LAPORAN PRAKTIKUM

BIOKIMIA KEPERAWATAN
PENGARUH SUHU TERHADAP AKTIVITAS ENZIM

OLEH : KELOMPOK II
NAMA :
1. AKBAR
2. EVI SRI WAHYUNI
3. ISMAIL SALEH
4. KANTHI
5. NINDI
6. RIVQY CAHYA CHRISTIANTORO
7. SITI ALIYAH
8. YANTI
9. YURI PURWANTO

BAGIAN BIOKIMIA
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU
2013
KATA PENGANTAR
















DAFTAR ISI
















BAB 1
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pembuatan makalah ini didasrkan pada hasil penelitian kelompok kami
dilaboratorium universitas kedokteran lambung mangkurat banjarbaru. Dari hasil
penelitian kami ditemukan bahwa pengaruh suhu sangat berperan dalam aktivitas
enzim dimana semakin rendah suhu maka enzim tidak bereaksi dan semakin
meningkat suhu maka seiring juga dengan meningkatnya reksi enzim namun pada
titik suhu optimum maka aktivitas enzimpun menurun hingga menjadi tidak
bereaksi. Senyawa yang akan direaksikan oleh enzim disebut subtrat, sedangkan
hasil reaksi disebut produk. Ketika enzim mereaksikan suatu senyawa(subtrat)
maka akan terbentuk kompleks subtrat enzim dan kemudian akan dihasilkan
subtrat dan enzim.
Sebagai biokatalisator, enzim mempunyai keistimewaan dalam sifat yaitu
sebagai berikut :
a. Spesifik terhadap subtrat,maksudnya enzim suatu enzim yang bekerja
mengkatalisis suatu subtrat tidak dapat mengkatalisis reaksi yang lain.
b. Tidak ikut bereaksi, meskipun suatu enzim mempercepat reaksi, tetapi setelah
mengubah subtrat menjadi produk maka struktur enzim tidak berubah dan dapat
mengkatalisis reaksi sejenis terhadap subtrat yang lain.
Enzim dapat ditemukan baik pada hewan maupun pada tumbuhan. Salah
satu enzim tersebut adalah enzim amilase yang terdapat pada tumbuhan. Nama
lain dari amilase ialah diastase. Enzim tersebut dapat menghidrolisis amilum
menjadi gula. Amilase dihasilkan oleh daun atau biji yang sedang berkecambah,
karena hal itulah maka percobaan “Pengaruh pH terhadap aktivitas enzim” ini
dilakukan untuk membuktikan pengaruh pH terhadap aktivitas enzim amilase itu
sendiri.

B. Tujuan Praktikum
Membuktikan pengaruh Suhu terhadap aktifitas enzim amilase.

C. Manfaat praktikum
Dengan adanya praktikum ini, maka praktikan dapat membuktikan
pengaruh Suhu terhadap aktifitas enzim amilase.









BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Enzim adalah biomolekul berupa protein yang berfungsi sebagai katalis
(senyawa yang mempercepat proses reaksi tanpa habis bereaksi) dalam suatu
reaksi kimia organik. Molekul awal yang disebut substrat akan dipercepat
perubahannya menjadi molekul lain yang disebut produk. Jenis produk yang akan
dihasilkan bergantung pada suatu kondisi/zat, yang disebut promoter. Semua
proses biologis sel memerlukan enzim agar dapat berlangsung dengan cukup cepat
dalam suatu arah lintasan metabolisme yang ditentukan oleh hormon sebagai
promoter Sebagai contoh reaksi enzim :
X + C → XC (1) XYC → CZ (3)
Y + XC → XYC (2) CZ → C + Z (4)
(Anonim, 2010)
Enzim dapat di temukan baik di hewan maupun tumbuhan. Salah satu
enzim yang terdapat pada tumbuhan adalah enzin amilase. Nama lain dari amilase
adalah Diastate. Enzim tersebut dapat menghidrolisis amilum jadi gula. Amilase
dihasilkan oleh ole daun atau biji yang sedang berkecamba. Aktifitas amilase
dipengaruhi oleh bahan-bahan anorganik, suhu, dan cahaya. pH optimum dari
amilase menurut Hopkins, cole, dan green (Miller, 1938) adalah 4,5 - 4,7 (Tim
pengajar, 2010).
Banyak enzim yang telah dinamakan dengan menambah akhiran ase,
kepada nama subtratnya. Jadi, urease mengkatalis hidrolisis urea, dan arginase
mengkatalis hidrolisis arginin tetapi banyak enzim yang dinamakan dengan tidak
menerangkan subtrtnya seperti pepsin dan tripsin. Juga pada hakekatnya satu
enzim yang sama dikenal dua atau lebih nama, atau bahwa dua enzim yang
berbeda telah di berikan nama yang sama. Karena itu, dan karen hal-hal lain yang
masih juga dengan terus meningkatnya jumlah enzim yang di temukan, suatu
dasar penemuan dan penggolongan enzim sistematis telah di kemukakan oleh
persetujuan internasional. Sistem ini menempatkan semua enzim dalam enam
kelas utama (Lehinger, 1982).
Enzim pertama kali dikenal sebagai protein oleh Summer pada tahun 1926
yang telah berhasil mengisolasi uerase dari kata”pedang” (Jack Been). Urease
adalah enzim yang dapat megurangi urea menjadi CO2 dan NH3. Fungsi suatu
enzim ialah sebagai sebuah katalis oleh proses biokimia yang terjadi dalam sel
maupun diluar sel. Suatu enzim dapat mempercepat reaksi 10
8
sampai 10
10
kali
lebih cepat daripada apabila reaksi tersebut tanpa enzim.
Enzim adalah biomolekul berupa protein yang berfungsi sebagai katalis
(senyawa yang mempercepat proses reaksi tanpa habis bereaksi) dalam suatu
reaksi kimia. Molekul awal yang disebut substrat akan dipercepat perubahannya
menjadi molekul lain yang disebut produk. Jenis produk yang akan dihasilkan
bergantung pada suatu kondisi/zat, yang disebut promoter.
Kerja enzim dipengaruhi oleh beberapa faktor, terutama adalah substrat,
suhu, keasaman, kofaktor dan inhibitor. Tiap enzim memerlukan suhu dan pH
(tingkat keasaman) optimum yang berbeda-beda karena enzim adalah protein,
yang dapat mengalami perubahan bentuk jika suhu dan keasaman berubah. Di luar
suhu atau pH yang sesuai, enzim tidak dapat bekerja secara optimal atau
strukturnya akan mengalami kerusakan. Hal ini akan menyebabkan enzim
kehilangan fungsinya sama sekali.
Sebagian besar enzim bekerja secara khas, yang artinya setiap jenis enzim
hanya dapat bekerja pada satu macam senyawa atau reaksi kimia. Hal ini
disebabkan perbedaan struktur kimia tiap enzim yang bersifat tetap. Sebagai
contoh, enzim α-amilase hanya dapat digunakan pada proses perombakan pati
menjadi maltosa.
Pada percobaan kita akan menguji kerja enzim amilase yang bekerja untuk
memecahkan atau merombak pati menjadi glukosa, yaitu dengan sampel yang di
gunakan adalah saliva. Saliva merupakan suatu enzim yang membantu mencerna
makanan dengan cara melicinkan dan membasahi rongga mulut sehingga
membantu proses pengunyahan dan menelan makanan, membasahi dan
melembutkan makanana menjadi bahan setengah cair atupun cair sehingga mudah
ditelan dan dirasakan, membersihkan rongga mulut dari sisa-sisa makanan dan
kuman, mempunyai aktivitas anti bakterial dan sistem buffer, memebantu proses
pencernaan makanan melalui sktifitas enzim petialin (amilase ludah) dan lipase
ludah. Dimana dalam percobaan dilakukan beberapa uji yaitu uji iodin dan uji
benedict.
Uji iodiun atau larutan iodin yang di gunakan berfungsi sebagai indikator
terhadap proses terjadinya reaksi yang di tandai dengan adanya perubahan warna.
BAB III
METODE PRAKTIKUM

1. Waktu Dan Tempat Praktikum
Hari / Tanggal : Selasa / 14 mei 2013
Waktu : Pukul 15:00 s.d. 17:00 WITA
Tempat : Laboratorium FK UNLAM Banjarbaru
2 . Alat Dan Bahan
Alat yang digunakan meliputi :
1) Plat tetes
2) Pipet tetes
3) Beaker gelas
4) Stop watch
5) Erlenmeyer
6) Geget
7) Gelas ukur
8) Water bath
9) Alat pemanas listrik

Bahan yang digunakan meliputi :
1) Saliva 1 ml
2) Amilum 5 ml
3) Buffer 2 ml
4) Iodium 2 tetes
5) Aquadest (air mineral)
3. Metode
a) Menyiapkan Alat Yang Diperlukan
Cuci bersih alat yang diperlukan.
b) Pengumpulan Saliva
Prebandus berkumur dengan menggunakan aquadest (air mineral), setelah
itu keluarkan saliva dan tempatkan pada gelas beker. Ambil saliva yang telah
terkumpul sebanyak 1 ml.
c) Pengukuran Aktivitas Amilase Saliva
Siapkan 3 buah erlenmeyer dan beri tanda (a) untuk suhu 27˚C, (b) untuk
suhu 37˚C, dan (c) untuk suhu 100˚C. Kemudian masukan 5 ml Amilum ke
dalam masing-masing erlenmeyer, lalu tambahkan 2 ml buffer fosfat pH 7.
Lalu, diamkan selama 2 menit. Setelah itu, tambahkan 1 ml saliva yang telah
diencerkan dan nyalakan stop watch. Ambil larutan iodium teteskan pada
setiap plat tetes. Tambahkan 2 tetes larutan pada plat tetes yg diberi tanda
sebagai urutan pertama. Jika larutan berwarna biru, ulangi lagi percobaan
tersebut. Caranya dengan mengambil kembali cairan sebanyak 2 tetes pada
setiap plat tetes yang dilakukan secara berurutan, ulangi cara tersebut setiap
menit, sampai warna biru hilang atau cairannya habis. Jika warna biru sudah
hilang, matikan stop watch dan catat waktu yang dipergunakan. Contoh:
andaikan waktu yang diperoleh dalam percobaan adalah 6 menit, maka
sesungguhnya waktu yang dipergunakan oleh enzim untuk mengkatalisis
terletak pada menit ke 5, pengambilan larutan dilakukan setiap 10 detik sekali.
Jadi waktu yang digunakan adalah 5 menit y detik.
d) Perhitungan
Aktivitas amilase saliva dihitung dengan menggunakan rumus :
27° ml larutan kanji 30 menit
d ----- = --------------------- x ------------------- unit
30’ ml saliva t ( dalam unit)
Keterangan :
Satu unit aktivitas amylase adalah banyaknya miligram amilum yang dipecah
oleh 1 ml cairan (saliva) selama 30 menit pada suhu 27°C.
Aktivitas amilase saliva dihitung dengan menggunakan rumus :
38° ml larutan kanji 30 menit
d ----- = --------------------- x ------------------- unit
30’ ml saliva t ( dalam unit)
Keterangan :
Satu unit aktivitas amylase adalah banyaknya miligram amilum yang dipecah
oleh 1 ml cairan (saliva) selama 30 menit pada suhu 38°C.
Aktivitas amilase saliva dihitung dengan menggunakan rumus :
100° ml larutan kanji 30 menit
d ----- = --------------------- x ------------------- unit
30’ ml saliva t ( dalam unit)
Keterangan :
Satu unit aktivitas amylase adalah banyaknya miligram amilum yang dipecah
oleh 1 ml cairan (saliva) selama 30 menit pada suhu 100°C.









BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. HASIL
1) Kelompok II
a) Identitas probandus
Nama : Rivqy cahya christiantoro
Jenis Kelamin : laki-laki
Umur : 19 tahun
b) Tabel hasil pengamatan
NO.
No
Plat Tetes
Waktu
(menit) ke
Warna
Iodium
Ditambah Larutan
Saliva, Amilum, dan
Buffer
1 1 1 Kuning Biru Keungu-unguan
2 2 2 Kuning Biru Keungu-unguan
3 3 3 Kuning Biru Keungu-unguan
4 4 4 Kuning Biru Keungu-unguan
5 5 5 Kuning Biru Keungu-unguan
6 6 6 Kuning Biru Keungu-unguan
7 7 7 Kuning Biru Keungu-unguan
8 8 8 Kuning Biru Keungu-unguan


P
c
c) Perhitungan
J =
1uu°
Su
=
S
1
X
Su
11
unit
=
5
1
X
30
11
=
150
11
= 1S,6 unit

2) Kelompok IV
a) Identitas probandus
Nama : Pahrudi
Jenis Kelamin : laki-laki
Umur : 19 tahun
b) Tabel Hasil Pengamatan
9 9 9 Kuning Biru Keungu-unguan
10 10 10 Kuning Biru Keungu-unguan
11 11 11 Kuning Biru Keungu-unguan
NO.
No
Plat Tetes
Waktu
(menit) ke
Warna Larutan
Awal
Ditambah Larutan
Saliva
1 1 1 Kuning Biru hitam
2 2 2 Kuning Biru hitam
3 3 3 Kuning Biru hitam
4 4 4 Kuning Biru tua



J =
27°
Su
=
S
1
X
Su
12
unit
=
5
1
X
30
12
=
150
12
= 12,S unit
3) Kelompok VI
a) Identitas probandus
Nama : Miftahul Rahmah
Jenis Kelamin : Perempuan
Umur : 18 tahun
b) Tabel Hasil Pengamatan
NO.
No
Plat Tetes
Waktu
(menit) ke
Warna Larutan
Awal
Ditambah
Larutan Saliva
1 1 1 Kuning Biru hitam
2 2 2 Kuning Biru hitam
5 5 5 Kuning Biru tua
6 6 6 Kuning Biru tua
7 7 7 Kuning Biru tua
8 8 8 Kuning Biru tua
9 9 9 Kuning Biru tua
10 10 10 Kuning Biru tua
11 11 11 Kuning Biru tua
12 12 12 Kuning Biru tua
3 3 3 Kuning Biru hitam
4 4 4 Kuning Biru tua
5 5 5 Kuning Biru tua
6 6 6 Kuning Biru tua
7 7 7 Kuning Biru tua
8 8 8 Kuning Biru tua
9 9 9 Kuning Biru tua
10 10 10 Kuning Biru tua
11 11 11 Kuning Biru tua
12 12 12 Kuning Biru tua
13 13 13 Kuning Biru tua
14 14 14 Kuning Merah biru
15 15 15 Kuning Merah biru
16 16 16 Kuning Merah biru
17 17 17 Kuning Merah jingga
18 18 18 Kuning Merah jingga
19 19 19 Kuning Merah jingga
20 20 20 Kuning Jingga
21 21 21 Kuning Kuning tua



J =
S8°
Su
=
S
1
X
Su
21
unit
=
5
1
X
30
12
=
150
21
= 7,1 unit

B. Pembahasan
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi fungsi enzim antara lain suhu ,
pH, konsentrasi substrat, konsentrasi enzim dan zat-zat penghambat. Suhu
berpengaruh terhadap fungsi enzim karena reaksi kimia menggunakan katalis
enzim yang dapat dipengaruhi oleh suhu. Di samping itu, karena enzim
adalah suatu protein, maka kenaikan suhu dapat menyebabkan denaturasi dan
bagian aktif enzim akan terganggu, sehingga konsentrasi dan kecepatan
enzim berkurang.
Hal ini dapat disebabkan oleh kesalahan-kesalahan pada saat praktikum
seperti faktor pemanasan yang tidak berjalan stabil pada suhu 37
o
C karena
terputusnya aliran listrik. Faktor pengocokan yang kurang sempurna juga dapat
mempengaruhi hasil ini. Selain itu, larutan dengan variasi pH yang dibuat pun
tidak cukup akurat untuk dijadikan indikasi pengukuran laju reaksi optimum
enzinm dengan variabel pH, karena pembuatan larutan pun masih dalam skala
kualitatif bukan kuantitatif.
Dalam saliva yang dipanaskan, dihasilkan warna biru keungu-ungu yang
makin lama makin jernih. Hal ini menunjukkan bahwa pada suhu optimum,
enzim amilase dapat menjalankan fungsinya, mengubah amilum menjadi
maltosa. Amilum dan dekstrin yang molekulnya masih besar dengan iodium
memberi warna biru keungu-unguan, dekstrin-dekstrin antaranya
(eritrodekstrin) memberi warna coklat kemerah-merahan. Sedangkan
dekstrin-dekstrin yang molekulnya sudah kecil lagi (akhrodekstrin) dan
maltosa tidak memberi warna dengan iodium. Titik saat campuran tidak
memberi warna lagi (jernih) disebut titik akromatik.
Jadi pada saat percobaab kelompok II didapatkan hasil perubahan warna
dikarenakan percampuran saliva, amilum, buffer, dan iodium dihasilkan
warna biru keungu-unguan sampai pada menit akhir percobaan kami, yaitu 2
menit pada pemanasan amilum dengan buffer kemudian dicampur dengan
saliva selama satu menit berturut. Karena pada suhu extreme enzim
kehilangan reaksinya.

.









BAB V
KESIMPULAN















DAFTAR PUSTAKA
Dr. dr. Triawanti, M.Kes (tim). Buku Ajar Biokimia Keperawatan. Banjarbaru :
FK UNLAM, 2013

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful