Cara Melakukan Pemeriksaan Trauma Oromaksilofasial dan Penanganan Kegawat-daruratan Trauma Oromaksilofasial

Melva Sirait 160121120001

Peserta Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut Dan Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Abstrak : Trauma oromaksilofasial adalah trauma yang menyebabkan cedera pada jaringan lunak mulut, dentoalveolar, serta fraktur wajah. Cedera pada pada jaringan lunak dapat berupa abrasi, kontusio, laserasi dan luka bakar. Kasus trauma oromaksilofasial adalah kasus yang cukup banyak ditemukan di unit gawat darurat hampir sebagian besar rumah sakit. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa penyebab trauma oromaksilofasial paling banyak disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas dan korban tersebut ternyata lebih banyak dialami oleh laki-laki. Terapi yang dilakukan pada penderita pun bervariasi mulai dari hanya pemberian obatobatan, penjahitan luka, pencabutan gigi, alveolektomi, serta reposisi dan fiksasi. Kelainan-kelainan seperti disebut di atas, mengharuskan kita untuk

melakukan pemeriksaan yang lebih lengkap, konsultasi kepada bagian lain yang terkait karena trauma maksilofasial dapat menjadi kasus yang kompleks dan mungkin diperlukan keterlibatan multispesialis dalam manajemennya.

Kata kunci: Trauma oromaksilofasial, pemeriksaan trauma, penanganan trauma

1

BAB I PENDAHULUAN

Trauma oromaksilofasial berhubungan dengan cedera apapun pada wajah atau rahang yang disebabkan oleh kekuatan fisik, benda asing atau luka bakar. Trauma oromaksilofasial termasuk cedera pada salah satu struktur tulang ataupun kulit dan jaringan lunak pada wajah. Setiap bagian dari wajah mungkin dapat terpengaruh. Gigi dapat lepas atau goyang. Mata dengan otot-ototnya, saraf dan pembuluh darahnya mungkin mengalami cedera sehingga dapat menyebabkan gangguan penglihatan, diplopia, pergeseran posisi dari bola mata dan juga seperti halnya rongga mata yang dapat retak oleh pukulan yang kuat. Kerusakan jaringan lunak seperti edema, kontusio, abrasi, laserasi dan avulsi. Rahang bawah (mandibula) dapat mengalami dislokasi. Meskipun dilengkapi oleh otot-otot yang kuat untuk mengunyah, rahang termasuk tidak stabil bila dibandingkan dengan tulang-tulang lainnya sehingga dengan mudah mengalami dislokasi dari sendi temporomandibular yang menempel ke tengkorak.1 Kelainan-kelainan seperti disebut di atas, mengharuskan kita untuk melakukan pemeriksaan yang lebih lengkap, konsultasi kepada bagian lain yang terkait karena trauma maksilofasial dapat menjadi kasus yang kompleks dan mungkin diperlukan keterlibatan multispesialis dalam manajemennya. Trauma oromaksilofasial merupakan salah satu tantangan terbesar untuk pelayanan kesehatan masyarakat di seluruh dunia karena insidennya yang tinggi. Dari penelitian dilaporkan bahwa kecelakaan lalu lintas merupakan penyebab utama dari traumamaksilofacial. Selain itu penyebab lainnya yang tersering ialah kekerasan fisik, konsumsi alkohol yang dapat memicu terjadinya tindakan kekerasan dan kecelakaan, serta trauma oromaksilofasial akibat olahraga.

2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Defenisi Trauma oromaksilofasial adalah suatu ruda paksa yang mengenai wajah dan jaringan sekitarnya.2 Trauma pada jaringan oromaksilofasial dapat mencakup jaringan lunak dan jaringan keras. Yang dimaksud dengan jaringan lunak wajah adalah jaringan lunak yang menutupi jaringan keras wajah. Sedangkan yang dimaksud dengan jaringan keras wajah adalah tulang kepala yang terdiri dari : 1 1. Tulang hidung 2. Tulang arkus zigomatikus 3. Tulang mandibula 4. Tulang maksila 5. Tulang rongga mata 6. Gigi 7. Tulang alveolus 2.2 Etiologi 1,3,4,5,6 Penyebab trauma oromaksilofasial bervariasi, mencakup kecelakaan lalu lintas, kekerasan fisik, terjatuh, olah raga dan trauma akibat senjata api. Kecelakaan lalu lintas adalah penyebab utama trauma oromaksilofasial yang dapat membawa kematian dan kecacatan pada orang dewasa secara umum dibawah usia 50 tahun dan angka terbesar biasanya terjadi pada pria dengan batas usia 21-30 tahun.
a. Fisik

Kecelakaan lalu lintas merupakan penyebab utama fisik terjadinya trauma oromaksilofasial 1. Beberapa literatur mengungkapkan terdapat hubungan antara

3

posisi duduk pengemudi atau penggunaan sistem proteksi terhadap tingkat keparahan cedera oromaksilofasial pada pasien kecelakaan lalu lintas. Selain kecelakaan lalu lintas, etiologi fisik lainnya yang merupakan penyebab trauma oromaksilofasial yaitu jatuh ketika bermain, kecelakaan kerja atau industri, kecelakaan sewaktu berolahraga, gigitan binatang, perkelahian dan lain- lain. b. Kimia Trauma oromaksilofasial akibat bahan kimia biasanya mempunyai manifestasi klinis berupa luka bakar di sekitar mulut dan wajah. Zat kimia seperti kaporit, kalium perpangat, asam kromat, fenol dan fosfor putih dapat bersifat oksidatif, juga larutan basa seperti kalium hidroksida menyebabkan denaturasi protein. Asam sulfat merusak sel karena bersifat cepat menarik air. Gas yang dipakai dalam peperangan menimbulkan luka bakar dan menyebabkan anoksia sel bila berkontak dengan kulit atau mukosa. Trauma oromaksilofasial akibat bahan kimia dapat terjadi akibat kelengahan, pertengkaran, kecelakaan kerja, kecelakaan di industri, laboratorium dan juga akibat penggunaan gas beracun pada perang. c. Elektrik Kecelakaan yang disebabkan faktor elektrik terjadi karena arus listrik mengaliri tubuh, hal ini biasa terjadi pada kecelekaan kerja petugas listrik atau dapat juga akibat petir. Pada kecelakaan tersengat arus listrik didaerah kepala, penderita dapat pingsan lama dan mengalami henti nafas, dapat juga terjadi oedem otak. d. Termis Luka bakar yang terjadi pada wajah juga dikategorikan termasuk dalam trauma oromaksilofasial, yang dapat disebabkan oleh karena benda panas, gesekan, elektrik, radiasi, atau zat kimia. 1 Trauma oromaksilofasial akibat termis dapat terjadi akibat kelengahan seperti kebakaran rumah tangga akibat gas yang meledak dan lain lain. Bagi pasien dengan kecelakaan lalu lintas yang fatal menjadi masalah karena harus rawat inap di rumah sakit dengan cacat permanen yang dapat mengenai ribuan orang per tahunnya. Berdasarkan studi yang dilakukan, 72%

4

kematian oleh trauma oromaksilofasial paling banyak disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas (automobile).

5

Berikut ini tabel etiologi trauma oromaksilofasial. 7 Persentase (%) Dewasa Kecelakaan lalu lintas Penganiayaan Olah raga Jatuh Lain-lain 40-45 10-15 5-10 5 5-10

Anak-anak Kecelakaan lalu lintas Penganiayaan/berkelahi Olah raga(termasuk naik sepeda) Jatuh 10-15 5-10 50-65 5-10

2.3 Klasifikasi Trauma oromaksilofasial dapat diklasifikasikan menjadi dua bagian, yaitu trauma jaringan keras wajah dan trauma jaringan lunak wajah. Trauma jaringan lunak biasanya disebabkan trauma benda tajam, akibat pecahan kaca pada kecelakaan lalu lintas atau pisau dan golok pada perkelahian. 8,9 2.3.1 Trauma jaringan lunak wajah 7,8 Luka adalah kerusakan anatomi, diskontinuitas suatu jaringan oleh karena trauma dari luar. Trauma pada jaringan lunak wajah dapat diklasifikasikan berdasarkan: 1. Berdasarkan jenis luka dan penyebab    Ekskoriasi Luka sayat, luka robek , luka bacok. Luka bakar

6

Luka tembak

2. Berdasarkan ada atau tidaknya kehilangan jaringan 3. Dikaitkan dengan unit estetik

Menguntungkan atau tidak menguntungkan, dikaitkan dengan garis Langer. (Gambar 1)

Gambar 1. (A) Laserasi yang menyilang garis Langer tidak menguntungkan mengakibatkan penyembuhan yang secara kosmetik jelek. B. Insisi fasial ditempatkan sejajar dengan garis Langer 9

2.3.2 Trauma jaringan keras wajah 7,8,10,11 Klasifikasi trauma pada jaringan keras wajah di lihat dari fraktur tulang yang terjadi dan dalam hal ini tidak ada klasifikasi yg definitif. Secara umum dilihat dari terminologinya (pengistilahan) : I. Tipe fraktur 1. Fraktur simpel • • Merupakan fraktur sederhana, liniear yang tertutup misalnya pada kondilus, koronoideus, korpus dan mandibula yang tidak bergigi. Fraktur tidak mencapai bagian luar tulang atau rongga mulut. Termasuk greenstik fraktur yaitu keadaan retak tulang, terutama pada anak dan jarang terjadi.

2. Fraktur kompoun • Fraktur lebih luas dan terbuka atau berhubungan dengan jaringan lunak

7

II. Hubungan antar Fragmen 1. hair line. fraktur mencakup seluruh tulang. 4. Fraktur patologis • keadaan tulang yang lemah oleh karena adanya penyakit penyakit tulang. tumor ganas. Oblique ( miring ) 3. Komunisi (remuk) IV. bisa terjadi berupa : • Angulasi / bersudut 8 . Konfigurasi ( garis fraktur ) 1.• Biasanya pada fraktur korpus mandibula yang mendukung gigi. Tranversal. seperti Osteomyelitis. Spiral (berputar) 4. jadi sifatnya juga seperti fraktur kompoun dengan kerusakan tulang dan jaringan lunak. 2. dan hampir selalu tipe fraktur kompoun meluas dari membran periodontal ke rongga mulut. bahkan beberapa luka yang parah dapat meluas dengan sobekan pada kulit. Undisplacement. kista yang besar dan penyakit tulang sistemis sehingga dapat menyebabkan fraktur spontan. Fraktur komunisi • Benturan langsung terhadap mandibula dengan objek yang tajam seperti peluru yang mengakibatkan tulang menjadi bagian bagian yang kecil atau remuk. Displacement. bisa horizontal atau vertikal. dan kropresi ( lekuk ) III. Perluasan tulang yang terlibat 1. seperti pada greenstik. • Bisa terbatas atau meluas. 2. 3. disini fragmen fraktur terjadi perpindahan tempat 2. Tidak komplit. Komplit.

Koronoid D. Angulus mandibula e.• • • • Distraksi Kontraksi Rotasi / berputar Impaksi / tertanam Pada mandibula. Korpus mandibula g. Fraktur Le Fort I. Parasimfisis. Khusus pada maksila fraktur dapat dibedakan : a. Le Fort II. Simfisis H. berdasarkan lokasi anatomi fraktur dapat mengenai daerah : a. Ramus E. Midline / simfisis menti h. Angulus F. Dento-alveolar B. Ramus mandibula f. Kondilar C. dan Le Fort III c. Corpus G. Prosesus koronoideus d. Lateral ke midline dalam regio insisivus Gambar 2.10 V. Fraktur blow-out (fraktur tulang dasar orbita) b. Dento alveolar b. Fraktur pada daerah mandibula A. Fraktur segmental maksila 9 . Prosesus kondiloideus c.

I Le Fort I. I Le Fort I. III Le Fort III (pandangan anterior) (B). II Le Fort II. (A).Gambar 3. III Le Fort III (pandangan sagital) 11 10 . II Le Fort II.

BAB III PEMBAHASAN Gambar 4.1.tanda vital dan mekanisme cedera. adekuasi dari ventilasi. Pemeriksaan Primary Survey (ABCDE) 7. Urutan kejadian trauma oromaksilofasial 9 3. Primary survey adalah penilaian terhadap keadaan penderita dan prioritas terapi berdasarkan jenis luka. keadaan yang mengancam nyawa harus dikenali dan resusitasinya dilakukan saat itu juga. tanda.8 Pendekatan awal terhadap pasien trauma oromaksilofasial akut sedikit berbeda dengan cedera yang lain. Selama primary survey. dan kontrol perdarahan eksternal. Perhatian harus segera diarahkan terhadap saluran pernapasan. 11 .

setelah memasang airway. Jaw trust atau chin-lift dapat dipakai 3. Pemberian oksigen konsentrasi tinggi 2. Menghilangkan tension pneumothoraks 4. Luka yang mengakibatkan gangguan ventilasi berat adalah tension pneumothorax. Airway harus dijaga dengan baik pada semua penderita. dan ini hanya dapat dikenali dengan re-evaluasi berulang terhadap airway-ini. 6. Setiap komponen ini harus dievaluasi secara cepat. Resusitasi 1. Fiksasi leher dengan berbagai cara. Harus dilakukan segala usaha untuk menjaga jalan napas dan memasang airway definitif bila diperlukan. Menutup open pneumothoraks 12 . 2. Tidak kalah pentingnya adalah mengenali kemungkinan gangguan airway yang dapat terjadikemudian. B = Breathing / Ventilation / Oxygenation Ini merupakan nilai keadaan oksigenasi dan ventilasi penderita.Urutan Penanganan Penderita dalam Primary survey 7. apakah disana ada obstruksi atau tidak. lebih baik memasang airway definitif (intubasi oro atau nasotracheal atau surgical crico-thyroidotomy). Resusitasi: 1. Ventilasi dengan alat bag-valve-mask 3. Usaha untuk membebaskan airway dilakukan dengan menjaga jalan nafas dan melindungi vertebra servikal.8 A = Airway with C-Spine Protection Pada kasus trauma oromaksilofasial. dan open pneumothorax. Bila ada keraguan mengenai kemampuan menjaga airway. kita perlu dengan segera memperhatikan kelancaran jalan nafas.dinding dada dan diafragma.Ventilasi yang baik meliputi fungsi yang baik dari paru. Memasang naso-pharingeal airway (pasien sadar) atau oro-pharingeal airway (pada pasien tidak sadar) 5. flail chest dengan contusio paru. Membersihkan airway dari benda asing 4.

5. Memasang pulse oximeter 13 .

serta konsultasi bedah. Suatu keadaan hipotensi pada penderita trauma harus dianggap sebagai hipovolemia. ambil sampel darah untuk pemeriksaan darah rutin. Memasang 2 chateter i. ‡ luka. Parameternya adalah tingkat kesadaran. Perdarahan eksternal dihentikan dengan tekanan langsung pada tempat perdarahan. baik perdarahan eksternal maupun perdarahan internal. D = Disability (Neurologic Status) Hal yang penting selanjutnya adalah penilaian terhadap keadaan neurologis secara cepat. warna kulit dan nadi. berikan cairan kristaloid yang dihangatkan atau pemberian darah.C = Circulation & Stop Bleeding Tahap selanjutnya untuk dinilai adalah keadaan hemodinamik pasien. analisis kimia. sehingga tourniquet hanya dipakai bila ada amputasi traumatik.v ukuran besar. Memasang NG tube dan kateter urin jika tidak ada kontra indikasi. ‡ Tiga penemuan klinis yang dalam hitungan detik dapat memberikan informasi keadaan hemodinamik pasien. 2. Penurunan kesadaran dapat disebabkan penurunan oksigenasi dan atau penurunan perfusi ke otak yang disebabkan trauma langsung pada otak. 3. sampai terbukti sebaliknya. kebutuhan untuk intervensi bedah. Perdarahan eksternal dihentikan dengan penekanan (direct pressure) pada Tourniquet sebaiknya jangan dipakai karena merusak jaringan dan menyebabkan iskemia distal. Penurunan 14 . yakni tingkat kesadaran. ukuran dan reaksi pupil tanda-tanda lateralisasi. Cari sumber perdarahan. tes kehamilan. Resusitasi : 1. cross match dan analisis gas darah. Mengenal adanya perdarahan internal. golongan darah. 4. dan tingkat cedera spinal.

Respon yang diharapkan ada pada pasien ialah bagaimana reflek membuka matanya.kesadaran menuntut dilakukannya re-evaluasi terhadap keadaan oksigenasi. seperti kita memanggil nama pasien. Untuk nilai dari respon ini kita nilai (4) atau respon spontan. dan perfusi jaringan. respon verbal (V) bicara dan gerakan motorik. Gamabar 5 : Eye (respon membuka mata)8 Respon membuka mata ini merupakan respon awal ketika kita bertemu dengan pasien. Apabila pasien dapat membuka mata ketika kita beri rangsang nyeri. GCS merupakan suatu skala yang digunakan untuk menilai tingkat kesadaran pasien dengan menilai respon pasien terhadap rangsangan yang diberikan. Namun pada kebanyakan pasien dengan trauma oromaksilofasial. nilai respon E nya adalah nilai (3). Tingkat kesadaran dinilai dengan GCS (Glasgow Coma Scale) scoring. Rangsangan yang diberikan berbagai hal dengan memperhatikan 3 reaksi yang terdiri dari reaksi membuka mata (Eye (E)). Apakah ia akan spontan membuka mata tanpa harus dipanggil namanya. Penurunan kesadaran dapat disebabkan oleh alkohol dan obat-obatan. Ketika tidak ada respon sama sekali. 15 . maka kita beri nilai E (1). tidak ada respon. (misalkan dengan menekan kuku jari) maka nilai E pasien (2). hipoksia atau hipovolemia adalah penyebab utamanya. ventilasi. Apabila mata terbuka dengan rangsang suara. disentuh atau diberikan cubitan.

Tabel 1 : Verbal (respon verbal)8 Setelah reflek membuka mata kita kaji. Ketika pasien diperintahkan untuk melakukan apa yang kita inginkan. Untuk nilai (3) kita beri ketika pasien berbicara tidak patut seperti berbicara dengan kata-kata kasar dan makian. Ketika pasien dapat mengetahui dimana dia berada. Apabila pasien lebih banyak mengerang atau mengeluarkan suara tanpa arti. Ketika masih saja tidak ada respon. Apabila pasien bingung. seperti memintanya untuk mengangkat tangan. maka kita nilai respon verbal pasien (2). maka kita beri nilai verbal pasien (1). Pemeriksaan ini hanya digunakan untuk mengetahui tingkat kesadaran pasien dengan memantau respon motorik pasien. atau ketika kita datang kemudian kita memberikan tangan kita untuk berjabat 16 . orientasi baik. kalimat yang diucapkan baik. berbicara mengacau (sering bertanya berulang-ulang) disorientasi tempat dan waktu. siapa dirinya. maka kita nilai respon verbal dengan angka (5) . maka nilai respon verbal kita beri nilai (4) . Motor (respon motorik) Respon motorik ini harus dibedakan dengan penilaian kekuatan otot. maka penilaian selanjutnya ialah bagaimana kita menilai respon verbal pasien.

Tabel 2 : Motor (respon motorik)8 Gambar 6 : Respon motorik nilai 6 8 17 . Kita bisa melihat adakah atau tidak respon pasien untuk melakukan hal tersebut (menjabat tangan kita).tangan dengannya.

18 . Gambar 8 :Respon motorik nilai 3 8 Apabila pasien tidak dapat melokalisasi nyeri dari stimulus. maka kita nilai respon motorik pasien (6) Gambar 7 : respon motorik nilai 5 8 Kita bisa memberikan sebuah stimulus berupa rangsangan nyeri di daerah N. Supraorbita dengan cara menggosokan kuku didaerah supraorbita groove dengan tekanan yang makin kuat sampai pasien memberikan respon. Maka kita bisa berikan stimulus nyeri di daerah kukunya dengan tekanan ujung pulpen atau lainnya. Ketika pasien mampu untuk melokalisir nyeri dengan cara menjauhkan stimulus saat diberi rangsang nyeri.Apabila pasien mengikuti perintah yang kita berikan. Namun jika pasien hanya dapat menghindar terhadap stimulus nyeri maka kita beri nilai M (4). Pasien akan memperlihatkan flexi siku yang bisa juga diikuti oleh flexi pergelangan tangan. untuk kondisi ini kita berikan M (3). maka kita memberikan nilai (5).

3. Menilai status kesadaran klien GCS 14–15 GCS 9–13 GCS 3–8 <3 = cidera kepala ringan = cidera kepala sedang = cidera kepala berat = koma E = Exposure/Environment/Body Temperature Buka pakaian pasien untuk melakukan pemeriksaan secara menyeluruh. dengan jari mengepal & kaki extensi saat diberi rangsang nyeri). Selanjutnya nilai-nilai dijumlahkan. Hasil pemeriksaan kesadaran berdasarkan GCS disajikan dalam simbol (EMV) 2. Namun ketika pasien tidak ada respon apapun terhadap nyeri. maka untuk kondisi seperti ini kita nilai M (1). Penilaian GCS 8 1. seperti darah yang keluar dari anus atau luka pada tubuh yang tertutup pakaian. Periksa hal-hal yang mungkin terlewat pada pemeriksaan sebelumnya. 19 . Nilai GCS yang tertinggi adalah 15 yaitu E4M6V5 dan terendah adalah 3 yaitu E1M1V1. pasien harus segera diselimuti untuk mencegah hipotermi.Gambar 9 : Respon motorik nilai 2 8 Sedangkan untuk memberikan nilai M (2) didapatkan respon pasien berupa extensi abnormal (tangan satu atau keduanya extensi di sisi tubuh. Setelah pakaian dilepas.

atau siapapun yang melihat dengan jelas bagaimana trauma terjadi. Pemeriksaan pada secondary survey meliputi anamnesa. apakah ada perdarahan dari hidung. waktu. perlu dicatat bagaimana kronologis kejadiannya. apakah pasien telah mendapatkan pertolongan medis dan pemberian obat sebelumnya dan pertanyaan penting lainnya. dan peristiwa khusus. 3. pemeriksaan fisik ekstra oral seperti kepala dan oromaksilofasial juga pemeriksaan intra oral yang meliputi status lokalis gigi dan jaringan pendukung sekitarnya. biasanya sulit untuk diajak berkomunikasi. tempat kejadian. Namun. apakah ada riwayat pingsan. mual dan muntah. diperlukan informasi yang memadai tentang riwayat trauma.1 Anamnesis Untuk menegakan diagnosis dan menentukan rencana perawatan. 7 Keadaan tidak sadar (koma). apakah korban bertindak sebagai pengemudi atau penumpang. dilakukan pemeriksaan neurologis lengkap. dan intoksikasi merupakan hambatan yang sering terjadi dalam menjalin komunikasi dengan pasien.2 Pemeriksaan Secondary Survey 7. bagaimana jenis helmnya full face atau half face. apakah ia memakai helm atau tidak. syok. pemeriksaan laboratorium juga dapat dikerjakan pada kesempatan ini. termasuk mencatat skor GCS bila belum dilaksanakan dalam primary survey.3. 20 . Secondary survey baru dilaksanakan setelah primary survey selesai. resusitasi sudah dilakukan. orang yang mendampingi yang pasien. Penting untuk dicatat mengenai tanggal. Pada secondary survey ini. amnesia. termasuk pemeriksaan tanda vital.2. Pada situasi ini. Apabila cedera disebabkan karena kecelakaan motor. Prosedur khusus seperti pemeriksaan radiologis. perawat. mulut dan telinga. pada pasien yang mendapat cedera pada daerah kepala. riwayat trauma dapat diperoleh dari petugas unit gawat darurat. dan ABC pasien telah dipastikan membaik.8 Secondary survey adalah pemeriksaan kepala sampai kaki (head to toe examination).

dan data demografi lainnya. Perlu dicatat juga ada tidaknya tanda-tanda kecanduan alkohol dan obat-obatan. Jawaban kronologis tentang bagaimana kejadian terjadi mengindikasikan keparahan cedera jaringan dan kemungkinan daerah-daerah mana saja dari tubuh yang terkena trauma. 4. Selain itu riwayat medis yang penting untuk diketahui adalah tentang riwayat alergi. Meliputi jawaban dari pertanyaanpertanyaan berikut (9): 1. Jika ditemukan kasus avulsi gigi di dalam golden period maka prognosis untuk reposisi semakin baik.Riwayat trauma yang akurat sebaiknya diperoleh dari pasien. WHERE? Pertanyaan ini penting untuk mengetahui kemungkinan adanya kontaminasi luka. Kemudian ia tergelincir di tikungan dan turunan curam dengan keadaan terguling sejauh 10 meter dengan kondisi wajah mengenai aspal. alamat. Sebagai contoh apabila pasien jatuh di daerah yang berpasir maka penting untuk dilakukan debridemen sempurna sampai tidak ada sama sekali pasir yang tertinggal di dalam luka. umur. WHEN? Kapan trauma itu terjadi? Pertanyaan ini merupakan salah satu pertanyaan penting untuk menentukan apakah suatu luka masih dalam golden period. nomor telepon. tanggal imunisasi tetanus terakhir. HOW? Sebagai contoh. seorang pengendara sepeda motor sedang dalam pengaruh alkohol mengendarai motornya di cuaca hujan dan gelap gulita. WHO? Jawabannya meliputi nama pasien. ada tidaknya penyakit kelainan perdarahan. Motor dalam keadaan rusak parah. keluarga pasien dan orang yang menyertainya. 2. karena tingkat kesadaran 21 . riwayat penyakit yang pernah diderita. 3.

sambungan daerah fronto-orbital.6 I. Harus dilakukan palpasi secara hati-hati terhadap kranium. Ekstra Oral a. maka pemeriksaannya harus meliputi ada atau tidaknya step atau jarak. Pasien harus dibersihkan dari semua darah dan benda asing secara hati-hati.dipengaruhi oleh obat-obatan tersebut. pergeseran. Pemeriksaan Kepala Pemeriksaan ini meliputi seluruh kerangka kraniomaksilofasial dan jaringan lunak disekitarnya. Untuk memeriksa adanya mobilitas maksila.2. Rangka kraniofasial terdiri dari pertautan dan penonjolan tulang.2 Pemeriksaan Fisik 2. dan hilangnya penonjolan. discontinuitas. kepala pasien harus distabilisasikan dengan cara menekan kening pasien cukup kuat dengan satu tangan. naso-orbital kompleks. 3. artikulasi zygomatik. Informasi mengenai waktu makan dan minum yang terakhir sangat penting apabila akan dilakukan anestesi umum.3. b. Pemeriksaan Wajah Bagian Tengah Evaluasi wajah bagian tengah dimulai dengan memperkirakan adanya mobilitas dari maksila sebagai struktur maksila itu sendiri atau hubungannya dengan zygoma atau tulang nasal. dan digerakkan dengan tekanan yang stabil sehingga dapat diperoleh kepastian ada atau tidaknya dapatkan mobilitas maksila. dan mandibula. Dengan ibu jari dan telunjuk tangan lainnya mencengkram maksila pada satu sisi. 22 .

Pemeriksaan dimulai dari aspek medial dari cincin supraorbital secara bilateral.9 Cara melakukan pemeriksaan manual atau digital adalah dengan palpasi dimulai dari superior ke inferior. Jaringan lunak yang menutupinya digeser dan sutura dipalpasi apakah terjadi kelainan atau tidak. dan adanya perdarahan atau cairan. dari aspek posterior atau superior. Tulang nasal dan saluran nasofrontalis dipalpasi secara bersamaan kanan dan kiri (bidigital). Cincin infraorbital dipalpasi dari medial ke lateral untuk mengevaluasi sutura zygomatikomaksilaris. Arcus zygomatikus dipalpasi bilateral dan diamati apakah terdapat tandatanda asimetri. karena hal ini menunjukkan adanya fraktur atau cedera pada saraf. karena trauma dapat mengakibatkan kehilangan penglihatan. Gambar sebelah kanan menunjukkan pemeriksaan bahwa cara ini juga dapat digunakan untuk evaluasi mobilitas tulang nasal. Pemeriksaan mata secara lengkap sebaiknya dilakukan terlebih dahulu. Bagian-bagian yang mengalami nyeri tekan.Gambar 10 : Pemeriksaan mobilitas maksila. Vestibulum nasi juga diperiksa karena bisa terjadi pergeseran septum. Palpasi diteruskan ke arah lateral menyilang cincin supraorbital menuju sutura zygomatikofrontalis. Pemeriksaan yang akurat sulit dilakukan pada pasien yang mengalami cedera 23 . Hampir 40% fraktur tengah wajah mengenai daerah mata. dan baal juga dicatat.

atau terjadi pergeseran ke lateral dan inferior.6 . dan apabila ada penyimpangan juga dicatat. Kerusakan dan pergerakan tulang hidung harus dicatat. Dapatkah pasien mengangkat alis dan meretraksi sudut mulutnya.4 . Pada 24 . Adanya laserasi dari daerah telinga bagian luar merupakan tanda waspada terhadap kemungkinan cedera pada kondilus mandibula..neurologis. jari telunjuk dapat dimasukkan dengan telapak mengarah ke bawah dan ke depan untuk melakukan palpasi endaural terhadap caput condilus pada saat istirahat dan bergerak. Pemeriksaan Mandibula Lokasi mandibula terhadap maksila dievaluasi apakah tetap digaris tengah. Apabila meatus akustikus eksternus penuh dengan darah dan cairan. Saraf kranialis 3 . deteksi gerakan.5 . dan apakah pupil bereaksi terhadap sinar dan berakomodasi. Hematoma septum hidung harus didiagnosa dan dievakuasi segera untuk menghindari terjadinya nekrosis tulang rawan septum hidung yang pada akhirnya dapat menyebabkan kerusakan bentuk hidung. 3 Tiga saraf utama trigeminal harus diperiksa untuk kemungkinan terjadinya anestesi atau parestesi. c. Pergerakan mandibula juga dievaluasi dengan jalan memerintahkan pasien melakukan gerakan-gerakan tertentu.7 dites untuk mengetahui apakah terjadi palsi. Mastoid harus diperiksa dari kemungkinan adanya ekimosis yang disertai dengan hemotimpanum dan otorrhea. Pemeriksaan dapat dilakukan dengan menggunakan hitungan jari. atau penggunaan sinar. karena merupakan indikasi terjadinya fraktur basis tulang kranial. apakah bola mata bisa bergerak bebas. Hematoma aurikuler telinga harus segera didiagnosa dan dilakukan terapi. Adanya fraktur septum hidung dan hematoma dapat menyebabkan obstruksi hidung. Kisaran gerak dievaluasi pada semua arah dan jarak interinsisal dicatat.

dan kompoun. Selain itu fraktur mandibula juga dapat diklasifikasikan berdasarkan tipe frakturnya. dan kelainan kontinuitas harus dicatat. ramus. alveolar. 25 . simpel. bisa dijumpai adanya nyeri tekan atau caput mandibula tidak terdeteksi. kominuted. body. Sekali lagi nyeri tekan atau baal. yaitu kondilar. simphisis. yaitu fraktur greenstick. Tepi inferior dan posterior mandibula dipalpasi mulai dari prosesus kondilaris sampai ke simphisis mandibula. angle.fraktur subcondilus tertentu. Fraktur mandibula dapat diklasifikasikan berdasarkan lokasi anatomi. dan daerah prossessus koronoid.

2 Gambar 12 : Klasifikasi fraktur mandibula berdasarkan tipe frakturnya: Greenstick (A).Gambar 11. 2 II. Komminuted (C). Gigitan terbuka lateral (open bite lateral) juga 26 . Adanya gigi yang terhisap dan tertelan dapat dilihat dengan melakukan radiografi pada dada dan perut. Distribusi anatomik dari fraktur mandibula. Adanya step dan pergeseran oklusi merupakan indikasi terjadinya fraktur dentoalveolar ataupun fraktur rahang. Kompoun (D).7 Pemeriksaan ini meliputi evaluasi oklusi dan penghitungan gigi yang hilang. Simple (B). Gigi tiruan yang lepas juga dapat menyebabkan tersumbatnya jalan pernapasan. Intra Oral 3.

dan differential sel. Sedangkan gigitan terbuka anterior ( open bite anterior) mengindikasikan adanya fraktur Le Fort (I. 3. 3. Perawatan umum terhadap komplikasi yang menyertai 2. Sedangkan untuk diagnosis penderita yang mengalami trauma maksilofasial harus dilakukan foto panoramik dan schedel AP-Lat segera. membuang jaringan nekrotik dan benda asing. jahitan subkutis Antibiotika 27 .dapat mengindikasikan adanya fraktur mandibula atau gangguan TMJ. dan sebagian besar fraktur prosessus alveolaris paling baik dirontgen dengan cara ini. ataupun III).3 1. kreatinin. ureum. trombosit.2. Leukosit. kemudian dapat dilakukan rontgen foto waters view dan jika memungkinkan dan pasien mampu dapat dilakukan CT-Scan 3 dimensi. Penatalaksanaan Fraktur Oromaksilofasial 2. GDS. Meskipun demikian. II.4 Pemeriksaan Laboratorium Pemeriksaan lab yang sering dilakukan pada kasus trauma oromaksilofasial yaitu Hb. Debridement : membersihkan luka. tidak dibenarkan untuk melakukan pembuatan radiografis untuk mengetahui adanya fraktur bila bukti klinis kurang mendukung. analisa gas darah. PT APTT.3 Pemeriksaan Radiografis Untuk diagnosis penderita yang mengalami trauma dentoalveolar hanya diperlukan radiograf oklusal dan periapikal saja.2. Hemostasis Menghilangkan tegangan pada penutupan luka: undermining. Detail dari cedera gigi (luksasi dan avulsi). Penanganan Luka Jaringan Lunak Imobilisasi dan evaluasi bagian yang terluka untuk mengurangi rasa nyeri dan edema. elektrolit. BT CT. albumin serum.

Pemeriksaan klinis yang teliti dan interpretasi foto rontgen yang tepat 4.3. Menentukan tipe dan macam fraktur 5. Melakukan Reduksi. Mencegah dan merawat infeksi 6. Fiksasi dan Imobilisasi fraktur Reduksi: Mengembalikan fragmen pada posisi anatomisnya Terdiri dari open dan closed reduction Fiksasi: Mempertahankan fragmen yang telah direposisi tetap pada tempatnya untuk menghasilkan penyembuhan. krepitasi dan funtio laesa. Memilih cara pemberian anastesi yang tepat 8. meniadakan rasa sakit. Imobilisasi : Mempertahankan fiksasi. Memberikan imobilisasi sementara 7. 28 .

Pemeriksaan fisik baru bisa dilakukan apabila keadaan umum pasien stabil. Pengetahuan tentang jenis trauma. dan kontrol perdarahan eksternal. Perhatian harus segera diarahkan terhadap saluran pernapasan. Pemeriksaan dilakukan secara akurat dan menyeluruh pada pasien ini. 29 . adekuasi dari ventilasi. anatomi oromaksilofasial.BAB IV KESIMPULAN Pendekatan awal terhadap pasien trauma oromaksilofasial akut sedikit berbeda dengan cedera yang lain. pemeriksaan klinis ekstra oral dan intra oral. status kegawatdaruratan serta skala prioritas penanganan cedera oromaksilofasial mutlak dibutuhkan dalam penanganan kegawatdaruratan trauma oromaksilofasial. Pemeriksaan radiografis dan pemeriksaan laboraturium dilakukan untuk membantu klinisi menegakkan diagnosa dan rencana perawatan yang tepat pada penderita trauma oromaksilofasial. pendarahan. Rangkaian pemeriksaan primary survey dan secondary survey berupa anamnesis yang lengkap. serta jalan nafas telah di tangani.

Marciani RD. 2009. RJ. London 30 .ui. Banks P. Penerjemah: Purwanto dan Basoeseno. Braun TW. Hipokrates. R. Juliani KI.ac. Alih bahasa Lilian Yuwono. Peterson Lj.id/file?file=pdf/abstrak-81816. A Retrospective Análisis of Oral and Maxillofacial Injuries in Motor Vehicle Accidents. Motozawa Y. Hitosugi M.digilib. 1996. Frekuensi-distribusi trauma oromaksilofasial dan Essential of Traumatic Injuries to the Teeth. 2005. Carlson ER. 1990. Sasaki T. http://www. Jakarta 11. Yokoyoma T. Oral and Maxillofacial Trauma. 2006. The anatomy of injury and its surgical implication. London PS. 9. Oral and Maxillofacial Surgery Volume II. St Louis: Elsevier Saunders 3. Buku Ajar Praktis Bedah Mulut.DAFTAR PUSTAKA 1. http://en. 6. St.1997.org/wiki/Glasgow_Coma_Scale 10. Buku Ajar Ilmu Bedah. 3rd ed. St Louis: Mosby. Butterworth-Heinemana Ltd. Munksgaard 7.4 th ed. EGC. Jakarta 2. EGC. 2003. penatalaksanaannya di Rumah Sakit Umum Tangerang dalam kurun waktu 1 Oktober 1992 -30 September 1993. Andreasen JO. Fonseca. Louis 4. J Oral Maxillofac Surg 64:1731-1735 5.pdf 8.et al. 1999. Jong WD. Jakarta. 1991. Ed. Penerjemah. Pedersen GW. Ke-2.Sjamsuhidayat.wikipedia. Contemporary Oral and Maxillofacial Surgery. Fraktur mandibula ( Killeys Fractures of the mandible ). Saunders Elsevier.

Kata kunci: penyembuhan jaringan lunak. infeksi 31 . atau gigitan hewan.Penyembuhan Luka Jaringan Lunak Dan Saraf Dian Maifara Putri 160121120007 Peserta Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut Dan Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Abstrak : Luka adalah hilang atau rusaknya integritas jaringan tubuh. dan komplikasi. sengatan listrik. ledakan. keadaan ini dapat disebabkan oleh trauma benda tajam atau tumpul.1 Penyembuhan luka dan jaringan saraf merupakan hal yang penting untuk mengetahui tahapan luka. perubahan suhu. zat kimia. Komplikasi dapat terjadi apabila tidak dilakukan terapi dengan adekuat. faktor-faktor yang berpengaruh.

nekrose atau gangren dari jaringan.1.1. baik luka itu bersih maupun luka yang kotor dan terinfeksi. perubahan suhu.2 Penyembuhan luka adalah proses kinetik dan metabolik yang kompleks yang mengikutsertakan berbagai sel dan jaringan dalam usaha menutup tubuh dari lingkungan luar dengan cara mengembalikan integritas jaringan. pembentukan keloid yaitu berupa tonjolan jaringan parut. Komplikasi yang sering ditimbulkan pada tahap penyembuhan luka dapat meliputi pembentukan kista implantasi. Maka pada setiap perlukaan. pembentukan jaringan parut. proliferasi. keadaan ini dapat disebabkan oleh trauma benda tajam atau tumpul. dan warna yang berbeda dari jaringan sekitarnya. infeksi luka. atau gigitan hewan.BAB I PENDAHULUAN Luka adalah hilang atau rusaknya suatu kesatuan atau komponen integritas jaringan tubuh. dan remodeling atau penyudahan yang merupakan pembentukan kembali dari jaringan. ledakan. zat kimia.1 Proses yang kemudian terjadi pada jaringan yang rusak ialah penyembuhan luka yang dapat dibagi dalam tiga fase yaitu fase inflamasi. tubuh akan berusaha melakukan penyembuhan luka.2 32 . sengatan listrik.

biasanya terjadi di daerah permukaan tubuh. Luka terbuka yang disertai kehilangan jaringan maupun yang tidak disertai kehilangan jaringan a.4. 2. terjadi karena gesekan antara suatu benda dengan permukaan jaringan lunak. Vulnus Abrasivum (luka lecet).8 1. 33 . Hematoma (darah yang terkumpul di jaringan) Prinsipnya sama dengan luka memar tetapi pembuluh darah yang rusak berada jauh di bawah permukaan kulit dan biasanya besar. sehingga yang terlihat adalah bengkak. Luka Tertutup Gambar 1. Luka memar ( contusio ) Terjadi akibat benturan dengan benda tumpul.3.7. biasanya besar dan kemerahan.Luka Memar 9 a.BAB II TINJAUAN PUSTAKA JENIS-JENIS LUKA Luka terdiri dari: 2. darah keluar dari pembuluh dan terkumpul di bawah kulit sehingga bisa terlihat dari luar berupa warna merah kebiruan b.5.

pinggir luka tajam dan rata serta mempunyai dasar yang sempit. terjadi karena tersayat pisau atau benda tajam lainnya. Gambar 4. Luka Sayat 11 34 . Vulnus Abrasivum 9 Gambar 3. Vulnus Scissum ( luka sayat ).Gambar 2. Kedalaman Luka Lecet 10 b.

Vulnus Penetratum ( luka tembus ).c. 35 . Luka Tembus 11 d. adalah luka yang disebabkan oleh benda tumpul yang bentuknya tidak teratur. Luka Laserasi 11 e. Gambar 5. adalah luka yang terjadi sampai menembus organ tubuh lain yang lebih dalam. Gambar 6. Vulnus Punctum ( luka tusuk ). Vulnus laceratum ( luka compang camping ). luka yang terjadi karena tusukan bendabenda yang runcing.

Gambar 7. Luka laserasi. A. Penampang Luka Tusuk 12 Gambar 9. B. luka yang disebabkan oleh tembakan senjata api 36 . Luka Tusuk 12 f. Luka Tusuk 11 Gambar 8. Vulnus Sclopectorum ( luka tembak).

Luka ini ditandai dengan kulit yang terlepas/ hilang sama sekali. krusta yang tebal dan pus. Luka Tembak 13 g. walaupun mukosa. Gambar 11. 1. menyediakan temperatur.Gambar 10. Vulnus Mossum ( luka karena gigitan binatang). melepaskan jaringan yang mengalami devitalisasi.3 PENATALAKSANAAN LUKA Prioritas dalam penatalaksanaan luka adalah mengatasi perdarahan (hemostasis).2. otot. dan melindungi luka dari trauma yang lebih lanjut serta terhadap 37 . Avulsi biasanya menyertai luka-luka multipel pada wajah dan biasanya pada korban kecelakaan sepeda motor atau luka karena peralatan industri/pertanian. yaitu hilangnya substansi jaringan lunak yang biasanya mengenai kulit. meningkatkan pembentukan jaringan granulasi dan epitelialisasi. kelembaban. Avulsi. dan pH yang optimal untuk sel-sel yang berperan dalam proses penyembuhan. dan tulang juga bisa terkena. Luka Gigitan Binatang 11 h. mengeluarkan benda asing yang dapat bertindak sebagai fokus infeksi.

masuknya mikroorganisme patogen. diligatur atau dikauterisasi untuk mengurangi perdarahan yang terjadi akibat luka yang terbuka. hemostasis harus tercapai. Debridement dilakukan untuk menghilangkan jaringan yang mengalami devitalisasi agar didapat penutupan luka yang baik. Lalu dengan menggunakan larutan saline dilakukan irigasi untuk menghilangkan semua partikel yang tertinggal pada luka. tujuan penjahitan adalah mengembalikan jaringan ke posisi semula. sedangkan luka pada lidah atau bibir yang melibatkan otot harus dijahit lapisan otot terlebih dahulu dengan benang jahit yang dapat teresorbsi. tergantung kedalaman dan posisi luka tersebut. tujuannya adalah untuk melindungi individu dari kerusakan fisiologis lebih lanjut. Setelah penutupan luka. dan luka yang lebih dalam membutuhkan penjahitan 3 lapis. 6 Protokol 1: Wound toilet dan debridement Gunakan satu dari 2 antiseptik di bawah ini untuk luka: Larutan Povidone iodine 10% dua kali sehari Cetrimide 15% + chlorhexidine gluconate 1. klinisi harus mempertimbangkan pemberian terapi suportif untuk mempercepat penyembuhan seperti pemberian antibiotik dan anti tetanus. Bila penjahitan dianggap perlu. 6 Setelah luka dibersihkan. maka akan terjadi hematoma di dalam jaringan yang dapat membuka kembali luka yang telah ditutup.6 Luka harus dibersihkan dari kotoran atau debris. Biasanya dilakukan tindakan anestesi sebelumnya untuk mengurangi rasa sakit.5% 38 . dilakukan debridement dan hemostasis tercapai. untuk menyingkirkan penyebab aktual atau potensial yang memperlambat penyembuhan dan untuk menciptakan lingkungan lokal yang optimal untuk rekonstruksi dan epitelialisasi vaskular dan jaringan ikat. Pembuluh darah dapat diklem. luka kecil dapat dibiarkan dan dapat sembuh tanpa penjahitan. Namun tidak semua luka membutuhkan penjahitan. sabun atau bila perlu dengan disikat. Sebelum luka ditutup. Kecuali untuk luka superficial antibiotik tidak diindikasikan. Bila tidak. luka ditutup dengan dijahit. Luka pada gingiva atau mukosa alveolar dapat ditutup dengan penjahitan 1 lapis. Pembersihan luka dapat dilakukan dengan bahan pembersih luka.

tempat yang berisiko tinggi seperti pada ekstremitas. vulnus laseratum dengan ukuran lebih dari 5 cm.1. trauma abdominal. jaringan mati dan rusak secara mekanis. 2. Kemudian irigasi luka kembali.000 IU/kg BB dalam sekali pemberian. dan luka bakar. WHO merekomendasikan injeksi TT (Tetanus Toksoid) atau Td (vaksin tetanus dan diphteri) dan TIG (Immunoglobin tetanus) 3. Untuk pasien terkontaminasi tetanus. Antibiotik profilaksis yang direkomendasikan adalah penisilin G dan metronidazole dalam satu kali pemberian. kontaminasi bakteri tetanus. Tutup luka dengan kasa steril dan kering. Protokol 3: Antibiotik profilaksis dan antibiotik perawatan Antibiotik profilaksis Antibiotik profilaksis diindikasikan untuk luka yang mempunyai risiko tinggi untuk terinfeksi seperti luka yang terkontaminasi. kemudian luka diirigasi dengan larutan salin 2. Ganti kasa minimal sekali sehari. Debridement: membersihkan luka dari benda asing. Jika analgetik lokal dibutuhkan gunakan lidokain 1% tanpa epinefrin. Bersihkan luka dengan sabun dan air matang selama 10 menit. Dosis dewasa 8-12 juta IU. terdapat jaringan mati dalam jumlah signifikan. 3. Jika pemberian vaksin tetanus dan immunoglobin tetanus dalam satu waktu. dan anakanak 200. vulnus penetratum. Protokol 2: Manajemen luka dengan tetanus 1. maka harus diberikan dengan syringe yang berbeda dan lokasi pemberian yang berbeda pula. Luka biasanya terinfeksi tetanus jika telah lebih dari 6 jam sebelum pembersihan luka dan memperlihatkan tanda-tanda: tipe luka punctum. 39 . tanda klinis sepsis. luka dengan banyak jaringan nekrotik.

Surgery: merupakan cara tercepat jika jaringan nekrotik luas b. Metronidazole dewasa 500 mg setiap 8 jam dan anak-anak 7. Persiapan wound toilet 15: Jangan memakai sabun atau alkohol Gunakan salin steril Irigasi dengan tujuan menghilangkan benda asing 40 .5 mg/kg setiap 8 jam secara intravena. Pengelolaan vulnus secara umum 7: 1. Enzimatic: enzim yang dapat mendegradasi jaringan nekrotik c. Penisilin untuk dosis anak-anak 100 mg/kg BB setiap hari dibagi dalam beberapa dosis. diberikan Penisilin G dan metronidazole untuk 5-7 hari. Pembuangan dilakukan seminimal mungkin. hanya jaringan non vital yang dieksisi. berikan antibiotik secara intravena. Dilanjutkan dengan membuang sisa jaringan nekrotik sehingga didapat pinggiran jaringan yang linear. dan jaringan nekrotik yang terdapat pada luka. dan berikan secara peroral 2 hari kemudian jika memungkinkan. Mekanikal: dengan cara membilas/irigasi luka Pembersihan luka dilakukan dengan cara: mencuci daerah luka untuk membersihkan debris atau benda asing yang tertinggal. Penisilin untuk dosis dewasa 1-5 MIU setiap 6 jam. Autolisis: proses yang normal terjadi pada luka dan tidak melukai jaringan sehat di sekeliling luka d. 6 Langkah-langkah pengelolaan luka jaringan lunak terdiri atas: I. Dilakukan dengan menggunakan sikat halus steril/ kapas steril dengan larutan garam fisiologis. Debridement terbagi atas 4 metode 14: a.Antibiotik perawatan Jika infeksi telah terjadi. Pembersihan luka (debridement) Adalah tindakan membersihkan daerah luka dari benda-benda asing yang mengkontaminasi luka.

Kompres dingin untuk mengurangi sakit dan perdarahan 2 Beri analgetik dan antiinflamasi 3. listrik. air panas. Non spesifik dengan pemberian antibiotika LUKA BAKAR I. Pengelolaan hematoma dan kontusio 1. Setelah semua tindakan di atas dilakukan. dan radiasi. Instruksikan pada pasien keesokan harinya jika masih lebam dapat dikompres hangat sehingga terjadi vasodilatasi pembuluh darah menyebabkan vaskularisasi aktif agar PMN bergerak untuk memfagositosis sisa-sisa debris fibril atau leukosit dan trombosit yang mati. Tindakan ini dilakukan beberapa hari hingga sembuh. bahan kimia. Jenis luka dapat beraneka ragam dan memiliki penanganan yang berbeda tergantung jenis jaringan yang 41 .- Gunakan 50-100ml/cm salin dengan tekanan Gambar 12: Enzymatic wound debridement 14 II. Spesifik dengan anti tetanus 2. Definisi Luka bakar adalah luka yang disebabkan oleh kontak dengan suhu tinggi seperti api. maka dapat diberikan terapi suportif: pencegahan luka dari infeksi 1.

Beratnya Luka Bakar Luka bakar biasanya dinyatakan dengan derajat yang ditentukan oleh kedalaman luka bakar.terkena luka bakar. Derajat Luka Bakar Gambar 13. luka bakar dapat juga menyebabkan distress emosional (trauma) dan psikologis yang berat dikarenakan cacat akibat luka bakar dan bekas luka (scar). Selain komplikasi yang berbentuk fisik. Seorang korban luka bakar dapat mengalami berbagai macam komplikasi yang fatal termasuk diantaranya kondisi shock. 14 II. misalnya tersengat matahari. pembuluh darah dan jaringan epidermal yang mengakibatkan kerusakan yang berada di tempat yang lebih dalam dari akhir sistem persarafan. luas dan daerah luka. 42 .14 III. dan komplikasi yang terjadi akibat luka tersebut. Dalamnya luka bakar 15 1. Umur dan keadaan kesehatan penderita sebelumnya akan sangat mempengaruhi prognosis. Walaupun demikian beratnya luka bergantung pada dalam. Luka bakar derajat 1 hanya mengenai epidermis serta belum terbentuk lepuhan dan biasanya sembuh dalam 5-7 hari. ketidak seimbangan elektrolit ( inbalance elektrolit) dan masalah distress pernapasan.tulang. tingkat keparahan. Luka tampak sebagai eritema dengan keluhan rasa nyeri atau hipersensitivitas setempat. Luka bakar dapat merusak jaringan otot. infeksi.

perut. gelembung. Dengan adanya sisa sel epitel ini. Luka bakar derajat 3 meliputi seluruh kedalaman kulit dan mungkin subkutis. yaitu luas kepala dan leher. punggung. Kulit tampak pucat abu-abu gelap atau hitam. kelenjar keringat. Gejala yang timbul adalah nyeri. atau organ yang lebih dalam. serta tungkai dan kaki kiri masing-masing 9%. dengan permukaan lebih rendah dari jaringan sekeliling masih sehat. atau bula berisi cairan eksudat yang keluar dari pembuluh karena permeabilitas dindingnya meninggi. dada. karena itu untuk mendapatkan kesembuhan harus dilakukan cangkok kulit. ekstremitas bawah kanan dan kiri masing-masing 14 %. 3. sisanya 1% adalah daerah genitalia. kelenjar sebasea. pinggang dan bokong. badan depan dan belakang masin-masing 18 %. dan pangkal rambut. luka dapat sembuh sendiri dalam 2 sampai 3 minggu.2. ekstremitas atas kanan. paha kiri. Luas Luka Bakar Luas luka bakar dinyatakan dalam persen (%) terhadap luas seluruh tubuh. kepala dan leher 18%.Karena perbandingan luas permukaan bagian tubuh anak kecil berbeda. Luka bakar derajat 2 mencapai kedalaman dermis tetapi masih ada elemen epitel sehat yang tersisa. paha kanan. Tidak ada lagi elemen epitel hidup yang tersisa yang memungkinkan penyembuhan dari dasar luka. tungkai dan kaki kanan.14 IV. Elemen epitel tersebut misalnya sel epitel basal. ekstremitas atas kanan dan kiri masing-masing 9 %. ekstremitas atas kiri. Rumus ini membantu untuk menaksir luasnya permukaan tubuh yang terbakar bagi orang dewasa. Pada orang dewasa digunakan rumus 9.14 43 . Pada anak dan bayi digunakan rumus lain karena luas relative permukaan kepala anak jauh lebih besar dan luas relative permukaan kaki lebih kecil. Untuk anak.

Luasnya luka bakar 16 V. d. 3. Derajat 3 dengan luas kuarang 10 %. b. atau terdapat fraktur. Sedang bila : a. Derajat 2 dengan luas lebih dari 25 %. Klasifikasi Luka Bakar Menurut Keparahannya 1. b. Derajat 2 dengan luas kurang dari 15 %. kecuali terdapat di muka.2 44 . kaki dan tangan. Derajat 3 dengan luas lebih dari 10 %.25 %. Luka bakar disertai trauma jalan napas atau jaringan lunak luas. Berat/Kritis bila : a. atau terdapat di muka. 2. kaki dan tangan. c. Derajat 3 dengan kurang dari 2 %. Derajat 2 dengan luas 15 .Gambar 14. b. Ringan bila : a. Luka bakar akibat listrik.

Kalau perlu penderita dimandikan dahulu. dan pembatasan pembentukan jaringan parut. mengurangi rasa sakit. Kalau terjadi oedem laring dipasang pipa endotrakea atau dibuat trakeostomi. Trakeostomi berfungsi untuk membebaskan jalan napas. Pertolongan pertama setelah sumber panas dipadamkan. diberikan O2 murni. Selanjutnya diberikan pencegahan tetanus berupa ATS dan/atau toksoid. mencegah infeksi dan memberi kesempatan sisa-sisa sel epitel untuk berproliferasi dan menutup permukaan luka. Bila penderita menunjukkan gejala terbakarnya jalan napas. kalau perlu dilakukan resusitasi segera bila penderita menunjukkan gejala syok. Penatalaksanaan Luka Bakar Prinsip penanganan luka bakar adalah penutupan lesi sesegera mungkin.VI. pencegahan infeksi. pencegahan trauma mekanik pada kulit yang vital dan elemen didalamnya. Bila ada dugaan keracunan CO2. atau melepaskan baju yang tersiram air panas.2 Upaya pertama saat terbakar adalah mematikan api misalnya dengan menyelimuti dan menutup bagian yang terbakar untuk menghentikan pasokan oksigen bagi api yang menyala. Perawatan lokal adalah mengoleskan luka dengan antiseptik. terdiri dari merendam daerah luka bakar dalam air atau menyiraminya dengan air mengalir selama sekurang-kurangnya 15 menit. Korban dapat mengusahakanya dengan cepat menjatuhkan diri dan berguling dan mencegah meluasnya bagian pakaian yang terbakar. mengurangi ruang mati dan memudahkan pembersihan jalan napas dari lender atau kotoran. prinsip penanganan utama adalah mendinginkan daerah yang terbakar dengan air. selain penanganan umum seperti pada luka bakar ringan. Kontak dengan bahan yang panas juga harus cepat diakhiri misalnya dengan mencelupkan bagian yang terbakar atau menceburkan diri ke air dingin. diberikan campuran udara lembab dan oksigen. Pada luka bakar ringan. Analgesik diberikan bila penderita kesakitan. 17 45 . Pada luka bakar berat.

Lakukan tindakan ini dalam waktu 20 – 30 menit. Sebagai patokan mengetahui sirkulasi yang akurat ialah bila penderita diberi infus cairan dalam jumlah yang menghasilkan urine 1cc/Kg BB/ jam (untuk anak dengan BB ≤ 30 Kg) dan 30 – 50 cc / kg BB / jam (dewasa). ½ dari sisanya diberikan 16 jam berikutnya. Untuk mempertahankan produksi urine 1 cc/ Kg BB/jam pada anak-anak dan BB ≤ 30 Kg. Kerusakan jaringan akibat luka bakar bahan kimia dipengaruhi oleh lamanya kontak. Segera lakukan irigasi dengan air sebanyak-banyaknya. konsentrasi bahan kimia dan jumlahnya. Perlu diketahui bahwa rumus penghitungan cairan tersebut merupakan perkiraan volume cairan yang diperlukan. Luka bakar alkali lebih berbahaya dari asam. Untuk mengetahui status sirkulasi dilakukan pengukuran produksi urine/jam dengan catatan tidak ada osmotic dieresis. Pemberian cairan dilakukan sebagai berikut : ½ dari volume terhitung diberikan 8 jam pertama setelah trauma. Oleh karena itu penderita luka bakar berat harus dipasang kateter. Luka Bakar Khusus 1. tanda-tanda vital dan keadaan umum. Untuk luka bakar alkali. Pada 24 jam pertama penderita luka bakar berat derajat II dan III memerlukan 2 – 4 cc cairan RL/ Kg BB/ % Luas luka bakar untuk mempertahankan volume sirkulasi dan fungsi ginjal yang adequat. diperlukan 46 . alkali dan hasil-hasil pengolahan minyak.VII. Pemberian cairan disesuaikan dengan respon individual penderita. Volume Sirkulasi Penilaian volume sirkulasi sering sulit pada penderita luka bakar berat. Luka Bakar Karena Bahan Kimia/Kimiawi Luka bakar dapat disebakan oleh asam. Segeralah bersihkan bahan kimia tersebut dari luka bakar. misalnya dinilai produksi urinenya. sebab alkali lebih dalam merusak jaringan. bila mungkin gunakan penyemprot air.17 VIII. perlu dihitung dengan cermat dan perlu ditambahkan cairan glukosa untuk maintenance. Tekanan darah sukar diukur dan hasilnya tidak dapat dipercaya.

Perbedaan kecepatan hilangnya panas dari tubuh superfasial dengan jaringan tubuh yang lebih dalam. Penanganan harus segera dilakukan pada penderita dengan luka bakar listrik meliputi perhatian terhadap jalan nafas. Luka bakar listrik sering menyebabkan kerusakan jaringan yang lebih berat dari pada luka bakar yang terlihat pada permukaannya. berikan segera 25 gr manitol dan tambahkan manitol 12. Luka Bakar Listrik Luka bakar listrik terjadi karena tubuh terkena aliran listrik.waktu yang lebih lama. memerlukan irigasi terus menerus selama 8 jam pertama setelah luka bakar. sedangkan kulit di atasnya relatif tampak normal. janganlah menunggu konfirmasi laboratorium untuk melakukan terapi terhadap mioglobunuria. Bila terjadi asidosis metabolic. menyebabkan luka bakar pada tubuh. Pemberian cairan harus ditingkatkan sedemikian rupa sehingga tercapai produksi urine sekurang- kurangnya 100 cc/jam (pada dewasa). dan panas yang ditimbulkannya. 17 2. Apabila urine berwarna gelap mungkin urine mengandung hemokhromogens. Jangan memberikan bahan-bahan penetral (neutralizing agent) sebab reaksi kimia yang terjadi akibat pemberian bahan penetral dapat menimbulkan panas dan akan memperberat kerusakan yang terjadi. ECG dan pemasangan kateter. pertahankan perfusi sebaik mungkin dan berikan Natrium Bikarbonat untuk membuat urine menjadi alkalis dan meningkatkan kelarutan mioglobin dalam urine. Tubuh merupakan penghantar tenaga listrik. Untuk irigasi ini dapat digunakan kanula kecil yang dipasang pada sulkus palpebra. menghasilkan keadaan dimana jaringan yang lebih dalam akan bisa mengalami nekrosis.17 47 . Bila urine belum tampak jernih. pernafasan. Untuk luka bakar pada mata. pemasangan infus.5 gr manitol pada tiap penambahan 1 liter cairan untuk mempertahankan diuresis sejumlah tersebut di atas. Bila bahan kimia merupakan bubuk. sikatlah terlebih dahulu sebelum irigasi.

Hemostasis terjadi karena trombosit yang keluar dari pembuluh darah saling melengket. Pembuluh darah yang terputus pada luka akan menyebabkan perdarahan dan tubuh akan berusaha menghentikannya dengan vasokonstriksi. pengeluaran sel-sel radang.BAB III PEMBAHASAN MEKANISME PENYEMBUHAN LUKA Proses biokimia dan seluler kemudian terjadi dalam penyembuhan semua cedera jaringan lunak yang rusak ini. dan bersama dengan fibrin yang terbentuk membekukan darah yang keluar dari pembuluh darah.4 Tabel 1. dan remodelling jaringan. Sementara terjadi reaksi inflamasi.2. pengerutan ujung pembuluh yang putus (retraksi).Fase Penyembuhan Luka 17 FASE INFLAMASI Fase inflamasi berlangsung sejak terjadinya luka sampai kira-kira hari kelima.1. 48 . sel mast dalam jaringan ikat menghasilkan serotonin dan histamin yang meningkatkan permeabilitas kapiler sehingga terjadi eksudasi cairan. dan reaksi hemostasis. Proses fisiologis penyembuhan luka dapat dibagi dalam tiga fase yaitu : fase inflamasi. proliferasi. disertai vasodilatasi setempat yang menyebabkan oedem dan pembengkakan.

Fase inflamasi 4 49 . Limfosit.5 Gambar 15.2. Limfosit B berguna untuk mengenali antigen. Leukosit mengeluarkan enzim hidrolitik yang membantu mencerna bakteri dan kotoran luka. Terdapat juga limfosit yang terdiri dari 2 kelompok yaitu limfosit B dan limfosit T. Pada waktu kontak dengan benda asing netropil melepaskan lisosom yang dikandungnya (degranulasi).Selain itu akan terjadi aktivitas seluler yang merupakan gerakan leukosit menembus dinding pembuluh darah menuju luka karena daya kemotaksis. Serum tambahan itu menghasilkan faktorfaktor kemotaksis dan menyebabkan PMN lekosit (neutrofil) menempel pada pembuluh darah (marginasi) dan migrasi melalui dinding pembuluh darah (diapedesis). serta sel T citotoksis untuk melarutkan sel-sel asing dan antigen. monosit yang kemudian muncul ikut menghancurkan dan memakan kotoran luka. menghasilkan antibodi yang membantu mengingatkan sistem pertahanan tubuh untuk mengidentifikasi benda asing dan berinteraksi dengan faktor tambahan untuk melarutkan sel-sel asing. pendapat lain mengatakan bahwa fase seluler ini disebabkan oleh aktivasi dari serum pada jaringan yang rusak. Sedangkan limfosit T terdiri dari kelompok yaitu T helper untuk merangsang sel B berdeferensiasi dan berproliferasi. Lisosom tersebut merusak bakteri dan benda asing lainnya serta mengangkat jaringan nekrotik.

Fibroblas mengeluarkan fibronectin yaitu kandungan protein yang mempunyai fungsi membantu mempertahankan kestabilan fibrin.4. Substansia dasar mengandung sejumlah mukopolisakaride yang berguna untuk melekatkan serat-serat kolagen. Akan tetapi bila terjadi pada akhir dan tahap ini akan menyebabkan lepasnya hubungan antara serat kolagen yang lama di sepanjang tepi luka dan terbentuk kolagen yang baru. membantu mengamati benda asing. Gambaran akhir pada tahap fibroplastis adalah kaku oleh karena banyaknya kolagen dan kemerahan oleh karena vaskularisasi. maka terjadi penarikan di sepanjang garis utama dan luka. normalnya antara 2-3 minggu. Fase proliferasi 4 50 . berbentuk seperti anyaman. Fibroblas mulai terbentuk pada substansia dasar dan tropokolagen.5 Gambar 16. dan membantu makrophage. Jaringan dengan cepat tumbuh menjadi kuat selama tahap fibroplastis.FASE PROLIFERASI Serat-serat fibrin diperoleh dari darah yang mengalami pembekuan yang menutup luka. bertindak sebagai faktor kemotaksis dari fibroblas. Fibroblas yang terdapat pada tropokolagen akan menghasilkan serat kolagen. menggerakkan sistem pertahanan tubuh. Apabila tegangan pada luka terjadi pada awal tahap fibroplastis.2 Fibrinolisis terjadi disebabkan oleh plasma yang dibawa oleh pembuluh darah kapiler yang baru.

dan lembut serta mudah digerakkan dari dasar. Kekuatan jaringan tidak lebih dari 80-85% dibandingkan dengan jaringan yang normal dan hal ini tercapai kira-kira 3-6 bulan setelah penyembuhan. diganti dengan kolagen yang baru guna meningkatkan ketahanan jaringan pada luka. Metabolisme menurun. sel muda menjadi matang. tetapi tidak seperti pada tahap fibroplastis. Elastin dan ligamen tidak kembali pada penyembuhan luka. Tubuh berusaha menormalkan kembali semua yang menjadi abnormal karena proses penyembuhan.5 Lebih jelasnya pada tahap ini kolagen yang lama dihancurkan. 51 . pengerutan sesuai dengan gaya gravitasi. sistem vaskularisasi berkurang sehingga kemerahan pada bekas luka juga berkurang. dan akhirnya pembentukan kembali jaringan yang baru. Karena serat kolagen sangat sedikit akibatnya terbentuk bekas luka yang lunak.FASE REMODELING Pada fase ini terjadi proses pematangan yang terdiri dari penyerapan kembali jaringan yang berlebih. sehingga menyebabkan hilangnya fleksibilitas pada daerah bekas luka. Selama tahap ini kekuatan jaringan meningkat secara perlahan. Terlihat pengerutan maksimal pada luka. tipis. Selama proses ini dihasilkan jaringan parut yang pucat. Udem dan sel radang diserap. Fase ini dapat berlangsung berbulanbulan dan dinyatakan berakhir kalau semua tanda radang sudah lenyap. kapiler baru menutup dan diserap kembali. kolagen yang berlebih diserap dan sisanya mengerut sesuai dengan regangan yang ada.

Jenis penyembuhan ini terjadi pada luka sayat aseptik yang ditutup secara primer.5.3. yang pada beberapa hari kemudian (3-4 hari) dilakukan penjahitan untuk menutup kembali luka tersebut. Hal ini biasanya terjadi pada luka yang terbuka.6 3. dan akhirnya luka tertutup dengan pertumbuhan epitel dari pinggiran luka. 3.JENIS-JENIS PENYEMBUHAN LUKA Jenis-jenis penyembuhan luka adalah : 1. jahitan yang kurang rapat atau luka dengan suatu dead space. kehilangan jaringan yang agak luas. jadi dilakukan bantuan tindakan bedah agar luka menjadi tertutup. karena infeksi. Penyembuhan secara tertier Diartikan sebagai penyembuhan pada suatu luka yang sejak awal dibiarkan terbuka atau luka terbuka kembali setelah dijahit primer. Penyembuhan secara primer Penyembuhan luka berlangsung dengan pembentukan jaringan granulasi yang minimal.6 52 .5. selanjutnya terjadi kontraksi luka sehingga ukuran luka mengecil. Penyembuhan secara sekunder Luka yang dalam proses penyembuhan terisi dengan jaringan granulasi. 2.

dalam hal ini hipoksia menghalangi mitosis dalam sel-sel epitel dan fibroblas yang bermigrasi. 2. Turunnya temperatur. jaringan nekrotik. membutuhkan banyak nutrisi dan pembuangan kotoran. seperti pengelolaan luka yang kurang tepat dan efek-efek terapi lainnya yang kurang menguntungkan. Pada daerah dimana suplai darah tidak cukup akan menyebabkan kebutuhan sel-sel tidak terpenuhi. Pada semua luka terdapat peradangan. faktor tersebut dibagi dalam faktor dari pasien (intrinsik) seperti kondisi yang kurang menguntungkan pada tempat luka dan sejumlah kondisi medis yang dapat menyebabkan lingkungan sekitar yang buruk terhadap penyembuhan luka. sekunder (b).Gambar 17. Kurangnya suplai darah dan pengaruh hipoksia. Oleh karena itu akan terjadi jaringan yang mati. Faktor lokal yang berpengaruh terhadap penyembuhan luka : 1. serta faktor-faktor dari luar (ekstrinsik). Aktivitas fagositik dan aktivitas mitosis secara khusus mudah terpengaruh terhadap penurunan temperatur pada tempat luka. dan tersier (c) 3 FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP PENYEMBUHAN LUKA Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi dan memperlambat penyembuhan luka. Tepian luka yang sedang tumbuh merupakan suatu daerah yang aktivitas metaboliknya sangat tinggi. Kira-kira 53 . Untuk itu dibutuhkan suplai darah dari vena dan arteri yang cukup. Penyembuhan primer (a). sintesa kolagen dan kemampuan makrofag untuk menghancurkan bakteri yang tercerna. racun dan bakteri.

