Krisis Moneter Indonesia : Sebab, Dampak, Peran IMF dan Saran

1

KRISIS MONETER INDONESIA : SEBAB, DAMPAK, PERAN IMF DAN SARAN* )
Lepi T. Tarmidi
**)

K

risis moneter yang melanda Indonesia sejak awal Juli 1997, sementara ini telah berlangsung hampir dua tahun dan telah berubah menjadi krisis ekonomi, yakni lumpuhnya kegiatan ekonomi karena semakin banyak perusahaan yang tutup dan meningkatnya jumlah pekerja yang menganggur. Memang krisis ini tidak seluruhnya disebabkan karena terjadinya krisis moneter saja, karena sebagian diperberat oleh berbagai musibah nasional yang datang secara bertubi-tubi di tengah kesulitan ekonomi seperti kegagalan panen padi di banyak tempat karena musim kering yang panjang dan terparah selama 50 tahun terakhir, hama, kebakaran hutan secara besar-besaran di Kalimantan dan peristiwa kerusuhan yang melanda banyak kota pada pertengahan Mei 1998 lalu dan kelanjutannya. Krisis moneter ini terjadi, meskipun fundamental ekonomi Indonesia di masa lalu dipandang cukup kuat dan disanjung-sanjung oleh Bank Dunia (lihat World Bank: Bab 2 dan Hollinger). Yang dimaksud dengan fundamental ekonomi yang kuat adalah pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi, laju inflasi terkendali, tingkat pengangguran relatif rendah, neraca pembayaran secara keseluruhan masih surplus meskipun defisit neraca berjalan cenderung membesar namun jumlahnya masih terkendali, cadangan devisa masih cukup besar, realisasi anggaran pemerintah masih menunjukkan sedikit surplus. Lihat Tabel. Namun di balik ini terdapat beberapa kelemahan struktural seperti peraturan perdagangan domestik yang kaku dan berlarut-larut, monopoli impor yang menyebabkan kegiatan ekonomi tidak efisien dan kompetitif. Pada saat yang bersamaan kurangnya transparansi dan kurangnya data menimbulkan ketidak pastian sehingga masuk dana luar negeri dalam jumlah besar melalui sistim perbankan yang lemah. Sektor swasta banyak meminjam dana dari luar negeri yang sebagian besar tidak di hedge. Dengan terjadinya krisis moneter, terjadi juga krisis kepercayaan. (Bandingkan juga IMF, 1997: 1). Namun semua kelemahan ini masih mampu ditampung oleh perekonomian nasional. Yang terjadi adalah, mendadak datang badai yang sangat besar, yang tidak mampu dbendung oleh tembok penahan yang ada, yang selama bertahun-tahun telah mampu menahan berbagai terpaan gelombang yang datang mengancam.

*) Tulisan ini merupakan revisi dan updating dari pidato pengukuhan Guru Besar Madya pada FEUI dengan judul “Krisis Moneter Tahun 1997/1998 dan Peran IMF” , Jakarta, 10 Juni 1998. **) Lepi T. Tarmidi : Wakil Kepala Pusat Kajian APEC, Universitas Indonesia, email : lepi@lpem.feui.org

2

INDIKATOR UTAMA EKONOMI INDONESIA 1990 - 1997
1990 Pertumbuhan ekonomi (%) Tingkat inflasi (%) Neraca pembayaran (US$ juta) Neraca perdagangan Neraca berjalan Neraca modal Pemerintah (neto) Swasta (neto) PMA (neto) Cadangan devisa akhir tahun (US$ juta) (bulan impor nonmigas c&f) Debt-service ratio (%) Nilai tukar Des. (Rp/US$) APBN* (Rp. milyar) 8,661 4,7 30,9 1,901 3,203 9,868 4,8 32,0 1,992 433 11,611 5,4 31,6 2,062 -551 12,352 5,4 33,8 2.11 -1.852 13,158 5,0 30,0 2.2 1,495 14,674 4,3 33,7 2,308 2,807 19,125 5,2 33,0 2,383 818 4.65 456 17,427 4,5 7,24 9,93 2,099 5,352 -3.24 4,746 633 3,021 1,092 1991 6,95 9,93 1,207 4,801 -4,392 5,829 1,419 2,928 1,482 1992 6,46 5,04 1,743 7,022 -3,122 18,111 12,752 3,582 1,777 1993 6,50 10,18 741 8,231 -2,298 17,972 12,753 3,216 2,003 1994 7,54 9,66 806 7,901 -2.96 4,008 307 1,593 2,108 1995 8,22 8,96 1,516 6,533 -6.76 10,589 336 5,907 4,346 1996 7,98 6,63 4,451 5,948 -7,801 10,989 -522 5,317 6,194 1997 4,65 11,60 -10,021 12,964 -2,103 -4,845 4,102 -10.78 1,833

Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan, Maret 1999

* Tahun anggaran Sumber : BPS, Indikator Ekonomi; Bank Indonesia, Statistik Ekonomi Keuangan Indonesia; World Bank, Indonesia in Crisis, July 2, 1998

Krisis Moneter Indonesia : Sebab, Dampak, Peran IMF dan Saran

3

Sebagai konsekuensi dari krisis moneter ini, Bank Indonesia pada tanggal 14 Agustus 1997 terpaksa membebaskan nilai tukar rupiah terhadap valuta asing, khususnya dollar AS, dan membiarkannya berfluktuasi secara bebas (free floating) menggantikan sistim managed floating yang dianut pemerintah sejak devaluasi Oktober 1978. Dengan demikian Bank Indonesia tidak lagi melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk menopang nilai tukar rupiah, sehingga nilai tukar ditentukan oleh kekuatan pasar semata. Nilai tukar rupiah kemudian merosot dengan cepat dan tajam dari rata-rata Rp 2.450 per dollar AS Juni 1997 menjadi Rp 13.513 akhir Januari 1998, namun kemudian berhasil menguat kembali menjadi sekitar Rp 8.000 awal Mei 1999.

Krisis Moneter dan Faktor-Faktor Penyebabnya
Penyebab dari krisis ini bukanlah fundamental ekonomi Indonesia yang selama ini lemah, hal ini dapat dilihat dari data-data statistik di atas, tetapi terutama karena utang swasta luar negeri yang telah mencapai jumlah yang besar. Yang jebol bukanlah sektor rupiah dalam negeri, melainkan sektor luar negeri, khususnya nilai tukar dollar AS yang mengalami overshooting yang sangat jauh dari nilai nyatanya1 . Krisis yang berkepanjangan ini adalah krisis merosotnya nilai tukar rupiah yang sangat tajam, akibat dari serbuan yang mendadak dan secara bertubi-tubi terhadap dollar AS (spekulasi) dan jatuh temponya utang swasta luar negeri dalam jumlah besar. Seandainya tidak ada serbuan terhadap dollar AS ini, meskipun terdapat banyak distorsi pada tingkat ekonomi mikro, ekonomi Indonesia tidak akan mengalami krisis. Dengan lain perkataan, walaupun distorsi pada tingkat ekonomi mikro ini diperbaiki, tetapi bila tetap ada gempuran terhadap mata uang rupiah, maka krisis akan terjadi juga, karena cadangan devisa yang ada tidak cukup kuat untuk menahan gempuran ini. Krisis ini diperparah lagi dengan akumulasi dari berbagai faktor penyebab lainnya yang datangnya saling bersusulan. Analisis dari faktor-faktor penyebab ini penting, karena penyembuhannya tentunya tergantung dari ketepatan diagnosa. Anwar Nasution melihat besarnya defisit neraca berjalan dan utang luar negeri, ditambah dengan lemahnya sistim perbankan nasional sebagai akar dari terjadinya krisis finansial (Nasution: 28). Bank Dunia melihat adanya empat sebab utama yang bersamasama membuat krisis menuju ke arah kebangkrutan (World Bank, 1998, pp. 1.7 -1.11). Yang pertama adalah akumulasi utang swasta luar negeri yang cepat dari tahun 1992 hingga Juli 1997, sehingga l.k. 95% dari total kenaikan utang luar negeri berasal dari sektor swasta ini, dan jatuh tempo rata-ratanya hanyalah 18 bulan. Bahkan selama empat tahun terakhir utang luar negeri pemerintah jumlahnya menurun. Sebab yang kedua adalah kelemahan
1 Dalam teori, overshooting nilai tukar biasanya bersifat sementara untuk kemudian mencari keseimbangan jangka panjang baru. Tetapi selama krisis ini berlangsung, nilai overshooting adalah sangat besar dan sudah berlangsung sejak akhir tahun 1997.

dan produk dalam negeri yang makin lama makin kalah bersaing dengan produk impor. meskipun ini bukan faktor satu-satunya. penyebab utama dari terjadinya krisis yang berkepanjangan ini adalah merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS yang sangat tajam. Masyarakat bebas membuka rekening valas di dalam negeri atau di luar negeri.: 22). karena Indonesia menganut rezim devisa bebas dengan rupiah yang konvertibel. ditambah sistim perbankan nasional yang lemah. Ditambah dengan kenaikan pendapatan penduduk dalam nilai US dollar yang naiknya relatif lebih cepat dari kenaikan pendapatan nyata dalam Rupiah. Kondisi di atas dimungkinkan. Maret 1999 pada sistim perbankan. Sementara menurut penilaian penulis. Nilai rupiah yang sangat overvalued ini sangat rentan terhadap serangan dan permainan spekulan. Akibatnya produksi dalam negeri tidak berkembang. Ada tiga pihak yang . ekspor menjadi kurang kompetitif dan impor meningkat. bahkan sudah jauh melampaui utang resmi pemerintah yang beberapa tahun terakhir malah sedikit berkurang (oustanding official debt). Akibatnya harga barang impor menjadi relatif murah dan produk dalam negeri relatif mahal. yang berada di bawah nilai tukar nyatanya. karena tidak mencerminkan nilai tukar yang nyata. Ketiga adalah masalah governance. Akumulasi utang swasta luar negeri yang sejak awal tahun 1990-an telah mencapai jumlah yang sangat besar. berkisar antara 2. 2) Tingkat depresiasi rupiah yang relatif rendah. Nilai Rupiah yang overvalued berarti juga proteksi industri yang negatif. menyebabkan nilai rupiah secara kumulatif sangat overvalued. yang kemudian menjelma menjadi krisis kepercayaan dan keengganan donor untuk menawarkan bantuan finansial dengan cepat. termasuk kemampuan pemerintah menangani dan mengatasi krisis. sehingga membuka peluang yang sebesarbesarnya untuk orang bermain di pasar valas. Valas bebas diperdagangkan di dalam negeri. Yang keempat adalah ketidak pastian politik menghadapi Pemilu yang lalu dan pertanyaan mengenai kesehatan Presiden Soeharto pada waktu itu. memungkinkan arus modal dan valas dapat mengalir keluar-masuk secara bebas berapapun jumlahnya. Berikut ini diberikan rangkuman dari berbagai faktor tersebut menurut urutan kejadiannya: 1) Dianutnya sistim devisa yang terlalu bebas tanpa adanya pengawasan yang memadai. sementara rupiah juga bebas diperdagangkan di pusat-pusat keuangan di luar negeri. 3) Akar dari segala permasalahan adalah utang luar negeri swasta jangka pendek dan menengah sehingga nilai tukar rupiah mendapat tekanan yang berat karena tidak tersedia cukup devisa untuk membayar utang yang jatuh tempo beserta bunganya (bandingkan juga Wessel et al.4% (1993) hingga 5. sehingga masyarakat memilih barang impor yang kualitasnya lebih baik. tetapi ada banyak faktor lainnya yang berbeda menurut sisi pandang masing-masing pengamat.8% (1991) antara tahun 1988 hingga 1996.4 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.

. meskipun masalahnya juga cukup berat karena selama bertahun-tahun telah terjadi net capital outflow3 yang kian lama kian membesar berupa pembayaran cicilan utang pokok dan bunga. Beda dengan pinjaman swasta. juga disebabkan suatu gejala yang dalam teori ekonomi dikenal sebagai fallacy of thinking2 . karena kurang hati-hati dalam memberi pinjaman dan salah mengantisipasi keadaan (bandingkan IMF. Kesalahan pemerintah adalah. Pihak kreditur luar negeri juga ikut bersalah. 22). Keadaan ini menguntungkan pengusaha selama tidak terjadi devaluasi dan ini terjadi selama bertahun-tahun sehingga memberi rasa aman dan orang terus meminjam dari luar negeri dalam jumlah yang semakin besar.5 milyar. 3 Total pembayaran cicilan utang pokok dan bunga setelah dikurangi pinjaman baru. di mana pengusaha beramai-ramai melakukan investasi di bidang yang sama meskipun bidangnya sudah jenuh. Bagi debitur dalam negeri. Dampak. Peran IMF dan Saran 5 bersalah di sini. Sebaliknya. Sebagian orang Indonesia malah bisa hidup mewah dengan menikmati selisih biaya bunga antara dalam negeri dan luar negeri (Wessel et al. Jadi di sini pemerintah dihadapi dengan buah simalakama. 1998: 5). Jadi sudah sewajarnya. namun masih bisa diatasi dengan pinjaman baru dan pemasukan modal luar negeri dari sumber-sumber lain.Krisis Moneter Indonesia : Sebab. tingkat bunganya relatif rendah. sementara utang pemerintah US$ 53. membangun realestat dan kondomium. Dengan demikian pengusaha hanya bereaksi atas signal yang diberikan oleh pemerintah. Kalau masalahnya hanya menyangkut utang luar negeri pemerintah saja. hal. di samping lebih menguntungkan. terjadinya utang swasta luar negeri dalam jumlah besar ini.800 perusahaan diperkirakan berkisar antara US$ 63 hingga US$ 64 milyar.. jika kreditur luar negeri juga ikut menanggung sebagian dari kerugian yang diderita oleh debitur. Selain itu pemerintah sama sekali tidak melakukan pengawasan terhadap utang-utang swasta luar negeri ini. Sebagian besar dari pinjaman luar negeri swasta ini tidak di hedge (Nasution: 12). pemerintah. membuka tambak udang. karena telah memberi signal yang salah kepada pelaku ekonomi dengan membuat nilai rupiah terus-menerus overvalued dan suku bunga rupiah yang tinggi. dan tiap tahunnya ada pemasukan pinjaman baru. Misalnya pengusaha ramai-ramai mendiri-kan apotik. Pada awal Mei 1998 besarnya utang luar negeri swasta dari 1. ada tenggang waktu pembayaran. misalnya 2 Yang dimaksud di sini adalah perilaku pengusaha yang bertindak atas pertimbangan dirinya sendiri tanpa mengetahui apa yang dilakukan oleh pengusaha lainnya. kreditur dan debitur. kecuali yang berkaitan dengan proyek pemerintah dengan dibentuknya tim PKLN. tingkat bunga di dalam negeri dibiarkan tinggi untuk menahan pelarian dana ke luar negeri dan agar masyarakat mau mendepositokan dananya dalam rupiah. karena masing-masing pengusaha hanya melihat dirinya sendiri saja dan tidak memperhitungkan gerakan pengusaha lainnya. pinjaman luar negeri pemerintah sifatnya jangka panjang. sehingga pinjaman dalam rupiah menjadi relatif mahal dan pinjaman dalam mata uang asing menjadi relatif murah.

Itu sebabnya mengapa Bank Indonesia memutuskan untuk tidak intervensi di pasar valas karena tidak akan ada gunanya. yakni disalurkan ke kegiatan grupnya sendiri dan untuk proyek-proyek pembangunan realestat dan kondomium secara berlebihan sehingga jauh melampaui daya beli masyarakat. Mereka mulai mencari dollar AS untuk membayar utang jangka pendek dan membeli dollar AS untuk di hedge (World Bank. Meskipun pada awalnya spekulan asing ikut berperan. hal. yang diserang terlebih dahulu oleh spekulan dan kemudian menyebar ke negara Asia lainnya termasuk Indonesia (Nasution: 1.000 per dollar AS dengan pengharapan ini adalah kurs tertinggi dan rupiah akan balik menguat. Maret 1999 bank-bank. Pinjaman luar negeri dan dana masyarakat yang masuk ke sistim perbankan.. hal. karena mereka membeli rupiah dalam jumlah cukup besar ketika kurs masih di bawah Rp. Ehrke: 3). banyak yang dikelola secara tidak prudent. Ditambah lagi dengan kemerosotan nilai tukar rupiah yang tajam yang membuat utang dalam nilai rupiah membengkak dan menyulitkan pembayaran kembalinya. 1998. 4. Greenwood). Proyek-proyek besar ini umumnya tidak menghasilkan barang-barang ekspor dan mengandalkan pasar dalam negeri. IMF Research .6 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. karena praktek margin trading. maka sedikit sekali pemasukan devisa yang bisa diandalkan untuk membayar kembali utang luar negeri. lepas dari sektor riil. yang menjadi penyebab utama dari krisis di Asia Timur. Namun pemicu adalah krisis moneter kiriman yang berawal dari Thailand antara Maret sampai Juni 1997. dan pada saat itu mereka akan menukarkan kembali rupiah dengan dollar AS (Wessel et al. Dewasa ini mata uang sendiri sudah menjadi komoditi perdagangan. 1. 4) Permainan yang dilakukan oleh spekulan asing (bandingkan juga Ehrke: 2-3) yang dikenal sebagai hedge funds tidak mungkin dapat dibendung dengan melepas cadangan devisa yang dimiliki Indonesia pada saat itu. IMF Research Department Staff: 10). shopping malls dan realestat (Nasution: 9. taman hiburan. Sebagian dari mereka ini justru sekarang menderita kerugian. Para spekulan ini juga meminjam dari sistim perbankan untuk memperbesar pertaruhan mereka.4). tetapi mereka tidak bisa disalahkan sepenuhnya atas pecahnya krisis moneter ini. Maka beban pembayaran utang luar negeri beserta bunganya menjadi tambah besar yang dibarengi oleh kinerja ekspor yang melemah (bandingkan IDE). yang memungkinkan dengan modal relatif kecil bermain dalam jumlah besar. Pinjaman-pinjaman luar negeri dalam jumlah relatif besar yang dilakukan oleh sistim perbankan sebagian disalurkan ke sektor investasi yang tidak menghasilkan devisa (non-traded goods) di bidang tanah seperti pembangunan hotel. Mereka meminjamkan pada proyek-proyek berisiko tinggi sehingga terjadi investasi berlebihan di sektor tanah (Krugman. 1998. Krugman melihat bahwa para financial intermediaries juga berperan di Thailand dan Korea Selatan dengan moral nekat mereka. 1). resort pariwisata. taman industri. kemudian macet dan uangnya tidak kembali (Nasution: 28.

dana modal asing terus mengalir ke luar negeri meskipun dicoba ditahan dengan tingkat bunga yang tinggi atas surat-surat berharga Indonesia (Nasution: 1. hal. Setelah nilai tukar Rupiah tambah melemah dan terjadi krisis kepercayaan. 5) Kebijakan fiskal dan moneter tidak konsisten dalam suatu sistim nilai tukar dengan pita batas intervensi. 1998.4. IMF. yang disebabkan karena laju peningkatan impor barang dan jasa lebih besar dari ekspor dan melonjaknya pembayaran bunga pinjaman.k. Selisih tingkat suku bunga dalam negeri dengan luar negeri yang besar dan kemungkinan memperoleh keuntungan yang relatif besar dengan cara bermain di bursa efek.3. Sebab utama adalah nilai tukar rupiah yang sangat overvalued.1).k. 1998: 1. Peran IMF dan Saran 7 Department Staff: 10. 11). sementara Brunei Darussalam yang menjanjikan l. 1998: 5). US$ 5 milyar meminta pembayaran bunga yang lebih tinggi dari pinjaman IMF. padahal keadaan perekonomian Indonesia makin lama makin tambah terpuruk. Sistim ini menyebabkan apresiasi nyata dari nilai tukar rupiah dan mengundang tindakan spekulasi ketika sistim batas intervensi ini dihapus pada tanggal 14 Agustus 1997 (Nasution: 2). p. Kesalahan juga terletak pada investor luar negeri yang kurang waspada dan meremehkan resiko (IMF. 2. 1998. 7) Penanam modal asing portfolio yang pada awalnya membeli saham besar-besaran dimingimingi keuntungan yang besar yang ditunjang oleh perkembangan moneter yang relatif stabil kemudian mulai menarik dananya keluar dalam jumlah besar (bandingkan World Bank. Ketidak mampuan pemerintah menangani krisis menimbulkan krisis kepercayaan dan mengurangi kesediaan investor asing untuk memberi bantuan finansial dengan cepat (World Bank. 1998: 5). US$ 1 milyar baru akan mencairkan dananya sebagai yang terakhir setelah semua pihak lain yang berjanji akan . Negara-negara sahabat yang menjanjikan akan membantu Indonesia juga menunda mengucurkan bantuannya menunggu signal dari IMF. 6) Defisit neraca berjalan yang semakin membesar (IMF Research Department Staff: 10. Terkesan tidak adanya kebijakan pemerintah yang jelas dan terperinci tentang bagaimana mengatasi krisis (Nasution: 1) dan keadaan ini masih berlangsung hingga saat ini. Krisis ini adalah krisis kepercayaan terhadap rupiah (World Bank. Dampak. 1. ditopang oleh tingkat devaluasi yang relatif stabil sekitar 4% per tahun sejak 1986 menyebabkan banyak modal luar negeri yang mengalir masuk.10). Singapura yang menjanjikan l. Greenwood). Krisis moneter yang terjadi sudah saling kait-mengkait di kawasan Asia Timur dan tidak bisa dipisahkan satu sama lainnya (butir 16 dari persetujuan IMF 15 Januari 1998). 1.Krisis Moneter Indonesia : Sebab. yang membuat harga barang-barang impor menjadi relatif murah dibandingkan dengan produk dalam negeri. IDE). 8) IMF tidak membantu sepenuh hati dan terus menunda pengucuran dana bantuan yang dijanjikannya dengan alasan pemerintah tidak melaksanakan 50 butir kesepakatan dengan baik.

yang nilainya melemah terhadap dollar AS (lihat IDE). namun kelemahan ini meskipun telah terakumulasi selama bertahun-tahun masih bisa ditampung oleh masyarakat dan tidak cukup kuat untuk menjungkir-balikkan perekonomian Indonesia seperti sekarang ini. Di lain pihak harus diakui bahwa sektor riil sudah lama menunggu pembenahan yang mendasar. sudah sejak tahun lalu bersiap-siap menyelamatkan harta kekayaannya ke luar negeri mengantisipasi ketidak stabilan politik dalam negeri.Terjadi krisis kepercayaan dan kepanikan yang menyebabkan masyarakat luas menyerbu membeli dollar AS agar nilai kekayaan tidak merosot dan malah bisa menarik keuntungan dari merosotnya nilai tukar rupiah. 1998: 1. 22). hal. Padahal mereka menguasai sebagian besar modal dan kegiatan ekonomi di Indonesia dengan akibat mereka membawa keluar harta kekayaan mereka dan untuk sementara tidak melaukan investasi baru.4. (Ehrke: 2). di mana serbuan terhadap dollar AS makin lama makin besar. Tahun 1995 kurs dollar AS berbalik menguat terhadap yen Jepang.10). baik pejabat pribumi dan etnis Cina. Maret 1999 membantu telah mencairkan dananya dan telah habis terpakai.8 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. penyaluran dana yang besar untuk proyek IPTN dan mobil nasional. Memang terjadi dislokasi sumber-sumber ekonomi dan kegiatan mengejar rente ekonomi oleh perorangan/kelompok tertentu yang menguntungkan mereka ini dan merugikan rakyat banyak dan perusahaan-perusahaan yang efisien. Setelah Plaza-Accord tahun 1985. 1. jiwa dan martabat mereka. Timbulnya krisis berkaitan dengan . sementara nilai utang dari negara-negara ini dalam dollar AS meningkat karena meminjam dalam yen. 10. Terjadilah snowball effect. Kerusahan besar-besaran pada pertengahan Mei yang lalu yang ditujukan terhadap etnis Cina telah menggoyahkan kepercayaan masyarakat ini akan keamanan harta. karena mata uang negaranegara Asia ini dipatok dengan dollar AS. 9. sehingga banyak perusahaan Jepang melakukan relokasi dan investasi dalam jumlah besar di negara-negara ini. Daya saing negara-negara Asia Timur meningkat terhadap Jepang. Orang-orang kaya Indonesia. Spekulan domestik ikut bermain (Wessel et al. tetapi juga meminjam dana dari sistim perbankan untuk bermain. sehingga menimbulkan krisis keuangan. kurs dollar AS dan juga mata uang negara-negara Asia Timur melemah terhadap yen Jepang. 11. Subsidi pangan oleh BULOG. IMF sendiri dinilai banyak pihak telah gagal menerapkan program reformasinya di Indonesia dan malah telah mempertajam dan memperpanjang krisis. Terdapatnya keterkaitan yang erat dengan yen Jepang. Para spekulan inipun tidak semata-mata menggunakan dananya sendiri.. monopoli di berbagai bidang. Sejak awal Desember 1997 hingga awal Mei 1998 telah terjadi pelarian modal besar-besaran ke luar negeri karena ketidak stabilan politik seperti isu sakitnya Presiden dan Pemilu (World Bank.

Program Reformasi Ekonomi IMF Menurut IMF. tanggal 16 Maret 1999.Krisis Moneter Indonesia : Sebab. Program reformasi ekonomi yang disarankan IMF ini mencakup empat bidang: 1. tidak memecahkan permasalahan. Sementara itu pemerintah Indonesia telah enam kali memperbaharui persetujuannya dengan IMF. krisis ekonomi yang berkepanjangan di Indonesia disebabkan karena pemerintah baru meminta bantuan IMF setelah rupiah sudah sangat terdepresiasi. (Fischer 1998b). Indonesia sendiri mempunyai kuota di IMF sebesar US$ 2. Sebab itu tindakan yang harus segera didahulukan untuk mengatasi krisis ekonomi ini adalah pemecahan masalah utang swasta luar negeri. menstabilkan nilai tukar rupiah pada tingkat yang nyata. kemudian 29 Juli 1998. Untuk menunjang program ini.04 milyar dicairkan segera. Inti dari setiap program pemulihan ekonomi adalah restrukturisasi sektor finansial. Sejumlah US$ 3.3 milyar selama tiga hingga lima tahun masa program. dan kurang dipengaruhi oleh sektor riil dalam negeri. yakni sektor ekonomi luar negeri. Dampak. yang menyebabkan nilai dollar AS melambung dan tidak terbendung. Kebijakan fiskal. Di samping dana bantuan IMF. Penyehatan sektor keuangan. Bank Pembangunan Asia dan negaranegara sahabat juga menjanjikan pemberian bantuan yang nilai totalnya mencapai lebih . Bank Dunia. 4. 2. Membenahi sektor riil saja. jumlah yang sama disediakan setelah 15 Maret 1998 bila program penyehatannya telah dijalankan sesuai persetujuan. Krisis pecah karena terdapat ketidak seimbangan antara kebutuhan akan valas dalam jangka pendek dengan jumlah devisa yang tersedia. Strategi pemulihan IMF dalam garis besarnya adalah mengembalikan kepercayaan pada mata uang. yaitu dengan membuat mata uang itu sendiri menarik. meskipun kelemahan sektor riil dalam negeri mempunyai pengaruh terhadap melemahnya nilai tukar rupiah. dan sisanya akan dicairkan secara bertahap sesuai kemajuan dalam pelaksanaan program. 1997: 1). mengembalikan kepercayaan masyarakat dalam dan luar negeri terhadap kemampuan ekonomi Indonesia. 3. dan yang terakhir adalah review yang keempat. IMF akan mengalokasikan stand-by credit sekitar US$ 11. Penyesuaian struktural. Kebijakan moneter. Dari jumlah total pinjaman tersebut. Peran IMF dan Saran 9 jatuhnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS secara tajam. Second Supplementary Memorandum of Economic and Financial Policies (MEFP) tanggal 24 Juni. Program bantuan IMF pertama ditanda-tangani pada tanggal 31 Oktober 1997. (IMF. membenahi kinerja perbankan nasional. dan tidak kalah penting adalah mengembalikan stabilitas sosial dan politik.07 milyar yang bisa dimanfaatkan.

Karena dalam beberapa hal program-program yang diprasyaratkan IMF oleh pihak Indonesia dirasakan berat dan tidak mungkin dilaksanakan.Deregulasi dan swastanisasi . Jadwal pelaksanaan masing-masing program dirangkum dalam matriks komitmen kebijakan struktural.Kebijakan fiskal . maka diadakanlah negosiasi ulang yang menghasilkan supplementary memorandum pada tanggal 10 April 1998 yang terdiri atas 20 butir.5 milyar berasal dari Indonesia dan Korea.Program restrukturisasi bank . maka dilakukanlah negosiasi kedua yang menghasilkan persetujuan mengenai reformasi ekonomi (letter of intent) yang ditanda-tangani pada tanggal 15 Januari 1998. memperkuat dan mempercepat restrukturisasi sistim perbankan.Memperkuat aspek hukum dan pengawasan untuk perbankan C. Korea mendapat bantuan dana total sebesar US$ 57 milyar untuk jangka waktu tiga tahun. Setelah pelaksanaan reformasi kedua ini kembali menghadapi berbagai hambatan.Lingkungan hidup. Cakupan memorandum ini lebih luas dari kedua persetujuan sebelumnya. Restrukturisasi sektor keuangan .10 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. di antaranya sebesar US$ 21 milyar berasal dari IMF. 3. Saransaran IMF diharapkan akan mengembalikan kepercayaan masyarakat dengan cepat dan kurs nilai tukar rupiah bisa menjadi stabil (butir 17 persetujuan IMF 15 Januari 1998). Reformasi struktural .Social safety net . Pokokpokok dari program IMF adalah sebagai berikut: A. Sebagai perbandingan. dan aspek baru yang masuk adalah penyelesaian utang luar negeri perusahaan swasta Indonesia.Kebijakan moneter dan nilai tukar B. 7 appendix dan satu matriks. yang mengandung 50 butir. menstabilkan rupiah pada tingkat yang sesuai dengan kekuatan ekonomi Indonesia. . memperkuat implementasi reformasi struktural untuk membangun ekonomi yang efisien dan berdaya saing. Thailand hanya memperoleh dana bantuan total sebesar US$ 17. Namun bantuan dari pihak lain ini dikaitkan dengan kesungguhan pemerintah Indonesia melaksanakan program-program yang diprasyaratkan IMF. Kebijakan makro-ekonomi . 2. Strategi yang akan dilaksanakan adalah: 1.Perdagangan luar negeri dan investasi .2 milyar. Maret 1999 kurang US$ 37 milyar (menurut Hartcher dan Ryan). di antaranya US$ 4 milyar dari IMF dan masing-masing US$ 0.

dan rasa kepercayaan terhadap perekonomian bahwa kita memiliki cukup devisa untuk mengimpor dan memenuhi kewajiban-kewajiban luar negeri” (Kompas. rasa tenteram. Ke tujuh appendix adalah masing-masing: Kebijakan moneter dan suku bunga Pembangunan sektor perbankan Bantuan anggaran pemerintah untuk golongan lemah Reformasi BUMN dan swastanisasi Reformasi struktural Restrukturisasi utang swasta Hukum Kebangkrutan dan reformasi yuridis. Dampak. Korea dan Indonesia) telah gagal. 3. padahal dalam hal Indonesia anggaran belanja negara sampai dengan tahun anggaran 1996/1997 hampir selalu surplus. sehingga tidak bisa keluar dengan program penyelamatan yang tepat. bila pemerintah dengan konsekuen melaksanakan program IMF. sehingga ekspor bisa bangkit kembali. Awal Mei 1998 telah dilakukan pencairan kedua sebesar US$ 989. kembalikan pembelanjaan perdagangan pada keadaan yang normal. Pemerintah akan terus menjamin kelangsungan kredit murah bagi perusahaan kecilmenengah dan koperasi dengan tambahan dana dari anggaran pemerintah (butir 16 dan 20 dari Suplemen). tetapi untuk mendukung neraca pembayaran serta memberi rasa aman. 4. meskipun surplus . 5. 1. 6. 1998b). 7. timbul kesan yang kuat bahwa IMF sesungguhnya tidak menguasai permasalahan dari timbulnya krisis. yang paling umum adalah bahwa: (1) program IMF terlalu seragam. Sementara itu Menko Ekuin/ Kepala Bappenas menegaskan bahwa “Dana IMF dan sebagainya memang tidak kita gunakan untuk intervensi. menyusun kerangka untuk mengatasi masalah utang perusahaan swasta. dan (2) program IMF terlalu banyak mencampuri kedaulatan negara yang dibantu (Fischer. Pencairan berikutnya sebesar US$ 1 milyar yang dijadwalkan awal bulan Juni baru akan terlaksana awal bulan September ini.4 juta dan jumlah yang sama akan dicairkan lagi berturut-turut awal bulan Juni dan awal bulan Juli. Prioritas utama dari program IMF ini adalah restrukturisasi sektor perbankan. Salah satu pemecahan standar IMF adalah menuntut adanya surplus dalam anggaran belanja negara. padahal masalah yang dihadapi tiap negara tidak seluruhnya sama. Setelah melihat program penyelematan IMF di ketiga negara tersebut. Radelet dan Sachs secara gamblang mentakan bahwa bantuan IMF kepada tiga negara Asia (Thailand. 6 Mei 1998).Krisis Moneter Indonesia : Sebab. 5. Peran IMF dan Saran 11 4. Kritik Terhadap IMF Banyak kritik yang dilontarkan oleh berbagai pihak ke alamat IMF dalam hal menangani krisis moneter di Asia. 2.

Anwar Nasution mengkritik bahwa reformasi ekonomi yang disarankan IMF bentuknya masih samar-samar. Selama ini tidak ada pencetakan uang secara besar-besaran untuk menutup anggaran belanja negara yang defisit. (Kompas. Kemudian berlakunya praktek apa yang dinamakan “konsensus Washington”. bahwa di bidang kebijaksanaan makro IMF tidak memperlihatkan adanya konsistensi antarinstrumen kebijaksanaan. J. Maret 1999 ini ditutup oleh bantuan luar negeri resmi pemerintah. tetapi oleh karena nilai tukar rupiah yang terpuruk terhadap dollar AS.12 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Harapan satu-satunya adalah peningkatan ekspor non-migas. pemimpin ekonom Bank Dunia. dan ini akan menunda cairnya bantuan dari sumber-sumber lain (Hartcher dan Ryan). (Kompas. Penasehat khusus IMF untuk Indonesia (P. Memang dalam anggaran belanja negara tahun 1998/1999 terdapat defisit anggaran yang besar. Demikianpun halnya dengan Bank Dunia. menjadi hal yang disoroti Dewan Direktur IMF dalam pengambilan keputusannya pekan depan”. yaitu negara pengutang lazimnya harus mendapatkan restu pendanaan dari pemerintah AS. bagaimana caranya untuk meningkatkan penerimaan pemerintah dan mengurangi pengeluaran pemerintah untuk mencapai sasaran surplus anggaran sebesar 1% dari PDB dalam tahun fiskal 1998/99. Kabar terakhir menyebutkan bahwa pencairan bantuan tahap ketiga awal Juni ni akan tertunda lagi atas desakan pemerintah AS yang dikaitkan dengan perkembangan reformasi politik di Indonesia. sementara keputusan yang diambil harus mengacu pada fakta konkret ekonomi. semakin besar defisit yang terjadi dalam anggaran belanja. mengkritik bahwa prakondisi IMF yang teramat ketat terhadap negara-negara Asia di tengah krisis yang berkepanjangan berpotensi menyebabkan resesi yang berkepanjangan. (Nasution: 27-28). dan prinsip ini terus dipegang. yang pada dasarnya hanya memperluas kesempatan ekonomi AS. Stiglitz. dan bagaimana ingin dicapai sasaran pertumbuhan ekonomi sebesar 3%. Karenanya. dan tidak ada tingkat inflasi yang melebihi 10%. Semakin jatuh nilai tukar rupiah. namun kelemahan utama dari IMF adalah tidak ada program yang jelas untuk meningkatkan efisiensi dan menurunkan biaya produksi untuk mendorong ekspor non-migas. Karena itu pemecahan utamanya adalah bagaimana mengembalikan nilai tukar rupiah ke tingkat yang wajar. Di satu pihak IMF . perwakilan IMF mewakili negara dan pemerintahan dengan kebijakan dan visi politik masing-masing. 2 Mei 1998). Sri Mulyani mengemukakan. Narvekar) sendiri juga dikutip sebagai mengatakan bahwa “IMF kerap menerapkan standar ganda dalam pengambilan keputusan. Tidak ada penjelasan rinci. ada saja peluang bahwa tudingan atas pelanggaran hak asasi manusia di Indonesia yang makin marak belakangan ini. Adalah kebijakan dari Orde Baru untuk menjaga keseimbangan dalam anggaran belanja negara. namun ini bukan disebabkan karena kebijakan deficit financing dari pemerintah. Di satu pihak. 13 Mei 1998).R.

karena keharusan BI melakukan fungsi lender of last resort bagi perbankan nasional. juga ketidak sejalanan kebijaksanaan moneter dan fiskal” (Sri Mulyani: 72). ditambah jarak yang cukup lama antara paket bantuan pertama dan kedua. perekonomian Meksiko dengan cepat pada tahun 1996 dapat bangkit kembali. menghilangkan kepercayaan terhadap rupiah. Dengan menahan pencairan bantuan tahap kedua dan setelah diundur. (Sri Mulyani: 72). sehingga memperparah keadaan dan masyarakat beramai-ramai memindahkan dananya dalam jumlah besar ke bank-bank asing dan pemerintah atau ditaruh di rumah. . Saran IMF menutup sejumlah bank yang bermasalah untuk menyehatkan sistim perbankan Indonesia pada dasarnya adalah tepat. kita juga perlu berterima kasih kepada IMF karena dengan menunda mencairkan bantuannya. karena cara pengelolaan bank yang amburadul dan tidak mengikuti peraturan. berhubung semua bantuan tambahan yang besarnya mencapai US$ 27 milyar dikaitkan dengan cairnya bantuan IMF. Hal ini juga diakui oleh IMF (butir 14. IMF sedikit banyak mempunyai andil dalam perjuangan menggulirkan tuntutan reformasi politik. Pertanyaan mendasar yang harus ditujukan kepada IMF menurut penulis adalah sejauh mana IMF bersungguh-sungguh dalam hal membantu mengatasi krisis ekonomi yang sedang melanda Indonesia dewasa ini? Apakah sama seperti kesungguhan Amerika Serikat ketika membantu Meksiko bersama-sama dengan IMF dan negara-negara maju lainnya yang berhasil menggalang sebesar hampir US$ 48 milyar Januari 1995? Setelah mencapai titik terendah tahun 1995. namun dampak psikologisnya dari tindakan ini tidak diperhitungkan.Krisis Moneter Indonesia : Sebab. yang menimbulkan krisis likuiditas perbankan nasional yang gawat. sedang di lain pihak menganut kebijaksanaan moneter yang kontraktif. terutama dalam rangka stabilitas nilai tukar dan inflasi. Karena badan internasional lain dan negara-negara sahabat yang menjanjikan bantuan juga menunggu signal dari IMF. bahkan memperparah keadaan. Bank Indonesia dan perbankan nasional. hanya dicicil US$ 1 milyar dari jumlah US$ 3 milyar. yang bertentangan dengan tema pengetatan. ekonomi dan hukum di Indonesia yang pada akhirnya bermuara pada mundurnya Presiden Soeharto. menyulitkan pemulihan ekonomi Indonesia secara cepat. Kedua kebijaksanaan ini bisa memandulkan efektivitas kebijaksanaan makro. “Secara makro ancaman kegagalan terbesar kesepakatan ketiga ini berasal dari kebijaksanaan moneter yang masih ambivalen. 15 dan 24 dari persetujuan IMF tanggal 15 Januari 1998). Di lain pihak. Rencana IMF untuk mencairkan bantuannya secara bertahap dalam jarak waktu yang cukup jauh menunjukkan bahwa IMF menekan Indonesia untuk menjalankan programnya secara ketat dan membiarkan keadaan ekonomi Indonesia terus merosot menuju resesi yang berkepanjangan. Peran IMF dan Saran 13 memberikan kelenturan dengan mengizinkan dipertahankannya subsidi dan menyediakan dana untuk menciptakan jaringan keselamatan sosial. Dampak. Masyarakat kehilangan kepercayaan kepada otoritas moneter.

Sayangnya tidak ada program khusus yang secara langsung ditujukan untuk menguatkan kembali nilai tukar rupiah. Asian Development Bank dan negara-negara sahabat.14 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. yang didukung oleh bantuan dana dari World Bank. tingkat bunga tinggi. Bila semua kekuatan bantuan ini dikumpulkan sekaligus secara dini. kalau mau. Reformasi struktural sebagaimana yang dianjurkan oleh IMF memang mendasar dan penting. sementara pemecahan masalahnya sudah sangat mendesak. Namun kekurangan yang paling utama dari IMF adalah bahwa IMF dalam program bantuannya tidak mencari pemecahan terhadap masalah yang pokok dan sangat mendesak ini dan berputar-putar pada reformasi struktural yang dampaknya jangka panjang. uang ketat. dan titipan-titipan khusus dari negaranegara maju yaitu membuka peluang investasi yang seluas-luasnya bagi mereka dengan menggunakan kesempatan dalam kesempitan Indonesia. tapi disuruh belajar berenang dahulu. butir 5. dari waktu ke waktu mengadakan intervensi terbatas di pasar valas dengan petunjuk IMF (lihat butir 14. pembenahan sektor riil yang memang perlu dan sudah sangat mendesak. dengan mencairkan dana bantuan yang relatif besar pada bulan November lalu. IMF sendiri tampaknya tidak tahu apa yang harus dilakukannya dan berputarputar pada kebijakan surplus anggaran. tetapi dampak hasilnya baru bisa dirasakan dalam jangka panjang. Di lain pihak memang harus diakui bahwa tekanan ini perlu untuk memastikan kesungguhan Indonesia. juga tidak ada Appendix untuk masalah ini. Maret 1999 Saran IMF untuk menstabilkan nilai tukar adalah dengan menerapkan kebijakan uang ketat. 17. Ibaratnya orang yang sudah hampir tenggelam diombang-ambing ombak laut tidak segera ditolong dengan dilempari pelampung. Tidak adanya program dari IMF yang jelas dan berjangka pendek untuk mengembalikan nilai tukar rupiah ke tingkat yang wajar dan menstabilkannya membuat pemerintah cukup lama terombang-ambing antara memilih program IMF atau currency board system. Namun bantuan dana IMF dan ketergantungan harapan pada IMF ini di(salah)gunakan untuk menekan pemerintah Indonesia untuk melaksanakan reformasi struktural secara besar-besaran. Dengan demikian timbulnya krisis kepercayaan yang berkepanjangan dapat dicegah. IMF tidak memecahkan permasalahan yang utama dan yang paling mendesak secara langsung. IMF bisa saja terlebih dahulu mengambil kebijakan memprioritaskan stabilisasi nilai tukar rupiah. menaikkan suku bunga dan mengembalikan kepercayaan terhadap kebijakan ekonomi. karena untuk beberapa tindakan memang ada tanda-tanda kekurang sungguhan di pihak Indonesia. Krisis ekonomi yang tengah berlangsung ini memang bukan tanggung-jawab IMF dan tidak bisa dipecahkan oleh IMF sendiri. 7 dari Suplemen). di mana makin ditunda makin banyak . 16. 21 dari persetujuan 15 Januari 1998. maka hal ini dengan cepat akan memulihkan kembali kepercayaan masyarakat dalam negeri dan internasional. yang justru menjanjikan kepastian dan kestabilan nilai tukar pada tingkat yang wajar.

Program reformasi IMF secara mencurigakan mengulang kembali tuntutan-tuntutan deregulasi ekonomi yang sudah sejak bertahun-tahun didengungkan oleh Bank Dunia dan belum sepenuhnya dilaksanakan oleh pemerintah Indonesia (lihat World Bank. yakni melalui subsidi silang sehingga masyarakat berpenghasilan rendah tetap dikenakan tarif listrik yang murah dan melalui peningkatan efisiensi. Membengkaknya subsidi ini disebabkan . Baru pada tanggal 1 Oktober 1998 direncanakan subsidi akan diturunkan secara berarti. karena dalam jangka pendek proyek ini akan mengacaukan kebijakan pemerintah di bidang fiskal. Subsidi untuk bahan pangan. Dalam situasi sekarang hampir tidak ada peluang untuk meningkatkan pajak. (butir 10 dan 11 dari Suplemen). Permintaan IMF untuk menghentikan dengan segera perlakuan pembebasan pajak dan kemudahan kredit untuk proyek mobil nasional dan IPTN adalah tepat.Krisis Moneter Indonesia : Sebab. sehingga timbul teka-teki. Juga saran IMF untuk menghapuskan subsidi BBM dan listrik yang kian membesar secara bertahap dalam jangka waktu tiga tahun sudah benar. Di sini timbul keragu-raguan akan kemurnian kebijakan reformasi IMF. 1996.World Bank. Jadi. karena IMF menganjurkan penghapusan subsidi secara bertahap dan tidak secara mendadak. Dampak. anggaran dan moneter secara berarti. Namun penurunan subsidi BBM dan listrik oleh pemerintah secara drastis dan mendadak pada tanggal 4 Mei 1998 yang lalu mempunyai dampak yang sangat luas terhadap perekonomian rakyat kecil. bab 2. Yang menjadi pertanyaan di sini adalah. Peran IMF dan Saran 15 perusahaan yang jatuh bergelimpangan. apakah pemerintah tidak bisa menunda kenaikan BBM dan listrik untuk beberapa bulan. meskipun kepentingan rakyat kecil sangat diperhatikan dengan adanya jaringan keselamatan sosial. Subsidi listrik relatif lebih mudah untuk dihapuskan. Banyak perusahaan yang mengandalkan pasaran dalam negeri tidak bisa menjual barang hasil produksinya karena perusahaan-perusahaan ini umumnya memiliki kandungan impor yang tinggi dan harga jualnya menjadi tidak terjangkau dengan semakin jatuhnya nilai tukar rupiah. utang luar negeri swasta dan nilai tukar rupiah yang merosot jauh dari nilai riilnya adalah masalah-masalah dasar jangka pendek. BBM dan listrik sudah diperhitungkan dan dinaikkan dalam anggaran pemerintah (butir 20 dari Suplemen). apakah IMF benar-benar tidak melihat inti permasalahannya atau berpura-pura tidak tahu? Atau IMF mengambil kesempatan dalam kesempitan untuk memaksakan perubahan-perubahan yang sudah lama menjadi duri di matanya dan bagi Bank Dunia serta mewakili kepentingan-kepentingan asing? Tampaknya di balik anjuran program pemulihan kegiatan ekonomi ada titipan-titipan politik dan ekonomi dari negara-negara besar tertentu. menunggu keresahan masyarakat reda? Di sini pemerintah salah membaca isi dari kesepakatan dengan IMF. Dalam suplemen program IMF April 1998 disebutkan bahwa subsidi masih bisa diberikan kepada beberapa jenis barang yang banyak dikonsumsi oleh penduduk berpenghasilan rendah seperti bahan makanan. bab 4 dan 5). yang lama tidak disinggung oleh IMF. BBM dan listrik. misalnya penagihan yang lebih efektif. 1997. Tindakan drastis ini sedikit-banyak telah membantu memicu terjadinya kerusuhan-kerusuhan sosial dan politik.

bank asing maupun penguasaan saham dari perusahaan-perusahaan yang telah go public. tetapi sebab utama karena merosotnya nilai tukar rupiah. sementara pendapatan masyarakat adalah dalam rupiah yang tidak berubah sejak sebelum terjadinya krisis moneter. dan liberalisasai perdagangan yang jauh lebih liberal dari komitmen resmi pemerintah di forum WTO. sehingga nilai tukar valas naik sangat tinggi dan siapa yang menarik keuntungan dari krisis ini? Janganlah rakyat banyak diminta untuk berkorban mengatasi krisis ini atau membebankan di atas penderitaan rakyat dengan misalnya menaikkan harga BBM dan tarif listrik. Keadaan ini tidak sebanding. Meskipun demikian IMF masih meminta dihapuskannya larangan membuka cabang bagi bank asing. seperti kinerja yang kurang efisien. Ikut campurnya IMF dalam penyelesaian utang swasta adalah sangat baik. tetapi apa sumbangan dari keterbukaan ini terhadap restrukturisasi ekonomi dari program IMF. Tidak bisa biaya produksi dihitung atas dasar nilai tukar dengan dollar AS yang masih relatif tinggi lalu dibebankan kepada konsumen. kecuali saham bank nasional yang go public. terutama yang bermodal kecil? Apa permintaan IMF ini tidak terlalu jauh? Kedengarannya seperti IMF menerima titipan pesan sponsor dari negara-negara besar yang ingin memaksakan kepentingannya dengan menggunakan kesempatan dalam kesempitan. Jadi tindakan yang pokok adalah pertama mengembalikan dulu nilai rupiah ke tingkat yang wajar dan dari sini baru menghitung besarnya subsidi. bila pendapatan masyarakat dalam rupiah juga ikut naik dua atau tiga kali lipat sesuai dengan kenaikan nilai tukar dollar AS. kalau tidak menurun dan banyaknya PHK. Di antara saran-saran IMF juga ada yang mengenai perluasan penyertaan modal asing dalam kegiatan ekonomi Indonesia yang terlalu jauh. Maret 1999 oleh beberapa faktor. (Bandingkan juga Sri Mulyani: 72-3). Saran IMF lainnya yang disisipkan dalam persetujuan dan tidak ada kaitannya dengan program stabilisasi ekonomi dan moneter adalah desakannya untuk menyusun UndangUndang Lingkungan Hidup yang baru (butir 50 dari persetujuan IMF tanggal 15 Januari 1998). tetapi apa salahnya bila pemerintah menyisakan bidang kegiatan untuk pengusaha Indonesia. izin investasi di bidang perdagangan besar dan eceran. karena IMF sebagai lembaga yang disegani bisa banyak membantu memulihkan kepercayaan kreditor . kita harus melihat sebab-sebab lain di balik kenaikan biaya produksi. seperti orang asing yang tinggal di Indonesia misalnya. Modal asing sudah diberi peluang yang cukup besar untuk investasi di Indonesia dengan diperbolehkannya kepemilikan hingga 100% baik untuk pendirian PMA.16 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. stabilisasi ekonomi dan moneter. tagihan listrik dalam jumlah besar yang tidak dibayar. Halnya akan lain. AFTA dan APEC. Dalam kaitan ini perlu dipertanyakan. siapa yang menjadi penyebab dari terjadinya krisis yang berkepanjangan ini. Masalahnya bukan sentimen nasionalisme. dan apa sumbangannya terhadap pemasukan modal asing? Bukan masalah anti asing atau sentimen nasionalisme yang sempit.

yang bukan disebabkan karena imported inflation4 . . dan ini tidak terjadi. kopi dan sebagainya ikut naik. Imbas dari kemerosotan nilai tukar rupiah yang tajam secara umum sudah kita ketahui: kesulitan menutup APBN. PHK di mana-mana. Dampak dari Krisis Dewasa ini semua permasalahan dalam krisis ekonomi berputar-putar sekitar kurs nilai tukar valas. padahal harga dari banyak barang naik cukup tinggi. biaya sekolah di luar negeri melonjak. perusahaan tutup atau mengurangi produksinya karena tidak bisa menjual barangnya dan beban utang yang tinggi. toko sepi. Pada sisi lain merosotnya nilai tukar rupiah secara tajam juga membawa hikmah. kecuali sebagian sektor pertanian dan ekspor. harga BBM/tarif listrik naik. khususnya dollar AS. investasi menurun karena impor barang modal menjadi mahal. Hasilnya adalah perbaikan dalam neraca berjalan. Masalah ini hanya bisa dipecahkan secara mendasar bila nilai tukar valas bisa diturunkan hingga tingkat yang wajar atau nyata (riil). utang luar negeri dalam rupiah melonjak. bahkan cenderung sedikit menurun pada sektor barang hasil industri. bahkan dalam beberapa hal turun ditambah PHK. harga telur/ayam naik. yang melambung tinggi jika dihadapkan dengan pendapatan masyarakat dalam rupiah yang tetap. dan negara-negara produsen lain juga mengalami depresiasi 4 Suatu inflasi dikatakan terjadi karena imported inflation bila harga barang-barang di negara pengekspornya naik. Dampak. tidak terjadi. tetapi penerimaan ekspor dalam valas umumnya tidak berubah. IMF bisa bertindak sebagai perantara yang netral dan dipercaya. gula. tarif angkutan naik. Dampak lain adalah laju inflasi yang tinggi selama beberapa bulan terakhir ini. kebalikannya arus masuk turis asing akan lebih besar. Sayangnya ekspor yang secara teoretis seharusnya naik. yang akan memperlancar dan mempercepat proses penyelesaian utang. sementara bagi konsumen dalam negeri harga beras. meskipun tidak kembali pada tingkat sebelum terjadinya krisis moneter. Peran IMF dan Saran 17 luar negeri. daya saing produk dalam negeri dengan tingkat kandungan impor rendah meningkat sehingga bisa menahan impor dan merangsang ekspor khususnya yang berbasis pertanian. Petani yang berbasis ekspor penghasilannya dalam rupiah mendadak melonjak drastis.Krisis Moneter Indonesia : Sebab. Secara umum impor barang menurun tajam termasuk impor buah. perjalanan ke luar negeri dan pengiriman anak sekolah ke luar negeri. proteksi industri dalam negeri meningkat sejalan dengan merosotnya nilai tukar rupiah. pengusaha domestik kapok meminjam dana dari luar negeri. Meskipun penerimaan rupiah petani komoditi ekspor meningkat tajam. karena pembeli di luar negeri juga menekan harganya karena tahu petani dapat untung besar. Dengan demikian roda perekonomian bisa berputar kembali dan harga-harga bisa turun dari tingkat yang tinggi dan terjangkau oleh masyarakat. tetapi lebih tepat jika dikatakan foreign exchange induced inflation.

Tapi sekali krisis berakhir dan ekonomi berbalik bangkit kembali (rebound). Hal yang serupa juga terjadi untuk ekspor barang manufaktur.18 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Prospek Ekonomi Indonesia Prospek ekonomi untuk beberapa tahun mendatang adalah kurang cerah dan akan ditandai oleh pertumbuhan ekonomi yang negatif. sehingga perlu dilancarkan program-program untuk menunjang mereka yang dikenal sebagai social safety net. sehingga bila nilai tukar rupiah bisa dikembalikan ke nilai nyatanya maka biaya besar yang dibutuhkan untuk social safety net ini bisa dikurangi secara drastis. Berapa lama krisis ekonomi ini masih akan berlangsung. Namun secara keseluruhan dampak negatifnya dari jatuhnya nilai tukar rupiah masih lebih besar dari dampak positifnya. Keadaan ekonomi yang sangat parah ini diperkirakan pada bulan-bulan mendatang masih akan berlangsung terus. hanya di sini ada kesulitan lain untuk meningkatkan ekspor. mesin-mesin sudah ada. Karena prasarana dasar untuk pembangunan sudah tersedia. sehingga yang diperlukan adalah pulihnya kepercayaan dan masuknya modal baru. Faktor-faktor tersebut adalah bantuan IMF dan donor-donor lainnya yang segera. Maret 1999 dalam nilai tukar mata uangnya dan bisa menurunkan harga jual dalam nominasi valas. Meningkatnya jumlah penduduk miskin tidak terlepas dari jatuhnya nilai tukar rupiah yang tajam. pulihnya kepercayaan investor dalam dan luar negeri.5 juta. tenaga terlatih. Sebagai dampak dari krisis ekonomi yang berkepanjangan ini. pabrik. Saran-Saran Krisis moneter telah memberikan pelajaran yang sangat berharga untuk menentukan kebijakan di masa depan. suasana politik dan sosial yang stabil. pada Oktober 1998 ini jumlah keluarga miskin diperkirakan meningkat menjadi 7. yang menyebabkan terjadinya kesenjangan antara penghasilan yang berkurang karena PHK atau naik sedikit dengan pengeluaran yang meningkat tajam karena tingkat inflasi yang tinggi. pertumbuhan GDP nyata Indonesia pada tahun 1998/9 diperkirakan akan negatif sebesar 16%. sulit untuk diramalkan karena tergantung pada banyak faktor. karena krisis belum juga menyentuh dasar jurang. dan tingkat inflasi sekitar 66%. Menurut perkiraan IMF pada bulan Maret 1999 lalu. maka upaya yang paling utama dan mendesak bagi Indonesia . keamanan yang mantap. maka perbaikan ini diperkirakan akan berlangsung relatif cepat. menguatnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS pada tingkat yang wajar. karena ada masalah dengan pembukaan L/C dan keadaan sosial-politik yang belum menentu sehingga pembeli di luar negeri mengalihkan pesanan barangnya ke negara lain.

1998. harga mobil terjangkau oleh masyarakat. kirim anak sekolah di luar negeri. memperbaiki “governance”. restrukturisasi perbankan. Dengan demikian sumber utama krisis di masa lalu untuk masa mendatang sudah dapat dieliminir. Beberapa saran dari penulis untuk mengatasi krisis ekonomi dewasa ini adalah sebagai berikut: . dan menjaga stabilitas fiskal dan moneter selama masa transisi (World Bank. baik swasta maupun pemerintah. Peran IMF dan Saran 19 dewasa ini adalah program penyelamatan yang bisa mengembalikan kepercayaan masyarakat serta menstabilkan kurs rupiah pada nilai tukar yang nyata (bandingkan juga Stiglitz). 9 April 1998). dan penyelesaian masalah utang swasta dengan penjadwalan ulang (Kompas. pola makan makanan yang bahannya gandum). perdagangan dan angkutan juga bisa hidup kembali. Dengan demikian. dana asing akan sangat hati-hati masuk ke Indonesia. sejauh persyaratan di atas bisa dipenuhi. Penulis menginterpretasikan nilai tukar nyata sebagai nilai tukar berdasarkan purchasing power parity yang bisa menjaga keseimbangan dalam neraca berjalan dan yang bisa menjamin ekonomi nasional beroperasi. Setelah mendapat pengalaman dari krisis ini. Dengan sistim ini. begitupun pengusaha domestik akan sangat hati-hati untuk meminjam dari luar negeri.Krisis Moneter Indonesia : Sebab. 2. berobat di luar negeri. p. Bank Dunia menyarankan mengembalikan kepercayaan terhadap rupiah dengan empat kebijakan utama: restrukturisasi beban utang swasta. Ditambah dengan hilangnya insentif untuk meminjam dari luar negeri karena biaya pinjaman yang lebih rendah diimbangi dengan tingkat depresiasi yang lebih tinggi dan karena tidak adanya lagi intervensi kurs oleh BI. jalan-jalan ke luar negeri. Dampak. Dunia perbankan nasional juga telah diajarkan dari manfaat jangka panjang untuk bertindak prudent. kegiatan ekonomi Indonesia terutama harus ditunjang oleh kekuatan sendiri berdasarkan dana modal yang tersedia di dalam negeri. perjalanan. Para ekonom dari CSIS berpendapat bahwa langkah yang harus diambil untuk mengatasi kemelut ini adalah dengan menstabilkan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dalam tingkat yang wajar. harga barang-barang produksi dalam negeri dengan kandungan lokal tinggi bisa meningkat daya saingnya sehingga bisa berkembang dan orang tidak mengandalkan bahan impor karena menjadi mahal.2). pada suatu saat tertentu dan membagi (spread-out) pembayaran ini secara merata dalam jangka waktu yang lebih panjang pada tingkat yang terkendali (manageable). reformasi dan memperkuat sistim perbankan. impor secara otomatis akan berkurang (misalnya buah. Kegiatan jasa hotel. industrialisasi substitusi impor berlanjut. Inti dari pemecahan krisis moneter dalam jangka pendek haruslah ditujukan kepada pencegahan penumpukan pembayaran utang luar negeri. dan meningkatkan ekspor.

Yang nanti akan menjadi masalah adalah bagaimana membayar utang bantuan darurat yang mencapai US$ 46 milyar tersebut di samping utang-utang pemerintah dan swasta yang ada. Karena Indonesia telah menanda-tangani persetujuan program reformasi struktural ekonomi dengan IMF. hanya saja jangka waktu pembayaran kembalinya saja yang lebih panjang. Dengan demikian. dalam hal ini Departemen Keuangan dan Bank Indonesia. makin cepat juga dananya cair. tanpa merusak nama Indonesia sebagai debitur yang baik. 3. maka masih ada selisih positif sebesar lebih dari US$ 1 milyar yang bisa dihemat. apa salahnya jika Indonesia meminta penundaan waktu pembayaran kembali utang? Nama Indonesiapun tidak menjadi jelek karenanya. sebab Paris Club adalah instrumen internasional yang memang khusus dirancang untuk membantu negara-negara sedang berkembang dalam menghadapi masalah pembayaran kembali utang-utang luar negeri pemerintah. berarti bahwa beban utang termasuk pembayaran bunga untuk di kemudian hari akan bertambah besar. Seandainya Indonesia tidak menerima bantuan barupun. Bila Jepang hanya mau membantu dengan dengan menambah pinjaman baru. Pemerintah melaksanakan reformasi dan restrukturisasi sektor riil dan keuangan secara konsekuen untuk memperkuat fundamental ekonomi Indonesia. Mengusahakan penundaan pembayaran utang resmi pemerintah berupa pembayaran cicilan pokok dan bunga selama misalnya dua tahun melalui Paris Club. Membentuk kabinet baru yang terdiri atas teknokrat untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat Indonesia maupun luar negeri akan kesungguhan program reformasi. Makin cepat pemerintah melaksanakan program-program reformasi. harus bertindak proaktif menghadapi IMF dengan mengajukan saran-sarannya sendiri dan menolak program-program yang tidak relevan dan cenderung merugikan Indonesia. Sementara ini sudah banyak negara sedang berkembang yang memanfaatkan fasilitas ini. Sebab menurut APBN tahun 1998/99 jumlah pembayaran cicilan utang pokok luar negeri beserta bunganya mencapai US$ 7. yang juga selalu mendapatkan pujian dari Bank Dunia dan IMF. Maret 1999 1. Namun dalam keadaan krisis yang parah ini. terlebih lagi karena bantuan IMF ini terkait dengan bantuan negara-negara donor lainnya yang jumlahnya sangat besar. Penjadwalan kembali pembayaran utang resmi pemerintah ini juga akan banyak . maka pemerintah juga harus melaksanakannya dengan konsekuen. Keuntungan dari penundaan pembayaran utang ini adalah. bahwa beban utang tidak menjadi bertambah.560 juta.20 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. sementara pinjaman luar negeri baru sebesar US$ 6. 2. termasuk program reformasi IMF. Dengan adanya kepercayaan ini. Sejauh ini Indonesia memang selalu patuh untuk membayar semua utang-utangnya secara tepat waktu. diharapkan akan terjadi arus balik devisa dan masuknya modal luar negeri.450 juta. Jumlah ini sangat berarti untuk memperkuat cadangan devisa negara. Indonesia bisa bernapas untuk memperkuat posisi cadangan devisanya. Namun pemerintah.

Krisis Moneter Indonesia : Sebab, Dampak, Peran IMF dan Saran

21

membantu meringankan defisit anggaran belanja, terlebih lagi dengan semakin terpuruknya nilai tukar rupiah semakin besar pula defisit dalam anggaran belanja negara yang harus ditutup. Hal ini telah dilakukan oleh pemerintah dan telah dicapai kesepakatan, bahwa Indonesia akan menunda pembayaran cicilan utang pokoknya saja. 4. Menstabilkan nilai tukar rupiah pada tingkat yang riil, artinya tidak lagi overvalued ketika regim managed floating, bahkan bisa dipertimbangkan untuk membiarkannya sedikit undervalued untuk meningkatkan daya saing secara internasional dan merangsang produksi dalam negeri dan ekspor. Nilai tukar nyata yang wajar ini harus dicari dengan memperhatikan kriteria-kriteria berikut, paling tidak tingkat depresiasi rupiah tidak lebih rendah dari depresiasi nyatanya. Dengan kurs ini defisit anggaran belanja negara bisa ditekan, juga tingkat inflasi, pembayaran utang luar negeri pemerintah dan swasta dalam rupiah dapat ditekan sehingga mampu dikembalikan, begitupun harga BBM/listrik dan pakan ternak, harga barang-barang produksi dalam negeri dapat terjangkau termasuk sembako dan pabrik-pabrik beroperasi kembali, orang-orang yang menganggur dapat bekerja kembali, jumlah penduduk miskin dapat ditekan kembali dan jaringan keamanan sosial tidak lagi diperlukan, biaya angkutan udara bisa diturunkan, perjalanan domestik dan luar negeri dapat hidup kembali. Dilain pihak kurs dollar AS ini harus cukup tinggi untuk menahan impor berbagai macam barang dan bahan serta meningkatkan daya saing produk dalam negeri termasuk buah-buahan, insentif untuk meminjam dana dari luar negeri hilang, biaya perjalanan ke dan sekolah di luar negeri tetap masih mahal, yang semuanya mengurangi pengurangan devisa. Sebaliknya daya saing ekspor masih cukup tinggi, sehingga ekspor masih bisa tetap bergairah. Bila ini disadari sebagai hal yang utama dan yang paling mendesak untuk mengakhiri krisis ini, maka seluruh daya upaya dan pikiran dapat diarahkan untuk memecahkan persoalannya. Kebijakan depresiasi nilai tukar yang relatif besar dampaknya sama seperti kebijakan proteksi produksi dalam negeri, karena merubah perbandingan harga antara barang dalam negeri aktif dalam forum-forum internasional seperti APEC, ASEAN, dan sebagainya untuk mencari pemecahan atas krisis moneter yang sedang melanda banyak negara Asia Timur. Masalah pokoknya adalah bagaimana memperkuat nilai tukar mata uang masing-masing kembali pada tingkat yang wajar. Misalnya dengan mengajukan gagasan-gagasan pemecahan yang konkrit dan mendesak diadakannya pertemuanpertemuan dengan segera. Hingga kini sikap pemerintah Indonesia terkesan pasif. 6. Mengadakan negosiasi ulang utang luar negeri swasta Indonesia dengan para kreditor untuk meminta penundaan pembayaran, yang sekarang sedang diusahakan oleh Tim Penanggulangan Utang Luar Negeri Swasta (PULNS) atau Indonesian Debt Restructuring Agency (INDRA).

22

Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan, Maret 1999

7. Mengembalikan stabilitas sosial dan politik dan rasa aman secepatnya sehingga bisa memulihkan kepercayaan pemilik modal dalam dan luar negeri. 8. Untuk mengembalikan kepercayaan dari masyarakat yang menyimpan uangnya di dalam negeri, pemerintah bisa mempertimbangkan melakukan operasi swap, apalagi didukung oleh cadangan devisa pemerintah yang semakin membesar. 9. Menghalangi kemungkinan kegiatan spekulasi valas besar-besaran dengan mempelajari kemungkinan melakukan pengawasan devisa secara terbatas tanpa melepas prinsip regim devisa bebas atau melanggar kesepakatan dengan IMF, misalnya transfer pribadi dibatasi sampai jumlah tertentu, US$ 10.000. Selanjutnya tidak memberi peluang untuk memperdagangkan rupiah atau menaruh deposito Rupiah di luar negeri. Deposito valas hanya boleh di bank-bank devisa dalam negeri dan tidak boleh ditempatkan di luar. Krugman juga menganjurkan memungut pajak atas dana yang masuk dan membuat peraturan yang menghambat pengiriman dana ke luar (lihat Wessel dan Davis, hal. 16).

Daftar Kepustakaan
Anwar, Moh. Arsjad. 1997. “Transformasi Struktur Perekonomian Indonesia: Pola dan Potensi”, dalam: M. Pangestu, I. Setiati (penyunting), Mencari Paradigma Baru Pembangunan Indonesia, Jakarta: CSIS, hal. 33-48. Bank Indonesia. 1998. “Financial Crisis in Indonesia”, Jakarta, August. Bello, W. 1998. “Mencari Solusi Alternatif untuk Mengatasi Krisis”, saduran, Jakarta: Kompas, 1 September, hal. 3. Ehrke, M.1998. “Pangloss oder die beste aller moeglichen Welten, Ursachen und Auswirkungen der Asienkrise”, Bonn: Friedrich Ebert Stiftung, Februari. Fischer, S. 1998a. “IMF dan Krisis Asia”, Kompas, Jakarta, 6 April. ________. 1998b. “Peranan IMF Saat Krisis”, Kompas, Jakarta, 8 April. ________. 1998c. “The Asian Crisis and the Changing Role of the IMF”, Washington, D.C.: Finance & Development, Vol. 35 No. 2, June, pp. 2-5. Greenwood, J. 1997. “The Lessons of Asia’s Currency Crisis”, Hong Kong: The Asian Wall Street Journal, 9 Oktober, hal. 6. Gunawan, A.H., Sri Mulyani I.. 1998. “Krisis Ekonomi Indonesia dan Reformasi (Makro) Ekonomi”, makalah pada Simposium Kepedulian Universitas Indonesia Terhadap Tatanan Masa Depan Indonesia”, Kampus UI, Depok, 30 Maret - 1 April.

Krisis Moneter Indonesia : Sebab, Dampak, Peran IMF dan Saran

23

Hartcher, P., C. Ryan. 1998. “The IMF Turns Off the Tap”, Australian Financial Review, May 21. Hollinger, W.C. 1996. Economic Policy under President Soeharto: Indonesia’s Twenty-Five Year Record, the United States-Indonesia Society. IMF. 1997. “IMF Approves Stand-By Credit for Indonesia”, Washington, D.C., Press Release No. 97/50, November 5. IMF. 1997. “IMF Approves Stand-By Credit for Indonesia”, Press Release No. 97/50, November 5. IMF. 1998. World Economic Outlook, Washington, D.C., May. IMF. 1999. “Indonesia, Supplemetary Memorandum of Economic and Financial Policies, Fourth Review Under the Extended Arrangement”, March 16. IMF Research Department Staff. 1997. “Capital Flow Sustainability and Speculative Currency Attacks”, Finance and Development, Washington, D.C.: World Bank, December, hal. 8-11. IMF Staff. 1998. “The Asian Crisis: Causes and Cures”, Washington, D.C.: Finance & Development, Vol. 35 No. 2, June, pp.18-21. “IMF Cairkan Semilyar Dollar AS”, Jakarta: Kompas, 6 Mei 1998. “IMF Mulai Sadar Transparensi”, Jakarta: Kompas, 13 Mei 1998, hal. 9. “Indonesia - IMF Agreement on Economic Reforms”, January 15, 1998. “Indonesia - Supplementary Memorandum of Economic and Financial Policies”, Jakarta, April 10, 1998. Institute of Developing Economies (IDE). 1997. 1998 Economic Outlook for East Asia, Tokyo, December 9. Kitamura, K.; T. Tanaka (editors). 1997. Examining Asia’s Tigers, Nine Economies Challenging Common Structural Problems, Tokyo: Institute of Developing Economies, IDE Spot Survey. Korea Letter of Intent, February 7, 1998, Krause, L.B. 1994. The Pacific Century: Myth or Reality?, the 1994 Panglaykim Memorial Lecture, Jakarta: CSIS.

Jakarta. 10 Juni. Jakarta. “Saatnya Dipertimbangkan Solusi Alternatif”. .24 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. “RI-IMF Hasilkan Memorandum Tambahan”. hal. 62-77. 1998. January. Jakarta. _________. Gatra. 28-29. ___________. Ada yang Harus Dilakukan dan yang Harus Dihindari”. IMF Agree on Bailout. Hong Kong: The Asian Wall Street Journal. 17-18 Desember. Stiglitz. 3. S. 1994. 17. 5. Jakarta: Kompas. Radelet. 1997. November/December. ACAES. LPEM-FEUI. Tarmidi. Maret 1999 Krugman. Schuman.1997. Economy Is Slated for Rapid Change”. 1998a. 28 Agustus. No. N. Nasution. “Kesepakatan Ketiga”. Soros.. July 26. M. 1998a. Montes. 31-38. “Lessons from the Recent Financial Crisis in Indonesia”. L. hal. 1997. hal. 72-3. “The Myth of Asia’s Miracle”. __________. Jakarta. makalah pada “1997 Economics Conference”. H. No.T. 1998. “What’s a Fund for?”. 3. M. September 16. 9 Mei. 1998b. p. “Restoring the Asian Miracle”. hal. Hong Kong: The Asian Wall Street Journal. 1998. The Economist. Singapore: ISEAS. 140-2. 8. September 25. Jakarta: Kompas. Singapore. hal.. 25 Tahun IV. 1998. hal. hal. Krisis Moneter Tahun 1997/1998 dan Peran IMF. “What Happened to Asia”. “Saran Ali Wardhana untuk Atasi Krisis. Sri Mulyani Indrawati. diselenggarakan bersama oleh USAID. Hong Kong: Far Eastern Economic Review. “Currency Crisis”. G. J. Sender. Anwar. February 2. December 4. 9 April 1998. Hong Kong: The Asian Wall Street Journal. P. “Why Not Let the Banks Own the Debtor Firms?”. 3rd updated reprint. majalah Global. Cho.F. “The Crisis of Global Capitalism”. J. The Currency Crisis in Southeast Asia. Foreign Affairs. 1998b. The Sunday Times. 1997. 26 Agustus 1998. Dimuat di Kompas dengan judul “Di Balik Terjadinya Krisis Keuangan Asia”. “APEC dan Krisis Moneter di Kawasan Asia Timur”. Jakarta: Kompas. 1998. “South Korea. hal. _________. pidato pengukuhan Guru Besar Madya Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. 27 Januari. Sachs.

hal. Growth and Equity in Repelita VI. Would-Be Keyneses Debate How to Fight Global Woes”. Indonesia. Wessel. __________. 1.. 1998. B. December 31. 1. World Bank. Ip.Krisis Moneter Indonesia : Sebab. May 30. Peran IMF dan Saran 25 ___________. May 27. Dimensions of Growth. 1998c. draft Report. Hong Kong: The Asian Wall Street Journal. D. 1997. August 11-13. __________. D. Indonesia in Crisis. 15383-IND. hal. D. paper presented at the APEC Study Centre Consortium Conference. Malaysia. Sustaining High Growth with Equity. “Money Trail: Who Ruptured the Rupiah”. “Utang Swasta Sekitar 64 Milyar Dollar AS”. Hong Kong: The Asian Wall Street Journal. Davis. Indonesia. 1997. February 24. Bangi. 1996. Report No. 16433IND. McDermott. A Macroeconomic Update. 1998. May 7. Jakarta: Kompas. 1994. G.. 16. Report No. 1998. September 28. . Wessel. __________. 2 Mei 1998. “Crisis Crusaders. “APEC and the Monetary Crisis in East Asia”. 22. Thailand Letter of Intent. July 2. Dampak. Indonesia: Stability.

konsep ini sangat progresif dalam hal mempercayakan penyelenggaraan penjaminan kepada mekanisme pasar dan meniadakan intervensi pemerintah. Sebagai suatu konsep yang ditujukan untuk mengatasi berbagai kelemahan deposit insurance scheme yang berlaku sekarang ini. Bank Indonesia Agusman : Pengawas Bank. sehingga mengarah sepenuhnya pada swastanisasi baik penyelenggaraan penjaminan maupun pelaksanaan pengaturan dan pengawasan bank yang menyertainya. Apabila diterapkan sepenuhnya. maka konsep Cross-Guarantee menekankan pentingnya penggunaan pendekatan risk-sensitive analysis dalam penetapan besarnya premi. Urusan Pengawasan Bank 2. Dengan merujuk pada ide yang dilontarkan Bert Ely tentang CrossGuarantee. konsep Cross-Guarantee juga akan mengakibatkan perubahan yang sangat mendasar terhadap seluruh pola dan praktek penjaminan dan pengawasan bank yang sudah dijalankan selama ini. Bank Indonesia . Konsep ini juga mengupayakan adanya perlakuan yang sama untuk bank-bank besar dan bank-bank kecil dalam memper-oleh penjaminan. Sangat berbeda dengan konsep-konsep lainnya dalam program penjaminan. *) Maulana Ibrahim : Kepala Urusan Pengawasan Bank 2. Pendekatan Too-Big-To-Fail (TBTF) yang sejak beberapa waktu terakhir telah menimbulkan inkonsistensi dalam proses penjaminan diharapkan dapat dihilangkan oleh konsep ini. sekaligus mempelajari kemungkinan penerapannya di Indonesia. dalam tulisan ini akan didalami prinsip-prinsip dasar yang terkandung dalam konsep tersebut beserta pengaruhnya terhadap pola penjaminan dan pengawasan bank.Konsep Cross-Guarantee dalam Program Penjaminan dan Kemungkinan Penerapannya di Indonesia 31 KONSEP CROSS-GUARANTEE DALAM PROGRAM PENJAMINAN DAN KEMUNGKINAN PENERAPANNYA DI INDONESIA Maulana Ibrahim dan Agusman *) Tulisan ini mencoba mengetengahkan salah satu bentuk pikiran alternatif dalam program penjaminan yang dikenal dengan konsep Cross-Guarantee.

T. Latar Belakang Konsep Cross-Guarantee Konsep Cross-Guarantee muncul antara lain karena adanya berbagai kritik dan ketidakpuasan terhadap skim penjaminan yang diterapkan pada Federal Deposit Insurance Corporation (FDIC) di Amerika Serikat. .1. D. namun untuk jangka panjang tampaknya perlu dicari alternatif lain yang memungkinkan terselenggaranya program penjaminan yang efisien dan efektif.. 1991.Balino. The Cross-Guarantee Concept and Interbank Markets. The Federal Reserve Bank of Chicago. Kritikan tersebut perlu ditanggapi karena FDIC 1 Menurut V. tindakan darurat (emergency measures) yang dilakukan bank sentral dapat berupa pemberian fasilitas lender of last resort.Sundararajan dan Tomas J. 7 Mei 1999. intervensi terhadap bank-bank/lembaga keuangan bermasalah dan pembentukan deposit insurance. Editor: V. seorang pakar deposit insurance telah mengemukakan konsep Cross-Guarantee sebagai salah satu alternatif. 3 Bert Ely.Balino. Bank Indonesia. No. khususnya karena tidak sebandingnya nilai premi dengan cakupan penjaminan disamping adanya peluang untuk melakukan moral hazard. Pencarian kemungkinan alternatif lain program penjaminan merupakan hal yang perlu dilakukan secara terus menerus. skim program penjaminan yang dipilih pemerintah tersebut ternyata lebih bersifat blanket guarantee (penjaminan menyeluruh).T. Di Amerika Serikat sendiripun upaya pencarian tersebut masih tetap dilakukan meskipun program penjaminannya dianggap telah jauh lebih maju dan mapan.S. Dalam Konferensi mengenai Bank Structure and Competition yang baru-baru ini diadakan oleh Federal Reserve Bank of Chicago. Maret 1999 Pendahuluan rogram penjaminan merupakan salah satu kebijaksanaan yang diambil pemerintah untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat kepada sistem perbankan nasional yang sempat terganggu karena parahnya krisis ekonomi dan keuangan yang dihadapi Indonesia sejak paroh kedua tahun 1997. Untuk tindakan darurat1 . Tulisan ini mencoba mengetengahkan pikiran-pikiran Bert Ely mengenai konsep CrossGuarantee tersebut.Sundararajan dan Tomas J. hal tersebut barangkali masih dapat diterima. 2 Kusumaningtuti S. serta mencoba mempelajari kemungkinan penerapannya di Indonesia. Ditinjau dari karakteristiknya. Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Dalam hubungan ini.32 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Ketentuan Blanket Guarantee dan Kemungkinan Penggantiannya dengan Deposit Protection Scheme. P Sulit untuk memungkiri bahwa skim penjaminan pemerintah yang bersifat menyeluruh itu akan sangat memberatkan keuangan pemerintah. Bert Ely3 . International Monetary Fund. Kusumaningtuti (1999)2 misalnya. Vol. Desember 1998.. Paper dalam “The 35th Annual Conference on Bank Structure and Competition”. telah mencoba mengkaji kemungkinan penggantian ketentuan blanket guarantee tersebut dengan deposit protection scheme.C.3. Untuk mendalami masalah ini lebih lanjut lihat tulisan mereka berdua dalam Banking Crises: Cases and Issues . Washington.

Pertama. pada dasarnya yang dijamin oleh FDIC adalah dana pihak ketiga (deposits) maksimum sebesar USD. Dengan kata lain.sedangkan non-deposits liabilities seperti pinjaman yang diterima. hal. Arthur F. Oleh karena itu. komitmen dan kewajiban off-balance sheet serta kewajiban antar bank di atas USD. Namun dalam prakteknya prinsip tersebut ternyata tidak diterapkan karena dua alasan pokok berikut ini. . Journal of Banking & Finance.W. 5 Ide agar FDIC menetapkan premi sebagaimana layaknya perusahaan asuransi swasta mula-mula sekali dilontarkan oleh Merton (1977). Meskipun penerapan asas TBTF sangat dimungkinkan berdasarkan konsep Reformasi Deposit Insurance (deposit insurance reforms) yang disetujui Kongres Amerika Serikat dan berlaku sejak setelah tahun 1988.19 Tahun 1995.. sehingga menimbulkan cross-subsidies.1091-1108.000.100. hal.Sealey dalam “Deposit Insurance and Bank Interest Rate Risk: Pricing and Regulatory Implications ”. seharusnya semakin besar risiko yang ditanggung semakin besar premi.000 tidak dijamin.25% barulah premi akan dinaikkan. Moreau dan C. Kritikan berikutnya yang sering ditujukan kepada FDIC adalah berkenaan dengan penetapan premi yang harus dibayar oleh bank-bank yang ikut penjaminan.100. No. dan sebaliknya5 . sehingga pada gilirannya dapat merugikan masyarakat penyimpan dana. termasuk juga pos pinjaman subordinasi. Disamping itu premi yang dikenakan oleh FDIC sekarang ini juga dinilai terlalu berlebihan (overcharging) untuk bank-bank yang sehat dan terlalu kecil (undercharging) untuk bank-bank yang bermasalah. pendapatan dari penanaman dana oleh FDIC jauh melebihi biaya-biaya operasionalnya.Konsep Cross-Guarantee dalam Program Penjaminan dan Kemungkinan Penerapannya di Indonesia 33 sekarang ini menghadapi risiko yang lebih besar dibandingkan dengan periode-periode sebelumnya4 .18. khususnya bagi bankbank yang “Too-Small-To-Safe” (TSTS). Perhitungan premi oleh FDIC dinilai kurang mencerminkan risiko yang harus ditanggungnya. No. Sebagaimana diketahui. Sebagaimana layaknya perusahaan asuransi. Namun dalam hal suatu bank dinilai TBTF maka seluruh pos kewajibannya akan dijamin. Alasan kedua adalah karena jumlah dana yang ditanamkan oleh FDIC telah melebihi ketentuan minimum Reserve Ratio (RR) perbankan sebesar 1. yaitu bank-bank yang 4 Adanya risiko yang lebih besar tersebut antara lain dikemukakan oleh Jin-Chuan Duan. akan tetapi tetap saja ada kritik bahwa perlakuan khusus tersebut dapat menimbulkan diskriminasi diantara sesama bank. Salah satu hal yang memperoleh kritikan adalah mengenai ruang lingkup penjaminan FDIC yang cenderung agak kurang konsisten sehubungan dengan penerapan pendekatan “Too-Big-To-Fail” (TBTF). laba yang diperoleh FDIC cukup besar sehingga ketergantungan pada premi menjadi semakin lebih berkurang. 531-552. Tahun 1994. “Deposit Insurance Pricing and Social Welfare”. Journal of Banking & Finance. tampaknya hanya dalam FDIC mengalami kerugian dan deposit growth menekan RR di bawah 1. Hal ini diungkap dalam tulisan Yoram Landskroner dan Jacob Paroush.25%.

namun pendekatan ini dinilai kurang ideal dalam perhitungan premi. Kritikan lainnya adalah mengenai masih terbukanya peluang untuk melakukan moral hazard dalam sistem yang berlaku sekarang. hal. . ruang-lingkup penjaminan. bentuk kontribusi dari bank yang dijamin.Kaufman. Struktur seperti ini ternyata dapat mengakibatkan terjadinya regulatory moral hazard pada tingkat pembuat ketentuan. sedangkan pihak lain yaitu birokrasi pemerintah (regulator) berkewajiban untuk meminimumkan kerugian FDIC dan mencegah kegagalan bank (bank failures). No. Mekanisme Cross-Guarantee ini memiliki kemiripan dengan mekanisme yang berlaku pada Standby Letter of Credits. Sekarang ini FDIC menggunakan 2 (dua) alat ukur risiko yaitu Capital Levels dan CAMEL Rating. bank-bank yang ikut program penjaminan FDIC pada hakekatnya saling menjamin satu-sama lain. lembaga penjamin. karena masing-masing bank-bank yang dijamin (insured banks) pada akhirnya menjadi pihak yang bertanggung jawab terhadap semua kerugian yang terjadi apabila ada bank-bank yang mengalami kegagalan usaha (failed banks). Melalui premi yang mereka bayar. apabila diterapkan secara penuh maka ketentuan yang tercakup dalam FDICIA dapat efektif menurunkan moral hazard.721-722. khususnya dalam hal terdapat multiple participant. lembaga lain yang terlibat dan lain-lain. Contoh yang paling baru dari fenomena regulatory moral hazard ini adalah dalam hal kegagalan BestBank di Boulder. ketentuan perbankan. Penerapan konsep Cross-Guarantee dalam program penjaminan memer-lukan perubahan mendasar terhadap skim penjaminan dan pola pengawasan bank yang sedang berjalan. Colorado pada bulan Juli 1998. 6 FDICIA singkatan dari FDIC Improvement Act. Tahun 1995. Selanjutnya lihat George G. Menurut Bert Ely.34 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. meskipun belum seutuhnya. Karakteristik Sistem Cross-Guarantee dalam Penjaminan Terlepas dari berbagai kritik terhadap skim penjaminan FDIC sebagaimana dikemukakan di atas. weak internal controls dan execessive exposure to emerging speculative bubbles. pelaksana pengawasan bank. Hal ini erat kaitannya dengan belum diterapkannya secara penuh prinsip risk-sensitive premium sebagaimana yang dipersyaratkan oleh Section 302 FDICIA6 serta penggunaan alat ukur risiko yang belum sesuai. secara implisit konsep Cross-Guarantee sebenarnya sudah melekat pada FDIC. Perubahan-perubahan tersebut dapat mencakup aspek penyelenggara. seharusnya alat ukur yang digunakan adalah leading indicators of banking risks seperti risk mismatches. Hal ini terjadi karena pada satu pihak FDIC memiliki kekuasaan besar dalam penentuan premi. Pada Lampiran-1 disajikan perbandingan antara Cross-Guarantee dengan skim penjaminan deposit insurance konvensional untuk masing-masing aspek tersebut.19. sumber pembayaran klaim. “FDICIA and Bank Capital” dalam Journal of Banking & Finance. dan potensial untuk berubah menjadi real moral hazard pada tingkat FDIC. rapid growth. Maret 1999 sehat membayar kewajiban bank-bank yang tidak sehat. Menurut George G.Kaufman.

seluruh kerugian karena bangkrutnya suatu bank akan langsung diserap oleh modal bank-bank yang ada dalam sistem perbankan suatu negara. akan terjadi pergeseran dari government regulation and deposit insurance kepada contractual regulation and guarantees (swasta). Direct guarantor akan melakukan pembayaran dengan menggunakan general funds (cadangan umum) yang merupakan salah satu unsur modalnya. Dengan demikian. b. Perlu kiranya dikemukakan bahwa aturan penyebaran risiko (risk dispersion rule) merupakan salah satu pilar penting dalam konsep Cross-Guarantee. Aturan ini mencakup hal-hal sebagai berikut: ♦ Setiap penjamin (guarantor) harus dijamin oleh penjamin-penjamin lainnya dalam suatu sistem cross-guarantee. Selanjutnya. d. secara accrual accounting setiap direct guarantor akan langsung mengakui dan mencatat kerugian sebesar share yang harus ditanggungnya apabila bank yang dijaminnya mengalami kegagalan usaha. c. Sebuah lembaga baru yang disebut Cross Guarantee Regulation Corporation (CGRC) harus dibentuk. Secara bersama-sama para direct guarantor akan membentuk suatu sindikat direct guarantor (lihat Lampiran-2). Dengan cara ini.Konsep Cross-Guarantee dalam Program Penjaminan dan Kemungkinan Penerapannya di Indonesia 35 Agar konsep Cross-Guarantee tersebut dapat diimplementasikan dalam praktek maka perlu dilakukan langkah-langkah sebagai berikut: a. Jumlah modal yang tersedia untuk menyerap kerugian juga akan semakin besar dan semua itu terjadi atas dasar komitmen sukarela (committed voluntarily). Apabila direct guarantor gagal memenuhi kewajibannya maka guarantor dari direct guarantor tersebut harus bertanggungjawab. Perjanjian ini akan berfungsi sebagai pengganti ketentuan perbankan yang berlaku sekarang. Untuk memastikan bahwa bank-bank yang dijamin mematuhi cross-guarantee contract maka sebuah perusahaan swasta yang disebut “syndicate agent“ akan disewa. Syndicate agent ini selanjutnya akan menggantikan fungsi pengawas dan pemeriksa bank yang ada sekarang. Setiap bank diberi kebebasan untuk menentukan sendiri penjaminnya (direct guarantornya). Dengan demikian setiap dolar kerugian pasti akan dapat diselesaikan oleh bank-bank yang berada dalam himpunan para penjamin (the universe of guarantors). . Penunjukan syndicate agent ini dilakukan secara terbuka sehingga akan mendorong adanya kompetisi yang sehat dan efisiensi. minimal untuk menyelesaikan kewajiban cross-guarantee dari setiap penjamin. Lembaga ini berfungsi untuk memastikan bahwa perjanjian penjaminan (crossguarantee contract) yang disepakati para pihak telah sesuai dengan aturan penyebaran risiko (risk dispersion rule) serta ketentuan-ketentuan lainnya. Bank yang dijamin (insured bank) selanjutnya akan melakukan pembicaraan dengan direct guarantor-nya untuk mencapai kesepakatan-kesepakatan yang akan dituangkan dalam bentuk perjanjian penjaminan (cross-guarantee contract).

penerapan konsep CrossGuarantee akan menimbulkan pergeseran peranan dari pemerintah kepada pihak swasta dalam melakukan penjaminan serta pengaturan dan pengawasan bank. Oleh karena itu. Sebagai aturan yang akan menggantikan prudential regulation maka perjanjian penjaminan harus dibuat sedemikian rupa agar dapat menampung prinsip kehati-hatian. Karena adanya kebebasan dalam proses merumuskan mekanisme penjaminan untuk setiap bank. Skim penjaminan berbasiskan pasar tersebut diharapkan dapat mengeliminir intervensi dari pemerintah. Manfaat Swastanisasi Penjaminan melalui Cross-Guarantee Sebagaimana yang telah dikemukakan sebelumnya. Demikian pula penentuan perjanjian penjaminan (cross-guarantee contract) sepenuhnya diserahkan kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Secara aggregat. agar dapat terlaksana dengan baik. yang menyatakan bahwa “apabila satu penjamin mengalami kerugian cross-guarantee melebihi lima kali premi yang diperolehnya dalam setahun maka kewajiban crossguarantee-nya harus dialihkan kepada direct guarantor-nya. memenuhi aturan penyebaran risiko (risk dispersion rule) serta ketentuan-ketentuan lainnya yang dianggap penting oleh para pihak. ♦ Untuk memastikan bahwa tidak akan pernah ada suatu bank mengalami kegagalan usaha karena menjadi penjamin maka perlu diberlakukan suatu standard stop-loss rule. sehingga penjaminan akan terlaksana secara efisien dan efektif. baik untuk setiap bank maupun secara aggregat. setiap bank penjamin tidak diperkenankan menerima pendapatan dari premi7 dalam setahun melebihi 3 (tiga) persen dari total modalnya. . maka konsep Cross-Guarantee dipandang lebih berorientasi ke depan dibandingkan dengan konsep penjaminan (FDIC) yang berlaku sekarang. Cross-Guarantee memerlukan peran aktif dari pihak swasta untuk mewujudkan suatu skim penjaminan yang diarahkan oleh kekuatan pasar (market-driven cross-guarantee). Semangat untuk melakukan privatisasi penjaminan melalui Cross-Guarantee jelas terlihat sejak awal penentuan bank penjamin (direct guarantor) yang dilakukan secara sukarela (voluntary) dan demokratis. yaitu insured banks dan direct guarantor-nya. Maret 1999 ♦ Setiap perjanjian penjaminan (cross guarantee contracts) harus menyebutkan jumlah minimum para penjamin dan persentase risiko yang ditanggung mereka masing-masing. Yang perlu dijaga adalah agar perjanjian dimaksud sudah memperhitungkan premi atas dasar sensitivitas terhadap risiko (risk-sensitive premium).36 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. 7 Dalam hal ini premi merupakan proxy terbaik dari cross-guarantee risk. ♦ Setiap penjamin bertanggungjawab sebatas jumlah risiko cross-guarantee yang ditanggungnya.

Konsep Cross-Guarantee dalam Program Penjaminan dan Kemungkinan Penerapannya di Indonesia

37

Dengan swastanisasi penjaminan dan pengawasan bank maka nantinya tidak akan ada lagi fenomena “satu ketentuan yang berlaku untuk semua” (one-size-must-fit-all government regulation) yang selama ini merupakan salah satu kelemahan inheren dari ketentuan perbankan yang dibuat pemerintah. Dalam praktek selama ini sering ditemukan adanya beberapa ketentuan yang sulit diterapkan karena bersifat terlalu umum dan kurang mempertimbangkan karakteristik individual bank. Atas dasar konsep Cross-Guarantee ini, insured banks dapat membuat berbagai ketentuan yang mengatur dirinya secara spesifik berdasarkan kesepakatan dengan direct guarantor-nya. Konsep Cross-Guarantee juga memberikan kesempatan yang seluas-luasnya bagi insured banks untuk berdiskusi dan bernegosiasi dengan direct guarantor-nya untuk segala hal termasuk mengenai masa depan bank tersebut. Hal ini pada gilirannya akan membuat strategi business dan perencanaan bank menjadi semakin tajam dan terarah. Pada pihak lain, kegiatan kontrol atau pengawasan akan semakin lebih ketat karena langsung dilakukan oleh kekuatan pasar. Apabila suatu bank memperoleh penilaian yang jelek dari pasar maka yang akan menanggung akibatnya bukan hanya bank yang bersangkutan saja, tetapi juga menjalar kepada bank yang menjadi direct guarantor. Hal-hal tersebut akan membuat persaingan dalam industri perbankan akan semakin ketat dan mendorong efisiensi besarbesaran dalam sektor keuangan. Persaingan sehat juga akan terjadi diantara sesama syndicate agent yang akan berfungsi sebagai pengganti pengawas dan pemeriksa bank yang ada sekarang. Karena kemungkinan akan banyak perusahaan syndicate agent yang muncul maka direct guarantor diberi keleluasaan dalam menentukan syndicate agent yang mereka pilih. Hal ini pada gilirannya dapat mendorong kompetisi yang sehat diantara sesama perusahaan syndicate agent dan mendorong efisiensi pekerjaan penjaminan. Manfaat berikutnya dari konsep Cross-Guarantee dapat ditinjau dari segi ruang lingkup penjaminannya. Tanpa memandang besar kecilnya suatu bank, mereka akan dijamin sebagaimana layaknya bank-bank lainnya, asal bank-bank tersebut dapat menemukan direct guarantor-nya. Oleh karena itu, pendekatan TBTF menjadi tidak relevan sama sekali dalam konsep Cross-Guarantee. Dengan menggunakan konsep Cross-Guarantee, maka transaksitransaksi non-funding obligations seperti account payment, unexpired leases dan kewajiban yang muncul karena tuntutan hukum akan dapat ikut dijamin. Kewajiban yang tidak dapat dijamin hanyalah pinjaman subordinasi karena memiliki karakteristik campuran (hybrid) hutang dengan modal. Sama halnya dengan program penjaminan biasa, maka dalam crossguarantee, unsur modal juga tidak dijamin8 .
8 Pengecualian hanya terjadi dalam hal TBTF, karena ada kemungkinan pinjaman subordinasinya juga akan ikut dibayar, tergantung pada bobot permasalahan bank yang TBTF tersebut.

38

Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan, Maret 1999

Manfaat lainnya dari konsep Cross-Guarantee adalah adanya kesempatan untuk melakukan penyesuaian secara cepat terhadap perhitungan premi berdasarkan kekuatan pasar. Perhitungan tersebut akan mencerminkan risk-sensitivity dari bank yang dijamin dan diharapkan dapat disesuaikan segera baik secara bulanan atau mingguan. Dalam hal ini besarnya premi dapat langsung dibicarakan oleh masing-masing bank dengan direct guarantor-nya. Dengan adanya kemungkinan untuk melakukan perhitungan premi berdasarkan kecenderungan pasar tersebut maka cross-subsidies yang inheren dalam skim penjaminan yang ada sekarang diharapkan akan dapat dihilangkan.

Pengaruh terhadap Pasar Antar Bank dan Sistem Pembayaran
Cross-guarantee dapat menghilangkan counterparty risk yang selama ini melekat dalam transaksi antar bank (lihat Lampiran-3). Sistem Kliring akan terbebas dari risiko tidak dibayarnya tagihan antar bank karena adanya jaminan bahwa direct guarantor masing-masing bank pada akhirnya akan bertanggungjawab sesuai perjanjian penjaminan (cross-guarantee contract) yang mereka sepakati. Hal ini pada gilirannya memungkinkan terselenggaranya suatu Sistem Pembayaran yang bebas risiko (risk-free basis). Penggunaan konsep Cross-Guarantee ini juga dapat mendorong penggunaan secara luas net settlement procedures dalam Sistem Pembayaran. Bagi bank sentral hal ini akan sangat menguntungkan karena net settlement procedures tersebut dapat lebih efisien dari real-time gross settlement .

Kemungkinan Penerapan Konsep Cross-Guarantee di Indonesia
Skim penjaminan yang sekarang ini diterapkan di Indonesia masih mengandung berbagai kelemahan baik pada tingkat konsep maupun pada tingkat pelaksanaan. Pada tingkat konsep, karena bersifat blanket guarantee (jaminan menyeluruh) maka skim tersebut dapat mengakibatkan beban yang sangat berat bagi keuangan pemerintah, padahal kemampuan keuangan pemerintah sendiri sudah sangat terbatas. Disamping itu peluang untuk moral hazard juga besar karena unsur keadilan yang kurang terpenuhi yang tercermin antara lain dari gejala cross-subsidies dimana bank-bank yang sehat membayar kewajiban bank-bank yang tidak sehat. Pada tingkat pelaksanaan, terdapat pula indikasi bahwa dalam praktek tidak seluruh aspek penjaminan dapat terlaksana. Sebagai contoh, untuk melaksanakan penjaminan transaksi off-balance sheet derivatives perlu ada bukti-bukti bahwa transaksi itu genuine, sesuatu yang sangat sulit dibuktikan kecuali oleh perbankan sendiri. Sehubungan dengan hal-hal tersebut di atas, konsep Cross-Guarantee tampaknya dapat menjadi salah satu alternatif jalan keluar, karena hakekat persoalan penjaminan dikembalikan secara utuh kepada pelaku pasar sendiri yaitu antara bank-bank yang

Konsep Cross-Guarantee dalam Program Penjaminan dan Kemungkinan Penerapannya di Indonesia

39

bertransaksi, sehingga mereka perlu saling menjamin dan saling menjaga kestabilan sistem perbankan. Namun demikian perlu kiranya diingat agar pemilihan konsep Cross-Guarantee tersebut hendaknya tidak terlepas dari tujuan utama dari program penjaminan, yaitu untuk mencegah kegagalan pasar perbankan (banking market failure) dan untuk membangkitkan kembali kepercayaan masyarakat serta menghentikan bank runs9 . Meskipun dapat dipandang sebagai salah satu alternatif jalan keluar, penerapan konsep Cross-Guarantee di Indonesia dapat menimbulkan pro dan kontra. Mereka yang pro mungkin lebih didasarkan atas adanya peluang besar untuk meringankan beban keuangan pemerintah, apalagi dalam situasi krisis seperti sekarang. Sementara itu, yang kontra lebih melihat dari sisi kesiapan perbankan dan kalangan pemerintahan kita dalam menerapkan konsep dimaksud. Hal yang terakhir ini tampaknya ada benarnya juga karena untuk sampai pada konsep Cross-Guarantee perlu dijawab terlebih dahulu pertanyaan-pertanyaan berikut ini:

√ Apakah bank-bank di Indonesia sudah sedemikian sehat dan kuat sehingga mampu
untuk saling menjamin (cross-guarantee) sesama mereka ?

√ Apakah bank-bank di Indonesia sudah cukup dewasa untuk mendiskusikan sendiri
sesama mereka hal-hal yang berkenaan dengan penjaminan, business strategy dan prudential regulation untuk dituangkan dalam semacam perjanjian yang mengikat mereka secara bersama-sama ?. Pertanyaan ini cukup penting mengingat selama ini bank-bank di Indonesia sangat tergantung pada petunjuk dan arahan yang diberikan oleh otoritas moneter sebagai pengawas dan pembina bank-bank.

√ Apakah sistem informasi yang terdapat pada masing-masing bank dan secara nasional
telah sanggup menyediakan data/informasi yang diperlukan untuk penetapan premi yang sensitif terhadap risiko ?

√ Apakah pihak otoritas pengawas yang ada sekarang berkenan menyerahkan fungsinya
pada mekanisme pasar melalui syndicate agent dan dapat menerima keberadaan Cross Guarantee Regulation Corporation (CGRC) sebagai lembaga yang akan memverifikasi perjanjian penjaminan (cross-guarantee contract) ?. Pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas cukup relevan untuk kondisi Indonesia dan memerlukan jawaban-jawaban yang tidak sederhana. Pengkajian lebih lanjut sangat diperlukan untuk mencegah pengambilan keputusan yang keliru yang dapat berakibat kontraproduktif terhadap masa depan sistem perbankan dan sektor keuangan negara kita.
9 Mengenai hal ini lihat misalnya Kerry Cooper dan Donald R.Fraser, “The Risk of Depository Institution Failure and The Role of Deposit Insurance” dalam Banking Deregulation and The New Competition in Financial Services, Ballinger Publishing Company, Cambridge Massachusetts, 1984.

Sundararajan dan Tomas J. “The Risk of Depository Institution Failure and The Role of Deposit Insurance” dalam Banking Deregulation and The New Competition in Financial Services. Cambridge Massachusetts. Paper dalam “The 35th Annual Conference on Bank Structure and Competition”.1091-1108.Sundararajan dan Tomas J. The Federal Reserve Bank of Chicago.1. hal. hal.19.19 Tahun 1995.Kaufman. No.. No.T.W.721-722. hal. Desember 1998. Kerry Cooper and Donald R. The Cross-Guarantee Concept and Interbank Markets. Arthur F. 1991. Yoram Landskroner dan Jacob Paroush.3.C.. “Deposit Insurance Pricing and Social Welfare” dalam Journal of Banking and Finance. Bank Indonesia. Tahun 1995.531-552.Sealey dalam “Deposit Insurance and Bank Interest Rate Risk: Pricing and Regulatory Implications” dalam Journal of Banking & Finance. .T. International Monetary Fund.40 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Ballinger Publishing Company. Ketentuan Blanket Guarantee dan Kemungkinan Penggantiannya dengan Deposit Protection Scheme. 7 Mei 1999. Tahun 1994. Washington. Editor V.Balino. Kusumaningtuti S. Banking Crises: Cases and Issues . Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Jin-Chuan Duan. Maret 1999 Daftar Pustaka Bert Ely. Vol. D. No.18.Moreau and C. “FDICIA and Bank Capital” dalam Journal of Banking & Finance. No.Fraser. George G. V. 1984.S.Balino.

8 Lembaga lain yang terlibat Tidak ada lembaga lain yang terlibat kecuali FDIC. baik sebagai direct guarantor maupun indirect guarantor. 6 7 Pelaksana pengawasan bank Ketentuan perbankan Murni swasta. Premi ("risk sensitive premium"). Dibentuk lembaga baru yang disebut Cross Guarantee Regulation Corporation (CGRC) untuk memastikan bahwa perjanjian jaminan sudah sesuai aturan penyebaran risiko dan ketentuan lainnya. kecuali Pinjaman Subordinasi. Berdasarkan kesepakatan antara bank yang dijamin (insured banks) dengan direct guarantor-nya ("Contractual Regulation"). 4 Bentuk kontribusi dari yang dijamin 5 Sumber pembayaran klaim General funds (general reserves) dari direct guarantors. Seluruh pos-pos kewajiban. Premi (namun belum memenuhi kriteria "risk-sensitive premium"). 41 . ASPEK DEPOSIT INSURANCE CROSS-GUARANTEE Konsep Cross-Guarantee dalam Program Penjaminan dan Kemungkinan Penerapannya di Indonesia 1 2 3 Penyelenggara Lembaga Penjamin Ruang-lingkup Penjaminan Pemerintah FDIC Terbatas dan sangat subjektif dalam penentuan bank-bank yang "TBTF" (Too-Big-Too-Fail). Bank Sentral dan "insured banks". Hasil pengelolaan dan penanaman premi pada sektor-sektor yang menguntungkan.Lampiran-1 PERBANDINGAN ANTARA CROSS-GUARANTEE DENGAN DEPOSIT INSURANCE KONVENSIONAL No. dilaksanakan oleh "Syndicate Agent". Bank Sentral dan FDIC Prudential regulation konvensional Swasta Sesama bank.

42 Lampiran 2 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Maret 1999 Monitoring fee Obligation to protect competitively sensitive data Ensures that cross-gurantee contract complies with risk dispersion rules and other statutory requirements Syndicate Agent (Independent of any other party) monitoring responsibility Fiduciary responsibility Delegation of Guaranteed Bank of Thrift complies with risk dispersion rules and other statutory requirements Ensures that cross-guarantee contract Syndicate of Direct Guarantors = Bank or non-depository guarantor  1998 Ely & Company Inc. Permission granted to reproduce with attribution Cross-guarantee commitment Guarantee premium Contractual relationship Contract approval .

including daylight overdraft limits. securities. stc) that are direct participants in the clearing system Guarantors of counterparties 43 . In effect. cross-guarantee contracts will ensure payment finality. bilateral caps. firms.Lampiran 3 Using Cross-Guarantees to Ensure Payment Finality Will Permit Clearing Systems to Operate Much More Efficiently by Eliminating Counterparty Risk Present System Clearing systems presently utilize a variety of devices. Konsep Cross-Guarantee dalam Program Penjaminan dan Kemungkinan Penerapannya di Indonesia In a World of Cross-Guarantees Clearing systems will be able to operate much more efficiently and safely where balances due to clearing system participants are fully guaranteed by the guarantors of the clearing system’s counterparties. thereby ensuring payment finality. and collateralized net debit positions. Clearing Systems Failure Failure Flow of insolvency loss if a clearing system participant becomes insolvent Counterparties (banks. to protect clearing systems participant from a default by a counterparty.

misalnya: jam kerja.Kinerja Lembaga Keuangan Mikro dan Perilaku Masyarakat Pedesaan 45 KINERJA LEMBAGA KEUANGAN MIKRO DAN PERILAKU MASYARAKAT PEDESAAN *) Sumantoro Martowijoyo **) Setelah disuguhi banyak topik moneter dengan teknik-teknik analisis canggih ekonometrika tingkat pascasarjana. di samping berkembangnya kelompok-kelompok swadaya masyarakat sebagai bentuk lembaga keuangan yang paling sederhana di tingkat “akar rumput”. Indonesia telah menjadi laboratorium bagi penelitian di bidang Lembaga Keuangan Mikro (LKM). USDM. kenangan dan salam perpisahan penulis kepada Urusan Kredit. ada Badan Kredit Desa yang didirikan di zaman Belanda. suku bunga tabungan dan suku bunga pinjaman. Di luar BRI Unit yang merupakan kisah sukses tingkat dunia. waktu pemrosesan kredit. karena sebagian justru sengaja memacetkan kreditnya. dan kiranya akan menjadi topik pembicaraan tersendiri. tingkat penghasilan nasabah. Tergambar pula masih lugu dan mandirinya sifat pengusaha mikro perdesaan nasabah LKM dibanding pengusaha konglomerat nasabah bank umum: apabila kenaikan pendapatan pengusaha mikro perdesaan dipakai untuk menambah tabungan dan melunasi tunggakan. Ukuran “kinerja” sendiri jauh berbeda dengan kriteria CAMEL yang tidak akan mudah tercerna oleh kesahajaan lembaga-lembaga tersebut. Di sini dibahas beberapa faktor yang menggambarkan perilaku masyarakat perdesaan yang mempengaruhi kinerja lembaga keuangan mikro. Badan Kredit Kecamatan di Jawa Tengah. Bank Indonesia . *) Bagian dari tulisan yang sedang dalam proses. tulisan ini mengajak pembaca untuk turun ke dunia nyata tempat sebagian besar saudara kita sebangsa hidup. jarak rata-rata antara lokasi LKM ke lokasi nasabah. Dari hasil analisis dapat diungkapkan. tidak demikian halnya pengusaha konglomerat. bahwa faktor yang paling mempengaruhi kinerja adalah jarak ke lokasi nasabah dan selang waktu pemrosesan kredit. Bank Indonesia **) Sumantoro Martowijoyo : Peneliti pada Tim Penyiapan Pusat Pendidikan dan Riset. karena memiliki berbagai jenis sejak lama. Di era pengentasan kemiskinan ini.

Tiga lembaga yang dipilih adalah yang efektif beroperasi di tingkat “akar rumput” dan menerapkan prinsip suku bunga pasar yang terbukti lestari. tanpa melihat status hukumnya.46 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. simpanan wajib. dan simpanan sukarela. di samping BRI Unit yang merupakan kisah sukses dunia. tapi untuk Indonesia karena lokasinya banyak pula di perkotaan maka dipilih istilah yang dikenal sejak Summit ini. Apabila kebutuhan akan uang tersebut makin terasa dan jumlah yang diperoleh dari arisan terlalu kecil. terdapat banyak LKM yang semiformal maupun informal di Indonesia. para pakar merekomendasikan prinsip keswadayaan dan kesehatan (viability) dari programprogram pengentasan kemiskinan. timbullah gagasan untuk menambah jumlah dan jenis uang setoran menjadi simpanan pokok. pencarian model lembaga keuangan mikro1 yang tepat untuk melayani rakyat miskin dilakukan di mana-mana. dan dalam pengembangan LKM melalui Proyek Kredit Mikro yang didanai bersama Asian Development Bank. Kelompok Swadaya Masyarakat Di Indonesia. Indonesia sebetulnya sudah lebih maju dalam penciptaan lembaga keuangan mikro sejak zaman Belanda. Istilah “mikro” selain menunjuk skala yang lebih kecil dari yang kecil. Model Grameen Bank Bangladesh direplikasikan di manamana. Maret 1999 Latar Belakang D engan disepakatinya ikrar dalam Microcredit Summit di Washington DC Amerika Serikat pada tahun 1997 untuk membebaskan 100 juta penduduk dunia dari kemiskinan. 1 banyak pula yang menyebutnya rural financial institutions (RFI) atau lembaga keuangan pedesaan (LKP). Setelah dua dasawarsa diwarnai kreditkredit murah bersubsidi yang sebagian tidak jatuh ke tangan kelompok sasaran dan mengakibatkan merosotnya kinerja serta moralitas lembaga keuangan pelaksananya. Dalam pengembangan KSM Bank Indonesia ikut berkiprah melalui Pengembangan Hubungan Bank dengan Kelompok Swadaya Masyarakat (PHBK) yang gagasannya berasal dari APRACA (Asia Pacific Rural and Agricultural Credit Association). kegiatan yang dilakukan secara kelompok sudah merupakan budaya masyarakat yang berazaskan paguyuban. Lembaga Keuangan Mikro di Indonesia Selain lembaga yang formal seperti BRI Unit dan BPR yang secara hukum diakui sebagai lembaga keuangan formal (bank). Di luar perhatian para penentu kebijakan kita. Kegiatan arisan sudah tumbuh menjamur diperdesaan dan perkotaan dan jumlahnya mungkin melebihi satu juta. Dengan begitu. konotasinya terkait dengan kemiskinan . dan lembaga-lembaga swadaya masyarakat (LSM) bergiat membina keswadayaan masyarakat melalui kelompok-kelompok swadaya masyarakat (KSM).

Lumbung desa mengumpulkan padi untuk diberikan sebagai pinjaman berupa padi kepada petani di saat mereka membutuhkan. Satu pasar=5 hari (kalender Jawa). Berkembangnya KSM di Indonesia tidak lepas dari berkembangnya lembaga swadaya masyarakat (LSM) dari tahun 1960-an sampai awal 1990-an yang jumlahnya diperkirakan antara 1000-2000 buah (Saidi. BI sendiri menyetujui BRI meneruskan tugas pengawasannya terhadap BKD dengan bantuan keuangan dari BI.7 tahun 1992 yang mencabut berlakunya Staatsblad no. Suharto.000 tanpa agunan.Kinerja Lembaga Keuangan Mikro dan Perilaku Masyarakat Pedesaan 47 perkumpulan arisan telah berubah menjadi koperasi kredit (credit union). di mana untuk peminjaman uang ditarik pula semacam “jasa” yang dipotongkan dari jumlah pinjaman. Dengan berlakunya Undang-undang Perbankan No. Sistem kredit BKD sederhana. Sebagai bank sekunder dalam pembinaan BRI. Selama zaman Belanda sistem BKD telah berfungsi dengan baik sebagai lembaga keuangan bagi rakyat perdesaan. Seperti halnya di Filipina. Perkumpulan semacam ini secara tidak sadar sudah berfungsi sebagai lembaga keuangan perdesaan: menghimpun dana dan memberikan kredit kepada anggota. 357 tahun 1929. memungut bunga berupa “jasa”. serta di akhir tahun membagikan dividen bagi para pemegang saham. Sedangkan bank desa menghimpun tabungan berupa uang dan memberikan kredit berupa uang. kredit pasaran diberikan oleh BKD yang bukanya setiap hari pasaran tertentu . Pengawasan terhadap BKD dilakukan secara langsung oleh Mantri BKD yang mewilayahi satu kemantren yang terdiri dari 18 BKD. kemudian mulai tumbuh kembali sesudah kemerdekaan. terutama terdiri dari kredit pasaran dan mingguan yang berjangka waktu 12 pasar2 atau 12 minggu dengan pembayaran angsuran pokok maupun bunga dengan jumlah yang tetap. 1988) dan keduanya dikukuhkan dengan Staatsblad nomor 357 tahun 1929. berguguran di zaman pendudukan Jepang dan Perang Kemerdekaan. 2. Akan tetapi mengingat banyak faktor. semata-mata berdasarkan penilaian kelayakan nasabah oleh Komisi I. 1995). Badan Kredit Desa Badan Kredit Desa (BKD) terdiri dari lumbung desa yang didirikan tahun 1897 dan bank desa yang didirikan sekitar tahun 1904 (P. pengawasan terhadap BKD sebetulnya ada di tangan Bank Indonesia (BI). Jumlah kredit yang dapat diberikan sampai dengan Rp 400. banyak LSM yang lahir dan tumbuh untuk dapat “menangkap” bantuan dari badan atau LSM internasional. organisasi dan pengelolaan BKD dipertahankan tetap seperti konsep semula yaitu Komisi BKD terdiri dari kepala desa sebagai ketua komisi (Komisi I) dan 2 orang pemuka masyarakat atau aparat desa sebagai Komisi II dan III. Pembukuan dilakukan oleh Juru Tata Usaha (JTU) yang bekerja untuk 6 BKD secara bergilir (BKD umumnya buka sekali seminggu pada hari atau hari pasaran tertentu).

di pihak lain apabila BKK kekurangan modal kerja BPD akan memberikan pinjaman likuiditas. Berdasarkan Perda no. BKK diharuskan menyimpan kelebihan alat likuidnya di BPD. 1981). bulanan (3 bulan). Jenis kredit BKK sama dengan BKD. 1993) . Kinerja manajemen BKK dipantau oleh Camat sebagai penanggung jawab BKK di wilayahnya.000 tidak diperlukan agunan selain rekomendasi kepala desa. sedangkan untuk nasabah ulangan yang lancar pencairan kredit dapat dilakukan pada hari yang sama. ratarata peminjam per unit 978 orang.11 tahun 1981 Bank Pembangunan Daerah (BPD) Jawa Tengah ditugasi sebagai pembina dan pengawas teknis BKK. Di tengah maraknya kredit Bimas. 11 tahun 1981 dikukuhkan menjadi badan usaha milik daerah. jumlah pinjaman rata-rata per unit Rp 96 juta dan per nasabah Rp 132.26). dan (3) mendidik masyarakat pedesaan untuk gemar menabung (BP-BKK. Sama dengan BKD jumlah angsuran sama setiap pembayaran. BKD mampu menjangkau masyarakat paling miskin di pedesaan. misalnya. keberadaannya dibutuhkan oleh rakyat dan telah membuktikan kelestarian dan kemandiriannya dalam arti tidak pernah menerima dana maupun subsidi bunga dari pemerintah. dibukukan terpisah sebagai angsuran pokok dan bunga. lumbung desa tetap menjadi sumber kredit bagi rakyat kecil untuk konsumsi sehari-hari (Dibyo Prabowo. Jumlah BKD di Jawa dan Madura tercatat 5345 terdiri dari 4806 yang aktif dan 539 yang tidak aktif (BRI. Maret 1999 Lepas dari suara yang mendiskreditkan BKD.1994). tercermin dari paling rendahnya jumlah kredit rata-rata BKD dibanding beberapa lembaga keuangan mikro yang terkenal di dunia. mingguan.584 (DAI. 1995. Pemegang Kas dan Pemegang Buku. Selang waktu antara saat pengajuan permohonan dengan realisasi kredit untuk nasabah baru paling lama seminggu. dan kemudian dengan Peraturan Daerah (Perda) No. Jumlah BKK di seluruh Jawa Tengah 510. yaitu sebesar USD 38 di tahun 1993 (Christen.p. dan musiman (6 bulan). Sebagai LKM. (2) menciptakan pemerataan kesempatan berusaha di pedesaan. Badan Kredit Kecamatan Badan Kredit Kecamatan (BKK) adalah lembaga keuangan yang beroperasi di tingkat kecamatan yang didirikan oleh Pemerintah Daerah Tingkat I Jawa Tengah di awal tahun 1970an dengan status sebagai suatu proyek. BKK didirikan dengan tujuan: (1) mendekatkan modal pada masyarakat pengusaha miskin di perdesaan dengan cara mudah. 202 di antaranya sudah berstatus BPR. 1998). Manajemen BKK terdiri dari Pimpinan.48 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Prosedur permohonan kredit kepada BKK cukup sederhana dan untuk jumlah kredit sampai dengan Rp 500. murah dan mengarah. yaitu kebanyakan kredit pasaran. hanya menuruti peraturan BPR.

pertama dengan uji Kruskal-Wallis untuk beda populasi dan uji Kendall untuk kesesuaian (concordance) pemeringkatan faktor-faktor kinerja. Mengenai kriteria kinerja. BKK) diambil proporsional berdasarkan jumlah populasinya masing-masing secara purposif.N di mana rs = koefisien korelasi Spearman N = jumlah pasangan observasi d = perbedaan jenjang yang diperoleh dari setiap pasangan observasi . Keuntungan penggunaan statistik nonparametrik adalah tidak perlu dibuktikannya kenormalan distribusi data (yang merupakan prasyarat bagi sahihnya penggunaan statistik parametrik) dan dapat diterapkannya pada sampel kecil atau data kualitatif (Siegel. Faktor-faktor yang mempengaruhi Kinerja LKM Terdapat beberapa faktor atau variabel yang secara rasional dianggap mempengaruhi kinerja. suku bunga tabungan (ITAB). jarak rata-rata ke lokasi nasabah (JARAK). 1997). penulis mengajukan beberapa faktor penentu kinerja LKM. penghasilan rata-rata nasabah (RAYNAS). efisiensi (biaya usaha per rupiah kredit. seperti: umur LKM. tingkat akses kepada peminjam (AKPEM). Analisis data primer dilakukan dengan teknik statistik nonparametrik. dari pengkajian terhadap falsafah dan hakekat LKM serta pendapat para praktisi keuangan perdesaan. jam kerja. PERPUNG adalah persentase jumlah penunggak (debitur kredit macet) dari jumlah peminjam.————— N3 . BKD. dan suku bunga pinjaman (IPIN). Kegunaan kriteria ini akan dapat dipahami setelah selesai membaca hasil analisis di belakang. beserta masing-masing 3 nasabah per LKM yang diambil secara acak. untuk masing-masing jenis LKM (KSM. AKPEN dan AKPEM adalah masingmasing jumlah penabung dan peminjam dibagi jumlah penduduk di wilayah kerja LKM. yang merupakan 34 % dari populasi. sedangkan LARAP merupakan laba bersih sebelum pajak dibagi saldo pinjaman. persentase jumlah penunggak (PERPUNG). 3 N 6 Σ di 2 i=1 rs = 1 . BIRUP) dan laba per rupiah kredit (LARAP). BIRUP dihitung dari jumlah biaya operasional dibagi dengan saldo pinjaman. selang waktu pemrosesan kredit (SELANG). yaitu tingkat akses kepada penabung (AKPEN). kemudiaan untuk hubungan antarfaktor kinerja dengan korelasi jenjang Spearman3 .Kinerja Lembaga Keuangan Mikro dan Perilaku Masyarakat Pedesaan 49 Metodologi Penelitian Penelitian ini dilakukan di lapangan terhadap 105 lembaga keuangan mikro (LKM) di Jawa Tengah.

3406.474).780).229) xxxxxxx LARP -. α=0. meningkatkan jumlah penunggak walaupun tidak signifikan (rs=0.4816. Faktor yang berpengaruh paling besar terhadap faktor kinerja adalah jarak antara lokasi nasabah ke kantor atau pos desa LKM (JARAK).1183(.2292(.2292.229.000) xxxxxx xxxxxxx AKPEM -. α = 0.019) juga berpengaruh sangat signifikan dalam penurunan laba per rupiah kredit (rs=-0.076(. Lamanya waktu pemrosesan kredit berpengaruh menurunkan jumlah peminjam cukup signifikan (rs=-0.4816(.4959(.3981 (. membuktikan bahwa angka rata-rata yang dianalisis memang berasal dari tiga populasi yang berbeda dan pemeringkatan semua faktor kinerja dilakukan secara konsisten.000) -. Tabel 1. Dari hasil analisis korelasi peringkat Spearman antara variabel nonkinerja dengan faktor penentu kinerja terdapat beberapa temuan yang berhubungan dengan perilaku nasabah.3981. Korelasi antara Jarak.000) -. α=0.178). apabila dinaikkan akan menurunkan jumlah peminjam dan mengakibatkan meningkatnya jumlah penunggak.2073(.006) PERPUNG .109) dan berpengaruh tidak signifikan terhadap laba per rupiah kredit (rs=0. Selang dan Sukubunga Pinjaman terhadap Faktor Kinerja AKPEN JARAK SELANG IPIN -. α=0. demikian pula uji Kendall menghasilkan nilai W yang sangat signifikan. α=0.780) 1.50 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. serta peningkatan jumlah penunggak (rs=0.4959.0276.000).006). α=0.1325. .000). Maret 1999 Hasil Analisis Uji Kruskal-Wallis menghasilkan nilai chi-kuadrat yang sangat signifikan. α=0.000) dan biaya per rupiah kredit (rs=0. menurunkan laba per rupiah kredit secara sangat signifikan (rs=-0.2864(.003) .178) -. Faktor lain yang cukup berpengaruh kepada faktor kinerja adalah lamanya waktu pemrosesan kredit (SELANG).474) .2674.003).109) BIRUP . mengingat banyaknya kredit murah serta persaingan berat dari BRI Unit 2.019) . Suku bunga pinjaman berpengaruh sangat signifikan terhadap jumlah peminjam (rs=0.3406(. α=0.000) . α=0.2864. berpengaruh cukup signifikan terhadap jumlah penunggak (rs=0.000) dan jumlah peminjam (rs=-0. α=0. meningkatkan biaya per rupiah kredit secara tidak signifikan (rs=0. berarti bahwa suku bunga pinjaman sudah ada di batas atas.1183.2073. Jauhnya jarak berpengaruh sangat signifikan terhadap penurunan jumlah penabung (rs=-0.0706. 3.0276(.2674(. α=0.1325(. α =0.

2784(. α=0.645) -.2912. dapat diungkapkan beberapa temuan yang menarik.585) -.1281(. yaitu apabila penghasilan pengusaha mikro nasabah BKK meningkat.5500.000) .251) -.5500(.3194(.668) →0 4.027) AKPEM . mereka . sama dengan perilaku pengusaha besar nasabah bank umum.949) -.876) -.339) . α=0. nasabah BKK yang relatif lebih mampu meningkatkan tabungan tetapi terus memanfaatkan kredit.610) -. Hal sederhana ini kiranya dapat dimaklumi. sedangkan pengaruhnya pada BKD kurang signifikan.516) .594 di tahun 1993 (DAI.3412(. Dari analisis mengenai pengaruh penghasilan nasabah dan jumlah tabungan rata-rata terhadap kinerja.1840(.0309(. Akan tetapi apabila dianalisis per jenis LKM.0601(.1466(.2912(. jarak mempunyai dampak yang lebih kuat terhadap berkurangnya jumlah peminjam dan bertambahnya jumlah penunggak dibandingkan suku bunga pinjaman.0063(. Akan tetapi dilihat dari kuat dan signifikannya korelasi.012) .3412.196). (a) Dilihat LKM sebagai keseluruhan.1131(.0025(. Dari sini dapat disimpulkan bahwa pada BKK.456) .169 di tahun 1992 dan melonjak menjadi Rp 132.274) BIRP .3670(.0237(.196) PERPUNG .1131(. karena jauhnya jarak lokasi LKM akan menyebabkan nasabah malas untuk berhubungan karena besarnya “biaya transaksi” yang harus ditanggungnya. terlihat bahwa penghasilan nasabah paling berpengaruh terhadap kinerja BKK. pengaruh penghasilan nasabah terhadap kinerja tidak begitu signifikan. nasabah yang penghasilannya relatif lebih tinggi mempunyai akses kepada pelayanan tabungan dan pinjaman yang lebih besar dibanding dengan nasabah yang 98.Kinerja Lembaga Keuangan Mikro dan Perilaku Masyarakat Pedesaan 51 dan BPR yang memperoleh fasilitas kredit dari pemerintah.0539(. (c) Walaupun begitu terlihat masih adanya sifat jujur dan mandiri pada pengusaha mikro nasabah BKK dibanding pengusaha besar nasabah bank umum saat ini.297) LARP -. (b) Dilihat per segmen nasabah terdapat perbedaan perilaku apabila penghasilannya meningkat: nasabah BKD yang relatif kurang mampu lebih suka menabung dan tidak meminjam. yaitu biaya angkutan dan hilangnya waktu meninggalkan pekerjaan. Tabel 2 Korelasi antara Penghasilan Rata-rata Nasabah dengan Faktor Kinerja untuk Seluruh LKM dan Per Jenis LKM AKPEN LKM (105) KSM (28) BKD (61) BKK (16) -.349) .0565(.567) . 1993).985) . jumlah peminjam (rs=0. terutama kepada jumlah penabung (rs=0.1245(. α=0.274).027). dan jumlah penunggak (rs=-0.

keadaannya justru dibuat seperti “telor di ujung tanduk” karena banyaknya programprogram kredit murah bersubsidi di perdesaan. Mengingat pula bahwa lamanya waktu pemrosesan kredit juga berpengaruh cukup kuat kepada kinerja. oleh karena (a) kriteria CAMEL tidak menampung aspirasi dan misi LKM (tersurat ataupun tersirat dalam Undang-undang) sebagai pelayan keuangan bagi masyarakat papan bawah. Pengawas BPR hendaknya tidak melihat pemberian kredit dalam jumlah kecil-kecil pada LKM sebagai suatu hal yang “tidak efisien” atau “tidak maju”. Mendorong LKM untuk memberikan kredit dalam jumlah yang semakin besar berarti menjauhkan LKM dari nasabahnya yang miskin. 4. (b) pelarangan pembukaan kantor di bawah kantor cabang kiranya dapat dihapuskan. 3. maka keputusan pemberian kredit kepada peminjam baru hendaknya dilakukan sesegera mungkin. karena hal itu justru sesuai dengan misi LKM membantu pengentasan kemiskinan. BKD telah beroperasi selama satu abad dan BKK selama hampir tiga dasawarsa dengan pendekatan pasar yang telah membuat mereka lestari (sustainable) dan mandiri. LKM diharapkan membuka sebanyak mungkin pos pelayanan dan/atau mengintensifkan kunjungan lapangan. . 2. Adanya kredit dari pemerintah untuk BPR condong menguntungkan BPR Gaya Baru yang dimiliki para pemodal berdasi. karena sebagian dari mereka sengaja menunggak dan memacetkan kreditnya. sedangkan pemrosesan kredit ulangan hendaknya dapat diselesaikan pada hari yang sama. belum tentu mengurangi jumlah penunggak. Mengingat jarak merupakan variabel yang paling mempengaruhi kinerja. Implikasi Kebijakan 1. tetapi mungkin hanya sekedar meja dan kursi tempat petugas lapangan menemui nasabahnya. Maret 1999 meningkatkan tabungan. karena pengertian “kantor di bawah kantor cabang” bagi LKM umumnya bukan merupakan gedung atau kantor seperti bank umum. (c) pelarangan/penutupan pos pelayanan justru akan lebih memperparah kinerja LKM. terus memanfaatkan kredit dan tidak lupa melunasi tunggakannya. seperti terlihat pada gejala pemberian kredit BKK di atas. Otoritas perbankan hendaknya tidak melarang pembukaan pos pelayanan ataupun memberi sanksi berupa penutupan pos pelayanan (“kantor di bawah kantor cabang”) kepada LKM yang sudah menjadi BPR karena alasan tingkat kesehatan yang tidak baik. tetapi apabila pendapatan pengusaha konglomerat nasabah bank umum meningkat (dan pasti setiap tarikan napas menghasilkan uang). karena menghambat akses kepada masyarakat yang merupakan sumber dana dan penghasilannya.52 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.

Perkembangan BKK dan BPR-BKK.Jakarta. Boulder. 497-0341) in Indonesia. Agricultural and Rural Development in Indonesia. May 1993 Dibyo Prabowo dan Sayogyo: The Green Revolution: Sidoarjo. dalam Hansen. dkk. Daftar Pustaka Badan Pembina BKK Propinsi Jawa Tengah. West Java. and Subang. Zanzawi Suyuti & Landung Simatupang. LPPI. Pandu.Gramedia. Westview Press. 31 Maret 1994 Christen.1997 Suharto. LSM dan Kebangkitan Masyarakat. 10. Jakarta. Secangkir Kopi Max Havelaar. PT Gramedia Pustaka Utama-Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia. East Java. USAID Program and Operations Assessment Report No.(ed). Project Completion Report of Technical Support Provided to the Financial Institutions Development Project (USAID No. Zaim. Inc. 1988 . Di era reformasi ini pemerintah seyogianya lebih membina semangat keswadayaan masyarakat dan tidak menggunakan program-program kredit murah sebagai alat politik karena merusak moralitas masyarakat perdesaan yang masih jujur seperti terbukti dari perilakunya terhadap LKM. Jakarta.Kinerja Lembaga Keuangan Mikro dan Perilaku Masyarakat Pedesaan 53 memungkinkan mereka menurunkan sukubunga kreditnya sehingga menambah pesaing bagi LKM. 1981 Saidi. Robert Peck. Gary E. 1995 Siegel. Sidney. July 1995 Development Alternatives. terj. Sejarah Pendirian Bank Perkreditan Rakyat. Statistik Nonparametrik . Maximizing the Outreach of Microenterprise Finance..

go. khususnya sektor perbankan yang berakibat terhentinya aliran kredit perbankan. serta kekurangan likuiditas juga disebabkan karena obligasi yang diterbitkan untuk membayar obligasi yang jatuh tempo. Bagian Studi Struktur dan Perkembangan Pasar Keuangan. BI.id. Potensi Perum Pegadaian untuk lebih berperan dalam pemberdayaan ekonomi rakyat dapat dilihat dari keberpihakan terhadap masyarakat berpendapatan rendah (mayoritas nasabah). Perum Pegadaian (PP) merupakan salah satu lembaga keuangan yang masih mampu bertahan. Bagian Studi Struktur dan Perkembangan Pasar Keuangan. Rp 20 juta). sistem manajemen yang sentralistik sehingga berpotensi menghambat kinerja. Porsi kredit yang diberikan oleh PP semakin meningkat walaupun secara nominal relatif lebih kecil dibandingkan dua lembaga tersebut.000 s. dan Sudiro Pambudi. beberapa kelemahan prosedur yang berpotensi menimbulkan penyimpangan. Makalah ini ditulis ketika yang bersangkutan masih menjadi Peneliti Ekonomi . Erwin Gunawan. UREM. Untuk mewujudkan potensi tersebut terlebih dahulu harus dibenahi berbagai kelemahan khususnya kelemahan struktural yang ada. UREM. Gunawan : Asisten Peneliti. Bank Indonesia. suku bunga yang dikenakan relatif rendah. email: gunawan@bi. BI. Bagian Studi Struktur dan Perkembangan Pasar Keuangan. Sedangkan untuk meningkatkan efisiensi pembiayaan usaha kecil perlu dikaji kemungkinan pemberian izin bagi perusahaan/lembaga lain untuk bergerak dalam usaha pegadaian. Dalam kondisi krisis tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dibandingkan dengan peer-groupnya (BPR dan BRI Udes) secara umum kinerja PP relatif lebih baik.d. USDM. . UREM. serta mudahnya prosedur gadai. Dalam masa krisis ini. Ridho Hakim. Penulisan paper ini juga dibantu oleh Didy Laksmono. *) Penulis utama dari paper ini adalah : Satrio Wibowo : Kepala Bagian Pendidikan dan Pengembangan Pegawai. serta tidak adanya sistem yang mampu mengantisipasi resiko fluktuasi harga barang jaminan khususnya emas. Untuk mengatasi permasalahan tersebut Perum Pegadaian telah menerima bantuan dalam bentuk RDI dari pemerintah dan KLBI.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 55 KEGIATAN USAHA PERUM PEGADAIAN DAN PERANANNYA DALAM MENDUKUNG PEMBERDAYAAN EKONOMI RAKYAT Satrio Wibowo dan Gunawan *) Krisis ekonomi yang terjadi sejak pertengan tahun 1997 telah berdampak luas terhadap segala aspek perekonomian. relatif kecilnya skala kredit yang diberikan (Rp 5. Permasalahan lain yang bersifat struktural antara lain rentang kendali yang terlalu luas namun tidak ditunjang sistem pengawasan yang memadai. BI. kurang diminati masyarakat. Perum Pegadaian menghadapi permasalahan temporer berupa lonjakan nasabah (puncaknya terjadi pada Juni 1998) yang mendorong Perum Pegadaian melakukan overdraft sangat besar atas fasilitas kredit yang diperoleh dari BRI. bahkan menunjukkan peningkatan kinerja baik operasional maupun keuangan. Budi Wikanto.

khususnya konsumsi rumah tangga dan investasi swasta.35 juta orang. Latar Belakang Masalah K risis ekonomi di Indonesia yang berlangsung sejak pertengahan tahun 1997 telah berdampak luas terhadap hampir semua aspek perekonomian. Pemerintah juga mendorong komitmen perbankan dalam 1 Badan Pusat Statistik. melambatnya pertumbuhan ekonomi terutama disebabkan oleh tingginya biaya impor bahan baku. Dari sisi permintaan. Sehingga dikhawatirkan akan semakin memperparah kondisi perekonomian nasional Dalam upaya penyehatan perekonomian nasional. Salah satu langkah yang ditempuh adalah pemberdayaan ekonomi rakyat yang bertujuan meningkatkan akses rakyat kecil terhadap perekonomian dan mengutamakan kepentingan rakyat. yaitu melemahnya nilai tukar rupiah (imported inflation) dan kelangkaan pasokan (supply shortage) khususnya sembilan bahan pokok. Dari sisi penawaran.68 juta orang warga perkotaan dan 56. Meningkatnya inflasi tersebut telah mengakibatkan semakin melemahnya daya beli masyarakat. Hal tersebut didorong pula oleh meningkatnya jumlah pengangguran sebagai dampak dari banyaknya perusahaan yang pailit dan melemahnya investasi. telah mengakibatkan terjadinya kontraksi perekonomian dan mendorong meningkatnya jumlah penduduk miskin. Krisis ekonomi yang berkepanjangan. laju inflasi yang meningkat dan angka pengangguran yang melonjak.68% pada tahun 1998. Pendahuluan 1. Jumlah pengangguran yang pada masa sebelum krisis berkisar antara 3 . maka berdasarkan perkiraan BPS jumlah tersebut pada pertengahan 1998 meningkat empat kali mencapai 79.8 juta orang.31% pada tahun 1997 menjadi 77.1. khususnya masyarakat kecil. Jika pada tahun 1996. ” Perhitungan Jumlah Penduduk Miskin 1998”.4 juta orang tiap tahun.67 juta orang warga pedesaan1 .5 juta orang. jika tidak dapat diatasi akan berpotensi mendorong terjadinya gejolak sosial ekonomi yang lebih luas. Sedangkan laju inflasi yang diukur dengan IHK meningkat tajam dari 10. . Tingginya laju inflasi terutama disebabkan oleh dua hal pokok. Hal ini tercermin dari beberapa indikator ekonomi makro seperti pertumbuhan ekonomi yang merosot tajam.56 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Jumlah perkiraan tersebut terdiri dari 22. melambatnya pertumbuhan ekonomi disebabkan oleh melemahnya permintaan domestik. Melonjaknya jumlah pengangguran dan penduduk miskin tersebut.7% pada tahun 1997 menjadi -13. jumlah penduduk miskin di Indonesia berdasarkan data SUSENAS berjumlah 22.63% pada tahun 1998. Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) merosot dari 4. pada tahun 1998 diperkirakan membengkak hingga mencapai 13. Selain itu. Pemerintah telah menempuh serangkaian langkah dan tindakan yang juga memperoleh bantuan dari beberapa lembaga internasional. Maret 1999 I.

mudah. sesuai dengan tujuan Perum Pegadaian yang tidak hanya semata-mata mencari untung tetapi juga sebagai penunjang kebijakan dan program Pemerintah di bidang ekonomi dan pembangunan nasional melalui penyaluran pinjaman atas dasar hukum gadai. Kinerja perbankan yang memburuk tersebut mengakibatkan terhambatnya penyaluran kredit. dan aman merupakan suatu potensi keunggulan Perum Pegadaian dibandingkan dengan lembaga keuangan lainnya.2. 1. memburuknya net interest margin dan kondisi permodalan. untuk mendorong pertumbuhan ekonomi diperlukan peran lembaga keuangan lain yang dapat berperan sebagai complementary institutions dari perbankan. tentunya sangat diperlukan untuk membantu pemulihan perekonomian nasional. Hal tersebut didukung oleh karakteristik Perum Pegadaian. jaringan kantor dan wilayah kerja yang menjangkau hampir seluruh wilayah Indonesia serta prosedur yang sederhana. sejak terjadinya krisis ekonomi perbankan nasional juga menghadapi permasalahan yang cukup berat. Disamping itu. Hal tersebut ditandai dengan meningkatnya jumlah non performing loan.3. serta ancaman kesulitan likuiditas yang masih berlangsung hingga awal tahun 1999 ini. Salah satu lembaga keuangan selain bank yang telah lama dikenal masyarakat adalah Perum Pegadaian. Namun. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari peran usaha Perum Pegadaian serta potensinya untuk ikut berperan dalam pelaksanaan program Jaring Pengaman Sosial (JPS). . cepat. 1. terganggunya fungsi intermediasi perbankan tersebut memberi peluang bagi Perum Pegadaian untuk semakin berperan dalam pembiayaan. terutama prosedurnya yang sederhana. Sehubungan dengan kondisi tersebut.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 57 pengembangan usaha kecil. sumber daya manusia yang memadai serta jaringan usaha yang luas. antara lain dengan melaksanakan program Jaring Pengaman Sosial (JPS) untuk memberdayakan masyarakat (khususnya yang terkena dampak langsung dari krisis ekonomi). Pada masa krisis. Upaya-upaya tersebut juga diimbangi dengan upaya lain di sektor riil. khususnya usaha kecil dan dalam masa krisis ini juga telah menjadi salah satu alternatif pemenuhan kebutuhan pembiayaan bagi sebagian masyarakat yang terkena dampaknya. mudah dan cepat. menengah dan koperasi. Sektor keuangan khususnya perbankan yang selama ini sangat berperan dalam menggerakkan roda perekonomian. Hipotesa Kegiatan usaha Perum Pegadaian dapat dikembangkan untuk mendukung perkembangan usaha kecil khususnya sektor informal. Peran dalam pembiayaan nasabah kecil tersebut. serta dengan melakukan reformasi struktural untuk meningkatkan efisiensi perekonomian.

4 Metode Penelitian Penelitian dilakukan dengan melakukan analisis data sekunder dan primer. namun diubah kembali menjadi Perusahaan Jawatan (Perjan) tahun 1969. untuk memperoleh data mengenai keadaan dan operasionalisasi Perum Pegadaian dilakukan metode survey terhadap kantor pusat. statusnya diubah menjadi Perusahaan Negara (PN). Data sekunder yang dipergunakan berupa laporan-laporan yang telah tersedia dari Perum Pegadaian. II.58 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Wilayah tengah diwakili oleh 1 kantor daerah di Pulau Bali dan 1 kantor daerah di Pulau Kalimantan. Perum Pegadaian telah merancang Rencana Jangka Panjang II (RJP II) yaitu periode tahun 1997-2001.10 Desember 1998. dengan periode pengamatan sejak tahun 1996 s. Nasabah yang dipilih sebagai responden dikelompokkan sebagai nasabah biasa dan nasabah yang dianggap potensial (prima) berdasarkan frekwensi dan lamanya berhubungan dengan Perum Pegadaian. Profil Perum Pegadaian Pegadaian Negeri didirikan pertama kali oleh pemerintah Hindia Belanda pada tanggal 1 April 1901 di kota Sukabumi dengan status Jawatan.d September 1998. Dengan PP No. khususnya sektor informal. Survey tersebut dilaksanakan pada tanggal 23 November . Maret 1999 Sesuai dengan karakteristik usaha dan mayoritas nasabah Perum Pegadaian yang merupakan masyarakat berpendapatan rendah. 10/1990 tanggal 10 April 1990 status Perjan Pegadaian diubah menjadi Perusahaan Umum (Perum) Pegadaian guna meningkatkan efisiensi dan produktivitas usaha. sifat Pegadaian adalah menyediakan pelayanan bagi masyarakat umum dan sekaligus memupuk keuntungan berdasarkan prinsip pengelolaan perusahaan yang sehat. data operasional. Dengan status sebagai Perum. serta dengan mewawancarai beberapa nasabah yang dipilih sebagai responden di kantor-kantor cabang tersebut. 36 kantor cabang. Sampel kantor daerah dipilih dengan sistem purposive sampling yang mewakili wilayah Indonesia Bagian Barat. Dalam upaya meningkatkan kinerja perusahaan. Sedangkan wilayah timur diwakili oleh 1 kantor daerah di Pulau Sulawesi. RJP II ini merupakan . penelitian juga dimaksudkan untuk mempelajari peran dan potensi Perum Pegadaian dalam mendukung pemberdayaan usaha kecil. Tengah dan Timur. maka Perum Pegadaian berpotensi untuk berperan serta dalam program JPS. ketentuan-ketentuan operasional. Salah satu produk Perum Pegadaian adalah memberikan kredit berdasarkan hukum gadai. berupa data keuangan. Disamping itu. manajemen maupun dari sumber lainnya. Pada tahun 1961. 8 kantor daerah. 1. Wilayah barat diwakili oleh 3 kantor daerah di Pulau Jawa dan 2 kantor daerah di Pulau Sumatera. kepegawaian. Disamping itu.

Sementara. Posisi keuangan yang likuid dan solvabel dengan current ratio di atas 1 dan debt to equity ratio di bawah 3. target menjadi Persero terutama bertujuan untuk mengatasi kelemahan pendanaan dengan menjual saham di bursa. Visi Perum Pegadaian dalam PJPT II ini adalah : a. d. kelemahan. Menjadi lembaga keuangan yang modern dan dinamis. Namun target tersebut tidak tercapai pada tahun 1998 karena tidak memperoleh ijin dari Menkeu dengan pertimbangan (i) masih besarnya misi sosial yang harus dilaksanakan oleh Perum Pegadaian. d. Meningkatkan pelayanan kepada seluruh nasabah dengan baik. Memiliki SDM yang handal dan profesional. Perum Pegadaian menyusun suatu strategi pokok perusahaan yang meliputi : a.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 59 bagian dari visi Perum Pegadaian yang dirumuskan dengan mengindentifikasi kekuatan. Melaksanakan optimalisasi kantor-kantor cabang sebagai ujung tombak operasi perusahaan. Misi perusahaan tersebut yaitu : Ikut meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat golongan menengah ke bawah melalui penyediaan dana berdasarkan hukum gadai secara inovatif dan melakukan usaha lain yang menunjang. (ii) kekhawatiran bahwa dengan status persero Perum Pegadaian akan meninggalkan segmen nasabah kecil dengan tujuan untuk memperoleh laba maksimal. sasaran pengusahaan dan strategi pokok perusahaan dalam periode RJP II. Perum Pegadaian merumuskan misinya yang dijadikan acuan untuk menentukan arah pengusahaan. b. c. 2 Menurut Perum Pegadian. sasaran pengusahaannya adalah : a. Omzet perkreditan meningkat dengan 20% per tahun.1% dari laba usaha. c. Hasil usaha lain-lain menyumbang sekitar 5. cepat dan manusiawi. dan 3) memiliki kinerja dan citra yang meningkat. Pefindo merupakan perusahaan atau efek hutang yang berisiko investasi rendah dan berkemampuan baik untuk membayar bunga dan pokok hutang sesuai dengan yang diperjanjikan dan hanya sedikit dipengaruhi oleh perubahan keadaan yang merugikan. . b. Memiliki kinerja sehat sekali (SS) dengan rating minimal “A” 1 . c.2% per tahun. serta membuka anak perusahaan. Laba bersih (earnings after taxes) meningkat dengan 30. Arah pengusahaan dalam periode ini adalah : 1) menjadi persero pada tahun 19982 . Untuk mendukung pencapaian sasaran tersebut. Meningkatkan produktivitas di seluruh bidang kegiatan. 2) melaksanakan go public. b. peluang dan ancaman (analisis SWOT) yang dihadapi dalam Pembangunan Jangka Panjang Tahap II (PJPT II). Meningkatkan efisiensi perusahaan 1 Yang dimaksud dengan rating “A” sesuai dengan definisi PT. Berdasarkan visi tersebut.

kredit dengan jaminan surat berharga dan sertifikat tanah dan kredit dengan sistem pinjam pakai. Sampai dengan 30 September 1998. Maret 1999 e. Melaksanakan pengembangan produk baru hingga mampu menyumbangkan 20% dari total pendapatan usaha. Khusus untuk bisnis properti dapat dilakukan melalui kerja sama dengan pihak ketiga (investor) dengan sistem Built Operate and Transfer (BOT). usaha toko emas sudah dilaksanakan di 28 kantor cabang Perum Pegadaian. Perum Pegadaian telah merencanakan untuk melakukan ekspansi jenis produk perusahaan dengan mengembangkan usaha baru. sehingga bisa meningkatkan citra perusahaan dan nasabah tidak malu lagi untuk datang ke Pegadaian.1. Dua diantaranya yaitu jasa titipan dan taksiran sudah dilaksanakan. Sebagai implementasi dari salah satu strategi pokok perusahaan. guarantee fund. Usaha ini juga mempunyai misi sosial untuk mendidik masyarakat untuk berinvestasi dalam bentuk emas serta meningkatkan image masyarakat terhadap Perum Pegadaian b. franchisor usaha gadai. jasa sertifikasi kadar emas. . Produk-produk baru tersebut meliputi : a. seperti yang telah dilaksanakan di lokasi Salemba dan Pasar Baru. Produk baru di luar lingkup usaha gadai tetapi masih dalam lingkup lembaga pembiayaan seperti BPR. properti (gedung perkantoran. khususnya di kawasan timur Indonesia. pedagang valuta asing dan leasing. Dalam menjalankan tugas rutin di 3 Menurut Perum Pegadaian. bidang keuangan. dan bidang umum.3 Produk usaha baru yang sama sekali di luar usaha gadai dan lembaga keuangan seperti toko emas. 2. c. leasing yang akan dilaksanakan merupakan leasing menurut format Perum Pegadaian dimana barang jaminan yang digadaikan tidak disimpan oleh Perum Pegadaian namun tetap dapat digunakan oleh nasabah untuk menjalankan usahanya (diestimasikan akan dilaksanakan pada tahun 2000).60 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Kepengurusan dan Kelembagaan Perum Pegadaian memiliki 4 orang anggota direksi yang terdiri dari satu orang direktur utama dan 3 orang direktur yang masing-masing membawahi bidang operasi dan pengembangan. factoring. f. Produk baru yang masih dalam lingkup usaha gadai seperti jasa titipan. Memperluas jaringan pelayanan dengan membuka cabang-cabang baru di daerah yang potensial. yaitu pemanfaatan 20 lokasi strategis yang nantinya dapat merupakan kompleks lokasi usaha. jasa taksiran. modal ventura. hotel/penginapan dan ruko) dan toko barangbarang perhiasan/asesoris dan arloji. Produk-produk usaha baru tersebut merupakan upaya untuk mengoptimalkan aset.

Selain itu. Kegiatan operasional Perum Pegadaian dilaksanakan melalui kantor-kantor cabang (Kanca) yang dikoordinasikan oleh kantor daerah (Kanda). Perum Pegadaian membentuk Subdit Teknologi Informasi berdasarkan Keputusan Direksi No. Bagan 1. Dari 633 Kanca tersebut. Perum Pegadaian juga memiliki Satuan Pengawasan Intern (SPI) yang bertanggung jawab langsung kepada direksi. . Struktur Organisasi Perum Pegadaian Direksi Direktur Utama Direktur Operasi dan Pengembangan Direktur Keuangan Direktur Umum Subdit OPP SPI Subdit LB Subdit SP Subdit AP Subdit AK Subdit PB Kantor Daerah Kantor Cabang Subdit KP Subdit BG Subdit TURT Balai Diklat Keterangan : OPP = Operasi dan Pengembangan KP = Kepegawaian LB = Penelitian dan Pengembangan Operasi BG = Bangunan SP = Kesekretariatan Perusahaan TURT = Tata Usaha dan Rumah Tangga AP = Anggaran dan Permodalan AK = Akuntansi P = Perbendaharaan 4 Tanggal 25 November 1998. Perum Pegadaian telah memiliki cabang di 27 propinsi dengan jumlah Kanca mencapai 633 buah dengan dikoordinasikan oleh 14 kantor daerah (Lampiran 2).2/41/10 sebagai upaya untuk meningkatkan sistem dan sarana pengawasan yang memadai. Untuk meningkatkan profesionalitas pegawai Perum Pegadaian memiliki Balai Diklat yang langsung berada di bawah direksi.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 61 kantor pusat. Sampai dengan September 1998. direksi dibantu oleh 9 subdirektorat (subdit) yang masing-masing memiliki rincian tugas sesuai bidangnya (Lampiran 1). 58 diantaranya merupakan anak cabang (Ancab) yaitu cabang yang baru berdiri (biasanya kurang dari 2 tahun).4 Struktur organisasi Perum Pegadaian ditunjukkan bagan 1. Kp.

jumlah Kanca untuk masing-masing kelas per Juni 1998 adalah : kelas I sebanyak 54.4%. Tabel 2. Barang jaminan (bobot nilai 10).1 5 . per Juni 1998 jumlah Kanca Pegadaian di Pulau Jawa merupakan yang terbanyak yaitu 401 buah atau 64. Formasi dan adanya pegawai Kanca (bobot nilai 20). d. Ditinjau dari kuantitasnya.1 Perbandingan Tipe Kantor Daerah Jabatan Ka Kanda Inspektur Daerah Kepala Seksi Pemeriksa Ka Sub Seksi Pemeriksa Pembantu Staf Pemeriksa Sumber : Perum Pegadaian Kanda Tipe A 1 1 4 2 12 3 2 Kanda Tipe B 1 0 2 1 8 3 0 Kanca Perum Pegadaian digolongkan menjadi 3 kelas. kelas II sebanyak 78 dan kelas III sebanyak 491. Efisiensi (bobot nilai 40). Perbandingan Kanda tipe A dan B dapat dilihat dalam tabel 2. Pembagian kelas masing-masing Kanca dilakukan berdasarkan tingkat efisiensi dan produktivitas yang diukur dari 4 faktor yaitu : a. yang mencerminkan tingkat tanggung jawab penanganan/pengelolaan. Seluruh kantor yang berstatus Ancab diklasifikasikan sebagai cabang kelas III. perawatan dan faktor risiko.62 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. . b. Kanda tipe A memiliki struktur organisasi yang lebih lengkap dibandingkan Kanda tipe B karena besarnya jumlah Kanca yang dibawahinya. yang mencerminkan tingkat kemampuan penjualan produk (produktivitas). dan III. II. Berdasarkan keempat kriteria di atas. 5 Jumlah total pemeriksa per Kanda sejak 1 Februari 1999 telah diperbanyak menjadi 6-7 orang. c. Omzet usaha (bobot nilai 40). yang mencerminkan tingkat efektivitas dan kemampuan pegawai sebagai sumber daya dalam menjalankan perusahaan. yang diukur dari besarnya surplus (laba-rugi) cabang dalam satu periode akuntansi. Maret 1999 Kanda Perum Pegadaian terdiri dari dua tipe yaitu tipe A dan B. yaitu kelas I.

Dalam memperkenalkan produk-produknya. c. b. Hal ini terkait dengan fasilitas. Produk dan Pasar Produk-produk Perum Pegadaian yang sudah tersedia hingga saat ini meliputi empat jenis produk. Manajemen dan Instrumen Kebijakan Dalam menjalankan usahanya Perum Pegadaian melaksanakan fungsi-fungsi manajemen dan menetapkan kebijakan-kebijakan yang menjadi patokan bagi Kanda maupun Kanca. pedagang dan lain-lain. Hal ini berkaitan dengan salah satu upaya Perum Pegadaian untuk meningkatkan efisiensi.3. 2. pembukaan toko emas yang hingga September 1998 baru berjumlah 28 buah. Jasa gadai. Perum Pegadaian juga melakukan peningkatan kualitas karyawan yang terlihat dari meningkatnya jumlah karyawan yang berpendidikan S1 dan S2 dan berkurangnya karyawan yang berpendidikan SD sampai dengan D3. nelayan. ketersediaan sumber daya manusia dan dana.3 juta orang yang terdiri dari petani. Galeri 24. Jasa taksiran. menjadi sponsor kegiatan olahraga serta dengan layanan yang relatif mudah dan cepat.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 63 Jumlah karyawan Perum Pegadaian hingga Oktober 1998 mencapai 6. media elektronis. Selama tahun 1997. Konsumen sasaran Perum Pegadaian ini adalah seluruh lapisan masyarakat yang membutuhkan dana-dana jangka pendek. yang ditujukan untuk memberikan keyakinan kepada masyarakat atas kualitas barang-barang perhiasan miliknya. pelaku industri.817 pegawai tetap dan 1. Komposisi karyawan tetap menurut jenjang karir dan pendidikan dapat dilihat dalam lampiran 3. Misalnya. yaitu toko emas Pegadaian yang menjamin kualitas emas/perhiasan yang dijualnya. leaflet. Jumlah karyawan tetap ini lebih rendah dari jumlah pada akhir 1996 (5. Tidak semua Kanca menyediakan keempat jenis produk tersebut. Jasa titipan.426 pegawai tidak tetap.2. Selain terjadi pengurangan jumlah. d. Berikut merupakan uraian tentang kebijakan-kebijakan dan fungsi pengawasan yang dilaksanakan oleh Perum Pegadaian. 2. . yang terdiri dari 4. Perum Pegadaian diantaranya menggunakan papan-papan reklame.541 orang).233 orang. Perum Pegadaian telah berhasil melayani kebutuhan 5. merupakan jasa utama Pegadaian yaitu memberikan pinjaman kepada masyarakat berdasarkan hukum gadai. yang ditujukan untuk memberikan rasa aman kepada masyarakat atas barang-barang yang dimilikinya apabila akan bepergian dalam jangka waktu yang cukup lama. yaitu : a.

Kebijakan Pendanaan Dalam penyediaan dana bagi keperluan usahanya. Perum Pegadaian membagi pemberian kredit kepada nasabah menjadi empat golongan yaitu Golongan A (kredit Rp 5. Besarnya jumlah dana yang diterima oleh masing-masing Kanda tersebut ditentukan berdasarkan hasil evaluasi perkembangan omzet selama 6 bulan terakhir dan dievaluasi setiap 3 bulan. Sejak Desember 1997. Penghimpunan dana hanya dapat dilakukan oleh kantor pusat. Sesuai dengan hukum gadai. Bila terjadi kekurangan dana. Perum Pegadaian telah menerbitkan MTN sebanyak 4 kali dengan nilai nominal keseluruhan Rp 16. maka Kanca harus meminta tambahan dana kepada Kandanya masing-masing dan tidak diperkenankan untuk melakukan transfer langsung antarcabang. Untuk itu Perum Pegadaian mencari sumber-sumber pendanaan baru untuk menambah modal kerja melalui pinjaman bank. pada bulan September 1998 Perum Pegadaian memperoleh pinjaman dari pemerintah berupa Rekening Dana Investasi (RDI) sebesar Rp 100 miliar dengan jangka waktu 3 tahun. Perum Pegadaian memiliki beberapa sumber.000). Biasanya batas maksimum kredit yang dapat diberikan oleh masing-masing cabang mencapai Rp 20 juta per SBK (Surat Bukti Kredit). maka modal tersebut tidak lagi mencukupi.75 miliar (91. sehingga Kanda dan Kanca hanya melaksanakan penanaman dana berdasarkan alokasi dana yang diberikan. Dana yang telah dihimpun ini kemudian didistribusikan dari kantor pusat ke Kanca melalui masing-masing Kandanya. 2.2.3. suratsurat berharga dan penyertaan di perusahaan lain.000-Rp 40.25 miliar dan dari saldo laba sebesar Rp 111. Dengan demikian Kanda dapat mengontrol secara langsung kebutuhan dana masing-masing Kancanya. Maret 1999 2. kredit yang diberikan dijamin dengan barang jaminan nasabah. Kebijakan Penanaman Dana Penanaman dana Perum Pegadaian dilakukan dalam bentuk kredit. Golongan B (kredit . Bila terdapat nasabah yang ingin memperoleh kredit melebihi batas maksimum maka cabang tersebut harus meminta persetujuan dari Kanda.64 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Hingga saat ini Perum Pegadaian telah menerbitkan 5 seri obligasi dengan nilai nominal keseluruhan Rp 425 miliar. penyertaan modal pemerintah Rp 46.0 %) pada September 1998 (Lampiran 4).85 miliar (per 30 September 1998). tetapi sejak 30 Juli 1998 batas maksimum kredit diturunkan menjadi Rp 5 juta per SBK. penerbitan obligasi dan MTN.5 miliar. deposito. Kredit kepada masyarakat merupakan porsi terbesar penanaman dana yang mencapai Rp 756. Sebagai sumber utama adalah modal awal Perum Pegadaian yang berjumlah Rp 205 miliar. Selain itu. Sementara pinjaman dari bank pada posisi September 1998 mencapai Rp 321 miliar. Mengingat besarnya permintaan terhadap jasa gadai dari masyarakat.3.1.

Perum Pegadaian memiliki mekanisme dan prosedur yang harus dilalui oleh nasabah.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 65 Rp 40. 2. b. Nasabah membawa barang jaminan Penaksir Kasir menerima kredit Nasabah Nasabah yang datang ke Pegadaian terlebih dulu menyerahkan barang-barang bergerak sebagai agunan kepada petugas penaksir yang disertai dengan identitas diri. Prosedur Kredit Dalam memberikan kredit. Alokasi Laba Setelah diaudit. d.500-Rp150. Sosial dan pendidikan.000.4.000-Rp 500. dan uang pinjaman (UP) yang dapat diberikan berdasarkan plafon UP yang yang menjadi wewenangnya (Lampiran 6). c. DPS yang menjadi hak negara wajib segera disetorkan ke Bendahara Umum Negara setelah Laporan Tahunan disahkan. a.3. Selain itu. Golongan C (kredit Rp 151.000). Sokongan dan sumbangan ganti rugi.000). Penaksir menetapkan harga pedoman standar.3. Jika UP yang dapat diberikan melebihi kewenangannya. Sementara. Sumbangan dana pensiun. penyusutan dan pengurangan yang wajar lainnya. Berikut ini merupakan ilustrasi proses memperoleh kredit di Perum Pegadaian. Jangka waktu kredit maksimum adalah 120 hari dengan bunga dihitung setiap 15 hari.3. dari laba bersih yang diperoleh Perum Pegadaian. Kemudian 45% dari sisa penyisihan tersebut dialokasikan untuk lima hal berikut yang masing-masing persentase alokasinya ditetapkan oleh Menteri Keuangan. 2. Petugas penaksir memeriksa keadaan barang termasuk kelengkapan yang disyaratkan. sisa dari keseluruhan penggunaan laba bersih di atas disetorkan sebagai Dana Pembangunan Semesta (DPS). Jasa produksi. nasabah juga dikenakan biaya penitipan dan asuransi (PA) yang besarnya disesuaikan dengan jenis barang dan golongannya. dan e. 13/1998. taksiran. maka harus diajukan dan disetujui oleh kepala Kanca selaku kuasa pemutus kredit (KPK). sebesar jumlah tertentu disisihkan untuk cadangan tujuan.000-Rp 5. Tabel selengkapnya dapat dilihat dalam lampiran 5. Jika besarnya UP yang telah diputuskan .000) dan Golongan D (kredit Rp 510. sesuai dengan PP No. Cadangan umum yang dilakukan sampai cadangan mencapai sekurang-kurangnya dua kali lipat dari modal yang ditempatkan.

saldo Buku Gudang ini dicocokkan dengan saldo Ikhtisar Kredit dan Pelunasan. Barang masuk dan keluar selalu dicatat sehingga pada akhir hari dapat ditentukan saldo barang jaminan. Untuk mengontrol kebenarannya. tidak kena hujan dan panas. Pada SBK tersebut dimuat nama dan alamat nasabah. rubrik dan ribuan. Untuk barang-barang tertentu seperti kamera dan mobil mendapat perlakuan khusus.3. Pegawai yang bertanggung jawab (sesuai dengan SK penunjukan) atas pengelolaan gudang dan semua barang yang ada di dalamnya disebut petugas gudang. Posedur tersebut dapat dilihat dalam lampiran 7. sedangkan yang mengelola barang gudang dan barang kain disebut pemegang gudang. Sistem Pengelolaan Barang Jaminan Barang-barang jaminan yang diterima oleh Pegadaian ditatausahakan dalam suatu Buku Gudang yang diisi menurut golongan. Untuk mencegah terjadinya kesalahan atau penyimpangan dalam pengelolaan gudang maka Perum Pegadaian membuat prosedur pemeriksaan barang jaminan. Mobil disimpan dalam tempat tertutup. besarnya taksiran dan UP. maka petugas gudang tersebut dapat menunjuk dua orang pegawai lainnya sebagai pengganti sementara dan harus diberitahukan kepada kepala cabang. Barang kantong ini disimpan dalam kamar emas (kluis/khasanah). dengan terlebih dahulu membayar biaya penyimpanan dan asuransi (PA) yang telah ditetapkan sesuai dengan besarnya UP dan jenis barang yang diagunkan. maka diterbitkan Surat Bukti Kredit (SBK) sesuai dengan golongannya. Barang emas. keterangan barang jaminan. Maret 1999 oleh penaksir maupun KPK telah disepakati oleh nasabah. Tempat penyimpanan barang tersebut harus selalu dalam keadaan tertutup dan terkunci apabila tidak ada keperluan. Selain petugas gudang dilarang untuk memasuki gudang tanpa mendapat izin dari petugas tersebut. Barang jenis ini disimpan di dalam gudang. Di samping itu. Dalam hal petugas gudang berhalangan sampai dengan 7 hari. Nasabah mengambil UP pada kasir seperti yang tertera pada SBK. Sedangkan barang jaminan yang tidak masuk di dalam kantong disebut dengan barang gudang dengan rubrik G. Kamera harus disimpan dalam tempat tertutup (lemari kaca atau peti kayu yang tidak lembab) yang diberi penerangan cukup.5. . 2.66 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. SBK diserahkan kepada nasabah. Pegawai yang menjadi petugas gudang mempunyai masa tugas maksimum selama 6 bulan. Setelah ditandatangani nasabah dan penaksir/KPK. Petugas gudang yang mengelola barang kantong disebut penyimpan. mobil juga harus dalam keadaan terkunci dan bila ada tutupnya (cover) digunakan dengan baik agar tidak kotor. petugas gudang lama tetap bertanggung jawab atas barang jaminan di dalam gudang. Walaupun telah digantikan petugas sementara. perhiasan atau barang-barang kecil lainnya yang masuk di dalam kantong disebut barang kantong dengan rubrik K.

6. Barang-barang yang telah laku pada saat lelang harus dibayar tunai setelah lelang ditutup. d. agar bisa dijadikan acuan oleh masyarakat. Lelang dilaksanakan tidak pada hari libur. Bila hasil lelang melebihi nilai kewajiban nasabah.7%). c.7% (tujuh permil) untuk dana sosial yang dihitung dari nilai lakunya lelang. maka kelebihannya akan dikembalikan kepada nasabah tersebut.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 67 2. Apabila di kemudian hari ternyata lelang tidak dapat dijalankan pada tanggal yang telah ditetapkan maka pelaksanaan lelang itu harus diundur pada hari berikutnya. untuk kanca-kanca yang lokasinya berdekatan tidak diizinkan untuk melaksanakan lelang pada hari dan tanggal yang bersamaan.3. b. Untuk menentukan tanggal lelang. BSL ini ditetapkan menjadi aset perusahaan yang diakui dan dicatat sebagai transaksi mutasi aset dari Pinjaman Yang Diberikan (aktiva lancar) menjadi Aktiva Lainnya (aktiva tidak lancar). Sebelum pelaksanaan lelang. Tim Pelaksana Lelang akan mengawasi/memeriksa jumlah setoran uang jaminan dari masing-masing peserta/calon pembeli. Perlakuan administrasi dan pembukuan terhadap BSL dapat dilihat dalam lampiran 8. Media yang digunakan untuk mengumumkan tanggal lelang adalah melalui papan pengumuman di Kanca setempat. Untuk barang-barang jaminan yang telah ditaksir dengan wajar tetapi tidak laku dilelang disebut sebagai Barang Sisa Lelang (BSL). Hal ini dilakukan dengan penjualan barang jaminan tersebut pada waktu yang telah ditentukan. pemberitahuan langsung oleh pegawai di loket dan pemberitahuan tertulis kepada pemilik barang dan Dinas Penerangan setempat (minimum 15 hari sebelum pelaksanaan). setiap Kanda membuat suatu daftar ikhtisar lelang berdasarkan usulan dari masing-masing kanca-nya dengan memperhatikan : a. media cetak dan elektronik. Masing-masing kanca sedapat mungkin melaksanakan lelang pada hari dan tanggal yang sama setiap bulannya. Uang yang akan dibayar oleh pembeli harus ditambah 9% untuk ongkos lelang dan 0. Penjualan di bawah tangan merupakan penjualan yang terbuka bagi siapa saja yang berminat dengan suatu patokan harga minimum tertentu. BSL dinilai berdasarkan harga pembeliannya yaitu sebesar harga jual minimal lelang tanpa tambahan biaya lelang (9. Lokasi kanca. Sedangkan mutasi antarcabang merupakan upaya penjualan di kantor cabang yang berada di daerah lain yang diyakini dapat terjual lebih cepat (Lampiran 9). . Penundaan hari lelang ini harus diumumkan kepada masyarakat dan diberitahukan kepada Ka Kanda dan Inspektur Daerah. Sistem Lelang Lelang merupakan upaya pengembalian uang pinjaman beserta sewa modalnya yang tidak dilunasi sampai batas waktu yang ditentukan. Cara penyelesaian BSL ini dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dijual di bawah tangan dan dimutasikan antarcabang. Dalam bulan puasa lelang sedapat mungkin dilakukan sebelum lebaran.

teknik serta metode dalam menjalankan fungsi pengawasan. yang berisi laporan tentang : perkembangan usaha. Aspek-aspek yang dilihat dalam melakukan pemeriksaan oleh SPI mencakup tiga hal yaitu sistem dan prosedur yang menyangkut kendali. Tujuan pembuatan laporan operasional ini adalah untuk menyediakan informasi tentang perkembangan operasional kepada manajemen sebagai dasar untuk pengambilan keputusan lebih lanjut pembinaan Kanca. Laporan tahunan. Sementara. penerimaan sewa modal dan biaya PA. dan perhitungan surplus operasi. rincian sisa uang pinjaman. Pengawasan ditujukan untuk meyakinkan apakah kegiatan perusahaan telah dilaksanakan sesusai dengan rencana yang ditetapkan. Laporan semester. Laporan-laporan yang dibuat oleh masing-masing Kanca tersebut di atas kemudian dikonsolidasikan oleh Kanda sebelum dikirimkan ke kantor pusat. Jenis-jenis laporan operasional yang dibuat oleh Kanca yang harus dikirimkan ke Kanda adalah berbentuk : a. masing-masing Kanca dan Kanda Perum Pegadaian secara internal juga diperiksa oleh SPI. Sistem Pelaporan dan Auditing Setiap Kanca Pegadaian harus membuat laporan operasional rutin secara berkala. Sejak tahun 1993 audit terhadap laporan keuangan Perum Pegadaian dilakukan oleh akuntan publik. pemeriksaan merupakan bagian dari fungsi pengawasan yaitu tindakan secara fisik. barang jaminan yang tidak ditebus/dilelang/barang polisi. mutasi aktiva yang disisihkan. Laporan operasional adalah laporan tentang perkembangan operasional Kanca yang meliputi laporan mingguan. Maret 1999 2. kewajiban atasan untuk mengawasi c. . Selain kewajiban mengirimkan laporan ke kantor pusat. Laporan bulanan.3. Laporan mingguan. yang berisi laporan rincian sisa uang pinjaman dan perhitungan sewa modal. yang berisi perkembangan penyaluran kredit dan barang jaminan yang tercantum dalam laporan mingguan keuangan yang dikirimkan ke Kanda b. ikhtisar barang sisa lelang. Kelayakan laporan keuangan Perum Pegadaian setiap tahun diperiksa oleh pihak eksternal. Di kantor pusat laporanlaporan dari seluruh Kanda dikumpulkan sehingga dapat dibuat suatu laporan keuangan konsolidasi secara nasional yang diaudit setiap tahun.68 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. d. pemeriksaan atas laporan keuangan Perum Pegadaian dilakukan oleh BPKP.7. yang berisi rekapitulasi dari laporan bulanan ditambah laporan mutasi aktiva serta laporan surplus usaha. sisa uang kelebihan. Hal ini dilakukan karena Perum Pegadaian telah melakukan go public dengan menerbitkan obligasi. rincian data nasabah dan kredit menurut profesi. bulanan dan tahunan. Tugas SPI tersebut adalah melakukan pengawasan dan pemeriksaan terhadap jalannya kegiatan perusahaan. Sebelumnya.

Di setiap Kanda terdapat Inspektorat Daerah (Irda) yang dipimpin oleh orang kedua di kanda yang bersangkutan dengan tenaga pemeriksa berjumlah 4-5 orang. Berdasarkan perbandingan antara jumlah Kanca (633 kantor). sesuatu yang diatur secara umum yang diakui dan sesuatu yang diatur oleh ketentuan perusahaan. (ii) Irwil II mengawasi kanda VI – X. SPI tersebut dibagi menjadi 3 Inspektorat Wilayah (Irwil). frekwensi pemeriksaan serta jumlah tenaga pemeriksa di masing-masing Kanda. Tugas Irda adalah mengawasi kanca-kanca di bawahnya dengan frekwensi 1– 4 kali pemeriksaan dalam satu tahun. PENDEKATAN TEORITIS 3.1 Pembiayaan Kredit Pedesaan Untuk memahami pegadaian terutama sebagai salah satu alternatif pembiayaan bagi usaha/nasabah kecil perlu dilakukan pendekatan yang mempunyai relevansi dengan kegiatan operasi lembaga keuangan baik formal maupun informal yang telah ada di masyarakat dalam penyaluran kredit. serta mempunyai nasabah . mempunyai jaringan kerja yang luas sampai ke daerah-daerah. Dalam melakukan pemeriksaan seorang pemeriksa harus bersifat objektif dan independen karena pertanggungjawabannya langsung kepada direksi. Sementara itu. Mengingat karakteristik Perum Pegadaian sebagai lembaga keuangan formal yang memberikan pinjaman berjangka pendek dalam skala kecil dengan sistem gadai. dan (iii) Irwil III mengawasi kanda XI – XIV. tidak melakukan penghimpunan dana seperti layaknya bank. Kanda-kanda lainnya di luar Jawa harus membawahi kanca-kanca yang secara geografis terlalu jauh. Kondisi yang seharusnya merupakan sesuatu yang ditetapkan oleh peraturan/ketentuan pemerintah.2 kali setahun. Dalam melaksanakan tugasnya SPI dipimpin oleh seorang kepala yang bertanggung jawab langsung kepada Direktur Utama.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 69 bawahan (waskat) dan aparat pengawasan fungsional. III. Rentang kendali yang terlalu luas yang belum ditunjang dengan saluran komunikasi yang memadai (canggih) sangat tidak menunjang efektivitas pemantauan kinerja kantor-kantor cabang. Sebagai gambaran setiap kanda di pulau Jawa rata-rata membawahi lebih dari 50 Kanca. serta bisa menyebabkan timbulnya berbagai penyimpangan seperti yang tercantum dalam lampiran 10. menunjukkan terlalu luasnya rentang kendali Kanda terhadap kanca-kanca yang ada di bawah koordinasinya. Tolok ukur yang dipakai dalam melakukan pemeriksaan adalah membandingkan antara kondisi sebenarnya (fakta) dengan yang seharusnya (kriteria). yaitu : (i) Irwil I mengawasi kanda I – V. Tenaga pemeriksa di masing-masing Irwil rata-rata sejumlah 4 orang yang bertugas melakukan pemeriksaan terhadap setiap kanda dengan frekwensi 1 . Kanda (14 kantor).

dan pemberian kredit tersebut lebih didasarkan pada unsur kepercayaan. Dengan kata lain. koperasi dan pegadaian serta pasar kredit informal di pedesaan (rentenir atau pelepas uang komersial). Sebagian besar pinjaman relatif kecil jumlahnya. teori RFM berpendapat bahwa pedesaan memiliki kemampuan/resources untuk membiayai kegiatan-kegiatan produktif yang berlangsung di pedesaan. yaitu Farm Finance dan teori Rural Financial Market yang dikembangkan oleh Department of Agricultural Economics and Rural Sociology.1. Di dalam pasar terdapat beberapa kreditur namun seorang debitur punya akses yang sangat terbatas.1 Lembaga Kredit Informal Sebagaimana dikemukakan. sedangkan teori FF berpendapat perlu adanya external funds (dana pihak luar) untuk membiayai kegiatan-kegiatan produktif di pedesaan. 6 Robinson. Pasar kredit pedesaan informal biasanya bersifat quasimonopolistik.70 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. untuk penghimpunan dana di pedesaan lebih banyak melalui lembaga formal. BRI Unit Desa. Sementara itu. Kredit pedesaan pada dasarnya dapat diperoleh dari sumber informal dan formal. Dalam teori ini dijelaskan karakteristik lembaga keuangan formal seperti Bank Perkreditan Rakyat. Teori RFM yang bertumpu pada mekanisme pasar berpendapat bahwa pembiayaan/kredit pedesaan merupakan proses intermediasi dimana financial assets dan debts di relokasi diantara pelaku-pelaku ekonomi di pedesaan. Ketergantungan seorang debitur terhadap kreditur sangat tinggi. Seorang kreditur hanya melayani sejumlah kecil peminjam yang sudah dikenal baik dan berisiko rendah. Maret 1999 mayoritas masyarakat berpenghasilan rendah yang sulit untuk akses ke perbankan serta jaringan kerja hingga ke daerah-daerah. maka perlu dilakukan analisis tterhadap posisi dan keterkaitan Perum Pegadaian dengan lembaga lainnya. Ohio State University. S “ Rural Financial Intermediation : Lessons From Indonesia. USA. Beberapa pendekatan yang dapat digunakan untuk analisis tersebut antara lain Teori Rural Financial Intermediation (RFI). berjangka waktu pendek. lembaga kredit formal dan informal serta struktur pasar kredit pedesaan untuk masing-masing lembaga keuangan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut : 3.6 Sedangkan untuk melihat sumber dana untuk kredit pedesaan dikenal dua teori. teori Farm Finance (FF) dan Teori Rural Financial Market (RFM). Berdasarkan ketiga pendekatan tersebut. cepat. Teori RFI menjelaskan keterkaitan antara lembaga keuangan formal dan informal dalam pasar keuangan pedesaan. kredit di pedesaan dapat disediakan oleh lembaga keuangan formal maupun pasar informal. Pasar informal tersebut ada di dalam masyarakat namun tidak diatur oleh pemerintah. proses penyediaan sederhana. 1992 .

Dengan kondisi tersebut. Selain itu. information flows. Dengan praktek tersebut. 8 Germidis. Terdapat pula kecenderungan para kreditur untuk memberikan kredit yang lebih besar kepada pejabat lokal serta rekan bisnis dengan tujuan menjaga hubungan baik agar diberi kesempatan memperoleh akses yang lebih luas bagi kepentingan politik dan/atau bisnisnya. Kreditur pada umumnya berkeberatan apabila nasabahnya meminjam kepada kreditur informal lainnya karena khawatir ikatan bisnis lainnya juga akan berpindah sehingga dapat melakukan pembalasan di kemudian hari. market interlinkages. suku bunga dapat dipertahankan tinggi lebih-lebih jika di wilayah tersebut tidak terdapat lembaga perkreditan formal. Suku bunga kredit dalam pasar informal sangat bervariasi. and Meghir bahwa 8 : “Informal commercial credit forms parts of the local political economy. suku bunga berkisar antara 2 sampai 10 kali dari tingkat bunga bank. Caranya antara lain dengan hanya memberikan kredit kepada orang-orang yang berkaitan dengan jaringan bisnisnya seperti sistem ijon dan yang mempunyai aliran politik yang sama. Alasan utamanya adalah terlalu berisiko untuk melakukan ekspansi ke luar pasar tradisonalnya. Kessler. Fenomena ini terjadi di beberapa negara berkembang.7 Kreditur cenderung tidak tertarik untuk meningkatkan market share. Mereka tidak mau bersaing karena justru akan menurunkan keuntungan masing-masing. . 7 Ibid. Kessler “ Financial Systems and Development : What Role for the Formal and Informal Financial Sectors ? (1991). seperti India dan Philipina sebagaimana dikemukakan oleh Germidis. Hal ini terjadi karena antara satu kreditur dengan kreditur lainnya dalam satu wilayah umumnya punya ikatan yang erat.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 71 Terjadinya pasar yang bersifat quasi-monopolistik dimungkinkan oleh kecenderungan setiap kreditur untuk membatasi jumlah nasabah yang dilayani dan berupaya menjaga portofolio pinjamannya sedemikian rupa. sehingga risiko tidak terbayarnya pinjaman yang diberikan kepada nasabah dapat ditekan serendah mungkin. Sebaliknya. political alliances. etc “. terdapat kecenderungan debitur untuk hanya setia kepada satu debitur karena khawatir akan memperoleh kesulitan di kemudian hari. Menurut penelitian Robinson. financial channels and market shares of lenders are inextricably related to local distribution of wealth and power. hal 81. bagi kreditur yang sudah lebih kaya dan memiliki status sosial yang tinggi melakukan diversifikasi investasi dianggap lebih menguntungkan dibandingkan dengan hasil yang diperoleh dari kredit dalam skala kecil. Tingginya suku bunga tersebut disebabkan adanya quasi-monopolistic many-lender credit market. setiap kreditur dapat memelihara ‘kesetiaan’ debiturnya.

Tidak tertutup kemungkinan.2 Lembaga Kredit Formal Lembaga keuangan formal dapat juga memasuki pasar keuangan pedesaan dengan perspektif perhitungan jangka panjang bila didukung beberapa persyaratan. seseorang yang tidak memiliki agunan dapat datang ke kreditur informal untuk meminjam uang. dan berlokasi strategis.72 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Kreditur informal yang kekurangan dana dapat meminjam dari bank dan lembaga kredit formal lainnya untuk kemudian disalurkan ke nasabahnya. Disamping itu. Perlu dikemukakan bahwa jika lembaga kredit formal dapat memberikan pelayanan yang baik dengan beban bunga yang lebih rendah maka sebagian masyarakat desa yang sebelumnya bergantung kepada kreditur informal akan beralih ke lembaga formal. Hal ini terjadi karena lembaga kredit formal dapat memanfaatkan ‘economies of scale’ sehingga dapat menjalankan kegiatannya dengan biaya yang relatif murah. Di samping itu. Suku bunga yang lebih rendah tersebut akan meningkatkan permintaan kredit yang akan menyebabkan biaya operasi per unit menjadi lebih murah. Kemudahan bagi lembaga formal dalam memasuki pasar tersebut selain dilindungi hukum. Persyaratan tersebut berkaitan dengan perlunya lembaga keuangan dikelola secara baik. Bahkan di beberapa tempat dianggap sebagai rekan kerja. Suku bunga pada lembaga kredit formal pada umumnya lebih rendah dibandingkan dengan suku bunga kreditur informal. lembaga formal tidak dicurigai akan merebut kekuasaan para kreditur informal yang pada umumnya juga memiliki kaitan usaha di sektor riil atas nasabahnya. untuk menunjang berlangsungnya kegiatan operasi lembaga keuangan tersebut harus mampu menyalurkan kredit dalam jumlah yang cukup dan bersumber dari penghimpunan dana dengan spread yang cukup menguntungkan. Sementara itu. Disamping itu. lembaga formal tidak dianggap sebagai pesaing oleh kreditur informal.1. karena berspesialisasi pada kegiatan perkreditan. Bagi kreditur informal. lembaga formal pada umumnya dapat mempelajari karakteristik pasar keuangan pedesaan dan memperoleh informasi terpercaya mengenai nasabah potensial melalui stafnya yang profesional. Sebagai contoh. bagi mereka yang tidak memenuhi syarat untuk memperoleh dana dari lembaga formal disebabkan tidak memiliki agunan ataupun sebab lainnya akan tetap bergantung pada kreditur informal. Dengan biaya yang murah tersebut maka lembaga formal dapat menawarkan suku bunga rendah untuk menarik nasabah. aman. hal tersebut tidak terlalu mengganggu karena mereka masih tetap memiliki pangsa pasar yang aman. Maret 1999 3. terpercaya. meskipun ada kemungkinan mereka masih memerlukan dana dari kredit informal sebagai tambahan. . seorang kreditur informal akan mendorong nasabahnya untuk meminta kredit ke lembaga formal jika memerlukan dana yang relatif besar.

Persaingan tidak terjadi karena nasabah masing-masing lembaga keuangan tersebut mempunyai karakteristik khusus yang menentukan preferensi mereka untuk menjadi nasabah lembaga keuangan tertentu (struktur pasar bersifat quasi-monopolistik). toko emas dan pegadaian gelap. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Pada pasar kredit pedesaan di Indonesia dapat diidentifikasikan beberapa lembaga formal yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat khususnya golongan ekonomi lemah adalah Perum Pegadaian. bahkan dapat dikatakan saling melengkapi sesuai dengan kondisi masyarakat. Mengacu pada teori tersebut. Kebijakan penghimpunan dan penyaluran dana serta sistem manajemen pendanaan yang sentralistik seperti diterapkan Perum Pegadaian.9 Pada dasarnya antar lembaga-lembaga tersebut tidak saling bersaing karena masing-masing sudah mempunyai pangsa pasar tersendiri. nampaknya sesuai dengan teori FF. Sementara itu dari temuan penelitian CPIS (pada periode 1982-1990) koperasi simpan pinjam mengenakan suku bunga antara 20% . Disamping itu juga terdapat beberapa lembaga informal yang berperan dalam memberikan pinjaman kepada masyarakat antara lain pelepas uang (rentenir). toko emas yang memberikan pinjaman dengan sistem gadai serta pegadaian gelap. Lembaga lain yang juga mempunyai potensi besar untuk menjadi pesaing Perum Pegadaian adalah Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dan BRI Unit Desa (BRI UDes). Studi lapangan menunjukkan bahwa pada dasarnya masing-masing Kantor Daerah mempunyai potensi untuk menghimpun dana sendiri yang berasal dari potensi daerah setempat. Sebagian besar BPR (1.7 triliun.40% per bulan. 1 0 Sampai dengan September 1998 di seluruh Indonesia terdapat sebanyak 1.60% dibandingkan dengan rentenir.4 triliun dan kredit yang diberikan sebesar Rp 1. pangsa pasar kredit pedesaan yang dapat dikuasai oleh Perum Pegadaian diperkirakan berkisar 40% . Hasil penelitian tersebut sejalan dengan hasil penelitian Robinson dengan mempergunakan teori RFI (dijelaskan pada bagian III). Koperasi Simpan Pinjam (Kosipa).142 buah) berada di pulau Jawa (persebaran jumlah BPR terbanyak berada di wilayah Jawa Timur sebanyak 362 BPR. dan BRI Unit Desa. Namun kebijakan tersebut pada beberapa aspek justru menghambat perkembangan Perum Pegadaian terutama pada saat terjadinya kekurangan likuiditas.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 73 IV.558 BPR non BKD dengan total aset sebesar Rp 2.10 Dalam 9 Data akurat mengenai potensi lembaga informal pemberi pinjaman sulit untuk diperoleh. Temuan ini sesuai dengan teori RFM bahwa pada dasarnya masyarakat pedesaan juga mampu menabung dan masuknya dana pihak luar justru akan menghambat perkembangan pasar keuangan pedesaan. Informasi yang diperoleh dari hasil studi lapangan hanyalah mengenai besarnya suku bunga yang dikenakan rentenir dan toko emas pada umumnya sangat tinggi berkisar 10% – 20% per bulan.706 kantor. . Bank Perkreditan Rakyat (BPR). kemudian Jabotabek sebanyak 345 BPR) dan yang paling sedikit berada di wilayah Kalimantan (22 BPR). Sedangkan jumlah BRI UDes sebanyak 3. Di daerah-daerah di mana terdapat kantor Perum Pegadaian. diperoleh temuan bahwa antara Perum Pegadaian dengan lembaga-lembaga keuangan formal dan informal lainnya yang ada di masyarakat tidak saling bersaing meskipun mempunyai segmen pasar yang hampir sama.

lonjakan omset terutama dialami oleh Kantor Daerah Jakarta. Ujung Pandang. terutama sejak terjadinya krisis ekonomi pada pertengahan tahun 1997. kinerja Perum Pegadaian akan dibandingkan dengan BPR dan BRI UDes (untuk beberapa rasio keuangan) untuk memperoleh gambaran mengenai peranan Perum Pegadaian dalam pemberdayaan ekonomi rakyat dibandingkan dengan institusi kredit lainnya. atau meningkat 11% dibandingkan dengan realisasi omset tahun 1997 (Tabel 4. Bandung dan Yogyakarta. Perkembangan Omset Perum Pegadaian Rp miliar 2500 2000 1500 1000 500 0 1994 1995 1996 1997 Triw III/ 1998 Jan Feb Mar Apr Mei 1998 Jun Jul Agst Sept 1 1 Omset : adalah jumlah/nilai pinjaman yang diberikan dalam suatu periode tertentu (konsep flow).1 Hasil Studi Lapangan 4. 4.3 triliun dengan pencapaian target sebesar 87. Untuk masing-masing wilayah. sementara beberapa Kantor Daerah (Padang.1 Kinerja Operasional Omset 11 Peran Perum Pegadaian dalam memberikan pinjaman kepada masyarakat berpendapatan rendah menunjukkan perkembangan yang cukup pesat. Namun lonjakan omset yang terjadi pada Juni 1998 selanjutnya untuk bulan Agustus dan September mengalami penurunan terutama sebagai dampak dihentikannya fasilitas overdraft di BRI pada pertengahan Agustus. dan Balikpapan) mencatat perkembangan yang kurang memuaskan. sementara untuk institusi lain dan lembaga kredit informal tidak diperoleh data akurat. Maret 1999 analisis selanjutnya. Sampai dengan 30 September 1998 omset Perum Pegadaian telah mencapai Rp 2. . Pemilihan ini berdasarkan ketersediaan data BPR dan BRI Unit Desa (BRI UDes).1. Grafik 1.9%.74 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.1). Medan.

8 35.2 317.20. B dan C semakin berkurang (Tabel 4. sehingga dengan barang jaminan yang sama nasabah golongan A dan B bisa mendapatkan pinjaman yang lebih besar.3 0.4 100.7 183.000.5 14.Jun.000.5 8. Kecenderungan pergeseran orientasi pembiayaan Perum Pegadaian ke arah nasabah besar juga terlihat pada menurunnya porsi nasabah golongan A dan B masing-masing dari 43.0 226. Fenomena dominasi pinjaman oleh golongan D juga terlihat di setiap kantor daerah yang diteliti kecuali untuk Kantor Daerah Bandung dimana pinjaman didominasi oleh golongan C. Keterangan : A = Rp 5.000 .9% dan 27. Gol. Jan . D = Rp 510. Alokasi pinjaman untuk golongan D12 melonjak sehingga porsinya meningkat dari 35.6% (1997) menjadi 41.3 5.000 D = Rp 510.000 B = Rp 40.d September).925. (ii) Kenaikan harga barang jaminan sejalan dengan kenaikan harga barang jaminan khususnya emas.5 10.2 8. .4 709.000.Rp 150.3% (tahun 1998 s.7 30.000 . Dengan demikian kebijakan pembiayaan Perum Pegadaian telah bergeser ke arah nasabah dengan nilai pinjaman yang lebih besar.000 – 500. Pergeseran dari nasabah mikro ke nasabah besar tersebut terutama merupakan dampak dari : (i) Kebijakan Perum Pegadaian untuk meningkatkan laba. Nasabah 1996 Des.8 32.1.5 951.000 – 20.8 256.317.000.9 31.2 1.9 5.9 0.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 75 Lonjakan kenaikan omset tersebut ternyata tidak diikuti dengan meningkatnya aspek pemerataan. Tabel 4. dan Gol. Gol.4 439.397. Nominal % Proyeksi Nominal % 8.4 475.7 100.5 31.000.9 100.035.0 2.0 6.000 .3% (1998).5 1997 Des. Sementara itu.000. Nominal 184. dengan alasan bahwa selama ini Perum Pegadaian telah memberikan subsidi kepada golongan nasabah mikro.8 22.1 25. E = pegawai Perum Pegadaian. Gol.9 547. Kebijakan untuk meningkatkan keuntungan dengan mengurangi porsi pemberian pinjaman kepada nasabah mikro tersebut kurang sejalan dengan misi Perum Pegadaian untuk lebih memihak kepada nasabah mikro.0 8.0 46.0 13.0 (miliar rupiah) % A B C D E 10.166. E = pinjaman kepada pegawai Perum Pegadaian 1 2 Perum Pegadaian menetapkan 5 macam golongan nasabah berdasarkan besarnya plafon pinjaman sebagai berikut: Gol.4 545.3 437.9 31. B = Rp 40.0 2. diolah.6 50.5 100.2 0.000 – Rp 40.9 1.000 .0 2.Sept.4 1.6 32.7 679.5 1.7 100.5 35. C = Rp 151.4% dan 24.723.4 0.4 16. A = Rp 5. melalui peningkatan kualitas barang jaminan serta meningkatkan porsi nasabah golongan D (proyeksi tahun 1998).8 666. Perkembangan Omzet Perum Pegadaian 1998 Gol.000 Sumber : Perum Pegadaian.088.7 115.7 739.4 645.0 Realisasi Jan .1).000 – Rp 150.5 22.00 . Nominal % Nominal % 80.500.0 0. porsi golongan A.4% (tahun 1997) menjadi 50.0 C = Rp 151.Rp 40.

sementara itu golongan B meminjam dalam jangka waktu paling singkat.d September menunjukkan kecenderungan menurun. mulai banyaknya perusahaan yang melakukan PHK terhadap karyawan dan meningkatnya harga emas.3%). jumlah nasabah Perum Pegadaian juga mengalami lonjakan tajam khususnya pada bulan Juni 1998 sehingga sampai dengan 30 September 1998 jumlah nasabah yang dapat diraih mencapai 6. Golongan D meminjam dalam jangka waktu paling lama. Dari segi persebaran nasabah. yaitu 68 hari. Namun seiring dengan berkurangnya kemampuan Perum Pegadaian dalam memberikan pinjaman kepada masyarakat maka jumlah nasabah pada Juli s. . Berdasarkan Kandanya.7%) dan terendah pada Kanda Malang (2. Lonjakan jumlah nasabah dari posisi Mei ke Juni 1998 tersebut diduga merupakan dampak krisis ekonomi sehingga akses masyarakat untuk dapat memperoleh kredit dari perbankan semakin sulit.3%.7 hari. Penurunan tersebut juga disebabkan oleh meningkatnya harga barang jaminan khususnya emas.d Mei 1998) sekitar 400 ribu nasabah. yaitu 95. terdapat kesamaan antara Perum Pegadaian dengan BPR dimana baik untuk Perum Pegadaian dan BPR sebagian besar nasabah terkonsentrasi di wilayah Jawa (masing-masing 70% dan 57%).8% dan 2. Lonjakan nasabah sepanjang tahun 1998 tersebut sangat signifikan jika dibandingkan dengan perkembangan nasabah pada bulan yang sama tahun 1997 (Grafik 2). Faktor lain yang menyebabkan lonjakan jumlah nasabah tersebut menurut Perum Pegadaian adalah “peak season” tahun ajaran baru serta meningkatnya gangguan keamanan. Jumlah nasabah yang mampu diraih Perum Pegadaian tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan dengan jumlah nasabah yang mampu diraih BPR (4. meskipun masih lebih banyak jika dibandingkan periode yang sama tahun 1997. sehingga mendorong penebusan oleh nasabah terutama dengan barang jaminan emas untuk dijual ke pasar. Lonjakan nasabah Perum Pegadaian yang sangat besar terjadi sejak bulan Juni 1998 dengan rata-rata per bulan di atas 1 juta nasabah dibandingkan bulan-bulan sebelumnya (Januari s. sedangkan jumlah nasabah yang paling sedikit terdapat di wilayah Kalimantan masingmasing 2.2 juta nasabah).76 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.6 juta orang. Jumlah Nasabah Sejalan dengan lonjakan omset. peningkatan jumlah nasabah terbesar terjadi pada Kanda Surabaya (243. Maret 1999 Jangka waktu peminjaman rata-rata dalam tahun 1998 adalah 89 hari yang berarti lebih singkat dibandingkan dengan tahun 1997.

3 26.000 800 600 400 200 0 (ribu) 1997 1998 Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sep Okt Nop Des Berdasarkan golongannya.000 .032.000 D = Rp 510. Jml.3 23.9 27.734.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 77 Grafik 2.0 13.5 1.265.400 1.9 5. Nsb.000 Gol. (ribu) (ribu) % Petani 1.1 1998 Jml. Sementara dari profesinya mayoritas nasabah (30.3 6.Rp 150.000 .8 1.9 Nelayan 405. Nsb. Nasabah A B C D E Jumlah Keterangan : % 43.621.7 6.1 100.000 .0 8.6 16.0 0.2.682.2 871.612.05 100.5 24.0 1.621.9 5. terlihat adanya pergeseran komposisi jumlah nasabah menurut golongan dan meningkatnya jumlah nasabah dengan profesi sebagai karyawan (Tabel 4.000 E = pinjaman kepada pegawai Perum Pegadaian .2).0 Sumber : Perum Pegadaian.5 5.7 *) % 30.458.3 23.500.000 B = Rp 40. Nsb.2 100. mayoritas nasabah Perum Pegadaian (40.4 12. Tabel 4.463.4 3.Rp 40.1 Pedagang 1.7%) berprofesi sebagai petani.5%) pada tahun 1998 berasal dari golongan A.0 1997 1998 Profesi Jml.1 *) : s.410.200 1.9 1.638.000. (ribu) 2.0 Lain-lain 1. Meningkatnya jumlah nasabah yang berprofesi sebagai karyawan (berdasarkan kartu identitas/KTP) merupakan indikasi dari meningkatnya jumlah karyawan yang terkena PHK.4 Industri 325. C = Rp 151.7 *) % 40. diolah.2 30. Nsb. Dibandingkan dengan tahun 1997.7 1. Perkembangan Jumlah Nasabah 1. (ribu) 2.4 Karyawan 449.7 7.6 430.1 331.d September A = Rp 5.1 3.20.6 6. Komposisi Jumlah Nasabah Menurut Golongan dan Profesi 1997 Jml.305.000 .4 22.9 2.9 864.5 682.3 10.0 0.0 6.0 21.221.1 635.305.331.

pembayaran upah karyawan.8%. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa krisis ekonomi sangat dirasakan dampaknya khususnya oleh nasabah mikro dengan semakin meningkatnya nilai pinjaman yang tidak dilunasi oleh golongan tersebut. Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa nasabah diperoleh informasi bahwa sebagian besar dana pinjaman pegadaian dipergunakan untuk tujuan produktif (profil nasabah dikemukakan pada “persepsi masyarakat”). perajin mebel.810 potong (1. Perbandingan kualitas pinjaman yang diberikan tersebut menunjukkan persentase kredit macet di Perum Pegadaian lebih besar dibandingkan dengan BRI UDes (0.5% dari omset atau 1.78 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. namun jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan kredit macet di BPR. 1 3 Lelang merupakan upaya pengembalian uang pinjaman beserta sewa modal yang tidak dilunasi atau pinjamannya tidak diperpanjang (roll over) oleh nasabah sampai batas waktu yang ditentukan. dan lain-lain.3 miliar (0. Menurut masing-masing golongan nasabah. rasio nilai lelang terhadap total kredit untuk golongan A meningkat dari 2. usaha catering. Sementara itu.1 miliar (0. . Penggunaan yang bersifat produktif antara lain modal kerja bagi petani dan pedagang. biaya sekolah.5% dari total kredit yang diberikan).5% dari sisa uang pinjaman). rasio tersebut menurun jika dibandingkan dengan tahun 1997 (1.7% dan 47. Sedangkan rasio terendah adalah golongan D yaitu sebesar 0. biaya pengobatan. dan keperluan keluarga lainnya. dengan menjual barang jaminan kepada masyarakat umum pada waktu yang telah ditentukan.0% dari omset dan 4.1%.5%). Lelang 13 Barang jaminan yang dilelang sampai dengan 30 September 1998 adalah sebanyak 261. sedangkan kredit macet di BRI UDes (per 30 September 1998) mencapai Rp 22.7% omset) atau senilai Rp 11.2% (1997) menjadi 2.1% dari sisa uang pinjaman).3% (1998) tertinggi dibandingkan dengan golongan lain. maka telah terjadi penurunan jumlah dan nilai barang yang dilelang masing-masing sebesar 36. pinjaman yang digolongkan sebagai kredit macet di BPR (per 30 Juni 1998) mencapai Rp 253 miliar (15 % dari total kredit yang diberikan). usaha yang bersifat pesanan seperti kontraktor skala kecil. Maret 1999 Penggunaan dana pinjaman oleh nasabah sangat bervariasi baik untuk tujuan konsumtif maupun produktif. Kebutuhan konsumtif yang dapat dipenuhi dari pegadaian antara lain pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Jika dibandingkan dengan volume dan nilai lelang sampai sebelum krisis (1997).

504 3. Perlu dikemukakan bahwa lelang barang jaminan yang dilakukan Perum Pegadaian pada dasarnya bukan merupakan kerugian bagi Perum Pegadaian karena sesuai dengan hukum gadai. barang jaminan yang dilelang merupakan barang bergerak serta hasil lelang selalu dapat menutup nilai pinjaman ditambah bunga dan biaya administrasi.5 118. Jam inan N S isaU P R A B C D 285. Sedangkan kredit macet di BRI UDes baik sebelum maupun sesudah krisis. kredit macet BPR sebagian besar terdapat di wilayah Jawa yang mencapai 58% total kredit macet.9 3. sebagian besar terdapat di wilayah Jawa dan paling sedikit di wilayah Bali (termasuk NTT dan NTB).1 6. Perbandingan kualitas pinjaman ketiga lembaga tersebut menunjukkan kesamaan wilayah kerja yang mempunyai jumlah kredit macet terbesar yaitu di wilayah Jawa. sehingga banyak nasabah dengan barang jaminan emas yang meminjam pada bulan Juni 1998 dan jatuh tempo pada November 1998 tidak melunasi pinjamannnya.6 miliar (0.2 0.7 juta). Jam inan rg. Perkembangan Lelang Barang Jaminan G ol.0 48.27% total kredit atau 56. 4. Irian Jaya dan Timor Timur) sebesar 0.403 1. lelang terbanyak dilakukan oleh Kanda Yogyakarta (38. 1997 *) **) ***) a) b) *) N asabah B asio(% ) R ilai O m set asio(% ) B rg.5 739.8 ribu potong) sedangkan yang paling sedikit dilakukan oleh Kanda Balikpapan (3 ribu potong).5 3.309.6 2.077.9 78. Untuk wilayah Bali (termasuk NTT dan NTB) kredit macet sebesar Rp 794 juta (0.9 1.7 115. khususnya di Jabotabek sebesar Rp 73.7 183.6% total kredit macet).0 1.8 2.7 4.4 miliar (4. kredit macet di wilayah Jawa sebesar Rp 12.1 0.9 709.1% total kredit atau 0.0 TO TA L 413. Untuk tahun 1998.3 1.1 172.813 25.9 7.2 1.2 182.6 0. Sementara nilai lelang terbesar terdapat di Kanda Jakarta (Rp 2 miliar) dan yang paling sedikit di Kanda Balikpapan (Rp 289. Sementara itu.596 1998 N ilai **) O m set ***) asio(% ) S isaU P R 34. diolah.010 50.914 98.9 750. Sedangkan volume kredit macet paling kecil terdapat di wilayah Sulawesi (termasuk Maluku.6 521.9% dari total kredit macet.1 261.166.7 3.7 6. khususnya DKI & Jawa Barat sebesar Rp 6.9 408.801 12.4 1.81% total kredit macet).2 475.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 79 Tabel 4. .2 3.8 227.3 0. kecuali dalam kasus tertentu dimana terjadi penurunan harga barang jaminan yang sangat besar.9 2.0 8.14% total kredit atau 29.7 Keterangan : *) potong **) : nilai barang yang dilelang (m iliar rupiah) ***) : om set pinjam an (m iliar rupiah) S um ber : P erumPegadaian.3 317.047 3.5 2.5 miliar (0.3% total kredit atau 29% total kredit macet).d September 1998.9 0.02% total kredit atau 3.3.3 a) : rasio lelang thd om set b) : rasio lelangthd sisauang pinjam an Pada periode Januari s.810 11.4 0.5 1.6 2.5 b) 2.9 679.278 21.0 1.14 1 4 Sebagai contoh turunnya harga barang jaminan adalah turunnya harga emas secara drastis di bulan November hingga mencapai 60% dari harga bulan Juni 1998.6% total kredit macet).0 197.5 a) R asio(% ) 7.

dengan komponen terbesar adalah hutang obligasi (Rp 264. Realisasi aset pada tahun 1998 tersebut meningkat sebesar 51. Jumlah modal per 30 September 1998 sebesar Rp 363 miliar.80 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.1. Jumlah aset per 30 September 1998 tercatat sebesar Rp 1. total aset BPR sebagian besar terkonsentrasi di wilayah Jawa (Rp 1. Sebagaimana telah disebutkan dalam Bab II bahwa untuk memenuhi kebutuhan dana maka selama periode 1993 – 1998. melampaui target yang ditetapkan untuk tahun 1998 sebesar Rp 1 triliun (Tabel 4.6 miliar yang akan jatuh tempo pada periode 1998 – 2003. Komponen terbesar dari kewajiban jangka pendek tersebut adalah hutang bank (Rp 321 miliar).9% total aset Perum Pegadaian).7 triliun atau 70.7% dari periode yang sama tahun 1997.d V) dengan nilai nominal sebesar Rp 289.7% total aset BPR). sedangkan yang terkecil adalah Kanda Kupang (Rp 34 miliar).4% dari tahun sebelumnya. Total aset Perum Pegadaian tersebut lebih kecil jika dibandingkan dengan total aset BPR (per Juni 1998) yang telah mencapai Rp 2.4 triliun.6 miliar) (Tabel 4. Perum Pegadaian telah menerbitkan obligasi sebanyak lima kali (seri I s. Maret 1999 4. meningkat 171. Perbandingan total aset berdasarkan wilayah tersebut menunjukkan adanya kesamaan antara Perum Pegadaian dengan BPR yaitu konsentrasi aset berada di wilayah Jawa dan aset terkecil di wilayah Kalimantan.9 miliar (2. Sumber dan Penggunaan Dana Sumber dana Perum Pegadaian selain terdiri dari modal (ekuitas) juga sumber dana lain yang diperoleh dari penerbitan surat berharga maupun pinjaman dari pihak lain. Kewajiban jangka panjang Perum Pegadaian (terdiri dari hutang obligasi dan hutang jangka panjang lainnya) sebesar Rp 364. dengan tujuan penggunaan dana untuk pelunasan obligasi I (sebesar Rp 50 miliar) dan pengembangan usaha (modal kerja).8% dari total aset BPR) sedangkan yang paling kecil terdapat di wilayah Kalimantan sebesar Rp 63.6% dibandingkan periode yang sama tahun 1997. Ditinjau berdasarkan wilayah.6 miliar meningkat 32.4). Berdasarkan tujuan tersebut dapat dikemukakan bahwa Perum Pegadaian nampaknya tidak mempersiapkan cadangan dana pelunasan obligasi (sinking fund) yang memadai untuk memenuhi kebutuhan dana pelunasan obligasi yang akan jatuh tempo (s.2 Kinerja Keuangan Aset Aset Perum Pegadaian menunjukkan kecenderungan meningkat.3% total aset Perum Pegadaian) dan yang paling kecil adalah wilayah Kalimantan (Rp 44 miliar atau 3. total aset Perum Pegadaian sebagian besar terkonsentrasi di wilayah Jawa (Rp 573 miliar atau 50. Emisi terakhir adalah obligasi emisi V (Juni 1998). Sementara itu.4). sementara kewajiban jangka pendek (terdiri dari hutang bank dan kewajiban lainnya) sebesar Rp 412 miliar.1 triliun. Total aset terbesar dimiliki oleh Perum Pegadaian di wilayah Kanda Jakarta (Rp 183 miliar).d 30 September 1998 dana pelunasan obligasi .

3 1.9 564.2 864 282. kebijakan subsidi bunga hanya akan efektif apabila diterapkan dalam jangka pendek.4 192. 947. Selain dari penerbitan obligasi.7 182.6 22.7 30.5 160.4 582. pinjaman yang diberikan dan lainnya) serta aktiva lain.9 0.7 59.75 187.diolah 363. terutama diakibatkan oleh meningkatnya nilai deposito sebesar 605%.8 34.4 Neraca Singkat Perum Pegadaian (miliar rupiah) Pos .028 275 673. Dengan demikian.9 647 163.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 81 yang dicadangkan hanya sebesar Rp 8.7 184 1139.5 miliar). Dana dengan suku bunga murah yang diperoleh Perum Pegadaian tersebut di satu sisi sangat membantu dalam mengatasi kesulitan likuiditas yang dialami.5 183.2 119 756.6 166.3 11. Aktiva dalam bentuk kas dan setara kas per 30 September 1998 tercatat sebesar Rp 119 miliar meningkat 240.7 8.6 100 363 Pertumb. bahwa suku bunga bersubsidi dapat menimbulkan inefisiensi dalam penyaluran dana di pedesaan.9 28.7 236.6 140. Perlu dikemukakan bahwa lonjakan deposito tersebut terjadi karena adanya pencairan bantuan modal kerja dari Pemerintah dalam bentuk RDI sebesar Rp 100 miliar pada tanggal 4 September 1998.5 81. Per 31 Des.4 8.9 0.9 8. alokasi dana tersebut lebih diutamakan untuk penambahan modal kerja.6 Aktiva Lancar Kas dan setara kas Pinjaman yg diberikan Lainnya Aktiva Lain Dana pelunasan obligasi Lainnya Total Aktiva Kewajiban Jangka Pendek Hutang bank Kewajiban lainnya Hutang Obligasi Hutang Sewa Guna Usaha Hutang jangka panjang lainnya 480. Menurut Perum Pegadaian.487 307.7 798. 1997 Per 30 Sep.9 476.9 175 0.4 72. (%) 40.9 17.4 5.9 412. Proyeksi 1998 Realisasi Per 30 Juni Per 30 Sept. dimana sampai dengan 30 September 1998 telah disalurkan ke nasabah sejumlah Rp 35 miliar.2 29. Jun .1 53.1 167. namun dari sisi makro berdampak pada timbulnya distorsi suku bunga pasar pinjaman berskala kecil.3 225 356.4 191 1.4 190.Pos Neraca 1996 Per 31 Des.7 412 321 91 264.9 Penanaman dana oleh Perum Pegadaian dalam bentuk aktiva lancar (dikelompokkan dalam kas dan setara kas.2 35.7 178. dan sisanya sebesar Rp 65 miliar untuk sementara disimpan dalam .2 778. Perum Pegadaian juga memperoleh pinjaman berbunga rendah dalam bentuk RDI pemerintah sebesar Rp 100 miliar (sejak tanggal 4 September 1998). khususnya untuk memenuhi kebutuhan dana akibat lonjakan nasabah dan bantuan KLBI sejumlah Rp 50 miliar (per 31 Desember 1998).9 45.6 119. Mengacu pada temuan Robinson yang menggunakan pendekatan RFI.7 174.3 390 Ekuitas Sumber : Perum Pegadaian . sinking fund tersebut tidak dihimpun karena tidak diperoleh ijin dari Menkeu untuk membentuk cadangan sebesar obligasi yang akan jatuh tempo.8 71.5 752 151.3 526.4 32.5 325 615 36.0 1.0 31.Sept.2 275 0.9% dari periode yang sama tahun 1997.2 35.4 55.2 52. Tabel 4.2 8.2 240.8 201.7 225 333 837.

9 4. namun peran Perum Pegadaian dalam memberikan pinjaman cenderung tidak mengalami penurunan dalam masa krisis ini. BPR. pinjaman yang diberikan oleh Perum Pegadaian baik dibandingkan dengan total kredit yang diberikan maupun dalam peer-groupnya relatif kecil.921.8 1.3% (1997) menjadi 10.134. Dalam kondisi perkembangan perbankan saat ini yang tidak menentu maka tidak tertutup kemungkinan pangsa pegadaian akan mampu melampaui pangsa BPR.6 64.5. Dari jumlah tersebut.3 Nominal ( Rp miliar ) 526.074.5 Nominal ( Rp miliar ) 756.1 0.5%) dibandingkan aktiva produktif lainnya.82 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Penanaman dana dalam bentuk pinjaman yang diberikan mempunyai porsi yang paling besar (86.1 97.9%.9 1997 Rasio (%) (1) 7.688.6% total kredit peer-group.6 28.9 Lembaga Nominal ( Rp miliar ) 414.4 2.9 (2) 0.3 (2) 0.0 385. Rasio Perkembangan Pinjaman yang Diberikan 1996 Rasio (%) (1) 6.0 65.3 4.7 Pegadaian BPR BRI Unit Desa Sub-Total Bank Umum Total Keterangan : 98.0 7.324.3 292.1% total kredit atau 6.795.621.2 (2) 0.976.9 98.9 Rasio (1) : rasio terhadap peer-group ( PP.696. Rp 50 miliar dalam deposit on-call dan Rp 15 miliar untuk cadangan investasi.1 0. BRI Udes) Rasio (2) : rasio terhadap total kredit (termasuk bank umum) Pinjaman yang diberikan oleh Perum Pegadaian. meningkat 58.1 0.8 miliar.5 1.7 616.6 1.3 1.3 27. Sementara aktiva lain hanya meningkat sebesar 2.7 1.7% (1998). Porsi kredit yang diberikan Perum Pegadaian terhadap total kredit pada September 1998 sebesar 0.0 6.483.207. Pinjaman yang diberikan per tanggal 30 September 1998 sebesar Rp 756. sementara porsi BPR menunjukkan penurunan.0 299.1 1998 Rasio (%) (1) 10.557. Tabel 4.5 65. sedangkan porsi BRI UDes meskipun meningkat namun tidak sebesar peningkatan Perum Pegadaian (Tabel 4.7 24.2 1. BPR dan BRI UDes menurut wilayah adalah sebagai berikut : . Perbandingan dalam peer-groupnya menunjukkan peningkatan porsi Perum Pegadaian yang lebih besar dibandingkan dengan BPR dan BRI UDes.0 623.5).077.0 7. yaitu dari 7.2 1.9% dibandingkan dengan periode yang sama tahun 1997.286. porsi BPR dan BRI UDes justru mengalami penurunan.3 0.0 4.5 378. Meskipun porsi Perum Pegadaian saat ini masih kecil dan secara makro tidak terlalu besar dampak moneternya.1 98. Secara makro. Maret 1999 bentuk deposito.190.

pendapatan operasional BPR menunjukkan peningkatan dari Rp 543 miliar (1997) menjadi Rp 758 miliar (1998).8 triliun (64% dari total kredit) dan yang paling sedikit di wilayah Bali (termasuk NTB dan NTT) sebesar Rp 293 miliar (6. dengan porsi terbesar adalah biaya bunga dan provisi yang mencapai 57. Biaya dan Efisiensi Kemampuan Perum Pegadaian dalam meraih pendapatan menunjukkan kecenderungan semakin meningkat. Irian dan Tim-Tim) sebesar Rp 36. sedangkan yang paling kecil diberikan oleh BPR di wilayah Sulawesi (termasuk Maluku.3 miliar.7% dibandingkan tahun 1997. meningkat 10. terutama sebagai dampak meningkatnya beban bunga dan . Pendapatan. Terlihat adanya kesamaan antara Perum Pegadaian dengan BPR. meningkat masing-masing sebesar 4. Penyumbang terbesar dari pendapatan usaha tersebut adalah pendapatan sewa modal (88.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 83 • Pinjaman terbesar diberikan oleh Perum Pegadaian di wilayah Jawa. Pendapatan Perum Pegadaian yang terdiri dari pendapatan usaha (meliputi: sewa modal dan bea penyimpanan & asuransi) dan pendapatan usaha lainnya (meliputi: pendapatan investasi.0%. Berdasarkan besarnya pendapatan dan biaya operasional Perum pegadaian tersebut. dengan komponen terbesar berasal dari pendapatan bunga sebesar 44.1 miliar (58.4%. sedangkan yang terkecil diberikan oleh Perum Pegadaian di wilayah Kalimantan sebesar Rp 36. • Sedangkan untuk BRI UDes. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pinjaman yang diberikan oleh ketiga lembaga formal tersebut selama ini terkonsentrasi di pulau Jawa. kredit yang diberikan per 30 September 1998 terkonsentrasi di pulau Jawa.3% dan 81.7 miliar dan Rp 9. Biaya operasional BPR juga mengalami peningkatan dari Rp 519 miliar (1997) menjadi Rp 742 miliar (1998) dengan komponen terbesar adalah biaya bunga deposito berjangka sebesar 21.3% dari total kredit). menurun dari tahun sebelumnya sebesar 31. dan keuntungan barang sisa lelang) sampai dengan 30 September 1998 tercatat masing-masing sebesar Rp 209. yaitu sebesar Rp 2.9%).2 triliun (74% dari total kredit BPR).6 miliar (4.3% total pinjaman). uang kelebihan lewat waktu.8%. Sementara itu biaya operasional tercatat sebesar Rp 180.4 miliar.8% total pinjaman).3%. yaitu sebesar Rp 441. diperoleh nilai rasio antara biaya operasional dengan pendapatan operasional untuk tahun 1997 dan tahun 1998 masing-masing sebesar 80. Rasio tersebut menunjukkan terjadinya penurunan efisiensi.5 miliar (2% dari total kredit). Seperti juga Perum Pegadaian.7% dibandingkan tahun 1997.4% menurun dari pangsa tahun sebelumnya sebesar 79. • Kredit yang diberikan oleh BPR sebagian besar terkonsentrasi di wilayah Jawa.5% dan 144. yaitu sebesar Rp 1. dimana pendapatan bunga dan biaya bunga merupakan komponen terbesar dari pendapatan dan biaya operasional.0% dari total biaya operasional.

3%. Salah satu aspek yang mendorong tingginya efisiensi yang mampu diraih Perum Pegadaian dibandingkan dengan BPR dan BRI UDes adalah karena Perum Pegadaian tidak memperhitungkan cadangan kredit macet dalam komponen biaya operasionalnya.4 kali.7% dan 3. Cadangan tersebut tidak dihimpun oleh Perum Pegadaian karena nilai pinjaman yang diberikan sudah didiskonto dari nilai pasar/taksiran barang jaminan (Lampiran 13). di sisi lain sumber dana bersubsidi yang diperoleh serta modal Perum Pegadaian cukup besar.6% dari target tahun 1998.3%. Koefisien tersebut menunjukkan bahwa pada tahun 1998 terjadi penurunan kemampuan Perum Pegadaian dalam meraih keuntungan. Maret 1999 provisi yang sudah mencapai 112.3% (1998). sedangkan ROA BRI UDes sebesar 4.3% dan 1. Perum Pegadaian masih mencatat tingkat efisiensi yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan BPR (95. Pencapaian rasio tersebut berarti telah sesuai dengan target yang ditetapkan. khususnya pada masa krisis ekonomi. untuk periode 1997 dan 1998 diperoleh koefisien ROA sebesar 6. Solvabilitas Kemampuan Perum Pegadaian untuk memenuhi semua kewajibannya berdasarkan rasio antara total hutang dengan total aktiva rata-rata tahun 1997 dan tahun 1998 adalah . Likuiditas Rasio antara aktiva lancar dengan kewajiban lancar Perum Pegadaian rata-rata tahun 1997 sebesar 2. Profitabilitas yang tinggi tersebut mampu diraih Perum Pegadaian karena besarnya sewa modal hampir sama dengan suku bunga perbankan. Disamping itu. Meskipun demikian.4 kali.7% (1997) dan 9. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pada tahun 1997 dan 1998 Perum Pegadaian mempunyai kemampuan untuk memenuhi kewajiban lancarnya sebesar 2. Profitabilitas Dengan menggunakan indikator ROA dan ROE. Jika dibandingkan dengan rasio BPR sebesar 1.84 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Dengan membandingkan besarnya rasio profitabilitas Perum Pegadaian dan BPR untuk masing-masing periode tersebut terlihat bahwa kemampuan Perum Pegadaian dalam meraih keuntungan relatif lebih baik jika dibandingkan dengan BPR dan BRI UDes (Lampiran 13). sementara realisasi pendapatan sewa modal baru mencapai 82.5% (1997) dan 4.4 kali dan untuk tahun 1998 tidak berubah yaitu sebesar 2. Perum Pegadaian memiliki struktur modal yang lebih kuat dan juga memperoleh pinjaman dengan suku bunga relatif murah. Sementara ROA yang mampu diraih BPR sebesar 1.2 kali menunjukkan bahwa Perum Pegadaian mempunyai kemampuan yang lebih baik dalam memenuhi kewajiban lancarnya (Lampiran 13).1%).8% dan 3.1% dengan ROE sebesar 4. dan koefisien ROE sebesar 10.4% (1998).7%) dan BRI UDes (84.4%.

Marjin yang diperoleh pada tahun 1997 untuk nasabah golongan A adalah –3. Dalam simulasi pertama ini. sisa omzet dibagi secara merata diantara golongan lainnya. yang terlihat dari meningkatnya marjin tertimbang (weighted profit/loss) dari 7. C. Sementara itu.24%.d 1998 perbankan mencatat marjin negatif dengan kecenderungan semakin besar pada tahun 1998. Perbandingan tersebut menunjukkan bahwa secara umum harga kredit di Perum Pegadaian lebih mahal dibandingkan perbankan. bahwa Perum Pegadaian masih memiliki marjin yang positif untuk semua golongan selain A. sejalan dengan komitmen Perum Pegadaian untuk membantu nasabah mikro dengan menerapkan subsidi silang pada sewa modal. dilakukan simulasi yang terdiri dari dua bagian.61% dan golongan B. C. . Untuk tujuan tersebut. lebih baik jika dibandingkan dengan BPR dan BRI UDes dengan rasio masingmasing sebesar sebesar 76. dilakukan peningkatan porsi omzet pada nasabah golongan A secara bertahap sebesar 5 persen. marjin keuntungan/kerugian untuk tiap golongan dianggap sama dengan kondisi pada tahun 1998. dan D serta pengaruh peningkatan porsi omzet pada golongan A terhadap keuntungan yang mampu diraih Perum Pegadaian. Pada bagian pertama (Lampiran 15-A). Kebijakan Perum Pegadaian untuk menaikkan sewa modal pada Juni dan Agustus 1998. sementara untuk simulasi selanjutnya akan menurunkan keuntungan nominal sebesar +Rp 20 miliar.1%. Namun karena prosedurnya mudah. B dan C tersebut ternyata tidak menyebabkan penurunan laba.39%. Berdasarkan hasil simulasi terlihat bahwa setiap peningkatan porsi omzet terhadap nasabah golongan A sebesar 5% akan pada simulasi ke1 akan menurunkan keuntungan nominal + Rp 44 miliar.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 85 sebesar 64.34% (1997) menjadi 10. golongan B dan C turun menjadi 8.8% dan 89%. Pada periode 1996 s. D sebesar 8.2 miliar pada saat omzet nasabah golongan A sebesar 60 %. Marjin yang diperoleh Perum Pegadaian tersebut lebih tinggi jika dibandingkan dengan perbankan (Lampiran 16).76% (Lampiran 14). sedangkan golongan D (rata-rata D dan D1) meningkat menjadi 13. Pegadaian baru akan merugi sebesar Rp 7. Rasio tersebut menunjukkan bahwa Perum Pegadaian mempunyai kemampuan lebih besar dalam memenuhi seluruh kewajibannya dibandingkan dengan BPR dan BRI UDes (Lampiran 13).26% (1998) (Lampiran 15-A).26%. telah berdampak cukup berarti pada perubahan besarnya marjin. maka masyarakat masih tertarik untuk meminjam dari Perum Pegadaian. Analisis sensitivitas dilakukan untuk melihat sejauh mana pengaruh penurunan marjin pada golongan B. Untuk golongan A terjadi peningkatan marjin negatif menjadi –7. Defisit pada golongan A yang ditandai oleh marjin negatif. Turunnya marjin pada golongan A. Biaya Aktiva Produktif dan Analisis Sensitivitas Marjin (selisih biaya dana yang ditanamkan dalam bentuk aktiva produktif dengan sewa modal pada masing-masing golongan nasabah) yang diperoleh pada masa sebelum dan sesudah krisis menunjukkan.

dilakukan penurunan marjin keuntungan pada nasabah golongan B. C = 1.243 Rp 371.243 orang. C. Produktivitas omset untuk tahun 1998 tersebut adalah sebagai berikut : Tabel 4.9 M 6.. Pada bagian ini.317.3 juta Berdasarkan realisasi tersebut terlihat bahwa produktivitas omset yang mampu dicapai Perum Pegadaian sampai dengan September 1998 sudah mencapai 79. marjin untuk nasabah golongan A dibiarkan tetap dan distribusi omzet untuk tiap golongan nasabah sama dengan kondisi pada tahun 1998.3 juta Rp 41.6 Target dan Realisasi Produktivitas Omset – Tahun 1998 Target Omset Jumlah Pegawai Rasio Rata-rata per bulan Rp 9.24%. B = -1. 16/UT/II/1999) untuk menurunkan besarnya sewa modal (golongan B. Maret 1999 Pada bagian kedua (Lampiran 15-B). C dan D akan menurunkan keuntungan +Rp 22 miliar. Rasio yang dicapai pada tahun 1998 tersebut masih lebih besar dibandingkan tahun 1996 (Rp 311 juta) dan 1997 (Rp 340 juta).86 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. . C.6 miliar pada saat marjin untuk tiap golongan nasabah sebagai berikut : A = -7.318 miliar dengan jumlah pegawai sebanyak 6.925 M 6.74%.C dan D) yang berlaku mulai tanggal 1 Maret 1999.9 1 5 Berdasarkan informasi.3 juta. Produktivitas omset yang diukur dengan rasio antara realisasi omset dengan jumlah pegawai selama Januari . atau rata-rata Rp 41. Perum Pegadaian masih memiliki ruang untuk meningkatkan porsi pemberian kredit kepada nasabah golongan A dan menurunkan sewa modal pada golongan B.2% dari target yang ditetapkan untuk tahun 1998. dan D secara bertahap sebesar 1%.September 1998 yaitu sebesar Rp 371.76%.243 Rp 468. Pegadaian masih memiliki keuntungan Rp 17. No. Berdasarkan kedua simulasi tersebut di atas. Produktivitas Omset Realisasi omset sampai dengan 30 September 1998 adalah sebesar Rp 2.74%. Berdasarkan hasil simulasi terlihat bahwa setiap penurunan marjin keuntungan sebesar 1 % pada golongan B. Perum Pegadaian telah menetapkan keputusan (SK.3 juta per bulan. dan D = 3. Sedangkan berdasarkan analisis untuk masing-masing wilayah kerja Perum Pegadaian menunjukkan bahwa pegadaian di wilayah Ujungpandang mempunyai produktivitas omset terbesar (Rp 682.5 juta Rp 52 juta Realisasi Rp 2. dan D 15 .

9 (1998) dan 1.. sementara target yang ditetapkan untuk tahun 1998 sebesar 982 orang atau sekitar 82 orang per bulan. Untuk masing-masing wilayah kerja. 480 orang (1997) dan 448 nasabah (1996) untuk satu orang pegawai.1 juta 6.7 Target dan Realisasi Rasio Nasabah dengan Jumlah Pegawai – Tahun 1998 Target Jumlah Nasabah Jumlah Pegawai Rasio Rata-rata per bulan 6.400. yang mengakibatkan BRI menghentikan pemberian kredit lebih lanjut ke Perum Pegadaian .243 982 82 Realisasi 7.6 orang). Rasio antara jumlah nasabah dengan jumlah Pegawai tahun 1998 adalah sebagai berikut : Tabel 4. sedangkan produktivitas terendah adalah wilayah Sumatera dengan rasio sebesar 806.3 Masalah yang Dihadapi Perum Pegadaian Masalah Temporer Lonjakan nasabah yang sangat besar terutama sejak Juni 1998 telah menyebabkan Perum Pegadaian melakukan overdraft yang besar atas pinjaman rekening koran di BRI.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 87 juta) baik sebelum maupun sesudah krisis ekonomi. sedangkan produktivitas omset terendah terdapat di wilayah Sumatera (Rp 336.137 126 Rasio tersebut menunjukkan bahwa realisasi rasio jumlah nasabah dengan jumlah pegawai yang dicapai Perum Pegadaian sampai 30 September 1998 telah melampaui target yang ditetapkan. Rasio tersebut meningkat jika dibandingkan dengan rasio tahun 1996 (907.1 juta 6.379 orang (1997). Rasio Nasabah dengan Jumlah Pegawai Rasio antara nasabah dengan jumlah pegawai selama Januari.September 1998 sebesar 1. 1. sedangkan yang terendah pada 1997 adalah Perum Pegadaian di wilayah Jawa. rasio nasabah dengan pegawai tertinggi baik sebelum maupun sesudah krisis ekonomi terdapat di wilayah Ujungpandang dengan rasio sebesar 1.243 1.3 (1998).7 orang atau rata-rata setiap pegawai dapat melayani sebanyak 126 orang per bulan.8 orang) dan tahun 1997 (862.582 orang (1996) nasabah untuk satu orang pegawai. 4.1 juta).1.133.

88 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.9 73.5 juta) sebesar 81% dan D (diatas 2.5 juta) sebesar 81%.4% dan D 73. sejak November 1998 setiap kantor daerah wajib melakukan setoran ke kantor pusat secara proporsional berdasarkan modal kerja yang dimanfaatkan.7 miliar). Sampai dengan 30 September 1998. 37-OPP-1/1/23 tgl. 30 Juli 1998 Kebijakan yang telah ditempuh agar tetap mampu melayani sebanyak mungkin nasabah dalam kondisi keterbatasan dana. Tabel 4. B sebesar 71. maka berdasarkan SE No.8%).1% masih lebih kecil dari ketentuan yang berlaku (Tabel 4.1 A B C D *) SE No.5%.3%. Jika mengacu pada ketentuan yang menetapkan realisasi uang pinjaman untuk nasabah golongan A sebesar 90%. Untuk mengatasi hal tersebut Perum Pegadaian telah memperoleh RDI Pemerintah sebesar Rp 100 miliar (4 September 1998) serta KLBI sebesar Rp 50 miliar pada bulan Desember 1998. sedangkan yang terendah diberikan oleh Kantor Daerah Balikpapan (65. perbandingan tersebut relatif rendah dengan persentase secara nasional sebesar 73. sementara penerbitan obligasi baru kurang laku.3 miliar (plafond Rp 181.4 73.8). Dampak dari kesulitan likuiditas tersebut adalah semakin terbatasnya kemampuan Perum Pegadaian dalam memberikan kredit kepada masyarakat.1/1/117 tanggal 17 Juni 1998. maka nilai rata-rata realisasi uang pinjaman terhadap nilai taksiran untuk golongan A sebesar 85. B dan C sebesar 85%. Sebelumnya. Nilai realisasi uang pinjaman dengan persentase tertinggi diberikan oleh Kantor Daerah Jember (81. Perum Pegadaian menurunkan plafon maksimum pinjaman yang . Realisasi Pinjaman yang Diterima Nasabah Tahun 1998 Golongan Nasabah Ketentuan Realisasi Pinjaman (%)*) 90 85 85 81 Realisasi Pinjaman yang Diterima Nasabah (%) 85.3 71. Maret 1999 sejak pertengahan Agustus 1998. C sebesar 73. Kesulitan likuiditas tersebut semakin dalam karena Perum Pegadaian harus membayar pokok dan bunga obligasi yang jatuh tempo.8. D (dibawah 2. 28/OPP. Kesulitan likuiditas yang dialami Perum Pegadaian juga terlihat dari perbandingan antara realisasi pinjaman yang diterima nasabah dengan nilai taksiran yang ditetapkan. Saldo pinjaman rekening koran di BRI tersebut pada akhir September 1998 sebesar Rp 284.9%. Kondisi tersebut tentunya kurang menguntungkan bagi nasabah yang membutuhkan dana lebih besar karena pinjaman yang diterima jauh lebih kecil dari nilai taksiran maupun nilai pasar barang yang diagunkan.2%).

Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat

89

dapat diperoleh nasabah dari Rp 20 juta (golongan D) menjadi maksimum Rp 5 juta per SBK. Beberapa kantor cabang yang diamati bahkan telah melakukan pembatasan plafon pinjaman maksimum untuk seorang nasabah rata-rata kurang dari Rp 5 juta. Kebijakan tersebut tetap dipertahankan sampai saat ini meskipun sudah ada tambahan dana RDI dan KLBI yang sebagian justru ditanamkan dalam bentuk deposito.16 Dampak kebijakan penurunan batas maksimum pinjaman tersebut adalah semakin sulitnya nasabah-nasabah potensial untuk bisa memperoleh pinjaman di atas Rp 5 juta dengan satu barang jaminan, kondisi tersebut berpotensi menyebabkan beralihnya nasabahnasabah potensial tersebut ke sumber pendanaan lainnya (seperti toko emas dan pegadaian gelap) yang masih bersedia memberikan pinjaman lebih dari Rp 5 juta. Kebijakan lain adalah dengan memberlakukan sistem antrian (waiting list) seperti yang diterapkan oleh beberapa kantor cabang, bahkan pada beberapa kantor cabang terpaksa melakukan penutupan kantor sebelum waktunya. Kenaikan suku bunga pasar juga menimbulkan permasalahan tersendiri bagi Perum Pegadaian karena biaya dana yang sebagian besar diperoleh dari kredit bank semakin besar. Untuk memperkecil dampak naiknya suku bunga pasar, maka Perum Pegadaian sejak 30 Juni 1998 menempuh kebijakan dengan menaikkan suku bunga pinjaman untuk golongan D dengan nilai pinjaman di atas Rp 500 ribu (Lampiran 5). Namun di sisi nasabah, kebijakan tersebut dianggap memberatkan bagi beberapa nasabah meskipun bagi nasabah lainnya tidak terlalu memperdulikan kenaikan suku bunga tersebut.

Permasalahan Struktural
Perum Pegadaian sebagai satu-satunya lembaga keuangan yang memberikan pinjaman dengan sistem gadai mempunyai jaringan kantor cabang yang sangat banyak dengan wilayah operasional yang sangat luas. Luasnya jaringan kerja tersebut di satu sisi sangat mendukung usaha Perum Pegadaian dalam membantu masyarakat, namun di sisi lain menimbulkan permasalahan tersendiri bagi Perum Pegadaian. Permasalahan yang timbul terutama adalah terlalu luasnya rentang kendali masing-masing kantor daerah terhadap kantor cabang-kantor cabang yang ada di wilayah koordinasinya. Dengan jumlah tenaga pemeriksa hanya 4 orang, setiap kantor daerah rata-rata membawahi lebih dari 50 Kanca dengan frekuensi pemeriksaan untuk masing-masing kantor cabang rata-rata 3 – 4 kali dalam satu tahun. Sementara itu, kanda di luar Jawa harus membawahi kanca yang secara geografis terlalu jauh. Luasnya rentang kendali tersebut belum diimbangi dengan

1 6 Menurut Perum Pegadaian, dana sebesar Rp 50 milyar yang disimpan dalam bentuk deposito (on call) dengan jangka waktu kurang dari 1 bulan dimaksudkan untuk cadangan pelunasan pinjaman BRI yang jatuh tempo.

90

Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan, Maret 1999

sarana komunikasi yang memadai sehingga belum dapat menunjang pemantauan kinerja kanca-kanca secara efektif. Sistem manajemen yang diterapkan oleh Perum Pegadaian saat ini cenderung menekankan pada besarnya peranan kantor pusat. Sistem manajemen sentralistik tersebut di satu sisi dapat menunjang sistem internal control yang handal, namun di sisi lain berpotensi menghambat kinerja Perum Pegadaian. Sistem manajemen tersebut dalam jangka panjang akan menimbulkan permasalahan tersendiri khususnya jika kebijakan pemberian otonomi yang lebih besar untuk masing-masing propinsi di Indonesia akan dilaksanakan oleh Pemerintah. Sistem manajemen yang sentralistik tersebut tercermin pada terpusatnya wewenang penetapan kebijakan-kebijakan yang berkaitan dengan operasional Perum Pegadaian, antara lain dalam : (i) Penetapan besarnya sewa modal. Kantor daerah dan kantor cabang tidak diperbolehkan untuk menetapkan besarnya tingkat sewa modal (suku bunga) meskipun terhadap nasabah-nasabah potensial.

(ii) Penetapan harga patokan emas. Harga patokan emas ditetapkan oleh kantor pusat dengan berdasarkan harga emas di Jakarta. Sistem ini berdampak pada lambatnya antisipasi kantor cabang dalam merespon perkembangan harga emas di daerah. (iii) Penghimpunan dana. Wewenang untuk menghimpun dana sepenuhnya berada di kantor pusat dimana baik kantor daerah maupun kantor cabang tidak diperbolehkan menghimpun dana sendiri. Dampak dari ketentuan ini adalah, masing-masing kantor daerah atau kantor cabang tidak mampu memanfaatkan potensi daerah sepenuhnya terutama dalam kondisi terbatasnya likuiditas seperti yang dialami dewasa ini. Permasalahan struktural lainnya terutama adalah masih terdapatnya beberapa kelemahan prosedur yang dapat mendorong terjadinya berbagai penyimpangan. Beberapa kelemahan prosedur yang dijumpai antara lain adalah kewenangan Kantor daerah yang seakan tanpa batas dalam memutuskan besarnya nilai pinjaman di atas plafon Rp 20 juta serta penyimpanan seluruh kunci duplikat pada satu orang (Kepala Kantor Cabang) 17 . Disamping kelemahan tersebut, dalam penelitian lapangan juga dijumpai beberapa kegiatan yang dapat dikategorikan sebagai penyimpangan. Penyimpangan tersebut antara lain adalah

1 7 Menurut Perum Pegadaian, dwilipat kunci disimpan oleh Kepala Cabang karena dalam setiap pemeriksan intern dwilipat kunci tersebut diperiksa sampai sejauh mana penyalahgunaan pemakaiannya, serta sewaktu-waktu dapat digunakan apabila pemegang kunci utama (pemegang gudang) berhalangan untuk masuk kerja.

Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat

91

praktek transfer dana antarcabang 18, pelanggaran kriteria barang jaminan yang dapat diterima Perum Pegadaian 19 , penyimpanan barang jaminan pada tempat yang tidak sesuai dengan prosedur, serta tidak dilaksanakannya prosedur internal control kluis dan gudang. Sementara itu, Perum Pegadaian juga akan terus menghadapi risiko fluktuasi harga barang jaminan akibat fluktuasi nilai tukar mengingat besarnya jumlah agunan di Perum Pegadaian berupa emas/perhiasan yang harganya mengikuti pergerakan harga pasar internasional. Nilai barang jaminan dalam bentuk emas/perhiasan pada tahun 1998 dan 1997 masing-masing sebesar 75% dari total pinjaman meningkat dibandingkan tahun 1996 (72%). Hal tersebut menunjukkan adanya peningkatan jumlah barang jaminan dalam bentuk emas/perhiasan semenjak terjadinya krisis ekonomi di Indonesia.

Persepsi Masyarakat
Berdasarkan hasil penelitian lapangan ke beberapa kantor cabang, ditemukan berbagai persepsi masyarakat terhadap Perum Pegadaian. Pada umumnya masyarakat, khususnya yang berpendapatan rendah, merasa sangat terbantu oleh Perum Pegadaian. Penggunaan dana oleh nasabah sangat beragam baik untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat produktif (misalnya untuk modal kerja dan bridging financing) sampai untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat konsumtif (misalnya untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari, biaya sekolah dan kebutuhan mendesak lainnya). Dari 90 nasabah yang dipilih secara acak dan berhasil diwawancarai, mayoritas berpenghasilan antara Rp 150 ribu s.d Rp 500 ribu per bulan. Sebagian besar nasabah tersebut tidak mempunyai akses ke perbankan atau tidak mau berhubungan dengan perbankan karena prosedur yang rumit. Berdasarkan penggunaannya, mayoritas nasabah (± 59%) mempergunakan pinjaman yang diperoleh dari Perum Pegadaian untuk tujuan produktif seperti modal kerja (56%) dan bridging financing (3%), sedangkan sisanya mempergunakan untuk tujuan konsumtif seperti biaya sekolah (17%), kebutuhan sehari-hari (16%), emergency (5%), dan lain-lain (3%). (Grafik 3).

1 8 Menurut Perum Pegadaian, praktek transfer antarcabang masih diijinkan sepanjang BRI yang terdapat di wilayah kantor cabang tersebut tidak menyediakan fasilitas rekening giro. Namun dalam prakteknya dijumpai beberapa kantor cabang yang berlokasi di wilayah kota besar masih melakukan praktek transfer antarcabang, meskipun di wilayah tersebut terdapat kantor BRI yang cukup besar. 1 9 Menurut Perum Pegadaian, barang jaminan yang tidak memenuhi ketentuan yang sudah ditetapkan masih bisa diterima asalkan secara ekonomis tidak menimbulkan kerugian bagi Perum Pegadaian.

mayoritas responden yang banyak berhubungan dengan Perum Pegadaian berpendidikan SLTA (43. dari penelitian lapangan juga ditemukan bahwa beberapa nasabah merasakan tingginya suku bunga Perum Pegadaian saat ini serta sistem penghitungan bunga dengan acuan minimal 15 hari dirasakan cenderung merugikan nasabah.92 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. menyebabkan pada beberapa wilayah masyarakat masih merasa malu untuk berhubungan .3%) terbanyak kedua adalah nasabah berpendidikan SLTP (20%) dan yang paling sedikit adalah nasabah dengan pendidikan tidak tamat SD (2. sehingga nasabah khususnya nasabah besar mulai merasakan bahwa Perum Pegadaian tidak selalu dapat memberikan pinjaman sesuai permintaan mereka.2%). Sehari-hari 16% Lain-lain 3% Biaya Sekolah 17% Modal Kerja 56% Sedangkan berdasarkan tingkat pendidikannya. pegadaian gelap atau toko emas. Maret 1999 Grafik 3. Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas nasabah mempunyai pendidikan yang cukup. Dengan melihat keunggulan tersebut nasabah Perum Pegadaian pada umumnya tidak terlalu memperdulikan besarnya suku bunga meskipun saat ini relatif tinggi pada kondisi suku bunga pasar yang cenderung menurun. Kesulitan likuiditas yang dialami sejak Agustus 1998 berdampak pada berkurangnya kemampuan Perum Pegadaian dalam melayani nasabah. berpenghasilan rendah dan mempergunakan dana yang diperoleh dari Perum Pegadaian untuk tujuan produktif. Kurangnya sosialisasi/pemasaran produk Perum Pegadaian kepada masyarakat. Financing 3% Keb. Kondisi tersebut mendorong beberapa nasabah besar untuk beralih ke pemberi pinjaman lainnya seperti pelepas uang. Disamping persepsi positif nasabah tersebut. Menurut persepsi nasabah. Komposisi Penggunaan Dana oleh Nasabah Em ergency 5% Brid. keunggulan Perum Pegadaian dibandingkan lembaga pemberi pinjaman lainnya terutama adalah dari segi pelayanan kepada nasabah. khususnya faktor keamanan barang jaminan dan kewajaran nilai taksiran.

4. (i) program ketahanan pangan. Program Jaring Pengaman Sosial (JPS) Program JPS ditujukan untuk menciptakan kesempatan kerja produktif bagi penganggur.2 Program Pemberdayaan Ekonomi Rakyat Perhatian terhadap ekonomi kerakyatan semakin meningkat seiring dengan meluasnya ketimpangan ekonomi dan kesenjangan sosial. dll). terlihat pada beberapa wilayah seperti Ujung Pandang (mencakup Sulawesi. merealisasikan berbagai skim kredit program yang dananya berasal dari KLBI (seperti KKPA. 3. (ii) program padat karya dan penciptaan lapangan kerja produktif’ (iii) program perlindungan sosial. dan Irian Jaya) serta Kodya Yogyakarta. PHBK dan PKM serta mengembangkan kelembagaan keuangan sesuai kebutuhan usaha kecil menengah dan koperasi. Semakin berkurangnya kemampuan perbankan dalam memberikan pinjaman kepada masyarakat dewasa ini semakin membuka peluang bagi Perum Pegadaian untuk berperan lebih besar dalam program pemberdayaan ekonomi rakyat. Kredit Program Dalam rangka mendorong berputarnya roda perekonomian di lapisan bawah yang saat ini menghadapi kesulitan sumber-sumber pembiayaan/pendanaan di lembaga formal (bank). investasi. yang diwujudkan dengan berbagai kebijakan untuk menghapuskan berbagai aspek yang menyebabkan inefisiensi dalam perekonomian. sedangkan pada beberapa wilayah kantor Perum Pegadaian lainnya yang diamati sebagian nasabah masih merasa malu untuk berhubungan langsung dengan pegadaian dan lebih suka menggunakan jasa perantara (calo). Maluku. Berkaitan dengan pemberdayaan ekonomi rakyat tersebut. 2. Realisasi JPS ditempuh dalam empat program. meningkatkan kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat terutama yang terkena dampak krisis serta mengkoordinasikan berbagai program penanggulangan dampak krisis dan berbagai program penanggulangan kemiskinan. maka Bank Indonesia mendorong komitmen perbankan dalam melayani usaha kecil (KUK). meningkatkan pendapatan dan daya beli masyarakat. pemerintah telah menempuh berbagai upaya yang antara lain meliputi : 1. memberi bantuan teknis yang diarahkan kepada kemitraan dan pendekatan kelompok melalui PPUK. Reformasi Struktural Sektor Riil Program ini dijalankan melalui reformasi di bidang perdagangan. dan (iv) program pemberdayaan ekonomi rakyat. . KUT. deregulasi dan privatisasi. Salah satu faktor dalam pemberdayaan ekonomi rakyat adalah pemberian prioritas dan bantuan dalam pengembangan usaha kepada ekonomi lemah. KKop. Namun tidak semua masyarakat merasa malu berhubungan dengan Perum Pegadaian.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 93 dengan Perum Pegadaian.

murah dan cepat. Meningkatnya jumlah pinjaman yang diberikan. Pelaksanaan peran tersebut selama ini dilakukan oleh Perum Pegadaian dengan memberikan pinjaman kepada masyarakat (khususnya masyarakat berpendapatan rendah) dalam skala kecil dengan . Perum Pegadaian juga didukung oleh jumlah dan kualitas pegawai yang cukup memadai. profitabilitas. d.000 dan tertinggi Rp 20 juta. Keberpihakan pada masyarakat khususnya golongan ekonomi lemah Keberpihakan Perum Pegadaian kepada masyarakat khususnya golongan ekonomi lemah terlihat dari relatif kecilnya skala kredit yang diberikan dibandingkan dengan lembaga formal lainnya. Disamping itu pemberian pinjaman dengan sistem gadai dapat memperkecil moral hazard khususnya dalam penyaluran kredit-kredit bersubsidi. dengan plafon terendah Rp 5. Potensi Perum Pegadaian untuk berperan dalam pemberdayaan ekonomi rakyat terlihat jelas terutama pada aspek keberpihakan pada masyarakat kecil. khususnya jika dibandingkan dengan BPR. likuiditas maupun solvabilitas Perum Pegadaian pada umumnya juga relatif lebih baik jika dibandingkan dengan lembaga lain khususnya BPR dan BRI UDes.94 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Keberpihakan tersebut juga tercermin dalam misi yang ditetapkan dalam periode RJP II untuk ikut meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat golongan menengah ke bawah melalui penyediaan dana berdasarkan hukum gadai secara inovatif dan melakukan usaha lain yang menunjang. Disamping itu. Suku bunga pinjaman yang dikenakan Perum Pegadaian pada umumnya juga relatif rendah. karena dengan sistem gadai nasabah dididik untuk berupaya mengembalikan pinjaman yang diterima. Selain jaringan kerja yang sangat luas. Prosedur pengajuan dan pelunasan pinjaman relatif mudah dan cepat. b. Pinjaman yang diberikan pegadaian kepada masyarakat semakin meningkat seiring dengan lonjakan permintaan khususnya sejak krisis ekonomi. Kinerja efisiensi. Perum Pegadaian juga masih memberikan peluang bagi permintaan pinjaman dalam skala yang lebih besar (diatas Rp 20 juta). Kinerja yang semakin meningkat Perum Pegadaian merupakan salah satu usaha di sektor keuangan yang masih dapat bertahan di masa krisis ekonomi dewasa ini bahkan menunjukkan kinerja yang semakin meningkat. Nasabah pegadaian sebagian besar merupakan nasabah mikro dan mayoritas berprofesi sebagai petani. e. Maret 1999 Potensi Perum Pegadaian tersebut dapat dilihat dari beberapa aspek. Keunggulan Perum Pegadaian Keunggulan utama Perum Pegadaian dibandingkan lembaga lain adalah prosedur yang mudah. yaitu : a. Kesiapan jaringan kerja dan sumber daya manusia Perum Pegadaian mempunyai jaringan kerja yang sangat luas (633 kantor cabang) yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Lonjakan tersebut merupakan dampak semakin sulitnya akses masyarakat ke perbankan. c.

Nasabah mikro pada Perum pegadaian tersebut terutama adalah golongan A (dengan nilai pinjaman antara Rp 5. Salah satu produk yang akan dikembangkan yaitu memberikan kredit dengan jaminan surat berharga dan sertifikat tanah. sendok.1 Kesimpulan 1. piring.4 miliar atau hanya sebesar 5% dari total omset Perum Pegadaian. Namun rencana tersebut justru menimbulkan kekhawatiran akan terjadi pergeseran dari core business Perum Pegadaian dan orientasi nasabah yang dilayani seperti yang ditetapkan dalam PP No. serta kredit dengan sistem pinjam pakai sebenarnya sudah tidak sesuai dengan prinsip dari hukum gadai yang mewajibkan barang jaminan berbentuk barang bergerak dan dititipkan (tidak boleh dipakai oleh pemiliknya). Namun porsi dan nilai pinjaman yang diperoleh golongan ini relatif sangat kecil (rata-rata sebesar Rp 18. Apalagi pada beberapa tahun terakhir terdapat kecenderungan di dalam kelompok-kelompok usaha untuk kembali ke core business masing-masing untuk meningkatkan kinerja usahanya. khususnya di wilayah pantai utara. lampu tekan. Perkembangan Perum Pegadaian dalam tiga tahun terakhir cukup pesat. terlihat kebijakan Perum Pegadaian untuk mengembangkan produk-produk baru yang di luar lingkup usaha pegadaian. sepeda dan lain-lain. Begitu pula dengan adanya rencana untuk mengembangkan produk-produk pembiayaan lainnya merupakan suatu upaya yang kurang sesuai dengan misi dari Perum Pegadaian yang ingin melayani kebutuhan masyarakat golongan menengah ke bawah. khususnya tahun 1998 (setahun terakhir) terjadi pelonjakan kinerja terutama karena beralihnya sebagian nasabah perbankan ke Perum Pegadaian.000) pada tahun 1998 mencapai 41. . Sejalan dengan perkembangan usaha Perum Pegadaian.000) dibandingkan golongan B. Total nilai pinjaman untuk golongan A pada tahun 1998 sebesar Rp 115. dengan tetap berpihak pada masyarakat berpendapatan rendah. alat rumah tangga (misal : kuali/ panci. Namun perkembangan terakhir menunjukkan kecenderungan pergeseran orientasi pemberian pinjaman ke nasabah besar (golongan D) meskipun Perum Pegadaian masih mempunyai peluang untuk meningkatkan porsi pinjaman untuk nasabah mikro (golongan A).C dan D. 10 tahun 1990. pengembangan produk-produk baru diusahakan tetap dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat kecil apabila tetap mengacu pada prinsip-prinsip hukum gadai dan misi perusahaan. Fenomena tersebut nampak jelas di kantor-kantor Perum Pegadaian di wilayah Jawa. V.4% total nasabah. dll). PENUTUP 5.000 – Rp 40.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 95 prosedur dan persyaratan yang mudah dan murah. Oleh karena itu. Kecilnya skala pinjaman golongan A tersebut juga terlihat dari jenisjenis barang yang banyak dijadikan agunan seperti : kain.

Kredit yang diberikan terutama kepada nasabah menengah ke bawah yang pada umumnya bergerak di sektor informal dan tidak memiliki akses ke perbankan. Perum Pegadaian telah ikut berperan dalam kegiatan pembiayaan usaha kecil. Perum Pegadaian melakukan penarikan overdraft sangat besar sehingga mengakibatkan penghentian pemberian fasilitas overdraft BRI. sementara dana yang diperoleh sebagian besar bersuku bunga rendah. Maret 1999 2. Secara makro dan jika dibandingkan dengan BPR dan BRI UDes yang memiliki pasar yang hampir sama. serta sistem manajemen yang sangat sentralistik. Perum Pegadaian telah memperoleh fasilitas RDI dari Pemerintah dan KLBI. 6. 3. Perum Pegadaian memiliki keunggulan dalam kualitas pinjaman yang diberikan. Keunggulan dalam profitabilitas dan efisiensi tersebut terutama disebabkan oleh tingginya sewa modal yang dikenakan (hampir sama dengan suku bunga perbankan). Dalam tiga tahun terakhir telah terjadi pergeseran pemberian kredit dari nasabah kecil ke nasabah besar. Perum Pegadaian mempunyai beberapa kelemahan struktural yang dapat menghambat peningkatan kinerja dan merupakan potensi timbulnya berbagai penyimpangan yaitu : terlalu luasnya rentang kendali manajemen yang tidak didukung dengan sistem dan sarana pengawasan/pelaporan yang memadai. Perum Pegadaian mengalami kesulitan likuiditas akibat lonjakan permintaan nasabah dan kurangnya peminat obligasi yang diterbitkan. Namun masih terdapat peluang (room) bagi Perum Pegadaian untuk menurunkan sewa modal khususnya untuk golongan B.96 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. 4.d September 1998. sumbangan Perum Pegadaian dalam pemberian kredit masih lebih rendah. Untuk menutupi kekurangan dana tersebut (khususnya modal kerja). sementara dana pelunasan obligasi yang dihimpun (sinking fund) kurang memadai. Jaringan Perum pegadaian yang didukung oleh 633 kantor menjangkau seluruh wilayah Indonesia sampai ke pedesaan. C dan D dengan tetap memberikan subsidi bagi golongan A. Meskipun demikian. profitabilitas dan efisiensi. serta meningkatkan porsi pemberian kredit bagi golongan A tanpa menimbulkan kerugian bagi Perum Pegadaian. 7. 5.5%). Hal ini terutama disebabkan oleh perubahan orientasi kebijakan Perum Pegadaian untuk meningkatkan laba serta kenaikan golongan pinjaman karena adanya kenaikan harga barang jaminan. Untuk memenuhi lonjakan tersebut. Peran Perum Pegadaian dalam mendukung pemberdayaan ekonomi rakyat cukup besar terlihat dari jumlah nasabah mencapai 6.6 juta (September 1998) dengan mayoritas merupakan nasabah mikro (40. Pada periode Agustus s. . Suku bunga (sewa modal) yang dikenakan Perum Pegadaian kepada nasabah saat ini relatif tinggi.

khususnya bagi Kanca defisit yang sudah lama didirikan dengan tetap mempertimbangkan pelaksanaan misi sosial yang diemban. . Sistem manajemen pendanaan secara sentralistik yang diterapkan Perum Pegadaian sampai saat ini nampaknya sangat sejalan dengan teori FF. 7. misalnya sebesar 30% .Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 97 8. Sesuai dengan misi Perum Pegadaian yang didukung oleh sumber dana yang mayoritas bersubsidi. namun dari penelitian diperoleh temuan bahwa daerah juga mempunyai potensi pendanaan (sesuai dengan teori RFM). Namun untuk mewujudkan potensi tersebut Perum Pegadaian harus terlebih dahulu membenahi kelemahan-kelemahan struktural yang ada. 6. untuk mengkaji apakah akan melakukan pemindahan kantorkantor cabang tersebut ke lokasi yang lebih strategis atau melakukan penutupan. 3. maka Pemerintah perlu mengkaji kemungkinan pemberian izin bagi perusahaan lain untuk bergerak dalam usaha pegadaian. sehingga Kanda berpotensi untuk mencari dana pinjaman sendiri. Perum Pegadaian perlu lebih intensif dalam memonitor nasabah. Mengingat masih besarnya potensi pasar yang dapat dimanfaatkan oleh lembaga keuangan yang memberikan pinjaman berdasarkan sistem gadai. Masalah kesulitan likuiditas dapat diminimalkan apabila sampai batas tertentu kantor daerah diberi kewenangan untuk mencari dana sendiri dengan memanfaatkan potensi daerah setempat (sesuai dengan teori RFM). Berdasarkan kinerjanya Perum Pegadaian memiliki potensi untuk berperan dalam channeling pemberdayaan ekonomi rakyat. 5. 5. serta kecenderungan penurunan suku bunga pasar. maka sudah saatnya besarnya sewa modal diturunkan. nampaknya Perum Pegadaian perlu lebih menekankan pada pemberian kredit daripada melakukan usahausaha lain di luar core usaha Perum Pegadaian. Hal ini sekaligus dapat mendorong kompetisi untuk meningkatkan efisiensi. Perum Pegadaian perlu melakukan evaluasi secara lebih intens terhadap kantor-kantor cabang yang merugikan. 4.1 Saran 1. pemerintah hendaknya menetapkan ketentuan yang mengatur batas minimum porsi kredit untuk nasabah kecil (golongan A dan B). Untuk mengetahui efektivitas penggunaan kredit dalam rangka pemberdayaan ekonomi rakyat. Di samping itu. Dengan mempertimbangkan potensi dan rencana jangka panjang. 2. tersedianya room yang cukup luas. rentabilitas yang lebih baik dibandingkan lembaga formal lainnya. untuk menjaga konsistensi pelaksanaan misi Perum Pegadaian.40%.

Fumio (1986). Eugene F (1981). Harvard University. Surat-Surat Keputusan Direksi Perum Pegadaian. Penerbit Erlangga Jakarta. maka kebijakan pemberian bantuan likuiditas dengan subsidi bunga kepada lembaga pembiayaan yang berorientasi pada masyarakat menengah ke bawah hendaknya hanya dilakukan dalam jangka pendek atau dalam bentuk sekuritisasi. ___________________. Untuk memperoleh penilaian efisiensi yang lebih riil. Laporan-Laporan Operasional Bulanan dan Tahunan ___________________. Suad (1985).98 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. ___________________. dan Direktorat Umum. Development Discussion Paper No. Penerbit BPFE Yogyakarta. 434. Rural Financial Markets : Two School of Thoughts. Tokyo : Asian Productivity Organization. PERUM PEGADAIAN (1997). maka Perum Pegadaian perlu memperhitungkan biaya dana untuk masing-masing Kanca. Weston. ___________________. Direktorat Keuangan. Pedoman Operasional Kantor Cabang. 9. Pedoman Pemeriksaan Satuan Pengawasan Intern Perum Pegadaian. Manajemen Keuangan : Teori dan Penerapan (Keputusan Jangka Pendek) Jilid 2. Harvard Institute for International Development. . Prospektus Obligasi V Perum Pegadaian Tahun 1998. DAFTAR PUSTAKA Egaitsu. Company Profile Perum Pegadaian ___________________. Uraian Tugas dan Kegiatan : Direktorat Operasi dan Pengembangan. Laporan-Laporan Keuangan Robinson. Untuk menghindarkan terjadinya distorsi suku bunga pasar. Rural Financial Intermediation : Lessons From Indonesia Part One The Bank Rakyat Indonesia : Rural Banking. Manajemen Keuangan Edisi ke-7 Jilid I (Terjemahan dari Managerial Finance 7th edition). 1970-91. Tim Analisis Jabatan Perum Pegadaian (1990). J. Husnan. Fred dan Brigham. dalam Farm Finance and Agricultural Development. Maret 1999 8. ___________________ (1997). Marguerite S (1992).

Subdit Perbendaharaan (PB). pemberhentian. jasa dan mengembangkan kegiatan pemasaran serta mengkoordinasikan pengolahan dan dan penyajian statistik perusahaan sesuai dengan ketentuan yang berlaku sebagai bahan pertimbangan pimpinan dalam rangka meningkatkan pendapatan perusahaan. promosi. bertugas untuk mengkoordinasikan pengelolaan kas. pemindahan. verifikasi. . 5. bertugas untuk mengkoordinasikan evaluasi. 7. kebutuhan modal kerja dan pengalokasian modal kerja serta investasi lainnya sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam rangka menjamin kontinuitas keuangan perusahaan. bertugas untuk mengkoordinasikan dan mengedalikan penyelenggaraan kesekretariatan pimpinan. bank. surat berharga. pemensiunan. sistem. Subdit Operasi dan Pengembangan (OPP). Subdit Anggaran dan Permodalan (AP) . perjalanan dinas dan tunjangan serta pelaksanaan penagihan piutang perusahaan sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam rangka menunjang kelancaran pelaksanaan tugas. 6. pengadaan dan penyelenggaraan pengangkatan. urusan kehumasan. bertugas untuk mengkoordinasikan dan melaksanakan penelitian dan pengembangan jenis.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 99 LAMPIRAN Lampiran 1 Tugas masing-masing Kepala Sub Direktorat 1. prosedur dan wilayah operasi serta bentuk usaha lain berdasarkan peraturan yang berlaku dalam rangka meningkatkan kinerja perusahaan. kepustakaan dan pengelolaan produk hukum serta pemberian pertimbangan hukum sesuai dengan peraturan yang berlaku dalam rangka menunjang kelancaran pelaksanaan tugas pimpinan perusahaan. perpajakan. Subdit Akuntansi (AK). kesejahteraan serta pengembangan manajemen 2. kepangkatan. penyelenggaraanpembukuan dan penyajian laporan keuangan perusahaan serta pengembangan sistem informasi keuangan sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam rangka pengendalian keuangan perusahaan. pengevaluasian pelaksanaan anggaran. 3. bertugas untuk membina penyaluran kredit gadai. Subdit Kesekretariatan Perusahaan (SP). bertugas untuk mengkoordinasikan penyusunan rencana anggaran. 4. pengalokasian dana. Subdit Penelitian dan Pengembangan Operasi (LB). gaji. bertugas untuk mengkoordinasikan penyusunan formal. Subdit Kepegawaian (KP).

9. bertugas untuk mengkordinasikan pengurusan ketatausahaan. Kepala Balai Diklat (Kabal Diklat). pengadaan denah. urusan rumah tangga dan perlengkapan kantor agar pelaksanaan tugas berjalan lancar dan terpadu. izin mendirikan bangunan dan penghapusan serta penyelenggaraan tata usaha pembangunan atau perbaikan bangunan prasarana dan rumah jabatan sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam rangka penyediaan sarana kerja yang memadai untuk menunjang kelancaran pelaksanaan tugas. Maret 1999 perusahaan berdasarkan peraturan yang berlaku dalam rangka pembinaan kepegawaian dan peningkatan kesejahteraan pegawai.100 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. 8. . Subdit Tata Usaha dan Rumah Tangga (TURT). pemilikan hak atas tanah. 10. bertugas mengkoordinasikan penyelenggaraan pengelolaan database dan jaringan serta pengembangan dan pengimplementasian sistem dalam menunjang kegiatan operasional perusahaan. bertugas untuk mengkoordinasikan pembuatan disain bangunan pemrosesan pelaksanaan pembangunan atau perbaikan. bertugas mengkoordinasikan perencanaan pengembangan program penyelenggaraan dan evaluasi pelaksanaan pendidikan dan pelatihan serta penyusunan laporannya sesuai dengan ketentuan yang berlaku agar penyelenggaraan diklat berjalan lancar dan terpadu. 11. Kepala Pusat Pengembangan Teknologi Informasi (Kapus TI). Subdit Bangunan (BG). pengurusan persewaan bangunan.

XII. IX. XI.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 101 Lampiran 2 Jumlah Cabang yang Dibawahi oleh Setiap Kanda KANDA JUMLAH CABANG JUMLAH ANAK CABANG 7 3 11 2 6 2 0 0 2 0 0 10 9 6 58 TOTAL I. XIV. Pandang Semarang Yogyakarta Surakarta Surabaya Malang Jember Denpasar Balikpapan Kupang 35 36 44 49 49 45 56 53 50 51 37 31 22 17 575 42 39 55 51 55 47 56 53 52 51 37 41 31 23 633 JUMLAH Lampiran 3 Komposisi Pegawai Tetap Perum Pegadaian Jenjang Karir Manajemen Puncak Manajemen Menengah Manajemen Pelaksana Staf Administrasi Tingkat Pendidikan SD SLTP SLTA D3 S1 S2 TOTAL 982 465 2.129 954 437 2. XIII. VII. II.171 811 591 31 4.365 1997 4 45 794 4. 1998 4 45 794 3. IV.817 1995 4 34 742 4.050 Okt. III. Medan Padang Jakarta Bandung U.893 829 377 2. VIII.442 814 511 25 5.303 897 468 14 5.118 803 655 35 4.974 .349 1996 4 34 780 4. X.183 885 404 2. VI. V.

Bahana Dana Selaras . 756.351 50 70 1.500 2.Saham PT.768 1. Maret 1999 Lampiran 4 Penanaman Dana Perum Pegadaian Jenis Penanaman 1997 Per-31 Des 526.Saham PT. Cadangan penurunan nilai surat berharga Penyertaan (Dalam bentuk 500 lembar saham PT.150 (Juta rupiah) 1998 Per-30 Sep.500 5. Danareksa Seruni .150 Pinjaman yg.000 -1. BIG Palapa . Dua Satu Tiga Puluh) Sumber : Perum Pegadaian .320 1.Saham PT.102 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.500 5.000 2.000 2.000 2. Semen Gresik (Sertifikat Bukti Right) .BRI . Diberikan Deposito .Saham PT. BNI Dana Berbunga . Semen Gresik .243 10.Saham PT.000 500 -2.000 3.751 70.Saham PT.BEII Surat Berharga . Danareksa Fund MGT.000 2.Saham PT.500 65.176 50 70 876 2.000 7.

50% 1.000 40.5%XUP.000 (pembulatan Rp 500 ke atas) • Biaya PA gol. Harga Pasar Setempat. Dalam hal ini Perum Pegadaian membuat tiga kriteria harga pasar yaitu harga pasar pusat (HPP). DK u/ UP > Rp 1. M=Mobil.000-1.000 ke atas) Lampiran 6 Jenis-jenis Harga Pasar Untuk menentukan nilai barang jaminan yang akan digadaikan oleh masyarakat. UP=Uang Pinjaman • Biaya PA gol. minimum Rp 25.25% 2.50% 3. minimum Rp 8.000.00% Maksimum Jangka Waktu Kredit 120 120 120 120 120 hari hari hari hari hari Keterangan : K=Kantong.500-150.000-500. HPS adalah harga pasar barang-barang gudang yang didasarkan pada harga pasar barang baru (toko) di daerah setempat.000 >2. 1.5%XUP.500.000 510. yang direvisi minimum tiga .25% 2. harga pasar daerah (HPD) dan harga pasar setempat (HPS).50% 2. Harga Pasar Daerah HPD adalah harga pasar yang ditentukan oleh Kanda dengan memperhatikan toleransi maksimum 4% di atas HPP dan 2% di bawah HPP.000-5.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 103 Lampiran 5 Tabel Sewa Modal dan Biaya PA masing-masing Golongan Gol Uang Pinjaman Sewa Modal Per 15 Hari Per Tahun A B C D D 5. Harga Pasar Pusat HPP adalah harga pasar emas/perak/permata yang ditetapkan oleh Kanpus sebagai patokan umum baik bagi Kanda maupun Kanca berdasarkan perkembangan harga pasaran umum dengan memperhitungkan kecenderungan perkembangan harga di masa mendatang.25% 2.500.000 (pembulatan Rp 1.25% 2. 2.5 juta ditetapkan 0.000 151. Perum Pegadaian mengacu kepada harga pasar.000 ke atas) • Biaya PA dengan jaminan Mobil ditetapkan 0. G=Gudang.5%XUP. DG selain mobil u/ UP > Rp 1.000 (pembulatan Rp 1. 3. minimum Rp 10.000 1.000-40.25% 2.50% 2.5 juta ditetapkan 0.

4. Buku Uang Kelebihan eks BSL. Pemeriksaan isi barang jaminan. e. Kemudian berdasarkan RBSL tersebut dibukukan pada : a.Golongan D s/d Rp 5 juta = 85% . Karena BSL diakui dan dicatat sebagai mutasi aset. . Berdasarkan harga-harga pasar di atas. dan minimal 60% dari tiap rubrik/golongan/ribuan telah dihitung untuk ketiga kalinya. maka adanya BSL pada setiap lelang tidak perlu dicatat pada Berita Acara Lelang (BAL). sedangkan cabang kelas I dan II minimal satu kali sebulan oleh Kacab. Lampiran 8 Administrasi dan Pembukuan Barang Sisa Lelang (BSL) 1. 2. Dengan demikian BAL hanya berisi data barang jaminan yang laku dilelang saja. yaitu dengan mencocokkan fisik barang jaminan dengan keterangan pada SBK dwilipatnya (lembar II/kopinya). 2. d. f. Buku Kas didebet sebagai pelunasan dan dikredit pembelian BSL. Kegiatan ini dilakukan minimal 3 kali sebulan untuk cabang kelas III. Pemeriksaan ini dilakukan setelah penghitungan barang jaminan selesai dilaksanakan. kemudian ditentukan besarnya persentase uang pinjaman terhadap taksiran menurut masing-masing golongan yaitu : . Maret 1999 bulan sekali. kerapihan dan keamanan gudang berserta isinya. c. Buku Gudang dikreditkan sejumlah BSL. Pemeriksaan buku gudang yang dilakukan setiap hari.104 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Meskipun demikian dalam jangka waktu 2 bulan tiap-tiap rubrik/golongan/ribuan harus sudah pernah dihitung sebanyak dua kali. Penghitungan barang jaminan ini dilakukan minimal sepuluh kali dalam satu bulan.Golongan A = 90% . Laporan Bulanan Operasionalatas penambahan BSL. yaitu dengan melakukan pemeriksaan secara langsung ke dalam gudang tentang kebersihan. yaitu dengan mencocokkan jumlah barang yang ada di gudang dengan saldo menurut buku gudang. 3. Meronda gudang.Golongan B dan C = 85% . Menghitung barang jaminan.Golongan D > Rp 5 juta = 84% Lampiran 7 Kegiatan pemeriksaan barang jaminan di gudang 1. Barang jaminan yang sudah ditetapkan sebagai BSL pada buku Redister Barang Sisa Lelang (RBSL). Buku Ikhtisar Kredit dan Pelunasan bulan kredit yang bersangkutan dikredit sebesar uang pinjaman BSL. Buku Kredit yang bersangkutan pada nomor yang menjadi BSL sebagai penghapusan b.

Sebelum mendapat keputusan penurunan harga jual dari Kakanda. Selisih lebih atau kurang atas penjualan ini dibukukan sebagai laba/rugi perusahaan. mutasi aktiva dan harus mendapat izin dari Kakanda dan penjualannya di tempat yang baru harus memperhitungkan biaya pengirimannya. Kesulitan likuiditas yang dialami Perum Pegadaian antara lain akibat dihentikannya fasilitas kredit dari BRI. Kacab dapat mengusulkan penurunan harga jual kepada Kakanda. Dimutasikan Antarcabang BSL emas atau non-emas sebelum diusulkan penurunan harga jualnya dapat juga diupayakan penjualannya di kantor cabang yang berada di daerah lain yang diyakini dapat terjual lebih cepat. · · 2 . atau kebijakan lain dari Kakanda atas usul penurunan harga jual yang telah diajukan sebelumnya. dijual sebesar Harga Pembelian x 109. Penyelesaian Barang Sisa Lelang (BSL) Dijual di bawah tangan Pedoman harga penjualan BSL ditetapkan sebagai berikut : a) BSL Perhiasan Emas Penjualan BSL jangka waktu kurang dari 30 (tiga puluh) hari.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 105 Lampiran 9 1. permintaan terhadap jasa Pegadaian meningkat pesat sehingga masing-masing cabang Pegadaian melakukan penarikan dana dari BRI dalam jumlah cukup besar. tidak diijinkan untuk menjualnya. Pedoman penurunan harga jual secara bertahap sesuai kebijakan Kakanda. b) BSL Non-Emas Diusahakan BSL harus sudah terjual dalam jangka waktu 30 (tiga puluh hari) namun demikian apabila dalam jangka waktu tersebut belum laku terjual. Kelebihan kredit yang ditarik tersebut dikenakan suku bunga pasar sebesar 71% per tahun. BSL yang diminta oleh Hakim/Jaksa/Polisi harus diselesaikan menurut peraturan yang berlaku. Di samping itu. makin sedikitnya sumber pendanaan yang ada menyebabkan Perum Pegadaian mengurangi batas nilai kredit maksimum. Sejak terjadinya krisis ekonomi. Beban suku bunga pendanaan yang tinggi menyebabkan Perum Pegadaian menaikkan sewa modalnya seperti terlihat dalam tabel di atas. Perum Pegadaian diberikan fasilitas kredit oleh BRI sebesar Rp 181.7% Penjualan BSL jangka waktu lebih dari 30 (tiga puluh hari s/d 60 (enam puluh hari) dijual sebesar Harga Pembelian x 105%. Sebelumnya. Pengiriman BSL ini dibukukan sebagai Rekening Antar Kantor (RAK). Hal ini menyebabkan kredit yang ditarik secara keseluruhan melebihi plafon yang ditentukan ( overdraft) sehingga BRI menghentikan fasilitas tersebut pada bulan Agustus 1998.75 miliar (suku bunga 36 %) yang secara langsung dapat ditarik oleh cabang-cabang Perum Pegadaian melalui kantor-kantor cabang BRI setempat yang telah ditentukan.

106 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Maret 1999 .

Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 107 .

Maret 1999 .108 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.

Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 109 .

Maret 1999 .110 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.

Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 111 .

Maret 1999 .112 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.

Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 113 .

Maret 1999 .114 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.

Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 115 .

Maret 1999 .116 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.

Dalam posisi ini. risiko pada kesehatan perbankan. batasan. Bank Indonesia Delfianto Ras : Dealer Yunior pada Dealing Room. sumber-sumber regulasi. Urusan Devisa. Tulisan ini bertujuan untuk memberikan gambaran awal tentang kegiatan money laundering. Ketidakberhasilan dalam menggalang kerjasama internasional dalam memerangi money laundering akan menimbulkan risiko perubahan variabel permintaan uang yang tak terduga. Kecenderungan tersebut ternyata juga memberikan kesempatan bagi para pelaku money laundering untuk turut memanfaatkan kecanggihan jaringan layanan perbankan. *) Haryadi Ramelan : Dealer pada Dealing Room. Namun pada sisi yang lain. serta implikasi yang timbul sehubungan dengan peranan bank sebagai lembaga intermediasi. efek kontaminasi pada transaksi keuangan yang legal. Kajian ini diharapkan akan mampu memberikan gambaran serta perbaikan-perbaikan yang memadai dan perlu dilakukan oleh masyarakat keuangan internasional dalam upaya pencegahan maupun penindakan terhadap kegiatan money laundering. teknik-teknik. Urusan Devisa. perbankan internasional khususnya International Offshore Banking Centres (IOBC) dengan segala aspek perlindungan data serta keleluasaan pajaknya telah menjadi lembaga intermediasi yang sangat diminati oleh para money launderer. Uang hasil transaksi ilegal (obat bius/ narkotika. yang dari tahun ke tahun semakin canggih. juga merupakan lembaga yang sangat rentan terhadap proses placement. senjata gelap. terorganisasi rapi dan profesional. layering ataupun integration. dan Delfianto Ras*) Perkembangan teknologi perbankan internasional dalam dekade terakhir ini telah memberikan jalan bagi tumbuhnya jaringan-jaringan perbankan yang semula lokal/regional menjadi suatu lembaga keuangan yang global. suap/korupsi/ manipulasi serta fraud perbankan) telah menjadi “legal” dalam dunia bisnis di pasar keuangan internasional. Bank Indonesia . volatilitas yang sangat besar pada modal internasional dari transfer asset antar negara yang tidak terantisipasi.Kajian Awal Tentang Money Laundering serta Implikasinya dalam Pasar Keuangan Internasional 117 KAJIAN AWAL TENTANG MONEY LAUNDERING SERTA IMPLIKASINYA DALAM PASAR KEUANGAN INTERNASIONAL Hariyadi Ramelan.

Dua bank besar Mexico. yakni Bancomer dan Banco Serfin dinyatakan bersalah oleh Pengadilan Federal (Fed Court) Los Angeles.22-23. T Pada situasi global. pp. Hal tersebut paling tidak terbukti pada hasil “Operation Cassablanca” yang berlangsung akhir bulan Maret 1999. Maret 1999 I. tidak hanya dari para kriminal namun juga dari perusahaan-perusahaan dan bahkan pemerintahan.118 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Hal kedua tersebut diakui sebagai masalah yang pelik namun realitasnya memang terdapat permintaan pasar yang cukup kuat untuk secret money. Dinas Pajak Dalam Negeri Inggris melakukan razia terhadap 2 kantor akuntan besar dan juga rumah pengacara serta akuntan yang terbukti berupaya menghindari objek pajak yang diperoleh dari money laundering.M et al . Secara lebih rinci. Sejalan dengan praktek money laundering tersebut. dll). bila sebuah komoditas diimpor dan dibayar. 1) uang yang dibayarkan untuk barang atau jasa-jasa tersebut tidak pernah tercatat oleh perusahaan/ individu yang umumnya dengan berbagai alasan antara lain untuk menghindari pajak ataupun karena transaksi tersebut ilegal (manipulasi oleh perusahaan swasta. suap kepada pejabat pemerintahan. Secara teoritis dan teknis. J. dalam kasus money laundering. Dalam kasus black hole di atas.9 juta dan USD 4. kegiatan money laundering dalam konsep akuntansi internasional ternyata mampu menjelaskan adanya defisit neraca transaksi berjalan dunia. penjumlahan total nilai import dan pembayaran bunga seharusnya sama dengan total nilai ekspor dan penerimaan bunga. Pada saat yang bersamaan di London. Hal ini antara lain ditandai dengan semakin maraknya International Offshore Banking Centers (IOBC) di berbagai belahan dunia seperti Gambar 1. 1996. namun tidak ada catatan bahwa seseorang telah menerima pembayaran tersebut. saat ini perkembangan pasar keuangan internasional telah memungkinkan terbukanya peluang untuk menampung rekening secret money. Pendahuluan he war against money launderer is not over . Management of Company Finance. Kalimat tersebut nampaknya bukan sekedar slogan kosong bagi Pemerintah Amerika Serikat dalam memberantas kegiatan money laundering. 6th Ed. Samuel. Contoh-contoh tersebut hanya menggambarkan situasi mikro dari satu konsekuensi bercampurnya “uang halal” yang secara resmi masuk dalam hitungan otoritas moneter dengan uang haram yang merupakan hasil kegiatan melawan hukum dalam bisnis keuangan internasional. London. Dua bank besar tersebut diharuskan membayar denda masingmasing USD 9. Kedua bank juga terbukti bersalah dan mengaku bertanggung jawab penuh bahwa karyawan-karyawan banknya telah melakukan money laundering atas hasil-hasil ilegal narkotik. 1.7 juta. Lantas kemanakah uangnya? Beberapa sebab dapat dikemukakan seperti statistical error atau (bukan mustahil) adanya secret money. Chapman & Hall. .

pengawasan melekat terhadap uang (dirty money) harus dipertahankan. _____________. Ketiga. Batasan dan Proses Kegiatan Money Laundering Tak ada batasan money laundering secara umum. Kedua. pemilik uang dan sumber sesungguhnya uang tersebut harus disembunyikan. International Monetary Fund (IMF) 2) berpendapat bahwa money laundering merupakan salah satu ancaman paling serius bagi masyarakat keuangan internasional khususnya dan sistem keuangan global pada umumnya. Keempat. Sebagai gambaran turn over kegiatan money laundering saat ini telah melampaui batas imaginasi. serta implikasinya bagi pelaku-pelaku transaksi-transaksi perbankan internasional seperti bankir. Bagian Ketiga. 2. jejak proses pencucian uang harus disamarkan dalam upaya menghilangkan jejak jika seseorang menelusuri proses uang dari awal hingga akhir. yakni 2-5% dari GDP dunia. Tujuan dari penulisan makalah ini antara lain memberikan gambaran yang menyeluruh berkaitan dengan kegiatan money laundering. . bentuk pengambilan uangnya harus diubah. batasan. namun demikian money laundering secara khusus dapat diartikan pencucian uang (laundering money from illicit proceeds). Pertama. Dengan memiliki pemahaman yang cukup memadai. mengupas beberapa implikasi yang sifatnya represif dan antisipatif terhadap kegiatan money laundering dan Bagian Keempat berisi Kesimpulan akhir. Dalam textbook. Annual Report. bagian kedua tulisan ini akan memaparkan batasan. proses kegiatan dan pelanggaran money laundering. Batasan. regulator atau lembaga lain yang berwenang (bank sentral) serta pelaku-pelaku pasar finansial lainnya. yakni sebagai suatu proses dimana para kriminal berupaya untuk menyembunyikan sumber dan kepemilikan hasil-hasil aktivitas kriminal yang melawan hukum. 1997. II. yang besarnya mencapai 300 – 400 milyar USD. ada empat faktor yang umum terdapat dalam kegiatan money laundering. Secara rinci. maka diharapkan dapat diupayakan langkah-langkah efektif untuk mencegah terjadinya money laundering maupun langkah-langkah represif seandainya money laundering terjadi dengan tetap mengacu pada Undang-undang ataupun regulasi yang berlaku secara internasional. Teknik dan Regulasi dalam Kegiatan Money Laundering A.Kajian Awal Tentang Money Laundering serta Implikasinya dalam Pasar Keuangan Internasional 119 Berkaitan dengan permasalahan tersebut. Angka ini secara ekstrim dapat diartikan bahwa bisnis money laundering merupakan bisnis terbesar ketiga di dunia setelah forex market dan bisnis minyak dunia. The Finacial Action Task Force on Money Laundering . trend dan teknik umum yang digunakan.

120 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Maret 1999 .

kegiatan money laundering biasanya terdiri atas 3 proses yang berkelanjutan yakni: 1. stocks. Proses yang terjadi adalah apabila hasil-hasil ilegal dari money laundering masuk kembali ke dalam sistem keuangan dan muncul sebagai dana-dana bisnis yang wajar/ normal. Cara tradisional dalam money laundering adalah dengan cara menyelundupkan secara fisik uang tunai hasil transaksi ilegal ke luar negeri (perbatasan nasional suatu negara). ____________. lawyers maupun akuntan pribadi. 3. Penggerebekan yang terjadi di London pada contoh 3. teknik-teknik yang dilakukan dalam pencucian uang dapat dikategorikan dalam 2 cara umum yakni: 1. Teknik-Teknik Money Laundering Berdasarkan survey yang dilakukan oleh The FATF 4) (The Financial Action Task Force) sepanjang tahun 1996-1997. 1998) 3). Annual Report. Langkah lain yang sering dilakukan adalah menciptakan sebanyak mungkin account dari perusahaan fiktif/semu dengan memanfaatkan aspek kerahasian bank dan keistimewaan hubungan antara nasabah bank dan pengacara. B. Cara tradisional. Robinson. Langkah ini disebut juga sebagai immersion yang merupakan gabungan dari consolidation dan placement (Robinson. Proses Pencucian Uang. forex market. penipuan/ penggelapan (fraud) serta hasil-hasil korupsi. senjata gelap. Secara ringkas. J. The Financial Action Task Force on Money Laundering . London 4. 1998. Jeffrey. . Cara lain yang juga relatif konvensional adalah menggunakan pedagang valuta asing.Kajian Awal Tentang Money Laundering serta Implikasinya dalam Pasar Keuangan Internasional 121 Secara kronologis. Placement (Penempatan Dana) Penempatan dana merupakan proses awal dalam money laundering yang ditandai dengan penyerahan secara fisik uang yang dihasilkan dari aktivitas melawan hukum seperti perdagangan narkotika. Hal ini dilakukan dalam upaya untuk menghilangkan jejak atau upaya audit sehingga seolah-olah merupakan transaksi finansial yang legal. 1997. Layering (Pemilahan Dana) Layering atau heavy soaping merupakan langkah kedua dalam money laundering yang ditandai dengan pemilahan hasil-hasil ilegal tersebut dari sumber-sumber asalnya melalui pembelian/transaksi-transaksi finansial seperti bearer bonds. Pocket Books. proses pencucian yang dapat dilihat pada Gambar 2. 2. Laundrymen. Spin Dry (Repatriation and Integration) Spin dry merupakan gabungan dari langkah repatriasi dan integrasi. obat-obatan terlarang.

Maret 1999 .122 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.

selanjutnya BCCI dinyatakan ditutup. dalam perjalanannya asset bank tumbuh dengan cepat hingga mencapai USD 20 milyar dan mempunyai cabang di 70 negara. Meskipun kantor pusat BCCI di London. lawyer. Pada tahun 1987. Namun sayangnya bank tersebut mengirimkan dananya ke rekening rahasia di Cayman Islands. Tidaklah mengejutkan bila BCCI diplesetkan artinya menjadi “Bank of Crook and Criminals. Namun demikian. Berkembangnya teknologi baru dibidang perbankan antara lain elektronic money (e– money) telah memberikan ancaman baru dalam teknik money laundering yang lebih canggih. ciri-ciri yang sering dilakukan oleh money launderer antara lain menggunakan institusi yang terkait (perbankan) serta Pedagang Valuta Asing (PVA). Bank yang didirikan di Luxembourg tahun 1972 oleh pengusaha Pakistan (Agha Hasan Abedi). Inc”. dimana tempat tersebut banyak uang hasil curian. aplikasi ke tiga cara ini dalam sistem pembayaran masih relatif belum termanfaatkan. Bank sebagai money launderer Salah satu contoh yang sangat berharga berkaitan dengan kasus money laundering adalah skandal yang dilakukan oleh The Bank of Credit and Commerce International (BCCI) pada tahun 1991. Manuel Noriega (Panama) dan Ferdinand Marcos (Philipina) dalam mencuri uang dari negaranya. Penggelapan uang tersebut tidak hanya menjadi kegiatan bayangan BCCI. tetapi masih belum dapat menelusuri aktivitas bank tersebut. internet/ network based systems dan hybrid systems. Hal yang sulit untuk dilacak justru hasil-hasil ilegal yang ditransfer melalui International Electronic Fund Transfer.1. 2. namun BCCI diperkirakan juga membantu diktator seperti Sadam Hussein (Irak). Tiga cara yang mungkin dilakukan adalah melalui : Stored value cards.Kajian Awal Tentang Money Laundering serta Implikasinya dalam Pasar Keuangan Internasional 123 kasus di atas jelas menunjukkan kecurangan seorang pengacara/akuntan dalam menyembunyikan hasil-hasil kejahatan seperti money laundering. namun lemahnya peraturan bank oleh Institut Monetaire Luxembourgeois (IML) di Luxembourg. Diperkirakan hampir setengah assets bank telah hilang (disappeared). serta bertindak sebagai bankir dari kelompok Abu Nidal. 2. serta accountant. Berdasarkan pengalaman di Inggris. IML mencapai persetujuan dengan tujuh negara dimana BCCI beroperasi. Kerugian deposan . mengakibatkan BCCI beroperasi bebas dari peraturan pemerintah selama 15 tahun. Cara-cara Modern. Bagaimana BCCI menjalankan aktivitas penggelapan dalam waktu yang cukup lama? Jawabannya adalah sulitnya mengatur bank yang beroperasi di banyak negara. Pada musim semi tahun 1990 IML dapat menemukan beberapa bukti penggelapan dan pada Juli 1991 perusahaan akuntan Price Waterhouse menemukan dokumen serta menyerahkan pada Bank of England.

Pasar finansial London yang terkenal dengan kemajuan dan transparannya sangat memberi peluang untuk memuluskan tahapan-tahapan kegiatan money laundering.2 Payable through account Salah satu cara yang juga tergolong cukup modern dan sering digunakan oleh money launderers adalah payable through account (lihat Gambar 3). Mengapa demikian. Setahun setelah BCCI colapse. Dalam rangka merespon hal-hal tersebut di atas. Rezim yang dapat dijadikan contoh untuk pencegahan kegiatan money laundering adalah Inggris. bank ataupun lembaga finansial lainnya merupakan lembagalembaga yang sangat rentan bagi kemungkinan penyusupan hasil-hasil transaksi ilegal (secret money). orang dan modal secara leluasa di seluruh Eropa. Berkaitan dengan upaya untuk mencegah dan memerangi kegiatan money laundering tersebut. Rentannya lembaga-lembaga tersebut dari kegiatan money laundering dimungkinkan baik dalam proses placement. Melalui transaksi beberapa jenjang tersebut pada level terbawah yaitu pada level nasabah third bank tersebut para money launderers banyak melakukan aktivitasnya untuk memasukkan dananya ke dalam sistem jasa keuangan bank.124 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. the Basle Committee baru mengumumkan dan menyetujui standarisasi dari peraturan bank internasional. 2. Kondisi ini lebih membuka peluang setelah diperkenalkan Euro sebagai mata uang tunggal Eropa yang secara tidak langsung telah menurunkan kontrol dan hambatan-hambatan dalam rangka pasar tunggal Eropa. karena London sebagai salah satu pusat pasar keuangan terbesar dunia. Pada gambar tersebut diilustrasikan adanya pembelian US bonds yang pembayarannya dilakukan melalui account oleh client bank yang kemudian diperjual belikan pada level nasabah client bank tersebut (third bank) dan diteruskan pada level nasabah third bank. layering dan integrasi. jasa. yakni antara lain: 1. Maret 1999 dan pemegang saham dari colapse-nya BCCI sudah tak terhingga dan pengawas bank dalam hal ini Bank of England sulit disalahkan atas kelambanan menuntaskan skandal tersebut. perlu adanya aturan hukum yang mengikat secara internasional dan berkekuatan hukum yang tetap. apakah itu placement. C. khususnya untuk mobilitas barang-barang. merupakan target yang menarik bagi para pencuci uang. layering maupun integration. Regulasi Kegiatan Money Laundering Sebagaimana diketahui. Ketentuan Primer (Tier 1) 1) Drug Trafficking Offences Act 1986 (DTOA) 2) Criminal Justice Scotland Act 1987 (CJSA) . beberapa ketentuan perundangan telah disahkan oleh oleh Parlemen Inggris.

Kajian Awal Tentang Money Laundering serta Implikasinya dalam Pasar Keuangan Internasional 125 .

Ketentuan Sekunder (Tier 2) Ketentuan sekunder yang merupakan bentuk dari Money Laundering Regulation 1993 secara khusus ditujukan pada lembaga keuangan. Prosedur pelaporan antara lain mencakup laporan identifikasi orang dalam suatu organisasi. c) Uji/Pemeriksaan atas Transaksi. Setiap calon nasabah harus diidentifikasi dan diverifikasi bahwa yang bersangkutan memang memenuhi syarat sebagai applicant for business. f) Pendidikan dan Pelatihan. pendapat orang yang menanggulangi masalah tersebut dalam upaya meningkatkan pengetahuan terutama mengenai dasar kecurigaan terhadap orang yang melakukan money laundering. Prosedur pencegahan terhadap terjadinya money laundering yang umumnya digunakan pada lembaga. pencatatan yang berhubungan dengan pembukaan rekening nasabah baru (client) atau identitas counterparty dan pencatatan yang berhubungan dengan transaksi yang dilakukan oleh client atau counterparty. d) Pencatatan. (NIEPA) Criminal Justice Act 1993 (CJA93) 2. b) Identifikasi dan Verifikasi. yang sangat berpotensi dimanfaatkan pihak lain untuk money laundering. Sistem ini berupa peraturan yang meliputi prosedur internal control dan komunikasi tepat pada lembaga-lembaga keuangan yang bertujuan mencegah dan menghalangi terjadinya money laundering. apa jenis informasinya. Ketentuan ini menjamin pegawai dari waktu ke waktu diberikan kesempatan mengikuti pelatihan dalam upaya mengenali dan menguasai transaksi yang dilakukannya sendiri atau atas nama orang lain .126 3) 4) 5) 6) 7) 8) Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. pencatatan dapat dibagi dua yaitu. dan sejenisnya untuk membuat sistem untuk menghalangi terjadinya money laundering. kepada siapa informasi tersebut harus dibuat. Maret 1999 Criminal Justice Act 1988 (CJA88) Prevention of Terrorism (Temporary Provisions) Act 1989 (POTA) Criminal Justice (Int. Dalam kaitan ini.lembaga keuangan adalah sebagai berikut: a) Sistem Kontrol. masalahmasalah yang muncul dan pegawai yang menanggulanginya. Prosedur ini sangat dibutuhkan bagi seluruh personil perbankan dan lembaga terkait . Peraturan tersebut mensyaratkan bagi semua lembaga keuangan. Cooperation) Act 1990 (CJCA) Criminal Justice (Confiscation) ( Northern Ireland) Order CJO 1990 Northern Ireland Act 1991. e) Pelaporan.

Tindakan ini digolongkan sebagai pelanggaran bagi seseorang yang memberikan bantuan kepada money launderer untuk memperoleh. c) Menyembunyikan atau mentransfer penerimaan untuk menghindari tindakan pencegahan atau perintah penyitaan. dan green book untuk bisnis asuransi. seluruh atau sebagian penerimaan yang berasal dari kegiatan kriminal. Dibawah aturan CJA seseorang dianggap melakukan pelanggaran apabila menyembunyikan. menyamarkan. Ketentuan Tambahan (Tier 3) Ketentuan tambahan ini lebih merupakan petunjuk teknis yang diterbitkan oleh The Joint Money Laundering Steering Group (JMLSG) yang ditujukan bagi bank-bank dan lembaga keuangan lainnya. melakukan transfer atau menyembunyikan kekayaan dari pengadilan baik secara langsung maupun tidak langsung. mengubah. Buku ketentuan ini biasanya disebut sebagai the read book untuk perbankan. memiliki . terdapat 5 pelanggaran utama yang dapat dikategorikan sebagai tindakan money laundering. dan menggunakan hasil dari kegiatan kriminal. atau menginvestasikan dana jika dana yang bersangkutan diketahui atau dicurigai merupakan hasil penerimaan kriminal. b) Mengakuisisi . menyembunyikan. g) Tindakan hukum. asuransi dan lembaga investasi lainnya. Prosedur ini merupakan langkah terakhir yang harus dilakukan dan biasanya berupa investigasi oleh National Criminal Inteligent Service (NCIS). 4. dan secara langsung atau tidak langsung dia menguasai atau menggunakan atau memiliki kekayaan tersebut. yaitu: a) Membantu seseorang untuk menyimpan hasil-hasil kejahatan. CJA mensyaratkan siapapun sehubungan dengan transaksi yang dilakukan. profesi. atau pegawai yang mengetahui atau mencurigai orang lain melakukan money laundering .Kajian Awal Tentang Money Laundering serta Implikasinya dalam Pasar Keuangan Internasional 127 dalam upaya peningkatan kualitas pemahaman terhadap pekerjaan yang dijalani serta kontribusinya terhadap pengawasan internal. Pelanggaran Hukum dalam Money Laundering Berdasarkan perundangan di Inggris (Criminal Justice Act 1993/ CJA) tersebut di atas. Seseorang dianggap bersalah melakukan pelanggaran jika dia mengetahui sebagian atau keseluruhan kekayaan orang lain baik secara langsung atau tidak langsung berasal dari hasil kejahatan. bisnis. menguasai. 3. yellow book untuk bisnis investasi swasta. d) Menggagalkan usaha penyingkapan atau kecurigaan dari praktek money laundering.

practices and procedures in place. Dalam kaitan di atas. e) Tipping off (Peringatan). kegiatan money laundering memiliki dampak instabilitas pada sistem finansial dunia. that promote high ethical and professional standards in the financial sector and prevent the bank being used. Rekomendasi ini merupakan kunci utama dalam pemahaman konsep “know your customer” approach. . III. by criminal elements”. intentionally or unintentionally. FATF memberikan 40 rekomendasi langkah-langkah utama dalam memerangi kegiatan money laundering. Suatu pemaksaan terhadap keterbukaan konsumen atau pihak ketiga untuk menyampaikan informasi pada pihak yang berwenang bahwa telah terjadi praktek money laundering atau adanya rencana money laundering. Satu upaya upaya penting yang telah dilakukan oleh masyarakat internasional adalah dibentuknya FATF yang salah satu rekomendasinya menyatakan bahwa “countries should monitor the physical cross border transportation of cash and bearer instruments without impeding in any way the freedom at capital movement”. BIS melalui Basle Committee pada bulan September 1997 juga menetapkan prinsip utama dalam supervisi perbankan yang efektif yang berbunyi “ Banking supervisor must determine that banks have adequate policies. yang secara pokok dapat dijabarkan sebagai berikut: a) b) Introduksi sistem SAR (suspicious activity reporting system) yang baru. Implikasi tersebut menuntut adanya suatu langkah kerjasama preventif dan represif yang berskala internasional terhadap kegiatan money laundering. CJA hanya mentolerir kesalahan atas kecurigaan yang dilaporkan dengan alasan yang dapat diterima. Faktor instabilitas tersebut tidak hanya bersumber dari turn over yang sangat besar (300 – 400 milyar USD per tahun). Hal ini berarti bahwa seseorang dianggap melanggar hukum apabila tidak melaporkan kepada pihak berwenang apabila mengetahui adanya praktek money laundering. Modifikasi sistem pelaporan transaksi mata uang (CTR= Currency Transaction Reporting System). Beberapa Upaya Represif dan Antisipatif terhadap Kegiatan Money Laundering Sebagaimana diuraikan di atas. Maret 1999 harus melaporkan informasi tersebut pada polisi sesegera mungkin. including strict “know your customer” rules. Kondisi ini memberikan suatu implikasi yang sangat luas dan kompleks dalam upaya menciptakan kestabilan masyarakat global di pasar finansial. namun juga berasal dari perkembangan teknologi seperti EFT (cyber payment) yang memungkinkan pembayaran transfer berlangsung dengan mobilitas yang tinggi dengan mengoptimalkan jaringan perbankan internasional sebagai lembaga intermediasi. Sejalan dengan hal tersebut.128 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.

jaminan hukum yang dilaporkan. Dealers and sales staff. 5 kelompok yang diharuskan mengikutinya adalah: 1. dan laporan transaksi yang mencurigakan. kebijaksanaan perusahaan terhadap adanya kasus-kasus pengecualian. mengenali secara baik proses settlement/payment/delivery instructions yang diluar batas kewajaran. pencatatan. Pegawai baru (New employees). dan jaminan perorangan menurut ketentuan yang berlaku. . pengenalan terhadap faktor-faktor yang mencurigakan.Kajian Awal Tentang Money Laundering serta Implikasinya dalam Pasar Keuangan Internasional 129 c) d) e) f) g) h) Perluasan daftar tindakan pelanggaran money laundering dalam memberantas terorisme. Memperluas upaya pelaksanaan hukum dan pengaturan hukum dalam memerangi kegiatan money laundering. pelaporan kondisi yang terjadi. Pendalaman materi pelatihan terhadap kelompok staf ini meliputi seluruh aspek perundangan-undangan. peraturan dan prosedur internal. sistem pelaporan. Peningkatan kerjasama antar negara dan perwakilan industri keuangan global dalam upaya melawan kegiatan money laundering melalui penetapan kelompok kerja. pengecekan akan kecocokan identitas investor). lebih ditekankan pada detail mengenai ketentuan perundang-undangan yang berlaku meliputi identifikasi. 2. Penetapan aturan baru dalam pencatatan transfer-transfer dana (system at determine internal control. policies and prosedures). 5. pelanggaran migrasi dan kesehatan. 3. Pelatihan terhadap dealer/staf lainnya seharusnya juga mencakup tanggung jawab secara hukum. Pelatihan terhadap manajer yang memberikan instruksi. Pelatihan terhadap pegawai baru sebaiknya mencakup latar belakang terjadinya money laundering. validasi. pelaporan prosedur serta tindakan pinalti. staf pelaksana harus menerima pelatihan khusus money laundering. Reporting Officers. 4. Implementasi proyek Gateway yang menyediakan data-data inteligen keuangan secara on line antar negara dan pemerintah-pemerintah daerah. Supervisors/ Manager. Pelatihan terhadap petugas front office harus meliputi prosedur-prosedur identifikasi dan verifikasi ( sebagai contoh. dealing dengan customer yang jarang dilakukan (antara lain transaksi kas dalam jumlah besar/ bearer securities). Account Opening staff. Staff Training : dalam rangka mengenali dengan baik dan menangani transaksi-transaksi yang mencurigakan.

Penutup Dari pokok-pokok rekomendasi yang diberikan oleh FATF di atas. Maret 1999 IV. lembaga perbankan seringkali dipergunakan sebagai intermediasi oleh pelaku tindakan kriminal yang tidak mustahil juga dibantu oleh adanya moral hazard oleh karyawan bank sendiri (contoh kasus BCCI. Secara taktis. Sebagaimana kita ketahui. Dalam konteks ini maka pendekatan “know your customer rule” menjadi acuan yang sangat mendasar dalam menggali informasi calon nasabah bank. Perbedaan visi dan persepsi ini tentunya akan berimplikasi pada kelompok-kelompok kerja yang dibentuk oleh FATF. dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut: 1. 4. tindakan yang paling efektif dalam menangkal kegiatan money laundering pada lembaga perbankan adalah mendeteksi sedini mungkin aktivitas kriminal tersebut pada titik paling crucial yakni pada saat hasil-hasil ilegal tersebut masuk ke dalam sistem perbankan/keuangan (placement process). Berkaitan dengan butir (1). adalah bahwa kualitas supervisi terhadap transaksi finansial oleh bank khususnya harus senantiasa ditingkatkan.130 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Dengan semakin berkembangnya kegiatan/transaksi-transaksi illegal internasional. CTR maupun Gateway Intelligence System. 3. ataupun tidak diakuinya transaksi keuangan yang terjadi di negara tersebut secara internasional (default). Peningkatan tersebut dapat diupayakan dalam bentuk investigasi khusus terhadap asal modal disetor. asal dana-dana pihak ketiga yang diterima. . khususnya bagi lembaga pengawas perbankan ataupun lembaga keuangan lainnya. Hal ini berarti. maka upaya pemberantasan terhadap kegiatan money laundering merupakan real test case bagi masyarakat dan sistem keuangan internasional. para anggota kelompok kerja FATF ataupun masyarakat keuangan internasional sudah selayaknya menerapkan aturan-aturan standar minimum dalam upaya memerangi kegiatan money laundering misalnya keseragaman penggunaan sistem SAR. bahwa setiap negara memiliki prioritas yang berbeda-beda khususnya dalam menghadapi kegiatan/praktek money laundering. Konsekwensi lain. Hal ini sangat penting mengingat dalam banyak kasus money laundering. dan transaksi finansial yang dilakukan khususnya transaksitransaksi off balance sheet. Mengapa demikian? Karena anti money laundering measures membutuhkan kerjasama internasional yang harus kondusif baik bersifat multilateral maupun bilateral (antar dua negara). maka kecil kemungkinan 2. 1991). bahwa apabila terdapat negara-negara yang tidak mematuhi kesepakatan bersama tersebut akan mendapatkan pinalti yang dapat berupa punitive taxes atas transaksi-transaksi yang terbukti berkaitan dengan money laundering di pasar finansial di negara yang bersangkutan. Jika langkah preventif ini diterapkan secara universal terhadap semua lembaga keuangan/ jaringan perbankan internasional.

The Financial Action Task Force on Money Laundering. et al. 8) Robinson. Guide to Financial Services Regulation. Illinois. Richard.1996. Legal Analysis. Barry. Butterworths. July – August. USA. Sebaliknya bila langkah tersebut tidak berhasil. 3) Hayaes. Paris (Feb 10).1995. CCH Inc. Pocket Books. 6) Reuters News. Money Laundering: The Importance of International Countermeasures. Michael .Kajian Awal Tentang Money Laundering serta Implikasinya dalam Pasar Keuangan Internasional 131 money launderer akan mampu menembusnya.1995. 4) Morris. London.1998.1998.1996. Andrew. 3rd Edition. pp 350. International Guide to Money Laundering and Practice. pp 52-53. 7) Richard. Allan. Jeffrey. baik melalui International offshore Banking Centre (IOBS) yang memiliki insentif pembebasan pajak dan longgarnya peraturan ataupun memanfaatkan negara-negara/ lokasi yang relatif tidak/ belum terjangkau oleh hukum internasional. . 1997. Pp 29-31. Payable Through Accounts and Money Laundering. 1998 (Feb). 5) Parlour. 2) Camdesus. Bancomer and Banca serfin Plead Guilty to Money Laundering. maka money launderer akan selalu mencari titik terlemah dari sistem jaringan keuangan internasional. Money Laundering: Butterworths. Laundrymen. Journal of International Banking and Financial Law. Annual Report. Money Laundering: The Sky’s the Limit. Jeffrey. Daftar Pustaka 1) Abrahamson.1999 (March 31).1998. 10) _________. 9) The Banker. Money Laundering: The Regim in the United Kingdom.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful