas merupakan penyebab utama fisik terjadinya trauma oromaksilofasial 1. Beberapa literatur mengungkapkan terdapat hubungan antara

3

posisi duduk pengemudi atau penggunaan sistem proteksi terhadap tingkat keparahan cedera oromaksilofasial pada pasien kecelakaan lalu lintas. Selain kecelakaan lalu lintas, etiologi fisik lainnya yang merupakan penyebab trauma oromaksilofasial yaitu jatuh ketika bermain, kecelakaan kerja atau industri, kecelakaan sewaktu berolahraga, gigitan binatang, perkelahian dan lain- lain. b. Kimia Trauma oromaksilofasial akibat bahan kimia biasanya mempunyai manifestasi klinis berupa luka bakar di sekitar mulut dan wajah. Zat kimia seperti kaporit, kalium perpangat, asam kromat, fenol dan fosfor putih dapat bersifat oksidatif, juga larutan basa seperti kalium hidroksida menyebabkan denaturasi protein. Asam sulfat merusak sel karena bersifat cepat menarik air. Gas yang dipakai dalam peperangan menimbulkan luka bakar dan menyebabkan anoksia sel bila berkontak dengan kulit atau mukosa. Trauma oromaksilofasial akibat bahan kimia dapat terjadi akibat kelengahan, pertengkaran, kecelakaan kerja, kecelakaan di industri, laboratorium dan juga akibat penggunaan gas beracun pada perang. c. Elektrik Kecelakaan yang disebabkan faktor elektrik terjadi karena arus listrik mengaliri tubuh, hal ini biasa terjadi pada kecelekaan kerja petugas listrik atau dapat juga akibat petir. Pada kecelakaan tersengat arus listrik didaerah kepala, penderita dapat pingsan lama dan mengalami henti nafas, dapat juga terjadi oedem otak. d. Termis Luka bakar yang terjadi pada wajah juga dikategorikan termasuk dalam trauma oromaksilofasial, yang dapat disebabkan oleh karena benda panas, gesekan, elektrik, radiasi, atau zat kimia. 1 Trauma oromaksilofasial akibat termis dapat terjadi akibat kelengahan seperti kebakaran rumah tangga akibat gas yang meledak dan lain lain. Bagi pasien dengan kecelakaan lalu lintas yang fatal menjadi masalah karena harus rawat inap di rumah sakit dengan cacat permanen yang dapat mengenai ribuan orang per tahunnya. Berdasarkan studi yang dilakukan, 72%

4

kematian oleh trauma oromaksilofasial paling banyak disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas (automobile).

5

Berikut ini tabel etiologi trauma oromaksilofasial. 7 Persentase (%) Dewasa Kecelakaan lalu lintas Penganiayaan Olah raga Jatuh Lain-lain 40-45 10-15 5-10 5 5-10

Anak-anak Kecelakaan lalu lintas Penganiayaan/berkelahi Olah raga(termasuk naik sepeda) Jatuh 10-15 5-10 50-65 5-10

2.3 Klasifikasi Trauma oromaksilofasial dapat diklasifikasikan menjadi dua bagian, yaitu trauma jaringan keras wajah dan trauma jaringan lunak wajah. Trauma jaringan lunak biasanya disebabkan trauma benda tajam, akibat pecahan kaca pada kecelakaan lalu lintas atau pisau dan golok pada perkelahian. 8,9 2.3.1 Trauma jaringan lunak wajah 7,8 Luka adalah kerusakan anatomi, diskontinuitas suatu jaringan oleh karena trauma dari luar. Trauma pada jaringan lunak wajah dapat diklasifikasikan berdasarkan: 1. Berdasarkan jenis luka dan penyebab    Ekskoriasi Luka sayat, luka robek , luka bacok. Luka bakar

6

Luka tembak

2. Berdasarkan ada atau tidaknya kehilangan jaringan 3. Dikaitkan dengan unit estetik

Menguntungkan atau tidak menguntungkan, dikaitkan dengan garis Langer. (Gambar 1)

Gambar 1. (A) Laserasi yang menyilang garis Langer tidak menguntungkan mengakibatkan penyembuhan yang secara kosmetik jelek. B. Insisi fasial ditempatkan sejajar dengan garis Langer 9

2.3.2 Trauma jaringan keras wajah 7,8,10,11 Klasifikasi trauma pada jaringan keras wajah di lihat dari fraktur tulang yang terjadi dan dalam hal ini tidak ada klasifikasi yg definitif. Secara umum dilihat dari terminologinya (pengistilahan) : I. Tipe fraktur 1. Fraktur simpel • • Merupakan fraktur sederhana, liniear yang tertutup misalnya pada kondilus, koronoideus, korpus dan mandibula yang tidak bergigi. Fraktur tidak mencapai bagian luar tulang atau rongga mulut. Termasuk greenstik fraktur yaitu keadaan retak tulang, terutama pada anak dan jarang terjadi.

2. Fraktur kompoun • Fraktur lebih luas dan terbuka atau berhubungan dengan jaringan lunak

7

Komplit. Hubungan antar Fragmen 1. kista yang besar dan penyakit tulang sistemis sehingga dapat menyebabkan fraktur spontan. bisa horizontal atau vertikal. seperti pada greenstik. Undisplacement. seperti Osteomyelitis. 2. dan kropresi ( lekuk ) III. Komunisi (remuk) IV. II. bisa terjadi berupa : • Angulasi / bersudut 8 . Oblique ( miring ) 3.• Biasanya pada fraktur korpus mandibula yang mendukung gigi. dan hampir selalu tipe fraktur kompoun meluas dari membran periodontal ke rongga mulut. Konfigurasi ( garis fraktur ) 1. disini fragmen fraktur terjadi perpindahan tempat 2. Tranversal. Fraktur patologis • keadaan tulang yang lemah oleh karena adanya penyakit penyakit tulang. • Bisa terbatas atau meluas. tumor ganas. 4. Tidak komplit. 2. 3. jadi sifatnya juga seperti fraktur kompoun dengan kerusakan tulang dan jaringan lunak. Displacement. bahkan beberapa luka yang parah dapat meluas dengan sobekan pada kulit. Perluasan tulang yang terlibat 1. Spiral (berputar) 4. fraktur mencakup seluruh tulang. Fraktur komunisi • Benturan langsung terhadap mandibula dengan objek yang tajam seperti peluru yang mengakibatkan tulang menjadi bagian bagian yang kecil atau remuk. hair line.

Khusus pada maksila fraktur dapat dibedakan : a.10 V.• • • • Distraksi Kontraksi Rotasi / berputar Impaksi / tertanam Pada mandibula. Ramus mandibula f. Koronoid D. Fraktur pada daerah mandibula A. Dento alveolar b. Corpus G. Simfisis H. Angulus F. Parasimfisis. Midline / simfisis menti h. Fraktur blow-out (fraktur tulang dasar orbita) b. Korpus mandibula g. Prosesus koronoideus d. Prosesus kondiloideus c. Le Fort II. Lateral ke midline dalam regio insisivus Gambar 2. Ramus E. Fraktur segmental maksila 9 . Fraktur Le Fort I. Kondilar C. Dento-alveolar B. dan Le Fort III c. Angulus mandibula e. berdasarkan lokasi anatomi fraktur dapat mengenai daerah : a.

II Le Fort II. I Le Fort I. II Le Fort II. III Le Fort III (pandangan sagital) 11 10 . III Le Fort III (pandangan anterior) (B).Gambar 3. I Le Fort I. (A).

8 Pendekatan awal terhadap pasien trauma oromaksilofasial akut sedikit berbeda dengan cedera yang lain. tanda. 11 . Perhatian harus segera diarahkan terhadap saluran pernapasan.tanda vital dan mekanisme cedera. dan kontrol perdarahan eksternal. Selama primary survey. Primary survey adalah penilaian terhadap keadaan penderita dan prioritas terapi berdasarkan jenis luka.1.BAB III PEMBAHASAN Gambar 4. keadaan yang mengancam nyawa harus dikenali dan resusitasinya dilakukan saat itu juga. Urutan kejadian trauma oromaksilofasial 9 3. adekuasi dari ventilasi. Pemeriksaan Primary Survey (ABCDE) 7.

Harus dilakukan segala usaha untuk menjaga jalan napas dan memasang airway definitif bila diperlukan. Menghilangkan tension pneumothoraks 4. Setiap komponen ini harus dievaluasi secara cepat. Menutup open pneumothoraks 12 . flail chest dengan contusio paru. Membersihkan airway dari benda asing 4. dan open pneumothorax. setelah memasang airway. Ventilasi dengan alat bag-valve-mask 3.Ventilasi yang baik meliputi fungsi yang baik dari paru. 6. Bila ada keraguan mengenai kemampuan menjaga airway.Urutan Penanganan Penderita dalam Primary survey 7. B = Breathing / Ventilation / Oxygenation Ini merupakan nilai keadaan oksigenasi dan ventilasi penderita. lebih baik memasang airway definitif (intubasi oro atau nasotracheal atau surgical crico-thyroidotomy). kita perlu dengan segera memperhatikan kelancaran jalan nafas. Resusitasi 1. Fiksasi leher dengan berbagai cara.8 A = Airway with C-Spine Protection Pada kasus trauma oromaksilofasial. apakah disana ada obstruksi atau tidak. dan ini hanya dapat dikenali dengan re-evaluasi berulang terhadap airway-ini. 2. Airway harus dijaga dengan baik pada semua penderita. Jaw trust atau chin-lift dapat dipakai 3. Usaha untuk membebaskan airway dilakukan dengan menjaga jalan nafas dan melindungi vertebra servikal.dinding dada dan diafragma. Resusitasi: 1. Memasang naso-pharingeal airway (pasien sadar) atau oro-pharingeal airway (pada pasien tidak sadar) 5. Luka yang mengakibatkan gangguan ventilasi berat adalah tension pneumothorax. Tidak kalah pentingnya adalah mengenali kemungkinan gangguan airway yang dapat terjadikemudian. Pemberian oksigen konsentrasi tinggi 2.

5. Memasang pulse oximeter 13 .

berikan cairan kristaloid yang dihangatkan atau pemberian darah. cross match dan analisis gas darah. kebutuhan untuk intervensi bedah. 2. Suatu keadaan hipotensi pada penderita trauma harus dianggap sebagai hipovolemia. D = Disability (Neurologic Status) Hal yang penting selanjutnya adalah penilaian terhadap keadaan neurologis secara cepat. ambil sampel darah untuk pemeriksaan darah rutin. Memasang NG tube dan kateter urin jika tidak ada kontra indikasi. Perdarahan eksternal dihentikan dengan tekanan langsung pada tempat perdarahan.v ukuran besar. golongan darah. yakni tingkat kesadaran. Parameternya adalah tingkat kesadaran. Penurunan kesadaran dapat disebabkan penurunan oksigenasi dan atau penurunan perfusi ke otak yang disebabkan trauma langsung pada otak. dan tingkat cedera spinal. 3. warna kulit dan nadi.C = Circulation & Stop Bleeding Tahap selanjutnya untuk dinilai adalah keadaan hemodinamik pasien. ukuran dan reaksi pupil tanda-tanda lateralisasi. ‡ luka. serta konsultasi bedah. Mengenal adanya perdarahan internal. tes kehamilan. Penurunan 14 . 4. analisis kimia. Cari sumber perdarahan. ‡ Tiga penemuan klinis yang dalam hitungan detik dapat memberikan informasi keadaan hemodinamik pasien. sehingga tourniquet hanya dipakai bila ada amputasi traumatik. Memasang 2 chateter i. Resusitasi : 1. baik perdarahan eksternal maupun perdarahan internal. Perdarahan eksternal dihentikan dengan penekanan (direct pressure) pada Tourniquet sebaiknya jangan dipakai karena merusak jaringan dan menyebabkan iskemia distal. sampai terbukti sebaliknya.

Tingkat kesadaran dinilai dengan GCS (Glasgow Coma Scale) scoring. seperti kita memanggil nama pasien. Gamabar 5 : Eye (respon membuka mata)8 Respon membuka mata ini merupakan respon awal ketika kita bertemu dengan pasien. respon verbal (V) bicara dan gerakan motorik. maka kita beri nilai E (1). ventilasi. Apabila pasien dapat membuka mata ketika kita beri rangsang nyeri. disentuh atau diberikan cubitan. GCS merupakan suatu skala yang digunakan untuk menilai tingkat kesadaran pasien dengan menilai respon pasien terhadap rangsangan yang diberikan. Untuk nilai dari respon ini kita nilai (4) atau respon spontan. Apakah ia akan spontan membuka mata tanpa harus dipanggil namanya. nilai respon E nya adalah nilai (3). tidak ada respon. Respon yang diharapkan ada pada pasien ialah bagaimana reflek membuka matanya. Penurunan kesadaran dapat disebabkan oleh alkohol dan obat-obatan. Ketika tidak ada respon sama sekali.kesadaran menuntut dilakukannya re-evaluasi terhadap keadaan oksigenasi. Namun pada kebanyakan pasien dengan trauma oromaksilofasial. 15 . dan perfusi jaringan. (misalkan dengan menekan kuku jari) maka nilai E pasien (2). Apabila mata terbuka dengan rangsang suara. Rangsangan yang diberikan berbagai hal dengan memperhatikan 3 reaksi yang terdiri dari reaksi membuka mata (Eye (E)). hipoksia atau hipovolemia adalah penyebab utamanya.

Apabila pasien bingung. maka kita nilai respon verbal dengan angka (5) . maka kita nilai respon verbal pasien (2). atau ketika kita datang kemudian kita memberikan tangan kita untuk berjabat 16 . seperti memintanya untuk mengangkat tangan. Ketika pasien dapat mengetahui dimana dia berada. Apabila pasien lebih banyak mengerang atau mengeluarkan suara tanpa arti. siapa dirinya. maka kita beri nilai verbal pasien (1). Motor (respon motorik) Respon motorik ini harus dibedakan dengan penilaian kekuatan otot. orientasi baik. Pemeriksaan ini hanya digunakan untuk mengetahui tingkat kesadaran pasien dengan memantau respon motorik pasien. maka penilaian selanjutnya ialah bagaimana kita menilai respon verbal pasien.Tabel 1 : Verbal (respon verbal)8 Setelah reflek membuka mata kita kaji. Ketika masih saja tidak ada respon. Untuk nilai (3) kita beri ketika pasien berbicara tidak patut seperti berbicara dengan kata-kata kasar dan makian. berbicara mengacau (sering bertanya berulang-ulang) disorientasi tempat dan waktu. kalimat yang diucapkan baik. Ketika pasien diperintahkan untuk melakukan apa yang kita inginkan. maka nilai respon verbal kita beri nilai (4) .

Kita bisa melihat adakah atau tidak respon pasien untuk melakukan hal tersebut (menjabat tangan kita). Tabel 2 : Motor (respon motorik)8 Gambar 6 : Respon motorik nilai 6 8 17 .tangan dengannya.

maka kita nilai respon motorik pasien (6) Gambar 7 : respon motorik nilai 5 8 Kita bisa memberikan sebuah stimulus berupa rangsangan nyeri di daerah N. Supraorbita dengan cara menggosokan kuku didaerah supraorbita groove dengan tekanan yang makin kuat sampai pasien memberikan respon. Gambar 8 :Respon motorik nilai 3 8 Apabila pasien tidak dapat melokalisasi nyeri dari stimulus. Pasien akan memperlihatkan flexi siku yang bisa juga diikuti oleh flexi pergelangan tangan. Namun jika pasien hanya dapat menghindar terhadap stimulus nyeri maka kita beri nilai M (4). 18 . Ketika pasien mampu untuk melokalisir nyeri dengan cara menjauhkan stimulus saat diberi rangsang nyeri. untuk kondisi ini kita berikan M (3). maka kita memberikan nilai (5). Maka kita bisa berikan stimulus nyeri di daerah kukunya dengan tekanan ujung pulpen atau lainnya.Apabila pasien mengikuti perintah yang kita berikan.

19 . dengan jari mengepal & kaki extensi saat diberi rangsang nyeri). pasien harus segera diselimuti untuk mencegah hipotermi. 3. Namun ketika pasien tidak ada respon apapun terhadap nyeri. Selanjutnya nilai-nilai dijumlahkan. Nilai GCS yang tertinggi adalah 15 yaitu E4M6V5 dan terendah adalah 3 yaitu E1M1V1. Setelah pakaian dilepas. Hasil pemeriksaan kesadaran berdasarkan GCS disajikan dalam simbol (EMV) 2. seperti darah yang keluar dari anus atau luka pada tubuh yang tertutup pakaian. Penilaian GCS 8 1. Menilai status kesadaran klien GCS 14–15 GCS 9–13 GCS 3–8 <3 = cidera kepala ringan = cidera kepala sedang = cidera kepala berat = koma E = Exposure/Environment/Body Temperature Buka pakaian pasien untuk melakukan pemeriksaan secara menyeluruh.Gambar 9 : Respon motorik nilai 2 8 Sedangkan untuk memberikan nilai M (2) didapatkan respon pasien berupa extensi abnormal (tangan satu atau keduanya extensi di sisi tubuh. Periksa hal-hal yang mungkin terlewat pada pemeriksaan sebelumnya. maka untuk kondisi seperti ini kita nilai M (1).

pada pasien yang mendapat cedera pada daerah kepala. apakah ia memakai helm atau tidak. pemeriksaan fisik ekstra oral seperti kepala dan oromaksilofasial juga pemeriksaan intra oral yang meliputi status lokalis gigi dan jaringan pendukung sekitarnya. 20 . biasanya sulit untuk diajak berkomunikasi. apakah korban bertindak sebagai pengemudi atau penumpang.3. pemeriksaan laboratorium juga dapat dikerjakan pada kesempatan ini. Pada situasi ini. dan peristiwa khusus. Apabila cedera disebabkan karena kecelakaan motor. termasuk mencatat skor GCS bila belum dilaksanakan dalam primary survey.2 Pemeriksaan Secondary Survey 7. diperlukan informasi yang memadai tentang riwayat trauma. apakah pasien telah mendapatkan pertolongan medis dan pemberian obat sebelumnya dan pertanyaan penting lainnya.8 Secondary survey adalah pemeriksaan kepala sampai kaki (head to toe examination). syok. 7 Keadaan tidak sadar (koma). resusitasi sudah dilakukan. apakah ada perdarahan dari hidung. riwayat trauma dapat diperoleh dari petugas unit gawat darurat. Namun. Prosedur khusus seperti pemeriksaan radiologis. mual dan muntah. apakah ada riwayat pingsan. 3. termasuk pemeriksaan tanda vital. Secondary survey baru dilaksanakan setelah primary survey selesai. perlu dicatat bagaimana kronologis kejadiannya. orang yang mendampingi yang pasien. tempat kejadian. Pada secondary survey ini. dan intoksikasi merupakan hambatan yang sering terjadi dalam menjalin komunikasi dengan pasien. Penting untuk dicatat mengenai tanggal. dilakukan pemeriksaan neurologis lengkap. Pemeriksaan pada secondary survey meliputi anamnesa.2. dan ABC pasien telah dipastikan membaik. amnesia. waktu. perawat. mulut dan telinga.1 Anamnesis Untuk menegakan diagnosis dan menentukan rencana perawatan. bagaimana jenis helmnya full face atau half face. atau siapapun yang melihat dengan jelas bagaimana trauma terjadi.

Meliputi jawaban dari pertanyaanpertanyaan berikut (9): 1. seorang pengendara sepeda motor sedang dalam pengaruh alkohol mengendarai motornya di cuaca hujan dan gelap gulita. dan data demografi lainnya. tanggal imunisasi tetanus terakhir. WHO? Jawabannya meliputi nama pasien. 2. Jika ditemukan kasus avulsi gigi di dalam golden period maka prognosis untuk reposisi semakin baik. 3. 4. WHERE? Pertanyaan ini penting untuk mengetahui kemungkinan adanya kontaminasi luka. Perlu dicatat juga ada tidaknya tanda-tanda kecanduan alkohol dan obat-obatan. umur. karena tingkat kesadaran 21 . riwayat penyakit yang pernah diderita. Motor dalam keadaan rusak parah. keluarga pasien dan orang yang menyertainya. WHEN? Kapan trauma itu terjadi? Pertanyaan ini merupakan salah satu pertanyaan penting untuk menentukan apakah suatu luka masih dalam golden period. ada tidaknya penyakit kelainan perdarahan. HOW? Sebagai contoh. Selain itu riwayat medis yang penting untuk diketahui adalah tentang riwayat alergi. Kemudian ia tergelincir di tikungan dan turunan curam dengan keadaan terguling sejauh 10 meter dengan kondisi wajah mengenai aspal. Sebagai contoh apabila pasien jatuh di daerah yang berpasir maka penting untuk dilakukan debridemen sempurna sampai tidak ada sama sekali pasir yang tertinggal di dalam luka. nomor telepon. Jawaban kronologis tentang bagaimana kejadian terjadi mengindikasikan keparahan cedera jaringan dan kemungkinan daerah-daerah mana saja dari tubuh yang terkena trauma.Riwayat trauma yang akurat sebaiknya diperoleh dari pasien. alamat.

sambungan daerah fronto-orbital. Pemeriksaan Kepala Pemeriksaan ini meliputi seluruh kerangka kraniomaksilofasial dan jaringan lunak disekitarnya. artikulasi zygomatik. 3. b. Untuk memeriksa adanya mobilitas maksila. Harus dilakukan palpasi secara hati-hati terhadap kranium. dan mandibula. Informasi mengenai waktu makan dan minum yang terakhir sangat penting apabila akan dilakukan anestesi umum.dipengaruhi oleh obat-obatan tersebut. kepala pasien harus distabilisasikan dengan cara menekan kening pasien cukup kuat dengan satu tangan. dan hilangnya penonjolan.2. Rangka kraniofasial terdiri dari pertautan dan penonjolan tulang. pergeseran. naso-orbital kompleks.3. discontinuitas.2 Pemeriksaan Fisik 2.6 I. maka pemeriksaannya harus meliputi ada atau tidaknya step atau jarak. Pasien harus dibersihkan dari semua darah dan benda asing secara hati-hati. Pemeriksaan Wajah Bagian Tengah Evaluasi wajah bagian tengah dimulai dengan memperkirakan adanya mobilitas dari maksila sebagai struktur maksila itu sendiri atau hubungannya dengan zygoma atau tulang nasal. 22 . Ekstra Oral a. Dengan ibu jari dan telunjuk tangan lainnya mencengkram maksila pada satu sisi. dan digerakkan dengan tekanan yang stabil sehingga dapat diperoleh kepastian ada atau tidaknya dapatkan mobilitas maksila.

karena hal ini menunjukkan adanya fraktur atau cedera pada saraf. Jaringan lunak yang menutupinya digeser dan sutura dipalpasi apakah terjadi kelainan atau tidak. Pemeriksaan yang akurat sulit dilakukan pada pasien yang mengalami cedera 23 . dari aspek posterior atau superior. Cincin infraorbital dipalpasi dari medial ke lateral untuk mengevaluasi sutura zygomatikomaksilaris. Pemeriksaan mata secara lengkap sebaiknya dilakukan terlebih dahulu. Bagian-bagian yang mengalami nyeri tekan. Gambar sebelah kanan menunjukkan pemeriksaan bahwa cara ini juga dapat digunakan untuk evaluasi mobilitas tulang nasal. Tulang nasal dan saluran nasofrontalis dipalpasi secara bersamaan kanan dan kiri (bidigital). karena trauma dapat mengakibatkan kehilangan penglihatan.Gambar 10 : Pemeriksaan mobilitas maksila. Vestibulum nasi juga diperiksa karena bisa terjadi pergeseran septum.9 Cara melakukan pemeriksaan manual atau digital adalah dengan palpasi dimulai dari superior ke inferior. Palpasi diteruskan ke arah lateral menyilang cincin supraorbital menuju sutura zygomatikofrontalis. Hampir 40% fraktur tengah wajah mengenai daerah mata. dan baal juga dicatat. Pemeriksaan dimulai dari aspek medial dari cincin supraorbital secara bilateral. Arcus zygomatikus dipalpasi bilateral dan diamati apakah terdapat tandatanda asimetri. dan adanya perdarahan atau cairan.

karena merupakan indikasi terjadinya fraktur basis tulang kranial. Pada 24 .5 . Saraf kranialis 3 . Pemeriksaan Mandibula Lokasi mandibula terhadap maksila dievaluasi apakah tetap digaris tengah. Pemeriksaan dapat dilakukan dengan menggunakan hitungan jari. 3 Tiga saraf utama trigeminal harus diperiksa untuk kemungkinan terjadinya anestesi atau parestesi. Mastoid harus diperiksa dari kemungkinan adanya ekimosis yang disertai dengan hemotimpanum dan otorrhea. dan apakah pupil bereaksi terhadap sinar dan berakomodasi. Kerusakan dan pergerakan tulang hidung harus dicatat. Pergerakan mandibula juga dievaluasi dengan jalan memerintahkan pasien melakukan gerakan-gerakan tertentu. dan apabila ada penyimpangan juga dicatat. Apabila meatus akustikus eksternus penuh dengan darah dan cairan. deteksi gerakan. atau penggunaan sinar.6 . Adanya fraktur septum hidung dan hematoma dapat menyebabkan obstruksi hidung. apakah bola mata bisa bergerak bebas.neurologis. jari telunjuk dapat dimasukkan dengan telapak mengarah ke bawah dan ke depan untuk melakukan palpasi endaural terhadap caput condilus pada saat istirahat dan bergerak. atau terjadi pergeseran ke lateral dan inferior. c. Hematoma aurikuler telinga harus segera didiagnosa dan dilakukan terapi.4 . Kisaran gerak dievaluasi pada semua arah dan jarak interinsisal dicatat. Hematoma septum hidung harus didiagnosa dan dievakuasi segera untuk menghindari terjadinya nekrosis tulang rawan septum hidung yang pada akhirnya dapat menyebabkan kerusakan bentuk hidung.. Adanya laserasi dari daerah telinga bagian luar merupakan tanda waspada terhadap kemungkinan cedera pada kondilus mandibula.7 dites untuk mengetahui apakah terjadi palsi. Dapatkah pasien mengangkat alis dan meretraksi sudut mulutnya.

simpel. yaitu kondilar. Sekali lagi nyeri tekan atau baal. Fraktur mandibula dapat diklasifikasikan berdasarkan lokasi anatomi. dan kompoun. ramus. Selain itu fraktur mandibula juga dapat diklasifikasikan berdasarkan tipe frakturnya. angle. 25 . dan kelainan kontinuitas harus dicatat. simphisis.fraktur subcondilus tertentu. dan daerah prossessus koronoid. Tepi inferior dan posterior mandibula dipalpasi mulai dari prosesus kondilaris sampai ke simphisis mandibula. alveolar. body. kominuted. yaitu fraktur greenstick. bisa dijumpai adanya nyeri tekan atau caput mandibula tidak terdeteksi.

Intra Oral 3.2 Gambar 12 : Klasifikasi fraktur mandibula berdasarkan tipe frakturnya: Greenstick (A). Gigi tiruan yang lepas juga dapat menyebabkan tersumbatnya jalan pernapasan. Kompoun (D).Gambar 11. 2 II. Adanya gigi yang terhisap dan tertelan dapat dilihat dengan melakukan radiografi pada dada dan perut.7 Pemeriksaan ini meliputi evaluasi oklusi dan penghitungan gigi yang hilang. Gigitan terbuka lateral (open bite lateral) juga 26 . Komminuted (C). Simple (B). Adanya step dan pergeseran oklusi merupakan indikasi terjadinya fraktur dentoalveolar ataupun fraktur rahang. Distribusi anatomik dari fraktur mandibula.

Meskipun demikian. 3. dan differential sel. membuang jaringan nekrotik dan benda asing. analisa gas darah. Hemostasis Menghilangkan tegangan pada penutupan luka: undermining.3 Pemeriksaan Radiografis Untuk diagnosis penderita yang mengalami trauma dentoalveolar hanya diperlukan radiograf oklusal dan periapikal saja. ureum. Sedangkan gigitan terbuka anterior ( open bite anterior) mengindikasikan adanya fraktur Le Fort (I. Leukosit.2.dapat mengindikasikan adanya fraktur mandibula atau gangguan TMJ.4 Pemeriksaan Laboratorium Pemeriksaan lab yang sering dilakukan pada kasus trauma oromaksilofasial yaitu Hb. kemudian dapat dilakukan rontgen foto waters view dan jika memungkinkan dan pasien mampu dapat dilakukan CT-Scan 3 dimensi. Debridement : membersihkan luka. dan sebagian besar fraktur prosessus alveolaris paling baik dirontgen dengan cara ini. trombosit. kreatinin.3 1. BT CT. GDS. tidak dibenarkan untuk melakukan pembuatan radiografis untuk mengetahui adanya fraktur bila bukti klinis kurang mendukung. Penatalaksanaan Fraktur Oromaksilofasial 2. ataupun III). II. Penanganan Luka Jaringan Lunak Imobilisasi dan evaluasi bagian yang terluka untuk mengurangi rasa nyeri dan edema. PT APTT. albumin serum. Sedangkan untuk diagnosis penderita yang mengalami trauma maksilofasial harus dilakukan foto panoramik dan schedel AP-Lat segera. elektrolit.2. jahitan subkutis Antibiotika 27 . 3. Detail dari cedera gigi (luksasi dan avulsi). Perawatan umum terhadap komplikasi yang menyertai 2.

Fiksasi dan Imobilisasi fraktur Reduksi: Mengembalikan fragmen pada posisi anatomisnya Terdiri dari open dan closed reduction Fiksasi: Mempertahankan fragmen yang telah direposisi tetap pada tempatnya untuk menghasilkan penyembuhan. Imobilisasi : Mempertahankan fiksasi. Pemeriksaan klinis yang teliti dan interpretasi foto rontgen yang tepat 4. Melakukan Reduksi. meniadakan rasa sakit. Mencegah dan merawat infeksi 6. 28 .3. Menentukan tipe dan macam fraktur 5. krepitasi dan funtio laesa. Memberikan imobilisasi sementara 7. Memilih cara pemberian anastesi yang tepat 8.

status kegawatdaruratan serta skala prioritas penanganan cedera oromaksilofasial mutlak dibutuhkan dalam penanganan kegawatdaruratan trauma oromaksilofasial. Perhatian harus segera diarahkan terhadap saluran pernapasan. Pemeriksaan radiografis dan pemeriksaan laboraturium dilakukan untuk membantu klinisi menegakkan diagnosa dan rencana perawatan yang tepat pada penderita trauma oromaksilofasial. 29 . dan kontrol perdarahan eksternal. pemeriksaan klinis ekstra oral dan intra oral. pendarahan. adekuasi dari ventilasi.BAB IV KESIMPULAN Pendekatan awal terhadap pasien trauma oromaksilofasial akut sedikit berbeda dengan cedera yang lain. Pengetahuan tentang jenis trauma. Rangkaian pemeriksaan primary survey dan secondary survey berupa anamnesis yang lengkap. anatomi oromaksilofasial. Pemeriksaan fisik baru bisa dilakukan apabila keadaan umum pasien stabil. serta jalan nafas telah di tangani. Pemeriksaan dilakukan secara akurat dan menyeluruh pada pasien ini.

EGC. Penerjemah: Purwanto dan Basoeseno. EGC. Sasaki T. St Louis: Mosby. Jong WD. Buku Ajar Ilmu Bedah. 1999. Buku Ajar Praktis Bedah Mulut. London 30 . Ke-2. 2005.4 th ed.wikipedia.ac. Munksgaard 7. Ed. http://www. 3rd ed. Oral and Maxillofacial Surgery Volume II.org/wiki/Glasgow_Coma_Scale 10. 1996. Carlson ER. A Retrospective Análisis of Oral and Maxillofacial Injuries in Motor Vehicle Accidents. Fraktur mandibula ( Killeys Fractures of the mandible ).1997. The anatomy of injury and its surgical implication. RJ. Andreasen JO. Contemporary Oral and Maxillofacial Surgery. R. 1990. Jakarta.digilib. 1991. St Louis: Elsevier Saunders 3. Pedersen GW. Jakarta 11.id/file?file=pdf/abstrak-81816. London PS. penatalaksanaannya di Rumah Sakit Umum Tangerang dalam kurun waktu 1 Oktober 1992 -30 September 1993. Jakarta 2. 9. Oral and Maxillofacial Trauma.et al. http://en. Butterworth-Heinemana Ltd. Yokoyoma T. J Oral Maxillofac Surg 64:1731-1735 5. Braun TW. Motozawa Y. Penerjemah. 2006. Marciani RD. Louis 4. Frekuensi-distribusi trauma oromaksilofasial dan Essential of Traumatic Injuries to the Teeth.DAFTAR PUSTAKA 1. 2003. 6. St.pdf 8. Saunders Elsevier. Fonseca.Sjamsuhidayat. Juliani KI. Hipokrates. Alih bahasa Lilian Yuwono.ui. Peterson Lj. Banks P. 2009. Hitosugi M.

Kata kunci: penyembuhan jaringan lunak. infeksi 31 . dan komplikasi. Komplikasi dapat terjadi apabila tidak dilakukan terapi dengan adekuat. sengatan listrik. atau gigitan hewan. faktor-faktor yang berpengaruh. zat kimia. keadaan ini dapat disebabkan oleh trauma benda tajam atau tumpul.1 Penyembuhan luka dan jaringan saraf merupakan hal yang penting untuk mengetahui tahapan luka. perubahan suhu. ledakan.Penyembuhan Luka Jaringan Lunak Dan Saraf Dian Maifara Putri 160121120007 Peserta Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut Dan Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Abstrak : Luka adalah hilang atau rusaknya integritas jaringan tubuh.

BAB I PENDAHULUAN Luka adalah hilang atau rusaknya suatu kesatuan atau komponen integritas jaringan tubuh. tubuh akan berusaha melakukan penyembuhan luka. zat kimia. baik luka itu bersih maupun luka yang kotor dan terinfeksi. atau gigitan hewan. proliferasi. infeksi luka. sengatan listrik. pembentukan jaringan parut. Maka pada setiap perlukaan. dan remodeling atau penyudahan yang merupakan pembentukan kembali dari jaringan.1.1.1 Proses yang kemudian terjadi pada jaringan yang rusak ialah penyembuhan luka yang dapat dibagi dalam tiga fase yaitu fase inflamasi.2 Penyembuhan luka adalah proses kinetik dan metabolik yang kompleks yang mengikutsertakan berbagai sel dan jaringan dalam usaha menutup tubuh dari lingkungan luar dengan cara mengembalikan integritas jaringan. nekrose atau gangren dari jaringan. dan warna yang berbeda dari jaringan sekitarnya. Komplikasi yang sering ditimbulkan pada tahap penyembuhan luka dapat meliputi pembentukan kista implantasi. keadaan ini dapat disebabkan oleh trauma benda tajam atau tumpul. perubahan suhu.2 32 . ledakan. pembentukan keloid yaitu berupa tonjolan jaringan parut.

Luka Memar 9 a. Luka Tertutup Gambar 1.5. sehingga yang terlihat adalah bengkak. biasanya terjadi di daerah permukaan tubuh.8 1. Luka terbuka yang disertai kehilangan jaringan maupun yang tidak disertai kehilangan jaringan a. Vulnus Abrasivum (luka lecet). 33 .3. Luka memar ( contusio ) Terjadi akibat benturan dengan benda tumpul. darah keluar dari pembuluh dan terkumpul di bawah kulit sehingga bisa terlihat dari luar berupa warna merah kebiruan b. biasanya besar dan kemerahan. Hematoma (darah yang terkumpul di jaringan) Prinsipnya sama dengan luka memar tetapi pembuluh darah yang rusak berada jauh di bawah permukaan kulit dan biasanya besar. terjadi karena gesekan antara suatu benda dengan permukaan jaringan lunak.4.7.BAB II TINJAUAN PUSTAKA JENIS-JENIS LUKA Luka terdiri dari: 2. 2.

Kedalaman Luka Lecet 10 b. Gambar 4. Vulnus Scissum ( luka sayat ). pinggir luka tajam dan rata serta mempunyai dasar yang sempit.Gambar 2. terjadi karena tersayat pisau atau benda tajam lainnya. Luka Sayat 11 34 . Vulnus Abrasivum 9 Gambar 3.

c. Gambar 6. Vulnus laceratum ( luka compang camping ). Luka Tembus 11 d. Vulnus Penetratum ( luka tembus ). adalah luka yang disebabkan oleh benda tumpul yang bentuknya tidak teratur. 35 . Luka Laserasi 11 e. luka yang terjadi karena tusukan bendabenda yang runcing. Vulnus Punctum ( luka tusuk ). adalah luka yang terjadi sampai menembus organ tubuh lain yang lebih dalam. Gambar 5.

Gambar 7. Luka laserasi. Penampang Luka Tusuk 12 Gambar 9. Luka Tusuk 11 Gambar 8. Luka Tusuk 12 f. luka yang disebabkan oleh tembakan senjata api 36 . B. A. Vulnus Sclopectorum ( luka tembak).

mengeluarkan benda asing yang dapat bertindak sebagai fokus infeksi.2. Gambar 11. Avulsi. dan tulang juga bisa terkena. Luka Tembak 13 g. walaupun mukosa. meningkatkan pembentukan jaringan granulasi dan epitelialisasi. Luka Gigitan Binatang 11 h. Avulsi biasanya menyertai luka-luka multipel pada wajah dan biasanya pada korban kecelakaan sepeda motor atau luka karena peralatan industri/pertanian. Vulnus Mossum ( luka karena gigitan binatang). 1. melepaskan jaringan yang mengalami devitalisasi. otot. kelembaban. Luka ini ditandai dengan kulit yang terlepas/ hilang sama sekali. dan pH yang optimal untuk sel-sel yang berperan dalam proses penyembuhan. dan melindungi luka dari trauma yang lebih lanjut serta terhadap 37 .Gambar 10. krusta yang tebal dan pus.3 PENATALAKSANAAN LUKA Prioritas dalam penatalaksanaan luka adalah mengatasi perdarahan (hemostasis). menyediakan temperatur. yaitu hilangnya substansi jaringan lunak yang biasanya mengenai kulit.

Pembersihan luka dapat dilakukan dengan bahan pembersih luka. Bila penjahitan dianggap perlu. hemostasis harus tercapai. Biasanya dilakukan tindakan anestesi sebelumnya untuk mengurangi rasa sakit. luka ditutup dengan dijahit. tujuannya adalah untuk melindungi individu dari kerusakan fisiologis lebih lanjut. maka akan terjadi hematoma di dalam jaringan yang dapat membuka kembali luka yang telah ditutup. 6 Setelah luka dibersihkan. Namun tidak semua luka membutuhkan penjahitan.5% 38 . Setelah penutupan luka. Lalu dengan menggunakan larutan saline dilakukan irigasi untuk menghilangkan semua partikel yang tertinggal pada luka. klinisi harus mempertimbangkan pemberian terapi suportif untuk mempercepat penyembuhan seperti pemberian antibiotik dan anti tetanus. tujuan penjahitan adalah mengembalikan jaringan ke posisi semula. dilakukan debridement dan hemostasis tercapai. Kecuali untuk luka superficial antibiotik tidak diindikasikan. Bila tidak. tergantung kedalaman dan posisi luka tersebut. luka kecil dapat dibiarkan dan dapat sembuh tanpa penjahitan. Pembuluh darah dapat diklem. sedangkan luka pada lidah atau bibir yang melibatkan otot harus dijahit lapisan otot terlebih dahulu dengan benang jahit yang dapat teresorbsi. dan luka yang lebih dalam membutuhkan penjahitan 3 lapis. Sebelum luka ditutup. Luka pada gingiva atau mukosa alveolar dapat ditutup dengan penjahitan 1 lapis.masuknya mikroorganisme patogen. diligatur atau dikauterisasi untuk mengurangi perdarahan yang terjadi akibat luka yang terbuka.6 Luka harus dibersihkan dari kotoran atau debris. untuk menyingkirkan penyebab aktual atau potensial yang memperlambat penyembuhan dan untuk menciptakan lingkungan lokal yang optimal untuk rekonstruksi dan epitelialisasi vaskular dan jaringan ikat. sabun atau bila perlu dengan disikat. Debridement dilakukan untuk menghilangkan jaringan yang mengalami devitalisasi agar didapat penutupan luka yang baik. 6 Protokol 1: Wound toilet dan debridement Gunakan satu dari 2 antiseptik di bawah ini untuk luka: Larutan Povidone iodine 10% dua kali sehari Cetrimide 15% + chlorhexidine gluconate 1.

Ganti kasa minimal sekali sehari. tanda klinis sepsis. 2. terdapat jaringan mati dalam jumlah signifikan. trauma abdominal. Untuk pasien terkontaminasi tetanus. jaringan mati dan rusak secara mekanis. tempat yang berisiko tinggi seperti pada ekstremitas. Antibiotik profilaksis yang direkomendasikan adalah penisilin G dan metronidazole dalam satu kali pemberian. maka harus diberikan dengan syringe yang berbeda dan lokasi pemberian yang berbeda pula. 39 . kontaminasi bakteri tetanus. dan anakanak 200. Jika pemberian vaksin tetanus dan immunoglobin tetanus dalam satu waktu. Protokol 2: Manajemen luka dengan tetanus 1. Debridement: membersihkan luka dari benda asing. Dosis dewasa 8-12 juta IU. Tutup luka dengan kasa steril dan kering. kemudian luka diirigasi dengan larutan salin 2. 3. luka dengan banyak jaringan nekrotik. dan luka bakar. Kemudian irigasi luka kembali.000 IU/kg BB dalam sekali pemberian. vulnus penetratum. Bersihkan luka dengan sabun dan air matang selama 10 menit. Luka biasanya terinfeksi tetanus jika telah lebih dari 6 jam sebelum pembersihan luka dan memperlihatkan tanda-tanda: tipe luka punctum.1. Protokol 3: Antibiotik profilaksis dan antibiotik perawatan Antibiotik profilaksis Antibiotik profilaksis diindikasikan untuk luka yang mempunyai risiko tinggi untuk terinfeksi seperti luka yang terkontaminasi. vulnus laseratum dengan ukuran lebih dari 5 cm. WHO merekomendasikan injeksi TT (Tetanus Toksoid) atau Td (vaksin tetanus dan diphteri) dan TIG (Immunoglobin tetanus) 3. Jika analgetik lokal dibutuhkan gunakan lidokain 1% tanpa epinefrin.

Dilakukan dengan menggunakan sikat halus steril/ kapas steril dengan larutan garam fisiologis. Debridement terbagi atas 4 metode 14: a. dan jaringan nekrotik yang terdapat pada luka. Surgery: merupakan cara tercepat jika jaringan nekrotik luas b. Pembuangan dilakukan seminimal mungkin. berikan antibiotik secara intravena. dan berikan secara peroral 2 hari kemudian jika memungkinkan. Persiapan wound toilet 15: Jangan memakai sabun atau alkohol Gunakan salin steril Irigasi dengan tujuan menghilangkan benda asing 40 .Antibiotik perawatan Jika infeksi telah terjadi. diberikan Penisilin G dan metronidazole untuk 5-7 hari. hanya jaringan non vital yang dieksisi. Pembersihan luka (debridement) Adalah tindakan membersihkan daerah luka dari benda-benda asing yang mengkontaminasi luka. Enzimatic: enzim yang dapat mendegradasi jaringan nekrotik c. Penisilin untuk dosis anak-anak 100 mg/kg BB setiap hari dibagi dalam beberapa dosis. 6 Langkah-langkah pengelolaan luka jaringan lunak terdiri atas: I.5 mg/kg setiap 8 jam secara intravena. Metronidazole dewasa 500 mg setiap 8 jam dan anak-anak 7. Mekanikal: dengan cara membilas/irigasi luka Pembersihan luka dilakukan dengan cara: mencuci daerah luka untuk membersihkan debris atau benda asing yang tertinggal. Penisilin untuk dosis dewasa 1-5 MIU setiap 6 jam. Autolisis: proses yang normal terjadi pada luka dan tidak melukai jaringan sehat di sekeliling luka d. Pengelolaan vulnus secara umum 7: 1. Dilanjutkan dengan membuang sisa jaringan nekrotik sehingga didapat pinggiran jaringan yang linear.

air panas. dan radiasi. listrik. Definisi Luka bakar adalah luka yang disebabkan oleh kontak dengan suhu tinggi seperti api. Tindakan ini dilakukan beberapa hari hingga sembuh. maka dapat diberikan terapi suportif: pencegahan luka dari infeksi 1. Setelah semua tindakan di atas dilakukan. Kompres dingin untuk mengurangi sakit dan perdarahan 2 Beri analgetik dan antiinflamasi 3. Jenis luka dapat beraneka ragam dan memiliki penanganan yang berbeda tergantung jenis jaringan yang 41 . Instruksikan pada pasien keesokan harinya jika masih lebam dapat dikompres hangat sehingga terjadi vasodilatasi pembuluh darah menyebabkan vaskularisasi aktif agar PMN bergerak untuk memfagositosis sisa-sisa debris fibril atau leukosit dan trombosit yang mati. bahan kimia. Pengelolaan hematoma dan kontusio 1.- Gunakan 50-100ml/cm salin dengan tekanan Gambar 12: Enzymatic wound debridement 14 II. Non spesifik dengan pemberian antibiotika LUKA BAKAR I. Spesifik dengan anti tetanus 2.

tingkat keparahan. dan komplikasi yang terjadi akibat luka tersebut. 14 II.terkena luka bakar. luas dan daerah luka. Walaupun demikian beratnya luka bergantung pada dalam. Luka bakar dapat merusak jaringan otot. Beratnya Luka Bakar Luka bakar biasanya dinyatakan dengan derajat yang ditentukan oleh kedalaman luka bakar. Umur dan keadaan kesehatan penderita sebelumnya akan sangat mempengaruhi prognosis. Seorang korban luka bakar dapat mengalami berbagai macam komplikasi yang fatal termasuk diantaranya kondisi shock. Luka bakar derajat 1 hanya mengenai epidermis serta belum terbentuk lepuhan dan biasanya sembuh dalam 5-7 hari. Dalamnya luka bakar 15 1. 42 . Derajat Luka Bakar Gambar 13.14 III.tulang. luka bakar dapat juga menyebabkan distress emosional (trauma) dan psikologis yang berat dikarenakan cacat akibat luka bakar dan bekas luka (scar). misalnya tersengat matahari. infeksi. Luka tampak sebagai eritema dengan keluhan rasa nyeri atau hipersensitivitas setempat. Selain komplikasi yang berbentuk fisik. pembuluh darah dan jaringan epidermal yang mengakibatkan kerusakan yang berada di tempat yang lebih dalam dari akhir sistem persarafan. ketidak seimbangan elektrolit ( inbalance elektrolit) dan masalah distress pernapasan.

atau bula berisi cairan eksudat yang keluar dari pembuluh karena permeabilitas dindingnya meninggi. Luka bakar derajat 3 meliputi seluruh kedalaman kulit dan mungkin subkutis. pinggang dan bokong. ekstremitas atas kanan dan kiri masing-masing 9 %. dan pangkal rambut. punggung. Rumus ini membantu untuk menaksir luasnya permukaan tubuh yang terbakar bagi orang dewasa. Pada orang dewasa digunakan rumus 9. ekstremitas bawah kanan dan kiri masing-masing 14 %. yaitu luas kepala dan leher. sisanya 1% adalah daerah genitalia. paha kanan. paha kiri.14 43 . atau organ yang lebih dalam. perut. Elemen epitel tersebut misalnya sel epitel basal. Pada anak dan bayi digunakan rumus lain karena luas relative permukaan kepala anak jauh lebih besar dan luas relative permukaan kaki lebih kecil. kelenjar keringat. karena itu untuk mendapatkan kesembuhan harus dilakukan cangkok kulit. Luas Luka Bakar Luas luka bakar dinyatakan dalam persen (%) terhadap luas seluruh tubuh. Dengan adanya sisa sel epitel ini. serta tungkai dan kaki kiri masing-masing 9%. kepala dan leher 18%. badan depan dan belakang masin-masing 18 %. Kulit tampak pucat abu-abu gelap atau hitam.Karena perbandingan luas permukaan bagian tubuh anak kecil berbeda. luka dapat sembuh sendiri dalam 2 sampai 3 minggu.14 IV. Gejala yang timbul adalah nyeri. ekstremitas atas kanan. Untuk anak.2. dada. 3. ekstremitas atas kiri. Luka bakar derajat 2 mencapai kedalaman dermis tetapi masih ada elemen epitel sehat yang tersisa. gelembung. kelenjar sebasea. dengan permukaan lebih rendah dari jaringan sekeliling masih sehat. tungkai dan kaki kanan. Tidak ada lagi elemen epitel hidup yang tersisa yang memungkinkan penyembuhan dari dasar luka.

b. Derajat 2 dengan luas 15 . kaki dan tangan. b. Derajat 3 dengan kurang dari 2 %. Luasnya luka bakar 16 V. Derajat 2 dengan luas kurang dari 15 %. Berat/Kritis bila : a. Luka bakar akibat listrik.2 44 . atau terdapat di muka. 2.Gambar 14. Derajat 3 dengan luas lebih dari 10 %. Sedang bila : a. Luka bakar disertai trauma jalan napas atau jaringan lunak luas. Derajat 2 dengan luas lebih dari 25 %. d. Derajat 3 dengan luas kuarang 10 %.25 %. Klasifikasi Luka Bakar Menurut Keparahannya 1. atau terdapat fraktur. b. kecuali terdapat di muka. kaki dan tangan. Ringan bila : a. c. 3.

Analgesik diberikan bila penderita kesakitan. Kalau perlu penderita dimandikan dahulu. prinsip penanganan utama adalah mendinginkan daerah yang terbakar dengan air. Bila penderita menunjukkan gejala terbakarnya jalan napas. pencegahan infeksi. mencegah infeksi dan memberi kesempatan sisa-sisa sel epitel untuk berproliferasi dan menutup permukaan luka. mengurangi rasa sakit. Pada luka bakar berat.VI. Korban dapat mengusahakanya dengan cepat menjatuhkan diri dan berguling dan mencegah meluasnya bagian pakaian yang terbakar. kalau perlu dilakukan resusitasi segera bila penderita menunjukkan gejala syok. 17 45 . pencegahan trauma mekanik pada kulit yang vital dan elemen didalamnya. Perawatan lokal adalah mengoleskan luka dengan antiseptik. Kontak dengan bahan yang panas juga harus cepat diakhiri misalnya dengan mencelupkan bagian yang terbakar atau menceburkan diri ke air dingin. mengurangi ruang mati dan memudahkan pembersihan jalan napas dari lender atau kotoran. Pertolongan pertama setelah sumber panas dipadamkan. Penatalaksanaan Luka Bakar Prinsip penanganan luka bakar adalah penutupan lesi sesegera mungkin. Selanjutnya diberikan pencegahan tetanus berupa ATS dan/atau toksoid. Kalau terjadi oedem laring dipasang pipa endotrakea atau dibuat trakeostomi.2 Upaya pertama saat terbakar adalah mematikan api misalnya dengan menyelimuti dan menutup bagian yang terbakar untuk menghentikan pasokan oksigen bagi api yang menyala. terdiri dari merendam daerah luka bakar dalam air atau menyiraminya dengan air mengalir selama sekurang-kurangnya 15 menit. Trakeostomi berfungsi untuk membebaskan jalan napas. Bila ada dugaan keracunan CO2. selain penanganan umum seperti pada luka bakar ringan. dan pembatasan pembentukan jaringan parut. diberikan O2 murni. atau melepaskan baju yang tersiram air panas. diberikan campuran udara lembab dan oksigen. Pada luka bakar ringan.

Pemberian cairan dilakukan sebagai berikut : ½ dari volume terhitung diberikan 8 jam pertama setelah trauma. Sebagai patokan mengetahui sirkulasi yang akurat ialah bila penderita diberi infus cairan dalam jumlah yang menghasilkan urine 1cc/Kg BB/ jam (untuk anak dengan BB ≤ 30 Kg) dan 30 – 50 cc / kg BB / jam (dewasa). sebab alkali lebih dalam merusak jaringan. tanda-tanda vital dan keadaan umum. Lakukan tindakan ini dalam waktu 20 – 30 menit. Untuk luka bakar alkali. Pemberian cairan disesuaikan dengan respon individual penderita. diperlukan 46 . konsentrasi bahan kimia dan jumlahnya. ½ dari sisanya diberikan 16 jam berikutnya. alkali dan hasil-hasil pengolahan minyak. Perlu diketahui bahwa rumus penghitungan cairan tersebut merupakan perkiraan volume cairan yang diperlukan. perlu dihitung dengan cermat dan perlu ditambahkan cairan glukosa untuk maintenance. Volume Sirkulasi Penilaian volume sirkulasi sering sulit pada penderita luka bakar berat. Oleh karena itu penderita luka bakar berat harus dipasang kateter. Untuk mempertahankan produksi urine 1 cc/ Kg BB/jam pada anak-anak dan BB ≤ 30 Kg. Tekanan darah sukar diukur dan hasilnya tidak dapat dipercaya. misalnya dinilai produksi urinenya. Segeralah bersihkan bahan kimia tersebut dari luka bakar. bila mungkin gunakan penyemprot air. Luka bakar alkali lebih berbahaya dari asam. Luka Bakar Khusus 1.VII. Untuk mengetahui status sirkulasi dilakukan pengukuran produksi urine/jam dengan catatan tidak ada osmotic dieresis.17 VIII. Pada 24 jam pertama penderita luka bakar berat derajat II dan III memerlukan 2 – 4 cc cairan RL/ Kg BB/ % Luas luka bakar untuk mempertahankan volume sirkulasi dan fungsi ginjal yang adequat. Luka Bakar Karena Bahan Kimia/Kimiawi Luka bakar dapat disebakan oleh asam. Segera lakukan irigasi dengan air sebanyak-banyaknya. Kerusakan jaringan akibat luka bakar bahan kimia dipengaruhi oleh lamanya kontak.

sedangkan kulit di atasnya relatif tampak normal. 17 2.5 gr manitol pada tiap penambahan 1 liter cairan untuk mempertahankan diuresis sejumlah tersebut di atas.17 47 . dan panas yang ditimbulkannya. berikan segera 25 gr manitol dan tambahkan manitol 12. pertahankan perfusi sebaik mungkin dan berikan Natrium Bikarbonat untuk membuat urine menjadi alkalis dan meningkatkan kelarutan mioglobin dalam urine. Pemberian cairan harus ditingkatkan sedemikian rupa sehingga tercapai produksi urine sekurang- kurangnya 100 cc/jam (pada dewasa). Penanganan harus segera dilakukan pada penderita dengan luka bakar listrik meliputi perhatian terhadap jalan nafas. Luka Bakar Listrik Luka bakar listrik terjadi karena tubuh terkena aliran listrik. janganlah menunggu konfirmasi laboratorium untuk melakukan terapi terhadap mioglobunuria. Perbedaan kecepatan hilangnya panas dari tubuh superfasial dengan jaringan tubuh yang lebih dalam. Jangan memberikan bahan-bahan penetral (neutralizing agent) sebab reaksi kimia yang terjadi akibat pemberian bahan penetral dapat menimbulkan panas dan akan memperberat kerusakan yang terjadi. Tubuh merupakan penghantar tenaga listrik. Luka bakar listrik sering menyebabkan kerusakan jaringan yang lebih berat dari pada luka bakar yang terlihat pada permukaannya. menyebabkan luka bakar pada tubuh. Untuk luka bakar pada mata. Bila bahan kimia merupakan bubuk. Bila terjadi asidosis metabolic. ECG dan pemasangan kateter. Apabila urine berwarna gelap mungkin urine mengandung hemokhromogens. menghasilkan keadaan dimana jaringan yang lebih dalam akan bisa mengalami nekrosis. Bila urine belum tampak jernih. pemasangan infus. pernafasan. memerlukan irigasi terus menerus selama 8 jam pertama setelah luka bakar. Untuk irigasi ini dapat digunakan kanula kecil yang dipasang pada sulkus palpebra. sikatlah terlebih dahulu sebelum irigasi.waktu yang lebih lama.

Sementara terjadi reaksi inflamasi. disertai vasodilatasi setempat yang menyebabkan oedem dan pembengkakan.BAB III PEMBAHASAN MEKANISME PENYEMBUHAN LUKA Proses biokimia dan seluler kemudian terjadi dalam penyembuhan semua cedera jaringan lunak yang rusak ini. Pembuluh darah yang terputus pada luka akan menyebabkan perdarahan dan tubuh akan berusaha menghentikannya dengan vasokonstriksi. proliferasi.2. Hemostasis terjadi karena trombosit yang keluar dari pembuluh darah saling melengket.Fase Penyembuhan Luka 17 FASE INFLAMASI Fase inflamasi berlangsung sejak terjadinya luka sampai kira-kira hari kelima. 48 . dan remodelling jaringan. sel mast dalam jaringan ikat menghasilkan serotonin dan histamin yang meningkatkan permeabilitas kapiler sehingga terjadi eksudasi cairan. pengerutan ujung pembuluh yang putus (retraksi). pengeluaran sel-sel radang. dan bersama dengan fibrin yang terbentuk membekukan darah yang keluar dari pembuluh darah.4 Tabel 1.1. dan reaksi hemostasis. Proses fisiologis penyembuhan luka dapat dibagi dalam tiga fase yaitu : fase inflamasi.

menghasilkan antibodi yang membantu mengingatkan sistem pertahanan tubuh untuk mengidentifikasi benda asing dan berinteraksi dengan faktor tambahan untuk melarutkan sel-sel asing.5 Gambar 15.2. Sedangkan limfosit T terdiri dari kelompok yaitu T helper untuk merangsang sel B berdeferensiasi dan berproliferasi.Selain itu akan terjadi aktivitas seluler yang merupakan gerakan leukosit menembus dinding pembuluh darah menuju luka karena daya kemotaksis. Terdapat juga limfosit yang terdiri dari 2 kelompok yaitu limfosit B dan limfosit T. Limfosit. Pada waktu kontak dengan benda asing netropil melepaskan lisosom yang dikandungnya (degranulasi). Leukosit mengeluarkan enzim hidrolitik yang membantu mencerna bakteri dan kotoran luka. pendapat lain mengatakan bahwa fase seluler ini disebabkan oleh aktivasi dari serum pada jaringan yang rusak. serta sel T citotoksis untuk melarutkan sel-sel asing dan antigen. monosit yang kemudian muncul ikut menghancurkan dan memakan kotoran luka. Lisosom tersebut merusak bakteri dan benda asing lainnya serta mengangkat jaringan nekrotik. Serum tambahan itu menghasilkan faktorfaktor kemotaksis dan menyebabkan PMN lekosit (neutrofil) menempel pada pembuluh darah (marginasi) dan migrasi melalui dinding pembuluh darah (diapedesis). Fase inflamasi 4 49 . Limfosit B berguna untuk mengenali antigen.

5 Gambar 16. Substansia dasar mengandung sejumlah mukopolisakaride yang berguna untuk melekatkan serat-serat kolagen. Fibroblas mengeluarkan fibronectin yaitu kandungan protein yang mempunyai fungsi membantu mempertahankan kestabilan fibrin. dan membantu makrophage.4. Jaringan dengan cepat tumbuh menjadi kuat selama tahap fibroplastis. Fase proliferasi 4 50 . Akan tetapi bila terjadi pada akhir dan tahap ini akan menyebabkan lepasnya hubungan antara serat kolagen yang lama di sepanjang tepi luka dan terbentuk kolagen yang baru. Fibroblas yang terdapat pada tropokolagen akan menghasilkan serat kolagen. Fibroblas mulai terbentuk pada substansia dasar dan tropokolagen. maka terjadi penarikan di sepanjang garis utama dan luka. Apabila tegangan pada luka terjadi pada awal tahap fibroplastis. bertindak sebagai faktor kemotaksis dari fibroblas.FASE PROLIFERASI Serat-serat fibrin diperoleh dari darah yang mengalami pembekuan yang menutup luka. membantu mengamati benda asing. Gambaran akhir pada tahap fibroplastis adalah kaku oleh karena banyaknya kolagen dan kemerahan oleh karena vaskularisasi. berbentuk seperti anyaman. menggerakkan sistem pertahanan tubuh. normalnya antara 2-3 minggu.2 Fibrinolisis terjadi disebabkan oleh plasma yang dibawa oleh pembuluh darah kapiler yang baru.

Selama proses ini dihasilkan jaringan parut yang pucat. kapiler baru menutup dan diserap kembali. Fase ini dapat berlangsung berbulanbulan dan dinyatakan berakhir kalau semua tanda radang sudah lenyap. pengerutan sesuai dengan gaya gravitasi. tipis.5 Lebih jelasnya pada tahap ini kolagen yang lama dihancurkan.FASE REMODELING Pada fase ini terjadi proses pematangan yang terdiri dari penyerapan kembali jaringan yang berlebih. Metabolisme menurun. Selama tahap ini kekuatan jaringan meningkat secara perlahan. Tubuh berusaha menormalkan kembali semua yang menjadi abnormal karena proses penyembuhan. Kekuatan jaringan tidak lebih dari 80-85% dibandingkan dengan jaringan yang normal dan hal ini tercapai kira-kira 3-6 bulan setelah penyembuhan. dan akhirnya pembentukan kembali jaringan yang baru. dan lembut serta mudah digerakkan dari dasar. diganti dengan kolagen yang baru guna meningkatkan ketahanan jaringan pada luka. 51 . kolagen yang berlebih diserap dan sisanya mengerut sesuai dengan regangan yang ada. tetapi tidak seperti pada tahap fibroplastis. Karena serat kolagen sangat sedikit akibatnya terbentuk bekas luka yang lunak. Udem dan sel radang diserap. sel muda menjadi matang. sistem vaskularisasi berkurang sehingga kemerahan pada bekas luka juga berkurang. Elastin dan ligamen tidak kembali pada penyembuhan luka. sehingga menyebabkan hilangnya fleksibilitas pada daerah bekas luka. Terlihat pengerutan maksimal pada luka.

yang pada beberapa hari kemudian (3-4 hari) dilakukan penjahitan untuk menutup kembali luka tersebut.5. dan akhirnya luka tertutup dengan pertumbuhan epitel dari pinggiran luka. selanjutnya terjadi kontraksi luka sehingga ukuran luka mengecil. karena infeksi. kehilangan jaringan yang agak luas. Jenis penyembuhan ini terjadi pada luka sayat aseptik yang ditutup secara primer. jadi dilakukan bantuan tindakan bedah agar luka menjadi tertutup.6 3.5. Penyembuhan secara sekunder Luka yang dalam proses penyembuhan terisi dengan jaringan granulasi.3. Hal ini biasanya terjadi pada luka yang terbuka. Penyembuhan secara primer Penyembuhan luka berlangsung dengan pembentukan jaringan granulasi yang minimal. Penyembuhan secara tertier Diartikan sebagai penyembuhan pada suatu luka yang sejak awal dibiarkan terbuka atau luka terbuka kembali setelah dijahit primer.JENIS-JENIS PENYEMBUHAN LUKA Jenis-jenis penyembuhan luka adalah : 1. jahitan yang kurang rapat atau luka dengan suatu dead space. 3. 2.6 52 .

membutuhkan banyak nutrisi dan pembuangan kotoran. sekunder (b). Oleh karena itu akan terjadi jaringan yang mati. Pada semua luka terdapat peradangan. sintesa kolagen dan kemampuan makrofag untuk menghancurkan bakteri yang tercerna. dan tersier (c) 3 FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP PENYEMBUHAN LUKA Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi dan memperlambat penyembuhan luka. serta faktor-faktor dari luar (ekstrinsik). Aktivitas fagositik dan aktivitas mitosis secara khusus mudah terpengaruh terhadap penurunan temperatur pada tempat luka. seperti pengelolaan luka yang kurang tepat dan efek-efek terapi lainnya yang kurang menguntungkan. Kira-kira 53 . jaringan nekrotik.Gambar 17. Turunnya temperatur. dalam hal ini hipoksia menghalangi mitosis dalam sel-sel epitel dan fibroblas yang bermigrasi. Tepian luka yang sedang tumbuh merupakan suatu daerah yang aktivitas metaboliknya sangat tinggi. Penyembuhan primer (a). Untuk itu dibutuhkan suplai darah dari vena dan arteri yang cukup. faktor tersebut dibagi dalam faktor dari pasien (intrinsik) seperti kondisi yang kurang menguntungkan pada tempat luka dan sejumlah kondisi medis yang dapat menyebabkan lingkungan sekitar yang buruk terhadap penyembuhan luka. Pada daerah dimana suplai darah tidak cukup akan menyebabkan kebutuhan sel-sel tidak terpenuhi. Kurangnya suplai darah dan pengaruh hipoksia. racun dan bakteri. Faktor lokal yang berpengaruh terhadap penyembuhan luka : 1. 2.

Dalam keadaan kekurangan protein akan mengakibatkan fibroblas tidak menjadi matang sehingga pembentukan serat kolagen hanya sedikit akibatnya penyembuhan menjadi terhambat. 3. sehingga dapat mengakibatkan terhambatnya penyembuhan luka. pasien dengan penyakit diabetes melitus. Demikian juga adanya segala bentuk benda asing termasuk bahan jahitan dan drain luka. krusta yang berlebihan dan benda asing. infeksi kronis. Penyakit sistemik. anemia dan penyakit lain.4 54 . Faktor sistemik yang berpengaruh pada penyembuhan luka: 1. Kekurangan vitamin C menyebabkan fibroblas tidak matang atau berdiferensiasi. 3. Adanya jaringan nekrotik dan krusta yang berlebihan di tempat luka dapat memperlambat penyembuhan dan meningkatkan resiko terjadi infeksi. gangguan kardiovaskuler. Vitamin C penting untuk mempertahankan ikatan antara sel-sel endotel pada kapiler. akibatnya terjadi hambatan pada pembentukan 2. pergerakan yang terjadi pada luka merupakan trauma yang berulang pada luka tersebut. Mobilisasi. Dengan bertambahnya umur daya regenerasi dari jaringan tubuh akan berkurang. Penyembuhan luka pada penderita yang masih muda berlangsung lebih cepat. gangguan sistem imun. Protein berguna untuk mengefektifkan metabolisme penderita dan mengembalikan plasma protein. 4. Malnutrisi. Umur. Suatu kebijaksanaan adalah penggunaan antibakteri lokal untuk mengatasi infeksi pada jaringan yang terkontaminasi. Infeksi. Oleh karena itu sangat penting untuk mengeluarkan kontaminan organik maupun anorganik secepat mungkin tetapi dengan trauma yang minimum terhadap jaringan utuh. Jaringan nekrotik.1. Dua bahan nutrisi yang menunjukkan secara langsung untuk penyembuhan adalah protein dan vitamin C. faktor yang penting dan sering menimbulkan masalah pada kasus penyembuhan di tempat praktek.dibawah 28◦C aktivitas leukosit dapat turun sampai nol. 5.

Jaringan Nekrotik Jaringan nekrotik. Hipotensi 55 . sehingga dapat menyebabkan terjadinya infeksi pada luka. sel darah putih. dengan adanya jaringan nekrotik akan menyebabkan masalah antara lain: a. Iskemia menurunkan pengiriman oksigen dan zat makanan yang diperlukan untuk penyembuhan luka. kotoran dan benang jahit. c. Merupakan penghambat terbentuknya sel-sel reparasi. Bakteri dapat berkembang biak dan menyebabkan infeksi dimana akan mengeluarkan protein bakteri yang dapat merusak jaringan b. Iskemia dapat mengurangi pengiriman antibodi. a. Benda asing yang bukan bakteri tetapi bertindak sebagai bakteri yang dapat meenyebabkan terjadinya infeksi. Iskemia disebabkan oleh beberapa hal yaitu : a. b. Iskemia Iskemia. Jaringan nekrotik sebagai tempat berlindungnya bakteri. Terlalu tegang atau tidak tepatnya lokasi penjahitan b. adalah berkurangnya suplai darah berpengaruh terhadap tahap perbaikan luka. Tahap peradangan diperpanjang dimana sel darah putih mengangkut sisa-sisa jaringan nekrotik melaiui proses larutnya enzim dan paghositosis. Bentuk flap yang kurang benar c. Yang termasuk jaringan nekrotik adalah darah yang terkumpul pada luka (hematom) merupakan sumber makanan yang bagus bagi bakteri. dan antibiotik yang sangat diperlukan. termasuk bakteri. Tekanan dari luar dan dalam luka (hematom) d.Benda Asing Benda asing adalah segala sesuatu yang dianggap asing bukan anggota dari tubuh oleh sistem pertahanan tubuh terhadap mikroorganisme. Benda asing sering berbentuk antigen yang memacu terjadinya peradangan kronis.

