Cara Melakukan Pemeriksaan Trauma Oromaksilofasial dan Penanganan Kegawat-daruratan Trauma Oromaksilofasial

Melva Sirait 160121120001

Peserta Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut Dan Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Abstrak : Trauma oromaksilofasial adalah trauma yang menyebabkan cedera pada jaringan lunak mulut, dentoalveolar, serta fraktur wajah. Cedera pada pada jaringan lunak dapat berupa abrasi, kontusio, laserasi dan luka bakar. Kasus trauma oromaksilofasial adalah kasus yang cukup banyak ditemukan di unit gawat darurat hampir sebagian besar rumah sakit. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa penyebab trauma oromaksilofasial paling banyak disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas dan korban tersebut ternyata lebih banyak dialami oleh laki-laki. Terapi yang dilakukan pada penderita pun bervariasi mulai dari hanya pemberian obatobatan, penjahitan luka, pencabutan gigi, alveolektomi, serta reposisi dan fiksasi. Kelainan-kelainan seperti disebut di atas, mengharuskan kita untuk

melakukan pemeriksaan yang lebih lengkap, konsultasi kepada bagian lain yang terkait karena trauma maksilofasial dapat menjadi kasus yang kompleks dan mungkin diperlukan keterlibatan multispesialis dalam manajemennya.

Kata kunci: Trauma oromaksilofasial, pemeriksaan trauma, penanganan trauma

1

BAB I PENDAHULUAN

Trauma oromaksilofasial berhubungan dengan cedera apapun pada wajah atau rahang yang disebabkan oleh kekuatan fisik, benda asing atau luka bakar. Trauma oromaksilofasial termasuk cedera pada salah satu struktur tulang ataupun kulit dan jaringan lunak pada wajah. Setiap bagian dari wajah mungkin dapat terpengaruh. Gigi dapat lepas atau goyang. Mata dengan otot-ototnya, saraf dan pembuluh darahnya mungkin mengalami cedera sehingga dapat menyebabkan gangguan penglihatan, diplopia, pergeseran posisi dari bola mata dan juga seperti halnya rongga mata yang dapat retak oleh pukulan yang kuat. Kerusakan jaringan lunak seperti edema, kontusio, abrasi, laserasi dan avulsi. Rahang bawah (mandibula) dapat mengalami dislokasi. Meskipun dilengkapi oleh otot-otot yang kuat untuk mengunyah, rahang termasuk tidak stabil bila dibandingkan dengan tulang-tulang lainnya sehingga dengan mudah mengalami dislokasi dari sendi temporomandibular yang menempel ke tengkorak.1 Kelainan-kelainan seperti disebut di atas, mengharuskan kita untuk melakukan pemeriksaan yang lebih lengkap, konsultasi kepada bagian lain yang terkait karena trauma maksilofasial dapat menjadi kasus yang kompleks dan mungkin diperlukan keterlibatan multispesialis dalam manajemennya. Trauma oromaksilofasial merupakan salah satu tantangan terbesar untuk pelayanan kesehatan masyarakat di seluruh dunia karena insidennya yang tinggi. Dari penelitian dilaporkan bahwa kecelakaan lalu lintas merupakan penyebab utama dari traumamaksilofacial. Selain itu penyebab lainnya yang tersering ialah kekerasan fisik, konsumsi alkohol yang dapat memicu terjadinya tindakan kekerasan dan kecelakaan, serta trauma oromaksilofasial akibat olahraga.

2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Defenisi Trauma oromaksilofasial adalah suatu ruda paksa yang mengenai wajah dan jaringan sekitarnya.2 Trauma pada jaringan oromaksilofasial dapat mencakup jaringan lunak dan jaringan keras. Yang dimaksud dengan jaringan lunak wajah adalah jaringan lunak yang menutupi jaringan keras wajah. Sedangkan yang dimaksud dengan jaringan keras wajah adalah tulang kepala yang terdiri dari : 1 1. Tulang hidung 2. Tulang arkus zigomatikus 3. Tulang mandibula 4. Tulang maksila 5. Tulang rongga mata 6. Gigi 7. Tulang alveolus 2.2 Etiologi 1,3,4,5,6 Penyebab trauma oromaksilofasial bervariasi, mencakup kecelakaan lalu lintas, kekerasan fisik, terjatuh, olah raga dan trauma akibat senjata api. Kecelakaan lalu lintas adalah penyebab utama trauma oromaksilofasial yang dapat membawa kematian dan kecacatan pada orang dewasa secara umum dibawah usia 50 tahun dan angka terbesar biasanya terjadi pada pria dengan batas usia 21-30 tahun.
a. Fisik

Kecelakaan lalu lintas merupakan penyebab utama fisik terjadinya trauma oromaksilofasial 1. Beberapa literatur mengungkapkan terdapat hubungan antara

3

posisi duduk pengemudi atau penggunaan sistem proteksi terhadap tingkat keparahan cedera oromaksilofasial pada pasien kecelakaan lalu lintas. Selain kecelakaan lalu lintas, etiologi fisik lainnya yang merupakan penyebab trauma oromaksilofasial yaitu jatuh ketika bermain, kecelakaan kerja atau industri, kecelakaan sewaktu berolahraga, gigitan binatang, perkelahian dan lain- lain. b. Kimia Trauma oromaksilofasial akibat bahan kimia biasanya mempunyai manifestasi klinis berupa luka bakar di sekitar mulut dan wajah. Zat kimia seperti kaporit, kalium perpangat, asam kromat, fenol dan fosfor putih dapat bersifat oksidatif, juga larutan basa seperti kalium hidroksida menyebabkan denaturasi protein. Asam sulfat merusak sel karena bersifat cepat menarik air. Gas yang dipakai dalam peperangan menimbulkan luka bakar dan menyebabkan anoksia sel bila berkontak dengan kulit atau mukosa. Trauma oromaksilofasial akibat bahan kimia dapat terjadi akibat kelengahan, pertengkaran, kecelakaan kerja, kecelakaan di industri, laboratorium dan juga akibat penggunaan gas beracun pada perang. c. Elektrik Kecelakaan yang disebabkan faktor elektrik terjadi karena arus listrik mengaliri tubuh, hal ini biasa terjadi pada kecelekaan kerja petugas listrik atau dapat juga akibat petir. Pada kecelakaan tersengat arus listrik didaerah kepala, penderita dapat pingsan lama dan mengalami henti nafas, dapat juga terjadi oedem otak. d. Termis Luka bakar yang terjadi pada wajah juga dikategorikan termasuk dalam trauma oromaksilofasial, yang dapat disebabkan oleh karena benda panas, gesekan, elektrik, radiasi, atau zat kimia. 1 Trauma oromaksilofasial akibat termis dapat terjadi akibat kelengahan seperti kebakaran rumah tangga akibat gas yang meledak dan lain lain. Bagi pasien dengan kecelakaan lalu lintas yang fatal menjadi masalah karena harus rawat inap di rumah sakit dengan cacat permanen yang dapat mengenai ribuan orang per tahunnya. Berdasarkan studi yang dilakukan, 72%

4

kematian oleh trauma oromaksilofasial paling banyak disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas (automobile).

5

Berikut ini tabel etiologi trauma oromaksilofasial. 7 Persentase (%) Dewasa Kecelakaan lalu lintas Penganiayaan Olah raga Jatuh Lain-lain 40-45 10-15 5-10 5 5-10

Anak-anak Kecelakaan lalu lintas Penganiayaan/berkelahi Olah raga(termasuk naik sepeda) Jatuh 10-15 5-10 50-65 5-10

2.3 Klasifikasi Trauma oromaksilofasial dapat diklasifikasikan menjadi dua bagian, yaitu trauma jaringan keras wajah dan trauma jaringan lunak wajah. Trauma jaringan lunak biasanya disebabkan trauma benda tajam, akibat pecahan kaca pada kecelakaan lalu lintas atau pisau dan golok pada perkelahian. 8,9 2.3.1 Trauma jaringan lunak wajah 7,8 Luka adalah kerusakan anatomi, diskontinuitas suatu jaringan oleh karena trauma dari luar. Trauma pada jaringan lunak wajah dapat diklasifikasikan berdasarkan: 1. Berdasarkan jenis luka dan penyebab    Ekskoriasi Luka sayat, luka robek , luka bacok. Luka bakar

6

Luka tembak

2. Berdasarkan ada atau tidaknya kehilangan jaringan 3. Dikaitkan dengan unit estetik

Menguntungkan atau tidak menguntungkan, dikaitkan dengan garis Langer. (Gambar 1)

Gambar 1. (A) Laserasi yang menyilang garis Langer tidak menguntungkan mengakibatkan penyembuhan yang secara kosmetik jelek. B. Insisi fasial ditempatkan sejajar dengan garis Langer 9

2.3.2 Trauma jaringan keras wajah 7,8,10,11 Klasifikasi trauma pada jaringan keras wajah di lihat dari fraktur tulang yang terjadi dan dalam hal ini tidak ada klasifikasi yg definitif. Secara umum dilihat dari terminologinya (pengistilahan) : I. Tipe fraktur 1. Fraktur simpel • • Merupakan fraktur sederhana, liniear yang tertutup misalnya pada kondilus, koronoideus, korpus dan mandibula yang tidak bergigi. Fraktur tidak mencapai bagian luar tulang atau rongga mulut. Termasuk greenstik fraktur yaitu keadaan retak tulang, terutama pada anak dan jarang terjadi.

2. Fraktur kompoun • Fraktur lebih luas dan terbuka atau berhubungan dengan jaringan lunak

7

seperti pada greenstik. Hubungan antar Fragmen 1. dan hampir selalu tipe fraktur kompoun meluas dari membran periodontal ke rongga mulut. 4. Tranversal. II. • Bisa terbatas atau meluas. jadi sifatnya juga seperti fraktur kompoun dengan kerusakan tulang dan jaringan lunak. fraktur mencakup seluruh tulang. disini fragmen fraktur terjadi perpindahan tempat 2. Fraktur komunisi • Benturan langsung terhadap mandibula dengan objek yang tajam seperti peluru yang mengakibatkan tulang menjadi bagian bagian yang kecil atau remuk.• Biasanya pada fraktur korpus mandibula yang mendukung gigi. hair line. Spiral (berputar) 4. bahkan beberapa luka yang parah dapat meluas dengan sobekan pada kulit. Tidak komplit. Perluasan tulang yang terlibat 1. tumor ganas. Oblique ( miring ) 3. Fraktur patologis • keadaan tulang yang lemah oleh karena adanya penyakit penyakit tulang. Undisplacement. kista yang besar dan penyakit tulang sistemis sehingga dapat menyebabkan fraktur spontan. bisa horizontal atau vertikal. seperti Osteomyelitis. 3. Konfigurasi ( garis fraktur ) 1. dan kropresi ( lekuk ) III. 2. Komunisi (remuk) IV. Komplit. bisa terjadi berupa : • Angulasi / bersudut 8 . 2. Displacement.

Lateral ke midline dalam regio insisivus Gambar 2. Ramus mandibula f. Prosesus kondiloideus c. Parasimfisis. Koronoid D. Dento-alveolar B. dan Le Fort III c. Fraktur blow-out (fraktur tulang dasar orbita) b. Simfisis H. Prosesus koronoideus d. Korpus mandibula g. berdasarkan lokasi anatomi fraktur dapat mengenai daerah : a. Angulus mandibula e.10 V. Ramus E.• • • • Distraksi Kontraksi Rotasi / berputar Impaksi / tertanam Pada mandibula. Fraktur pada daerah mandibula A. Dento alveolar b. Khusus pada maksila fraktur dapat dibedakan : a. Fraktur Le Fort I. Angulus F. Fraktur segmental maksila 9 . Corpus G. Kondilar C. Le Fort II. Midline / simfisis menti h.

I Le Fort I. III Le Fort III (pandangan sagital) 11 10 . III Le Fort III (pandangan anterior) (B). II Le Fort II.Gambar 3. (A). I Le Fort I. II Le Fort II.

BAB III PEMBAHASAN Gambar 4. Urutan kejadian trauma oromaksilofasial 9 3. adekuasi dari ventilasi. Selama primary survey. keadaan yang mengancam nyawa harus dikenali dan resusitasinya dilakukan saat itu juga. dan kontrol perdarahan eksternal.1. Primary survey adalah penilaian terhadap keadaan penderita dan prioritas terapi berdasarkan jenis luka. Pemeriksaan Primary Survey (ABCDE) 7. Perhatian harus segera diarahkan terhadap saluran pernapasan. tanda.tanda vital dan mekanisme cedera.8 Pendekatan awal terhadap pasien trauma oromaksilofasial akut sedikit berbeda dengan cedera yang lain. 11 .

Tidak kalah pentingnya adalah mengenali kemungkinan gangguan airway yang dapat terjadikemudian. Menghilangkan tension pneumothoraks 4. Jaw trust atau chin-lift dapat dipakai 3. Airway harus dijaga dengan baik pada semua penderita.dinding dada dan diafragma. apakah disana ada obstruksi atau tidak. Menutup open pneumothoraks 12 . Pemberian oksigen konsentrasi tinggi 2. Fiksasi leher dengan berbagai cara.8 A = Airway with C-Spine Protection Pada kasus trauma oromaksilofasial.Ventilasi yang baik meliputi fungsi yang baik dari paru. dan ini hanya dapat dikenali dengan re-evaluasi berulang terhadap airway-ini. lebih baik memasang airway definitif (intubasi oro atau nasotracheal atau surgical crico-thyroidotomy). Harus dilakukan segala usaha untuk menjaga jalan napas dan memasang airway definitif bila diperlukan. kita perlu dengan segera memperhatikan kelancaran jalan nafas. Bila ada keraguan mengenai kemampuan menjaga airway. Resusitasi 1. Luka yang mengakibatkan gangguan ventilasi berat adalah tension pneumothorax. flail chest dengan contusio paru. Usaha untuk membebaskan airway dilakukan dengan menjaga jalan nafas dan melindungi vertebra servikal. setelah memasang airway. Resusitasi: 1. Memasang naso-pharingeal airway (pasien sadar) atau oro-pharingeal airway (pada pasien tidak sadar) 5. Ventilasi dengan alat bag-valve-mask 3. dan open pneumothorax. Membersihkan airway dari benda asing 4. 6. Setiap komponen ini harus dievaluasi secara cepat. B = Breathing / Ventilation / Oxygenation Ini merupakan nilai keadaan oksigenasi dan ventilasi penderita. 2.Urutan Penanganan Penderita dalam Primary survey 7.

Memasang pulse oximeter 13 .5.

sampai terbukti sebaliknya. ‡ Tiga penemuan klinis yang dalam hitungan detik dapat memberikan informasi keadaan hemodinamik pasien. D = Disability (Neurologic Status) Hal yang penting selanjutnya adalah penilaian terhadap keadaan neurologis secara cepat. ‡ luka. kebutuhan untuk intervensi bedah. analisis kimia. ukuran dan reaksi pupil tanda-tanda lateralisasi. baik perdarahan eksternal maupun perdarahan internal. golongan darah. 4. 2. Mengenal adanya perdarahan internal. Perdarahan eksternal dihentikan dengan penekanan (direct pressure) pada Tourniquet sebaiknya jangan dipakai karena merusak jaringan dan menyebabkan iskemia distal.v ukuran besar. Memasang 2 chateter i. Penurunan kesadaran dapat disebabkan penurunan oksigenasi dan atau penurunan perfusi ke otak yang disebabkan trauma langsung pada otak. Penurunan 14 . berikan cairan kristaloid yang dihangatkan atau pemberian darah. cross match dan analisis gas darah.C = Circulation & Stop Bleeding Tahap selanjutnya untuk dinilai adalah keadaan hemodinamik pasien. sehingga tourniquet hanya dipakai bila ada amputasi traumatik. 3. Memasang NG tube dan kateter urin jika tidak ada kontra indikasi. yakni tingkat kesadaran. tes kehamilan. Suatu keadaan hipotensi pada penderita trauma harus dianggap sebagai hipovolemia. Perdarahan eksternal dihentikan dengan tekanan langsung pada tempat perdarahan. dan tingkat cedera spinal. Resusitasi : 1. serta konsultasi bedah. warna kulit dan nadi. Parameternya adalah tingkat kesadaran. ambil sampel darah untuk pemeriksaan darah rutin. Cari sumber perdarahan.

Tingkat kesadaran dinilai dengan GCS (Glasgow Coma Scale) scoring.kesadaran menuntut dilakukannya re-evaluasi terhadap keadaan oksigenasi. hipoksia atau hipovolemia adalah penyebab utamanya. Namun pada kebanyakan pasien dengan trauma oromaksilofasial. GCS merupakan suatu skala yang digunakan untuk menilai tingkat kesadaran pasien dengan menilai respon pasien terhadap rangsangan yang diberikan. Rangsangan yang diberikan berbagai hal dengan memperhatikan 3 reaksi yang terdiri dari reaksi membuka mata (Eye (E)). Respon yang diharapkan ada pada pasien ialah bagaimana reflek membuka matanya. dan perfusi jaringan. Untuk nilai dari respon ini kita nilai (4) atau respon spontan. Apabila pasien dapat membuka mata ketika kita beri rangsang nyeri. ventilasi. seperti kita memanggil nama pasien. tidak ada respon. Gamabar 5 : Eye (respon membuka mata)8 Respon membuka mata ini merupakan respon awal ketika kita bertemu dengan pasien. disentuh atau diberikan cubitan. 15 . maka kita beri nilai E (1). respon verbal (V) bicara dan gerakan motorik. (misalkan dengan menekan kuku jari) maka nilai E pasien (2). nilai respon E nya adalah nilai (3). Ketika tidak ada respon sama sekali. Apakah ia akan spontan membuka mata tanpa harus dipanggil namanya. Apabila mata terbuka dengan rangsang suara. Penurunan kesadaran dapat disebabkan oleh alkohol dan obat-obatan.

Apabila pasien lebih banyak mengerang atau mengeluarkan suara tanpa arti. Ketika pasien dapat mengetahui dimana dia berada. maka kita nilai respon verbal pasien (2). atau ketika kita datang kemudian kita memberikan tangan kita untuk berjabat 16 . maka penilaian selanjutnya ialah bagaimana kita menilai respon verbal pasien. maka kita beri nilai verbal pasien (1). orientasi baik. Motor (respon motorik) Respon motorik ini harus dibedakan dengan penilaian kekuatan otot. maka kita nilai respon verbal dengan angka (5) . berbicara mengacau (sering bertanya berulang-ulang) disorientasi tempat dan waktu. Pemeriksaan ini hanya digunakan untuk mengetahui tingkat kesadaran pasien dengan memantau respon motorik pasien. maka nilai respon verbal kita beri nilai (4) .Tabel 1 : Verbal (respon verbal)8 Setelah reflek membuka mata kita kaji. Ketika pasien diperintahkan untuk melakukan apa yang kita inginkan. siapa dirinya. Ketika masih saja tidak ada respon. Untuk nilai (3) kita beri ketika pasien berbicara tidak patut seperti berbicara dengan kata-kata kasar dan makian. seperti memintanya untuk mengangkat tangan. kalimat yang diucapkan baik. Apabila pasien bingung.

Tabel 2 : Motor (respon motorik)8 Gambar 6 : Respon motorik nilai 6 8 17 . Kita bisa melihat adakah atau tidak respon pasien untuk melakukan hal tersebut (menjabat tangan kita).tangan dengannya.

Maka kita bisa berikan stimulus nyeri di daerah kukunya dengan tekanan ujung pulpen atau lainnya. Namun jika pasien hanya dapat menghindar terhadap stimulus nyeri maka kita beri nilai M (4).Apabila pasien mengikuti perintah yang kita berikan. 18 . untuk kondisi ini kita berikan M (3). maka kita nilai respon motorik pasien (6) Gambar 7 : respon motorik nilai 5 8 Kita bisa memberikan sebuah stimulus berupa rangsangan nyeri di daerah N. Pasien akan memperlihatkan flexi siku yang bisa juga diikuti oleh flexi pergelangan tangan. Ketika pasien mampu untuk melokalisir nyeri dengan cara menjauhkan stimulus saat diberi rangsang nyeri. Gambar 8 :Respon motorik nilai 3 8 Apabila pasien tidak dapat melokalisasi nyeri dari stimulus. Supraorbita dengan cara menggosokan kuku didaerah supraorbita groove dengan tekanan yang makin kuat sampai pasien memberikan respon. maka kita memberikan nilai (5).

Periksa hal-hal yang mungkin terlewat pada pemeriksaan sebelumnya. Nilai GCS yang tertinggi adalah 15 yaitu E4M6V5 dan terendah adalah 3 yaitu E1M1V1. Hasil pemeriksaan kesadaran berdasarkan GCS disajikan dalam simbol (EMV) 2. 19 . pasien harus segera diselimuti untuk mencegah hipotermi. Selanjutnya nilai-nilai dijumlahkan. dengan jari mengepal & kaki extensi saat diberi rangsang nyeri). Penilaian GCS 8 1. Namun ketika pasien tidak ada respon apapun terhadap nyeri. seperti darah yang keluar dari anus atau luka pada tubuh yang tertutup pakaian. Setelah pakaian dilepas. maka untuk kondisi seperti ini kita nilai M (1). 3. Menilai status kesadaran klien GCS 14–15 GCS 9–13 GCS 3–8 <3 = cidera kepala ringan = cidera kepala sedang = cidera kepala berat = koma E = Exposure/Environment/Body Temperature Buka pakaian pasien untuk melakukan pemeriksaan secara menyeluruh.Gambar 9 : Respon motorik nilai 2 8 Sedangkan untuk memberikan nilai M (2) didapatkan respon pasien berupa extensi abnormal (tangan satu atau keduanya extensi di sisi tubuh.

apakah ia memakai helm atau tidak. termasuk mencatat skor GCS bila belum dilaksanakan dalam primary survey. syok. Namun. pemeriksaan fisik ekstra oral seperti kepala dan oromaksilofasial juga pemeriksaan intra oral yang meliputi status lokalis gigi dan jaringan pendukung sekitarnya.2 Pemeriksaan Secondary Survey 7. apakah ada perdarahan dari hidung. Pada situasi ini. perlu dicatat bagaimana kronologis kejadiannya. dan ABC pasien telah dipastikan membaik. Pemeriksaan pada secondary survey meliputi anamnesa. perawat. diperlukan informasi yang memadai tentang riwayat trauma. dilakukan pemeriksaan neurologis lengkap.1 Anamnesis Untuk menegakan diagnosis dan menentukan rencana perawatan. apakah pasien telah mendapatkan pertolongan medis dan pemberian obat sebelumnya dan pertanyaan penting lainnya. apakah ada riwayat pingsan. tempat kejadian. mulut dan telinga.2. amnesia. orang yang mendampingi yang pasien. Apabila cedera disebabkan karena kecelakaan motor. Secondary survey baru dilaksanakan setelah primary survey selesai. Pada secondary survey ini. waktu. 7 Keadaan tidak sadar (koma). atau siapapun yang melihat dengan jelas bagaimana trauma terjadi. 20 . Penting untuk dicatat mengenai tanggal. dan intoksikasi merupakan hambatan yang sering terjadi dalam menjalin komunikasi dengan pasien. riwayat trauma dapat diperoleh dari petugas unit gawat darurat. biasanya sulit untuk diajak berkomunikasi. apakah korban bertindak sebagai pengemudi atau penumpang. 3. termasuk pemeriksaan tanda vital. bagaimana jenis helmnya full face atau half face. dan peristiwa khusus. pada pasien yang mendapat cedera pada daerah kepala. pemeriksaan laboratorium juga dapat dikerjakan pada kesempatan ini. resusitasi sudah dilakukan.8 Secondary survey adalah pemeriksaan kepala sampai kaki (head to toe examination). mual dan muntah. Prosedur khusus seperti pemeriksaan radiologis.3.

umur. 2. Meliputi jawaban dari pertanyaanpertanyaan berikut (9): 1. WHEN? Kapan trauma itu terjadi? Pertanyaan ini merupakan salah satu pertanyaan penting untuk menentukan apakah suatu luka masih dalam golden period. riwayat penyakit yang pernah diderita. tanggal imunisasi tetanus terakhir.Riwayat trauma yang akurat sebaiknya diperoleh dari pasien. Kemudian ia tergelincir di tikungan dan turunan curam dengan keadaan terguling sejauh 10 meter dengan kondisi wajah mengenai aspal. WHERE? Pertanyaan ini penting untuk mengetahui kemungkinan adanya kontaminasi luka. keluarga pasien dan orang yang menyertainya. seorang pengendara sepeda motor sedang dalam pengaruh alkohol mengendarai motornya di cuaca hujan dan gelap gulita. Perlu dicatat juga ada tidaknya tanda-tanda kecanduan alkohol dan obat-obatan. HOW? Sebagai contoh. nomor telepon. Motor dalam keadaan rusak parah. Jawaban kronologis tentang bagaimana kejadian terjadi mengindikasikan keparahan cedera jaringan dan kemungkinan daerah-daerah mana saja dari tubuh yang terkena trauma. 3. karena tingkat kesadaran 21 . WHO? Jawabannya meliputi nama pasien. Sebagai contoh apabila pasien jatuh di daerah yang berpasir maka penting untuk dilakukan debridemen sempurna sampai tidak ada sama sekali pasir yang tertinggal di dalam luka. dan data demografi lainnya. ada tidaknya penyakit kelainan perdarahan. Selain itu riwayat medis yang penting untuk diketahui adalah tentang riwayat alergi. Jika ditemukan kasus avulsi gigi di dalam golden period maka prognosis untuk reposisi semakin baik. 4. alamat.

Dengan ibu jari dan telunjuk tangan lainnya mencengkram maksila pada satu sisi. kepala pasien harus distabilisasikan dengan cara menekan kening pasien cukup kuat dengan satu tangan. 22 .dipengaruhi oleh obat-obatan tersebut. dan digerakkan dengan tekanan yang stabil sehingga dapat diperoleh kepastian ada atau tidaknya dapatkan mobilitas maksila. discontinuitas. naso-orbital kompleks. Informasi mengenai waktu makan dan minum yang terakhir sangat penting apabila akan dilakukan anestesi umum. pergeseran. Harus dilakukan palpasi secara hati-hati terhadap kranium. b.2 Pemeriksaan Fisik 2. artikulasi zygomatik.2. dan hilangnya penonjolan. Pasien harus dibersihkan dari semua darah dan benda asing secara hati-hati. Untuk memeriksa adanya mobilitas maksila. maka pemeriksaannya harus meliputi ada atau tidaknya step atau jarak. Rangka kraniofasial terdiri dari pertautan dan penonjolan tulang. dan mandibula. Pemeriksaan Wajah Bagian Tengah Evaluasi wajah bagian tengah dimulai dengan memperkirakan adanya mobilitas dari maksila sebagai struktur maksila itu sendiri atau hubungannya dengan zygoma atau tulang nasal. 3. sambungan daerah fronto-orbital.6 I. Pemeriksaan Kepala Pemeriksaan ini meliputi seluruh kerangka kraniomaksilofasial dan jaringan lunak disekitarnya.3. Ekstra Oral a.

9 Cara melakukan pemeriksaan manual atau digital adalah dengan palpasi dimulai dari superior ke inferior. Pemeriksaan yang akurat sulit dilakukan pada pasien yang mengalami cedera 23 . dari aspek posterior atau superior. Bagian-bagian yang mengalami nyeri tekan. dan baal juga dicatat. Gambar sebelah kanan menunjukkan pemeriksaan bahwa cara ini juga dapat digunakan untuk evaluasi mobilitas tulang nasal. Palpasi diteruskan ke arah lateral menyilang cincin supraorbital menuju sutura zygomatikofrontalis. karena trauma dapat mengakibatkan kehilangan penglihatan. Vestibulum nasi juga diperiksa karena bisa terjadi pergeseran septum. Pemeriksaan dimulai dari aspek medial dari cincin supraorbital secara bilateral. Pemeriksaan mata secara lengkap sebaiknya dilakukan terlebih dahulu.Gambar 10 : Pemeriksaan mobilitas maksila. dan adanya perdarahan atau cairan. Arcus zygomatikus dipalpasi bilateral dan diamati apakah terdapat tandatanda asimetri. karena hal ini menunjukkan adanya fraktur atau cedera pada saraf. Cincin infraorbital dipalpasi dari medial ke lateral untuk mengevaluasi sutura zygomatikomaksilaris. Hampir 40% fraktur tengah wajah mengenai daerah mata. Tulang nasal dan saluran nasofrontalis dipalpasi secara bersamaan kanan dan kiri (bidigital). Jaringan lunak yang menutupinya digeser dan sutura dipalpasi apakah terjadi kelainan atau tidak.

apakah bola mata bisa bergerak bebas. Pergerakan mandibula juga dievaluasi dengan jalan memerintahkan pasien melakukan gerakan-gerakan tertentu. Adanya laserasi dari daerah telinga bagian luar merupakan tanda waspada terhadap kemungkinan cedera pada kondilus mandibula. Kisaran gerak dievaluasi pada semua arah dan jarak interinsisal dicatat. Hematoma aurikuler telinga harus segera didiagnosa dan dilakukan terapi. Kerusakan dan pergerakan tulang hidung harus dicatat.neurologis.5 . deteksi gerakan.. Mastoid harus diperiksa dari kemungkinan adanya ekimosis yang disertai dengan hemotimpanum dan otorrhea. Dapatkah pasien mengangkat alis dan meretraksi sudut mulutnya. atau penggunaan sinar. Pada 24 . atau terjadi pergeseran ke lateral dan inferior. 3 Tiga saraf utama trigeminal harus diperiksa untuk kemungkinan terjadinya anestesi atau parestesi.6 .4 . dan apabila ada penyimpangan juga dicatat. karena merupakan indikasi terjadinya fraktur basis tulang kranial. Hematoma septum hidung harus didiagnosa dan dievakuasi segera untuk menghindari terjadinya nekrosis tulang rawan septum hidung yang pada akhirnya dapat menyebabkan kerusakan bentuk hidung. Adanya fraktur septum hidung dan hematoma dapat menyebabkan obstruksi hidung.7 dites untuk mengetahui apakah terjadi palsi. Saraf kranialis 3 . Apabila meatus akustikus eksternus penuh dengan darah dan cairan. jari telunjuk dapat dimasukkan dengan telapak mengarah ke bawah dan ke depan untuk melakukan palpasi endaural terhadap caput condilus pada saat istirahat dan bergerak. c. Pemeriksaan Mandibula Lokasi mandibula terhadap maksila dievaluasi apakah tetap digaris tengah. dan apakah pupil bereaksi terhadap sinar dan berakomodasi. Pemeriksaan dapat dilakukan dengan menggunakan hitungan jari.

yaitu kondilar. Sekali lagi nyeri tekan atau baal. simphisis. Tepi inferior dan posterior mandibula dipalpasi mulai dari prosesus kondilaris sampai ke simphisis mandibula. bisa dijumpai adanya nyeri tekan atau caput mandibula tidak terdeteksi. ramus. Fraktur mandibula dapat diklasifikasikan berdasarkan lokasi anatomi. body. dan kompoun. angle. dan kelainan kontinuitas harus dicatat. dan daerah prossessus koronoid.fraktur subcondilus tertentu. kominuted. 25 . Selain itu fraktur mandibula juga dapat diklasifikasikan berdasarkan tipe frakturnya. simpel. yaitu fraktur greenstick. alveolar.

Intra Oral 3. Simple (B). Adanya step dan pergeseran oklusi merupakan indikasi terjadinya fraktur dentoalveolar ataupun fraktur rahang. Distribusi anatomik dari fraktur mandibula. Adanya gigi yang terhisap dan tertelan dapat dilihat dengan melakukan radiografi pada dada dan perut. 2 II.7 Pemeriksaan ini meliputi evaluasi oklusi dan penghitungan gigi yang hilang.Gambar 11. Komminuted (C). Kompoun (D). Gigi tiruan yang lepas juga dapat menyebabkan tersumbatnya jalan pernapasan. Gigitan terbuka lateral (open bite lateral) juga 26 .2 Gambar 12 : Klasifikasi fraktur mandibula berdasarkan tipe frakturnya: Greenstick (A).

jahitan subkutis Antibiotika 27 . II. Hemostasis Menghilangkan tegangan pada penutupan luka: undermining. ureum.2. Leukosit. BT CT. ataupun III). Perawatan umum terhadap komplikasi yang menyertai 2. Penanganan Luka Jaringan Lunak Imobilisasi dan evaluasi bagian yang terluka untuk mengurangi rasa nyeri dan edema.3 Pemeriksaan Radiografis Untuk diagnosis penderita yang mengalami trauma dentoalveolar hanya diperlukan radiograf oklusal dan periapikal saja. trombosit. Sedangkan gigitan terbuka anterior ( open bite anterior) mengindikasikan adanya fraktur Le Fort (I.2. elektrolit. Detail dari cedera gigi (luksasi dan avulsi). GDS. 3. Debridement : membersihkan luka. Meskipun demikian. dan differential sel. membuang jaringan nekrotik dan benda asing. albumin serum. Penatalaksanaan Fraktur Oromaksilofasial 2. tidak dibenarkan untuk melakukan pembuatan radiografis untuk mengetahui adanya fraktur bila bukti klinis kurang mendukung.dapat mengindikasikan adanya fraktur mandibula atau gangguan TMJ.4 Pemeriksaan Laboratorium Pemeriksaan lab yang sering dilakukan pada kasus trauma oromaksilofasial yaitu Hb. kreatinin.3 1. dan sebagian besar fraktur prosessus alveolaris paling baik dirontgen dengan cara ini. kemudian dapat dilakukan rontgen foto waters view dan jika memungkinkan dan pasien mampu dapat dilakukan CT-Scan 3 dimensi. Sedangkan untuk diagnosis penderita yang mengalami trauma maksilofasial harus dilakukan foto panoramik dan schedel AP-Lat segera. PT APTT. 3. analisa gas darah.

meniadakan rasa sakit. Imobilisasi : Mempertahankan fiksasi. Memberikan imobilisasi sementara 7. Melakukan Reduksi. krepitasi dan funtio laesa. 28 . Pemeriksaan klinis yang teliti dan interpretasi foto rontgen yang tepat 4. Mencegah dan merawat infeksi 6. Memilih cara pemberian anastesi yang tepat 8. Menentukan tipe dan macam fraktur 5.3. Fiksasi dan Imobilisasi fraktur Reduksi: Mengembalikan fragmen pada posisi anatomisnya Terdiri dari open dan closed reduction Fiksasi: Mempertahankan fragmen yang telah direposisi tetap pada tempatnya untuk menghasilkan penyembuhan.

Pemeriksaan radiografis dan pemeriksaan laboraturium dilakukan untuk membantu klinisi menegakkan diagnosa dan rencana perawatan yang tepat pada penderita trauma oromaksilofasial. adekuasi dari ventilasi. pendarahan.BAB IV KESIMPULAN Pendekatan awal terhadap pasien trauma oromaksilofasial akut sedikit berbeda dengan cedera yang lain. serta jalan nafas telah di tangani. Rangkaian pemeriksaan primary survey dan secondary survey berupa anamnesis yang lengkap. pemeriksaan klinis ekstra oral dan intra oral. status kegawatdaruratan serta skala prioritas penanganan cedera oromaksilofasial mutlak dibutuhkan dalam penanganan kegawatdaruratan trauma oromaksilofasial. Pemeriksaan fisik baru bisa dilakukan apabila keadaan umum pasien stabil. Pengetahuan tentang jenis trauma. dan kontrol perdarahan eksternal. Pemeriksaan dilakukan secara akurat dan menyeluruh pada pasien ini. 29 . Perhatian harus segera diarahkan terhadap saluran pernapasan. anatomi oromaksilofasial.

1999. Louis 4. Ed. Hitosugi M. 2003. 2006.Sjamsuhidayat. 1991.pdf 8. Marciani RD.ui. Fonseca. St Louis: Elsevier Saunders 3. Penerjemah.id/file?file=pdf/abstrak-81816. Peterson Lj. Oral and Maxillofacial Trauma. Banks P.digilib. Hipokrates.ac. Jakarta. Andreasen JO.et al. Carlson ER. Alih bahasa Lilian Yuwono.DAFTAR PUSTAKA 1. 1990. Contemporary Oral and Maxillofacial Surgery. Sasaki T.4 th ed. Saunders Elsevier. Munksgaard 7. http://en. EGC. Jong WD. 9. 3rd ed. Pedersen GW. Buku Ajar Praktis Bedah Mulut. 1996. Butterworth-Heinemana Ltd. 2005. Braun TW. Fraktur mandibula ( Killeys Fractures of the mandible ). R. A Retrospective Análisis of Oral and Maxillofacial Injuries in Motor Vehicle Accidents. Ke-2. Jakarta 11. London 30 . RJ. J Oral Maxillofac Surg 64:1731-1735 5. St Louis: Mosby. Oral and Maxillofacial Surgery Volume II. Frekuensi-distribusi trauma oromaksilofasial dan Essential of Traumatic Injuries to the Teeth. Jakarta 2. Yokoyoma T. St.1997. http://www. Motozawa Y.wikipedia. EGC.org/wiki/Glasgow_Coma_Scale 10. Buku Ajar Ilmu Bedah. The anatomy of injury and its surgical implication. 6. Juliani KI. penatalaksanaannya di Rumah Sakit Umum Tangerang dalam kurun waktu 1 Oktober 1992 -30 September 1993. Penerjemah: Purwanto dan Basoeseno. London PS. 2009.

1 Penyembuhan luka dan jaringan saraf merupakan hal yang penting untuk mengetahui tahapan luka. sengatan listrik. perubahan suhu. dan komplikasi. Kata kunci: penyembuhan jaringan lunak. infeksi 31 . faktor-faktor yang berpengaruh. keadaan ini dapat disebabkan oleh trauma benda tajam atau tumpul. zat kimia. Komplikasi dapat terjadi apabila tidak dilakukan terapi dengan adekuat.Penyembuhan Luka Jaringan Lunak Dan Saraf Dian Maifara Putri 160121120007 Peserta Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut Dan Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Abstrak : Luka adalah hilang atau rusaknya integritas jaringan tubuh. ledakan. atau gigitan hewan.

sengatan listrik. infeksi luka.BAB I PENDAHULUAN Luka adalah hilang atau rusaknya suatu kesatuan atau komponen integritas jaringan tubuh. zat kimia. keadaan ini dapat disebabkan oleh trauma benda tajam atau tumpul. pembentukan keloid yaitu berupa tonjolan jaringan parut. pembentukan jaringan parut. nekrose atau gangren dari jaringan. dan warna yang berbeda dari jaringan sekitarnya.1 Proses yang kemudian terjadi pada jaringan yang rusak ialah penyembuhan luka yang dapat dibagi dalam tiga fase yaitu fase inflamasi.1. perubahan suhu. dan remodeling atau penyudahan yang merupakan pembentukan kembali dari jaringan. Maka pada setiap perlukaan.2 32 .1. Komplikasi yang sering ditimbulkan pada tahap penyembuhan luka dapat meliputi pembentukan kista implantasi.2 Penyembuhan luka adalah proses kinetik dan metabolik yang kompleks yang mengikutsertakan berbagai sel dan jaringan dalam usaha menutup tubuh dari lingkungan luar dengan cara mengembalikan integritas jaringan. proliferasi. tubuh akan berusaha melakukan penyembuhan luka. atau gigitan hewan. ledakan. baik luka itu bersih maupun luka yang kotor dan terinfeksi.

8 1.5. Luka terbuka yang disertai kehilangan jaringan maupun yang tidak disertai kehilangan jaringan a. biasanya besar dan kemerahan.BAB II TINJAUAN PUSTAKA JENIS-JENIS LUKA Luka terdiri dari: 2.4. Luka memar ( contusio ) Terjadi akibat benturan dengan benda tumpul. darah keluar dari pembuluh dan terkumpul di bawah kulit sehingga bisa terlihat dari luar berupa warna merah kebiruan b.7. Hematoma (darah yang terkumpul di jaringan) Prinsipnya sama dengan luka memar tetapi pembuluh darah yang rusak berada jauh di bawah permukaan kulit dan biasanya besar. Luka Tertutup Gambar 1. 2. 33 .3. biasanya terjadi di daerah permukaan tubuh. terjadi karena gesekan antara suatu benda dengan permukaan jaringan lunak.Luka Memar 9 a. sehingga yang terlihat adalah bengkak. Vulnus Abrasivum (luka lecet).

Luka Sayat 11 34 . terjadi karena tersayat pisau atau benda tajam lainnya. Vulnus Abrasivum 9 Gambar 3.Gambar 2. Vulnus Scissum ( luka sayat ). Gambar 4. pinggir luka tajam dan rata serta mempunyai dasar yang sempit. Kedalaman Luka Lecet 10 b.

adalah luka yang disebabkan oleh benda tumpul yang bentuknya tidak teratur. Vulnus Penetratum ( luka tembus ). Vulnus Punctum ( luka tusuk ). adalah luka yang terjadi sampai menembus organ tubuh lain yang lebih dalam. Luka Laserasi 11 e. luka yang terjadi karena tusukan bendabenda yang runcing. Gambar 5. Luka Tembus 11 d.c. Vulnus laceratum ( luka compang camping ). 35 . Gambar 6.

luka yang disebabkan oleh tembakan senjata api 36 .Gambar 7. Penampang Luka Tusuk 12 Gambar 9. A. Luka Tusuk 11 Gambar 8. Vulnus Sclopectorum ( luka tembak). Luka Tusuk 12 f. Luka laserasi. B.

meningkatkan pembentukan jaringan granulasi dan epitelialisasi. menyediakan temperatur. krusta yang tebal dan pus. dan melindungi luka dari trauma yang lebih lanjut serta terhadap 37 . Luka Tembak 13 g. Avulsi biasanya menyertai luka-luka multipel pada wajah dan biasanya pada korban kecelakaan sepeda motor atau luka karena peralatan industri/pertanian. Luka Gigitan Binatang 11 h. dan pH yang optimal untuk sel-sel yang berperan dalam proses penyembuhan. otot. mengeluarkan benda asing yang dapat bertindak sebagai fokus infeksi. Luka ini ditandai dengan kulit yang terlepas/ hilang sama sekali. walaupun mukosa. dan tulang juga bisa terkena. kelembaban. Gambar 11. yaitu hilangnya substansi jaringan lunak yang biasanya mengenai kulit. 1. Avulsi.Gambar 10.2. Vulnus Mossum ( luka karena gigitan binatang). melepaskan jaringan yang mengalami devitalisasi.3 PENATALAKSANAAN LUKA Prioritas dalam penatalaksanaan luka adalah mengatasi perdarahan (hemostasis).

Namun tidak semua luka membutuhkan penjahitan. Debridement dilakukan untuk menghilangkan jaringan yang mengalami devitalisasi agar didapat penutupan luka yang baik. tergantung kedalaman dan posisi luka tersebut. luka ditutup dengan dijahit. maka akan terjadi hematoma di dalam jaringan yang dapat membuka kembali luka yang telah ditutup. Bila tidak. Pembuluh darah dapat diklem.5% 38 . diligatur atau dikauterisasi untuk mengurangi perdarahan yang terjadi akibat luka yang terbuka. Kecuali untuk luka superficial antibiotik tidak diindikasikan. sabun atau bila perlu dengan disikat.masuknya mikroorganisme patogen. Luka pada gingiva atau mukosa alveolar dapat ditutup dengan penjahitan 1 lapis. dan luka yang lebih dalam membutuhkan penjahitan 3 lapis. hemostasis harus tercapai. 6 Setelah luka dibersihkan. Setelah penutupan luka. luka kecil dapat dibiarkan dan dapat sembuh tanpa penjahitan. Bila penjahitan dianggap perlu. Biasanya dilakukan tindakan anestesi sebelumnya untuk mengurangi rasa sakit. tujuan penjahitan adalah mengembalikan jaringan ke posisi semula. Lalu dengan menggunakan larutan saline dilakukan irigasi untuk menghilangkan semua partikel yang tertinggal pada luka. tujuannya adalah untuk melindungi individu dari kerusakan fisiologis lebih lanjut.6 Luka harus dibersihkan dari kotoran atau debris. klinisi harus mempertimbangkan pemberian terapi suportif untuk mempercepat penyembuhan seperti pemberian antibiotik dan anti tetanus. 6 Protokol 1: Wound toilet dan debridement Gunakan satu dari 2 antiseptik di bawah ini untuk luka: Larutan Povidone iodine 10% dua kali sehari Cetrimide 15% + chlorhexidine gluconate 1. dilakukan debridement dan hemostasis tercapai. untuk menyingkirkan penyebab aktual atau potensial yang memperlambat penyembuhan dan untuk menciptakan lingkungan lokal yang optimal untuk rekonstruksi dan epitelialisasi vaskular dan jaringan ikat. Pembersihan luka dapat dilakukan dengan bahan pembersih luka. Sebelum luka ditutup. sedangkan luka pada lidah atau bibir yang melibatkan otot harus dijahit lapisan otot terlebih dahulu dengan benang jahit yang dapat teresorbsi.

maka harus diberikan dengan syringe yang berbeda dan lokasi pemberian yang berbeda pula. Dosis dewasa 8-12 juta IU. terdapat jaringan mati dalam jumlah signifikan. dan anakanak 200. Kemudian irigasi luka kembali. Debridement: membersihkan luka dari benda asing. tanda klinis sepsis. kontaminasi bakteri tetanus. Antibiotik profilaksis yang direkomendasikan adalah penisilin G dan metronidazole dalam satu kali pemberian.1. Protokol 2: Manajemen luka dengan tetanus 1. Ganti kasa minimal sekali sehari. WHO merekomendasikan injeksi TT (Tetanus Toksoid) atau Td (vaksin tetanus dan diphteri) dan TIG (Immunoglobin tetanus) 3. kemudian luka diirigasi dengan larutan salin 2. luka dengan banyak jaringan nekrotik. Untuk pasien terkontaminasi tetanus. jaringan mati dan rusak secara mekanis. Jika pemberian vaksin tetanus dan immunoglobin tetanus dalam satu waktu. vulnus laseratum dengan ukuran lebih dari 5 cm. Jika analgetik lokal dibutuhkan gunakan lidokain 1% tanpa epinefrin. Luka biasanya terinfeksi tetanus jika telah lebih dari 6 jam sebelum pembersihan luka dan memperlihatkan tanda-tanda: tipe luka punctum. dan luka bakar. trauma abdominal. Protokol 3: Antibiotik profilaksis dan antibiotik perawatan Antibiotik profilaksis Antibiotik profilaksis diindikasikan untuk luka yang mempunyai risiko tinggi untuk terinfeksi seperti luka yang terkontaminasi. Tutup luka dengan kasa steril dan kering. Bersihkan luka dengan sabun dan air matang selama 10 menit. 39 . tempat yang berisiko tinggi seperti pada ekstremitas. 2. 3. vulnus penetratum.000 IU/kg BB dalam sekali pemberian.

diberikan Penisilin G dan metronidazole untuk 5-7 hari. Mekanikal: dengan cara membilas/irigasi luka Pembersihan luka dilakukan dengan cara: mencuci daerah luka untuk membersihkan debris atau benda asing yang tertinggal. Metronidazole dewasa 500 mg setiap 8 jam dan anak-anak 7. Enzimatic: enzim yang dapat mendegradasi jaringan nekrotik c. Debridement terbagi atas 4 metode 14: a. hanya jaringan non vital yang dieksisi. Penisilin untuk dosis dewasa 1-5 MIU setiap 6 jam. dan jaringan nekrotik yang terdapat pada luka. Dilanjutkan dengan membuang sisa jaringan nekrotik sehingga didapat pinggiran jaringan yang linear. Surgery: merupakan cara tercepat jika jaringan nekrotik luas b.Antibiotik perawatan Jika infeksi telah terjadi. berikan antibiotik secara intravena. Dilakukan dengan menggunakan sikat halus steril/ kapas steril dengan larutan garam fisiologis. Autolisis: proses yang normal terjadi pada luka dan tidak melukai jaringan sehat di sekeliling luka d. dan berikan secara peroral 2 hari kemudian jika memungkinkan. Pembersihan luka (debridement) Adalah tindakan membersihkan daerah luka dari benda-benda asing yang mengkontaminasi luka. Pembuangan dilakukan seminimal mungkin.5 mg/kg setiap 8 jam secara intravena. Persiapan wound toilet 15: Jangan memakai sabun atau alkohol Gunakan salin steril Irigasi dengan tujuan menghilangkan benda asing 40 . Pengelolaan vulnus secara umum 7: 1. 6 Langkah-langkah pengelolaan luka jaringan lunak terdiri atas: I. Penisilin untuk dosis anak-anak 100 mg/kg BB setiap hari dibagi dalam beberapa dosis.

- Gunakan 50-100ml/cm salin dengan tekanan Gambar 12: Enzymatic wound debridement 14 II. Pengelolaan hematoma dan kontusio 1. Spesifik dengan anti tetanus 2. Instruksikan pada pasien keesokan harinya jika masih lebam dapat dikompres hangat sehingga terjadi vasodilatasi pembuluh darah menyebabkan vaskularisasi aktif agar PMN bergerak untuk memfagositosis sisa-sisa debris fibril atau leukosit dan trombosit yang mati. bahan kimia. Jenis luka dapat beraneka ragam dan memiliki penanganan yang berbeda tergantung jenis jaringan yang 41 . Setelah semua tindakan di atas dilakukan. maka dapat diberikan terapi suportif: pencegahan luka dari infeksi 1. Definisi Luka bakar adalah luka yang disebabkan oleh kontak dengan suhu tinggi seperti api. Tindakan ini dilakukan beberapa hari hingga sembuh. air panas. dan radiasi. Non spesifik dengan pemberian antibiotika LUKA BAKAR I. Kompres dingin untuk mengurangi sakit dan perdarahan 2 Beri analgetik dan antiinflamasi 3. listrik.

14 III. Derajat Luka Bakar Gambar 13. infeksi. Luka tampak sebagai eritema dengan keluhan rasa nyeri atau hipersensitivitas setempat. Luka bakar derajat 1 hanya mengenai epidermis serta belum terbentuk lepuhan dan biasanya sembuh dalam 5-7 hari. Dalamnya luka bakar 15 1. Umur dan keadaan kesehatan penderita sebelumnya akan sangat mempengaruhi prognosis. pembuluh darah dan jaringan epidermal yang mengakibatkan kerusakan yang berada di tempat yang lebih dalam dari akhir sistem persarafan. Luka bakar dapat merusak jaringan otot. tingkat keparahan. ketidak seimbangan elektrolit ( inbalance elektrolit) dan masalah distress pernapasan. luka bakar dapat juga menyebabkan distress emosional (trauma) dan psikologis yang berat dikarenakan cacat akibat luka bakar dan bekas luka (scar). Beratnya Luka Bakar Luka bakar biasanya dinyatakan dengan derajat yang ditentukan oleh kedalaman luka bakar. 42 . dan komplikasi yang terjadi akibat luka tersebut. Selain komplikasi yang berbentuk fisik. Seorang korban luka bakar dapat mengalami berbagai macam komplikasi yang fatal termasuk diantaranya kondisi shock. luas dan daerah luka. 14 II.tulang.terkena luka bakar. misalnya tersengat matahari. Walaupun demikian beratnya luka bergantung pada dalam.

atau bula berisi cairan eksudat yang keluar dari pembuluh karena permeabilitas dindingnya meninggi. Kulit tampak pucat abu-abu gelap atau hitam. ekstremitas atas kanan dan kiri masing-masing 9 %. dada. Gejala yang timbul adalah nyeri. karena itu untuk mendapatkan kesembuhan harus dilakukan cangkok kulit. punggung. gelembung. perut. paha kiri. Pada orang dewasa digunakan rumus 9.2. Luka bakar derajat 3 meliputi seluruh kedalaman kulit dan mungkin subkutis. serta tungkai dan kaki kiri masing-masing 9%. tungkai dan kaki kanan.14 43 . pinggang dan bokong.14 IV.Karena perbandingan luas permukaan bagian tubuh anak kecil berbeda. kelenjar sebasea. ekstremitas bawah kanan dan kiri masing-masing 14 %. Luas Luka Bakar Luas luka bakar dinyatakan dalam persen (%) terhadap luas seluruh tubuh. dan pangkal rambut. paha kanan. Untuk anak. 3. sisanya 1% adalah daerah genitalia. luka dapat sembuh sendiri dalam 2 sampai 3 minggu. yaitu luas kepala dan leher. Pada anak dan bayi digunakan rumus lain karena luas relative permukaan kepala anak jauh lebih besar dan luas relative permukaan kaki lebih kecil. atau organ yang lebih dalam. ekstremitas atas kiri. Rumus ini membantu untuk menaksir luasnya permukaan tubuh yang terbakar bagi orang dewasa. Luka bakar derajat 2 mencapai kedalaman dermis tetapi masih ada elemen epitel sehat yang tersisa. kepala dan leher 18%. Tidak ada lagi elemen epitel hidup yang tersisa yang memungkinkan penyembuhan dari dasar luka. Dengan adanya sisa sel epitel ini. badan depan dan belakang masin-masing 18 %. kelenjar keringat. ekstremitas atas kanan. dengan permukaan lebih rendah dari jaringan sekeliling masih sehat. Elemen epitel tersebut misalnya sel epitel basal.

Derajat 2 dengan luas lebih dari 25 %. Derajat 3 dengan kurang dari 2 %. 2. 3. kaki dan tangan. Ringan bila : a. Luka bakar akibat listrik. Luasnya luka bakar 16 V. c. Luka bakar disertai trauma jalan napas atau jaringan lunak luas.2 44 . b. Derajat 2 dengan luas kurang dari 15 %. b. d.Gambar 14. Derajat 3 dengan luas lebih dari 10 %. Derajat 3 dengan luas kuarang 10 %. Klasifikasi Luka Bakar Menurut Keparahannya 1. atau terdapat fraktur. b. Berat/Kritis bila : a.25 %. atau terdapat di muka. Derajat 2 dengan luas 15 . kaki dan tangan. Sedang bila : a. kecuali terdapat di muka.

Kontak dengan bahan yang panas juga harus cepat diakhiri misalnya dengan mencelupkan bagian yang terbakar atau menceburkan diri ke air dingin. Kalau terjadi oedem laring dipasang pipa endotrakea atau dibuat trakeostomi. Korban dapat mengusahakanya dengan cepat menjatuhkan diri dan berguling dan mencegah meluasnya bagian pakaian yang terbakar. mengurangi rasa sakit.2 Upaya pertama saat terbakar adalah mematikan api misalnya dengan menyelimuti dan menutup bagian yang terbakar untuk menghentikan pasokan oksigen bagi api yang menyala.VI. diberikan campuran udara lembab dan oksigen. Analgesik diberikan bila penderita kesakitan. prinsip penanganan utama adalah mendinginkan daerah yang terbakar dengan air. Perawatan lokal adalah mengoleskan luka dengan antiseptik. terdiri dari merendam daerah luka bakar dalam air atau menyiraminya dengan air mengalir selama sekurang-kurangnya 15 menit. pencegahan trauma mekanik pada kulit yang vital dan elemen didalamnya. Pertolongan pertama setelah sumber panas dipadamkan. pencegahan infeksi. 17 45 . kalau perlu dilakukan resusitasi segera bila penderita menunjukkan gejala syok. mencegah infeksi dan memberi kesempatan sisa-sisa sel epitel untuk berproliferasi dan menutup permukaan luka. Pada luka bakar berat. Bila ada dugaan keracunan CO2. selain penanganan umum seperti pada luka bakar ringan. Trakeostomi berfungsi untuk membebaskan jalan napas. mengurangi ruang mati dan memudahkan pembersihan jalan napas dari lender atau kotoran. Penatalaksanaan Luka Bakar Prinsip penanganan luka bakar adalah penutupan lesi sesegera mungkin. Bila penderita menunjukkan gejala terbakarnya jalan napas. Kalau perlu penderita dimandikan dahulu. diberikan O2 murni. Selanjutnya diberikan pencegahan tetanus berupa ATS dan/atau toksoid. dan pembatasan pembentukan jaringan parut. Pada luka bakar ringan. atau melepaskan baju yang tersiram air panas.

diperlukan 46 . perlu dihitung dengan cermat dan perlu ditambahkan cairan glukosa untuk maintenance. Luka Bakar Karena Bahan Kimia/Kimiawi Luka bakar dapat disebakan oleh asam. Luka Bakar Khusus 1. Lakukan tindakan ini dalam waktu 20 – 30 menit. bila mungkin gunakan penyemprot air. sebab alkali lebih dalam merusak jaringan. Untuk luka bakar alkali.VII. Perlu diketahui bahwa rumus penghitungan cairan tersebut merupakan perkiraan volume cairan yang diperlukan. tanda-tanda vital dan keadaan umum. Pemberian cairan disesuaikan dengan respon individual penderita. alkali dan hasil-hasil pengolahan minyak. Pada 24 jam pertama penderita luka bakar berat derajat II dan III memerlukan 2 – 4 cc cairan RL/ Kg BB/ % Luas luka bakar untuk mempertahankan volume sirkulasi dan fungsi ginjal yang adequat. Segera lakukan irigasi dengan air sebanyak-banyaknya. Segeralah bersihkan bahan kimia tersebut dari luka bakar. Untuk mengetahui status sirkulasi dilakukan pengukuran produksi urine/jam dengan catatan tidak ada osmotic dieresis. konsentrasi bahan kimia dan jumlahnya. ½ dari sisanya diberikan 16 jam berikutnya. misalnya dinilai produksi urinenya. Tekanan darah sukar diukur dan hasilnya tidak dapat dipercaya. Kerusakan jaringan akibat luka bakar bahan kimia dipengaruhi oleh lamanya kontak. Oleh karena itu penderita luka bakar berat harus dipasang kateter. Sebagai patokan mengetahui sirkulasi yang akurat ialah bila penderita diberi infus cairan dalam jumlah yang menghasilkan urine 1cc/Kg BB/ jam (untuk anak dengan BB ≤ 30 Kg) dan 30 – 50 cc / kg BB / jam (dewasa). Luka bakar alkali lebih berbahaya dari asam. Pemberian cairan dilakukan sebagai berikut : ½ dari volume terhitung diberikan 8 jam pertama setelah trauma. Volume Sirkulasi Penilaian volume sirkulasi sering sulit pada penderita luka bakar berat.17 VIII. Untuk mempertahankan produksi urine 1 cc/ Kg BB/jam pada anak-anak dan BB ≤ 30 Kg.

menghasilkan keadaan dimana jaringan yang lebih dalam akan bisa mengalami nekrosis. menyebabkan luka bakar pada tubuh. Bila bahan kimia merupakan bubuk. ECG dan pemasangan kateter. Untuk luka bakar pada mata. pemasangan infus.5 gr manitol pada tiap penambahan 1 liter cairan untuk mempertahankan diuresis sejumlah tersebut di atas. 17 2. Jangan memberikan bahan-bahan penetral (neutralizing agent) sebab reaksi kimia yang terjadi akibat pemberian bahan penetral dapat menimbulkan panas dan akan memperberat kerusakan yang terjadi. berikan segera 25 gr manitol dan tambahkan manitol 12. pernafasan. Luka bakar listrik sering menyebabkan kerusakan jaringan yang lebih berat dari pada luka bakar yang terlihat pada permukaannya. sedangkan kulit di atasnya relatif tampak normal. Luka Bakar Listrik Luka bakar listrik terjadi karena tubuh terkena aliran listrik. dan panas yang ditimbulkannya. Apabila urine berwarna gelap mungkin urine mengandung hemokhromogens. janganlah menunggu konfirmasi laboratorium untuk melakukan terapi terhadap mioglobunuria.17 47 . Bila terjadi asidosis metabolic. sikatlah terlebih dahulu sebelum irigasi. Perbedaan kecepatan hilangnya panas dari tubuh superfasial dengan jaringan tubuh yang lebih dalam. Untuk irigasi ini dapat digunakan kanula kecil yang dipasang pada sulkus palpebra. Penanganan harus segera dilakukan pada penderita dengan luka bakar listrik meliputi perhatian terhadap jalan nafas. pertahankan perfusi sebaik mungkin dan berikan Natrium Bikarbonat untuk membuat urine menjadi alkalis dan meningkatkan kelarutan mioglobin dalam urine. Bila urine belum tampak jernih.waktu yang lebih lama. Tubuh merupakan penghantar tenaga listrik. Pemberian cairan harus ditingkatkan sedemikian rupa sehingga tercapai produksi urine sekurang- kurangnya 100 cc/jam (pada dewasa). memerlukan irigasi terus menerus selama 8 jam pertama setelah luka bakar.

2. pengeluaran sel-sel radang. Hemostasis terjadi karena trombosit yang keluar dari pembuluh darah saling melengket. dan remodelling jaringan.Fase Penyembuhan Luka 17 FASE INFLAMASI Fase inflamasi berlangsung sejak terjadinya luka sampai kira-kira hari kelima.1. Proses fisiologis penyembuhan luka dapat dibagi dalam tiga fase yaitu : fase inflamasi. dan bersama dengan fibrin yang terbentuk membekukan darah yang keluar dari pembuluh darah. dan reaksi hemostasis.4 Tabel 1. pengerutan ujung pembuluh yang putus (retraksi). sel mast dalam jaringan ikat menghasilkan serotonin dan histamin yang meningkatkan permeabilitas kapiler sehingga terjadi eksudasi cairan. Pembuluh darah yang terputus pada luka akan menyebabkan perdarahan dan tubuh akan berusaha menghentikannya dengan vasokonstriksi.BAB III PEMBAHASAN MEKANISME PENYEMBUHAN LUKA Proses biokimia dan seluler kemudian terjadi dalam penyembuhan semua cedera jaringan lunak yang rusak ini. proliferasi. Sementara terjadi reaksi inflamasi. 48 . disertai vasodilatasi setempat yang menyebabkan oedem dan pembengkakan.

2. menghasilkan antibodi yang membantu mengingatkan sistem pertahanan tubuh untuk mengidentifikasi benda asing dan berinteraksi dengan faktor tambahan untuk melarutkan sel-sel asing. monosit yang kemudian muncul ikut menghancurkan dan memakan kotoran luka. Sedangkan limfosit T terdiri dari kelompok yaitu T helper untuk merangsang sel B berdeferensiasi dan berproliferasi. Serum tambahan itu menghasilkan faktorfaktor kemotaksis dan menyebabkan PMN lekosit (neutrofil) menempel pada pembuluh darah (marginasi) dan migrasi melalui dinding pembuluh darah (diapedesis).Selain itu akan terjadi aktivitas seluler yang merupakan gerakan leukosit menembus dinding pembuluh darah menuju luka karena daya kemotaksis. Pada waktu kontak dengan benda asing netropil melepaskan lisosom yang dikandungnya (degranulasi). Limfosit B berguna untuk mengenali antigen. Lisosom tersebut merusak bakteri dan benda asing lainnya serta mengangkat jaringan nekrotik.5 Gambar 15. serta sel T citotoksis untuk melarutkan sel-sel asing dan antigen. Limfosit. Terdapat juga limfosit yang terdiri dari 2 kelompok yaitu limfosit B dan limfosit T. Leukosit mengeluarkan enzim hidrolitik yang membantu mencerna bakteri dan kotoran luka. Fase inflamasi 4 49 . pendapat lain mengatakan bahwa fase seluler ini disebabkan oleh aktivasi dari serum pada jaringan yang rusak.

menggerakkan sistem pertahanan tubuh.5 Gambar 16.4. Substansia dasar mengandung sejumlah mukopolisakaride yang berguna untuk melekatkan serat-serat kolagen. Akan tetapi bila terjadi pada akhir dan tahap ini akan menyebabkan lepasnya hubungan antara serat kolagen yang lama di sepanjang tepi luka dan terbentuk kolagen yang baru. normalnya antara 2-3 minggu. berbentuk seperti anyaman. Fibroblas mengeluarkan fibronectin yaitu kandungan protein yang mempunyai fungsi membantu mempertahankan kestabilan fibrin.FASE PROLIFERASI Serat-serat fibrin diperoleh dari darah yang mengalami pembekuan yang menutup luka.2 Fibrinolisis terjadi disebabkan oleh plasma yang dibawa oleh pembuluh darah kapiler yang baru. membantu mengamati benda asing. maka terjadi penarikan di sepanjang garis utama dan luka. Apabila tegangan pada luka terjadi pada awal tahap fibroplastis. Fibroblas yang terdapat pada tropokolagen akan menghasilkan serat kolagen. dan membantu makrophage. Jaringan dengan cepat tumbuh menjadi kuat selama tahap fibroplastis. bertindak sebagai faktor kemotaksis dari fibroblas. Fase proliferasi 4 50 . Gambaran akhir pada tahap fibroplastis adalah kaku oleh karena banyaknya kolagen dan kemerahan oleh karena vaskularisasi. Fibroblas mulai terbentuk pada substansia dasar dan tropokolagen.

Tubuh berusaha menormalkan kembali semua yang menjadi abnormal karena proses penyembuhan. diganti dengan kolagen yang baru guna meningkatkan ketahanan jaringan pada luka.FASE REMODELING Pada fase ini terjadi proses pematangan yang terdiri dari penyerapan kembali jaringan yang berlebih. dan akhirnya pembentukan kembali jaringan yang baru. Metabolisme menurun. Selama tahap ini kekuatan jaringan meningkat secara perlahan.5 Lebih jelasnya pada tahap ini kolagen yang lama dihancurkan. pengerutan sesuai dengan gaya gravitasi. Karena serat kolagen sangat sedikit akibatnya terbentuk bekas luka yang lunak. Kekuatan jaringan tidak lebih dari 80-85% dibandingkan dengan jaringan yang normal dan hal ini tercapai kira-kira 3-6 bulan setelah penyembuhan. 51 . kolagen yang berlebih diserap dan sisanya mengerut sesuai dengan regangan yang ada. Udem dan sel radang diserap. tetapi tidak seperti pada tahap fibroplastis. Fase ini dapat berlangsung berbulanbulan dan dinyatakan berakhir kalau semua tanda radang sudah lenyap. sehingga menyebabkan hilangnya fleksibilitas pada daerah bekas luka. Selama proses ini dihasilkan jaringan parut yang pucat. sel muda menjadi matang. kapiler baru menutup dan diserap kembali. Terlihat pengerutan maksimal pada luka. tipis. sistem vaskularisasi berkurang sehingga kemerahan pada bekas luka juga berkurang. Elastin dan ligamen tidak kembali pada penyembuhan luka. dan lembut serta mudah digerakkan dari dasar.

jadi dilakukan bantuan tindakan bedah agar luka menjadi tertutup. kehilangan jaringan yang agak luas. Penyembuhan secara sekunder Luka yang dalam proses penyembuhan terisi dengan jaringan granulasi.6 3.3. jahitan yang kurang rapat atau luka dengan suatu dead space. 3. Hal ini biasanya terjadi pada luka yang terbuka.5. Penyembuhan secara tertier Diartikan sebagai penyembuhan pada suatu luka yang sejak awal dibiarkan terbuka atau luka terbuka kembali setelah dijahit primer. selanjutnya terjadi kontraksi luka sehingga ukuran luka mengecil.5. Penyembuhan secara primer Penyembuhan luka berlangsung dengan pembentukan jaringan granulasi yang minimal. dan akhirnya luka tertutup dengan pertumbuhan epitel dari pinggiran luka. yang pada beberapa hari kemudian (3-4 hari) dilakukan penjahitan untuk menutup kembali luka tersebut. 2. Jenis penyembuhan ini terjadi pada luka sayat aseptik yang ditutup secara primer.JENIS-JENIS PENYEMBUHAN LUKA Jenis-jenis penyembuhan luka adalah : 1. karena infeksi.6 52 .

sekunder (b). membutuhkan banyak nutrisi dan pembuangan kotoran. serta faktor-faktor dari luar (ekstrinsik). Oleh karena itu akan terjadi jaringan yang mati. 2. faktor tersebut dibagi dalam faktor dari pasien (intrinsik) seperti kondisi yang kurang menguntungkan pada tempat luka dan sejumlah kondisi medis yang dapat menyebabkan lingkungan sekitar yang buruk terhadap penyembuhan luka.Gambar 17. Turunnya temperatur. Pada semua luka terdapat peradangan. Pada daerah dimana suplai darah tidak cukup akan menyebabkan kebutuhan sel-sel tidak terpenuhi. jaringan nekrotik. Penyembuhan primer (a). dalam hal ini hipoksia menghalangi mitosis dalam sel-sel epitel dan fibroblas yang bermigrasi. Kurangnya suplai darah dan pengaruh hipoksia. sintesa kolagen dan kemampuan makrofag untuk menghancurkan bakteri yang tercerna. dan tersier (c) 3 FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP PENYEMBUHAN LUKA Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi dan memperlambat penyembuhan luka. Tepian luka yang sedang tumbuh merupakan suatu daerah yang aktivitas metaboliknya sangat tinggi. Kira-kira 53 . racun dan bakteri. seperti pengelolaan luka yang kurang tepat dan efek-efek terapi lainnya yang kurang menguntungkan. Aktivitas fagositik dan aktivitas mitosis secara khusus mudah terpengaruh terhadap penurunan temperatur pada tempat luka. Faktor lokal yang berpengaruh terhadap penyembuhan luka : 1. Untuk itu dibutuhkan suplai darah dari vena dan arteri yang cukup.