Oleh karena itu sangat penting untuk mengeluarkan kontaminan organik maupun anorganik secepat mungkin tetapi dengan trauma yang minimum terhadap jaringan utuh. Penyakit sistemik.dibawah 28◦C aktivitas leukosit dapat turun sampai nol. Vitamin C penting untuk mempertahankan ikatan antara sel-sel endotel pada kapiler. krusta yang berlebihan dan benda asing. Dua bahan nutrisi yang menunjukkan secara langsung untuk penyembuhan adalah protein dan vitamin C.4 54 . Malnutrisi. Suatu kebijaksanaan adalah penggunaan antibakteri lokal untuk mengatasi infeksi pada jaringan yang terkontaminasi. infeksi kronis. 4. Jaringan nekrotik.1. Faktor sistemik yang berpengaruh pada penyembuhan luka: 1. Mobilisasi. Dengan bertambahnya umur daya regenerasi dari jaringan tubuh akan berkurang. faktor yang penting dan sering menimbulkan masalah pada kasus penyembuhan di tempat praktek. Demikian juga adanya segala bentuk benda asing termasuk bahan jahitan dan drain luka. pasien dengan penyakit diabetes melitus. Penyembuhan luka pada penderita yang masih muda berlangsung lebih cepat. sehingga dapat mengakibatkan terhambatnya penyembuhan luka. akibatnya terjadi hambatan pada pembentukan 2. Umur. Infeksi. gangguan sistem imun. 3. pergerakan yang terjadi pada luka merupakan trauma yang berulang pada luka tersebut. Adanya jaringan nekrotik dan krusta yang berlebihan di tempat luka dapat memperlambat penyembuhan dan meningkatkan resiko terjadi infeksi. Protein berguna untuk mengefektifkan metabolisme penderita dan mengembalikan plasma protein. gangguan kardiovaskuler. 3. Dalam keadaan kekurangan protein akan mengakibatkan fibroblas tidak menjadi matang sehingga pembentukan serat kolagen hanya sedikit akibatnya penyembuhan menjadi terhambat. 5. anemia dan penyakit lain. Kekurangan vitamin C menyebabkan fibroblas tidak matang atau berdiferensiasi.

a. Jaringan Nekrotik Jaringan nekrotik. Bentuk flap yang kurang benar c. Iskemia menurunkan pengiriman oksigen dan zat makanan yang diperlukan untuk penyembuhan luka. Yang termasuk jaringan nekrotik adalah darah yang terkumpul pada luka (hematom) merupakan sumber makanan yang bagus bagi bakteri. Tekanan dari luar dan dalam luka (hematom) d. Merupakan penghambat terbentuknya sel-sel reparasi. Iskemia Iskemia.Benda Asing Benda asing adalah segala sesuatu yang dianggap asing bukan anggota dari tubuh oleh sistem pertahanan tubuh terhadap mikroorganisme. dan antibiotik yang sangat diperlukan. dengan adanya jaringan nekrotik akan menyebabkan masalah antara lain: a. kotoran dan benang jahit. Jaringan nekrotik sebagai tempat berlindungnya bakteri. Iskemia dapat mengurangi pengiriman antibodi. Tahap peradangan diperpanjang dimana sel darah putih mengangkut sisa-sisa jaringan nekrotik melaiui proses larutnya enzim dan paghositosis. Bakteri dapat berkembang biak dan menyebabkan infeksi dimana akan mengeluarkan protein bakteri yang dapat merusak jaringan b. Hipotensi 55 . adalah berkurangnya suplai darah berpengaruh terhadap tahap perbaikan luka. sehingga dapat menyebabkan terjadinya infeksi pada luka. Terlalu tegang atau tidak tepatnya lokasi penjahitan b. b. Iskemia disebabkan oleh beberapa hal yaitu : a. termasuk bakteri. sel darah putih. Benda asing sering berbentuk antigen yang memacu terjadinya peradangan kronis. c. Benda asing yang bukan bakteri tetapi bertindak sebagai bakteri yang dapat meenyebabkan terjadinya infeksi.

MEKANISME PENYEMBUHAN JARINGAN SARAF Proses penyembuhan jaringan saraf tergantung pada derajat keparahan dan keluasan luka. penggunaan antibiotik topikal yang kurang tepat dan ramuan obat perawatan luka lainnya.3. terjadi degenerasi pada semua akson di badan saraf yang terluka. Pada luka yang menyebabkan terganggunya konduksi saraf.5.empat minggu. Penyakit pembuluh darah tepi f. Jika benang diambil terlalu awal maka dapat terjadi pembukaan kembali dari luka sehingga dapat menimbulkan kontraksi dari luka. sehingga akan meninggalkan tanda yang buruk.e. Apabila terlalu lama benang tidak diambil maka akan mendatangkan ketegangan jaringan dan luka cenderung semakin terbuka selama tahap remodeling. Jaringan diliputi oleh benang yang terlalu tegang sehingga menimbulkan iskemia.6 PENATALAKSANAAN LUKA YANG TIDAK TEPAT Gagal mengidentifikasi penyebab yang mendasari sebuah luka atau gagal untuk melakukan identifikasi masalah lokal di tempat luka. Anemia Ketegangan Jaringan Ketegangan jaringan. Setelah sel saraf terluka. Apabila ada kerusakan akson (sel Schwann dan jaringan ikat masih intak) akan terjadi perubahan morfologis sebagai manifestasi dari degenerasi aksoplasma. Penjahitan dengan benang yang terlalu kencang dapat menimbulkan ketegangan pada jaringan di daerah luka. ketegangan dari luka dapat menghambat terjadinya penyembuhan. Hal ini akan berpengaruh pada bagian distal dari lokasi luka dan sebagian bagian proksimal dari luka. investing Schwann cells akan memulai beberapa perubahan yang disebut 56 . serta teknik pembalutan dan penjahitan yang kurang hati-hati adalah penyebab terlambatnya penyembuhan luka yang dapat dihindari. tanpa rusaknya akson (selubung myelin masih intak atau terdapat luka yang kecil) penyembuhan dari defisit fungsional berlangsung secara spontan dan umumnya lengkap dalam tiga . Pada luka badan saraf. penggunaan antiseptik yang tidak bijaksana.

Selain itu. Infeksi luka dapat dikurangi dengan cara melakukan tindakan bedah yang benar. tergantung luas daerah dehiscence dan keputusan klinisi. di sepanjang akson distalis dan beberapa akson proksimalis. akson yang terluka akan difagositosis oleh sel Schwann dan makrofag. dan eliminasi dead space. dan saraf yang terlibat. Berdasarkan hasil penelitian. nutrisi.4 KOMPLIKASI PENYEMBUHAN LUKA Infeksi Pada Luka Infeksi pada luka umumnya merupakan infeksi dari kontaminasi bakteri pada luka tersebut. Selama 78 jam. dan umumnya disertai dengan terbentuknya pus dan bau. peningkatan suhu. Setelah debris dapat dibersihkan. rasa nyeri. Tindakan yang tidak asepsis merupakan penyebab utama terjadinya luka yang terinfeksi.degenerasi wallerian. Keloid timbul beberapa bulan setelah luka sembuh. sel Schwann akan menghubungkan bagian proksimal dan distal dari luka dengan cara membentuk suatu ikatan (Bungner’s band) yang akan menerima akson yang sudah regenerasi dari bagian proksimal. pembengkakan. tipe luka.1.7 Dehiscence Dehiscence terjadi akibat tindakan hecting yang tidak optimal. Perlu dibedakan antara keloid dengan hyperthrophic scar. infeksi dapat terjadi akibat daya tahan tubuh host yang menurun atau derajat virulensi bakteri. Proses regenerasi sel saraf berlangsung sekitar 3 bulan dan ditandai dengan terbentuknya akson bermielin. serta menjaga luka tetap bersih. Sel Schwann juga dapat mengeluarkan beberapa faktor neurotropik untuk menunjang regenerasi sel saraf. Jaringan parut Keloid memiliki faktor predileksi hubungan kekerabatan dan ras. infeksi dapat terjadi bila terdapat 1 x 105 bakteri dalam 1 gram jaringan. Bagian yang mengalami dehiscence dapat ditutup lagi atau dibiarkan supaya terjadi penyembuhan sekunder. sedangkan hyperthropic scar timbul segera setelah luka 57 . meliputi debridement. Gejala klinis dari luka yang terinfeksi adalah eritema. hemostasis yang adekuat. Proses regenerasi dipengaruhi oleh faktor umur.

Hal yang dapat dilakukan adalah menjaga jarak antarjahitan tidak terlalu rapat dan setelah dilakukan hecting.sembuh.4 58 . pasien dapat diberikan obat anti-keloid (salep kanakeloid atau injeksi kenacort 2x sebulan).

penyembuhan luka dipengaruhi oleh faktor lokal dan faktor sistemik. dan jaringan parut yang berlebihan. Proses penyembuhan luka dapat dibagi menjadi tiga tahap dasar yaitu tahap inflamasi. Luka pada jaringan dapat disebabkan oleh peristiwa patologis atau trauma. Komplikasi yang sering terjadi adalah infeksi. dehiscence. tahap fibroblastis dan tahap remodeling. 59 .BAB IV KESIMPULAN Luka adalah terputusnya kontuinitas jaringan baik tanpa kehilangan jaringan atau disertai dengan kehilangan jaringan. iskemia dan ketegangan jaringan. adanya jaringan nekrotik. Faktor-faktor yang menghambat proses penyembuhan luka adalah adanya benda asing.

Pederson W. diunduh tanggal 22 Januari 2013 13. www. http://burn-victim-help-center. 365-372. American College of Surgeon. Simple Wound Management and Suturing.wordpress. hal. The Principles of Wound Healing. dkk. Oral and Maxillofacial Trauma. 105-107. www. 1998. tahun 1996. 60 . Vol.com . 2002. W. Healing of Traumatic Injuries. in Loyal Davis. Jakarta. diunduh tanggal 22 Januari 2013 12. 15. SE. 2. 7. Feinberg. 20.dc349.com. 6. 4. Frying. Robins.4shared.jellygamatluxornet. Media Aesculapius. Cotran. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2. hal. EGC. Wim de Jong. EGC.G and Goldberg M. edisi 5.com . Topazian R. Pp: 99-111 3. hal.DAFTAR PUSTAKA 1. 9th ed. Manual Untuk Peserta ATLS. Morison. Buku Ajar Bedah Mulut.com .adam. Arif Mansjoer. Philadelphia: W. PE. M. FK-UI. 4th ed.com . F.bayoesunaryo. W. diunduh tanggal 22 Januari 2013 10.Saunders and Co. Oral and Maxillofacial infection. diunduh tanggal 22 Januari 2013 17. Cristhoper's Textbook of Surgery. Buku Ajar Ilmu Bedah.H. in Fonseca RJ and Walker RV.hal.81-91. 9. Suprohaita. Larsen.65. www.meddet. www.300 – 309.B. Manajemen Luka. Radang dan perbaikan. www. Jakarta: EGC 8. JM.com.skwawesome. hal 28-42.co.uk 5. Kumar.patient. Sjamsuhidajat R. Enquist. Philadelphia.com . 1996. 2003. diunduh tanggal 22 Januari 2013 16. 1991.D. www.B Saunders Co. diunduh tanggal 22 Januari 2013 14. diunduh tanggal 22 Januari 2013 11. London: Saunders Company.B. Alih Bahasa Purwanto. I. Patient UK. dalam Dasar Patologi Penyakit. http://www.G. 1997. 1998. 2001.

61 .

meletakkan substansi vasokonstriktif. nutrisi 62 . Penanganan perdarahan dapat dilakukan dengan membentuk mekanisme hemostasis natural.namun prosedur ini juga membatasi kemampuan mulut sementara waktu. pengikatan dengan benang. Kata kunci : perdarahan. maka dari itu diperlukan suatu penanganan perdarahan secepat mungkin. Hal ini berakibat menurunnya daya tahan tubuh. Maksud dari penulisan makalah ini adalah untuk memberikan gambaran penanganan perdarahan dan pengelolaan nutrisi penderita trauma oromaksilofasial .Penanganan Perdarahan / Hemostasis dan Pengelolaan Nutrisi Penderita Trauma Oromaksilofasial Alvin 160121120006 Peserta Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut Dan Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Abstrak : Perdarahan pada penderita oromaksilofasial merupakan suatu jenis kegawatdaruratan yang dapat mengancam jiwa. menggunakan panas . Prosedur bedah mulut dan maksilofasial dapat mengeliminasi permasalahan ini dengan suatu prosedur operasi. terjadinya edema. Pada penderita trauma oromaksilofasial juga diperlukan adanya pengelolaan nutrisi yang adekuat dikarenakan pada penderita trauma kemampuan penggunaan mulut penderita berkurang. trauma. Pada keadaan trauma (stress dan sepsis) tubuh mengalami rangkaian perubahan hormonal yang menambah laju metabolisme. dan terhambatnya penyembuhan luka gangguan motilitas usus. Oleh karena itu pasien dengan trauma oromaksilofasial memerlukan intervensi nutrisi dalam rawat inap di rumah sakit. gangguan enzim dan metabolisme serta kelemahan otot.

Dengan tersedianya antibiotik dan peralatan yang khusus. namun justru dijumpai pada perumahan yang terpencil. membuat pendekatan per oral pada perawatan fraktur fasial menjadi aman dan layak dilakukan 2. jalan raya. hanya tekniknya yang berkembang pesat. sehingga memerlukan tindakan di dalam ruang gawat darurat agar tidak menimbulkan kematian 3. Pada mulanya dokter gigi dilibatkan pada perawatan trauma rahang karena mereka menguasai pengetahuan tentang gigi dan oklusi. Trauma yang terdapat pada regio maksilofasial memerlukan perhatian khusus. Keadaan ini membutuhkan pertolongan segera yang dapat berupa pertolongan pertama sampai pada pertolongan selanjutnya secara baik di rumah 63 . kantor. Trauma oromaksifasial dapat menimbulkan perdarahan. Fraktur-fraktur yang pada jaman dahulu tidak dapat dikenali sama sekali atau hanya bersifat dugaan sekarang ini bisa ditunjukkan sampai hal yang terkecil. Diagnosis didukung dengan adanya teknik radiografis yang berkembang dengan pesat. Perawatan yang terdahulu hanya terdiri atas fiksasi gigi pada oklusi sentrik untuk mengurangi dan mengimobilisasi suatu rahang. Sekarang ini dasar pemikiran perawatan fraktur mandibula dan maksila masih tidak banyak berubah. pasien tersebut sering membutuhkan penanganan medis darurat atau kematian dapat terjadi 1. atau daerah-daerah lain dengan sumber daya yang terbatas yang biasanya tidak dapat menangani pasien dengan trauma yang kompleks dan frekuensi yang besar. Ketika trauma yang kompleks terjadi.BAB I PENDAHULUAN Manajemen pasien yang mengalami trauma jarang dijumpai pada pusat trauma mayor dimana sumber dayanya tidak terbatas. Kunci penatalaksanaan pasien trauma biasanya melibatkan mobilisasi dari pasien-pasien tersebut dan penyaluran ke pusat trauma untuk penanganan lebih lanjut.

juga dibutuhkan pengorganisasian yang sempurna. sehingga memerlukan tindakan di dalam ruang gawat darurat agar tidak menimbulkan kematian 3. Midface yang bagian atas bila terdapat fraktur Le Fort II dan Le Fort III dan/atau fraktur tulang nasal. fraktur nasoetmoidal atau kompleks zygomatikomaksilari dan fraktur dasar orbita. Keadaan ini selain membutuhkan pengetahuan dan ketrampilan yang baik dari penolong dan sarana yang memadai. Bagian kedua adalah daerah tengah wajah atau midface. Kelompok umur ini adalah kelompok yang paling sering dijumpai oleh spesialis bedah mulut untuk evaluasi dan pengobatan luka fasial 1. 3 Kematian pada penderita dengan trauma oromaksilofasial salah satunya dapat disebabkan oleh perdarahan yang tidak cepat diatasi. Insidensi trauma maksilofasial sering terjadi terutama yang berhubungan dengan kecelakaan kendaraan bermotor. Kelompok ketiga tertinggi dari pasien trauma berumur antara 75 dan 85 tahun dan kebanyakan adalah wanita yang terluka karena jatuh atau oleh karena kecelakaan motor. Bagian pertama adalah wajah yang bagian atas. 3 Regio maksilofasial terbagi menjadi tiga bagian. Tindakan tersebut dimaksudkan untuk menyelamatkan jiwa mencegah dan membatasi cacat serta meringankan penderitaan dari penderita.sakit. Kelompok utama yang kedua dari pasien trauma berumur antara 35 dan 44 tahun dan didominasi oleh laki-laki yang terluka karena kecelakaan motor. Fraktur Le Fort I bila fraktur terdapat pada bagian bawah dari midface. dengan jenis kelamin laki-laki yang paling dominan terluka pada kecelakaan motor dan oleh karena kekerasan (luka tembak. Midface dibagi menjadi bagian atas dan bagian bawah. bila fraktur melibatkan sinus dan tulang frontal. luka tusuk dan perkelahian). 1 64 . Berikut ini akan dibahas mengenai penanganan perdarahan/hemostasis dan pengelolaan nutrisi pada kegawatdaruratan trauma oromaksilofasial sebelum dilakukan penanganan definitif lebih lanjut. Bagian yang ketiga dari regio maksilofasial adalah wajah bagian bawah. Distribusi umur pasien trauma menunjukkan bahwa pasien trauma berumur antara 17 dan 24 tahun. bila fraktur hanya terdapat pada mandibula.

Stabilisasi fraktur d. Breathing. Tranportasi cepat (Ambulatory) 2. Radiografi c. Resusitasi cairan c. Menghentikan perdarahan eksternal c. Sehingga tahap-tahap penangannnya bersamaan dengan penanganan trauma yang lainnya. Perawatan non operatif c. Stabilisasi tulang belakang e. Pemeriksaan Laboratorium d. Nutritional support 5. Diagnosis dan penanganan sekunder a. Perawatan Definitif a. Circulation) b. Pembedahan b.BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Mempertahankan jalan napas b. PENANGANAN TRAUMA OROMAKSILOFASIAL Pada umumnya penderita dengan trauma oromaksilofasial terjadi bersamaan dengan trauma pada bagian tubuh yang lain (trauma multiple). Penanganan yang dilakukan sebelum dibawa ke rumah sakit a. Pemeriksaan fisik menyeluruh b. ABC (Airway. Resusitasi dan pananganan primer a. Rehabilitasi 65 . Adapun tahap-tahap penanganan trauma adalah sebagai berikut 4: 1. Pemantauan 3. Resusitasi dan pemantauan lanjut 4.

dengan ciri-ciri warna darah cerah terang karena mengandung oksigen dan perdarahan memancar dengan aliran yang terputus-putus sesuai dengan denyut jantung. 3. maka dibagi menjadi: a. 4. Perdarahan vena. perdarahan dapat dibagi menjadi: a. dibagi menjadi: a. Perdarahan kapiler. Perdarahan sekunder jika terjadi setelah 24 jam. Perdarahan arteri. b. 2. Perdarahan primer jika terjadi pada waktu terputusnya pembuluh darah karena trauma. lokasi perdarahan. Perdarahan internal jika arah tidak keluar. Menurut waktu terjadinya perdarahan. operasi. Menurut pembuluh darah yang terluka. Berbagai macam perdarahan yang dibagi menurut pembuluh darah yang terluka. dan penyebab perdarahan. b. b. dengan ciri-ciri warna darah merah gelap karena mengandung karbondioksida dan darah yang keluar mengalir tetap. dapat terjadi karena kelainan 66 . Menurut penyebab terjadinya perdarahan maka dibagi menjadi: a. yang akan diuraikan sebagai berikut1: 1. dan darah merembes dari permukaan luka. tetapi masuk kejaringan sekitarnya. c.B. Perdarahan intermediate jika terjadi dalam 24 jam. Perdarahan spontan/biokemis yaitu perdarahan terjadi akibat kelainan atau gangguan mekanisme hemostasis. TINJAUAN UMUM PERDARAHAN Perdarahan adalah keluarnya darah dari pembuluh darah kedalam ruang ekstravaskuler. karena hilangnya kontinuitas pembuluh darah. waktu perdarahan. dengan ciri-ciri warna darah antara darah arteri dan vena. Menurut lokasi perdarahan. Perdarahan mekanik yaitu perdarahan terjadi akibat trauma mekanik atau kecelakaan b. Perdarahan eksternal jika darah keluar dari kulit atau jaringan lunak dibawahnya. c.

pembuluh darah. kelainan trombosit dan kelainan mekanisme pembekuan darah. yang akan diuraikan sebagai berikut: 1. Hemostasis primer. HEMOSTASIS Hemostasis adalah proses penghentian perdarahan dari pembuluh darah yang mengalami kerusakan secara spontan. C. Percobaan Pembendungan (Tes Rumpel Leede) Menguji ketahanan dinding kapiler darah dengan cara mengenakan pembendungan kepada vena. Akan tetapi pengontrolan hemostasis penting dikarenakan oleh adanya alasan-alasan yang penting juga. Dinding kapiler yang kurang kuat akan menyebabkan darah keluar dan merembes kedalam jaringan sekitarnya sehingga nampak titik merah kecil pada permukaan kulit. hematoma tersebut meningkatkan tarikan pada tepi luka dan berfungsi sebagai media kultur. yang termasuk didalamanya adalah pembuluh darah dan trombosit. Pencegahan kehilangan darah yang banyak merupakan hal yang penting untuk menjaga kapasitas transpor oksigen pada pasien tersebut. sehingga tekanan darah di dalam kapiler meningkat. Hemostasis sekunder. 67 . Masalah lainnya yang disebabkan oleh perdarahan adalah terbentuknya hematoma. Salah satunya adalah menurunnya visibilitas yang dikarenakan perdarahan yang tidak terkontrol. yang termasuk didalamanya adalah faktor pembekuan dan anti pembekuan. Trombosis yaitu darah membeku di pembuluh darah. Hemostasis dapat dibagi menjadi5: 1. titik itu disebut petekia. yang memungkinkan terjadinya infeksi pada luka 5. Gangguan faktor hemostasis akan mengakibatkan terjadinya perdarahan atau trombosis. Perdarahan yaitu darah keluar dari pembuluh darah. Hematoma memberikan tekanan pada luka. 2. mengurangi vaskularitas. Evaluasi faal hemostasis dapat dilakukan melalui beberapa cara.

Waktu protrombin 12-14 Detik 68 .000-400. IX. Masa tromboplastin parsial teraktivitas ( Activitated Parsial Tromboplastin Time/APTT) Menguji pembekuan darah melalui jalur intrinsik dan jalur bersama yaitu faktor pembekuan XII. XI.V. V.2. Hitung jumlah trombosit Perdarahan tidak terjadi jumlah trombosit lebih dari 100. Trombine Time (TT) Perubahan fibrinogen menjadi firbin 7. trombositopenia Lebih lama bila berkaitan dengan defisiensi faktor-faktor I. 3. V. Tabel 1.VII. Masa perdarahan Menilai kemampuan vaskuler dan trombosit untuk menghentikan perdarahan. X. kininogen. protrombin dan fibrinogen 6. Pemeriksaan Penyaringan untuk Faktor XIII Digunakan untuk menilai kemampuan faktor XIII dalam menstabilkan fibrin. protrombin dan fibrinogen.II.X. Mungkin abnormal pada penyakit hati. deteksi penyakit willebrand Waktu perdarahan 2-7 menit Hitung platelet 150.000/mm³ Deteksi trombositosis . 4. VIII. Masa Protrombin Plasma (Protrombine Time/PT) Menguji pembekuan darah melalui jalur ekstrinsik dan jalur bersama yaitu faktor pembekuan VII.000/ul. Jumlah trombosit kurang dari 50. 5. prekalikren.000/ul. defisiensi vitamin K.000/ul digolongkan trombositopenia berat dan perdarahan spontan akan terjadi jika jumlah trombosit kurang dari 20. Tes Koagulasi Jenis Tes Nilai Normal Kegunaan Mengamati fungsi vaskular dan platelet. X.

Penggunaan aspirin. dan anti-radang nonsteroid lain. kecuali VII Hemofilia Tabel 2.terapi warfarin sodium (Coumadin).diaktifkan oleh tromboplastin Diperlukan untuk merubah protrombin menjadi thrombin Tes PT PT PTT III Tromboplastin IV V VI Kalsium Proaccelerin Tidak lagi digunakan Diperlukan pada semua tahap Diperlukan untuk pembentukan tromboplastin PTT PT PTT VII Proconvertin Diperlukan untuk mengubah protrombin menjadi thrombin PT VIII Faktor antihemofilik (AHF) Diperlukan untuk pembentukan tromboplastin IX Komponen Plasma tromboplastin X Faktor Stuart Prower Diperlukan dalam pembentukan tromboplastin dan perubahan dari protrombin menjadi thrombin XI Anteseden tromboplastin plasma XII Faktor Hageman XIII Faktor stabilisasi fibrin PT : Waktu protrombin PTT : Paruh waktu tromboplastin Mengawali proses pembekuan darah in vitro Merubah fibrin menjadi polimer fibrin Diperlukan untuk pembentukan tromboplastin Diperlukan untuk pembentukan tromboplastin PTT PTT PTT PTT PTT PTT 69 . bila ada defisiensi faktor pembekuan darah. Paruh waktu tromboplastin 60-70 detik Lebih lama. Faktor Pembekuan Darah Faktor I II Fibrinogen Protrombin Peranan pada pembekuan darah Prekursor fibrin Proensim.

volume darah tidak meningkat secara spesifik. Tekanan yang digunakan untuk mengontrol perdarahan sebaiknya kuat dan kontinu. seorang laki-laki dengan berat badan 70 kg memiliki volume darah kurang lebih 5L. yang sebelumnya digunakan untuk meningkatkan tekanan darah pada kasus hipotensi yang parah. Ketika dressing yang digunakan menjadi basah. Maka dari itu.D. Luka kulit kepala dapat dengan cepat diatasi dengan dijahit menggunakan 2. volume darah secara umum tinggi per satuan berat. Hemoragi eksternal biasanya dapat dikontrol dengan melakukan penekanan secara langsung ke luka yang ada. Aspek negatif dari suplai darah tersebut adalah hemoragi mayor dapat disebabkan oleh luka pada kulit kepala yang besar. Perban tekan. PENANGGULANGAN PERDARAHAN KARENA TRAUMA Kehilangan darah akut dari sistem peredaran darah disebut juga sebagai hemoragi. Pada individu yang menderita obesitas. Tekanan yang kuat dapat diaplikasikan proksimal ke arah arteri mayor untuk mengontrol perdarahan. seperti air-pillow splints dan blood pressure cuff dapat juga digunakan.0 nonresobable atau staples tanpa memperhatikan kosmetik pasien. Hemoragi dapat secara eksternal maupun internal ke dalam kavitas tubuh. Pada orang dewasa dengan berat badan yang ideal. dan luka tembus pada leher. kita mengetahui adanya suplai vaskular yang banyak ke daerah muka dan leher. memberikan keadaan yang merugikan pada beberapa situasi karena menyebabkan luka vaskular. dressing tersebut sebaiknya jangan dilepaskan. Pada anak-anak. volume darah normal (liter) adalah sebanyak 7% dari berat badan (kilogram). fraktur nasal atau tengah wajah. Luka pada kulit kepala dapat menyebabkan kehilangan darah dalam jumlah besar pada waktu yang singkat karena perembesan darah pada galea dan lapisan jaringan ikat yang renggang. PASGs dan medical antishock trousers(MASTs). tetapi sebaiknya dressing tambahan digunakan karena apabila dressing dilepaskan maka formasi clot yang telah terbentuk dapat terganggu dan menyebabkan perdarahan kembali. 8% hingga 9% dari berat badan. Tekanan langsung kemudian dapat dilakukan pada luka untuk 70 . Akan tetapi. hal tersebut hanya direkomendasikan apabila penekanan langsung pada luka saja tidak efektif 1. Sebagai spesialis bedah mulut dan maksilofasial.

Perdarahan internal dapat dikontrol dengan 71 . Ketika pasien sudah stabil. Pemeriksaan fisik dan radiografis sangat menolong dalam mengidentifikasi hemoragi ke dalam area tersebut.mengontrol hemoragi dan meminimalkan pembentukan hematoma. Epinephrine dan cairan trombin dapat juga ditambahkan pada gauze packing dan kepala dapat juga dinaikkan untuk mendapatkan hemostasis. Pengontrolan perdarahan internal tidak dilakukan pada saat survei primer. dan ekskremitas. Daerah internal yang potensial untuk tempat terjadinya perdarahan termasuk rongga dada. dan tulang-tulang kecil lainnya 125 ml hingga 250 ml. dapat dikontrol dengan tekanan dari gauze packing selama beberapa waktu. fraktur femur 500 ml hingga 1000 ml. merupakan cara yang terbaik untuk mengatasi perdarahan yang tidak dapat dikontrol dengan menggunakan metode yang telah disebutkan di atas 1. retroperitoneum. Hipovolemi yang terus menerus tanpa adanya perdarahan eksternal atau ke dalam rongga dada dapat menunjukkan adanya hemoragi abdominal atau hemoragi pada daerah fraktur. ligasi dari arteri karotis eksternal mungkin diperlukan. jahitan dapat dilepaskan dari luka dan penutupan lapisan luka secara kosmetik dapat dilakukan 1. visualisasi yang adekuat dari pembuluh darah diperlukan.jika tersedia. abdomen. Akan tetapi. Penjepitan tanpa melihat pembuluh darah dapat menyebabkan perdarahan dari pembuluh darah dan jaringan lunak. Fraktur pelvis dapat menyebabkan kehilangan darah sekitar 1000 ml sampai 2000 ml. Pada kasus yang langka. Kebanyakan hemoragi dari fraktur fasial dapat dikontrol dengan tekanan langsung atau packing. Ketika pengontrolan langsung pembuluh darah diperlukan. Perdarahan internal arteri maksilaris yang disebabkan fraktur dinding posterior maksila. fraktur tibia 250 ml hingga 500 ml. yang dapat terjadi pada fraktur Le Fort I dan II. Fraktur nasal dan tengah wajah dapat menyebabkan robeknya arteri ethmoidal. Embolisasi dari perdarahan dengan cara intervensi secara radiologi oleh radiologis . kecuali jika hemoragi tersebut menyebabkan keadaan yang merugikan pada sistem pulmonal dan kardiovaskular. sekaligus dapat menyebabkan kemungkinan rusaknya nervus. hal ini biasanya tidak efektif jika digunakan sendiri saja dikarenakan sirkulasi kolateral dari wajah.

Cara kedua untuk memperoleh hemostasis adalah dengan menggunakan panas untuk menyebabkan ujung dari pembuluh darah yang terpotong sehingga bersatu (koagulasi termal). Ahli bedah dan asisten sebaiknya “mencolek” bukan mengusap dengan spons untuk menghilangkan darah yang terekstravasasi. Hal ini biasanya diperoleh dengan mengunakan fabric sponge untuk memberikan tekanan pada pembuluh darah atau meletakkan hemostat pada pembuluh darah. yang pada akhirnya menyebabkan koagulasi. Panas biasanya diaplikasikan melalui tegangan listrik yang dipusatkan oleh ahli bedah pada pembuluh yang mengeluarkan darah dengan memegang pembuluh darah dengan instrumen metal. tip cauter dan intrumen metal lainnya yang disentuh oleh tip kauter tidak boleh menyentuh pasien pada titik lainnya selain pada area pembuluh darah yang berdarah. refraksi. Jika tidak. Cara ketiga untuk membantu terjadinya hemostasis bedah adalah dengan pengikatan dengan benang. Kedua. atau dengan menyentuh pembuluh darah dengan tip elektrokauter. Beberapa pembuluh darah kecil kebanyakan hanya memerlukan tekanan selama 20 hingga 30 detik. Syarat yang ketiga untuk koagulasi termal adalah pembuangan semua darah atau cairan yang terakumulasi di sekitar pembuluh darah yang akan dikauter. oklusi vaskular melalui mekanisme perlindungan. Mengusap dapat membuka kembali pembuluh darah yang telah tersumbat dengan beku darah 5. Cairan bertindak sebagai penghalang energi dan mencegah sejumlah besar panas mencapai pembuluh darah untuk menyebabkan penutupan 5. Jika pembuluh darah besar telah terpotong. Kedua metode tersebut menyebabkan stasis dari darah pada pembuluh darah. sehingga arus listrik dapat memasuki tubuh. setiap 72 . Pertama.menggunakan fiksasi sekunder dari fraktur. seperti hemostat. Hemostasis luka dapat diperoleh dengan empat cara. pembentukan clot. pasien harus berhubungan dengan tanah. Yang pertama adalah dengan membentuk mekanisme hemostasis natural. dan pembuluh darah besar memerlukan 5 hingga 10 menit penekanan yang kontinu. arus listrik dapat mengalir ke arah yang tidak diinginkan dan menyebabkan luka bakar. dan operasi eksplorasi 1. Tiga kondisi harus dipenuhi untuk memenuhi persyaratan penggunaan koagulasi termal.

seperti trombin atau kolagen. dua hemostat dapat di letakkan pada pembuluh darah. pertama kali harus ditujukan pada penyelamatan jiwa dengan memperhatikan jalan nafas dan pernafasan. benang diikatkan pada setiap ujungnya dan hemostat dilepaskan 5. 73 . seperti epinefrin. Ahli bedah kemudian mengikat pembuluh darah tersebut dengan benang non-resorbable. pada luka 5. Jika pembuluh darah dapat dibebaskan dari jaringan ikat sekitarnya sebelum dipotong. Circulation). Perawatan penderita cedera akut dengan faktur pada daerah wajah. E. serta kontrol perdarahan 6. Penanganan perdarahan di tempat kecelakaan diutamakan pada perdarahan eksternal. Perdarahan yang keluar dari hidung dapat diatasi dengan meletakan tampon di lubang hidung depan dan belakang 6. PENANGANAN SEBELUM KE RUMAH SAKIT Tujuan penanganan sebelum penderita dibawa ke rumah sakit yaitu menyelamatkan jiwa penderita sebelum mendapatkan penanganan yang lebih lanjut di rumah sakit 6. dan sirkulasi (Air ways.ujungnya dijepit dengan menggunakan hemostat. Ketika pembuluh darah telah terputus. Pada perdarahan internal hanya dapat diatasi di rumah sakit. dengan jarak yang cukup di anataranya untuk memotong pembuluh darah. Cara mengatasinya dengan melakukan penekanan pada luka dan jika perdarahan masih berlangsung terus dilakukan pengikatan (ligasi). Perdarahan pada penderita dengan trauma oromaksilofasial dapat terjadi secara internal maupun eksternal. pada luka atau dengan pengaplikasian prokoagulan. Cara keempat untuk mendapatkan hemostasis adalah dengan meletakkan substansi vasokonstriktif.. Breathing..

atau perdarahan berat melebihi 50 cc permenit. Untungnya hanya dengan melakukan klem saja sudah cukup diinduksi untuk membuat beku darah. maka diklem dengan hemostat. maka dapat diputuskan untuk meneruskan atau menghentikan prosedur 4. Apabila tersedia.Gambar 1. Jika keluarnya darah sangat deras. Sesudah mengontrol perdarahan Intra-operatif. Pemberian cairan intravena dapat diberikan jika transportasi diperkirakan memerlukan waktu lebih dari 30 menit. Penekanan diperoleh dari penekanan langsung dengan jari atau dengan kasa. misalnya terpotongnya arteri. 74 . Penanganan Perdarahan Hidung6 Penanganan awal apabila terjadi perdarahan arteri adalah dengan penekanan. Melakukan klem pada daerah perdarahan dimulut sangat sukar dan melakukan pengikatan (ligasi) bahkan lebih sulit lagi. Sering dengan hanya melakukan sudah bisa berhasil mengatasi perdarahan. Pergunakan cairan hipertonik 4.dapat digunakan elektrokoagulasi dari pembuluh yang diklem sehingga tidak perlu diikat Alternatif yang lain yang biasa digunakan hanya pada pembedahan adalah menggunakan klip hemostatik pada pembuluh darah.

dan anggota gerakan lainnya. Untuk penderita dengan trauma oromaksilofasial pendekatan awal sedikit berbeda dengan cedera yang lain. hidung. perkiraan jumlah darah yang dikeluarkan dan waktu yang digunakan untuk mengontrol perdarahan. fraktur maksila). Penjepitan pembuluh darah dengan arteri klem6 Faktor yang mempengaruhi keputusan ini adalah kondisi fisik dan mental pasien (tanda-tanda vital). saraf. nasofaring (dari basis cranii) atau perdarahan dari hidung (fraktur nasalis. keadaan-keadaan itu harus ditangani lebih dahulu oleh karena mengancam jiwa penderita 1.Gambar 2. sebelum melakukan pemeriksaan tanda-tanda vital. misalnya trauma mengenai cerebro kardiovaskuler. 75 . sinus paranasalis. Seringkali trauma oromaksilofasial terjadi bersamaan dengan trauma pada bagian tubuh lain (trauma multiple). Perhatian harus segera diarahkan terhadap saluran pernafasan dan kontrol perdarahan eksternal. Perdarahan dari fraktur oromaksilofasial dapat terjadi perdarahan pada rongga mulut. Penanganan perdarahan eksternal pada trauma oromaksilo fasial sudah harus dilakukan saat sebelum tiba di rumah sakit. hendaknya dilakukan bersamaan dengan penanganan jalan nafas. dada. Penjepitan pembuluh darah secara acak harus dihindari karena dapat membahayakan pembuluh darah balik dan saraf 1. Jika belum dilakukan. Pada keadaan ini kita mendahulukan penanganan trauma yang paling mengancam jiwa 1.

dan perabaan pada daerah akral dari ektremitas. analisa gas darah dan pemeriksaan urin rutin (pada pasien dengan trauma). Tabel 3. Klasifikasi perdarahan1 KELAS I Kehilangan Darah (mL) % Kehilangan Darah < 15 % < 750 KELAS II 750-1500 KELAS III 1500-2000 KELAS IV > 2000 15-30% > 40% 76 . penyebab syok yang paling sering dan semua jenis syok memiliki komponen hipovolemik 1. Syok hipovolemik adalah suatu kondisi medis yang timbul akibat penurunan sirkulasi volume darah. PT. Perdarahan adalah sebab tersering dari syok pada trauma. Cl. HCO3. Untuk cukup atau tidaknya aliran darah dapat diketahui dengan memperhatikan keadaan-keadaan seperti tensi yang menurun. pancreatitis. Perdarahan yang banyak bisa mengakibatkan syok hipovolemik. dan hematoma). perdarahan GIT.5 ml/kg BB/jam1. kehilangan cairan dan elektrolit (muntah. nafas yang cepat. Selain itu golongan darah dan cross matched juga perlu diperiksa1. kreatinin dan kadar glukosa). K. takikardia. dan asites) 1. Pemeriksaan laboratorium penunjang yang dilakukan untuk menetapkan diagnosis adalah pemeriksaan darah lengkap. APTT. perubahan tanda vital karena adanya mekanisme kompensasi. BUN.F. kehilangan darah 10-15%. denyut nadi yang melemah. pemeriksaan elektrolit (seperti Na. Gejala syok hipovolemik antara lain adalah inadekuat perfusi organ. Etiologi syok hipovolemik adalah kehilangan darah/perdarahan (trauma. ketolamin (+) dingin. ekstrimitas lembab dan keterlambatan capillary filling. diare. urine output <0. SYOK HIPOVOLEMIK Syok adalah ketidakmampuan sirkulasi darah untuk memenuhi kebutuhan metabolisme jaringan. kehilangan Plasma (luka bakar). dan hampir semua penderita multi-trauma ada syok. keringat. Resusitasi cairan dapat diberikan sesuai dengan keadaan klinis1.

Kristaloid efektif. apabila tidak terdapat peningkatan permeabilitas kapiler dan harga cairan ini murah1. Pemberian pertolongan pertama dan resusitasi cairan yang tepat sangat membantu dalam mengembalikan perfusi jaringan yang adekuat. Namun koloid efek udema parunya kurang dan harga cairan ini mahal1. Menghentikan perdarahan mutlak harus dilakukan1. Selain itu juga dapat memberikan efek pada ekspansi cairan intravaskular tetapi menyebabkan ekspansi berlebihan pada cairan interstisiel.Nadi Tekanan Darah Tekanan Nadi Capilary Refill Respirasi Urine (ml/jam) Status Mental Resusitasi Cairan N N N N/(postural) > 120 Menurun > 140 Menurun N ≤ 3o Memanjang Memanjang Memanjang N ≥30 cc/mnt 20-30 20-30 cc/mnt > 30 5-15 cc/mnt > 35 Tidak ada urine Sedikit cemas Cemas Sangat cemas dan bingung Bingung atau letargi Kristaloid & Darah Kristaloid Kristaloid Kristaloid & Darah Apabila darah belum tersedia pada kelas III dan IV sementara dapat diganti dengan tambahan 0.5 L (PP) dan 2. tensi dan urine). 1. tangan/kaki.0 L (RL).0 L (RL) untuk kelas III. napas. Koloid sangat baik untuk ekspansi volume plasma. denyut nadi. 77 .0 L (PP) dan 3. Keberhasilan terapi dapat dilihat dari perbaikan gejala klinik tersebut di atas (kesadaran. dan merupakan pilihan yang terbaik untuk peningkatan Cardiac Output dan volume O2. Pilihan tipe cairan yang digunakan adalah koloid dan kristaloid. muka. Kristaloid sangat baik untuk dehidrasi (kehilangan cairan ekstraseluler) atau perdarahan ringan.

dan diuresis. 78 . kemudian pengecekan elektrolit dan dikoreksi bila terdapat kelainan lainnya 1. NUTRITION Tujuan yang harus dipenuhi dalam pemberian cairan adalah menganti cairan yang hilang selama trauma atau pembedahan. Sedangkan penatalaksanaan untuk kehilangan cairan gastrointestinal dapat diberikan 1-2 liter NaCl 0. Pada orang dewasa 2–3 liter RL selama 20–30 menit untuk memulihkan tekanan darah. serta penggantian cairan yang hilang dilakukan melalui pipa lambung. respirasi dsb.drainase toraks.9% atau RL) atau Koloid (Dextran) secara I.V. GI LOSS) 1.. Maksud utamanya adalah mengembalikan volume intravaskular dan mendapatkan perfusi jaringan yang adekuat. dengan pemberian 1-2 liter kristaloid (NaCl 0. fistula usus. dan memonitor tanda vital. 2.V. Pemasangan 2 jalur Infus I.9% dalam 30–60 menit. udema paru diperhatikan. tekanan vena sentral. Pemberian WB atau PRC hingga HT> 30 % dengan 1-2 unit fresh frozen plasma (FFP) tiap 5 unit darah. drainase peritonium.Bagan 1. URINE FAECAL ) 2. dalam 30 –60 menit. Resusitasi Cairan1 FLUID THERAPY RESCUCITATION MAINTENANCE COLLOID CHRYSTALLOID ELLECTROLYTES NUTRITION REPLACE ACUTE LOSS (HEMORRAGHE. Penatalaksanaan pada perdarahan akut adalah sebagai berikut 1: 1. REPLACE NORMAL LOSS ( IWL.

produktif urine 1-2cc/kgBB/jam. gangguan enzim dan metabolisme serta kelemahan otot. hasil serial pemeriksaan kadar Hb dan Ht. sumber perdarahan telah teratasi atau belum. dan terhambatnya penyembuhan luka gangguan motilitas usus. H. Respon neuroendokrin. jumlah perdarahan yang terjadi. dan usia penderita1. deformitas congenital. Oleh karena itu pasien dengan trauma oromaksilofasial memerlukan intervensi nutrisi dalam rawat inap di rumah sakit 7. jumlah cairan kristaloid dan koloid yang telah diberikan. keadaan hemodinamik (tensi dan nadi). Prosedur bedah mulut dan maksilofasial dapat mengeliminasi permasalahan ini dengan suatu prosedur operasi. akral yang sianosis telah berubah menjadi merah. PENGELOLAAN NUTRISI PENDERITA TRAUMA OROMAKSILOFASIAL Diantara banyak fungsi rongga mulut adalah sebagai jalan masuk makanan menuju saluran cerna (gastrointerstinal tract). Pemberian transfusi darah tetap harus menjadi bahan pertimbangan berdasarkan keadaan umum penderita (kadar Hb dan Ht). bagian-bagian akral yang terjadinya lembab sudah jadi kering. Kemudian respon eferen dimulai pada hipotalamus. meliputi susunan saraf pusat dan susunan saraf tepi. akral yang dingin telah jadi hangat. terutama jaras spinothalamicus dan formatioretikularis dengan pengolahan akhir timbul pada medula oblongata. Kemampuan seseorang dalam mengkonsumsi makanan melalui oral dapat berubah dikarenakan neoplasia. infeksi. kesadaran sudah membaik.namun prosedur ini juga membatasi kemampuan mulut sementara waktu. Aktivitas SSO merangsang kenaikan simpatis dimana kadar katekolamin plasma meningkat 7. terjadinya edema. Hal ini berakibat menurunnya daya tahan tubuh. thalamus dan hipothalamus. merupakan suatu refleks neurofisiologi yang dirangsang oleh proses trauma. dan injuri (trauma). 79 .Beberapa kriteria perfusi jaringan yang telah baik antara lain adalah nadi <100 x/menit. hipofise dan SSO. Pada keadaan trauma (stress dan sepsis) tubuh mengalami rangkaian perubahan hormonal yang menambah laju metabolisme.

Fase ini akan memanjang bila terjadi perdarahan pasca bedah. glukagon dan kortisol dalam plasma menurun. Adanya penghambat simpatis terhadap pengeluaran insulin dari pankreas serta pengeluaran glukokortikoid menambah resistensi insulin di jaringan perifer. Hormon pengatur stres antara lain: katekolamin. Phase Flow (Katabolisme) Ditandai oleh oksidasi protein otot untuk menghasilkan glukagon yang sangat penting untuk pembakaran di otak dan jaringan rusak yang sedang sembuh. Kebutuhan kalori pada phase ini sekitar 5000 kkal. yaitu7: 1. meliputi peningkatan nadi (takikardia). Kortisol tubuh akan meningkat dan demikian pula kadar gula darah. Pada phase ini metabolisme tubuh akan menurun serta tubuh kehilangan sensitivitas terhadap sekitar. kenaikan curah jantung (cardiac output).Respon kardiovaskuler. 80 . Phase Ebb Ditandai dengan terjadinya hipovolemi dengan rangsangan adrenal dan simpatis yang berlangsung sekitar 24 jam. katekolamin serta glukagon. Phase Anabolisme atau Konvalesen Pada phase ini tubuh mulai melakukan pemulihan pada sel-sel yang mengalami kerusakan akibat katabolisme sehingga diperoleh kalori yang cukup untuk memenuhi kebutuhan pada hari ke 7 – 10 bisa diberikan. 3. Respon metabolik mencakup kenaikan kadar glukosa dan asam lemak bebas (FFA) plasma serta rangsangan pengeluaran kortisol. Fase ini berlangsung sekitar 3 x 24 jam. Sumber energi berasal dari glikogen dan trigliserida untuk menghasilkan glukosa dan asam lemak. Kadar gula darah biasanya menurun < 200 mg % bila nutrisi tidak adekuat maka jaringan tubuh akan mulai dikorbankan untuk memenuhi kebutuhan energi. mobilisasi darah dari perifer serta vasokonstriksi perifer7. Ada tiga fase respon metabolik trauma. 2. Ketiga hormon ini berkombinasi untuk meningkatkan glukoneogenesis serta lipolosis untuk mobilisasi cadangan energi.

rujukan dan intervensi nutrisi7: 1. Setidaknya penderita harus ditentukan 81 . KEBUTUHAN NUTRISI PADA PASIEN TRAUMA OROMAKSILOFASIAL Penentuan status gizi penderita penting untuk menentukan jumlah. lama. ataupun gangguan asupan nutrisi. Setiap pasien dengan penyakit kronis sehingga asuhan nutrisi merupakan komponen penting dalam perawatannya. malnutrisi. Pasien. apakah parentel ataupun enteral 4. penyakit hati.0) yang disertai defisiensi nutrisi 6. Setiap pasien dengan penurunan bert badan yang bermakna sebelum masuk rumah sakit 7. penyakit paru obstruktif yang menahun ( PPOM ) dengan penurunan berat badan. 5. dispilidemia. penyakit arteri koronaria. Setiap pasien yang dilaporkan pengunaan megadosis suplemen nutrient atau yang sama sekali menghindari konsumsi kelompok makanan tertentu dari dalam dietnya selama waktu yang lama ( > 1 bulan) I. 3. penyakit kanker dengan penurunan berat badan . Setiap pasien dengan anemia nutrisi Setiap pasien dengan deplesi simpanan protein yang bermakna ( misalnya albumin < 3. fraktur dan infeksi HIV. seperti luka bakar. Setiap pasien yang memerlukan dukungan energi khusus. 2. Setiap pasien yang mengalami trauma atau sakit dengan kondisi yang kritis. penyakit hipertensi yang baru didiagnosis. malnutrisi. dan komposisi yang harus diberikan.pasien tersebut mencakup gagal ginjal baik akut maupun kronis. diabetes mellitus.Lemak diperlukan untuk memenuhi kebutuhan asam lemak bebas dan menambah kalori dimana jumlah cairan dibatasi. Berikut adalah pasien – pasien dengan kondisi yang memerlukan konsultasi.

apakah termasuk malnutrisi ringan. sedang atau berat. f. hiperkeratosis. rabun senja : Cheilosis. glossitis. kelainan pada gigi Abdomen : Hepatomegali Rectum : Warna feses Neurologis : Neuropathy perifer Ekstrimitas : Ukuran otot. h. rash. atrofi mukosa. folikel. kerontokan : Keratokonjunctivitis. 3. Rambut Mata Mulut : Kualitas. g. Kulit : Kualitas. deformitas dan kuku b. tekstur. Pemeriksaan klinis dan laboratorium Pemeriksaan fisik. 2. kekuatan otot. Operasi yang baru dilakukan seperti gastrectomy atau reseksi ileum dapat mempredisposisi malabsorpsi dan terjadi defisiensi vitamin ataupun mineral. Penyakit yang diderita misalnya pada hati dan ginjal seringkali berhubungan dengan defisiensi protein. vitamin dan trace elemen. e. meliputi: a. edema 82 . c. Tahapan dalam menilai status gizi adalah sebagai berikut 7: 1. d. tekstur. Anamnesa Penyakit kronis juga alkoholisme dapat berhubungan dengan malnutrisi energi dan protein juga disertai dengan devisiensi vitamin dan mineral.

1 <100 <100 <40 <70 <75 > 2%/week Transferrin (mg/dL)2 Total lympochyte count (cells/μL)2 Creatinine/height Index (%)3 Ideal body weight (%) Usual body weight (%) Weight loss/unite time Skin tests (No.3.2/4 (weak) 0/0 (anergic) 7.90 85 .95 < 5%/month <7.5%/3 months < months Moderate 2.5 29. 83 .7 100-200 800-1200 30-60 70-80 75-85 < 2%/week < 5%/month < 10%/6 months < 10%/6 months 1 . Klasifikasi Malnutrisi Clinical and Laboratory Parameters Albumin (g/dL) 2 Extent of Malnutrition Mild 2. placed) Normal antrophometric measurements Tricep skin fold (mm)4 Midarm circumference (cm) 4/4 (normal) Male 12.2 200 .5 28.3 Female 16.250 1200 . MENGHITUNG KEBUTUHAN NUTRISI Kebutuhan energi total dari seorang pasien dalam keseimbangan metabolik adalah sama dengan pemakaian energi total ( Total Energy Expenditure) yang meliputi kebutuhan basal. reactive + No.1-2. energi yang terpakai selama proses asimilasi nutrien dan energi yang terpakai pada kerja fisik7. peningkatan kebutuhan energi yang disebabkan penyakit.5%/3 Severe <2.2000 60 .8 .80 80 .5 J.Tabel 4.

ACTIVITY AND INJURY FACTOR Activity Factors (AF) 1. Untuk menghitung kebutuhan energi total.0 – 1.0 x height (cm) – [6.2 1.67 x age (yrs) = _______kcals/day Wanita BEE = 665.1 + [9.13 1.2 – 1.68 x age (yrs) = _______kcals/day BEE juga dapat ditetapkan dengan menggunakan 12Lcal/lb untuk pria dan 11 kcal/lb untuk wanita. per 1o C Skeletal trauma Mild to moderate infection Major abdominal/thoracic surgery 84 . Morse.3 Injury Factors (IF) 1. AZ.85 x height (cm) – [4.4 kcal/kg untuk pria and 5.Kebutuhan kalori basal didapat dengan penghitungan BMR berdasarkan persamaan Harris-Benedict.0 kcal/kg untuk wanita7.1 – 1.2 1.47 + [13. kebutuhan energi dasar ( Basal Energy Expenditure/BEE) harus dikaitkan dengan Activity Factor (AF) dan Injury Factor (IF)/stress factor (L.15 – 1. atau 5.5 Confined to bed Ambulatory Non-stressed on ventilator Congestive heart failure Minor surgery Fever.56 x weight (kg)] + [1.4 1.57 x weight (kg)] + [5.13 1.2 1. Maricopa Medical Center.1 – 1.2 1. Phoenix. 1993) 7. Menurut persamaan Harris – Benedict laju metabolisme basal bisa dihitung dengan menggunakan persamaan sebagai berikut7: HARRIS–BENEDICT METHOD FOR DETERMINING ENERGY REQIUREMENTS Pria BEE = 66.3 – 1.

Bila tidak mendapat dukungan nutrisi yang adekuat.55 1. tidak disertai demam. malnutrisi berat. infeksi berat. 30 kkal/kg BB/hari : kebutuhan basal. 40 kkal/kg BB/hari : malnutrisi sedang. Secara keseluruhan. berat badan 40 kg.D Syttrar yaitu7: 1. 85 .2 Injury Factor trauma kepala = 1. Tujuan utama terapi dukungan nutrisi adalah menjaga agar penurunan berat badan seminimal mungkin dengan harapan dapat mencegah komplikasi dan mengurangi morbiditas maupun mortalitas7.5 – 1. penderita dirawat karena perdarahan epidural.6 1.28 kcal/hari Terdapat pula cara estimasi kebutuhan kalori yang sederhana dengan menggunakan rumus 3–4–5 dari I.4 – 1.1.5 = 2114. respon fisiologis terhadap trauma merupakan peningkatan proses biokimia dan metabolik normal. pasca bedah dengan penyulit.56 x 40) + (1. 50 kkal/kg BB/hari : luka bakar > 40%. BEE = 655.6 x 1.5 1. pasien akan banyak kehilangan berat badan dan terjadi komplikasi yang seringkali fatal. cancer Sepsis Jadi Total kalori yang dibutuhkan pasien = BEE x AF x IF Contoh perhitungan : Seorang wanita. sehingga biasanya terjadi peningkatan kebutuhan nutrisi yang cukup besar.85 x 150) – (4.6 1. sepsis.6 kcal/hari Activity Factor = 1. tinggi badan 150 cm.4 – 1. mempertahankan berat badan. usia 30 tahun. pasca bedah ringan/sedang. 3.1 + (9.2 x 1. 2.8 Multiple trauma Closed head injury Stressed ventilator dependent Liver failure.5 Total energi yang dibutuhkan = 1174.35 – 1.68 x 30) = 1174.

sedangkan bila tidak di tempat tidur. faktor stress. Pada trauma terjadi katabolisme protein yang relatif konstan yaitu 10-20% dari keluaran energi. Lemak berfungsi sebagai sumber energi. sehingga besarnya faktor stress untuk trauma adalah 31-50%. Faktor stress trauma multipel adalah 50%. Untuk memudahkan. faktor stress dikategorikan dalam 3 kelompok. dengan rasio kalori non-nitrogen : nitrogen = 100:17.5-2 g/kgBB/hr. SDA dari makanan tergantung jenis makanan yang diberikan. dan derajat stress berat (51%). aktivitas fisik dan spesific dynamic action (SDA). Rumusan yang dugunakan adalah sebagai berikut 7: KK = KKB + FS + AF + SDA KK KKB FS AF SDA = Kebutuhan kalori total = Kebutuhan kalori basal = Faktor stress = Aktivitas fisik = Spesific dynamic action Faktor stress dinilai berdasarkan penilaian status gizi dan status metabolik. derajat stress sedang (31-50%). yaitu derajat stress ringan (10-30%). Kebutuhan protein bagi pasien dengan trauma bila tidak terdapat gangguan ginjal dan hati adalah 1. SDA nutrisi parenteral adalah 0% sedangkan SDA untuk formula enteral dan makanan peroral kira-kira 10-20%7. aktivitas fisik adalah 20%. 86 .8-1 g/kgBB/hr) tidak mencukupi kebutuhan pasien yang mengalami trauma oleh karena adanya peningkatan protein turnover. perlu diberikan asam lemak esensial sebanyak 4-8% dari kalori total sehari7. Untuk mencegah terjadinya defisiensi asam lemak esensial.Kebutuhan energi/kalori total sehari dapat dihitung dari penjumlahan kebutuhan kalori basal (BMR). Trauma digolongkan ke dalam stress sedang. Apabila pasien harus di tempat tidur. Masukan protein untuk orang sehat (0. aktivitas fisik hanya 10%. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pemberian emulsi lemak sebesar 30-40% dari kalori total merupakan jumlah yang optimal.

Pada trauma. sedangkan saluran cerna bagian bawah terutama mengabsorpsi air. Kadar kalium. Hati merupakan organ yang penting pada proses degradasi zat-zat gizi karena merupakan organ utama 87 . Banyaknya karbohidrat yang diberikan adalah kebutuhan kalori total dikurangi yang berasal dari lemak. Garam fisiologis dan elektrolit intrasel harus diberikan dalam jumlah yang adekuat. seperti tahap pencernaan dan penyerapan dilakukan oleh organ saluran cerna. Untuk dapat melakukan peran dan fungsinya dalam tubuh. pengeluaran zat sisa terutama oleh ginjal dan saluran cerna bagian bawah. terjadi peningkatan ekskresi seng (zinc) yang dianggap berasal dari katabolisme di jaringan otot.Karbohidrat juga berfungsi sebagai sumber energi. 2. diare. Oleh karena terjadi peningkatan metabolisme. fosfor dan magnesium dalam plasma dan seluruh tubuh perlu dipertahankan agar tetap normal supaya didapat respon yang diharapkan dengan pemberian dukungan nutrisi7. atau selang makanan. mineral dan beberapa vitamin. kemudian ditambahkan bila terdapat peningkatan insensible loss melalui keringat. Pencernaan (digestion) Penyerapan (absorption) Perubahan (degradation) Penggunaan oleh organ / sel (utilisation) Pengeluaran zat sisa (excretion) Masing-masing tahap metabolisme dilakukan oleh organ-organ yang berbeda. Saluran cerna bagian atas terutama mengabsorpsi zat-zat gizi utama. 4. penggunaan oleh semua organ. maka kebutuhan vitamin B meningkat. Kebutuhan cairan adalah ± 1500 ml per m2 luas permukaan tubuh per hari. sehingga pasien trauma perlu mendapatkan suplementasi trace elemen ini7. zat-zat gizi mengalami proses metabolisme secara bertahap yaitu 7: 1. Kebutuhan tiamin dan niasin berkaitan dengan masukan kalori. Keadaan ini dapat menyebabkan terjadinya defisiensi seng. 3. Fungsi utama saluran cerna adalah pencernaan dan penyerapan dengan mensekresi enzim-enzim spesifik untuk masing-masing zat gizi. Pada pasien dengan trauma. 5. karbohidrat merupakan 40% dari kalori total sehari7. Perubahan terutama dilakukan oleh hati.

PEMBERIAN NUTRISI PADA PASIEN TRAUMA OROMAKSILOFASIAL Terapi nurisi enteral adalah terapi pemberian nutrisi melalui saluran cerna dengan menggunakan selang/kateter khusus. Lebih efektif Nutrisi enteral lebih efektif. K. Hati mensintesis beberapa protein plasma yang penting dan garam empedu serta berperan dalam detoksikasi.yang akan memetabolisme zat-zat gizi dan mensekresi enzim yang berperan dalam metabolisme karbohidrat. 2. Gangguan penyekit hati dapat dikelompokkan menjadi penyakit hati akut seperti pada hepatitis virus dan penyakit hati kronis seperti pada sirosis hati. protein dan lemak serta bertanggung jawab terhadap 20% metabolisme basal. Bersifat fisiologis Nutrisi enteral bersifat fisiologis. Ginjal merupakan organ ekskresi yang paling besar dan juga sebagai organ pengatur keseimbangan cairan tubuh. Gangguan pada ginjal akan menyebabkan gangguan pada ekskresi sisa-sisa hasil metabolisme terutama metabolisme protein serta gangguan cairan dan elektrolit 7. sehingga fungsi dan struktur alat cerna tetap dipertahankan. nutrisi parenteral total dapat menyebabkan atrofi mukosa usus halus dan pankreas terutama pada pemberian yang lama karena makanan masuk ke dalam hati melampaui alat cerna (by pass dari luar ke dalam hati). Keuntungan nutrisi enteral dibandingkan parenteral antara lain adalah sebagai berikut9: 1. cara pemberian dapat melalui hidung-lambung (nasogastritic route) atau hidung–usus (nasoduodenal atau naso jejunal route). Ini terbukti dengan kenaikan berat badan yang cepat dan keseimbangan N yang cepat menjadi positif. sebab makanan masuk ke dalam tubuh melalui saluran cerna yang normal. Selain itu. 88 . Sebaliknya. Pemberian nutrisi juga bisa dilakukan dengan cara bolus atau cara infus lewat pompa infus enteral.

4. Kalori tinggi mudah dicapai Dengan nutrisi enteral kebutuhan kalori tinggi lebih dari 3000 kkal/hari dapat dengan mudah dipenuhi yang dengan parenteral amat sulit mencapainya tanpa komplikasi dan pengawasan yang ketat.5% dari total karbohidrat. Biaya murah Rata-rata nutrisi enteral lebih murah 10-20 kali dari nutrisi parenteral. Itupun hanya dapat dilakukan oleh dokter yang terlatih. Selain itu. Nutrisi parenteral selain membutuhkan pemantauan yang ketat. atau luka bakar. trauma ganda. Tekniknya mudah Pemasangan sonde lambung dapat dengan mudah dilakukan oleh setiap dokter maupun perawat tanpa persyaratan sterilitas yang ketat. 3. hematom. Untuk menghindari intoleransi laktosa yang sering terjadi pada penderita malnutrisi sebaiknya suatu nutrisi enteral kurang atau tanpa mengandung laktosa. komplikasi-komplkasi berupa sepsis. pneumothoraks serta gangguan metabolik berupa hipoglikemi atau hiperglikemi tak jarang ditemukan. pemberian kalori tinggi dengan nutrisi parenteral sering menimbulkan perlemakan hati yang tidak dijumpai pada nutrisi enteral. Syarat-syarat nutrisi enteral adalah9: 89 .peningkatan imunitas tubuh akan cepat ditemukan pada pemberian nutrisi enteral. 5. 6. Nutrisi enteral yang bebas dari bahan-bahan yang mengandung purin dan kolesterol. atau paling tinggi kandungan laktosanya hanya 0. Kalori tinggi ini diperlukan pada penderita dengan hipermetabolik seperti sepsis. Komplikasi kurang Komplikasi nutrisi enteral jauh lebih rendah bila dibandingkan nutrisi parenteral. trombosis. Sedangkan pemberian parenteral harus diberikan melalui vena besar yang letaknya profundal dengan sterilitas tinggi.

jumlah kalori sudah dapat tercapai. sesuai dengan osmolaritas cairan ekstraseluler. molekulmolekulnya berukuran kecil.1. 90 . Sehingga. maka ia harus berbentuk cair agar mudah melalui sonde. lemak. 5. Kepadatan kalori yang ideal adalah 1 kkal/ml cairan. Dengan kata lain. vitamin. asam amino. elektrolit dan elemen-elemen lain sesuai dengan jumlah kebutuhan. Tanpa atau kurang mengandung serat dan laktosa Suatu nutrisi enteral hendaknya memiliki sedikit atau tanpa mengandung serat agar efektif dan efisien. Memiliki kepadatan kalori tnggi Karena nutrisi enteral harus diberikan melalui sonde kecil. dengan volume yang tidak terlalu besar. osmolaritas yang ideal adalah 350-400 m Osmol. maka ia harus memiliki kepadatan kalori tinggi. Mudah diabsorpsi Bahan-bahan baku suatu nutrisi enteral seharusnya terdiri atas komponenkomponen yang siap diabsorpsi atau paling tidak hanya sedikit memerlukan kegiatan pencernaan untuk dapat diabsorpsi. 2. Oleh karena itu. dalam jumlah minimal untuk kebutuhan sehari (2000 kkal) harus sudah mengandung semua komponen nutrisi esensial seperti protein. Kandungan nutrisinya seimbang Artinya. Memiliki osmolaritas yang sama dengan osmolaritas cairan tubuh Suatu nutrisi enteral yang memiliki osmolaritas yang tinggi mudah menimbulkan diare sebab cairan tubuh akan ditarik masuk ke dalam lumen usus. 4. Agar dalam bentuk cair ini nutrisi enteral tetap memiliki kalori yang cukup. Nutrisi enteral yang banyak mengandung serat akan bersifat bulk yang pada gilirannya akan meningkatkan frekuensi defekasi. 3.

PVC atau lateks. Teknik pemberian nutrisi enteral Teknik pemberian secara tetes merupakan yang paling aman. kadar cairan nutrisi enteral sebaiknya dinaikkan secara bertahap. Untuk menjaga ketepatan dan ketetapan tetes cairan nutrisi enteral dapat digunakan portable pump. terutama pada penderita yang kesadarannya menurun atau pada penderita yang berbaring. Pemilihan sonde Sebelum tahun 1980-an sonde yang tersedia umumnya terbuat dari polietilen. Saat ini sonde-sonde yang dipakai untuk nutrisi enteral terbuat dari silikon atau poliuretan yang selain diameternya kecil (2. Sonde yang menjadi kaku akan sangat mengganggu penderita karena selain terasa tidak enak juga dapat menimbulkan erosi atau perlukaan saluran napas atau saluran cerna. sambil mengawasi dan mengevaluasi keluhan maupun gejala-gejala yang timbul. juga tidak tahan terhadap pengaruh cairan lambung maupun duodenum. Guna mengurangi komplikasi-komplikasi di atas. Dimulai dengan pengenceran ½ pada hari pertama.5 mm). sonde mudah menjadi kaku setelah zat pelemasnya habis (setelah 24 jam pemakaian). Pola lama yang memberikan secara bolus mengandung banyak komplikasi berupa muntah. kelemasan dan kelenturannya bertahan lama serta tahan terhadap pengaruh cairan lambung dan cairan duodenum. Guna menjaga toleransi penerimaan usus. Kekurangan dari sonde-sonde ini selain diameternya besar. sebaiknya penderita diposisikan setengah duduk selama pemberian nutrisi enteral. regurgitasi sampai aspirasi ke dalam paru.Prosedur teknik pemberian nutrisi enteral / diet sonde akan diuraikan sebagai berikut9: 1. kemudian pengenceran 2/3 pada hari kedua dan takaran penuh pada hari ketiga dan seterusnya. 2. 91 .

Kebutuhan metabolisme basal dapat dihitung dengan indeks BROCA. saluran empedu. Indikasi pemberian nutrisi enteral adalah9: 1. leukosit). tiap kenaikan 1° + 10% BMR + 25-30% BMR +10% BMR Jadi. Ht. antara lain akan diuraikan sebagai berikut 9: 92 . depresi berat. Kemajuan atau kemunduran keadaan umum penderita dievaluasi setiap harinya termasuk keseimbangan cairan dan elektrolitnya bila ada fasilitas. yakni pasca bedah: mulut. trauma kepala/otak. Dengan menambah 10-20% dari kebutuhan BMR dapat diperoleh kebutuhan kalori pada saat aktivitas yang sangat terbatas. pemeriksaan laboratorium sangat diperlukan. ileus. fistula. Indikasi non bedah: anoreksia. perdarahan gastrointestinal yang akut. 2. Indikasi bedah. antara lain pemeriksaan darah (Hb. penderita dengan kebutuhan kalori ekstrim. seorang dengan tinggi badan 165 cm tanpa stress memiliki BMR (165-100)x20 = 1300 kkal. albumin total). dan kolon. serum (glukosa. peritonitis. lambung. Kontrandikasi pemberian nutrisi enteral apabila pasien muntah-muntah. protein total. esofagus. malabsorpsi/maldigesti. luka bakar yang luas. Pengukuran berat badan atau lingkar lengan atas (LLA) setiap minggu merupakan parameter yang objektif. Komplikasi nutrisi enteral. Sedangkan pada suatu keadaan katabolik yang tinggi diperlukan penambahan 30100% dari kebutuhan BMR9. sebagai berikut9: BMR = Indeks Stress (Tinggi Badan – 100) x 20 Dimana indeks stress: Paska bedah Fraktur multipel Sepsis. Selain itu. penderita kanker. sepsis. volume dan urin rutin. ureum. dan atoni paska bedah.

Bila saluran pencernaan tidak berfungsi. tidak cukup makan. Rasa mual sampai muntah dan kram perut atau diare merupakan gejala yang menonjol.1. Bila saluran cerna mengalami obstruksi Bila saluran cerna terlalu pendek Bila terdapat fistula pada saluran cerna. Cara pemberian dapat melalui vena perifer (nutrisi parenteral perifer) atau vena sentral (nutrisi parenteral total). Komplikasi bakteriologik Kontaminasi dengan bakteri gram negatif pada waktu penyediaan nutrisi enteral atau kantong plastiknya dapat menimbulkan syok septik. Prinsip keseimbangan pemberian tekanan nutrisi parenteral sehingga adalah mempertahankan interalumen tetap. dan mengatasi kehilangan plasma 9. 4. 3. tidak bisa makan dan tidak boleh makan. 93 . Terapi nutrisi parenteral diberikan kepada setiap penderita yang akibat penyakitnya membutuhkan banyak asupan nutrisi tetapi penderita tersebut tidak mau makan. Secara umum dapat dikelompokkan berdasarkan keadaan kondisi saluran pencernaan (gastriontestinal tract). yaitu 9: 1. 2. 2. 3. Komplikasi mekanik Komplikasi mekanik berhubungan dengan sondenya sendiri yang dapat mengalami dislokasi atau penyumbatan. 4. osmotik volume mempertahankan tekanan hidrostatik. Komplikasi metabolik Dehidrasi hipertonik dapat terjadi bila komposisi nutrisi enteralnya memilki osmolaritas yang tinggi. Nutrisi parenteral adalah pemberian nutrien melalui pembuluh darah vena. Pemberian kadar secara bertahap dapat mengurangi komplikasi ini. Komplikasi kimiawi Hal ini berhubungan dengan osmolaritas serta komposisi kimiawi cairan nutrisi enteral yang terlalu tinggi.

3. emboli 6. seperti syok. Adapun akses yang digunakan untuk nutrisi parenteral. Indikasi nutrisi parenteral adalah fungsi saluran cerna terganggu (tidak mampu mencerna atau menyerap makanan). malnutrisi protein atau protein-kalori. menyediakan intake bagi kebutuhan metabolisme secara parenteral9. dengan pemasangan kateter seperti pneumothoraks. dan baru setelah dilakukan kateterisasi pada vena cava superior pemberian menjadi praktis dan aman untuk larutan hiperosmolar demikian bisa digunakan pada pasien bedah. menjaga keseimbangan cairan-elektrolit dan asam basa. Pasien yang mengalami gagal nafas (kecuali dibantu dengan bantuan nafas mekanik dengan ventilator). dan keganasan9. trauma dalam phase Ebb (24 jam pertama) Pasien yang masih mengalami hemodinamik krisis. Nutrisi Parenteral Perifer Larutan standar yang diberikan untuk nutrisi parenteral total melaui vena sentral memilki tekanan osmotik hampir 2000 mOsm/L. diare berat. 2. Sifat-sifat fisik dari larutan demikian mendorong terjadinya trombosis vena perifer. Sedangkan kontra indikasi nutrisi parenteral adalah9: 1. fistula enterokutan. Komplikasi infeksi ditandai oleh demam seperti pada flebitis. Kondisi-kondisi yang membutuhkan nutrisi parenteral anatara lain. sindrom malabsorpsi berat. ileus obstruksi. memelihara hemostatik metabolik umum. vomitus.Tujuan Pemberian Nutrisi Parenteral adalah supaya mempertahankan volume dan perfusi sirkulasi darah. infeksi pada tempat. peritonitis. Larutan nutrisi yang hanya sedikit hipertonik (antara 600 dan 900 m)sm/L) bisa disiapkan dengan mencampur proporsi sesuai dari asam 94 . 4. 5. yaitu 9: 1. defisit cairan ekstra seluler yang belum terkoreksi dan demam tinggi (hipertermi). Komplikasi teknis berkaitan udara. Pada pasien dengan penyakit terminal (keganasan) atau keadaan vegetatif (brain death). dan suplemen terhadap nutrisi enteral. NPO > 3-5 hari. Pasien pasca bedah.

Nutrisi Parenteral Sentral Perkembangan kateterisasi vena sentral telah memungkinkan pemberian larutan hipertonik dengan aman. Campuran nutrien ini memiliki desnitas kalori rendah dan memasok hanya 2500 kcal dalam 3 L larutan.amino. dan kebutuhan akan air serta elektrolit diresepkan secara individual. 2. Kunci keberhasilan dari cara ini terletak pada insersi serta perawatan kanul vena sentral. larutan-larutan demikian bisa diberikan melalui vena perifer untuk jangka pendek(kira-kira satu minggu). Bila volume cairan besar. dekstrosa dan emulsi lemak. lemak dan asam amino diberikan melalui kateter vena sentral yang ujungnya berada dalam vena cava superior. Campuran glukosa. Larutan yang digunakan untuk nutrisi via vena sentral (TPN) biasanya memiliki densitas 1 kcal/ml. 95 .

Dosis kemudian dapat ditingkatkan bertahap dengan memperhatikan perubahan kadar gula darah. asam amino. yaitu 24 jam setelah trauma atau krisis kegawatan dapat diatasi. Agar imbang N tidak terlalu negatif.73 m2 atau kira-kira 25 kkal/hari. Tepat dosis Quebbeman (1982) menemukan pada pasien trauma berat dan sepsis yang mengalami katabolisme. Dosis yang tepat harus diukur. NPE total hanya akan menambah stres bagi tubuh pasien. keadaan umum pasien. Sebelum keadaan tenang tercapai. paska bedah ekstensif. Hal ini berlaku pada pasien trauma. pemeriksaan kadar kalium dan natrium. Periode 24 jam ini adalah masa ebb-phase. Dosis NPE total harus diberikan lebih lambat (mulai hari ketiga) karena beban metabolismenya besar. preeklampsia. masa stabilisasi dimana kadar stres hormon masih tinggi. minimal diberikan 20 kkal/kg/hari. eklampsi. sepsis. mineral dan vitamin. resting energy expenditure berkisar 1000 kkal/m2/hari. Tepat obat/substrat Bahan nutrisi yang digunakan adalah karbohidrat.Pendekatan yang digunakan pada pemberian nutrisi parenteral adalah 4 Tepat – 1 Waspada9: Tepat pasien Setiap pasien yang tidak cukup atau tidak mendapat intake oral seharusnya segera mendapat nutrisi parenteral (NPE). emulsi lemak. katekolamin dan glukagon. 96 . Sel-sel resisten insulin dan kadar gula meningkat. Fase tenang ini ditandai dengan menurunnya kadar kortisol. makin lambat NPE total dapat dimulai. Makin berat kondisi pasien. dsb. Tepat indikasi Dosis NPE parsial dapat diberikan sangat dini. Ini setara dengan 1700 kkal pada pasien 70 kg dengan luas tubuh 1.

lemak. Karbohidrat 97 . Tromboflebitis karena iritasi mudah diikuti radang. Vena perifer dapat menerima sampai 900 mOsm. mineral). makin mudah terjadi tromboflebitis. seharusnya digunakan vena sentral (vena cava.8. Makin tinggi osmolaritas. Osmolaritas plasma 300 mOsm. Semuanya akan diuraikan sebagai berikut 9: 1. larutan karbohidrat dibagi rata dalam 24 jam. protein. bahkan tromboemboli. Jika larutan glukosa diselingi cairan lain maka besar kemungkinan kadar gula darah berfluktuasi karean overshoot insulin dari waktu ke waktu. Kelainan ini dapat disertai hyperosmolar state dan diuresis osmotik. dan cairan dan elektrolit (vitamin. subclavia. peningkatan glukosa 5% menuju 20% harus dilakukan secara bertahap “start low.9. Agar fluktuasi kadar gula darah bervariasi seminimal mungkin. penyulit yang timbul akan menyebabkan morbiditas bahkan kematian. Vena kaki mudah mengalami deep vein thrombosis dan tromboemboli.Untuk menghindari hiperglikemi. Cairan 900-1000 mOsm untuk jangka pendek 3-5 hari masih dapat diberikan lewat vena tangan tapi jangan memberikan lewat vena kaki. go slow”. Penyulit yang sering dijumpai adalah hiperglikemi. Waspada efek samping Berbeda dengan orang sehat yang dapat mengatur keseimbangan makan dan kebutuhannya sendiri. Osmolaritas dapat dikurangi dengan mencampur cairan menggunakan infus set bercabang 7. Jika pilihan atau dosis tidak tepat. Beban glukosa merangsang pankreas mengeluarkan insulin. go slow” tidak diikuti. jugularis) dimana darah mengalir secara cepat sehingga kecepatan tetesan cairan NPE yang pekat tidak sempat merusak vena. Untuk cairan > 900-1000 mOsm jika perlu lebih dari 5 hari. Pada kasus yang ekstrim dapat terjadi koma. pasien dengan bantuan nutrisi khusus terpaksa menerima semua yang diberikan. atau cara memberikan keliru. Adapun komposisi yang ideal dari nutrisi parenteral adalah kombinasi antara karbohidrat (KH). Hiperglikemi umumnya terjadi jika pola “start low.

Menghitung nitrogen secara laboratorium relatif mahal biayanya. sorbitol dan xylitol. bahkan justru merugikan sebab akan menyebabkan kadar co2 dalam tubuh meningkat. Karbohidrat tersimpan dalam tubuh dalam bentuk glikogen dihati dan otot. 2. 98 . Secara kasar dapat diperkirakan dengan menghitung jumlah ureum dalam urine 24 jam. Rekomendasi dari American Society for Parenteral & Enteral Nutrition (ASPEN. maltosa. fruktosa. Kebutuhan protein=konsumsi nitrogen x 6. Sumber kalori karbihidrat dapat berupa dextrosa. karena itu pemberiannya harus dilindungi oleh pemberian kalori yang cukup agar protein tidak digunakan sebagai sumber energi. Protein Protein diperlukan untuk regenerasi sel dan enzim.Karbohidrat sebagai sumber kalori utama yang layaknya selalu tersedia 4060% dari total kalori (1 gr KH = 4kkal). dengan rumus sebagai berikut a. Dosis maksimal bagi kebanyakan penderita adalah 6-7.5gr/kgbb/hari. Pemberian kalori dengan glukosa yang melebihi kebutuhan ternyata tidak bermanfaat. 1993) untuk pemberian karbihidrat dalam keadaan normal adalah 25 – 30 kcal/kg/hari. Cara yang lebih mudah untuk menghitung kebutuhan asam amino adalah dengan memperkirakan besar kecilnya stress metabolik yang terjadi.25 b. Kebutuhan protein (asam amino) dapat dihitung secara tidak langsung dengan menghitung jumlah nitrogen yang dokonsumsi oleh tubuh. Menghitung energi konsumsi Konsumsi nitrogen (mg/24 jam) = ureum urine (mmol) / 24jam x 28 + 4000 mg. Glukosa/ dextrosa adalah sumber kalori yang paling fisiologis.

dan Vitamin Dalam merencanakan komposisi carain untuk terapi nutrisi pareneral. Cairan. Trace Elements. Misal berat badan pasien 60 kg dengan sepsis Dengan menggunakan tabel dengan stress metabolik Kebutuhan kalori Kebutuhan AA = 60 x 40 kcal = 2400 kcal/hari = 60 x 2 = 120 gr/hari 2 gr/kgbb/hari 40 kcal/kgbb/hari 1 gr/kgbb/hari Kalori 30 kcal/kgbb/hari 3. Kebutuhan air dewasa : 30-50 ml/kgbb/hari Kebutuhan Natrium Kebutuhan Kalium : 2-4 mg/kgbb/hari atau 100-200 meg/hari : 1-2 mg/kgbb/hari atau 50-100 meg/hari 99 . cairan emulsi lemak diberikan 1-3 gr/kgbb atau dalam proporsi 25 – 40% dari kalori total perhari. dan vitamin baik yang larut dalam air maupun lemak. 4. harus selalu diperhatikan dan diperhitungkan akan kebutuhan terhadap elektrolit. Pemberian lebih dari 60% dari kalori total dapat menyebabkan ketoasidosis. Besarnya kebutuhan disesuaikan dengan keadaan klinis penderita. Karena osmolaritasnya yang rendah. pemberian cairan emulsi lemak dapat diberikan pada nutrisi parental perifer. Elektrolit. Lemak Cairan emulsi lemak diberikan dalam nutrisi parental bertujuan untuk mencegah defisiensi asam lemak esensial dan sebagai sumber kalori.Perbandingan kebutuhan protein (AA) dan kalori perhari9: Protein (AA) Tanpa stress metabolik Dengan stress metabolik Contoh perhitungan kebutuhan protein. trace element. Kebutuhan ini terutama harus diberikan bila terapi nutrisi parenteral berlangsung lama. Untuk memenuhi kebutuhan kalori.

Perlu diperhatikan 100 . Dalam kondisi yang tidak kompleks. Pasien dapat terkena serangan jantung bila kehilangan darah sebanyak ini. kehilangan darah sebanyak ini secara konsisten menyebabkan tekanan darah sistolik menurun. Gejala klinis meliputi takikardia. takipneu. Respon tekanan darah awal terhadap kehilangan volume intravaskular tidak memiliki hubungan yang linear 1. tetapi tekanan diastol meningkat karena peningkatan dari katekolamin. dan penurunan tekanan darah. Pada kasus yang tidak kompleks. Gejala klinis minimal pada kelas I ini. Pada dewasa sehat kehilangan 15% volume darah pertama diklasifikasikan sebagai hemoragi kelas I. dan hal ini merupakan keadaan yang mengancam nyawa. Hemoragi kelas IV didefinisikan sebagai kehilangan darah sebanyak >40%. Hemoragi kelas III diklasifikasikan sebagai kehilangan 30-40% volume darah. Kebanyakan pasien tersebut memiliki beberapa tingkatan dari syok hipovolemik. tekanan darah yang sangat sempit (tidak adanya tekanan darah diastol). takipneu. penurunan tekanan darah sistolik yang secara substansial. perubahan status mental penderita. penurunan tekanan darah dapat terjadi setelah kehilangan darah sebanyak 10-15%. dengan mekanisme kompensasi yang kurang efisien. kurangnya urine output. Tingkatan tersebut dapat diukur melalui respon fisiologi terhadap hemoragi.BAB III PEMBAHASAN Hemoragi adalah penyebab utama keadaan hipovolemik pada pasien yang mengalami luka multisistem. peningkatan denyut nadi minimal dengan peningkatan kontraktilitas dari jantung dan peningkatan vasokonstriksi vena dan arteri dapat menjaga tekanan darah. Pada pasien yang lebih tua. Hemoragi kelas II diklasifikasikan sebagai kehilangan volume darah sebanyak 15-30%. dan turunnya tekanan sistolik. Biasanya hal ini diikuti dnegan takikardia. dan perubahan status mental pasien yang banyak. Respon fisiologi ini dapat dikategorikan berdasarkan persentasi dari kehilangan akut darah. Gejala klinis meliputi takikardia (denyut nadi >100 pada orang dewasa). Tekanan sistolik biasanya tidak berubah.

dengan tandatanda pertama dari hipovolemi adalah terasa dinginnya kaki dan regio patella. Salah satu indikator dari rendahnya perfusi jaringan pada pemerikssaan awal adalah perfusi kulit. yang dimana memberikan ukuran kehilangan darah ke pembuluh kapiler. tekanan diaplikasikan ke kuku-kuku jari. Ketika dressing yang digunakan menjadi basah. Dengan tes tersebut. Waktu kurang dari 2 detik biasanya ditemukan pada pasien normovolemik dan mengindikasikan aliran darah normal ke pembuluh kapiler 1. Ekskremitas bawah adalah yang pertama terkena. Capillary fill time dapat diukur dengan menggunakan “blanch test”. sedangkan atlet muda yang sehat dapat memiliki tekanan sistol sebesar 90 mmHg 1. Sulit dilakukan perubahan tekanan darah. Waktu yang diperlukan untuk jarinagn kembali ke warna normalnya mengindikasikan waktu yang diperlukan untuk darah kembali ke pembuluh kapiler. Kapilerkapiler pada kulit adalah yang pertama kali berhenti bekerja sebagai respon terhadap hipovolemik yang dikarenakan stimulus dari sistem saraf simpatik dan kelenjar adrenal melalui pelepasan hormon epinefrin dan nor epinefrin. pasien dengan hipertensi dapat menunjukkan tekanan sistol sebesar 120 mmHg dapat menunjukkan gejala kehilangan darah yang signifikan.bahwa tekanan darah pasien dapat turun tiba-tiba setelah pemeriksaan awal ketika mekanisme kompensasi mereka telah gagal karena kehilangan darah yang terusmenerus. Tekanan yang digunakan untuk mengontrol perdarahan sebaiknya kuat dan kontinu. Pelepasan katekolamin menyebabkan keluarnya keringat dan kulit terasa dingin dan lembab pada saat palpasi. karena pada kebanyakan kasus batas bawah dari tekanan ydarah pasien tidak diketahui. dressing tersebut sebaiknya jangan dilepaskan. Sebagai contoh. Kompensasi fisiologi awal pada kehilangan volume intravaskular adalah vasokonstriksi pada pembuluh darah di kulit dan otot. kuku ibu jari. Hemoragi dapat secara ekternal maupun internal ke dalam kavitas tubuh. Hemoragi eksternal biasanya dapat dikontrol dengan melakukan penekanan secara langsung ke luka yang ada. atau emninesia hipothenar dari tangan untuk mengevakuasi darah dari daerah tersebut dan kemudian tekanan langsung dilepaskan. tetapi sebaiknya dressing tambahan digunakan karena apabila dressing dilepaskan maka formasi clot yang telah terbentuk dapat terganggu dan menyebabkan perdarahan kembali. Tekanan 101 .

yang sebelumnya digunakan untuk meningkatkan tekanan darah pada kasus hipotensi yang parah. Luka kulit kepala dapat dengan cepat diatasi dengan dijahit menggunakan 2. fraktur nasal atau tengah wajah. Luka pada kulit kepala dapat menyebabkan kehilangan darah dalam jumlah besar pada waktu yang singkat karena perembesan darah pada galea dan lapisan jaringan ikat yang renggang. kita mengetahui adanya suplai vaskular yang banyak ke daerah muka dan leher. seperti air-pillow splints dan blood pressure cuff dapat juga digunakan. Namun koloid efek udema parunya kurang dan harga cairan ini mahal1. memberikan keadaan yang merugikan pada beberapa situasi karena menyebabkan luka vaskular. Ketika pasien sudah stabil. respirasi dsb. Koloid sangat baik untuk ekspansi volume plasma. Sebagai spesialis bedah mulut dan maksilofasial.0 nonresobable atau staples tanpa memperhatikan kosmetik pasien. Aspek negatif dari suplai darah tersebut adalah hemoragi mayor dapat disebabkan oleh luka pada kulit kepala yang besar. drainase peritonium. Tujuan yang harus dipenuhi dalam pemberian cairan adalah menganti cairan yang hilang selama trauma atau pembedahan.yang kuat dapat diaplikasikan proksimal ke arah arteri mayor untuk mengontrol perdarahan. PASGs dan medical antishock trousers(MASTs). Tekanan langsung kemudian dapat dilakukan pada luka untuk mengontrol hemoragi dan meminimalkan pembentukan hematoma. dan luka tembus pada leher. Pilihan tipe cairan yang digunakan adalah koloid dan kristaloid. fistula usus. hal tersebut hanya direkomendasikan apabila penekanan langsung pada luka saja tidak efektif 1. Maksud utamanya adalah mengembalikan volume intravaskular dan mendapatkan perfusi jaringan yang adekuat. serta penggantian cairan yang hilang dilakukan melalui pipa lambung. jahitan dapat dilepaskan dari luka dan penutupan lapisan luka secara kosmetik dapat dilakukan 1. Penatalaksanaan pada perdarahan akut adalah sebagai berikut 9: 102 . Perban tekan. Akan tetapi. Pemberian pertolongan pertama dan resusitasi cairan yang tepat sangat membantu dalam mengembalikan perfusi jaringan yang adekuat. dan merupakan pilihan yang terbaik untuk peningkatan Cardiac Output dan volume O2.drainase toraks.

infeksi. gangguan enzim dan metabolisme serta kelemahan otot. Setidaknya penderita harus ditentukan apakah termasuk malnutrisi ringan. Salah satu fungsi rongga mulut adalah sebagai jalan masuk makanan menuju saluran cerna (gastrointerstinal tract). Pada orang dewasa 2–3 liter RL selama 20–30 menit untuk memulihkan tekanan darah.V.9% dalam 30–60 menit. terjadinya edema. Kemampuan seseorang dalam mengkonsumsi makanan melalui oral dapat berubah dikarenakan neoplasia. dan diuresis. dan injuri (trauma). peningkatan kebutuhan energi yang disebabkan penyakit. Cara 103 . deformitas congenital. tekanan vena sentral.namun prosedur ini juga membatasi kemampuan mulut sementara waktu. sedang atau berat. Kebutuhan energi total dari seorang pasien dalam keseimbangan metabolik adalah sama dengan pemakaian energi total (Total Energy Expenditure) yang meliputi kebutuhan basal. Oleh karena itu pasien dengan trauma oromaksilofasial memerlukan intervensi nutrisi dalam rawat inap di rumah sakit 7. dengan pemberian 1-2 liter kristaloid (NaCl 0. Pada keadaan trauma (stress dan sepsis) tubuh mengalami rangkaian perubahan hormonal yang menambah laju metabolisme. Nutrisi parenteral adalah pemberian nutrien melalui pembuluh darah vena. kemudian pengecekan elektrolit dan dikoreksi bila terdapat kelainan lainnya 1. Kebutuhan kalori basal didapat dengan penghitungan BMR berdasarkan persamaan Harris-Benedict. Pemberian WB atau PRC hingga HT> 30 % dengan 1-2 unit fresh frozen plasma (FFP) tiap 5 unit darah.9% atau RL) atau Koloid (Dextran) secara I.. Sedangkan penatalaksanaan untuk kehilangan cairan gastrointestinal dapat diberikan 1-2 liter NaCl 0. dan terhambatnya penyembuhan luka gangguan motilitas usus. Penentuan status gizi penderita penting untuk jumlah lama dan komposisi yang harus diberikan. Pemasangan 2 jalur Infus I. dan memonitor tanda vital. dalam 30 –60 menit. Prosedur bedah mulut dan maksilofasial dapat mengeliminasi permasalahan ini dengan suatu prosedur operasi.V. energi yang terpakai selama proses asimilasi nutrien dan energi yang terpakai pada kerja fisik. 4. Hal ini berakibat menurunnya daya tahan tubuh. udema paru diperhatikan.3.

tidak cukup makan.pemberian dapat melalui vena perifer (nutrisi parenteral perifer) atau vena sentral (nutrisi parenteral total).9.8. dan menyediakan intake bagi kebutuhan metabolisme secara parenteral7. 104 . memelihara hemostatik metabolik umum. Tujuan pemberian nutrisi parenteral ini adalah untuk mempertahankan volume dan perfusi sirkulasi darah. menjaga keseimbangan cairan-elektrolit dan asam basa. Terapi nutrisi parenteral diberikan kepada setiap penderita yang akibat penyakitnya membutuhkan banyak asupan nutrisi tetapi penderita tersebut tidak mau makan. tidak bisa makan dan tidak boleh makan.

Pemberian pertolongan pertama dan resusitasi cairan yang tepat sangat membantu dalam mengembalikan perfusi jaringan yang adekuat. Pemberian nutrisi yang adekuat akan membantu proses penyembuhan pasien. Perdarahan dari fraktur oromaksilofasial dapat terjadi perdarahan pada rongga mulut. hidung. Pengukuran kebutuhan nutrisi pasien trauma bergantung dari rumus yang didasarkan oleh berbagai faktor yang mempengaruhi.Pemberian nutrisi untuk pasien rawat inap dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu peroral. Untuk penderita dengan trauma oromaksilofasial perhatian harus segera diarahkan terhadap saluran pernafasan dan kontrol perdarahan eksternal. keadaan-keadaan itu harus ditangani lebih dahulu oleh karena mengancam jiwa penderita. dan hampir semua penderita multi-trauma ada syok. 105 . Sebelum melakukan perawatan fraktur perlu diperhatikan keadaan darurat medik yang harus ditangani lebih dulu. sinus paranasalis. Perdarahan adalah sebab tersering dari syok pada trauma. Perawatan pasien dengan trauma oromaksilofasial memerlukan terapi nutrisi yang benar.BAB IV KESIMPULAN Trauma oromaksilo fasial dapat menyebabkan kematian jika dapat menyebabkan obstruksi jalan nafas dan perdarahan yang banyak. enteral dan parenteral. Perdarahan yang banyak bisa mengakibatkan syok hipovolemik. fraktur maksila). dimana untuk menentukan jenis nutrisi yang akan diberikan kepada pasien tersebut diperlukan kerjasama dengan ahli gizi sehingga benar benar sesuai dengan kebutuhan gizi yang telah ditentukan sebelumya. sebelum melakukan pemeriksaan tanda-tanda vital. nasofaring (dari basis cranii) atau perdarahan dari hidung (fraktur nasalis.

.. Hutchinson and Skinner. Oral and maxillofacial Trauma. 2005. 5th ed. Robert.R. drg. Agus Purwadianto & Budi Sampurna. Kelompok Studi Terapi Cairan.B. R. 2. Andry Hartono. ABC of Major Trauma 2nd ed BMJ Publishing Group. Dasar-dasar Terapi Nutrisi Parenteral pada Dewasa dan Anak. 3. 9. Purwanto. 1991. Raymond and Wolker. Co. 4. Pedoman Penatalaksanaan Praktis. Edisi Revisi. EGC. Basoeseno. Sp. W.J. R. 1996.W. Buku Ajar Praktis Bedah Mulut. J. St. Philadelphia.. Enteral. M. Vol 1. V.dkk. Pedersen. dkk. W. E. W.GK. Ellis III. 1996. Philadelphia. 8. Vol I. Bandung. 6. Fonseca.W. 7. Saunders Company. Vol 1. 2008. 106 . Alih Bahasa: drg. Jakarta. Oral and Maxillofacial Trauma 2nd ed. Oral and Maxillofacial Trauma 3rd ed. Saunders Company. Kedaruratan Medik. Contamporary Oral and Maxillofacial Surgery.B.B. Mosby Elsevier. 5. Louis. dan Parenteral. 1997.J. Saunders Company. 2000. G. London.DAFTAR PUSTAKA 1.IKAPI. Tucker.R. 1997.dr. Hupp. EGC. Ruly. edisi kedua. Roesli.Terapi Gizi dan Diet Rumah Sakit.2006. Philadelphia. Fonseca.

Adapun penyebab fraktur dentoalveolar yang utama adalah kecelakaan lalu lintas. Kata kunci: fraktur dentoalveolar. seperti terlihat pada individu dengan maloklusi Kelas II divisi I atau sebagai akibat kebiasaan buruk menghisap jempol.Fraktur Dentoalveolar Sutami Wahyu Prasetya 160121120010 Peserta Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut Dan Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Bandung Abstrak : Fraktur dentoalveolar adalah salah satu fraktur yang banyak kita jumpai di emergency room. Perawatan darurat pada kasus truma gigi anterior meliputi pembersihan luka akibat trauma dengan menggunakan cairan antiseptik. merupakan faktor predisposisi trauma insisivus maksila. pencegahan terhadap infeksi. Pada pasien anak juga sering kita jumpai fraktur dentoalveolar. perawatan darurat 107 . Insisivus yang protrusif dengan penutupan bibir yang tidak seimbang. Trauma secara langsung biasanya menyebabkan cedera pada insisivus sentral maksila karena posisinya yang relatif lebih ke depan. menghilangkan rasa sakit. Cedera akan meningkat dua kali lebih sering pada anak dengan insisivus yang protrusif dibandingkan dengan seorang anak yang memiliki oklusi normal. trauma. merawat luka akibat trauma. Perawatan darurat merupakan perawatan yang penting dan harus dilakukan dengan segera karena menyangkut prognosa dari penderita. kecelakaan sewaktu berolahraga. menghentikan perdarahan. dimana anak – anak pada masa pertumbuhan dengan aktivitas bermain yang tinggi seperti terjatuh dari sepeda. kekerasan dalam rumah tangga dan lain sebagainya. maloklusi. dengan melakukan penjahitan dan penutupan luka dengan kain kassa.

kecelakaan sepeda. kecelakaan sepeda motor. merupakan faktor predisposisi trauma incisivus maksilla. ataupun dapat juga berhubungan dengan cedera multisistim. Incisivus yang protrusif dengan penutupan bibir yang tidak seimbang. Fraktur dentoalvapaeolar pada umumnya terjadi bersamaan 108 .1 Fraktur dentoalveolar dapat terjadi dengan atau tanpa kerusakan gigi. biasanya akibat oklusi yang menutup dengan cepat dan kuat antara gigi-geligi mandibula ke gigi-geligi maksilla. Keterlibatan trauma orofasial diperkirakan sekitar 15 % dari semua pasien emergensi. dan kecelakaan olahraga. penganiayaan. kecelakaan di taman bermain. atau gigi tidak dalam oklusi yang baik. dan 2% dari kasus tersebut melibatkan trauma dentoalveolar.BAB I PENDAHULUAN Trauma pada gigi dan jaringan pendukungnya sering tejadi pada pasien trauma. Cedera dentoalveolar biasanya terjadi karena seseorang terjatuh.1 Trauma secara langsung biasanya menyebabkan cedera pada incisivus central maksilla karena posisinya yang relatif lebih kedepan. Cedera yang terjadi dapat hanya mengenai gigi dan struktur pendukungnya saja seperti pada seorang anak yang terjatuh. menimbulkan kerusakan gigi-gigi posterior atau jaringan lunak anterior. benturan akan diteruskan ke oklusi gigi-geligi. Cedera pada strktur dentoalveolar dapat diakibatkan oleh trauma secara langsung mengenai gigi atau trauma tidak langsung. Dapat dalam bentuk retak tetapi pada umunya dalam bentuk fragmen alveolar yang sederhana. seperti yang terjadi pada kecelakaan kendaraan bermotor. Cedera pada gigi akan meningkat dua kali lebih sering pada anak-anak dengan gigi incisivus yang protrusif dibandingkan dengan seorang anak yang memiliki oklusi normal. Trauma tidak langsung pada gigi dan struktur pendukung biasanya sebagai akibat dari benturan yang mengenai dagu. seperti terlihat pada individu dengan maloklusi kelas II divisi 1 atau sebagai akibat kebiasaan buruk menghisap jempol.

dengan cidera mulut lainnya. Deteksi dan pengobatan dini dapat meningkatkan kelangsungan hidup dan fungsi dari gigi tersebut. Sekitar 82% gigi yang

mengalami trauma adalah gigi-gigi maksiler. Fraktur gigi maksiler tersebut 64% adalah gigi incisivus sentral, 15% incisivus lateral, dan 3% caninus. Fraktur dentoalveolar pada umumnya terjadi pada kelompok usia anak, remaja, dan dewasa muda dengan rasio laki-laki terhadap perempuan 2-3 : 1. 2 Pemeriksaan klinis pada fraktur dentoalveolar meliputi kemungkinan adanya luka pada bibir dan umumnya terjadi edema dan echymosis. Pada pemeriksaan gigi dan alveolus kemungkinan terdapat laserasi, echymosis dari pada gingival dan perubahan bentuk dari pada alveolus. 3 Selain itu pada saat palpasi hati-hati pada saat memeriksa bibir. Pemeriksaan pada bibir berguna untuk mengetahui apakah ada benda asing atau gigi di dalam jaringan tersebut. Palpasi pada alveolus berfungsi untuk merasakan perubahan bentuk tulang-tulang, dan kadang-kadang terdapat krepitus.1

109

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

I. Etiologi Fraktur Dentoalveolar Trauma dentoalveolar dapat terjadi pada anak-anak, remaja, maupun dewasa. Pada kelompok anak-anak penyebab utama dari trauma ini adalah jatuh. Pada usia 1-3 tahun ketika anak belajar berjalan dan berlari insidennya meningkat yang diakibatkan oleh aktivitas yang tinggi dan kurangnya koordinasi anggota tubuh menyebabkan anak sering jatuh. Pada anak usia sekolah, taman bermain dan cidera akibat bersepeda merupakan penyebab tersering. Selama masa remaja, cidera olahraga merupakan kasus yang umum. Pada usia dewasa, cidera olahraga, kecelakaan sepeda motor, kecelakaan industri dan pertanian, dan kekerasan dalam rumah tangga merupakan penyebab potensial. Rasio laki-laki dan perempuan adalah 2:1. Olahraga yang melibatkan kontak fisik merupakan penyebab umum fraktur dental, seperti sepakbola dan bola basket. Frekuensi fraktur dentoalveolar yang lebih tinggi ditemukan pada pasien dengan retardasi mental dan serebral palsi. Penyalahgunaan obat dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya frakturdental.2 Gigi insisivus maksiler yang menonjol keluar atau ketidakmampuan menutup gigi pada keadaan istirahat dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya fraktur. Benturan atau trauma, baik berupa pukulan langsung terhadap gigi atau berupa pukulan tidak langsung terhadap mandibula, dapat menyebabkan pecahnya tonjolan-tonjolan gigi, terutama gigi-gigi posterior. Selain itu, tekanan oklusal yang berlebihan terutama terhadap tumpatan yang luas dan tonjol-tonjolnya tak terdukung oleh dentin dapat pula menyebabkan fraktur. Keparahan fraktur bisa hanya sekedar retak saja, pecahnya prosesus, sampai lepasnya gigi yang tidak bisa diselamatkan lagi. Trauma langsung kebanyakan mengenai gigi anterior, dan karena arah pukulan mengenai permukaan labial, garis retakannya menyebar ke belakang dan biasanya horizontal atau oblique. Pada fraktur yang lain, tekanan

110

hampir selalu mengenai permukaan oklusal, sehingga frakturnya pada umumnya vertikal. Pukulan terhadap gigi anterior paling sering terjadi pada anak-anak dan apabila dibiarkan maka tubulus dentinnya akan terpapar pada flora normal mulut sehingga dapat menimbulkan infeksi dan inflamasi pulpa sehingga perlu dirawat. 1 Di pihak lain, gigi posterior yang fraktur karena tekanan oklusal yang besar biasanya karena mempunyai tumpatan yang luas. Pada gigi semacam ini, hanya sedikit tubulus dentin yang terbuka yang langsung berhubungan dengan pulpa karena telah terjadinya reaksi terhadap karies dan prosedur penambalannya berupa kalsifikasi tubulus dan penempatan dentin reaksioner di rongga pulpa. Dengan demikian jaringan pulpanya jarang sekali ikut terkena. Trauma terhadap gigi pada umumnya bukan merupakan keadaan yang mengancam nyawa, tetapi cidera maksilofasial lain yang berhubungan dengan trauma dental dapat mengganggu jalan napas. Fraktur biasanya terjadi pada gigi permanen, sedangkan gigi susu biasanya hanya mengalami perubahan letak. Morbiditas yang berhubungan dengan fraktur dental bisa seperti gagalnya pergantian gigi, perubahan warna gigi, abses, hilangnya ruang pada arkus dental, ankylosis, lepasnya gigi secara abnormal, dan resorpsi akar merupakan keadaan yang signifikan. Trauma dental sering berhubungan dengan laserasi intraoral. Ketika ada gigi yang pecah atau hilang dan pada saat yang bersamaan terdapat laserasi intraoral, maka harus diperhatikan bahwa bagian gigi yang hilang dapat tertanam di dalam robekan luka tersebut. 1 Trauma secara langsung biasanya menyebabkan cedera pada incisivus central maksilla karena posisinya yang relatif lebih kedepan. Incisivus yang protrusif dengan penutupan bibir yang tidak seimbang, seperti terlihat pada individu dengan maloklusi kelas II divisi 1 atau sebagai akibat kebiasaan buruk menghisap jempol, merupakan faktor predisposisi trauma incisivus maksilla. Cedera pada gigi akan meningkat dua kali lebih sering pada anak-anak dengan gigi incisivus yang protrusif dibandingkan dengan seorang anak yang memiliki oklusi normal. Trauama tidak langsung pada gigi dan struktur pendukung biasanya sebagai akibat dari benturan yang mengenai dagu, atau gigi tidak dalam

111

oklusi yang baik, benturan akan diteruskan ke oklusi gigi-geligi, menimbulkan kerusakan gigi-gigi posterior atau jaringan lunak anterior. 1 Cedera dentoalveolar ini paling banyak terjadi pada gigi sulung yang terjadi pada saat anak-anak mulai belajar berjalan hingga usia sekolah, yang berusia antara 2-4 tahun, sedangkan pada gigi permanen antara usia 7-10 tahun. Jumlah cedera dentoalveolar yang signifikan juga terjadi berhubungan dengan penatalaksanaan pasien yang tidak sadar atau pasien yang akan menjalani anestetikum umum. Lockhart dan Colleases melakukan survai terhadap 133 program pelatihan anestesi dan menemukan dari setiap 100 tindakan intubasi trachea terdapat 1 kejadian yang mengakibatkan trauma gigi anterior. 1

Gambar 1. Gambaran Klinis Fraktur Dento Alveolar

II. Klasifikasi Ada banyak cara untuk mengklasifikasikan fraktur dental. Klasifikasi Ellis merupakan salah satu yang sering digunakan dalam literatur kegawatdaruratan, tetapi banyak dokter gigi dan ahli bedah maksilofasial yang tidak menggunakan sistem ini. Metode klasifikasi yang paling mudah dimengerti adalah berdasarkan deskripsi cidera. Fraktur mahkota gigi dapat dibedakan menjadi kategori sederhana dan rumit. Fraktur mahkota sederhana melibatkan bagian enamel dan dentin. Yang termasuk fraktur mahkota sederhana adalah fraktur Ellis kelas I dan II. Fraktur Ellis kelas I Fraktur yang tergolong Ellis kelas I hanya melibatkan lapisan enamel gigi. Pada inspeksi tampak sebagai kepingan kecil dengan tepi

112

yang tidak beraturan (kasar). Keluhan yang biasanya muncul adalah rasa tidak nyaman akibat tepi fraktur yang kasar tersebut. Pasien pada umumnya tidak mengeluhkan sensitivitas terhadap temperatur atau udara. Fraktur ini pada umumnya tidak menyebabkan gangguan terhadap rongga pulpa. 1 Sistim WHO yang dimodifikasi oleh Andreasen melibatkan cedera pada gigi, struktur pendukungnya, gusi dan mukosa oral yang berdasarkan anatomi, terapi dan prognosanya. 1 Cedera jaringan keras gigi dan pulpa. 1. Crown Infraction (keretakan mahkota). Merupakan fraktur inkomplit atau retaknya enamel tanpa disertai kehilangan substansi gigi. 2. Uncomplicated crown fracture (fraktur mahkota tidak komplit) Merupakan fraktur yang terbatas pada enamel atau melibatkan enamel dan dentin tanpa disertai terbukanya pulpa. 3. Complicated crown fracture (fraktur mahkota komplit) Merupakan fraktur yang melibatkan enamel dan dentin disertai terbukanya pulpa. 4. Uncomplicated crown-root fracture (fraktur mahkota dan akar tidak komplit) Merupakan fraktur yang melibatkan enamel, dentin dan sementum tanpa disertai terbukanya pulpa. 5. Complicated crown-root fracture (fraktur mahkota dan akar komplit) Merupakan fraktur yang melibatkan enamel, dentin, dan sementum yang disertai dengan terbukanya pulpa. 6. Root fracture (fraktur akar) Merupakan fraktur yang melibatkan dentin, sementum dan pulpa.

113

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

Gambar 2. Cedera jaringan keras gigi dan pulpa.(1) Crown infraction. (2) dan (3) Uncomplicated crown fracture dengan atau tanpa melibatkan dentin. (4) Complicated crown fractured. (5) Uncomplicated crown root fractured. (6) Complicated crown root fracture. (7) Root Fracture. 1

Cedera jaringan periodontal. 1 1. Concussion (sensitif). Merupakan suatu cedera pada struktur pendukung gigi tanpa adanya kehilangan yang abnormal atau pergeseran gigi, tetapi ditandai dengan adanya reaksi sensitif terhadap perkusi. 2. Subluksasi (kegoyangan gigi). Cedera pada struktur pendukung gigi tanpa kehilangan yang abnormal tetapi tanpa pergeseran gigi. 3. Intrusif luxation (central dislocation). Pergeseran gigi ke dalam tulang alveolar tanpa disertai hancurnya atau fraktur soket alveolar. 4. Extrusif luxation (peripheral dislocation, partial avultion) Pergeseran sebagian gigi keluar dari soket alveolar. 5. Lateral luxation Pergeseran gigi dalam arah lateral yang disertai hancur atau fraktur soket alveolar.

114

6. Exarticulation (complete avultion) Pergeseran gigi yang komplit keluar dari soket alveolar.

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

Gambar 3. Cedera jaringan periodontal. (1)Concussion. (2)Subluksasi. (3)Intrusif luksatioin. (4)Extrusif luxation. (5) dan (6) Lateral luxation. (7)Retained root. (8)Exarticulation. 1

Cedera tulang pendukung. 1 1. Comminution alveolar socket. Fraktur atau remuknya soket alveolar mandibula atau maksila. Keadaan ini biasanya ditemukan bersama-sama dengan luksasi intrusi dan luksasi lateral. 2. Fracture of the alveolar socket wall (Fraktur dinding socket alveolar) Fraktur dinding alveolar soket yang ditahan oleh dinding soket fasial atau lingual. 3. Fracture of alveolar process (fraktur prosesus alveolaris). Fraktur prosesus alveolaris yang dapat atau tidak melibatkan soket alveolar. 4. Fraktur maksila atau mandibula.

115

Abrasi gingiva atau mukosa oral. Cedera tulang alveolar. Kontusio gingiva atau mukosa oral. 1 1. Yaitu luka daerah supefisial yang disebabkan karena gesekan atau goresan yang mengakibatkan daerah mukosa terlihat lecet dan permukaan yang berdarah. Yaitu luka memar yang biasanya disebabkan oleh pukulan dari benda tumpul dan menyebabkan perdarahan pada daerah submukosa tanpa disertai sobeknya daerah mukosa. (1)Comminution alveolar process. (6) dan (7)Fraktur mandibula atau maksila.Fraktur ini mengenai mandibula atau maksilla. 2. 116 . 1 Cedera gingiva atau mukosa oral. (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Gambar 4. (2) dan (3)Fracture of the alveolar socket wall. Laserasi gingiva atau mukosa Yaitu luka pada daerah mukosa yang biasanya disebabkan oleh sobekan benda tajam. dan dapat mengenai prosesus alveolaris atau mungkin juga dengan atau tidak mengenai soket alveolar gigi. (4) dan (5)fracture of the alveolar process. 3.

Fraktur mahkota yang mengenai email dan dentin. Mengenai sepertiga apikal. Fraktur mahkota yang mengenai email.1. gambaran struktur gigi yang terlibat. 117 . Fraktur mahkota 3 1.3 1. 4. 3. tipe pergeseran dan arah fraktur akar dan mahkota. 5. Fraktur mahkota yang hanya mengenai email 2.Selain itu ada juga klasifikasi yang dibuat oleh Sanders. Tidak melibatkan pulpa. 2. Dapat terjadi secara horizontal atau vertical. Fraktur secara oblique (mengenai sudut mesioincisal dan distoincisal) Gambar 5. 2. Brady dan Johnson yang relatif lebih sederhana berdasarkan pada diskripsi cedera. Fraktur akar horizontal 1 1. dentin dan pulpa. Gambaran Klinis Fraktur MAhkota Horizontal Fraktur mahkota-akar. yang dibagi lagi menjadi :3 1. 3 Keretakan mahkota. Melibatkan pulpa. Fraktur horizontal atau vertikal. Retak atau fraktur yang tidak lengkap dari email tanpa adanya kehilangan struktur gigi.

1 1. 3. 2. 4. Perubahan letak gigi ke arah lingual (kemungkinan disertai fraktur dinding lingual). 118 . kemungkinan juga disertai fraktur dinding alveolar). Horizontal atau vertikal. dan kemungkinan bersamaan dengan fraktur dinding alveolar. 4. biasanya disertai dengan kompresi fraktur dari saku alveolar). tetapi tanpa disertai adanya perubahan letak gigi. Kegoyangan gigi (Subluxation) Yaitu trauma terhadap gigi dan jaringan pendukungnya mengakibatkan gigi menjadi goyang.2. Perubahan letak gigi kea rah lateral (pergeseran gigi ke arah distal atau mesial. Ekstrusi gigi (gigi sebagian keluar dari soketnya dan memungkinkan tidak disertainya adanya fraktur tulang alveolar). Gigi sensitif (Concussion) 1 Yaitu trauma pada gigi dan jaringan pendukungnya mengakibatkan gigi sensitive terhadap perkusi. Intrusi gigi (gigi masuk ke dalam soket. tetapai tanpa disertai adanya kegoyangan gigi dan perubahan letak dari gigi. 3. 5. Perubahan letak gigi ke arah labial (kemungkinan disertai fraktur dinding alveolar). Mengenai sepertiga servikal. Perubahan letak gigi. Avulsi Gigi 1 Yaitu perubahan letak keseluruhan gigi keluar dari soketnya. Mengenai sepertiga tengah akar.

Gigi Avulsi III. Agar penatalaksanaannya tepat dan berhasil. Anamnesis. Kapan Terjadinya Trauma. kapan.3 Langkah pertama dalam proses mendiagnosa yaitu mendapatkan riwayat kecelakaan yang akurat. dan bagaimana kejadiannya. 1. ada beberapa informasi yang harus diketahui antara lain sebagai berikut : a. Dalam melakukan anamnesis. dimana. orangtuanya atau orang yang mengetahui informasi yang berhubungan dengan pasiennya.Gambar 6. Riwayat mekanisme dan kejadian yang lengkap harus didapatkan dan langsung dilakukan pemeriksaan klinis dan radiografis untuk menjamin diagnosa dan perawatan yang tepat. terapi apa yang sudah diberikan sebelumnya. 119 . Riwayat yang komprehensif harus didapatkan dari pasien. dibutuhkan suatu penegakan diagnosa dan perawatan dalam waktu yang cepat. Anamnesis dapat dilakukan dengan menanyakan langsung kepada penderita atau pengantar. Pemeriksaan dan Menegakan Diagnosis Cedera pada gigi-gigi dan struktur pendukungnya harus dipertimbangkan sebagai suatu keadaan darurat. 1 Yang dimaksud dengan anamnesis adalah riwayat terjadinya trauma.

Hal ini penting karena mungkin saja penderita memerlukan suntikan anti tetanus karena luka akibat trauma tersebut terjadi di daerah yang kotor yang dengan mudah akan terkontaminasi dengan bakteri. Riwayat Trauma pada Gigi f. Juga pada fraktur rahang yang proses penyembuhannya akan berpengaruh jika perawatannya ditunda. g. sedangkan trauma pada benda yang lunak atau tumpul seperti siku biasanya dapat mengakibatkan fraktur akar gigi dan luksasi. Dimana Tempat Trauma Terjadi. Gangguan Pengunyahan. meliputi pemeriksaan denyut nadi. Pemeriksaan terhadap keadaan umum penderita. Informasi ini penting untuk mengetahui apakah trauma tersebut mengenai benda keras atau tumpul atau lunak. semakin cepat gigi tersebut di replantasi. maka prognosisnya akan semakin baik. Pemeriksaan Klinis. Bagaimana Trauma Terjadi. tekanan darah. d. Perawatan yang Sudah Didapat. Pemeriksaan Ekstra Oral Pada kasus trauma gigi anterior ini dapat dilakukan dengan cara visual dan palpasi. Seperti pada gigi yang mengalami avulsi. Palpasi pada wajah dilakukan untuk melihat diskontinuitas tulang rahang 120 . Keluhan Lain. Karena trauma pada benda keras dapat mengakibatkan fraktur ahkota gigi. pernafasan. 3 Pemeriksaan Fisik.Karena jarak antara kecelakaan dan perawatan sangat penting diketahui bukan hanya untuk menentukan jenis perawatan yang akan dilakukan tetapi berpengaruh juga terhadap prognosisnya. b. tingkat kesadaran dan suhu tubuh. h. c. Penyakit Sistemik yang Diderita. Demikian juga pada kecelakaan mobil perlu diperhitungkan kemungkinan ada pecahan kaca pada bibir dan daerah muka. e.

5. langitlangit dan lidah. Biasanya pemeriksaan radiologis dilakukan pada saat sebelum memulai perawatan dan pada saat kontrol sesudah perawatan sebagai evaluasi terhadap perawatan yang telah dilakukan. Tindakan yang sebaiknya dilakukan pada pemeriksaan intra oral meliputi antara lain : (1) (2) (3) (4) Perkusi gigi Pencatatan kegoyangan abnormal dari gigi atau tulang alveolar. seperti pada bibir. Pencatatan adanya perubahan warna gigi Pencatatan kerusakan jaringan lunak. gusi. 3 Kegunaan Pemeriksaan Radiologis Pemeriksaan ini diperlukan untuk membantu menegakkan diagnosa kelainan akibat trauma gigi anterior yang tepat dan benar. dengan cara palpasi prosesus alveolaris. Pemeriksaan Intra Oral. gangguan pergerakan rahang. kelainan saraf serta hematoma. 6.yang menunjukkan adanya fraktur. Untuk melihat arah garis fraktur Adanya fraktur akar Bagaimana tingkat keparahan dari gigi yang mengalami instrusi atau ekstrusi 4. misalnya : 1. 3. 7. 2. Pemeriksaan ini berguna untuk memberikan informasi. (5) (6) (7) Pencatatan perubahan letak gigi Tes vitalitas dari gigi Pencatatan adanya kerusakan prosesus alveolaris. Adanya kelainan dari jaringan periodontal Tingkat perkembangan akar Ukuran kamar pulpa dan saluran akar Adanya fraktur rahang 121 . Pemeriksaan ini penting untuk mendapatkan informasi agar dapat memberikan pertolongan pertama. Pemeriksaan Radiologis.

bibir dan pipi. Melihat keadaan fragmen gigi dan jaringan lunak lain disekitar rongga mulut.8. fraktur alveolar crest pada maksila dan fraktur 1/3 apikal akar gigi pada mandibula 122 . Macam-macam foto rontgen yang digunakan Teknik foto rontgen yang biasa digunakan dalam melakukan pemeriksaan riologis pada kasus trauma gigi anterior adalah teknik intra oral ( foto periapikal dan foto oklusal). foto lateral dan foto postero-anterior) jika dengan foto intra oral garis fraktur tidak terlihat. dan kadangkala diperlukan teknik ekstra oral (foto panoramik. Foto panoramic. Gambar 7. seperti dasar mulut.

123 . Trauma pada gigi merupakan salah satu kasus darurat yang memerlukan penanggulangan yang cepat dan tepat. Menghentikan perdarahan d. c. Menghilangkan rasa sakit e. Maka pada prinsipnya perawatan trauma gigi anterior ini adalah perawatan untuk mencegah prognosis yang lebih buruk dan mengurangi rasa sakit akibat trauma. pemeriksaan klinis dan pemeriksaan radiologis telah lengkap. Perawatan darurat pada kasus trauma gigi anterior meliputi : a. Perawatan trauma gigi anterior dapat dibagi menjadi 2 tahap. Perawatan Segera Setelah Terjadinya Trauma (Perawatan Darurat) Perawatan darurat merupakan perawatan yang penting dan harus dilakukan dengan segera karena menyangkut prognosa dari penderita.BAB III Perawatan Trauma Pada Gigi Anterior 1 Setelah ananmnesis. Merawat luka akibat trauma. dengan melakukan penjahitan dan penutupan luka dengan kain kasa. maka diagnosis yang tepat juga dapat ditegakkan sehingga langkah perawatan terhadap kelainan akibat trauma pada gigi anterior dapat dilakukan dengan segera. Membersihkan luka akibat trauma dengan menggunakan cairan antiseptik b. karena keadaan ini mempengaruhi prognosis yang akan datang. yaitu perawatan segera setelah terjadinya trauma (perawatan darurat) dan perawatan terhadap gigi anterior yang mengalami trauma (perawatan definitif). Pencegahan terhadap infeksi 1 Perawatan Gigi pada Cedera Dentoalveolar (Perawatan Definitif).

apakah disertai dengan fraktur tulang alveolar. Tindak berkontak dengan gusi dan tidak mengiritasi gusi. misalnya pada perawatan endodontik seperti pulp capping. dll. keadaan dari tulang pendukung. Pada saat dipakai tidak menyebabkan trauma pada gigi atau gusi. lokasi dan luas daerah yang terkena trauma. Dapat dengan mudah dibersihkan dan dipakai pada oral higiene yang baik. b. pembuatan mahkota jaket. dll. 124 . Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi untuk mendapatkan fiksasi yang baik 1 . 1. 6. c. Vitalitas gigi yang terkena trauma. Tidak terdapat sangkutan pada saat oklusi yang normal. Pada dasarnya perawatan definitif trauma gigi anterior meliputi : a. misalnya penambalan dengan resin komposit pada mahkota gigi yang terkena trauma. trauma terjadi pada gigi sulung atau gigi tetap. keadaan jaringan periodontal serta gigi-geligi yang ada. 2. band atau splin dari logam cor.yaitu : Dapat dengan mudah dipasang didalam mulut tanpa melalui prosedur laboratorium yang lama. 3. Bersifat pasif pada tempatnya. pulpotomi. yaitu : keadaan umum pasien. umur pasien.Perawatan gigi anterior yang mengalami trauma pada prinsipnya adalah mengembalikan gigi yang mengalami trauma keposisi semula (reposisi) dan mempertahankannya hingga proses penyembuhan (fiksasi dan imobilisasi). Perawatan jaringan pulpa. Yang dimaksud dengan fiksasi adalah suatu tindakan pemasangan alat yang digunakan untuk menstabilkan satu gigi atau lebih dengan mengikat atau menggabungkan gigi goyah atau berubah letak kegigi sebelahnya yang masih kokoh melalui kawat. tanpa menyebabkan tekanan pada gigi. 4. Ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan sebelum melakukan perawatan definitif pada kasus trauma gigi anterior. Perawatan jaringan keras gigi. 5. yaitu dengan melakukan reposisi dan fiksasi. plastik atau acrylik. Perawatan pada gigi yang goyang dan berubah letak.

9. misalnya pada gigi yang ekstrusi dan avulsi. 4. 10. Gambar 8. Sectional acrylic splint. Metal cast splint. Dapat dengan mudah dikeluarkan.7.4. Resin komposit splin dengan menggunakan etsa asam. Misalnya dengan metode Erich arch bar. Eyelet & Essig Method 1 2. Circumferential arch bar. Harganya murah dan bahan-bahannya mudah diperoleh dipasaran. 3. Ada beberapa macam teknik fiksasi yang digunakan pada kasus trauma gigi anterior ini1. Misalnya dengan metode Essig. yaitu splin dengan menggunakan bahan dari akrilik. 5. Interdental wiring fixation. yaitu pengikatan kawat dengan arch bar. Eyelet (Ivy). 6. Sauer’s arch bar. Ernt’s. 8. Dapat memberikan jalan bagi perawatan endodontik. yaitu : 1. Memperhatikan nilai estetik yang baik. Arch bar wiring. hauptmeye’s arch bar. 125 . Penggunaan alat Orthodontik bracket. yaitu splin dengan menggunakan logam cor. yaitu fiksasi dengan pengikatan kawat interdental.

al. Gunning splint untuk rahang edentulous (Miloro et. 2004). Fiksasi intermaksiler dengan Erich bar & rubber elastic. d. Fraktur Mahkota – Akar a. perawatan yang dilakukan sama dengan perawatan pada fraktur mahkota. Fiksasi intermasiler: A. fiksasi dengan Jalenko 1 Berikut ini akan diuraikan berbagai macam perawatan definitif trauma gigi anterior menurut beberapa pakar bedah mulut Fraktur Mahkota Pada fraktur mahkota yang mengenai email. Tetapi bila disertai dengan kegoyangan gigi dilakukan juga reposisi gigi dan fiksasi gigi tersebut. maka 1.A B C D Gambar 9. C. Jika fragmen mahkota masih berada ditempat dan tidak goyang. B. screw & wire. dentin serta pulpa tanpa disertai kegoyangan gigi biasanya dilakukan penambalan pada gigi yang terkena fraktur dengan resin komposit sistem etsa dengan atau tanpa didahului perawatan endodontik.3 yaitu sebagai berikut : 126 .

c. Jika disertai dengan fraktur tulang alveolar. hanya diperlukan pemeriksaan yang rutin dan berlanjut untuk mengevaluasi kesehatan dari jaringan periodontal dan pulpa gigi tersebut dan jika perlu mengurangi kontak incisal untuk mengurangi trauma saat oklusi yang diterima gigi. Gigi Sensitif (Concussion) 1 Perawatan yang khusus pada gigi sensitif ini biasanya tidak ada. Dan apabila kegoyangan gigi sudah sangat ekstrim. Fraktur Akar a.b. Jika garis fraktur sepertiga apikal prognosisnya sangat baik dan biasanya tidak diperlukan perawatan yang khusus. prognosisnya sangat baik terhadap pemulihan pertahanan jaringan pulpa dan penyembuhan dari fraktur akar tersebut. Jika garis fraktur jauh kearah apikal dan gigi masih dapat direstorasi. maka dilakukan perawatan endodontik. dilakukan fiksasi pada gigi lawannya. maka sebaiknya dilakukan ekstraksi gigi tersebut. Perawatan yang diperlukan biasanya perawatan simptomatik yaitu dengan memberikan makanan yang lunak dan jika perlu menghilangkan kontak oklusal/incisal untuk mengurangi trauma saat oklusi yang diterima dari gigi. karena pada periode ini biasanya telah terjadi proses kalsifikasi dari jaringan dan gigi kembali vital. c. 127 . Dan dalam hal ini diperlukan tindakan reposisi dan fiksasi selama 2-3 bulan. b. Jika terjadi fraktur akar vertikal dilakukan tindakan ekstraksi gigi. Subluksasi Gigi 1 Gigi yang mengalami subluksasi sensitif terhada perkusi dan goyang. Jika garis fraktur berada sepertiga tengah akar.

dilakukan reposisi dan immobilisasi selama 2-3 bulan. Ekstrusi Gigi dan Luksasi Gigi ke lateral Pada gigi yang mengalami ekstrusi dan perubahan letak kearah lateral dilakukan perawatan reposisi gigi dengan tekanan jari. Kemudian gigi tersebut dikeringkan dan setelah saku gusi dibersihkan dari gumpalan darah replantasi dapat segera dilakukan. Sebelum melakukan replantasi. Intrusi Gigi   Pada apeks yang belum terbentuk sempurna. gigi tersebut distabilisasi dengan splint sistem etsa asam atau splint akrilik selama 7-10 hari (pada gigi yang apeksnya sudah terbentuk sempurna) dan 3-4 minggu pada gigi yang apeknya belum terbentuk sempurna. gigi tersebut direndam dahulu dalam larutan garam fisiologis hangat seperti cairan saline untuk mencegah kekeringan dari serat-serat periodontal. Dan resorpsi akar terlihat pada 95% gigi yang direplantasi setelah lebih dari 2 jam mengalami avulsi. kemudian immobilisasi gigi selama 2-3 minggu. 3 128 . Avulsi Gigi Pada gigi yang mengalami avulsi. tidak terdapat resorpsi akar pada gigi tersebut. Periode stabilisasi pada kasus cedera dentoalveolar dapat dilihat pada tabel 1. biasanya dibiarkan saja karena diharapkan pada saat pertumbuhan. dilakukan replantasi gigi dan stabilisasi gigi. Setelah gigi direplantasi. maka prognosisnya semakin baik. dan penggunaan alat orthodonti juda dapat membantu gigi yang mengalami instrusi dapat kembali keposisi semula. Keberhasilan replantasi gigi pada gigi yang mengalami avulsi ini tergantung pada lamanya gigi berada diluar soket. Apabila akar sudah terbentuk sempurna. 2. gigi akan kembali pada posisi semula. Semakin cepat gigi tersebut direplantasi. Andreasen dan Hjorting-Hansen 1 mengemukakan bahwa 90% dari gigi yang direplantasi kurang dari 30 menit setelah terjadi avulsi gigi.Perawatan Pada Gigi Yang Berubah Letak 1 1.

kecuali sebelum direplantasi gigi tersebut dirawat endodontik terlebih dahulu.Tabel 1. 3 – 4 minggu. Saku alveolar dapat menyediakan tempat bagi gigi yang direplantasi. Berapa lama gigi tersebut berada diluar saku alveolar. ada beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam melakukan replantasi gigi yang mengalami avulsi. 1 yaitu sebagai berikut : a. merupakan indikasi replantasi yang baik. c.Maka perawatan yang dilakukan adalah mengembalikan bagian yang terkena fraktur keposisi semula dan kemudian dilakukan stabilisasi selama 4 minggu sampai terjadi proses penyembuhan tulang serta penjahitan gusi yang mengalami laserasi. Fraktur Tulang Alveolar 1 Fraktur tulang alveolar biasanya disertai dengan fraktur dari beberapa gigi sehingga dengan fraktur tulang alveolar ini juga dapat terjadi fraktur mahkota. 3 Cedera Dentoalveolar Gigi yang mobile. Gigi yang berubah tempat Fraktur akar. Gigi yang berada diluar saku gusi kurang dari 30 menit. Tidak ada pertimbangan untuk melakukan perawatan orthodontik. Sumber : Ellis. 7 – 10 hari. fraktur akar dan trauma pada jaringan lunaknya. sedangkan jika gigi berada diluar saku alveolar lebih dari 2 jam kemungkinan besar akan terjadi komplikasi yaitu resorpsi dari akar gigi dan gigi menjadi non vital. d. b. Gigi tersebut tidak mempunyai kelainan periodontal. seperti gigi yang berjejal. e. Replantasi gigi (matur) Replantasi gigi (imatur) Durasi Imobilisasi 7 – 10 hari 2 – 3 minggu 2 – 4 bulan. Periode stabilisasi pada cedera dentoalveolar.Pada pasien yang mengalami 129 . 2003. Menurut Andreasen. Tingkat perkembangan akar. Soft Tissue and Dentoalveolar Injuries.

Cedera jenis ini jika mengenai daerah edentulous maksilla dapat menyebabkan terjadinya fistula oro-nasal pada daerah premaksilla atau fistula oroantral di daerah premolar dan molar. Foto panoramic. fraktur dentoalveolar pada maksila (panah). Jika mukosa mengalami perlukaan maka sebelum tindakan operatif harus diberikan antibiotik terlebih dahulu baru kemudian dilakukan debridemen.fraktur tulang alveolar yang parah dilakukan tindakan alveolektomi disertai ekstraksi gigi yang mengalami trauma. Gambar 10. Kemudian mukosa gingiva atau rongga mulut diperbaiki dengan cara melakukan penjahitan. Displacement segmen alveolar dan mengakibatkan maloklusi 1 Letak Fraktur pada Daerah Edentulous. 5 Bentuk cedera pada daerah tidak bergigi ini tidak terlalu berarti. Finger pressure dapat digunakan untuk menekan fragmen alveolar yang fraktur ke dalam posisinya yang tepat dan jika pasien menggunakan gigi tiruan dapat digunakan sebagai alat bantu memfiksasi. tulang alveolar yang lepas dan berukuran kecil dan tidak dapat dipertahankan dibuang dan dilakukan alveolektomi. 130 .

Kadang-kadang pada fraktur dentoalveolar gigi pada fragmen fraktur tidak mendapat dukungan tulang alveolar terutama pada penderita usia tua. kecuali gigi pada fragmen tulang alveolaris memerlukan pencabutan segera. Tetapi bagaimanapun jika fragmen alveolar yang fraktur cukup besar maka tetap diindikasikan untuk pemasangan splint. Alat Bantu Fiksasi 4 Masalah jangka panjang yang dapat terjadi jika prosesus alveolaris yang lepas berukuran besar akan mengakibatkan kesulitan saat pembuatan gigi tiruan. Perawatann ini dilakukan dengan anestesi lokal dibantu dengan sedasi.Gambar11. Splinting harus dipertahankan selama 6 minggu. Letak Fraktur pada Procesus Alveolaris Bergigi. maka perlu dirujuk kepada ahli periodontologi dengan melakukan perawatan splinting metoda Von Weissenfluh. jika terdapat gigi pada garis fraktur maka harus dipertimbangkan perawatan lainnya seperti perawatan endodontik diperlukan jika pulpa mengalami nekrosis. Fraktur dentoalveolar pada usia sangat muda dapat membaik tanpa memerlukan imobilisasi dan cukup dirawat dengan pemberian diet lunak. seperti diazepam oral atau intra venous. pendalaman sulcus atau teknik implant. 131 . 5 Adanya segmen tulang alveolar yang fraktur dan terdapat gigi permanen pada fragmennya maka diperlukan tindakan reduksi dan imobilisasi. Prognosis fragmen fraktur dapat ditingkatkan dengan tindakan imobilisasi. kemudian gigi ditempatkan secara akurat pada posisinya dan juga membebaskan trauma oklusal dari gigi lawannya. Komplikasi ini memerlukan perawatan pendahuluan sebelum pembuatan protesa yaitu augmentasi ridge.

Diagnosis ditegakkan dengan anamnesis.BAB IV KESIMPULAN Cedera pada strktur dentoalveolar dapat diakibatkan oleh trauma secara langsung mengenai gigi atau trauma tidak langsung. pemeriksaan klinis dan radiologis. biasanya akibat oklusi yang menutup dengan cepat dan kuat antara gigi-geligi mandibula ke gigi-geligi maksilla. Cedera dentoalveolar seringkali melibatkan regio anterior maksila Penyebab tersering cedera dentoalveolar adalah kecelakaan lalu lintas. olahraga. Tujuan perawatan cedera dentoalveolar adalah memperoleh kembali bentuk dan fungsi normal dari organ pengunyahan. 132 . perkelahian dan domestic abuse. Perawatan tergantung pada kasus dan seringkali melibatkan bidang kedokteran gigi lainnya.

Louis. J. St. Fonseca RJ.Daftar Pustaka 1. Third ed. Soft Tissue and Dentoalveolar Injuries. N. 1. 1982. 4. Philladelphia. Volume 1. MP. Localized Injuries of the Teeth and Alveolar Process. Oral and Maxillofacial Traumatology. 2. Rowe and Williams’ Maxillofacial Injuries. Williams. 2003. Vol. LB. 133 . Sowray. WB Saunders Company. 1994. Powers. E and Schilli. 3. Contemporary Oral and Maxillofacial Surgery. Philladelphia. In. Appliances for Immobilization. Second Ed. Schwenzer. and Steinhilber. Peterson. Kruger. Oral and Maxillofacial Trauma. Mosby Year Book Inc. Kaban. 5. 1991. In. Diagnosis and management of Dentoalveolar Injuries. WB Saunders Company.. 1990. E III. Pediatric Oral and Maxillofacial Surgery. FH. In. In. Quintessence Publishing Co. Ellis. Churchill Livingstone.