5. ketegangan dari luka dapat menghambat terjadinya penyembuhan. Pada luka yang menyebabkan terganggunya konduksi saraf. penggunaan antibiotik topikal yang kurang tepat dan ramuan obat perawatan luka lainnya. serta teknik pembalutan dan penjahitan yang kurang hati-hati adalah penyebab terlambatnya penyembuhan luka yang dapat dihindari.3. investing Schwann cells akan memulai beberapa perubahan yang disebut 56 . Apabila ada kerusakan akson (sel Schwann dan jaringan ikat masih intak) akan terjadi perubahan morfologis sebagai manifestasi dari degenerasi aksoplasma. sehingga akan meninggalkan tanda yang buruk. Penyakit pembuluh darah tepi f. MEKANISME PENYEMBUHAN JARINGAN SARAF Proses penyembuhan jaringan saraf tergantung pada derajat keparahan dan keluasan luka. Hal ini akan berpengaruh pada bagian distal dari lokasi luka dan sebagian bagian proksimal dari luka.e. Setelah sel saraf terluka. Apabila terlalu lama benang tidak diambil maka akan mendatangkan ketegangan jaringan dan luka cenderung semakin terbuka selama tahap remodeling. penggunaan antiseptik yang tidak bijaksana.empat minggu. tanpa rusaknya akson (selubung myelin masih intak atau terdapat luka yang kecil) penyembuhan dari defisit fungsional berlangsung secara spontan dan umumnya lengkap dalam tiga . Anemia Ketegangan Jaringan Ketegangan jaringan. Pada luka badan saraf.6 PENATALAKSANAAN LUKA YANG TIDAK TEPAT Gagal mengidentifikasi penyebab yang mendasari sebuah luka atau gagal untuk melakukan identifikasi masalah lokal di tempat luka. Jika benang diambil terlalu awal maka dapat terjadi pembukaan kembali dari luka sehingga dapat menimbulkan kontraksi dari luka. Jaringan diliputi oleh benang yang terlalu tegang sehingga menimbulkan iskemia. Penjahitan dengan benang yang terlalu kencang dapat menimbulkan ketegangan pada jaringan di daerah luka. terjadi degenerasi pada semua akson di badan saraf yang terluka.

7 Dehiscence Dehiscence terjadi akibat tindakan hecting yang tidak optimal. Infeksi luka dapat dikurangi dengan cara melakukan tindakan bedah yang benar. serta menjaga luka tetap bersih. dan saraf yang terlibat.degenerasi wallerian. Setelah debris dapat dibersihkan. akson yang terluka akan difagositosis oleh sel Schwann dan makrofag. Sel Schwann juga dapat mengeluarkan beberapa faktor neurotropik untuk menunjang regenerasi sel saraf.1. Jaringan parut Keloid memiliki faktor predileksi hubungan kekerabatan dan ras. Tindakan yang tidak asepsis merupakan penyebab utama terjadinya luka yang terinfeksi. Selain itu. rasa nyeri. Perlu dibedakan antara keloid dengan hyperthrophic scar. tipe luka. dan umumnya disertai dengan terbentuknya pus dan bau. dan eliminasi dead space. Proses regenerasi dipengaruhi oleh faktor umur. sel Schwann akan menghubungkan bagian proksimal dan distal dari luka dengan cara membentuk suatu ikatan (Bungner’s band) yang akan menerima akson yang sudah regenerasi dari bagian proksimal. pembengkakan. Gejala klinis dari luka yang terinfeksi adalah eritema. di sepanjang akson distalis dan beberapa akson proksimalis. Selama 78 jam. hemostasis yang adekuat. Keloid timbul beberapa bulan setelah luka sembuh. nutrisi. infeksi dapat terjadi akibat daya tahan tubuh host yang menurun atau derajat virulensi bakteri.4 KOMPLIKASI PENYEMBUHAN LUKA Infeksi Pada Luka Infeksi pada luka umumnya merupakan infeksi dari kontaminasi bakteri pada luka tersebut. peningkatan suhu. Berdasarkan hasil penelitian. Bagian yang mengalami dehiscence dapat ditutup lagi atau dibiarkan supaya terjadi penyembuhan sekunder. tergantung luas daerah dehiscence dan keputusan klinisi. meliputi debridement. infeksi dapat terjadi bila terdapat 1 x 105 bakteri dalam 1 gram jaringan. Proses regenerasi sel saraf berlangsung sekitar 3 bulan dan ditandai dengan terbentuknya akson bermielin. sedangkan hyperthropic scar timbul segera setelah luka 57 .

Hal yang dapat dilakukan adalah menjaga jarak antarjahitan tidak terlalu rapat dan setelah dilakukan hecting. pasien dapat diberikan obat anti-keloid (salep kanakeloid atau injeksi kenacort 2x sebulan).sembuh.4 58 .

adanya jaringan nekrotik. dehiscence. tahap fibroblastis dan tahap remodeling. iskemia dan ketegangan jaringan. Faktor-faktor yang menghambat proses penyembuhan luka adalah adanya benda asing. dan jaringan parut yang berlebihan.BAB IV KESIMPULAN Luka adalah terputusnya kontuinitas jaringan baik tanpa kehilangan jaringan atau disertai dengan kehilangan jaringan. 59 . Komplikasi yang sering terjadi adalah infeksi. penyembuhan luka dipengaruhi oleh faktor lokal dan faktor sistemik. Luka pada jaringan dapat disebabkan oleh peristiwa patologis atau trauma. Proses penyembuhan luka dapat dibagi menjadi tiga tahap dasar yaitu tahap inflamasi.

uk 5. EGC. 7.com . 1998. edisi 5. I. 1996. Alih Bahasa Purwanto. diunduh tanggal 22 Januari 2013 12. W. Kumar. www. 2003. diunduh tanggal 22 Januari 2013 11.D. http://www. American College of Surgeon. Robins. diunduh tanggal 22 Januari 2013 10. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2. W.81-91. 2001. 365-372. www. 1991.DAFTAR PUSTAKA 1. diunduh tanggal 22 Januari 2013 17. Simple Wound Management and Suturing.G and Goldberg M. Vol.dc349.H. diunduh tanggal 22 Januari 2013 14. Arif Mansjoer. EGC. tahun 1996. www.skwawesome. 9th ed. hal. PE. Topazian R. Morison. Patient UK. Cotran.com . 2002. in Fonseca RJ and Walker RV. 9.com .bayoesunaryo. SE.B Saunders Co. hal. Suprohaita.4shared. 1998. dalam Dasar Patologi Penyakit. Buku Ajar Bedah Mulut. The Principles of Wound Healing.adam. FK-UI. Philadelphia: W. London: Saunders Company. 105-107. Media Aesculapius. Enquist.B.G. diunduh tanggal 22 Januari 2013 16. F. Pederson W.B. Jakarta: EGC 8.co. diunduh tanggal 22 Januari 2013 13. Radang dan perbaikan. http://burn-victim-help-center. Pp: 99-111 3. Manajemen Luka. Philadelphia. Feinberg. Larsen. 6. Manual Untuk Peserta ATLS. Sjamsuhidajat R.com. 4th ed.meddet. Frying.300 – 309. 15.Saunders and Co.hal. M. Cristhoper's Textbook of Surgery.65. Healing of Traumatic Injuries. Oral and Maxillofacial infection.patient.com. 60 . in Loyal Davis. Buku Ajar Ilmu Bedah. JM. Jakarta. www. Oral and Maxillofacial Trauma.jellygamatluxornet. www. hal 28-42. 2. 20. www. dkk.wordpress. Wim de Jong. 4.com .com . 1997. hal.

61 .

Maksud dari penulisan makalah ini adalah untuk memberikan gambaran penanganan perdarahan dan pengelolaan nutrisi penderita trauma oromaksilofasial . Pada penderita trauma oromaksilofasial juga diperlukan adanya pengelolaan nutrisi yang adekuat dikarenakan pada penderita trauma kemampuan penggunaan mulut penderita berkurang. Penanganan perdarahan dapat dilakukan dengan membentuk mekanisme hemostasis natural. gangguan enzim dan metabolisme serta kelemahan otot. Pada keadaan trauma (stress dan sepsis) tubuh mengalami rangkaian perubahan hormonal yang menambah laju metabolisme. Oleh karena itu pasien dengan trauma oromaksilofasial memerlukan intervensi nutrisi dalam rawat inap di rumah sakit.namun prosedur ini juga membatasi kemampuan mulut sementara waktu. dan terhambatnya penyembuhan luka gangguan motilitas usus. Prosedur bedah mulut dan maksilofasial dapat mengeliminasi permasalahan ini dengan suatu prosedur operasi.Penanganan Perdarahan / Hemostasis dan Pengelolaan Nutrisi Penderita Trauma Oromaksilofasial Alvin 160121120006 Peserta Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut Dan Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Abstrak : Perdarahan pada penderita oromaksilofasial merupakan suatu jenis kegawatdaruratan yang dapat mengancam jiwa. nutrisi 62 . terjadinya edema. pengikatan dengan benang. meletakkan substansi vasokonstriktif. trauma. Hal ini berakibat menurunnya daya tahan tubuh. menggunakan panas . Kata kunci : perdarahan. maka dari itu diperlukan suatu penanganan perdarahan secepat mungkin.

pasien tersebut sering membutuhkan penanganan medis darurat atau kematian dapat terjadi 1. Trauma yang terdapat pada regio maksilofasial memerlukan perhatian khusus. Dengan tersedianya antibiotik dan peralatan yang khusus. membuat pendekatan per oral pada perawatan fraktur fasial menjadi aman dan layak dilakukan 2. Pada mulanya dokter gigi dilibatkan pada perawatan trauma rahang karena mereka menguasai pengetahuan tentang gigi dan oklusi. Perawatan yang terdahulu hanya terdiri atas fiksasi gigi pada oklusi sentrik untuk mengurangi dan mengimobilisasi suatu rahang. Keadaan ini membutuhkan pertolongan segera yang dapat berupa pertolongan pertama sampai pada pertolongan selanjutnya secara baik di rumah 63 . sehingga memerlukan tindakan di dalam ruang gawat darurat agar tidak menimbulkan kematian 3. Kunci penatalaksanaan pasien trauma biasanya melibatkan mobilisasi dari pasien-pasien tersebut dan penyaluran ke pusat trauma untuk penanganan lebih lanjut. jalan raya. Trauma oromaksifasial dapat menimbulkan perdarahan. Sekarang ini dasar pemikiran perawatan fraktur mandibula dan maksila masih tidak banyak berubah. namun justru dijumpai pada perumahan yang terpencil. Fraktur-fraktur yang pada jaman dahulu tidak dapat dikenali sama sekali atau hanya bersifat dugaan sekarang ini bisa ditunjukkan sampai hal yang terkecil. Diagnosis didukung dengan adanya teknik radiografis yang berkembang dengan pesat. kantor. atau daerah-daerah lain dengan sumber daya yang terbatas yang biasanya tidak dapat menangani pasien dengan trauma yang kompleks dan frekuensi yang besar. Ketika trauma yang kompleks terjadi. hanya tekniknya yang berkembang pesat.BAB I PENDAHULUAN Manajemen pasien yang mengalami trauma jarang dijumpai pada pusat trauma mayor dimana sumber dayanya tidak terbatas.

luka tusuk dan perkelahian). Kelompok utama yang kedua dari pasien trauma berumur antara 35 dan 44 tahun dan didominasi oleh laki-laki yang terluka karena kecelakaan motor. Tindakan tersebut dimaksudkan untuk menyelamatkan jiwa mencegah dan membatasi cacat serta meringankan penderitaan dari penderita. Kelompok ketiga tertinggi dari pasien trauma berumur antara 75 dan 85 tahun dan kebanyakan adalah wanita yang terluka karena jatuh atau oleh karena kecelakaan motor. juga dibutuhkan pengorganisasian yang sempurna.sakit. bila fraktur hanya terdapat pada mandibula. Bagian yang ketiga dari regio maksilofasial adalah wajah bagian bawah. Insidensi trauma maksilofasial sering terjadi terutama yang berhubungan dengan kecelakaan kendaraan bermotor. Berikut ini akan dibahas mengenai penanganan perdarahan/hemostasis dan pengelolaan nutrisi pada kegawatdaruratan trauma oromaksilofasial sebelum dilakukan penanganan definitif lebih lanjut. Kelompok umur ini adalah kelompok yang paling sering dijumpai oleh spesialis bedah mulut untuk evaluasi dan pengobatan luka fasial 1. 3 Regio maksilofasial terbagi menjadi tiga bagian. Bagian kedua adalah daerah tengah wajah atau midface. Midface yang bagian atas bila terdapat fraktur Le Fort II dan Le Fort III dan/atau fraktur tulang nasal. Midface dibagi menjadi bagian atas dan bagian bawah. sehingga memerlukan tindakan di dalam ruang gawat darurat agar tidak menimbulkan kematian 3. bila fraktur melibatkan sinus dan tulang frontal. Fraktur Le Fort I bila fraktur terdapat pada bagian bawah dari midface. 1 64 . Keadaan ini selain membutuhkan pengetahuan dan ketrampilan yang baik dari penolong dan sarana yang memadai. fraktur nasoetmoidal atau kompleks zygomatikomaksilari dan fraktur dasar orbita. Distribusi umur pasien trauma menunjukkan bahwa pasien trauma berumur antara 17 dan 24 tahun. Bagian pertama adalah wajah yang bagian atas. dengan jenis kelamin laki-laki yang paling dominan terluka pada kecelakaan motor dan oleh karena kekerasan (luka tembak. 3 Kematian pada penderita dengan trauma oromaksilofasial salah satunya dapat disebabkan oleh perdarahan yang tidak cepat diatasi.

Rehabilitasi 65 . ABC (Airway. Breathing. Menghentikan perdarahan eksternal c. Perawatan Definitif a. Mempertahankan jalan napas b. Sehingga tahap-tahap penangannnya bersamaan dengan penanganan trauma yang lainnya. Pemeriksaan fisik menyeluruh b. Adapun tahap-tahap penanganan trauma adalah sebagai berikut 4: 1. Pemantauan 3. Circulation) b. Nutritional support 5. Radiografi c. Pemeriksaan Laboratorium d. Perawatan non operatif c. Resusitasi cairan c. Resusitasi dan pemantauan lanjut 4. PENANGANAN TRAUMA OROMAKSILOFASIAL Pada umumnya penderita dengan trauma oromaksilofasial terjadi bersamaan dengan trauma pada bagian tubuh yang lain (trauma multiple). Stabilisasi fraktur d.BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Penanganan yang dilakukan sebelum dibawa ke rumah sakit a. Tranportasi cepat (Ambulatory) 2. Pembedahan b. Stabilisasi tulang belakang e. Resusitasi dan pananganan primer a. Diagnosis dan penanganan sekunder a.

Perdarahan internal jika arah tidak keluar. Menurut pembuluh darah yang terluka. c. perdarahan dapat dibagi menjadi: a. Perdarahan intermediate jika terjadi dalam 24 jam. tetapi masuk kejaringan sekitarnya. operasi. Perdarahan eksternal jika darah keluar dari kulit atau jaringan lunak dibawahnya. dapat terjadi karena kelainan 66 . 3. karena hilangnya kontinuitas pembuluh darah.B. Menurut lokasi perdarahan. b. 4. lokasi perdarahan. Berbagai macam perdarahan yang dibagi menurut pembuluh darah yang terluka. dibagi menjadi: a. waktu perdarahan. maka dibagi menjadi: a. Perdarahan vena. dengan ciri-ciri warna darah antara darah arteri dan vena. yang akan diuraikan sebagai berikut1: 1. Perdarahan primer jika terjadi pada waktu terputusnya pembuluh darah karena trauma. Perdarahan mekanik yaitu perdarahan terjadi akibat trauma mekanik atau kecelakaan b. dengan ciri-ciri warna darah cerah terang karena mengandung oksigen dan perdarahan memancar dengan aliran yang terputus-putus sesuai dengan denyut jantung. dan darah merembes dari permukaan luka. Menurut waktu terjadinya perdarahan. TINJAUAN UMUM PERDARAHAN Perdarahan adalah keluarnya darah dari pembuluh darah kedalam ruang ekstravaskuler. Perdarahan sekunder jika terjadi setelah 24 jam. b. dan penyebab perdarahan. c. Perdarahan kapiler. Menurut penyebab terjadinya perdarahan maka dibagi menjadi: a. Perdarahan spontan/biokemis yaitu perdarahan terjadi akibat kelainan atau gangguan mekanisme hemostasis. b. dengan ciri-ciri warna darah merah gelap karena mengandung karbondioksida dan darah yang keluar mengalir tetap. Perdarahan arteri. 2.

yang akan diuraikan sebagai berikut: 1. Trombosis yaitu darah membeku di pembuluh darah. hematoma tersebut meningkatkan tarikan pada tepi luka dan berfungsi sebagai media kultur. Evaluasi faal hemostasis dapat dilakukan melalui beberapa cara. Gangguan faktor hemostasis akan mengakibatkan terjadinya perdarahan atau trombosis. Hemostasis sekunder.pembuluh darah. Perdarahan yaitu darah keluar dari pembuluh darah. Salah satunya adalah menurunnya visibilitas yang dikarenakan perdarahan yang tidak terkontrol. Akan tetapi pengontrolan hemostasis penting dikarenakan oleh adanya alasan-alasan yang penting juga. Pencegahan kehilangan darah yang banyak merupakan hal yang penting untuk menjaga kapasitas transpor oksigen pada pasien tersebut. yang memungkinkan terjadinya infeksi pada luka 5. sehingga tekanan darah di dalam kapiler meningkat. C. Percobaan Pembendungan (Tes Rumpel Leede) Menguji ketahanan dinding kapiler darah dengan cara mengenakan pembendungan kepada vena. Hematoma memberikan tekanan pada luka. Masalah lainnya yang disebabkan oleh perdarahan adalah terbentuknya hematoma. mengurangi vaskularitas. 67 . kelainan trombosit dan kelainan mekanisme pembekuan darah. Hemostasis primer. titik itu disebut petekia. 2. HEMOSTASIS Hemostasis adalah proses penghentian perdarahan dari pembuluh darah yang mengalami kerusakan secara spontan. Hemostasis dapat dibagi menjadi5: 1. yang termasuk didalamanya adalah faktor pembekuan dan anti pembekuan. yang termasuk didalamanya adalah pembuluh darah dan trombosit. Dinding kapiler yang kurang kuat akan menyebabkan darah keluar dan merembes kedalam jaringan sekitarnya sehingga nampak titik merah kecil pada permukaan kulit.

X. trombositopenia Lebih lama bila berkaitan dengan defisiensi faktor-faktor I. protrombin dan fibrinogen.VII. Waktu protrombin 12-14 Detik 68 .000/ul. V. protrombin dan fibrinogen 6. V. defisiensi vitamin K. VIII.2. Trombine Time (TT) Perubahan fibrinogen menjadi firbin 7. Masa tromboplastin parsial teraktivitas ( Activitated Parsial Tromboplastin Time/APTT) Menguji pembekuan darah melalui jalur intrinsik dan jalur bersama yaitu faktor pembekuan XII. kininogen.000/mm³ Deteksi trombositosis . Tabel 1. XI.000-400. Hitung jumlah trombosit Perdarahan tidak terjadi jumlah trombosit lebih dari 100. Mungkin abnormal pada penyakit hati. Tes Koagulasi Jenis Tes Nilai Normal Kegunaan Mengamati fungsi vaskular dan platelet. Jumlah trombosit kurang dari 50. X.II. 3. IX. X. Pemeriksaan Penyaringan untuk Faktor XIII Digunakan untuk menilai kemampuan faktor XIII dalam menstabilkan fibrin. prekalikren. Masa Protrombin Plasma (Protrombine Time/PT) Menguji pembekuan darah melalui jalur ekstrinsik dan jalur bersama yaitu faktor pembekuan VII. 4. deteksi penyakit willebrand Waktu perdarahan 2-7 menit Hitung platelet 150.000/ul digolongkan trombositopenia berat dan perdarahan spontan akan terjadi jika jumlah trombosit kurang dari 20.000/ul. 5.V. Masa perdarahan Menilai kemampuan vaskuler dan trombosit untuk menghentikan perdarahan.

Paruh waktu tromboplastin 60-70 detik Lebih lama. Penggunaan aspirin. dan anti-radang nonsteroid lain. kecuali VII Hemofilia Tabel 2.terapi warfarin sodium (Coumadin). bila ada defisiensi faktor pembekuan darah. Faktor Pembekuan Darah Faktor I II Fibrinogen Protrombin Peranan pada pembekuan darah Prekursor fibrin Proensim.diaktifkan oleh tromboplastin Diperlukan untuk merubah protrombin menjadi thrombin Tes PT PT PTT III Tromboplastin IV V VI Kalsium Proaccelerin Tidak lagi digunakan Diperlukan pada semua tahap Diperlukan untuk pembentukan tromboplastin PTT PT PTT VII Proconvertin Diperlukan untuk mengubah protrombin menjadi thrombin PT VIII Faktor antihemofilik (AHF) Diperlukan untuk pembentukan tromboplastin IX Komponen Plasma tromboplastin X Faktor Stuart Prower Diperlukan dalam pembentukan tromboplastin dan perubahan dari protrombin menjadi thrombin XI Anteseden tromboplastin plasma XII Faktor Hageman XIII Faktor stabilisasi fibrin PT : Waktu protrombin PTT : Paruh waktu tromboplastin Mengawali proses pembekuan darah in vitro Merubah fibrin menjadi polimer fibrin Diperlukan untuk pembentukan tromboplastin Diperlukan untuk pembentukan tromboplastin PTT PTT PTT PTT PTT PTT 69 .

Ketika dressing yang digunakan menjadi basah. Tekanan yang kuat dapat diaplikasikan proksimal ke arah arteri mayor untuk mengontrol perdarahan. Hemoragi eksternal biasanya dapat dikontrol dengan melakukan penekanan secara langsung ke luka yang ada. Pada individu yang menderita obesitas. Tekanan yang digunakan untuk mengontrol perdarahan sebaiknya kuat dan kontinu. yang sebelumnya digunakan untuk meningkatkan tekanan darah pada kasus hipotensi yang parah. dressing tersebut sebaiknya jangan dilepaskan. seorang laki-laki dengan berat badan 70 kg memiliki volume darah kurang lebih 5L. hal tersebut hanya direkomendasikan apabila penekanan langsung pada luka saja tidak efektif 1. Pada anak-anak. tetapi sebaiknya dressing tambahan digunakan karena apabila dressing dilepaskan maka formasi clot yang telah terbentuk dapat terganggu dan menyebabkan perdarahan kembali. fraktur nasal atau tengah wajah. Luka kulit kepala dapat dengan cepat diatasi dengan dijahit menggunakan 2.D. seperti air-pillow splints dan blood pressure cuff dapat juga digunakan. Pada orang dewasa dengan berat badan yang ideal. Akan tetapi. Tekanan langsung kemudian dapat dilakukan pada luka untuk 70 . Sebagai spesialis bedah mulut dan maksilofasial. Luka pada kulit kepala dapat menyebabkan kehilangan darah dalam jumlah besar pada waktu yang singkat karena perembesan darah pada galea dan lapisan jaringan ikat yang renggang. dan luka tembus pada leher. volume darah secara umum tinggi per satuan berat. Aspek negatif dari suplai darah tersebut adalah hemoragi mayor dapat disebabkan oleh luka pada kulit kepala yang besar. PENANGGULANGAN PERDARAHAN KARENA TRAUMA Kehilangan darah akut dari sistem peredaran darah disebut juga sebagai hemoragi. volume darah tidak meningkat secara spesifik. Hemoragi dapat secara eksternal maupun internal ke dalam kavitas tubuh. memberikan keadaan yang merugikan pada beberapa situasi karena menyebabkan luka vaskular. 8% hingga 9% dari berat badan. kita mengetahui adanya suplai vaskular yang banyak ke daerah muka dan leher. volume darah normal (liter) adalah sebanyak 7% dari berat badan (kilogram). PASGs dan medical antishock trousers(MASTs). Perban tekan. Maka dari itu.0 nonresobable atau staples tanpa memperhatikan kosmetik pasien.

Perdarahan internal arteri maksilaris yang disebabkan fraktur dinding posterior maksila. visualisasi yang adekuat dari pembuluh darah diperlukan. Embolisasi dari perdarahan dengan cara intervensi secara radiologi oleh radiologis . yang dapat terjadi pada fraktur Le Fort I dan II.jika tersedia. merupakan cara yang terbaik untuk mengatasi perdarahan yang tidak dapat dikontrol dengan menggunakan metode yang telah disebutkan di atas 1.mengontrol hemoragi dan meminimalkan pembentukan hematoma. abdomen. jahitan dapat dilepaskan dari luka dan penutupan lapisan luka secara kosmetik dapat dilakukan 1. Hipovolemi yang terus menerus tanpa adanya perdarahan eksternal atau ke dalam rongga dada dapat menunjukkan adanya hemoragi abdominal atau hemoragi pada daerah fraktur. retroperitoneum. fraktur femur 500 ml hingga 1000 ml. Fraktur pelvis dapat menyebabkan kehilangan darah sekitar 1000 ml sampai 2000 ml. Kebanyakan hemoragi dari fraktur fasial dapat dikontrol dengan tekanan langsung atau packing. ligasi dari arteri karotis eksternal mungkin diperlukan. Pemeriksaan fisik dan radiografis sangat menolong dalam mengidentifikasi hemoragi ke dalam area tersebut. Perdarahan internal dapat dikontrol dengan 71 . dan tulang-tulang kecil lainnya 125 ml hingga 250 ml. Pengontrolan perdarahan internal tidak dilakukan pada saat survei primer. Epinephrine dan cairan trombin dapat juga ditambahkan pada gauze packing dan kepala dapat juga dinaikkan untuk mendapatkan hemostasis. Daerah internal yang potensial untuk tempat terjadinya perdarahan termasuk rongga dada. dan ekskremitas. Penjepitan tanpa melihat pembuluh darah dapat menyebabkan perdarahan dari pembuluh darah dan jaringan lunak. Ketika pengontrolan langsung pembuluh darah diperlukan. kecuali jika hemoragi tersebut menyebabkan keadaan yang merugikan pada sistem pulmonal dan kardiovaskular. Pada kasus yang langka. Fraktur nasal dan tengah wajah dapat menyebabkan robeknya arteri ethmoidal. Akan tetapi. dapat dikontrol dengan tekanan dari gauze packing selama beberapa waktu. Ketika pasien sudah stabil. hal ini biasanya tidak efektif jika digunakan sendiri saja dikarenakan sirkulasi kolateral dari wajah. sekaligus dapat menyebabkan kemungkinan rusaknya nervus. fraktur tibia 250 ml hingga 500 ml.

Yang pertama adalah dengan membentuk mekanisme hemostasis natural. oklusi vaskular melalui mekanisme perlindungan. yang pada akhirnya menyebabkan koagulasi. Hemostasis luka dapat diperoleh dengan empat cara. sehingga arus listrik dapat memasuki tubuh.menggunakan fiksasi sekunder dari fraktur. setiap 72 . pembentukan clot. Ahli bedah dan asisten sebaiknya “mencolek” bukan mengusap dengan spons untuk menghilangkan darah yang terekstravasasi. Hal ini biasanya diperoleh dengan mengunakan fabric sponge untuk memberikan tekanan pada pembuluh darah atau meletakkan hemostat pada pembuluh darah. seperti hemostat. Cairan bertindak sebagai penghalang energi dan mencegah sejumlah besar panas mencapai pembuluh darah untuk menyebabkan penutupan 5. Cara ketiga untuk membantu terjadinya hemostasis bedah adalah dengan pengikatan dengan benang. Jika pembuluh darah besar telah terpotong. tip cauter dan intrumen metal lainnya yang disentuh oleh tip kauter tidak boleh menyentuh pasien pada titik lainnya selain pada area pembuluh darah yang berdarah. dan pembuluh darah besar memerlukan 5 hingga 10 menit penekanan yang kontinu. Cara kedua untuk memperoleh hemostasis adalah dengan menggunakan panas untuk menyebabkan ujung dari pembuluh darah yang terpotong sehingga bersatu (koagulasi termal). Beberapa pembuluh darah kecil kebanyakan hanya memerlukan tekanan selama 20 hingga 30 detik. dan operasi eksplorasi 1. atau dengan menyentuh pembuluh darah dengan tip elektrokauter. Mengusap dapat membuka kembali pembuluh darah yang telah tersumbat dengan beku darah 5. Tiga kondisi harus dipenuhi untuk memenuhi persyaratan penggunaan koagulasi termal. Pertama. Jika tidak. Kedua. Panas biasanya diaplikasikan melalui tegangan listrik yang dipusatkan oleh ahli bedah pada pembuluh yang mengeluarkan darah dengan memegang pembuluh darah dengan instrumen metal. Syarat yang ketiga untuk koagulasi termal adalah pembuangan semua darah atau cairan yang terakumulasi di sekitar pembuluh darah yang akan dikauter. Kedua metode tersebut menyebabkan stasis dari darah pada pembuluh darah. pasien harus berhubungan dengan tanah. refraksi. arus listrik dapat mengalir ke arah yang tidak diinginkan dan menyebabkan luka bakar.

. Jika pembuluh darah dapat dibebaskan dari jaringan ikat sekitarnya sebelum dipotong. E. serta kontrol perdarahan 6. pertama kali harus ditujukan pada penyelamatan jiwa dengan memperhatikan jalan nafas dan pernafasan. benang diikatkan pada setiap ujungnya dan hemostat dilepaskan 5. PENANGANAN SEBELUM KE RUMAH SAKIT Tujuan penanganan sebelum penderita dibawa ke rumah sakit yaitu menyelamatkan jiwa penderita sebelum mendapatkan penanganan yang lebih lanjut di rumah sakit 6. Ahli bedah kemudian mengikat pembuluh darah tersebut dengan benang non-resorbable. Pada perdarahan internal hanya dapat diatasi di rumah sakit. Penanganan perdarahan di tempat kecelakaan diutamakan pada perdarahan eksternal. dengan jarak yang cukup di anataranya untuk memotong pembuluh darah. pada luka 5. dua hemostat dapat di letakkan pada pembuluh darah. Ketika pembuluh darah telah terputus. pada luka atau dengan pengaplikasian prokoagulan. Perdarahan pada penderita dengan trauma oromaksilofasial dapat terjadi secara internal maupun eksternal. seperti epinefrin.. Cara mengatasinya dengan melakukan penekanan pada luka dan jika perdarahan masih berlangsung terus dilakukan pengikatan (ligasi). Perdarahan yang keluar dari hidung dapat diatasi dengan meletakan tampon di lubang hidung depan dan belakang 6. dan sirkulasi (Air ways. Breathing. Circulation). seperti trombin atau kolagen. Cara keempat untuk mendapatkan hemostasis adalah dengan meletakkan substansi vasokonstriktif.ujungnya dijepit dengan menggunakan hemostat. 73 . Perawatan penderita cedera akut dengan faktur pada daerah wajah.

Penanganan Perdarahan Hidung6 Penanganan awal apabila terjadi perdarahan arteri adalah dengan penekanan. Sesudah mengontrol perdarahan Intra-operatif. Penekanan diperoleh dari penekanan langsung dengan jari atau dengan kasa. Apabila tersedia. Pemberian cairan intravena dapat diberikan jika transportasi diperkirakan memerlukan waktu lebih dari 30 menit.dapat digunakan elektrokoagulasi dari pembuluh yang diklem sehingga tidak perlu diikat Alternatif yang lain yang biasa digunakan hanya pada pembedahan adalah menggunakan klip hemostatik pada pembuluh darah. 74 . Untungnya hanya dengan melakukan klem saja sudah cukup diinduksi untuk membuat beku darah. Melakukan klem pada daerah perdarahan dimulut sangat sukar dan melakukan pengikatan (ligasi) bahkan lebih sulit lagi.Gambar 1. Jika keluarnya darah sangat deras. maka diklem dengan hemostat. Pergunakan cairan hipertonik 4. misalnya terpotongnya arteri. Sering dengan hanya melakukan sudah bisa berhasil mengatasi perdarahan. atau perdarahan berat melebihi 50 cc permenit. maka dapat diputuskan untuk meneruskan atau menghentikan prosedur 4.

Penanganan perdarahan eksternal pada trauma oromaksilo fasial sudah harus dilakukan saat sebelum tiba di rumah sakit. Penjepitan pembuluh darah dengan arteri klem6 Faktor yang mempengaruhi keputusan ini adalah kondisi fisik dan mental pasien (tanda-tanda vital). sinus paranasalis. Seringkali trauma oromaksilofasial terjadi bersamaan dengan trauma pada bagian tubuh lain (trauma multiple). 75 . Untuk penderita dengan trauma oromaksilofasial pendekatan awal sedikit berbeda dengan cedera yang lain. saraf. Perdarahan dari fraktur oromaksilofasial dapat terjadi perdarahan pada rongga mulut.Gambar 2. Pada keadaan ini kita mendahulukan penanganan trauma yang paling mengancam jiwa 1. hidung. dan anggota gerakan lainnya. dada. keadaan-keadaan itu harus ditangani lebih dahulu oleh karena mengancam jiwa penderita 1. Perhatian harus segera diarahkan terhadap saluran pernafasan dan kontrol perdarahan eksternal. perkiraan jumlah darah yang dikeluarkan dan waktu yang digunakan untuk mengontrol perdarahan. fraktur maksila). hendaknya dilakukan bersamaan dengan penanganan jalan nafas. sebelum melakukan pemeriksaan tanda-tanda vital. nasofaring (dari basis cranii) atau perdarahan dari hidung (fraktur nasalis. Penjepitan pembuluh darah secara acak harus dihindari karena dapat membahayakan pembuluh darah balik dan saraf 1. misalnya trauma mengenai cerebro kardiovaskuler. Jika belum dilakukan.

Perdarahan yang banyak bisa mengakibatkan syok hipovolemik. Etiologi syok hipovolemik adalah kehilangan darah/perdarahan (trauma. denyut nadi yang melemah. Untuk cukup atau tidaknya aliran darah dapat diketahui dengan memperhatikan keadaan-keadaan seperti tensi yang menurun. dan perabaan pada daerah akral dari ektremitas. dan hematoma). kehilangan Plasma (luka bakar). takikardia. keringat. kehilangan darah 10-15%. APTT. perdarahan GIT. ketolamin (+) dingin. kehilangan cairan dan elektrolit (muntah. PT. pancreatitis. ekstrimitas lembab dan keterlambatan capillary filling. Klasifikasi perdarahan1 KELAS I Kehilangan Darah (mL) % Kehilangan Darah < 15 % < 750 KELAS II 750-1500 KELAS III 1500-2000 KELAS IV > 2000 15-30% > 40% 76 . analisa gas darah dan pemeriksaan urin rutin (pada pasien dengan trauma). dan hampir semua penderita multi-trauma ada syok. HCO3. Resusitasi cairan dapat diberikan sesuai dengan keadaan klinis1. kreatinin dan kadar glukosa). perubahan tanda vital karena adanya mekanisme kompensasi. pemeriksaan elektrolit (seperti Na. Gejala syok hipovolemik antara lain adalah inadekuat perfusi organ. Perdarahan adalah sebab tersering dari syok pada trauma.5 ml/kg BB/jam1.F. Pemeriksaan laboratorium penunjang yang dilakukan untuk menetapkan diagnosis adalah pemeriksaan darah lengkap. Syok hipovolemik adalah suatu kondisi medis yang timbul akibat penurunan sirkulasi volume darah. Selain itu golongan darah dan cross matched juga perlu diperiksa1. BUN. Cl. nafas yang cepat. SYOK HIPOVOLEMIK Syok adalah ketidakmampuan sirkulasi darah untuk memenuhi kebutuhan metabolisme jaringan. urine output <0. Tabel 3. K. penyebab syok yang paling sering dan semua jenis syok memiliki komponen hipovolemik 1. dan asites) 1. diare.

napas. Pilihan tipe cairan yang digunakan adalah koloid dan kristaloid.0 L (RL). Menghentikan perdarahan mutlak harus dilakukan1. dan merupakan pilihan yang terbaik untuk peningkatan Cardiac Output dan volume O2. Kristaloid efektif. Kristaloid sangat baik untuk dehidrasi (kehilangan cairan ekstraseluler) atau perdarahan ringan. apabila tidak terdapat peningkatan permeabilitas kapiler dan harga cairan ini murah1. tangan/kaki. 1. Selain itu juga dapat memberikan efek pada ekspansi cairan intravaskular tetapi menyebabkan ekspansi berlebihan pada cairan interstisiel. Pemberian pertolongan pertama dan resusitasi cairan yang tepat sangat membantu dalam mengembalikan perfusi jaringan yang adekuat.5 L (PP) dan 2. Keberhasilan terapi dapat dilihat dari perbaikan gejala klinik tersebut di atas (kesadaran. Namun koloid efek udema parunya kurang dan harga cairan ini mahal1. tensi dan urine).0 L (PP) dan 3.0 L (RL) untuk kelas III. denyut nadi. 77 .Nadi Tekanan Darah Tekanan Nadi Capilary Refill Respirasi Urine (ml/jam) Status Mental Resusitasi Cairan N N N N/(postural) > 120 Menurun > 140 Menurun N ≤ 3o Memanjang Memanjang Memanjang N ≥30 cc/mnt 20-30 20-30 cc/mnt > 30 5-15 cc/mnt > 35 Tidak ada urine Sedikit cemas Cemas Sangat cemas dan bingung Bingung atau letargi Kristaloid & Darah Kristaloid Kristaloid Kristaloid & Darah Apabila darah belum tersedia pada kelas III dan IV sementara dapat diganti dengan tambahan 0. muka. Koloid sangat baik untuk ekspansi volume plasma.

kemudian pengecekan elektrolit dan dikoreksi bila terdapat kelainan lainnya 1.9% dalam 30–60 menit.drainase toraks. Sedangkan penatalaksanaan untuk kehilangan cairan gastrointestinal dapat diberikan 1-2 liter NaCl 0. Pada orang dewasa 2–3 liter RL selama 20–30 menit untuk memulihkan tekanan darah. Pemasangan 2 jalur Infus I. REPLACE NORMAL LOSS ( IWL. 2.. Penatalaksanaan pada perdarahan akut adalah sebagai berikut 1: 1. NUTRITION Tujuan yang harus dipenuhi dalam pemberian cairan adalah menganti cairan yang hilang selama trauma atau pembedahan.V. dengan pemberian 1-2 liter kristaloid (NaCl 0. Maksud utamanya adalah mengembalikan volume intravaskular dan mendapatkan perfusi jaringan yang adekuat. GI LOSS) 1. dan memonitor tanda vital. dan diuresis. Pemberian WB atau PRC hingga HT> 30 % dengan 1-2 unit fresh frozen plasma (FFP) tiap 5 unit darah. udema paru diperhatikan.V. dalam 30 –60 menit. 78 . serta penggantian cairan yang hilang dilakukan melalui pipa lambung.9% atau RL) atau Koloid (Dextran) secara I. drainase peritonium. tekanan vena sentral. fistula usus. URINE FAECAL ) 2. Resusitasi Cairan1 FLUID THERAPY RESCUCITATION MAINTENANCE COLLOID CHRYSTALLOID ELLECTROLYTES NUTRITION REPLACE ACUTE LOSS (HEMORRAGHE.Bagan 1. respirasi dsb.

79 . meliputi susunan saraf pusat dan susunan saraf tepi. Respon neuroendokrin. terutama jaras spinothalamicus dan formatioretikularis dengan pengolahan akhir timbul pada medula oblongata. hasil serial pemeriksaan kadar Hb dan Ht. kesadaran sudah membaik. Pada keadaan trauma (stress dan sepsis) tubuh mengalami rangkaian perubahan hormonal yang menambah laju metabolisme. jumlah cairan kristaloid dan koloid yang telah diberikan. thalamus dan hipothalamus. PENGELOLAAN NUTRISI PENDERITA TRAUMA OROMAKSILOFASIAL Diantara banyak fungsi rongga mulut adalah sebagai jalan masuk makanan menuju saluran cerna (gastrointerstinal tract). akral yang dingin telah jadi hangat. keadaan hemodinamik (tensi dan nadi).namun prosedur ini juga membatasi kemampuan mulut sementara waktu. Kemudian respon eferen dimulai pada hipotalamus. Kemampuan seseorang dalam mengkonsumsi makanan melalui oral dapat berubah dikarenakan neoplasia.Beberapa kriteria perfusi jaringan yang telah baik antara lain adalah nadi <100 x/menit. akral yang sianosis telah berubah menjadi merah. Oleh karena itu pasien dengan trauma oromaksilofasial memerlukan intervensi nutrisi dalam rawat inap di rumah sakit 7. jumlah perdarahan yang terjadi. dan injuri (trauma). dan terhambatnya penyembuhan luka gangguan motilitas usus. gangguan enzim dan metabolisme serta kelemahan otot. Prosedur bedah mulut dan maksilofasial dapat mengeliminasi permasalahan ini dengan suatu prosedur operasi. sumber perdarahan telah teratasi atau belum. dan usia penderita1. bagian-bagian akral yang terjadinya lembab sudah jadi kering. Hal ini berakibat menurunnya daya tahan tubuh. infeksi. terjadinya edema. Pemberian transfusi darah tetap harus menjadi bahan pertimbangan berdasarkan keadaan umum penderita (kadar Hb dan Ht). merupakan suatu refleks neurofisiologi yang dirangsang oleh proses trauma. deformitas congenital. Aktivitas SSO merangsang kenaikan simpatis dimana kadar katekolamin plasma meningkat 7. H. produktif urine 1-2cc/kgBB/jam. hipofise dan SSO.

meliputi peningkatan nadi (takikardia). Ada tiga fase respon metabolik trauma. glukagon dan kortisol dalam plasma menurun. Hormon pengatur stres antara lain: katekolamin.Respon kardiovaskuler. mobilisasi darah dari perifer serta vasokonstriksi perifer7. kenaikan curah jantung (cardiac output). katekolamin serta glukagon. Phase Anabolisme atau Konvalesen Pada phase ini tubuh mulai melakukan pemulihan pada sel-sel yang mengalami kerusakan akibat katabolisme sehingga diperoleh kalori yang cukup untuk memenuhi kebutuhan pada hari ke 7 – 10 bisa diberikan. Kadar gula darah biasanya menurun < 200 mg % bila nutrisi tidak adekuat maka jaringan tubuh akan mulai dikorbankan untuk memenuhi kebutuhan energi. 3. Sumber energi berasal dari glikogen dan trigliserida untuk menghasilkan glukosa dan asam lemak. Kortisol tubuh akan meningkat dan demikian pula kadar gula darah. Respon metabolik mencakup kenaikan kadar glukosa dan asam lemak bebas (FFA) plasma serta rangsangan pengeluaran kortisol. Phase Ebb Ditandai dengan terjadinya hipovolemi dengan rangsangan adrenal dan simpatis yang berlangsung sekitar 24 jam. Kebutuhan kalori pada phase ini sekitar 5000 kkal. Pada phase ini metabolisme tubuh akan menurun serta tubuh kehilangan sensitivitas terhadap sekitar. Adanya penghambat simpatis terhadap pengeluaran insulin dari pankreas serta pengeluaran glukokortikoid menambah resistensi insulin di jaringan perifer. 2. Fase ini berlangsung sekitar 3 x 24 jam. Ketiga hormon ini berkombinasi untuk meningkatkan glukoneogenesis serta lipolosis untuk mobilisasi cadangan energi. yaitu7: 1. 80 . Phase Flow (Katabolisme) Ditandai oleh oksidasi protein otot untuk menghasilkan glukagon yang sangat penting untuk pembakaran di otak dan jaringan rusak yang sedang sembuh. Fase ini akan memanjang bila terjadi perdarahan pasca bedah.

ataupun gangguan asupan nutrisi.Lemak diperlukan untuk memenuhi kebutuhan asam lemak bebas dan menambah kalori dimana jumlah cairan dibatasi. fraktur dan infeksi HIV. Setiap pasien dengan penurunan bert badan yang bermakna sebelum masuk rumah sakit 7. 2. penyakit arteri koronaria. dan komposisi yang harus diberikan. Setidaknya penderita harus ditentukan 81 . penyakit kanker dengan penurunan berat badan . Setiap pasien yang memerlukan dukungan energi khusus.0) yang disertai defisiensi nutrisi 6. penyakit hipertensi yang baru didiagnosis. diabetes mellitus. KEBUTUHAN NUTRISI PADA PASIEN TRAUMA OROMAKSILOFASIAL Penentuan status gizi penderita penting untuk menentukan jumlah. 5. Setiap pasien dengan penyakit kronis sehingga asuhan nutrisi merupakan komponen penting dalam perawatannya. malnutrisi. penyakit paru obstruktif yang menahun ( PPOM ) dengan penurunan berat badan. Pasien. 3. dispilidemia. rujukan dan intervensi nutrisi7: 1. lama. apakah parentel ataupun enteral 4. seperti luka bakar. Setiap pasien yang dilaporkan pengunaan megadosis suplemen nutrient atau yang sama sekali menghindari konsumsi kelompok makanan tertentu dari dalam dietnya selama waktu yang lama ( > 1 bulan) I. Setiap pasien yang mengalami trauma atau sakit dengan kondisi yang kritis. penyakit hati. Berikut adalah pasien – pasien dengan kondisi yang memerlukan konsultasi.pasien tersebut mencakup gagal ginjal baik akut maupun kronis. Setiap pasien dengan anemia nutrisi Setiap pasien dengan deplesi simpanan protein yang bermakna ( misalnya albumin < 3. malnutrisi.

2. f. Operasi yang baru dilakukan seperti gastrectomy atau reseksi ileum dapat mempredisposisi malabsorpsi dan terjadi defisiensi vitamin ataupun mineral. Tahapan dalam menilai status gizi adalah sebagai berikut 7: 1. Penyakit yang diderita misalnya pada hati dan ginjal seringkali berhubungan dengan defisiensi protein. c. Pemeriksaan klinis dan laboratorium Pemeriksaan fisik. meliputi: a. Kulit : Kualitas. glossitis. atrofi mukosa. deformitas dan kuku b. g. sedang atau berat. folikel. edema 82 . kekuatan otot. Rambut Mata Mulut : Kualitas. rabun senja : Cheilosis. Anamnesa Penyakit kronis juga alkoholisme dapat berhubungan dengan malnutrisi energi dan protein juga disertai dengan devisiensi vitamin dan mineral. h. tekstur. rash. 3. hiperkeratosis. vitamin dan trace elemen. tekstur. e.apakah termasuk malnutrisi ringan. kelainan pada gigi Abdomen : Hepatomegali Rectum : Warna feses Neurologis : Neuropathy perifer Ekstrimitas : Ukuran otot. d. kerontokan : Keratokonjunctivitis.

83 .3 Female 16.Tabel 4.7 100-200 800-1200 30-60 70-80 75-85 < 2%/week < 5%/month < 10%/6 months < 10%/6 months 1 .95 < 5%/month <7.5 J.3.5 28.1 <100 <100 <40 <70 <75 > 2%/week Transferrin (mg/dL)2 Total lympochyte count (cells/μL)2 Creatinine/height Index (%)3 Ideal body weight (%) Usual body weight (%) Weight loss/unite time Skin tests (No.8 .1-2. MENGHITUNG KEBUTUHAN NUTRISI Kebutuhan energi total dari seorang pasien dalam keseimbangan metabolik adalah sama dengan pemakaian energi total ( Total Energy Expenditure) yang meliputi kebutuhan basal. energi yang terpakai selama proses asimilasi nutrien dan energi yang terpakai pada kerja fisik7.2/4 (weak) 0/0 (anergic) 7. Klasifikasi Malnutrisi Clinical and Laboratory Parameters Albumin (g/dL) 2 Extent of Malnutrition Mild 2.90 85 .5 29.5%/3 Severe <2.2 200 .80 80 .250 1200 . peningkatan kebutuhan energi yang disebabkan penyakit. reactive + No.2000 60 .5%/3 months < months Moderate 2. placed) Normal antrophometric measurements Tricep skin fold (mm)4 Midarm circumference (cm) 4/4 (normal) Male 12.

3 – 1.15 – 1.47 + [13.2 1. per 1o C Skeletal trauma Mild to moderate infection Major abdominal/thoracic surgery 84 .0 x height (cm) – [6.3 Injury Factors (IF) 1. Maricopa Medical Center. 1993) 7.4 1.1 – 1.13 1.Kebutuhan kalori basal didapat dengan penghitungan BMR berdasarkan persamaan Harris-Benedict. atau 5. Untuk menghitung kebutuhan energi total. Menurut persamaan Harris – Benedict laju metabolisme basal bisa dihitung dengan menggunakan persamaan sebagai berikut7: HARRIS–BENEDICT METHOD FOR DETERMINING ENERGY REQIUREMENTS Pria BEE = 66. Morse.85 x height (cm) – [4.1 – 1.2 1.13 1.0 – 1. AZ. Phoenix.5 Confined to bed Ambulatory Non-stressed on ventilator Congestive heart failure Minor surgery Fever.2 – 1.2 1. ACTIVITY AND INJURY FACTOR Activity Factors (AF) 1.68 x age (yrs) = _______kcals/day BEE juga dapat ditetapkan dengan menggunakan 12Lcal/lb untuk pria dan 11 kcal/lb untuk wanita.67 x age (yrs) = _______kcals/day Wanita BEE = 665. kebutuhan energi dasar ( Basal Energy Expenditure/BEE) harus dikaitkan dengan Activity Factor (AF) dan Injury Factor (IF)/stress factor (L.1 + [9.0 kcal/kg untuk wanita7.2 1.4 kcal/kg untuk pria and 5.57 x weight (kg)] + [5.56 x weight (kg)] + [1.

35 – 1.56 x 40) + (1.6 1. 3.5 – 1.68 x 30) = 1174.6 kcal/hari Activity Factor = 1.28 kcal/hari Terdapat pula cara estimasi kebutuhan kalori yang sederhana dengan menggunakan rumus 3–4–5 dari I. BEE = 655. berat badan 40 kg.2 x 1.55 1. Bila tidak mendapat dukungan nutrisi yang adekuat. penderita dirawat karena perdarahan epidural. sepsis.5 1. pasca bedah dengan penyulit. usia 30 tahun. tinggi badan 150 cm. tidak disertai demam. Secara keseluruhan. mempertahankan berat badan. cancer Sepsis Jadi Total kalori yang dibutuhkan pasien = BEE x AF x IF Contoh perhitungan : Seorang wanita.4 – 1. 50 kkal/kg BB/hari : luka bakar > 40%.8 Multiple trauma Closed head injury Stressed ventilator dependent Liver failure. 30 kkal/kg BB/hari : kebutuhan basal. 85 .6 1. infeksi berat.D Syttrar yaitu7: 1.1. respon fisiologis terhadap trauma merupakan peningkatan proses biokimia dan metabolik normal. 40 kkal/kg BB/hari : malnutrisi sedang.1 + (9. pasca bedah ringan/sedang.5 = 2114.6 x 1. sehingga biasanya terjadi peningkatan kebutuhan nutrisi yang cukup besar.2 Injury Factor trauma kepala = 1. 2. pasien akan banyak kehilangan berat badan dan terjadi komplikasi yang seringkali fatal.5 Total energi yang dibutuhkan = 1174. Tujuan utama terapi dukungan nutrisi adalah menjaga agar penurunan berat badan seminimal mungkin dengan harapan dapat mencegah komplikasi dan mengurangi morbiditas maupun mortalitas7. malnutrisi berat.4 – 1.85 x 150) – (4.

aktivitas fisik dan spesific dynamic action (SDA). aktivitas fisik adalah 20%. 86 . Apabila pasien harus di tempat tidur. SDA nutrisi parenteral adalah 0% sedangkan SDA untuk formula enteral dan makanan peroral kira-kira 10-20%7. Trauma digolongkan ke dalam stress sedang. sedangkan bila tidak di tempat tidur. aktivitas fisik hanya 10%.8-1 g/kgBB/hr) tidak mencukupi kebutuhan pasien yang mengalami trauma oleh karena adanya peningkatan protein turnover. yaitu derajat stress ringan (10-30%). dengan rasio kalori non-nitrogen : nitrogen = 100:17. Pada trauma terjadi katabolisme protein yang relatif konstan yaitu 10-20% dari keluaran energi. Kebutuhan protein bagi pasien dengan trauma bila tidak terdapat gangguan ginjal dan hati adalah 1. Masukan protein untuk orang sehat (0. Rumusan yang dugunakan adalah sebagai berikut 7: KK = KKB + FS + AF + SDA KK KKB FS AF SDA = Kebutuhan kalori total = Kebutuhan kalori basal = Faktor stress = Aktivitas fisik = Spesific dynamic action Faktor stress dinilai berdasarkan penilaian status gizi dan status metabolik. Untuk mencegah terjadinya defisiensi asam lemak esensial. Faktor stress trauma multipel adalah 50%. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pemberian emulsi lemak sebesar 30-40% dari kalori total merupakan jumlah yang optimal.Kebutuhan energi/kalori total sehari dapat dihitung dari penjumlahan kebutuhan kalori basal (BMR). perlu diberikan asam lemak esensial sebanyak 4-8% dari kalori total sehari7. SDA dari makanan tergantung jenis makanan yang diberikan. faktor stress. Untuk memudahkan. Lemak berfungsi sebagai sumber energi. derajat stress sedang (31-50%). dan derajat stress berat (51%). sehingga besarnya faktor stress untuk trauma adalah 31-50%. faktor stress dikategorikan dalam 3 kelompok.5-2 g/kgBB/hr.

2. mineral dan beberapa vitamin. terjadi peningkatan ekskresi seng (zinc) yang dianggap berasal dari katabolisme di jaringan otot. 3. Kadar kalium. seperti tahap pencernaan dan penyerapan dilakukan oleh organ saluran cerna. Kebutuhan cairan adalah ± 1500 ml per m2 luas permukaan tubuh per hari. diare. Garam fisiologis dan elektrolit intrasel harus diberikan dalam jumlah yang adekuat. pengeluaran zat sisa terutama oleh ginjal dan saluran cerna bagian bawah. zat-zat gizi mengalami proses metabolisme secara bertahap yaitu 7: 1. sedangkan saluran cerna bagian bawah terutama mengabsorpsi air. kemudian ditambahkan bila terdapat peningkatan insensible loss melalui keringat. penggunaan oleh semua organ. Pada trauma. Pada pasien dengan trauma.Karbohidrat juga berfungsi sebagai sumber energi. Saluran cerna bagian atas terutama mengabsorpsi zat-zat gizi utama. Kebutuhan tiamin dan niasin berkaitan dengan masukan kalori. Oleh karena terjadi peningkatan metabolisme. atau selang makanan. Keadaan ini dapat menyebabkan terjadinya defisiensi seng. Untuk dapat melakukan peran dan fungsinya dalam tubuh. Hati merupakan organ yang penting pada proses degradasi zat-zat gizi karena merupakan organ utama 87 . fosfor dan magnesium dalam plasma dan seluruh tubuh perlu dipertahankan agar tetap normal supaya didapat respon yang diharapkan dengan pemberian dukungan nutrisi7. maka kebutuhan vitamin B meningkat. Fungsi utama saluran cerna adalah pencernaan dan penyerapan dengan mensekresi enzim-enzim spesifik untuk masing-masing zat gizi. Pencernaan (digestion) Penyerapan (absorption) Perubahan (degradation) Penggunaan oleh organ / sel (utilisation) Pengeluaran zat sisa (excretion) Masing-masing tahap metabolisme dilakukan oleh organ-organ yang berbeda. Perubahan terutama dilakukan oleh hati. karbohidrat merupakan 40% dari kalori total sehari7. Banyaknya karbohidrat yang diberikan adalah kebutuhan kalori total dikurangi yang berasal dari lemak. 4. sehingga pasien trauma perlu mendapatkan suplementasi trace elemen ini7. 5.

protein dan lemak serta bertanggung jawab terhadap 20% metabolisme basal. Pemberian nutrisi juga bisa dilakukan dengan cara bolus atau cara infus lewat pompa infus enteral. 88 .yang akan memetabolisme zat-zat gizi dan mensekresi enzim yang berperan dalam metabolisme karbohidrat. Hati mensintesis beberapa protein plasma yang penting dan garam empedu serta berperan dalam detoksikasi. nutrisi parenteral total dapat menyebabkan atrofi mukosa usus halus dan pankreas terutama pada pemberian yang lama karena makanan masuk ke dalam hati melampaui alat cerna (by pass dari luar ke dalam hati). Lebih efektif Nutrisi enteral lebih efektif. Keuntungan nutrisi enteral dibandingkan parenteral antara lain adalah sebagai berikut9: 1. Gangguan penyekit hati dapat dikelompokkan menjadi penyakit hati akut seperti pada hepatitis virus dan penyakit hati kronis seperti pada sirosis hati. cara pemberian dapat melalui hidung-lambung (nasogastritic route) atau hidung–usus (nasoduodenal atau naso jejunal route). Gangguan pada ginjal akan menyebabkan gangguan pada ekskresi sisa-sisa hasil metabolisme terutama metabolisme protein serta gangguan cairan dan elektrolit 7. sehingga fungsi dan struktur alat cerna tetap dipertahankan. Selain itu. Ini terbukti dengan kenaikan berat badan yang cepat dan keseimbangan N yang cepat menjadi positif. Bersifat fisiologis Nutrisi enteral bersifat fisiologis. PEMBERIAN NUTRISI PADA PASIEN TRAUMA OROMAKSILOFASIAL Terapi nurisi enteral adalah terapi pemberian nutrisi melalui saluran cerna dengan menggunakan selang/kateter khusus. K. 2. sebab makanan masuk ke dalam tubuh melalui saluran cerna yang normal. Sebaliknya. Ginjal merupakan organ ekskresi yang paling besar dan juga sebagai organ pengatur keseimbangan cairan tubuh.

6. komplikasi-komplkasi berupa sepsis. 5. Itupun hanya dapat dilakukan oleh dokter yang terlatih. hematom.peningkatan imunitas tubuh akan cepat ditemukan pada pemberian nutrisi enteral. Tekniknya mudah Pemasangan sonde lambung dapat dengan mudah dilakukan oleh setiap dokter maupun perawat tanpa persyaratan sterilitas yang ketat. Sedangkan pemberian parenteral harus diberikan melalui vena besar yang letaknya profundal dengan sterilitas tinggi. atau paling tinggi kandungan laktosanya hanya 0. trauma ganda. Nutrisi enteral yang bebas dari bahan-bahan yang mengandung purin dan kolesterol. Kalori tinggi mudah dicapai Dengan nutrisi enteral kebutuhan kalori tinggi lebih dari 3000 kkal/hari dapat dengan mudah dipenuhi yang dengan parenteral amat sulit mencapainya tanpa komplikasi dan pengawasan yang ketat. 3. Untuk menghindari intoleransi laktosa yang sering terjadi pada penderita malnutrisi sebaiknya suatu nutrisi enteral kurang atau tanpa mengandung laktosa. Nutrisi parenteral selain membutuhkan pemantauan yang ketat. atau luka bakar. Selain itu.5% dari total karbohidrat. Biaya murah Rata-rata nutrisi enteral lebih murah 10-20 kali dari nutrisi parenteral. 4. pneumothoraks serta gangguan metabolik berupa hipoglikemi atau hiperglikemi tak jarang ditemukan. pemberian kalori tinggi dengan nutrisi parenteral sering menimbulkan perlemakan hati yang tidak dijumpai pada nutrisi enteral. Kalori tinggi ini diperlukan pada penderita dengan hipermetabolik seperti sepsis. trombosis. Komplikasi kurang Komplikasi nutrisi enteral jauh lebih rendah bila dibandingkan nutrisi parenteral. Syarat-syarat nutrisi enteral adalah9: 89 .

1. 90 . maka ia harus berbentuk cair agar mudah melalui sonde. dalam jumlah minimal untuk kebutuhan sehari (2000 kkal) harus sudah mengandung semua komponen nutrisi esensial seperti protein. 5. Nutrisi enteral yang banyak mengandung serat akan bersifat bulk yang pada gilirannya akan meningkatkan frekuensi defekasi. sesuai dengan osmolaritas cairan ekstraseluler. Kepadatan kalori yang ideal adalah 1 kkal/ml cairan. 4. vitamin. 3. Oleh karena itu. maka ia harus memiliki kepadatan kalori tinggi. Mudah diabsorpsi Bahan-bahan baku suatu nutrisi enteral seharusnya terdiri atas komponenkomponen yang siap diabsorpsi atau paling tidak hanya sedikit memerlukan kegiatan pencernaan untuk dapat diabsorpsi. elektrolit dan elemen-elemen lain sesuai dengan jumlah kebutuhan. asam amino. Agar dalam bentuk cair ini nutrisi enteral tetap memiliki kalori yang cukup. Kandungan nutrisinya seimbang Artinya. dengan volume yang tidak terlalu besar. molekulmolekulnya berukuran kecil. 2. Dengan kata lain. jumlah kalori sudah dapat tercapai. Memiliki osmolaritas yang sama dengan osmolaritas cairan tubuh Suatu nutrisi enteral yang memiliki osmolaritas yang tinggi mudah menimbulkan diare sebab cairan tubuh akan ditarik masuk ke dalam lumen usus. lemak. Sehingga. osmolaritas yang ideal adalah 350-400 m Osmol. Memiliki kepadatan kalori tnggi Karena nutrisi enteral harus diberikan melalui sonde kecil. Tanpa atau kurang mengandung serat dan laktosa Suatu nutrisi enteral hendaknya memiliki sedikit atau tanpa mengandung serat agar efektif dan efisien.

terutama pada penderita yang kesadarannya menurun atau pada penderita yang berbaring. kadar cairan nutrisi enteral sebaiknya dinaikkan secara bertahap. Sonde yang menjadi kaku akan sangat mengganggu penderita karena selain terasa tidak enak juga dapat menimbulkan erosi atau perlukaan saluran napas atau saluran cerna. 91 . Saat ini sonde-sonde yang dipakai untuk nutrisi enteral terbuat dari silikon atau poliuretan yang selain diameternya kecil (2. sonde mudah menjadi kaku setelah zat pelemasnya habis (setelah 24 jam pemakaian). Untuk menjaga ketepatan dan ketetapan tetes cairan nutrisi enteral dapat digunakan portable pump. kemudian pengenceran 2/3 pada hari kedua dan takaran penuh pada hari ketiga dan seterusnya. Teknik pemberian nutrisi enteral Teknik pemberian secara tetes merupakan yang paling aman. sambil mengawasi dan mengevaluasi keluhan maupun gejala-gejala yang timbul. Guna menjaga toleransi penerimaan usus.5 mm). juga tidak tahan terhadap pengaruh cairan lambung maupun duodenum. regurgitasi sampai aspirasi ke dalam paru. Guna mengurangi komplikasi-komplikasi di atas. kelemasan dan kelenturannya bertahan lama serta tahan terhadap pengaruh cairan lambung dan cairan duodenum. 2. Pemilihan sonde Sebelum tahun 1980-an sonde yang tersedia umumnya terbuat dari polietilen.Prosedur teknik pemberian nutrisi enteral / diet sonde akan diuraikan sebagai berikut9: 1. sebaiknya penderita diposisikan setengah duduk selama pemberian nutrisi enteral. Kekurangan dari sonde-sonde ini selain diameternya besar. PVC atau lateks. Dimulai dengan pengenceran ½ pada hari pertama. Pola lama yang memberikan secara bolus mengandung banyak komplikasi berupa muntah.

ileus. esofagus. leukosit). tiap kenaikan 1° + 10% BMR + 25-30% BMR +10% BMR Jadi. Pengukuran berat badan atau lingkar lengan atas (LLA) setiap minggu merupakan parameter yang objektif. Kemajuan atau kemunduran keadaan umum penderita dievaluasi setiap harinya termasuk keseimbangan cairan dan elektrolitnya bila ada fasilitas. yakni pasca bedah: mulut. Komplikasi nutrisi enteral. luka bakar yang luas. antara lain pemeriksaan darah (Hb. antara lain akan diuraikan sebagai berikut 9: 92 . penderita kanker. seorang dengan tinggi badan 165 cm tanpa stress memiliki BMR (165-100)x20 = 1300 kkal. malabsorpsi/maldigesti. Dengan menambah 10-20% dari kebutuhan BMR dapat diperoleh kebutuhan kalori pada saat aktivitas yang sangat terbatas. Indikasi bedah. sepsis. Ht. dan atoni paska bedah. pemeriksaan laboratorium sangat diperlukan. lambung. Sedangkan pada suatu keadaan katabolik yang tinggi diperlukan penambahan 30100% dari kebutuhan BMR9. 2. sebagai berikut9: BMR = Indeks Stress (Tinggi Badan – 100) x 20 Dimana indeks stress: Paska bedah Fraktur multipel Sepsis. Selain itu. dan kolon. penderita dengan kebutuhan kalori ekstrim. ureum. peritonitis. fistula. serum (glukosa. albumin total). depresi berat. Kontrandikasi pemberian nutrisi enteral apabila pasien muntah-muntah. volume dan urin rutin. trauma kepala/otak. saluran empedu. protein total. Indikasi non bedah: anoreksia. perdarahan gastrointestinal yang akut.Kebutuhan metabolisme basal dapat dihitung dengan indeks BROCA. Indikasi pemberian nutrisi enteral adalah9: 1.

4. Komplikasi bakteriologik Kontaminasi dengan bakteri gram negatif pada waktu penyediaan nutrisi enteral atau kantong plastiknya dapat menimbulkan syok septik. Secara umum dapat dikelompokkan berdasarkan keadaan kondisi saluran pencernaan (gastriontestinal tract). osmotik volume mempertahankan tekanan hidrostatik. Komplikasi kimiawi Hal ini berhubungan dengan osmolaritas serta komposisi kimiawi cairan nutrisi enteral yang terlalu tinggi. 2. Prinsip keseimbangan pemberian tekanan nutrisi parenteral sehingga adalah mempertahankan interalumen tetap. 93 . Bila saluran cerna mengalami obstruksi Bila saluran cerna terlalu pendek Bila terdapat fistula pada saluran cerna. 3. Komplikasi metabolik Dehidrasi hipertonik dapat terjadi bila komposisi nutrisi enteralnya memilki osmolaritas yang tinggi. tidak bisa makan dan tidak boleh makan.1. Terapi nutrisi parenteral diberikan kepada setiap penderita yang akibat penyakitnya membutuhkan banyak asupan nutrisi tetapi penderita tersebut tidak mau makan. Nutrisi parenteral adalah pemberian nutrien melalui pembuluh darah vena. Pemberian kadar secara bertahap dapat mengurangi komplikasi ini. dan mengatasi kehilangan plasma 9. Bila saluran pencernaan tidak berfungsi. 2. 4. Rasa mual sampai muntah dan kram perut atau diare merupakan gejala yang menonjol. yaitu 9: 1. 3. tidak cukup makan. Komplikasi mekanik Komplikasi mekanik berhubungan dengan sondenya sendiri yang dapat mengalami dislokasi atau penyumbatan. Cara pemberian dapat melalui vena perifer (nutrisi parenteral perifer) atau vena sentral (nutrisi parenteral total).