Penyembuhan luka pada penderita yang masih muda berlangsung lebih cepat. Suatu kebijaksanaan adalah penggunaan antibakteri lokal untuk mengatasi infeksi pada jaringan yang terkontaminasi. 4. Vitamin C penting untuk mempertahankan ikatan antara sel-sel endotel pada kapiler. Dengan bertambahnya umur daya regenerasi dari jaringan tubuh akan berkurang. Demikian juga adanya segala bentuk benda asing termasuk bahan jahitan dan drain luka. gangguan kardiovaskuler. pergerakan yang terjadi pada luka merupakan trauma yang berulang pada luka tersebut. Faktor sistemik yang berpengaruh pada penyembuhan luka: 1. Dua bahan nutrisi yang menunjukkan secara langsung untuk penyembuhan adalah protein dan vitamin C. gangguan sistem imun. pasien dengan penyakit diabetes melitus. Kekurangan vitamin C menyebabkan fibroblas tidak matang atau berdiferensiasi. infeksi kronis. Umur. akibatnya terjadi hambatan pada pembentukan 2.dibawah 28◦C aktivitas leukosit dapat turun sampai nol. anemia dan penyakit lain. krusta yang berlebihan dan benda asing. 3. Dalam keadaan kekurangan protein akan mengakibatkan fibroblas tidak menjadi matang sehingga pembentukan serat kolagen hanya sedikit akibatnya penyembuhan menjadi terhambat. Jaringan nekrotik. Adanya jaringan nekrotik dan krusta yang berlebihan di tempat luka dapat memperlambat penyembuhan dan meningkatkan resiko terjadi infeksi.1. 5.4 54 . faktor yang penting dan sering menimbulkan masalah pada kasus penyembuhan di tempat praktek. Penyakit sistemik. Protein berguna untuk mengefektifkan metabolisme penderita dan mengembalikan plasma protein. Mobilisasi. Infeksi. Oleh karena itu sangat penting untuk mengeluarkan kontaminan organik maupun anorganik secepat mungkin tetapi dengan trauma yang minimum terhadap jaringan utuh. sehingga dapat mengakibatkan terhambatnya penyembuhan luka. 3. Malnutrisi.

dan antibiotik yang sangat diperlukan. Hipotensi 55 . Iskemia Iskemia. adalah berkurangnya suplai darah berpengaruh terhadap tahap perbaikan luka. Jaringan nekrotik sebagai tempat berlindungnya bakteri. Tekanan dari luar dan dalam luka (hematom) d. Iskemia disebabkan oleh beberapa hal yaitu : a. c. Tahap peradangan diperpanjang dimana sel darah putih mengangkut sisa-sisa jaringan nekrotik melaiui proses larutnya enzim dan paghositosis. Bentuk flap yang kurang benar c. Bakteri dapat berkembang biak dan menyebabkan infeksi dimana akan mengeluarkan protein bakteri yang dapat merusak jaringan b. Iskemia menurunkan pengiriman oksigen dan zat makanan yang diperlukan untuk penyembuhan luka. sel darah putih. sehingga dapat menyebabkan terjadinya infeksi pada luka. b. dengan adanya jaringan nekrotik akan menyebabkan masalah antara lain: a. Benda asing yang bukan bakteri tetapi bertindak sebagai bakteri yang dapat meenyebabkan terjadinya infeksi. Iskemia dapat mengurangi pengiriman antibodi. Yang termasuk jaringan nekrotik adalah darah yang terkumpul pada luka (hematom) merupakan sumber makanan yang bagus bagi bakteri. kotoran dan benang jahit. termasuk bakteri. Benda asing sering berbentuk antigen yang memacu terjadinya peradangan kronis. a.Benda Asing Benda asing adalah segala sesuatu yang dianggap asing bukan anggota dari tubuh oleh sistem pertahanan tubuh terhadap mikroorganisme. Terlalu tegang atau tidak tepatnya lokasi penjahitan b. Merupakan penghambat terbentuknya sel-sel reparasi. Jaringan Nekrotik Jaringan nekrotik.

5.empat minggu. Pada luka badan saraf. Hal ini akan berpengaruh pada bagian distal dari lokasi luka dan sebagian bagian proksimal dari luka.3. MEKANISME PENYEMBUHAN JARINGAN SARAF Proses penyembuhan jaringan saraf tergantung pada derajat keparahan dan keluasan luka. Pada luka yang menyebabkan terganggunya konduksi saraf. Anemia Ketegangan Jaringan Ketegangan jaringan. Setelah sel saraf terluka.6 PENATALAKSANAAN LUKA YANG TIDAK TEPAT Gagal mengidentifikasi penyebab yang mendasari sebuah luka atau gagal untuk melakukan identifikasi masalah lokal di tempat luka. serta teknik pembalutan dan penjahitan yang kurang hati-hati adalah penyebab terlambatnya penyembuhan luka yang dapat dihindari.e. Jaringan diliputi oleh benang yang terlalu tegang sehingga menimbulkan iskemia. penggunaan antiseptik yang tidak bijaksana. penggunaan antibiotik topikal yang kurang tepat dan ramuan obat perawatan luka lainnya. terjadi degenerasi pada semua akson di badan saraf yang terluka. Jika benang diambil terlalu awal maka dapat terjadi pembukaan kembali dari luka sehingga dapat menimbulkan kontraksi dari luka. tanpa rusaknya akson (selubung myelin masih intak atau terdapat luka yang kecil) penyembuhan dari defisit fungsional berlangsung secara spontan dan umumnya lengkap dalam tiga . Apabila terlalu lama benang tidak diambil maka akan mendatangkan ketegangan jaringan dan luka cenderung semakin terbuka selama tahap remodeling. sehingga akan meninggalkan tanda yang buruk. Apabila ada kerusakan akson (sel Schwann dan jaringan ikat masih intak) akan terjadi perubahan morfologis sebagai manifestasi dari degenerasi aksoplasma. Penjahitan dengan benang yang terlalu kencang dapat menimbulkan ketegangan pada jaringan di daerah luka. ketegangan dari luka dapat menghambat terjadinya penyembuhan. investing Schwann cells akan memulai beberapa perubahan yang disebut 56 . Penyakit pembuluh darah tepi f.

Infeksi luka dapat dikurangi dengan cara melakukan tindakan bedah yang benar. pembengkakan. Selain itu.7 Dehiscence Dehiscence terjadi akibat tindakan hecting yang tidak optimal. dan umumnya disertai dengan terbentuknya pus dan bau. dan saraf yang terlibat. tergantung luas daerah dehiscence dan keputusan klinisi. Berdasarkan hasil penelitian. dan eliminasi dead space. rasa nyeri. hemostasis yang adekuat. infeksi dapat terjadi akibat daya tahan tubuh host yang menurun atau derajat virulensi bakteri. tipe luka. Bagian yang mengalami dehiscence dapat ditutup lagi atau dibiarkan supaya terjadi penyembuhan sekunder. Perlu dibedakan antara keloid dengan hyperthrophic scar. sel Schwann akan menghubungkan bagian proksimal dan distal dari luka dengan cara membentuk suatu ikatan (Bungner’s band) yang akan menerima akson yang sudah regenerasi dari bagian proksimal.degenerasi wallerian. Gejala klinis dari luka yang terinfeksi adalah eritema. Tindakan yang tidak asepsis merupakan penyebab utama terjadinya luka yang terinfeksi. nutrisi. sedangkan hyperthropic scar timbul segera setelah luka 57 .4 KOMPLIKASI PENYEMBUHAN LUKA Infeksi Pada Luka Infeksi pada luka umumnya merupakan infeksi dari kontaminasi bakteri pada luka tersebut. Sel Schwann juga dapat mengeluarkan beberapa faktor neurotropik untuk menunjang regenerasi sel saraf. infeksi dapat terjadi bila terdapat 1 x 105 bakteri dalam 1 gram jaringan. serta menjaga luka tetap bersih. Jaringan parut Keloid memiliki faktor predileksi hubungan kekerabatan dan ras. Proses regenerasi sel saraf berlangsung sekitar 3 bulan dan ditandai dengan terbentuknya akson bermielin. di sepanjang akson distalis dan beberapa akson proksimalis. peningkatan suhu. Selama 78 jam. Proses regenerasi dipengaruhi oleh faktor umur.1. Setelah debris dapat dibersihkan. meliputi debridement. akson yang terluka akan difagositosis oleh sel Schwann dan makrofag. Keloid timbul beberapa bulan setelah luka sembuh.

4 58 . Hal yang dapat dilakukan adalah menjaga jarak antarjahitan tidak terlalu rapat dan setelah dilakukan hecting.sembuh. pasien dapat diberikan obat anti-keloid (salep kanakeloid atau injeksi kenacort 2x sebulan).

BAB IV KESIMPULAN Luka adalah terputusnya kontuinitas jaringan baik tanpa kehilangan jaringan atau disertai dengan kehilangan jaringan. iskemia dan ketegangan jaringan. penyembuhan luka dipengaruhi oleh faktor lokal dan faktor sistemik. Komplikasi yang sering terjadi adalah infeksi. Faktor-faktor yang menghambat proses penyembuhan luka adalah adanya benda asing. dan jaringan parut yang berlebihan. tahap fibroblastis dan tahap remodeling. 59 . dehiscence. Luka pada jaringan dapat disebabkan oleh peristiwa patologis atau trauma. adanya jaringan nekrotik. Proses penyembuhan luka dapat dibagi menjadi tiga tahap dasar yaitu tahap inflamasi.

F.dc349. 20. 2003. hal 28-42. hal. hal. Oral and Maxillofacial infection. Philadelphia.bayoesunaryo. 60 . Feinberg. Patient UK. Simple Wound Management and Suturing. JM. www. 2. Jakarta. 2002. Buku Ajar Ilmu Bedah.81-91.300 – 309. 7. M. Media Aesculapius. Manajemen Luka. www.4shared. hal. diunduh tanggal 22 Januari 2013 17. Topazian R. dkk. www.jellygamatluxornet. The Principles of Wound Healing. EGC.B. 4th ed.hal.com. Buku Ajar Bedah Mulut.com. Pederson W.65.meddet. Jakarta: EGC 8.Saunders and Co. Healing of Traumatic Injuries. Vol.DAFTAR PUSTAKA 1.G and Goldberg M. PE.com . 4. American College of Surgeon. in Fonseca RJ and Walker RV. Suprohaita. 1996.D. diunduh tanggal 22 Januari 2013 16. www. FK-UI. 9th ed. diunduh tanggal 22 Januari 2013 12. EGC. Sjamsuhidajat R. W. diunduh tanggal 22 Januari 2013 10. Cristhoper's Textbook of Surgery.G. www. W. 6. 1998. Larsen. I. 1998. Manual Untuk Peserta ATLS.skwawesome. 1997. 15. Wim de Jong. Enquist. Radang dan perbaikan. Philadelphia: W. Arif Mansjoer. diunduh tanggal 22 Januari 2013 14. 105-107. diunduh tanggal 22 Januari 2013 11. Robins. Cotran.com .com .B Saunders Co.com .patient. dalam Dasar Patologi Penyakit.co. diunduh tanggal 22 Januari 2013 13. in Loyal Davis. http://burn-victim-help-center. 9. tahun 1996.uk 5. Alih Bahasa Purwanto. London: Saunders Company. 1991. edisi 5. 2001. SE. Kumar.wordpress. 365-372. www.adam. Oral and Maxillofacial Trauma.B.H. Frying. Morison. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2. http://www. Pp: 99-111 3.com .

61 .

dan terhambatnya penyembuhan luka gangguan motilitas usus.Penanganan Perdarahan / Hemostasis dan Pengelolaan Nutrisi Penderita Trauma Oromaksilofasial Alvin 160121120006 Peserta Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut Dan Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Abstrak : Perdarahan pada penderita oromaksilofasial merupakan suatu jenis kegawatdaruratan yang dapat mengancam jiwa. meletakkan substansi vasokonstriktif. maka dari itu diperlukan suatu penanganan perdarahan secepat mungkin. trauma. gangguan enzim dan metabolisme serta kelemahan otot. menggunakan panas .namun prosedur ini juga membatasi kemampuan mulut sementara waktu. pengikatan dengan benang. Pada keadaan trauma (stress dan sepsis) tubuh mengalami rangkaian perubahan hormonal yang menambah laju metabolisme. Maksud dari penulisan makalah ini adalah untuk memberikan gambaran penanganan perdarahan dan pengelolaan nutrisi penderita trauma oromaksilofasial . Penanganan perdarahan dapat dilakukan dengan membentuk mekanisme hemostasis natural. terjadinya edema. nutrisi 62 . Prosedur bedah mulut dan maksilofasial dapat mengeliminasi permasalahan ini dengan suatu prosedur operasi. Kata kunci : perdarahan. Hal ini berakibat menurunnya daya tahan tubuh. Pada penderita trauma oromaksilofasial juga diperlukan adanya pengelolaan nutrisi yang adekuat dikarenakan pada penderita trauma kemampuan penggunaan mulut penderita berkurang. Oleh karena itu pasien dengan trauma oromaksilofasial memerlukan intervensi nutrisi dalam rawat inap di rumah sakit.

membuat pendekatan per oral pada perawatan fraktur fasial menjadi aman dan layak dilakukan 2. Keadaan ini membutuhkan pertolongan segera yang dapat berupa pertolongan pertama sampai pada pertolongan selanjutnya secara baik di rumah 63 . atau daerah-daerah lain dengan sumber daya yang terbatas yang biasanya tidak dapat menangani pasien dengan trauma yang kompleks dan frekuensi yang besar. Fraktur-fraktur yang pada jaman dahulu tidak dapat dikenali sama sekali atau hanya bersifat dugaan sekarang ini bisa ditunjukkan sampai hal yang terkecil. pasien tersebut sering membutuhkan penanganan medis darurat atau kematian dapat terjadi 1. Dengan tersedianya antibiotik dan peralatan yang khusus. kantor.BAB I PENDAHULUAN Manajemen pasien yang mengalami trauma jarang dijumpai pada pusat trauma mayor dimana sumber dayanya tidak terbatas. namun justru dijumpai pada perumahan yang terpencil. jalan raya. Perawatan yang terdahulu hanya terdiri atas fiksasi gigi pada oklusi sentrik untuk mengurangi dan mengimobilisasi suatu rahang. Trauma oromaksifasial dapat menimbulkan perdarahan. Pada mulanya dokter gigi dilibatkan pada perawatan trauma rahang karena mereka menguasai pengetahuan tentang gigi dan oklusi. Diagnosis didukung dengan adanya teknik radiografis yang berkembang dengan pesat. sehingga memerlukan tindakan di dalam ruang gawat darurat agar tidak menimbulkan kematian 3. Trauma yang terdapat pada regio maksilofasial memerlukan perhatian khusus. Kunci penatalaksanaan pasien trauma biasanya melibatkan mobilisasi dari pasien-pasien tersebut dan penyaluran ke pusat trauma untuk penanganan lebih lanjut. Sekarang ini dasar pemikiran perawatan fraktur mandibula dan maksila masih tidak banyak berubah. Ketika trauma yang kompleks terjadi. hanya tekniknya yang berkembang pesat.

Tindakan tersebut dimaksudkan untuk menyelamatkan jiwa mencegah dan membatasi cacat serta meringankan penderitaan dari penderita. Distribusi umur pasien trauma menunjukkan bahwa pasien trauma berumur antara 17 dan 24 tahun. luka tusuk dan perkelahian). Kelompok utama yang kedua dari pasien trauma berumur antara 35 dan 44 tahun dan didominasi oleh laki-laki yang terluka karena kecelakaan motor. bila fraktur melibatkan sinus dan tulang frontal. Fraktur Le Fort I bila fraktur terdapat pada bagian bawah dari midface. Kelompok ketiga tertinggi dari pasien trauma berumur antara 75 dan 85 tahun dan kebanyakan adalah wanita yang terluka karena jatuh atau oleh karena kecelakaan motor. bila fraktur hanya terdapat pada mandibula.sakit. 3 Kematian pada penderita dengan trauma oromaksilofasial salah satunya dapat disebabkan oleh perdarahan yang tidak cepat diatasi. 1 64 . sehingga memerlukan tindakan di dalam ruang gawat darurat agar tidak menimbulkan kematian 3. Midface yang bagian atas bila terdapat fraktur Le Fort II dan Le Fort III dan/atau fraktur tulang nasal. Bagian yang ketiga dari regio maksilofasial adalah wajah bagian bawah. Berikut ini akan dibahas mengenai penanganan perdarahan/hemostasis dan pengelolaan nutrisi pada kegawatdaruratan trauma oromaksilofasial sebelum dilakukan penanganan definitif lebih lanjut. 3 Regio maksilofasial terbagi menjadi tiga bagian. Keadaan ini selain membutuhkan pengetahuan dan ketrampilan yang baik dari penolong dan sarana yang memadai. fraktur nasoetmoidal atau kompleks zygomatikomaksilari dan fraktur dasar orbita. dengan jenis kelamin laki-laki yang paling dominan terluka pada kecelakaan motor dan oleh karena kekerasan (luka tembak. Kelompok umur ini adalah kelompok yang paling sering dijumpai oleh spesialis bedah mulut untuk evaluasi dan pengobatan luka fasial 1. Midface dibagi menjadi bagian atas dan bagian bawah. Insidensi trauma maksilofasial sering terjadi terutama yang berhubungan dengan kecelakaan kendaraan bermotor. Bagian kedua adalah daerah tengah wajah atau midface. Bagian pertama adalah wajah yang bagian atas. juga dibutuhkan pengorganisasian yang sempurna.

Tranportasi cepat (Ambulatory) 2. Stabilisasi tulang belakang e. Radiografi c. Resusitasi dan pemantauan lanjut 4. Perawatan non operatif c. Penanganan yang dilakukan sebelum dibawa ke rumah sakit a.BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Diagnosis dan penanganan sekunder a. Mempertahankan jalan napas b. Pemeriksaan Laboratorium d. Perawatan Definitif a. Resusitasi dan pananganan primer a. Breathing. Adapun tahap-tahap penanganan trauma adalah sebagai berikut 4: 1. Circulation) b. Stabilisasi fraktur d. Pemantauan 3. Pembedahan b. Pemeriksaan fisik menyeluruh b. Rehabilitasi 65 . Menghentikan perdarahan eksternal c. Sehingga tahap-tahap penangannnya bersamaan dengan penanganan trauma yang lainnya. PENANGANAN TRAUMA OROMAKSILOFASIAL Pada umumnya penderita dengan trauma oromaksilofasial terjadi bersamaan dengan trauma pada bagian tubuh yang lain (trauma multiple). Resusitasi cairan c. Nutritional support 5. ABC (Airway.

waktu perdarahan. operasi. Perdarahan primer jika terjadi pada waktu terputusnya pembuluh darah karena trauma. dapat terjadi karena kelainan 66 . c. lokasi perdarahan. Perdarahan sekunder jika terjadi setelah 24 jam. b. dengan ciri-ciri warna darah antara darah arteri dan vena. Perdarahan internal jika arah tidak keluar. Perdarahan kapiler. Perdarahan intermediate jika terjadi dalam 24 jam. dengan ciri-ciri warna darah merah gelap karena mengandung karbondioksida dan darah yang keluar mengalir tetap. Menurut pembuluh darah yang terluka. Perdarahan spontan/biokemis yaitu perdarahan terjadi akibat kelainan atau gangguan mekanisme hemostasis. perdarahan dapat dibagi menjadi: a. TINJAUAN UMUM PERDARAHAN Perdarahan adalah keluarnya darah dari pembuluh darah kedalam ruang ekstravaskuler. b.B. 3. Berbagai macam perdarahan yang dibagi menurut pembuluh darah yang terluka. b. dan darah merembes dari permukaan luka. Perdarahan mekanik yaitu perdarahan terjadi akibat trauma mekanik atau kecelakaan b. dibagi menjadi: a. karena hilangnya kontinuitas pembuluh darah. maka dibagi menjadi: a. 2. c. 4. Perdarahan vena. Perdarahan arteri. dan penyebab perdarahan. yang akan diuraikan sebagai berikut1: 1. Perdarahan eksternal jika darah keluar dari kulit atau jaringan lunak dibawahnya. Menurut waktu terjadinya perdarahan. dengan ciri-ciri warna darah cerah terang karena mengandung oksigen dan perdarahan memancar dengan aliran yang terputus-putus sesuai dengan denyut jantung. Menurut penyebab terjadinya perdarahan maka dibagi menjadi: a. Menurut lokasi perdarahan. tetapi masuk kejaringan sekitarnya.

Gangguan faktor hemostasis akan mengakibatkan terjadinya perdarahan atau trombosis. Masalah lainnya yang disebabkan oleh perdarahan adalah terbentuknya hematoma. Hemostasis sekunder. hematoma tersebut meningkatkan tarikan pada tepi luka dan berfungsi sebagai media kultur. Perdarahan yaitu darah keluar dari pembuluh darah.pembuluh darah. Evaluasi faal hemostasis dapat dilakukan melalui beberapa cara. Hematoma memberikan tekanan pada luka. yang akan diuraikan sebagai berikut: 1. kelainan trombosit dan kelainan mekanisme pembekuan darah. yang termasuk didalamanya adalah faktor pembekuan dan anti pembekuan. C. Trombosis yaitu darah membeku di pembuluh darah. mengurangi vaskularitas. Salah satunya adalah menurunnya visibilitas yang dikarenakan perdarahan yang tidak terkontrol. Hemostasis dapat dibagi menjadi5: 1. Hemostasis primer. yang termasuk didalamanya adalah pembuluh darah dan trombosit. Akan tetapi pengontrolan hemostasis penting dikarenakan oleh adanya alasan-alasan yang penting juga. sehingga tekanan darah di dalam kapiler meningkat. 67 . titik itu disebut petekia. HEMOSTASIS Hemostasis adalah proses penghentian perdarahan dari pembuluh darah yang mengalami kerusakan secara spontan. yang memungkinkan terjadinya infeksi pada luka 5. Dinding kapiler yang kurang kuat akan menyebabkan darah keluar dan merembes kedalam jaringan sekitarnya sehingga nampak titik merah kecil pada permukaan kulit. Percobaan Pembendungan (Tes Rumpel Leede) Menguji ketahanan dinding kapiler darah dengan cara mengenakan pembendungan kepada vena. Pencegahan kehilangan darah yang banyak merupakan hal yang penting untuk menjaga kapasitas transpor oksigen pada pasien tersebut. 2.

V.II. 3.000-400. protrombin dan fibrinogen. protrombin dan fibrinogen 6. IX. 4. X. VIII. kininogen. Pemeriksaan Penyaringan untuk Faktor XIII Digunakan untuk menilai kemampuan faktor XIII dalam menstabilkan fibrin.000/mm³ Deteksi trombositosis .V.000/ul digolongkan trombositopenia berat dan perdarahan spontan akan terjadi jika jumlah trombosit kurang dari 20. 5. X.X. Hitung jumlah trombosit Perdarahan tidak terjadi jumlah trombosit lebih dari 100. Tes Koagulasi Jenis Tes Nilai Normal Kegunaan Mengamati fungsi vaskular dan platelet. defisiensi vitamin K. Mungkin abnormal pada penyakit hati. Tabel 1. Waktu protrombin 12-14 Detik 68 .VII. deteksi penyakit willebrand Waktu perdarahan 2-7 menit Hitung platelet 150. prekalikren. XI.2. Masa tromboplastin parsial teraktivitas ( Activitated Parsial Tromboplastin Time/APTT) Menguji pembekuan darah melalui jalur intrinsik dan jalur bersama yaitu faktor pembekuan XII. Jumlah trombosit kurang dari 50.000/ul. Masa Protrombin Plasma (Protrombine Time/PT) Menguji pembekuan darah melalui jalur ekstrinsik dan jalur bersama yaitu faktor pembekuan VII. Masa perdarahan Menilai kemampuan vaskuler dan trombosit untuk menghentikan perdarahan.000/ul. trombositopenia Lebih lama bila berkaitan dengan defisiensi faktor-faktor I. V. Trombine Time (TT) Perubahan fibrinogen menjadi firbin 7.

Penggunaan aspirin. kecuali VII Hemofilia Tabel 2. dan anti-radang nonsteroid lain. bila ada defisiensi faktor pembekuan darah. Faktor Pembekuan Darah Faktor I II Fibrinogen Protrombin Peranan pada pembekuan darah Prekursor fibrin Proensim. Paruh waktu tromboplastin 60-70 detik Lebih lama.terapi warfarin sodium (Coumadin).diaktifkan oleh tromboplastin Diperlukan untuk merubah protrombin menjadi thrombin Tes PT PT PTT III Tromboplastin IV V VI Kalsium Proaccelerin Tidak lagi digunakan Diperlukan pada semua tahap Diperlukan untuk pembentukan tromboplastin PTT PT PTT VII Proconvertin Diperlukan untuk mengubah protrombin menjadi thrombin PT VIII Faktor antihemofilik (AHF) Diperlukan untuk pembentukan tromboplastin IX Komponen Plasma tromboplastin X Faktor Stuart Prower Diperlukan dalam pembentukan tromboplastin dan perubahan dari protrombin menjadi thrombin XI Anteseden tromboplastin plasma XII Faktor Hageman XIII Faktor stabilisasi fibrin PT : Waktu protrombin PTT : Paruh waktu tromboplastin Mengawali proses pembekuan darah in vitro Merubah fibrin menjadi polimer fibrin Diperlukan untuk pembentukan tromboplastin Diperlukan untuk pembentukan tromboplastin PTT PTT PTT PTT PTT PTT 69 .

seorang laki-laki dengan berat badan 70 kg memiliki volume darah kurang lebih 5L. dressing tersebut sebaiknya jangan dilepaskan. Hemoragi dapat secara eksternal maupun internal ke dalam kavitas tubuh. Pada orang dewasa dengan berat badan yang ideal. hal tersebut hanya direkomendasikan apabila penekanan langsung pada luka saja tidak efektif 1. Perban tekan. PASGs dan medical antishock trousers(MASTs). tetapi sebaiknya dressing tambahan digunakan karena apabila dressing dilepaskan maka formasi clot yang telah terbentuk dapat terganggu dan menyebabkan perdarahan kembali. Tekanan yang digunakan untuk mengontrol perdarahan sebaiknya kuat dan kontinu. Luka pada kulit kepala dapat menyebabkan kehilangan darah dalam jumlah besar pada waktu yang singkat karena perembesan darah pada galea dan lapisan jaringan ikat yang renggang. fraktur nasal atau tengah wajah. dan luka tembus pada leher.0 nonresobable atau staples tanpa memperhatikan kosmetik pasien. kita mengetahui adanya suplai vaskular yang banyak ke daerah muka dan leher. Tekanan yang kuat dapat diaplikasikan proksimal ke arah arteri mayor untuk mengontrol perdarahan. Sebagai spesialis bedah mulut dan maksilofasial. 8% hingga 9% dari berat badan. Akan tetapi. seperti air-pillow splints dan blood pressure cuff dapat juga digunakan. Pada anak-anak. PENANGGULANGAN PERDARAHAN KARENA TRAUMA Kehilangan darah akut dari sistem peredaran darah disebut juga sebagai hemoragi. volume darah secara umum tinggi per satuan berat. Luka kulit kepala dapat dengan cepat diatasi dengan dijahit menggunakan 2. Hemoragi eksternal biasanya dapat dikontrol dengan melakukan penekanan secara langsung ke luka yang ada. Aspek negatif dari suplai darah tersebut adalah hemoragi mayor dapat disebabkan oleh luka pada kulit kepala yang besar. Maka dari itu. volume darah tidak meningkat secara spesifik. Ketika dressing yang digunakan menjadi basah. Tekanan langsung kemudian dapat dilakukan pada luka untuk 70 . Pada individu yang menderita obesitas. volume darah normal (liter) adalah sebanyak 7% dari berat badan (kilogram). yang sebelumnya digunakan untuk meningkatkan tekanan darah pada kasus hipotensi yang parah. memberikan keadaan yang merugikan pada beberapa situasi karena menyebabkan luka vaskular.D.

Ketika pengontrolan langsung pembuluh darah diperlukan. fraktur femur 500 ml hingga 1000 ml. dan ekskremitas. merupakan cara yang terbaik untuk mengatasi perdarahan yang tidak dapat dikontrol dengan menggunakan metode yang telah disebutkan di atas 1. Hipovolemi yang terus menerus tanpa adanya perdarahan eksternal atau ke dalam rongga dada dapat menunjukkan adanya hemoragi abdominal atau hemoragi pada daerah fraktur. Fraktur nasal dan tengah wajah dapat menyebabkan robeknya arteri ethmoidal. Embolisasi dari perdarahan dengan cara intervensi secara radiologi oleh radiologis . abdomen. sekaligus dapat menyebabkan kemungkinan rusaknya nervus. Pengontrolan perdarahan internal tidak dilakukan pada saat survei primer. ligasi dari arteri karotis eksternal mungkin diperlukan. Fraktur pelvis dapat menyebabkan kehilangan darah sekitar 1000 ml sampai 2000 ml. visualisasi yang adekuat dari pembuluh darah diperlukan.jika tersedia. yang dapat terjadi pada fraktur Le Fort I dan II. Pada kasus yang langka. Pemeriksaan fisik dan radiografis sangat menolong dalam mengidentifikasi hemoragi ke dalam area tersebut. Daerah internal yang potensial untuk tempat terjadinya perdarahan termasuk rongga dada. Epinephrine dan cairan trombin dapat juga ditambahkan pada gauze packing dan kepala dapat juga dinaikkan untuk mendapatkan hemostasis. Penjepitan tanpa melihat pembuluh darah dapat menyebabkan perdarahan dari pembuluh darah dan jaringan lunak. dapat dikontrol dengan tekanan dari gauze packing selama beberapa waktu. dan tulang-tulang kecil lainnya 125 ml hingga 250 ml. jahitan dapat dilepaskan dari luka dan penutupan lapisan luka secara kosmetik dapat dilakukan 1.mengontrol hemoragi dan meminimalkan pembentukan hematoma. Ketika pasien sudah stabil. hal ini biasanya tidak efektif jika digunakan sendiri saja dikarenakan sirkulasi kolateral dari wajah. Kebanyakan hemoragi dari fraktur fasial dapat dikontrol dengan tekanan langsung atau packing. retroperitoneum. Perdarahan internal dapat dikontrol dengan 71 . fraktur tibia 250 ml hingga 500 ml. Perdarahan internal arteri maksilaris yang disebabkan fraktur dinding posterior maksila. kecuali jika hemoragi tersebut menyebabkan keadaan yang merugikan pada sistem pulmonal dan kardiovaskular. Akan tetapi.

Yang pertama adalah dengan membentuk mekanisme hemostasis natural. Cairan bertindak sebagai penghalang energi dan mencegah sejumlah besar panas mencapai pembuluh darah untuk menyebabkan penutupan 5. Cara ketiga untuk membantu terjadinya hemostasis bedah adalah dengan pengikatan dengan benang. Kedua. refraksi. Cara kedua untuk memperoleh hemostasis adalah dengan menggunakan panas untuk menyebabkan ujung dari pembuluh darah yang terpotong sehingga bersatu (koagulasi termal). Tiga kondisi harus dipenuhi untuk memenuhi persyaratan penggunaan koagulasi termal. dan operasi eksplorasi 1.menggunakan fiksasi sekunder dari fraktur. yang pada akhirnya menyebabkan koagulasi. Hemostasis luka dapat diperoleh dengan empat cara. Jika tidak. Syarat yang ketiga untuk koagulasi termal adalah pembuangan semua darah atau cairan yang terakumulasi di sekitar pembuluh darah yang akan dikauter. Hal ini biasanya diperoleh dengan mengunakan fabric sponge untuk memberikan tekanan pada pembuluh darah atau meletakkan hemostat pada pembuluh darah. Kedua metode tersebut menyebabkan stasis dari darah pada pembuluh darah. setiap 72 . arus listrik dapat mengalir ke arah yang tidak diinginkan dan menyebabkan luka bakar. Pertama. Panas biasanya diaplikasikan melalui tegangan listrik yang dipusatkan oleh ahli bedah pada pembuluh yang mengeluarkan darah dengan memegang pembuluh darah dengan instrumen metal. Mengusap dapat membuka kembali pembuluh darah yang telah tersumbat dengan beku darah 5. oklusi vaskular melalui mekanisme perlindungan. Beberapa pembuluh darah kecil kebanyakan hanya memerlukan tekanan selama 20 hingga 30 detik. pembentukan clot. tip cauter dan intrumen metal lainnya yang disentuh oleh tip kauter tidak boleh menyentuh pasien pada titik lainnya selain pada area pembuluh darah yang berdarah. sehingga arus listrik dapat memasuki tubuh. seperti hemostat. Jika pembuluh darah besar telah terpotong. Ahli bedah dan asisten sebaiknya “mencolek” bukan mengusap dengan spons untuk menghilangkan darah yang terekstravasasi. dan pembuluh darah besar memerlukan 5 hingga 10 menit penekanan yang kontinu. atau dengan menyentuh pembuluh darah dengan tip elektrokauter. pasien harus berhubungan dengan tanah.

Perdarahan pada penderita dengan trauma oromaksilofasial dapat terjadi secara internal maupun eksternal. Ketika pembuluh darah telah terputus. 73 . seperti epinefrin. serta kontrol perdarahan 6. Cara mengatasinya dengan melakukan penekanan pada luka dan jika perdarahan masih berlangsung terus dilakukan pengikatan (ligasi). dua hemostat dapat di letakkan pada pembuluh darah. Circulation). Pada perdarahan internal hanya dapat diatasi di rumah sakit. seperti trombin atau kolagen. Ahli bedah kemudian mengikat pembuluh darah tersebut dengan benang non-resorbable. Perdarahan yang keluar dari hidung dapat diatasi dengan meletakan tampon di lubang hidung depan dan belakang 6. E. PENANGANAN SEBELUM KE RUMAH SAKIT Tujuan penanganan sebelum penderita dibawa ke rumah sakit yaitu menyelamatkan jiwa penderita sebelum mendapatkan penanganan yang lebih lanjut di rumah sakit 6..ujungnya dijepit dengan menggunakan hemostat. dengan jarak yang cukup di anataranya untuk memotong pembuluh darah. Perawatan penderita cedera akut dengan faktur pada daerah wajah. pada luka atau dengan pengaplikasian prokoagulan.. Penanganan perdarahan di tempat kecelakaan diutamakan pada perdarahan eksternal. benang diikatkan pada setiap ujungnya dan hemostat dilepaskan 5. Breathing. Jika pembuluh darah dapat dibebaskan dari jaringan ikat sekitarnya sebelum dipotong. dan sirkulasi (Air ways. pada luka 5. Cara keempat untuk mendapatkan hemostasis adalah dengan meletakkan substansi vasokonstriktif. pertama kali harus ditujukan pada penyelamatan jiwa dengan memperhatikan jalan nafas dan pernafasan.

Pemberian cairan intravena dapat diberikan jika transportasi diperkirakan memerlukan waktu lebih dari 30 menit. Untungnya hanya dengan melakukan klem saja sudah cukup diinduksi untuk membuat beku darah. atau perdarahan berat melebihi 50 cc permenit.Gambar 1. 74 . Penanganan Perdarahan Hidung6 Penanganan awal apabila terjadi perdarahan arteri adalah dengan penekanan. maka dapat diputuskan untuk meneruskan atau menghentikan prosedur 4. Pergunakan cairan hipertonik 4. Apabila tersedia. Melakukan klem pada daerah perdarahan dimulut sangat sukar dan melakukan pengikatan (ligasi) bahkan lebih sulit lagi. maka diklem dengan hemostat. misalnya terpotongnya arteri. Penekanan diperoleh dari penekanan langsung dengan jari atau dengan kasa. Sesudah mengontrol perdarahan Intra-operatif. Sering dengan hanya melakukan sudah bisa berhasil mengatasi perdarahan. Jika keluarnya darah sangat deras.dapat digunakan elektrokoagulasi dari pembuluh yang diklem sehingga tidak perlu diikat Alternatif yang lain yang biasa digunakan hanya pada pembedahan adalah menggunakan klip hemostatik pada pembuluh darah.

misalnya trauma mengenai cerebro kardiovaskuler. Jika belum dilakukan. sebelum melakukan pemeriksaan tanda-tanda vital. hidung. Penanganan perdarahan eksternal pada trauma oromaksilo fasial sudah harus dilakukan saat sebelum tiba di rumah sakit. Untuk penderita dengan trauma oromaksilofasial pendekatan awal sedikit berbeda dengan cedera yang lain. dada. keadaan-keadaan itu harus ditangani lebih dahulu oleh karena mengancam jiwa penderita 1. Penjepitan pembuluh darah secara acak harus dihindari karena dapat membahayakan pembuluh darah balik dan saraf 1. Penjepitan pembuluh darah dengan arteri klem6 Faktor yang mempengaruhi keputusan ini adalah kondisi fisik dan mental pasien (tanda-tanda vital). Seringkali trauma oromaksilofasial terjadi bersamaan dengan trauma pada bagian tubuh lain (trauma multiple). nasofaring (dari basis cranii) atau perdarahan dari hidung (fraktur nasalis. fraktur maksila). 75 .Gambar 2. perkiraan jumlah darah yang dikeluarkan dan waktu yang digunakan untuk mengontrol perdarahan. Perdarahan dari fraktur oromaksilofasial dapat terjadi perdarahan pada rongga mulut. hendaknya dilakukan bersamaan dengan penanganan jalan nafas. Pada keadaan ini kita mendahulukan penanganan trauma yang paling mengancam jiwa 1. sinus paranasalis. Perhatian harus segera diarahkan terhadap saluran pernafasan dan kontrol perdarahan eksternal. saraf. dan anggota gerakan lainnya.

ketolamin (+) dingin. kehilangan darah 10-15%. APTT. Etiologi syok hipovolemik adalah kehilangan darah/perdarahan (trauma. Selain itu golongan darah dan cross matched juga perlu diperiksa1. SYOK HIPOVOLEMIK Syok adalah ketidakmampuan sirkulasi darah untuk memenuhi kebutuhan metabolisme jaringan. Klasifikasi perdarahan1 KELAS I Kehilangan Darah (mL) % Kehilangan Darah < 15 % < 750 KELAS II 750-1500 KELAS III 1500-2000 KELAS IV > 2000 15-30% > 40% 76 . Cl. HCO3. pemeriksaan elektrolit (seperti Na. kreatinin dan kadar glukosa). dan hampir semua penderita multi-trauma ada syok. Perdarahan adalah sebab tersering dari syok pada trauma. Untuk cukup atau tidaknya aliran darah dapat diketahui dengan memperhatikan keadaan-keadaan seperti tensi yang menurun. K. dan hematoma). PT. pancreatitis. ekstrimitas lembab dan keterlambatan capillary filling. analisa gas darah dan pemeriksaan urin rutin (pada pasien dengan trauma). takikardia.F. Perdarahan yang banyak bisa mengakibatkan syok hipovolemik.5 ml/kg BB/jam1. penyebab syok yang paling sering dan semua jenis syok memiliki komponen hipovolemik 1. dan asites) 1. Pemeriksaan laboratorium penunjang yang dilakukan untuk menetapkan diagnosis adalah pemeriksaan darah lengkap. perdarahan GIT. urine output <0. Gejala syok hipovolemik antara lain adalah inadekuat perfusi organ. BUN. keringat. dan perabaan pada daerah akral dari ektremitas. diare. Tabel 3. kehilangan Plasma (luka bakar). Syok hipovolemik adalah suatu kondisi medis yang timbul akibat penurunan sirkulasi volume darah. denyut nadi yang melemah. perubahan tanda vital karena adanya mekanisme kompensasi. nafas yang cepat. kehilangan cairan dan elektrolit (muntah. Resusitasi cairan dapat diberikan sesuai dengan keadaan klinis1.

muka. apabila tidak terdapat peningkatan permeabilitas kapiler dan harga cairan ini murah1. 77 . 1.5 L (PP) dan 2. Pilihan tipe cairan yang digunakan adalah koloid dan kristaloid. Kristaloid sangat baik untuk dehidrasi (kehilangan cairan ekstraseluler) atau perdarahan ringan.0 L (PP) dan 3. tangan/kaki.0 L (RL) untuk kelas III. Namun koloid efek udema parunya kurang dan harga cairan ini mahal1. Menghentikan perdarahan mutlak harus dilakukan1. Kristaloid efektif. napas. Pemberian pertolongan pertama dan resusitasi cairan yang tepat sangat membantu dalam mengembalikan perfusi jaringan yang adekuat. Koloid sangat baik untuk ekspansi volume plasma. denyut nadi. Selain itu juga dapat memberikan efek pada ekspansi cairan intravaskular tetapi menyebabkan ekspansi berlebihan pada cairan interstisiel.Nadi Tekanan Darah Tekanan Nadi Capilary Refill Respirasi Urine (ml/jam) Status Mental Resusitasi Cairan N N N N/(postural) > 120 Menurun > 140 Menurun N ≤ 3o Memanjang Memanjang Memanjang N ≥30 cc/mnt 20-30 20-30 cc/mnt > 30 5-15 cc/mnt > 35 Tidak ada urine Sedikit cemas Cemas Sangat cemas dan bingung Bingung atau letargi Kristaloid & Darah Kristaloid Kristaloid Kristaloid & Darah Apabila darah belum tersedia pada kelas III dan IV sementara dapat diganti dengan tambahan 0.0 L (RL). dan merupakan pilihan yang terbaik untuk peningkatan Cardiac Output dan volume O2. Keberhasilan terapi dapat dilihat dari perbaikan gejala klinik tersebut di atas (kesadaran. tensi dan urine).

REPLACE NORMAL LOSS ( IWL.V. drainase peritonium. Sedangkan penatalaksanaan untuk kehilangan cairan gastrointestinal dapat diberikan 1-2 liter NaCl 0. dengan pemberian 1-2 liter kristaloid (NaCl 0. dan diuresis. kemudian pengecekan elektrolit dan dikoreksi bila terdapat kelainan lainnya 1.V. dan memonitor tanda vital.9% dalam 30–60 menit. Penatalaksanaan pada perdarahan akut adalah sebagai berikut 1: 1. 78 . Pada orang dewasa 2–3 liter RL selama 20–30 menit untuk memulihkan tekanan darah.Bagan 1.9% atau RL) atau Koloid (Dextran) secara I. fistula usus. Pemasangan 2 jalur Infus I. NUTRITION Tujuan yang harus dipenuhi dalam pemberian cairan adalah menganti cairan yang hilang selama trauma atau pembedahan. URINE FAECAL ) 2. serta penggantian cairan yang hilang dilakukan melalui pipa lambung. Resusitasi Cairan1 FLUID THERAPY RESCUCITATION MAINTENANCE COLLOID CHRYSTALLOID ELLECTROLYTES NUTRITION REPLACE ACUTE LOSS (HEMORRAGHE..drainase toraks. udema paru diperhatikan. tekanan vena sentral. Pemberian WB atau PRC hingga HT> 30 % dengan 1-2 unit fresh frozen plasma (FFP) tiap 5 unit darah. GI LOSS) 1. 2. Maksud utamanya adalah mengembalikan volume intravaskular dan mendapatkan perfusi jaringan yang adekuat. dalam 30 –60 menit. respirasi dsb.

jumlah perdarahan yang terjadi. thalamus dan hipothalamus. keadaan hemodinamik (tensi dan nadi). kesadaran sudah membaik. dan injuri (trauma). infeksi. Aktivitas SSO merangsang kenaikan simpatis dimana kadar katekolamin plasma meningkat 7. deformitas congenital. Oleh karena itu pasien dengan trauma oromaksilofasial memerlukan intervensi nutrisi dalam rawat inap di rumah sakit 7. terutama jaras spinothalamicus dan formatioretikularis dengan pengolahan akhir timbul pada medula oblongata. dan terhambatnya penyembuhan luka gangguan motilitas usus. gangguan enzim dan metabolisme serta kelemahan otot. merupakan suatu refleks neurofisiologi yang dirangsang oleh proses trauma. PENGELOLAAN NUTRISI PENDERITA TRAUMA OROMAKSILOFASIAL Diantara banyak fungsi rongga mulut adalah sebagai jalan masuk makanan menuju saluran cerna (gastrointerstinal tract). Kemampuan seseorang dalam mengkonsumsi makanan melalui oral dapat berubah dikarenakan neoplasia. akral yang sianosis telah berubah menjadi merah. dan usia penderita1. Pemberian transfusi darah tetap harus menjadi bahan pertimbangan berdasarkan keadaan umum penderita (kadar Hb dan Ht). Respon neuroendokrin. bagian-bagian akral yang terjadinya lembab sudah jadi kering. Pada keadaan trauma (stress dan sepsis) tubuh mengalami rangkaian perubahan hormonal yang menambah laju metabolisme. hipofise dan SSO. hasil serial pemeriksaan kadar Hb dan Ht. jumlah cairan kristaloid dan koloid yang telah diberikan. akral yang dingin telah jadi hangat. Kemudian respon eferen dimulai pada hipotalamus.Beberapa kriteria perfusi jaringan yang telah baik antara lain adalah nadi <100 x/menit. meliputi susunan saraf pusat dan susunan saraf tepi. Hal ini berakibat menurunnya daya tahan tubuh. 79 . H.namun prosedur ini juga membatasi kemampuan mulut sementara waktu. Prosedur bedah mulut dan maksilofasial dapat mengeliminasi permasalahan ini dengan suatu prosedur operasi. produktif urine 1-2cc/kgBB/jam. terjadinya edema. sumber perdarahan telah teratasi atau belum.

Pada phase ini metabolisme tubuh akan menurun serta tubuh kehilangan sensitivitas terhadap sekitar. kenaikan curah jantung (cardiac output). 2. 80 . Phase Anabolisme atau Konvalesen Pada phase ini tubuh mulai melakukan pemulihan pada sel-sel yang mengalami kerusakan akibat katabolisme sehingga diperoleh kalori yang cukup untuk memenuhi kebutuhan pada hari ke 7 – 10 bisa diberikan. Fase ini akan memanjang bila terjadi perdarahan pasca bedah. meliputi peningkatan nadi (takikardia). 3. glukagon dan kortisol dalam plasma menurun. Hormon pengatur stres antara lain: katekolamin.Respon kardiovaskuler. Phase Ebb Ditandai dengan terjadinya hipovolemi dengan rangsangan adrenal dan simpatis yang berlangsung sekitar 24 jam. Respon metabolik mencakup kenaikan kadar glukosa dan asam lemak bebas (FFA) plasma serta rangsangan pengeluaran kortisol. Phase Flow (Katabolisme) Ditandai oleh oksidasi protein otot untuk menghasilkan glukagon yang sangat penting untuk pembakaran di otak dan jaringan rusak yang sedang sembuh. Adanya penghambat simpatis terhadap pengeluaran insulin dari pankreas serta pengeluaran glukokortikoid menambah resistensi insulin di jaringan perifer. Fase ini berlangsung sekitar 3 x 24 jam. yaitu7: 1. Ada tiga fase respon metabolik trauma. mobilisasi darah dari perifer serta vasokonstriksi perifer7. Kebutuhan kalori pada phase ini sekitar 5000 kkal. Ketiga hormon ini berkombinasi untuk meningkatkan glukoneogenesis serta lipolosis untuk mobilisasi cadangan energi. katekolamin serta glukagon. Kadar gula darah biasanya menurun < 200 mg % bila nutrisi tidak adekuat maka jaringan tubuh akan mulai dikorbankan untuk memenuhi kebutuhan energi. Sumber energi berasal dari glikogen dan trigliserida untuk menghasilkan glukosa dan asam lemak. Kortisol tubuh akan meningkat dan demikian pula kadar gula darah.

lama. dispilidemia. penyakit kanker dengan penurunan berat badan . penyakit hipertensi yang baru didiagnosis. 3. penyakit paru obstruktif yang menahun ( PPOM ) dengan penurunan berat badan. Setiap pasien dengan penurunan bert badan yang bermakna sebelum masuk rumah sakit 7. malnutrisi. Setiap pasien yang mengalami trauma atau sakit dengan kondisi yang kritis. Pasien. Setidaknya penderita harus ditentukan 81 . seperti luka bakar. Setiap pasien yang dilaporkan pengunaan megadosis suplemen nutrient atau yang sama sekali menghindari konsumsi kelompok makanan tertentu dari dalam dietnya selama waktu yang lama ( > 1 bulan) I. 5.0) yang disertai defisiensi nutrisi 6. penyakit hati. rujukan dan intervensi nutrisi7: 1. Setiap pasien yang memerlukan dukungan energi khusus. 2. malnutrisi. apakah parentel ataupun enteral 4. ataupun gangguan asupan nutrisi. KEBUTUHAN NUTRISI PADA PASIEN TRAUMA OROMAKSILOFASIAL Penentuan status gizi penderita penting untuk menentukan jumlah. Setiap pasien dengan anemia nutrisi Setiap pasien dengan deplesi simpanan protein yang bermakna ( misalnya albumin < 3. penyakit arteri koronaria. fraktur dan infeksi HIV.Lemak diperlukan untuk memenuhi kebutuhan asam lemak bebas dan menambah kalori dimana jumlah cairan dibatasi. Berikut adalah pasien – pasien dengan kondisi yang memerlukan konsultasi. dan komposisi yang harus diberikan. diabetes mellitus. Setiap pasien dengan penyakit kronis sehingga asuhan nutrisi merupakan komponen penting dalam perawatannya.pasien tersebut mencakup gagal ginjal baik akut maupun kronis.

apakah termasuk malnutrisi ringan. atrofi mukosa. sedang atau berat. kerontokan : Keratokonjunctivitis. tekstur. Rambut Mata Mulut : Kualitas. Anamnesa Penyakit kronis juga alkoholisme dapat berhubungan dengan malnutrisi energi dan protein juga disertai dengan devisiensi vitamin dan mineral. meliputi: a. tekstur. h. c. Penyakit yang diderita misalnya pada hati dan ginjal seringkali berhubungan dengan defisiensi protein. f. rash. glossitis. 2. Operasi yang baru dilakukan seperti gastrectomy atau reseksi ileum dapat mempredisposisi malabsorpsi dan terjadi defisiensi vitamin ataupun mineral. d. deformitas dan kuku b. hiperkeratosis. edema 82 . Kulit : Kualitas. g. folikel. vitamin dan trace elemen. kekuatan otot. 3. kelainan pada gigi Abdomen : Hepatomegali Rectum : Warna feses Neurologis : Neuropathy perifer Ekstrimitas : Ukuran otot. rabun senja : Cheilosis. e. Pemeriksaan klinis dan laboratorium Pemeriksaan fisik. Tahapan dalam menilai status gizi adalah sebagai berikut 7: 1.

5%/3 months < months Moderate 2. placed) Normal antrophometric measurements Tricep skin fold (mm)4 Midarm circumference (cm) 4/4 (normal) Male 12.7 100-200 800-1200 30-60 70-80 75-85 < 2%/week < 5%/month < 10%/6 months < 10%/6 months 1 .90 85 .5 28.80 80 . energi yang terpakai selama proses asimilasi nutrien dan energi yang terpakai pada kerja fisik7. 83 .2000 60 .5 29.5 J. reactive + No.95 < 5%/month <7. MENGHITUNG KEBUTUHAN NUTRISI Kebutuhan energi total dari seorang pasien dalam keseimbangan metabolik adalah sama dengan pemakaian energi total ( Total Energy Expenditure) yang meliputi kebutuhan basal.8 .2/4 (weak) 0/0 (anergic) 7.2 200 .Tabel 4.3.250 1200 .3 Female 16.1-2. Klasifikasi Malnutrisi Clinical and Laboratory Parameters Albumin (g/dL) 2 Extent of Malnutrition Mild 2.1 <100 <100 <40 <70 <75 > 2%/week Transferrin (mg/dL)2 Total lympochyte count (cells/μL)2 Creatinine/height Index (%)3 Ideal body weight (%) Usual body weight (%) Weight loss/unite time Skin tests (No.5%/3 Severe <2. peningkatan kebutuhan energi yang disebabkan penyakit.

0 kcal/kg untuk wanita7. kebutuhan energi dasar ( Basal Energy Expenditure/BEE) harus dikaitkan dengan Activity Factor (AF) dan Injury Factor (IF)/stress factor (L.3 Injury Factors (IF) 1. AZ.47 + [13.57 x weight (kg)] + [5. per 1o C Skeletal trauma Mild to moderate infection Major abdominal/thoracic surgery 84 .1 – 1. Phoenix.2 1.0 – 1.13 1.13 1. 1993) 7.4 kcal/kg untuk pria and 5. ACTIVITY AND INJURY FACTOR Activity Factors (AF) 1.2 – 1.67 x age (yrs) = _______kcals/day Wanita BEE = 665. Morse.4 1.1 – 1.2 1.15 – 1.2 1.68 x age (yrs) = _______kcals/day BEE juga dapat ditetapkan dengan menggunakan 12Lcal/lb untuk pria dan 11 kcal/lb untuk wanita. Untuk menghitung kebutuhan energi total.2 1.Kebutuhan kalori basal didapat dengan penghitungan BMR berdasarkan persamaan Harris-Benedict.1 + [9.56 x weight (kg)] + [1.5 Confined to bed Ambulatory Non-stressed on ventilator Congestive heart failure Minor surgery Fever. atau 5. Menurut persamaan Harris – Benedict laju metabolisme basal bisa dihitung dengan menggunakan persamaan sebagai berikut7: HARRIS–BENEDICT METHOD FOR DETERMINING ENERGY REQIUREMENTS Pria BEE = 66.3 – 1.85 x height (cm) – [4. Maricopa Medical Center.0 x height (cm) – [6.

85 . mempertahankan berat badan. pasca bedah ringan/sedang. sepsis.2 x 1. sehingga biasanya terjadi peningkatan kebutuhan nutrisi yang cukup besar. tidak disertai demam. infeksi berat.4 – 1. 30 kkal/kg BB/hari : kebutuhan basal. malnutrisi berat. penderita dirawat karena perdarahan epidural.5 1. cancer Sepsis Jadi Total kalori yang dibutuhkan pasien = BEE x AF x IF Contoh perhitungan : Seorang wanita. BEE = 655.D Syttrar yaitu7: 1.1 + (9.1. usia 30 tahun. 2. pasien akan banyak kehilangan berat badan dan terjadi komplikasi yang seringkali fatal. respon fisiologis terhadap trauma merupakan peningkatan proses biokimia dan metabolik normal. Tujuan utama terapi dukungan nutrisi adalah menjaga agar penurunan berat badan seminimal mungkin dengan harapan dapat mencegah komplikasi dan mengurangi morbiditas maupun mortalitas7.35 – 1.5 Total energi yang dibutuhkan = 1174. 3.6 kcal/hari Activity Factor = 1.8 Multiple trauma Closed head injury Stressed ventilator dependent Liver failure.85 x 150) – (4. 40 kkal/kg BB/hari : malnutrisi sedang.5 – 1.56 x 40) + (1. berat badan 40 kg.68 x 30) = 1174.6 x 1.6 1. Secara keseluruhan.28 kcal/hari Terdapat pula cara estimasi kebutuhan kalori yang sederhana dengan menggunakan rumus 3–4–5 dari I.5 = 2114. tinggi badan 150 cm. pasca bedah dengan penyulit.4 – 1.55 1.6 1. 50 kkal/kg BB/hari : luka bakar > 40%. Bila tidak mendapat dukungan nutrisi yang adekuat.2 Injury Factor trauma kepala = 1.

faktor stress. Untuk mencegah terjadinya defisiensi asam lemak esensial. sehingga besarnya faktor stress untuk trauma adalah 31-50%. sedangkan bila tidak di tempat tidur. Kebutuhan protein bagi pasien dengan trauma bila tidak terdapat gangguan ginjal dan hati adalah 1. dengan rasio kalori non-nitrogen : nitrogen = 100:17. perlu diberikan asam lemak esensial sebanyak 4-8% dari kalori total sehari7. aktivitas fisik hanya 10%. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pemberian emulsi lemak sebesar 30-40% dari kalori total merupakan jumlah yang optimal. SDA nutrisi parenteral adalah 0% sedangkan SDA untuk formula enteral dan makanan peroral kira-kira 10-20%7. faktor stress dikategorikan dalam 3 kelompok.8-1 g/kgBB/hr) tidak mencukupi kebutuhan pasien yang mengalami trauma oleh karena adanya peningkatan protein turnover. aktivitas fisik dan spesific dynamic action (SDA). Rumusan yang dugunakan adalah sebagai berikut 7: KK = KKB + FS + AF + SDA KK KKB FS AF SDA = Kebutuhan kalori total = Kebutuhan kalori basal = Faktor stress = Aktivitas fisik = Spesific dynamic action Faktor stress dinilai berdasarkan penilaian status gizi dan status metabolik. SDA dari makanan tergantung jenis makanan yang diberikan.Kebutuhan energi/kalori total sehari dapat dihitung dari penjumlahan kebutuhan kalori basal (BMR). Apabila pasien harus di tempat tidur.5-2 g/kgBB/hr. Trauma digolongkan ke dalam stress sedang. Pada trauma terjadi katabolisme protein yang relatif konstan yaitu 10-20% dari keluaran energi. dan derajat stress berat (51%). Faktor stress trauma multipel adalah 50%. 86 . aktivitas fisik adalah 20%. yaitu derajat stress ringan (10-30%). Untuk memudahkan. derajat stress sedang (31-50%). Lemak berfungsi sebagai sumber energi. Masukan protein untuk orang sehat (0.

pengeluaran zat sisa terutama oleh ginjal dan saluran cerna bagian bawah. sedangkan saluran cerna bagian bawah terutama mengabsorpsi air. Untuk dapat melakukan peran dan fungsinya dalam tubuh. terjadi peningkatan ekskresi seng (zinc) yang dianggap berasal dari katabolisme di jaringan otot. Kebutuhan cairan adalah ± 1500 ml per m2 luas permukaan tubuh per hari. Saluran cerna bagian atas terutama mengabsorpsi zat-zat gizi utama. atau selang makanan. penggunaan oleh semua organ. Perubahan terutama dilakukan oleh hati. Hati merupakan organ yang penting pada proses degradasi zat-zat gizi karena merupakan organ utama 87 . Garam fisiologis dan elektrolit intrasel harus diberikan dalam jumlah yang adekuat. 3. 4. karbohidrat merupakan 40% dari kalori total sehari7. Pada trauma.Karbohidrat juga berfungsi sebagai sumber energi. Kebutuhan tiamin dan niasin berkaitan dengan masukan kalori. mineral dan beberapa vitamin. Kadar kalium. kemudian ditambahkan bila terdapat peningkatan insensible loss melalui keringat. diare. maka kebutuhan vitamin B meningkat. Pencernaan (digestion) Penyerapan (absorption) Perubahan (degradation) Penggunaan oleh organ / sel (utilisation) Pengeluaran zat sisa (excretion) Masing-masing tahap metabolisme dilakukan oleh organ-organ yang berbeda. 5. Keadaan ini dapat menyebabkan terjadinya defisiensi seng. Oleh karena terjadi peningkatan metabolisme. Banyaknya karbohidrat yang diberikan adalah kebutuhan kalori total dikurangi yang berasal dari lemak. 2. Pada pasien dengan trauma. fosfor dan magnesium dalam plasma dan seluruh tubuh perlu dipertahankan agar tetap normal supaya didapat respon yang diharapkan dengan pemberian dukungan nutrisi7. Fungsi utama saluran cerna adalah pencernaan dan penyerapan dengan mensekresi enzim-enzim spesifik untuk masing-masing zat gizi. seperti tahap pencernaan dan penyerapan dilakukan oleh organ saluran cerna. zat-zat gizi mengalami proses metabolisme secara bertahap yaitu 7: 1. sehingga pasien trauma perlu mendapatkan suplementasi trace elemen ini7.

Lebih efektif Nutrisi enteral lebih efektif. Gangguan penyekit hati dapat dikelompokkan menjadi penyakit hati akut seperti pada hepatitis virus dan penyakit hati kronis seperti pada sirosis hati. Hati mensintesis beberapa protein plasma yang penting dan garam empedu serta berperan dalam detoksikasi. Pemberian nutrisi juga bisa dilakukan dengan cara bolus atau cara infus lewat pompa infus enteral. sebab makanan masuk ke dalam tubuh melalui saluran cerna yang normal. Selain itu. sehingga fungsi dan struktur alat cerna tetap dipertahankan. 88 . protein dan lemak serta bertanggung jawab terhadap 20% metabolisme basal. PEMBERIAN NUTRISI PADA PASIEN TRAUMA OROMAKSILOFASIAL Terapi nurisi enteral adalah terapi pemberian nutrisi melalui saluran cerna dengan menggunakan selang/kateter khusus.yang akan memetabolisme zat-zat gizi dan mensekresi enzim yang berperan dalam metabolisme karbohidrat. cara pemberian dapat melalui hidung-lambung (nasogastritic route) atau hidung–usus (nasoduodenal atau naso jejunal route). Gangguan pada ginjal akan menyebabkan gangguan pada ekskresi sisa-sisa hasil metabolisme terutama metabolisme protein serta gangguan cairan dan elektrolit 7. Bersifat fisiologis Nutrisi enteral bersifat fisiologis. K. Sebaliknya. Ini terbukti dengan kenaikan berat badan yang cepat dan keseimbangan N yang cepat menjadi positif. 2. Ginjal merupakan organ ekskresi yang paling besar dan juga sebagai organ pengatur keseimbangan cairan tubuh. nutrisi parenteral total dapat menyebabkan atrofi mukosa usus halus dan pankreas terutama pada pemberian yang lama karena makanan masuk ke dalam hati melampaui alat cerna (by pass dari luar ke dalam hati). Keuntungan nutrisi enteral dibandingkan parenteral antara lain adalah sebagai berikut9: 1.

Syarat-syarat nutrisi enteral adalah9: 89 . Selain itu. Nutrisi enteral yang bebas dari bahan-bahan yang mengandung purin dan kolesterol. Biaya murah Rata-rata nutrisi enteral lebih murah 10-20 kali dari nutrisi parenteral. Itupun hanya dapat dilakukan oleh dokter yang terlatih. Kalori tinggi mudah dicapai Dengan nutrisi enteral kebutuhan kalori tinggi lebih dari 3000 kkal/hari dapat dengan mudah dipenuhi yang dengan parenteral amat sulit mencapainya tanpa komplikasi dan pengawasan yang ketat. Komplikasi kurang Komplikasi nutrisi enteral jauh lebih rendah bila dibandingkan nutrisi parenteral. Sedangkan pemberian parenteral harus diberikan melalui vena besar yang letaknya profundal dengan sterilitas tinggi.5% dari total karbohidrat. 4. Kalori tinggi ini diperlukan pada penderita dengan hipermetabolik seperti sepsis. atau luka bakar. atau paling tinggi kandungan laktosanya hanya 0. Tekniknya mudah Pemasangan sonde lambung dapat dengan mudah dilakukan oleh setiap dokter maupun perawat tanpa persyaratan sterilitas yang ketat. Nutrisi parenteral selain membutuhkan pemantauan yang ketat. 5. 3. Untuk menghindari intoleransi laktosa yang sering terjadi pada penderita malnutrisi sebaiknya suatu nutrisi enteral kurang atau tanpa mengandung laktosa. trauma ganda.peningkatan imunitas tubuh akan cepat ditemukan pada pemberian nutrisi enteral. trombosis. komplikasi-komplkasi berupa sepsis. hematom. pneumothoraks serta gangguan metabolik berupa hipoglikemi atau hiperglikemi tak jarang ditemukan. 6. pemberian kalori tinggi dengan nutrisi parenteral sering menimbulkan perlemakan hati yang tidak dijumpai pada nutrisi enteral.

elektrolit dan elemen-elemen lain sesuai dengan jumlah kebutuhan. maka ia harus berbentuk cair agar mudah melalui sonde. Kandungan nutrisinya seimbang Artinya. Memiliki osmolaritas yang sama dengan osmolaritas cairan tubuh Suatu nutrisi enteral yang memiliki osmolaritas yang tinggi mudah menimbulkan diare sebab cairan tubuh akan ditarik masuk ke dalam lumen usus.1. 4. 5. maka ia harus memiliki kepadatan kalori tinggi. lemak. Sehingga. Oleh karena itu. 3. Agar dalam bentuk cair ini nutrisi enteral tetap memiliki kalori yang cukup. osmolaritas yang ideal adalah 350-400 m Osmol. Memiliki kepadatan kalori tnggi Karena nutrisi enteral harus diberikan melalui sonde kecil. Mudah diabsorpsi Bahan-bahan baku suatu nutrisi enteral seharusnya terdiri atas komponenkomponen yang siap diabsorpsi atau paling tidak hanya sedikit memerlukan kegiatan pencernaan untuk dapat diabsorpsi. vitamin. Tanpa atau kurang mengandung serat dan laktosa Suatu nutrisi enteral hendaknya memiliki sedikit atau tanpa mengandung serat agar efektif dan efisien. dalam jumlah minimal untuk kebutuhan sehari (2000 kkal) harus sudah mengandung semua komponen nutrisi esensial seperti protein. 2. molekulmolekulnya berukuran kecil. Kepadatan kalori yang ideal adalah 1 kkal/ml cairan. asam amino. 90 . jumlah kalori sudah dapat tercapai. sesuai dengan osmolaritas cairan ekstraseluler. Nutrisi enteral yang banyak mengandung serat akan bersifat bulk yang pada gilirannya akan meningkatkan frekuensi defekasi. dengan volume yang tidak terlalu besar. Dengan kata lain.

terutama pada penderita yang kesadarannya menurun atau pada penderita yang berbaring.Prosedur teknik pemberian nutrisi enteral / diet sonde akan diuraikan sebagai berikut9: 1. PVC atau lateks. sambil mengawasi dan mengevaluasi keluhan maupun gejala-gejala yang timbul. sebaiknya penderita diposisikan setengah duduk selama pemberian nutrisi enteral. Teknik pemberian nutrisi enteral Teknik pemberian secara tetes merupakan yang paling aman. Pola lama yang memberikan secara bolus mengandung banyak komplikasi berupa muntah. 91 . Dimulai dengan pengenceran ½ pada hari pertama. juga tidak tahan terhadap pengaruh cairan lambung maupun duodenum. Kekurangan dari sonde-sonde ini selain diameternya besar. sonde mudah menjadi kaku setelah zat pelemasnya habis (setelah 24 jam pemakaian). Saat ini sonde-sonde yang dipakai untuk nutrisi enteral terbuat dari silikon atau poliuretan yang selain diameternya kecil (2. regurgitasi sampai aspirasi ke dalam paru. Untuk menjaga ketepatan dan ketetapan tetes cairan nutrisi enteral dapat digunakan portable pump. Sonde yang menjadi kaku akan sangat mengganggu penderita karena selain terasa tidak enak juga dapat menimbulkan erosi atau perlukaan saluran napas atau saluran cerna. Guna menjaga toleransi penerimaan usus. 2. kelemasan dan kelenturannya bertahan lama serta tahan terhadap pengaruh cairan lambung dan cairan duodenum. kadar cairan nutrisi enteral sebaiknya dinaikkan secara bertahap. Guna mengurangi komplikasi-komplikasi di atas. kemudian pengenceran 2/3 pada hari kedua dan takaran penuh pada hari ketiga dan seterusnya. Pemilihan sonde Sebelum tahun 1980-an sonde yang tersedia umumnya terbuat dari polietilen.5 mm).

malabsorpsi/maldigesti. sepsis. Pengukuran berat badan atau lingkar lengan atas (LLA) setiap minggu merupakan parameter yang objektif. Kemajuan atau kemunduran keadaan umum penderita dievaluasi setiap harinya termasuk keseimbangan cairan dan elektrolitnya bila ada fasilitas. Komplikasi nutrisi enteral. dan atoni paska bedah. penderita dengan kebutuhan kalori ekstrim. 2. Selain itu. antara lain pemeriksaan darah (Hb. Indikasi non bedah: anoreksia. luka bakar yang luas. leukosit). perdarahan gastrointestinal yang akut. ileus. depresi berat. serum (glukosa. seorang dengan tinggi badan 165 cm tanpa stress memiliki BMR (165-100)x20 = 1300 kkal. yakni pasca bedah: mulut. trauma kepala/otak. protein total.Kebutuhan metabolisme basal dapat dihitung dengan indeks BROCA. pemeriksaan laboratorium sangat diperlukan. esofagus. antara lain akan diuraikan sebagai berikut 9: 92 . Indikasi pemberian nutrisi enteral adalah9: 1. fistula. Kontrandikasi pemberian nutrisi enteral apabila pasien muntah-muntah. lambung. tiap kenaikan 1° + 10% BMR + 25-30% BMR +10% BMR Jadi. albumin total). Ht. dan kolon. saluran empedu. Dengan menambah 10-20% dari kebutuhan BMR dapat diperoleh kebutuhan kalori pada saat aktivitas yang sangat terbatas. Sedangkan pada suatu keadaan katabolik yang tinggi diperlukan penambahan 30100% dari kebutuhan BMR9. volume dan urin rutin. Indikasi bedah. sebagai berikut9: BMR = Indeks Stress (Tinggi Badan – 100) x 20 Dimana indeks stress: Paska bedah Fraktur multipel Sepsis. peritonitis. penderita kanker. ureum.