Hal ini dapat disebabkan karena posisinya yang menonjol dan merupakan sasaran pukulan dan benturan. Kecelakaan kendaraan bermotor merupakan etiologi utama penyebab fraktur mandibula di dunia. yaitu cara tertutup atau disebut juga perawatan konservatif dan cara terbuka yang ditempuh dengan cara pembedahan.Fraktur Mandibula Retno Widayanti 160121120003 Peserta Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut Dan Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Abstrak : Mandibula merupakan bagian tulang yang paling rentan mengalami fraktur pada trauma fasialis. fiksasi. Kata Kunci : fraktur. angulus mandibularis dan daerah mentalis. Pada prinsipnya ada dua cara penatalaksanaan fraktur mandibula. Champy Line 134 . Banyak faktor yang dapat menyebabkan terjadinya fraktur mandibula. Pada teknik tertutup imobilisasi dan reduksi fraktur dicapai dengan penempatan peralatan fiksasi maksilomandibular. reduksi. mandibula. Kedua teknik ini tidak selalu dilakukan tersendiri tetapi kadangkadang diaplikasikan bersama atau disebut dengan prosedur kombinasi. Pada prosedur terbuka bagian yang mengalami fraktur di buka dengan pembedahan dan segmen fraktur direduksi serta difiksasi secara langsung dengan menggunakan kawat/plat yang disebut dengan wire atau plate osteosynthesis. Daerah mandibula yang lemah adalah daerah subkondilar.

bila perlu dilakukan foto waters. CT Scan dan pemeriksaan panoreks4. tidak ratanya gigi. Hilangnya kontinuitas pada rahang bawah (mandibula). adanya gap. kecelakaan saat kerja dan kecelakaan akibat olahraga4. Faktor etiologi utama terjadinya fraktur mandibula bervariasi berdasarkan lokasi geografis. namun kecelakaan kendaraan bermotor menjadi penyebab paling umum. nyeri tekan. tidak simetrisnya arcus dentalis. pengikat rahang atas dan bawah dengan kawat (intermaxilari fixation). Hal ini diikuti dengan perkembangan teknik fiksasi mulai dari penggunaan pengikat kepala ( head bandages). Mandibula adalah tulang rahang bawah pada manusia dan berfungsi sebagai tempat menempelnya gigi geligi3. Patahnya gigi. Beberapa penyebab lain berupa kelainan patologis seperti keganasan pada mandibula. Evaluasi radiografis pada mandibula mencakup foto polos. pembengkaan. sebagai dasar pemikiran dan diagnosis fraktur mandibula 4. serta fiksasi dan 135 . hal ini disebabkan kondisi mandibula yang terpisah dari kranium.BAB I PENDAHULUAN Fraktur mandibula adalah putusnya kontinuitas tulang mandibula 1. adanya laserasi intra oral. Fraktur mandibula merupakan fraktur kedua tersering pada kerangka wajah. Diagnosis fraktur mandibula dapat ditunjukkan dengan adanya : rasa sakit. Secara khusus penanganan fraktur mandibula dan tulang pada wajah (maksilofasial) mulai diperkenalkan olah Hipocrates (460-375 SM) dengan menggunakan panduan oklusi (hubungan yang ideal antara gigi bawah dan gigigigi rahang atas). dapat berakibat fatal bila tidak ditangani dengan benar2. Pada perkembangan selanjutnya oleh para klinisi menggunakan oklusi sebagai konsep dasar penanganan fraktur mandibula dan tulang wajah (maksilofasial) terutama dalam diagnostik dan penatalaksanaannya. Selain hal itu mungkin juga terjadi trismus (nyeri waktu rahang digerakkan) 4. 2. dan maloklusi5. gigi yang longgar dan krepitasi menunujukkan kemungkinan adanya fraktur mandibula.

Restorasi fungsi mandibula sebagai bagian dari sistem stomatognati harus mencakup kemampuan untuk mastikasi yang baik. berbicara dengan normal dan menciptakan pergerakan artikulasi seperti sebelum terjadinya trauma. Pada semua manajemen fraktur. 136 . tujuan dari perawatannya adalah untuk mengembalikan fungsi dengan memastikan penyatuan dari segmen tulang dan mengembalikan kekuatan seperti sebelum cedera.imobilisasi fragmen fraktur dengan menggunakan plat tulang ( plate and screw)2. mencegah terjadinya infeksi. mencegah terjadinya defek kontur yang dapat timbul.4.5.

1 Anatomi Mandibula Mandibula dibentuk oleh dua bagian simetris yang mengadakan fusi dalam tahun pertama kehidupan. Bagian bawah korpus mandibula mempunyai tepi yang lengkung dan halus. ramus membentuk sudut 1200 terhadap korpus pada orang dewasa.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. Milohioid. Angulus mandibula terletak subkutan dan mudah diraba pada 2-3 jari dibawah lobulus aurikularis 10. Angulus mandibula adalah pertemuan antara tepi belakang ramus mandibula dan tepi bawah korpus mandibula. Pada pertengahan korpus mandibula kurang lebih 1 inchi dari simfisis didapatkan foramen mentalis yang dilalui oleh vasa dan nervus mentalis. Permukaan luar dari korpus mandibula pada garis median. yaitu suatu lengkungan tapal kuda dan sepasang ramus yang pipih dan lebar yang mengarah keatas pada bagian belakang dari korpus. memipih dan meninggi pada bagian ramus kanan dan kiri sehingga membentuk pilar. didapatkan tonjolan tulang halus yang disebut simfisis mentum yang merupakan tempat pertemuan embriologis dari dua buah tulang. Permukaan dalam dari korpus mandibula cekung dan didapatkan linea milohiodea yang merupakan origo m. 137 . Pada ujung dari masing-masing ramus didapatkan dua buah penonjolan disebut prosesus kondiloideus dan prosesus koronoideus. Secara keseluruhan tulang mandibula ini berbentuk tapal kuda melebar di belakang. Tulang ini terdiri dari korpus. Bagian korpus mandibula membentuk tonjolan disebut prosesus alveolaris yang mempunyai 16 buah lubang untuk tempat gigi. Pada yang lebih muda sudutnya lebih besar dan ramusnya nampak lebih divergens. Prosessus kondiloideus terdiri dari kaput dan kolum.

diskus artikularis berperan untuk membuka mandibula. Fungsi m pterigoid sangat penting dalam proses penyembuhan pada fraktur intrakapsuler. M masseter bersama m temporalis merupakan kekuatan untuk menggerakkan mandibula dalam proses menutup mulut. Masseter yang berinsersi pada sisi lateral angulus dan ramus mandibula. M pterigoideus lateral berinsersi pada bagian depan kapsul sendi temporo-mandibular. Pterigodeus medial berinsersi pada sisi medial bawah dari ramus dan angulus mandibula. Temporalis yang berinsersi disisi medial pada ujung prosesus koronoideus dan m.Gambar 2.1 Anatomi mandibula10 Dari aspek fungsinya. 138 . M. merupakan gabungan tulang berbentuk L bekerja untuk mengunyah dengan dominasi (terkuat) m.

2 Insersi Otot pada Mandibula4 Pada potongan melintang tulang mandibula dewasa level molar II berbentuk seperti ”U” dengan komposisi korteks dalam dan korteks luar yang cukup kuat. Ditengahnya ditancapi oleh akar-akar geligi yang terbungkus oleh tulang kanselus yang membentuk sistem haversian (osteons) diantara dua korteks tersebut ditengahnya terdapat kanal mandibularis yang dilewati oleh syaraf dan pembuluh darah yang masuk dari foramen mandibularis dan keluar kedepan melalui foramen mentalis. Posisis jalur kanalis mandibula ini perlu diingat dan dihindari saat melakukan instrumentasi waktu reposisi dan memasang fiksasi interna pada fraktur mandibula11.53mm.7mm sedang pada potongan level gigi kaninus kanalnya berdiameter sekitar 1mm dengan ketebalan korteks sekitar 2. Lebar kanalis mandibula tersebut sekitar 3 mm ( terbesar) dan ketebalan korteks sisi bukal yang tertipis sekitar 2.Gambar 2. Mandibula mendapat nutrisi dari arteri alveolaris inferior yang merupakan cabang pertama dari arteri maxillaris yang masuk melalui foramen mandibula bersama vena dan nervus alveolaris inferior berjalan dalam kanalis alveolaris. 139 .

Arteri mentalis beranastomosis dengan arteri facialis. Mentalis. arteri submentalis dan arteri labii inferior. yang selanjutnya mengalirkan darah ke vena facialis anterior. Arteri submentalis dan arteri labii inferior merupakan cabang dari arteri facialis. Vena facialis anterior dan vena facialis posterior bergabung menjadi vena fascialis communis yang mengalirkan darah ke vena jugularis interna12. Sebelum keluar dari foramen mentalis bercabang menuju incisivus dan berjalan sebelah anterior ke depan didalam tulang.Arteri alveolaris inferior memberi nutrisi ke gigi-gigi bawah serta gusi sekitarnya kemudian di foramen mentalis keluar sebagai a. Daerah dagu mengalirkan darah ke vena submentalis. Arteri mentalis memberi nutrisi ke dagu. Gambar 2. Aliran darah balik dari mandibula melalui vena alveolaris inferior ke vena facialis posterior.4 Inervasi mandibula12 140 .3 Vaskularisasi mandibula12 Gambar 2.

Fraktur patologis dapat terjadi karena kekuatan tulang berkurang akibat adanya kista. Selain itu titik lemah juga didapatkan pada foramen mentale. Fraktur dapat terjadi akibat trauma atau karena proses patologis. Daerah korpus mandibula terutama terdiri dari tulang kortikal yang padat dengan sedikit substansi spongiosa sebagai tempat lewatnya pembuluh darah dan pembuluh limfe. Garis fraktur subkondilar umumnya dibawah leher prosesus kondiloideus akibat perkelahian dan berbentuk hampir vertikal. Fraktur akibat trauma dapat terjadi akibat perkelahian. tetapi pada beberapa tempat dijumpai adanya bagian yang lemah. garis fraktur yang terjadi berbentuk oblique. Namun pada kecelakaan lalu lintas garis fraktur terjadi dekat dengan kaput kondilus. kecelakaan lalulintas. osteogenesis imperfecta. kolum kondilus mandibula terutama bila trauma dari depan langsung mengenai dagu maka gayanya akan diteruskan kearah belakang. Daerah yang tipis pada mandibula adalah angulus dan sub condylus sehingga bagian ini termasuk bagian yang lemah dari mandibula. tumor jinak atau ganas rahang. osteomalacia.2 DEFINISI FRAKTUR MANDIBULA Fraktur didefinisikan sebagai deformitas linear atau terjadinya diskontinuitas tulang yang disebabkan oleh rudapaksa. fraktur dapat terjadi secara spontan seperti waktu bicara. Pada fraktur mendibula. Garis fraktur pada mandibula biasa terjadi pada area lemah dari mandibula tergantung mekanisme trauma yang terjadi. Garis fraktur dimulai pada regio alveolar kaninus dan insisivus berjalan oblique ke arah midline. kecelakaan kerja. Pada regio angulus garis fraktur umumnya dibawah atau dibelakang regio mlaor III kearah angulus mandibula. Mandibula merupakan tulang yang kuat. makan atau mengunyah13. Pada fraktur corpus mandibula garis fraktur tidak selalu paralel dengan sumbu gigi. angulus mandibula tempat gigi molar III terutama yang erupsinya sedikit.2. jatuh ataupun trauma saat pencabutan gigi. fragmen yang fraktur mengalami displaced 141 . Akibat adanya proses patologis tersebut. luka tembak. osteomyelitis. seringkali garis fraktur berbentuk oblique. atrofi tulang secara menyeluruh atau osteoporosis nekrosis atau metabolic bone disease.

Fraktur pada fasial jauh lebih banyak terjadi pada mereka yang tidak menggunakan pelindung pada saat terjadinya kecelakaan14. Fridrich dkk memperlihatkan bahwa fraktur akibat kecelakaan kendaraan bermotor biasanya pada regio kondilus. arah dan kekuatan trauma. ada atau tidaknya gigi pada fragmen. 7% akibat terjatuh. oleh karena itu maka reduksi dan fiksasi pada fraktur mendibula harus menggunakan splinting untuk melawan tarikan dari otototot mastikasi. Kecelakaan kendaraan bermotor merupakan etiologi utama penyebab fraktur mandibula di dunia4.5%). 34% disebabkan oleh kekerasan. 7% kecelakaan kerja.4 DISTRIBUSI ANATOMIS Lokasi fraktur mandibula terbanyak pada kondilus (29. dan medial oleh m pterigoideus medialis. simfisis dan parasimfisis (22%). Pada kecelakaan pengendara kendaraan roda dua yang terkena adalah daerah simfisis. karena daerah ini terfiksasi oleh m masseter pada bagian lateral.1%). Beberapa penelitian memperlihatkan etiologi pada lokasi fraktur.akibat tarikan otot-otot mastikasi. 2. Literatur menyebutkan bahwa 43% fraktur mandibula disebabkan oleh kecelakaan kendaraan bermotor. Pada 142 .1%) ramus (1. arah dan sudut garis fraktur. 4% pada kecelakaan olahraga dan sisanya oleh bermacam-macam sebab lainnya. 2. angulus (24. Fraktur yang terjadi pada korpus. kondilus dan angulus mandibula tidak banyak berbeda dalam insidensinya dan fraktur ramus serta processus koronoideus sangat jarang. korpus mandibula (16%).7%). Beberapa faktor yang mempengaruhi displacement fraktur mandibula antara lain . dan prosesus koronoideus (1.3 ETIOLOGI Banyak faktor yang dapat menyebabkan terjadinya fraktur mandibula. arah lepasnya otot dan luasnya kerusakan jaringan lunak.3%) 4. Masseter. segmen dento alveolar (3. Demikian juga pada prosesus koronoideus yang terfiksasi oleh M. Pada daerah ramus mandibula jarang terjadi fraktur.

Area fraktur cenderung berbeda pada pasien edentulus.fraktur yang diakibatkan karena kekerasan biasanya di daerah sudut mandibula14. Gambar 2. 143 . Fraktur subkondilus banyak ditemukan pada anak-anak sedangkan fraktur angulus banyak ditemukan pada remaja dan dewasa muda16. tetapi tetap saja regio angulus mandibula dan mentalis yang paling sering menjadi fraktur.5 Distribusi anatomis fraktur mandibula 15 Mandibula yang mengalami atropi mempunyai kelemahan pada banyak tempat.2%).15. angulus (15.3%) 15. Gambar 2.6 Distribusi fraktur mandibula pada pasien edentulus 15 Beberapa penelitian menyatakan bahwa terdapat hubungan antara frekuensi fraktur mandibula dengan daerah anatomi.5%). dimana fraktur korpus mandibula (43. simfisis mandibula (4.

Fraktur yang melukai jaringan lunak baik kulit. Fraktur jenis ini disebut juga fraktur tertutup atau closed fracture. 144 . g. Fraktur dimana tulang terbagi menjadi beberapa bagian atau fragmen-fragmen kecil.5 KLASIFIKASI Secara garis besar fraktur mandibula diklasifikasikan dalam tiga kelompok yaitu berdasarkan jenis fraktur. Fraktur compound. tetapi hanya sebagian saja. Hubungan ini dapat terjadi melalui kulit. Fraktur ini mempunyai hubungan antara tulang yang patah dengan permukaan luar wajah atau dengan rongga mulut. Fraktur cominutted. karena tulangnya belum sepenuhnya terkalsifikasi. pembuluh darah dan syaraf. Fraktur yang tidak seluruh kontinuitas tulang terputus. Fraktur kompleks. Fraktur ini merupakan salah satu tipe fraktur yang sering terjadi pada anak-anak. Fraktur tipe ini jarang terlihat pada mandibula. Hal ini diakibatkan karena tulang anak-anak masih bersifat lentur. Fraktur greenstick. mukosa atau bagian yang berdekatan seperti otot. tetapi dapat terjadi dimana sisi fragmen terdorong kesisi yang berlawanan.2. Fraktur yang terjadi tidak mempunyai hubungan dengan dunia luar dan tidak terjadi dislokasi atau displacement. Fraktur direct terjadi langsung pada titik kontak dari trauma sedangkan indirect terjadi jauh dari sisi datangnya trauma. e. Biasanya fraktur ini terjadi pada regio simfisis mandibula. Fraktur indirect dan direct. Fraktur sederhana. berdasarkan daerah fraktur dan berdasarkan penyebab fraktur.17 a. d. f. Berdasarkan jenis fraktur16. Teleskop atau fraktur impaksi. Fraktur jenis ini disebut juga fraktur terbuka atau open fracture. c. jaringan mukosa dan membran periodontal. b.

8 Klasifikasi fraktur mandibula berdasarkan tipe frakturnya: Greenstick (A). C. Fraktur comminuted. seperti kista atau metastasis tumor. Fraktur sederhana. B. Fraktur impaksi pada subkondilus dekstra dan fraktur patologis pada angulus sinistra. Gambar 2.7 Tipe fraktur: A. Fraktur patologis. Simple (B). Fraktur compound. E. Gambar 2. Kompon (D)17 145 . Fraktur yang terjadi pada fungsi normal atau trauma minimal pada tulang yang mengalami gangguan patologis. Komminuted (C). D. Fraktur direct dan indirect15.h.

seperti tarikan otot masseter dan temporalis pada fragmen proksimal. Gambar 2.Fraktur mandibula juga dapat diklasifikasikan sebagai fraktur favorable atau unfavorable.10 Favorable vertikal (kiri) dan unfavorable (kanan)15 146 . masing-masing dari arah vertikal dan horisontal tergantung pada otot sekitarnya yang menahan atau memindahkan segment fraktur tersebut. Garis fraktur favorable horizontal menahan gaya tarikan ke atas. Garis fraktur favorable vertikal menahan gaya tarikan medial pterygoid medial pada fragmen proksimal18.9 Unfavorable horizontal (kiri) dan favorable (kanan)15 Gambar 2.

Fraktur angulus Fraktur yang terjadi antara prosesus alveolaris hingga ke batas inferior distal molar kedua hingga ke sudut yang dibentuk oleh korpus dan ramus madibula. 2. berakibat fraktur kaput radii atau klavikula. 3. 8. Trauma tidak langsung (indirect).Trauma tersebut langsung mengenai anggota tubuh penderita. Fraktur ramus Fraktur horizontal melalui batas anterior dan posterior ramus. 4. Fraktur dentoalveolar Fraktur yang hanya terjadi pada area penyangga gigi pada mandibula dan tidak mengganggu kontinuitas struktur tulang dibawahnya. Fraktur parasimfisis Fraktur yang terjadi antara prosesus alveolaris hingga ke batas inferior batas distal insisivus lateral hingga ke foramen mentalis. Fraktur prosesus kondiloideus Fraktur yang terjadi dari sigmoid notch ke batas posterior ramus mandibula sepanjang aspek superior dari ramus mandibula. Terjadi seperti pada penderita yang jatuh dengan tangan menumpu dan lengan atas-bawah lurus.Berdasarkan lokasi anatomis. 5. fraktur mandibula dibagi atas15: 1. 6. Fraktur traumatik Trauma langsung (direct). 7. Fraktur prosessus koronoideur Menurut Penyebab Terjadinya Fraktur 1. Fraktur simfisis Fraktur pada regio insisivus yang melalui prosessus alveolaris ke batas inferior mandibula dalam arah vertikal atau hampir vertikal. Fraktur korpus Fraktur yang terjadi antara prosesus alveolaris hingga ke batas inferior regio antara foramen mentalis hingga ke sisi distal dari molar kedua. Gaya tersebut dihantarkan melalui 147 .

Fraktur terbuka. Fraktur fatik atau stress Trauma yang berulang dan kronis pada tulang yang mengakibatkan tulang menjadi lemah. maupun kombinasi gaya berputar. pembengkokan dan kompresi seperti fraktur oblik dengan garis fraktur pendek. Fraktur komplikasi. 2. Jika perlu dapat dilakukan intubasi orotrakhea pada kasus darurat jalan nafas.tulang-tulang anggota gerak atas dapat berupa gaya berputar. Fraktur patologis Pada tulang telah terjadi proses patologis yang mengakibatkan tulang tersebut rapuh dan lemah. Fraktur terbuka dapat berhubungan dengan ruangan di tubuh yang tidak steril seperti rongga mulut. disebut juga fraktur tertutup. pembuluh darah. 3. Biasanya fraktur terjadi spontan Menurut Hubungan dengan Jaringan Ikat Sekitarnya 1. oleh karena kulit di sekeliling fraktur sehat dan tidak sobek. organ viscera atau sendi.6 PEMERIKSAAN KLINIS Evaluasi trauma dilakukan secara menyeluruh. kecelakaan atau terjatuh. gigitan terbuka dan prematur kontak. 2. 2. fraktur tersebut berhubungan dengan kerusakan jaringan atau struktur lain seperti saraf. Contohnya pada fraktur fibula pada olahragawan. pembengkokan (bending) atau kombinasi pembengkokan dengan kompresi yang berakibat fraktur butterfly. 3. Fraktur juga dapat terjadi akibat tarikan otot seperti fraktur patela karena kontraksi quadrisep yang mendadak. yaitu penanganan jalan nafas. Tanda dan gejala terjadinya fraktur adalah adanya maloklusi dihubungkan dengan riwayat trauma seperti terkena pukulan. kulit di sekitar fraktur sobek sehingga fragmen tulang berhubungan dengan dunia luar (bone expose) dan berpotensi untuk menjadi infeksi. 148 . pemeriksaan terhadap pergeseran segmen tulang. traksi manual atau traksi pada lidah dapat menghindarkan obstruksi jalan nafas. Maloklusi dapat berupa gigitan silang. Fraktur simple/tertutup.

11 Palpasi bimanual pada mandibula untuk membandingkan struktur anatomis18 Pemeriksaan intraoral memperlihatkan adanya laserasi atau hematoma. Pergerakan abnormal dapat diketahui dengan pemeriksaan jari tangan atau palpasi bimanual.18. mengunyah atau waktu palpasi.Rasa sakit bersifat akut dan dapat diperberat oleh gerakan ringan bagian yang terluka. Gambar 2. Pembengkakan atau oedema tampak pada daerah fraktur yang disebabkan oleh keluarnya darah dan serum ke jaringan sekitar14. Gerakan-gerakan ringan tersebut misalnya waktu berbicara. Sering menunjukkan terpisahnya gigi yang satu dengan yang lain dan terputusnya kontinuitas dataran oklusal pada bagian yang mengalami fraktur 149 . Bila digerakkan dengan jari tangan tiap fragmen fraktur akan bergerak sendiri. Pemeriksaan pada rahang saat membuka dan menutup mulut dan memperhatikan deviasi rahang atau mobiliti yang terbatas. Retraksi pergerakan tulang merupakan kelainan sekunder yang dapat ditemukan pada fraktur zigomatikus yang mengalami displacement dan berdampak pada prossesus koronoideus mandibula17.

Terputusnya kontinuitas dataran oklusal14 150 .A B Gambar 2. Haematom pada dasar mulut.12 A. B.

Panoramik membutuhkan pasien tegak. dapat membantu. Tampilan oklusal mandibula menunjukkan perbedaan di posisi tengah dan lateral fraktur body. b. Panoramik Panoramik menyediakan kemampuan untuk melihat seluruh mandibula dalam satu radiograf. dan tidak memiliki kemampuan melihat secara detail area TMJ. fraktur pada corpus posterior.7 PEMERIKSAAN RADIOLOGIS Apabila pemeriksaan klinis sering dapat memberikan gambaran adanya fraktur mandibula.2. simfisis dan gigi / daerah proses alveolar. atau fraktur simfisis. secara umum relatif akurat kecuali kalau angulasi dan magnifikasi pemotretan tidak baik. tidak usah dirawat atau dilakukan reduksi terbuka16. c. Bagian kondilus. CT scan juga dapat membantu: CT scan juga memungkinkan dokter untuk survei fraktur wajah daerah lain. dan periapikal. posteroanterior. oklusal. kompleks naso-ethmoid- 151 . Evaluasi radiografis terhadap perluasan pergeseran segmen fraktur. maka evaluasi radiologis diperlukan untuk mempertegas hal tersebut atau memberikan data yang lebih akurat. sudut. Plain film. termasuk tulang frontal. bicuspid dan daerah simfisis seringkali tidak jelas. angel. termasuk pandangan lateral-obliq. Pemeriksaan radiologis yang dapat membantu untuk menegakkan diagnosa fraktur mandibula adalah14: a. Penentuan terjadinya pergeseran berperan sebagai petunjuk dalam menentukan terapi. tubuh. Pandangan lateral-obliq membantu mendiagnosis ramus. Tampilan Caldwell posteroanterior menunjukkan setiap perpindahan medial ataulateral ramus.

orbital.13 Pencitraan fraktur angulus kanan dan simphisis kiri mandibula pada panoramik foto13 Gambar 2. dan seluruh sistem horizontal dan vertical yang menopang kraniofasial.14 Gambaran radiologis fr mandibula dan alveolaris 18 152 . CT scan juga ideal untuk fraktur condylar. yang sulit untuk memvisualisasikan Panoramik Gambar 2. Rekonstruksi kerangka wajah sering membantu untuk konsep cedera. orbit.

B.Posteroanterior foto A B Gambar 2. Pencitraan fraktur kondilus kiri pada Posteroanterior foto. Pencitraan fraktur korpus dan angulus mandibula kiri19 153 . Pencitraan fraktur kondilus kiri. B.15 A.17 A. Pencitraan fraktur korpus mandibula dan angulus kiri pada posteroanterior foto15 Lateral oblique foto Gambar 2.16 Pencitraan fraktur korpus dan angulus kiri mandibula pada Lateral Oblique foto19 Reverse Towne A B Gambar 2.

Pencitraan fraktur comminuted ramus mandibula kiri pada CT scan potongan axial19 A B Gambar 2. Pencitraan fraktur angulus kiri pada CT scan potongan sagital19 3D Imaging Gambar 2.19 A. B. Pencitraan fraktur ramus mandibula kiri pada CT scan direct coronal.18 A.20 Pencitraan fraktur dengan 3 dimensi 19 154 . B. Pencitraan fraktur kondilus kiri dengan perobahan letak fragmen kondilus proksimal pada CT scan potongan axial.CT SCAN / (COMPUTERED TOMOGRAFI) SCAN A B Gambar 2.

Apabila terjadi fraktur mulitple di wajah. Prinsip dasar umum dalam perawatan fraktur mandibula ialah sebagai berikut. Meminimalisir deviasi mandibula Menghasilkan artikulasi yang bebas dari rasa sakit pada saat istirahat dan fungsi 6) Mencegah internal derangement pada TMJ sisi cedera atau sisi yang berlawanan. 7) Mencegah komplikasi jangka panjang pada gangguan pertumbuhan. Menciptakan pembukaan mandibula yang maksimal. Waktu penggunaan fiksasi intermaksiler dapat bervariasi tergantung tipe. jumlah dan derajat keparahan fraktur mandibula serta usia dan kesehatan pasien maupun metode yang akan digunakan untuk reduksi dan imobilisasi. head frame plaster of paris. Terapi fraktur mandibula secara garis besar dibagi menjadi dua bagian yaitu dengan metode closed reduction (reduksi tertutup) dan metode open reduction (reduksi terbuka) Metode reduksi tertutup adalah suatu tindakan reduksi tertutup tanpa melalui suatu tindakan pembukaan tulang untuk memudahkan lapang pandang secara pembedahan. Penggunaan antibiotik untuk kasus compound fractures.2. Evaluasi klinis secara keseluruhan dengan teliti. Jenis-jenis reduksi tertutup diantaranya external appliance seperti head bandage. 155 . Memperbaiki pembukaan interinsisal dan pergerakan mandibula. dari bawah keatas. pemeriksaan klinis fraktur dilakukan secara benar. intermaxillary fixation seperti interdental wiring fixation dan splint fixation. monitor pemberian nutrisi pasca operasi. head gear. kerusakan gigi dievaluasi dan dirawat bersamaan dengan perawatan fraktur mandibula.8 TERAPI Adapun tujuan yang ingin didapatkan pada perawatan fraktur mandibula adalah18: 1) 2) 3) 4) 5) Mendapatkan oklusi yang stabil dalam fungsi dan estetik. mengembalikan oklusi merupakan tujuan dari perawatan fraktur mandibula. fraktur mandibula lebih baik dilakukan perawatan terlebih dahulu dengan prinsip dari dalam keluar. lokasi.

Dilakukan pada gigi atas dan bawah sampai oklusi baik. Tehnik Gilmer . Fiksasi ini dipertahankan 3-4 minggu pada fraktur daerah condylus dan 4-6 minggu pada daerah lain dari mandibula. Kemudian kedua kawat atas dan bawah digabungkan dan diputar dengan hubungan vertika maupun silang. Beberapa tehnik fiksasi intermaksilaris . Kawat tersebut dilingkarkan pada leher gigi.Gambar 2. a. kemudian diputar searah jarum jam sampai tegang. merupakan tehnik yang mudah dan efektif tetapi mempunyai kekurangan yaitu mulut tidak dapat dibuka untuk melihat daerah fraktur tanpa mengangkat kawat.21 Head bandage16 Tehnik yang digunakan pada terapi fraktur mandibula secara closed reduction adalah fiksasi intermaksiler. untuk mencegah tergelincir ke anterior dan posterior 156 .

23 Tehnik eyelet / ivy loop15 c. disertai fraktur maksila. indikasi pemasangan arch bar antara lain gigi kurang/ tidak cukup untuk pemasangan cara lain. Tehnik eyelet (ivy loop) . terdiri dari formasi loop kawat kecil yang mengelilingi arkus dentis bagian atas dan bawah. 157 .Gambar 2. Tehnik erich arch bar . dan menggunakan karet sebagai traksi yang menghubungkannya d. Kerugiannya kawat mudah putus waktu digunakan untuk fiksasi intermaksiler Gambar 2.22 Tehnik Gilmer 19 b. keuntungan tehnik ini bahan mudah didapat dan sedikit menimbulkan kerusakan jaringan periodontal serta rahang dapat dibuka dengan hanya mengangkat ikatan intermaksilaris. Tehnik continous loop (stout wiring) .

tidak dapat digunakan pada penderita dengan edentulous luas.didapatkan fragmen dentoalveolar pada salah satu ujung rahang yang perlu direduksi sesuai dengan lengkungan rahang sebelum dipasang fiksasi intermaksilaris. Tehnik Kazanjian . A Gambar 2. Interdental wiring15 B Gambar 2. dengan menggunakan kawat yang kuat untuk tempat karet dipasang mengelilingi bagian leher gigi. Kerugiannya ialah menyebabkan keradangan pada ginggiva dan jaringan periodontal. biaya murah. Keuntungan penggunaan arch bar ialah mudah didapat.25 Tehnik Kazanjian 15 Indikasi untuk metode reduksi tertutup adalah:18 a) Fraktur menguntungkan tanpa adanya pergeseran tempat ( nondisplace favorable fracture) 158 . mudah adaptasi dan aplikasinya. Tehnik ini untuk gigi yang hanya sendiri atau insufisiensi pada bagian dari pemasangan arch bar. B. Essig wire.24 A. e.

Keuntungan dari ORIF antara lain . resiko ankilosis TMJ dan problem airway. kompresi pada fragmen fraktur dan imobilisasi yang rigid serta perbaikan kekuatan self kompresi fisiologis. karena jika menggunakan open reduction. Tehnik ini dapat dikerjakan di tingkat poliklinis. Hasil yang didapatkan dari pemakaian monocortical osteosynthesis adalah tercapainya netralisasi kekuatan tensi dan kompresi serta rotasi pada garis fraktur sehingga diperoleh reduksi anatomis yang fisiologis. penggunaan open reduction dapat merusak benih gigi atau gigi yang sedang tumbuh e) f) Fraktur processus koronoidalis Fraktur kondilus Keuntungan dari reposisi tertutup adalah lebih efisien. Kerugiannya adalah biaya lebih mahal dan diperlukan ruang operasi dan pembiusan untuk tindakannya. paired miniplates. Dalam menangani fraktur mandibula umumnya digunakan lebih dari satu modalitas sebab terdapat banyak variasi biomekanik dan problem klinis untuk mencapai mobilitas fiksasi di regio fraktur. Pada regio anterior.b) Fraktur comunitted yang luas. dapat mengganggu vaskularisasi fragmen tulang yang kecil c) Fraktur pada mandibula edentulus (tidak bergigi). Ada 5 metode yang umum digunakan yaitu dengan biocortical transfacial compression plates pada bagian inferior dengan atau tanpa tension band plate. plat paling baik diletakkan pada permukaan yang paling luas dan setinggi mungkin di daerah linea oblique eksterna. gangguan nutrisi karena adanya MMF. angka komplikasi lebih rendah dan waktu operasi yang lebih singkat. monocortical transoral miniplates pada bagian superior. Kerugiannya meliputi fiksasi yang lama. mobilisasi lebih dini dan reaproksimasi fragmen tulang yang lebih baik. diantara kedua foramen mentalis. Pada angulus mandibula. lag screws dan noncompression stabilization plates pada bagian inferior. disamping plat subapikal perlu juga ditambahkan plat lain di dekat batas bawah mandibula untuk menetralkan 159 . karena open reduction dapat mengganggu vaskularisasi d) Fraktur mandibula pada anak.

Ketika dilakukan 160 . Jenis-jenis dari metode terbuka contohnya interosseus wiring dan fiksasi dengan bone plate and screw. Penempatan plat didaerah sepanjang tension trajectory ternyata juga menghasilkan suatu fiksasi yang paling stabil bila ditinjau dari prinsip biomekaniknya. Penggunaan rigid internal fixation untuk mencegah hilangnya kontrol segmen proksimal. Metode reduksi terbuka adalah suatu tindakan reduksi dengan cara pembedahan untuk memudahkan lapang pandang.  Fraktur yang tidak menguntungkan pada bodi mandibula atau daerah para simpisis mandibula Otot mylohyoid. Pada daerah di belakang foramen mentalis sampai mendekati daerah angulus cukup digunakan satu plat yang dipasang tepat dibawah akar gigi dan diatas nervus alveolaris inferior. distraksi dari kontak tulang menghambat reduksi dan vaskular dari sisi fraktur dan dapat menjadi sumber infeksi. archbar sudah cukup berfungsi menetralkan kekuatan tension. digastrikus. Batas inferior dari angulus sangat tipis dan tidak mungkin dilakukan suatu kompresi. Adanya gigi molar 3 menyebabkan fraktur mudah terjadi. Pada bagian mandibula yang bergigi. Indikasi reduksi terbuka adalah19 :  Fraktur yang tidak menguntungkan pada sudut mandibula Fraktur ini diindikasikan untuk reduksi terbuka bila fragmen proksimal berubah tempat ke arah posterior atau median dan reduksi tidak dapat dipertahankan tanpa intraosseus wiring. skrew dan plat. geniohyoid dan genioglosus dapat menyebabkan perpindahan fragmen lebih jauh. Fraktur pada daerah angulus mandibula merupakan problem khusus pada perawatan dengan menggunakan rigid internal fixation. delayed union dan malunion yang dapat terjadi bila digunakan terapi lain.kekuatan rotasi pada daerah simfisis tersebut. Angulus merupakan bagian yang sulit dicapai lewat intraoral karena adanya otot-otot pengunyah dan otot-otot daerah suprahyoid. sedangkan pada daerah angulus dan ramus mandibula fungis tersebut baru bisa didapatkan dengan menggunakan plat yang kecil.

cenderung gagal dan memaksa fraktur setengah wajah berhimpitan dengan kondilus yang menyebabkan profil wajah menjadi lebih pendek. Gambar 2. cusp lingual seluruh premolar dan molar bergerak keluar dari kontak oklusal.perawatan reduksi terbuka.26 Fraktur menguntungkan dan tidak menguntungkan 19  Fraktur multipel pada tulang wajah Pada kasus ini perawatan reduksi terbuka dari segmen mandibula membuktikan perbaikan yang stabil  Fraktur setengah wajah dan fraktur kondilus bilateral Pada fraktur ini salah satu kondilus yang fraktur harus dirawat dengan reduksi terbuka untuk mempertahankan dimensi vertikal wajah.  Fraktur edentolous mandibula dengan perpindahan yang hebat fragmen fraktur Pada fraktur ini reduksi terbuka dianggap bisa membuat kembali kontinuitas mandibula. Tehnik ini berguna terutama pada mandibula yang nonatropic pada saat tidak ada gigi tiruan. fraktur parasimpisis cenderung membuka pada border inferior. sehingga oklusinya tidak menjadi pertimbangan langsung. dengan aspek dari segmen mandibula berputar ke arah median pada titik fiksasi. Kalau konstriksi ini tidak diperbaiki. Pada situasi ini memberikan 161 . Dengan rotasi medial dari body mandibula. akan terjadi inefisiensi pengunyahan dan perubahan periodontal yang buruk . seperti dari sutura frontozygomatikus ke daerah mandibula. Kalau prosedur ini tidak menyelesaikan masalah tipe wiring apapun.

sehingga terjadi jaringan penghubung antara fragmen fraktur yang menghambat osteogenesis. harus dipertimbangkan status dari suplai darah ke tulang dan efek dari prosedur reduksi terbuka pada kompromi vaskularisasi. Pencangkokkan tulang harus dipeertimbangkan pada fraktur mandibula yang mengalami atropic secara ekstrim.  Malunion Ketika hasil perawatan fraktur mandibula yang buruk.plat pada mandibula tanpa intermaxilary fixation merupakan Ketika mandibulamenjadi atropik secara kemungkinan yang kuat.  Edontolous maksila dengan Fraktur mandibula Adanya fraktur mandibula dengan edentolous maxila merupakan kesulitan untuk dilakukan intermaxilary fixation.  Kondisi sistemik tertentu yang merupakan kontraindikasi intermaxillary fixation Pada situasi dimana mandibula harus tetap bergerak. Metode ini dengan fiksasi rigid dengan fraktur mandibula akan menggantikan kebutuhan intermaxilary fiksation. masalah psikiatrik dan neurologik. dan kelainan gastrointestinal. Alasan ditundanya perawatan karena adanya luka kepala atau adanya masalah medis yang serius. fungsi paru yang harus dikompromikan. dan dapat distabilkan dengan palatal screw atau circum zygomatic wires. Jika diperlukan close reduction maka perlu adanya prostetik pada maxilla. ekstrim.  Fraktur yang membutuhkan osteotomy/ Orthognathi Surgery 162 .  Perawatan yang tertunda dan Interposisi jaringan lunak antara fragmen fraktur yang tidak kontak Ketika perawatan tertunda dan jaringan lunak ada diantara fragmen fraktur maka diperlukan metode open reduction. maka harus dilakukan metode open reduction. contohnya pada pasien yang mengalami kesulitan mengontrol akibat serangan yang tiba-tiba atau epilepsi. berbagai tipe osteotomi diperlukan untuk memperbaiki kekurangannya.

cabang mandibula marginal dan nervus facialis terletak pada lapisan ini. Incisi kulit harus diletakkan pada lipatan kulit untuk menghindari jaringan parut dan dibuat pada sudut yang tepat. Faktor yang harus diperhatikan adalah isolasi fraktur. Lemak subkutan dan superficial fascia dipisahkan untuk mencapai muskulus platymus. Panjang incisi 4 cm sampai 5 cm. Pendekatan bedah sendiri antara lain (Gambar 3) : Pendekatan submandibular Pendekatan retromandibular Pendekatan preauricular Gambar 2. sehingga sangat penting untuk diketahui.27 Insisi submandibular dan preauricular19 Pendekatan Submandibular Pendekatan ini dikenalkan tahun 1934 oleh Risdon. Fraktur yang membutuhkan bone graft. garis wajah dan posisi nervous.20: Pendekatan Bedah Sebelum melakukan operasi pada fraktur mandibula. operator harus memperhatikan sudut mulut pada lapangan operasi untuk memonitor aktifitas nervous facialis dan untuk meyakinkan anestesiologist tidak membuat pasien paralisis dalam waktu yang lama. Lalu muskulus platymus dipotong untuk mencapai lapisan superficialis pada bagian dalam fascia cervicalis. 163 . Ada banyak metode perawatan fraktur mandibula dengan reduksi terbuka diantaranya12. 2 cm dibawah angulus mandibularis.

Pembukaan dapat dikurangi dan penutupan dapat diperbaiki dengan penarikan pterygoid medialis dan ligament stylomandibular dari batas interior dan posterior. Kelenjar submandibular dan capsulnya.28)19. Kelenjar submandibularis dan kapsulnya biasanya berlokasi dibagian batas inferior dari mandibula. Pemisahan ke tulang melewati fascia cervicalis yang dalam dengan menggunakan nerve stimulator. Setelah otot dilewati lalu dipisahkan pada batas inferior untuk melihat tulang. Insisi ketulang melewati muskulus masseter biasanya diantara margin mandibular dan cabang buccal dari nervus facialis. seluruh cabangnya berinervasi pada depressor bibir bawah. Incisinya dibuat untuk memasuki parotis. Kerusakan kelenjar dapat menyebabkan salivarius. bagian belakang batas inferior dari mandibula. Submandibular nodus lympaticus dapat diidentifikasi berdekatan dengan pembuluh darah facial. Pembukaan lebih jauh dapat dicapai dengan menarik sudut dan batas inferior dengan kawat atau forcep tulang. masseter dan fascia cervicalis bagian dalam. melalui fascia cervicalis yang lebih dalam dengan menggunakan stimulus otot. Pendekatan Retromandibular Hinds dan Birroti pertama kali menerangkan pendekatan lekatan retromandibular pada tahun 1967. Otot. Incisinya juga digambarkan mengikuti sudut mandibula. dan sisi fraktur. Kelenjar parotis biasanya di posterior ramus tetapi bisa terletak mengelilingi sudut inferior. Jika pembuluh darah facialis tidak dapat ditarik sempurna dapat dipisahkan dan diikat. Kapsul keduanya harus dipisahkan selama Sin loceles atau fistula pemisahan.Baik anterior atau posterior arteri facialis. Pada dasarnya pendekatan ini merupakan variasi dari pendekatan submandibular kecuali incisinya kurang lebih 3 cm. ramus. periosteum dan jaringan lunak dipisahkan untuk jalan melihat body. Otot dan perios diinsisi melewati sudut termasuk 164 . akan menjadi bukti dan kutub paling bawah dari parotis dapat ditemukan. Pemotongan dilanjutkan pada muskulus masseter dan bagian atas nervus diretraksi. Pemisahan lalu meluas ke anterior. Pemotongan dilanjutkan antara fascia sampai kebatas inferior mandibula. diatas incisi submandibular (Gambar 2.

Incisi ini memperlihatkan akses superior dari ramus dan regio subkondilus mandibula.29).batas inferior. yang dapat dihindari dengan menginsisi sepanjang cartilago preauricular.29 Macam-macam Insisi untuk daerah TMJ19 165 . Gambar 2. Insisi dibuat 45 ° pada zygoma dari arah superior telinga ke arah inferior perlekatan antara dagu dan telinga (Gambar 2. Lipatan preauricular didapat dengan menekan telinga dan tragus ke depan. Gambar 2.5 cm pada daerah lipatan preauricular.5 .3. Jaringan lunak dan nervus kemudian ditarik ke superior.28 Insisi retromandibular19 Pendekatan Preauricular Insisi ini digunakan untuk melihat daerah TMJ dan dengan mudah diperluas melewati daerah temporal. Insisi dibuat kira-kira sepanjang 2. Pada insisi ini ditemukan pembuluh darah temporalis superfisialis.

Body. setinggi oklusal plane mandibula. Gambar 2. dagu ditarik ka arah lateral. Pertama dilakukan anestesi dengan lokal anestesi dan vasokonstriktor. Mukosa diinsisi dengan pisau tegak lurus terhadap tulang untuk menjauhi nervus mentalis. 166 . dan penggunaan adhesif bandage pada dagu untuk mendukung musculus mentalis. Musculus mentalis terlihat dan harus diinsisi tegak lurus dengan tulang meninggalkan flap dari perlekatan otot ke tulang untuk penutupan (Gambar 6). Insisi dibuat kurang lebih 5 mm dari mukogingival junction untuk mendapatkan stabilitas jaringan ketika penutupan. Mukosa lalu ditutup.Akses Intra Oral Simpisis dan Parasimpisis Perawatan fraktur anterior mandibula dapat melalui incisi intraoral. Bagian proksimal dari insisi harus disepanjang external oblique ridge. Sudut dan Ramus Setelah dilakukan anestesi. Setelah selesai perawatan fraktur muskulus mentalis dijahit dengan jahitan terputus.30 Akses Intra oral pada fraktur parasimpisis19 Pemotongan diteruskan ke arah subperiosteal untuk mengidentifikasikan mental neurovascular borde dibawah premolar kedua maka daerah fraktur terlihat. Bibir ditarik dan dibuat insisi curvilinear tegak lurus permukaan mukosa.

32).31 Interosseus wiring15 Transosseus wiring fixation20 Metode tradisional untuk stabilisasi tulang setelah dilakukan open reduction dengan menggunakan kawat untuk mengikat dan mengimobilisasi tulang (Gambar 2. Gambar 2. 167 . pistol drill. sambil diberikan larutan normal salin. cutting wire bone forceps.Internal fiksasi Untuk Pasien fraktur yang hanya mengalami fraktur yang sederhana serta masih terdapat gigi dan oklusi yang baik. tehnik close reduction dengan fiksasi maxillamandibular sudah cukup untuk treatment frakturnya. chisel. Setelah itu baru kawat bisa diinsersikan. Untuk fraktur multipel dan fraktur dengan pergerakan yang berat maka diperlukan penggunaan internal fiksasi yang dikombinasikan dengan fiksasi maksilomandibular. 24 dan 30 Pembuatan lubang menggunakan bor berkecepatan rendah pada awalnya lalu kecepatan makin meningkat. Bahan yang diperlukan adalah: periosteotome bone rongeur mallet. key dan drill point stainless stell wire.

f.32 Parameter pembuatan lubang dan pengikatan20 Hal yang harus diperhatikan pada penempatan penempatan lubang adalah : a. Kawat dimasukkan melewati hipodermic needle 3. foramen mentalis dan akar gigi e. d. Jarak garis fraktur pada outer cortex Jarak ke batas bawah Jarak garis fraktur pada inner cortex Kedekatan lubang dengan kanalis mandibularis. b. c.Gambar 2. Dengan membuat kawat seperti hairpin loop Gambar 2. Ukuran dari lubang Orientasi dari bidang fraktur ke panjang tulang Teknik pemasukkan kawat pada fraktur : 1. Kawat langsung dimasukkan ke dalam lubang yang telah dibor 2.33 Teknik pemasukkan kawat20 168 .

Figure-of-eight wire. ada juga yang membulat sehingga dapat dipasang pada margo inferior mandibula (Luhr Mandibular Plate) Gambar 2. Plate dipasang melintang melewati garis fraktur. 169 .34 Teknik simple wiring. C.34 Pelindungan jaringan pada pembuatan lubang20 Gambar 2. Walaupun menggunakan menggunakan fiksasi yang kaku diperlukan adanya penyesuaian oklusi terlebih dahulu sebelum dilakukan fiksasi. maka fragmen fraktur akan lebih stabil dan kaku selama penyembuhan. B. Jenis plate yang digunakan bermacam-macam ada yang yang lurus dengan beberapa lubang untuk dimasukkan screw (Gambar 11).Gambar 2.3517. Transosseus circum-mandibular wire 15 Fiksasi dengan Bone Plate dan Screw Metode ini menggunakan bone plate dan bone screw untuk menyatukan fragmen fraktur.

Fraktur korpus mandibula. B.35 Luhr's Mandibular Plate17 Gambar 2.36 Penggunaan Plate dan Screw berdasarkan Champy Line 17 A B Gambar 2.38 Plat & Lag Screw17 170 . Fiksasi dengan plate dan screw15 Gambar 2.37 A.Gambar 2.

tidak trismus. Secara umum lamanya penggunaan IMF untuk orang dewasa dengan fraktur mandibula adalah 6-8 minggu.Gambar 2. Tolak ukur keberhasilan operasi pemasangan plat mini maupun IOID wiring pada mandibula adalah oklusi yang baik. gangguan jiwa dan gangguan fungsi paru.5mm dengan kecepatan rendah menembus 1 korteks dikukur kedalamannya kemudian dipasang sekrup yang panjangnya sesuai dengan tebal satu korteks. Permukaan tulang bersih dari jaringan ikat dan jaringan lunak sehingga plat betul-betul menempel pada tulang mandibula. penderita epilepsy. Untuk penggunaan bor. Jangan tergesa melakukan fiksasi sebelum yakin oklusinya sudah sempurna. Posisi plat jangan terlalu tinggi karena sekrup akan menembus saraf/akar gigi. Sering pasien berlanjut untuk kehilangan berat badan 171 . Gunakan mata bor diameter 1. sebaiknya arah matabor tangensial. Namun. stabil dan arah obeng juga sesuai dengan arah bor sebelumnya.39 Fiksasi Intermaksiler17 Kontraindikasi penggunaan MMF . lamanya penggunaan IMF ini bukan tanpa konsekuensi.Pemasangan sekrup dimulai dari satu sisi terlebih dahulu kemudian menyebrang menyilang pada sisi plat satunya.

fraktur pada alkoholik. Terlihat bahwa kasus pada tiap individu harus dievaluasi secara seksama. 172 . Juniper dan Awty mampu menunjukkan 80% fraktur mandibula yang dirawat dengan open reduction atau closed reduction dan IMF secara klinis menyatu dalam 4 minggu. pasien dengan problem nutrisi. pasien cacat secara psikososial. pada orang dewasa 3-4 minggu dan pada pasien yang lebih tua 6-8 minggu.selama masa ini. dan fraktur dengan pencabutan gigi pada garis fraktur16. kebanyakan fraktur sederhana pada anak-anak menyatu dalam 2-3 minggu. fraktur yang terlambat dirawat. Situasi yang secara umum membutuhkan IMF yang lebih lama: fraktur comminuted. mereka tidak mampu untuk kembali bekerja dan ada beberapa bukti yang menunjukkan adanya perubahan histologis pada TMJ.

Etiologi Data yang diambil dari etiologi terjadinya fraktur kondilus mandibula adalah sebagai berikut 8:       Kecelakaan kendaraan bermotor : 43% Penyerangan/perkelahian : 34% Kecelakaan kerja : 7% Jatuh : 7% Kecelakaan olah raga : 4% Penyebab lainnya : 5% Persentase terjadinya fraktur kondilus mandibula dibandingkan dengan lokasi lainnya pada mandibula sebagai berikut 19:       Body mandibula : 29% Kondilus mandibula : 26% Angle mandibula : 25% Simfisis mandibula : 17% Ramus mandibula : 4% Prosesus koronoideus : 1% 173 .19.19.24.21. Komplikasi yang sering terjadi akibat fraktur kondilus adalah ankylosis dan gangguan sendi temporomandibula 8.23.22.BAB III FRAKTUR KONDILUS MANDIBULA ( Fraktur TMJ ) Fraktur kondilus merupakan salah satu fraktur yang melibatkan sendi temporomandibula sehingga dapat menyebabkan gangguan sendi temporomandibula. Penatalaksanaan fraktur kondilus memerlukan perhatian khusus dan dapat dilakukan dengan metode tertutup atau konservatif dan terbuka atau bedah 8.

fraktur alveolar. Seorang penderita dengan gigi-gigi yang terkunci pada saat terjadinya impak akan menyebabkan terjadinya suatu fraktur alveolar atau gigi 19.1. Obyek yang menyebabkan fraktur juga mempengaruhi jenis dan banyaknya fraktur. Kontak prematur gigi posterior atau gigitan terbuka anterior dapat disebabkan fraktur kondilus bilateral atau angle. Pada pemeriksaan klinis harus ditanyakan pada penderita apakah gigitannya terasa berbeda.Diagnosa dan gejala klinis Jenis dan arah kekuatan trauma sangat membantu diagnosa. Gigitan terbuka pada fraktur kondilus25 Semua perubahan oklusi merupakan tanda adanya fraktur kondilus mandibula. Oklusi retrognatik biasanya berhubungan dengan fraktur kondilus atau angle dan oklusi prognatik dapat terjadi pada sangat menonjol pada fraktur sendi temporomandibula. sedangkan blow ke arah parasimfisis dapat menyebabkan fraktur kondilus kontralateral atau angle mandibula. Gambar 3. Perubahan oklusi dapat dihasilkan dari fraktur gigi. fraktur mandibula pada semua lokasi dan trauma pada sendi temporomandibula serta otot-otot pengunyahan. Blow anterior yang langsung mengenai dagu dapt menghasilkan suatu fraktur kondilus bilateral. Setiap penderita dengan 174 . Semua contoh tersebut hanya beberapa disharmoni oklusi multiple yang muncul akan tetapi setiap perubahan oklusi harus dipertimbangkan sebagai tanda awal suatu fraktur kondilus mandibula19. Pengetahuan arah kekuatan impak dapat membantu klinisi mendiagnosa fraktur dengan tepat. apabila obyeknya besar maka dapat menyebabkan fraktur lebih dari satu lokasi dan sebaliknya bila kecil akan menyebabkan satu jenis fraktur karena kekuatan impaknya hanya terkonsentrasi pada satu lokasi 19.

Pergerakan mandibula lateral dapat dihambat oleh fraktur kondilus dan fraktur ramus dengan pergeseran tulang19. maka terjadilah suatu deviasi. Deviasi terjadi karena otot pterygoideus lateralis yang berfungsi pada sisi yang tidak terpengaruh tidak dinetralkan oleh otot pterygoideus lateralisnya yang tidak berfungsi sisi berlawanan.fraktur kondilus mandibula mempunyai keterbatasan pembukaan. Gambar3. Deviasi pada saat pembukaan ke arah sisi fraktur kondilus mandibula merupakan contoh klasik tanda fraktur kondilus. Meskipun demikian fraktur kondilus mandibula yang sesungguhnya atau berhubungan dengan fraktur fasial menghasilkan pergerakan mandibula abnormal. Kiri: pergerakan normal mandibula. Kanan: efek tarikan otot pada fraktur kondilus25 175 .2.3. Kiri: deviasi mandibula ke arah fraktur. Kanan: pergerakan abnormal mandibula25 Gambar 3.

Pemeriksaan Radiologis Penetapan diagnosis dari fraktur kondilus dapat ditegakkan dar pemeriksaan radiologis yang sering digunakan sebagai dasar penegakan diagnosis. 176 . angle atau body. lateral oblique mandibula. (3) relasi kepala kondilus terhadap fossa glenoideus. Klasifikasi fraktur kondilus menurut Lindahl (1977) didasarkan pada beberapa faktor. posteroanterior mandibula dan transkranial mandibula. Klinisi sebaiknya melakukan palpasi dengan menggunakan kedua tangannya. (2) relasi segmen kondilus terhadap segmen mandibula. Teknik pencitraan yang lebih jauh adalah CT scan dan MRI digunakan untuk trauma yang lebih kompleks dari kondilus 26. pembengkakan dan panas yang terlokalisir merupakan tanda yang awal yang sempurna suatu trauma dan meningkatkan indeks kecurigaan adanya fraktur mandibula19. body dan simfisis. Untuk melihat fraktur kondilus dapat dilakukan pemeriksaan radiolog dengan cara: panoramik. meskipun pada kontur fasial mungkin tertutupi pembengkakan. Asimetri wajah sebaiknya diperhatikan klinisi terhadap kemungkinan fraktur kondilus mandibula. yaitu: (1) lokasi anatomis fraktur. Pemeriksaan mendalam terhadap kehilangan gigi dan tulang pendukung dapat membantu diagnosa fraktur alveolar. diikuti dengan mandibula bergeser ke bawah. towne’s view. Rasa sakit.27. Klasifikasi Menurut De Riu (2001) klasifikasi fraktur kondilus disesuaikan dengan lokasi anatomi (intrakapsuler dan ekstrakapsuler) dan derajat dislokasi kepala artikuler. Gambaran wajah yang memanjang diakibatkan fraktur subkondilus. kemerahan.Pada pemeriksaan klinis sebaiknya memeriksa wajah dan mandibula dengan kontur yang abnormal. dengan cara meletakkan ibu jari pada gigi dan telunjuk pada batas bawah mandibula secara hati-hati dan perlahan-lahan memberikan tekanan diantara kedua tangan hingga dapat mendeteksi krepitasi fraktur19.

Nondisplaced b. Kepala kondilus mempunyai relasi normal terhadap fossa glenoid 177 . fragmen tetap dalam kontak tanpa separasi atau overlap c. c. Berdasarkan lokasi fraktur maka fraktur ini sering disebut sebagai fraktur subkondilus ”tinggi” atau “rendah”. Subkondilus. Fraktur ini merupakan fraktur ekstrakapsular. Tarikan muskulus pterygoideus lateral menyebabkan fragmen bergeser ke arah medial d. b.Sistim klasifikasi ini memerlukan pencitraan radiografik yang diperoleh sekurangkurangnya dua gambar dari sudut yang tepat 26. Leher kondilus. 2. Nondisplaced. Fraktur kondilus. melihat definisinya. Meskipun sangat sulit mendefinisikan dengan tepat kepala kondilus secara radiografik. akan tetapi sangat mudah untuk melihat penyempitan leher kondilus dan kepala kondilus bersandar di atasnya. merupakan fraktur intrakapsular karena kapsul melekat pada leher kondilus. Displacement ke arah medial atau overlap lateral. Relasi antara kepala kondilus dan fossa glenoideus a. Pada fraktur ini. 1. Deviated. Regio ini terdapat di bawah leher kondilus dan memenjang dari titik terdalam sigmoid notch anterior hingga titik terdalam aspek konkaf poterior ramus mandibula. Displacement ke arah anterior atau overlap posterior e. Fraktur ini mungkin digolongkan sebagai fraktur vertikal. Ketinggian fraktur kondilus a. Leher kondilus merupakan daerah penyempitan tipis di bawah kepala kondilus. Kepala kondilus. Relasi segmen kondilus terhadap fragmen mandibula a.Tidak ada kontak antara fraktur segmen 3.

deviasi pad saat pembukaan.19. Perawatan fraktur kondilus dapat dilakukan dengan cara konservatif atau metode tertutup dan bedah atau metode terbuka 8. Kepala kondilus tertinggal dalam fossa. terutama disebabkan banyaknya modalitas yang ditawarkan oleh berbagai macam literatur.b. eyelet 178 . peningkatan rasa nyeri. Displacement. Pengawasan yang ketat wajib dilakukan untuk melihat ketidakstabilan oklusi.28. rekonstruksi tersebut melibatkan hubungan antara segmen fraktur. tetapi ada gangguan sendi c. Gambar 3. Immobilisasi melibatkan intermaxillary fixation (IMF) dengan menggunakan arch bar. Dislokasi. oklusi. Perawatan fraktur kondilus dengan cara konservatif sangat sederhana.4 Klasifikasi menurut Lindahl19 Perawatan Perawatan fraktur kondilus mandibula masih kontroversial. keseimbangan maksilofasial. Indikasi perawatan fraktur kondilus dengan konservatif bila displacement yang terjadi minimal atau tidak ada atau bila garis fraktur terlalu tinggi sehingga sulit dilakukan stabilisasi secara bedah21. Adanya tarikan muskulus pterygoideus lateralis menyebabkan segmen kondilus terletak anteromedial. Metode tertutup atau konservatif Fonseca (1997) menyatakan bahwa komplikasi selama perawatan konservatif sangat jarang terjadi. evaluasi klinis dan radiografi. Tujuan perawatan fraktur kondilus adalah mengembalikan fungsi sistim pengunyahan seperti asalnya.21.

Gambar 3.wires atau splint.5 Pemakaian arch bar dan splint pada fraktur kondilus19 Metode terbuka atau bedah Perawatan dengan metode terbuka diindikasikan bila 19.21. Periode ini dapat meningkat atau menurun tergantung pada umur penderita. Apabila intermaxillary fixation telah dilepas maka diikuti dengan penggunaan elastic guidance untuk mengarahkan mandibula pada posisi maximal intercuspation. Selanjutnya bila penderita telah mempunyai kemampuan fungsional kembali dan oklusi tetap stabil serta rasa sakit minimal maka elastic guidance dan arch bar dilepas19. Lamanya immobilisasi rata-rata sekitar 7 hingga 21 hari. derajat pergeseran dan danya fraktur tambahan.23:      Displacement kondilus ke dalam fossa cranial media Oklusi yang adekuat tidak mungkin didapatkan dengan metode tertutup Dislokasi kondilus ekstrakapsular lateral Fraktur kondilus bilateral pada pasien tidak bergigi Fraktur kondilus bilateral atau unilateral bila splinting tidak direkomendasikan karena keadaan umum pasien atau karena fisioterapi tidak memungkinkan.8.   Fraktur kondilus bilateral akibat fraktur wajah tengah comminuted Ankylosis kondilus mandibula akibat trauma dan tertunda perawatannya 179 .8.

pergerakan mandibula dan gejala-gejala yang timbul selama sendi berfungsi. dilakukan penilaian status sendi temporomandibula terutama jarak pembukaan. 180 . ikatan diperkuat tiap minggu. setelah wires dilepas.Tiga teknik yang terpisah untuk fiksasi rigid pada perawatan fraktur kondilus dengan metode terbuka. Metode tersebut telah banyak menunjukkan keberhasilan dan jarang menimbulkan reankylosis.6. (2) sistim Arbeitgemeinschaff fur Osteosynthesefragen/sistim Association for the Study for Internal Fixation (AO/ASIF) dengan penggunaan stainless steel compression atau plat rekonstruksi dengan bicortical screws dan (3) Teknik Champy miniplate digunakan sepanjang” line of ideal osteosynthesis” memakai moncortical screws8. Pemakaian monocortical screws19 Kondilektomi merupakan salah satu teknik untuk membebaskan ankylosis dan tetap mempertahankan arsitektur sendi temporomandibula. Gambar 3. Apabila oklusi telah stabil maka elastic guidance dapat dilepas dan fisioterapi dilakukan dengan penempatan tongue-blade diantara insisif sentral untuk mencegah keterbatasan permanen ankylosis8. Apabila oklusi belum stabil maka penggunaan elastic guidance selama 2-3 minggu sangat dianjurkan agar adaptasi neuromuscular dapat tercapai.19. Pemakaian IMF dilakukan selama 3 minggu. yaitu: (1) sistim bikortikal Luhr dengan penggunaan plat vitallium.

diikuti dengan pengawasan yang ketat serta perawatan fisioterapi selama setahun19. Metode pendekatan yang sering digunakan untuk melakukan kondilektomi. inverted “hockey stick” approach. post auricular approach8. 181 . Risdon approach. yaitu pre auricular approach.Fiksasi intermaksiler diaplikasikan dalam periode yang pendek. endaural approach.

182 .9 Post auricular dan Risdon approach26 Komplikasi Komplikasi fraktur kondilus mandibula selama perawatan jarang terjadi dan yang paling sering terjadi 19.Gambar 3.22.7 Metode pendekatan bedah pada kondilektomi19 Gambar 3.8.8 Pre auricular approach26 Gambar 3.21.24 : Maloklusi Maloklusi yang sering terjadi setelah trauma kondilus dapat disebabkan karena perubahan dari pusat pertumbuhan kondilus dan penyatuan dari segmen fraktur pada posisi yang tidak seharusnya.

Gangguan pertumbuhan Beberapa factor yang mempengaruhi efek dari fraktur kondilus terhadap pertumbuhan kerangka wajah yaitu usia pasien.Ankylosis sendi temporomandibula Ankylosis dapat diklasifikasikan berdasarkan derajat keterbatasan. 183 . hypermobility dan kadangkadang disk displacement. Deviasi ke sisi fraktur dapat terjadi pada unilateral. Gejala komplikasi tersebut di atas sering disebut dengan “condylar post fracture syndrome” 19. Faktor-faktor ini berpengaruh pada pendekatan penatalaksanaan yang akan dilakukan. tempat dan tipe fraktur.21. dan lamanya immobilisasi. tingkat keparahan trauma. lokasi perlekatan dan tipe jaringan yang terlibat. Hasil akhir kelainan tersebut akan menyebabkan keterbatasan pergerakan mandibula sehingga terjadi gangguan bicara. Faktor lain yang mempengaruhi terjadinya ankylosis adalah umur pada saat terjadi injuri. kesehatan mulut dan nutrisi. lamanya immobilisasi dan kerusakan diskus. sedangkan pada bilateral ankylosis menunjukkan adanya gigitan terbuka anterior dan hampir pembukaan mulut hampir tidak ada 19. demikian pula dengan pembentukan jaringan parut fibrous di daerah cedera temporomandibular dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan Gangguan sendi temporomandibula lainnya Internal derangement akibat fraktur kondilus dihasilakan dari trauma langsung pada sendi. Gangguan seperti displacement mandibula dan aposisi tulang diregio kondilus dapat memyebabkan gangguan pertumbuhan mandibula. Kartilago kondilar merupakan pusat utama pertumbuhan mandibula. Dimana cap kartilago memberikan tekanan sehingga mandibula tumbuh ke arah depan dan bawah. Kerusakan yang terjadi pada fraktur kondilus dapat menimbulkan dearangement sekunder pada sendi kontralateral sehingga terjadi overloading pada sendi yang tidak terkena injuri.

Unit fungsional tulang disebut juga sistem havers atau osteon yang terdiri atas kanal havers sentral yang dikelilingi oleh lapisan konsentris tulang/ lamela. substansia kompakta. dimana tulang rahang termasuk dalam golongan tulang ini. Urutan lapis demi lapis struktur tulang dari luar ke dalam adalah: periosteum. 3.1 Gambaran Histologis Struktur Tulang Karakteristik dari tulang mempunyai struktur yang bagian luarnya tersusun atas tulang kompak yang disebut kortek dan pada bagian dalam yang berbentuk seperti anyaman adalah tulang kanselus/spongious/trabecular. endosteum dan kavum medullare29. namun demikian tulang sangatlah kuat. limfe. Tulang dilapisi oleh jaringan fibrous yang disebut periosteum. Di bagian dalam tulang terdapat rongga medula/sumsum tulang. 184 . substansia spongiosa. dimana pada lapisan dalam periosteum terdapat pembuluh darah. elastis serta mampu melakukan regenerasi bila mengalami trauma/fraktur 29. yang dibatasi oleh endosteum yang juga mengandung sel-sel osteoprogenitor. Berat tulang hanya sepersepuluh dari berat badan. dan sel-sel osteoprogenitor yang mempunyai potensi osteogenik yang sangat berperan aktif pada penyembuhan fraktur tulang. Lamela tulang yang mengelilingi kanal havers mempunyai lakuna yang mengandung osteosit yang mengatur aktivitas selular tulang29. Pada Tulang yang mengandung lebih banyak substansi tulang spongios dibanding tulang kompak disebut “cancellous”.BAB IV PENYEMBUHAN TULANG DAN KOMPLIKASI PASCA PENYEMBUHAN Tulang merupakan jaringan keras yang membentuk tubuh manusia.

Sel ini berperanan dalam nutrisi tulang berupa transfer oksigen dan metabolit/ kalsium). 2.1 Osteoblas Osteoblas berfungsi dalam sintesa matrik tulang yang berperan dalam pertumbuhan. osteosit dan osteoklas29 2. Sel ini mengandung enzim lisosim seperti asam 185 .Gambar 4. Osteoblas berasal dari sel yang terdapat pada lapisan dalam periosteum atau dari diferensiasi sel-sel mesenkim.3 Osteoklas Osteoklas merupakan sel tulang yang berfungsi dalam resorbsi tulang. perbaikan dan remodelling tulang. Gambaran Histologis Jaringan Tulang29 3. 2. 1. anorganik dan sel-sel tulang. Unsur organik Unsur organik yang merupakan matrik tulang tersusun dari 28% kolagen dan 5% nonkolagen protein. 1.2 Komposisi Tulang Komposisi tulang terdiri dari 8% air dan 92% benda padat yang tersusun atas unsur organik. 2. Unsur selular Terdapat tiga jenis sel utama tulang yaitu : Osteoblas.2 Osteosit Osteosit yang berasal dari osteoblas yang terperangkap dalam matrik tulang yang mengalami mineralisasi.

Pembuluh darah dari periosteum.3 Fungsi Tulang Tulang mempunyai dua fungsi utama yaitu: fungsi mekanis dan biokimia. Unsur anorganik Komposisi tulang secara kimiawi terdiri dari 67% bahan anorganik (Hydroxyapatite). endosteum dan sistem havers akan menginvasi celah dan membawa sel-sel osteoblastik mesenkim yang akan mendeposit tulang pada fragmen fraktur tanpa 186 .fosfat dan katepsin. dimana unsur utamanya berupa garam anorganik hidroksiapatit kristalin. Persendian 3. 3. Ca10(PO4)6(OH)2. sebagai berikut : 1. 3. Sedangkan fungsi biokimiawinya sebagai tempat penimbunan kalsium dan fosfor dalam proses menjaga keseimbangan kadar mineral di dalam darah. 1.4 Penyembuhan Jaringan Keras Tulang Pada proses penyembuhan fraktur tulang terdapat fase penyembuhan primer dan sekunder.1 Penyembuhan pada celah (Gap Healing) Meskipun fiksasi stabil pada fragmen fraktur. Bila sel ini berkontak dengan permukaan tulang maka akan berpenetrasi ke dalam tulang dan mengeluarkan enzimnya sehingga terjadi resorbsi tulang. 3. Penyembuhan primer. Pada beberapa bagian segmen tulang dapat terjadi adanya celah yang kecil. biasanya reduksi anatomis yang sempurna jarang terjadi. Fungsi mekanis tulang meliputi: 1. Kristal tulang ini tersusun sejajar dengan sumbu serat kolagen. Pada bagian ini akan terjadi proses penyembuhan dalam waktu beberapa hari setelah fraktur. Fungsi sebagai rangka 2. Tempat perlekatan otot 4. Melindungi alat-alat tubuh penting.

2. Rekonstruksi lengkap dari kortek tulang memerlukan waktu hingga 6 bulan. 1. Penyembuhan primer 29 2.5 1. 187 . Bila fragmen fraktur kurang dari 0.melalui pembentukan kalus. Proses ini terjadi melalui regenerasi tulang dimana terjadi aktivitas osteoklas pada bagian fraktur yang menyediakan tempat untuk pertumbuhan dan proliferasi osteoblas guna membentuk tulang baru.1 Tahap awal Pada fraktur tulang akan menimbulkan reaksi inflamasi disertai dengan pengaktifan sistem pertahanan tubuh yang menginduksi pelepasan sejumlah angiogenik vasoaktif sehingga terjadi vasodilatasi dan oedema dalam beberapa jam. sedangkan celah antara 0. periosteum dan sistem havers menyebabkan hematoma.2 Penyembuhan kontak (contact healing) Penyembuhan kontak terjadi pada fragmen fraktur yang tidak terjadi kontak. Perdarahan pada pembuluh darah endosteum. kemudian proses remodeling akan merubah sejajar dengan sumbu tulang.0 mm akan terisi oleh “woven bone” selanjutnya dalam ruang trabekula akan terisi oleh tulang lamela. Gambar 4. Penyembuhan sekunder 2. Dalam waktu 6 minggu tulang lamelar akan tersusun tegak lurus terhadap fragmen fraktur.3mm akan terbentuk langsung tulang lamelar.

Osteoblas bertambah banyak dan osteoklas mulai nampak. fibroblas bermigrasi dan membentuk kolagen selanjutnya berdeferensiasi menjadi kondroblas yang membentuk kartilago. Keadaan ini memicu aktivitas sel makrofag untuk membersihkan jaringan nekrotik15. PMN. Platelet akan berdegranulasi Zmelepaskan PDGF (Platelet Derived Growth Factor). Kalus yang terbentuk akan menstabilkan ujung fragmen 188 . terjadi kalsifikasi kartilago yang menyebabkan kondroblas berubah menjadi kondrosit. mastosit dan platelet. 29.3.30.12 jam akan terjadi proliferasi selular lapisan luar periosteum seperti osteoblas. limposit.fragmen tulang mengalami deposit tulang oleh sel-sel osteoblas dari periosteum. makrofag. FGF(Fibroblastic Growth Factor) yang bersifat kemoatraktan dan mitogenik sehingga dalam waktu 8 . Gambar 4. Pase awal stage fibroplastik pembentukan tulang15 2. Hematoma yang terjadi mengandung eritrosit . fibroblas dan sel kondrogenik (gambar 3). fibrin. Terjadi pembentukan kapiler yang bersama kolagen yang berasal dari fibroblas membentuk jaringan granulasi. sedangkan sumsum tulang akan mengalami degenerasi lemak.2 Tahap kalus kartilogenus (soft callus) Pada hari ketiga sampai kelima jaringan granulasi akan berkondensasi membentuk kalus yang terjadi baik internal maupun eksternal (gambar 3).

selanjutnya berubah menjadi tulang lamela pada tahap remodeling29. Pase akhir stage fibroplastik pembentukan tulang15 2.3 Tahap kalus tulang (hard callus) Proses ini terjadi dalam waktu 3 . 189 . berfungsi untuk menjamin hubungan antara keseluruhan kalus dengan fragmen tulang. kemudian osteoid mengalami kalsifikasi menjadi tulang yang tersusun acak (woven bone). yang dikelompokkan berdasarkan pada letak atau berdasarkan pada fungsi dan urutan pembentuknya: Anchoring Callus: Terbentuk jauh dari fragmen fraktur dan mendekati ke arah bridging callus.4.4 minggu. Osteoblas akan mendepositkan osteoid pada kartilago yang mengalami kalsifikasi. volumenya semakin meningkat mendekati garis fraktur membentuk lepeng tulang yang menutupi rongga sumsum. Terbentuk akibat proliferasi endosteum dan membentuk trabekula tulang yang susunannya tidak teratur. Sealing Callus: Berfungsi menutupi rongga sumsum yang terbuka dan berkembang dari bagian dalam kortek tulang. Gambar 4.fraktur sehingga menguatkan tulang. 29.30. Terdapat beberapa jenis kalus tulang primer. kalus kartilagenous terisi oleh pembuluh darah yang akan meningkatkan tekanan oksigen dan nutrisi yang akan memacu aktivitas osteoblast 15.30 . Sel-sel jaringan ikat pada daerah ini akan berdifrensiasi jadi osteoblas dan menghasilkan substansia spongiosa yang melekat erat dengan permukaan tulang.

30.6 Gambaran Radiologis Penyembuhan Fraktur Pemeriksaan radiologis penting untuk diagnosa dan membantu dalam evaluasi perawatan. 3. Pada daerah fraktur kalus dapat diraba sebagai masa bulat dan padat 5. Fragmen tidak bergerak dan tidak ada krepitasi 4. selain akan dilepaskan protein morphogenetik tulang (BMP) yang bersifat mitogenetik yang menginduksi diferensiasi sel-sel mesenkim menjadi osteoblas untuk pembentukan tulang sehingga kontur tulang kembali pulih29. Saat pembentukan anchoring callus.4 Tahap remodeling Osteoklas dan osteoblas merupakan sel yang sangat berperanan dalam remodeling tulang.Bridging Callus: Fungsinya sebagai jembatan dari kedua fragmen fraktur dan volumenya paling banyak jika dibandingkan dengan jenis kalus lainnya. setelah reduksi dan fiksasi. 2. terjadi pula diferensiasi pada daerah bridding callus fibrokartilago. 190 . Uniting callus: Terbentuk sepanjang garis fraktur dan berfungsi menyambungkan kedua fragmen fraktur.15. dan dilakukan sebelum perawatan. 3. ossifikasi terjadi pada jaringan ikat diantara fragmen fraktur dan juga ossifikasi tersebut dapat terjadi secara langsung. Tidak ada rasa nyeri 3. ossifikasi (pada saat substansia spongiosa anchoring callus telah mencapai kartilago) hingga membentuk tulang baru.5 Tanda-Tanda Klinis Penyembuhan Fraktur 1. Gejala hematom menghilang 2. Dalam remodeling akan terjadi resorpsi tulang oleh osteoklas. Secara fungsional organ telah dapat dipergunakan tetapi masih perlu dibatasi. kartilago hialin. serta minimal 1 kali setiap bula selama perawatan serta foto diambil minimal dari dua arah berbeda.

maka yang berkontraksi adalah m. Temporalis dan masseter dan diperkuat lagi oleh m. berdasarkan arsitektur tulang. Sedangkan otot yang berperan untuk menutup mulut adalah m. Pada tulang yang telah sembuh sempurna radiolusensi garis fraktur hilang dan diganti gambaran radioopak yang sulit dibedakan dengan radiopasiti pad jaringan tulang normal. disusul m pterigoideus lateralis bagian superior ( yang berinsersi pada kapsul sendi) saat mulut membuka lebih lebar. bentuk dan perlekatan ototnya mandibula dapat digambarkan sebagai sebuah struktur yang mengubah tekanan yang diterimanya menjadi suatu 191 . sedang kekuatan menggigit daerah incisivus ±10kg. Rahang bawah memiliki bentuk anatomis yang unik. yaitu otot masseter. Otot digastricus bukan termasuk otot pengunyah tetapi mempunyai peranan yang penting dalam fungsi mandibula. sehingga dalam melakukan penanganan fraktur mandibula harus benar-benar diperhatikan biomekanik yang terjadi. Pterigoideus lateralis bagian inferior. geraham ±90kg. Pterigoideus medialis. nampak adanya trabekulasi sepanjang garis fraktur atau tempat penyatuan. Gerakan mandibula dipengaruhi oleh empat pasang otot yang disebut otot-otot pengunyah. pterigoideus lateralis dan medialis.Gambaran radiologis proses penyembuhan: Secara klinis terjadi penyatuan fragmen fraktur dan secara histopatologis telah terbentuk penulangan namum secara radiologis belum tampak gambaran radioopak yang jelas. Pada waktu membuka mulut. 3.7 Biomekanik Mandibula Mandibula memiliki mobilitas dan gaya yang sangat banyak. Kekuatan dinamis dari otot pengunyah orang dewasa pada gigi seri ± 40kg. Konsep biomekanik pada perawatan fraktur mandibula perlu dipahami sebab keadaan statik dan dinamik dapat mempengarui proses penyembuhan fraktur. temporalis. molar ±15 kg. Tujuan dari semua terapi fraktur ialah mengembalikan bentuk dan fungsi seperti semula. Hal tersebut dapat dicapai dengan melakukan imobilisasi menggunakan fiksasi internal dan eksternal . Gambaran rdioopak nampak jika telah terbentuk kalus sekunder.

sedangkan tension trajectory dengan menggunakan arch bar yang berfungsi sebagai tension band. 4.16) 192 . Tension band berfungsi untuk mengurangi kekuatan yang membengkokkan yang terjadi di bagian alveolar atau kekuatan menahan yang menjauhi plat. Plat sudah cukup stabil untuk menetralkan shear dan torsional stress. pressure trajectory yang menghasilkan kekuatan kompresi pada mandibula kemudain terjadi distorsi misalnya di rahang yang fraktur dapat diperbaiki dengan pemasangan plat osteosintesis. Gambar 4.bentuk daya tensi dan kompresi.7 tension line pada mandibula3 Hal ini dapat ditempuh dengan penggunaan plat dan tension bar system yang secara individual berbeda tergantung dari lokasi dan tipe frakturnya.14.15. Pada waktu mandibula mengalami fraktur. Kekuatan kompresi dihasilkan sepanjang daerah basal mandibula sedangkan kekuatan tensi terdapat pada sepanjang daerah alveolar. Aksis tranversal imajiner yang terletak kira-kira sepanjang kanalis mandibula memisahkan prosesus alveolaris yang merupakan daerah tegangan atau disebut dengan tension area dari daerah basal mandibula yang merupakan daerah kompresi atau disebut dengan compression area.6 tension site (+) dan compression site (-) pada mandibula Gambar. prinsip perawatan dilakukan dengan mempertimbangkan kekuatan-kekuatan pada kedua sisi dari aksis imajiner tersebut. (3. sehingga kedua kekuatan tegangan yang berlawanan tersebut harus dinetralisir untuk mendapatkan reduksi fungsional yang stabil. Secara umum.

Gambar 4. Delayed union dan nonunion Delayed union adalah keterlambatan penyembuhan karena: Adanya interposisi diantara jaringan lunak diantara fragmen Fiksasi yang kurang baik Kurangnya reparatif vital dari tubuh karena gangguan sistemik Sedangkan pada nonunion tidak terjadinya penyembuhan atau tidak bersambungnya ujung-ujung tulang yang fraktur kecuali dilakukan pembedahan untuk memperbaiki fraktur tersebut. Komplikasi Adapun komplikasi yang dapat terjadi pada penyembuhan tulang adalah15 : 1.8 momentum gaya pada mandibula 11 Kekuatan torsional pada mandibula terdapat pada bagian symphisis mandibula. jaringan fibrous diantara fragmen tulang 193 . hal ini disebabkan karena banyaknya muskulus dasar mulut yang melekat pada bagian ini sehingga apabila terjadi fraktur pada bagian ini maka dapat timbul rotasi.(17) Selain menggunakan dua miniplate dapat juga digunakan SNT plate untuk fraktur di regio symphisis. Hal ini bisa disebabkan karena : Fragmen-fragmen tulang tidak ditahan dengan rigid Fraktur dibiarkan terlalu lama Alat Fiksasi terlalu cepat dibuka Adanya jaringan lunak. Stabilisasi fragmen tulang yang fraktur di regio ini digunakan dua miniplate dengan jarak antar plat kurang lebih 5mm untuk menetralkan kekuatan rotasi pada daerah symphisis tersebut. serat oto.

penyebaran infeksi dari jaringan sekitarnya. 2. Infeksi Infeksi dan osteomielitis merupakan komplikasi yang paling sering terjadi. Pada beberapa penelitian. Reduksi Inadekuat Dapat disebabkan oleh distraksi fragmen fraktur oleh traksi otot atau oleh interposisi jaringan lunak antara fragmen fraktur. Fiksasi inadekuat 194 .9. Gambar 4. tindakan debridemen yang kurang sempurna dan sterilisasi yang kurang baik . dan juga faktor lokal seperti reduksi dan fiksasi yang buruk. Gangguan pada penyembuhan tulang (Malunion) terjadi karena kegagalan transformasi hematoma menjadi matrik osteogenik sehingga yang terbentuk jaringan fibrous nonosteogenik. Malunion Malunion dapat dijelaskan sebagai penyatuan fraktur tulang dimana displacement tulang masih terlihat. dapat juga disebabkan oleh : a.- Gangguan sistemik atau penyakit kronis Delayed union dan nonunion dapat terjadi pada 3 % dari kasus fraktur. tanpa penggunaan antibiotik dapat terjadi lebih dari 50% kasus fraktur. pasien yang kurang koopertif. pemberian obat-obatan yang kurang adekuat . b. Fistula pada fraktur mandibula anterior setelah open reduction15 3. Dapat disebabkan oleh faktor sistemik seperti alkoholik dan tanpa penggunaan antibiotik.

penyakit yang mengganggu aktivitas yang menghalangi menimbulkan reduksi tekanan oksigen selular pada proses penyembuhan tulang. 5. Gangguan pertumbuhan Gangguan pertumbuhan yang merupakan akibat dari trauma pada kondilus dapat diakibatkan oleh trauma langsung pada kondilus atau karena fibrosis atau scarring dari jaringan disekitarnya. Vaskularisasi Menurunnya vaskularisasi oleh karena trauma. 4. Infeksi Infeksi dapat menimbulkan osteomielitis baik yang mengakibatkan periosteum dan jaringan lunak yang berdekatan tidak berfungsi sehingga terjadi pembentukan lapisan fibrous penyatuan tulang. c. Faktor sistemik Kekurangan vitamin C dan D mengakibatkan gangguan pada metabolisme kolagen dan proses mineralisasi tulang. bila pergerakannya melebihi ambang batas fisiologis maka pembuluh darah kapiler akan terputus dan metabolisme penyembuhan tulang akan terganggu karena hilangnya suplai nutrisi. Kerusakan syaraf bisa disebabkan karena trauma yang hebat pada waktu kecelakaan atau terputusnya syaraf oleh fragmen tulang. d. e. Injuri nervus Injuri pada nervus alveolaris inferior biasa terjadi pada fraktur korpus dan angulus mandibula. 195 .Seringkali mengakibatkan mobilitas dari fragmen fraktur sehingga terjadi “delayed union” . usia.

3. Trismus karena adanya fibrosis atau disfungsi atropi dari otot-otot pengunyahan. Selanjutnya pada proses remodeling sampai terjadi rekonstruksi lengkap korteks tulang membutuhkan waktu 6 bulan31. 196 .8 Lama Penyembuhan Tulang Proses penyembuhan tulang sampai terbentuknya tulang lamela membutuhkan waktu hingga 6 minggu.10 Hipoplasia mandibula akibat fraktur kondilus bilateral15 6.Gambar 4.

angulus. Pemberian diet yang tepat dapat menjaga kesehatan pasien. Pengelolaan fraktur kondilus mandibula harus sesegera mungkin berdasarkan diagnosa yang akurat sehingga dapat mengurangi atau menghilangkan komplikasi yang akan timbul 197 . berbicara dengan normal dan menciptakan pergerakan artikulasi seperti sebelum terjadinya trauma. dan prossesus koronoideus. Sebagai tambahan juga usia pasien. Lokasi dan pola dari fraktur dapat dibagi berdasarkan mekanisme dan arah dari trauma. ramus. korpus mandibula. segmen dento alveolar. Lokasi fraktur mandibula terbanyak pada kondilus. keberadaan gigi-geligi dan karakteer fisik. simfisis dan parasimfisis. Hal ini dapat dicapai dengan pemilihan modalitas yang tepat.BAB V KESIMPULAN Mandibula merupakan fraktur kedua yang palling sering terjadi pada tulang maksilofasial dikarenakan posisi dan bentuknya yang membusur. serta perawatan pasca operasi dan rehabilitasi. tehnik operasi yang benar terutama dalam pencapaian oklusi mandibula. Perawatan fraktur mandibula terdiri dari dua macam yaitu dengan menggunakan metode tertutup atau dengan menggunakan metode terbuka Harus diperhatikan indikasi dan kontra indikasi bila akan dilakukan perawatan fraktur mandibula dengan metode terbuka. Restorasi fungsi mandibula sebagai bagian dari sistem stomatognati harus mencakup kemampuan untuk mastikasi yang baik. Dalam tatalaksana fraktur mandibula perlu dipahami biomekanik mandibula sehingga dapat diperkirakan letak fiksasi yang benar dan didapatkan hasil yang memuaskan.

Barrera J. Edisi 6. 198 .pdf last update 12 Desember 2010 2. L.pdf.com/article/1283150-overview Desember 2010 5. Jong W D.2009. Islamabad.medscape.in/maa/t08/i3/maat08i3p218. Sinha C. P. Buku Ajar Ilmu Bedah. E. Jakarta. Jakarta. Mandibular Fractures. R. Boies L. Boies Buku Ajar penyakit THT. 1997. 8. pada Hardjowasito Anak Widanto. Available at http://www. Anatomi Klinik untuk mahasiswa kedokteran. L. R. Menon C. Penerbit buku kedokteran EGC. 2007.nic. Management protocol of mandibular ractures at Pakistan Institute of Medical sciences. Malik S. Adams G. 2005. hal 132-156. Ajmal S.1996. A. A. last update 21 Desember 2010 9. 2007. Soepardi E A. Sjamsuhidajat.com/article/868517-treatment. Iskandar N. Buku ajar ilmu kesehatan Telinga Hidung Tenggorokan Kepala Leher. Volume 19. Thapliyal C. 3. Penerbit buku kedokteran EGC. Laub D. last update 12 Desember 2010. pemasangan Penanganan Arch-Bar. 7.DAFTAR PUSTAKA 1. 4.edu. Edisi 6. R. Penerbit Buku Kedokteran EGC.medscape.ayubmed. Snell R. Sugiharto Mandibula Setyo. Mandibular Angle Fractures: Treatment. Batuello T. Khan M. 2006. Pakistan. Jadoon H. Bab VII. Available at last update 12 http://medind. Fraktur Majalah dengan Kedokteran Unibraw. Jakarta. Available at http://emedicine. A.. Chakranarayan S. Management of Mandibular Fractures. issue 3. 12:39-41. C.pk/JAMC/PAST/19-3/13%20Samira%20Ajmal. J Ayub Med Coll Abbottabad. A. Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Indonesia. Available at http://emedicine. Jakarta 6. Edisi 2. 2010. G. Facial Trauma. S. 2006. G. Higler P.

Edinburg: Churchill Livingstone.2007. 1995. Functional anatomy and Biomechanics of the masticatory system. Mosby. Clinically Oriented Anatomy. 1997. 89-95. In management of temporomandibular disorder and occlusion .W.B. Maxillofacial Surgery. Fonseca . Widell T. Fractures Mandible. 2. Booth. Philadelphia 19. Philadelphia: W.W. Churchill Livingstone. 14. R.J. 58-63. Trauma Maksilofasial Diagnosis dan Penatalaksanaannya. Oral and Maxillofacial Surgery.J. Hal : 270-283. 18. Vol. David DJ. Buku Ajar Praktis Bedah Mulut . Vol. Hal: 1-9. Temporomandibular Joint Syndrome. Third ed. 1997. R. et all. 71-71. Louis: Mosby. Chaudhary A 2002. Oral and Maxillofacial Trauma. Second ed. 3rd . SR. 98. Murtedjo Urip. St Louis. Mosby Co. Wijayahadi R Yoga.. Divisi Ilmu Bedah Kepala & Leher SMF/Lab Ilmu Bedah RSDS/FK Unair Surabaya:25-26. 2002. 2004.Vol 3. St. 4th ed. St Louis: Elsevier. Peterson. eMedecine Journal. 2nd ed. Tucker.100. 2001. Oral and Maxillofacial Surgery. et al.2001. Principle’s of Oral and Maxillofacial Surgery. et al. 2. 16. 15. G. Vol 2. et all. Saunders Co.J. Ankylosis of TMJ.10. Edisi 1.1996. Oral and Maxillofacial Surgery eJournal.125-132 11. eMedecine Journal. Pedlar. WB Saunders Co. Keith L Moore. et al. J and Frame J. 1996.2005. Fonseca. London.W. 2006. Hal: 1-16 22.1993. Okeson Jeffrey P. 21. 20. Peterson: et al. Pedersen. L. 3rd ed. William-Wilkins hal:143-148 12. Craniomaxillofacial Trauma. Surabaya. Louis: Churchill Livingstone. 17. 199 . St. Hal:1-3 23. St Louis 13-21 13. Okeson JP. P. Oral and Maxillofacial Trauma.

Oral and Maxillofacial Trauma.2001. 1988. Condylar and Subcondylar. 2002. De Riu G. Philadelphia. Bianco P. Anghinoni M. Year Book Publishers. Nanci A.. 111-44 29. London. Cross AR. JE.. Gamba U. 2003. louis. 1990. Feinberg SE. London. Hal: 386-404. Goldman KE. P. Surgery.. Fracture Management Bone Healing and Grafting. Fundamental of Ortopedic Surgery. Norman. Int J Oral Maxillofac Surg. Vol 2. 6thed St. Schultz RC. Fractures Mandible. 28..Inc. A comparison of open and closed treatment of condylar fractures: a change in philosophy ... Diseases. 30. Facial Injuries.. Hal: 26-51. Hal :1-13. 26. Sesenna E.24.Lewis DD.. Wolfe Medical Publications Ltd. Bramley.1991. A Textbook and Colour Atlas of the Temporomandibular Joint. Larsen PE. WB. Disorders. Mosby. p. 30: 384 – 389 27. 25. Bone In Ten Cate’s Oral Histology. 200 . Sounders Co. Whitson SW.

Kata kunci: Fraktur. reduksi. evaluasi. dan perawatan bedah pada wajah. II. II. biasanya dapat menyebabkan jejas atau fraktur pada maksila dan tulang-tulang di sekitarnya. 201 . Penanganan dan rehabilitasi pasien dengan trauma pada maksila meliputi pemahaman terhadap jenis. tergantung pada organ-organ yang terlibat.Fraktur Maksila (Le fort I. trauma. Maksud dari penyusunan makalah ini adalah untuk menggambarkan mengenai tipe-tipe fraktur pada maksila. fiksasi. Pola fraktur yang terjadi pada maksila biasanya mengikuti area terlemah pada kompleks midfasial. serta penanganannya agar diperoleh hasil pemulihan yang optimal. pemeriksaan. III) Nurwahida 160121120008 Peserta Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut Dan Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Bandung Abstrak : Suatu trauma yang mengenai bagian tengah wajah. Le Fort. Le Fort mengklasifikasi pola fraktur pada maksila menjadi fraktur Le Fort tipe I. dan III.

2 Fraktur pada daerah ini mempunyai gambaran yang unik dibandingkan dengan injury pada bagian tubuh yang lain seperti : 1. termasuk juga mensyarafi labial dan gigi-gigi anterior. Pada regio anterior cabang terminal dari arteri naso palatinus keluar pada foramen insisivus dan mereka mensuplai mukoperiosteum dan palatum bagian anterior. yang dapat membantu sebagai pedoman dalam mengembalikan perlekatan dan stabilisasi fraktur. Fraktur ini termasuk yang serius karena menyangkut struktur penting lainnya yang berdekatan seperti rongga hidung. Sedangkan persyarafan melalui divisi kedua dari nervus trigeminus. sehingga membantu dalam proses penyembuhan yang cepat. Fraktur yang disebabkan trauma ini bisa terlokalisir atau muncul dalam kombinasi. Melibatkan jalan nafas. yang harus dilakukan tindakan cepat dan langsung.1 Pada daerah maksila ini perdarahan disuplai oleh arteri palatina mayor bersama-sama dengan arteri alveolar superior dan posterior yang bermuara pada palatum durum dan mole. 3.kombinasi. Nervus ini muncul dari foramen infra orbital dan kemudian berjalan untuk mensyarafi nasal lateral. 2. Terdapat suplai darah yang sangat bagus ke wajah. Menampilkan oklusi gigi. 202 . labial superior dan regio palpebral inferior. sinus maksilaris. rongga mata bahkan dapat melibatkan kerusakan di otak baik secara primer maupun sekunder dari penyebaran infeksi.BAB I PENDAHULUAN Fraktur maksila adalah suatu keadaan dimana hilangnya kontinuitas dari tulang maksila dengan tulang pendukung disekitarnya ataupun dengan bagian – bagian dari tulang masksila itu sendiri.

Nervus ini muncul dari foramen infraorbital dan kemudian berjalan untuk mensyarafi nasal lateral. dan septum nasal. ANATOMI MAKSILA Midfasial menghubungkan basis kranii dengan dataran oklusal.4 Pada daerah maksila ini perdarahan disuplai oleh arteri palatina mayor bersama-sama dengan arteri alveolar superior dan posterior yang bermuara pada palatum durum dan mole. Ia menyediakan pondasi kepada proyeksi fasial anterior sambil memberikan perlindungan kepada basis tengkorak dan berperan sebagai jangkar kepada ligamen fasial dan perlekatan otot. Midfasial secara efektif menyerap. Disartikulasi tulang midfasial menggambarkan anatomi maksila.BAB II TINJAUAN PUSTAKA I. Tetapi midfasial tidak 203 .2 Kompleks midfasial dilengkapi oleh struktur dukungan vertikal untuk menahan tekanan dari bawah. labial superior dan regio palpebral inferior. Sedangkan persyarafan melalui divisi kedua dari nervus trigeminus. sagital dan horizontal yang menutupi sinus. melawan dan mengusir tekanan infrasuperior melalui beberapa tahanan. termasuk juga mensyarafi labial dan gigi-gigi anterior. Tulang midfasial terdiri dari rangkaian penebalan vertikal. zigoma. Pada regio anterior cabang terminal dari arteri naso palatinus keluar pada foramen insisivus dan mereka mensuplai mukoperiosteum dan palatum bagian anterior. tulang nasal. 3 Gambar 1.

Lengkung zygoma menyediakan satu-satunya pilar sagital. zygomaticomaxillary (lateral) dan pterygomaxillary (posterior). Pilar midfasial horizontal meliputi rima orbita superior dan anterior juga palatum durum. memberikan 204 . Pilar nasomaksilaris memanjang dari apertura piriformis dari kaninus dan anterior maksila melalui prossesus frontalis dari maksila dan naik ke cerukan lakrimal dan dinding medial orbita ke os frontalis. Sisi posterior. memandang midfasial mudah untuk kolaps dan mudah bergeser pada segmen sentral.dilengkapi dengan kemampuan menahan tekanan dari lateral dan frontal. Pilar vertikal dan pilar horizontal. Struktur dukungan vertikal pada midfasial terdiri atas pilar nasomaksilaris (medial).3 Gambar 2 menunjukan pilar vertikal terdiri dari pilar medial atau nasomaksilari (V1). Pilar medial dan lateral memberikan tahanan anterior. Pilar horizontal meluas sepanjang rima supraorbita (H1). pilar pterygoid mengubungkan maksila ke lempeng pterygoid dari os sphenoidalis dan memberikan stabilisasi kepada dataran vertikal dari midfasial. dan pilar posterior atau pterygomaxillary (V3) yang berfungsi menahan tekanan kepada basis kranii. Pilar zygomticomaxillary memanjang tulang alveolaris di atas molar I maksila melalui korpus zygoma naik ke prossesus frontalis dari zygoma ke os frontalis. serta pilar sagital (S1). rima infraorbita (H2) dan prossesus dentoalveolar dan palatum (H3).3 Dukungan superior pada pilar ini adalah arkus yang dibentuk oleh rima orbita superior dan inferior dan arkus zygomaticus. 2 Gambar 2. pilar lateral atau zigomatikomaksilari (V2).

1. Penyakit ini biasanya menyebabkan tulang menjadi rapuh ataupun melunak. hidung dan mulut. Trauma langsung adalah apabila fraktur terjadi pada bagian yang terkena trauma. osteomielitis.3 Rekonstruksi defek struktur midfasial membutuhkan rekonstruksi dari pilar-pilar ini untuk mengembalikan pola tahanan normal pretrauma dan parameter biomekanikal yang penting untuk mempertahankan integritas struktur skeletal. perkelahian (24%). B. 2. Bila resorbsi tulang meluas akibat penyebaran penyakit ini maka dapat terjadi patah tulang spontan tanpa trauma. Trauma dapat menyebabkan terjadinya fraktur secara langsungt maupun tidak langsung. kecelakaan kerja (4%). A. Lengkung zygoma berfungsi sebagai satu-satunya pilar sagital (S1). wajah tengah terlibat pada 40% 205 . olah raga (2%). III. Faktor utama Faktor utama terjadinya fraktur pada tulang maksila adalah disebabkan oleh trauma baik yang datang dari luar maupun dari dalam. Penebalan-penebalan tulang ini memberikan tempat untuk aplikasi pelat fiksasi guna memastikan dukungan dan penyembuhan yang maksimal. Trauma tidak langsung adalah apabila fraktur terjadi pada tempat yang jauh dari lokasi trauma. luka tembakan (2%). ETIOLOGI Penyebab fraktur dapat dibagi menjadi dua golongan yaitu faktor predisposisi dan faktor luar.dukungan struktural kepada fungsi dari mata. Tanpa termasuk fraktur nasal. tumor. kista. Seperti penyakit yang berupa infeksi periapikal. jatuh (9%). Faktor predisposisi: Yang dimaksud dengan faktor predisposisi adalah faktor yang dapat menimbulkan fraktur selain dari faktor utama. EPIDEMIOLOGI Penyebab utama dari fraktur maksila adalah kecelakaan lalu lintas (60%). 3 II.

cedera servikal (10%). Fraktur maksila dapat dibedakan atas jenis. dimana Le Fort I mencapai 30 %. 5. 2. mukosa atau jaringan periodontal untuk berhubungan dengan dunia luar (opened fracture).yaitu: 1.3 IV. 2 A. yaitu melalui mukosa. KLASIFIKASI FRAKTUR MAKSILA Klasifikasi fraktur maksila dapat dibedakan menurut jenis frakturnya dan lokasi dari fraktur pada daerah tulang maksila itu sendiri. Impacted fracture : Fraktur yang menyebabkan fragmen tulang yang satu tertekan masuk kesisi fragmen fraktur yang lainnya. Single fracture : Fraktur yang memiliki satu garis fraktur saja atau disebut juga fraktur tunggal. Complicated fracture : Fraktur yang melibatkan jaringan lunak sekitarnya atau bagian sekitarnya ikut menjadi rusak. Le Fort II mencapai 42%. 6.jenis atau bentuk dari fraktur itu sendiri. Kejadian cedera bersamaan dengan trauma kepala (50%). dan Le Fort III mencapai 28% dari seluruh kasus Le Fort. 206 . Para ahli sepakat bahwa distribusi frekuensi fraktur Le Fort yaitu tipe II > tipe I > tipe III. 7. jaringan periodontal atau kulit (closed fracture). MENURUT JENISNYA.dari seluruh kasus. cedera abdominal (15%). Simple fracture : Fraktur yang tidak menyebabkan luka terbuka atau tidak berhubungan dengan lingkungan luar. 4. Multiple fracture : Fraktur yang melibatkan dua atau lebih garis fraktur pada tulang yang sama dan masing-masingnya saling tidak berhubungan. Compound fracture : Fraktur dengan luka terbuka yang melibatkan kulit. dan fraktur ini dapat terbuka atau tertutup. 3. Comminuted fracture : Fraktur yang menyebabkan tulang hancur atau splintered. Tulang pada fraktur ini pecah menjadi fragmen-fragmen yang kecil. cedera skeletal (30%) ditemukan pada pasien dengan fraktur midfasial.

9. terjadi pada tulang yang kalsifikasinya belum sempurna.8. 2. seperti tulang anak-anak. Tahun 1984 Fraktur maksila dibagi atas 4 golongan yaitu :  Fraktur Horizontal ( Le fort I ) Seluruh maksila terpisah dari dasar tengkorak. (Transverse facial fracture. Guerin Fracture. Craniofacial disjunction fracture) Fraktur pyramidal yang menyangkut tulang-tulang hidung dan maxilla. Fraktur ini dapat terjadi unilateral tetapi berbeda 207 . Le fort I fracture) Fraktur trasversal yang menyangkut orbital. garis fraktur terdapat diatas palatum tetapi dibawah perlekatan prosesus zygomaticus. Fraktur pada maksila dapat terjadi salah satu dari jenis fraktur diatas tetapi juga bisa berupa kombinasi dari bermacam – macam fraktur serta dapat melibatkan fraktur pada tulang lainnya yang berdekatan dengan maksila. KRUGER. Horizontal maxillary fracture. Distracted fracture : Fraktur yang mengalami dislokasi dari segmentsegment fraktur atau perubahan letak tanpa merusak jaringan sekitarnya. Menurut THOMA tahun 1969 Fraktur maksila dibagi atas 4 golongan yaitu:    Fraktur prosesus alveolaris dan prosesus palatine Fraktur horizontal (Transverse maxillary fracture. Displaced fracture : Fraktur yang mengalami perubahan letak dari garis frakturnya sendiri 10. MENURUT LOKASINYA Sedangkan menurut lokasi terjadinya fraktur tersebut telah banyak klasifikasi dibuat olah para ahli seperti: 1. B. Incomplete fracture : Fraktur dimana tulang tidak patah sama sekali atau tidak putus. Menurut GUSTAV O. tulang zygoma dan tulang  hidung.

Transverse maxillary fracture. Floating maxilla. meluas kebagian atas tulang hidung dan tulang ethmoid biasanya sinus maksilaris ikut tersangkut. melibatkan sebagian dari dinding sinus maksilaris. palatum dan bagian bawah dari prosesus pterygoideus dan tulang sphenoid  Le fort II ( Pyramidal fracture ) 208 . begitu juga tulang zigoma dapat terlibat  Fraktur Tranversal (Le fort III) Garis fraktur meliputi daerah mata. sehingga dinding samping tulang mata terpisah melalui sutura zygomaticofrontalis  Fraktur Multiple Merupakan kombinasi dari ketiga macam fraktur diatas. Menurut ARCHER Fraktur maksila cukup dibagi atas 2 golongan saja yaitu:  Fraktur dimana sebagian tulang maksila ataupun seluruh tulang maksila beserta beberapa gigi terpisah dari badan tulang maksila ( Le fort I )  Fraktur dimana seluruh tulang maksila bagian atas terpisah dari tulang – tulang dasar tengkorak sebagai suatu unit tunggal atau multiple.  Le fort I ( Fraktur Guerin.dengan fraktur prosesus alveolaris karena pada fraktur alveolaris tidak disertai dengan perluasan kedaerah garis tengah palatum  Fraktur Pyramidal ( Le fort II ) Garis fraktur melalui aspek fasial maksila. 4. Horizon maxillary fracture ) Garis fraktur melintang melalui bagian atas dari prosesus alveolaris. Menurut LE FORT : Fraktur Le fort adalah fraktur bilateral horizontal dari rahang atas dan dibagi menjadi 3 jenis Le fort fraktur. daerah tulang hidung dan tulang ethmoid terus ke arcus zygomaticus. 3.

7. bagian bawah mata. pada fraktur ini maksila hanya terikat oleh jaringan lunak terhadap tulang-tulang dasar tengkorak. suatu fraktur yang terjadi dibagian atas maksila disertai dengan fraktur pada tulang nasalis dan tulangtulang lain disekitarnya. 5. maksilo frontal dan nasofrontal. Extensive comminuted fraktur.  Le fort III ( Transverse facial fracture. Craniofacial disjunction ) Garis fraktur melalui sutura zygomatiko frontal. Pembagian fraktur rahang atas ini berdasarkan lokasinya menjadi 5 macam. Fraktur pada muka mulai diatas akar gigi sampai palatum durum ( unilateral ) Fraktur terjadi horizontal dan bilateral yaitu diatas palatum dan dibawah orbita.Garis fraktur melalui tulang lakrimal.          Klas I : Fraktur pada kompleks zygomaticus Klas II : Fraktur pada kompleks nasalis Klas III : Fraktur Le Fort I Klas IV : Fraktur Le Fort II Klas V : Fraktur Le Fort III 6. Menurut IVY dan CURTIS: Fraktur maksila hanya mengenai prosesus alveolaris. melalui dasar mata berjalan terus kebagian bawah sesuai dengan dinding lateral dari maksila melalui pterygoid plate terus ke fossa pterygomaxilla. Garis fraktur terus ketulang ethmoid dan sphenoid. Menurut KILLEY. Berbentuk kerucut makanya disebut fraktur pyramid. Menurut CLARK:  Fraktur pada prosesus alveolaris maksila 209 .

Menurut ERICH dan AUSTIN :    Horizon fraktur. 9. Transverse fracture 2. Pyramidal fraktur. garis fraktur melintas pada kedua orbita dan bagian atas cavum nasalis. garis fraktur melintas secara horizontal pada kedua antrum dan cavum nasalis. 1. Menurut MEAD : Membagi fraktur maksila berdasarkan lokasinya menjadi 3 macam:    Partial fracture. Pyramidal fracture 3. 210 . yaitu fraktur dengan beberapa gigi pada tiap fragmen tulangnya Complete fracture. Punch type fracture disebabkan karena tembakan sehingga terjadi luka pada tulang yang bergerigi terjadi pada satu atau lebih tulang yang tipis.   Fraktur dimana setengah bagian dari tulang maksila dipisahkan dari cranium Seluruh tulang maksilla dipisahkan dari karnium disebut juga Floating Maksila karena maksila seperti terapung terlepas dari cranium. Transverse facial fracture. Partial or complete fracture pada kasus yang edentulous. 8. garis fraktur melintas pada kedua orbita dan hidung Transverse facial fracture. Pada fraktur seperti ini dapat berupa .

2 211 . Fraktur yang terjadi mulai dari batas lateral sinus pirimormis. Pada fraktur ini. Low Level Fracture.1 Fraktur Le Fort I merupakan hasil benturan yang terjadi diatas level gigi. Tipe ini dapat melibatkan maksila secara tersendiri dan terpisah dari struktur lain dengan diikuti terputusnya sutura palatina atau fragment maksila. maksila dapat berada pada posisi posterior dan inferior. nasal dan zygomatik. Septum nasal dapat terjadi fraktur. Karena tarikan baik dari otot pterigoid eksternal dan internal. Fraktur pada prosesus alveolaris. Horizontal Frakture. dan kartilago nasal mungkin terkena. sedangkan garis fraktur sendiri berjalan vertikal atau disebut juga fraktur Unilateral. Floating Maksila. Yaitu fraktu yang terjadi pada tulang maksila yang meliputi daerah alveolranya saja tanpa melibatkan tulang pendukung yang lain dan tanpa diikuti terputusnya hubungan tulang maksila dengan tulang nasal atau basis cranial. belakang tuberositas maksilaris. Tranverse Maksila Frakture. 2. berjalan sepanjang dinding antral lateral. biasanya tampak open bite klasik. Dapat terlihat arah frontal dari maksila yang melibatkan struktur maksila dari plat pterygoid.Dari beberapa pendapat para ahli tersebut dapatlah disimpulkan bahwa pada prinsipnya fraktur maksila dapat dibagi menjadi : 1. 3. Vertical fracture yaitu fraktur pada rahang atas yang meliputi palatum durum. Fraktur Le Fort I Fraktur ini disebut juga Fraktur Guerin. dan melewati pteriogoid junction.

Gambar 4. 3 Fraktur Le Fort II terjadi akibat benturan yang didapat pada level tulang nasal. melalui tulang lakrimalis. 1 212 .2 .Gambar 3. dan melewati garis infraorbita pada area sutura zigomatikomaksilaris. Fraktur terjadi sepanjang sutura nasofrontalis. Fraktur Le Fort II. Fraktur Le Fort II Fraktur piramidal/subzigomatik yang menyebabkan terpisahnya wajah tengah pusat dari kompleks orbitozigomatikus. 1 4. Fraktur le fort I.

Pada fraktur ini maxilla hanya terikat oleh jaringan lunak terhadap tulang-tulang dasar tengkorak.1 V. Jejas pada kepala dan leher seringkali melibatkan jalan nafas dan pembuluh utama. oleh karena itu resusitasi ABC harus dilakukan secara ketat pada tahap awal pemeriksaan dan penatalaksanaan pasien dengan fraktur maksilofasial. Setiap 213 . Fraktur Le Fort III. Fraktur Le Fort III Fraktur pada daerah ini disebut juga supra zygomatic fraktur.5. 1 Sedangkan menurut Le fort fraktur ini disebut juga Transverse facial fracture. Dimana garis fraktur melalui sutura zygomatiko frontal. maxillo frontal dan nasofrontal. Gambar 5. PEMERIKSAAN DAN GEJALA KLINIS 1. dihasilkan oleh suatu tekanan yang besar pada level superior yang dapat memisahkan naso orbital eithmoid komplek. Craniofacial disjunction. Garis fraktur terus ke tulang ethmoid dan sphenoid. zygomaticus dan maksila dari basis cranial atau disebut juga pamisahan craniofasial. Pemeriksaan Awal / Primary Survey Evaluasi awal dan penatalaksanaan yang menyeluruh seringkali menentukan apakah pasien mampu bertahan dari trauma mereka.

214 . Bila alat imobilisasi ini harus dibuka untuk sementara. Pasien dengan jejas pada wajah sebaiknya diperkirakan memiliki jejas lain yang berhubungan. Kecurigaan adanya kelainan vertebra servikalis didasarkan riwayat perlukaan. Airway (Jalan Nafas) Yang harus dinilai adalah kelancaran jalan nafas. Dada pasien harus dibuka untuk melihat ekspansi pernafasan. Auskultasi dilakukan untuk memastikan masuknya udara ke dalam paru. harus diperhatikan bahwa tidak bleh melakukan ekstensi. tergantung dari insidensi trauma. harus melindungi vertebra servikal. Dalam keadaan kecurigaan fraktur servikal fraktur servikal harus dipakai alat imobilisasi. dapat dianggap bahwa jalan nafas bersih. 5 A. Ini meliputi pemeriksaan adanya obstruksi jalan nafas yang dapat disebabkan oleh benda asing. Usaha untuk membebaskan airway. walaupun demikian penilaian ulang terhadap airway tetap harus dilakukan. fraktur laring atau trakea.pasien yang datang dengan jejas trauma. B. perhatian pertama harus ditujukan langsung pada evaluasi menyeluruh. Perkusi dilakukan untuk menilai adanya udara atau darah dalam rongga pleura.. Pada penderita yang dapat berbicara. fleksi atau rotasi dari leher. jejas yang membahayakan hidup dan kondisi medis sistemik harus dievaluasi secara tepat. fraktur mandibula atau maksila. Selama pemeriksaan awal. Breathing (Pernafasan) Ventilasi yang baik meliputi fungsi yang baik dari paru. maka untuk kepala harus dilakukan imobilisasi manual. Alat imobilisasi ini harus dipakai dipakai sampai kemungkinan fraktur servikal dapat disingkirkan. Hal ini dapat dimulai dengan melakukan chin lift atau jaw thrust. dinding dada dan diafragma. Selama memeriksa dan memperbaiki airway. Inspeksi dan palpasi dapat memperlihatkan kelainan dinding dada yang mungkin menggangu ventilasi. fraktur tulang wajah.

D. Circulation (Sirkulasi) Perdarahan luar harus dikelola pada primary survey. Exposure environmental control Penderita harus dibuka keseluruhan pakaiannya. Tabel 1. Disability Menjelang akhir primary survey dilakukan evaluasi terhadap keadaan neurologis secara cepat. walaupun hanya pingsan dalam waktu yang singkat. harus diperiksa secara keseluruhan dengan Skala Koma Glagow (GCS) dan dikonsulkan ke bagian bedah syaraf. Setelah pakaian dibuka 215 . Banyak pasien yang mengalami injuri fasial mengalami hilang kesadaran.6 Skor 1 2 3 4 5 Mata (E) Respon (-) Terbuka karena rangsang sakit Terbuka bila diminta Terbuka spontan Verbal (V) Respon (-) Tidak dipahami Tidak tepat Bingung Bercakap-cakap Motorik (M) Respon (-) Ekstensi Fleksi Gerakan tidak spesifik Menunjukkan tempat yg sakit Bisa melakukan perintah 6 - - E. Tourniquet sebaiknya jangan dipakai karena merusak jaringan dan menyebabkan iskemia. GCS) untuk evaluasi cedera kepala. Skala koma dari Glasgow (Glasgow Coma Scale. Kesemua pasien ini. sering dengan cara menggunting guna memeriksa dan evaluasi penderita. Perdarahan eksternal dihentikan dengan penekanan pada pada luka.C.

Pada beberapa kasus. Seringkali. dan stabilisasi pasien. dan tekanan darah sebaiknya diperiksa dan dicatat. pemeriksaan.1 Perawatan terhadap jejas kepala dan leher biasanya dilakukan setelah didapat evaluasi menyeluruh. Selama pemeriksaan awal. seperti perdarahan eksesif. 7 2. sebaiknya diperiksa. atau dapat berhubungan dengan jejas seperti fraktur laring. nadi. Penanganan awal.harus dipakaikan selimut hangat. tetapi karena kehilangan kesadaran atau status 216 . Pemeriksaan Riwayat Penyakit Setelah pasien stabil. Benturan yang cukup berat yang dapat menyebabkan fraktur pada tulang wajah biasanya tersalurkan ke spina servikalis. Pemeriksaan Riwayat dan Klinis a. Pada pasien trauma dengan obstruksi jalan nafas atas komplit. krikotirotomi merupakan cara paling cepat untuk mengakses trakea. Leher harus diimobilisasi sementara hingga jejas pada leher dikatakan baik . Bagaimanapun. beberapa perawatan awal seringkali penting untuk kestabilan pasien. seperti lidah atau daerah leher atas.1 Jejas pada daerah wajah tidak hanya melibatkan tulang wajah tapi juga jaringan lunak. Langkah pertama yaitu memastikan pasien memiliki jalan nafas yang baik serta ventilasi yang adekuat. ruangan cukup hangat dan diberikan cairan intravena yang sudah dihangatkan. keadaan yang mengancam nyawa harus dikenali dan resusitasinya harus dilakukan pada saat itu juga. Tanda klinis. masalah lain yang dapat mengancam kehidupan. seperti gigit tampon.1 Selama primary survey. Selanjutnya pemeriksaan status nerologis pasien dan evaluasi spina servikalis pasien. namun dalam prakteknya hal-hal diatas sering dilakukan berbarengan. dapatkan riwayat selengkap mungkin. sebaiknya dilakukan sesegera mungkin. Penyajian primary survey diatas adalah dalam bentuk berurutan sesuai dengan prioritas dan agar lebih jelas. termasuk respirasi. fraktur pada tulang wajah yang berat dapat mengurangi kemampuan pasien dalam menjaga jalan nafas. perlu dilakukan trakheostomi untuk memberikan jalan nafas yang adekuat. Riwayat ini sebaiknya diperoleh dari pasien.

tempat kejadian dan peristiwa khusus dicatat. Bagaimana kejadiannya terjadi? Kapan kejadiannya terjadi? Apakah spesifikasi jejasnya.nerologi. epistaksis. Pemeriksaan Klinis Fraktur midfasial biasanya didiagnosa secara klinis dan dikuatkan dengan pemeriksaan radiologis.6 b. Apakah terjadi penurunan kesadaran? Gejala apa yang sekarang sedang dirasakan oleh pasien. perubahan sensasi. Tanggal. Lima pertanyaan penting yang sebaiknya dipertimbangkan: 1. Sejumlah faktor bisa membuat pemeriksaan klinis menjadi sulit. amnesia merupakan hambatan yang sering terjadi dalam menjalin komunikasi dengan pasien. Keadaan tidak sadar (koma). dll. maksila yang tumpang tindih atau bahkan pasien yang tidak sadar atau tidak kooperatif. informasi harus diperoleh dari anggota lain yang mendampingi. 3 217 . termasuk kehadiran edema fasial. waktu.1 Mendapatkan riwayat yang adekuat dari korban trauma adalah sulit. karena biasanya mereka tidak mampu memberi respon dengan baik. apakah si korban yang menyetir. 2. Apabila cedera disebabkan oleh kecelakaan mobil. Sumber terbaik yang dapat digunakan adalah keluarga dekat yang menemaninya. dicatat karena tingkat kesadaran dipengaruhi oleh obat-obatan tersebut. 5. termasuk jenis benda yang berkontak. termasuk mengenai alergi. dan imunisasi tetanus terdahulu. perubahan visual. dan maloklusi? Informasi lengkap. Informasi mengenai waktu makan dan minum yang terakhir sangat penting apabila akan dilakukan anestesi umum. temannya. atau sebagai penumpang. pertimbangan logistik? 4. alergi dan tanggal imunisasi tetanus juga dicatat. kondisi medis. 3. termasuk nyeri. apakah korban memakai sabuk pengaman? Apakah pasien merupakan korban tindak kejahatan dengan senjata tertentu? Apakah pasien jatuh/tidak sadar? Kondisi medis resiko tinggi. polisi atau pekerja pada unit gawat darurat. Adanya tanda-tanda kecanduan alkohol dan obat-obatan. pengobatan. syok.

nasal atau zygoma. Oklusi dievaluasi. Pemeriksaan berakhir dengan pemeriksaan maksila dan mandibula. Wajah dievaluasi terhadap kemungkinan terdapatnya laserasi dan depresi tulang yang jelas. memegang maksila. Pemeriksaan sebaiknya dilakukan secara bimanual dan disiplin. rima orbita. kepala pasien harus distabilkan dengan menggunakan satu tangan menekan dahi. Lengkung zigomatikus dipalpasi lalu ke tulang nasal. Fasial dan midfasial sebaiknya dipalpasi untuk melihat adanya gap pada dahi. abrasi. Evaluasi midfasial dimulai dengan penilaian mobiliti maksila. Untuk menilai mobiliti pada maksila. Terdapatnya krepitasi dan pergeseran dinding antral lateral dan zigoma dapat mudah didapatkan dengan teknik ini. Pertama kita lakukan pemeriksaan rima orbitalis. dan cairan yang keluar baik dari hidung maupun telinga diasumsikan sebagai cairan serebrospinal hingga terbukti bukan itu. keadaan dan kualitas gigi perlu dicatat. lalu berlanjut ke bawah untuk meliputi rima lateral dan infraorbitalis.1. faktor ini berpengaruh besar terhadap metode perawatan. yang dapat mengobstruksi pergerakan prosesus koronoid ke depan. edema ataupun hematom dan kemungkinan cacat pada kontur. karena dapat menyebabkan infeksi retrograde yang menyebabkan meningitis. dimana apabila terdapat edema yang cukup besar dapat membuat pemeriksaan menjadi sulit. hidung maupun telinga sebaiknya tidak ditutup tampon. digoyang dengan hati-hati untuk melihat adanya mobiliti pada maksila. Jika diduga terdapat cairan serebrospinal.2 Tulang wajah dipalpasi untuk mengetahui adanya diskontinuitas tulang. Vestibulum bukalis dipalpasi dengan jari telunjuk. 1 Pembukaan mandibula dievaluasi baik untuk fraktur lengkung zigoma maupun zigoma yang terdisposisi ke lateral. sendiri ataupun kombinasi dengan zygoma atau os nasal. Area ekimosis harus dievaluasi secara hati-hati. Asimetri area wajah perlu dicatat. Pemeriksaan Ekstraoral Pemeriksaan pada area fasial harus dilakukan dalam teknik yang terorganisir dan berkelanjutan.2 218 . Wajah dan kranii harus diinspeksi secara hati-hati terhadap kemungkinan trauma termasuk laserasi. kontusio. Dengan menggunakan jempol dan jari telunjuk dari tangan yang lain.

terutama pada palatum.Daerah ekimosis. tanda dan gejala yang dapat kita temukan adalah adanya oedem wajah dan terjadi retrusi mid fasial yang menyebabkan wajah terlihat datar. Kadang timbul parestesi daerah pipi karena trauma pada nervus infraorbita. karena garis fraktur melewati tulang zygoma. yang merupakan indikasi terdapatnya drainase cairan serebrospinal. merupakan gambaran umum pada fraktur maksila.8 Pada Le Fort II.7 219 . Terjadi haemoragi subkonjunctiva dan diplopia. hal ini akan menyebabkan kontak prematur gigi molar dan open bite anterior. Segmen maksila bergeser ke posterior dan inferior. Ekimosis subkonjungtival Gambar 7. Ekimosis sirkumorbital bilateral (racoon eyes). Faring diperiksa untuk laserasi atau perdarahan retrofaringeal. Keadaan ini disebut sebagai deformitas dish face atau pan face. Pasien sebaiknya ditanya mengenai keluarnya cairan rasa metal dan asin. Gambar 6. Terdapat hematom pada sulcus bukalis rahang atas posterior.

Selama pemeriksaan mata dan tulang orbita. pergerakan ektra ocular dan posisi bola mata. Le fort III berhubungan dengan adanya cedera pada zygomatikus. serta jarak intercanthal. Gangguan pada pergerakan ekstraokular atau enopthalmos menandakan adanya suatu blow out pada dasar orbita. gigi geligi. 2.Gambar 8. Openbite anterior. dan dinding zigomatikomaksilaris. masalah pada retina ataupun masalah neurologic lainnya. Pemeriksaan Intraoral Pemeriksaan intra oral dapat melihat keadaan oklusi. Pergerakan abnormal pada tulang dapat didiagnosa dan jika terjadi maka akan diikuti oleh sakit dan krepitasi akibat dari ujung tulang yang keras bergesekan satu sama lain. tetapi permeriksaan dapat menemukan adanya kehilangan kontinuitas tulang atau displacement. penglihatan. Deformitas pada kontur tulang dapat tertutupi oleh pembengkakan. Palpasi intra oral dengan jari pada maksila dapat memberikan informasi tentang integritas dinding nasomaksilaris.7 220 . Tidak seperti fraktur Le fort II. stabilitas alveolar ridge dan palatum serta jaringan lunak. dapat dilihat integritas dari lingkar orbita dan dasar orbita. Hilangnya fungsi pada rahang merupakan hal biasa sebagai akibat dari trismus atau sakit. Peningkatan jarak interchantal menandakan adanya perubahan pada tulang frontomaksilaris atau tulang lacrimalis ataupun adanya avulsi dari ligamentum canthal medialis . Gangguan pada oklusi dapat melokalisir adanya fraktur. Dalam hal kerusakan yang parah pada mata dan tulang orbita dapat dikonsultasikan kepada opthalmologis. Perubahan penglihatan menandakan adanya gangguan pada persyarafan mata. dinding sinus maksilaris anterior.

Pemeriksaan mobiliti pada maksila. Dahi difiksasi dengan tangan kiri. Jika gerakan terdeteksi juga pada zigoma (B).1 Gambar 9 menunjukan pemeriksaan mobiliti pada maksila. maka 221 . Gigi anterior dipegang dan maksila dimanipulasi untuk memeriksa adanya pergerakan. A. Metode palpasi wajah tengah pada fraktur Le Fort.1 ` Gambar 10. kontak prematur pada molar dan anterior open bite. maksila digoyang-goyangkan untuk menilai adanya mobiliti. B.Fraktur transversal pada Le Fort membuat muskulus pterygoid medial yang kuat menciptakan tarikan posteroinferior pada segmen yang bergerak menciptakan maloklusi klas III.3 Gambar 9. Jika gerakan dapat dipalpasi pada jembatan nasal (A). Tangan kiri juga dapat diletakkan pada os nasal untuk menilai mobiliti pada os nasal. maka terdapat adanya Le Fort II atau III.5 Gambar 10 menunjukan metode palpasi wajah tengah pada fraktur Le Fort.

6 2. Le fort I Manifestasi Klinis Le Fort I antara lain adalah:  Seluruh rahang atas dapat digerakan dengan mudah. maka kemungkinan terjadi fraktur Le Fort I.5 Gambar 11.terdapat fraktur III.  Palpasi tulang alveolar pada jaringan pendukung akan terasa nyeri  Dapat dilihat dengan jelas pada foto roentgen dan sering adanya gambaran sinus yang berkabut serta gangguan kontinuitas yang bilateral dari dinding sinus maksila. kepala distabilisasi lalu prosesus dentoalveolar dimanipulsi sehingga adanya pergerakan segmen fraktur dapat dideteksi. Pergerakan pada sutura nasofrontal menunjukkan kemungkinan terdapatnya fraktur Le Fort II atau III.  Kecuali apabila segmen fraktur mengalami impaksi kearah posterior. 4 Perbedaan klinis fraktur maksila: 1. Saat melakukan pemeriksaan fraktur pada maksila. Pemeriksaan fraktur Le Fort II dan III dilakukan dengan cara satu tangan memegang puncak hidung sementara tangan lain memanipulasi maksila. kepala distabilisasi lalu prosesus dentoalveolar dimanipulsi sehingga adanya pergerakan segmen fraktur dapat dideteksi. Gambar 11 menunjukan saat melakukan pemeriksaan fraktur pada maksila. Le fort II 222 . Apabila tidak terdeteksi adanya gerakan pada daerah tersebut namun maksila mengapung.  Terjadinya kontak premature dari gigi posterior karena tulang maksila turun dan menimbulkan open bite yang klasik.

6 5. Trauma telecantus dapat terasa seperti halnya juga ephypora. Pada waktu dilakukan tes mobilitas dari maksila akan memperlihatkan pergerakan dari seluruh bagian atas wajah. Suatu maloklusi dapat terjadi bersamaan dengan open bite. 2. Le fort III Manifestasi klinis Le Fort III antara lain :    Sering terlihat kebocoran cairan cerebrospinal akibat sobeknya meninge (selaput otak) Oedema yang hebat dan ecchymosis peri orbital terlihat bilateral karena terjadinya perdarahan subkonjungtiva dalam berbagai tingkat keparahan. sehingga frakmen yang pecah dari lantai orbita atau dinding media bisa terlihat dan ikut bergerak.  Dari gambaran foto roentgen dapat terlihat pemisahan atau pergeseran pada sutura zygomaticomaksilaris serta terputusnya kontinuitas rima orbital inferior didekat sutura tersebut. Hipoesthesia dari nervus infra orbital juga ditemukan.   Fraktur ini biasanya diikuti dengan fraktur zygoma. 2. dan naso orbita eithmoid.posterior.Manifestasi klasik Le Fort II antara lain :     Oedema periorbital secara bilateral.6 223 . Suatu kelainan bentuk ini dapat dideteksi pada daerah rima infra orbital atau daerah sutura naso frontal. kondisi ini muncul karena perkembangan odema yang sangat cepat. Cara pendeteksian ini dapat dengan mengandalkan genggaman pada gigi anterior maksila dan menggerakannya arah anterior. luka yang dihasilkan pun berfariasi. Ada baiknya temuan ini dikomfirmasikan dengan CT coronal dan sagital scan. diikuti dengan ecchymosis yang memberikan kesan seperti raccoon sign (menyerupai kucing). hal ini berguna dalam rencana perawatan dan pertolongan nyawa pasien.

Gambaran Klinis Fraktur Le Fort III VI. scheidel anteroposterior. Jika pasien tidak dapat tengkurap.8 224 . lateral dan foto submentovertex. Water’s view memperlihatkan gambaran fraktur Le Fort II yang membentuk segmen fraktur bentuk Piramid.Gambar 12. Kekurangannya yaitu bertambahnya jarak antara tulang wajah ke film. Foto Towne’s sangat bermanfaat dalam menggambarkan lengkung zigomatikus dan rami mandibula. Foto lateral skull berguna dalam menggambarkan kehadiran cairan pada sinus paranasal dan udara intrakranial. Pemeriksaan Radiologis Setelah dilakukan pemeriksaan klinis pada area fasial dan keadaan pasien stabil. dapat menggunakan reverse Water’s (frontoosipital). minimal foto Water’s.2 Gambar 13. Foto Water’s memperlihatkan antrum hampir jelas. Lengkung zigoma paling bagus digambarkan pada foto submentovertex. pemeriksaan radiologi harus dilakukan untuk memberikan tambahan informasi tentang trauma fasial. Evaluasi pada fraktur midfasial secara umum ditambahkan dengan gambaran radiografik.

Gambar 14. Foto water’s lateral menunjukkan fraktur Le Fort II4

Scan yang diambil secara baik dan hasil tepat, dapat menjadi alat diagnostik radiologi tunggal, tanpa foto lain. CT scan juga menggambarkan terdapatnya edema dan kehadiran benda asing yang sering terlewat pada foto konvensional.

Gambar 15. CT scan axial menunjukkan fraktur Le Fort II

Gambar 16. Gambaran 3D fraktur Le Fort II.

VII.

PERAWATAN FRAKTUR

A. Tujuan perawatan Apabila stuktur wajah terkena trauma yang menyebabkan fraktur maksila maka tujuan utama perawatan meliputi: 1. Penyembuhan tulang yang cepat.

225

2. Pengembalian penglihatan yang normal dan sempurna. 3. Kembalinya fungsi hidung untuk bernafas dan penciuman. 4. Kembalinya ruang bicara yang sempurna. 5. Hasil yang baik secara estetik baik dari gigi dan wajah seperti yang diinginkan. Selama perawatan diusahakan meminimalkan hal-hal yang merugikan pasien, seperti pemberian nutrisi, mengurangi rasa sakit dan ketidaknyamanan pasien serta kerusakan yang minimal jika memungkinkan. 1

B. Prinsip perawatan Untuk mencapai hal ini maka prinsip bedah hendaknya mengikuti aturan berikut ini Prinsip perawatan fraktur maksila: 1. Debridement yaitu membersihkan sisi fraktur meticulous. 2. Reduction yaitu mensejajarkan ujung tulang yang patah. 3. Fixation yaitu menstabilkan fraktur tulang, setelah selesai prosedur diatas, baru-baru ini digunakan mini plat tulang dan scrub ( rigid internal fixation ). 4. Imobilisasi yaitu pengikatan Fraktur pada bagian sendi, dicapainya dengan wiring sendi secara bersamaan selama 4-6 minggu dengan penyebaran yang luas menggunakan fixasi interna yang kuat, bagaimanapun prosedur ini sangat cepat dalam membantu penyembuhan. 5. Rehabilitasion yaitu mengistirahatkan total dari region yang terkena trauma seperti perlekatan kembali secara prostetik dari gigi geligi yang hilang akibat trauma dan injury.

C. Metode perawatan Perawatan fraktur maksila dapat dilakukan dengan metode terbuka maupun metode tertutup tergantung dari berat dan ringannya kasus, namun untuk fraktur maksila yang meliputi le fort I, II, III atau yang diikuti kelainan oklusi harus dilakukan dengan metode terbuka.9,2,6

226

1.

Reduksi tertutup ( close red )

Metode ini dilakukan tanpa melakukan insisi untuk mereduksi kembali bagian tulang yang fraktur seperti pada frakmen fraktur ini bergerak, biasanya gigi geligi yang terdapat pada sekmen fraktur mengalami kegoyahan . Pada kasus ini dibutuhkan tekanan berulang (digital) untuk mereduksi tulang yang patah. Pada kasus fraktur unilateral maksila atau terpisahnya sisi kanan dan kiri palatum pada sutura palatine, maka digunakan alat Rowe Disimpaction forceps atau Hayton-Williams forcep untuk mereduksi kembali kedua sisi palatum tersebut. Arch bar dipasang pada lengkung maksila dan mandibula. Gigi yang goyah diikat dengan kawat (wiring) kearch bar maksila, sedangkan gigi yang terdapat pada segment yang tidak fraktur dilindungi dengan fiksasi intermaksila. Kemudian fiksasi dilanjutkan kedaerah fraktur yang telah direduksi tadi. Fiksasi dibiarkan selama 4 sampai 6 minggu didalam mulut pasient dan pasien diberikan diet lunak selama fiksasi. Indikasi dilakukannya metode tertutup pada fraktur maksila adalah:  Dimana pada pemeriksaan klinis dan radiografis tidak memperlihatkan gambaran perobahan letak pada kedua segmen fraktur atau segmen frakturnya terletak pada variable yang stabil dari tekanan otot-otot mastikasi.( Undisplasment fracture )  Pada pasien yang edentulous (tidak bergigi) dan fraktur maksila secara radiology memperlihatkan perobahan letak yang minimal dan letak garis fraktur kemudian menjadi stabil oleh otot-otot pengunyahan. Maka union tulang pada fraktur ini dapat menjadi penghubung yang baik.  Pasien dengan fraktur yang menimbulakan kerusakan pada otak dan tidak adanya rangsangan untuk bangun, maka metode terbuka untuk sementara merupakan kontra indikasi. 2 Reduksi terbuka (open red) Metode ini lebih baik untuk kasus fraktur maksila khususnya yang komplek. Dengan metode ini dapat dicapai immobilisasi fraktur yang sempurna

227

dan fiksasi yang kuat dan rigid. Metode ini dimulai dengan tahapan sebagai berikut: 1. Pembukaan flap dengan insisi vestibular secara bilateral. 2. Sisi fraktur disingkapkan dengan meretraksi flap tadi 3. Dilakukan pembersihan segment pada garis fraktur. 4. Dilakukan perlekatan kembali kontunuitas tulang yang terputus. 5. Fiksasi garis fraktur dengan wiring atau mini dan mikro plat serta bautnya. 6. Tutup daerah operasi dengan mengembalikan flap pada posisi awal dan dijahit 7. Fiksasi inter maksila selama 4 minngu (masa penyembuhan) 8. Pasien diberikan diet lunak selama fiksasi dengan kandungan gizi yang cukup. Indikasi dilakukannya metode fraktur terbuka adalah sebagai berikut:  Apabila metode tertutup gagal dilakukan  Fraktur dengan displacement yang kearah bawah dengan segala

komplikasinya seperti open bite klasik, elongasi fasial dana dish face.  Fraktur fasial kompleks dan multiple seperti Le fort I, II, III .  Fraktur dengan impaksi pada rahang bawah.  Fraktur yang memerlukan pemasangan miniplate dengan skrup untuk reduksi dan stabilitas segment fraktur.  Fraktur yang membutuhkan bone graft.

Mikroplate and screw osteosynthesis Pada abad ke dua puluh mulai diperkenalkannya pemakaian plat sederhana atau yang lebih dikenal dengan Mini plate and screw. Sistem kompensasi plat logam ini menggunakan lobang-lobang plat eksentrik dan skrup- skrup ( beberapa diantaranya ada yang menggunakan swa-ulir ) yang cocok untuk penatalaksanaan fraktur orofasial. Pada tahun –tahun terakhir perkembangan plat dan skrup mengalami revolusi menjadi Mikro plate yang lebih ringan yang terbuat dari titanium dan lebih bisa diterima oleh tubuh. Hal ini di kembangkan karena bentuk

228

dan jenis fraktur maksila yang berfariasi dan sangat komplek sekali.Bentuk dan ukurannyapun disesuaikan dengan anatomi tulang fasial. Beberapa keuntungan pemakaian mikro plat ini adalah: 2,6              Kestabilan yang rigid pada fiksasi anatomi dari bagian –bagian fraktur. Dapat meniadakan pemakaian IMF ( intermaksilari fiksasi ). Mempercepat penyembuhan dan memperpendek durasi perawatan.

Indikasi dilakukannya pemasangan mikro plate pada fraktur maksila adalah: Apabila fiksasi maksilo mandibula sulit dilakukan. Untuk perawatan kasus yang penyembuhannya lama dan pseudoartrosis. Fiksasi pada graft tulang. Fraktur kompleks dan multiple dari Le fort I, II, III. Fraktur maksila pada pasien edentulous dengan displasment

Aplikasi mikor plate dan skrup: Pemaparan perkutan atau peroral dan kemudian dilakukan reduksi fraktur. Lakukan adaptasi dan stabilisasi mikro plat dan pembuatan lobang untuk skrup pada tulang denga bur tulang. Lobang bur dicocokan sampai sesuai dengan besar srkupnya. Skrup dipasang menurut dataran lubang pada plate untuk mendapatkan kompresi. 1-3 skrup diinsersikan pada sisi fraktur

Fiksasi dan Imobilisasi fraktur maksila Ada beberapa macam alat untuk Immobilisasi fraktur maxilla yang mana pada dasarnya menggunakan prinsip berikut ini:6 A. Fiksasi Intramaksila dan Intermaksila. 1. Hanya rahang atas saja yang dipasangkan alat fiksasi misalnya, dengan memakai arch bar dari Erich. Contoh pada kasus fraktur sebagian kecil dari prosesus alveolaris rahang atas (Intramaksila). 2. Pemasangan alat fiksasi pada gigi-geligi di maksila dan mandibula, kemudian pada kedua rahang ini dipasang rubber elastic band melalui

229

kaitan atau hock pada acrh bar yang digunakan. Elastik hanya dipakai pada gigi-geligi yang tidak mengalami fraktur rahang (berguna untuk fraktur unilateral atau segmental ) sehingga tulang alveolar yang mengalami fraktur akan terdorong keatas oleh tekanan gigi-geligi dirahang atas dan rahang bawah (Intermaksila).

Gambar 17. Arch bar dan fiksasi intermaksilaris. 4

B. Fiksasi Internal Teknik ini ditemukan oleh Adam yang mana diindikasikan pada fraktur horizontal yang sederhana dengan tidak terlibatnya tulang orbita. Teknik ini menggunakan kawat suspensi (stainless steel ukuran 0.018 atau 0,2 inchi, 0,45 atau 0,5mm) yang dimasukan (diikatkan) pada titik tertentu di tulang bagian superior. Bagian yang paling sering digunakan adalah Apertura piriformis, Spina nasalis, tonjolan Malar, Arcur zygomatikus, Prosesus zygomatikus ossis frotalis dan pinggiran tulang infra orbita. kemudian kawat menelusuri daerah fasial terus kebawah dan kemudian dihubungkan (diikatkan) pada arch bar yang telah dipasang pada gigi-geligi rahang atas (terhadap maksila) disebut fiksasi kraniomaksila. Sedangkan pada ikatan atau perlekatan kawat terhadap mandibula disebut fiksasi kraniomandibula. Gigi-geligi rahang atas dan rahang bawah dalam keadaan fiksasi Intermaksila (Transosseous wiring fixation). Apabila mandibula utuh atau karena perawatan bisa stabil, maka fiksasi kraniomandibula lebih dianjurkan dibanding perawatan fiksasi kraniomaksila, karena perlekatan ini memberikan hasil terbaik untuk mempertahankan posisi komponen maksila yang mengalami fraktur.

230

C. Fiksasi eksternal 1. Pesawat Cranio-Maxilla. Dimana digunakan suatu alat Head Appliances yang dihubungkan dengan alat lain yang dipasang pada maksila. Head appliances yaitu suatu alat yang dipasang pada kepala yang berfungsi sebagai penahan untuk fiksasi fraktur maksila dengan tulang cranial. Alat ini ada beberapa macam yang biasa digunakan yaitu:       Plaster of Paris head cap. Woodards appliance. Englands appliance. Bisnoffs head band. Crawford head frame. Crawford bloom head appliance

Pesawat Cranio Maxilla sendiri ada beberapa macam yaitu; a. Pesawat C-M yang menggunakan Kingsley splint yang dapat dihubungkan dengan berbagai macam splint yang diletakan pada gigi-gigi dirahang atas seperti:     Wire splint Cast metal splint Band orthodontic Pada pasien edentulous digunakan modifikasi dari kingsley sendiri. b. Pesawat C-M yang menggunakan Steinmann pin, dimana pin ini dimasukan kedalam tulang alveolar rahang atas yang mengalami fraktur melalui pipi lalu pin ini dihubungkan kembali kealat head appliance. c. Pesawat C-M yang menggunakan cranio fasial wire. Ditemukan oleh Erich, dimama kawat dihubungkan dengan arch bar yang telah dipasang sebelumnya pada rahang atas ( gigi-geligi ), kawat ini menembus pipi lalu dihubungkan denga head appliance. Pemakaian alat ini diindikasikan pada fraktur dengan tidak adanya perubahan tempat dari rahang (fragmen) dan mandibula dapat bergerak untuk berbicara dan makan (makanan lunak).
231

Peasawat C-mand dengan menggunakan Steinmann-pin yang dimasukan kedalam corpus mandibula . Pada metode ini gigi-geligi pada kedua rahang berada dalam keadaan oklusi dengan menggunakan Intermaksila wiring fixation dan eksternal traction. Pesawat ini ditemukan oleh Gross. yang mana dua buah pin dimasukan kedalam tulang pipi kiri dan kanan. d. Pesawat Cranio – Mandibula.2. Pesawat Malar-Mandibula fixation. Pesawat C-mand dengan half pin hamper sama dengan Steinmann pin. Pesawat C-mand dengan menggunakan Traction bandage (head bandage). Pin ini lalu dihubungkan dengan pin yang telah dipasang pada corpus mandibula melalui suatu batang penghubung (rods) atau rubber elastic band. Terdiri dari Barton bandage denagn elastic yang dilekatkan pada kedua sisi dengan menggunakan plaster. Pesawat ini pun ada beberapa macam yaitu : a. 3. dibagian luar dihubungkan dengan Frac-sure link vertical rod dikedua sisi. b. Pada kasus tidak bergigi digunakan Gunning splint yaitu suatu acrilik aplint yang digunakan sebagai alat fiksasi mandibula. juga digunakan Frac-sure rods dipakai sebagai penghubung dengan head appliance. 232 . Frac-sure rods ini dihubungkan dengan head appliance c. Ini untuk perawatan sementara dari fraktur rahang.

Sebagai alternatif yang kurang ideal. dan sisi lainnya pada palatum keras (gambar). namun untuk fraktur maksila yang meliputi le fort I. Digunakan secara sepasang atau sendiri. Fraktur impacted atau fraktur yang tidak mudah direduksi karena penyatuan dini oleh jaringan ikut (fibrous union) sebaiknya direduksi dengan menggunakan tang disimpaksi Rowe atau Hayton-Williams. II. Pada kasus fraktur remuk yang parah. Untuk melindungi mukosa hidung dan mukoperiosteum palatum.2 233 . Gunakan gerakan menekan atau memutar. biasanya cukup untuk terjadi penyembuhan.7 C.Gambar 18. 1. Fraktur dr pergeseran minimal direduksi di diimobilisasi secara ideal dengan reduksi terbuka dan immobilisasi diperoleh dengan penempatan plat yang tepat. perlu tenaga tambahan untuk melakukan reduksi sempurna. Perawatan Fraktur Le Fort I Perawatan fraktur maksila dapat dilakukan dengan metode terbuka maupun metode tertutup tergantung dari berat dan ringannya kasus. Fiksasi kraniomaksilar. Paruh dari tang Rowe ditempatkan sepanjang dasar hidung. III atau yang diikuti kelainan oklusi sebaiknya dilakukan dengan metode terbuka. Tahapan perawatan pada fraktur Le Fort: 1. dapat ditempatkan ujung karet pada paruh tang. maksila ditarik ke depan dan ke bawah.2 Aturannya. melakukan fiksasi intermaksilari selama sebulan. diperlukan perpanjangan periode fiksasi hingga 6 minggu. reduksi dini fraktur Le Fort I memberikan kesulitan minimal. Di atas 7 hingga 10 hari.

terdapat variasi pilihan untuk imobilisasi. Penggunaan tang disimpaksi Rowe untuk mereduksi maksila.7 Setelah dilakukan reduksi pada fraktur.Gambar 19. atau dapat juga menggunakan daerah sutura nasofrontal. Hal ini dapat dicapai dengan insisi subsiliary atau transkonjunctiva. Fiksasi intermaksilari kemudian dilakukan untuk memperbaiki posisi anteroposterior fraktur. Pada fraktur Le Fort II dilakukan insisi pada sulkus bukalis. Kombinasi yang diperlukan tergantung pada kebutuhan untuk 234 . Perawatan Fraktur Le Fort II Reduksi tertutup yang dilakukan pada fraktur Le Fort II mudah dilakukan dengan tang disimpaksi Rowe. Minimal fiksasi tiga-titik atau mungkin empat-titik diperlukan. dapat dilakukan reduksi terbuka.2. Perawatan dimulai dengan pemasangan IDW untuk mendapatkan oklusi. Imobilisasi dilakukan minimal 4 minggu.4 2. Pada umumnya segmen maksila pyramidal yang bebas distabilisasi ke tulang zygoma yang intak. Sebagai alternatif. Hal tersebut perlu dilakukan untuk mendapat stabilitas dan penyembuhan yang adekuat. Hal ini dapat diperoleh dengan membuka regio sutura zigomatikomaksilaris baik dari rima inferior maupun intraoral. pembukaan tambahan ke superior sering dibutuhkan untuk akses yang cukup dari orbital rim. Fiksasi dapat dilakukan dengan mini plate yang menjangkau penyangga zygomaticomaksilaris.

atau insisi flap koronal. Flap bicoronal dapat diperpanjang untuk mencapai akses ke lengkung zigoma. perikranium dapat diinsisi tepat di atas lengkung untuk menjaga suplai darah dari daerah supraorbital dan supratroklearis ke flap. Pada daerah lateral. Awalnya.2 Prinsip umum perawatan fraktur ini yaitu. Flap bicoronal harus dirancang hati-hati untuk menghindari cedera pada cabang saraf wajah. Insisi jaringan lunak dapat dilakukan di lokasi yang sama seperti untuk fraktur Le Fort II. Insisi alis lateral.mengeksplor dasar orbita. Ketika flap dibuat pada area lengkung orbita. lipatan glabela. kita menstabilisasi segmen tulang yang bergerak untuk stabilisasi mandibula dan tulang kranium. atau rekonstruksi rima inferior. zigomatikotemporal. rahang atas harus dalam kondisi tidak terpendam (direposisi) dan MMF dilakukan. Semua pendekatan ini dapat memberikan akses yang baik ke daerah sutura nasofrontalis. Dapat dilakukan dengan bilateral Lynch. dan rekonstruksi regio nasofrontal karena daerah ini sering kali terjadi keremukan. tetapi prinsip perawatannya identik dengan yang lain. dan sutura nasofrontal. Penempatan plat pada daerah ini dapat memberikan kestabilan dan keamanan dalam arah superior posterior. Pada gilirannya. atau melalui laserasi yang sudah ada. open sky. Perawatan Fraktur Le Fort III Fraktur Le Fort III secara esensial merupakan kombinasi fraktur zigoma bilateral dan fraktur pada kompleks nasal-orbital-ethmoid (NOE). 2 Pilihan lain dari perawatan pada fraktur Le Fort II yaitu imobilisasi sutura nasofrontal. reduksi dan imobilisasi zigomatikofrontal. 2 Dalam perawatan fraktur Le Fort III. kita lakukan insisi fasia 235 . serta reduksi yang tepat dari maksila ke wajah tengah inferior. Dalam mencapai lengkung zigomatik. atau flap kulit kepala bicoronal dapat digunakan untuk topangan tambahan pada tulang frontozigomatik. kita melakukan diseksi superfisial dari fasia temporalis. Terdapatnya jejas yang remuk dan parah bervariasi. 3. atau keduanya. oklusi yang baik harus didapatkan untuk mendapatkan posisi anteroposterior dan lateral wajah tengah.

pelat pembentuk kontur yang akurat dan monocortical serta sekrup self-tapping. pelat berlebihan tidak diperlukan. Gunakan template lunak. Jika pembalut tetap kering. Pada fraktur Le Fort III sejati. lengkung zigomatic). Setelah pembedahan. fiksasi langsung mungkin diperlukan. Jika terpendam atau comminuted. Garis rambut yang terlalu mundur juga dapat menjadi bahan pertimbangan untuk menggunakan tipe insisi lain. Apabila daerah fraktur terbuka terhadap lingkungan eksternal atau terdapat komunikasi dengan intra oral atau ruang nasal. fiksasi zygomaticofrontal bilateral mungkin sudah cukup. lakukan pembalutan kassa dengan tekanan ringan. nasofrontal. Gunakan sesedikit mungkin pelat untuk mencapai fiksasi. Fiksasi Miniplate saat ini merupakan tipe yang paling dapat diandalkan. dan muntah. maka perlu diberikan antibiotik profilaksis terhadap organisme gram-positif dan anaerob selama 5-10 hari. maka fiksasi dapat dilakukan. Patahan tulang kemudian dapat dikurangi dengan elevator kaku. observasi pasien selama semalam terhadap kemungkinan terjadinya perdarahan. D. pada daerah operasi. secara umum. tempatkan pemotong kawat di 236 . Perluas bidang insisi ke dalam fasia sampai tulang zigoma yang fraktur. tetap dibutuhkan fiksasi tambahan (misalnya. Interoseus wiring dan suspension wiring digunakan pada fraktur Le Fort III. Sehubungan dengan tindakan fiksasi pada fraktur maksila. nasomaxillary. Gunakan pelat yang menjangkau seluruh penopang utama. Jangan gunakan flap bicoronal dalam situasi dimana flap membutuhkan suplai arteri temporal. dapat diangkat setelah 2-5 hari. Perawatan Post Operasi Untuk meminimalisir edema paska operasi. Setelah ini dilakukan dan segmen fraktur terlihat. Namun. masalah pada jalan nafas. lengkung inferior orbital. kurangi dan stabilkan setiap patahan tulang yang terlibat. Jika menggunakan fiksasi dengan kawat pada IMF.temporalis di atasnya. tetapi hasilnya tidak sebaik miniplate fiksasi karena vektor gaya untuk mempertahankan reduksi kurang akurat dan micromotion meningkat.

Selain itu. minggu ke 2-4. Pengambilan foto post-operasi (misal. Pergerakan yang berlebihan mengindikasikan terlalu dininya melepas arch bar atau terdapatnya masalah penyatuan tulang. Lepas kawat atau rubber band apabila pasien mulai merasa mual. serta teknik perawatan yang digunakan. Pada pemeriksaan post-operasi. serial mandibula. Tergantung pada umur dan kesehatan umum pasien. Selama periode ini. CT scan) dapat membantu pada pasien yang dicurigai terjadi malunion. tekankan pasien untuk memelihara kebersihan mulut dengan rajin menyikat gigi dan arch bar dan berkumur dengan saline atau mouthwash antiseptik setiap pagi dan malam serta setiap habis makan. Terdapatnya Pergerakan minimal mungkin masih dapat diterima. Sebelum pulang.dekat pasien setiap saat pada awal periode post-operasi untuk mengeluarkan muntah. Follow-up jangka panjang mungkin dibutuhkan untuk memonitor terjadinya komplikasi postoperasi atau deformitas. periode ini berkisar antara 4-8 minggu. Tujuan paling penting selama periode awal post-operasi yaitu memelihara imobilisasi. MMF dapat dilepas lebih cepat pada fraktur yang diperbaiki dengan 237 . Mobiliti vertikal yang minimal pada midfasial dapat pulih seiring dengan waktu. Panorex dental views. Apabila tulang wajah telah sembuh dengan baik dan didapat oklusi normal. Follow Up Lakukan evaluasi follow-up pada hari ke 5-7 (jahitan kulit dapat dilepas pada saat ini). Pada umumnya. lalu minggu ke 3-8 untuk melepas IMF. instruksikan pasien mengenai cara melepas IMF apabila muntah. Sehingga IMF perlu dirawat selama periode ini. keparahan dan displacement fraktur. tapi mobilisasi berlebihan dapat mengindikasikan terjadinya penyembuhan yang buruk.10 E. facial series. lakukan tes stabilitas tulang wajah dengan mempalpasi geligi rahang atas pasien saat menggigit dan merelaksasi otot pengunyahan. pasien diberi tahu untuk membatasi diet yaitu bubur atau cairan. IMF dapat dilepas.

fiksasi miniplate.10 238 . dan lebih lama pada fraktur yang diperbaiki dengan kawat interosseus atau suspensi.

Reaksi benda asing 12. Alat terekspos 5. Malunion atau maloklusi 10. pembukaan jalan nafas nasofaringeal. kondisi ini dapat terjadi sehubungan dengan ekstubasi. dan pembukaan fikasi intermaksilari dapat efektif menghilangkan 239 . Nonunion 9. Deviasi septum 6. Obstruksi nasal 7. Jaringan parut 13. Bagaimanapun. dengan hematom septum atau nasal packing. Komplikasi yang mungkin terjadi sehubungan dengan fraktur maksila antara lain:4 1. Enopthalmus 3. Infeksi 4. tetapi potensi kemunculannya dapat diperkirakan selama evaluasi dan perawatan. Reintubasi.BAB III KOMPLIKASI Beberapa komplikasi yang dapat terjadi akibat fraktur maksila dan penyembuhannya biasanya tidak tampak hingga beberapa minggu hingga bulan setelah terjadinya trauma. Epiphora 11. Sinusitis Terjadinya obstruksi jalan nafas perioperatif dan postoperatif jarang terjadi pada fraktur maksila tunggal. Pasien dengan fiksasi intermaksilari dan gigi lengkap biasanya mengalami kesulitan pernafasan pada saat ini. Parestesi n. dan dengan edem berat jaringan lunak yang menghalangi pernafasan melalui jalan nafas nasal. infraorbital 2. Perubahan penglihatan 8.

frontal. 4 Aneurisma dan pseudoaneurisma merupakan komplikasi trauma pada maksilofasial tetapi jarang terjadi akibat 240 . spasme arteri retinal.gangguan jalan nafas. fraktur maksila tersendiri. Hematom yang ada. maka perlu dilakukan arteriografi dan embolisasi. hemoragi retrobulbar. dan maksila. sebaiknya didrainase. Komplikasi ini dapat diidentifikasi melalui pemeriksaan klinis (misal. jika terjadi aneurisma. 4 Komplikasi postoperatif lain yaitu salah penempatan segmen tulang atau alat fiksasi. Laserasi sebaiknya diperiksa ulang sehingga hemoragi dapat dikontrol. Sinusitis akut atau kronik dapat juga terjadi pada sinus ethmoid. dan menekannya fragmen tulang pada nervus optikus. jika reduksi tulang inadekuat dapat menyebabkan perdarahan berlanjut. 4 Sinusitis akut dapat terjadi akibat tindakan intubasi trakheal yang berkepanjangan. Fraktur pada dasar orbita yang tidak terdiagnosa atau ditangani dengan tidak adekuat (sendiri atau kombinasi dengan komponen zigoma) dapat menyebabkan terjadinya enopthalmus dan diplopia. Perlu dilakukan prosedur pembedahan kedua untuk memperbaiki komplikasi tersebut. maloklusi) atau pemeriksaan radiografi postoperatif. karena fraktur dapat mengobstruksi duktus sinus atau ostia. Hemoragi dari arteri utama harus segera ditangani.4 Hemoragi post operatif dapat terjadi jika arteri dan vena tidak diligasi ketika memperbaiki laserasi. Kebutaan jarang terjadi sehubungan dengan fraktur midfasial dan paling sering terjadi pada pola fraktur yang melibatkan orbita. sphenoid. seringkali dengan mekanisme jejas yang lebih berat. maka dapat terjadi komplikasi yang berhubungan dengan penglihatan. Kebutaan postoperatif imediet dapat merupakan komplikasi reduksi pada fraktur Le Fort III (atau fraktur yang melibatkan orbita) dan terjadi akibat peningkatan hemoragi atau tekanan intraorbital. atau jika arteri sebagian terpotong. apabila sumbernya tidak dapat diidentifikasi. Pada perdarahan tulang sebaiknya dilakukan reduksi ulang atau menggunakan bone wax. Faktur pada septum nasal yang tidak diperbaiki dapat menyebabkan terjadinya obstruksi jalan nafas postoperatif yang akan tetap ada hingga semua pembengkakan jaringan lunak hilang.4 Karena kedekatan maksila dengan orbita.

Perhatikan komplikasi yang menyertai fraktur maksila seperti Perdarahan yang hebat. malunion dan lain-lain. 5. Dish face. 3. II. Open bite klasik. Perkembangan baru dengan memakai miniplate dan skrup untuk menghasilkan fiksasi dari reduksi fragmen yang rigid dengan mengurangi waktu perawatan dan mempercepat penyembuhan.BAB IV KESIMPULAN Dari penjabaran tentang fraktur maksila secara umum tadi dapatlah diambil kesimpulan bahwa: 1. Perawatan dilakukan sesegera mungkin untuk mensegah terjadinya komplikasi seperti infekasi. III seperti: Elongasi fasial. Obstruksi jalan nafas dan Kebocoran cerebrospinal renorrhoe. 2. 6. Immobilisasi segmen fraktur merupakan aspek perting untuk mencegah terjadinya kegagalan perlekatan (malunion ). 4. 241 . Kehilangan kesadaran. pemeriksaan klinis dan didukung dengan pemeriksaan radiology demi tercapainya perawatan yang tepat pula. Mobilitas seluruh rahang atas atau setengah wajah yang menandakan lepasnya kontinuitas maksila dengan basis cranial.tanda khas terjadinya fraktur Le fort I. Perawatan dengan memakai metode tertutup atau terbuka disesuaikan denga indikasinya masing-masing. 7. Sebaiknya klinisi membuat diagnosa yang tepat dengan memperhatikan anamnesa. Pengenalan tanda.

Hamilton: BC Decker Inc. Edward. Fonseca. treatment#a1135.W.gla. 5th ed. Hupp. 10.ac. Edinburg: Curchill Livingstone. Buku Ajar Praktis Bedah Mulut.S. St. 7.S. Assesment of Patients with Facial Fractures. 2004. James R. Thaller.medscape. 6.com/article/1283568- 242 . Contemporary Oral and Maxillofacial Surgery. Pedersen. 2005. 1996.uk/ibls/US/cal/anatomy/trauma/maxillaclinfeat. Principles of Oral and Maxillofacial Surgery. G. U.2. Inc. 3. Louis: Mosby. Louis: Elsevier. W. J and Frame J. St. Principles of Oral and Maxillofacial Surgery. http://emedicine. S. Facial Trauma. 2009. Pedlar. 4. K. 8.W. 5th ed. 2000. Peterson..DAFTAR PUSTAKA 1. Miami: Marcel Dekker. Moore. Maxillary and Le Fort Fractures Treatment & Management. 2nd ed. 2.R.Dallas: Saunders. 2008. Oxford: Blackwell-Science. Moe. Jakarta: EGC.J. Oral and Maxillofacial Surgery. 2004. Ellis. Oral and Maxillofacial Trauma vol. McDonald. http://www.htm 9. 2001. 5. 2001.

dan imobilisasi. Reduksi. Namun karena strukturnya yang kompleks tentu saja penatalaksanaannya pun lebih rumit. Fiksasi 243 . perawatan serta komplikasi yang dapat terjadi pada fraktur komplek zygoma. Maksud dari penulisan makalah ini adalah untuk memberikan gambaran mengenai gejala klinis. Kata kunci : Fraktur Kompleks Zygoma. fiksasi. dan berada pada urutan kedua setelah fraktur nasal. Penatalaksanaan fraktur zygoma pada dasarnya sama dengan penatalaksanaan fraktur maksilofasial lainnya yaitu meliputi reduksi. Jejas yang mengenai jaringan keras dapat merupakan suatu fraktur tulang. Fraktur zygoma merupakan cedera wajah yang sering terjadi. Insiden yang tinggi ini kemungkinan disebabkan oleh posisi zygoma yang prominen terhadap tulang wajah2. gambaran radiografi. di antaranya fraktur zygoma4.FRAKTUR KOMPLEKS ZYGOMA Leidya Valentina Elizabeth 160121120009 Peserta Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut Dan Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Bandung Abstrak Trauma akan menimbulkan jejas baik pada jaringan lunak maupun pada jaringan keras.

serta membentuk penonjolan pada pipi kiri dan kanan (penonjolan malar). etiologi. lebar dan anteroposterior) pada struktur wajah tengah. dan aperture. Insidensi. tetapi adanya penonjolan tulang membuat tulang ini juga dapat mengalami fraktur jika mendapatkan trauma yang hebat yang dapat terjadi karena pukulan atau akibat kecelakaan kendaraan bermotor. predileksi umur dan jenis kelamin dari trauma zygoma bervariasi. tergantung pada status sosial. foramen. Dari kebanyakan penelitian menunjukkan bahwa wanita lebih banyak terkena dari pada pria dengan rasio 4 : 1. Beberapa literatur mengatakan bahwa puncak insidensi dari trauma terjadi antara dekade kedua dan ketiga dari kehidupan. ekonomi. pendidikan dan politik dari suatu populasi yang diteliti. Etiologi dari terjadinya fraktur juga dipengaruhi oleh keadaan suatu populasi penduduk dimana pada penelitian terdahulu terlihat bahwa 244 . Fraktur midfasial cenderung terjadi pada sisi benturan dan bagian yang lemah seperti sutura. yaitu antara maksila dan cranium3.BAB I PENDAHULUAN Trauma pada wajah midfasial dapat menyebabkan fraktur yang melibatkan maksila. Tergantung dari mekanisme injuri. zygoma dan komplek nasoorbital ethmoid. Tulang zygoma mempunyai permukaan luar yang cembung dan kasar. dan seringkali fraktur midfasial melibatkan tulang zygoma. Tulang zygoma mempunyai struktur yang kuat. yang menopang proporsi kraniofasial dalam ukuran tinggi. penyebab fraktur tulang zigoma adalah kekerasan dimana pada sisi yang lain kecelakaan kendaraan bermotor juga merupakan penyebab yang sering terjadi. Tulang zygoma memegang peranan penting dalam menentukan lebar wajah dan juga berperan sebagai major buttress (tulang dengan struktur yang tebal. Dalam beberapa penelitian.

yang disebabkan oleh suatu penyakit. perbaikan fungsi bicara.yang banyak mempengaruhi adalah pada populasi dari area industri dengan tingkat pengangguran yang tinggi sehingga kekerasan interpersonal masih banyak terjadi. dan mereka juga menemukan bahwa fraktur bilateral hanya terdapat pada kasus kecelakaan. Tujuan utama perawatan fraktur fasial adalah rehabilitasi penderita secara maksimal yaitu penyembuhan tulang yang cepat. diperkirakan hanya terjadi sebanyak 4% dari 4067 kasus fraktur zygoma dalam sepuluh tahun yang dilaporkan oleh Ellis dan kawan-kawan. pengembalian fungsi okuler. etiologi dari fraktur zygoma juga dapat disebabkan karena terjatuh. mencapai susunan wajah dan gigi-geligi yang memenuhi estetis serta memperbaiki oklusi dan mengurangi rasa sakit akibat adanya mobilitas segmen tulang. Pada fraktur zygoma yang disebabkan oleh kekerasan. Fraktur zygoma bilateral jarang terjadi. tulang zygoma kiri adalah yang banyak terkena. Penanganan yang tepat dapat menghindari efek samping baik anatomis. Keadaan ini berbeda dengan keadaan fraktur zygoma yang disebabkan karena kecelakaan kendaraan bermotor. kecelakaan pabrik. 245 . luka tembakan atau berupa fraktur patologis. hal ini sekaligus mengindikasikan bahwa fraktur zygoma akibat kecelakaan kendaraan bermotor lebih parah jika dibandingkan dengan kasus serupa yang terjadi akibat kekerasan. fungsi hidung. fungsi. fungsi pengunyah. dan kosmetik. Selain karena tindak kekerasan dan kecelakaan lalu lintas. benturan sewaktu olahraga.

maksilaris. dan zygomaticosphenoid (Gambar 1b).BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 ANATOMI TULANG ZYGOMA Tulang zygoma merupakan bagian dari dinding lateral dan dasar rongga orbita (Gambar 1a). Zygoma berartikulasi dengan empat tulang: frontal. dan sphenoid. temporal. Tulang ini mempunyai satu tonjolan yaitu processus temporalis ossis zygomaticus yang menonjol ke dorsal dan berhubungan dengan processus zygomaticus ossis temporalis yang menuju ke arah ventral. Struktur tulang zygoma adalah kuat. Gambar 1a. Tempat-tempat yang mudah patah adalah sutura 246 . dan infraorbital. tetapi bila mendapat trauma atau pukulan hebat mudah patah. Pada beberapa individu membentuk lateral atas dari pada sinus maksilaris. zygomaticotemporal. Fraktur kompleks zygoma meliputi gangguan pada keempat sutura yang berartikulasi. Kedua penonjolan arcus ini bersama-sama membentuk arcus zygomaticus. temporal. maksila. yaitu: sutura zygomaticofrontal. zygomaticomaksilaris. Anatomi dan letak tulang zygoma 3 Zygoma memiliki empat proyeksi yang menciptakan bentuk quadrangular atau tetrapod yang meliputi: bidang frontal.

m. m. Beberapa muskulus yang melekat pada tulang zygoma : m. masseter. Orbita adalah piramid quadrilateral yang berbasis anterior. 247 . permukaan orbita pada tulang zygomatik. dan prosesus orbital dari tulang palatinus. sutura zygomatikotemporalis dan sutura zygomatikosphenoid. pterygoideus externa. temporalis. zygomaticus. Selain otot-otot. levator labii superior dan m. Perlekatan otot-otot dan sutura 2 Seluruh fraktur kompleks zygomatik melibatkan dasar orbita. maseter ini. Ia terdiri dari lingkaran orbita maksila. dan oleh karena itu sebuah pemahaman gambaran anatomis orbita adalah penting untuk mereka yang merawat cedera ini. Dasar orbita melandai kearah inferior dan yang paling pendek pada dinding orbita.sphenozygomatika. Muskulus maseter menempel pada aspek inferior dari zygoma. sutura zygomatikomaksilaris. Pada kasus fraktur adanya rotasi inferior dari tulang zygoma setelah penatalaksanaan reduksi dapat disebabkan karena lokasi m. pada tulang zygoma juga melekat dua buah ligamen yaitu ligamen kapsular dan ligamen temporomandibular. rata-rata 47 mm. Gambar 1b. m.

bibir atas. dan geligi anterior maksila. Dinding medial terdiri dari prosesus frontal maksila. Dasar orbital terdiri dari tulang frontal dan sayap yang lebih kecil dari sphenoid. Hal ini memberikan sensasi pada pipi anterior. hidung lateral. dan temporal keluar dari foramina pada tubuh zygoma dan memberikan sensasi pada pipi dan daerah temporal anterior. (Gambar 2) Gambar 21 Saraf sensori yang berhubungan dengan zygoma adalah divisi kedua nervus trigeminal. Mereka diinervasi oleh nervus kranialis VII. Cabang-cabang zygomatik. fasial. Otot masseter menginsersi sepanjang 248 . tulang lakrimal. dan sebagian kecil dari badan sphenoid. Otot-otot ekspresi wajah yang berasal dari zygoma termasuk zygomaticus mayor dan labii superioris. Fossa glenoid dan eminensia artikularis terlokasi pada aspek posterior prosesus zygomatikus tulang temporal.Dinding medial dan lateral berkonvergen di posterior pada apeks orbital. lingkaran orbital ethmoid. Arcus zygomatikus termasuk prosesus temporal zygoma dan prosesus zygomatik dari tulang temporal. Dinding orbital lateral adalah yang tertebal dan terbentuk oleh zygoma dan gerater wing dari os sphenoid. Nervus infraorbital melewati dasar orbital dan keluar pada foramen infraorbital.

Gambar 42 249 .permukaan temporal zygoma dan arcus dan diinervasi oleh sebuah cabang dari nervus mandibularis. (Gambar 3) Gambar 32 Fascia temporalis berlekatan ke prosesus frontal dari zygoma dan arcus zygomatik. Fascia ini menghasilkan resistensi pergeseran inferior dari sebuah fragmen fraktur oleh penarikan kebawah dari otot masseter(Gambar 4).

Segmental 250 .tidak ada perawatan Localized segmental fractures .pembukaan dan fiksasi Displaced ‘tripod’ fractures (low velocity) – elevasi sederhana atau elevasi. Perlekatan ini lebih kearah medial hingga aspek posterior dari tulang lakrimal dan lateral terhadap tuberkel orbital (Whitnall) (yang adalah 1 cm dibawah sutura zygomaticofrontal pada aspek medial dari prosesus frontal dari zygoma).2 KLASIFIKASI FRAKTUR ZYGOMA Jackson (1989) membuat klasifikasi fraktur zigomatikus yang disederhanakan menurut pola dan pergeseran serta perawatannya. B. Undisplaced c. Tendon canthal medial berlekatan dengan krista lakrimal anterior dan posterior. Intact b. Bentuk dan lokasi dari canthi medial dan lateral kelopak mata dipertahankan oleh tendon canthal. Gruss dkk (1990) 1. pembukaan dan fiksasi Grup IV Displaced comminuted fractures (high velocity) – pembukaan luas dan fiksasi multipel. Tendon canthal lateral berlekatan dengan tuberkel Whitnall. 2. 1995).Posisi bola mata dalam hubungan dengan aksis dipertahankan oleh ligamen suspensori Lockwood. Jackson (1989) Grup I Grup II Grup III Undisplaced fractures . Fraktur kompleks zygomatik seringkali dibarengi dengan sebuah antimongoloid (kearah bawah) dari daerah canthal lateral yang disebabkan oleh pergeseran zygoma. Gruss dkk (1990) menekankan peran pola fraktur pada zygoma untuk reduksi yang akurat dan mengklasifikasikan fraktur ini menurut tingkat keparahan tulang pada badan zygoma dan arkus zygoma (Trott et al. Badan zygomatikus a. A.

Comminuted C. Undisplaced c. Pemeriksaan secara radiologis menunjukkan adanya fraktur. 251 . sehingga terjadi fraktur dan pergeseran tulang langsung ke dalam sinus maksilaris. Fraktur zygoma dengan perputaran ke median. fraktur zygoma dapat dikalsifikasikan sebagai berikut2 . Comminuted 2. menyebabkan busur ini melekuk ke dalam tanpa mempengaruhi sinus maksilaris ataupun rongga mata. Fraktur arkus zygomatikus dengan displacement. 1. Dalam hal ini tidak diperlukan penatalaksanaan. Arkus Zygomatikus a. Dalam pemeriksaan radiologis timbul pergeseran ke bawah dari tepi infra orbita. pergeseran pada sutura zygomatikofrontalis dan penonjolan tulang zygoma ke dalam. 3. Fraktur ini disebabkan oleh pukulan langsung pada arkus zygomatikus. hanya retakan saja. Displaced : inferior dengan depresi dan lateral e. Menurut Knight dan North. Fraktur ini disebabkan oleh pukulan langsung terhadap penonjolan dari tulang zygoma. Displaced e. ke dalam dan sedikit mengarah ke bawah sehingga pipi menjadi rata dan terjadi perubahan bentuk pada tepi infra orbital. Intact b. tetapi tidak memperlihatkan pergeseran. Segmenta d. Fraktur zygoma tanpa perputaran. Fraktur tanpa displacement.d. 2. Pada umumnya tulang terdorong ke belakang. 4.

Pemeriksaan radiologis memperlihatkan pergeseran ke bawah dari tepi infraorbital.025 fraktur zygomatik. masseter pada arah posterior. Pada 1990. 6. Pemeriksaan radiologis memperlihatkan pergeseran keluar dari penonjolan tulang zygoma dan ke atas dari tepi infraorbita ataupun keluar sutura zygomatikofrontalis. Kebanyakan fraktur zygoma terjadi pada arkus dalam meliputi lateral orbital 2. atau lingkaran infraorbita. Fraktur tulang zygoma dengan perputaran ke lateral. Fraktur arkus zygomatikus menyebabkan depresi pada pipi karena tekanan m. ke dalam dan ke bawah.Fraktur dan pergeseran timbul karena pukulan pada penonjolan tulang zygoma di atas sumbu mendatarnya. Fraktur kompleks. medial dan inferior. Fraktur-fraktur tipe A adalah fraktur energi rendah tidak lengkap dengan fraktur hanya pada satu pilar zygomatik: arcus zygomatik. sehingga tulang terdorong ke dalam dan ke belakang. Zingg dan kolega. Fraktur disebabkan karena pukulan di bawah sumbu datar dari tulang zygoma. mengklasifikasikan cedera-cedera ini kedalam tiga kategori. sehingga tulang yang mengalami fraktur tergeser ke belakang. Manson et. Fraktur energi-menengah memperlihatkan fraktur lengkap ( complete) pada seluruh artikulasi dengan pergeseran ringan hingga moderat.al mengajukan sebuah metode klasifikasi yang didasarkan pada pola segmentasi dan pergeseran3: Fraktur yang memperlihatkan sedikit atau tidak ada pergeseran diklasifikasikan sebagai cedera energi-rendah. Serpihan mungkin dapat timbul (Gambar 5). Fraktur energi-tinggi ditandai dengan serpihan pada orbit lateral dan pergeseran lateral dengan segmentasi pada arcus zygomatik (Gambar 6). 252 . dinding orbita lateral. 5. dalam sebuah tinjauan pada 1. Disini termasuk semua kasus dimana didapatkan garis fraktur saling menyilang lebih dari satu. sutura zygomatikofrontalis keluar atau dapat ke dalam. Fraktur incomplete (tidak lengkap) pada satu atau lebih artikulasi dapat terlihat.

Untuk menegakkan diagnosa fraktur tulang zygoma dilakukan pemeriksaan :  Riwayat kecelakaan Riwayat kecelakaan dapat diketahui dengan memberi pertanyaanpertanyaan kepada penderita untuk memperoleh keterangan yang objektif. Selain itu diperhatikan apakah terdapat perdarahan melalui mulut. Kolaps yang lama dan terus menerus akan menyebabkan shok. Keadaan penderita sewaktu terjadi kecelakaan harus diketahui. yang ditandai dengan 253 . maka dapat ditanyakan kemudian setelah penderita agak pulih. Skala ini menggunakan 3 parameter: Eye opening. apakah dalam keadaan sadar atau tidak. dapat kita tanyakan kepada pengantar yang melihat terjadinya kecelakaan.  Pemeriksaan fisik Hal ini penting untuk menentukan rencana penatalaksanaan yang akan dijalankan.Fraktur tipe B mengacu pada fraktur “monofragmen” lengkap dengan fraktur dan pergeseran disepanjang keempat artikulasi. terjadi muntah atau tidak dan riwayat penyakit yang pernah diderita. Bila penderita tidak dapat memberi keterangan-keterangan tersebut. Asal mula terjadinya fraktur tulang zygoma harus diketahui. nilai 9-12 untuk moderate head injury dan nilai antara 13-15 untuk mild head injury9. berapa lama dalam keadaan tidak sadar. 2. telinga atau hidung. best motor responsen dan best verbal response dimana nilai antara 08 untuk severe head injury. Jennet dan Teasdale memperkenalkan sistem Glasgow Scale (GCS) untuk melihat tingkat kesadaran. Fraktur “multifragmen” tipe C termasuk fragmentasi badan zygomatik. apakah karena kecelakaan lalu lintas atau karena pukulan. Bila riwayat secara lengkap tidak dapat ditanyakan kepada penderita atau pengantar penderita.3 DIAGNOSA FRAKTUR ZYGOMA Riwayat yang terperinci akan banyak membantu dalam menentukan diagnosa. Kecelakaan yang serius dapat menyebabkan kolaps.

Pemeriksaan mata Pupil berdilatasi menandakan adanya shok. Bila nervus zygomatikofasialis atau nervus zygomatikotemporalis rusak menyebabkan hilangnya perasaan pada pipi dan temporal bagian depan. 4. 254 . Gangguan dari pergerakan bola mata disebabkan karena otot-otot penggerak mata terjepit sehingga fungsinya terganggu. Pemeriksaan telinga Bila terjadi perdarahan atau terdapat cairan serebrospinal pada satu atau kedua lubang telinga menunjukkan adanya fraktur pada petrosa tulang temporal. Retraksi dari jaringan lunak sudut mata menyatakan adanya penurunan dinding periorbita ke arah sinus maksilaris. pupil berdilatasi dan penderita apatis. Penderita yang berada dalam keadaan yang tidak sadar tidak boleh dilakukan operasi sebelum penderita sadar. Kerusakan dari syaraf fasialis menyebabkan Bell’s palsy yaitu sudut mulut terkulai dan mata tidak bisa mengedip. Perdarahan pada tulang telinga menunjukkan pecahnya basis kranii. hidung dan telinga menandakan terjadinya fraktur basis kranii. nadi cepat tetapi lemah. Diplopia disebabkan karena kerusakan dari syaraf infraorbita. Perdarahan dari mulut. Ketidaknormalan dari pinggir infraorbita dalam pemeriksaan palpasi menyatakan adanya kerusakan dari dasar orbita. 1. dingin dan pucat. kulit lembab. lateral hidung atau bibir bagian atas disebabkan rusaknya nervus infraorbitalis. 3. 2. Misalnya pada fraktur tulang zygoma yang serius sehingga menyebabkan pecahnya basis kranii. bibir dan kuku stanosis. Gejala-gejala fraktur zygoma Gejala-gejala fraktur ini sangat penting untuk mengetahui tindakan penatalaksanaan apa yang harus didahulukan.tekanan darah rendah. penderita harus segera dibawa ke bagian neurochirurgis. Ketidaksadaran yang lama menandakan adanya kontusio cerebri. pernafasan cepat dan dangkal. Gejala neurologis Hilangnya perasaan pada perabaan (anesthesia) dari kelopak mata bawah.

Pemeriksaan visual Diagnosa yang langsung dapat dilihat dari gambaran karakteristik yang segera dapat dikenali yaitu muka terlihat asimetri karena adanya pendataran kontur pada pipi yang mengalami fraktur. Pandangan superior juga membantu dalam mengevaluasi kemungkinan terjadinya depresi dari arkus zygoma. sepanjang zygoma. level pupil. retraksi dari sudut mata. dibandingkan sisi yang satu dengan yang lain3. 6. hematoma. superior dan inferior 3. unilateral epistaksis. memberikan tekanan pada jaringan yang edema guna palpasi dan mengurangi efek visual dari edema secara simultan.5. Gambar 51 Pasien dapat ditempatkan dalam posisi berbaring atau bersandar dikursi. Hilangnya ekspresi pada pipi yang mengalami fraktur. mengevaluasi bagaimana proyeksi anterior dan lateral dari zygoma terhadap tepi supraorbital.7. Pada saat akan melakukan pemeriksaan dengan posisi seperti ini akan memudahkan untuk menempatkan posisi jari telunjuk di bawah tepi infraorbita. Tidak boleh dilupakan untuk melakukan pemeriksaan intraoral. lateral. Inspeksi dilakukan dari bagian frontal. 255 . Harus dicatat tingkat simteris. Metoda yang paling berguna untuk mengevaluasi posisi dari tubuh zygoma adalah dari pandangan superior (. Pemeriksaan dengan cara palpasi Pemeriksaan zygoma meliputi inspeksi dan palpasi. Ahli bedah menginspeksi dari atas. adanya edema orbital dan ekimosis subkonjungtival dan proyeksi anterior dan lateral dari zygoma. penurunan bola mata pada sisi yang fraktur.

Edema dan perdarahan ke dalam jaringan ikat longar dari kelopak mata dan derah periorbital adalah tanda yang paling umum yang menyertai fraktur tepi orbita. Jari telunjuk juga digunakan sepanjang aspek bagian dalam dari tepi orbita lateral. Tepi orbita lateral dipalpasi dengan jari telunjuk dan ibu jari. untuk mengetahui adanya hematoma atau irregularitas3. Ekimosis dan edema periorbital.3. 256 . Bengkak yang seringkali masif mungkin terjadi dan paling dramatis pada jaringan periorbital. Tubuh dan arkus zygoma paling baik dipalpasi dengan dua atau tiga jari yang bergerak secara melingkar. Sama halnya dengan fraktur arkus zygoma yang mungkin kurang mengakibatkan gangguan okuler dibandingkan dengan fraktur kompleks zygoma. pendataran wajah akan lebih nyata pada cedera pada zygoma yang displaced dibandingkan dengan fraktur yang nondisplaced. dimana kelopak mata mungkin tertutup karena bengkak. palpasi seringkali harus dilakukan dengan cara yang halus. dibandingkan antara sisi yang satu dengan yang lain. 2. Misalnya. dimana sering ditemukan fraktur dengan melakukan palpalsi di bagian dalam dari tepi orbita yang berlawanan arah sepanjang aspek lateral.1 TANDA DAN GEJALA FRAKTUR ZYGOMA Adanya tanda dan gejala serta keparahannya sangat tergantung pada luas dan tipe dari luka zygoma.karena fraktur zygoma sering disertai dengan ekimosis pada sulkus bukalis superior dan oleh fraktur dentoalveolar maksilaris. Ekimosis mungkin hanya terdapat pada kelopak mata bawah dan derah infraorbita atau di sekitar seluruh tepi orbita. Tepi infraorbita dipalpasi dengan jari telunjuk yang secara ritmik digerakkan dari sisi yang satu ke sisi yang lain sepanjang tepinya. Bila terdapat fraktur. Tonjolan zygoma dari maksila dipalpasi dari dalam mulut dengan satu jari. dibandingkan dengan sisi yang berlawanan. 2. Palpasi harus dilakukan dengan sistematik dan teliti. Tepi orbita dipalpasi dulu. Tanda dan gejala berikut ini bisa menyertai fraktur zygoma dan oleh karena itu harus dievaluasi3 : 1. Pendataran dari tonjolan pipi.

mungkin tidak terdapat adanya fraktur. Ekimosis ini bisa terjadi meskipun hanya dengan sedikit gangguan pada maksila lateral atau anterior dan seharusnya tanda ini dicurigai sebagai fraktur zygoma. 7. 3. Kecuali jika ada pergerakan dari segmen fraktur. karena nyeri bisa ditimbulkan karena cedera pada jaringan lunak atau fraktur maksila. khususnya di daerah tonjolan zygomatikus dari maksila. Lekukan yang khas atau hilangnya kurvatura cembung yang normal dari daerah temporal menyertai fraktur dari arkus zygoma. khususnya jika terdapat distraksi dari sutura frontozygomatikus dan rotasi dan atau remuknya bagian medial. 5. 6.Ini adalah tanda yng paling biasa ditemukan pada cedera komplek zygoma yang dilaporkan 70-86% kasus. Palpasi intraoral dari aspek anterior dan lateral dari maksila seringkali menunjukkan irregularitas dari permukaan halus yang normal. Deformitas dari tepi orbita. Nyeri. Pendataran mungkin sulit untuk dilihat segera setelah terjadinya cedera jika terdapat edema. Juga sering teraba fragmen tulang yang remuk. 257 . tetapi adanya nyeri belum tentu ada fraktur. Ekimosis dari sulkus bukalis maksila. Pendataran di atas arkus zygoma. yang menimbulkan krepitasi. nyeri hebat bukan merupakan gambaran yang normal dari cedera zygoma meskipun pasien akan mengeluh karena merasa tidak nyaman sehubugan adanya memar. Palpasi dari sisi fraktur juga akan menimbulkan rangsangan nyeri. Tanda yang penting dari fraktur zygoma atau fraktur maksila adalah ekimosis pada sulkus bukalis maksila. Tidak adanya nyeri menunjukkan tidak adanya fraktur. 4. Jika pada manuver ini tidak teraba tenderness. namun biasanya dapat diperoleh dengan menekankan jari telunjuk pada jaringan lunak darah zygoma dan membandingkan satu sisi dengan yang lainnya dari sebelah atas pasien. Deformitas pada tonjolan zygomatik dari maksila.

dan lebih banyak lagi terjadi pada fraktur tertutup dari arkus zygoma (45%). 9. Epistaksis. Deformitas ini sering ditemukan pada tepi infra orbita dan tepi orbita lateral bila terjadi fraktur zygoma. jaringan edema. Alasan yang sering dikemukakan untuk terjadinya trismus pasca fraktur adalah bergesernya prosesus koronoideus mandibula pada fragmen zygoma yang berubah posisi. Kebanyakan fraktur melalui dinding sinus yang hanya mengalami sedikit perubahan posisi akan merobek mukosa yang melapisinya. khususnya pada otot temporalis. Sebenarnya terjadinya pergeseran ini pada sebagian besar kasus masih meragukan. anestesia nervus orbitalis mulai dirasakan. mungkin terjadi perdarahan pada sinus tersebut. Sensibilitas saraf yang abnormal. Gejala penting yang ditemukan pada kira-kira 50-90% dari cedera komplek zygoma adalah berkurangnya sensasi nervus infraorbitalis. 10. 8. karena diperlukan perubahan posisi yang cukup besar untuk menyebabkan gangguan mekanik. Karena sinus maksilaris dialirkan ke hidung melalui meatus tengaha. Trismus.Fraktur yang terjadi sepanjang tepi orbita seringkali menimbulkan celah atau deformitas jika terjadi displacement. Anestesia infraorbital terjadi bila fraktur yang melalui dasar atau maksila naterior menyebabkan robeknya. Terbatasnya kemampuan untuk membuka mulut sering terjadi bersamaan cedera zygoma. Penjelasan yang lebih mendekati adalah spasme otot yang terjadi sekunder terhadap pergeseran oleh fragmen yang berubah posisi. perdarahn unilateral dari hidung yang mungkin terjadi adalah kira-kira 30-50% dari cedera komplek zygoma. Meskipun sulit untuk membedakan antara anestesia dari sensasi yang berubah pada penelanan. terjadi pada kira-kira sepertiga kasus. Apabila mukosa sinus mengalami gangguan. terpotongnya atau kompresi dari nervus infarorbitalis sepanjang kanalis atau 258 . Parestesi nervus infraorbitalis lebih sering terjadi pada fraktur dengan perubahan posisi daripada yang tidak. menghasilkan perdarahan internal. Temuan lain adalah terdapatnya deviasi kearah sisi yang fraktur pada saat mulut dibuka. yang pada saat bengkaknya berkurang.

11. sekitar 5070% kasus. Kehadirannya tidak mengesampingkan adanya fraktur tepi orbita. Emfisema ini akan menghilang secara spontan dalam 24 hari tanpa perawatan. menyebabkan udara bergerak menuju jaringan lunak wajah jika tekanan diantara sinus lebih besar daripada tekanan didalam jaringan. Perubahan posisi dari zygoma juga termasuk palpebra yang menempelnya. Hal ini yang paling mudah dikerjakan dengan jalan memutarkan dua jari dengan lembut diseputar jaringan. yang akan memproduksi sensasi “crackling” yang khas. Hal ini tidak umum ditemukan pada fraktur zygoma. perdarahan yang mungkin terjadi dapat terskumulasi pada lokasi subperiosteal dan tidak tampak dibawah konjungtiva. Krepitasi dari emfisema udara. Gejala tersebut bisa mempengaruhi sensitivitas gigi dan gusi maksila. Fraktur yang melalui dinding sinus. 12. ekimosis subkonjungtiva biasanya tidak mempunyai batas posterior dan kan tampak berwarna merah cerah sesuai dengan kemampuan oksigen untuk menyebar melalui konjungtiva untuk pengumpulan darah. Perubahan posisi dari celah palpebra. Signifikan dari emfisema ini adalah berpotensi terjadinya infeksi melalui hubungan antara sinus dan jaringan lunak. Jika terjadi inflasi dapat dilakukan palpasi dan menimbulkan krepitasi. Bila garis fraktur terjadi lateral dari jalur dan foramen infraorbital (lebih jarang terjadi) nervus infraorbitalisnya akan terselamatkan. cenderung terinflasi oleh udara karena kehilangan sifat areolar. Terganggunya nervus orbitalis akan menyebabkan anestesia kelopak mata bawah. Mungkin disertai retak yang sangat tipis melalui tepi orbita jika periosteum telah robek. Perdarahan subkonjungtiva sering ditemukan pada fraktur zygoma. 259 . karena tidak adanya gangguan dari periosteum. Ekimosis subkonjungtiva. Bila terjadi. bibir atas dan bagian lateral hidung. yang menunjukkan emfisema subkutan. Ligamentum palpebra lateralis menempel pada bagian zygoma dari tepi orbita. dengan robekan pada mukosa yang melapisi. Jaringan lunak dari daerah periorbita terutama kelopak mata. tetapi potensi untuk terjadinya emfisema udara konstan. 13.foramennya.

14. Diplopia monocular atau kaburnya pandangan dari satu mata. dimana pupil pada bagian yang terkena terletak lebih rendah daripada normal. Diplopia binokular. Diplopia. Adalah nama yang diberikan untuk gejala pandangan kabur. Dengan adanya gangguan dasar orbita dan bagian lateralnya. hilangnya dukungan tulang dari isi orbita dan perubahan posisi dari kapsul tendon dan ligamentum suspensorium dari bola mata. Petunjuk yang bermanfaat untuk membedakan penyebab dari diplopia adalah temuan bahwa edema yang menyeluruh dari orbita biasnya menyebabkan diplopia pada pandangan keatas dan kebawah yang ekstrim. ligamentum palpebra lateralis juga tertekan. Pada waktu zygoma mengalami perubahan posisi pada arah anterior. hifema atau cedera traumatik lain dari bola mata. sehingga tampak memendek. perubahan posisi inferior atau posterior dari tepi orbita inferior menyebabkan tekanan pada kelopak mata yang lebih rendah. hal ini biasa terjadi kira-kira 10-40% dari cedera zygoma. Forcep kecil digunakan untuk memegang tendon rektus inferior 260 . Keadaan ini tampak secra klinis berupa level pupil yang tidak sama. Karena sekat orbita menempel pada tepi infraorbita.menghasilkan deformitas visual yang dramatis. Dapat ditentukan apakah pada fraktur terdapat isi orbita yang melalui dasar orbita dengan forced duction test. Penting untuk membedakan antara dua jenis diplopia. memerlukan perhatian segera dari ahli mata. Diagnosa diplopia bisa sangat sulit pada tingkat awal dimana edema atau perdarahan bisa berkurang dalam beberapa hari namun terperangkapnya jaringan orbita tetap tidak berkurang. yang sering menyertai fraktur zygoma. karena biasanya menunjukkan lepasnya lensa. Kuarngnya gerakan mata yang hampir lengkap dalam satu arah terjadi dengan pengaruh mekanis atau cedera neuromuskuler. 15. Level pupil yang tidak sama. dimana kaburnya pandangan hanya terjadi bila melihat dengan kedua mata secara bersamaan. menyebabkan lekukan yang menurun ke celah (kemiringan antimongoloid). sementara yang satu tertutup. yang paling banyak adalah terperangkapnya otot. Kondisi ini mungkin menyebabkan lebih banyak sklera yang terekspos di bawah iris dan tampak ektropion yang nyata.

dimana edema pada jaringan lunak sekitarnya selalu menimbulkan enoftalmus relatif. pemindaian CT memberikan visualisasi dan dasar-dasar dari tengkorak wajah tengah: dasar-dasar nasomaksilaris. Hal ini harus dilakukan secara rutin pada individu yang tidak bisa menggerakkan bola mata ke arah atas. atau keduanya atau mengakibatkan berkurangnya volume dari isi orbita yang disebabkan oleh herniasi dari jaringan lunak orbita. infraorbital. A). Fraktur zygoma yang menunjukkan gejala enoftalmus kira-kira 5% dari seluruh kasus sebelum dilakukan perawatan. 16. Secara spesifik. pada umumnya disebabkan oleh perubahan posisi lateral dan inferior dari zygoma atau gangguan dinding orbita lateral dan inferior. adalah standar untuk seluruh pasien dengan dugaan (suspect) fraktur zygomatik. Ini adalah diagnosa yang sulit dilakukan pada keadaan akut kecuali pada kondisi yang sangat berat. enoftalmus akan tampak lebih nyata dan seringkali dihubungkan denga terjadinya ptosis bola mata. Jika cedera zygoma sudah menyebabkan kenaikan volume orbita. derajat pergeseran.melalui konjungtiva dari forniks inferior. dapat enoftalmus. zygomaticomaksilaris. Manifestasi klinik dari enoftalmus dititikberatkan pada sulkus kelopak atas dan penyempitan fisur palpebra. 261 . dan serpihan dan untuk mengevaluasi jaringan lunak orbital. Radiografi membantu untuk konfirmasi dan untuk dokumentasi medikolegal dan untuk menentukan perluasan cedera tulang. 2. Ketidakmampuan rotasi bola mata ke arah superior menunjukkan secara pasti terperangkapnya isi orbita dan paralisis yang disebabkan oleh edema atau cedera neuromuskuler. Gambaran aksial dan koronal didapat untuk menentukan pola fraktur. pada bidang aksial dan koronal. Pada saat bengkaknya sudah hilang.3. dan bola mata dimanipulasi melalui seluruh arah gerakan. Pemindaian CT pada tulang wajah. yang menyebabkan pseudoptosis dari kelopak atas. Tomografi Komputasi CT adalah standar emas untuk evaluasi radiografi fraktur zygomatik. Enoftalmus.2 PEMERIKSAAN RADIOGRAFIS Diagnosa fraktur zygomatik biasanya dibuat dengan pemeriksaan riwayat dan fisik.

terlihat gambaran displaced fraktur arkus zygomatikus sinistra. pada dataran koronal. Water’s View. B). C. B. Jendela jaringan lunak. orbita lateral. Radiograf tunggal terbaik untuk evaluasi fraktur kompleks zygomatik adalah Water’s view. berguna untuk mengevaluasi otototot ekstraokuler dan untuk mengevaluasi herniasi jaringan orbita kedalam sinus maksilaris. Pandangan koronal khususnya membantu dalam evaluasi fraktur dasar orbita (Gambar 6A). Waters’ view. terlihat gambaran zygomaticomaxillary buttress dekstra dan fraktur dasar orbital dengan herniation of orbital padamaxillary sinus. pasien trauma akan masih menjalani evaluasi radiografi film biasa. Kemampuan untuk membaca dan interpretasi film-film ini menjadi diagnosa dan merawat pasien-pasien ini adalah penting. Submentovertex view. Coronal CT scan. Meskipun demikian.zygomaticofrontal. Hal ini memproyeksikan piramida petrosa jauh dari sinus maksilaris. dan lingkaran infraorbita (Gambar 6B).1 a. dan zygomaticotemporal. Ketika hal ini dikombinasikan dengan sebuah Water’s view yang 262 . A. zygomaticosphenoid. Ia adalah sebuah proyeksi posteroanterior dengan kepala yang terposisi pada sudut 27° terhadap vertikal dan dagu berada pada kaset (cassette). sebuah pengetahuan kerja fundamental pada teknik ini diperlukan. memberikan visualisasi sinus-sinus. terlihat gambaran fraktur kompleks zygomatic dekstra. Radiograf Biasa Pemindaian CT (CT scan) telah menggantikan film biasa untuk diagnosa dan penanganan fraktur kompleks zygomatik. A B C GAMBAR 6. Pada banyak ruang emergensi dan rumah sakit.

proyeksi Water’s view terbalik memberikan informasi yang sama. c. sebuah pandangan stereografi dari fraktur dapat terlihat. Caldwell’s view adalah sebuah proyeksi posteroanterior dengan wajah pada sudut 15o terhadap cassette.terangkat. b. Caldwell’s View. Submentovertex (jug-handle) view diarahkan dari daerah submandibula ke vertex tengkorak. 263 . Pada pasien yang tidak mampu mengira-ngira posisi wajah kebawah. Submentovertex View. Penelitian ini membantu dalam evaluasi rotasi (disekitar aksis horisontal). Ia membantu dalam evaluasi arcus zygomatik dan proyeksi malar (Gambar 6C).

Reduksi tertutup tidak bisa dilakukan.BAB III PENATALAKSANAAN FRAKTUR KOMPLEK ZYGOMA Tidak semua fraktur zygoma memerlukan intervensi bedah. seperti pada fraktur communite1 Disamping itu fraktur zygoma juga sering melibatkan orbita. tang ekstraksi gigi3. Sebagian besar ahli bedah berpendapat. 3.7. Pada kasus fraktur yang tidak diikuti pergeseran fragmen ( undisplaced) atau dengan pergeseran minimal tidak diperlukan intervensi bedah. Davies mengemukakan adanya insiden kerusakan (disruption) dasar orbita sebesar 47% pada penderita fraktur zygoma. Bila terjadi pergeseran fragmen maka diperlukan suatu reduksi (reposisi) dengan cara terbuka (open reduction).1 TEKNIK REDUKSI A). karena kita tidak mungkin melakukan manipulasi eksternal1. large Kelly hemostat. fiksasi tidak mutlak diperlukan. Jika tidak dilakukan intervensi bedah maka pasien sebaiknya diobservasi selama dua sampai tiga minggu dengan diet lunak7. Pada kasus ini diantaranya diperlukan rekonstruksi dengan pemakaian implan dasar orbita atau graft untuk mendukung jaringan periorbita7. karena scar yang terjadi tidak terlihat. Fiksasi hanya diperlukan bila ada indikasi. pada fraktur zygoma setelah suatu tindakan reduksi. 264 . Pendekatan Vestibulum Maksila Pendekatan ini paling populer. Berbagai instrumen juga bisa digunakan dengan pendekatan ini antara lain cushing elevetor.

3 . maksila bagian anterior dan buttress zigomatikomaksila mudah dicapai dengan pendekatan ini7.Gambar 7:reduksi melalui pendekatan vestibulum maksila2 Insisi dilakukan kira-kira 3 sampai 5 mm di atas mucogingival junction dari gigi insissivus pertama diperluas ke posterior sesuai keperluan. operator sebaiknya meraba daerah lateral orbital rim untuk menentukan lokasi fraktur. Fraktur infraorbital rim. Pada teknik ini instrumen diinsersikan pada posterior zygoma sepanjang permukaan temporal. biasanya sampai gigi molar pertama. lateral. Insisi dilakukan sepanjang 2 cm dan bisa meluas ke bawah eyebrow sesuai lokasi fraktur 7. Secara estetis scar yang dihasilkan kurang tersembunyi pada pasien dengan eyebrow yang tidak meluas ke lateral dan disamping itu akses yang didapat tidak terlampau luas1. Instrumen digunakan untuk mengangkat zygoma ke anterior. 265 .4.3. Alat yang digunakan Large Kelly hemostat. dan tangan yang lain meraba infraorbital rim dan body zigoma. Pendekatan Supraorbital Eyebrow Pendekatan ini dilakukan untuk mendapatkan akses ke lateral orbital rim (daerah frontozigoma). lebih cepat dan komplikasinya sedikit 1. Dingman Zygomatic Elevator atau urethral sound 1. sederhana. B). Sebelum melakukan insisi. Keuntungan dari pendekatan ini adalah scar yang terjadi tersembunyi.

dan dasar orbita. Pendekatan Upper Eyelid (Kelopak Mata Atas) Pendekatan ini sering juga disebut upper blepharoplasty atau pendekatan supratarsal fold. Pendekatan Subtarsal Pendekatan ini paling sering dilakukan untuk mendapatkan akses ke orbital rim. baik secara estetis dan komplikasinya minimal1.3 C).4 D). Scar yang terbentuk didaerah ini tidak menarik perhatian1. Insisi dibuat pada lipatan kulit di kelopak mata bawah dibawah level tarsus. 266 . Insisi dibuat sekurang-kurangnya 10 mm di atas tepi kelopak mata. Gambar 9: Pendekatan pada kelopak mata atas1.3. Keuntungan dari pendekatan subtarsal ini adalah relatif mudah. Insisi dilakukan pada lipatan kulit di kelopak mata atas.3.Gambar 8: Pendekatan supraorbita eyebrow (alis mata) 1.

267 . Setelah itu dilakukan diseksi tumpul pada orbital rim1. Dengan menarik tepi kelopak.3. Kemudian dilakukan pemisahan (undermine) palpebra konjungtiva tepat dibawah tarsus ke arah medial sampai lacrimal punctum. gunting kemudian diarahkan ke bawah kemudian dilakukan transeksi terhadap tendon chantal lateral (inferior cantholysis). Sebelum tindakan ini dilakukan pemasangan pelindung kornea (corneal shell). bila telah sempurna kelopak mata akan jatuh bebas. Salah satu ujung gunting dikeluarkan dari pocket dan dilakukan penarikan dengan retraktor. Mula-mula dilakukan canthotomy dengan menggunakan gunting jaringan pada fisura palpebra lateral dan memotong dalam arah horizontal.4 E).Gambar 10: Pendekatan subtarsal1. kemudian dilakukan insisi konjungtiva pada fornik dengan gunting. Pendekatan Subkonjungtiva Pendekatan ini dapat dikombinasi dengan canthotomy lateral untuk membuka dasar orbita.

serta Scar yang terbentuk tidak terlihat 7. Kemudian lapisan superfisial fasia temporal diinsisi. 10 menembus kulit.3 F). untuk keperluan ini insisi koronal dapat meluas ke lobus dari telinga7. maka insisi ditempatkan beberapa sentimeter dibelakang hairline. body zigoma dan lengkung zigoma tanpa komplikasi. Insisi dilakukan dengan menggunakan pisau no. Insisi ditempatkan atas dua pertimbangan.A B C D Gambar 11: Pendekatan subkonjungtiva1. Tepi insisi (anterior dan posterior) diangkat 1 sampai 2 cm untuk pemasangan klip hemostatik (Raney Clips). flap akan dengan cepat (mudah) dilepaskan perikranium. Flap anterior dipisahkan dengan diseksi tumpul sampai kira kira 2 cm dari body lengkung dan zigoma. Kedua. Pertama hairline. Pendekatan Koronal Pendekatan ini nampaknya radikal dalam penanganan fraktur zigoma. sub kutis dan galea. akan terlihat permulaan lengkung zigoma. harus diantisipasi kemungkinan terjadinya kemunduran hairline. tapi menyediakan akses yang sangat baik ke orbita. Dari lengkung zigoma. besarnya akses ke inferior yang diperlukan. Pada tahap ini akan ditemukan jaringan ikat longggar. dilakukan diseksi 268 .

269 .tumpul sampai ke lateral orbita dan lengkung zigoma. Gambar 12: Pendekatan koronal1. Infraorbital rim dapat terlihat dengan memperluas diseksi dari lateral orbita ke medial1. Keuntungan dari penggunaan screw ini adalah dapat dilakukan kontrol yang lebih baik dalam mengembalikan posisi zigioma.3.4 G). Carol-girard screw instrument yang bisa digunakan meredukasi zigoma.3. Pendekatan Perkutan Ini merupakan teknik yang paling sederhana dan tidak memerlukan diseksi jaringan lunak dan bisa menggunakan beberapa instrument. Alat lain yang sering digunakan adalah Bone hook1. Penutupan dimulai dengan penjahitan fasia temporal. screw-nya dapat tertanam dalam zigoma pada lubang yang dibuat sebelumnya. kemudian penutupan scalp dengan dua lapis jahitan yaitu gelea dan kutis dengan benang 2-07.

5 cm menembus kulit dan subkutis sampai terlihat warna putih yang merupakan fasia temporalis. Pape (1997) merekomendasikan untuk menggunakan satu atau dua mikroplate pada zigomatikomaksila buttress7.3 H). insisi harus cukup dalam sampai otot temporal terlihat. Kemudian dilakukan insisi pada fasia. Setelah itu insersikan elevator diantara fasia dan otot temporal dan didorong sampai body zigoma dan mengembalikan posisinya1. Gambar 14 : Reduksi melalui pendekatan temporal 1 3. Pendekatan Temporal Pada pendekatan ini dibuat insisi sepanjang 2.Gambar 13:Reduksi melalui pendekatan perkutan 1.2 PRINSIP FIKSASI Untuk mempertahankan hasil reduksi. 270 . jika hanya memerlukan satu plate. dianjurkan untuk memasang pada prosesus frontozigomatik.

Pada fraktur Comminuted di infraorbital rim direkonstruksi dengan menggunakan microplate. Teknik koreksi yang terlambat meliputi uatograft 271 . namun angka ini hanya berdasarkan pada penilaian klinis.3. A). pada penelian Vrien. Sepertinya. menggunakan teknik reduksi zygoma rutin. Paresthesia Infraorbita Insidensi perubahan sensoris saraf infraorbita yang menyertai trauma zygoma berkisar 18 hingga 83%. B). Penelitian oleh Vriens bersama mahasiswanya dan Taicher bersama mahasiswanya. KOMPLIKASI Walaupun komplikasi pada fraktur kompleks zygoma dan lengkung zygoma tidak umum terjadi.6-27% pada seluruh fraktur komplek zigomatikomaksilaris. Komplikasi bisa saja terjadi pada masa awal periode postoperasi atau hanya menjadi manifestasi dikemudian hari. ahli bedah harus mengenali tanda-tanda dan gejala untuk dapat memberikan perawatan yang tepat. Malunion yang diketahui sampai 6 minggu setelah cedera masih bisa dikoreksi. Meskipun pada sebagian besar kasus terdapat defisit kosmetik. Sebagian besar fraktur malunion dari zygoma didapatkan karena kekeliruan untuk mengetahui keparahan dari cedera atau reduksi yang tidak stabil. reduksi anatomis pada fraktur dapat meminimalisir tekanan saraf dan dibiarkan untuk pulih. telah menemukan bahwa pemulihan sensasi infraorbita yang lebih baik yang menyertai reduksi yang terbuka dan fiksasi internal pada sutura zygomatikofrontal dibandingkan dengan reduksi yang tanpa disertai dengan fiksasi. malposisi dari tulang bisa menyebabkan penurunan fungsi mandibula. Namun. Insidensi terjadinya asimetris bervariasi antara 3. Plate yang digunakan biasanya sebanyak 4 lubang dengan panjang 5 atau 7 mm7 3. tidak didapat tingkat kesembuhan yang sama pada pasien yang membutuhkan eksplorasi bagian dasar dan rekonstruksi orbita. Malunion dan asimetris Fraktur malunion dari zygoma terjadi dalam beberapa tingkat keparahan.

Gambar 151 272 . kesejajaran yang buruk dari lingkar orbita dapat menambah volume orbita secara signifikan dan menimbulkan enophthalmos. kalkulasi volume orbita dan implikasinya terkait dengan fraktur pada bagian dasar orbita. radius dikwadratkan dan sedikit penambahan pada radiusnya menghasilkan pertambahan volume yang drastic. Bagaimanapun defek yang lebih besar memerlukan reposisi kraniofasial atau penempatan tulang. Volume kerucut adalah ½ ( r2)h. Posisi lengkung orbita menentukan radius kerucut dan dimensi panjang anteroposterior orbita adalah tinggi dari kerucut.maupun homograft atau bahan-bahan aloplastik dan ostektomi zygoma. Pada rumus ini. Peningkatan volume orbita merupakan etiologi yang paling umum. Untuk deformitas minor. Meskipun bahan aloplastik telah dianjurkan. Grant bersama mahasiswa menjelaskan permasalahan klinis ini secara jelas dengan membandingkan bentuk orbit dan bentuk kerucut. Dengan teknologi CT-scan yang lebih baik. C). mungkin saja untuk dilakukan. kontur yang dihaasilkan mungik irreguler dan potensial terjadinya migrasi dan ekstrusi dari implan tersebut sepanjang waktu. kartilago telah terbukti lebih efektif. Secara klinis. Enophtahlmos Enophtahlmos merupakan satu dari beberapa komplikasi yang paling mengganggu yang menyertai fraktur-fraktur zygoma. Fraktur pada bagian dasar orbita juga merupakan akibat dari enophthalmos dengan pertambahan volume orbita (Gambar 15).

pada 4 minggu. Ploder bersama mahasiswa menjelaskan bahwa nilai rata-rata area fraktur sebesar 4. Ukuran pada kerusakan orbita dan tonjolan abnormal pada jaringan orbita juga telah diteliti. Perawatan enophthalmos yang telat bisa dikatakan cukup menantang. terjepitnya otot-otot ekstraokular dan jaringan orbita. atau neurogenic bisa saja diatasi 273 . Fraktur kompleks zygoma non-displaced dan fraktur lengkung zygoma yang terisolir memiliki insidensi diplopia terendah. Pada tahun 2002. Pada pengamatan 2067 kasus fraktur kompleks zgoma. hematoma. Penelitian histologist oleh Iliff bersama mahasiswanya telah menunjukan fibrosis post-traumatik pada otot-otot extraocular sebagai akibat kerusakan yang ditimbulkan. Ellis bersama mahasiswa mencatat sebanyak 5. Diplopia yang berhubungan dengan edema. kira-kira 1 cm3 jaringan yang bergeser sebanding dengan 1 mm enophthalmos. dikaitkan dengan enophtahlmos dengan ukuran lebih besar dari 2 mm. IV. sedangkan fraktur murni memiliki insidensi yang tinggi.89 mL. Penyebab-penyebab utama diplopia antara lain adalah edema dan hematoma. Insidensinya bervariasi anatar 17 dan 83% dan tergantung dari waktu timbulnya yang menyertai kerusakan dan pola serta tingkat keparahan dari kerusakan. dan grafting bisanya diperlukan. mengakibatkan enophthalmos yang siginifikan (>2mm). Re-draping dari jaringan lunak periorbital termasuk itu canthopexy juga diperlukan. D). Mereka mengajukan hipotesis bahwa hal ini bisa saja merusak contractility dan mengurangi terjadinya penyimpangan otot-otot.08 cm atau rata-rata nilai jaringan yang bergeser sebesar 1.4 hingga 74.Raskin bersama mahasiswa menunjukan bahwa pertambahan sebesar 13% pada volume orbita.5 % insidensi diplopia. Akses yang luas dengan oetotomy zygoma. atau VI cranial. Diplopia Diplopia merupakan kondisi abnormal (sequel) pada fraktur bagian tengah wajah. CT scan pada bagian axial dan coronal serta konsultasi dengan ahli mata perlu dilakukan untuk membantu pelaksanaan evaluasi. dan kerusakan saraf III. reposisi. Pada umumnya.

Keadaannya bisa saja berupa ptosis. Proptosis juga mungkin terlihat 274 . Kondisi tersebut membutuhkan perhatian khusus atau pembedahan. dan fixed dilated pupil. Trauma Neuropati Optik Trauma neuropati optik dapat saja bermanifestasi sebagai kondisi yang meluas dari gambaran defisit yang ringan hingga gambaran kehilangan secara keseluruhan. Intervensi pembedahan oleh ahli mata jarang dibutuhkan. dan betablocker. carbonic anhydrase inhibitor. Hasil akhir perawatan termasuk pula pencegahan terhadap perdarahan. Perawatan pada fraktur wajah dapat ditunda. Konsultasi dengan ahli mata harus dilakukan. Perawatan fraktur dapat ditunda. Hyphema Traumatik Trauma pada mata bisa mengakibatkan perdarahan di dalam ruang anterior-area di antara kornea dan iris yang berwarna (gambar 15). dan mempertahankan keadaan ocular normal. Penatalaksanaan medis dengan menggunakan cycloplegic topikal. G). Penatalaksanaan hyphema terdiri atas terapi suportif termasuk itu mengatur kemiringan bagian kepala tempat tidur dan mengobati bagian mata yang rusak. Diplopia yang menetap membutuhkan perawatan oleh ahli mata. Perawatannya bervariasi tergantung dari penyebabnya tapi bisa saja melibatkan penggunaan steroid secara sistemik atau pembedahan dengan dekompresi saraf orbital atau optik. ophthalmoplegia. Antifibrinolitik sistemik. E). yang bisa saja terjadi pada 5-30% pasien. F). Konsultasi dengan ahli mata diperlukan.tanpa adanya intervensi. Sindrom Superior Orbital Fissure Sindrom orbital fissure merupakan komplikasi yang tidak umum yang menyertai trauma wajah. Diplopia yang ditimbulkan oleh entrapment membutuhkan eksplrasi dan reduksi tonjolan abnormal pada jaringan orbita (gambar 19). dan osmotic agent juga diperlukan. forehead anesthesia.

Immediate lateralcanthotomy and cantholysis were performed. namun dekompresi dengan canthotomy lateral dan cantholysis sebaiknya tidak ditunda ( gambar 16). Penyebab yang paling umum terjadi adalah terkenanya zygoma pada prosesus koronoid dari mandibula. Pengamatan pada 1405 kasus fraktur orbita. dan akut progressiveloss of vision dengan hyphema. Perdarahan retrobulbar Perdarahan pada retrobular jarang terjadi namun merupakan komplikasi yang parah yang dapat mengakibatkan kerusakan awal atau koreksi operatif. Trismus juga bisa terjadi secara sekunder akibat ankilosis fibrosis atau fibrooseus dari koronoid pada arkus zygoma. Retrobulbar hemorrhage. Terkenanya zygoma atau arkus zygoma atau koronoidektomi mungkin diperlukan untuk memulihkan gerakan normal dari mandibula 275 . steroid. Konsultasi sesegera mungkin dengan ahli mata diperlukan. H). Trismus Berkurangnya gerakan mandibula mungkin merupakan komplikasi yang merugikan dari fraktur zygoma.03% pada perdarahan retrobular posoperatif disertai dengan kehilangan penglihatan. B. eksplorasi apeks orbital dan aspirasi hematoma retrobular. Gangguan pada sirkulasi retina dapat mengakibatkan iskemi yang ireversibel dan kebutaan permanen. A. proptosis.fiksasi dan dilatasi pupil. 3 I). Ord melaporkan insidensi sebanyak 0.Perawatannya bisa berupa reduksi fraktur. apabila ada. Gambar 16 A. pasien dengan keluhan sakit pada periorbital.

276 .

Setelah tindakan reduksi terbuka tidak selalu diperlukan fikasasi. subtarsal. kecuali atas indikasi seperti fraktur cumminuted. sub konjungtiva. kelopak mata atas. Untuk tindakan reduksi dapat dilakukan pendekatan supra eyebrow (alis mata). koronal. Bila terjadi pergeseran fragmen diperlukan tindakan reduksi terbuka. temporal perkutan dan 277 .BAB IV KESIMPULAN Perawatan fraktur zygoma memerlukan tindakan bedah bila tidak ada pergeseran fragmen atau pergeseran minimal.

McDonald WS. Oral and Maxillofacial Trauma. New York : Marcel Dekker.DAFTAR PUSTAKA 1. 2004 7. Third Ed. Fonseca. Tucker MR. 2. Indonesian journal of oral and maxillofacial surgeons. Oral and Maxillofacial Trauma.com/107/40. 2003 5. Harle. R.. Feb 2005 no 1 tahun IX hal 41-50.bartleby. Atlas of Craniomaxillofacial Osteosynthesis.html 278 . 1th ed. 2005. 9. Thieme. Goldwasser MS. Anatomy of The Human Body : The Zygomatic Bone. David D. St louis: mosby co. 4. New York. Management of Zygomatic Complex Fractures. Management of facial fractures. Bailey JS. contemporary oral and maxillofacial surgery. 1th ed. 1995. et al. Craniomaxillofacial Trauma. Philadelphia. Ellis E. 3. Facial Trauma.. et. Elsevier Saunders. 6. Ochs MW. All. 2004. 3rd Ed. 1999. WB Saunders Co. Prasetiyono A.J. Dalam : Peterson et al.. 2010. London 8. Available at : http:// www. Gray H.J. Penanganan fraktur arkus dan kompleks zigomatikus. Churchill Livingstone. 2005. Peterson’s principles of Oral and Maxillofacial Surgery 2nd. Thaller SR. Dalam : Miloro M et al.Vol 1. Hamilton. London : BC Decker Inc. F.

atau disruption pada hubungan oklusi pada fraktur dislokasi. 279 . kehilangan gigi incisivus. dan berhubungan dengan fraktur Le Fort (8-13.2%). setiap 1.10.5mm. CT scan dilakukan dengan potongan yang tipis. alveolar maksila. Gejala klinis fraktur ini antara lain seperti ekimosis palatal pada fraktur tertutup dan laserasi pada bibir atas atau mukosa palatal.0 sampai 1. FRAKTUR PALATAL Leidya Valentina Elizabeth 160121120009 Peserta Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut Dan Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Bandung Abstrak : Fraktur palatal jarang ditemukan sebagai diagnosis tunggal pada pasien dengan trauma kraniofasial. Kata kunci : Fraktur palatal. menunjukkan fraktur dengan jelas. Fraktur palatal biasanya berhubungan dengan fraktur midfasial atau panfacial.

kehilangan gigi insisivus. kehilangan relasi oklusal karena dislokasi fraktur. Fraktur palatal ditemukan pada 8% fraktur Lefort dan jarang ditemukan sebagai fraktur palatal sendiri. Tanda klinis fraktur ini antara lain palatal eccymosis pada fraktur tertutup dan laserasi bibir atas atau mukosa palatal. Biasanya berhubungan dengan fraktur midfasial atau panfasial. menunjukkan fraktur dengan jelas. Fraktur palatal jarang sebagai diagnosa tunggal pada pasien dengan trauma kraniofasial. Sering kali fraktur palatal dihubungkan dengan fraktur midfasial lainnya. Fraktur tidak stabil ini seringkali ditemukan pada pasien trauma maksilofacial. pendekatan tahap operasi diperlukan untuk setiap kelas fraktur palatal3. bersama dengan apertura pyriform atau plating alveolar serta rekonstruksi pilarpilar pada fraktur Le Fort. 280 . CT scan dilakukan dengan potongan yang tipis.0 sampai 1. dengan plate dan screw yang dipasang dibawah mukosa palatal dan periosteum.2% berhubungan dengan kasus fraktur Le Fort. Untuk memastikan stabilisasi post operasi yang tepat dan restorasi oklusi sebelum cedera. dan dilaporkan sebanyak 8-13. arch bar acylated. dan arch bar untuk fiksasi maxillomandibular untuk fiksasi internal.5mm.BAB I PENDAHULUAN Fraktur palatal memberikan tantangan unik untuk keterampilan bedah dalam penanganan fraktur midfasial. setiap 1. Pilihan perawatan untuk fraktur palatal meliputi braket ortodontik.

2 DIAGNOSA Saat ini. 2. pasien menderita laserasi bibir.1 ANATOMI TULANG PALATUM Palatum durum terbentuk diantara tujuh tulang pilar kraniomaksilofasial. palatum keras relatif tipis pada regio sagital dan parasagital. Tanpa memperhatikan crest pada midline. Foramen terdapat dekat midline palatum dari arah anterior (dibelakang insisivus mesial) dan jauh ke arah posterior (dekat gigi molar).5 mm. Peralatan ini sangat penting terutama untuk mendiagnosa fraktur yang tidak memberikan tanda klinis yang jelas. Pada lebih dari 65% penderita fraktur palatal. Tebal rata-rata palatal adalah 4. keduanya dikenal sebagai mukoperiosteum. Periosteum lebih melekat kuat pada membran mukosa di dalam kavitas oral dibandingkan dengan tulang palatal. Lebar dan dalam palatum keras serta lebar dan panjang mandibula menunjukkan bangunan tiga dimensi sepertiga wajah bagian bawah. dengan 45% pasien menderita disruption mukosa palatal dan gingival (Gambar1b). Foramina berukuran sangat kecil dan berfungsi untuk mengimbangi struktur palatum secara keseluruhan. namun menjadi lebih tebal ke arah alveolus. Tulang palatal lebih tebal pada bagian anterior dan berangsur menipis ketika mendekati palatum lunak. Palatum terbentuk dari dua tulang yang bersatu: palatum pada bagian maksila dan bagian horizontal palatum. Pada area alveolus. ketebalannya antara 12 sampai 14 mm. Hampir semua segmen fraktur palatal mengalami pergeseran 281 . dimana beberapa kasus fraktur palatal dapat terdiagnosa (Gambar 1a). akan memberikan tanda dan gejala yang jelas. Adanya perubahan oklusi maksila mandibula merupakan tanda yang dapat ditemui juga.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. Pada hampir semua pasien yang menderita fraktur palatal. hampir pada semua trauma center dilengkapi dengan peralatan CT Scanner yang sangat akurat.

Ahli bedah harus berhati-hati dalam menentukan oklusi pada penderita fraktur palatal. Type I : Fraktur Alveolar (2 type) Type Ia : alveolus anterior. Type Ib : Posterolateral. gigi dan midline palatal3. meliputi gigi incisivus beserta daerah alveolusnya. meliputi gigi premolar. 282 .a) CT-scan b) Klinis fraktur palatal1 2.baik ke arah anterior dan lateral. karena penderita dapat mengalami fraktur mandibula juga yang mana dapat mengaburkan diagnosa. molar beserta alveolusnya.3 KLASIFIKASI FRAKTUR PALATAL Fraktur palatal dibedakan berdasarkan hubungan palatal dengan alveolus maksila. Gambar 1.

a) Gambar 2.a) Tipe II b) Tipe III 2 b) Type IV : Fraktur paraalveolar Terjadi dari arah palatal menuju alveolaris maksila dan berisi gigi-gigi insisivus. Type ini paling sering ditemukan pada dekade ke 2 dan ke 3 sebab garis tengah palatum belum terlalu mengeras. mmhg Type III : Fraktur Parasagital Paling sering ditemui pada dewasa (63%) sebab tulang yang tipis berada di daerah parasagital. daerah kaninus juga ikut terlibat. 283 . Fraktur pada daerah ini berbeda dengan type Ib sebab selain daerah premolar dan molar .a) Tipe Ia b) Tipe Ib2 b). Type II : Fraktur Sagital Fraktur type II terjadi pada daerah midline dari palatum. a) Gambar 3.

a) b) Gambar 4. Type VI : Fraktur Transversal Fraktur palatal yang paling jarang terjadi. ke arah oblik atau comminuted fraktur kasar.a) Tipe IV b) Tipe V c) Tipe VI 2 c) 284 .Type V : Fraktur compleks/ Comminuted Fraktur yang besar multiple. membelah maksila pada dataran koronal.

Oklusi harus didapatkan sebelum merawat fraktur ini. Saat menggunakan fiksasi internal yang rigid. keadaan gigi geligi. tekanan ke arah mesial menggunakan jari untuk mendapatkan lebar lengkung dan batas oklusal. supaya penyatuan awal dapat dilakukan. pemakaian arch bar. Pendekatan bedah meliputi laserasi atau insisi longitudinal pada palatal untuk mempertahankan suplai darah pada segmen palatal. Kedua cara perawatan ini bisa didukung dengan pemakaian mini plate atau mikroplate menggunakan insisi gingival standar untuk Le Fort I. pasien bisa dipasangi fiksasi intermaksiler sementara. dan hubungannya dengan fraktur pada maksila dan mandibula. Kemungkinan perawatan yang bisa dilakukan adalah: kombinasi fiksasi internal. perhatian dilanjutkan pada fiksasi internal rigid pada daerah palatal yang fraktur. Dianjurkan untuk melakukan fiksasi intermaksiler selama dua atau empat minggu. Setelah fikasi intermaksiler dilepas. Ketika segmen yang fraktur terlihat. Fraktur tipe Ib bisa dirawat menggunakan arch bar pada pertemuan segmen fraktur yang terbuka di belakang pilar zygomaticomaxillary untuk menfasilitasi reduksi terbuka dengan fiksasi internal. IV dan VI dirawat dengan pendekatan perbagian secara urut untuk mengurangi kesalahan penyatuan segmen-segmen fraktur. Untuk memastikan penyatuan awal. dan palatal acrylic splint pada fraktur kompleks.BAB III PEMBAHASAN Perawatan bedah pada fraktur palatal dimulai dengan identifikasi secara spesifik tipe fraktur. Reduksi dimulai dengan aplikasi arch bar maksila untuk memasang tension band melewati segmen alveolus maksila. paling tidak dua plate digunakan 9 satu anterior dan satunya lagi diposterior) untuk 285 . Fraktur palatal tipe II. III. Fraktur palatal tipe Ia bisa dirawat menggunakan Erich bar segmental atau menggunakan braket ortodontik tanpa fiksasi intermaksiler.

Setelah aplikasi fiksasi rigid dan penutupan insisi. Persiapan yang optimal diperlukan pada saat memperbaiki palatum yang fraktur comminuted. insisi vestibular standar untuk Le Fort I. Pendekatan bedah meliputi laserasi. 286 . fiksasi intermaksilari dipasang kembali untuk mempersiapkan fiksasi internal rigid pada segmen piriformis dan ridge alveolar. Model gigi diambil dari pasien untuk membuat model pembedahan di laboratorium dan membuat splint palatal.menghindari terjadinya pergerakan segmen fraktur ke arah posterior. Rekonstruksi secara bedah dilakukan setelah semua stabilisasi dilakukan dan stabilisasi oklusi sudah dipastikan. Gambar 5. Pemasangan plate dilakukan di regio piriformis dan sepanjang basis pilar zygomaticomaksilaris. insisi vertikal ginggiva kemungkinan perlu dilakukan. Acrylic splint2 Fraktur palatal tipe V membutuhkan aplikasi palatal splint akrilik untuk perawatan. Direkomendasikan untuk memasang fiksasi intermaksiler selama 2 sampai 4 minggu diikuti dengan elastic guidance dan diet lunak sampai dilepas. dan jika suplai darah menjadi perhatian. Fraktur comminuted pada palatum sebaiknya dirawat dengan pendekatan tertutup (close reduction) dimana suplai darah pada segmen fraktur tidak dapat dikompromikan. menghasilkan lebar lengkung daripada yang direncanakan.

Bisa juga diaplikasikan circumdental wire dengan atau tanpa menggunakan arch bar. 287 .Splint sebaiknya tidak diperlebar secara interoklusal diantara mandibula dan maksila.

Perawatan bedah pada fraktur palatal dimulai dengan identifikasi secara spesifik tipe fraktur. Sering kali fraktur palatal dihubungkan dengan fraktur midfasial lainnya. dan hubungannya dengan fraktur pada maksila dan mandibula. 288 . Kemungkinan perawatan yang bisa dilakukan adalah: kombinasi fiksasi internal. dan palatal acrylic splint pada fraktur kompleks. Fraktur tidak stabil ini seringkali ditemukan pada pasien trauma maksilofacial.BAB IV KESIMPULAN Fraktur palatal memberikan tantangan unik untuk keterampilan bedah dalam penanganan fraktur midfasial. pemakaian arch bar. keadaan gigi geligi.

2004. 2. Ellis E. Oral and Maxillofacial Trauma. Oral and Maxillofacial Trauma.Vol 1. 3rd Ed. Thaller SR.DAFTAR PUSTAKA 1. Fonseca et al. 3.2005. Elsevier Saunders. 2005. St Louis : Elseviere 289 . New York : Marcel Dekker. Vol 2nd. McDonald WS. Facial Trauma.

nasal. orbita 290 . Hasil yang baik akan tercapai dengan penguasaan anatomi yang baik. dan arteri ethmoidal di daerah tersebut. Hal ini menjadi penting karena terdapat lacrimal apparatus. medial chantal ligament.Fraktur Nasal dan Kompleks Orbita Susanti Bulan 160121120004 Peserta Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut Dan Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Abstrak: Cedera pada nasal. orbita dan ethmoid menjadi suatu tantangan baru baik dari cara mendiagnosa maupun rekonstruksinya pada perawatan setelah trauma. perawatan yang dilakukan sedini mungkin dan proses rekonstruksi yang hati-hati. Maksud dari penulisan makalah ini adalah untuk memberikan gambaran mengenai fraktur nasal dan kompleks orbita serta perawatannya. Sehingga memudahkan doktergigi jika mendapatkan kasus-kasus kegawatdaruratan Kata Kunci: fraktur.

fraktur nasal paling sering terjadi pada struktur tulang fasial dan menurut Schroeder. Kemudian hidung dirawat dengan cara sederhana dan hasil akhirnya mungkin jauh dari yang diharapkan. Pada penelitian yang dilakukan Cruse dari 182 kasus trauma fasial kirakira 18% adalah fraktur nasal dan kompleks orbita. Fungsinya sebagai saluran udara ke saluran pernapasan bawah dan paru-paru. Hal ini terjadi karena pada 291 . Selama berabad-abad. Insidensi umur dari pasien adalah 31 tahun. Fraktur nasal sering kali dirawat dengan penilaian preoperative yang tidak adekuat. 50 % fraktur pada tulang fasial terpisah dari piramid nasal.BAB I PENDAHULUAN Hidung terdiri dari tulang. Dengan mengetahui hubungan sebab dan akibat antara keparahan trauma dan derajat deformitas. jaringan lunak dan kartilago. Rontgen film biasa sulit menggambarkan derajat keparahan dan lokasi dimana cedera itu terjadi. Menurut Christian. meskipun pada mulanya tampak cukup baik4. Fraktur tulang nasal dapat bervariasi tergantung arah dan kekuatan yang mengenainya1. Perawatan fraktur nasal telah menjadi subjek dalam dunia kedokteran sejak zaman Yunani. Kecelakaan kendaraan bermotor sebanyak 70% dan 63% mengalami cedera pada bagian lain yang cukup parah. dan lebih penting lagi perawatan mana yang paling baik untuk pasien sesuai dengan traumanya2. Sebanyak 51% mengalami cedera pada central nervous system dimana 42% nya mengalami keluarnya cairan cerebrospinal2. Perluasan disrupsi struktur nasal sehubungan dengan arah dan derajat kekuatan trauma sering kurang diperhitungkan. dasar filosofi perawatan adalah reduksi fraktur dengan mengembalikan pada bentuk dan fungsi yang normal. kita dapat memutuskan pilihan perawatan mana yang akan dilakukan. Untuk mendiagnosa fraktur didaerah ini biasanya ditentukan melalui pemeriksaan CT-Scan.

292 .gambaran rontgen dapat terjadi overlapping struktur-struktur tulang di daerah tersebut2. Pada makalah ini akan dibahas dan diharapkan dengan mengetahui kekuatan trauma. maka ahli bedah dapat membuat diagnosis yang benar dan memilih rencana perawatan yang tepat untuk pasien. dengan kombinasi dengan pilihan perbaikan dan penilaian keputusan yang baik.

tulang maksila. Hidung adalah suatu struktur midline sentral fasial yang mempunyai unsur kosmetik dan fungsional. Sehingga penting diperhatikan pada saat rekonstruksi untuk mencegah telechantus. hidung membantu membentuk central frame wajah. dan mulut memberikan keindahan wajah. hidung merupakan jalan masuk respirasi nasal manusia pada keadaan normal3. Secara fungsional. dan cedera pada saraf olfaktori.BAB II TINJAUAN PUSTAKA II. tulang lakrimal. pipi. Rekonstruksi pada daerah ini dilakukan secara hati-hati dan memerlukan kontrol terhadap volume orbita. Tulang hidung dekat dengan bagian anterior dari tulang orbita dan berhubungan dengan tulang frontal.1. Secara kosmetik. Fungsi estetiknya memberikan keseimbangan. sehingga mata. pneumocephalus. Daerah ini merupakan perlekatan dari medial chantal tendon yaitu processus frontalis dan tulang lakrimal. dan processus maksilaris. Rekonstruksi yang dilakukan satu-persatu akan mendapatkankan hasil yang maksimal. dan kesimetrisannya adalah penting dalam membentuk simetris wajah. orbita. ANATOMI Daerah hidung dan Hidung-Mata-ethmoid disusun oleh cranium. Jika ada trauma maka dapat timbul cerebropinal fluid rhinorhea. Tidak jarang pada cedera yang parah dapat menyebabkan komplikasi intrakranial2 . 293 . Daerah posterior dari kompleks nasal berhubungan dengan sinus ethmoidalis dan terletak ditengah dan dapat dengan mudah terkena trauma karena posisinya yang berdekatan dengan cribiform plate. enophtalmos dan disfungsi dari sisem lakrimal.

(1) os nasale (2) os. Maksilla Gambar 1: Anatomi Cranium dan os. Nasal5 Gambar 2: Permukaan dan struktur anatomi hidung 3 294 .

tulang hidung bersatu untuk membentuk suatu tenda “pup tent”. dua pasang kartilago bagian bawah ( lower lateral cartilages) (LLCs)). Pada midline. Tulang hidung adalah setengah bagian puncak. satu septum cartilage midline. hidung dibentuk oleh gabungan antara tulang pendukung yang fleksibel dan rigid. Pada midline. dan suatu cartilage terdapat pada beberapa daerah pada jaringan lunak. Tulang hidung sendiri adalah rata (flat). flat. triangular sections dari cartilage hyaline yang melekat secara kuat ke superior pada tepi inferior dari tulang hidung oleh jaringan fibros konektif yang kuat. ULCs mempunyai perlekatan jaringan lunak pada jaringan fibrofatty dari alae nasal dan lateral hidung. yaitu tulang dan kartilago. kedua ULCs melekat secara kuat satu dengan yang lainnya dan kartilago kwadrangular dari septum nasal anterior. berbentuk lembaran empat persegi panjang (rectangle) yang menebal pada bagian superior. Walaupun penyatuan ini tidak kontinius. oleh karena itu adanya obstruksi pada hidung diduga telah terjadi kelainan3. Prosesus nasalis tulang frontal dan maksila menyebabkan adanya support dari superior dan lateral. disebut dengan kolumela. Secara lateral. dengan tulang nasal yang berada dibawah ULCs. Anastomosis tulang sepanjang garis sutura antara ketiga tulang adalah rigid. Pasangan LLCs mempunyai medial crus yang berjalan lateral dari LLCs yang berjalan dari lateral ke kartilago septum caudal. dan melekat pada bagian atas kartilago lateral hidung. Secara anatomi. Lateral krus dari LLCs dapat dibagi atas menjadi daerah puncak 295 . penyatuan fibrous ini sangat kuat. dengan plat tegak lurus dari dukungan ethmoid pada garis tengah seperti sebuah tenda. dan cartilago adalah setengah bagian bawah. dan struktur supporting ini lebih tebal dan lebih kuat dari tulang hidung sendiri. Cartilaginous hidung dibentuk kombinasi dari dua pasang kartilago lateral atas (upper lateral cartilages) (ULCs)). Hubungan ini tidak tepi dengan tepi tetapi overlapping. Pasangan kartilago lateral bawah.Pernapasan mulut adalah merupakan tanda terjadinya kelainan pada saluran pernapasan atas (upper airway). berturut-turut untuk tulang nasal. jadi tulang hidung berbentuk tripod3. oleh karena itu bagian hidung ini harus dipertimbangkan sebagai tripod. dan berinterdigitasi dengan tulang frontal dan tipis pada bagian inferior.

otot dan kulit. Orbit memiliki kandungan yang melindungi bola mata serta sruktur visual tambahan yang terdiri atas : Kelopak mata. mengontrol pembukaan bola mata anterior. dan procerous-kontribusi pada kumpulan jaringan lunak hidung dan hanya mempunyai sedikit fungsi pada pergerakan fasial atau respirasi.medial. Kulit dan jaringan subkutan pada tulang hidung tipis dan mobil. kulit yang menutupi hidung berubah menjadi membran mukos. Orbit merupakan kavitas tulang yang terbentuk oleh tulang fasial yang menyerupai rongga pyramid quadrangular dengan dasar berada dalam arah anterolaterally dan apeksnya dalam arah posteromedially. Sehingga. Kulit hidung sangat bervariasi ketebalannya. dimana ini disebut sebagai ukuran dan besar puncak hidung. dimana kartilagenous hidung ini lebih tebal dan lebih melekat pada struktur di bawahnya. yang akan membantu menjaga terjadinya rotasi ke posterior dari septum dan kehilangan dukungan puncak hidung. Dinding medial dari dua orbit terpisah oleh sinus ethmoidal dan bagian atas dari rongga hidung yang paralel. dan mengandung kelenjar keringat yang semakin meningkat jika kulit semakin tebal. dan pada segmen lateral. yang mendukung alae nasal dan berfungsi untuk menjaga terjadinya kolaps selama fungsi inspirasi. Otot pada hidung adalah otot depressor septi. yang membatasi orbit bagian anterior. tetapi ini tidak sekuat perlekatan pada ULCs dengan septal. Levator palpebrae superioris 296 . M. Ujung kaudal inferior dari kartilago septum nasal dilekatkan oleh pita jaringan fibrous pada spina nasalis anterior maksila. Muskulus ekstraokular yang memposisikan bola mata dan menaikkan kelopak mata superior. membentuk mucocutaneous junction3. Yang terdiri atas : 1. sedangkan dinding lateralnya hampir memnbentuk sudut 40 derajat. axis dari orbit divergen kira-kira 45 derajat. Pada daerah midline terdapat perlekatan fibrous antara struktur yang membantu membentuk puncak hidung. Kartilago yang berjalan sepanjang margin inferior lateral LLC. Pada bagian dalam hidung anterior. Jaringan yang menutupi tulang dan kartilago ini adalah jaringan lunak dan mukosa bagian dalam.

empat dinding dan suatu apeks. Dekat dengan apeks dari orbit. Membran mukous (konjungtiva) melapisi kelopak mata dan aspek anterior dari bola mata dan aparatus lacimal yang melubrikasinya. M. Gambar : Mata tampak lateral Gambar 3: Otot-Otot Mata 5 Gambar : Mata tampak coronal Tidak semuannya ruang di dalam orbit ditempati oleh struktur yang berisi lemak orbita. Tulang membentuk tepi orbita yang memperkuat proteksi kandungan orbita dan memberikan perlekatan untuk septum orbita. dinding supeior 297 . Dinding superior (atap orbita) diperkirakan berbentuk horizontal dan terutama dibentuk oleh frontal bone. suatu lapisan fibrous terputus yang meluas ke dalam kelopak mata.Obliqus med Chiasma opticus M. Empat m.inf. M. inferior dan lateral 3.2.Rectus lateralis M. sehingga orbit ini tersusun oleh matriks dimana struktur dari orbit melekat.Rectus sup. Dasar orbita dibatasi oleh margin orbita yang mengelilingi orbital opening.obliqus . yang memisahkan rongga orbita dari fossa cranial anterior.Rectus inf. Bentuk pyramid dari orbit memiliki dasar.rectus yang terdiri atas superior. medialis. Dua otot oblik yang terdiri atas obliqus superior dan inferior Nervus dan pembuluh darah yang melewati bola mata dan muskulus. M.

dibentuk oleh tulang sphenoid. Dan dibagian anterolateral suatu lekukan pada bagian orbita yang disebut fossa lacrimal. Dinding medial yang posisinya kontralateral dari orbit yang paralel dan terbentuk oleh tulang ethmoid, yang berhubungan dengan tulang lacrimale, sphenoid dan frontal. Dibagian anterior Dinding inferior (dasar orbita), dibentuk terutama oleh tulang maksila dan sebagian tersusun oleh zygoma dan tulang palatina. Dinding inferior yang tipis dibentuk oleh orbit dan sinus maksilaris. Dinding lateral dibentuk oleh prosessus frontalis dari tulang zygomatik dan sayap terbesar dari tulang sphenoid. Ini merupakan dinding yang terkuat dan paling tebal. Ini sangat penting karena daerah ini sangat terbuka dan berpotensi mengalami trauma secara langsung. Bagian posterior dipisahkan orbit dari temporal dan pertengahan fossa cranial. Apeks orbit merupakan suatu canal optik pada sayap tulang sphenoid yang kecil, dibagian medial dari fissure orbital superior. (Moore LK,)

Sphenoid Zygoma

Frontal

Frontal

Gambar : Kavitas

Maksila

Orbita

Gambar 4: Anatomi Kavitas Orbita5

II.2 DEFINISI Fraktur nasal adalah terjadinya kerusakan pada tulang di sekitar pangkal hidung, biasanya disebabkan oleh adanya trauma tumpul dan merupakan fraktur tulang daerah fasial yang paling sering. Trauma yang serius pada hidung dapat menyebabkan masalah yang memerlukan perhatian segera. Tetapi pada trauma

298

hidung yang tidak terlalu berat, perlu diperhatikan lebih baik lagi setelah pembengkakan mereda untuk mengevaluasi efek perluasan trauma. Trauma nasal didefinisikan sebagai adanya trauma pada hidung atau hal lain yang dapat menyebabkan terjadinya deformitas, gangguan pernapasan melalui hidung karena adanya obstruksi, atau adanya gangguan penciuman ( olfaction).

Fraktur orbita biasanya tampak bersamaan dengan trauma midfacal. Tingkat keparahan fraktur mulai dari fraktur yang pergeserannya minimal pada suatu dinding yang terbatas yang tidak membutuhkan intervensi bedah sampai dengan kerusakan yang parah dari orbit. Fraktur orbita mungkin di jelaskan

dengan pertimbangan hubungan anatomi, berikut ini : 1. Fraktur dapat terbatas pada tulang orbital internal. Jenis ini termasuk blow-out dan blow-in, seperti yang tampak pada fraktur pada dasar orbita, dinding medial, dan atap orbita. Fraktur blow out dapat dibagi mengikuti berbagai macam fraktur : Fraktur trapdoor yang disebabkan oleh kekuatan yang ringan. Fraktur medial blow-out yang disebabkan kekuatan menengah. Fraktur lateral blow-out yang sebabkan oleh kekuatan yang tinggi.

2. Fraktur mungkin melibatkan rim orbital. Suatu fraktur rim superior, inferior, dan lateral mungkin sebagai suatu luka yang terbatas, atau ini mungkin berbatasan dengan fraktur dinding internal. 3. Fraktur yang hubungkan dengan fraktur lain pada skeleton facial.

Keterlibatan orbit pada berbagai bentuk fraktur fasial, termasuk zygomaticomaxillary (ZMC), naso-orbito-ethmoid (NOE), sinus frontal, Le Fort II,dan Le Fort III. 4. Fraktur apeks orbita adalah penting untuk diidentifikasi karena ini berhubungan dengan kerusakan pada struktur neurovaskuler dari fissura orbita superior dan kanal optik. Trauma fasial kebanyakan diakibatkan oleh kecelakaan kendaraan bermotor, kecelakaan industri, fasial trauma yang berhubungan dengan olah raga, dan kekerasan. Kecelakaan kendaraan bermotor, khususnya yang tidak

299

menggunakan seatbelt, merupakan kejadian yang paling banyak mengakibatkan trauma maksilofasial, yang ditunjukkan pada sebagian besar negara berkembang. Penatalaksanaan trauma orbita dan fraktur bertujuan untuk meminimalisir dan mencegah kerusakan awal dan lanjutan serta komplikasinya. Tujuan dari intervensi adalah untuk mencegah hilangnya penglihatan dan meminimalisir masalah lebih lanjut, seperti diplopia yang persisten dan malposisi bola mata.

II.3 KLASIFIKASI Pola kerusakan dan perluasan displacement struktur nasal jika terjadi fraktur adalah tergantung pada arah dan derajat kekuatan yang terjadi. Pada tahun 1468, Rowe dan Killey menggambarkan trauma yang terjadi pada nasal dari arah lateral dan anterior. Ini merupakan dasar klasifikasi trauma tulang nasal yang dibuat oleh Stranc dan Robertson (1474). Tetapi kemudian mereka membagi fraktur akibat benturan atas tiga tingkatan trauma dimana peningkatan keparahan merupakan cermin peningkatan kekuatan trauma. Bidang satu, trauma tidak meluas berdasar suatu garis pertemuan tepi bawah tulang nasal ke spina nasalis anterior; bidang dua, trauma terbatas pada daerah hidung eksternal dan tidak mengenai orbital rim; bidang tiga, trauma lebih serius, oleh karena meliputi orbita dan kemungkinan juga struktur intra cranial, biasanya berhubungan dengan trauma pada nasoethmoid serta diagnosa dan perawatannya juga lebih komprehensif 4.

300

Gambar 5: A dan B menunjukkan peningkatan derajat trauma dengan peningkatan daya yang mengenai hidung5

Pada tahun 1486, Murray dan Maran mengemukakan suatu klasifikasi pathologi dari fraktur nasal yang diteliti pada lebih dari lima puluh cadaver. Mereka menemukan tujuh pola yang berbeda dari fraktur nasal dengan berbagai macam derajat keterlibatan septum. Mereka menyimpulkan bahwa kerusakan septum juga berhubungan dengan fraktur nasal. Pada keadaan klinis mereka menetapkan bahwa, jika hidung mengalami deviasi lebih dari setengah kali dari lebar aslinya, tulang akan mengalami deviasi kembali setelah dilakukan manipulasi hanya pada tulang nasal saja4. Klasifikasi dari fraktur orbita adalah: 1. blow out fracture, dibagi menjadi: 1. pure blow out – orbital rim intak 2. impure blow out – terjadi fraktur pada orbital rim 2. fraktur blow in Fraktur dasar orbita blow out merupakan trauma dari tepi orbita atau jaringan lunak di sekitar orbita, fraktur ini disebabkan oleh peningkatan tekanan

301

intra-orbital secara akut yang menekan dinding-dinding orbita. Fraktur dasar orbita blow out dapat timbul bersamaan dengan fraktur dinding medial atau orbita rim.1,2

Gambar 6: Fraktur Blow in dan Blow out 1,2

Klasifikasi fraktur Nasal-Orbit-ethmoid (2) Type I : Klasifikasi yang paling sederhana, hamya melibatkan satu bagian dari nasal-orbita ethmoid yaitu bagian medial orbital rim. Type II : daerah yang terkena lebih luas atau comminuted fraktur Type III: daerah yang terkena luas termasuk bagian tengah dari central fragmen dimana medial canthal tendon melekat, terjadi avulsi dari canthus

302

Gambar 7: Fraktur Nasal, ethmoid4

II.4 PENYEBAB DAN GEJALA KLINIS Penyebab terbanyak adalah trauma kecelakaan kendaraan bermotor, trauma karena olah raga, berkelahi, kecelakaan pekerjaan, aktivitas yang berlebihan, dan terjatuh adalah yang paling sering terjadi pada anak-anak1. Gejala klinis dapat meliputi rasa sakit, pembengkakan, obstruksi pernapasan, epistaksis, krepitasi, septal hematoma, rhinitis, dan stenosis nasal vestibular1. Kebanyakan penderita yang mengalami trauma dasar orbita blow out mempunyai gambaran sebagai berikut : 1. Berkurangnya kemampuan visual. 2. Blepharoptosis. 3. Diplopia binocular vertical atau oblik. 4. Hyperthesia ipsilateral, dysesthesia atau hyperalgesia sesuai dengan distribusi n. infraorbitalis.

303

5. Epistaksis 6. Pembengkakan pada kelopak mata setelah meniupkan udara ke hidung 7. Edema dan ecchymosis periorbita yang disertai dengan rasa sakit merupakan gejala dan tanda eksternal. 8. Enophtalmos mungkin juga terlihat tapi awalnya terjadi

pembengkakan jaringan disekelilingnya. Pembengkakan juga akan membatasi gerak otot ekstraokuler 9. Proptosis juga bisa terjadi dari perdarahan retrobulbar atau peribulbar. 10. Tenderness pada saat palpasi orbita, juga dapat merasakan step pada tulang orbital rim. Pemeriksaan bola mata sangat penting dan mungkin sulit karena adanya edema pada jaringan lunak. Untuk ini diperlukan set desmares retractor. Jika terjadi disfungsi pupil, ditandai dengan menurunnya kemampuan visual, harus diwaspadai terhadap kemungkinan terjadinya neuropathy optikus traumatik. 4 Mata dengan kesejajaran yang tidak sama dapat juga terjadi, hipotropia atau hipertropia serta terbatasnya kemampuan menarik mata ke atas. Wilkin dan Havin melaporkan 30 % terjadi insidensi bola mata yang ruptur bersamaan dengan fraktur orbita, kenyataan ini mengingatkan betapa perlunya pemeriksaan opthalmologis yang menyeluruh dan kompleks. 1 Gambaran klinik dari fraktur blow in terutama berhubungan dengan pengurangan volume pada rongga orbita.4 1. Proptosis (exopthalmus) adalah protrusi atau majunya bola mata (okuli) yang abnormal. Umumnya terjadi di awal kejadian, bersama dengan hematom dan pembengkakan dari jaringan orbita

304

Gejalanya adalah hilangnya sensasi pada dahi yang diakibatkan oleh cabang frontal dari nervus V. Sindrom fissure orbital superior.Gambar 8:. Pergeseran fragmen fraktur ke dalam orbit mata. 4. lateral dan atap orbita. disebabkan oleh lesi yang diakibatkan oleh trauma. vena ophtalmic superior. nervus nasomaksilaris. dasar. nervus kranial III (cabang suerior). IV dan VI. Bola mata bergeser lebih jauh pada dataran koronal dan pergerakan bolah mata yang terbatas 3. Exopthalmus6 2. dan terbendungnya suplai parasimpatik yang dibawa oleh nervus III. Tidak adanya refleks dan akomodasi terhadap sinar langsung karena terbendungnya aliran efferen oleh paralisis dari mengakibatkan ruptur bola 305 . edema pada muskulus ekstraokular atau pada fasia di sekitar orbita atau terperangkapnya lemak orbita merupakan penyebab utama. nervus kranial VI. divisi inferior darinervus kranial III dan vena ophtalmicus. Hilangnya refleks kornea diakibatkan karena keterlibatan cabang nasociliary dari subdivisi nervus V. nervus frontal. Adanya hematoma. Diplopia (double vision). merupakan gejala umum dan berhubungan dengan fraktur pada dinding medial. menetapnya dilatasi pupil akibat nervus kranial III. nervus kranial IV. 5. tekanan langsung atau suatu penekanan akibat hematom (atau keduanya) pada kandungan fissura orbital superior antara lain : nervus lacrimale.

Tergantung pada derajat kekuatan. (peter ward booth) 9. Mungkin ditemukan adanya CSF. 6. Dengan suatu kekuatan yang lebih besar kedua tulang nasal dapat terjadi fraktur dan displaced dan ini sering kali disertai dengan terjadinya fraktur septum. hasilnya akan lebih stabil diikuti dengan reduksi fraktur dengan menggunakan Walsham’s forceps dan pelurusan septum nasal dengan menggunakan Asch’s forceps. 8. karena adanya fraktur sphenoidale dan ethmoid juga fraktur pada sinus frontal sehingga menyebabkan dural tear sehingga terjadi hubungan dengan subarachnoid space.5 POLA TRAUMA A.nervus III. Hasilnya akan lebih stabil sebab tidak terdapat fraktur pada septum. luasnya kerusakan tulang dapat bervariasi dari yang sederhana sampai displacement tulang nasal. Pada keadaan ini umumnya dengan dilakukan manipulasi tertutup sudah cukup memuaskan. cedera pada nervus dapat menyebabkan spasme dari pembuluh darah retina. merupakan keluarnya penonjolan dari selaput dan bagian otak melalui celah yang terbentuk antara tulang dapat merupakan akibat dari suatu trauma. Cedera pada nervus optikus. ataupun pascaoperasi. Ptosis. 7. Selain itu juga terjadi edema yang persisten akibat obstruksi vena ophtalmicus2. 10. Meningoceles dan encephaloceles. Selain itu ditandai oleh gangguan visual dan perubahan respon pupil terhadap respon cahaya. Displaced fragmen nasal dapat segera direduksi dengan 306 . II. berhubungan dengan bengkok atau tertekuknya septum nasal tanpa terjadi fraktur septum. merupakan jatuhnya kelopak mata atas ke posisi lebih jika dibandingkan dengan posisi normal sebelumnya. Trauma dari Lateral Ini adalah trauma yang paling sering terjadi dan seringkali tidak terlalu parah. Ptosis dapat terjadi secara manual dan secara kongenital. Selain itu CSF juga dapat timbul karena adanya fraktur pada basis cranium. Keterbatasan pada muskulus rectus superior atau hematom yang pada kelopak mata bagian atas.

a. Gambar 9 : Trauma nasal dari arah lateral. dapat terlepas. terutama dengan adanya ketidakstabilan nasal. Manipulasi dengan sentralisasi septum harus dikombinasi dengan support internal pada nasal seperti yang dikemukakan oleh Sear (1477)4. terutama pada bagian sepertiga bawah tulang nasal. Kelompok pertama dirawat dengan manipulasi dan bedah septum tetapi pada kelompok yang kedua. Daya yang lebih besar menimbulkan displacement pada piramid dan septum nasal4 B. oleh karena sebagian besar daya diterima oleh septum nasal. 307 . Daya yang moderat menimbulkan depressi pada tulang dan septum nasal.manipulasi tertutup tetapi penting untuk melakukan eksisi berbentuk C pada septum4. Trauma dari Anterior Adanya pukulan atau trauma dengan kekuatan yang moderat dari arah frontal. displacement dan fraktur dari struktur ini sering sekali terjadi. kedua tulang nasal akan fraktur pada ujung bawah dan. termasuk prossesus frontalis dari maksila. Fraktur nasal tipe ini bervariasi hubungannya dengan fraktur septum dan terjadi displacement yang menyebabkan terjadinya ketidakstabilan nasal (4). dengan comminuted fracture. b. seluruh piramid nasal. Dengan daya yang lebih besar lagi. reseksi submukus akan menimbulkan kolaps yang lebih parah.

Daya yang lebih besar menimbulkan fraktur comminuted pada piramid nasal dan septum4 C. Alternatif lain. Trauma yang Berhubungan Dengan Fraktur Fasial Lain Fraktur pada tulang wajah. b. Manipulasi tertutup fraktur nasal dianjurkan untuk tetap menggunakan support intranasal. dalam pandangan faktor waktu meliputi waktu yang lama dan prosedur operasi yang komplek4. Untuk menjaga kedua penetapan oklusi dan aplikasi fiksasi intermaksila yang masih tetap terpasang sampai pasien sadar dari efek anestesi agar jalan nafas tetap aman. Septum harus dikembalikan ke posisinya tetapi tidak boleh dilakukan reseksi septum pada tahap pembedahan primer. harus dapat direduksi dan distabilisasi terutama untuk reduksi fraktur nasal. meskipun sudah indikasi. terutama pada bagian tengah wajah. Jika terdapat laserasi yang parah pada mukosa nasal disarankan untuk menggunakan lapisan silastik yang dimasukkan pada nostril untuk menjaga pembentukan adhesi intranasal. nasal endotracheal tube dapat diletakkan pada posisi atau dilakukan trakheostomi. Ini mungkin perlu untuk merubah nasal endotracheal tube menjadi oral endotracheal tube sebelum reduksi nasal. Plate silastik ini dipertahankan dengan menjahitkannya bersama-sama melalui kulit sedikit di belakang kolumela dan dipertahankan selama 10 – 14 hari4 308 .Gambar 10 : Trauma nasal dari anterior. a. Daya sedang menimbulkan depressi pada septum dan piramid nasal.

309 .

kecuali terjadi fraktur nasoethmoid yang parah. Perluasan disrupsi struktur nasal sehubungan dengan arah dan derajat kekuatan trauma jarang diperhitungkan. Gambar 11 : Trauma nasal lateral menunjukkan adanya displaced fracture pada bagian tengah bawah tulang nasal kiri dan tepi anterior prosesus frontal kiri tulang maksila disertai dengan pembengkokan tulang septum4 310 . Setengah bagian bawah atau sepertiga dari tulang nasal yang biasanya mengalami fraktur. Dasar dari piramid hidung jarang sekali terlepas dari tulang frontal. Pada waktu eksplorasi biasanya menunjukkan bahwa dasar piramid tetap intak meskipun terjadi displacement yang hebat ke ruang interorbita 4. Kemudian hidung dirawat dengan cara sederhana dan hasil akhirnya mungkin akan jauh dari yang diharapkan. meskipun pada mulanya tampak cukup baik4. trauma ini adalah yang paling sering pada skeleton fasial dan menurut Schroeder (1481). Salah satu konsep yang selalu salah tentang fraktur nasal adalah terjadinya pelepasan dan displacement tulang nasal. 50 % fraktur pada tulang fasial terpisah dari fraktur pyramid Fraktur nasal sering kali dirawat dengan penilaian preoperative yang tidak adekuat.BAB III PEMBAHASAN Menurut Christian (1476).

hasilnya akan menjadi lebih baik. Septum sering kali tidak tetap lurus setelah dilakukan manipulasi dan piramid hidung pada garis septum yang mengalami distorsi. Stranc menekankan pada perawatan fraktur nasal bidang dua. Tetapi Harrison (1474) menemukan bahwa suatu pola dari suatu fraktur septum dan displacement yang diindentifikasi adalah disebabkan karena manipulasi yang kurang baik. dan vertikal posterior. Kemudian mereka menyimpulkan pada percobaan klinis. bahwa eksisi pada daerah cartilage pada sisi septum yang mengalami fraktur berbentuk C akan menghasilkan hasil yang lebih baik. Alasan mengapa distorsi tampak progresif dari kartilago septum dijelaskan oleh Fry. Penempatan manipulasi tertutup dari fraktur hidung masih menjadi pertanyaan. dan 50 % berfungsi normal dalam jangka waktu lama. Fraktur berbentuk C dari tulang dan kartilago dimulai dari bawah dorsum hidung berjalan ke posterior melalui perpendicular plate dari ethmoid. Harrison menganjurkan pada fraktur nasal horizontal bagian bawah. Harus tetap diingat. dari 107 fraktur hidung yang dirawat dengan manipulasi tertutup. bahwa meskipun jarang. Mereka mempelajari mekanisme fraktur nasal dengan meneliti fraktur nasal pada kadaver dan menyimpulkan bahwa tulang nasal yang mengalami deviasi lebih dari setengah lebar jembatan. yaitu pelepasan dari tegangan internal yang terkunci. harus dilakukan reseksi submukus primer agar tidak terjadi kolaps pada garis jembatan kartilagenous4. kartilago lateral dan septum nasal dapat terjadi dislokasi tanpa disertai fraktur tulang nasal4. ada suatu fraktur berbentuk C yang terjadi bersamaan dari tulang dan cartilaginous septum. dari hasil penelitian retrospektif menunjukkan bahwa. Menurut Stell (1480). sebaiknya dilakukan reseksi submukus pada septum nasal dan jika ini dilakukan pada waktu perawatan primer. hanya 30 % yang menunjukkan penampilan yang normal.Posisi dan integritas komponen kartilagenus dari rangka nasal harus selalu ditetapkan. kemudian ke inferior melalui vomer terminate dengan suatu 311 . Pengertian yang lebih jauh lagi dari mekanisme dan perawatan fraktur nasal dibuat oleh Murray (1484). Harrison adalah orang yang pertama menemukan bentuk C fraktur septum ( C-shaped fracture).

yaitu pada 2. tetapi harus hati-hati agar tidak terlalu caudal dari tulang nasal atau terlalu dalam karena akan dapat merubah profil.5 cm posterior dari kolumela. Pita gauze lembut yang dimasukkan pada nasal adalah merupakan stabilisasi yang kurang baik dan packing yang berlebih pada hidung sering kali menyebabkan distorsi dari reduksi yang diinginkan. Tulang nasal dimanipulasi dan suatu pack ( light pack) dimasukkan ke dalam nostril4. Kemudian dilanjutkan sampai pertemuan ethmoid dan tulang nasal. Light packing pada hidung sebaiknya hanya digunakan untuk mengkontrol epistaksis setelah 312 . Suatu reseksi yang terbatas dari septum kemudian dibuat dengan melakukan suatu eksisi tipis dari kartilago dan tulang pada sisi yang terdapat fraktur C dan diangkat paling sedikit 1 cm dari plate perpendicular dari ethmoid. Menurut Murray. salah satu faktor yang menyebabkan hasil yang tidak memuaskan dari manipulasi fraktur nasal adalah tidak adanya dukungan nasal internal setelah reduksi. Kemudian mukoperichondrium dibuka dan biasanya garis fraktur berbentuk C akan segera dapat terlihat. Gambar 12 : Skema menunjukkan garis fraktur dengan displacement yang berat disertai fraktur septum berbentuk C4 Untuk operasi pada septum mereka menganjurkan melakukan suatu insisi vertical di posterior. Kartilago dipisahkan dan sisi kontralateral disingkapkan.curve anterior pada kartilago septum 1 cm di atas puncak maksila dekat dengan sudut vomerine4.

Metoda manipulasi hidung dibawah anestesi lokal telah dijelaskan sebelumnya. Hidung harus dibersihkan dari semua debris dan gumpalan darah dengan suction. Septum dimanipulasi dengan Asch’s septal forceps. Instrument yang biasa digunakan adalah Walsham’s forceps. Sebelum melakukan reduksi fragmen nasal yang mengalami displacement. informasi tambahan akan lebih diperoleh dengan inspeksi intranasal dengan bantuan speculum dan lampu kepala ( head light).manipulasi tulang nasal. 313 . Ronsen foto harus diambil dari dua arah untuk kepentingan diagnosis dan rencana metoda reduksi. dan Asch’s septal forceps4. Pengggunaan plaster eksternal atau Paris splint tidak akan mendukung fragmen nasal. Fragmen tulang yang hilang harus diambil and mukoperikhondral harus tampak jelas. Pada tahap ini. metode yang telah dijelaskan di atas akan lebih baik menggunakan anestesi umum. Septum nasal kemudian diperiksa. Rotasi ke arah medial atau lateral yang akan menjauhkan atau mendekatkan fragmen fraktur pada tulang nasal4. Paruh yang lebih kecil dari Walsham’s forcep dimasukkan ke dalam lubang hidung dan paruh yang lebih besar (dilapisi dengan karet lembut untuk melindungi kulit) yang terdapat pada eksternal untuk memegang sisi luar hingga dapat memegang dan mengangkat hidung ke arah medial canthus dan sejajar dengan proses frontal tulang maksila. Kebanyakan fraktur nasal sederhana tidak memerlukan aplikasi splint eksternal setelah dilakukan reduksi4. yang digunakan untuk memanipulasi tulang nasal dari prosesus frontal maksila. Paruh forceps pertama-tama dimasukkan pada dasar hidung dan sisi yang lainnya pada septum dan dengan tekanan gentle digunakan untuk mengembalikan cartilage septum. operator harus mempunyai gambaran yang jelas mengenai apa yang seharusnya akan dilakukan. Penilaian klinis dan radiografis preoperative yang sangat hati-hati adalah suatu syarat untuk keberhasilan perawatannya. Pangkal hidung harus dipegang di antara jari telunjuk dan ibu jari tangan yang berlawanan yang juga digunakan untuk menambah stabilitas pada kepala terutama pada waktu melakukan manipulasi4. Kemungkinan dapat terjadi relaps dengan resolusi dari pembengkakan jaringan disekitar jaringan yang disebabkan fiksasi yang buruk dari splint plaster.

Tang Rekonstruksi Nasal4 PEMERIKSAAN RADIOLOGIS DAN DIAGNOSTIK Penegakan diagnosis selain dari temuan klinis dilakukan dengan bantuan pemeriksaan penunjang. 2. CT scan masih merupakan pemeriksaan imaging yang dipilih untuk evaluasi trauma orbita karena kemampuannnya untuk melihat detail 314 . prolaps isi orbita. antara lain yaitu : 1. 3.Kemudian paruh dapat diputar ke kiri atau ke kanan dengan memegang septum sepanjang garis jembatan dan tarikan dapat dilakukan untuk elevasi nasal bridge4. Paling umum digunakan adalah proyeksi Cadwell dan Waters. Proyeksi Caldwell memperlihatkan visualisasi dasar orbita dan prosessus zygomatiko-orbitalis diatas densitas petrosus pyramidalis. dan tingkat cairan udara dalam sinus maksilaris. Gambaran yang lebih luas dari orbita bisa didapatkan dari proyeksi waters. Proyeksi ini menempatkan petrosus piramidalis di bawah sinus maksilaris sehingga memudahkan evaluasi dasar orbita. Foto AP orbita biasanya diambil dengan berbagai variasi angulasi sinar. Walsham forceps dan Ash Forceps Gambar 13.

CT Scan dalam mengevaluasi fraktur 4 KOMPLIKASI FRAKTUR ORBITA Fraktur orbita akan menyebabkan beberapa komplikasi dan permasalahan. Enophthalmus.1.2 Jika CT scan mempunyai hasil yang samar-samar saat mengevaluasi pasien yang dicurigai terjadi entrapment. di antaranya adalah : 1. Jika terjadi enophthalmus lebih 315 . Fraktur dasar orbita dapat mengakibatkan penambahan volume orbita dan keadaan ini mengakibatkan enophthalmus. dilakukan test forced duction.struktur tulang. test ini dapat menghasilkan konfirmasi klinis yang penting mengenai adanya otot atau jaringan yang terperangkap. walaupun MRI bisa memperlihatkan detail regio orbita dengan sangat halus. 1 Gambar 14. Menilai secara langsung kemampuan atau ketidak mampuan lebih jauh mata saat pasien disuruh melirik ke atas.

tetapi pada kasus yang lain. perawatan harus ditunda sampai sepuluh hingga dua belas hari agar pembengkakan dan luka memar menjadi lebih reda. Perawatan fraktur nasal bertujuan untuk memperbaiki dan mengembalikan fungsi dan etetik.dari 2 mm. Bola mata juga dapat melesak atau hipo-ophthalmik dibanding sisi kontralateralnya. Jika fraktur berhubungan dengan fraktur sepertiga wajah yang lainnya. menyebabkan diplopia. dapat terjadi emfisema orbita karena adanya hubungan dengan sinus maksilaris serta bisa juga disertai perdarahan orbita. Bola mata dapat menjadi robek.1 WAKTU PERAWATAN Waktu perawatan fraktur nasal masih terdapat kontroversial. Emfisema. Perawatan yang paling baik adalah pada waktu tiga jam pertama saat terjadi trauma.7 hari. keadaan ini mengakibatkan ketidakseimbangan. Fraktur nasal yang terpisah dapat dapat dilakukan reduksi dalam waktu 24 jam pertama. Keadaan ini mengakibatkan terhambatnya pergerakan ke atas dari bola mata. maka komponen hidung harus direduksi bersamaan dengan fraktur lainnya4. Waktu dan perlunya intervensi bedah pada perawatan fraktur dasar orbita murni masih dalam perdebatan. 3. maka sebaiknya penanganan dilakukan 3 . namun trauma yang tidak begitu berat hanya akan mengakibatkan hyphema atau edema retina. Waktu perawatan ini sangat penting oleh karena fraktur nasal lebih dari 10 hari akan mengalami penyembuhan tulang dan kemungkinan memerlukan tindakan termasuk rhinoplasty . Kebanyakan literatur mendukung waktu dua minggu untuk perbaikan sehingga mencegah fibrosis. untuk mencegah terjadinya pembengkakan yang lebih besar.1 III. kontraktur dan 316 . Diplopia. 2. jika ini tidak memungkinkan. Biasanya. Otot rektus inferior atau jaringan orbita dapat terperangkap dalam lokasi fraktur.

dengan menggunakan pita gauze yang dilapisi dengan paravin/ flavine emulsion atau bismuth iodoform paraffin paste (BIPP). Tehnik ini tidak mempunyai support intra nasal anterior posterior. Pack ini harus tetap dipertahankan selama 2 – 3 hari. Splint Intranasal 1. tetapi juga merupakan penyebab terjadinya masalah pada telecanthus jika pemasangan pack terlalu berlebihan sehingga menimbulkan terjadinya fraktur lain pada prosessus frontal maksila. Suport intra nasal yang adekuat tidak akan diperoleh dengan teknik ini untuk menstabilkan hidung4. yang mungkin dapat menimbulkan konsekuensi serius berhubungan dengan CSF rhinorrhoea. 1. Beberapa ahli sering menunggu beberapa hari supaya edema dan perdarahan sudah tidak ada sehingga didapat penilaian yang baik terhadap enopthalmus dan fungsi otot ekstraokuler. Metode ini sebaiknya hanya digunakan sebagai hemostasis pada periode awal operasi dan sebagai support awal pada reposisi tulang nasal dimana pada septum nasal tidak terjadi fraktur.2 METODE IMOBILISASI A.terperangkapnya jaringan. Ribbon gauze Metode ini sering kali dianjurkan sebagai metoda yang adekuat dan standar untuk memperoleh dukungan internal pada fraktur nasal.2 III. keadaan ini mungkin disebabkan oleh tidak adanya tekanan dari eksternal. Pada kasus dimana terperangkapnya tarikan rektus inferior. 317 . Sayangnya metode ini tidak hanya menutup jalan nafas tetapi juga merupakan sumber infeksi yang potensial. Gauze ini secara hati-hati dimasukkan kedalam lubang hidung dengan bentuk lapis demi lapis dan penting untuk diperhatikan pertama-tama menempatkan pack pada nares superior sepanjang garis jembatan (bridge-line)4. perawatan harus dilakukan lebih cepat.

Gambar 15: Ribbon gauze4 2. 318 . yaitu untuk mendapatkan support internal yang rigid terutama pada kasus terjadinya kolaps anteroposterior. Metode insersi dan retensi splinting ini seperti gambar yang memperlihatkan tulang nasal dan tepi jaringan lunak tanpa kehilangan palatum keras dianjurkan pada waktu memilih ukuran splint yang cocok4.5875 mm dan pasangan yang sama dibengkokkan membentuk angka 7 dengan diameter yang lebih lebar pada posisi datar. Splint terbuat dari bahan stainless steel 3. Stainless-steel intranasal splint Metoda ini dikemukakan oleh Sear pada tahun 1477.175mm x 1.

Sementara plaster 319 . Metoda ini terutama cocok untuk memperoleh support nasal pada pasien dengan fraktur fasial multiple4. B. kelebihan dibuang dengan tekanan antara cotoon gauze sebelum aplikasi. Bahan ini terdiri dari 4 atau 5 lapis dari potongan 10 cm plaster of Paris bandage yang dilembutkan dengan air.Gambar 16 : Metode insersi dan retensi splint intra nasal untuk memperoleh support internal4 Metode yang sederhana dan memuaskan untuk memperoleh support internal pada hidung. Plaster of Paris Splint Teknik ini dikenal dengan bentuk kupu-kupu. dan sangat membantu untuk memperoleh suatu pola dengan juga menggunakan gauze atau jaconet cut untuk membentuknya dan mengetahui ukuran yang tepat sebelum diaplikasikan. nasal bridge line dan duapertiga bagian atas hidung. Sangat penting untuk diperhatikan bahwa plaster sudah menempel pada kulit dari daerah medial sampai bagian dalam canthus masing-masing mata yaitu dengan memegang antara jari telunjuk dengan ibu jari. Splint Eksternal 1. tetapi pada beberapa kasus tertentu tidak begitu praktis. Kemudian dengan hati-hati dilakukan pemasangan plester pada daerah sekitar kepala dan glabela.

Kemudian lapisan gauze collodion diaplikasikan dan dibentuk sehingga akhirnya splint tercetak hanya pada bagian medial dari bagian dalam canthi seperti yang diterangkan sebelumnya pada splint Plaster of Paris. perlekatan dengan kulit dibantu dengan pemberian Compound Tincture of Benzoin. Terutama pada fraktur nasal yang disertai dengan fraktur ethmoid. Gambar 17: Plaster of paris splint4 2. Sehelai lembaran logam lunak (soft metal) dipotong mengikuti bentuknya kemudian diaplikasikan dan konturnya dibentuk. Ketika pembengkakan mulai berkurang splint akan menjadi longgar dan oleh karena itu harus segera diangkat. lebih baik pada hari ketiga dan keempat atau lebih jika diperlukan. Sudah menjadi standard untuk membiarkan Plaster of Paris selama 7 – 10 hari. Tipe splint eksternal ini sangat memuaskan. Kemudian plaster dilekatkan pada daerah kepala dan pipi dengan bahan Elastoplast atau bahan pelekat lain.mengeras. Kemudian diaplikasikan pada kontur hidung satu persatu. Collodion gauze dan soft metal sheet (Ash’s soft metal sheet-tin/lead alloy) Beberapa lapisan gauze dipotong sesuai dengan ukurannya dan direndam dalam larutan collodion. terutama pada daerah yang dekat dengan mata dan sekitar puncak hidung. biasanya terjadi pembengkakan jaringan lunak pada sekitar hidung4 . terutama pada kasus dengan adanya jahitan luka pada hidung dan glabela Tetapi ini tidak tepat pada kasus dengan fraktur septum pada waktu ini dan pembedahan sekunder 320 . sehingga akan membentuk cetakan dan diperhalus dengan Howarth’s elevator. Ini adalah untuk menjaga agar tidak terjadi luka pada kulit. tetapi ini tidak benar.

Pada kasus dimana terperangkapnya tarikan rektus inferior. Selain itu. Jika keterbatasan ini terjadi dalam 30 derajat dari gerakan utamanya dengan test forced-duction positip dan CT Scan menunjukkan adanya fraktur. Trapdoor atau fraktur anteroposterior dapat ditemukan secara klinis dimana sulit ditemukan secara radiologis. kontraktur dan terperangkapnya jaringan.mungkin diperlukan pada beberapa waktu kemudian. terutama untuk mengatasi obstruksi pada nasal4. 1. harus dilakukan perbaikan yang cepat karena kemungkinan kelainan ini bisa menetap sangat tinggi. Kebanyakan literatur mendukung waktu dua minggu untuk perbaikan sehingga mencegah fibrosis. perawatan harus dilakukan lebih cepat. dengan atau tanpa bersamaan dengan fraktur dinding mesial dan dengan prolaps jaringan orbital. pada fraktur dasar orbita bisa timbul diplopia karena terbatasnya gerakan ke atas dan ke bawah. Keadaan ini biasanya mengakibatkan enophtalmos yang signifikan (lebih dari 2 mm) dan ini merupakan indikasi untuk dilakukannya reparasi. Hal ini harus 321 . Gambar 18: soft metal sheet4 Waktu dan perlunya intervensi bedah pada perawatan fraktur dasar orbita murni masih dalam perdebatan. Beberapa ahli sering menunggu beberapa hari supaya edema dan perdarahan sudah tidak ada sehingga didapat penilaian yang baik terhadap enopthalmus dan fungsi otot ekstraokuler.2 Fraktur dasar orbita melibatkan lebih dari 50 % mengenai lantai.

melalui pembukaan perkutaneous atau pendekatan transmaksilaris. Akses pada regio ini memudahkan eksplorasi dan membebaskan jaringan lunak yang bergeser atau terperangkap. Selain itu dapat dipergunakan muscle relaxant untuk mencegah spasme muskulus temporal. Dasar orbita bisa dicapai melalui pendekatan konjungtival. jika hal ini terjadi harus segera dikoreksi untuk menurunkan kemungkinan diplopia yang persisten.dipertimbangkan. pendekatan ini dilakukan untuk memperbaiki defek tulang dengan mengambil atau mereposisi fragmen tulang.4 Perawatan orbital fraktur harus terlebih dahulu melakukan dekompresi dengan segera kemudian melakukam rekonstruksi sesuai dengan lokasi dari fraktur. dengan demikian dapat mengembalikan volume orbita dan menghilangkan semua pergeseran struktur jaringan lunak. 1 Koreksi bedah merupakan kontra indikasi pada pasien yang secara medis tidak stabil dan tidak bisa mentoleransi anestesi. Fraktur blow in yang pergeserannya minimal biasanya tidak membutuhkan perawatan selain perawatan yang bersifat konservatif. Selain itu. Aksesnya dapat dilakukan dengan insisi pada bagian blepaharoplasty bagian atas atau melalui laserasi yang terjadi. Fraktur medial orbita 322 . dengan demikian diharapkan dapat memperbaiki semua gangguan motilitas ekstraokuler. hal ini bertujuan untuk perbaikan partisi antara orbit dan antrum maksilaris. Tidak dipergunakannya tranosseus wire tetapi IMF dipertahankan selama seminggu untuk mencegah reduksi yang adekuat dari fragment. Fraktur lateral orbita Penanganan fraktur pada dinding lateral melalui incisi pada subciliary (blepharoplasty) lateral dikombinasi dengan lateral incisi eyebrow . 2.4 Fraktur atap orbita Penanganan fraktur pada atap orbita dianjurkan untuk mengeksplorasi atap orbita dengan menggunakan periosteal elevator sehingga segment fraktur dapat dikembalikan ke posisinya atau menjadi datar dan mencegah cederanya muskulus dan nervus.

Daerah ini sangat tipis khususnya daerah ethmoid. penanganan fraktur pada daerah ini dapat dilakukan dengan pendekatan incisi melalui subciliary dan memberikan kesempatan untuk ekspolarasi dasar orbita. Seperti pada gambar : Gambar 19 : incisi subkonjungtiva3 Gambar 20: Incisi subpalpebra4 323 . Fraktur dasar orbita Dianjurkan untuk mengeksplorasi dasar orbital dengan menggunakan periosteal elevator sehingga segment fraktur dapat dikembalikan ke posisinya atau menjadi datar dan mencegah cederanya muskulus dan nervusAkses masuk pada bagian dasar orbita dapat dilakukan dengan incisi transkonjungtiva dan infraorbita (subciliary dan subpalpebra).

dan polyglactin) Allogenik dura. Material alloplastik : nan absorbable ( Titanium. porous polyetilene.Gambar 21 : incisi subciliary4 Gambar 22 Insisi trans konjungtiva4 Material untuk rekonstruksi fraktur orbita Bahan – bahan material yang biasa dipergunakan adalah : autografts dari tulang. 324 . contohnya tulang kortikal dan kanselous. polylactide. dan teflon) Absorbable (polydioanone. cartilago. silicon.

Hampir kebanyakan defek pada kasus fraktur dasar orbita dapat direparasi dengan implant sintetik yang terbuat dari polyethylene.Gambar 23. Perawatan Pasca Bedah : Segera setelah pembedahan. miniplat metal. Cancellous bone graft lebih disenangi daripada kortikal karena vaskularisasinya lebih cepat dan lengkap. kepala pasien ditinggikan dengan sudut kurang lebih 30 o. juga memiliki aposisi formasi tulang yaitu proses resorbsi dan perbaikan yang baik. Implant Implant myriad tersedia untuk kegunaan rekonstruksi. atau mesh metal. 325 . dan pilihan material biasanya tergantung kepada ahli bedah dan pasiennya. harganya wajar. mesh vicryl. dan tidak merangsang pembentukan jaringan fibrous. mudah ditempatkan pada struktur di sekitarnya. Alternatif lain dapat digunakan tulang autogenous dari dinding maksila atau calvarium. silicon. tidak akan mengalami ekstrusi. Kemampuan visual dan fungsi pupil dinilai setiap 15 menit selama 1 jam pertama dan kemudian setiap 30 menit. Auto bone graft merupakan standar kriteria untuk menyediakan kerangka untuk tulang fasial dan dinding orbita. Gambaran pemasangan material rekonstruksi6 Semua material memiliki keuntungan dan kerugian. tidak menjadi tempat infeksi. Beberapa ahli menganjurkan kompres dengan saline dingin di atas mata yang tertutup. Implant yang ideal harus bisa secara mudah diinsersikan dan dimanipulasi.

Demikian juga ekstrusi implant dan enophtalmos yang menetap merupakan sequele postoperasi yang memerlukan intervensi bedah selanjutnya. dan diberikan antibiotik serta analgetik yang adekuat. dan disfungsi otot ekstraokuler merupakan komplikasi yang mungkin bisa terjadi. 326 . neuralgia. Selain itu pasien diinstruksikan untuk mengompres dingin selama 48 jam.2 Seperti pembedahan lainnya komplikasi pada reparasi fraktur dasar orbita bisa berupa perdarahan atau infeksi. 1. Diplopia yang tetap ada atau new onset. dan beraktivitas berat. Pemberian steroid dapat membantu pengurangan pembengkakan.Setelah operasi pasien dilarang untuk meniup lewat hidung. Kehilangan kemampuan penglihatan merupakan komplikasi yang serius berkaitan dengan reparasi kelainan ini.

tetapi sering dianggap tidak terlalu berpengaruh. maka akan diperoleh hasil yang lebih baik dan lebih memuaskan pasien.BAB IV KESIMPULAN Fraktur nasal sering terjadi pada fraktur tulang fasial. Fraktur orbita bisa terjadi bersamaan dengan fraktur pada daerah wajah lainnya. Pendekatan bedah pada kasus-kasus yang diindikasikan harus dilakukan dengan hati-hati mengingat kemungkinan komplikasi yang akan terjadi. Jika pendekatan yang dilakukan pada waktu terjadi trauma sama dengan pemikiran kedepan seperti yang dilakukan pada penanganan elektif kosmetik septorhinoplasty. Jenis fraktur ini sering menimbulkan komplikasi berupa enophtalmos. oleh karena itu perlu dilakukan evaluasi radiologis secara seksama. 327 . dan emfisema. namun pemeriksaan klinis terkadang sulit dilakukan karena adanya edema di daerah orbita. Kesimetrisan hidung dan fungsi adalah penting untuk pasien. diplopia. dan perawatan yang tidak tepat dan kurang adekuat akan menimbulkan hasil yang kurang memuaskan.

DAFTAR PUSTAKA

1. Ramirez R.F. 2004. Nasal Trauma. The Thomson Corporation. All right reserved. http://www.ehendrick.com/healty/000561.htm. 2. Fonseca, RJ. et al. 1997. Oral and Maxillofacial Trauma. 2nd edition. Philadelphia: WB. Saunders Co. 3. Pitcock K.J & Bumsted M.R. 1997. Nasal Fractures. In: Raymond J. Fonseca and Robert V. Walker. Oral And Maxillofacial Trauma. Volume II. W.B. Saunders Company. Philadelphia London. Toronto Montreal Sydney Tokyo. p. 775 – 41. 4. Bowerman J.E. 1994. Fracture of the Middle Third of the Facial Skeleton. In: Rowe and William’s. Maxillofacial Injures. Second Edition. Churchill Livingstone. Edinburgh London Madrid Melbourne New York Tokyo. p. 541- 604. 5. Moore, K.L., Arthur F. Dalley II. 1999: Clinically Oriented Anatomy. 4 'h ed. Lippincott Williarli"s & 1Nilkins 6. Archer, H. W. 1975. Oral and Maxillofacial Surgery. 5th ed. Toronto : W. B. Saunders Company. 7. Booth, P. W. et al. 2003. Maxillofacial Trauma and Esthetic Facial Reconstruction. 1st ed. Edinburgh: Churchill Livingstone. Edinburgh. 8. Cohen, AJ. Facial Trauma, Orbital Floor Fracture (Blow out). Available at www.eMedicine.com. Last updated on March 7th 2005. 9. Williams, J. L. 1999. Maxillofacial Injuries. 1st ed. Edinburgh : Churchill Livingstone.

328

Fraktur Panfasial

Yudi Wijaya 160121120002

Peserta PPDGS Ilmu bedah mulut dan Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Abstrak : Regio maksilofasial terbagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama adalah wajah yang bagian atas, Bagian kedua adalah daerah tengah wajah atau midface. Midface dibagi menjadi bagian atas dan bagian bawah. Midface yang bagian atas bila terdapat fraktur Le Fort II dan Le Fort III dan/atau fraktur tulang nasal, fraktur nasoetmoidal atau kompleks zygomatikomaksilari dan fraktur dasar orbita. Fraktur Le Fort I bila fraktur terdapat pada bagian bawah dari midface. Bagian yang ketiga dari regio maksilofasial adalah wajah bagian bawah, bila fraktur hanya terdapat pada mandibula. Fraktur panfasial adalah fraktur yang terjadi pada daerah wajah yang meliputi sepertiga atas, sepertiga tengah dan sepertiga bawah yaitu meliputi fraktur pada regio frontal, kompleks nasalis, kompleks orbitalis, kompleks zigomatikus, maksila dan mandibula. Prinsip umum untuk penatalaksanaan fraktur panfasial yaitu dengan tehnik bottom to top (dari bawah ke atas) atau top to bottom (dari atas ke bawah).

Kata kunci: Fraktur panfasial, bottom to top , top to bottom

329

BAB I PENDAHULUAN

Pada mulanya dokter gigi dilibatkan pada perawatan trauma rahang karena mereka menguasai pengetahuan tentang gigi dan oklusi. Perawatan yang terdahulu hanya terdiri atas fiksasi gigi pada oklusi sentrik untuk mengurangi dan mengimobilisasi suatu rahang. Sekarang ini dasar pemikiran perawatan fraktur pada daerah maksilafasial tidak banyak berubah, hanya tekniknya yang berkembang pesat. Diagnosis didukung dengan adanya teknik radiografis yang berkembang dengan pesat. Fraktur-fraktur yang pada jaman dahulu tidak dapat dikenali sama sekali atau hanya bersifat dugaan sekarang ini bisa ditunjukkan sampai hal yang terkecil.1 Regio maksilofasial terbagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama adalah wajah yang bagian atas, bila fraktur melibatkan sinus dan tulang frontal. Bagian kedua adalah daerah tengah wajah atau midface. Midface dibagi menjadi bagian atas dan bagian bawah. Midface yang bagian atas bila terdapat fraktur Le Fort II dan Le Fort III dan/atau fraktur tulang nasal, fraktur nasoetmoidal atau kompleks zygomatikomaksilari dan fraktur dasar orbita. Fraktur Le Fort I bila fraktur terdapat pada bagian bawah dari midface. Bagian yang ketiga dari regio maksilofasial adalah wajah bagian bawah, bila fraktur hanya terdapat pada mandibula. Insidensi trauma maksilofasial terutama yang berhubungan dengan kecelakaan kendaraan bermotor. 2 Trauma yang mengenai wajah dapat menyebabkan diskontinuitas dari jaringan lunak wajah maupun jaringan kerasnya. Fraktur yang terjadi pada daerah wajah yang meliputi sepertiga atas, sepertiga tengah dan sepertiga bawah yaitu meliputi fraktur pada regio frontal, kompleks nasalis, kompleks orbitalis, kompleks zigomatikus, maksila dan mandibula disebut dengan fraktur panfasial. 2 Fraktur ini biasanya disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas, kecelakaan kerja, kecelakaan olah raga dan lain-lain.2,3 Penelitian pada tahun 2008 di

330

Amerika Serikat, penyebab utama fraktur panfasial adalah perkelahian (36%), kecelakaan kendaraan bermotor (32%), jatuh (18%), olahraga (11%), kecelakaan kerja (3%), dan luka tembak (2%). 2 Lebih banyak terjadi pada laki-laki dewasa muda, perbandingan laki-laki dan wanita adalah 4:1.4

331

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi Kraniofasial Tulang-tulang kraniofasial terdiri atas 22 tulang dengan dikelilingi oleh kavitas-kavitas yang berbeda yaitu kranium, orbita, sinus, hidung dan mulut. Tulang-tulang kraniofasial terdiri atas tulang yang memiliki ketebalan berbeda. Tulang-tulang yang tebal berhubungan dengan tulang- tulang berdinding tipis. Tulang dengan struktur yang tebal disebut sebagai 'buttress' yang menopang/penyangga proporsi kraniofasial dalam proyeksi antero-posterior. 2 Banyak penulis membagi buttres wajah dalam dua bidang yaitu bidang vertikal dan bidang horizontal. Buttres vertikal meliputi buttress nasomaxilaris pada medial,, zigomaticomaxilaris pada lateral, dan pterigomaxilaris pada posterior. Buttress nasomaksilaris meliputi prosessus maksilaris dari frontalis dan prosessus frontalis dari tulang maksila, meluas ke lateral sampai rima piriformis. Buttress zigomaticomaxilaris terdiri dari prosessus zygomatikus dari tulang frontal, rima orbita lateral, tulang zygomatikus lateralis, dan prosessus zygomatikus dari tulang maxilla. Buttress pterigomaksilaris terdiri dari lempeng pterigoid dari tulang sphenoid dan tuberositas maksilaris. Ketiga buttress ini menghasilkan suatu sistem penyangga unit-unit fungsi pada oral, nasal dan orbital. Pada umumnya buttress zygomaticomaksilaris dan buttress nasomaksilaris dilakukan rekonstruksi, tapi buttress pterigomaksilaris tidak dilakukan rekonstruksi karena tidak dapat diakses. 2,4 Buttress horizontal sering juga disebut dengan anterior posterior buttress. Buttress ini meliputi buttress frontal, zygomatik, maxilaris dan mandibular. Buttress frontal terdiri dari rima supraorbital, dan regio glabelar. Buttresss zygomatik terdiri dari zygomatic arch, zygomatic body, dan infraorbital rim. Buttress maxila dan mandibula terdiri dari basis maxila dan lengkung tulang mandibula.4 Keseluruhan buttress ini secara bersama-sama memberikan integritas tulang wajah. Tulang-tulang yang pada umumnya lebih tebal ini berfungsi untuk

332

menetralisir kekuatan pengunyahan dan benturan. Dengan reduksi yang tepat kita dapat merekonstruksi tinggi, lebar dan proyeksi wajah. 2,3

Gbr.1 Buttress vertikal dan horizontal.1

2.2 Klasifikasi Fraktur Panfasial Gruss dkk (1989) membagi fraktur panfasial menjadi tiga kelompok yaitu: 3 1. Fraktur kraniofasial sentral Fraktur terjadi pada bagian sentral yang memisahkan buttress fasial dari basis kranial anterior. Variasinya meliputi tulang frontal dan atap orbital dan sinus frontalis. Pada trauma yang ekstensif terjadi perluasan ke arah vertikal melalui sepertiga tengah wajah dan bagian tengah mandibula. 2. Fraktur kraniofasial lateral Fraktur ini mengakibatkan kerusakan pada buttress fasial lateral yaitu tulang frontozigomatikomaksilaris dengan perluasan ke arah posterior pada sayap tulang sphenoid, temporal dan parietal. Komplikasi intrakranial lebih jarang terjadi, namun perluasan ke bagian bawah wajah lebih sering terlihat 3. Kombinasi fraktur sentral dan lateral

333

Trauma yang ekstrim akan menghasilkan kehancuran elemen fasial sentral dan lateral disertai dengan fraktur sepertiga tengah wajah, mandibula, kondilus dan trauma intrakranial. Kerusakan dapat meliputi kerusakan pada otak yang lokal maupun difus dan diskontinuitas dasar fosa kranial anterior.

334

Perawatan Definitif a. ABC (Airway. Stabilisasi fraktur d. Menghentikan perdarahan eksternal c. Tranportasi cepat (Ambulatory) 2. Sehingga tahap-tahap penangannnya bersamaan dengan penanganan trauma yang lainnya. Perawatan non operatif c. Nutritional support 5. Circulation) b.3 Penatalaksanaan Pada umumnya penderita dengan trauma oromaksilofasial terjadi bersamaan dengan trauma pada bagian tubuh yang lain (trauma multiple). Mempertahankan jalan napas b. Radiografi c. Diagnosis dan penanganan sekunder a. Pemeriksaan Laboratorium d. Resusitasi dan pananganan primer a.Penanganan yang dilakukan sebelum dibawa ke rumah sakit a.BAB III PEMBAHASAN 2. Adapun tahap-tahap penanganan trauma adalah sebagai berikut: 6 1. Pembedahan b. Pemeriksaan fisik menyeluruh b. Resusitasi cairan c. Breathing. Resusitasi dan pemantauan lanjut 4. Rehabilitasi 335 . Stabilisasi tulang belakang e. Pemantauan 3.

daerah supraorbital ridge dan pangkal hidung.6 Pemeriksaan penunjang seperti CT Scan pada negara maju telah menggantikan peranan radiologi konvensional. CT Scan dua dimensi dengan potongan 336 . 2.3 Pemeriksaan fisik harus dilakukan secara sistematis yaitu dengan metode inside out and bottom up yaitu meliputi inspeksi dan palpasi dari dagu hingga kepala serta dari intraoral dan ekstraoral untuk dapat mengidentifikasi luka pada jaringan lunak.1 Evaluasi Evaluasi dimulai dengan menilai jalan nafas.3 Setelah pasien dalam keadaan stabil dan bebas dari trauma tulang spinal servikal.5 Pemeriksaan intraoral dilakukan untuk melihat adanya memar dan laserasi jaringan lunak maupun adanya kehilangan jaringan. pernafasan dan sirkulasi serta tingkat kesadaran (ABC trauma management). Informasi yang lengkap meliputi keadaan wajah penderita. Dalam mendiagnosa fraktur panfasial dibutuhkan data riwayat trauma yang seksama. Perhatian segera yang ditujukan pada kasus berat adalah penatalaksanaan 'life-support' yang tepat dan penilaian komplikasi intrakranial dan ekstrakranial. Perhatian utama harus ditujukan pada daerah nasoethomid. mata dan prosesus kondilus. kesimetrisan dan ketinggian wajah. oklusi dan fungsi sebelum terjadi trauma amat dibutuhkan. pergerakan abnormal pada mandibula dengan palpasi pada daerah external auditory canal dan menginstruksikan pasien untuk membuka dan menutup mulut. tulang. Selain itu juga untuk mengevaluasi adanya fraktur segmental maupun sagital pada maksila maupun mandibula serta dentoalveolar.2. pemeriksaan fisik dan evaluasi radiografis yang baik. Evaluasi pertama dapat dilakukan dengan data radiologis seperti Water's.3. Hal ini dapat diperoleh melalui data fotografi dan rekam medis dental.2. Adanya fraktur pada kondilus dapat diperkirakan apabila terdapat krepitus. Pada observasi klinis akan terlihat adanya pembengkakan pada wajah yang difus. luka memar laserasi pada tonjolan tulang seperti dahi. palatum. Deformitas pada tulang seringkali terlihat dengan hilangnya proyeksi hidung dan gangguan pada proyeksi midfasial. evaluasi terhadap regio maksilofasial dapat dilakukan. gigi geligi dan neurovaskular.

2 Tata laksana Manajemen pasien dengan multiple displaced dan fraktur comminuted sangatlah menantang tidak saja pada ahli bedah yang belum berpengalaman nemun juga pada ahli bedah yang sudah berpengalaman. Pasien dengan fraktur panfasial 2 Gbr 3. 1.3. buttress maxilla dan ramus ascenden mandibula.axial akan memberikan informasi penting terhadap perluasan trauma kraniomaksilofasial. CT Scan dua dimensi dengan potongan koronal dan sagital akan memberikan informasi mengenai fraktur pada dinding orbital. Dengan kemajuan tehnologi CT Scan tiga dimensi akan memberikan peran yang lebih baik dalam menentukan keadaan fraktur dalam hal ada atau tidaknya displacement tulang. Akan tetapi. Diagnosa dan rencana perawatan yang tidak tepat akan menyebabkan hasil yang tidak adekuat dan memperlama prosedur bedah. dengan melalui gambaran rontgen 337 .6 Gbr 2. Digital imaging fraktur panfasial 1 2.

7 a. dan regio intercanthal. fraktur tersebut harus dirawat agar didapatkan tinggi dan lebar wajah yang tepat. Jika terdapat fraktur subkondilar bilateral. Kondisi ini dapat menyebabkan melebarnya kompleks facial jika segmen fraktur tidak direduksi dengan benar. ketika terjadi fraktur lefort dengan midpalatal yang masih utuh. lengkung gigi. Solusi untuk mengatasi masalah ini adalah dengan mengembalikan keutuhan maxila dengan melakukan reduksi dan fiksasi fraktur palatal.7 Ketika terjadi fraktur wajah multiple yang melibatkan wajah bagian atas.yang detail. berfungsi untuk mencegah pergerakan lateral yang ekstrem. Perlekatan otot pterigoid lateral pada fovea pterigoideus. 338 . tehnik bone graft serta urutan tahapan bedah yang baik. sutura sphenozigomatik. mereka dapat digunakan sebagai panduan. Masalah utama terjadi jika terdapat fraktur midpalatal dan mandibula yang disertai fraktur kondyle. Mandibula Reduksi simphisis dan/atau ramus mandibula dapat diperoleh melalui pembukaan ekstraoral. Sebagai contoh. mandibula. maxila yang memiliki lengkung yang masih utuh dapat digunakan untuk panduan mendapatkan lebar lengkung mandibula yang tepat. sebagai nerikut:1. tengah dan bawah. b. Jjika terdapat fraktur subkondilar yang disertai dengan fraktur simphisis dan/atau ramus mandibula. Reduksi permukaan bukal dan lingual memungkinkan untuk didapatkannya hasil fiksasi yang lebih baik. akan didapatkan hasil yang optimal. Key landmark yang dapat membantu adalah. Eksposure ini memungkinkan didapatkannya visualisasi langsung dari inferior border mandibula dan sedikit korteks lingual. Pengetahuan akan landmark dan anatomi dapat digunakan untuk rekonstruksi yang tepat pada bagian wajah yang mengalami kerusakan. Lengkung Gigi Ketika salah satu atau kedua lengkung gigi utuh. maxxilary buttress. kan terjadi penambahan lebar wajah. proses rekonstruksi seperti menyusun puzzle. Pendekata ini bisa dilakukan jika fraktur palatal single tanpa kominusi atau avulsi. fiksasi yang baik.

buttress zigomatikus sangatlah penting dalam menempatkan zygoma dan maksila dalam posisi yang tepat. Ketika zygoma telah berada pada posisi yang tepat. perlu dipertimbangkan pencangkokan untuk mengembalikan buttress ini. Restorasi jarak interchantus dengan menggunakan reduksi kompleks naso-orbitoethmoid dapat membantu menentukan lebar wajah. Permukaan kontak yang luas ini sangat penting pada proses reduksi dan fiksasi. Daerah Interchantus Daerah interchantus digunakan untuk mengembalikan lebar midfacial setelah jarak interchantus stabil pada rangka wajah orang dewasa. Reduksi dan fiksasi sutura sphenozygomatik 1 d. Likewise . Jika orbital roof dan orbita lateral superior masih baik. Sutura sphenozygomatikus biasanya nampak pada sepanjang permukaan internal dari dinding orbita lateral. sutura ini dapat menjadi landmark yang penting untuk menempatkan zygoma dan lengkung zygoma pada posisi yang tepat. Gambar 4. Jika terjadi kehilangan tulang yang signifikan pada regio ini. Sutura Sphenozygomatikus Sutura sphenozygomatikus. c. lokasi dari maksila dapat di tentukan.Kondilus mandibula can be reconstitude ramus mandibula untuk mendapatkan tinggi dan lebar wajah. disepanjang permukaan dalam dari didingding orbita lateral adalah key landmark pada reduksi dan fiksasi complex zygomatikomaksilaris. 339 .

7 Tujuan dari perawatan fraktur panfasial adalah merehabilitasi jaringan yang terkena. Defek tulang yang luas atau defek jaringan lunak dapat dipertimbangkan dengan menggunakan rekonstruksi flap yang luas atau graft. Gambaran intraoperatif menunjukkan gambaran fraktur naso-orbitoethmoid. Struktur yang terluka atau terlibat di sepanjang fraktur 3. Luas kehilangan tulang 5. Jumlah kehilangan jaringan lunak. mengurangi rasa sakit. B. Perawatan terhadap jenis fraktur ini sebelumnya sering mengalami kesulitan dalam menentukan waktu perbaikan wajah sehubungan dengan intervensi bedah saraf dan ophtalmologis. Dibutuhkan perencanaan yang baik untuk meminimalkan operasi ulang dan lamanya perawatan di rumah sakit. Pada saat ini perawatan modern unit kraniofasial di negara maju memungkinkan untuk dilakukannya perbaikan kraniofasial dan bedah neurologis dalam merekonstruksi perbaikan fraktur fasial yang multipel dan penutupan fistula kranionasal pada saat yang bersamaan. A. mukosa dan saraf 4.Gambaran klinis penderita dengan fraktur naso-orbitoethmoid dengan jarak interchantus 43mm.Gambar 5. penyembuhan tulang. Defek diskontinuitas dapat dilakukan dengan fiksasi maksilomandibular 340 . serta perbaikan oklusi gigi. meliputi kulit. Keadaan trauma dentoalveolar Perawatan jenis trauma yang kompleks ini merupakan rangkuman dari seluruh perbaikan dari semua fraktur fasial dan kranial yang individual. Lokasi dan luasnya fraktur 2. Sebelum merencanakan perawatan terlebih dahulu perhatikan: 7 1.

Rekonstruksi harus meliputi arah 3 dimensi yaitu vertikal. horisontal dan transversal. plate dan screws. ophtalmologis dan pengelolaan gigi geligi yang adekuat terutama pada pasien dalam keadaan koma dan tidak kooperatif.7 Gbr 6. Beberapa penulis menganjurkan untuk fiksasi primer pada 12-48 jam paska trauma. Pada banyak kasus keterlambatan koreksi seringkali menyebabkan telah terjadinya union pada tulang dan kontraktur jaringan lunak sehingga diperlukan diseksi jaringan lunak yang ekstensif untuk mendapatkan pemaparan tulang yang baik dalam rangka reduksi dan fiksasi fraktur tulang.6 Kunci utama dalam penatalaksanaan fraktur panfasial adalah untuk mendapatkan fiksasi dan stabilisasi yang cukup stabil pada daerah-daerah yang tidak stabil. Selain itu diperlukan osteotomi pada garis fraktur akibat telah terjadinya penyatuan tulang.2. lag screws maupun fiksasi eksternal. Namun dalam jangka waktu tersebut seringkali tidak cukup untuk memperoleh pemeriksaan radiologis. 2 Seringkali pasien tersebut membutuhkan waktu lebih dari tiga minggu untuk pengelolaan life-saving yang ekstensi terhadap trauma ekstrakranial. Cangkok tulang definitif dapat dilakukan pada operasi pertama ataupun kedua. Selain itu adanya rhinorrhoea serebrospinal atau aerocele intrakranial merupakan alasan lain keterlambatan perawatan. Hilangnya gigi geligi akan mempengaruhi hubungan antara maksila dan mandibula. Bone graft pada dinding sinus maksila anterior1 Koreksi definitif pada pasien dengan trauma kraniofasial yang kompleks secara ideal dilakukan dalam 5-7 hari. Terdapat dua prinsip umum untuk penatalaksanaan fraktur panfasial 341 .baik internal dengan intraosseus wiring. Pada periode tersebut jaringan lunak berada dalam keadaan pembengkakan sehingga pengelolaan operatif pada saat itu akan menyebabkan proyeksi wajah dan kesimetrisan wajah sulit dicapai.

Fraktur pada kondilus baik unilateral maupun bilateral memerlukan reduksi segera dan fiksasi internal untuk mempertahankan ketinggian fasial. hilangnya tulang pada tulang kranial dan diskontinuitas pada dasar fosa kranial anterior atau hilangnya titik referensi. 5. Setelah mandibula terkoreksi dengan baik. Selain itu bila basis kranial frontalis diperbaiki dan dilekatkan terhadap tengah wajah dapat menaikkan resiko kerusakan atau perubahan letak terhadap fosa kranialis anterior yang telah diperbaiki. Fiksasi dapat dilakukan dengan menempatkan miniplate secara transversal pada maksila. Bila lengkung mandibula terganggu harus diperbaiki terlebih dahulu.yaitu dengan tehnik bottom to top (dari bawah ke atas) atau top to bottom (dari atas ke bawah). maksila yang mengalami disimpaksi dapat dikoreksi dengan menyesuaikan oklusi pada rahang bawah dan dilakukan fiksasi intermaksilaris. Ketidakakuratan dalam mereduksi dan mereposisi fraktur kondilus akan menyebabkan asimetri wajah.8 Apabila kranium frontalis masih intak atau terdapat fraktur pada fossa kranial anterior atau fronto-orbital bar tanpa adanya kehilangan tulang atau dimana struktur-struktur tulang tersebut di atas telah terekonstruksi dengan kuat.5. pendekatan dilakukan dalam arah bawah ke atas. Namun bila terdapat diskontinuitas pada lengkung mandibula. 5. Perbaikan dapat dilanjutkan dalam arah atas ke bawah dan bertemu dengan segmen maksilomandibula yang telah terfiksasi.2. regio midfasial dapat direkonstruksi dalam arah atas ke bawah.2.6 342 . Hal ini dilakukan agar rekonstruksi pada mandibula dapat menghasilkan hubungan yang intak dalam mereposisi maksila.6.8 Pada tehnik bottom to top.6 Kerugian pada tehnik bottom to up adalah untuk rekonstruksi dilakukan dimulai dari jarak yang cukup jauh dari elemen simetris yang stabil yaitu basis kranial. rekonstruksi dimulai dari mandibula.6 Bila terdapat fraktur sagital pada maksila dilakukan reduksi dan fiksasi untuk mendapatkan kembali lengkung maksila sehingga koreksi terhadap lebar wajah tengah dapat tercapai.

E dan F.Gbr 7. selanjutnya maxiila dapat distabilisasi sepanjang buttress zygomaticomaxilary. Kemudian diikuti dengan reduksi dan fiksasi fraktur subkondil. C dan D. 1 Pada tehnik top to bottom. Tehnik bottom up dan inside out. Kemudian rekonstruksi dilakukan pada bagian dalam 343 . Gruss dan Mackinon (1986) menyarankan untuk melakukan rekonstruksi pertama-tama pada bagian luar rangka fasial (outer facial frame) pada fraktur panfasial yaitu meliputi lengkung zygomatik. A dan B. selanjutnya fraktur naso-orbiethmoid dapat direduksi dan fiksasi pada sutura naso frontalis dan sutura frontomaxilary dan infraorbital rim serta piriform. G dan H. reduksi dan fiksasi zygoma dengan menggunakan panduan sutura sphenozygomatik dan sutura zigomatiko maxilary. penatalaksanaan fraktur panfacial dapat dimulai dengan fikasi maxilomandibular. kemudian fraktur symphisis. kompleks malar dan tulang frontalis.

Kemudian reposisi pada fraktur mandibula dan diakhiri dengan fiksasi intermaksilaris. Selain itu cangkok tulang dilakukan untuk koreksi sekunder bila 344 . Gbr 8. sutura zygomatikofrontalis dan orbital rim.rangka fasial (inner facial frame) atau pada kompleks naso-orbitho-ethmoidal. Setelah itu dilakukan rekonstruksi pada maksila pada Le Fort I dengan menggunakan plat pada buttress. Teknik top to bottom1 Cangkok tulang biasanya dilakukan untuk merekonstruksi dinding orbital dan hidung.

Kebutaan. Deformitas dan obstruksi hidung dan serta 8. 3. 6.4 Komplikasi Komplikasi yang dapat terjadi pada trauma maksilofasial adalah : 1. Maloklusi.dibutuhkan untuk menambah kontur pada regio tertentu dan memperbaiki kesimetrisan wajah. retromandibular atau submandibular. 4. 2. Berkurangnya ukuran proyeksi wajah dalam arah anterior dan posterior. preaurikular. parastesi. Bertambahnya lebar wajah. Selain itu insisi ini dapat memberikan akses yang optimal untuk dapat mereduksi dan memfiksasi fragmen tulang. sulkus gingivobukal.6 Berbagai macam insisi dilakukan untuk mendapatkan pemaparan tulang yang mengalami fraktur dan merekonstruksinya antara lain dengan insisi koronal.5 2. 5. periorbital. Insisi koronal akan dapat memberikan pemaparan yang lebih luas pada tulang kranium dan rangka kraniofasial bagian atas. Kerusakan neurologis seperti adanya anestesi. 7. Kurangnya ketinggian wajah pada bagian posterior. Gigitan terbuka pada bagian anterior ( openbite anterior). insisi pada kelopak mata bagian bawah. 345 .

Prinsip dalam merekonstruksi adalah dengan mereduksi daerah yang anatomi yang memberikan panduan rangka wajah yang maksimal yaitu pada kerangka wajah luar.BAB III KESIMPULAN Penatalaksanaan pasien dengan trauma panfasial memerlukan diagnosa yang cermat untuk mendapatkan hasil yang memuaskan dalam merekonstruksi wajah. reduksi yang cermat dan fiksasi dari fraktur. 346 . Daerah-daerah yang mengalami kehilangan tulang yang luas dapat dilakukan cangkok tulang. Kunci keberhasilan pengelolaan pasien fraktur panfasial adalah dengan mendapatkan lapang pandang yang cukup luas.

Trott. Edinburg: Churchill Livingston 6.com/article/1283471-overview Workup: Facial Trauma. G.medscape. Craniomaxillofacial Trauma. Bos. Basoeseno. Kuttenberger. D.R. Management of Panfacial Fractures 10. http://emedicine.com/article/1283471-overview Facial Trauma. 3. Management of Panfacial Fractures 9. Management of Panfacial Fractures 4. drg. 2005. J.J.medscape. Buku Ajar Praktis Bedah Mulut. Microplates and Screws.A et al. Hard N.net/default Periorbital Fractures 5. Fonseca R.W. Jakarta. Multimedia: Follow-up: Treatment: UTMB Grand Rounds-Maxillary and 347 . http://emedicine. Management of Panfacial Fractures 8.otohns. Panfacial fractures : Planning an Organized Treatment in Harle F. M. Alih Bahasa: drg.J & Simpson D.A. EGC. http://emedicine. Stuttgart. Oral and Maxillofacial Trauma.medscape.DAFTAR PUSTAKA 1.M. 3rd ed. New York: Thieme 7. R.medscape.com/article/1283471-overview Facial Trauma. http://www. Craniofacial Trauma. 1995. and Champy. Facial Fracture in David. Diagnosis and Management.com/article/1283471-overview Facial Trauma. http://emedicine. 2010. Atlas of Craniomaxillofacial Osteosynthesis Miniplates. Berlin: Springer-Verlag 2. 1996. 1990. Pedersen. Purwanto. St Louis: Elsevier Saunders.

Dengan kemampuan penyembuhan yang cepat. fiksasi.Manajemen Trauma Pada Anak-Anak Arismunandar 160121120005 Peserta Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut Dan Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Bandung Abstrak Manajemen trauma oromaksilofasial pada pasien anak-anak sedikit berbeda dengan orang dewasa. Kata kunci : trauma. ukuran bagian tubuh yang lebih kecil dan komplikasi yang minimal menjadi karakteristik tersendiri pada pasien anak-anak. 348 . fraktur. Perlu di perhatikan pada penanganan kegawatdaruratan dan perawatan definitive oleh karena struktur anatomi yang sedikit berbeda dengan orang dewasa. reduksi. anak-anak. Maksud dari penulisan makalah ini adalah untuk memberikan gambaran mengenai manajemen penatalaksanaan trauma pada anak-anak. reposisi.

saat terjadi trauma.2 Faktor-faktor ini juga berkontribusi terhadap rendahnya frekuensi fraktur fasial pada anak-anak dan seringya terjadi greenstick dan nondisplaced fraktur pada anak-anak. pemulihan jaringan orofasial yang rusak dapat dimaksimalkan dan hilangnya fungsi dapat diminimalkan. yang membuat tindak lanjut penanganan jangka panjang pada pasien anak-anak wajib diperhatikan. 1. oleh karena vaskularisasi jaringan yang baik dari wajah. dan stroke volume lebih kecil daripada orang dewasa. cedera pada wajah karena trauma berpengaruh pada pertumbuhan.2 Disamping keuntungan ini. 3 Ukuran tubuh anakanak yang lebih kecil juga berpengaruh. ada karakteristik tertentu dari trauma orofasial pada anak-anak yang harus selalu diingat. akan menyebabkan gaya yang lebih besar per unit masa tubuh. trauma orofasial pada anak-anak tidak dapat dikelola dengan cara yang sama seperti pada orang dewasa. dan adanya lapisan adiposa yang menutupi kerangka lebih tebal daripada pada orang dewasa. darah total yang lebih rendah volume. mereka lebih rentan menghadapi resiko hipotermia. Kedua. tulang lebih elastis.4 Adanya perbedaan antara pasien anak dan dewasa mempunyai dampak terhadap pola trauma pada anak-anak pada umumnya dan trauma maksilofasial khususnya. dan curah jantung. melalui pertumbuhan dan kemampuan yang melekat pada anak-anak untuk beradaptasi. Pertama.3 Oleh karena itu. Ini termasuk anatomi wajah yang belum dewasa. pada pasien anak-anak memiliki keuntungan dari kemampuannya untuk menyembuhkan yang cepat dengan komplikasi yang minimal. Kurangnya sinus pneumatization dan tunas gigi dalam rahang berkontribusi terhadap stabilitas dan rendahnya prevalensi pada fraktur midface . garis sutura lebih fleksibel. oxygen demand. 349 . Pada pasien pediatrik. tingkat metabolisme lebih tinggi. Anak-anak memiliki permukaan yang lebih tinggi-untuk-rasio volume tubuh. Karena faktor ini.BAB I PENDAHULUAN Pasien trauma orofasial pada anak-anak berbeda dari orang dewasa dengan luka yang serupa oleh karena trauma yang terjadi.

3 Dibandingkan dengan orang dewasa.4 350 .3. dengan bertambahnya usia. Perlindungan ''relatif'' wajah oleh tulang tengkorak memberikan informasi bahwa. Ini juga menjelaskan mengapa. anak-anak memiliki rasio cranial to body mass lebih besar. Oleh karena itu maka pemeliharaan jalan nafas. dan resusitasi awal lebih kritis pada anak-anak daripada orang dewasa. pengendalian perdarahan.hipotensi. serta lebih besar insiden cedera tengkorak dalam kelompok usia yang lebih muda. Rasio cranial to body mass diperkirakan 8:1 pada masa bayi dan 2.5:1 pada dewasa. insidensi fraktur midface dan tulang mandibula pada anak-anak lebih rendah. insiden patah tulang rahang midface dan meningkat sedangkan insiden cedera kranial berkurang. dan hipoksia setelah kehilangan darah dan bahkan pembengkakan ringan pada saluran napas atau terjadinya obstruksi mekanis.

anak-anak harus dibedakan berdasarkan usia tumbuh kembangnya. Oleh karena alasan tersebut maka tulang kranium lebih sering terkena trauma sebelum usia ke-7 daripada trauma yang terjadi pada wajah. Secara keseluruhan menunjukkan bahwa. penyebab paling umum cedera pada wajah adalah kecelakaan kendaraan bermotor apakah anak sebagai penumpang atau pejalan kaki.BAB II TINJAUAN PUSTAKA Epidemiologi Etiologi cedera pada wajah bervariasi dengan usia. Tulang kranium kepala besar dan struktur wajah yang relatif kecil. stabilization.4 Prinsip umum penatalaksanaan fraktur (recognition.4 Anatomi Dan Patofisiologi Proporsi wajah anak-anak sangat berbeda dari yang orang dewasa. Infant dikategorikan pada usia kurang dari 1 tahun.1 Dilema sering muncul ketika harus memutuskan perawatan yang terbaik untuk penatalaksanaan trauma orofasial terutama pada pasien anak-anak. 2. Rasio kraniofasial saat lahir adalah 8:1 dan wajah tersembunyi di bawah tulang kranium yang relatif besar. reduction. dan dewasa muda berada pada usia 11-19 tahun.3. & fixation) harus diterapkan disamping tetap mempertimbangkan dampak yang terjadi terhadap tumbuh kembang anak-anak di masa mendatang. Peran dan fungsi rahang sebagai modulator pertumbuhan mandibula tidak terbantahkan.3. Pertumbuhan fasial terus berlangsung sampai pada dekade kedua kehidupan hingga ratio kraniofasila menjadi 2:1. mencapai 80% dari ukuran dewasa pada usia dua tahun. Awalnya. kategori anak-anak berada pada usia 1-11 tahun. Walaupun kebanyakan dokter mengkategorikan pasien yang sedang dalam masa tumbuh kembang sesuai dengan kesar tubuh anak-anak tersebut. kranium tumbuh lebih cepat daripada wajah. Otak dan ocular pertumbuhan hampir selesai pada usia tujuh. Potensi penyembuhan dan remodeling tulang pada anak-anak lebih besar daripada orang dewasa. Pada perawatan IMF yang menghambat tumbuh kembang 351 .

trauma dan bedah akan mengganggu alur makan dan tidur infant.2.4 Anatomi jalan nafas pada pasien anak-anak memiliki saluran yang pendek dan diameter yang kecil serta epiglotis yang sempit serta lidah yang besar pada anak. kesulitan intubasi. harus diperhatikan bahwa jangan sampai tindakan tersebut mempunyai efek terhadap tumbuh kembang wajah akibat penempatan bone plates. Komposisi tulang dengan lebih banyak tulang kanselus menyebabkan kurang kondusif dilakukan screw/ wire fixation untuk internal fiksasi. 352 . jika pemasangan IMF dilakukan untuk jangka waktu yang singkat. Oleh karena alasan tersebut.2 Fraktur greenstick lebih sering dijumpai pada pasien anak-anak oleh karena tulang korteks yang tipis dan meningkatnya bagian medulla tulang menyebabkan tulang tahan terhadap benturan.wajah efeknya bersifat reversible. Selama periode infant. depresi dapat terjadi karena tekanan dari ingatan akan trauma dan kehilangan anggota tubuh dapat menghambat perkembangan mental pada anak. Pada usia yang lebih dewasa. Selama fase mixed dentition mungkin akan sulit didapatkan IMF yang stabil pada perawatan closed dan open reduction. Ketika perawatan open reduction menjadi pilihan. 1.1. screws ataupun wires.3 Psikologi anak-anak Stress trauma dan bedah akan berpengaruh pada psikologi anak-anak. pada anak-anak penyebab umum terjadinya gangguan jantung oleh karena gangguan sekunder pernafasan. rawat inap rumah sakit. Kondisi ini menyebabkan meningkatnya airway resintance. Hampir tidak ada/ jarang ditemukan kasus nonunion pada fraktur fasial pada anak-anak. Aktivitas osteogenic dan bone remodeling yang aktif pada anak-anak menyebabkan fraktur yang terjadi baik pada maksila ataupun pada mandibula yang jika tidak segera dilakukan reduksi dalam beberapa hari maka akan sulit didapatkan reduksi yang adekuat dikemudian hari. Pada anak-anak dan bayi rigiditas dada kurang bila dibandingkan dengan dewasa. dan mudahnya self-extubation. Tidak seperti pada orang dewasa. mudahnya tejadi obstruksi. closed reduction menjadi pilihan solusi penanganan pada kebanyakan fraktur fasial.

6% fraktur orbita. 32 % fraktur orbita pada dasar orbita. 1 Studi yang dilakukan McCoy et al.Post Traumatic Stres Disorder (PTSD) dapat muncul setelah luka pada individu muda yang tidak pernah mengalami luka yang serius ataupun rawat inap pada lingkungan rumah sakit. Fraktur pada midface pada anak-anak ditemukan kurang dari 1% dan 4% disertai variasi fraktur Le Fort I. 11. 51.1 353 . 18% pada atap orbita. 8. 5% dari semua kasus fraktur fasial terjadi pada anak-anak dibawah umur 12 tahun dan kurang dari 1% terjadi pada anak-anak dibawah umur 6 tahun. Walaupun PTSD bukanlah kelainan yang fatal. menemukan 42 % dengan fraktur fasial (6-12 tahun). Pada pasien anak-anak. kemudian diikuti trauma pada ekstremitas. Pada kasus kecelakaan kendaraan bermotor yang terjadi/ melibatkan anak-anak.4% terjadi faraktur nasal. Konsultasi dengan psikiatri dan layanan social lainnya penting untuk menghasilkan kesehatan yang sempurna pada anak-anak. Perawatan khusus harus diberikan untuk menjaga keadaan mental pasien anakanak. menemukan bahwa 40% kasus fraktur fasial berkaitan dengan fraktur kranium. Analisa yang dilakukan Rowe pada 1500 kasus fraktur fasial ditemukan bahwa. 19% pada dinding media. Insiden Fraktur Fasial Fasial fraktur pada anak-anak jarang terjadi pada anak-anak. 15. trauma kepala sering menyertai fraktur fasial. Posnick et al mendapatkan dari 137 pasien.7 fraktur zygoma dan maksila.5% fraktur mandibula. keadaan ini dapat memicu pertumbuhan mental pasien kea rah yang tidak wajar.

Kemungkinan terjadi kehilangan cairan pada kondisi adanya luka terbuka. dan hipotermi adalah tanda-tanda shock dan memerlukan segera resusitasi cairan dengan cairan intravena yang hangat untuk mengembalikan ke kondisi semula. respiratory compromise. leher dan mulut harus dikontrol dengan penekanan dan dilakukan penjahitan bila perlu. dapat membahayakan saluran pernafasan pada anak-anak dengan trauma maksilofasial. muntah. wajah. pencegahan terjadinya aspirasi. Mulut dan pharynx harus terbebas dari kotoran dan intubasi dilakukan jika diperlukan.BAB III PEMBAHASAN Manajemen Kegawat-daruratan Pemeliharaan jalan nafas. fragmen fraktur mandibula. Pembengkakan karena trauma maksilofasial. berkurangnya nadi perifer. Perdarahan dari kulit kepala. Perubahan status mentalis. Stabilisasi tulang servikal sampai kondisi dinyatakan clear. Kebutuhan cairan pada anak-anak terdiri dari maintenance dan replacement. Maintenance terapi untuk mengkompensasi kehilangan cairan insensible (paru & keringat) dan sensible (urine & stool). delayed capillary refill.4 Cairan Dan Elektrolit Resusitasi cairan merupakan komponen penting pada manajemen perioperatif pada pasien trauma anak-anak. Untuk terapi maintenance dikalkulasikan dengan estimasi caloric expenditure dari berat badan dan luas permukaan tubuh. Jika diduga dehidrasi moderate maka maintenance awal 5mL/ Kg per jam selama 2 354 . resusitasi cairan dengan 2 cateter intravena diperlukan. jika kurang dari 6 tahun. Dengan adanya trauma. diare. akses intraosseus bisa dilakukan sampai akses intravena didapatkan. Kalkulasi terapi maintenance pada anak-anak berkisar 1500 mL + 20 mL/kg untuk berat badan yang lebih dari 20 Kg per hari. kontrol perdarahan dan stabilisasi tulang servikal merupakan langkah utama pada manajemen kegawatdaruratan pada pasien anak-anak dengan trauma orofasial.

5-2 mL/ Kg per jam. yang mewakili 25% volume darah normal pada anak-anak.1.karena tiga kali jumlah crystalloid diperlukan untuk menggantikan volume darah yang hilang. Resusitasi untuk hipovalemia dapat dimulai dengan pemberian crystalloid bolus 20 mL/Kg. Bolus diulang sampai total 60 mL/Kg . pallor. Output urine diharapkan 1-2 mL/ Kg per jam pada anak-anak. poor filling capillary refiil. serta kemungkinan adanya red cell isoantibodies.3 355 . Pada anak-anak dengan multisystem trauma harus dipertimbangkan kemungkinan terjadinya perdarahan. Terapi cairan untuk maintenance biasanya larutan hipotonis dengan konsentrasi Na dan K yang memadai ( 5% dextrose [D5] dengan ¼ NS. Tanda-tanda shock meliputi tachycardia. Ketika kondisi hemodinamik sudah tidak stabil maka perlu diberikan bolus crystalloid fluid. Compatibility test harus dilakukan sebelum dilakukan transfusi untuk menentukan golongan darah dan Rh recipient. dan pre renal azotemia.1. Penggunaan NS bisa memicu terjadinya hipernantremi ketika diberikan untuk maintenance karena kandungan sodium yang tinggi (154 mEq/L) dan juga karena kemampuan bayi untuk mengekskresikan kelebihan sodium berkurang.3 Blood Loss Dan Replacement Tujuan utama manjemen terapi cairan pada anak-anak adalah untuk mengenali dan mengatasi kondisi yang mengancam nyawa dan mengeliminasi kondisi sekunder karena trauma yang terjadi. karena kandungan chloride didalamnya adalah nonphysiologic chloride. Penggunaan cairan hipotonis tidak dianjurkan pada resusitasi karena menyebabkan menurunnya crystalloid osmotic pressure. transfusi PRC 10-20 mL/Kg. Penggunaan cairan isotonis dianjurkan karena aktif secara osmosis dan menyebabkan ekspansi intravascular. Pada kasus trauma pada anak-anak operator harus jeli memonitor kondisi klinis pasien jika sewaktu-waktu terjadi shock dan dibutuhkan resusitasi cairan.jam pertama dan berkurang sampai 1. Serta juga dapat menyebabkan hiperchloremic pada neonates jika digunakan dalam jangka waktu yang lama. D5 dengan ½ NS). Darah merupakan agen yang sangat efektif untuk mengoreksi defisit intravascular.

respiratory failure. atau adanya gigi yang tanggal curigai adanya fraktur rahang. Palpasi regio orbita dan nasal untuk mengetahui adanya deformitas tulang pada daerah tersebut. periorbital ecchymosis. oedema fasial. parestesi wajah. Perhatikan dan observasi tanda-tanda vital untuk menentukan apakah pasien stabil atau dalam kondisi sebaliknya. dan krepitasi yang terjadi. terutama pada pasien dengan trauma midface yang parah. Identifikasi adanya pembengkakan yang terjadi dan kemungkinan terjadinya fraktur pada struktur tulang dibawahnya. massive edema hindari pemberian makan secara enteral selama kurang lebih 3 hari atau lebih. perdarahan hidung. Karena jalan nafas yang relatif sempit maka kemungkinan dampak karena oedem dan pembengkakan semakin besar. berikan secara parenteral. Ketika pasien dalam kondisi severe neurologic injury. kemudian diikuti evaluasi kardiopulmonal. perubahan status mentalis. 356 .Nutrisi Pada pasien anak-anak paska penatalaksanaan tindakan bedah. subconjunctival hemorrhage. Konsultasikan ke neurosurgical jika ada riwayat pingsan. Adanya laserasi atau kontusi pada daerah dagu waspadai kemungkinan terjadinnya fraktur pada kondil mandibula. sering terjadi kondisi hypercatabolic yang memerlukan oral intake yang adekuat untuk mencukupi nutrisi yang dibutuhkan tubuh. Adanya battle’s sign (postauricular echymosis) curigai adanya basal skull fracture. Pada pasien recovery. 1. dan kelainan pergerakan bola mata. Ketika terjadi fraktur orbita lakukan tes visual . Sedasi selama periode tersebut mungkin sangat diperlukan tetapi harus dihindari karena kondisi pasien masih dalam masks neurologoc changes. Adanya deviasi waktu membuka mulut curigai adanya fraktur pada kondil mandibula. rhinorea. subcutaneous emphysema. Adanya kelainan maloklusi. dan identifikasi perdarahan dari rongga mulut. battle’s sign. atau adanya hemotympanum. intake makanan dalam bentuk mechanical diet yang tidak dikunyah atau dalam bentuk cairan jika terpasang IMF. adakah diplopia.3 Pemeriksaan klinis Perhatikan airway.subcutaneous emphysema.

Fraktur Alveolar Fraktur mandibular alveolar pada anak-anak merupakan yang paling sering terjadi pada fraktur fasial.2 Pemeriksaan Radiologi Pemeriksaa radiologi perlu dilakukan untuk membantu menegakkan diagnosa.1 % dan 50. Water’s view dan submental vertex. 1.3 TIPE FRAKTUR 1. 1.Anamnesa yang akurat tentang riwayat trauma pada pasien ataupun pengantar sangat membantu perencanaan tindakan berikutnya. Penggunaan CT-Scan telah menjadi kegiatan rutin dinegara-negara besar dan menjadi standar perawatan menggantikan pemeriksaan radiologi konvensional. Pada fraktur alveolar maksila berkisar antara 5% sampai 65%. schede AP lateral. Panoramic foto merupakan alat diagnostic lainnya yang diperlukan tetapi menuntut kerjasama pasien untuk diam selama berlangsung pemaparan.2. Pada pasien dengan alveolar bone loss dapat dilakukan autogenous bone grafting dengan pengambilan tulang berasal dari mandibular ramus. os mental atau tulang kranial. Town’s projection. Pemeriksaan lengkap pada wajah meliputi.6 % pada trauma fasial pada anak-anak.1 Gambar 1. Prosentasenya berkisar 8. wire ligation serta composite supported orthodontic wire extended pada gigi disekitarnya. Penanganan fraktur alveolar meliputi imobilisasi segmen fraktur dengan arch bar. Fiksasi gigi dengan composite supported orthodontic wire extended1 357 .

untuk mencegah terjadinya aspirasi dari darah karena darah mengalir ke posterior pharynx. Jika terjadi terjadi deviasi septum maka harus dilakukan reduksi. dilakukan setelah 3-4 hari setelah terjadinya trauma. Fraktur Midfasial Fraktur Nasal. bukan hiperekstensi kebelakang. Adanya gangguan pertumbuhan setelah terjadinya fraktur nasal akan menyebabkan penutupan premature dari sutura septovomerine.2. dan jika terjadi deformitas maka harus dilakukan closed reduction. Reseksi pada septal cartilage dapat menyebabkan gangguan Pemeriksaan ulang pertumbuhan wajah. 358 . Fraktur nasal yang terjadi sebelum proses tumbuh kembang selesai harus di perlakukan sama seperti fraktur nasal pada orang dewasa. 1 Splinting eksternal dapat membantu untuk mengontrol pembengkakan dan menyediakan perlindungan pada hidung setelah dilakukan reposisi. dan membiarkanya beberapa saat selama proses penyembuhan. Tulang hidung dapat direposisi dengan pendekatan intranasal. Seperti pada fraktur nasal orang dewasa maka oedema terjadi disekitar struktur os nasalis. Epistaksis sering terjadi menyertai trauma pada hidung dan mudah dikontrol dengan melakukan penekanan pada nostril selama 5-10 menit dengan kepala sedikit ditengadakan. Fraktur nasal sering terjadi pada cedera midfasial anak-anak. Nasal packs dapat digunakan untuk menyangga tulang dan septum hidung yang telah direposisi. dan hal ini harus dihindari. Setelah dilakukan reduksi dengan kaudal traksi.

Hal ini dikarenakan sinus masih dalam perkembangan. dinding lateral. Intervensi bedah pada toothbearing area pada maksila untuk penempatan kawat untuk stabilisasi atau plate meningkatkan insiden terjadinya gangguan perkembangan benih gigi dan sedapat mungkin dihindari. dasar dan sinus frontalis lebih sering terjadi . gigi belum tumbuh dan sinus maksilaris masih belum sempurna. dan jaringan lunaknya lebih banyak jaringan lemak. (B) Setelah reduksi tertutup. Adanya disfigurement wajah.2 Fraktur Orbita.1. prolaps 359 . Pencetakan dilakukan dan pembuatan model. Aperture piriformis dan dinding zygomaticomaxillary tebal . adanya keterbatasan gerak bola mata. kemudian model dipotong untuk memfasilitasi konstruksi pembuatan splint untuk closed reduction.Gambar 2. Jejas pada nasal merupakan fraktur wajah yang sering terjadi pada pasien anak-anak. Fraktur Le fort pada anak-anak jarang ditemui oleh karena maksila pada anak-anak masih tulang kanselus. sebagian besar fraktur pada orbita terjadi pada atap orbita dan meluas ke sinus frontalis. Setelah usia 7 tahun. cedera pada atap orbita. (A) Deviasi ke kanan setelah trauma pada wajah. dan dilakukan pada kondisi tertentu. karena sebagian besar perkembangan orbita telah selesai. Sebelum usia 7 tahun. 1 Fraktur Maksila. Jika terjadi fraktur dan terjadi maloklusi maka dapat dilakukan closed reduction. Penatalaksanaan fraktur orbita pada anak-anak umur 7 tahun ke atas sama dengan penatalaksanaan pada fraktur orbita orang dewasa.

(B) Durante op dengan gambaran impaksi frontal dan rima supra orbita yang memerkukan dilakukannya craniektomi untuk akses dan pebaikan. (A) Edema pada fronto-periorbita dextra dan ekimosis setelah trauma. dasar orbita dan dinding medial dapat dilakukan pendekatan dengan melakukan insisi pada lipatan inferior kantung mata atau melalui transconjunctival approach. dan jika gigi permanen belum tumbuh. Insisi dibuat 7 mm dari tepi bawah kantung mata. dan diseksi dilakukan ke otot orbicularis oculli terus sampai ke bawah pada orbital rim. Gambar 3. Untuk menghindari hal tersebut maka sedapat mungkin kawat atau screw harus ditempatkan dengan posisi cephalic diatas rim. kemungkinan tunas benih gigi akan terkena. Jika dilakukan fiksasi internal maka kawat ditempatkan pada inferior orbital rim. Fraktur fronto-rima orbitalis superior terjadi karena adanya tumbukan yang cepat kearah benda diam. Untuk eksplorasi daerah infraorbital rim. Untuk eksplorasi regio frontozygomatico dapat dilakukan insisi di sekitar alis mata. Karena pada anak-anak lipatan kantung mata belum terbentuk maka insisi bisa dilakukan parallel dengan batas kantung mata dan sedikit bersudut ke inferior hal ini untuk mengurangi terbentuknya jaringan parut.periorbita ke athrum atau sinus ethmoidalis dan adanya diplopia yang persisten merupakan indikasi dilakukan open orbital exploration.2 360 .

Regio ini dapat diakses melalui pendekatan insisi koronal untuk hasil estetik yang memuaskan. Ketika dilakukan open reduction pada daerah ini maka periosteum akan dipisahkan dari tulang orbita dan nasal dan kondisi ini sendiri berpotensial menghambat pertumbuhan wajah. Menurut Ochs MW FR. tapi karena pentingnya harus digaris bawahi karena potensialnya yang bisa menyebabkan gangguan pada pertumbuhan tulang wajah. disamping bisa dilakukan insisi pada nasal dorsum dan juga perluasan insisi dari insisi inferior kantung mata yang meluas ke tulang hidung bagian lateral. Open reduction kompleks pada nasal-orbita-ethmoid dilakukan 4 hari setelah trauma dan dengan gangguan seminimal pada septum nasalis.2 Fraktur Nasal-Orbita-Ethmiodal. Fraktur ini relatif jarang dijumpai pada anak-anak.1. Insisi koronal dilakukan 361 .3 Jika dasar orbita atau dinding medial fraktur maka akan terjadi prolaps bola mata ke anthrum atau sinus ethmoidalis. Pertumbuhan midface tergantung dari pertumbuhan fossa cranii anterior. Orbital trauma.Gambar 4. orbita dan septum nasalis. In: Fonseca RJ. Prolaps yang terjadi harus dikembalikan dan dasar atau dinding harus didukung dengan bone graft untuk mencegah enophthalmus. Potongan cross-seksi dari inferior palpebral dan variasi dari insisi pada dasar.

meliputi pendekatan hemicoronal. Studi terbaru menemukan bahwa penyuntikan botulinum pre-op dapat menahan tarikan otot masseter kearah inferior sehingga mengurangi kemungkinan displacement fraktur post reduction oleh karena tarikan otot masseter. sublabial. Penatalaksanaan pada fraktur ini hanya jika dibutuhkan dan sama seperti pada orang dewasa. Jika terjadi fraktur zygoma kompleks atau Quadrapod yang melibatkan disartikulasi tulang zygoma dengan tulang frontal. Seiring dengan bertambahnya usia tulang zygoma semakin menonjol dan prevalensi kejadian fraktur pada arkus zygomatikus juga meningkat. Jika terjadi maka pendekatan dilakukan melalui intra oral atau Gilles approach.1.dan transconjuctival. Fraktur pada arkus zygoma terjadi dengan prosentase 7. maksilaris. Kadang-kadang insisi meluas sampai ke regio preauricular bila diinginkan lapang pandang yang luas.1 Fraktur Arkus Zygomatikus. sphenoid dan tulang temporal maka reduksi dan reposisi biasanya melalui multiple approaches. tetapi jika terjadi depressed dan comminuted fracture perlu dilakukan open reduction dan fiksasi. Pada fraktur greenstick atau minimal displaced hanya dibutuhkan observasi saja.2 362 .dibelakang hairline pada kulit kepala dan dimulai setinggi dari telinga. Gangguan pertumbuhan oleh karena fraktur ini jarang terjadi.41 % dari seluruh populasi trauma pada anak-anak. Penatalaksanaan pada fraktur ini dilakukan jika terdapat deformitas atau terjadi trismus.

Kelly clamp dapat digunakan untuk mereposisi fraktur ini. Pasien harus latihan buka tutup mulut.Gambar 5. dengan pendekatan insisi pada regio temporalis. keadaan malar dapat dilihat. Fraktur Mandibula Fraktur Kondil. Fraktur pada kondil semasa kanak-kanak berpotensi dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan wajah. (A) Setelah pembengkakan awal. Pendekatan dengan Gilies untuk reduksi arkus zigomatikus2 Penggunaan double ended periostel elevator. Trismus post-op sering terjadi dan akan berkurang dalam dalam beberapa minggu. (B) Post-bedah dengan reduksi intraoral dan pemasangan plat fiksasi2 Gambar 6. memajukan mandibula dan lateral excursion. Fraktur zigomatic dengan defisiensi malar disertai dengan infraorbital (V2) parastesi. 3. Kondil mandibula merupakan daerah yang paling sering cedera dengan tingkat 363 .

keterbatasan pergerakan.5%-60%. maka immobilisasi dilakukan tidak terlalu lama dengan pertimbangan kalau terlalu lama maka akan berpotensi terjadi ankylosis. Goal dari penatalaksanaan pada fraktur kondil mandibula untuk mengembalikan ke simetrisan mandibula. Closed fracture pada kondil dapat dilakukan closed reduction kecuali oklusi normal tidak tercapai. Adanya asimetri maloklusi.insidensi 14. Deviasi terjadi karena pemendekkan ramus. nyeri pada preauricular. Jika fraktur kondil teridentifikasi. deviasi mandibula waktu buka dan tutup mulut. Tanda dan gejala fraktur kondil pada anak-anak sama dengan tanda dan gejala pada fraktur kondil orang dewasa. oklusi . Perawatan. Open reduction dilakukan jika terjadi terjadi displaced segmen kondil pada fossa cranial media atau jika terdapat benda asing. Pada pemeriksaan fisik. dan laserasi submental merupakan pertanda adanya fraktur kondil. Jika posisi mandibula dan oklusi dapat dicapai dan dipertahankan selama 6 bulan . maka pertumbuhan mandibula akan berlangsung secara simetris. tetapi tidak terjadi maloklusi maka tidak perlu dilakukan immobilisasi. Closed reduction dengan IMF elastis dengan kurun waktu 1-2 minggu. dan diet lunak menghambat terjadinya fibrosis dan penyatuan tulang serta mengembalikan stimulasi otot-tulang penting untuk kelanjutan pertumbuhan simetris wajah. Mobilisasi segera. darah pada canalis meatus acusticus. mandibula mengalami deviasi kesisi yang fraktur jika terjadi dislokasi pada proksimal segmen. anterior open bite. terapi fisik. Karena proses penyembuhan yang cepat pada anakanak. pembengkakan. Fraktur pada kondil mandibula dapat dikategorikan fraktur kondil terbuka (capsular disruption) dan tertutup (intracapsular). 364 . dan fungsi tanpa gangguan pertumbuhan dimasa mendatang. Trismus dan keterbatasan membuka mulut merupakan gejala adanya fraktur pada kondil.

Fraktur bodi dam simfisis mandibula pada anak-anak terjadi seiring dengan berkembangnya gigi geligi dan biasanya selalu melibatkan trauma pada rongga mulut. infraorbital. Pada pasien di bawah 2 tahun biasanya hanya di observasi dan diet lunak. Sering terjadi greestick fraktur pada regio ini. Pada fraktur ini penatalaksanaan dengan pemberian antibiotic. circum-zygomatic.2 Gambar 7. Open reduction pada fraktur kondil jarang dilakukan. dan terjadi sedikit displacement. Open reduction pada pasien anak- 365 . dilakukan reduksi. dan stabilisasi dari fraktur. B: 6 tahun.Ketika terjadi maloklusi atau mandibula asimetri serta adanya fraktur kondil. Arch bar dapat dipasang pada gigi sulung dengan bantuan circummandibular. Intervensi bedah diindikasikan jika segmen kondil displaced ke fossa cranial atau adanya keterbatasan gerakan karena posisi segmen fraktur. dan wiring.) 2 Fraktur Bodi Dan Simfisis Mandibula. piriform atau circumzygomatic wires.1. Perbedaan metode stabilisasi dengan arch bar pada variasi umur termasuk circummandibula. C: 12 tahun). maka reduksi untuk mencapai oklusi awal dan posisi mandibula ke posisi awal dapat dicapai dengan IMF atau traksi elastic. kemungkinan hal ini dikarenakan tulang mandibula yang elastic dan tertanamnya benih gigi sehingga memegang fragmen fraktur. Ilustasi 3 kranium dengan usia yang berbeda (A: 2 tahun. (Posnick JC.

Hampir pada semua kasus fraktur pada regio ini penatalaksanaannya dapat dengan menggunakan teknik closed reduction. Perkembangan yang terbaru. Jika memungkinkan.2. sehingga pada penggunaan sistem ini tanpa dilakukan pengambilan plate dan terjadinya migrasi dari plate oleh karena pertumbuhan tak perlu dikhawatirkan lagi. Fraktur mandibular yang menyebabkan openbite. 4) (C) Gambar 8. closed reduction untuk penanganan fraktur tersebut dengan pertimbangan jika dilakukan open reduction akan mengganggu perkembangan tunas gigi. dapat dilakukan pemasangan circummandibular wires atau fiksasi skeletal. (A) fraktur parasimfisis mandibular dengan separasi antara kaninus dan premolar.4 (Fig.1. Pada umur antara 5-12 tahun. yang terjadi pada posterior ramus dan kondulus. Fiksasi maksilomandibular dapat dilakukan dengan pemasangan erich arch bar.anak jarang dilakukan. FDA menyetujui penggunaan resorbable plating systems untuk penatalaksanaan fraktur mandibula. 4 366 . (B) Reduksi intraoral dan plat fiksasi yang dapat di resorbsi. (C) Penggunaan plat yang dapat di resorbsi pada anak usia 4 tahun.

stabilization.BAB III KESIMPULAN Fraktur wajah pada anak jarang terjadi. tapi dapat mengakibatkan tingkat morbiditas yang signifikan jika tidak ditangani dengan baik. reduction. 367 . & fixation) harus diterapkan disamping tetap mempertimbangkan dampak yang terjadi terhadap tumbuh kembang anak-anak di masa mendatang. Prinsip umum penatalaksanaan fraktur pada trauma oromaksilofasial pada anak-anak (recognition. harus dilakukan dengan hati-hati untuk mencegah terjadinya gangguan pertumbuhan Manajemen trauma oromaksilofasial pada anak-anak sedikit berbeda dengan orang dewasa namun pada intinya sama karena pada anak-anak masih dalam proses tumbuh kembang. Mayoritas dari fraktur ini dapat ditangani secara konservatif. Jika memang dibutuhkan tindakan bedah.

LB. Wesson DE. New York. Pediatric Trauma. Mc Donald WS. 2004. Elsevier-Saunders company. 4.B. 3. Philadelphia. W. Marcell Dekker. Betts. Pediatric Oral and Maxillofacial Surgery. 1990. Kaban. 2005. New York. Fonseca. Facial Trauma. W. NJ.DAFTAR PUSTAKA 1. 2. Vol 2. Philadelphia. Taylor & francis Group. RJ. Oral and Maxilofacial Trauma. 2006.B. 3rd ed. RV. Saunders Company. Walker. Barber HD. Thaller SR. 368 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful