Cara Melakukan Pemeriksaan Trauma Oromaksilofasial dan Penanganan Kegawat-daruratan Trauma Oromaksilofasial

Melva Sirait 160121120001

Peserta Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut Dan Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Abstrak : Trauma oromaksilofasial adalah trauma yang menyebabkan cedera pada jaringan lunak mulut, dentoalveolar, serta fraktur wajah. Cedera pada pada jaringan lunak dapat berupa abrasi, kontusio, laserasi dan luka bakar. Kasus trauma oromaksilofasial adalah kasus yang cukup banyak ditemukan di unit gawat darurat hampir sebagian besar rumah sakit. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa penyebab trauma oromaksilofasial paling banyak disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas dan korban tersebut ternyata lebih banyak dialami oleh laki-laki. Terapi yang dilakukan pada penderita pun bervariasi mulai dari hanya pemberian obatobatan, penjahitan luka, pencabutan gigi, alveolektomi, serta reposisi dan fiksasi. Kelainan-kelainan seperti disebut di atas, mengharuskan kita untuk

melakukan pemeriksaan yang lebih lengkap, konsultasi kepada bagian lain yang terkait karena trauma maksilofasial dapat menjadi kasus yang kompleks dan mungkin diperlukan keterlibatan multispesialis dalam manajemennya.

Kata kunci: Trauma oromaksilofasial, pemeriksaan trauma, penanganan trauma

1

BAB I PENDAHULUAN

Trauma oromaksilofasial berhubungan dengan cedera apapun pada wajah atau rahang yang disebabkan oleh kekuatan fisik, benda asing atau luka bakar. Trauma oromaksilofasial termasuk cedera pada salah satu struktur tulang ataupun kulit dan jaringan lunak pada wajah. Setiap bagian dari wajah mungkin dapat terpengaruh. Gigi dapat lepas atau goyang. Mata dengan otot-ototnya, saraf dan pembuluh darahnya mungkin mengalami cedera sehingga dapat menyebabkan gangguan penglihatan, diplopia, pergeseran posisi dari bola mata dan juga seperti halnya rongga mata yang dapat retak oleh pukulan yang kuat. Kerusakan jaringan lunak seperti edema, kontusio, abrasi, laserasi dan avulsi. Rahang bawah (mandibula) dapat mengalami dislokasi. Meskipun dilengkapi oleh otot-otot yang kuat untuk mengunyah, rahang termasuk tidak stabil bila dibandingkan dengan tulang-tulang lainnya sehingga dengan mudah mengalami dislokasi dari sendi temporomandibular yang menempel ke tengkorak.1 Kelainan-kelainan seperti disebut di atas, mengharuskan kita untuk melakukan pemeriksaan yang lebih lengkap, konsultasi kepada bagian lain yang terkait karena trauma maksilofasial dapat menjadi kasus yang kompleks dan mungkin diperlukan keterlibatan multispesialis dalam manajemennya. Trauma oromaksilofasial merupakan salah satu tantangan terbesar untuk pelayanan kesehatan masyarakat di seluruh dunia karena insidennya yang tinggi. Dari penelitian dilaporkan bahwa kecelakaan lalu lintas merupakan penyebab utama dari traumamaksilofacial. Selain itu penyebab lainnya yang tersering ialah kekerasan fisik, konsumsi alkohol yang dapat memicu terjadinya tindakan kekerasan dan kecelakaan, serta trauma oromaksilofasial akibat olahraga.

2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Defenisi Trauma oromaksilofasial adalah suatu ruda paksa yang mengenai wajah dan jaringan sekitarnya.2 Trauma pada jaringan oromaksilofasial dapat mencakup jaringan lunak dan jaringan keras. Yang dimaksud dengan jaringan lunak wajah adalah jaringan lunak yang menutupi jaringan keras wajah. Sedangkan yang dimaksud dengan jaringan keras wajah adalah tulang kepala yang terdiri dari : 1 1. Tulang hidung 2. Tulang arkus zigomatikus 3. Tulang mandibula 4. Tulang maksila 5. Tulang rongga mata 6. Gigi 7. Tulang alveolus 2.2 Etiologi 1,3,4,5,6 Penyebab trauma oromaksilofasial bervariasi, mencakup kecelakaan lalu lintas, kekerasan fisik, terjatuh, olah raga dan trauma akibat senjata api. Kecelakaan lalu lintas adalah penyebab utama trauma oromaksilofasial yang dapat membawa kematian dan kecacatan pada orang dewasa secara umum dibawah usia 50 tahun dan angka terbesar biasanya terjadi pada pria dengan batas usia 21-30 tahun.
a. Fisik

Kecelakaan lalu lintas merupakan penyebab utama fisik terjadinya trauma oromaksilofasial 1. Beberapa literatur mengungkapkan terdapat hubungan antara

3

posisi duduk pengemudi atau penggunaan sistem proteksi terhadap tingkat keparahan cedera oromaksilofasial pada pasien kecelakaan lalu lintas. Selain kecelakaan lalu lintas, etiologi fisik lainnya yang merupakan penyebab trauma oromaksilofasial yaitu jatuh ketika bermain, kecelakaan kerja atau industri, kecelakaan sewaktu berolahraga, gigitan binatang, perkelahian dan lain- lain. b. Kimia Trauma oromaksilofasial akibat bahan kimia biasanya mempunyai manifestasi klinis berupa luka bakar di sekitar mulut dan wajah. Zat kimia seperti kaporit, kalium perpangat, asam kromat, fenol dan fosfor putih dapat bersifat oksidatif, juga larutan basa seperti kalium hidroksida menyebabkan denaturasi protein. Asam sulfat merusak sel karena bersifat cepat menarik air. Gas yang dipakai dalam peperangan menimbulkan luka bakar dan menyebabkan anoksia sel bila berkontak dengan kulit atau mukosa. Trauma oromaksilofasial akibat bahan kimia dapat terjadi akibat kelengahan, pertengkaran, kecelakaan kerja, kecelakaan di industri, laboratorium dan juga akibat penggunaan gas beracun pada perang. c. Elektrik Kecelakaan yang disebabkan faktor elektrik terjadi karena arus listrik mengaliri tubuh, hal ini biasa terjadi pada kecelekaan kerja petugas listrik atau dapat juga akibat petir. Pada kecelakaan tersengat arus listrik didaerah kepala, penderita dapat pingsan lama dan mengalami henti nafas, dapat juga terjadi oedem otak. d. Termis Luka bakar yang terjadi pada wajah juga dikategorikan termasuk dalam trauma oromaksilofasial, yang dapat disebabkan oleh karena benda panas, gesekan, elektrik, radiasi, atau zat kimia. 1 Trauma oromaksilofasial akibat termis dapat terjadi akibat kelengahan seperti kebakaran rumah tangga akibat gas yang meledak dan lain lain. Bagi pasien dengan kecelakaan lalu lintas yang fatal menjadi masalah karena harus rawat inap di rumah sakit dengan cacat permanen yang dapat mengenai ribuan orang per tahunnya. Berdasarkan studi yang dilakukan, 72%

4

kematian oleh trauma oromaksilofasial paling banyak disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas (automobile).

5

Berikut ini tabel etiologi trauma oromaksilofasial. 7 Persentase (%) Dewasa Kecelakaan lalu lintas Penganiayaan Olah raga Jatuh Lain-lain 40-45 10-15 5-10 5 5-10

Anak-anak Kecelakaan lalu lintas Penganiayaan/berkelahi Olah raga(termasuk naik sepeda) Jatuh 10-15 5-10 50-65 5-10

2.3 Klasifikasi Trauma oromaksilofasial dapat diklasifikasikan menjadi dua bagian, yaitu trauma jaringan keras wajah dan trauma jaringan lunak wajah. Trauma jaringan lunak biasanya disebabkan trauma benda tajam, akibat pecahan kaca pada kecelakaan lalu lintas atau pisau dan golok pada perkelahian. 8,9 2.3.1 Trauma jaringan lunak wajah 7,8 Luka adalah kerusakan anatomi, diskontinuitas suatu jaringan oleh karena trauma dari luar. Trauma pada jaringan lunak wajah dapat diklasifikasikan berdasarkan: 1. Berdasarkan jenis luka dan penyebab    Ekskoriasi Luka sayat, luka robek , luka bacok. Luka bakar

6

Luka tembak

2. Berdasarkan ada atau tidaknya kehilangan jaringan 3. Dikaitkan dengan unit estetik

Menguntungkan atau tidak menguntungkan, dikaitkan dengan garis Langer. (Gambar 1)

Gambar 1. (A) Laserasi yang menyilang garis Langer tidak menguntungkan mengakibatkan penyembuhan yang secara kosmetik jelek. B. Insisi fasial ditempatkan sejajar dengan garis Langer 9

2.3.2 Trauma jaringan keras wajah 7,8,10,11 Klasifikasi trauma pada jaringan keras wajah di lihat dari fraktur tulang yang terjadi dan dalam hal ini tidak ada klasifikasi yg definitif. Secara umum dilihat dari terminologinya (pengistilahan) : I. Tipe fraktur 1. Fraktur simpel • • Merupakan fraktur sederhana, liniear yang tertutup misalnya pada kondilus, koronoideus, korpus dan mandibula yang tidak bergigi. Fraktur tidak mencapai bagian luar tulang atau rongga mulut. Termasuk greenstik fraktur yaitu keadaan retak tulang, terutama pada anak dan jarang terjadi.

2. Fraktur kompoun • Fraktur lebih luas dan terbuka atau berhubungan dengan jaringan lunak

7

dan hampir selalu tipe fraktur kompoun meluas dari membran periodontal ke rongga mulut. disini fragmen fraktur terjadi perpindahan tempat 2. fraktur mencakup seluruh tulang. Komplit. bisa terjadi berupa : • Angulasi / bersudut 8 . 3. tumor ganas. Hubungan antar Fragmen 1. seperti Osteomyelitis. Tidak komplit. Fraktur komunisi • Benturan langsung terhadap mandibula dengan objek yang tajam seperti peluru yang mengakibatkan tulang menjadi bagian bagian yang kecil atau remuk.• Biasanya pada fraktur korpus mandibula yang mendukung gigi. Undisplacement. Spiral (berputar) 4. kista yang besar dan penyakit tulang sistemis sehingga dapat menyebabkan fraktur spontan. hair line. bisa horizontal atau vertikal. II. Displacement. jadi sifatnya juga seperti fraktur kompoun dengan kerusakan tulang dan jaringan lunak. 2. Konfigurasi ( garis fraktur ) 1. Tranversal. Oblique ( miring ) 3. 2. seperti pada greenstik. Fraktur patologis • keadaan tulang yang lemah oleh karena adanya penyakit penyakit tulang. Perluasan tulang yang terlibat 1. • Bisa terbatas atau meluas. dan kropresi ( lekuk ) III. bahkan beberapa luka yang parah dapat meluas dengan sobekan pada kulit. Komunisi (remuk) IV. 4.

Koronoid D. Korpus mandibula g. Khusus pada maksila fraktur dapat dibedakan : a. Corpus G. Ramus E. Fraktur blow-out (fraktur tulang dasar orbita) b. Kondilar C. Angulus F.10 V.• • • • Distraksi Kontraksi Rotasi / berputar Impaksi / tertanam Pada mandibula. Fraktur Le Fort I. Dento-alveolar B. Prosesus koronoideus d. dan Le Fort III c. berdasarkan lokasi anatomi fraktur dapat mengenai daerah : a. Le Fort II. Simfisis H. Fraktur pada daerah mandibula A. Midline / simfisis menti h. Fraktur segmental maksila 9 . Prosesus kondiloideus c. Lateral ke midline dalam regio insisivus Gambar 2. Angulus mandibula e. Ramus mandibula f. Parasimfisis. Dento alveolar b.

I Le Fort I.Gambar 3. III Le Fort III (pandangan sagital) 11 10 . II Le Fort II. (A). III Le Fort III (pandangan anterior) (B). II Le Fort II. I Le Fort I.

tanda. Perhatian harus segera diarahkan terhadap saluran pernapasan.tanda vital dan mekanisme cedera.8 Pendekatan awal terhadap pasien trauma oromaksilofasial akut sedikit berbeda dengan cedera yang lain. keadaan yang mengancam nyawa harus dikenali dan resusitasinya dilakukan saat itu juga. 11 .BAB III PEMBAHASAN Gambar 4. Urutan kejadian trauma oromaksilofasial 9 3.1. dan kontrol perdarahan eksternal. Primary survey adalah penilaian terhadap keadaan penderita dan prioritas terapi berdasarkan jenis luka. Selama primary survey. adekuasi dari ventilasi. Pemeriksaan Primary Survey (ABCDE) 7.

Usaha untuk membebaskan airway dilakukan dengan menjaga jalan nafas dan melindungi vertebra servikal. Memasang naso-pharingeal airway (pasien sadar) atau oro-pharingeal airway (pada pasien tidak sadar) 5. B = Breathing / Ventilation / Oxygenation Ini merupakan nilai keadaan oksigenasi dan ventilasi penderita. Ventilasi dengan alat bag-valve-mask 3. Menghilangkan tension pneumothoraks 4. 6.8 A = Airway with C-Spine Protection Pada kasus trauma oromaksilofasial. Jaw trust atau chin-lift dapat dipakai 3. Harus dilakukan segala usaha untuk menjaga jalan napas dan memasang airway definitif bila diperlukan. dan open pneumothorax. Pemberian oksigen konsentrasi tinggi 2. Membersihkan airway dari benda asing 4. Resusitasi: 1. Setiap komponen ini harus dievaluasi secara cepat. setelah memasang airway.Urutan Penanganan Penderita dalam Primary survey 7. dan ini hanya dapat dikenali dengan re-evaluasi berulang terhadap airway-ini. 2. Tidak kalah pentingnya adalah mengenali kemungkinan gangguan airway yang dapat terjadikemudian. Fiksasi leher dengan berbagai cara. Luka yang mengakibatkan gangguan ventilasi berat adalah tension pneumothorax. lebih baik memasang airway definitif (intubasi oro atau nasotracheal atau surgical crico-thyroidotomy).dinding dada dan diafragma. Airway harus dijaga dengan baik pada semua penderita. apakah disana ada obstruksi atau tidak. kita perlu dengan segera memperhatikan kelancaran jalan nafas. Resusitasi 1. flail chest dengan contusio paru. Menutup open pneumothoraks 12 .Ventilasi yang baik meliputi fungsi yang baik dari paru. Bila ada keraguan mengenai kemampuan menjaga airway.

Memasang pulse oximeter 13 .5.

serta konsultasi bedah. tes kehamilan. Perdarahan eksternal dihentikan dengan tekanan langsung pada tempat perdarahan. Penurunan 14 . Memasang NG tube dan kateter urin jika tidak ada kontra indikasi. cross match dan analisis gas darah. sampai terbukti sebaliknya. 3. D = Disability (Neurologic Status) Hal yang penting selanjutnya adalah penilaian terhadap keadaan neurologis secara cepat. ‡ luka. warna kulit dan nadi. analisis kimia. dan tingkat cedera spinal. Memasang 2 chateter i.v ukuran besar. Mengenal adanya perdarahan internal. golongan darah. ‡ Tiga penemuan klinis yang dalam hitungan detik dapat memberikan informasi keadaan hemodinamik pasien. ambil sampel darah untuk pemeriksaan darah rutin. ukuran dan reaksi pupil tanda-tanda lateralisasi. berikan cairan kristaloid yang dihangatkan atau pemberian darah. yakni tingkat kesadaran. Resusitasi : 1. 4. Cari sumber perdarahan. Penurunan kesadaran dapat disebabkan penurunan oksigenasi dan atau penurunan perfusi ke otak yang disebabkan trauma langsung pada otak.C = Circulation & Stop Bleeding Tahap selanjutnya untuk dinilai adalah keadaan hemodinamik pasien. Suatu keadaan hipotensi pada penderita trauma harus dianggap sebagai hipovolemia. 2. sehingga tourniquet hanya dipakai bila ada amputasi traumatik. kebutuhan untuk intervensi bedah. Parameternya adalah tingkat kesadaran. Perdarahan eksternal dihentikan dengan penekanan (direct pressure) pada Tourniquet sebaiknya jangan dipakai karena merusak jaringan dan menyebabkan iskemia distal. baik perdarahan eksternal maupun perdarahan internal.

Apabila pasien dapat membuka mata ketika kita beri rangsang nyeri. maka kita beri nilai E (1). hipoksia atau hipovolemia adalah penyebab utamanya. dan perfusi jaringan. Rangsangan yang diberikan berbagai hal dengan memperhatikan 3 reaksi yang terdiri dari reaksi membuka mata (Eye (E)). Untuk nilai dari respon ini kita nilai (4) atau respon spontan. Penurunan kesadaran dapat disebabkan oleh alkohol dan obat-obatan. 15 . GCS merupakan suatu skala yang digunakan untuk menilai tingkat kesadaran pasien dengan menilai respon pasien terhadap rangsangan yang diberikan. Respon yang diharapkan ada pada pasien ialah bagaimana reflek membuka matanya. Apabila mata terbuka dengan rangsang suara. Ketika tidak ada respon sama sekali. Gamabar 5 : Eye (respon membuka mata)8 Respon membuka mata ini merupakan respon awal ketika kita bertemu dengan pasien. disentuh atau diberikan cubitan. Tingkat kesadaran dinilai dengan GCS (Glasgow Coma Scale) scoring. Namun pada kebanyakan pasien dengan trauma oromaksilofasial. (misalkan dengan menekan kuku jari) maka nilai E pasien (2).kesadaran menuntut dilakukannya re-evaluasi terhadap keadaan oksigenasi. ventilasi. seperti kita memanggil nama pasien. Apakah ia akan spontan membuka mata tanpa harus dipanggil namanya. tidak ada respon. respon verbal (V) bicara dan gerakan motorik. nilai respon E nya adalah nilai (3).

atau ketika kita datang kemudian kita memberikan tangan kita untuk berjabat 16 . Ketika pasien dapat mengetahui dimana dia berada. Motor (respon motorik) Respon motorik ini harus dibedakan dengan penilaian kekuatan otot. seperti memintanya untuk mengangkat tangan. Apabila pasien lebih banyak mengerang atau mengeluarkan suara tanpa arti. maka kita nilai respon verbal pasien (2). maka penilaian selanjutnya ialah bagaimana kita menilai respon verbal pasien. maka kita nilai respon verbal dengan angka (5) . kalimat yang diucapkan baik. orientasi baik. Pemeriksaan ini hanya digunakan untuk mengetahui tingkat kesadaran pasien dengan memantau respon motorik pasien. maka nilai respon verbal kita beri nilai (4) .Tabel 1 : Verbal (respon verbal)8 Setelah reflek membuka mata kita kaji. Ketika masih saja tidak ada respon. Apabila pasien bingung. siapa dirinya. Ketika pasien diperintahkan untuk melakukan apa yang kita inginkan. maka kita beri nilai verbal pasien (1). Untuk nilai (3) kita beri ketika pasien berbicara tidak patut seperti berbicara dengan kata-kata kasar dan makian. berbicara mengacau (sering bertanya berulang-ulang) disorientasi tempat dan waktu.

tangan dengannya. Tabel 2 : Motor (respon motorik)8 Gambar 6 : Respon motorik nilai 6 8 17 . Kita bisa melihat adakah atau tidak respon pasien untuk melakukan hal tersebut (menjabat tangan kita).

18 . untuk kondisi ini kita berikan M (3). Ketika pasien mampu untuk melokalisir nyeri dengan cara menjauhkan stimulus saat diberi rangsang nyeri. Namun jika pasien hanya dapat menghindar terhadap stimulus nyeri maka kita beri nilai M (4). maka kita nilai respon motorik pasien (6) Gambar 7 : respon motorik nilai 5 8 Kita bisa memberikan sebuah stimulus berupa rangsangan nyeri di daerah N.Apabila pasien mengikuti perintah yang kita berikan. Gambar 8 :Respon motorik nilai 3 8 Apabila pasien tidak dapat melokalisasi nyeri dari stimulus. maka kita memberikan nilai (5). Pasien akan memperlihatkan flexi siku yang bisa juga diikuti oleh flexi pergelangan tangan. Supraorbita dengan cara menggosokan kuku didaerah supraorbita groove dengan tekanan yang makin kuat sampai pasien memberikan respon. Maka kita bisa berikan stimulus nyeri di daerah kukunya dengan tekanan ujung pulpen atau lainnya.

pasien harus segera diselimuti untuk mencegah hipotermi. Namun ketika pasien tidak ada respon apapun terhadap nyeri. 3. Setelah pakaian dilepas. Selanjutnya nilai-nilai dijumlahkan. Nilai GCS yang tertinggi adalah 15 yaitu E4M6V5 dan terendah adalah 3 yaitu E1M1V1. maka untuk kondisi seperti ini kita nilai M (1). 19 . dengan jari mengepal & kaki extensi saat diberi rangsang nyeri). Periksa hal-hal yang mungkin terlewat pada pemeriksaan sebelumnya. Menilai status kesadaran klien GCS 14–15 GCS 9–13 GCS 3–8 <3 = cidera kepala ringan = cidera kepala sedang = cidera kepala berat = koma E = Exposure/Environment/Body Temperature Buka pakaian pasien untuk melakukan pemeriksaan secara menyeluruh.Gambar 9 : Respon motorik nilai 2 8 Sedangkan untuk memberikan nilai M (2) didapatkan respon pasien berupa extensi abnormal (tangan satu atau keduanya extensi di sisi tubuh. Hasil pemeriksaan kesadaran berdasarkan GCS disajikan dalam simbol (EMV) 2. seperti darah yang keluar dari anus atau luka pada tubuh yang tertutup pakaian. Penilaian GCS 8 1.

perawat. perlu dicatat bagaimana kronologis kejadiannya. atau siapapun yang melihat dengan jelas bagaimana trauma terjadi.1 Anamnesis Untuk menegakan diagnosis dan menentukan rencana perawatan. Pada situasi ini. amnesia. bagaimana jenis helmnya full face atau half face. mulut dan telinga. tempat kejadian. apakah ia memakai helm atau tidak. 20 . syok. dan peristiwa khusus. dilakukan pemeriksaan neurologis lengkap. pemeriksaan laboratorium juga dapat dikerjakan pada kesempatan ini. dan intoksikasi merupakan hambatan yang sering terjadi dalam menjalin komunikasi dengan pasien. diperlukan informasi yang memadai tentang riwayat trauma. Pemeriksaan pada secondary survey meliputi anamnesa. apakah korban bertindak sebagai pengemudi atau penumpang. pada pasien yang mendapat cedera pada daerah kepala. Prosedur khusus seperti pemeriksaan radiologis. Secondary survey baru dilaksanakan setelah primary survey selesai. waktu. riwayat trauma dapat diperoleh dari petugas unit gawat darurat. apakah ada riwayat pingsan. Apabila cedera disebabkan karena kecelakaan motor. apakah pasien telah mendapatkan pertolongan medis dan pemberian obat sebelumnya dan pertanyaan penting lainnya. dan ABC pasien telah dipastikan membaik. Pada secondary survey ini.3. apakah ada perdarahan dari hidung. biasanya sulit untuk diajak berkomunikasi.2 Pemeriksaan Secondary Survey 7. Namun. orang yang mendampingi yang pasien. resusitasi sudah dilakukan. mual dan muntah. 7 Keadaan tidak sadar (koma).2. termasuk mencatat skor GCS bila belum dilaksanakan dalam primary survey.8 Secondary survey adalah pemeriksaan kepala sampai kaki (head to toe examination). termasuk pemeriksaan tanda vital. pemeriksaan fisik ekstra oral seperti kepala dan oromaksilofasial juga pemeriksaan intra oral yang meliputi status lokalis gigi dan jaringan pendukung sekitarnya. Penting untuk dicatat mengenai tanggal. 3.

HOW? Sebagai contoh. ada tidaknya penyakit kelainan perdarahan. umur. Kemudian ia tergelincir di tikungan dan turunan curam dengan keadaan terguling sejauh 10 meter dengan kondisi wajah mengenai aspal. Meliputi jawaban dari pertanyaanpertanyaan berikut (9): 1. 4. Jika ditemukan kasus avulsi gigi di dalam golden period maka prognosis untuk reposisi semakin baik. Sebagai contoh apabila pasien jatuh di daerah yang berpasir maka penting untuk dilakukan debridemen sempurna sampai tidak ada sama sekali pasir yang tertinggal di dalam luka. Selain itu riwayat medis yang penting untuk diketahui adalah tentang riwayat alergi. Jawaban kronologis tentang bagaimana kejadian terjadi mengindikasikan keparahan cedera jaringan dan kemungkinan daerah-daerah mana saja dari tubuh yang terkena trauma. 2. tanggal imunisasi tetanus terakhir. alamat. riwayat penyakit yang pernah diderita. Motor dalam keadaan rusak parah. WHERE? Pertanyaan ini penting untuk mengetahui kemungkinan adanya kontaminasi luka. keluarga pasien dan orang yang menyertainya. Perlu dicatat juga ada tidaknya tanda-tanda kecanduan alkohol dan obat-obatan. dan data demografi lainnya.Riwayat trauma yang akurat sebaiknya diperoleh dari pasien. karena tingkat kesadaran 21 . seorang pengendara sepeda motor sedang dalam pengaruh alkohol mengendarai motornya di cuaca hujan dan gelap gulita. WHO? Jawabannya meliputi nama pasien. 3. nomor telepon. WHEN? Kapan trauma itu terjadi? Pertanyaan ini merupakan salah satu pertanyaan penting untuk menentukan apakah suatu luka masih dalam golden period.

Rangka kraniofasial terdiri dari pertautan dan penonjolan tulang. artikulasi zygomatik. kepala pasien harus distabilisasikan dengan cara menekan kening pasien cukup kuat dengan satu tangan. dan hilangnya penonjolan. Pasien harus dibersihkan dari semua darah dan benda asing secara hati-hati. discontinuitas. Pemeriksaan Wajah Bagian Tengah Evaluasi wajah bagian tengah dimulai dengan memperkirakan adanya mobilitas dari maksila sebagai struktur maksila itu sendiri atau hubungannya dengan zygoma atau tulang nasal.2 Pemeriksaan Fisik 2. naso-orbital kompleks.3. Dengan ibu jari dan telunjuk tangan lainnya mencengkram maksila pada satu sisi. Informasi mengenai waktu makan dan minum yang terakhir sangat penting apabila akan dilakukan anestesi umum. sambungan daerah fronto-orbital. 3. dan mandibula.6 I. 22 .dipengaruhi oleh obat-obatan tersebut. dan digerakkan dengan tekanan yang stabil sehingga dapat diperoleh kepastian ada atau tidaknya dapatkan mobilitas maksila. Untuk memeriksa adanya mobilitas maksila. Ekstra Oral a. Pemeriksaan Kepala Pemeriksaan ini meliputi seluruh kerangka kraniomaksilofasial dan jaringan lunak disekitarnya.2. pergeseran. b. Harus dilakukan palpasi secara hati-hati terhadap kranium. maka pemeriksaannya harus meliputi ada atau tidaknya step atau jarak.

dari aspek posterior atau superior. Pemeriksaan mata secara lengkap sebaiknya dilakukan terlebih dahulu.Gambar 10 : Pemeriksaan mobilitas maksila. Cincin infraorbital dipalpasi dari medial ke lateral untuk mengevaluasi sutura zygomatikomaksilaris. Tulang nasal dan saluran nasofrontalis dipalpasi secara bersamaan kanan dan kiri (bidigital). dan adanya perdarahan atau cairan. Jaringan lunak yang menutupinya digeser dan sutura dipalpasi apakah terjadi kelainan atau tidak. Gambar sebelah kanan menunjukkan pemeriksaan bahwa cara ini juga dapat digunakan untuk evaluasi mobilitas tulang nasal. Hampir 40% fraktur tengah wajah mengenai daerah mata. Pemeriksaan dimulai dari aspek medial dari cincin supraorbital secara bilateral. Arcus zygomatikus dipalpasi bilateral dan diamati apakah terdapat tandatanda asimetri. Pemeriksaan yang akurat sulit dilakukan pada pasien yang mengalami cedera 23 . Vestibulum nasi juga diperiksa karena bisa terjadi pergeseran septum. Bagian-bagian yang mengalami nyeri tekan.9 Cara melakukan pemeriksaan manual atau digital adalah dengan palpasi dimulai dari superior ke inferior. karena trauma dapat mengakibatkan kehilangan penglihatan. dan baal juga dicatat. karena hal ini menunjukkan adanya fraktur atau cedera pada saraf. Palpasi diteruskan ke arah lateral menyilang cincin supraorbital menuju sutura zygomatikofrontalis.

Mastoid harus diperiksa dari kemungkinan adanya ekimosis yang disertai dengan hemotimpanum dan otorrhea. Pada 24 .7 dites untuk mengetahui apakah terjadi palsi. c. Apabila meatus akustikus eksternus penuh dengan darah dan cairan. Pergerakan mandibula juga dievaluasi dengan jalan memerintahkan pasien melakukan gerakan-gerakan tertentu.neurologis. Adanya laserasi dari daerah telinga bagian luar merupakan tanda waspada terhadap kemungkinan cedera pada kondilus mandibula. deteksi gerakan. dan apakah pupil bereaksi terhadap sinar dan berakomodasi. Kisaran gerak dievaluasi pada semua arah dan jarak interinsisal dicatat. 3 Tiga saraf utama trigeminal harus diperiksa untuk kemungkinan terjadinya anestesi atau parestesi.5 . Dapatkah pasien mengangkat alis dan meretraksi sudut mulutnya. Hematoma septum hidung harus didiagnosa dan dievakuasi segera untuk menghindari terjadinya nekrosis tulang rawan septum hidung yang pada akhirnya dapat menyebabkan kerusakan bentuk hidung. Pemeriksaan dapat dilakukan dengan menggunakan hitungan jari.4 . jari telunjuk dapat dimasukkan dengan telapak mengarah ke bawah dan ke depan untuk melakukan palpasi endaural terhadap caput condilus pada saat istirahat dan bergerak. Hematoma aurikuler telinga harus segera didiagnosa dan dilakukan terapi. Adanya fraktur septum hidung dan hematoma dapat menyebabkan obstruksi hidung. atau penggunaan sinar. Kerusakan dan pergerakan tulang hidung harus dicatat. karena merupakan indikasi terjadinya fraktur basis tulang kranial.. apakah bola mata bisa bergerak bebas. Saraf kranialis 3 .6 . atau terjadi pergeseran ke lateral dan inferior. dan apabila ada penyimpangan juga dicatat. Pemeriksaan Mandibula Lokasi mandibula terhadap maksila dievaluasi apakah tetap digaris tengah.

simpel. Selain itu fraktur mandibula juga dapat diklasifikasikan berdasarkan tipe frakturnya. kominuted. alveolar. angle. 25 .fraktur subcondilus tertentu. Sekali lagi nyeri tekan atau baal. Fraktur mandibula dapat diklasifikasikan berdasarkan lokasi anatomi. Tepi inferior dan posterior mandibula dipalpasi mulai dari prosesus kondilaris sampai ke simphisis mandibula. yaitu kondilar. dan kompoun. dan kelainan kontinuitas harus dicatat. body. simphisis. yaitu fraktur greenstick. dan daerah prossessus koronoid. ramus. bisa dijumpai adanya nyeri tekan atau caput mandibula tidak terdeteksi.

Adanya step dan pergeseran oklusi merupakan indikasi terjadinya fraktur dentoalveolar ataupun fraktur rahang.Gambar 11.7 Pemeriksaan ini meliputi evaluasi oklusi dan penghitungan gigi yang hilang. Kompoun (D). Adanya gigi yang terhisap dan tertelan dapat dilihat dengan melakukan radiografi pada dada dan perut. Distribusi anatomik dari fraktur mandibula. Gigitan terbuka lateral (open bite lateral) juga 26 . Simple (B). Komminuted (C).2 Gambar 12 : Klasifikasi fraktur mandibula berdasarkan tipe frakturnya: Greenstick (A). 2 II. Intra Oral 3. Gigi tiruan yang lepas juga dapat menyebabkan tersumbatnya jalan pernapasan.

II. 3.3 Pemeriksaan Radiografis Untuk diagnosis penderita yang mengalami trauma dentoalveolar hanya diperlukan radiograf oklusal dan periapikal saja.2. tidak dibenarkan untuk melakukan pembuatan radiografis untuk mengetahui adanya fraktur bila bukti klinis kurang mendukung. elektrolit. analisa gas darah. GDS. Sedangkan gigitan terbuka anterior ( open bite anterior) mengindikasikan adanya fraktur Le Fort (I. Penatalaksanaan Fraktur Oromaksilofasial 2. ureum. trombosit. Leukosit. ataupun III). Debridement : membersihkan luka. Hemostasis Menghilangkan tegangan pada penutupan luka: undermining. 3.3 1. Perawatan umum terhadap komplikasi yang menyertai 2.dapat mengindikasikan adanya fraktur mandibula atau gangguan TMJ. albumin serum. kreatinin.4 Pemeriksaan Laboratorium Pemeriksaan lab yang sering dilakukan pada kasus trauma oromaksilofasial yaitu Hb. BT CT. jahitan subkutis Antibiotika 27 . kemudian dapat dilakukan rontgen foto waters view dan jika memungkinkan dan pasien mampu dapat dilakukan CT-Scan 3 dimensi. Detail dari cedera gigi (luksasi dan avulsi).2. Penanganan Luka Jaringan Lunak Imobilisasi dan evaluasi bagian yang terluka untuk mengurangi rasa nyeri dan edema. PT APTT. Sedangkan untuk diagnosis penderita yang mengalami trauma maksilofasial harus dilakukan foto panoramik dan schedel AP-Lat segera. dan differential sel. dan sebagian besar fraktur prosessus alveolaris paling baik dirontgen dengan cara ini. Meskipun demikian. membuang jaringan nekrotik dan benda asing.

krepitasi dan funtio laesa. Fiksasi dan Imobilisasi fraktur Reduksi: Mengembalikan fragmen pada posisi anatomisnya Terdiri dari open dan closed reduction Fiksasi: Mempertahankan fragmen yang telah direposisi tetap pada tempatnya untuk menghasilkan penyembuhan. Memberikan imobilisasi sementara 7. Mencegah dan merawat infeksi 6. Menentukan tipe dan macam fraktur 5. Memilih cara pemberian anastesi yang tepat 8. Pemeriksaan klinis yang teliti dan interpretasi foto rontgen yang tepat 4. meniadakan rasa sakit.3. 28 . Imobilisasi : Mempertahankan fiksasi. Melakukan Reduksi.

pemeriksaan klinis ekstra oral dan intra oral. anatomi oromaksilofasial. Pengetahuan tentang jenis trauma. Pemeriksaan dilakukan secara akurat dan menyeluruh pada pasien ini. Perhatian harus segera diarahkan terhadap saluran pernapasan. Pemeriksaan fisik baru bisa dilakukan apabila keadaan umum pasien stabil. status kegawatdaruratan serta skala prioritas penanganan cedera oromaksilofasial mutlak dibutuhkan dalam penanganan kegawatdaruratan trauma oromaksilofasial. pendarahan. adekuasi dari ventilasi. serta jalan nafas telah di tangani. Pemeriksaan radiografis dan pemeriksaan laboraturium dilakukan untuk membantu klinisi menegakkan diagnosa dan rencana perawatan yang tepat pada penderita trauma oromaksilofasial. Rangkaian pemeriksaan primary survey dan secondary survey berupa anamnesis yang lengkap.BAB IV KESIMPULAN Pendekatan awal terhadap pasien trauma oromaksilofasial akut sedikit berbeda dengan cedera yang lain. dan kontrol perdarahan eksternal. 29 .

ac. EGC. Hipokrates. London PS.id/file?file=pdf/abstrak-81816. J Oral Maxillofac Surg 64:1731-1735 5. 3rd ed. Frekuensi-distribusi trauma oromaksilofasial dan Essential of Traumatic Injuries to the Teeth. Marciani RD. Motozawa Y. Ed. Ke-2. Penerjemah: Purwanto dan Basoeseno. Peterson Lj. 1991. 6. Oral and Maxillofacial Trauma. http://en. Carlson ER. RJ. Saunders Elsevier. Butterworth-Heinemana Ltd. Jakarta 11. Yokoyoma T. Alih bahasa Lilian Yuwono. Louis 4.org/wiki/Glasgow_Coma_Scale 10. EGC. Oral and Maxillofacial Surgery Volume II. St Louis: Elsevier Saunders 3. Jakarta. St Louis: Mosby. Braun TW.4 th ed.DAFTAR PUSTAKA 1. Sasaki T. 2005. The anatomy of injury and its surgical implication. penatalaksanaannya di Rumah Sakit Umum Tangerang dalam kurun waktu 1 Oktober 1992 -30 September 1993. Munksgaard 7. Banks P.ui. http://www. London 30 . St. Andreasen JO.pdf 8. 2006. 2009.digilib. Jong WD. 9. Jakarta 2.wikipedia. Buku Ajar Ilmu Bedah. Hitosugi M. Juliani KI. Buku Ajar Praktis Bedah Mulut. Penerjemah.Sjamsuhidayat. Pedersen GW. Contemporary Oral and Maxillofacial Surgery. Fonseca. A Retrospective Análisis of Oral and Maxillofacial Injuries in Motor Vehicle Accidents. Fraktur mandibula ( Killeys Fractures of the mandible ). 2003. R.1997.et al. 1996. 1990. 1999.

faktor-faktor yang berpengaruh. infeksi 31 . perubahan suhu. Komplikasi dapat terjadi apabila tidak dilakukan terapi dengan adekuat. dan komplikasi. keadaan ini dapat disebabkan oleh trauma benda tajam atau tumpul.1 Penyembuhan luka dan jaringan saraf merupakan hal yang penting untuk mengetahui tahapan luka. zat kimia. ledakan. Kata kunci: penyembuhan jaringan lunak.Penyembuhan Luka Jaringan Lunak Dan Saraf Dian Maifara Putri 160121120007 Peserta Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut Dan Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Abstrak : Luka adalah hilang atau rusaknya integritas jaringan tubuh. atau gigitan hewan. sengatan listrik.

tubuh akan berusaha melakukan penyembuhan luka. dan remodeling atau penyudahan yang merupakan pembentukan kembali dari jaringan. perubahan suhu. sengatan listrik. proliferasi. zat kimia. Maka pada setiap perlukaan.2 Penyembuhan luka adalah proses kinetik dan metabolik yang kompleks yang mengikutsertakan berbagai sel dan jaringan dalam usaha menutup tubuh dari lingkungan luar dengan cara mengembalikan integritas jaringan. dan warna yang berbeda dari jaringan sekitarnya. Komplikasi yang sering ditimbulkan pada tahap penyembuhan luka dapat meliputi pembentukan kista implantasi. atau gigitan hewan.1.1 Proses yang kemudian terjadi pada jaringan yang rusak ialah penyembuhan luka yang dapat dibagi dalam tiga fase yaitu fase inflamasi. keadaan ini dapat disebabkan oleh trauma benda tajam atau tumpul. infeksi luka.2 32 . pembentukan keloid yaitu berupa tonjolan jaringan parut. pembentukan jaringan parut.BAB I PENDAHULUAN Luka adalah hilang atau rusaknya suatu kesatuan atau komponen integritas jaringan tubuh. baik luka itu bersih maupun luka yang kotor dan terinfeksi. ledakan.1. nekrose atau gangren dari jaringan.

Luka Memar 9 a.3. biasanya besar dan kemerahan.8 1.7.5. Vulnus Abrasivum (luka lecet). Hematoma (darah yang terkumpul di jaringan) Prinsipnya sama dengan luka memar tetapi pembuluh darah yang rusak berada jauh di bawah permukaan kulit dan biasanya besar.BAB II TINJAUAN PUSTAKA JENIS-JENIS LUKA Luka terdiri dari: 2. Luka terbuka yang disertai kehilangan jaringan maupun yang tidak disertai kehilangan jaringan a. darah keluar dari pembuluh dan terkumpul di bawah kulit sehingga bisa terlihat dari luar berupa warna merah kebiruan b. biasanya terjadi di daerah permukaan tubuh. Luka Tertutup Gambar 1. terjadi karena gesekan antara suatu benda dengan permukaan jaringan lunak. sehingga yang terlihat adalah bengkak. 2. Luka memar ( contusio ) Terjadi akibat benturan dengan benda tumpul. 33 .4.

terjadi karena tersayat pisau atau benda tajam lainnya. Vulnus Abrasivum 9 Gambar 3. Gambar 4. pinggir luka tajam dan rata serta mempunyai dasar yang sempit. Luka Sayat 11 34 . Kedalaman Luka Lecet 10 b.Gambar 2. Vulnus Scissum ( luka sayat ).

Gambar 5. Vulnus Punctum ( luka tusuk ). Vulnus laceratum ( luka compang camping ). luka yang terjadi karena tusukan bendabenda yang runcing.c. Vulnus Penetratum ( luka tembus ). 35 . Gambar 6. Luka Tembus 11 d. adalah luka yang disebabkan oleh benda tumpul yang bentuknya tidak teratur. adalah luka yang terjadi sampai menembus organ tubuh lain yang lebih dalam. Luka Laserasi 11 e.

Penampang Luka Tusuk 12 Gambar 9. Luka laserasi. luka yang disebabkan oleh tembakan senjata api 36 . Luka Tusuk 11 Gambar 8. Luka Tusuk 12 f.Gambar 7. B. A. Vulnus Sclopectorum ( luka tembak).

yaitu hilangnya substansi jaringan lunak yang biasanya mengenai kulit. Vulnus Mossum ( luka karena gigitan binatang). meningkatkan pembentukan jaringan granulasi dan epitelialisasi. Luka Gigitan Binatang 11 h. walaupun mukosa. dan melindungi luka dari trauma yang lebih lanjut serta terhadap 37 . dan pH yang optimal untuk sel-sel yang berperan dalam proses penyembuhan. 1. Luka ini ditandai dengan kulit yang terlepas/ hilang sama sekali. otot. kelembaban. dan tulang juga bisa terkena.3 PENATALAKSANAAN LUKA Prioritas dalam penatalaksanaan luka adalah mengatasi perdarahan (hemostasis). melepaskan jaringan yang mengalami devitalisasi. Gambar 11. mengeluarkan benda asing yang dapat bertindak sebagai fokus infeksi. krusta yang tebal dan pus.Gambar 10. Avulsi. Avulsi biasanya menyertai luka-luka multipel pada wajah dan biasanya pada korban kecelakaan sepeda motor atau luka karena peralatan industri/pertanian. menyediakan temperatur. Luka Tembak 13 g.2.

klinisi harus mempertimbangkan pemberian terapi suportif untuk mempercepat penyembuhan seperti pemberian antibiotik dan anti tetanus. sabun atau bila perlu dengan disikat. Lalu dengan menggunakan larutan saline dilakukan irigasi untuk menghilangkan semua partikel yang tertinggal pada luka.masuknya mikroorganisme patogen. Bila penjahitan dianggap perlu. tergantung kedalaman dan posisi luka tersebut. Debridement dilakukan untuk menghilangkan jaringan yang mengalami devitalisasi agar didapat penutupan luka yang baik. maka akan terjadi hematoma di dalam jaringan yang dapat membuka kembali luka yang telah ditutup. Pembersihan luka dapat dilakukan dengan bahan pembersih luka. 6 Protokol 1: Wound toilet dan debridement Gunakan satu dari 2 antiseptik di bawah ini untuk luka: Larutan Povidone iodine 10% dua kali sehari Cetrimide 15% + chlorhexidine gluconate 1. Setelah penutupan luka. dan luka yang lebih dalam membutuhkan penjahitan 3 lapis. tujuan penjahitan adalah mengembalikan jaringan ke posisi semula.6 Luka harus dibersihkan dari kotoran atau debris. Kecuali untuk luka superficial antibiotik tidak diindikasikan. Namun tidak semua luka membutuhkan penjahitan. hemostasis harus tercapai. diligatur atau dikauterisasi untuk mengurangi perdarahan yang terjadi akibat luka yang terbuka. luka ditutup dengan dijahit. Luka pada gingiva atau mukosa alveolar dapat ditutup dengan penjahitan 1 lapis. untuk menyingkirkan penyebab aktual atau potensial yang memperlambat penyembuhan dan untuk menciptakan lingkungan lokal yang optimal untuk rekonstruksi dan epitelialisasi vaskular dan jaringan ikat. sedangkan luka pada lidah atau bibir yang melibatkan otot harus dijahit lapisan otot terlebih dahulu dengan benang jahit yang dapat teresorbsi. Bila tidak. 6 Setelah luka dibersihkan. tujuannya adalah untuk melindungi individu dari kerusakan fisiologis lebih lanjut. Biasanya dilakukan tindakan anestesi sebelumnya untuk mengurangi rasa sakit. Pembuluh darah dapat diklem. dilakukan debridement dan hemostasis tercapai. Sebelum luka ditutup.5% 38 . luka kecil dapat dibiarkan dan dapat sembuh tanpa penjahitan.

2. terdapat jaringan mati dalam jumlah signifikan.000 IU/kg BB dalam sekali pemberian. Luka biasanya terinfeksi tetanus jika telah lebih dari 6 jam sebelum pembersihan luka dan memperlihatkan tanda-tanda: tipe luka punctum. kontaminasi bakteri tetanus. 3. tanda klinis sepsis. Untuk pasien terkontaminasi tetanus. vulnus laseratum dengan ukuran lebih dari 5 cm. Debridement: membersihkan luka dari benda asing. vulnus penetratum. Jika pemberian vaksin tetanus dan immunoglobin tetanus dalam satu waktu. Jika analgetik lokal dibutuhkan gunakan lidokain 1% tanpa epinefrin. jaringan mati dan rusak secara mekanis. Dosis dewasa 8-12 juta IU. Ganti kasa minimal sekali sehari. 39 . WHO merekomendasikan injeksi TT (Tetanus Toksoid) atau Td (vaksin tetanus dan diphteri) dan TIG (Immunoglobin tetanus) 3. kemudian luka diirigasi dengan larutan salin 2. maka harus diberikan dengan syringe yang berbeda dan lokasi pemberian yang berbeda pula. dan anakanak 200. Tutup luka dengan kasa steril dan kering. Kemudian irigasi luka kembali. Protokol 2: Manajemen luka dengan tetanus 1. dan luka bakar. Antibiotik profilaksis yang direkomendasikan adalah penisilin G dan metronidazole dalam satu kali pemberian. Protokol 3: Antibiotik profilaksis dan antibiotik perawatan Antibiotik profilaksis Antibiotik profilaksis diindikasikan untuk luka yang mempunyai risiko tinggi untuk terinfeksi seperti luka yang terkontaminasi. tempat yang berisiko tinggi seperti pada ekstremitas.1. Bersihkan luka dengan sabun dan air matang selama 10 menit. trauma abdominal. luka dengan banyak jaringan nekrotik.

dan jaringan nekrotik yang terdapat pada luka. Persiapan wound toilet 15: Jangan memakai sabun atau alkohol Gunakan salin steril Irigasi dengan tujuan menghilangkan benda asing 40 . diberikan Penisilin G dan metronidazole untuk 5-7 hari. Dilakukan dengan menggunakan sikat halus steril/ kapas steril dengan larutan garam fisiologis. Pembuangan dilakukan seminimal mungkin. Mekanikal: dengan cara membilas/irigasi luka Pembersihan luka dilakukan dengan cara: mencuci daerah luka untuk membersihkan debris atau benda asing yang tertinggal. berikan antibiotik secara intravena. Dilanjutkan dengan membuang sisa jaringan nekrotik sehingga didapat pinggiran jaringan yang linear. dan berikan secara peroral 2 hari kemudian jika memungkinkan. hanya jaringan non vital yang dieksisi. Pengelolaan vulnus secara umum 7: 1. Debridement terbagi atas 4 metode 14: a.5 mg/kg setiap 8 jam secara intravena. Penisilin untuk dosis anak-anak 100 mg/kg BB setiap hari dibagi dalam beberapa dosis. Enzimatic: enzim yang dapat mendegradasi jaringan nekrotik c. Pembersihan luka (debridement) Adalah tindakan membersihkan daerah luka dari benda-benda asing yang mengkontaminasi luka. Metronidazole dewasa 500 mg setiap 8 jam dan anak-anak 7. Surgery: merupakan cara tercepat jika jaringan nekrotik luas b. Penisilin untuk dosis dewasa 1-5 MIU setiap 6 jam. 6 Langkah-langkah pengelolaan luka jaringan lunak terdiri atas: I. Autolisis: proses yang normal terjadi pada luka dan tidak melukai jaringan sehat di sekeliling luka d.Antibiotik perawatan Jika infeksi telah terjadi.

Kompres dingin untuk mengurangi sakit dan perdarahan 2 Beri analgetik dan antiinflamasi 3. Tindakan ini dilakukan beberapa hari hingga sembuh. listrik. Definisi Luka bakar adalah luka yang disebabkan oleh kontak dengan suhu tinggi seperti api. Pengelolaan hematoma dan kontusio 1. air panas. maka dapat diberikan terapi suportif: pencegahan luka dari infeksi 1.- Gunakan 50-100ml/cm salin dengan tekanan Gambar 12: Enzymatic wound debridement 14 II. Non spesifik dengan pemberian antibiotika LUKA BAKAR I. Setelah semua tindakan di atas dilakukan. Jenis luka dapat beraneka ragam dan memiliki penanganan yang berbeda tergantung jenis jaringan yang 41 . Instruksikan pada pasien keesokan harinya jika masih lebam dapat dikompres hangat sehingga terjadi vasodilatasi pembuluh darah menyebabkan vaskularisasi aktif agar PMN bergerak untuk memfagositosis sisa-sisa debris fibril atau leukosit dan trombosit yang mati. Spesifik dengan anti tetanus 2. dan radiasi. bahan kimia.

Umur dan keadaan kesehatan penderita sebelumnya akan sangat mempengaruhi prognosis. ketidak seimbangan elektrolit ( inbalance elektrolit) dan masalah distress pernapasan.14 III. Luka bakar dapat merusak jaringan otot. Derajat Luka Bakar Gambar 13. tingkat keparahan. luka bakar dapat juga menyebabkan distress emosional (trauma) dan psikologis yang berat dikarenakan cacat akibat luka bakar dan bekas luka (scar). 14 II. Walaupun demikian beratnya luka bergantung pada dalam. Luka bakar derajat 1 hanya mengenai epidermis serta belum terbentuk lepuhan dan biasanya sembuh dalam 5-7 hari. Seorang korban luka bakar dapat mengalami berbagai macam komplikasi yang fatal termasuk diantaranya kondisi shock. Luka tampak sebagai eritema dengan keluhan rasa nyeri atau hipersensitivitas setempat. pembuluh darah dan jaringan epidermal yang mengakibatkan kerusakan yang berada di tempat yang lebih dalam dari akhir sistem persarafan. infeksi. Beratnya Luka Bakar Luka bakar biasanya dinyatakan dengan derajat yang ditentukan oleh kedalaman luka bakar. dan komplikasi yang terjadi akibat luka tersebut. luas dan daerah luka. 42 . Dalamnya luka bakar 15 1. misalnya tersengat matahari.terkena luka bakar.tulang. Selain komplikasi yang berbentuk fisik.

atau bula berisi cairan eksudat yang keluar dari pembuluh karena permeabilitas dindingnya meninggi. atau organ yang lebih dalam. badan depan dan belakang masin-masing 18 %. Luas Luka Bakar Luas luka bakar dinyatakan dalam persen (%) terhadap luas seluruh tubuh. Elemen epitel tersebut misalnya sel epitel basal. Gejala yang timbul adalah nyeri. Luka bakar derajat 3 meliputi seluruh kedalaman kulit dan mungkin subkutis. Pada orang dewasa digunakan rumus 9. Rumus ini membantu untuk menaksir luasnya permukaan tubuh yang terbakar bagi orang dewasa. paha kanan. karena itu untuk mendapatkan kesembuhan harus dilakukan cangkok kulit. Dengan adanya sisa sel epitel ini. sisanya 1% adalah daerah genitalia. gelembung.14 43 . ekstremitas atas kanan dan kiri masing-masing 9 %. ekstremitas atas kanan. paha kiri. dengan permukaan lebih rendah dari jaringan sekeliling masih sehat. Luka bakar derajat 2 mencapai kedalaman dermis tetapi masih ada elemen epitel sehat yang tersisa. pinggang dan bokong. kelenjar keringat. kelenjar sebasea. yaitu luas kepala dan leher. perut. Untuk anak. serta tungkai dan kaki kiri masing-masing 9%. ekstremitas atas kiri. kepala dan leher 18%. 3. ekstremitas bawah kanan dan kiri masing-masing 14 %.14 IV.Karena perbandingan luas permukaan bagian tubuh anak kecil berbeda. Pada anak dan bayi digunakan rumus lain karena luas relative permukaan kepala anak jauh lebih besar dan luas relative permukaan kaki lebih kecil. luka dapat sembuh sendiri dalam 2 sampai 3 minggu. tungkai dan kaki kanan. Tidak ada lagi elemen epitel hidup yang tersisa yang memungkinkan penyembuhan dari dasar luka. dan pangkal rambut. Kulit tampak pucat abu-abu gelap atau hitam. punggung. dada.2.

25 %. 3. Derajat 3 dengan luas kuarang 10 %. Berat/Kritis bila : a. d. Klasifikasi Luka Bakar Menurut Keparahannya 1. Luka bakar akibat listrik. Sedang bila : a. atau terdapat di muka.2 44 . b. b. 2. Ringan bila : a. Derajat 2 dengan luas 15 . Luasnya luka bakar 16 V. kaki dan tangan. b. Luka bakar disertai trauma jalan napas atau jaringan lunak luas. atau terdapat fraktur. Derajat 3 dengan luas lebih dari 10 %. Derajat 2 dengan luas kurang dari 15 %.Gambar 14. Derajat 3 dengan kurang dari 2 %. kaki dan tangan. Derajat 2 dengan luas lebih dari 25 %. kecuali terdapat di muka. c.

Pertolongan pertama setelah sumber panas dipadamkan. Perawatan lokal adalah mengoleskan luka dengan antiseptik. pencegahan infeksi. Trakeostomi berfungsi untuk membebaskan jalan napas. Analgesik diberikan bila penderita kesakitan. Kalau perlu penderita dimandikan dahulu. diberikan O2 murni. Bila ada dugaan keracunan CO2. selain penanganan umum seperti pada luka bakar ringan.VI. mengurangi rasa sakit. Korban dapat mengusahakanya dengan cepat menjatuhkan diri dan berguling dan mencegah meluasnya bagian pakaian yang terbakar. Pada luka bakar ringan. prinsip penanganan utama adalah mendinginkan daerah yang terbakar dengan air. Selanjutnya diberikan pencegahan tetanus berupa ATS dan/atau toksoid. atau melepaskan baju yang tersiram air panas. kalau perlu dilakukan resusitasi segera bila penderita menunjukkan gejala syok. terdiri dari merendam daerah luka bakar dalam air atau menyiraminya dengan air mengalir selama sekurang-kurangnya 15 menit. mencegah infeksi dan memberi kesempatan sisa-sisa sel epitel untuk berproliferasi dan menutup permukaan luka.2 Upaya pertama saat terbakar adalah mematikan api misalnya dengan menyelimuti dan menutup bagian yang terbakar untuk menghentikan pasokan oksigen bagi api yang menyala. Bila penderita menunjukkan gejala terbakarnya jalan napas. dan pembatasan pembentukan jaringan parut. Kalau terjadi oedem laring dipasang pipa endotrakea atau dibuat trakeostomi. Penatalaksanaan Luka Bakar Prinsip penanganan luka bakar adalah penutupan lesi sesegera mungkin. 17 45 . diberikan campuran udara lembab dan oksigen. Pada luka bakar berat. mengurangi ruang mati dan memudahkan pembersihan jalan napas dari lender atau kotoran. Kontak dengan bahan yang panas juga harus cepat diakhiri misalnya dengan mencelupkan bagian yang terbakar atau menceburkan diri ke air dingin. pencegahan trauma mekanik pada kulit yang vital dan elemen didalamnya.

Untuk mengetahui status sirkulasi dilakukan pengukuran produksi urine/jam dengan catatan tidak ada osmotic dieresis. Luka Bakar Karena Bahan Kimia/Kimiawi Luka bakar dapat disebakan oleh asam. Volume Sirkulasi Penilaian volume sirkulasi sering sulit pada penderita luka bakar berat. Luka bakar alkali lebih berbahaya dari asam. Segera lakukan irigasi dengan air sebanyak-banyaknya. sebab alkali lebih dalam merusak jaringan. Untuk luka bakar alkali. Pemberian cairan dilakukan sebagai berikut : ½ dari volume terhitung diberikan 8 jam pertama setelah trauma. Pada 24 jam pertama penderita luka bakar berat derajat II dan III memerlukan 2 – 4 cc cairan RL/ Kg BB/ % Luas luka bakar untuk mempertahankan volume sirkulasi dan fungsi ginjal yang adequat. Luka Bakar Khusus 1. ½ dari sisanya diberikan 16 jam berikutnya. Tekanan darah sukar diukur dan hasilnya tidak dapat dipercaya. Perlu diketahui bahwa rumus penghitungan cairan tersebut merupakan perkiraan volume cairan yang diperlukan. Sebagai patokan mengetahui sirkulasi yang akurat ialah bila penderita diberi infus cairan dalam jumlah yang menghasilkan urine 1cc/Kg BB/ jam (untuk anak dengan BB ≤ 30 Kg) dan 30 – 50 cc / kg BB / jam (dewasa). Segeralah bersihkan bahan kimia tersebut dari luka bakar.17 VIII. alkali dan hasil-hasil pengolahan minyak. Lakukan tindakan ini dalam waktu 20 – 30 menit. tanda-tanda vital dan keadaan umum. Pemberian cairan disesuaikan dengan respon individual penderita. perlu dihitung dengan cermat dan perlu ditambahkan cairan glukosa untuk maintenance. diperlukan 46 .VII. Untuk mempertahankan produksi urine 1 cc/ Kg BB/jam pada anak-anak dan BB ≤ 30 Kg. Kerusakan jaringan akibat luka bakar bahan kimia dipengaruhi oleh lamanya kontak. konsentrasi bahan kimia dan jumlahnya. Oleh karena itu penderita luka bakar berat harus dipasang kateter. misalnya dinilai produksi urinenya. bila mungkin gunakan penyemprot air.

Bila urine belum tampak jernih. janganlah menunggu konfirmasi laboratorium untuk melakukan terapi terhadap mioglobunuria. menyebabkan luka bakar pada tubuh. memerlukan irigasi terus menerus selama 8 jam pertama setelah luka bakar. menghasilkan keadaan dimana jaringan yang lebih dalam akan bisa mengalami nekrosis. Tubuh merupakan penghantar tenaga listrik. Untuk irigasi ini dapat digunakan kanula kecil yang dipasang pada sulkus palpebra. pertahankan perfusi sebaik mungkin dan berikan Natrium Bikarbonat untuk membuat urine menjadi alkalis dan meningkatkan kelarutan mioglobin dalam urine. sedangkan kulit di atasnya relatif tampak normal. dan panas yang ditimbulkannya. Luka Bakar Listrik Luka bakar listrik terjadi karena tubuh terkena aliran listrik. Apabila urine berwarna gelap mungkin urine mengandung hemokhromogens. pernafasan. Perbedaan kecepatan hilangnya panas dari tubuh superfasial dengan jaringan tubuh yang lebih dalam. Bila terjadi asidosis metabolic. pemasangan infus. Jangan memberikan bahan-bahan penetral (neutralizing agent) sebab reaksi kimia yang terjadi akibat pemberian bahan penetral dapat menimbulkan panas dan akan memperberat kerusakan yang terjadi. 17 2. Bila bahan kimia merupakan bubuk. Pemberian cairan harus ditingkatkan sedemikian rupa sehingga tercapai produksi urine sekurang- kurangnya 100 cc/jam (pada dewasa).5 gr manitol pada tiap penambahan 1 liter cairan untuk mempertahankan diuresis sejumlah tersebut di atas.waktu yang lebih lama. sikatlah terlebih dahulu sebelum irigasi.17 47 . Penanganan harus segera dilakukan pada penderita dengan luka bakar listrik meliputi perhatian terhadap jalan nafas. Luka bakar listrik sering menyebabkan kerusakan jaringan yang lebih berat dari pada luka bakar yang terlihat pada permukaannya. berikan segera 25 gr manitol dan tambahkan manitol 12. ECG dan pemasangan kateter. Untuk luka bakar pada mata.

Fase Penyembuhan Luka 17 FASE INFLAMASI Fase inflamasi berlangsung sejak terjadinya luka sampai kira-kira hari kelima. 48 . Pembuluh darah yang terputus pada luka akan menyebabkan perdarahan dan tubuh akan berusaha menghentikannya dengan vasokonstriksi. Proses fisiologis penyembuhan luka dapat dibagi dalam tiga fase yaitu : fase inflamasi. proliferasi. Sementara terjadi reaksi inflamasi. dan bersama dengan fibrin yang terbentuk membekukan darah yang keluar dari pembuluh darah. pengeluaran sel-sel radang. pengerutan ujung pembuluh yang putus (retraksi).1.4 Tabel 1.BAB III PEMBAHASAN MEKANISME PENYEMBUHAN LUKA Proses biokimia dan seluler kemudian terjadi dalam penyembuhan semua cedera jaringan lunak yang rusak ini. dan remodelling jaringan. Hemostasis terjadi karena trombosit yang keluar dari pembuluh darah saling melengket. sel mast dalam jaringan ikat menghasilkan serotonin dan histamin yang meningkatkan permeabilitas kapiler sehingga terjadi eksudasi cairan.2. dan reaksi hemostasis. disertai vasodilatasi setempat yang menyebabkan oedem dan pembengkakan.

5 Gambar 15. Limfosit B berguna untuk mengenali antigen. pendapat lain mengatakan bahwa fase seluler ini disebabkan oleh aktivasi dari serum pada jaringan yang rusak. Pada waktu kontak dengan benda asing netropil melepaskan lisosom yang dikandungnya (degranulasi). menghasilkan antibodi yang membantu mengingatkan sistem pertahanan tubuh untuk mengidentifikasi benda asing dan berinteraksi dengan faktor tambahan untuk melarutkan sel-sel asing. Lisosom tersebut merusak bakteri dan benda asing lainnya serta mengangkat jaringan nekrotik.2. Sedangkan limfosit T terdiri dari kelompok yaitu T helper untuk merangsang sel B berdeferensiasi dan berproliferasi. Fase inflamasi 4 49 . Limfosit.Selain itu akan terjadi aktivitas seluler yang merupakan gerakan leukosit menembus dinding pembuluh darah menuju luka karena daya kemotaksis. serta sel T citotoksis untuk melarutkan sel-sel asing dan antigen. monosit yang kemudian muncul ikut menghancurkan dan memakan kotoran luka. Terdapat juga limfosit yang terdiri dari 2 kelompok yaitu limfosit B dan limfosit T. Leukosit mengeluarkan enzim hidrolitik yang membantu mencerna bakteri dan kotoran luka. Serum tambahan itu menghasilkan faktorfaktor kemotaksis dan menyebabkan PMN lekosit (neutrofil) menempel pada pembuluh darah (marginasi) dan migrasi melalui dinding pembuluh darah (diapedesis).

Akan tetapi bila terjadi pada akhir dan tahap ini akan menyebabkan lepasnya hubungan antara serat kolagen yang lama di sepanjang tepi luka dan terbentuk kolagen yang baru. Fase proliferasi 4 50 .5 Gambar 16. normalnya antara 2-3 minggu. dan membantu makrophage. Fibroblas yang terdapat pada tropokolagen akan menghasilkan serat kolagen. Apabila tegangan pada luka terjadi pada awal tahap fibroplastis. berbentuk seperti anyaman. membantu mengamati benda asing.4. maka terjadi penarikan di sepanjang garis utama dan luka.2 Fibrinolisis terjadi disebabkan oleh plasma yang dibawa oleh pembuluh darah kapiler yang baru. Fibroblas mengeluarkan fibronectin yaitu kandungan protein yang mempunyai fungsi membantu mempertahankan kestabilan fibrin. Substansia dasar mengandung sejumlah mukopolisakaride yang berguna untuk melekatkan serat-serat kolagen. Jaringan dengan cepat tumbuh menjadi kuat selama tahap fibroplastis. Gambaran akhir pada tahap fibroplastis adalah kaku oleh karena banyaknya kolagen dan kemerahan oleh karena vaskularisasi. Fibroblas mulai terbentuk pada substansia dasar dan tropokolagen.FASE PROLIFERASI Serat-serat fibrin diperoleh dari darah yang mengalami pembekuan yang menutup luka. menggerakkan sistem pertahanan tubuh. bertindak sebagai faktor kemotaksis dari fibroblas.

Fase ini dapat berlangsung berbulanbulan dan dinyatakan berakhir kalau semua tanda radang sudah lenyap. kapiler baru menutup dan diserap kembali. sehingga menyebabkan hilangnya fleksibilitas pada daerah bekas luka. Elastin dan ligamen tidak kembali pada penyembuhan luka. diganti dengan kolagen yang baru guna meningkatkan ketahanan jaringan pada luka. dan lembut serta mudah digerakkan dari dasar.5 Lebih jelasnya pada tahap ini kolagen yang lama dihancurkan. Selama tahap ini kekuatan jaringan meningkat secara perlahan.FASE REMODELING Pada fase ini terjadi proses pematangan yang terdiri dari penyerapan kembali jaringan yang berlebih. Metabolisme menurun. Tubuh berusaha menormalkan kembali semua yang menjadi abnormal karena proses penyembuhan. 51 . tipis. dan akhirnya pembentukan kembali jaringan yang baru. Kekuatan jaringan tidak lebih dari 80-85% dibandingkan dengan jaringan yang normal dan hal ini tercapai kira-kira 3-6 bulan setelah penyembuhan. Selama proses ini dihasilkan jaringan parut yang pucat. Terlihat pengerutan maksimal pada luka. Karena serat kolagen sangat sedikit akibatnya terbentuk bekas luka yang lunak. tetapi tidak seperti pada tahap fibroplastis. kolagen yang berlebih diserap dan sisanya mengerut sesuai dengan regangan yang ada. pengerutan sesuai dengan gaya gravitasi. sistem vaskularisasi berkurang sehingga kemerahan pada bekas luka juga berkurang. Udem dan sel radang diserap. sel muda menjadi matang.

5. Penyembuhan secara tertier Diartikan sebagai penyembuhan pada suatu luka yang sejak awal dibiarkan terbuka atau luka terbuka kembali setelah dijahit primer. yang pada beberapa hari kemudian (3-4 hari) dilakukan penjahitan untuk menutup kembali luka tersebut. jahitan yang kurang rapat atau luka dengan suatu dead space. Penyembuhan secara primer Penyembuhan luka berlangsung dengan pembentukan jaringan granulasi yang minimal. 3.3.6 3. Penyembuhan secara sekunder Luka yang dalam proses penyembuhan terisi dengan jaringan granulasi. Jenis penyembuhan ini terjadi pada luka sayat aseptik yang ditutup secara primer. selanjutnya terjadi kontraksi luka sehingga ukuran luka mengecil. kehilangan jaringan yang agak luas. karena infeksi. dan akhirnya luka tertutup dengan pertumbuhan epitel dari pinggiran luka. Hal ini biasanya terjadi pada luka yang terbuka. 2.5.6 52 .JENIS-JENIS PENYEMBUHAN LUKA Jenis-jenis penyembuhan luka adalah : 1. jadi dilakukan bantuan tindakan bedah agar luka menjadi tertutup.

Turunnya temperatur. serta faktor-faktor dari luar (ekstrinsik). seperti pengelolaan luka yang kurang tepat dan efek-efek terapi lainnya yang kurang menguntungkan. racun dan bakteri. Tepian luka yang sedang tumbuh merupakan suatu daerah yang aktivitas metaboliknya sangat tinggi. Kurangnya suplai darah dan pengaruh hipoksia. membutuhkan banyak nutrisi dan pembuangan kotoran. faktor tersebut dibagi dalam faktor dari pasien (intrinsik) seperti kondisi yang kurang menguntungkan pada tempat luka dan sejumlah kondisi medis yang dapat menyebabkan lingkungan sekitar yang buruk terhadap penyembuhan luka. sintesa kolagen dan kemampuan makrofag untuk menghancurkan bakteri yang tercerna. Aktivitas fagositik dan aktivitas mitosis secara khusus mudah terpengaruh terhadap penurunan temperatur pada tempat luka. dan tersier (c) 3 FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP PENYEMBUHAN LUKA Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi dan memperlambat penyembuhan luka. jaringan nekrotik. Pada daerah dimana suplai darah tidak cukup akan menyebabkan kebutuhan sel-sel tidak terpenuhi. Kira-kira 53 . Oleh karena itu akan terjadi jaringan yang mati. Pada semua luka terdapat peradangan. Penyembuhan primer (a). sekunder (b). Faktor lokal yang berpengaruh terhadap penyembuhan luka : 1.Gambar 17. 2. dalam hal ini hipoksia menghalangi mitosis dalam sel-sel epitel dan fibroblas yang bermigrasi. Untuk itu dibutuhkan suplai darah dari vena dan arteri yang cukup.