Komplikasi mekanik Komplikasi mekanik berhubungan dengan sondenya sendiri yang dapat mengalami dislokasi atau penyumbatan. tidak cukup makan. dan mengatasi kehilangan plasma 9. Bila saluran pencernaan tidak berfungsi. 4. Prinsip keseimbangan pemberian tekanan nutrisi parenteral sehingga adalah mempertahankan interalumen tetap. tidak bisa makan dan tidak boleh makan.1. Terapi nutrisi parenteral diberikan kepada setiap penderita yang akibat penyakitnya membutuhkan banyak asupan nutrisi tetapi penderita tersebut tidak mau makan. osmotik volume mempertahankan tekanan hidrostatik. Rasa mual sampai muntah dan kram perut atau diare merupakan gejala yang menonjol. Nutrisi parenteral adalah pemberian nutrien melalui pembuluh darah vena. 4. 3. Pemberian kadar secara bertahap dapat mengurangi komplikasi ini. 2. Komplikasi metabolik Dehidrasi hipertonik dapat terjadi bila komposisi nutrisi enteralnya memilki osmolaritas yang tinggi. Bila saluran cerna mengalami obstruksi Bila saluran cerna terlalu pendek Bila terdapat fistula pada saluran cerna. yaitu 9: 1. 3. 93 . Komplikasi bakteriologik Kontaminasi dengan bakteri gram negatif pada waktu penyediaan nutrisi enteral atau kantong plastiknya dapat menimbulkan syok septik. 2. Komplikasi kimiawi Hal ini berhubungan dengan osmolaritas serta komposisi kimiawi cairan nutrisi enteral yang terlalu tinggi. Secara umum dapat dikelompokkan berdasarkan keadaan kondisi saluran pencernaan (gastriontestinal tract). Cara pemberian dapat melalui vena perifer (nutrisi parenteral perifer) atau vena sentral (nutrisi parenteral total).

ileus obstruksi. seperti syok. dan baru setelah dilakukan kateterisasi pada vena cava superior pemberian menjadi praktis dan aman untuk larutan hiperosmolar demikian bisa digunakan pada pasien bedah. diare berat. fistula enterokutan. Adapun akses yang digunakan untuk nutrisi parenteral. defisit cairan ekstra seluler yang belum terkoreksi dan demam tinggi (hipertermi). Indikasi nutrisi parenteral adalah fungsi saluran cerna terganggu (tidak mampu mencerna atau menyerap makanan). yaitu 9: 1. Sifat-sifat fisik dari larutan demikian mendorong terjadinya trombosis vena perifer. menjaga keseimbangan cairan-elektrolit dan asam basa. infeksi pada tempat. trauma dalam phase Ebb (24 jam pertama) Pasien yang masih mengalami hemodinamik krisis. Pasien pasca bedah. memelihara hemostatik metabolik umum. Komplikasi infeksi ditandai oleh demam seperti pada flebitis. malnutrisi protein atau protein-kalori.Tujuan Pemberian Nutrisi Parenteral adalah supaya mempertahankan volume dan perfusi sirkulasi darah. 3. 2. emboli 6. Pasien yang mengalami gagal nafas (kecuali dibantu dengan bantuan nafas mekanik dengan ventilator). Larutan nutrisi yang hanya sedikit hipertonik (antara 600 dan 900 m)sm/L) bisa disiapkan dengan mencampur proporsi sesuai dari asam 94 . dan keganasan9. NPO > 3-5 hari. Komplikasi teknis berkaitan udara. menyediakan intake bagi kebutuhan metabolisme secara parenteral9. dan suplemen terhadap nutrisi enteral. 4. peritonitis. Pada pasien dengan penyakit terminal (keganasan) atau keadaan vegetatif (brain death). vomitus. dengan pemasangan kateter seperti pneumothoraks. Kondisi-kondisi yang membutuhkan nutrisi parenteral anatara lain. Sedangkan kontra indikasi nutrisi parenteral adalah9: 1. Nutrisi Parenteral Perifer Larutan standar yang diberikan untuk nutrisi parenteral total melaui vena sentral memilki tekanan osmotik hampir 2000 mOsm/L. 5. sindrom malabsorpsi berat.

Bila volume cairan besar. Larutan yang digunakan untuk nutrisi via vena sentral (TPN) biasanya memiliki densitas 1 kcal/ml. larutan-larutan demikian bisa diberikan melalui vena perifer untuk jangka pendek(kira-kira satu minggu). Kunci keberhasilan dari cara ini terletak pada insersi serta perawatan kanul vena sentral. Nutrisi Parenteral Sentral Perkembangan kateterisasi vena sentral telah memungkinkan pemberian larutan hipertonik dengan aman. 2. Campuran nutrien ini memiliki desnitas kalori rendah dan memasok hanya 2500 kcal dalam 3 L larutan. dekstrosa dan emulsi lemak. lemak dan asam amino diberikan melalui kateter vena sentral yang ujungnya berada dalam vena cava superior. 95 . Campuran glukosa. dan kebutuhan akan air serta elektrolit diresepkan secara individual.amino.

asam amino. pemeriksaan kadar kalium dan natrium. eklampsi. masa stabilisasi dimana kadar stres hormon masih tinggi. preeklampsia. 96 . resting energy expenditure berkisar 1000 kkal/m2/hari. Sel-sel resisten insulin dan kadar gula meningkat. Fase tenang ini ditandai dengan menurunnya kadar kortisol. minimal diberikan 20 kkal/kg/hari. Tepat dosis Quebbeman (1982) menemukan pada pasien trauma berat dan sepsis yang mengalami katabolisme. paska bedah ekstensif. Hal ini berlaku pada pasien trauma. Ini setara dengan 1700 kkal pada pasien 70 kg dengan luas tubuh 1. sepsis.Pendekatan yang digunakan pada pemberian nutrisi parenteral adalah 4 Tepat – 1 Waspada9: Tepat pasien Setiap pasien yang tidak cukup atau tidak mendapat intake oral seharusnya segera mendapat nutrisi parenteral (NPE). yaitu 24 jam setelah trauma atau krisis kegawatan dapat diatasi. NPE total hanya akan menambah stres bagi tubuh pasien. Dosis yang tepat harus diukur. keadaan umum pasien.73 m2 atau kira-kira 25 kkal/hari. emulsi lemak. makin lambat NPE total dapat dimulai. Tepat obat/substrat Bahan nutrisi yang digunakan adalah karbohidrat. Dosis NPE total harus diberikan lebih lambat (mulai hari ketiga) karena beban metabolismenya besar. Sebelum keadaan tenang tercapai. katekolamin dan glukagon. Makin berat kondisi pasien. dsb. Agar imbang N tidak terlalu negatif. Periode 24 jam ini adalah masa ebb-phase. mineral dan vitamin. Tepat indikasi Dosis NPE parsial dapat diberikan sangat dini. Dosis kemudian dapat ditingkatkan bertahap dengan memperhatikan perubahan kadar gula darah.

Tromboflebitis karena iritasi mudah diikuti radang. Osmolaritas plasma 300 mOsm. subclavia.9. lemak. Beban glukosa merangsang pankreas mengeluarkan insulin. pasien dengan bantuan nutrisi khusus terpaksa menerima semua yang diberikan. Pada kasus yang ekstrim dapat terjadi koma. jugularis) dimana darah mengalir secara cepat sehingga kecepatan tetesan cairan NPE yang pekat tidak sempat merusak vena. Agar fluktuasi kadar gula darah bervariasi seminimal mungkin. bahkan tromboemboli. atau cara memberikan keliru. go slow” tidak diikuti. Osmolaritas dapat dikurangi dengan mencampur cairan menggunakan infus set bercabang 7. Kelainan ini dapat disertai hyperosmolar state dan diuresis osmotik. Penyulit yang sering dijumpai adalah hiperglikemi. Hiperglikemi umumnya terjadi jika pola “start low. Adapun komposisi yang ideal dari nutrisi parenteral adalah kombinasi antara karbohidrat (KH). Cairan 900-1000 mOsm untuk jangka pendek 3-5 hari masih dapat diberikan lewat vena tangan tapi jangan memberikan lewat vena kaki. Makin tinggi osmolaritas.8. mineral). Untuk cairan > 900-1000 mOsm jika perlu lebih dari 5 hari. Waspada efek samping Berbeda dengan orang sehat yang dapat mengatur keseimbangan makan dan kebutuhannya sendiri. Vena perifer dapat menerima sampai 900 mOsm. Jika larutan glukosa diselingi cairan lain maka besar kemungkinan kadar gula darah berfluktuasi karean overshoot insulin dari waktu ke waktu. Jika pilihan atau dosis tidak tepat. Vena kaki mudah mengalami deep vein thrombosis dan tromboemboli. go slow”.Untuk menghindari hiperglikemi. Semuanya akan diuraikan sebagai berikut 9: 1. protein. peningkatan glukosa 5% menuju 20% harus dilakukan secara bertahap “start low. penyulit yang timbul akan menyebabkan morbiditas bahkan kematian. dan cairan dan elektrolit (vitamin. larutan karbohidrat dibagi rata dalam 24 jam. Karbohidrat 97 . makin mudah terjadi tromboflebitis. seharusnya digunakan vena sentral (vena cava.

karena itu pemberiannya harus dilindungi oleh pemberian kalori yang cukup agar protein tidak digunakan sebagai sumber energi.Karbohidrat sebagai sumber kalori utama yang layaknya selalu tersedia 4060% dari total kalori (1 gr KH = 4kkal). Menghitung energi konsumsi Konsumsi nitrogen (mg/24 jam) = ureum urine (mmol) / 24jam x 28 + 4000 mg. maltosa. 98 . Dosis maksimal bagi kebanyakan penderita adalah 6-7. bahkan justru merugikan sebab akan menyebabkan kadar co2 dalam tubuh meningkat. dengan rumus sebagai berikut a.5gr/kgbb/hari. Sumber kalori karbihidrat dapat berupa dextrosa.25 b. Kebutuhan protein (asam amino) dapat dihitung secara tidak langsung dengan menghitung jumlah nitrogen yang dokonsumsi oleh tubuh. 2. Pemberian kalori dengan glukosa yang melebihi kebutuhan ternyata tidak bermanfaat. fruktosa. Secara kasar dapat diperkirakan dengan menghitung jumlah ureum dalam urine 24 jam. Glukosa/ dextrosa adalah sumber kalori yang paling fisiologis. Karbohidrat tersimpan dalam tubuh dalam bentuk glikogen dihati dan otot. Cara yang lebih mudah untuk menghitung kebutuhan asam amino adalah dengan memperkirakan besar kecilnya stress metabolik yang terjadi. sorbitol dan xylitol. 1993) untuk pemberian karbihidrat dalam keadaan normal adalah 25 – 30 kcal/kg/hari. Kebutuhan protein=konsumsi nitrogen x 6. Menghitung nitrogen secara laboratorium relatif mahal biayanya. Rekomendasi dari American Society for Parenteral & Enteral Nutrition (ASPEN. Protein Protein diperlukan untuk regenerasi sel dan enzim.

cairan emulsi lemak diberikan 1-3 gr/kgbb atau dalam proporsi 25 – 40% dari kalori total perhari. Trace Elements. Untuk memenuhi kebutuhan kalori. Pemberian lebih dari 60% dari kalori total dapat menyebabkan ketoasidosis. harus selalu diperhatikan dan diperhitungkan akan kebutuhan terhadap elektrolit. Kebutuhan ini terutama harus diberikan bila terapi nutrisi parenteral berlangsung lama. pemberian cairan emulsi lemak dapat diberikan pada nutrisi parental perifer. trace element. Lemak Cairan emulsi lemak diberikan dalam nutrisi parental bertujuan untuk mencegah defisiensi asam lemak esensial dan sebagai sumber kalori. Kebutuhan air dewasa : 30-50 ml/kgbb/hari Kebutuhan Natrium Kebutuhan Kalium : 2-4 mg/kgbb/hari atau 100-200 meg/hari : 1-2 mg/kgbb/hari atau 50-100 meg/hari 99 . Elektrolit.Perbandingan kebutuhan protein (AA) dan kalori perhari9: Protein (AA) Tanpa stress metabolik Dengan stress metabolik Contoh perhitungan kebutuhan protein. Besarnya kebutuhan disesuaikan dengan keadaan klinis penderita. dan Vitamin Dalam merencanakan komposisi carain untuk terapi nutrisi pareneral. 4. Misal berat badan pasien 60 kg dengan sepsis Dengan menggunakan tabel dengan stress metabolik Kebutuhan kalori Kebutuhan AA = 60 x 40 kcal = 2400 kcal/hari = 60 x 2 = 120 gr/hari 2 gr/kgbb/hari 40 kcal/kgbb/hari 1 gr/kgbb/hari Kalori 30 kcal/kgbb/hari 3. Cairan. dan vitamin baik yang larut dalam air maupun lemak. Karena osmolaritasnya yang rendah.

takipneu. Pada dewasa sehat kehilangan 15% volume darah pertama diklasifikasikan sebagai hemoragi kelas I. dengan mekanisme kompensasi yang kurang efisien. dan hal ini merupakan keadaan yang mengancam nyawa. Dalam kondisi yang tidak kompleks. Tekanan sistolik biasanya tidak berubah. kurangnya urine output. Gejala klinis minimal pada kelas I ini. perubahan status mental penderita. penurunan tekanan darah dapat terjadi setelah kehilangan darah sebanyak 10-15%. Hemoragi kelas III diklasifikasikan sebagai kehilangan 30-40% volume darah. Pada pasien yang lebih tua. dan perubahan status mental pasien yang banyak. Gejala klinis meliputi takikardia (denyut nadi >100 pada orang dewasa). tetapi tekanan diastol meningkat karena peningkatan dari katekolamin. Respon tekanan darah awal terhadap kehilangan volume intravaskular tidak memiliki hubungan yang linear 1. penurunan tekanan darah sistolik yang secara substansial. Pasien dapat terkena serangan jantung bila kehilangan darah sebanyak ini. Respon fisiologi ini dapat dikategorikan berdasarkan persentasi dari kehilangan akut darah. dan turunnya tekanan sistolik. tekanan darah yang sangat sempit (tidak adanya tekanan darah diastol). takipneu. dan penurunan tekanan darah. Tingkatan tersebut dapat diukur melalui respon fisiologi terhadap hemoragi.BAB III PEMBAHASAN Hemoragi adalah penyebab utama keadaan hipovolemik pada pasien yang mengalami luka multisistem. Biasanya hal ini diikuti dnegan takikardia. Perlu diperhatikan 100 . peningkatan denyut nadi minimal dengan peningkatan kontraktilitas dari jantung dan peningkatan vasokonstriksi vena dan arteri dapat menjaga tekanan darah. Gejala klinis meliputi takikardia. Hemoragi kelas IV didefinisikan sebagai kehilangan darah sebanyak >40%. Kebanyakan pasien tersebut memiliki beberapa tingkatan dari syok hipovolemik. Hemoragi kelas II diklasifikasikan sebagai kehilangan volume darah sebanyak 15-30%. kehilangan darah sebanyak ini secara konsisten menyebabkan tekanan darah sistolik menurun. Pada kasus yang tidak kompleks.

yang dimana memberikan ukuran kehilangan darah ke pembuluh kapiler. Tekanan 101 . dengan tandatanda pertama dari hipovolemi adalah terasa dinginnya kaki dan regio patella. Hemoragi dapat secara ekternal maupun internal ke dalam kavitas tubuh. kuku ibu jari. karena pada kebanyakan kasus batas bawah dari tekanan ydarah pasien tidak diketahui. Dengan tes tersebut. tekanan diaplikasikan ke kuku-kuku jari. Sebagai contoh. sedangkan atlet muda yang sehat dapat memiliki tekanan sistol sebesar 90 mmHg 1. Capillary fill time dapat diukur dengan menggunakan “blanch test”. Waktu kurang dari 2 detik biasanya ditemukan pada pasien normovolemik dan mengindikasikan aliran darah normal ke pembuluh kapiler 1. Ketika dressing yang digunakan menjadi basah.bahwa tekanan darah pasien dapat turun tiba-tiba setelah pemeriksaan awal ketika mekanisme kompensasi mereka telah gagal karena kehilangan darah yang terusmenerus. Ekskremitas bawah adalah yang pertama terkena. Pelepasan katekolamin menyebabkan keluarnya keringat dan kulit terasa dingin dan lembab pada saat palpasi. atau emninesia hipothenar dari tangan untuk mengevakuasi darah dari daerah tersebut dan kemudian tekanan langsung dilepaskan. Tekanan yang digunakan untuk mengontrol perdarahan sebaiknya kuat dan kontinu. Salah satu indikator dari rendahnya perfusi jaringan pada pemerikssaan awal adalah perfusi kulit. Hemoragi eksternal biasanya dapat dikontrol dengan melakukan penekanan secara langsung ke luka yang ada. pasien dengan hipertensi dapat menunjukkan tekanan sistol sebesar 120 mmHg dapat menunjukkan gejala kehilangan darah yang signifikan. dressing tersebut sebaiknya jangan dilepaskan. Kompensasi fisiologi awal pada kehilangan volume intravaskular adalah vasokonstriksi pada pembuluh darah di kulit dan otot. Sulit dilakukan perubahan tekanan darah. Waktu yang diperlukan untuk jarinagn kembali ke warna normalnya mengindikasikan waktu yang diperlukan untuk darah kembali ke pembuluh kapiler. tetapi sebaiknya dressing tambahan digunakan karena apabila dressing dilepaskan maka formasi clot yang telah terbentuk dapat terganggu dan menyebabkan perdarahan kembali. Kapilerkapiler pada kulit adalah yang pertama kali berhenti bekerja sebagai respon terhadap hipovolemik yang dikarenakan stimulus dari sistem saraf simpatik dan kelenjar adrenal melalui pelepasan hormon epinefrin dan nor epinefrin.

Maksud utamanya adalah mengembalikan volume intravaskular dan mendapatkan perfusi jaringan yang adekuat.yang kuat dapat diaplikasikan proksimal ke arah arteri mayor untuk mengontrol perdarahan. Ketika pasien sudah stabil. Pilihan tipe cairan yang digunakan adalah koloid dan kristaloid. hal tersebut hanya direkomendasikan apabila penekanan langsung pada luka saja tidak efektif 1. yang sebelumnya digunakan untuk meningkatkan tekanan darah pada kasus hipotensi yang parah. dan luka tembus pada leher. Akan tetapi.0 nonresobable atau staples tanpa memperhatikan kosmetik pasien. respirasi dsb. Pemberian pertolongan pertama dan resusitasi cairan yang tepat sangat membantu dalam mengembalikan perfusi jaringan yang adekuat. Luka pada kulit kepala dapat menyebabkan kehilangan darah dalam jumlah besar pada waktu yang singkat karena perembesan darah pada galea dan lapisan jaringan ikat yang renggang. seperti air-pillow splints dan blood pressure cuff dapat juga digunakan. Penatalaksanaan pada perdarahan akut adalah sebagai berikut 9: 102 . serta penggantian cairan yang hilang dilakukan melalui pipa lambung. Aspek negatif dari suplai darah tersebut adalah hemoragi mayor dapat disebabkan oleh luka pada kulit kepala yang besar. Tujuan yang harus dipenuhi dalam pemberian cairan adalah menganti cairan yang hilang selama trauma atau pembedahan. fistula usus. fraktur nasal atau tengah wajah. drainase peritonium. memberikan keadaan yang merugikan pada beberapa situasi karena menyebabkan luka vaskular. Luka kulit kepala dapat dengan cepat diatasi dengan dijahit menggunakan 2. Namun koloid efek udema parunya kurang dan harga cairan ini mahal1. Perban tekan. dan merupakan pilihan yang terbaik untuk peningkatan Cardiac Output dan volume O2. Sebagai spesialis bedah mulut dan maksilofasial. Tekanan langsung kemudian dapat dilakukan pada luka untuk mengontrol hemoragi dan meminimalkan pembentukan hematoma. Koloid sangat baik untuk ekspansi volume plasma. PASGs dan medical antishock trousers(MASTs). jahitan dapat dilepaskan dari luka dan penutupan lapisan luka secara kosmetik dapat dilakukan 1.drainase toraks. kita mengetahui adanya suplai vaskular yang banyak ke daerah muka dan leher.

energi yang terpakai selama proses asimilasi nutrien dan energi yang terpakai pada kerja fisik. Penentuan status gizi penderita penting untuk jumlah lama dan komposisi yang harus diberikan. kemudian pengecekan elektrolit dan dikoreksi bila terdapat kelainan lainnya 1. Prosedur bedah mulut dan maksilofasial dapat mengeliminasi permasalahan ini dengan suatu prosedur operasi. deformitas congenital.namun prosedur ini juga membatasi kemampuan mulut sementara waktu. peningkatan kebutuhan energi yang disebabkan penyakit. Pemasangan 2 jalur Infus I. Cara 103 .V. Kebutuhan kalori basal didapat dengan penghitungan BMR berdasarkan persamaan Harris-Benedict.3. infeksi. dan terhambatnya penyembuhan luka gangguan motilitas usus. terjadinya edema. dan memonitor tanda vital. dalam 30 –60 menit. Pada orang dewasa 2–3 liter RL selama 20–30 menit untuk memulihkan tekanan darah. Salah satu fungsi rongga mulut adalah sebagai jalan masuk makanan menuju saluran cerna (gastrointerstinal tract). Pemberian WB atau PRC hingga HT> 30 % dengan 1-2 unit fresh frozen plasma (FFP) tiap 5 unit darah. Sedangkan penatalaksanaan untuk kehilangan cairan gastrointestinal dapat diberikan 1-2 liter NaCl 0. tekanan vena sentral.. Kebutuhan energi total dari seorang pasien dalam keseimbangan metabolik adalah sama dengan pemakaian energi total (Total Energy Expenditure) yang meliputi kebutuhan basal. gangguan enzim dan metabolisme serta kelemahan otot. dengan pemberian 1-2 liter kristaloid (NaCl 0. Kemampuan seseorang dalam mengkonsumsi makanan melalui oral dapat berubah dikarenakan neoplasia. dan diuresis. Hal ini berakibat menurunnya daya tahan tubuh. Nutrisi parenteral adalah pemberian nutrien melalui pembuluh darah vena. Pada keadaan trauma (stress dan sepsis) tubuh mengalami rangkaian perubahan hormonal yang menambah laju metabolisme.V.9% atau RL) atau Koloid (Dextran) secara I.9% dalam 30–60 menit. sedang atau berat. 4. udema paru diperhatikan. Setidaknya penderita harus ditentukan apakah termasuk malnutrisi ringan. dan injuri (trauma). Oleh karena itu pasien dengan trauma oromaksilofasial memerlukan intervensi nutrisi dalam rawat inap di rumah sakit 7.

tidak cukup makan. memelihara hemostatik metabolik umum. Tujuan pemberian nutrisi parenteral ini adalah untuk mempertahankan volume dan perfusi sirkulasi darah.pemberian dapat melalui vena perifer (nutrisi parenteral perifer) atau vena sentral (nutrisi parenteral total). Terapi nutrisi parenteral diberikan kepada setiap penderita yang akibat penyakitnya membutuhkan banyak asupan nutrisi tetapi penderita tersebut tidak mau makan. dan menyediakan intake bagi kebutuhan metabolisme secara parenteral7. 104 .8.9. tidak bisa makan dan tidak boleh makan. menjaga keseimbangan cairan-elektrolit dan asam basa.

fraktur maksila). Untuk penderita dengan trauma oromaksilofasial perhatian harus segera diarahkan terhadap saluran pernafasan dan kontrol perdarahan eksternal. Pemberian pertolongan pertama dan resusitasi cairan yang tepat sangat membantu dalam mengembalikan perfusi jaringan yang adekuat. nasofaring (dari basis cranii) atau perdarahan dari hidung (fraktur nasalis. dimana untuk menentukan jenis nutrisi yang akan diberikan kepada pasien tersebut diperlukan kerjasama dengan ahli gizi sehingga benar benar sesuai dengan kebutuhan gizi yang telah ditentukan sebelumya. Perawatan pasien dengan trauma oromaksilofasial memerlukan terapi nutrisi yang benar.Pemberian nutrisi untuk pasien rawat inap dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu peroral. dan hampir semua penderita multi-trauma ada syok. keadaan-keadaan itu harus ditangani lebih dahulu oleh karena mengancam jiwa penderita. enteral dan parenteral.BAB IV KESIMPULAN Trauma oromaksilo fasial dapat menyebabkan kematian jika dapat menyebabkan obstruksi jalan nafas dan perdarahan yang banyak. Perdarahan dari fraktur oromaksilofasial dapat terjadi perdarahan pada rongga mulut. sebelum melakukan pemeriksaan tanda-tanda vital. hidung. Perdarahan adalah sebab tersering dari syok pada trauma. Pemberian nutrisi yang adekuat akan membantu proses penyembuhan pasien. 105 . Sebelum melakukan perawatan fraktur perlu diperhatikan keadaan darurat medik yang harus ditangani lebih dulu. Pengukuran kebutuhan nutrisi pasien trauma bergantung dari rumus yang didasarkan oleh berbagai faktor yang mempengaruhi. Perdarahan yang banyak bisa mengakibatkan syok hipovolemik. sinus paranasalis.

Edisi Revisi. 106 .GK. drg. Oral and Maxillofacial Trauma 2nd ed. Saunders Company.B. Robert.. 2005.2006.W. Sp.. Pedersen. edisi kedua. 7. Dasar-dasar Terapi Nutrisi Parenteral pada Dewasa dan Anak. J. Oral and Maxillofacial Trauma 3rd ed. dan Parenteral.dkk. Vol 1. Roesli. Tucker. E. EGC.J. Andry Hartono.B. Louis. Purwanto. 4. M. R. W. 9. Ellis III. Hutchinson and Skinner. Oral and maxillofacial Trauma. ABC of Major Trauma 2nd ed BMJ Publishing Group. 2008. Vol I. Kelompok Studi Terapi Cairan. Saunders Company.R. 2000.IKAPI. dkk. Kedaruratan Medik. Bandung. 6. London. Alih Bahasa: drg. Pedoman Penatalaksanaan Praktis. W. 8. 1991. Raymond and Wolker. Vol 1. 5.W. 5th ed. Philadelphia. Basoeseno. Mosby Elsevier. Philadelphia. Fonseca. EGC. Agus Purwadianto & Budi Sampurna. Contamporary Oral and Maxillofacial Surgery. Buku Ajar Praktis Bedah Mulut. Enteral.J. Ruly. Co. 2. 1997. Saunders Company. V. G. Jakarta.DAFTAR PUSTAKA 1. 1996.Terapi Gizi dan Diet Rumah Sakit. W. Fonseca. 1996.dr. R. 3. 1997. Hupp. St.B..R. Philadelphia.

kekerasan dalam rumah tangga dan lain sebagainya. Cedera akan meningkat dua kali lebih sering pada anak dengan insisivus yang protrusif dibandingkan dengan seorang anak yang memiliki oklusi normal. merawat luka akibat trauma. Pada pasien anak juga sering kita jumpai fraktur dentoalveolar. Adapun penyebab fraktur dentoalveolar yang utama adalah kecelakaan lalu lintas. pencegahan terhadap infeksi. merupakan faktor predisposisi trauma insisivus maksila. dimana anak – anak pada masa pertumbuhan dengan aktivitas bermain yang tinggi seperti terjatuh dari sepeda. dengan melakukan penjahitan dan penutupan luka dengan kain kassa. Perawatan darurat pada kasus truma gigi anterior meliputi pembersihan luka akibat trauma dengan menggunakan cairan antiseptik. seperti terlihat pada individu dengan maloklusi Kelas II divisi I atau sebagai akibat kebiasaan buruk menghisap jempol. menghentikan perdarahan. trauma. maloklusi. Perawatan darurat merupakan perawatan yang penting dan harus dilakukan dengan segera karena menyangkut prognosa dari penderita.Fraktur Dentoalveolar Sutami Wahyu Prasetya 160121120010 Peserta Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut Dan Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Bandung Abstrak : Fraktur dentoalveolar adalah salah satu fraktur yang banyak kita jumpai di emergency room. Insisivus yang protrusif dengan penutupan bibir yang tidak seimbang. kecelakaan sewaktu berolahraga. Kata kunci: fraktur dentoalveolar. Trauma secara langsung biasanya menyebabkan cedera pada insisivus sentral maksila karena posisinya yang relatif lebih ke depan. perawatan darurat 107 . menghilangkan rasa sakit.

1 Fraktur dentoalveolar dapat terjadi dengan atau tanpa kerusakan gigi. Cedera pada gigi akan meningkat dua kali lebih sering pada anak-anak dengan gigi incisivus yang protrusif dibandingkan dengan seorang anak yang memiliki oklusi normal. merupakan faktor predisposisi trauma incisivus maksilla. Cedera yang terjadi dapat hanya mengenai gigi dan struktur pendukungnya saja seperti pada seorang anak yang terjatuh. menimbulkan kerusakan gigi-gigi posterior atau jaringan lunak anterior. Fraktur dentoalvapaeolar pada umumnya terjadi bersamaan 108 . Cedera pada strktur dentoalveolar dapat diakibatkan oleh trauma secara langsung mengenai gigi atau trauma tidak langsung. kecelakaan di taman bermain. biasanya akibat oklusi yang menutup dengan cepat dan kuat antara gigi-geligi mandibula ke gigi-geligi maksilla. Cedera dentoalveolar biasanya terjadi karena seseorang terjatuh. kecelakaan sepeda. Keterlibatan trauma orofasial diperkirakan sekitar 15 % dari semua pasien emergensi. penganiayaan.1 Trauma secara langsung biasanya menyebabkan cedera pada incisivus central maksilla karena posisinya yang relatif lebih kedepan. seperti terlihat pada individu dengan maloklusi kelas II divisi 1 atau sebagai akibat kebiasaan buruk menghisap jempol. Trauma tidak langsung pada gigi dan struktur pendukung biasanya sebagai akibat dari benturan yang mengenai dagu. dan 2% dari kasus tersebut melibatkan trauma dentoalveolar.BAB I PENDAHULUAN Trauma pada gigi dan jaringan pendukungnya sering tejadi pada pasien trauma. dan kecelakaan olahraga. Dapat dalam bentuk retak tetapi pada umunya dalam bentuk fragmen alveolar yang sederhana. benturan akan diteruskan ke oklusi gigi-geligi. seperti yang terjadi pada kecelakaan kendaraan bermotor. ataupun dapat juga berhubungan dengan cedera multisistim. Incisivus yang protrusif dengan penutupan bibir yang tidak seimbang. kecelakaan sepeda motor. atau gigi tidak dalam oklusi yang baik.

dengan cidera mulut lainnya. Deteksi dan pengobatan dini dapat meningkatkan kelangsungan hidup dan fungsi dari gigi tersebut. Sekitar 82% gigi yang

mengalami trauma adalah gigi-gigi maksiler. Fraktur gigi maksiler tersebut 64% adalah gigi incisivus sentral, 15% incisivus lateral, dan 3% caninus. Fraktur dentoalveolar pada umumnya terjadi pada kelompok usia anak, remaja, dan dewasa muda dengan rasio laki-laki terhadap perempuan 2-3 : 1. 2 Pemeriksaan klinis pada fraktur dentoalveolar meliputi kemungkinan adanya luka pada bibir dan umumnya terjadi edema dan echymosis. Pada pemeriksaan gigi dan alveolus kemungkinan terdapat laserasi, echymosis dari pada gingival dan perubahan bentuk dari pada alveolus. 3 Selain itu pada saat palpasi hati-hati pada saat memeriksa bibir. Pemeriksaan pada bibir berguna untuk mengetahui apakah ada benda asing atau gigi di dalam jaringan tersebut. Palpasi pada alveolus berfungsi untuk merasakan perubahan bentuk tulang-tulang, dan kadang-kadang terdapat krepitus.1

109

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

I. Etiologi Fraktur Dentoalveolar Trauma dentoalveolar dapat terjadi pada anak-anak, remaja, maupun dewasa. Pada kelompok anak-anak penyebab utama dari trauma ini adalah jatuh. Pada usia 1-3 tahun ketika anak belajar berjalan dan berlari insidennya meningkat yang diakibatkan oleh aktivitas yang tinggi dan kurangnya koordinasi anggota tubuh menyebabkan anak sering jatuh. Pada anak usia sekolah, taman bermain dan cidera akibat bersepeda merupakan penyebab tersering. Selama masa remaja, cidera olahraga merupakan kasus yang umum. Pada usia dewasa, cidera olahraga, kecelakaan sepeda motor, kecelakaan industri dan pertanian, dan kekerasan dalam rumah tangga merupakan penyebab potensial. Rasio laki-laki dan perempuan adalah 2:1. Olahraga yang melibatkan kontak fisik merupakan penyebab umum fraktur dental, seperti sepakbola dan bola basket. Frekuensi fraktur dentoalveolar yang lebih tinggi ditemukan pada pasien dengan retardasi mental dan serebral palsi. Penyalahgunaan obat dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya frakturdental.2 Gigi insisivus maksiler yang menonjol keluar atau ketidakmampuan menutup gigi pada keadaan istirahat dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya fraktur. Benturan atau trauma, baik berupa pukulan langsung terhadap gigi atau berupa pukulan tidak langsung terhadap mandibula, dapat menyebabkan pecahnya tonjolan-tonjolan gigi, terutama gigi-gigi posterior. Selain itu, tekanan oklusal yang berlebihan terutama terhadap tumpatan yang luas dan tonjol-tonjolnya tak terdukung oleh dentin dapat pula menyebabkan fraktur. Keparahan fraktur bisa hanya sekedar retak saja, pecahnya prosesus, sampai lepasnya gigi yang tidak bisa diselamatkan lagi. Trauma langsung kebanyakan mengenai gigi anterior, dan karena arah pukulan mengenai permukaan labial, garis retakannya menyebar ke belakang dan biasanya horizontal atau oblique. Pada fraktur yang lain, tekanan

110

hampir selalu mengenai permukaan oklusal, sehingga frakturnya pada umumnya vertikal. Pukulan terhadap gigi anterior paling sering terjadi pada anak-anak dan apabila dibiarkan maka tubulus dentinnya akan terpapar pada flora normal mulut sehingga dapat menimbulkan infeksi dan inflamasi pulpa sehingga perlu dirawat. 1 Di pihak lain, gigi posterior yang fraktur karena tekanan oklusal yang besar biasanya karena mempunyai tumpatan yang luas. Pada gigi semacam ini, hanya sedikit tubulus dentin yang terbuka yang langsung berhubungan dengan pulpa karena telah terjadinya reaksi terhadap karies dan prosedur penambalannya berupa kalsifikasi tubulus dan penempatan dentin reaksioner di rongga pulpa. Dengan demikian jaringan pulpanya jarang sekali ikut terkena. Trauma terhadap gigi pada umumnya bukan merupakan keadaan yang mengancam nyawa, tetapi cidera maksilofasial lain yang berhubungan dengan trauma dental dapat mengganggu jalan napas. Fraktur biasanya terjadi pada gigi permanen, sedangkan gigi susu biasanya hanya mengalami perubahan letak. Morbiditas yang berhubungan dengan fraktur dental bisa seperti gagalnya pergantian gigi, perubahan warna gigi, abses, hilangnya ruang pada arkus dental, ankylosis, lepasnya gigi secara abnormal, dan resorpsi akar merupakan keadaan yang signifikan. Trauma dental sering berhubungan dengan laserasi intraoral. Ketika ada gigi yang pecah atau hilang dan pada saat yang bersamaan terdapat laserasi intraoral, maka harus diperhatikan bahwa bagian gigi yang hilang dapat tertanam di dalam robekan luka tersebut. 1 Trauma secara langsung biasanya menyebabkan cedera pada incisivus central maksilla karena posisinya yang relatif lebih kedepan. Incisivus yang protrusif dengan penutupan bibir yang tidak seimbang, seperti terlihat pada individu dengan maloklusi kelas II divisi 1 atau sebagai akibat kebiasaan buruk menghisap jempol, merupakan faktor predisposisi trauma incisivus maksilla. Cedera pada gigi akan meningkat dua kali lebih sering pada anak-anak dengan gigi incisivus yang protrusif dibandingkan dengan seorang anak yang memiliki oklusi normal. Trauama tidak langsung pada gigi dan struktur pendukung biasanya sebagai akibat dari benturan yang mengenai dagu, atau gigi tidak dalam

111

oklusi yang baik, benturan akan diteruskan ke oklusi gigi-geligi, menimbulkan kerusakan gigi-gigi posterior atau jaringan lunak anterior. 1 Cedera dentoalveolar ini paling banyak terjadi pada gigi sulung yang terjadi pada saat anak-anak mulai belajar berjalan hingga usia sekolah, yang berusia antara 2-4 tahun, sedangkan pada gigi permanen antara usia 7-10 tahun. Jumlah cedera dentoalveolar yang signifikan juga terjadi berhubungan dengan penatalaksanaan pasien yang tidak sadar atau pasien yang akan menjalani anestetikum umum. Lockhart dan Colleases melakukan survai terhadap 133 program pelatihan anestesi dan menemukan dari setiap 100 tindakan intubasi trachea terdapat 1 kejadian yang mengakibatkan trauma gigi anterior. 1

Gambar 1. Gambaran Klinis Fraktur Dento Alveolar

II. Klasifikasi Ada banyak cara untuk mengklasifikasikan fraktur dental. Klasifikasi Ellis merupakan salah satu yang sering digunakan dalam literatur kegawatdaruratan, tetapi banyak dokter gigi dan ahli bedah maksilofasial yang tidak menggunakan sistem ini. Metode klasifikasi yang paling mudah dimengerti adalah berdasarkan deskripsi cidera. Fraktur mahkota gigi dapat dibedakan menjadi kategori sederhana dan rumit. Fraktur mahkota sederhana melibatkan bagian enamel dan dentin. Yang termasuk fraktur mahkota sederhana adalah fraktur Ellis kelas I dan II. Fraktur Ellis kelas I Fraktur yang tergolong Ellis kelas I hanya melibatkan lapisan enamel gigi. Pada inspeksi tampak sebagai kepingan kecil dengan tepi

112

yang tidak beraturan (kasar). Keluhan yang biasanya muncul adalah rasa tidak nyaman akibat tepi fraktur yang kasar tersebut. Pasien pada umumnya tidak mengeluhkan sensitivitas terhadap temperatur atau udara. Fraktur ini pada umumnya tidak menyebabkan gangguan terhadap rongga pulpa. 1 Sistim WHO yang dimodifikasi oleh Andreasen melibatkan cedera pada gigi, struktur pendukungnya, gusi dan mukosa oral yang berdasarkan anatomi, terapi dan prognosanya. 1 Cedera jaringan keras gigi dan pulpa. 1. Crown Infraction (keretakan mahkota). Merupakan fraktur inkomplit atau retaknya enamel tanpa disertai kehilangan substansi gigi. 2. Uncomplicated crown fracture (fraktur mahkota tidak komplit) Merupakan fraktur yang terbatas pada enamel atau melibatkan enamel dan dentin tanpa disertai terbukanya pulpa. 3. Complicated crown fracture (fraktur mahkota komplit) Merupakan fraktur yang melibatkan enamel dan dentin disertai terbukanya pulpa. 4. Uncomplicated crown-root fracture (fraktur mahkota dan akar tidak komplit) Merupakan fraktur yang melibatkan enamel, dentin dan sementum tanpa disertai terbukanya pulpa. 5. Complicated crown-root fracture (fraktur mahkota dan akar komplit) Merupakan fraktur yang melibatkan enamel, dentin, dan sementum yang disertai dengan terbukanya pulpa. 6. Root fracture (fraktur akar) Merupakan fraktur yang melibatkan dentin, sementum dan pulpa.

113

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

Gambar 2. Cedera jaringan keras gigi dan pulpa.(1) Crown infraction. (2) dan (3) Uncomplicated crown fracture dengan atau tanpa melibatkan dentin. (4) Complicated crown fractured. (5) Uncomplicated crown root fractured. (6) Complicated crown root fracture. (7) Root Fracture. 1

Cedera jaringan periodontal. 1 1. Concussion (sensitif). Merupakan suatu cedera pada struktur pendukung gigi tanpa adanya kehilangan yang abnormal atau pergeseran gigi, tetapi ditandai dengan adanya reaksi sensitif terhadap perkusi. 2. Subluksasi (kegoyangan gigi). Cedera pada struktur pendukung gigi tanpa kehilangan yang abnormal tetapi tanpa pergeseran gigi. 3. Intrusif luxation (central dislocation). Pergeseran gigi ke dalam tulang alveolar tanpa disertai hancurnya atau fraktur soket alveolar. 4. Extrusif luxation (peripheral dislocation, partial avultion) Pergeseran sebagian gigi keluar dari soket alveolar. 5. Lateral luxation Pergeseran gigi dalam arah lateral yang disertai hancur atau fraktur soket alveolar.

114

6. Exarticulation (complete avultion) Pergeseran gigi yang komplit keluar dari soket alveolar.

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

Gambar 3. Cedera jaringan periodontal. (1)Concussion. (2)Subluksasi. (3)Intrusif luksatioin. (4)Extrusif luxation. (5) dan (6) Lateral luxation. (7)Retained root. (8)Exarticulation. 1

Cedera tulang pendukung. 1 1. Comminution alveolar socket. Fraktur atau remuknya soket alveolar mandibula atau maksila. Keadaan ini biasanya ditemukan bersama-sama dengan luksasi intrusi dan luksasi lateral. 2. Fracture of the alveolar socket wall (Fraktur dinding socket alveolar) Fraktur dinding alveolar soket yang ditahan oleh dinding soket fasial atau lingual. 3. Fracture of alveolar process (fraktur prosesus alveolaris). Fraktur prosesus alveolaris yang dapat atau tidak melibatkan soket alveolar. 4. Fraktur maksila atau mandibula.

115

1 Cedera gingiva atau mukosa oral.Fraktur ini mengenai mandibula atau maksilla. Yaitu luka daerah supefisial yang disebabkan karena gesekan atau goresan yang mengakibatkan daerah mukosa terlihat lecet dan permukaan yang berdarah. Laserasi gingiva atau mukosa Yaitu luka pada daerah mukosa yang biasanya disebabkan oleh sobekan benda tajam. (2) dan (3)Fracture of the alveolar socket wall. 3. (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Gambar 4. Cedera tulang alveolar. 116 . Yaitu luka memar yang biasanya disebabkan oleh pukulan dari benda tumpul dan menyebabkan perdarahan pada daerah submukosa tanpa disertai sobeknya daerah mukosa. dan dapat mengenai prosesus alveolaris atau mungkin juga dengan atau tidak mengenai soket alveolar gigi. (1)Comminution alveolar process. (6) dan (7)Fraktur mandibula atau maksila. 1 1. Abrasi gingiva atau mukosa oral. 2. (4) dan (5)fracture of the alveolar process. Kontusio gingiva atau mukosa oral.

yang dibagi lagi menjadi :3 1.Selain itu ada juga klasifikasi yang dibuat oleh Sanders. Fraktur akar horizontal 1 1. 4. 5. 3 Keretakan mahkota. 2. Fraktur mahkota yang hanya mengenai email 2. Fraktur horizontal atau vertikal. tipe pergeseran dan arah fraktur akar dan mahkota. Mengenai sepertiga apikal. Melibatkan pulpa. 3. 2. Dapat terjadi secara horizontal atau vertical. dentin dan pulpa. gambaran struktur gigi yang terlibat. Gambaran Klinis Fraktur MAhkota Horizontal Fraktur mahkota-akar.1. 117 . Fraktur mahkota yang mengenai email dan dentin. Fraktur mahkota 3 1.3 1. Tidak melibatkan pulpa. Brady dan Johnson yang relatif lebih sederhana berdasarkan pada diskripsi cedera. Fraktur mahkota yang mengenai email. Fraktur secara oblique (mengenai sudut mesioincisal dan distoincisal) Gambar 5. Retak atau fraktur yang tidak lengkap dari email tanpa adanya kehilangan struktur gigi.

Ekstrusi gigi (gigi sebagian keluar dari soketnya dan memungkinkan tidak disertainya adanya fraktur tulang alveolar). Mengenai sepertiga servikal. 4. Horizontal atau vertikal. Kegoyangan gigi (Subluxation) Yaitu trauma terhadap gigi dan jaringan pendukungnya mengakibatkan gigi menjadi goyang. 3.2.1 1. Perubahan letak gigi. Perubahan letak gigi kea rah lateral (pergeseran gigi ke arah distal atau mesial. Perubahan letak gigi ke arah lingual (kemungkinan disertai fraktur dinding lingual). 2. 4. tetapi tanpa disertai adanya perubahan letak gigi. kemungkinan juga disertai fraktur dinding alveolar). Gigi sensitif (Concussion) 1 Yaitu trauma pada gigi dan jaringan pendukungnya mengakibatkan gigi sensitive terhadap perkusi. Avulsi Gigi 1 Yaitu perubahan letak keseluruhan gigi keluar dari soketnya. Intrusi gigi (gigi masuk ke dalam soket. 118 . biasanya disertai dengan kompresi fraktur dari saku alveolar). 3. dan kemungkinan bersamaan dengan fraktur dinding alveolar. Mengenai sepertiga tengah akar. Perubahan letak gigi ke arah labial (kemungkinan disertai fraktur dinding alveolar). tetapai tanpa disertai adanya kegoyangan gigi dan perubahan letak dari gigi. 5.

Anamnesis. dibutuhkan suatu penegakan diagnosa dan perawatan dalam waktu yang cepat. Agar penatalaksanaannya tepat dan berhasil.Gambar 6. orangtuanya atau orang yang mengetahui informasi yang berhubungan dengan pasiennya. terapi apa yang sudah diberikan sebelumnya. Kapan Terjadinya Trauma. 1. 119 . Riwayat yang komprehensif harus didapatkan dari pasien. Dalam melakukan anamnesis. Pemeriksaan dan Menegakan Diagnosis Cedera pada gigi-gigi dan struktur pendukungnya harus dipertimbangkan sebagai suatu keadaan darurat. dan bagaimana kejadiannya. Riwayat mekanisme dan kejadian yang lengkap harus didapatkan dan langsung dilakukan pemeriksaan klinis dan radiografis untuk menjamin diagnosa dan perawatan yang tepat. dimana. Anamnesis dapat dilakukan dengan menanyakan langsung kepada penderita atau pengantar. ada beberapa informasi yang harus diketahui antara lain sebagai berikut : a. kapan. Gigi Avulsi III. 1 Yang dimaksud dengan anamnesis adalah riwayat terjadinya trauma.3 Langkah pertama dalam proses mendiagnosa yaitu mendapatkan riwayat kecelakaan yang akurat.

Keluhan Lain. tingkat kesadaran dan suhu tubuh. d. Informasi ini penting untuk mengetahui apakah trauma tersebut mengenai benda keras atau tumpul atau lunak. Karena trauma pada benda keras dapat mengakibatkan fraktur ahkota gigi. Seperti pada gigi yang mengalami avulsi. sedangkan trauma pada benda yang lunak atau tumpul seperti siku biasanya dapat mengakibatkan fraktur akar gigi dan luksasi. 3 Pemeriksaan Fisik. b. Dimana Tempat Trauma Terjadi. Pemeriksaan Ekstra Oral Pada kasus trauma gigi anterior ini dapat dilakukan dengan cara visual dan palpasi. tekanan darah. Bagaimana Trauma Terjadi. semakin cepat gigi tersebut di replantasi. Palpasi pada wajah dilakukan untuk melihat diskontinuitas tulang rahang 120 . Demikian juga pada kecelakaan mobil perlu diperhitungkan kemungkinan ada pecahan kaca pada bibir dan daerah muka. Perawatan yang Sudah Didapat. g. c. Riwayat Trauma pada Gigi f. h. Juga pada fraktur rahang yang proses penyembuhannya akan berpengaruh jika perawatannya ditunda. maka prognosisnya akan semakin baik. e. pernafasan. Pemeriksaan terhadap keadaan umum penderita. Hal ini penting karena mungkin saja penderita memerlukan suntikan anti tetanus karena luka akibat trauma tersebut terjadi di daerah yang kotor yang dengan mudah akan terkontaminasi dengan bakteri. Gangguan Pengunyahan.Karena jarak antara kecelakaan dan perawatan sangat penting diketahui bukan hanya untuk menentukan jenis perawatan yang akan dilakukan tetapi berpengaruh juga terhadap prognosisnya. Pemeriksaan Klinis. meliputi pemeriksaan denyut nadi. Penyakit Sistemik yang Diderita.

6. Untuk melihat arah garis fraktur Adanya fraktur akar Bagaimana tingkat keparahan dari gigi yang mengalami instrusi atau ekstrusi 4. Tindakan yang sebaiknya dilakukan pada pemeriksaan intra oral meliputi antara lain : (1) (2) (3) (4) Perkusi gigi Pencatatan kegoyangan abnormal dari gigi atau tulang alveolar.yang menunjukkan adanya fraktur. kelainan saraf serta hematoma. Pemeriksaan Intra Oral. 3 Kegunaan Pemeriksaan Radiologis Pemeriksaan ini diperlukan untuk membantu menegakkan diagnosa kelainan akibat trauma gigi anterior yang tepat dan benar. (5) (6) (7) Pencatatan perubahan letak gigi Tes vitalitas dari gigi Pencatatan adanya kerusakan prosesus alveolaris. langitlangit dan lidah. 3. Pemeriksaan ini penting untuk mendapatkan informasi agar dapat memberikan pertolongan pertama. Pencatatan adanya perubahan warna gigi Pencatatan kerusakan jaringan lunak. gangguan pergerakan rahang. Pemeriksaan ini berguna untuk memberikan informasi. 5. seperti pada bibir. dengan cara palpasi prosesus alveolaris. 2. 7. gusi. misalnya : 1. Biasanya pemeriksaan radiologis dilakukan pada saat sebelum memulai perawatan dan pada saat kontrol sesudah perawatan sebagai evaluasi terhadap perawatan yang telah dilakukan. Pemeriksaan Radiologis. Adanya kelainan dari jaringan periodontal Tingkat perkembangan akar Ukuran kamar pulpa dan saluran akar Adanya fraktur rahang 121 .

bibir dan pipi. foto lateral dan foto postero-anterior) jika dengan foto intra oral garis fraktur tidak terlihat. dan kadangkala diperlukan teknik ekstra oral (foto panoramik. Gambar 7.8. seperti dasar mulut. fraktur alveolar crest pada maksila dan fraktur 1/3 apikal akar gigi pada mandibula 122 . Foto panoramic. Macam-macam foto rontgen yang digunakan Teknik foto rontgen yang biasa digunakan dalam melakukan pemeriksaan riologis pada kasus trauma gigi anterior adalah teknik intra oral ( foto periapikal dan foto oklusal). Melihat keadaan fragmen gigi dan jaringan lunak lain disekitar rongga mulut.

yaitu perawatan segera setelah terjadinya trauma (perawatan darurat) dan perawatan terhadap gigi anterior yang mengalami trauma (perawatan definitif). pemeriksaan klinis dan pemeriksaan radiologis telah lengkap. Pencegahan terhadap infeksi 1 Perawatan Gigi pada Cedera Dentoalveolar (Perawatan Definitif).BAB III Perawatan Trauma Pada Gigi Anterior 1 Setelah ananmnesis. maka diagnosis yang tepat juga dapat ditegakkan sehingga langkah perawatan terhadap kelainan akibat trauma pada gigi anterior dapat dilakukan dengan segera. Menghentikan perdarahan d. 123 . Perawatan darurat pada kasus trauma gigi anterior meliputi : a. Perawatan Segera Setelah Terjadinya Trauma (Perawatan Darurat) Perawatan darurat merupakan perawatan yang penting dan harus dilakukan dengan segera karena menyangkut prognosa dari penderita. Trauma pada gigi merupakan salah satu kasus darurat yang memerlukan penanggulangan yang cepat dan tepat. karena keadaan ini mempengaruhi prognosis yang akan datang. c. Perawatan trauma gigi anterior dapat dibagi menjadi 2 tahap. Merawat luka akibat trauma. dengan melakukan penjahitan dan penutupan luka dengan kain kasa. Membersihkan luka akibat trauma dengan menggunakan cairan antiseptik b. Menghilangkan rasa sakit e. Maka pada prinsipnya perawatan trauma gigi anterior ini adalah perawatan untuk mencegah prognosis yang lebih buruk dan mengurangi rasa sakit akibat trauma.

124 . Perawatan pada gigi yang goyang dan berubah letak. Pada dasarnya perawatan definitif trauma gigi anterior meliputi : a. Perawatan jaringan pulpa. Vitalitas gigi yang terkena trauma. keadaan jaringan periodontal serta gigi-geligi yang ada. Bersifat pasif pada tempatnya. 2. tanpa menyebabkan tekanan pada gigi. Ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan sebelum melakukan perawatan definitif pada kasus trauma gigi anterior. apakah disertai dengan fraktur tulang alveolar. misalnya pada perawatan endodontik seperti pulp capping. lokasi dan luas daerah yang terkena trauma.Perawatan gigi anterior yang mengalami trauma pada prinsipnya adalah mengembalikan gigi yang mengalami trauma keposisi semula (reposisi) dan mempertahankannya hingga proses penyembuhan (fiksasi dan imobilisasi). band atau splin dari logam cor. 3. c. dll. yaitu dengan melakukan reposisi dan fiksasi. 1. Yang dimaksud dengan fiksasi adalah suatu tindakan pemasangan alat yang digunakan untuk menstabilkan satu gigi atau lebih dengan mengikat atau menggabungkan gigi goyah atau berubah letak kegigi sebelahnya yang masih kokoh melalui kawat.yaitu : Dapat dengan mudah dipasang didalam mulut tanpa melalui prosedur laboratorium yang lama. Dapat dengan mudah dibersihkan dan dipakai pada oral higiene yang baik. keadaan dari tulang pendukung. Pada saat dipakai tidak menyebabkan trauma pada gigi atau gusi. Tidak terdapat sangkutan pada saat oklusi yang normal. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi untuk mendapatkan fiksasi yang baik 1 . 4. 6. b. umur pasien. Tindak berkontak dengan gusi dan tidak mengiritasi gusi. dll. Perawatan jaringan keras gigi. pembuatan mahkota jaket. trauma terjadi pada gigi sulung atau gigi tetap. 5. plastik atau acrylik. misalnya penambalan dengan resin komposit pada mahkota gigi yang terkena trauma. pulpotomi. yaitu : keadaan umum pasien.

misalnya pada gigi yang ekstrusi dan avulsi. yaitu pengikatan kawat dengan arch bar. yaitu splin dengan menggunakan logam cor. Misalnya dengan metode Erich arch bar. Gambar 8. Interdental wiring fixation. 8. Circumferential arch bar. yaitu fiksasi dengan pengikatan kawat interdental. Eyelet & Essig Method 1 2. Eyelet (Ivy). Harganya murah dan bahan-bahannya mudah diperoleh dipasaran. 3.7. 125 . Sectional acrylic splint. Resin komposit splin dengan menggunakan etsa asam. yaitu splin dengan menggunakan bahan dari akrilik. Misalnya dengan metode Essig. hauptmeye’s arch bar. Dapat dengan mudah dikeluarkan. Ada beberapa macam teknik fiksasi yang digunakan pada kasus trauma gigi anterior ini1. yaitu : 1. 9. Memperhatikan nilai estetik yang baik.4. 6. Metal cast splint. Arch bar wiring. 10. Dapat memberikan jalan bagi perawatan endodontik. 4. 5. Ernt’s. Sauer’s arch bar. Penggunaan alat Orthodontik bracket.

fiksasi dengan Jalenko 1 Berikut ini akan diuraikan berbagai macam perawatan definitif trauma gigi anterior menurut beberapa pakar bedah mulut Fraktur Mahkota Pada fraktur mahkota yang mengenai email. dentin serta pulpa tanpa disertai kegoyangan gigi biasanya dilakukan penambalan pada gigi yang terkena fraktur dengan resin komposit sistem etsa dengan atau tanpa didahului perawatan endodontik. screw & wire. d. Fiksasi intermasiler: A. Jika fragmen mahkota masih berada ditempat dan tidak goyang.A B C D Gambar 9. Fiksasi intermaksiler dengan Erich bar & rubber elastic.al. C.3 yaitu sebagai berikut : 126 . perawatan yang dilakukan sama dengan perawatan pada fraktur mahkota. 2004). Fraktur Mahkota – Akar a. maka 1. Gunning splint untuk rahang edentulous (Miloro et. B. Tetapi bila disertai dengan kegoyangan gigi dilakukan juga reposisi gigi dan fiksasi gigi tersebut.

Gigi Sensitif (Concussion) 1 Perawatan yang khusus pada gigi sensitif ini biasanya tidak ada. Subluksasi Gigi 1 Gigi yang mengalami subluksasi sensitif terhada perkusi dan goyang. c. Jika garis fraktur berada sepertiga tengah akar. Jika disertai dengan fraktur tulang alveolar. karena pada periode ini biasanya telah terjadi proses kalsifikasi dari jaringan dan gigi kembali vital.b. Jika terjadi fraktur akar vertikal dilakukan tindakan ekstraksi gigi. Jika garis fraktur sepertiga apikal prognosisnya sangat baik dan biasanya tidak diperlukan perawatan yang khusus. Perawatan yang diperlukan biasanya perawatan simptomatik yaitu dengan memberikan makanan yang lunak dan jika perlu menghilangkan kontak oklusal/incisal untuk mengurangi trauma saat oklusi yang diterima dari gigi. maka sebaiknya dilakukan ekstraksi gigi tersebut. Dan apabila kegoyangan gigi sudah sangat ekstrim. Jika garis fraktur jauh kearah apikal dan gigi masih dapat direstorasi. c. prognosisnya sangat baik terhadap pemulihan pertahanan jaringan pulpa dan penyembuhan dari fraktur akar tersebut. dilakukan fiksasi pada gigi lawannya. 127 . b. Dan dalam hal ini diperlukan tindakan reposisi dan fiksasi selama 2-3 bulan. maka dilakukan perawatan endodontik. hanya diperlukan pemeriksaan yang rutin dan berlanjut untuk mengevaluasi kesehatan dari jaringan periodontal dan pulpa gigi tersebut dan jika perlu mengurangi kontak incisal untuk mengurangi trauma saat oklusi yang diterima gigi. Fraktur Akar a.

Keberhasilan replantasi gigi pada gigi yang mengalami avulsi ini tergantung pada lamanya gigi berada diluar soket. tidak terdapat resorpsi akar pada gigi tersebut. gigi akan kembali pada posisi semula. Setelah gigi direplantasi. 2. Intrusi Gigi   Pada apeks yang belum terbentuk sempurna. dan penggunaan alat orthodonti juda dapat membantu gigi yang mengalami instrusi dapat kembali keposisi semula. Ekstrusi Gigi dan Luksasi Gigi ke lateral Pada gigi yang mengalami ekstrusi dan perubahan letak kearah lateral dilakukan perawatan reposisi gigi dengan tekanan jari. Dan resorpsi akar terlihat pada 95% gigi yang direplantasi setelah lebih dari 2 jam mengalami avulsi. Apabila akar sudah terbentuk sempurna. maka prognosisnya semakin baik. Kemudian gigi tersebut dikeringkan dan setelah saku gusi dibersihkan dari gumpalan darah replantasi dapat segera dilakukan. Andreasen dan Hjorting-Hansen 1 mengemukakan bahwa 90% dari gigi yang direplantasi kurang dari 30 menit setelah terjadi avulsi gigi. Sebelum melakukan replantasi. 3 128 . Periode stabilisasi pada kasus cedera dentoalveolar dapat dilihat pada tabel 1. gigi tersebut direndam dahulu dalam larutan garam fisiologis hangat seperti cairan saline untuk mencegah kekeringan dari serat-serat periodontal. dilakukan reposisi dan immobilisasi selama 2-3 bulan. biasanya dibiarkan saja karena diharapkan pada saat pertumbuhan. kemudian immobilisasi gigi selama 2-3 minggu.Perawatan Pada Gigi Yang Berubah Letak 1 1. Avulsi Gigi Pada gigi yang mengalami avulsi. gigi tersebut distabilisasi dengan splint sistem etsa asam atau splint akrilik selama 7-10 hari (pada gigi yang apeksnya sudah terbentuk sempurna) dan 3-4 minggu pada gigi yang apeknya belum terbentuk sempurna. Semakin cepat gigi tersebut direplantasi. dilakukan replantasi gigi dan stabilisasi gigi.

e. Gigi tersebut tidak mempunyai kelainan periodontal. Periode stabilisasi pada cedera dentoalveolar.Pada pasien yang mengalami 129 . seperti gigi yang berjejal. d. Tingkat perkembangan akar. Replantasi gigi (matur) Replantasi gigi (imatur) Durasi Imobilisasi 7 – 10 hari 2 – 3 minggu 2 – 4 bulan. 3 Cedera Dentoalveolar Gigi yang mobile. ada beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam melakukan replantasi gigi yang mengalami avulsi. 7 – 10 hari. Gigi yang berubah tempat Fraktur akar. sedangkan jika gigi berada diluar saku alveolar lebih dari 2 jam kemungkinan besar akan terjadi komplikasi yaitu resorpsi dari akar gigi dan gigi menjadi non vital. Saku alveolar dapat menyediakan tempat bagi gigi yang direplantasi. Fraktur Tulang Alveolar 1 Fraktur tulang alveolar biasanya disertai dengan fraktur dari beberapa gigi sehingga dengan fraktur tulang alveolar ini juga dapat terjadi fraktur mahkota.Tabel 1. merupakan indikasi replantasi yang baik. Gigi yang berada diluar saku gusi kurang dari 30 menit. c. kecuali sebelum direplantasi gigi tersebut dirawat endodontik terlebih dahulu. 2003. Menurut Andreasen. 1 yaitu sebagai berikut : a.Maka perawatan yang dilakukan adalah mengembalikan bagian yang terkena fraktur keposisi semula dan kemudian dilakukan stabilisasi selama 4 minggu sampai terjadi proses penyembuhan tulang serta penjahitan gusi yang mengalami laserasi. 3 – 4 minggu. b. fraktur akar dan trauma pada jaringan lunaknya. Sumber : Ellis. Tidak ada pertimbangan untuk melakukan perawatan orthodontik. Berapa lama gigi tersebut berada diluar saku alveolar. Soft Tissue and Dentoalveolar Injuries.

Gambar 10. 5 Bentuk cedera pada daerah tidak bergigi ini tidak terlalu berarti. Jika mukosa mengalami perlukaan maka sebelum tindakan operatif harus diberikan antibiotik terlebih dahulu baru kemudian dilakukan debridemen. Cedera jenis ini jika mengenai daerah edentulous maksilla dapat menyebabkan terjadinya fistula oro-nasal pada daerah premaksilla atau fistula oroantral di daerah premolar dan molar. 130 . Kemudian mukosa gingiva atau rongga mulut diperbaiki dengan cara melakukan penjahitan. Finger pressure dapat digunakan untuk menekan fragmen alveolar yang fraktur ke dalam posisinya yang tepat dan jika pasien menggunakan gigi tiruan dapat digunakan sebagai alat bantu memfiksasi. tulang alveolar yang lepas dan berukuran kecil dan tidak dapat dipertahankan dibuang dan dilakukan alveolektomi. fraktur dentoalveolar pada maksila (panah).fraktur tulang alveolar yang parah dilakukan tindakan alveolektomi disertai ekstraksi gigi yang mengalami trauma. Displacement segmen alveolar dan mengakibatkan maloklusi 1 Letak Fraktur pada Daerah Edentulous. Foto panoramic.

Kadang-kadang pada fraktur dentoalveolar gigi pada fragmen fraktur tidak mendapat dukungan tulang alveolar terutama pada penderita usia tua. pendalaman sulcus atau teknik implant. Tetapi bagaimanapun jika fragmen alveolar yang fraktur cukup besar maka tetap diindikasikan untuk pemasangan splint. 5 Adanya segmen tulang alveolar yang fraktur dan terdapat gigi permanen pada fragmennya maka diperlukan tindakan reduksi dan imobilisasi. Fraktur dentoalveolar pada usia sangat muda dapat membaik tanpa memerlukan imobilisasi dan cukup dirawat dengan pemberian diet lunak. Splinting harus dipertahankan selama 6 minggu. Komplikasi ini memerlukan perawatan pendahuluan sebelum pembuatan protesa yaitu augmentasi ridge. Alat Bantu Fiksasi 4 Masalah jangka panjang yang dapat terjadi jika prosesus alveolaris yang lepas berukuran besar akan mengakibatkan kesulitan saat pembuatan gigi tiruan. seperti diazepam oral atau intra venous.Gambar11. Prognosis fragmen fraktur dapat ditingkatkan dengan tindakan imobilisasi. kecuali gigi pada fragmen tulang alveolaris memerlukan pencabutan segera. kemudian gigi ditempatkan secara akurat pada posisinya dan juga membebaskan trauma oklusal dari gigi lawannya. maka perlu dirujuk kepada ahli periodontologi dengan melakukan perawatan splinting metoda Von Weissenfluh. jika terdapat gigi pada garis fraktur maka harus dipertimbangkan perawatan lainnya seperti perawatan endodontik diperlukan jika pulpa mengalami nekrosis. Perawatann ini dilakukan dengan anestesi lokal dibantu dengan sedasi. Letak Fraktur pada Procesus Alveolaris Bergigi. 131 .

perkelahian dan domestic abuse. 132 . Perawatan tergantung pada kasus dan seringkali melibatkan bidang kedokteran gigi lainnya. Tujuan perawatan cedera dentoalveolar adalah memperoleh kembali bentuk dan fungsi normal dari organ pengunyahan. biasanya akibat oklusi yang menutup dengan cepat dan kuat antara gigi-geligi mandibula ke gigi-geligi maksilla. pemeriksaan klinis dan radiologis.Diagnosis ditegakkan dengan anamnesis. Cedera dentoalveolar seringkali melibatkan regio anterior maksila Penyebab tersering cedera dentoalveolar adalah kecelakaan lalu lintas. olahraga.BAB IV KESIMPULAN Cedera pada strktur dentoalveolar dapat diakibatkan oleh trauma secara langsung mengenai gigi atau trauma tidak langsung.

WB Saunders Company.. FH. Mosby Year Book Inc. Powers. Second Ed. MP. Contemporary Oral and Maxillofacial Surgery. Third ed. Oral and Maxillofacial Traumatology. and Steinhilber. 2003. Philladelphia. 1982. E III.Daftar Pustaka 1. Louis. 4. 2. Kruger. 1990. J. 1991. 5. Pediatric Oral and Maxillofacial Surgery. Quintessence Publishing Co. 3. In. Oral and Maxillofacial Trauma. 133 . E and Schilli. Fonseca RJ. Schwenzer. WB Saunders Company. Kaban. Appliances for Immobilization. 1994. LB. Diagnosis and management of Dentoalveolar Injuries. Vol. Churchill Livingstone. N. 1. St. Rowe and Williams’ Maxillofacial Injuries. In. In. Philladelphia. Soft Tissue and Dentoalveolar Injuries. In. Peterson. Sowray. Williams. Ellis. Volume 1. Localized Injuries of the Teeth and Alveolar Process.