2. Sifat-sifat fisik dari larutan demikian mendorong terjadinya trombosis vena perifer. 5. emboli 6. menjaga keseimbangan cairan-elektrolit dan asam basa. Pasien pasca bedah. Indikasi nutrisi parenteral adalah fungsi saluran cerna terganggu (tidak mampu mencerna atau menyerap makanan). sindrom malabsorpsi berat. vomitus. dengan pemasangan kateter seperti pneumothoraks. menyediakan intake bagi kebutuhan metabolisme secara parenteral9. Pada pasien dengan penyakit terminal (keganasan) atau keadaan vegetatif (brain death).Tujuan Pemberian Nutrisi Parenteral adalah supaya mempertahankan volume dan perfusi sirkulasi darah. seperti syok. Larutan nutrisi yang hanya sedikit hipertonik (antara 600 dan 900 m)sm/L) bisa disiapkan dengan mencampur proporsi sesuai dari asam 94 . dan keganasan9. 4. infeksi pada tempat. Sedangkan kontra indikasi nutrisi parenteral adalah9: 1. peritonitis. trauma dalam phase Ebb (24 jam pertama) Pasien yang masih mengalami hemodinamik krisis. Nutrisi Parenteral Perifer Larutan standar yang diberikan untuk nutrisi parenteral total melaui vena sentral memilki tekanan osmotik hampir 2000 mOsm/L. diare berat. Komplikasi infeksi ditandai oleh demam seperti pada flebitis. defisit cairan ekstra seluler yang belum terkoreksi dan demam tinggi (hipertermi). memelihara hemostatik metabolik umum. ileus obstruksi. Kondisi-kondisi yang membutuhkan nutrisi parenteral anatara lain. malnutrisi protein atau protein-kalori. dan suplemen terhadap nutrisi enteral. yaitu 9: 1. Pasien yang mengalami gagal nafas (kecuali dibantu dengan bantuan nafas mekanik dengan ventilator). NPO > 3-5 hari. dan baru setelah dilakukan kateterisasi pada vena cava superior pemberian menjadi praktis dan aman untuk larutan hiperosmolar demikian bisa digunakan pada pasien bedah. Komplikasi teknis berkaitan udara. Adapun akses yang digunakan untuk nutrisi parenteral. 3. fistula enterokutan.

amino. Bila volume cairan besar. Kunci keberhasilan dari cara ini terletak pada insersi serta perawatan kanul vena sentral. 2. lemak dan asam amino diberikan melalui kateter vena sentral yang ujungnya berada dalam vena cava superior. Campuran nutrien ini memiliki desnitas kalori rendah dan memasok hanya 2500 kcal dalam 3 L larutan. 95 . Larutan yang digunakan untuk nutrisi via vena sentral (TPN) biasanya memiliki densitas 1 kcal/ml. larutan-larutan demikian bisa diberikan melalui vena perifer untuk jangka pendek(kira-kira satu minggu). dan kebutuhan akan air serta elektrolit diresepkan secara individual. Nutrisi Parenteral Sentral Perkembangan kateterisasi vena sentral telah memungkinkan pemberian larutan hipertonik dengan aman. dekstrosa dan emulsi lemak. Campuran glukosa.

Dosis kemudian dapat ditingkatkan bertahap dengan memperhatikan perubahan kadar gula darah. Periode 24 jam ini adalah masa ebb-phase. Ini setara dengan 1700 kkal pada pasien 70 kg dengan luas tubuh 1. Agar imbang N tidak terlalu negatif. Hal ini berlaku pada pasien trauma. resting energy expenditure berkisar 1000 kkal/m2/hari. mineral dan vitamin. minimal diberikan 20 kkal/kg/hari. NPE total hanya akan menambah stres bagi tubuh pasien. Dosis NPE total harus diberikan lebih lambat (mulai hari ketiga) karena beban metabolismenya besar. makin lambat NPE total dapat dimulai. sepsis. asam amino. Tepat indikasi Dosis NPE parsial dapat diberikan sangat dini. Dosis yang tepat harus diukur. Tepat dosis Quebbeman (1982) menemukan pada pasien trauma berat dan sepsis yang mengalami katabolisme. yaitu 24 jam setelah trauma atau krisis kegawatan dapat diatasi. masa stabilisasi dimana kadar stres hormon masih tinggi. Sel-sel resisten insulin dan kadar gula meningkat. preeklampsia. paska bedah ekstensif. emulsi lemak.Pendekatan yang digunakan pada pemberian nutrisi parenteral adalah 4 Tepat – 1 Waspada9: Tepat pasien Setiap pasien yang tidak cukup atau tidak mendapat intake oral seharusnya segera mendapat nutrisi parenteral (NPE). Tepat obat/substrat Bahan nutrisi yang digunakan adalah karbohidrat.73 m2 atau kira-kira 25 kkal/hari. 96 . Sebelum keadaan tenang tercapai. katekolamin dan glukagon. Makin berat kondisi pasien. Fase tenang ini ditandai dengan menurunnya kadar kortisol. pemeriksaan kadar kalium dan natrium. keadaan umum pasien. eklampsi. dsb.

lemak. mineral). Vena kaki mudah mengalami deep vein thrombosis dan tromboemboli. go slow” tidak diikuti.9. Vena perifer dapat menerima sampai 900 mOsm. jugularis) dimana darah mengalir secara cepat sehingga kecepatan tetesan cairan NPE yang pekat tidak sempat merusak vena. Pada kasus yang ekstrim dapat terjadi koma. Untuk cairan > 900-1000 mOsm jika perlu lebih dari 5 hari. Osmolaritas plasma 300 mOsm. seharusnya digunakan vena sentral (vena cava. Karbohidrat 97 . Semuanya akan diuraikan sebagai berikut 9: 1. pasien dengan bantuan nutrisi khusus terpaksa menerima semua yang diberikan. Cairan 900-1000 mOsm untuk jangka pendek 3-5 hari masih dapat diberikan lewat vena tangan tapi jangan memberikan lewat vena kaki. penyulit yang timbul akan menyebabkan morbiditas bahkan kematian. makin mudah terjadi tromboflebitis. Penyulit yang sering dijumpai adalah hiperglikemi. go slow”.Untuk menghindari hiperglikemi. Jika larutan glukosa diselingi cairan lain maka besar kemungkinan kadar gula darah berfluktuasi karean overshoot insulin dari waktu ke waktu. Tromboflebitis karena iritasi mudah diikuti radang. protein.8. Osmolaritas dapat dikurangi dengan mencampur cairan menggunakan infus set bercabang 7. bahkan tromboemboli. larutan karbohidrat dibagi rata dalam 24 jam. Beban glukosa merangsang pankreas mengeluarkan insulin. Makin tinggi osmolaritas. Adapun komposisi yang ideal dari nutrisi parenteral adalah kombinasi antara karbohidrat (KH). Waspada efek samping Berbeda dengan orang sehat yang dapat mengatur keseimbangan makan dan kebutuhannya sendiri. Jika pilihan atau dosis tidak tepat. Agar fluktuasi kadar gula darah bervariasi seminimal mungkin. subclavia. Hiperglikemi umumnya terjadi jika pola “start low. Kelainan ini dapat disertai hyperosmolar state dan diuresis osmotik. peningkatan glukosa 5% menuju 20% harus dilakukan secara bertahap “start low. atau cara memberikan keliru. dan cairan dan elektrolit (vitamin.

98 . Secara kasar dapat diperkirakan dengan menghitung jumlah ureum dalam urine 24 jam. Cara yang lebih mudah untuk menghitung kebutuhan asam amino adalah dengan memperkirakan besar kecilnya stress metabolik yang terjadi. bahkan justru merugikan sebab akan menyebabkan kadar co2 dalam tubuh meningkat. Glukosa/ dextrosa adalah sumber kalori yang paling fisiologis. sorbitol dan xylitol. Protein Protein diperlukan untuk regenerasi sel dan enzim. Dosis maksimal bagi kebanyakan penderita adalah 6-7. maltosa. Karbohidrat tersimpan dalam tubuh dalam bentuk glikogen dihati dan otot. fruktosa.25 b. karena itu pemberiannya harus dilindungi oleh pemberian kalori yang cukup agar protein tidak digunakan sebagai sumber energi. 2. Pemberian kalori dengan glukosa yang melebihi kebutuhan ternyata tidak bermanfaat. Kebutuhan protein=konsumsi nitrogen x 6. Sumber kalori karbihidrat dapat berupa dextrosa. dengan rumus sebagai berikut a. 1993) untuk pemberian karbihidrat dalam keadaan normal adalah 25 – 30 kcal/kg/hari. Kebutuhan protein (asam amino) dapat dihitung secara tidak langsung dengan menghitung jumlah nitrogen yang dokonsumsi oleh tubuh.Karbohidrat sebagai sumber kalori utama yang layaknya selalu tersedia 4060% dari total kalori (1 gr KH = 4kkal). Menghitung energi konsumsi Konsumsi nitrogen (mg/24 jam) = ureum urine (mmol) / 24jam x 28 + 4000 mg.5gr/kgbb/hari. Rekomendasi dari American Society for Parenteral & Enteral Nutrition (ASPEN. Menghitung nitrogen secara laboratorium relatif mahal biayanya.

Elektrolit. 4. Trace Elements. Pemberian lebih dari 60% dari kalori total dapat menyebabkan ketoasidosis. Karena osmolaritasnya yang rendah. Lemak Cairan emulsi lemak diberikan dalam nutrisi parental bertujuan untuk mencegah defisiensi asam lemak esensial dan sebagai sumber kalori. pemberian cairan emulsi lemak dapat diberikan pada nutrisi parental perifer. Kebutuhan air dewasa : 30-50 ml/kgbb/hari Kebutuhan Natrium Kebutuhan Kalium : 2-4 mg/kgbb/hari atau 100-200 meg/hari : 1-2 mg/kgbb/hari atau 50-100 meg/hari 99 . harus selalu diperhatikan dan diperhitungkan akan kebutuhan terhadap elektrolit. Besarnya kebutuhan disesuaikan dengan keadaan klinis penderita. Misal berat badan pasien 60 kg dengan sepsis Dengan menggunakan tabel dengan stress metabolik Kebutuhan kalori Kebutuhan AA = 60 x 40 kcal = 2400 kcal/hari = 60 x 2 = 120 gr/hari 2 gr/kgbb/hari 40 kcal/kgbb/hari 1 gr/kgbb/hari Kalori 30 kcal/kgbb/hari 3. Cairan. Kebutuhan ini terutama harus diberikan bila terapi nutrisi parenteral berlangsung lama. Untuk memenuhi kebutuhan kalori. cairan emulsi lemak diberikan 1-3 gr/kgbb atau dalam proporsi 25 – 40% dari kalori total perhari. dan vitamin baik yang larut dalam air maupun lemak. trace element. dan Vitamin Dalam merencanakan komposisi carain untuk terapi nutrisi pareneral.Perbandingan kebutuhan protein (AA) dan kalori perhari9: Protein (AA) Tanpa stress metabolik Dengan stress metabolik Contoh perhitungan kebutuhan protein.

tekanan darah yang sangat sempit (tidak adanya tekanan darah diastol). peningkatan denyut nadi minimal dengan peningkatan kontraktilitas dari jantung dan peningkatan vasokonstriksi vena dan arteri dapat menjaga tekanan darah. Hemoragi kelas II diklasifikasikan sebagai kehilangan volume darah sebanyak 15-30%. Pada pasien yang lebih tua. penurunan tekanan darah dapat terjadi setelah kehilangan darah sebanyak 10-15%. dan turunnya tekanan sistolik. Biasanya hal ini diikuti dnegan takikardia.BAB III PEMBAHASAN Hemoragi adalah penyebab utama keadaan hipovolemik pada pasien yang mengalami luka multisistem. perubahan status mental penderita. Gejala klinis minimal pada kelas I ini. Dalam kondisi yang tidak kompleks. takipneu. Gejala klinis meliputi takikardia. Pada dewasa sehat kehilangan 15% volume darah pertama diklasifikasikan sebagai hemoragi kelas I. dan perubahan status mental pasien yang banyak. takipneu. dan hal ini merupakan keadaan yang mengancam nyawa. Pasien dapat terkena serangan jantung bila kehilangan darah sebanyak ini. Kebanyakan pasien tersebut memiliki beberapa tingkatan dari syok hipovolemik. dengan mekanisme kompensasi yang kurang efisien. Perlu diperhatikan 100 . penurunan tekanan darah sistolik yang secara substansial. Respon tekanan darah awal terhadap kehilangan volume intravaskular tidak memiliki hubungan yang linear 1. Pada kasus yang tidak kompleks. dan penurunan tekanan darah. kurangnya urine output. Tekanan sistolik biasanya tidak berubah. tetapi tekanan diastol meningkat karena peningkatan dari katekolamin. kehilangan darah sebanyak ini secara konsisten menyebabkan tekanan darah sistolik menurun. Hemoragi kelas IV didefinisikan sebagai kehilangan darah sebanyak >40%. Tingkatan tersebut dapat diukur melalui respon fisiologi terhadap hemoragi. Hemoragi kelas III diklasifikasikan sebagai kehilangan 30-40% volume darah. Respon fisiologi ini dapat dikategorikan berdasarkan persentasi dari kehilangan akut darah. Gejala klinis meliputi takikardia (denyut nadi >100 pada orang dewasa).

kuku ibu jari. Capillary fill time dapat diukur dengan menggunakan “blanch test”. sedangkan atlet muda yang sehat dapat memiliki tekanan sistol sebesar 90 mmHg 1.bahwa tekanan darah pasien dapat turun tiba-tiba setelah pemeriksaan awal ketika mekanisme kompensasi mereka telah gagal karena kehilangan darah yang terusmenerus. tekanan diaplikasikan ke kuku-kuku jari. pasien dengan hipertensi dapat menunjukkan tekanan sistol sebesar 120 mmHg dapat menunjukkan gejala kehilangan darah yang signifikan. Pelepasan katekolamin menyebabkan keluarnya keringat dan kulit terasa dingin dan lembab pada saat palpasi. dengan tandatanda pertama dari hipovolemi adalah terasa dinginnya kaki dan regio patella. Kompensasi fisiologi awal pada kehilangan volume intravaskular adalah vasokonstriksi pada pembuluh darah di kulit dan otot. Ekskremitas bawah adalah yang pertama terkena. yang dimana memberikan ukuran kehilangan darah ke pembuluh kapiler. Sulit dilakukan perubahan tekanan darah. Tekanan yang digunakan untuk mengontrol perdarahan sebaiknya kuat dan kontinu. Sebagai contoh. Waktu yang diperlukan untuk jarinagn kembali ke warna normalnya mengindikasikan waktu yang diperlukan untuk darah kembali ke pembuluh kapiler. tetapi sebaiknya dressing tambahan digunakan karena apabila dressing dilepaskan maka formasi clot yang telah terbentuk dapat terganggu dan menyebabkan perdarahan kembali. Ketika dressing yang digunakan menjadi basah. Hemoragi dapat secara ekternal maupun internal ke dalam kavitas tubuh. Kapilerkapiler pada kulit adalah yang pertama kali berhenti bekerja sebagai respon terhadap hipovolemik yang dikarenakan stimulus dari sistem saraf simpatik dan kelenjar adrenal melalui pelepasan hormon epinefrin dan nor epinefrin. Tekanan 101 . Hemoragi eksternal biasanya dapat dikontrol dengan melakukan penekanan secara langsung ke luka yang ada. Salah satu indikator dari rendahnya perfusi jaringan pada pemerikssaan awal adalah perfusi kulit. dressing tersebut sebaiknya jangan dilepaskan. karena pada kebanyakan kasus batas bawah dari tekanan ydarah pasien tidak diketahui. Waktu kurang dari 2 detik biasanya ditemukan pada pasien normovolemik dan mengindikasikan aliran darah normal ke pembuluh kapiler 1. atau emninesia hipothenar dari tangan untuk mengevakuasi darah dari daerah tersebut dan kemudian tekanan langsung dilepaskan. Dengan tes tersebut.

Tekanan langsung kemudian dapat dilakukan pada luka untuk mengontrol hemoragi dan meminimalkan pembentukan hematoma. Pemberian pertolongan pertama dan resusitasi cairan yang tepat sangat membantu dalam mengembalikan perfusi jaringan yang adekuat.yang kuat dapat diaplikasikan proksimal ke arah arteri mayor untuk mengontrol perdarahan. respirasi dsb. PASGs dan medical antishock trousers(MASTs).drainase toraks. Aspek negatif dari suplai darah tersebut adalah hemoragi mayor dapat disebabkan oleh luka pada kulit kepala yang besar. serta penggantian cairan yang hilang dilakukan melalui pipa lambung. hal tersebut hanya direkomendasikan apabila penekanan langsung pada luka saja tidak efektif 1. Luka pada kulit kepala dapat menyebabkan kehilangan darah dalam jumlah besar pada waktu yang singkat karena perembesan darah pada galea dan lapisan jaringan ikat yang renggang. drainase peritonium. Perban tekan.0 nonresobable atau staples tanpa memperhatikan kosmetik pasien. Ketika pasien sudah stabil. Luka kulit kepala dapat dengan cepat diatasi dengan dijahit menggunakan 2. jahitan dapat dilepaskan dari luka dan penutupan lapisan luka secara kosmetik dapat dilakukan 1. yang sebelumnya digunakan untuk meningkatkan tekanan darah pada kasus hipotensi yang parah. Penatalaksanaan pada perdarahan akut adalah sebagai berikut 9: 102 . fistula usus. fraktur nasal atau tengah wajah. Maksud utamanya adalah mengembalikan volume intravaskular dan mendapatkan perfusi jaringan yang adekuat. Akan tetapi. kita mengetahui adanya suplai vaskular yang banyak ke daerah muka dan leher. Namun koloid efek udema parunya kurang dan harga cairan ini mahal1. memberikan keadaan yang merugikan pada beberapa situasi karena menyebabkan luka vaskular. dan merupakan pilihan yang terbaik untuk peningkatan Cardiac Output dan volume O2. dan luka tembus pada leher. Pilihan tipe cairan yang digunakan adalah koloid dan kristaloid. Koloid sangat baik untuk ekspansi volume plasma. seperti air-pillow splints dan blood pressure cuff dapat juga digunakan. Tujuan yang harus dipenuhi dalam pemberian cairan adalah menganti cairan yang hilang selama trauma atau pembedahan. Sebagai spesialis bedah mulut dan maksilofasial.

Pemberian WB atau PRC hingga HT> 30 % dengan 1-2 unit fresh frozen plasma (FFP) tiap 5 unit darah.V.namun prosedur ini juga membatasi kemampuan mulut sementara waktu.9% dalam 30–60 menit. kemudian pengecekan elektrolit dan dikoreksi bila terdapat kelainan lainnya 1. dengan pemberian 1-2 liter kristaloid (NaCl 0. terjadinya edema. dalam 30 –60 menit. Prosedur bedah mulut dan maksilofasial dapat mengeliminasi permasalahan ini dengan suatu prosedur operasi. energi yang terpakai selama proses asimilasi nutrien dan energi yang terpakai pada kerja fisik. Hal ini berakibat menurunnya daya tahan tubuh. Sedangkan penatalaksanaan untuk kehilangan cairan gastrointestinal dapat diberikan 1-2 liter NaCl 0. 4.3. sedang atau berat. Penentuan status gizi penderita penting untuk jumlah lama dan komposisi yang harus diberikan. dan injuri (trauma).. Pada orang dewasa 2–3 liter RL selama 20–30 menit untuk memulihkan tekanan darah. Oleh karena itu pasien dengan trauma oromaksilofasial memerlukan intervensi nutrisi dalam rawat inap di rumah sakit 7.9% atau RL) atau Koloid (Dextran) secara I. Kebutuhan kalori basal didapat dengan penghitungan BMR berdasarkan persamaan Harris-Benedict. Cara 103 . Pada keadaan trauma (stress dan sepsis) tubuh mengalami rangkaian perubahan hormonal yang menambah laju metabolisme. Kebutuhan energi total dari seorang pasien dalam keseimbangan metabolik adalah sama dengan pemakaian energi total (Total Energy Expenditure) yang meliputi kebutuhan basal. Nutrisi parenteral adalah pemberian nutrien melalui pembuluh darah vena. dan memonitor tanda vital. Setidaknya penderita harus ditentukan apakah termasuk malnutrisi ringan. udema paru diperhatikan. peningkatan kebutuhan energi yang disebabkan penyakit. tekanan vena sentral. deformitas congenital. gangguan enzim dan metabolisme serta kelemahan otot. dan diuresis. dan terhambatnya penyembuhan luka gangguan motilitas usus. Kemampuan seseorang dalam mengkonsumsi makanan melalui oral dapat berubah dikarenakan neoplasia. infeksi. Salah satu fungsi rongga mulut adalah sebagai jalan masuk makanan menuju saluran cerna (gastrointerstinal tract). Pemasangan 2 jalur Infus I.V.

9. memelihara hemostatik metabolik umum. tidak bisa makan dan tidak boleh makan. tidak cukup makan.8. 104 .pemberian dapat melalui vena perifer (nutrisi parenteral perifer) atau vena sentral (nutrisi parenteral total). menjaga keseimbangan cairan-elektrolit dan asam basa. dan menyediakan intake bagi kebutuhan metabolisme secara parenteral7. Tujuan pemberian nutrisi parenteral ini adalah untuk mempertahankan volume dan perfusi sirkulasi darah. Terapi nutrisi parenteral diberikan kepada setiap penderita yang akibat penyakitnya membutuhkan banyak asupan nutrisi tetapi penderita tersebut tidak mau makan.

fraktur maksila). dimana untuk menentukan jenis nutrisi yang akan diberikan kepada pasien tersebut diperlukan kerjasama dengan ahli gizi sehingga benar benar sesuai dengan kebutuhan gizi yang telah ditentukan sebelumya. Perawatan pasien dengan trauma oromaksilofasial memerlukan terapi nutrisi yang benar. sebelum melakukan pemeriksaan tanda-tanda vital. Untuk penderita dengan trauma oromaksilofasial perhatian harus segera diarahkan terhadap saluran pernafasan dan kontrol perdarahan eksternal. Sebelum melakukan perawatan fraktur perlu diperhatikan keadaan darurat medik yang harus ditangani lebih dulu. Pemberian nutrisi yang adekuat akan membantu proses penyembuhan pasien. nasofaring (dari basis cranii) atau perdarahan dari hidung (fraktur nasalis. enteral dan parenteral.BAB IV KESIMPULAN Trauma oromaksilo fasial dapat menyebabkan kematian jika dapat menyebabkan obstruksi jalan nafas dan perdarahan yang banyak. Perdarahan adalah sebab tersering dari syok pada trauma. Pemberian pertolongan pertama dan resusitasi cairan yang tepat sangat membantu dalam mengembalikan perfusi jaringan yang adekuat.Pemberian nutrisi untuk pasien rawat inap dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu peroral. Perdarahan dari fraktur oromaksilofasial dapat terjadi perdarahan pada rongga mulut. sinus paranasalis. dan hampir semua penderita multi-trauma ada syok. Perdarahan yang banyak bisa mengakibatkan syok hipovolemik. Pengukuran kebutuhan nutrisi pasien trauma bergantung dari rumus yang didasarkan oleh berbagai faktor yang mempengaruhi. hidung. keadaan-keadaan itu harus ditangani lebih dahulu oleh karena mengancam jiwa penderita. 105 .

W. 6. Robert. Saunders Company. Philadelphia. Louis. Vol I. ABC of Major Trauma 2nd ed BMJ Publishing Group. R.R. Fonseca. Co. 2000. 2. Kedaruratan Medik. 1996.IKAPI. Edisi Revisi. Buku Ajar Praktis Bedah Mulut. Ruly. E. 1996. 2005. W.. 1991.. EGC.. dan Parenteral. Basoeseno. Andry Hartono. 5th ed. 2008. Vol 1. Vol 1.Terapi Gizi dan Diet Rumah Sakit. 5. Bandung.W. Dasar-dasar Terapi Nutrisi Parenteral pada Dewasa dan Anak. Purwanto. Sp. London. 9. Tucker. 7. Hutchinson and Skinner. Ellis III. EGC. R. Philadelphia. Saunders Company. J. Alih Bahasa: drg. Kelompok Studi Terapi Cairan. St. Enteral. Pedoman Penatalaksanaan Praktis. dkk. 3.B.B. W.GK. Philadelphia.DAFTAR PUSTAKA 1. V. drg. edisi kedua.R. Mosby Elsevier. 106 . Jakarta. Contamporary Oral and Maxillofacial Surgery.J. 8. Agus Purwadianto & Budi Sampurna. Raymond and Wolker. 1997.J. Hupp. M.B.dr.dkk. Oral and Maxillofacial Trauma 3rd ed. Oral and Maxillofacial Trauma 2nd ed. Pedersen.2006. Roesli. Fonseca. G. 1997. W. Saunders Company. Oral and maxillofacial Trauma. 4.

seperti terlihat pada individu dengan maloklusi Kelas II divisi I atau sebagai akibat kebiasaan buruk menghisap jempol. maloklusi. Insisivus yang protrusif dengan penutupan bibir yang tidak seimbang. pencegahan terhadap infeksi. dimana anak – anak pada masa pertumbuhan dengan aktivitas bermain yang tinggi seperti terjatuh dari sepeda. menghentikan perdarahan. Pada pasien anak juga sering kita jumpai fraktur dentoalveolar. kecelakaan sewaktu berolahraga. trauma. dengan melakukan penjahitan dan penutupan luka dengan kain kassa. Cedera akan meningkat dua kali lebih sering pada anak dengan insisivus yang protrusif dibandingkan dengan seorang anak yang memiliki oklusi normal. Trauma secara langsung biasanya menyebabkan cedera pada insisivus sentral maksila karena posisinya yang relatif lebih ke depan. Perawatan darurat pada kasus truma gigi anterior meliputi pembersihan luka akibat trauma dengan menggunakan cairan antiseptik. Kata kunci: fraktur dentoalveolar. Adapun penyebab fraktur dentoalveolar yang utama adalah kecelakaan lalu lintas. merupakan faktor predisposisi trauma insisivus maksila. kekerasan dalam rumah tangga dan lain sebagainya.Fraktur Dentoalveolar Sutami Wahyu Prasetya 160121120010 Peserta Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut Dan Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Bandung Abstrak : Fraktur dentoalveolar adalah salah satu fraktur yang banyak kita jumpai di emergency room. perawatan darurat 107 . merawat luka akibat trauma. Perawatan darurat merupakan perawatan yang penting dan harus dilakukan dengan segera karena menyangkut prognosa dari penderita. menghilangkan rasa sakit.

benturan akan diteruskan ke oklusi gigi-geligi. menimbulkan kerusakan gigi-gigi posterior atau jaringan lunak anterior. kecelakaan di taman bermain. Cedera pada gigi akan meningkat dua kali lebih sering pada anak-anak dengan gigi incisivus yang protrusif dibandingkan dengan seorang anak yang memiliki oklusi normal. biasanya akibat oklusi yang menutup dengan cepat dan kuat antara gigi-geligi mandibula ke gigi-geligi maksilla. Trauma tidak langsung pada gigi dan struktur pendukung biasanya sebagai akibat dari benturan yang mengenai dagu. Cedera pada strktur dentoalveolar dapat diakibatkan oleh trauma secara langsung mengenai gigi atau trauma tidak langsung.BAB I PENDAHULUAN Trauma pada gigi dan jaringan pendukungnya sering tejadi pada pasien trauma. Fraktur dentoalvapaeolar pada umumnya terjadi bersamaan 108 . kecelakaan sepeda motor. merupakan faktor predisposisi trauma incisivus maksilla. Dapat dalam bentuk retak tetapi pada umunya dalam bentuk fragmen alveolar yang sederhana. dan kecelakaan olahraga. dan 2% dari kasus tersebut melibatkan trauma dentoalveolar. penganiayaan. kecelakaan sepeda. ataupun dapat juga berhubungan dengan cedera multisistim.1 Trauma secara langsung biasanya menyebabkan cedera pada incisivus central maksilla karena posisinya yang relatif lebih kedepan.1 Fraktur dentoalveolar dapat terjadi dengan atau tanpa kerusakan gigi. atau gigi tidak dalam oklusi yang baik. Keterlibatan trauma orofasial diperkirakan sekitar 15 % dari semua pasien emergensi. Incisivus yang protrusif dengan penutupan bibir yang tidak seimbang. seperti terlihat pada individu dengan maloklusi kelas II divisi 1 atau sebagai akibat kebiasaan buruk menghisap jempol. seperti yang terjadi pada kecelakaan kendaraan bermotor. Cedera yang terjadi dapat hanya mengenai gigi dan struktur pendukungnya saja seperti pada seorang anak yang terjatuh. Cedera dentoalveolar biasanya terjadi karena seseorang terjatuh.

dengan cidera mulut lainnya. Deteksi dan pengobatan dini dapat meningkatkan kelangsungan hidup dan fungsi dari gigi tersebut. Sekitar 82% gigi yang

mengalami trauma adalah gigi-gigi maksiler. Fraktur gigi maksiler tersebut 64% adalah gigi incisivus sentral, 15% incisivus lateral, dan 3% caninus. Fraktur dentoalveolar pada umumnya terjadi pada kelompok usia anak, remaja, dan dewasa muda dengan rasio laki-laki terhadap perempuan 2-3 : 1. 2 Pemeriksaan klinis pada fraktur dentoalveolar meliputi kemungkinan adanya luka pada bibir dan umumnya terjadi edema dan echymosis. Pada pemeriksaan gigi dan alveolus kemungkinan terdapat laserasi, echymosis dari pada gingival dan perubahan bentuk dari pada alveolus. 3 Selain itu pada saat palpasi hati-hati pada saat memeriksa bibir. Pemeriksaan pada bibir berguna untuk mengetahui apakah ada benda asing atau gigi di dalam jaringan tersebut. Palpasi pada alveolus berfungsi untuk merasakan perubahan bentuk tulang-tulang, dan kadang-kadang terdapat krepitus.1

109

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

I. Etiologi Fraktur Dentoalveolar Trauma dentoalveolar dapat terjadi pada anak-anak, remaja, maupun dewasa. Pada kelompok anak-anak penyebab utama dari trauma ini adalah jatuh. Pada usia 1-3 tahun ketika anak belajar berjalan dan berlari insidennya meningkat yang diakibatkan oleh aktivitas yang tinggi dan kurangnya koordinasi anggota tubuh menyebabkan anak sering jatuh. Pada anak usia sekolah, taman bermain dan cidera akibat bersepeda merupakan penyebab tersering. Selama masa remaja, cidera olahraga merupakan kasus yang umum. Pada usia dewasa, cidera olahraga, kecelakaan sepeda motor, kecelakaan industri dan pertanian, dan kekerasan dalam rumah tangga merupakan penyebab potensial. Rasio laki-laki dan perempuan adalah 2:1. Olahraga yang melibatkan kontak fisik merupakan penyebab umum fraktur dental, seperti sepakbola dan bola basket. Frekuensi fraktur dentoalveolar yang lebih tinggi ditemukan pada pasien dengan retardasi mental dan serebral palsi. Penyalahgunaan obat dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya frakturdental.2 Gigi insisivus maksiler yang menonjol keluar atau ketidakmampuan menutup gigi pada keadaan istirahat dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya fraktur. Benturan atau trauma, baik berupa pukulan langsung terhadap gigi atau berupa pukulan tidak langsung terhadap mandibula, dapat menyebabkan pecahnya tonjolan-tonjolan gigi, terutama gigi-gigi posterior. Selain itu, tekanan oklusal yang berlebihan terutama terhadap tumpatan yang luas dan tonjol-tonjolnya tak terdukung oleh dentin dapat pula menyebabkan fraktur. Keparahan fraktur bisa hanya sekedar retak saja, pecahnya prosesus, sampai lepasnya gigi yang tidak bisa diselamatkan lagi. Trauma langsung kebanyakan mengenai gigi anterior, dan karena arah pukulan mengenai permukaan labial, garis retakannya menyebar ke belakang dan biasanya horizontal atau oblique. Pada fraktur yang lain, tekanan

110

hampir selalu mengenai permukaan oklusal, sehingga frakturnya pada umumnya vertikal. Pukulan terhadap gigi anterior paling sering terjadi pada anak-anak dan apabila dibiarkan maka tubulus dentinnya akan terpapar pada flora normal mulut sehingga dapat menimbulkan infeksi dan inflamasi pulpa sehingga perlu dirawat. 1 Di pihak lain, gigi posterior yang fraktur karena tekanan oklusal yang besar biasanya karena mempunyai tumpatan yang luas. Pada gigi semacam ini, hanya sedikit tubulus dentin yang terbuka yang langsung berhubungan dengan pulpa karena telah terjadinya reaksi terhadap karies dan prosedur penambalannya berupa kalsifikasi tubulus dan penempatan dentin reaksioner di rongga pulpa. Dengan demikian jaringan pulpanya jarang sekali ikut terkena. Trauma terhadap gigi pada umumnya bukan merupakan keadaan yang mengancam nyawa, tetapi cidera maksilofasial lain yang berhubungan dengan trauma dental dapat mengganggu jalan napas. Fraktur biasanya terjadi pada gigi permanen, sedangkan gigi susu biasanya hanya mengalami perubahan letak. Morbiditas yang berhubungan dengan fraktur dental bisa seperti gagalnya pergantian gigi, perubahan warna gigi, abses, hilangnya ruang pada arkus dental, ankylosis, lepasnya gigi secara abnormal, dan resorpsi akar merupakan keadaan yang signifikan. Trauma dental sering berhubungan dengan laserasi intraoral. Ketika ada gigi yang pecah atau hilang dan pada saat yang bersamaan terdapat laserasi intraoral, maka harus diperhatikan bahwa bagian gigi yang hilang dapat tertanam di dalam robekan luka tersebut. 1 Trauma secara langsung biasanya menyebabkan cedera pada incisivus central maksilla karena posisinya yang relatif lebih kedepan. Incisivus yang protrusif dengan penutupan bibir yang tidak seimbang, seperti terlihat pada individu dengan maloklusi kelas II divisi 1 atau sebagai akibat kebiasaan buruk menghisap jempol, merupakan faktor predisposisi trauma incisivus maksilla. Cedera pada gigi akan meningkat dua kali lebih sering pada anak-anak dengan gigi incisivus yang protrusif dibandingkan dengan seorang anak yang memiliki oklusi normal. Trauama tidak langsung pada gigi dan struktur pendukung biasanya sebagai akibat dari benturan yang mengenai dagu, atau gigi tidak dalam

111

oklusi yang baik, benturan akan diteruskan ke oklusi gigi-geligi, menimbulkan kerusakan gigi-gigi posterior atau jaringan lunak anterior. 1 Cedera dentoalveolar ini paling banyak terjadi pada gigi sulung yang terjadi pada saat anak-anak mulai belajar berjalan hingga usia sekolah, yang berusia antara 2-4 tahun, sedangkan pada gigi permanen antara usia 7-10 tahun. Jumlah cedera dentoalveolar yang signifikan juga terjadi berhubungan dengan penatalaksanaan pasien yang tidak sadar atau pasien yang akan menjalani anestetikum umum. Lockhart dan Colleases melakukan survai terhadap 133 program pelatihan anestesi dan menemukan dari setiap 100 tindakan intubasi trachea terdapat 1 kejadian yang mengakibatkan trauma gigi anterior. 1

Gambar 1. Gambaran Klinis Fraktur Dento Alveolar

II. Klasifikasi Ada banyak cara untuk mengklasifikasikan fraktur dental. Klasifikasi Ellis merupakan salah satu yang sering digunakan dalam literatur kegawatdaruratan, tetapi banyak dokter gigi dan ahli bedah maksilofasial yang tidak menggunakan sistem ini. Metode klasifikasi yang paling mudah dimengerti adalah berdasarkan deskripsi cidera. Fraktur mahkota gigi dapat dibedakan menjadi kategori sederhana dan rumit. Fraktur mahkota sederhana melibatkan bagian enamel dan dentin. Yang termasuk fraktur mahkota sederhana adalah fraktur Ellis kelas I dan II. Fraktur Ellis kelas I Fraktur yang tergolong Ellis kelas I hanya melibatkan lapisan enamel gigi. Pada inspeksi tampak sebagai kepingan kecil dengan tepi

112

yang tidak beraturan (kasar). Keluhan yang biasanya muncul adalah rasa tidak nyaman akibat tepi fraktur yang kasar tersebut. Pasien pada umumnya tidak mengeluhkan sensitivitas terhadap temperatur atau udara. Fraktur ini pada umumnya tidak menyebabkan gangguan terhadap rongga pulpa. 1 Sistim WHO yang dimodifikasi oleh Andreasen melibatkan cedera pada gigi, struktur pendukungnya, gusi dan mukosa oral yang berdasarkan anatomi, terapi dan prognosanya. 1 Cedera jaringan keras gigi dan pulpa. 1. Crown Infraction (keretakan mahkota). Merupakan fraktur inkomplit atau retaknya enamel tanpa disertai kehilangan substansi gigi. 2. Uncomplicated crown fracture (fraktur mahkota tidak komplit) Merupakan fraktur yang terbatas pada enamel atau melibatkan enamel dan dentin tanpa disertai terbukanya pulpa. 3. Complicated crown fracture (fraktur mahkota komplit) Merupakan fraktur yang melibatkan enamel dan dentin disertai terbukanya pulpa. 4. Uncomplicated crown-root fracture (fraktur mahkota dan akar tidak komplit) Merupakan fraktur yang melibatkan enamel, dentin dan sementum tanpa disertai terbukanya pulpa. 5. Complicated crown-root fracture (fraktur mahkota dan akar komplit) Merupakan fraktur yang melibatkan enamel, dentin, dan sementum yang disertai dengan terbukanya pulpa. 6. Root fracture (fraktur akar) Merupakan fraktur yang melibatkan dentin, sementum dan pulpa.

113

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

Gambar 2. Cedera jaringan keras gigi dan pulpa.(1) Crown infraction. (2) dan (3) Uncomplicated crown fracture dengan atau tanpa melibatkan dentin. (4) Complicated crown fractured. (5) Uncomplicated crown root fractured. (6) Complicated crown root fracture. (7) Root Fracture. 1

Cedera jaringan periodontal. 1 1. Concussion (sensitif). Merupakan suatu cedera pada struktur pendukung gigi tanpa adanya kehilangan yang abnormal atau pergeseran gigi, tetapi ditandai dengan adanya reaksi sensitif terhadap perkusi. 2. Subluksasi (kegoyangan gigi). Cedera pada struktur pendukung gigi tanpa kehilangan yang abnormal tetapi tanpa pergeseran gigi. 3. Intrusif luxation (central dislocation). Pergeseran gigi ke dalam tulang alveolar tanpa disertai hancurnya atau fraktur soket alveolar. 4. Extrusif luxation (peripheral dislocation, partial avultion) Pergeseran sebagian gigi keluar dari soket alveolar. 5. Lateral luxation Pergeseran gigi dalam arah lateral yang disertai hancur atau fraktur soket alveolar.

114

6. Exarticulation (complete avultion) Pergeseran gigi yang komplit keluar dari soket alveolar.

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

Gambar 3. Cedera jaringan periodontal. (1)Concussion. (2)Subluksasi. (3)Intrusif luksatioin. (4)Extrusif luxation. (5) dan (6) Lateral luxation. (7)Retained root. (8)Exarticulation. 1

Cedera tulang pendukung. 1 1. Comminution alveolar socket. Fraktur atau remuknya soket alveolar mandibula atau maksila. Keadaan ini biasanya ditemukan bersama-sama dengan luksasi intrusi dan luksasi lateral. 2. Fracture of the alveolar socket wall (Fraktur dinding socket alveolar) Fraktur dinding alveolar soket yang ditahan oleh dinding soket fasial atau lingual. 3. Fracture of alveolar process (fraktur prosesus alveolaris). Fraktur prosesus alveolaris yang dapat atau tidak melibatkan soket alveolar. 4. Fraktur maksila atau mandibula.

115

Kontusio gingiva atau mukosa oral. Abrasi gingiva atau mukosa oral. (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Gambar 4. 1 1. (6) dan (7)Fraktur mandibula atau maksila. 3. Laserasi gingiva atau mukosa Yaitu luka pada daerah mukosa yang biasanya disebabkan oleh sobekan benda tajam. (1)Comminution alveolar process. 2. Cedera tulang alveolar. (2) dan (3)Fracture of the alveolar socket wall. (4) dan (5)fracture of the alveolar process.Fraktur ini mengenai mandibula atau maksilla. Yaitu luka memar yang biasanya disebabkan oleh pukulan dari benda tumpul dan menyebabkan perdarahan pada daerah submukosa tanpa disertai sobeknya daerah mukosa. 116 . 1 Cedera gingiva atau mukosa oral. Yaitu luka daerah supefisial yang disebabkan karena gesekan atau goresan yang mengakibatkan daerah mukosa terlihat lecet dan permukaan yang berdarah. dan dapat mengenai prosesus alveolaris atau mungkin juga dengan atau tidak mengenai soket alveolar gigi.

Brady dan Johnson yang relatif lebih sederhana berdasarkan pada diskripsi cedera. Fraktur mahkota 3 1. 2. 3. 117 . Fraktur secara oblique (mengenai sudut mesioincisal dan distoincisal) Gambar 5. Fraktur mahkota yang mengenai email dan dentin. Fraktur mahkota yang mengenai email. 5. Fraktur mahkota yang hanya mengenai email 2. gambaran struktur gigi yang terlibat. Tidak melibatkan pulpa. yang dibagi lagi menjadi :3 1. 4. Retak atau fraktur yang tidak lengkap dari email tanpa adanya kehilangan struktur gigi. 3 Keretakan mahkota.3 1. tipe pergeseran dan arah fraktur akar dan mahkota.1.Selain itu ada juga klasifikasi yang dibuat oleh Sanders. Mengenai sepertiga apikal. Fraktur akar horizontal 1 1. Melibatkan pulpa. Gambaran Klinis Fraktur MAhkota Horizontal Fraktur mahkota-akar. 2. Fraktur horizontal atau vertikal. Dapat terjadi secara horizontal atau vertical. dentin dan pulpa.

4. Ekstrusi gigi (gigi sebagian keluar dari soketnya dan memungkinkan tidak disertainya adanya fraktur tulang alveolar). Perubahan letak gigi.1 1. tetapai tanpa disertai adanya kegoyangan gigi dan perubahan letak dari gigi. Kegoyangan gigi (Subluxation) Yaitu trauma terhadap gigi dan jaringan pendukungnya mengakibatkan gigi menjadi goyang. biasanya disertai dengan kompresi fraktur dari saku alveolar). tetapi tanpa disertai adanya perubahan letak gigi. 3. 2. Perubahan letak gigi kea rah lateral (pergeseran gigi ke arah distal atau mesial. kemungkinan juga disertai fraktur dinding alveolar). Intrusi gigi (gigi masuk ke dalam soket. dan kemungkinan bersamaan dengan fraktur dinding alveolar. 4.2. 118 . Gigi sensitif (Concussion) 1 Yaitu trauma pada gigi dan jaringan pendukungnya mengakibatkan gigi sensitive terhadap perkusi. Mengenai sepertiga servikal. Horizontal atau vertikal. 3. Avulsi Gigi 1 Yaitu perubahan letak keseluruhan gigi keluar dari soketnya. 5. Perubahan letak gigi ke arah lingual (kemungkinan disertai fraktur dinding lingual). Mengenai sepertiga tengah akar. Perubahan letak gigi ke arah labial (kemungkinan disertai fraktur dinding alveolar).

Dalam melakukan anamnesis. Anamnesis. Kapan Terjadinya Trauma. dibutuhkan suatu penegakan diagnosa dan perawatan dalam waktu yang cepat. Gigi Avulsi III. dan bagaimana kejadiannya. dimana. kapan. Riwayat mekanisme dan kejadian yang lengkap harus didapatkan dan langsung dilakukan pemeriksaan klinis dan radiografis untuk menjamin diagnosa dan perawatan yang tepat. 1 Yang dimaksud dengan anamnesis adalah riwayat terjadinya trauma. Riwayat yang komprehensif harus didapatkan dari pasien.3 Langkah pertama dalam proses mendiagnosa yaitu mendapatkan riwayat kecelakaan yang akurat. terapi apa yang sudah diberikan sebelumnya. Pemeriksaan dan Menegakan Diagnosis Cedera pada gigi-gigi dan struktur pendukungnya harus dipertimbangkan sebagai suatu keadaan darurat. 119 . orangtuanya atau orang yang mengetahui informasi yang berhubungan dengan pasiennya. ada beberapa informasi yang harus diketahui antara lain sebagai berikut : a. Anamnesis dapat dilakukan dengan menanyakan langsung kepada penderita atau pengantar.Gambar 6. 1. Agar penatalaksanaannya tepat dan berhasil.

maka prognosisnya akan semakin baik. c. Seperti pada gigi yang mengalami avulsi. semakin cepat gigi tersebut di replantasi. tekanan darah. Dimana Tempat Trauma Terjadi. Pemeriksaan Ekstra Oral Pada kasus trauma gigi anterior ini dapat dilakukan dengan cara visual dan palpasi. e. Penyakit Sistemik yang Diderita. Gangguan Pengunyahan. Palpasi pada wajah dilakukan untuk melihat diskontinuitas tulang rahang 120 . g. Keluhan Lain. Juga pada fraktur rahang yang proses penyembuhannya akan berpengaruh jika perawatannya ditunda. Demikian juga pada kecelakaan mobil perlu diperhitungkan kemungkinan ada pecahan kaca pada bibir dan daerah muka. 3 Pemeriksaan Fisik. meliputi pemeriksaan denyut nadi. Karena trauma pada benda keras dapat mengakibatkan fraktur ahkota gigi. pernafasan. h. tingkat kesadaran dan suhu tubuh. Perawatan yang Sudah Didapat. Bagaimana Trauma Terjadi. Riwayat Trauma pada Gigi f. sedangkan trauma pada benda yang lunak atau tumpul seperti siku biasanya dapat mengakibatkan fraktur akar gigi dan luksasi. Pemeriksaan terhadap keadaan umum penderita. d. Informasi ini penting untuk mengetahui apakah trauma tersebut mengenai benda keras atau tumpul atau lunak. Hal ini penting karena mungkin saja penderita memerlukan suntikan anti tetanus karena luka akibat trauma tersebut terjadi di daerah yang kotor yang dengan mudah akan terkontaminasi dengan bakteri. Pemeriksaan Klinis.Karena jarak antara kecelakaan dan perawatan sangat penting diketahui bukan hanya untuk menentukan jenis perawatan yang akan dilakukan tetapi berpengaruh juga terhadap prognosisnya. b.

Adanya kelainan dari jaringan periodontal Tingkat perkembangan akar Ukuran kamar pulpa dan saluran akar Adanya fraktur rahang 121 . 3. gangguan pergerakan rahang. 7. (5) (6) (7) Pencatatan perubahan letak gigi Tes vitalitas dari gigi Pencatatan adanya kerusakan prosesus alveolaris. Biasanya pemeriksaan radiologis dilakukan pada saat sebelum memulai perawatan dan pada saat kontrol sesudah perawatan sebagai evaluasi terhadap perawatan yang telah dilakukan. Untuk melihat arah garis fraktur Adanya fraktur akar Bagaimana tingkat keparahan dari gigi yang mengalami instrusi atau ekstrusi 4. Pemeriksaan ini penting untuk mendapatkan informasi agar dapat memberikan pertolongan pertama. gusi. 5. 6. 2. Pencatatan adanya perubahan warna gigi Pencatatan kerusakan jaringan lunak. Tindakan yang sebaiknya dilakukan pada pemeriksaan intra oral meliputi antara lain : (1) (2) (3) (4) Perkusi gigi Pencatatan kegoyangan abnormal dari gigi atau tulang alveolar. Pemeriksaan Intra Oral. langitlangit dan lidah. seperti pada bibir. misalnya : 1. dengan cara palpasi prosesus alveolaris. 3 Kegunaan Pemeriksaan Radiologis Pemeriksaan ini diperlukan untuk membantu menegakkan diagnosa kelainan akibat trauma gigi anterior yang tepat dan benar. Pemeriksaan Radiologis. kelainan saraf serta hematoma.yang menunjukkan adanya fraktur. Pemeriksaan ini berguna untuk memberikan informasi.

bibir dan pipi.8. Melihat keadaan fragmen gigi dan jaringan lunak lain disekitar rongga mulut. Gambar 7. seperti dasar mulut. foto lateral dan foto postero-anterior) jika dengan foto intra oral garis fraktur tidak terlihat. dan kadangkala diperlukan teknik ekstra oral (foto panoramik. Macam-macam foto rontgen yang digunakan Teknik foto rontgen yang biasa digunakan dalam melakukan pemeriksaan riologis pada kasus trauma gigi anterior adalah teknik intra oral ( foto periapikal dan foto oklusal). Foto panoramic. fraktur alveolar crest pada maksila dan fraktur 1/3 apikal akar gigi pada mandibula 122 .

Perawatan trauma gigi anterior dapat dibagi menjadi 2 tahap. karena keadaan ini mempengaruhi prognosis yang akan datang. Perawatan darurat pada kasus trauma gigi anterior meliputi : a. maka diagnosis yang tepat juga dapat ditegakkan sehingga langkah perawatan terhadap kelainan akibat trauma pada gigi anterior dapat dilakukan dengan segera.BAB III Perawatan Trauma Pada Gigi Anterior 1 Setelah ananmnesis. c. Membersihkan luka akibat trauma dengan menggunakan cairan antiseptik b. dengan melakukan penjahitan dan penutupan luka dengan kain kasa. yaitu perawatan segera setelah terjadinya trauma (perawatan darurat) dan perawatan terhadap gigi anterior yang mengalami trauma (perawatan definitif). Perawatan Segera Setelah Terjadinya Trauma (Perawatan Darurat) Perawatan darurat merupakan perawatan yang penting dan harus dilakukan dengan segera karena menyangkut prognosa dari penderita. Menghentikan perdarahan d. Menghilangkan rasa sakit e. Merawat luka akibat trauma. Pencegahan terhadap infeksi 1 Perawatan Gigi pada Cedera Dentoalveolar (Perawatan Definitif). 123 . Trauma pada gigi merupakan salah satu kasus darurat yang memerlukan penanggulangan yang cepat dan tepat. pemeriksaan klinis dan pemeriksaan radiologis telah lengkap. Maka pada prinsipnya perawatan trauma gigi anterior ini adalah perawatan untuk mencegah prognosis yang lebih buruk dan mengurangi rasa sakit akibat trauma.

c. Perawatan pada gigi yang goyang dan berubah letak. 2. Vitalitas gigi yang terkena trauma. Perawatan jaringan keras gigi. Tindak berkontak dengan gusi dan tidak mengiritasi gusi. misalnya pada perawatan endodontik seperti pulp capping. 5. umur pasien. trauma terjadi pada gigi sulung atau gigi tetap. Pada saat dipakai tidak menyebabkan trauma pada gigi atau gusi. pembuatan mahkota jaket. tanpa menyebabkan tekanan pada gigi. Bersifat pasif pada tempatnya. 1. keadaan dari tulang pendukung. pulpotomi. yaitu : keadaan umum pasien.yaitu : Dapat dengan mudah dipasang didalam mulut tanpa melalui prosedur laboratorium yang lama. Pada dasarnya perawatan definitif trauma gigi anterior meliputi : a. keadaan jaringan periodontal serta gigi-geligi yang ada.Perawatan gigi anterior yang mengalami trauma pada prinsipnya adalah mengembalikan gigi yang mengalami trauma keposisi semula (reposisi) dan mempertahankannya hingga proses penyembuhan (fiksasi dan imobilisasi). Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi untuk mendapatkan fiksasi yang baik 1 . Dapat dengan mudah dibersihkan dan dipakai pada oral higiene yang baik. dll. 4. 3. apakah disertai dengan fraktur tulang alveolar. Yang dimaksud dengan fiksasi adalah suatu tindakan pemasangan alat yang digunakan untuk menstabilkan satu gigi atau lebih dengan mengikat atau menggabungkan gigi goyah atau berubah letak kegigi sebelahnya yang masih kokoh melalui kawat. misalnya penambalan dengan resin komposit pada mahkota gigi yang terkena trauma. lokasi dan luas daerah yang terkena trauma. 6. b. Perawatan jaringan pulpa. dll. band atau splin dari logam cor. Tidak terdapat sangkutan pada saat oklusi yang normal. plastik atau acrylik. Ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan sebelum melakukan perawatan definitif pada kasus trauma gigi anterior. yaitu dengan melakukan reposisi dan fiksasi. 124 .

Circumferential arch bar. Dapat memberikan jalan bagi perawatan endodontik. Harganya murah dan bahan-bahannya mudah diperoleh dipasaran. yaitu : 1. Sectional acrylic splint.7. misalnya pada gigi yang ekstrusi dan avulsi. Sauer’s arch bar. yaitu splin dengan menggunakan logam cor. Interdental wiring fixation. 6. Dapat dengan mudah dikeluarkan. 8. Eyelet (Ivy).4. Arch bar wiring. 4. 10. Penggunaan alat Orthodontik bracket. Memperhatikan nilai estetik yang baik. yaitu fiksasi dengan pengikatan kawat interdental. Metal cast splint. Ada beberapa macam teknik fiksasi yang digunakan pada kasus trauma gigi anterior ini1. Misalnya dengan metode Essig. yaitu splin dengan menggunakan bahan dari akrilik. yaitu pengikatan kawat dengan arch bar. 3. 9. hauptmeye’s arch bar. Eyelet & Essig Method 1 2. Resin komposit splin dengan menggunakan etsa asam. Ernt’s. Gambar 8. Misalnya dengan metode Erich arch bar. 125 . 5.

dentin serta pulpa tanpa disertai kegoyangan gigi biasanya dilakukan penambalan pada gigi yang terkena fraktur dengan resin komposit sistem etsa dengan atau tanpa didahului perawatan endodontik. screw & wire. C. Fiksasi intermaksiler dengan Erich bar & rubber elastic. Fraktur Mahkota – Akar a.3 yaitu sebagai berikut : 126 . 2004). maka 1. d. Jika fragmen mahkota masih berada ditempat dan tidak goyang. Fiksasi intermasiler: A. B.al. Gunning splint untuk rahang edentulous (Miloro et. perawatan yang dilakukan sama dengan perawatan pada fraktur mahkota. Tetapi bila disertai dengan kegoyangan gigi dilakukan juga reposisi gigi dan fiksasi gigi tersebut. fiksasi dengan Jalenko 1 Berikut ini akan diuraikan berbagai macam perawatan definitif trauma gigi anterior menurut beberapa pakar bedah mulut Fraktur Mahkota Pada fraktur mahkota yang mengenai email.A B C D Gambar 9.

Fraktur Akar a. hanya diperlukan pemeriksaan yang rutin dan berlanjut untuk mengevaluasi kesehatan dari jaringan periodontal dan pulpa gigi tersebut dan jika perlu mengurangi kontak incisal untuk mengurangi trauma saat oklusi yang diterima gigi. dilakukan fiksasi pada gigi lawannya.b. Gigi Sensitif (Concussion) 1 Perawatan yang khusus pada gigi sensitif ini biasanya tidak ada. maka sebaiknya dilakukan ekstraksi gigi tersebut. prognosisnya sangat baik terhadap pemulihan pertahanan jaringan pulpa dan penyembuhan dari fraktur akar tersebut. Jika disertai dengan fraktur tulang alveolar. Dan apabila kegoyangan gigi sudah sangat ekstrim. Perawatan yang diperlukan biasanya perawatan simptomatik yaitu dengan memberikan makanan yang lunak dan jika perlu menghilangkan kontak oklusal/incisal untuk mengurangi trauma saat oklusi yang diterima dari gigi. Jika garis fraktur jauh kearah apikal dan gigi masih dapat direstorasi. Subluksasi Gigi 1 Gigi yang mengalami subluksasi sensitif terhada perkusi dan goyang. Jika garis fraktur sepertiga apikal prognosisnya sangat baik dan biasanya tidak diperlukan perawatan yang khusus. b. c. 127 . Jika terjadi fraktur akar vertikal dilakukan tindakan ekstraksi gigi. karena pada periode ini biasanya telah terjadi proses kalsifikasi dari jaringan dan gigi kembali vital. c. Dan dalam hal ini diperlukan tindakan reposisi dan fiksasi selama 2-3 bulan. Jika garis fraktur berada sepertiga tengah akar. maka dilakukan perawatan endodontik.

dilakukan reposisi dan immobilisasi selama 2-3 bulan. 2. Andreasen dan Hjorting-Hansen 1 mengemukakan bahwa 90% dari gigi yang direplantasi kurang dari 30 menit setelah terjadi avulsi gigi. kemudian immobilisasi gigi selama 2-3 minggu. dilakukan replantasi gigi dan stabilisasi gigi. biasanya dibiarkan saja karena diharapkan pada saat pertumbuhan. Setelah gigi direplantasi. Dan resorpsi akar terlihat pada 95% gigi yang direplantasi setelah lebih dari 2 jam mengalami avulsi. Ekstrusi Gigi dan Luksasi Gigi ke lateral Pada gigi yang mengalami ekstrusi dan perubahan letak kearah lateral dilakukan perawatan reposisi gigi dengan tekanan jari. Avulsi Gigi Pada gigi yang mengalami avulsi. Apabila akar sudah terbentuk sempurna. Kemudian gigi tersebut dikeringkan dan setelah saku gusi dibersihkan dari gumpalan darah replantasi dapat segera dilakukan. 3 128 . Semakin cepat gigi tersebut direplantasi. tidak terdapat resorpsi akar pada gigi tersebut. gigi tersebut direndam dahulu dalam larutan garam fisiologis hangat seperti cairan saline untuk mencegah kekeringan dari serat-serat periodontal. Keberhasilan replantasi gigi pada gigi yang mengalami avulsi ini tergantung pada lamanya gigi berada diluar soket. dan penggunaan alat orthodonti juda dapat membantu gigi yang mengalami instrusi dapat kembali keposisi semula. Periode stabilisasi pada kasus cedera dentoalveolar dapat dilihat pada tabel 1. gigi tersebut distabilisasi dengan splint sistem etsa asam atau splint akrilik selama 7-10 hari (pada gigi yang apeksnya sudah terbentuk sempurna) dan 3-4 minggu pada gigi yang apeknya belum terbentuk sempurna.Perawatan Pada Gigi Yang Berubah Letak 1 1. Sebelum melakukan replantasi. Intrusi Gigi   Pada apeks yang belum terbentuk sempurna. gigi akan kembali pada posisi semula. maka prognosisnya semakin baik.

d. Sumber : Ellis. kecuali sebelum direplantasi gigi tersebut dirawat endodontik terlebih dahulu. merupakan indikasi replantasi yang baik. 3 – 4 minggu. Tidak ada pertimbangan untuk melakukan perawatan orthodontik. Saku alveolar dapat menyediakan tempat bagi gigi yang direplantasi. sedangkan jika gigi berada diluar saku alveolar lebih dari 2 jam kemungkinan besar akan terjadi komplikasi yaitu resorpsi dari akar gigi dan gigi menjadi non vital. Periode stabilisasi pada cedera dentoalveolar. ada beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam melakukan replantasi gigi yang mengalami avulsi. 3 Cedera Dentoalveolar Gigi yang mobile. b.Pada pasien yang mengalami 129 . c. e.Tabel 1. Gigi tersebut tidak mempunyai kelainan periodontal. 1 yaitu sebagai berikut : a. Replantasi gigi (matur) Replantasi gigi (imatur) Durasi Imobilisasi 7 – 10 hari 2 – 3 minggu 2 – 4 bulan. 2003. Gigi yang berada diluar saku gusi kurang dari 30 menit. seperti gigi yang berjejal. fraktur akar dan trauma pada jaringan lunaknya. Gigi yang berubah tempat Fraktur akar.Maka perawatan yang dilakukan adalah mengembalikan bagian yang terkena fraktur keposisi semula dan kemudian dilakukan stabilisasi selama 4 minggu sampai terjadi proses penyembuhan tulang serta penjahitan gusi yang mengalami laserasi. Soft Tissue and Dentoalveolar Injuries. 7 – 10 hari. Fraktur Tulang Alveolar 1 Fraktur tulang alveolar biasanya disertai dengan fraktur dari beberapa gigi sehingga dengan fraktur tulang alveolar ini juga dapat terjadi fraktur mahkota. Tingkat perkembangan akar. Menurut Andreasen. Berapa lama gigi tersebut berada diluar saku alveolar.

Kemudian mukosa gingiva atau rongga mulut diperbaiki dengan cara melakukan penjahitan. tulang alveolar yang lepas dan berukuran kecil dan tidak dapat dipertahankan dibuang dan dilakukan alveolektomi. fraktur dentoalveolar pada maksila (panah). Foto panoramic. Gambar 10. Displacement segmen alveolar dan mengakibatkan maloklusi 1 Letak Fraktur pada Daerah Edentulous. Finger pressure dapat digunakan untuk menekan fragmen alveolar yang fraktur ke dalam posisinya yang tepat dan jika pasien menggunakan gigi tiruan dapat digunakan sebagai alat bantu memfiksasi. 130 . 5 Bentuk cedera pada daerah tidak bergigi ini tidak terlalu berarti.fraktur tulang alveolar yang parah dilakukan tindakan alveolektomi disertai ekstraksi gigi yang mengalami trauma. Jika mukosa mengalami perlukaan maka sebelum tindakan operatif harus diberikan antibiotik terlebih dahulu baru kemudian dilakukan debridemen. Cedera jenis ini jika mengenai daerah edentulous maksilla dapat menyebabkan terjadinya fistula oro-nasal pada daerah premaksilla atau fistula oroantral di daerah premolar dan molar.

Alat Bantu Fiksasi 4 Masalah jangka panjang yang dapat terjadi jika prosesus alveolaris yang lepas berukuran besar akan mengakibatkan kesulitan saat pembuatan gigi tiruan. seperti diazepam oral atau intra venous. Perawatann ini dilakukan dengan anestesi lokal dibantu dengan sedasi. Tetapi bagaimanapun jika fragmen alveolar yang fraktur cukup besar maka tetap diindikasikan untuk pemasangan splint. Fraktur dentoalveolar pada usia sangat muda dapat membaik tanpa memerlukan imobilisasi dan cukup dirawat dengan pemberian diet lunak. Prognosis fragmen fraktur dapat ditingkatkan dengan tindakan imobilisasi. pendalaman sulcus atau teknik implant. Komplikasi ini memerlukan perawatan pendahuluan sebelum pembuatan protesa yaitu augmentasi ridge. maka perlu dirujuk kepada ahli periodontologi dengan melakukan perawatan splinting metoda Von Weissenfluh. 131 . kecuali gigi pada fragmen tulang alveolaris memerlukan pencabutan segera. jika terdapat gigi pada garis fraktur maka harus dipertimbangkan perawatan lainnya seperti perawatan endodontik diperlukan jika pulpa mengalami nekrosis.Gambar11. Letak Fraktur pada Procesus Alveolaris Bergigi. 5 Adanya segmen tulang alveolar yang fraktur dan terdapat gigi permanen pada fragmennya maka diperlukan tindakan reduksi dan imobilisasi. Kadang-kadang pada fraktur dentoalveolar gigi pada fragmen fraktur tidak mendapat dukungan tulang alveolar terutama pada penderita usia tua. Splinting harus dipertahankan selama 6 minggu. kemudian gigi ditempatkan secara akurat pada posisinya dan juga membebaskan trauma oklusal dari gigi lawannya.

Diagnosis ditegakkan dengan anamnesis. pemeriksaan klinis dan radiologis. Perawatan tergantung pada kasus dan seringkali melibatkan bidang kedokteran gigi lainnya. biasanya akibat oklusi yang menutup dengan cepat dan kuat antara gigi-geligi mandibula ke gigi-geligi maksilla. Cedera dentoalveolar seringkali melibatkan regio anterior maksila Penyebab tersering cedera dentoalveolar adalah kecelakaan lalu lintas.BAB IV KESIMPULAN Cedera pada strktur dentoalveolar dapat diakibatkan oleh trauma secara langsung mengenai gigi atau trauma tidak langsung. perkelahian dan domestic abuse. 132 . Tujuan perawatan cedera dentoalveolar adalah memperoleh kembali bentuk dan fungsi normal dari organ pengunyahan. olahraga.

Appliances for Immobilization.. WB Saunders Company. 1991. Rowe and Williams’ Maxillofacial Injuries. Third ed. MP. Quintessence Publishing Co. Schwenzer. 1990. Kruger. In. 2003. Contemporary Oral and Maxillofacial Surgery. In. Second Ed. In. Philladelphia. Diagnosis and management of Dentoalveolar Injuries. Kaban. N. Vol. Sowray. Localized Injuries of the Teeth and Alveolar Process. Pediatric Oral and Maxillofacial Surgery. Soft Tissue and Dentoalveolar Injuries. Churchill Livingstone. 1994. 3. WB Saunders Company. 2. 4. In. E and Schilli. Volume 1. J. Williams. LB. Ellis. FH. St. 133 . Philladelphia. Louis. Mosby Year Book Inc. and Steinhilber. Oral and Maxillofacial Traumatology. E III. 1982. Powers.Daftar Pustaka 1. Fonseca RJ. 1. Oral and Maxillofacial Trauma. 5. Peterson.

Hal ini dapat disebabkan karena posisinya yang menonjol dan merupakan sasaran pukulan dan benturan. Pada prosedur terbuka bagian yang mengalami fraktur di buka dengan pembedahan dan segmen fraktur direduksi serta difiksasi secara langsung dengan menggunakan kawat/plat yang disebut dengan wire atau plate osteosynthesis. Kedua teknik ini tidak selalu dilakukan tersendiri tetapi kadangkadang diaplikasikan bersama atau disebut dengan prosedur kombinasi. Pada prinsipnya ada dua cara penatalaksanaan fraktur mandibula. reduksi. angulus mandibularis dan daerah mentalis. Kata Kunci : fraktur. yaitu cara tertutup atau disebut juga perawatan konservatif dan cara terbuka yang ditempuh dengan cara pembedahan. Daerah mandibula yang lemah adalah daerah subkondilar. Champy Line 134 . Pada teknik tertutup imobilisasi dan reduksi fraktur dicapai dengan penempatan peralatan fiksasi maksilomandibular. mandibula. fiksasi.Fraktur Mandibula Retno Widayanti 160121120003 Peserta Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut Dan Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Abstrak : Mandibula merupakan bagian tulang yang paling rentan mengalami fraktur pada trauma fasialis. Banyak faktor yang dapat menyebabkan terjadinya fraktur mandibula. Kecelakaan kendaraan bermotor merupakan etiologi utama penyebab fraktur mandibula di dunia.

dapat berakibat fatal bila tidak ditangani dengan benar2. serta fiksasi dan 135 . Evaluasi radiografis pada mandibula mencakup foto polos. namun kecelakaan kendaraan bermotor menjadi penyebab paling umum. pengikat rahang atas dan bawah dengan kawat (intermaxilari fixation). kecelakaan saat kerja dan kecelakaan akibat olahraga4. CT Scan dan pemeriksaan panoreks4. 2. nyeri tekan. Fraktur mandibula merupakan fraktur kedua tersering pada kerangka wajah. Pada perkembangan selanjutnya oleh para klinisi menggunakan oklusi sebagai konsep dasar penanganan fraktur mandibula dan tulang wajah (maksilofasial) terutama dalam diagnostik dan penatalaksanaannya. Hal ini diikuti dengan perkembangan teknik fiksasi mulai dari penggunaan pengikat kepala ( head bandages). dan maloklusi5. pembengkaan. sebagai dasar pemikiran dan diagnosis fraktur mandibula 4. Secara khusus penanganan fraktur mandibula dan tulang pada wajah (maksilofasial) mulai diperkenalkan olah Hipocrates (460-375 SM) dengan menggunakan panduan oklusi (hubungan yang ideal antara gigi bawah dan gigigigi rahang atas). Selain hal itu mungkin juga terjadi trismus (nyeri waktu rahang digerakkan) 4. Patahnya gigi. gigi yang longgar dan krepitasi menunujukkan kemungkinan adanya fraktur mandibula. adanya gap. Beberapa penyebab lain berupa kelainan patologis seperti keganasan pada mandibula. tidak ratanya gigi.BAB I PENDAHULUAN Fraktur mandibula adalah putusnya kontinuitas tulang mandibula 1. Mandibula adalah tulang rahang bawah pada manusia dan berfungsi sebagai tempat menempelnya gigi geligi3. Diagnosis fraktur mandibula dapat ditunjukkan dengan adanya : rasa sakit. bila perlu dilakukan foto waters. tidak simetrisnya arcus dentalis. Faktor etiologi utama terjadinya fraktur mandibula bervariasi berdasarkan lokasi geografis. adanya laserasi intra oral. hal ini disebabkan kondisi mandibula yang terpisah dari kranium. Hilangnya kontinuitas pada rahang bawah (mandibula).

136 . mencegah terjadinya defek kontur yang dapat timbul. Restorasi fungsi mandibula sebagai bagian dari sistem stomatognati harus mencakup kemampuan untuk mastikasi yang baik. mencegah terjadinya infeksi. Pada semua manajemen fraktur. berbicara dengan normal dan menciptakan pergerakan artikulasi seperti sebelum terjadinya trauma.4.5. tujuan dari perawatannya adalah untuk mengembalikan fungsi dengan memastikan penyatuan dari segmen tulang dan mengembalikan kekuatan seperti sebelum cedera.imobilisasi fragmen fraktur dengan menggunakan plat tulang ( plate and screw)2.

Pada pertengahan korpus mandibula kurang lebih 1 inchi dari simfisis didapatkan foramen mentalis yang dilalui oleh vasa dan nervus mentalis. Prosessus kondiloideus terdiri dari kaput dan kolum. Bagian bawah korpus mandibula mempunyai tepi yang lengkung dan halus.1 Anatomi Mandibula Mandibula dibentuk oleh dua bagian simetris yang mengadakan fusi dalam tahun pertama kehidupan. Bagian korpus mandibula membentuk tonjolan disebut prosesus alveolaris yang mempunyai 16 buah lubang untuk tempat gigi. Pada yang lebih muda sudutnya lebih besar dan ramusnya nampak lebih divergens. yaitu suatu lengkungan tapal kuda dan sepasang ramus yang pipih dan lebar yang mengarah keatas pada bagian belakang dari korpus. Milohioid.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. Angulus mandibula adalah pertemuan antara tepi belakang ramus mandibula dan tepi bawah korpus mandibula. ramus membentuk sudut 1200 terhadap korpus pada orang dewasa. didapatkan tonjolan tulang halus yang disebut simfisis mentum yang merupakan tempat pertemuan embriologis dari dua buah tulang. 137 . Secara keseluruhan tulang mandibula ini berbentuk tapal kuda melebar di belakang. memipih dan meninggi pada bagian ramus kanan dan kiri sehingga membentuk pilar. Angulus mandibula terletak subkutan dan mudah diraba pada 2-3 jari dibawah lobulus aurikularis 10. Permukaan luar dari korpus mandibula pada garis median. Pada ujung dari masing-masing ramus didapatkan dua buah penonjolan disebut prosesus kondiloideus dan prosesus koronoideus. Tulang ini terdiri dari korpus. Permukaan dalam dari korpus mandibula cekung dan didapatkan linea milohiodea yang merupakan origo m.

Masseter yang berinsersi pada sisi lateral angulus dan ramus mandibula.Gambar 2. M masseter bersama m temporalis merupakan kekuatan untuk menggerakkan mandibula dalam proses menutup mulut. Temporalis yang berinsersi disisi medial pada ujung prosesus koronoideus dan m. diskus artikularis berperan untuk membuka mandibula. M pterigoideus lateral berinsersi pada bagian depan kapsul sendi temporo-mandibular. 138 .1 Anatomi mandibula10 Dari aspek fungsinya. M. merupakan gabungan tulang berbentuk L bekerja untuk mengunyah dengan dominasi (terkuat) m. Pterigodeus medial berinsersi pada sisi medial bawah dari ramus dan angulus mandibula. Fungsi m pterigoid sangat penting dalam proses penyembuhan pada fraktur intrakapsuler.

7mm sedang pada potongan level gigi kaninus kanalnya berdiameter sekitar 1mm dengan ketebalan korteks sekitar 2. Mandibula mendapat nutrisi dari arteri alveolaris inferior yang merupakan cabang pertama dari arteri maxillaris yang masuk melalui foramen mandibula bersama vena dan nervus alveolaris inferior berjalan dalam kanalis alveolaris. Posisis jalur kanalis mandibula ini perlu diingat dan dihindari saat melakukan instrumentasi waktu reposisi dan memasang fiksasi interna pada fraktur mandibula11.Gambar 2. Lebar kanalis mandibula tersebut sekitar 3 mm ( terbesar) dan ketebalan korteks sisi bukal yang tertipis sekitar 2. Ditengahnya ditancapi oleh akar-akar geligi yang terbungkus oleh tulang kanselus yang membentuk sistem haversian (osteons) diantara dua korteks tersebut ditengahnya terdapat kanal mandibularis yang dilewati oleh syaraf dan pembuluh darah yang masuk dari foramen mandibularis dan keluar kedepan melalui foramen mentalis.2 Insersi Otot pada Mandibula4 Pada potongan melintang tulang mandibula dewasa level molar II berbentuk seperti ”U” dengan komposisi korteks dalam dan korteks luar yang cukup kuat.53mm. 139 .

Daerah dagu mengalirkan darah ke vena submentalis. Arteri mentalis memberi nutrisi ke dagu. yang selanjutnya mengalirkan darah ke vena facialis anterior. Sebelum keluar dari foramen mentalis bercabang menuju incisivus dan berjalan sebelah anterior ke depan didalam tulang.3 Vaskularisasi mandibula12 Gambar 2. Vena facialis anterior dan vena facialis posterior bergabung menjadi vena fascialis communis yang mengalirkan darah ke vena jugularis interna12.Arteri alveolaris inferior memberi nutrisi ke gigi-gigi bawah serta gusi sekitarnya kemudian di foramen mentalis keluar sebagai a. Mentalis. arteri submentalis dan arteri labii inferior. Arteri mentalis beranastomosis dengan arteri facialis. Arteri submentalis dan arteri labii inferior merupakan cabang dari arteri facialis.4 Inervasi mandibula12 140 . Aliran darah balik dari mandibula melalui vena alveolaris inferior ke vena facialis posterior. Gambar 2.

Daerah yang tipis pada mandibula adalah angulus dan sub condylus sehingga bagian ini termasuk bagian yang lemah dari mandibula. kolum kondilus mandibula terutama bila trauma dari depan langsung mengenai dagu maka gayanya akan diteruskan kearah belakang. Garis fraktur subkondilar umumnya dibawah leher prosesus kondiloideus akibat perkelahian dan berbentuk hampir vertikal. osteomalacia. Pada regio angulus garis fraktur umumnya dibawah atau dibelakang regio mlaor III kearah angulus mandibula. tumor jinak atau ganas rahang. tetapi pada beberapa tempat dijumpai adanya bagian yang lemah. kecelakaan kerja.2 DEFINISI FRAKTUR MANDIBULA Fraktur didefinisikan sebagai deformitas linear atau terjadinya diskontinuitas tulang yang disebabkan oleh rudapaksa. Fraktur patologis dapat terjadi karena kekuatan tulang berkurang akibat adanya kista. Mandibula merupakan tulang yang kuat.2. angulus mandibula tempat gigi molar III terutama yang erupsinya sedikit. Garis fraktur dimulai pada regio alveolar kaninus dan insisivus berjalan oblique ke arah midline. jatuh ataupun trauma saat pencabutan gigi. Fraktur dapat terjadi akibat trauma atau karena proses patologis. seringkali garis fraktur berbentuk oblique. atrofi tulang secara menyeluruh atau osteoporosis nekrosis atau metabolic bone disease. Namun pada kecelakaan lalu lintas garis fraktur terjadi dekat dengan kaput kondilus. fraktur dapat terjadi secara spontan seperti waktu bicara. fragmen yang fraktur mengalami displaced 141 . osteogenesis imperfecta. luka tembak. garis fraktur yang terjadi berbentuk oblique. Fraktur akibat trauma dapat terjadi akibat perkelahian. Daerah korpus mandibula terutama terdiri dari tulang kortikal yang padat dengan sedikit substansi spongiosa sebagai tempat lewatnya pembuluh darah dan pembuluh limfe. osteomyelitis. Selain itu titik lemah juga didapatkan pada foramen mentale. Pada fraktur corpus mandibula garis fraktur tidak selalu paralel dengan sumbu gigi. Akibat adanya proses patologis tersebut. kecelakaan lalulintas. Garis fraktur pada mandibula biasa terjadi pada area lemah dari mandibula tergantung mekanisme trauma yang terjadi. Pada fraktur mendibula. makan atau mengunyah13.

2.1%) ramus (1. simfisis dan parasimfisis (22%).3%) 4. Pada daerah ramus mandibula jarang terjadi fraktur. arah dan sudut garis fraktur. segmen dento alveolar (3.3 ETIOLOGI Banyak faktor yang dapat menyebabkan terjadinya fraktur mandibula. Pada 142 . korpus mandibula (16%). 34% disebabkan oleh kekerasan. kondilus dan angulus mandibula tidak banyak berbeda dalam insidensinya dan fraktur ramus serta processus koronoideus sangat jarang.akibat tarikan otot-otot mastikasi. Literatur menyebutkan bahwa 43% fraktur mandibula disebabkan oleh kecelakaan kendaraan bermotor.5%). Fraktur yang terjadi pada korpus. Masseter. arah dan kekuatan trauma. 4% pada kecelakaan olahraga dan sisanya oleh bermacam-macam sebab lainnya.1%). Pada kecelakaan pengendara kendaraan roda dua yang terkena adalah daerah simfisis. ada atau tidaknya gigi pada fragmen. Kecelakaan kendaraan bermotor merupakan etiologi utama penyebab fraktur mandibula di dunia4. Beberapa penelitian memperlihatkan etiologi pada lokasi fraktur. angulus (24. 7% akibat terjatuh. Fraktur pada fasial jauh lebih banyak terjadi pada mereka yang tidak menggunakan pelindung pada saat terjadinya kecelakaan14. 2. oleh karena itu maka reduksi dan fiksasi pada fraktur mendibula harus menggunakan splinting untuk melawan tarikan dari otototot mastikasi.7%). Fridrich dkk memperlihatkan bahwa fraktur akibat kecelakaan kendaraan bermotor biasanya pada regio kondilus. karena daerah ini terfiksasi oleh m masseter pada bagian lateral. 7% kecelakaan kerja. Demikian juga pada prosesus koronoideus yang terfiksasi oleh M. arah lepasnya otot dan luasnya kerusakan jaringan lunak. dan prosesus koronoideus (1. dan medial oleh m pterigoideus medialis.4 DISTRIBUSI ANATOMIS Lokasi fraktur mandibula terbanyak pada kondilus (29. Beberapa faktor yang mempengaruhi displacement fraktur mandibula antara lain .

dimana fraktur korpus mandibula (43.6 Distribusi fraktur mandibula pada pasien edentulus 15 Beberapa penelitian menyatakan bahwa terdapat hubungan antara frekuensi fraktur mandibula dengan daerah anatomi. Gambar 2.5 Distribusi anatomis fraktur mandibula 15 Mandibula yang mengalami atropi mempunyai kelemahan pada banyak tempat. simfisis mandibula (4. 143 . Gambar 2.fraktur yang diakibatkan karena kekerasan biasanya di daerah sudut mandibula14.15.3%) 15. angulus (15. Area fraktur cenderung berbeda pada pasien edentulus.2%). tetapi tetap saja regio angulus mandibula dan mentalis yang paling sering menjadi fraktur. Fraktur subkondilus banyak ditemukan pada anak-anak sedangkan fraktur angulus banyak ditemukan pada remaja dan dewasa muda16.5%).

2. Fraktur jenis ini disebut juga fraktur tertutup atau closed fracture. b. Fraktur greenstick. pembuluh darah dan syaraf. jaringan mukosa dan membran periodontal. Fraktur yang melukai jaringan lunak baik kulit. Fraktur jenis ini disebut juga fraktur terbuka atau open fracture. d. Fraktur yang tidak seluruh kontinuitas tulang terputus. Hubungan ini dapat terjadi melalui kulit. Fraktur direct terjadi langsung pada titik kontak dari trauma sedangkan indirect terjadi jauh dari sisi datangnya trauma. Teleskop atau fraktur impaksi. Fraktur sederhana. Hal ini diakibatkan karena tulang anak-anak masih bersifat lentur. Fraktur ini mempunyai hubungan antara tulang yang patah dengan permukaan luar wajah atau dengan rongga mulut. tetapi hanya sebagian saja. f.5 KLASIFIKASI Secara garis besar fraktur mandibula diklasifikasikan dalam tiga kelompok yaitu berdasarkan jenis fraktur. Fraktur indirect dan direct. Biasanya fraktur ini terjadi pada regio simfisis mandibula. mukosa atau bagian yang berdekatan seperti otot. Fraktur ini merupakan salah satu tipe fraktur yang sering terjadi pada anak-anak. karena tulangnya belum sepenuhnya terkalsifikasi. tetapi dapat terjadi dimana sisi fragmen terdorong kesisi yang berlawanan. Fraktur tipe ini jarang terlihat pada mandibula. c. Fraktur kompleks. Fraktur dimana tulang terbagi menjadi beberapa bagian atau fragmen-fragmen kecil. Fraktur cominutted. Fraktur yang terjadi tidak mempunyai hubungan dengan dunia luar dan tidak terjadi dislokasi atau displacement. Fraktur compound. Berdasarkan jenis fraktur16.17 a. berdasarkan daerah fraktur dan berdasarkan penyebab fraktur. e. g. 144 .

h. C. Fraktur impaksi pada subkondilus dekstra dan fraktur patologis pada angulus sinistra. Fraktur sederhana. Gambar 2. Gambar 2. Komminuted (C).8 Klasifikasi fraktur mandibula berdasarkan tipe frakturnya: Greenstick (A). D. Fraktur comminuted. E. B. Fraktur direct dan indirect15. Fraktur compound. Simple (B). Fraktur yang terjadi pada fungsi normal atau trauma minimal pada tulang yang mengalami gangguan patologis.7 Tipe fraktur: A. seperti kista atau metastasis tumor. Kompon (D)17 145 . Fraktur patologis.

Gambar 2.Fraktur mandibula juga dapat diklasifikasikan sebagai fraktur favorable atau unfavorable. seperti tarikan otot masseter dan temporalis pada fragmen proksimal. Garis fraktur favorable vertikal menahan gaya tarikan medial pterygoid medial pada fragmen proksimal18. masing-masing dari arah vertikal dan horisontal tergantung pada otot sekitarnya yang menahan atau memindahkan segment fraktur tersebut. Garis fraktur favorable horizontal menahan gaya tarikan ke atas.10 Favorable vertikal (kiri) dan unfavorable (kanan)15 146 .9 Unfavorable horizontal (kiri) dan favorable (kanan)15 Gambar 2.

Trauma tersebut langsung mengenai anggota tubuh penderita. Fraktur prosesus kondiloideus Fraktur yang terjadi dari sigmoid notch ke batas posterior ramus mandibula sepanjang aspek superior dari ramus mandibula. fraktur mandibula dibagi atas15: 1. Fraktur korpus Fraktur yang terjadi antara prosesus alveolaris hingga ke batas inferior regio antara foramen mentalis hingga ke sisi distal dari molar kedua. 8.Berdasarkan lokasi anatomis. 6. Trauma tidak langsung (indirect). 4. Fraktur ramus Fraktur horizontal melalui batas anterior dan posterior ramus. berakibat fraktur kaput radii atau klavikula. Fraktur dentoalveolar Fraktur yang hanya terjadi pada area penyangga gigi pada mandibula dan tidak mengganggu kontinuitas struktur tulang dibawahnya. Fraktur prosessus koronoideur Menurut Penyebab Terjadinya Fraktur 1. Terjadi seperti pada penderita yang jatuh dengan tangan menumpu dan lengan atas-bawah lurus. Fraktur angulus Fraktur yang terjadi antara prosesus alveolaris hingga ke batas inferior distal molar kedua hingga ke sudut yang dibentuk oleh korpus dan ramus madibula. 2. Fraktur parasimfisis Fraktur yang terjadi antara prosesus alveolaris hingga ke batas inferior batas distal insisivus lateral hingga ke foramen mentalis. Fraktur traumatik Trauma langsung (direct). Gaya tersebut dihantarkan melalui 147 . 3. 5. 7. Fraktur simfisis Fraktur pada regio insisivus yang melalui prosessus alveolaris ke batas inferior mandibula dalam arah vertikal atau hampir vertikal.

Contohnya pada fraktur fibula pada olahragawan. Fraktur terbuka dapat berhubungan dengan ruangan di tubuh yang tidak steril seperti rongga mulut. disebut juga fraktur tertutup. pembengkokan dan kompresi seperti fraktur oblik dengan garis fraktur pendek. 3. kulit di sekitar fraktur sobek sehingga fragmen tulang berhubungan dengan dunia luar (bone expose) dan berpotensi untuk menjadi infeksi. pemeriksaan terhadap pergeseran segmen tulang. traksi manual atau traksi pada lidah dapat menghindarkan obstruksi jalan nafas. kecelakaan atau terjatuh.6 PEMERIKSAAN KLINIS Evaluasi trauma dilakukan secara menyeluruh. Fraktur juga dapat terjadi akibat tarikan otot seperti fraktur patela karena kontraksi quadrisep yang mendadak. yaitu penanganan jalan nafas. 148 . Jika perlu dapat dilakukan intubasi orotrakhea pada kasus darurat jalan nafas. fraktur tersebut berhubungan dengan kerusakan jaringan atau struktur lain seperti saraf. Biasanya fraktur terjadi spontan Menurut Hubungan dengan Jaringan Ikat Sekitarnya 1. Fraktur simple/tertutup. maupun kombinasi gaya berputar. pembuluh darah. Fraktur terbuka.tulang-tulang anggota gerak atas dapat berupa gaya berputar. 2. 3. organ viscera atau sendi. oleh karena kulit di sekeliling fraktur sehat dan tidak sobek. 2. Tanda dan gejala terjadinya fraktur adalah adanya maloklusi dihubungkan dengan riwayat trauma seperti terkena pukulan. gigitan terbuka dan prematur kontak. Fraktur fatik atau stress Trauma yang berulang dan kronis pada tulang yang mengakibatkan tulang menjadi lemah. 2. Maloklusi dapat berupa gigitan silang. Fraktur patologis Pada tulang telah terjadi proses patologis yang mengakibatkan tulang tersebut rapuh dan lemah. pembengkokan (bending) atau kombinasi pembengkokan dengan kompresi yang berakibat fraktur butterfly. Fraktur komplikasi.

Rasa sakit bersifat akut dan dapat diperberat oleh gerakan ringan bagian yang terluka.18.11 Palpasi bimanual pada mandibula untuk membandingkan struktur anatomis18 Pemeriksaan intraoral memperlihatkan adanya laserasi atau hematoma. Gerakan-gerakan ringan tersebut misalnya waktu berbicara. Bila digerakkan dengan jari tangan tiap fragmen fraktur akan bergerak sendiri. Pembengkakan atau oedema tampak pada daerah fraktur yang disebabkan oleh keluarnya darah dan serum ke jaringan sekitar14. Gambar 2. Pergerakan abnormal dapat diketahui dengan pemeriksaan jari tangan atau palpasi bimanual. Sering menunjukkan terpisahnya gigi yang satu dengan yang lain dan terputusnya kontinuitas dataran oklusal pada bagian yang mengalami fraktur 149 . Pemeriksaan pada rahang saat membuka dan menutup mulut dan memperhatikan deviasi rahang atau mobiliti yang terbatas. Retraksi pergerakan tulang merupakan kelainan sekunder yang dapat ditemukan pada fraktur zigomatikus yang mengalami displacement dan berdampak pada prossesus koronoideus mandibula17. mengunyah atau waktu palpasi.

B. Terputusnya kontinuitas dataran oklusal14 150 . Haematom pada dasar mulut.A B Gambar 2.12 A.

secara umum relatif akurat kecuali kalau angulasi dan magnifikasi pemotretan tidak baik. Tampilan Caldwell posteroanterior menunjukkan setiap perpindahan medial ataulateral ramus. Pemeriksaan radiologis yang dapat membantu untuk menegakkan diagnosa fraktur mandibula adalah14: a. maka evaluasi radiologis diperlukan untuk mempertegas hal tersebut atau memberikan data yang lebih akurat. Bagian kondilus. simfisis dan gigi / daerah proses alveolar. fraktur pada corpus posterior. termasuk pandangan lateral-obliq. CT scan juga dapat membantu: CT scan juga memungkinkan dokter untuk survei fraktur wajah daerah lain. atau fraktur simfisis. dan periapikal. dapat membantu. kompleks naso-ethmoid- 151 . Plain film. termasuk tulang frontal. dan tidak memiliki kemampuan melihat secara detail area TMJ.7 PEMERIKSAAN RADIOLOGIS Apabila pemeriksaan klinis sering dapat memberikan gambaran adanya fraktur mandibula. c. sudut. Panoramik Panoramik menyediakan kemampuan untuk melihat seluruh mandibula dalam satu radiograf. angel. bicuspid dan daerah simfisis seringkali tidak jelas. Evaluasi radiografis terhadap perluasan pergeseran segmen fraktur. Penentuan terjadinya pergeseran berperan sebagai petunjuk dalam menentukan terapi. tubuh. b. posteroanterior. Panoramik membutuhkan pasien tegak. Tampilan oklusal mandibula menunjukkan perbedaan di posisi tengah dan lateral fraktur body. oklusal. Pandangan lateral-obliq membantu mendiagnosis ramus. tidak usah dirawat atau dilakukan reduksi terbuka16.2.

14 Gambaran radiologis fr mandibula dan alveolaris 18 152 . yang sulit untuk memvisualisasikan Panoramik Gambar 2. orbit.orbital. Rekonstruksi kerangka wajah sering membantu untuk konsep cedera. CT scan juga ideal untuk fraktur condylar. dan seluruh sistem horizontal dan vertical yang menopang kraniofasial.13 Pencitraan fraktur angulus kanan dan simphisis kiri mandibula pada panoramik foto13 Gambar 2.

Pencitraan fraktur korpus dan angulus mandibula kiri19 153 . B. Pencitraan fraktur kondilus kiri pada Posteroanterior foto. B. Pencitraan fraktur korpus mandibula dan angulus kiri pada posteroanterior foto15 Lateral oblique foto Gambar 2.17 A.Posteroanterior foto A B Gambar 2.15 A. Pencitraan fraktur kondilus kiri.16 Pencitraan fraktur korpus dan angulus kiri mandibula pada Lateral Oblique foto19 Reverse Towne A B Gambar 2.

B. B.18 A.20 Pencitraan fraktur dengan 3 dimensi 19 154 . Pencitraan fraktur kondilus kiri dengan perobahan letak fragmen kondilus proksimal pada CT scan potongan axial. Pencitraan fraktur ramus mandibula kiri pada CT scan direct coronal. Pencitraan fraktur comminuted ramus mandibula kiri pada CT scan potongan axial19 A B Gambar 2.19 A.CT SCAN / (COMPUTERED TOMOGRAFI) SCAN A B Gambar 2. Pencitraan fraktur angulus kiri pada CT scan potongan sagital19 3D Imaging Gambar 2.

pemeriksaan klinis fraktur dilakukan secara benar. Memperbaiki pembukaan interinsisal dan pergerakan mandibula. Jenis-jenis reduksi tertutup diantaranya external appliance seperti head bandage. Meminimalisir deviasi mandibula Menghasilkan artikulasi yang bebas dari rasa sakit pada saat istirahat dan fungsi 6) Mencegah internal derangement pada TMJ sisi cedera atau sisi yang berlawanan. Prinsip dasar umum dalam perawatan fraktur mandibula ialah sebagai berikut. kerusakan gigi dievaluasi dan dirawat bersamaan dengan perawatan fraktur mandibula. Terapi fraktur mandibula secara garis besar dibagi menjadi dua bagian yaitu dengan metode closed reduction (reduksi tertutup) dan metode open reduction (reduksi terbuka) Metode reduksi tertutup adalah suatu tindakan reduksi tertutup tanpa melalui suatu tindakan pembukaan tulang untuk memudahkan lapang pandang secara pembedahan. fraktur mandibula lebih baik dilakukan perawatan terlebih dahulu dengan prinsip dari dalam keluar. lokasi. Evaluasi klinis secara keseluruhan dengan teliti. Penggunaan antibiotik untuk kasus compound fractures. 155 . head frame plaster of paris.2. mengembalikan oklusi merupakan tujuan dari perawatan fraktur mandibula. Menciptakan pembukaan mandibula yang maksimal.8 TERAPI Adapun tujuan yang ingin didapatkan pada perawatan fraktur mandibula adalah18: 1) 2) 3) 4) 5) Mendapatkan oklusi yang stabil dalam fungsi dan estetik. Apabila terjadi fraktur mulitple di wajah. monitor pemberian nutrisi pasca operasi. Waktu penggunaan fiksasi intermaksiler dapat bervariasi tergantung tipe. head gear. jumlah dan derajat keparahan fraktur mandibula serta usia dan kesehatan pasien maupun metode yang akan digunakan untuk reduksi dan imobilisasi. intermaxillary fixation seperti interdental wiring fixation dan splint fixation. 7) Mencegah komplikasi jangka panjang pada gangguan pertumbuhan. dari bawah keatas.

Kemudian kedua kawat atas dan bawah digabungkan dan diputar dengan hubungan vertika maupun silang. Tehnik Gilmer . merupakan tehnik yang mudah dan efektif tetapi mempunyai kekurangan yaitu mulut tidak dapat dibuka untuk melihat daerah fraktur tanpa mengangkat kawat. Kawat tersebut dilingkarkan pada leher gigi. Beberapa tehnik fiksasi intermaksilaris .21 Head bandage16 Tehnik yang digunakan pada terapi fraktur mandibula secara closed reduction adalah fiksasi intermaksiler.Gambar 2. a. kemudian diputar searah jarum jam sampai tegang. untuk mencegah tergelincir ke anterior dan posterior 156 . Dilakukan pada gigi atas dan bawah sampai oklusi baik. Fiksasi ini dipertahankan 3-4 minggu pada fraktur daerah condylus dan 4-6 minggu pada daerah lain dari mandibula.

157 . terdiri dari formasi loop kawat kecil yang mengelilingi arkus dentis bagian atas dan bawah. keuntungan tehnik ini bahan mudah didapat dan sedikit menimbulkan kerusakan jaringan periodontal serta rahang dapat dibuka dengan hanya mengangkat ikatan intermaksilaris. Tehnik continous loop (stout wiring) . Tehnik erich arch bar . dan menggunakan karet sebagai traksi yang menghubungkannya d. indikasi pemasangan arch bar antara lain gigi kurang/ tidak cukup untuk pemasangan cara lain.23 Tehnik eyelet / ivy loop15 c.Gambar 2. disertai fraktur maksila. Kerugiannya kawat mudah putus waktu digunakan untuk fiksasi intermaksiler Gambar 2.22 Tehnik Gilmer 19 b. Tehnik eyelet (ivy loop) .

dengan menggunakan kawat yang kuat untuk tempat karet dipasang mengelilingi bagian leher gigi. Tehnik ini untuk gigi yang hanya sendiri atau insufisiensi pada bagian dari pemasangan arch bar.25 Tehnik Kazanjian 15 Indikasi untuk metode reduksi tertutup adalah:18 a) Fraktur menguntungkan tanpa adanya pergeseran tempat ( nondisplace favorable fracture) 158 . biaya murah.24 A. B. mudah adaptasi dan aplikasinya.didapatkan fragmen dentoalveolar pada salah satu ujung rahang yang perlu direduksi sesuai dengan lengkungan rahang sebelum dipasang fiksasi intermaksilaris. Keuntungan penggunaan arch bar ialah mudah didapat. tidak dapat digunakan pada penderita dengan edentulous luas. Interdental wiring15 B Gambar 2. e. Essig wire. Tehnik Kazanjian . A Gambar 2. Kerugiannya ialah menyebabkan keradangan pada ginggiva dan jaringan periodontal.

karena jika menggunakan open reduction. gangguan nutrisi karena adanya MMF. monocortical transoral miniplates pada bagian superior. paired miniplates. Kerugiannya adalah biaya lebih mahal dan diperlukan ruang operasi dan pembiusan untuk tindakannya. penggunaan open reduction dapat merusak benih gigi atau gigi yang sedang tumbuh e) f) Fraktur processus koronoidalis Fraktur kondilus Keuntungan dari reposisi tertutup adalah lebih efisien. lag screws dan noncompression stabilization plates pada bagian inferior. angka komplikasi lebih rendah dan waktu operasi yang lebih singkat. plat paling baik diletakkan pada permukaan yang paling luas dan setinggi mungkin di daerah linea oblique eksterna. Pada regio anterior. mobilisasi lebih dini dan reaproksimasi fragmen tulang yang lebih baik. Pada angulus mandibula. Dalam menangani fraktur mandibula umumnya digunakan lebih dari satu modalitas sebab terdapat banyak variasi biomekanik dan problem klinis untuk mencapai mobilitas fiksasi di regio fraktur. Tehnik ini dapat dikerjakan di tingkat poliklinis. Kerugiannya meliputi fiksasi yang lama. dapat mengganggu vaskularisasi fragmen tulang yang kecil c) Fraktur pada mandibula edentulus (tidak bergigi). Keuntungan dari ORIF antara lain . Hasil yang didapatkan dari pemakaian monocortical osteosynthesis adalah tercapainya netralisasi kekuatan tensi dan kompresi serta rotasi pada garis fraktur sehingga diperoleh reduksi anatomis yang fisiologis. karena open reduction dapat mengganggu vaskularisasi d) Fraktur mandibula pada anak. disamping plat subapikal perlu juga ditambahkan plat lain di dekat batas bawah mandibula untuk menetralkan 159 .b) Fraktur comunitted yang luas. kompresi pada fragmen fraktur dan imobilisasi yang rigid serta perbaikan kekuatan self kompresi fisiologis. Ada 5 metode yang umum digunakan yaitu dengan biocortical transfacial compression plates pada bagian inferior dengan atau tanpa tension band plate. resiko ankilosis TMJ dan problem airway. diantara kedua foramen mentalis.

Penggunaan rigid internal fixation untuk mencegah hilangnya kontrol segmen proksimal. distraksi dari kontak tulang menghambat reduksi dan vaskular dari sisi fraktur dan dapat menjadi sumber infeksi. Angulus merupakan bagian yang sulit dicapai lewat intraoral karena adanya otot-otot pengunyah dan otot-otot daerah suprahyoid. sedangkan pada daerah angulus dan ramus mandibula fungis tersebut baru bisa didapatkan dengan menggunakan plat yang kecil. Ketika dilakukan 160 .kekuatan rotasi pada daerah simfisis tersebut. Jenis-jenis dari metode terbuka contohnya interosseus wiring dan fiksasi dengan bone plate and screw. archbar sudah cukup berfungsi menetralkan kekuatan tension. Fraktur pada daerah angulus mandibula merupakan problem khusus pada perawatan dengan menggunakan rigid internal fixation. Indikasi reduksi terbuka adalah19 :  Fraktur yang tidak menguntungkan pada sudut mandibula Fraktur ini diindikasikan untuk reduksi terbuka bila fragmen proksimal berubah tempat ke arah posterior atau median dan reduksi tidak dapat dipertahankan tanpa intraosseus wiring. Metode reduksi terbuka adalah suatu tindakan reduksi dengan cara pembedahan untuk memudahkan lapang pandang. Pada bagian mandibula yang bergigi. Batas inferior dari angulus sangat tipis dan tidak mungkin dilakukan suatu kompresi. digastrikus. Pada daerah di belakang foramen mentalis sampai mendekati daerah angulus cukup digunakan satu plat yang dipasang tepat dibawah akar gigi dan diatas nervus alveolaris inferior. delayed union dan malunion yang dapat terjadi bila digunakan terapi lain.  Fraktur yang tidak menguntungkan pada bodi mandibula atau daerah para simpisis mandibula Otot mylohyoid. Adanya gigi molar 3 menyebabkan fraktur mudah terjadi. Penempatan plat didaerah sepanjang tension trajectory ternyata juga menghasilkan suatu fiksasi yang paling stabil bila ditinjau dari prinsip biomekaniknya. skrew dan plat. geniohyoid dan genioglosus dapat menyebabkan perpindahan fragmen lebih jauh.

sehingga oklusinya tidak menjadi pertimbangan langsung.perawatan reduksi terbuka. Kalau prosedur ini tidak menyelesaikan masalah tipe wiring apapun. seperti dari sutura frontozygomatikus ke daerah mandibula. akan terjadi inefisiensi pengunyahan dan perubahan periodontal yang buruk . Tehnik ini berguna terutama pada mandibula yang nonatropic pada saat tidak ada gigi tiruan. Gambar 2.26 Fraktur menguntungkan dan tidak menguntungkan 19  Fraktur multipel pada tulang wajah Pada kasus ini perawatan reduksi terbuka dari segmen mandibula membuktikan perbaikan yang stabil  Fraktur setengah wajah dan fraktur kondilus bilateral Pada fraktur ini salah satu kondilus yang fraktur harus dirawat dengan reduksi terbuka untuk mempertahankan dimensi vertikal wajah. Pada situasi ini memberikan 161 . fraktur parasimpisis cenderung membuka pada border inferior. Dengan rotasi medial dari body mandibula. cusp lingual seluruh premolar dan molar bergerak keluar dari kontak oklusal.  Fraktur edentolous mandibula dengan perpindahan yang hebat fragmen fraktur Pada fraktur ini reduksi terbuka dianggap bisa membuat kembali kontinuitas mandibula. cenderung gagal dan memaksa fraktur setengah wajah berhimpitan dengan kondilus yang menyebabkan profil wajah menjadi lebih pendek. dengan aspek dari segmen mandibula berputar ke arah median pada titik fiksasi. Kalau konstriksi ini tidak diperbaiki.

plat pada mandibula tanpa intermaxilary fixation merupakan Ketika mandibulamenjadi atropik secara kemungkinan yang kuat. Metode ini dengan fiksasi rigid dengan fraktur mandibula akan menggantikan kebutuhan intermaxilary fiksation. contohnya pada pasien yang mengalami kesulitan mengontrol akibat serangan yang tiba-tiba atau epilepsi. Pencangkokkan tulang harus dipeertimbangkan pada fraktur mandibula yang mengalami atropic secara ekstrim. fungsi paru yang harus dikompromikan.  Perawatan yang tertunda dan Interposisi jaringan lunak antara fragmen fraktur yang tidak kontak Ketika perawatan tertunda dan jaringan lunak ada diantara fragmen fraktur maka diperlukan metode open reduction. Jika diperlukan close reduction maka perlu adanya prostetik pada maxilla. dan dapat distabilkan dengan palatal screw atau circum zygomatic wires.  Edontolous maksila dengan Fraktur mandibula Adanya fraktur mandibula dengan edentolous maxila merupakan kesulitan untuk dilakukan intermaxilary fixation.  Fraktur yang membutuhkan osteotomy/ Orthognathi Surgery 162 . Alasan ditundanya perawatan karena adanya luka kepala atau adanya masalah medis yang serius. berbagai tipe osteotomi diperlukan untuk memperbaiki kekurangannya.  Malunion Ketika hasil perawatan fraktur mandibula yang buruk. ekstrim. dan kelainan gastrointestinal. masalah psikiatrik dan neurologik.  Kondisi sistemik tertentu yang merupakan kontraindikasi intermaxillary fixation Pada situasi dimana mandibula harus tetap bergerak. sehingga terjadi jaringan penghubung antara fragmen fraktur yang menghambat osteogenesis. harus dipertimbangkan status dari suplai darah ke tulang dan efek dari prosedur reduksi terbuka pada kompromi vaskularisasi. maka harus dilakukan metode open reduction.

Lalu muskulus platymus dipotong untuk mencapai lapisan superficialis pada bagian dalam fascia cervicalis. cabang mandibula marginal dan nervus facialis terletak pada lapisan ini.20: Pendekatan Bedah Sebelum melakukan operasi pada fraktur mandibula. Pendekatan bedah sendiri antara lain (Gambar 3) : Pendekatan submandibular Pendekatan retromandibular Pendekatan preauricular Gambar 2. 2 cm dibawah angulus mandibularis. Ada banyak metode perawatan fraktur mandibula dengan reduksi terbuka diantaranya12. 163 .27 Insisi submandibular dan preauricular19 Pendekatan Submandibular Pendekatan ini dikenalkan tahun 1934 oleh Risdon. Lemak subkutan dan superficial fascia dipisahkan untuk mencapai muskulus platymus. sehingga sangat penting untuk diketahui. operator harus memperhatikan sudut mulut pada lapangan operasi untuk memonitor aktifitas nervous facialis dan untuk meyakinkan anestesiologist tidak membuat pasien paralisis dalam waktu yang lama. Incisi kulit harus diletakkan pada lipatan kulit untuk menghindari jaringan parut dan dibuat pada sudut yang tepat. Panjang incisi 4 cm sampai 5 cm. Faktor yang harus diperhatikan adalah isolasi fraktur. garis wajah dan posisi nervous. Fraktur yang membutuhkan bone graft.

melalui fascia cervicalis yang lebih dalam dengan menggunakan stimulus otot.Baik anterior atau posterior arteri facialis. Pembukaan dapat dikurangi dan penutupan dapat diperbaiki dengan penarikan pterygoid medialis dan ligament stylomandibular dari batas interior dan posterior. masseter dan fascia cervicalis bagian dalam. Kerusakan kelenjar dapat menyebabkan salivarius. Kelenjar submandibular dan capsulnya. Pembukaan lebih jauh dapat dicapai dengan menarik sudut dan batas inferior dengan kawat atau forcep tulang. Jika pembuluh darah facialis tidak dapat ditarik sempurna dapat dipisahkan dan diikat. Kelenjar parotis biasanya di posterior ramus tetapi bisa terletak mengelilingi sudut inferior. Kelenjar submandibularis dan kapsulnya biasanya berlokasi dibagian batas inferior dari mandibula. periosteum dan jaringan lunak dipisahkan untuk jalan melihat body. Pemisahan lalu meluas ke anterior. Pemotongan dilanjutkan antara fascia sampai kebatas inferior mandibula. Setelah otot dilewati lalu dipisahkan pada batas inferior untuk melihat tulang. akan menjadi bukti dan kutub paling bawah dari parotis dapat ditemukan. Kapsul keduanya harus dipisahkan selama Sin loceles atau fistula pemisahan. dan sisi fraktur. Insisi ketulang melewati muskulus masseter biasanya diantara margin mandibular dan cabang buccal dari nervus facialis. Submandibular nodus lympaticus dapat diidentifikasi berdekatan dengan pembuluh darah facial. Incisinya juga digambarkan mengikuti sudut mandibula. Pada dasarnya pendekatan ini merupakan variasi dari pendekatan submandibular kecuali incisinya kurang lebih 3 cm. Incisinya dibuat untuk memasuki parotis. Pemisahan ke tulang melewati fascia cervicalis yang dalam dengan menggunakan nerve stimulator. seluruh cabangnya berinervasi pada depressor bibir bawah. diatas incisi submandibular (Gambar 2. Otot. Pendekatan Retromandibular Hinds dan Birroti pertama kali menerangkan pendekatan lekatan retromandibular pada tahun 1967. bagian belakang batas inferior dari mandibula.28)19. Pemotongan dilanjutkan pada muskulus masseter dan bagian atas nervus diretraksi. ramus. Otot dan perios diinsisi melewati sudut termasuk 164 .

28 Insisi retromandibular19 Pendekatan Preauricular Insisi ini digunakan untuk melihat daerah TMJ dan dengan mudah diperluas melewati daerah temporal. yang dapat dihindari dengan menginsisi sepanjang cartilago preauricular.3.5 cm pada daerah lipatan preauricular. Jaringan lunak dan nervus kemudian ditarik ke superior. Lipatan preauricular didapat dengan menekan telinga dan tragus ke depan.29). Insisi dibuat 45 ° pada zygoma dari arah superior telinga ke arah inferior perlekatan antara dagu dan telinga (Gambar 2.batas inferior. Gambar 2.29 Macam-macam Insisi untuk daerah TMJ19 165 . Incisi ini memperlihatkan akses superior dari ramus dan regio subkondilus mandibula. Gambar 2. Insisi dibuat kira-kira sepanjang 2. Pada insisi ini ditemukan pembuluh darah temporalis superfisialis.5 .

dan penggunaan adhesif bandage pada dagu untuk mendukung musculus mentalis. Bibir ditarik dan dibuat insisi curvilinear tegak lurus permukaan mukosa.Akses Intra Oral Simpisis dan Parasimpisis Perawatan fraktur anterior mandibula dapat melalui incisi intraoral. Setelah selesai perawatan fraktur muskulus mentalis dijahit dengan jahitan terputus. Bagian proksimal dari insisi harus disepanjang external oblique ridge. Gambar 2. setinggi oklusal plane mandibula. Pertama dilakukan anestesi dengan lokal anestesi dan vasokonstriktor. Insisi dibuat kurang lebih 5 mm dari mukogingival junction untuk mendapatkan stabilitas jaringan ketika penutupan.30 Akses Intra oral pada fraktur parasimpisis19 Pemotongan diteruskan ke arah subperiosteal untuk mengidentifikasikan mental neurovascular borde dibawah premolar kedua maka daerah fraktur terlihat. Musculus mentalis terlihat dan harus diinsisi tegak lurus dengan tulang meninggalkan flap dari perlekatan otot ke tulang untuk penutupan (Gambar 6). Mukosa diinsisi dengan pisau tegak lurus terhadap tulang untuk menjauhi nervus mentalis. 166 . dagu ditarik ka arah lateral. Mukosa lalu ditutup. Sudut dan Ramus Setelah dilakukan anestesi. Body.

Gambar 2. sambil diberikan larutan normal salin.32). tehnik close reduction dengan fiksasi maxillamandibular sudah cukup untuk treatment frakturnya.Internal fiksasi Untuk Pasien fraktur yang hanya mengalami fraktur yang sederhana serta masih terdapat gigi dan oklusi yang baik. 167 . key dan drill point stainless stell wire. Bahan yang diperlukan adalah: periosteotome bone rongeur mallet. cutting wire bone forceps. 24 dan 30 Pembuatan lubang menggunakan bor berkecepatan rendah pada awalnya lalu kecepatan makin meningkat. Untuk fraktur multipel dan fraktur dengan pergerakan yang berat maka diperlukan penggunaan internal fiksasi yang dikombinasikan dengan fiksasi maksilomandibular. Setelah itu baru kawat bisa diinsersikan. chisel.31 Interosseus wiring15 Transosseus wiring fixation20 Metode tradisional untuk stabilisasi tulang setelah dilakukan open reduction dengan menggunakan kawat untuk mengikat dan mengimobilisasi tulang (Gambar 2. pistol drill.

Dengan membuat kawat seperti hairpin loop Gambar 2. c.Gambar 2. Jarak garis fraktur pada outer cortex Jarak ke batas bawah Jarak garis fraktur pada inner cortex Kedekatan lubang dengan kanalis mandibularis. foramen mentalis dan akar gigi e. Kawat dimasukkan melewati hipodermic needle 3. Ukuran dari lubang Orientasi dari bidang fraktur ke panjang tulang Teknik pemasukkan kawat pada fraktur : 1.33 Teknik pemasukkan kawat20 168 . Kawat langsung dimasukkan ke dalam lubang yang telah dibor 2. b. d.32 Parameter pembuatan lubang dan pengikatan20 Hal yang harus diperhatikan pada penempatan penempatan lubang adalah : a. f.

Jenis plate yang digunakan bermacam-macam ada yang yang lurus dengan beberapa lubang untuk dimasukkan screw (Gambar 11).34 Pelindungan jaringan pada pembuatan lubang20 Gambar 2. Figure-of-eight wire.Gambar 2. maka fragmen fraktur akan lebih stabil dan kaku selama penyembuhan. Walaupun menggunakan menggunakan fiksasi yang kaku diperlukan adanya penyesuaian oklusi terlebih dahulu sebelum dilakukan fiksasi.34 Teknik simple wiring. Transosseus circum-mandibular wire 15 Fiksasi dengan Bone Plate dan Screw Metode ini menggunakan bone plate dan bone screw untuk menyatukan fragmen fraktur. ada juga yang membulat sehingga dapat dipasang pada margo inferior mandibula (Luhr Mandibular Plate) Gambar 2. C. B. 169 . Plate dipasang melintang melewati garis fraktur.3517.

37 A.Gambar 2.35 Luhr's Mandibular Plate17 Gambar 2. B. Fiksasi dengan plate dan screw15 Gambar 2. Fraktur korpus mandibula.38 Plat & Lag Screw17 170 .36 Penggunaan Plate dan Screw berdasarkan Champy Line 17 A B Gambar 2.

Pemasangan sekrup dimulai dari satu sisi terlebih dahulu kemudian menyebrang menyilang pada sisi plat satunya. Tolak ukur keberhasilan operasi pemasangan plat mini maupun IOID wiring pada mandibula adalah oklusi yang baik. Posisi plat jangan terlalu tinggi karena sekrup akan menembus saraf/akar gigi. lamanya penggunaan IMF ini bukan tanpa konsekuensi.5mm dengan kecepatan rendah menembus 1 korteks dikukur kedalamannya kemudian dipasang sekrup yang panjangnya sesuai dengan tebal satu korteks.39 Fiksasi Intermaksiler17 Kontraindikasi penggunaan MMF . stabil dan arah obeng juga sesuai dengan arah bor sebelumnya. gangguan jiwa dan gangguan fungsi paru. tidak trismus. Jangan tergesa melakukan fiksasi sebelum yakin oklusinya sudah sempurna.Gambar 2. Namun. Untuk penggunaan bor. penderita epilepsy. Permukaan tulang bersih dari jaringan ikat dan jaringan lunak sehingga plat betul-betul menempel pada tulang mandibula. Sering pasien berlanjut untuk kehilangan berat badan 171 . sebaiknya arah matabor tangensial. Secara umum lamanya penggunaan IMF untuk orang dewasa dengan fraktur mandibula adalah 6-8 minggu. Gunakan mata bor diameter 1.

fraktur pada alkoholik. Situasi yang secara umum membutuhkan IMF yang lebih lama: fraktur comminuted. fraktur yang terlambat dirawat. pasien dengan problem nutrisi. pada orang dewasa 3-4 minggu dan pada pasien yang lebih tua 6-8 minggu. dan fraktur dengan pencabutan gigi pada garis fraktur16. kebanyakan fraktur sederhana pada anak-anak menyatu dalam 2-3 minggu. pasien cacat secara psikososial. Juniper dan Awty mampu menunjukkan 80% fraktur mandibula yang dirawat dengan open reduction atau closed reduction dan IMF secara klinis menyatu dalam 4 minggu. Terlihat bahwa kasus pada tiap individu harus dievaluasi secara seksama. mereka tidak mampu untuk kembali bekerja dan ada beberapa bukti yang menunjukkan adanya perubahan histologis pada TMJ. 172 .selama masa ini.

Penatalaksanaan fraktur kondilus memerlukan perhatian khusus dan dapat dilakukan dengan metode tertutup atau konservatif dan terbuka atau bedah 8. Etiologi Data yang diambil dari etiologi terjadinya fraktur kondilus mandibula adalah sebagai berikut 8:       Kecelakaan kendaraan bermotor : 43% Penyerangan/perkelahian : 34% Kecelakaan kerja : 7% Jatuh : 7% Kecelakaan olah raga : 4% Penyebab lainnya : 5% Persentase terjadinya fraktur kondilus mandibula dibandingkan dengan lokasi lainnya pada mandibula sebagai berikut 19:       Body mandibula : 29% Kondilus mandibula : 26% Angle mandibula : 25% Simfisis mandibula : 17% Ramus mandibula : 4% Prosesus koronoideus : 1% 173 .21.19. Komplikasi yang sering terjadi akibat fraktur kondilus adalah ankylosis dan gangguan sendi temporomandibula 8.24.23.BAB III FRAKTUR KONDILUS MANDIBULA ( Fraktur TMJ ) Fraktur kondilus merupakan salah satu fraktur yang melibatkan sendi temporomandibula sehingga dapat menyebabkan gangguan sendi temporomandibula.19.22.

fraktur alveolar. Pada pemeriksaan klinis harus ditanyakan pada penderita apakah gigitannya terasa berbeda. Perubahan oklusi dapat dihasilkan dari fraktur gigi. Seorang penderita dengan gigi-gigi yang terkunci pada saat terjadinya impak akan menyebabkan terjadinya suatu fraktur alveolar atau gigi 19. fraktur mandibula pada semua lokasi dan trauma pada sendi temporomandibula serta otot-otot pengunyahan. Obyek yang menyebabkan fraktur juga mempengaruhi jenis dan banyaknya fraktur. apabila obyeknya besar maka dapat menyebabkan fraktur lebih dari satu lokasi dan sebaliknya bila kecil akan menyebabkan satu jenis fraktur karena kekuatan impaknya hanya terkonsentrasi pada satu lokasi 19. sedangkan blow ke arah parasimfisis dapat menyebabkan fraktur kondilus kontralateral atau angle mandibula. Gambar 3. Blow anterior yang langsung mengenai dagu dapt menghasilkan suatu fraktur kondilus bilateral. Semua contoh tersebut hanya beberapa disharmoni oklusi multiple yang muncul akan tetapi setiap perubahan oklusi harus dipertimbangkan sebagai tanda awal suatu fraktur kondilus mandibula19. Gigitan terbuka pada fraktur kondilus25 Semua perubahan oklusi merupakan tanda adanya fraktur kondilus mandibula.1. Oklusi retrognatik biasanya berhubungan dengan fraktur kondilus atau angle dan oklusi prognatik dapat terjadi pada sangat menonjol pada fraktur sendi temporomandibula.Diagnosa dan gejala klinis Jenis dan arah kekuatan trauma sangat membantu diagnosa. Setiap penderita dengan 174 . Kontak prematur gigi posterior atau gigitan terbuka anterior dapat disebabkan fraktur kondilus bilateral atau angle. Pengetahuan arah kekuatan impak dapat membantu klinisi mendiagnosa fraktur dengan tepat.

3. maka terjadilah suatu deviasi. Kiri: deviasi mandibula ke arah fraktur. Deviasi pada saat pembukaan ke arah sisi fraktur kondilus mandibula merupakan contoh klasik tanda fraktur kondilus.2. Meskipun demikian fraktur kondilus mandibula yang sesungguhnya atau berhubungan dengan fraktur fasial menghasilkan pergerakan mandibula abnormal. Deviasi terjadi karena otot pterygoideus lateralis yang berfungsi pada sisi yang tidak terpengaruh tidak dinetralkan oleh otot pterygoideus lateralisnya yang tidak berfungsi sisi berlawanan.fraktur kondilus mandibula mempunyai keterbatasan pembukaan. Kanan: pergerakan abnormal mandibula25 Gambar 3. Kanan: efek tarikan otot pada fraktur kondilus25 175 . Gambar3. Kiri: pergerakan normal mandibula. Pergerakan mandibula lateral dapat dihambat oleh fraktur kondilus dan fraktur ramus dengan pergeseran tulang19.

176 . (2) relasi segmen kondilus terhadap segmen mandibula. towne’s view. angle atau body. Untuk melihat fraktur kondilus dapat dilakukan pemeriksaan radiolog dengan cara: panoramik. kemerahan. diikuti dengan mandibula bergeser ke bawah. Pemeriksaan mendalam terhadap kehilangan gigi dan tulang pendukung dapat membantu diagnosa fraktur alveolar. Klasifikasi fraktur kondilus menurut Lindahl (1977) didasarkan pada beberapa faktor. Teknik pencitraan yang lebih jauh adalah CT scan dan MRI digunakan untuk trauma yang lebih kompleks dari kondilus 26. Klasifikasi Menurut De Riu (2001) klasifikasi fraktur kondilus disesuaikan dengan lokasi anatomi (intrakapsuler dan ekstrakapsuler) dan derajat dislokasi kepala artikuler. Rasa sakit. (3) relasi kepala kondilus terhadap fossa glenoideus. body dan simfisis. Asimetri wajah sebaiknya diperhatikan klinisi terhadap kemungkinan fraktur kondilus mandibula. dengan cara meletakkan ibu jari pada gigi dan telunjuk pada batas bawah mandibula secara hati-hati dan perlahan-lahan memberikan tekanan diantara kedua tangan hingga dapat mendeteksi krepitasi fraktur19. pembengkakan dan panas yang terlokalisir merupakan tanda yang awal yang sempurna suatu trauma dan meningkatkan indeks kecurigaan adanya fraktur mandibula19. yaitu: (1) lokasi anatomis fraktur. Pemeriksaan Radiologis Penetapan diagnosis dari fraktur kondilus dapat ditegakkan dar pemeriksaan radiologis yang sering digunakan sebagai dasar penegakan diagnosis. meskipun pada kontur fasial mungkin tertutupi pembengkakan. lateral oblique mandibula.27. Gambaran wajah yang memanjang diakibatkan fraktur subkondilus. posteroanterior mandibula dan transkranial mandibula. Klinisi sebaiknya melakukan palpasi dengan menggunakan kedua tangannya.Pada pemeriksaan klinis sebaiknya memeriksa wajah dan mandibula dengan kontur yang abnormal.

Regio ini terdapat di bawah leher kondilus dan memenjang dari titik terdalam sigmoid notch anterior hingga titik terdalam aspek konkaf poterior ramus mandibula. merupakan fraktur intrakapsular karena kapsul melekat pada leher kondilus. Leher kondilus merupakan daerah penyempitan tipis di bawah kepala kondilus. Kepala kondilus. b. Leher kondilus.Sistim klasifikasi ini memerlukan pencitraan radiografik yang diperoleh sekurangkurangnya dua gambar dari sudut yang tepat 26. 1. Fraktur ini merupakan fraktur ekstrakapsular. akan tetapi sangat mudah untuk melihat penyempitan leher kondilus dan kepala kondilus bersandar di atasnya. Relasi segmen kondilus terhadap fragmen mandibula a. Displacement ke arah medial atau overlap lateral. Berdasarkan lokasi fraktur maka fraktur ini sering disebut sebagai fraktur subkondilus ”tinggi” atau “rendah”. 2. Relasi antara kepala kondilus dan fossa glenoideus a. c. Tarikan muskulus pterygoideus lateral menyebabkan fragmen bergeser ke arah medial d. Fraktur ini mungkin digolongkan sebagai fraktur vertikal. Subkondilus. fragmen tetap dalam kontak tanpa separasi atau overlap c. Pada fraktur ini. Nondisplaced. Meskipun sangat sulit mendefinisikan dengan tepat kepala kondilus secara radiografik. Fraktur kondilus. Kepala kondilus mempunyai relasi normal terhadap fossa glenoid 177 . Ketinggian fraktur kondilus a.Tidak ada kontak antara fraktur segmen 3. Displacement ke arah anterior atau overlap posterior e. melihat definisinya. Nondisplaced b. Deviated.

Displacement. Adanya tarikan muskulus pterygoideus lateralis menyebabkan segmen kondilus terletak anteromedial.21.4 Klasifikasi menurut Lindahl19 Perawatan Perawatan fraktur kondilus mandibula masih kontroversial. Gambar 3. Metode tertutup atau konservatif Fonseca (1997) menyatakan bahwa komplikasi selama perawatan konservatif sangat jarang terjadi. tetapi ada gangguan sendi c. Perawatan fraktur kondilus dengan cara konservatif sangat sederhana. Dislokasi. deviasi pad saat pembukaan. terutama disebabkan banyaknya modalitas yang ditawarkan oleh berbagai macam literatur. Perawatan fraktur kondilus dapat dilakukan dengan cara konservatif atau metode tertutup dan bedah atau metode terbuka 8.28. rekonstruksi tersebut melibatkan hubungan antara segmen fraktur.19. peningkatan rasa nyeri. Immobilisasi melibatkan intermaxillary fixation (IMF) dengan menggunakan arch bar. Pengawasan yang ketat wajib dilakukan untuk melihat ketidakstabilan oklusi. Indikasi perawatan fraktur kondilus dengan konservatif bila displacement yang terjadi minimal atau tidak ada atau bila garis fraktur terlalu tinggi sehingga sulit dilakukan stabilisasi secara bedah21. Tujuan perawatan fraktur kondilus adalah mengembalikan fungsi sistim pengunyahan seperti asalnya. keseimbangan maksilofasial. evaluasi klinis dan radiografi.b. Kepala kondilus tertinggal dalam fossa. eyelet 178 . oklusi.

derajat pergeseran dan danya fraktur tambahan.23:      Displacement kondilus ke dalam fossa cranial media Oklusi yang adekuat tidak mungkin didapatkan dengan metode tertutup Dislokasi kondilus ekstrakapsular lateral Fraktur kondilus bilateral pada pasien tidak bergigi Fraktur kondilus bilateral atau unilateral bila splinting tidak direkomendasikan karena keadaan umum pasien atau karena fisioterapi tidak memungkinkan. Periode ini dapat meningkat atau menurun tergantung pada umur penderita. Gambar 3.   Fraktur kondilus bilateral akibat fraktur wajah tengah comminuted Ankylosis kondilus mandibula akibat trauma dan tertunda perawatannya 179 .8.8.5 Pemakaian arch bar dan splint pada fraktur kondilus19 Metode terbuka atau bedah Perawatan dengan metode terbuka diindikasikan bila 19.wires atau splint. Lamanya immobilisasi rata-rata sekitar 7 hingga 21 hari. Apabila intermaxillary fixation telah dilepas maka diikuti dengan penggunaan elastic guidance untuk mengarahkan mandibula pada posisi maximal intercuspation.21. Selanjutnya bila penderita telah mempunyai kemampuan fungsional kembali dan oklusi tetap stabil serta rasa sakit minimal maka elastic guidance dan arch bar dilepas19.

Apabila oklusi belum stabil maka penggunaan elastic guidance selama 2-3 minggu sangat dianjurkan agar adaptasi neuromuscular dapat tercapai. 180 . Pemakaian IMF dilakukan selama 3 minggu. Apabila oklusi telah stabil maka elastic guidance dapat dilepas dan fisioterapi dilakukan dengan penempatan tongue-blade diantara insisif sentral untuk mencegah keterbatasan permanen ankylosis8. pergerakan mandibula dan gejala-gejala yang timbul selama sendi berfungsi. setelah wires dilepas. yaitu: (1) sistim bikortikal Luhr dengan penggunaan plat vitallium.19. dilakukan penilaian status sendi temporomandibula terutama jarak pembukaan. ikatan diperkuat tiap minggu. Gambar 3. (2) sistim Arbeitgemeinschaff fur Osteosynthesefragen/sistim Association for the Study for Internal Fixation (AO/ASIF) dengan penggunaan stainless steel compression atau plat rekonstruksi dengan bicortical screws dan (3) Teknik Champy miniplate digunakan sepanjang” line of ideal osteosynthesis” memakai moncortical screws8. Pemakaian monocortical screws19 Kondilektomi merupakan salah satu teknik untuk membebaskan ankylosis dan tetap mempertahankan arsitektur sendi temporomandibula.Tiga teknik yang terpisah untuk fiksasi rigid pada perawatan fraktur kondilus dengan metode terbuka.6. Metode tersebut telah banyak menunjukkan keberhasilan dan jarang menimbulkan reankylosis.

Metode pendekatan yang sering digunakan untuk melakukan kondilektomi. inverted “hockey stick” approach. 181 . post auricular approach8. diikuti dengan pengawasan yang ketat serta perawatan fisioterapi selama setahun19. endaural approach.Fiksasi intermaksiler diaplikasikan dalam periode yang pendek. yaitu pre auricular approach. Risdon approach.

24 : Maloklusi Maloklusi yang sering terjadi setelah trauma kondilus dapat disebabkan karena perubahan dari pusat pertumbuhan kondilus dan penyatuan dari segmen fraktur pada posisi yang tidak seharusnya.9 Post auricular dan Risdon approach26 Komplikasi Komplikasi fraktur kondilus mandibula selama perawatan jarang terjadi dan yang paling sering terjadi 19.8.21. 182 .22.7 Metode pendekatan bedah pada kondilektomi19 Gambar 3.8 Pre auricular approach26 Gambar 3.Gambar 3.

sedangkan pada bilateral ankylosis menunjukkan adanya gigitan terbuka anterior dan hampir pembukaan mulut hampir tidak ada 19.21. lamanya immobilisasi dan kerusakan diskus. tingkat keparahan trauma. Gangguan seperti displacement mandibula dan aposisi tulang diregio kondilus dapat memyebabkan gangguan pertumbuhan mandibula. Gangguan pertumbuhan Beberapa factor yang mempengaruhi efek dari fraktur kondilus terhadap pertumbuhan kerangka wajah yaitu usia pasien. lokasi perlekatan dan tipe jaringan yang terlibat. Kerusakan yang terjadi pada fraktur kondilus dapat menimbulkan dearangement sekunder pada sendi kontralateral sehingga terjadi overloading pada sendi yang tidak terkena injuri. Hasil akhir kelainan tersebut akan menyebabkan keterbatasan pergerakan mandibula sehingga terjadi gangguan bicara. demikian pula dengan pembentukan jaringan parut fibrous di daerah cedera temporomandibular dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan Gangguan sendi temporomandibula lainnya Internal derangement akibat fraktur kondilus dihasilakan dari trauma langsung pada sendi.Ankylosis sendi temporomandibula Ankylosis dapat diklasifikasikan berdasarkan derajat keterbatasan. kesehatan mulut dan nutrisi. Deviasi ke sisi fraktur dapat terjadi pada unilateral. Dimana cap kartilago memberikan tekanan sehingga mandibula tumbuh ke arah depan dan bawah. Gejala komplikasi tersebut di atas sering disebut dengan “condylar post fracture syndrome” 19. Faktor lain yang mempengaruhi terjadinya ankylosis adalah umur pada saat terjadi injuri. Kartilago kondilar merupakan pusat utama pertumbuhan mandibula. tempat dan tipe fraktur. dan lamanya immobilisasi. 183 . hypermobility dan kadangkadang disk displacement. Faktor-faktor ini berpengaruh pada pendekatan penatalaksanaan yang akan dilakukan.

3. Urutan lapis demi lapis struktur tulang dari luar ke dalam adalah: periosteum. 184 . Tulang dilapisi oleh jaringan fibrous yang disebut periosteum. Unit fungsional tulang disebut juga sistem havers atau osteon yang terdiri atas kanal havers sentral yang dikelilingi oleh lapisan konsentris tulang/ lamela. substansia spongiosa. limfe. Berat tulang hanya sepersepuluh dari berat badan. dimana pada lapisan dalam periosteum terdapat pembuluh darah.BAB IV PENYEMBUHAN TULANG DAN KOMPLIKASI PASCA PENYEMBUHAN Tulang merupakan jaringan keras yang membentuk tubuh manusia. elastis serta mampu melakukan regenerasi bila mengalami trauma/fraktur 29. Di bagian dalam tulang terdapat rongga medula/sumsum tulang. substansia kompakta.1 Gambaran Histologis Struktur Tulang Karakteristik dari tulang mempunyai struktur yang bagian luarnya tersusun atas tulang kompak yang disebut kortek dan pada bagian dalam yang berbentuk seperti anyaman adalah tulang kanselus/spongious/trabecular. Lamela tulang yang mengelilingi kanal havers mempunyai lakuna yang mengandung osteosit yang mengatur aktivitas selular tulang29. dimana tulang rahang termasuk dalam golongan tulang ini. yang dibatasi oleh endosteum yang juga mengandung sel-sel osteoprogenitor. dan sel-sel osteoprogenitor yang mempunyai potensi osteogenik yang sangat berperan aktif pada penyembuhan fraktur tulang. endosteum dan kavum medullare29. namun demikian tulang sangatlah kuat. Pada Tulang yang mengandung lebih banyak substansi tulang spongios dibanding tulang kompak disebut “cancellous”.

Gambaran Histologis Jaringan Tulang29 3. 1.3 Osteoklas Osteoklas merupakan sel tulang yang berfungsi dalam resorbsi tulang. 2.2 Osteosit Osteosit yang berasal dari osteoblas yang terperangkap dalam matrik tulang yang mengalami mineralisasi. Sel ini berperanan dalam nutrisi tulang berupa transfer oksigen dan metabolit/ kalsium).2 Komposisi Tulang Komposisi tulang terdiri dari 8% air dan 92% benda padat yang tersusun atas unsur organik. Sel ini mengandung enzim lisosim seperti asam 185 .1 Osteoblas Osteoblas berfungsi dalam sintesa matrik tulang yang berperan dalam pertumbuhan. 2. Osteoblas berasal dari sel yang terdapat pada lapisan dalam periosteum atau dari diferensiasi sel-sel mesenkim.Gambar 4. anorganik dan sel-sel tulang. Unsur selular Terdapat tiga jenis sel utama tulang yaitu : Osteoblas. perbaikan dan remodelling tulang. osteosit dan osteoklas29 2. Unsur organik Unsur organik yang merupakan matrik tulang tersusun dari 28% kolagen dan 5% nonkolagen protein. 1. 2.

Pada bagian ini akan terjadi proses penyembuhan dalam waktu beberapa hari setelah fraktur. Persendian 3.1 Penyembuhan pada celah (Gap Healing) Meskipun fiksasi stabil pada fragmen fraktur. Melindungi alat-alat tubuh penting. endosteum dan sistem havers akan menginvasi celah dan membawa sel-sel osteoblastik mesenkim yang akan mendeposit tulang pada fragmen fraktur tanpa 186 .fosfat dan katepsin. Bila sel ini berkontak dengan permukaan tulang maka akan berpenetrasi ke dalam tulang dan mengeluarkan enzimnya sehingga terjadi resorbsi tulang. Sedangkan fungsi biokimiawinya sebagai tempat penimbunan kalsium dan fosfor dalam proses menjaga keseimbangan kadar mineral di dalam darah. Ca10(PO4)6(OH)2. Pada beberapa bagian segmen tulang dapat terjadi adanya celah yang kecil. biasanya reduksi anatomis yang sempurna jarang terjadi. Kristal tulang ini tersusun sejajar dengan sumbu serat kolagen. Unsur anorganik Komposisi tulang secara kimiawi terdiri dari 67% bahan anorganik (Hydroxyapatite). sebagai berikut : 1.4 Penyembuhan Jaringan Keras Tulang Pada proses penyembuhan fraktur tulang terdapat fase penyembuhan primer dan sekunder.3 Fungsi Tulang Tulang mempunyai dua fungsi utama yaitu: fungsi mekanis dan biokimia. Penyembuhan primer. dimana unsur utamanya berupa garam anorganik hidroksiapatit kristalin. 3. 3. 3. Tempat perlekatan otot 4. 1. Pembuluh darah dari periosteum. Fungsi sebagai rangka 2. Fungsi mekanis tulang meliputi: 1.

Proses ini terjadi melalui regenerasi tulang dimana terjadi aktivitas osteoklas pada bagian fraktur yang menyediakan tempat untuk pertumbuhan dan proliferasi osteoblas guna membentuk tulang baru. Gambar 4. periosteum dan sistem havers menyebabkan hematoma. Penyembuhan sekunder 2. Penyembuhan primer 29 2.2.melalui pembentukan kalus. Dalam waktu 6 minggu tulang lamelar akan tersusun tegak lurus terhadap fragmen fraktur. 187 . Perdarahan pada pembuluh darah endosteum. kemudian proses remodeling akan merubah sejajar dengan sumbu tulang. sedangkan celah antara 0.3mm akan terbentuk langsung tulang lamelar.1 Tahap awal Pada fraktur tulang akan menimbulkan reaksi inflamasi disertai dengan pengaktifan sistem pertahanan tubuh yang menginduksi pelepasan sejumlah angiogenik vasoaktif sehingga terjadi vasodilatasi dan oedema dalam beberapa jam.0 mm akan terisi oleh “woven bone” selanjutnya dalam ruang trabekula akan terisi oleh tulang lamela. Rekonstruksi lengkap dari kortek tulang memerlukan waktu hingga 6 bulan.2 Penyembuhan kontak (contact healing) Penyembuhan kontak terjadi pada fragmen fraktur yang tidak terjadi kontak.5 1. 1. Bila fragmen fraktur kurang dari 0.