Adanya jaringan nekrotik dan krusta yang berlebihan di tempat luka dapat memperlambat penyembuhan dan meningkatkan resiko terjadi infeksi. 3. akibatnya terjadi hambatan pada pembentukan 2. gangguan sistem imun. Suatu kebijaksanaan adalah penggunaan antibakteri lokal untuk mengatasi infeksi pada jaringan yang terkontaminasi. Kekurangan vitamin C menyebabkan fibroblas tidak matang atau berdiferensiasi. sehingga dapat mengakibatkan terhambatnya penyembuhan luka. Malnutrisi. Protein berguna untuk mengefektifkan metabolisme penderita dan mengembalikan plasma protein. 4.1. 5. Faktor sistemik yang berpengaruh pada penyembuhan luka: 1. gangguan kardiovaskuler. Mobilisasi. anemia dan penyakit lain. krusta yang berlebihan dan benda asing. Penyakit sistemik. 3. infeksi kronis.4 54 . Demikian juga adanya segala bentuk benda asing termasuk bahan jahitan dan drain luka. Infeksi. pergerakan yang terjadi pada luka merupakan trauma yang berulang pada luka tersebut. Dengan bertambahnya umur daya regenerasi dari jaringan tubuh akan berkurang. Jaringan nekrotik. Umur. Vitamin C penting untuk mempertahankan ikatan antara sel-sel endotel pada kapiler. Dalam keadaan kekurangan protein akan mengakibatkan fibroblas tidak menjadi matang sehingga pembentukan serat kolagen hanya sedikit akibatnya penyembuhan menjadi terhambat. faktor yang penting dan sering menimbulkan masalah pada kasus penyembuhan di tempat praktek.dibawah 28◦C aktivitas leukosit dapat turun sampai nol. Penyembuhan luka pada penderita yang masih muda berlangsung lebih cepat. pasien dengan penyakit diabetes melitus. Dua bahan nutrisi yang menunjukkan secara langsung untuk penyembuhan adalah protein dan vitamin C. Oleh karena itu sangat penting untuk mengeluarkan kontaminan organik maupun anorganik secepat mungkin tetapi dengan trauma yang minimum terhadap jaringan utuh.

Yang termasuk jaringan nekrotik adalah darah yang terkumpul pada luka (hematom) merupakan sumber makanan yang bagus bagi bakteri. Bentuk flap yang kurang benar c. Benda asing sering berbentuk antigen yang memacu terjadinya peradangan kronis.Benda Asing Benda asing adalah segala sesuatu yang dianggap asing bukan anggota dari tubuh oleh sistem pertahanan tubuh terhadap mikroorganisme. Jaringan Nekrotik Jaringan nekrotik. Iskemia dapat mengurangi pengiriman antibodi. Merupakan penghambat terbentuknya sel-sel reparasi. kotoran dan benang jahit. a. Hipotensi 55 . adalah berkurangnya suplai darah berpengaruh terhadap tahap perbaikan luka. termasuk bakteri. c. sel darah putih. Benda asing yang bukan bakteri tetapi bertindak sebagai bakteri yang dapat meenyebabkan terjadinya infeksi. Tekanan dari luar dan dalam luka (hematom) d. Tahap peradangan diperpanjang dimana sel darah putih mengangkut sisa-sisa jaringan nekrotik melaiui proses larutnya enzim dan paghositosis. Iskemia Iskemia. b. Iskemia menurunkan pengiriman oksigen dan zat makanan yang diperlukan untuk penyembuhan luka. dengan adanya jaringan nekrotik akan menyebabkan masalah antara lain: a. Iskemia disebabkan oleh beberapa hal yaitu : a. Jaringan nekrotik sebagai tempat berlindungnya bakteri. sehingga dapat menyebabkan terjadinya infeksi pada luka. Bakteri dapat berkembang biak dan menyebabkan infeksi dimana akan mengeluarkan protein bakteri yang dapat merusak jaringan b. dan antibiotik yang sangat diperlukan. Terlalu tegang atau tidak tepatnya lokasi penjahitan b.

penggunaan antibiotik topikal yang kurang tepat dan ramuan obat perawatan luka lainnya. Apabila terlalu lama benang tidak diambil maka akan mendatangkan ketegangan jaringan dan luka cenderung semakin terbuka selama tahap remodeling. sehingga akan meninggalkan tanda yang buruk. tanpa rusaknya akson (selubung myelin masih intak atau terdapat luka yang kecil) penyembuhan dari defisit fungsional berlangsung secara spontan dan umumnya lengkap dalam tiga .5.3.6 PENATALAKSANAAN LUKA YANG TIDAK TEPAT Gagal mengidentifikasi penyebab yang mendasari sebuah luka atau gagal untuk melakukan identifikasi masalah lokal di tempat luka. terjadi degenerasi pada semua akson di badan saraf yang terluka. Penyakit pembuluh darah tepi f. investing Schwann cells akan memulai beberapa perubahan yang disebut 56 . Jika benang diambil terlalu awal maka dapat terjadi pembukaan kembali dari luka sehingga dapat menimbulkan kontraksi dari luka. penggunaan antiseptik yang tidak bijaksana.e. Hal ini akan berpengaruh pada bagian distal dari lokasi luka dan sebagian bagian proksimal dari luka. Apabila ada kerusakan akson (sel Schwann dan jaringan ikat masih intak) akan terjadi perubahan morfologis sebagai manifestasi dari degenerasi aksoplasma. Penjahitan dengan benang yang terlalu kencang dapat menimbulkan ketegangan pada jaringan di daerah luka. Pada luka badan saraf. ketegangan dari luka dapat menghambat terjadinya penyembuhan. MEKANISME PENYEMBUHAN JARINGAN SARAF Proses penyembuhan jaringan saraf tergantung pada derajat keparahan dan keluasan luka. serta teknik pembalutan dan penjahitan yang kurang hati-hati adalah penyebab terlambatnya penyembuhan luka yang dapat dihindari. Pada luka yang menyebabkan terganggunya konduksi saraf. Anemia Ketegangan Jaringan Ketegangan jaringan. Setelah sel saraf terluka. Jaringan diliputi oleh benang yang terlalu tegang sehingga menimbulkan iskemia.empat minggu.

dan umumnya disertai dengan terbentuknya pus dan bau. sel Schwann akan menghubungkan bagian proksimal dan distal dari luka dengan cara membentuk suatu ikatan (Bungner’s band) yang akan menerima akson yang sudah regenerasi dari bagian proksimal. tergantung luas daerah dehiscence dan keputusan klinisi.1.degenerasi wallerian. serta menjaga luka tetap bersih.4 KOMPLIKASI PENYEMBUHAN LUKA Infeksi Pada Luka Infeksi pada luka umumnya merupakan infeksi dari kontaminasi bakteri pada luka tersebut. Jaringan parut Keloid memiliki faktor predileksi hubungan kekerabatan dan ras. rasa nyeri. di sepanjang akson distalis dan beberapa akson proksimalis. Infeksi luka dapat dikurangi dengan cara melakukan tindakan bedah yang benar. dan eliminasi dead space. hemostasis yang adekuat. sedangkan hyperthropic scar timbul segera setelah luka 57 . Sel Schwann juga dapat mengeluarkan beberapa faktor neurotropik untuk menunjang regenerasi sel saraf. meliputi debridement. Berdasarkan hasil penelitian. tipe luka. Proses regenerasi dipengaruhi oleh faktor umur. pembengkakan.7 Dehiscence Dehiscence terjadi akibat tindakan hecting yang tidak optimal. Selain itu. Proses regenerasi sel saraf berlangsung sekitar 3 bulan dan ditandai dengan terbentuknya akson bermielin. Perlu dibedakan antara keloid dengan hyperthrophic scar. nutrisi. Selama 78 jam. Setelah debris dapat dibersihkan. infeksi dapat terjadi bila terdapat 1 x 105 bakteri dalam 1 gram jaringan. Keloid timbul beberapa bulan setelah luka sembuh. Bagian yang mengalami dehiscence dapat ditutup lagi atau dibiarkan supaya terjadi penyembuhan sekunder. akson yang terluka akan difagositosis oleh sel Schwann dan makrofag. infeksi dapat terjadi akibat daya tahan tubuh host yang menurun atau derajat virulensi bakteri. peningkatan suhu. Tindakan yang tidak asepsis merupakan penyebab utama terjadinya luka yang terinfeksi. Gejala klinis dari luka yang terinfeksi adalah eritema. dan saraf yang terlibat.

4 58 . Hal yang dapat dilakukan adalah menjaga jarak antarjahitan tidak terlalu rapat dan setelah dilakukan hecting.sembuh. pasien dapat diberikan obat anti-keloid (salep kanakeloid atau injeksi kenacort 2x sebulan).

59 . iskemia dan ketegangan jaringan. tahap fibroblastis dan tahap remodeling. Proses penyembuhan luka dapat dibagi menjadi tiga tahap dasar yaitu tahap inflamasi. Luka pada jaringan dapat disebabkan oleh peristiwa patologis atau trauma. Komplikasi yang sering terjadi adalah infeksi. adanya jaringan nekrotik. penyembuhan luka dipengaruhi oleh faktor lokal dan faktor sistemik.BAB IV KESIMPULAN Luka adalah terputusnya kontuinitas jaringan baik tanpa kehilangan jaringan atau disertai dengan kehilangan jaringan. dan jaringan parut yang berlebihan. Faktor-faktor yang menghambat proses penyembuhan luka adalah adanya benda asing. dehiscence.

365-372. 1991. diunduh tanggal 22 Januari 2013 16. 2001.patient. 1997. diunduh tanggal 22 Januari 2013 17. Jakarta. 2003.com. W. Feinberg. Manual Untuk Peserta ATLS. 9th ed. Enquist. www.com .B Saunders Co. Sjamsuhidajat R.DAFTAR PUSTAKA 1. Jakarta: EGC 8. diunduh tanggal 22 Januari 2013 10. www.meddet.H. hal. www. diunduh tanggal 22 Januari 2013 14. Wim de Jong.com . 1998. hal.com . Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2. www. Morison. Vol. I. JM. Healing of Traumatic Injuries.B.wordpress. Patient UK. Alih Bahasa Purwanto. Topazian R. 105-107. 15. Pp: 99-111 3. Robins.com. Cotran. EGC.B. Larsen.dc349. FK-UI. diunduh tanggal 22 Januari 2013 13.G and Goldberg M.D. Simple Wound Management and Suturing.adam. hal 28-42. London: Saunders Company. www. 1996.300 – 309. 2. in Fonseca RJ and Walker RV. Arif Mansjoer.81-91. Oral and Maxillofacial infection.skwawesome.com . Manajemen Luka. edisi 5. Philadelphia: W. Philadelphia. Pederson W. diunduh tanggal 22 Januari 2013 12. 4. in Loyal Davis. dalam Dasar Patologi Penyakit. http://www. Media Aesculapius. 9.65. Buku Ajar Bedah Mulut. 2002. Kumar. The Principles of Wound Healing. F. tahun 1996. Radang dan perbaikan. diunduh tanggal 22 Januari 2013 11.uk 5. 1998.bayoesunaryo. PE.Saunders and Co. hal. Oral and Maxillofacial Trauma. www. Buku Ajar Ilmu Bedah. W. Frying. 4th ed. M.com . 60 .4shared. Cristhoper's Textbook of Surgery. American College of Surgeon. Suprohaita.jellygamatluxornet. http://burn-victim-help-center. dkk.co. 6. SE. 7.hal. 20. EGC.G.

61 .

maka dari itu diperlukan suatu penanganan perdarahan secepat mungkin. Oleh karena itu pasien dengan trauma oromaksilofasial memerlukan intervensi nutrisi dalam rawat inap di rumah sakit. Hal ini berakibat menurunnya daya tahan tubuh. Penanganan perdarahan dapat dilakukan dengan membentuk mekanisme hemostasis natural. Pada penderita trauma oromaksilofasial juga diperlukan adanya pengelolaan nutrisi yang adekuat dikarenakan pada penderita trauma kemampuan penggunaan mulut penderita berkurang. Prosedur bedah mulut dan maksilofasial dapat mengeliminasi permasalahan ini dengan suatu prosedur operasi. Maksud dari penulisan makalah ini adalah untuk memberikan gambaran penanganan perdarahan dan pengelolaan nutrisi penderita trauma oromaksilofasial . pengikatan dengan benang. terjadinya edema. gangguan enzim dan metabolisme serta kelemahan otot. nutrisi 62 . dan terhambatnya penyembuhan luka gangguan motilitas usus.Penanganan Perdarahan / Hemostasis dan Pengelolaan Nutrisi Penderita Trauma Oromaksilofasial Alvin 160121120006 Peserta Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut Dan Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Abstrak : Perdarahan pada penderita oromaksilofasial merupakan suatu jenis kegawatdaruratan yang dapat mengancam jiwa. meletakkan substansi vasokonstriktif.namun prosedur ini juga membatasi kemampuan mulut sementara waktu. Pada keadaan trauma (stress dan sepsis) tubuh mengalami rangkaian perubahan hormonal yang menambah laju metabolisme. trauma. Kata kunci : perdarahan. menggunakan panas .

Pada mulanya dokter gigi dilibatkan pada perawatan trauma rahang karena mereka menguasai pengetahuan tentang gigi dan oklusi. Diagnosis didukung dengan adanya teknik radiografis yang berkembang dengan pesat. kantor. jalan raya. Ketika trauma yang kompleks terjadi. Fraktur-fraktur yang pada jaman dahulu tidak dapat dikenali sama sekali atau hanya bersifat dugaan sekarang ini bisa ditunjukkan sampai hal yang terkecil. Dengan tersedianya antibiotik dan peralatan yang khusus. Perawatan yang terdahulu hanya terdiri atas fiksasi gigi pada oklusi sentrik untuk mengurangi dan mengimobilisasi suatu rahang. hanya tekniknya yang berkembang pesat. Trauma oromaksifasial dapat menimbulkan perdarahan. pasien tersebut sering membutuhkan penanganan medis darurat atau kematian dapat terjadi 1. sehingga memerlukan tindakan di dalam ruang gawat darurat agar tidak menimbulkan kematian 3. atau daerah-daerah lain dengan sumber daya yang terbatas yang biasanya tidak dapat menangani pasien dengan trauma yang kompleks dan frekuensi yang besar. Kunci penatalaksanaan pasien trauma biasanya melibatkan mobilisasi dari pasien-pasien tersebut dan penyaluran ke pusat trauma untuk penanganan lebih lanjut. Sekarang ini dasar pemikiran perawatan fraktur mandibula dan maksila masih tidak banyak berubah. namun justru dijumpai pada perumahan yang terpencil. Trauma yang terdapat pada regio maksilofasial memerlukan perhatian khusus.BAB I PENDAHULUAN Manajemen pasien yang mengalami trauma jarang dijumpai pada pusat trauma mayor dimana sumber dayanya tidak terbatas. Keadaan ini membutuhkan pertolongan segera yang dapat berupa pertolongan pertama sampai pada pertolongan selanjutnya secara baik di rumah 63 . membuat pendekatan per oral pada perawatan fraktur fasial menjadi aman dan layak dilakukan 2.

fraktur nasoetmoidal atau kompleks zygomatikomaksilari dan fraktur dasar orbita. Kelompok utama yang kedua dari pasien trauma berumur antara 35 dan 44 tahun dan didominasi oleh laki-laki yang terluka karena kecelakaan motor. 1 64 . 3 Regio maksilofasial terbagi menjadi tiga bagian. dengan jenis kelamin laki-laki yang paling dominan terluka pada kecelakaan motor dan oleh karena kekerasan (luka tembak. sehingga memerlukan tindakan di dalam ruang gawat darurat agar tidak menimbulkan kematian 3. Insidensi trauma maksilofasial sering terjadi terutama yang berhubungan dengan kecelakaan kendaraan bermotor. 3 Kematian pada penderita dengan trauma oromaksilofasial salah satunya dapat disebabkan oleh perdarahan yang tidak cepat diatasi. Berikut ini akan dibahas mengenai penanganan perdarahan/hemostasis dan pengelolaan nutrisi pada kegawatdaruratan trauma oromaksilofasial sebelum dilakukan penanganan definitif lebih lanjut. Tindakan tersebut dimaksudkan untuk menyelamatkan jiwa mencegah dan membatasi cacat serta meringankan penderitaan dari penderita. Bagian yang ketiga dari regio maksilofasial adalah wajah bagian bawah.sakit. Midface dibagi menjadi bagian atas dan bagian bawah. Distribusi umur pasien trauma menunjukkan bahwa pasien trauma berumur antara 17 dan 24 tahun. Kelompok umur ini adalah kelompok yang paling sering dijumpai oleh spesialis bedah mulut untuk evaluasi dan pengobatan luka fasial 1. bila fraktur hanya terdapat pada mandibula. juga dibutuhkan pengorganisasian yang sempurna. Midface yang bagian atas bila terdapat fraktur Le Fort II dan Le Fort III dan/atau fraktur tulang nasal. Keadaan ini selain membutuhkan pengetahuan dan ketrampilan yang baik dari penolong dan sarana yang memadai. Bagian pertama adalah wajah yang bagian atas. Bagian kedua adalah daerah tengah wajah atau midface. Fraktur Le Fort I bila fraktur terdapat pada bagian bawah dari midface. Kelompok ketiga tertinggi dari pasien trauma berumur antara 75 dan 85 tahun dan kebanyakan adalah wanita yang terluka karena jatuh atau oleh karena kecelakaan motor. luka tusuk dan perkelahian). bila fraktur melibatkan sinus dan tulang frontal.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Mempertahankan jalan napas b. Pemantauan 3. Diagnosis dan penanganan sekunder a. ABC (Airway. Radiografi c. Stabilisasi fraktur d. Menghentikan perdarahan eksternal c. Circulation) b. Resusitasi dan pananganan primer a. Pemeriksaan fisik menyeluruh b. Rehabilitasi 65 . Resusitasi dan pemantauan lanjut 4. Perawatan Definitif a. Pembedahan b. Adapun tahap-tahap penanganan trauma adalah sebagai berikut 4: 1. Penanganan yang dilakukan sebelum dibawa ke rumah sakit a. Perawatan non operatif c. Pemeriksaan Laboratorium d. Breathing. Sehingga tahap-tahap penangannnya bersamaan dengan penanganan trauma yang lainnya. Resusitasi cairan c. Tranportasi cepat (Ambulatory) 2. Nutritional support 5. PENANGANAN TRAUMA OROMAKSILOFASIAL Pada umumnya penderita dengan trauma oromaksilofasial terjadi bersamaan dengan trauma pada bagian tubuh yang lain (trauma multiple). Stabilisasi tulang belakang e.

Berbagai macam perdarahan yang dibagi menurut pembuluh darah yang terluka. 2. Perdarahan eksternal jika darah keluar dari kulit atau jaringan lunak dibawahnya. Perdarahan intermediate jika terjadi dalam 24 jam. maka dibagi menjadi: a. Perdarahan kapiler. operasi. Menurut waktu terjadinya perdarahan. dengan ciri-ciri warna darah merah gelap karena mengandung karbondioksida dan darah yang keluar mengalir tetap. Perdarahan primer jika terjadi pada waktu terputusnya pembuluh darah karena trauma. tetapi masuk kejaringan sekitarnya. dan darah merembes dari permukaan luka. dapat terjadi karena kelainan 66 . Menurut pembuluh darah yang terluka. Perdarahan internal jika arah tidak keluar. c. perdarahan dapat dibagi menjadi: a. Perdarahan spontan/biokemis yaitu perdarahan terjadi akibat kelainan atau gangguan mekanisme hemostasis. dengan ciri-ciri warna darah antara darah arteri dan vena. Menurut lokasi perdarahan. Menurut penyebab terjadinya perdarahan maka dibagi menjadi: a. dibagi menjadi: a. 3. lokasi perdarahan. Perdarahan mekanik yaitu perdarahan terjadi akibat trauma mekanik atau kecelakaan b. b. dan penyebab perdarahan. 4.B. karena hilangnya kontinuitas pembuluh darah. yang akan diuraikan sebagai berikut1: 1. dengan ciri-ciri warna darah cerah terang karena mengandung oksigen dan perdarahan memancar dengan aliran yang terputus-putus sesuai dengan denyut jantung. Perdarahan sekunder jika terjadi setelah 24 jam. TINJAUAN UMUM PERDARAHAN Perdarahan adalah keluarnya darah dari pembuluh darah kedalam ruang ekstravaskuler. Perdarahan vena. Perdarahan arteri. b. waktu perdarahan. c. b.

Hemostasis sekunder. Gangguan faktor hemostasis akan mengakibatkan terjadinya perdarahan atau trombosis. 67 . Hemostasis primer. kelainan trombosit dan kelainan mekanisme pembekuan darah. Hematoma memberikan tekanan pada luka. yang memungkinkan terjadinya infeksi pada luka 5. sehingga tekanan darah di dalam kapiler meningkat. yang termasuk didalamanya adalah faktor pembekuan dan anti pembekuan. Trombosis yaitu darah membeku di pembuluh darah. hematoma tersebut meningkatkan tarikan pada tepi luka dan berfungsi sebagai media kultur. Dinding kapiler yang kurang kuat akan menyebabkan darah keluar dan merembes kedalam jaringan sekitarnya sehingga nampak titik merah kecil pada permukaan kulit. Hemostasis dapat dibagi menjadi5: 1. yang termasuk didalamanya adalah pembuluh darah dan trombosit. Pencegahan kehilangan darah yang banyak merupakan hal yang penting untuk menjaga kapasitas transpor oksigen pada pasien tersebut. Perdarahan yaitu darah keluar dari pembuluh darah. Akan tetapi pengontrolan hemostasis penting dikarenakan oleh adanya alasan-alasan yang penting juga. mengurangi vaskularitas. titik itu disebut petekia. C. Masalah lainnya yang disebabkan oleh perdarahan adalah terbentuknya hematoma. 2. HEMOSTASIS Hemostasis adalah proses penghentian perdarahan dari pembuluh darah yang mengalami kerusakan secara spontan. yang akan diuraikan sebagai berikut: 1. Evaluasi faal hemostasis dapat dilakukan melalui beberapa cara. Percobaan Pembendungan (Tes Rumpel Leede) Menguji ketahanan dinding kapiler darah dengan cara mengenakan pembendungan kepada vena.pembuluh darah. Salah satunya adalah menurunnya visibilitas yang dikarenakan perdarahan yang tidak terkontrol.

Masa perdarahan Menilai kemampuan vaskuler dan trombosit untuk menghentikan perdarahan. Pemeriksaan Penyaringan untuk Faktor XIII Digunakan untuk menilai kemampuan faktor XIII dalam menstabilkan fibrin. XI. 3. prekalikren. Trombine Time (TT) Perubahan fibrinogen menjadi firbin 7. 5.000-400. Tabel 1. defisiensi vitamin K. V. VIII.2. X. V.II.X. Mungkin abnormal pada penyakit hati.000/ul.000/mm³ Deteksi trombositosis .000/ul. deteksi penyakit willebrand Waktu perdarahan 2-7 menit Hitung platelet 150. protrombin dan fibrinogen. Jumlah trombosit kurang dari 50. Masa Protrombin Plasma (Protrombine Time/PT) Menguji pembekuan darah melalui jalur ekstrinsik dan jalur bersama yaitu faktor pembekuan VII. trombositopenia Lebih lama bila berkaitan dengan defisiensi faktor-faktor I. IX. Masa tromboplastin parsial teraktivitas ( Activitated Parsial Tromboplastin Time/APTT) Menguji pembekuan darah melalui jalur intrinsik dan jalur bersama yaitu faktor pembekuan XII. protrombin dan fibrinogen 6. Tes Koagulasi Jenis Tes Nilai Normal Kegunaan Mengamati fungsi vaskular dan platelet.000/ul digolongkan trombositopenia berat dan perdarahan spontan akan terjadi jika jumlah trombosit kurang dari 20. Hitung jumlah trombosit Perdarahan tidak terjadi jumlah trombosit lebih dari 100. kininogen.V. Waktu protrombin 12-14 Detik 68 . 4.VII. X.

kecuali VII Hemofilia Tabel 2. bila ada defisiensi faktor pembekuan darah. dan anti-radang nonsteroid lain.terapi warfarin sodium (Coumadin).diaktifkan oleh tromboplastin Diperlukan untuk merubah protrombin menjadi thrombin Tes PT PT PTT III Tromboplastin IV V VI Kalsium Proaccelerin Tidak lagi digunakan Diperlukan pada semua tahap Diperlukan untuk pembentukan tromboplastin PTT PT PTT VII Proconvertin Diperlukan untuk mengubah protrombin menjadi thrombin PT VIII Faktor antihemofilik (AHF) Diperlukan untuk pembentukan tromboplastin IX Komponen Plasma tromboplastin X Faktor Stuart Prower Diperlukan dalam pembentukan tromboplastin dan perubahan dari protrombin menjadi thrombin XI Anteseden tromboplastin plasma XII Faktor Hageman XIII Faktor stabilisasi fibrin PT : Waktu protrombin PTT : Paruh waktu tromboplastin Mengawali proses pembekuan darah in vitro Merubah fibrin menjadi polimer fibrin Diperlukan untuk pembentukan tromboplastin Diperlukan untuk pembentukan tromboplastin PTT PTT PTT PTT PTT PTT 69 . Penggunaan aspirin. Faktor Pembekuan Darah Faktor I II Fibrinogen Protrombin Peranan pada pembekuan darah Prekursor fibrin Proensim. Paruh waktu tromboplastin 60-70 detik Lebih lama.

D. Hemoragi eksternal biasanya dapat dikontrol dengan melakukan penekanan secara langsung ke luka yang ada. Hemoragi dapat secara eksternal maupun internal ke dalam kavitas tubuh. Ketika dressing yang digunakan menjadi basah. PENANGGULANGAN PERDARAHAN KARENA TRAUMA Kehilangan darah akut dari sistem peredaran darah disebut juga sebagai hemoragi. Akan tetapi. fraktur nasal atau tengah wajah. hal tersebut hanya direkomendasikan apabila penekanan langsung pada luka saja tidak efektif 1. Luka pada kulit kepala dapat menyebabkan kehilangan darah dalam jumlah besar pada waktu yang singkat karena perembesan darah pada galea dan lapisan jaringan ikat yang renggang. volume darah secara umum tinggi per satuan berat. dan luka tembus pada leher. Maka dari itu.0 nonresobable atau staples tanpa memperhatikan kosmetik pasien. dressing tersebut sebaiknya jangan dilepaskan. Pada anak-anak. Tekanan langsung kemudian dapat dilakukan pada luka untuk 70 . Tekanan yang digunakan untuk mengontrol perdarahan sebaiknya kuat dan kontinu. volume darah tidak meningkat secara spesifik. kita mengetahui adanya suplai vaskular yang banyak ke daerah muka dan leher. yang sebelumnya digunakan untuk meningkatkan tekanan darah pada kasus hipotensi yang parah. seperti air-pillow splints dan blood pressure cuff dapat juga digunakan. Pada orang dewasa dengan berat badan yang ideal. seorang laki-laki dengan berat badan 70 kg memiliki volume darah kurang lebih 5L. Sebagai spesialis bedah mulut dan maksilofasial. Aspek negatif dari suplai darah tersebut adalah hemoragi mayor dapat disebabkan oleh luka pada kulit kepala yang besar. PASGs dan medical antishock trousers(MASTs). 8% hingga 9% dari berat badan. Pada individu yang menderita obesitas. Luka kulit kepala dapat dengan cepat diatasi dengan dijahit menggunakan 2. Tekanan yang kuat dapat diaplikasikan proksimal ke arah arteri mayor untuk mengontrol perdarahan. memberikan keadaan yang merugikan pada beberapa situasi karena menyebabkan luka vaskular. tetapi sebaiknya dressing tambahan digunakan karena apabila dressing dilepaskan maka formasi clot yang telah terbentuk dapat terganggu dan menyebabkan perdarahan kembali. Perban tekan. volume darah normal (liter) adalah sebanyak 7% dari berat badan (kilogram).

jahitan dapat dilepaskan dari luka dan penutupan lapisan luka secara kosmetik dapat dilakukan 1.jika tersedia. Pemeriksaan fisik dan radiografis sangat menolong dalam mengidentifikasi hemoragi ke dalam area tersebut. retroperitoneum. Daerah internal yang potensial untuk tempat terjadinya perdarahan termasuk rongga dada. sekaligus dapat menyebabkan kemungkinan rusaknya nervus.mengontrol hemoragi dan meminimalkan pembentukan hematoma. fraktur femur 500 ml hingga 1000 ml. Pada kasus yang langka. kecuali jika hemoragi tersebut menyebabkan keadaan yang merugikan pada sistem pulmonal dan kardiovaskular. Akan tetapi. Embolisasi dari perdarahan dengan cara intervensi secara radiologi oleh radiologis . dapat dikontrol dengan tekanan dari gauze packing selama beberapa waktu. Epinephrine dan cairan trombin dapat juga ditambahkan pada gauze packing dan kepala dapat juga dinaikkan untuk mendapatkan hemostasis. fraktur tibia 250 ml hingga 500 ml. merupakan cara yang terbaik untuk mengatasi perdarahan yang tidak dapat dikontrol dengan menggunakan metode yang telah disebutkan di atas 1. Perdarahan internal arteri maksilaris yang disebabkan fraktur dinding posterior maksila. Kebanyakan hemoragi dari fraktur fasial dapat dikontrol dengan tekanan langsung atau packing. Hipovolemi yang terus menerus tanpa adanya perdarahan eksternal atau ke dalam rongga dada dapat menunjukkan adanya hemoragi abdominal atau hemoragi pada daerah fraktur. Pengontrolan perdarahan internal tidak dilakukan pada saat survei primer. abdomen. Ketika pengontrolan langsung pembuluh darah diperlukan. Penjepitan tanpa melihat pembuluh darah dapat menyebabkan perdarahan dari pembuluh darah dan jaringan lunak. Fraktur nasal dan tengah wajah dapat menyebabkan robeknya arteri ethmoidal. yang dapat terjadi pada fraktur Le Fort I dan II. dan tulang-tulang kecil lainnya 125 ml hingga 250 ml. Ketika pasien sudah stabil. visualisasi yang adekuat dari pembuluh darah diperlukan. ligasi dari arteri karotis eksternal mungkin diperlukan. hal ini biasanya tidak efektif jika digunakan sendiri saja dikarenakan sirkulasi kolateral dari wajah. Perdarahan internal dapat dikontrol dengan 71 . Fraktur pelvis dapat menyebabkan kehilangan darah sekitar 1000 ml sampai 2000 ml. dan ekskremitas.

Syarat yang ketiga untuk koagulasi termal adalah pembuangan semua darah atau cairan yang terakumulasi di sekitar pembuluh darah yang akan dikauter. dan operasi eksplorasi 1. refraksi. Jika tidak. dan pembuluh darah besar memerlukan 5 hingga 10 menit penekanan yang kontinu. Pertama. pasien harus berhubungan dengan tanah. Hemostasis luka dapat diperoleh dengan empat cara. tip cauter dan intrumen metal lainnya yang disentuh oleh tip kauter tidak boleh menyentuh pasien pada titik lainnya selain pada area pembuluh darah yang berdarah. Hal ini biasanya diperoleh dengan mengunakan fabric sponge untuk memberikan tekanan pada pembuluh darah atau meletakkan hemostat pada pembuluh darah. Cara kedua untuk memperoleh hemostasis adalah dengan menggunakan panas untuk menyebabkan ujung dari pembuluh darah yang terpotong sehingga bersatu (koagulasi termal). seperti hemostat. Cairan bertindak sebagai penghalang energi dan mencegah sejumlah besar panas mencapai pembuluh darah untuk menyebabkan penutupan 5. setiap 72 . Jika pembuluh darah besar telah terpotong. Ahli bedah dan asisten sebaiknya “mencolek” bukan mengusap dengan spons untuk menghilangkan darah yang terekstravasasi. Beberapa pembuluh darah kecil kebanyakan hanya memerlukan tekanan selama 20 hingga 30 detik. pembentukan clot. Kedua. arus listrik dapat mengalir ke arah yang tidak diinginkan dan menyebabkan luka bakar. Yang pertama adalah dengan membentuk mekanisme hemostasis natural. yang pada akhirnya menyebabkan koagulasi. atau dengan menyentuh pembuluh darah dengan tip elektrokauter. Panas biasanya diaplikasikan melalui tegangan listrik yang dipusatkan oleh ahli bedah pada pembuluh yang mengeluarkan darah dengan memegang pembuluh darah dengan instrumen metal. oklusi vaskular melalui mekanisme perlindungan. Cara ketiga untuk membantu terjadinya hemostasis bedah adalah dengan pengikatan dengan benang.menggunakan fiksasi sekunder dari fraktur. Tiga kondisi harus dipenuhi untuk memenuhi persyaratan penggunaan koagulasi termal. sehingga arus listrik dapat memasuki tubuh. Mengusap dapat membuka kembali pembuluh darah yang telah tersumbat dengan beku darah 5. Kedua metode tersebut menyebabkan stasis dari darah pada pembuluh darah.

pertama kali harus ditujukan pada penyelamatan jiwa dengan memperhatikan jalan nafas dan pernafasan. Pada perdarahan internal hanya dapat diatasi di rumah sakit. Circulation). Ketika pembuluh darah telah terputus. seperti epinefrin. Perdarahan pada penderita dengan trauma oromaksilofasial dapat terjadi secara internal maupun eksternal. pada luka atau dengan pengaplikasian prokoagulan. serta kontrol perdarahan 6. Cara keempat untuk mendapatkan hemostasis adalah dengan meletakkan substansi vasokonstriktif. dua hemostat dapat di letakkan pada pembuluh darah. dengan jarak yang cukup di anataranya untuk memotong pembuluh darah. Ahli bedah kemudian mengikat pembuluh darah tersebut dengan benang non-resorbable. Breathing.. E. Perdarahan yang keluar dari hidung dapat diatasi dengan meletakan tampon di lubang hidung depan dan belakang 6.. Perawatan penderita cedera akut dengan faktur pada daerah wajah. Jika pembuluh darah dapat dibebaskan dari jaringan ikat sekitarnya sebelum dipotong.ujungnya dijepit dengan menggunakan hemostat. PENANGANAN SEBELUM KE RUMAH SAKIT Tujuan penanganan sebelum penderita dibawa ke rumah sakit yaitu menyelamatkan jiwa penderita sebelum mendapatkan penanganan yang lebih lanjut di rumah sakit 6. 73 . Penanganan perdarahan di tempat kecelakaan diutamakan pada perdarahan eksternal. Cara mengatasinya dengan melakukan penekanan pada luka dan jika perdarahan masih berlangsung terus dilakukan pengikatan (ligasi). pada luka 5. dan sirkulasi (Air ways. benang diikatkan pada setiap ujungnya dan hemostat dilepaskan 5. seperti trombin atau kolagen.

Gambar 1. 74 . atau perdarahan berat melebihi 50 cc permenit. Apabila tersedia. Penanganan Perdarahan Hidung6 Penanganan awal apabila terjadi perdarahan arteri adalah dengan penekanan. Sesudah mengontrol perdarahan Intra-operatif. Pergunakan cairan hipertonik 4. misalnya terpotongnya arteri. Untungnya hanya dengan melakukan klem saja sudah cukup diinduksi untuk membuat beku darah. Penekanan diperoleh dari penekanan langsung dengan jari atau dengan kasa. Sering dengan hanya melakukan sudah bisa berhasil mengatasi perdarahan. maka dapat diputuskan untuk meneruskan atau menghentikan prosedur 4. Melakukan klem pada daerah perdarahan dimulut sangat sukar dan melakukan pengikatan (ligasi) bahkan lebih sulit lagi.dapat digunakan elektrokoagulasi dari pembuluh yang diklem sehingga tidak perlu diikat Alternatif yang lain yang biasa digunakan hanya pada pembedahan adalah menggunakan klip hemostatik pada pembuluh darah. maka diklem dengan hemostat. Jika keluarnya darah sangat deras. Pemberian cairan intravena dapat diberikan jika transportasi diperkirakan memerlukan waktu lebih dari 30 menit.

Untuk penderita dengan trauma oromaksilofasial pendekatan awal sedikit berbeda dengan cedera yang lain. Penjepitan pembuluh darah secara acak harus dihindari karena dapat membahayakan pembuluh darah balik dan saraf 1. Perhatian harus segera diarahkan terhadap saluran pernafasan dan kontrol perdarahan eksternal. Seringkali trauma oromaksilofasial terjadi bersamaan dengan trauma pada bagian tubuh lain (trauma multiple). nasofaring (dari basis cranii) atau perdarahan dari hidung (fraktur nasalis. Penjepitan pembuluh darah dengan arteri klem6 Faktor yang mempengaruhi keputusan ini adalah kondisi fisik dan mental pasien (tanda-tanda vital). Penanganan perdarahan eksternal pada trauma oromaksilo fasial sudah harus dilakukan saat sebelum tiba di rumah sakit. dada. hendaknya dilakukan bersamaan dengan penanganan jalan nafas. Jika belum dilakukan. dan anggota gerakan lainnya. sinus paranasalis. keadaan-keadaan itu harus ditangani lebih dahulu oleh karena mengancam jiwa penderita 1. 75 .Gambar 2. Pada keadaan ini kita mendahulukan penanganan trauma yang paling mengancam jiwa 1. fraktur maksila). hidung. Perdarahan dari fraktur oromaksilofasial dapat terjadi perdarahan pada rongga mulut. perkiraan jumlah darah yang dikeluarkan dan waktu yang digunakan untuk mengontrol perdarahan. sebelum melakukan pemeriksaan tanda-tanda vital. misalnya trauma mengenai cerebro kardiovaskuler. saraf.

Etiologi syok hipovolemik adalah kehilangan darah/perdarahan (trauma.F. APTT. Gejala syok hipovolemik antara lain adalah inadekuat perfusi organ. ketolamin (+) dingin. Tabel 3. Selain itu golongan darah dan cross matched juga perlu diperiksa1. urine output <0. kehilangan Plasma (luka bakar). BUN. analisa gas darah dan pemeriksaan urin rutin (pada pasien dengan trauma). dan hematoma). K. PT. pemeriksaan elektrolit (seperti Na. dan hampir semua penderita multi-trauma ada syok.5 ml/kg BB/jam1. Resusitasi cairan dapat diberikan sesuai dengan keadaan klinis1. takikardia. Syok hipovolemik adalah suatu kondisi medis yang timbul akibat penurunan sirkulasi volume darah. dan perabaan pada daerah akral dari ektremitas. Perdarahan yang banyak bisa mengakibatkan syok hipovolemik. nafas yang cepat. kehilangan darah 10-15%. HCO3. denyut nadi yang melemah. keringat. kreatinin dan kadar glukosa). penyebab syok yang paling sering dan semua jenis syok memiliki komponen hipovolemik 1. perubahan tanda vital karena adanya mekanisme kompensasi. Pemeriksaan laboratorium penunjang yang dilakukan untuk menetapkan diagnosis adalah pemeriksaan darah lengkap. pancreatitis. Perdarahan adalah sebab tersering dari syok pada trauma. Cl. kehilangan cairan dan elektrolit (muntah. dan asites) 1. ekstrimitas lembab dan keterlambatan capillary filling. Klasifikasi perdarahan1 KELAS I Kehilangan Darah (mL) % Kehilangan Darah < 15 % < 750 KELAS II 750-1500 KELAS III 1500-2000 KELAS IV > 2000 15-30% > 40% 76 . diare. perdarahan GIT. SYOK HIPOVOLEMIK Syok adalah ketidakmampuan sirkulasi darah untuk memenuhi kebutuhan metabolisme jaringan. Untuk cukup atau tidaknya aliran darah dapat diketahui dengan memperhatikan keadaan-keadaan seperti tensi yang menurun.

5 L (PP) dan 2. Selain itu juga dapat memberikan efek pada ekspansi cairan intravaskular tetapi menyebabkan ekspansi berlebihan pada cairan interstisiel. apabila tidak terdapat peningkatan permeabilitas kapiler dan harga cairan ini murah1. 1. Pemberian pertolongan pertama dan resusitasi cairan yang tepat sangat membantu dalam mengembalikan perfusi jaringan yang adekuat.0 L (RL) untuk kelas III. Menghentikan perdarahan mutlak harus dilakukan1. Pilihan tipe cairan yang digunakan adalah koloid dan kristaloid. Koloid sangat baik untuk ekspansi volume plasma.0 L (RL). 77 . dan merupakan pilihan yang terbaik untuk peningkatan Cardiac Output dan volume O2. muka. tensi dan urine). napas. Keberhasilan terapi dapat dilihat dari perbaikan gejala klinik tersebut di atas (kesadaran. Namun koloid efek udema parunya kurang dan harga cairan ini mahal1.0 L (PP) dan 3. tangan/kaki. denyut nadi. Kristaloid efektif.Nadi Tekanan Darah Tekanan Nadi Capilary Refill Respirasi Urine (ml/jam) Status Mental Resusitasi Cairan N N N N/(postural) > 120 Menurun > 140 Menurun N ≤ 3o Memanjang Memanjang Memanjang N ≥30 cc/mnt 20-30 20-30 cc/mnt > 30 5-15 cc/mnt > 35 Tidak ada urine Sedikit cemas Cemas Sangat cemas dan bingung Bingung atau letargi Kristaloid & Darah Kristaloid Kristaloid Kristaloid & Darah Apabila darah belum tersedia pada kelas III dan IV sementara dapat diganti dengan tambahan 0. Kristaloid sangat baik untuk dehidrasi (kehilangan cairan ekstraseluler) atau perdarahan ringan.

Sedangkan penatalaksanaan untuk kehilangan cairan gastrointestinal dapat diberikan 1-2 liter NaCl 0. Resusitasi Cairan1 FLUID THERAPY RESCUCITATION MAINTENANCE COLLOID CHRYSTALLOID ELLECTROLYTES NUTRITION REPLACE ACUTE LOSS (HEMORRAGHE. GI LOSS) 1. Pada orang dewasa 2–3 liter RL selama 20–30 menit untuk memulihkan tekanan darah. drainase peritonium. URINE FAECAL ) 2. NUTRITION Tujuan yang harus dipenuhi dalam pemberian cairan adalah menganti cairan yang hilang selama trauma atau pembedahan.V. Penatalaksanaan pada perdarahan akut adalah sebagai berikut 1: 1.drainase toraks. REPLACE NORMAL LOSS ( IWL. serta penggantian cairan yang hilang dilakukan melalui pipa lambung.Bagan 1. Maksud utamanya adalah mengembalikan volume intravaskular dan mendapatkan perfusi jaringan yang adekuat. 78 . Pemberian WB atau PRC hingga HT> 30 % dengan 1-2 unit fresh frozen plasma (FFP) tiap 5 unit darah.9% atau RL) atau Koloid (Dextran) secara I. dengan pemberian 1-2 liter kristaloid (NaCl 0..V.9% dalam 30–60 menit. dan memonitor tanda vital. 2. kemudian pengecekan elektrolit dan dikoreksi bila terdapat kelainan lainnya 1. Pemasangan 2 jalur Infus I. dan diuresis. fistula usus. respirasi dsb. dalam 30 –60 menit. tekanan vena sentral. udema paru diperhatikan.

jumlah perdarahan yang terjadi. kesadaran sudah membaik. hasil serial pemeriksaan kadar Hb dan Ht. H. merupakan suatu refleks neurofisiologi yang dirangsang oleh proses trauma. deformitas congenital. keadaan hemodinamik (tensi dan nadi). jumlah cairan kristaloid dan koloid yang telah diberikan. dan terhambatnya penyembuhan luka gangguan motilitas usus. Respon neuroendokrin. meliputi susunan saraf pusat dan susunan saraf tepi. terutama jaras spinothalamicus dan formatioretikularis dengan pengolahan akhir timbul pada medula oblongata. produktif urine 1-2cc/kgBB/jam.Beberapa kriteria perfusi jaringan yang telah baik antara lain adalah nadi <100 x/menit. 79 . bagian-bagian akral yang terjadinya lembab sudah jadi kering. thalamus dan hipothalamus. Oleh karena itu pasien dengan trauma oromaksilofasial memerlukan intervensi nutrisi dalam rawat inap di rumah sakit 7.namun prosedur ini juga membatasi kemampuan mulut sementara waktu. hipofise dan SSO. dan injuri (trauma). Hal ini berakibat menurunnya daya tahan tubuh. akral yang dingin telah jadi hangat. dan usia penderita1. Kemampuan seseorang dalam mengkonsumsi makanan melalui oral dapat berubah dikarenakan neoplasia. Pemberian transfusi darah tetap harus menjadi bahan pertimbangan berdasarkan keadaan umum penderita (kadar Hb dan Ht). Kemudian respon eferen dimulai pada hipotalamus. Aktivitas SSO merangsang kenaikan simpatis dimana kadar katekolamin plasma meningkat 7. Pada keadaan trauma (stress dan sepsis) tubuh mengalami rangkaian perubahan hormonal yang menambah laju metabolisme. Prosedur bedah mulut dan maksilofasial dapat mengeliminasi permasalahan ini dengan suatu prosedur operasi. gangguan enzim dan metabolisme serta kelemahan otot. PENGELOLAAN NUTRISI PENDERITA TRAUMA OROMAKSILOFASIAL Diantara banyak fungsi rongga mulut adalah sebagai jalan masuk makanan menuju saluran cerna (gastrointerstinal tract). akral yang sianosis telah berubah menjadi merah. infeksi. sumber perdarahan telah teratasi atau belum. terjadinya edema.

Fase ini berlangsung sekitar 3 x 24 jam. Sumber energi berasal dari glikogen dan trigliserida untuk menghasilkan glukosa dan asam lemak. Kortisol tubuh akan meningkat dan demikian pula kadar gula darah. 80 . Phase Flow (Katabolisme) Ditandai oleh oksidasi protein otot untuk menghasilkan glukagon yang sangat penting untuk pembakaran di otak dan jaringan rusak yang sedang sembuh. yaitu7: 1. glukagon dan kortisol dalam plasma menurun. Phase Anabolisme atau Konvalesen Pada phase ini tubuh mulai melakukan pemulihan pada sel-sel yang mengalami kerusakan akibat katabolisme sehingga diperoleh kalori yang cukup untuk memenuhi kebutuhan pada hari ke 7 – 10 bisa diberikan. 3. 2. Kadar gula darah biasanya menurun < 200 mg % bila nutrisi tidak adekuat maka jaringan tubuh akan mulai dikorbankan untuk memenuhi kebutuhan energi. mobilisasi darah dari perifer serta vasokonstriksi perifer7. katekolamin serta glukagon. Fase ini akan memanjang bila terjadi perdarahan pasca bedah. Respon metabolik mencakup kenaikan kadar glukosa dan asam lemak bebas (FFA) plasma serta rangsangan pengeluaran kortisol. kenaikan curah jantung (cardiac output). Ketiga hormon ini berkombinasi untuk meningkatkan glukoneogenesis serta lipolosis untuk mobilisasi cadangan energi. Ada tiga fase respon metabolik trauma. Hormon pengatur stres antara lain: katekolamin. Adanya penghambat simpatis terhadap pengeluaran insulin dari pankreas serta pengeluaran glukokortikoid menambah resistensi insulin di jaringan perifer. Pada phase ini metabolisme tubuh akan menurun serta tubuh kehilangan sensitivitas terhadap sekitar. Phase Ebb Ditandai dengan terjadinya hipovolemi dengan rangsangan adrenal dan simpatis yang berlangsung sekitar 24 jam. Kebutuhan kalori pada phase ini sekitar 5000 kkal.Respon kardiovaskuler. meliputi peningkatan nadi (takikardia).

ataupun gangguan asupan nutrisi. Setidaknya penderita harus ditentukan 81 . Setiap pasien yang dilaporkan pengunaan megadosis suplemen nutrient atau yang sama sekali menghindari konsumsi kelompok makanan tertentu dari dalam dietnya selama waktu yang lama ( > 1 bulan) I. penyakit hipertensi yang baru didiagnosis. Setiap pasien dengan penyakit kronis sehingga asuhan nutrisi merupakan komponen penting dalam perawatannya. penyakit kanker dengan penurunan berat badan .0) yang disertai defisiensi nutrisi 6. fraktur dan infeksi HIV. apakah parentel ataupun enteral 4. Setiap pasien dengan penurunan bert badan yang bermakna sebelum masuk rumah sakit 7. penyakit hati. penyakit paru obstruktif yang menahun ( PPOM ) dengan penurunan berat badan. lama. rujukan dan intervensi nutrisi7: 1. diabetes mellitus. dispilidemia. Pasien.Lemak diperlukan untuk memenuhi kebutuhan asam lemak bebas dan menambah kalori dimana jumlah cairan dibatasi. 3. malnutrisi. 5.pasien tersebut mencakup gagal ginjal baik akut maupun kronis. Setiap pasien yang memerlukan dukungan energi khusus. malnutrisi. 2. dan komposisi yang harus diberikan. Setiap pasien dengan anemia nutrisi Setiap pasien dengan deplesi simpanan protein yang bermakna ( misalnya albumin < 3. seperti luka bakar. penyakit arteri koronaria. Setiap pasien yang mengalami trauma atau sakit dengan kondisi yang kritis. Berikut adalah pasien – pasien dengan kondisi yang memerlukan konsultasi. KEBUTUHAN NUTRISI PADA PASIEN TRAUMA OROMAKSILOFASIAL Penentuan status gizi penderita penting untuk menentukan jumlah.

e. edema 82 . deformitas dan kuku b. tekstur. 2. folikel. Rambut Mata Mulut : Kualitas. g. kekuatan otot. Tahapan dalam menilai status gizi adalah sebagai berikut 7: 1. Penyakit yang diderita misalnya pada hati dan ginjal seringkali berhubungan dengan defisiensi protein. f. Operasi yang baru dilakukan seperti gastrectomy atau reseksi ileum dapat mempredisposisi malabsorpsi dan terjadi defisiensi vitamin ataupun mineral. rash. kerontokan : Keratokonjunctivitis. d. h. rabun senja : Cheilosis. Kulit : Kualitas. 3. vitamin dan trace elemen. atrofi mukosa. kelainan pada gigi Abdomen : Hepatomegali Rectum : Warna feses Neurologis : Neuropathy perifer Ekstrimitas : Ukuran otot. Pemeriksaan klinis dan laboratorium Pemeriksaan fisik. c. glossitis.apakah termasuk malnutrisi ringan. sedang atau berat. tekstur. Anamnesa Penyakit kronis juga alkoholisme dapat berhubungan dengan malnutrisi energi dan protein juga disertai dengan devisiensi vitamin dan mineral. hiperkeratosis. meliputi: a.

Tabel 4.95 < 5%/month <7.3 Female 16.90 85 . energi yang terpakai selama proses asimilasi nutrien dan energi yang terpakai pada kerja fisik7.1-2.2000 60 .5%/3 months < months Moderate 2. placed) Normal antrophometric measurements Tricep skin fold (mm)4 Midarm circumference (cm) 4/4 (normal) Male 12.8 . 83 . reactive + No.5 J.2/4 (weak) 0/0 (anergic) 7.2 200 . MENGHITUNG KEBUTUHAN NUTRISI Kebutuhan energi total dari seorang pasien dalam keseimbangan metabolik adalah sama dengan pemakaian energi total ( Total Energy Expenditure) yang meliputi kebutuhan basal.7 100-200 800-1200 30-60 70-80 75-85 < 2%/week < 5%/month < 10%/6 months < 10%/6 months 1 .80 80 . Klasifikasi Malnutrisi Clinical and Laboratory Parameters Albumin (g/dL) 2 Extent of Malnutrition Mild 2.5%/3 Severe <2.5 29. peningkatan kebutuhan energi yang disebabkan penyakit.250 1200 .1 <100 <100 <40 <70 <75 > 2%/week Transferrin (mg/dL)2 Total lympochyte count (cells/μL)2 Creatinine/height Index (%)3 Ideal body weight (%) Usual body weight (%) Weight loss/unite time Skin tests (No.5 28.3.

Morse.1 – 1.4 1.2 1. atau 5. kebutuhan energi dasar ( Basal Energy Expenditure/BEE) harus dikaitkan dengan Activity Factor (AF) dan Injury Factor (IF)/stress factor (L.5 Confined to bed Ambulatory Non-stressed on ventilator Congestive heart failure Minor surgery Fever.2 1.3 Injury Factors (IF) 1. per 1o C Skeletal trauma Mild to moderate infection Major abdominal/thoracic surgery 84 .0 kcal/kg untuk wanita7.4 kcal/kg untuk pria and 5.3 – 1.15 – 1.2 1.1 + [9.1 – 1.57 x weight (kg)] + [5. ACTIVITY AND INJURY FACTOR Activity Factors (AF) 1. Menurut persamaan Harris – Benedict laju metabolisme basal bisa dihitung dengan menggunakan persamaan sebagai berikut7: HARRIS–BENEDICT METHOD FOR DETERMINING ENERGY REQIUREMENTS Pria BEE = 66.Kebutuhan kalori basal didapat dengan penghitungan BMR berdasarkan persamaan Harris-Benedict.68 x age (yrs) = _______kcals/day BEE juga dapat ditetapkan dengan menggunakan 12Lcal/lb untuk pria dan 11 kcal/lb untuk wanita.85 x height (cm) – [4. Maricopa Medical Center.56 x weight (kg)] + [1. 1993) 7. Untuk menghitung kebutuhan energi total.2 – 1.0 – 1.2 1.67 x age (yrs) = _______kcals/day Wanita BEE = 665. AZ. Phoenix.0 x height (cm) – [6.47 + [13.13 1.13 1.

sepsis.1 + (9.6 x 1. pasca bedah ringan/sedang.68 x 30) = 1174. Secara keseluruhan. tidak disertai demam.2 x 1. malnutrisi berat.8 Multiple trauma Closed head injury Stressed ventilator dependent Liver failure.56 x 40) + (1. 85 . infeksi berat. berat badan 40 kg. 50 kkal/kg BB/hari : luka bakar > 40%.5 Total energi yang dibutuhkan = 1174.5 1.5 = 2114. pasien akan banyak kehilangan berat badan dan terjadi komplikasi yang seringkali fatal.4 – 1. mempertahankan berat badan. Bila tidak mendapat dukungan nutrisi yang adekuat.4 – 1.6 1. tinggi badan 150 cm.6 kcal/hari Activity Factor = 1. 2.D Syttrar yaitu7: 1.55 1. Tujuan utama terapi dukungan nutrisi adalah menjaga agar penurunan berat badan seminimal mungkin dengan harapan dapat mencegah komplikasi dan mengurangi morbiditas maupun mortalitas7.85 x 150) – (4. pasca bedah dengan penyulit.5 – 1. cancer Sepsis Jadi Total kalori yang dibutuhkan pasien = BEE x AF x IF Contoh perhitungan : Seorang wanita. sehingga biasanya terjadi peningkatan kebutuhan nutrisi yang cukup besar.6 1. penderita dirawat karena perdarahan epidural. usia 30 tahun. respon fisiologis terhadap trauma merupakan peningkatan proses biokimia dan metabolik normal. 3.1. 40 kkal/kg BB/hari : malnutrisi sedang. BEE = 655. 30 kkal/kg BB/hari : kebutuhan basal.35 – 1.2 Injury Factor trauma kepala = 1.28 kcal/hari Terdapat pula cara estimasi kebutuhan kalori yang sederhana dengan menggunakan rumus 3–4–5 dari I.

5-2 g/kgBB/hr. Untuk mencegah terjadinya defisiensi asam lemak esensial. Apabila pasien harus di tempat tidur. derajat stress sedang (31-50%). Untuk memudahkan. faktor stress. dengan rasio kalori non-nitrogen : nitrogen = 100:17. SDA nutrisi parenteral adalah 0% sedangkan SDA untuk formula enteral dan makanan peroral kira-kira 10-20%7.8-1 g/kgBB/hr) tidak mencukupi kebutuhan pasien yang mengalami trauma oleh karena adanya peningkatan protein turnover. aktivitas fisik hanya 10%. SDA dari makanan tergantung jenis makanan yang diberikan. Masukan protein untuk orang sehat (0. yaitu derajat stress ringan (10-30%).Kebutuhan energi/kalori total sehari dapat dihitung dari penjumlahan kebutuhan kalori basal (BMR). sedangkan bila tidak di tempat tidur. Rumusan yang dugunakan adalah sebagai berikut 7: KK = KKB + FS + AF + SDA KK KKB FS AF SDA = Kebutuhan kalori total = Kebutuhan kalori basal = Faktor stress = Aktivitas fisik = Spesific dynamic action Faktor stress dinilai berdasarkan penilaian status gizi dan status metabolik. Kebutuhan protein bagi pasien dengan trauma bila tidak terdapat gangguan ginjal dan hati adalah 1. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pemberian emulsi lemak sebesar 30-40% dari kalori total merupakan jumlah yang optimal. aktivitas fisik dan spesific dynamic action (SDA). perlu diberikan asam lemak esensial sebanyak 4-8% dari kalori total sehari7. faktor stress dikategorikan dalam 3 kelompok. dan derajat stress berat (51%). sehingga besarnya faktor stress untuk trauma adalah 31-50%. 86 . Faktor stress trauma multipel adalah 50%. Trauma digolongkan ke dalam stress sedang. Lemak berfungsi sebagai sumber energi. Pada trauma terjadi katabolisme protein yang relatif konstan yaitu 10-20% dari keluaran energi. aktivitas fisik adalah 20%.

Hati merupakan organ yang penting pada proses degradasi zat-zat gizi karena merupakan organ utama 87 . terjadi peningkatan ekskresi seng (zinc) yang dianggap berasal dari katabolisme di jaringan otot. Pada pasien dengan trauma. Saluran cerna bagian atas terutama mengabsorpsi zat-zat gizi utama. 2. 4. Kebutuhan cairan adalah ± 1500 ml per m2 luas permukaan tubuh per hari. atau selang makanan. Perubahan terutama dilakukan oleh hati. karbohidrat merupakan 40% dari kalori total sehari7. penggunaan oleh semua organ. Pencernaan (digestion) Penyerapan (absorption) Perubahan (degradation) Penggunaan oleh organ / sel (utilisation) Pengeluaran zat sisa (excretion) Masing-masing tahap metabolisme dilakukan oleh organ-organ yang berbeda. diare. Banyaknya karbohidrat yang diberikan adalah kebutuhan kalori total dikurangi yang berasal dari lemak. fosfor dan magnesium dalam plasma dan seluruh tubuh perlu dipertahankan agar tetap normal supaya didapat respon yang diharapkan dengan pemberian dukungan nutrisi7. Kebutuhan tiamin dan niasin berkaitan dengan masukan kalori. Garam fisiologis dan elektrolit intrasel harus diberikan dalam jumlah yang adekuat. 5. seperti tahap pencernaan dan penyerapan dilakukan oleh organ saluran cerna. 3. maka kebutuhan vitamin B meningkat. kemudian ditambahkan bila terdapat peningkatan insensible loss melalui keringat. sedangkan saluran cerna bagian bawah terutama mengabsorpsi air. zat-zat gizi mengalami proses metabolisme secara bertahap yaitu 7: 1. Pada trauma. Untuk dapat melakukan peran dan fungsinya dalam tubuh. Keadaan ini dapat menyebabkan terjadinya defisiensi seng.Karbohidrat juga berfungsi sebagai sumber energi. Kadar kalium. Fungsi utama saluran cerna adalah pencernaan dan penyerapan dengan mensekresi enzim-enzim spesifik untuk masing-masing zat gizi. mineral dan beberapa vitamin. Oleh karena terjadi peningkatan metabolisme. pengeluaran zat sisa terutama oleh ginjal dan saluran cerna bagian bawah. sehingga pasien trauma perlu mendapatkan suplementasi trace elemen ini7.

Gangguan penyekit hati dapat dikelompokkan menjadi penyakit hati akut seperti pada hepatitis virus dan penyakit hati kronis seperti pada sirosis hati. Ginjal merupakan organ ekskresi yang paling besar dan juga sebagai organ pengatur keseimbangan cairan tubuh.yang akan memetabolisme zat-zat gizi dan mensekresi enzim yang berperan dalam metabolisme karbohidrat. Selain itu. Sebaliknya. PEMBERIAN NUTRISI PADA PASIEN TRAUMA OROMAKSILOFASIAL Terapi nurisi enteral adalah terapi pemberian nutrisi melalui saluran cerna dengan menggunakan selang/kateter khusus. sehingga fungsi dan struktur alat cerna tetap dipertahankan. Hati mensintesis beberapa protein plasma yang penting dan garam empedu serta berperan dalam detoksikasi. K. Bersifat fisiologis Nutrisi enteral bersifat fisiologis. nutrisi parenteral total dapat menyebabkan atrofi mukosa usus halus dan pankreas terutama pada pemberian yang lama karena makanan masuk ke dalam hati melampaui alat cerna (by pass dari luar ke dalam hati). Pemberian nutrisi juga bisa dilakukan dengan cara bolus atau cara infus lewat pompa infus enteral. 2. Keuntungan nutrisi enteral dibandingkan parenteral antara lain adalah sebagai berikut9: 1. sebab makanan masuk ke dalam tubuh melalui saluran cerna yang normal. Ini terbukti dengan kenaikan berat badan yang cepat dan keseimbangan N yang cepat menjadi positif. 88 . protein dan lemak serta bertanggung jawab terhadap 20% metabolisme basal. Gangguan pada ginjal akan menyebabkan gangguan pada ekskresi sisa-sisa hasil metabolisme terutama metabolisme protein serta gangguan cairan dan elektrolit 7. cara pemberian dapat melalui hidung-lambung (nasogastritic route) atau hidung–usus (nasoduodenal atau naso jejunal route). Lebih efektif Nutrisi enteral lebih efektif.

trauma ganda. Nutrisi parenteral selain membutuhkan pemantauan yang ketat. Kalori tinggi ini diperlukan pada penderita dengan hipermetabolik seperti sepsis. hematom. Selain itu. 4. Untuk menghindari intoleransi laktosa yang sering terjadi pada penderita malnutrisi sebaiknya suatu nutrisi enteral kurang atau tanpa mengandung laktosa. Biaya murah Rata-rata nutrisi enteral lebih murah 10-20 kali dari nutrisi parenteral.peningkatan imunitas tubuh akan cepat ditemukan pada pemberian nutrisi enteral. 6. 3. Nutrisi enteral yang bebas dari bahan-bahan yang mengandung purin dan kolesterol. pemberian kalori tinggi dengan nutrisi parenteral sering menimbulkan perlemakan hati yang tidak dijumpai pada nutrisi enteral. trombosis. Tekniknya mudah Pemasangan sonde lambung dapat dengan mudah dilakukan oleh setiap dokter maupun perawat tanpa persyaratan sterilitas yang ketat. atau luka bakar. Syarat-syarat nutrisi enteral adalah9: 89 . Komplikasi kurang Komplikasi nutrisi enteral jauh lebih rendah bila dibandingkan nutrisi parenteral. pneumothoraks serta gangguan metabolik berupa hipoglikemi atau hiperglikemi tak jarang ditemukan.5% dari total karbohidrat. Itupun hanya dapat dilakukan oleh dokter yang terlatih. atau paling tinggi kandungan laktosanya hanya 0. komplikasi-komplkasi berupa sepsis. Kalori tinggi mudah dicapai Dengan nutrisi enteral kebutuhan kalori tinggi lebih dari 3000 kkal/hari dapat dengan mudah dipenuhi yang dengan parenteral amat sulit mencapainya tanpa komplikasi dan pengawasan yang ketat. 5. Sedangkan pemberian parenteral harus diberikan melalui vena besar yang letaknya profundal dengan sterilitas tinggi.

3. Nutrisi enteral yang banyak mengandung serat akan bersifat bulk yang pada gilirannya akan meningkatkan frekuensi defekasi. Mudah diabsorpsi Bahan-bahan baku suatu nutrisi enteral seharusnya terdiri atas komponenkomponen yang siap diabsorpsi atau paling tidak hanya sedikit memerlukan kegiatan pencernaan untuk dapat diabsorpsi. vitamin. Agar dalam bentuk cair ini nutrisi enteral tetap memiliki kalori yang cukup. Memiliki osmolaritas yang sama dengan osmolaritas cairan tubuh Suatu nutrisi enteral yang memiliki osmolaritas yang tinggi mudah menimbulkan diare sebab cairan tubuh akan ditarik masuk ke dalam lumen usus. dengan volume yang tidak terlalu besar. 4. Dengan kata lain. osmolaritas yang ideal adalah 350-400 m Osmol. maka ia harus berbentuk cair agar mudah melalui sonde. Oleh karena itu. lemak. jumlah kalori sudah dapat tercapai. 2. elektrolit dan elemen-elemen lain sesuai dengan jumlah kebutuhan.1. asam amino. molekulmolekulnya berukuran kecil. Kepadatan kalori yang ideal adalah 1 kkal/ml cairan. sesuai dengan osmolaritas cairan ekstraseluler. 5. maka ia harus memiliki kepadatan kalori tinggi. Sehingga. Kandungan nutrisinya seimbang Artinya. 90 . Tanpa atau kurang mengandung serat dan laktosa Suatu nutrisi enteral hendaknya memiliki sedikit atau tanpa mengandung serat agar efektif dan efisien. Memiliki kepadatan kalori tnggi Karena nutrisi enteral harus diberikan melalui sonde kecil. dalam jumlah minimal untuk kebutuhan sehari (2000 kkal) harus sudah mengandung semua komponen nutrisi esensial seperti protein.

2. Dimulai dengan pengenceran ½ pada hari pertama. Kekurangan dari sonde-sonde ini selain diameternya besar. sebaiknya penderita diposisikan setengah duduk selama pemberian nutrisi enteral. Saat ini sonde-sonde yang dipakai untuk nutrisi enteral terbuat dari silikon atau poliuretan yang selain diameternya kecil (2. sambil mengawasi dan mengevaluasi keluhan maupun gejala-gejala yang timbul. kemudian pengenceran 2/3 pada hari kedua dan takaran penuh pada hari ketiga dan seterusnya. Guna menjaga toleransi penerimaan usus.5 mm).Prosedur teknik pemberian nutrisi enteral / diet sonde akan diuraikan sebagai berikut9: 1. kelemasan dan kelenturannya bertahan lama serta tahan terhadap pengaruh cairan lambung dan cairan duodenum. 91 . terutama pada penderita yang kesadarannya menurun atau pada penderita yang berbaring. Untuk menjaga ketepatan dan ketetapan tetes cairan nutrisi enteral dapat digunakan portable pump. juga tidak tahan terhadap pengaruh cairan lambung maupun duodenum. Teknik pemberian nutrisi enteral Teknik pemberian secara tetes merupakan yang paling aman. PVC atau lateks. Guna mengurangi komplikasi-komplikasi di atas. Sonde yang menjadi kaku akan sangat mengganggu penderita karena selain terasa tidak enak juga dapat menimbulkan erosi atau perlukaan saluran napas atau saluran cerna. Pola lama yang memberikan secara bolus mengandung banyak komplikasi berupa muntah. sonde mudah menjadi kaku setelah zat pelemasnya habis (setelah 24 jam pemakaian). regurgitasi sampai aspirasi ke dalam paru. kadar cairan nutrisi enteral sebaiknya dinaikkan secara bertahap. Pemilihan sonde Sebelum tahun 1980-an sonde yang tersedia umumnya terbuat dari polietilen.

sepsis. antara lain pemeriksaan darah (Hb. dan kolon. antara lain akan diuraikan sebagai berikut 9: 92 . esofagus. dan atoni paska bedah. perdarahan gastrointestinal yang akut. tiap kenaikan 1° + 10% BMR + 25-30% BMR +10% BMR Jadi. Ht. trauma kepala/otak. pemeriksaan laboratorium sangat diperlukan. Komplikasi nutrisi enteral. sebagai berikut9: BMR = Indeks Stress (Tinggi Badan – 100) x 20 Dimana indeks stress: Paska bedah Fraktur multipel Sepsis. serum (glukosa. fistula. volume dan urin rutin. seorang dengan tinggi badan 165 cm tanpa stress memiliki BMR (165-100)x20 = 1300 kkal. saluran empedu. leukosit). Kemajuan atau kemunduran keadaan umum penderita dievaluasi setiap harinya termasuk keseimbangan cairan dan elektrolitnya bila ada fasilitas. malabsorpsi/maldigesti. Indikasi pemberian nutrisi enteral adalah9: 1.Kebutuhan metabolisme basal dapat dihitung dengan indeks BROCA. Kontrandikasi pemberian nutrisi enteral apabila pasien muntah-muntah. penderita kanker. protein total. 2. depresi berat. Sedangkan pada suatu keadaan katabolik yang tinggi diperlukan penambahan 30100% dari kebutuhan BMR9. Indikasi bedah. peritonitis. Selain itu. albumin total). Dengan menambah 10-20% dari kebutuhan BMR dapat diperoleh kebutuhan kalori pada saat aktivitas yang sangat terbatas. Pengukuran berat badan atau lingkar lengan atas (LLA) setiap minggu merupakan parameter yang objektif. yakni pasca bedah: mulut. ureum. Indikasi non bedah: anoreksia. penderita dengan kebutuhan kalori ekstrim. luka bakar yang luas. lambung. ileus.