Hal ini dapat disebabkan karena posisinya yang menonjol dan merupakan sasaran pukulan dan benturan. Kedua teknik ini tidak selalu dilakukan tersendiri tetapi kadangkadang diaplikasikan bersama atau disebut dengan prosedur kombinasi. Kata Kunci : fraktur. Daerah mandibula yang lemah adalah daerah subkondilar. fiksasi. angulus mandibularis dan daerah mentalis. Pada teknik tertutup imobilisasi dan reduksi fraktur dicapai dengan penempatan peralatan fiksasi maksilomandibular. Banyak faktor yang dapat menyebabkan terjadinya fraktur mandibula. Pada prosedur terbuka bagian yang mengalami fraktur di buka dengan pembedahan dan segmen fraktur direduksi serta difiksasi secara langsung dengan menggunakan kawat/plat yang disebut dengan wire atau plate osteosynthesis. reduksi.Fraktur Mandibula Retno Widayanti 160121120003 Peserta Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut Dan Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Abstrak : Mandibula merupakan bagian tulang yang paling rentan mengalami fraktur pada trauma fasialis. Champy Line 134 . yaitu cara tertutup atau disebut juga perawatan konservatif dan cara terbuka yang ditempuh dengan cara pembedahan. Kecelakaan kendaraan bermotor merupakan etiologi utama penyebab fraktur mandibula di dunia. Pada prinsipnya ada dua cara penatalaksanaan fraktur mandibula. mandibula.

adanya laserasi intra oral. sebagai dasar pemikiran dan diagnosis fraktur mandibula 4. Mandibula adalah tulang rahang bawah pada manusia dan berfungsi sebagai tempat menempelnya gigi geligi3. Patahnya gigi. serta fiksasi dan 135 . adanya gap. bila perlu dilakukan foto waters.BAB I PENDAHULUAN Fraktur mandibula adalah putusnya kontinuitas tulang mandibula 1. dapat berakibat fatal bila tidak ditangani dengan benar2. namun kecelakaan kendaraan bermotor menjadi penyebab paling umum. Beberapa penyebab lain berupa kelainan patologis seperti keganasan pada mandibula. dan maloklusi5. Pada perkembangan selanjutnya oleh para klinisi menggunakan oklusi sebagai konsep dasar penanganan fraktur mandibula dan tulang wajah (maksilofasial) terutama dalam diagnostik dan penatalaksanaannya. tidak ratanya gigi. gigi yang longgar dan krepitasi menunujukkan kemungkinan adanya fraktur mandibula. Evaluasi radiografis pada mandibula mencakup foto polos. Secara khusus penanganan fraktur mandibula dan tulang pada wajah (maksilofasial) mulai diperkenalkan olah Hipocrates (460-375 SM) dengan menggunakan panduan oklusi (hubungan yang ideal antara gigi bawah dan gigigigi rahang atas). Diagnosis fraktur mandibula dapat ditunjukkan dengan adanya : rasa sakit. Faktor etiologi utama terjadinya fraktur mandibula bervariasi berdasarkan lokasi geografis. CT Scan dan pemeriksaan panoreks4. Selain hal itu mungkin juga terjadi trismus (nyeri waktu rahang digerakkan) 4. tidak simetrisnya arcus dentalis. Hilangnya kontinuitas pada rahang bawah (mandibula). hal ini disebabkan kondisi mandibula yang terpisah dari kranium. pengikat rahang atas dan bawah dengan kawat (intermaxilari fixation). nyeri tekan. pembengkaan. 2. Fraktur mandibula merupakan fraktur kedua tersering pada kerangka wajah. Hal ini diikuti dengan perkembangan teknik fiksasi mulai dari penggunaan pengikat kepala ( head bandages). kecelakaan saat kerja dan kecelakaan akibat olahraga4.

mencegah terjadinya infeksi. tujuan dari perawatannya adalah untuk mengembalikan fungsi dengan memastikan penyatuan dari segmen tulang dan mengembalikan kekuatan seperti sebelum cedera. Restorasi fungsi mandibula sebagai bagian dari sistem stomatognati harus mencakup kemampuan untuk mastikasi yang baik.imobilisasi fragmen fraktur dengan menggunakan plat tulang ( plate and screw)2. Pada semua manajemen fraktur.5. 136 . mencegah terjadinya defek kontur yang dapat timbul.4. berbicara dengan normal dan menciptakan pergerakan artikulasi seperti sebelum terjadinya trauma.

Bagian korpus mandibula membentuk tonjolan disebut prosesus alveolaris yang mempunyai 16 buah lubang untuk tempat gigi. Pada ujung dari masing-masing ramus didapatkan dua buah penonjolan disebut prosesus kondiloideus dan prosesus koronoideus. yaitu suatu lengkungan tapal kuda dan sepasang ramus yang pipih dan lebar yang mengarah keatas pada bagian belakang dari korpus. Prosessus kondiloideus terdiri dari kaput dan kolum. ramus membentuk sudut 1200 terhadap korpus pada orang dewasa. 137 .1 Anatomi Mandibula Mandibula dibentuk oleh dua bagian simetris yang mengadakan fusi dalam tahun pertama kehidupan. Bagian bawah korpus mandibula mempunyai tepi yang lengkung dan halus. Permukaan dalam dari korpus mandibula cekung dan didapatkan linea milohiodea yang merupakan origo m. Permukaan luar dari korpus mandibula pada garis median. Secara keseluruhan tulang mandibula ini berbentuk tapal kuda melebar di belakang. Pada yang lebih muda sudutnya lebih besar dan ramusnya nampak lebih divergens. Tulang ini terdiri dari korpus. Angulus mandibula terletak subkutan dan mudah diraba pada 2-3 jari dibawah lobulus aurikularis 10.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. Angulus mandibula adalah pertemuan antara tepi belakang ramus mandibula dan tepi bawah korpus mandibula. memipih dan meninggi pada bagian ramus kanan dan kiri sehingga membentuk pilar. didapatkan tonjolan tulang halus yang disebut simfisis mentum yang merupakan tempat pertemuan embriologis dari dua buah tulang. Pada pertengahan korpus mandibula kurang lebih 1 inchi dari simfisis didapatkan foramen mentalis yang dilalui oleh vasa dan nervus mentalis. Milohioid.

Temporalis yang berinsersi disisi medial pada ujung prosesus koronoideus dan m. M pterigoideus lateral berinsersi pada bagian depan kapsul sendi temporo-mandibular. M masseter bersama m temporalis merupakan kekuatan untuk menggerakkan mandibula dalam proses menutup mulut. diskus artikularis berperan untuk membuka mandibula.1 Anatomi mandibula10 Dari aspek fungsinya. 138 . Pterigodeus medial berinsersi pada sisi medial bawah dari ramus dan angulus mandibula.Gambar 2. merupakan gabungan tulang berbentuk L bekerja untuk mengunyah dengan dominasi (terkuat) m. Masseter yang berinsersi pada sisi lateral angulus dan ramus mandibula. M. Fungsi m pterigoid sangat penting dalam proses penyembuhan pada fraktur intrakapsuler.

139 .7mm sedang pada potongan level gigi kaninus kanalnya berdiameter sekitar 1mm dengan ketebalan korteks sekitar 2.53mm. Ditengahnya ditancapi oleh akar-akar geligi yang terbungkus oleh tulang kanselus yang membentuk sistem haversian (osteons) diantara dua korteks tersebut ditengahnya terdapat kanal mandibularis yang dilewati oleh syaraf dan pembuluh darah yang masuk dari foramen mandibularis dan keluar kedepan melalui foramen mentalis. Posisis jalur kanalis mandibula ini perlu diingat dan dihindari saat melakukan instrumentasi waktu reposisi dan memasang fiksasi interna pada fraktur mandibula11. Lebar kanalis mandibula tersebut sekitar 3 mm ( terbesar) dan ketebalan korteks sisi bukal yang tertipis sekitar 2.Gambar 2.2 Insersi Otot pada Mandibula4 Pada potongan melintang tulang mandibula dewasa level molar II berbentuk seperti ”U” dengan komposisi korteks dalam dan korteks luar yang cukup kuat. Mandibula mendapat nutrisi dari arteri alveolaris inferior yang merupakan cabang pertama dari arteri maxillaris yang masuk melalui foramen mandibula bersama vena dan nervus alveolaris inferior berjalan dalam kanalis alveolaris.

3 Vaskularisasi mandibula12 Gambar 2.4 Inervasi mandibula12 140 . Gambar 2. arteri submentalis dan arteri labii inferior. Sebelum keluar dari foramen mentalis bercabang menuju incisivus dan berjalan sebelah anterior ke depan didalam tulang.Arteri alveolaris inferior memberi nutrisi ke gigi-gigi bawah serta gusi sekitarnya kemudian di foramen mentalis keluar sebagai a. Aliran darah balik dari mandibula melalui vena alveolaris inferior ke vena facialis posterior. yang selanjutnya mengalirkan darah ke vena facialis anterior. Mentalis. Vena facialis anterior dan vena facialis posterior bergabung menjadi vena fascialis communis yang mengalirkan darah ke vena jugularis interna12. Arteri submentalis dan arteri labii inferior merupakan cabang dari arteri facialis. Arteri mentalis beranastomosis dengan arteri facialis. Arteri mentalis memberi nutrisi ke dagu. Daerah dagu mengalirkan darah ke vena submentalis.

Daerah korpus mandibula terutama terdiri dari tulang kortikal yang padat dengan sedikit substansi spongiosa sebagai tempat lewatnya pembuluh darah dan pembuluh limfe. Daerah yang tipis pada mandibula adalah angulus dan sub condylus sehingga bagian ini termasuk bagian yang lemah dari mandibula. Fraktur akibat trauma dapat terjadi akibat perkelahian. kolum kondilus mandibula terutama bila trauma dari depan langsung mengenai dagu maka gayanya akan diteruskan kearah belakang. osteogenesis imperfecta. Pada fraktur corpus mandibula garis fraktur tidak selalu paralel dengan sumbu gigi. jatuh ataupun trauma saat pencabutan gigi. osteomyelitis. tetapi pada beberapa tempat dijumpai adanya bagian yang lemah. Namun pada kecelakaan lalu lintas garis fraktur terjadi dekat dengan kaput kondilus. kecelakaan kerja. Selain itu titik lemah juga didapatkan pada foramen mentale. atrofi tulang secara menyeluruh atau osteoporosis nekrosis atau metabolic bone disease. kecelakaan lalulintas. angulus mandibula tempat gigi molar III terutama yang erupsinya sedikit. Pada fraktur mendibula. Garis fraktur pada mandibula biasa terjadi pada area lemah dari mandibula tergantung mekanisme trauma yang terjadi. Mandibula merupakan tulang yang kuat. osteomalacia. luka tembak. Fraktur dapat terjadi akibat trauma atau karena proses patologis. fragmen yang fraktur mengalami displaced 141 . tumor jinak atau ganas rahang.2.2 DEFINISI FRAKTUR MANDIBULA Fraktur didefinisikan sebagai deformitas linear atau terjadinya diskontinuitas tulang yang disebabkan oleh rudapaksa. Pada regio angulus garis fraktur umumnya dibawah atau dibelakang regio mlaor III kearah angulus mandibula. seringkali garis fraktur berbentuk oblique. Fraktur patologis dapat terjadi karena kekuatan tulang berkurang akibat adanya kista. Garis fraktur subkondilar umumnya dibawah leher prosesus kondiloideus akibat perkelahian dan berbentuk hampir vertikal. Garis fraktur dimulai pada regio alveolar kaninus dan insisivus berjalan oblique ke arah midline. Akibat adanya proses patologis tersebut. makan atau mengunyah13. garis fraktur yang terjadi berbentuk oblique. fraktur dapat terjadi secara spontan seperti waktu bicara.

dan medial oleh m pterigoideus medialis. 4% pada kecelakaan olahraga dan sisanya oleh bermacam-macam sebab lainnya.1%). oleh karena itu maka reduksi dan fiksasi pada fraktur mendibula harus menggunakan splinting untuk melawan tarikan dari otototot mastikasi. Fridrich dkk memperlihatkan bahwa fraktur akibat kecelakaan kendaraan bermotor biasanya pada regio kondilus.7%).1%) ramus (1. segmen dento alveolar (3. Beberapa faktor yang mempengaruhi displacement fraktur mandibula antara lain . Fraktur pada fasial jauh lebih banyak terjadi pada mereka yang tidak menggunakan pelindung pada saat terjadinya kecelakaan14. Fraktur yang terjadi pada korpus. 2. Kecelakaan kendaraan bermotor merupakan etiologi utama penyebab fraktur mandibula di dunia4.3 ETIOLOGI Banyak faktor yang dapat menyebabkan terjadinya fraktur mandibula. Masseter. Demikian juga pada prosesus koronoideus yang terfiksasi oleh M. Literatur menyebutkan bahwa 43% fraktur mandibula disebabkan oleh kecelakaan kendaraan bermotor. Pada kecelakaan pengendara kendaraan roda dua yang terkena adalah daerah simfisis.akibat tarikan otot-otot mastikasi. dan prosesus koronoideus (1.4 DISTRIBUSI ANATOMIS Lokasi fraktur mandibula terbanyak pada kondilus (29. angulus (24.5%). arah dan sudut garis fraktur. simfisis dan parasimfisis (22%). arah dan kekuatan trauma. ada atau tidaknya gigi pada fragmen. 34% disebabkan oleh kekerasan. Beberapa penelitian memperlihatkan etiologi pada lokasi fraktur. 2. Pada daerah ramus mandibula jarang terjadi fraktur. korpus mandibula (16%). kondilus dan angulus mandibula tidak banyak berbeda dalam insidensinya dan fraktur ramus serta processus koronoideus sangat jarang.3%) 4. arah lepasnya otot dan luasnya kerusakan jaringan lunak. 7% akibat terjatuh. Pada 142 . karena daerah ini terfiksasi oleh m masseter pada bagian lateral. 7% kecelakaan kerja.

angulus (15.fraktur yang diakibatkan karena kekerasan biasanya di daerah sudut mandibula14. simfisis mandibula (4.15.6 Distribusi fraktur mandibula pada pasien edentulus 15 Beberapa penelitian menyatakan bahwa terdapat hubungan antara frekuensi fraktur mandibula dengan daerah anatomi. 143 . dimana fraktur korpus mandibula (43.5%). Gambar 2.3%) 15.2%). Fraktur subkondilus banyak ditemukan pada anak-anak sedangkan fraktur angulus banyak ditemukan pada remaja dan dewasa muda16. Gambar 2. tetapi tetap saja regio angulus mandibula dan mentalis yang paling sering menjadi fraktur.5 Distribusi anatomis fraktur mandibula 15 Mandibula yang mengalami atropi mempunyai kelemahan pada banyak tempat. Area fraktur cenderung berbeda pada pasien edentulus.

2. Hubungan ini dapat terjadi melalui kulit. Hal ini diakibatkan karena tulang anak-anak masih bersifat lentur. Fraktur dimana tulang terbagi menjadi beberapa bagian atau fragmen-fragmen kecil. tetapi dapat terjadi dimana sisi fragmen terdorong kesisi yang berlawanan. 144 . f. Teleskop atau fraktur impaksi. Fraktur kompleks. d. mukosa atau bagian yang berdekatan seperti otot. Fraktur sederhana.5 KLASIFIKASI Secara garis besar fraktur mandibula diklasifikasikan dalam tiga kelompok yaitu berdasarkan jenis fraktur. g. Fraktur direct terjadi langsung pada titik kontak dari trauma sedangkan indirect terjadi jauh dari sisi datangnya trauma. Fraktur cominutted. Fraktur compound. Fraktur yang terjadi tidak mempunyai hubungan dengan dunia luar dan tidak terjadi dislokasi atau displacement. Fraktur jenis ini disebut juga fraktur terbuka atau open fracture. Fraktur indirect dan direct.17 a. Fraktur yang tidak seluruh kontinuitas tulang terputus. c. karena tulangnya belum sepenuhnya terkalsifikasi. Fraktur ini mempunyai hubungan antara tulang yang patah dengan permukaan luar wajah atau dengan rongga mulut. tetapi hanya sebagian saja. Berdasarkan jenis fraktur16. Fraktur greenstick. Fraktur yang melukai jaringan lunak baik kulit. jaringan mukosa dan membran periodontal. Fraktur jenis ini disebut juga fraktur tertutup atau closed fracture. pembuluh darah dan syaraf. berdasarkan daerah fraktur dan berdasarkan penyebab fraktur. Fraktur tipe ini jarang terlihat pada mandibula. e. Biasanya fraktur ini terjadi pada regio simfisis mandibula. Fraktur ini merupakan salah satu tipe fraktur yang sering terjadi pada anak-anak. b.

h. Fraktur yang terjadi pada fungsi normal atau trauma minimal pada tulang yang mengalami gangguan patologis. Kompon (D)17 145 . B. Komminuted (C). Gambar 2. Gambar 2. Fraktur compound. Fraktur patologis. Fraktur comminuted.7 Tipe fraktur: A.8 Klasifikasi fraktur mandibula berdasarkan tipe frakturnya: Greenstick (A). Fraktur direct dan indirect15. Fraktur impaksi pada subkondilus dekstra dan fraktur patologis pada angulus sinistra. D. E. Fraktur sederhana. C. seperti kista atau metastasis tumor. Simple (B).

Fraktur mandibula juga dapat diklasifikasikan sebagai fraktur favorable atau unfavorable.10 Favorable vertikal (kiri) dan unfavorable (kanan)15 146 . Gambar 2. seperti tarikan otot masseter dan temporalis pada fragmen proksimal. Garis fraktur favorable horizontal menahan gaya tarikan ke atas. masing-masing dari arah vertikal dan horisontal tergantung pada otot sekitarnya yang menahan atau memindahkan segment fraktur tersebut.9 Unfavorable horizontal (kiri) dan favorable (kanan)15 Gambar 2. Garis fraktur favorable vertikal menahan gaya tarikan medial pterygoid medial pada fragmen proksimal18.

Terjadi seperti pada penderita yang jatuh dengan tangan menumpu dan lengan atas-bawah lurus. 3. Fraktur angulus Fraktur yang terjadi antara prosesus alveolaris hingga ke batas inferior distal molar kedua hingga ke sudut yang dibentuk oleh korpus dan ramus madibula. fraktur mandibula dibagi atas15: 1. 7. 6. Gaya tersebut dihantarkan melalui 147 . Fraktur prosessus koronoideur Menurut Penyebab Terjadinya Fraktur 1. Fraktur prosesus kondiloideus Fraktur yang terjadi dari sigmoid notch ke batas posterior ramus mandibula sepanjang aspek superior dari ramus mandibula. 4. Fraktur simfisis Fraktur pada regio insisivus yang melalui prosessus alveolaris ke batas inferior mandibula dalam arah vertikal atau hampir vertikal.Berdasarkan lokasi anatomis. Trauma tidak langsung (indirect). 2. Fraktur dentoalveolar Fraktur yang hanya terjadi pada area penyangga gigi pada mandibula dan tidak mengganggu kontinuitas struktur tulang dibawahnya. Fraktur ramus Fraktur horizontal melalui batas anterior dan posterior ramus. Fraktur parasimfisis Fraktur yang terjadi antara prosesus alveolaris hingga ke batas inferior batas distal insisivus lateral hingga ke foramen mentalis. Fraktur traumatik Trauma langsung (direct). 5. berakibat fraktur kaput radii atau klavikula. 8.Trauma tersebut langsung mengenai anggota tubuh penderita. Fraktur korpus Fraktur yang terjadi antara prosesus alveolaris hingga ke batas inferior regio antara foramen mentalis hingga ke sisi distal dari molar kedua.

Fraktur terbuka. organ viscera atau sendi. fraktur tersebut berhubungan dengan kerusakan jaringan atau struktur lain seperti saraf. pembengkokan dan kompresi seperti fraktur oblik dengan garis fraktur pendek. disebut juga fraktur tertutup. pembengkokan (bending) atau kombinasi pembengkokan dengan kompresi yang berakibat fraktur butterfly. gigitan terbuka dan prematur kontak. 3. 2. Jika perlu dapat dilakukan intubasi orotrakhea pada kasus darurat jalan nafas. yaitu penanganan jalan nafas. oleh karena kulit di sekeliling fraktur sehat dan tidak sobek. Contohnya pada fraktur fibula pada olahragawan. Tanda dan gejala terjadinya fraktur adalah adanya maloklusi dihubungkan dengan riwayat trauma seperti terkena pukulan. Fraktur komplikasi. Fraktur patologis Pada tulang telah terjadi proses patologis yang mengakibatkan tulang tersebut rapuh dan lemah. kulit di sekitar fraktur sobek sehingga fragmen tulang berhubungan dengan dunia luar (bone expose) dan berpotensi untuk menjadi infeksi.tulang-tulang anggota gerak atas dapat berupa gaya berputar. 2. Biasanya fraktur terjadi spontan Menurut Hubungan dengan Jaringan Ikat Sekitarnya 1. pembuluh darah. pemeriksaan terhadap pergeseran segmen tulang. 3. Fraktur simple/tertutup. traksi manual atau traksi pada lidah dapat menghindarkan obstruksi jalan nafas. Fraktur fatik atau stress Trauma yang berulang dan kronis pada tulang yang mengakibatkan tulang menjadi lemah. maupun kombinasi gaya berputar. 148 . Fraktur juga dapat terjadi akibat tarikan otot seperti fraktur patela karena kontraksi quadrisep yang mendadak. kecelakaan atau terjatuh. Fraktur terbuka dapat berhubungan dengan ruangan di tubuh yang tidak steril seperti rongga mulut. 2. Maloklusi dapat berupa gigitan silang.6 PEMERIKSAAN KLINIS Evaluasi trauma dilakukan secara menyeluruh.

Sering menunjukkan terpisahnya gigi yang satu dengan yang lain dan terputusnya kontinuitas dataran oklusal pada bagian yang mengalami fraktur 149 . Gambar 2. Gerakan-gerakan ringan tersebut misalnya waktu berbicara. mengunyah atau waktu palpasi. Pembengkakan atau oedema tampak pada daerah fraktur yang disebabkan oleh keluarnya darah dan serum ke jaringan sekitar14.Rasa sakit bersifat akut dan dapat diperberat oleh gerakan ringan bagian yang terluka. Pergerakan abnormal dapat diketahui dengan pemeriksaan jari tangan atau palpasi bimanual.11 Palpasi bimanual pada mandibula untuk membandingkan struktur anatomis18 Pemeriksaan intraoral memperlihatkan adanya laserasi atau hematoma. Retraksi pergerakan tulang merupakan kelainan sekunder yang dapat ditemukan pada fraktur zigomatikus yang mengalami displacement dan berdampak pada prossesus koronoideus mandibula17. Bila digerakkan dengan jari tangan tiap fragmen fraktur akan bergerak sendiri.18. Pemeriksaan pada rahang saat membuka dan menutup mulut dan memperhatikan deviasi rahang atau mobiliti yang terbatas.

Terputusnya kontinuitas dataran oklusal14 150 .A B Gambar 2.12 A. B. Haematom pada dasar mulut.

Pemeriksaan radiologis yang dapat membantu untuk menegakkan diagnosa fraktur mandibula adalah14: a. b. c. tidak usah dirawat atau dilakukan reduksi terbuka16. termasuk pandangan lateral-obliq. dapat membantu. tubuh.7 PEMERIKSAAN RADIOLOGIS Apabila pemeriksaan klinis sering dapat memberikan gambaran adanya fraktur mandibula. kompleks naso-ethmoid- 151 . dan periapikal. maka evaluasi radiologis diperlukan untuk mempertegas hal tersebut atau memberikan data yang lebih akurat. dan tidak memiliki kemampuan melihat secara detail area TMJ. sudut. angel. Panoramik membutuhkan pasien tegak. oklusal. Pandangan lateral-obliq membantu mendiagnosis ramus. Plain film. termasuk tulang frontal. secara umum relatif akurat kecuali kalau angulasi dan magnifikasi pemotretan tidak baik. Tampilan oklusal mandibula menunjukkan perbedaan di posisi tengah dan lateral fraktur body. fraktur pada corpus posterior. Penentuan terjadinya pergeseran berperan sebagai petunjuk dalam menentukan terapi. simfisis dan gigi / daerah proses alveolar. bicuspid dan daerah simfisis seringkali tidak jelas. Evaluasi radiografis terhadap perluasan pergeseran segmen fraktur. atau fraktur simfisis. CT scan juga dapat membantu: CT scan juga memungkinkan dokter untuk survei fraktur wajah daerah lain.2. Bagian kondilus. Tampilan Caldwell posteroanterior menunjukkan setiap perpindahan medial ataulateral ramus. Panoramik Panoramik menyediakan kemampuan untuk melihat seluruh mandibula dalam satu radiograf. posteroanterior.

Rekonstruksi kerangka wajah sering membantu untuk konsep cedera.14 Gambaran radiologis fr mandibula dan alveolaris 18 152 . CT scan juga ideal untuk fraktur condylar.13 Pencitraan fraktur angulus kanan dan simphisis kiri mandibula pada panoramik foto13 Gambar 2. yang sulit untuk memvisualisasikan Panoramik Gambar 2. dan seluruh sistem horizontal dan vertical yang menopang kraniofasial. orbit.orbital.

B. B.16 Pencitraan fraktur korpus dan angulus kiri mandibula pada Lateral Oblique foto19 Reverse Towne A B Gambar 2.17 A. Pencitraan fraktur kondilus kiri.Posteroanterior foto A B Gambar 2. Pencitraan fraktur kondilus kiri pada Posteroanterior foto. Pencitraan fraktur korpus dan angulus mandibula kiri19 153 .15 A. Pencitraan fraktur korpus mandibula dan angulus kiri pada posteroanterior foto15 Lateral oblique foto Gambar 2.

19 A.20 Pencitraan fraktur dengan 3 dimensi 19 154 .18 A. Pencitraan fraktur angulus kiri pada CT scan potongan sagital19 3D Imaging Gambar 2.CT SCAN / (COMPUTERED TOMOGRAFI) SCAN A B Gambar 2. Pencitraan fraktur kondilus kiri dengan perobahan letak fragmen kondilus proksimal pada CT scan potongan axial. B. Pencitraan fraktur comminuted ramus mandibula kiri pada CT scan potongan axial19 A B Gambar 2. Pencitraan fraktur ramus mandibula kiri pada CT scan direct coronal. B.

monitor pemberian nutrisi pasca operasi. dari bawah keatas. fraktur mandibula lebih baik dilakukan perawatan terlebih dahulu dengan prinsip dari dalam keluar. pemeriksaan klinis fraktur dilakukan secara benar. 155 . Terapi fraktur mandibula secara garis besar dibagi menjadi dua bagian yaitu dengan metode closed reduction (reduksi tertutup) dan metode open reduction (reduksi terbuka) Metode reduksi tertutup adalah suatu tindakan reduksi tertutup tanpa melalui suatu tindakan pembukaan tulang untuk memudahkan lapang pandang secara pembedahan. Meminimalisir deviasi mandibula Menghasilkan artikulasi yang bebas dari rasa sakit pada saat istirahat dan fungsi 6) Mencegah internal derangement pada TMJ sisi cedera atau sisi yang berlawanan. head gear. intermaxillary fixation seperti interdental wiring fixation dan splint fixation. head frame plaster of paris. 7) Mencegah komplikasi jangka panjang pada gangguan pertumbuhan. jumlah dan derajat keparahan fraktur mandibula serta usia dan kesehatan pasien maupun metode yang akan digunakan untuk reduksi dan imobilisasi. Penggunaan antibiotik untuk kasus compound fractures. Prinsip dasar umum dalam perawatan fraktur mandibula ialah sebagai berikut. Evaluasi klinis secara keseluruhan dengan teliti. Waktu penggunaan fiksasi intermaksiler dapat bervariasi tergantung tipe. mengembalikan oklusi merupakan tujuan dari perawatan fraktur mandibula. lokasi. Menciptakan pembukaan mandibula yang maksimal. Apabila terjadi fraktur mulitple di wajah. Jenis-jenis reduksi tertutup diantaranya external appliance seperti head bandage. Memperbaiki pembukaan interinsisal dan pergerakan mandibula.8 TERAPI Adapun tujuan yang ingin didapatkan pada perawatan fraktur mandibula adalah18: 1) 2) 3) 4) 5) Mendapatkan oklusi yang stabil dalam fungsi dan estetik. kerusakan gigi dievaluasi dan dirawat bersamaan dengan perawatan fraktur mandibula.2.

Fiksasi ini dipertahankan 3-4 minggu pada fraktur daerah condylus dan 4-6 minggu pada daerah lain dari mandibula.Gambar 2. kemudian diputar searah jarum jam sampai tegang. Dilakukan pada gigi atas dan bawah sampai oklusi baik.21 Head bandage16 Tehnik yang digunakan pada terapi fraktur mandibula secara closed reduction adalah fiksasi intermaksiler. Kawat tersebut dilingkarkan pada leher gigi. Kemudian kedua kawat atas dan bawah digabungkan dan diputar dengan hubungan vertika maupun silang. merupakan tehnik yang mudah dan efektif tetapi mempunyai kekurangan yaitu mulut tidak dapat dibuka untuk melihat daerah fraktur tanpa mengangkat kawat. a. Beberapa tehnik fiksasi intermaksilaris . untuk mencegah tergelincir ke anterior dan posterior 156 . Tehnik Gilmer .

disertai fraktur maksila.23 Tehnik eyelet / ivy loop15 c.22 Tehnik Gilmer 19 b. Tehnik eyelet (ivy loop) .Gambar 2. 157 . dan menggunakan karet sebagai traksi yang menghubungkannya d. keuntungan tehnik ini bahan mudah didapat dan sedikit menimbulkan kerusakan jaringan periodontal serta rahang dapat dibuka dengan hanya mengangkat ikatan intermaksilaris. Kerugiannya kawat mudah putus waktu digunakan untuk fiksasi intermaksiler Gambar 2. Tehnik erich arch bar . Tehnik continous loop (stout wiring) . terdiri dari formasi loop kawat kecil yang mengelilingi arkus dentis bagian atas dan bawah. indikasi pemasangan arch bar antara lain gigi kurang/ tidak cukup untuk pemasangan cara lain.

A Gambar 2. Tehnik Kazanjian .25 Tehnik Kazanjian 15 Indikasi untuk metode reduksi tertutup adalah:18 a) Fraktur menguntungkan tanpa adanya pergeseran tempat ( nondisplace favorable fracture) 158 . Tehnik ini untuk gigi yang hanya sendiri atau insufisiensi pada bagian dari pemasangan arch bar. biaya murah. tidak dapat digunakan pada penderita dengan edentulous luas. e. Essig wire. Kerugiannya ialah menyebabkan keradangan pada ginggiva dan jaringan periodontal. mudah adaptasi dan aplikasinya. Interdental wiring15 B Gambar 2.didapatkan fragmen dentoalveolar pada salah satu ujung rahang yang perlu direduksi sesuai dengan lengkungan rahang sebelum dipasang fiksasi intermaksilaris. Keuntungan penggunaan arch bar ialah mudah didapat. B. dengan menggunakan kawat yang kuat untuk tempat karet dipasang mengelilingi bagian leher gigi.24 A.

disamping plat subapikal perlu juga ditambahkan plat lain di dekat batas bawah mandibula untuk menetralkan 159 . plat paling baik diletakkan pada permukaan yang paling luas dan setinggi mungkin di daerah linea oblique eksterna. Hasil yang didapatkan dari pemakaian monocortical osteosynthesis adalah tercapainya netralisasi kekuatan tensi dan kompresi serta rotasi pada garis fraktur sehingga diperoleh reduksi anatomis yang fisiologis. resiko ankilosis TMJ dan problem airway. Pada regio anterior. Keuntungan dari ORIF antara lain . mobilisasi lebih dini dan reaproksimasi fragmen tulang yang lebih baik.b) Fraktur comunitted yang luas. angka komplikasi lebih rendah dan waktu operasi yang lebih singkat. Pada angulus mandibula. Kerugiannya adalah biaya lebih mahal dan diperlukan ruang operasi dan pembiusan untuk tindakannya. diantara kedua foramen mentalis. monocortical transoral miniplates pada bagian superior. paired miniplates. kompresi pada fragmen fraktur dan imobilisasi yang rigid serta perbaikan kekuatan self kompresi fisiologis. Kerugiannya meliputi fiksasi yang lama. Tehnik ini dapat dikerjakan di tingkat poliklinis. penggunaan open reduction dapat merusak benih gigi atau gigi yang sedang tumbuh e) f) Fraktur processus koronoidalis Fraktur kondilus Keuntungan dari reposisi tertutup adalah lebih efisien. gangguan nutrisi karena adanya MMF. dapat mengganggu vaskularisasi fragmen tulang yang kecil c) Fraktur pada mandibula edentulus (tidak bergigi). karena jika menggunakan open reduction. lag screws dan noncompression stabilization plates pada bagian inferior. Ada 5 metode yang umum digunakan yaitu dengan biocortical transfacial compression plates pada bagian inferior dengan atau tanpa tension band plate. Dalam menangani fraktur mandibula umumnya digunakan lebih dari satu modalitas sebab terdapat banyak variasi biomekanik dan problem klinis untuk mencapai mobilitas fiksasi di regio fraktur. karena open reduction dapat mengganggu vaskularisasi d) Fraktur mandibula pada anak.

Penggunaan rigid internal fixation untuk mencegah hilangnya kontrol segmen proksimal. skrew dan plat. Metode reduksi terbuka adalah suatu tindakan reduksi dengan cara pembedahan untuk memudahkan lapang pandang. Penempatan plat didaerah sepanjang tension trajectory ternyata juga menghasilkan suatu fiksasi yang paling stabil bila ditinjau dari prinsip biomekaniknya. Ketika dilakukan 160 . Angulus merupakan bagian yang sulit dicapai lewat intraoral karena adanya otot-otot pengunyah dan otot-otot daerah suprahyoid.kekuatan rotasi pada daerah simfisis tersebut. Fraktur pada daerah angulus mandibula merupakan problem khusus pada perawatan dengan menggunakan rigid internal fixation. Indikasi reduksi terbuka adalah19 :  Fraktur yang tidak menguntungkan pada sudut mandibula Fraktur ini diindikasikan untuk reduksi terbuka bila fragmen proksimal berubah tempat ke arah posterior atau median dan reduksi tidak dapat dipertahankan tanpa intraosseus wiring. delayed union dan malunion yang dapat terjadi bila digunakan terapi lain. geniohyoid dan genioglosus dapat menyebabkan perpindahan fragmen lebih jauh. digastrikus. sedangkan pada daerah angulus dan ramus mandibula fungis tersebut baru bisa didapatkan dengan menggunakan plat yang kecil. distraksi dari kontak tulang menghambat reduksi dan vaskular dari sisi fraktur dan dapat menjadi sumber infeksi.  Fraktur yang tidak menguntungkan pada bodi mandibula atau daerah para simpisis mandibula Otot mylohyoid. Batas inferior dari angulus sangat tipis dan tidak mungkin dilakukan suatu kompresi. Pada bagian mandibula yang bergigi. Jenis-jenis dari metode terbuka contohnya interosseus wiring dan fiksasi dengan bone plate and screw. archbar sudah cukup berfungsi menetralkan kekuatan tension. Pada daerah di belakang foramen mentalis sampai mendekati daerah angulus cukup digunakan satu plat yang dipasang tepat dibawah akar gigi dan diatas nervus alveolaris inferior. Adanya gigi molar 3 menyebabkan fraktur mudah terjadi.

Kalau konstriksi ini tidak diperbaiki. Gambar 2. dengan aspek dari segmen mandibula berputar ke arah median pada titik fiksasi. Kalau prosedur ini tidak menyelesaikan masalah tipe wiring apapun. cusp lingual seluruh premolar dan molar bergerak keluar dari kontak oklusal. cenderung gagal dan memaksa fraktur setengah wajah berhimpitan dengan kondilus yang menyebabkan profil wajah menjadi lebih pendek.perawatan reduksi terbuka. fraktur parasimpisis cenderung membuka pada border inferior. seperti dari sutura frontozygomatikus ke daerah mandibula. akan terjadi inefisiensi pengunyahan dan perubahan periodontal yang buruk . sehingga oklusinya tidak menjadi pertimbangan langsung. Tehnik ini berguna terutama pada mandibula yang nonatropic pada saat tidak ada gigi tiruan.26 Fraktur menguntungkan dan tidak menguntungkan 19  Fraktur multipel pada tulang wajah Pada kasus ini perawatan reduksi terbuka dari segmen mandibula membuktikan perbaikan yang stabil  Fraktur setengah wajah dan fraktur kondilus bilateral Pada fraktur ini salah satu kondilus yang fraktur harus dirawat dengan reduksi terbuka untuk mempertahankan dimensi vertikal wajah.  Fraktur edentolous mandibula dengan perpindahan yang hebat fragmen fraktur Pada fraktur ini reduksi terbuka dianggap bisa membuat kembali kontinuitas mandibula. Pada situasi ini memberikan 161 . Dengan rotasi medial dari body mandibula.

contohnya pada pasien yang mengalami kesulitan mengontrol akibat serangan yang tiba-tiba atau epilepsi. dan dapat distabilkan dengan palatal screw atau circum zygomatic wires.  Kondisi sistemik tertentu yang merupakan kontraindikasi intermaxillary fixation Pada situasi dimana mandibula harus tetap bergerak. harus dipertimbangkan status dari suplai darah ke tulang dan efek dari prosedur reduksi terbuka pada kompromi vaskularisasi.  Fraktur yang membutuhkan osteotomy/ Orthognathi Surgery 162 . Pencangkokkan tulang harus dipeertimbangkan pada fraktur mandibula yang mengalami atropic secara ekstrim. masalah psikiatrik dan neurologik. ekstrim.  Perawatan yang tertunda dan Interposisi jaringan lunak antara fragmen fraktur yang tidak kontak Ketika perawatan tertunda dan jaringan lunak ada diantara fragmen fraktur maka diperlukan metode open reduction. berbagai tipe osteotomi diperlukan untuk memperbaiki kekurangannya. dan kelainan gastrointestinal.  Edontolous maksila dengan Fraktur mandibula Adanya fraktur mandibula dengan edentolous maxila merupakan kesulitan untuk dilakukan intermaxilary fixation. sehingga terjadi jaringan penghubung antara fragmen fraktur yang menghambat osteogenesis. Jika diperlukan close reduction maka perlu adanya prostetik pada maxilla. Metode ini dengan fiksasi rigid dengan fraktur mandibula akan menggantikan kebutuhan intermaxilary fiksation. Alasan ditundanya perawatan karena adanya luka kepala atau adanya masalah medis yang serius.plat pada mandibula tanpa intermaxilary fixation merupakan Ketika mandibulamenjadi atropik secara kemungkinan yang kuat.  Malunion Ketika hasil perawatan fraktur mandibula yang buruk. fungsi paru yang harus dikompromikan. maka harus dilakukan metode open reduction.

Faktor yang harus diperhatikan adalah isolasi fraktur.20: Pendekatan Bedah Sebelum melakukan operasi pada fraktur mandibula. Pendekatan bedah sendiri antara lain (Gambar 3) : Pendekatan submandibular Pendekatan retromandibular Pendekatan preauricular Gambar 2. Panjang incisi 4 cm sampai 5 cm. sehingga sangat penting untuk diketahui. Lalu muskulus platymus dipotong untuk mencapai lapisan superficialis pada bagian dalam fascia cervicalis. garis wajah dan posisi nervous. 163 . operator harus memperhatikan sudut mulut pada lapangan operasi untuk memonitor aktifitas nervous facialis dan untuk meyakinkan anestesiologist tidak membuat pasien paralisis dalam waktu yang lama. Incisi kulit harus diletakkan pada lipatan kulit untuk menghindari jaringan parut dan dibuat pada sudut yang tepat. cabang mandibula marginal dan nervus facialis terletak pada lapisan ini.27 Insisi submandibular dan preauricular19 Pendekatan Submandibular Pendekatan ini dikenalkan tahun 1934 oleh Risdon. 2 cm dibawah angulus mandibularis. Lemak subkutan dan superficial fascia dipisahkan untuk mencapai muskulus platymus. Ada banyak metode perawatan fraktur mandibula dengan reduksi terbuka diantaranya12. Fraktur yang membutuhkan bone graft.

Kapsul keduanya harus dipisahkan selama Sin loceles atau fistula pemisahan. Kelenjar submandibularis dan kapsulnya biasanya berlokasi dibagian batas inferior dari mandibula.Baik anterior atau posterior arteri facialis. Pembukaan lebih jauh dapat dicapai dengan menarik sudut dan batas inferior dengan kawat atau forcep tulang. Incisinya dibuat untuk memasuki parotis. Insisi ketulang melewati muskulus masseter biasanya diantara margin mandibular dan cabang buccal dari nervus facialis. Kerusakan kelenjar dapat menyebabkan salivarius.28)19. Jika pembuluh darah facialis tidak dapat ditarik sempurna dapat dipisahkan dan diikat. Setelah otot dilewati lalu dipisahkan pada batas inferior untuk melihat tulang. seluruh cabangnya berinervasi pada depressor bibir bawah. periosteum dan jaringan lunak dipisahkan untuk jalan melihat body. Kelenjar parotis biasanya di posterior ramus tetapi bisa terletak mengelilingi sudut inferior. Pada dasarnya pendekatan ini merupakan variasi dari pendekatan submandibular kecuali incisinya kurang lebih 3 cm. Pembukaan dapat dikurangi dan penutupan dapat diperbaiki dengan penarikan pterygoid medialis dan ligament stylomandibular dari batas interior dan posterior. Submandibular nodus lympaticus dapat diidentifikasi berdekatan dengan pembuluh darah facial. Pemisahan ke tulang melewati fascia cervicalis yang dalam dengan menggunakan nerve stimulator. bagian belakang batas inferior dari mandibula. Pendekatan Retromandibular Hinds dan Birroti pertama kali menerangkan pendekatan lekatan retromandibular pada tahun 1967. Kelenjar submandibular dan capsulnya. akan menjadi bukti dan kutub paling bawah dari parotis dapat ditemukan. masseter dan fascia cervicalis bagian dalam. Incisinya juga digambarkan mengikuti sudut mandibula. diatas incisi submandibular (Gambar 2. melalui fascia cervicalis yang lebih dalam dengan menggunakan stimulus otot. ramus. Pemotongan dilanjutkan pada muskulus masseter dan bagian atas nervus diretraksi. Otot dan perios diinsisi melewati sudut termasuk 164 . Otot. Pemotongan dilanjutkan antara fascia sampai kebatas inferior mandibula. dan sisi fraktur. Pemisahan lalu meluas ke anterior.

Gambar 2. Insisi dibuat kira-kira sepanjang 2.5 cm pada daerah lipatan preauricular.29).5 . Jaringan lunak dan nervus kemudian ditarik ke superior.3. Incisi ini memperlihatkan akses superior dari ramus dan regio subkondilus mandibula. Insisi dibuat 45 ° pada zygoma dari arah superior telinga ke arah inferior perlekatan antara dagu dan telinga (Gambar 2. Lipatan preauricular didapat dengan menekan telinga dan tragus ke depan. Pada insisi ini ditemukan pembuluh darah temporalis superfisialis.28 Insisi retromandibular19 Pendekatan Preauricular Insisi ini digunakan untuk melihat daerah TMJ dan dengan mudah diperluas melewati daerah temporal.batas inferior.29 Macam-macam Insisi untuk daerah TMJ19 165 . yang dapat dihindari dengan menginsisi sepanjang cartilago preauricular. Gambar 2.

166 . Mukosa lalu ditutup.Akses Intra Oral Simpisis dan Parasimpisis Perawatan fraktur anterior mandibula dapat melalui incisi intraoral. dagu ditarik ka arah lateral. dan penggunaan adhesif bandage pada dagu untuk mendukung musculus mentalis. Gambar 2. setinggi oklusal plane mandibula. Pertama dilakukan anestesi dengan lokal anestesi dan vasokonstriktor. Bibir ditarik dan dibuat insisi curvilinear tegak lurus permukaan mukosa. Insisi dibuat kurang lebih 5 mm dari mukogingival junction untuk mendapatkan stabilitas jaringan ketika penutupan. Bagian proksimal dari insisi harus disepanjang external oblique ridge. Sudut dan Ramus Setelah dilakukan anestesi.30 Akses Intra oral pada fraktur parasimpisis19 Pemotongan diteruskan ke arah subperiosteal untuk mengidentifikasikan mental neurovascular borde dibawah premolar kedua maka daerah fraktur terlihat. Body. Mukosa diinsisi dengan pisau tegak lurus terhadap tulang untuk menjauhi nervus mentalis. Setelah selesai perawatan fraktur muskulus mentalis dijahit dengan jahitan terputus. Musculus mentalis terlihat dan harus diinsisi tegak lurus dengan tulang meninggalkan flap dari perlekatan otot ke tulang untuk penutupan (Gambar 6).

Setelah itu baru kawat bisa diinsersikan. chisel. Gambar 2. pistol drill. Untuk fraktur multipel dan fraktur dengan pergerakan yang berat maka diperlukan penggunaan internal fiksasi yang dikombinasikan dengan fiksasi maksilomandibular. tehnik close reduction dengan fiksasi maxillamandibular sudah cukup untuk treatment frakturnya.31 Interosseus wiring15 Transosseus wiring fixation20 Metode tradisional untuk stabilisasi tulang setelah dilakukan open reduction dengan menggunakan kawat untuk mengikat dan mengimobilisasi tulang (Gambar 2. 24 dan 30 Pembuatan lubang menggunakan bor berkecepatan rendah pada awalnya lalu kecepatan makin meningkat. key dan drill point stainless stell wire.32). Bahan yang diperlukan adalah: periosteotome bone rongeur mallet. sambil diberikan larutan normal salin.Internal fiksasi Untuk Pasien fraktur yang hanya mengalami fraktur yang sederhana serta masih terdapat gigi dan oklusi yang baik. 167 . cutting wire bone forceps.

f. Kawat langsung dimasukkan ke dalam lubang yang telah dibor 2.Gambar 2. b. Jarak garis fraktur pada outer cortex Jarak ke batas bawah Jarak garis fraktur pada inner cortex Kedekatan lubang dengan kanalis mandibularis.33 Teknik pemasukkan kawat20 168 . Kawat dimasukkan melewati hipodermic needle 3.32 Parameter pembuatan lubang dan pengikatan20 Hal yang harus diperhatikan pada penempatan penempatan lubang adalah : a. Ukuran dari lubang Orientasi dari bidang fraktur ke panjang tulang Teknik pemasukkan kawat pada fraktur : 1. d. c. foramen mentalis dan akar gigi e. Dengan membuat kawat seperti hairpin loop Gambar 2.

C. maka fragmen fraktur akan lebih stabil dan kaku selama penyembuhan. Walaupun menggunakan menggunakan fiksasi yang kaku diperlukan adanya penyesuaian oklusi terlebih dahulu sebelum dilakukan fiksasi.3517. 169 . Transosseus circum-mandibular wire 15 Fiksasi dengan Bone Plate dan Screw Metode ini menggunakan bone plate dan bone screw untuk menyatukan fragmen fraktur.Gambar 2. Jenis plate yang digunakan bermacam-macam ada yang yang lurus dengan beberapa lubang untuk dimasukkan screw (Gambar 11). B.34 Teknik simple wiring.34 Pelindungan jaringan pada pembuatan lubang20 Gambar 2. Plate dipasang melintang melewati garis fraktur. ada juga yang membulat sehingga dapat dipasang pada margo inferior mandibula (Luhr Mandibular Plate) Gambar 2. Figure-of-eight wire.

36 Penggunaan Plate dan Screw berdasarkan Champy Line 17 A B Gambar 2. Fraktur korpus mandibula.38 Plat & Lag Screw17 170 . Fiksasi dengan plate dan screw15 Gambar 2. B.Gambar 2.37 A.35 Luhr's Mandibular Plate17 Gambar 2.

Secara umum lamanya penggunaan IMF untuk orang dewasa dengan fraktur mandibula adalah 6-8 minggu. Sering pasien berlanjut untuk kehilangan berat badan 171 . gangguan jiwa dan gangguan fungsi paru.Gambar 2. sebaiknya arah matabor tangensial. Gunakan mata bor diameter 1. stabil dan arah obeng juga sesuai dengan arah bor sebelumnya. tidak trismus. Namun. Jangan tergesa melakukan fiksasi sebelum yakin oklusinya sudah sempurna. Permukaan tulang bersih dari jaringan ikat dan jaringan lunak sehingga plat betul-betul menempel pada tulang mandibula.Pemasangan sekrup dimulai dari satu sisi terlebih dahulu kemudian menyebrang menyilang pada sisi plat satunya. penderita epilepsy. Untuk penggunaan bor.5mm dengan kecepatan rendah menembus 1 korteks dikukur kedalamannya kemudian dipasang sekrup yang panjangnya sesuai dengan tebal satu korteks.39 Fiksasi Intermaksiler17 Kontraindikasi penggunaan MMF . Tolak ukur keberhasilan operasi pemasangan plat mini maupun IOID wiring pada mandibula adalah oklusi yang baik. lamanya penggunaan IMF ini bukan tanpa konsekuensi. Posisi plat jangan terlalu tinggi karena sekrup akan menembus saraf/akar gigi.

Situasi yang secara umum membutuhkan IMF yang lebih lama: fraktur comminuted. pasien dengan problem nutrisi.selama masa ini. kebanyakan fraktur sederhana pada anak-anak menyatu dalam 2-3 minggu. pada orang dewasa 3-4 minggu dan pada pasien yang lebih tua 6-8 minggu. Juniper dan Awty mampu menunjukkan 80% fraktur mandibula yang dirawat dengan open reduction atau closed reduction dan IMF secara klinis menyatu dalam 4 minggu. Terlihat bahwa kasus pada tiap individu harus dievaluasi secara seksama. mereka tidak mampu untuk kembali bekerja dan ada beberapa bukti yang menunjukkan adanya perubahan histologis pada TMJ. pasien cacat secara psikososial. fraktur yang terlambat dirawat. dan fraktur dengan pencabutan gigi pada garis fraktur16. fraktur pada alkoholik. 172 .

24. Komplikasi yang sering terjadi akibat fraktur kondilus adalah ankylosis dan gangguan sendi temporomandibula 8.19.BAB III FRAKTUR KONDILUS MANDIBULA ( Fraktur TMJ ) Fraktur kondilus merupakan salah satu fraktur yang melibatkan sendi temporomandibula sehingga dapat menyebabkan gangguan sendi temporomandibula. Penatalaksanaan fraktur kondilus memerlukan perhatian khusus dan dapat dilakukan dengan metode tertutup atau konservatif dan terbuka atau bedah 8.19.21.23.22. Etiologi Data yang diambil dari etiologi terjadinya fraktur kondilus mandibula adalah sebagai berikut 8:       Kecelakaan kendaraan bermotor : 43% Penyerangan/perkelahian : 34% Kecelakaan kerja : 7% Jatuh : 7% Kecelakaan olah raga : 4% Penyebab lainnya : 5% Persentase terjadinya fraktur kondilus mandibula dibandingkan dengan lokasi lainnya pada mandibula sebagai berikut 19:       Body mandibula : 29% Kondilus mandibula : 26% Angle mandibula : 25% Simfisis mandibula : 17% Ramus mandibula : 4% Prosesus koronoideus : 1% 173 .

Kontak prematur gigi posterior atau gigitan terbuka anterior dapat disebabkan fraktur kondilus bilateral atau angle. Pengetahuan arah kekuatan impak dapat membantu klinisi mendiagnosa fraktur dengan tepat. Pada pemeriksaan klinis harus ditanyakan pada penderita apakah gigitannya terasa berbeda.1. apabila obyeknya besar maka dapat menyebabkan fraktur lebih dari satu lokasi dan sebaliknya bila kecil akan menyebabkan satu jenis fraktur karena kekuatan impaknya hanya terkonsentrasi pada satu lokasi 19. Seorang penderita dengan gigi-gigi yang terkunci pada saat terjadinya impak akan menyebabkan terjadinya suatu fraktur alveolar atau gigi 19. fraktur alveolar. Gigitan terbuka pada fraktur kondilus25 Semua perubahan oklusi merupakan tanda adanya fraktur kondilus mandibula. Semua contoh tersebut hanya beberapa disharmoni oklusi multiple yang muncul akan tetapi setiap perubahan oklusi harus dipertimbangkan sebagai tanda awal suatu fraktur kondilus mandibula19. Blow anterior yang langsung mengenai dagu dapt menghasilkan suatu fraktur kondilus bilateral. Setiap penderita dengan 174 . sedangkan blow ke arah parasimfisis dapat menyebabkan fraktur kondilus kontralateral atau angle mandibula. Gambar 3. Obyek yang menyebabkan fraktur juga mempengaruhi jenis dan banyaknya fraktur.Diagnosa dan gejala klinis Jenis dan arah kekuatan trauma sangat membantu diagnosa. fraktur mandibula pada semua lokasi dan trauma pada sendi temporomandibula serta otot-otot pengunyahan. Perubahan oklusi dapat dihasilkan dari fraktur gigi. Oklusi retrognatik biasanya berhubungan dengan fraktur kondilus atau angle dan oklusi prognatik dapat terjadi pada sangat menonjol pada fraktur sendi temporomandibula.

Kanan: pergerakan abnormal mandibula25 Gambar 3. Deviasi pada saat pembukaan ke arah sisi fraktur kondilus mandibula merupakan contoh klasik tanda fraktur kondilus. Meskipun demikian fraktur kondilus mandibula yang sesungguhnya atau berhubungan dengan fraktur fasial menghasilkan pergerakan mandibula abnormal. Kanan: efek tarikan otot pada fraktur kondilus25 175 .2. Kiri: deviasi mandibula ke arah fraktur. Kiri: pergerakan normal mandibula. Pergerakan mandibula lateral dapat dihambat oleh fraktur kondilus dan fraktur ramus dengan pergeseran tulang19. maka terjadilah suatu deviasi.fraktur kondilus mandibula mempunyai keterbatasan pembukaan. Deviasi terjadi karena otot pterygoideus lateralis yang berfungsi pada sisi yang tidak terpengaruh tidak dinetralkan oleh otot pterygoideus lateralisnya yang tidak berfungsi sisi berlawanan.3. Gambar3.

Teknik pencitraan yang lebih jauh adalah CT scan dan MRI digunakan untuk trauma yang lebih kompleks dari kondilus 26. Asimetri wajah sebaiknya diperhatikan klinisi terhadap kemungkinan fraktur kondilus mandibula. pembengkakan dan panas yang terlokalisir merupakan tanda yang awal yang sempurna suatu trauma dan meningkatkan indeks kecurigaan adanya fraktur mandibula19. body dan simfisis. diikuti dengan mandibula bergeser ke bawah. Untuk melihat fraktur kondilus dapat dilakukan pemeriksaan radiolog dengan cara: panoramik. posteroanterior mandibula dan transkranial mandibula. yaitu: (1) lokasi anatomis fraktur. dengan cara meletakkan ibu jari pada gigi dan telunjuk pada batas bawah mandibula secara hati-hati dan perlahan-lahan memberikan tekanan diantara kedua tangan hingga dapat mendeteksi krepitasi fraktur19. Klinisi sebaiknya melakukan palpasi dengan menggunakan kedua tangannya. Rasa sakit. (2) relasi segmen kondilus terhadap segmen mandibula. lateral oblique mandibula. meskipun pada kontur fasial mungkin tertutupi pembengkakan. Pemeriksaan mendalam terhadap kehilangan gigi dan tulang pendukung dapat membantu diagnosa fraktur alveolar. Pemeriksaan Radiologis Penetapan diagnosis dari fraktur kondilus dapat ditegakkan dar pemeriksaan radiologis yang sering digunakan sebagai dasar penegakan diagnosis. Klasifikasi Menurut De Riu (2001) klasifikasi fraktur kondilus disesuaikan dengan lokasi anatomi (intrakapsuler dan ekstrakapsuler) dan derajat dislokasi kepala artikuler. Gambaran wajah yang memanjang diakibatkan fraktur subkondilus. towne’s view. (3) relasi kepala kondilus terhadap fossa glenoideus. kemerahan.27. angle atau body.Pada pemeriksaan klinis sebaiknya memeriksa wajah dan mandibula dengan kontur yang abnormal. Klasifikasi fraktur kondilus menurut Lindahl (1977) didasarkan pada beberapa faktor. 176 .

Tarikan muskulus pterygoideus lateral menyebabkan fragmen bergeser ke arah medial d. Ketinggian fraktur kondilus a. Regio ini terdapat di bawah leher kondilus dan memenjang dari titik terdalam sigmoid notch anterior hingga titik terdalam aspek konkaf poterior ramus mandibula. melihat definisinya. 2. merupakan fraktur intrakapsular karena kapsul melekat pada leher kondilus. fragmen tetap dalam kontak tanpa separasi atau overlap c. Leher kondilus merupakan daerah penyempitan tipis di bawah kepala kondilus. b. Kepala kondilus mempunyai relasi normal terhadap fossa glenoid 177 . Meskipun sangat sulit mendefinisikan dengan tepat kepala kondilus secara radiografik. Fraktur ini merupakan fraktur ekstrakapsular. Deviated. Nondisplaced b. Relasi segmen kondilus terhadap fragmen mandibula a. Displacement ke arah medial atau overlap lateral. Berdasarkan lokasi fraktur maka fraktur ini sering disebut sebagai fraktur subkondilus ”tinggi” atau “rendah”. Leher kondilus. Kepala kondilus. Pada fraktur ini. Relasi antara kepala kondilus dan fossa glenoideus a. Subkondilus. Fraktur kondilus. c. Displacement ke arah anterior atau overlap posterior e.Sistim klasifikasi ini memerlukan pencitraan radiografik yang diperoleh sekurangkurangnya dua gambar dari sudut yang tepat 26. Fraktur ini mungkin digolongkan sebagai fraktur vertikal.Tidak ada kontak antara fraktur segmen 3. akan tetapi sangat mudah untuk melihat penyempitan leher kondilus dan kepala kondilus bersandar di atasnya. Nondisplaced. 1.

terutama disebabkan banyaknya modalitas yang ditawarkan oleh berbagai macam literatur. tetapi ada gangguan sendi c. Perawatan fraktur kondilus dapat dilakukan dengan cara konservatif atau metode tertutup dan bedah atau metode terbuka 8. Gambar 3. Tujuan perawatan fraktur kondilus adalah mengembalikan fungsi sistim pengunyahan seperti asalnya.4 Klasifikasi menurut Lindahl19 Perawatan Perawatan fraktur kondilus mandibula masih kontroversial.28. Metode tertutup atau konservatif Fonseca (1997) menyatakan bahwa komplikasi selama perawatan konservatif sangat jarang terjadi. Pengawasan yang ketat wajib dilakukan untuk melihat ketidakstabilan oklusi. Dislokasi. Adanya tarikan muskulus pterygoideus lateralis menyebabkan segmen kondilus terletak anteromedial. Kepala kondilus tertinggal dalam fossa.b. keseimbangan maksilofasial. eyelet 178 . oklusi. deviasi pad saat pembukaan. peningkatan rasa nyeri. Perawatan fraktur kondilus dengan cara konservatif sangat sederhana.21.19. Immobilisasi melibatkan intermaxillary fixation (IMF) dengan menggunakan arch bar. Indikasi perawatan fraktur kondilus dengan konservatif bila displacement yang terjadi minimal atau tidak ada atau bila garis fraktur terlalu tinggi sehingga sulit dilakukan stabilisasi secara bedah21. Displacement. rekonstruksi tersebut melibatkan hubungan antara segmen fraktur. evaluasi klinis dan radiografi.

  Fraktur kondilus bilateral akibat fraktur wajah tengah comminuted Ankylosis kondilus mandibula akibat trauma dan tertunda perawatannya 179 . Selanjutnya bila penderita telah mempunyai kemampuan fungsional kembali dan oklusi tetap stabil serta rasa sakit minimal maka elastic guidance dan arch bar dilepas19.5 Pemakaian arch bar dan splint pada fraktur kondilus19 Metode terbuka atau bedah Perawatan dengan metode terbuka diindikasikan bila 19.21.23:      Displacement kondilus ke dalam fossa cranial media Oklusi yang adekuat tidak mungkin didapatkan dengan metode tertutup Dislokasi kondilus ekstrakapsular lateral Fraktur kondilus bilateral pada pasien tidak bergigi Fraktur kondilus bilateral atau unilateral bila splinting tidak direkomendasikan karena keadaan umum pasien atau karena fisioterapi tidak memungkinkan. Gambar 3. Lamanya immobilisasi rata-rata sekitar 7 hingga 21 hari.8. derajat pergeseran dan danya fraktur tambahan. Periode ini dapat meningkat atau menurun tergantung pada umur penderita. Apabila intermaxillary fixation telah dilepas maka diikuti dengan penggunaan elastic guidance untuk mengarahkan mandibula pada posisi maximal intercuspation.8.wires atau splint.

Pemakaian IMF dilakukan selama 3 minggu. (2) sistim Arbeitgemeinschaff fur Osteosynthesefragen/sistim Association for the Study for Internal Fixation (AO/ASIF) dengan penggunaan stainless steel compression atau plat rekonstruksi dengan bicortical screws dan (3) Teknik Champy miniplate digunakan sepanjang” line of ideal osteosynthesis” memakai moncortical screws8. Apabila oklusi belum stabil maka penggunaan elastic guidance selama 2-3 minggu sangat dianjurkan agar adaptasi neuromuscular dapat tercapai. yaitu: (1) sistim bikortikal Luhr dengan penggunaan plat vitallium. Apabila oklusi telah stabil maka elastic guidance dapat dilepas dan fisioterapi dilakukan dengan penempatan tongue-blade diantara insisif sentral untuk mencegah keterbatasan permanen ankylosis8. dilakukan penilaian status sendi temporomandibula terutama jarak pembukaan.Tiga teknik yang terpisah untuk fiksasi rigid pada perawatan fraktur kondilus dengan metode terbuka. 180 . pergerakan mandibula dan gejala-gejala yang timbul selama sendi berfungsi. ikatan diperkuat tiap minggu. Pemakaian monocortical screws19 Kondilektomi merupakan salah satu teknik untuk membebaskan ankylosis dan tetap mempertahankan arsitektur sendi temporomandibula. Metode tersebut telah banyak menunjukkan keberhasilan dan jarang menimbulkan reankylosis. setelah wires dilepas. Gambar 3.19.6.

post auricular approach8. yaitu pre auricular approach. Metode pendekatan yang sering digunakan untuk melakukan kondilektomi. 181 . diikuti dengan pengawasan yang ketat serta perawatan fisioterapi selama setahun19. endaural approach.Fiksasi intermaksiler diaplikasikan dalam periode yang pendek. inverted “hockey stick” approach. Risdon approach.

7 Metode pendekatan bedah pada kondilektomi19 Gambar 3.8.24 : Maloklusi Maloklusi yang sering terjadi setelah trauma kondilus dapat disebabkan karena perubahan dari pusat pertumbuhan kondilus dan penyatuan dari segmen fraktur pada posisi yang tidak seharusnya.22.Gambar 3.21.8 Pre auricular approach26 Gambar 3.9 Post auricular dan Risdon approach26 Komplikasi Komplikasi fraktur kondilus mandibula selama perawatan jarang terjadi dan yang paling sering terjadi 19. 182 .

Dimana cap kartilago memberikan tekanan sehingga mandibula tumbuh ke arah depan dan bawah. lamanya immobilisasi dan kerusakan diskus. Deviasi ke sisi fraktur dapat terjadi pada unilateral. Gejala komplikasi tersebut di atas sering disebut dengan “condylar post fracture syndrome” 19. hypermobility dan kadangkadang disk displacement. Gangguan seperti displacement mandibula dan aposisi tulang diregio kondilus dapat memyebabkan gangguan pertumbuhan mandibula. Kartilago kondilar merupakan pusat utama pertumbuhan mandibula. lokasi perlekatan dan tipe jaringan yang terlibat. demikian pula dengan pembentukan jaringan parut fibrous di daerah cedera temporomandibular dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan Gangguan sendi temporomandibula lainnya Internal derangement akibat fraktur kondilus dihasilakan dari trauma langsung pada sendi.Ankylosis sendi temporomandibula Ankylosis dapat diklasifikasikan berdasarkan derajat keterbatasan. tempat dan tipe fraktur. Hasil akhir kelainan tersebut akan menyebabkan keterbatasan pergerakan mandibula sehingga terjadi gangguan bicara. kesehatan mulut dan nutrisi. Faktor-faktor ini berpengaruh pada pendekatan penatalaksanaan yang akan dilakukan. Faktor lain yang mempengaruhi terjadinya ankylosis adalah umur pada saat terjadi injuri. tingkat keparahan trauma. Kerusakan yang terjadi pada fraktur kondilus dapat menimbulkan dearangement sekunder pada sendi kontralateral sehingga terjadi overloading pada sendi yang tidak terkena injuri. dan lamanya immobilisasi. Gangguan pertumbuhan Beberapa factor yang mempengaruhi efek dari fraktur kondilus terhadap pertumbuhan kerangka wajah yaitu usia pasien. 183 .21. sedangkan pada bilateral ankylosis menunjukkan adanya gigitan terbuka anterior dan hampir pembukaan mulut hampir tidak ada 19.

namun demikian tulang sangatlah kuat.BAB IV PENYEMBUHAN TULANG DAN KOMPLIKASI PASCA PENYEMBUHAN Tulang merupakan jaringan keras yang membentuk tubuh manusia. Tulang dilapisi oleh jaringan fibrous yang disebut periosteum. Berat tulang hanya sepersepuluh dari berat badan. Lamela tulang yang mengelilingi kanal havers mempunyai lakuna yang mengandung osteosit yang mengatur aktivitas selular tulang29. elastis serta mampu melakukan regenerasi bila mengalami trauma/fraktur 29. Urutan lapis demi lapis struktur tulang dari luar ke dalam adalah: periosteum. endosteum dan kavum medullare29. Pada Tulang yang mengandung lebih banyak substansi tulang spongios dibanding tulang kompak disebut “cancellous”. dan sel-sel osteoprogenitor yang mempunyai potensi osteogenik yang sangat berperan aktif pada penyembuhan fraktur tulang. 184 . 3. Unit fungsional tulang disebut juga sistem havers atau osteon yang terdiri atas kanal havers sentral yang dikelilingi oleh lapisan konsentris tulang/ lamela. dimana pada lapisan dalam periosteum terdapat pembuluh darah. dimana tulang rahang termasuk dalam golongan tulang ini. Di bagian dalam tulang terdapat rongga medula/sumsum tulang. substansia spongiosa.1 Gambaran Histologis Struktur Tulang Karakteristik dari tulang mempunyai struktur yang bagian luarnya tersusun atas tulang kompak yang disebut kortek dan pada bagian dalam yang berbentuk seperti anyaman adalah tulang kanselus/spongious/trabecular. substansia kompakta. limfe. yang dibatasi oleh endosteum yang juga mengandung sel-sel osteoprogenitor.

Unsur selular Terdapat tiga jenis sel utama tulang yaitu : Osteoblas. perbaikan dan remodelling tulang. Unsur organik Unsur organik yang merupakan matrik tulang tersusun dari 28% kolagen dan 5% nonkolagen protein. 2. anorganik dan sel-sel tulang. Sel ini mengandung enzim lisosim seperti asam 185 . osteosit dan osteoklas29 2. 1. 1. Osteoblas berasal dari sel yang terdapat pada lapisan dalam periosteum atau dari diferensiasi sel-sel mesenkim.3 Osteoklas Osteoklas merupakan sel tulang yang berfungsi dalam resorbsi tulang.2 Osteosit Osteosit yang berasal dari osteoblas yang terperangkap dalam matrik tulang yang mengalami mineralisasi.2 Komposisi Tulang Komposisi tulang terdiri dari 8% air dan 92% benda padat yang tersusun atas unsur organik. 2.1 Osteoblas Osteoblas berfungsi dalam sintesa matrik tulang yang berperan dalam pertumbuhan. Gambaran Histologis Jaringan Tulang29 3. 2.Gambar 4. Sel ini berperanan dalam nutrisi tulang berupa transfer oksigen dan metabolit/ kalsium).

Penyembuhan primer. Pada beberapa bagian segmen tulang dapat terjadi adanya celah yang kecil. Tempat perlekatan otot 4.fosfat dan katepsin. Sedangkan fungsi biokimiawinya sebagai tempat penimbunan kalsium dan fosfor dalam proses menjaga keseimbangan kadar mineral di dalam darah. Persendian 3.3 Fungsi Tulang Tulang mempunyai dua fungsi utama yaitu: fungsi mekanis dan biokimia. sebagai berikut : 1. Pembuluh darah dari periosteum. Fungsi sebagai rangka 2. dimana unsur utamanya berupa garam anorganik hidroksiapatit kristalin. Bila sel ini berkontak dengan permukaan tulang maka akan berpenetrasi ke dalam tulang dan mengeluarkan enzimnya sehingga terjadi resorbsi tulang. 3. Fungsi mekanis tulang meliputi: 1. biasanya reduksi anatomis yang sempurna jarang terjadi.4 Penyembuhan Jaringan Keras Tulang Pada proses penyembuhan fraktur tulang terdapat fase penyembuhan primer dan sekunder. 1. 3. 3. Kristal tulang ini tersusun sejajar dengan sumbu serat kolagen. Ca10(PO4)6(OH)2. endosteum dan sistem havers akan menginvasi celah dan membawa sel-sel osteoblastik mesenkim yang akan mendeposit tulang pada fragmen fraktur tanpa 186 . Melindungi alat-alat tubuh penting. Pada bagian ini akan terjadi proses penyembuhan dalam waktu beberapa hari setelah fraktur.1 Penyembuhan pada celah (Gap Healing) Meskipun fiksasi stabil pada fragmen fraktur. Unsur anorganik Komposisi tulang secara kimiawi terdiri dari 67% bahan anorganik (Hydroxyapatite).

kemudian proses remodeling akan merubah sejajar dengan sumbu tulang. Perdarahan pada pembuluh darah endosteum. Penyembuhan sekunder 2. Proses ini terjadi melalui regenerasi tulang dimana terjadi aktivitas osteoklas pada bagian fraktur yang menyediakan tempat untuk pertumbuhan dan proliferasi osteoblas guna membentuk tulang baru. Bila fragmen fraktur kurang dari 0. Penyembuhan primer 29 2. periosteum dan sistem havers menyebabkan hematoma.3mm akan terbentuk langsung tulang lamelar. Gambar 4.1 Tahap awal Pada fraktur tulang akan menimbulkan reaksi inflamasi disertai dengan pengaktifan sistem pertahanan tubuh yang menginduksi pelepasan sejumlah angiogenik vasoaktif sehingga terjadi vasodilatasi dan oedema dalam beberapa jam.melalui pembentukan kalus.2 Penyembuhan kontak (contact healing) Penyembuhan kontak terjadi pada fragmen fraktur yang tidak terjadi kontak. 187 . 1.5 1.0 mm akan terisi oleh “woven bone” selanjutnya dalam ruang trabekula akan terisi oleh tulang lamela. Rekonstruksi lengkap dari kortek tulang memerlukan waktu hingga 6 bulan. Dalam waktu 6 minggu tulang lamelar akan tersusun tegak lurus terhadap fragmen fraktur.2. sedangkan celah antara 0.

Pase awal stage fibroplastik pembentukan tulang15 2. FGF(Fibroblastic Growth Factor) yang bersifat kemoatraktan dan mitogenik sehingga dalam waktu 8 . 29. fibroblas bermigrasi dan membentuk kolagen selanjutnya berdeferensiasi menjadi kondroblas yang membentuk kartilago. Keadaan ini memicu aktivitas sel makrofag untuk membersihkan jaringan nekrotik15. limposit. terjadi kalsifikasi kartilago yang menyebabkan kondroblas berubah menjadi kondrosit. Terjadi pembentukan kapiler yang bersama kolagen yang berasal dari fibroblas membentuk jaringan granulasi. Platelet akan berdegranulasi Zmelepaskan PDGF (Platelet Derived Growth Factor). Kalus yang terbentuk akan menstabilkan ujung fragmen 188 . Osteoblas bertambah banyak dan osteoklas mulai nampak. fibroblas dan sel kondrogenik (gambar 3). Hematoma yang terjadi mengandung eritrosit . sedangkan sumsum tulang akan mengalami degenerasi lemak.30. Gambar 4.12 jam akan terjadi proliferasi selular lapisan luar periosteum seperti osteoblas.3. mastosit dan platelet. makrofag.2 Tahap kalus kartilogenus (soft callus) Pada hari ketiga sampai kelima jaringan granulasi akan berkondensasi membentuk kalus yang terjadi baik internal maupun eksternal (gambar 3). fibrin.fragmen tulang mengalami deposit tulang oleh sel-sel osteoblas dari periosteum. PMN.

Osteoblas akan mendepositkan osteoid pada kartilago yang mengalami kalsifikasi. Pase akhir stage fibroplastik pembentukan tulang15 2. 29. yang dikelompokkan berdasarkan pada letak atau berdasarkan pada fungsi dan urutan pembentuknya: Anchoring Callus: Terbentuk jauh dari fragmen fraktur dan mendekati ke arah bridging callus.3 Tahap kalus tulang (hard callus) Proses ini terjadi dalam waktu 3 .30. 189 . Gambar 4. volumenya semakin meningkat mendekati garis fraktur membentuk lepeng tulang yang menutupi rongga sumsum. kalus kartilagenous terisi oleh pembuluh darah yang akan meningkatkan tekanan oksigen dan nutrisi yang akan memacu aktivitas osteoblast 15.4. Terbentuk akibat proliferasi endosteum dan membentuk trabekula tulang yang susunannya tidak teratur. Sealing Callus: Berfungsi menutupi rongga sumsum yang terbuka dan berkembang dari bagian dalam kortek tulang.fraktur sehingga menguatkan tulang. berfungsi untuk menjamin hubungan antara keseluruhan kalus dengan fragmen tulang.4 minggu.30 . Terdapat beberapa jenis kalus tulang primer. kemudian osteoid mengalami kalsifikasi menjadi tulang yang tersusun acak (woven bone). selanjutnya berubah menjadi tulang lamela pada tahap remodeling29. Sel-sel jaringan ikat pada daerah ini akan berdifrensiasi jadi osteoblas dan menghasilkan substansia spongiosa yang melekat erat dengan permukaan tulang.

6 Gambaran Radiologis Penyembuhan Fraktur Pemeriksaan radiologis penting untuk diagnosa dan membantu dalam evaluasi perawatan.15. ossifikasi terjadi pada jaringan ikat diantara fragmen fraktur dan juga ossifikasi tersebut dapat terjadi secara langsung. Uniting callus: Terbentuk sepanjang garis fraktur dan berfungsi menyambungkan kedua fragmen fraktur. Gejala hematom menghilang 2. selain akan dilepaskan protein morphogenetik tulang (BMP) yang bersifat mitogenetik yang menginduksi diferensiasi sel-sel mesenkim menjadi osteoblas untuk pembentukan tulang sehingga kontur tulang kembali pulih29. Fragmen tidak bergerak dan tidak ada krepitasi 4. 2. 3.5 Tanda-Tanda Klinis Penyembuhan Fraktur 1. ossifikasi (pada saat substansia spongiosa anchoring callus telah mencapai kartilago) hingga membentuk tulang baru.Bridging Callus: Fungsinya sebagai jembatan dari kedua fragmen fraktur dan volumenya paling banyak jika dibandingkan dengan jenis kalus lainnya. terjadi pula diferensiasi pada daerah bridding callus fibrokartilago. Pada daerah fraktur kalus dapat diraba sebagai masa bulat dan padat 5. 3. Saat pembentukan anchoring callus. kartilago hialin. dan dilakukan sebelum perawatan. Secara fungsional organ telah dapat dipergunakan tetapi masih perlu dibatasi.4 Tahap remodeling Osteoklas dan osteoblas merupakan sel yang sangat berperanan dalam remodeling tulang. setelah reduksi dan fiksasi. Tidak ada rasa nyeri 3. serta minimal 1 kali setiap bula selama perawatan serta foto diambil minimal dari dua arah berbeda. 190 . Dalam remodeling akan terjadi resorpsi tulang oleh osteoklas.30.

geraham ±90kg. Gerakan mandibula dipengaruhi oleh empat pasang otot yang disebut otot-otot pengunyah. Pterigoideus lateralis bagian inferior.Gambaran radiologis proses penyembuhan: Secara klinis terjadi penyatuan fragmen fraktur dan secara histopatologis telah terbentuk penulangan namum secara radiologis belum tampak gambaran radioopak yang jelas. Gambaran rdioopak nampak jika telah terbentuk kalus sekunder. Kekuatan dinamis dari otot pengunyah orang dewasa pada gigi seri ± 40kg. Konsep biomekanik pada perawatan fraktur mandibula perlu dipahami sebab keadaan statik dan dinamik dapat mempengarui proses penyembuhan fraktur. Pada tulang yang telah sembuh sempurna radiolusensi garis fraktur hilang dan diganti gambaran radioopak yang sulit dibedakan dengan radiopasiti pad jaringan tulang normal.7 Biomekanik Mandibula Mandibula memiliki mobilitas dan gaya yang sangat banyak. temporalis. nampak adanya trabekulasi sepanjang garis fraktur atau tempat penyatuan. Sedangkan otot yang berperan untuk menutup mulut adalah m. berdasarkan arsitektur tulang. Pterigoideus medialis. Tujuan dari semua terapi fraktur ialah mengembalikan bentuk dan fungsi seperti semula. Pada waktu membuka mulut. yaitu otot masseter. bentuk dan perlekatan ototnya mandibula dapat digambarkan sebagai sebuah struktur yang mengubah tekanan yang diterimanya menjadi suatu 191 . Rahang bawah memiliki bentuk anatomis yang unik. Temporalis dan masseter dan diperkuat lagi oleh m. 3. sehingga dalam melakukan penanganan fraktur mandibula harus benar-benar diperhatikan biomekanik yang terjadi. pterigoideus lateralis dan medialis. Hal tersebut dapat dicapai dengan melakukan imobilisasi menggunakan fiksasi internal dan eksternal . molar ±15 kg. Otot digastricus bukan termasuk otot pengunyah tetapi mempunyai peranan yang penting dalam fungsi mandibula. disusul m pterigoideus lateralis bagian superior ( yang berinsersi pada kapsul sendi) saat mulut membuka lebih lebar. maka yang berkontraksi adalah m. sedang kekuatan menggigit daerah incisivus ±10kg.

Plat sudah cukup stabil untuk menetralkan shear dan torsional stress. Secara umum. Kekuatan kompresi dihasilkan sepanjang daerah basal mandibula sedangkan kekuatan tensi terdapat pada sepanjang daerah alveolar. 4. pressure trajectory yang menghasilkan kekuatan kompresi pada mandibula kemudain terjadi distorsi misalnya di rahang yang fraktur dapat diperbaiki dengan pemasangan plat osteosintesis.6 tension site (+) dan compression site (-) pada mandibula Gambar. (3. prinsip perawatan dilakukan dengan mempertimbangkan kekuatan-kekuatan pada kedua sisi dari aksis imajiner tersebut. Gambar 4.15. Pada waktu mandibula mengalami fraktur. sehingga kedua kekuatan tegangan yang berlawanan tersebut harus dinetralisir untuk mendapatkan reduksi fungsional yang stabil. Tension band berfungsi untuk mengurangi kekuatan yang membengkokkan yang terjadi di bagian alveolar atau kekuatan menahan yang menjauhi plat.7 tension line pada mandibula3 Hal ini dapat ditempuh dengan penggunaan plat dan tension bar system yang secara individual berbeda tergantung dari lokasi dan tipe frakturnya.16) 192 . sedangkan tension trajectory dengan menggunakan arch bar yang berfungsi sebagai tension band.bentuk daya tensi dan kompresi.14. Aksis tranversal imajiner yang terletak kira-kira sepanjang kanalis mandibula memisahkan prosesus alveolaris yang merupakan daerah tegangan atau disebut dengan tension area dari daerah basal mandibula yang merupakan daerah kompresi atau disebut dengan compression area.

hal ini disebabkan karena banyaknya muskulus dasar mulut yang melekat pada bagian ini sehingga apabila terjadi fraktur pada bagian ini maka dapat timbul rotasi. Stabilisasi fragmen tulang yang fraktur di regio ini digunakan dua miniplate dengan jarak antar plat kurang lebih 5mm untuk menetralkan kekuatan rotasi pada daerah symphisis tersebut.(17) Selain menggunakan dua miniplate dapat juga digunakan SNT plate untuk fraktur di regio symphisis. jaringan fibrous diantara fragmen tulang 193 . Komplikasi Adapun komplikasi yang dapat terjadi pada penyembuhan tulang adalah15 : 1.Gambar 4. serat oto.8 momentum gaya pada mandibula 11 Kekuatan torsional pada mandibula terdapat pada bagian symphisis mandibula. Hal ini bisa disebabkan karena : Fragmen-fragmen tulang tidak ditahan dengan rigid Fraktur dibiarkan terlalu lama Alat Fiksasi terlalu cepat dibuka Adanya jaringan lunak. Delayed union dan nonunion Delayed union adalah keterlambatan penyembuhan karena: Adanya interposisi diantara jaringan lunak diantara fragmen Fiksasi yang kurang baik Kurangnya reparatif vital dari tubuh karena gangguan sistemik Sedangkan pada nonunion tidak terjadinya penyembuhan atau tidak bersambungnya ujung-ujung tulang yang fraktur kecuali dilakukan pembedahan untuk memperbaiki fraktur tersebut.

Pada beberapa penelitian. dan juga faktor lokal seperti reduksi dan fiksasi yang buruk. pasien yang kurang koopertif. penyebaran infeksi dari jaringan sekitarnya. pemberian obat-obatan yang kurang adekuat . tanpa penggunaan antibiotik dapat terjadi lebih dari 50% kasus fraktur. Gangguan pada penyembuhan tulang (Malunion) terjadi karena kegagalan transformasi hematoma menjadi matrik osteogenik sehingga yang terbentuk jaringan fibrous nonosteogenik. tindakan debridemen yang kurang sempurna dan sterilisasi yang kurang baik . Gambar 4. Fistula pada fraktur mandibula anterior setelah open reduction15 3. Fiksasi inadekuat 194 . 2. Dapat disebabkan oleh faktor sistemik seperti alkoholik dan tanpa penggunaan antibiotik. Reduksi Inadekuat Dapat disebabkan oleh distraksi fragmen fraktur oleh traksi otot atau oleh interposisi jaringan lunak antara fragmen fraktur. Malunion Malunion dapat dijelaskan sebagai penyatuan fraktur tulang dimana displacement tulang masih terlihat. Infeksi Infeksi dan osteomielitis merupakan komplikasi yang paling sering terjadi. b. dapat juga disebabkan oleh : a.9.- Gangguan sistemik atau penyakit kronis Delayed union dan nonunion dapat terjadi pada 3 % dari kasus fraktur.

Seringkali mengakibatkan mobilitas dari fragmen fraktur sehingga terjadi “delayed union” . d. bila pergerakannya melebihi ambang batas fisiologis maka pembuluh darah kapiler akan terputus dan metabolisme penyembuhan tulang akan terganggu karena hilangnya suplai nutrisi. usia. Infeksi Infeksi dapat menimbulkan osteomielitis baik yang mengakibatkan periosteum dan jaringan lunak yang berdekatan tidak berfungsi sehingga terjadi pembentukan lapisan fibrous penyatuan tulang. 195 . e. Vaskularisasi Menurunnya vaskularisasi oleh karena trauma. Injuri nervus Injuri pada nervus alveolaris inferior biasa terjadi pada fraktur korpus dan angulus mandibula. 5. 4. Kerusakan syaraf bisa disebabkan karena trauma yang hebat pada waktu kecelakaan atau terputusnya syaraf oleh fragmen tulang. Gangguan pertumbuhan Gangguan pertumbuhan yang merupakan akibat dari trauma pada kondilus dapat diakibatkan oleh trauma langsung pada kondilus atau karena fibrosis atau scarring dari jaringan disekitarnya. c. penyakit yang mengganggu aktivitas yang menghalangi menimbulkan reduksi tekanan oksigen selular pada proses penyembuhan tulang. Faktor sistemik Kekurangan vitamin C dan D mengakibatkan gangguan pada metabolisme kolagen dan proses mineralisasi tulang.

Trismus karena adanya fibrosis atau disfungsi atropi dari otot-otot pengunyahan. 3. Selanjutnya pada proses remodeling sampai terjadi rekonstruksi lengkap korteks tulang membutuhkan waktu 6 bulan31. 196 .8 Lama Penyembuhan Tulang Proses penyembuhan tulang sampai terbentuknya tulang lamela membutuhkan waktu hingga 6 minggu.10 Hipoplasia mandibula akibat fraktur kondilus bilateral15 6.Gambar 4.

Perawatan fraktur mandibula terdiri dari dua macam yaitu dengan menggunakan metode tertutup atau dengan menggunakan metode terbuka Harus diperhatikan indikasi dan kontra indikasi bila akan dilakukan perawatan fraktur mandibula dengan metode terbuka. keberadaan gigi-geligi dan karakteer fisik. dan prossesus koronoideus. Hal ini dapat dicapai dengan pemilihan modalitas yang tepat. Dalam tatalaksana fraktur mandibula perlu dipahami biomekanik mandibula sehingga dapat diperkirakan letak fiksasi yang benar dan didapatkan hasil yang memuaskan. serta perawatan pasca operasi dan rehabilitasi.BAB V KESIMPULAN Mandibula merupakan fraktur kedua yang palling sering terjadi pada tulang maksilofasial dikarenakan posisi dan bentuknya yang membusur. segmen dento alveolar. ramus. angulus. Sebagai tambahan juga usia pasien. berbicara dengan normal dan menciptakan pergerakan artikulasi seperti sebelum terjadinya trauma. tehnik operasi yang benar terutama dalam pencapaian oklusi mandibula. korpus mandibula. Restorasi fungsi mandibula sebagai bagian dari sistem stomatognati harus mencakup kemampuan untuk mastikasi yang baik. Pengelolaan fraktur kondilus mandibula harus sesegera mungkin berdasarkan diagnosa yang akurat sehingga dapat mengurangi atau menghilangkan komplikasi yang akan timbul 197 . Lokasi dan pola dari fraktur dapat dibagi berdasarkan mekanisme dan arah dari trauma. simfisis dan parasimfisis. Lokasi fraktur mandibula terbanyak pada kondilus. Pemberian diet yang tepat dapat menjaga kesehatan pasien.

Barrera J. Penerbit buku kedokteran EGC. pemasangan Penanganan Arch-Bar. Available at http://emedicine. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Thapliyal C. Jakarta. Khan M. Soepardi E A. Ajmal S. Volume 19.com/article/1283150-overview Desember 2010 5. Edisi 6. 1997. Sugiharto Mandibula Setyo. Jakarta.pdf. Mandibular Angle Fractures: Treatment. Snell R. Jakarta 6.com/article/868517-treatment. 2006. 4. S.DAFTAR PUSTAKA 1. L. last update 21 Desember 2010 9. Buku ajar ilmu kesehatan Telinga Hidung Tenggorokan Kepala Leher. 198 . Higler P.edu. 7. Management of Mandibular Fractures. 2006. Jadoon H. Available at last update 12 http://medind. 8. C. Pakistan. P. G. A. pada Hardjowasito Anak Widanto. Sjamsuhidajat. Buku Ajar Ilmu Bedah.medscape. 2005.pk/JAMC/PAST/19-3/13%20Samira%20Ajmal. Bab VII.in/maa/t08/i3/maat08i3p218. 2010.medscape. Available at http://emedicine.. R. Chakranarayan S. 2007. Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Indonesia. A. G. hal 132-156.pdf last update 12 Desember 2010 2. Facial Trauma. Jong W D. Mandibular Fractures. Adams G. R. L. R. A. 2007. Available at http://www. Batuello T.2009. Edisi 2. Edisi 6. Management protocol of mandibular ractures at Pakistan Institute of Medical sciences. Penerbit buku kedokteran EGC. issue 3. last update 12 Desember 2010. J Ayub Med Coll Abbottabad.nic. Iskandar N. A. Laub D. 12:39-41. Malik S. Jakarta. Boies L. Menon C. Sinha C.ayubmed. Anatomi Klinik untuk mahasiswa kedokteran. E. Islamabad.1996. Boies Buku Ajar penyakit THT. Fraktur Majalah dengan Kedokteran Unibraw. 3.

Craniomaxillofacial Trauma.. Pedersen. 2004.100.2001. et al. 2. Vol. 15. Buku Ajar Praktis Bedah Mulut . 2001. Philadelphia 19.J. Tucker. L. P.W. Mosby. eMedecine Journal. St Louis 13-21 13. Keith L Moore. et al. 2nd ed. 1997.10. Oral and Maxillofacial Surgery. 98. G. Surabaya. London. 18. Peterson. R.2007. 2002.W.Vol 3. Fonseca . 71-71. Vol 2.1996. Okeson Jeffrey P. Pedlar. 4th ed.125-132 11. Temporomandibular Joint Syndrome.2005. Divisi Ilmu Bedah Kepala & Leher SMF/Lab Ilmu Bedah RSDS/FK Unair Surabaya:25-26.1993. R. Edinburg: Churchill Livingstone. St Louis: Elsevier. Oral and Maxillofacial Trauma.J. et all.J. 2006. 3rd . Murtedjo Urip. Clinically Oriented Anatomy. 2. 21. Hal:1-3 23. Peterson: et al. Oral and Maxillofacial Trauma. 1995. WB Saunders Co.B. St.W. 14. Philadelphia: W. Mosby Co. Oral and Maxillofacial Surgery eJournal. Booth. Ankylosis of TMJ. Hal : 270-283. 17. J and Frame J. 20. Fonseca. Okeson JP. et all. 89-95. Chaudhary A 2002. 3rd ed. 16. Trauma Maksilofasial Diagnosis dan Penatalaksanaannya. Second ed. St. David DJ. Hal: 1-9. 1997. William-Wilkins hal:143-148 12. eMedecine Journal. Vol. SR. Maxillofacial Surgery. 58-63. Hal: 1-16 22. et al. Churchill Livingstone. Oral and Maxillofacial Surgery. Edisi 1. Louis: Churchill Livingstone. Widell T. 199 . Third ed. Louis: Mosby. St Louis. Functional anatomy and Biomechanics of the masticatory system. In management of temporomandibular disorder and occlusion . Fractures Mandible. Wijayahadi R Yoga. 1996. Saunders Co. Principle’s of Oral and Maxillofacial Surgery.

Norman. Wolfe Medical Publications Ltd.. Sounders Co. WB. Cross AR. 28. A Textbook and Colour Atlas of the Temporomandibular Joint. Hal :1-13. 200 . 2003. Nanci A. Mosby. London.. 30: 384 – 389 27. p. Bramley. P. Schultz RC. Bone In Ten Cate’s Oral Histology. Feinberg SE. 111-44 29. Bianco P. 26. 1988. Fracture Management Bone Healing and Grafting. 25. Condylar and Subcondylar. Fractures Mandible. Year Book Publishers. Goldman KE. Anghinoni M. Hal: 386-404.. Sesenna E. louis.24. Gamba U. Int J Oral Maxillofac Surg. De Riu G. London. 1990.Lewis DD.. Fundamental of Ortopedic Surgery. Disorders.. 2002. 30.. Facial Injuries. 6thed St. A comparison of open and closed treatment of condylar fractures: a change in philosophy .. Whitson SW. Hal: 26-51. Surgery. JE. Vol 2. Oral and Maxillofacial Trauma. Diseases.1991.2001.. Larsen PE.Inc. Philadelphia.

Maksud dari penyusunan makalah ini adalah untuk menggambarkan mengenai tipe-tipe fraktur pada maksila. fiksasi. biasanya dapat menyebabkan jejas atau fraktur pada maksila dan tulang-tulang di sekitarnya. III) Nurwahida 160121120008 Peserta Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut Dan Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Bandung Abstrak : Suatu trauma yang mengenai bagian tengah wajah. Penanganan dan rehabilitasi pasien dengan trauma pada maksila meliputi pemahaman terhadap jenis. dan III. evaluasi. Kata kunci: Fraktur. 201 . Le Fort. II. Le Fort mengklasifikasi pola fraktur pada maksila menjadi fraktur Le Fort tipe I. II. trauma. Pola fraktur yang terjadi pada maksila biasanya mengikuti area terlemah pada kompleks midfasial.Fraktur Maksila (Le fort I. pemeriksaan. serta penanganannya agar diperoleh hasil pemulihan yang optimal. tergantung pada organ-organ yang terlibat. dan perawatan bedah pada wajah. reduksi.

Fraktur ini termasuk yang serius karena menyangkut struktur penting lainnya yang berdekatan seperti rongga hidung.1 Pada daerah maksila ini perdarahan disuplai oleh arteri palatina mayor bersama-sama dengan arteri alveolar superior dan posterior yang bermuara pada palatum durum dan mole. yang dapat membantu sebagai pedoman dalam mengembalikan perlekatan dan stabilisasi fraktur. termasuk juga mensyarafi labial dan gigi-gigi anterior. Pada regio anterior cabang terminal dari arteri naso palatinus keluar pada foramen insisivus dan mereka mensuplai mukoperiosteum dan palatum bagian anterior. Terdapat suplai darah yang sangat bagus ke wajah.2 Fraktur pada daerah ini mempunyai gambaran yang unik dibandingkan dengan injury pada bagian tubuh yang lain seperti : 1. 202 . sinus maksilaris. Fraktur yang disebabkan trauma ini bisa terlokalisir atau muncul dalam kombinasi. Menampilkan oklusi gigi. 3. 2. yang harus dilakukan tindakan cepat dan langsung. Nervus ini muncul dari foramen infra orbital dan kemudian berjalan untuk mensyarafi nasal lateral. sehingga membantu dalam proses penyembuhan yang cepat.kombinasi.BAB I PENDAHULUAN Fraktur maksila adalah suatu keadaan dimana hilangnya kontinuitas dari tulang maksila dengan tulang pendukung disekitarnya ataupun dengan bagian – bagian dari tulang masksila itu sendiri. Melibatkan jalan nafas. Sedangkan persyarafan melalui divisi kedua dari nervus trigeminus. labial superior dan regio palpebral inferior. rongga mata bahkan dapat melibatkan kerusakan di otak baik secara primer maupun sekunder dari penyebaran infeksi.

labial superior dan regio palpebral inferior.2 Kompleks midfasial dilengkapi oleh struktur dukungan vertikal untuk menahan tekanan dari bawah. Ia menyediakan pondasi kepada proyeksi fasial anterior sambil memberikan perlindungan kepada basis tengkorak dan berperan sebagai jangkar kepada ligamen fasial dan perlekatan otot. Disartikulasi tulang midfasial menggambarkan anatomi maksila. Tetapi midfasial tidak 203 . sagital dan horizontal yang menutupi sinus.BAB II TINJAUAN PUSTAKA I. Tulang midfasial terdiri dari rangkaian penebalan vertikal. tulang nasal.4 Pada daerah maksila ini perdarahan disuplai oleh arteri palatina mayor bersama-sama dengan arteri alveolar superior dan posterior yang bermuara pada palatum durum dan mole. Pada regio anterior cabang terminal dari arteri naso palatinus keluar pada foramen insisivus dan mereka mensuplai mukoperiosteum dan palatum bagian anterior. ANATOMI MAKSILA Midfasial menghubungkan basis kranii dengan dataran oklusal. dan septum nasal. 3 Gambar 1. melawan dan mengusir tekanan infrasuperior melalui beberapa tahanan. Midfasial secara efektif menyerap. zigoma. termasuk juga mensyarafi labial dan gigi-gigi anterior. Nervus ini muncul dari foramen infraorbital dan kemudian berjalan untuk mensyarafi nasal lateral. Sedangkan persyarafan melalui divisi kedua dari nervus trigeminus.

pilar lateral atau zigomatikomaksilari (V2). Pilar horizontal meluas sepanjang rima supraorbita (H1).3 Gambar 2 menunjukan pilar vertikal terdiri dari pilar medial atau nasomaksilari (V1). Sisi posterior. 2 Gambar 2. pilar pterygoid mengubungkan maksila ke lempeng pterygoid dari os sphenoidalis dan memberikan stabilisasi kepada dataran vertikal dari midfasial. Pilar vertikal dan pilar horizontal. rima infraorbita (H2) dan prossesus dentoalveolar dan palatum (H3). Pilar nasomaksilaris memanjang dari apertura piriformis dari kaninus dan anterior maksila melalui prossesus frontalis dari maksila dan naik ke cerukan lakrimal dan dinding medial orbita ke os frontalis.3 Dukungan superior pada pilar ini adalah arkus yang dibentuk oleh rima orbita superior dan inferior dan arkus zygomaticus. serta pilar sagital (S1). dan pilar posterior atau pterygomaxillary (V3) yang berfungsi menahan tekanan kepada basis kranii. Struktur dukungan vertikal pada midfasial terdiri atas pilar nasomaksilaris (medial). Lengkung zygoma menyediakan satu-satunya pilar sagital. memberikan 204 . Pilar medial dan lateral memberikan tahanan anterior. memandang midfasial mudah untuk kolaps dan mudah bergeser pada segmen sentral.dilengkapi dengan kemampuan menahan tekanan dari lateral dan frontal. Pilar zygomticomaxillary memanjang tulang alveolaris di atas molar I maksila melalui korpus zygoma naik ke prossesus frontalis dari zygoma ke os frontalis. Pilar midfasial horizontal meliputi rima orbita superior dan anterior juga palatum durum. zygomaticomaxillary (lateral) dan pterygomaxillary (posterior).

tumor. perkelahian (24%). 1. Trauma langsung adalah apabila fraktur terjadi pada bagian yang terkena trauma. 3 II. luka tembakan (2%). Faktor utama Faktor utama terjadinya fraktur pada tulang maksila adalah disebabkan oleh trauma baik yang datang dari luar maupun dari dalam. kecelakaan kerja (4%). 2. Penebalan-penebalan tulang ini memberikan tempat untuk aplikasi pelat fiksasi guna memastikan dukungan dan penyembuhan yang maksimal. Faktor predisposisi: Yang dimaksud dengan faktor predisposisi adalah faktor yang dapat menimbulkan fraktur selain dari faktor utama. hidung dan mulut. jatuh (9%). III. Tanpa termasuk fraktur nasal.3 Rekonstruksi defek struktur midfasial membutuhkan rekonstruksi dari pilar-pilar ini untuk mengembalikan pola tahanan normal pretrauma dan parameter biomekanikal yang penting untuk mempertahankan integritas struktur skeletal. Lengkung zygoma berfungsi sebagai satu-satunya pilar sagital (S1). Seperti penyakit yang berupa infeksi periapikal. Penyakit ini biasanya menyebabkan tulang menjadi rapuh ataupun melunak. ETIOLOGI Penyebab fraktur dapat dibagi menjadi dua golongan yaitu faktor predisposisi dan faktor luar. Trauma dapat menyebabkan terjadinya fraktur secara langsungt maupun tidak langsung. olah raga (2%).dukungan struktural kepada fungsi dari mata. B. EPIDEMIOLOGI Penyebab utama dari fraktur maksila adalah kecelakaan lalu lintas (60%). kista. wajah tengah terlibat pada 40% 205 . Trauma tidak langsung adalah apabila fraktur terjadi pada tempat yang jauh dari lokasi trauma. A. Bila resorbsi tulang meluas akibat penyebaran penyakit ini maka dapat terjadi patah tulang spontan tanpa trauma. osteomielitis.

Tulang pada fraktur ini pecah menjadi fragmen-fragmen yang kecil. Compound fracture : Fraktur dengan luka terbuka yang melibatkan kulit. jaringan periodontal atau kulit (closed fracture). 206 .dari seluruh kasus. mukosa atau jaringan periodontal untuk berhubungan dengan dunia luar (opened fracture). 7. Para ahli sepakat bahwa distribusi frekuensi fraktur Le Fort yaitu tipe II > tipe I > tipe III. 2.yaitu: 1. MENURUT JENISNYA. Simple fracture : Fraktur yang tidak menyebabkan luka terbuka atau tidak berhubungan dengan lingkungan luar. Kejadian cedera bersamaan dengan trauma kepala (50%). dimana Le Fort I mencapai 30 %. 5. yaitu melalui mukosa. cedera servikal (10%). Le Fort II mencapai 42%. Impacted fracture : Fraktur yang menyebabkan fragmen tulang yang satu tertekan masuk kesisi fragmen fraktur yang lainnya. cedera abdominal (15%).jenis atau bentuk dari fraktur itu sendiri. Multiple fracture : Fraktur yang melibatkan dua atau lebih garis fraktur pada tulang yang sama dan masing-masingnya saling tidak berhubungan. 4. cedera skeletal (30%) ditemukan pada pasien dengan fraktur midfasial. dan fraktur ini dapat terbuka atau tertutup. Fraktur maksila dapat dibedakan atas jenis. Complicated fracture : Fraktur yang melibatkan jaringan lunak sekitarnya atau bagian sekitarnya ikut menjadi rusak. 2 A. KLASIFIKASI FRAKTUR MAKSILA Klasifikasi fraktur maksila dapat dibedakan menurut jenis frakturnya dan lokasi dari fraktur pada daerah tulang maksila itu sendiri. Single fracture : Fraktur yang memiliki satu garis fraktur saja atau disebut juga fraktur tunggal. dan Le Fort III mencapai 28% dari seluruh kasus Le Fort.3 IV. Comminuted fracture : Fraktur yang menyebabkan tulang hancur atau splintered. 3. 6.

Incomplete fracture : Fraktur dimana tulang tidak patah sama sekali atau tidak putus. Menurut THOMA tahun 1969 Fraktur maksila dibagi atas 4 golongan yaitu:    Fraktur prosesus alveolaris dan prosesus palatine Fraktur horizontal (Transverse maxillary fracture. Fraktur ini dapat terjadi unilateral tetapi berbeda 207 . Distracted fracture : Fraktur yang mengalami dislokasi dari segmentsegment fraktur atau perubahan letak tanpa merusak jaringan sekitarnya. Displaced fracture : Fraktur yang mengalami perubahan letak dari garis frakturnya sendiri 10. Tahun 1984 Fraktur maksila dibagi atas 4 golongan yaitu :  Fraktur Horizontal ( Le fort I ) Seluruh maksila terpisah dari dasar tengkorak. tulang zygoma dan tulang  hidung. KRUGER. 9. Guerin Fracture. garis fraktur terdapat diatas palatum tetapi dibawah perlekatan prosesus zygomaticus. seperti tulang anak-anak. Horizontal maxillary fracture. (Transverse facial fracture. 2. B. Craniofacial disjunction fracture) Fraktur pyramidal yang menyangkut tulang-tulang hidung dan maxilla. Menurut GUSTAV O.8. terjadi pada tulang yang kalsifikasinya belum sempurna. MENURUT LOKASINYA Sedangkan menurut lokasi terjadinya fraktur tersebut telah banyak klasifikasi dibuat olah para ahli seperti: 1. Fraktur pada maksila dapat terjadi salah satu dari jenis fraktur diatas tetapi juga bisa berupa kombinasi dari bermacam – macam fraktur serta dapat melibatkan fraktur pada tulang lainnya yang berdekatan dengan maksila. Le fort I fracture) Fraktur trasversal yang menyangkut orbital.

Horizon maxillary fracture ) Garis fraktur melintang melalui bagian atas dari prosesus alveolaris. begitu juga tulang zigoma dapat terlibat  Fraktur Tranversal (Le fort III) Garis fraktur meliputi daerah mata. daerah tulang hidung dan tulang ethmoid terus ke arcus zygomaticus. Transverse maxillary fracture. Floating maxilla. 3.  Le fort I ( Fraktur Guerin. palatum dan bagian bawah dari prosesus pterygoideus dan tulang sphenoid  Le fort II ( Pyramidal fracture ) 208 . sehingga dinding samping tulang mata terpisah melalui sutura zygomaticofrontalis  Fraktur Multiple Merupakan kombinasi dari ketiga macam fraktur diatas.dengan fraktur prosesus alveolaris karena pada fraktur alveolaris tidak disertai dengan perluasan kedaerah garis tengah palatum  Fraktur Pyramidal ( Le fort II ) Garis fraktur melalui aspek fasial maksila. meluas kebagian atas tulang hidung dan tulang ethmoid biasanya sinus maksilaris ikut tersangkut. 4. melibatkan sebagian dari dinding sinus maksilaris. Menurut ARCHER Fraktur maksila cukup dibagi atas 2 golongan saja yaitu:  Fraktur dimana sebagian tulang maksila ataupun seluruh tulang maksila beserta beberapa gigi terpisah dari badan tulang maksila ( Le fort I )  Fraktur dimana seluruh tulang maksila bagian atas terpisah dari tulang – tulang dasar tengkorak sebagai suatu unit tunggal atau multiple. Menurut LE FORT : Fraktur Le fort adalah fraktur bilateral horizontal dari rahang atas dan dibagi menjadi 3 jenis Le fort fraktur.

         Klas I : Fraktur pada kompleks zygomaticus Klas II : Fraktur pada kompleks nasalis Klas III : Fraktur Le Fort I Klas IV : Fraktur Le Fort II Klas V : Fraktur Le Fort III 6. Menurut IVY dan CURTIS: Fraktur maksila hanya mengenai prosesus alveolaris. Fraktur pada muka mulai diatas akar gigi sampai palatum durum ( unilateral ) Fraktur terjadi horizontal dan bilateral yaitu diatas palatum dan dibawah orbita. Menurut KILLEY. melalui dasar mata berjalan terus kebagian bawah sesuai dengan dinding lateral dari maksila melalui pterygoid plate terus ke fossa pterygomaxilla. Berbentuk kerucut makanya disebut fraktur pyramid. 7. Garis fraktur terus ketulang ethmoid dan sphenoid. 5.  Le fort III ( Transverse facial fracture. bagian bawah mata. Extensive comminuted fraktur. maksilo frontal dan nasofrontal. Pembagian fraktur rahang atas ini berdasarkan lokasinya menjadi 5 macam. suatu fraktur yang terjadi dibagian atas maksila disertai dengan fraktur pada tulang nasalis dan tulangtulang lain disekitarnya. Craniofacial disjunction ) Garis fraktur melalui sutura zygomatiko frontal. pada fraktur ini maksila hanya terikat oleh jaringan lunak terhadap tulang-tulang dasar tengkorak.Garis fraktur melalui tulang lakrimal. Menurut CLARK:  Fraktur pada prosesus alveolaris maksila 209 .

Transverse facial fracture. Transverse fracture 2. Pyramidal fraktur. Menurut MEAD : Membagi fraktur maksila berdasarkan lokasinya menjadi 3 macam:    Partial fracture. 9. 210 . yaitu fraktur dengan beberapa gigi pada tiap fragmen tulangnya Complete fracture.   Fraktur dimana setengah bagian dari tulang maksila dipisahkan dari cranium Seluruh tulang maksilla dipisahkan dari karnium disebut juga Floating Maksila karena maksila seperti terapung terlepas dari cranium. garis fraktur melintas pada kedua orbita dan hidung Transverse facial fracture. garis fraktur melintas pada kedua orbita dan bagian atas cavum nasalis. Menurut ERICH dan AUSTIN :    Horizon fraktur. Pada fraktur seperti ini dapat berupa . garis fraktur melintas secara horizontal pada kedua antrum dan cavum nasalis. Punch type fracture disebabkan karena tembakan sehingga terjadi luka pada tulang yang bergerigi terjadi pada satu atau lebih tulang yang tipis. Pyramidal fracture 3. 1. Partial or complete fracture pada kasus yang edentulous. 8.

belakang tuberositas maksilaris. Vertical fracture yaitu fraktur pada rahang atas yang meliputi palatum durum. dan kartilago nasal mungkin terkena. 2. Dapat terlihat arah frontal dari maksila yang melibatkan struktur maksila dari plat pterygoid.1 Fraktur Le Fort I merupakan hasil benturan yang terjadi diatas level gigi. 3. Septum nasal dapat terjadi fraktur. nasal dan zygomatik. Horizontal Frakture. dan melewati pteriogoid junction. Fraktur pada prosesus alveolaris. Karena tarikan baik dari otot pterigoid eksternal dan internal. Yaitu fraktu yang terjadi pada tulang maksila yang meliputi daerah alveolranya saja tanpa melibatkan tulang pendukung yang lain dan tanpa diikuti terputusnya hubungan tulang maksila dengan tulang nasal atau basis cranial. Fraktur yang terjadi mulai dari batas lateral sinus pirimormis. berjalan sepanjang dinding antral lateral. Fraktur Le Fort I Fraktur ini disebut juga Fraktur Guerin. Floating Maksila.2 211 . Pada fraktur ini. maksila dapat berada pada posisi posterior dan inferior. Tranverse Maksila Frakture. Tipe ini dapat melibatkan maksila secara tersendiri dan terpisah dari struktur lain dengan diikuti terputusnya sutura palatina atau fragment maksila. Low Level Fracture. biasanya tampak open bite klasik. sedangkan garis fraktur sendiri berjalan vertikal atau disebut juga fraktur Unilateral.Dari beberapa pendapat para ahli tersebut dapatlah disimpulkan bahwa pada prinsipnya fraktur maksila dapat dibagi menjadi : 1.

1 4.Gambar 3. 3 Fraktur Le Fort II terjadi akibat benturan yang didapat pada level tulang nasal. dan melewati garis infraorbita pada area sutura zigomatikomaksilaris.Gambar 4. Fraktur Le Fort II. 1 212 . Fraktur le fort I.2 . Fraktur Le Fort II Fraktur piramidal/subzigomatik yang menyebabkan terpisahnya wajah tengah pusat dari kompleks orbitozigomatikus. melalui tulang lakrimalis. Fraktur terjadi sepanjang sutura nasofrontalis.

Gambar 5. Fraktur Le Fort III. Setiap 213 . dihasilkan oleh suatu tekanan yang besar pada level superior yang dapat memisahkan naso orbital eithmoid komplek. PEMERIKSAAN DAN GEJALA KLINIS 1. Dimana garis fraktur melalui sutura zygomatiko frontal. maxillo frontal dan nasofrontal. Fraktur Le Fort III Fraktur pada daerah ini disebut juga supra zygomatic fraktur. Pada fraktur ini maxilla hanya terikat oleh jaringan lunak terhadap tulang-tulang dasar tengkorak.5. Pemeriksaan Awal / Primary Survey Evaluasi awal dan penatalaksanaan yang menyeluruh seringkali menentukan apakah pasien mampu bertahan dari trauma mereka. 1 Sedangkan menurut Le fort fraktur ini disebut juga Transverse facial fracture. zygomaticus dan maksila dari basis cranial atau disebut juga pamisahan craniofasial. Craniofacial disjunction.1 V. Garis fraktur terus ke tulang ethmoid dan sphenoid. Jejas pada kepala dan leher seringkali melibatkan jalan nafas dan pembuluh utama. oleh karena itu resusitasi ABC harus dilakukan secara ketat pada tahap awal pemeriksaan dan penatalaksanaan pasien dengan fraktur maksilofasial.

fraktur mandibula atau maksila. tergantung dari insidensi trauma.pasien yang datang dengan jejas trauma. Perkusi dilakukan untuk menilai adanya udara atau darah dalam rongga pleura. walaupun demikian penilaian ulang terhadap airway tetap harus dilakukan. fraktur tulang wajah. Ini meliputi pemeriksaan adanya obstruksi jalan nafas yang dapat disebabkan oleh benda asing. fraktur laring atau trakea. jejas yang membahayakan hidup dan kondisi medis sistemik harus dievaluasi secara tepat. Alat imobilisasi ini harus dipakai dipakai sampai kemungkinan fraktur servikal dapat disingkirkan. Dada pasien harus dibuka untuk melihat ekspansi pernafasan. Inspeksi dan palpasi dapat memperlihatkan kelainan dinding dada yang mungkin menggangu ventilasi. Kecurigaan adanya kelainan vertebra servikalis didasarkan riwayat perlukaan. Pasien dengan jejas pada wajah sebaiknya diperkirakan memiliki jejas lain yang berhubungan. Dalam keadaan kecurigaan fraktur servikal fraktur servikal harus dipakai alat imobilisasi. Breathing (Pernafasan) Ventilasi yang baik meliputi fungsi yang baik dari paru. Selama memeriksa dan memperbaiki airway. Pada penderita yang dapat berbicara. harus diperhatikan bahwa tidak bleh melakukan ekstensi. Hal ini dapat dimulai dengan melakukan chin lift atau jaw thrust. dinding dada dan diafragma. B.. Usaha untuk membebaskan airway. Airway (Jalan Nafas) Yang harus dinilai adalah kelancaran jalan nafas. Auskultasi dilakukan untuk memastikan masuknya udara ke dalam paru. Selama pemeriksaan awal. Bila alat imobilisasi ini harus dibuka untuk sementara. perhatian pertama harus ditujukan langsung pada evaluasi menyeluruh. dapat dianggap bahwa jalan nafas bersih. fleksi atau rotasi dari leher. harus melindungi vertebra servikal. maka untuk kepala harus dilakukan imobilisasi manual. 214 . 5 A.

Kesemua pasien ini. Skala koma dari Glasgow (Glasgow Coma Scale. sering dengan cara menggunting guna memeriksa dan evaluasi penderita. Perdarahan eksternal dihentikan dengan penekanan pada pada luka. Banyak pasien yang mengalami injuri fasial mengalami hilang kesadaran. Tabel 1. Exposure environmental control Penderita harus dibuka keseluruhan pakaiannya. GCS) untuk evaluasi cedera kepala. walaupun hanya pingsan dalam waktu yang singkat. Disability Menjelang akhir primary survey dilakukan evaluasi terhadap keadaan neurologis secara cepat.C. Circulation (Sirkulasi) Perdarahan luar harus dikelola pada primary survey. Setelah pakaian dibuka 215 . D. Tourniquet sebaiknya jangan dipakai karena merusak jaringan dan menyebabkan iskemia.6 Skor 1 2 3 4 5 Mata (E) Respon (-) Terbuka karena rangsang sakit Terbuka bila diminta Terbuka spontan Verbal (V) Respon (-) Tidak dipahami Tidak tepat Bingung Bercakap-cakap Motorik (M) Respon (-) Ekstensi Fleksi Gerakan tidak spesifik Menunjukkan tempat yg sakit Bisa melakukan perintah 6 - - E. harus diperiksa secara keseluruhan dengan Skala Koma Glagow (GCS) dan dikonsulkan ke bagian bedah syaraf.

sebaiknya diperiksa. Pada beberapa kasus. 7 2. Riwayat ini sebaiknya diperoleh dari pasien. keadaan yang mengancam nyawa harus dikenali dan resusitasinya harus dilakukan pada saat itu juga. masalah lain yang dapat mengancam kehidupan. sebaiknya dilakukan sesegera mungkin. Langkah pertama yaitu memastikan pasien memiliki jalan nafas yang baik serta ventilasi yang adekuat. seperti gigit tampon. beberapa perawatan awal seringkali penting untuk kestabilan pasien. Seringkali. Benturan yang cukup berat yang dapat menyebabkan fraktur pada tulang wajah biasanya tersalurkan ke spina servikalis.1 Jejas pada daerah wajah tidak hanya melibatkan tulang wajah tapi juga jaringan lunak.1 Selama primary survey. pemeriksaan. perlu dilakukan trakheostomi untuk memberikan jalan nafas yang adekuat. Tanda klinis. Leher harus diimobilisasi sementara hingga jejas pada leher dikatakan baik . Bagaimanapun. namun dalam prakteknya hal-hal diatas sering dilakukan berbarengan. fraktur pada tulang wajah yang berat dapat mengurangi kemampuan pasien dalam menjaga jalan nafas. dan tekanan darah sebaiknya diperiksa dan dicatat. tetapi karena kehilangan kesadaran atau status 216 . Selanjutnya pemeriksaan status nerologis pasien dan evaluasi spina servikalis pasien. Pemeriksaan Riwayat Penyakit Setelah pasien stabil. Pada pasien trauma dengan obstruksi jalan nafas atas komplit. atau dapat berhubungan dengan jejas seperti fraktur laring. dapatkan riwayat selengkap mungkin. Penanganan awal. seperti perdarahan eksesif. dan stabilisasi pasien. Selama pemeriksaan awal. seperti lidah atau daerah leher atas.harus dipakaikan selimut hangat. Pemeriksaan Riwayat dan Klinis a. Penyajian primary survey diatas adalah dalam bentuk berurutan sesuai dengan prioritas dan agar lebih jelas. nadi. ruangan cukup hangat dan diberikan cairan intravena yang sudah dihangatkan. krikotirotomi merupakan cara paling cepat untuk mengakses trakea. termasuk respirasi.1 Perawatan terhadap jejas kepala dan leher biasanya dilakukan setelah didapat evaluasi menyeluruh.

polisi atau pekerja pada unit gawat darurat. termasuk kehadiran edema fasial.nerologi. karena biasanya mereka tidak mampu memberi respon dengan baik. dll. perubahan sensasi. tempat kejadian dan peristiwa khusus dicatat. dicatat karena tingkat kesadaran dipengaruhi oleh obat-obatan tersebut.6 b. termasuk nyeri. termasuk jenis benda yang berkontak. perubahan visual. atau sebagai penumpang. Tanggal. pengobatan. pertimbangan logistik? 4. kondisi medis. dan imunisasi tetanus terdahulu. waktu. 3. Sumber terbaik yang dapat digunakan adalah keluarga dekat yang menemaninya. Informasi mengenai waktu makan dan minum yang terakhir sangat penting apabila akan dilakukan anestesi umum. maksila yang tumpang tindih atau bahkan pasien yang tidak sadar atau tidak kooperatif. Lima pertanyaan penting yang sebaiknya dipertimbangkan: 1. syok. Apakah terjadi penurunan kesadaran? Gejala apa yang sekarang sedang dirasakan oleh pasien. Apabila cedera disebabkan oleh kecelakaan mobil. informasi harus diperoleh dari anggota lain yang mendampingi. Sejumlah faktor bisa membuat pemeriksaan klinis menjadi sulit. epistaksis. dan maloklusi? Informasi lengkap. 3 217 . termasuk mengenai alergi. Adanya tanda-tanda kecanduan alkohol dan obat-obatan. apakah korban memakai sabuk pengaman? Apakah pasien merupakan korban tindak kejahatan dengan senjata tertentu? Apakah pasien jatuh/tidak sadar? Kondisi medis resiko tinggi. Bagaimana kejadiannya terjadi? Kapan kejadiannya terjadi? Apakah spesifikasi jejasnya. 2. Pemeriksaan Klinis Fraktur midfasial biasanya didiagnosa secara klinis dan dikuatkan dengan pemeriksaan radiologis. alergi dan tanggal imunisasi tetanus juga dicatat. Keadaan tidak sadar (koma). amnesia merupakan hambatan yang sering terjadi dalam menjalin komunikasi dengan pasien.1 Mendapatkan riwayat yang adekuat dari korban trauma adalah sulit. apakah si korban yang menyetir. 5. temannya.

kontusio. sendiri ataupun kombinasi dengan zygoma atau os nasal. Evaluasi midfasial dimulai dengan penilaian mobiliti maksila. abrasi. Vestibulum bukalis dipalpasi dengan jari telunjuk. memegang maksila. Wajah dan kranii harus diinspeksi secara hati-hati terhadap kemungkinan trauma termasuk laserasi. Dengan menggunakan jempol dan jari telunjuk dari tangan yang lain.1. nasal atau zygoma. Wajah dievaluasi terhadap kemungkinan terdapatnya laserasi dan depresi tulang yang jelas. Fasial dan midfasial sebaiknya dipalpasi untuk melihat adanya gap pada dahi. lalu berlanjut ke bawah untuk meliputi rima lateral dan infraorbitalis. faktor ini berpengaruh besar terhadap metode perawatan. rima orbita. Pertama kita lakukan pemeriksaan rima orbitalis. Pemeriksaan Ekstraoral Pemeriksaan pada area fasial harus dilakukan dalam teknik yang terorganisir dan berkelanjutan. dimana apabila terdapat edema yang cukup besar dapat membuat pemeriksaan menjadi sulit. edema ataupun hematom dan kemungkinan cacat pada kontur. Lengkung zigomatikus dipalpasi lalu ke tulang nasal. yang dapat mengobstruksi pergerakan prosesus koronoid ke depan. digoyang dengan hati-hati untuk melihat adanya mobiliti pada maksila. Pemeriksaan berakhir dengan pemeriksaan maksila dan mandibula. Asimetri area wajah perlu dicatat.2 218 . kepala pasien harus distabilkan dengan menggunakan satu tangan menekan dahi.2 Tulang wajah dipalpasi untuk mengetahui adanya diskontinuitas tulang. Area ekimosis harus dievaluasi secara hati-hati. Pemeriksaan sebaiknya dilakukan secara bimanual dan disiplin. Jika diduga terdapat cairan serebrospinal. Oklusi dievaluasi. karena dapat menyebabkan infeksi retrograde yang menyebabkan meningitis. Terdapatnya krepitasi dan pergeseran dinding antral lateral dan zigoma dapat mudah didapatkan dengan teknik ini. hidung maupun telinga sebaiknya tidak ditutup tampon. Untuk menilai mobiliti pada maksila. 1 Pembukaan mandibula dievaluasi baik untuk fraktur lengkung zigoma maupun zigoma yang terdisposisi ke lateral. dan cairan yang keluar baik dari hidung maupun telinga diasumsikan sebagai cairan serebrospinal hingga terbukti bukan itu. keadaan dan kualitas gigi perlu dicatat.

Kadang timbul parestesi daerah pipi karena trauma pada nervus infraorbita.7 219 . merupakan gambaran umum pada fraktur maksila. Keadaan ini disebut sebagai deformitas dish face atau pan face. Terdapat hematom pada sulcus bukalis rahang atas posterior. Terjadi haemoragi subkonjunctiva dan diplopia. Ekimosis sirkumorbital bilateral (racoon eyes). yang merupakan indikasi terdapatnya drainase cairan serebrospinal. karena garis fraktur melewati tulang zygoma.Daerah ekimosis. terutama pada palatum. hal ini akan menyebabkan kontak prematur gigi molar dan open bite anterior. Gambar 6. Ekimosis subkonjungtival Gambar 7.8 Pada Le Fort II. Segmen maksila bergeser ke posterior dan inferior. tanda dan gejala yang dapat kita temukan adalah adanya oedem wajah dan terjadi retrusi mid fasial yang menyebabkan wajah terlihat datar. Pasien sebaiknya ditanya mengenai keluarnya cairan rasa metal dan asin. Faring diperiksa untuk laserasi atau perdarahan retrofaringeal.

stabilitas alveolar ridge dan palatum serta jaringan lunak. penglihatan. Tidak seperti fraktur Le fort II.7 220 . serta jarak intercanthal. Deformitas pada kontur tulang dapat tertutupi oleh pembengkakan. Selama pemeriksaan mata dan tulang orbita. Gangguan pada pergerakan ekstraokular atau enopthalmos menandakan adanya suatu blow out pada dasar orbita. Pemeriksaan Intraoral Pemeriksaan intra oral dapat melihat keadaan oklusi. Pergerakan abnormal pada tulang dapat didiagnosa dan jika terjadi maka akan diikuti oleh sakit dan krepitasi akibat dari ujung tulang yang keras bergesekan satu sama lain. Gangguan pada oklusi dapat melokalisir adanya fraktur. Palpasi intra oral dengan jari pada maksila dapat memberikan informasi tentang integritas dinding nasomaksilaris. dan dinding zigomatikomaksilaris. Dalam hal kerusakan yang parah pada mata dan tulang orbita dapat dikonsultasikan kepada opthalmologis. Hilangnya fungsi pada rahang merupakan hal biasa sebagai akibat dari trismus atau sakit. 2. tetapi permeriksaan dapat menemukan adanya kehilangan kontinuitas tulang atau displacement. dapat dilihat integritas dari lingkar orbita dan dasar orbita. pergerakan ektra ocular dan posisi bola mata. masalah pada retina ataupun masalah neurologic lainnya. Le fort III berhubungan dengan adanya cedera pada zygomatikus. Openbite anterior. gigi geligi. Perubahan penglihatan menandakan adanya gangguan pada persyarafan mata. Peningkatan jarak interchantal menandakan adanya perubahan pada tulang frontomaksilaris atau tulang lacrimalis ataupun adanya avulsi dari ligamentum canthal medialis . dinding sinus maksilaris anterior.Gambar 8.

maka terdapat adanya Le Fort II atau III.5 Gambar 10 menunjukan metode palpasi wajah tengah pada fraktur Le Fort.1 Gambar 9 menunjukan pemeriksaan mobiliti pada maksila. maksila digoyang-goyangkan untuk menilai adanya mobiliti. A. maka 221 .1 ` Gambar 10. Jika gerakan terdeteksi juga pada zigoma (B). Metode palpasi wajah tengah pada fraktur Le Fort.3 Gambar 9. B. Gigi anterior dipegang dan maksila dimanipulasi untuk memeriksa adanya pergerakan.Fraktur transversal pada Le Fort membuat muskulus pterygoid medial yang kuat menciptakan tarikan posteroinferior pada segmen yang bergerak menciptakan maloklusi klas III. Jika gerakan dapat dipalpasi pada jembatan nasal (A). Dahi difiksasi dengan tangan kiri. Pemeriksaan mobiliti pada maksila. Tangan kiri juga dapat diletakkan pada os nasal untuk menilai mobiliti pada os nasal. kontak prematur pada molar dan anterior open bite.

 Kecuali apabila segmen fraktur mengalami impaksi kearah posterior. maka kemungkinan terjadi fraktur Le Fort I.  Terjadinya kontak premature dari gigi posterior karena tulang maksila turun dan menimbulkan open bite yang klasik. kepala distabilisasi lalu prosesus dentoalveolar dimanipulsi sehingga adanya pergerakan segmen fraktur dapat dideteksi. Gambar 11 menunjukan saat melakukan pemeriksaan fraktur pada maksila. Pemeriksaan fraktur Le Fort II dan III dilakukan dengan cara satu tangan memegang puncak hidung sementara tangan lain memanipulasi maksila. Apabila tidak terdeteksi adanya gerakan pada daerah tersebut namun maksila mengapung. Le fort I Manifestasi Klinis Le Fort I antara lain adalah:  Seluruh rahang atas dapat digerakan dengan mudah.terdapat fraktur III. Le fort II 222 .6 2. 4 Perbedaan klinis fraktur maksila: 1. Saat melakukan pemeriksaan fraktur pada maksila.  Palpasi tulang alveolar pada jaringan pendukung akan terasa nyeri  Dapat dilihat dengan jelas pada foto roentgen dan sering adanya gambaran sinus yang berkabut serta gangguan kontinuitas yang bilateral dari dinding sinus maksila. kepala distabilisasi lalu prosesus dentoalveolar dimanipulsi sehingga adanya pergerakan segmen fraktur dapat dideteksi.5 Gambar 11. Pergerakan pada sutura nasofrontal menunjukkan kemungkinan terdapatnya fraktur Le Fort II atau III.

 Dari gambaran foto roentgen dapat terlihat pemisahan atau pergeseran pada sutura zygomaticomaksilaris serta terputusnya kontinuitas rima orbital inferior didekat sutura tersebut. Suatu kelainan bentuk ini dapat dideteksi pada daerah rima infra orbital atau daerah sutura naso frontal. luka yang dihasilkan pun berfariasi.6 5. dan naso orbita eithmoid. Ada baiknya temuan ini dikomfirmasikan dengan CT coronal dan sagital scan. Pada waktu dilakukan tes mobilitas dari maksila akan memperlihatkan pergerakan dari seluruh bagian atas wajah. Hipoesthesia dari nervus infra orbital juga ditemukan. Cara pendeteksian ini dapat dengan mengandalkan genggaman pada gigi anterior maksila dan menggerakannya arah anterior. Trauma telecantus dapat terasa seperti halnya juga ephypora. Suatu maloklusi dapat terjadi bersamaan dengan open bite. diikuti dengan ecchymosis yang memberikan kesan seperti raccoon sign (menyerupai kucing). 2.Manifestasi klasik Le Fort II antara lain :     Oedema periorbital secara bilateral.posterior. 2.6 223 . sehingga frakmen yang pecah dari lantai orbita atau dinding media bisa terlihat dan ikut bergerak. kondisi ini muncul karena perkembangan odema yang sangat cepat. Le fort III Manifestasi klinis Le Fort III antara lain :    Sering terlihat kebocoran cairan cerebrospinal akibat sobeknya meninge (selaput otak) Oedema yang hebat dan ecchymosis peri orbital terlihat bilateral karena terjadinya perdarahan subkonjungtiva dalam berbagai tingkat keparahan. hal ini berguna dalam rencana perawatan dan pertolongan nyawa pasien.   Fraktur ini biasanya diikuti dengan fraktur zygoma.

Gambar 12. minimal foto Water’s.8 224 . pemeriksaan radiologi harus dilakukan untuk memberikan tambahan informasi tentang trauma fasial. Pemeriksaan Radiologis Setelah dilakukan pemeriksaan klinis pada area fasial dan keadaan pasien stabil. Foto Water’s memperlihatkan antrum hampir jelas. Evaluasi pada fraktur midfasial secara umum ditambahkan dengan gambaran radiografik. Foto Towne’s sangat bermanfaat dalam menggambarkan lengkung zigomatikus dan rami mandibula. Gambaran Klinis Fraktur Le Fort III VI. scheidel anteroposterior. Water’s view memperlihatkan gambaran fraktur Le Fort II yang membentuk segmen fraktur bentuk Piramid. lateral dan foto submentovertex. Jika pasien tidak dapat tengkurap. dapat menggunakan reverse Water’s (frontoosipital). Kekurangannya yaitu bertambahnya jarak antara tulang wajah ke film.2 Gambar 13. Foto lateral skull berguna dalam menggambarkan kehadiran cairan pada sinus paranasal dan udara intrakranial. Lengkung zigoma paling bagus digambarkan pada foto submentovertex.

Gambar 14. Foto water’s lateral menunjukkan fraktur Le Fort II4

Scan yang diambil secara baik dan hasil tepat, dapat menjadi alat diagnostik radiologi tunggal, tanpa foto lain. CT scan juga menggambarkan terdapatnya edema dan kehadiran benda asing yang sering terlewat pada foto konvensional.

Gambar 15. CT scan axial menunjukkan fraktur Le Fort II

Gambar 16. Gambaran 3D fraktur Le Fort II.

VII.

PERAWATAN FRAKTUR

A. Tujuan perawatan Apabila stuktur wajah terkena trauma yang menyebabkan fraktur maksila maka tujuan utama perawatan meliputi: 1. Penyembuhan tulang yang cepat.

225

2. Pengembalian penglihatan yang normal dan sempurna. 3. Kembalinya fungsi hidung untuk bernafas dan penciuman. 4. Kembalinya ruang bicara yang sempurna. 5. Hasil yang baik secara estetik baik dari gigi dan wajah seperti yang diinginkan. Selama perawatan diusahakan meminimalkan hal-hal yang merugikan pasien, seperti pemberian nutrisi, mengurangi rasa sakit dan ketidaknyamanan pasien serta kerusakan yang minimal jika memungkinkan. 1

B. Prinsip perawatan Untuk mencapai hal ini maka prinsip bedah hendaknya mengikuti aturan berikut ini Prinsip perawatan fraktur maksila: 1. Debridement yaitu membersihkan sisi fraktur meticulous. 2. Reduction yaitu mensejajarkan ujung tulang yang patah. 3. Fixation yaitu menstabilkan fraktur tulang, setelah selesai prosedur diatas, baru-baru ini digunakan mini plat tulang dan scrub ( rigid internal fixation ). 4. Imobilisasi yaitu pengikatan Fraktur pada bagian sendi, dicapainya dengan wiring sendi secara bersamaan selama 4-6 minggu dengan penyebaran yang luas menggunakan fixasi interna yang kuat, bagaimanapun prosedur ini sangat cepat dalam membantu penyembuhan. 5. Rehabilitasion yaitu mengistirahatkan total dari region yang terkena trauma seperti perlekatan kembali secara prostetik dari gigi geligi yang hilang akibat trauma dan injury.

C. Metode perawatan Perawatan fraktur maksila dapat dilakukan dengan metode terbuka maupun metode tertutup tergantung dari berat dan ringannya kasus, namun untuk fraktur maksila yang meliputi le fort I, II, III atau yang diikuti kelainan oklusi harus dilakukan dengan metode terbuka.9,2,6

226

1.

Reduksi tertutup ( close red )

Metode ini dilakukan tanpa melakukan insisi untuk mereduksi kembali bagian tulang yang fraktur seperti pada frakmen fraktur ini bergerak, biasanya gigi geligi yang terdapat pada sekmen fraktur mengalami kegoyahan . Pada kasus ini dibutuhkan tekanan berulang (digital) untuk mereduksi tulang yang patah. Pada kasus fraktur unilateral maksila atau terpisahnya sisi kanan dan kiri palatum pada sutura palatine, maka digunakan alat Rowe Disimpaction forceps atau Hayton-Williams forcep untuk mereduksi kembali kedua sisi palatum tersebut. Arch bar dipasang pada lengkung maksila dan mandibula. Gigi yang goyah diikat dengan kawat (wiring) kearch bar maksila, sedangkan gigi yang terdapat pada segment yang tidak fraktur dilindungi dengan fiksasi intermaksila. Kemudian fiksasi dilanjutkan kedaerah fraktur yang telah direduksi tadi. Fiksasi dibiarkan selama 4 sampai 6 minggu didalam mulut pasient dan pasien diberikan diet lunak selama fiksasi. Indikasi dilakukannya metode tertutup pada fraktur maksila adalah:  Dimana pada pemeriksaan klinis dan radiografis tidak memperlihatkan gambaran perobahan letak pada kedua segmen fraktur atau segmen frakturnya terletak pada variable yang stabil dari tekanan otot-otot mastikasi.( Undisplasment fracture )  Pada pasien yang edentulous (tidak bergigi) dan fraktur maksila secara radiology memperlihatkan perobahan letak yang minimal dan letak garis fraktur kemudian menjadi stabil oleh otot-otot pengunyahan. Maka union tulang pada fraktur ini dapat menjadi penghubung yang baik.  Pasien dengan fraktur yang menimbulakan kerusakan pada otak dan tidak adanya rangsangan untuk bangun, maka metode terbuka untuk sementara merupakan kontra indikasi. 2 Reduksi terbuka (open red) Metode ini lebih baik untuk kasus fraktur maksila khususnya yang komplek. Dengan metode ini dapat dicapai immobilisasi fraktur yang sempurna

227

dan fiksasi yang kuat dan rigid. Metode ini dimulai dengan tahapan sebagai berikut: 1. Pembukaan flap dengan insisi vestibular secara bilateral. 2. Sisi fraktur disingkapkan dengan meretraksi flap tadi 3. Dilakukan pembersihan segment pada garis fraktur. 4. Dilakukan perlekatan kembali kontunuitas tulang yang terputus. 5. Fiksasi garis fraktur dengan wiring atau mini dan mikro plat serta bautnya. 6. Tutup daerah operasi dengan mengembalikan flap pada posisi awal dan dijahit 7. Fiksasi inter maksila selama 4 minngu (masa penyembuhan) 8. Pasien diberikan diet lunak selama fiksasi dengan kandungan gizi yang cukup. Indikasi dilakukannya metode fraktur terbuka adalah sebagai berikut:  Apabila metode tertutup gagal dilakukan  Fraktur dengan displacement yang kearah bawah dengan segala

komplikasinya seperti open bite klasik, elongasi fasial dana dish face.  Fraktur fasial kompleks dan multiple seperti Le fort I, II, III .  Fraktur dengan impaksi pada rahang bawah.  Fraktur yang memerlukan pemasangan miniplate dengan skrup untuk reduksi dan stabilitas segment fraktur.  Fraktur yang membutuhkan bone graft.

Mikroplate and screw osteosynthesis Pada abad ke dua puluh mulai diperkenalkannya pemakaian plat sederhana atau yang lebih dikenal dengan Mini plate and screw. Sistem kompensasi plat logam ini menggunakan lobang-lobang plat eksentrik dan skrup- skrup ( beberapa diantaranya ada yang menggunakan swa-ulir ) yang cocok untuk penatalaksanaan fraktur orofasial. Pada tahun –tahun terakhir perkembangan plat dan skrup mengalami revolusi menjadi Mikro plate yang lebih ringan yang terbuat dari titanium dan lebih bisa diterima oleh tubuh. Hal ini di kembangkan karena bentuk

228

dan jenis fraktur maksila yang berfariasi dan sangat komplek sekali.Bentuk dan ukurannyapun disesuaikan dengan anatomi tulang fasial. Beberapa keuntungan pemakaian mikro plat ini adalah: 2,6              Kestabilan yang rigid pada fiksasi anatomi dari bagian –bagian fraktur. Dapat meniadakan pemakaian IMF ( intermaksilari fiksasi ). Mempercepat penyembuhan dan memperpendek durasi perawatan.

Indikasi dilakukannya pemasangan mikro plate pada fraktur maksila adalah: Apabila fiksasi maksilo mandibula sulit dilakukan. Untuk perawatan kasus yang penyembuhannya lama dan pseudoartrosis. Fiksasi pada graft tulang. Fraktur kompleks dan multiple dari Le fort I, II, III. Fraktur maksila pada pasien edentulous dengan displasment

Aplikasi mikor plate dan skrup: Pemaparan perkutan atau peroral dan kemudian dilakukan reduksi fraktur. Lakukan adaptasi dan stabilisasi mikro plat dan pembuatan lobang untuk skrup pada tulang denga bur tulang. Lobang bur dicocokan sampai sesuai dengan besar srkupnya. Skrup dipasang menurut dataran lubang pada plate untuk mendapatkan kompresi. 1-3 skrup diinsersikan pada sisi fraktur

Fiksasi dan Imobilisasi fraktur maksila Ada beberapa macam alat untuk Immobilisasi fraktur maxilla yang mana pada dasarnya menggunakan prinsip berikut ini:6 A. Fiksasi Intramaksila dan Intermaksila. 1. Hanya rahang atas saja yang dipasangkan alat fiksasi misalnya, dengan memakai arch bar dari Erich. Contoh pada kasus fraktur sebagian kecil dari prosesus alveolaris rahang atas (Intramaksila). 2. Pemasangan alat fiksasi pada gigi-geligi di maksila dan mandibula, kemudian pada kedua rahang ini dipasang rubber elastic band melalui

229

kaitan atau hock pada acrh bar yang digunakan. Elastik hanya dipakai pada gigi-geligi yang tidak mengalami fraktur rahang (berguna untuk fraktur unilateral atau segmental ) sehingga tulang alveolar yang mengalami fraktur akan terdorong keatas oleh tekanan gigi-geligi dirahang atas dan rahang bawah (Intermaksila).

Gambar 17. Arch bar dan fiksasi intermaksilaris. 4

B. Fiksasi Internal Teknik ini ditemukan oleh Adam yang mana diindikasikan pada fraktur horizontal yang sederhana dengan tidak terlibatnya tulang orbita. Teknik ini menggunakan kawat suspensi (stainless steel ukuran 0.018 atau 0,2 inchi, 0,45 atau 0,5mm) yang dimasukan (diikatkan) pada titik tertentu di tulang bagian superior. Bagian yang paling sering digunakan adalah Apertura piriformis, Spina nasalis, tonjolan Malar, Arcur zygomatikus, Prosesus zygomatikus ossis frotalis dan pinggiran tulang infra orbita. kemudian kawat menelusuri daerah fasial terus kebawah dan kemudian dihubungkan (diikatkan) pada arch bar yang telah dipasang pada gigi-geligi rahang atas (terhadap maksila) disebut fiksasi kraniomaksila. Sedangkan pada ikatan atau perlekatan kawat terhadap mandibula disebut fiksasi kraniomandibula. Gigi-geligi rahang atas dan rahang bawah dalam keadaan fiksasi Intermaksila (Transosseous wiring fixation). Apabila mandibula utuh atau karena perawatan bisa stabil, maka fiksasi kraniomandibula lebih dianjurkan dibanding perawatan fiksasi kraniomaksila, karena perlekatan ini memberikan hasil terbaik untuk mempertahankan posisi komponen maksila yang mengalami fraktur.

230

C. Fiksasi eksternal 1. Pesawat Cranio-Maxilla. Dimana digunakan suatu alat Head Appliances yang dihubungkan dengan alat lain yang dipasang pada maksila. Head appliances yaitu suatu alat yang dipasang pada kepala yang berfungsi sebagai penahan untuk fiksasi fraktur maksila dengan tulang cranial. Alat ini ada beberapa macam yang biasa digunakan yaitu:       Plaster of Paris head cap. Woodards appliance. Englands appliance. Bisnoffs head band. Crawford head frame. Crawford bloom head appliance

Pesawat Cranio Maxilla sendiri ada beberapa macam yaitu; a. Pesawat C-M yang menggunakan Kingsley splint yang dapat dihubungkan dengan berbagai macam splint yang diletakan pada gigi-gigi dirahang atas seperti:     Wire splint Cast metal splint Band orthodontic Pada pasien edentulous digunakan modifikasi dari kingsley sendiri. b. Pesawat C-M yang menggunakan Steinmann pin, dimana pin ini dimasukan kedalam tulang alveolar rahang atas yang mengalami fraktur melalui pipi lalu pin ini dihubungkan kembali kealat head appliance. c. Pesawat C-M yang menggunakan cranio fasial wire. Ditemukan oleh Erich, dimama kawat dihubungkan dengan arch bar yang telah dipasang sebelumnya pada rahang atas ( gigi-geligi ), kawat ini menembus pipi lalu dihubungkan denga head appliance. Pemakaian alat ini diindikasikan pada fraktur dengan tidak adanya perubahan tempat dari rahang (fragmen) dan mandibula dapat bergerak untuk berbicara dan makan (makanan lunak).
231

juga digunakan Frac-sure rods dipakai sebagai penghubung dengan head appliance. 232 . yang mana dua buah pin dimasukan kedalam tulang pipi kiri dan kanan. Frac-sure rods ini dihubungkan dengan head appliance c. Ini untuk perawatan sementara dari fraktur rahang. 3. d. Pesawat ini pun ada beberapa macam yaitu : a. Pesawat C-mand dengan menggunakan Traction bandage (head bandage). Pada kasus tidak bergigi digunakan Gunning splint yaitu suatu acrilik aplint yang digunakan sebagai alat fiksasi mandibula. Pesawat Cranio – Mandibula. Pada metode ini gigi-geligi pada kedua rahang berada dalam keadaan oklusi dengan menggunakan Intermaksila wiring fixation dan eksternal traction. Pesawat Malar-Mandibula fixation. Pesawat C-mand dengan half pin hamper sama dengan Steinmann pin. dibagian luar dihubungkan dengan Frac-sure link vertical rod dikedua sisi. b. Peasawat C-mand dengan menggunakan Steinmann-pin yang dimasukan kedalam corpus mandibula . Pesawat ini ditemukan oleh Gross. Terdiri dari Barton bandage denagn elastic yang dilekatkan pada kedua sisi dengan menggunakan plaster.2. Pin ini lalu dihubungkan dengan pin yang telah dipasang pada corpus mandibula melalui suatu batang penghubung (rods) atau rubber elastic band.

Pada kasus fraktur remuk yang parah. III atau yang diikuti kelainan oklusi sebaiknya dilakukan dengan metode terbuka. Perawatan Fraktur Le Fort I Perawatan fraktur maksila dapat dilakukan dengan metode terbuka maupun metode tertutup tergantung dari berat dan ringannya kasus. II. maksila ditarik ke depan dan ke bawah. Fiksasi kraniomaksilar. 1. namun untuk fraktur maksila yang meliputi le fort I. biasanya cukup untuk terjadi penyembuhan. diperlukan perpanjangan periode fiksasi hingga 6 minggu. Di atas 7 hingga 10 hari. Gunakan gerakan menekan atau memutar. perlu tenaga tambahan untuk melakukan reduksi sempurna. Fraktur dr pergeseran minimal direduksi di diimobilisasi secara ideal dengan reduksi terbuka dan immobilisasi diperoleh dengan penempatan plat yang tepat. dapat ditempatkan ujung karet pada paruh tang. Sebagai alternatif yang kurang ideal. Tahapan perawatan pada fraktur Le Fort: 1.Gambar 18.7 C. reduksi dini fraktur Le Fort I memberikan kesulitan minimal.2 233 . Untuk melindungi mukosa hidung dan mukoperiosteum palatum. Fraktur impacted atau fraktur yang tidak mudah direduksi karena penyatuan dini oleh jaringan ikut (fibrous union) sebaiknya direduksi dengan menggunakan tang disimpaksi Rowe atau Hayton-Williams. dan sisi lainnya pada palatum keras (gambar). Digunakan secara sepasang atau sendiri.2 Aturannya. melakukan fiksasi intermaksilari selama sebulan. Paruh dari tang Rowe ditempatkan sepanjang dasar hidung.

4 2. Perawatan dimulai dengan pemasangan IDW untuk mendapatkan oklusi. Sebagai alternatif. atau dapat juga menggunakan daerah sutura nasofrontal.Gambar 19. Pada fraktur Le Fort II dilakukan insisi pada sulkus bukalis. terdapat variasi pilihan untuk imobilisasi. Hal tersebut perlu dilakukan untuk mendapat stabilitas dan penyembuhan yang adekuat.2.7 Setelah dilakukan reduksi pada fraktur. Penggunaan tang disimpaksi Rowe untuk mereduksi maksila. Fiksasi dapat dilakukan dengan mini plate yang menjangkau penyangga zygomaticomaksilaris. pembukaan tambahan ke superior sering dibutuhkan untuk akses yang cukup dari orbital rim. Imobilisasi dilakukan minimal 4 minggu. Fiksasi intermaksilari kemudian dilakukan untuk memperbaiki posisi anteroposterior fraktur. Hal ini dapat dicapai dengan insisi subsiliary atau transkonjunctiva. Hal ini dapat diperoleh dengan membuka regio sutura zigomatikomaksilaris baik dari rima inferior maupun intraoral. Pada umumnya segmen maksila pyramidal yang bebas distabilisasi ke tulang zygoma yang intak. Kombinasi yang diperlukan tergantung pada kebutuhan untuk 234 . Perawatan Fraktur Le Fort II Reduksi tertutup yang dilakukan pada fraktur Le Fort II mudah dilakukan dengan tang disimpaksi Rowe. dapat dilakukan reduksi terbuka. Minimal fiksasi tiga-titik atau mungkin empat-titik diperlukan.

Pada daerah lateral. oklusi yang baik harus didapatkan untuk mendapatkan posisi anteroposterior dan lateral wajah tengah. 2 Dalam perawatan fraktur Le Fort III. atau insisi flap koronal. atau rekonstruksi rima inferior. atau keduanya.mengeksplor dasar orbita. open sky. Semua pendekatan ini dapat memberikan akses yang baik ke daerah sutura nasofrontalis. Terdapatnya jejas yang remuk dan parah bervariasi. Ketika flap dibuat pada area lengkung orbita. Flap bicoronal dapat diperpanjang untuk mencapai akses ke lengkung zigoma. kita lakukan insisi fasia 235 . Perawatan Fraktur Le Fort III Fraktur Le Fort III secara esensial merupakan kombinasi fraktur zigoma bilateral dan fraktur pada kompleks nasal-orbital-ethmoid (NOE). zigomatikotemporal. Awalnya. dan rekonstruksi regio nasofrontal karena daerah ini sering kali terjadi keremukan. Penempatan plat pada daerah ini dapat memberikan kestabilan dan keamanan dalam arah superior posterior. kita melakukan diseksi superfisial dari fasia temporalis. Dalam mencapai lengkung zigomatik. Insisi alis lateral. kita menstabilisasi segmen tulang yang bergerak untuk stabilisasi mandibula dan tulang kranium. serta reduksi yang tepat dari maksila ke wajah tengah inferior. Flap bicoronal harus dirancang hati-hati untuk menghindari cedera pada cabang saraf wajah. rahang atas harus dalam kondisi tidak terpendam (direposisi) dan MMF dilakukan. Dapat dilakukan dengan bilateral Lynch. 2 Pilihan lain dari perawatan pada fraktur Le Fort II yaitu imobilisasi sutura nasofrontal. perikranium dapat diinsisi tepat di atas lengkung untuk menjaga suplai darah dari daerah supraorbital dan supratroklearis ke flap. 3. lipatan glabela. dan sutura nasofrontal.2 Prinsip umum perawatan fraktur ini yaitu. reduksi dan imobilisasi zigomatikofrontal. Insisi jaringan lunak dapat dilakukan di lokasi yang sama seperti untuk fraktur Le Fort II. atau flap kulit kepala bicoronal dapat digunakan untuk topangan tambahan pada tulang frontozigomatik. Pada gilirannya. atau melalui laserasi yang sudah ada. tetapi prinsip perawatannya identik dengan yang lain.

Apabila daerah fraktur terbuka terhadap lingkungan eksternal atau terdapat komunikasi dengan intra oral atau ruang nasal. observasi pasien selama semalam terhadap kemungkinan terjadinya perdarahan. Sehubungan dengan tindakan fiksasi pada fraktur maksila. pelat berlebihan tidak diperlukan. lakukan pembalutan kassa dengan tekanan ringan. Interoseus wiring dan suspension wiring digunakan pada fraktur Le Fort III. fiksasi zygomaticofrontal bilateral mungkin sudah cukup. lengkung inferior orbital. Gunakan template lunak. masalah pada jalan nafas. Perawatan Post Operasi Untuk meminimalisir edema paska operasi. lengkung zigomatic). kurangi dan stabilkan setiap patahan tulang yang terlibat. Setelah ini dilakukan dan segmen fraktur terlihat. tetapi hasilnya tidak sebaik miniplate fiksasi karena vektor gaya untuk mempertahankan reduksi kurang akurat dan micromotion meningkat. Patahan tulang kemudian dapat dikurangi dengan elevator kaku. maka perlu diberikan antibiotik profilaksis terhadap organisme gram-positif dan anaerob selama 5-10 hari. secara umum. pelat pembentuk kontur yang akurat dan monocortical serta sekrup self-tapping. maka fiksasi dapat dilakukan. dapat diangkat setelah 2-5 hari. fiksasi langsung mungkin diperlukan. tempatkan pemotong kawat di 236 . Perluas bidang insisi ke dalam fasia sampai tulang zigoma yang fraktur. Jika pembalut tetap kering. nasomaxillary. Namun.temporalis di atasnya. pada daerah operasi. Garis rambut yang terlalu mundur juga dapat menjadi bahan pertimbangan untuk menggunakan tipe insisi lain. D. dan muntah. Jika menggunakan fiksasi dengan kawat pada IMF. Pada fraktur Le Fort III sejati. Setelah pembedahan. Fiksasi Miniplate saat ini merupakan tipe yang paling dapat diandalkan. tetap dibutuhkan fiksasi tambahan (misalnya. nasofrontal. Jika terpendam atau comminuted. Gunakan sesedikit mungkin pelat untuk mencapai fiksasi. Jangan gunakan flap bicoronal dalam situasi dimana flap membutuhkan suplai arteri temporal. Gunakan pelat yang menjangkau seluruh penopang utama.

tapi mobilisasi berlebihan dapat mengindikasikan terjadinya penyembuhan yang buruk. Pengambilan foto post-operasi (misal. CT scan) dapat membantu pada pasien yang dicurigai terjadi malunion. Pada umumnya. Mobiliti vertikal yang minimal pada midfasial dapat pulih seiring dengan waktu. Panorex dental views. serta teknik perawatan yang digunakan. Terdapatnya Pergerakan minimal mungkin masih dapat diterima. Selama periode ini. instruksikan pasien mengenai cara melepas IMF apabila muntah. Tujuan paling penting selama periode awal post-operasi yaitu memelihara imobilisasi. Tergantung pada umur dan kesehatan umum pasien. tekankan pasien untuk memelihara kebersihan mulut dengan rajin menyikat gigi dan arch bar dan berkumur dengan saline atau mouthwash antiseptik setiap pagi dan malam serta setiap habis makan. minggu ke 2-4. Selain itu. Apabila tulang wajah telah sembuh dengan baik dan didapat oklusi normal. periode ini berkisar antara 4-8 minggu. Sebelum pulang. MMF dapat dilepas lebih cepat pada fraktur yang diperbaiki dengan 237 . Lepas kawat atau rubber band apabila pasien mulai merasa mual. Pada pemeriksaan post-operasi.10 E. Sehingga IMF perlu dirawat selama periode ini. lakukan tes stabilitas tulang wajah dengan mempalpasi geligi rahang atas pasien saat menggigit dan merelaksasi otot pengunyahan. keparahan dan displacement fraktur. pasien diberi tahu untuk membatasi diet yaitu bubur atau cairan. lalu minggu ke 3-8 untuk melepas IMF. Pergerakan yang berlebihan mengindikasikan terlalu dininya melepas arch bar atau terdapatnya masalah penyatuan tulang. Follow Up Lakukan evaluasi follow-up pada hari ke 5-7 (jahitan kulit dapat dilepas pada saat ini). serial mandibula.dekat pasien setiap saat pada awal periode post-operasi untuk mengeluarkan muntah. IMF dapat dilepas. Follow-up jangka panjang mungkin dibutuhkan untuk memonitor terjadinya komplikasi postoperasi atau deformitas. facial series.

10 238 .fiksasi miniplate. dan lebih lama pada fraktur yang diperbaiki dengan kawat interosseus atau suspensi.

Infeksi 4. dengan hematom septum atau nasal packing.BAB III KOMPLIKASI Beberapa komplikasi yang dapat terjadi akibat fraktur maksila dan penyembuhannya biasanya tidak tampak hingga beberapa minggu hingga bulan setelah terjadinya trauma. pembukaan jalan nafas nasofaringeal. dan pembukaan fikasi intermaksilari dapat efektif menghilangkan 239 . Pasien dengan fiksasi intermaksilari dan gigi lengkap biasanya mengalami kesulitan pernafasan pada saat ini. infraorbital 2. kondisi ini dapat terjadi sehubungan dengan ekstubasi. Nonunion 9. Reintubasi. Malunion atau maloklusi 10. dan dengan edem berat jaringan lunak yang menghalangi pernafasan melalui jalan nafas nasal. Obstruksi nasal 7. Alat terekspos 5. Deviasi septum 6. Enopthalmus 3. Bagaimanapun. Jaringan parut 13. tetapi potensi kemunculannya dapat diperkirakan selama evaluasi dan perawatan. Perubahan penglihatan 8. Parestesi n. Komplikasi yang mungkin terjadi sehubungan dengan fraktur maksila antara lain:4 1. Sinusitis Terjadinya obstruksi jalan nafas perioperatif dan postoperatif jarang terjadi pada fraktur maksila tunggal. Epiphora 11. Reaksi benda asing 12.

Kebutaan postoperatif imediet dapat merupakan komplikasi reduksi pada fraktur Le Fort III (atau fraktur yang melibatkan orbita) dan terjadi akibat peningkatan hemoragi atau tekanan intraorbital. atau jika arteri sebagian terpotong. 4 Aneurisma dan pseudoaneurisma merupakan komplikasi trauma pada maksilofasial tetapi jarang terjadi akibat 240 . Kebutaan jarang terjadi sehubungan dengan fraktur midfasial dan paling sering terjadi pada pola fraktur yang melibatkan orbita. maka dapat terjadi komplikasi yang berhubungan dengan penglihatan. dan menekannya fragmen tulang pada nervus optikus. Hemoragi dari arteri utama harus segera ditangani. Hematom yang ada. frontal. maka perlu dilakukan arteriografi dan embolisasi.4 Karena kedekatan maksila dengan orbita.gangguan jalan nafas. hemoragi retrobulbar. Pada perdarahan tulang sebaiknya dilakukan reduksi ulang atau menggunakan bone wax. Laserasi sebaiknya diperiksa ulang sehingga hemoragi dapat dikontrol. dan maksila. Faktur pada septum nasal yang tidak diperbaiki dapat menyebabkan terjadinya obstruksi jalan nafas postoperatif yang akan tetap ada hingga semua pembengkakan jaringan lunak hilang. Fraktur pada dasar orbita yang tidak terdiagnosa atau ditangani dengan tidak adekuat (sendiri atau kombinasi dengan komponen zigoma) dapat menyebabkan terjadinya enopthalmus dan diplopia. karena fraktur dapat mengobstruksi duktus sinus atau ostia. Sinusitis akut atau kronik dapat juga terjadi pada sinus ethmoid. spasme arteri retinal. fraktur maksila tersendiri. Perlu dilakukan prosedur pembedahan kedua untuk memperbaiki komplikasi tersebut.4 Hemoragi post operatif dapat terjadi jika arteri dan vena tidak diligasi ketika memperbaiki laserasi. maloklusi) atau pemeriksaan radiografi postoperatif. 4 Sinusitis akut dapat terjadi akibat tindakan intubasi trakheal yang berkepanjangan. Komplikasi ini dapat diidentifikasi melalui pemeriksaan klinis (misal. apabila sumbernya tidak dapat diidentifikasi. sebaiknya didrainase. jika reduksi tulang inadekuat dapat menyebabkan perdarahan berlanjut. sphenoid. 4 Komplikasi postoperatif lain yaitu salah penempatan segmen tulang atau alat fiksasi. jika terjadi aneurisma. seringkali dengan mekanisme jejas yang lebih berat.

241 . Perkembangan baru dengan memakai miniplate dan skrup untuk menghasilkan fiksasi dari reduksi fragmen yang rigid dengan mengurangi waktu perawatan dan mempercepat penyembuhan. Pengenalan tanda. Perawatan dengan memakai metode tertutup atau terbuka disesuaikan denga indikasinya masing-masing. Dish face. malunion dan lain-lain. 7. II. Mobilitas seluruh rahang atas atau setengah wajah yang menandakan lepasnya kontinuitas maksila dengan basis cranial. 5. Kehilangan kesadaran. pemeriksaan klinis dan didukung dengan pemeriksaan radiology demi tercapainya perawatan yang tepat pula.tanda khas terjadinya fraktur Le fort I. III seperti: Elongasi fasial. Immobilisasi segmen fraktur merupakan aspek perting untuk mencegah terjadinya kegagalan perlekatan (malunion ). Open bite klasik. Perhatikan komplikasi yang menyertai fraktur maksila seperti Perdarahan yang hebat. 3. Sebaiknya klinisi membuat diagnosa yang tepat dengan memperhatikan anamnesa. 4. 2.BAB IV KESIMPULAN Dari penjabaran tentang fraktur maksila secara umum tadi dapatlah diambil kesimpulan bahwa: 1. 6. Perawatan dilakukan sesegera mungkin untuk mensegah terjadinya komplikasi seperti infekasi. Obstruksi jalan nafas dan Kebocoran cerebrospinal renorrhoe.

Fonseca.2. S. 8. Pedlar.medscape. U. Facial Trauma. 5th ed. Moe. J and Frame J.W.Dallas: Saunders.W. Peterson. Oxford: Blackwell-Science. Oral and Maxillofacial Trauma vol. Jakarta: EGC. 3.htm 9. Ellis. http://emedicine. 5. Oral and Maxillofacial Surgery. 2004. Edward. 2004. G. Pedersen. Principles of Oral and Maxillofacial Surgery.DAFTAR PUSTAKA 1.. 2005.com/article/1283568- 242 . 2. Louis: Elsevier. http://www. Assesment of Patients with Facial Fractures. 10. Contemporary Oral and Maxillofacial Surgery. 5th ed. St. Hamilton: BC Decker Inc. Edinburg: Curchill Livingstone. 2001. 2008. Hupp. Principles of Oral and Maxillofacial Surgery. K. James R. 2001.S. Maxillary and Le Fort Fractures Treatment & Management. Moore. 6. Buku Ajar Praktis Bedah Mulut.R. Louis: Mosby.gla. Inc. Thaller. 2009. 2nd ed. W. treatment#a1135.uk/ibls/US/cal/anatomy/trauma/maxillaclinfeat. McDonald. 2000. 4.J. St.ac. 7. 1996. Miami: Marcel Dekker.S.

Reduksi. gambaran radiografi. fiksasi. Fiksasi 243 . perawatan serta komplikasi yang dapat terjadi pada fraktur komplek zygoma. dan berada pada urutan kedua setelah fraktur nasal. dan imobilisasi. di antaranya fraktur zygoma4. Penatalaksanaan fraktur zygoma pada dasarnya sama dengan penatalaksanaan fraktur maksilofasial lainnya yaitu meliputi reduksi. Kata kunci : Fraktur Kompleks Zygoma. Fraktur zygoma merupakan cedera wajah yang sering terjadi. Jejas yang mengenai jaringan keras dapat merupakan suatu fraktur tulang. Namun karena strukturnya yang kompleks tentu saja penatalaksanaannya pun lebih rumit. Insiden yang tinggi ini kemungkinan disebabkan oleh posisi zygoma yang prominen terhadap tulang wajah2.FRAKTUR KOMPLEKS ZYGOMA Leidya Valentina Elizabeth 160121120009 Peserta Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut Dan Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Bandung Abstrak Trauma akan menimbulkan jejas baik pada jaringan lunak maupun pada jaringan keras. Maksud dari penulisan makalah ini adalah untuk memberikan gambaran mengenai gejala klinis.

Insidensi. dan aperture. dan seringkali fraktur midfasial melibatkan tulang zygoma. Tulang zygoma mempunyai struktur yang kuat. tetapi adanya penonjolan tulang membuat tulang ini juga dapat mengalami fraktur jika mendapatkan trauma yang hebat yang dapat terjadi karena pukulan atau akibat kecelakaan kendaraan bermotor. zygoma dan komplek nasoorbital ethmoid. serta membentuk penonjolan pada pipi kiri dan kanan (penonjolan malar). Tergantung dari mekanisme injuri.BAB I PENDAHULUAN Trauma pada wajah midfasial dapat menyebabkan fraktur yang melibatkan maksila. Tulang zygoma memegang peranan penting dalam menentukan lebar wajah dan juga berperan sebagai major buttress (tulang dengan struktur yang tebal. foramen. etiologi. yang menopang proporsi kraniofasial dalam ukuran tinggi. Fraktur midfasial cenderung terjadi pada sisi benturan dan bagian yang lemah seperti sutura. ekonomi. Beberapa literatur mengatakan bahwa puncak insidensi dari trauma terjadi antara dekade kedua dan ketiga dari kehidupan. Dari kebanyakan penelitian menunjukkan bahwa wanita lebih banyak terkena dari pada pria dengan rasio 4 : 1. Dalam beberapa penelitian. tergantung pada status sosial. pendidikan dan politik dari suatu populasi yang diteliti. predileksi umur dan jenis kelamin dari trauma zygoma bervariasi. yaitu antara maksila dan cranium3. Tulang zygoma mempunyai permukaan luar yang cembung dan kasar. Etiologi dari terjadinya fraktur juga dipengaruhi oleh keadaan suatu populasi penduduk dimana pada penelitian terdahulu terlihat bahwa 244 . lebar dan anteroposterior) pada struktur wajah tengah. penyebab fraktur tulang zigoma adalah kekerasan dimana pada sisi yang lain kecelakaan kendaraan bermotor juga merupakan penyebab yang sering terjadi.

Selain karena tindak kekerasan dan kecelakaan lalu lintas. luka tembakan atau berupa fraktur patologis. benturan sewaktu olahraga. diperkirakan hanya terjadi sebanyak 4% dari 4067 kasus fraktur zygoma dalam sepuluh tahun yang dilaporkan oleh Ellis dan kawan-kawan. tulang zygoma kiri adalah yang banyak terkena. Keadaan ini berbeda dengan keadaan fraktur zygoma yang disebabkan karena kecelakaan kendaraan bermotor.yang banyak mempengaruhi adalah pada populasi dari area industri dengan tingkat pengangguran yang tinggi sehingga kekerasan interpersonal masih banyak terjadi. etiologi dari fraktur zygoma juga dapat disebabkan karena terjatuh. Fraktur zygoma bilateral jarang terjadi. Pada fraktur zygoma yang disebabkan oleh kekerasan. pengembalian fungsi okuler. dan kosmetik. hal ini sekaligus mengindikasikan bahwa fraktur zygoma akibat kecelakaan kendaraan bermotor lebih parah jika dibandingkan dengan kasus serupa yang terjadi akibat kekerasan. 245 . perbaikan fungsi bicara. Tujuan utama perawatan fraktur fasial adalah rehabilitasi penderita secara maksimal yaitu penyembuhan tulang yang cepat. mencapai susunan wajah dan gigi-geligi yang memenuhi estetis serta memperbaiki oklusi dan mengurangi rasa sakit akibat adanya mobilitas segmen tulang. fungsi hidung. dan mereka juga menemukan bahwa fraktur bilateral hanya terdapat pada kasus kecelakaan. fungsi pengunyah. kecelakaan pabrik. fungsi. yang disebabkan oleh suatu penyakit. Penanganan yang tepat dapat menghindari efek samping baik anatomis.

Anatomi dan letak tulang zygoma 3 Zygoma memiliki empat proyeksi yang menciptakan bentuk quadrangular atau tetrapod yang meliputi: bidang frontal. maksila. Kedua penonjolan arcus ini bersama-sama membentuk arcus zygomaticus. temporal. dan zygomaticosphenoid (Gambar 1b). dan infraorbital.1 ANATOMI TULANG ZYGOMA Tulang zygoma merupakan bagian dari dinding lateral dan dasar rongga orbita (Gambar 1a).BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. tetapi bila mendapat trauma atau pukulan hebat mudah patah. temporal. dan sphenoid. Tempat-tempat yang mudah patah adalah sutura 246 . zygomaticotemporal. zygomaticomaksilaris. yaitu: sutura zygomaticofrontal. Pada beberapa individu membentuk lateral atas dari pada sinus maksilaris. Gambar 1a. maksilaris. Fraktur kompleks zygoma meliputi gangguan pada keempat sutura yang berartikulasi. Zygoma berartikulasi dengan empat tulang: frontal. Tulang ini mempunyai satu tonjolan yaitu processus temporalis ossis zygomaticus yang menonjol ke dorsal dan berhubungan dengan processus zygomaticus ossis temporalis yang menuju ke arah ventral. Struktur tulang zygoma adalah kuat.

zygomaticus. dan oleh karena itu sebuah pemahaman gambaran anatomis orbita adalah penting untuk mereka yang merawat cedera ini. sutura zygomatikotemporalis dan sutura zygomatikosphenoid.sphenozygomatika. masseter. Muskulus maseter menempel pada aspek inferior dari zygoma. 247 . Dasar orbita melandai kearah inferior dan yang paling pendek pada dinding orbita. Beberapa muskulus yang melekat pada tulang zygoma : m. permukaan orbita pada tulang zygomatik. dan prosesus orbital dari tulang palatinus. rata-rata 47 mm. m. Gambar 1b. m. Pada kasus fraktur adanya rotasi inferior dari tulang zygoma setelah penatalaksanaan reduksi dapat disebabkan karena lokasi m. pterygoideus externa. m. maseter ini. Ia terdiri dari lingkaran orbita maksila. sutura zygomatikomaksilaris. temporalis. pada tulang zygoma juga melekat dua buah ligamen yaitu ligamen kapsular dan ligamen temporomandibular. Orbita adalah piramid quadrilateral yang berbasis anterior. Selain otot-otot. Perlekatan otot-otot dan sutura 2 Seluruh fraktur kompleks zygomatik melibatkan dasar orbita. levator labii superior dan m.

bibir atas.Dinding medial dan lateral berkonvergen di posterior pada apeks orbital. Mereka diinervasi oleh nervus kranialis VII. fasial. dan sebagian kecil dari badan sphenoid. dan temporal keluar dari foramina pada tubuh zygoma dan memberikan sensasi pada pipi dan daerah temporal anterior. Fossa glenoid dan eminensia artikularis terlokasi pada aspek posterior prosesus zygomatikus tulang temporal. (Gambar 2) Gambar 21 Saraf sensori yang berhubungan dengan zygoma adalah divisi kedua nervus trigeminal. Hal ini memberikan sensasi pada pipi anterior. Otot masseter menginsersi sepanjang 248 . Otot-otot ekspresi wajah yang berasal dari zygoma termasuk zygomaticus mayor dan labii superioris. Cabang-cabang zygomatik. Nervus infraorbital melewati dasar orbital dan keluar pada foramen infraorbital. hidung lateral. Dinding medial terdiri dari prosesus frontal maksila. lingkaran orbital ethmoid. dan geligi anterior maksila. Dinding orbital lateral adalah yang tertebal dan terbentuk oleh zygoma dan gerater wing dari os sphenoid. Arcus zygomatikus termasuk prosesus temporal zygoma dan prosesus zygomatik dari tulang temporal. Dasar orbital terdiri dari tulang frontal dan sayap yang lebih kecil dari sphenoid. tulang lakrimal.

Gambar 42 249 . Fascia ini menghasilkan resistensi pergeseran inferior dari sebuah fragmen fraktur oleh penarikan kebawah dari otot masseter(Gambar 4). (Gambar 3) Gambar 32 Fascia temporalis berlekatan ke prosesus frontal dari zygoma dan arcus zygomatik.permukaan temporal zygoma dan arcus dan diinervasi oleh sebuah cabang dari nervus mandibularis.

Jackson (1989) Grup I Grup II Grup III Undisplaced fractures . Tendon canthal lateral berlekatan dengan tuberkel Whitnall. 2. 1995). Badan zygomatikus a. Undisplaced c. Segmental 250 . Gruss dkk (1990) menekankan peran pola fraktur pada zygoma untuk reduksi yang akurat dan mengklasifikasikan fraktur ini menurut tingkat keparahan tulang pada badan zygoma dan arkus zygoma (Trott et al.2 KLASIFIKASI FRAKTUR ZYGOMA Jackson (1989) membuat klasifikasi fraktur zigomatikus yang disederhanakan menurut pola dan pergeseran serta perawatannya. B. Bentuk dan lokasi dari canthi medial dan lateral kelopak mata dipertahankan oleh tendon canthal. Perlekatan ini lebih kearah medial hingga aspek posterior dari tulang lakrimal dan lateral terhadap tuberkel orbital (Whitnall) (yang adalah 1 cm dibawah sutura zygomaticofrontal pada aspek medial dari prosesus frontal dari zygoma).pembukaan dan fiksasi Displaced ‘tripod’ fractures (low velocity) – elevasi sederhana atau elevasi. Intact b.tidak ada perawatan Localized segmental fractures .Posisi bola mata dalam hubungan dengan aksis dipertahankan oleh ligamen suspensori Lockwood. Fraktur kompleks zygomatik seringkali dibarengi dengan sebuah antimongoloid (kearah bawah) dari daerah canthal lateral yang disebabkan oleh pergeseran zygoma. Tendon canthal medial berlekatan dengan krista lakrimal anterior dan posterior. A. Gruss dkk (1990) 1. pembukaan dan fiksasi Grup IV Displaced comminuted fractures (high velocity) – pembukaan luas dan fiksasi multipel.

Fraktur ini disebabkan oleh pukulan langsung terhadap penonjolan dari tulang zygoma. Fraktur ini disebabkan oleh pukulan langsung pada arkus zygomatikus. 2. 4. Fraktur tanpa displacement. Arkus Zygomatikus a. Fraktur arkus zygomatikus dengan displacement. Undisplaced c. 251 . Fraktur zygoma dengan perputaran ke median. Fraktur zygoma tanpa perputaran. Displaced e. menyebabkan busur ini melekuk ke dalam tanpa mempengaruhi sinus maksilaris ataupun rongga mata.d. sehingga terjadi fraktur dan pergeseran tulang langsung ke dalam sinus maksilaris. Dalam pemeriksaan radiologis timbul pergeseran ke bawah dari tepi infra orbita. Dalam hal ini tidak diperlukan penatalaksanaan. Comminuted 2. tetapi tidak memperlihatkan pergeseran. hanya retakan saja. 3. pergeseran pada sutura zygomatikofrontalis dan penonjolan tulang zygoma ke dalam. Displaced : inferior dengan depresi dan lateral e. 1. ke dalam dan sedikit mengarah ke bawah sehingga pipi menjadi rata dan terjadi perubahan bentuk pada tepi infra orbital. Menurut Knight dan North. Segmenta d. Intact b. Pada umumnya tulang terdorong ke belakang. fraktur zygoma dapat dikalsifikasikan sebagai berikut2 . Comminuted C. Pemeriksaan secara radiologis menunjukkan adanya fraktur.

medial dan inferior.al mengajukan sebuah metode klasifikasi yang didasarkan pada pola segmentasi dan pergeseran3: Fraktur yang memperlihatkan sedikit atau tidak ada pergeseran diklasifikasikan sebagai cedera energi-rendah. dinding orbita lateral. 6. Fraktur kompleks. masseter pada arah posterior. sehingga tulang terdorong ke dalam dan ke belakang. Disini termasuk semua kasus dimana didapatkan garis fraktur saling menyilang lebih dari satu.025 fraktur zygomatik. Fraktur disebabkan karena pukulan di bawah sumbu datar dari tulang zygoma. sutura zygomatikofrontalis keluar atau dapat ke dalam. mengklasifikasikan cedera-cedera ini kedalam tiga kategori. Fraktur arkus zygomatikus menyebabkan depresi pada pipi karena tekanan m. Pemeriksaan radiologis memperlihatkan pergeseran keluar dari penonjolan tulang zygoma dan ke atas dari tepi infraorbita ataupun keluar sutura zygomatikofrontalis. Pada 1990. Kebanyakan fraktur zygoma terjadi pada arkus dalam meliputi lateral orbital 2. Fraktur energi-menengah memperlihatkan fraktur lengkap ( complete) pada seluruh artikulasi dengan pergeseran ringan hingga moderat. 252 .Fraktur dan pergeseran timbul karena pukulan pada penonjolan tulang zygoma di atas sumbu mendatarnya. 5. atau lingkaran infraorbita. Manson et. Fraktur tulang zygoma dengan perputaran ke lateral. Fraktur energi-tinggi ditandai dengan serpihan pada orbit lateral dan pergeseran lateral dengan segmentasi pada arcus zygomatik (Gambar 6). Fraktur-fraktur tipe A adalah fraktur energi rendah tidak lengkap dengan fraktur hanya pada satu pilar zygomatik: arcus zygomatik. Fraktur incomplete (tidak lengkap) pada satu atau lebih artikulasi dapat terlihat. ke dalam dan ke bawah. Pemeriksaan radiologis memperlihatkan pergeseran ke bawah dari tepi infraorbital. Serpihan mungkin dapat timbul (Gambar 5). dalam sebuah tinjauan pada 1. sehingga tulang yang mengalami fraktur tergeser ke belakang. Zingg dan kolega.

Fraktur “multifragmen” tipe C termasuk fragmentasi badan zygomatik. apakah dalam keadaan sadar atau tidak.  Pemeriksaan fisik Hal ini penting untuk menentukan rencana penatalaksanaan yang akan dijalankan. Jennet dan Teasdale memperkenalkan sistem Glasgow Scale (GCS) untuk melihat tingkat kesadaran. Untuk menegakkan diagnosa fraktur tulang zygoma dilakukan pemeriksaan :  Riwayat kecelakaan Riwayat kecelakaan dapat diketahui dengan memberi pertanyaanpertanyaan kepada penderita untuk memperoleh keterangan yang objektif. telinga atau hidung. Bila penderita tidak dapat memberi keterangan-keterangan tersebut. Skala ini menggunakan 3 parameter: Eye opening. nilai 9-12 untuk moderate head injury dan nilai antara 13-15 untuk mild head injury9. yang ditandai dengan 253 .Fraktur tipe B mengacu pada fraktur “monofragmen” lengkap dengan fraktur dan pergeseran disepanjang keempat artikulasi. Keadaan penderita sewaktu terjadi kecelakaan harus diketahui. Kecelakaan yang serius dapat menyebabkan kolaps. 2. dapat kita tanyakan kepada pengantar yang melihat terjadinya kecelakaan. Bila riwayat secara lengkap tidak dapat ditanyakan kepada penderita atau pengantar penderita.3 DIAGNOSA FRAKTUR ZYGOMA Riwayat yang terperinci akan banyak membantu dalam menentukan diagnosa. maka dapat ditanyakan kemudian setelah penderita agak pulih. best motor responsen dan best verbal response dimana nilai antara 08 untuk severe head injury. Asal mula terjadinya fraktur tulang zygoma harus diketahui. apakah karena kecelakaan lalu lintas atau karena pukulan. Kolaps yang lama dan terus menerus akan menyebabkan shok. berapa lama dalam keadaan tidak sadar. terjadi muntah atau tidak dan riwayat penyakit yang pernah diderita. Selain itu diperhatikan apakah terdapat perdarahan melalui mulut.

tekanan darah rendah. Ketidaknormalan dari pinggir infraorbita dalam pemeriksaan palpasi menyatakan adanya kerusakan dari dasar orbita. 1. pupil berdilatasi dan penderita apatis. nadi cepat tetapi lemah. lateral hidung atau bibir bagian atas disebabkan rusaknya nervus infraorbitalis. 2. Retraksi dari jaringan lunak sudut mata menyatakan adanya penurunan dinding periorbita ke arah sinus maksilaris. hidung dan telinga menandakan terjadinya fraktur basis kranii. Gejala-gejala fraktur zygoma Gejala-gejala fraktur ini sangat penting untuk mengetahui tindakan penatalaksanaan apa yang harus didahulukan. Pemeriksaan telinga Bila terjadi perdarahan atau terdapat cairan serebrospinal pada satu atau kedua lubang telinga menunjukkan adanya fraktur pada petrosa tulang temporal. pernafasan cepat dan dangkal. Perdarahan dari mulut. Penderita yang berada dalam keadaan yang tidak sadar tidak boleh dilakukan operasi sebelum penderita sadar. Gejala neurologis Hilangnya perasaan pada perabaan (anesthesia) dari kelopak mata bawah. Misalnya pada fraktur tulang zygoma yang serius sehingga menyebabkan pecahnya basis kranii. Diplopia disebabkan karena kerusakan dari syaraf infraorbita. Gangguan dari pergerakan bola mata disebabkan karena otot-otot penggerak mata terjepit sehingga fungsinya terganggu. Ketidaksadaran yang lama menandakan adanya kontusio cerebri. Bila nervus zygomatikofasialis atau nervus zygomatikotemporalis rusak menyebabkan hilangnya perasaan pada pipi dan temporal bagian depan. Kerusakan dari syaraf fasialis menyebabkan Bell’s palsy yaitu sudut mulut terkulai dan mata tidak bisa mengedip. Pemeriksaan mata Pupil berdilatasi menandakan adanya shok. penderita harus segera dibawa ke bagian neurochirurgis. dingin dan pucat. 4. kulit lembab. Perdarahan pada tulang telinga menunjukkan pecahnya basis kranii. 254 . bibir dan kuku stanosis. 3.

superior dan inferior 3. retraksi dari sudut mata.5. 6. Inspeksi dilakukan dari bagian frontal. hematoma. Ahli bedah menginspeksi dari atas. Pemeriksaan visual Diagnosa yang langsung dapat dilihat dari gambaran karakteristik yang segera dapat dikenali yaitu muka terlihat asimetri karena adanya pendataran kontur pada pipi yang mengalami fraktur. dibandingkan sisi yang satu dengan yang lain3. level pupil. memberikan tekanan pada jaringan yang edema guna palpasi dan mengurangi efek visual dari edema secara simultan. 255 . Harus dicatat tingkat simteris. Gambar 51 Pasien dapat ditempatkan dalam posisi berbaring atau bersandar dikursi. sepanjang zygoma. Pada saat akan melakukan pemeriksaan dengan posisi seperti ini akan memudahkan untuk menempatkan posisi jari telunjuk di bawah tepi infraorbita. Pandangan superior juga membantu dalam mengevaluasi kemungkinan terjadinya depresi dari arkus zygoma. unilateral epistaksis.7. lateral. mengevaluasi bagaimana proyeksi anterior dan lateral dari zygoma terhadap tepi supraorbital. Pemeriksaan dengan cara palpasi Pemeriksaan zygoma meliputi inspeksi dan palpasi. adanya edema orbital dan ekimosis subkonjungtival dan proyeksi anterior dan lateral dari zygoma. Hilangnya ekspresi pada pipi yang mengalami fraktur. Tidak boleh dilupakan untuk melakukan pemeriksaan intraoral. penurunan bola mata pada sisi yang fraktur. Metoda yang paling berguna untuk mengevaluasi posisi dari tubuh zygoma adalah dari pandangan superior (.

256 . Palpasi harus dilakukan dengan sistematik dan teliti. dimana kelopak mata mungkin tertutup karena bengkak. palpasi seringkali harus dilakukan dengan cara yang halus. Tonjolan zygoma dari maksila dipalpasi dari dalam mulut dengan satu jari. Sama halnya dengan fraktur arkus zygoma yang mungkin kurang mengakibatkan gangguan okuler dibandingkan dengan fraktur kompleks zygoma.1 TANDA DAN GEJALA FRAKTUR ZYGOMA Adanya tanda dan gejala serta keparahannya sangat tergantung pada luas dan tipe dari luka zygoma. Pendataran dari tonjolan pipi. 2. untuk mengetahui adanya hematoma atau irregularitas3. dibandingkan dengan sisi yang berlawanan. dimana sering ditemukan fraktur dengan melakukan palpalsi di bagian dalam dari tepi orbita yang berlawanan arah sepanjang aspek lateral. Ekimosis dan edema periorbital. Tepi orbita lateral dipalpasi dengan jari telunjuk dan ibu jari. Jari telunjuk juga digunakan sepanjang aspek bagian dalam dari tepi orbita lateral. Bengkak yang seringkali masif mungkin terjadi dan paling dramatis pada jaringan periorbital. 2. Bila terdapat fraktur.karena fraktur zygoma sering disertai dengan ekimosis pada sulkus bukalis superior dan oleh fraktur dentoalveolar maksilaris. dibandingkan antara sisi yang satu dengan yang lain. Tubuh dan arkus zygoma paling baik dipalpasi dengan dua atau tiga jari yang bergerak secara melingkar. Tepi orbita dipalpasi dulu. Tanda dan gejala berikut ini bisa menyertai fraktur zygoma dan oleh karena itu harus dievaluasi3 : 1. Misalnya. Ekimosis mungkin hanya terdapat pada kelopak mata bawah dan derah infraorbita atau di sekitar seluruh tepi orbita.3. pendataran wajah akan lebih nyata pada cedera pada zygoma yang displaced dibandingkan dengan fraktur yang nondisplaced. Edema dan perdarahan ke dalam jaringan ikat longar dari kelopak mata dan derah periorbital adalah tanda yang paling umum yang menyertai fraktur tepi orbita. Tepi infraorbita dipalpasi dengan jari telunjuk yang secara ritmik digerakkan dari sisi yang satu ke sisi yang lain sepanjang tepinya.

Nyeri. khususnya di daerah tonjolan zygomatikus dari maksila. Tanda yang penting dari fraktur zygoma atau fraktur maksila adalah ekimosis pada sulkus bukalis maksila. 257 . 7. 4. karena nyeri bisa ditimbulkan karena cedera pada jaringan lunak atau fraktur maksila. Palpasi dari sisi fraktur juga akan menimbulkan rangsangan nyeri. Tidak adanya nyeri menunjukkan tidak adanya fraktur. Ekimosis ini bisa terjadi meskipun hanya dengan sedikit gangguan pada maksila lateral atau anterior dan seharusnya tanda ini dicurigai sebagai fraktur zygoma. Pendataran mungkin sulit untuk dilihat segera setelah terjadinya cedera jika terdapat edema. Deformitas pada tonjolan zygomatik dari maksila. nyeri hebat bukan merupakan gambaran yang normal dari cedera zygoma meskipun pasien akan mengeluh karena merasa tidak nyaman sehubugan adanya memar. namun biasanya dapat diperoleh dengan menekankan jari telunjuk pada jaringan lunak darah zygoma dan membandingkan satu sisi dengan yang lainnya dari sebelah atas pasien. Juga sering teraba fragmen tulang yang remuk. Jika pada manuver ini tidak teraba tenderness. Palpasi intraoral dari aspek anterior dan lateral dari maksila seringkali menunjukkan irregularitas dari permukaan halus yang normal. tetapi adanya nyeri belum tentu ada fraktur. khususnya jika terdapat distraksi dari sutura frontozygomatikus dan rotasi dan atau remuknya bagian medial. Pendataran di atas arkus zygoma. 3. Ekimosis dari sulkus bukalis maksila. yang menimbulkan krepitasi.Ini adalah tanda yng paling biasa ditemukan pada cedera komplek zygoma yang dilaporkan 70-86% kasus. Kecuali jika ada pergerakan dari segmen fraktur. 5. 6. mungkin tidak terdapat adanya fraktur. Deformitas dari tepi orbita. Lekukan yang khas atau hilangnya kurvatura cembung yang normal dari daerah temporal menyertai fraktur dari arkus zygoma.

Deformitas ini sering ditemukan pada tepi infra orbita dan tepi orbita lateral bila terjadi fraktur zygoma. Gejala penting yang ditemukan pada kira-kira 50-90% dari cedera komplek zygoma adalah berkurangnya sensasi nervus infraorbitalis. Anestesia infraorbital terjadi bila fraktur yang melalui dasar atau maksila naterior menyebabkan robeknya. anestesia nervus orbitalis mulai dirasakan. Epistaksis. perdarahn unilateral dari hidung yang mungkin terjadi adalah kira-kira 30-50% dari cedera komplek zygoma. terpotongnya atau kompresi dari nervus infarorbitalis sepanjang kanalis atau 258 . terjadi pada kira-kira sepertiga kasus. 8. Kebanyakan fraktur melalui dinding sinus yang hanya mengalami sedikit perubahan posisi akan merobek mukosa yang melapisinya. Meskipun sulit untuk membedakan antara anestesia dari sensasi yang berubah pada penelanan. 10. Temuan lain adalah terdapatnya deviasi kearah sisi yang fraktur pada saat mulut dibuka.Fraktur yang terjadi sepanjang tepi orbita seringkali menimbulkan celah atau deformitas jika terjadi displacement. Parestesi nervus infraorbitalis lebih sering terjadi pada fraktur dengan perubahan posisi daripada yang tidak. Terbatasnya kemampuan untuk membuka mulut sering terjadi bersamaan cedera zygoma. Karena sinus maksilaris dialirkan ke hidung melalui meatus tengaha. Alasan yang sering dikemukakan untuk terjadinya trismus pasca fraktur adalah bergesernya prosesus koronoideus mandibula pada fragmen zygoma yang berubah posisi. 9. Penjelasan yang lebih mendekati adalah spasme otot yang terjadi sekunder terhadap pergeseran oleh fragmen yang berubah posisi. Sebenarnya terjadinya pergeseran ini pada sebagian besar kasus masih meragukan. menghasilkan perdarahan internal. mungkin terjadi perdarahan pada sinus tersebut. jaringan edema. dan lebih banyak lagi terjadi pada fraktur tertutup dari arkus zygoma (45%). Sensibilitas saraf yang abnormal. khususnya pada otot temporalis. Apabila mukosa sinus mengalami gangguan. karena diperlukan perubahan posisi yang cukup besar untuk menyebabkan gangguan mekanik. yang pada saat bengkaknya berkurang. Trismus.

ekimosis subkonjungtiva biasanya tidak mempunyai batas posterior dan kan tampak berwarna merah cerah sesuai dengan kemampuan oksigen untuk menyebar melalui konjungtiva untuk pengumpulan darah. bibir atas dan bagian lateral hidung. Terganggunya nervus orbitalis akan menyebabkan anestesia kelopak mata bawah. dengan robekan pada mukosa yang melapisi. tetapi potensi untuk terjadinya emfisema udara konstan. 13. Hal ini yang paling mudah dikerjakan dengan jalan memutarkan dua jari dengan lembut diseputar jaringan. Ekimosis subkonjungtiva. cenderung terinflasi oleh udara karena kehilangan sifat areolar. Mungkin disertai retak yang sangat tipis melalui tepi orbita jika periosteum telah robek. Gejala tersebut bisa mempengaruhi sensitivitas gigi dan gusi maksila. Jaringan lunak dari daerah periorbita terutama kelopak mata. yang menunjukkan emfisema subkutan. 12. menyebabkan udara bergerak menuju jaringan lunak wajah jika tekanan diantara sinus lebih besar daripada tekanan didalam jaringan. 11. Perubahan posisi dari celah palpebra. perdarahan yang mungkin terjadi dapat terskumulasi pada lokasi subperiosteal dan tidak tampak dibawah konjungtiva. Bila terjadi. Hal ini tidak umum ditemukan pada fraktur zygoma. Fraktur yang melalui dinding sinus. sekitar 5070% kasus. Kehadirannya tidak mengesampingkan adanya fraktur tepi orbita. Signifikan dari emfisema ini adalah berpotensi terjadinya infeksi melalui hubungan antara sinus dan jaringan lunak. Emfisema ini akan menghilang secara spontan dalam 24 hari tanpa perawatan. 259 . karena tidak adanya gangguan dari periosteum. Perubahan posisi dari zygoma juga termasuk palpebra yang menempelnya. Krepitasi dari emfisema udara. Ligamentum palpebra lateralis menempel pada bagian zygoma dari tepi orbita.foramennya. Jika terjadi inflasi dapat dilakukan palpasi dan menimbulkan krepitasi. yang akan memproduksi sensasi “crackling” yang khas. Perdarahan subkonjungtiva sering ditemukan pada fraktur zygoma. Bila garis fraktur terjadi lateral dari jalur dan foramen infraorbital (lebih jarang terjadi) nervus infraorbitalisnya akan terselamatkan.

hilangnya dukungan tulang dari isi orbita dan perubahan posisi dari kapsul tendon dan ligamentum suspensorium dari bola mata. yang sering menyertai fraktur zygoma. memerlukan perhatian segera dari ahli mata. Diplopia binokular. Forcep kecil digunakan untuk memegang tendon rektus inferior 260 . 15. dimana kaburnya pandangan hanya terjadi bila melihat dengan kedua mata secara bersamaan. Dengan adanya gangguan dasar orbita dan bagian lateralnya. yang paling banyak adalah terperangkapnya otot. menyebabkan lekukan yang menurun ke celah (kemiringan antimongoloid). dimana pupil pada bagian yang terkena terletak lebih rendah daripada normal. Pada waktu zygoma mengalami perubahan posisi pada arah anterior. Petunjuk yang bermanfaat untuk membedakan penyebab dari diplopia adalah temuan bahwa edema yang menyeluruh dari orbita biasnya menyebabkan diplopia pada pandangan keatas dan kebawah yang ekstrim. Diplopia monocular atau kaburnya pandangan dari satu mata. Kuarngnya gerakan mata yang hampir lengkap dalam satu arah terjadi dengan pengaruh mekanis atau cedera neuromuskuler. hal ini biasa terjadi kira-kira 10-40% dari cedera zygoma. Karena sekat orbita menempel pada tepi infraorbita. hifema atau cedera traumatik lain dari bola mata. Diagnosa diplopia bisa sangat sulit pada tingkat awal dimana edema atau perdarahan bisa berkurang dalam beberapa hari namun terperangkapnya jaringan orbita tetap tidak berkurang. Keadaan ini tampak secra klinis berupa level pupil yang tidak sama. Adalah nama yang diberikan untuk gejala pandangan kabur. perubahan posisi inferior atau posterior dari tepi orbita inferior menyebabkan tekanan pada kelopak mata yang lebih rendah. Level pupil yang tidak sama. karena biasanya menunjukkan lepasnya lensa. Diplopia. 14. Penting untuk membedakan antara dua jenis diplopia.menghasilkan deformitas visual yang dramatis. ligamentum palpebra lateralis juga tertekan. sementara yang satu tertutup. sehingga tampak memendek. Dapat ditentukan apakah pada fraktur terdapat isi orbita yang melalui dasar orbita dengan forced duction test. Kondisi ini mungkin menyebabkan lebih banyak sklera yang terekspos di bawah iris dan tampak ektropion yang nyata.

Fraktur zygoma yang menunjukkan gejala enoftalmus kira-kira 5% dari seluruh kasus sebelum dilakukan perawatan. Ini adalah diagnosa yang sulit dilakukan pada keadaan akut kecuali pada kondisi yang sangat berat. dan bola mata dimanipulasi melalui seluruh arah gerakan. dan serpihan dan untuk mengevaluasi jaringan lunak orbital. Tomografi Komputasi CT adalah standar emas untuk evaluasi radiografi fraktur zygomatik. Radiografi membantu untuk konfirmasi dan untuk dokumentasi medikolegal dan untuk menentukan perluasan cedera tulang. pada umumnya disebabkan oleh perubahan posisi lateral dan inferior dari zygoma atau gangguan dinding orbita lateral dan inferior. Jika cedera zygoma sudah menyebabkan kenaikan volume orbita.3. Secara spesifik. enoftalmus akan tampak lebih nyata dan seringkali dihubungkan denga terjadinya ptosis bola mata. yang menyebabkan pseudoptosis dari kelopak atas. dapat enoftalmus.melalui konjungtiva dari forniks inferior. A). derajat pergeseran. dimana edema pada jaringan lunak sekitarnya selalu menimbulkan enoftalmus relatif. 16.2 PEMERIKSAAN RADIOGRAFIS Diagnosa fraktur zygomatik biasanya dibuat dengan pemeriksaan riwayat dan fisik. Pada saat bengkaknya sudah hilang. Manifestasi klinik dari enoftalmus dititikberatkan pada sulkus kelopak atas dan penyempitan fisur palpebra. pemindaian CT memberikan visualisasi dan dasar-dasar dari tengkorak wajah tengah: dasar-dasar nasomaksilaris. 261 . pada bidang aksial dan koronal. infraorbital. adalah standar untuk seluruh pasien dengan dugaan (suspect) fraktur zygomatik. Ketidakmampuan rotasi bola mata ke arah superior menunjukkan secara pasti terperangkapnya isi orbita dan paralisis yang disebabkan oleh edema atau cedera neuromuskuler. Enoftalmus. Gambaran aksial dan koronal didapat untuk menentukan pola fraktur. 2. zygomaticomaksilaris. atau keduanya atau mengakibatkan berkurangnya volume dari isi orbita yang disebabkan oleh herniasi dari jaringan lunak orbita. Hal ini harus dilakukan secara rutin pada individu yang tidak bisa menggerakkan bola mata ke arah atas. Pemindaian CT pada tulang wajah.

B). Radiograf Biasa Pemindaian CT (CT scan) telah menggantikan film biasa untuk diagnosa dan penanganan fraktur kompleks zygomatik. sebuah pengetahuan kerja fundamental pada teknik ini diperlukan. Pada banyak ruang emergensi dan rumah sakit.terlihat gambaran displaced fraktur arkus zygomatikus sinistra. Jendela jaringan lunak. orbita lateral. C. Submentovertex view. B. Ketika hal ini dikombinasikan dengan sebuah Water’s view yang 262 . memberikan visualisasi sinus-sinus. Ia adalah sebuah proyeksi posteroanterior dengan kepala yang terposisi pada sudut 27° terhadap vertikal dan dagu berada pada kaset (cassette). Hal ini memproyeksikan piramida petrosa jauh dari sinus maksilaris. Radiograf tunggal terbaik untuk evaluasi fraktur kompleks zygomatik adalah Water’s view. pada dataran koronal. A B C GAMBAR 6. Pandangan koronal khususnya membantu dalam evaluasi fraktur dasar orbita (Gambar 6A). Water’s View. terlihat gambaran zygomaticomaxillary buttress dekstra dan fraktur dasar orbital dengan herniation of orbital padamaxillary sinus. Kemampuan untuk membaca dan interpretasi film-film ini menjadi diagnosa dan merawat pasien-pasien ini adalah penting.zygomaticofrontal. A. dan lingkaran infraorbita (Gambar 6B). dan zygomaticotemporal. zygomaticosphenoid. Meskipun demikian. pasien trauma akan masih menjalani evaluasi radiografi film biasa. terlihat gambaran fraktur kompleks zygomatic dekstra. berguna untuk mengevaluasi otototot ekstraokuler dan untuk mengevaluasi herniasi jaringan orbita kedalam sinus maksilaris. Waters’ view. Coronal CT scan.1 a.

Caldwell’s view adalah sebuah proyeksi posteroanterior dengan wajah pada sudut 15o terhadap cassette. Ia membantu dalam evaluasi arcus zygomatik dan proyeksi malar (Gambar 6C). c. sebuah pandangan stereografi dari fraktur dapat terlihat. proyeksi Water’s view terbalik memberikan informasi yang sama. b. Pada pasien yang tidak mampu mengira-ngira posisi wajah kebawah. 263 .terangkat. Caldwell’s View. Penelitian ini membantu dalam evaluasi rotasi (disekitar aksis horisontal). Submentovertex (jug-handle) view diarahkan dari daerah submandibula ke vertex tengkorak. Submentovertex View.

tang ekstraksi gigi3. Pendekatan Vestibulum Maksila Pendekatan ini paling populer. 264 .7. karena scar yang terjadi tidak terlihat. Davies mengemukakan adanya insiden kerusakan (disruption) dasar orbita sebesar 47% pada penderita fraktur zygoma.1 TEKNIK REDUKSI A). Fiksasi hanya diperlukan bila ada indikasi. pada fraktur zygoma setelah suatu tindakan reduksi. Pada kasus ini diantaranya diperlukan rekonstruksi dengan pemakaian implan dasar orbita atau graft untuk mendukung jaringan periorbita7. Jika tidak dilakukan intervensi bedah maka pasien sebaiknya diobservasi selama dua sampai tiga minggu dengan diet lunak7. Bila terjadi pergeseran fragmen maka diperlukan suatu reduksi (reposisi) dengan cara terbuka (open reduction). large Kelly hemostat. Reduksi tertutup tidak bisa dilakukan. karena kita tidak mungkin melakukan manipulasi eksternal1. Pada kasus fraktur yang tidak diikuti pergeseran fragmen ( undisplaced) atau dengan pergeseran minimal tidak diperlukan intervensi bedah. Sebagian besar ahli bedah berpendapat. 3. seperti pada fraktur communite1 Disamping itu fraktur zygoma juga sering melibatkan orbita.BAB III PENATALAKSANAAN FRAKTUR KOMPLEK ZYGOMA Tidak semua fraktur zygoma memerlukan intervensi bedah. Berbagai instrumen juga bisa digunakan dengan pendekatan ini antara lain cushing elevetor. fiksasi tidak mutlak diperlukan.

Dingman Zygomatic Elevator atau urethral sound 1. Pendekatan Supraorbital Eyebrow Pendekatan ini dilakukan untuk mendapatkan akses ke lateral orbital rim (daerah frontozigoma). Fraktur infraorbital rim.Gambar 7:reduksi melalui pendekatan vestibulum maksila2 Insisi dilakukan kira-kira 3 sampai 5 mm di atas mucogingival junction dari gigi insissivus pertama diperluas ke posterior sesuai keperluan. B). Alat yang digunakan Large Kelly hemostat. biasanya sampai gigi molar pertama. Instrumen digunakan untuk mengangkat zygoma ke anterior. Insisi dilakukan sepanjang 2 cm dan bisa meluas ke bawah eyebrow sesuai lokasi fraktur 7. lateral. Sebelum melakukan insisi. Keuntungan dari pendekatan ini adalah scar yang terjadi tersembunyi.3. dan tangan yang lain meraba infraorbital rim dan body zigoma. maksila bagian anterior dan buttress zigomatikomaksila mudah dicapai dengan pendekatan ini7. Secara estetis scar yang dihasilkan kurang tersembunyi pada pasien dengan eyebrow yang tidak meluas ke lateral dan disamping itu akses yang didapat tidak terlampau luas1.4. lebih cepat dan komplikasinya sedikit 1. 265 . sederhana.3 . operator sebaiknya meraba daerah lateral orbital rim untuk menentukan lokasi fraktur. Pada teknik ini instrumen diinsersikan pada posterior zygoma sepanjang permukaan temporal.

Pendekatan Subtarsal Pendekatan ini paling sering dilakukan untuk mendapatkan akses ke orbital rim. Gambar 9: Pendekatan pada kelopak mata atas1. Keuntungan dari pendekatan subtarsal ini adalah relatif mudah. Insisi dibuat sekurang-kurangnya 10 mm di atas tepi kelopak mata. Pendekatan Upper Eyelid (Kelopak Mata Atas) Pendekatan ini sering juga disebut upper blepharoplasty atau pendekatan supratarsal fold.3. Insisi dibuat pada lipatan kulit di kelopak mata bawah dibawah level tarsus. Insisi dilakukan pada lipatan kulit di kelopak mata atas.4 D).3. 266 . baik secara estetis dan komplikasinya minimal1.Gambar 8: Pendekatan supraorbita eyebrow (alis mata) 1. dan dasar orbita. Scar yang terbentuk didaerah ini tidak menarik perhatian1.3 C).

kemudian dilakukan insisi konjungtiva pada fornik dengan gunting. gunting kemudian diarahkan ke bawah kemudian dilakukan transeksi terhadap tendon chantal lateral (inferior cantholysis). 267 . Dengan menarik tepi kelopak. Kemudian dilakukan pemisahan (undermine) palpebra konjungtiva tepat dibawah tarsus ke arah medial sampai lacrimal punctum.4 E). Sebelum tindakan ini dilakukan pemasangan pelindung kornea (corneal shell).Gambar 10: Pendekatan subtarsal1. Pendekatan Subkonjungtiva Pendekatan ini dapat dikombinasi dengan canthotomy lateral untuk membuka dasar orbita. Salah satu ujung gunting dikeluarkan dari pocket dan dilakukan penarikan dengan retraktor. bila telah sempurna kelopak mata akan jatuh bebas. Setelah itu dilakukan diseksi tumpul pada orbital rim1. Mula-mula dilakukan canthotomy dengan menggunakan gunting jaringan pada fisura palpebra lateral dan memotong dalam arah horizontal.3.

harus diantisipasi kemungkinan terjadinya kemunduran hairline. Flap anterior dipisahkan dengan diseksi tumpul sampai kira kira 2 cm dari body lengkung dan zigoma. serta Scar yang terbentuk tidak terlihat 7. Pada tahap ini akan ditemukan jaringan ikat longggar. tapi menyediakan akses yang sangat baik ke orbita. besarnya akses ke inferior yang diperlukan.3 F). untuk keperluan ini insisi koronal dapat meluas ke lobus dari telinga7. akan terlihat permulaan lengkung zigoma. 10 menembus kulit. Kedua. sub kutis dan galea. body zigoma dan lengkung zigoma tanpa komplikasi. Pendekatan Koronal Pendekatan ini nampaknya radikal dalam penanganan fraktur zigoma. Insisi dilakukan dengan menggunakan pisau no. dilakukan diseksi 268 . Pertama hairline. maka insisi ditempatkan beberapa sentimeter dibelakang hairline. flap akan dengan cepat (mudah) dilepaskan perikranium. Dari lengkung zigoma.A B C D Gambar 11: Pendekatan subkonjungtiva1. Insisi ditempatkan atas dua pertimbangan. Tepi insisi (anterior dan posterior) diangkat 1 sampai 2 cm untuk pemasangan klip hemostatik (Raney Clips). Kemudian lapisan superfisial fasia temporal diinsisi.

Pendekatan Perkutan Ini merupakan teknik yang paling sederhana dan tidak memerlukan diseksi jaringan lunak dan bisa menggunakan beberapa instrument. kemudian penutupan scalp dengan dua lapis jahitan yaitu gelea dan kutis dengan benang 2-07. 269 . Keuntungan dari penggunaan screw ini adalah dapat dilakukan kontrol yang lebih baik dalam mengembalikan posisi zigioma.4 G).tumpul sampai ke lateral orbita dan lengkung zigoma. Gambar 12: Pendekatan koronal1. Penutupan dimulai dengan penjahitan fasia temporal. screw-nya dapat tertanam dalam zigoma pada lubang yang dibuat sebelumnya. Carol-girard screw instrument yang bisa digunakan meredukasi zigoma. Infraorbital rim dapat terlihat dengan memperluas diseksi dari lateral orbita ke medial1.3. Alat lain yang sering digunakan adalah Bone hook1.3.

Pendekatan Temporal Pada pendekatan ini dibuat insisi sepanjang 2. jika hanya memerlukan satu plate.2 PRINSIP FIKSASI Untuk mempertahankan hasil reduksi. dianjurkan untuk memasang pada prosesus frontozigomatik. insisi harus cukup dalam sampai otot temporal terlihat. Kemudian dilakukan insisi pada fasia. Gambar 14 : Reduksi melalui pendekatan temporal 1 3.3 H).Gambar 13:Reduksi melalui pendekatan perkutan 1. 270 . Pape (1997) merekomendasikan untuk menggunakan satu atau dua mikroplate pada zigomatikomaksila buttress7. Setelah itu insersikan elevator diantara fasia dan otot temporal dan didorong sampai body zigoma dan mengembalikan posisinya1.5 cm menembus kulit dan subkutis sampai terlihat warna putih yang merupakan fasia temporalis.

Teknik koreksi yang terlambat meliputi uatograft 271 . Sepertinya. pada penelian Vrien. Plate yang digunakan biasanya sebanyak 4 lubang dengan panjang 5 atau 7 mm7 3. Sebagian besar fraktur malunion dari zygoma didapatkan karena kekeliruan untuk mengetahui keparahan dari cedera atau reduksi yang tidak stabil. Komplikasi bisa saja terjadi pada masa awal periode postoperasi atau hanya menjadi manifestasi dikemudian hari. Penelitian oleh Vriens bersama mahasiswanya dan Taicher bersama mahasiswanya. telah menemukan bahwa pemulihan sensasi infraorbita yang lebih baik yang menyertai reduksi yang terbuka dan fiksasi internal pada sutura zygomatikofrontal dibandingkan dengan reduksi yang tanpa disertai dengan fiksasi. Meskipun pada sebagian besar kasus terdapat defisit kosmetik.3. reduksi anatomis pada fraktur dapat meminimalisir tekanan saraf dan dibiarkan untuk pulih. B). Paresthesia Infraorbita Insidensi perubahan sensoris saraf infraorbita yang menyertai trauma zygoma berkisar 18 hingga 83%. Namun. Malunion yang diketahui sampai 6 minggu setelah cedera masih bisa dikoreksi. A). Insidensi terjadinya asimetris bervariasi antara 3. namun angka ini hanya berdasarkan pada penilaian klinis. menggunakan teknik reduksi zygoma rutin.Pada fraktur Comminuted di infraorbital rim direkonstruksi dengan menggunakan microplate.6-27% pada seluruh fraktur komplek zigomatikomaksilaris. KOMPLIKASI Walaupun komplikasi pada fraktur kompleks zygoma dan lengkung zygoma tidak umum terjadi. tidak didapat tingkat kesembuhan yang sama pada pasien yang membutuhkan eksplorasi bagian dasar dan rekonstruksi orbita. Malunion dan asimetris Fraktur malunion dari zygoma terjadi dalam beberapa tingkat keparahan. malposisi dari tulang bisa menyebabkan penurunan fungsi mandibula. ahli bedah harus mengenali tanda-tanda dan gejala untuk dapat memberikan perawatan yang tepat.

C). radius dikwadratkan dan sedikit penambahan pada radiusnya menghasilkan pertambahan volume yang drastic. Dengan teknologi CT-scan yang lebih baik. Bagaimanapun defek yang lebih besar memerlukan reposisi kraniofasial atau penempatan tulang. kontur yang dihaasilkan mungik irreguler dan potensial terjadinya migrasi dan ekstrusi dari implan tersebut sepanjang waktu. Meskipun bahan aloplastik telah dianjurkan.maupun homograft atau bahan-bahan aloplastik dan ostektomi zygoma. mungkin saja untuk dilakukan. Grant bersama mahasiswa menjelaskan permasalahan klinis ini secara jelas dengan membandingkan bentuk orbit dan bentuk kerucut. kartilago telah terbukti lebih efektif. Gambar 151 272 . Secara klinis. kalkulasi volume orbita dan implikasinya terkait dengan fraktur pada bagian dasar orbita. Peningkatan volume orbita merupakan etiologi yang paling umum. Volume kerucut adalah ½ ( r2)h. Posisi lengkung orbita menentukan radius kerucut dan dimensi panjang anteroposterior orbita adalah tinggi dari kerucut. kesejajaran yang buruk dari lingkar orbita dapat menambah volume orbita secara signifikan dan menimbulkan enophthalmos. Untuk deformitas minor. Enophtahlmos Enophtahlmos merupakan satu dari beberapa komplikasi yang paling mengganggu yang menyertai fraktur-fraktur zygoma. Fraktur pada bagian dasar orbita juga merupakan akibat dari enophthalmos dengan pertambahan volume orbita (Gambar 15). Pada rumus ini.

Akses yang luas dengan oetotomy zygoma. Ukuran pada kerusakan orbita dan tonjolan abnormal pada jaringan orbita juga telah diteliti. atau VI cranial. D). Insidensinya bervariasi anatar 17 dan 83% dan tergantung dari waktu timbulnya yang menyertai kerusakan dan pola serta tingkat keparahan dari kerusakan. Re-draping dari jaringan lunak periorbital termasuk itu canthopexy juga diperlukan. mengakibatkan enophthalmos yang siginifikan (>2mm). dan kerusakan saraf III. Pada umumnya. terjepitnya otot-otot ekstraokular dan jaringan orbita. Mereka mengajukan hipotesis bahwa hal ini bisa saja merusak contractility dan mengurangi terjadinya penyimpangan otot-otot. Ellis bersama mahasiswa mencatat sebanyak 5. sedangkan fraktur murni memiliki insidensi yang tinggi. reposisi. Perawatan enophthalmos yang telat bisa dikatakan cukup menantang.08 cm atau rata-rata nilai jaringan yang bergeser sebesar 1. Penelitian histologist oleh Iliff bersama mahasiswanya telah menunjukan fibrosis post-traumatik pada otot-otot extraocular sebagai akibat kerusakan yang ditimbulkan. pada 4 minggu. dan grafting bisanya diperlukan.5 % insidensi diplopia. Pada tahun 2002. atau neurogenic bisa saja diatasi 273 . Fraktur kompleks zygoma non-displaced dan fraktur lengkung zygoma yang terisolir memiliki insidensi diplopia terendah. CT scan pada bagian axial dan coronal serta konsultasi dengan ahli mata perlu dilakukan untuk membantu pelaksanaan evaluasi.4 hingga 74. IV. Diplopia Diplopia merupakan kondisi abnormal (sequel) pada fraktur bagian tengah wajah.Raskin bersama mahasiswa menunjukan bahwa pertambahan sebesar 13% pada volume orbita. dikaitkan dengan enophtahlmos dengan ukuran lebih besar dari 2 mm. hematoma. Ploder bersama mahasiswa menjelaskan bahwa nilai rata-rata area fraktur sebesar 4. Penyebab-penyebab utama diplopia antara lain adalah edema dan hematoma. Pada pengamatan 2067 kasus fraktur kompleks zgoma. Diplopia yang berhubungan dengan edema. kira-kira 1 cm3 jaringan yang bergeser sebanding dengan 1 mm enophthalmos.89 mL.

Konsultasi dengan ahli mata diperlukan. dan mempertahankan keadaan ocular normal.tanpa adanya intervensi. Penatalaksanaan hyphema terdiri atas terapi suportif termasuk itu mengatur kemiringan bagian kepala tempat tidur dan mengobati bagian mata yang rusak. Hasil akhir perawatan termasuk pula pencegahan terhadap perdarahan. Penatalaksanaan medis dengan menggunakan cycloplegic topikal. Perawatan fraktur dapat ditunda. Kondisi tersebut membutuhkan perhatian khusus atau pembedahan. dan osmotic agent juga diperlukan. Perawatan pada fraktur wajah dapat ditunda. dan betablocker. F). forehead anesthesia. ophthalmoplegia. Trauma Neuropati Optik Trauma neuropati optik dapat saja bermanifestasi sebagai kondisi yang meluas dari gambaran defisit yang ringan hingga gambaran kehilangan secara keseluruhan. Keadaannya bisa saja berupa ptosis. Diplopia yang ditimbulkan oleh entrapment membutuhkan eksplrasi dan reduksi tonjolan abnormal pada jaringan orbita (gambar 19). Sindrom Superior Orbital Fissure Sindrom orbital fissure merupakan komplikasi yang tidak umum yang menyertai trauma wajah. G). Hyphema Traumatik Trauma pada mata bisa mengakibatkan perdarahan di dalam ruang anterior-area di antara kornea dan iris yang berwarna (gambar 15). Diplopia yang menetap membutuhkan perawatan oleh ahli mata. Perawatannya bervariasi tergantung dari penyebabnya tapi bisa saja melibatkan penggunaan steroid secara sistemik atau pembedahan dengan dekompresi saraf orbital atau optik. dan fixed dilated pupil. carbonic anhydrase inhibitor. Proptosis juga mungkin terlihat 274 . Intervensi pembedahan oleh ahli mata jarang dibutuhkan. E). Konsultasi dengan ahli mata harus dilakukan. Antifibrinolitik sistemik. yang bisa saja terjadi pada 5-30% pasien.

pasien dengan keluhan sakit pada periorbital. proptosis. B. dan akut progressiveloss of vision dengan hyphema. apabila ada. Terkenanya zygoma atau arkus zygoma atau koronoidektomi mungkin diperlukan untuk memulihkan gerakan normal dari mandibula 275 . eksplorasi apeks orbital dan aspirasi hematoma retrobular. Retrobulbar hemorrhage. 3 I). Konsultasi sesegera mungkin dengan ahli mata diperlukan. Ord melaporkan insidensi sebanyak 0. Penyebab yang paling umum terjadi adalah terkenanya zygoma pada prosesus koronoid dari mandibula.fiksasi dan dilatasi pupil. Trismus Berkurangnya gerakan mandibula mungkin merupakan komplikasi yang merugikan dari fraktur zygoma.Perawatannya bisa berupa reduksi fraktur. namun dekompresi dengan canthotomy lateral dan cantholysis sebaiknya tidak ditunda ( gambar 16). A. Gambar 16 A. H). Immediate lateralcanthotomy and cantholysis were performed. steroid. Gangguan pada sirkulasi retina dapat mengakibatkan iskemi yang ireversibel dan kebutaan permanen.03% pada perdarahan retrobular posoperatif disertai dengan kehilangan penglihatan. Pengamatan pada 1405 kasus fraktur orbita. Trismus juga bisa terjadi secara sekunder akibat ankilosis fibrosis atau fibrooseus dari koronoid pada arkus zygoma. Perdarahan retrobulbar Perdarahan pada retrobular jarang terjadi namun merupakan komplikasi yang parah yang dapat mengakibatkan kerusakan awal atau koreksi operatif.

276 .

Bila terjadi pergeseran fragmen diperlukan tindakan reduksi terbuka. temporal perkutan dan 277 . koronal. kecuali atas indikasi seperti fraktur cumminuted.BAB IV KESIMPULAN Perawatan fraktur zygoma memerlukan tindakan bedah bila tidak ada pergeseran fragmen atau pergeseran minimal. Setelah tindakan reduksi terbuka tidak selalu diperlukan fikasasi. subtarsal. Untuk tindakan reduksi dapat dilakukan pendekatan supra eyebrow (alis mata). sub konjungtiva. kelopak mata atas.

com/107/40. 9. Prasetiyono A. 2003 5. Facial Trauma.html 278 . 4. 2. Management of facial fractures. Goldwasser MS. Thaller SR. Dalam : Peterson et al. Anatomy of The Human Body : The Zygomatic Bone.J. et al. Harle. 2004 7. Oral and Maxillofacial Trauma. 6. 1995. Elsevier Saunders.bartleby. Tucker MR. Churchill Livingstone. 3. Oral and Maxillofacial Trauma. 2005.. New York. WB Saunders Co. London : BC Decker Inc. McDonald WS. 3rd Ed. Thieme. St louis: mosby co. Ellis E. Hamilton. Fonseca. Feb 2005 no 1 tahun IX hal 41-50. 2005. All. Atlas of Craniomaxillofacial Osteosynthesis. Gray H. 1th ed. Penanganan fraktur arkus dan kompleks zigomatikus. David D. Indonesian journal of oral and maxillofacial surgeons. contemporary oral and maxillofacial surgery. Third Ed. Craniomaxillofacial Trauma. 1th ed. Peterson’s principles of Oral and Maxillofacial Surgery 2nd. R. Ochs MW.Vol 1. 1999. Available at : http:// www.DAFTAR PUSTAKA 1. 2004. Dalam : Miloro M et al. Philadelphia. London 8. F. et. New York : Marcel Dekker.. Bailey JS.J. Management of Zygomatic Complex Fractures. 2010..

setiap 1. kehilangan gigi incisivus.5mm.0 sampai 1. Kata kunci : Fraktur palatal. alveolar maksila. Gejala klinis fraktur ini antara lain seperti ekimosis palatal pada fraktur tertutup dan laserasi pada bibir atas atau mukosa palatal. Fraktur palatal biasanya berhubungan dengan fraktur midfasial atau panfacial. atau disruption pada hubungan oklusi pada fraktur dislokasi. menunjukkan fraktur dengan jelas. CT scan dilakukan dengan potongan yang tipis.10. dan berhubungan dengan fraktur Le Fort (8-13. 279 . FRAKTUR PALATAL Leidya Valentina Elizabeth 160121120009 Peserta Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut Dan Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Bandung Abstrak : Fraktur palatal jarang ditemukan sebagai diagnosis tunggal pada pasien dengan trauma kraniofasial.2%).

CT scan dilakukan dengan potongan yang tipis. bersama dengan apertura pyriform atau plating alveolar serta rekonstruksi pilarpilar pada fraktur Le Fort. Fraktur tidak stabil ini seringkali ditemukan pada pasien trauma maksilofacial. menunjukkan fraktur dengan jelas. Pilihan perawatan untuk fraktur palatal meliputi braket ortodontik. kehilangan gigi insisivus. Fraktur palatal jarang sebagai diagnosa tunggal pada pasien dengan trauma kraniofasial. pendekatan tahap operasi diperlukan untuk setiap kelas fraktur palatal3. Fraktur palatal ditemukan pada 8% fraktur Lefort dan jarang ditemukan sebagai fraktur palatal sendiri. Tanda klinis fraktur ini antara lain palatal eccymosis pada fraktur tertutup dan laserasi bibir atas atau mukosa palatal. dan arch bar untuk fiksasi maxillomandibular untuk fiksasi internal. 280 .5mm.BAB I PENDAHULUAN Fraktur palatal memberikan tantangan unik untuk keterampilan bedah dalam penanganan fraktur midfasial.2% berhubungan dengan kasus fraktur Le Fort. setiap 1.0 sampai 1. Untuk memastikan stabilisasi post operasi yang tepat dan restorasi oklusi sebelum cedera. dengan plate dan screw yang dipasang dibawah mukosa palatal dan periosteum. Sering kali fraktur palatal dihubungkan dengan fraktur midfasial lainnya. Biasanya berhubungan dengan fraktur midfasial atau panfasial. arch bar acylated. dan dilaporkan sebanyak 8-13. kehilangan relasi oklusal karena dislokasi fraktur.

Periosteum lebih melekat kuat pada membran mukosa di dalam kavitas oral dibandingkan dengan tulang palatal. Tanpa memperhatikan crest pada midline. pasien menderita laserasi bibir. Pada area alveolus. Adanya perubahan oklusi maksila mandibula merupakan tanda yang dapat ditemui juga. akan memberikan tanda dan gejala yang jelas. 2. Peralatan ini sangat penting terutama untuk mendiagnosa fraktur yang tidak memberikan tanda klinis yang jelas.2 DIAGNOSA Saat ini.1 ANATOMI TULANG PALATUM Palatum durum terbentuk diantara tujuh tulang pilar kraniomaksilofasial. Hampir semua segmen fraktur palatal mengalami pergeseran 281 . dengan 45% pasien menderita disruption mukosa palatal dan gingival (Gambar1b). ketebalannya antara 12 sampai 14 mm. namun menjadi lebih tebal ke arah alveolus. Tulang palatal lebih tebal pada bagian anterior dan berangsur menipis ketika mendekati palatum lunak. keduanya dikenal sebagai mukoperiosteum. Foramen terdapat dekat midline palatum dari arah anterior (dibelakang insisivus mesial) dan jauh ke arah posterior (dekat gigi molar). Pada lebih dari 65% penderita fraktur palatal. dimana beberapa kasus fraktur palatal dapat terdiagnosa (Gambar 1a).BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. Lebar dan dalam palatum keras serta lebar dan panjang mandibula menunjukkan bangunan tiga dimensi sepertiga wajah bagian bawah. Pada hampir semua pasien yang menderita fraktur palatal. hampir pada semua trauma center dilengkapi dengan peralatan CT Scanner yang sangat akurat. Palatum terbentuk dari dua tulang yang bersatu: palatum pada bagian maksila dan bagian horizontal palatum. Foramina berukuran sangat kecil dan berfungsi untuk mengimbangi struktur palatum secara keseluruhan. palatum keras relatif tipis pada regio sagital dan parasagital.5 mm. Tebal rata-rata palatal adalah 4.

Ahli bedah harus berhati-hati dalam menentukan oklusi pada penderita fraktur palatal. 282 .a) CT-scan b) Klinis fraktur palatal1 2. molar beserta alveolusnya. Type Ib : Posterolateral. meliputi gigi premolar. karena penderita dapat mengalami fraktur mandibula juga yang mana dapat mengaburkan diagnosa. gigi dan midline palatal3.3 KLASIFIKASI FRAKTUR PALATAL Fraktur palatal dibedakan berdasarkan hubungan palatal dengan alveolus maksila. meliputi gigi incisivus beserta daerah alveolusnya.baik ke arah anterior dan lateral. Type I : Fraktur Alveolar (2 type) Type Ia : alveolus anterior. Gambar 1.

daerah kaninus juga ikut terlibat. Fraktur pada daerah ini berbeda dengan type Ib sebab selain daerah premolar dan molar . Type ini paling sering ditemukan pada dekade ke 2 dan ke 3 sebab garis tengah palatum belum terlalu mengeras. mmhg Type III : Fraktur Parasagital Paling sering ditemui pada dewasa (63%) sebab tulang yang tipis berada di daerah parasagital. 283 .a) Tipe II b) Tipe III 2 b) Type IV : Fraktur paraalveolar Terjadi dari arah palatal menuju alveolaris maksila dan berisi gigi-gigi insisivus. a) Gambar 3. Type II : Fraktur Sagital Fraktur type II terjadi pada daerah midline dari palatum.a) Gambar 2.a) Tipe Ia b) Tipe Ib2 b).

Type VI : Fraktur Transversal Fraktur palatal yang paling jarang terjadi.Type V : Fraktur compleks/ Comminuted Fraktur yang besar multiple. membelah maksila pada dataran koronal. a) b) Gambar 4.a) Tipe IV b) Tipe V c) Tipe VI 2 c) 284 . ke arah oblik atau comminuted fraktur kasar.

keadaan gigi geligi. Fraktur palatal tipe II.BAB III PEMBAHASAN Perawatan bedah pada fraktur palatal dimulai dengan identifikasi secara spesifik tipe fraktur. Kemungkinan perawatan yang bisa dilakukan adalah: kombinasi fiksasi internal. tekanan ke arah mesial menggunakan jari untuk mendapatkan lebar lengkung dan batas oklusal. Pendekatan bedah meliputi laserasi atau insisi longitudinal pada palatal untuk mempertahankan suplai darah pada segmen palatal. dan palatal acrylic splint pada fraktur kompleks. perhatian dilanjutkan pada fiksasi internal rigid pada daerah palatal yang fraktur. III. Dianjurkan untuk melakukan fiksasi intermaksiler selama dua atau empat minggu. paling tidak dua plate digunakan 9 satu anterior dan satunya lagi diposterior) untuk 285 . Reduksi dimulai dengan aplikasi arch bar maksila untuk memasang tension band melewati segmen alveolus maksila. Setelah fikasi intermaksiler dilepas. supaya penyatuan awal dapat dilakukan. Fraktur palatal tipe Ia bisa dirawat menggunakan Erich bar segmental atau menggunakan braket ortodontik tanpa fiksasi intermaksiler. pemakaian arch bar. dan hubungannya dengan fraktur pada maksila dan mandibula. Ketika segmen yang fraktur terlihat. IV dan VI dirawat dengan pendekatan perbagian secara urut untuk mengurangi kesalahan penyatuan segmen-segmen fraktur. Oklusi harus didapatkan sebelum merawat fraktur ini. Untuk memastikan penyatuan awal. Saat menggunakan fiksasi internal yang rigid. Kedua cara perawatan ini bisa didukung dengan pemakaian mini plate atau mikroplate menggunakan insisi gingival standar untuk Le Fort I. pasien bisa dipasangi fiksasi intermaksiler sementara. Fraktur tipe Ib bisa dirawat menggunakan arch bar pada pertemuan segmen fraktur yang terbuka di belakang pilar zygomaticomaxillary untuk menfasilitasi reduksi terbuka dengan fiksasi internal.

Acrylic splint2 Fraktur palatal tipe V membutuhkan aplikasi palatal splint akrilik untuk perawatan. Gambar 5. Pendekatan bedah meliputi laserasi. Rekonstruksi secara bedah dilakukan setelah semua stabilisasi dilakukan dan stabilisasi oklusi sudah dipastikan. fiksasi intermaksilari dipasang kembali untuk mempersiapkan fiksasi internal rigid pada segmen piriformis dan ridge alveolar. Setelah aplikasi fiksasi rigid dan penutupan insisi.menghindari terjadinya pergerakan segmen fraktur ke arah posterior. Direkomendasikan untuk memasang fiksasi intermaksiler selama 2 sampai 4 minggu diikuti dengan elastic guidance dan diet lunak sampai dilepas. Persiapan yang optimal diperlukan pada saat memperbaiki palatum yang fraktur comminuted. insisi vertikal ginggiva kemungkinan perlu dilakukan. insisi vestibular standar untuk Le Fort I. dan jika suplai darah menjadi perhatian. Pemasangan plate dilakukan di regio piriformis dan sepanjang basis pilar zygomaticomaksilaris. 286 . Fraktur comminuted pada palatum sebaiknya dirawat dengan pendekatan tertutup (close reduction) dimana suplai darah pada segmen fraktur tidak dapat dikompromikan. menghasilkan lebar lengkung daripada yang direncanakan. Model gigi diambil dari pasien untuk membuat model pembedahan di laboratorium dan membuat splint palatal.

287 .Splint sebaiknya tidak diperlebar secara interoklusal diantara mandibula dan maksila. Bisa juga diaplikasikan circumdental wire dengan atau tanpa menggunakan arch bar.

pemakaian arch bar. Perawatan bedah pada fraktur palatal dimulai dengan identifikasi secara spesifik tipe fraktur. dan palatal acrylic splint pada fraktur kompleks. keadaan gigi geligi. Kemungkinan perawatan yang bisa dilakukan adalah: kombinasi fiksasi internal. dan hubungannya dengan fraktur pada maksila dan mandibula. Fraktur tidak stabil ini seringkali ditemukan pada pasien trauma maksilofacial. 288 . Sering kali fraktur palatal dihubungkan dengan fraktur midfasial lainnya.BAB IV KESIMPULAN Fraktur palatal memberikan tantangan unik untuk keterampilan bedah dalam penanganan fraktur midfasial.

Fonseca et al. New York : Marcel Dekker. Elsevier Saunders.DAFTAR PUSTAKA 1. 2005. McDonald WS. Oral and Maxillofacial Trauma. 3. 2004. Vol 2nd. 3rd Ed. Facial Trauma.2005.Vol 1. Ellis E. Thaller SR. 2. Oral and Maxillofacial Trauma. St Louis : Elseviere 289 .

orbita dan ethmoid menjadi suatu tantangan baru baik dari cara mendiagnosa maupun rekonstruksinya pada perawatan setelah trauma.Fraktur Nasal dan Kompleks Orbita Susanti Bulan 160121120004 Peserta Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut Dan Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Abstrak: Cedera pada nasal. Sehingga memudahkan doktergigi jika mendapatkan kasus-kasus kegawatdaruratan Kata Kunci: fraktur. orbita 290 . nasal. dan arteri ethmoidal di daerah tersebut. Hal ini menjadi penting karena terdapat lacrimal apparatus. Hasil yang baik akan tercapai dengan penguasaan anatomi yang baik. perawatan yang dilakukan sedini mungkin dan proses rekonstruksi yang hati-hati. Maksud dari penulisan makalah ini adalah untuk memberikan gambaran mengenai fraktur nasal dan kompleks orbita serta perawatannya. medial chantal ligament.

jaringan lunak dan kartilago. dan lebih penting lagi perawatan mana yang paling baik untuk pasien sesuai dengan traumanya2. Fungsinya sebagai saluran udara ke saluran pernapasan bawah dan paru-paru. Perawatan fraktur nasal telah menjadi subjek dalam dunia kedokteran sejak zaman Yunani. kita dapat memutuskan pilihan perawatan mana yang akan dilakukan. Dengan mengetahui hubungan sebab dan akibat antara keparahan trauma dan derajat deformitas. Sebanyak 51% mengalami cedera pada central nervous system dimana 42% nya mengalami keluarnya cairan cerebrospinal2. Kecelakaan kendaraan bermotor sebanyak 70% dan 63% mengalami cedera pada bagian lain yang cukup parah. Untuk mendiagnosa fraktur didaerah ini biasanya ditentukan melalui pemeriksaan CT-Scan. meskipun pada mulanya tampak cukup baik4. Kemudian hidung dirawat dengan cara sederhana dan hasil akhirnya mungkin jauh dari yang diharapkan. Fraktur nasal sering kali dirawat dengan penilaian preoperative yang tidak adekuat. Fraktur tulang nasal dapat bervariasi tergantung arah dan kekuatan yang mengenainya1. dasar filosofi perawatan adalah reduksi fraktur dengan mengembalikan pada bentuk dan fungsi yang normal.BAB I PENDAHULUAN Hidung terdiri dari tulang. Perluasan disrupsi struktur nasal sehubungan dengan arah dan derajat kekuatan trauma sering kurang diperhitungkan. 50 % fraktur pada tulang fasial terpisah dari piramid nasal. Hal ini terjadi karena pada 291 . Rontgen film biasa sulit menggambarkan derajat keparahan dan lokasi dimana cedera itu terjadi. Insidensi umur dari pasien adalah 31 tahun. Selama berabad-abad. Menurut Christian. fraktur nasal paling sering terjadi pada struktur tulang fasial dan menurut Schroeder. Pada penelitian yang dilakukan Cruse dari 182 kasus trauma fasial kirakira 18% adalah fraktur nasal dan kompleks orbita.

dengan kombinasi dengan pilihan perbaikan dan penilaian keputusan yang baik. Pada makalah ini akan dibahas dan diharapkan dengan mengetahui kekuatan trauma. maka ahli bedah dapat membuat diagnosis yang benar dan memilih rencana perawatan yang tepat untuk pasien. 292 .gambaran rontgen dapat terjadi overlapping struktur-struktur tulang di daerah tersebut2.

Tidak jarang pada cedera yang parah dapat menyebabkan komplikasi intrakranial2 . Secara kosmetik.BAB II TINJAUAN PUSTAKA II. Sehingga penting diperhatikan pada saat rekonstruksi untuk mencegah telechantus. Tulang hidung dekat dengan bagian anterior dari tulang orbita dan berhubungan dengan tulang frontal. Daerah posterior dari kompleks nasal berhubungan dengan sinus ethmoidalis dan terletak ditengah dan dapat dengan mudah terkena trauma karena posisinya yang berdekatan dengan cribiform plate. dan cedera pada saraf olfaktori. dan processus maksilaris. Rekonstruksi pada daerah ini dilakukan secara hati-hati dan memerlukan kontrol terhadap volume orbita. Secara fungsional.1. tulang lakrimal. dan mulut memberikan keindahan wajah. sehingga mata. Rekonstruksi yang dilakukan satu-persatu akan mendapatkankan hasil yang maksimal. Hidung adalah suatu struktur midline sentral fasial yang mempunyai unsur kosmetik dan fungsional. Daerah ini merupakan perlekatan dari medial chantal tendon yaitu processus frontalis dan tulang lakrimal. 293 . dan kesimetrisannya adalah penting dalam membentuk simetris wajah. enophtalmos dan disfungsi dari sisem lakrimal. tulang maksila. hidung merupakan jalan masuk respirasi nasal manusia pada keadaan normal3. pipi. hidung membantu membentuk central frame wajah. Fungsi estetiknya memberikan keseimbangan. pneumocephalus. ANATOMI Daerah hidung dan Hidung-Mata-ethmoid disusun oleh cranium. orbita. Jika ada trauma maka dapat timbul cerebropinal fluid rhinorhea.

(1) os nasale (2) os. Maksilla Gambar 1: Anatomi Cranium dan os. Nasal5 Gambar 2: Permukaan dan struktur anatomi hidung 3 294 .

Lateral krus dari LLCs dapat dibagi atas menjadi daerah puncak 295 . dan cartilago adalah setengah bagian bawah. Prosesus nasalis tulang frontal dan maksila menyebabkan adanya support dari superior dan lateral. triangular sections dari cartilage hyaline yang melekat secara kuat ke superior pada tepi inferior dari tulang hidung oleh jaringan fibros konektif yang kuat. oleh karena itu bagian hidung ini harus dipertimbangkan sebagai tripod. satu septum cartilage midline. berbentuk lembaran empat persegi panjang (rectangle) yang menebal pada bagian superior. Tulang hidung sendiri adalah rata (flat). Tulang hidung adalah setengah bagian puncak. hidung dibentuk oleh gabungan antara tulang pendukung yang fleksibel dan rigid. Hubungan ini tidak tepi dengan tepi tetapi overlapping. flat. dan berinterdigitasi dengan tulang frontal dan tipis pada bagian inferior. yaitu tulang dan kartilago. ULCs mempunyai perlekatan jaringan lunak pada jaringan fibrofatty dari alae nasal dan lateral hidung. dan struktur supporting ini lebih tebal dan lebih kuat dari tulang hidung sendiri. Pada midline. Anastomosis tulang sepanjang garis sutura antara ketiga tulang adalah rigid. Secara lateral. Secara anatomi. dengan tulang nasal yang berada dibawah ULCs. penyatuan fibrous ini sangat kuat.Pernapasan mulut adalah merupakan tanda terjadinya kelainan pada saluran pernapasan atas (upper airway). dan suatu cartilage terdapat pada beberapa daerah pada jaringan lunak. kedua ULCs melekat secara kuat satu dengan yang lainnya dan kartilago kwadrangular dari septum nasal anterior. Walaupun penyatuan ini tidak kontinius. Pasangan LLCs mempunyai medial crus yang berjalan lateral dari LLCs yang berjalan dari lateral ke kartilago septum caudal. Pasangan kartilago lateral bawah. Cartilaginous hidung dibentuk kombinasi dari dua pasang kartilago lateral atas (upper lateral cartilages) (ULCs)). oleh karena itu adanya obstruksi pada hidung diduga telah terjadi kelainan3. tulang hidung bersatu untuk membentuk suatu tenda “pup tent”. disebut dengan kolumela. dua pasang kartilago bagian bawah ( lower lateral cartilages) (LLCs)). dengan plat tegak lurus dari dukungan ethmoid pada garis tengah seperti sebuah tenda. Pada midline. jadi tulang hidung berbentuk tripod3. berturut-turut untuk tulang nasal. dan melekat pada bagian atas kartilago lateral hidung.

Pada bagian dalam hidung anterior. Pada daerah midline terdapat perlekatan fibrous antara struktur yang membantu membentuk puncak hidung. axis dari orbit divergen kira-kira 45 derajat. Muskulus ekstraokular yang memposisikan bola mata dan menaikkan kelopak mata superior. sedangkan dinding lateralnya hampir memnbentuk sudut 40 derajat.medial. Jaringan yang menutupi tulang dan kartilago ini adalah jaringan lunak dan mukosa bagian dalam. Levator palpebrae superioris 296 . dimana kartilagenous hidung ini lebih tebal dan lebih melekat pada struktur di bawahnya. yang mendukung alae nasal dan berfungsi untuk menjaga terjadinya kolaps selama fungsi inspirasi. dan mengandung kelenjar keringat yang semakin meningkat jika kulit semakin tebal. Orbit merupakan kavitas tulang yang terbentuk oleh tulang fasial yang menyerupai rongga pyramid quadrangular dengan dasar berada dalam arah anterolaterally dan apeksnya dalam arah posteromedially. mengontrol pembukaan bola mata anterior. Kulit hidung sangat bervariasi ketebalannya. yang akan membantu menjaga terjadinya rotasi ke posterior dari septum dan kehilangan dukungan puncak hidung. dimana ini disebut sebagai ukuran dan besar puncak hidung. dan pada segmen lateral. yang membatasi orbit bagian anterior. membentuk mucocutaneous junction3. Otot pada hidung adalah otot depressor septi. Kartilago yang berjalan sepanjang margin inferior lateral LLC. Yang terdiri atas : 1. Ujung kaudal inferior dari kartilago septum nasal dilekatkan oleh pita jaringan fibrous pada spina nasalis anterior maksila. otot dan kulit. Orbit memiliki kandungan yang melindungi bola mata serta sruktur visual tambahan yang terdiri atas : Kelopak mata. Dinding medial dari dua orbit terpisah oleh sinus ethmoidal dan bagian atas dari rongga hidung yang paralel. M. tetapi ini tidak sekuat perlekatan pada ULCs dengan septal. Sehingga. Kulit dan jaringan subkutan pada tulang hidung tipis dan mobil. dan procerous-kontribusi pada kumpulan jaringan lunak hidung dan hanya mempunyai sedikit fungsi pada pergerakan fasial atau respirasi. kulit yang menutupi hidung berubah menjadi membran mukos.

inferior dan lateral 3. M.obliqus . Dinding superior (atap orbita) diperkirakan berbentuk horizontal dan terutama dibentuk oleh frontal bone. empat dinding dan suatu apeks. yang memisahkan rongga orbita dari fossa cranial anterior.Rectus inf. dinding supeior 297 . M. medialis.rectus yang terdiri atas superior. Dasar orbita dibatasi oleh margin orbita yang mengelilingi orbital opening.inf.2. Membran mukous (konjungtiva) melapisi kelopak mata dan aspek anterior dari bola mata dan aparatus lacimal yang melubrikasinya. Bentuk pyramid dari orbit memiliki dasar. Gambar : Mata tampak lateral Gambar 3: Otot-Otot Mata 5 Gambar : Mata tampak coronal Tidak semuannya ruang di dalam orbit ditempati oleh struktur yang berisi lemak orbita. M.Obliqus med Chiasma opticus M. Dekat dengan apeks dari orbit. suatu lapisan fibrous terputus yang meluas ke dalam kelopak mata.Rectus sup. Empat m. Tulang membentuk tepi orbita yang memperkuat proteksi kandungan orbita dan memberikan perlekatan untuk septum orbita.Rectus lateralis M. Dua otot oblik yang terdiri atas obliqus superior dan inferior Nervus dan pembuluh darah yang melewati bola mata dan muskulus. sehingga orbit ini tersusun oleh matriks dimana struktur dari orbit melekat.

dibentuk oleh tulang sphenoid. Dan dibagian anterolateral suatu lekukan pada bagian orbita yang disebut fossa lacrimal. Dinding medial yang posisinya kontralateral dari orbit yang paralel dan terbentuk oleh tulang ethmoid, yang berhubungan dengan tulang lacrimale, sphenoid dan frontal. Dibagian anterior Dinding inferior (dasar orbita), dibentuk terutama oleh tulang maksila dan sebagian tersusun oleh zygoma dan tulang palatina. Dinding inferior yang tipis dibentuk oleh orbit dan sinus maksilaris. Dinding lateral dibentuk oleh prosessus frontalis dari tulang zygomatik dan sayap terbesar dari tulang sphenoid. Ini merupakan dinding yang terkuat dan paling tebal. Ini sangat penting karena daerah ini sangat terbuka dan berpotensi mengalami trauma secara langsung. Bagian posterior dipisahkan orbit dari temporal dan pertengahan fossa cranial. Apeks orbit merupakan suatu canal optik pada sayap tulang sphenoid yang kecil, dibagian medial dari fissure orbital superior. (Moore LK,)

Sphenoid Zygoma

Frontal

Frontal

Gambar : Kavitas

Maksila

Orbita

Gambar 4: Anatomi Kavitas Orbita5

II.2 DEFINISI Fraktur nasal adalah terjadinya kerusakan pada tulang di sekitar pangkal hidung, biasanya disebabkan oleh adanya trauma tumpul dan merupakan fraktur tulang daerah fasial yang paling sering. Trauma yang serius pada hidung dapat menyebabkan masalah yang memerlukan perhatian segera. Tetapi pada trauma

298

hidung yang tidak terlalu berat, perlu diperhatikan lebih baik lagi setelah pembengkakan mereda untuk mengevaluasi efek perluasan trauma. Trauma nasal didefinisikan sebagai adanya trauma pada hidung atau hal lain yang dapat menyebabkan terjadinya deformitas, gangguan pernapasan melalui hidung karena adanya obstruksi, atau adanya gangguan penciuman ( olfaction).

Fraktur orbita biasanya tampak bersamaan dengan trauma midfacal. Tingkat keparahan fraktur mulai dari fraktur yang pergeserannya minimal pada suatu dinding yang terbatas yang tidak membutuhkan intervensi bedah sampai dengan kerusakan yang parah dari orbit. Fraktur orbita mungkin di jelaskan

dengan pertimbangan hubungan anatomi, berikut ini : 1. Fraktur dapat terbatas pada tulang orbital internal. Jenis ini termasuk blow-out dan blow-in, seperti yang tampak pada fraktur pada dasar orbita, dinding medial, dan atap orbita. Fraktur blow out dapat dibagi mengikuti berbagai macam fraktur : Fraktur trapdoor yang disebabkan oleh kekuatan yang ringan. Fraktur medial blow-out yang disebabkan kekuatan menengah. Fraktur lateral blow-out yang sebabkan oleh kekuatan yang tinggi.

2. Fraktur mungkin melibatkan rim orbital. Suatu fraktur rim superior, inferior, dan lateral mungkin sebagai suatu luka yang terbatas, atau ini mungkin berbatasan dengan fraktur dinding internal. 3. Fraktur yang hubungkan dengan fraktur lain pada skeleton facial.

Keterlibatan orbit pada berbagai bentuk fraktur fasial, termasuk zygomaticomaxillary (ZMC), naso-orbito-ethmoid (NOE), sinus frontal, Le Fort II,dan Le Fort III. 4. Fraktur apeks orbita adalah penting untuk diidentifikasi karena ini berhubungan dengan kerusakan pada struktur neurovaskuler dari fissura orbita superior dan kanal optik. Trauma fasial kebanyakan diakibatkan oleh kecelakaan kendaraan bermotor, kecelakaan industri, fasial trauma yang berhubungan dengan olah raga, dan kekerasan. Kecelakaan kendaraan bermotor, khususnya yang tidak

299

menggunakan seatbelt, merupakan kejadian yang paling banyak mengakibatkan trauma maksilofasial, yang ditunjukkan pada sebagian besar negara berkembang. Penatalaksanaan trauma orbita dan fraktur bertujuan untuk meminimalisir dan mencegah kerusakan awal dan lanjutan serta komplikasinya. Tujuan dari intervensi adalah untuk mencegah hilangnya penglihatan dan meminimalisir masalah lebih lanjut, seperti diplopia yang persisten dan malposisi bola mata.

II.3 KLASIFIKASI Pola kerusakan dan perluasan displacement struktur nasal jika terjadi fraktur adalah tergantung pada arah dan derajat kekuatan yang terjadi. Pada tahun 1468, Rowe dan Killey menggambarkan trauma yang terjadi pada nasal dari arah lateral dan anterior. Ini merupakan dasar klasifikasi trauma tulang nasal yang dibuat oleh Stranc dan Robertson (1474). Tetapi kemudian mereka membagi fraktur akibat benturan atas tiga tingkatan trauma dimana peningkatan keparahan merupakan cermin peningkatan kekuatan trauma. Bidang satu, trauma tidak meluas berdasar suatu garis pertemuan tepi bawah tulang nasal ke spina nasalis anterior; bidang dua, trauma terbatas pada daerah hidung eksternal dan tidak mengenai orbital rim; bidang tiga, trauma lebih serius, oleh karena meliputi orbita dan kemungkinan juga struktur intra cranial, biasanya berhubungan dengan trauma pada nasoethmoid serta diagnosa dan perawatannya juga lebih komprehensif 4.

300

Gambar 5: A dan B menunjukkan peningkatan derajat trauma dengan peningkatan daya yang mengenai hidung5

Pada tahun 1486, Murray dan Maran mengemukakan suatu klasifikasi pathologi dari fraktur nasal yang diteliti pada lebih dari lima puluh cadaver. Mereka menemukan tujuh pola yang berbeda dari fraktur nasal dengan berbagai macam derajat keterlibatan septum. Mereka menyimpulkan bahwa kerusakan septum juga berhubungan dengan fraktur nasal. Pada keadaan klinis mereka menetapkan bahwa, jika hidung mengalami deviasi lebih dari setengah kali dari lebar aslinya, tulang akan mengalami deviasi kembali setelah dilakukan manipulasi hanya pada tulang nasal saja4. Klasifikasi dari fraktur orbita adalah: 1. blow out fracture, dibagi menjadi: 1. pure blow out – orbital rim intak 2. impure blow out – terjadi fraktur pada orbital rim 2. fraktur blow in Fraktur dasar orbita blow out merupakan trauma dari tepi orbita atau jaringan lunak di sekitar orbita, fraktur ini disebabkan oleh peningkatan tekanan

301

intra-orbital secara akut yang menekan dinding-dinding orbita. Fraktur dasar orbita blow out dapat timbul bersamaan dengan fraktur dinding medial atau orbita rim.1,2

Gambar 6: Fraktur Blow in dan Blow out 1,2

Klasifikasi fraktur Nasal-Orbit-ethmoid (2) Type I : Klasifikasi yang paling sederhana, hamya melibatkan satu bagian dari nasal-orbita ethmoid yaitu bagian medial orbital rim. Type II : daerah yang terkena lebih luas atau comminuted fraktur Type III: daerah yang terkena luas termasuk bagian tengah dari central fragmen dimana medial canthal tendon melekat, terjadi avulsi dari canthus

302

Gambar 7: Fraktur Nasal, ethmoid4

II.4 PENYEBAB DAN GEJALA KLINIS Penyebab terbanyak adalah trauma kecelakaan kendaraan bermotor, trauma karena olah raga, berkelahi, kecelakaan pekerjaan, aktivitas yang berlebihan, dan terjatuh adalah yang paling sering terjadi pada anak-anak1. Gejala klinis dapat meliputi rasa sakit, pembengkakan, obstruksi pernapasan, epistaksis, krepitasi, septal hematoma, rhinitis, dan stenosis nasal vestibular1. Kebanyakan penderita yang mengalami trauma dasar orbita blow out mempunyai gambaran sebagai berikut : 1. Berkurangnya kemampuan visual. 2. Blepharoptosis. 3. Diplopia binocular vertical atau oblik. 4. Hyperthesia ipsilateral, dysesthesia atau hyperalgesia sesuai dengan distribusi n. infraorbitalis.

303

5. Epistaksis 6. Pembengkakan pada kelopak mata setelah meniupkan udara ke hidung 7. Edema dan ecchymosis periorbita yang disertai dengan rasa sakit merupakan gejala dan tanda eksternal. 8. Enophtalmos mungkin juga terlihat tapi awalnya terjadi

pembengkakan jaringan disekelilingnya. Pembengkakan juga akan membatasi gerak otot ekstraokuler 9. Proptosis juga bisa terjadi dari perdarahan retrobulbar atau peribulbar. 10. Tenderness pada saat palpasi orbita, juga dapat merasakan step pada tulang orbital rim. Pemeriksaan bola mata sangat penting dan mungkin sulit karena adanya edema pada jaringan lunak. Untuk ini diperlukan set desmares retractor. Jika terjadi disfungsi pupil, ditandai dengan menurunnya kemampuan visual, harus diwaspadai terhadap kemungkinan terjadinya neuropathy optikus traumatik. 4 Mata dengan kesejajaran yang tidak sama dapat juga terjadi, hipotropia atau hipertropia serta terbatasnya kemampuan menarik mata ke atas. Wilkin dan Havin melaporkan 30 % terjadi insidensi bola mata yang ruptur bersamaan dengan fraktur orbita, kenyataan ini mengingatkan betapa perlunya pemeriksaan opthalmologis yang menyeluruh dan kompleks. 1 Gambaran klinik dari fraktur blow in terutama berhubungan dengan pengurangan volume pada rongga orbita.4 1. Proptosis (exopthalmus) adalah protrusi atau majunya bola mata (okuli) yang abnormal. Umumnya terjadi di awal kejadian, bersama dengan hematom dan pembengkakan dari jaringan orbita

304

edema pada muskulus ekstraokular atau pada fasia di sekitar orbita atau terperangkapnya lemak orbita merupakan penyebab utama. nervus frontal. Gejalanya adalah hilangnya sensasi pada dahi yang diakibatkan oleh cabang frontal dari nervus V. disebabkan oleh lesi yang diakibatkan oleh trauma. nervus kranial IV. merupakan gejala umum dan berhubungan dengan fraktur pada dinding medial.Gambar 8:. Hilangnya refleks kornea diakibatkan karena keterlibatan cabang nasociliary dari subdivisi nervus V. 4. IV dan VI. dan terbendungnya suplai parasimpatik yang dibawa oleh nervus III. Sindrom fissure orbital superior. Adanya hematoma. tekanan langsung atau suatu penekanan akibat hematom (atau keduanya) pada kandungan fissura orbital superior antara lain : nervus lacrimale. Exopthalmus6 2. 5. Pergeseran fragmen fraktur ke dalam orbit mata. nervus kranial III (cabang suerior). dasar. nervus kranial VI. Tidak adanya refleks dan akomodasi terhadap sinar langsung karena terbendungnya aliran efferen oleh paralisis dari mengakibatkan ruptur bola 305 . nervus nasomaksilaris. Bola mata bergeser lebih jauh pada dataran koronal dan pergerakan bolah mata yang terbatas 3. menetapnya dilatasi pupil akibat nervus kranial III. Diplopia (double vision). divisi inferior darinervus kranial III dan vena ophtalmicus. lateral dan atap orbita. vena ophtalmic superior.

berhubungan dengan bengkok atau tertekuknya septum nasal tanpa terjadi fraktur septum. cedera pada nervus dapat menyebabkan spasme dari pembuluh darah retina. merupakan keluarnya penonjolan dari selaput dan bagian otak melalui celah yang terbentuk antara tulang dapat merupakan akibat dari suatu trauma. luasnya kerusakan tulang dapat bervariasi dari yang sederhana sampai displacement tulang nasal. Selain itu CSF juga dapat timbul karena adanya fraktur pada basis cranium. Cedera pada nervus optikus. Pada keadaan ini umumnya dengan dilakukan manipulasi tertutup sudah cukup memuaskan. II. Meningoceles dan encephaloceles. Selain itu ditandai oleh gangguan visual dan perubahan respon pupil terhadap respon cahaya. Tergantung pada derajat kekuatan.nervus III. merupakan jatuhnya kelopak mata atas ke posisi lebih jika dibandingkan dengan posisi normal sebelumnya. Displaced fragmen nasal dapat segera direduksi dengan 306 . Hasilnya akan lebih stabil sebab tidak terdapat fraktur pada septum. 6. 7. Ptosis. karena adanya fraktur sphenoidale dan ethmoid juga fraktur pada sinus frontal sehingga menyebabkan dural tear sehingga terjadi hubungan dengan subarachnoid space. 10. Dengan suatu kekuatan yang lebih besar kedua tulang nasal dapat terjadi fraktur dan displaced dan ini sering kali disertai dengan terjadinya fraktur septum. Mungkin ditemukan adanya CSF. hasilnya akan lebih stabil diikuti dengan reduksi fraktur dengan menggunakan Walsham’s forceps dan pelurusan septum nasal dengan menggunakan Asch’s forceps. Keterbatasan pada muskulus rectus superior atau hematom yang pada kelopak mata bagian atas. ataupun pascaoperasi. 8. Trauma dari Lateral Ini adalah trauma yang paling sering terjadi dan seringkali tidak terlalu parah.5 POLA TRAUMA A. Ptosis dapat terjadi secara manual dan secara kongenital. (peter ward booth) 9. Selain itu juga terjadi edema yang persisten akibat obstruksi vena ophtalmicus2.

Daya yang moderat menimbulkan depressi pada tulang dan septum nasal. kedua tulang nasal akan fraktur pada ujung bawah dan. terutama pada bagian sepertiga bawah tulang nasal. Kelompok pertama dirawat dengan manipulasi dan bedah septum tetapi pada kelompok yang kedua. dapat terlepas. b. Daya yang lebih besar menimbulkan displacement pada piramid dan septum nasal4 B. a. displacement dan fraktur dari struktur ini sering sekali terjadi. Gambar 9 : Trauma nasal dari arah lateral. Trauma dari Anterior Adanya pukulan atau trauma dengan kekuatan yang moderat dari arah frontal. Fraktur nasal tipe ini bervariasi hubungannya dengan fraktur septum dan terjadi displacement yang menyebabkan terjadinya ketidakstabilan nasal (4). seluruh piramid nasal. Dengan daya yang lebih besar lagi. termasuk prossesus frontalis dari maksila. dengan comminuted fracture. Manipulasi dengan sentralisasi septum harus dikombinasi dengan support internal pada nasal seperti yang dikemukakan oleh Sear (1477)4. 307 .manipulasi tertutup tetapi penting untuk melakukan eksisi berbentuk C pada septum4. terutama dengan adanya ketidakstabilan nasal. oleh karena sebagian besar daya diterima oleh septum nasal. reseksi submukus akan menimbulkan kolaps yang lebih parah.

nasal endotracheal tube dapat diletakkan pada posisi atau dilakukan trakheostomi. Untuk menjaga kedua penetapan oklusi dan aplikasi fiksasi intermaksila yang masih tetap terpasang sampai pasien sadar dari efek anestesi agar jalan nafas tetap aman. meskipun sudah indikasi. Daya yang lebih besar menimbulkan fraktur comminuted pada piramid nasal dan septum4 C. b. Daya sedang menimbulkan depressi pada septum dan piramid nasal. Ini mungkin perlu untuk merubah nasal endotracheal tube menjadi oral endotracheal tube sebelum reduksi nasal. a. terutama pada bagian tengah wajah. Manipulasi tertutup fraktur nasal dianjurkan untuk tetap menggunakan support intranasal. Jika terdapat laserasi yang parah pada mukosa nasal disarankan untuk menggunakan lapisan silastik yang dimasukkan pada nostril untuk menjaga pembentukan adhesi intranasal. dalam pandangan faktor waktu meliputi waktu yang lama dan prosedur operasi yang komplek4. Trauma yang Berhubungan Dengan Fraktur Fasial Lain Fraktur pada tulang wajah. Alternatif lain.Gambar 10 : Trauma nasal dari anterior. harus dapat direduksi dan distabilisasi terutama untuk reduksi fraktur nasal. Plate silastik ini dipertahankan dengan menjahitkannya bersama-sama melalui kulit sedikit di belakang kolumela dan dipertahankan selama 10 – 14 hari4 308 . Septum harus dikembalikan ke posisinya tetapi tidak boleh dilakukan reseksi septum pada tahap pembedahan primer.

309 .

Dasar dari piramid hidung jarang sekali terlepas dari tulang frontal. trauma ini adalah yang paling sering pada skeleton fasial dan menurut Schroeder (1481). kecuali terjadi fraktur nasoethmoid yang parah. Kemudian hidung dirawat dengan cara sederhana dan hasil akhirnya mungkin akan jauh dari yang diharapkan. Pada waktu eksplorasi biasanya menunjukkan bahwa dasar piramid tetap intak meskipun terjadi displacement yang hebat ke ruang interorbita 4. Setengah bagian bawah atau sepertiga dari tulang nasal yang biasanya mengalami fraktur. 50 % fraktur pada tulang fasial terpisah dari fraktur pyramid Fraktur nasal sering kali dirawat dengan penilaian preoperative yang tidak adekuat. Perluasan disrupsi struktur nasal sehubungan dengan arah dan derajat kekuatan trauma jarang diperhitungkan. meskipun pada mulanya tampak cukup baik4. Gambar 11 : Trauma nasal lateral menunjukkan adanya displaced fracture pada bagian tengah bawah tulang nasal kiri dan tepi anterior prosesus frontal kiri tulang maksila disertai dengan pembengkokan tulang septum4 310 . Salah satu konsep yang selalu salah tentang fraktur nasal adalah terjadinya pelepasan dan displacement tulang nasal.BAB III PEMBAHASAN Menurut Christian (1476).

hasilnya akan menjadi lebih baik. yaitu pelepasan dari tegangan internal yang terkunci. sebaiknya dilakukan reseksi submukus pada septum nasal dan jika ini dilakukan pada waktu perawatan primer. Harrison menganjurkan pada fraktur nasal horizontal bagian bawah. Harus tetap diingat. dan vertikal posterior. Penempatan manipulasi tertutup dari fraktur hidung masih menjadi pertanyaan. Stranc menekankan pada perawatan fraktur nasal bidang dua. harus dilakukan reseksi submukus primer agar tidak terjadi kolaps pada garis jembatan kartilagenous4. Septum sering kali tidak tetap lurus setelah dilakukan manipulasi dan piramid hidung pada garis septum yang mengalami distorsi. kartilago lateral dan septum nasal dapat terjadi dislokasi tanpa disertai fraktur tulang nasal4. Menurut Stell (1480). dari 107 fraktur hidung yang dirawat dengan manipulasi tertutup. hanya 30 % yang menunjukkan penampilan yang normal. bahwa eksisi pada daerah cartilage pada sisi septum yang mengalami fraktur berbentuk C akan menghasilkan hasil yang lebih baik. kemudian ke inferior melalui vomer terminate dengan suatu 311 . dan 50 % berfungsi normal dalam jangka waktu lama. Harrison adalah orang yang pertama menemukan bentuk C fraktur septum ( C-shaped fracture). bahwa meskipun jarang. Pengertian yang lebih jauh lagi dari mekanisme dan perawatan fraktur nasal dibuat oleh Murray (1484). Kemudian mereka menyimpulkan pada percobaan klinis. ada suatu fraktur berbentuk C yang terjadi bersamaan dari tulang dan cartilaginous septum. Fraktur berbentuk C dari tulang dan kartilago dimulai dari bawah dorsum hidung berjalan ke posterior melalui perpendicular plate dari ethmoid. Mereka mempelajari mekanisme fraktur nasal dengan meneliti fraktur nasal pada kadaver dan menyimpulkan bahwa tulang nasal yang mengalami deviasi lebih dari setengah lebar jembatan. Alasan mengapa distorsi tampak progresif dari kartilago septum dijelaskan oleh Fry. dari hasil penelitian retrospektif menunjukkan bahwa.Posisi dan integritas komponen kartilagenus dari rangka nasal harus selalu ditetapkan. Tetapi Harrison (1474) menemukan bahwa suatu pola dari suatu fraktur septum dan displacement yang diindentifikasi adalah disebabkan karena manipulasi yang kurang baik.

salah satu faktor yang menyebabkan hasil yang tidak memuaskan dari manipulasi fraktur nasal adalah tidak adanya dukungan nasal internal setelah reduksi. Light packing pada hidung sebaiknya hanya digunakan untuk mengkontrol epistaksis setelah 312 . Menurut Murray. Suatu reseksi yang terbatas dari septum kemudian dibuat dengan melakukan suatu eksisi tipis dari kartilago dan tulang pada sisi yang terdapat fraktur C dan diangkat paling sedikit 1 cm dari plate perpendicular dari ethmoid. yaitu pada 2. Kemudian dilanjutkan sampai pertemuan ethmoid dan tulang nasal. Kemudian mukoperichondrium dibuka dan biasanya garis fraktur berbentuk C akan segera dapat terlihat. Pita gauze lembut yang dimasukkan pada nasal adalah merupakan stabilisasi yang kurang baik dan packing yang berlebih pada hidung sering kali menyebabkan distorsi dari reduksi yang diinginkan. tetapi harus hati-hati agar tidak terlalu caudal dari tulang nasal atau terlalu dalam karena akan dapat merubah profil.curve anterior pada kartilago septum 1 cm di atas puncak maksila dekat dengan sudut vomerine4. Kartilago dipisahkan dan sisi kontralateral disingkapkan. Gambar 12 : Skema menunjukkan garis fraktur dengan displacement yang berat disertai fraktur septum berbentuk C4 Untuk operasi pada septum mereka menganjurkan melakukan suatu insisi vertical di posterior. Tulang nasal dimanipulasi dan suatu pack ( light pack) dimasukkan ke dalam nostril4.5 cm posterior dari kolumela.

Penilaian klinis dan radiografis preoperative yang sangat hati-hati adalah suatu syarat untuk keberhasilan perawatannya. metode yang telah dijelaskan di atas akan lebih baik menggunakan anestesi umum. Paruh yang lebih kecil dari Walsham’s forcep dimasukkan ke dalam lubang hidung dan paruh yang lebih besar (dilapisi dengan karet lembut untuk melindungi kulit) yang terdapat pada eksternal untuk memegang sisi luar hingga dapat memegang dan mengangkat hidung ke arah medial canthus dan sejajar dengan proses frontal tulang maksila. Ronsen foto harus diambil dari dua arah untuk kepentingan diagnosis dan rencana metoda reduksi. Instrument yang biasa digunakan adalah Walsham’s forceps. Hidung harus dibersihkan dari semua debris dan gumpalan darah dengan suction. Rotasi ke arah medial atau lateral yang akan menjauhkan atau mendekatkan fragmen fraktur pada tulang nasal4. Septum nasal kemudian diperiksa. Sebelum melakukan reduksi fragmen nasal yang mengalami displacement.manipulasi tulang nasal. Kemungkinan dapat terjadi relaps dengan resolusi dari pembengkakan jaringan disekitar jaringan yang disebabkan fiksasi yang buruk dari splint plaster. Pangkal hidung harus dipegang di antara jari telunjuk dan ibu jari tangan yang berlawanan yang juga digunakan untuk menambah stabilitas pada kepala terutama pada waktu melakukan manipulasi4. informasi tambahan akan lebih diperoleh dengan inspeksi intranasal dengan bantuan speculum dan lampu kepala ( head light). dan Asch’s septal forceps4. Kebanyakan fraktur nasal sederhana tidak memerlukan aplikasi splint eksternal setelah dilakukan reduksi4. Paruh forceps pertama-tama dimasukkan pada dasar hidung dan sisi yang lainnya pada septum dan dengan tekanan gentle digunakan untuk mengembalikan cartilage septum. operator harus mempunyai gambaran yang jelas mengenai apa yang seharusnya akan dilakukan. yang digunakan untuk memanipulasi tulang nasal dari prosesus frontal maksila. Pengggunaan plaster eksternal atau Paris splint tidak akan mendukung fragmen nasal. Septum dimanipulasi dengan Asch’s septal forceps. Metoda manipulasi hidung dibawah anestesi lokal telah dijelaskan sebelumnya. 313 . Fragmen tulang yang hilang harus diambil and mukoperikhondral harus tampak jelas. Pada tahap ini.

Kemudian paruh dapat diputar ke kiri atau ke kanan dengan memegang septum sepanjang garis jembatan dan tarikan dapat dilakukan untuk elevasi nasal bridge4. Proyeksi Caldwell memperlihatkan visualisasi dasar orbita dan prosessus zygomatiko-orbitalis diatas densitas petrosus pyramidalis. Proyeksi ini menempatkan petrosus piramidalis di bawah sinus maksilaris sehingga memudahkan evaluasi dasar orbita. 2. Foto AP orbita biasanya diambil dengan berbagai variasi angulasi sinar. Paling umum digunakan adalah proyeksi Cadwell dan Waters. 3. prolaps isi orbita. CT scan masih merupakan pemeriksaan imaging yang dipilih untuk evaluasi trauma orbita karena kemampuannnya untuk melihat detail 314 . antara lain yaitu : 1. Gambaran yang lebih luas dari orbita bisa didapatkan dari proyeksi waters. Walsham forceps dan Ash Forceps Gambar 13. dan tingkat cairan udara dalam sinus maksilaris. Tang Rekonstruksi Nasal4 PEMERIKSAAN RADIOLOGIS DAN DIAGNOSTIK Penegakan diagnosis selain dari temuan klinis dilakukan dengan bantuan pemeriksaan penunjang.

walaupun MRI bisa memperlihatkan detail regio orbita dengan sangat halus. Fraktur dasar orbita dapat mengakibatkan penambahan volume orbita dan keadaan ini mengakibatkan enophthalmus. di antaranya adalah : 1. CT Scan dalam mengevaluasi fraktur 4 KOMPLIKASI FRAKTUR ORBITA Fraktur orbita akan menyebabkan beberapa komplikasi dan permasalahan. dilakukan test forced duction.struktur tulang. test ini dapat menghasilkan konfirmasi klinis yang penting mengenai adanya otot atau jaringan yang terperangkap. Menilai secara langsung kemampuan atau ketidak mampuan lebih jauh mata saat pasien disuruh melirik ke atas.1.2 Jika CT scan mempunyai hasil yang samar-samar saat mengevaluasi pasien yang dicurigai terjadi entrapment. Jika terjadi enophthalmus lebih 315 . Enophthalmus. 1 Gambar 14.

Fraktur nasal yang terpisah dapat dapat dilakukan reduksi dalam waktu 24 jam pertama. menyebabkan diplopia.7 hari. tetapi pada kasus yang lain. Diplopia. Waktu dan perlunya intervensi bedah pada perawatan fraktur dasar orbita murni masih dalam perdebatan. Perawatan fraktur nasal bertujuan untuk memperbaiki dan mengembalikan fungsi dan etetik. Bola mata dapat menjadi robek. dapat terjadi emfisema orbita karena adanya hubungan dengan sinus maksilaris serta bisa juga disertai perdarahan orbita. perawatan harus ditunda sampai sepuluh hingga dua belas hari agar pembengkakan dan luka memar menjadi lebih reda. untuk mencegah terjadinya pembengkakan yang lebih besar. Kebanyakan literatur mendukung waktu dua minggu untuk perbaikan sehingga mencegah fibrosis. Perawatan yang paling baik adalah pada waktu tiga jam pertama saat terjadi trauma. namun trauma yang tidak begitu berat hanya akan mengakibatkan hyphema atau edema retina. Keadaan ini mengakibatkan terhambatnya pergerakan ke atas dari bola mata. keadaan ini mengakibatkan ketidakseimbangan. Bola mata juga dapat melesak atau hipo-ophthalmik dibanding sisi kontralateralnya. kontraktur dan 316 . jika ini tidak memungkinkan.1 WAKTU PERAWATAN Waktu perawatan fraktur nasal masih terdapat kontroversial. maka komponen hidung harus direduksi bersamaan dengan fraktur lainnya4. Emfisema. Biasanya. maka sebaiknya penanganan dilakukan 3 . 2. Otot rektus inferior atau jaringan orbita dapat terperangkap dalam lokasi fraktur. Jika fraktur berhubungan dengan fraktur sepertiga wajah yang lainnya.1 III. Waktu perawatan ini sangat penting oleh karena fraktur nasal lebih dari 10 hari akan mengalami penyembuhan tulang dan kemungkinan memerlukan tindakan termasuk rhinoplasty . 3.dari 2 mm.

Sayangnya metode ini tidak hanya menutup jalan nafas tetapi juga merupakan sumber infeksi yang potensial.2 III. Gauze ini secara hati-hati dimasukkan kedalam lubang hidung dengan bentuk lapis demi lapis dan penting untuk diperhatikan pertama-tama menempatkan pack pada nares superior sepanjang garis jembatan (bridge-line)4. Suport intra nasal yang adekuat tidak akan diperoleh dengan teknik ini untuk menstabilkan hidung4.2 METODE IMOBILISASI A. 1. Metode ini sebaiknya hanya digunakan sebagai hemostasis pada periode awal operasi dan sebagai support awal pada reposisi tulang nasal dimana pada septum nasal tidak terjadi fraktur. Splint Intranasal 1. dengan menggunakan pita gauze yang dilapisi dengan paravin/ flavine emulsion atau bismuth iodoform paraffin paste (BIPP). perawatan harus dilakukan lebih cepat.terperangkapnya jaringan. keadaan ini mungkin disebabkan oleh tidak adanya tekanan dari eksternal. Pack ini harus tetap dipertahankan selama 2 – 3 hari. Ribbon gauze Metode ini sering kali dianjurkan sebagai metoda yang adekuat dan standar untuk memperoleh dukungan internal pada fraktur nasal. tetapi juga merupakan penyebab terjadinya masalah pada telecanthus jika pemasangan pack terlalu berlebihan sehingga menimbulkan terjadinya fraktur lain pada prosessus frontal maksila. Pada kasus dimana terperangkapnya tarikan rektus inferior. yang mungkin dapat menimbulkan konsekuensi serius berhubungan dengan CSF rhinorrhoea. Tehnik ini tidak mempunyai support intra nasal anterior posterior. 317 . Beberapa ahli sering menunggu beberapa hari supaya edema dan perdarahan sudah tidak ada sehingga didapat penilaian yang baik terhadap enopthalmus dan fungsi otot ekstraokuler.

Splint terbuat dari bahan stainless steel 3. Metode insersi dan retensi splinting ini seperti gambar yang memperlihatkan tulang nasal dan tepi jaringan lunak tanpa kehilangan palatum keras dianjurkan pada waktu memilih ukuran splint yang cocok4. 318 .5875 mm dan pasangan yang sama dibengkokkan membentuk angka 7 dengan diameter yang lebih lebar pada posisi datar.175mm x 1. Stainless-steel intranasal splint Metoda ini dikemukakan oleh Sear pada tahun 1477. yaitu untuk mendapatkan support internal yang rigid terutama pada kasus terjadinya kolaps anteroposterior.Gambar 15: Ribbon gauze4 2.

Sementara plaster 319 . dan sangat membantu untuk memperoleh suatu pola dengan juga menggunakan gauze atau jaconet cut untuk membentuknya dan mengetahui ukuran yang tepat sebelum diaplikasikan. Splint Eksternal 1. kelebihan dibuang dengan tekanan antara cotoon gauze sebelum aplikasi. tetapi pada beberapa kasus tertentu tidak begitu praktis. Bahan ini terdiri dari 4 atau 5 lapis dari potongan 10 cm plaster of Paris bandage yang dilembutkan dengan air. Kemudian dengan hati-hati dilakukan pemasangan plester pada daerah sekitar kepala dan glabela. Plaster of Paris Splint Teknik ini dikenal dengan bentuk kupu-kupu.Gambar 16 : Metode insersi dan retensi splint intra nasal untuk memperoleh support internal4 Metode yang sederhana dan memuaskan untuk memperoleh support internal pada hidung. nasal bridge line dan duapertiga bagian atas hidung. B. Metoda ini terutama cocok untuk memperoleh support nasal pada pasien dengan fraktur fasial multiple4. Sangat penting untuk diperhatikan bahwa plaster sudah menempel pada kulit dari daerah medial sampai bagian dalam canthus masing-masing mata yaitu dengan memegang antara jari telunjuk dengan ibu jari.

Ketika pembengkakan mulai berkurang splint akan menjadi longgar dan oleh karena itu harus segera diangkat. Gambar 17: Plaster of paris splint4 2. tetapi ini tidak benar. Sehelai lembaran logam lunak (soft metal) dipotong mengikuti bentuknya kemudian diaplikasikan dan konturnya dibentuk. lebih baik pada hari ketiga dan keempat atau lebih jika diperlukan. Sudah menjadi standard untuk membiarkan Plaster of Paris selama 7 – 10 hari. sehingga akan membentuk cetakan dan diperhalus dengan Howarth’s elevator. Collodion gauze dan soft metal sheet (Ash’s soft metal sheet-tin/lead alloy) Beberapa lapisan gauze dipotong sesuai dengan ukurannya dan direndam dalam larutan collodion. Terutama pada fraktur nasal yang disertai dengan fraktur ethmoid.mengeras. Kemudian lapisan gauze collodion diaplikasikan dan dibentuk sehingga akhirnya splint tercetak hanya pada bagian medial dari bagian dalam canthi seperti yang diterangkan sebelumnya pada splint Plaster of Paris. Kemudian plaster dilekatkan pada daerah kepala dan pipi dengan bahan Elastoplast atau bahan pelekat lain. terutama pada daerah yang dekat dengan mata dan sekitar puncak hidung. Tipe splint eksternal ini sangat memuaskan. Kemudian diaplikasikan pada kontur hidung satu persatu. biasanya terjadi pembengkakan jaringan lunak pada sekitar hidung4 . terutama pada kasus dengan adanya jahitan luka pada hidung dan glabela Tetapi ini tidak tepat pada kasus dengan fraktur septum pada waktu ini dan pembedahan sekunder 320 . Ini adalah untuk menjaga agar tidak terjadi luka pada kulit. perlekatan dengan kulit dibantu dengan pemberian Compound Tincture of Benzoin.

pada fraktur dasar orbita bisa timbul diplopia karena terbatasnya gerakan ke atas dan ke bawah. 1. dengan atau tanpa bersamaan dengan fraktur dinding mesial dan dengan prolaps jaringan orbital. Beberapa ahli sering menunggu beberapa hari supaya edema dan perdarahan sudah tidak ada sehingga didapat penilaian yang baik terhadap enopthalmus dan fungsi otot ekstraokuler. Trapdoor atau fraktur anteroposterior dapat ditemukan secara klinis dimana sulit ditemukan secara radiologis. Pada kasus dimana terperangkapnya tarikan rektus inferior. Keadaan ini biasanya mengakibatkan enophtalmos yang signifikan (lebih dari 2 mm) dan ini merupakan indikasi untuk dilakukannya reparasi. Selain itu. Jika keterbatasan ini terjadi dalam 30 derajat dari gerakan utamanya dengan test forced-duction positip dan CT Scan menunjukkan adanya fraktur. harus dilakukan perbaikan yang cepat karena kemungkinan kelainan ini bisa menetap sangat tinggi. terutama untuk mengatasi obstruksi pada nasal4. Gambar 18: soft metal sheet4 Waktu dan perlunya intervensi bedah pada perawatan fraktur dasar orbita murni masih dalam perdebatan. Kebanyakan literatur mendukung waktu dua minggu untuk perbaikan sehingga mencegah fibrosis.mungkin diperlukan pada beberapa waktu kemudian.2 Fraktur dasar orbita melibatkan lebih dari 50 % mengenai lantai. Hal ini harus 321 . perawatan harus dilakukan lebih cepat. kontraktur dan terperangkapnya jaringan.

dengan demikian diharapkan dapat memperbaiki semua gangguan motilitas ekstraokuler. pendekatan ini dilakukan untuk memperbaiki defek tulang dengan mengambil atau mereposisi fragmen tulang. Fraktur medial orbita 322 . Dasar orbita bisa dicapai melalui pendekatan konjungtival. jika hal ini terjadi harus segera dikoreksi untuk menurunkan kemungkinan diplopia yang persisten. dengan demikian dapat mengembalikan volume orbita dan menghilangkan semua pergeseran struktur jaringan lunak. Fraktur lateral orbita Penanganan fraktur pada dinding lateral melalui incisi pada subciliary (blepharoplasty) lateral dikombinasi dengan lateral incisi eyebrow . Fraktur blow in yang pergeserannya minimal biasanya tidak membutuhkan perawatan selain perawatan yang bersifat konservatif. 2.4 Fraktur atap orbita Penanganan fraktur pada atap orbita dianjurkan untuk mengeksplorasi atap orbita dengan menggunakan periosteal elevator sehingga segment fraktur dapat dikembalikan ke posisinya atau menjadi datar dan mencegah cederanya muskulus dan nervus. Aksesnya dapat dilakukan dengan insisi pada bagian blepaharoplasty bagian atas atau melalui laserasi yang terjadi. Tidak dipergunakannya tranosseus wire tetapi IMF dipertahankan selama seminggu untuk mencegah reduksi yang adekuat dari fragment. Akses pada regio ini memudahkan eksplorasi dan membebaskan jaringan lunak yang bergeser atau terperangkap. Selain itu.dipertimbangkan.4 Perawatan orbital fraktur harus terlebih dahulu melakukan dekompresi dengan segera kemudian melakukam rekonstruksi sesuai dengan lokasi dari fraktur. 1 Koreksi bedah merupakan kontra indikasi pada pasien yang secara medis tidak stabil dan tidak bisa mentoleransi anestesi. hal ini bertujuan untuk perbaikan partisi antara orbit dan antrum maksilaris. melalui pembukaan perkutaneous atau pendekatan transmaksilaris. Selain itu dapat dipergunakan muscle relaxant untuk mencegah spasme muskulus temporal.

Daerah ini sangat tipis khususnya daerah ethmoid. penanganan fraktur pada daerah ini dapat dilakukan dengan pendekatan incisi melalui subciliary dan memberikan kesempatan untuk ekspolarasi dasar orbita. Seperti pada gambar : Gambar 19 : incisi subkonjungtiva3 Gambar 20: Incisi subpalpebra4 323 . Fraktur dasar orbita Dianjurkan untuk mengeksplorasi dasar orbital dengan menggunakan periosteal elevator sehingga segment fraktur dapat dikembalikan ke posisinya atau menjadi datar dan mencegah cederanya muskulus dan nervusAkses masuk pada bagian dasar orbita dapat dilakukan dengan incisi transkonjungtiva dan infraorbita (subciliary dan subpalpebra).

contohnya tulang kortikal dan kanselous. polylactide. dan teflon) Absorbable (polydioanone. 324 . Material alloplastik : nan absorbable ( Titanium. silicon. porous polyetilene. dan polyglactin) Allogenik dura.Gambar 21 : incisi subciliary4 Gambar 22 Insisi trans konjungtiva4 Material untuk rekonstruksi fraktur orbita Bahan – bahan material yang biasa dipergunakan adalah : autografts dari tulang. cartilago.

tidak akan mengalami ekstrusi. dan tidak merangsang pembentukan jaringan fibrous. silicon. dan pilihan material biasanya tergantung kepada ahli bedah dan pasiennya. mesh vicryl. Gambaran pemasangan material rekonstruksi6 Semua material memiliki keuntungan dan kerugian. atau mesh metal. miniplat metal. Beberapa ahli menganjurkan kompres dengan saline dingin di atas mata yang tertutup. Implant yang ideal harus bisa secara mudah diinsersikan dan dimanipulasi. tidak menjadi tempat infeksi. Perawatan Pasca Bedah : Segera setelah pembedahan. Hampir kebanyakan defek pada kasus fraktur dasar orbita dapat direparasi dengan implant sintetik yang terbuat dari polyethylene.Gambar 23. 325 . Kemampuan visual dan fungsi pupil dinilai setiap 15 menit selama 1 jam pertama dan kemudian setiap 30 menit. harganya wajar. Auto bone graft merupakan standar kriteria untuk menyediakan kerangka untuk tulang fasial dan dinding orbita. Alternatif lain dapat digunakan tulang autogenous dari dinding maksila atau calvarium. mudah ditempatkan pada struktur di sekitarnya. juga memiliki aposisi formasi tulang yaitu proses resorbsi dan perbaikan yang baik. Cancellous bone graft lebih disenangi daripada kortikal karena vaskularisasinya lebih cepat dan lengkap. Implant Implant myriad tersedia untuk kegunaan rekonstruksi. kepala pasien ditinggikan dengan sudut kurang lebih 30 o.

Demikian juga ekstrusi implant dan enophtalmos yang menetap merupakan sequele postoperasi yang memerlukan intervensi bedah selanjutnya. Diplopia yang tetap ada atau new onset. dan diberikan antibiotik serta analgetik yang adekuat.2 Seperti pembedahan lainnya komplikasi pada reparasi fraktur dasar orbita bisa berupa perdarahan atau infeksi. 1. Kehilangan kemampuan penglihatan merupakan komplikasi yang serius berkaitan dengan reparasi kelainan ini. 326 . Pemberian steroid dapat membantu pengurangan pembengkakan. Selain itu pasien diinstruksikan untuk mengompres dingin selama 48 jam.Setelah operasi pasien dilarang untuk meniup lewat hidung. dan beraktivitas berat. neuralgia. dan disfungsi otot ekstraokuler merupakan komplikasi yang mungkin bisa terjadi.

Jenis fraktur ini sering menimbulkan komplikasi berupa enophtalmos.BAB IV KESIMPULAN Fraktur nasal sering terjadi pada fraktur tulang fasial. tetapi sering dianggap tidak terlalu berpengaruh. dan emfisema. Kesimetrisan hidung dan fungsi adalah penting untuk pasien. dan perawatan yang tidak tepat dan kurang adekuat akan menimbulkan hasil yang kurang memuaskan. oleh karena itu perlu dilakukan evaluasi radiologis secara seksama. 327 . Pendekatan bedah pada kasus-kasus yang diindikasikan harus dilakukan dengan hati-hati mengingat kemungkinan komplikasi yang akan terjadi. Fraktur orbita bisa terjadi bersamaan dengan fraktur pada daerah wajah lainnya. namun pemeriksaan klinis terkadang sulit dilakukan karena adanya edema di daerah orbita. maka akan diperoleh hasil yang lebih baik dan lebih memuaskan pasien. diplopia. Jika pendekatan yang dilakukan pada waktu terjadi trauma sama dengan pemikiran kedepan seperti yang dilakukan pada penanganan elektif kosmetik septorhinoplasty.

DAFTAR PUSTAKA

1. Ramirez R.F. 2004. Nasal Trauma. The Thomson Corporation. All right reserved. http://www.ehendrick.com/healty/000561.htm. 2. Fonseca, RJ. et al. 1997. Oral and Maxillofacial Trauma. 2nd edition. Philadelphia: WB. Saunders Co. 3. Pitcock K.J & Bumsted M.R. 1997. Nasal Fractures. In: Raymond J. Fonseca and Robert V. Walker. Oral And Maxillofacial Trauma. Volume II. W.B. Saunders Company. Philadelphia London. Toronto Montreal Sydney Tokyo. p. 775 – 41. 4. Bowerman J.E. 1994. Fracture of the Middle Third of the Facial Skeleton. In: Rowe and William’s. Maxillofacial Injures. Second Edition. Churchill Livingstone. Edinburgh London Madrid Melbourne New York Tokyo. p. 541- 604. 5. Moore, K.L., Arthur F. Dalley II. 1999: Clinically Oriented Anatomy. 4 'h ed. Lippincott Williarli"s & 1Nilkins 6. Archer, H. W. 1975. Oral and Maxillofacial Surgery. 5th ed. Toronto : W. B. Saunders Company. 7. Booth, P. W. et al. 2003. Maxillofacial Trauma and Esthetic Facial Reconstruction. 1st ed. Edinburgh: Churchill Livingstone. Edinburgh. 8. Cohen, AJ. Facial Trauma, Orbital Floor Fracture (Blow out). Available at www.eMedicine.com. Last updated on March 7th 2005. 9. Williams, J. L. 1999. Maxillofacial Injuries. 1st ed. Edinburgh : Churchill Livingstone.

328

Fraktur Panfasial

Yudi Wijaya 160121120002

Peserta PPDGS Ilmu bedah mulut dan Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Abstrak : Regio maksilofasial terbagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama adalah wajah yang bagian atas, Bagian kedua adalah daerah tengah wajah atau midface. Midface dibagi menjadi bagian atas dan bagian bawah. Midface yang bagian atas bila terdapat fraktur Le Fort II dan Le Fort III dan/atau fraktur tulang nasal, fraktur nasoetmoidal atau kompleks zygomatikomaksilari dan fraktur dasar orbita. Fraktur Le Fort I bila fraktur terdapat pada bagian bawah dari midface. Bagian yang ketiga dari regio maksilofasial adalah wajah bagian bawah, bila fraktur hanya terdapat pada mandibula. Fraktur panfasial adalah fraktur yang terjadi pada daerah wajah yang meliputi sepertiga atas, sepertiga tengah dan sepertiga bawah yaitu meliputi fraktur pada regio frontal, kompleks nasalis, kompleks orbitalis, kompleks zigomatikus, maksila dan mandibula. Prinsip umum untuk penatalaksanaan fraktur panfasial yaitu dengan tehnik bottom to top (dari bawah ke atas) atau top to bottom (dari atas ke bawah).

Kata kunci: Fraktur panfasial, bottom to top , top to bottom

329

BAB I PENDAHULUAN

Pada mulanya dokter gigi dilibatkan pada perawatan trauma rahang karena mereka menguasai pengetahuan tentang gigi dan oklusi. Perawatan yang terdahulu hanya terdiri atas fiksasi gigi pada oklusi sentrik untuk mengurangi dan mengimobilisasi suatu rahang. Sekarang ini dasar pemikiran perawatan fraktur pada daerah maksilafasial tidak banyak berubah, hanya tekniknya yang berkembang pesat. Diagnosis didukung dengan adanya teknik radiografis yang berkembang dengan pesat. Fraktur-fraktur yang pada jaman dahulu tidak dapat dikenali sama sekali atau hanya bersifat dugaan sekarang ini bisa ditunjukkan sampai hal yang terkecil.1 Regio maksilofasial terbagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama adalah wajah yang bagian atas, bila fraktur melibatkan sinus dan tulang frontal. Bagian kedua adalah daerah tengah wajah atau midface. Midface dibagi menjadi bagian atas dan bagian bawah. Midface yang bagian atas bila terdapat fraktur Le Fort II dan Le Fort III dan/atau fraktur tulang nasal, fraktur nasoetmoidal atau kompleks zygomatikomaksilari dan fraktur dasar orbita. Fraktur Le Fort I bila fraktur terdapat pada bagian bawah dari midface. Bagian yang ketiga dari regio maksilofasial adalah wajah bagian bawah, bila fraktur hanya terdapat pada mandibula. Insidensi trauma maksilofasial terutama yang berhubungan dengan kecelakaan kendaraan bermotor. 2 Trauma yang mengenai wajah dapat menyebabkan diskontinuitas dari jaringan lunak wajah maupun jaringan kerasnya. Fraktur yang terjadi pada daerah wajah yang meliputi sepertiga atas, sepertiga tengah dan sepertiga bawah yaitu meliputi fraktur pada regio frontal, kompleks nasalis, kompleks orbitalis, kompleks zigomatikus, maksila dan mandibula disebut dengan fraktur panfasial. 2 Fraktur ini biasanya disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas, kecelakaan kerja, kecelakaan olah raga dan lain-lain.2,3 Penelitian pada tahun 2008 di

330

Amerika Serikat, penyebab utama fraktur panfasial adalah perkelahian (36%), kecelakaan kendaraan bermotor (32%), jatuh (18%), olahraga (11%), kecelakaan kerja (3%), dan luka tembak (2%). 2 Lebih banyak terjadi pada laki-laki dewasa muda, perbandingan laki-laki dan wanita adalah 4:1.4

331

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi Kraniofasial Tulang-tulang kraniofasial terdiri atas 22 tulang dengan dikelilingi oleh kavitas-kavitas yang berbeda yaitu kranium, orbita, sinus, hidung dan mulut. Tulang-tulang kraniofasial terdiri atas tulang yang memiliki ketebalan berbeda. Tulang-tulang yang tebal berhubungan dengan tulang- tulang berdinding tipis. Tulang dengan struktur yang tebal disebut sebagai 'buttress' yang menopang/penyangga proporsi kraniofasial dalam proyeksi antero-posterior. 2 Banyak penulis membagi buttres wajah dalam dua bidang yaitu bidang vertikal dan bidang horizontal. Buttres vertikal meliputi buttress nasomaxilaris pada medial,, zigomaticomaxilaris pada lateral, dan pterigomaxilaris pada posterior. Buttress nasomaksilaris meliputi prosessus maksilaris dari frontalis dan prosessus frontalis dari tulang maksila, meluas ke lateral sampai rima piriformis. Buttress zigomaticomaxilaris terdiri dari prosessus zygomatikus dari tulang frontal, rima orbita lateral, tulang zygomatikus lateralis, dan prosessus zygomatikus dari tulang maxilla. Buttress pterigomaksilaris terdiri dari lempeng pterigoid dari tulang sphenoid dan tuberositas maksilaris. Ketiga buttress ini menghasilkan suatu sistem penyangga unit-unit fungsi pada oral, nasal dan orbital. Pada umumnya buttress zygomaticomaksilaris dan buttress nasomaksilaris dilakukan rekonstruksi, tapi buttress pterigomaksilaris tidak dilakukan rekonstruksi karena tidak dapat diakses. 2,4 Buttress horizontal sering juga disebut dengan anterior posterior buttress. Buttress ini meliputi buttress frontal, zygomatik, maxilaris dan mandibular. Buttress frontal terdiri dari rima supraorbital, dan regio glabelar. Buttresss zygomatik terdiri dari zygomatic arch, zygomatic body, dan infraorbital rim. Buttress maxila dan mandibula terdiri dari basis maxila dan lengkung tulang mandibula.4 Keseluruhan buttress ini secara bersama-sama memberikan integritas tulang wajah. Tulang-tulang yang pada umumnya lebih tebal ini berfungsi untuk

332

menetralisir kekuatan pengunyahan dan benturan. Dengan reduksi yang tepat kita dapat merekonstruksi tinggi, lebar dan proyeksi wajah. 2,3

Gbr.1 Buttress vertikal dan horizontal.1

2.2 Klasifikasi Fraktur Panfasial Gruss dkk (1989) membagi fraktur panfasial menjadi tiga kelompok yaitu: 3 1. Fraktur kraniofasial sentral Fraktur terjadi pada bagian sentral yang memisahkan buttress fasial dari basis kranial anterior. Variasinya meliputi tulang frontal dan atap orbital dan sinus frontalis. Pada trauma yang ekstensif terjadi perluasan ke arah vertikal melalui sepertiga tengah wajah dan bagian tengah mandibula. 2. Fraktur kraniofasial lateral Fraktur ini mengakibatkan kerusakan pada buttress fasial lateral yaitu tulang frontozigomatikomaksilaris dengan perluasan ke arah posterior pada sayap tulang sphenoid, temporal dan parietal. Komplikasi intrakranial lebih jarang terjadi, namun perluasan ke bagian bawah wajah lebih sering terlihat 3. Kombinasi fraktur sentral dan lateral

333

Trauma yang ekstrim akan menghasilkan kehancuran elemen fasial sentral dan lateral disertai dengan fraktur sepertiga tengah wajah, mandibula, kondilus dan trauma intrakranial. Kerusakan dapat meliputi kerusakan pada otak yang lokal maupun difus dan diskontinuitas dasar fosa kranial anterior.

334

Circulation) b. Pemeriksaan Laboratorium d. Tranportasi cepat (Ambulatory) 2. Pemeriksaan fisik menyeluruh b.3 Penatalaksanaan Pada umumnya penderita dengan trauma oromaksilofasial terjadi bersamaan dengan trauma pada bagian tubuh yang lain (trauma multiple). Perawatan non operatif c. Menghentikan perdarahan eksternal c. Nutritional support 5. Mempertahankan jalan napas b. Stabilisasi tulang belakang e. Perawatan Definitif a.BAB III PEMBAHASAN 2.Penanganan yang dilakukan sebelum dibawa ke rumah sakit a. Pemantauan 3. Radiografi c. Breathing. Pembedahan b. Resusitasi dan pemantauan lanjut 4. Resusitasi cairan c. ABC (Airway. Diagnosis dan penanganan sekunder a. Sehingga tahap-tahap penangannnya bersamaan dengan penanganan trauma yang lainnya. Resusitasi dan pananganan primer a. Adapun tahap-tahap penanganan trauma adalah sebagai berikut: 6 1. Stabilisasi fraktur d. Rehabilitasi 335 .

pemeriksaan fisik dan evaluasi radiografis yang baik. Selain itu juga untuk mengevaluasi adanya fraktur segmental maupun sagital pada maksila maupun mandibula serta dentoalveolar. Dalam mendiagnosa fraktur panfasial dibutuhkan data riwayat trauma yang seksama.3 Setelah pasien dalam keadaan stabil dan bebas dari trauma tulang spinal servikal.6 Pemeriksaan penunjang seperti CT Scan pada negara maju telah menggantikan peranan radiologi konvensional.2. Informasi yang lengkap meliputi keadaan wajah penderita. Perhatian segera yang ditujukan pada kasus berat adalah penatalaksanaan 'life-support' yang tepat dan penilaian komplikasi intrakranial dan ekstrakranial. 2. Perhatian utama harus ditujukan pada daerah nasoethomid.3. pergerakan abnormal pada mandibula dengan palpasi pada daerah external auditory canal dan menginstruksikan pasien untuk membuka dan menutup mulut. Evaluasi pertama dapat dilakukan dengan data radiologis seperti Water's. CT Scan dua dimensi dengan potongan 336 . mata dan prosesus kondilus. Adanya fraktur pada kondilus dapat diperkirakan apabila terdapat krepitus.3 Pemeriksaan fisik harus dilakukan secara sistematis yaitu dengan metode inside out and bottom up yaitu meliputi inspeksi dan palpasi dari dagu hingga kepala serta dari intraoral dan ekstraoral untuk dapat mengidentifikasi luka pada jaringan lunak. luka memar laserasi pada tonjolan tulang seperti dahi.1 Evaluasi Evaluasi dimulai dengan menilai jalan nafas.2. daerah supraorbital ridge dan pangkal hidung. Hal ini dapat diperoleh melalui data fotografi dan rekam medis dental. tulang. evaluasi terhadap regio maksilofasial dapat dilakukan.5 Pemeriksaan intraoral dilakukan untuk melihat adanya memar dan laserasi jaringan lunak maupun adanya kehilangan jaringan. gigi geligi dan neurovaskular. palatum. kesimetrisan dan ketinggian wajah. Pada observasi klinis akan terlihat adanya pembengkakan pada wajah yang difus. Deformitas pada tulang seringkali terlihat dengan hilangnya proyeksi hidung dan gangguan pada proyeksi midfasial. pernafasan dan sirkulasi serta tingkat kesadaran (ABC trauma management). oklusi dan fungsi sebelum terjadi trauma amat dibutuhkan.

1. Digital imaging fraktur panfasial 1 2. Pasien dengan fraktur panfasial 2 Gbr 3. dengan melalui gambaran rontgen 337 . Dengan kemajuan tehnologi CT Scan tiga dimensi akan memberikan peran yang lebih baik dalam menentukan keadaan fraktur dalam hal ada atau tidaknya displacement tulang.2 Tata laksana Manajemen pasien dengan multiple displaced dan fraktur comminuted sangatlah menantang tidak saja pada ahli bedah yang belum berpengalaman nemun juga pada ahli bedah yang sudah berpengalaman. CT Scan dua dimensi dengan potongan koronal dan sagital akan memberikan informasi mengenai fraktur pada dinding orbital.6 Gbr 2.3.axial akan memberikan informasi penting terhadap perluasan trauma kraniomaksilofasial. Diagnosa dan rencana perawatan yang tidak tepat akan menyebabkan hasil yang tidak adekuat dan memperlama prosedur bedah. Akan tetapi. buttress maxilla dan ramus ascenden mandibula.

proses rekonstruksi seperti menyusun puzzle. ketika terjadi fraktur lefort dengan midpalatal yang masih utuh. Solusi untuk mengatasi masalah ini adalah dengan mengembalikan keutuhan maxila dengan melakukan reduksi dan fiksasi fraktur palatal. Reduksi permukaan bukal dan lingual memungkinkan untuk didapatkannya hasil fiksasi yang lebih baik. Key landmark yang dapat membantu adalah. kan terjadi penambahan lebar wajah. mandibula. maxila yang memiliki lengkung yang masih utuh dapat digunakan untuk panduan mendapatkan lebar lengkung mandibula yang tepat. akan didapatkan hasil yang optimal. sebagai nerikut:1.7 Ketika terjadi fraktur wajah multiple yang melibatkan wajah bagian atas. Pengetahuan akan landmark dan anatomi dapat digunakan untuk rekonstruksi yang tepat pada bagian wajah yang mengalami kerusakan. dan regio intercanthal.yang detail. b. sutura sphenozigomatik. tehnik bone graft serta urutan tahapan bedah yang baik. Perlekatan otot pterigoid lateral pada fovea pterigoideus. fiksasi yang baik. Pendekata ini bisa dilakukan jika fraktur palatal single tanpa kominusi atau avulsi. Jjika terdapat fraktur subkondilar yang disertai dengan fraktur simphisis dan/atau ramus mandibula. lengkung gigi. Lengkung Gigi Ketika salah satu atau kedua lengkung gigi utuh. berfungsi untuk mencegah pergerakan lateral yang ekstrem. Mandibula Reduksi simphisis dan/atau ramus mandibula dapat diperoleh melalui pembukaan ekstraoral. tengah dan bawah. mereka dapat digunakan sebagai panduan. Sebagai contoh. Eksposure ini memungkinkan didapatkannya visualisasi langsung dari inferior border mandibula dan sedikit korteks lingual. Jika terdapat fraktur subkondilar bilateral. Kondisi ini dapat menyebabkan melebarnya kompleks facial jika segmen fraktur tidak direduksi dengan benar. maxxilary buttress.7 a. fraktur tersebut harus dirawat agar didapatkan tinggi dan lebar wajah yang tepat. Masalah utama terjadi jika terdapat fraktur midpalatal dan mandibula yang disertai fraktur kondyle. 338 .

Jika terjadi kehilangan tulang yang signifikan pada regio ini. Ketika zygoma telah berada pada posisi yang tepat. Daerah Interchantus Daerah interchantus digunakan untuk mengembalikan lebar midfacial setelah jarak interchantus stabil pada rangka wajah orang dewasa. Permukaan kontak yang luas ini sangat penting pada proses reduksi dan fiksasi. Likewise . disepanjang permukaan dalam dari didingding orbita lateral adalah key landmark pada reduksi dan fiksasi complex zygomatikomaksilaris. buttress zigomatikus sangatlah penting dalam menempatkan zygoma dan maksila dalam posisi yang tepat. Sutura Sphenozygomatikus Sutura sphenozygomatikus. Gambar 4.Kondilus mandibula can be reconstitude ramus mandibula untuk mendapatkan tinggi dan lebar wajah. Jika orbital roof dan orbita lateral superior masih baik. Restorasi jarak interchantus dengan menggunakan reduksi kompleks naso-orbitoethmoid dapat membantu menentukan lebar wajah. c. lokasi dari maksila dapat di tentukan. 339 . sutura ini dapat menjadi landmark yang penting untuk menempatkan zygoma dan lengkung zygoma pada posisi yang tepat. Sutura sphenozygomatikus biasanya nampak pada sepanjang permukaan internal dari dinding orbita lateral. perlu dipertimbangkan pencangkokan untuk mengembalikan buttress ini. Reduksi dan fiksasi sutura sphenozygomatik 1 d.

Dibutuhkan perencanaan yang baik untuk meminimalkan operasi ulang dan lamanya perawatan di rumah sakit.Gambaran klinis penderita dengan fraktur naso-orbitoethmoid dengan jarak interchantus 43mm. Lokasi dan luasnya fraktur 2. mukosa dan saraf 4. Defek tulang yang luas atau defek jaringan lunak dapat dipertimbangkan dengan menggunakan rekonstruksi flap yang luas atau graft. serta perbaikan oklusi gigi. meliputi kulit. B. Sebelum merencanakan perawatan terlebih dahulu perhatikan: 7 1. Keadaan trauma dentoalveolar Perawatan jenis trauma yang kompleks ini merupakan rangkuman dari seluruh perbaikan dari semua fraktur fasial dan kranial yang individual. penyembuhan tulang. Gambaran intraoperatif menunjukkan gambaran fraktur naso-orbitoethmoid. Jumlah kehilangan jaringan lunak. Struktur yang terluka atau terlibat di sepanjang fraktur 3. Pada saat ini perawatan modern unit kraniofasial di negara maju memungkinkan untuk dilakukannya perbaikan kraniofasial dan bedah neurologis dalam merekonstruksi perbaikan fraktur fasial yang multipel dan penutupan fistula kranionasal pada saat yang bersamaan. mengurangi rasa sakit. Defek diskontinuitas dapat dilakukan dengan fiksasi maksilomandibular 340 .7 Tujuan dari perawatan fraktur panfasial adalah merehabilitasi jaringan yang terkena. Luas kehilangan tulang 5.Gambar 5. Perawatan terhadap jenis fraktur ini sebelumnya sering mengalami kesulitan dalam menentukan waktu perbaikan wajah sehubungan dengan intervensi bedah saraf dan ophtalmologis. A.

baik internal dengan intraosseus wiring. Selain itu adanya rhinorrhoea serebrospinal atau aerocele intrakranial merupakan alasan lain keterlambatan perawatan. Selain itu diperlukan osteotomi pada garis fraktur akibat telah terjadinya penyatuan tulang. Beberapa penulis menganjurkan untuk fiksasi primer pada 12-48 jam paska trauma. Rekonstruksi harus meliputi arah 3 dimensi yaitu vertikal. ophtalmologis dan pengelolaan gigi geligi yang adekuat terutama pada pasien dalam keadaan koma dan tidak kooperatif. Pada banyak kasus keterlambatan koreksi seringkali menyebabkan telah terjadinya union pada tulang dan kontraktur jaringan lunak sehingga diperlukan diseksi jaringan lunak yang ekstensif untuk mendapatkan pemaparan tulang yang baik dalam rangka reduksi dan fiksasi fraktur tulang.6 Kunci utama dalam penatalaksanaan fraktur panfasial adalah untuk mendapatkan fiksasi dan stabilisasi yang cukup stabil pada daerah-daerah yang tidak stabil. plate dan screws. Terdapat dua prinsip umum untuk penatalaksanaan fraktur panfasial 341 . Bone graft pada dinding sinus maksila anterior1 Koreksi definitif pada pasien dengan trauma kraniofasial yang kompleks secara ideal dilakukan dalam 5-7 hari. Hilangnya gigi geligi akan mempengaruhi hubungan antara maksila dan mandibula. 2 Seringkali pasien tersebut membutuhkan waktu lebih dari tiga minggu untuk pengelolaan life-saving yang ekstensi terhadap trauma ekstrakranial.2. Namun dalam jangka waktu tersebut seringkali tidak cukup untuk memperoleh pemeriksaan radiologis. Pada periode tersebut jaringan lunak berada dalam keadaan pembengkakan sehingga pengelolaan operatif pada saat itu akan menyebabkan proyeksi wajah dan kesimetrisan wajah sulit dicapai. horisontal dan transversal. lag screws maupun fiksasi eksternal. Cangkok tulang definitif dapat dilakukan pada operasi pertama ataupun kedua.7 Gbr 6.

Bila lengkung mandibula terganggu harus diperbaiki terlebih dahulu. maksila yang mengalami disimpaksi dapat dikoreksi dengan menyesuaikan oklusi pada rahang bawah dan dilakukan fiksasi intermaksilaris. Hal ini dilakukan agar rekonstruksi pada mandibula dapat menghasilkan hubungan yang intak dalam mereposisi maksila.2. rekonstruksi dimulai dari mandibula.yaitu dengan tehnik bottom to top (dari bawah ke atas) atau top to bottom (dari atas ke bawah). Ketidakakuratan dalam mereduksi dan mereposisi fraktur kondilus akan menyebabkan asimetri wajah.6 Bila terdapat fraktur sagital pada maksila dilakukan reduksi dan fiksasi untuk mendapatkan kembali lengkung maksila sehingga koreksi terhadap lebar wajah tengah dapat tercapai.8 Apabila kranium frontalis masih intak atau terdapat fraktur pada fossa kranial anterior atau fronto-orbital bar tanpa adanya kehilangan tulang atau dimana struktur-struktur tulang tersebut di atas telah terekonstruksi dengan kuat. 5. Namun bila terdapat diskontinuitas pada lengkung mandibula. regio midfasial dapat direkonstruksi dalam arah atas ke bawah.6 Kerugian pada tehnik bottom to up adalah untuk rekonstruksi dilakukan dimulai dari jarak yang cukup jauh dari elemen simetris yang stabil yaitu basis kranial. Fiksasi dapat dilakukan dengan menempatkan miniplate secara transversal pada maksila. Setelah mandibula terkoreksi dengan baik. Perbaikan dapat dilanjutkan dalam arah atas ke bawah dan bertemu dengan segmen maksilomandibula yang telah terfiksasi. 5.6. Selain itu bila basis kranial frontalis diperbaiki dan dilekatkan terhadap tengah wajah dapat menaikkan resiko kerusakan atau perubahan letak terhadap fosa kranialis anterior yang telah diperbaiki.5. Fraktur pada kondilus baik unilateral maupun bilateral memerlukan reduksi segera dan fiksasi internal untuk mempertahankan ketinggian fasial. pendekatan dilakukan dalam arah bawah ke atas.6 342 .8 Pada tehnik bottom to top. hilangnya tulang pada tulang kranial dan diskontinuitas pada dasar fosa kranial anterior atau hilangnya titik referensi.2.

reduksi dan fiksasi zygoma dengan menggunakan panduan sutura sphenozygomatik dan sutura zigomatiko maxilary. kemudian fraktur symphisis. Gruss dan Mackinon (1986) menyarankan untuk melakukan rekonstruksi pertama-tama pada bagian luar rangka fasial (outer facial frame) pada fraktur panfasial yaitu meliputi lengkung zygomatik. C dan D. E dan F. Kemudian diikuti dengan reduksi dan fiksasi fraktur subkondil. G dan H. kompleks malar dan tulang frontalis. Kemudian rekonstruksi dilakukan pada bagian dalam 343 . selanjutnya maxiila dapat distabilisasi sepanjang buttress zygomaticomaxilary. penatalaksanaan fraktur panfacial dapat dimulai dengan fikasi maxilomandibular.Gbr 7. Tehnik bottom up dan inside out. selanjutnya fraktur naso-orbiethmoid dapat direduksi dan fiksasi pada sutura naso frontalis dan sutura frontomaxilary dan infraorbital rim serta piriform. 1 Pada tehnik top to bottom. A dan B.

Kemudian reposisi pada fraktur mandibula dan diakhiri dengan fiksasi intermaksilaris. Gbr 8. Setelah itu dilakukan rekonstruksi pada maksila pada Le Fort I dengan menggunakan plat pada buttress. Teknik top to bottom1 Cangkok tulang biasanya dilakukan untuk merekonstruksi dinding orbital dan hidung. sutura zygomatikofrontalis dan orbital rim. Selain itu cangkok tulang dilakukan untuk koreksi sekunder bila 344 .rangka fasial (inner facial frame) atau pada kompleks naso-orbitho-ethmoidal.

Kerusakan neurologis seperti adanya anestesi. 2. Deformitas dan obstruksi hidung dan serta 8. 6. sulkus gingivobukal. parastesi. Insisi koronal akan dapat memberikan pemaparan yang lebih luas pada tulang kranium dan rangka kraniofasial bagian atas. 3.4 Komplikasi Komplikasi yang dapat terjadi pada trauma maksilofasial adalah : 1.dibutuhkan untuk menambah kontur pada regio tertentu dan memperbaiki kesimetrisan wajah. 345 . 7. preaurikular. periorbital. Kebutaan. Gigitan terbuka pada bagian anterior ( openbite anterior). 5. Kurangnya ketinggian wajah pada bagian posterior. retromandibular atau submandibular. insisi pada kelopak mata bagian bawah. 4. Bertambahnya lebar wajah.5 2. Berkurangnya ukuran proyeksi wajah dalam arah anterior dan posterior. Selain itu insisi ini dapat memberikan akses yang optimal untuk dapat mereduksi dan memfiksasi fragmen tulang.6 Berbagai macam insisi dilakukan untuk mendapatkan pemaparan tulang yang mengalami fraktur dan merekonstruksinya antara lain dengan insisi koronal. Maloklusi.

Kunci keberhasilan pengelolaan pasien fraktur panfasial adalah dengan mendapatkan lapang pandang yang cukup luas. Prinsip dalam merekonstruksi adalah dengan mereduksi daerah yang anatomi yang memberikan panduan rangka wajah yang maksimal yaitu pada kerangka wajah luar. reduksi yang cermat dan fiksasi dari fraktur. Daerah-daerah yang mengalami kehilangan tulang yang luas dapat dilakukan cangkok tulang.BAB III KESIMPULAN Penatalaksanaan pasien dengan trauma panfasial memerlukan diagnosa yang cermat untuk mendapatkan hasil yang memuaskan dalam merekonstruksi wajah. 346 .

Panfacial fractures : Planning an Organized Treatment in Harle F. D. drg. M.R. Pedersen. G. Alih Bahasa: drg. Trott.otohns. Multimedia: Follow-up: Treatment: UTMB Grand Rounds-Maxillary and 347 .W.medscape. Atlas of Craniomaxillofacial Osteosynthesis Miniplates. J. Fonseca R. http://www. and Champy.medscape. 2010. 1996. Bos. http://emedicine. R. 1990. http://emedicine. Jakarta. Craniomaxillofacial Trauma. Facial Fracture in David. http://emedicine.A. Craniofacial Trauma. Purwanto. Management of Panfacial Fractures 9. EGC. 3. Hard N.com/article/1283471-overview Workup: Facial Trauma.J. St Louis: Elsevier Saunders. http://emedicine. New York: Thieme 7. Buku Ajar Praktis Bedah Mulut. Kuttenberger. Berlin: Springer-Verlag 2. Management of Panfacial Fractures 10.medscape. Management of Panfacial Fractures 8.com/article/1283471-overview Facial Trauma. Basoeseno.net/default Periorbital Fractures 5. 1995. Diagnosis and Management.medscape. Microplates and Screws. 2005.A et al. Management of Panfacial Fractures 4. Oral and Maxillofacial Trauma.com/article/1283471-overview Facial Trauma.com/article/1283471-overview Facial Trauma.M.J & Simpson D. 3rd ed. Edinburg: Churchill Livingston 6. Stuttgart.DAFTAR PUSTAKA 1.

anak-anak. Maksud dari penulisan makalah ini adalah untuk memberikan gambaran mengenai manajemen penatalaksanaan trauma pada anak-anak. ukuran bagian tubuh yang lebih kecil dan komplikasi yang minimal menjadi karakteristik tersendiri pada pasien anak-anak. reposisi. Dengan kemampuan penyembuhan yang cepat. fraktur.Manajemen Trauma Pada Anak-Anak Arismunandar 160121120005 Peserta Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut Dan Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Bandung Abstrak Manajemen trauma oromaksilofasial pada pasien anak-anak sedikit berbeda dengan orang dewasa. fiksasi. Perlu di perhatikan pada penanganan kegawatdaruratan dan perawatan definitive oleh karena struktur anatomi yang sedikit berbeda dengan orang dewasa. 348 . reduksi. Kata kunci : trauma.

3 Oleh karena itu. Kedua. 1. dan adanya lapisan adiposa yang menutupi kerangka lebih tebal daripada pada orang dewasa. Ini termasuk anatomi wajah yang belum dewasa. cedera pada wajah karena trauma berpengaruh pada pertumbuhan. saat terjadi trauma. Pertama. ada karakteristik tertentu dari trauma orofasial pada anak-anak yang harus selalu diingat. akan menyebabkan gaya yang lebih besar per unit masa tubuh. 349 . Pada pasien pediatrik. mereka lebih rentan menghadapi resiko hipotermia. dan stroke volume lebih kecil daripada orang dewasa. yang membuat tindak lanjut penanganan jangka panjang pada pasien anak-anak wajib diperhatikan. oleh karena vaskularisasi jaringan yang baik dari wajah. darah total yang lebih rendah volume.2 Faktor-faktor ini juga berkontribusi terhadap rendahnya frekuensi fraktur fasial pada anak-anak dan seringya terjadi greenstick dan nondisplaced fraktur pada anak-anak. Anak-anak memiliki permukaan yang lebih tinggi-untuk-rasio volume tubuh. pemulihan jaringan orofasial yang rusak dapat dimaksimalkan dan hilangnya fungsi dapat diminimalkan. tingkat metabolisme lebih tinggi. trauma orofasial pada anak-anak tidak dapat dikelola dengan cara yang sama seperti pada orang dewasa. dan curah jantung. pada pasien anak-anak memiliki keuntungan dari kemampuannya untuk menyembuhkan yang cepat dengan komplikasi yang minimal. tulang lebih elastis.4 Adanya perbedaan antara pasien anak dan dewasa mempunyai dampak terhadap pola trauma pada anak-anak pada umumnya dan trauma maksilofasial khususnya.2 Disamping keuntungan ini. melalui pertumbuhan dan kemampuan yang melekat pada anak-anak untuk beradaptasi. Kurangnya sinus pneumatization dan tunas gigi dalam rahang berkontribusi terhadap stabilitas dan rendahnya prevalensi pada fraktur midface . Karena faktor ini. oxygen demand.BAB I PENDAHULUAN Pasien trauma orofasial pada anak-anak berbeda dari orang dewasa dengan luka yang serupa oleh karena trauma yang terjadi. garis sutura lebih fleksibel. 3 Ukuran tubuh anakanak yang lebih kecil juga berpengaruh.

5:1 pada dewasa. anak-anak memiliki rasio cranial to body mass lebih besar. dan hipoksia setelah kehilangan darah dan bahkan pembengkakan ringan pada saluran napas atau terjadinya obstruksi mekanis.hipotensi. serta lebih besar insiden cedera tengkorak dalam kelompok usia yang lebih muda. Rasio cranial to body mass diperkirakan 8:1 pada masa bayi dan 2.4 350 .3. insiden patah tulang rahang midface dan meningkat sedangkan insiden cedera kranial berkurang.3 Dibandingkan dengan orang dewasa. pengendalian perdarahan. insidensi fraktur midface dan tulang mandibula pada anak-anak lebih rendah. Ini juga menjelaskan mengapa. Oleh karena itu maka pemeliharaan jalan nafas. dengan bertambahnya usia. Perlindungan ''relatif'' wajah oleh tulang tengkorak memberikan informasi bahwa. dan resusitasi awal lebih kritis pada anak-anak daripada orang dewasa.

Secara keseluruhan menunjukkan bahwa. kranium tumbuh lebih cepat daripada wajah. Pertumbuhan fasial terus berlangsung sampai pada dekade kedua kehidupan hingga ratio kraniofasila menjadi 2:1. Tulang kranium kepala besar dan struktur wajah yang relatif kecil. Oleh karena alasan tersebut maka tulang kranium lebih sering terkena trauma sebelum usia ke-7 daripada trauma yang terjadi pada wajah. Otak dan ocular pertumbuhan hampir selesai pada usia tujuh. Walaupun kebanyakan dokter mengkategorikan pasien yang sedang dalam masa tumbuh kembang sesuai dengan kesar tubuh anak-anak tersebut. anak-anak harus dibedakan berdasarkan usia tumbuh kembangnya.3. 2. Potensi penyembuhan dan remodeling tulang pada anak-anak lebih besar daripada orang dewasa. Pada perawatan IMF yang menghambat tumbuh kembang 351 .1 Dilema sering muncul ketika harus memutuskan perawatan yang terbaik untuk penatalaksanaan trauma orofasial terutama pada pasien anak-anak. reduction.4 Anatomi Dan Patofisiologi Proporsi wajah anak-anak sangat berbeda dari yang orang dewasa. penyebab paling umum cedera pada wajah adalah kecelakaan kendaraan bermotor apakah anak sebagai penumpang atau pejalan kaki. Infant dikategorikan pada usia kurang dari 1 tahun. dan dewasa muda berada pada usia 11-19 tahun.BAB II TINJAUAN PUSTAKA Epidemiologi Etiologi cedera pada wajah bervariasi dengan usia. Peran dan fungsi rahang sebagai modulator pertumbuhan mandibula tidak terbantahkan. mencapai 80% dari ukuran dewasa pada usia dua tahun.3. Awalnya.4 Prinsip umum penatalaksanaan fraktur (recognition. kategori anak-anak berada pada usia 1-11 tahun. Rasio kraniofasial saat lahir adalah 8:1 dan wajah tersembunyi di bawah tulang kranium yang relatif besar. stabilization. & fixation) harus diterapkan disamping tetap mempertimbangkan dampak yang terjadi terhadap tumbuh kembang anak-anak di masa mendatang.

kesulitan intubasi. Komposisi tulang dengan lebih banyak tulang kanselus menyebabkan kurang kondusif dilakukan screw/ wire fixation untuk internal fiksasi.4 Anatomi jalan nafas pada pasien anak-anak memiliki saluran yang pendek dan diameter yang kecil serta epiglotis yang sempit serta lidah yang besar pada anak.wajah efeknya bersifat reversible. Oleh karena alasan tersebut. Pada anak-anak dan bayi rigiditas dada kurang bila dibandingkan dengan dewasa. mudahnya tejadi obstruksi.3 Psikologi anak-anak Stress trauma dan bedah akan berpengaruh pada psikologi anak-anak. Aktivitas osteogenic dan bone remodeling yang aktif pada anak-anak menyebabkan fraktur yang terjadi baik pada maksila ataupun pada mandibula yang jika tidak segera dilakukan reduksi dalam beberapa hari maka akan sulit didapatkan reduksi yang adekuat dikemudian hari. dan mudahnya self-extubation. Hampir tidak ada/ jarang ditemukan kasus nonunion pada fraktur fasial pada anak-anak. jika pemasangan IMF dilakukan untuk jangka waktu yang singkat. closed reduction menjadi pilihan solusi penanganan pada kebanyakan fraktur fasial. Ketika perawatan open reduction menjadi pilihan.2 Fraktur greenstick lebih sering dijumpai pada pasien anak-anak oleh karena tulang korteks yang tipis dan meningkatnya bagian medulla tulang menyebabkan tulang tahan terhadap benturan.1. screws ataupun wires. Pada usia yang lebih dewasa. 352 . Selama periode infant. trauma dan bedah akan mengganggu alur makan dan tidur infant. Selama fase mixed dentition mungkin akan sulit didapatkan IMF yang stabil pada perawatan closed dan open reduction. Tidak seperti pada orang dewasa. Kondisi ini menyebabkan meningkatnya airway resintance. pada anak-anak penyebab umum terjadinya gangguan jantung oleh karena gangguan sekunder pernafasan. depresi dapat terjadi karena tekanan dari ingatan akan trauma dan kehilangan anggota tubuh dapat menghambat perkembangan mental pada anak. rawat inap rumah sakit. 1. harus diperhatikan bahwa jangan sampai tindakan tersebut mempunyai efek terhadap tumbuh kembang wajah akibat penempatan bone plates.2.

51. trauma kepala sering menyertai fraktur fasial. Pada pasien anak-anak. 5% dari semua kasus fraktur fasial terjadi pada anak-anak dibawah umur 12 tahun dan kurang dari 1% terjadi pada anak-anak dibawah umur 6 tahun.6% fraktur orbita.1 353 . 18% pada atap orbita.4% terjadi faraktur nasal. 15. menemukan bahwa 40% kasus fraktur fasial berkaitan dengan fraktur kranium. 8. Posnick et al mendapatkan dari 137 pasien.5% fraktur mandibula.Post Traumatic Stres Disorder (PTSD) dapat muncul setelah luka pada individu muda yang tidak pernah mengalami luka yang serius ataupun rawat inap pada lingkungan rumah sakit. 19% pada dinding media. Konsultasi dengan psikiatri dan layanan social lainnya penting untuk menghasilkan kesehatan yang sempurna pada anak-anak. 1 Studi yang dilakukan McCoy et al. keadaan ini dapat memicu pertumbuhan mental pasien kea rah yang tidak wajar. Walaupun PTSD bukanlah kelainan yang fatal. menemukan 42 % dengan fraktur fasial (6-12 tahun). Pada kasus kecelakaan kendaraan bermotor yang terjadi/ melibatkan anak-anak.7 fraktur zygoma dan maksila. Fraktur pada midface pada anak-anak ditemukan kurang dari 1% dan 4% disertai variasi fraktur Le Fort I. kemudian diikuti trauma pada ekstremitas. Analisa yang dilakukan Rowe pada 1500 kasus fraktur fasial ditemukan bahwa. 11. 32 % fraktur orbita pada dasar orbita. Perawatan khusus harus diberikan untuk menjaga keadaan mental pasien anakanak. Insiden Fraktur Fasial Fasial fraktur pada anak-anak jarang terjadi pada anak-anak.

diare. Stabilisasi tulang servikal sampai kondisi dinyatakan clear. wajah. dapat membahayakan saluran pernafasan pada anak-anak dengan trauma maksilofasial. dan hipotermi adalah tanda-tanda shock dan memerlukan segera resusitasi cairan dengan cairan intravena yang hangat untuk mengembalikan ke kondisi semula. resusitasi cairan dengan 2 cateter intravena diperlukan. fragmen fraktur mandibula. Kemungkinan terjadi kehilangan cairan pada kondisi adanya luka terbuka. delayed capillary refill. Maintenance terapi untuk mengkompensasi kehilangan cairan insensible (paru & keringat) dan sensible (urine & stool).4 Cairan Dan Elektrolit Resusitasi cairan merupakan komponen penting pada manajemen perioperatif pada pasien trauma anak-anak. muntah. Dengan adanya trauma. Perdarahan dari kulit kepala. akses intraosseus bisa dilakukan sampai akses intravena didapatkan. leher dan mulut harus dikontrol dengan penekanan dan dilakukan penjahitan bila perlu. berkurangnya nadi perifer. jika kurang dari 6 tahun. Kebutuhan cairan pada anak-anak terdiri dari maintenance dan replacement. kontrol perdarahan dan stabilisasi tulang servikal merupakan langkah utama pada manajemen kegawatdaruratan pada pasien anak-anak dengan trauma orofasial. Jika diduga dehidrasi moderate maka maintenance awal 5mL/ Kg per jam selama 2 354 . Kalkulasi terapi maintenance pada anak-anak berkisar 1500 mL + 20 mL/kg untuk berat badan yang lebih dari 20 Kg per hari. Pembengkakan karena trauma maksilofasial. Perubahan status mentalis. respiratory compromise. pencegahan terjadinya aspirasi. Untuk terapi maintenance dikalkulasikan dengan estimasi caloric expenditure dari berat badan dan luas permukaan tubuh. Mulut dan pharynx harus terbebas dari kotoran dan intubasi dilakukan jika diperlukan.BAB III PEMBAHASAN Manajemen Kegawat-daruratan Pemeliharaan jalan nafas.

yang mewakili 25% volume darah normal pada anak-anak. Tanda-tanda shock meliputi tachycardia. Serta juga dapat menyebabkan hiperchloremic pada neonates jika digunakan dalam jangka waktu yang lama. Compatibility test harus dilakukan sebelum dilakukan transfusi untuk menentukan golongan darah dan Rh recipient. Resusitasi untuk hipovalemia dapat dimulai dengan pemberian crystalloid bolus 20 mL/Kg. Penggunaan cairan isotonis dianjurkan karena aktif secara osmosis dan menyebabkan ekspansi intravascular. Pada anak-anak dengan multisystem trauma harus dipertimbangkan kemungkinan terjadinya perdarahan. Ketika kondisi hemodinamik sudah tidak stabil maka perlu diberikan bolus crystalloid fluid.jam pertama dan berkurang sampai 1. D5 dengan ½ NS). poor filling capillary refiil. Darah merupakan agen yang sangat efektif untuk mengoreksi defisit intravascular. serta kemungkinan adanya red cell isoantibodies.1.5-2 mL/ Kg per jam. Penggunaan cairan hipotonis tidak dianjurkan pada resusitasi karena menyebabkan menurunnya crystalloid osmotic pressure. Output urine diharapkan 1-2 mL/ Kg per jam pada anak-anak. Pada kasus trauma pada anak-anak operator harus jeli memonitor kondisi klinis pasien jika sewaktu-waktu terjadi shock dan dibutuhkan resusitasi cairan.karena tiga kali jumlah crystalloid diperlukan untuk menggantikan volume darah yang hilang. Penggunaan NS bisa memicu terjadinya hipernantremi ketika diberikan untuk maintenance karena kandungan sodium yang tinggi (154 mEq/L) dan juga karena kemampuan bayi untuk mengekskresikan kelebihan sodium berkurang.3 Blood Loss Dan Replacement Tujuan utama manjemen terapi cairan pada anak-anak adalah untuk mengenali dan mengatasi kondisi yang mengancam nyawa dan mengeliminasi kondisi sekunder karena trauma yang terjadi. Bolus diulang sampai total 60 mL/Kg . transfusi PRC 10-20 mL/Kg. Terapi cairan untuk maintenance biasanya larutan hipotonis dengan konsentrasi Na dan K yang memadai ( 5% dextrose [D5] dengan ¼ NS. dan pre renal azotemia.3 355 . pallor.1. karena kandungan chloride didalamnya adalah nonphysiologic chloride.

intake makanan dalam bentuk mechanical diet yang tidak dikunyah atau dalam bentuk cairan jika terpasang IMF. perdarahan hidung. terutama pada pasien dengan trauma midface yang parah. dan identifikasi perdarahan dari rongga mulut. perubahan status mentalis. periorbital ecchymosis.subcutaneous emphysema. subcutaneous emphysema. respiratory failure. Identifikasi adanya pembengkakan yang terjadi dan kemungkinan terjadinya fraktur pada struktur tulang dibawahnya. Adanya battle’s sign (postauricular echymosis) curigai adanya basal skull fracture. Sedasi selama periode tersebut mungkin sangat diperlukan tetapi harus dihindari karena kondisi pasien masih dalam masks neurologoc changes. Karena jalan nafas yang relatif sempit maka kemungkinan dampak karena oedem dan pembengkakan semakin besar. battle’s sign. berikan secara parenteral. Palpasi regio orbita dan nasal untuk mengetahui adanya deformitas tulang pada daerah tersebut. atau adanya gigi yang tanggal curigai adanya fraktur rahang. Perhatikan dan observasi tanda-tanda vital untuk menentukan apakah pasien stabil atau dalam kondisi sebaliknya. Ketika pasien dalam kondisi severe neurologic injury. atau adanya hemotympanum. 1. Adanya kelainan maloklusi. 356 . rhinorea. subconjunctival hemorrhage. Adanya laserasi atau kontusi pada daerah dagu waspadai kemungkinan terjadinnya fraktur pada kondil mandibula. Konsultasikan ke neurosurgical jika ada riwayat pingsan. adakah diplopia. Ketika terjadi fraktur orbita lakukan tes visual .3 Pemeriksaan klinis Perhatikan airway. dan krepitasi yang terjadi. oedema fasial. dan kelainan pergerakan bola mata.Nutrisi Pada pasien anak-anak paska penatalaksanaan tindakan bedah. Pada pasien recovery. sering terjadi kondisi hypercatabolic yang memerlukan oral intake yang adekuat untuk mencukupi nutrisi yang dibutuhkan tubuh. massive edema hindari pemberian makan secara enteral selama kurang lebih 3 hari atau lebih. parestesi wajah. kemudian diikuti evaluasi kardiopulmonal. Adanya deviasi waktu membuka mulut curigai adanya fraktur pada kondil mandibula.

2 Pemeriksaan Radiologi Pemeriksaa radiologi perlu dilakukan untuk membantu menegakkan diagnosa. Pada fraktur alveolar maksila berkisar antara 5% sampai 65%. 1. wire ligation serta composite supported orthodontic wire extended pada gigi disekitarnya. Penggunaan CT-Scan telah menjadi kegiatan rutin dinegara-negara besar dan menjadi standar perawatan menggantikan pemeriksaan radiologi konvensional. Prosentasenya berkisar 8.2.6 % pada trauma fasial pada anak-anak. 1. Town’s projection. Fiksasi gigi dengan composite supported orthodontic wire extended1 357 . os mental atau tulang kranial. Water’s view dan submental vertex. Panoramic foto merupakan alat diagnostic lainnya yang diperlukan tetapi menuntut kerjasama pasien untuk diam selama berlangsung pemaparan. schede AP lateral. Fraktur Alveolar Fraktur mandibular alveolar pada anak-anak merupakan yang paling sering terjadi pada fraktur fasial.Anamnesa yang akurat tentang riwayat trauma pada pasien ataupun pengantar sangat membantu perencanaan tindakan berikutnya.1 % dan 50.1 Gambar 1. Penanganan fraktur alveolar meliputi imobilisasi segmen fraktur dengan arch bar.3 TIPE FRAKTUR 1. Pada pasien dengan alveolar bone loss dapat dilakukan autogenous bone grafting dengan pengambilan tulang berasal dari mandibular ramus. Pemeriksaan lengkap pada wajah meliputi.

Seperti pada fraktur nasal orang dewasa maka oedema terjadi disekitar struktur os nasalis. Reseksi pada septal cartilage dapat menyebabkan gangguan Pemeriksaan ulang pertumbuhan wajah. Nasal packs dapat digunakan untuk menyangga tulang dan septum hidung yang telah direposisi. Jika terjadi terjadi deviasi septum maka harus dilakukan reduksi. 1 Splinting eksternal dapat membantu untuk mengontrol pembengkakan dan menyediakan perlindungan pada hidung setelah dilakukan reposisi. bukan hiperekstensi kebelakang. Fraktur Midfasial Fraktur Nasal. Fraktur nasal yang terjadi sebelum proses tumbuh kembang selesai harus di perlakukan sama seperti fraktur nasal pada orang dewasa. Tulang hidung dapat direposisi dengan pendekatan intranasal. 358 . dilakukan setelah 3-4 hari setelah terjadinya trauma. Epistaksis sering terjadi menyertai trauma pada hidung dan mudah dikontrol dengan melakukan penekanan pada nostril selama 5-10 menit dengan kepala sedikit ditengadakan. untuk mencegah terjadinya aspirasi dari darah karena darah mengalir ke posterior pharynx. dan jika terjadi deformitas maka harus dilakukan closed reduction. Fraktur nasal sering terjadi pada cedera midfasial anak-anak. dan hal ini harus dihindari. Setelah dilakukan reduksi dengan kaudal traksi. dan membiarkanya beberapa saat selama proses penyembuhan. Adanya gangguan pertumbuhan setelah terjadinya fraktur nasal akan menyebabkan penutupan premature dari sutura septovomerine.2.

1. Sebelum usia 7 tahun. Penatalaksanaan fraktur orbita pada anak-anak umur 7 tahun ke atas sama dengan penatalaksanaan pada fraktur orbita orang dewasa. Aperture piriformis dan dinding zygomaticomaxillary tebal . Hal ini dikarenakan sinus masih dalam perkembangan. (B) Setelah reduksi tertutup. karena sebagian besar perkembangan orbita telah selesai. Jika terjadi fraktur dan terjadi maloklusi maka dapat dilakukan closed reduction. sebagian besar fraktur pada orbita terjadi pada atap orbita dan meluas ke sinus frontalis. Intervensi bedah pada toothbearing area pada maksila untuk penempatan kawat untuk stabilisasi atau plate meningkatkan insiden terjadinya gangguan perkembangan benih gigi dan sedapat mungkin dihindari. (A) Deviasi ke kanan setelah trauma pada wajah. adanya keterbatasan gerak bola mata. Adanya disfigurement wajah. cedera pada atap orbita.2 Fraktur Orbita. Setelah usia 7 tahun. dan dilakukan pada kondisi tertentu. gigi belum tumbuh dan sinus maksilaris masih belum sempurna. 1 Fraktur Maksila. prolaps 359 . dinding lateral. dasar dan sinus frontalis lebih sering terjadi . Pencetakan dilakukan dan pembuatan model. Jejas pada nasal merupakan fraktur wajah yang sering terjadi pada pasien anak-anak. kemudian model dipotong untuk memfasilitasi konstruksi pembuatan splint untuk closed reduction. dan jaringan lunaknya lebih banyak jaringan lemak.Gambar 2. Fraktur Le fort pada anak-anak jarang ditemui oleh karena maksila pada anak-anak masih tulang kanselus.

Untuk eksplorasi daerah infraorbital rim. Gambar 3. dan jika gigi permanen belum tumbuh.periorbita ke athrum atau sinus ethmoidalis dan adanya diplopia yang persisten merupakan indikasi dilakukan open orbital exploration. Untuk menghindari hal tersebut maka sedapat mungkin kawat atau screw harus ditempatkan dengan posisi cephalic diatas rim. (B) Durante op dengan gambaran impaksi frontal dan rima supra orbita yang memerkukan dilakukannya craniektomi untuk akses dan pebaikan. Untuk eksplorasi regio frontozygomatico dapat dilakukan insisi di sekitar alis mata. Insisi dibuat 7 mm dari tepi bawah kantung mata. dasar orbita dan dinding medial dapat dilakukan pendekatan dengan melakukan insisi pada lipatan inferior kantung mata atau melalui transconjunctival approach. Jika dilakukan fiksasi internal maka kawat ditempatkan pada inferior orbital rim. Karena pada anak-anak lipatan kantung mata belum terbentuk maka insisi bisa dilakukan parallel dengan batas kantung mata dan sedikit bersudut ke inferior hal ini untuk mengurangi terbentuknya jaringan parut. Fraktur fronto-rima orbitalis superior terjadi karena adanya tumbukan yang cepat kearah benda diam. kemungkinan tunas benih gigi akan terkena. dan diseksi dilakukan ke otot orbicularis oculli terus sampai ke bawah pada orbital rim.2 360 . (A) Edema pada fronto-periorbita dextra dan ekimosis setelah trauma.

1. Regio ini dapat diakses melalui pendekatan insisi koronal untuk hasil estetik yang memuaskan. Ketika dilakukan open reduction pada daerah ini maka periosteum akan dipisahkan dari tulang orbita dan nasal dan kondisi ini sendiri berpotensial menghambat pertumbuhan wajah. tapi karena pentingnya harus digaris bawahi karena potensialnya yang bisa menyebabkan gangguan pada pertumbuhan tulang wajah. Fraktur ini relatif jarang dijumpai pada anak-anak. Prolaps yang terjadi harus dikembalikan dan dasar atau dinding harus didukung dengan bone graft untuk mencegah enophthalmus. Insisi koronal dilakukan 361 . Potongan cross-seksi dari inferior palpebral dan variasi dari insisi pada dasar.Gambar 4. In: Fonseca RJ.3 Jika dasar orbita atau dinding medial fraktur maka akan terjadi prolaps bola mata ke anthrum atau sinus ethmoidalis. Orbital trauma. orbita dan septum nasalis. Menurut Ochs MW FR. disamping bisa dilakukan insisi pada nasal dorsum dan juga perluasan insisi dari insisi inferior kantung mata yang meluas ke tulang hidung bagian lateral.2 Fraktur Nasal-Orbita-Ethmiodal. Pertumbuhan midface tergantung dari pertumbuhan fossa cranii anterior. Open reduction kompleks pada nasal-orbita-ethmoid dilakukan 4 hari setelah trauma dan dengan gangguan seminimal pada septum nasalis.

sublabial. Studi terbaru menemukan bahwa penyuntikan botulinum pre-op dapat menahan tarikan otot masseter kearah inferior sehingga mengurangi kemungkinan displacement fraktur post reduction oleh karena tarikan otot masseter. Penatalaksanaan pada fraktur ini hanya jika dibutuhkan dan sama seperti pada orang dewasa.dibelakang hairline pada kulit kepala dan dimulai setinggi dari telinga. Penatalaksanaan pada fraktur ini dilakukan jika terdapat deformitas atau terjadi trismus. Jika terjadi fraktur zygoma kompleks atau Quadrapod yang melibatkan disartikulasi tulang zygoma dengan tulang frontal. Kadang-kadang insisi meluas sampai ke regio preauricular bila diinginkan lapang pandang yang luas.2 362 . maksilaris. Fraktur pada arkus zygoma terjadi dengan prosentase 7. tetapi jika terjadi depressed dan comminuted fracture perlu dilakukan open reduction dan fiksasi. sphenoid dan tulang temporal maka reduksi dan reposisi biasanya melalui multiple approaches. Pada fraktur greenstick atau minimal displaced hanya dibutuhkan observasi saja. Seiring dengan bertambahnya usia tulang zygoma semakin menonjol dan prevalensi kejadian fraktur pada arkus zygomatikus juga meningkat. meliputi pendekatan hemicoronal.dan transconjuctival. Gangguan pertumbuhan oleh karena fraktur ini jarang terjadi.1 Fraktur Arkus Zygomatikus.41 % dari seluruh populasi trauma pada anak-anak. Jika terjadi maka pendekatan dilakukan melalui intra oral atau Gilles approach.1.

Fraktur pada kondil semasa kanak-kanak berpotensi dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan wajah. 3. dengan pendekatan insisi pada regio temporalis. (A) Setelah pembengkakan awal. memajukan mandibula dan lateral excursion. (B) Post-bedah dengan reduksi intraoral dan pemasangan plat fiksasi2 Gambar 6. Kondil mandibula merupakan daerah yang paling sering cedera dengan tingkat 363 . Pendekatan dengan Gilies untuk reduksi arkus zigomatikus2 Penggunaan double ended periostel elevator. keadaan malar dapat dilihat. Trismus post-op sering terjadi dan akan berkurang dalam dalam beberapa minggu. Kelly clamp dapat digunakan untuk mereposisi fraktur ini. Pasien harus latihan buka tutup mulut.Gambar 5. Fraktur Mandibula Fraktur Kondil. Fraktur zigomatic dengan defisiensi malar disertai dengan infraorbital (V2) parastesi.

Pada pemeriksaan fisik. dan laserasi submental merupakan pertanda adanya fraktur kondil. Jika posisi mandibula dan oklusi dapat dicapai dan dipertahankan selama 6 bulan . Fraktur pada kondil mandibula dapat dikategorikan fraktur kondil terbuka (capsular disruption) dan tertutup (intracapsular). nyeri pada preauricular. Perawatan. darah pada canalis meatus acusticus. tetapi tidak terjadi maloklusi maka tidak perlu dilakukan immobilisasi. Deviasi terjadi karena pemendekkan ramus. keterbatasan pergerakan. Adanya asimetri maloklusi. maka pertumbuhan mandibula akan berlangsung secara simetris. maka immobilisasi dilakukan tidak terlalu lama dengan pertimbangan kalau terlalu lama maka akan berpotensi terjadi ankylosis. mandibula mengalami deviasi kesisi yang fraktur jika terjadi dislokasi pada proksimal segmen. Goal dari penatalaksanaan pada fraktur kondil mandibula untuk mengembalikan ke simetrisan mandibula. Closed fracture pada kondil dapat dilakukan closed reduction kecuali oklusi normal tidak tercapai. 364 . Trismus dan keterbatasan membuka mulut merupakan gejala adanya fraktur pada kondil. oklusi . Karena proses penyembuhan yang cepat pada anakanak. deviasi mandibula waktu buka dan tutup mulut. dan diet lunak menghambat terjadinya fibrosis dan penyatuan tulang serta mengembalikan stimulasi otot-tulang penting untuk kelanjutan pertumbuhan simetris wajah. Mobilisasi segera. Open reduction dilakukan jika terjadi terjadi displaced segmen kondil pada fossa cranial media atau jika terdapat benda asing.insidensi 14. Tanda dan gejala fraktur kondil pada anak-anak sama dengan tanda dan gejala pada fraktur kondil orang dewasa. Jika fraktur kondil teridentifikasi. anterior open bite. terapi fisik. dan fungsi tanpa gangguan pertumbuhan dimasa mendatang. Closed reduction dengan IMF elastis dengan kurun waktu 1-2 minggu. pembengkakan.5%-60%.

Sering terjadi greestick fraktur pada regio ini. dilakukan reduksi.2 Gambar 7. Pada pasien di bawah 2 tahun biasanya hanya di observasi dan diet lunak. Arch bar dapat dipasang pada gigi sulung dengan bantuan circummandibular. Open reduction pada pasien anak- 365 . dan terjadi sedikit displacement.1. kemungkinan hal ini dikarenakan tulang mandibula yang elastic dan tertanamnya benih gigi sehingga memegang fragmen fraktur. circum-zygomatic. Ilustasi 3 kranium dengan usia yang berbeda (A: 2 tahun. Open reduction pada fraktur kondil jarang dilakukan. Perbedaan metode stabilisasi dengan arch bar pada variasi umur termasuk circummandibula. Intervensi bedah diindikasikan jika segmen kondil displaced ke fossa cranial atau adanya keterbatasan gerakan karena posisi segmen fraktur. B: 6 tahun. dan stabilisasi dari fraktur. dan wiring.Ketika terjadi maloklusi atau mandibula asimetri serta adanya fraktur kondil. Pada fraktur ini penatalaksanaan dengan pemberian antibiotic. infraorbital.) 2 Fraktur Bodi Dan Simfisis Mandibula. C: 12 tahun). piriform atau circumzygomatic wires. Fraktur bodi dam simfisis mandibula pada anak-anak terjadi seiring dengan berkembangnya gigi geligi dan biasanya selalu melibatkan trauma pada rongga mulut. (Posnick JC. maka reduksi untuk mencapai oklusi awal dan posisi mandibula ke posisi awal dapat dicapai dengan IMF atau traksi elastic.

(C) Penggunaan plat yang dapat di resorbsi pada anak usia 4 tahun.4 (Fig. Hampir pada semua kasus fraktur pada regio ini penatalaksanaannya dapat dengan menggunakan teknik closed reduction. FDA menyetujui penggunaan resorbable plating systems untuk penatalaksanaan fraktur mandibula. 4 366 . (A) fraktur parasimfisis mandibular dengan separasi antara kaninus dan premolar. Fiksasi maksilomandibular dapat dilakukan dengan pemasangan erich arch bar.anak jarang dilakukan. 4) (C) Gambar 8. yang terjadi pada posterior ramus dan kondulus. sehingga pada penggunaan sistem ini tanpa dilakukan pengambilan plate dan terjadinya migrasi dari plate oleh karena pertumbuhan tak perlu dikhawatirkan lagi.1. (B) Reduksi intraoral dan plat fiksasi yang dapat di resorbsi. Pada umur antara 5-12 tahun. Fraktur mandibular yang menyebabkan openbite. Jika memungkinkan. dapat dilakukan pemasangan circummandibular wires atau fiksasi skeletal. Perkembangan yang terbaru.2. closed reduction untuk penanganan fraktur tersebut dengan pertimbangan jika dilakukan open reduction akan mengganggu perkembangan tunas gigi.

tapi dapat mengakibatkan tingkat morbiditas yang signifikan jika tidak ditangani dengan baik. stabilization. harus dilakukan dengan hati-hati untuk mencegah terjadinya gangguan pertumbuhan Manajemen trauma oromaksilofasial pada anak-anak sedikit berbeda dengan orang dewasa namun pada intinya sama karena pada anak-anak masih dalam proses tumbuh kembang. reduction. Prinsip umum penatalaksanaan fraktur pada trauma oromaksilofasial pada anak-anak (recognition. Mayoritas dari fraktur ini dapat ditangani secara konservatif.BAB III KESIMPULAN Fraktur wajah pada anak jarang terjadi. & fixation) harus diterapkan disamping tetap mempertimbangkan dampak yang terjadi terhadap tumbuh kembang anak-anak di masa mendatang. 367 . Jika memang dibutuhkan tindakan bedah.

4. Barber HD. Philadelphia. 2004. Saunders Company.B. Walker. RJ. Kaban. W.DAFTAR PUSTAKA 1. 1990. Elsevier-Saunders company. 3rd ed. W. Taylor & francis Group. 2006. Betts. Pediatric Oral and Maxillofacial Surgery. 2. Marcell Dekker. 3. RV.B. LB. NJ. Facial Trauma. Fonseca. Thaller SR. Philadelphia. 368 . Vol 2. New York. Oral and Maxilofacial Trauma. New York. Wesson DE. 2005. Mc Donald WS. Pediatric Trauma.