30. Platelet akan berdegranulasi Zmelepaskan PDGF (Platelet Derived Growth Factor). fibroblas bermigrasi dan membentuk kolagen selanjutnya berdeferensiasi menjadi kondroblas yang membentuk kartilago. Hematoma yang terjadi mengandung eritrosit . Gambar 4. Kalus yang terbentuk akan menstabilkan ujung fragmen 188 . fibrin.3. fibroblas dan sel kondrogenik (gambar 3). terjadi kalsifikasi kartilago yang menyebabkan kondroblas berubah menjadi kondrosit.fragmen tulang mengalami deposit tulang oleh sel-sel osteoblas dari periosteum. makrofag.2 Tahap kalus kartilogenus (soft callus) Pada hari ketiga sampai kelima jaringan granulasi akan berkondensasi membentuk kalus yang terjadi baik internal maupun eksternal (gambar 3). Terjadi pembentukan kapiler yang bersama kolagen yang berasal dari fibroblas membentuk jaringan granulasi. 29. Keadaan ini memicu aktivitas sel makrofag untuk membersihkan jaringan nekrotik15. mastosit dan platelet. FGF(Fibroblastic Growth Factor) yang bersifat kemoatraktan dan mitogenik sehingga dalam waktu 8 . Pase awal stage fibroplastik pembentukan tulang15 2. limposit. sedangkan sumsum tulang akan mengalami degenerasi lemak. Osteoblas bertambah banyak dan osteoklas mulai nampak. PMN.12 jam akan terjadi proliferasi selular lapisan luar periosteum seperti osteoblas.

3 Tahap kalus tulang (hard callus) Proses ini terjadi dalam waktu 3 . kalus kartilagenous terisi oleh pembuluh darah yang akan meningkatkan tekanan oksigen dan nutrisi yang akan memacu aktivitas osteoblast 15. 29.30 . kemudian osteoid mengalami kalsifikasi menjadi tulang yang tersusun acak (woven bone). Terbentuk akibat proliferasi endosteum dan membentuk trabekula tulang yang susunannya tidak teratur. berfungsi untuk menjamin hubungan antara keseluruhan kalus dengan fragmen tulang. yang dikelompokkan berdasarkan pada letak atau berdasarkan pada fungsi dan urutan pembentuknya: Anchoring Callus: Terbentuk jauh dari fragmen fraktur dan mendekati ke arah bridging callus.4 minggu. 189 .4. Sel-sel jaringan ikat pada daerah ini akan berdifrensiasi jadi osteoblas dan menghasilkan substansia spongiosa yang melekat erat dengan permukaan tulang. Gambar 4. Osteoblas akan mendepositkan osteoid pada kartilago yang mengalami kalsifikasi. selanjutnya berubah menjadi tulang lamela pada tahap remodeling29.30.fraktur sehingga menguatkan tulang. Terdapat beberapa jenis kalus tulang primer. volumenya semakin meningkat mendekati garis fraktur membentuk lepeng tulang yang menutupi rongga sumsum. Pase akhir stage fibroplastik pembentukan tulang15 2. Sealing Callus: Berfungsi menutupi rongga sumsum yang terbuka dan berkembang dari bagian dalam kortek tulang.

terjadi pula diferensiasi pada daerah bridding callus fibrokartilago. 190 . serta minimal 1 kali setiap bula selama perawatan serta foto diambil minimal dari dua arah berbeda. Gejala hematom menghilang 2. Uniting callus: Terbentuk sepanjang garis fraktur dan berfungsi menyambungkan kedua fragmen fraktur. 3. ossifikasi (pada saat substansia spongiosa anchoring callus telah mencapai kartilago) hingga membentuk tulang baru.5 Tanda-Tanda Klinis Penyembuhan Fraktur 1. Dalam remodeling akan terjadi resorpsi tulang oleh osteoklas.15. Tidak ada rasa nyeri 3. Secara fungsional organ telah dapat dipergunakan tetapi masih perlu dibatasi. Pada daerah fraktur kalus dapat diraba sebagai masa bulat dan padat 5.Bridging Callus: Fungsinya sebagai jembatan dari kedua fragmen fraktur dan volumenya paling banyak jika dibandingkan dengan jenis kalus lainnya. dan dilakukan sebelum perawatan. selain akan dilepaskan protein morphogenetik tulang (BMP) yang bersifat mitogenetik yang menginduksi diferensiasi sel-sel mesenkim menjadi osteoblas untuk pembentukan tulang sehingga kontur tulang kembali pulih29. setelah reduksi dan fiksasi.6 Gambaran Radiologis Penyembuhan Fraktur Pemeriksaan radiologis penting untuk diagnosa dan membantu dalam evaluasi perawatan. 2.4 Tahap remodeling Osteoklas dan osteoblas merupakan sel yang sangat berperanan dalam remodeling tulang. Fragmen tidak bergerak dan tidak ada krepitasi 4.30. 3. Saat pembentukan anchoring callus. ossifikasi terjadi pada jaringan ikat diantara fragmen fraktur dan juga ossifikasi tersebut dapat terjadi secara langsung. kartilago hialin.

bentuk dan perlekatan ototnya mandibula dapat digambarkan sebagai sebuah struktur yang mengubah tekanan yang diterimanya menjadi suatu 191 . yaitu otot masseter. Pterigoideus medialis. molar ±15 kg. Kekuatan dinamis dari otot pengunyah orang dewasa pada gigi seri ± 40kg. 3. Sedangkan otot yang berperan untuk menutup mulut adalah m. Gambaran rdioopak nampak jika telah terbentuk kalus sekunder. pterigoideus lateralis dan medialis. sehingga dalam melakukan penanganan fraktur mandibula harus benar-benar diperhatikan biomekanik yang terjadi. disusul m pterigoideus lateralis bagian superior ( yang berinsersi pada kapsul sendi) saat mulut membuka lebih lebar. temporalis. Pada waktu membuka mulut. Temporalis dan masseter dan diperkuat lagi oleh m.7 Biomekanik Mandibula Mandibula memiliki mobilitas dan gaya yang sangat banyak. Konsep biomekanik pada perawatan fraktur mandibula perlu dipahami sebab keadaan statik dan dinamik dapat mempengarui proses penyembuhan fraktur. Hal tersebut dapat dicapai dengan melakukan imobilisasi menggunakan fiksasi internal dan eksternal . Tujuan dari semua terapi fraktur ialah mengembalikan bentuk dan fungsi seperti semula. sedang kekuatan menggigit daerah incisivus ±10kg. maka yang berkontraksi adalah m. Pterigoideus lateralis bagian inferior. Gerakan mandibula dipengaruhi oleh empat pasang otot yang disebut otot-otot pengunyah. geraham ±90kg. Otot digastricus bukan termasuk otot pengunyah tetapi mempunyai peranan yang penting dalam fungsi mandibula.Gambaran radiologis proses penyembuhan: Secara klinis terjadi penyatuan fragmen fraktur dan secara histopatologis telah terbentuk penulangan namum secara radiologis belum tampak gambaran radioopak yang jelas. berdasarkan arsitektur tulang. nampak adanya trabekulasi sepanjang garis fraktur atau tempat penyatuan. Rahang bawah memiliki bentuk anatomis yang unik. Pada tulang yang telah sembuh sempurna radiolusensi garis fraktur hilang dan diganti gambaran radioopak yang sulit dibedakan dengan radiopasiti pad jaringan tulang normal.

Tension band berfungsi untuk mengurangi kekuatan yang membengkokkan yang terjadi di bagian alveolar atau kekuatan menahan yang menjauhi plat. Secara umum. Pada waktu mandibula mengalami fraktur. (3.7 tension line pada mandibula3 Hal ini dapat ditempuh dengan penggunaan plat dan tension bar system yang secara individual berbeda tergantung dari lokasi dan tipe frakturnya. sehingga kedua kekuatan tegangan yang berlawanan tersebut harus dinetralisir untuk mendapatkan reduksi fungsional yang stabil.15.14.bentuk daya tensi dan kompresi. 4. sedangkan tension trajectory dengan menggunakan arch bar yang berfungsi sebagai tension band.6 tension site (+) dan compression site (-) pada mandibula Gambar. Kekuatan kompresi dihasilkan sepanjang daerah basal mandibula sedangkan kekuatan tensi terdapat pada sepanjang daerah alveolar. prinsip perawatan dilakukan dengan mempertimbangkan kekuatan-kekuatan pada kedua sisi dari aksis imajiner tersebut. Plat sudah cukup stabil untuk menetralkan shear dan torsional stress. Aksis tranversal imajiner yang terletak kira-kira sepanjang kanalis mandibula memisahkan prosesus alveolaris yang merupakan daerah tegangan atau disebut dengan tension area dari daerah basal mandibula yang merupakan daerah kompresi atau disebut dengan compression area. Gambar 4.16) 192 . pressure trajectory yang menghasilkan kekuatan kompresi pada mandibula kemudain terjadi distorsi misalnya di rahang yang fraktur dapat diperbaiki dengan pemasangan plat osteosintesis.

serat oto.(17) Selain menggunakan dua miniplate dapat juga digunakan SNT plate untuk fraktur di regio symphisis. Hal ini bisa disebabkan karena : Fragmen-fragmen tulang tidak ditahan dengan rigid Fraktur dibiarkan terlalu lama Alat Fiksasi terlalu cepat dibuka Adanya jaringan lunak. Delayed union dan nonunion Delayed union adalah keterlambatan penyembuhan karena: Adanya interposisi diantara jaringan lunak diantara fragmen Fiksasi yang kurang baik Kurangnya reparatif vital dari tubuh karena gangguan sistemik Sedangkan pada nonunion tidak terjadinya penyembuhan atau tidak bersambungnya ujung-ujung tulang yang fraktur kecuali dilakukan pembedahan untuk memperbaiki fraktur tersebut. hal ini disebabkan karena banyaknya muskulus dasar mulut yang melekat pada bagian ini sehingga apabila terjadi fraktur pada bagian ini maka dapat timbul rotasi.8 momentum gaya pada mandibula 11 Kekuatan torsional pada mandibula terdapat pada bagian symphisis mandibula. Stabilisasi fragmen tulang yang fraktur di regio ini digunakan dua miniplate dengan jarak antar plat kurang lebih 5mm untuk menetralkan kekuatan rotasi pada daerah symphisis tersebut. jaringan fibrous diantara fragmen tulang 193 .Gambar 4. Komplikasi Adapun komplikasi yang dapat terjadi pada penyembuhan tulang adalah15 : 1.

Infeksi Infeksi dan osteomielitis merupakan komplikasi yang paling sering terjadi. Gambar 4. pemberian obat-obatan yang kurang adekuat . dan juga faktor lokal seperti reduksi dan fiksasi yang buruk. pasien yang kurang koopertif. Reduksi Inadekuat Dapat disebabkan oleh distraksi fragmen fraktur oleh traksi otot atau oleh interposisi jaringan lunak antara fragmen fraktur. Dapat disebabkan oleh faktor sistemik seperti alkoholik dan tanpa penggunaan antibiotik. tanpa penggunaan antibiotik dapat terjadi lebih dari 50% kasus fraktur. tindakan debridemen yang kurang sempurna dan sterilisasi yang kurang baik .9. 2.- Gangguan sistemik atau penyakit kronis Delayed union dan nonunion dapat terjadi pada 3 % dari kasus fraktur. Gangguan pada penyembuhan tulang (Malunion) terjadi karena kegagalan transformasi hematoma menjadi matrik osteogenik sehingga yang terbentuk jaringan fibrous nonosteogenik. Pada beberapa penelitian. b. dapat juga disebabkan oleh : a. Fistula pada fraktur mandibula anterior setelah open reduction15 3. Fiksasi inadekuat 194 . Malunion Malunion dapat dijelaskan sebagai penyatuan fraktur tulang dimana displacement tulang masih terlihat. penyebaran infeksi dari jaringan sekitarnya.

d. 195 . Vaskularisasi Menurunnya vaskularisasi oleh karena trauma. Kerusakan syaraf bisa disebabkan karena trauma yang hebat pada waktu kecelakaan atau terputusnya syaraf oleh fragmen tulang. bila pergerakannya melebihi ambang batas fisiologis maka pembuluh darah kapiler akan terputus dan metabolisme penyembuhan tulang akan terganggu karena hilangnya suplai nutrisi. Infeksi Infeksi dapat menimbulkan osteomielitis baik yang mengakibatkan periosteum dan jaringan lunak yang berdekatan tidak berfungsi sehingga terjadi pembentukan lapisan fibrous penyatuan tulang. 4.Seringkali mengakibatkan mobilitas dari fragmen fraktur sehingga terjadi “delayed union” . c. 5. Faktor sistemik Kekurangan vitamin C dan D mengakibatkan gangguan pada metabolisme kolagen dan proses mineralisasi tulang. usia. Gangguan pertumbuhan Gangguan pertumbuhan yang merupakan akibat dari trauma pada kondilus dapat diakibatkan oleh trauma langsung pada kondilus atau karena fibrosis atau scarring dari jaringan disekitarnya. e. Injuri nervus Injuri pada nervus alveolaris inferior biasa terjadi pada fraktur korpus dan angulus mandibula. penyakit yang mengganggu aktivitas yang menghalangi menimbulkan reduksi tekanan oksigen selular pada proses penyembuhan tulang.

196 . Selanjutnya pada proses remodeling sampai terjadi rekonstruksi lengkap korteks tulang membutuhkan waktu 6 bulan31.10 Hipoplasia mandibula akibat fraktur kondilus bilateral15 6. 3.8 Lama Penyembuhan Tulang Proses penyembuhan tulang sampai terbentuknya tulang lamela membutuhkan waktu hingga 6 minggu. Trismus karena adanya fibrosis atau disfungsi atropi dari otot-otot pengunyahan.Gambar 4.

Hal ini dapat dicapai dengan pemilihan modalitas yang tepat. Lokasi dan pola dari fraktur dapat dibagi berdasarkan mekanisme dan arah dari trauma. angulus. Lokasi fraktur mandibula terbanyak pada kondilus. korpus mandibula. tehnik operasi yang benar terutama dalam pencapaian oklusi mandibula. Pemberian diet yang tepat dapat menjaga kesehatan pasien. segmen dento alveolar. ramus. dan prossesus koronoideus. Dalam tatalaksana fraktur mandibula perlu dipahami biomekanik mandibula sehingga dapat diperkirakan letak fiksasi yang benar dan didapatkan hasil yang memuaskan. keberadaan gigi-geligi dan karakteer fisik. berbicara dengan normal dan menciptakan pergerakan artikulasi seperti sebelum terjadinya trauma. Pengelolaan fraktur kondilus mandibula harus sesegera mungkin berdasarkan diagnosa yang akurat sehingga dapat mengurangi atau menghilangkan komplikasi yang akan timbul 197 .BAB V KESIMPULAN Mandibula merupakan fraktur kedua yang palling sering terjadi pada tulang maksilofasial dikarenakan posisi dan bentuknya yang membusur. simfisis dan parasimfisis. Perawatan fraktur mandibula terdiri dari dua macam yaitu dengan menggunakan metode tertutup atau dengan menggunakan metode terbuka Harus diperhatikan indikasi dan kontra indikasi bila akan dilakukan perawatan fraktur mandibula dengan metode terbuka. Restorasi fungsi mandibula sebagai bagian dari sistem stomatognati harus mencakup kemampuan untuk mastikasi yang baik. serta perawatan pasca operasi dan rehabilitasi. Sebagai tambahan juga usia pasien.

E. Available at last update 12 http://medind. 2007. Boies L. Ajmal S. Bab VII. 198 . Penerbit buku kedokteran EGC. Edisi 6. Edisi 2. Jakarta. Barrera J. Snell R. 3. R. 2010. Jakarta.pk/JAMC/PAST/19-3/13%20Samira%20Ajmal. Penerbit buku kedokteran EGC. 4.edu. L. Sinha C. Laub D.DAFTAR PUSTAKA 1. Malik S. Available at http://www.in/maa/t08/i3/maat08i3p218. Higler P. Available at http://emedicine. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Management protocol of mandibular ractures at Pakistan Institute of Medical sciences. Jakarta 6. last update 12 Desember 2010. 12:39-41. Management of Mandibular Fractures. J Ayub Med Coll Abbottabad. hal 132-156. Islamabad.pdf. 8. Buku Ajar Ilmu Bedah.medscape. Volume 19. 2006. S. G. Boies Buku Ajar penyakit THT. Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Indonesia.2009. 2007. Mandibular Fractures. Thapliyal C. Buku ajar ilmu kesehatan Telinga Hidung Tenggorokan Kepala Leher.pdf last update 12 Desember 2010 2. Available at http://emedicine. issue 3. Soepardi E A. A. pada Hardjowasito Anak Widanto. Edisi 6. Jong W D.ayubmed. Batuello T. Chakranarayan S.com/article/868517-treatment. Menon C. Anatomi Klinik untuk mahasiswa kedokteran. Pakistan.nic. C.medscape. Jadoon H. last update 21 Desember 2010 9. Mandibular Angle Fractures: Treatment. A. Jakarta. A. Iskandar N. Khan M. L. R. R.1996. Adams G. Sjamsuhidajat. 7. 2006. P. 2005. G. A. Facial Trauma.com/article/1283150-overview Desember 2010 5. Sugiharto Mandibula Setyo. Fraktur Majalah dengan Kedokteran Unibraw. pemasangan Penanganan Arch-Bar. 1997..

J. Oral and Maxillofacial Trauma. Pedersen. R. Peterson. Mosby. David DJ.B.2005. 199 . Hal: 1-9. 3rd ed. 2006. In management of temporomandibular disorder and occlusion . 2002. Pedlar.. P. Philadelphia 19. Peterson: et al. 17. Maxillofacial Surgery. Principle’s of Oral and Maxillofacial Surgery. Divisi Ilmu Bedah Kepala & Leher SMF/Lab Ilmu Bedah RSDS/FK Unair Surabaya:25-26. 71-71. Temporomandibular Joint Syndrome. 14. Hal:1-3 23. Louis: Churchill Livingstone. et al. Surabaya. St Louis.J. J and Frame J. Philadelphia: W.W. Vol. Booth. Louis: Mosby. Edisi 1. Mosby Co. Okeson Jeffrey P. 89-95. 2001. Vol 2. Second ed. Oral and Maxillofacial Surgery. 1996. 16. 20.J. 98. Clinically Oriented Anatomy.W. Edinburg: Churchill Livingstone. Chaudhary A 2002. 58-63. Trauma Maksilofasial Diagnosis dan Penatalaksanaannya.1993. eMedecine Journal. 2.1996. 4th ed. Murtedjo Urip. Wijayahadi R Yoga.Vol 3. 2. St Louis 13-21 13. 2004. G. WB Saunders Co.125-132 11. Hal : 270-283. 15. eMedecine Journal.100. Tucker. et al. Oral and Maxillofacial Trauma. St.2001. Fractures Mandible. SR. Third ed. London. Buku Ajar Praktis Bedah Mulut . Fonseca . R.10. Oral and Maxillofacial Surgery. St. Churchill Livingstone. Hal: 1-16 22. et all. 1997. Saunders Co. 1997. L. 18. Craniomaxillofacial Trauma. Ankylosis of TMJ. Functional anatomy and Biomechanics of the masticatory system. Keith L Moore. 2nd ed. et al. Widell T. 21. Fonseca. Oral and Maxillofacial Surgery eJournal. et all. 1995. St Louis: Elsevier. Okeson JP. William-Wilkins hal:143-148 12.2007. Vol. 3rd .W.

Vol 2. Year Book Publishers. Bramley. Surgery. p.. louis.24. Fracture Management Bone Healing and Grafting. Int J Oral Maxillofac Surg. Diseases..Lewis DD. 30. Hal: 386-404. Cross AR.. Goldman KE. Feinberg SE. Disorders. Wolfe Medical Publications Ltd. 111-44 29. Norman. Bone In Ten Cate’s Oral Histology.. Mosby. P. De Riu G. 28.. 2003. 25. Fundamental of Ortopedic Surgery. 1988. 1990. Schultz RC. 6thed St. Sesenna E. London. Condylar and Subcondylar. Hal: 26-51. Nanci A. JE.1991. Sounders Co. Anghinoni M. London. Gamba U. Facial Injuries.. A Textbook and Colour Atlas of the Temporomandibular Joint. 26. 200 . Philadelphia. 2002.2001.Inc. 30: 384 – 389 27. Fractures Mandible. Hal :1-13.. Whitson SW.. Oral and Maxillofacial Trauma. A comparison of open and closed treatment of condylar fractures: a change in philosophy . WB. Larsen PE. Bianco P.

Pola fraktur yang terjadi pada maksila biasanya mengikuti area terlemah pada kompleks midfasial. pemeriksaan. 201 . serta penanganannya agar diperoleh hasil pemulihan yang optimal.Fraktur Maksila (Le fort I. biasanya dapat menyebabkan jejas atau fraktur pada maksila dan tulang-tulang di sekitarnya. tergantung pada organ-organ yang terlibat. Le Fort mengklasifikasi pola fraktur pada maksila menjadi fraktur Le Fort tipe I. fiksasi. III) Nurwahida 160121120008 Peserta Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut Dan Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Bandung Abstrak : Suatu trauma yang mengenai bagian tengah wajah. Le Fort. reduksi. Penanganan dan rehabilitasi pasien dengan trauma pada maksila meliputi pemahaman terhadap jenis. dan III. Maksud dari penyusunan makalah ini adalah untuk menggambarkan mengenai tipe-tipe fraktur pada maksila. trauma. dan perawatan bedah pada wajah. evaluasi. Kata kunci: Fraktur. II. II.

2 Fraktur pada daerah ini mempunyai gambaran yang unik dibandingkan dengan injury pada bagian tubuh yang lain seperti : 1. 2.BAB I PENDAHULUAN Fraktur maksila adalah suatu keadaan dimana hilangnya kontinuitas dari tulang maksila dengan tulang pendukung disekitarnya ataupun dengan bagian – bagian dari tulang masksila itu sendiri. rongga mata bahkan dapat melibatkan kerusakan di otak baik secara primer maupun sekunder dari penyebaran infeksi. termasuk juga mensyarafi labial dan gigi-gigi anterior.1 Pada daerah maksila ini perdarahan disuplai oleh arteri palatina mayor bersama-sama dengan arteri alveolar superior dan posterior yang bermuara pada palatum durum dan mole. Fraktur yang disebabkan trauma ini bisa terlokalisir atau muncul dalam kombinasi. Menampilkan oklusi gigi. Fraktur ini termasuk yang serius karena menyangkut struktur penting lainnya yang berdekatan seperti rongga hidung. sinus maksilaris. Nervus ini muncul dari foramen infra orbital dan kemudian berjalan untuk mensyarafi nasal lateral. Terdapat suplai darah yang sangat bagus ke wajah. labial superior dan regio palpebral inferior. yang harus dilakukan tindakan cepat dan langsung. yang dapat membantu sebagai pedoman dalam mengembalikan perlekatan dan stabilisasi fraktur. 202 . Pada regio anterior cabang terminal dari arteri naso palatinus keluar pada foramen insisivus dan mereka mensuplai mukoperiosteum dan palatum bagian anterior. Melibatkan jalan nafas. Sedangkan persyarafan melalui divisi kedua dari nervus trigeminus.kombinasi. sehingga membantu dalam proses penyembuhan yang cepat. 3.

melawan dan mengusir tekanan infrasuperior melalui beberapa tahanan.4 Pada daerah maksila ini perdarahan disuplai oleh arteri palatina mayor bersama-sama dengan arteri alveolar superior dan posterior yang bermuara pada palatum durum dan mole. Nervus ini muncul dari foramen infraorbital dan kemudian berjalan untuk mensyarafi nasal lateral. Disartikulasi tulang midfasial menggambarkan anatomi maksila. termasuk juga mensyarafi labial dan gigi-gigi anterior. Tulang midfasial terdiri dari rangkaian penebalan vertikal. Tetapi midfasial tidak 203 . Pada regio anterior cabang terminal dari arteri naso palatinus keluar pada foramen insisivus dan mereka mensuplai mukoperiosteum dan palatum bagian anterior. dan septum nasal. ANATOMI MAKSILA Midfasial menghubungkan basis kranii dengan dataran oklusal. Sedangkan persyarafan melalui divisi kedua dari nervus trigeminus. zigoma.2 Kompleks midfasial dilengkapi oleh struktur dukungan vertikal untuk menahan tekanan dari bawah. tulang nasal. labial superior dan regio palpebral inferior. Ia menyediakan pondasi kepada proyeksi fasial anterior sambil memberikan perlindungan kepada basis tengkorak dan berperan sebagai jangkar kepada ligamen fasial dan perlekatan otot. Midfasial secara efektif menyerap.BAB II TINJAUAN PUSTAKA I. sagital dan horizontal yang menutupi sinus. 3 Gambar 1.

rima infraorbita (H2) dan prossesus dentoalveolar dan palatum (H3).3 Gambar 2 menunjukan pilar vertikal terdiri dari pilar medial atau nasomaksilari (V1). memandang midfasial mudah untuk kolaps dan mudah bergeser pada segmen sentral. dan pilar posterior atau pterygomaxillary (V3) yang berfungsi menahan tekanan kepada basis kranii. memberikan 204 . Pilar vertikal dan pilar horizontal. 2 Gambar 2. Pilar zygomticomaxillary memanjang tulang alveolaris di atas molar I maksila melalui korpus zygoma naik ke prossesus frontalis dari zygoma ke os frontalis. pilar lateral atau zigomatikomaksilari (V2).dilengkapi dengan kemampuan menahan tekanan dari lateral dan frontal. zygomaticomaxillary (lateral) dan pterygomaxillary (posterior). Pilar nasomaksilaris memanjang dari apertura piriformis dari kaninus dan anterior maksila melalui prossesus frontalis dari maksila dan naik ke cerukan lakrimal dan dinding medial orbita ke os frontalis. serta pilar sagital (S1). Struktur dukungan vertikal pada midfasial terdiri atas pilar nasomaksilaris (medial). Lengkung zygoma menyediakan satu-satunya pilar sagital. Pilar horizontal meluas sepanjang rima supraorbita (H1).3 Dukungan superior pada pilar ini adalah arkus yang dibentuk oleh rima orbita superior dan inferior dan arkus zygomaticus. Pilar midfasial horizontal meliputi rima orbita superior dan anterior juga palatum durum. Sisi posterior. pilar pterygoid mengubungkan maksila ke lempeng pterygoid dari os sphenoidalis dan memberikan stabilisasi kepada dataran vertikal dari midfasial. Pilar medial dan lateral memberikan tahanan anterior.

Lengkung zygoma berfungsi sebagai satu-satunya pilar sagital (S1). 2. wajah tengah terlibat pada 40% 205 . Bila resorbsi tulang meluas akibat penyebaran penyakit ini maka dapat terjadi patah tulang spontan tanpa trauma. Faktor predisposisi: Yang dimaksud dengan faktor predisposisi adalah faktor yang dapat menimbulkan fraktur selain dari faktor utama. Seperti penyakit yang berupa infeksi periapikal. Trauma langsung adalah apabila fraktur terjadi pada bagian yang terkena trauma. Trauma tidak langsung adalah apabila fraktur terjadi pada tempat yang jauh dari lokasi trauma. jatuh (9%). Penyakit ini biasanya menyebabkan tulang menjadi rapuh ataupun melunak. 1. III. Trauma dapat menyebabkan terjadinya fraktur secara langsungt maupun tidak langsung. tumor. EPIDEMIOLOGI Penyebab utama dari fraktur maksila adalah kecelakaan lalu lintas (60%). ETIOLOGI Penyebab fraktur dapat dibagi menjadi dua golongan yaitu faktor predisposisi dan faktor luar. Penebalan-penebalan tulang ini memberikan tempat untuk aplikasi pelat fiksasi guna memastikan dukungan dan penyembuhan yang maksimal. kista. B. osteomielitis. Faktor utama Faktor utama terjadinya fraktur pada tulang maksila adalah disebabkan oleh trauma baik yang datang dari luar maupun dari dalam. luka tembakan (2%). kecelakaan kerja (4%).dukungan struktural kepada fungsi dari mata. A. olah raga (2%). perkelahian (24%). hidung dan mulut.3 Rekonstruksi defek struktur midfasial membutuhkan rekonstruksi dari pilar-pilar ini untuk mengembalikan pola tahanan normal pretrauma dan parameter biomekanikal yang penting untuk mempertahankan integritas struktur skeletal. Tanpa termasuk fraktur nasal. 3 II.

7. yaitu melalui mukosa. Simple fracture : Fraktur yang tidak menyebabkan luka terbuka atau tidak berhubungan dengan lingkungan luar.3 IV. 2 A. jaringan periodontal atau kulit (closed fracture). mukosa atau jaringan periodontal untuk berhubungan dengan dunia luar (opened fracture). Para ahli sepakat bahwa distribusi frekuensi fraktur Le Fort yaitu tipe II > tipe I > tipe III.yaitu: 1. Compound fracture : Fraktur dengan luka terbuka yang melibatkan kulit. 6. Multiple fracture : Fraktur yang melibatkan dua atau lebih garis fraktur pada tulang yang sama dan masing-masingnya saling tidak berhubungan. Single fracture : Fraktur yang memiliki satu garis fraktur saja atau disebut juga fraktur tunggal. dan Le Fort III mencapai 28% dari seluruh kasus Le Fort. cedera servikal (10%). 3. Fraktur maksila dapat dibedakan atas jenis. cedera abdominal (15%). KLASIFIKASI FRAKTUR MAKSILA Klasifikasi fraktur maksila dapat dibedakan menurut jenis frakturnya dan lokasi dari fraktur pada daerah tulang maksila itu sendiri. 4. 5. 2.jenis atau bentuk dari fraktur itu sendiri. Kejadian cedera bersamaan dengan trauma kepala (50%). Comminuted fracture : Fraktur yang menyebabkan tulang hancur atau splintered. Tulang pada fraktur ini pecah menjadi fragmen-fragmen yang kecil. MENURUT JENISNYA. Impacted fracture : Fraktur yang menyebabkan fragmen tulang yang satu tertekan masuk kesisi fragmen fraktur yang lainnya.dari seluruh kasus. dimana Le Fort I mencapai 30 %. 206 . dan fraktur ini dapat terbuka atau tertutup. Le Fort II mencapai 42%. Complicated fracture : Fraktur yang melibatkan jaringan lunak sekitarnya atau bagian sekitarnya ikut menjadi rusak. cedera skeletal (30%) ditemukan pada pasien dengan fraktur midfasial.

9. MENURUT LOKASINYA Sedangkan menurut lokasi terjadinya fraktur tersebut telah banyak klasifikasi dibuat olah para ahli seperti: 1. 2. garis fraktur terdapat diatas palatum tetapi dibawah perlekatan prosesus zygomaticus. Menurut GUSTAV O. Horizontal maxillary fracture. Menurut THOMA tahun 1969 Fraktur maksila dibagi atas 4 golongan yaitu:    Fraktur prosesus alveolaris dan prosesus palatine Fraktur horizontal (Transverse maxillary fracture. (Transverse facial fracture. Displaced fracture : Fraktur yang mengalami perubahan letak dari garis frakturnya sendiri 10. Guerin Fracture. KRUGER. B. terjadi pada tulang yang kalsifikasinya belum sempurna. seperti tulang anak-anak. Tahun 1984 Fraktur maksila dibagi atas 4 golongan yaitu :  Fraktur Horizontal ( Le fort I ) Seluruh maksila terpisah dari dasar tengkorak. Craniofacial disjunction fracture) Fraktur pyramidal yang menyangkut tulang-tulang hidung dan maxilla. Fraktur ini dapat terjadi unilateral tetapi berbeda 207 . Fraktur pada maksila dapat terjadi salah satu dari jenis fraktur diatas tetapi juga bisa berupa kombinasi dari bermacam – macam fraktur serta dapat melibatkan fraktur pada tulang lainnya yang berdekatan dengan maksila. Incomplete fracture : Fraktur dimana tulang tidak patah sama sekali atau tidak putus.8. Distracted fracture : Fraktur yang mengalami dislokasi dari segmentsegment fraktur atau perubahan letak tanpa merusak jaringan sekitarnya. Le fort I fracture) Fraktur trasversal yang menyangkut orbital. tulang zygoma dan tulang  hidung.

3.dengan fraktur prosesus alveolaris karena pada fraktur alveolaris tidak disertai dengan perluasan kedaerah garis tengah palatum  Fraktur Pyramidal ( Le fort II ) Garis fraktur melalui aspek fasial maksila. palatum dan bagian bawah dari prosesus pterygoideus dan tulang sphenoid  Le fort II ( Pyramidal fracture ) 208 . meluas kebagian atas tulang hidung dan tulang ethmoid biasanya sinus maksilaris ikut tersangkut. Menurut LE FORT : Fraktur Le fort adalah fraktur bilateral horizontal dari rahang atas dan dibagi menjadi 3 jenis Le fort fraktur. sehingga dinding samping tulang mata terpisah melalui sutura zygomaticofrontalis  Fraktur Multiple Merupakan kombinasi dari ketiga macam fraktur diatas. Transverse maxillary fracture. begitu juga tulang zigoma dapat terlibat  Fraktur Tranversal (Le fort III) Garis fraktur meliputi daerah mata. Menurut ARCHER Fraktur maksila cukup dibagi atas 2 golongan saja yaitu:  Fraktur dimana sebagian tulang maksila ataupun seluruh tulang maksila beserta beberapa gigi terpisah dari badan tulang maksila ( Le fort I )  Fraktur dimana seluruh tulang maksila bagian atas terpisah dari tulang – tulang dasar tengkorak sebagai suatu unit tunggal atau multiple. 4. Floating maxilla. melibatkan sebagian dari dinding sinus maksilaris.  Le fort I ( Fraktur Guerin. Horizon maxillary fracture ) Garis fraktur melintang melalui bagian atas dari prosesus alveolaris. daerah tulang hidung dan tulang ethmoid terus ke arcus zygomaticus.

pada fraktur ini maksila hanya terikat oleh jaringan lunak terhadap tulang-tulang dasar tengkorak. Pembagian fraktur rahang atas ini berdasarkan lokasinya menjadi 5 macam. Menurut IVY dan CURTIS: Fraktur maksila hanya mengenai prosesus alveolaris. Extensive comminuted fraktur. melalui dasar mata berjalan terus kebagian bawah sesuai dengan dinding lateral dari maksila melalui pterygoid plate terus ke fossa pterygomaxilla. Menurut KILLEY.          Klas I : Fraktur pada kompleks zygomaticus Klas II : Fraktur pada kompleks nasalis Klas III : Fraktur Le Fort I Klas IV : Fraktur Le Fort II Klas V : Fraktur Le Fort III 6. bagian bawah mata. suatu fraktur yang terjadi dibagian atas maksila disertai dengan fraktur pada tulang nasalis dan tulangtulang lain disekitarnya. Berbentuk kerucut makanya disebut fraktur pyramid.Garis fraktur melalui tulang lakrimal. 7. Menurut CLARK:  Fraktur pada prosesus alveolaris maksila 209 . 5. Garis fraktur terus ketulang ethmoid dan sphenoid. maksilo frontal dan nasofrontal.  Le fort III ( Transverse facial fracture. Craniofacial disjunction ) Garis fraktur melalui sutura zygomatiko frontal. Fraktur pada muka mulai diatas akar gigi sampai palatum durum ( unilateral ) Fraktur terjadi horizontal dan bilateral yaitu diatas palatum dan dibawah orbita.

  Fraktur dimana setengah bagian dari tulang maksila dipisahkan dari cranium Seluruh tulang maksilla dipisahkan dari karnium disebut juga Floating Maksila karena maksila seperti terapung terlepas dari cranium. Partial or complete fracture pada kasus yang edentulous. 8. 9. Punch type fracture disebabkan karena tembakan sehingga terjadi luka pada tulang yang bergerigi terjadi pada satu atau lebih tulang yang tipis. 210 . yaitu fraktur dengan beberapa gigi pada tiap fragmen tulangnya Complete fracture. Pyramidal fracture 3. Pada fraktur seperti ini dapat berupa . 1. garis fraktur melintas pada kedua orbita dan hidung Transverse facial fracture. Menurut ERICH dan AUSTIN :    Horizon fraktur. Transverse facial fracture. garis fraktur melintas secara horizontal pada kedua antrum dan cavum nasalis. Menurut MEAD : Membagi fraktur maksila berdasarkan lokasinya menjadi 3 macam:    Partial fracture. Transverse fracture 2. Pyramidal fraktur. garis fraktur melintas pada kedua orbita dan bagian atas cavum nasalis.

dan kartilago nasal mungkin terkena. Fraktur Le Fort I Fraktur ini disebut juga Fraktur Guerin. Tranverse Maksila Frakture.Dari beberapa pendapat para ahli tersebut dapatlah disimpulkan bahwa pada prinsipnya fraktur maksila dapat dibagi menjadi : 1. Tipe ini dapat melibatkan maksila secara tersendiri dan terpisah dari struktur lain dengan diikuti terputusnya sutura palatina atau fragment maksila. Horizontal Frakture. Vertical fracture yaitu fraktur pada rahang atas yang meliputi palatum durum. Yaitu fraktu yang terjadi pada tulang maksila yang meliputi daerah alveolranya saja tanpa melibatkan tulang pendukung yang lain dan tanpa diikuti terputusnya hubungan tulang maksila dengan tulang nasal atau basis cranial. Low Level Fracture. biasanya tampak open bite klasik. sedangkan garis fraktur sendiri berjalan vertikal atau disebut juga fraktur Unilateral.1 Fraktur Le Fort I merupakan hasil benturan yang terjadi diatas level gigi. Pada fraktur ini. 2. maksila dapat berada pada posisi posterior dan inferior. Fraktur yang terjadi mulai dari batas lateral sinus pirimormis.2 211 . nasal dan zygomatik. belakang tuberositas maksilaris. Floating Maksila. 3. Dapat terlihat arah frontal dari maksila yang melibatkan struktur maksila dari plat pterygoid. berjalan sepanjang dinding antral lateral. Septum nasal dapat terjadi fraktur. Karena tarikan baik dari otot pterigoid eksternal dan internal. dan melewati pteriogoid junction. Fraktur pada prosesus alveolaris.

melalui tulang lakrimalis. Fraktur Le Fort II Fraktur piramidal/subzigomatik yang menyebabkan terpisahnya wajah tengah pusat dari kompleks orbitozigomatikus. Fraktur le fort I. Fraktur Le Fort II.Gambar 3. Fraktur terjadi sepanjang sutura nasofrontalis.Gambar 4. 1 212 .2 . dan melewati garis infraorbita pada area sutura zigomatikomaksilaris. 3 Fraktur Le Fort II terjadi akibat benturan yang didapat pada level tulang nasal. 1 4.

5. Pemeriksaan Awal / Primary Survey Evaluasi awal dan penatalaksanaan yang menyeluruh seringkali menentukan apakah pasien mampu bertahan dari trauma mereka. zygomaticus dan maksila dari basis cranial atau disebut juga pamisahan craniofasial. Fraktur Le Fort III.1 V. Setiap 213 . Jejas pada kepala dan leher seringkali melibatkan jalan nafas dan pembuluh utama. Fraktur Le Fort III Fraktur pada daerah ini disebut juga supra zygomatic fraktur. PEMERIKSAAN DAN GEJALA KLINIS 1. Pada fraktur ini maxilla hanya terikat oleh jaringan lunak terhadap tulang-tulang dasar tengkorak. oleh karena itu resusitasi ABC harus dilakukan secara ketat pada tahap awal pemeriksaan dan penatalaksanaan pasien dengan fraktur maksilofasial. dihasilkan oleh suatu tekanan yang besar pada level superior yang dapat memisahkan naso orbital eithmoid komplek. Craniofacial disjunction. Gambar 5. 1 Sedangkan menurut Le fort fraktur ini disebut juga Transverse facial fracture. Dimana garis fraktur melalui sutura zygomatiko frontal. maxillo frontal dan nasofrontal. Garis fraktur terus ke tulang ethmoid dan sphenoid.

fraktur laring atau trakea. Inspeksi dan palpasi dapat memperlihatkan kelainan dinding dada yang mungkin menggangu ventilasi. Selama pemeriksaan awal. harus diperhatikan bahwa tidak bleh melakukan ekstensi. Bila alat imobilisasi ini harus dibuka untuk sementara. Selama memeriksa dan memperbaiki airway. fleksi atau rotasi dari leher. 5 A. Kecurigaan adanya kelainan vertebra servikalis didasarkan riwayat perlukaan. Ini meliputi pemeriksaan adanya obstruksi jalan nafas yang dapat disebabkan oleh benda asing.pasien yang datang dengan jejas trauma. Breathing (Pernafasan) Ventilasi yang baik meliputi fungsi yang baik dari paru. dapat dianggap bahwa jalan nafas bersih. Alat imobilisasi ini harus dipakai dipakai sampai kemungkinan fraktur servikal dapat disingkirkan. perhatian pertama harus ditujukan langsung pada evaluasi menyeluruh. fraktur mandibula atau maksila. Pasien dengan jejas pada wajah sebaiknya diperkirakan memiliki jejas lain yang berhubungan. tergantung dari insidensi trauma. Airway (Jalan Nafas) Yang harus dinilai adalah kelancaran jalan nafas. Pada penderita yang dapat berbicara.. B. harus melindungi vertebra servikal. jejas yang membahayakan hidup dan kondisi medis sistemik harus dievaluasi secara tepat. Hal ini dapat dimulai dengan melakukan chin lift atau jaw thrust. maka untuk kepala harus dilakukan imobilisasi manual. walaupun demikian penilaian ulang terhadap airway tetap harus dilakukan. fraktur tulang wajah. Usaha untuk membebaskan airway. Dada pasien harus dibuka untuk melihat ekspansi pernafasan. Dalam keadaan kecurigaan fraktur servikal fraktur servikal harus dipakai alat imobilisasi. Perkusi dilakukan untuk menilai adanya udara atau darah dalam rongga pleura. Auskultasi dilakukan untuk memastikan masuknya udara ke dalam paru. dinding dada dan diafragma. 214 .

6 Skor 1 2 3 4 5 Mata (E) Respon (-) Terbuka karena rangsang sakit Terbuka bila diminta Terbuka spontan Verbal (V) Respon (-) Tidak dipahami Tidak tepat Bingung Bercakap-cakap Motorik (M) Respon (-) Ekstensi Fleksi Gerakan tidak spesifik Menunjukkan tempat yg sakit Bisa melakukan perintah 6 - - E. sering dengan cara menggunting guna memeriksa dan evaluasi penderita. Exposure environmental control Penderita harus dibuka keseluruhan pakaiannya. walaupun hanya pingsan dalam waktu yang singkat. Disability Menjelang akhir primary survey dilakukan evaluasi terhadap keadaan neurologis secara cepat. Tourniquet sebaiknya jangan dipakai karena merusak jaringan dan menyebabkan iskemia. Banyak pasien yang mengalami injuri fasial mengalami hilang kesadaran. Perdarahan eksternal dihentikan dengan penekanan pada pada luka. harus diperiksa secara keseluruhan dengan Skala Koma Glagow (GCS) dan dikonsulkan ke bagian bedah syaraf. Setelah pakaian dibuka 215 . Circulation (Sirkulasi) Perdarahan luar harus dikelola pada primary survey. Tabel 1. D. Skala koma dari Glasgow (Glasgow Coma Scale. GCS) untuk evaluasi cedera kepala. Kesemua pasien ini.C.

1 Perawatan terhadap jejas kepala dan leher biasanya dilakukan setelah didapat evaluasi menyeluruh. dan stabilisasi pasien. pemeriksaan. Langkah pertama yaitu memastikan pasien memiliki jalan nafas yang baik serta ventilasi yang adekuat. Bagaimanapun. nadi. Riwayat ini sebaiknya diperoleh dari pasien. sebaiknya dilakukan sesegera mungkin. namun dalam prakteknya hal-hal diatas sering dilakukan berbarengan. sebaiknya diperiksa. atau dapat berhubungan dengan jejas seperti fraktur laring. Pada beberapa kasus. krikotirotomi merupakan cara paling cepat untuk mengakses trakea. masalah lain yang dapat mengancam kehidupan. Selanjutnya pemeriksaan status nerologis pasien dan evaluasi spina servikalis pasien. seperti gigit tampon. Tanda klinis. seperti perdarahan eksesif. termasuk respirasi. Leher harus diimobilisasi sementara hingga jejas pada leher dikatakan baik . 7 2. Pada pasien trauma dengan obstruksi jalan nafas atas komplit. Seringkali. fraktur pada tulang wajah yang berat dapat mengurangi kemampuan pasien dalam menjaga jalan nafas.1 Selama primary survey.1 Jejas pada daerah wajah tidak hanya melibatkan tulang wajah tapi juga jaringan lunak. Benturan yang cukup berat yang dapat menyebabkan fraktur pada tulang wajah biasanya tersalurkan ke spina servikalis. tetapi karena kehilangan kesadaran atau status 216 . ruangan cukup hangat dan diberikan cairan intravena yang sudah dihangatkan. keadaan yang mengancam nyawa harus dikenali dan resusitasinya harus dilakukan pada saat itu juga. Pemeriksaan Riwayat dan Klinis a.harus dipakaikan selimut hangat. dan tekanan darah sebaiknya diperiksa dan dicatat. perlu dilakukan trakheostomi untuk memberikan jalan nafas yang adekuat. Penyajian primary survey diatas adalah dalam bentuk berurutan sesuai dengan prioritas dan agar lebih jelas. Penanganan awal. Selama pemeriksaan awal. Pemeriksaan Riwayat Penyakit Setelah pasien stabil. seperti lidah atau daerah leher atas. beberapa perawatan awal seringkali penting untuk kestabilan pasien. dapatkan riwayat selengkap mungkin.

atau sebagai penumpang. apakah si korban yang menyetir. epistaksis. perubahan sensasi. dan maloklusi? Informasi lengkap. dicatat karena tingkat kesadaran dipengaruhi oleh obat-obatan tersebut. perubahan visual. syok.1 Mendapatkan riwayat yang adekuat dari korban trauma adalah sulit. Bagaimana kejadiannya terjadi? Kapan kejadiannya terjadi? Apakah spesifikasi jejasnya. termasuk kehadiran edema fasial. termasuk jenis benda yang berkontak. termasuk mengenai alergi. Keadaan tidak sadar (koma). amnesia merupakan hambatan yang sering terjadi dalam menjalin komunikasi dengan pasien. dll. Pemeriksaan Klinis Fraktur midfasial biasanya didiagnosa secara klinis dan dikuatkan dengan pemeriksaan radiologis. Informasi mengenai waktu makan dan minum yang terakhir sangat penting apabila akan dilakukan anestesi umum. temannya. karena biasanya mereka tidak mampu memberi respon dengan baik. 5. polisi atau pekerja pada unit gawat darurat. kondisi medis.nerologi. pengobatan. tempat kejadian dan peristiwa khusus dicatat. alergi dan tanggal imunisasi tetanus juga dicatat. pertimbangan logistik? 4. waktu. 3. Sejumlah faktor bisa membuat pemeriksaan klinis menjadi sulit. dan imunisasi tetanus terdahulu. Tanggal. Sumber terbaik yang dapat digunakan adalah keluarga dekat yang menemaninya.6 b. maksila yang tumpang tindih atau bahkan pasien yang tidak sadar atau tidak kooperatif. apakah korban memakai sabuk pengaman? Apakah pasien merupakan korban tindak kejahatan dengan senjata tertentu? Apakah pasien jatuh/tidak sadar? Kondisi medis resiko tinggi. Lima pertanyaan penting yang sebaiknya dipertimbangkan: 1. Adanya tanda-tanda kecanduan alkohol dan obat-obatan. 2. termasuk nyeri. Apakah terjadi penurunan kesadaran? Gejala apa yang sekarang sedang dirasakan oleh pasien. informasi harus diperoleh dari anggota lain yang mendampingi. Apabila cedera disebabkan oleh kecelakaan mobil. 3 217 .

karena dapat menyebabkan infeksi retrograde yang menyebabkan meningitis. Vestibulum bukalis dipalpasi dengan jari telunjuk. Area ekimosis harus dievaluasi secara hati-hati. dimana apabila terdapat edema yang cukup besar dapat membuat pemeriksaan menjadi sulit. Untuk menilai mobiliti pada maksila. Dengan menggunakan jempol dan jari telunjuk dari tangan yang lain. yang dapat mengobstruksi pergerakan prosesus koronoid ke depan. Wajah dievaluasi terhadap kemungkinan terdapatnya laserasi dan depresi tulang yang jelas. Asimetri area wajah perlu dicatat. dan cairan yang keluar baik dari hidung maupun telinga diasumsikan sebagai cairan serebrospinal hingga terbukti bukan itu. Pemeriksaan Ekstraoral Pemeriksaan pada area fasial harus dilakukan dalam teknik yang terorganisir dan berkelanjutan. digoyang dengan hati-hati untuk melihat adanya mobiliti pada maksila. 1 Pembukaan mandibula dievaluasi baik untuk fraktur lengkung zigoma maupun zigoma yang terdisposisi ke lateral. Lengkung zigomatikus dipalpasi lalu ke tulang nasal. nasal atau zygoma.2 218 . keadaan dan kualitas gigi perlu dicatat. kepala pasien harus distabilkan dengan menggunakan satu tangan menekan dahi. memegang maksila. Pertama kita lakukan pemeriksaan rima orbitalis. Wajah dan kranii harus diinspeksi secara hati-hati terhadap kemungkinan trauma termasuk laserasi. Jika diduga terdapat cairan serebrospinal.1. lalu berlanjut ke bawah untuk meliputi rima lateral dan infraorbitalis. Pemeriksaan berakhir dengan pemeriksaan maksila dan mandibula. Terdapatnya krepitasi dan pergeseran dinding antral lateral dan zigoma dapat mudah didapatkan dengan teknik ini. sendiri ataupun kombinasi dengan zygoma atau os nasal. hidung maupun telinga sebaiknya tidak ditutup tampon. edema ataupun hematom dan kemungkinan cacat pada kontur. faktor ini berpengaruh besar terhadap metode perawatan.2 Tulang wajah dipalpasi untuk mengetahui adanya diskontinuitas tulang. Fasial dan midfasial sebaiknya dipalpasi untuk melihat adanya gap pada dahi. rima orbita. abrasi. Pemeriksaan sebaiknya dilakukan secara bimanual dan disiplin. Oklusi dievaluasi. kontusio. Evaluasi midfasial dimulai dengan penilaian mobiliti maksila.

8 Pada Le Fort II. Kadang timbul parestesi daerah pipi karena trauma pada nervus infraorbita. merupakan gambaran umum pada fraktur maksila. hal ini akan menyebabkan kontak prematur gigi molar dan open bite anterior. Faring diperiksa untuk laserasi atau perdarahan retrofaringeal.Daerah ekimosis. terutama pada palatum. Ekimosis subkonjungtival Gambar 7. Terjadi haemoragi subkonjunctiva dan diplopia. karena garis fraktur melewati tulang zygoma. Pasien sebaiknya ditanya mengenai keluarnya cairan rasa metal dan asin. Terdapat hematom pada sulcus bukalis rahang atas posterior. yang merupakan indikasi terdapatnya drainase cairan serebrospinal. Keadaan ini disebut sebagai deformitas dish face atau pan face. Ekimosis sirkumorbital bilateral (racoon eyes). tanda dan gejala yang dapat kita temukan adalah adanya oedem wajah dan terjadi retrusi mid fasial yang menyebabkan wajah terlihat datar. Gambar 6.7 219 . Segmen maksila bergeser ke posterior dan inferior.

penglihatan. Peningkatan jarak interchantal menandakan adanya perubahan pada tulang frontomaksilaris atau tulang lacrimalis ataupun adanya avulsi dari ligamentum canthal medialis . Le fort III berhubungan dengan adanya cedera pada zygomatikus. pergerakan ektra ocular dan posisi bola mata. Selama pemeriksaan mata dan tulang orbita. 2. Gangguan pada pergerakan ekstraokular atau enopthalmos menandakan adanya suatu blow out pada dasar orbita. Dalam hal kerusakan yang parah pada mata dan tulang orbita dapat dikonsultasikan kepada opthalmologis. Hilangnya fungsi pada rahang merupakan hal biasa sebagai akibat dari trismus atau sakit. Palpasi intra oral dengan jari pada maksila dapat memberikan informasi tentang integritas dinding nasomaksilaris.7 220 . gigi geligi. Tidak seperti fraktur Le fort II. Gangguan pada oklusi dapat melokalisir adanya fraktur. masalah pada retina ataupun masalah neurologic lainnya. dapat dilihat integritas dari lingkar orbita dan dasar orbita. Openbite anterior. tetapi permeriksaan dapat menemukan adanya kehilangan kontinuitas tulang atau displacement. dan dinding zigomatikomaksilaris. Pemeriksaan Intraoral Pemeriksaan intra oral dapat melihat keadaan oklusi. Perubahan penglihatan menandakan adanya gangguan pada persyarafan mata. serta jarak intercanthal. stabilitas alveolar ridge dan palatum serta jaringan lunak. Pergerakan abnormal pada tulang dapat didiagnosa dan jika terjadi maka akan diikuti oleh sakit dan krepitasi akibat dari ujung tulang yang keras bergesekan satu sama lain. dinding sinus maksilaris anterior.Gambar 8. Deformitas pada kontur tulang dapat tertutupi oleh pembengkakan.

Pemeriksaan mobiliti pada maksila. maka terdapat adanya Le Fort II atau III.Fraktur transversal pada Le Fort membuat muskulus pterygoid medial yang kuat menciptakan tarikan posteroinferior pada segmen yang bergerak menciptakan maloklusi klas III.5 Gambar 10 menunjukan metode palpasi wajah tengah pada fraktur Le Fort.3 Gambar 9.1 Gambar 9 menunjukan pemeriksaan mobiliti pada maksila. Dahi difiksasi dengan tangan kiri. maka 221 . B.1 ` Gambar 10. A. Gigi anterior dipegang dan maksila dimanipulasi untuk memeriksa adanya pergerakan. maksila digoyang-goyangkan untuk menilai adanya mobiliti. kontak prematur pada molar dan anterior open bite. Jika gerakan terdeteksi juga pada zigoma (B). Tangan kiri juga dapat diletakkan pada os nasal untuk menilai mobiliti pada os nasal. Metode palpasi wajah tengah pada fraktur Le Fort. Jika gerakan dapat dipalpasi pada jembatan nasal (A).

Gambar 11 menunjukan saat melakukan pemeriksaan fraktur pada maksila.  Kecuali apabila segmen fraktur mengalami impaksi kearah posterior. Pergerakan pada sutura nasofrontal menunjukkan kemungkinan terdapatnya fraktur Le Fort II atau III. kepala distabilisasi lalu prosesus dentoalveolar dimanipulsi sehingga adanya pergerakan segmen fraktur dapat dideteksi.  Terjadinya kontak premature dari gigi posterior karena tulang maksila turun dan menimbulkan open bite yang klasik. Pemeriksaan fraktur Le Fort II dan III dilakukan dengan cara satu tangan memegang puncak hidung sementara tangan lain memanipulasi maksila. 4 Perbedaan klinis fraktur maksila: 1. kepala distabilisasi lalu prosesus dentoalveolar dimanipulsi sehingga adanya pergerakan segmen fraktur dapat dideteksi.5 Gambar 11.terdapat fraktur III. Le fort II 222 . maka kemungkinan terjadi fraktur Le Fort I.  Palpasi tulang alveolar pada jaringan pendukung akan terasa nyeri  Dapat dilihat dengan jelas pada foto roentgen dan sering adanya gambaran sinus yang berkabut serta gangguan kontinuitas yang bilateral dari dinding sinus maksila. Apabila tidak terdeteksi adanya gerakan pada daerah tersebut namun maksila mengapung.6 2. Saat melakukan pemeriksaan fraktur pada maksila. Le fort I Manifestasi Klinis Le Fort I antara lain adalah:  Seluruh rahang atas dapat digerakan dengan mudah.

dan naso orbita eithmoid.6 5. luka yang dihasilkan pun berfariasi. 2. Hipoesthesia dari nervus infra orbital juga ditemukan.Manifestasi klasik Le Fort II antara lain :     Oedema periorbital secara bilateral. Cara pendeteksian ini dapat dengan mengandalkan genggaman pada gigi anterior maksila dan menggerakannya arah anterior. Trauma telecantus dapat terasa seperti halnya juga ephypora.   Fraktur ini biasanya diikuti dengan fraktur zygoma. Suatu maloklusi dapat terjadi bersamaan dengan open bite. hal ini berguna dalam rencana perawatan dan pertolongan nyawa pasien. Suatu kelainan bentuk ini dapat dideteksi pada daerah rima infra orbital atau daerah sutura naso frontal. sehingga frakmen yang pecah dari lantai orbita atau dinding media bisa terlihat dan ikut bergerak. kondisi ini muncul karena perkembangan odema yang sangat cepat.  Dari gambaran foto roentgen dapat terlihat pemisahan atau pergeseran pada sutura zygomaticomaksilaris serta terputusnya kontinuitas rima orbital inferior didekat sutura tersebut. Pada waktu dilakukan tes mobilitas dari maksila akan memperlihatkan pergerakan dari seluruh bagian atas wajah. diikuti dengan ecchymosis yang memberikan kesan seperti raccoon sign (menyerupai kucing).posterior. Ada baiknya temuan ini dikomfirmasikan dengan CT coronal dan sagital scan.6 223 . 2. Le fort III Manifestasi klinis Le Fort III antara lain :    Sering terlihat kebocoran cairan cerebrospinal akibat sobeknya meninge (selaput otak) Oedema yang hebat dan ecchymosis peri orbital terlihat bilateral karena terjadinya perdarahan subkonjungtiva dalam berbagai tingkat keparahan.

Foto Towne’s sangat bermanfaat dalam menggambarkan lengkung zigomatikus dan rami mandibula.Gambar 12. dapat menggunakan reverse Water’s (frontoosipital). Foto Water’s memperlihatkan antrum hampir jelas.2 Gambar 13. pemeriksaan radiologi harus dilakukan untuk memberikan tambahan informasi tentang trauma fasial. Jika pasien tidak dapat tengkurap. Kekurangannya yaitu bertambahnya jarak antara tulang wajah ke film. Foto lateral skull berguna dalam menggambarkan kehadiran cairan pada sinus paranasal dan udara intrakranial. Gambaran Klinis Fraktur Le Fort III VI. lateral dan foto submentovertex. Water’s view memperlihatkan gambaran fraktur Le Fort II yang membentuk segmen fraktur bentuk Piramid. Evaluasi pada fraktur midfasial secara umum ditambahkan dengan gambaran radiografik. Pemeriksaan Radiologis Setelah dilakukan pemeriksaan klinis pada area fasial dan keadaan pasien stabil. Lengkung zigoma paling bagus digambarkan pada foto submentovertex. scheidel anteroposterior.8 224 . minimal foto Water’s.

Gambar 14. Foto water’s lateral menunjukkan fraktur Le Fort II4

Scan yang diambil secara baik dan hasil tepat, dapat menjadi alat diagnostik radiologi tunggal, tanpa foto lain. CT scan juga menggambarkan terdapatnya edema dan kehadiran benda asing yang sering terlewat pada foto konvensional.

Gambar 15. CT scan axial menunjukkan fraktur Le Fort II

Gambar 16. Gambaran 3D fraktur Le Fort II.

VII.

PERAWATAN FRAKTUR

A. Tujuan perawatan Apabila stuktur wajah terkena trauma yang menyebabkan fraktur maksila maka tujuan utama perawatan meliputi: 1. Penyembuhan tulang yang cepat.

225

2. Pengembalian penglihatan yang normal dan sempurna. 3. Kembalinya fungsi hidung untuk bernafas dan penciuman. 4. Kembalinya ruang bicara yang sempurna. 5. Hasil yang baik secara estetik baik dari gigi dan wajah seperti yang diinginkan. Selama perawatan diusahakan meminimalkan hal-hal yang merugikan pasien, seperti pemberian nutrisi, mengurangi rasa sakit dan ketidaknyamanan pasien serta kerusakan yang minimal jika memungkinkan. 1

B. Prinsip perawatan Untuk mencapai hal ini maka prinsip bedah hendaknya mengikuti aturan berikut ini Prinsip perawatan fraktur maksila: 1. Debridement yaitu membersihkan sisi fraktur meticulous. 2. Reduction yaitu mensejajarkan ujung tulang yang patah. 3. Fixation yaitu menstabilkan fraktur tulang, setelah selesai prosedur diatas, baru-baru ini digunakan mini plat tulang dan scrub ( rigid internal fixation ). 4. Imobilisasi yaitu pengikatan Fraktur pada bagian sendi, dicapainya dengan wiring sendi secara bersamaan selama 4-6 minggu dengan penyebaran yang luas menggunakan fixasi interna yang kuat, bagaimanapun prosedur ini sangat cepat dalam membantu penyembuhan. 5. Rehabilitasion yaitu mengistirahatkan total dari region yang terkena trauma seperti perlekatan kembali secara prostetik dari gigi geligi yang hilang akibat trauma dan injury.

C. Metode perawatan Perawatan fraktur maksila dapat dilakukan dengan metode terbuka maupun metode tertutup tergantung dari berat dan ringannya kasus, namun untuk fraktur maksila yang meliputi le fort I, II, III atau yang diikuti kelainan oklusi harus dilakukan dengan metode terbuka.9,2,6

226

1.

Reduksi tertutup ( close red )

Metode ini dilakukan tanpa melakukan insisi untuk mereduksi kembali bagian tulang yang fraktur seperti pada frakmen fraktur ini bergerak, biasanya gigi geligi yang terdapat pada sekmen fraktur mengalami kegoyahan . Pada kasus ini dibutuhkan tekanan berulang (digital) untuk mereduksi tulang yang patah. Pada kasus fraktur unilateral maksila atau terpisahnya sisi kanan dan kiri palatum pada sutura palatine, maka digunakan alat Rowe Disimpaction forceps atau Hayton-Williams forcep untuk mereduksi kembali kedua sisi palatum tersebut. Arch bar dipasang pada lengkung maksila dan mandibula. Gigi yang goyah diikat dengan kawat (wiring) kearch bar maksila, sedangkan gigi yang terdapat pada segment yang tidak fraktur dilindungi dengan fiksasi intermaksila. Kemudian fiksasi dilanjutkan kedaerah fraktur yang telah direduksi tadi. Fiksasi dibiarkan selama 4 sampai 6 minggu didalam mulut pasient dan pasien diberikan diet lunak selama fiksasi. Indikasi dilakukannya metode tertutup pada fraktur maksila adalah:  Dimana pada pemeriksaan klinis dan radiografis tidak memperlihatkan gambaran perobahan letak pada kedua segmen fraktur atau segmen frakturnya terletak pada variable yang stabil dari tekanan otot-otot mastikasi.( Undisplasment fracture )  Pada pasien yang edentulous (tidak bergigi) dan fraktur maksila secara radiology memperlihatkan perobahan letak yang minimal dan letak garis fraktur kemudian menjadi stabil oleh otot-otot pengunyahan. Maka union tulang pada fraktur ini dapat menjadi penghubung yang baik.  Pasien dengan fraktur yang menimbulakan kerusakan pada otak dan tidak adanya rangsangan untuk bangun, maka metode terbuka untuk sementara merupakan kontra indikasi. 2 Reduksi terbuka (open red) Metode ini lebih baik untuk kasus fraktur maksila khususnya yang komplek. Dengan metode ini dapat dicapai immobilisasi fraktur yang sempurna

227

dan fiksasi yang kuat dan rigid. Metode ini dimulai dengan tahapan sebagai berikut: 1. Pembukaan flap dengan insisi vestibular secara bilateral. 2. Sisi fraktur disingkapkan dengan meretraksi flap tadi 3. Dilakukan pembersihan segment pada garis fraktur. 4. Dilakukan perlekatan kembali kontunuitas tulang yang terputus. 5. Fiksasi garis fraktur dengan wiring atau mini dan mikro plat serta bautnya. 6. Tutup daerah operasi dengan mengembalikan flap pada posisi awal dan dijahit 7. Fiksasi inter maksila selama 4 minngu (masa penyembuhan) 8. Pasien diberikan diet lunak selama fiksasi dengan kandungan gizi yang cukup. Indikasi dilakukannya metode fraktur terbuka adalah sebagai berikut:  Apabila metode tertutup gagal dilakukan  Fraktur dengan displacement yang kearah bawah dengan segala

komplikasinya seperti open bite klasik, elongasi fasial dana dish face.  Fraktur fasial kompleks dan multiple seperti Le fort I, II, III .  Fraktur dengan impaksi pada rahang bawah.  Fraktur yang memerlukan pemasangan miniplate dengan skrup untuk reduksi dan stabilitas segment fraktur.  Fraktur yang membutuhkan bone graft.

Mikroplate and screw osteosynthesis Pada abad ke dua puluh mulai diperkenalkannya pemakaian plat sederhana atau yang lebih dikenal dengan Mini plate and screw. Sistem kompensasi plat logam ini menggunakan lobang-lobang plat eksentrik dan skrup- skrup ( beberapa diantaranya ada yang menggunakan swa-ulir ) yang cocok untuk penatalaksanaan fraktur orofasial. Pada tahun –tahun terakhir perkembangan plat dan skrup mengalami revolusi menjadi Mikro plate yang lebih ringan yang terbuat dari titanium dan lebih bisa diterima oleh tubuh. Hal ini di kembangkan karena bentuk

228

dan jenis fraktur maksila yang berfariasi dan sangat komplek sekali.Bentuk dan ukurannyapun disesuaikan dengan anatomi tulang fasial. Beberapa keuntungan pemakaian mikro plat ini adalah: 2,6              Kestabilan yang rigid pada fiksasi anatomi dari bagian –bagian fraktur. Dapat meniadakan pemakaian IMF ( intermaksilari fiksasi ). Mempercepat penyembuhan dan memperpendek durasi perawatan.

Indikasi dilakukannya pemasangan mikro plate pada fraktur maksila adalah: Apabila fiksasi maksilo mandibula sulit dilakukan. Untuk perawatan kasus yang penyembuhannya lama dan pseudoartrosis. Fiksasi pada graft tulang. Fraktur kompleks dan multiple dari Le fort I, II, III. Fraktur maksila pada pasien edentulous dengan displasment

Aplikasi mikor plate dan skrup: Pemaparan perkutan atau peroral dan kemudian dilakukan reduksi fraktur. Lakukan adaptasi dan stabilisasi mikro plat dan pembuatan lobang untuk skrup pada tulang denga bur tulang. Lobang bur dicocokan sampai sesuai dengan besar srkupnya. Skrup dipasang menurut dataran lubang pada plate untuk mendapatkan kompresi. 1-3 skrup diinsersikan pada sisi fraktur

Fiksasi dan Imobilisasi fraktur maksila Ada beberapa macam alat untuk Immobilisasi fraktur maxilla yang mana pada dasarnya menggunakan prinsip berikut ini:6 A. Fiksasi Intramaksila dan Intermaksila. 1. Hanya rahang atas saja yang dipasangkan alat fiksasi misalnya, dengan memakai arch bar dari Erich. Contoh pada kasus fraktur sebagian kecil dari prosesus alveolaris rahang atas (Intramaksila). 2. Pemasangan alat fiksasi pada gigi-geligi di maksila dan mandibula, kemudian pada kedua rahang ini dipasang rubber elastic band melalui

229

kaitan atau hock pada acrh bar yang digunakan. Elastik hanya dipakai pada gigi-geligi yang tidak mengalami fraktur rahang (berguna untuk fraktur unilateral atau segmental ) sehingga tulang alveolar yang mengalami fraktur akan terdorong keatas oleh tekanan gigi-geligi dirahang atas dan rahang bawah (Intermaksila).

Gambar 17. Arch bar dan fiksasi intermaksilaris. 4

B. Fiksasi Internal Teknik ini ditemukan oleh Adam yang mana diindikasikan pada fraktur horizontal yang sederhana dengan tidak terlibatnya tulang orbita. Teknik ini menggunakan kawat suspensi (stainless steel ukuran 0.018 atau 0,2 inchi, 0,45 atau 0,5mm) yang dimasukan (diikatkan) pada titik tertentu di tulang bagian superior. Bagian yang paling sering digunakan adalah Apertura piriformis, Spina nasalis, tonjolan Malar, Arcur zygomatikus, Prosesus zygomatikus ossis frotalis dan pinggiran tulang infra orbita. kemudian kawat menelusuri daerah fasial terus kebawah dan kemudian dihubungkan (diikatkan) pada arch bar yang telah dipasang pada gigi-geligi rahang atas (terhadap maksila) disebut fiksasi kraniomaksila. Sedangkan pada ikatan atau perlekatan kawat terhadap mandibula disebut fiksasi kraniomandibula. Gigi-geligi rahang atas dan rahang bawah dalam keadaan fiksasi Intermaksila (Transosseous wiring fixation). Apabila mandibula utuh atau karena perawatan bisa stabil, maka fiksasi kraniomandibula lebih dianjurkan dibanding perawatan fiksasi kraniomaksila, karena perlekatan ini memberikan hasil terbaik untuk mempertahankan posisi komponen maksila yang mengalami fraktur.

230

C. Fiksasi eksternal 1. Pesawat Cranio-Maxilla. Dimana digunakan suatu alat Head Appliances yang dihubungkan dengan alat lain yang dipasang pada maksila. Head appliances yaitu suatu alat yang dipasang pada kepala yang berfungsi sebagai penahan untuk fiksasi fraktur maksila dengan tulang cranial. Alat ini ada beberapa macam yang biasa digunakan yaitu:       Plaster of Paris head cap. Woodards appliance. Englands appliance. Bisnoffs head band. Crawford head frame. Crawford bloom head appliance

Pesawat Cranio Maxilla sendiri ada beberapa macam yaitu; a. Pesawat C-M yang menggunakan Kingsley splint yang dapat dihubungkan dengan berbagai macam splint yang diletakan pada gigi-gigi dirahang atas seperti:     Wire splint Cast metal splint Band orthodontic Pada pasien edentulous digunakan modifikasi dari kingsley sendiri. b. Pesawat C-M yang menggunakan Steinmann pin, dimana pin ini dimasukan kedalam tulang alveolar rahang atas yang mengalami fraktur melalui pipi lalu pin ini dihubungkan kembali kealat head appliance. c. Pesawat C-M yang menggunakan cranio fasial wire. Ditemukan oleh Erich, dimama kawat dihubungkan dengan arch bar yang telah dipasang sebelumnya pada rahang atas ( gigi-geligi ), kawat ini menembus pipi lalu dihubungkan denga head appliance. Pemakaian alat ini diindikasikan pada fraktur dengan tidak adanya perubahan tempat dari rahang (fragmen) dan mandibula dapat bergerak untuk berbicara dan makan (makanan lunak).
231

Pesawat ini ditemukan oleh Gross. dibagian luar dihubungkan dengan Frac-sure link vertical rod dikedua sisi. Pada metode ini gigi-geligi pada kedua rahang berada dalam keadaan oklusi dengan menggunakan Intermaksila wiring fixation dan eksternal traction. Frac-sure rods ini dihubungkan dengan head appliance c. juga digunakan Frac-sure rods dipakai sebagai penghubung dengan head appliance.2. Pesawat C-mand dengan menggunakan Traction bandage (head bandage). Pesawat ini pun ada beberapa macam yaitu : a. b. Ini untuk perawatan sementara dari fraktur rahang. Pin ini lalu dihubungkan dengan pin yang telah dipasang pada corpus mandibula melalui suatu batang penghubung (rods) atau rubber elastic band. 3. Pesawat C-mand dengan half pin hamper sama dengan Steinmann pin. d. Peasawat C-mand dengan menggunakan Steinmann-pin yang dimasukan kedalam corpus mandibula . Pesawat Malar-Mandibula fixation. Pesawat Cranio – Mandibula. 232 . Pada kasus tidak bergigi digunakan Gunning splint yaitu suatu acrilik aplint yang digunakan sebagai alat fiksasi mandibula. yang mana dua buah pin dimasukan kedalam tulang pipi kiri dan kanan. Terdiri dari Barton bandage denagn elastic yang dilekatkan pada kedua sisi dengan menggunakan plaster.

Fiksasi kraniomaksilar. Untuk melindungi mukosa hidung dan mukoperiosteum palatum. Digunakan secara sepasang atau sendiri. Di atas 7 hingga 10 hari. reduksi dini fraktur Le Fort I memberikan kesulitan minimal. perlu tenaga tambahan untuk melakukan reduksi sempurna.7 C.2 Aturannya. dapat ditempatkan ujung karet pada paruh tang. Gunakan gerakan menekan atau memutar. Fraktur dr pergeseran minimal direduksi di diimobilisasi secara ideal dengan reduksi terbuka dan immobilisasi diperoleh dengan penempatan plat yang tepat. Sebagai alternatif yang kurang ideal. namun untuk fraktur maksila yang meliputi le fort I.Gambar 18. Fraktur impacted atau fraktur yang tidak mudah direduksi karena penyatuan dini oleh jaringan ikut (fibrous union) sebaiknya direduksi dengan menggunakan tang disimpaksi Rowe atau Hayton-Williams. dan sisi lainnya pada palatum keras (gambar). melakukan fiksasi intermaksilari selama sebulan. II.2 233 . III atau yang diikuti kelainan oklusi sebaiknya dilakukan dengan metode terbuka. 1. diperlukan perpanjangan periode fiksasi hingga 6 minggu. biasanya cukup untuk terjadi penyembuhan. Paruh dari tang Rowe ditempatkan sepanjang dasar hidung. Perawatan Fraktur Le Fort I Perawatan fraktur maksila dapat dilakukan dengan metode terbuka maupun metode tertutup tergantung dari berat dan ringannya kasus. Pada kasus fraktur remuk yang parah. Tahapan perawatan pada fraktur Le Fort: 1. maksila ditarik ke depan dan ke bawah.

Hal ini dapat dicapai dengan insisi subsiliary atau transkonjunctiva. terdapat variasi pilihan untuk imobilisasi. atau dapat juga menggunakan daerah sutura nasofrontal. Fiksasi dapat dilakukan dengan mini plate yang menjangkau penyangga zygomaticomaksilaris. Hal tersebut perlu dilakukan untuk mendapat stabilitas dan penyembuhan yang adekuat. Perawatan Fraktur Le Fort II Reduksi tertutup yang dilakukan pada fraktur Le Fort II mudah dilakukan dengan tang disimpaksi Rowe. Penggunaan tang disimpaksi Rowe untuk mereduksi maksila. Hal ini dapat diperoleh dengan membuka regio sutura zigomatikomaksilaris baik dari rima inferior maupun intraoral. Kombinasi yang diperlukan tergantung pada kebutuhan untuk 234 .Gambar 19. Fiksasi intermaksilari kemudian dilakukan untuk memperbaiki posisi anteroposterior fraktur. dapat dilakukan reduksi terbuka.7 Setelah dilakukan reduksi pada fraktur.2. pembukaan tambahan ke superior sering dibutuhkan untuk akses yang cukup dari orbital rim. Sebagai alternatif. Imobilisasi dilakukan minimal 4 minggu.4 2. Perawatan dimulai dengan pemasangan IDW untuk mendapatkan oklusi. Pada umumnya segmen maksila pyramidal yang bebas distabilisasi ke tulang zygoma yang intak. Pada fraktur Le Fort II dilakukan insisi pada sulkus bukalis. Minimal fiksasi tiga-titik atau mungkin empat-titik diperlukan.

Pada daerah lateral. dan sutura nasofrontal. tetapi prinsip perawatannya identik dengan yang lain. Perawatan Fraktur Le Fort III Fraktur Le Fort III secara esensial merupakan kombinasi fraktur zigoma bilateral dan fraktur pada kompleks nasal-orbital-ethmoid (NOE). dan rekonstruksi regio nasofrontal karena daerah ini sering kali terjadi keremukan. serta reduksi yang tepat dari maksila ke wajah tengah inferior. Dapat dilakukan dengan bilateral Lynch. open sky. perikranium dapat diinsisi tepat di atas lengkung untuk menjaga suplai darah dari daerah supraorbital dan supratroklearis ke flap. kita menstabilisasi segmen tulang yang bergerak untuk stabilisasi mandibula dan tulang kranium. atau flap kulit kepala bicoronal dapat digunakan untuk topangan tambahan pada tulang frontozigomatik. atau melalui laserasi yang sudah ada. Insisi jaringan lunak dapat dilakukan di lokasi yang sama seperti untuk fraktur Le Fort II. rahang atas harus dalam kondisi tidak terpendam (direposisi) dan MMF dilakukan. Flap bicoronal harus dirancang hati-hati untuk menghindari cedera pada cabang saraf wajah. Penempatan plat pada daerah ini dapat memberikan kestabilan dan keamanan dalam arah superior posterior. atau insisi flap koronal. kita melakukan diseksi superfisial dari fasia temporalis. Ketika flap dibuat pada area lengkung orbita. Dalam mencapai lengkung zigomatik. 2 Pilihan lain dari perawatan pada fraktur Le Fort II yaitu imobilisasi sutura nasofrontal. kita lakukan insisi fasia 235 . 2 Dalam perawatan fraktur Le Fort III.mengeksplor dasar orbita. zigomatikotemporal. oklusi yang baik harus didapatkan untuk mendapatkan posisi anteroposterior dan lateral wajah tengah. Flap bicoronal dapat diperpanjang untuk mencapai akses ke lengkung zigoma. Semua pendekatan ini dapat memberikan akses yang baik ke daerah sutura nasofrontalis. reduksi dan imobilisasi zigomatikofrontal. lipatan glabela. atau rekonstruksi rima inferior. 3. Pada gilirannya. Insisi alis lateral. atau keduanya. Terdapatnya jejas yang remuk dan parah bervariasi.2 Prinsip umum perawatan fraktur ini yaitu. Awalnya.

Sehubungan dengan tindakan fiksasi pada fraktur maksila. maka fiksasi dapat dilakukan. nasomaxillary. Jika pembalut tetap kering. Gunakan sesedikit mungkin pelat untuk mencapai fiksasi. pada daerah operasi. fiksasi zygomaticofrontal bilateral mungkin sudah cukup. Pada fraktur Le Fort III sejati. Jika terpendam atau comminuted. Namun. kurangi dan stabilkan setiap patahan tulang yang terlibat. Garis rambut yang terlalu mundur juga dapat menjadi bahan pertimbangan untuk menggunakan tipe insisi lain. pelat berlebihan tidak diperlukan. D. tetapi hasilnya tidak sebaik miniplate fiksasi karena vektor gaya untuk mempertahankan reduksi kurang akurat dan micromotion meningkat. dan muntah. masalah pada jalan nafas.temporalis di atasnya. Perluas bidang insisi ke dalam fasia sampai tulang zigoma yang fraktur. tetap dibutuhkan fiksasi tambahan (misalnya. Jika menggunakan fiksasi dengan kawat pada IMF. fiksasi langsung mungkin diperlukan. Gunakan pelat yang menjangkau seluruh penopang utama. Apabila daerah fraktur terbuka terhadap lingkungan eksternal atau terdapat komunikasi dengan intra oral atau ruang nasal. lengkung inferior orbital. Perawatan Post Operasi Untuk meminimalisir edema paska operasi. maka perlu diberikan antibiotik profilaksis terhadap organisme gram-positif dan anaerob selama 5-10 hari. Gunakan template lunak. lengkung zigomatic). Fiksasi Miniplate saat ini merupakan tipe yang paling dapat diandalkan. tempatkan pemotong kawat di 236 . Interoseus wiring dan suspension wiring digunakan pada fraktur Le Fort III. Patahan tulang kemudian dapat dikurangi dengan elevator kaku. Setelah pembedahan. lakukan pembalutan kassa dengan tekanan ringan. dapat diangkat setelah 2-5 hari. Setelah ini dilakukan dan segmen fraktur terlihat. secara umum. nasofrontal. observasi pasien selama semalam terhadap kemungkinan terjadinya perdarahan. Jangan gunakan flap bicoronal dalam situasi dimana flap membutuhkan suplai arteri temporal. pelat pembentuk kontur yang akurat dan monocortical serta sekrup self-tapping.

dekat pasien setiap saat pada awal periode post-operasi untuk mengeluarkan muntah. serta teknik perawatan yang digunakan. pasien diberi tahu untuk membatasi diet yaitu bubur atau cairan. Mobiliti vertikal yang minimal pada midfasial dapat pulih seiring dengan waktu.10 E. facial series. minggu ke 2-4. Pengambilan foto post-operasi (misal. lalu minggu ke 3-8 untuk melepas IMF. tapi mobilisasi berlebihan dapat mengindikasikan terjadinya penyembuhan yang buruk. Sehingga IMF perlu dirawat selama periode ini. Tergantung pada umur dan kesehatan umum pasien. Follow-up jangka panjang mungkin dibutuhkan untuk memonitor terjadinya komplikasi postoperasi atau deformitas. Apabila tulang wajah telah sembuh dengan baik dan didapat oklusi normal. Selain itu. keparahan dan displacement fraktur. lakukan tes stabilitas tulang wajah dengan mempalpasi geligi rahang atas pasien saat menggigit dan merelaksasi otot pengunyahan. Sebelum pulang. tekankan pasien untuk memelihara kebersihan mulut dengan rajin menyikat gigi dan arch bar dan berkumur dengan saline atau mouthwash antiseptik setiap pagi dan malam serta setiap habis makan. Lepas kawat atau rubber band apabila pasien mulai merasa mual. CT scan) dapat membantu pada pasien yang dicurigai terjadi malunion. serial mandibula. periode ini berkisar antara 4-8 minggu. Pada pemeriksaan post-operasi. MMF dapat dilepas lebih cepat pada fraktur yang diperbaiki dengan 237 . instruksikan pasien mengenai cara melepas IMF apabila muntah. Selama periode ini. Follow Up Lakukan evaluasi follow-up pada hari ke 5-7 (jahitan kulit dapat dilepas pada saat ini). Tujuan paling penting selama periode awal post-operasi yaitu memelihara imobilisasi. IMF dapat dilepas. Panorex dental views. Terdapatnya Pergerakan minimal mungkin masih dapat diterima. Pada umumnya. Pergerakan yang berlebihan mengindikasikan terlalu dininya melepas arch bar atau terdapatnya masalah penyatuan tulang.

10 238 .fiksasi miniplate. dan lebih lama pada fraktur yang diperbaiki dengan kawat interosseus atau suspensi.

Alat terekspos 5.BAB III KOMPLIKASI Beberapa komplikasi yang dapat terjadi akibat fraktur maksila dan penyembuhannya biasanya tidak tampak hingga beberapa minggu hingga bulan setelah terjadinya trauma. dengan hematom septum atau nasal packing. Enopthalmus 3. Deviasi septum 6. Reaksi benda asing 12. Obstruksi nasal 7. Sinusitis Terjadinya obstruksi jalan nafas perioperatif dan postoperatif jarang terjadi pada fraktur maksila tunggal. Epiphora 11. dan dengan edem berat jaringan lunak yang menghalangi pernafasan melalui jalan nafas nasal. tetapi potensi kemunculannya dapat diperkirakan selama evaluasi dan perawatan. Komplikasi yang mungkin terjadi sehubungan dengan fraktur maksila antara lain:4 1. Infeksi 4. dan pembukaan fikasi intermaksilari dapat efektif menghilangkan 239 . Malunion atau maloklusi 10. pembukaan jalan nafas nasofaringeal. Reintubasi. infraorbital 2. kondisi ini dapat terjadi sehubungan dengan ekstubasi. Parestesi n. Perubahan penglihatan 8. Pasien dengan fiksasi intermaksilari dan gigi lengkap biasanya mengalami kesulitan pernafasan pada saat ini. Bagaimanapun. Jaringan parut 13. Nonunion 9.

Sinusitis akut atau kronik dapat juga terjadi pada sinus ethmoid. dan maksila. Laserasi sebaiknya diperiksa ulang sehingga hemoragi dapat dikontrol. Kebutaan postoperatif imediet dapat merupakan komplikasi reduksi pada fraktur Le Fort III (atau fraktur yang melibatkan orbita) dan terjadi akibat peningkatan hemoragi atau tekanan intraorbital. Faktur pada septum nasal yang tidak diperbaiki dapat menyebabkan terjadinya obstruksi jalan nafas postoperatif yang akan tetap ada hingga semua pembengkakan jaringan lunak hilang. 4 Sinusitis akut dapat terjadi akibat tindakan intubasi trakheal yang berkepanjangan. jika reduksi tulang inadekuat dapat menyebabkan perdarahan berlanjut. Hemoragi dari arteri utama harus segera ditangani. sphenoid. dan menekannya fragmen tulang pada nervus optikus. Fraktur pada dasar orbita yang tidak terdiagnosa atau ditangani dengan tidak adekuat (sendiri atau kombinasi dengan komponen zigoma) dapat menyebabkan terjadinya enopthalmus dan diplopia. spasme arteri retinal. seringkali dengan mekanisme jejas yang lebih berat.gangguan jalan nafas. atau jika arteri sebagian terpotong. jika terjadi aneurisma. Perlu dilakukan prosedur pembedahan kedua untuk memperbaiki komplikasi tersebut.4 Hemoragi post operatif dapat terjadi jika arteri dan vena tidak diligasi ketika memperbaiki laserasi.4 Karena kedekatan maksila dengan orbita. apabila sumbernya tidak dapat diidentifikasi. sebaiknya didrainase. maloklusi) atau pemeriksaan radiografi postoperatif. Kebutaan jarang terjadi sehubungan dengan fraktur midfasial dan paling sering terjadi pada pola fraktur yang melibatkan orbita. maka dapat terjadi komplikasi yang berhubungan dengan penglihatan. maka perlu dilakukan arteriografi dan embolisasi. 4 Aneurisma dan pseudoaneurisma merupakan komplikasi trauma pada maksilofasial tetapi jarang terjadi akibat 240 . Hematom yang ada. fraktur maksila tersendiri. karena fraktur dapat mengobstruksi duktus sinus atau ostia. hemoragi retrobulbar. Pada perdarahan tulang sebaiknya dilakukan reduksi ulang atau menggunakan bone wax. Komplikasi ini dapat diidentifikasi melalui pemeriksaan klinis (misal. frontal. 4 Komplikasi postoperatif lain yaitu salah penempatan segmen tulang atau alat fiksasi.

3. Perkembangan baru dengan memakai miniplate dan skrup untuk menghasilkan fiksasi dari reduksi fragmen yang rigid dengan mengurangi waktu perawatan dan mempercepat penyembuhan. Mobilitas seluruh rahang atas atau setengah wajah yang menandakan lepasnya kontinuitas maksila dengan basis cranial. 241 . Sebaiknya klinisi membuat diagnosa yang tepat dengan memperhatikan anamnesa. Perawatan dilakukan sesegera mungkin untuk mensegah terjadinya komplikasi seperti infekasi. malunion dan lain-lain. Open bite klasik. Perhatikan komplikasi yang menyertai fraktur maksila seperti Perdarahan yang hebat.BAB IV KESIMPULAN Dari penjabaran tentang fraktur maksila secara umum tadi dapatlah diambil kesimpulan bahwa: 1. 7. III seperti: Elongasi fasial. pemeriksaan klinis dan didukung dengan pemeriksaan radiology demi tercapainya perawatan yang tepat pula. 2.tanda khas terjadinya fraktur Le fort I. Kehilangan kesadaran. Obstruksi jalan nafas dan Kebocoran cerebrospinal renorrhoe. Perawatan dengan memakai metode tertutup atau terbuka disesuaikan denga indikasinya masing-masing. Immobilisasi segmen fraktur merupakan aspek perting untuk mencegah terjadinya kegagalan perlekatan (malunion ). Pengenalan tanda. II. Dish face. 5. 4. 6.

2004. 4. U. Principles of Oral and Maxillofacial Surgery. http://www. Peterson. 8. Miami: Marcel Dekker. Oxford: Blackwell-Science.Dallas: Saunders. 5. Facial Trauma. St. 2008.R. McDonald. J and Frame J. Ellis. 5th ed.gla.S. W. Jakarta: EGC. 10. Inc. treatment#a1135. Oral and Maxillofacial Surgery. 2000..W.medscape.J.2.W. 2009. Louis: Mosby. Fonseca.uk/ibls/US/cal/anatomy/trauma/maxillaclinfeat. 2001. Thaller. Hamilton: BC Decker Inc. 5th ed. 2. 7.DAFTAR PUSTAKA 1. 2nd ed. G. Buku Ajar Praktis Bedah Mulut. 3. Moore. Assesment of Patients with Facial Fractures.ac. St. James R. 2005. Louis: Elsevier. K. Maxillary and Le Fort Fractures Treatment & Management. http://emedicine. Hupp. 1996. Oral and Maxillofacial Trauma vol. Edward.S. Pedlar. Pedersen. Contemporary Oral and Maxillofacial Surgery. 2004. 6.htm 9. Moe. Principles of Oral and Maxillofacial Surgery. 2001.com/article/1283568- 242 . S. Edinburg: Curchill Livingstone.

Insiden yang tinggi ini kemungkinan disebabkan oleh posisi zygoma yang prominen terhadap tulang wajah2. Fiksasi 243 .FRAKTUR KOMPLEKS ZYGOMA Leidya Valentina Elizabeth 160121120009 Peserta Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut Dan Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Bandung Abstrak Trauma akan menimbulkan jejas baik pada jaringan lunak maupun pada jaringan keras. Kata kunci : Fraktur Kompleks Zygoma. fiksasi. gambaran radiografi. Jejas yang mengenai jaringan keras dapat merupakan suatu fraktur tulang. dan berada pada urutan kedua setelah fraktur nasal. Reduksi. perawatan serta komplikasi yang dapat terjadi pada fraktur komplek zygoma. dan imobilisasi. Maksud dari penulisan makalah ini adalah untuk memberikan gambaran mengenai gejala klinis. Fraktur zygoma merupakan cedera wajah yang sering terjadi. Penatalaksanaan fraktur zygoma pada dasarnya sama dengan penatalaksanaan fraktur maksilofasial lainnya yaitu meliputi reduksi. di antaranya fraktur zygoma4. Namun karena strukturnya yang kompleks tentu saja penatalaksanaannya pun lebih rumit.

yang menopang proporsi kraniofasial dalam ukuran tinggi. Tergantung dari mekanisme injuri. Etiologi dari terjadinya fraktur juga dipengaruhi oleh keadaan suatu populasi penduduk dimana pada penelitian terdahulu terlihat bahwa 244 . pendidikan dan politik dari suatu populasi yang diteliti. dan aperture. yaitu antara maksila dan cranium3. Tulang zygoma mempunyai permukaan luar yang cembung dan kasar. Insidensi. ekonomi. Tulang zygoma mempunyai struktur yang kuat. tergantung pada status sosial. foramen. zygoma dan komplek nasoorbital ethmoid. tetapi adanya penonjolan tulang membuat tulang ini juga dapat mengalami fraktur jika mendapatkan trauma yang hebat yang dapat terjadi karena pukulan atau akibat kecelakaan kendaraan bermotor. lebar dan anteroposterior) pada struktur wajah tengah. Dalam beberapa penelitian. Fraktur midfasial cenderung terjadi pada sisi benturan dan bagian yang lemah seperti sutura. Beberapa literatur mengatakan bahwa puncak insidensi dari trauma terjadi antara dekade kedua dan ketiga dari kehidupan. Tulang zygoma memegang peranan penting dalam menentukan lebar wajah dan juga berperan sebagai major buttress (tulang dengan struktur yang tebal. etiologi. penyebab fraktur tulang zigoma adalah kekerasan dimana pada sisi yang lain kecelakaan kendaraan bermotor juga merupakan penyebab yang sering terjadi. predileksi umur dan jenis kelamin dari trauma zygoma bervariasi. Dari kebanyakan penelitian menunjukkan bahwa wanita lebih banyak terkena dari pada pria dengan rasio 4 : 1. dan seringkali fraktur midfasial melibatkan tulang zygoma. serta membentuk penonjolan pada pipi kiri dan kanan (penonjolan malar).BAB I PENDAHULUAN Trauma pada wajah midfasial dapat menyebabkan fraktur yang melibatkan maksila.

benturan sewaktu olahraga. diperkirakan hanya terjadi sebanyak 4% dari 4067 kasus fraktur zygoma dalam sepuluh tahun yang dilaporkan oleh Ellis dan kawan-kawan.yang banyak mempengaruhi adalah pada populasi dari area industri dengan tingkat pengangguran yang tinggi sehingga kekerasan interpersonal masih banyak terjadi. fungsi. Keadaan ini berbeda dengan keadaan fraktur zygoma yang disebabkan karena kecelakaan kendaraan bermotor. mencapai susunan wajah dan gigi-geligi yang memenuhi estetis serta memperbaiki oklusi dan mengurangi rasa sakit akibat adanya mobilitas segmen tulang. dan mereka juga menemukan bahwa fraktur bilateral hanya terdapat pada kasus kecelakaan. yang disebabkan oleh suatu penyakit. 245 . fungsi pengunyah. Pada fraktur zygoma yang disebabkan oleh kekerasan. luka tembakan atau berupa fraktur patologis. Selain karena tindak kekerasan dan kecelakaan lalu lintas. dan kosmetik. Fraktur zygoma bilateral jarang terjadi. perbaikan fungsi bicara. fungsi hidung. tulang zygoma kiri adalah yang banyak terkena. Penanganan yang tepat dapat menghindari efek samping baik anatomis. Tujuan utama perawatan fraktur fasial adalah rehabilitasi penderita secara maksimal yaitu penyembuhan tulang yang cepat. etiologi dari fraktur zygoma juga dapat disebabkan karena terjatuh. kecelakaan pabrik. hal ini sekaligus mengindikasikan bahwa fraktur zygoma akibat kecelakaan kendaraan bermotor lebih parah jika dibandingkan dengan kasus serupa yang terjadi akibat kekerasan. pengembalian fungsi okuler.

Pada beberapa individu membentuk lateral atas dari pada sinus maksilaris. zygomaticotemporal. Fraktur kompleks zygoma meliputi gangguan pada keempat sutura yang berartikulasi. dan sphenoid. Gambar 1a. tetapi bila mendapat trauma atau pukulan hebat mudah patah. Tulang ini mempunyai satu tonjolan yaitu processus temporalis ossis zygomaticus yang menonjol ke dorsal dan berhubungan dengan processus zygomaticus ossis temporalis yang menuju ke arah ventral. yaitu: sutura zygomaticofrontal. Kedua penonjolan arcus ini bersama-sama membentuk arcus zygomaticus. Tempat-tempat yang mudah patah adalah sutura 246 .BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 ANATOMI TULANG ZYGOMA Tulang zygoma merupakan bagian dari dinding lateral dan dasar rongga orbita (Gambar 1a). Anatomi dan letak tulang zygoma 3 Zygoma memiliki empat proyeksi yang menciptakan bentuk quadrangular atau tetrapod yang meliputi: bidang frontal. temporal. dan infraorbital. zygomaticomaksilaris. maksila. temporal. dan zygomaticosphenoid (Gambar 1b). Struktur tulang zygoma adalah kuat. Zygoma berartikulasi dengan empat tulang: frontal. maksilaris.

247 . zygomaticus.sphenozygomatika. m. temporalis. maseter ini. rata-rata 47 mm. m. Perlekatan otot-otot dan sutura 2 Seluruh fraktur kompleks zygomatik melibatkan dasar orbita. sutura zygomatikomaksilaris. Selain otot-otot. sutura zygomatikotemporalis dan sutura zygomatikosphenoid. Dasar orbita melandai kearah inferior dan yang paling pendek pada dinding orbita. Beberapa muskulus yang melekat pada tulang zygoma : m. permukaan orbita pada tulang zygomatik. levator labii superior dan m. pterygoideus externa. dan prosesus orbital dari tulang palatinus. dan oleh karena itu sebuah pemahaman gambaran anatomis orbita adalah penting untuk mereka yang merawat cedera ini. Gambar 1b. Ia terdiri dari lingkaran orbita maksila. Orbita adalah piramid quadrilateral yang berbasis anterior. m. pada tulang zygoma juga melekat dua buah ligamen yaitu ligamen kapsular dan ligamen temporomandibular. masseter. Muskulus maseter menempel pada aspek inferior dari zygoma. Pada kasus fraktur adanya rotasi inferior dari tulang zygoma setelah penatalaksanaan reduksi dapat disebabkan karena lokasi m.

Nervus infraorbital melewati dasar orbital dan keluar pada foramen infraorbital. (Gambar 2) Gambar 21 Saraf sensori yang berhubungan dengan zygoma adalah divisi kedua nervus trigeminal. Mereka diinervasi oleh nervus kranialis VII. Fossa glenoid dan eminensia artikularis terlokasi pada aspek posterior prosesus zygomatikus tulang temporal. Dinding orbital lateral adalah yang tertebal dan terbentuk oleh zygoma dan gerater wing dari os sphenoid. dan sebagian kecil dari badan sphenoid. dan temporal keluar dari foramina pada tubuh zygoma dan memberikan sensasi pada pipi dan daerah temporal anterior. Hal ini memberikan sensasi pada pipi anterior. dan geligi anterior maksila.Dinding medial dan lateral berkonvergen di posterior pada apeks orbital. Dinding medial terdiri dari prosesus frontal maksila. lingkaran orbital ethmoid. Cabang-cabang zygomatik. tulang lakrimal. bibir atas. Otot-otot ekspresi wajah yang berasal dari zygoma termasuk zygomaticus mayor dan labii superioris. fasial. hidung lateral. Dasar orbital terdiri dari tulang frontal dan sayap yang lebih kecil dari sphenoid. Otot masseter menginsersi sepanjang 248 . Arcus zygomatikus termasuk prosesus temporal zygoma dan prosesus zygomatik dari tulang temporal.

Gambar 42 249 . Fascia ini menghasilkan resistensi pergeseran inferior dari sebuah fragmen fraktur oleh penarikan kebawah dari otot masseter(Gambar 4). (Gambar 3) Gambar 32 Fascia temporalis berlekatan ke prosesus frontal dari zygoma dan arcus zygomatik.permukaan temporal zygoma dan arcus dan diinervasi oleh sebuah cabang dari nervus mandibularis.

Badan zygomatikus a. B. Jackson (1989) Grup I Grup II Grup III Undisplaced fractures .pembukaan dan fiksasi Displaced ‘tripod’ fractures (low velocity) – elevasi sederhana atau elevasi. A. Undisplaced c. 1995). Gruss dkk (1990) 1. Perlekatan ini lebih kearah medial hingga aspek posterior dari tulang lakrimal dan lateral terhadap tuberkel orbital (Whitnall) (yang adalah 1 cm dibawah sutura zygomaticofrontal pada aspek medial dari prosesus frontal dari zygoma). Tendon canthal medial berlekatan dengan krista lakrimal anterior dan posterior.Posisi bola mata dalam hubungan dengan aksis dipertahankan oleh ligamen suspensori Lockwood.tidak ada perawatan Localized segmental fractures . pembukaan dan fiksasi Grup IV Displaced comminuted fractures (high velocity) – pembukaan luas dan fiksasi multipel. Gruss dkk (1990) menekankan peran pola fraktur pada zygoma untuk reduksi yang akurat dan mengklasifikasikan fraktur ini menurut tingkat keparahan tulang pada badan zygoma dan arkus zygoma (Trott et al. Fraktur kompleks zygomatik seringkali dibarengi dengan sebuah antimongoloid (kearah bawah) dari daerah canthal lateral yang disebabkan oleh pergeseran zygoma. Tendon canthal lateral berlekatan dengan tuberkel Whitnall.2 KLASIFIKASI FRAKTUR ZYGOMA Jackson (1989) membuat klasifikasi fraktur zigomatikus yang disederhanakan menurut pola dan pergeseran serta perawatannya. Bentuk dan lokasi dari canthi medial dan lateral kelopak mata dipertahankan oleh tendon canthal. Segmental 250 . Intact b. 2.

Comminuted C. Displaced : inferior dengan depresi dan lateral e. 3. Menurut Knight dan North. 2.d. Intact b. tetapi tidak memperlihatkan pergeseran. Segmenta d. ke dalam dan sedikit mengarah ke bawah sehingga pipi menjadi rata dan terjadi perubahan bentuk pada tepi infra orbital. fraktur zygoma dapat dikalsifikasikan sebagai berikut2 . Fraktur ini disebabkan oleh pukulan langsung pada arkus zygomatikus. pergeseran pada sutura zygomatikofrontalis dan penonjolan tulang zygoma ke dalam. hanya retakan saja. Arkus Zygomatikus a. menyebabkan busur ini melekuk ke dalam tanpa mempengaruhi sinus maksilaris ataupun rongga mata. Fraktur arkus zygomatikus dengan displacement. Dalam pemeriksaan radiologis timbul pergeseran ke bawah dari tepi infra orbita. Fraktur tanpa displacement. 251 . Pada umumnya tulang terdorong ke belakang. Undisplaced c. sehingga terjadi fraktur dan pergeseran tulang langsung ke dalam sinus maksilaris. 4. Fraktur zygoma tanpa perputaran. Displaced e. Pemeriksaan secara radiologis menunjukkan adanya fraktur. Fraktur zygoma dengan perputaran ke median. Comminuted 2. Fraktur ini disebabkan oleh pukulan langsung terhadap penonjolan dari tulang zygoma. 1. Dalam hal ini tidak diperlukan penatalaksanaan.

mengklasifikasikan cedera-cedera ini kedalam tiga kategori. Zingg dan kolega. Fraktur tulang zygoma dengan perputaran ke lateral. Fraktur incomplete (tidak lengkap) pada satu atau lebih artikulasi dapat terlihat. dinding orbita lateral. masseter pada arah posterior. 252 . Pemeriksaan radiologis memperlihatkan pergeseran ke bawah dari tepi infraorbital. medial dan inferior.al mengajukan sebuah metode klasifikasi yang didasarkan pada pola segmentasi dan pergeseran3: Fraktur yang memperlihatkan sedikit atau tidak ada pergeseran diklasifikasikan sebagai cedera energi-rendah. 6. Pemeriksaan radiologis memperlihatkan pergeseran keluar dari penonjolan tulang zygoma dan ke atas dari tepi infraorbita ataupun keluar sutura zygomatikofrontalis. atau lingkaran infraorbita. Kebanyakan fraktur zygoma terjadi pada arkus dalam meliputi lateral orbital 2. Fraktur energi-tinggi ditandai dengan serpihan pada orbit lateral dan pergeseran lateral dengan segmentasi pada arcus zygomatik (Gambar 6). sehingga tulang terdorong ke dalam dan ke belakang. ke dalam dan ke bawah.025 fraktur zygomatik. Serpihan mungkin dapat timbul (Gambar 5). Pada 1990. Fraktur arkus zygomatikus menyebabkan depresi pada pipi karena tekanan m. Manson et. 5.Fraktur dan pergeseran timbul karena pukulan pada penonjolan tulang zygoma di atas sumbu mendatarnya. sehingga tulang yang mengalami fraktur tergeser ke belakang. Fraktur disebabkan karena pukulan di bawah sumbu datar dari tulang zygoma. Fraktur-fraktur tipe A adalah fraktur energi rendah tidak lengkap dengan fraktur hanya pada satu pilar zygomatik: arcus zygomatik. Fraktur energi-menengah memperlihatkan fraktur lengkap ( complete) pada seluruh artikulasi dengan pergeseran ringan hingga moderat. sutura zygomatikofrontalis keluar atau dapat ke dalam. Fraktur kompleks. Disini termasuk semua kasus dimana didapatkan garis fraktur saling menyilang lebih dari satu. dalam sebuah tinjauan pada 1.

Fraktur tipe B mengacu pada fraktur “monofragmen” lengkap dengan fraktur dan pergeseran disepanjang keempat artikulasi. Kolaps yang lama dan terus menerus akan menyebabkan shok. Skala ini menggunakan 3 parameter: Eye opening. yang ditandai dengan 253 . apakah dalam keadaan sadar atau tidak. berapa lama dalam keadaan tidak sadar. nilai 9-12 untuk moderate head injury dan nilai antara 13-15 untuk mild head injury9. Bila riwayat secara lengkap tidak dapat ditanyakan kepada penderita atau pengantar penderita. terjadi muntah atau tidak dan riwayat penyakit yang pernah diderita. Keadaan penderita sewaktu terjadi kecelakaan harus diketahui.3 DIAGNOSA FRAKTUR ZYGOMA Riwayat yang terperinci akan banyak membantu dalam menentukan diagnosa. Jennet dan Teasdale memperkenalkan sistem Glasgow Scale (GCS) untuk melihat tingkat kesadaran. Selain itu diperhatikan apakah terdapat perdarahan melalui mulut. Bila penderita tidak dapat memberi keterangan-keterangan tersebut. Kecelakaan yang serius dapat menyebabkan kolaps. maka dapat ditanyakan kemudian setelah penderita agak pulih. Fraktur “multifragmen” tipe C termasuk fragmentasi badan zygomatik.  Pemeriksaan fisik Hal ini penting untuk menentukan rencana penatalaksanaan yang akan dijalankan. best motor responsen dan best verbal response dimana nilai antara 08 untuk severe head injury. Asal mula terjadinya fraktur tulang zygoma harus diketahui. dapat kita tanyakan kepada pengantar yang melihat terjadinya kecelakaan. Untuk menegakkan diagnosa fraktur tulang zygoma dilakukan pemeriksaan :  Riwayat kecelakaan Riwayat kecelakaan dapat diketahui dengan memberi pertanyaanpertanyaan kepada penderita untuk memperoleh keterangan yang objektif. 2. apakah karena kecelakaan lalu lintas atau karena pukulan. telinga atau hidung.

Misalnya pada fraktur tulang zygoma yang serius sehingga menyebabkan pecahnya basis kranii. penderita harus segera dibawa ke bagian neurochirurgis. dingin dan pucat. Retraksi dari jaringan lunak sudut mata menyatakan adanya penurunan dinding periorbita ke arah sinus maksilaris. 1.tekanan darah rendah. 254 . hidung dan telinga menandakan terjadinya fraktur basis kranii. Gejala-gejala fraktur zygoma Gejala-gejala fraktur ini sangat penting untuk mengetahui tindakan penatalaksanaan apa yang harus didahulukan. Gejala neurologis Hilangnya perasaan pada perabaan (anesthesia) dari kelopak mata bawah. lateral hidung atau bibir bagian atas disebabkan rusaknya nervus infraorbitalis. Bila nervus zygomatikofasialis atau nervus zygomatikotemporalis rusak menyebabkan hilangnya perasaan pada pipi dan temporal bagian depan. Gangguan dari pergerakan bola mata disebabkan karena otot-otot penggerak mata terjepit sehingga fungsinya terganggu. kulit lembab. nadi cepat tetapi lemah. Pemeriksaan telinga Bila terjadi perdarahan atau terdapat cairan serebrospinal pada satu atau kedua lubang telinga menunjukkan adanya fraktur pada petrosa tulang temporal. Ketidaknormalan dari pinggir infraorbita dalam pemeriksaan palpasi menyatakan adanya kerusakan dari dasar orbita. Perdarahan dari mulut. Perdarahan pada tulang telinga menunjukkan pecahnya basis kranii. Pemeriksaan mata Pupil berdilatasi menandakan adanya shok. Penderita yang berada dalam keadaan yang tidak sadar tidak boleh dilakukan operasi sebelum penderita sadar. Diplopia disebabkan karena kerusakan dari syaraf infraorbita. pernafasan cepat dan dangkal. 4. Ketidaksadaran yang lama menandakan adanya kontusio cerebri. Kerusakan dari syaraf fasialis menyebabkan Bell’s palsy yaitu sudut mulut terkulai dan mata tidak bisa mengedip. 2. bibir dan kuku stanosis. pupil berdilatasi dan penderita apatis. 3.

Metoda yang paling berguna untuk mengevaluasi posisi dari tubuh zygoma adalah dari pandangan superior (. Inspeksi dilakukan dari bagian frontal. hematoma. Pemeriksaan visual Diagnosa yang langsung dapat dilihat dari gambaran karakteristik yang segera dapat dikenali yaitu muka terlihat asimetri karena adanya pendataran kontur pada pipi yang mengalami fraktur. Gambar 51 Pasien dapat ditempatkan dalam posisi berbaring atau bersandar dikursi. retraksi dari sudut mata. Pemeriksaan dengan cara palpasi Pemeriksaan zygoma meliputi inspeksi dan palpasi. Hilangnya ekspresi pada pipi yang mengalami fraktur. Pada saat akan melakukan pemeriksaan dengan posisi seperti ini akan memudahkan untuk menempatkan posisi jari telunjuk di bawah tepi infraorbita. lateral. Harus dicatat tingkat simteris. superior dan inferior 3. level pupil. sepanjang zygoma. Pandangan superior juga membantu dalam mengevaluasi kemungkinan terjadinya depresi dari arkus zygoma. adanya edema orbital dan ekimosis subkonjungtival dan proyeksi anterior dan lateral dari zygoma. unilateral epistaksis.5. memberikan tekanan pada jaringan yang edema guna palpasi dan mengurangi efek visual dari edema secara simultan. Tidak boleh dilupakan untuk melakukan pemeriksaan intraoral. dibandingkan sisi yang satu dengan yang lain3. penurunan bola mata pada sisi yang fraktur. 255 . mengevaluasi bagaimana proyeksi anterior dan lateral dari zygoma terhadap tepi supraorbital. Ahli bedah menginspeksi dari atas. 6.7.

palpasi seringkali harus dilakukan dengan cara yang halus. dibandingkan antara sisi yang satu dengan yang lain. Ekimosis dan edema periorbital. Tonjolan zygoma dari maksila dipalpasi dari dalam mulut dengan satu jari. Palpasi harus dilakukan dengan sistematik dan teliti.3. Pendataran dari tonjolan pipi. 2. 2. Sama halnya dengan fraktur arkus zygoma yang mungkin kurang mengakibatkan gangguan okuler dibandingkan dengan fraktur kompleks zygoma. Tepi infraorbita dipalpasi dengan jari telunjuk yang secara ritmik digerakkan dari sisi yang satu ke sisi yang lain sepanjang tepinya. dimana kelopak mata mungkin tertutup karena bengkak. Tubuh dan arkus zygoma paling baik dipalpasi dengan dua atau tiga jari yang bergerak secara melingkar. Edema dan perdarahan ke dalam jaringan ikat longar dari kelopak mata dan derah periorbital adalah tanda yang paling umum yang menyertai fraktur tepi orbita. dimana sering ditemukan fraktur dengan melakukan palpalsi di bagian dalam dari tepi orbita yang berlawanan arah sepanjang aspek lateral. dibandingkan dengan sisi yang berlawanan. pendataran wajah akan lebih nyata pada cedera pada zygoma yang displaced dibandingkan dengan fraktur yang nondisplaced. Misalnya. Tepi orbita lateral dipalpasi dengan jari telunjuk dan ibu jari. Tanda dan gejala berikut ini bisa menyertai fraktur zygoma dan oleh karena itu harus dievaluasi3 : 1.karena fraktur zygoma sering disertai dengan ekimosis pada sulkus bukalis superior dan oleh fraktur dentoalveolar maksilaris. Bila terdapat fraktur. Bengkak yang seringkali masif mungkin terjadi dan paling dramatis pada jaringan periorbital.1 TANDA DAN GEJALA FRAKTUR ZYGOMA Adanya tanda dan gejala serta keparahannya sangat tergantung pada luas dan tipe dari luka zygoma. Ekimosis mungkin hanya terdapat pada kelopak mata bawah dan derah infraorbita atau di sekitar seluruh tepi orbita. 256 . Tepi orbita dipalpasi dulu. Jari telunjuk juga digunakan sepanjang aspek bagian dalam dari tepi orbita lateral. untuk mengetahui adanya hematoma atau irregularitas3.

Nyeri. Deformitas pada tonjolan zygomatik dari maksila. 6. mungkin tidak terdapat adanya fraktur. Ekimosis ini bisa terjadi meskipun hanya dengan sedikit gangguan pada maksila lateral atau anterior dan seharusnya tanda ini dicurigai sebagai fraktur zygoma. Palpasi dari sisi fraktur juga akan menimbulkan rangsangan nyeri. nyeri hebat bukan merupakan gambaran yang normal dari cedera zygoma meskipun pasien akan mengeluh karena merasa tidak nyaman sehubugan adanya memar. khususnya di daerah tonjolan zygomatikus dari maksila. tetapi adanya nyeri belum tentu ada fraktur. Pendataran mungkin sulit untuk dilihat segera setelah terjadinya cedera jika terdapat edema. namun biasanya dapat diperoleh dengan menekankan jari telunjuk pada jaringan lunak darah zygoma dan membandingkan satu sisi dengan yang lainnya dari sebelah atas pasien. 257 . Pendataran di atas arkus zygoma. Jika pada manuver ini tidak teraba tenderness. 7. Juga sering teraba fragmen tulang yang remuk. yang menimbulkan krepitasi. Tidak adanya nyeri menunjukkan tidak adanya fraktur. Palpasi intraoral dari aspek anterior dan lateral dari maksila seringkali menunjukkan irregularitas dari permukaan halus yang normal. Kecuali jika ada pergerakan dari segmen fraktur. Ekimosis dari sulkus bukalis maksila. Tanda yang penting dari fraktur zygoma atau fraktur maksila adalah ekimosis pada sulkus bukalis maksila. khususnya jika terdapat distraksi dari sutura frontozygomatikus dan rotasi dan atau remuknya bagian medial. 3.Ini adalah tanda yng paling biasa ditemukan pada cedera komplek zygoma yang dilaporkan 70-86% kasus. 5. Deformitas dari tepi orbita. Lekukan yang khas atau hilangnya kurvatura cembung yang normal dari daerah temporal menyertai fraktur dari arkus zygoma. karena nyeri bisa ditimbulkan karena cedera pada jaringan lunak atau fraktur maksila. 4.

Meskipun sulit untuk membedakan antara anestesia dari sensasi yang berubah pada penelanan. perdarahn unilateral dari hidung yang mungkin terjadi adalah kira-kira 30-50% dari cedera komplek zygoma. Temuan lain adalah terdapatnya deviasi kearah sisi yang fraktur pada saat mulut dibuka. Epistaksis. Karena sinus maksilaris dialirkan ke hidung melalui meatus tengaha. Gejala penting yang ditemukan pada kira-kira 50-90% dari cedera komplek zygoma adalah berkurangnya sensasi nervus infraorbitalis. yang pada saat bengkaknya berkurang. Penjelasan yang lebih mendekati adalah spasme otot yang terjadi sekunder terhadap pergeseran oleh fragmen yang berubah posisi. Sensibilitas saraf yang abnormal. 10. jaringan edema. 8. Trismus. khususnya pada otot temporalis. terpotongnya atau kompresi dari nervus infarorbitalis sepanjang kanalis atau 258 . Kebanyakan fraktur melalui dinding sinus yang hanya mengalami sedikit perubahan posisi akan merobek mukosa yang melapisinya. Parestesi nervus infraorbitalis lebih sering terjadi pada fraktur dengan perubahan posisi daripada yang tidak. menghasilkan perdarahan internal. anestesia nervus orbitalis mulai dirasakan. Deformitas ini sering ditemukan pada tepi infra orbita dan tepi orbita lateral bila terjadi fraktur zygoma.Fraktur yang terjadi sepanjang tepi orbita seringkali menimbulkan celah atau deformitas jika terjadi displacement. terjadi pada kira-kira sepertiga kasus. Alasan yang sering dikemukakan untuk terjadinya trismus pasca fraktur adalah bergesernya prosesus koronoideus mandibula pada fragmen zygoma yang berubah posisi. karena diperlukan perubahan posisi yang cukup besar untuk menyebabkan gangguan mekanik. 9. Apabila mukosa sinus mengalami gangguan. Terbatasnya kemampuan untuk membuka mulut sering terjadi bersamaan cedera zygoma. mungkin terjadi perdarahan pada sinus tersebut. Sebenarnya terjadinya pergeseran ini pada sebagian besar kasus masih meragukan. dan lebih banyak lagi terjadi pada fraktur tertutup dari arkus zygoma (45%). Anestesia infraorbital terjadi bila fraktur yang melalui dasar atau maksila naterior menyebabkan robeknya.

Krepitasi dari emfisema udara. 12. Perubahan posisi dari zygoma juga termasuk palpebra yang menempelnya. Gejala tersebut bisa mempengaruhi sensitivitas gigi dan gusi maksila. dengan robekan pada mukosa yang melapisi. ekimosis subkonjungtiva biasanya tidak mempunyai batas posterior dan kan tampak berwarna merah cerah sesuai dengan kemampuan oksigen untuk menyebar melalui konjungtiva untuk pengumpulan darah. perdarahan yang mungkin terjadi dapat terskumulasi pada lokasi subperiosteal dan tidak tampak dibawah konjungtiva. Kehadirannya tidak mengesampingkan adanya fraktur tepi orbita. Signifikan dari emfisema ini adalah berpotensi terjadinya infeksi melalui hubungan antara sinus dan jaringan lunak. Bila terjadi. yang menunjukkan emfisema subkutan. Bila garis fraktur terjadi lateral dari jalur dan foramen infraorbital (lebih jarang terjadi) nervus infraorbitalisnya akan terselamatkan. Jika terjadi inflasi dapat dilakukan palpasi dan menimbulkan krepitasi. yang akan memproduksi sensasi “crackling” yang khas. menyebabkan udara bergerak menuju jaringan lunak wajah jika tekanan diantara sinus lebih besar daripada tekanan didalam jaringan. Hal ini tidak umum ditemukan pada fraktur zygoma. Perubahan posisi dari celah palpebra. sekitar 5070% kasus. Fraktur yang melalui dinding sinus. 259 . Emfisema ini akan menghilang secara spontan dalam 24 hari tanpa perawatan. bibir atas dan bagian lateral hidung. tetapi potensi untuk terjadinya emfisema udara konstan. Ekimosis subkonjungtiva. Ligamentum palpebra lateralis menempel pada bagian zygoma dari tepi orbita. cenderung terinflasi oleh udara karena kehilangan sifat areolar. Mungkin disertai retak yang sangat tipis melalui tepi orbita jika periosteum telah robek. 11. Perdarahan subkonjungtiva sering ditemukan pada fraktur zygoma.foramennya. 13. karena tidak adanya gangguan dari periosteum. Jaringan lunak dari daerah periorbita terutama kelopak mata. Terganggunya nervus orbitalis akan menyebabkan anestesia kelopak mata bawah. Hal ini yang paling mudah dikerjakan dengan jalan memutarkan dua jari dengan lembut diseputar jaringan.

Diplopia binokular. Karena sekat orbita menempel pada tepi infraorbita. Penting untuk membedakan antara dua jenis diplopia. menyebabkan lekukan yang menurun ke celah (kemiringan antimongoloid). Kuarngnya gerakan mata yang hampir lengkap dalam satu arah terjadi dengan pengaruh mekanis atau cedera neuromuskuler. Diplopia monocular atau kaburnya pandangan dari satu mata. dimana pupil pada bagian yang terkena terletak lebih rendah daripada normal. Diagnosa diplopia bisa sangat sulit pada tingkat awal dimana edema atau perdarahan bisa berkurang dalam beberapa hari namun terperangkapnya jaringan orbita tetap tidak berkurang. ligamentum palpebra lateralis juga tertekan. Petunjuk yang bermanfaat untuk membedakan penyebab dari diplopia adalah temuan bahwa edema yang menyeluruh dari orbita biasnya menyebabkan diplopia pada pandangan keatas dan kebawah yang ekstrim. memerlukan perhatian segera dari ahli mata. hifema atau cedera traumatik lain dari bola mata. hilangnya dukungan tulang dari isi orbita dan perubahan posisi dari kapsul tendon dan ligamentum suspensorium dari bola mata. Pada waktu zygoma mengalami perubahan posisi pada arah anterior. Adalah nama yang diberikan untuk gejala pandangan kabur. perubahan posisi inferior atau posterior dari tepi orbita inferior menyebabkan tekanan pada kelopak mata yang lebih rendah. Dapat ditentukan apakah pada fraktur terdapat isi orbita yang melalui dasar orbita dengan forced duction test. 14. yang paling banyak adalah terperangkapnya otot. hal ini biasa terjadi kira-kira 10-40% dari cedera zygoma.menghasilkan deformitas visual yang dramatis. Level pupil yang tidak sama. Forcep kecil digunakan untuk memegang tendon rektus inferior 260 . 15. sementara yang satu tertutup. Dengan adanya gangguan dasar orbita dan bagian lateralnya. Kondisi ini mungkin menyebabkan lebih banyak sklera yang terekspos di bawah iris dan tampak ektropion yang nyata. Keadaan ini tampak secra klinis berupa level pupil yang tidak sama. sehingga tampak memendek. yang sering menyertai fraktur zygoma. karena biasanya menunjukkan lepasnya lensa. Diplopia. dimana kaburnya pandangan hanya terjadi bila melihat dengan kedua mata secara bersamaan.

adalah standar untuk seluruh pasien dengan dugaan (suspect) fraktur zygomatik. Ketidakmampuan rotasi bola mata ke arah superior menunjukkan secara pasti terperangkapnya isi orbita dan paralisis yang disebabkan oleh edema atau cedera neuromuskuler. Manifestasi klinik dari enoftalmus dititikberatkan pada sulkus kelopak atas dan penyempitan fisur palpebra. Ini adalah diagnosa yang sulit dilakukan pada keadaan akut kecuali pada kondisi yang sangat berat. dan serpihan dan untuk mengevaluasi jaringan lunak orbital. Fraktur zygoma yang menunjukkan gejala enoftalmus kira-kira 5% dari seluruh kasus sebelum dilakukan perawatan. zygomaticomaksilaris. Gambaran aksial dan koronal didapat untuk menentukan pola fraktur. Tomografi Komputasi CT adalah standar emas untuk evaluasi radiografi fraktur zygomatik. Pemindaian CT pada tulang wajah.2 PEMERIKSAAN RADIOGRAFIS Diagnosa fraktur zygomatik biasanya dibuat dengan pemeriksaan riwayat dan fisik. A). 261 .3. Enoftalmus. derajat pergeseran. dan bola mata dimanipulasi melalui seluruh arah gerakan. infraorbital. Secara spesifik. pada umumnya disebabkan oleh perubahan posisi lateral dan inferior dari zygoma atau gangguan dinding orbita lateral dan inferior. 2. 16. yang menyebabkan pseudoptosis dari kelopak atas. Pada saat bengkaknya sudah hilang. pada bidang aksial dan koronal. Jika cedera zygoma sudah menyebabkan kenaikan volume orbita. dimana edema pada jaringan lunak sekitarnya selalu menimbulkan enoftalmus relatif. pemindaian CT memberikan visualisasi dan dasar-dasar dari tengkorak wajah tengah: dasar-dasar nasomaksilaris. Hal ini harus dilakukan secara rutin pada individu yang tidak bisa menggerakkan bola mata ke arah atas.melalui konjungtiva dari forniks inferior. enoftalmus akan tampak lebih nyata dan seringkali dihubungkan denga terjadinya ptosis bola mata. atau keduanya atau mengakibatkan berkurangnya volume dari isi orbita yang disebabkan oleh herniasi dari jaringan lunak orbita. dapat enoftalmus. Radiografi membantu untuk konfirmasi dan untuk dokumentasi medikolegal dan untuk menentukan perluasan cedera tulang.

dan lingkaran infraorbita (Gambar 6B). sebuah pengetahuan kerja fundamental pada teknik ini diperlukan. terlihat gambaran fraktur kompleks zygomatic dekstra. Pada banyak ruang emergensi dan rumah sakit. dan zygomaticotemporal. memberikan visualisasi sinus-sinus. terlihat gambaran zygomaticomaxillary buttress dekstra dan fraktur dasar orbital dengan herniation of orbital padamaxillary sinus. Pandangan koronal khususnya membantu dalam evaluasi fraktur dasar orbita (Gambar 6A). Hal ini memproyeksikan piramida petrosa jauh dari sinus maksilaris.1 a. C. berguna untuk mengevaluasi otototot ekstraokuler dan untuk mengevaluasi herniasi jaringan orbita kedalam sinus maksilaris. Ketika hal ini dikombinasikan dengan sebuah Water’s view yang 262 . orbita lateral. pasien trauma akan masih menjalani evaluasi radiografi film biasa. Jendela jaringan lunak. Water’s View. Submentovertex view.zygomaticofrontal. A B C GAMBAR 6. Ia adalah sebuah proyeksi posteroanterior dengan kepala yang terposisi pada sudut 27° terhadap vertikal dan dagu berada pada kaset (cassette). Waters’ view. Radiograf Biasa Pemindaian CT (CT scan) telah menggantikan film biasa untuk diagnosa dan penanganan fraktur kompleks zygomatik. A.terlihat gambaran displaced fraktur arkus zygomatikus sinistra. pada dataran koronal. B). zygomaticosphenoid. Radiograf tunggal terbaik untuk evaluasi fraktur kompleks zygomatik adalah Water’s view. Coronal CT scan. Meskipun demikian. B. Kemampuan untuk membaca dan interpretasi film-film ini menjadi diagnosa dan merawat pasien-pasien ini adalah penting.

b. c. Submentovertex View. 263 . Caldwell’s View.terangkat. Ia membantu dalam evaluasi arcus zygomatik dan proyeksi malar (Gambar 6C). Submentovertex (jug-handle) view diarahkan dari daerah submandibula ke vertex tengkorak. sebuah pandangan stereografi dari fraktur dapat terlihat. Caldwell’s view adalah sebuah proyeksi posteroanterior dengan wajah pada sudut 15o terhadap cassette. proyeksi Water’s view terbalik memberikan informasi yang sama. Pada pasien yang tidak mampu mengira-ngira posisi wajah kebawah. Penelitian ini membantu dalam evaluasi rotasi (disekitar aksis horisontal).

Pada kasus fraktur yang tidak diikuti pergeseran fragmen ( undisplaced) atau dengan pergeseran minimal tidak diperlukan intervensi bedah. Bila terjadi pergeseran fragmen maka diperlukan suatu reduksi (reposisi) dengan cara terbuka (open reduction). 3.1 TEKNIK REDUKSI A). Berbagai instrumen juga bisa digunakan dengan pendekatan ini antara lain cushing elevetor. tang ekstraksi gigi3. karena scar yang terjadi tidak terlihat. Pendekatan Vestibulum Maksila Pendekatan ini paling populer. Davies mengemukakan adanya insiden kerusakan (disruption) dasar orbita sebesar 47% pada penderita fraktur zygoma. large Kelly hemostat. pada fraktur zygoma setelah suatu tindakan reduksi. Fiksasi hanya diperlukan bila ada indikasi. Sebagian besar ahli bedah berpendapat. Pada kasus ini diantaranya diperlukan rekonstruksi dengan pemakaian implan dasar orbita atau graft untuk mendukung jaringan periorbita7. Jika tidak dilakukan intervensi bedah maka pasien sebaiknya diobservasi selama dua sampai tiga minggu dengan diet lunak7.7.BAB III PENATALAKSANAAN FRAKTUR KOMPLEK ZYGOMA Tidak semua fraktur zygoma memerlukan intervensi bedah. seperti pada fraktur communite1 Disamping itu fraktur zygoma juga sering melibatkan orbita. fiksasi tidak mutlak diperlukan. 264 . Reduksi tertutup tidak bisa dilakukan. karena kita tidak mungkin melakukan manipulasi eksternal1.

lateral. maksila bagian anterior dan buttress zigomatikomaksila mudah dicapai dengan pendekatan ini7. Fraktur infraorbital rim.3 . B). Sebelum melakukan insisi. Dingman Zygomatic Elevator atau urethral sound 1. sederhana. Pendekatan Supraorbital Eyebrow Pendekatan ini dilakukan untuk mendapatkan akses ke lateral orbital rim (daerah frontozigoma). biasanya sampai gigi molar pertama. Insisi dilakukan sepanjang 2 cm dan bisa meluas ke bawah eyebrow sesuai lokasi fraktur 7. Keuntungan dari pendekatan ini adalah scar yang terjadi tersembunyi.3. Secara estetis scar yang dihasilkan kurang tersembunyi pada pasien dengan eyebrow yang tidak meluas ke lateral dan disamping itu akses yang didapat tidak terlampau luas1. dan tangan yang lain meraba infraorbital rim dan body zigoma. operator sebaiknya meraba daerah lateral orbital rim untuk menentukan lokasi fraktur. Pada teknik ini instrumen diinsersikan pada posterior zygoma sepanjang permukaan temporal. lebih cepat dan komplikasinya sedikit 1. Alat yang digunakan Large Kelly hemostat.4.Gambar 7:reduksi melalui pendekatan vestibulum maksila2 Insisi dilakukan kira-kira 3 sampai 5 mm di atas mucogingival junction dari gigi insissivus pertama diperluas ke posterior sesuai keperluan. 265 . Instrumen digunakan untuk mengangkat zygoma ke anterior.

3. Insisi dibuat pada lipatan kulit di kelopak mata bawah dibawah level tarsus. Scar yang terbentuk didaerah ini tidak menarik perhatian1.4 D). 266 . Keuntungan dari pendekatan subtarsal ini adalah relatif mudah. Pendekatan Subtarsal Pendekatan ini paling sering dilakukan untuk mendapatkan akses ke orbital rim. Gambar 9: Pendekatan pada kelopak mata atas1. baik secara estetis dan komplikasinya minimal1. Insisi dibuat sekurang-kurangnya 10 mm di atas tepi kelopak mata.3.3 C). Insisi dilakukan pada lipatan kulit di kelopak mata atas. Pendekatan Upper Eyelid (Kelopak Mata Atas) Pendekatan ini sering juga disebut upper blepharoplasty atau pendekatan supratarsal fold.Gambar 8: Pendekatan supraorbita eyebrow (alis mata) 1. dan dasar orbita.

gunting kemudian diarahkan ke bawah kemudian dilakukan transeksi terhadap tendon chantal lateral (inferior cantholysis). 267 .4 E). Kemudian dilakukan pemisahan (undermine) palpebra konjungtiva tepat dibawah tarsus ke arah medial sampai lacrimal punctum.3. kemudian dilakukan insisi konjungtiva pada fornik dengan gunting. Setelah itu dilakukan diseksi tumpul pada orbital rim1. Dengan menarik tepi kelopak. Mula-mula dilakukan canthotomy dengan menggunakan gunting jaringan pada fisura palpebra lateral dan memotong dalam arah horizontal.Gambar 10: Pendekatan subtarsal1. Pendekatan Subkonjungtiva Pendekatan ini dapat dikombinasi dengan canthotomy lateral untuk membuka dasar orbita. bila telah sempurna kelopak mata akan jatuh bebas. Sebelum tindakan ini dilakukan pemasangan pelindung kornea (corneal shell). Salah satu ujung gunting dikeluarkan dari pocket dan dilakukan penarikan dengan retraktor.

besarnya akses ke inferior yang diperlukan. Dari lengkung zigoma. untuk keperluan ini insisi koronal dapat meluas ke lobus dari telinga7. dilakukan diseksi 268 . harus diantisipasi kemungkinan terjadinya kemunduran hairline. maka insisi ditempatkan beberapa sentimeter dibelakang hairline. Flap anterior dipisahkan dengan diseksi tumpul sampai kira kira 2 cm dari body lengkung dan zigoma. Pendekatan Koronal Pendekatan ini nampaknya radikal dalam penanganan fraktur zigoma. serta Scar yang terbentuk tidak terlihat 7. Kemudian lapisan superfisial fasia temporal diinsisi. body zigoma dan lengkung zigoma tanpa komplikasi. Pertama hairline. Insisi ditempatkan atas dua pertimbangan. Insisi dilakukan dengan menggunakan pisau no. Kedua.3 F). tapi menyediakan akses yang sangat baik ke orbita. Pada tahap ini akan ditemukan jaringan ikat longggar.A B C D Gambar 11: Pendekatan subkonjungtiva1. flap akan dengan cepat (mudah) dilepaskan perikranium. akan terlihat permulaan lengkung zigoma. Tepi insisi (anterior dan posterior) diangkat 1 sampai 2 cm untuk pemasangan klip hemostatik (Raney Clips). 10 menembus kulit. sub kutis dan galea.

3. Infraorbital rim dapat terlihat dengan memperluas diseksi dari lateral orbita ke medial1. 269 . Keuntungan dari penggunaan screw ini adalah dapat dilakukan kontrol yang lebih baik dalam mengembalikan posisi zigioma. Alat lain yang sering digunakan adalah Bone hook1. Penutupan dimulai dengan penjahitan fasia temporal. Carol-girard screw instrument yang bisa digunakan meredukasi zigoma.tumpul sampai ke lateral orbita dan lengkung zigoma.4 G). screw-nya dapat tertanam dalam zigoma pada lubang yang dibuat sebelumnya.3. kemudian penutupan scalp dengan dua lapis jahitan yaitu gelea dan kutis dengan benang 2-07. Gambar 12: Pendekatan koronal1. Pendekatan Perkutan Ini merupakan teknik yang paling sederhana dan tidak memerlukan diseksi jaringan lunak dan bisa menggunakan beberapa instrument.

3 H). Pendekatan Temporal Pada pendekatan ini dibuat insisi sepanjang 2. dianjurkan untuk memasang pada prosesus frontozigomatik. Kemudian dilakukan insisi pada fasia. insisi harus cukup dalam sampai otot temporal terlihat. Pape (1997) merekomendasikan untuk menggunakan satu atau dua mikroplate pada zigomatikomaksila buttress7.5 cm menembus kulit dan subkutis sampai terlihat warna putih yang merupakan fasia temporalis. Gambar 14 : Reduksi melalui pendekatan temporal 1 3. 270 .2 PRINSIP FIKSASI Untuk mempertahankan hasil reduksi. Setelah itu insersikan elevator diantara fasia dan otot temporal dan didorong sampai body zigoma dan mengembalikan posisinya1.Gambar 13:Reduksi melalui pendekatan perkutan 1. jika hanya memerlukan satu plate.

Meskipun pada sebagian besar kasus terdapat defisit kosmetik. telah menemukan bahwa pemulihan sensasi infraorbita yang lebih baik yang menyertai reduksi yang terbuka dan fiksasi internal pada sutura zygomatikofrontal dibandingkan dengan reduksi yang tanpa disertai dengan fiksasi. namun angka ini hanya berdasarkan pada penilaian klinis. Malunion dan asimetris Fraktur malunion dari zygoma terjadi dalam beberapa tingkat keparahan. A). Malunion yang diketahui sampai 6 minggu setelah cedera masih bisa dikoreksi. reduksi anatomis pada fraktur dapat meminimalisir tekanan saraf dan dibiarkan untuk pulih. pada penelian Vrien. tidak didapat tingkat kesembuhan yang sama pada pasien yang membutuhkan eksplorasi bagian dasar dan rekonstruksi orbita. Penelitian oleh Vriens bersama mahasiswanya dan Taicher bersama mahasiswanya. Komplikasi bisa saja terjadi pada masa awal periode postoperasi atau hanya menjadi manifestasi dikemudian hari. Sebagian besar fraktur malunion dari zygoma didapatkan karena kekeliruan untuk mengetahui keparahan dari cedera atau reduksi yang tidak stabil. menggunakan teknik reduksi zygoma rutin. Sepertinya. ahli bedah harus mengenali tanda-tanda dan gejala untuk dapat memberikan perawatan yang tepat. malposisi dari tulang bisa menyebabkan penurunan fungsi mandibula. Insidensi terjadinya asimetris bervariasi antara 3. Plate yang digunakan biasanya sebanyak 4 lubang dengan panjang 5 atau 7 mm7 3. Teknik koreksi yang terlambat meliputi uatograft 271 .3. KOMPLIKASI Walaupun komplikasi pada fraktur kompleks zygoma dan lengkung zygoma tidak umum terjadi.Pada fraktur Comminuted di infraorbital rim direkonstruksi dengan menggunakan microplate.6-27% pada seluruh fraktur komplek zigomatikomaksilaris. B). Paresthesia Infraorbita Insidensi perubahan sensoris saraf infraorbita yang menyertai trauma zygoma berkisar 18 hingga 83%. Namun.

Bagaimanapun defek yang lebih besar memerlukan reposisi kraniofasial atau penempatan tulang. Meskipun bahan aloplastik telah dianjurkan. Dengan teknologi CT-scan yang lebih baik. radius dikwadratkan dan sedikit penambahan pada radiusnya menghasilkan pertambahan volume yang drastic. Fraktur pada bagian dasar orbita juga merupakan akibat dari enophthalmos dengan pertambahan volume orbita (Gambar 15). C). Enophtahlmos Enophtahlmos merupakan satu dari beberapa komplikasi yang paling mengganggu yang menyertai fraktur-fraktur zygoma. Pada rumus ini. Secara klinis. Posisi lengkung orbita menentukan radius kerucut dan dimensi panjang anteroposterior orbita adalah tinggi dari kerucut. Untuk deformitas minor. kartilago telah terbukti lebih efektif. mungkin saja untuk dilakukan. Grant bersama mahasiswa menjelaskan permasalahan klinis ini secara jelas dengan membandingkan bentuk orbit dan bentuk kerucut. Gambar 151 272 . kontur yang dihaasilkan mungik irreguler dan potensial terjadinya migrasi dan ekstrusi dari implan tersebut sepanjang waktu. kesejajaran yang buruk dari lingkar orbita dapat menambah volume orbita secara signifikan dan menimbulkan enophthalmos.maupun homograft atau bahan-bahan aloplastik dan ostektomi zygoma. kalkulasi volume orbita dan implikasinya terkait dengan fraktur pada bagian dasar orbita. Peningkatan volume orbita merupakan etiologi yang paling umum. Volume kerucut adalah ½ ( r2)h.

Re-draping dari jaringan lunak periorbital termasuk itu canthopexy juga diperlukan. atau VI cranial. Pada tahun 2002. sedangkan fraktur murni memiliki insidensi yang tinggi. D). terjepitnya otot-otot ekstraokular dan jaringan orbita. Penyebab-penyebab utama diplopia antara lain adalah edema dan hematoma. dan grafting bisanya diperlukan. Ukuran pada kerusakan orbita dan tonjolan abnormal pada jaringan orbita juga telah diteliti.5 % insidensi diplopia. IV. Ploder bersama mahasiswa menjelaskan bahwa nilai rata-rata area fraktur sebesar 4. Pada umumnya. Pada pengamatan 2067 kasus fraktur kompleks zgoma. hematoma. CT scan pada bagian axial dan coronal serta konsultasi dengan ahli mata perlu dilakukan untuk membantu pelaksanaan evaluasi. dan kerusakan saraf III. mengakibatkan enophthalmos yang siginifikan (>2mm). atau neurogenic bisa saja diatasi 273 .08 cm atau rata-rata nilai jaringan yang bergeser sebesar 1. Ellis bersama mahasiswa mencatat sebanyak 5. Mereka mengajukan hipotesis bahwa hal ini bisa saja merusak contractility dan mengurangi terjadinya penyimpangan otot-otot. Diplopia yang berhubungan dengan edema. Penelitian histologist oleh Iliff bersama mahasiswanya telah menunjukan fibrosis post-traumatik pada otot-otot extraocular sebagai akibat kerusakan yang ditimbulkan.4 hingga 74. Insidensinya bervariasi anatar 17 dan 83% dan tergantung dari waktu timbulnya yang menyertai kerusakan dan pola serta tingkat keparahan dari kerusakan. Akses yang luas dengan oetotomy zygoma. Perawatan enophthalmos yang telat bisa dikatakan cukup menantang. reposisi. Diplopia Diplopia merupakan kondisi abnormal (sequel) pada fraktur bagian tengah wajah. pada 4 minggu. dikaitkan dengan enophtahlmos dengan ukuran lebih besar dari 2 mm.Raskin bersama mahasiswa menunjukan bahwa pertambahan sebesar 13% pada volume orbita. Fraktur kompleks zygoma non-displaced dan fraktur lengkung zygoma yang terisolir memiliki insidensi diplopia terendah.89 mL. kira-kira 1 cm3 jaringan yang bergeser sebanding dengan 1 mm enophthalmos.

Hyphema Traumatik Trauma pada mata bisa mengakibatkan perdarahan di dalam ruang anterior-area di antara kornea dan iris yang berwarna (gambar 15). Perawatan pada fraktur wajah dapat ditunda.tanpa adanya intervensi. E). ophthalmoplegia. F). Hasil akhir perawatan termasuk pula pencegahan terhadap perdarahan. Diplopia yang ditimbulkan oleh entrapment membutuhkan eksplrasi dan reduksi tonjolan abnormal pada jaringan orbita (gambar 19). Intervensi pembedahan oleh ahli mata jarang dibutuhkan. Kondisi tersebut membutuhkan perhatian khusus atau pembedahan. Konsultasi dengan ahli mata diperlukan. Keadaannya bisa saja berupa ptosis. carbonic anhydrase inhibitor. Trauma Neuropati Optik Trauma neuropati optik dapat saja bermanifestasi sebagai kondisi yang meluas dari gambaran defisit yang ringan hingga gambaran kehilangan secara keseluruhan. Penatalaksanaan medis dengan menggunakan cycloplegic topikal. Penatalaksanaan hyphema terdiri atas terapi suportif termasuk itu mengatur kemiringan bagian kepala tempat tidur dan mengobati bagian mata yang rusak. dan osmotic agent juga diperlukan. Antifibrinolitik sistemik. Proptosis juga mungkin terlihat 274 . Perawatan fraktur dapat ditunda. Perawatannya bervariasi tergantung dari penyebabnya tapi bisa saja melibatkan penggunaan steroid secara sistemik atau pembedahan dengan dekompresi saraf orbital atau optik. dan mempertahankan keadaan ocular normal. Diplopia yang menetap membutuhkan perawatan oleh ahli mata. forehead anesthesia. Sindrom Superior Orbital Fissure Sindrom orbital fissure merupakan komplikasi yang tidak umum yang menyertai trauma wajah. Konsultasi dengan ahli mata harus dilakukan. yang bisa saja terjadi pada 5-30% pasien. dan betablocker. G). dan fixed dilated pupil.

Immediate lateralcanthotomy and cantholysis were performed. B. H).fiksasi dan dilatasi pupil. steroid. pasien dengan keluhan sakit pada periorbital. Gangguan pada sirkulasi retina dapat mengakibatkan iskemi yang ireversibel dan kebutaan permanen. apabila ada. Penyebab yang paling umum terjadi adalah terkenanya zygoma pada prosesus koronoid dari mandibula.Perawatannya bisa berupa reduksi fraktur. 3 I). Ord melaporkan insidensi sebanyak 0. proptosis.03% pada perdarahan retrobular posoperatif disertai dengan kehilangan penglihatan. Perdarahan retrobulbar Perdarahan pada retrobular jarang terjadi namun merupakan komplikasi yang parah yang dapat mengakibatkan kerusakan awal atau koreksi operatif. Konsultasi sesegera mungkin dengan ahli mata diperlukan. Gambar 16 A. Pengamatan pada 1405 kasus fraktur orbita. eksplorasi apeks orbital dan aspirasi hematoma retrobular. Trismus juga bisa terjadi secara sekunder akibat ankilosis fibrosis atau fibrooseus dari koronoid pada arkus zygoma. dan akut progressiveloss of vision dengan hyphema. namun dekompresi dengan canthotomy lateral dan cantholysis sebaiknya tidak ditunda ( gambar 16). A. Trismus Berkurangnya gerakan mandibula mungkin merupakan komplikasi yang merugikan dari fraktur zygoma. Terkenanya zygoma atau arkus zygoma atau koronoidektomi mungkin diperlukan untuk memulihkan gerakan normal dari mandibula 275 . Retrobulbar hemorrhage.

276 .

temporal perkutan dan 277 .BAB IV KESIMPULAN Perawatan fraktur zygoma memerlukan tindakan bedah bila tidak ada pergeseran fragmen atau pergeseran minimal. Setelah tindakan reduksi terbuka tidak selalu diperlukan fikasasi. Bila terjadi pergeseran fragmen diperlukan tindakan reduksi terbuka. Untuk tindakan reduksi dapat dilakukan pendekatan supra eyebrow (alis mata). sub konjungtiva. subtarsal. kecuali atas indikasi seperti fraktur cumminuted. koronal. kelopak mata atas.

Atlas of Craniomaxillofacial Osteosynthesis. Churchill Livingstone. 2004 7. Anatomy of The Human Body : The Zygomatic Bone. David D. Feb 2005 no 1 tahun IX hal 41-50. 1999. Ellis E. Indonesian journal of oral and maxillofacial surgeons.Vol 1. Hamilton. Elsevier Saunders. contemporary oral and maxillofacial surgery. Craniomaxillofacial Trauma. McDonald WS. New York. et. 2003 5. Management of Zygomatic Complex Fractures. Facial Trauma. Fonseca. 6. et al.. R. Thieme. Third Ed. Philadelphia. Goldwasser MS. 1th ed. 2004.bartleby. 3. Gray H. Peterson’s principles of Oral and Maxillofacial Surgery 2nd. Ochs MW. London : BC Decker Inc. Oral and Maxillofacial Trauma.DAFTAR PUSTAKA 1. 3rd Ed. Bailey JS. All. 2005. 9. St louis: mosby co. Thaller SR. London 8. Oral and Maxillofacial Trauma. 2010. New York : Marcel Dekker. 4. Tucker MR. WB Saunders Co. Dalam : Miloro M et al. Management of facial fractures.html 278 .. F. 2005. Harle. Penanganan fraktur arkus dan kompleks zigomatikus. Prasetiyono A. Dalam : Peterson et al.J.J.com/107/40. 2. 1995.. 1th ed. Available at : http:// www.

10. 279 . CT scan dilakukan dengan potongan yang tipis. setiap 1. Kata kunci : Fraktur palatal. alveolar maksila. Fraktur palatal biasanya berhubungan dengan fraktur midfasial atau panfacial.5mm. Gejala klinis fraktur ini antara lain seperti ekimosis palatal pada fraktur tertutup dan laserasi pada bibir atas atau mukosa palatal. kehilangan gigi incisivus. menunjukkan fraktur dengan jelas. FRAKTUR PALATAL Leidya Valentina Elizabeth 160121120009 Peserta Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut Dan Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Bandung Abstrak : Fraktur palatal jarang ditemukan sebagai diagnosis tunggal pada pasien dengan trauma kraniofasial.2%). atau disruption pada hubungan oklusi pada fraktur dislokasi.0 sampai 1. dan berhubungan dengan fraktur Le Fort (8-13.

Fraktur tidak stabil ini seringkali ditemukan pada pasien trauma maksilofacial. Pilihan perawatan untuk fraktur palatal meliputi braket ortodontik. Sering kali fraktur palatal dihubungkan dengan fraktur midfasial lainnya. arch bar acylated. kehilangan relasi oklusal karena dislokasi fraktur. kehilangan gigi insisivus. dan arch bar untuk fiksasi maxillomandibular untuk fiksasi internal. setiap 1. 280 .5mm.BAB I PENDAHULUAN Fraktur palatal memberikan tantangan unik untuk keterampilan bedah dalam penanganan fraktur midfasial. Fraktur palatal jarang sebagai diagnosa tunggal pada pasien dengan trauma kraniofasial. menunjukkan fraktur dengan jelas. dengan plate dan screw yang dipasang dibawah mukosa palatal dan periosteum. pendekatan tahap operasi diperlukan untuk setiap kelas fraktur palatal3. Tanda klinis fraktur ini antara lain palatal eccymosis pada fraktur tertutup dan laserasi bibir atas atau mukosa palatal.2% berhubungan dengan kasus fraktur Le Fort. bersama dengan apertura pyriform atau plating alveolar serta rekonstruksi pilarpilar pada fraktur Le Fort. dan dilaporkan sebanyak 8-13. CT scan dilakukan dengan potongan yang tipis. Untuk memastikan stabilisasi post operasi yang tepat dan restorasi oklusi sebelum cedera. Fraktur palatal ditemukan pada 8% fraktur Lefort dan jarang ditemukan sebagai fraktur palatal sendiri. Biasanya berhubungan dengan fraktur midfasial atau panfasial.0 sampai 1.

Pada lebih dari 65% penderita fraktur palatal. 2. namun menjadi lebih tebal ke arah alveolus. palatum keras relatif tipis pada regio sagital dan parasagital. Foramen terdapat dekat midline palatum dari arah anterior (dibelakang insisivus mesial) dan jauh ke arah posterior (dekat gigi molar). Palatum terbentuk dari dua tulang yang bersatu: palatum pada bagian maksila dan bagian horizontal palatum. hampir pada semua trauma center dilengkapi dengan peralatan CT Scanner yang sangat akurat. dimana beberapa kasus fraktur palatal dapat terdiagnosa (Gambar 1a). Periosteum lebih melekat kuat pada membran mukosa di dalam kavitas oral dibandingkan dengan tulang palatal. Pada hampir semua pasien yang menderita fraktur palatal. Hampir semua segmen fraktur palatal mengalami pergeseran 281 . dengan 45% pasien menderita disruption mukosa palatal dan gingival (Gambar1b). Tanpa memperhatikan crest pada midline. keduanya dikenal sebagai mukoperiosteum. Peralatan ini sangat penting terutama untuk mendiagnosa fraktur yang tidak memberikan tanda klinis yang jelas. Adanya perubahan oklusi maksila mandibula merupakan tanda yang dapat ditemui juga. Pada area alveolus. akan memberikan tanda dan gejala yang jelas. Lebar dan dalam palatum keras serta lebar dan panjang mandibula menunjukkan bangunan tiga dimensi sepertiga wajah bagian bawah.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. Tebal rata-rata palatal adalah 4. ketebalannya antara 12 sampai 14 mm.5 mm. Foramina berukuran sangat kecil dan berfungsi untuk mengimbangi struktur palatum secara keseluruhan.2 DIAGNOSA Saat ini. Tulang palatal lebih tebal pada bagian anterior dan berangsur menipis ketika mendekati palatum lunak. pasien menderita laserasi bibir.1 ANATOMI TULANG PALATUM Palatum durum terbentuk diantara tujuh tulang pilar kraniomaksilofasial.

baik ke arah anterior dan lateral. meliputi gigi incisivus beserta daerah alveolusnya. Type Ib : Posterolateral. molar beserta alveolusnya. 282 . Type I : Fraktur Alveolar (2 type) Type Ia : alveolus anterior.3 KLASIFIKASI FRAKTUR PALATAL Fraktur palatal dibedakan berdasarkan hubungan palatal dengan alveolus maksila. karena penderita dapat mengalami fraktur mandibula juga yang mana dapat mengaburkan diagnosa. Ahli bedah harus berhati-hati dalam menentukan oklusi pada penderita fraktur palatal. gigi dan midline palatal3. Gambar 1.a) CT-scan b) Klinis fraktur palatal1 2. meliputi gigi premolar.

Fraktur pada daerah ini berbeda dengan type Ib sebab selain daerah premolar dan molar .a) Tipe Ia b) Tipe Ib2 b). a) Gambar 3.a) Tipe II b) Tipe III 2 b) Type IV : Fraktur paraalveolar Terjadi dari arah palatal menuju alveolaris maksila dan berisi gigi-gigi insisivus.a) Gambar 2. mmhg Type III : Fraktur Parasagital Paling sering ditemui pada dewasa (63%) sebab tulang yang tipis berada di daerah parasagital. Type II : Fraktur Sagital Fraktur type II terjadi pada daerah midline dari palatum. daerah kaninus juga ikut terlibat. 283 . Type ini paling sering ditemukan pada dekade ke 2 dan ke 3 sebab garis tengah palatum belum terlalu mengeras.

a) b) Gambar 4.Type V : Fraktur compleks/ Comminuted Fraktur yang besar multiple. membelah maksila pada dataran koronal. ke arah oblik atau comminuted fraktur kasar.a) Tipe IV b) Tipe V c) Tipe VI 2 c) 284 . Type VI : Fraktur Transversal Fraktur palatal yang paling jarang terjadi.

IV dan VI dirawat dengan pendekatan perbagian secara urut untuk mengurangi kesalahan penyatuan segmen-segmen fraktur. pasien bisa dipasangi fiksasi intermaksiler sementara. Kemungkinan perawatan yang bisa dilakukan adalah: kombinasi fiksasi internal. Setelah fikasi intermaksiler dilepas. Reduksi dimulai dengan aplikasi arch bar maksila untuk memasang tension band melewati segmen alveolus maksila. Kedua cara perawatan ini bisa didukung dengan pemakaian mini plate atau mikroplate menggunakan insisi gingival standar untuk Le Fort I. Saat menggunakan fiksasi internal yang rigid. dan hubungannya dengan fraktur pada maksila dan mandibula. keadaan gigi geligi. Pendekatan bedah meliputi laserasi atau insisi longitudinal pada palatal untuk mempertahankan suplai darah pada segmen palatal. Fraktur tipe Ib bisa dirawat menggunakan arch bar pada pertemuan segmen fraktur yang terbuka di belakang pilar zygomaticomaxillary untuk menfasilitasi reduksi terbuka dengan fiksasi internal. pemakaian arch bar. Fraktur palatal tipe Ia bisa dirawat menggunakan Erich bar segmental atau menggunakan braket ortodontik tanpa fiksasi intermaksiler. Fraktur palatal tipe II. Untuk memastikan penyatuan awal. tekanan ke arah mesial menggunakan jari untuk mendapatkan lebar lengkung dan batas oklusal.BAB III PEMBAHASAN Perawatan bedah pada fraktur palatal dimulai dengan identifikasi secara spesifik tipe fraktur. Oklusi harus didapatkan sebelum merawat fraktur ini. Dianjurkan untuk melakukan fiksasi intermaksiler selama dua atau empat minggu. supaya penyatuan awal dapat dilakukan. Ketika segmen yang fraktur terlihat. dan palatal acrylic splint pada fraktur kompleks. III. perhatian dilanjutkan pada fiksasi internal rigid pada daerah palatal yang fraktur. paling tidak dua plate digunakan 9 satu anterior dan satunya lagi diposterior) untuk 285 .

Model gigi diambil dari pasien untuk membuat model pembedahan di laboratorium dan membuat splint palatal. Acrylic splint2 Fraktur palatal tipe V membutuhkan aplikasi palatal splint akrilik untuk perawatan. insisi vestibular standar untuk Le Fort I. Persiapan yang optimal diperlukan pada saat memperbaiki palatum yang fraktur comminuted. insisi vertikal ginggiva kemungkinan perlu dilakukan. fiksasi intermaksilari dipasang kembali untuk mempersiapkan fiksasi internal rigid pada segmen piriformis dan ridge alveolar. Setelah aplikasi fiksasi rigid dan penutupan insisi. 286 . Rekonstruksi secara bedah dilakukan setelah semua stabilisasi dilakukan dan stabilisasi oklusi sudah dipastikan. dan jika suplai darah menjadi perhatian. Direkomendasikan untuk memasang fiksasi intermaksiler selama 2 sampai 4 minggu diikuti dengan elastic guidance dan diet lunak sampai dilepas. menghasilkan lebar lengkung daripada yang direncanakan. Fraktur comminuted pada palatum sebaiknya dirawat dengan pendekatan tertutup (close reduction) dimana suplai darah pada segmen fraktur tidak dapat dikompromikan. Pemasangan plate dilakukan di regio piriformis dan sepanjang basis pilar zygomaticomaksilaris. Gambar 5.menghindari terjadinya pergerakan segmen fraktur ke arah posterior. Pendekatan bedah meliputi laserasi.

Bisa juga diaplikasikan circumdental wire dengan atau tanpa menggunakan arch bar.Splint sebaiknya tidak diperlebar secara interoklusal diantara mandibula dan maksila. 287 .

keadaan gigi geligi. pemakaian arch bar. 288 . dan hubungannya dengan fraktur pada maksila dan mandibula. Kemungkinan perawatan yang bisa dilakukan adalah: kombinasi fiksasi internal. Sering kali fraktur palatal dihubungkan dengan fraktur midfasial lainnya. Fraktur tidak stabil ini seringkali ditemukan pada pasien trauma maksilofacial. dan palatal acrylic splint pada fraktur kompleks.BAB IV KESIMPULAN Fraktur palatal memberikan tantangan unik untuk keterampilan bedah dalam penanganan fraktur midfasial. Perawatan bedah pada fraktur palatal dimulai dengan identifikasi secara spesifik tipe fraktur.

Ellis E.Vol 1. 3. St Louis : Elseviere 289 . 2. Facial Trauma. Vol 2nd. 3rd Ed. Elsevier Saunders. Thaller SR. 2004. Oral and Maxillofacial Trauma.DAFTAR PUSTAKA 1. 2005. Oral and Maxillofacial Trauma. Fonseca et al. New York : Marcel Dekker. McDonald WS.2005.

Fraktur Nasal dan Kompleks Orbita Susanti Bulan 160121120004 Peserta Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut Dan Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Abstrak: Cedera pada nasal. Hasil yang baik akan tercapai dengan penguasaan anatomi yang baik. Hal ini menjadi penting karena terdapat lacrimal apparatus. medial chantal ligament. orbita 290 . Sehingga memudahkan doktergigi jika mendapatkan kasus-kasus kegawatdaruratan Kata Kunci: fraktur. perawatan yang dilakukan sedini mungkin dan proses rekonstruksi yang hati-hati. orbita dan ethmoid menjadi suatu tantangan baru baik dari cara mendiagnosa maupun rekonstruksinya pada perawatan setelah trauma. nasal. dan arteri ethmoidal di daerah tersebut. Maksud dari penulisan makalah ini adalah untuk memberikan gambaran mengenai fraktur nasal dan kompleks orbita serta perawatannya.

Insidensi umur dari pasien adalah 31 tahun. Perluasan disrupsi struktur nasal sehubungan dengan arah dan derajat kekuatan trauma sering kurang diperhitungkan.BAB I PENDAHULUAN Hidung terdiri dari tulang. Pada penelitian yang dilakukan Cruse dari 182 kasus trauma fasial kirakira 18% adalah fraktur nasal dan kompleks orbita. Rontgen film biasa sulit menggambarkan derajat keparahan dan lokasi dimana cedera itu terjadi. kita dapat memutuskan pilihan perawatan mana yang akan dilakukan. Kemudian hidung dirawat dengan cara sederhana dan hasil akhirnya mungkin jauh dari yang diharapkan. Dengan mengetahui hubungan sebab dan akibat antara keparahan trauma dan derajat deformitas. Hal ini terjadi karena pada 291 . dan lebih penting lagi perawatan mana yang paling baik untuk pasien sesuai dengan traumanya2. fraktur nasal paling sering terjadi pada struktur tulang fasial dan menurut Schroeder. Fraktur nasal sering kali dirawat dengan penilaian preoperative yang tidak adekuat. Perawatan fraktur nasal telah menjadi subjek dalam dunia kedokteran sejak zaman Yunani. Untuk mendiagnosa fraktur didaerah ini biasanya ditentukan melalui pemeriksaan CT-Scan. meskipun pada mulanya tampak cukup baik4. Fungsinya sebagai saluran udara ke saluran pernapasan bawah dan paru-paru. jaringan lunak dan kartilago. Sebanyak 51% mengalami cedera pada central nervous system dimana 42% nya mengalami keluarnya cairan cerebrospinal2. 50 % fraktur pada tulang fasial terpisah dari piramid nasal. Menurut Christian. Fraktur tulang nasal dapat bervariasi tergantung arah dan kekuatan yang mengenainya1. dasar filosofi perawatan adalah reduksi fraktur dengan mengembalikan pada bentuk dan fungsi yang normal. Kecelakaan kendaraan bermotor sebanyak 70% dan 63% mengalami cedera pada bagian lain yang cukup parah. Selama berabad-abad.

gambaran rontgen dapat terjadi overlapping struktur-struktur tulang di daerah tersebut2. Pada makalah ini akan dibahas dan diharapkan dengan mengetahui kekuatan trauma. dengan kombinasi dengan pilihan perbaikan dan penilaian keputusan yang baik. maka ahli bedah dapat membuat diagnosis yang benar dan memilih rencana perawatan yang tepat untuk pasien. 292 .

Rekonstruksi pada daerah ini dilakukan secara hati-hati dan memerlukan kontrol terhadap volume orbita. tulang lakrimal. Hidung adalah suatu struktur midline sentral fasial yang mempunyai unsur kosmetik dan fungsional. orbita. Jika ada trauma maka dapat timbul cerebropinal fluid rhinorhea. pneumocephalus. dan cedera pada saraf olfaktori. sehingga mata. dan processus maksilaris. Fungsi estetiknya memberikan keseimbangan. enophtalmos dan disfungsi dari sisem lakrimal.1. 293 . ANATOMI Daerah hidung dan Hidung-Mata-ethmoid disusun oleh cranium. dan mulut memberikan keindahan wajah. Rekonstruksi yang dilakukan satu-persatu akan mendapatkankan hasil yang maksimal. Secara fungsional. Tulang hidung dekat dengan bagian anterior dari tulang orbita dan berhubungan dengan tulang frontal. Daerah ini merupakan perlekatan dari medial chantal tendon yaitu processus frontalis dan tulang lakrimal. Daerah posterior dari kompleks nasal berhubungan dengan sinus ethmoidalis dan terletak ditengah dan dapat dengan mudah terkena trauma karena posisinya yang berdekatan dengan cribiform plate. tulang maksila. hidung merupakan jalan masuk respirasi nasal manusia pada keadaan normal3. dan kesimetrisannya adalah penting dalam membentuk simetris wajah. Sehingga penting diperhatikan pada saat rekonstruksi untuk mencegah telechantus. Tidak jarang pada cedera yang parah dapat menyebabkan komplikasi intrakranial2 . hidung membantu membentuk central frame wajah.BAB II TINJAUAN PUSTAKA II. Secara kosmetik. pipi.

Nasal5 Gambar 2: Permukaan dan struktur anatomi hidung 3 294 . Maksilla Gambar 1: Anatomi Cranium dan os.(1) os nasale (2) os.

dengan plat tegak lurus dari dukungan ethmoid pada garis tengah seperti sebuah tenda. tulang hidung bersatu untuk membentuk suatu tenda “pup tent”. yaitu tulang dan kartilago. ULCs mempunyai perlekatan jaringan lunak pada jaringan fibrofatty dari alae nasal dan lateral hidung. Pasangan LLCs mempunyai medial crus yang berjalan lateral dari LLCs yang berjalan dari lateral ke kartilago septum caudal. oleh karena itu bagian hidung ini harus dipertimbangkan sebagai tripod. dan melekat pada bagian atas kartilago lateral hidung. dan suatu cartilage terdapat pada beberapa daerah pada jaringan lunak. satu septum cartilage midline. Lateral krus dari LLCs dapat dibagi atas menjadi daerah puncak 295 . dua pasang kartilago bagian bawah ( lower lateral cartilages) (LLCs)). disebut dengan kolumela. Pada midline. berturut-turut untuk tulang nasal. dan cartilago adalah setengah bagian bawah. dan berinterdigitasi dengan tulang frontal dan tipis pada bagian inferior. Pasangan kartilago lateral bawah. Anastomosis tulang sepanjang garis sutura antara ketiga tulang adalah rigid. triangular sections dari cartilage hyaline yang melekat secara kuat ke superior pada tepi inferior dari tulang hidung oleh jaringan fibros konektif yang kuat. kedua ULCs melekat secara kuat satu dengan yang lainnya dan kartilago kwadrangular dari septum nasal anterior. hidung dibentuk oleh gabungan antara tulang pendukung yang fleksibel dan rigid. Cartilaginous hidung dibentuk kombinasi dari dua pasang kartilago lateral atas (upper lateral cartilages) (ULCs)). Walaupun penyatuan ini tidak kontinius. oleh karena itu adanya obstruksi pada hidung diduga telah terjadi kelainan3. Secara anatomi. Hubungan ini tidak tepi dengan tepi tetapi overlapping. Tulang hidung sendiri adalah rata (flat). Secara lateral.Pernapasan mulut adalah merupakan tanda terjadinya kelainan pada saluran pernapasan atas (upper airway). penyatuan fibrous ini sangat kuat. dan struktur supporting ini lebih tebal dan lebih kuat dari tulang hidung sendiri. Tulang hidung adalah setengah bagian puncak. berbentuk lembaran empat persegi panjang (rectangle) yang menebal pada bagian superior. Prosesus nasalis tulang frontal dan maksila menyebabkan adanya support dari superior dan lateral. flat. jadi tulang hidung berbentuk tripod3. dengan tulang nasal yang berada dibawah ULCs. Pada midline.

Dinding medial dari dua orbit terpisah oleh sinus ethmoidal dan bagian atas dari rongga hidung yang paralel. Kartilago yang berjalan sepanjang margin inferior lateral LLC. otot dan kulit. Otot pada hidung adalah otot depressor septi. yang akan membantu menjaga terjadinya rotasi ke posterior dari septum dan kehilangan dukungan puncak hidung. dan pada segmen lateral. kulit yang menutupi hidung berubah menjadi membran mukos. dan procerous-kontribusi pada kumpulan jaringan lunak hidung dan hanya mempunyai sedikit fungsi pada pergerakan fasial atau respirasi. dan mengandung kelenjar keringat yang semakin meningkat jika kulit semakin tebal. yang membatasi orbit bagian anterior. M. yang mendukung alae nasal dan berfungsi untuk menjaga terjadinya kolaps selama fungsi inspirasi. Kulit hidung sangat bervariasi ketebalannya. membentuk mucocutaneous junction3. tetapi ini tidak sekuat perlekatan pada ULCs dengan septal. Pada daerah midline terdapat perlekatan fibrous antara struktur yang membantu membentuk puncak hidung. Sehingga. Pada bagian dalam hidung anterior. mengontrol pembukaan bola mata anterior. Yang terdiri atas : 1. axis dari orbit divergen kira-kira 45 derajat. dimana ini disebut sebagai ukuran dan besar puncak hidung. sedangkan dinding lateralnya hampir memnbentuk sudut 40 derajat.medial. Jaringan yang menutupi tulang dan kartilago ini adalah jaringan lunak dan mukosa bagian dalam. dimana kartilagenous hidung ini lebih tebal dan lebih melekat pada struktur di bawahnya. Ujung kaudal inferior dari kartilago septum nasal dilekatkan oleh pita jaringan fibrous pada spina nasalis anterior maksila. Orbit merupakan kavitas tulang yang terbentuk oleh tulang fasial yang menyerupai rongga pyramid quadrangular dengan dasar berada dalam arah anterolaterally dan apeksnya dalam arah posteromedially. Orbit memiliki kandungan yang melindungi bola mata serta sruktur visual tambahan yang terdiri atas : Kelopak mata. Levator palpebrae superioris 296 . Kulit dan jaringan subkutan pada tulang hidung tipis dan mobil. Muskulus ekstraokular yang memposisikan bola mata dan menaikkan kelopak mata superior.

dinding supeior 297 .2.obliqus . Dekat dengan apeks dari orbit. Empat m.Rectus inf.rectus yang terdiri atas superior. Membran mukous (konjungtiva) melapisi kelopak mata dan aspek anterior dari bola mata dan aparatus lacimal yang melubrikasinya. M.Rectus sup. Bentuk pyramid dari orbit memiliki dasar.Obliqus med Chiasma opticus M.Rectus lateralis M. M. Tulang membentuk tepi orbita yang memperkuat proteksi kandungan orbita dan memberikan perlekatan untuk septum orbita. medialis. Dinding superior (atap orbita) diperkirakan berbentuk horizontal dan terutama dibentuk oleh frontal bone. yang memisahkan rongga orbita dari fossa cranial anterior. Gambar : Mata tampak lateral Gambar 3: Otot-Otot Mata 5 Gambar : Mata tampak coronal Tidak semuannya ruang di dalam orbit ditempati oleh struktur yang berisi lemak orbita. M. Dasar orbita dibatasi oleh margin orbita yang mengelilingi orbital opening. Dua otot oblik yang terdiri atas obliqus superior dan inferior Nervus dan pembuluh darah yang melewati bola mata dan muskulus. inferior dan lateral 3. empat dinding dan suatu apeks. suatu lapisan fibrous terputus yang meluas ke dalam kelopak mata.inf. sehingga orbit ini tersusun oleh matriks dimana struktur dari orbit melekat.

dibentuk oleh tulang sphenoid. Dan dibagian anterolateral suatu lekukan pada bagian orbita yang disebut fossa lacrimal. Dinding medial yang posisinya kontralateral dari orbit yang paralel dan terbentuk oleh tulang ethmoid, yang berhubungan dengan tulang lacrimale, sphenoid dan frontal. Dibagian anterior Dinding inferior (dasar orbita), dibentuk terutama oleh tulang maksila dan sebagian tersusun oleh zygoma dan tulang palatina. Dinding inferior yang tipis dibentuk oleh orbit dan sinus maksilaris. Dinding lateral dibentuk oleh prosessus frontalis dari tulang zygomatik dan sayap terbesar dari tulang sphenoid. Ini merupakan dinding yang terkuat dan paling tebal. Ini sangat penting karena daerah ini sangat terbuka dan berpotensi mengalami trauma secara langsung. Bagian posterior dipisahkan orbit dari temporal dan pertengahan fossa cranial. Apeks orbit merupakan suatu canal optik pada sayap tulang sphenoid yang kecil, dibagian medial dari fissure orbital superior. (Moore LK,)

Sphenoid Zygoma

Frontal

Frontal

Gambar : Kavitas

Maksila

Orbita

Gambar 4: Anatomi Kavitas Orbita5

II.2 DEFINISI Fraktur nasal adalah terjadinya kerusakan pada tulang di sekitar pangkal hidung, biasanya disebabkan oleh adanya trauma tumpul dan merupakan fraktur tulang daerah fasial yang paling sering. Trauma yang serius pada hidung dapat menyebabkan masalah yang memerlukan perhatian segera. Tetapi pada trauma

298

hidung yang tidak terlalu berat, perlu diperhatikan lebih baik lagi setelah pembengkakan mereda untuk mengevaluasi efek perluasan trauma. Trauma nasal didefinisikan sebagai adanya trauma pada hidung atau hal lain yang dapat menyebabkan terjadinya deformitas, gangguan pernapasan melalui hidung karena adanya obstruksi, atau adanya gangguan penciuman ( olfaction).

Fraktur orbita biasanya tampak bersamaan dengan trauma midfacal. Tingkat keparahan fraktur mulai dari fraktur yang pergeserannya minimal pada suatu dinding yang terbatas yang tidak membutuhkan intervensi bedah sampai dengan kerusakan yang parah dari orbit. Fraktur orbita mungkin di jelaskan

dengan pertimbangan hubungan anatomi, berikut ini : 1. Fraktur dapat terbatas pada tulang orbital internal. Jenis ini termasuk blow-out dan blow-in, seperti yang tampak pada fraktur pada dasar orbita, dinding medial, dan atap orbita. Fraktur blow out dapat dibagi mengikuti berbagai macam fraktur : Fraktur trapdoor yang disebabkan oleh kekuatan yang ringan. Fraktur medial blow-out yang disebabkan kekuatan menengah. Fraktur lateral blow-out yang sebabkan oleh kekuatan yang tinggi.

2. Fraktur mungkin melibatkan rim orbital. Suatu fraktur rim superior, inferior, dan lateral mungkin sebagai suatu luka yang terbatas, atau ini mungkin berbatasan dengan fraktur dinding internal. 3. Fraktur yang hubungkan dengan fraktur lain pada skeleton facial.

Keterlibatan orbit pada berbagai bentuk fraktur fasial, termasuk zygomaticomaxillary (ZMC), naso-orbito-ethmoid (NOE), sinus frontal, Le Fort II,dan Le Fort III. 4. Fraktur apeks orbita adalah penting untuk diidentifikasi karena ini berhubungan dengan kerusakan pada struktur neurovaskuler dari fissura orbita superior dan kanal optik. Trauma fasial kebanyakan diakibatkan oleh kecelakaan kendaraan bermotor, kecelakaan industri, fasial trauma yang berhubungan dengan olah raga, dan kekerasan. Kecelakaan kendaraan bermotor, khususnya yang tidak

299

menggunakan seatbelt, merupakan kejadian yang paling banyak mengakibatkan trauma maksilofasial, yang ditunjukkan pada sebagian besar negara berkembang. Penatalaksanaan trauma orbita dan fraktur bertujuan untuk meminimalisir dan mencegah kerusakan awal dan lanjutan serta komplikasinya. Tujuan dari intervensi adalah untuk mencegah hilangnya penglihatan dan meminimalisir masalah lebih lanjut, seperti diplopia yang persisten dan malposisi bola mata.

II.3 KLASIFIKASI Pola kerusakan dan perluasan displacement struktur nasal jika terjadi fraktur adalah tergantung pada arah dan derajat kekuatan yang terjadi. Pada tahun 1468, Rowe dan Killey menggambarkan trauma yang terjadi pada nasal dari arah lateral dan anterior. Ini merupakan dasar klasifikasi trauma tulang nasal yang dibuat oleh Stranc dan Robertson (1474). Tetapi kemudian mereka membagi fraktur akibat benturan atas tiga tingkatan trauma dimana peningkatan keparahan merupakan cermin peningkatan kekuatan trauma. Bidang satu, trauma tidak meluas berdasar suatu garis pertemuan tepi bawah tulang nasal ke spina nasalis anterior; bidang dua, trauma terbatas pada daerah hidung eksternal dan tidak mengenai orbital rim; bidang tiga, trauma lebih serius, oleh karena meliputi orbita dan kemungkinan juga struktur intra cranial, biasanya berhubungan dengan trauma pada nasoethmoid serta diagnosa dan perawatannya juga lebih komprehensif 4.

300

Gambar 5: A dan B menunjukkan peningkatan derajat trauma dengan peningkatan daya yang mengenai hidung5

Pada tahun 1486, Murray dan Maran mengemukakan suatu klasifikasi pathologi dari fraktur nasal yang diteliti pada lebih dari lima puluh cadaver. Mereka menemukan tujuh pola yang berbeda dari fraktur nasal dengan berbagai macam derajat keterlibatan septum. Mereka menyimpulkan bahwa kerusakan septum juga berhubungan dengan fraktur nasal. Pada keadaan klinis mereka menetapkan bahwa, jika hidung mengalami deviasi lebih dari setengah kali dari lebar aslinya, tulang akan mengalami deviasi kembali setelah dilakukan manipulasi hanya pada tulang nasal saja4. Klasifikasi dari fraktur orbita adalah: 1. blow out fracture, dibagi menjadi: 1. pure blow out – orbital rim intak 2. impure blow out – terjadi fraktur pada orbital rim 2. fraktur blow in Fraktur dasar orbita blow out merupakan trauma dari tepi orbita atau jaringan lunak di sekitar orbita, fraktur ini disebabkan oleh peningkatan tekanan

301

intra-orbital secara akut yang menekan dinding-dinding orbita. Fraktur dasar orbita blow out dapat timbul bersamaan dengan fraktur dinding medial atau orbita rim.1,2

Gambar 6: Fraktur Blow in dan Blow out 1,2

Klasifikasi fraktur Nasal-Orbit-ethmoid (2) Type I : Klasifikasi yang paling sederhana, hamya melibatkan satu bagian dari nasal-orbita ethmoid yaitu bagian medial orbital rim. Type II : daerah yang terkena lebih luas atau comminuted fraktur Type III: daerah yang terkena luas termasuk bagian tengah dari central fragmen dimana medial canthal tendon melekat, terjadi avulsi dari canthus

302

Gambar 7: Fraktur Nasal, ethmoid4

II.4 PENYEBAB DAN GEJALA KLINIS Penyebab terbanyak adalah trauma kecelakaan kendaraan bermotor, trauma karena olah raga, berkelahi, kecelakaan pekerjaan, aktivitas yang berlebihan, dan terjatuh adalah yang paling sering terjadi pada anak-anak1. Gejala klinis dapat meliputi rasa sakit, pembengkakan, obstruksi pernapasan, epistaksis, krepitasi, septal hematoma, rhinitis, dan stenosis nasal vestibular1. Kebanyakan penderita yang mengalami trauma dasar orbita blow out mempunyai gambaran sebagai berikut : 1. Berkurangnya kemampuan visual. 2. Blepharoptosis. 3. Diplopia binocular vertical atau oblik. 4. Hyperthesia ipsilateral, dysesthesia atau hyperalgesia sesuai dengan distribusi n. infraorbitalis.

303

5. Epistaksis 6. Pembengkakan pada kelopak mata setelah meniupkan udara ke hidung 7. Edema dan ecchymosis periorbita yang disertai dengan rasa sakit merupakan gejala dan tanda eksternal. 8. Enophtalmos mungkin juga terlihat tapi awalnya terjadi

pembengkakan jaringan disekelilingnya. Pembengkakan juga akan membatasi gerak otot ekstraokuler 9. Proptosis juga bisa terjadi dari perdarahan retrobulbar atau peribulbar. 10. Tenderness pada saat palpasi orbita, juga dapat merasakan step pada tulang orbital rim. Pemeriksaan bola mata sangat penting dan mungkin sulit karena adanya edema pada jaringan lunak. Untuk ini diperlukan set desmares retractor. Jika terjadi disfungsi pupil, ditandai dengan menurunnya kemampuan visual, harus diwaspadai terhadap kemungkinan terjadinya neuropathy optikus traumatik. 4 Mata dengan kesejajaran yang tidak sama dapat juga terjadi, hipotropia atau hipertropia serta terbatasnya kemampuan menarik mata ke atas. Wilkin dan Havin melaporkan 30 % terjadi insidensi bola mata yang ruptur bersamaan dengan fraktur orbita, kenyataan ini mengingatkan betapa perlunya pemeriksaan opthalmologis yang menyeluruh dan kompleks. 1 Gambaran klinik dari fraktur blow in terutama berhubungan dengan pengurangan volume pada rongga orbita.4 1. Proptosis (exopthalmus) adalah protrusi atau majunya bola mata (okuli) yang abnormal. Umumnya terjadi di awal kejadian, bersama dengan hematom dan pembengkakan dari jaringan orbita

304

divisi inferior darinervus kranial III dan vena ophtalmicus. 5. IV dan VI. nervus kranial IV. Sindrom fissure orbital superior. Gejalanya adalah hilangnya sensasi pada dahi yang diakibatkan oleh cabang frontal dari nervus V.Gambar 8:. nervus nasomaksilaris. dan terbendungnya suplai parasimpatik yang dibawa oleh nervus III. vena ophtalmic superior. Adanya hematoma. disebabkan oleh lesi yang diakibatkan oleh trauma. nervus kranial III (cabang suerior). Diplopia (double vision). lateral dan atap orbita. 4. Tidak adanya refleks dan akomodasi terhadap sinar langsung karena terbendungnya aliran efferen oleh paralisis dari mengakibatkan ruptur bola 305 . merupakan gejala umum dan berhubungan dengan fraktur pada dinding medial. nervus kranial VI. dasar. Hilangnya refleks kornea diakibatkan karena keterlibatan cabang nasociliary dari subdivisi nervus V. menetapnya dilatasi pupil akibat nervus kranial III. nervus frontal. tekanan langsung atau suatu penekanan akibat hematom (atau keduanya) pada kandungan fissura orbital superior antara lain : nervus lacrimale. Pergeseran fragmen fraktur ke dalam orbit mata. edema pada muskulus ekstraokular atau pada fasia di sekitar orbita atau terperangkapnya lemak orbita merupakan penyebab utama. Exopthalmus6 2. Bola mata bergeser lebih jauh pada dataran koronal dan pergerakan bolah mata yang terbatas 3.

Dengan suatu kekuatan yang lebih besar kedua tulang nasal dapat terjadi fraktur dan displaced dan ini sering kali disertai dengan terjadinya fraktur septum. Trauma dari Lateral Ini adalah trauma yang paling sering terjadi dan seringkali tidak terlalu parah. 10. Meningoceles dan encephaloceles. Ptosis dapat terjadi secara manual dan secara kongenital. 8. 7. cedera pada nervus dapat menyebabkan spasme dari pembuluh darah retina. Selain itu juga terjadi edema yang persisten akibat obstruksi vena ophtalmicus2. 6. merupakan jatuhnya kelopak mata atas ke posisi lebih jika dibandingkan dengan posisi normal sebelumnya.5 POLA TRAUMA A. Selain itu CSF juga dapat timbul karena adanya fraktur pada basis cranium.nervus III. berhubungan dengan bengkok atau tertekuknya septum nasal tanpa terjadi fraktur septum. Tergantung pada derajat kekuatan. Selain itu ditandai oleh gangguan visual dan perubahan respon pupil terhadap respon cahaya. merupakan keluarnya penonjolan dari selaput dan bagian otak melalui celah yang terbentuk antara tulang dapat merupakan akibat dari suatu trauma. karena adanya fraktur sphenoidale dan ethmoid juga fraktur pada sinus frontal sehingga menyebabkan dural tear sehingga terjadi hubungan dengan subarachnoid space. ataupun pascaoperasi. Ptosis. Keterbatasan pada muskulus rectus superior atau hematom yang pada kelopak mata bagian atas. luasnya kerusakan tulang dapat bervariasi dari yang sederhana sampai displacement tulang nasal. hasilnya akan lebih stabil diikuti dengan reduksi fraktur dengan menggunakan Walsham’s forceps dan pelurusan septum nasal dengan menggunakan Asch’s forceps. (peter ward booth) 9. Pada keadaan ini umumnya dengan dilakukan manipulasi tertutup sudah cukup memuaskan. Cedera pada nervus optikus. Displaced fragmen nasal dapat segera direduksi dengan 306 . Hasilnya akan lebih stabil sebab tidak terdapat fraktur pada septum. II. Mungkin ditemukan adanya CSF.

a. terutama dengan adanya ketidakstabilan nasal. Gambar 9 : Trauma nasal dari arah lateral. Fraktur nasal tipe ini bervariasi hubungannya dengan fraktur septum dan terjadi displacement yang menyebabkan terjadinya ketidakstabilan nasal (4). b. oleh karena sebagian besar daya diterima oleh septum nasal. Daya yang lebih besar menimbulkan displacement pada piramid dan septum nasal4 B. reseksi submukus akan menimbulkan kolaps yang lebih parah.manipulasi tertutup tetapi penting untuk melakukan eksisi berbentuk C pada septum4. Daya yang moderat menimbulkan depressi pada tulang dan septum nasal. Manipulasi dengan sentralisasi septum harus dikombinasi dengan support internal pada nasal seperti yang dikemukakan oleh Sear (1477)4. dapat terlepas. kedua tulang nasal akan fraktur pada ujung bawah dan. terutama pada bagian sepertiga bawah tulang nasal. Dengan daya yang lebih besar lagi. dengan comminuted fracture. Trauma dari Anterior Adanya pukulan atau trauma dengan kekuatan yang moderat dari arah frontal. Kelompok pertama dirawat dengan manipulasi dan bedah septum tetapi pada kelompok yang kedua. 307 . displacement dan fraktur dari struktur ini sering sekali terjadi. seluruh piramid nasal. termasuk prossesus frontalis dari maksila.

harus dapat direduksi dan distabilisasi terutama untuk reduksi fraktur nasal.Gambar 10 : Trauma nasal dari anterior. Alternatif lain. Septum harus dikembalikan ke posisinya tetapi tidak boleh dilakukan reseksi septum pada tahap pembedahan primer. dalam pandangan faktor waktu meliputi waktu yang lama dan prosedur operasi yang komplek4. Ini mungkin perlu untuk merubah nasal endotracheal tube menjadi oral endotracheal tube sebelum reduksi nasal. b. Manipulasi tertutup fraktur nasal dianjurkan untuk tetap menggunakan support intranasal. a. Trauma yang Berhubungan Dengan Fraktur Fasial Lain Fraktur pada tulang wajah. Plate silastik ini dipertahankan dengan menjahitkannya bersama-sama melalui kulit sedikit di belakang kolumela dan dipertahankan selama 10 – 14 hari4 308 . Daya yang lebih besar menimbulkan fraktur comminuted pada piramid nasal dan septum4 C. Daya sedang menimbulkan depressi pada septum dan piramid nasal. meskipun sudah indikasi. nasal endotracheal tube dapat diletakkan pada posisi atau dilakukan trakheostomi. Jika terdapat laserasi yang parah pada mukosa nasal disarankan untuk menggunakan lapisan silastik yang dimasukkan pada nostril untuk menjaga pembentukan adhesi intranasal. Untuk menjaga kedua penetapan oklusi dan aplikasi fiksasi intermaksila yang masih tetap terpasang sampai pasien sadar dari efek anestesi agar jalan nafas tetap aman. terutama pada bagian tengah wajah.

309 .

Gambar 11 : Trauma nasal lateral menunjukkan adanya displaced fracture pada bagian tengah bawah tulang nasal kiri dan tepi anterior prosesus frontal kiri tulang maksila disertai dengan pembengkokan tulang septum4 310 . meskipun pada mulanya tampak cukup baik4. Kemudian hidung dirawat dengan cara sederhana dan hasil akhirnya mungkin akan jauh dari yang diharapkan. 50 % fraktur pada tulang fasial terpisah dari fraktur pyramid Fraktur nasal sering kali dirawat dengan penilaian preoperative yang tidak adekuat. trauma ini adalah yang paling sering pada skeleton fasial dan menurut Schroeder (1481). kecuali terjadi fraktur nasoethmoid yang parah. Perluasan disrupsi struktur nasal sehubungan dengan arah dan derajat kekuatan trauma jarang diperhitungkan. Pada waktu eksplorasi biasanya menunjukkan bahwa dasar piramid tetap intak meskipun terjadi displacement yang hebat ke ruang interorbita 4. Setengah bagian bawah atau sepertiga dari tulang nasal yang biasanya mengalami fraktur. Dasar dari piramid hidung jarang sekali terlepas dari tulang frontal.BAB III PEMBAHASAN Menurut Christian (1476). Salah satu konsep yang selalu salah tentang fraktur nasal adalah terjadinya pelepasan dan displacement tulang nasal.

Tetapi Harrison (1474) menemukan bahwa suatu pola dari suatu fraktur septum dan displacement yang diindentifikasi adalah disebabkan karena manipulasi yang kurang baik. Alasan mengapa distorsi tampak progresif dari kartilago septum dijelaskan oleh Fry. hasilnya akan menjadi lebih baik. bahwa eksisi pada daerah cartilage pada sisi septum yang mengalami fraktur berbentuk C akan menghasilkan hasil yang lebih baik. dan vertikal posterior. Pengertian yang lebih jauh lagi dari mekanisme dan perawatan fraktur nasal dibuat oleh Murray (1484). Menurut Stell (1480).Posisi dan integritas komponen kartilagenus dari rangka nasal harus selalu ditetapkan. Harus tetap diingat. Stranc menekankan pada perawatan fraktur nasal bidang dua. Harrison menganjurkan pada fraktur nasal horizontal bagian bawah. harus dilakukan reseksi submukus primer agar tidak terjadi kolaps pada garis jembatan kartilagenous4. Kemudian mereka menyimpulkan pada percobaan klinis. dari 107 fraktur hidung yang dirawat dengan manipulasi tertutup. dari hasil penelitian retrospektif menunjukkan bahwa. kartilago lateral dan septum nasal dapat terjadi dislokasi tanpa disertai fraktur tulang nasal4. Penempatan manipulasi tertutup dari fraktur hidung masih menjadi pertanyaan. kemudian ke inferior melalui vomer terminate dengan suatu 311 . ada suatu fraktur berbentuk C yang terjadi bersamaan dari tulang dan cartilaginous septum. yaitu pelepasan dari tegangan internal yang terkunci. Fraktur berbentuk C dari tulang dan kartilago dimulai dari bawah dorsum hidung berjalan ke posterior melalui perpendicular plate dari ethmoid. bahwa meskipun jarang. Harrison adalah orang yang pertama menemukan bentuk C fraktur septum ( C-shaped fracture). dan 50 % berfungsi normal dalam jangka waktu lama. hanya 30 % yang menunjukkan penampilan yang normal. Septum sering kali tidak tetap lurus setelah dilakukan manipulasi dan piramid hidung pada garis septum yang mengalami distorsi. Mereka mempelajari mekanisme fraktur nasal dengan meneliti fraktur nasal pada kadaver dan menyimpulkan bahwa tulang nasal yang mengalami deviasi lebih dari setengah lebar jembatan. sebaiknya dilakukan reseksi submukus pada septum nasal dan jika ini dilakukan pada waktu perawatan primer.

curve anterior pada kartilago septum 1 cm di atas puncak maksila dekat dengan sudut vomerine4. yaitu pada 2. Kartilago dipisahkan dan sisi kontralateral disingkapkan. Kemudian dilanjutkan sampai pertemuan ethmoid dan tulang nasal. Tulang nasal dimanipulasi dan suatu pack ( light pack) dimasukkan ke dalam nostril4. Menurut Murray. Light packing pada hidung sebaiknya hanya digunakan untuk mengkontrol epistaksis setelah 312 . tetapi harus hati-hati agar tidak terlalu caudal dari tulang nasal atau terlalu dalam karena akan dapat merubah profil. Suatu reseksi yang terbatas dari septum kemudian dibuat dengan melakukan suatu eksisi tipis dari kartilago dan tulang pada sisi yang terdapat fraktur C dan diangkat paling sedikit 1 cm dari plate perpendicular dari ethmoid. Pita gauze lembut yang dimasukkan pada nasal adalah merupakan stabilisasi yang kurang baik dan packing yang berlebih pada hidung sering kali menyebabkan distorsi dari reduksi yang diinginkan. salah satu faktor yang menyebabkan hasil yang tidak memuaskan dari manipulasi fraktur nasal adalah tidak adanya dukungan nasal internal setelah reduksi. Kemudian mukoperichondrium dibuka dan biasanya garis fraktur berbentuk C akan segera dapat terlihat.5 cm posterior dari kolumela. Gambar 12 : Skema menunjukkan garis fraktur dengan displacement yang berat disertai fraktur septum berbentuk C4 Untuk operasi pada septum mereka menganjurkan melakukan suatu insisi vertical di posterior.

313 . Septum dimanipulasi dengan Asch’s septal forceps. Rotasi ke arah medial atau lateral yang akan menjauhkan atau mendekatkan fragmen fraktur pada tulang nasal4. informasi tambahan akan lebih diperoleh dengan inspeksi intranasal dengan bantuan speculum dan lampu kepala ( head light). Metoda manipulasi hidung dibawah anestesi lokal telah dijelaskan sebelumnya. Ronsen foto harus diambil dari dua arah untuk kepentingan diagnosis dan rencana metoda reduksi. Pangkal hidung harus dipegang di antara jari telunjuk dan ibu jari tangan yang berlawanan yang juga digunakan untuk menambah stabilitas pada kepala terutama pada waktu melakukan manipulasi4. Kebanyakan fraktur nasal sederhana tidak memerlukan aplikasi splint eksternal setelah dilakukan reduksi4. Paruh forceps pertama-tama dimasukkan pada dasar hidung dan sisi yang lainnya pada septum dan dengan tekanan gentle digunakan untuk mengembalikan cartilage septum. Instrument yang biasa digunakan adalah Walsham’s forceps. Fragmen tulang yang hilang harus diambil and mukoperikhondral harus tampak jelas. operator harus mempunyai gambaran yang jelas mengenai apa yang seharusnya akan dilakukan. dan Asch’s septal forceps4.manipulasi tulang nasal. Paruh yang lebih kecil dari Walsham’s forcep dimasukkan ke dalam lubang hidung dan paruh yang lebih besar (dilapisi dengan karet lembut untuk melindungi kulit) yang terdapat pada eksternal untuk memegang sisi luar hingga dapat memegang dan mengangkat hidung ke arah medial canthus dan sejajar dengan proses frontal tulang maksila. metode yang telah dijelaskan di atas akan lebih baik menggunakan anestesi umum. yang digunakan untuk memanipulasi tulang nasal dari prosesus frontal maksila. Septum nasal kemudian diperiksa. Pengggunaan plaster eksternal atau Paris splint tidak akan mendukung fragmen nasal. Pada tahap ini. Penilaian klinis dan radiografis preoperative yang sangat hati-hati adalah suatu syarat untuk keberhasilan perawatannya. Hidung harus dibersihkan dari semua debris dan gumpalan darah dengan suction. Sebelum melakukan reduksi fragmen nasal yang mengalami displacement. Kemungkinan dapat terjadi relaps dengan resolusi dari pembengkakan jaringan disekitar jaringan yang disebabkan fiksasi yang buruk dari splint plaster.

3.Kemudian paruh dapat diputar ke kiri atau ke kanan dengan memegang septum sepanjang garis jembatan dan tarikan dapat dilakukan untuk elevasi nasal bridge4. Proyeksi ini menempatkan petrosus piramidalis di bawah sinus maksilaris sehingga memudahkan evaluasi dasar orbita. CT scan masih merupakan pemeriksaan imaging yang dipilih untuk evaluasi trauma orbita karena kemampuannnya untuk melihat detail 314 . Gambaran yang lebih luas dari orbita bisa didapatkan dari proyeksi waters. Walsham forceps dan Ash Forceps Gambar 13. Paling umum digunakan adalah proyeksi Cadwell dan Waters. dan tingkat cairan udara dalam sinus maksilaris. prolaps isi orbita. Proyeksi Caldwell memperlihatkan visualisasi dasar orbita dan prosessus zygomatiko-orbitalis diatas densitas petrosus pyramidalis. Foto AP orbita biasanya diambil dengan berbagai variasi angulasi sinar. 2. Tang Rekonstruksi Nasal4 PEMERIKSAAN RADIOLOGIS DAN DIAGNOSTIK Penegakan diagnosis selain dari temuan klinis dilakukan dengan bantuan pemeriksaan penunjang. antara lain yaitu : 1.

dilakukan test forced duction.struktur tulang. Enophthalmus. Menilai secara langsung kemampuan atau ketidak mampuan lebih jauh mata saat pasien disuruh melirik ke atas. Fraktur dasar orbita dapat mengakibatkan penambahan volume orbita dan keadaan ini mengakibatkan enophthalmus.2 Jika CT scan mempunyai hasil yang samar-samar saat mengevaluasi pasien yang dicurigai terjadi entrapment. di antaranya adalah : 1. test ini dapat menghasilkan konfirmasi klinis yang penting mengenai adanya otot atau jaringan yang terperangkap. CT Scan dalam mengevaluasi fraktur 4 KOMPLIKASI FRAKTUR ORBITA Fraktur orbita akan menyebabkan beberapa komplikasi dan permasalahan. 1 Gambar 14.1. Jika terjadi enophthalmus lebih 315 . walaupun MRI bisa memperlihatkan detail regio orbita dengan sangat halus.

Bola mata juga dapat melesak atau hipo-ophthalmik dibanding sisi kontralateralnya. 3. Otot rektus inferior atau jaringan orbita dapat terperangkap dalam lokasi fraktur. namun trauma yang tidak begitu berat hanya akan mengakibatkan hyphema atau edema retina. Kebanyakan literatur mendukung waktu dua minggu untuk perbaikan sehingga mencegah fibrosis.1 III. Fraktur nasal yang terpisah dapat dapat dilakukan reduksi dalam waktu 24 jam pertama. menyebabkan diplopia. Emfisema. maka sebaiknya penanganan dilakukan 3 . jika ini tidak memungkinkan. dapat terjadi emfisema orbita karena adanya hubungan dengan sinus maksilaris serta bisa juga disertai perdarahan orbita. maka komponen hidung harus direduksi bersamaan dengan fraktur lainnya4. Waktu perawatan ini sangat penting oleh karena fraktur nasal lebih dari 10 hari akan mengalami penyembuhan tulang dan kemungkinan memerlukan tindakan termasuk rhinoplasty . Biasanya. perawatan harus ditunda sampai sepuluh hingga dua belas hari agar pembengkakan dan luka memar menjadi lebih reda. kontraktur dan 316 . Perawatan fraktur nasal bertujuan untuk memperbaiki dan mengembalikan fungsi dan etetik. Perawatan yang paling baik adalah pada waktu tiga jam pertama saat terjadi trauma.dari 2 mm. Keadaan ini mengakibatkan terhambatnya pergerakan ke atas dari bola mata.7 hari. Jika fraktur berhubungan dengan fraktur sepertiga wajah yang lainnya. tetapi pada kasus yang lain. 2. keadaan ini mengakibatkan ketidakseimbangan. Diplopia.1 WAKTU PERAWATAN Waktu perawatan fraktur nasal masih terdapat kontroversial. Waktu dan perlunya intervensi bedah pada perawatan fraktur dasar orbita murni masih dalam perdebatan. Bola mata dapat menjadi robek. untuk mencegah terjadinya pembengkakan yang lebih besar.

Splint Intranasal 1. Pada kasus dimana terperangkapnya tarikan rektus inferior. Gauze ini secara hati-hati dimasukkan kedalam lubang hidung dengan bentuk lapis demi lapis dan penting untuk diperhatikan pertama-tama menempatkan pack pada nares superior sepanjang garis jembatan (bridge-line)4. Sayangnya metode ini tidak hanya menutup jalan nafas tetapi juga merupakan sumber infeksi yang potensial. keadaan ini mungkin disebabkan oleh tidak adanya tekanan dari eksternal. yang mungkin dapat menimbulkan konsekuensi serius berhubungan dengan CSF rhinorrhoea. Tehnik ini tidak mempunyai support intra nasal anterior posterior. Beberapa ahli sering menunggu beberapa hari supaya edema dan perdarahan sudah tidak ada sehingga didapat penilaian yang baik terhadap enopthalmus dan fungsi otot ekstraokuler. Metode ini sebaiknya hanya digunakan sebagai hemostasis pada periode awal operasi dan sebagai support awal pada reposisi tulang nasal dimana pada septum nasal tidak terjadi fraktur. Pack ini harus tetap dipertahankan selama 2 – 3 hari. dengan menggunakan pita gauze yang dilapisi dengan paravin/ flavine emulsion atau bismuth iodoform paraffin paste (BIPP).terperangkapnya jaringan. Ribbon gauze Metode ini sering kali dianjurkan sebagai metoda yang adekuat dan standar untuk memperoleh dukungan internal pada fraktur nasal. 1.2 METODE IMOBILISASI A.2 III. Suport intra nasal yang adekuat tidak akan diperoleh dengan teknik ini untuk menstabilkan hidung4. tetapi juga merupakan penyebab terjadinya masalah pada telecanthus jika pemasangan pack terlalu berlebihan sehingga menimbulkan terjadinya fraktur lain pada prosessus frontal maksila. 317 . perawatan harus dilakukan lebih cepat.

318 . yaitu untuk mendapatkan support internal yang rigid terutama pada kasus terjadinya kolaps anteroposterior. Splint terbuat dari bahan stainless steel 3. Stainless-steel intranasal splint Metoda ini dikemukakan oleh Sear pada tahun 1477.175mm x 1.5875 mm dan pasangan yang sama dibengkokkan membentuk angka 7 dengan diameter yang lebih lebar pada posisi datar.Gambar 15: Ribbon gauze4 2. Metode insersi dan retensi splinting ini seperti gambar yang memperlihatkan tulang nasal dan tepi jaringan lunak tanpa kehilangan palatum keras dianjurkan pada waktu memilih ukuran splint yang cocok4.

Gambar 16 : Metode insersi dan retensi splint intra nasal untuk memperoleh support internal4 Metode yang sederhana dan memuaskan untuk memperoleh support internal pada hidung. Splint Eksternal 1. B. kelebihan dibuang dengan tekanan antara cotoon gauze sebelum aplikasi. tetapi pada beberapa kasus tertentu tidak begitu praktis. Sangat penting untuk diperhatikan bahwa plaster sudah menempel pada kulit dari daerah medial sampai bagian dalam canthus masing-masing mata yaitu dengan memegang antara jari telunjuk dengan ibu jari. dan sangat membantu untuk memperoleh suatu pola dengan juga menggunakan gauze atau jaconet cut untuk membentuknya dan mengetahui ukuran yang tepat sebelum diaplikasikan. nasal bridge line dan duapertiga bagian atas hidung. Kemudian dengan hati-hati dilakukan pemasangan plester pada daerah sekitar kepala dan glabela. Bahan ini terdiri dari 4 atau 5 lapis dari potongan 10 cm plaster of Paris bandage yang dilembutkan dengan air. Sementara plaster 319 . Metoda ini terutama cocok untuk memperoleh support nasal pada pasien dengan fraktur fasial multiple4. Plaster of Paris Splint Teknik ini dikenal dengan bentuk kupu-kupu.

Gambar 17: Plaster of paris splint4 2. perlekatan dengan kulit dibantu dengan pemberian Compound Tincture of Benzoin. Ketika pembengkakan mulai berkurang splint akan menjadi longgar dan oleh karena itu harus segera diangkat. terutama pada kasus dengan adanya jahitan luka pada hidung dan glabela Tetapi ini tidak tepat pada kasus dengan fraktur septum pada waktu ini dan pembedahan sekunder 320 . Terutama pada fraktur nasal yang disertai dengan fraktur ethmoid. Kemudian plaster dilekatkan pada daerah kepala dan pipi dengan bahan Elastoplast atau bahan pelekat lain. Tipe splint eksternal ini sangat memuaskan. terutama pada daerah yang dekat dengan mata dan sekitar puncak hidung. Collodion gauze dan soft metal sheet (Ash’s soft metal sheet-tin/lead alloy) Beberapa lapisan gauze dipotong sesuai dengan ukurannya dan direndam dalam larutan collodion. Ini adalah untuk menjaga agar tidak terjadi luka pada kulit. Sehelai lembaran logam lunak (soft metal) dipotong mengikuti bentuknya kemudian diaplikasikan dan konturnya dibentuk. Kemudian lapisan gauze collodion diaplikasikan dan dibentuk sehingga akhirnya splint tercetak hanya pada bagian medial dari bagian dalam canthi seperti yang diterangkan sebelumnya pada splint Plaster of Paris. lebih baik pada hari ketiga dan keempat atau lebih jika diperlukan.mengeras. Kemudian diaplikasikan pada kontur hidung satu persatu. sehingga akan membentuk cetakan dan diperhalus dengan Howarth’s elevator. Sudah menjadi standard untuk membiarkan Plaster of Paris selama 7 – 10 hari. biasanya terjadi pembengkakan jaringan lunak pada sekitar hidung4 . tetapi ini tidak benar.

Kebanyakan literatur mendukung waktu dua minggu untuk perbaikan sehingga mencegah fibrosis. dengan atau tanpa bersamaan dengan fraktur dinding mesial dan dengan prolaps jaringan orbital. Hal ini harus 321 . Trapdoor atau fraktur anteroposterior dapat ditemukan secara klinis dimana sulit ditemukan secara radiologis. harus dilakukan perbaikan yang cepat karena kemungkinan kelainan ini bisa menetap sangat tinggi. 1.2 Fraktur dasar orbita melibatkan lebih dari 50 % mengenai lantai. perawatan harus dilakukan lebih cepat. kontraktur dan terperangkapnya jaringan. Keadaan ini biasanya mengakibatkan enophtalmos yang signifikan (lebih dari 2 mm) dan ini merupakan indikasi untuk dilakukannya reparasi. Jika keterbatasan ini terjadi dalam 30 derajat dari gerakan utamanya dengan test forced-duction positip dan CT Scan menunjukkan adanya fraktur. Selain itu. Gambar 18: soft metal sheet4 Waktu dan perlunya intervensi bedah pada perawatan fraktur dasar orbita murni masih dalam perdebatan. terutama untuk mengatasi obstruksi pada nasal4. Beberapa ahli sering menunggu beberapa hari supaya edema dan perdarahan sudah tidak ada sehingga didapat penilaian yang baik terhadap enopthalmus dan fungsi otot ekstraokuler.mungkin diperlukan pada beberapa waktu kemudian. pada fraktur dasar orbita bisa timbul diplopia karena terbatasnya gerakan ke atas dan ke bawah. Pada kasus dimana terperangkapnya tarikan rektus inferior.

1 Koreksi bedah merupakan kontra indikasi pada pasien yang secara medis tidak stabil dan tidak bisa mentoleransi anestesi. Selain itu dapat dipergunakan muscle relaxant untuk mencegah spasme muskulus temporal. Fraktur lateral orbita Penanganan fraktur pada dinding lateral melalui incisi pada subciliary (blepharoplasty) lateral dikombinasi dengan lateral incisi eyebrow . Fraktur blow in yang pergeserannya minimal biasanya tidak membutuhkan perawatan selain perawatan yang bersifat konservatif. hal ini bertujuan untuk perbaikan partisi antara orbit dan antrum maksilaris. Tidak dipergunakannya tranosseus wire tetapi IMF dipertahankan selama seminggu untuk mencegah reduksi yang adekuat dari fragment. Fraktur medial orbita 322 .4 Perawatan orbital fraktur harus terlebih dahulu melakukan dekompresi dengan segera kemudian melakukam rekonstruksi sesuai dengan lokasi dari fraktur. melalui pembukaan perkutaneous atau pendekatan transmaksilaris.4 Fraktur atap orbita Penanganan fraktur pada atap orbita dianjurkan untuk mengeksplorasi atap orbita dengan menggunakan periosteal elevator sehingga segment fraktur dapat dikembalikan ke posisinya atau menjadi datar dan mencegah cederanya muskulus dan nervus. dengan demikian diharapkan dapat memperbaiki semua gangguan motilitas ekstraokuler. Aksesnya dapat dilakukan dengan insisi pada bagian blepaharoplasty bagian atas atau melalui laserasi yang terjadi. 2. Akses pada regio ini memudahkan eksplorasi dan membebaskan jaringan lunak yang bergeser atau terperangkap. jika hal ini terjadi harus segera dikoreksi untuk menurunkan kemungkinan diplopia yang persisten. dengan demikian dapat mengembalikan volume orbita dan menghilangkan semua pergeseran struktur jaringan lunak. pendekatan ini dilakukan untuk memperbaiki defek tulang dengan mengambil atau mereposisi fragmen tulang. Dasar orbita bisa dicapai melalui pendekatan konjungtival. Selain itu.dipertimbangkan.

Fraktur dasar orbita Dianjurkan untuk mengeksplorasi dasar orbital dengan menggunakan periosteal elevator sehingga segment fraktur dapat dikembalikan ke posisinya atau menjadi datar dan mencegah cederanya muskulus dan nervusAkses masuk pada bagian dasar orbita dapat dilakukan dengan incisi transkonjungtiva dan infraorbita (subciliary dan subpalpebra). penanganan fraktur pada daerah ini dapat dilakukan dengan pendekatan incisi melalui subciliary dan memberikan kesempatan untuk ekspolarasi dasar orbita.Daerah ini sangat tipis khususnya daerah ethmoid. Seperti pada gambar : Gambar 19 : incisi subkonjungtiva3 Gambar 20: Incisi subpalpebra4 323 .

porous polyetilene. Material alloplastik : nan absorbable ( Titanium. dan teflon) Absorbable (polydioanone. polylactide. contohnya tulang kortikal dan kanselous. silicon. cartilago. dan polyglactin) Allogenik dura. 324 .Gambar 21 : incisi subciliary4 Gambar 22 Insisi trans konjungtiva4 Material untuk rekonstruksi fraktur orbita Bahan – bahan material yang biasa dipergunakan adalah : autografts dari tulang.

Gambaran pemasangan material rekonstruksi6 Semua material memiliki keuntungan dan kerugian.Gambar 23. mudah ditempatkan pada struktur di sekitarnya. silicon. tidak akan mengalami ekstrusi. atau mesh metal. miniplat metal. kepala pasien ditinggikan dengan sudut kurang lebih 30 o. mesh vicryl. tidak menjadi tempat infeksi. harganya wajar. Alternatif lain dapat digunakan tulang autogenous dari dinding maksila atau calvarium. Beberapa ahli menganjurkan kompres dengan saline dingin di atas mata yang tertutup. Cancellous bone graft lebih disenangi daripada kortikal karena vaskularisasinya lebih cepat dan lengkap. Hampir kebanyakan defek pada kasus fraktur dasar orbita dapat direparasi dengan implant sintetik yang terbuat dari polyethylene. juga memiliki aposisi formasi tulang yaitu proses resorbsi dan perbaikan yang baik. Auto bone graft merupakan standar kriteria untuk menyediakan kerangka untuk tulang fasial dan dinding orbita. 325 . Perawatan Pasca Bedah : Segera setelah pembedahan. dan tidak merangsang pembentukan jaringan fibrous. Implant yang ideal harus bisa secara mudah diinsersikan dan dimanipulasi. dan pilihan material biasanya tergantung kepada ahli bedah dan pasiennya. Kemampuan visual dan fungsi pupil dinilai setiap 15 menit selama 1 jam pertama dan kemudian setiap 30 menit. Implant Implant myriad tersedia untuk kegunaan rekonstruksi.

dan diberikan antibiotik serta analgetik yang adekuat. neuralgia.Setelah operasi pasien dilarang untuk meniup lewat hidung.2 Seperti pembedahan lainnya komplikasi pada reparasi fraktur dasar orbita bisa berupa perdarahan atau infeksi. dan beraktivitas berat. 1. 326 . dan disfungsi otot ekstraokuler merupakan komplikasi yang mungkin bisa terjadi. Selain itu pasien diinstruksikan untuk mengompres dingin selama 48 jam. Pemberian steroid dapat membantu pengurangan pembengkakan. Demikian juga ekstrusi implant dan enophtalmos yang menetap merupakan sequele postoperasi yang memerlukan intervensi bedah selanjutnya. Kehilangan kemampuan penglihatan merupakan komplikasi yang serius berkaitan dengan reparasi kelainan ini. Diplopia yang tetap ada atau new onset.

oleh karena itu perlu dilakukan evaluasi radiologis secara seksama. maka akan diperoleh hasil yang lebih baik dan lebih memuaskan pasien. Jenis fraktur ini sering menimbulkan komplikasi berupa enophtalmos. dan emfisema. Pendekatan bedah pada kasus-kasus yang diindikasikan harus dilakukan dengan hati-hati mengingat kemungkinan komplikasi yang akan terjadi.BAB IV KESIMPULAN Fraktur nasal sering terjadi pada fraktur tulang fasial. Fraktur orbita bisa terjadi bersamaan dengan fraktur pada daerah wajah lainnya. diplopia. Jika pendekatan yang dilakukan pada waktu terjadi trauma sama dengan pemikiran kedepan seperti yang dilakukan pada penanganan elektif kosmetik septorhinoplasty. Kesimetrisan hidung dan fungsi adalah penting untuk pasien. 327 . namun pemeriksaan klinis terkadang sulit dilakukan karena adanya edema di daerah orbita. tetapi sering dianggap tidak terlalu berpengaruh. dan perawatan yang tidak tepat dan kurang adekuat akan menimbulkan hasil yang kurang memuaskan.

DAFTAR PUSTAKA

1. Ramirez R.F. 2004. Nasal Trauma. The Thomson Corporation. All right reserved. http://www.ehendrick.com/healty/000561.htm. 2. Fonseca, RJ. et al. 1997. Oral and Maxillofacial Trauma. 2nd edition. Philadelphia: WB. Saunders Co. 3. Pitcock K.J & Bumsted M.R. 1997. Nasal Fractures. In: Raymond J. Fonseca and Robert V. Walker. Oral And Maxillofacial Trauma. Volume II. W.B. Saunders Company. Philadelphia London. Toronto Montreal Sydney Tokyo. p. 775 – 41. 4. Bowerman J.E. 1994. Fracture of the Middle Third of the Facial Skeleton. In: Rowe and William’s. Maxillofacial Injures. Second Edition. Churchill Livingstone. Edinburgh London Madrid Melbourne New York Tokyo. p. 541- 604. 5. Moore, K.L., Arthur F. Dalley II. 1999: Clinically Oriented Anatomy. 4 'h ed. Lippincott Williarli"s & 1Nilkins 6. Archer, H. W. 1975. Oral and Maxillofacial Surgery. 5th ed. Toronto : W. B. Saunders Company. 7. Booth, P. W. et al. 2003. Maxillofacial Trauma and Esthetic Facial Reconstruction. 1st ed. Edinburgh: Churchill Livingstone. Edinburgh. 8. Cohen, AJ. Facial Trauma, Orbital Floor Fracture (Blow out). Available at www.eMedicine.com. Last updated on March 7th 2005. 9. Williams, J. L. 1999. Maxillofacial Injuries. 1st ed. Edinburgh : Churchill Livingstone.

328

Fraktur Panfasial

Yudi Wijaya 160121120002

Peserta PPDGS Ilmu bedah mulut dan Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Abstrak : Regio maksilofasial terbagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama adalah wajah yang bagian atas, Bagian kedua adalah daerah tengah wajah atau midface. Midface dibagi menjadi bagian atas dan bagian bawah. Midface yang bagian atas bila terdapat fraktur Le Fort II dan Le Fort III dan/atau fraktur tulang nasal, fraktur nasoetmoidal atau kompleks zygomatikomaksilari dan fraktur dasar orbita. Fraktur Le Fort I bila fraktur terdapat pada bagian bawah dari midface. Bagian yang ketiga dari regio maksilofasial adalah wajah bagian bawah, bila fraktur hanya terdapat pada mandibula. Fraktur panfasial adalah fraktur yang terjadi pada daerah wajah yang meliputi sepertiga atas, sepertiga tengah dan sepertiga bawah yaitu meliputi fraktur pada regio frontal, kompleks nasalis, kompleks orbitalis, kompleks zigomatikus, maksila dan mandibula. Prinsip umum untuk penatalaksanaan fraktur panfasial yaitu dengan tehnik bottom to top (dari bawah ke atas) atau top to bottom (dari atas ke bawah).

Kata kunci: Fraktur panfasial, bottom to top , top to bottom

329

BAB I PENDAHULUAN

Pada mulanya dokter gigi dilibatkan pada perawatan trauma rahang karena mereka menguasai pengetahuan tentang gigi dan oklusi. Perawatan yang terdahulu hanya terdiri atas fiksasi gigi pada oklusi sentrik untuk mengurangi dan mengimobilisasi suatu rahang. Sekarang ini dasar pemikiran perawatan fraktur pada daerah maksilafasial tidak banyak berubah, hanya tekniknya yang berkembang pesat. Diagnosis didukung dengan adanya teknik radiografis yang berkembang dengan pesat. Fraktur-fraktur yang pada jaman dahulu tidak dapat dikenali sama sekali atau hanya bersifat dugaan sekarang ini bisa ditunjukkan sampai hal yang terkecil.1 Regio maksilofasial terbagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama adalah wajah yang bagian atas, bila fraktur melibatkan sinus dan tulang frontal. Bagian kedua adalah daerah tengah wajah atau midface. Midface dibagi menjadi bagian atas dan bagian bawah. Midface yang bagian atas bila terdapat fraktur Le Fort II dan Le Fort III dan/atau fraktur tulang nasal, fraktur nasoetmoidal atau kompleks zygomatikomaksilari dan fraktur dasar orbita. Fraktur Le Fort I bila fraktur terdapat pada bagian bawah dari midface. Bagian yang ketiga dari regio maksilofasial adalah wajah bagian bawah, bila fraktur hanya terdapat pada mandibula. Insidensi trauma maksilofasial terutama yang berhubungan dengan kecelakaan kendaraan bermotor. 2 Trauma yang mengenai wajah dapat menyebabkan diskontinuitas dari jaringan lunak wajah maupun jaringan kerasnya. Fraktur yang terjadi pada daerah wajah yang meliputi sepertiga atas, sepertiga tengah dan sepertiga bawah yaitu meliputi fraktur pada regio frontal, kompleks nasalis, kompleks orbitalis, kompleks zigomatikus, maksila dan mandibula disebut dengan fraktur panfasial. 2 Fraktur ini biasanya disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas, kecelakaan kerja, kecelakaan olah raga dan lain-lain.2,3 Penelitian pada tahun 2008 di

330

Amerika Serikat, penyebab utama fraktur panfasial adalah perkelahian (36%), kecelakaan kendaraan bermotor (32%), jatuh (18%), olahraga (11%), kecelakaan kerja (3%), dan luka tembak (2%). 2 Lebih banyak terjadi pada laki-laki dewasa muda, perbandingan laki-laki dan wanita adalah 4:1.4

331

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi Kraniofasial Tulang-tulang kraniofasial terdiri atas 22 tulang dengan dikelilingi oleh kavitas-kavitas yang berbeda yaitu kranium, orbita, sinus, hidung dan mulut. Tulang-tulang kraniofasial terdiri atas tulang yang memiliki ketebalan berbeda. Tulang-tulang yang tebal berhubungan dengan tulang- tulang berdinding tipis. Tulang dengan struktur yang tebal disebut sebagai 'buttress' yang menopang/penyangga proporsi kraniofasial dalam proyeksi antero-posterior. 2 Banyak penulis membagi buttres wajah dalam dua bidang yaitu bidang vertikal dan bidang horizontal. Buttres vertikal meliputi buttress nasomaxilaris pada medial,, zigomaticomaxilaris pada lateral, dan pterigomaxilaris pada posterior. Buttress nasomaksilaris meliputi prosessus maksilaris dari frontalis dan prosessus frontalis dari tulang maksila, meluas ke lateral sampai rima piriformis. Buttress zigomaticomaxilaris terdiri dari prosessus zygomatikus dari tulang frontal, rima orbita lateral, tulang zygomatikus lateralis, dan prosessus zygomatikus dari tulang maxilla. Buttress pterigomaksilaris terdiri dari lempeng pterigoid dari tulang sphenoid dan tuberositas maksilaris. Ketiga buttress ini menghasilkan suatu sistem penyangga unit-unit fungsi pada oral, nasal dan orbital. Pada umumnya buttress zygomaticomaksilaris dan buttress nasomaksilaris dilakukan rekonstruksi, tapi buttress pterigomaksilaris tidak dilakukan rekonstruksi karena tidak dapat diakses. 2,4 Buttress horizontal sering juga disebut dengan anterior posterior buttress. Buttress ini meliputi buttress frontal, zygomatik, maxilaris dan mandibular. Buttress frontal terdiri dari rima supraorbital, dan regio glabelar. Buttresss zygomatik terdiri dari zygomatic arch, zygomatic body, dan infraorbital rim. Buttress maxila dan mandibula terdiri dari basis maxila dan lengkung tulang mandibula.4 Keseluruhan buttress ini secara bersama-sama memberikan integritas tulang wajah. Tulang-tulang yang pada umumnya lebih tebal ini berfungsi untuk

332

menetralisir kekuatan pengunyahan dan benturan. Dengan reduksi yang tepat kita dapat merekonstruksi tinggi, lebar dan proyeksi wajah. 2,3

Gbr.1 Buttress vertikal dan horizontal.1

2.2 Klasifikasi Fraktur Panfasial Gruss dkk (1989) membagi fraktur panfasial menjadi tiga kelompok yaitu: 3 1. Fraktur kraniofasial sentral Fraktur terjadi pada bagian sentral yang memisahkan buttress fasial dari basis kranial anterior. Variasinya meliputi tulang frontal dan atap orbital dan sinus frontalis. Pada trauma yang ekstensif terjadi perluasan ke arah vertikal melalui sepertiga tengah wajah dan bagian tengah mandibula. 2. Fraktur kraniofasial lateral Fraktur ini mengakibatkan kerusakan pada buttress fasial lateral yaitu tulang frontozigomatikomaksilaris dengan perluasan ke arah posterior pada sayap tulang sphenoid, temporal dan parietal. Komplikasi intrakranial lebih jarang terjadi, namun perluasan ke bagian bawah wajah lebih sering terlihat 3. Kombinasi fraktur sentral dan lateral

333

Trauma yang ekstrim akan menghasilkan kehancuran elemen fasial sentral dan lateral disertai dengan fraktur sepertiga tengah wajah, mandibula, kondilus dan trauma intrakranial. Kerusakan dapat meliputi kerusakan pada otak yang lokal maupun difus dan diskontinuitas dasar fosa kranial anterior.

334

Perawatan non operatif c. Pemantauan 3. Pemeriksaan Laboratorium d. Perawatan Definitif a. Diagnosis dan penanganan sekunder a. Stabilisasi fraktur d. Tranportasi cepat (Ambulatory) 2. Pemeriksaan fisik menyeluruh b. Breathing. Resusitasi dan pananganan primer a. Rehabilitasi 335 . Adapun tahap-tahap penanganan trauma adalah sebagai berikut: 6 1.3 Penatalaksanaan Pada umumnya penderita dengan trauma oromaksilofasial terjadi bersamaan dengan trauma pada bagian tubuh yang lain (trauma multiple). Resusitasi dan pemantauan lanjut 4.Penanganan yang dilakukan sebelum dibawa ke rumah sakit a. Nutritional support 5. Stabilisasi tulang belakang e. Circulation) b. Radiografi c.BAB III PEMBAHASAN 2. Pembedahan b. Sehingga tahap-tahap penangannnya bersamaan dengan penanganan trauma yang lainnya. Menghentikan perdarahan eksternal c. Resusitasi cairan c. Mempertahankan jalan napas b. ABC (Airway.

Pada observasi klinis akan terlihat adanya pembengkakan pada wajah yang difus. Perhatian utama harus ditujukan pada daerah nasoethomid. daerah supraorbital ridge dan pangkal hidung. Evaluasi pertama dapat dilakukan dengan data radiologis seperti Water's. pernafasan dan sirkulasi serta tingkat kesadaran (ABC trauma management). Selain itu juga untuk mengevaluasi adanya fraktur segmental maupun sagital pada maksila maupun mandibula serta dentoalveolar.2.1 Evaluasi Evaluasi dimulai dengan menilai jalan nafas. tulang. pemeriksaan fisik dan evaluasi radiografis yang baik. Dalam mendiagnosa fraktur panfasial dibutuhkan data riwayat trauma yang seksama. Deformitas pada tulang seringkali terlihat dengan hilangnya proyeksi hidung dan gangguan pada proyeksi midfasial. pergerakan abnormal pada mandibula dengan palpasi pada daerah external auditory canal dan menginstruksikan pasien untuk membuka dan menutup mulut. CT Scan dua dimensi dengan potongan 336 . oklusi dan fungsi sebelum terjadi trauma amat dibutuhkan.5 Pemeriksaan intraoral dilakukan untuk melihat adanya memar dan laserasi jaringan lunak maupun adanya kehilangan jaringan.2. evaluasi terhadap regio maksilofasial dapat dilakukan. Perhatian segera yang ditujukan pada kasus berat adalah penatalaksanaan 'life-support' yang tepat dan penilaian komplikasi intrakranial dan ekstrakranial.3.3 Setelah pasien dalam keadaan stabil dan bebas dari trauma tulang spinal servikal. palatum.3 Pemeriksaan fisik harus dilakukan secara sistematis yaitu dengan metode inside out and bottom up yaitu meliputi inspeksi dan palpasi dari dagu hingga kepala serta dari intraoral dan ekstraoral untuk dapat mengidentifikasi luka pada jaringan lunak.6 Pemeriksaan penunjang seperti CT Scan pada negara maju telah menggantikan peranan radiologi konvensional. kesimetrisan dan ketinggian wajah. gigi geligi dan neurovaskular. luka memar laserasi pada tonjolan tulang seperti dahi. mata dan prosesus kondilus. Informasi yang lengkap meliputi keadaan wajah penderita. Hal ini dapat diperoleh melalui data fotografi dan rekam medis dental. 2. Adanya fraktur pada kondilus dapat diperkirakan apabila terdapat krepitus.

3. Digital imaging fraktur panfasial 1 2. buttress maxilla dan ramus ascenden mandibula. CT Scan dua dimensi dengan potongan koronal dan sagital akan memberikan informasi mengenai fraktur pada dinding orbital. 1.axial akan memberikan informasi penting terhadap perluasan trauma kraniomaksilofasial.6 Gbr 2. Dengan kemajuan tehnologi CT Scan tiga dimensi akan memberikan peran yang lebih baik dalam menentukan keadaan fraktur dalam hal ada atau tidaknya displacement tulang. Akan tetapi. Pasien dengan fraktur panfasial 2 Gbr 3. Diagnosa dan rencana perawatan yang tidak tepat akan menyebabkan hasil yang tidak adekuat dan memperlama prosedur bedah.2 Tata laksana Manajemen pasien dengan multiple displaced dan fraktur comminuted sangatlah menantang tidak saja pada ahli bedah yang belum berpengalaman nemun juga pada ahli bedah yang sudah berpengalaman. dengan melalui gambaran rontgen 337 .

7 a. Reduksi permukaan bukal dan lingual memungkinkan untuk didapatkannya hasil fiksasi yang lebih baik. 338 . fiksasi yang baik.yang detail. Perlekatan otot pterigoid lateral pada fovea pterigoideus. proses rekonstruksi seperti menyusun puzzle. sutura sphenozigomatik. berfungsi untuk mencegah pergerakan lateral yang ekstrem. Lengkung Gigi Ketika salah satu atau kedua lengkung gigi utuh. Key landmark yang dapat membantu adalah. akan didapatkan hasil yang optimal. Solusi untuk mengatasi masalah ini adalah dengan mengembalikan keutuhan maxila dengan melakukan reduksi dan fiksasi fraktur palatal. sebagai nerikut:1. Mandibula Reduksi simphisis dan/atau ramus mandibula dapat diperoleh melalui pembukaan ekstraoral.7 Ketika terjadi fraktur wajah multiple yang melibatkan wajah bagian atas. Masalah utama terjadi jika terdapat fraktur midpalatal dan mandibula yang disertai fraktur kondyle. Eksposure ini memungkinkan didapatkannya visualisasi langsung dari inferior border mandibula dan sedikit korteks lingual. ketika terjadi fraktur lefort dengan midpalatal yang masih utuh. b. Jjika terdapat fraktur subkondilar yang disertai dengan fraktur simphisis dan/atau ramus mandibula. kan terjadi penambahan lebar wajah. tengah dan bawah. lengkung gigi. Jika terdapat fraktur subkondilar bilateral. Sebagai contoh. mereka dapat digunakan sebagai panduan. Pendekata ini bisa dilakukan jika fraktur palatal single tanpa kominusi atau avulsi. Pengetahuan akan landmark dan anatomi dapat digunakan untuk rekonstruksi yang tepat pada bagian wajah yang mengalami kerusakan. Kondisi ini dapat menyebabkan melebarnya kompleks facial jika segmen fraktur tidak direduksi dengan benar. maxxilary buttress. mandibula. maxila yang memiliki lengkung yang masih utuh dapat digunakan untuk panduan mendapatkan lebar lengkung mandibula yang tepat. tehnik bone graft serta urutan tahapan bedah yang baik. fraktur tersebut harus dirawat agar didapatkan tinggi dan lebar wajah yang tepat. dan regio intercanthal.

Gambar 4. Permukaan kontak yang luas ini sangat penting pada proses reduksi dan fiksasi. Daerah Interchantus Daerah interchantus digunakan untuk mengembalikan lebar midfacial setelah jarak interchantus stabil pada rangka wajah orang dewasa. 339 . sutura ini dapat menjadi landmark yang penting untuk menempatkan zygoma dan lengkung zygoma pada posisi yang tepat. Likewise . buttress zigomatikus sangatlah penting dalam menempatkan zygoma dan maksila dalam posisi yang tepat. Jika orbital roof dan orbita lateral superior masih baik. perlu dipertimbangkan pencangkokan untuk mengembalikan buttress ini. Sutura sphenozygomatikus biasanya nampak pada sepanjang permukaan internal dari dinding orbita lateral. c. Restorasi jarak interchantus dengan menggunakan reduksi kompleks naso-orbitoethmoid dapat membantu menentukan lebar wajah. Sutura Sphenozygomatikus Sutura sphenozygomatikus. disepanjang permukaan dalam dari didingding orbita lateral adalah key landmark pada reduksi dan fiksasi complex zygomatikomaksilaris. Ketika zygoma telah berada pada posisi yang tepat.Kondilus mandibula can be reconstitude ramus mandibula untuk mendapatkan tinggi dan lebar wajah. Jika terjadi kehilangan tulang yang signifikan pada regio ini. Reduksi dan fiksasi sutura sphenozygomatik 1 d. lokasi dari maksila dapat di tentukan.

Perawatan terhadap jenis fraktur ini sebelumnya sering mengalami kesulitan dalam menentukan waktu perbaikan wajah sehubungan dengan intervensi bedah saraf dan ophtalmologis. Jumlah kehilangan jaringan lunak. Sebelum merencanakan perawatan terlebih dahulu perhatikan: 7 1. meliputi kulit. Struktur yang terluka atau terlibat di sepanjang fraktur 3. A. Defek diskontinuitas dapat dilakukan dengan fiksasi maksilomandibular 340 . Gambaran intraoperatif menunjukkan gambaran fraktur naso-orbitoethmoid. Pada saat ini perawatan modern unit kraniofasial di negara maju memungkinkan untuk dilakukannya perbaikan kraniofasial dan bedah neurologis dalam merekonstruksi perbaikan fraktur fasial yang multipel dan penutupan fistula kranionasal pada saat yang bersamaan. Luas kehilangan tulang 5. mengurangi rasa sakit. mukosa dan saraf 4. Dibutuhkan perencanaan yang baik untuk meminimalkan operasi ulang dan lamanya perawatan di rumah sakit.7 Tujuan dari perawatan fraktur panfasial adalah merehabilitasi jaringan yang terkena. serta perbaikan oklusi gigi.Gambar 5. penyembuhan tulang. B. Lokasi dan luasnya fraktur 2.Gambaran klinis penderita dengan fraktur naso-orbitoethmoid dengan jarak interchantus 43mm. Keadaan trauma dentoalveolar Perawatan jenis trauma yang kompleks ini merupakan rangkuman dari seluruh perbaikan dari semua fraktur fasial dan kranial yang individual. Defek tulang yang luas atau defek jaringan lunak dapat dipertimbangkan dengan menggunakan rekonstruksi flap yang luas atau graft.

Terdapat dua prinsip umum untuk penatalaksanaan fraktur panfasial 341 . Bone graft pada dinding sinus maksila anterior1 Koreksi definitif pada pasien dengan trauma kraniofasial yang kompleks secara ideal dilakukan dalam 5-7 hari.7 Gbr 6. Namun dalam jangka waktu tersebut seringkali tidak cukup untuk memperoleh pemeriksaan radiologis. Rekonstruksi harus meliputi arah 3 dimensi yaitu vertikal. lag screws maupun fiksasi eksternal.2. Selain itu diperlukan osteotomi pada garis fraktur akibat telah terjadinya penyatuan tulang. 2 Seringkali pasien tersebut membutuhkan waktu lebih dari tiga minggu untuk pengelolaan life-saving yang ekstensi terhadap trauma ekstrakranial. Cangkok tulang definitif dapat dilakukan pada operasi pertama ataupun kedua. Beberapa penulis menganjurkan untuk fiksasi primer pada 12-48 jam paska trauma. plate dan screws. horisontal dan transversal. Selain itu adanya rhinorrhoea serebrospinal atau aerocele intrakranial merupakan alasan lain keterlambatan perawatan.baik internal dengan intraosseus wiring.6 Kunci utama dalam penatalaksanaan fraktur panfasial adalah untuk mendapatkan fiksasi dan stabilisasi yang cukup stabil pada daerah-daerah yang tidak stabil. Pada banyak kasus keterlambatan koreksi seringkali menyebabkan telah terjadinya union pada tulang dan kontraktur jaringan lunak sehingga diperlukan diseksi jaringan lunak yang ekstensif untuk mendapatkan pemaparan tulang yang baik dalam rangka reduksi dan fiksasi fraktur tulang. Hilangnya gigi geligi akan mempengaruhi hubungan antara maksila dan mandibula. ophtalmologis dan pengelolaan gigi geligi yang adekuat terutama pada pasien dalam keadaan koma dan tidak kooperatif. Pada periode tersebut jaringan lunak berada dalam keadaan pembengkakan sehingga pengelolaan operatif pada saat itu akan menyebabkan proyeksi wajah dan kesimetrisan wajah sulit dicapai.

5.5. regio midfasial dapat direkonstruksi dalam arah atas ke bawah. pendekatan dilakukan dalam arah bawah ke atas.2.6 Bila terdapat fraktur sagital pada maksila dilakukan reduksi dan fiksasi untuk mendapatkan kembali lengkung maksila sehingga koreksi terhadap lebar wajah tengah dapat tercapai. rekonstruksi dimulai dari mandibula.6 Kerugian pada tehnik bottom to up adalah untuk rekonstruksi dilakukan dimulai dari jarak yang cukup jauh dari elemen simetris yang stabil yaitu basis kranial. maksila yang mengalami disimpaksi dapat dikoreksi dengan menyesuaikan oklusi pada rahang bawah dan dilakukan fiksasi intermaksilaris.2.yaitu dengan tehnik bottom to top (dari bawah ke atas) atau top to bottom (dari atas ke bawah). Ketidakakuratan dalam mereduksi dan mereposisi fraktur kondilus akan menyebabkan asimetri wajah. Bila lengkung mandibula terganggu harus diperbaiki terlebih dahulu. Selain itu bila basis kranial frontalis diperbaiki dan dilekatkan terhadap tengah wajah dapat menaikkan resiko kerusakan atau perubahan letak terhadap fosa kranialis anterior yang telah diperbaiki. Hal ini dilakukan agar rekonstruksi pada mandibula dapat menghasilkan hubungan yang intak dalam mereposisi maksila.8 Apabila kranium frontalis masih intak atau terdapat fraktur pada fossa kranial anterior atau fronto-orbital bar tanpa adanya kehilangan tulang atau dimana struktur-struktur tulang tersebut di atas telah terekonstruksi dengan kuat. Namun bila terdapat diskontinuitas pada lengkung mandibula. Perbaikan dapat dilanjutkan dalam arah atas ke bawah dan bertemu dengan segmen maksilomandibula yang telah terfiksasi.8 Pada tehnik bottom to top. Fraktur pada kondilus baik unilateral maupun bilateral memerlukan reduksi segera dan fiksasi internal untuk mempertahankan ketinggian fasial. Setelah mandibula terkoreksi dengan baik.6 342 .6. Fiksasi dapat dilakukan dengan menempatkan miniplate secara transversal pada maksila. 5. hilangnya tulang pada tulang kranial dan diskontinuitas pada dasar fosa kranial anterior atau hilangnya titik referensi.

C dan D. penatalaksanaan fraktur panfacial dapat dimulai dengan fikasi maxilomandibular. reduksi dan fiksasi zygoma dengan menggunakan panduan sutura sphenozygomatik dan sutura zigomatiko maxilary. kompleks malar dan tulang frontalis. selanjutnya fraktur naso-orbiethmoid dapat direduksi dan fiksasi pada sutura naso frontalis dan sutura frontomaxilary dan infraorbital rim serta piriform. kemudian fraktur symphisis. Gruss dan Mackinon (1986) menyarankan untuk melakukan rekonstruksi pertama-tama pada bagian luar rangka fasial (outer facial frame) pada fraktur panfasial yaitu meliputi lengkung zygomatik. Tehnik bottom up dan inside out. G dan H. Kemudian diikuti dengan reduksi dan fiksasi fraktur subkondil. 1 Pada tehnik top to bottom. Kemudian rekonstruksi dilakukan pada bagian dalam 343 . selanjutnya maxiila dapat distabilisasi sepanjang buttress zygomaticomaxilary.Gbr 7. E dan F. A dan B.

Teknik top to bottom1 Cangkok tulang biasanya dilakukan untuk merekonstruksi dinding orbital dan hidung. Selain itu cangkok tulang dilakukan untuk koreksi sekunder bila 344 . Setelah itu dilakukan rekonstruksi pada maksila pada Le Fort I dengan menggunakan plat pada buttress. Gbr 8. Kemudian reposisi pada fraktur mandibula dan diakhiri dengan fiksasi intermaksilaris. sutura zygomatikofrontalis dan orbital rim.rangka fasial (inner facial frame) atau pada kompleks naso-orbitho-ethmoidal.

Selain itu insisi ini dapat memberikan akses yang optimal untuk dapat mereduksi dan memfiksasi fragmen tulang. insisi pada kelopak mata bagian bawah. Kurangnya ketinggian wajah pada bagian posterior. Gigitan terbuka pada bagian anterior ( openbite anterior). retromandibular atau submandibular. Bertambahnya lebar wajah. 345 . sulkus gingivobukal. Berkurangnya ukuran proyeksi wajah dalam arah anterior dan posterior. 5. 6. 2. Maloklusi. periorbital. 4.5 2.4 Komplikasi Komplikasi yang dapat terjadi pada trauma maksilofasial adalah : 1. parastesi. preaurikular. Insisi koronal akan dapat memberikan pemaparan yang lebih luas pada tulang kranium dan rangka kraniofasial bagian atas. 3. Kebutaan. 7.6 Berbagai macam insisi dilakukan untuk mendapatkan pemaparan tulang yang mengalami fraktur dan merekonstruksinya antara lain dengan insisi koronal. Deformitas dan obstruksi hidung dan serta 8. Kerusakan neurologis seperti adanya anestesi.dibutuhkan untuk menambah kontur pada regio tertentu dan memperbaiki kesimetrisan wajah.

BAB III KESIMPULAN Penatalaksanaan pasien dengan trauma panfasial memerlukan diagnosa yang cermat untuk mendapatkan hasil yang memuaskan dalam merekonstruksi wajah. Prinsip dalam merekonstruksi adalah dengan mereduksi daerah yang anatomi yang memberikan panduan rangka wajah yang maksimal yaitu pada kerangka wajah luar. reduksi yang cermat dan fiksasi dari fraktur. Kunci keberhasilan pengelolaan pasien fraktur panfasial adalah dengan mendapatkan lapang pandang yang cukup luas. Daerah-daerah yang mengalami kehilangan tulang yang luas dapat dilakukan cangkok tulang. 346 .

com/article/1283471-overview Facial Trauma. Management of Panfacial Fractures 10. http://emedicine. G. Microplates and Screws. Jakarta. Facial Fracture in David. Hard N. 3. R.net/default Periorbital Fractures 5. J. EGC. Pedersen. 2010.A et al. Management of Panfacial Fractures 8. Alih Bahasa: drg. Buku Ajar Praktis Bedah Mulut.A. Management of Panfacial Fractures 4. Fonseca R. 2005. drg.com/article/1283471-overview Workup: Facial Trauma. Craniomaxillofacial Trauma. 1996.otohns.medscape. Stuttgart. Berlin: Springer-Verlag 2. Panfacial fractures : Planning an Organized Treatment in Harle F.com/article/1283471-overview Facial Trauma.M. Multimedia: Follow-up: Treatment: UTMB Grand Rounds-Maxillary and 347 .com/article/1283471-overview Facial Trauma. http://www.J & Simpson D. Kuttenberger.W.medscape. St Louis: Elsevier Saunders.medscape. Oral and Maxillofacial Trauma. Purwanto. 1995. Diagnosis and Management. Atlas of Craniomaxillofacial Osteosynthesis Miniplates. Management of Panfacial Fractures 9. http://emedicine. http://emedicine. 3rd ed. 1990. http://emedicine. D.J. Craniofacial Trauma. Trott. Bos. Edinburg: Churchill Livingston 6. New York: Thieme 7.DAFTAR PUSTAKA 1. M. Basoeseno.R.medscape. and Champy.

ukuran bagian tubuh yang lebih kecil dan komplikasi yang minimal menjadi karakteristik tersendiri pada pasien anak-anak. 348 . Maksud dari penulisan makalah ini adalah untuk memberikan gambaran mengenai manajemen penatalaksanaan trauma pada anak-anak. fiksasi. Kata kunci : trauma. Dengan kemampuan penyembuhan yang cepat.Manajemen Trauma Pada Anak-Anak Arismunandar 160121120005 Peserta Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut Dan Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Bandung Abstrak Manajemen trauma oromaksilofasial pada pasien anak-anak sedikit berbeda dengan orang dewasa. reposisi. reduksi. anak-anak. Perlu di perhatikan pada penanganan kegawatdaruratan dan perawatan definitive oleh karena struktur anatomi yang sedikit berbeda dengan orang dewasa. fraktur.

Karena faktor ini.BAB I PENDAHULUAN Pasien trauma orofasial pada anak-anak berbeda dari orang dewasa dengan luka yang serupa oleh karena trauma yang terjadi. darah total yang lebih rendah volume. cedera pada wajah karena trauma berpengaruh pada pertumbuhan.4 Adanya perbedaan antara pasien anak dan dewasa mempunyai dampak terhadap pola trauma pada anak-anak pada umumnya dan trauma maksilofasial khususnya. pada pasien anak-anak memiliki keuntungan dari kemampuannya untuk menyembuhkan yang cepat dengan komplikasi yang minimal. Anak-anak memiliki permukaan yang lebih tinggi-untuk-rasio volume tubuh. dan stroke volume lebih kecil daripada orang dewasa. pemulihan jaringan orofasial yang rusak dapat dimaksimalkan dan hilangnya fungsi dapat diminimalkan. Kedua. akan menyebabkan gaya yang lebih besar per unit masa tubuh. Pada pasien pediatrik. melalui pertumbuhan dan kemampuan yang melekat pada anak-anak untuk beradaptasi. dan adanya lapisan adiposa yang menutupi kerangka lebih tebal daripada pada orang dewasa. 349 . 1. yang membuat tindak lanjut penanganan jangka panjang pada pasien anak-anak wajib diperhatikan. mereka lebih rentan menghadapi resiko hipotermia.2 Faktor-faktor ini juga berkontribusi terhadap rendahnya frekuensi fraktur fasial pada anak-anak dan seringya terjadi greenstick dan nondisplaced fraktur pada anak-anak. Ini termasuk anatomi wajah yang belum dewasa. 3 Ukuran tubuh anakanak yang lebih kecil juga berpengaruh. Kurangnya sinus pneumatization dan tunas gigi dalam rahang berkontribusi terhadap stabilitas dan rendahnya prevalensi pada fraktur midface . dan curah jantung. Pertama. oleh karena vaskularisasi jaringan yang baik dari wajah. ada karakteristik tertentu dari trauma orofasial pada anak-anak yang harus selalu diingat. garis sutura lebih fleksibel.2 Disamping keuntungan ini.3 Oleh karena itu. oxygen demand. tingkat metabolisme lebih tinggi. tulang lebih elastis. saat terjadi trauma. trauma orofasial pada anak-anak tidak dapat dikelola dengan cara yang sama seperti pada orang dewasa.

insiden patah tulang rahang midface dan meningkat sedangkan insiden cedera kranial berkurang. Rasio cranial to body mass diperkirakan 8:1 pada masa bayi dan 2.3. Oleh karena itu maka pemeliharaan jalan nafas. Perlindungan ''relatif'' wajah oleh tulang tengkorak memberikan informasi bahwa. pengendalian perdarahan.4 350 . serta lebih besar insiden cedera tengkorak dalam kelompok usia yang lebih muda.3 Dibandingkan dengan orang dewasa.hipotensi. dengan bertambahnya usia. dan resusitasi awal lebih kritis pada anak-anak daripada orang dewasa.5:1 pada dewasa. Ini juga menjelaskan mengapa. dan hipoksia setelah kehilangan darah dan bahkan pembengkakan ringan pada saluran napas atau terjadinya obstruksi mekanis. anak-anak memiliki rasio cranial to body mass lebih besar. insidensi fraktur midface dan tulang mandibula pada anak-anak lebih rendah.

3. stabilization. Walaupun kebanyakan dokter mengkategorikan pasien yang sedang dalam masa tumbuh kembang sesuai dengan kesar tubuh anak-anak tersebut. dan dewasa muda berada pada usia 11-19 tahun.BAB II TINJAUAN PUSTAKA Epidemiologi Etiologi cedera pada wajah bervariasi dengan usia. mencapai 80% dari ukuran dewasa pada usia dua tahun.1 Dilema sering muncul ketika harus memutuskan perawatan yang terbaik untuk penatalaksanaan trauma orofasial terutama pada pasien anak-anak. anak-anak harus dibedakan berdasarkan usia tumbuh kembangnya. Potensi penyembuhan dan remodeling tulang pada anak-anak lebih besar daripada orang dewasa. reduction.3. Pertumbuhan fasial terus berlangsung sampai pada dekade kedua kehidupan hingga ratio kraniofasila menjadi 2:1. kategori anak-anak berada pada usia 1-11 tahun. & fixation) harus diterapkan disamping tetap mempertimbangkan dampak yang terjadi terhadap tumbuh kembang anak-anak di masa mendatang.4 Prinsip umum penatalaksanaan fraktur (recognition. Infant dikategorikan pada usia kurang dari 1 tahun. Oleh karena alasan tersebut maka tulang kranium lebih sering terkena trauma sebelum usia ke-7 daripada trauma yang terjadi pada wajah. Secara keseluruhan menunjukkan bahwa. kranium tumbuh lebih cepat daripada wajah. 2. Rasio kraniofasial saat lahir adalah 8:1 dan wajah tersembunyi di bawah tulang kranium yang relatif besar. penyebab paling umum cedera pada wajah adalah kecelakaan kendaraan bermotor apakah anak sebagai penumpang atau pejalan kaki. Otak dan ocular pertumbuhan hampir selesai pada usia tujuh.4 Anatomi Dan Patofisiologi Proporsi wajah anak-anak sangat berbeda dari yang orang dewasa. Pada perawatan IMF yang menghambat tumbuh kembang 351 . Tulang kranium kepala besar dan struktur wajah yang relatif kecil. Awalnya. Peran dan fungsi rahang sebagai modulator pertumbuhan mandibula tidak terbantahkan.

Pada anak-anak dan bayi rigiditas dada kurang bila dibandingkan dengan dewasa. Pada usia yang lebih dewasa. depresi dapat terjadi karena tekanan dari ingatan akan trauma dan kehilangan anggota tubuh dapat menghambat perkembangan mental pada anak. harus diperhatikan bahwa jangan sampai tindakan tersebut mempunyai efek terhadap tumbuh kembang wajah akibat penempatan bone plates. 352 . Selama periode infant. pada anak-anak penyebab umum terjadinya gangguan jantung oleh karena gangguan sekunder pernafasan. closed reduction menjadi pilihan solusi penanganan pada kebanyakan fraktur fasial. Komposisi tulang dengan lebih banyak tulang kanselus menyebabkan kurang kondusif dilakukan screw/ wire fixation untuk internal fiksasi.wajah efeknya bersifat reversible.2 Fraktur greenstick lebih sering dijumpai pada pasien anak-anak oleh karena tulang korteks yang tipis dan meningkatnya bagian medulla tulang menyebabkan tulang tahan terhadap benturan. kesulitan intubasi.1. Hampir tidak ada/ jarang ditemukan kasus nonunion pada fraktur fasial pada anak-anak. Ketika perawatan open reduction menjadi pilihan.4 Anatomi jalan nafas pada pasien anak-anak memiliki saluran yang pendek dan diameter yang kecil serta epiglotis yang sempit serta lidah yang besar pada anak. trauma dan bedah akan mengganggu alur makan dan tidur infant. Aktivitas osteogenic dan bone remodeling yang aktif pada anak-anak menyebabkan fraktur yang terjadi baik pada maksila ataupun pada mandibula yang jika tidak segera dilakukan reduksi dalam beberapa hari maka akan sulit didapatkan reduksi yang adekuat dikemudian hari.3 Psikologi anak-anak Stress trauma dan bedah akan berpengaruh pada psikologi anak-anak. screws ataupun wires. jika pemasangan IMF dilakukan untuk jangka waktu yang singkat. Tidak seperti pada orang dewasa. rawat inap rumah sakit. Oleh karena alasan tersebut.2. Kondisi ini menyebabkan meningkatnya airway resintance. dan mudahnya self-extubation. 1. Selama fase mixed dentition mungkin akan sulit didapatkan IMF yang stabil pada perawatan closed dan open reduction. mudahnya tejadi obstruksi.

Konsultasi dengan psikiatri dan layanan social lainnya penting untuk menghasilkan kesehatan yang sempurna pada anak-anak. trauma kepala sering menyertai fraktur fasial. 32 % fraktur orbita pada dasar orbita. kemudian diikuti trauma pada ekstremitas.6% fraktur orbita. 19% pada dinding media. Insiden Fraktur Fasial Fasial fraktur pada anak-anak jarang terjadi pada anak-anak. Pada kasus kecelakaan kendaraan bermotor yang terjadi/ melibatkan anak-anak.7 fraktur zygoma dan maksila. Fraktur pada midface pada anak-anak ditemukan kurang dari 1% dan 4% disertai variasi fraktur Le Fort I. Posnick et al mendapatkan dari 137 pasien. Analisa yang dilakukan Rowe pada 1500 kasus fraktur fasial ditemukan bahwa. menemukan 42 % dengan fraktur fasial (6-12 tahun). 15. 5% dari semua kasus fraktur fasial terjadi pada anak-anak dibawah umur 12 tahun dan kurang dari 1% terjadi pada anak-anak dibawah umur 6 tahun. keadaan ini dapat memicu pertumbuhan mental pasien kea rah yang tidak wajar.5% fraktur mandibula. Pada pasien anak-anak. 11. 8.Post Traumatic Stres Disorder (PTSD) dapat muncul setelah luka pada individu muda yang tidak pernah mengalami luka yang serius ataupun rawat inap pada lingkungan rumah sakit. 1 Studi yang dilakukan McCoy et al. Perawatan khusus harus diberikan untuk menjaga keadaan mental pasien anakanak. menemukan bahwa 40% kasus fraktur fasial berkaitan dengan fraktur kranium. 51.1 353 . Walaupun PTSD bukanlah kelainan yang fatal. 18% pada atap orbita.4% terjadi faraktur nasal.

respiratory compromise. akses intraosseus bisa dilakukan sampai akses intravena didapatkan. jika kurang dari 6 tahun. Mulut dan pharynx harus terbebas dari kotoran dan intubasi dilakukan jika diperlukan. wajah. Perubahan status mentalis. Maintenance terapi untuk mengkompensasi kehilangan cairan insensible (paru & keringat) dan sensible (urine & stool). Jika diduga dehidrasi moderate maka maintenance awal 5mL/ Kg per jam selama 2 354 . kontrol perdarahan dan stabilisasi tulang servikal merupakan langkah utama pada manajemen kegawatdaruratan pada pasien anak-anak dengan trauma orofasial. pencegahan terjadinya aspirasi.4 Cairan Dan Elektrolit Resusitasi cairan merupakan komponen penting pada manajemen perioperatif pada pasien trauma anak-anak. Stabilisasi tulang servikal sampai kondisi dinyatakan clear. resusitasi cairan dengan 2 cateter intravena diperlukan.BAB III PEMBAHASAN Manajemen Kegawat-daruratan Pemeliharaan jalan nafas. Kalkulasi terapi maintenance pada anak-anak berkisar 1500 mL + 20 mL/kg untuk berat badan yang lebih dari 20 Kg per hari. Kemungkinan terjadi kehilangan cairan pada kondisi adanya luka terbuka. diare. muntah. dan hipotermi adalah tanda-tanda shock dan memerlukan segera resusitasi cairan dengan cairan intravena yang hangat untuk mengembalikan ke kondisi semula. fragmen fraktur mandibula. Untuk terapi maintenance dikalkulasikan dengan estimasi caloric expenditure dari berat badan dan luas permukaan tubuh. Perdarahan dari kulit kepala. delayed capillary refill. berkurangnya nadi perifer. Kebutuhan cairan pada anak-anak terdiri dari maintenance dan replacement. Pembengkakan karena trauma maksilofasial. leher dan mulut harus dikontrol dengan penekanan dan dilakukan penjahitan bila perlu. dapat membahayakan saluran pernafasan pada anak-anak dengan trauma maksilofasial. Dengan adanya trauma.

Penggunaan cairan isotonis dianjurkan karena aktif secara osmosis dan menyebabkan ekspansi intravascular. serta kemungkinan adanya red cell isoantibodies.5-2 mL/ Kg per jam. Ketika kondisi hemodinamik sudah tidak stabil maka perlu diberikan bolus crystalloid fluid.3 355 . poor filling capillary refiil. Resusitasi untuk hipovalemia dapat dimulai dengan pemberian crystalloid bolus 20 mL/Kg. dan pre renal azotemia. Tanda-tanda shock meliputi tachycardia.1. Output urine diharapkan 1-2 mL/ Kg per jam pada anak-anak. Pada kasus trauma pada anak-anak operator harus jeli memonitor kondisi klinis pasien jika sewaktu-waktu terjadi shock dan dibutuhkan resusitasi cairan. pallor. D5 dengan ½ NS).jam pertama dan berkurang sampai 1. Bolus diulang sampai total 60 mL/Kg .1. Penggunaan cairan hipotonis tidak dianjurkan pada resusitasi karena menyebabkan menurunnya crystalloid osmotic pressure. karena kandungan chloride didalamnya adalah nonphysiologic chloride.karena tiga kali jumlah crystalloid diperlukan untuk menggantikan volume darah yang hilang. Terapi cairan untuk maintenance biasanya larutan hipotonis dengan konsentrasi Na dan K yang memadai ( 5% dextrose [D5] dengan ¼ NS. Penggunaan NS bisa memicu terjadinya hipernantremi ketika diberikan untuk maintenance karena kandungan sodium yang tinggi (154 mEq/L) dan juga karena kemampuan bayi untuk mengekskresikan kelebihan sodium berkurang. Serta juga dapat menyebabkan hiperchloremic pada neonates jika digunakan dalam jangka waktu yang lama. transfusi PRC 10-20 mL/Kg. yang mewakili 25% volume darah normal pada anak-anak.3 Blood Loss Dan Replacement Tujuan utama manjemen terapi cairan pada anak-anak adalah untuk mengenali dan mengatasi kondisi yang mengancam nyawa dan mengeliminasi kondisi sekunder karena trauma yang terjadi. Compatibility test harus dilakukan sebelum dilakukan transfusi untuk menentukan golongan darah dan Rh recipient. Darah merupakan agen yang sangat efektif untuk mengoreksi defisit intravascular. Pada anak-anak dengan multisystem trauma harus dipertimbangkan kemungkinan terjadinya perdarahan.

massive edema hindari pemberian makan secara enteral selama kurang lebih 3 hari atau lebih. Perhatikan dan observasi tanda-tanda vital untuk menentukan apakah pasien stabil atau dalam kondisi sebaliknya. parestesi wajah. Ketika terjadi fraktur orbita lakukan tes visual . intake makanan dalam bentuk mechanical diet yang tidak dikunyah atau dalam bentuk cairan jika terpasang IMF. Identifikasi adanya pembengkakan yang terjadi dan kemungkinan terjadinya fraktur pada struktur tulang dibawahnya. Sedasi selama periode tersebut mungkin sangat diperlukan tetapi harus dihindari karena kondisi pasien masih dalam masks neurologoc changes. subconjunctival hemorrhage. perubahan status mentalis. respiratory failure. atau adanya gigi yang tanggal curigai adanya fraktur rahang. Palpasi regio orbita dan nasal untuk mengetahui adanya deformitas tulang pada daerah tersebut.subcutaneous emphysema. atau adanya hemotympanum. Pada pasien recovery. Konsultasikan ke neurosurgical jika ada riwayat pingsan. 1. rhinorea. battle’s sign. sering terjadi kondisi hypercatabolic yang memerlukan oral intake yang adekuat untuk mencukupi nutrisi yang dibutuhkan tubuh. dan kelainan pergerakan bola mata. 356 . subcutaneous emphysema. adakah diplopia.3 Pemeriksaan klinis Perhatikan airway. dan krepitasi yang terjadi. Adanya battle’s sign (postauricular echymosis) curigai adanya basal skull fracture. terutama pada pasien dengan trauma midface yang parah. Adanya deviasi waktu membuka mulut curigai adanya fraktur pada kondil mandibula. Adanya laserasi atau kontusi pada daerah dagu waspadai kemungkinan terjadinnya fraktur pada kondil mandibula. berikan secara parenteral. dan identifikasi perdarahan dari rongga mulut. periorbital ecchymosis. perdarahan hidung. Adanya kelainan maloklusi. oedema fasial. Ketika pasien dalam kondisi severe neurologic injury.Nutrisi Pada pasien anak-anak paska penatalaksanaan tindakan bedah. Karena jalan nafas yang relatif sempit maka kemungkinan dampak karena oedem dan pembengkakan semakin besar. kemudian diikuti evaluasi kardiopulmonal.

2. Prosentasenya berkisar 8.1 Gambar 1. Penggunaan CT-Scan telah menjadi kegiatan rutin dinegara-negara besar dan menjadi standar perawatan menggantikan pemeriksaan radiologi konvensional. schede AP lateral.1 % dan 50.Anamnesa yang akurat tentang riwayat trauma pada pasien ataupun pengantar sangat membantu perencanaan tindakan berikutnya. Water’s view dan submental vertex.3 TIPE FRAKTUR 1. Penanganan fraktur alveolar meliputi imobilisasi segmen fraktur dengan arch bar. Pemeriksaan lengkap pada wajah meliputi. Panoramic foto merupakan alat diagnostic lainnya yang diperlukan tetapi menuntut kerjasama pasien untuk diam selama berlangsung pemaparan. Pada pasien dengan alveolar bone loss dapat dilakukan autogenous bone grafting dengan pengambilan tulang berasal dari mandibular ramus.2 Pemeriksaan Radiologi Pemeriksaa radiologi perlu dilakukan untuk membantu menegakkan diagnosa. os mental atau tulang kranial. 1. wire ligation serta composite supported orthodontic wire extended pada gigi disekitarnya.6 % pada trauma fasial pada anak-anak. 1. Pada fraktur alveolar maksila berkisar antara 5% sampai 65%. Fraktur Alveolar Fraktur mandibular alveolar pada anak-anak merupakan yang paling sering terjadi pada fraktur fasial. Fiksasi gigi dengan composite supported orthodontic wire extended1 357 . Town’s projection.

358 . Fraktur nasal sering terjadi pada cedera midfasial anak-anak. Fraktur Midfasial Fraktur Nasal. Reseksi pada septal cartilage dapat menyebabkan gangguan Pemeriksaan ulang pertumbuhan wajah. Fraktur nasal yang terjadi sebelum proses tumbuh kembang selesai harus di perlakukan sama seperti fraktur nasal pada orang dewasa. dan hal ini harus dihindari. bukan hiperekstensi kebelakang. untuk mencegah terjadinya aspirasi dari darah karena darah mengalir ke posterior pharynx. 1 Splinting eksternal dapat membantu untuk mengontrol pembengkakan dan menyediakan perlindungan pada hidung setelah dilakukan reposisi. Adanya gangguan pertumbuhan setelah terjadinya fraktur nasal akan menyebabkan penutupan premature dari sutura septovomerine. Jika terjadi terjadi deviasi septum maka harus dilakukan reduksi. dan jika terjadi deformitas maka harus dilakukan closed reduction.2. dan membiarkanya beberapa saat selama proses penyembuhan. Setelah dilakukan reduksi dengan kaudal traksi. Tulang hidung dapat direposisi dengan pendekatan intranasal. Seperti pada fraktur nasal orang dewasa maka oedema terjadi disekitar struktur os nasalis. Epistaksis sering terjadi menyertai trauma pada hidung dan mudah dikontrol dengan melakukan penekanan pada nostril selama 5-10 menit dengan kepala sedikit ditengadakan. dilakukan setelah 3-4 hari setelah terjadinya trauma. Nasal packs dapat digunakan untuk menyangga tulang dan septum hidung yang telah direposisi.

2 Fraktur Orbita. dasar dan sinus frontalis lebih sering terjadi . Adanya disfigurement wajah. karena sebagian besar perkembangan orbita telah selesai. kemudian model dipotong untuk memfasilitasi konstruksi pembuatan splint untuk closed reduction. dan dilakukan pada kondisi tertentu. gigi belum tumbuh dan sinus maksilaris masih belum sempurna. 1 Fraktur Maksila. (B) Setelah reduksi tertutup. cedera pada atap orbita. Penatalaksanaan fraktur orbita pada anak-anak umur 7 tahun ke atas sama dengan penatalaksanaan pada fraktur orbita orang dewasa. Intervensi bedah pada toothbearing area pada maksila untuk penempatan kawat untuk stabilisasi atau plate meningkatkan insiden terjadinya gangguan perkembangan benih gigi dan sedapat mungkin dihindari. dan jaringan lunaknya lebih banyak jaringan lemak. Pencetakan dilakukan dan pembuatan model. Jika terjadi fraktur dan terjadi maloklusi maka dapat dilakukan closed reduction. dinding lateral. Setelah usia 7 tahun. adanya keterbatasan gerak bola mata. Hal ini dikarenakan sinus masih dalam perkembangan. Fraktur Le fort pada anak-anak jarang ditemui oleh karena maksila pada anak-anak masih tulang kanselus. sebagian besar fraktur pada orbita terjadi pada atap orbita dan meluas ke sinus frontalis. (A) Deviasi ke kanan setelah trauma pada wajah. Jejas pada nasal merupakan fraktur wajah yang sering terjadi pada pasien anak-anak. Sebelum usia 7 tahun.1.Gambar 2. Aperture piriformis dan dinding zygomaticomaxillary tebal . prolaps 359 .

dasar orbita dan dinding medial dapat dilakukan pendekatan dengan melakukan insisi pada lipatan inferior kantung mata atau melalui transconjunctival approach.2 360 . Untuk eksplorasi daerah infraorbital rim. Untuk menghindari hal tersebut maka sedapat mungkin kawat atau screw harus ditempatkan dengan posisi cephalic diatas rim. dan jika gigi permanen belum tumbuh.periorbita ke athrum atau sinus ethmoidalis dan adanya diplopia yang persisten merupakan indikasi dilakukan open orbital exploration. (A) Edema pada fronto-periorbita dextra dan ekimosis setelah trauma. Untuk eksplorasi regio frontozygomatico dapat dilakukan insisi di sekitar alis mata. Jika dilakukan fiksasi internal maka kawat ditempatkan pada inferior orbital rim. Fraktur fronto-rima orbitalis superior terjadi karena adanya tumbukan yang cepat kearah benda diam. Karena pada anak-anak lipatan kantung mata belum terbentuk maka insisi bisa dilakukan parallel dengan batas kantung mata dan sedikit bersudut ke inferior hal ini untuk mengurangi terbentuknya jaringan parut. dan diseksi dilakukan ke otot orbicularis oculli terus sampai ke bawah pada orbital rim. (B) Durante op dengan gambaran impaksi frontal dan rima supra orbita yang memerkukan dilakukannya craniektomi untuk akses dan pebaikan. Gambar 3. kemungkinan tunas benih gigi akan terkena. Insisi dibuat 7 mm dari tepi bawah kantung mata.

1. Regio ini dapat diakses melalui pendekatan insisi koronal untuk hasil estetik yang memuaskan. disamping bisa dilakukan insisi pada nasal dorsum dan juga perluasan insisi dari insisi inferior kantung mata yang meluas ke tulang hidung bagian lateral. Menurut Ochs MW FR.3 Jika dasar orbita atau dinding medial fraktur maka akan terjadi prolaps bola mata ke anthrum atau sinus ethmoidalis. tapi karena pentingnya harus digaris bawahi karena potensialnya yang bisa menyebabkan gangguan pada pertumbuhan tulang wajah. Potongan cross-seksi dari inferior palpebral dan variasi dari insisi pada dasar. orbita dan septum nasalis.Gambar 4. Open reduction kompleks pada nasal-orbita-ethmoid dilakukan 4 hari setelah trauma dan dengan gangguan seminimal pada septum nasalis. Ketika dilakukan open reduction pada daerah ini maka periosteum akan dipisahkan dari tulang orbita dan nasal dan kondisi ini sendiri berpotensial menghambat pertumbuhan wajah.2 Fraktur Nasal-Orbita-Ethmiodal. Insisi koronal dilakukan 361 . Fraktur ini relatif jarang dijumpai pada anak-anak. Orbital trauma. Pertumbuhan midface tergantung dari pertumbuhan fossa cranii anterior. In: Fonseca RJ. Prolaps yang terjadi harus dikembalikan dan dasar atau dinding harus didukung dengan bone graft untuk mencegah enophthalmus.

2 362 .1 Fraktur Arkus Zygomatikus.41 % dari seluruh populasi trauma pada anak-anak. Pada fraktur greenstick atau minimal displaced hanya dibutuhkan observasi saja. sphenoid dan tulang temporal maka reduksi dan reposisi biasanya melalui multiple approaches. Kadang-kadang insisi meluas sampai ke regio preauricular bila diinginkan lapang pandang yang luas. Studi terbaru menemukan bahwa penyuntikan botulinum pre-op dapat menahan tarikan otot masseter kearah inferior sehingga mengurangi kemungkinan displacement fraktur post reduction oleh karena tarikan otot masseter.1.dan transconjuctival. Penatalaksanaan pada fraktur ini dilakukan jika terdapat deformitas atau terjadi trismus. Seiring dengan bertambahnya usia tulang zygoma semakin menonjol dan prevalensi kejadian fraktur pada arkus zygomatikus juga meningkat. Gangguan pertumbuhan oleh karena fraktur ini jarang terjadi. sublabial. tetapi jika terjadi depressed dan comminuted fracture perlu dilakukan open reduction dan fiksasi.dibelakang hairline pada kulit kepala dan dimulai setinggi dari telinga. Fraktur pada arkus zygoma terjadi dengan prosentase 7. meliputi pendekatan hemicoronal. Jika terjadi fraktur zygoma kompleks atau Quadrapod yang melibatkan disartikulasi tulang zygoma dengan tulang frontal. Penatalaksanaan pada fraktur ini hanya jika dibutuhkan dan sama seperti pada orang dewasa. Jika terjadi maka pendekatan dilakukan melalui intra oral atau Gilles approach. maksilaris.

(A) Setelah pembengkakan awal. 3. Pendekatan dengan Gilies untuk reduksi arkus zigomatikus2 Penggunaan double ended periostel elevator. dengan pendekatan insisi pada regio temporalis. (B) Post-bedah dengan reduksi intraoral dan pemasangan plat fiksasi2 Gambar 6. Trismus post-op sering terjadi dan akan berkurang dalam dalam beberapa minggu. Kelly clamp dapat digunakan untuk mereposisi fraktur ini.Gambar 5. Fraktur Mandibula Fraktur Kondil. Pasien harus latihan buka tutup mulut. Fraktur zigomatic dengan defisiensi malar disertai dengan infraorbital (V2) parastesi. Kondil mandibula merupakan daerah yang paling sering cedera dengan tingkat 363 . memajukan mandibula dan lateral excursion. keadaan malar dapat dilihat. Fraktur pada kondil semasa kanak-kanak berpotensi dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan wajah.

darah pada canalis meatus acusticus. Pada pemeriksaan fisik. terapi fisik. nyeri pada preauricular. Deviasi terjadi karena pemendekkan ramus. deviasi mandibula waktu buka dan tutup mulut. Mobilisasi segera. pembengkakan. Open reduction dilakukan jika terjadi terjadi displaced segmen kondil pada fossa cranial media atau jika terdapat benda asing. anterior open bite. maka pertumbuhan mandibula akan berlangsung secara simetris. dan laserasi submental merupakan pertanda adanya fraktur kondil.5%-60%. Tanda dan gejala fraktur kondil pada anak-anak sama dengan tanda dan gejala pada fraktur kondil orang dewasa. Jika posisi mandibula dan oklusi dapat dicapai dan dipertahankan selama 6 bulan . Closed reduction dengan IMF elastis dengan kurun waktu 1-2 minggu. Karena proses penyembuhan yang cepat pada anakanak. keterbatasan pergerakan. Adanya asimetri maloklusi. Perawatan. dan fungsi tanpa gangguan pertumbuhan dimasa mendatang. mandibula mengalami deviasi kesisi yang fraktur jika terjadi dislokasi pada proksimal segmen. oklusi . Jika fraktur kondil teridentifikasi. tetapi tidak terjadi maloklusi maka tidak perlu dilakukan immobilisasi. Fraktur pada kondil mandibula dapat dikategorikan fraktur kondil terbuka (capsular disruption) dan tertutup (intracapsular).insidensi 14. Goal dari penatalaksanaan pada fraktur kondil mandibula untuk mengembalikan ke simetrisan mandibula. Trismus dan keterbatasan membuka mulut merupakan gejala adanya fraktur pada kondil. 364 . dan diet lunak menghambat terjadinya fibrosis dan penyatuan tulang serta mengembalikan stimulasi otot-tulang penting untuk kelanjutan pertumbuhan simetris wajah. Closed fracture pada kondil dapat dilakukan closed reduction kecuali oklusi normal tidak tercapai. maka immobilisasi dilakukan tidak terlalu lama dengan pertimbangan kalau terlalu lama maka akan berpotensi terjadi ankylosis.

C: 12 tahun). Sering terjadi greestick fraktur pada regio ini.2 Gambar 7. Pada fraktur ini penatalaksanaan dengan pemberian antibiotic.Ketika terjadi maloklusi atau mandibula asimetri serta adanya fraktur kondil. Intervensi bedah diindikasikan jika segmen kondil displaced ke fossa cranial atau adanya keterbatasan gerakan karena posisi segmen fraktur.1. dan stabilisasi dari fraktur. Open reduction pada fraktur kondil jarang dilakukan. Ilustasi 3 kranium dengan usia yang berbeda (A: 2 tahun. dan terjadi sedikit displacement. dilakukan reduksi.) 2 Fraktur Bodi Dan Simfisis Mandibula. Perbedaan metode stabilisasi dengan arch bar pada variasi umur termasuk circummandibula. dan wiring. kemungkinan hal ini dikarenakan tulang mandibula yang elastic dan tertanamnya benih gigi sehingga memegang fragmen fraktur. maka reduksi untuk mencapai oklusi awal dan posisi mandibula ke posisi awal dapat dicapai dengan IMF atau traksi elastic. Fraktur bodi dam simfisis mandibula pada anak-anak terjadi seiring dengan berkembangnya gigi geligi dan biasanya selalu melibatkan trauma pada rongga mulut. circum-zygomatic. Pada pasien di bawah 2 tahun biasanya hanya di observasi dan diet lunak. piriform atau circumzygomatic wires. Arch bar dapat dipasang pada gigi sulung dengan bantuan circummandibular. infraorbital. Open reduction pada pasien anak- 365 . (Posnick JC. B: 6 tahun.

FDA menyetujui penggunaan resorbable plating systems untuk penatalaksanaan fraktur mandibula. Pada umur antara 5-12 tahun.2. (B) Reduksi intraoral dan plat fiksasi yang dapat di resorbsi. (C) Penggunaan plat yang dapat di resorbsi pada anak usia 4 tahun. Fraktur mandibular yang menyebabkan openbite. yang terjadi pada posterior ramus dan kondulus. Fiksasi maksilomandibular dapat dilakukan dengan pemasangan erich arch bar. dapat dilakukan pemasangan circummandibular wires atau fiksasi skeletal. closed reduction untuk penanganan fraktur tersebut dengan pertimbangan jika dilakukan open reduction akan mengganggu perkembangan tunas gigi.1. Jika memungkinkan. (A) fraktur parasimfisis mandibular dengan separasi antara kaninus dan premolar. 4) (C) Gambar 8. sehingga pada penggunaan sistem ini tanpa dilakukan pengambilan plate dan terjadinya migrasi dari plate oleh karena pertumbuhan tak perlu dikhawatirkan lagi. 4 366 .4 (Fig.anak jarang dilakukan. Perkembangan yang terbaru. Hampir pada semua kasus fraktur pada regio ini penatalaksanaannya dapat dengan menggunakan teknik closed reduction.

harus dilakukan dengan hati-hati untuk mencegah terjadinya gangguan pertumbuhan Manajemen trauma oromaksilofasial pada anak-anak sedikit berbeda dengan orang dewasa namun pada intinya sama karena pada anak-anak masih dalam proses tumbuh kembang.BAB III KESIMPULAN Fraktur wajah pada anak jarang terjadi. 367 . Prinsip umum penatalaksanaan fraktur pada trauma oromaksilofasial pada anak-anak (recognition. Mayoritas dari fraktur ini dapat ditangani secara konservatif. tapi dapat mengakibatkan tingkat morbiditas yang signifikan jika tidak ditangani dengan baik. reduction. & fixation) harus diterapkan disamping tetap mempertimbangkan dampak yang terjadi terhadap tumbuh kembang anak-anak di masa mendatang. stabilization. Jika memang dibutuhkan tindakan bedah.

LB. Philadelphia. RV. 368 . 1990. Elsevier-Saunders company. 2006. NJ. 2. Walker. Betts. Kaban. Saunders Company.B. W. 2004. Barber HD. 4. 2005. Fonseca. 3rd ed. New York. New York. Mc Donald WS. 3. RJ. Marcell Dekker. Wesson DE. Facial Trauma. Pediatric Oral and Maxillofacial Surgery. Pediatric Trauma. Thaller SR. Philadelphia. Oral and Maxilofacial Trauma.B. W. Taylor & francis Group. Vol 2.DAFTAR PUSTAKA 1.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->