Komplikasi kimiawi Hal ini berhubungan dengan osmolaritas serta komposisi kimiawi cairan nutrisi enteral yang terlalu tinggi. Terapi nutrisi parenteral diberikan kepada setiap penderita yang akibat penyakitnya membutuhkan banyak asupan nutrisi tetapi penderita tersebut tidak mau makan. Komplikasi mekanik Komplikasi mekanik berhubungan dengan sondenya sendiri yang dapat mengalami dislokasi atau penyumbatan. Bila saluran cerna mengalami obstruksi Bila saluran cerna terlalu pendek Bila terdapat fistula pada saluran cerna. 3.1. Prinsip keseimbangan pemberian tekanan nutrisi parenteral sehingga adalah mempertahankan interalumen tetap. tidak cukup makan. Komplikasi bakteriologik Kontaminasi dengan bakteri gram negatif pada waktu penyediaan nutrisi enteral atau kantong plastiknya dapat menimbulkan syok septik. 4. Cara pemberian dapat melalui vena perifer (nutrisi parenteral perifer) atau vena sentral (nutrisi parenteral total). Secara umum dapat dikelompokkan berdasarkan keadaan kondisi saluran pencernaan (gastriontestinal tract). Bila saluran pencernaan tidak berfungsi. 2. dan mengatasi kehilangan plasma 9. 93 . Nutrisi parenteral adalah pemberian nutrien melalui pembuluh darah vena. 3. 2. Rasa mual sampai muntah dan kram perut atau diare merupakan gejala yang menonjol. tidak bisa makan dan tidak boleh makan. osmotik volume mempertahankan tekanan hidrostatik. Pemberian kadar secara bertahap dapat mengurangi komplikasi ini. Komplikasi metabolik Dehidrasi hipertonik dapat terjadi bila komposisi nutrisi enteralnya memilki osmolaritas yang tinggi. 4. yaitu 9: 1.

dan suplemen terhadap nutrisi enteral. 4. peritonitis. 2. NPO > 3-5 hari. Komplikasi infeksi ditandai oleh demam seperti pada flebitis. dengan pemasangan kateter seperti pneumothoraks. Pasien pasca bedah. emboli 6. Adapun akses yang digunakan untuk nutrisi parenteral. sindrom malabsorpsi berat. 3. Sedangkan kontra indikasi nutrisi parenteral adalah9: 1. Pada pasien dengan penyakit terminal (keganasan) atau keadaan vegetatif (brain death). Nutrisi Parenteral Perifer Larutan standar yang diberikan untuk nutrisi parenteral total melaui vena sentral memilki tekanan osmotik hampir 2000 mOsm/L. seperti syok. Pasien yang mengalami gagal nafas (kecuali dibantu dengan bantuan nafas mekanik dengan ventilator). menyediakan intake bagi kebutuhan metabolisme secara parenteral9.Tujuan Pemberian Nutrisi Parenteral adalah supaya mempertahankan volume dan perfusi sirkulasi darah. infeksi pada tempat. Komplikasi teknis berkaitan udara. defisit cairan ekstra seluler yang belum terkoreksi dan demam tinggi (hipertermi). Sifat-sifat fisik dari larutan demikian mendorong terjadinya trombosis vena perifer. 5. malnutrisi protein atau protein-kalori. dan keganasan9. ileus obstruksi. Indikasi nutrisi parenteral adalah fungsi saluran cerna terganggu (tidak mampu mencerna atau menyerap makanan). dan baru setelah dilakukan kateterisasi pada vena cava superior pemberian menjadi praktis dan aman untuk larutan hiperosmolar demikian bisa digunakan pada pasien bedah. fistula enterokutan. menjaga keseimbangan cairan-elektrolit dan asam basa. diare berat. memelihara hemostatik metabolik umum. Kondisi-kondisi yang membutuhkan nutrisi parenteral anatara lain. yaitu 9: 1. vomitus. Larutan nutrisi yang hanya sedikit hipertonik (antara 600 dan 900 m)sm/L) bisa disiapkan dengan mencampur proporsi sesuai dari asam 94 . trauma dalam phase Ebb (24 jam pertama) Pasien yang masih mengalami hemodinamik krisis.

Campuran glukosa. 2. Campuran nutrien ini memiliki desnitas kalori rendah dan memasok hanya 2500 kcal dalam 3 L larutan.amino. lemak dan asam amino diberikan melalui kateter vena sentral yang ujungnya berada dalam vena cava superior. larutan-larutan demikian bisa diberikan melalui vena perifer untuk jangka pendek(kira-kira satu minggu). dan kebutuhan akan air serta elektrolit diresepkan secara individual. 95 . dekstrosa dan emulsi lemak. Kunci keberhasilan dari cara ini terletak pada insersi serta perawatan kanul vena sentral. Nutrisi Parenteral Sentral Perkembangan kateterisasi vena sentral telah memungkinkan pemberian larutan hipertonik dengan aman. Larutan yang digunakan untuk nutrisi via vena sentral (TPN) biasanya memiliki densitas 1 kcal/ml. Bila volume cairan besar.

Dosis NPE total harus diberikan lebih lambat (mulai hari ketiga) karena beban metabolismenya besar. Dosis yang tepat harus diukur. preeklampsia. Tepat obat/substrat Bahan nutrisi yang digunakan adalah karbohidrat. mineral dan vitamin. Makin berat kondisi pasien. resting energy expenditure berkisar 1000 kkal/m2/hari. Periode 24 jam ini adalah masa ebb-phase. masa stabilisasi dimana kadar stres hormon masih tinggi. emulsi lemak. paska bedah ekstensif. Tepat indikasi Dosis NPE parsial dapat diberikan sangat dini. Sebelum keadaan tenang tercapai. sepsis. asam amino. Tepat dosis Quebbeman (1982) menemukan pada pasien trauma berat dan sepsis yang mengalami katabolisme. Hal ini berlaku pada pasien trauma. makin lambat NPE total dapat dimulai. eklampsi. yaitu 24 jam setelah trauma atau krisis kegawatan dapat diatasi.73 m2 atau kira-kira 25 kkal/hari. katekolamin dan glukagon. Fase tenang ini ditandai dengan menurunnya kadar kortisol. dsb. Dosis kemudian dapat ditingkatkan bertahap dengan memperhatikan perubahan kadar gula darah. pemeriksaan kadar kalium dan natrium. NPE total hanya akan menambah stres bagi tubuh pasien. Agar imbang N tidak terlalu negatif. Sel-sel resisten insulin dan kadar gula meningkat.Pendekatan yang digunakan pada pemberian nutrisi parenteral adalah 4 Tepat – 1 Waspada9: Tepat pasien Setiap pasien yang tidak cukup atau tidak mendapat intake oral seharusnya segera mendapat nutrisi parenteral (NPE). Ini setara dengan 1700 kkal pada pasien 70 kg dengan luas tubuh 1. 96 . minimal diberikan 20 kkal/kg/hari. keadaan umum pasien.

lemak. Semuanya akan diuraikan sebagai berikut 9: 1.8. Beban glukosa merangsang pankreas mengeluarkan insulin. Jika larutan glukosa diselingi cairan lain maka besar kemungkinan kadar gula darah berfluktuasi karean overshoot insulin dari waktu ke waktu. bahkan tromboemboli. subclavia. penyulit yang timbul akan menyebabkan morbiditas bahkan kematian. mineral). Tromboflebitis karena iritasi mudah diikuti radang. makin mudah terjadi tromboflebitis. Waspada efek samping Berbeda dengan orang sehat yang dapat mengatur keseimbangan makan dan kebutuhannya sendiri. Agar fluktuasi kadar gula darah bervariasi seminimal mungkin. Karbohidrat 97 . Vena perifer dapat menerima sampai 900 mOsm. pasien dengan bantuan nutrisi khusus terpaksa menerima semua yang diberikan. Osmolaritas dapat dikurangi dengan mencampur cairan menggunakan infus set bercabang 7. Osmolaritas plasma 300 mOsm. Makin tinggi osmolaritas. Adapun komposisi yang ideal dari nutrisi parenteral adalah kombinasi antara karbohidrat (KH). Kelainan ini dapat disertai hyperosmolar state dan diuresis osmotik. larutan karbohidrat dibagi rata dalam 24 jam. Cairan 900-1000 mOsm untuk jangka pendek 3-5 hari masih dapat diberikan lewat vena tangan tapi jangan memberikan lewat vena kaki. Jika pilihan atau dosis tidak tepat. atau cara memberikan keliru. go slow”. peningkatan glukosa 5% menuju 20% harus dilakukan secara bertahap “start low. dan cairan dan elektrolit (vitamin. protein.Untuk menghindari hiperglikemi. Pada kasus yang ekstrim dapat terjadi koma. go slow” tidak diikuti. seharusnya digunakan vena sentral (vena cava. Vena kaki mudah mengalami deep vein thrombosis dan tromboemboli. jugularis) dimana darah mengalir secara cepat sehingga kecepatan tetesan cairan NPE yang pekat tidak sempat merusak vena. Hiperglikemi umumnya terjadi jika pola “start low. Untuk cairan > 900-1000 mOsm jika perlu lebih dari 5 hari. Penyulit yang sering dijumpai adalah hiperglikemi.9.

Kebutuhan protein=konsumsi nitrogen x 6.Karbohidrat sebagai sumber kalori utama yang layaknya selalu tersedia 4060% dari total kalori (1 gr KH = 4kkal). Protein Protein diperlukan untuk regenerasi sel dan enzim. Dosis maksimal bagi kebanyakan penderita adalah 6-7. karena itu pemberiannya harus dilindungi oleh pemberian kalori yang cukup agar protein tidak digunakan sebagai sumber energi.25 b. Rekomendasi dari American Society for Parenteral & Enteral Nutrition (ASPEN. Menghitung energi konsumsi Konsumsi nitrogen (mg/24 jam) = ureum urine (mmol) / 24jam x 28 + 4000 mg. bahkan justru merugikan sebab akan menyebabkan kadar co2 dalam tubuh meningkat.5gr/kgbb/hari. Kebutuhan protein (asam amino) dapat dihitung secara tidak langsung dengan menghitung jumlah nitrogen yang dokonsumsi oleh tubuh. Secara kasar dapat diperkirakan dengan menghitung jumlah ureum dalam urine 24 jam. Pemberian kalori dengan glukosa yang melebihi kebutuhan ternyata tidak bermanfaat. Menghitung nitrogen secara laboratorium relatif mahal biayanya. Cara yang lebih mudah untuk menghitung kebutuhan asam amino adalah dengan memperkirakan besar kecilnya stress metabolik yang terjadi. 98 . 1993) untuk pemberian karbihidrat dalam keadaan normal adalah 25 – 30 kcal/kg/hari. sorbitol dan xylitol. Karbohidrat tersimpan dalam tubuh dalam bentuk glikogen dihati dan otot. fruktosa. 2. dengan rumus sebagai berikut a. Sumber kalori karbihidrat dapat berupa dextrosa. maltosa. Glukosa/ dextrosa adalah sumber kalori yang paling fisiologis.

Lemak Cairan emulsi lemak diberikan dalam nutrisi parental bertujuan untuk mencegah defisiensi asam lemak esensial dan sebagai sumber kalori. pemberian cairan emulsi lemak dapat diberikan pada nutrisi parental perifer. Karena osmolaritasnya yang rendah. dan vitamin baik yang larut dalam air maupun lemak. trace element. Kebutuhan ini terutama harus diberikan bila terapi nutrisi parenteral berlangsung lama. cairan emulsi lemak diberikan 1-3 gr/kgbb atau dalam proporsi 25 – 40% dari kalori total perhari. dan Vitamin Dalam merencanakan komposisi carain untuk terapi nutrisi pareneral. Cairan. Kebutuhan air dewasa : 30-50 ml/kgbb/hari Kebutuhan Natrium Kebutuhan Kalium : 2-4 mg/kgbb/hari atau 100-200 meg/hari : 1-2 mg/kgbb/hari atau 50-100 meg/hari 99 .Perbandingan kebutuhan protein (AA) dan kalori perhari9: Protein (AA) Tanpa stress metabolik Dengan stress metabolik Contoh perhitungan kebutuhan protein. harus selalu diperhatikan dan diperhitungkan akan kebutuhan terhadap elektrolit. Untuk memenuhi kebutuhan kalori. Trace Elements. Pemberian lebih dari 60% dari kalori total dapat menyebabkan ketoasidosis. Besarnya kebutuhan disesuaikan dengan keadaan klinis penderita. 4. Elektrolit. Misal berat badan pasien 60 kg dengan sepsis Dengan menggunakan tabel dengan stress metabolik Kebutuhan kalori Kebutuhan AA = 60 x 40 kcal = 2400 kcal/hari = 60 x 2 = 120 gr/hari 2 gr/kgbb/hari 40 kcal/kgbb/hari 1 gr/kgbb/hari Kalori 30 kcal/kgbb/hari 3.

Respon tekanan darah awal terhadap kehilangan volume intravaskular tidak memiliki hubungan yang linear 1. kurangnya urine output. tetapi tekanan diastol meningkat karena peningkatan dari katekolamin. peningkatan denyut nadi minimal dengan peningkatan kontraktilitas dari jantung dan peningkatan vasokonstriksi vena dan arteri dapat menjaga tekanan darah. tekanan darah yang sangat sempit (tidak adanya tekanan darah diastol). penurunan tekanan darah dapat terjadi setelah kehilangan darah sebanyak 10-15%. Gejala klinis minimal pada kelas I ini. dengan mekanisme kompensasi yang kurang efisien. takipneu. kehilangan darah sebanyak ini secara konsisten menyebabkan tekanan darah sistolik menurun. dan hal ini merupakan keadaan yang mengancam nyawa. dan perubahan status mental pasien yang banyak. Pada pasien yang lebih tua. takipneu. Hemoragi kelas II diklasifikasikan sebagai kehilangan volume darah sebanyak 15-30%. Hemoragi kelas IV didefinisikan sebagai kehilangan darah sebanyak >40%. Gejala klinis meliputi takikardia (denyut nadi >100 pada orang dewasa). Pada kasus yang tidak kompleks. Tekanan sistolik biasanya tidak berubah. Respon fisiologi ini dapat dikategorikan berdasarkan persentasi dari kehilangan akut darah. Pada dewasa sehat kehilangan 15% volume darah pertama diklasifikasikan sebagai hemoragi kelas I. Gejala klinis meliputi takikardia. Kebanyakan pasien tersebut memiliki beberapa tingkatan dari syok hipovolemik. Dalam kondisi yang tidak kompleks. dan penurunan tekanan darah. dan turunnya tekanan sistolik. Pasien dapat terkena serangan jantung bila kehilangan darah sebanyak ini. Perlu diperhatikan 100 . Hemoragi kelas III diklasifikasikan sebagai kehilangan 30-40% volume darah. penurunan tekanan darah sistolik yang secara substansial. Biasanya hal ini diikuti dnegan takikardia.BAB III PEMBAHASAN Hemoragi adalah penyebab utama keadaan hipovolemik pada pasien yang mengalami luka multisistem. Tingkatan tersebut dapat diukur melalui respon fisiologi terhadap hemoragi. perubahan status mental penderita.

Waktu kurang dari 2 detik biasanya ditemukan pada pasien normovolemik dan mengindikasikan aliran darah normal ke pembuluh kapiler 1. Ketika dressing yang digunakan menjadi basah. kuku ibu jari. karena pada kebanyakan kasus batas bawah dari tekanan ydarah pasien tidak diketahui. dressing tersebut sebaiknya jangan dilepaskan. Kapilerkapiler pada kulit adalah yang pertama kali berhenti bekerja sebagai respon terhadap hipovolemik yang dikarenakan stimulus dari sistem saraf simpatik dan kelenjar adrenal melalui pelepasan hormon epinefrin dan nor epinefrin. yang dimana memberikan ukuran kehilangan darah ke pembuluh kapiler. Hemoragi dapat secara ekternal maupun internal ke dalam kavitas tubuh. Ekskremitas bawah adalah yang pertama terkena. Sebagai contoh.bahwa tekanan darah pasien dapat turun tiba-tiba setelah pemeriksaan awal ketika mekanisme kompensasi mereka telah gagal karena kehilangan darah yang terusmenerus. Tekanan 101 . tetapi sebaiknya dressing tambahan digunakan karena apabila dressing dilepaskan maka formasi clot yang telah terbentuk dapat terganggu dan menyebabkan perdarahan kembali. Sulit dilakukan perubahan tekanan darah. Kompensasi fisiologi awal pada kehilangan volume intravaskular adalah vasokonstriksi pada pembuluh darah di kulit dan otot. Dengan tes tersebut. sedangkan atlet muda yang sehat dapat memiliki tekanan sistol sebesar 90 mmHg 1. Capillary fill time dapat diukur dengan menggunakan “blanch test”. Tekanan yang digunakan untuk mengontrol perdarahan sebaiknya kuat dan kontinu. atau emninesia hipothenar dari tangan untuk mengevakuasi darah dari daerah tersebut dan kemudian tekanan langsung dilepaskan. Hemoragi eksternal biasanya dapat dikontrol dengan melakukan penekanan secara langsung ke luka yang ada. Pelepasan katekolamin menyebabkan keluarnya keringat dan kulit terasa dingin dan lembab pada saat palpasi. pasien dengan hipertensi dapat menunjukkan tekanan sistol sebesar 120 mmHg dapat menunjukkan gejala kehilangan darah yang signifikan. dengan tandatanda pertama dari hipovolemi adalah terasa dinginnya kaki dan regio patella. Waktu yang diperlukan untuk jarinagn kembali ke warna normalnya mengindikasikan waktu yang diperlukan untuk darah kembali ke pembuluh kapiler. tekanan diaplikasikan ke kuku-kuku jari. Salah satu indikator dari rendahnya perfusi jaringan pada pemerikssaan awal adalah perfusi kulit.

yang sebelumnya digunakan untuk meningkatkan tekanan darah pada kasus hipotensi yang parah. Sebagai spesialis bedah mulut dan maksilofasial.drainase toraks. dan luka tembus pada leher. Tekanan langsung kemudian dapat dilakukan pada luka untuk mengontrol hemoragi dan meminimalkan pembentukan hematoma. Namun koloid efek udema parunya kurang dan harga cairan ini mahal1. dan merupakan pilihan yang terbaik untuk peningkatan Cardiac Output dan volume O2. Luka pada kulit kepala dapat menyebabkan kehilangan darah dalam jumlah besar pada waktu yang singkat karena perembesan darah pada galea dan lapisan jaringan ikat yang renggang. jahitan dapat dilepaskan dari luka dan penutupan lapisan luka secara kosmetik dapat dilakukan 1. PASGs dan medical antishock trousers(MASTs). Ketika pasien sudah stabil. seperti air-pillow splints dan blood pressure cuff dapat juga digunakan. Akan tetapi. fraktur nasal atau tengah wajah. Perban tekan. serta penggantian cairan yang hilang dilakukan melalui pipa lambung. hal tersebut hanya direkomendasikan apabila penekanan langsung pada luka saja tidak efektif 1.0 nonresobable atau staples tanpa memperhatikan kosmetik pasien. Pemberian pertolongan pertama dan resusitasi cairan yang tepat sangat membantu dalam mengembalikan perfusi jaringan yang adekuat. Luka kulit kepala dapat dengan cepat diatasi dengan dijahit menggunakan 2. Penatalaksanaan pada perdarahan akut adalah sebagai berikut 9: 102 . Pilihan tipe cairan yang digunakan adalah koloid dan kristaloid. kita mengetahui adanya suplai vaskular yang banyak ke daerah muka dan leher. Tujuan yang harus dipenuhi dalam pemberian cairan adalah menganti cairan yang hilang selama trauma atau pembedahan. Maksud utamanya adalah mengembalikan volume intravaskular dan mendapatkan perfusi jaringan yang adekuat. Aspek negatif dari suplai darah tersebut adalah hemoragi mayor dapat disebabkan oleh luka pada kulit kepala yang besar. respirasi dsb. Koloid sangat baik untuk ekspansi volume plasma.yang kuat dapat diaplikasikan proksimal ke arah arteri mayor untuk mengontrol perdarahan. memberikan keadaan yang merugikan pada beberapa situasi karena menyebabkan luka vaskular. fistula usus. drainase peritonium.

dan terhambatnya penyembuhan luka gangguan motilitas usus. Kemampuan seseorang dalam mengkonsumsi makanan melalui oral dapat berubah dikarenakan neoplasia. Oleh karena itu pasien dengan trauma oromaksilofasial memerlukan intervensi nutrisi dalam rawat inap di rumah sakit 7. dalam 30 –60 menit. Cara 103 .3.V. infeksi. gangguan enzim dan metabolisme serta kelemahan otot. dan injuri (trauma). peningkatan kebutuhan energi yang disebabkan penyakit.. Pemasangan 2 jalur Infus I. dan diuresis. tekanan vena sentral. sedang atau berat. Kebutuhan kalori basal didapat dengan penghitungan BMR berdasarkan persamaan Harris-Benedict. Salah satu fungsi rongga mulut adalah sebagai jalan masuk makanan menuju saluran cerna (gastrointerstinal tract). Penentuan status gizi penderita penting untuk jumlah lama dan komposisi yang harus diberikan.9% dalam 30–60 menit. Sedangkan penatalaksanaan untuk kehilangan cairan gastrointestinal dapat diberikan 1-2 liter NaCl 0. udema paru diperhatikan. Prosedur bedah mulut dan maksilofasial dapat mengeliminasi permasalahan ini dengan suatu prosedur operasi.namun prosedur ini juga membatasi kemampuan mulut sementara waktu. deformitas congenital.9% atau RL) atau Koloid (Dextran) secara I. terjadinya edema. dengan pemberian 1-2 liter kristaloid (NaCl 0. Kebutuhan energi total dari seorang pasien dalam keseimbangan metabolik adalah sama dengan pemakaian energi total (Total Energy Expenditure) yang meliputi kebutuhan basal. Pada orang dewasa 2–3 liter RL selama 20–30 menit untuk memulihkan tekanan darah. kemudian pengecekan elektrolit dan dikoreksi bila terdapat kelainan lainnya 1. dan memonitor tanda vital.V. Hal ini berakibat menurunnya daya tahan tubuh. Pemberian WB atau PRC hingga HT> 30 % dengan 1-2 unit fresh frozen plasma (FFP) tiap 5 unit darah. energi yang terpakai selama proses asimilasi nutrien dan energi yang terpakai pada kerja fisik. 4. Nutrisi parenteral adalah pemberian nutrien melalui pembuluh darah vena. Pada keadaan trauma (stress dan sepsis) tubuh mengalami rangkaian perubahan hormonal yang menambah laju metabolisme. Setidaknya penderita harus ditentukan apakah termasuk malnutrisi ringan.

memelihara hemostatik metabolik umum. tidak cukup makan.8.pemberian dapat melalui vena perifer (nutrisi parenteral perifer) atau vena sentral (nutrisi parenteral total). menjaga keseimbangan cairan-elektrolit dan asam basa. 104 .9. dan menyediakan intake bagi kebutuhan metabolisme secara parenteral7. Terapi nutrisi parenteral diberikan kepada setiap penderita yang akibat penyakitnya membutuhkan banyak asupan nutrisi tetapi penderita tersebut tidak mau makan. tidak bisa makan dan tidak boleh makan. Tujuan pemberian nutrisi parenteral ini adalah untuk mempertahankan volume dan perfusi sirkulasi darah.

Perawatan pasien dengan trauma oromaksilofasial memerlukan terapi nutrisi yang benar. 105 . sebelum melakukan pemeriksaan tanda-tanda vital. keadaan-keadaan itu harus ditangani lebih dahulu oleh karena mengancam jiwa penderita. fraktur maksila).Pemberian nutrisi untuk pasien rawat inap dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu peroral. Perdarahan dari fraktur oromaksilofasial dapat terjadi perdarahan pada rongga mulut. nasofaring (dari basis cranii) atau perdarahan dari hidung (fraktur nasalis. Perdarahan adalah sebab tersering dari syok pada trauma. Pemberian nutrisi yang adekuat akan membantu proses penyembuhan pasien. Perdarahan yang banyak bisa mengakibatkan syok hipovolemik. hidung. Untuk penderita dengan trauma oromaksilofasial perhatian harus segera diarahkan terhadap saluran pernafasan dan kontrol perdarahan eksternal. Sebelum melakukan perawatan fraktur perlu diperhatikan keadaan darurat medik yang harus ditangani lebih dulu. dan hampir semua penderita multi-trauma ada syok. enteral dan parenteral. Pengukuran kebutuhan nutrisi pasien trauma bergantung dari rumus yang didasarkan oleh berbagai faktor yang mempengaruhi. sinus paranasalis. Pemberian pertolongan pertama dan resusitasi cairan yang tepat sangat membantu dalam mengembalikan perfusi jaringan yang adekuat.BAB IV KESIMPULAN Trauma oromaksilo fasial dapat menyebabkan kematian jika dapat menyebabkan obstruksi jalan nafas dan perdarahan yang banyak. dimana untuk menentukan jenis nutrisi yang akan diberikan kepada pasien tersebut diperlukan kerjasama dengan ahli gizi sehingga benar benar sesuai dengan kebutuhan gizi yang telah ditentukan sebelumya.

7. Hutchinson and Skinner. 1996. 9. Enteral. Louis. 2005. 2008. Dasar-dasar Terapi Nutrisi Parenteral pada Dewasa dan Anak. Jakarta.Terapi Gizi dan Diet Rumah Sakit. Saunders Company. Vol 1. Kelompok Studi Terapi Cairan.IKAPI. Fonseca. Contamporary Oral and Maxillofacial Surgery. Pedoman Penatalaksanaan Praktis. W. Roesli. 3. EGC. 2. 1996. Edisi Revisi. R.. Mosby Elsevier. ABC of Major Trauma 2nd ed BMJ Publishing Group. Alih Bahasa: drg. Tucker. 1991. Co. Ruly. W. Robert. G. Vol I. 1997. Buku Ajar Praktis Bedah Mulut. 5.dkk. Basoeseno.dr. Sp.J.. E.2006. Andry Hartono. St. edisi kedua. Philadelphia.B. London.B.. Hupp. EGC.W. Oral and Maxillofacial Trauma 2nd ed.R. Oral and Maxillofacial Trauma 3rd ed. Purwanto. Philadelphia. J. drg. Agus Purwadianto & Budi Sampurna. 5th ed. Oral and maxillofacial Trauma. M. Philadelphia. dan Parenteral. dkk. 1997. Raymond and Wolker.GK.B. V.J. Ellis III. 2000. R. Kedaruratan Medik. Saunders Company.R.DAFTAR PUSTAKA 1. Bandung. W. 106 . 8. 4.W. Fonseca. Saunders Company. Pedersen. Vol 1. 6.

Kata kunci: fraktur dentoalveolar.Fraktur Dentoalveolar Sutami Wahyu Prasetya 160121120010 Peserta Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut Dan Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Bandung Abstrak : Fraktur dentoalveolar adalah salah satu fraktur yang banyak kita jumpai di emergency room. pencegahan terhadap infeksi. merawat luka akibat trauma. Trauma secara langsung biasanya menyebabkan cedera pada insisivus sentral maksila karena posisinya yang relatif lebih ke depan. menghilangkan rasa sakit. perawatan darurat 107 . kecelakaan sewaktu berolahraga. Perawatan darurat pada kasus truma gigi anterior meliputi pembersihan luka akibat trauma dengan menggunakan cairan antiseptik. maloklusi. merupakan faktor predisposisi trauma insisivus maksila. menghentikan perdarahan. dimana anak – anak pada masa pertumbuhan dengan aktivitas bermain yang tinggi seperti terjatuh dari sepeda. kekerasan dalam rumah tangga dan lain sebagainya. trauma. seperti terlihat pada individu dengan maloklusi Kelas II divisi I atau sebagai akibat kebiasaan buruk menghisap jempol. Cedera akan meningkat dua kali lebih sering pada anak dengan insisivus yang protrusif dibandingkan dengan seorang anak yang memiliki oklusi normal. Perawatan darurat merupakan perawatan yang penting dan harus dilakukan dengan segera karena menyangkut prognosa dari penderita. dengan melakukan penjahitan dan penutupan luka dengan kain kassa. Pada pasien anak juga sering kita jumpai fraktur dentoalveolar. Adapun penyebab fraktur dentoalveolar yang utama adalah kecelakaan lalu lintas. Insisivus yang protrusif dengan penutupan bibir yang tidak seimbang.

Cedera yang terjadi dapat hanya mengenai gigi dan struktur pendukungnya saja seperti pada seorang anak yang terjatuh. ataupun dapat juga berhubungan dengan cedera multisistim.1 Trauma secara langsung biasanya menyebabkan cedera pada incisivus central maksilla karena posisinya yang relatif lebih kedepan. Fraktur dentoalvapaeolar pada umumnya terjadi bersamaan 108 . dan 2% dari kasus tersebut melibatkan trauma dentoalveolar. kecelakaan sepeda motor. Cedera pada strktur dentoalveolar dapat diakibatkan oleh trauma secara langsung mengenai gigi atau trauma tidak langsung. seperti yang terjadi pada kecelakaan kendaraan bermotor. biasanya akibat oklusi yang menutup dengan cepat dan kuat antara gigi-geligi mandibula ke gigi-geligi maksilla. dan kecelakaan olahraga. Trauma tidak langsung pada gigi dan struktur pendukung biasanya sebagai akibat dari benturan yang mengenai dagu. menimbulkan kerusakan gigi-gigi posterior atau jaringan lunak anterior. benturan akan diteruskan ke oklusi gigi-geligi. Keterlibatan trauma orofasial diperkirakan sekitar 15 % dari semua pasien emergensi. seperti terlihat pada individu dengan maloklusi kelas II divisi 1 atau sebagai akibat kebiasaan buruk menghisap jempol. Cedera pada gigi akan meningkat dua kali lebih sering pada anak-anak dengan gigi incisivus yang protrusif dibandingkan dengan seorang anak yang memiliki oklusi normal. Incisivus yang protrusif dengan penutupan bibir yang tidak seimbang.1 Fraktur dentoalveolar dapat terjadi dengan atau tanpa kerusakan gigi. penganiayaan. merupakan faktor predisposisi trauma incisivus maksilla. kecelakaan sepeda. kecelakaan di taman bermain. atau gigi tidak dalam oklusi yang baik. Cedera dentoalveolar biasanya terjadi karena seseorang terjatuh.BAB I PENDAHULUAN Trauma pada gigi dan jaringan pendukungnya sering tejadi pada pasien trauma. Dapat dalam bentuk retak tetapi pada umunya dalam bentuk fragmen alveolar yang sederhana.

dengan cidera mulut lainnya. Deteksi dan pengobatan dini dapat meningkatkan kelangsungan hidup dan fungsi dari gigi tersebut. Sekitar 82% gigi yang

mengalami trauma adalah gigi-gigi maksiler. Fraktur gigi maksiler tersebut 64% adalah gigi incisivus sentral, 15% incisivus lateral, dan 3% caninus. Fraktur dentoalveolar pada umumnya terjadi pada kelompok usia anak, remaja, dan dewasa muda dengan rasio laki-laki terhadap perempuan 2-3 : 1. 2 Pemeriksaan klinis pada fraktur dentoalveolar meliputi kemungkinan adanya luka pada bibir dan umumnya terjadi edema dan echymosis. Pada pemeriksaan gigi dan alveolus kemungkinan terdapat laserasi, echymosis dari pada gingival dan perubahan bentuk dari pada alveolus. 3 Selain itu pada saat palpasi hati-hati pada saat memeriksa bibir. Pemeriksaan pada bibir berguna untuk mengetahui apakah ada benda asing atau gigi di dalam jaringan tersebut. Palpasi pada alveolus berfungsi untuk merasakan perubahan bentuk tulang-tulang, dan kadang-kadang terdapat krepitus.1

109

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

I. Etiologi Fraktur Dentoalveolar Trauma dentoalveolar dapat terjadi pada anak-anak, remaja, maupun dewasa. Pada kelompok anak-anak penyebab utama dari trauma ini adalah jatuh. Pada usia 1-3 tahun ketika anak belajar berjalan dan berlari insidennya meningkat yang diakibatkan oleh aktivitas yang tinggi dan kurangnya koordinasi anggota tubuh menyebabkan anak sering jatuh. Pada anak usia sekolah, taman bermain dan cidera akibat bersepeda merupakan penyebab tersering. Selama masa remaja, cidera olahraga merupakan kasus yang umum. Pada usia dewasa, cidera olahraga, kecelakaan sepeda motor, kecelakaan industri dan pertanian, dan kekerasan dalam rumah tangga merupakan penyebab potensial. Rasio laki-laki dan perempuan adalah 2:1. Olahraga yang melibatkan kontak fisik merupakan penyebab umum fraktur dental, seperti sepakbola dan bola basket. Frekuensi fraktur dentoalveolar yang lebih tinggi ditemukan pada pasien dengan retardasi mental dan serebral palsi. Penyalahgunaan obat dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya frakturdental.2 Gigi insisivus maksiler yang menonjol keluar atau ketidakmampuan menutup gigi pada keadaan istirahat dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya fraktur. Benturan atau trauma, baik berupa pukulan langsung terhadap gigi atau berupa pukulan tidak langsung terhadap mandibula, dapat menyebabkan pecahnya tonjolan-tonjolan gigi, terutama gigi-gigi posterior. Selain itu, tekanan oklusal yang berlebihan terutama terhadap tumpatan yang luas dan tonjol-tonjolnya tak terdukung oleh dentin dapat pula menyebabkan fraktur. Keparahan fraktur bisa hanya sekedar retak saja, pecahnya prosesus, sampai lepasnya gigi yang tidak bisa diselamatkan lagi. Trauma langsung kebanyakan mengenai gigi anterior, dan karena arah pukulan mengenai permukaan labial, garis retakannya menyebar ke belakang dan biasanya horizontal atau oblique. Pada fraktur yang lain, tekanan

110

hampir selalu mengenai permukaan oklusal, sehingga frakturnya pada umumnya vertikal. Pukulan terhadap gigi anterior paling sering terjadi pada anak-anak dan apabila dibiarkan maka tubulus dentinnya akan terpapar pada flora normal mulut sehingga dapat menimbulkan infeksi dan inflamasi pulpa sehingga perlu dirawat. 1 Di pihak lain, gigi posterior yang fraktur karena tekanan oklusal yang besar biasanya karena mempunyai tumpatan yang luas. Pada gigi semacam ini, hanya sedikit tubulus dentin yang terbuka yang langsung berhubungan dengan pulpa karena telah terjadinya reaksi terhadap karies dan prosedur penambalannya berupa kalsifikasi tubulus dan penempatan dentin reaksioner di rongga pulpa. Dengan demikian jaringan pulpanya jarang sekali ikut terkena. Trauma terhadap gigi pada umumnya bukan merupakan keadaan yang mengancam nyawa, tetapi cidera maksilofasial lain yang berhubungan dengan trauma dental dapat mengganggu jalan napas. Fraktur biasanya terjadi pada gigi permanen, sedangkan gigi susu biasanya hanya mengalami perubahan letak. Morbiditas yang berhubungan dengan fraktur dental bisa seperti gagalnya pergantian gigi, perubahan warna gigi, abses, hilangnya ruang pada arkus dental, ankylosis, lepasnya gigi secara abnormal, dan resorpsi akar merupakan keadaan yang signifikan. Trauma dental sering berhubungan dengan laserasi intraoral. Ketika ada gigi yang pecah atau hilang dan pada saat yang bersamaan terdapat laserasi intraoral, maka harus diperhatikan bahwa bagian gigi yang hilang dapat tertanam di dalam robekan luka tersebut. 1 Trauma secara langsung biasanya menyebabkan cedera pada incisivus central maksilla karena posisinya yang relatif lebih kedepan. Incisivus yang protrusif dengan penutupan bibir yang tidak seimbang, seperti terlihat pada individu dengan maloklusi kelas II divisi 1 atau sebagai akibat kebiasaan buruk menghisap jempol, merupakan faktor predisposisi trauma incisivus maksilla. Cedera pada gigi akan meningkat dua kali lebih sering pada anak-anak dengan gigi incisivus yang protrusif dibandingkan dengan seorang anak yang memiliki oklusi normal. Trauama tidak langsung pada gigi dan struktur pendukung biasanya sebagai akibat dari benturan yang mengenai dagu, atau gigi tidak dalam

111

oklusi yang baik, benturan akan diteruskan ke oklusi gigi-geligi, menimbulkan kerusakan gigi-gigi posterior atau jaringan lunak anterior. 1 Cedera dentoalveolar ini paling banyak terjadi pada gigi sulung yang terjadi pada saat anak-anak mulai belajar berjalan hingga usia sekolah, yang berusia antara 2-4 tahun, sedangkan pada gigi permanen antara usia 7-10 tahun. Jumlah cedera dentoalveolar yang signifikan juga terjadi berhubungan dengan penatalaksanaan pasien yang tidak sadar atau pasien yang akan menjalani anestetikum umum. Lockhart dan Colleases melakukan survai terhadap 133 program pelatihan anestesi dan menemukan dari setiap 100 tindakan intubasi trachea terdapat 1 kejadian yang mengakibatkan trauma gigi anterior. 1

Gambar 1. Gambaran Klinis Fraktur Dento Alveolar

II. Klasifikasi Ada banyak cara untuk mengklasifikasikan fraktur dental. Klasifikasi Ellis merupakan salah satu yang sering digunakan dalam literatur kegawatdaruratan, tetapi banyak dokter gigi dan ahli bedah maksilofasial yang tidak menggunakan sistem ini. Metode klasifikasi yang paling mudah dimengerti adalah berdasarkan deskripsi cidera. Fraktur mahkota gigi dapat dibedakan menjadi kategori sederhana dan rumit. Fraktur mahkota sederhana melibatkan bagian enamel dan dentin. Yang termasuk fraktur mahkota sederhana adalah fraktur Ellis kelas I dan II. Fraktur Ellis kelas I Fraktur yang tergolong Ellis kelas I hanya melibatkan lapisan enamel gigi. Pada inspeksi tampak sebagai kepingan kecil dengan tepi

112

yang tidak beraturan (kasar). Keluhan yang biasanya muncul adalah rasa tidak nyaman akibat tepi fraktur yang kasar tersebut. Pasien pada umumnya tidak mengeluhkan sensitivitas terhadap temperatur atau udara. Fraktur ini pada umumnya tidak menyebabkan gangguan terhadap rongga pulpa. 1 Sistim WHO yang dimodifikasi oleh Andreasen melibatkan cedera pada gigi, struktur pendukungnya, gusi dan mukosa oral yang berdasarkan anatomi, terapi dan prognosanya. 1 Cedera jaringan keras gigi dan pulpa. 1. Crown Infraction (keretakan mahkota). Merupakan fraktur inkomplit atau retaknya enamel tanpa disertai kehilangan substansi gigi. 2. Uncomplicated crown fracture (fraktur mahkota tidak komplit) Merupakan fraktur yang terbatas pada enamel atau melibatkan enamel dan dentin tanpa disertai terbukanya pulpa. 3. Complicated crown fracture (fraktur mahkota komplit) Merupakan fraktur yang melibatkan enamel dan dentin disertai terbukanya pulpa. 4. Uncomplicated crown-root fracture (fraktur mahkota dan akar tidak komplit) Merupakan fraktur yang melibatkan enamel, dentin dan sementum tanpa disertai terbukanya pulpa. 5. Complicated crown-root fracture (fraktur mahkota dan akar komplit) Merupakan fraktur yang melibatkan enamel, dentin, dan sementum yang disertai dengan terbukanya pulpa. 6. Root fracture (fraktur akar) Merupakan fraktur yang melibatkan dentin, sementum dan pulpa.

113

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

Gambar 2. Cedera jaringan keras gigi dan pulpa.(1) Crown infraction. (2) dan (3) Uncomplicated crown fracture dengan atau tanpa melibatkan dentin. (4) Complicated crown fractured. (5) Uncomplicated crown root fractured. (6) Complicated crown root fracture. (7) Root Fracture. 1

Cedera jaringan periodontal. 1 1. Concussion (sensitif). Merupakan suatu cedera pada struktur pendukung gigi tanpa adanya kehilangan yang abnormal atau pergeseran gigi, tetapi ditandai dengan adanya reaksi sensitif terhadap perkusi. 2. Subluksasi (kegoyangan gigi). Cedera pada struktur pendukung gigi tanpa kehilangan yang abnormal tetapi tanpa pergeseran gigi. 3. Intrusif luxation (central dislocation). Pergeseran gigi ke dalam tulang alveolar tanpa disertai hancurnya atau fraktur soket alveolar. 4. Extrusif luxation (peripheral dislocation, partial avultion) Pergeseran sebagian gigi keluar dari soket alveolar. 5. Lateral luxation Pergeseran gigi dalam arah lateral yang disertai hancur atau fraktur soket alveolar.

114

6. Exarticulation (complete avultion) Pergeseran gigi yang komplit keluar dari soket alveolar.

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

Gambar 3. Cedera jaringan periodontal. (1)Concussion. (2)Subluksasi. (3)Intrusif luksatioin. (4)Extrusif luxation. (5) dan (6) Lateral luxation. (7)Retained root. (8)Exarticulation. 1

Cedera tulang pendukung. 1 1. Comminution alveolar socket. Fraktur atau remuknya soket alveolar mandibula atau maksila. Keadaan ini biasanya ditemukan bersama-sama dengan luksasi intrusi dan luksasi lateral. 2. Fracture of the alveolar socket wall (Fraktur dinding socket alveolar) Fraktur dinding alveolar soket yang ditahan oleh dinding soket fasial atau lingual. 3. Fracture of alveolar process (fraktur prosesus alveolaris). Fraktur prosesus alveolaris yang dapat atau tidak melibatkan soket alveolar. 4. Fraktur maksila atau mandibula.

115

Kontusio gingiva atau mukosa oral. (6) dan (7)Fraktur mandibula atau maksila. Laserasi gingiva atau mukosa Yaitu luka pada daerah mukosa yang biasanya disebabkan oleh sobekan benda tajam. 3. Yaitu luka memar yang biasanya disebabkan oleh pukulan dari benda tumpul dan menyebabkan perdarahan pada daerah submukosa tanpa disertai sobeknya daerah mukosa. (1)Comminution alveolar process. (4) dan (5)fracture of the alveolar process. 1 1. Cedera tulang alveolar.Fraktur ini mengenai mandibula atau maksilla. Yaitu luka daerah supefisial yang disebabkan karena gesekan atau goresan yang mengakibatkan daerah mukosa terlihat lecet dan permukaan yang berdarah. (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Gambar 4. Abrasi gingiva atau mukosa oral. 116 . (2) dan (3)Fracture of the alveolar socket wall. 2. 1 Cedera gingiva atau mukosa oral. dan dapat mengenai prosesus alveolaris atau mungkin juga dengan atau tidak mengenai soket alveolar gigi.

5. Fraktur mahkota yang mengenai email. yang dibagi lagi menjadi :3 1. Melibatkan pulpa. Fraktur akar horizontal 1 1. 117 . tipe pergeseran dan arah fraktur akar dan mahkota. gambaran struktur gigi yang terlibat. dentin dan pulpa. 4. Gambaran Klinis Fraktur MAhkota Horizontal Fraktur mahkota-akar. Fraktur mahkota 3 1. Retak atau fraktur yang tidak lengkap dari email tanpa adanya kehilangan struktur gigi. 3 Keretakan mahkota. 3.1. Brady dan Johnson yang relatif lebih sederhana berdasarkan pada diskripsi cedera. 2. Tidak melibatkan pulpa.3 1. Dapat terjadi secara horizontal atau vertical.Selain itu ada juga klasifikasi yang dibuat oleh Sanders. 2. Mengenai sepertiga apikal. Fraktur secara oblique (mengenai sudut mesioincisal dan distoincisal) Gambar 5. Fraktur mahkota yang hanya mengenai email 2. Fraktur mahkota yang mengenai email dan dentin. Fraktur horizontal atau vertikal.

tetapi tanpa disertai adanya perubahan letak gigi. tetapai tanpa disertai adanya kegoyangan gigi dan perubahan letak dari gigi. Perubahan letak gigi kea rah lateral (pergeseran gigi ke arah distal atau mesial. 4. Ekstrusi gigi (gigi sebagian keluar dari soketnya dan memungkinkan tidak disertainya adanya fraktur tulang alveolar). 2. 4. Mengenai sepertiga tengah akar.1 1. Gigi sensitif (Concussion) 1 Yaitu trauma pada gigi dan jaringan pendukungnya mengakibatkan gigi sensitive terhadap perkusi. Perubahan letak gigi ke arah labial (kemungkinan disertai fraktur dinding alveolar). Kegoyangan gigi (Subluxation) Yaitu trauma terhadap gigi dan jaringan pendukungnya mengakibatkan gigi menjadi goyang.2. kemungkinan juga disertai fraktur dinding alveolar). 3. Perubahan letak gigi. Mengenai sepertiga servikal. dan kemungkinan bersamaan dengan fraktur dinding alveolar. 118 . Horizontal atau vertikal. Avulsi Gigi 1 Yaitu perubahan letak keseluruhan gigi keluar dari soketnya. 3. Perubahan letak gigi ke arah lingual (kemungkinan disertai fraktur dinding lingual). biasanya disertai dengan kompresi fraktur dari saku alveolar). 5. Intrusi gigi (gigi masuk ke dalam soket.

Kapan Terjadinya Trauma.Gambar 6. dimana. kapan. Anamnesis dapat dilakukan dengan menanyakan langsung kepada penderita atau pengantar. 1 Yang dimaksud dengan anamnesis adalah riwayat terjadinya trauma. terapi apa yang sudah diberikan sebelumnya. Agar penatalaksanaannya tepat dan berhasil. Pemeriksaan dan Menegakan Diagnosis Cedera pada gigi-gigi dan struktur pendukungnya harus dipertimbangkan sebagai suatu keadaan darurat.3 Langkah pertama dalam proses mendiagnosa yaitu mendapatkan riwayat kecelakaan yang akurat. Anamnesis. dan bagaimana kejadiannya. Riwayat mekanisme dan kejadian yang lengkap harus didapatkan dan langsung dilakukan pemeriksaan klinis dan radiografis untuk menjamin diagnosa dan perawatan yang tepat. 119 . 1. orangtuanya atau orang yang mengetahui informasi yang berhubungan dengan pasiennya. Dalam melakukan anamnesis. Gigi Avulsi III. ada beberapa informasi yang harus diketahui antara lain sebagai berikut : a. Riwayat yang komprehensif harus didapatkan dari pasien. dibutuhkan suatu penegakan diagnosa dan perawatan dalam waktu yang cepat.

Karena jarak antara kecelakaan dan perawatan sangat penting diketahui bukan hanya untuk menentukan jenis perawatan yang akan dilakukan tetapi berpengaruh juga terhadap prognosisnya. Perawatan yang Sudah Didapat. Riwayat Trauma pada Gigi f. h. Seperti pada gigi yang mengalami avulsi. Palpasi pada wajah dilakukan untuk melihat diskontinuitas tulang rahang 120 . Pemeriksaan Ekstra Oral Pada kasus trauma gigi anterior ini dapat dilakukan dengan cara visual dan palpasi. Pemeriksaan terhadap keadaan umum penderita. g. Pemeriksaan Klinis. maka prognosisnya akan semakin baik. c. Dimana Tempat Trauma Terjadi. Demikian juga pada kecelakaan mobil perlu diperhitungkan kemungkinan ada pecahan kaca pada bibir dan daerah muka. d. semakin cepat gigi tersebut di replantasi. e. tekanan darah. Juga pada fraktur rahang yang proses penyembuhannya akan berpengaruh jika perawatannya ditunda. tingkat kesadaran dan suhu tubuh. 3 Pemeriksaan Fisik. b. meliputi pemeriksaan denyut nadi. Keluhan Lain. Gangguan Pengunyahan. sedangkan trauma pada benda yang lunak atau tumpul seperti siku biasanya dapat mengakibatkan fraktur akar gigi dan luksasi. Karena trauma pada benda keras dapat mengakibatkan fraktur ahkota gigi. Hal ini penting karena mungkin saja penderita memerlukan suntikan anti tetanus karena luka akibat trauma tersebut terjadi di daerah yang kotor yang dengan mudah akan terkontaminasi dengan bakteri. pernafasan. Penyakit Sistemik yang Diderita. Bagaimana Trauma Terjadi. Informasi ini penting untuk mengetahui apakah trauma tersebut mengenai benda keras atau tumpul atau lunak.

7. langitlangit dan lidah. 6. Adanya kelainan dari jaringan periodontal Tingkat perkembangan akar Ukuran kamar pulpa dan saluran akar Adanya fraktur rahang 121 . 3 Kegunaan Pemeriksaan Radiologis Pemeriksaan ini diperlukan untuk membantu menegakkan diagnosa kelainan akibat trauma gigi anterior yang tepat dan benar. gusi. Tindakan yang sebaiknya dilakukan pada pemeriksaan intra oral meliputi antara lain : (1) (2) (3) (4) Perkusi gigi Pencatatan kegoyangan abnormal dari gigi atau tulang alveolar. 3. Pemeriksaan Intra Oral. dengan cara palpasi prosesus alveolaris. misalnya : 1. kelainan saraf serta hematoma. seperti pada bibir. Untuk melihat arah garis fraktur Adanya fraktur akar Bagaimana tingkat keparahan dari gigi yang mengalami instrusi atau ekstrusi 4. 5. (5) (6) (7) Pencatatan perubahan letak gigi Tes vitalitas dari gigi Pencatatan adanya kerusakan prosesus alveolaris. gangguan pergerakan rahang. 2.yang menunjukkan adanya fraktur. Pemeriksaan ini penting untuk mendapatkan informasi agar dapat memberikan pertolongan pertama. Pencatatan adanya perubahan warna gigi Pencatatan kerusakan jaringan lunak. Pemeriksaan ini berguna untuk memberikan informasi. Pemeriksaan Radiologis. Biasanya pemeriksaan radiologis dilakukan pada saat sebelum memulai perawatan dan pada saat kontrol sesudah perawatan sebagai evaluasi terhadap perawatan yang telah dilakukan.

Foto panoramic. Macam-macam foto rontgen yang digunakan Teknik foto rontgen yang biasa digunakan dalam melakukan pemeriksaan riologis pada kasus trauma gigi anterior adalah teknik intra oral ( foto periapikal dan foto oklusal). seperti dasar mulut. Melihat keadaan fragmen gigi dan jaringan lunak lain disekitar rongga mulut. fraktur alveolar crest pada maksila dan fraktur 1/3 apikal akar gigi pada mandibula 122 . Gambar 7. foto lateral dan foto postero-anterior) jika dengan foto intra oral garis fraktur tidak terlihat.8. dan kadangkala diperlukan teknik ekstra oral (foto panoramik. bibir dan pipi.

Menghilangkan rasa sakit e. yaitu perawatan segera setelah terjadinya trauma (perawatan darurat) dan perawatan terhadap gigi anterior yang mengalami trauma (perawatan definitif). maka diagnosis yang tepat juga dapat ditegakkan sehingga langkah perawatan terhadap kelainan akibat trauma pada gigi anterior dapat dilakukan dengan segera. pemeriksaan klinis dan pemeriksaan radiologis telah lengkap. Perawatan Segera Setelah Terjadinya Trauma (Perawatan Darurat) Perawatan darurat merupakan perawatan yang penting dan harus dilakukan dengan segera karena menyangkut prognosa dari penderita. Pencegahan terhadap infeksi 1 Perawatan Gigi pada Cedera Dentoalveolar (Perawatan Definitif). Maka pada prinsipnya perawatan trauma gigi anterior ini adalah perawatan untuk mencegah prognosis yang lebih buruk dan mengurangi rasa sakit akibat trauma. Merawat luka akibat trauma. Perawatan trauma gigi anterior dapat dibagi menjadi 2 tahap. Trauma pada gigi merupakan salah satu kasus darurat yang memerlukan penanggulangan yang cepat dan tepat.BAB III Perawatan Trauma Pada Gigi Anterior 1 Setelah ananmnesis. Membersihkan luka akibat trauma dengan menggunakan cairan antiseptik b. Perawatan darurat pada kasus trauma gigi anterior meliputi : a. 123 . c. Menghentikan perdarahan d. dengan melakukan penjahitan dan penutupan luka dengan kain kasa. karena keadaan ini mempengaruhi prognosis yang akan datang.

yaitu : keadaan umum pasien. keadaan jaringan periodontal serta gigi-geligi yang ada. plastik atau acrylik. Tindak berkontak dengan gusi dan tidak mengiritasi gusi.Perawatan gigi anterior yang mengalami trauma pada prinsipnya adalah mengembalikan gigi yang mengalami trauma keposisi semula (reposisi) dan mempertahankannya hingga proses penyembuhan (fiksasi dan imobilisasi). apakah disertai dengan fraktur tulang alveolar. c. Pada saat dipakai tidak menyebabkan trauma pada gigi atau gusi. lokasi dan luas daerah yang terkena trauma. Perawatan jaringan keras gigi. Dapat dengan mudah dibersihkan dan dipakai pada oral higiene yang baik. keadaan dari tulang pendukung. Perawatan pada gigi yang goyang dan berubah letak. Pada dasarnya perawatan definitif trauma gigi anterior meliputi : a. dll. Bersifat pasif pada tempatnya. misalnya pada perawatan endodontik seperti pulp capping. umur pasien. 4. pulpotomi. Ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan sebelum melakukan perawatan definitif pada kasus trauma gigi anterior. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi untuk mendapatkan fiksasi yang baik 1 . 2. tanpa menyebabkan tekanan pada gigi. pembuatan mahkota jaket. Yang dimaksud dengan fiksasi adalah suatu tindakan pemasangan alat yang digunakan untuk menstabilkan satu gigi atau lebih dengan mengikat atau menggabungkan gigi goyah atau berubah letak kegigi sebelahnya yang masih kokoh melalui kawat. Tidak terdapat sangkutan pada saat oklusi yang normal. yaitu dengan melakukan reposisi dan fiksasi. 1.yaitu : Dapat dengan mudah dipasang didalam mulut tanpa melalui prosedur laboratorium yang lama. misalnya penambalan dengan resin komposit pada mahkota gigi yang terkena trauma. b. Perawatan jaringan pulpa. band atau splin dari logam cor. dll. trauma terjadi pada gigi sulung atau gigi tetap. 124 . 5. 3. Vitalitas gigi yang terkena trauma. 6.

Gambar 8. Eyelet (Ivy). Resin komposit splin dengan menggunakan etsa asam. Misalnya dengan metode Essig. hauptmeye’s arch bar. Eyelet & Essig Method 1 2. Circumferential arch bar. 125 . Arch bar wiring. Dapat memberikan jalan bagi perawatan endodontik. 8. yaitu fiksasi dengan pengikatan kawat interdental. 10. 3. yaitu : 1. Harganya murah dan bahan-bahannya mudah diperoleh dipasaran. yaitu splin dengan menggunakan bahan dari akrilik. 9. Penggunaan alat Orthodontik bracket. yaitu pengikatan kawat dengan arch bar. 4. Metal cast splint. yaitu splin dengan menggunakan logam cor. 5. Dapat dengan mudah dikeluarkan. Sectional acrylic splint. Misalnya dengan metode Erich arch bar.4.7. 6. Ernt’s. Sauer’s arch bar. Memperhatikan nilai estetik yang baik. misalnya pada gigi yang ekstrusi dan avulsi. Interdental wiring fixation. Ada beberapa macam teknik fiksasi yang digunakan pada kasus trauma gigi anterior ini1.

C.al. 2004).A B C D Gambar 9. Fiksasi intermasiler: A. fiksasi dengan Jalenko 1 Berikut ini akan diuraikan berbagai macam perawatan definitif trauma gigi anterior menurut beberapa pakar bedah mulut Fraktur Mahkota Pada fraktur mahkota yang mengenai email. screw & wire. d. Jika fragmen mahkota masih berada ditempat dan tidak goyang.3 yaitu sebagai berikut : 126 . Fraktur Mahkota – Akar a. perawatan yang dilakukan sama dengan perawatan pada fraktur mahkota. Gunning splint untuk rahang edentulous (Miloro et. B. maka 1. dentin serta pulpa tanpa disertai kegoyangan gigi biasanya dilakukan penambalan pada gigi yang terkena fraktur dengan resin komposit sistem etsa dengan atau tanpa didahului perawatan endodontik. Tetapi bila disertai dengan kegoyangan gigi dilakukan juga reposisi gigi dan fiksasi gigi tersebut. Fiksasi intermaksiler dengan Erich bar & rubber elastic.

c.b. karena pada periode ini biasanya telah terjadi proses kalsifikasi dari jaringan dan gigi kembali vital. dilakukan fiksasi pada gigi lawannya. b. Fraktur Akar a. maka sebaiknya dilakukan ekstraksi gigi tersebut. 127 . Subluksasi Gigi 1 Gigi yang mengalami subluksasi sensitif terhada perkusi dan goyang. c. Jika garis fraktur jauh kearah apikal dan gigi masih dapat direstorasi. Perawatan yang diperlukan biasanya perawatan simptomatik yaitu dengan memberikan makanan yang lunak dan jika perlu menghilangkan kontak oklusal/incisal untuk mengurangi trauma saat oklusi yang diterima dari gigi. Jika garis fraktur berada sepertiga tengah akar. Gigi Sensitif (Concussion) 1 Perawatan yang khusus pada gigi sensitif ini biasanya tidak ada. Dan apabila kegoyangan gigi sudah sangat ekstrim. prognosisnya sangat baik terhadap pemulihan pertahanan jaringan pulpa dan penyembuhan dari fraktur akar tersebut. Jika terjadi fraktur akar vertikal dilakukan tindakan ekstraksi gigi. Jika disertai dengan fraktur tulang alveolar. hanya diperlukan pemeriksaan yang rutin dan berlanjut untuk mengevaluasi kesehatan dari jaringan periodontal dan pulpa gigi tersebut dan jika perlu mengurangi kontak incisal untuk mengurangi trauma saat oklusi yang diterima gigi. maka dilakukan perawatan endodontik. Dan dalam hal ini diperlukan tindakan reposisi dan fiksasi selama 2-3 bulan. Jika garis fraktur sepertiga apikal prognosisnya sangat baik dan biasanya tidak diperlukan perawatan yang khusus.

maka prognosisnya semakin baik.Perawatan Pada Gigi Yang Berubah Letak 1 1. Setelah gigi direplantasi. Andreasen dan Hjorting-Hansen 1 mengemukakan bahwa 90% dari gigi yang direplantasi kurang dari 30 menit setelah terjadi avulsi gigi. 2. Keberhasilan replantasi gigi pada gigi yang mengalami avulsi ini tergantung pada lamanya gigi berada diluar soket. dan penggunaan alat orthodonti juda dapat membantu gigi yang mengalami instrusi dapat kembali keposisi semula. kemudian immobilisasi gigi selama 2-3 minggu. Apabila akar sudah terbentuk sempurna. dilakukan replantasi gigi dan stabilisasi gigi. Ekstrusi Gigi dan Luksasi Gigi ke lateral Pada gigi yang mengalami ekstrusi dan perubahan letak kearah lateral dilakukan perawatan reposisi gigi dengan tekanan jari. biasanya dibiarkan saja karena diharapkan pada saat pertumbuhan. dilakukan reposisi dan immobilisasi selama 2-3 bulan. Periode stabilisasi pada kasus cedera dentoalveolar dapat dilihat pada tabel 1. Sebelum melakukan replantasi. gigi tersebut direndam dahulu dalam larutan garam fisiologis hangat seperti cairan saline untuk mencegah kekeringan dari serat-serat periodontal. Dan resorpsi akar terlihat pada 95% gigi yang direplantasi setelah lebih dari 2 jam mengalami avulsi. 3 128 . gigi akan kembali pada posisi semula. Kemudian gigi tersebut dikeringkan dan setelah saku gusi dibersihkan dari gumpalan darah replantasi dapat segera dilakukan. Semakin cepat gigi tersebut direplantasi. tidak terdapat resorpsi akar pada gigi tersebut. Intrusi Gigi   Pada apeks yang belum terbentuk sempurna. Avulsi Gigi Pada gigi yang mengalami avulsi. gigi tersebut distabilisasi dengan splint sistem etsa asam atau splint akrilik selama 7-10 hari (pada gigi yang apeksnya sudah terbentuk sempurna) dan 3-4 minggu pada gigi yang apeknya belum terbentuk sempurna.

Fraktur Tulang Alveolar 1 Fraktur tulang alveolar biasanya disertai dengan fraktur dari beberapa gigi sehingga dengan fraktur tulang alveolar ini juga dapat terjadi fraktur mahkota. 7 – 10 hari. sedangkan jika gigi berada diluar saku alveolar lebih dari 2 jam kemungkinan besar akan terjadi komplikasi yaitu resorpsi dari akar gigi dan gigi menjadi non vital. d. Menurut Andreasen. Soft Tissue and Dentoalveolar Injuries. Gigi tersebut tidak mempunyai kelainan periodontal. kecuali sebelum direplantasi gigi tersebut dirawat endodontik terlebih dahulu. Tingkat perkembangan akar. ada beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam melakukan replantasi gigi yang mengalami avulsi. Saku alveolar dapat menyediakan tempat bagi gigi yang direplantasi. Gigi yang berubah tempat Fraktur akar. Periode stabilisasi pada cedera dentoalveolar. seperti gigi yang berjejal. 1 yaitu sebagai berikut : a. 2003. Gigi yang berada diluar saku gusi kurang dari 30 menit. Tidak ada pertimbangan untuk melakukan perawatan orthodontik.Pada pasien yang mengalami 129 . b. 3 Cedera Dentoalveolar Gigi yang mobile. 3 – 4 minggu.Maka perawatan yang dilakukan adalah mengembalikan bagian yang terkena fraktur keposisi semula dan kemudian dilakukan stabilisasi selama 4 minggu sampai terjadi proses penyembuhan tulang serta penjahitan gusi yang mengalami laserasi. Sumber : Ellis. merupakan indikasi replantasi yang baik.Tabel 1. fraktur akar dan trauma pada jaringan lunaknya. c. e. Berapa lama gigi tersebut berada diluar saku alveolar. Replantasi gigi (matur) Replantasi gigi (imatur) Durasi Imobilisasi 7 – 10 hari 2 – 3 minggu 2 – 4 bulan.

tulang alveolar yang lepas dan berukuran kecil dan tidak dapat dipertahankan dibuang dan dilakukan alveolektomi. 130 . Displacement segmen alveolar dan mengakibatkan maloklusi 1 Letak Fraktur pada Daerah Edentulous. Gambar 10. Finger pressure dapat digunakan untuk menekan fragmen alveolar yang fraktur ke dalam posisinya yang tepat dan jika pasien menggunakan gigi tiruan dapat digunakan sebagai alat bantu memfiksasi. 5 Bentuk cedera pada daerah tidak bergigi ini tidak terlalu berarti.fraktur tulang alveolar yang parah dilakukan tindakan alveolektomi disertai ekstraksi gigi yang mengalami trauma. Jika mukosa mengalami perlukaan maka sebelum tindakan operatif harus diberikan antibiotik terlebih dahulu baru kemudian dilakukan debridemen. fraktur dentoalveolar pada maksila (panah). Foto panoramic. Kemudian mukosa gingiva atau rongga mulut diperbaiki dengan cara melakukan penjahitan. Cedera jenis ini jika mengenai daerah edentulous maksilla dapat menyebabkan terjadinya fistula oro-nasal pada daerah premaksilla atau fistula oroantral di daerah premolar dan molar.

jika terdapat gigi pada garis fraktur maka harus dipertimbangkan perawatan lainnya seperti perawatan endodontik diperlukan jika pulpa mengalami nekrosis. Komplikasi ini memerlukan perawatan pendahuluan sebelum pembuatan protesa yaitu augmentasi ridge. 5 Adanya segmen tulang alveolar yang fraktur dan terdapat gigi permanen pada fragmennya maka diperlukan tindakan reduksi dan imobilisasi. Alat Bantu Fiksasi 4 Masalah jangka panjang yang dapat terjadi jika prosesus alveolaris yang lepas berukuran besar akan mengakibatkan kesulitan saat pembuatan gigi tiruan. seperti diazepam oral atau intra venous. kecuali gigi pada fragmen tulang alveolaris memerlukan pencabutan segera. Tetapi bagaimanapun jika fragmen alveolar yang fraktur cukup besar maka tetap diindikasikan untuk pemasangan splint. Letak Fraktur pada Procesus Alveolaris Bergigi.Gambar11. Prognosis fragmen fraktur dapat ditingkatkan dengan tindakan imobilisasi. Kadang-kadang pada fraktur dentoalveolar gigi pada fragmen fraktur tidak mendapat dukungan tulang alveolar terutama pada penderita usia tua. maka perlu dirujuk kepada ahli periodontologi dengan melakukan perawatan splinting metoda Von Weissenfluh. kemudian gigi ditempatkan secara akurat pada posisinya dan juga membebaskan trauma oklusal dari gigi lawannya. Splinting harus dipertahankan selama 6 minggu. 131 . Perawatann ini dilakukan dengan anestesi lokal dibantu dengan sedasi. pendalaman sulcus atau teknik implant. Fraktur dentoalveolar pada usia sangat muda dapat membaik tanpa memerlukan imobilisasi dan cukup dirawat dengan pemberian diet lunak.

Tujuan perawatan cedera dentoalveolar adalah memperoleh kembali bentuk dan fungsi normal dari organ pengunyahan. 132 .BAB IV KESIMPULAN Cedera pada strktur dentoalveolar dapat diakibatkan oleh trauma secara langsung mengenai gigi atau trauma tidak langsung. pemeriksaan klinis dan radiologis. olahraga. Perawatan tergantung pada kasus dan seringkali melibatkan bidang kedokteran gigi lainnya.Diagnosis ditegakkan dengan anamnesis. perkelahian dan domestic abuse. biasanya akibat oklusi yang menutup dengan cepat dan kuat antara gigi-geligi mandibula ke gigi-geligi maksilla. Cedera dentoalveolar seringkali melibatkan regio anterior maksila Penyebab tersering cedera dentoalveolar adalah kecelakaan lalu lintas.

and Steinhilber. J. Pediatric Oral and Maxillofacial Surgery. 5. Oral and Maxillofacial Trauma. Kruger. Oral and Maxillofacial Traumatology. Ellis. Volume 1. Williams. 2003. 133 . St. Peterson. FH. Contemporary Oral and Maxillofacial Surgery. MP. N. WB Saunders Company. LB. Quintessence Publishing Co. E and Schilli. Second Ed. In. Localized Injuries of the Teeth and Alveolar Process. In. E III. 1982.Daftar Pustaka 1. 1991. Mosby Year Book Inc. Third ed. Soft Tissue and Dentoalveolar Injuries. 1990. Rowe and Williams’ Maxillofacial Injuries. Appliances for Immobilization.. 1. In. 2. Sowray. Schwenzer. Fonseca RJ. Louis. 4. Kaban. In. WB Saunders Company. Powers. 1994. 3. Churchill Livingstone. Diagnosis and management of Dentoalveolar Injuries. Philladelphia. Vol. Philladelphia.

Pada teknik tertutup imobilisasi dan reduksi fraktur dicapai dengan penempatan peralatan fiksasi maksilomandibular. reduksi. Kedua teknik ini tidak selalu dilakukan tersendiri tetapi kadangkadang diaplikasikan bersama atau disebut dengan prosedur kombinasi. Champy Line 134 . angulus mandibularis dan daerah mentalis. Kata Kunci : fraktur.Fraktur Mandibula Retno Widayanti 160121120003 Peserta Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut Dan Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Abstrak : Mandibula merupakan bagian tulang yang paling rentan mengalami fraktur pada trauma fasialis. Banyak faktor yang dapat menyebabkan terjadinya fraktur mandibula. Kecelakaan kendaraan bermotor merupakan etiologi utama penyebab fraktur mandibula di dunia. Pada prinsipnya ada dua cara penatalaksanaan fraktur mandibula. Pada prosedur terbuka bagian yang mengalami fraktur di buka dengan pembedahan dan segmen fraktur direduksi serta difiksasi secara langsung dengan menggunakan kawat/plat yang disebut dengan wire atau plate osteosynthesis. fiksasi. mandibula. Daerah mandibula yang lemah adalah daerah subkondilar. yaitu cara tertutup atau disebut juga perawatan konservatif dan cara terbuka yang ditempuh dengan cara pembedahan. Hal ini dapat disebabkan karena posisinya yang menonjol dan merupakan sasaran pukulan dan benturan.

Secara khusus penanganan fraktur mandibula dan tulang pada wajah (maksilofasial) mulai diperkenalkan olah Hipocrates (460-375 SM) dengan menggunakan panduan oklusi (hubungan yang ideal antara gigi bawah dan gigigigi rahang atas). pengikat rahang atas dan bawah dengan kawat (intermaxilari fixation). Hal ini diikuti dengan perkembangan teknik fiksasi mulai dari penggunaan pengikat kepala ( head bandages). Mandibula adalah tulang rahang bawah pada manusia dan berfungsi sebagai tempat menempelnya gigi geligi3. serta fiksasi dan 135 . 2. tidak ratanya gigi. kecelakaan saat kerja dan kecelakaan akibat olahraga4. adanya gap. Fraktur mandibula merupakan fraktur kedua tersering pada kerangka wajah. bila perlu dilakukan foto waters. Faktor etiologi utama terjadinya fraktur mandibula bervariasi berdasarkan lokasi geografis. Pada perkembangan selanjutnya oleh para klinisi menggunakan oklusi sebagai konsep dasar penanganan fraktur mandibula dan tulang wajah (maksilofasial) terutama dalam diagnostik dan penatalaksanaannya. Patahnya gigi. gigi yang longgar dan krepitasi menunujukkan kemungkinan adanya fraktur mandibula. Hilangnya kontinuitas pada rahang bawah (mandibula). adanya laserasi intra oral. nyeri tekan. namun kecelakaan kendaraan bermotor menjadi penyebab paling umum. Selain hal itu mungkin juga terjadi trismus (nyeri waktu rahang digerakkan) 4. Evaluasi radiografis pada mandibula mencakup foto polos. pembengkaan. tidak simetrisnya arcus dentalis. hal ini disebabkan kondisi mandibula yang terpisah dari kranium. Beberapa penyebab lain berupa kelainan patologis seperti keganasan pada mandibula. dapat berakibat fatal bila tidak ditangani dengan benar2. Diagnosis fraktur mandibula dapat ditunjukkan dengan adanya : rasa sakit. CT Scan dan pemeriksaan panoreks4. dan maloklusi5. sebagai dasar pemikiran dan diagnosis fraktur mandibula 4.BAB I PENDAHULUAN Fraktur mandibula adalah putusnya kontinuitas tulang mandibula 1.

Pada semua manajemen fraktur. mencegah terjadinya infeksi. Restorasi fungsi mandibula sebagai bagian dari sistem stomatognati harus mencakup kemampuan untuk mastikasi yang baik.5. mencegah terjadinya defek kontur yang dapat timbul.4.imobilisasi fragmen fraktur dengan menggunakan plat tulang ( plate and screw)2. tujuan dari perawatannya adalah untuk mengembalikan fungsi dengan memastikan penyatuan dari segmen tulang dan mengembalikan kekuatan seperti sebelum cedera. berbicara dengan normal dan menciptakan pergerakan artikulasi seperti sebelum terjadinya trauma. 136 .

Angulus mandibula adalah pertemuan antara tepi belakang ramus mandibula dan tepi bawah korpus mandibula. Bagian korpus mandibula membentuk tonjolan disebut prosesus alveolaris yang mempunyai 16 buah lubang untuk tempat gigi. Milohioid. yaitu suatu lengkungan tapal kuda dan sepasang ramus yang pipih dan lebar yang mengarah keatas pada bagian belakang dari korpus. Secara keseluruhan tulang mandibula ini berbentuk tapal kuda melebar di belakang. Pada pertengahan korpus mandibula kurang lebih 1 inchi dari simfisis didapatkan foramen mentalis yang dilalui oleh vasa dan nervus mentalis.1 Anatomi Mandibula Mandibula dibentuk oleh dua bagian simetris yang mengadakan fusi dalam tahun pertama kehidupan. Bagian bawah korpus mandibula mempunyai tepi yang lengkung dan halus. memipih dan meninggi pada bagian ramus kanan dan kiri sehingga membentuk pilar. didapatkan tonjolan tulang halus yang disebut simfisis mentum yang merupakan tempat pertemuan embriologis dari dua buah tulang. Angulus mandibula terletak subkutan dan mudah diraba pada 2-3 jari dibawah lobulus aurikularis 10. Tulang ini terdiri dari korpus. Pada ujung dari masing-masing ramus didapatkan dua buah penonjolan disebut prosesus kondiloideus dan prosesus koronoideus. 137 . Pada yang lebih muda sudutnya lebih besar dan ramusnya nampak lebih divergens. Prosessus kondiloideus terdiri dari kaput dan kolum. Permukaan luar dari korpus mandibula pada garis median. Permukaan dalam dari korpus mandibula cekung dan didapatkan linea milohiodea yang merupakan origo m. ramus membentuk sudut 1200 terhadap korpus pada orang dewasa.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.

Temporalis yang berinsersi disisi medial pada ujung prosesus koronoideus dan m. M masseter bersama m temporalis merupakan kekuatan untuk menggerakkan mandibula dalam proses menutup mulut. M. diskus artikularis berperan untuk membuka mandibula. M pterigoideus lateral berinsersi pada bagian depan kapsul sendi temporo-mandibular. Masseter yang berinsersi pada sisi lateral angulus dan ramus mandibula. merupakan gabungan tulang berbentuk L bekerja untuk mengunyah dengan dominasi (terkuat) m. Pterigodeus medial berinsersi pada sisi medial bawah dari ramus dan angulus mandibula.1 Anatomi mandibula10 Dari aspek fungsinya.Gambar 2. 138 . Fungsi m pterigoid sangat penting dalam proses penyembuhan pada fraktur intrakapsuler.

Posisis jalur kanalis mandibula ini perlu diingat dan dihindari saat melakukan instrumentasi waktu reposisi dan memasang fiksasi interna pada fraktur mandibula11.2 Insersi Otot pada Mandibula4 Pada potongan melintang tulang mandibula dewasa level molar II berbentuk seperti ”U” dengan komposisi korteks dalam dan korteks luar yang cukup kuat.7mm sedang pada potongan level gigi kaninus kanalnya berdiameter sekitar 1mm dengan ketebalan korteks sekitar 2. Ditengahnya ditancapi oleh akar-akar geligi yang terbungkus oleh tulang kanselus yang membentuk sistem haversian (osteons) diantara dua korteks tersebut ditengahnya terdapat kanal mandibularis yang dilewati oleh syaraf dan pembuluh darah yang masuk dari foramen mandibularis dan keluar kedepan melalui foramen mentalis.53mm. Lebar kanalis mandibula tersebut sekitar 3 mm ( terbesar) dan ketebalan korteks sisi bukal yang tertipis sekitar 2.Gambar 2. 139 . Mandibula mendapat nutrisi dari arteri alveolaris inferior yang merupakan cabang pertama dari arteri maxillaris yang masuk melalui foramen mandibula bersama vena dan nervus alveolaris inferior berjalan dalam kanalis alveolaris.

Arteri alveolaris inferior memberi nutrisi ke gigi-gigi bawah serta gusi sekitarnya kemudian di foramen mentalis keluar sebagai a. Daerah dagu mengalirkan darah ke vena submentalis.3 Vaskularisasi mandibula12 Gambar 2. Sebelum keluar dari foramen mentalis bercabang menuju incisivus dan berjalan sebelah anterior ke depan didalam tulang. Arteri mentalis memberi nutrisi ke dagu. Arteri mentalis beranastomosis dengan arteri facialis. Aliran darah balik dari mandibula melalui vena alveolaris inferior ke vena facialis posterior. Gambar 2. Vena facialis anterior dan vena facialis posterior bergabung menjadi vena fascialis communis yang mengalirkan darah ke vena jugularis interna12. arteri submentalis dan arteri labii inferior. yang selanjutnya mengalirkan darah ke vena facialis anterior. Arteri submentalis dan arteri labii inferior merupakan cabang dari arteri facialis. Mentalis.4 Inervasi mandibula12 140 .

Pada fraktur mendibula. Selain itu titik lemah juga didapatkan pada foramen mentale. Namun pada kecelakaan lalu lintas garis fraktur terjadi dekat dengan kaput kondilus.2. garis fraktur yang terjadi berbentuk oblique. Pada fraktur corpus mandibula garis fraktur tidak selalu paralel dengan sumbu gigi. Garis fraktur dimulai pada regio alveolar kaninus dan insisivus berjalan oblique ke arah midline. angulus mandibula tempat gigi molar III terutama yang erupsinya sedikit. makan atau mengunyah13. kecelakaan kerja. Fraktur patologis dapat terjadi karena kekuatan tulang berkurang akibat adanya kista. kecelakaan lalulintas. osteogenesis imperfecta. Pada regio angulus garis fraktur umumnya dibawah atau dibelakang regio mlaor III kearah angulus mandibula. Daerah yang tipis pada mandibula adalah angulus dan sub condylus sehingga bagian ini termasuk bagian yang lemah dari mandibula. tetapi pada beberapa tempat dijumpai adanya bagian yang lemah. kolum kondilus mandibula terutama bila trauma dari depan langsung mengenai dagu maka gayanya akan diteruskan kearah belakang. fraktur dapat terjadi secara spontan seperti waktu bicara. Fraktur dapat terjadi akibat trauma atau karena proses patologis.2 DEFINISI FRAKTUR MANDIBULA Fraktur didefinisikan sebagai deformitas linear atau terjadinya diskontinuitas tulang yang disebabkan oleh rudapaksa. tumor jinak atau ganas rahang. jatuh ataupun trauma saat pencabutan gigi. Garis fraktur subkondilar umumnya dibawah leher prosesus kondiloideus akibat perkelahian dan berbentuk hampir vertikal. osteomalacia. Mandibula merupakan tulang yang kuat. Garis fraktur pada mandibula biasa terjadi pada area lemah dari mandibula tergantung mekanisme trauma yang terjadi. fragmen yang fraktur mengalami displaced 141 . Daerah korpus mandibula terutama terdiri dari tulang kortikal yang padat dengan sedikit substansi spongiosa sebagai tempat lewatnya pembuluh darah dan pembuluh limfe. osteomyelitis. Akibat adanya proses patologis tersebut. seringkali garis fraktur berbentuk oblique. Fraktur akibat trauma dapat terjadi akibat perkelahian. atrofi tulang secara menyeluruh atau osteoporosis nekrosis atau metabolic bone disease. luka tembak.

Pada daerah ramus mandibula jarang terjadi fraktur. Literatur menyebutkan bahwa 43% fraktur mandibula disebabkan oleh kecelakaan kendaraan bermotor.3%) 4. dan medial oleh m pterigoideus medialis. dan prosesus koronoideus (1. Fraktur yang terjadi pada korpus. 2.5%). Pada kecelakaan pengendara kendaraan roda dua yang terkena adalah daerah simfisis. korpus mandibula (16%). Demikian juga pada prosesus koronoideus yang terfiksasi oleh M.7%). arah dan sudut garis fraktur. Pada 142 . 7% kecelakaan kerja.1%) ramus (1. arah lepasnya otot dan luasnya kerusakan jaringan lunak. Masseter. arah dan kekuatan trauma.4 DISTRIBUSI ANATOMIS Lokasi fraktur mandibula terbanyak pada kondilus (29. oleh karena itu maka reduksi dan fiksasi pada fraktur mendibula harus menggunakan splinting untuk melawan tarikan dari otototot mastikasi.1%). 2. segmen dento alveolar (3. Fridrich dkk memperlihatkan bahwa fraktur akibat kecelakaan kendaraan bermotor biasanya pada regio kondilus. Kecelakaan kendaraan bermotor merupakan etiologi utama penyebab fraktur mandibula di dunia4.akibat tarikan otot-otot mastikasi. Fraktur pada fasial jauh lebih banyak terjadi pada mereka yang tidak menggunakan pelindung pada saat terjadinya kecelakaan14.3 ETIOLOGI Banyak faktor yang dapat menyebabkan terjadinya fraktur mandibula. simfisis dan parasimfisis (22%). ada atau tidaknya gigi pada fragmen. karena daerah ini terfiksasi oleh m masseter pada bagian lateral. 34% disebabkan oleh kekerasan. kondilus dan angulus mandibula tidak banyak berbeda dalam insidensinya dan fraktur ramus serta processus koronoideus sangat jarang. 7% akibat terjatuh. Beberapa penelitian memperlihatkan etiologi pada lokasi fraktur. 4% pada kecelakaan olahraga dan sisanya oleh bermacam-macam sebab lainnya. angulus (24. Beberapa faktor yang mempengaruhi displacement fraktur mandibula antara lain .

5%).6 Distribusi fraktur mandibula pada pasien edentulus 15 Beberapa penelitian menyatakan bahwa terdapat hubungan antara frekuensi fraktur mandibula dengan daerah anatomi. Gambar 2.15.3%) 15. simfisis mandibula (4. dimana fraktur korpus mandibula (43.5 Distribusi anatomis fraktur mandibula 15 Mandibula yang mengalami atropi mempunyai kelemahan pada banyak tempat. angulus (15.fraktur yang diakibatkan karena kekerasan biasanya di daerah sudut mandibula14. Area fraktur cenderung berbeda pada pasien edentulus. 143 . Gambar 2. tetapi tetap saja regio angulus mandibula dan mentalis yang paling sering menjadi fraktur.2%). Fraktur subkondilus banyak ditemukan pada anak-anak sedangkan fraktur angulus banyak ditemukan pada remaja dan dewasa muda16.

e. Fraktur tipe ini jarang terlihat pada mandibula. karena tulangnya belum sepenuhnya terkalsifikasi. Fraktur direct terjadi langsung pada titik kontak dari trauma sedangkan indirect terjadi jauh dari sisi datangnya trauma. b.2. Fraktur indirect dan direct. Fraktur yang tidak seluruh kontinuitas tulang terputus. Hal ini diakibatkan karena tulang anak-anak masih bersifat lentur. c. Fraktur ini merupakan salah satu tipe fraktur yang sering terjadi pada anak-anak. 144 . Fraktur compound. jaringan mukosa dan membran periodontal. Fraktur jenis ini disebut juga fraktur terbuka atau open fracture.5 KLASIFIKASI Secara garis besar fraktur mandibula diklasifikasikan dalam tiga kelompok yaitu berdasarkan jenis fraktur. Fraktur greenstick. Fraktur ini mempunyai hubungan antara tulang yang patah dengan permukaan luar wajah atau dengan rongga mulut.17 a. Berdasarkan jenis fraktur16. tetapi hanya sebagian saja. d. Teleskop atau fraktur impaksi. Hubungan ini dapat terjadi melalui kulit. mukosa atau bagian yang berdekatan seperti otot. Fraktur yang terjadi tidak mempunyai hubungan dengan dunia luar dan tidak terjadi dislokasi atau displacement. Fraktur jenis ini disebut juga fraktur tertutup atau closed fracture. Fraktur dimana tulang terbagi menjadi beberapa bagian atau fragmen-fragmen kecil. tetapi dapat terjadi dimana sisi fragmen terdorong kesisi yang berlawanan. Fraktur sederhana. f. berdasarkan daerah fraktur dan berdasarkan penyebab fraktur. g. Fraktur cominutted. Biasanya fraktur ini terjadi pada regio simfisis mandibula. Fraktur kompleks. Fraktur yang melukai jaringan lunak baik kulit. pembuluh darah dan syaraf.

Fraktur comminuted. B. Fraktur yang terjadi pada fungsi normal atau trauma minimal pada tulang yang mengalami gangguan patologis. C. Gambar 2. Kompon (D)17 145 . D.7 Tipe fraktur: A.h. seperti kista atau metastasis tumor. Fraktur sederhana. Fraktur impaksi pada subkondilus dekstra dan fraktur patologis pada angulus sinistra. Simple (B). Fraktur direct dan indirect15. Gambar 2. E. Fraktur compound.8 Klasifikasi fraktur mandibula berdasarkan tipe frakturnya: Greenstick (A). Komminuted (C). Fraktur patologis.

masing-masing dari arah vertikal dan horisontal tergantung pada otot sekitarnya yang menahan atau memindahkan segment fraktur tersebut. Gambar 2. seperti tarikan otot masseter dan temporalis pada fragmen proksimal.Fraktur mandibula juga dapat diklasifikasikan sebagai fraktur favorable atau unfavorable. Garis fraktur favorable horizontal menahan gaya tarikan ke atas. Garis fraktur favorable vertikal menahan gaya tarikan medial pterygoid medial pada fragmen proksimal18.10 Favorable vertikal (kiri) dan unfavorable (kanan)15 146 .9 Unfavorable horizontal (kiri) dan favorable (kanan)15 Gambar 2.

berakibat fraktur kaput radii atau klavikula. Fraktur traumatik Trauma langsung (direct). fraktur mandibula dibagi atas15: 1. Fraktur ramus Fraktur horizontal melalui batas anterior dan posterior ramus. Fraktur korpus Fraktur yang terjadi antara prosesus alveolaris hingga ke batas inferior regio antara foramen mentalis hingga ke sisi distal dari molar kedua. Fraktur prosesus kondiloideus Fraktur yang terjadi dari sigmoid notch ke batas posterior ramus mandibula sepanjang aspek superior dari ramus mandibula. Fraktur parasimfisis Fraktur yang terjadi antara prosesus alveolaris hingga ke batas inferior batas distal insisivus lateral hingga ke foramen mentalis.Berdasarkan lokasi anatomis. Fraktur dentoalveolar Fraktur yang hanya terjadi pada area penyangga gigi pada mandibula dan tidak mengganggu kontinuitas struktur tulang dibawahnya. 5. 3. Fraktur prosessus koronoideur Menurut Penyebab Terjadinya Fraktur 1. Trauma tidak langsung (indirect).Trauma tersebut langsung mengenai anggota tubuh penderita. Terjadi seperti pada penderita yang jatuh dengan tangan menumpu dan lengan atas-bawah lurus. Fraktur simfisis Fraktur pada regio insisivus yang melalui prosessus alveolaris ke batas inferior mandibula dalam arah vertikal atau hampir vertikal. 4. Gaya tersebut dihantarkan melalui 147 . 7. 6. Fraktur angulus Fraktur yang terjadi antara prosesus alveolaris hingga ke batas inferior distal molar kedua hingga ke sudut yang dibentuk oleh korpus dan ramus madibula. 8. 2.

6 PEMERIKSAAN KLINIS Evaluasi trauma dilakukan secara menyeluruh. 2. gigitan terbuka dan prematur kontak. pembuluh darah. Contohnya pada fraktur fibula pada olahragawan. 3. 2. fraktur tersebut berhubungan dengan kerusakan jaringan atau struktur lain seperti saraf. Jika perlu dapat dilakukan intubasi orotrakhea pada kasus darurat jalan nafas. maupun kombinasi gaya berputar. Fraktur fatik atau stress Trauma yang berulang dan kronis pada tulang yang mengakibatkan tulang menjadi lemah. organ viscera atau sendi. Fraktur terbuka. traksi manual atau traksi pada lidah dapat menghindarkan obstruksi jalan nafas. Fraktur terbuka dapat berhubungan dengan ruangan di tubuh yang tidak steril seperti rongga mulut. Maloklusi dapat berupa gigitan silang. kecelakaan atau terjatuh. 2. Tanda dan gejala terjadinya fraktur adalah adanya maloklusi dihubungkan dengan riwayat trauma seperti terkena pukulan. pemeriksaan terhadap pergeseran segmen tulang. pembengkokan dan kompresi seperti fraktur oblik dengan garis fraktur pendek. yaitu penanganan jalan nafas. 3. Fraktur patologis Pada tulang telah terjadi proses patologis yang mengakibatkan tulang tersebut rapuh dan lemah. 148 . disebut juga fraktur tertutup. Fraktur juga dapat terjadi akibat tarikan otot seperti fraktur patela karena kontraksi quadrisep yang mendadak.tulang-tulang anggota gerak atas dapat berupa gaya berputar. pembengkokan (bending) atau kombinasi pembengkokan dengan kompresi yang berakibat fraktur butterfly. kulit di sekitar fraktur sobek sehingga fragmen tulang berhubungan dengan dunia luar (bone expose) dan berpotensi untuk menjadi infeksi. oleh karena kulit di sekeliling fraktur sehat dan tidak sobek. Fraktur komplikasi. Fraktur simple/tertutup. Biasanya fraktur terjadi spontan Menurut Hubungan dengan Jaringan Ikat Sekitarnya 1.

mengunyah atau waktu palpasi. Bila digerakkan dengan jari tangan tiap fragmen fraktur akan bergerak sendiri. Gerakan-gerakan ringan tersebut misalnya waktu berbicara. Pergerakan abnormal dapat diketahui dengan pemeriksaan jari tangan atau palpasi bimanual.11 Palpasi bimanual pada mandibula untuk membandingkan struktur anatomis18 Pemeriksaan intraoral memperlihatkan adanya laserasi atau hematoma. Retraksi pergerakan tulang merupakan kelainan sekunder yang dapat ditemukan pada fraktur zigomatikus yang mengalami displacement dan berdampak pada prossesus koronoideus mandibula17. Gambar 2. Pemeriksaan pada rahang saat membuka dan menutup mulut dan memperhatikan deviasi rahang atau mobiliti yang terbatas.18. Sering menunjukkan terpisahnya gigi yang satu dengan yang lain dan terputusnya kontinuitas dataran oklusal pada bagian yang mengalami fraktur 149 . Pembengkakan atau oedema tampak pada daerah fraktur yang disebabkan oleh keluarnya darah dan serum ke jaringan sekitar14.Rasa sakit bersifat akut dan dapat diperberat oleh gerakan ringan bagian yang terluka.

B. Terputusnya kontinuitas dataran oklusal14 150 . Haematom pada dasar mulut.12 A.A B Gambar 2.

Pandangan lateral-obliq membantu mendiagnosis ramus. Tampilan Caldwell posteroanterior menunjukkan setiap perpindahan medial ataulateral ramus. posteroanterior. atau fraktur simfisis. CT scan juga dapat membantu: CT scan juga memungkinkan dokter untuk survei fraktur wajah daerah lain. termasuk tulang frontal. fraktur pada corpus posterior. Tampilan oklusal mandibula menunjukkan perbedaan di posisi tengah dan lateral fraktur body.7 PEMERIKSAAN RADIOLOGIS Apabila pemeriksaan klinis sering dapat memberikan gambaran adanya fraktur mandibula. dan tidak memiliki kemampuan melihat secara detail area TMJ. dapat membantu. oklusal. Evaluasi radiografis terhadap perluasan pergeseran segmen fraktur. Penentuan terjadinya pergeseran berperan sebagai petunjuk dalam menentukan terapi. simfisis dan gigi / daerah proses alveolar. Bagian kondilus.2. b. Plain film. maka evaluasi radiologis diperlukan untuk mempertegas hal tersebut atau memberikan data yang lebih akurat. termasuk pandangan lateral-obliq. dan periapikal. tubuh. kompleks naso-ethmoid- 151 . secara umum relatif akurat kecuali kalau angulasi dan magnifikasi pemotretan tidak baik. c. angel. sudut. bicuspid dan daerah simfisis seringkali tidak jelas. Panoramik membutuhkan pasien tegak. Pemeriksaan radiologis yang dapat membantu untuk menegakkan diagnosa fraktur mandibula adalah14: a. Panoramik Panoramik menyediakan kemampuan untuk melihat seluruh mandibula dalam satu radiograf. tidak usah dirawat atau dilakukan reduksi terbuka16.

Rekonstruksi kerangka wajah sering membantu untuk konsep cedera. orbit.14 Gambaran radiologis fr mandibula dan alveolaris 18 152 . CT scan juga ideal untuk fraktur condylar. dan seluruh sistem horizontal dan vertical yang menopang kraniofasial.13 Pencitraan fraktur angulus kanan dan simphisis kiri mandibula pada panoramik foto13 Gambar 2. yang sulit untuk memvisualisasikan Panoramik Gambar 2.orbital.

Pencitraan fraktur kondilus kiri. B.17 A.15 A.Posteroanterior foto A B Gambar 2. Pencitraan fraktur korpus mandibula dan angulus kiri pada posteroanterior foto15 Lateral oblique foto Gambar 2. Pencitraan fraktur korpus dan angulus mandibula kiri19 153 .16 Pencitraan fraktur korpus dan angulus kiri mandibula pada Lateral Oblique foto19 Reverse Towne A B Gambar 2. B. Pencitraan fraktur kondilus kiri pada Posteroanterior foto.

Pencitraan fraktur angulus kiri pada CT scan potongan sagital19 3D Imaging Gambar 2. Pencitraan fraktur kondilus kiri dengan perobahan letak fragmen kondilus proksimal pada CT scan potongan axial.18 A. Pencitraan fraktur comminuted ramus mandibula kiri pada CT scan potongan axial19 A B Gambar 2.19 A.20 Pencitraan fraktur dengan 3 dimensi 19 154 . B. Pencitraan fraktur ramus mandibula kiri pada CT scan direct coronal.CT SCAN / (COMPUTERED TOMOGRAFI) SCAN A B Gambar 2. B.

pemeriksaan klinis fraktur dilakukan secara benar. Jenis-jenis reduksi tertutup diantaranya external appliance seperti head bandage. Memperbaiki pembukaan interinsisal dan pergerakan mandibula. 7) Mencegah komplikasi jangka panjang pada gangguan pertumbuhan. Waktu penggunaan fiksasi intermaksiler dapat bervariasi tergantung tipe. fraktur mandibula lebih baik dilakukan perawatan terlebih dahulu dengan prinsip dari dalam keluar. Terapi fraktur mandibula secara garis besar dibagi menjadi dua bagian yaitu dengan metode closed reduction (reduksi tertutup) dan metode open reduction (reduksi terbuka) Metode reduksi tertutup adalah suatu tindakan reduksi tertutup tanpa melalui suatu tindakan pembukaan tulang untuk memudahkan lapang pandang secara pembedahan.2. Prinsip dasar umum dalam perawatan fraktur mandibula ialah sebagai berikut. mengembalikan oklusi merupakan tujuan dari perawatan fraktur mandibula. Evaluasi klinis secara keseluruhan dengan teliti. Meminimalisir deviasi mandibula Menghasilkan artikulasi yang bebas dari rasa sakit pada saat istirahat dan fungsi 6) Mencegah internal derangement pada TMJ sisi cedera atau sisi yang berlawanan. 155 . Menciptakan pembukaan mandibula yang maksimal. head frame plaster of paris. jumlah dan derajat keparahan fraktur mandibula serta usia dan kesehatan pasien maupun metode yang akan digunakan untuk reduksi dan imobilisasi. lokasi.8 TERAPI Adapun tujuan yang ingin didapatkan pada perawatan fraktur mandibula adalah18: 1) 2) 3) 4) 5) Mendapatkan oklusi yang stabil dalam fungsi dan estetik. head gear. dari bawah keatas. Penggunaan antibiotik untuk kasus compound fractures. Apabila terjadi fraktur mulitple di wajah. kerusakan gigi dievaluasi dan dirawat bersamaan dengan perawatan fraktur mandibula. monitor pemberian nutrisi pasca operasi. intermaxillary fixation seperti interdental wiring fixation dan splint fixation.

kemudian diputar searah jarum jam sampai tegang. Tehnik Gilmer . Kemudian kedua kawat atas dan bawah digabungkan dan diputar dengan hubungan vertika maupun silang. a. Dilakukan pada gigi atas dan bawah sampai oklusi baik. Beberapa tehnik fiksasi intermaksilaris .Gambar 2. merupakan tehnik yang mudah dan efektif tetapi mempunyai kekurangan yaitu mulut tidak dapat dibuka untuk melihat daerah fraktur tanpa mengangkat kawat. untuk mencegah tergelincir ke anterior dan posterior 156 . Fiksasi ini dipertahankan 3-4 minggu pada fraktur daerah condylus dan 4-6 minggu pada daerah lain dari mandibula. Kawat tersebut dilingkarkan pada leher gigi.21 Head bandage16 Tehnik yang digunakan pada terapi fraktur mandibula secara closed reduction adalah fiksasi intermaksiler.

Kerugiannya kawat mudah putus waktu digunakan untuk fiksasi intermaksiler Gambar 2.23 Tehnik eyelet / ivy loop15 c. Tehnik eyelet (ivy loop) . 157 . disertai fraktur maksila.22 Tehnik Gilmer 19 b. indikasi pemasangan arch bar antara lain gigi kurang/ tidak cukup untuk pemasangan cara lain. keuntungan tehnik ini bahan mudah didapat dan sedikit menimbulkan kerusakan jaringan periodontal serta rahang dapat dibuka dengan hanya mengangkat ikatan intermaksilaris.Gambar 2. terdiri dari formasi loop kawat kecil yang mengelilingi arkus dentis bagian atas dan bawah. dan menggunakan karet sebagai traksi yang menghubungkannya d. Tehnik continous loop (stout wiring) . Tehnik erich arch bar .

25 Tehnik Kazanjian 15 Indikasi untuk metode reduksi tertutup adalah:18 a) Fraktur menguntungkan tanpa adanya pergeseran tempat ( nondisplace favorable fracture) 158 . Keuntungan penggunaan arch bar ialah mudah didapat. tidak dapat digunakan pada penderita dengan edentulous luas. Essig wire. Interdental wiring15 B Gambar 2.didapatkan fragmen dentoalveolar pada salah satu ujung rahang yang perlu direduksi sesuai dengan lengkungan rahang sebelum dipasang fiksasi intermaksilaris. biaya murah.24 A. Tehnik ini untuk gigi yang hanya sendiri atau insufisiensi pada bagian dari pemasangan arch bar. e. mudah adaptasi dan aplikasinya. dengan menggunakan kawat yang kuat untuk tempat karet dipasang mengelilingi bagian leher gigi. A Gambar 2. Kerugiannya ialah menyebabkan keradangan pada ginggiva dan jaringan periodontal. Tehnik Kazanjian . B.

Keuntungan dari ORIF antara lain . lag screws dan noncompression stabilization plates pada bagian inferior. Tehnik ini dapat dikerjakan di tingkat poliklinis. dapat mengganggu vaskularisasi fragmen tulang yang kecil c) Fraktur pada mandibula edentulus (tidak bergigi). resiko ankilosis TMJ dan problem airway. angka komplikasi lebih rendah dan waktu operasi yang lebih singkat. Pada angulus mandibula. Hasil yang didapatkan dari pemakaian monocortical osteosynthesis adalah tercapainya netralisasi kekuatan tensi dan kompresi serta rotasi pada garis fraktur sehingga diperoleh reduksi anatomis yang fisiologis. paired miniplates. penggunaan open reduction dapat merusak benih gigi atau gigi yang sedang tumbuh e) f) Fraktur processus koronoidalis Fraktur kondilus Keuntungan dari reposisi tertutup adalah lebih efisien. gangguan nutrisi karena adanya MMF. diantara kedua foramen mentalis. monocortical transoral miniplates pada bagian superior. Ada 5 metode yang umum digunakan yaitu dengan biocortical transfacial compression plates pada bagian inferior dengan atau tanpa tension band plate. karena jika menggunakan open reduction. mobilisasi lebih dini dan reaproksimasi fragmen tulang yang lebih baik. Pada regio anterior. plat paling baik diletakkan pada permukaan yang paling luas dan setinggi mungkin di daerah linea oblique eksterna. Kerugiannya adalah biaya lebih mahal dan diperlukan ruang operasi dan pembiusan untuk tindakannya. Dalam menangani fraktur mandibula umumnya digunakan lebih dari satu modalitas sebab terdapat banyak variasi biomekanik dan problem klinis untuk mencapai mobilitas fiksasi di regio fraktur. disamping plat subapikal perlu juga ditambahkan plat lain di dekat batas bawah mandibula untuk menetralkan 159 . karena open reduction dapat mengganggu vaskularisasi d) Fraktur mandibula pada anak.b) Fraktur comunitted yang luas. Kerugiannya meliputi fiksasi yang lama. kompresi pada fragmen fraktur dan imobilisasi yang rigid serta perbaikan kekuatan self kompresi fisiologis.

archbar sudah cukup berfungsi menetralkan kekuatan tension. Batas inferior dari angulus sangat tipis dan tidak mungkin dilakukan suatu kompresi. Pada daerah di belakang foramen mentalis sampai mendekati daerah angulus cukup digunakan satu plat yang dipasang tepat dibawah akar gigi dan diatas nervus alveolaris inferior. Ketika dilakukan 160 . geniohyoid dan genioglosus dapat menyebabkan perpindahan fragmen lebih jauh. Jenis-jenis dari metode terbuka contohnya interosseus wiring dan fiksasi dengan bone plate and screw. skrew dan plat. distraksi dari kontak tulang menghambat reduksi dan vaskular dari sisi fraktur dan dapat menjadi sumber infeksi. Pada bagian mandibula yang bergigi. Indikasi reduksi terbuka adalah19 :  Fraktur yang tidak menguntungkan pada sudut mandibula Fraktur ini diindikasikan untuk reduksi terbuka bila fragmen proksimal berubah tempat ke arah posterior atau median dan reduksi tidak dapat dipertahankan tanpa intraosseus wiring. Angulus merupakan bagian yang sulit dicapai lewat intraoral karena adanya otot-otot pengunyah dan otot-otot daerah suprahyoid. Metode reduksi terbuka adalah suatu tindakan reduksi dengan cara pembedahan untuk memudahkan lapang pandang. Penempatan plat didaerah sepanjang tension trajectory ternyata juga menghasilkan suatu fiksasi yang paling stabil bila ditinjau dari prinsip biomekaniknya. sedangkan pada daerah angulus dan ramus mandibula fungis tersebut baru bisa didapatkan dengan menggunakan plat yang kecil.  Fraktur yang tidak menguntungkan pada bodi mandibula atau daerah para simpisis mandibula Otot mylohyoid. Adanya gigi molar 3 menyebabkan fraktur mudah terjadi. delayed union dan malunion yang dapat terjadi bila digunakan terapi lain.kekuatan rotasi pada daerah simfisis tersebut. Penggunaan rigid internal fixation untuk mencegah hilangnya kontrol segmen proksimal. Fraktur pada daerah angulus mandibula merupakan problem khusus pada perawatan dengan menggunakan rigid internal fixation. digastrikus.

Gambar 2. seperti dari sutura frontozygomatikus ke daerah mandibula. cenderung gagal dan memaksa fraktur setengah wajah berhimpitan dengan kondilus yang menyebabkan profil wajah menjadi lebih pendek. akan terjadi inefisiensi pengunyahan dan perubahan periodontal yang buruk . cusp lingual seluruh premolar dan molar bergerak keluar dari kontak oklusal. Kalau prosedur ini tidak menyelesaikan masalah tipe wiring apapun. sehingga oklusinya tidak menjadi pertimbangan langsung. Kalau konstriksi ini tidak diperbaiki.26 Fraktur menguntungkan dan tidak menguntungkan 19  Fraktur multipel pada tulang wajah Pada kasus ini perawatan reduksi terbuka dari segmen mandibula membuktikan perbaikan yang stabil  Fraktur setengah wajah dan fraktur kondilus bilateral Pada fraktur ini salah satu kondilus yang fraktur harus dirawat dengan reduksi terbuka untuk mempertahankan dimensi vertikal wajah. Pada situasi ini memberikan 161 . Tehnik ini berguna terutama pada mandibula yang nonatropic pada saat tidak ada gigi tiruan.  Fraktur edentolous mandibula dengan perpindahan yang hebat fragmen fraktur Pada fraktur ini reduksi terbuka dianggap bisa membuat kembali kontinuitas mandibula. Dengan rotasi medial dari body mandibula. fraktur parasimpisis cenderung membuka pada border inferior. dengan aspek dari segmen mandibula berputar ke arah median pada titik fiksasi.perawatan reduksi terbuka.

contohnya pada pasien yang mengalami kesulitan mengontrol akibat serangan yang tiba-tiba atau epilepsi. masalah psikiatrik dan neurologik.  Perawatan yang tertunda dan Interposisi jaringan lunak antara fragmen fraktur yang tidak kontak Ketika perawatan tertunda dan jaringan lunak ada diantara fragmen fraktur maka diperlukan metode open reduction.  Kondisi sistemik tertentu yang merupakan kontraindikasi intermaxillary fixation Pada situasi dimana mandibula harus tetap bergerak. ekstrim. fungsi paru yang harus dikompromikan.  Malunion Ketika hasil perawatan fraktur mandibula yang buruk. maka harus dilakukan metode open reduction. Alasan ditundanya perawatan karena adanya luka kepala atau adanya masalah medis yang serius. Jika diperlukan close reduction maka perlu adanya prostetik pada maxilla. sehingga terjadi jaringan penghubung antara fragmen fraktur yang menghambat osteogenesis.plat pada mandibula tanpa intermaxilary fixation merupakan Ketika mandibulamenjadi atropik secara kemungkinan yang kuat. dan dapat distabilkan dengan palatal screw atau circum zygomatic wires. dan kelainan gastrointestinal. Pencangkokkan tulang harus dipeertimbangkan pada fraktur mandibula yang mengalami atropic secara ekstrim. harus dipertimbangkan status dari suplai darah ke tulang dan efek dari prosedur reduksi terbuka pada kompromi vaskularisasi.  Edontolous maksila dengan Fraktur mandibula Adanya fraktur mandibula dengan edentolous maxila merupakan kesulitan untuk dilakukan intermaxilary fixation. berbagai tipe osteotomi diperlukan untuk memperbaiki kekurangannya. Metode ini dengan fiksasi rigid dengan fraktur mandibula akan menggantikan kebutuhan intermaxilary fiksation.  Fraktur yang membutuhkan osteotomy/ Orthognathi Surgery 162 .

cabang mandibula marginal dan nervus facialis terletak pada lapisan ini. Lalu muskulus platymus dipotong untuk mencapai lapisan superficialis pada bagian dalam fascia cervicalis. 163 . Panjang incisi 4 cm sampai 5 cm. Ada banyak metode perawatan fraktur mandibula dengan reduksi terbuka diantaranya12. Pendekatan bedah sendiri antara lain (Gambar 3) : Pendekatan submandibular Pendekatan retromandibular Pendekatan preauricular Gambar 2. Faktor yang harus diperhatikan adalah isolasi fraktur. Lemak subkutan dan superficial fascia dipisahkan untuk mencapai muskulus platymus. Fraktur yang membutuhkan bone graft. 2 cm dibawah angulus mandibularis.20: Pendekatan Bedah Sebelum melakukan operasi pada fraktur mandibula. sehingga sangat penting untuk diketahui.27 Insisi submandibular dan preauricular19 Pendekatan Submandibular Pendekatan ini dikenalkan tahun 1934 oleh Risdon. operator harus memperhatikan sudut mulut pada lapangan operasi untuk memonitor aktifitas nervous facialis dan untuk meyakinkan anestesiologist tidak membuat pasien paralisis dalam waktu yang lama. garis wajah dan posisi nervous. Incisi kulit harus diletakkan pada lipatan kulit untuk menghindari jaringan parut dan dibuat pada sudut yang tepat.

Kelenjar parotis biasanya di posterior ramus tetapi bisa terletak mengelilingi sudut inferior. Pemotongan dilanjutkan antara fascia sampai kebatas inferior mandibula. Pendekatan Retromandibular Hinds dan Birroti pertama kali menerangkan pendekatan lekatan retromandibular pada tahun 1967. Incisinya juga digambarkan mengikuti sudut mandibula. bagian belakang batas inferior dari mandibula. seluruh cabangnya berinervasi pada depressor bibir bawah. periosteum dan jaringan lunak dipisahkan untuk jalan melihat body. Incisinya dibuat untuk memasuki parotis. Pembukaan dapat dikurangi dan penutupan dapat diperbaiki dengan penarikan pterygoid medialis dan ligament stylomandibular dari batas interior dan posterior. Pemisahan lalu meluas ke anterior. Otot dan perios diinsisi melewati sudut termasuk 164 . Kapsul keduanya harus dipisahkan selama Sin loceles atau fistula pemisahan. masseter dan fascia cervicalis bagian dalam. Pada dasarnya pendekatan ini merupakan variasi dari pendekatan submandibular kecuali incisinya kurang lebih 3 cm. Pemisahan ke tulang melewati fascia cervicalis yang dalam dengan menggunakan nerve stimulator.Baik anterior atau posterior arteri facialis. dan sisi fraktur. Otot. Setelah otot dilewati lalu dipisahkan pada batas inferior untuk melihat tulang. Kelenjar submandibularis dan kapsulnya biasanya berlokasi dibagian batas inferior dari mandibula. Pemotongan dilanjutkan pada muskulus masseter dan bagian atas nervus diretraksi. Jika pembuluh darah facialis tidak dapat ditarik sempurna dapat dipisahkan dan diikat. Kelenjar submandibular dan capsulnya. ramus. akan menjadi bukti dan kutub paling bawah dari parotis dapat ditemukan. Pembukaan lebih jauh dapat dicapai dengan menarik sudut dan batas inferior dengan kawat atau forcep tulang. Submandibular nodus lympaticus dapat diidentifikasi berdekatan dengan pembuluh darah facial. diatas incisi submandibular (Gambar 2.28)19. melalui fascia cervicalis yang lebih dalam dengan menggunakan stimulus otot. Kerusakan kelenjar dapat menyebabkan salivarius. Insisi ketulang melewati muskulus masseter biasanya diantara margin mandibular dan cabang buccal dari nervus facialis.

Jaringan lunak dan nervus kemudian ditarik ke superior.5 . Insisi dibuat 45 ° pada zygoma dari arah superior telinga ke arah inferior perlekatan antara dagu dan telinga (Gambar 2. Lipatan preauricular didapat dengan menekan telinga dan tragus ke depan. Gambar 2.28 Insisi retromandibular19 Pendekatan Preauricular Insisi ini digunakan untuk melihat daerah TMJ dan dengan mudah diperluas melewati daerah temporal. Incisi ini memperlihatkan akses superior dari ramus dan regio subkondilus mandibula.29).batas inferior.29 Macam-macam Insisi untuk daerah TMJ19 165 . Pada insisi ini ditemukan pembuluh darah temporalis superfisialis. yang dapat dihindari dengan menginsisi sepanjang cartilago preauricular. Gambar 2. Insisi dibuat kira-kira sepanjang 2.5 cm pada daerah lipatan preauricular.3.

Mukosa diinsisi dengan pisau tegak lurus terhadap tulang untuk menjauhi nervus mentalis. Musculus mentalis terlihat dan harus diinsisi tegak lurus dengan tulang meninggalkan flap dari perlekatan otot ke tulang untuk penutupan (Gambar 6). dan penggunaan adhesif bandage pada dagu untuk mendukung musculus mentalis. Pertama dilakukan anestesi dengan lokal anestesi dan vasokonstriktor. Body. 166 .30 Akses Intra oral pada fraktur parasimpisis19 Pemotongan diteruskan ke arah subperiosteal untuk mengidentifikasikan mental neurovascular borde dibawah premolar kedua maka daerah fraktur terlihat. Bibir ditarik dan dibuat insisi curvilinear tegak lurus permukaan mukosa. Gambar 2. Bagian proksimal dari insisi harus disepanjang external oblique ridge. Insisi dibuat kurang lebih 5 mm dari mukogingival junction untuk mendapatkan stabilitas jaringan ketika penutupan. Setelah selesai perawatan fraktur muskulus mentalis dijahit dengan jahitan terputus. dagu ditarik ka arah lateral. Mukosa lalu ditutup.Akses Intra Oral Simpisis dan Parasimpisis Perawatan fraktur anterior mandibula dapat melalui incisi intraoral. Sudut dan Ramus Setelah dilakukan anestesi. setinggi oklusal plane mandibula.

Bahan yang diperlukan adalah: periosteotome bone rongeur mallet. Setelah itu baru kawat bisa diinsersikan. Gambar 2. cutting wire bone forceps.31 Interosseus wiring15 Transosseus wiring fixation20 Metode tradisional untuk stabilisasi tulang setelah dilakukan open reduction dengan menggunakan kawat untuk mengikat dan mengimobilisasi tulang (Gambar 2. 167 . key dan drill point stainless stell wire. Untuk fraktur multipel dan fraktur dengan pergerakan yang berat maka diperlukan penggunaan internal fiksasi yang dikombinasikan dengan fiksasi maksilomandibular. pistol drill.32). chisel. tehnik close reduction dengan fiksasi maxillamandibular sudah cukup untuk treatment frakturnya. sambil diberikan larutan normal salin.Internal fiksasi Untuk Pasien fraktur yang hanya mengalami fraktur yang sederhana serta masih terdapat gigi dan oklusi yang baik. 24 dan 30 Pembuatan lubang menggunakan bor berkecepatan rendah pada awalnya lalu kecepatan makin meningkat.

Ukuran dari lubang Orientasi dari bidang fraktur ke panjang tulang Teknik pemasukkan kawat pada fraktur : 1.32 Parameter pembuatan lubang dan pengikatan20 Hal yang harus diperhatikan pada penempatan penempatan lubang adalah : a. foramen mentalis dan akar gigi e. Kawat langsung dimasukkan ke dalam lubang yang telah dibor 2. Jarak garis fraktur pada outer cortex Jarak ke batas bawah Jarak garis fraktur pada inner cortex Kedekatan lubang dengan kanalis mandibularis. d.Gambar 2. b. f. Kawat dimasukkan melewati hipodermic needle 3. Dengan membuat kawat seperti hairpin loop Gambar 2.33 Teknik pemasukkan kawat20 168 . c.

Transosseus circum-mandibular wire 15 Fiksasi dengan Bone Plate dan Screw Metode ini menggunakan bone plate dan bone screw untuk menyatukan fragmen fraktur.34 Teknik simple wiring.34 Pelindungan jaringan pada pembuatan lubang20 Gambar 2. 169 . ada juga yang membulat sehingga dapat dipasang pada margo inferior mandibula (Luhr Mandibular Plate) Gambar 2. C.Gambar 2. B. Plate dipasang melintang melewati garis fraktur. Figure-of-eight wire. Jenis plate yang digunakan bermacam-macam ada yang yang lurus dengan beberapa lubang untuk dimasukkan screw (Gambar 11).3517. Walaupun menggunakan menggunakan fiksasi yang kaku diperlukan adanya penyesuaian oklusi terlebih dahulu sebelum dilakukan fiksasi. maka fragmen fraktur akan lebih stabil dan kaku selama penyembuhan.

B. Fraktur korpus mandibula.36 Penggunaan Plate dan Screw berdasarkan Champy Line 17 A B Gambar 2. Fiksasi dengan plate dan screw15 Gambar 2.38 Plat & Lag Screw17 170 .35 Luhr's Mandibular Plate17 Gambar 2.Gambar 2.37 A.

Pemasangan sekrup dimulai dari satu sisi terlebih dahulu kemudian menyebrang menyilang pada sisi plat satunya.5mm dengan kecepatan rendah menembus 1 korteks dikukur kedalamannya kemudian dipasang sekrup yang panjangnya sesuai dengan tebal satu korteks. Secara umum lamanya penggunaan IMF untuk orang dewasa dengan fraktur mandibula adalah 6-8 minggu. tidak trismus. Namun. Posisi plat jangan terlalu tinggi karena sekrup akan menembus saraf/akar gigi.Gambar 2. Untuk penggunaan bor. gangguan jiwa dan gangguan fungsi paru. Jangan tergesa melakukan fiksasi sebelum yakin oklusinya sudah sempurna. stabil dan arah obeng juga sesuai dengan arah bor sebelumnya. Tolak ukur keberhasilan operasi pemasangan plat mini maupun IOID wiring pada mandibula adalah oklusi yang baik.39 Fiksasi Intermaksiler17 Kontraindikasi penggunaan MMF . Permukaan tulang bersih dari jaringan ikat dan jaringan lunak sehingga plat betul-betul menempel pada tulang mandibula. Sering pasien berlanjut untuk kehilangan berat badan 171 . Gunakan mata bor diameter 1. lamanya penggunaan IMF ini bukan tanpa konsekuensi. penderita epilepsy. sebaiknya arah matabor tangensial.

pasien dengan problem nutrisi. pasien cacat secara psikososial.selama masa ini. Terlihat bahwa kasus pada tiap individu harus dievaluasi secara seksama. Juniper dan Awty mampu menunjukkan 80% fraktur mandibula yang dirawat dengan open reduction atau closed reduction dan IMF secara klinis menyatu dalam 4 minggu. fraktur yang terlambat dirawat. fraktur pada alkoholik. dan fraktur dengan pencabutan gigi pada garis fraktur16. mereka tidak mampu untuk kembali bekerja dan ada beberapa bukti yang menunjukkan adanya perubahan histologis pada TMJ. 172 . kebanyakan fraktur sederhana pada anak-anak menyatu dalam 2-3 minggu. Situasi yang secara umum membutuhkan IMF yang lebih lama: fraktur comminuted. pada orang dewasa 3-4 minggu dan pada pasien yang lebih tua 6-8 minggu.

23.19.22.24. Etiologi Data yang diambil dari etiologi terjadinya fraktur kondilus mandibula adalah sebagai berikut 8:       Kecelakaan kendaraan bermotor : 43% Penyerangan/perkelahian : 34% Kecelakaan kerja : 7% Jatuh : 7% Kecelakaan olah raga : 4% Penyebab lainnya : 5% Persentase terjadinya fraktur kondilus mandibula dibandingkan dengan lokasi lainnya pada mandibula sebagai berikut 19:       Body mandibula : 29% Kondilus mandibula : 26% Angle mandibula : 25% Simfisis mandibula : 17% Ramus mandibula : 4% Prosesus koronoideus : 1% 173 . Komplikasi yang sering terjadi akibat fraktur kondilus adalah ankylosis dan gangguan sendi temporomandibula 8.BAB III FRAKTUR KONDILUS MANDIBULA ( Fraktur TMJ ) Fraktur kondilus merupakan salah satu fraktur yang melibatkan sendi temporomandibula sehingga dapat menyebabkan gangguan sendi temporomandibula.21.19. Penatalaksanaan fraktur kondilus memerlukan perhatian khusus dan dapat dilakukan dengan metode tertutup atau konservatif dan terbuka atau bedah 8.

Seorang penderita dengan gigi-gigi yang terkunci pada saat terjadinya impak akan menyebabkan terjadinya suatu fraktur alveolar atau gigi 19.Diagnosa dan gejala klinis Jenis dan arah kekuatan trauma sangat membantu diagnosa. Pengetahuan arah kekuatan impak dapat membantu klinisi mendiagnosa fraktur dengan tepat. Gigitan terbuka pada fraktur kondilus25 Semua perubahan oklusi merupakan tanda adanya fraktur kondilus mandibula. Blow anterior yang langsung mengenai dagu dapt menghasilkan suatu fraktur kondilus bilateral.1. Obyek yang menyebabkan fraktur juga mempengaruhi jenis dan banyaknya fraktur. fraktur alveolar. Setiap penderita dengan 174 . Semua contoh tersebut hanya beberapa disharmoni oklusi multiple yang muncul akan tetapi setiap perubahan oklusi harus dipertimbangkan sebagai tanda awal suatu fraktur kondilus mandibula19. sedangkan blow ke arah parasimfisis dapat menyebabkan fraktur kondilus kontralateral atau angle mandibula. Perubahan oklusi dapat dihasilkan dari fraktur gigi. Pada pemeriksaan klinis harus ditanyakan pada penderita apakah gigitannya terasa berbeda. Kontak prematur gigi posterior atau gigitan terbuka anterior dapat disebabkan fraktur kondilus bilateral atau angle. fraktur mandibula pada semua lokasi dan trauma pada sendi temporomandibula serta otot-otot pengunyahan. Oklusi retrognatik biasanya berhubungan dengan fraktur kondilus atau angle dan oklusi prognatik dapat terjadi pada sangat menonjol pada fraktur sendi temporomandibula. Gambar 3. apabila obyeknya besar maka dapat menyebabkan fraktur lebih dari satu lokasi dan sebaliknya bila kecil akan menyebabkan satu jenis fraktur karena kekuatan impaknya hanya terkonsentrasi pada satu lokasi 19.

Kiri: deviasi mandibula ke arah fraktur. Meskipun demikian fraktur kondilus mandibula yang sesungguhnya atau berhubungan dengan fraktur fasial menghasilkan pergerakan mandibula abnormal. Gambar3. Kanan: pergerakan abnormal mandibula25 Gambar 3.2. Kiri: pergerakan normal mandibula. maka terjadilah suatu deviasi. Deviasi pada saat pembukaan ke arah sisi fraktur kondilus mandibula merupakan contoh klasik tanda fraktur kondilus. Kanan: efek tarikan otot pada fraktur kondilus25 175 .3.fraktur kondilus mandibula mempunyai keterbatasan pembukaan. Pergerakan mandibula lateral dapat dihambat oleh fraktur kondilus dan fraktur ramus dengan pergeseran tulang19. Deviasi terjadi karena otot pterygoideus lateralis yang berfungsi pada sisi yang tidak terpengaruh tidak dinetralkan oleh otot pterygoideus lateralisnya yang tidak berfungsi sisi berlawanan.

Asimetri wajah sebaiknya diperhatikan klinisi terhadap kemungkinan fraktur kondilus mandibula. Untuk melihat fraktur kondilus dapat dilakukan pemeriksaan radiolog dengan cara: panoramik. Klasifikasi fraktur kondilus menurut Lindahl (1977) didasarkan pada beberapa faktor. yaitu: (1) lokasi anatomis fraktur. lateral oblique mandibula. Rasa sakit. (2) relasi segmen kondilus terhadap segmen mandibula. towne’s view. Pemeriksaan mendalam terhadap kehilangan gigi dan tulang pendukung dapat membantu diagnosa fraktur alveolar. pembengkakan dan panas yang terlokalisir merupakan tanda yang awal yang sempurna suatu trauma dan meningkatkan indeks kecurigaan adanya fraktur mandibula19. kemerahan. Klinisi sebaiknya melakukan palpasi dengan menggunakan kedua tangannya. 176 .Pada pemeriksaan klinis sebaiknya memeriksa wajah dan mandibula dengan kontur yang abnormal. Pemeriksaan Radiologis Penetapan diagnosis dari fraktur kondilus dapat ditegakkan dar pemeriksaan radiologis yang sering digunakan sebagai dasar penegakan diagnosis. diikuti dengan mandibula bergeser ke bawah.27. Gambaran wajah yang memanjang diakibatkan fraktur subkondilus. body dan simfisis. meskipun pada kontur fasial mungkin tertutupi pembengkakan. angle atau body. Klasifikasi Menurut De Riu (2001) klasifikasi fraktur kondilus disesuaikan dengan lokasi anatomi (intrakapsuler dan ekstrakapsuler) dan derajat dislokasi kepala artikuler. (3) relasi kepala kondilus terhadap fossa glenoideus. dengan cara meletakkan ibu jari pada gigi dan telunjuk pada batas bawah mandibula secara hati-hati dan perlahan-lahan memberikan tekanan diantara kedua tangan hingga dapat mendeteksi krepitasi fraktur19. Teknik pencitraan yang lebih jauh adalah CT scan dan MRI digunakan untuk trauma yang lebih kompleks dari kondilus 26. posteroanterior mandibula dan transkranial mandibula.

Pada fraktur ini. Kepala kondilus mempunyai relasi normal terhadap fossa glenoid 177 . Regio ini terdapat di bawah leher kondilus dan memenjang dari titik terdalam sigmoid notch anterior hingga titik terdalam aspek konkaf poterior ramus mandibula. Fraktur ini merupakan fraktur ekstrakapsular. Deviated. fragmen tetap dalam kontak tanpa separasi atau overlap c. Leher kondilus merupakan daerah penyempitan tipis di bawah kepala kondilus. Ketinggian fraktur kondilus a. Relasi segmen kondilus terhadap fragmen mandibula a. Fraktur ini mungkin digolongkan sebagai fraktur vertikal. 2. akan tetapi sangat mudah untuk melihat penyempitan leher kondilus dan kepala kondilus bersandar di atasnya. Berdasarkan lokasi fraktur maka fraktur ini sering disebut sebagai fraktur subkondilus ”tinggi” atau “rendah”. Tarikan muskulus pterygoideus lateral menyebabkan fragmen bergeser ke arah medial d. Meskipun sangat sulit mendefinisikan dengan tepat kepala kondilus secara radiografik. Relasi antara kepala kondilus dan fossa glenoideus a. b. Leher kondilus. c. Nondisplaced.Sistim klasifikasi ini memerlukan pencitraan radiografik yang diperoleh sekurangkurangnya dua gambar dari sudut yang tepat 26. merupakan fraktur intrakapsular karena kapsul melekat pada leher kondilus. Kepala kondilus. Subkondilus. Displacement ke arah medial atau overlap lateral. melihat definisinya. 1. Displacement ke arah anterior atau overlap posterior e.Tidak ada kontak antara fraktur segmen 3. Fraktur kondilus. Nondisplaced b.

Adanya tarikan muskulus pterygoideus lateralis menyebabkan segmen kondilus terletak anteromedial.4 Klasifikasi menurut Lindahl19 Perawatan Perawatan fraktur kondilus mandibula masih kontroversial. eyelet 178 . rekonstruksi tersebut melibatkan hubungan antara segmen fraktur.19. Kepala kondilus tertinggal dalam fossa.b.21.28. Pengawasan yang ketat wajib dilakukan untuk melihat ketidakstabilan oklusi. Perawatan fraktur kondilus dapat dilakukan dengan cara konservatif atau metode tertutup dan bedah atau metode terbuka 8. Displacement. deviasi pad saat pembukaan. peningkatan rasa nyeri. keseimbangan maksilofasial. Metode tertutup atau konservatif Fonseca (1997) menyatakan bahwa komplikasi selama perawatan konservatif sangat jarang terjadi. Perawatan fraktur kondilus dengan cara konservatif sangat sederhana. Gambar 3. evaluasi klinis dan radiografi. Dislokasi. Indikasi perawatan fraktur kondilus dengan konservatif bila displacement yang terjadi minimal atau tidak ada atau bila garis fraktur terlalu tinggi sehingga sulit dilakukan stabilisasi secara bedah21. Tujuan perawatan fraktur kondilus adalah mengembalikan fungsi sistim pengunyahan seperti asalnya. oklusi. Immobilisasi melibatkan intermaxillary fixation (IMF) dengan menggunakan arch bar. terutama disebabkan banyaknya modalitas yang ditawarkan oleh berbagai macam literatur. tetapi ada gangguan sendi c.

wires atau splint.5 Pemakaian arch bar dan splint pada fraktur kondilus19 Metode terbuka atau bedah Perawatan dengan metode terbuka diindikasikan bila 19. derajat pergeseran dan danya fraktur tambahan. Selanjutnya bila penderita telah mempunyai kemampuan fungsional kembali dan oklusi tetap stabil serta rasa sakit minimal maka elastic guidance dan arch bar dilepas19.21.8. Periode ini dapat meningkat atau menurun tergantung pada umur penderita.8. Apabila intermaxillary fixation telah dilepas maka diikuti dengan penggunaan elastic guidance untuk mengarahkan mandibula pada posisi maximal intercuspation. Lamanya immobilisasi rata-rata sekitar 7 hingga 21 hari. Gambar 3.23:      Displacement kondilus ke dalam fossa cranial media Oklusi yang adekuat tidak mungkin didapatkan dengan metode tertutup Dislokasi kondilus ekstrakapsular lateral Fraktur kondilus bilateral pada pasien tidak bergigi Fraktur kondilus bilateral atau unilateral bila splinting tidak direkomendasikan karena keadaan umum pasien atau karena fisioterapi tidak memungkinkan.   Fraktur kondilus bilateral akibat fraktur wajah tengah comminuted Ankylosis kondilus mandibula akibat trauma dan tertunda perawatannya 179 .

(2) sistim Arbeitgemeinschaff fur Osteosynthesefragen/sistim Association for the Study for Internal Fixation (AO/ASIF) dengan penggunaan stainless steel compression atau plat rekonstruksi dengan bicortical screws dan (3) Teknik Champy miniplate digunakan sepanjang” line of ideal osteosynthesis” memakai moncortical screws8. setelah wires dilepas. ikatan diperkuat tiap minggu. dilakukan penilaian status sendi temporomandibula terutama jarak pembukaan. Apabila oklusi telah stabil maka elastic guidance dapat dilepas dan fisioterapi dilakukan dengan penempatan tongue-blade diantara insisif sentral untuk mencegah keterbatasan permanen ankylosis8. Pemakaian monocortical screws19 Kondilektomi merupakan salah satu teknik untuk membebaskan ankylosis dan tetap mempertahankan arsitektur sendi temporomandibula. yaitu: (1) sistim bikortikal Luhr dengan penggunaan plat vitallium. Gambar 3. Metode tersebut telah banyak menunjukkan keberhasilan dan jarang menimbulkan reankylosis. 180 .19. pergerakan mandibula dan gejala-gejala yang timbul selama sendi berfungsi.6. Apabila oklusi belum stabil maka penggunaan elastic guidance selama 2-3 minggu sangat dianjurkan agar adaptasi neuromuscular dapat tercapai.Tiga teknik yang terpisah untuk fiksasi rigid pada perawatan fraktur kondilus dengan metode terbuka. Pemakaian IMF dilakukan selama 3 minggu.

diikuti dengan pengawasan yang ketat serta perawatan fisioterapi selama setahun19. Risdon approach.Fiksasi intermaksiler diaplikasikan dalam periode yang pendek. inverted “hockey stick” approach. Metode pendekatan yang sering digunakan untuk melakukan kondilektomi. 181 . yaitu pre auricular approach. endaural approach. post auricular approach8.

7 Metode pendekatan bedah pada kondilektomi19 Gambar 3.21.24 : Maloklusi Maloklusi yang sering terjadi setelah trauma kondilus dapat disebabkan karena perubahan dari pusat pertumbuhan kondilus dan penyatuan dari segmen fraktur pada posisi yang tidak seharusnya.22.8 Pre auricular approach26 Gambar 3.8. 182 .9 Post auricular dan Risdon approach26 Komplikasi Komplikasi fraktur kondilus mandibula selama perawatan jarang terjadi dan yang paling sering terjadi 19.Gambar 3.

Hasil akhir kelainan tersebut akan menyebabkan keterbatasan pergerakan mandibula sehingga terjadi gangguan bicara. Gangguan pertumbuhan Beberapa factor yang mempengaruhi efek dari fraktur kondilus terhadap pertumbuhan kerangka wajah yaitu usia pasien. demikian pula dengan pembentukan jaringan parut fibrous di daerah cedera temporomandibular dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan Gangguan sendi temporomandibula lainnya Internal derangement akibat fraktur kondilus dihasilakan dari trauma langsung pada sendi. Deviasi ke sisi fraktur dapat terjadi pada unilateral. tingkat keparahan trauma. dan lamanya immobilisasi. hypermobility dan kadangkadang disk displacement. Gangguan seperti displacement mandibula dan aposisi tulang diregio kondilus dapat memyebabkan gangguan pertumbuhan mandibula. Kartilago kondilar merupakan pusat utama pertumbuhan mandibula. Kerusakan yang terjadi pada fraktur kondilus dapat menimbulkan dearangement sekunder pada sendi kontralateral sehingga terjadi overloading pada sendi yang tidak terkena injuri. Faktor-faktor ini berpengaruh pada pendekatan penatalaksanaan yang akan dilakukan.Ankylosis sendi temporomandibula Ankylosis dapat diklasifikasikan berdasarkan derajat keterbatasan. tempat dan tipe fraktur. Faktor lain yang mempengaruhi terjadinya ankylosis adalah umur pada saat terjadi injuri. lamanya immobilisasi dan kerusakan diskus. sedangkan pada bilateral ankylosis menunjukkan adanya gigitan terbuka anterior dan hampir pembukaan mulut hampir tidak ada 19. Gejala komplikasi tersebut di atas sering disebut dengan “condylar post fracture syndrome” 19. lokasi perlekatan dan tipe jaringan yang terlibat. Dimana cap kartilago memberikan tekanan sehingga mandibula tumbuh ke arah depan dan bawah. 183 . kesehatan mulut dan nutrisi.21.

Urutan lapis demi lapis struktur tulang dari luar ke dalam adalah: periosteum.1 Gambaran Histologis Struktur Tulang Karakteristik dari tulang mempunyai struktur yang bagian luarnya tersusun atas tulang kompak yang disebut kortek dan pada bagian dalam yang berbentuk seperti anyaman adalah tulang kanselus/spongious/trabecular. namun demikian tulang sangatlah kuat. substansia kompakta.BAB IV PENYEMBUHAN TULANG DAN KOMPLIKASI PASCA PENYEMBUHAN Tulang merupakan jaringan keras yang membentuk tubuh manusia. elastis serta mampu melakukan regenerasi bila mengalami trauma/fraktur 29. Di bagian dalam tulang terdapat rongga medula/sumsum tulang. limfe. 3. endosteum dan kavum medullare29. substansia spongiosa. dimana pada lapisan dalam periosteum terdapat pembuluh darah. dan sel-sel osteoprogenitor yang mempunyai potensi osteogenik yang sangat berperan aktif pada penyembuhan fraktur tulang. dimana tulang rahang termasuk dalam golongan tulang ini. yang dibatasi oleh endosteum yang juga mengandung sel-sel osteoprogenitor. Berat tulang hanya sepersepuluh dari berat badan. 184 . Lamela tulang yang mengelilingi kanal havers mempunyai lakuna yang mengandung osteosit yang mengatur aktivitas selular tulang29. Pada Tulang yang mengandung lebih banyak substansi tulang spongios dibanding tulang kompak disebut “cancellous”. Unit fungsional tulang disebut juga sistem havers atau osteon yang terdiri atas kanal havers sentral yang dikelilingi oleh lapisan konsentris tulang/ lamela. Tulang dilapisi oleh jaringan fibrous yang disebut periosteum.

Gambar 4. Unsur selular Terdapat tiga jenis sel utama tulang yaitu : Osteoblas. Sel ini berperanan dalam nutrisi tulang berupa transfer oksigen dan metabolit/ kalsium). Sel ini mengandung enzim lisosim seperti asam 185 . Gambaran Histologis Jaringan Tulang29 3.3 Osteoklas Osteoklas merupakan sel tulang yang berfungsi dalam resorbsi tulang. 2. 1. perbaikan dan remodelling tulang.1 Osteoblas Osteoblas berfungsi dalam sintesa matrik tulang yang berperan dalam pertumbuhan. 2. anorganik dan sel-sel tulang. Osteoblas berasal dari sel yang terdapat pada lapisan dalam periosteum atau dari diferensiasi sel-sel mesenkim. Unsur organik Unsur organik yang merupakan matrik tulang tersusun dari 28% kolagen dan 5% nonkolagen protein. osteosit dan osteoklas29 2. 2. 1.2 Osteosit Osteosit yang berasal dari osteoblas yang terperangkap dalam matrik tulang yang mengalami mineralisasi.2 Komposisi Tulang Komposisi tulang terdiri dari 8% air dan 92% benda padat yang tersusun atas unsur organik.

sebagai berikut : 1. 3. Pada beberapa bagian segmen tulang dapat terjadi adanya celah yang kecil.4 Penyembuhan Jaringan Keras Tulang Pada proses penyembuhan fraktur tulang terdapat fase penyembuhan primer dan sekunder. Bila sel ini berkontak dengan permukaan tulang maka akan berpenetrasi ke dalam tulang dan mengeluarkan enzimnya sehingga terjadi resorbsi tulang. Fungsi mekanis tulang meliputi: 1. 3. endosteum dan sistem havers akan menginvasi celah dan membawa sel-sel osteoblastik mesenkim yang akan mendeposit tulang pada fragmen fraktur tanpa 186 . Fungsi sebagai rangka 2. Pada bagian ini akan terjadi proses penyembuhan dalam waktu beberapa hari setelah fraktur. 3. Tempat perlekatan otot 4. dimana unsur utamanya berupa garam anorganik hidroksiapatit kristalin. Kristal tulang ini tersusun sejajar dengan sumbu serat kolagen. Pembuluh darah dari periosteum. Unsur anorganik Komposisi tulang secara kimiawi terdiri dari 67% bahan anorganik (Hydroxyapatite). biasanya reduksi anatomis yang sempurna jarang terjadi. Penyembuhan primer.3 Fungsi Tulang Tulang mempunyai dua fungsi utama yaitu: fungsi mekanis dan biokimia. Melindungi alat-alat tubuh penting.fosfat dan katepsin. Sedangkan fungsi biokimiawinya sebagai tempat penimbunan kalsium dan fosfor dalam proses menjaga keseimbangan kadar mineral di dalam darah. Ca10(PO4)6(OH)2.1 Penyembuhan pada celah (Gap Healing) Meskipun fiksasi stabil pada fragmen fraktur. 1. Persendian 3.

2.0 mm akan terisi oleh “woven bone” selanjutnya dalam ruang trabekula akan terisi oleh tulang lamela. Perdarahan pada pembuluh darah endosteum. sedangkan celah antara 0. Rekonstruksi lengkap dari kortek tulang memerlukan waktu hingga 6 bulan.5 1. Gambar 4. Proses ini terjadi melalui regenerasi tulang dimana terjadi aktivitas osteoklas pada bagian fraktur yang menyediakan tempat untuk pertumbuhan dan proliferasi osteoblas guna membentuk tulang baru.1 Tahap awal Pada fraktur tulang akan menimbulkan reaksi inflamasi disertai dengan pengaktifan sistem pertahanan tubuh yang menginduksi pelepasan sejumlah angiogenik vasoaktif sehingga terjadi vasodilatasi dan oedema dalam beberapa jam.3mm akan terbentuk langsung tulang lamelar. 1. 187 . Dalam waktu 6 minggu tulang lamelar akan tersusun tegak lurus terhadap fragmen fraktur. Bila fragmen fraktur kurang dari 0. periosteum dan sistem havers menyebabkan hematoma. kemudian proses remodeling akan merubah sejajar dengan sumbu tulang.melalui pembentukan kalus.2 Penyembuhan kontak (contact healing) Penyembuhan kontak terjadi pada fragmen fraktur yang tidak terjadi kontak. Penyembuhan primer 29 2. Penyembuhan sekunder 2.

12 jam akan terjadi proliferasi selular lapisan luar periosteum seperti osteoblas.3. Osteoblas bertambah banyak dan osteoklas mulai nampak. fibroblas bermigrasi dan membentuk kolagen selanjutnya berdeferensiasi menjadi kondroblas yang membentuk kartilago. Gambar 4. fibroblas dan sel kondrogenik (gambar 3). mastosit dan platelet.2 Tahap kalus kartilogenus (soft callus) Pada hari ketiga sampai kelima jaringan granulasi akan berkondensasi membentuk kalus yang terjadi baik internal maupun eksternal (gambar 3). Platelet akan berdegranulasi Zmelepaskan PDGF (Platelet Derived Growth Factor). Kalus yang terbentuk akan menstabilkan ujung fragmen 188 . terjadi kalsifikasi kartilago yang menyebabkan kondroblas berubah menjadi kondrosit. Terjadi pembentukan kapiler yang bersama kolagen yang berasal dari fibroblas membentuk jaringan granulasi. FGF(Fibroblastic Growth Factor) yang bersifat kemoatraktan dan mitogenik sehingga dalam waktu 8 . 29.fragmen tulang mengalami deposit tulang oleh sel-sel osteoblas dari periosteum. limposit. Keadaan ini memicu aktivitas sel makrofag untuk membersihkan jaringan nekrotik15. sedangkan sumsum tulang akan mengalami degenerasi lemak. makrofag. Pase awal stage fibroplastik pembentukan tulang15 2. Hematoma yang terjadi mengandung eritrosit . PMN. fibrin.30.

4 minggu. berfungsi untuk menjamin hubungan antara keseluruhan kalus dengan fragmen tulang.4. Terdapat beberapa jenis kalus tulang primer. volumenya semakin meningkat mendekati garis fraktur membentuk lepeng tulang yang menutupi rongga sumsum.30. Pase akhir stage fibroplastik pembentukan tulang15 2. 189 . kemudian osteoid mengalami kalsifikasi menjadi tulang yang tersusun acak (woven bone).3 Tahap kalus tulang (hard callus) Proses ini terjadi dalam waktu 3 .fraktur sehingga menguatkan tulang. Osteoblas akan mendepositkan osteoid pada kartilago yang mengalami kalsifikasi. Gambar 4. Sel-sel jaringan ikat pada daerah ini akan berdifrensiasi jadi osteoblas dan menghasilkan substansia spongiosa yang melekat erat dengan permukaan tulang. Sealing Callus: Berfungsi menutupi rongga sumsum yang terbuka dan berkembang dari bagian dalam kortek tulang. selanjutnya berubah menjadi tulang lamela pada tahap remodeling29. 29. Terbentuk akibat proliferasi endosteum dan membentuk trabekula tulang yang susunannya tidak teratur. yang dikelompokkan berdasarkan pada letak atau berdasarkan pada fungsi dan urutan pembentuknya: Anchoring Callus: Terbentuk jauh dari fragmen fraktur dan mendekati ke arah bridging callus.30 . kalus kartilagenous terisi oleh pembuluh darah yang akan meningkatkan tekanan oksigen dan nutrisi yang akan memacu aktivitas osteoblast 15.

setelah reduksi dan fiksasi. Uniting callus: Terbentuk sepanjang garis fraktur dan berfungsi menyambungkan kedua fragmen fraktur. 190 . Saat pembentukan anchoring callus. Fragmen tidak bergerak dan tidak ada krepitasi 4. Tidak ada rasa nyeri 3. selain akan dilepaskan protein morphogenetik tulang (BMP) yang bersifat mitogenetik yang menginduksi diferensiasi sel-sel mesenkim menjadi osteoblas untuk pembentukan tulang sehingga kontur tulang kembali pulih29. Pada daerah fraktur kalus dapat diraba sebagai masa bulat dan padat 5. serta minimal 1 kali setiap bula selama perawatan serta foto diambil minimal dari dua arah berbeda.30. dan dilakukan sebelum perawatan.6 Gambaran Radiologis Penyembuhan Fraktur Pemeriksaan radiologis penting untuk diagnosa dan membantu dalam evaluasi perawatan. 3.5 Tanda-Tanda Klinis Penyembuhan Fraktur 1. Gejala hematom menghilang 2. kartilago hialin. 3. Dalam remodeling akan terjadi resorpsi tulang oleh osteoklas.4 Tahap remodeling Osteoklas dan osteoblas merupakan sel yang sangat berperanan dalam remodeling tulang.Bridging Callus: Fungsinya sebagai jembatan dari kedua fragmen fraktur dan volumenya paling banyak jika dibandingkan dengan jenis kalus lainnya. ossifikasi (pada saat substansia spongiosa anchoring callus telah mencapai kartilago) hingga membentuk tulang baru. Secara fungsional organ telah dapat dipergunakan tetapi masih perlu dibatasi. ossifikasi terjadi pada jaringan ikat diantara fragmen fraktur dan juga ossifikasi tersebut dapat terjadi secara langsung. terjadi pula diferensiasi pada daerah bridding callus fibrokartilago. 2.15.

pterigoideus lateralis dan medialis. sehingga dalam melakukan penanganan fraktur mandibula harus benar-benar diperhatikan biomekanik yang terjadi. berdasarkan arsitektur tulang. Konsep biomekanik pada perawatan fraktur mandibula perlu dipahami sebab keadaan statik dan dinamik dapat mempengarui proses penyembuhan fraktur. yaitu otot masseter.Gambaran radiologis proses penyembuhan: Secara klinis terjadi penyatuan fragmen fraktur dan secara histopatologis telah terbentuk penulangan namum secara radiologis belum tampak gambaran radioopak yang jelas. nampak adanya trabekulasi sepanjang garis fraktur atau tempat penyatuan. Sedangkan otot yang berperan untuk menutup mulut adalah m. Pada waktu membuka mulut. Tujuan dari semua terapi fraktur ialah mengembalikan bentuk dan fungsi seperti semula. Gambaran rdioopak nampak jika telah terbentuk kalus sekunder. sedang kekuatan menggigit daerah incisivus ±10kg. maka yang berkontraksi adalah m. molar ±15 kg. Hal tersebut dapat dicapai dengan melakukan imobilisasi menggunakan fiksasi internal dan eksternal . Gerakan mandibula dipengaruhi oleh empat pasang otot yang disebut otot-otot pengunyah. bentuk dan perlekatan ototnya mandibula dapat digambarkan sebagai sebuah struktur yang mengubah tekanan yang diterimanya menjadi suatu 191 . Rahang bawah memiliki bentuk anatomis yang unik. 3. disusul m pterigoideus lateralis bagian superior ( yang berinsersi pada kapsul sendi) saat mulut membuka lebih lebar. Pterigoideus medialis. temporalis. Otot digastricus bukan termasuk otot pengunyah tetapi mempunyai peranan yang penting dalam fungsi mandibula. Pterigoideus lateralis bagian inferior.7 Biomekanik Mandibula Mandibula memiliki mobilitas dan gaya yang sangat banyak. Pada tulang yang telah sembuh sempurna radiolusensi garis fraktur hilang dan diganti gambaran radioopak yang sulit dibedakan dengan radiopasiti pad jaringan tulang normal. Temporalis dan masseter dan diperkuat lagi oleh m. Kekuatan dinamis dari otot pengunyah orang dewasa pada gigi seri ± 40kg. geraham ±90kg.

6 tension site (+) dan compression site (-) pada mandibula Gambar. prinsip perawatan dilakukan dengan mempertimbangkan kekuatan-kekuatan pada kedua sisi dari aksis imajiner tersebut. Secara umum. Gambar 4.14. (3. Kekuatan kompresi dihasilkan sepanjang daerah basal mandibula sedangkan kekuatan tensi terdapat pada sepanjang daerah alveolar. sedangkan tension trajectory dengan menggunakan arch bar yang berfungsi sebagai tension band.15. sehingga kedua kekuatan tegangan yang berlawanan tersebut harus dinetralisir untuk mendapatkan reduksi fungsional yang stabil. Tension band berfungsi untuk mengurangi kekuatan yang membengkokkan yang terjadi di bagian alveolar atau kekuatan menahan yang menjauhi plat. Plat sudah cukup stabil untuk menetralkan shear dan torsional stress.7 tension line pada mandibula3 Hal ini dapat ditempuh dengan penggunaan plat dan tension bar system yang secara individual berbeda tergantung dari lokasi dan tipe frakturnya.bentuk daya tensi dan kompresi. pressure trajectory yang menghasilkan kekuatan kompresi pada mandibula kemudain terjadi distorsi misalnya di rahang yang fraktur dapat diperbaiki dengan pemasangan plat osteosintesis.16) 192 . 4. Pada waktu mandibula mengalami fraktur. Aksis tranversal imajiner yang terletak kira-kira sepanjang kanalis mandibula memisahkan prosesus alveolaris yang merupakan daerah tegangan atau disebut dengan tension area dari daerah basal mandibula yang merupakan daerah kompresi atau disebut dengan compression area.

(17) Selain menggunakan dua miniplate dapat juga digunakan SNT plate untuk fraktur di regio symphisis. Komplikasi Adapun komplikasi yang dapat terjadi pada penyembuhan tulang adalah15 : 1. jaringan fibrous diantara fragmen tulang 193 . serat oto. Stabilisasi fragmen tulang yang fraktur di regio ini digunakan dua miniplate dengan jarak antar plat kurang lebih 5mm untuk menetralkan kekuatan rotasi pada daerah symphisis tersebut.Gambar 4. Delayed union dan nonunion Delayed union adalah keterlambatan penyembuhan karena: Adanya interposisi diantara jaringan lunak diantara fragmen Fiksasi yang kurang baik Kurangnya reparatif vital dari tubuh karena gangguan sistemik Sedangkan pada nonunion tidak terjadinya penyembuhan atau tidak bersambungnya ujung-ujung tulang yang fraktur kecuali dilakukan pembedahan untuk memperbaiki fraktur tersebut. Hal ini bisa disebabkan karena : Fragmen-fragmen tulang tidak ditahan dengan rigid Fraktur dibiarkan terlalu lama Alat Fiksasi terlalu cepat dibuka Adanya jaringan lunak. hal ini disebabkan karena banyaknya muskulus dasar mulut yang melekat pada bagian ini sehingga apabila terjadi fraktur pada bagian ini maka dapat timbul rotasi.8 momentum gaya pada mandibula 11 Kekuatan torsional pada mandibula terdapat pada bagian symphisis mandibula.

pasien yang kurang koopertif. b.- Gangguan sistemik atau penyakit kronis Delayed union dan nonunion dapat terjadi pada 3 % dari kasus fraktur. dan juga faktor lokal seperti reduksi dan fiksasi yang buruk.9. dapat juga disebabkan oleh : a. Reduksi Inadekuat Dapat disebabkan oleh distraksi fragmen fraktur oleh traksi otot atau oleh interposisi jaringan lunak antara fragmen fraktur. penyebaran infeksi dari jaringan sekitarnya. Infeksi Infeksi dan osteomielitis merupakan komplikasi yang paling sering terjadi. Fistula pada fraktur mandibula anterior setelah open reduction15 3. Gangguan pada penyembuhan tulang (Malunion) terjadi karena kegagalan transformasi hematoma menjadi matrik osteogenik sehingga yang terbentuk jaringan fibrous nonosteogenik. Fiksasi inadekuat 194 . Malunion Malunion dapat dijelaskan sebagai penyatuan fraktur tulang dimana displacement tulang masih terlihat. 2. Dapat disebabkan oleh faktor sistemik seperti alkoholik dan tanpa penggunaan antibiotik. tanpa penggunaan antibiotik dapat terjadi lebih dari 50% kasus fraktur. tindakan debridemen yang kurang sempurna dan sterilisasi yang kurang baik . Gambar 4. Pada beberapa penelitian. pemberian obat-obatan yang kurang adekuat .

Injuri nervus Injuri pada nervus alveolaris inferior biasa terjadi pada fraktur korpus dan angulus mandibula.Seringkali mengakibatkan mobilitas dari fragmen fraktur sehingga terjadi “delayed union” . d. 5. Infeksi Infeksi dapat menimbulkan osteomielitis baik yang mengakibatkan periosteum dan jaringan lunak yang berdekatan tidak berfungsi sehingga terjadi pembentukan lapisan fibrous penyatuan tulang. 195 . penyakit yang mengganggu aktivitas yang menghalangi menimbulkan reduksi tekanan oksigen selular pada proses penyembuhan tulang. bila pergerakannya melebihi ambang batas fisiologis maka pembuluh darah kapiler akan terputus dan metabolisme penyembuhan tulang akan terganggu karena hilangnya suplai nutrisi. e. Faktor sistemik Kekurangan vitamin C dan D mengakibatkan gangguan pada metabolisme kolagen dan proses mineralisasi tulang. c. usia. 4. Kerusakan syaraf bisa disebabkan karena trauma yang hebat pada waktu kecelakaan atau terputusnya syaraf oleh fragmen tulang. Gangguan pertumbuhan Gangguan pertumbuhan yang merupakan akibat dari trauma pada kondilus dapat diakibatkan oleh trauma langsung pada kondilus atau karena fibrosis atau scarring dari jaringan disekitarnya. Vaskularisasi Menurunnya vaskularisasi oleh karena trauma.

Selanjutnya pada proses remodeling sampai terjadi rekonstruksi lengkap korteks tulang membutuhkan waktu 6 bulan31. Trismus karena adanya fibrosis atau disfungsi atropi dari otot-otot pengunyahan. 196 .Gambar 4.8 Lama Penyembuhan Tulang Proses penyembuhan tulang sampai terbentuknya tulang lamela membutuhkan waktu hingga 6 minggu. 3.10 Hipoplasia mandibula akibat fraktur kondilus bilateral15 6.

segmen dento alveolar. Pengelolaan fraktur kondilus mandibula harus sesegera mungkin berdasarkan diagnosa yang akurat sehingga dapat mengurangi atau menghilangkan komplikasi yang akan timbul 197 .BAB V KESIMPULAN Mandibula merupakan fraktur kedua yang palling sering terjadi pada tulang maksilofasial dikarenakan posisi dan bentuknya yang membusur. angulus. tehnik operasi yang benar terutama dalam pencapaian oklusi mandibula. Hal ini dapat dicapai dengan pemilihan modalitas yang tepat. Sebagai tambahan juga usia pasien. Lokasi dan pola dari fraktur dapat dibagi berdasarkan mekanisme dan arah dari trauma. berbicara dengan normal dan menciptakan pergerakan artikulasi seperti sebelum terjadinya trauma. simfisis dan parasimfisis. Lokasi fraktur mandibula terbanyak pada kondilus. Perawatan fraktur mandibula terdiri dari dua macam yaitu dengan menggunakan metode tertutup atau dengan menggunakan metode terbuka Harus diperhatikan indikasi dan kontra indikasi bila akan dilakukan perawatan fraktur mandibula dengan metode terbuka. dan prossesus koronoideus. Pemberian diet yang tepat dapat menjaga kesehatan pasien. serta perawatan pasca operasi dan rehabilitasi. ramus. Dalam tatalaksana fraktur mandibula perlu dipahami biomekanik mandibula sehingga dapat diperkirakan letak fiksasi yang benar dan didapatkan hasil yang memuaskan. korpus mandibula. keberadaan gigi-geligi dan karakteer fisik. Restorasi fungsi mandibula sebagai bagian dari sistem stomatognati harus mencakup kemampuan untuk mastikasi yang baik.

last update 21 Desember 2010 9. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Sjamsuhidajat. Pakistan. L. Jakarta. Penerbit buku kedokteran EGC. G. 2006. Barrera J. Boies L. R. 12:39-41. A. Jakarta 6. 2005. Anatomi Klinik untuk mahasiswa kedokteran. Jakarta. Edisi 2.pdf. Ajmal S. 4. Mandibular Fractures. Khan M.edu. C.1996. Jong W D. Available at http://emedicine. R.DAFTAR PUSTAKA 1. Thapliyal C. issue 3. Penerbit buku kedokteran EGC. Available at http://emedicine.com/article/1283150-overview Desember 2010 5. Management protocol of mandibular ractures at Pakistan Institute of Medical sciences. Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Indonesia. Laub D. A. Malik S. 3. Management of Mandibular Fractures. Adams G.medscape. Edisi 6. Boies Buku Ajar penyakit THT. 2007. Bab VII. Buku ajar ilmu kesehatan Telinga Hidung Tenggorokan Kepala Leher. 198 . E. Higler P.medscape. Jakarta. Available at http://www. Chakranarayan S.pk/JAMC/PAST/19-3/13%20Samira%20Ajmal. 8. P. Soepardi E A. Iskandar N.nic.. pemasangan Penanganan Arch-Bar. Snell R. Facial Trauma. 7. Sinha C.in/maa/t08/i3/maat08i3p218. Batuello T. J Ayub Med Coll Abbottabad. L. Islamabad. Buku Ajar Ilmu Bedah. 1997. R. 2010.ayubmed.2009. Available at last update 12 http://medind. Volume 19. Jadoon H. Mandibular Angle Fractures: Treatment. 2007. Sugiharto Mandibula Setyo. last update 12 Desember 2010. hal 132-156. A. pada Hardjowasito Anak Widanto. Menon C.pdf last update 12 Desember 2010 2.com/article/868517-treatment. 2006. Edisi 6. Fraktur Majalah dengan Kedokteran Unibraw. A. G. S.

W. Louis: Churchill Livingstone. Oral and Maxillofacial Trauma. 1997. Tucker. 89-95. Hal: 1-16 22. St. Hal: 1-9. 16. 17. In management of temporomandibular disorder and occlusion . 15. Keith L Moore. Pedersen. 2. 1996. St Louis. L. Mosby. Vol. Murtedjo Urip. Churchill Livingstone. 2. Surabaya.W. Trauma Maksilofasial Diagnosis dan Penatalaksanaannya. et all. Oral and Maxillofacial Trauma. et al. Oral and Maxillofacial Surgery. et al. Louis: Mosby.10. R. Widell T. St Louis: Elsevier.2005. 98. J and Frame J.1993. Philadelphia: W. Ankylosis of TMJ. Wijayahadi R Yoga. 4th ed. Edisi 1. WB Saunders Co.J. et al.J. et all. 14. 2nd ed. 199 . Divisi Ilmu Bedah Kepala & Leher SMF/Lab Ilmu Bedah RSDS/FK Unair Surabaya:25-26. Chaudhary A 2002. London. Philadelphia 19. P. Vol.J.2001. 3rd ed. Peterson. Temporomandibular Joint Syndrome. Hal:1-3 23.1996. Fractures Mandible. Clinically Oriented Anatomy. Third ed. 58-63. 18. Fonseca. Vol 2. G. St. eMedecine Journal..100. 1995. Edinburg: Churchill Livingstone.125-132 11. Okeson JP.Vol 3. Oral and Maxillofacial Surgery eJournal. David DJ. 2001.2007. Okeson Jeffrey P. 20. Hal : 270-283. Principle’s of Oral and Maxillofacial Surgery. Fonseca . 2006. Maxillofacial Surgery. William-Wilkins hal:143-148 12. Pedlar. 2002. eMedecine Journal. Second ed. 3rd . Oral and Maxillofacial Surgery. Peterson: et al. 1997. Booth. 71-71. 21. Buku Ajar Praktis Bedah Mulut . R.W. Saunders Co. SR.B. St Louis 13-21 13. Craniomaxillofacial Trauma. Functional anatomy and Biomechanics of the masticatory system. Mosby Co. 2004.

Surgery. 200 . p.. 1988. Facial Injuries. 25. JE. Int J Oral Maxillofac Surg. 30: 384 – 389 27. A comparison of open and closed treatment of condylar fractures: a change in philosophy .. 111-44 29. London. 2002. Norman.. Hal :1-13. Hal: 386-404. De Riu G.Inc. Gamba U..1991. Larsen PE. Sounders Co. Disorders. Bone In Ten Cate’s Oral Histology. Condylar and Subcondylar.. Sesenna E. Fundamental of Ortopedic Surgery. Feinberg SE.. Bianco P. Bramley.24. 1990.2001.Lewis DD. Schultz RC. London. 6thed St.. Goldman KE. Cross AR. Nanci A.. WB. Wolfe Medical Publications Ltd. Fracture Management Bone Healing and Grafting. 2003. Anghinoni M. 26. Diseases. Hal: 26-51. Fractures Mandible. 28. Mosby. Philadelphia. 30. louis. Whitson SW. A Textbook and Colour Atlas of the Temporomandibular Joint. Oral and Maxillofacial Trauma. P. Vol 2. Year Book Publishers.

reduksi. dan perawatan bedah pada wajah. Le Fort. fiksasi. Pola fraktur yang terjadi pada maksila biasanya mengikuti area terlemah pada kompleks midfasial. evaluasi. dan III. Kata kunci: Fraktur. pemeriksaan.Fraktur Maksila (Le fort I. Maksud dari penyusunan makalah ini adalah untuk menggambarkan mengenai tipe-tipe fraktur pada maksila. tergantung pada organ-organ yang terlibat. biasanya dapat menyebabkan jejas atau fraktur pada maksila dan tulang-tulang di sekitarnya. 201 . serta penanganannya agar diperoleh hasil pemulihan yang optimal. Le Fort mengklasifikasi pola fraktur pada maksila menjadi fraktur Le Fort tipe I. II. Penanganan dan rehabilitasi pasien dengan trauma pada maksila meliputi pemahaman terhadap jenis. trauma. II. III) Nurwahida 160121120008 Peserta Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut Dan Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Bandung Abstrak : Suatu trauma yang mengenai bagian tengah wajah.

202 .1 Pada daerah maksila ini perdarahan disuplai oleh arteri palatina mayor bersama-sama dengan arteri alveolar superior dan posterior yang bermuara pada palatum durum dan mole. Fraktur yang disebabkan trauma ini bisa terlokalisir atau muncul dalam kombinasi. Pada regio anterior cabang terminal dari arteri naso palatinus keluar pada foramen insisivus dan mereka mensuplai mukoperiosteum dan palatum bagian anterior. 3. Sedangkan persyarafan melalui divisi kedua dari nervus trigeminus. Nervus ini muncul dari foramen infra orbital dan kemudian berjalan untuk mensyarafi nasal lateral. Melibatkan jalan nafas. yang harus dilakukan tindakan cepat dan langsung.BAB I PENDAHULUAN Fraktur maksila adalah suatu keadaan dimana hilangnya kontinuitas dari tulang maksila dengan tulang pendukung disekitarnya ataupun dengan bagian – bagian dari tulang masksila itu sendiri. sehingga membantu dalam proses penyembuhan yang cepat. Menampilkan oklusi gigi. yang dapat membantu sebagai pedoman dalam mengembalikan perlekatan dan stabilisasi fraktur. Terdapat suplai darah yang sangat bagus ke wajah. termasuk juga mensyarafi labial dan gigi-gigi anterior. 2. labial superior dan regio palpebral inferior. Fraktur ini termasuk yang serius karena menyangkut struktur penting lainnya yang berdekatan seperti rongga hidung.2 Fraktur pada daerah ini mempunyai gambaran yang unik dibandingkan dengan injury pada bagian tubuh yang lain seperti : 1.kombinasi. sinus maksilaris. rongga mata bahkan dapat melibatkan kerusakan di otak baik secara primer maupun sekunder dari penyebaran infeksi.

Nervus ini muncul dari foramen infraorbital dan kemudian berjalan untuk mensyarafi nasal lateral. 3 Gambar 1. dan septum nasal. Pada regio anterior cabang terminal dari arteri naso palatinus keluar pada foramen insisivus dan mereka mensuplai mukoperiosteum dan palatum bagian anterior. Tetapi midfasial tidak 203 . zigoma. tulang nasal. labial superior dan regio palpebral inferior.4 Pada daerah maksila ini perdarahan disuplai oleh arteri palatina mayor bersama-sama dengan arteri alveolar superior dan posterior yang bermuara pada palatum durum dan mole. melawan dan mengusir tekanan infrasuperior melalui beberapa tahanan. Sedangkan persyarafan melalui divisi kedua dari nervus trigeminus. ANATOMI MAKSILA Midfasial menghubungkan basis kranii dengan dataran oklusal.2 Kompleks midfasial dilengkapi oleh struktur dukungan vertikal untuk menahan tekanan dari bawah. Midfasial secara efektif menyerap. Ia menyediakan pondasi kepada proyeksi fasial anterior sambil memberikan perlindungan kepada basis tengkorak dan berperan sebagai jangkar kepada ligamen fasial dan perlekatan otot. Disartikulasi tulang midfasial menggambarkan anatomi maksila.BAB II TINJAUAN PUSTAKA I. termasuk juga mensyarafi labial dan gigi-gigi anterior. Tulang midfasial terdiri dari rangkaian penebalan vertikal. sagital dan horizontal yang menutupi sinus.

Pilar nasomaksilaris memanjang dari apertura piriformis dari kaninus dan anterior maksila melalui prossesus frontalis dari maksila dan naik ke cerukan lakrimal dan dinding medial orbita ke os frontalis.3 Gambar 2 menunjukan pilar vertikal terdiri dari pilar medial atau nasomaksilari (V1). Pilar zygomticomaxillary memanjang tulang alveolaris di atas molar I maksila melalui korpus zygoma naik ke prossesus frontalis dari zygoma ke os frontalis. pilar pterygoid mengubungkan maksila ke lempeng pterygoid dari os sphenoidalis dan memberikan stabilisasi kepada dataran vertikal dari midfasial. rima infraorbita (H2) dan prossesus dentoalveolar dan palatum (H3). serta pilar sagital (S1). Sisi posterior. pilar lateral atau zigomatikomaksilari (V2). zygomaticomaxillary (lateral) dan pterygomaxillary (posterior). Pilar medial dan lateral memberikan tahanan anterior. Pilar midfasial horizontal meliputi rima orbita superior dan anterior juga palatum durum. Pilar vertikal dan pilar horizontal. Struktur dukungan vertikal pada midfasial terdiri atas pilar nasomaksilaris (medial). memandang midfasial mudah untuk kolaps dan mudah bergeser pada segmen sentral. Lengkung zygoma menyediakan satu-satunya pilar sagital.dilengkapi dengan kemampuan menahan tekanan dari lateral dan frontal. dan pilar posterior atau pterygomaxillary (V3) yang berfungsi menahan tekanan kepada basis kranii.3 Dukungan superior pada pilar ini adalah arkus yang dibentuk oleh rima orbita superior dan inferior dan arkus zygomaticus. Pilar horizontal meluas sepanjang rima supraorbita (H1). 2 Gambar 2. memberikan 204 .

Trauma langsung adalah apabila fraktur terjadi pada bagian yang terkena trauma. Faktor predisposisi: Yang dimaksud dengan faktor predisposisi adalah faktor yang dapat menimbulkan fraktur selain dari faktor utama. A. III. wajah tengah terlibat pada 40% 205 . 3 II. Tanpa termasuk fraktur nasal.dukungan struktural kepada fungsi dari mata. tumor. perkelahian (24%). 2. Bila resorbsi tulang meluas akibat penyebaran penyakit ini maka dapat terjadi patah tulang spontan tanpa trauma. hidung dan mulut. B. Penebalan-penebalan tulang ini memberikan tempat untuk aplikasi pelat fiksasi guna memastikan dukungan dan penyembuhan yang maksimal. olah raga (2%). Lengkung zygoma berfungsi sebagai satu-satunya pilar sagital (S1). kecelakaan kerja (4%).3 Rekonstruksi defek struktur midfasial membutuhkan rekonstruksi dari pilar-pilar ini untuk mengembalikan pola tahanan normal pretrauma dan parameter biomekanikal yang penting untuk mempertahankan integritas struktur skeletal. Trauma dapat menyebabkan terjadinya fraktur secara langsungt maupun tidak langsung. ETIOLOGI Penyebab fraktur dapat dibagi menjadi dua golongan yaitu faktor predisposisi dan faktor luar. 1. kista. Seperti penyakit yang berupa infeksi periapikal. Trauma tidak langsung adalah apabila fraktur terjadi pada tempat yang jauh dari lokasi trauma. EPIDEMIOLOGI Penyebab utama dari fraktur maksila adalah kecelakaan lalu lintas (60%). Penyakit ini biasanya menyebabkan tulang menjadi rapuh ataupun melunak. Faktor utama Faktor utama terjadinya fraktur pada tulang maksila adalah disebabkan oleh trauma baik yang datang dari luar maupun dari dalam. osteomielitis. luka tembakan (2%). jatuh (9%).

mukosa atau jaringan periodontal untuk berhubungan dengan dunia luar (opened fracture). cedera servikal (10%). 5. 6. dimana Le Fort I mencapai 30 %.yaitu: 1. cedera skeletal (30%) ditemukan pada pasien dengan fraktur midfasial. Tulang pada fraktur ini pecah menjadi fragmen-fragmen yang kecil. dan fraktur ini dapat terbuka atau tertutup. 2 A. 2. Kejadian cedera bersamaan dengan trauma kepala (50%). Impacted fracture : Fraktur yang menyebabkan fragmen tulang yang satu tertekan masuk kesisi fragmen fraktur yang lainnya. Simple fracture : Fraktur yang tidak menyebabkan luka terbuka atau tidak berhubungan dengan lingkungan luar. Comminuted fracture : Fraktur yang menyebabkan tulang hancur atau splintered. jaringan periodontal atau kulit (closed fracture).dari seluruh kasus. cedera abdominal (15%). 206 . 7.3 IV. Le Fort II mencapai 42%. Para ahli sepakat bahwa distribusi frekuensi fraktur Le Fort yaitu tipe II > tipe I > tipe III. 3. MENURUT JENISNYA. Fraktur maksila dapat dibedakan atas jenis. KLASIFIKASI FRAKTUR MAKSILA Klasifikasi fraktur maksila dapat dibedakan menurut jenis frakturnya dan lokasi dari fraktur pada daerah tulang maksila itu sendiri. dan Le Fort III mencapai 28% dari seluruh kasus Le Fort. Single fracture : Fraktur yang memiliki satu garis fraktur saja atau disebut juga fraktur tunggal.jenis atau bentuk dari fraktur itu sendiri. yaitu melalui mukosa. 4. Complicated fracture : Fraktur yang melibatkan jaringan lunak sekitarnya atau bagian sekitarnya ikut menjadi rusak. Multiple fracture : Fraktur yang melibatkan dua atau lebih garis fraktur pada tulang yang sama dan masing-masingnya saling tidak berhubungan. Compound fracture : Fraktur dengan luka terbuka yang melibatkan kulit.

B. terjadi pada tulang yang kalsifikasinya belum sempurna. Tahun 1984 Fraktur maksila dibagi atas 4 golongan yaitu :  Fraktur Horizontal ( Le fort I ) Seluruh maksila terpisah dari dasar tengkorak. Horizontal maxillary fracture.8. Guerin Fracture. Menurut THOMA tahun 1969 Fraktur maksila dibagi atas 4 golongan yaitu:    Fraktur prosesus alveolaris dan prosesus palatine Fraktur horizontal (Transverse maxillary fracture. MENURUT LOKASINYA Sedangkan menurut lokasi terjadinya fraktur tersebut telah banyak klasifikasi dibuat olah para ahli seperti: 1. KRUGER. Craniofacial disjunction fracture) Fraktur pyramidal yang menyangkut tulang-tulang hidung dan maxilla. Menurut GUSTAV O. tulang zygoma dan tulang  hidung. Le fort I fracture) Fraktur trasversal yang menyangkut orbital. Incomplete fracture : Fraktur dimana tulang tidak patah sama sekali atau tidak putus. garis fraktur terdapat diatas palatum tetapi dibawah perlekatan prosesus zygomaticus. 9. Fraktur ini dapat terjadi unilateral tetapi berbeda 207 . 2. (Transverse facial fracture. seperti tulang anak-anak. Displaced fracture : Fraktur yang mengalami perubahan letak dari garis frakturnya sendiri 10. Fraktur pada maksila dapat terjadi salah satu dari jenis fraktur diatas tetapi juga bisa berupa kombinasi dari bermacam – macam fraktur serta dapat melibatkan fraktur pada tulang lainnya yang berdekatan dengan maksila. Distracted fracture : Fraktur yang mengalami dislokasi dari segmentsegment fraktur atau perubahan letak tanpa merusak jaringan sekitarnya.

dengan fraktur prosesus alveolaris karena pada fraktur alveolaris tidak disertai dengan perluasan kedaerah garis tengah palatum  Fraktur Pyramidal ( Le fort II ) Garis fraktur melalui aspek fasial maksila. sehingga dinding samping tulang mata terpisah melalui sutura zygomaticofrontalis  Fraktur Multiple Merupakan kombinasi dari ketiga macam fraktur diatas. Menurut LE FORT : Fraktur Le fort adalah fraktur bilateral horizontal dari rahang atas dan dibagi menjadi 3 jenis Le fort fraktur. meluas kebagian atas tulang hidung dan tulang ethmoid biasanya sinus maksilaris ikut tersangkut. 4. melibatkan sebagian dari dinding sinus maksilaris. Horizon maxillary fracture ) Garis fraktur melintang melalui bagian atas dari prosesus alveolaris. Floating maxilla. 3. daerah tulang hidung dan tulang ethmoid terus ke arcus zygomaticus. palatum dan bagian bawah dari prosesus pterygoideus dan tulang sphenoid  Le fort II ( Pyramidal fracture ) 208 . Menurut ARCHER Fraktur maksila cukup dibagi atas 2 golongan saja yaitu:  Fraktur dimana sebagian tulang maksila ataupun seluruh tulang maksila beserta beberapa gigi terpisah dari badan tulang maksila ( Le fort I )  Fraktur dimana seluruh tulang maksila bagian atas terpisah dari tulang – tulang dasar tengkorak sebagai suatu unit tunggal atau multiple.  Le fort I ( Fraktur Guerin. begitu juga tulang zigoma dapat terlibat  Fraktur Tranversal (Le fort III) Garis fraktur meliputi daerah mata. Transverse maxillary fracture.

Garis fraktur melalui tulang lakrimal. Fraktur pada muka mulai diatas akar gigi sampai palatum durum ( unilateral ) Fraktur terjadi horizontal dan bilateral yaitu diatas palatum dan dibawah orbita. suatu fraktur yang terjadi dibagian atas maksila disertai dengan fraktur pada tulang nasalis dan tulangtulang lain disekitarnya. pada fraktur ini maksila hanya terikat oleh jaringan lunak terhadap tulang-tulang dasar tengkorak. melalui dasar mata berjalan terus kebagian bawah sesuai dengan dinding lateral dari maksila melalui pterygoid plate terus ke fossa pterygomaxilla. Menurut IVY dan CURTIS: Fraktur maksila hanya mengenai prosesus alveolaris. Extensive comminuted fraktur. Menurut CLARK:  Fraktur pada prosesus alveolaris maksila 209 . Berbentuk kerucut makanya disebut fraktur pyramid. maksilo frontal dan nasofrontal. 5. Garis fraktur terus ketulang ethmoid dan sphenoid. Craniofacial disjunction ) Garis fraktur melalui sutura zygomatiko frontal. 7. bagian bawah mata. Menurut KILLEY.  Le fort III ( Transverse facial fracture.          Klas I : Fraktur pada kompleks zygomaticus Klas II : Fraktur pada kompleks nasalis Klas III : Fraktur Le Fort I Klas IV : Fraktur Le Fort II Klas V : Fraktur Le Fort III 6. Pembagian fraktur rahang atas ini berdasarkan lokasinya menjadi 5 macam.

8. 9. Transverse fracture 2. 1. Pyramidal fracture 3. Punch type fracture disebabkan karena tembakan sehingga terjadi luka pada tulang yang bergerigi terjadi pada satu atau lebih tulang yang tipis. 210 . garis fraktur melintas secara horizontal pada kedua antrum dan cavum nasalis. Menurut MEAD : Membagi fraktur maksila berdasarkan lokasinya menjadi 3 macam:    Partial fracture.   Fraktur dimana setengah bagian dari tulang maksila dipisahkan dari cranium Seluruh tulang maksilla dipisahkan dari karnium disebut juga Floating Maksila karena maksila seperti terapung terlepas dari cranium. Transverse facial fracture. Partial or complete fracture pada kasus yang edentulous. yaitu fraktur dengan beberapa gigi pada tiap fragmen tulangnya Complete fracture. Pyramidal fraktur. garis fraktur melintas pada kedua orbita dan hidung Transverse facial fracture. garis fraktur melintas pada kedua orbita dan bagian atas cavum nasalis. Pada fraktur seperti ini dapat berupa . Menurut ERICH dan AUSTIN :    Horizon fraktur.

biasanya tampak open bite klasik. Floating Maksila. dan kartilago nasal mungkin terkena.1 Fraktur Le Fort I merupakan hasil benturan yang terjadi diatas level gigi. sedangkan garis fraktur sendiri berjalan vertikal atau disebut juga fraktur Unilateral. Tipe ini dapat melibatkan maksila secara tersendiri dan terpisah dari struktur lain dengan diikuti terputusnya sutura palatina atau fragment maksila. Fraktur pada prosesus alveolaris. Karena tarikan baik dari otot pterigoid eksternal dan internal. Tranverse Maksila Frakture. Septum nasal dapat terjadi fraktur. Fraktur yang terjadi mulai dari batas lateral sinus pirimormis. belakang tuberositas maksilaris.Dari beberapa pendapat para ahli tersebut dapatlah disimpulkan bahwa pada prinsipnya fraktur maksila dapat dibagi menjadi : 1. 2. maksila dapat berada pada posisi posterior dan inferior. Fraktur Le Fort I Fraktur ini disebut juga Fraktur Guerin. 3. berjalan sepanjang dinding antral lateral. dan melewati pteriogoid junction. Horizontal Frakture. Yaitu fraktu yang terjadi pada tulang maksila yang meliputi daerah alveolranya saja tanpa melibatkan tulang pendukung yang lain dan tanpa diikuti terputusnya hubungan tulang maksila dengan tulang nasal atau basis cranial. Vertical fracture yaitu fraktur pada rahang atas yang meliputi palatum durum. Low Level Fracture. nasal dan zygomatik.2 211 . Dapat terlihat arah frontal dari maksila yang melibatkan struktur maksila dari plat pterygoid. Pada fraktur ini.

Gambar 3. 1 212 .2 . Fraktur Le Fort II. melalui tulang lakrimalis. 3 Fraktur Le Fort II terjadi akibat benturan yang didapat pada level tulang nasal. Fraktur terjadi sepanjang sutura nasofrontalis. dan melewati garis infraorbita pada area sutura zigomatikomaksilaris. Fraktur le fort I. 1 4. Fraktur Le Fort II Fraktur piramidal/subzigomatik yang menyebabkan terpisahnya wajah tengah pusat dari kompleks orbitozigomatikus.Gambar 4.

zygomaticus dan maksila dari basis cranial atau disebut juga pamisahan craniofasial. Craniofacial disjunction. Setiap 213 . Gambar 5.1 V. Garis fraktur terus ke tulang ethmoid dan sphenoid. Dimana garis fraktur melalui sutura zygomatiko frontal. Jejas pada kepala dan leher seringkali melibatkan jalan nafas dan pembuluh utama. PEMERIKSAAN DAN GEJALA KLINIS 1. Pada fraktur ini maxilla hanya terikat oleh jaringan lunak terhadap tulang-tulang dasar tengkorak. Fraktur Le Fort III Fraktur pada daerah ini disebut juga supra zygomatic fraktur.5. Fraktur Le Fort III. Pemeriksaan Awal / Primary Survey Evaluasi awal dan penatalaksanaan yang menyeluruh seringkali menentukan apakah pasien mampu bertahan dari trauma mereka. dihasilkan oleh suatu tekanan yang besar pada level superior yang dapat memisahkan naso orbital eithmoid komplek. maxillo frontal dan nasofrontal. 1 Sedangkan menurut Le fort fraktur ini disebut juga Transverse facial fracture. oleh karena itu resusitasi ABC harus dilakukan secara ketat pada tahap awal pemeriksaan dan penatalaksanaan pasien dengan fraktur maksilofasial.

Breathing (Pernafasan) Ventilasi yang baik meliputi fungsi yang baik dari paru. fraktur laring atau trakea. maka untuk kepala harus dilakukan imobilisasi manual. Selama memeriksa dan memperbaiki airway. Alat imobilisasi ini harus dipakai dipakai sampai kemungkinan fraktur servikal dapat disingkirkan. fleksi atau rotasi dari leher. Kecurigaan adanya kelainan vertebra servikalis didasarkan riwayat perlukaan. harus melindungi vertebra servikal. Airway (Jalan Nafas) Yang harus dinilai adalah kelancaran jalan nafas. Auskultasi dilakukan untuk memastikan masuknya udara ke dalam paru. Usaha untuk membebaskan airway. Inspeksi dan palpasi dapat memperlihatkan kelainan dinding dada yang mungkin menggangu ventilasi. dapat dianggap bahwa jalan nafas bersih. 5 A. Pada penderita yang dapat berbicara. Selama pemeriksaan awal. 214 . perhatian pertama harus ditujukan langsung pada evaluasi menyeluruh. tergantung dari insidensi trauma.pasien yang datang dengan jejas trauma. Pasien dengan jejas pada wajah sebaiknya diperkirakan memiliki jejas lain yang berhubungan. harus diperhatikan bahwa tidak bleh melakukan ekstensi. dinding dada dan diafragma. Hal ini dapat dimulai dengan melakukan chin lift atau jaw thrust. Ini meliputi pemeriksaan adanya obstruksi jalan nafas yang dapat disebabkan oleh benda asing. Dalam keadaan kecurigaan fraktur servikal fraktur servikal harus dipakai alat imobilisasi. Dada pasien harus dibuka untuk melihat ekspansi pernafasan. fraktur mandibula atau maksila. Perkusi dilakukan untuk menilai adanya udara atau darah dalam rongga pleura. walaupun demikian penilaian ulang terhadap airway tetap harus dilakukan. fraktur tulang wajah.. B. jejas yang membahayakan hidup dan kondisi medis sistemik harus dievaluasi secara tepat. Bila alat imobilisasi ini harus dibuka untuk sementara.

Kesemua pasien ini. Tabel 1. D. Tourniquet sebaiknya jangan dipakai karena merusak jaringan dan menyebabkan iskemia.C. Setelah pakaian dibuka 215 . Disability Menjelang akhir primary survey dilakukan evaluasi terhadap keadaan neurologis secara cepat. Exposure environmental control Penderita harus dibuka keseluruhan pakaiannya. GCS) untuk evaluasi cedera kepala. Perdarahan eksternal dihentikan dengan penekanan pada pada luka. Skala koma dari Glasgow (Glasgow Coma Scale. Circulation (Sirkulasi) Perdarahan luar harus dikelola pada primary survey. sering dengan cara menggunting guna memeriksa dan evaluasi penderita. walaupun hanya pingsan dalam waktu yang singkat.6 Skor 1 2 3 4 5 Mata (E) Respon (-) Terbuka karena rangsang sakit Terbuka bila diminta Terbuka spontan Verbal (V) Respon (-) Tidak dipahami Tidak tepat Bingung Bercakap-cakap Motorik (M) Respon (-) Ekstensi Fleksi Gerakan tidak spesifik Menunjukkan tempat yg sakit Bisa melakukan perintah 6 - - E. harus diperiksa secara keseluruhan dengan Skala Koma Glagow (GCS) dan dikonsulkan ke bagian bedah syaraf. Banyak pasien yang mengalami injuri fasial mengalami hilang kesadaran.

beberapa perawatan awal seringkali penting untuk kestabilan pasien. 7 2. dan stabilisasi pasien. Pada pasien trauma dengan obstruksi jalan nafas atas komplit. krikotirotomi merupakan cara paling cepat untuk mengakses trakea. tetapi karena kehilangan kesadaran atau status 216 . Bagaimanapun. Penyajian primary survey diatas adalah dalam bentuk berurutan sesuai dengan prioritas dan agar lebih jelas. ruangan cukup hangat dan diberikan cairan intravena yang sudah dihangatkan. nadi. dapatkan riwayat selengkap mungkin. Penanganan awal. termasuk respirasi. fraktur pada tulang wajah yang berat dapat mengurangi kemampuan pasien dalam menjaga jalan nafas. Selama pemeriksaan awal. Leher harus diimobilisasi sementara hingga jejas pada leher dikatakan baik . Tanda klinis. seperti gigit tampon.1 Jejas pada daerah wajah tidak hanya melibatkan tulang wajah tapi juga jaringan lunak. Selanjutnya pemeriksaan status nerologis pasien dan evaluasi spina servikalis pasien. atau dapat berhubungan dengan jejas seperti fraktur laring. dan tekanan darah sebaiknya diperiksa dan dicatat. sebaiknya dilakukan sesegera mungkin. Pemeriksaan Riwayat Penyakit Setelah pasien stabil. Benturan yang cukup berat yang dapat menyebabkan fraktur pada tulang wajah biasanya tersalurkan ke spina servikalis.1 Selama primary survey. masalah lain yang dapat mengancam kehidupan. pemeriksaan. Langkah pertama yaitu memastikan pasien memiliki jalan nafas yang baik serta ventilasi yang adekuat. perlu dilakukan trakheostomi untuk memberikan jalan nafas yang adekuat. namun dalam prakteknya hal-hal diatas sering dilakukan berbarengan. seperti perdarahan eksesif.1 Perawatan terhadap jejas kepala dan leher biasanya dilakukan setelah didapat evaluasi menyeluruh. keadaan yang mengancam nyawa harus dikenali dan resusitasinya harus dilakukan pada saat itu juga. Riwayat ini sebaiknya diperoleh dari pasien. Pada beberapa kasus. Pemeriksaan Riwayat dan Klinis a. Seringkali. sebaiknya diperiksa. seperti lidah atau daerah leher atas.harus dipakaikan selimut hangat.

epistaksis. Informasi mengenai waktu makan dan minum yang terakhir sangat penting apabila akan dilakukan anestesi umum. 3 217 . termasuk jenis benda yang berkontak. termasuk nyeri. tempat kejadian dan peristiwa khusus dicatat. Apakah terjadi penurunan kesadaran? Gejala apa yang sekarang sedang dirasakan oleh pasien. temannya. syok. Lima pertanyaan penting yang sebaiknya dipertimbangkan: 1. Adanya tanda-tanda kecanduan alkohol dan obat-obatan. dan maloklusi? Informasi lengkap. 2. Keadaan tidak sadar (koma). Pemeriksaan Klinis Fraktur midfasial biasanya didiagnosa secara klinis dan dikuatkan dengan pemeriksaan radiologis. Apabila cedera disebabkan oleh kecelakaan mobil. informasi harus diperoleh dari anggota lain yang mendampingi. pengobatan. perubahan sensasi. apakah si korban yang menyetir. Tanggal. waktu. termasuk kehadiran edema fasial. 5. alergi dan tanggal imunisasi tetanus juga dicatat. Sumber terbaik yang dapat digunakan adalah keluarga dekat yang menemaninya. Bagaimana kejadiannya terjadi? Kapan kejadiannya terjadi? Apakah spesifikasi jejasnya. 3. pertimbangan logistik? 4. maksila yang tumpang tindih atau bahkan pasien yang tidak sadar atau tidak kooperatif. karena biasanya mereka tidak mampu memberi respon dengan baik. termasuk mengenai alergi. apakah korban memakai sabuk pengaman? Apakah pasien merupakan korban tindak kejahatan dengan senjata tertentu? Apakah pasien jatuh/tidak sadar? Kondisi medis resiko tinggi. Sejumlah faktor bisa membuat pemeriksaan klinis menjadi sulit.nerologi. dicatat karena tingkat kesadaran dipengaruhi oleh obat-obatan tersebut. amnesia merupakan hambatan yang sering terjadi dalam menjalin komunikasi dengan pasien. atau sebagai penumpang. kondisi medis. dll. perubahan visual.1 Mendapatkan riwayat yang adekuat dari korban trauma adalah sulit. polisi atau pekerja pada unit gawat darurat. dan imunisasi tetanus terdahulu.6 b.

rima orbita. abrasi. Asimetri area wajah perlu dicatat. Fasial dan midfasial sebaiknya dipalpasi untuk melihat adanya gap pada dahi. Pemeriksaan Ekstraoral Pemeriksaan pada area fasial harus dilakukan dalam teknik yang terorganisir dan berkelanjutan. sendiri ataupun kombinasi dengan zygoma atau os nasal. karena dapat menyebabkan infeksi retrograde yang menyebabkan meningitis. Jika diduga terdapat cairan serebrospinal. dan cairan yang keluar baik dari hidung maupun telinga diasumsikan sebagai cairan serebrospinal hingga terbukti bukan itu. Area ekimosis harus dievaluasi secara hati-hati. hidung maupun telinga sebaiknya tidak ditutup tampon. 1 Pembukaan mandibula dievaluasi baik untuk fraktur lengkung zigoma maupun zigoma yang terdisposisi ke lateral. kontusio. Dengan menggunakan jempol dan jari telunjuk dari tangan yang lain. nasal atau zygoma. kepala pasien harus distabilkan dengan menggunakan satu tangan menekan dahi.1. Oklusi dievaluasi. Wajah dievaluasi terhadap kemungkinan terdapatnya laserasi dan depresi tulang yang jelas. yang dapat mengobstruksi pergerakan prosesus koronoid ke depan. lalu berlanjut ke bawah untuk meliputi rima lateral dan infraorbitalis. Pertama kita lakukan pemeriksaan rima orbitalis. Untuk menilai mobiliti pada maksila. edema ataupun hematom dan kemungkinan cacat pada kontur. memegang maksila. Pemeriksaan berakhir dengan pemeriksaan maksila dan mandibula. faktor ini berpengaruh besar terhadap metode perawatan. Vestibulum bukalis dipalpasi dengan jari telunjuk. Terdapatnya krepitasi dan pergeseran dinding antral lateral dan zigoma dapat mudah didapatkan dengan teknik ini. digoyang dengan hati-hati untuk melihat adanya mobiliti pada maksila. Lengkung zigomatikus dipalpasi lalu ke tulang nasal. Evaluasi midfasial dimulai dengan penilaian mobiliti maksila. Pemeriksaan sebaiknya dilakukan secara bimanual dan disiplin. Wajah dan kranii harus diinspeksi secara hati-hati terhadap kemungkinan trauma termasuk laserasi.2 218 . keadaan dan kualitas gigi perlu dicatat.2 Tulang wajah dipalpasi untuk mengetahui adanya diskontinuitas tulang. dimana apabila terdapat edema yang cukup besar dapat membuat pemeriksaan menjadi sulit.

Pasien sebaiknya ditanya mengenai keluarnya cairan rasa metal dan asin. Kadang timbul parestesi daerah pipi karena trauma pada nervus infraorbita. Ekimosis subkonjungtival Gambar 7. Ekimosis sirkumorbital bilateral (racoon eyes). karena garis fraktur melewati tulang zygoma. terutama pada palatum. tanda dan gejala yang dapat kita temukan adalah adanya oedem wajah dan terjadi retrusi mid fasial yang menyebabkan wajah terlihat datar. Gambar 6.7 219 . yang merupakan indikasi terdapatnya drainase cairan serebrospinal.8 Pada Le Fort II. merupakan gambaran umum pada fraktur maksila.Daerah ekimosis. hal ini akan menyebabkan kontak prematur gigi molar dan open bite anterior. Faring diperiksa untuk laserasi atau perdarahan retrofaringeal. Terjadi haemoragi subkonjunctiva dan diplopia. Keadaan ini disebut sebagai deformitas dish face atau pan face. Terdapat hematom pada sulcus bukalis rahang atas posterior. Segmen maksila bergeser ke posterior dan inferior.

Palpasi intra oral dengan jari pada maksila dapat memberikan informasi tentang integritas dinding nasomaksilaris. gigi geligi. stabilitas alveolar ridge dan palatum serta jaringan lunak.7 220 . serta jarak intercanthal. Tidak seperti fraktur Le fort II. dapat dilihat integritas dari lingkar orbita dan dasar orbita. Le fort III berhubungan dengan adanya cedera pada zygomatikus. dinding sinus maksilaris anterior. Selama pemeriksaan mata dan tulang orbita. Pemeriksaan Intraoral Pemeriksaan intra oral dapat melihat keadaan oklusi. penglihatan. masalah pada retina ataupun masalah neurologic lainnya. Gangguan pada oklusi dapat melokalisir adanya fraktur.Gambar 8. Peningkatan jarak interchantal menandakan adanya perubahan pada tulang frontomaksilaris atau tulang lacrimalis ataupun adanya avulsi dari ligamentum canthal medialis . dan dinding zigomatikomaksilaris. 2. pergerakan ektra ocular dan posisi bola mata. Perubahan penglihatan menandakan adanya gangguan pada persyarafan mata. Gangguan pada pergerakan ekstraokular atau enopthalmos menandakan adanya suatu blow out pada dasar orbita. Deformitas pada kontur tulang dapat tertutupi oleh pembengkakan. Pergerakan abnormal pada tulang dapat didiagnosa dan jika terjadi maka akan diikuti oleh sakit dan krepitasi akibat dari ujung tulang yang keras bergesekan satu sama lain. Hilangnya fungsi pada rahang merupakan hal biasa sebagai akibat dari trismus atau sakit. Dalam hal kerusakan yang parah pada mata dan tulang orbita dapat dikonsultasikan kepada opthalmologis. Openbite anterior. tetapi permeriksaan dapat menemukan adanya kehilangan kontinuitas tulang atau displacement.

3 Gambar 9. maka terdapat adanya Le Fort II atau III. kontak prematur pada molar dan anterior open bite. B.5 Gambar 10 menunjukan metode palpasi wajah tengah pada fraktur Le Fort. maka 221 . Pemeriksaan mobiliti pada maksila.1 ` Gambar 10. maksila digoyang-goyangkan untuk menilai adanya mobiliti.1 Gambar 9 menunjukan pemeriksaan mobiliti pada maksila.Fraktur transversal pada Le Fort membuat muskulus pterygoid medial yang kuat menciptakan tarikan posteroinferior pada segmen yang bergerak menciptakan maloklusi klas III. Metode palpasi wajah tengah pada fraktur Le Fort. Jika gerakan terdeteksi juga pada zigoma (B). Dahi difiksasi dengan tangan kiri. A. Jika gerakan dapat dipalpasi pada jembatan nasal (A). Tangan kiri juga dapat diletakkan pada os nasal untuk menilai mobiliti pada os nasal. Gigi anterior dipegang dan maksila dimanipulasi untuk memeriksa adanya pergerakan.

Pemeriksaan fraktur Le Fort II dan III dilakukan dengan cara satu tangan memegang puncak hidung sementara tangan lain memanipulasi maksila. Pergerakan pada sutura nasofrontal menunjukkan kemungkinan terdapatnya fraktur Le Fort II atau III. Saat melakukan pemeriksaan fraktur pada maksila. Gambar 11 menunjukan saat melakukan pemeriksaan fraktur pada maksila. Le fort II 222 . kepala distabilisasi lalu prosesus dentoalveolar dimanipulsi sehingga adanya pergerakan segmen fraktur dapat dideteksi. 4 Perbedaan klinis fraktur maksila: 1. Le fort I Manifestasi Klinis Le Fort I antara lain adalah:  Seluruh rahang atas dapat digerakan dengan mudah. kepala distabilisasi lalu prosesus dentoalveolar dimanipulsi sehingga adanya pergerakan segmen fraktur dapat dideteksi. Apabila tidak terdeteksi adanya gerakan pada daerah tersebut namun maksila mengapung.  Terjadinya kontak premature dari gigi posterior karena tulang maksila turun dan menimbulkan open bite yang klasik.6 2.5 Gambar 11.  Palpasi tulang alveolar pada jaringan pendukung akan terasa nyeri  Dapat dilihat dengan jelas pada foto roentgen dan sering adanya gambaran sinus yang berkabut serta gangguan kontinuitas yang bilateral dari dinding sinus maksila.terdapat fraktur III.  Kecuali apabila segmen fraktur mengalami impaksi kearah posterior. maka kemungkinan terjadi fraktur Le Fort I.

dan naso orbita eithmoid.Manifestasi klasik Le Fort II antara lain :     Oedema periorbital secara bilateral.  Dari gambaran foto roentgen dapat terlihat pemisahan atau pergeseran pada sutura zygomaticomaksilaris serta terputusnya kontinuitas rima orbital inferior didekat sutura tersebut. sehingga frakmen yang pecah dari lantai orbita atau dinding media bisa terlihat dan ikut bergerak. Pada waktu dilakukan tes mobilitas dari maksila akan memperlihatkan pergerakan dari seluruh bagian atas wajah. Suatu maloklusi dapat terjadi bersamaan dengan open bite. Hipoesthesia dari nervus infra orbital juga ditemukan. Trauma telecantus dapat terasa seperti halnya juga ephypora.   Fraktur ini biasanya diikuti dengan fraktur zygoma. Le fort III Manifestasi klinis Le Fort III antara lain :    Sering terlihat kebocoran cairan cerebrospinal akibat sobeknya meninge (selaput otak) Oedema yang hebat dan ecchymosis peri orbital terlihat bilateral karena terjadinya perdarahan subkonjungtiva dalam berbagai tingkat keparahan. 2. diikuti dengan ecchymosis yang memberikan kesan seperti raccoon sign (menyerupai kucing). Ada baiknya temuan ini dikomfirmasikan dengan CT coronal dan sagital scan. luka yang dihasilkan pun berfariasi. kondisi ini muncul karena perkembangan odema yang sangat cepat.6 5. Cara pendeteksian ini dapat dengan mengandalkan genggaman pada gigi anterior maksila dan menggerakannya arah anterior. 2.6 223 .posterior. hal ini berguna dalam rencana perawatan dan pertolongan nyawa pasien. Suatu kelainan bentuk ini dapat dideteksi pada daerah rima infra orbital atau daerah sutura naso frontal.

scheidel anteroposterior.Gambar 12. Jika pasien tidak dapat tengkurap. lateral dan foto submentovertex. Gambaran Klinis Fraktur Le Fort III VI. pemeriksaan radiologi harus dilakukan untuk memberikan tambahan informasi tentang trauma fasial. Foto lateral skull berguna dalam menggambarkan kehadiran cairan pada sinus paranasal dan udara intrakranial. Foto Water’s memperlihatkan antrum hampir jelas. Foto Towne’s sangat bermanfaat dalam menggambarkan lengkung zigomatikus dan rami mandibula. Lengkung zigoma paling bagus digambarkan pada foto submentovertex. dapat menggunakan reverse Water’s (frontoosipital). minimal foto Water’s. Kekurangannya yaitu bertambahnya jarak antara tulang wajah ke film. Water’s view memperlihatkan gambaran fraktur Le Fort II yang membentuk segmen fraktur bentuk Piramid.8 224 . Evaluasi pada fraktur midfasial secara umum ditambahkan dengan gambaran radiografik.2 Gambar 13. Pemeriksaan Radiologis Setelah dilakukan pemeriksaan klinis pada area fasial dan keadaan pasien stabil.

Gambar 14. Foto water’s lateral menunjukkan fraktur Le Fort II4

Scan yang diambil secara baik dan hasil tepat, dapat menjadi alat diagnostik radiologi tunggal, tanpa foto lain. CT scan juga menggambarkan terdapatnya edema dan kehadiran benda asing yang sering terlewat pada foto konvensional.

Gambar 15. CT scan axial menunjukkan fraktur Le Fort II

Gambar 16. Gambaran 3D fraktur Le Fort II.

VII.

PERAWATAN FRAKTUR

A. Tujuan perawatan Apabila stuktur wajah terkena trauma yang menyebabkan fraktur maksila maka tujuan utama perawatan meliputi: 1. Penyembuhan tulang yang cepat.

225

2. Pengembalian penglihatan yang normal dan sempurna. 3. Kembalinya fungsi hidung untuk bernafas dan penciuman. 4. Kembalinya ruang bicara yang sempurna. 5. Hasil yang baik secara estetik baik dari gigi dan wajah seperti yang diinginkan. Selama perawatan diusahakan meminimalkan hal-hal yang merugikan pasien, seperti pemberian nutrisi, mengurangi rasa sakit dan ketidaknyamanan pasien serta kerusakan yang minimal jika memungkinkan. 1

B. Prinsip perawatan Untuk mencapai hal ini maka prinsip bedah hendaknya mengikuti aturan berikut ini Prinsip perawatan fraktur maksila: 1. Debridement yaitu membersihkan sisi fraktur meticulous. 2. Reduction yaitu mensejajarkan ujung tulang yang patah. 3. Fixation yaitu menstabilkan fraktur tulang, setelah selesai prosedur diatas, baru-baru ini digunakan mini plat tulang dan scrub ( rigid internal fixation ). 4. Imobilisasi yaitu pengikatan Fraktur pada bagian sendi, dicapainya dengan wiring sendi secara bersamaan selama 4-6 minggu dengan penyebaran yang luas menggunakan fixasi interna yang kuat, bagaimanapun prosedur ini sangat cepat dalam membantu penyembuhan. 5. Rehabilitasion yaitu mengistirahatkan total dari region yang terkena trauma seperti perlekatan kembali secara prostetik dari gigi geligi yang hilang akibat trauma dan injury.

C. Metode perawatan Perawatan fraktur maksila dapat dilakukan dengan metode terbuka maupun metode tertutup tergantung dari berat dan ringannya kasus, namun untuk fraktur maksila yang meliputi le fort I, II, III atau yang diikuti kelainan oklusi harus dilakukan dengan metode terbuka.9,2,6

226

1.

Reduksi tertutup ( close red )

Metode ini dilakukan tanpa melakukan insisi untuk mereduksi kembali bagian tulang yang fraktur seperti pada frakmen fraktur ini bergerak, biasanya gigi geligi yang terdapat pada sekmen fraktur mengalami kegoyahan . Pada kasus ini dibutuhkan tekanan berulang (digital) untuk mereduksi tulang yang patah. Pada kasus fraktur unilateral maksila atau terpisahnya sisi kanan dan kiri palatum pada sutura palatine, maka digunakan alat Rowe Disimpaction forceps atau Hayton-Williams forcep untuk mereduksi kembali kedua sisi palatum tersebut. Arch bar dipasang pada lengkung maksila dan mandibula. Gigi yang goyah diikat dengan kawat (wiring) kearch bar maksila, sedangkan gigi yang terdapat pada segment yang tidak fraktur dilindungi dengan fiksasi intermaksila. Kemudian fiksasi dilanjutkan kedaerah fraktur yang telah direduksi tadi. Fiksasi dibiarkan selama 4 sampai 6 minggu didalam mulut pasient dan pasien diberikan diet lunak selama fiksasi. Indikasi dilakukannya metode tertutup pada fraktur maksila adalah:  Dimana pada pemeriksaan klinis dan radiografis tidak memperlihatkan gambaran perobahan letak pada kedua segmen fraktur atau segmen frakturnya terletak pada variable yang stabil dari tekanan otot-otot mastikasi.( Undisplasment fracture )  Pada pasien yang edentulous (tidak bergigi) dan fraktur maksila secara radiology memperlihatkan perobahan letak yang minimal dan letak garis fraktur kemudian menjadi stabil oleh otot-otot pengunyahan. Maka union tulang pada fraktur ini dapat menjadi penghubung yang baik.  Pasien dengan fraktur yang menimbulakan kerusakan pada otak dan tidak adanya rangsangan untuk bangun, maka metode terbuka untuk sementara merupakan kontra indikasi. 2 Reduksi terbuka (open red) Metode ini lebih baik untuk kasus fraktur maksila khususnya yang komplek. Dengan metode ini dapat dicapai immobilisasi fraktur yang sempurna

227

dan fiksasi yang kuat dan rigid. Metode ini dimulai dengan tahapan sebagai berikut: 1. Pembukaan flap dengan insisi vestibular secara bilateral. 2. Sisi fraktur disingkapkan dengan meretraksi flap tadi 3. Dilakukan pembersihan segment pada garis fraktur. 4. Dilakukan perlekatan kembali kontunuitas tulang yang terputus. 5. Fiksasi garis fraktur dengan wiring atau mini dan mikro plat serta bautnya. 6. Tutup daerah operasi dengan mengembalikan flap pada posisi awal dan dijahit 7. Fiksasi inter maksila selama 4 minngu (masa penyembuhan) 8. Pasien diberikan diet lunak selama fiksasi dengan kandungan gizi yang cukup. Indikasi dilakukannya metode fraktur terbuka adalah sebagai berikut:  Apabila metode tertutup gagal dilakukan  Fraktur dengan displacement yang kearah bawah dengan segala

komplikasinya seperti open bite klasik, elongasi fasial dana dish face.  Fraktur fasial kompleks dan multiple seperti Le fort I, II, III .  Fraktur dengan impaksi pada rahang bawah.  Fraktur yang memerlukan pemasangan miniplate dengan skrup untuk reduksi dan stabilitas segment fraktur.  Fraktur yang membutuhkan bone graft.

Mikroplate and screw osteosynthesis Pada abad ke dua puluh mulai diperkenalkannya pemakaian plat sederhana atau yang lebih dikenal dengan Mini plate and screw. Sistem kompensasi plat logam ini menggunakan lobang-lobang plat eksentrik dan skrup- skrup ( beberapa diantaranya ada yang menggunakan swa-ulir ) yang cocok untuk penatalaksanaan fraktur orofasial. Pada tahun –tahun terakhir perkembangan plat dan skrup mengalami revolusi menjadi Mikro plate yang lebih ringan yang terbuat dari titanium dan lebih bisa diterima oleh tubuh. Hal ini di kembangkan karena bentuk

228

dan jenis fraktur maksila yang berfariasi dan sangat komplek sekali.Bentuk dan ukurannyapun disesuaikan dengan anatomi tulang fasial. Beberapa keuntungan pemakaian mikro plat ini adalah: 2,6              Kestabilan yang rigid pada fiksasi anatomi dari bagian –bagian fraktur. Dapat meniadakan pemakaian IMF ( intermaksilari fiksasi ). Mempercepat penyembuhan dan memperpendek durasi perawatan.

Indikasi dilakukannya pemasangan mikro plate pada fraktur maksila adalah: Apabila fiksasi maksilo mandibula sulit dilakukan. Untuk perawatan kasus yang penyembuhannya lama dan pseudoartrosis. Fiksasi pada graft tulang. Fraktur kompleks dan multiple dari Le fort I, II, III. Fraktur maksila pada pasien edentulous dengan displasment

Aplikasi mikor plate dan skrup: Pemaparan perkutan atau peroral dan kemudian dilakukan reduksi fraktur. Lakukan adaptasi dan stabilisasi mikro plat dan pembuatan lobang untuk skrup pada tulang denga bur tulang. Lobang bur dicocokan sampai sesuai dengan besar srkupnya. Skrup dipasang menurut dataran lubang pada plate untuk mendapatkan kompresi. 1-3 skrup diinsersikan pada sisi fraktur

Fiksasi dan Imobilisasi fraktur maksila Ada beberapa macam alat untuk Immobilisasi fraktur maxilla yang mana pada dasarnya menggunakan prinsip berikut ini:6 A. Fiksasi Intramaksila dan Intermaksila. 1. Hanya rahang atas saja yang dipasangkan alat fiksasi misalnya, dengan memakai arch bar dari Erich. Contoh pada kasus fraktur sebagian kecil dari prosesus alveolaris rahang atas (Intramaksila). 2. Pemasangan alat fiksasi pada gigi-geligi di maksila dan mandibula, kemudian pada kedua rahang ini dipasang rubber elastic band melalui

229

kaitan atau hock pada acrh bar yang digunakan. Elastik hanya dipakai pada gigi-geligi yang tidak mengalami fraktur rahang (berguna untuk fraktur unilateral atau segmental ) sehingga tulang alveolar yang mengalami fraktur akan terdorong keatas oleh tekanan gigi-geligi dirahang atas dan rahang bawah (Intermaksila).

Gambar 17. Arch bar dan fiksasi intermaksilaris. 4

B. Fiksasi Internal Teknik ini ditemukan oleh Adam yang mana diindikasikan pada fraktur horizontal yang sederhana dengan tidak terlibatnya tulang orbita. Teknik ini menggunakan kawat suspensi (stainless steel ukuran 0.018 atau 0,2 inchi, 0,45 atau 0,5mm) yang dimasukan (diikatkan) pada titik tertentu di tulang bagian superior. Bagian yang paling sering digunakan adalah Apertura piriformis, Spina nasalis, tonjolan Malar, Arcur zygomatikus, Prosesus zygomatikus ossis frotalis dan pinggiran tulang infra orbita. kemudian kawat menelusuri daerah fasial terus kebawah dan kemudian dihubungkan (diikatkan) pada arch bar yang telah dipasang pada gigi-geligi rahang atas (terhadap maksila) disebut fiksasi kraniomaksila. Sedangkan pada ikatan atau perlekatan kawat terhadap mandibula disebut fiksasi kraniomandibula. Gigi-geligi rahang atas dan rahang bawah dalam keadaan fiksasi Intermaksila (Transosseous wiring fixation). Apabila mandibula utuh atau karena perawatan bisa stabil, maka fiksasi kraniomandibula lebih dianjurkan dibanding perawatan fiksasi kraniomaksila, karena perlekatan ini memberikan hasil terbaik untuk mempertahankan posisi komponen maksila yang mengalami fraktur.

230

C. Fiksasi eksternal 1. Pesawat Cranio-Maxilla. Dimana digunakan suatu alat Head Appliances yang dihubungkan dengan alat lain yang dipasang pada maksila. Head appliances yaitu suatu alat yang dipasang pada kepala yang berfungsi sebagai penahan untuk fiksasi fraktur maksila dengan tulang cranial. Alat ini ada beberapa macam yang biasa digunakan yaitu:       Plaster of Paris head cap. Woodards appliance. Englands appliance. Bisnoffs head band. Crawford head frame. Crawford bloom head appliance

Pesawat Cranio Maxilla sendiri ada beberapa macam yaitu; a. Pesawat C-M yang menggunakan Kingsley splint yang dapat dihubungkan dengan berbagai macam splint yang diletakan pada gigi-gigi dirahang atas seperti:     Wire splint Cast metal splint Band orthodontic Pada pasien edentulous digunakan modifikasi dari kingsley sendiri. b. Pesawat C-M yang menggunakan Steinmann pin, dimana pin ini dimasukan kedalam tulang alveolar rahang atas yang mengalami fraktur melalui pipi lalu pin ini dihubungkan kembali kealat head appliance. c. Pesawat C-M yang menggunakan cranio fasial wire. Ditemukan oleh Erich, dimama kawat dihubungkan dengan arch bar yang telah dipasang sebelumnya pada rahang atas ( gigi-geligi ), kawat ini menembus pipi lalu dihubungkan denga head appliance. Pemakaian alat ini diindikasikan pada fraktur dengan tidak adanya perubahan tempat dari rahang (fragmen) dan mandibula dapat bergerak untuk berbicara dan makan (makanan lunak).
231

Pesawat Cranio – Mandibula. Frac-sure rods ini dihubungkan dengan head appliance c. Pin ini lalu dihubungkan dengan pin yang telah dipasang pada corpus mandibula melalui suatu batang penghubung (rods) atau rubber elastic band. 3.2. Terdiri dari Barton bandage denagn elastic yang dilekatkan pada kedua sisi dengan menggunakan plaster. Pada metode ini gigi-geligi pada kedua rahang berada dalam keadaan oklusi dengan menggunakan Intermaksila wiring fixation dan eksternal traction. Peasawat C-mand dengan menggunakan Steinmann-pin yang dimasukan kedalam corpus mandibula . d. Pesawat ini pun ada beberapa macam yaitu : a. juga digunakan Frac-sure rods dipakai sebagai penghubung dengan head appliance. dibagian luar dihubungkan dengan Frac-sure link vertical rod dikedua sisi. Pesawat C-mand dengan half pin hamper sama dengan Steinmann pin. 232 . Pesawat ini ditemukan oleh Gross. yang mana dua buah pin dimasukan kedalam tulang pipi kiri dan kanan. Ini untuk perawatan sementara dari fraktur rahang. Pada kasus tidak bergigi digunakan Gunning splint yaitu suatu acrilik aplint yang digunakan sebagai alat fiksasi mandibula. Pesawat C-mand dengan menggunakan Traction bandage (head bandage). Pesawat Malar-Mandibula fixation. b.

III atau yang diikuti kelainan oklusi sebaiknya dilakukan dengan metode terbuka. perlu tenaga tambahan untuk melakukan reduksi sempurna. namun untuk fraktur maksila yang meliputi le fort I. Paruh dari tang Rowe ditempatkan sepanjang dasar hidung. Fraktur dr pergeseran minimal direduksi di diimobilisasi secara ideal dengan reduksi terbuka dan immobilisasi diperoleh dengan penempatan plat yang tepat.Gambar 18. diperlukan perpanjangan periode fiksasi hingga 6 minggu. Fraktur impacted atau fraktur yang tidak mudah direduksi karena penyatuan dini oleh jaringan ikut (fibrous union) sebaiknya direduksi dengan menggunakan tang disimpaksi Rowe atau Hayton-Williams. melakukan fiksasi intermaksilari selama sebulan.7 C. Tahapan perawatan pada fraktur Le Fort: 1. Sebagai alternatif yang kurang ideal. dan sisi lainnya pada palatum keras (gambar). maksila ditarik ke depan dan ke bawah. reduksi dini fraktur Le Fort I memberikan kesulitan minimal. dapat ditempatkan ujung karet pada paruh tang.2 233 . II. biasanya cukup untuk terjadi penyembuhan.2 Aturannya. Fiksasi kraniomaksilar. Digunakan secara sepasang atau sendiri. Di atas 7 hingga 10 hari. Perawatan Fraktur Le Fort I Perawatan fraktur maksila dapat dilakukan dengan metode terbuka maupun metode tertutup tergantung dari berat dan ringannya kasus. Untuk melindungi mukosa hidung dan mukoperiosteum palatum. Pada kasus fraktur remuk yang parah. 1. Gunakan gerakan menekan atau memutar.

2. atau dapat juga menggunakan daerah sutura nasofrontal. Imobilisasi dilakukan minimal 4 minggu. Pada fraktur Le Fort II dilakukan insisi pada sulkus bukalis. Fiksasi dapat dilakukan dengan mini plate yang menjangkau penyangga zygomaticomaksilaris. Hal ini dapat dicapai dengan insisi subsiliary atau transkonjunctiva. Kombinasi yang diperlukan tergantung pada kebutuhan untuk 234 . Sebagai alternatif. Fiksasi intermaksilari kemudian dilakukan untuk memperbaiki posisi anteroposterior fraktur. pembukaan tambahan ke superior sering dibutuhkan untuk akses yang cukup dari orbital rim. Penggunaan tang disimpaksi Rowe untuk mereduksi maksila.7 Setelah dilakukan reduksi pada fraktur. Pada umumnya segmen maksila pyramidal yang bebas distabilisasi ke tulang zygoma yang intak. dapat dilakukan reduksi terbuka. Perawatan Fraktur Le Fort II Reduksi tertutup yang dilakukan pada fraktur Le Fort II mudah dilakukan dengan tang disimpaksi Rowe. Hal tersebut perlu dilakukan untuk mendapat stabilitas dan penyembuhan yang adekuat.Gambar 19. Hal ini dapat diperoleh dengan membuka regio sutura zigomatikomaksilaris baik dari rima inferior maupun intraoral. terdapat variasi pilihan untuk imobilisasi. Perawatan dimulai dengan pemasangan IDW untuk mendapatkan oklusi. Minimal fiksasi tiga-titik atau mungkin empat-titik diperlukan.4 2.

atau flap kulit kepala bicoronal dapat digunakan untuk topangan tambahan pada tulang frontozigomatik. Terdapatnya jejas yang remuk dan parah bervariasi. Flap bicoronal harus dirancang hati-hati untuk menghindari cedera pada cabang saraf wajah. zigomatikotemporal. Pada gilirannya.mengeksplor dasar orbita. 3. perikranium dapat diinsisi tepat di atas lengkung untuk menjaga suplai darah dari daerah supraorbital dan supratroklearis ke flap. atau keduanya. Dalam mencapai lengkung zigomatik.2 Prinsip umum perawatan fraktur ini yaitu. open sky. atau insisi flap koronal. atau melalui laserasi yang sudah ada. lipatan glabela. 2 Pilihan lain dari perawatan pada fraktur Le Fort II yaitu imobilisasi sutura nasofrontal. dan sutura nasofrontal. Insisi alis lateral. kita melakukan diseksi superfisial dari fasia temporalis. Pada daerah lateral. Awalnya. serta reduksi yang tepat dari maksila ke wajah tengah inferior. Dapat dilakukan dengan bilateral Lynch. dan rekonstruksi regio nasofrontal karena daerah ini sering kali terjadi keremukan. Semua pendekatan ini dapat memberikan akses yang baik ke daerah sutura nasofrontalis. oklusi yang baik harus didapatkan untuk mendapatkan posisi anteroposterior dan lateral wajah tengah. tetapi prinsip perawatannya identik dengan yang lain. kita lakukan insisi fasia 235 . rahang atas harus dalam kondisi tidak terpendam (direposisi) dan MMF dilakukan. reduksi dan imobilisasi zigomatikofrontal. 2 Dalam perawatan fraktur Le Fort III. Penempatan plat pada daerah ini dapat memberikan kestabilan dan keamanan dalam arah superior posterior. Ketika flap dibuat pada area lengkung orbita. Flap bicoronal dapat diperpanjang untuk mencapai akses ke lengkung zigoma. Insisi jaringan lunak dapat dilakukan di lokasi yang sama seperti untuk fraktur Le Fort II. atau rekonstruksi rima inferior. kita menstabilisasi segmen tulang yang bergerak untuk stabilisasi mandibula dan tulang kranium. Perawatan Fraktur Le Fort III Fraktur Le Fort III secara esensial merupakan kombinasi fraktur zigoma bilateral dan fraktur pada kompleks nasal-orbital-ethmoid (NOE).

Perluas bidang insisi ke dalam fasia sampai tulang zigoma yang fraktur. Patahan tulang kemudian dapat dikurangi dengan elevator kaku. Perawatan Post Operasi Untuk meminimalisir edema paska operasi. dapat diangkat setelah 2-5 hari.temporalis di atasnya. Jangan gunakan flap bicoronal dalam situasi dimana flap membutuhkan suplai arteri temporal. D. lengkung inferior orbital. fiksasi zygomaticofrontal bilateral mungkin sudah cukup. Garis rambut yang terlalu mundur juga dapat menjadi bahan pertimbangan untuk menggunakan tipe insisi lain. maka fiksasi dapat dilakukan. Gunakan template lunak. dan muntah. lengkung zigomatic). Sehubungan dengan tindakan fiksasi pada fraktur maksila. pada daerah operasi. lakukan pembalutan kassa dengan tekanan ringan. fiksasi langsung mungkin diperlukan. observasi pasien selama semalam terhadap kemungkinan terjadinya perdarahan. kurangi dan stabilkan setiap patahan tulang yang terlibat. Pada fraktur Le Fort III sejati. Gunakan sesedikit mungkin pelat untuk mencapai fiksasi. Fiksasi Miniplate saat ini merupakan tipe yang paling dapat diandalkan. maka perlu diberikan antibiotik profilaksis terhadap organisme gram-positif dan anaerob selama 5-10 hari. Jika terpendam atau comminuted. tetap dibutuhkan fiksasi tambahan (misalnya. secara umum. pelat berlebihan tidak diperlukan. Apabila daerah fraktur terbuka terhadap lingkungan eksternal atau terdapat komunikasi dengan intra oral atau ruang nasal. Setelah pembedahan. Namun. nasofrontal. tempatkan pemotong kawat di 236 . masalah pada jalan nafas. Interoseus wiring dan suspension wiring digunakan pada fraktur Le Fort III. Setelah ini dilakukan dan segmen fraktur terlihat. tetapi hasilnya tidak sebaik miniplate fiksasi karena vektor gaya untuk mempertahankan reduksi kurang akurat dan micromotion meningkat. pelat pembentuk kontur yang akurat dan monocortical serta sekrup self-tapping. Gunakan pelat yang menjangkau seluruh penopang utama. Jika menggunakan fiksasi dengan kawat pada IMF. Jika pembalut tetap kering. nasomaxillary.

serial mandibula. Pada pemeriksaan post-operasi.dekat pasien setiap saat pada awal periode post-operasi untuk mengeluarkan muntah. Tujuan paling penting selama periode awal post-operasi yaitu memelihara imobilisasi. Panorex dental views. Apabila tulang wajah telah sembuh dengan baik dan didapat oklusi normal. lakukan tes stabilitas tulang wajah dengan mempalpasi geligi rahang atas pasien saat menggigit dan merelaksasi otot pengunyahan. tekankan pasien untuk memelihara kebersihan mulut dengan rajin menyikat gigi dan arch bar dan berkumur dengan saline atau mouthwash antiseptik setiap pagi dan malam serta setiap habis makan. facial series. Pergerakan yang berlebihan mengindikasikan terlalu dininya melepas arch bar atau terdapatnya masalah penyatuan tulang. instruksikan pasien mengenai cara melepas IMF apabila muntah. minggu ke 2-4. Sebelum pulang. Selama periode ini. periode ini berkisar antara 4-8 minggu. Pengambilan foto post-operasi (misal. Follow-up jangka panjang mungkin dibutuhkan untuk memonitor terjadinya komplikasi postoperasi atau deformitas. lalu minggu ke 3-8 untuk melepas IMF. Lepas kawat atau rubber band apabila pasien mulai merasa mual. tapi mobilisasi berlebihan dapat mengindikasikan terjadinya penyembuhan yang buruk. CT scan) dapat membantu pada pasien yang dicurigai terjadi malunion. Pada umumnya. Terdapatnya Pergerakan minimal mungkin masih dapat diterima. Mobiliti vertikal yang minimal pada midfasial dapat pulih seiring dengan waktu. IMF dapat dilepas. serta teknik perawatan yang digunakan. Tergantung pada umur dan kesehatan umum pasien. Sehingga IMF perlu dirawat selama periode ini.10 E. Selain itu. Follow Up Lakukan evaluasi follow-up pada hari ke 5-7 (jahitan kulit dapat dilepas pada saat ini). MMF dapat dilepas lebih cepat pada fraktur yang diperbaiki dengan 237 . pasien diberi tahu untuk membatasi diet yaitu bubur atau cairan. keparahan dan displacement fraktur.

fiksasi miniplate.10 238 . dan lebih lama pada fraktur yang diperbaiki dengan kawat interosseus atau suspensi.

dengan hematom septum atau nasal packing. Enopthalmus 3. Malunion atau maloklusi 10. dan dengan edem berat jaringan lunak yang menghalangi pernafasan melalui jalan nafas nasal. Obstruksi nasal 7. Epiphora 11. Infeksi 4. infraorbital 2. dan pembukaan fikasi intermaksilari dapat efektif menghilangkan 239 . Reintubasi. Sinusitis Terjadinya obstruksi jalan nafas perioperatif dan postoperatif jarang terjadi pada fraktur maksila tunggal. Pasien dengan fiksasi intermaksilari dan gigi lengkap biasanya mengalami kesulitan pernafasan pada saat ini. Deviasi septum 6. Alat terekspos 5. Bagaimanapun. tetapi potensi kemunculannya dapat diperkirakan selama evaluasi dan perawatan. Komplikasi yang mungkin terjadi sehubungan dengan fraktur maksila antara lain:4 1. kondisi ini dapat terjadi sehubungan dengan ekstubasi. Reaksi benda asing 12. Perubahan penglihatan 8. Jaringan parut 13. pembukaan jalan nafas nasofaringeal.BAB III KOMPLIKASI Beberapa komplikasi yang dapat terjadi akibat fraktur maksila dan penyembuhannya biasanya tidak tampak hingga beberapa minggu hingga bulan setelah terjadinya trauma. Parestesi n. Nonunion 9.

gangguan jalan nafas. 4 Aneurisma dan pseudoaneurisma merupakan komplikasi trauma pada maksilofasial tetapi jarang terjadi akibat 240 . Pada perdarahan tulang sebaiknya dilakukan reduksi ulang atau menggunakan bone wax. hemoragi retrobulbar. maloklusi) atau pemeriksaan radiografi postoperatif. spasme arteri retinal. Faktur pada septum nasal yang tidak diperbaiki dapat menyebabkan terjadinya obstruksi jalan nafas postoperatif yang akan tetap ada hingga semua pembengkakan jaringan lunak hilang. jika reduksi tulang inadekuat dapat menyebabkan perdarahan berlanjut. Kebutaan postoperatif imediet dapat merupakan komplikasi reduksi pada fraktur Le Fort III (atau fraktur yang melibatkan orbita) dan terjadi akibat peningkatan hemoragi atau tekanan intraorbital. dan menekannya fragmen tulang pada nervus optikus. sebaiknya didrainase. maka dapat terjadi komplikasi yang berhubungan dengan penglihatan. dan maksila. Fraktur pada dasar orbita yang tidak terdiagnosa atau ditangani dengan tidak adekuat (sendiri atau kombinasi dengan komponen zigoma) dapat menyebabkan terjadinya enopthalmus dan diplopia. apabila sumbernya tidak dapat diidentifikasi. maka perlu dilakukan arteriografi dan embolisasi. Perlu dilakukan prosedur pembedahan kedua untuk memperbaiki komplikasi tersebut. Laserasi sebaiknya diperiksa ulang sehingga hemoragi dapat dikontrol. karena fraktur dapat mengobstruksi duktus sinus atau ostia. sphenoid. Hemoragi dari arteri utama harus segera ditangani. Kebutaan jarang terjadi sehubungan dengan fraktur midfasial dan paling sering terjadi pada pola fraktur yang melibatkan orbita. frontal.4 Karena kedekatan maksila dengan orbita. Komplikasi ini dapat diidentifikasi melalui pemeriksaan klinis (misal.4 Hemoragi post operatif dapat terjadi jika arteri dan vena tidak diligasi ketika memperbaiki laserasi. Sinusitis akut atau kronik dapat juga terjadi pada sinus ethmoid. 4 Komplikasi postoperatif lain yaitu salah penempatan segmen tulang atau alat fiksasi. 4 Sinusitis akut dapat terjadi akibat tindakan intubasi trakheal yang berkepanjangan. jika terjadi aneurisma. fraktur maksila tersendiri. seringkali dengan mekanisme jejas yang lebih berat. Hematom yang ada. atau jika arteri sebagian terpotong.

5. Pengenalan tanda. 7. Perkembangan baru dengan memakai miniplate dan skrup untuk menghasilkan fiksasi dari reduksi fragmen yang rigid dengan mengurangi waktu perawatan dan mempercepat penyembuhan. 4. 2. Obstruksi jalan nafas dan Kebocoran cerebrospinal renorrhoe. II. Kehilangan kesadaran. Perhatikan komplikasi yang menyertai fraktur maksila seperti Perdarahan yang hebat.tanda khas terjadinya fraktur Le fort I. Immobilisasi segmen fraktur merupakan aspek perting untuk mencegah terjadinya kegagalan perlekatan (malunion ). III seperti: Elongasi fasial. pemeriksaan klinis dan didukung dengan pemeriksaan radiology demi tercapainya perawatan yang tepat pula. Mobilitas seluruh rahang atas atau setengah wajah yang menandakan lepasnya kontinuitas maksila dengan basis cranial. Open bite klasik. 6. malunion dan lain-lain. 3. Sebaiknya klinisi membuat diagnosa yang tepat dengan memperhatikan anamnesa. Dish face.BAB IV KESIMPULAN Dari penjabaran tentang fraktur maksila secara umum tadi dapatlah diambil kesimpulan bahwa: 1. Perawatan dengan memakai metode tertutup atau terbuka disesuaikan denga indikasinya masing-masing. 241 . Perawatan dilakukan sesegera mungkin untuk mensegah terjadinya komplikasi seperti infekasi.

Inc. Moe. Edward. K.medscape. 3. Thaller. 10. treatment#a1135. U. Assesment of Patients with Facial Fractures. Contemporary Oral and Maxillofacial Surgery.J. 5th ed.com/article/1283568- 242 . Moore. 2nd ed. 2001.ac. 2004. 2004. http://emedicine. Hupp.R.htm 9. 2. Jakarta: EGC. Louis: Elsevier. Principles of Oral and Maxillofacial Surgery. 5. Hamilton: BC Decker Inc.S. 4. http://www. Oral and Maxillofacial Surgery.uk/ibls/US/cal/anatomy/trauma/maxillaclinfeat. J and Frame J.W. 2005. Principles of Oral and Maxillofacial Surgery. Facial Trauma. Maxillary and Le Fort Fractures Treatment & Management. 2009. 7. Edinburg: Curchill Livingstone. Oral and Maxillofacial Trauma vol. Pedlar. 2001. S. Buku Ajar Praktis Bedah Mulut. 5th ed. 1996. Peterson. Fonseca. Louis: Mosby.DAFTAR PUSTAKA 1. 8. Oxford: Blackwell-Science.. Miami: Marcel Dekker. McDonald. St.2.W. W.gla. G.Dallas: Saunders. Ellis.S. 6. St. 2008. James R. Pedersen. 2000.

dan berada pada urutan kedua setelah fraktur nasal. Kata kunci : Fraktur Kompleks Zygoma. fiksasi. Penatalaksanaan fraktur zygoma pada dasarnya sama dengan penatalaksanaan fraktur maksilofasial lainnya yaitu meliputi reduksi. Namun karena strukturnya yang kompleks tentu saja penatalaksanaannya pun lebih rumit. Fraktur zygoma merupakan cedera wajah yang sering terjadi. perawatan serta komplikasi yang dapat terjadi pada fraktur komplek zygoma. Insiden yang tinggi ini kemungkinan disebabkan oleh posisi zygoma yang prominen terhadap tulang wajah2. Reduksi. dan imobilisasi.FRAKTUR KOMPLEKS ZYGOMA Leidya Valentina Elizabeth 160121120009 Peserta Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut Dan Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Bandung Abstrak Trauma akan menimbulkan jejas baik pada jaringan lunak maupun pada jaringan keras. di antaranya fraktur zygoma4. gambaran radiografi. Jejas yang mengenai jaringan keras dapat merupakan suatu fraktur tulang. Fiksasi 243 . Maksud dari penulisan makalah ini adalah untuk memberikan gambaran mengenai gejala klinis.

dan seringkali fraktur midfasial melibatkan tulang zygoma. serta membentuk penonjolan pada pipi kiri dan kanan (penonjolan malar). Insidensi. tetapi adanya penonjolan tulang membuat tulang ini juga dapat mengalami fraktur jika mendapatkan trauma yang hebat yang dapat terjadi karena pukulan atau akibat kecelakaan kendaraan bermotor. tergantung pada status sosial. foramen. Dalam beberapa penelitian. dan aperture. lebar dan anteroposterior) pada struktur wajah tengah. zygoma dan komplek nasoorbital ethmoid.BAB I PENDAHULUAN Trauma pada wajah midfasial dapat menyebabkan fraktur yang melibatkan maksila. Beberapa literatur mengatakan bahwa puncak insidensi dari trauma terjadi antara dekade kedua dan ketiga dari kehidupan. pendidikan dan politik dari suatu populasi yang diteliti. Tulang zygoma memegang peranan penting dalam menentukan lebar wajah dan juga berperan sebagai major buttress (tulang dengan struktur yang tebal. Dari kebanyakan penelitian menunjukkan bahwa wanita lebih banyak terkena dari pada pria dengan rasio 4 : 1. yang menopang proporsi kraniofasial dalam ukuran tinggi. Tulang zygoma mempunyai struktur yang kuat. Fraktur midfasial cenderung terjadi pada sisi benturan dan bagian yang lemah seperti sutura. penyebab fraktur tulang zigoma adalah kekerasan dimana pada sisi yang lain kecelakaan kendaraan bermotor juga merupakan penyebab yang sering terjadi. yaitu antara maksila dan cranium3. predileksi umur dan jenis kelamin dari trauma zygoma bervariasi. Tulang zygoma mempunyai permukaan luar yang cembung dan kasar. Tergantung dari mekanisme injuri. Etiologi dari terjadinya fraktur juga dipengaruhi oleh keadaan suatu populasi penduduk dimana pada penelitian terdahulu terlihat bahwa 244 . etiologi. ekonomi.

yang disebabkan oleh suatu penyakit. Pada fraktur zygoma yang disebabkan oleh kekerasan. Penanganan yang tepat dapat menghindari efek samping baik anatomis. fungsi pengunyah. fungsi. Selain karena tindak kekerasan dan kecelakaan lalu lintas. pengembalian fungsi okuler. etiologi dari fraktur zygoma juga dapat disebabkan karena terjatuh. dan mereka juga menemukan bahwa fraktur bilateral hanya terdapat pada kasus kecelakaan. fungsi hidung.yang banyak mempengaruhi adalah pada populasi dari area industri dengan tingkat pengangguran yang tinggi sehingga kekerasan interpersonal masih banyak terjadi. mencapai susunan wajah dan gigi-geligi yang memenuhi estetis serta memperbaiki oklusi dan mengurangi rasa sakit akibat adanya mobilitas segmen tulang. 245 . diperkirakan hanya terjadi sebanyak 4% dari 4067 kasus fraktur zygoma dalam sepuluh tahun yang dilaporkan oleh Ellis dan kawan-kawan. Keadaan ini berbeda dengan keadaan fraktur zygoma yang disebabkan karena kecelakaan kendaraan bermotor. hal ini sekaligus mengindikasikan bahwa fraktur zygoma akibat kecelakaan kendaraan bermotor lebih parah jika dibandingkan dengan kasus serupa yang terjadi akibat kekerasan. Fraktur zygoma bilateral jarang terjadi. luka tembakan atau berupa fraktur patologis. benturan sewaktu olahraga. Tujuan utama perawatan fraktur fasial adalah rehabilitasi penderita secara maksimal yaitu penyembuhan tulang yang cepat. perbaikan fungsi bicara. tulang zygoma kiri adalah yang banyak terkena. kecelakaan pabrik. dan kosmetik.

Anatomi dan letak tulang zygoma 3 Zygoma memiliki empat proyeksi yang menciptakan bentuk quadrangular atau tetrapod yang meliputi: bidang frontal. maksila. Zygoma berartikulasi dengan empat tulang: frontal. zygomaticomaksilaris. temporal. dan zygomaticosphenoid (Gambar 1b). zygomaticotemporal. dan sphenoid. Tempat-tempat yang mudah patah adalah sutura 246 . yaitu: sutura zygomaticofrontal.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. Fraktur kompleks zygoma meliputi gangguan pada keempat sutura yang berartikulasi. maksilaris. Kedua penonjolan arcus ini bersama-sama membentuk arcus zygomaticus. Pada beberapa individu membentuk lateral atas dari pada sinus maksilaris. tetapi bila mendapat trauma atau pukulan hebat mudah patah. Gambar 1a.1 ANATOMI TULANG ZYGOMA Tulang zygoma merupakan bagian dari dinding lateral dan dasar rongga orbita (Gambar 1a). Struktur tulang zygoma adalah kuat. dan infraorbital. Tulang ini mempunyai satu tonjolan yaitu processus temporalis ossis zygomaticus yang menonjol ke dorsal dan berhubungan dengan processus zygomaticus ossis temporalis yang menuju ke arah ventral. temporal.

247 . Orbita adalah piramid quadrilateral yang berbasis anterior. levator labii superior dan m. temporalis. permukaan orbita pada tulang zygomatik. dan oleh karena itu sebuah pemahaman gambaran anatomis orbita adalah penting untuk mereka yang merawat cedera ini. Selain otot-otot. Gambar 1b. rata-rata 47 mm. m. masseter. Perlekatan otot-otot dan sutura 2 Seluruh fraktur kompleks zygomatik melibatkan dasar orbita. Dasar orbita melandai kearah inferior dan yang paling pendek pada dinding orbita. dan prosesus orbital dari tulang palatinus. sutura zygomatikomaksilaris. pterygoideus externa. Beberapa muskulus yang melekat pada tulang zygoma : m. sutura zygomatikotemporalis dan sutura zygomatikosphenoid.sphenozygomatika. Muskulus maseter menempel pada aspek inferior dari zygoma. Ia terdiri dari lingkaran orbita maksila. m. Pada kasus fraktur adanya rotasi inferior dari tulang zygoma setelah penatalaksanaan reduksi dapat disebabkan karena lokasi m. pada tulang zygoma juga melekat dua buah ligamen yaitu ligamen kapsular dan ligamen temporomandibular. zygomaticus. maseter ini. m.

dan sebagian kecil dari badan sphenoid. Cabang-cabang zygomatik. (Gambar 2) Gambar 21 Saraf sensori yang berhubungan dengan zygoma adalah divisi kedua nervus trigeminal. Fossa glenoid dan eminensia artikularis terlokasi pada aspek posterior prosesus zygomatikus tulang temporal. fasial. tulang lakrimal. bibir atas. dan geligi anterior maksila. lingkaran orbital ethmoid. Dasar orbital terdiri dari tulang frontal dan sayap yang lebih kecil dari sphenoid. Arcus zygomatikus termasuk prosesus temporal zygoma dan prosesus zygomatik dari tulang temporal. dan temporal keluar dari foramina pada tubuh zygoma dan memberikan sensasi pada pipi dan daerah temporal anterior. hidung lateral. Hal ini memberikan sensasi pada pipi anterior. Otot-otot ekspresi wajah yang berasal dari zygoma termasuk zygomaticus mayor dan labii superioris. Dinding medial terdiri dari prosesus frontal maksila. Mereka diinervasi oleh nervus kranialis VII.Dinding medial dan lateral berkonvergen di posterior pada apeks orbital. Otot masseter menginsersi sepanjang 248 . Dinding orbital lateral adalah yang tertebal dan terbentuk oleh zygoma dan gerater wing dari os sphenoid. Nervus infraorbital melewati dasar orbital dan keluar pada foramen infraorbital.

permukaan temporal zygoma dan arcus dan diinervasi oleh sebuah cabang dari nervus mandibularis. (Gambar 3) Gambar 32 Fascia temporalis berlekatan ke prosesus frontal dari zygoma dan arcus zygomatik. Fascia ini menghasilkan resistensi pergeseran inferior dari sebuah fragmen fraktur oleh penarikan kebawah dari otot masseter(Gambar 4). Gambar 42 249 .

pembukaan dan fiksasi Grup IV Displaced comminuted fractures (high velocity) – pembukaan luas dan fiksasi multipel.tidak ada perawatan Localized segmental fractures . Intact b. Tendon canthal lateral berlekatan dengan tuberkel Whitnall. Jackson (1989) Grup I Grup II Grup III Undisplaced fractures .Posisi bola mata dalam hubungan dengan aksis dipertahankan oleh ligamen suspensori Lockwood. 1995). B. Undisplaced c.pembukaan dan fiksasi Displaced ‘tripod’ fractures (low velocity) – elevasi sederhana atau elevasi.2 KLASIFIKASI FRAKTUR ZYGOMA Jackson (1989) membuat klasifikasi fraktur zigomatikus yang disederhanakan menurut pola dan pergeseran serta perawatannya. 2. Perlekatan ini lebih kearah medial hingga aspek posterior dari tulang lakrimal dan lateral terhadap tuberkel orbital (Whitnall) (yang adalah 1 cm dibawah sutura zygomaticofrontal pada aspek medial dari prosesus frontal dari zygoma). A. Gruss dkk (1990) 1. Bentuk dan lokasi dari canthi medial dan lateral kelopak mata dipertahankan oleh tendon canthal. Segmental 250 . Fraktur kompleks zygomatik seringkali dibarengi dengan sebuah antimongoloid (kearah bawah) dari daerah canthal lateral yang disebabkan oleh pergeseran zygoma. Tendon canthal medial berlekatan dengan krista lakrimal anterior dan posterior. Badan zygomatikus a. Gruss dkk (1990) menekankan peran pola fraktur pada zygoma untuk reduksi yang akurat dan mengklasifikasikan fraktur ini menurut tingkat keparahan tulang pada badan zygoma dan arkus zygoma (Trott et al.

Undisplaced c. sehingga terjadi fraktur dan pergeseran tulang langsung ke dalam sinus maksilaris. 1. 251 . Fraktur zygoma dengan perputaran ke median. hanya retakan saja. pergeseran pada sutura zygomatikofrontalis dan penonjolan tulang zygoma ke dalam. Pemeriksaan secara radiologis menunjukkan adanya fraktur. Displaced : inferior dengan depresi dan lateral e. Intact b. Arkus Zygomatikus a. tetapi tidak memperlihatkan pergeseran. Fraktur ini disebabkan oleh pukulan langsung pada arkus zygomatikus. Fraktur zygoma tanpa perputaran. 2. Fraktur arkus zygomatikus dengan displacement.d. menyebabkan busur ini melekuk ke dalam tanpa mempengaruhi sinus maksilaris ataupun rongga mata. Dalam hal ini tidak diperlukan penatalaksanaan. Comminuted C. Menurut Knight dan North. Dalam pemeriksaan radiologis timbul pergeseran ke bawah dari tepi infra orbita. ke dalam dan sedikit mengarah ke bawah sehingga pipi menjadi rata dan terjadi perubahan bentuk pada tepi infra orbital. Comminuted 2. Segmenta d. Pada umumnya tulang terdorong ke belakang. Fraktur tanpa displacement. 4. Fraktur ini disebabkan oleh pukulan langsung terhadap penonjolan dari tulang zygoma. Displaced e. 3. fraktur zygoma dapat dikalsifikasikan sebagai berikut2 .

Fraktur disebabkan karena pukulan di bawah sumbu datar dari tulang zygoma. Fraktur energi-tinggi ditandai dengan serpihan pada orbit lateral dan pergeseran lateral dengan segmentasi pada arcus zygomatik (Gambar 6).025 fraktur zygomatik. Fraktur kompleks. medial dan inferior. 252 . sutura zygomatikofrontalis keluar atau dapat ke dalam. mengklasifikasikan cedera-cedera ini kedalam tiga kategori. Fraktur incomplete (tidak lengkap) pada satu atau lebih artikulasi dapat terlihat. Kebanyakan fraktur zygoma terjadi pada arkus dalam meliputi lateral orbital 2. dinding orbita lateral. masseter pada arah posterior. 5. Manson et. dalam sebuah tinjauan pada 1. Zingg dan kolega. sehingga tulang yang mengalami fraktur tergeser ke belakang.Fraktur dan pergeseran timbul karena pukulan pada penonjolan tulang zygoma di atas sumbu mendatarnya. sehingga tulang terdorong ke dalam dan ke belakang. Fraktur tulang zygoma dengan perputaran ke lateral. Pemeriksaan radiologis memperlihatkan pergeseran ke bawah dari tepi infraorbital. 6. atau lingkaran infraorbita. Pada 1990. Fraktur-fraktur tipe A adalah fraktur energi rendah tidak lengkap dengan fraktur hanya pada satu pilar zygomatik: arcus zygomatik. ke dalam dan ke bawah. Fraktur arkus zygomatikus menyebabkan depresi pada pipi karena tekanan m. Serpihan mungkin dapat timbul (Gambar 5). Pemeriksaan radiologis memperlihatkan pergeseran keluar dari penonjolan tulang zygoma dan ke atas dari tepi infraorbita ataupun keluar sutura zygomatikofrontalis. Disini termasuk semua kasus dimana didapatkan garis fraktur saling menyilang lebih dari satu.al mengajukan sebuah metode klasifikasi yang didasarkan pada pola segmentasi dan pergeseran3: Fraktur yang memperlihatkan sedikit atau tidak ada pergeseran diklasifikasikan sebagai cedera energi-rendah. Fraktur energi-menengah memperlihatkan fraktur lengkap ( complete) pada seluruh artikulasi dengan pergeseran ringan hingga moderat.

telinga atau hidung. Untuk menegakkan diagnosa fraktur tulang zygoma dilakukan pemeriksaan :  Riwayat kecelakaan Riwayat kecelakaan dapat diketahui dengan memberi pertanyaanpertanyaan kepada penderita untuk memperoleh keterangan yang objektif. Kolaps yang lama dan terus menerus akan menyebabkan shok. berapa lama dalam keadaan tidak sadar. apakah dalam keadaan sadar atau tidak. Asal mula terjadinya fraktur tulang zygoma harus diketahui. nilai 9-12 untuk moderate head injury dan nilai antara 13-15 untuk mild head injury9. best motor responsen dan best verbal response dimana nilai antara 08 untuk severe head injury. Jennet dan Teasdale memperkenalkan sistem Glasgow Scale (GCS) untuk melihat tingkat kesadaran.3 DIAGNOSA FRAKTUR ZYGOMA Riwayat yang terperinci akan banyak membantu dalam menentukan diagnosa. Bila riwayat secara lengkap tidak dapat ditanyakan kepada penderita atau pengantar penderita. Selain itu diperhatikan apakah terdapat perdarahan melalui mulut. Keadaan penderita sewaktu terjadi kecelakaan harus diketahui. apakah karena kecelakaan lalu lintas atau karena pukulan. Kecelakaan yang serius dapat menyebabkan kolaps. maka dapat ditanyakan kemudian setelah penderita agak pulih.Fraktur tipe B mengacu pada fraktur “monofragmen” lengkap dengan fraktur dan pergeseran disepanjang keempat artikulasi. 2. Bila penderita tidak dapat memberi keterangan-keterangan tersebut. Skala ini menggunakan 3 parameter: Eye opening. Fraktur “multifragmen” tipe C termasuk fragmentasi badan zygomatik. dapat kita tanyakan kepada pengantar yang melihat terjadinya kecelakaan. yang ditandai dengan 253 .  Pemeriksaan fisik Hal ini penting untuk menentukan rencana penatalaksanaan yang akan dijalankan. terjadi muntah atau tidak dan riwayat penyakit yang pernah diderita.

2. Gejala-gejala fraktur zygoma Gejala-gejala fraktur ini sangat penting untuk mengetahui tindakan penatalaksanaan apa yang harus didahulukan. nadi cepat tetapi lemah. Gejala neurologis Hilangnya perasaan pada perabaan (anesthesia) dari kelopak mata bawah. Retraksi dari jaringan lunak sudut mata menyatakan adanya penurunan dinding periorbita ke arah sinus maksilaris. bibir dan kuku stanosis. Diplopia disebabkan karena kerusakan dari syaraf infraorbita. penderita harus segera dibawa ke bagian neurochirurgis. Ketidaknormalan dari pinggir infraorbita dalam pemeriksaan palpasi menyatakan adanya kerusakan dari dasar orbita. 1. Pemeriksaan telinga Bila terjadi perdarahan atau terdapat cairan serebrospinal pada satu atau kedua lubang telinga menunjukkan adanya fraktur pada petrosa tulang temporal. lateral hidung atau bibir bagian atas disebabkan rusaknya nervus infraorbitalis. Bila nervus zygomatikofasialis atau nervus zygomatikotemporalis rusak menyebabkan hilangnya perasaan pada pipi dan temporal bagian depan. pupil berdilatasi dan penderita apatis. hidung dan telinga menandakan terjadinya fraktur basis kranii. pernafasan cepat dan dangkal. Kerusakan dari syaraf fasialis menyebabkan Bell’s palsy yaitu sudut mulut terkulai dan mata tidak bisa mengedip. 3. Perdarahan dari mulut. Pemeriksaan mata Pupil berdilatasi menandakan adanya shok. Perdarahan pada tulang telinga menunjukkan pecahnya basis kranii. Gangguan dari pergerakan bola mata disebabkan karena otot-otot penggerak mata terjepit sehingga fungsinya terganggu. 254 . Ketidaksadaran yang lama menandakan adanya kontusio cerebri. 4. kulit lembab. dingin dan pucat. Penderita yang berada dalam keadaan yang tidak sadar tidak boleh dilakukan operasi sebelum penderita sadar.tekanan darah rendah. Misalnya pada fraktur tulang zygoma yang serius sehingga menyebabkan pecahnya basis kranii.

Gambar 51 Pasien dapat ditempatkan dalam posisi berbaring atau bersandar dikursi. adanya edema orbital dan ekimosis subkonjungtival dan proyeksi anterior dan lateral dari zygoma. penurunan bola mata pada sisi yang fraktur. dibandingkan sisi yang satu dengan yang lain3. Pada saat akan melakukan pemeriksaan dengan posisi seperti ini akan memudahkan untuk menempatkan posisi jari telunjuk di bawah tepi infraorbita. Metoda yang paling berguna untuk mengevaluasi posisi dari tubuh zygoma adalah dari pandangan superior (. Pandangan superior juga membantu dalam mengevaluasi kemungkinan terjadinya depresi dari arkus zygoma. Pemeriksaan visual Diagnosa yang langsung dapat dilihat dari gambaran karakteristik yang segera dapat dikenali yaitu muka terlihat asimetri karena adanya pendataran kontur pada pipi yang mengalami fraktur. mengevaluasi bagaimana proyeksi anterior dan lateral dari zygoma terhadap tepi supraorbital. superior dan inferior 3.5. 6. Tidak boleh dilupakan untuk melakukan pemeriksaan intraoral. retraksi dari sudut mata. hematoma. lateral. Inspeksi dilakukan dari bagian frontal. Pemeriksaan dengan cara palpasi Pemeriksaan zygoma meliputi inspeksi dan palpasi. unilateral epistaksis. Hilangnya ekspresi pada pipi yang mengalami fraktur.7. Harus dicatat tingkat simteris. Ahli bedah menginspeksi dari atas. memberikan tekanan pada jaringan yang edema guna palpasi dan mengurangi efek visual dari edema secara simultan. 255 . sepanjang zygoma. level pupil.

3. Jari telunjuk juga digunakan sepanjang aspek bagian dalam dari tepi orbita lateral. Ekimosis mungkin hanya terdapat pada kelopak mata bawah dan derah infraorbita atau di sekitar seluruh tepi orbita. untuk mengetahui adanya hematoma atau irregularitas3. Misalnya. Sama halnya dengan fraktur arkus zygoma yang mungkin kurang mengakibatkan gangguan okuler dibandingkan dengan fraktur kompleks zygoma. dimana sering ditemukan fraktur dengan melakukan palpalsi di bagian dalam dari tepi orbita yang berlawanan arah sepanjang aspek lateral.karena fraktur zygoma sering disertai dengan ekimosis pada sulkus bukalis superior dan oleh fraktur dentoalveolar maksilaris.1 TANDA DAN GEJALA FRAKTUR ZYGOMA Adanya tanda dan gejala serta keparahannya sangat tergantung pada luas dan tipe dari luka zygoma. 256 . Edema dan perdarahan ke dalam jaringan ikat longar dari kelopak mata dan derah periorbital adalah tanda yang paling umum yang menyertai fraktur tepi orbita. Tanda dan gejala berikut ini bisa menyertai fraktur zygoma dan oleh karena itu harus dievaluasi3 : 1. Tepi orbita lateral dipalpasi dengan jari telunjuk dan ibu jari. Tepi orbita dipalpasi dulu. Tubuh dan arkus zygoma paling baik dipalpasi dengan dua atau tiga jari yang bergerak secara melingkar. Bila terdapat fraktur. dibandingkan antara sisi yang satu dengan yang lain. pendataran wajah akan lebih nyata pada cedera pada zygoma yang displaced dibandingkan dengan fraktur yang nondisplaced. 2. Tonjolan zygoma dari maksila dipalpasi dari dalam mulut dengan satu jari. dimana kelopak mata mungkin tertutup karena bengkak. Pendataran dari tonjolan pipi. Bengkak yang seringkali masif mungkin terjadi dan paling dramatis pada jaringan periorbital. Ekimosis dan edema periorbital. 2. Tepi infraorbita dipalpasi dengan jari telunjuk yang secara ritmik digerakkan dari sisi yang satu ke sisi yang lain sepanjang tepinya. dibandingkan dengan sisi yang berlawanan. palpasi seringkali harus dilakukan dengan cara yang halus. Palpasi harus dilakukan dengan sistematik dan teliti.

Juga sering teraba fragmen tulang yang remuk. Nyeri. namun biasanya dapat diperoleh dengan menekankan jari telunjuk pada jaringan lunak darah zygoma dan membandingkan satu sisi dengan yang lainnya dari sebelah atas pasien. Pendataran mungkin sulit untuk dilihat segera setelah terjadinya cedera jika terdapat edema. khususnya jika terdapat distraksi dari sutura frontozygomatikus dan rotasi dan atau remuknya bagian medial. karena nyeri bisa ditimbulkan karena cedera pada jaringan lunak atau fraktur maksila. Kecuali jika ada pergerakan dari segmen fraktur. 3. 257 . Tanda yang penting dari fraktur zygoma atau fraktur maksila adalah ekimosis pada sulkus bukalis maksila. tetapi adanya nyeri belum tentu ada fraktur. 4. Deformitas pada tonjolan zygomatik dari maksila. yang menimbulkan krepitasi. Lekukan yang khas atau hilangnya kurvatura cembung yang normal dari daerah temporal menyertai fraktur dari arkus zygoma. Pendataran di atas arkus zygoma. Palpasi intraoral dari aspek anterior dan lateral dari maksila seringkali menunjukkan irregularitas dari permukaan halus yang normal. Jika pada manuver ini tidak teraba tenderness.Ini adalah tanda yng paling biasa ditemukan pada cedera komplek zygoma yang dilaporkan 70-86% kasus. 7. Ekimosis dari sulkus bukalis maksila. Ekimosis ini bisa terjadi meskipun hanya dengan sedikit gangguan pada maksila lateral atau anterior dan seharusnya tanda ini dicurigai sebagai fraktur zygoma. Deformitas dari tepi orbita. 5. nyeri hebat bukan merupakan gambaran yang normal dari cedera zygoma meskipun pasien akan mengeluh karena merasa tidak nyaman sehubugan adanya memar. mungkin tidak terdapat adanya fraktur. khususnya di daerah tonjolan zygomatikus dari maksila. 6. Tidak adanya nyeri menunjukkan tidak adanya fraktur. Palpasi dari sisi fraktur juga akan menimbulkan rangsangan nyeri.

Temuan lain adalah terdapatnya deviasi kearah sisi yang fraktur pada saat mulut dibuka. 9. dan lebih banyak lagi terjadi pada fraktur tertutup dari arkus zygoma (45%). karena diperlukan perubahan posisi yang cukup besar untuk menyebabkan gangguan mekanik. menghasilkan perdarahan internal. Penjelasan yang lebih mendekati adalah spasme otot yang terjadi sekunder terhadap pergeseran oleh fragmen yang berubah posisi. perdarahn unilateral dari hidung yang mungkin terjadi adalah kira-kira 30-50% dari cedera komplek zygoma. Karena sinus maksilaris dialirkan ke hidung melalui meatus tengaha. jaringan edema. Epistaksis. Trismus. 8. Deformitas ini sering ditemukan pada tepi infra orbita dan tepi orbita lateral bila terjadi fraktur zygoma. Apabila mukosa sinus mengalami gangguan. Gejala penting yang ditemukan pada kira-kira 50-90% dari cedera komplek zygoma adalah berkurangnya sensasi nervus infraorbitalis. Parestesi nervus infraorbitalis lebih sering terjadi pada fraktur dengan perubahan posisi daripada yang tidak. yang pada saat bengkaknya berkurang. khususnya pada otot temporalis. Terbatasnya kemampuan untuk membuka mulut sering terjadi bersamaan cedera zygoma. Meskipun sulit untuk membedakan antara anestesia dari sensasi yang berubah pada penelanan. 10. terpotongnya atau kompresi dari nervus infarorbitalis sepanjang kanalis atau 258 . Anestesia infraorbital terjadi bila fraktur yang melalui dasar atau maksila naterior menyebabkan robeknya. anestesia nervus orbitalis mulai dirasakan. terjadi pada kira-kira sepertiga kasus. Sensibilitas saraf yang abnormal.Fraktur yang terjadi sepanjang tepi orbita seringkali menimbulkan celah atau deformitas jika terjadi displacement. mungkin terjadi perdarahan pada sinus tersebut. Sebenarnya terjadinya pergeseran ini pada sebagian besar kasus masih meragukan. Kebanyakan fraktur melalui dinding sinus yang hanya mengalami sedikit perubahan posisi akan merobek mukosa yang melapisinya. Alasan yang sering dikemukakan untuk terjadinya trismus pasca fraktur adalah bergesernya prosesus koronoideus mandibula pada fragmen zygoma yang berubah posisi.

Bila terjadi. tetapi potensi untuk terjadinya emfisema udara konstan. Fraktur yang melalui dinding sinus. sekitar 5070% kasus. Krepitasi dari emfisema udara. Bila garis fraktur terjadi lateral dari jalur dan foramen infraorbital (lebih jarang terjadi) nervus infraorbitalisnya akan terselamatkan. Hal ini yang paling mudah dikerjakan dengan jalan memutarkan dua jari dengan lembut diseputar jaringan. Jaringan lunak dari daerah periorbita terutama kelopak mata.foramennya. dengan robekan pada mukosa yang melapisi. Kehadirannya tidak mengesampingkan adanya fraktur tepi orbita. yang akan memproduksi sensasi “crackling” yang khas. menyebabkan udara bergerak menuju jaringan lunak wajah jika tekanan diantara sinus lebih besar daripada tekanan didalam jaringan. karena tidak adanya gangguan dari periosteum. Ligamentum palpebra lateralis menempel pada bagian zygoma dari tepi orbita. Perubahan posisi dari celah palpebra. cenderung terinflasi oleh udara karena kehilangan sifat areolar. Gejala tersebut bisa mempengaruhi sensitivitas gigi dan gusi maksila. yang menunjukkan emfisema subkutan. Perdarahan subkonjungtiva sering ditemukan pada fraktur zygoma. Signifikan dari emfisema ini adalah berpotensi terjadinya infeksi melalui hubungan antara sinus dan jaringan lunak. ekimosis subkonjungtiva biasanya tidak mempunyai batas posterior dan kan tampak berwarna merah cerah sesuai dengan kemampuan oksigen untuk menyebar melalui konjungtiva untuk pengumpulan darah. Hal ini tidak umum ditemukan pada fraktur zygoma. 13. perdarahan yang mungkin terjadi dapat terskumulasi pada lokasi subperiosteal dan tidak tampak dibawah konjungtiva. Mungkin disertai retak yang sangat tipis melalui tepi orbita jika periosteum telah robek. bibir atas dan bagian lateral hidung. 259 . Ekimosis subkonjungtiva. Emfisema ini akan menghilang secara spontan dalam 24 hari tanpa perawatan. 12. 11. Perubahan posisi dari zygoma juga termasuk palpebra yang menempelnya. Terganggunya nervus orbitalis akan menyebabkan anestesia kelopak mata bawah. Jika terjadi inflasi dapat dilakukan palpasi dan menimbulkan krepitasi.

Adalah nama yang diberikan untuk gejala pandangan kabur. yang paling banyak adalah terperangkapnya otot. yang sering menyertai fraktur zygoma. Diplopia. karena biasanya menunjukkan lepasnya lensa. Pada waktu zygoma mengalami perubahan posisi pada arah anterior. Keadaan ini tampak secra klinis berupa level pupil yang tidak sama. Dengan adanya gangguan dasar orbita dan bagian lateralnya. Kondisi ini mungkin menyebabkan lebih banyak sklera yang terekspos di bawah iris dan tampak ektropion yang nyata. hilangnya dukungan tulang dari isi orbita dan perubahan posisi dari kapsul tendon dan ligamentum suspensorium dari bola mata. Karena sekat orbita menempel pada tepi infraorbita. Diplopia monocular atau kaburnya pandangan dari satu mata. 14. Diagnosa diplopia bisa sangat sulit pada tingkat awal dimana edema atau perdarahan bisa berkurang dalam beberapa hari namun terperangkapnya jaringan orbita tetap tidak berkurang. hifema atau cedera traumatik lain dari bola mata. perubahan posisi inferior atau posterior dari tepi orbita inferior menyebabkan tekanan pada kelopak mata yang lebih rendah. dimana kaburnya pandangan hanya terjadi bila melihat dengan kedua mata secara bersamaan. sementara yang satu tertutup. Petunjuk yang bermanfaat untuk membedakan penyebab dari diplopia adalah temuan bahwa edema yang menyeluruh dari orbita biasnya menyebabkan diplopia pada pandangan keatas dan kebawah yang ekstrim. Diplopia binokular. dimana pupil pada bagian yang terkena terletak lebih rendah daripada normal. hal ini biasa terjadi kira-kira 10-40% dari cedera zygoma. 15. memerlukan perhatian segera dari ahli mata. Forcep kecil digunakan untuk memegang tendon rektus inferior 260 . Level pupil yang tidak sama.menghasilkan deformitas visual yang dramatis. ligamentum palpebra lateralis juga tertekan. menyebabkan lekukan yang menurun ke celah (kemiringan antimongoloid). sehingga tampak memendek. Kuarngnya gerakan mata yang hampir lengkap dalam satu arah terjadi dengan pengaruh mekanis atau cedera neuromuskuler. Penting untuk membedakan antara dua jenis diplopia. Dapat ditentukan apakah pada fraktur terdapat isi orbita yang melalui dasar orbita dengan forced duction test.

dan serpihan dan untuk mengevaluasi jaringan lunak orbital. derajat pergeseran. Radiografi membantu untuk konfirmasi dan untuk dokumentasi medikolegal dan untuk menentukan perluasan cedera tulang. Secara spesifik. Ketidakmampuan rotasi bola mata ke arah superior menunjukkan secara pasti terperangkapnya isi orbita dan paralisis yang disebabkan oleh edema atau cedera neuromuskuler. Gambaran aksial dan koronal didapat untuk menentukan pola fraktur. Tomografi Komputasi CT adalah standar emas untuk evaluasi radiografi fraktur zygomatik. pada bidang aksial dan koronal. pemindaian CT memberikan visualisasi dan dasar-dasar dari tengkorak wajah tengah: dasar-dasar nasomaksilaris. Jika cedera zygoma sudah menyebabkan kenaikan volume orbita. A). adalah standar untuk seluruh pasien dengan dugaan (suspect) fraktur zygomatik. infraorbital.2 PEMERIKSAAN RADIOGRAFIS Diagnosa fraktur zygomatik biasanya dibuat dengan pemeriksaan riwayat dan fisik. 2. Pada saat bengkaknya sudah hilang. Manifestasi klinik dari enoftalmus dititikberatkan pada sulkus kelopak atas dan penyempitan fisur palpebra. Pemindaian CT pada tulang wajah. atau keduanya atau mengakibatkan berkurangnya volume dari isi orbita yang disebabkan oleh herniasi dari jaringan lunak orbita. 16. dan bola mata dimanipulasi melalui seluruh arah gerakan. yang menyebabkan pseudoptosis dari kelopak atas. Enoftalmus. Ini adalah diagnosa yang sulit dilakukan pada keadaan akut kecuali pada kondisi yang sangat berat. dapat enoftalmus. enoftalmus akan tampak lebih nyata dan seringkali dihubungkan denga terjadinya ptosis bola mata. pada umumnya disebabkan oleh perubahan posisi lateral dan inferior dari zygoma atau gangguan dinding orbita lateral dan inferior. Fraktur zygoma yang menunjukkan gejala enoftalmus kira-kira 5% dari seluruh kasus sebelum dilakukan perawatan.melalui konjungtiva dari forniks inferior.3. Hal ini harus dilakukan secara rutin pada individu yang tidak bisa menggerakkan bola mata ke arah atas. zygomaticomaksilaris. dimana edema pada jaringan lunak sekitarnya selalu menimbulkan enoftalmus relatif. 261 .

terlihat gambaran displaced fraktur arkus zygomatikus sinistra. Radiograf Biasa Pemindaian CT (CT scan) telah menggantikan film biasa untuk diagnosa dan penanganan fraktur kompleks zygomatik. B). dan zygomaticotemporal. B. terlihat gambaran fraktur kompleks zygomatic dekstra. Coronal CT scan. sebuah pengetahuan kerja fundamental pada teknik ini diperlukan. orbita lateral. Ketika hal ini dikombinasikan dengan sebuah Water’s view yang 262 . C. Jendela jaringan lunak. Ia adalah sebuah proyeksi posteroanterior dengan kepala yang terposisi pada sudut 27° terhadap vertikal dan dagu berada pada kaset (cassette). zygomaticosphenoid. Radiograf tunggal terbaik untuk evaluasi fraktur kompleks zygomatik adalah Water’s view. dan lingkaran infraorbita (Gambar 6B). Submentovertex view. Waters’ view. terlihat gambaran zygomaticomaxillary buttress dekstra dan fraktur dasar orbital dengan herniation of orbital padamaxillary sinus.1 a. pasien trauma akan masih menjalani evaluasi radiografi film biasa. Pandangan koronal khususnya membantu dalam evaluasi fraktur dasar orbita (Gambar 6A).zygomaticofrontal. Hal ini memproyeksikan piramida petrosa jauh dari sinus maksilaris. Kemampuan untuk membaca dan interpretasi film-film ini menjadi diagnosa dan merawat pasien-pasien ini adalah penting. A. pada dataran koronal. Meskipun demikian. memberikan visualisasi sinus-sinus. Water’s View. Pada banyak ruang emergensi dan rumah sakit. berguna untuk mengevaluasi otototot ekstraokuler dan untuk mengevaluasi herniasi jaringan orbita kedalam sinus maksilaris. A B C GAMBAR 6.

Submentovertex View. Pada pasien yang tidak mampu mengira-ngira posisi wajah kebawah. Caldwell’s View. 263 . Submentovertex (jug-handle) view diarahkan dari daerah submandibula ke vertex tengkorak. sebuah pandangan stereografi dari fraktur dapat terlihat. proyeksi Water’s view terbalik memberikan informasi yang sama. Caldwell’s view adalah sebuah proyeksi posteroanterior dengan wajah pada sudut 15o terhadap cassette. c. Penelitian ini membantu dalam evaluasi rotasi (disekitar aksis horisontal). b.terangkat. Ia membantu dalam evaluasi arcus zygomatik dan proyeksi malar (Gambar 6C).

Reduksi tertutup tidak bisa dilakukan. Jika tidak dilakukan intervensi bedah maka pasien sebaiknya diobservasi selama dua sampai tiga minggu dengan diet lunak7. seperti pada fraktur communite1 Disamping itu fraktur zygoma juga sering melibatkan orbita. 264 . Davies mengemukakan adanya insiden kerusakan (disruption) dasar orbita sebesar 47% pada penderita fraktur zygoma. large Kelly hemostat.7. Pada kasus ini diantaranya diperlukan rekonstruksi dengan pemakaian implan dasar orbita atau graft untuk mendukung jaringan periorbita7. Pendekatan Vestibulum Maksila Pendekatan ini paling populer. 3. karena scar yang terjadi tidak terlihat. Bila terjadi pergeseran fragmen maka diperlukan suatu reduksi (reposisi) dengan cara terbuka (open reduction).BAB III PENATALAKSANAAN FRAKTUR KOMPLEK ZYGOMA Tidak semua fraktur zygoma memerlukan intervensi bedah. karena kita tidak mungkin melakukan manipulasi eksternal1. Berbagai instrumen juga bisa digunakan dengan pendekatan ini antara lain cushing elevetor.1 TEKNIK REDUKSI A). Pada kasus fraktur yang tidak diikuti pergeseran fragmen ( undisplaced) atau dengan pergeseran minimal tidak diperlukan intervensi bedah. Sebagian besar ahli bedah berpendapat. pada fraktur zygoma setelah suatu tindakan reduksi. fiksasi tidak mutlak diperlukan. Fiksasi hanya diperlukan bila ada indikasi. tang ekstraksi gigi3.

operator sebaiknya meraba daerah lateral orbital rim untuk menentukan lokasi fraktur. Fraktur infraorbital rim. Pendekatan Supraorbital Eyebrow Pendekatan ini dilakukan untuk mendapatkan akses ke lateral orbital rim (daerah frontozigoma).3 . lateral. biasanya sampai gigi molar pertama. Dingman Zygomatic Elevator atau urethral sound 1. Keuntungan dari pendekatan ini adalah scar yang terjadi tersembunyi.4. Sebelum melakukan insisi. Alat yang digunakan Large Kelly hemostat. maksila bagian anterior dan buttress zigomatikomaksila mudah dicapai dengan pendekatan ini7. Instrumen digunakan untuk mengangkat zygoma ke anterior. lebih cepat dan komplikasinya sedikit 1.3. dan tangan yang lain meraba infraorbital rim dan body zigoma. Pada teknik ini instrumen diinsersikan pada posterior zygoma sepanjang permukaan temporal. Secara estetis scar yang dihasilkan kurang tersembunyi pada pasien dengan eyebrow yang tidak meluas ke lateral dan disamping itu akses yang didapat tidak terlampau luas1. sederhana. B). Insisi dilakukan sepanjang 2 cm dan bisa meluas ke bawah eyebrow sesuai lokasi fraktur 7. 265 .Gambar 7:reduksi melalui pendekatan vestibulum maksila2 Insisi dilakukan kira-kira 3 sampai 5 mm di atas mucogingival junction dari gigi insissivus pertama diperluas ke posterior sesuai keperluan.

Keuntungan dari pendekatan subtarsal ini adalah relatif mudah. baik secara estetis dan komplikasinya minimal1. Pendekatan Subtarsal Pendekatan ini paling sering dilakukan untuk mendapatkan akses ke orbital rim. Insisi dibuat sekurang-kurangnya 10 mm di atas tepi kelopak mata.3 C). Scar yang terbentuk didaerah ini tidak menarik perhatian1.4 D). dan dasar orbita. Gambar 9: Pendekatan pada kelopak mata atas1. 266 . Insisi dilakukan pada lipatan kulit di kelopak mata atas.Gambar 8: Pendekatan supraorbita eyebrow (alis mata) 1.3. Pendekatan Upper Eyelid (Kelopak Mata Atas) Pendekatan ini sering juga disebut upper blepharoplasty atau pendekatan supratarsal fold. Insisi dibuat pada lipatan kulit di kelopak mata bawah dibawah level tarsus.3.

kemudian dilakukan insisi konjungtiva pada fornik dengan gunting. Kemudian dilakukan pemisahan (undermine) palpebra konjungtiva tepat dibawah tarsus ke arah medial sampai lacrimal punctum. 267 .Gambar 10: Pendekatan subtarsal1.4 E). Mula-mula dilakukan canthotomy dengan menggunakan gunting jaringan pada fisura palpebra lateral dan memotong dalam arah horizontal. gunting kemudian diarahkan ke bawah kemudian dilakukan transeksi terhadap tendon chantal lateral (inferior cantholysis). bila telah sempurna kelopak mata akan jatuh bebas. Pendekatan Subkonjungtiva Pendekatan ini dapat dikombinasi dengan canthotomy lateral untuk membuka dasar orbita.3. Setelah itu dilakukan diseksi tumpul pada orbital rim1. Sebelum tindakan ini dilakukan pemasangan pelindung kornea (corneal shell). Dengan menarik tepi kelopak. Salah satu ujung gunting dikeluarkan dari pocket dan dilakukan penarikan dengan retraktor.

flap akan dengan cepat (mudah) dilepaskan perikranium. dilakukan diseksi 268 . Insisi ditempatkan atas dua pertimbangan. Dari lengkung zigoma. akan terlihat permulaan lengkung zigoma. sub kutis dan galea. untuk keperluan ini insisi koronal dapat meluas ke lobus dari telinga7. harus diantisipasi kemungkinan terjadinya kemunduran hairline. Pendekatan Koronal Pendekatan ini nampaknya radikal dalam penanganan fraktur zigoma. Pertama hairline. besarnya akses ke inferior yang diperlukan. Kedua. maka insisi ditempatkan beberapa sentimeter dibelakang hairline.3 F). Tepi insisi (anterior dan posterior) diangkat 1 sampai 2 cm untuk pemasangan klip hemostatik (Raney Clips). Flap anterior dipisahkan dengan diseksi tumpul sampai kira kira 2 cm dari body lengkung dan zigoma. Kemudian lapisan superfisial fasia temporal diinsisi. Insisi dilakukan dengan menggunakan pisau no. body zigoma dan lengkung zigoma tanpa komplikasi.A B C D Gambar 11: Pendekatan subkonjungtiva1. serta Scar yang terbentuk tidak terlihat 7. tapi menyediakan akses yang sangat baik ke orbita. Pada tahap ini akan ditemukan jaringan ikat longggar. 10 menembus kulit.

Infraorbital rim dapat terlihat dengan memperluas diseksi dari lateral orbita ke medial1. kemudian penutupan scalp dengan dua lapis jahitan yaitu gelea dan kutis dengan benang 2-07. Gambar 12: Pendekatan koronal1.tumpul sampai ke lateral orbita dan lengkung zigoma. Carol-girard screw instrument yang bisa digunakan meredukasi zigoma.3. Penutupan dimulai dengan penjahitan fasia temporal.4 G). 269 . Alat lain yang sering digunakan adalah Bone hook1.3. Pendekatan Perkutan Ini merupakan teknik yang paling sederhana dan tidak memerlukan diseksi jaringan lunak dan bisa menggunakan beberapa instrument. screw-nya dapat tertanam dalam zigoma pada lubang yang dibuat sebelumnya. Keuntungan dari penggunaan screw ini adalah dapat dilakukan kontrol yang lebih baik dalam mengembalikan posisi zigioma.

5 cm menembus kulit dan subkutis sampai terlihat warna putih yang merupakan fasia temporalis. Pape (1997) merekomendasikan untuk menggunakan satu atau dua mikroplate pada zigomatikomaksila buttress7. Gambar 14 : Reduksi melalui pendekatan temporal 1 3.3 H).Gambar 13:Reduksi melalui pendekatan perkutan 1. 270 . dianjurkan untuk memasang pada prosesus frontozigomatik. jika hanya memerlukan satu plate. Pendekatan Temporal Pada pendekatan ini dibuat insisi sepanjang 2. Setelah itu insersikan elevator diantara fasia dan otot temporal dan didorong sampai body zigoma dan mengembalikan posisinya1.2 PRINSIP FIKSASI Untuk mempertahankan hasil reduksi. insisi harus cukup dalam sampai otot temporal terlihat. Kemudian dilakukan insisi pada fasia.

Insidensi terjadinya asimetris bervariasi antara 3. menggunakan teknik reduksi zygoma rutin. KOMPLIKASI Walaupun komplikasi pada fraktur kompleks zygoma dan lengkung zygoma tidak umum terjadi. Sepertinya. ahli bedah harus mengenali tanda-tanda dan gejala untuk dapat memberikan perawatan yang tepat. Komplikasi bisa saja terjadi pada masa awal periode postoperasi atau hanya menjadi manifestasi dikemudian hari. reduksi anatomis pada fraktur dapat meminimalisir tekanan saraf dan dibiarkan untuk pulih.6-27% pada seluruh fraktur komplek zigomatikomaksilaris.Pada fraktur Comminuted di infraorbital rim direkonstruksi dengan menggunakan microplate. Malunion yang diketahui sampai 6 minggu setelah cedera masih bisa dikoreksi. Malunion dan asimetris Fraktur malunion dari zygoma terjadi dalam beberapa tingkat keparahan. pada penelian Vrien. A). Plate yang digunakan biasanya sebanyak 4 lubang dengan panjang 5 atau 7 mm7 3.3. Sebagian besar fraktur malunion dari zygoma didapatkan karena kekeliruan untuk mengetahui keparahan dari cedera atau reduksi yang tidak stabil. Namun. Teknik koreksi yang terlambat meliputi uatograft 271 . tidak didapat tingkat kesembuhan yang sama pada pasien yang membutuhkan eksplorasi bagian dasar dan rekonstruksi orbita. B). namun angka ini hanya berdasarkan pada penilaian klinis. Penelitian oleh Vriens bersama mahasiswanya dan Taicher bersama mahasiswanya. malposisi dari tulang bisa menyebabkan penurunan fungsi mandibula. Meskipun pada sebagian besar kasus terdapat defisit kosmetik. telah menemukan bahwa pemulihan sensasi infraorbita yang lebih baik yang menyertai reduksi yang terbuka dan fiksasi internal pada sutura zygomatikofrontal dibandingkan dengan reduksi yang tanpa disertai dengan fiksasi. Paresthesia Infraorbita Insidensi perubahan sensoris saraf infraorbita yang menyertai trauma zygoma berkisar 18 hingga 83%.

Bagaimanapun defek yang lebih besar memerlukan reposisi kraniofasial atau penempatan tulang. Untuk deformitas minor. mungkin saja untuk dilakukan. Dengan teknologi CT-scan yang lebih baik. Peningkatan volume orbita merupakan etiologi yang paling umum. C). kontur yang dihaasilkan mungik irreguler dan potensial terjadinya migrasi dan ekstrusi dari implan tersebut sepanjang waktu. Pada rumus ini. Volume kerucut adalah ½ ( r2)h. kalkulasi volume orbita dan implikasinya terkait dengan fraktur pada bagian dasar orbita. kesejajaran yang buruk dari lingkar orbita dapat menambah volume orbita secara signifikan dan menimbulkan enophthalmos.maupun homograft atau bahan-bahan aloplastik dan ostektomi zygoma. Enophtahlmos Enophtahlmos merupakan satu dari beberapa komplikasi yang paling mengganggu yang menyertai fraktur-fraktur zygoma. kartilago telah terbukti lebih efektif. radius dikwadratkan dan sedikit penambahan pada radiusnya menghasilkan pertambahan volume yang drastic. Meskipun bahan aloplastik telah dianjurkan. Gambar 151 272 . Fraktur pada bagian dasar orbita juga merupakan akibat dari enophthalmos dengan pertambahan volume orbita (Gambar 15). Secara klinis. Posisi lengkung orbita menentukan radius kerucut dan dimensi panjang anteroposterior orbita adalah tinggi dari kerucut. Grant bersama mahasiswa menjelaskan permasalahan klinis ini secara jelas dengan membandingkan bentuk orbit dan bentuk kerucut.

mengakibatkan enophthalmos yang siginifikan (>2mm). kira-kira 1 cm3 jaringan yang bergeser sebanding dengan 1 mm enophthalmos. Pada umumnya. Ellis bersama mahasiswa mencatat sebanyak 5. Ukuran pada kerusakan orbita dan tonjolan abnormal pada jaringan orbita juga telah diteliti. dan kerusakan saraf III.89 mL. Akses yang luas dengan oetotomy zygoma. Penelitian histologist oleh Iliff bersama mahasiswanya telah menunjukan fibrosis post-traumatik pada otot-otot extraocular sebagai akibat kerusakan yang ditimbulkan.5 % insidensi diplopia. reposisi. atau VI cranial. D).4 hingga 74. hematoma. sedangkan fraktur murni memiliki insidensi yang tinggi. IV. CT scan pada bagian axial dan coronal serta konsultasi dengan ahli mata perlu dilakukan untuk membantu pelaksanaan evaluasi. Pada tahun 2002. dan grafting bisanya diperlukan. dikaitkan dengan enophtahlmos dengan ukuran lebih besar dari 2 mm. terjepitnya otot-otot ekstraokular dan jaringan orbita. Perawatan enophthalmos yang telat bisa dikatakan cukup menantang. Penyebab-penyebab utama diplopia antara lain adalah edema dan hematoma. Fraktur kompleks zygoma non-displaced dan fraktur lengkung zygoma yang terisolir memiliki insidensi diplopia terendah. Ploder bersama mahasiswa menjelaskan bahwa nilai rata-rata area fraktur sebesar 4. atau neurogenic bisa saja diatasi 273 . Insidensinya bervariasi anatar 17 dan 83% dan tergantung dari waktu timbulnya yang menyertai kerusakan dan pola serta tingkat keparahan dari kerusakan. Pada pengamatan 2067 kasus fraktur kompleks zgoma. Diplopia yang berhubungan dengan edema.08 cm atau rata-rata nilai jaringan yang bergeser sebesar 1. Mereka mengajukan hipotesis bahwa hal ini bisa saja merusak contractility dan mengurangi terjadinya penyimpangan otot-otot. Diplopia Diplopia merupakan kondisi abnormal (sequel) pada fraktur bagian tengah wajah. pada 4 minggu. Re-draping dari jaringan lunak periorbital termasuk itu canthopexy juga diperlukan.Raskin bersama mahasiswa menunjukan bahwa pertambahan sebesar 13% pada volume orbita.

dan mempertahankan keadaan ocular normal. Hyphema Traumatik Trauma pada mata bisa mengakibatkan perdarahan di dalam ruang anterior-area di antara kornea dan iris yang berwarna (gambar 15). dan osmotic agent juga diperlukan. dan betablocker. Perawatan pada fraktur wajah dapat ditunda. Trauma Neuropati Optik Trauma neuropati optik dapat saja bermanifestasi sebagai kondisi yang meluas dari gambaran defisit yang ringan hingga gambaran kehilangan secara keseluruhan. Intervensi pembedahan oleh ahli mata jarang dibutuhkan. Kondisi tersebut membutuhkan perhatian khusus atau pembedahan. Penatalaksanaan hyphema terdiri atas terapi suportif termasuk itu mengatur kemiringan bagian kepala tempat tidur dan mengobati bagian mata yang rusak. Konsultasi dengan ahli mata diperlukan. Keadaannya bisa saja berupa ptosis. Proptosis juga mungkin terlihat 274 . forehead anesthesia. Perawatannya bervariasi tergantung dari penyebabnya tapi bisa saja melibatkan penggunaan steroid secara sistemik atau pembedahan dengan dekompresi saraf orbital atau optik. dan fixed dilated pupil. Antifibrinolitik sistemik. Diplopia yang ditimbulkan oleh entrapment membutuhkan eksplrasi dan reduksi tonjolan abnormal pada jaringan orbita (gambar 19). Sindrom Superior Orbital Fissure Sindrom orbital fissure merupakan komplikasi yang tidak umum yang menyertai trauma wajah. yang bisa saja terjadi pada 5-30% pasien. ophthalmoplegia. E).tanpa adanya intervensi. Hasil akhir perawatan termasuk pula pencegahan terhadap perdarahan. Diplopia yang menetap membutuhkan perawatan oleh ahli mata. Penatalaksanaan medis dengan menggunakan cycloplegic topikal. carbonic anhydrase inhibitor. G). F). Konsultasi dengan ahli mata harus dilakukan. Perawatan fraktur dapat ditunda.

Terkenanya zygoma atau arkus zygoma atau koronoidektomi mungkin diperlukan untuk memulihkan gerakan normal dari mandibula 275 . Perdarahan retrobulbar Perdarahan pada retrobular jarang terjadi namun merupakan komplikasi yang parah yang dapat mengakibatkan kerusakan awal atau koreksi operatif. proptosis. eksplorasi apeks orbital dan aspirasi hematoma retrobular. pasien dengan keluhan sakit pada periorbital. apabila ada. Trismus Berkurangnya gerakan mandibula mungkin merupakan komplikasi yang merugikan dari fraktur zygoma. Penyebab yang paling umum terjadi adalah terkenanya zygoma pada prosesus koronoid dari mandibula. Gangguan pada sirkulasi retina dapat mengakibatkan iskemi yang ireversibel dan kebutaan permanen. Immediate lateralcanthotomy and cantholysis were performed.fiksasi dan dilatasi pupil. 3 I). Trismus juga bisa terjadi secara sekunder akibat ankilosis fibrosis atau fibrooseus dari koronoid pada arkus zygoma. Ord melaporkan insidensi sebanyak 0. H). dan akut progressiveloss of vision dengan hyphema.Perawatannya bisa berupa reduksi fraktur. B. Pengamatan pada 1405 kasus fraktur orbita.03% pada perdarahan retrobular posoperatif disertai dengan kehilangan penglihatan. steroid. Retrobulbar hemorrhage. namun dekompresi dengan canthotomy lateral dan cantholysis sebaiknya tidak ditunda ( gambar 16). Gambar 16 A. Konsultasi sesegera mungkin dengan ahli mata diperlukan. A.

276 .

Untuk tindakan reduksi dapat dilakukan pendekatan supra eyebrow (alis mata). Setelah tindakan reduksi terbuka tidak selalu diperlukan fikasasi. kelopak mata atas. temporal perkutan dan 277 . Bila terjadi pergeseran fragmen diperlukan tindakan reduksi terbuka. koronal. kecuali atas indikasi seperti fraktur cumminuted.BAB IV KESIMPULAN Perawatan fraktur zygoma memerlukan tindakan bedah bila tidak ada pergeseran fragmen atau pergeseran minimal. sub konjungtiva. subtarsal.

contemporary oral and maxillofacial surgery. 9. Thieme. 1995. 2005. Elsevier Saunders. Philadelphia. Thaller SR. 2004.. Penanganan fraktur arkus dan kompleks zigomatikus. Goldwasser MS. 1th ed. Atlas of Craniomaxillofacial Osteosynthesis. London : BC Decker Inc.J.. All. Churchill Livingstone. Gray H. 1999. Facial Trauma. Ochs MW. David D.bartleby. New York : Marcel Dekker. 1th ed. Oral and Maxillofacial Trauma. 4. Craniomaxillofacial Trauma.com/107/40. R. Oral and Maxillofacial Trauma. McDonald WS. 6. Dalam : Peterson et al. 2004 7. Dalam : Miloro M et al. Feb 2005 no 1 tahun IX hal 41-50. 3. Ellis E. Management of facial fractures. Hamilton. Indonesian journal of oral and maxillofacial surgeons. 2010. Third Ed.J. 2005. Anatomy of The Human Body : The Zygomatic Bone. 3rd Ed. London 8. WB Saunders Co.DAFTAR PUSTAKA 1. Tucker MR. et al. New York.Vol 1. Harle.. F. Management of Zygomatic Complex Fractures. St louis: mosby co. et. Available at : http:// www.html 278 . Prasetiyono A. Peterson’s principles of Oral and Maxillofacial Surgery 2nd. 2. 2003 5. Fonseca. Bailey JS.

FRAKTUR PALATAL Leidya Valentina Elizabeth 160121120009 Peserta Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut Dan Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Bandung Abstrak : Fraktur palatal jarang ditemukan sebagai diagnosis tunggal pada pasien dengan trauma kraniofasial. alveolar maksila. dan berhubungan dengan fraktur Le Fort (8-13.5mm. CT scan dilakukan dengan potongan yang tipis.2%). setiap 1.10. atau disruption pada hubungan oklusi pada fraktur dislokasi.0 sampai 1. Kata kunci : Fraktur palatal. Fraktur palatal biasanya berhubungan dengan fraktur midfasial atau panfacial. 279 . Gejala klinis fraktur ini antara lain seperti ekimosis palatal pada fraktur tertutup dan laserasi pada bibir atas atau mukosa palatal. kehilangan gigi incisivus. menunjukkan fraktur dengan jelas.

arch bar acylated. kehilangan gigi insisivus. 280 . Tanda klinis fraktur ini antara lain palatal eccymosis pada fraktur tertutup dan laserasi bibir atas atau mukosa palatal. menunjukkan fraktur dengan jelas. dan dilaporkan sebanyak 8-13. Fraktur palatal ditemukan pada 8% fraktur Lefort dan jarang ditemukan sebagai fraktur palatal sendiri.0 sampai 1. Sering kali fraktur palatal dihubungkan dengan fraktur midfasial lainnya. setiap 1. dan arch bar untuk fiksasi maxillomandibular untuk fiksasi internal. Untuk memastikan stabilisasi post operasi yang tepat dan restorasi oklusi sebelum cedera. Fraktur palatal jarang sebagai diagnosa tunggal pada pasien dengan trauma kraniofasial. Pilihan perawatan untuk fraktur palatal meliputi braket ortodontik. Fraktur tidak stabil ini seringkali ditemukan pada pasien trauma maksilofacial. kehilangan relasi oklusal karena dislokasi fraktur. pendekatan tahap operasi diperlukan untuk setiap kelas fraktur palatal3. dengan plate dan screw yang dipasang dibawah mukosa palatal dan periosteum. bersama dengan apertura pyriform atau plating alveolar serta rekonstruksi pilarpilar pada fraktur Le Fort.2% berhubungan dengan kasus fraktur Le Fort.BAB I PENDAHULUAN Fraktur palatal memberikan tantangan unik untuk keterampilan bedah dalam penanganan fraktur midfasial. Biasanya berhubungan dengan fraktur midfasial atau panfasial.5mm. CT scan dilakukan dengan potongan yang tipis.

2. Tulang palatal lebih tebal pada bagian anterior dan berangsur menipis ketika mendekati palatum lunak.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. Palatum terbentuk dari dua tulang yang bersatu: palatum pada bagian maksila dan bagian horizontal palatum. namun menjadi lebih tebal ke arah alveolus. dimana beberapa kasus fraktur palatal dapat terdiagnosa (Gambar 1a). palatum keras relatif tipis pada regio sagital dan parasagital. Periosteum lebih melekat kuat pada membran mukosa di dalam kavitas oral dibandingkan dengan tulang palatal. Pada hampir semua pasien yang menderita fraktur palatal.2 DIAGNOSA Saat ini. Tanpa memperhatikan crest pada midline.5 mm. Pada lebih dari 65% penderita fraktur palatal. Foramen terdapat dekat midline palatum dari arah anterior (dibelakang insisivus mesial) dan jauh ke arah posterior (dekat gigi molar). Adanya perubahan oklusi maksila mandibula merupakan tanda yang dapat ditemui juga. Pada area alveolus. dengan 45% pasien menderita disruption mukosa palatal dan gingival (Gambar1b). pasien menderita laserasi bibir. keduanya dikenal sebagai mukoperiosteum. Hampir semua segmen fraktur palatal mengalami pergeseran 281 . Lebar dan dalam palatum keras serta lebar dan panjang mandibula menunjukkan bangunan tiga dimensi sepertiga wajah bagian bawah. Tebal rata-rata palatal adalah 4. hampir pada semua trauma center dilengkapi dengan peralatan CT Scanner yang sangat akurat. Foramina berukuran sangat kecil dan berfungsi untuk mengimbangi struktur palatum secara keseluruhan. Peralatan ini sangat penting terutama untuk mendiagnosa fraktur yang tidak memberikan tanda klinis yang jelas. ketebalannya antara 12 sampai 14 mm.1 ANATOMI TULANG PALATUM Palatum durum terbentuk diantara tujuh tulang pilar kraniomaksilofasial. akan memberikan tanda dan gejala yang jelas.

Type I : Fraktur Alveolar (2 type) Type Ia : alveolus anterior.3 KLASIFIKASI FRAKTUR PALATAL Fraktur palatal dibedakan berdasarkan hubungan palatal dengan alveolus maksila.baik ke arah anterior dan lateral. gigi dan midline palatal3. meliputi gigi premolar. Type Ib : Posterolateral. 282 . Ahli bedah harus berhati-hati dalam menentukan oklusi pada penderita fraktur palatal. Gambar 1. meliputi gigi incisivus beserta daerah alveolusnya.a) CT-scan b) Klinis fraktur palatal1 2. molar beserta alveolusnya. karena penderita dapat mengalami fraktur mandibula juga yang mana dapat mengaburkan diagnosa.

Fraktur pada daerah ini berbeda dengan type Ib sebab selain daerah premolar dan molar . 283 . Type II : Fraktur Sagital Fraktur type II terjadi pada daerah midline dari palatum. mmhg Type III : Fraktur Parasagital Paling sering ditemui pada dewasa (63%) sebab tulang yang tipis berada di daerah parasagital. a) Gambar 3.a) Tipe II b) Tipe III 2 b) Type IV : Fraktur paraalveolar Terjadi dari arah palatal menuju alveolaris maksila dan berisi gigi-gigi insisivus.a) Tipe Ia b) Tipe Ib2 b).a) Gambar 2. Type ini paling sering ditemukan pada dekade ke 2 dan ke 3 sebab garis tengah palatum belum terlalu mengeras. daerah kaninus juga ikut terlibat.

a) b) Gambar 4. ke arah oblik atau comminuted fraktur kasar. membelah maksila pada dataran koronal. Type VI : Fraktur Transversal Fraktur palatal yang paling jarang terjadi.a) Tipe IV b) Tipe V c) Tipe VI 2 c) 284 .Type V : Fraktur compleks/ Comminuted Fraktur yang besar multiple.

Reduksi dimulai dengan aplikasi arch bar maksila untuk memasang tension band melewati segmen alveolus maksila. paling tidak dua plate digunakan 9 satu anterior dan satunya lagi diposterior) untuk 285 . dan palatal acrylic splint pada fraktur kompleks. Dianjurkan untuk melakukan fiksasi intermaksiler selama dua atau empat minggu. Setelah fikasi intermaksiler dilepas. Fraktur palatal tipe Ia bisa dirawat menggunakan Erich bar segmental atau menggunakan braket ortodontik tanpa fiksasi intermaksiler. Ketika segmen yang fraktur terlihat. supaya penyatuan awal dapat dilakukan. Saat menggunakan fiksasi internal yang rigid. dan hubungannya dengan fraktur pada maksila dan mandibula. keadaan gigi geligi. Fraktur tipe Ib bisa dirawat menggunakan arch bar pada pertemuan segmen fraktur yang terbuka di belakang pilar zygomaticomaxillary untuk menfasilitasi reduksi terbuka dengan fiksasi internal. IV dan VI dirawat dengan pendekatan perbagian secara urut untuk mengurangi kesalahan penyatuan segmen-segmen fraktur. Kedua cara perawatan ini bisa didukung dengan pemakaian mini plate atau mikroplate menggunakan insisi gingival standar untuk Le Fort I. perhatian dilanjutkan pada fiksasi internal rigid pada daerah palatal yang fraktur. tekanan ke arah mesial menggunakan jari untuk mendapatkan lebar lengkung dan batas oklusal. pasien bisa dipasangi fiksasi intermaksiler sementara. III. Kemungkinan perawatan yang bisa dilakukan adalah: kombinasi fiksasi internal. Oklusi harus didapatkan sebelum merawat fraktur ini. pemakaian arch bar. Untuk memastikan penyatuan awal. Pendekatan bedah meliputi laserasi atau insisi longitudinal pada palatal untuk mempertahankan suplai darah pada segmen palatal. Fraktur palatal tipe II.BAB III PEMBAHASAN Perawatan bedah pada fraktur palatal dimulai dengan identifikasi secara spesifik tipe fraktur.

Acrylic splint2 Fraktur palatal tipe V membutuhkan aplikasi palatal splint akrilik untuk perawatan. Direkomendasikan untuk memasang fiksasi intermaksiler selama 2 sampai 4 minggu diikuti dengan elastic guidance dan diet lunak sampai dilepas. Pemasangan plate dilakukan di regio piriformis dan sepanjang basis pilar zygomaticomaksilaris. Fraktur comminuted pada palatum sebaiknya dirawat dengan pendekatan tertutup (close reduction) dimana suplai darah pada segmen fraktur tidak dapat dikompromikan. menghasilkan lebar lengkung daripada yang direncanakan. Gambar 5. insisi vertikal ginggiva kemungkinan perlu dilakukan. fiksasi intermaksilari dipasang kembali untuk mempersiapkan fiksasi internal rigid pada segmen piriformis dan ridge alveolar. 286 . dan jika suplai darah menjadi perhatian.menghindari terjadinya pergerakan segmen fraktur ke arah posterior. Rekonstruksi secara bedah dilakukan setelah semua stabilisasi dilakukan dan stabilisasi oklusi sudah dipastikan. Setelah aplikasi fiksasi rigid dan penutupan insisi. Model gigi diambil dari pasien untuk membuat model pembedahan di laboratorium dan membuat splint palatal. Pendekatan bedah meliputi laserasi. Persiapan yang optimal diperlukan pada saat memperbaiki palatum yang fraktur comminuted. insisi vestibular standar untuk Le Fort I.

Splint sebaiknya tidak diperlebar secara interoklusal diantara mandibula dan maksila. 287 . Bisa juga diaplikasikan circumdental wire dengan atau tanpa menggunakan arch bar.

dan hubungannya dengan fraktur pada maksila dan mandibula. pemakaian arch bar. dan palatal acrylic splint pada fraktur kompleks. Kemungkinan perawatan yang bisa dilakukan adalah: kombinasi fiksasi internal. keadaan gigi geligi. Perawatan bedah pada fraktur palatal dimulai dengan identifikasi secara spesifik tipe fraktur. Sering kali fraktur palatal dihubungkan dengan fraktur midfasial lainnya. 288 .BAB IV KESIMPULAN Fraktur palatal memberikan tantangan unik untuk keterampilan bedah dalam penanganan fraktur midfasial. Fraktur tidak stabil ini seringkali ditemukan pada pasien trauma maksilofacial.

St Louis : Elseviere 289 . 2004. Oral and Maxillofacial Trauma. 2.DAFTAR PUSTAKA 1. Fonseca et al. Oral and Maxillofacial Trauma. Facial Trauma.Vol 1. Ellis E. Vol 2nd.2005. Thaller SR. 3. 3rd Ed. 2005. McDonald WS. Elsevier Saunders. New York : Marcel Dekker.

nasal. Sehingga memudahkan doktergigi jika mendapatkan kasus-kasus kegawatdaruratan Kata Kunci: fraktur. Maksud dari penulisan makalah ini adalah untuk memberikan gambaran mengenai fraktur nasal dan kompleks orbita serta perawatannya. orbita dan ethmoid menjadi suatu tantangan baru baik dari cara mendiagnosa maupun rekonstruksinya pada perawatan setelah trauma. medial chantal ligament.Fraktur Nasal dan Kompleks Orbita Susanti Bulan 160121120004 Peserta Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut Dan Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Abstrak: Cedera pada nasal. orbita 290 . Hasil yang baik akan tercapai dengan penguasaan anatomi yang baik. perawatan yang dilakukan sedini mungkin dan proses rekonstruksi yang hati-hati. Hal ini menjadi penting karena terdapat lacrimal apparatus. dan arteri ethmoidal di daerah tersebut.

Dengan mengetahui hubungan sebab dan akibat antara keparahan trauma dan derajat deformitas. Fraktur tulang nasal dapat bervariasi tergantung arah dan kekuatan yang mengenainya1. Kemudian hidung dirawat dengan cara sederhana dan hasil akhirnya mungkin jauh dari yang diharapkan. dasar filosofi perawatan adalah reduksi fraktur dengan mengembalikan pada bentuk dan fungsi yang normal. Sebanyak 51% mengalami cedera pada central nervous system dimana 42% nya mengalami keluarnya cairan cerebrospinal2. Hal ini terjadi karena pada 291 . Untuk mendiagnosa fraktur didaerah ini biasanya ditentukan melalui pemeriksaan CT-Scan. Perawatan fraktur nasal telah menjadi subjek dalam dunia kedokteran sejak zaman Yunani. Selama berabad-abad. Insidensi umur dari pasien adalah 31 tahun. Kecelakaan kendaraan bermotor sebanyak 70% dan 63% mengalami cedera pada bagian lain yang cukup parah. jaringan lunak dan kartilago. Perluasan disrupsi struktur nasal sehubungan dengan arah dan derajat kekuatan trauma sering kurang diperhitungkan. Fraktur nasal sering kali dirawat dengan penilaian preoperative yang tidak adekuat.BAB I PENDAHULUAN Hidung terdiri dari tulang. kita dapat memutuskan pilihan perawatan mana yang akan dilakukan. Pada penelitian yang dilakukan Cruse dari 182 kasus trauma fasial kirakira 18% adalah fraktur nasal dan kompleks orbita. meskipun pada mulanya tampak cukup baik4. Rontgen film biasa sulit menggambarkan derajat keparahan dan lokasi dimana cedera itu terjadi. dan lebih penting lagi perawatan mana yang paling baik untuk pasien sesuai dengan traumanya2. fraktur nasal paling sering terjadi pada struktur tulang fasial dan menurut Schroeder. Menurut Christian. Fungsinya sebagai saluran udara ke saluran pernapasan bawah dan paru-paru. 50 % fraktur pada tulang fasial terpisah dari piramid nasal.

gambaran rontgen dapat terjadi overlapping struktur-struktur tulang di daerah tersebut2. 292 . dengan kombinasi dengan pilihan perbaikan dan penilaian keputusan yang baik. Pada makalah ini akan dibahas dan diharapkan dengan mengetahui kekuatan trauma. maka ahli bedah dapat membuat diagnosis yang benar dan memilih rencana perawatan yang tepat untuk pasien.

Secara kosmetik. pipi. hidung merupakan jalan masuk respirasi nasal manusia pada keadaan normal3. enophtalmos dan disfungsi dari sisem lakrimal. orbita. Fungsi estetiknya memberikan keseimbangan.1. Sehingga penting diperhatikan pada saat rekonstruksi untuk mencegah telechantus.BAB II TINJAUAN PUSTAKA II. Rekonstruksi pada daerah ini dilakukan secara hati-hati dan memerlukan kontrol terhadap volume orbita. dan kesimetrisannya adalah penting dalam membentuk simetris wajah. Daerah posterior dari kompleks nasal berhubungan dengan sinus ethmoidalis dan terletak ditengah dan dapat dengan mudah terkena trauma karena posisinya yang berdekatan dengan cribiform plate. 293 . dan processus maksilaris. sehingga mata. dan cedera pada saraf olfaktori. ANATOMI Daerah hidung dan Hidung-Mata-ethmoid disusun oleh cranium. Jika ada trauma maka dapat timbul cerebropinal fluid rhinorhea. hidung membantu membentuk central frame wajah. Tulang hidung dekat dengan bagian anterior dari tulang orbita dan berhubungan dengan tulang frontal. tulang maksila. pneumocephalus. dan mulut memberikan keindahan wajah. Hidung adalah suatu struktur midline sentral fasial yang mempunyai unsur kosmetik dan fungsional. Secara fungsional. Rekonstruksi yang dilakukan satu-persatu akan mendapatkankan hasil yang maksimal. Tidak jarang pada cedera yang parah dapat menyebabkan komplikasi intrakranial2 . tulang lakrimal. Daerah ini merupakan perlekatan dari medial chantal tendon yaitu processus frontalis dan tulang lakrimal.

Maksilla Gambar 1: Anatomi Cranium dan os. Nasal5 Gambar 2: Permukaan dan struktur anatomi hidung 3 294 .(1) os nasale (2) os.

dan berinterdigitasi dengan tulang frontal dan tipis pada bagian inferior. berbentuk lembaran empat persegi panjang (rectangle) yang menebal pada bagian superior. yaitu tulang dan kartilago. dan cartilago adalah setengah bagian bawah. Lateral krus dari LLCs dapat dibagi atas menjadi daerah puncak 295 . Prosesus nasalis tulang frontal dan maksila menyebabkan adanya support dari superior dan lateral. Pasangan LLCs mempunyai medial crus yang berjalan lateral dari LLCs yang berjalan dari lateral ke kartilago septum caudal. oleh karena itu bagian hidung ini harus dipertimbangkan sebagai tripod. Cartilaginous hidung dibentuk kombinasi dari dua pasang kartilago lateral atas (upper lateral cartilages) (ULCs)). dua pasang kartilago bagian bawah ( lower lateral cartilages) (LLCs)). ULCs mempunyai perlekatan jaringan lunak pada jaringan fibrofatty dari alae nasal dan lateral hidung. Hubungan ini tidak tepi dengan tepi tetapi overlapping. jadi tulang hidung berbentuk tripod3.Pernapasan mulut adalah merupakan tanda terjadinya kelainan pada saluran pernapasan atas (upper airway). disebut dengan kolumela. kedua ULCs melekat secara kuat satu dengan yang lainnya dan kartilago kwadrangular dari septum nasal anterior. penyatuan fibrous ini sangat kuat. satu septum cartilage midline. Tulang hidung sendiri adalah rata (flat). dengan plat tegak lurus dari dukungan ethmoid pada garis tengah seperti sebuah tenda. flat. oleh karena itu adanya obstruksi pada hidung diduga telah terjadi kelainan3. Tulang hidung adalah setengah bagian puncak. tulang hidung bersatu untuk membentuk suatu tenda “pup tent”. Secara lateral. hidung dibentuk oleh gabungan antara tulang pendukung yang fleksibel dan rigid. dengan tulang nasal yang berada dibawah ULCs. Pada midline. berturut-turut untuk tulang nasal. dan melekat pada bagian atas kartilago lateral hidung. triangular sections dari cartilage hyaline yang melekat secara kuat ke superior pada tepi inferior dari tulang hidung oleh jaringan fibros konektif yang kuat. Anastomosis tulang sepanjang garis sutura antara ketiga tulang adalah rigid. Pada midline. dan suatu cartilage terdapat pada beberapa daerah pada jaringan lunak. Secara anatomi. Pasangan kartilago lateral bawah. dan struktur supporting ini lebih tebal dan lebih kuat dari tulang hidung sendiri. Walaupun penyatuan ini tidak kontinius.

Orbit memiliki kandungan yang melindungi bola mata serta sruktur visual tambahan yang terdiri atas : Kelopak mata. yang membatasi orbit bagian anterior. Kulit dan jaringan subkutan pada tulang hidung tipis dan mobil. mengontrol pembukaan bola mata anterior. dan mengandung kelenjar keringat yang semakin meningkat jika kulit semakin tebal. dan procerous-kontribusi pada kumpulan jaringan lunak hidung dan hanya mempunyai sedikit fungsi pada pergerakan fasial atau respirasi. otot dan kulit. Pada daerah midline terdapat perlekatan fibrous antara struktur yang membantu membentuk puncak hidung. kulit yang menutupi hidung berubah menjadi membran mukos. Orbit merupakan kavitas tulang yang terbentuk oleh tulang fasial yang menyerupai rongga pyramid quadrangular dengan dasar berada dalam arah anterolaterally dan apeksnya dalam arah posteromedially. tetapi ini tidak sekuat perlekatan pada ULCs dengan septal. Sehingga. dimana kartilagenous hidung ini lebih tebal dan lebih melekat pada struktur di bawahnya. Otot pada hidung adalah otot depressor septi. axis dari orbit divergen kira-kira 45 derajat. dan pada segmen lateral. Yang terdiri atas : 1. Kartilago yang berjalan sepanjang margin inferior lateral LLC. yang akan membantu menjaga terjadinya rotasi ke posterior dari septum dan kehilangan dukungan puncak hidung. M. yang mendukung alae nasal dan berfungsi untuk menjaga terjadinya kolaps selama fungsi inspirasi. Dinding medial dari dua orbit terpisah oleh sinus ethmoidal dan bagian atas dari rongga hidung yang paralel. Jaringan yang menutupi tulang dan kartilago ini adalah jaringan lunak dan mukosa bagian dalam. Kulit hidung sangat bervariasi ketebalannya. Pada bagian dalam hidung anterior. Levator palpebrae superioris 296 .medial. dimana ini disebut sebagai ukuran dan besar puncak hidung. membentuk mucocutaneous junction3. Ujung kaudal inferior dari kartilago septum nasal dilekatkan oleh pita jaringan fibrous pada spina nasalis anterior maksila. Muskulus ekstraokular yang memposisikan bola mata dan menaikkan kelopak mata superior. sedangkan dinding lateralnya hampir memnbentuk sudut 40 derajat.

Empat m.Rectus sup.rectus yang terdiri atas superior.Rectus inf. Bentuk pyramid dari orbit memiliki dasar.Obliqus med Chiasma opticus M. dinding supeior 297 .obliqus . inferior dan lateral 3. suatu lapisan fibrous terputus yang meluas ke dalam kelopak mata. Membran mukous (konjungtiva) melapisi kelopak mata dan aspek anterior dari bola mata dan aparatus lacimal yang melubrikasinya. Dua otot oblik yang terdiri atas obliqus superior dan inferior Nervus dan pembuluh darah yang melewati bola mata dan muskulus. sehingga orbit ini tersusun oleh matriks dimana struktur dari orbit melekat. M. medialis. Dekat dengan apeks dari orbit. M. Tulang membentuk tepi orbita yang memperkuat proteksi kandungan orbita dan memberikan perlekatan untuk septum orbita.2. yang memisahkan rongga orbita dari fossa cranial anterior. Dasar orbita dibatasi oleh margin orbita yang mengelilingi orbital opening.Rectus lateralis M. M. Dinding superior (atap orbita) diperkirakan berbentuk horizontal dan terutama dibentuk oleh frontal bone.inf. Gambar : Mata tampak lateral Gambar 3: Otot-Otot Mata 5 Gambar : Mata tampak coronal Tidak semuannya ruang di dalam orbit ditempati oleh struktur yang berisi lemak orbita. empat dinding dan suatu apeks.

dibentuk oleh tulang sphenoid. Dan dibagian anterolateral suatu lekukan pada bagian orbita yang disebut fossa lacrimal. Dinding medial yang posisinya kontralateral dari orbit yang paralel dan terbentuk oleh tulang ethmoid, yang berhubungan dengan tulang lacrimale, sphenoid dan frontal. Dibagian anterior Dinding inferior (dasar orbita), dibentuk terutama oleh tulang maksila dan sebagian tersusun oleh zygoma dan tulang palatina. Dinding inferior yang tipis dibentuk oleh orbit dan sinus maksilaris. Dinding lateral dibentuk oleh prosessus frontalis dari tulang zygomatik dan sayap terbesar dari tulang sphenoid. Ini merupakan dinding yang terkuat dan paling tebal. Ini sangat penting karena daerah ini sangat terbuka dan berpotensi mengalami trauma secara langsung. Bagian posterior dipisahkan orbit dari temporal dan pertengahan fossa cranial. Apeks orbit merupakan suatu canal optik pada sayap tulang sphenoid yang kecil, dibagian medial dari fissure orbital superior. (Moore LK,)

Sphenoid Zygoma

Frontal

Frontal

Gambar : Kavitas

Maksila

Orbita

Gambar 4: Anatomi Kavitas Orbita5

II.2 DEFINISI Fraktur nasal adalah terjadinya kerusakan pada tulang di sekitar pangkal hidung, biasanya disebabkan oleh adanya trauma tumpul dan merupakan fraktur tulang daerah fasial yang paling sering. Trauma yang serius pada hidung dapat menyebabkan masalah yang memerlukan perhatian segera. Tetapi pada trauma

298

hidung yang tidak terlalu berat, perlu diperhatikan lebih baik lagi setelah pembengkakan mereda untuk mengevaluasi efek perluasan trauma. Trauma nasal didefinisikan sebagai adanya trauma pada hidung atau hal lain yang dapat menyebabkan terjadinya deformitas, gangguan pernapasan melalui hidung karena adanya obstruksi, atau adanya gangguan penciuman ( olfaction).

Fraktur orbita biasanya tampak bersamaan dengan trauma midfacal. Tingkat keparahan fraktur mulai dari fraktur yang pergeserannya minimal pada suatu dinding yang terbatas yang tidak membutuhkan intervensi bedah sampai dengan kerusakan yang parah dari orbit. Fraktur orbita mungkin di jelaskan

dengan pertimbangan hubungan anatomi, berikut ini : 1. Fraktur dapat terbatas pada tulang orbital internal. Jenis ini termasuk blow-out dan blow-in, seperti yang tampak pada fraktur pada dasar orbita, dinding medial, dan atap orbita. Fraktur blow out dapat dibagi mengikuti berbagai macam fraktur : Fraktur trapdoor yang disebabkan oleh kekuatan yang ringan. Fraktur medial blow-out yang disebabkan kekuatan menengah. Fraktur lateral blow-out yang sebabkan oleh kekuatan yang tinggi.

2. Fraktur mungkin melibatkan rim orbital. Suatu fraktur rim superior, inferior, dan lateral mungkin sebagai suatu luka yang terbatas, atau ini mungkin berbatasan dengan fraktur dinding internal. 3. Fraktur yang hubungkan dengan fraktur lain pada skeleton facial.

Keterlibatan orbit pada berbagai bentuk fraktur fasial, termasuk zygomaticomaxillary (ZMC), naso-orbito-ethmoid (NOE), sinus frontal, Le Fort II,dan Le Fort III. 4. Fraktur apeks orbita adalah penting untuk diidentifikasi karena ini berhubungan dengan kerusakan pada struktur neurovaskuler dari fissura orbita superior dan kanal optik. Trauma fasial kebanyakan diakibatkan oleh kecelakaan kendaraan bermotor, kecelakaan industri, fasial trauma yang berhubungan dengan olah raga, dan kekerasan. Kecelakaan kendaraan bermotor, khususnya yang tidak

299

menggunakan seatbelt, merupakan kejadian yang paling banyak mengakibatkan trauma maksilofasial, yang ditunjukkan pada sebagian besar negara berkembang. Penatalaksanaan trauma orbita dan fraktur bertujuan untuk meminimalisir dan mencegah kerusakan awal dan lanjutan serta komplikasinya. Tujuan dari intervensi adalah untuk mencegah hilangnya penglihatan dan meminimalisir masalah lebih lanjut, seperti diplopia yang persisten dan malposisi bola mata.

II.3 KLASIFIKASI Pola kerusakan dan perluasan displacement struktur nasal jika terjadi fraktur adalah tergantung pada arah dan derajat kekuatan yang terjadi. Pada tahun 1468, Rowe dan Killey menggambarkan trauma yang terjadi pada nasal dari arah lateral dan anterior. Ini merupakan dasar klasifikasi trauma tulang nasal yang dibuat oleh Stranc dan Robertson (1474). Tetapi kemudian mereka membagi fraktur akibat benturan atas tiga tingkatan trauma dimana peningkatan keparahan merupakan cermin peningkatan kekuatan trauma. Bidang satu, trauma tidak meluas berdasar suatu garis pertemuan tepi bawah tulang nasal ke spina nasalis anterior; bidang dua, trauma terbatas pada daerah hidung eksternal dan tidak mengenai orbital rim; bidang tiga, trauma lebih serius, oleh karena meliputi orbita dan kemungkinan juga struktur intra cranial, biasanya berhubungan dengan trauma pada nasoethmoid serta diagnosa dan perawatannya juga lebih komprehensif 4.

300

Gambar 5: A dan B menunjukkan peningkatan derajat trauma dengan peningkatan daya yang mengenai hidung5

Pada tahun 1486, Murray dan Maran mengemukakan suatu klasifikasi pathologi dari fraktur nasal yang diteliti pada lebih dari lima puluh cadaver. Mereka menemukan tujuh pola yang berbeda dari fraktur nasal dengan berbagai macam derajat keterlibatan septum. Mereka menyimpulkan bahwa kerusakan septum juga berhubungan dengan fraktur nasal. Pada keadaan klinis mereka menetapkan bahwa, jika hidung mengalami deviasi lebih dari setengah kali dari lebar aslinya, tulang akan mengalami deviasi kembali setelah dilakukan manipulasi hanya pada tulang nasal saja4. Klasifikasi dari fraktur orbita adalah: 1. blow out fracture, dibagi menjadi: 1. pure blow out – orbital rim intak 2. impure blow out – terjadi fraktur pada orbital rim 2. fraktur blow in Fraktur dasar orbita blow out merupakan trauma dari tepi orbita atau jaringan lunak di sekitar orbita, fraktur ini disebabkan oleh peningkatan tekanan

301

intra-orbital secara akut yang menekan dinding-dinding orbita. Fraktur dasar orbita blow out dapat timbul bersamaan dengan fraktur dinding medial atau orbita rim.1,2

Gambar 6: Fraktur Blow in dan Blow out 1,2

Klasifikasi fraktur Nasal-Orbit-ethmoid (2) Type I : Klasifikasi yang paling sederhana, hamya melibatkan satu bagian dari nasal-orbita ethmoid yaitu bagian medial orbital rim. Type II : daerah yang terkena lebih luas atau comminuted fraktur Type III: daerah yang terkena luas termasuk bagian tengah dari central fragmen dimana medial canthal tendon melekat, terjadi avulsi dari canthus

302

Gambar 7: Fraktur Nasal, ethmoid4

II.4 PENYEBAB DAN GEJALA KLINIS Penyebab terbanyak adalah trauma kecelakaan kendaraan bermotor, trauma karena olah raga, berkelahi, kecelakaan pekerjaan, aktivitas yang berlebihan, dan terjatuh adalah yang paling sering terjadi pada anak-anak1. Gejala klinis dapat meliputi rasa sakit, pembengkakan, obstruksi pernapasan, epistaksis, krepitasi, septal hematoma, rhinitis, dan stenosis nasal vestibular1. Kebanyakan penderita yang mengalami trauma dasar orbita blow out mempunyai gambaran sebagai berikut : 1. Berkurangnya kemampuan visual. 2. Blepharoptosis. 3. Diplopia binocular vertical atau oblik. 4. Hyperthesia ipsilateral, dysesthesia atau hyperalgesia sesuai dengan distribusi n. infraorbitalis.

303

5. Epistaksis 6. Pembengkakan pada kelopak mata setelah meniupkan udara ke hidung 7. Edema dan ecchymosis periorbita yang disertai dengan rasa sakit merupakan gejala dan tanda eksternal. 8. Enophtalmos mungkin juga terlihat tapi awalnya terjadi

pembengkakan jaringan disekelilingnya. Pembengkakan juga akan membatasi gerak otot ekstraokuler 9. Proptosis juga bisa terjadi dari perdarahan retrobulbar atau peribulbar. 10. Tenderness pada saat palpasi orbita, juga dapat merasakan step pada tulang orbital rim. Pemeriksaan bola mata sangat penting dan mungkin sulit karena adanya edema pada jaringan lunak. Untuk ini diperlukan set desmares retractor. Jika terjadi disfungsi pupil, ditandai dengan menurunnya kemampuan visual, harus diwaspadai terhadap kemungkinan terjadinya neuropathy optikus traumatik. 4 Mata dengan kesejajaran yang tidak sama dapat juga terjadi, hipotropia atau hipertropia serta terbatasnya kemampuan menarik mata ke atas. Wilkin dan Havin melaporkan 30 % terjadi insidensi bola mata yang ruptur bersamaan dengan fraktur orbita, kenyataan ini mengingatkan betapa perlunya pemeriksaan opthalmologis yang menyeluruh dan kompleks. 1 Gambaran klinik dari fraktur blow in terutama berhubungan dengan pengurangan volume pada rongga orbita.4 1. Proptosis (exopthalmus) adalah protrusi atau majunya bola mata (okuli) yang abnormal. Umumnya terjadi di awal kejadian, bersama dengan hematom dan pembengkakan dari jaringan orbita

304

menetapnya dilatasi pupil akibat nervus kranial III. Bola mata bergeser lebih jauh pada dataran koronal dan pergerakan bolah mata yang terbatas 3. Hilangnya refleks kornea diakibatkan karena keterlibatan cabang nasociliary dari subdivisi nervus V. lateral dan atap orbita. nervus nasomaksilaris. 4. merupakan gejala umum dan berhubungan dengan fraktur pada dinding medial. Tidak adanya refleks dan akomodasi terhadap sinar langsung karena terbendungnya aliran efferen oleh paralisis dari mengakibatkan ruptur bola 305 . nervus kranial III (cabang suerior). IV dan VI. nervus kranial VI. nervus kranial IV. vena ophtalmic superior. nervus frontal. dan terbendungnya suplai parasimpatik yang dibawa oleh nervus III.Gambar 8:. Exopthalmus6 2. Pergeseran fragmen fraktur ke dalam orbit mata. Adanya hematoma. Gejalanya adalah hilangnya sensasi pada dahi yang diakibatkan oleh cabang frontal dari nervus V. disebabkan oleh lesi yang diakibatkan oleh trauma. edema pada muskulus ekstraokular atau pada fasia di sekitar orbita atau terperangkapnya lemak orbita merupakan penyebab utama. 5. divisi inferior darinervus kranial III dan vena ophtalmicus. dasar. Diplopia (double vision). Sindrom fissure orbital superior. tekanan langsung atau suatu penekanan akibat hematom (atau keduanya) pada kandungan fissura orbital superior antara lain : nervus lacrimale.

6.nervus III. cedera pada nervus dapat menyebabkan spasme dari pembuluh darah retina. 10. Ptosis dapat terjadi secara manual dan secara kongenital. Tergantung pada derajat kekuatan. Selain itu ditandai oleh gangguan visual dan perubahan respon pupil terhadap respon cahaya. (peter ward booth) 9. berhubungan dengan bengkok atau tertekuknya septum nasal tanpa terjadi fraktur septum. Meningoceles dan encephaloceles. Keterbatasan pada muskulus rectus superior atau hematom yang pada kelopak mata bagian atas. Pada keadaan ini umumnya dengan dilakukan manipulasi tertutup sudah cukup memuaskan. Selain itu CSF juga dapat timbul karena adanya fraktur pada basis cranium. Trauma dari Lateral Ini adalah trauma yang paling sering terjadi dan seringkali tidak terlalu parah. Dengan suatu kekuatan yang lebih besar kedua tulang nasal dapat terjadi fraktur dan displaced dan ini sering kali disertai dengan terjadinya fraktur septum. Hasilnya akan lebih stabil sebab tidak terdapat fraktur pada septum. ataupun pascaoperasi. 7. merupakan keluarnya penonjolan dari selaput dan bagian otak melalui celah yang terbentuk antara tulang dapat merupakan akibat dari suatu trauma. Selain itu juga terjadi edema yang persisten akibat obstruksi vena ophtalmicus2. II. 8. karena adanya fraktur sphenoidale dan ethmoid juga fraktur pada sinus frontal sehingga menyebabkan dural tear sehingga terjadi hubungan dengan subarachnoid space. luasnya kerusakan tulang dapat bervariasi dari yang sederhana sampai displacement tulang nasal. Mungkin ditemukan adanya CSF. Ptosis. Cedera pada nervus optikus. hasilnya akan lebih stabil diikuti dengan reduksi fraktur dengan menggunakan Walsham’s forceps dan pelurusan septum nasal dengan menggunakan Asch’s forceps. Displaced fragmen nasal dapat segera direduksi dengan 306 .5 POLA TRAUMA A. merupakan jatuhnya kelopak mata atas ke posisi lebih jika dibandingkan dengan posisi normal sebelumnya.

Daya yang moderat menimbulkan depressi pada tulang dan septum nasal. oleh karena sebagian besar daya diterima oleh septum nasal. Manipulasi dengan sentralisasi septum harus dikombinasi dengan support internal pada nasal seperti yang dikemukakan oleh Sear (1477)4. Fraktur nasal tipe ini bervariasi hubungannya dengan fraktur septum dan terjadi displacement yang menyebabkan terjadinya ketidakstabilan nasal (4). terutama dengan adanya ketidakstabilan nasal. kedua tulang nasal akan fraktur pada ujung bawah dan. Daya yang lebih besar menimbulkan displacement pada piramid dan septum nasal4 B. 307 . Trauma dari Anterior Adanya pukulan atau trauma dengan kekuatan yang moderat dari arah frontal. dapat terlepas. terutama pada bagian sepertiga bawah tulang nasal. displacement dan fraktur dari struktur ini sering sekali terjadi. b. dengan comminuted fracture. seluruh piramid nasal.manipulasi tertutup tetapi penting untuk melakukan eksisi berbentuk C pada septum4. Dengan daya yang lebih besar lagi. a. termasuk prossesus frontalis dari maksila. Kelompok pertama dirawat dengan manipulasi dan bedah septum tetapi pada kelompok yang kedua. Gambar 9 : Trauma nasal dari arah lateral. reseksi submukus akan menimbulkan kolaps yang lebih parah.

Manipulasi tertutup fraktur nasal dianjurkan untuk tetap menggunakan support intranasal. nasal endotracheal tube dapat diletakkan pada posisi atau dilakukan trakheostomi. Untuk menjaga kedua penetapan oklusi dan aplikasi fiksasi intermaksila yang masih tetap terpasang sampai pasien sadar dari efek anestesi agar jalan nafas tetap aman. Daya sedang menimbulkan depressi pada septum dan piramid nasal. harus dapat direduksi dan distabilisasi terutama untuk reduksi fraktur nasal. dalam pandangan faktor waktu meliputi waktu yang lama dan prosedur operasi yang komplek4. b.Gambar 10 : Trauma nasal dari anterior. a. Daya yang lebih besar menimbulkan fraktur comminuted pada piramid nasal dan septum4 C. Alternatif lain. Trauma yang Berhubungan Dengan Fraktur Fasial Lain Fraktur pada tulang wajah. Jika terdapat laserasi yang parah pada mukosa nasal disarankan untuk menggunakan lapisan silastik yang dimasukkan pada nostril untuk menjaga pembentukan adhesi intranasal. Septum harus dikembalikan ke posisinya tetapi tidak boleh dilakukan reseksi septum pada tahap pembedahan primer. Plate silastik ini dipertahankan dengan menjahitkannya bersama-sama melalui kulit sedikit di belakang kolumela dan dipertahankan selama 10 – 14 hari4 308 . meskipun sudah indikasi. terutama pada bagian tengah wajah. Ini mungkin perlu untuk merubah nasal endotracheal tube menjadi oral endotracheal tube sebelum reduksi nasal.

309 .

trauma ini adalah yang paling sering pada skeleton fasial dan menurut Schroeder (1481). Salah satu konsep yang selalu salah tentang fraktur nasal adalah terjadinya pelepasan dan displacement tulang nasal. Setengah bagian bawah atau sepertiga dari tulang nasal yang biasanya mengalami fraktur. Perluasan disrupsi struktur nasal sehubungan dengan arah dan derajat kekuatan trauma jarang diperhitungkan. meskipun pada mulanya tampak cukup baik4. 50 % fraktur pada tulang fasial terpisah dari fraktur pyramid Fraktur nasal sering kali dirawat dengan penilaian preoperative yang tidak adekuat. Kemudian hidung dirawat dengan cara sederhana dan hasil akhirnya mungkin akan jauh dari yang diharapkan.BAB III PEMBAHASAN Menurut Christian (1476). kecuali terjadi fraktur nasoethmoid yang parah. Dasar dari piramid hidung jarang sekali terlepas dari tulang frontal. Gambar 11 : Trauma nasal lateral menunjukkan adanya displaced fracture pada bagian tengah bawah tulang nasal kiri dan tepi anterior prosesus frontal kiri tulang maksila disertai dengan pembengkokan tulang septum4 310 . Pada waktu eksplorasi biasanya menunjukkan bahwa dasar piramid tetap intak meskipun terjadi displacement yang hebat ke ruang interorbita 4.

Pengertian yang lebih jauh lagi dari mekanisme dan perawatan fraktur nasal dibuat oleh Murray (1484). bahwa eksisi pada daerah cartilage pada sisi septum yang mengalami fraktur berbentuk C akan menghasilkan hasil yang lebih baik.Posisi dan integritas komponen kartilagenus dari rangka nasal harus selalu ditetapkan. harus dilakukan reseksi submukus primer agar tidak terjadi kolaps pada garis jembatan kartilagenous4. hasilnya akan menjadi lebih baik. kartilago lateral dan septum nasal dapat terjadi dislokasi tanpa disertai fraktur tulang nasal4. Fraktur berbentuk C dari tulang dan kartilago dimulai dari bawah dorsum hidung berjalan ke posterior melalui perpendicular plate dari ethmoid. dari hasil penelitian retrospektif menunjukkan bahwa. Harrison adalah orang yang pertama menemukan bentuk C fraktur septum ( C-shaped fracture). Mereka mempelajari mekanisme fraktur nasal dengan meneliti fraktur nasal pada kadaver dan menyimpulkan bahwa tulang nasal yang mengalami deviasi lebih dari setengah lebar jembatan. Alasan mengapa distorsi tampak progresif dari kartilago septum dijelaskan oleh Fry. hanya 30 % yang menunjukkan penampilan yang normal. Penempatan manipulasi tertutup dari fraktur hidung masih menjadi pertanyaan. dari 107 fraktur hidung yang dirawat dengan manipulasi tertutup. Harrison menganjurkan pada fraktur nasal horizontal bagian bawah. Tetapi Harrison (1474) menemukan bahwa suatu pola dari suatu fraktur septum dan displacement yang diindentifikasi adalah disebabkan karena manipulasi yang kurang baik. Menurut Stell (1480). dan vertikal posterior. kemudian ke inferior melalui vomer terminate dengan suatu 311 . ada suatu fraktur berbentuk C yang terjadi bersamaan dari tulang dan cartilaginous septum. dan 50 % berfungsi normal dalam jangka waktu lama. bahwa meskipun jarang. Septum sering kali tidak tetap lurus setelah dilakukan manipulasi dan piramid hidung pada garis septum yang mengalami distorsi. sebaiknya dilakukan reseksi submukus pada septum nasal dan jika ini dilakukan pada waktu perawatan primer. Harus tetap diingat. Kemudian mereka menyimpulkan pada percobaan klinis. yaitu pelepasan dari tegangan internal yang terkunci. Stranc menekankan pada perawatan fraktur nasal bidang dua.

Menurut Murray. Gambar 12 : Skema menunjukkan garis fraktur dengan displacement yang berat disertai fraktur septum berbentuk C4 Untuk operasi pada septum mereka menganjurkan melakukan suatu insisi vertical di posterior. Tulang nasal dimanipulasi dan suatu pack ( light pack) dimasukkan ke dalam nostril4.5 cm posterior dari kolumela. Kemudian dilanjutkan sampai pertemuan ethmoid dan tulang nasal. Kemudian mukoperichondrium dibuka dan biasanya garis fraktur berbentuk C akan segera dapat terlihat. yaitu pada 2. Pita gauze lembut yang dimasukkan pada nasal adalah merupakan stabilisasi yang kurang baik dan packing yang berlebih pada hidung sering kali menyebabkan distorsi dari reduksi yang diinginkan. Kartilago dipisahkan dan sisi kontralateral disingkapkan.curve anterior pada kartilago septum 1 cm di atas puncak maksila dekat dengan sudut vomerine4. Light packing pada hidung sebaiknya hanya digunakan untuk mengkontrol epistaksis setelah 312 . Suatu reseksi yang terbatas dari septum kemudian dibuat dengan melakukan suatu eksisi tipis dari kartilago dan tulang pada sisi yang terdapat fraktur C dan diangkat paling sedikit 1 cm dari plate perpendicular dari ethmoid. salah satu faktor yang menyebabkan hasil yang tidak memuaskan dari manipulasi fraktur nasal adalah tidak adanya dukungan nasal internal setelah reduksi. tetapi harus hati-hati agar tidak terlalu caudal dari tulang nasal atau terlalu dalam karena akan dapat merubah profil.

Paruh forceps pertama-tama dimasukkan pada dasar hidung dan sisi yang lainnya pada septum dan dengan tekanan gentle digunakan untuk mengembalikan cartilage septum. 313 . Metoda manipulasi hidung dibawah anestesi lokal telah dijelaskan sebelumnya. Pengggunaan plaster eksternal atau Paris splint tidak akan mendukung fragmen nasal. Paruh yang lebih kecil dari Walsham’s forcep dimasukkan ke dalam lubang hidung dan paruh yang lebih besar (dilapisi dengan karet lembut untuk melindungi kulit) yang terdapat pada eksternal untuk memegang sisi luar hingga dapat memegang dan mengangkat hidung ke arah medial canthus dan sejajar dengan proses frontal tulang maksila. Kebanyakan fraktur nasal sederhana tidak memerlukan aplikasi splint eksternal setelah dilakukan reduksi4. Septum nasal kemudian diperiksa. informasi tambahan akan lebih diperoleh dengan inspeksi intranasal dengan bantuan speculum dan lampu kepala ( head light). Kemungkinan dapat terjadi relaps dengan resolusi dari pembengkakan jaringan disekitar jaringan yang disebabkan fiksasi yang buruk dari splint plaster. Septum dimanipulasi dengan Asch’s septal forceps. Hidung harus dibersihkan dari semua debris dan gumpalan darah dengan suction. Penilaian klinis dan radiografis preoperative yang sangat hati-hati adalah suatu syarat untuk keberhasilan perawatannya. yang digunakan untuk memanipulasi tulang nasal dari prosesus frontal maksila. Rotasi ke arah medial atau lateral yang akan menjauhkan atau mendekatkan fragmen fraktur pada tulang nasal4. metode yang telah dijelaskan di atas akan lebih baik menggunakan anestesi umum. Fragmen tulang yang hilang harus diambil and mukoperikhondral harus tampak jelas. Ronsen foto harus diambil dari dua arah untuk kepentingan diagnosis dan rencana metoda reduksi. operator harus mempunyai gambaran yang jelas mengenai apa yang seharusnya akan dilakukan. Pangkal hidung harus dipegang di antara jari telunjuk dan ibu jari tangan yang berlawanan yang juga digunakan untuk menambah stabilitas pada kepala terutama pada waktu melakukan manipulasi4. Instrument yang biasa digunakan adalah Walsham’s forceps.manipulasi tulang nasal. dan Asch’s septal forceps4. Sebelum melakukan reduksi fragmen nasal yang mengalami displacement. Pada tahap ini.

Proyeksi Caldwell memperlihatkan visualisasi dasar orbita dan prosessus zygomatiko-orbitalis diatas densitas petrosus pyramidalis. 2.Kemudian paruh dapat diputar ke kiri atau ke kanan dengan memegang septum sepanjang garis jembatan dan tarikan dapat dilakukan untuk elevasi nasal bridge4. dan tingkat cairan udara dalam sinus maksilaris. 3. Walsham forceps dan Ash Forceps Gambar 13. Tang Rekonstruksi Nasal4 PEMERIKSAAN RADIOLOGIS DAN DIAGNOSTIK Penegakan diagnosis selain dari temuan klinis dilakukan dengan bantuan pemeriksaan penunjang. Proyeksi ini menempatkan petrosus piramidalis di bawah sinus maksilaris sehingga memudahkan evaluasi dasar orbita. Paling umum digunakan adalah proyeksi Cadwell dan Waters. CT scan masih merupakan pemeriksaan imaging yang dipilih untuk evaluasi trauma orbita karena kemampuannnya untuk melihat detail 314 . Foto AP orbita biasanya diambil dengan berbagai variasi angulasi sinar. Gambaran yang lebih luas dari orbita bisa didapatkan dari proyeksi waters. prolaps isi orbita. antara lain yaitu : 1.

struktur tulang. 1 Gambar 14. Enophthalmus.1. dilakukan test forced duction. walaupun MRI bisa memperlihatkan detail regio orbita dengan sangat halus. Jika terjadi enophthalmus lebih 315 . test ini dapat menghasilkan konfirmasi klinis yang penting mengenai adanya otot atau jaringan yang terperangkap. Fraktur dasar orbita dapat mengakibatkan penambahan volume orbita dan keadaan ini mengakibatkan enophthalmus. di antaranya adalah : 1. Menilai secara langsung kemampuan atau ketidak mampuan lebih jauh mata saat pasien disuruh melirik ke atas.2 Jika CT scan mempunyai hasil yang samar-samar saat mengevaluasi pasien yang dicurigai terjadi entrapment. CT Scan dalam mengevaluasi fraktur 4 KOMPLIKASI FRAKTUR ORBITA Fraktur orbita akan menyebabkan beberapa komplikasi dan permasalahan.

Bola mata dapat menjadi robek. Waktu perawatan ini sangat penting oleh karena fraktur nasal lebih dari 10 hari akan mengalami penyembuhan tulang dan kemungkinan memerlukan tindakan termasuk rhinoplasty . Emfisema. Kebanyakan literatur mendukung waktu dua minggu untuk perbaikan sehingga mencegah fibrosis. Keadaan ini mengakibatkan terhambatnya pergerakan ke atas dari bola mata. 2. Jika fraktur berhubungan dengan fraktur sepertiga wajah yang lainnya.7 hari. menyebabkan diplopia. untuk mencegah terjadinya pembengkakan yang lebih besar. 3. Diplopia. kontraktur dan 316 .dari 2 mm. jika ini tidak memungkinkan. Waktu dan perlunya intervensi bedah pada perawatan fraktur dasar orbita murni masih dalam perdebatan. Perawatan yang paling baik adalah pada waktu tiga jam pertama saat terjadi trauma. namun trauma yang tidak begitu berat hanya akan mengakibatkan hyphema atau edema retina. maka sebaiknya penanganan dilakukan 3 . Biasanya. Perawatan fraktur nasal bertujuan untuk memperbaiki dan mengembalikan fungsi dan etetik. tetapi pada kasus yang lain. maka komponen hidung harus direduksi bersamaan dengan fraktur lainnya4.1 WAKTU PERAWATAN Waktu perawatan fraktur nasal masih terdapat kontroversial. dapat terjadi emfisema orbita karena adanya hubungan dengan sinus maksilaris serta bisa juga disertai perdarahan orbita. Fraktur nasal yang terpisah dapat dapat dilakukan reduksi dalam waktu 24 jam pertama. perawatan harus ditunda sampai sepuluh hingga dua belas hari agar pembengkakan dan luka memar menjadi lebih reda.1 III. keadaan ini mengakibatkan ketidakseimbangan. Otot rektus inferior atau jaringan orbita dapat terperangkap dalam lokasi fraktur. Bola mata juga dapat melesak atau hipo-ophthalmik dibanding sisi kontralateralnya.

terperangkapnya jaringan. Pada kasus dimana terperangkapnya tarikan rektus inferior. Metode ini sebaiknya hanya digunakan sebagai hemostasis pada periode awal operasi dan sebagai support awal pada reposisi tulang nasal dimana pada septum nasal tidak terjadi fraktur.2 III. perawatan harus dilakukan lebih cepat. tetapi juga merupakan penyebab terjadinya masalah pada telecanthus jika pemasangan pack terlalu berlebihan sehingga menimbulkan terjadinya fraktur lain pada prosessus frontal maksila. 317 . Beberapa ahli sering menunggu beberapa hari supaya edema dan perdarahan sudah tidak ada sehingga didapat penilaian yang baik terhadap enopthalmus dan fungsi otot ekstraokuler. Gauze ini secara hati-hati dimasukkan kedalam lubang hidung dengan bentuk lapis demi lapis dan penting untuk diperhatikan pertama-tama menempatkan pack pada nares superior sepanjang garis jembatan (bridge-line)4. keadaan ini mungkin disebabkan oleh tidak adanya tekanan dari eksternal.2 METODE IMOBILISASI A. 1. Suport intra nasal yang adekuat tidak akan diperoleh dengan teknik ini untuk menstabilkan hidung4. Sayangnya metode ini tidak hanya menutup jalan nafas tetapi juga merupakan sumber infeksi yang potensial. Splint Intranasal 1. Ribbon gauze Metode ini sering kali dianjurkan sebagai metoda yang adekuat dan standar untuk memperoleh dukungan internal pada fraktur nasal. yang mungkin dapat menimbulkan konsekuensi serius berhubungan dengan CSF rhinorrhoea. dengan menggunakan pita gauze yang dilapisi dengan paravin/ flavine emulsion atau bismuth iodoform paraffin paste (BIPP). Tehnik ini tidak mempunyai support intra nasal anterior posterior. Pack ini harus tetap dipertahankan selama 2 – 3 hari.

Splint terbuat dari bahan stainless steel 3. yaitu untuk mendapatkan support internal yang rigid terutama pada kasus terjadinya kolaps anteroposterior. Metode insersi dan retensi splinting ini seperti gambar yang memperlihatkan tulang nasal dan tepi jaringan lunak tanpa kehilangan palatum keras dianjurkan pada waktu memilih ukuran splint yang cocok4.Gambar 15: Ribbon gauze4 2.5875 mm dan pasangan yang sama dibengkokkan membentuk angka 7 dengan diameter yang lebih lebar pada posisi datar. Stainless-steel intranasal splint Metoda ini dikemukakan oleh Sear pada tahun 1477. 318 .175mm x 1.

Sangat penting untuk diperhatikan bahwa plaster sudah menempel pada kulit dari daerah medial sampai bagian dalam canthus masing-masing mata yaitu dengan memegang antara jari telunjuk dengan ibu jari. Sementara plaster 319 . Bahan ini terdiri dari 4 atau 5 lapis dari potongan 10 cm plaster of Paris bandage yang dilembutkan dengan air. tetapi pada beberapa kasus tertentu tidak begitu praktis. Splint Eksternal 1. Kemudian dengan hati-hati dilakukan pemasangan plester pada daerah sekitar kepala dan glabela. dan sangat membantu untuk memperoleh suatu pola dengan juga menggunakan gauze atau jaconet cut untuk membentuknya dan mengetahui ukuran yang tepat sebelum diaplikasikan. B.Gambar 16 : Metode insersi dan retensi splint intra nasal untuk memperoleh support internal4 Metode yang sederhana dan memuaskan untuk memperoleh support internal pada hidung. kelebihan dibuang dengan tekanan antara cotoon gauze sebelum aplikasi. Metoda ini terutama cocok untuk memperoleh support nasal pada pasien dengan fraktur fasial multiple4. nasal bridge line dan duapertiga bagian atas hidung. Plaster of Paris Splint Teknik ini dikenal dengan bentuk kupu-kupu.

terutama pada daerah yang dekat dengan mata dan sekitar puncak hidung. Collodion gauze dan soft metal sheet (Ash’s soft metal sheet-tin/lead alloy) Beberapa lapisan gauze dipotong sesuai dengan ukurannya dan direndam dalam larutan collodion. tetapi ini tidak benar. perlekatan dengan kulit dibantu dengan pemberian Compound Tincture of Benzoin. lebih baik pada hari ketiga dan keempat atau lebih jika diperlukan. Terutama pada fraktur nasal yang disertai dengan fraktur ethmoid. Ini adalah untuk menjaga agar tidak terjadi luka pada kulit. Ketika pembengkakan mulai berkurang splint akan menjadi longgar dan oleh karena itu harus segera diangkat. Sudah menjadi standard untuk membiarkan Plaster of Paris selama 7 – 10 hari. terutama pada kasus dengan adanya jahitan luka pada hidung dan glabela Tetapi ini tidak tepat pada kasus dengan fraktur septum pada waktu ini dan pembedahan sekunder 320 . biasanya terjadi pembengkakan jaringan lunak pada sekitar hidung4 . Kemudian lapisan gauze collodion diaplikasikan dan dibentuk sehingga akhirnya splint tercetak hanya pada bagian medial dari bagian dalam canthi seperti yang diterangkan sebelumnya pada splint Plaster of Paris. sehingga akan membentuk cetakan dan diperhalus dengan Howarth’s elevator. Gambar 17: Plaster of paris splint4 2. Kemudian plaster dilekatkan pada daerah kepala dan pipi dengan bahan Elastoplast atau bahan pelekat lain. Sehelai lembaran logam lunak (soft metal) dipotong mengikuti bentuknya kemudian diaplikasikan dan konturnya dibentuk. Tipe splint eksternal ini sangat memuaskan. Kemudian diaplikasikan pada kontur hidung satu persatu.mengeras.

harus dilakukan perbaikan yang cepat karena kemungkinan kelainan ini bisa menetap sangat tinggi. Beberapa ahli sering menunggu beberapa hari supaya edema dan perdarahan sudah tidak ada sehingga didapat penilaian yang baik terhadap enopthalmus dan fungsi otot ekstraokuler. Jika keterbatasan ini terjadi dalam 30 derajat dari gerakan utamanya dengan test forced-duction positip dan CT Scan menunjukkan adanya fraktur.mungkin diperlukan pada beberapa waktu kemudian. perawatan harus dilakukan lebih cepat. 1. Kebanyakan literatur mendukung waktu dua minggu untuk perbaikan sehingga mencegah fibrosis. Hal ini harus 321 . pada fraktur dasar orbita bisa timbul diplopia karena terbatasnya gerakan ke atas dan ke bawah. terutama untuk mengatasi obstruksi pada nasal4. Selain itu. kontraktur dan terperangkapnya jaringan. Keadaan ini biasanya mengakibatkan enophtalmos yang signifikan (lebih dari 2 mm) dan ini merupakan indikasi untuk dilakukannya reparasi. dengan atau tanpa bersamaan dengan fraktur dinding mesial dan dengan prolaps jaringan orbital. Trapdoor atau fraktur anteroposterior dapat ditemukan secara klinis dimana sulit ditemukan secara radiologis.2 Fraktur dasar orbita melibatkan lebih dari 50 % mengenai lantai. Gambar 18: soft metal sheet4 Waktu dan perlunya intervensi bedah pada perawatan fraktur dasar orbita murni masih dalam perdebatan. Pada kasus dimana terperangkapnya tarikan rektus inferior.

2. melalui pembukaan perkutaneous atau pendekatan transmaksilaris. Tidak dipergunakannya tranosseus wire tetapi IMF dipertahankan selama seminggu untuk mencegah reduksi yang adekuat dari fragment.dipertimbangkan. Dasar orbita bisa dicapai melalui pendekatan konjungtival.4 Fraktur atap orbita Penanganan fraktur pada atap orbita dianjurkan untuk mengeksplorasi atap orbita dengan menggunakan periosteal elevator sehingga segment fraktur dapat dikembalikan ke posisinya atau menjadi datar dan mencegah cederanya muskulus dan nervus. jika hal ini terjadi harus segera dikoreksi untuk menurunkan kemungkinan diplopia yang persisten. Aksesnya dapat dilakukan dengan insisi pada bagian blepaharoplasty bagian atas atau melalui laserasi yang terjadi. Fraktur blow in yang pergeserannya minimal biasanya tidak membutuhkan perawatan selain perawatan yang bersifat konservatif. dengan demikian dapat mengembalikan volume orbita dan menghilangkan semua pergeseran struktur jaringan lunak. Fraktur medial orbita 322 . Fraktur lateral orbita Penanganan fraktur pada dinding lateral melalui incisi pada subciliary (blepharoplasty) lateral dikombinasi dengan lateral incisi eyebrow . 1 Koreksi bedah merupakan kontra indikasi pada pasien yang secara medis tidak stabil dan tidak bisa mentoleransi anestesi. Selain itu. pendekatan ini dilakukan untuk memperbaiki defek tulang dengan mengambil atau mereposisi fragmen tulang. Akses pada regio ini memudahkan eksplorasi dan membebaskan jaringan lunak yang bergeser atau terperangkap. dengan demikian diharapkan dapat memperbaiki semua gangguan motilitas ekstraokuler.4 Perawatan orbital fraktur harus terlebih dahulu melakukan dekompresi dengan segera kemudian melakukam rekonstruksi sesuai dengan lokasi dari fraktur. Selain itu dapat dipergunakan muscle relaxant untuk mencegah spasme muskulus temporal. hal ini bertujuan untuk perbaikan partisi antara orbit dan antrum maksilaris.

penanganan fraktur pada daerah ini dapat dilakukan dengan pendekatan incisi melalui subciliary dan memberikan kesempatan untuk ekspolarasi dasar orbita. Fraktur dasar orbita Dianjurkan untuk mengeksplorasi dasar orbital dengan menggunakan periosteal elevator sehingga segment fraktur dapat dikembalikan ke posisinya atau menjadi datar dan mencegah cederanya muskulus dan nervusAkses masuk pada bagian dasar orbita dapat dilakukan dengan incisi transkonjungtiva dan infraorbita (subciliary dan subpalpebra). Seperti pada gambar : Gambar 19 : incisi subkonjungtiva3 Gambar 20: Incisi subpalpebra4 323 .Daerah ini sangat tipis khususnya daerah ethmoid.

contohnya tulang kortikal dan kanselous. Material alloplastik : nan absorbable ( Titanium. polylactide. silicon. 324 . cartilago. porous polyetilene. dan teflon) Absorbable (polydioanone.Gambar 21 : incisi subciliary4 Gambar 22 Insisi trans konjungtiva4 Material untuk rekonstruksi fraktur orbita Bahan – bahan material yang biasa dipergunakan adalah : autografts dari tulang. dan polyglactin) Allogenik dura.

mudah ditempatkan pada struktur di sekitarnya. Implant Implant myriad tersedia untuk kegunaan rekonstruksi. kepala pasien ditinggikan dengan sudut kurang lebih 30 o. mesh vicryl. tidak akan mengalami ekstrusi. dan tidak merangsang pembentukan jaringan fibrous. Kemampuan visual dan fungsi pupil dinilai setiap 15 menit selama 1 jam pertama dan kemudian setiap 30 menit. 325 . tidak menjadi tempat infeksi. dan pilihan material biasanya tergantung kepada ahli bedah dan pasiennya. atau mesh metal. harganya wajar. Cancellous bone graft lebih disenangi daripada kortikal karena vaskularisasinya lebih cepat dan lengkap. Implant yang ideal harus bisa secara mudah diinsersikan dan dimanipulasi. Alternatif lain dapat digunakan tulang autogenous dari dinding maksila atau calvarium.Gambar 23. silicon. Perawatan Pasca Bedah : Segera setelah pembedahan. Auto bone graft merupakan standar kriteria untuk menyediakan kerangka untuk tulang fasial dan dinding orbita. Beberapa ahli menganjurkan kompres dengan saline dingin di atas mata yang tertutup. miniplat metal. Hampir kebanyakan defek pada kasus fraktur dasar orbita dapat direparasi dengan implant sintetik yang terbuat dari polyethylene. juga memiliki aposisi formasi tulang yaitu proses resorbsi dan perbaikan yang baik. Gambaran pemasangan material rekonstruksi6 Semua material memiliki keuntungan dan kerugian.

1. Diplopia yang tetap ada atau new onset. Demikian juga ekstrusi implant dan enophtalmos yang menetap merupakan sequele postoperasi yang memerlukan intervensi bedah selanjutnya. Pemberian steroid dapat membantu pengurangan pembengkakan.Setelah operasi pasien dilarang untuk meniup lewat hidung. Selain itu pasien diinstruksikan untuk mengompres dingin selama 48 jam. Kehilangan kemampuan penglihatan merupakan komplikasi yang serius berkaitan dengan reparasi kelainan ini. neuralgia. dan beraktivitas berat. dan disfungsi otot ekstraokuler merupakan komplikasi yang mungkin bisa terjadi.2 Seperti pembedahan lainnya komplikasi pada reparasi fraktur dasar orbita bisa berupa perdarahan atau infeksi. 326 . dan diberikan antibiotik serta analgetik yang adekuat.

Fraktur orbita bisa terjadi bersamaan dengan fraktur pada daerah wajah lainnya. Jenis fraktur ini sering menimbulkan komplikasi berupa enophtalmos. Kesimetrisan hidung dan fungsi adalah penting untuk pasien. Jika pendekatan yang dilakukan pada waktu terjadi trauma sama dengan pemikiran kedepan seperti yang dilakukan pada penanganan elektif kosmetik septorhinoplasty. tetapi sering dianggap tidak terlalu berpengaruh. Pendekatan bedah pada kasus-kasus yang diindikasikan harus dilakukan dengan hati-hati mengingat kemungkinan komplikasi yang akan terjadi. oleh karena itu perlu dilakukan evaluasi radiologis secara seksama. namun pemeriksaan klinis terkadang sulit dilakukan karena adanya edema di daerah orbita. maka akan diperoleh hasil yang lebih baik dan lebih memuaskan pasien.BAB IV KESIMPULAN Fraktur nasal sering terjadi pada fraktur tulang fasial. 327 . dan perawatan yang tidak tepat dan kurang adekuat akan menimbulkan hasil yang kurang memuaskan. dan emfisema. diplopia.

DAFTAR PUSTAKA

1. Ramirez R.F. 2004. Nasal Trauma. The Thomson Corporation. All right reserved. http://www.ehendrick.com/healty/000561.htm. 2. Fonseca, RJ. et al. 1997. Oral and Maxillofacial Trauma. 2nd edition. Philadelphia: WB. Saunders Co. 3. Pitcock K.J & Bumsted M.R. 1997. Nasal Fractures. In: Raymond J. Fonseca and Robert V. Walker. Oral And Maxillofacial Trauma. Volume II. W.B. Saunders Company. Philadelphia London. Toronto Montreal Sydney Tokyo. p. 775 – 41. 4. Bowerman J.E. 1994. Fracture of the Middle Third of the Facial Skeleton. In: Rowe and William’s. Maxillofacial Injures. Second Edition. Churchill Livingstone. Edinburgh London Madrid Melbourne New York Tokyo. p. 541- 604. 5. Moore, K.L., Arthur F. Dalley II. 1999: Clinically Oriented Anatomy. 4 'h ed. Lippincott Williarli"s & 1Nilkins 6. Archer, H. W. 1975. Oral and Maxillofacial Surgery. 5th ed. Toronto : W. B. Saunders Company. 7. Booth, P. W. et al. 2003. Maxillofacial Trauma and Esthetic Facial Reconstruction. 1st ed. Edinburgh: Churchill Livingstone. Edinburgh. 8. Cohen, AJ. Facial Trauma, Orbital Floor Fracture (Blow out). Available at www.eMedicine.com. Last updated on March 7th 2005. 9. Williams, J. L. 1999. Maxillofacial Injuries. 1st ed. Edinburgh : Churchill Livingstone.

328

Fraktur Panfasial

Yudi Wijaya 160121120002

Peserta PPDGS Ilmu bedah mulut dan Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Abstrak : Regio maksilofasial terbagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama adalah wajah yang bagian atas, Bagian kedua adalah daerah tengah wajah atau midface. Midface dibagi menjadi bagian atas dan bagian bawah. Midface yang bagian atas bila terdapat fraktur Le Fort II dan Le Fort III dan/atau fraktur tulang nasal, fraktur nasoetmoidal atau kompleks zygomatikomaksilari dan fraktur dasar orbita. Fraktur Le Fort I bila fraktur terdapat pada bagian bawah dari midface. Bagian yang ketiga dari regio maksilofasial adalah wajah bagian bawah, bila fraktur hanya terdapat pada mandibula. Fraktur panfasial adalah fraktur yang terjadi pada daerah wajah yang meliputi sepertiga atas, sepertiga tengah dan sepertiga bawah yaitu meliputi fraktur pada regio frontal, kompleks nasalis, kompleks orbitalis, kompleks zigomatikus, maksila dan mandibula. Prinsip umum untuk penatalaksanaan fraktur panfasial yaitu dengan tehnik bottom to top (dari bawah ke atas) atau top to bottom (dari atas ke bawah).

Kata kunci: Fraktur panfasial, bottom to top , top to bottom

329

BAB I PENDAHULUAN

Pada mulanya dokter gigi dilibatkan pada perawatan trauma rahang karena mereka menguasai pengetahuan tentang gigi dan oklusi. Perawatan yang terdahulu hanya terdiri atas fiksasi gigi pada oklusi sentrik untuk mengurangi dan mengimobilisasi suatu rahang. Sekarang ini dasar pemikiran perawatan fraktur pada daerah maksilafasial tidak banyak berubah, hanya tekniknya yang berkembang pesat. Diagnosis didukung dengan adanya teknik radiografis yang berkembang dengan pesat. Fraktur-fraktur yang pada jaman dahulu tidak dapat dikenali sama sekali atau hanya bersifat dugaan sekarang ini bisa ditunjukkan sampai hal yang terkecil.1 Regio maksilofasial terbagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama adalah wajah yang bagian atas, bila fraktur melibatkan sinus dan tulang frontal. Bagian kedua adalah daerah tengah wajah atau midface. Midface dibagi menjadi bagian atas dan bagian bawah. Midface yang bagian atas bila terdapat fraktur Le Fort II dan Le Fort III dan/atau fraktur tulang nasal, fraktur nasoetmoidal atau kompleks zygomatikomaksilari dan fraktur dasar orbita. Fraktur Le Fort I bila fraktur terdapat pada bagian bawah dari midface. Bagian yang ketiga dari regio maksilofasial adalah wajah bagian bawah, bila fraktur hanya terdapat pada mandibula. Insidensi trauma maksilofasial terutama yang berhubungan dengan kecelakaan kendaraan bermotor. 2 Trauma yang mengenai wajah dapat menyebabkan diskontinuitas dari jaringan lunak wajah maupun jaringan kerasnya. Fraktur yang terjadi pada daerah wajah yang meliputi sepertiga atas, sepertiga tengah dan sepertiga bawah yaitu meliputi fraktur pada regio frontal, kompleks nasalis, kompleks orbitalis, kompleks zigomatikus, maksila dan mandibula disebut dengan fraktur panfasial. 2 Fraktur ini biasanya disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas, kecelakaan kerja, kecelakaan olah raga dan lain-lain.2,3 Penelitian pada tahun 2008 di

330

Amerika Serikat, penyebab utama fraktur panfasial adalah perkelahian (36%), kecelakaan kendaraan bermotor (32%), jatuh (18%), olahraga (11%), kecelakaan kerja (3%), dan luka tembak (2%). 2 Lebih banyak terjadi pada laki-laki dewasa muda, perbandingan laki-laki dan wanita adalah 4:1.4

331

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi Kraniofasial Tulang-tulang kraniofasial terdiri atas 22 tulang dengan dikelilingi oleh kavitas-kavitas yang berbeda yaitu kranium, orbita, sinus, hidung dan mulut. Tulang-tulang kraniofasial terdiri atas tulang yang memiliki ketebalan berbeda. Tulang-tulang yang tebal berhubungan dengan tulang- tulang berdinding tipis. Tulang dengan struktur yang tebal disebut sebagai 'buttress' yang menopang/penyangga proporsi kraniofasial dalam proyeksi antero-posterior. 2 Banyak penulis membagi buttres wajah dalam dua bidang yaitu bidang vertikal dan bidang horizontal. Buttres vertikal meliputi buttress nasomaxilaris pada medial,, zigomaticomaxilaris pada lateral, dan pterigomaxilaris pada posterior. Buttress nasomaksilaris meliputi prosessus maksilaris dari frontalis dan prosessus frontalis dari tulang maksila, meluas ke lateral sampai rima piriformis. Buttress zigomaticomaxilaris terdiri dari prosessus zygomatikus dari tulang frontal, rima orbita lateral, tulang zygomatikus lateralis, dan prosessus zygomatikus dari tulang maxilla. Buttress pterigomaksilaris terdiri dari lempeng pterigoid dari tulang sphenoid dan tuberositas maksilaris. Ketiga buttress ini menghasilkan suatu sistem penyangga unit-unit fungsi pada oral, nasal dan orbital. Pada umumnya buttress zygomaticomaksilaris dan buttress nasomaksilaris dilakukan rekonstruksi, tapi buttress pterigomaksilaris tidak dilakukan rekonstruksi karena tidak dapat diakses. 2,4 Buttress horizontal sering juga disebut dengan anterior posterior buttress. Buttress ini meliputi buttress frontal, zygomatik, maxilaris dan mandibular. Buttress frontal terdiri dari rima supraorbital, dan regio glabelar. Buttresss zygomatik terdiri dari zygomatic arch, zygomatic body, dan infraorbital rim. Buttress maxila dan mandibula terdiri dari basis maxila dan lengkung tulang mandibula.4 Keseluruhan buttress ini secara bersama-sama memberikan integritas tulang wajah. Tulang-tulang yang pada umumnya lebih tebal ini berfungsi untuk

332

menetralisir kekuatan pengunyahan dan benturan. Dengan reduksi yang tepat kita dapat merekonstruksi tinggi, lebar dan proyeksi wajah. 2,3

Gbr.1 Buttress vertikal dan horizontal.1

2.2 Klasifikasi Fraktur Panfasial Gruss dkk (1989) membagi fraktur panfasial menjadi tiga kelompok yaitu: 3 1. Fraktur kraniofasial sentral Fraktur terjadi pada bagian sentral yang memisahkan buttress fasial dari basis kranial anterior. Variasinya meliputi tulang frontal dan atap orbital dan sinus frontalis. Pada trauma yang ekstensif terjadi perluasan ke arah vertikal melalui sepertiga tengah wajah dan bagian tengah mandibula. 2. Fraktur kraniofasial lateral Fraktur ini mengakibatkan kerusakan pada buttress fasial lateral yaitu tulang frontozigomatikomaksilaris dengan perluasan ke arah posterior pada sayap tulang sphenoid, temporal dan parietal. Komplikasi intrakranial lebih jarang terjadi, namun perluasan ke bagian bawah wajah lebih sering terlihat 3. Kombinasi fraktur sentral dan lateral

333

Trauma yang ekstrim akan menghasilkan kehancuran elemen fasial sentral dan lateral disertai dengan fraktur sepertiga tengah wajah, mandibula, kondilus dan trauma intrakranial. Kerusakan dapat meliputi kerusakan pada otak yang lokal maupun difus dan diskontinuitas dasar fosa kranial anterior.

334

Menghentikan perdarahan eksternal c.BAB III PEMBAHASAN 2. Circulation) b. Perawatan Definitif a. Breathing. Stabilisasi tulang belakang e. Pemeriksaan Laboratorium d. Pemeriksaan fisik menyeluruh b. Pemantauan 3.Penanganan yang dilakukan sebelum dibawa ke rumah sakit a. Resusitasi cairan c. ABC (Airway. Resusitasi dan pananganan primer a. Mempertahankan jalan napas b. Sehingga tahap-tahap penangannnya bersamaan dengan penanganan trauma yang lainnya. Stabilisasi fraktur d. Nutritional support 5. Diagnosis dan penanganan sekunder a. Tranportasi cepat (Ambulatory) 2. Adapun tahap-tahap penanganan trauma adalah sebagai berikut: 6 1.3 Penatalaksanaan Pada umumnya penderita dengan trauma oromaksilofasial terjadi bersamaan dengan trauma pada bagian tubuh yang lain (trauma multiple). Perawatan non operatif c. Radiografi c. Rehabilitasi 335 . Pembedahan b. Resusitasi dan pemantauan lanjut 4.

Dalam mendiagnosa fraktur panfasial dibutuhkan data riwayat trauma yang seksama. gigi geligi dan neurovaskular. palatum.3 Pemeriksaan fisik harus dilakukan secara sistematis yaitu dengan metode inside out and bottom up yaitu meliputi inspeksi dan palpasi dari dagu hingga kepala serta dari intraoral dan ekstraoral untuk dapat mengidentifikasi luka pada jaringan lunak. kesimetrisan dan ketinggian wajah.3 Setelah pasien dalam keadaan stabil dan bebas dari trauma tulang spinal servikal.6 Pemeriksaan penunjang seperti CT Scan pada negara maju telah menggantikan peranan radiologi konvensional. Selain itu juga untuk mengevaluasi adanya fraktur segmental maupun sagital pada maksila maupun mandibula serta dentoalveolar.2. Perhatian utama harus ditujukan pada daerah nasoethomid. mata dan prosesus kondilus.5 Pemeriksaan intraoral dilakukan untuk melihat adanya memar dan laserasi jaringan lunak maupun adanya kehilangan jaringan. Adanya fraktur pada kondilus dapat diperkirakan apabila terdapat krepitus. pernafasan dan sirkulasi serta tingkat kesadaran (ABC trauma management). Deformitas pada tulang seringkali terlihat dengan hilangnya proyeksi hidung dan gangguan pada proyeksi midfasial. Perhatian segera yang ditujukan pada kasus berat adalah penatalaksanaan 'life-support' yang tepat dan penilaian komplikasi intrakranial dan ekstrakranial. daerah supraorbital ridge dan pangkal hidung.2. CT Scan dua dimensi dengan potongan 336 . Pada observasi klinis akan terlihat adanya pembengkakan pada wajah yang difus. evaluasi terhadap regio maksilofasial dapat dilakukan. 2. luka memar laserasi pada tonjolan tulang seperti dahi. Hal ini dapat diperoleh melalui data fotografi dan rekam medis dental. tulang. pergerakan abnormal pada mandibula dengan palpasi pada daerah external auditory canal dan menginstruksikan pasien untuk membuka dan menutup mulut. pemeriksaan fisik dan evaluasi radiografis yang baik.1 Evaluasi Evaluasi dimulai dengan menilai jalan nafas. oklusi dan fungsi sebelum terjadi trauma amat dibutuhkan. Informasi yang lengkap meliputi keadaan wajah penderita. Evaluasi pertama dapat dilakukan dengan data radiologis seperti Water's.3.

3. dengan melalui gambaran rontgen 337 . Dengan kemajuan tehnologi CT Scan tiga dimensi akan memberikan peran yang lebih baik dalam menentukan keadaan fraktur dalam hal ada atau tidaknya displacement tulang. Digital imaging fraktur panfasial 1 2. Pasien dengan fraktur panfasial 2 Gbr 3. 1. buttress maxilla dan ramus ascenden mandibula.2 Tata laksana Manajemen pasien dengan multiple displaced dan fraktur comminuted sangatlah menantang tidak saja pada ahli bedah yang belum berpengalaman nemun juga pada ahli bedah yang sudah berpengalaman. Diagnosa dan rencana perawatan yang tidak tepat akan menyebabkan hasil yang tidak adekuat dan memperlama prosedur bedah. CT Scan dua dimensi dengan potongan koronal dan sagital akan memberikan informasi mengenai fraktur pada dinding orbital.6 Gbr 2. Akan tetapi.axial akan memberikan informasi penting terhadap perluasan trauma kraniomaksilofasial.

tehnik bone graft serta urutan tahapan bedah yang baik. lengkung gigi. Pendekata ini bisa dilakukan jika fraktur palatal single tanpa kominusi atau avulsi. Kondisi ini dapat menyebabkan melebarnya kompleks facial jika segmen fraktur tidak direduksi dengan benar.7 a. Solusi untuk mengatasi masalah ini adalah dengan mengembalikan keutuhan maxila dengan melakukan reduksi dan fiksasi fraktur palatal. akan didapatkan hasil yang optimal. maxila yang memiliki lengkung yang masih utuh dapat digunakan untuk panduan mendapatkan lebar lengkung mandibula yang tepat. fraktur tersebut harus dirawat agar didapatkan tinggi dan lebar wajah yang tepat. Jika terdapat fraktur subkondilar bilateral. kan terjadi penambahan lebar wajah. maxxilary buttress. b. fiksasi yang baik. 338 . proses rekonstruksi seperti menyusun puzzle.7 Ketika terjadi fraktur wajah multiple yang melibatkan wajah bagian atas. berfungsi untuk mencegah pergerakan lateral yang ekstrem. Masalah utama terjadi jika terdapat fraktur midpalatal dan mandibula yang disertai fraktur kondyle. Pengetahuan akan landmark dan anatomi dapat digunakan untuk rekonstruksi yang tepat pada bagian wajah yang mengalami kerusakan. mandibula. mereka dapat digunakan sebagai panduan. Eksposure ini memungkinkan didapatkannya visualisasi langsung dari inferior border mandibula dan sedikit korteks lingual. Perlekatan otot pterigoid lateral pada fovea pterigoideus. tengah dan bawah.yang detail. Key landmark yang dapat membantu adalah. Sebagai contoh. Lengkung Gigi Ketika salah satu atau kedua lengkung gigi utuh. Reduksi permukaan bukal dan lingual memungkinkan untuk didapatkannya hasil fiksasi yang lebih baik. sutura sphenozigomatik. Mandibula Reduksi simphisis dan/atau ramus mandibula dapat diperoleh melalui pembukaan ekstraoral. Jjika terdapat fraktur subkondilar yang disertai dengan fraktur simphisis dan/atau ramus mandibula. ketika terjadi fraktur lefort dengan midpalatal yang masih utuh. sebagai nerikut:1. dan regio intercanthal.

lokasi dari maksila dapat di tentukan. Jika orbital roof dan orbita lateral superior masih baik. sutura ini dapat menjadi landmark yang penting untuk menempatkan zygoma dan lengkung zygoma pada posisi yang tepat. Sutura Sphenozygomatikus Sutura sphenozygomatikus. Reduksi dan fiksasi sutura sphenozygomatik 1 d. perlu dipertimbangkan pencangkokan untuk mengembalikan buttress ini. Gambar 4. buttress zigomatikus sangatlah penting dalam menempatkan zygoma dan maksila dalam posisi yang tepat. 339 .Kondilus mandibula can be reconstitude ramus mandibula untuk mendapatkan tinggi dan lebar wajah. Daerah Interchantus Daerah interchantus digunakan untuk mengembalikan lebar midfacial setelah jarak interchantus stabil pada rangka wajah orang dewasa. Sutura sphenozygomatikus biasanya nampak pada sepanjang permukaan internal dari dinding orbita lateral. Jika terjadi kehilangan tulang yang signifikan pada regio ini. c. Permukaan kontak yang luas ini sangat penting pada proses reduksi dan fiksasi. Restorasi jarak interchantus dengan menggunakan reduksi kompleks naso-orbitoethmoid dapat membantu menentukan lebar wajah. Ketika zygoma telah berada pada posisi yang tepat. disepanjang permukaan dalam dari didingding orbita lateral adalah key landmark pada reduksi dan fiksasi complex zygomatikomaksilaris. Likewise .

Dibutuhkan perencanaan yang baik untuk meminimalkan operasi ulang dan lamanya perawatan di rumah sakit.Gambaran klinis penderita dengan fraktur naso-orbitoethmoid dengan jarak interchantus 43mm. Keadaan trauma dentoalveolar Perawatan jenis trauma yang kompleks ini merupakan rangkuman dari seluruh perbaikan dari semua fraktur fasial dan kranial yang individual. Jumlah kehilangan jaringan lunak. Pada saat ini perawatan modern unit kraniofasial di negara maju memungkinkan untuk dilakukannya perbaikan kraniofasial dan bedah neurologis dalam merekonstruksi perbaikan fraktur fasial yang multipel dan penutupan fistula kranionasal pada saat yang bersamaan. serta perbaikan oklusi gigi. mengurangi rasa sakit. Struktur yang terluka atau terlibat di sepanjang fraktur 3.Gambar 5. penyembuhan tulang. Defek tulang yang luas atau defek jaringan lunak dapat dipertimbangkan dengan menggunakan rekonstruksi flap yang luas atau graft. mukosa dan saraf 4. A. B.7 Tujuan dari perawatan fraktur panfasial adalah merehabilitasi jaringan yang terkena. Defek diskontinuitas dapat dilakukan dengan fiksasi maksilomandibular 340 . Lokasi dan luasnya fraktur 2. Gambaran intraoperatif menunjukkan gambaran fraktur naso-orbitoethmoid. Perawatan terhadap jenis fraktur ini sebelumnya sering mengalami kesulitan dalam menentukan waktu perbaikan wajah sehubungan dengan intervensi bedah saraf dan ophtalmologis. meliputi kulit. Luas kehilangan tulang 5. Sebelum merencanakan perawatan terlebih dahulu perhatikan: 7 1.

Pada periode tersebut jaringan lunak berada dalam keadaan pembengkakan sehingga pengelolaan operatif pada saat itu akan menyebabkan proyeksi wajah dan kesimetrisan wajah sulit dicapai.2. Cangkok tulang definitif dapat dilakukan pada operasi pertama ataupun kedua. Selain itu adanya rhinorrhoea serebrospinal atau aerocele intrakranial merupakan alasan lain keterlambatan perawatan. lag screws maupun fiksasi eksternal. plate dan screws. Pada banyak kasus keterlambatan koreksi seringkali menyebabkan telah terjadinya union pada tulang dan kontraktur jaringan lunak sehingga diperlukan diseksi jaringan lunak yang ekstensif untuk mendapatkan pemaparan tulang yang baik dalam rangka reduksi dan fiksasi fraktur tulang. Terdapat dua prinsip umum untuk penatalaksanaan fraktur panfasial 341 . 2 Seringkali pasien tersebut membutuhkan waktu lebih dari tiga minggu untuk pengelolaan life-saving yang ekstensi terhadap trauma ekstrakranial.baik internal dengan intraosseus wiring. Hilangnya gigi geligi akan mempengaruhi hubungan antara maksila dan mandibula. Bone graft pada dinding sinus maksila anterior1 Koreksi definitif pada pasien dengan trauma kraniofasial yang kompleks secara ideal dilakukan dalam 5-7 hari.7 Gbr 6.6 Kunci utama dalam penatalaksanaan fraktur panfasial adalah untuk mendapatkan fiksasi dan stabilisasi yang cukup stabil pada daerah-daerah yang tidak stabil. ophtalmologis dan pengelolaan gigi geligi yang adekuat terutama pada pasien dalam keadaan koma dan tidak kooperatif. Beberapa penulis menganjurkan untuk fiksasi primer pada 12-48 jam paska trauma. Rekonstruksi harus meliputi arah 3 dimensi yaitu vertikal. Selain itu diperlukan osteotomi pada garis fraktur akibat telah terjadinya penyatuan tulang. horisontal dan transversal. Namun dalam jangka waktu tersebut seringkali tidak cukup untuk memperoleh pemeriksaan radiologis.

5. regio midfasial dapat direkonstruksi dalam arah atas ke bawah.6 Kerugian pada tehnik bottom to up adalah untuk rekonstruksi dilakukan dimulai dari jarak yang cukup jauh dari elemen simetris yang stabil yaitu basis kranial.yaitu dengan tehnik bottom to top (dari bawah ke atas) atau top to bottom (dari atas ke bawah).8 Apabila kranium frontalis masih intak atau terdapat fraktur pada fossa kranial anterior atau fronto-orbital bar tanpa adanya kehilangan tulang atau dimana struktur-struktur tulang tersebut di atas telah terekonstruksi dengan kuat.2.2.6. Fraktur pada kondilus baik unilateral maupun bilateral memerlukan reduksi segera dan fiksasi internal untuk mempertahankan ketinggian fasial. Bila lengkung mandibula terganggu harus diperbaiki terlebih dahulu. hilangnya tulang pada tulang kranial dan diskontinuitas pada dasar fosa kranial anterior atau hilangnya titik referensi.6 342 . Hal ini dilakukan agar rekonstruksi pada mandibula dapat menghasilkan hubungan yang intak dalam mereposisi maksila.8 Pada tehnik bottom to top. 5. Namun bila terdapat diskontinuitas pada lengkung mandibula. Perbaikan dapat dilanjutkan dalam arah atas ke bawah dan bertemu dengan segmen maksilomandibula yang telah terfiksasi. Fiksasi dapat dilakukan dengan menempatkan miniplate secara transversal pada maksila. Selain itu bila basis kranial frontalis diperbaiki dan dilekatkan terhadap tengah wajah dapat menaikkan resiko kerusakan atau perubahan letak terhadap fosa kranialis anterior yang telah diperbaiki.6 Bila terdapat fraktur sagital pada maksila dilakukan reduksi dan fiksasi untuk mendapatkan kembali lengkung maksila sehingga koreksi terhadap lebar wajah tengah dapat tercapai. pendekatan dilakukan dalam arah bawah ke atas. Setelah mandibula terkoreksi dengan baik. maksila yang mengalami disimpaksi dapat dikoreksi dengan menyesuaikan oklusi pada rahang bawah dan dilakukan fiksasi intermaksilaris. 5. Ketidakakuratan dalam mereduksi dan mereposisi fraktur kondilus akan menyebabkan asimetri wajah. rekonstruksi dimulai dari mandibula.

kemudian fraktur symphisis. kompleks malar dan tulang frontalis. G dan H. 1 Pada tehnik top to bottom. Kemudian rekonstruksi dilakukan pada bagian dalam 343 . Kemudian diikuti dengan reduksi dan fiksasi fraktur subkondil. Gruss dan Mackinon (1986) menyarankan untuk melakukan rekonstruksi pertama-tama pada bagian luar rangka fasial (outer facial frame) pada fraktur panfasial yaitu meliputi lengkung zygomatik. C dan D. reduksi dan fiksasi zygoma dengan menggunakan panduan sutura sphenozygomatik dan sutura zigomatiko maxilary. penatalaksanaan fraktur panfacial dapat dimulai dengan fikasi maxilomandibular. selanjutnya maxiila dapat distabilisasi sepanjang buttress zygomaticomaxilary. Tehnik bottom up dan inside out.Gbr 7. E dan F. selanjutnya fraktur naso-orbiethmoid dapat direduksi dan fiksasi pada sutura naso frontalis dan sutura frontomaxilary dan infraorbital rim serta piriform. A dan B.

Kemudian reposisi pada fraktur mandibula dan diakhiri dengan fiksasi intermaksilaris. sutura zygomatikofrontalis dan orbital rim.rangka fasial (inner facial frame) atau pada kompleks naso-orbitho-ethmoidal. Setelah itu dilakukan rekonstruksi pada maksila pada Le Fort I dengan menggunakan plat pada buttress. Selain itu cangkok tulang dilakukan untuk koreksi sekunder bila 344 . Teknik top to bottom1 Cangkok tulang biasanya dilakukan untuk merekonstruksi dinding orbital dan hidung. Gbr 8.

Bertambahnya lebar wajah. Kerusakan neurologis seperti adanya anestesi. Kebutaan.5 2.6 Berbagai macam insisi dilakukan untuk mendapatkan pemaparan tulang yang mengalami fraktur dan merekonstruksinya antara lain dengan insisi koronal. 2. 7. insisi pada kelopak mata bagian bawah. 345 . Deformitas dan obstruksi hidung dan serta 8. 5. 6. Berkurangnya ukuran proyeksi wajah dalam arah anterior dan posterior. sulkus gingivobukal. Selain itu insisi ini dapat memberikan akses yang optimal untuk dapat mereduksi dan memfiksasi fragmen tulang. preaurikular. Maloklusi. parastesi.dibutuhkan untuk menambah kontur pada regio tertentu dan memperbaiki kesimetrisan wajah. Gigitan terbuka pada bagian anterior ( openbite anterior). periorbital. Kurangnya ketinggian wajah pada bagian posterior. retromandibular atau submandibular. 3.4 Komplikasi Komplikasi yang dapat terjadi pada trauma maksilofasial adalah : 1. Insisi koronal akan dapat memberikan pemaparan yang lebih luas pada tulang kranium dan rangka kraniofasial bagian atas. 4.

reduksi yang cermat dan fiksasi dari fraktur. Kunci keberhasilan pengelolaan pasien fraktur panfasial adalah dengan mendapatkan lapang pandang yang cukup luas. Prinsip dalam merekonstruksi adalah dengan mereduksi daerah yang anatomi yang memberikan panduan rangka wajah yang maksimal yaitu pada kerangka wajah luar. Daerah-daerah yang mengalami kehilangan tulang yang luas dapat dilakukan cangkok tulang. 346 .BAB III KESIMPULAN Penatalaksanaan pasien dengan trauma panfasial memerlukan diagnosa yang cermat untuk mendapatkan hasil yang memuaskan dalam merekonstruksi wajah.

1995. G. Management of Panfacial Fractures 4. Stuttgart. Management of Panfacial Fractures 9. Berlin: Springer-Verlag 2. Purwanto.M.A et al.W. Trott.medscape. http://emedicine. Craniofacial Trauma. 3.otohns. Bos.com/article/1283471-overview Workup: Facial Trauma. Diagnosis and Management. Microplates and Screws. St Louis: Elsevier Saunders. http://emedicine.medscape.R.medscape. Multimedia: Follow-up: Treatment: UTMB Grand Rounds-Maxillary and 347 . and Champy.DAFTAR PUSTAKA 1. Fonseca R.J. Management of Panfacial Fractures 8.com/article/1283471-overview Facial Trauma. Buku Ajar Praktis Bedah Mulut. 2005. Pedersen. Kuttenberger. Craniomaxillofacial Trauma. Management of Panfacial Fractures 10. Basoeseno. http://emedicine.J & Simpson D. Edinburg: Churchill Livingston 6. New York: Thieme 7. Facial Fracture in David. Alih Bahasa: drg. R.medscape.com/article/1283471-overview Facial Trauma. Atlas of Craniomaxillofacial Osteosynthesis Miniplates. 1990.A. Jakarta. D. Hard N. 2010. Oral and Maxillofacial Trauma. EGC. Panfacial fractures : Planning an Organized Treatment in Harle F. M. http://emedicine. 3rd ed. J. http://www. 1996. drg.com/article/1283471-overview Facial Trauma.net/default Periorbital Fractures 5.

anak-anak. fraktur. 348 . reduksi. Maksud dari penulisan makalah ini adalah untuk memberikan gambaran mengenai manajemen penatalaksanaan trauma pada anak-anak. Dengan kemampuan penyembuhan yang cepat. fiksasi. Perlu di perhatikan pada penanganan kegawatdaruratan dan perawatan definitive oleh karena struktur anatomi yang sedikit berbeda dengan orang dewasa. Kata kunci : trauma. ukuran bagian tubuh yang lebih kecil dan komplikasi yang minimal menjadi karakteristik tersendiri pada pasien anak-anak.Manajemen Trauma Pada Anak-Anak Arismunandar 160121120005 Peserta Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut Dan Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Bandung Abstrak Manajemen trauma oromaksilofasial pada pasien anak-anak sedikit berbeda dengan orang dewasa. reposisi.

dan adanya lapisan adiposa yang menutupi kerangka lebih tebal daripada pada orang dewasa. Kedua. yang membuat tindak lanjut penanganan jangka panjang pada pasien anak-anak wajib diperhatikan.3 Oleh karena itu.4 Adanya perbedaan antara pasien anak dan dewasa mempunyai dampak terhadap pola trauma pada anak-anak pada umumnya dan trauma maksilofasial khususnya. 3 Ukuran tubuh anakanak yang lebih kecil juga berpengaruh. Anak-anak memiliki permukaan yang lebih tinggi-untuk-rasio volume tubuh. mereka lebih rentan menghadapi resiko hipotermia.BAB I PENDAHULUAN Pasien trauma orofasial pada anak-anak berbeda dari orang dewasa dengan luka yang serupa oleh karena trauma yang terjadi. 349 .2 Disamping keuntungan ini. garis sutura lebih fleksibel. Ini termasuk anatomi wajah yang belum dewasa. ada karakteristik tertentu dari trauma orofasial pada anak-anak yang harus selalu diingat. pada pasien anak-anak memiliki keuntungan dari kemampuannya untuk menyembuhkan yang cepat dengan komplikasi yang minimal. tulang lebih elastis. Karena faktor ini. cedera pada wajah karena trauma berpengaruh pada pertumbuhan. dan curah jantung. dan stroke volume lebih kecil daripada orang dewasa. pemulihan jaringan orofasial yang rusak dapat dimaksimalkan dan hilangnya fungsi dapat diminimalkan. Pertama. 1. oxygen demand. akan menyebabkan gaya yang lebih besar per unit masa tubuh. Pada pasien pediatrik. trauma orofasial pada anak-anak tidak dapat dikelola dengan cara yang sama seperti pada orang dewasa. tingkat metabolisme lebih tinggi.2 Faktor-faktor ini juga berkontribusi terhadap rendahnya frekuensi fraktur fasial pada anak-anak dan seringya terjadi greenstick dan nondisplaced fraktur pada anak-anak. Kurangnya sinus pneumatization dan tunas gigi dalam rahang berkontribusi terhadap stabilitas dan rendahnya prevalensi pada fraktur midface . saat terjadi trauma. darah total yang lebih rendah volume. oleh karena vaskularisasi jaringan yang baik dari wajah. melalui pertumbuhan dan kemampuan yang melekat pada anak-anak untuk beradaptasi.

Rasio cranial to body mass diperkirakan 8:1 pada masa bayi dan 2. Oleh karena itu maka pemeliharaan jalan nafas. insiden patah tulang rahang midface dan meningkat sedangkan insiden cedera kranial berkurang. anak-anak memiliki rasio cranial to body mass lebih besar. Ini juga menjelaskan mengapa. Perlindungan ''relatif'' wajah oleh tulang tengkorak memberikan informasi bahwa. dan hipoksia setelah kehilangan darah dan bahkan pembengkakan ringan pada saluran napas atau terjadinya obstruksi mekanis.hipotensi. pengendalian perdarahan.3. dan resusitasi awal lebih kritis pada anak-anak daripada orang dewasa. serta lebih besar insiden cedera tengkorak dalam kelompok usia yang lebih muda.5:1 pada dewasa.3 Dibandingkan dengan orang dewasa. insidensi fraktur midface dan tulang mandibula pada anak-anak lebih rendah.4 350 . dengan bertambahnya usia.

Awalnya. Rasio kraniofasial saat lahir adalah 8:1 dan wajah tersembunyi di bawah tulang kranium yang relatif besar. Infant dikategorikan pada usia kurang dari 1 tahun. anak-anak harus dibedakan berdasarkan usia tumbuh kembangnya. kategori anak-anak berada pada usia 1-11 tahun.BAB II TINJAUAN PUSTAKA Epidemiologi Etiologi cedera pada wajah bervariasi dengan usia.3. penyebab paling umum cedera pada wajah adalah kecelakaan kendaraan bermotor apakah anak sebagai penumpang atau pejalan kaki.1 Dilema sering muncul ketika harus memutuskan perawatan yang terbaik untuk penatalaksanaan trauma orofasial terutama pada pasien anak-anak.4 Anatomi Dan Patofisiologi Proporsi wajah anak-anak sangat berbeda dari yang orang dewasa. Pertumbuhan fasial terus berlangsung sampai pada dekade kedua kehidupan hingga ratio kraniofasila menjadi 2:1. 2. Otak dan ocular pertumbuhan hampir selesai pada usia tujuh. Secara keseluruhan menunjukkan bahwa. Potensi penyembuhan dan remodeling tulang pada anak-anak lebih besar daripada orang dewasa. dan dewasa muda berada pada usia 11-19 tahun. Peran dan fungsi rahang sebagai modulator pertumbuhan mandibula tidak terbantahkan. & fixation) harus diterapkan disamping tetap mempertimbangkan dampak yang terjadi terhadap tumbuh kembang anak-anak di masa mendatang. Oleh karena alasan tersebut maka tulang kranium lebih sering terkena trauma sebelum usia ke-7 daripada trauma yang terjadi pada wajah.3. Tulang kranium kepala besar dan struktur wajah yang relatif kecil.4 Prinsip umum penatalaksanaan fraktur (recognition. reduction. Walaupun kebanyakan dokter mengkategorikan pasien yang sedang dalam masa tumbuh kembang sesuai dengan kesar tubuh anak-anak tersebut. stabilization. Pada perawatan IMF yang menghambat tumbuh kembang 351 . kranium tumbuh lebih cepat daripada wajah. mencapai 80% dari ukuran dewasa pada usia dua tahun.

Tidak seperti pada orang dewasa. closed reduction menjadi pilihan solusi penanganan pada kebanyakan fraktur fasial. Kondisi ini menyebabkan meningkatnya airway resintance. screws ataupun wires.3 Psikologi anak-anak Stress trauma dan bedah akan berpengaruh pada psikologi anak-anak.4 Anatomi jalan nafas pada pasien anak-anak memiliki saluran yang pendek dan diameter yang kecil serta epiglotis yang sempit serta lidah yang besar pada anak. mudahnya tejadi obstruksi. Aktivitas osteogenic dan bone remodeling yang aktif pada anak-anak menyebabkan fraktur yang terjadi baik pada maksila ataupun pada mandibula yang jika tidak segera dilakukan reduksi dalam beberapa hari maka akan sulit didapatkan reduksi yang adekuat dikemudian hari. dan mudahnya self-extubation. kesulitan intubasi. Ketika perawatan open reduction menjadi pilihan. Hampir tidak ada/ jarang ditemukan kasus nonunion pada fraktur fasial pada anak-anak. Selama fase mixed dentition mungkin akan sulit didapatkan IMF yang stabil pada perawatan closed dan open reduction.1. rawat inap rumah sakit. Pada usia yang lebih dewasa.2 Fraktur greenstick lebih sering dijumpai pada pasien anak-anak oleh karena tulang korteks yang tipis dan meningkatnya bagian medulla tulang menyebabkan tulang tahan terhadap benturan. 352 . 1. Pada anak-anak dan bayi rigiditas dada kurang bila dibandingkan dengan dewasa. Oleh karena alasan tersebut. Selama periode infant. jika pemasangan IMF dilakukan untuk jangka waktu yang singkat. harus diperhatikan bahwa jangan sampai tindakan tersebut mempunyai efek terhadap tumbuh kembang wajah akibat penempatan bone plates. pada anak-anak penyebab umum terjadinya gangguan jantung oleh karena gangguan sekunder pernafasan.2. depresi dapat terjadi karena tekanan dari ingatan akan trauma dan kehilangan anggota tubuh dapat menghambat perkembangan mental pada anak.wajah efeknya bersifat reversible. trauma dan bedah akan mengganggu alur makan dan tidur infant. Komposisi tulang dengan lebih banyak tulang kanselus menyebabkan kurang kondusif dilakukan screw/ wire fixation untuk internal fiksasi.

32 % fraktur orbita pada dasar orbita. 1 Studi yang dilakukan McCoy et al.7 fraktur zygoma dan maksila. Konsultasi dengan psikiatri dan layanan social lainnya penting untuk menghasilkan kesehatan yang sempurna pada anak-anak. trauma kepala sering menyertai fraktur fasial.6% fraktur orbita. menemukan 42 % dengan fraktur fasial (6-12 tahun). Analisa yang dilakukan Rowe pada 1500 kasus fraktur fasial ditemukan bahwa. 18% pada atap orbita. kemudian diikuti trauma pada ekstremitas.1 353 .5% fraktur mandibula. Pada pasien anak-anak.Post Traumatic Stres Disorder (PTSD) dapat muncul setelah luka pada individu muda yang tidak pernah mengalami luka yang serius ataupun rawat inap pada lingkungan rumah sakit. 11. Perawatan khusus harus diberikan untuk menjaga keadaan mental pasien anakanak. Posnick et al mendapatkan dari 137 pasien. 15. Pada kasus kecelakaan kendaraan bermotor yang terjadi/ melibatkan anak-anak. 5% dari semua kasus fraktur fasial terjadi pada anak-anak dibawah umur 12 tahun dan kurang dari 1% terjadi pada anak-anak dibawah umur 6 tahun. keadaan ini dapat memicu pertumbuhan mental pasien kea rah yang tidak wajar.4% terjadi faraktur nasal. 19% pada dinding media. menemukan bahwa 40% kasus fraktur fasial berkaitan dengan fraktur kranium. Fraktur pada midface pada anak-anak ditemukan kurang dari 1% dan 4% disertai variasi fraktur Le Fort I. Insiden Fraktur Fasial Fasial fraktur pada anak-anak jarang terjadi pada anak-anak. Walaupun PTSD bukanlah kelainan yang fatal. 51. 8.

4 Cairan Dan Elektrolit Resusitasi cairan merupakan komponen penting pada manajemen perioperatif pada pasien trauma anak-anak. dapat membahayakan saluran pernafasan pada anak-anak dengan trauma maksilofasial. pencegahan terjadinya aspirasi. fragmen fraktur mandibula. wajah. dan hipotermi adalah tanda-tanda shock dan memerlukan segera resusitasi cairan dengan cairan intravena yang hangat untuk mengembalikan ke kondisi semula. Kalkulasi terapi maintenance pada anak-anak berkisar 1500 mL + 20 mL/kg untuk berat badan yang lebih dari 20 Kg per hari. respiratory compromise. muntah. Perubahan status mentalis. jika kurang dari 6 tahun. Perdarahan dari kulit kepala. Mulut dan pharynx harus terbebas dari kotoran dan intubasi dilakukan jika diperlukan. Dengan adanya trauma. kontrol perdarahan dan stabilisasi tulang servikal merupakan langkah utama pada manajemen kegawatdaruratan pada pasien anak-anak dengan trauma orofasial. leher dan mulut harus dikontrol dengan penekanan dan dilakukan penjahitan bila perlu. diare. resusitasi cairan dengan 2 cateter intravena diperlukan. Stabilisasi tulang servikal sampai kondisi dinyatakan clear. Maintenance terapi untuk mengkompensasi kehilangan cairan insensible (paru & keringat) dan sensible (urine & stool). akses intraosseus bisa dilakukan sampai akses intravena didapatkan. Kebutuhan cairan pada anak-anak terdiri dari maintenance dan replacement. Kemungkinan terjadi kehilangan cairan pada kondisi adanya luka terbuka.BAB III PEMBAHASAN Manajemen Kegawat-daruratan Pemeliharaan jalan nafas. delayed capillary refill. Untuk terapi maintenance dikalkulasikan dengan estimasi caloric expenditure dari berat badan dan luas permukaan tubuh. Jika diduga dehidrasi moderate maka maintenance awal 5mL/ Kg per jam selama 2 354 . berkurangnya nadi perifer. Pembengkakan karena trauma maksilofasial.

Terapi cairan untuk maintenance biasanya larutan hipotonis dengan konsentrasi Na dan K yang memadai ( 5% dextrose [D5] dengan ¼ NS. Serta juga dapat menyebabkan hiperchloremic pada neonates jika digunakan dalam jangka waktu yang lama. Penggunaan NS bisa memicu terjadinya hipernantremi ketika diberikan untuk maintenance karena kandungan sodium yang tinggi (154 mEq/L) dan juga karena kemampuan bayi untuk mengekskresikan kelebihan sodium berkurang. Compatibility test harus dilakukan sebelum dilakukan transfusi untuk menentukan golongan darah dan Rh recipient.3 355 . serta kemungkinan adanya red cell isoantibodies.5-2 mL/ Kg per jam. Ketika kondisi hemodinamik sudah tidak stabil maka perlu diberikan bolus crystalloid fluid.jam pertama dan berkurang sampai 1.karena tiga kali jumlah crystalloid diperlukan untuk menggantikan volume darah yang hilang.1. yang mewakili 25% volume darah normal pada anak-anak. Penggunaan cairan isotonis dianjurkan karena aktif secara osmosis dan menyebabkan ekspansi intravascular. Output urine diharapkan 1-2 mL/ Kg per jam pada anak-anak.1. transfusi PRC 10-20 mL/Kg.3 Blood Loss Dan Replacement Tujuan utama manjemen terapi cairan pada anak-anak adalah untuk mengenali dan mengatasi kondisi yang mengancam nyawa dan mengeliminasi kondisi sekunder karena trauma yang terjadi. Pada anak-anak dengan multisystem trauma harus dipertimbangkan kemungkinan terjadinya perdarahan. Bolus diulang sampai total 60 mL/Kg . karena kandungan chloride didalamnya adalah nonphysiologic chloride. Pada kasus trauma pada anak-anak operator harus jeli memonitor kondisi klinis pasien jika sewaktu-waktu terjadi shock dan dibutuhkan resusitasi cairan. dan pre renal azotemia. pallor. poor filling capillary refiil. Penggunaan cairan hipotonis tidak dianjurkan pada resusitasi karena menyebabkan menurunnya crystalloid osmotic pressure. Darah merupakan agen yang sangat efektif untuk mengoreksi defisit intravascular. Tanda-tanda shock meliputi tachycardia. Resusitasi untuk hipovalemia dapat dimulai dengan pemberian crystalloid bolus 20 mL/Kg. D5 dengan ½ NS).

Ketika pasien dalam kondisi severe neurologic injury. 356 .subcutaneous emphysema. berikan secara parenteral. periorbital ecchymosis. Perhatikan dan observasi tanda-tanda vital untuk menentukan apakah pasien stabil atau dalam kondisi sebaliknya. Palpasi regio orbita dan nasal untuk mengetahui adanya deformitas tulang pada daerah tersebut. kemudian diikuti evaluasi kardiopulmonal. Adanya deviasi waktu membuka mulut curigai adanya fraktur pada kondil mandibula. sering terjadi kondisi hypercatabolic yang memerlukan oral intake yang adekuat untuk mencukupi nutrisi yang dibutuhkan tubuh. respiratory failure. subcutaneous emphysema. atau adanya hemotympanum. dan krepitasi yang terjadi. perubahan status mentalis.3 Pemeriksaan klinis Perhatikan airway.Nutrisi Pada pasien anak-anak paska penatalaksanaan tindakan bedah. Adanya laserasi atau kontusi pada daerah dagu waspadai kemungkinan terjadinnya fraktur pada kondil mandibula. massive edema hindari pemberian makan secara enteral selama kurang lebih 3 hari atau lebih. Karena jalan nafas yang relatif sempit maka kemungkinan dampak karena oedem dan pembengkakan semakin besar. parestesi wajah. 1. dan kelainan pergerakan bola mata. atau adanya gigi yang tanggal curigai adanya fraktur rahang. Konsultasikan ke neurosurgical jika ada riwayat pingsan. Sedasi selama periode tersebut mungkin sangat diperlukan tetapi harus dihindari karena kondisi pasien masih dalam masks neurologoc changes. adakah diplopia. perdarahan hidung. battle’s sign. Identifikasi adanya pembengkakan yang terjadi dan kemungkinan terjadinya fraktur pada struktur tulang dibawahnya. terutama pada pasien dengan trauma midface yang parah. Adanya battle’s sign (postauricular echymosis) curigai adanya basal skull fracture. Adanya kelainan maloklusi. subconjunctival hemorrhage. rhinorea. oedema fasial. Pada pasien recovery. Ketika terjadi fraktur orbita lakukan tes visual . intake makanan dalam bentuk mechanical diet yang tidak dikunyah atau dalam bentuk cairan jika terpasang IMF. dan identifikasi perdarahan dari rongga mulut.

3 TIPE FRAKTUR 1.1 % dan 50. 1. Town’s projection.1 Gambar 1.Anamnesa yang akurat tentang riwayat trauma pada pasien ataupun pengantar sangat membantu perencanaan tindakan berikutnya. Prosentasenya berkisar 8. Pada pasien dengan alveolar bone loss dapat dilakukan autogenous bone grafting dengan pengambilan tulang berasal dari mandibular ramus.2 Pemeriksaan Radiologi Pemeriksaa radiologi perlu dilakukan untuk membantu menegakkan diagnosa. Penanganan fraktur alveolar meliputi imobilisasi segmen fraktur dengan arch bar.6 % pada trauma fasial pada anak-anak. Pada fraktur alveolar maksila berkisar antara 5% sampai 65%. schede AP lateral. Fraktur Alveolar Fraktur mandibular alveolar pada anak-anak merupakan yang paling sering terjadi pada fraktur fasial. Pemeriksaan lengkap pada wajah meliputi. 1.2. wire ligation serta composite supported orthodontic wire extended pada gigi disekitarnya. os mental atau tulang kranial. Fiksasi gigi dengan composite supported orthodontic wire extended1 357 . Panoramic foto merupakan alat diagnostic lainnya yang diperlukan tetapi menuntut kerjasama pasien untuk diam selama berlangsung pemaparan. Water’s view dan submental vertex. Penggunaan CT-Scan telah menjadi kegiatan rutin dinegara-negara besar dan menjadi standar perawatan menggantikan pemeriksaan radiologi konvensional.

Fraktur nasal yang terjadi sebelum proses tumbuh kembang selesai harus di perlakukan sama seperti fraktur nasal pada orang dewasa. Setelah dilakukan reduksi dengan kaudal traksi. dilakukan setelah 3-4 hari setelah terjadinya trauma. Epistaksis sering terjadi menyertai trauma pada hidung dan mudah dikontrol dengan melakukan penekanan pada nostril selama 5-10 menit dengan kepala sedikit ditengadakan. Reseksi pada septal cartilage dapat menyebabkan gangguan Pemeriksaan ulang pertumbuhan wajah. untuk mencegah terjadinya aspirasi dari darah karena darah mengalir ke posterior pharynx.2. Nasal packs dapat digunakan untuk menyangga tulang dan septum hidung yang telah direposisi. Fraktur Midfasial Fraktur Nasal. Adanya gangguan pertumbuhan setelah terjadinya fraktur nasal akan menyebabkan penutupan premature dari sutura septovomerine. Fraktur nasal sering terjadi pada cedera midfasial anak-anak. dan hal ini harus dihindari. Seperti pada fraktur nasal orang dewasa maka oedema terjadi disekitar struktur os nasalis. Jika terjadi terjadi deviasi septum maka harus dilakukan reduksi. dan jika terjadi deformitas maka harus dilakukan closed reduction. dan membiarkanya beberapa saat selama proses penyembuhan. Tulang hidung dapat direposisi dengan pendekatan intranasal. 358 . bukan hiperekstensi kebelakang. 1 Splinting eksternal dapat membantu untuk mengontrol pembengkakan dan menyediakan perlindungan pada hidung setelah dilakukan reposisi.

Fraktur Le fort pada anak-anak jarang ditemui oleh karena maksila pada anak-anak masih tulang kanselus. Sebelum usia 7 tahun. adanya keterbatasan gerak bola mata. kemudian model dipotong untuk memfasilitasi konstruksi pembuatan splint untuk closed reduction. Setelah usia 7 tahun. Pencetakan dilakukan dan pembuatan model. Intervensi bedah pada toothbearing area pada maksila untuk penempatan kawat untuk stabilisasi atau plate meningkatkan insiden terjadinya gangguan perkembangan benih gigi dan sedapat mungkin dihindari. (A) Deviasi ke kanan setelah trauma pada wajah. (B) Setelah reduksi tertutup. 1 Fraktur Maksila.Gambar 2. dan jaringan lunaknya lebih banyak jaringan lemak. dasar dan sinus frontalis lebih sering terjadi . Penatalaksanaan fraktur orbita pada anak-anak umur 7 tahun ke atas sama dengan penatalaksanaan pada fraktur orbita orang dewasa. gigi belum tumbuh dan sinus maksilaris masih belum sempurna. dan dilakukan pada kondisi tertentu. cedera pada atap orbita. Jika terjadi fraktur dan terjadi maloklusi maka dapat dilakukan closed reduction. sebagian besar fraktur pada orbita terjadi pada atap orbita dan meluas ke sinus frontalis. Hal ini dikarenakan sinus masih dalam perkembangan. Aperture piriformis dan dinding zygomaticomaxillary tebal . karena sebagian besar perkembangan orbita telah selesai. dinding lateral. Adanya disfigurement wajah. Jejas pada nasal merupakan fraktur wajah yang sering terjadi pada pasien anak-anak.1.2 Fraktur Orbita. prolaps 359 .

Insisi dibuat 7 mm dari tepi bawah kantung mata. Karena pada anak-anak lipatan kantung mata belum terbentuk maka insisi bisa dilakukan parallel dengan batas kantung mata dan sedikit bersudut ke inferior hal ini untuk mengurangi terbentuknya jaringan parut. dan jika gigi permanen belum tumbuh. (B) Durante op dengan gambaran impaksi frontal dan rima supra orbita yang memerkukan dilakukannya craniektomi untuk akses dan pebaikan. kemungkinan tunas benih gigi akan terkena.periorbita ke athrum atau sinus ethmoidalis dan adanya diplopia yang persisten merupakan indikasi dilakukan open orbital exploration. dan diseksi dilakukan ke otot orbicularis oculli terus sampai ke bawah pada orbital rim. Untuk menghindari hal tersebut maka sedapat mungkin kawat atau screw harus ditempatkan dengan posisi cephalic diatas rim. Jika dilakukan fiksasi internal maka kawat ditempatkan pada inferior orbital rim. Fraktur fronto-rima orbitalis superior terjadi karena adanya tumbukan yang cepat kearah benda diam. dasar orbita dan dinding medial dapat dilakukan pendekatan dengan melakukan insisi pada lipatan inferior kantung mata atau melalui transconjunctival approach. (A) Edema pada fronto-periorbita dextra dan ekimosis setelah trauma.2 360 . Untuk eksplorasi daerah infraorbital rim. Untuk eksplorasi regio frontozygomatico dapat dilakukan insisi di sekitar alis mata. Gambar 3.

Insisi koronal dilakukan 361 . tapi karena pentingnya harus digaris bawahi karena potensialnya yang bisa menyebabkan gangguan pada pertumbuhan tulang wajah. In: Fonseca RJ. Open reduction kompleks pada nasal-orbita-ethmoid dilakukan 4 hari setelah trauma dan dengan gangguan seminimal pada septum nasalis. disamping bisa dilakukan insisi pada nasal dorsum dan juga perluasan insisi dari insisi inferior kantung mata yang meluas ke tulang hidung bagian lateral. orbita dan septum nasalis. Menurut Ochs MW FR.2 Fraktur Nasal-Orbita-Ethmiodal.1. Orbital trauma. Pertumbuhan midface tergantung dari pertumbuhan fossa cranii anterior.3 Jika dasar orbita atau dinding medial fraktur maka akan terjadi prolaps bola mata ke anthrum atau sinus ethmoidalis. Prolaps yang terjadi harus dikembalikan dan dasar atau dinding harus didukung dengan bone graft untuk mencegah enophthalmus. Fraktur ini relatif jarang dijumpai pada anak-anak. Regio ini dapat diakses melalui pendekatan insisi koronal untuk hasil estetik yang memuaskan. Ketika dilakukan open reduction pada daerah ini maka periosteum akan dipisahkan dari tulang orbita dan nasal dan kondisi ini sendiri berpotensial menghambat pertumbuhan wajah.Gambar 4. Potongan cross-seksi dari inferior palpebral dan variasi dari insisi pada dasar.

sphenoid dan tulang temporal maka reduksi dan reposisi biasanya melalui multiple approaches. Gangguan pertumbuhan oleh karena fraktur ini jarang terjadi. Seiring dengan bertambahnya usia tulang zygoma semakin menonjol dan prevalensi kejadian fraktur pada arkus zygomatikus juga meningkat. Jika terjadi fraktur zygoma kompleks atau Quadrapod yang melibatkan disartikulasi tulang zygoma dengan tulang frontal. Kadang-kadang insisi meluas sampai ke regio preauricular bila diinginkan lapang pandang yang luas. Pada fraktur greenstick atau minimal displaced hanya dibutuhkan observasi saja.1 Fraktur Arkus Zygomatikus. Fraktur pada arkus zygoma terjadi dengan prosentase 7. Jika terjadi maka pendekatan dilakukan melalui intra oral atau Gilles approach.41 % dari seluruh populasi trauma pada anak-anak.dibelakang hairline pada kulit kepala dan dimulai setinggi dari telinga. Penatalaksanaan pada fraktur ini hanya jika dibutuhkan dan sama seperti pada orang dewasa.1. Studi terbaru menemukan bahwa penyuntikan botulinum pre-op dapat menahan tarikan otot masseter kearah inferior sehingga mengurangi kemungkinan displacement fraktur post reduction oleh karena tarikan otot masseter.dan transconjuctival. sublabial. maksilaris. meliputi pendekatan hemicoronal. Penatalaksanaan pada fraktur ini dilakukan jika terdapat deformitas atau terjadi trismus.2 362 . tetapi jika terjadi depressed dan comminuted fracture perlu dilakukan open reduction dan fiksasi.

(A) Setelah pembengkakan awal. Kondil mandibula merupakan daerah yang paling sering cedera dengan tingkat 363 . Fraktur Mandibula Fraktur Kondil. (B) Post-bedah dengan reduksi intraoral dan pemasangan plat fiksasi2 Gambar 6. keadaan malar dapat dilihat. Trismus post-op sering terjadi dan akan berkurang dalam dalam beberapa minggu. Fraktur zigomatic dengan defisiensi malar disertai dengan infraorbital (V2) parastesi. Pasien harus latihan buka tutup mulut. Kelly clamp dapat digunakan untuk mereposisi fraktur ini. Pendekatan dengan Gilies untuk reduksi arkus zigomatikus2 Penggunaan double ended periostel elevator. 3. Fraktur pada kondil semasa kanak-kanak berpotensi dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan wajah. memajukan mandibula dan lateral excursion.Gambar 5. dengan pendekatan insisi pada regio temporalis.

terapi fisik. Fraktur pada kondil mandibula dapat dikategorikan fraktur kondil terbuka (capsular disruption) dan tertutup (intracapsular). Open reduction dilakukan jika terjadi terjadi displaced segmen kondil pada fossa cranial media atau jika terdapat benda asing. Adanya asimetri maloklusi. dan diet lunak menghambat terjadinya fibrosis dan penyatuan tulang serta mengembalikan stimulasi otot-tulang penting untuk kelanjutan pertumbuhan simetris wajah. pembengkakan. nyeri pada preauricular. deviasi mandibula waktu buka dan tutup mulut. Perawatan. darah pada canalis meatus acusticus. Goal dari penatalaksanaan pada fraktur kondil mandibula untuk mengembalikan ke simetrisan mandibula. maka immobilisasi dilakukan tidak terlalu lama dengan pertimbangan kalau terlalu lama maka akan berpotensi terjadi ankylosis.insidensi 14. Pada pemeriksaan fisik. keterbatasan pergerakan. Mobilisasi segera. dan laserasi submental merupakan pertanda adanya fraktur kondil. Closed fracture pada kondil dapat dilakukan closed reduction kecuali oklusi normal tidak tercapai. maka pertumbuhan mandibula akan berlangsung secara simetris. Jika posisi mandibula dan oklusi dapat dicapai dan dipertahankan selama 6 bulan . Tanda dan gejala fraktur kondil pada anak-anak sama dengan tanda dan gejala pada fraktur kondil orang dewasa. dan fungsi tanpa gangguan pertumbuhan dimasa mendatang. 364 . Trismus dan keterbatasan membuka mulut merupakan gejala adanya fraktur pada kondil. Deviasi terjadi karena pemendekkan ramus. tetapi tidak terjadi maloklusi maka tidak perlu dilakukan immobilisasi. Closed reduction dengan IMF elastis dengan kurun waktu 1-2 minggu. anterior open bite. Karena proses penyembuhan yang cepat pada anakanak.5%-60%. mandibula mengalami deviasi kesisi yang fraktur jika terjadi dislokasi pada proksimal segmen. oklusi . Jika fraktur kondil teridentifikasi.

maka reduksi untuk mencapai oklusi awal dan posisi mandibula ke posisi awal dapat dicapai dengan IMF atau traksi elastic.2 Gambar 7. dan terjadi sedikit displacement. dan stabilisasi dari fraktur. Ilustasi 3 kranium dengan usia yang berbeda (A: 2 tahun. Pada fraktur ini penatalaksanaan dengan pemberian antibiotic. circum-zygomatic. Sering terjadi greestick fraktur pada regio ini. Open reduction pada fraktur kondil jarang dilakukan. infraorbital. Arch bar dapat dipasang pada gigi sulung dengan bantuan circummandibular. (Posnick JC.) 2 Fraktur Bodi Dan Simfisis Mandibula. Fraktur bodi dam simfisis mandibula pada anak-anak terjadi seiring dengan berkembangnya gigi geligi dan biasanya selalu melibatkan trauma pada rongga mulut.1. Perbedaan metode stabilisasi dengan arch bar pada variasi umur termasuk circummandibula. Pada pasien di bawah 2 tahun biasanya hanya di observasi dan diet lunak. B: 6 tahun. dilakukan reduksi. dan wiring. C: 12 tahun).Ketika terjadi maloklusi atau mandibula asimetri serta adanya fraktur kondil. kemungkinan hal ini dikarenakan tulang mandibula yang elastic dan tertanamnya benih gigi sehingga memegang fragmen fraktur. Intervensi bedah diindikasikan jika segmen kondil displaced ke fossa cranial atau adanya keterbatasan gerakan karena posisi segmen fraktur. Open reduction pada pasien anak- 365 . piriform atau circumzygomatic wires.

anak jarang dilakukan. yang terjadi pada posterior ramus dan kondulus.2. FDA menyetujui penggunaan resorbable plating systems untuk penatalaksanaan fraktur mandibula. closed reduction untuk penanganan fraktur tersebut dengan pertimbangan jika dilakukan open reduction akan mengganggu perkembangan tunas gigi. (C) Penggunaan plat yang dapat di resorbsi pada anak usia 4 tahun. dapat dilakukan pemasangan circummandibular wires atau fiksasi skeletal.4 (Fig. Perkembangan yang terbaru. Fiksasi maksilomandibular dapat dilakukan dengan pemasangan erich arch bar.1. 4) (C) Gambar 8. sehingga pada penggunaan sistem ini tanpa dilakukan pengambilan plate dan terjadinya migrasi dari plate oleh karena pertumbuhan tak perlu dikhawatirkan lagi. (A) fraktur parasimfisis mandibular dengan separasi antara kaninus dan premolar. (B) Reduksi intraoral dan plat fiksasi yang dapat di resorbsi. Jika memungkinkan. Fraktur mandibular yang menyebabkan openbite. Hampir pada semua kasus fraktur pada regio ini penatalaksanaannya dapat dengan menggunakan teknik closed reduction. 4 366 . Pada umur antara 5-12 tahun.

Mayoritas dari fraktur ini dapat ditangani secara konservatif. 367 . tapi dapat mengakibatkan tingkat morbiditas yang signifikan jika tidak ditangani dengan baik. & fixation) harus diterapkan disamping tetap mempertimbangkan dampak yang terjadi terhadap tumbuh kembang anak-anak di masa mendatang. harus dilakukan dengan hati-hati untuk mencegah terjadinya gangguan pertumbuhan Manajemen trauma oromaksilofasial pada anak-anak sedikit berbeda dengan orang dewasa namun pada intinya sama karena pada anak-anak masih dalam proses tumbuh kembang. Jika memang dibutuhkan tindakan bedah. stabilization. Prinsip umum penatalaksanaan fraktur pada trauma oromaksilofasial pada anak-anak (recognition. reduction.BAB III KESIMPULAN Fraktur wajah pada anak jarang terjadi.

2004.DAFTAR PUSTAKA 1. Elsevier-Saunders company. New York. Pediatric Oral and Maxillofacial Surgery. 3. 2005. Saunders Company. Betts. Vol 2. Kaban. Facial Trauma. RJ.B. 3rd ed. Mc Donald WS. Thaller SR. LB. Taylor & francis Group. NJ. RV. W. 2. Philadelphia. Pediatric Trauma. 368 . Barber HD. Fonseca. Oral and Maxilofacial Trauma. Walker. Marcell Dekker. New York. 2006. W. Wesson DE. 4.B. 1990. Philadelphia.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful