Krisis Moneter Indonesia : Sebab, Dampak, Peran IMF dan Saran

1

KRISIS MONETER INDONESIA : SEBAB, DAMPAK, PERAN IMF DAN SARAN* )
Lepi T. Tarmidi
**)

K

risis moneter yang melanda Indonesia sejak awal Juli 1997, sementara ini telah berlangsung hampir dua tahun dan telah berubah menjadi krisis ekonomi, yakni lumpuhnya kegiatan ekonomi karena semakin banyak perusahaan yang tutup dan meningkatnya jumlah pekerja yang menganggur. Memang krisis ini tidak seluruhnya disebabkan karena terjadinya krisis moneter saja, karena sebagian diperberat oleh berbagai musibah nasional yang datang secara bertubi-tubi di tengah kesulitan ekonomi seperti kegagalan panen padi di banyak tempat karena musim kering yang panjang dan terparah selama 50 tahun terakhir, hama, kebakaran hutan secara besar-besaran di Kalimantan dan peristiwa kerusuhan yang melanda banyak kota pada pertengahan Mei 1998 lalu dan kelanjutannya. Krisis moneter ini terjadi, meskipun fundamental ekonomi Indonesia di masa lalu dipandang cukup kuat dan disanjung-sanjung oleh Bank Dunia (lihat World Bank: Bab 2 dan Hollinger). Yang dimaksud dengan fundamental ekonomi yang kuat adalah pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi, laju inflasi terkendali, tingkat pengangguran relatif rendah, neraca pembayaran secara keseluruhan masih surplus meskipun defisit neraca berjalan cenderung membesar namun jumlahnya masih terkendali, cadangan devisa masih cukup besar, realisasi anggaran pemerintah masih menunjukkan sedikit surplus. Lihat Tabel. Namun di balik ini terdapat beberapa kelemahan struktural seperti peraturan perdagangan domestik yang kaku dan berlarut-larut, monopoli impor yang menyebabkan kegiatan ekonomi tidak efisien dan kompetitif. Pada saat yang bersamaan kurangnya transparansi dan kurangnya data menimbulkan ketidak pastian sehingga masuk dana luar negeri dalam jumlah besar melalui sistim perbankan yang lemah. Sektor swasta banyak meminjam dana dari luar negeri yang sebagian besar tidak di hedge. Dengan terjadinya krisis moneter, terjadi juga krisis kepercayaan. (Bandingkan juga IMF, 1997: 1). Namun semua kelemahan ini masih mampu ditampung oleh perekonomian nasional. Yang terjadi adalah, mendadak datang badai yang sangat besar, yang tidak mampu dbendung oleh tembok penahan yang ada, yang selama bertahun-tahun telah mampu menahan berbagai terpaan gelombang yang datang mengancam.

*) Tulisan ini merupakan revisi dan updating dari pidato pengukuhan Guru Besar Madya pada FEUI dengan judul “Krisis Moneter Tahun 1997/1998 dan Peran IMF” , Jakarta, 10 Juni 1998. **) Lepi T. Tarmidi : Wakil Kepala Pusat Kajian APEC, Universitas Indonesia, email : lepi@lpem.feui.org

2

INDIKATOR UTAMA EKONOMI INDONESIA 1990 - 1997
1990 Pertumbuhan ekonomi (%) Tingkat inflasi (%) Neraca pembayaran (US$ juta) Neraca perdagangan Neraca berjalan Neraca modal Pemerintah (neto) Swasta (neto) PMA (neto) Cadangan devisa akhir tahun (US$ juta) (bulan impor nonmigas c&f) Debt-service ratio (%) Nilai tukar Des. (Rp/US$) APBN* (Rp. milyar) 8,661 4,7 30,9 1,901 3,203 9,868 4,8 32,0 1,992 433 11,611 5,4 31,6 2,062 -551 12,352 5,4 33,8 2.11 -1.852 13,158 5,0 30,0 2.2 1,495 14,674 4,3 33,7 2,308 2,807 19,125 5,2 33,0 2,383 818 4.65 456 17,427 4,5 7,24 9,93 2,099 5,352 -3.24 4,746 633 3,021 1,092 1991 6,95 9,93 1,207 4,801 -4,392 5,829 1,419 2,928 1,482 1992 6,46 5,04 1,743 7,022 -3,122 18,111 12,752 3,582 1,777 1993 6,50 10,18 741 8,231 -2,298 17,972 12,753 3,216 2,003 1994 7,54 9,66 806 7,901 -2.96 4,008 307 1,593 2,108 1995 8,22 8,96 1,516 6,533 -6.76 10,589 336 5,907 4,346 1996 7,98 6,63 4,451 5,948 -7,801 10,989 -522 5,317 6,194 1997 4,65 11,60 -10,021 12,964 -2,103 -4,845 4,102 -10.78 1,833

Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan, Maret 1999

* Tahun anggaran Sumber : BPS, Indikator Ekonomi; Bank Indonesia, Statistik Ekonomi Keuangan Indonesia; World Bank, Indonesia in Crisis, July 2, 1998

Krisis Moneter Indonesia : Sebab, Dampak, Peran IMF dan Saran

3

Sebagai konsekuensi dari krisis moneter ini, Bank Indonesia pada tanggal 14 Agustus 1997 terpaksa membebaskan nilai tukar rupiah terhadap valuta asing, khususnya dollar AS, dan membiarkannya berfluktuasi secara bebas (free floating) menggantikan sistim managed floating yang dianut pemerintah sejak devaluasi Oktober 1978. Dengan demikian Bank Indonesia tidak lagi melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk menopang nilai tukar rupiah, sehingga nilai tukar ditentukan oleh kekuatan pasar semata. Nilai tukar rupiah kemudian merosot dengan cepat dan tajam dari rata-rata Rp 2.450 per dollar AS Juni 1997 menjadi Rp 13.513 akhir Januari 1998, namun kemudian berhasil menguat kembali menjadi sekitar Rp 8.000 awal Mei 1999.

Krisis Moneter dan Faktor-Faktor Penyebabnya
Penyebab dari krisis ini bukanlah fundamental ekonomi Indonesia yang selama ini lemah, hal ini dapat dilihat dari data-data statistik di atas, tetapi terutama karena utang swasta luar negeri yang telah mencapai jumlah yang besar. Yang jebol bukanlah sektor rupiah dalam negeri, melainkan sektor luar negeri, khususnya nilai tukar dollar AS yang mengalami overshooting yang sangat jauh dari nilai nyatanya1 . Krisis yang berkepanjangan ini adalah krisis merosotnya nilai tukar rupiah yang sangat tajam, akibat dari serbuan yang mendadak dan secara bertubi-tubi terhadap dollar AS (spekulasi) dan jatuh temponya utang swasta luar negeri dalam jumlah besar. Seandainya tidak ada serbuan terhadap dollar AS ini, meskipun terdapat banyak distorsi pada tingkat ekonomi mikro, ekonomi Indonesia tidak akan mengalami krisis. Dengan lain perkataan, walaupun distorsi pada tingkat ekonomi mikro ini diperbaiki, tetapi bila tetap ada gempuran terhadap mata uang rupiah, maka krisis akan terjadi juga, karena cadangan devisa yang ada tidak cukup kuat untuk menahan gempuran ini. Krisis ini diperparah lagi dengan akumulasi dari berbagai faktor penyebab lainnya yang datangnya saling bersusulan. Analisis dari faktor-faktor penyebab ini penting, karena penyembuhannya tentunya tergantung dari ketepatan diagnosa. Anwar Nasution melihat besarnya defisit neraca berjalan dan utang luar negeri, ditambah dengan lemahnya sistim perbankan nasional sebagai akar dari terjadinya krisis finansial (Nasution: 28). Bank Dunia melihat adanya empat sebab utama yang bersamasama membuat krisis menuju ke arah kebangkrutan (World Bank, 1998, pp. 1.7 -1.11). Yang pertama adalah akumulasi utang swasta luar negeri yang cepat dari tahun 1992 hingga Juli 1997, sehingga l.k. 95% dari total kenaikan utang luar negeri berasal dari sektor swasta ini, dan jatuh tempo rata-ratanya hanyalah 18 bulan. Bahkan selama empat tahun terakhir utang luar negeri pemerintah jumlahnya menurun. Sebab yang kedua adalah kelemahan
1 Dalam teori, overshooting nilai tukar biasanya bersifat sementara untuk kemudian mencari keseimbangan jangka panjang baru. Tetapi selama krisis ini berlangsung, nilai overshooting adalah sangat besar dan sudah berlangsung sejak akhir tahun 1997.

Akibatnya harga barang impor menjadi relatif murah dan produk dalam negeri relatif mahal. Masyarakat bebas membuka rekening valas di dalam negeri atau di luar negeri. yang kemudian menjelma menjadi krisis kepercayaan dan keengganan donor untuk menawarkan bantuan finansial dengan cepat. meskipun ini bukan faktor satu-satunya. berkisar antara 2. memungkinkan arus modal dan valas dapat mengalir keluar-masuk secara bebas berapapun jumlahnya. sehingga masyarakat memilih barang impor yang kualitasnya lebih baik. Akibatnya produksi dalam negeri tidak berkembang. Sementara menurut penilaian penulis. Ditambah dengan kenaikan pendapatan penduduk dalam nilai US dollar yang naiknya relatif lebih cepat dari kenaikan pendapatan nyata dalam Rupiah. yang berada di bawah nilai tukar nyatanya.: 22). Valas bebas diperdagangkan di dalam negeri. Ada tiga pihak yang . Ketiga adalah masalah governance. ditambah sistim perbankan nasional yang lemah. karena Indonesia menganut rezim devisa bebas dengan rupiah yang konvertibel. 2) Tingkat depresiasi rupiah yang relatif rendah. sementara rupiah juga bebas diperdagangkan di pusat-pusat keuangan di luar negeri. bahkan sudah jauh melampaui utang resmi pemerintah yang beberapa tahun terakhir malah sedikit berkurang (oustanding official debt). penyebab utama dari terjadinya krisis yang berkepanjangan ini adalah merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS yang sangat tajam.4 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. 3) Akar dari segala permasalahan adalah utang luar negeri swasta jangka pendek dan menengah sehingga nilai tukar rupiah mendapat tekanan yang berat karena tidak tersedia cukup devisa untuk membayar utang yang jatuh tempo beserta bunganya (bandingkan juga Wessel et al. Akumulasi utang swasta luar negeri yang sejak awal tahun 1990-an telah mencapai jumlah yang sangat besar. Berikut ini diberikan rangkuman dari berbagai faktor tersebut menurut urutan kejadiannya: 1) Dianutnya sistim devisa yang terlalu bebas tanpa adanya pengawasan yang memadai. Yang keempat adalah ketidak pastian politik menghadapi Pemilu yang lalu dan pertanyaan mengenai kesehatan Presiden Soeharto pada waktu itu.8% (1991) antara tahun 1988 hingga 1996. Nilai rupiah yang sangat overvalued ini sangat rentan terhadap serangan dan permainan spekulan. sehingga membuka peluang yang sebesarbesarnya untuk orang bermain di pasar valas.4% (1993) hingga 5. tetapi ada banyak faktor lainnya yang berbeda menurut sisi pandang masing-masing pengamat. termasuk kemampuan pemerintah menangani dan mengatasi krisis. Nilai Rupiah yang overvalued berarti juga proteksi industri yang negatif. Maret 1999 pada sistim perbankan. dan produk dalam negeri yang makin lama makin kalah bersaing dengan produk impor. karena tidak mencerminkan nilai tukar yang nyata. menyebabkan nilai rupiah secara kumulatif sangat overvalued. Kondisi di atas dimungkinkan. ekspor menjadi kurang kompetitif dan impor meningkat.

dan tiap tahunnya ada pemasukan pinjaman baru. Misalnya pengusaha ramai-ramai mendiri-kan apotik. Bagi debitur dalam negeri. pinjaman luar negeri pemerintah sifatnya jangka panjang. Beda dengan pinjaman swasta. Sebagian orang Indonesia malah bisa hidup mewah dengan menikmati selisih biaya bunga antara dalam negeri dan luar negeri (Wessel et al. Peran IMF dan Saran 5 bersalah di sini. membangun realestat dan kondomium. jika kreditur luar negeri juga ikut menanggung sebagian dari kerugian yang diderita oleh debitur. Pada awal Mei 1998 besarnya utang luar negeri swasta dari 1. kreditur dan debitur. 3 Total pembayaran cicilan utang pokok dan bunga setelah dikurangi pinjaman baru. di mana pengusaha beramai-ramai melakukan investasi di bidang yang sama meskipun bidangnya sudah jenuh. di samping lebih menguntungkan. namun masih bisa diatasi dengan pinjaman baru dan pemasukan modal luar negeri dari sumber-sumber lain. Jadi di sini pemerintah dihadapi dengan buah simalakama. Kesalahan pemerintah adalah. .. sementara utang pemerintah US$ 53. Dampak. membuka tambak udang. tingkat bunganya relatif rendah. Dengan demikian pengusaha hanya bereaksi atas signal yang diberikan oleh pemerintah. kecuali yang berkaitan dengan proyek pemerintah dengan dibentuknya tim PKLN. Kalau masalahnya hanya menyangkut utang luar negeri pemerintah saja. Pihak kreditur luar negeri juga ikut bersalah. Keadaan ini menguntungkan pengusaha selama tidak terjadi devaluasi dan ini terjadi selama bertahun-tahun sehingga memberi rasa aman dan orang terus meminjam dari luar negeri dalam jumlah yang semakin besar. juga disebabkan suatu gejala yang dalam teori ekonomi dikenal sebagai fallacy of thinking2 . tingkat bunga di dalam negeri dibiarkan tinggi untuk menahan pelarian dana ke luar negeri dan agar masyarakat mau mendepositokan dananya dalam rupiah.800 perusahaan diperkirakan berkisar antara US$ 63 hingga US$ 64 milyar. Sebaliknya. 22).5 milyar. meskipun masalahnya juga cukup berat karena selama bertahun-tahun telah terjadi net capital outflow3 yang kian lama kian membesar berupa pembayaran cicilan utang pokok dan bunga. 1998: 5). karena kurang hati-hati dalam memberi pinjaman dan salah mengantisipasi keadaan (bandingkan IMF.Krisis Moneter Indonesia : Sebab. karena telah memberi signal yang salah kepada pelaku ekonomi dengan membuat nilai rupiah terus-menerus overvalued dan suku bunga rupiah yang tinggi. hal. terjadinya utang swasta luar negeri dalam jumlah besar ini. sehingga pinjaman dalam rupiah menjadi relatif mahal dan pinjaman dalam mata uang asing menjadi relatif murah. pemerintah. misalnya 2 Yang dimaksud di sini adalah perilaku pengusaha yang bertindak atas pertimbangan dirinya sendiri tanpa mengetahui apa yang dilakukan oleh pengusaha lainnya. Selain itu pemerintah sama sekali tidak melakukan pengawasan terhadap utang-utang swasta luar negeri ini. karena masing-masing pengusaha hanya melihat dirinya sendiri saja dan tidak memperhitungkan gerakan pengusaha lainnya. Sebagian besar dari pinjaman luar negeri swasta ini tidak di hedge (Nasution: 12). Jadi sudah sewajarnya. ada tenggang waktu pembayaran.

yakni disalurkan ke kegiatan grupnya sendiri dan untuk proyek-proyek pembangunan realestat dan kondomium secara berlebihan sehingga jauh melampaui daya beli masyarakat.6 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. yang memungkinkan dengan modal relatif kecil bermain dalam jumlah besar. Krugman melihat bahwa para financial intermediaries juga berperan di Thailand dan Korea Selatan dengan moral nekat mereka. banyak yang dikelola secara tidak prudent. hal. 1998. taman hiburan. 1). Mereka meminjamkan pada proyek-proyek berisiko tinggi sehingga terjadi investasi berlebihan di sektor tanah (Krugman. Mereka mulai mencari dollar AS untuk membayar utang jangka pendek dan membeli dollar AS untuk di hedge (World Bank. yang menjadi penyebab utama dari krisis di Asia Timur. 4. Namun pemicu adalah krisis moneter kiriman yang berawal dari Thailand antara Maret sampai Juni 1997. Para spekulan ini juga meminjam dari sistim perbankan untuk memperbesar pertaruhan mereka. Greenwood). 1. Dewasa ini mata uang sendiri sudah menjadi komoditi perdagangan. 4) Permainan yang dilakukan oleh spekulan asing (bandingkan juga Ehrke: 2-3) yang dikenal sebagai hedge funds tidak mungkin dapat dibendung dengan melepas cadangan devisa yang dimiliki Indonesia pada saat itu. Pinjaman-pinjaman luar negeri dalam jumlah relatif besar yang dilakukan oleh sistim perbankan sebagian disalurkan ke sektor investasi yang tidak menghasilkan devisa (non-traded goods) di bidang tanah seperti pembangunan hotel. IMF Research Department Staff: 10). kemudian macet dan uangnya tidak kembali (Nasution: 28.. yang diserang terlebih dahulu oleh spekulan dan kemudian menyebar ke negara Asia lainnya termasuk Indonesia (Nasution: 1. Sebagian dari mereka ini justru sekarang menderita kerugian. IMF Research . shopping malls dan realestat (Nasution: 9. taman industri. Pinjaman luar negeri dan dana masyarakat yang masuk ke sistim perbankan. Ehrke: 3). resort pariwisata. maka sedikit sekali pemasukan devisa yang bisa diandalkan untuk membayar kembali utang luar negeri. Itu sebabnya mengapa Bank Indonesia memutuskan untuk tidak intervensi di pasar valas karena tidak akan ada gunanya. Proyek-proyek besar ini umumnya tidak menghasilkan barang-barang ekspor dan mengandalkan pasar dalam negeri.4). karena mereka membeli rupiah dalam jumlah cukup besar ketika kurs masih di bawah Rp. karena praktek margin trading.000 per dollar AS dengan pengharapan ini adalah kurs tertinggi dan rupiah akan balik menguat. lepas dari sektor riil. Maret 1999 bank-bank. hal. dan pada saat itu mereka akan menukarkan kembali rupiah dengan dollar AS (Wessel et al. Ditambah lagi dengan kemerosotan nilai tukar rupiah yang tajam yang membuat utang dalam nilai rupiah membengkak dan menyulitkan pembayaran kembalinya. 1998. Meskipun pada awalnya spekulan asing ikut berperan. tetapi mereka tidak bisa disalahkan sepenuhnya atas pecahnya krisis moneter ini. Maka beban pembayaran utang luar negeri beserta bunganya menjadi tambah besar yang dibarengi oleh kinerja ekspor yang melemah (bandingkan IDE).

8) IMF tidak membantu sepenuh hati dan terus menunda pengucuran dana bantuan yang dijanjikannya dengan alasan pemerintah tidak melaksanakan 50 butir kesepakatan dengan baik. Terkesan tidak adanya kebijakan pemerintah yang jelas dan terperinci tentang bagaimana mengatasi krisis (Nasution: 1) dan keadaan ini masih berlangsung hingga saat ini. Dampak. 1998. 1998. yang disebabkan karena laju peningkatan impor barang dan jasa lebih besar dari ekspor dan melonjaknya pembayaran bunga pinjaman. Kesalahan juga terletak pada investor luar negeri yang kurang waspada dan meremehkan resiko (IMF. IDE). Singapura yang menjanjikan l. 1998: 5). Selisih tingkat suku bunga dalam negeri dengan luar negeri yang besar dan kemungkinan memperoleh keuntungan yang relatif besar dengan cara bermain di bursa efek. 1. padahal keadaan perekonomian Indonesia makin lama makin tambah terpuruk. ditopang oleh tingkat devaluasi yang relatif stabil sekitar 4% per tahun sejak 1986 menyebabkan banyak modal luar negeri yang mengalir masuk. 1. Krisis moneter yang terjadi sudah saling kait-mengkait di kawasan Asia Timur dan tidak bisa dipisahkan satu sama lainnya (butir 16 dari persetujuan IMF 15 Januari 1998). Ketidak mampuan pemerintah menangani krisis menimbulkan krisis kepercayaan dan mengurangi kesediaan investor asing untuk memberi bantuan finansial dengan cepat (World Bank. hal.4.10).k. 11). p. Sistim ini menyebabkan apresiasi nyata dari nilai tukar rupiah dan mengundang tindakan spekulasi ketika sistim batas intervensi ini dihapus pada tanggal 14 Agustus 1997 (Nasution: 2).Krisis Moneter Indonesia : Sebab. US$ 1 milyar baru akan mencairkan dananya sebagai yang terakhir setelah semua pihak lain yang berjanji akan . Greenwood). Negara-negara sahabat yang menjanjikan akan membantu Indonesia juga menunda mengucurkan bantuannya menunggu signal dari IMF. IMF. sementara Brunei Darussalam yang menjanjikan l. yang membuat harga barang-barang impor menjadi relatif murah dibandingkan dengan produk dalam negeri. Setelah nilai tukar Rupiah tambah melemah dan terjadi krisis kepercayaan. 2. 1998: 1. Peran IMF dan Saran 7 Department Staff: 10. 1998: 5). 5) Kebijakan fiskal dan moneter tidak konsisten dalam suatu sistim nilai tukar dengan pita batas intervensi. Krisis ini adalah krisis kepercayaan terhadap rupiah (World Bank.k. Sebab utama adalah nilai tukar rupiah yang sangat overvalued. 7) Penanam modal asing portfolio yang pada awalnya membeli saham besar-besaran dimingimingi keuntungan yang besar yang ditunjang oleh perkembangan moneter yang relatif stabil kemudian mulai menarik dananya keluar dalam jumlah besar (bandingkan World Bank. US$ 5 milyar meminta pembayaran bunga yang lebih tinggi dari pinjaman IMF. dana modal asing terus mengalir ke luar negeri meskipun dicoba ditahan dengan tingkat bunga yang tinggi atas surat-surat berharga Indonesia (Nasution: 1. 6) Defisit neraca berjalan yang semakin membesar (IMF Research Department Staff: 10.1).3.

Di lain pihak harus diakui bahwa sektor riil sudah lama menunggu pembenahan yang mendasar.4. Kerusahan besar-besaran pada pertengahan Mei yang lalu yang ditujukan terhadap etnis Cina telah menggoyahkan kepercayaan masyarakat ini akan keamanan harta. di mana serbuan terhadap dollar AS makin lama makin besar. Padahal mereka menguasai sebagian besar modal dan kegiatan ekonomi di Indonesia dengan akibat mereka membawa keluar harta kekayaan mereka dan untuk sementara tidak melaukan investasi baru. Para spekulan inipun tidak semata-mata menggunakan dananya sendiri. yang nilainya melemah terhadap dollar AS (lihat IDE). IMF sendiri dinilai banyak pihak telah gagal menerapkan program reformasinya di Indonesia dan malah telah mempertajam dan memperpanjang krisis. 1. Sejak awal Desember 1997 hingga awal Mei 1998 telah terjadi pelarian modal besar-besaran ke luar negeri karena ketidak stabilan politik seperti isu sakitnya Presiden dan Pemilu (World Bank. sehingga banyak perusahaan Jepang melakukan relokasi dan investasi dalam jumlah besar di negara-negara ini. Subsidi pangan oleh BULOG.Terjadi krisis kepercayaan dan kepanikan yang menyebabkan masyarakat luas menyerbu membeli dollar AS agar nilai kekayaan tidak merosot dan malah bisa menarik keuntungan dari merosotnya nilai tukar rupiah. namun kelemahan ini meskipun telah terakumulasi selama bertahun-tahun masih bisa ditampung oleh masyarakat dan tidak cukup kuat untuk menjungkir-balikkan perekonomian Indonesia seperti sekarang ini. 22). 11. 9. Memang terjadi dislokasi sumber-sumber ekonomi dan kegiatan mengejar rente ekonomi oleh perorangan/kelompok tertentu yang menguntungkan mereka ini dan merugikan rakyat banyak dan perusahaan-perusahaan yang efisien. Setelah Plaza-Accord tahun 1985. sudah sejak tahun lalu bersiap-siap menyelamatkan harta kekayaannya ke luar negeri mengantisipasi ketidak stabilan politik dalam negeri. Maret 1999 membantu telah mencairkan dananya dan telah habis terpakai. sehingga menimbulkan krisis keuangan. Terjadilah snowball effect. Spekulan domestik ikut bermain (Wessel et al. monopoli di berbagai bidang. Orang-orang kaya Indonesia. Terdapatnya keterkaitan yang erat dengan yen Jepang.8 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. karena mata uang negaranegara Asia ini dipatok dengan dollar AS. 1998: 1. Tahun 1995 kurs dollar AS berbalik menguat terhadap yen Jepang. baik pejabat pribumi dan etnis Cina. kurs dollar AS dan juga mata uang negara-negara Asia Timur melemah terhadap yen Jepang. hal. Timbulnya krisis berkaitan dengan . Daya saing negara-negara Asia Timur meningkat terhadap Jepang. (Ehrke: 2). jiwa dan martabat mereka. tetapi juga meminjam dana dari sistim perbankan untuk bermain. sementara nilai utang dari negara-negara ini dalam dollar AS meningkat karena meminjam dalam yen.10). penyaluran dana yang besar untuk proyek IPTN dan mobil nasional.. 10.

dan yang terakhir adalah review yang keempat. mengembalikan kepercayaan masyarakat dalam dan luar negeri terhadap kemampuan ekonomi Indonesia. 1997: 1). Peran IMF dan Saran 9 jatuhnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS secara tajam. menstabilkan nilai tukar rupiah pada tingkat yang nyata. 2.07 milyar yang bisa dimanfaatkan. yang menyebabkan nilai dollar AS melambung dan tidak terbendung. Sebab itu tindakan yang harus segera didahulukan untuk mengatasi krisis ekonomi ini adalah pemecahan masalah utang swasta luar negeri. Krisis pecah karena terdapat ketidak seimbangan antara kebutuhan akan valas dalam jangka pendek dengan jumlah devisa yang tersedia. tidak memecahkan permasalahan. Membenahi sektor riil saja. dan tidak kalah penting adalah mengembalikan stabilitas sosial dan politik. membenahi kinerja perbankan nasional. 4. Second Supplementary Memorandum of Economic and Financial Policies (MEFP) tanggal 24 Juni. krisis ekonomi yang berkepanjangan di Indonesia disebabkan karena pemerintah baru meminta bantuan IMF setelah rupiah sudah sangat terdepresiasi. tanggal 16 Maret 1999.Krisis Moneter Indonesia : Sebab. (IMF. Penyehatan sektor keuangan. dan sisanya akan dicairkan secara bertahap sesuai kemajuan dalam pelaksanaan program. Kebijakan moneter.04 milyar dicairkan segera. 3. IMF akan mengalokasikan stand-by credit sekitar US$ 11. Untuk menunjang program ini. Strategi pemulihan IMF dalam garis besarnya adalah mengembalikan kepercayaan pada mata uang. Bank Pembangunan Asia dan negaranegara sahabat juga menjanjikan pemberian bantuan yang nilai totalnya mencapai lebih . Kebijakan fiskal. Sementara itu pemerintah Indonesia telah enam kali memperbaharui persetujuannya dengan IMF. Dampak. Dari jumlah total pinjaman tersebut. Program Reformasi Ekonomi IMF Menurut IMF.3 milyar selama tiga hingga lima tahun masa program. Bank Dunia. yakni sektor ekonomi luar negeri. kemudian 29 Juli 1998. Di samping dana bantuan IMF. Sejumlah US$ 3. Program bantuan IMF pertama ditanda-tangani pada tanggal 31 Oktober 1997. (Fischer 1998b). yaitu dengan membuat mata uang itu sendiri menarik. meskipun kelemahan sektor riil dalam negeri mempunyai pengaruh terhadap melemahnya nilai tukar rupiah. Penyesuaian struktural. Indonesia sendiri mempunyai kuota di IMF sebesar US$ 2. dan kurang dipengaruhi oleh sektor riil dalam negeri. Inti dari setiap program pemulihan ekonomi adalah restrukturisasi sektor finansial. jumlah yang sama disediakan setelah 15 Maret 1998 bila program penyehatannya telah dijalankan sesuai persetujuan. Program reformasi ekonomi yang disarankan IMF ini mencakup empat bidang: 1.

memperkuat dan mempercepat restrukturisasi sistim perbankan. maka diadakanlah negosiasi ulang yang menghasilkan supplementary memorandum pada tanggal 10 April 1998 yang terdiri atas 20 butir. .Memperkuat aspek hukum dan pengawasan untuk perbankan C. Restrukturisasi sektor keuangan . Korea mendapat bantuan dana total sebesar US$ 57 milyar untuk jangka waktu tiga tahun. Sebagai perbandingan. di antaranya US$ 4 milyar dari IMF dan masing-masing US$ 0.Perdagangan luar negeri dan investasi .Deregulasi dan swastanisasi .10 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.5 milyar berasal dari Indonesia dan Korea.Lingkungan hidup.Program restrukturisasi bank . 2. Karena dalam beberapa hal program-program yang diprasyaratkan IMF oleh pihak Indonesia dirasakan berat dan tidak mungkin dilaksanakan.2 milyar. 3. menstabilkan rupiah pada tingkat yang sesuai dengan kekuatan ekonomi Indonesia. Cakupan memorandum ini lebih luas dari kedua persetujuan sebelumnya. yang mengandung 50 butir.Kebijakan fiskal . memperkuat implementasi reformasi struktural untuk membangun ekonomi yang efisien dan berdaya saing. Maret 1999 kurang US$ 37 milyar (menurut Hartcher dan Ryan). maka dilakukanlah negosiasi kedua yang menghasilkan persetujuan mengenai reformasi ekonomi (letter of intent) yang ditanda-tangani pada tanggal 15 Januari 1998. Jadwal pelaksanaan masing-masing program dirangkum dalam matriks komitmen kebijakan struktural. Namun bantuan dari pihak lain ini dikaitkan dengan kesungguhan pemerintah Indonesia melaksanakan program-program yang diprasyaratkan IMF. Saransaran IMF diharapkan akan mengembalikan kepercayaan masyarakat dengan cepat dan kurs nilai tukar rupiah bisa menjadi stabil (butir 17 persetujuan IMF 15 Januari 1998). Strategi yang akan dilaksanakan adalah: 1. Pokokpokok dari program IMF adalah sebagai berikut: A.Social safety net . Kebijakan makro-ekonomi . Setelah pelaksanaan reformasi kedua ini kembali menghadapi berbagai hambatan. dan aspek baru yang masuk adalah penyelesaian utang luar negeri perusahaan swasta Indonesia. Thailand hanya memperoleh dana bantuan total sebesar US$ 17. di antaranya sebesar US$ 21 milyar berasal dari IMF. Reformasi struktural . 7 appendix dan satu matriks.Kebijakan moneter dan nilai tukar B.

5. dan (2) program IMF terlalu banyak mencampuri kedaulatan negara yang dibantu (Fischer. Awal Mei 1998 telah dilakukan pencairan kedua sebesar US$ 989. tetapi untuk mendukung neraca pembayaran serta memberi rasa aman. 1. yang paling umum adalah bahwa: (1) program IMF terlalu seragam. meskipun surplus . Dampak.4 juta dan jumlah yang sama akan dicairkan lagi berturut-turut awal bulan Juni dan awal bulan Juli. Salah satu pemecahan standar IMF adalah menuntut adanya surplus dalam anggaran belanja negara. timbul kesan yang kuat bahwa IMF sesungguhnya tidak menguasai permasalahan dari timbulnya krisis. padahal masalah yang dihadapi tiap negara tidak seluruhnya sama. Peran IMF dan Saran 11 4. Setelah melihat program penyelematan IMF di ketiga negara tersebut. Ke tujuh appendix adalah masing-masing: Kebijakan moneter dan suku bunga Pembangunan sektor perbankan Bantuan anggaran pemerintah untuk golongan lemah Reformasi BUMN dan swastanisasi Reformasi struktural Restrukturisasi utang swasta Hukum Kebangkrutan dan reformasi yuridis. rasa tenteram. 3. Prioritas utama dari program IMF ini adalah restrukturisasi sektor perbankan. Korea dan Indonesia) telah gagal. Kritik Terhadap IMF Banyak kritik yang dilontarkan oleh berbagai pihak ke alamat IMF dalam hal menangani krisis moneter di Asia. 5. sehingga tidak bisa keluar dengan program penyelamatan yang tepat. 6 Mei 1998). 7. padahal dalam hal Indonesia anggaran belanja negara sampai dengan tahun anggaran 1996/1997 hampir selalu surplus. 1998b). kembalikan pembelanjaan perdagangan pada keadaan yang normal. 6. 2. menyusun kerangka untuk mengatasi masalah utang perusahaan swasta.Krisis Moneter Indonesia : Sebab. Pemerintah akan terus menjamin kelangsungan kredit murah bagi perusahaan kecilmenengah dan koperasi dengan tambahan dana dari anggaran pemerintah (butir 16 dan 20 dari Suplemen). Pencairan berikutnya sebesar US$ 1 milyar yang dijadwalkan awal bulan Juni baru akan terlaksana awal bulan September ini. Radelet dan Sachs secara gamblang mentakan bahwa bantuan IMF kepada tiga negara Asia (Thailand. 4. Sementara itu Menko Ekuin/ Kepala Bappenas menegaskan bahwa “Dana IMF dan sebagainya memang tidak kita gunakan untuk intervensi. dan rasa kepercayaan terhadap perekonomian bahwa kita memiliki cukup devisa untuk mengimpor dan memenuhi kewajiban-kewajiban luar negeri” (Kompas. bila pemerintah dengan konsekuen melaksanakan program IMF. sehingga ekspor bisa bangkit kembali.

Selama ini tidak ada pencetakan uang secara besar-besaran untuk menutup anggaran belanja negara yang defisit. (Kompas. J. Narvekar) sendiri juga dikutip sebagai mengatakan bahwa “IMF kerap menerapkan standar ganda dalam pengambilan keputusan. yaitu negara pengutang lazimnya harus mendapatkan restu pendanaan dari pemerintah AS. bagaimana caranya untuk meningkatkan penerimaan pemerintah dan mengurangi pengeluaran pemerintah untuk mencapai sasaran surplus anggaran sebesar 1% dari PDB dalam tahun fiskal 1998/99. Stiglitz. (Nasution: 27-28). Demikianpun halnya dengan Bank Dunia. dan tidak ada tingkat inflasi yang melebihi 10%. perwakilan IMF mewakili negara dan pemerintahan dengan kebijakan dan visi politik masing-masing. dan ini akan menunda cairnya bantuan dari sumber-sumber lain (Hartcher dan Ryan). sementara keputusan yang diambil harus mengacu pada fakta konkret ekonomi. Anwar Nasution mengkritik bahwa reformasi ekonomi yang disarankan IMF bentuknya masih samar-samar. namun kelemahan utama dari IMF adalah tidak ada program yang jelas untuk meningkatkan efisiensi dan menurunkan biaya produksi untuk mendorong ekspor non-migas. 2 Mei 1998). namun ini bukan disebabkan karena kebijakan deficit financing dari pemerintah. Di satu pihak IMF . bahwa di bidang kebijaksanaan makro IMF tidak memperlihatkan adanya konsistensi antarinstrumen kebijaksanaan. Karenanya. 13 Mei 1998). Di satu pihak.R. Sri Mulyani mengemukakan. (Kompas. Kabar terakhir menyebutkan bahwa pencairan bantuan tahap ketiga awal Juni ni akan tertunda lagi atas desakan pemerintah AS yang dikaitkan dengan perkembangan reformasi politik di Indonesia. pemimpin ekonom Bank Dunia.12 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Karena itu pemecahan utamanya adalah bagaimana mengembalikan nilai tukar rupiah ke tingkat yang wajar. Tidak ada penjelasan rinci. Adalah kebijakan dari Orde Baru untuk menjaga keseimbangan dalam anggaran belanja negara. mengkritik bahwa prakondisi IMF yang teramat ketat terhadap negara-negara Asia di tengah krisis yang berkepanjangan berpotensi menyebabkan resesi yang berkepanjangan. Harapan satu-satunya adalah peningkatan ekspor non-migas. Memang dalam anggaran belanja negara tahun 1998/1999 terdapat defisit anggaran yang besar. ada saja peluang bahwa tudingan atas pelanggaran hak asasi manusia di Indonesia yang makin marak belakangan ini. dan bagaimana ingin dicapai sasaran pertumbuhan ekonomi sebesar 3%. tetapi oleh karena nilai tukar rupiah yang terpuruk terhadap dollar AS. Semakin jatuh nilai tukar rupiah. semakin besar defisit yang terjadi dalam anggaran belanja. Maret 1999 ini ditutup oleh bantuan luar negeri resmi pemerintah. dan prinsip ini terus dipegang. menjadi hal yang disoroti Dewan Direktur IMF dalam pengambilan keputusannya pekan depan”. Penasehat khusus IMF untuk Indonesia (P. Kemudian berlakunya praktek apa yang dinamakan “konsensus Washington”. yang pada dasarnya hanya memperluas kesempatan ekonomi AS.

bahkan memperparah keadaan. juga ketidak sejalanan kebijaksanaan moneter dan fiskal” (Sri Mulyani: 72). yang menimbulkan krisis likuiditas perbankan nasional yang gawat. Hal ini juga diakui oleh IMF (butir 14. karena keharusan BI melakukan fungsi lender of last resort bagi perbankan nasional. yang bertentangan dengan tema pengetatan. IMF sedikit banyak mempunyai andil dalam perjuangan menggulirkan tuntutan reformasi politik. Kedua kebijaksanaan ini bisa memandulkan efektivitas kebijaksanaan makro. . menyulitkan pemulihan ekonomi Indonesia secara cepat. menghilangkan kepercayaan terhadap rupiah. Rencana IMF untuk mencairkan bantuannya secara bertahap dalam jarak waktu yang cukup jauh menunjukkan bahwa IMF menekan Indonesia untuk menjalankan programnya secara ketat dan membiarkan keadaan ekonomi Indonesia terus merosot menuju resesi yang berkepanjangan. sehingga memperparah keadaan dan masyarakat beramai-ramai memindahkan dananya dalam jumlah besar ke bank-bank asing dan pemerintah atau ditaruh di rumah. Masyarakat kehilangan kepercayaan kepada otoritas moneter. Bank Indonesia dan perbankan nasional. ditambah jarak yang cukup lama antara paket bantuan pertama dan kedua. “Secara makro ancaman kegagalan terbesar kesepakatan ketiga ini berasal dari kebijaksanaan moneter yang masih ambivalen. Dengan menahan pencairan bantuan tahap kedua dan setelah diundur. Pertanyaan mendasar yang harus ditujukan kepada IMF menurut penulis adalah sejauh mana IMF bersungguh-sungguh dalam hal membantu mengatasi krisis ekonomi yang sedang melanda Indonesia dewasa ini? Apakah sama seperti kesungguhan Amerika Serikat ketika membantu Meksiko bersama-sama dengan IMF dan negara-negara maju lainnya yang berhasil menggalang sebesar hampir US$ 48 milyar Januari 1995? Setelah mencapai titik terendah tahun 1995. (Sri Mulyani: 72).Krisis Moneter Indonesia : Sebab. karena cara pengelolaan bank yang amburadul dan tidak mengikuti peraturan. Karena badan internasional lain dan negara-negara sahabat yang menjanjikan bantuan juga menunggu signal dari IMF. terutama dalam rangka stabilitas nilai tukar dan inflasi. namun dampak psikologisnya dari tindakan ini tidak diperhitungkan. berhubung semua bantuan tambahan yang besarnya mencapai US$ 27 milyar dikaitkan dengan cairnya bantuan IMF. sedang di lain pihak menganut kebijaksanaan moneter yang kontraktif. Di lain pihak. perekonomian Meksiko dengan cepat pada tahun 1996 dapat bangkit kembali. hanya dicicil US$ 1 milyar dari jumlah US$ 3 milyar. Dampak. kita juga perlu berterima kasih kepada IMF karena dengan menunda mencairkan bantuannya. Peran IMF dan Saran 13 memberikan kelenturan dengan mengizinkan dipertahankannya subsidi dan menyediakan dana untuk menciptakan jaringan keselamatan sosial. Saran IMF menutup sejumlah bank yang bermasalah untuk menyehatkan sistim perbankan Indonesia pada dasarnya adalah tepat. 15 dan 24 dari persetujuan IMF tanggal 15 Januari 1998). ekonomi dan hukum di Indonesia yang pada akhirnya bermuara pada mundurnya Presiden Soeharto.

pembenahan sektor riil yang memang perlu dan sudah sangat mendesak. Bila semua kekuatan bantuan ini dikumpulkan sekaligus secara dini. IMF sendiri tampaknya tidak tahu apa yang harus dilakukannya dan berputarputar pada kebijakan surplus anggaran. Reformasi struktural sebagaimana yang dianjurkan oleh IMF memang mendasar dan penting. juga tidak ada Appendix untuk masalah ini. Sayangnya tidak ada program khusus yang secara langsung ditujukan untuk menguatkan kembali nilai tukar rupiah.14 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. butir 5. yang justru menjanjikan kepastian dan kestabilan nilai tukar pada tingkat yang wajar. 17. karena untuk beberapa tindakan memang ada tanda-tanda kekurang sungguhan di pihak Indonesia. di mana makin ditunda makin banyak . kalau mau. sementara pemecahan masalahnya sudah sangat mendesak. tetapi dampak hasilnya baru bisa dirasakan dalam jangka panjang. Dengan demikian timbulnya krisis kepercayaan yang berkepanjangan dapat dicegah. 21 dari persetujuan 15 Januari 1998. tingkat bunga tinggi. IMF bisa saja terlebih dahulu mengambil kebijakan memprioritaskan stabilisasi nilai tukar rupiah. Tidak adanya program dari IMF yang jelas dan berjangka pendek untuk mengembalikan nilai tukar rupiah ke tingkat yang wajar dan menstabilkannya membuat pemerintah cukup lama terombang-ambing antara memilih program IMF atau currency board system. Krisis ekonomi yang tengah berlangsung ini memang bukan tanggung-jawab IMF dan tidak bisa dipecahkan oleh IMF sendiri. uang ketat. dengan mencairkan dana bantuan yang relatif besar pada bulan November lalu. Namun kekurangan yang paling utama dari IMF adalah bahwa IMF dalam program bantuannya tidak mencari pemecahan terhadap masalah yang pokok dan sangat mendesak ini dan berputar-putar pada reformasi struktural yang dampaknya jangka panjang. dari waktu ke waktu mengadakan intervensi terbatas di pasar valas dengan petunjuk IMF (lihat butir 14. yang didukung oleh bantuan dana dari World Bank. Di lain pihak memang harus diakui bahwa tekanan ini perlu untuk memastikan kesungguhan Indonesia. Maret 1999 Saran IMF untuk menstabilkan nilai tukar adalah dengan menerapkan kebijakan uang ketat. Namun bantuan dana IMF dan ketergantungan harapan pada IMF ini di(salah)gunakan untuk menekan pemerintah Indonesia untuk melaksanakan reformasi struktural secara besar-besaran. tapi disuruh belajar berenang dahulu. Ibaratnya orang yang sudah hampir tenggelam diombang-ambing ombak laut tidak segera ditolong dengan dilempari pelampung. 7 dari Suplemen). maka hal ini dengan cepat akan memulihkan kembali kepercayaan masyarakat dalam negeri dan internasional. Asian Development Bank dan negara-negara sahabat. 16. dan titipan-titipan khusus dari negaranegara maju yaitu membuka peluang investasi yang seluas-luasnya bagi mereka dengan menggunakan kesempatan dalam kesempitan Indonesia. menaikkan suku bunga dan mengembalikan kepercayaan terhadap kebijakan ekonomi. IMF tidak memecahkan permasalahan yang utama dan yang paling mendesak secara langsung.

Yang menjadi pertanyaan di sini adalah. sehingga timbul teka-teki. utang luar negeri swasta dan nilai tukar rupiah yang merosot jauh dari nilai riilnya adalah masalah-masalah dasar jangka pendek. 1997. Banyak perusahaan yang mengandalkan pasaran dalam negeri tidak bisa menjual barang hasil produksinya karena perusahaan-perusahaan ini umumnya memiliki kandungan impor yang tinggi dan harga jualnya menjadi tidak terjangkau dengan semakin jatuhnya nilai tukar rupiah. anggaran dan moneter secara berarti. Subsidi listrik relatif lebih mudah untuk dihapuskan. karena IMF menganjurkan penghapusan subsidi secara bertahap dan tidak secara mendadak. Dalam suplemen program IMF April 1998 disebutkan bahwa subsidi masih bisa diberikan kepada beberapa jenis barang yang banyak dikonsumsi oleh penduduk berpenghasilan rendah seperti bahan makanan. bab 2. misalnya penagihan yang lebih efektif. 1996. (butir 10 dan 11 dari Suplemen). apakah IMF benar-benar tidak melihat inti permasalahannya atau berpura-pura tidak tahu? Atau IMF mengambil kesempatan dalam kesempitan untuk memaksakan perubahan-perubahan yang sudah lama menjadi duri di matanya dan bagi Bank Dunia serta mewakili kepentingan-kepentingan asing? Tampaknya di balik anjuran program pemulihan kegiatan ekonomi ada titipan-titipan politik dan ekonomi dari negara-negara besar tertentu. Di sini timbul keragu-raguan akan kemurnian kebijakan reformasi IMF. BBM dan listrik sudah diperhitungkan dan dinaikkan dalam anggaran pemerintah (butir 20 dari Suplemen). Juga saran IMF untuk menghapuskan subsidi BBM dan listrik yang kian membesar secara bertahap dalam jangka waktu tiga tahun sudah benar. Namun penurunan subsidi BBM dan listrik oleh pemerintah secara drastis dan mendadak pada tanggal 4 Mei 1998 yang lalu mempunyai dampak yang sangat luas terhadap perekonomian rakyat kecil. Dampak. Jadi. Subsidi untuk bahan pangan. Tindakan drastis ini sedikit-banyak telah membantu memicu terjadinya kerusuhan-kerusuhan sosial dan politik. Peran IMF dan Saran 15 perusahaan yang jatuh bergelimpangan. Baru pada tanggal 1 Oktober 1998 direncanakan subsidi akan diturunkan secara berarti.Krisis Moneter Indonesia : Sebab.World Bank. BBM dan listrik. meskipun kepentingan rakyat kecil sangat diperhatikan dengan adanya jaringan keselamatan sosial. menunggu keresahan masyarakat reda? Di sini pemerintah salah membaca isi dari kesepakatan dengan IMF. Program reformasi IMF secara mencurigakan mengulang kembali tuntutan-tuntutan deregulasi ekonomi yang sudah sejak bertahun-tahun didengungkan oleh Bank Dunia dan belum sepenuhnya dilaksanakan oleh pemerintah Indonesia (lihat World Bank. karena dalam jangka pendek proyek ini akan mengacaukan kebijakan pemerintah di bidang fiskal. yang lama tidak disinggung oleh IMF. Permintaan IMF untuk menghentikan dengan segera perlakuan pembebasan pajak dan kemudahan kredit untuk proyek mobil nasional dan IPTN adalah tepat. apakah pemerintah tidak bisa menunda kenaikan BBM dan listrik untuk beberapa bulan. bab 4 dan 5). Dalam situasi sekarang hampir tidak ada peluang untuk meningkatkan pajak. Membengkaknya subsidi ini disebabkan . yakni melalui subsidi silang sehingga masyarakat berpenghasilan rendah tetap dikenakan tarif listrik yang murah dan melalui peningkatan efisiensi.

bila pendapatan masyarakat dalam rupiah juga ikut naik dua atau tiga kali lipat sesuai dengan kenaikan nilai tukar dollar AS. Dalam kaitan ini perlu dipertanyakan. tetapi apa sumbangan dari keterbukaan ini terhadap restrukturisasi ekonomi dari program IMF. tetapi sebab utama karena merosotnya nilai tukar rupiah. dan liberalisasai perdagangan yang jauh lebih liberal dari komitmen resmi pemerintah di forum WTO. Tidak bisa biaya produksi dihitung atas dasar nilai tukar dengan dollar AS yang masih relatif tinggi lalu dibebankan kepada konsumen. AFTA dan APEC. tetapi apa salahnya bila pemerintah menyisakan bidang kegiatan untuk pengusaha Indonesia. sehingga nilai tukar valas naik sangat tinggi dan siapa yang menarik keuntungan dari krisis ini? Janganlah rakyat banyak diminta untuk berkorban mengatasi krisis ini atau membebankan di atas penderitaan rakyat dengan misalnya menaikkan harga BBM dan tarif listrik. Halnya akan lain. izin investasi di bidang perdagangan besar dan eceran.16 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. kecuali saham bank nasional yang go public. terutama yang bermodal kecil? Apa permintaan IMF ini tidak terlalu jauh? Kedengarannya seperti IMF menerima titipan pesan sponsor dari negara-negara besar yang ingin memaksakan kepentingannya dengan menggunakan kesempatan dalam kesempitan. kita harus melihat sebab-sebab lain di balik kenaikan biaya produksi. tagihan listrik dalam jumlah besar yang tidak dibayar. karena IMF sebagai lembaga yang disegani bisa banyak membantu memulihkan kepercayaan kreditor . dan apa sumbangannya terhadap pemasukan modal asing? Bukan masalah anti asing atau sentimen nasionalisme yang sempit. Keadaan ini tidak sebanding. siapa yang menjadi penyebab dari terjadinya krisis yang berkepanjangan ini. bank asing maupun penguasaan saham dari perusahaan-perusahaan yang telah go public. sementara pendapatan masyarakat adalah dalam rupiah yang tidak berubah sejak sebelum terjadinya krisis moneter. Masalahnya bukan sentimen nasionalisme. Jadi tindakan yang pokok adalah pertama mengembalikan dulu nilai rupiah ke tingkat yang wajar dan dari sini baru menghitung besarnya subsidi. Maret 1999 oleh beberapa faktor. Saran IMF lainnya yang disisipkan dalam persetujuan dan tidak ada kaitannya dengan program stabilisasi ekonomi dan moneter adalah desakannya untuk menyusun UndangUndang Lingkungan Hidup yang baru (butir 50 dari persetujuan IMF tanggal 15 Januari 1998). stabilisasi ekonomi dan moneter. (Bandingkan juga Sri Mulyani: 72-3). kalau tidak menurun dan banyaknya PHK. Ikut campurnya IMF dalam penyelesaian utang swasta adalah sangat baik. Di antara saran-saran IMF juga ada yang mengenai perluasan penyertaan modal asing dalam kegiatan ekonomi Indonesia yang terlalu jauh. Modal asing sudah diberi peluang yang cukup besar untuk investasi di Indonesia dengan diperbolehkannya kepemilikan hingga 100% baik untuk pendirian PMA. seperti orang asing yang tinggal di Indonesia misalnya. seperti kinerja yang kurang efisien. Meskipun demikian IMF masih meminta dihapuskannya larangan membuka cabang bagi bank asing.

kebalikannya arus masuk turis asing akan lebih besar. yang akan memperlancar dan mempercepat proses penyelesaian utang. daya saing produk dalam negeri dengan tingkat kandungan impor rendah meningkat sehingga bisa menahan impor dan merangsang ekspor khususnya yang berbasis pertanian. Dampak. dan negara-negara produsen lain juga mengalami depresiasi 4 Suatu inflasi dikatakan terjadi karena imported inflation bila harga barang-barang di negara pengekspornya naik. karena pembeli di luar negeri juga menekan harganya karena tahu petani dapat untung besar. utang luar negeri dalam rupiah melonjak. Meskipun penerimaan rupiah petani komoditi ekspor meningkat tajam. bahkan cenderung sedikit menurun pada sektor barang hasil industri. meskipun tidak kembali pada tingkat sebelum terjadinya krisis moneter. proteksi industri dalam negeri meningkat sejalan dengan merosotnya nilai tukar rupiah. tetapi penerimaan ekspor dalam valas umumnya tidak berubah. sementara bagi konsumen dalam negeri harga beras. tidak terjadi. Secara umum impor barang menurun tajam termasuk impor buah. kecuali sebagian sektor pertanian dan ekspor. Imbas dari kemerosotan nilai tukar rupiah yang tajam secara umum sudah kita ketahui: kesulitan menutup APBN. Masalah ini hanya bisa dipecahkan secara mendasar bila nilai tukar valas bisa diturunkan hingga tingkat yang wajar atau nyata (riil). PHK di mana-mana. tetapi lebih tepat jika dikatakan foreign exchange induced inflation. Dengan demikian roda perekonomian bisa berputar kembali dan harga-harga bisa turun dari tingkat yang tinggi dan terjangkau oleh masyarakat. harga telur/ayam naik. Dampak lain adalah laju inflasi yang tinggi selama beberapa bulan terakhir ini. gula. yang bukan disebabkan karena imported inflation4 . investasi menurun karena impor barang modal menjadi mahal. Peran IMF dan Saran 17 luar negeri. Dampak dari Krisis Dewasa ini semua permasalahan dalam krisis ekonomi berputar-putar sekitar kurs nilai tukar valas. padahal harga dari banyak barang naik cukup tinggi. bahkan dalam beberapa hal turun ditambah PHK. biaya sekolah di luar negeri melonjak. pengusaha domestik kapok meminjam dana dari luar negeri. dan ini tidak terjadi. Sayangnya ekspor yang secara teoretis seharusnya naik. kopi dan sebagainya ikut naik. khususnya dollar AS. . toko sepi. Hasilnya adalah perbaikan dalam neraca berjalan. yang melambung tinggi jika dihadapkan dengan pendapatan masyarakat dalam rupiah yang tetap. IMF bisa bertindak sebagai perantara yang netral dan dipercaya. Pada sisi lain merosotnya nilai tukar rupiah secara tajam juga membawa hikmah. Petani yang berbasis ekspor penghasilannya dalam rupiah mendadak melonjak drastis. harga BBM/tarif listrik naik. perjalanan ke luar negeri dan pengiriman anak sekolah ke luar negeri.Krisis Moneter Indonesia : Sebab. tarif angkutan naik. perusahaan tutup atau mengurangi produksinya karena tidak bisa menjual barangnya dan beban utang yang tinggi.

sehingga perlu dilancarkan program-program untuk menunjang mereka yang dikenal sebagai social safety net. yang menyebabkan terjadinya kesenjangan antara penghasilan yang berkurang karena PHK atau naik sedikit dengan pengeluaran yang meningkat tajam karena tingkat inflasi yang tinggi. Tapi sekali krisis berakhir dan ekonomi berbalik bangkit kembali (rebound). sehingga yang diperlukan adalah pulihnya kepercayaan dan masuknya modal baru.18 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. pulihnya kepercayaan investor dalam dan luar negeri. sehingga bila nilai tukar rupiah bisa dikembalikan ke nilai nyatanya maka biaya besar yang dibutuhkan untuk social safety net ini bisa dikurangi secara drastis. Prospek Ekonomi Indonesia Prospek ekonomi untuk beberapa tahun mendatang adalah kurang cerah dan akan ditandai oleh pertumbuhan ekonomi yang negatif. pertumbuhan GDP nyata Indonesia pada tahun 1998/9 diperkirakan akan negatif sebesar 16%. dan tingkat inflasi sekitar 66%. Keadaan ekonomi yang sangat parah ini diperkirakan pada bulan-bulan mendatang masih akan berlangsung terus. Berapa lama krisis ekonomi ini masih akan berlangsung. Maret 1999 dalam nilai tukar mata uangnya dan bisa menurunkan harga jual dalam nominasi valas. Saran-Saran Krisis moneter telah memberikan pelajaran yang sangat berharga untuk menentukan kebijakan di masa depan. mesin-mesin sudah ada. keamanan yang mantap. sulit untuk diramalkan karena tergantung pada banyak faktor. Hal yang serupa juga terjadi untuk ekspor barang manufaktur. maka perbaikan ini diperkirakan akan berlangsung relatif cepat.5 juta. Meningkatnya jumlah penduduk miskin tidak terlepas dari jatuhnya nilai tukar rupiah yang tajam. pabrik. karena krisis belum juga menyentuh dasar jurang. tenaga terlatih. pada Oktober 1998 ini jumlah keluarga miskin diperkirakan meningkat menjadi 7. Sebagai dampak dari krisis ekonomi yang berkepanjangan ini. Namun secara keseluruhan dampak negatifnya dari jatuhnya nilai tukar rupiah masih lebih besar dari dampak positifnya. Menurut perkiraan IMF pada bulan Maret 1999 lalu. Karena prasarana dasar untuk pembangunan sudah tersedia. menguatnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS pada tingkat yang wajar. hanya di sini ada kesulitan lain untuk meningkatkan ekspor. maka upaya yang paling utama dan mendesak bagi Indonesia . suasana politik dan sosial yang stabil. Faktor-faktor tersebut adalah bantuan IMF dan donor-donor lainnya yang segera. karena ada masalah dengan pembukaan L/C dan keadaan sosial-politik yang belum menentu sehingga pembeli di luar negeri mengalihkan pesanan barangnya ke negara lain.

perdagangan dan angkutan juga bisa hidup kembali. Setelah mendapat pengalaman dari krisis ini. 2. industrialisasi substitusi impor berlanjut. Para ekonom dari CSIS berpendapat bahwa langkah yang harus diambil untuk mengatasi kemelut ini adalah dengan menstabilkan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dalam tingkat yang wajar. Dengan demikian sumber utama krisis di masa lalu untuk masa mendatang sudah dapat dieliminir. pola makan makanan yang bahannya gandum). baik swasta maupun pemerintah. dan penyelesaian masalah utang swasta dengan penjadwalan ulang (Kompas. Inti dari pemecahan krisis moneter dalam jangka pendek haruslah ditujukan kepada pencegahan penumpukan pembayaran utang luar negeri.Krisis Moneter Indonesia : Sebab. dan menjaga stabilitas fiskal dan moneter selama masa transisi (World Bank. Ditambah dengan hilangnya insentif untuk meminjam dari luar negeri karena biaya pinjaman yang lebih rendah diimbangi dengan tingkat depresiasi yang lebih tinggi dan karena tidak adanya lagi intervensi kurs oleh BI. 9 April 1998). Dunia perbankan nasional juga telah diajarkan dari manfaat jangka panjang untuk bertindak prudent. dan meningkatkan ekspor. Bank Dunia menyarankan mengembalikan kepercayaan terhadap rupiah dengan empat kebijakan utama: restrukturisasi beban utang swasta. 1998. kirim anak sekolah di luar negeri. harga barang-barang produksi dalam negeri dengan kandungan lokal tinggi bisa meningkat daya saingnya sehingga bisa berkembang dan orang tidak mengandalkan bahan impor karena menjadi mahal. restrukturisasi perbankan. perjalanan. Dengan demikian. pada suatu saat tertentu dan membagi (spread-out) pembayaran ini secara merata dalam jangka waktu yang lebih panjang pada tingkat yang terkendali (manageable). dana asing akan sangat hati-hati masuk ke Indonesia. begitupun pengusaha domestik akan sangat hati-hati untuk meminjam dari luar negeri. Beberapa saran dari penulis untuk mengatasi krisis ekonomi dewasa ini adalah sebagai berikut: . p. berobat di luar negeri. Dampak. jalan-jalan ke luar negeri. Peran IMF dan Saran 19 dewasa ini adalah program penyelamatan yang bisa mengembalikan kepercayaan masyarakat serta menstabilkan kurs rupiah pada nilai tukar yang nyata (bandingkan juga Stiglitz). Penulis menginterpretasikan nilai tukar nyata sebagai nilai tukar berdasarkan purchasing power parity yang bisa menjaga keseimbangan dalam neraca berjalan dan yang bisa menjamin ekonomi nasional beroperasi. Kegiatan jasa hotel. kegiatan ekonomi Indonesia terutama harus ditunjang oleh kekuatan sendiri berdasarkan dana modal yang tersedia di dalam negeri. reformasi dan memperkuat sistim perbankan. impor secara otomatis akan berkurang (misalnya buah. sejauh persyaratan di atas bisa dipenuhi. Dengan sistim ini. memperbaiki “governance”.2). harga mobil terjangkau oleh masyarakat.

Sementara ini sudah banyak negara sedang berkembang yang memanfaatkan fasilitas ini. Namun dalam keadaan krisis yang parah ini. makin cepat juga dananya cair. bahwa beban utang tidak menjadi bertambah. Sejauh ini Indonesia memang selalu patuh untuk membayar semua utang-utangnya secara tepat waktu. Membentuk kabinet baru yang terdiri atas teknokrat untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat Indonesia maupun luar negeri akan kesungguhan program reformasi. Indonesia bisa bernapas untuk memperkuat posisi cadangan devisanya. maka pemerintah juga harus melaksanakannya dengan konsekuen. maka masih ada selisih positif sebesar lebih dari US$ 1 milyar yang bisa dihemat. Karena Indonesia telah menanda-tangani persetujuan program reformasi struktural ekonomi dengan IMF. Seandainya Indonesia tidak menerima bantuan barupun. Maret 1999 1. diharapkan akan terjadi arus balik devisa dan masuknya modal luar negeri. sementara pinjaman luar negeri baru sebesar US$ 6.560 juta. Dengan demikian. Jumlah ini sangat berarti untuk memperkuat cadangan devisa negara. Mengusahakan penundaan pembayaran utang resmi pemerintah berupa pembayaran cicilan pokok dan bunga selama misalnya dua tahun melalui Paris Club. tanpa merusak nama Indonesia sebagai debitur yang baik. Sebab menurut APBN tahun 1998/99 jumlah pembayaran cicilan utang pokok luar negeri beserta bunganya mencapai US$ 7. Dengan adanya kepercayaan ini. berarti bahwa beban utang termasuk pembayaran bunga untuk di kemudian hari akan bertambah besar. harus bertindak proaktif menghadapi IMF dengan mengajukan saran-sarannya sendiri dan menolak program-program yang tidak relevan dan cenderung merugikan Indonesia. Pemerintah melaksanakan reformasi dan restrukturisasi sektor riil dan keuangan secara konsekuen untuk memperkuat fundamental ekonomi Indonesia. Namun pemerintah.450 juta. Yang nanti akan menjadi masalah adalah bagaimana membayar utang bantuan darurat yang mencapai US$ 46 milyar tersebut di samping utang-utang pemerintah dan swasta yang ada. termasuk program reformasi IMF.20 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. dalam hal ini Departemen Keuangan dan Bank Indonesia. terlebih lagi karena bantuan IMF ini terkait dengan bantuan negara-negara donor lainnya yang jumlahnya sangat besar. hanya saja jangka waktu pembayaran kembalinya saja yang lebih panjang. 2. Keuntungan dari penundaan pembayaran utang ini adalah. apa salahnya jika Indonesia meminta penundaan waktu pembayaran kembali utang? Nama Indonesiapun tidak menjadi jelek karenanya. Bila Jepang hanya mau membantu dengan dengan menambah pinjaman baru. yang juga selalu mendapatkan pujian dari Bank Dunia dan IMF. Penjadwalan kembali pembayaran utang resmi pemerintah ini juga akan banyak . sebab Paris Club adalah instrumen internasional yang memang khusus dirancang untuk membantu negara-negara sedang berkembang dalam menghadapi masalah pembayaran kembali utang-utang luar negeri pemerintah. 3. Makin cepat pemerintah melaksanakan program-program reformasi.

Krisis Moneter Indonesia : Sebab, Dampak, Peran IMF dan Saran

21

membantu meringankan defisit anggaran belanja, terlebih lagi dengan semakin terpuruknya nilai tukar rupiah semakin besar pula defisit dalam anggaran belanja negara yang harus ditutup. Hal ini telah dilakukan oleh pemerintah dan telah dicapai kesepakatan, bahwa Indonesia akan menunda pembayaran cicilan utang pokoknya saja. 4. Menstabilkan nilai tukar rupiah pada tingkat yang riil, artinya tidak lagi overvalued ketika regim managed floating, bahkan bisa dipertimbangkan untuk membiarkannya sedikit undervalued untuk meningkatkan daya saing secara internasional dan merangsang produksi dalam negeri dan ekspor. Nilai tukar nyata yang wajar ini harus dicari dengan memperhatikan kriteria-kriteria berikut, paling tidak tingkat depresiasi rupiah tidak lebih rendah dari depresiasi nyatanya. Dengan kurs ini defisit anggaran belanja negara bisa ditekan, juga tingkat inflasi, pembayaran utang luar negeri pemerintah dan swasta dalam rupiah dapat ditekan sehingga mampu dikembalikan, begitupun harga BBM/listrik dan pakan ternak, harga barang-barang produksi dalam negeri dapat terjangkau termasuk sembako dan pabrik-pabrik beroperasi kembali, orang-orang yang menganggur dapat bekerja kembali, jumlah penduduk miskin dapat ditekan kembali dan jaringan keamanan sosial tidak lagi diperlukan, biaya angkutan udara bisa diturunkan, perjalanan domestik dan luar negeri dapat hidup kembali. Dilain pihak kurs dollar AS ini harus cukup tinggi untuk menahan impor berbagai macam barang dan bahan serta meningkatkan daya saing produk dalam negeri termasuk buah-buahan, insentif untuk meminjam dana dari luar negeri hilang, biaya perjalanan ke dan sekolah di luar negeri tetap masih mahal, yang semuanya mengurangi pengurangan devisa. Sebaliknya daya saing ekspor masih cukup tinggi, sehingga ekspor masih bisa tetap bergairah. Bila ini disadari sebagai hal yang utama dan yang paling mendesak untuk mengakhiri krisis ini, maka seluruh daya upaya dan pikiran dapat diarahkan untuk memecahkan persoalannya. Kebijakan depresiasi nilai tukar yang relatif besar dampaknya sama seperti kebijakan proteksi produksi dalam negeri, karena merubah perbandingan harga antara barang dalam negeri aktif dalam forum-forum internasional seperti APEC, ASEAN, dan sebagainya untuk mencari pemecahan atas krisis moneter yang sedang melanda banyak negara Asia Timur. Masalah pokoknya adalah bagaimana memperkuat nilai tukar mata uang masing-masing kembali pada tingkat yang wajar. Misalnya dengan mengajukan gagasan-gagasan pemecahan yang konkrit dan mendesak diadakannya pertemuanpertemuan dengan segera. Hingga kini sikap pemerintah Indonesia terkesan pasif. 6. Mengadakan negosiasi ulang utang luar negeri swasta Indonesia dengan para kreditor untuk meminta penundaan pembayaran, yang sekarang sedang diusahakan oleh Tim Penanggulangan Utang Luar Negeri Swasta (PULNS) atau Indonesian Debt Restructuring Agency (INDRA).

22

Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan, Maret 1999

7. Mengembalikan stabilitas sosial dan politik dan rasa aman secepatnya sehingga bisa memulihkan kepercayaan pemilik modal dalam dan luar negeri. 8. Untuk mengembalikan kepercayaan dari masyarakat yang menyimpan uangnya di dalam negeri, pemerintah bisa mempertimbangkan melakukan operasi swap, apalagi didukung oleh cadangan devisa pemerintah yang semakin membesar. 9. Menghalangi kemungkinan kegiatan spekulasi valas besar-besaran dengan mempelajari kemungkinan melakukan pengawasan devisa secara terbatas tanpa melepas prinsip regim devisa bebas atau melanggar kesepakatan dengan IMF, misalnya transfer pribadi dibatasi sampai jumlah tertentu, US$ 10.000. Selanjutnya tidak memberi peluang untuk memperdagangkan rupiah atau menaruh deposito Rupiah di luar negeri. Deposito valas hanya boleh di bank-bank devisa dalam negeri dan tidak boleh ditempatkan di luar. Krugman juga menganjurkan memungut pajak atas dana yang masuk dan membuat peraturan yang menghambat pengiriman dana ke luar (lihat Wessel dan Davis, hal. 16).

Daftar Kepustakaan
Anwar, Moh. Arsjad. 1997. “Transformasi Struktur Perekonomian Indonesia: Pola dan Potensi”, dalam: M. Pangestu, I. Setiati (penyunting), Mencari Paradigma Baru Pembangunan Indonesia, Jakarta: CSIS, hal. 33-48. Bank Indonesia. 1998. “Financial Crisis in Indonesia”, Jakarta, August. Bello, W. 1998. “Mencari Solusi Alternatif untuk Mengatasi Krisis”, saduran, Jakarta: Kompas, 1 September, hal. 3. Ehrke, M.1998. “Pangloss oder die beste aller moeglichen Welten, Ursachen und Auswirkungen der Asienkrise”, Bonn: Friedrich Ebert Stiftung, Februari. Fischer, S. 1998a. “IMF dan Krisis Asia”, Kompas, Jakarta, 6 April. ________. 1998b. “Peranan IMF Saat Krisis”, Kompas, Jakarta, 8 April. ________. 1998c. “The Asian Crisis and the Changing Role of the IMF”, Washington, D.C.: Finance & Development, Vol. 35 No. 2, June, pp. 2-5. Greenwood, J. 1997. “The Lessons of Asia’s Currency Crisis”, Hong Kong: The Asian Wall Street Journal, 9 Oktober, hal. 6. Gunawan, A.H., Sri Mulyani I.. 1998. “Krisis Ekonomi Indonesia dan Reformasi (Makro) Ekonomi”, makalah pada Simposium Kepedulian Universitas Indonesia Terhadap Tatanan Masa Depan Indonesia”, Kampus UI, Depok, 30 Maret - 1 April.

Krisis Moneter Indonesia : Sebab, Dampak, Peran IMF dan Saran

23

Hartcher, P., C. Ryan. 1998. “The IMF Turns Off the Tap”, Australian Financial Review, May 21. Hollinger, W.C. 1996. Economic Policy under President Soeharto: Indonesia’s Twenty-Five Year Record, the United States-Indonesia Society. IMF. 1997. “IMF Approves Stand-By Credit for Indonesia”, Washington, D.C., Press Release No. 97/50, November 5. IMF. 1997. “IMF Approves Stand-By Credit for Indonesia”, Press Release No. 97/50, November 5. IMF. 1998. World Economic Outlook, Washington, D.C., May. IMF. 1999. “Indonesia, Supplemetary Memorandum of Economic and Financial Policies, Fourth Review Under the Extended Arrangement”, March 16. IMF Research Department Staff. 1997. “Capital Flow Sustainability and Speculative Currency Attacks”, Finance and Development, Washington, D.C.: World Bank, December, hal. 8-11. IMF Staff. 1998. “The Asian Crisis: Causes and Cures”, Washington, D.C.: Finance & Development, Vol. 35 No. 2, June, pp.18-21. “IMF Cairkan Semilyar Dollar AS”, Jakarta: Kompas, 6 Mei 1998. “IMF Mulai Sadar Transparensi”, Jakarta: Kompas, 13 Mei 1998, hal. 9. “Indonesia - IMF Agreement on Economic Reforms”, January 15, 1998. “Indonesia - Supplementary Memorandum of Economic and Financial Policies”, Jakarta, April 10, 1998. Institute of Developing Economies (IDE). 1997. 1998 Economic Outlook for East Asia, Tokyo, December 9. Kitamura, K.; T. Tanaka (editors). 1997. Examining Asia’s Tigers, Nine Economies Challenging Common Structural Problems, Tokyo: Institute of Developing Economies, IDE Spot Survey. Korea Letter of Intent, February 7, 1998, Krause, L.B. 1994. The Pacific Century: Myth or Reality?, the 1994 Panglaykim Memorial Lecture, Jakarta: CSIS.

Schuman. 31-38. Jakarta: Kompas. 1997. G. Jakarta: Kompas. J. hal. The Economist.F. P. 1998. “Lessons from the Recent Financial Crisis in Indonesia”. _________. Jakarta. . Hong Kong: The Asian Wall Street Journal. December 4. 1998b. Soros. 72-3. S. 27 Januari. 28-29. M. L. “Currency Crisis”. Jakarta: Kompas. 17-18 Desember. Hong Kong: Far Eastern Economic Review. Sachs. Singapore: ISEAS. “The Crisis of Global Capitalism”. Krisis Moneter Tahun 1997/1998 dan Peran IMF. “What Happened to Asia”. hal. 1998. 1998. ___________. 10 Juni. majalah Global. 25 Tahun IV. Ada yang Harus Dilakukan dan yang Harus Dihindari”. makalah pada “1997 Economics Conference”. N. IMF Agree on Bailout. 1997. No. J. LPEM-FEUI. p. “RI-IMF Hasilkan Memorandum Tambahan”. Anwar. “The Myth of Asia’s Miracle”.1997. 1998a.T. Jakarta. 8. hal. __________. 5. Montes. Hong Kong: The Asian Wall Street Journal. “APEC dan Krisis Moneter di Kawasan Asia Timur”. diselenggarakan bersama oleh USAID. February 2. Gatra.24 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Jakarta. “Saatnya Dipertimbangkan Solusi Alternatif”. Foreign Affairs. “Kesepakatan Ketiga”. 1998. 140-2. “What’s a Fund for?”. hal. No. The Currency Crisis in Southeast Asia.. “South Korea. “Restoring the Asian Miracle”. Hong Kong: The Asian Wall Street Journal. 26 Agustus 1998. 17. 1994. “Saran Ali Wardhana untuk Atasi Krisis. Sender. Dimuat di Kompas dengan judul “Di Balik Terjadinya Krisis Keuangan Asia”. 28 Agustus. H. November/December. 3rd updated reprint. pidato pengukuhan Guru Besar Madya Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. hal. September 25. 9 April 1998. 1998. Cho. The Sunday Times. 62-77. ACAES. _________. Tarmidi. 1998b. 9 Mei. Radelet. hal. 3. September 16. Nasution. Stiglitz. M. Jakarta. July 26. hal. Singapore. 1998a. 1997. Sri Mulyani Indrawati. January. hal. “Why Not Let the Banks Own the Debtor Firms?”. Economy Is Slated for Rapid Change”. 3. Maret 1999 Krugman..

Ip. Indonesia. Dampak. July 2. 15383-IND. Peran IMF dan Saran 25 ___________. Wessel. 1998. __________. Wessel. Jakarta: Kompas. 1996. G. May 30. 1. Hong Kong: The Asian Wall Street Journal. 1998c. 2 Mei 1998. 1998. 22.. Davis. A Macroeconomic Update. Indonesia: Stability. “Money Trail: Who Ruptured the Rupiah”. 1998. __________. hal. Hong Kong: The Asian Wall Street Journal. May 7. 16. “Crisis Crusaders. Sustaining High Growth with Equity. Growth and Equity in Repelita VI. Indonesia in Crisis. hal. D. Report No. Indonesia. Thailand Letter of Intent. 16433IND. paper presented at the APEC Study Centre Consortium Conference. . Bangi.Krisis Moneter Indonesia : Sebab. “APEC and the Monetary Crisis in East Asia”. 1997.. February 24. 1994. D. “Utang Swasta Sekitar 64 Milyar Dollar AS”. September 28. August 11-13. 1. D. December 31. Would-Be Keyneses Debate How to Fight Global Woes”. __________. World Bank. draft Report. 1997. Dimensions of Growth. Malaysia. McDermott. B. May 27. Report No.

dalam tulisan ini akan didalami prinsip-prinsip dasar yang terkandung dalam konsep tersebut beserta pengaruhnya terhadap pola penjaminan dan pengawasan bank. Sangat berbeda dengan konsep-konsep lainnya dalam program penjaminan. Bank Indonesia . Apabila diterapkan sepenuhnya. Bank Indonesia Agusman : Pengawas Bank. Dengan merujuk pada ide yang dilontarkan Bert Ely tentang CrossGuarantee. Pendekatan Too-Big-To-Fail (TBTF) yang sejak beberapa waktu terakhir telah menimbulkan inkonsistensi dalam proses penjaminan diharapkan dapat dihilangkan oleh konsep ini. Sebagai suatu konsep yang ditujukan untuk mengatasi berbagai kelemahan deposit insurance scheme yang berlaku sekarang ini. Urusan Pengawasan Bank 2. maka konsep Cross-Guarantee menekankan pentingnya penggunaan pendekatan risk-sensitive analysis dalam penetapan besarnya premi. sekaligus mempelajari kemungkinan penerapannya di Indonesia. sehingga mengarah sepenuhnya pada swastanisasi baik penyelenggaraan penjaminan maupun pelaksanaan pengaturan dan pengawasan bank yang menyertainya. konsep Cross-Guarantee juga akan mengakibatkan perubahan yang sangat mendasar terhadap seluruh pola dan praktek penjaminan dan pengawasan bank yang sudah dijalankan selama ini. konsep ini sangat progresif dalam hal mempercayakan penyelenggaraan penjaminan kepada mekanisme pasar dan meniadakan intervensi pemerintah.Konsep Cross-Guarantee dalam Program Penjaminan dan Kemungkinan Penerapannya di Indonesia 31 KONSEP CROSS-GUARANTEE DALAM PROGRAM PENJAMINAN DAN KEMUNGKINAN PENERAPANNYA DI INDONESIA Maulana Ibrahim dan Agusman *) Tulisan ini mencoba mengetengahkan salah satu bentuk pikiran alternatif dalam program penjaminan yang dikenal dengan konsep Cross-Guarantee. *) Maulana Ibrahim : Kepala Urusan Pengawasan Bank 2. Konsep ini juga mengupayakan adanya perlakuan yang sama untuk bank-bank besar dan bank-bank kecil dalam memper-oleh penjaminan.

telah mencoba mengkaji kemungkinan penggantian ketentuan blanket guarantee tersebut dengan deposit protection scheme. khususnya karena tidak sebandingnya nilai premi dengan cakupan penjaminan disamping adanya peluang untuk melakukan moral hazard. serta mencoba mempelajari kemungkinan penerapannya di Indonesia. intervensi terhadap bank-bank/lembaga keuangan bermasalah dan pembentukan deposit insurance. Dalam hubungan ini.1.. No. Bert Ely3 . Tulisan ini mencoba mengetengahkan pikiran-pikiran Bert Ely mengenai konsep CrossGuarantee tersebut. Maret 1999 Pendahuluan rogram penjaminan merupakan salah satu kebijaksanaan yang diambil pemerintah untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat kepada sistem perbankan nasional yang sempat terganggu karena parahnya krisis ekonomi dan keuangan yang dihadapi Indonesia sejak paroh kedua tahun 1997.Sundararajan dan Tomas J.S.Sundararajan dan Tomas J. Ketentuan Blanket Guarantee dan Kemungkinan Penggantiannya dengan Deposit Protection Scheme.T. 7 Mei 1999. seorang pakar deposit insurance telah mengemukakan konsep Cross-Guarantee sebagai salah satu alternatif. Di Amerika Serikat sendiripun upaya pencarian tersebut masih tetap dilakukan meskipun program penjaminannya dianggap telah jauh lebih maju dan mapan. Kritikan tersebut perlu ditanggapi karena FDIC 1 Menurut V. tindakan darurat (emergency measures) yang dilakukan bank sentral dapat berupa pemberian fasilitas lender of last resort. International Monetary Fund. D. skim program penjaminan yang dipilih pemerintah tersebut ternyata lebih bersifat blanket guarantee (penjaminan menyeluruh). Pencarian kemungkinan alternatif lain program penjaminan merupakan hal yang perlu dilakukan secara terus menerus. Dalam Konferensi mengenai Bank Structure and Competition yang baru-baru ini diadakan oleh Federal Reserve Bank of Chicago. Paper dalam “The 35th Annual Conference on Bank Structure and Competition”. 1991. Untuk mendalami masalah ini lebih lanjut lihat tulisan mereka berdua dalam Banking Crises: Cases and Issues . hal tersebut barangkali masih dapat diterima. Washington.C.32 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. . Latar Belakang Konsep Cross-Guarantee Konsep Cross-Guarantee muncul antara lain karena adanya berbagai kritik dan ketidakpuasan terhadap skim penjaminan yang diterapkan pada Federal Deposit Insurance Corporation (FDIC) di Amerika Serikat. 2 Kusumaningtuti S. Kusumaningtuti (1999)2 misalnya. Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Bank Indonesia. Ditinjau dari karakteristiknya.Balino. Vol. Editor: V.T. Untuk tindakan darurat1 . Desember 1998. The Federal Reserve Bank of Chicago. 3 Bert Ely.3.. namun untuk jangka panjang tampaknya perlu dicari alternatif lain yang memungkinkan terselenggaranya program penjaminan yang efisien dan efektif. The Cross-Guarantee Concept and Interbank Markets.Balino. P Sulit untuk memungkiri bahwa skim penjaminan pemerintah yang bersifat menyeluruh itu akan sangat memberatkan keuangan pemerintah.

Sealey dalam “Deposit Insurance and Bank Interest Rate Risk: Pricing and Regulatory Implications ”. Oleh karena itu.18.000.25%. Dengan kata lain. Kritikan berikutnya yang sering ditujukan kepada FDIC adalah berkenaan dengan penetapan premi yang harus dibayar oleh bank-bank yang ikut penjaminan. seharusnya semakin besar risiko yang ditanggung semakin besar premi.Konsep Cross-Guarantee dalam Program Penjaminan dan Kemungkinan Penerapannya di Indonesia 33 sekarang ini menghadapi risiko yang lebih besar dibandingkan dengan periode-periode sebelumnya4 . 5 Ide agar FDIC menetapkan premi sebagaimana layaknya perusahaan asuransi swasta mula-mula sekali dilontarkan oleh Merton (1977).100. Salah satu hal yang memperoleh kritikan adalah mengenai ruang lingkup penjaminan FDIC yang cenderung agak kurang konsisten sehubungan dengan penerapan pendekatan “Too-Big-To-Fail” (TBTF). sehingga menimbulkan cross-subsidies.1091-1108. komitmen dan kewajiban off-balance sheet serta kewajiban antar bank di atas USD. termasuk juga pos pinjaman subordinasi. Alasan kedua adalah karena jumlah dana yang ditanamkan oleh FDIC telah melebihi ketentuan minimum Reserve Ratio (RR) perbankan sebesar 1. Arthur F. hal. sehingga pada gilirannya dapat merugikan masyarakat penyimpan dana. Tahun 1994. Disamping itu premi yang dikenakan oleh FDIC sekarang ini juga dinilai terlalu berlebihan (overcharging) untuk bank-bank yang sehat dan terlalu kecil (undercharging) untuk bank-bank yang bermasalah. khususnya bagi bankbank yang “Too-Small-To-Safe” (TSTS).. akan tetapi tetap saja ada kritik bahwa perlakuan khusus tersebut dapat menimbulkan diskriminasi diantara sesama bank. 531-552. No. Namun dalam prakteknya prinsip tersebut ternyata tidak diterapkan karena dua alasan pokok berikut ini. Moreau dan C. Pertama. Perhitungan premi oleh FDIC dinilai kurang mencerminkan risiko yang harus ditanggungnya. Journal of Banking & Finance. .000 tidak dijamin. Hal ini diungkap dalam tulisan Yoram Landskroner dan Jacob Paroush. hal. No.W. laba yang diperoleh FDIC cukup besar sehingga ketergantungan pada premi menjadi semakin lebih berkurang. tampaknya hanya dalam FDIC mengalami kerugian dan deposit growth menekan RR di bawah 1. Meskipun penerapan asas TBTF sangat dimungkinkan berdasarkan konsep Reformasi Deposit Insurance (deposit insurance reforms) yang disetujui Kongres Amerika Serikat dan berlaku sejak setelah tahun 1988. pada dasarnya yang dijamin oleh FDIC adalah dana pihak ketiga (deposits) maksimum sebesar USD. Journal of Banking & Finance.25% barulah premi akan dinaikkan.19 Tahun 1995. Namun dalam hal suatu bank dinilai TBTF maka seluruh pos kewajibannya akan dijamin. yaitu bank-bank yang 4 Adanya risiko yang lebih besar tersebut antara lain dikemukakan oleh Jin-Chuan Duan.100. Sebagaimana layaknya perusahaan asuransi. pendapatan dari penanaman dana oleh FDIC jauh melebihi biaya-biaya operasionalnya. “Deposit Insurance Pricing and Social Welfare”. Sebagaimana diketahui. dan sebaliknya5 .sedangkan non-deposits liabilities seperti pinjaman yang diterima.

Tahun 1995. Colorado pada bulan Juli 1998. bank-bank yang ikut program penjaminan FDIC pada hakekatnya saling menjamin satu-sama lain.19. . rapid growth. hal. Karakteristik Sistem Cross-Guarantee dalam Penjaminan Terlepas dari berbagai kritik terhadap skim penjaminan FDIC sebagaimana dikemukakan di atas. meskipun belum seutuhnya. Mekanisme Cross-Guarantee ini memiliki kemiripan dengan mekanisme yang berlaku pada Standby Letter of Credits. namun pendekatan ini dinilai kurang ideal dalam perhitungan premi. Pada Lampiran-1 disajikan perbandingan antara Cross-Guarantee dengan skim penjaminan deposit insurance konvensional untuk masing-masing aspek tersebut. bentuk kontribusi dari bank yang dijamin. Penerapan konsep Cross-Guarantee dalam program penjaminan memer-lukan perubahan mendasar terhadap skim penjaminan dan pola pengawasan bank yang sedang berjalan. Menurut George G. Struktur seperti ini ternyata dapat mengakibatkan terjadinya regulatory moral hazard pada tingkat pembuat ketentuan. sumber pembayaran klaim. Menurut Bert Ely. sedangkan pihak lain yaitu birokrasi pemerintah (regulator) berkewajiban untuk meminimumkan kerugian FDIC dan mencegah kegagalan bank (bank failures). lembaga penjamin. apabila diterapkan secara penuh maka ketentuan yang tercakup dalam FDICIA dapat efektif menurunkan moral hazard. Hal ini terjadi karena pada satu pihak FDIC memiliki kekuasaan besar dalam penentuan premi. ketentuan perbankan. seharusnya alat ukur yang digunakan adalah leading indicators of banking risks seperti risk mismatches. pelaksana pengawasan bank. Maret 1999 sehat membayar kewajiban bank-bank yang tidak sehat.721-722. Sekarang ini FDIC menggunakan 2 (dua) alat ukur risiko yaitu Capital Levels dan CAMEL Rating. “FDICIA and Bank Capital” dalam Journal of Banking & Finance. Melalui premi yang mereka bayar. No. 6 FDICIA singkatan dari FDIC Improvement Act. khususnya dalam hal terdapat multiple participant. weak internal controls dan execessive exposure to emerging speculative bubbles. Hal ini erat kaitannya dengan belum diterapkannya secara penuh prinsip risk-sensitive premium sebagaimana yang dipersyaratkan oleh Section 302 FDICIA6 serta penggunaan alat ukur risiko yang belum sesuai. secara implisit konsep Cross-Guarantee sebenarnya sudah melekat pada FDIC. dan potensial untuk berubah menjadi real moral hazard pada tingkat FDIC. lembaga lain yang terlibat dan lain-lain. Selanjutnya lihat George G. Contoh yang paling baru dari fenomena regulatory moral hazard ini adalah dalam hal kegagalan BestBank di Boulder. ruang-lingkup penjaminan.Kaufman. Kritikan lainnya adalah mengenai masih terbukanya peluang untuk melakukan moral hazard dalam sistem yang berlaku sekarang.34 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.Kaufman. Perubahan-perubahan tersebut dapat mencakup aspek penyelenggara. karena masing-masing bank-bank yang dijamin (insured banks) pada akhirnya menjadi pihak yang bertanggung jawab terhadap semua kerugian yang terjadi apabila ada bank-bank yang mengalami kegagalan usaha (failed banks).

Bank yang dijamin (insured bank) selanjutnya akan melakukan pembicaraan dengan direct guarantor-nya untuk mencapai kesepakatan-kesepakatan yang akan dituangkan dalam bentuk perjanjian penjaminan (cross-guarantee contract). seluruh kerugian karena bangkrutnya suatu bank akan langsung diserap oleh modal bank-bank yang ada dalam sistem perbankan suatu negara. Direct guarantor akan melakukan pembayaran dengan menggunakan general funds (cadangan umum) yang merupakan salah satu unsur modalnya. Apabila direct guarantor gagal memenuhi kewajibannya maka guarantor dari direct guarantor tersebut harus bertanggungjawab.Konsep Cross-Guarantee dalam Program Penjaminan dan Kemungkinan Penerapannya di Indonesia 35 Agar konsep Cross-Guarantee tersebut dapat diimplementasikan dalam praktek maka perlu dilakukan langkah-langkah sebagai berikut: a. Sebuah lembaga baru yang disebut Cross Guarantee Regulation Corporation (CGRC) harus dibentuk. d. minimal untuk menyelesaikan kewajiban cross-guarantee dari setiap penjamin. Untuk memastikan bahwa bank-bank yang dijamin mematuhi cross-guarantee contract maka sebuah perusahaan swasta yang disebut “syndicate agent“ akan disewa. Aturan ini mencakup hal-hal sebagai berikut: ♦ Setiap penjamin (guarantor) harus dijamin oleh penjamin-penjamin lainnya dalam suatu sistem cross-guarantee. akan terjadi pergeseran dari government regulation and deposit insurance kepada contractual regulation and guarantees (swasta). c. Perlu kiranya dikemukakan bahwa aturan penyebaran risiko (risk dispersion rule) merupakan salah satu pilar penting dalam konsep Cross-Guarantee. Perjanjian ini akan berfungsi sebagai pengganti ketentuan perbankan yang berlaku sekarang. . Jumlah modal yang tersedia untuk menyerap kerugian juga akan semakin besar dan semua itu terjadi atas dasar komitmen sukarela (committed voluntarily). Dengan demikian. Lembaga ini berfungsi untuk memastikan bahwa perjanjian penjaminan (crossguarantee contract) yang disepakati para pihak telah sesuai dengan aturan penyebaran risiko (risk dispersion rule) serta ketentuan-ketentuan lainnya. Setiap bank diberi kebebasan untuk menentukan sendiri penjaminnya (direct guarantornya). Selanjutnya. Dengan demikian setiap dolar kerugian pasti akan dapat diselesaikan oleh bank-bank yang berada dalam himpunan para penjamin (the universe of guarantors). secara accrual accounting setiap direct guarantor akan langsung mengakui dan mencatat kerugian sebesar share yang harus ditanggungnya apabila bank yang dijaminnya mengalami kegagalan usaha. Secara bersama-sama para direct guarantor akan membentuk suatu sindikat direct guarantor (lihat Lampiran-2). Dengan cara ini. Penunjukan syndicate agent ini dilakukan secara terbuka sehingga akan mendorong adanya kompetisi yang sehat dan efisiensi. Syndicate agent ini selanjutnya akan menggantikan fungsi pengawas dan pemeriksa bank yang ada sekarang. b.

♦ Untuk memastikan bahwa tidak akan pernah ada suatu bank mengalami kegagalan usaha karena menjadi penjamin maka perlu diberlakukan suatu standard stop-loss rule. ♦ Setiap penjamin bertanggungjawab sebatas jumlah risiko cross-guarantee yang ditanggungnya. Demikian pula penentuan perjanjian penjaminan (cross-guarantee contract) sepenuhnya diserahkan kepada pihak-pihak yang berkepentingan.36 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Maret 1999 ♦ Setiap perjanjian penjaminan (cross guarantee contracts) harus menyebutkan jumlah minimum para penjamin dan persentase risiko yang ditanggung mereka masing-masing. memenuhi aturan penyebaran risiko (risk dispersion rule) serta ketentuan-ketentuan lainnya yang dianggap penting oleh para pihak. Semangat untuk melakukan privatisasi penjaminan melalui Cross-Guarantee jelas terlihat sejak awal penentuan bank penjamin (direct guarantor) yang dilakukan secara sukarela (voluntary) dan demokratis. yang menyatakan bahwa “apabila satu penjamin mengalami kerugian cross-guarantee melebihi lima kali premi yang diperolehnya dalam setahun maka kewajiban crossguarantee-nya harus dialihkan kepada direct guarantor-nya. Skim penjaminan berbasiskan pasar tersebut diharapkan dapat mengeliminir intervensi dari pemerintah. penerapan konsep CrossGuarantee akan menimbulkan pergeseran peranan dari pemerintah kepada pihak swasta dalam melakukan penjaminan serta pengaturan dan pengawasan bank. baik untuk setiap bank maupun secara aggregat. . yaitu insured banks dan direct guarantor-nya. Sebagai aturan yang akan menggantikan prudential regulation maka perjanjian penjaminan harus dibuat sedemikian rupa agar dapat menampung prinsip kehati-hatian. sehingga penjaminan akan terlaksana secara efisien dan efektif. Karena adanya kebebasan dalam proses merumuskan mekanisme penjaminan untuk setiap bank. Yang perlu dijaga adalah agar perjanjian dimaksud sudah memperhitungkan premi atas dasar sensitivitas terhadap risiko (risk-sensitive premium). setiap bank penjamin tidak diperkenankan menerima pendapatan dari premi7 dalam setahun melebihi 3 (tiga) persen dari total modalnya. 7 Dalam hal ini premi merupakan proxy terbaik dari cross-guarantee risk. Cross-Guarantee memerlukan peran aktif dari pihak swasta untuk mewujudkan suatu skim penjaminan yang diarahkan oleh kekuatan pasar (market-driven cross-guarantee). Manfaat Swastanisasi Penjaminan melalui Cross-Guarantee Sebagaimana yang telah dikemukakan sebelumnya. Secara aggregat. agar dapat terlaksana dengan baik. Oleh karena itu. maka konsep Cross-Guarantee dipandang lebih berorientasi ke depan dibandingkan dengan konsep penjaminan (FDIC) yang berlaku sekarang.

Konsep Cross-Guarantee dalam Program Penjaminan dan Kemungkinan Penerapannya di Indonesia

37

Dengan swastanisasi penjaminan dan pengawasan bank maka nantinya tidak akan ada lagi fenomena “satu ketentuan yang berlaku untuk semua” (one-size-must-fit-all government regulation) yang selama ini merupakan salah satu kelemahan inheren dari ketentuan perbankan yang dibuat pemerintah. Dalam praktek selama ini sering ditemukan adanya beberapa ketentuan yang sulit diterapkan karena bersifat terlalu umum dan kurang mempertimbangkan karakteristik individual bank. Atas dasar konsep Cross-Guarantee ini, insured banks dapat membuat berbagai ketentuan yang mengatur dirinya secara spesifik berdasarkan kesepakatan dengan direct guarantor-nya. Konsep Cross-Guarantee juga memberikan kesempatan yang seluas-luasnya bagi insured banks untuk berdiskusi dan bernegosiasi dengan direct guarantor-nya untuk segala hal termasuk mengenai masa depan bank tersebut. Hal ini pada gilirannya akan membuat strategi business dan perencanaan bank menjadi semakin tajam dan terarah. Pada pihak lain, kegiatan kontrol atau pengawasan akan semakin lebih ketat karena langsung dilakukan oleh kekuatan pasar. Apabila suatu bank memperoleh penilaian yang jelek dari pasar maka yang akan menanggung akibatnya bukan hanya bank yang bersangkutan saja, tetapi juga menjalar kepada bank yang menjadi direct guarantor. Hal-hal tersebut akan membuat persaingan dalam industri perbankan akan semakin ketat dan mendorong efisiensi besarbesaran dalam sektor keuangan. Persaingan sehat juga akan terjadi diantara sesama syndicate agent yang akan berfungsi sebagai pengganti pengawas dan pemeriksa bank yang ada sekarang. Karena kemungkinan akan banyak perusahaan syndicate agent yang muncul maka direct guarantor diberi keleluasaan dalam menentukan syndicate agent yang mereka pilih. Hal ini pada gilirannya dapat mendorong kompetisi yang sehat diantara sesama perusahaan syndicate agent dan mendorong efisiensi pekerjaan penjaminan. Manfaat berikutnya dari konsep Cross-Guarantee dapat ditinjau dari segi ruang lingkup penjaminannya. Tanpa memandang besar kecilnya suatu bank, mereka akan dijamin sebagaimana layaknya bank-bank lainnya, asal bank-bank tersebut dapat menemukan direct guarantor-nya. Oleh karena itu, pendekatan TBTF menjadi tidak relevan sama sekali dalam konsep Cross-Guarantee. Dengan menggunakan konsep Cross-Guarantee, maka transaksitransaksi non-funding obligations seperti account payment, unexpired leases dan kewajiban yang muncul karena tuntutan hukum akan dapat ikut dijamin. Kewajiban yang tidak dapat dijamin hanyalah pinjaman subordinasi karena memiliki karakteristik campuran (hybrid) hutang dengan modal. Sama halnya dengan program penjaminan biasa, maka dalam crossguarantee, unsur modal juga tidak dijamin8 .
8 Pengecualian hanya terjadi dalam hal TBTF, karena ada kemungkinan pinjaman subordinasinya juga akan ikut dibayar, tergantung pada bobot permasalahan bank yang TBTF tersebut.

38

Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan, Maret 1999

Manfaat lainnya dari konsep Cross-Guarantee adalah adanya kesempatan untuk melakukan penyesuaian secara cepat terhadap perhitungan premi berdasarkan kekuatan pasar. Perhitungan tersebut akan mencerminkan risk-sensitivity dari bank yang dijamin dan diharapkan dapat disesuaikan segera baik secara bulanan atau mingguan. Dalam hal ini besarnya premi dapat langsung dibicarakan oleh masing-masing bank dengan direct guarantor-nya. Dengan adanya kemungkinan untuk melakukan perhitungan premi berdasarkan kecenderungan pasar tersebut maka cross-subsidies yang inheren dalam skim penjaminan yang ada sekarang diharapkan akan dapat dihilangkan.

Pengaruh terhadap Pasar Antar Bank dan Sistem Pembayaran
Cross-guarantee dapat menghilangkan counterparty risk yang selama ini melekat dalam transaksi antar bank (lihat Lampiran-3). Sistem Kliring akan terbebas dari risiko tidak dibayarnya tagihan antar bank karena adanya jaminan bahwa direct guarantor masing-masing bank pada akhirnya akan bertanggungjawab sesuai perjanjian penjaminan (cross-guarantee contract) yang mereka sepakati. Hal ini pada gilirannya memungkinkan terselenggaranya suatu Sistem Pembayaran yang bebas risiko (risk-free basis). Penggunaan konsep Cross-Guarantee ini juga dapat mendorong penggunaan secara luas net settlement procedures dalam Sistem Pembayaran. Bagi bank sentral hal ini akan sangat menguntungkan karena net settlement procedures tersebut dapat lebih efisien dari real-time gross settlement .

Kemungkinan Penerapan Konsep Cross-Guarantee di Indonesia
Skim penjaminan yang sekarang ini diterapkan di Indonesia masih mengandung berbagai kelemahan baik pada tingkat konsep maupun pada tingkat pelaksanaan. Pada tingkat konsep, karena bersifat blanket guarantee (jaminan menyeluruh) maka skim tersebut dapat mengakibatkan beban yang sangat berat bagi keuangan pemerintah, padahal kemampuan keuangan pemerintah sendiri sudah sangat terbatas. Disamping itu peluang untuk moral hazard juga besar karena unsur keadilan yang kurang terpenuhi yang tercermin antara lain dari gejala cross-subsidies dimana bank-bank yang sehat membayar kewajiban bank-bank yang tidak sehat. Pada tingkat pelaksanaan, terdapat pula indikasi bahwa dalam praktek tidak seluruh aspek penjaminan dapat terlaksana. Sebagai contoh, untuk melaksanakan penjaminan transaksi off-balance sheet derivatives perlu ada bukti-bukti bahwa transaksi itu genuine, sesuatu yang sangat sulit dibuktikan kecuali oleh perbankan sendiri. Sehubungan dengan hal-hal tersebut di atas, konsep Cross-Guarantee tampaknya dapat menjadi salah satu alternatif jalan keluar, karena hakekat persoalan penjaminan dikembalikan secara utuh kepada pelaku pasar sendiri yaitu antara bank-bank yang

Konsep Cross-Guarantee dalam Program Penjaminan dan Kemungkinan Penerapannya di Indonesia

39

bertransaksi, sehingga mereka perlu saling menjamin dan saling menjaga kestabilan sistem perbankan. Namun demikian perlu kiranya diingat agar pemilihan konsep Cross-Guarantee tersebut hendaknya tidak terlepas dari tujuan utama dari program penjaminan, yaitu untuk mencegah kegagalan pasar perbankan (banking market failure) dan untuk membangkitkan kembali kepercayaan masyarakat serta menghentikan bank runs9 . Meskipun dapat dipandang sebagai salah satu alternatif jalan keluar, penerapan konsep Cross-Guarantee di Indonesia dapat menimbulkan pro dan kontra. Mereka yang pro mungkin lebih didasarkan atas adanya peluang besar untuk meringankan beban keuangan pemerintah, apalagi dalam situasi krisis seperti sekarang. Sementara itu, yang kontra lebih melihat dari sisi kesiapan perbankan dan kalangan pemerintahan kita dalam menerapkan konsep dimaksud. Hal yang terakhir ini tampaknya ada benarnya juga karena untuk sampai pada konsep Cross-Guarantee perlu dijawab terlebih dahulu pertanyaan-pertanyaan berikut ini:

√ Apakah bank-bank di Indonesia sudah sedemikian sehat dan kuat sehingga mampu
untuk saling menjamin (cross-guarantee) sesama mereka ?

√ Apakah bank-bank di Indonesia sudah cukup dewasa untuk mendiskusikan sendiri
sesama mereka hal-hal yang berkenaan dengan penjaminan, business strategy dan prudential regulation untuk dituangkan dalam semacam perjanjian yang mengikat mereka secara bersama-sama ?. Pertanyaan ini cukup penting mengingat selama ini bank-bank di Indonesia sangat tergantung pada petunjuk dan arahan yang diberikan oleh otoritas moneter sebagai pengawas dan pembina bank-bank.

√ Apakah sistem informasi yang terdapat pada masing-masing bank dan secara nasional
telah sanggup menyediakan data/informasi yang diperlukan untuk penetapan premi yang sensitif terhadap risiko ?

√ Apakah pihak otoritas pengawas yang ada sekarang berkenan menyerahkan fungsinya
pada mekanisme pasar melalui syndicate agent dan dapat menerima keberadaan Cross Guarantee Regulation Corporation (CGRC) sebagai lembaga yang akan memverifikasi perjanjian penjaminan (cross-guarantee contract) ?. Pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas cukup relevan untuk kondisi Indonesia dan memerlukan jawaban-jawaban yang tidak sederhana. Pengkajian lebih lanjut sangat diperlukan untuk mencegah pengambilan keputusan yang keliru yang dapat berakibat kontraproduktif terhadap masa depan sistem perbankan dan sektor keuangan negara kita.
9 Mengenai hal ini lihat misalnya Kerry Cooper dan Donald R.Fraser, “The Risk of Depository Institution Failure and The Role of Deposit Insurance” dalam Banking Deregulation and The New Competition in Financial Services, Ballinger Publishing Company, Cambridge Massachusetts, 1984.

International Monetary Fund. Banking Crises: Cases and Issues .T. Cambridge Massachusetts.Kaufman. hal.Sealey dalam “Deposit Insurance and Bank Interest Rate Risk: Pricing and Regulatory Implications” dalam Journal of Banking & Finance.. Jin-Chuan Duan. No. Bank Indonesia.19.19 Tahun 1995. Ballinger Publishing Company.C.Balino. V. Maret 1999 Daftar Pustaka Bert Ely.531-552. The Cross-Guarantee Concept and Interbank Markets. 1991.3.1. Ketentuan Blanket Guarantee dan Kemungkinan Penggantiannya dengan Deposit Protection Scheme. “FDICIA and Bank Capital” dalam Journal of Banking & Finance. Vol.Balino.Moreau and C. D. Desember 1998.. Editor V. “The Risk of Depository Institution Failure and The Role of Deposit Insurance” dalam Banking Deregulation and The New Competition in Financial Services. 1984.Sundararajan dan Tomas J. Washington. No. “Deposit Insurance Pricing and Social Welfare” dalam Journal of Banking and Finance.1091-1108.40 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Paper dalam “The 35th Annual Conference on Bank Structure and Competition”. 7 Mei 1999.721-722.W. hal. George G. . The Federal Reserve Bank of Chicago. Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.S.Fraser. Kusumaningtuti S.T. Tahun 1994. Kerry Cooper and Donald R. Arthur F. No. hal.18. Tahun 1995.Sundararajan dan Tomas J. Yoram Landskroner dan Jacob Paroush. No.

4 Bentuk kontribusi dari yang dijamin 5 Sumber pembayaran klaim General funds (general reserves) dari direct guarantors. Bank Sentral dan FDIC Prudential regulation konvensional Swasta Sesama bank. Premi ("risk sensitive premium"). Bank Sentral dan "insured banks". Premi (namun belum memenuhi kriteria "risk-sensitive premium"). kecuali Pinjaman Subordinasi. 8 Lembaga lain yang terlibat Tidak ada lembaga lain yang terlibat kecuali FDIC. ASPEK DEPOSIT INSURANCE CROSS-GUARANTEE Konsep Cross-Guarantee dalam Program Penjaminan dan Kemungkinan Penerapannya di Indonesia 1 2 3 Penyelenggara Lembaga Penjamin Ruang-lingkup Penjaminan Pemerintah FDIC Terbatas dan sangat subjektif dalam penentuan bank-bank yang "TBTF" (Too-Big-Too-Fail). Seluruh pos-pos kewajiban. 6 7 Pelaksana pengawasan bank Ketentuan perbankan Murni swasta. Berdasarkan kesepakatan antara bank yang dijamin (insured banks) dengan direct guarantor-nya ("Contractual Regulation"). baik sebagai direct guarantor maupun indirect guarantor. dilaksanakan oleh "Syndicate Agent". Dibentuk lembaga baru yang disebut Cross Guarantee Regulation Corporation (CGRC) untuk memastikan bahwa perjanjian jaminan sudah sesuai aturan penyebaran risiko dan ketentuan lainnya.Lampiran-1 PERBANDINGAN ANTARA CROSS-GUARANTEE DENGAN DEPOSIT INSURANCE KONVENSIONAL No. Hasil pengelolaan dan penanaman premi pada sektor-sektor yang menguntungkan. 41 .

Maret 1999 Monitoring fee Obligation to protect competitively sensitive data Ensures that cross-gurantee contract complies with risk dispersion rules and other statutory requirements Syndicate Agent (Independent of any other party) monitoring responsibility Fiduciary responsibility Delegation of Guaranteed Bank of Thrift complies with risk dispersion rules and other statutory requirements Ensures that cross-guarantee contract Syndicate of Direct Guarantors = Bank or non-depository guarantor  1998 Ely & Company Inc.42 Lampiran 2 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Permission granted to reproduce with attribution Cross-guarantee commitment Guarantee premium Contractual relationship Contract approval .

cross-guarantee contracts will ensure payment finality. stc) that are direct participants in the clearing system Guarantors of counterparties 43 . securities. Clearing Systems Failure Failure Flow of insolvency loss if a clearing system participant becomes insolvent Counterparties (banks. Konsep Cross-Guarantee dalam Program Penjaminan dan Kemungkinan Penerapannya di Indonesia In a World of Cross-Guarantees Clearing systems will be able to operate much more efficiently and safely where balances due to clearing system participants are fully guaranteed by the guarantors of the clearing system’s counterparties. to protect clearing systems participant from a default by a counterparty. bilateral caps. In effect. including daylight overdraft limits. thereby ensuring payment finality. and collateralized net debit positions.Lampiran 3 Using Cross-Guarantees to Ensure Payment Finality Will Permit Clearing Systems to Operate Much More Efficiently by Eliminating Counterparty Risk Present System Clearing systems presently utilize a variety of devices. firms.

misalnya: jam kerja. tulisan ini mengajak pembaca untuk turun ke dunia nyata tempat sebagian besar saudara kita sebangsa hidup. bahwa faktor yang paling mempengaruhi kinerja adalah jarak ke lokasi nasabah dan selang waktu pemrosesan kredit. USDM. dan kiranya akan menjadi topik pembicaraan tersendiri. tingkat penghasilan nasabah. *) Bagian dari tulisan yang sedang dalam proses. karena memiliki berbagai jenis sejak lama. Bank Indonesia . Di era pengentasan kemiskinan ini. Bank Indonesia **) Sumantoro Martowijoyo : Peneliti pada Tim Penyiapan Pusat Pendidikan dan Riset.Kinerja Lembaga Keuangan Mikro dan Perilaku Masyarakat Pedesaan 45 KINERJA LEMBAGA KEUANGAN MIKRO DAN PERILAKU MASYARAKAT PEDESAAN *) Sumantoro Martowijoyo **) Setelah disuguhi banyak topik moneter dengan teknik-teknik analisis canggih ekonometrika tingkat pascasarjana. Di luar BRI Unit yang merupakan kisah sukses tingkat dunia. Indonesia telah menjadi laboratorium bagi penelitian di bidang Lembaga Keuangan Mikro (LKM). jarak rata-rata antara lokasi LKM ke lokasi nasabah. ada Badan Kredit Desa yang didirikan di zaman Belanda. Di sini dibahas beberapa faktor yang menggambarkan perilaku masyarakat perdesaan yang mempengaruhi kinerja lembaga keuangan mikro. suku bunga tabungan dan suku bunga pinjaman. tidak demikian halnya pengusaha konglomerat. Badan Kredit Kecamatan di Jawa Tengah. Ukuran “kinerja” sendiri jauh berbeda dengan kriteria CAMEL yang tidak akan mudah tercerna oleh kesahajaan lembaga-lembaga tersebut. kenangan dan salam perpisahan penulis kepada Urusan Kredit. karena sebagian justru sengaja memacetkan kreditnya. Dari hasil analisis dapat diungkapkan. di samping berkembangnya kelompok-kelompok swadaya masyarakat sebagai bentuk lembaga keuangan yang paling sederhana di tingkat “akar rumput”. Tergambar pula masih lugu dan mandirinya sifat pengusaha mikro perdesaan nasabah LKM dibanding pengusaha konglomerat nasabah bank umum: apabila kenaikan pendapatan pengusaha mikro perdesaan dipakai untuk menambah tabungan dan melunasi tunggakan. waktu pemrosesan kredit.

Kelompok Swadaya Masyarakat Di Indonesia. Maret 1999 Latar Belakang D engan disepakatinya ikrar dalam Microcredit Summit di Washington DC Amerika Serikat pada tahun 1997 untuk membebaskan 100 juta penduduk dunia dari kemiskinan. Model Grameen Bank Bangladesh direplikasikan di manamana. dan dalam pengembangan LKM melalui Proyek Kredit Mikro yang didanai bersama Asian Development Bank. simpanan wajib. Indonesia sebetulnya sudah lebih maju dalam penciptaan lembaga keuangan mikro sejak zaman Belanda. Dalam pengembangan KSM Bank Indonesia ikut berkiprah melalui Pengembangan Hubungan Bank dengan Kelompok Swadaya Masyarakat (PHBK) yang gagasannya berasal dari APRACA (Asia Pacific Rural and Agricultural Credit Association). 1 banyak pula yang menyebutnya rural financial institutions (RFI) atau lembaga keuangan pedesaan (LKP). Istilah “mikro” selain menunjuk skala yang lebih kecil dari yang kecil. Lembaga Keuangan Mikro di Indonesia Selain lembaga yang formal seperti BRI Unit dan BPR yang secara hukum diakui sebagai lembaga keuangan formal (bank). timbullah gagasan untuk menambah jumlah dan jenis uang setoran menjadi simpanan pokok. Setelah dua dasawarsa diwarnai kreditkredit murah bersubsidi yang sebagian tidak jatuh ke tangan kelompok sasaran dan mengakibatkan merosotnya kinerja serta moralitas lembaga keuangan pelaksananya.46 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. dan simpanan sukarela. dan lembaga-lembaga swadaya masyarakat (LSM) bergiat membina keswadayaan masyarakat melalui kelompok-kelompok swadaya masyarakat (KSM). Kegiatan arisan sudah tumbuh menjamur diperdesaan dan perkotaan dan jumlahnya mungkin melebihi satu juta. terdapat banyak LKM yang semiformal maupun informal di Indonesia. pencarian model lembaga keuangan mikro1 yang tepat untuk melayani rakyat miskin dilakukan di mana-mana. Di luar perhatian para penentu kebijakan kita. di samping BRI Unit yang merupakan kisah sukses dunia. Tiga lembaga yang dipilih adalah yang efektif beroperasi di tingkat “akar rumput” dan menerapkan prinsip suku bunga pasar yang terbukti lestari. konotasinya terkait dengan kemiskinan . kegiatan yang dilakukan secara kelompok sudah merupakan budaya masyarakat yang berazaskan paguyuban. para pakar merekomendasikan prinsip keswadayaan dan kesehatan (viability) dari programprogram pengentasan kemiskinan. tapi untuk Indonesia karena lokasinya banyak pula di perkotaan maka dipilih istilah yang dikenal sejak Summit ini. Apabila kebutuhan akan uang tersebut makin terasa dan jumlah yang diperoleh dari arisan terlalu kecil. tanpa melihat status hukumnya. Dengan begitu.

serta di akhir tahun membagikan dividen bagi para pemegang saham.000 tanpa agunan. Dengan berlakunya Undang-undang Perbankan No. 1988) dan keduanya dikukuhkan dengan Staatsblad nomor 357 tahun 1929. Sebagai bank sekunder dalam pembinaan BRI. memungut bunga berupa “jasa”. Perkumpulan semacam ini secara tidak sadar sudah berfungsi sebagai lembaga keuangan perdesaan: menghimpun dana dan memberikan kredit kepada anggota. Selama zaman Belanda sistem BKD telah berfungsi dengan baik sebagai lembaga keuangan bagi rakyat perdesaan. berguguran di zaman pendudukan Jepang dan Perang Kemerdekaan. Berkembangnya KSM di Indonesia tidak lepas dari berkembangnya lembaga swadaya masyarakat (LSM) dari tahun 1960-an sampai awal 1990-an yang jumlahnya diperkirakan antara 1000-2000 buah (Saidi. Satu pasar=5 hari (kalender Jawa). semata-mata berdasarkan penilaian kelayakan nasabah oleh Komisi I. Akan tetapi mengingat banyak faktor.Kinerja Lembaga Keuangan Mikro dan Perilaku Masyarakat Pedesaan 47 perkumpulan arisan telah berubah menjadi koperasi kredit (credit union). Seperti halnya di Filipina. BI sendiri menyetujui BRI meneruskan tugas pengawasannya terhadap BKD dengan bantuan keuangan dari BI. 1995). banyak LSM yang lahir dan tumbuh untuk dapat “menangkap” bantuan dari badan atau LSM internasional. kredit pasaran diberikan oleh BKD yang bukanya setiap hari pasaran tertentu . organisasi dan pengelolaan BKD dipertahankan tetap seperti konsep semula yaitu Komisi BKD terdiri dari kepala desa sebagai ketua komisi (Komisi I) dan 2 orang pemuka masyarakat atau aparat desa sebagai Komisi II dan III. Lumbung desa mengumpulkan padi untuk diberikan sebagai pinjaman berupa padi kepada petani di saat mereka membutuhkan. Pengawasan terhadap BKD dilakukan secara langsung oleh Mantri BKD yang mewilayahi satu kemantren yang terdiri dari 18 BKD. terutama terdiri dari kredit pasaran dan mingguan yang berjangka waktu 12 pasar2 atau 12 minggu dengan pembayaran angsuran pokok maupun bunga dengan jumlah yang tetap.7 tahun 1992 yang mencabut berlakunya Staatsblad no. Sedangkan bank desa menghimpun tabungan berupa uang dan memberikan kredit berupa uang. Suharto. pengawasan terhadap BKD sebetulnya ada di tangan Bank Indonesia (BI). Badan Kredit Desa Badan Kredit Desa (BKD) terdiri dari lumbung desa yang didirikan tahun 1897 dan bank desa yang didirikan sekitar tahun 1904 (P. kemudian mulai tumbuh kembali sesudah kemerdekaan. 2. 357 tahun 1929. di mana untuk peminjaman uang ditarik pula semacam “jasa” yang dipotongkan dari jumlah pinjaman. Pembukuan dilakukan oleh Juru Tata Usaha (JTU) yang bekerja untuk 6 BKD secara bergilir (BKD umumnya buka sekali seminggu pada hari atau hari pasaran tertentu). Jumlah kredit yang dapat diberikan sampai dengan Rp 400. Sistem kredit BKD sederhana.

dan (3) mendidik masyarakat pedesaan untuk gemar menabung (BP-BKK.p. bulanan (3 bulan). BKK diharuskan menyimpan kelebihan alat likuidnya di BPD. Selang waktu antara saat pengajuan permohonan dengan realisasi kredit untuk nasabah baru paling lama seminggu. Kinerja manajemen BKK dipantau oleh Camat sebagai penanggung jawab BKK di wilayahnya.584 (DAI. Jenis kredit BKK sama dengan BKD. yaitu sebesar USD 38 di tahun 1993 (Christen. 1998).1994). hanya menuruti peraturan BPR.000 tidak diperlukan agunan selain rekomendasi kepala desa.11 tahun 1981 Bank Pembangunan Daerah (BPD) Jawa Tengah ditugasi sebagai pembina dan pengawas teknis BKK. Maret 1999 Lepas dari suara yang mendiskreditkan BKD. Sama dengan BKD jumlah angsuran sama setiap pembayaran. 1981). dibukukan terpisah sebagai angsuran pokok dan bunga. Sebagai LKM. 1993) . 11 tahun 1981 dikukuhkan menjadi badan usaha milik daerah. keberadaannya dibutuhkan oleh rakyat dan telah membuktikan kelestarian dan kemandiriannya dalam arti tidak pernah menerima dana maupun subsidi bunga dari pemerintah. lumbung desa tetap menjadi sumber kredit bagi rakyat kecil untuk konsumsi sehari-hari (Dibyo Prabowo. Prosedur permohonan kredit kepada BKK cukup sederhana dan untuk jumlah kredit sampai dengan Rp 500. Berdasarkan Perda no. mingguan. Di tengah maraknya kredit Bimas. BKD mampu menjangkau masyarakat paling miskin di pedesaan. murah dan mengarah. Manajemen BKK terdiri dari Pimpinan. dan kemudian dengan Peraturan Daerah (Perda) No. BKK didirikan dengan tujuan: (1) mendekatkan modal pada masyarakat pengusaha miskin di perdesaan dengan cara mudah. misalnya. di pihak lain apabila BKK kekurangan modal kerja BPD akan memberikan pinjaman likuiditas. Pemegang Kas dan Pemegang Buku. tercermin dari paling rendahnya jumlah kredit rata-rata BKD dibanding beberapa lembaga keuangan mikro yang terkenal di dunia. ratarata peminjam per unit 978 orang. 202 di antaranya sudah berstatus BPR. (2) menciptakan pemerataan kesempatan berusaha di pedesaan. sedangkan untuk nasabah ulangan yang lancar pencairan kredit dapat dilakukan pada hari yang sama. dan musiman (6 bulan). jumlah pinjaman rata-rata per unit Rp 96 juta dan per nasabah Rp 132.48 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. yaitu kebanyakan kredit pasaran. Jumlah BKK di seluruh Jawa Tengah 510. Badan Kredit Kecamatan Badan Kredit Kecamatan (BKK) adalah lembaga keuangan yang beroperasi di tingkat kecamatan yang didirikan oleh Pemerintah Daerah Tingkat I Jawa Tengah di awal tahun 1970an dengan status sebagai suatu proyek.26). 1995. Jumlah BKD di Jawa dan Madura tercatat 5345 terdiri dari 4806 yang aktif dan 539 yang tidak aktif (BRI.

dan suku bunga pinjaman (IPIN). 3 N 6 Σ di 2 i=1 rs = 1 . dari pengkajian terhadap falsafah dan hakekat LKM serta pendapat para praktisi keuangan perdesaan.Kinerja Lembaga Keuangan Mikro dan Perilaku Masyarakat Pedesaan 49 Metodologi Penelitian Penelitian ini dilakukan di lapangan terhadap 105 lembaga keuangan mikro (LKM) di Jawa Tengah. BIRUP dihitung dari jumlah biaya operasional dibagi dengan saldo pinjaman. selang waktu pemrosesan kredit (SELANG). BKD. penghasilan rata-rata nasabah (RAYNAS). suku bunga tabungan (ITAB). 1997). seperti: umur LKM. BIRUP) dan laba per rupiah kredit (LARAP). pertama dengan uji Kruskal-Wallis untuk beda populasi dan uji Kendall untuk kesesuaian (concordance) pemeringkatan faktor-faktor kinerja. Faktor-faktor yang mempengaruhi Kinerja LKM Terdapat beberapa faktor atau variabel yang secara rasional dianggap mempengaruhi kinerja. jam kerja. Keuntungan penggunaan statistik nonparametrik adalah tidak perlu dibuktikannya kenormalan distribusi data (yang merupakan prasyarat bagi sahihnya penggunaan statistik parametrik) dan dapat diterapkannya pada sampel kecil atau data kualitatif (Siegel. persentase jumlah penunggak (PERPUNG). sedangkan LARAP merupakan laba bersih sebelum pajak dibagi saldo pinjaman. yaitu tingkat akses kepada penabung (AKPEN). beserta masing-masing 3 nasabah per LKM yang diambil secara acak. penulis mengajukan beberapa faktor penentu kinerja LKM. efisiensi (biaya usaha per rupiah kredit. jarak rata-rata ke lokasi nasabah (JARAK). AKPEN dan AKPEM adalah masingmasing jumlah penabung dan peminjam dibagi jumlah penduduk di wilayah kerja LKM. Kegunaan kriteria ini akan dapat dipahami setelah selesai membaca hasil analisis di belakang. yang merupakan 34 % dari populasi.————— N3 . untuk masing-masing jenis LKM (KSM. PERPUNG adalah persentase jumlah penunggak (debitur kredit macet) dari jumlah peminjam. BKK) diambil proporsional berdasarkan jumlah populasinya masing-masing secara purposif. kemudiaan untuk hubungan antarfaktor kinerja dengan korelasi jenjang Spearman3 .N di mana rs = koefisien korelasi Spearman N = jumlah pasangan observasi d = perbedaan jenjang yang diperoleh dari setiap pasangan observasi . Analisis data primer dilakukan dengan teknik statistik nonparametrik. Mengenai kriteria kinerja. tingkat akses kepada peminjam (AKPEM).

3.50 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Suku bunga pinjaman berpengaruh sangat signifikan terhadap jumlah peminjam (rs=0. α=0. α=0.0706.000).2073(.109) dan berpengaruh tidak signifikan terhadap laba per rupiah kredit (rs=0.4959.000) . Selang dan Sukubunga Pinjaman terhadap Faktor Kinerja AKPEN JARAK SELANG IPIN -.1325(. Korelasi antara Jarak.006).076(.3981 (. Faktor yang berpengaruh paling besar terhadap faktor kinerja adalah jarak antara lokasi nasabah ke kantor atau pos desa LKM (JARAK).3406(. Maret 1999 Hasil Analisis Uji Kruskal-Wallis menghasilkan nilai chi-kuadrat yang sangat signifikan. α=0. α=0. apabila dinaikkan akan menurunkan jumlah peminjam dan mengakibatkan meningkatnya jumlah penunggak.000) dan biaya per rupiah kredit (rs=0. berarti bahwa suku bunga pinjaman sudah ada di batas atas.229) xxxxxxx LARP -.780) 1. α=0.229.2674(.474).4816(. α=0.178).178) -.000) -.000) dan jumlah peminjam (rs=-0. mengingat banyaknya kredit murah serta persaingan berat dari BRI Unit 2. demikian pula uji Kendall menghasilkan nilai W yang sangat signifikan.003) .000) -. menurunkan laba per rupiah kredit secara sangat signifikan (rs=-0. serta peningkatan jumlah penunggak (rs=0.474) .0276. Lamanya waktu pemrosesan kredit berpengaruh menurunkan jumlah peminjam cukup signifikan (rs=-0. .000) xxxxxx xxxxxxx AKPEM -.006) PERPUNG .2864. meningkatkan jumlah penunggak walaupun tidak signifikan (rs=0. α=0.2292(. α = 0. α =0.780).1325.2674. meningkatkan biaya per rupiah kredit secara tidak signifikan (rs=0. Faktor lain yang cukup berpengaruh kepada faktor kinerja adalah lamanya waktu pemrosesan kredit (SELANG). α=0. Tabel 1.4959(.1183.109) BIRUP .2864(. berpengaruh cukup signifikan terhadap jumlah penunggak (rs=0.2292. α=0.4816. Dari hasil analisis korelasi peringkat Spearman antara variabel nonkinerja dengan faktor penentu kinerja terdapat beberapa temuan yang berhubungan dengan perilaku nasabah.000).1183(.3406. α=0.003).3981.019) juga berpengaruh sangat signifikan dalam penurunan laba per rupiah kredit (rs=-0. Jauhnya jarak berpengaruh sangat signifikan terhadap penurunan jumlah penabung (rs=-0.0276(. membuktikan bahwa angka rata-rata yang dianalisis memang berasal dari tiga populasi yang berbeda dan pemeringkatan semua faktor kinerja dilakukan secara konsisten.019) .2073.

Tabel 2 Korelasi antara Penghasilan Rata-rata Nasabah dengan Faktor Kinerja untuk Seluruh LKM dan Per Jenis LKM AKPEN LKM (105) KSM (28) BKD (61) BKK (16) -.012) . Dari analisis mengenai pengaruh penghasilan nasabah dan jumlah tabungan rata-rata terhadap kinerja. yaitu apabila penghasilan pengusaha mikro nasabah BKK meningkat.027) AKPEM .594 di tahun 1993 (DAI.1840(. 1993).5500(. jarak mempunyai dampak yang lebih kuat terhadap berkurangnya jumlah peminjam dan bertambahnya jumlah penunggak dibandingkan suku bunga pinjaman.3670(. mereka . terutama kepada jumlah penabung (rs=0. (b) Dilihat per segmen nasabah terdapat perbedaan perilaku apabila penghasilannya meningkat: nasabah BKD yang relatif kurang mampu lebih suka menabung dan tidak meminjam.0237(.567) .610) -.297) LARP -.1131(. pengaruh penghasilan nasabah terhadap kinerja tidak begitu signifikan.5500.2912(.3412. Akan tetapi apabila dianalisis per jenis LKM.0309(.645) -. (c) Walaupun begitu terlihat masih adanya sifat jujur dan mandiri pada pengusaha mikro nasabah BKK dibanding pengusaha besar nasabah bank umum saat ini.0539(. terlihat bahwa penghasilan nasabah paling berpengaruh terhadap kinerja BKK.169 di tahun 1992 dan melonjak menjadi Rp 132.0601(.196) PERPUNG .585) -. α=0. karena jauhnya jarak lokasi LKM akan menyebabkan nasabah malas untuk berhubungan karena besarnya “biaya transaksi” yang harus ditanggungnya.274) BIRP .516) . Dari sini dapat disimpulkan bahwa pada BKK.349) . sama dengan perilaku pengusaha besar nasabah bank umum. Hal sederhana ini kiranya dapat dimaklumi.251) -. (a) Dilihat LKM sebagai keseluruhan. sedangkan pengaruhnya pada BKD kurang signifikan. nasabah yang penghasilannya relatif lebih tinggi mempunyai akses kepada pelayanan tabungan dan pinjaman yang lebih besar dibanding dengan nasabah yang 98.0565(. nasabah BKK yang relatif lebih mampu meningkatkan tabungan tetapi terus memanfaatkan kredit.196).0063(.876) -.0025(.985) .1281(.2784(. dan jumlah penunggak (rs=-0.274). jumlah peminjam (rs=0. α=0.027). α=0.668) →0 4.1131(.000) .3412(.Kinerja Lembaga Keuangan Mikro dan Perilaku Masyarakat Pedesaan 51 dan BPR yang memperoleh fasilitas kredit dari pemerintah.949) -.2912.1466(.339) .456) .3194(. dapat diungkapkan beberapa temuan yang menarik.1245(. Akan tetapi dilihat dari kuat dan signifikannya korelasi. yaitu biaya angkutan dan hilangnya waktu meninggalkan pekerjaan.

oleh karena (a) kriteria CAMEL tidak menampung aspirasi dan misi LKM (tersurat ataupun tersirat dalam Undang-undang) sebagai pelayan keuangan bagi masyarakat papan bawah. Mengingat jarak merupakan variabel yang paling mempengaruhi kinerja. . tetapi apabila pendapatan pengusaha konglomerat nasabah bank umum meningkat (dan pasti setiap tarikan napas menghasilkan uang). 2. belum tentu mengurangi jumlah penunggak. sedangkan pemrosesan kredit ulangan hendaknya dapat diselesaikan pada hari yang sama. tetapi mungkin hanya sekedar meja dan kursi tempat petugas lapangan menemui nasabahnya. Implikasi Kebijakan 1. karena hal itu justru sesuai dengan misi LKM membantu pengentasan kemiskinan. (c) pelarangan/penutupan pos pelayanan justru akan lebih memperparah kinerja LKM. terus memanfaatkan kredit dan tidak lupa melunasi tunggakannya. karena sebagian dari mereka sengaja menunggak dan memacetkan kreditnya. (b) pelarangan pembukaan kantor di bawah kantor cabang kiranya dapat dihapuskan. karena menghambat akses kepada masyarakat yang merupakan sumber dana dan penghasilannya. BKD telah beroperasi selama satu abad dan BKK selama hampir tiga dasawarsa dengan pendekatan pasar yang telah membuat mereka lestari (sustainable) dan mandiri. Mengingat pula bahwa lamanya waktu pemrosesan kredit juga berpengaruh cukup kuat kepada kinerja. Pengawas BPR hendaknya tidak melihat pemberian kredit dalam jumlah kecil-kecil pada LKM sebagai suatu hal yang “tidak efisien” atau “tidak maju”. maka keputusan pemberian kredit kepada peminjam baru hendaknya dilakukan sesegera mungkin. LKM diharapkan membuka sebanyak mungkin pos pelayanan dan/atau mengintensifkan kunjungan lapangan.52 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Otoritas perbankan hendaknya tidak melarang pembukaan pos pelayanan ataupun memberi sanksi berupa penutupan pos pelayanan (“kantor di bawah kantor cabang”) kepada LKM yang sudah menjadi BPR karena alasan tingkat kesehatan yang tidak baik. Adanya kredit dari pemerintah untuk BPR condong menguntungkan BPR Gaya Baru yang dimiliki para pemodal berdasi. seperti terlihat pada gejala pemberian kredit BKK di atas. Mendorong LKM untuk memberikan kredit dalam jumlah yang semakin besar berarti menjauhkan LKM dari nasabahnya yang miskin. keadaannya justru dibuat seperti “telor di ujung tanduk” karena banyaknya programprogram kredit murah bersubsidi di perdesaan. Maret 1999 meningkatkan tabungan. karena pengertian “kantor di bawah kantor cabang” bagi LKM umumnya bukan merupakan gedung atau kantor seperti bank umum. 3. 4.

May 1993 Dibyo Prabowo dan Sayogyo: The Green Revolution: Sidoarjo. Statistik Nonparametrik . 497-0341) in Indonesia.. Zaim. Inc. Zanzawi Suyuti & Landung Simatupang. Gary E. July 1995 Development Alternatives. Secangkir Kopi Max Havelaar. Perkembangan BKK dan BPR-BKK. Westview Press. Jakarta. PT Gramedia Pustaka Utama-Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia. LPPI. and Subang. 1981 Saidi. 1995 Siegel.Gramedia. 1988 . USAID Program and Operations Assessment Report No. dkk.1997 Suharto.(ed). East Java. West Java. Boulder. Maximizing the Outreach of Microenterprise Finance. LSM dan Kebangkitan Masyarakat. dalam Hansen. Agricultural and Rural Development in Indonesia. Jakarta. Robert Peck. Project Completion Report of Technical Support Provided to the Financial Institutions Development Project (USAID No. 31 Maret 1994 Christen. Di era reformasi ini pemerintah seyogianya lebih membina semangat keswadayaan masyarakat dan tidak menggunakan program-program kredit murah sebagai alat politik karena merusak moralitas masyarakat perdesaan yang masih jujur seperti terbukti dari perilakunya terhadap LKM. Pandu. Sejarah Pendirian Bank Perkreditan Rakyat.Jakarta. 10. terj. Daftar Pustaka Badan Pembina BKK Propinsi Jawa Tengah.Kinerja Lembaga Keuangan Mikro dan Perilaku Masyarakat Pedesaan 53 memungkinkan mereka menurunkan sukubunga kreditnya sehingga menambah pesaing bagi LKM. Sidney.

Rp 20 juta). relatif kecilnya skala kredit yang diberikan (Rp 5.000 s. serta kekurangan likuiditas juga disebabkan karena obligasi yang diterbitkan untuk membayar obligasi yang jatuh tempo. Bagian Studi Struktur dan Perkembangan Pasar Keuangan. serta tidak adanya sistem yang mampu mengantisipasi resiko fluktuasi harga barang jaminan khususnya emas. bahkan menunjukkan peningkatan kinerja baik operasional maupun keuangan. UREM. Dalam kondisi krisis tersebut. Dalam masa krisis ini. Penulisan paper ini juga dibantu oleh Didy Laksmono. beberapa kelemahan prosedur yang berpotensi menimbulkan penyimpangan. USDM. Bagian Studi Struktur dan Perkembangan Pasar Keuangan. Perum Pegadaian menghadapi permasalahan temporer berupa lonjakan nasabah (puncaknya terjadi pada Juni 1998) yang mendorong Perum Pegadaian melakukan overdraft sangat besar atas fasilitas kredit yang diperoleh dari BRI. *) Penulis utama dari paper ini adalah : Satrio Wibowo : Kepala Bagian Pendidikan dan Pengembangan Pegawai. BI.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 55 KEGIATAN USAHA PERUM PEGADAIAN DAN PERANANNYA DALAM MENDUKUNG PEMBERDAYAAN EKONOMI RAKYAT Satrio Wibowo dan Gunawan *) Krisis ekonomi yang terjadi sejak pertengan tahun 1997 telah berdampak luas terhadap segala aspek perekonomian. . serta mudahnya prosedur gadai. dan Sudiro Pambudi. Perum Pegadaian (PP) merupakan salah satu lembaga keuangan yang masih mampu bertahan. email: gunawan@bi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dibandingkan dengan peer-groupnya (BPR dan BRI Udes) secara umum kinerja PP relatif lebih baik. Makalah ini ditulis ketika yang bersangkutan masih menjadi Peneliti Ekonomi . UREM. Gunawan : Asisten Peneliti. Bank Indonesia.d. suku bunga yang dikenakan relatif rendah. Permasalahan lain yang bersifat struktural antara lain rentang kendali yang terlalu luas namun tidak ditunjang sistem pengawasan yang memadai. Untuk mewujudkan potensi tersebut terlebih dahulu harus dibenahi berbagai kelemahan khususnya kelemahan struktural yang ada. sistem manajemen yang sentralistik sehingga berpotensi menghambat kinerja. Sedangkan untuk meningkatkan efisiensi pembiayaan usaha kecil perlu dikaji kemungkinan pemberian izin bagi perusahaan/lembaga lain untuk bergerak dalam usaha pegadaian. kurang diminati masyarakat. BI. khususnya sektor perbankan yang berakibat terhentinya aliran kredit perbankan. Bagian Studi Struktur dan Perkembangan Pasar Keuangan.id. Ridho Hakim. Erwin Gunawan. Potensi Perum Pegadaian untuk lebih berperan dalam pemberdayaan ekonomi rakyat dapat dilihat dari keberpihakan terhadap masyarakat berpendapatan rendah (mayoritas nasabah). Porsi kredit yang diberikan oleh PP semakin meningkat walaupun secara nominal relatif lebih kecil dibandingkan dua lembaga tersebut. Untuk mengatasi permasalahan tersebut Perum Pegadaian telah menerima bantuan dalam bentuk RDI dari pemerintah dan KLBI.go. Budi Wikanto. UREM. BI.

Meningkatnya inflasi tersebut telah mengakibatkan semakin melemahnya daya beli masyarakat. jika tidak dapat diatasi akan berpotensi mendorong terjadinya gejolak sosial ekonomi yang lebih luas.8 juta orang. Hal tersebut didorong pula oleh meningkatnya jumlah pengangguran sebagai dampak dari banyaknya perusahaan yang pailit dan melemahnya investasi. Hal ini tercermin dari beberapa indikator ekonomi makro seperti pertumbuhan ekonomi yang merosot tajam. yaitu melemahnya nilai tukar rupiah (imported inflation) dan kelangkaan pasokan (supply shortage) khususnya sembilan bahan pokok. khususnya masyarakat kecil. laju inflasi yang meningkat dan angka pengangguran yang melonjak.56 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Maret 1999 I. Jika pada tahun 1996. maka berdasarkan perkiraan BPS jumlah tersebut pada pertengahan 1998 meningkat empat kali mencapai 79. Pemerintah telah menempuh serangkaian langkah dan tindakan yang juga memperoleh bantuan dari beberapa lembaga internasional. Krisis ekonomi yang berkepanjangan. melambatnya pertumbuhan ekonomi disebabkan oleh melemahnya permintaan domestik. Salah satu langkah yang ditempuh adalah pemberdayaan ekonomi rakyat yang bertujuan meningkatkan akses rakyat kecil terhadap perekonomian dan mengutamakan kepentingan rakyat. .35 juta orang.5 juta orang. khususnya konsumsi rumah tangga dan investasi swasta. Melonjaknya jumlah pengangguran dan penduduk miskin tersebut.4 juta orang tiap tahun. Latar Belakang Masalah K risis ekonomi di Indonesia yang berlangsung sejak pertengahan tahun 1997 telah berdampak luas terhadap hampir semua aspek perekonomian. ” Perhitungan Jumlah Penduduk Miskin 1998”. melambatnya pertumbuhan ekonomi terutama disebabkan oleh tingginya biaya impor bahan baku.7% pada tahun 1997 menjadi -13.67 juta orang warga pedesaan1 . pada tahun 1998 diperkirakan membengkak hingga mencapai 13. telah mengakibatkan terjadinya kontraksi perekonomian dan mendorong meningkatnya jumlah penduduk miskin. Jumlah perkiraan tersebut terdiri dari 22.68% pada tahun 1998. Dari sisi permintaan. Pemerintah juga mendorong komitmen perbankan dalam 1 Badan Pusat Statistik. Tingginya laju inflasi terutama disebabkan oleh dua hal pokok. Dari sisi penawaran.31% pada tahun 1997 menjadi 77. Jumlah pengangguran yang pada masa sebelum krisis berkisar antara 3 . Sehingga dikhawatirkan akan semakin memperparah kondisi perekonomian nasional Dalam upaya penyehatan perekonomian nasional. Sedangkan laju inflasi yang diukur dengan IHK meningkat tajam dari 10. Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) merosot dari 4.68 juta orang warga perkotaan dan 56. Selain itu.63% pada tahun 1998.1. jumlah penduduk miskin di Indonesia berdasarkan data SUSENAS berjumlah 22. Pendahuluan 1.

sumber daya manusia yang memadai serta jaringan usaha yang luas. Hipotesa Kegiatan usaha Perum Pegadaian dapat dikembangkan untuk mendukung perkembangan usaha kecil khususnya sektor informal. 1. cepat. Sehubungan dengan kondisi tersebut. untuk mendorong pertumbuhan ekonomi diperlukan peran lembaga keuangan lain yang dapat berperan sebagai complementary institutions dari perbankan. Sektor keuangan khususnya perbankan yang selama ini sangat berperan dalam menggerakkan roda perekonomian. serta ancaman kesulitan likuiditas yang masih berlangsung hingga awal tahun 1999 ini.2. mudah dan cepat. menengah dan koperasi. Salah satu lembaga keuangan selain bank yang telah lama dikenal masyarakat adalah Perum Pegadaian. khususnya usaha kecil dan dalam masa krisis ini juga telah menjadi salah satu alternatif pemenuhan kebutuhan pembiayaan bagi sebagian masyarakat yang terkena dampaknya. Hal tersebut didukung oleh karakteristik Perum Pegadaian. jaringan kantor dan wilayah kerja yang menjangkau hampir seluruh wilayah Indonesia serta prosedur yang sederhana. serta dengan melakukan reformasi struktural untuk meningkatkan efisiensi perekonomian. Pada masa krisis. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari peran usaha Perum Pegadaian serta potensinya untuk ikut berperan dalam pelaksanaan program Jaring Pengaman Sosial (JPS). terutama prosedurnya yang sederhana.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 57 pengembangan usaha kecil. antara lain dengan melaksanakan program Jaring Pengaman Sosial (JPS) untuk memberdayakan masyarakat (khususnya yang terkena dampak langsung dari krisis ekonomi). Disamping itu. Kinerja perbankan yang memburuk tersebut mengakibatkan terhambatnya penyaluran kredit. Upaya-upaya tersebut juga diimbangi dengan upaya lain di sektor riil. memburuknya net interest margin dan kondisi permodalan. tentunya sangat diperlukan untuk membantu pemulihan perekonomian nasional. 1. . sejak terjadinya krisis ekonomi perbankan nasional juga menghadapi permasalahan yang cukup berat. terganggunya fungsi intermediasi perbankan tersebut memberi peluang bagi Perum Pegadaian untuk semakin berperan dalam pembiayaan. dan aman merupakan suatu potensi keunggulan Perum Pegadaian dibandingkan dengan lembaga keuangan lainnya. sesuai dengan tujuan Perum Pegadaian yang tidak hanya semata-mata mencari untung tetapi juga sebagai penunjang kebijakan dan program Pemerintah di bidang ekonomi dan pembangunan nasional melalui penyaluran pinjaman atas dasar hukum gadai. mudah. Hal tersebut ditandai dengan meningkatnya jumlah non performing loan. Namun.3. Peran dalam pembiayaan nasabah kecil tersebut.

10 Desember 1998. 1. serta dengan mewawancarai beberapa nasabah yang dipilih sebagai responden di kantor-kantor cabang tersebut. Sedangkan wilayah timur diwakili oleh 1 kantor daerah di Pulau Sulawesi. untuk memperoleh data mengenai keadaan dan operasionalisasi Perum Pegadaian dilakukan metode survey terhadap kantor pusat. sifat Pegadaian adalah menyediakan pelayanan bagi masyarakat umum dan sekaligus memupuk keuntungan berdasarkan prinsip pengelolaan perusahaan yang sehat. Perum Pegadaian telah merancang Rencana Jangka Panjang II (RJP II) yaitu periode tahun 1997-2001. 10/1990 tanggal 10 April 1990 status Perjan Pegadaian diubah menjadi Perusahaan Umum (Perum) Pegadaian guna meningkatkan efisiensi dan produktivitas usaha. Dalam upaya meningkatkan kinerja perusahaan. Wilayah tengah diwakili oleh 1 kantor daerah di Pulau Bali dan 1 kantor daerah di Pulau Kalimantan. Maret 1999 Sesuai dengan karakteristik usaha dan mayoritas nasabah Perum Pegadaian yang merupakan masyarakat berpendapatan rendah. berupa data keuangan. 8 kantor daerah. II.d September 1998. Disamping itu. Dengan status sebagai Perum.58 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. penelitian juga dimaksudkan untuk mempelajari peran dan potensi Perum Pegadaian dalam mendukung pemberdayaan usaha kecil. Dengan PP No. manajemen maupun dari sumber lainnya. khususnya sektor informal. dengan periode pengamatan sejak tahun 1996 s. maka Perum Pegadaian berpotensi untuk berperan serta dalam program JPS. kepegawaian. Nasabah yang dipilih sebagai responden dikelompokkan sebagai nasabah biasa dan nasabah yang dianggap potensial (prima) berdasarkan frekwensi dan lamanya berhubungan dengan Perum Pegadaian. Pada tahun 1961. Disamping itu. statusnya diubah menjadi Perusahaan Negara (PN). Tengah dan Timur.4 Metode Penelitian Penelitian dilakukan dengan melakukan analisis data sekunder dan primer. ketentuan-ketentuan operasional. Wilayah barat diwakili oleh 3 kantor daerah di Pulau Jawa dan 2 kantor daerah di Pulau Sumatera. Survey tersebut dilaksanakan pada tanggal 23 November . Data sekunder yang dipergunakan berupa laporan-laporan yang telah tersedia dari Perum Pegadaian. data operasional. 36 kantor cabang. RJP II ini merupakan . Salah satu produk Perum Pegadaian adalah memberikan kredit berdasarkan hukum gadai. Profil Perum Pegadaian Pegadaian Negeri didirikan pertama kali oleh pemerintah Hindia Belanda pada tanggal 1 April 1901 di kota Sukabumi dengan status Jawatan. Sampel kantor daerah dipilih dengan sistem purposive sampling yang mewakili wilayah Indonesia Bagian Barat. namun diubah kembali menjadi Perusahaan Jawatan (Perjan) tahun 1969.

sasaran pengusahaan dan strategi pokok perusahaan dalam periode RJP II. Namun target tersebut tidak tercapai pada tahun 1998 karena tidak memperoleh ijin dari Menkeu dengan pertimbangan (i) masih besarnya misi sosial yang harus dilaksanakan oleh Perum Pegadaian. Perum Pegadaian menyusun suatu strategi pokok perusahaan yang meliputi : a. 2 Menurut Perum Pegadian. d. b. Misi perusahaan tersebut yaitu : Ikut meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat golongan menengah ke bawah melalui penyediaan dana berdasarkan hukum gadai secara inovatif dan melakukan usaha lain yang menunjang. sasaran pengusahaannya adalah : a. b. 2) melaksanakan go public. c. Meningkatkan pelayanan kepada seluruh nasabah dengan baik. b. Berdasarkan visi tersebut. peluang dan ancaman (analisis SWOT) yang dihadapi dalam Pembangunan Jangka Panjang Tahap II (PJPT II).2% per tahun. Memiliki kinerja sehat sekali (SS) dengan rating minimal “A” 1 . c. Arah pengusahaan dalam periode ini adalah : 1) menjadi persero pada tahun 19982 . Visi Perum Pegadaian dalam PJPT II ini adalah : a.1% dari laba usaha. Laba bersih (earnings after taxes) meningkat dengan 30.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 59 bagian dari visi Perum Pegadaian yang dirumuskan dengan mengindentifikasi kekuatan. . (ii) kekhawatiran bahwa dengan status persero Perum Pegadaian akan meninggalkan segmen nasabah kecil dengan tujuan untuk memperoleh laba maksimal. kelemahan. Omzet perkreditan meningkat dengan 20% per tahun. dan 3) memiliki kinerja dan citra yang meningkat. Meningkatkan produktivitas di seluruh bidang kegiatan. Memiliki SDM yang handal dan profesional. Sementara. Meningkatkan efisiensi perusahaan 1 Yang dimaksud dengan rating “A” sesuai dengan definisi PT. c. Posisi keuangan yang likuid dan solvabel dengan current ratio di atas 1 dan debt to equity ratio di bawah 3. Hasil usaha lain-lain menyumbang sekitar 5. cepat dan manusiawi. Menjadi lembaga keuangan yang modern dan dinamis. Pefindo merupakan perusahaan atau efek hutang yang berisiko investasi rendah dan berkemampuan baik untuk membayar bunga dan pokok hutang sesuai dengan yang diperjanjikan dan hanya sedikit dipengaruhi oleh perubahan keadaan yang merugikan. Melaksanakan optimalisasi kantor-kantor cabang sebagai ujung tombak operasi perusahaan. serta membuka anak perusahaan. Untuk mendukung pencapaian sasaran tersebut. target menjadi Persero terutama bertujuan untuk mengatasi kelemahan pendanaan dengan menjual saham di bursa. Perum Pegadaian merumuskan misinya yang dijadikan acuan untuk menentukan arah pengusahaan. d.

sehingga bisa meningkatkan citra perusahaan dan nasabah tidak malu lagi untuk datang ke Pegadaian. Melaksanakan pengembangan produk baru hingga mampu menyumbangkan 20% dari total pendapatan usaha. Dua diantaranya yaitu jasa titipan dan taksiran sudah dilaksanakan. Usaha ini juga mempunyai misi sosial untuk mendidik masyarakat untuk berinvestasi dalam bentuk emas serta meningkatkan image masyarakat terhadap Perum Pegadaian b. . Produk baru yang masih dalam lingkup usaha gadai seperti jasa titipan. Perum Pegadaian telah merencanakan untuk melakukan ekspansi jenis produk perusahaan dengan mengembangkan usaha baru. pedagang valuta asing dan leasing. factoring. usaha toko emas sudah dilaksanakan di 28 kantor cabang Perum Pegadaian. jasa sertifikasi kadar emas. seperti yang telah dilaksanakan di lokasi Salemba dan Pasar Baru. Sebagai implementasi dari salah satu strategi pokok perusahaan. Produk-produk usaha baru tersebut merupakan upaya untuk mengoptimalkan aset. yaitu pemanfaatan 20 lokasi strategis yang nantinya dapat merupakan kompleks lokasi usaha. Dalam menjalankan tugas rutin di 3 Menurut Perum Pegadaian.3 Produk usaha baru yang sama sekali di luar usaha gadai dan lembaga keuangan seperti toko emas. Memperluas jaringan pelayanan dengan membuka cabang-cabang baru di daerah yang potensial. Sampai dengan 30 September 1998.1. 2. khususnya di kawasan timur Indonesia. bidang keuangan. guarantee fund. Khusus untuk bisnis properti dapat dilakukan melalui kerja sama dengan pihak ketiga (investor) dengan sistem Built Operate and Transfer (BOT). properti (gedung perkantoran. dan bidang umum. modal ventura.60 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. f. jasa taksiran. kredit dengan jaminan surat berharga dan sertifikat tanah dan kredit dengan sistem pinjam pakai. Produk-produk baru tersebut meliputi : a. leasing yang akan dilaksanakan merupakan leasing menurut format Perum Pegadaian dimana barang jaminan yang digadaikan tidak disimpan oleh Perum Pegadaian namun tetap dapat digunakan oleh nasabah untuk menjalankan usahanya (diestimasikan akan dilaksanakan pada tahun 2000). c. Produk baru di luar lingkup usaha gadai tetapi masih dalam lingkup lembaga pembiayaan seperti BPR. franchisor usaha gadai. Maret 1999 e. hotel/penginapan dan ruko) dan toko barangbarang perhiasan/asesoris dan arloji. Kepengurusan dan Kelembagaan Perum Pegadaian memiliki 4 orang anggota direksi yang terdiri dari satu orang direktur utama dan 3 orang direktur yang masing-masing membawahi bidang operasi dan pengembangan.

Sampai dengan September 1998. 58 diantaranya merupakan anak cabang (Ancab) yaitu cabang yang baru berdiri (biasanya kurang dari 2 tahun).Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 61 kantor pusat. Bagan 1. Untuk meningkatkan profesionalitas pegawai Perum Pegadaian memiliki Balai Diklat yang langsung berada di bawah direksi. . direksi dibantu oleh 9 subdirektorat (subdit) yang masing-masing memiliki rincian tugas sesuai bidangnya (Lampiran 1).4 Struktur organisasi Perum Pegadaian ditunjukkan bagan 1. Selain itu.2/41/10 sebagai upaya untuk meningkatkan sistem dan sarana pengawasan yang memadai. Dari 633 Kanca tersebut. Kegiatan operasional Perum Pegadaian dilaksanakan melalui kantor-kantor cabang (Kanca) yang dikoordinasikan oleh kantor daerah (Kanda). Kp. Perum Pegadaian membentuk Subdit Teknologi Informasi berdasarkan Keputusan Direksi No. Struktur Organisasi Perum Pegadaian Direksi Direktur Utama Direktur Operasi dan Pengembangan Direktur Keuangan Direktur Umum Subdit OPP SPI Subdit LB Subdit SP Subdit AP Subdit AK Subdit PB Kantor Daerah Kantor Cabang Subdit KP Subdit BG Subdit TURT Balai Diklat Keterangan : OPP = Operasi dan Pengembangan KP = Kepegawaian LB = Penelitian dan Pengembangan Operasi BG = Bangunan SP = Kesekretariatan Perusahaan TURT = Tata Usaha dan Rumah Tangga AP = Anggaran dan Permodalan AK = Akuntansi P = Perbendaharaan 4 Tanggal 25 November 1998. Perum Pegadaian juga memiliki Satuan Pengawasan Intern (SPI) yang bertanggung jawab langsung kepada direksi. Perum Pegadaian telah memiliki cabang di 27 propinsi dengan jumlah Kanca mencapai 633 buah dengan dikoordinasikan oleh 14 kantor daerah (Lampiran 2).

1 5 . Efisiensi (bobot nilai 40).1 Perbandingan Tipe Kantor Daerah Jabatan Ka Kanda Inspektur Daerah Kepala Seksi Pemeriksa Ka Sub Seksi Pemeriksa Pembantu Staf Pemeriksa Sumber : Perum Pegadaian Kanda Tipe A 1 1 4 2 12 3 2 Kanda Tipe B 1 0 2 1 8 3 0 Kanca Perum Pegadaian digolongkan menjadi 3 kelas. Omzet usaha (bobot nilai 40). yang mencerminkan tingkat kemampuan penjualan produk (produktivitas). yang diukur dari besarnya surplus (laba-rugi) cabang dalam satu periode akuntansi. Perbandingan Kanda tipe A dan B dapat dilihat dalam tabel 2. jumlah Kanca untuk masing-masing kelas per Juni 1998 adalah : kelas I sebanyak 54. per Juni 1998 jumlah Kanca Pegadaian di Pulau Jawa merupakan yang terbanyak yaitu 401 buah atau 64. Kanda tipe A memiliki struktur organisasi yang lebih lengkap dibandingkan Kanda tipe B karena besarnya jumlah Kanca yang dibawahinya. Barang jaminan (bobot nilai 10). d. kelas II sebanyak 78 dan kelas III sebanyak 491. Formasi dan adanya pegawai Kanca (bobot nilai 20). perawatan dan faktor risiko. II. Ditinjau dari kuantitasnya. c.4%. Pembagian kelas masing-masing Kanca dilakukan berdasarkan tingkat efisiensi dan produktivitas yang diukur dari 4 faktor yaitu : a.62 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. yaitu kelas I. dan III. b. . Seluruh kantor yang berstatus Ancab diklasifikasikan sebagai cabang kelas III. yang mencerminkan tingkat tanggung jawab penanganan/pengelolaan. Maret 1999 Kanda Perum Pegadaian terdiri dari dua tipe yaitu tipe A dan B. Berdasarkan keempat kriteria di atas. 5 Jumlah total pemeriksa per Kanda sejak 1 Februari 1999 telah diperbanyak menjadi 6-7 orang. yang mencerminkan tingkat efektivitas dan kemampuan pegawai sebagai sumber daya dalam menjalankan perusahaan. Tabel 2.

3. pedagang dan lain-lain. Perum Pegadaian juga melakukan peningkatan kualitas karyawan yang terlihat dari meningkatnya jumlah karyawan yang berpendidikan S1 dan S2 dan berkurangnya karyawan yang berpendidikan SD sampai dengan D3.541 orang). b. Perum Pegadaian diantaranya menggunakan papan-papan reklame. merupakan jasa utama Pegadaian yaitu memberikan pinjaman kepada masyarakat berdasarkan hukum gadai. 2. Jasa titipan. yang terdiri dari 4. Misalnya.233 orang. Manajemen dan Instrumen Kebijakan Dalam menjalankan usahanya Perum Pegadaian melaksanakan fungsi-fungsi manajemen dan menetapkan kebijakan-kebijakan yang menjadi patokan bagi Kanda maupun Kanca. . leaflet. ketersediaan sumber daya manusia dan dana. nelayan. Jasa gadai. Konsumen sasaran Perum Pegadaian ini adalah seluruh lapisan masyarakat yang membutuhkan dana-dana jangka pendek. Hal ini berkaitan dengan salah satu upaya Perum Pegadaian untuk meningkatkan efisiensi.817 pegawai tetap dan 1. d. pembukaan toko emas yang hingga September 1998 baru berjumlah 28 buah.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 63 Jumlah karyawan Perum Pegadaian hingga Oktober 1998 mencapai 6. media elektronis. Tidak semua Kanca menyediakan keempat jenis produk tersebut. Jumlah karyawan tetap ini lebih rendah dari jumlah pada akhir 1996 (5. Komposisi karyawan tetap menurut jenjang karir dan pendidikan dapat dilihat dalam lampiran 3. Jasa taksiran. yaitu toko emas Pegadaian yang menjamin kualitas emas/perhiasan yang dijualnya. 2.2.426 pegawai tidak tetap. Perum Pegadaian telah berhasil melayani kebutuhan 5. yang ditujukan untuk memberikan keyakinan kepada masyarakat atas kualitas barang-barang perhiasan miliknya. Produk dan Pasar Produk-produk Perum Pegadaian yang sudah tersedia hingga saat ini meliputi empat jenis produk. yaitu : a. Dalam memperkenalkan produk-produknya. c. pelaku industri. Selama tahun 1997. Berikut merupakan uraian tentang kebijakan-kebijakan dan fungsi pengawasan yang dilaksanakan oleh Perum Pegadaian.3 juta orang yang terdiri dari petani. Galeri 24. Selain terjadi pengurangan jumlah. menjadi sponsor kegiatan olahraga serta dengan layanan yang relatif mudah dan cepat. Hal ini terkait dengan fasilitas. yang ditujukan untuk memberikan rasa aman kepada masyarakat atas barang-barang yang dimilikinya apabila akan bepergian dalam jangka waktu yang cukup lama.

Besarnya jumlah dana yang diterima oleh masing-masing Kanda tersebut ditentukan berdasarkan hasil evaluasi perkembangan omzet selama 6 bulan terakhir dan dievaluasi setiap 3 bulan. Perum Pegadaian membagi pemberian kredit kepada nasabah menjadi empat golongan yaitu Golongan A (kredit Rp 5. deposito.3. Dengan demikian Kanda dapat mengontrol secara langsung kebutuhan dana masing-masing Kancanya.1. penerbitan obligasi dan MTN. Bila terdapat nasabah yang ingin memperoleh kredit melebihi batas maksimum maka cabang tersebut harus meminta persetujuan dari Kanda.0 %) pada September 1998 (Lampiran 4). Kebijakan Pendanaan Dalam penyediaan dana bagi keperluan usahanya. Penghimpunan dana hanya dapat dilakukan oleh kantor pusat. Mengingat besarnya permintaan terhadap jasa gadai dari masyarakat. Sejak Desember 1997.2. Untuk itu Perum Pegadaian mencari sumber-sumber pendanaan baru untuk menambah modal kerja melalui pinjaman bank. Golongan B (kredit . Sementara pinjaman dari bank pada posisi September 1998 mencapai Rp 321 miliar. tetapi sejak 30 Juli 1998 batas maksimum kredit diturunkan menjadi Rp 5 juta per SBK.3.000).5 miliar.25 miliar dan dari saldo laba sebesar Rp 111. penyertaan modal pemerintah Rp 46. Perum Pegadaian memiliki beberapa sumber. Bila terjadi kekurangan dana. maka Kanca harus meminta tambahan dana kepada Kandanya masing-masing dan tidak diperkenankan untuk melakukan transfer langsung antarcabang. sehingga Kanda dan Kanca hanya melaksanakan penanaman dana berdasarkan alokasi dana yang diberikan. Kebijakan Penanaman Dana Penanaman dana Perum Pegadaian dilakukan dalam bentuk kredit. 2. Hingga saat ini Perum Pegadaian telah menerbitkan 5 seri obligasi dengan nilai nominal keseluruhan Rp 425 miliar. maka modal tersebut tidak lagi mencukupi. suratsurat berharga dan penyertaan di perusahaan lain. Perum Pegadaian telah menerbitkan MTN sebanyak 4 kali dengan nilai nominal keseluruhan Rp 16. Selain itu. Sesuai dengan hukum gadai.64 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.75 miliar (91. Biasanya batas maksimum kredit yang dapat diberikan oleh masing-masing cabang mencapai Rp 20 juta per SBK (Surat Bukti Kredit).85 miliar (per 30 September 1998). pada bulan September 1998 Perum Pegadaian memperoleh pinjaman dari pemerintah berupa Rekening Dana Investasi (RDI) sebesar Rp 100 miliar dengan jangka waktu 3 tahun. Dana yang telah dihimpun ini kemudian didistribusikan dari kantor pusat ke Kanca melalui masing-masing Kandanya. Maret 1999 2.000-Rp 40. kredit yang diberikan dijamin dengan barang jaminan nasabah. Kredit kepada masyarakat merupakan porsi terbesar penanaman dana yang mencapai Rp 756. Sebagai sumber utama adalah modal awal Perum Pegadaian yang berjumlah Rp 205 miliar.

3. Sementara. 2.000-Rp 5.000-Rp 500.500-Rp150. Selain itu. taksiran. Jasa produksi.000. b. sesuai dengan PP No. Alokasi Laba Setelah diaudit.3.000).Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 65 Rp 40. dan e. Penaksir menetapkan harga pedoman standar. Prosedur Kredit Dalam memberikan kredit. dan uang pinjaman (UP) yang dapat diberikan berdasarkan plafon UP yang yang menjadi wewenangnya (Lampiran 6).4. Kemudian 45% dari sisa penyisihan tersebut dialokasikan untuk lima hal berikut yang masing-masing persentase alokasinya ditetapkan oleh Menteri Keuangan. c. Berikut ini merupakan ilustrasi proses memperoleh kredit di Perum Pegadaian. Sokongan dan sumbangan ganti rugi. a. Jika UP yang dapat diberikan melebihi kewenangannya. Jangka waktu kredit maksimum adalah 120 hari dengan bunga dihitung setiap 15 hari. Golongan C (kredit Rp 151. maka harus diajukan dan disetujui oleh kepala Kanca selaku kuasa pemutus kredit (KPK). nasabah juga dikenakan biaya penitipan dan asuransi (PA) yang besarnya disesuaikan dengan jenis barang dan golongannya. penyusutan dan pengurangan yang wajar lainnya. Sumbangan dana pensiun. sebesar jumlah tertentu disisihkan untuk cadangan tujuan. Sosial dan pendidikan. Nasabah membawa barang jaminan Penaksir Kasir menerima kredit Nasabah Nasabah yang datang ke Pegadaian terlebih dulu menyerahkan barang-barang bergerak sebagai agunan kepada petugas penaksir yang disertai dengan identitas diri.000) dan Golongan D (kredit Rp 510. Jika besarnya UP yang telah diputuskan . Petugas penaksir memeriksa keadaan barang termasuk kelengkapan yang disyaratkan. Perum Pegadaian memiliki mekanisme dan prosedur yang harus dilalui oleh nasabah. d. Tabel selengkapnya dapat dilihat dalam lampiran 5. Cadangan umum yang dilakukan sampai cadangan mencapai sekurang-kurangnya dua kali lipat dari modal yang ditempatkan.000). dari laba bersih yang diperoleh Perum Pegadaian.3. 13/1998. 2. sisa dari keseluruhan penggunaan laba bersih di atas disetorkan sebagai Dana Pembangunan Semesta (DPS). DPS yang menjadi hak negara wajib segera disetorkan ke Bendahara Umum Negara setelah Laporan Tahunan disahkan.

. mobil juga harus dalam keadaan terkunci dan bila ada tutupnya (cover) digunakan dengan baik agar tidak kotor. Barang kantong ini disimpan dalam kamar emas (kluis/khasanah). Barang masuk dan keluar selalu dicatat sehingga pada akhir hari dapat ditentukan saldo barang jaminan. Sistem Pengelolaan Barang Jaminan Barang-barang jaminan yang diterima oleh Pegadaian ditatausahakan dalam suatu Buku Gudang yang diisi menurut golongan. Barang jenis ini disimpan di dalam gudang. rubrik dan ribuan. maka petugas gudang tersebut dapat menunjuk dua orang pegawai lainnya sebagai pengganti sementara dan harus diberitahukan kepada kepala cabang. Setelah ditandatangani nasabah dan penaksir/KPK. Mobil disimpan dalam tempat tertutup. dengan terlebih dahulu membayar biaya penyimpanan dan asuransi (PA) yang telah ditetapkan sesuai dengan besarnya UP dan jenis barang yang diagunkan. perhiasan atau barang-barang kecil lainnya yang masuk di dalam kantong disebut barang kantong dengan rubrik K. 2. Pegawai yang bertanggung jawab (sesuai dengan SK penunjukan) atas pengelolaan gudang dan semua barang yang ada di dalamnya disebut petugas gudang. Untuk mencegah terjadinya kesalahan atau penyimpangan dalam pengelolaan gudang maka Perum Pegadaian membuat prosedur pemeriksaan barang jaminan. Pegawai yang menjadi petugas gudang mempunyai masa tugas maksimum selama 6 bulan. SBK diserahkan kepada nasabah. sedangkan yang mengelola barang gudang dan barang kain disebut pemegang gudang. Dalam hal petugas gudang berhalangan sampai dengan 7 hari. Pada SBK tersebut dimuat nama dan alamat nasabah. Di samping itu. Posedur tersebut dapat dilihat dalam lampiran 7. Barang emas. petugas gudang lama tetap bertanggung jawab atas barang jaminan di dalam gudang. Petugas gudang yang mengelola barang kantong disebut penyimpan. keterangan barang jaminan. Maret 1999 oleh penaksir maupun KPK telah disepakati oleh nasabah.5. saldo Buku Gudang ini dicocokkan dengan saldo Ikhtisar Kredit dan Pelunasan. tidak kena hujan dan panas. Sedangkan barang jaminan yang tidak masuk di dalam kantong disebut dengan barang gudang dengan rubrik G. Tempat penyimpanan barang tersebut harus selalu dalam keadaan tertutup dan terkunci apabila tidak ada keperluan. Selain petugas gudang dilarang untuk memasuki gudang tanpa mendapat izin dari petugas tersebut. Walaupun telah digantikan petugas sementara.3. besarnya taksiran dan UP.66 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Untuk mengontrol kebenarannya. Nasabah mengambil UP pada kasir seperti yang tertera pada SBK. Untuk barang-barang tertentu seperti kamera dan mobil mendapat perlakuan khusus. maka diterbitkan Surat Bukti Kredit (SBK) sesuai dengan golongannya. Kamera harus disimpan dalam tempat tertutup (lemari kaca atau peti kayu yang tidak lembab) yang diberi penerangan cukup.

maka kelebihannya akan dikembalikan kepada nasabah tersebut. Lokasi kanca. Lelang dilaksanakan tidak pada hari libur. setiap Kanda membuat suatu daftar ikhtisar lelang berdasarkan usulan dari masing-masing kanca-nya dengan memperhatikan : a. agar bisa dijadikan acuan oleh masyarakat.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 67 2. Masing-masing kanca sedapat mungkin melaksanakan lelang pada hari dan tanggal yang sama setiap bulannya. Sebelum pelaksanaan lelang. Untuk menentukan tanggal lelang. b.7%). media cetak dan elektronik. Dalam bulan puasa lelang sedapat mungkin dilakukan sebelum lebaran. Hal ini dilakukan dengan penjualan barang jaminan tersebut pada waktu yang telah ditentukan. Sedangkan mutasi antarcabang merupakan upaya penjualan di kantor cabang yang berada di daerah lain yang diyakini dapat terjual lebih cepat (Lampiran 9). . untuk kanca-kanca yang lokasinya berdekatan tidak diizinkan untuk melaksanakan lelang pada hari dan tanggal yang bersamaan. Penjualan di bawah tangan merupakan penjualan yang terbuka bagi siapa saja yang berminat dengan suatu patokan harga minimum tertentu. Penundaan hari lelang ini harus diumumkan kepada masyarakat dan diberitahukan kepada Ka Kanda dan Inspektur Daerah. Sistem Lelang Lelang merupakan upaya pengembalian uang pinjaman beserta sewa modalnya yang tidak dilunasi sampai batas waktu yang ditentukan. Untuk barang-barang jaminan yang telah ditaksir dengan wajar tetapi tidak laku dilelang disebut sebagai Barang Sisa Lelang (BSL). c. Cara penyelesaian BSL ini dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dijual di bawah tangan dan dimutasikan antarcabang. Uang yang akan dibayar oleh pembeli harus ditambah 9% untuk ongkos lelang dan 0. Barang-barang yang telah laku pada saat lelang harus dibayar tunai setelah lelang ditutup. Bila hasil lelang melebihi nilai kewajiban nasabah. Media yang digunakan untuk mengumumkan tanggal lelang adalah melalui papan pengumuman di Kanca setempat. d.6. Perlakuan administrasi dan pembukuan terhadap BSL dapat dilihat dalam lampiran 8. Apabila di kemudian hari ternyata lelang tidak dapat dijalankan pada tanggal yang telah ditetapkan maka pelaksanaan lelang itu harus diundur pada hari berikutnya. Tim Pelaksana Lelang akan mengawasi/memeriksa jumlah setoran uang jaminan dari masing-masing peserta/calon pembeli. BSL dinilai berdasarkan harga pembeliannya yaitu sebesar harga jual minimal lelang tanpa tambahan biaya lelang (9. BSL ini ditetapkan menjadi aset perusahaan yang diakui dan dicatat sebagai transaksi mutasi aset dari Pinjaman Yang Diberikan (aktiva lancar) menjadi Aktiva Lainnya (aktiva tidak lancar).7% (tujuh permil) untuk dana sosial yang dihitung dari nilai lakunya lelang.3. pemberitahuan langsung oleh pegawai di loket dan pemberitahuan tertulis kepada pemilik barang dan Dinas Penerangan setempat (minimum 15 hari sebelum pelaksanaan).

Laporan operasional adalah laporan tentang perkembangan operasional Kanca yang meliputi laporan mingguan. rincian sisa uang pinjaman. dan perhitungan surplus operasi. ikhtisar barang sisa lelang.68 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. sisa uang kelebihan. kewajiban atasan untuk mengawasi c. masing-masing Kanca dan Kanda Perum Pegadaian secara internal juga diperiksa oleh SPI. Hal ini dilakukan karena Perum Pegadaian telah melakukan go public dengan menerbitkan obligasi. Kelayakan laporan keuangan Perum Pegadaian setiap tahun diperiksa oleh pihak eksternal. yang berisi perkembangan penyaluran kredit dan barang jaminan yang tercantum dalam laporan mingguan keuangan yang dikirimkan ke Kanda b. yang berisi laporan tentang : perkembangan usaha. Tujuan pembuatan laporan operasional ini adalah untuk menyediakan informasi tentang perkembangan operasional kepada manajemen sebagai dasar untuk pengambilan keputusan lebih lanjut pembinaan Kanca. Di kantor pusat laporanlaporan dari seluruh Kanda dikumpulkan sehingga dapat dibuat suatu laporan keuangan konsolidasi secara nasional yang diaudit setiap tahun. Sejak tahun 1993 audit terhadap laporan keuangan Perum Pegadaian dilakukan oleh akuntan publik. Pengawasan ditujukan untuk meyakinkan apakah kegiatan perusahaan telah dilaksanakan sesusai dengan rencana yang ditetapkan. Sebelumnya. penerimaan sewa modal dan biaya PA.7. Laporan tahunan. mutasi aktiva yang disisihkan. yang berisi laporan rincian sisa uang pinjaman dan perhitungan sewa modal. bulanan dan tahunan. Maret 1999 2. teknik serta metode dalam menjalankan fungsi pengawasan. yang berisi rekapitulasi dari laporan bulanan ditambah laporan mutasi aktiva serta laporan surplus usaha. Laporan semester. pemeriksaan atas laporan keuangan Perum Pegadaian dilakukan oleh BPKP. Selain kewajiban mengirimkan laporan ke kantor pusat. Sementara. Laporan bulanan. Sistem Pelaporan dan Auditing Setiap Kanca Pegadaian harus membuat laporan operasional rutin secara berkala. pemeriksaan merupakan bagian dari fungsi pengawasan yaitu tindakan secara fisik. Laporan-laporan yang dibuat oleh masing-masing Kanca tersebut di atas kemudian dikonsolidasikan oleh Kanda sebelum dikirimkan ke kantor pusat. Laporan mingguan. Aspek-aspek yang dilihat dalam melakukan pemeriksaan oleh SPI mencakup tiga hal yaitu sistem dan prosedur yang menyangkut kendali. barang jaminan yang tidak ditebus/dilelang/barang polisi. Jenis-jenis laporan operasional yang dibuat oleh Kanca yang harus dikirimkan ke Kanda adalah berbentuk : a. Tugas SPI tersebut adalah melakukan pengawasan dan pemeriksaan terhadap jalannya kegiatan perusahaan. .3. rincian data nasabah dan kredit menurut profesi. d.

menunjukkan terlalu luasnya rentang kendali Kanda terhadap kanca-kanca yang ada di bawah koordinasinya. sesuatu yang diatur secara umum yang diakui dan sesuatu yang diatur oleh ketentuan perusahaan. Sementara itu. Sebagai gambaran setiap kanda di pulau Jawa rata-rata membawahi lebih dari 50 Kanca. serta mempunyai nasabah . Berdasarkan perbandingan antara jumlah Kanca (633 kantor). Mengingat karakteristik Perum Pegadaian sebagai lembaga keuangan formal yang memberikan pinjaman berjangka pendek dalam skala kecil dengan sistem gadai. PENDEKATAN TEORITIS 3. Tolok ukur yang dipakai dalam melakukan pemeriksaan adalah membandingkan antara kondisi sebenarnya (fakta) dengan yang seharusnya (kriteria). III.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 69 bawahan (waskat) dan aparat pengawasan fungsional. dan (iii) Irwil III mengawasi kanda XI – XIV. Tugas Irda adalah mengawasi kanca-kanca di bawahnya dengan frekwensi 1– 4 kali pemeriksaan dalam satu tahun. serta bisa menyebabkan timbulnya berbagai penyimpangan seperti yang tercantum dalam lampiran 10. Tenaga pemeriksa di masing-masing Irwil rata-rata sejumlah 4 orang yang bertugas melakukan pemeriksaan terhadap setiap kanda dengan frekwensi 1 . Kondisi yang seharusnya merupakan sesuatu yang ditetapkan oleh peraturan/ketentuan pemerintah. yaitu : (i) Irwil I mengawasi kanda I – V. SPI tersebut dibagi menjadi 3 Inspektorat Wilayah (Irwil). Dalam melaksanakan tugasnya SPI dipimpin oleh seorang kepala yang bertanggung jawab langsung kepada Direktur Utama. frekwensi pemeriksaan serta jumlah tenaga pemeriksa di masing-masing Kanda. tidak melakukan penghimpunan dana seperti layaknya bank. Di setiap Kanda terdapat Inspektorat Daerah (Irda) yang dipimpin oleh orang kedua di kanda yang bersangkutan dengan tenaga pemeriksa berjumlah 4-5 orang.2 kali setahun. mempunyai jaringan kerja yang luas sampai ke daerah-daerah. Kanda-kanda lainnya di luar Jawa harus membawahi kanca-kanca yang secara geografis terlalu jauh. Dalam melakukan pemeriksaan seorang pemeriksa harus bersifat objektif dan independen karena pertanggungjawabannya langsung kepada direksi. Rentang kendali yang terlalu luas yang belum ditunjang dengan saluran komunikasi yang memadai (canggih) sangat tidak menunjang efektivitas pemantauan kinerja kantor-kantor cabang. Kanda (14 kantor). (ii) Irwil II mengawasi kanda VI – X.1 Pembiayaan Kredit Pedesaan Untuk memahami pegadaian terutama sebagai salah satu alternatif pembiayaan bagi usaha/nasabah kecil perlu dilakukan pendekatan yang mempunyai relevansi dengan kegiatan operasi lembaga keuangan baik formal maupun informal yang telah ada di masyarakat dalam penyaluran kredit.

Dengan kata lain. dan pemberian kredit tersebut lebih didasarkan pada unsur kepercayaan. koperasi dan pegadaian serta pasar kredit informal di pedesaan (rentenir atau pelepas uang komersial). cepat. Ohio State University. Pasar informal tersebut ada di dalam masyarakat namun tidak diatur oleh pemerintah. Ketergantungan seorang debitur terhadap kreditur sangat tinggi. proses penyediaan sederhana. Teori RFI menjelaskan keterkaitan antara lembaga keuangan formal dan informal dalam pasar keuangan pedesaan.1 Lembaga Kredit Informal Sebagaimana dikemukakan.70 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. berjangka waktu pendek.1. teori RFM berpendapat bahwa pedesaan memiliki kemampuan/resources untuk membiayai kegiatan-kegiatan produktif yang berlangsung di pedesaan. Sementara itu.6 Sedangkan untuk melihat sumber dana untuk kredit pedesaan dikenal dua teori. BRI Unit Desa. USA. Pasar kredit pedesaan informal biasanya bersifat quasimonopolistik. lembaga kredit formal dan informal serta struktur pasar kredit pedesaan untuk masing-masing lembaga keuangan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut : 3. Dalam teori ini dijelaskan karakteristik lembaga keuangan formal seperti Bank Perkreditan Rakyat. Teori RFM yang bertumpu pada mekanisme pasar berpendapat bahwa pembiayaan/kredit pedesaan merupakan proses intermediasi dimana financial assets dan debts di relokasi diantara pelaku-pelaku ekonomi di pedesaan. maka perlu dilakukan analisis tterhadap posisi dan keterkaitan Perum Pegadaian dengan lembaga lainnya. Beberapa pendekatan yang dapat digunakan untuk analisis tersebut antara lain Teori Rural Financial Intermediation (RFI). Di dalam pasar terdapat beberapa kreditur namun seorang debitur punya akses yang sangat terbatas. untuk penghimpunan dana di pedesaan lebih banyak melalui lembaga formal. sedangkan teori FF berpendapat perlu adanya external funds (dana pihak luar) untuk membiayai kegiatan-kegiatan produktif di pedesaan. yaitu Farm Finance dan teori Rural Financial Market yang dikembangkan oleh Department of Agricultural Economics and Rural Sociology. Sebagian besar pinjaman relatif kecil jumlahnya. Kredit pedesaan pada dasarnya dapat diperoleh dari sumber informal dan formal. kredit di pedesaan dapat disediakan oleh lembaga keuangan formal maupun pasar informal. Seorang kreditur hanya melayani sejumlah kecil peminjam yang sudah dikenal baik dan berisiko rendah. Maret 1999 mayoritas masyarakat berpenghasilan rendah yang sulit untuk akses ke perbankan serta jaringan kerja hingga ke daerah-daerah. 1992 . S “ Rural Financial Intermediation : Lessons From Indonesia. Berdasarkan ketiga pendekatan tersebut. teori Farm Finance (FF) dan Teori Rural Financial Market (RFM). 6 Robinson.

Terdapat pula kecenderungan para kreditur untuk memberikan kredit yang lebih besar kepada pejabat lokal serta rekan bisnis dengan tujuan menjaga hubungan baik agar diberi kesempatan memperoleh akses yang lebih luas bagi kepentingan politik dan/atau bisnisnya. 7 Ibid. Kessler. setiap kreditur dapat memelihara ‘kesetiaan’ debiturnya. Tingginya suku bunga tersebut disebabkan adanya quasi-monopolistic many-lender credit market. 8 Germidis. political alliances. Mereka tidak mau bersaing karena justru akan menurunkan keuntungan masing-masing.7 Kreditur cenderung tidak tertarik untuk meningkatkan market share. . Suku bunga kredit dalam pasar informal sangat bervariasi. Kessler “ Financial Systems and Development : What Role for the Formal and Informal Financial Sectors ? (1991). financial channels and market shares of lenders are inextricably related to local distribution of wealth and power. sehingga risiko tidak terbayarnya pinjaman yang diberikan kepada nasabah dapat ditekan serendah mungkin. information flows. Caranya antara lain dengan hanya memberikan kredit kepada orang-orang yang berkaitan dengan jaringan bisnisnya seperti sistem ijon dan yang mempunyai aliran politik yang sama. suku bunga berkisar antara 2 sampai 10 kali dari tingkat bunga bank. hal 81. suku bunga dapat dipertahankan tinggi lebih-lebih jika di wilayah tersebut tidak terdapat lembaga perkreditan formal. Sebaliknya. Dengan kondisi tersebut. market interlinkages. Hal ini terjadi karena antara satu kreditur dengan kreditur lainnya dalam satu wilayah umumnya punya ikatan yang erat. Menurut penelitian Robinson. Fenomena ini terjadi di beberapa negara berkembang. Kreditur pada umumnya berkeberatan apabila nasabahnya meminjam kepada kreditur informal lainnya karena khawatir ikatan bisnis lainnya juga akan berpindah sehingga dapat melakukan pembalasan di kemudian hari. and Meghir bahwa 8 : “Informal commercial credit forms parts of the local political economy.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 71 Terjadinya pasar yang bersifat quasi-monopolistik dimungkinkan oleh kecenderungan setiap kreditur untuk membatasi jumlah nasabah yang dilayani dan berupaya menjaga portofolio pinjamannya sedemikian rupa. Alasan utamanya adalah terlalu berisiko untuk melakukan ekspansi ke luar pasar tradisonalnya. seperti India dan Philipina sebagaimana dikemukakan oleh Germidis. Dengan praktek tersebut. terdapat kecenderungan debitur untuk hanya setia kepada satu debitur karena khawatir akan memperoleh kesulitan di kemudian hari. bagi kreditur yang sudah lebih kaya dan memiliki status sosial yang tinggi melakukan diversifikasi investasi dianggap lebih menguntungkan dibandingkan dengan hasil yang diperoleh dari kredit dalam skala kecil. Selain itu. etc “.

Perlu dikemukakan bahwa jika lembaga kredit formal dapat memberikan pelayanan yang baik dengan beban bunga yang lebih rendah maka sebagian masyarakat desa yang sebelumnya bergantung kepada kreditur informal akan beralih ke lembaga formal. lembaga formal pada umumnya dapat mempelajari karakteristik pasar keuangan pedesaan dan memperoleh informasi terpercaya mengenai nasabah potensial melalui stafnya yang profesional. seseorang yang tidak memiliki agunan dapat datang ke kreditur informal untuk meminjam uang. Sebagai contoh. . Kemudahan bagi lembaga formal dalam memasuki pasar tersebut selain dilindungi hukum. Persyaratan tersebut berkaitan dengan perlunya lembaga keuangan dikelola secara baik. Disamping itu. hal tersebut tidak terlalu mengganggu karena mereka masih tetap memiliki pangsa pasar yang aman. Kreditur informal yang kekurangan dana dapat meminjam dari bank dan lembaga kredit formal lainnya untuk kemudian disalurkan ke nasabahnya. lembaga formal tidak dicurigai akan merebut kekuasaan para kreditur informal yang pada umumnya juga memiliki kaitan usaha di sektor riil atas nasabahnya.1. Hal ini terjadi karena lembaga kredit formal dapat memanfaatkan ‘economies of scale’ sehingga dapat menjalankan kegiatannya dengan biaya yang relatif murah. terpercaya. Suku bunga pada lembaga kredit formal pada umumnya lebih rendah dibandingkan dengan suku bunga kreditur informal. Maret 1999 3. Disamping itu.72 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Sementara itu. aman. dan berlokasi strategis. seorang kreditur informal akan mendorong nasabahnya untuk meminta kredit ke lembaga formal jika memerlukan dana yang relatif besar. Suku bunga yang lebih rendah tersebut akan meningkatkan permintaan kredit yang akan menyebabkan biaya operasi per unit menjadi lebih murah. lembaga formal tidak dianggap sebagai pesaing oleh kreditur informal. untuk menunjang berlangsungnya kegiatan operasi lembaga keuangan tersebut harus mampu menyalurkan kredit dalam jumlah yang cukup dan bersumber dari penghimpunan dana dengan spread yang cukup menguntungkan. bagi mereka yang tidak memenuhi syarat untuk memperoleh dana dari lembaga formal disebabkan tidak memiliki agunan ataupun sebab lainnya akan tetap bergantung pada kreditur informal. Tidak tertutup kemungkinan. Bahkan di beberapa tempat dianggap sebagai rekan kerja. karena berspesialisasi pada kegiatan perkreditan. Di samping itu. Bagi kreditur informal. meskipun ada kemungkinan mereka masih memerlukan dana dari kredit informal sebagai tambahan.2 Lembaga Kredit Formal Lembaga keuangan formal dapat juga memasuki pasar keuangan pedesaan dengan perspektif perhitungan jangka panjang bila didukung beberapa persyaratan. Dengan biaya yang murah tersebut maka lembaga formal dapat menawarkan suku bunga rendah untuk menarik nasabah.

Persaingan tidak terjadi karena nasabah masing-masing lembaga keuangan tersebut mempunyai karakteristik khusus yang menentukan preferensi mereka untuk menjadi nasabah lembaga keuangan tertentu (struktur pasar bersifat quasi-monopolistik).4 triliun dan kredit yang diberikan sebesar Rp 1. toko emas yang memberikan pinjaman dengan sistem gadai serta pegadaian gelap. Hasil penelitian tersebut sejalan dengan hasil penelitian Robinson dengan mempergunakan teori RFI (dijelaskan pada bagian III).40% per bulan. kemudian Jabotabek sebanyak 345 BPR) dan yang paling sedikit berada di wilayah Kalimantan (22 BPR). .60% dibandingkan dengan rentenir. Koperasi Simpan Pinjam (Kosipa).7 triliun.10 Dalam 9 Data akurat mengenai potensi lembaga informal pemberi pinjaman sulit untuk diperoleh. Temuan ini sesuai dengan teori RFM bahwa pada dasarnya masyarakat pedesaan juga mampu menabung dan masuknya dana pihak luar justru akan menghambat perkembangan pasar keuangan pedesaan. Informasi yang diperoleh dari hasil studi lapangan hanyalah mengenai besarnya suku bunga yang dikenakan rentenir dan toko emas pada umumnya sangat tinggi berkisar 10% – 20% per bulan. Sementara itu dari temuan penelitian CPIS (pada periode 1982-1990) koperasi simpan pinjam mengenakan suku bunga antara 20% . HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Pada pasar kredit pedesaan di Indonesia dapat diidentifikasikan beberapa lembaga formal yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat khususnya golongan ekonomi lemah adalah Perum Pegadaian. 1 0 Sampai dengan September 1998 di seluruh Indonesia terdapat sebanyak 1.142 buah) berada di pulau Jawa (persebaran jumlah BPR terbanyak berada di wilayah Jawa Timur sebanyak 362 BPR.558 BPR non BKD dengan total aset sebesar Rp 2.706 kantor. Sedangkan jumlah BRI UDes sebanyak 3. Sebagian besar BPR (1. Di daerah-daerah di mana terdapat kantor Perum Pegadaian. toko emas dan pegadaian gelap. Studi lapangan menunjukkan bahwa pada dasarnya masing-masing Kantor Daerah mempunyai potensi untuk menghimpun dana sendiri yang berasal dari potensi daerah setempat. Namun kebijakan tersebut pada beberapa aspek justru menghambat perkembangan Perum Pegadaian terutama pada saat terjadinya kekurangan likuiditas. pangsa pasar kredit pedesaan yang dapat dikuasai oleh Perum Pegadaian diperkirakan berkisar 40% . Disamping itu juga terdapat beberapa lembaga informal yang berperan dalam memberikan pinjaman kepada masyarakat antara lain pelepas uang (rentenir).9 Pada dasarnya antar lembaga-lembaga tersebut tidak saling bersaing karena masing-masing sudah mempunyai pangsa pasar tersendiri. Lembaga lain yang juga mempunyai potensi besar untuk menjadi pesaing Perum Pegadaian adalah Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dan BRI Unit Desa (BRI UDes). nampaknya sesuai dengan teori FF. bahkan dapat dikatakan saling melengkapi sesuai dengan kondisi masyarakat. Bank Perkreditan Rakyat (BPR).Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 73 IV. dan BRI Unit Desa. Kebijakan penghimpunan dan penyaluran dana serta sistem manajemen pendanaan yang sentralistik seperti diterapkan Perum Pegadaian. Mengacu pada teori tersebut. diperoleh temuan bahwa antara Perum Pegadaian dengan lembaga-lembaga keuangan formal dan informal lainnya yang ada di masyarakat tidak saling bersaing meskipun mempunyai segmen pasar yang hampir sama.

atau meningkat 11% dibandingkan dengan realisasi omset tahun 1997 (Tabel 4. Ujung Pandang. Maret 1999 analisis selanjutnya. Bandung dan Yogyakarta. 4. . Grafik 1.74 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. dan Balikpapan) mencatat perkembangan yang kurang memuaskan. sementara untuk institusi lain dan lembaga kredit informal tidak diperoleh data akurat. Sampai dengan 30 September 1998 omset Perum Pegadaian telah mencapai Rp 2. Namun lonjakan omset yang terjadi pada Juni 1998 selanjutnya untuk bulan Agustus dan September mengalami penurunan terutama sebagai dampak dihentikannya fasilitas overdraft di BRI pada pertengahan Agustus. Untuk masing-masing wilayah. terutama sejak terjadinya krisis ekonomi pada pertengahan tahun 1997.1 Hasil Studi Lapangan 4.9%.1). kinerja Perum Pegadaian akan dibandingkan dengan BPR dan BRI UDes (untuk beberapa rasio keuangan) untuk memperoleh gambaran mengenai peranan Perum Pegadaian dalam pemberdayaan ekonomi rakyat dibandingkan dengan institusi kredit lainnya.1 Kinerja Operasional Omset 11 Peran Perum Pegadaian dalam memberikan pinjaman kepada masyarakat berpendapatan rendah menunjukkan perkembangan yang cukup pesat. sementara beberapa Kantor Daerah (Padang. lonjakan omset terutama dialami oleh Kantor Daerah Jakarta.3 triliun dengan pencapaian target sebesar 87. Medan.1. Perkembangan Omset Perum Pegadaian Rp miliar 2500 2000 1500 1000 500 0 1994 1995 1996 1997 Triw III/ 1998 Jan Feb Mar Apr Mei 1998 Jun Jul Agst Sept 1 1 Omset : adalah jumlah/nilai pinjaman yang diberikan dalam suatu periode tertentu (konsep flow). Pemilihan ini berdasarkan ketersediaan data BPR dan BRI Unit Desa (BRI UDes).

dan Gol.4% dan 24.3 0.723.0 8.035. B = Rp 40.000. Nominal 184.166.4 0.4 1.0 0. Sementara itu. dengan alasan bahwa selama ini Perum Pegadaian telah memberikan subsidi kepada golongan nasabah mikro.9% dan 27.0 C = Rp 151.9 1.5 35.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 75 Lonjakan kenaikan omset tersebut ternyata tidak diikuti dengan meningkatnya aspek pemerataan.6 32.2 8.0 2.0 6. (ii) Kenaikan harga barang jaminan sejalan dengan kenaikan harga barang jaminan khususnya emas.20.1 25.3 5.4 439. Jan . Nasabah 1996 Des.7 679.088.500.6% (1997) menjadi 41.8 666.9 31.000 .000 .000 – Rp 40.000 – Rp 150.5 22.Rp 40.0 46. E = pinjaman kepada pegawai Perum Pegadaian 1 2 Perum Pegadaian menetapkan 5 macam golongan nasabah berdasarkan besarnya plafon pinjaman sebagai berikut: Gol.0 13.000 .6 50. Keterangan : A = Rp 5. Pergeseran dari nasabah mikro ke nasabah besar tersebut terutama merupakan dampak dari : (i) Kebijakan Perum Pegadaian untuk meningkatkan laba. Gol.000. melalui peningkatan kualitas barang jaminan serta meningkatkan porsi nasabah golongan D (proyeksi tahun 1998). diolah.4 645. porsi golongan A.000. Tabel 4.4 475. Fenomena dominasi pinjaman oleh golongan D juga terlihat di setiap kantor daerah yang diteliti kecuali untuk Kantor Daerah Bandung dimana pinjaman didominasi oleh golongan C. Nominal % Proyeksi Nominal % 8.5 1.4 709.925.7 100.7 739.5 951.2 317.0 2.7 100.000.2 1.8 22. D = Rp 510. A = Rp 5.3% (tahun 1998 s. Kebijakan untuk meningkatkan keuntungan dengan mengurangi porsi pemberian pinjaman kepada nasabah mikro tersebut kurang sejalan dengan misi Perum Pegadaian untuk lebih memihak kepada nasabah mikro. Kecenderungan pergeseran orientasi pembiayaan Perum Pegadaian ke arah nasabah besar juga terlihat pada menurunnya porsi nasabah golongan A dan B masing-masing dari 43.0 (miliar rupiah) % A B C D E 10.9 31. B dan C semakin berkurang (Tabel 4.4% (tahun 1997) menjadi 50.7 183.000 .9 5.8 35.Rp 150.Sept.0 226.000 – 20.8 256. Gol. Alokasi pinjaman untuk golongan D12 melonjak sehingga porsinya meningkat dari 35. Gol.4 100.5 1997 Des.3 437.8 32.5 14.000.2 0.5 10. . E = pegawai Perum Pegadaian. C = Rp 151.9 0.4 545.1).000 Sumber : Perum Pegadaian.7 115.7 30.5 8.9 100.317.000 – 500.00 .000.397.5 100.0 2.000 B = Rp 40. sehingga dengan barang jaminan yang sama nasabah golongan A dan B bisa mendapatkan pinjaman yang lebih besar. Perkembangan Omzet Perum Pegadaian 1998 Gol.0 Realisasi Jan .d September).9 547.3% (1998).4 16. Dengan demikian kebijakan pembiayaan Perum Pegadaian telah bergeser ke arah nasabah dengan nilai pinjaman yang lebih besar.Jun.1.000 D = Rp 510.5 31. Nominal % Nominal % 80.

7%) dan terendah pada Kanda Malang (2. Lonjakan nasabah sepanjang tahun 1998 tersebut sangat signifikan jika dibandingkan dengan perkembangan nasabah pada bulan yang sama tahun 1997 (Grafik 2).d September menunjukkan kecenderungan menurun. sedangkan jumlah nasabah yang paling sedikit terdapat di wilayah Kalimantan masingmasing 2.3%.2 juta nasabah). Jumlah Nasabah Sejalan dengan lonjakan omset. Lonjakan nasabah Perum Pegadaian yang sangat besar terjadi sejak bulan Juni 1998 dengan rata-rata per bulan di atas 1 juta nasabah dibandingkan bulan-bulan sebelumnya (Januari s.7 hari. Golongan D meminjam dalam jangka waktu paling lama. Faktor lain yang menyebabkan lonjakan jumlah nasabah tersebut menurut Perum Pegadaian adalah “peak season” tahun ajaran baru serta meningkatnya gangguan keamanan. .6 juta orang. Berdasarkan Kandanya. Penurunan tersebut juga disebabkan oleh meningkatnya harga barang jaminan khususnya emas. Jumlah nasabah yang mampu diraih Perum Pegadaian tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan dengan jumlah nasabah yang mampu diraih BPR (4. Maret 1999 Jangka waktu peminjaman rata-rata dalam tahun 1998 adalah 89 hari yang berarti lebih singkat dibandingkan dengan tahun 1997. meskipun masih lebih banyak jika dibandingkan periode yang sama tahun 1997. jumlah nasabah Perum Pegadaian juga mengalami lonjakan tajam khususnya pada bulan Juni 1998 sehingga sampai dengan 30 September 1998 jumlah nasabah yang dapat diraih mencapai 6.d Mei 1998) sekitar 400 ribu nasabah. yaitu 68 hari.8% dan 2.3%). mulai banyaknya perusahaan yang melakukan PHK terhadap karyawan dan meningkatnya harga emas. terdapat kesamaan antara Perum Pegadaian dengan BPR dimana baik untuk Perum Pegadaian dan BPR sebagian besar nasabah terkonsentrasi di wilayah Jawa (masing-masing 70% dan 57%). sementara itu golongan B meminjam dalam jangka waktu paling singkat. Namun seiring dengan berkurangnya kemampuan Perum Pegadaian dalam memberikan pinjaman kepada masyarakat maka jumlah nasabah pada Juli s.76 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. yaitu 95. Dari segi persebaran nasabah. Lonjakan jumlah nasabah dari posisi Mei ke Juni 1998 tersebut diduga merupakan dampak krisis ekonomi sehingga akses masyarakat untuk dapat memperoleh kredit dari perbankan semakin sulit. sehingga mendorong penebusan oleh nasabah terutama dengan barang jaminan emas untuk dijual ke pasar. peningkatan jumlah nasabah terbesar terjadi pada Kanda Surabaya (243.

Nsb.9 Nelayan 405.000 800 600 400 200 0 (ribu) 1997 1998 Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sep Okt Nop Des Berdasarkan golongannya.463.3 23. terlihat adanya pergeseran komposisi jumlah nasabah menurut golongan dan meningkatnya jumlah nasabah dengan profesi sebagai karyawan (Tabel 4.032.0 21.000 Gol. Jml. (ribu) 2. C = Rp 151.000.4 Industri 325.5 1. (ribu) (ribu) % Petani 1.500.Rp 40. Nasabah A B C D E Jumlah Keterangan : % 43.000 E = pinjaman kepada pegawai Perum Pegadaian .7 6.2).000 .8 1.305.7 *) % 30.9 5.305.3 23.2 30.7 7.400 1.6 16.265. Nsb.7 1.6 6.d September A = Rp 5.0 8.9 2.1 Pedagang 1.0 13.4 Karyawan 449.682.9 864.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 77 Grafik 2.5%) pada tahun 1998 berasal dari golongan A.000 B = Rp 40. Perkembangan Jumlah Nasabah 1.3 10.0 1.000 .1 3.5 682.200 1. Meningkatnya jumlah nasabah yang berprofesi sebagai karyawan (berdasarkan kartu identitas/KTP) merupakan indikasi dari meningkatnya jumlah karyawan yang terkena PHK. Tabel 4.3 26.4 3. mayoritas nasabah Perum Pegadaian (40.0 0.734.20.458.1 331.0 Sumber : Perum Pegadaian.1 1998 Jml.638.7 *) % 40.000 .0 6. Komposisi Jumlah Nasabah Menurut Golongan dan Profesi 1997 Jml. Nsb.6 430.1 635.9 5.000 D = Rp 510.5 24.1 100.4 12.5 5.000 .410.0 Lain-lain 1.9 1. Sementara dari profesinya mayoritas nasabah (30.7%) berprofesi sebagai petani.2 100.331.4 22.0 1997 1998 Profesi Jml.621. (ribu) 2.221.0 0.612.621.9 27.2 871.2.3 6.1 *) : s.05 100. Dibandingkan dengan tahun 1997. Nsb.Rp 150. diolah.

Sedangkan rasio terendah adalah golongan D yaitu sebesar 0.2% (1997) menjadi 2.7% dan 47. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa krisis ekonomi sangat dirasakan dampaknya khususnya oleh nasabah mikro dengan semakin meningkatnya nilai pinjaman yang tidak dilunasi oleh golongan tersebut. Sementara itu.8%.78 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Lelang 13 Barang jaminan yang dilelang sampai dengan 30 September 1998 adalah sebanyak 261.5% dari sisa uang pinjaman). usaha yang bersifat pesanan seperti kontraktor skala kecil. perajin mebel. Jika dibandingkan dengan volume dan nilai lelang sampai sebelum krisis (1997).5% dari total kredit yang diberikan). sedangkan kredit macet di BRI UDes (per 30 September 1998) mencapai Rp 22. Menurut masing-masing golongan nasabah. pembayaran upah karyawan. Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa nasabah diperoleh informasi bahwa sebagian besar dana pinjaman pegadaian dipergunakan untuk tujuan produktif (profil nasabah dikemukakan pada “persepsi masyarakat”).5% dari omset atau 1.1% dari sisa uang pinjaman). biaya pengobatan. 1 3 Lelang merupakan upaya pengembalian uang pinjaman beserta sewa modal yang tidak dilunasi atau pinjamannya tidak diperpanjang (roll over) oleh nasabah sampai batas waktu yang ditentukan. rasio nilai lelang terhadap total kredit untuk golongan A meningkat dari 2. dan keperluan keluarga lainnya. Penggunaan yang bersifat produktif antara lain modal kerja bagi petani dan pedagang. pinjaman yang digolongkan sebagai kredit macet di BPR (per 30 Juni 1998) mencapai Rp 253 miliar (15 % dari total kredit yang diberikan). Maret 1999 Penggunaan dana pinjaman oleh nasabah sangat bervariasi baik untuk tujuan konsumtif maupun produktif. .3 miliar (0.3% (1998) tertinggi dibandingkan dengan golongan lain.1 miliar (0.810 potong (1. maka telah terjadi penurunan jumlah dan nilai barang yang dilelang masing-masing sebesar 36. usaha catering.5%). rasio tersebut menurun jika dibandingkan dengan tahun 1997 (1.7% omset) atau senilai Rp 11. Kebutuhan konsumtif yang dapat dipenuhi dari pegadaian antara lain pemenuhan kebutuhan sehari-hari. biaya sekolah. dan lain-lain.1%.0% dari omset dan 4. dengan menjual barang jaminan kepada masyarakat umum pada waktu yang telah ditentukan. Perbandingan kualitas pinjaman yang diberikan tersebut menunjukkan persentase kredit macet di Perum Pegadaian lebih besar dibandingkan dengan BRI UDes (0. namun jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan kredit macet di BPR.

6 2.4 miliar (4.010 50. khususnya DKI & Jawa Barat sebesar Rp 6.3.0 48.166.2 3. sebagian besar terdapat di wilayah Jawa dan paling sedikit di wilayah Bali (termasuk NTT dan NTB).810 11. barang jaminan yang dilelang merupakan barang bergerak serta hasil lelang selalu dapat menutup nilai pinjaman ditambah bunga dan biaya administrasi.9 0. Perbandingan kualitas pinjaman ketiga lembaga tersebut menunjukkan kesamaan wilayah kerja yang mempunyai jumlah kredit macet terbesar yaitu di wilayah Jawa.3 317.0 1.6% total kredit macet).3 0.7 3.9 2. Jam inan N S isaU P R A B C D 285.2 182. Untuk tahun 1998.5 b) 2.3 a) : rasio lelang thd om set b) : rasio lelangthd sisauang pinjam an Pada periode Januari s.1% total kredit atau 0.6 2.5 1. Perlu dikemukakan bahwa lelang barang jaminan yang dilakukan Perum Pegadaian pada dasarnya bukan merupakan kerugian bagi Perum Pegadaian karena sesuai dengan hukum gadai.7 6.d September 1998.309.5 739.9 78.8 227.02% total kredit atau 3.077.278 21.914 98. Sementara itu.7 4. lelang terbanyak dilakukan oleh Kanda Yogyakarta (38.8 ribu potong) sedangkan yang paling sedikit dilakukan oleh Kanda Balikpapan (3 ribu potong). sehingga banyak nasabah dengan barang jaminan emas yang meminjam pada bulan Juni 1998 dan jatuh tempo pada November 1998 tidak melunasi pinjamannnya.0 8. Irian Jaya dan Timor Timur) sebesar 0. diolah. khususnya di Jabotabek sebesar Rp 73.813 25.801 12.504 3.403 1.27% total kredit atau 56. 1997 *) **) ***) a) b) *) N asabah B asio(% ) R ilai O m set asio(% ) B rg.9 408.7 183.9 679.9 750.1 261. kredit macet di wilayah Jawa sebesar Rp 12.8 2.047 3.6 0. Sementara nilai lelang terbesar terdapat di Kanda Jakarta (Rp 2 miliar) dan yang paling sedikit di Kanda Balikpapan (Rp 289. kredit macet BPR sebagian besar terdapat di wilayah Jawa yang mencapai 58% total kredit macet.5 2.5 118.3 1.9 7.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 79 Tabel 4. Untuk wilayah Bali (termasuk NTT dan NTB) kredit macet sebesar Rp 794 juta (0.5 3.5 a) R asio(% ) 7.2 1.6% total kredit macet).1 0.3% total kredit atau 29% total kredit macet).2 0.81% total kredit macet).9% dari total kredit macet.1 6.1 172.9 709.7 juta).5 miliar (0.14% total kredit atau 29.4 0. Perkembangan Lelang Barang Jaminan G ol.9 1.596 1998 N ilai **) O m set ***) asio(% ) S isaU P R 34.7 115.0 TO TA L 413. kecuali dalam kasus tertentu dimana terjadi penurunan harga barang jaminan yang sangat besar. Sedangkan volume kredit macet paling kecil terdapat di wilayah Sulawesi (termasuk Maluku.6 521.6 miliar (0.9 3. . Sedangkan kredit macet di BRI UDes baik sebelum maupun sesudah krisis. 4.0 1. Jam inan rg.0 197.7 Keterangan : *) potong **) : nilai barang yang dilelang (m iliar rupiah) ***) : om set pinjam an (m iliar rupiah) S um ber : P erumPegadaian.4 1.14 1 4 Sebagai contoh turunnya harga barang jaminan adalah turunnya harga emas secara drastis di bulan November hingga mencapai 60% dari harga bulan Juni 1998.2 475.

sementara kewajiban jangka pendek (terdiri dari hutang bank dan kewajiban lainnya) sebesar Rp 412 miliar. total aset BPR sebagian besar terkonsentrasi di wilayah Jawa (Rp 1.2 Kinerja Keuangan Aset Aset Perum Pegadaian menunjukkan kecenderungan meningkat.d V) dengan nilai nominal sebesar Rp 289. Maret 1999 4.8% dari total aset BPR) sedangkan yang paling kecil terdapat di wilayah Kalimantan sebesar Rp 63. dengan tujuan penggunaan dana untuk pelunasan obligasi I (sebesar Rp 50 miliar) dan pengembangan usaha (modal kerja). Ditinjau berdasarkan wilayah.4). Komponen terbesar dari kewajiban jangka pendek tersebut adalah hutang bank (Rp 321 miliar). Total aset terbesar dimiliki oleh Perum Pegadaian di wilayah Kanda Jakarta (Rp 183 miliar).9% total aset Perum Pegadaian). Kewajiban jangka panjang Perum Pegadaian (terdiri dari hutang obligasi dan hutang jangka panjang lainnya) sebesar Rp 364. Perum Pegadaian telah menerbitkan obligasi sebanyak lima kali (seri I s.6 miliar meningkat 32.1. Jumlah modal per 30 September 1998 sebesar Rp 363 miliar. meningkat 171. Jumlah aset per 30 September 1998 tercatat sebesar Rp 1.6% dibandingkan periode yang sama tahun 1997.6 miliar yang akan jatuh tempo pada periode 1998 – 2003. Realisasi aset pada tahun 1998 tersebut meningkat sebesar 51.80 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Sementara itu.7 triliun atau 70.4 triliun. melampaui target yang ditetapkan untuk tahun 1998 sebesar Rp 1 triliun (Tabel 4.d 30 September 1998 dana pelunasan obligasi .4% dari tahun sebelumnya.1 triliun.7% total aset BPR). Perbandingan total aset berdasarkan wilayah tersebut menunjukkan adanya kesamaan antara Perum Pegadaian dengan BPR yaitu konsentrasi aset berada di wilayah Jawa dan aset terkecil di wilayah Kalimantan. Berdasarkan tujuan tersebut dapat dikemukakan bahwa Perum Pegadaian nampaknya tidak mempersiapkan cadangan dana pelunasan obligasi (sinking fund) yang memadai untuk memenuhi kebutuhan dana pelunasan obligasi yang akan jatuh tempo (s.6 miliar) (Tabel 4. Total aset Perum Pegadaian tersebut lebih kecil jika dibandingkan dengan total aset BPR (per Juni 1998) yang telah mencapai Rp 2. Sebagaimana telah disebutkan dalam Bab II bahwa untuk memenuhi kebutuhan dana maka selama periode 1993 – 1998. sedangkan yang terkecil adalah Kanda Kupang (Rp 34 miliar). total aset Perum Pegadaian sebagian besar terkonsentrasi di wilayah Jawa (Rp 573 miliar atau 50.4).7% dari periode yang sama tahun 1997. Sumber dan Penggunaan Dana Sumber dana Perum Pegadaian selain terdiri dari modal (ekuitas) juga sumber dana lain yang diperoleh dari penerbitan surat berharga maupun pinjaman dari pihak lain. dengan komponen terbesar adalah hutang obligasi (Rp 264.3% total aset Perum Pegadaian) dan yang paling kecil adalah wilayah Kalimantan (Rp 44 miliar atau 3. Emisi terakhir adalah obligasi emisi V (Juni 1998).9 miliar (2.

8 71.6 140.3 526. terutama diakibatkan oleh meningkatnya nilai deposito sebesar 605%.2 52.diolah 363. Selain dari penerbitan obligasi.3 11.4 192.2 275 0.4 191 1.6 100 363 Pertumb.9 0. Dana dengan suku bunga murah yang diperoleh Perum Pegadaian tersebut di satu sisi sangat membantu dalam mengatasi kesulitan likuiditas yang dialami.5 160.4 55. kebijakan subsidi bunga hanya akan efektif apabila diterapkan dalam jangka pendek.6 22.9 175 0.1 167. sinking fund tersebut tidak dihimpun karena tidak diperoleh ijin dari Menkeu untuk membentuk cadangan sebesar obligasi yang akan jatuh tempo.3 1.3 390 Ekuitas Sumber : Perum Pegadaian .2 864 282. Perum Pegadaian juga memperoleh pinjaman berbunga rendah dalam bentuk RDI pemerintah sebesar Rp 100 miliar (sejak tanggal 4 September 1998).4 8.Pos Neraca 1996 Per 31 Des.9 647 163.4 32.75 187.4 582.2 35.7 236.9 476.6 119.9 28.6 Aktiva Lancar Kas dan setara kas Pinjaman yg diberikan Lainnya Aktiva Lain Dana pelunasan obligasi Lainnya Total Aktiva Kewajiban Jangka Pendek Hutang bank Kewajiban lainnya Hutang Obligasi Hutang Sewa Guna Usaha Hutang jangka panjang lainnya 480. (%) 40. Mengacu pada temuan Robinson yang menggunakan pendekatan RFI.1 53.2 35.9 17.8 34.9 45.7 178. Tabel 4.7 225 333 837.9% dari periode yang sama tahun 1997.9 412.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 81 yang dicadangkan hanya sebesar Rp 8.9 Penanaman dana oleh Perum Pegadaian dalam bentuk aktiva lancar (dikelompokkan dalam kas dan setara kas.7 184 1139.7 174. bahwa suku bunga bersubsidi dapat menimbulkan inefisiensi dalam penyaluran dana di pedesaan. Aktiva dalam bentuk kas dan setara kas per 30 September 1998 tercatat sebesar Rp 119 miliar meningkat 240. namun dari sisi makro berdampak pada timbulnya distorsi suku bunga pasar pinjaman berskala kecil.8 201. Proyeksi 1998 Realisasi Per 30 Juni Per 30 Sept. dimana sampai dengan 30 September 1998 telah disalurkan ke nasabah sejumlah Rp 35 miliar.7 30.7 59.9 564. pinjaman yang diberikan dan lainnya) serta aktiva lain.5 81.5 183. Dengan demikian.7 8.2 29.4 72.5 325 615 36.4 5.7 412 321 91 264. Menurut Perum Pegadaian.2 119 756. 947.3 225 356.2 240. Per 31 Des.028 275 673.7 182. alokasi dana tersebut lebih diutamakan untuk penambahan modal kerja.0 1.5 miliar).9 0. dan sisanya sebesar Rp 65 miliar untuk sementara disimpan dalam . Perlu dikemukakan bahwa lonjakan deposito tersebut terjadi karena adanya pencairan bantuan modal kerja dari Pemerintah dalam bentuk RDI sebesar Rp 100 miliar pada tanggal 4 September 1998.7 798.4 190.0 31. 1997 Per 30 Sep.Sept.2 778.6 166.2 8.4 Neraca Singkat Perum Pegadaian (miliar rupiah) Pos .5 752 151.9 8. Jun . khususnya untuk memenuhi kebutuhan dana akibat lonjakan nasabah dan bantuan KLBI sejumlah Rp 50 miliar (per 31 Desember 1998).487 307.

7 Pegadaian BPR BRI Unit Desa Sub-Total Bank Umum Total Keterangan : 98.6 64. BPR.3 0.2 (2) 0.9 1997 Rasio (%) (1) 7.5).0 385.3 27. sementara porsi BPR menunjukkan penurunan. pinjaman yang diberikan oleh Perum Pegadaian baik dibandingkan dengan total kredit yang diberikan maupun dalam peer-groupnya relatif kecil.7 616.2 1.5 Nominal ( Rp miliar ) 756.074. yaitu dari 7.1 0.9 4.9 Rasio (1) : rasio terhadap peer-group ( PP.9% dibandingkan dengan periode yang sama tahun 1997. BPR dan BRI UDes menurut wilayah adalah sebagai berikut : .82 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.921.976.3% (1997) menjadi 10.1% total kredit atau 6.557. porsi BPR dan BRI UDes justru mengalami penurunan.6 28.3 4. BRI Udes) Rasio (2) : rasio terhadap total kredit (termasuk bank umum) Pinjaman yang diberikan oleh Perum Pegadaian.1 97.0 623.324. Meskipun porsi Perum Pegadaian saat ini masih kecil dan secara makro tidak terlalu besar dampak moneternya.0 65. Porsi kredit yang diberikan Perum Pegadaian terhadap total kredit pada September 1998 sebesar 0.3 Nominal ( Rp miliar ) 526.190.9 98. meningkat 58.0 299.1 0.9%.0 7. sedangkan porsi BRI UDes meskipun meningkat namun tidak sebesar peningkatan Perum Pegadaian (Tabel 4. Penanaman dana dalam bentuk pinjaman yang diberikan mempunyai porsi yang paling besar (86.286.2 1. Rp 50 miliar dalam deposit on-call dan Rp 15 miliar untuk cadangan investasi.1 1998 Rasio (%) (1) 10.7 1.621.7 24. Dari jumlah tersebut. Pinjaman yang diberikan per tanggal 30 September 1998 sebesar Rp 756.8 miliar.0 7.207.6 1.134.1 0.1 98.9 Lembaga Nominal ( Rp miliar ) 414.6% total kredit peer-group.3 1.795.0 6.5 378.7% (1998). Dalam kondisi perkembangan perbankan saat ini yang tidak menentu maka tidak tertutup kemungkinan pangsa pegadaian akan mampu melampaui pangsa BPR.5 1.077.5%) dibandingkan aktiva produktif lainnya.4 2. Rasio Perkembangan Pinjaman yang Diberikan 1996 Rasio (%) (1) 6. namun peran Perum Pegadaian dalam memberikan pinjaman cenderung tidak mengalami penurunan dalam masa krisis ini.3 292.688.0 4.8 1. Tabel 4.5 65. Perbandingan dalam peer-groupnya menunjukkan peningkatan porsi Perum Pegadaian yang lebih besar dibandingkan dengan BPR dan BRI UDes.9 (2) 0.5.696. Secara makro.3 (2) 0.483. Sementara aktiva lain hanya meningkat sebesar 2. Maret 1999 bentuk deposito.

8 triliun (64% dari total kredit) dan yang paling sedikit di wilayah Bali (termasuk NTB dan NTT) sebesar Rp 293 miliar (6.3% dan 81. uang kelebihan lewat waktu.2 triliun (74% dari total kredit BPR). Sementara itu biaya operasional tercatat sebesar Rp 180. sedangkan yang terkecil diberikan oleh Perum Pegadaian di wilayah Kalimantan sebesar Rp 36. yaitu sebesar Rp 1. kredit yang diberikan per 30 September 1998 terkonsentrasi di pulau Jawa. meningkat masing-masing sebesar 4.5% dan 144. Berdasarkan besarnya pendapatan dan biaya operasional Perum pegadaian tersebut. diperoleh nilai rasio antara biaya operasional dengan pendapatan operasional untuk tahun 1997 dan tahun 1998 masing-masing sebesar 80. meningkat 10. • Sedangkan untuk BRI UDes.0%.7 miliar dan Rp 9. pendapatan operasional BPR menunjukkan peningkatan dari Rp 543 miliar (1997) menjadi Rp 758 miliar (1998).4%. Biaya dan Efisiensi Kemampuan Perum Pegadaian dalam meraih pendapatan menunjukkan kecenderungan semakin meningkat. Penyumbang terbesar dari pendapatan usaha tersebut adalah pendapatan sewa modal (88.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 83 • Pinjaman terbesar diberikan oleh Perum Pegadaian di wilayah Jawa.3% dari total kredit). dengan komponen terbesar berasal dari pendapatan bunga sebesar 44. • Kredit yang diberikan oleh BPR sebagian besar terkonsentrasi di wilayah Jawa. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pinjaman yang diberikan oleh ketiga lembaga formal tersebut selama ini terkonsentrasi di pulau Jawa. Terlihat adanya kesamaan antara Perum Pegadaian dengan BPR.9%).8% total pinjaman).6 miliar (4. yaitu sebesar Rp 2. Rasio tersebut menunjukkan terjadinya penurunan efisiensi. dengan porsi terbesar adalah biaya bunga dan provisi yang mencapai 57. Seperti juga Perum Pegadaian.4% menurun dari pangsa tahun sebelumnya sebesar 79.7% dibandingkan tahun 1997.1 miliar (58. yaitu sebesar Rp 441.3%.3 miliar.4 miliar. dimana pendapatan bunga dan biaya bunga merupakan komponen terbesar dari pendapatan dan biaya operasional.3% total pinjaman). dan keuntungan barang sisa lelang) sampai dengan 30 September 1998 tercatat masing-masing sebesar Rp 209. menurun dari tahun sebelumnya sebesar 31.0% dari total biaya operasional.8%. terutama sebagai dampak meningkatnya beban bunga dan .5 miliar (2% dari total kredit). Pendapatan. Irian dan Tim-Tim) sebesar Rp 36. Pendapatan Perum Pegadaian yang terdiri dari pendapatan usaha (meliputi: sewa modal dan bea penyimpanan & asuransi) dan pendapatan usaha lainnya (meliputi: pendapatan investasi. sedangkan yang paling kecil diberikan oleh BPR di wilayah Sulawesi (termasuk Maluku. Biaya operasional BPR juga mengalami peningkatan dari Rp 519 miliar (1997) menjadi Rp 742 miliar (1998) dengan komponen terbesar adalah biaya bunga deposito berjangka sebesar 21.7% dibandingkan tahun 1997.

Perum Pegadaian memiliki struktur modal yang lebih kuat dan juga memperoleh pinjaman dengan suku bunga relatif murah.5% (1997) dan 4. khususnya pada masa krisis ekonomi. sedangkan ROA BRI UDes sebesar 4.4 kali. Meskipun demikian. Solvabilitas Kemampuan Perum Pegadaian untuk memenuhi semua kewajibannya berdasarkan rasio antara total hutang dengan total aktiva rata-rata tahun 1997 dan tahun 1998 adalah . Perum Pegadaian masih mencatat tingkat efisiensi yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan BPR (95.3%.7% dan 3. Cadangan tersebut tidak dihimpun oleh Perum Pegadaian karena nilai pinjaman yang diberikan sudah didiskonto dari nilai pasar/taksiran barang jaminan (Lampiran 13). Koefisien tersebut menunjukkan bahwa pada tahun 1998 terjadi penurunan kemampuan Perum Pegadaian dalam meraih keuntungan.4%. Pencapaian rasio tersebut berarti telah sesuai dengan target yang ditetapkan.7%) dan BRI UDes (84.84 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pada tahun 1997 dan 1998 Perum Pegadaian mempunyai kemampuan untuk memenuhi kewajiban lancarnya sebesar 2.8% dan 3. Sementara ROA yang mampu diraih BPR sebesar 1. dan koefisien ROE sebesar 10. Profitabilitas Dengan menggunakan indikator ROA dan ROE.7% (1997) dan 9. Disamping itu. Salah satu aspek yang mendorong tingginya efisiensi yang mampu diraih Perum Pegadaian dibandingkan dengan BPR dan BRI UDes adalah karena Perum Pegadaian tidak memperhitungkan cadangan kredit macet dalam komponen biaya operasionalnya. Jika dibandingkan dengan rasio BPR sebesar 1. untuk periode 1997 dan 1998 diperoleh koefisien ROA sebesar 6.1% dengan ROE sebesar 4. Likuiditas Rasio antara aktiva lancar dengan kewajiban lancar Perum Pegadaian rata-rata tahun 1997 sebesar 2. Profitabilitas yang tinggi tersebut mampu diraih Perum Pegadaian karena besarnya sewa modal hampir sama dengan suku bunga perbankan.3% dan 1. di sisi lain sumber dana bersubsidi yang diperoleh serta modal Perum Pegadaian cukup besar.2 kali menunjukkan bahwa Perum Pegadaian mempunyai kemampuan yang lebih baik dalam memenuhi kewajiban lancarnya (Lampiran 13). Maret 1999 provisi yang sudah mencapai 112.4% (1998). Dengan membandingkan besarnya rasio profitabilitas Perum Pegadaian dan BPR untuk masing-masing periode tersebut terlihat bahwa kemampuan Perum Pegadaian dalam meraih keuntungan relatif lebih baik jika dibandingkan dengan BPR dan BRI UDes (Lampiran 13).1%).6% dari target tahun 1998.3% (1998).4 kali dan untuk tahun 1998 tidak berubah yaitu sebesar 2.4 kali. sementara realisasi pendapatan sewa modal baru mencapai 82.3%.

D sebesar 8. Pada bagian pertama (Lampiran 15-A). Perbandingan tersebut menunjukkan bahwa secara umum harga kredit di Perum Pegadaian lebih mahal dibandingkan perbankan.8% dan 89%.76% (Lampiran 14). sisa omzet dibagi secara merata diantara golongan lainnya. B dan C tersebut ternyata tidak menyebabkan penurunan laba. Dalam simulasi pertama ini.34% (1997) menjadi 10.24%. Marjin yang diperoleh pada tahun 1997 untuk nasabah golongan A adalah –3. marjin keuntungan/kerugian untuk tiap golongan dianggap sama dengan kondisi pada tahun 1998. bahwa Perum Pegadaian masih memiliki marjin yang positif untuk semua golongan selain A. Pada periode 1996 s. . sementara untuk simulasi selanjutnya akan menurunkan keuntungan nominal sebesar +Rp 20 miliar.2 miliar pada saat omzet nasabah golongan A sebesar 60 %. Biaya Aktiva Produktif dan Analisis Sensitivitas Marjin (selisih biaya dana yang ditanamkan dalam bentuk aktiva produktif dengan sewa modal pada masing-masing golongan nasabah) yang diperoleh pada masa sebelum dan sesudah krisis menunjukkan. Untuk tujuan tersebut. dilakukan peningkatan porsi omzet pada nasabah golongan A secara bertahap sebesar 5 persen. Kebijakan Perum Pegadaian untuk menaikkan sewa modal pada Juni dan Agustus 1998. telah berdampak cukup berarti pada perubahan besarnya marjin. Pegadaian baru akan merugi sebesar Rp 7. sejalan dengan komitmen Perum Pegadaian untuk membantu nasabah mikro dengan menerapkan subsidi silang pada sewa modal. Berdasarkan hasil simulasi terlihat bahwa setiap peningkatan porsi omzet terhadap nasabah golongan A sebesar 5% akan pada simulasi ke1 akan menurunkan keuntungan nominal + Rp 44 miliar. Analisis sensitivitas dilakukan untuk melihat sejauh mana pengaruh penurunan marjin pada golongan B. Namun karena prosedurnya mudah. golongan B dan C turun menjadi 8. lebih baik jika dibandingkan dengan BPR dan BRI UDes dengan rasio masingmasing sebesar sebesar 76. Marjin yang diperoleh Perum Pegadaian tersebut lebih tinggi jika dibandingkan dengan perbankan (Lampiran 16). maka masyarakat masih tertarik untuk meminjam dari Perum Pegadaian.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 85 sebesar 64. C. Defisit pada golongan A yang ditandai oleh marjin negatif. Untuk golongan A terjadi peningkatan marjin negatif menjadi –7. C.d 1998 perbankan mencatat marjin negatif dengan kecenderungan semakin besar pada tahun 1998.26% (1998) (Lampiran 15-A). Sementara itu.26%.61% dan golongan B. Turunnya marjin pada golongan A. dilakukan simulasi yang terdiri dari dua bagian.39%.1%. dan D serta pengaruh peningkatan porsi omzet pada golongan A terhadap keuntungan yang mampu diraih Perum Pegadaian. sedangkan golongan D (rata-rata D dan D1) meningkat menjadi 13. yang terlihat dari meningkatnya marjin tertimbang (weighted profit/loss) dari 7. Rasio tersebut menunjukkan bahwa Perum Pegadaian mempunyai kemampuan lebih besar dalam memenuhi seluruh kewajibannya dibandingkan dengan BPR dan BRI UDes (Lampiran 13).

dilakukan penurunan marjin keuntungan pada nasabah golongan B.6 miliar pada saat marjin untuk tiap golongan nasabah sebagai berikut : A = -7.243 Rp 468. .86 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. dan D = 3. Produktivitas omset yang diukur dengan rasio antara realisasi omset dengan jumlah pegawai selama Januari .. atau rata-rata Rp 41.C dan D) yang berlaku mulai tanggal 1 Maret 1999. Perum Pegadaian telah menetapkan keputusan (SK. marjin untuk nasabah golongan A dibiarkan tetap dan distribusi omzet untuk tiap golongan nasabah sama dengan kondisi pada tahun 1998. Berdasarkan hasil simulasi terlihat bahwa setiap penurunan marjin keuntungan sebesar 1 % pada golongan B.3 juta Rp 41.3 juta per bulan. dan D secara bertahap sebesar 1%.2% dari target yang ditetapkan untuk tahun 1998.74%.76%.5 juta Rp 52 juta Realisasi Rp 2. Berdasarkan kedua simulasi tersebut di atas.318 miliar dengan jumlah pegawai sebanyak 6.9 1 5 Berdasarkan informasi.317.925 M 6. dan D 15 . 16/UT/II/1999) untuk menurunkan besarnya sewa modal (golongan B.3 juta Berdasarkan realisasi tersebut terlihat bahwa produktivitas omset yang mampu dicapai Perum Pegadaian sampai dengan September 1998 sudah mencapai 79.243 Rp 371. Rasio yang dicapai pada tahun 1998 tersebut masih lebih besar dibandingkan tahun 1996 (Rp 311 juta) dan 1997 (Rp 340 juta). Produktivitas Omset Realisasi omset sampai dengan 30 September 1998 adalah sebesar Rp 2. C dan D akan menurunkan keuntungan +Rp 22 miliar.3 juta.74%. B = -1. No.6 Target dan Realisasi Produktivitas Omset – Tahun 1998 Target Omset Jumlah Pegawai Rasio Rata-rata per bulan Rp 9. Pada bagian ini. C = 1.9 M 6. Sedangkan berdasarkan analisis untuk masing-masing wilayah kerja Perum Pegadaian menunjukkan bahwa pegadaian di wilayah Ujungpandang mempunyai produktivitas omset terbesar (Rp 682. Maret 1999 Pada bagian kedua (Lampiran 15-B). C. Produktivitas omset untuk tahun 1998 tersebut adalah sebagai berikut : Tabel 4.243 orang. Pegadaian masih memiliki keuntungan Rp 17.September 1998 yaitu sebesar Rp 371. Perum Pegadaian masih memiliki ruang untuk meningkatkan porsi pemberian kredit kepada nasabah golongan A dan menurunkan sewa modal pada golongan B. C.24%.

sedangkan produktivitas omset terendah terdapat di wilayah Sumatera (Rp 336.582 orang (1996) nasabah untuk satu orang pegawai.9 (1998) dan 1.400. Rasio antara jumlah nasabah dengan jumlah Pegawai tahun 1998 adalah sebagai berikut : Tabel 4.3 (1998).243 1.September 1998 sebesar 1. 480 orang (1997) dan 448 nasabah (1996) untuk satu orang pegawai.7 orang atau rata-rata setiap pegawai dapat melayani sebanyak 126 orang per bulan. 4. sedangkan produktivitas terendah adalah wilayah Sumatera dengan rasio sebesar 806.379 orang (1997)..3 Masalah yang Dihadapi Perum Pegadaian Masalah Temporer Lonjakan nasabah yang sangat besar terutama sejak Juni 1998 telah menyebabkan Perum Pegadaian melakukan overdraft yang besar atas pinjaman rekening koran di BRI.243 982 82 Realisasi 7.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 87 juta) baik sebelum maupun sesudah krisis ekonomi. yang mengakibatkan BRI menghentikan pemberian kredit lebih lanjut ke Perum Pegadaian . 1. sementara target yang ditetapkan untuk tahun 1998 sebesar 982 orang atau sekitar 82 orang per bulan.1 juta 6.7 Target dan Realisasi Rasio Nasabah dengan Jumlah Pegawai – Tahun 1998 Target Jumlah Nasabah Jumlah Pegawai Rasio Rata-rata per bulan 6. sedangkan yang terendah pada 1997 adalah Perum Pegadaian di wilayah Jawa.6 orang).1 juta 6.8 orang) dan tahun 1997 (862.133.137 126 Rasio tersebut menunjukkan bahwa realisasi rasio jumlah nasabah dengan jumlah pegawai yang dicapai Perum Pegadaian sampai 30 September 1998 telah melampaui target yang ditetapkan. Untuk masing-masing wilayah kerja. rasio nasabah dengan pegawai tertinggi baik sebelum maupun sesudah krisis ekonomi terdapat di wilayah Ujungpandang dengan rasio sebesar 1.1. Rasio tersebut meningkat jika dibandingkan dengan rasio tahun 1996 (907.1 juta). Rasio Nasabah dengan Jumlah Pegawai Rasio antara nasabah dengan jumlah pegawai selama Januari.

5 juta) sebesar 81%. Jika mengacu pada ketentuan yang menetapkan realisasi uang pinjaman untuk nasabah golongan A sebesar 90%. Perum Pegadaian menurunkan plafon maksimum pinjaman yang . 37-OPP-1/1/23 tgl.2%). Kesulitan likuiditas yang dialami Perum Pegadaian juga terlihat dari perbandingan antara realisasi pinjaman yang diterima nasabah dengan nilai taksiran yang ditetapkan. Untuk mengatasi hal tersebut Perum Pegadaian telah memperoleh RDI Pemerintah sebesar Rp 100 miliar (4 September 1998) serta KLBI sebesar Rp 50 miliar pada bulan Desember 1998. perbandingan tersebut relatif rendah dengan persentase secara nasional sebesar 73. D (dibawah 2.9%. sejak November 1998 setiap kantor daerah wajib melakukan setoran ke kantor pusat secara proporsional berdasarkan modal kerja yang dimanfaatkan. maka berdasarkan SE No. sementara penerbitan obligasi baru kurang laku.88 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Nilai realisasi uang pinjaman dengan persentase tertinggi diberikan oleh Kantor Daerah Jember (81.1 A B C D *) SE No. Sebelumnya.4 73. 30 Juli 1998 Kebijakan yang telah ditempuh agar tetap mampu melayani sebanyak mungkin nasabah dalam kondisi keterbatasan dana. B sebesar 71.3 71.8). Dampak dari kesulitan likuiditas tersebut adalah semakin terbatasnya kemampuan Perum Pegadaian dalam memberikan kredit kepada masyarakat. Tabel 4.9 73.1% masih lebih kecil dari ketentuan yang berlaku (Tabel 4.3%. Kondisi tersebut tentunya kurang menguntungkan bagi nasabah yang membutuhkan dana lebih besar karena pinjaman yang diterima jauh lebih kecil dari nilai taksiran maupun nilai pasar barang yang diagunkan. Kesulitan likuiditas tersebut semakin dalam karena Perum Pegadaian harus membayar pokok dan bunga obligasi yang jatuh tempo.5 juta) sebesar 81% dan D (diatas 2.4% dan D 73. Realisasi Pinjaman yang Diterima Nasabah Tahun 1998 Golongan Nasabah Ketentuan Realisasi Pinjaman (%)*) 90 85 85 81 Realisasi Pinjaman yang Diterima Nasabah (%) 85. Saldo pinjaman rekening koran di BRI tersebut pada akhir September 1998 sebesar Rp 284.3 miliar (plafond Rp 181. Sampai dengan 30 September 1998.8.8%). maka nilai rata-rata realisasi uang pinjaman terhadap nilai taksiran untuk golongan A sebesar 85.1/1/117 tanggal 17 Juni 1998. sedangkan yang terendah diberikan oleh Kantor Daerah Balikpapan (65. Maret 1999 sejak pertengahan Agustus 1998. C sebesar 73. B dan C sebesar 85%.5%.7 miliar). 28/OPP.

Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat

89

dapat diperoleh nasabah dari Rp 20 juta (golongan D) menjadi maksimum Rp 5 juta per SBK. Beberapa kantor cabang yang diamati bahkan telah melakukan pembatasan plafon pinjaman maksimum untuk seorang nasabah rata-rata kurang dari Rp 5 juta. Kebijakan tersebut tetap dipertahankan sampai saat ini meskipun sudah ada tambahan dana RDI dan KLBI yang sebagian justru ditanamkan dalam bentuk deposito.16 Dampak kebijakan penurunan batas maksimum pinjaman tersebut adalah semakin sulitnya nasabah-nasabah potensial untuk bisa memperoleh pinjaman di atas Rp 5 juta dengan satu barang jaminan, kondisi tersebut berpotensi menyebabkan beralihnya nasabahnasabah potensial tersebut ke sumber pendanaan lainnya (seperti toko emas dan pegadaian gelap) yang masih bersedia memberikan pinjaman lebih dari Rp 5 juta. Kebijakan lain adalah dengan memberlakukan sistem antrian (waiting list) seperti yang diterapkan oleh beberapa kantor cabang, bahkan pada beberapa kantor cabang terpaksa melakukan penutupan kantor sebelum waktunya. Kenaikan suku bunga pasar juga menimbulkan permasalahan tersendiri bagi Perum Pegadaian karena biaya dana yang sebagian besar diperoleh dari kredit bank semakin besar. Untuk memperkecil dampak naiknya suku bunga pasar, maka Perum Pegadaian sejak 30 Juni 1998 menempuh kebijakan dengan menaikkan suku bunga pinjaman untuk golongan D dengan nilai pinjaman di atas Rp 500 ribu (Lampiran 5). Namun di sisi nasabah, kebijakan tersebut dianggap memberatkan bagi beberapa nasabah meskipun bagi nasabah lainnya tidak terlalu memperdulikan kenaikan suku bunga tersebut.

Permasalahan Struktural
Perum Pegadaian sebagai satu-satunya lembaga keuangan yang memberikan pinjaman dengan sistem gadai mempunyai jaringan kantor cabang yang sangat banyak dengan wilayah operasional yang sangat luas. Luasnya jaringan kerja tersebut di satu sisi sangat mendukung usaha Perum Pegadaian dalam membantu masyarakat, namun di sisi lain menimbulkan permasalahan tersendiri bagi Perum Pegadaian. Permasalahan yang timbul terutama adalah terlalu luasnya rentang kendali masing-masing kantor daerah terhadap kantor cabang-kantor cabang yang ada di wilayah koordinasinya. Dengan jumlah tenaga pemeriksa hanya 4 orang, setiap kantor daerah rata-rata membawahi lebih dari 50 Kanca dengan frekuensi pemeriksaan untuk masing-masing kantor cabang rata-rata 3 – 4 kali dalam satu tahun. Sementara itu, kanda di luar Jawa harus membawahi kanca yang secara geografis terlalu jauh. Luasnya rentang kendali tersebut belum diimbangi dengan

1 6 Menurut Perum Pegadaian, dana sebesar Rp 50 milyar yang disimpan dalam bentuk deposito (on call) dengan jangka waktu kurang dari 1 bulan dimaksudkan untuk cadangan pelunasan pinjaman BRI yang jatuh tempo.

90

Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan, Maret 1999

sarana komunikasi yang memadai sehingga belum dapat menunjang pemantauan kinerja kanca-kanca secara efektif. Sistem manajemen yang diterapkan oleh Perum Pegadaian saat ini cenderung menekankan pada besarnya peranan kantor pusat. Sistem manajemen sentralistik tersebut di satu sisi dapat menunjang sistem internal control yang handal, namun di sisi lain berpotensi menghambat kinerja Perum Pegadaian. Sistem manajemen tersebut dalam jangka panjang akan menimbulkan permasalahan tersendiri khususnya jika kebijakan pemberian otonomi yang lebih besar untuk masing-masing propinsi di Indonesia akan dilaksanakan oleh Pemerintah. Sistem manajemen yang sentralistik tersebut tercermin pada terpusatnya wewenang penetapan kebijakan-kebijakan yang berkaitan dengan operasional Perum Pegadaian, antara lain dalam : (i) Penetapan besarnya sewa modal. Kantor daerah dan kantor cabang tidak diperbolehkan untuk menetapkan besarnya tingkat sewa modal (suku bunga) meskipun terhadap nasabah-nasabah potensial.

(ii) Penetapan harga patokan emas. Harga patokan emas ditetapkan oleh kantor pusat dengan berdasarkan harga emas di Jakarta. Sistem ini berdampak pada lambatnya antisipasi kantor cabang dalam merespon perkembangan harga emas di daerah. (iii) Penghimpunan dana. Wewenang untuk menghimpun dana sepenuhnya berada di kantor pusat dimana baik kantor daerah maupun kantor cabang tidak diperbolehkan menghimpun dana sendiri. Dampak dari ketentuan ini adalah, masing-masing kantor daerah atau kantor cabang tidak mampu memanfaatkan potensi daerah sepenuhnya terutama dalam kondisi terbatasnya likuiditas seperti yang dialami dewasa ini. Permasalahan struktural lainnya terutama adalah masih terdapatnya beberapa kelemahan prosedur yang dapat mendorong terjadinya berbagai penyimpangan. Beberapa kelemahan prosedur yang dijumpai antara lain adalah kewenangan Kantor daerah yang seakan tanpa batas dalam memutuskan besarnya nilai pinjaman di atas plafon Rp 20 juta serta penyimpanan seluruh kunci duplikat pada satu orang (Kepala Kantor Cabang) 17 . Disamping kelemahan tersebut, dalam penelitian lapangan juga dijumpai beberapa kegiatan yang dapat dikategorikan sebagai penyimpangan. Penyimpangan tersebut antara lain adalah

1 7 Menurut Perum Pegadaian, dwilipat kunci disimpan oleh Kepala Cabang karena dalam setiap pemeriksan intern dwilipat kunci tersebut diperiksa sampai sejauh mana penyalahgunaan pemakaiannya, serta sewaktu-waktu dapat digunakan apabila pemegang kunci utama (pemegang gudang) berhalangan untuk masuk kerja.

Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat

91

praktek transfer dana antarcabang 18, pelanggaran kriteria barang jaminan yang dapat diterima Perum Pegadaian 19 , penyimpanan barang jaminan pada tempat yang tidak sesuai dengan prosedur, serta tidak dilaksanakannya prosedur internal control kluis dan gudang. Sementara itu, Perum Pegadaian juga akan terus menghadapi risiko fluktuasi harga barang jaminan akibat fluktuasi nilai tukar mengingat besarnya jumlah agunan di Perum Pegadaian berupa emas/perhiasan yang harganya mengikuti pergerakan harga pasar internasional. Nilai barang jaminan dalam bentuk emas/perhiasan pada tahun 1998 dan 1997 masing-masing sebesar 75% dari total pinjaman meningkat dibandingkan tahun 1996 (72%). Hal tersebut menunjukkan adanya peningkatan jumlah barang jaminan dalam bentuk emas/perhiasan semenjak terjadinya krisis ekonomi di Indonesia.

Persepsi Masyarakat
Berdasarkan hasil penelitian lapangan ke beberapa kantor cabang, ditemukan berbagai persepsi masyarakat terhadap Perum Pegadaian. Pada umumnya masyarakat, khususnya yang berpendapatan rendah, merasa sangat terbantu oleh Perum Pegadaian. Penggunaan dana oleh nasabah sangat beragam baik untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat produktif (misalnya untuk modal kerja dan bridging financing) sampai untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat konsumtif (misalnya untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari, biaya sekolah dan kebutuhan mendesak lainnya). Dari 90 nasabah yang dipilih secara acak dan berhasil diwawancarai, mayoritas berpenghasilan antara Rp 150 ribu s.d Rp 500 ribu per bulan. Sebagian besar nasabah tersebut tidak mempunyai akses ke perbankan atau tidak mau berhubungan dengan perbankan karena prosedur yang rumit. Berdasarkan penggunaannya, mayoritas nasabah (± 59%) mempergunakan pinjaman yang diperoleh dari Perum Pegadaian untuk tujuan produktif seperti modal kerja (56%) dan bridging financing (3%), sedangkan sisanya mempergunakan untuk tujuan konsumtif seperti biaya sekolah (17%), kebutuhan sehari-hari (16%), emergency (5%), dan lain-lain (3%). (Grafik 3).

1 8 Menurut Perum Pegadaian, praktek transfer antarcabang masih diijinkan sepanjang BRI yang terdapat di wilayah kantor cabang tersebut tidak menyediakan fasilitas rekening giro. Namun dalam prakteknya dijumpai beberapa kantor cabang yang berlokasi di wilayah kota besar masih melakukan praktek transfer antarcabang, meskipun di wilayah tersebut terdapat kantor BRI yang cukup besar. 1 9 Menurut Perum Pegadaian, barang jaminan yang tidak memenuhi ketentuan yang sudah ditetapkan masih bisa diterima asalkan secara ekonomis tidak menimbulkan kerugian bagi Perum Pegadaian.

Disamping persepsi positif nasabah tersebut. Kondisi tersebut mendorong beberapa nasabah besar untuk beralih ke pemberi pinjaman lainnya seperti pelepas uang. pegadaian gelap atau toko emas. berpenghasilan rendah dan mempergunakan dana yang diperoleh dari Perum Pegadaian untuk tujuan produktif. khususnya faktor keamanan barang jaminan dan kewajaran nilai taksiran. dari penelitian lapangan juga ditemukan bahwa beberapa nasabah merasakan tingginya suku bunga Perum Pegadaian saat ini serta sistem penghitungan bunga dengan acuan minimal 15 hari dirasakan cenderung merugikan nasabah. Kesulitan likuiditas yang dialami sejak Agustus 1998 berdampak pada berkurangnya kemampuan Perum Pegadaian dalam melayani nasabah. menyebabkan pada beberapa wilayah masyarakat masih merasa malu untuk berhubungan .92 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Kurangnya sosialisasi/pemasaran produk Perum Pegadaian kepada masyarakat.3%) terbanyak kedua adalah nasabah berpendidikan SLTP (20%) dan yang paling sedikit adalah nasabah dengan pendidikan tidak tamat SD (2. Financing 3% Keb. keunggulan Perum Pegadaian dibandingkan lembaga pemberi pinjaman lainnya terutama adalah dari segi pelayanan kepada nasabah. Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas nasabah mempunyai pendidikan yang cukup. Dengan melihat keunggulan tersebut nasabah Perum Pegadaian pada umumnya tidak terlalu memperdulikan besarnya suku bunga meskipun saat ini relatif tinggi pada kondisi suku bunga pasar yang cenderung menurun. Sehari-hari 16% Lain-lain 3% Biaya Sekolah 17% Modal Kerja 56% Sedangkan berdasarkan tingkat pendidikannya. Komposisi Penggunaan Dana oleh Nasabah Em ergency 5% Brid. Menurut persepsi nasabah. sehingga nasabah khususnya nasabah besar mulai merasakan bahwa Perum Pegadaian tidak selalu dapat memberikan pinjaman sesuai permintaan mereka. Maret 1999 Grafik 3. mayoritas responden yang banyak berhubungan dengan Perum Pegadaian berpendidikan SLTA (43.2%).

KUT. Maluku. Semakin berkurangnya kemampuan perbankan dalam memberikan pinjaman kepada masyarakat dewasa ini semakin membuka peluang bagi Perum Pegadaian untuk berperan lebih besar dalam program pemberdayaan ekonomi rakyat. PHBK dan PKM serta mengembangkan kelembagaan keuangan sesuai kebutuhan usaha kecil menengah dan koperasi. 3. . dll).Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 93 dengan Perum Pegadaian. Berkaitan dengan pemberdayaan ekonomi rakyat tersebut. Salah satu faktor dalam pemberdayaan ekonomi rakyat adalah pemberian prioritas dan bantuan dalam pengembangan usaha kepada ekonomi lemah. meningkatkan kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat terutama yang terkena dampak krisis serta mengkoordinasikan berbagai program penanggulangan dampak krisis dan berbagai program penanggulangan kemiskinan. meningkatkan pendapatan dan daya beli masyarakat. Program Jaring Pengaman Sosial (JPS) Program JPS ditujukan untuk menciptakan kesempatan kerja produktif bagi penganggur. sedangkan pada beberapa wilayah kantor Perum Pegadaian lainnya yang diamati sebagian nasabah masih merasa malu untuk berhubungan langsung dengan pegadaian dan lebih suka menggunakan jasa perantara (calo). merealisasikan berbagai skim kredit program yang dananya berasal dari KLBI (seperti KKPA. pemerintah telah menempuh berbagai upaya yang antara lain meliputi : 1. terlihat pada beberapa wilayah seperti Ujung Pandang (mencakup Sulawesi. dan (iv) program pemberdayaan ekonomi rakyat. Reformasi Struktural Sektor Riil Program ini dijalankan melalui reformasi di bidang perdagangan. investasi. 4. deregulasi dan privatisasi.2 Program Pemberdayaan Ekonomi Rakyat Perhatian terhadap ekonomi kerakyatan semakin meningkat seiring dengan meluasnya ketimpangan ekonomi dan kesenjangan sosial. memberi bantuan teknis yang diarahkan kepada kemitraan dan pendekatan kelompok melalui PPUK. KKop. (i) program ketahanan pangan. (ii) program padat karya dan penciptaan lapangan kerja produktif’ (iii) program perlindungan sosial. 2. dan Irian Jaya) serta Kodya Yogyakarta. yang diwujudkan dengan berbagai kebijakan untuk menghapuskan berbagai aspek yang menyebabkan inefisiensi dalam perekonomian. Realisasi JPS ditempuh dalam empat program. Namun tidak semua masyarakat merasa malu berhubungan dengan Perum Pegadaian. Kredit Program Dalam rangka mendorong berputarnya roda perekonomian di lapisan bawah yang saat ini menghadapi kesulitan sumber-sumber pembiayaan/pendanaan di lembaga formal (bank). maka Bank Indonesia mendorong komitmen perbankan dalam melayani usaha kecil (KUK).

Pelaksanaan peran tersebut selama ini dilakukan oleh Perum Pegadaian dengan memberikan pinjaman kepada masyarakat (khususnya masyarakat berpendapatan rendah) dalam skala kecil dengan . yaitu : a. Disamping itu pemberian pinjaman dengan sistem gadai dapat memperkecil moral hazard khususnya dalam penyaluran kredit-kredit bersubsidi. Disamping itu. Nasabah pegadaian sebagian besar merupakan nasabah mikro dan mayoritas berprofesi sebagai petani. Perum Pegadaian juga didukung oleh jumlah dan kualitas pegawai yang cukup memadai. e. murah dan cepat. Keberpihakan tersebut juga tercermin dalam misi yang ditetapkan dalam periode RJP II untuk ikut meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat golongan menengah ke bawah melalui penyediaan dana berdasarkan hukum gadai secara inovatif dan melakukan usaha lain yang menunjang. Kinerja yang semakin meningkat Perum Pegadaian merupakan salah satu usaha di sektor keuangan yang masih dapat bertahan di masa krisis ekonomi dewasa ini bahkan menunjukkan kinerja yang semakin meningkat. b.94 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. profitabilitas. Maret 1999 Potensi Perum Pegadaian tersebut dapat dilihat dari beberapa aspek. likuiditas maupun solvabilitas Perum Pegadaian pada umumnya juga relatif lebih baik jika dibandingkan dengan lembaga lain khususnya BPR dan BRI UDes. Perum Pegadaian juga masih memberikan peluang bagi permintaan pinjaman dalam skala yang lebih besar (diatas Rp 20 juta). khususnya jika dibandingkan dengan BPR. Keberpihakan pada masyarakat khususnya golongan ekonomi lemah Keberpihakan Perum Pegadaian kepada masyarakat khususnya golongan ekonomi lemah terlihat dari relatif kecilnya skala kredit yang diberikan dibandingkan dengan lembaga formal lainnya. Suku bunga pinjaman yang dikenakan Perum Pegadaian pada umumnya juga relatif rendah. Lonjakan tersebut merupakan dampak semakin sulitnya akses masyarakat ke perbankan. Potensi Perum Pegadaian untuk berperan dalam pemberdayaan ekonomi rakyat terlihat jelas terutama pada aspek keberpihakan pada masyarakat kecil. karena dengan sistem gadai nasabah dididik untuk berupaya mengembalikan pinjaman yang diterima. Selain jaringan kerja yang sangat luas. c. Prosedur pengajuan dan pelunasan pinjaman relatif mudah dan cepat. dengan plafon terendah Rp 5. Meningkatnya jumlah pinjaman yang diberikan. Keunggulan Perum Pegadaian Keunggulan utama Perum Pegadaian dibandingkan lembaga lain adalah prosedur yang mudah. Kesiapan jaringan kerja dan sumber daya manusia Perum Pegadaian mempunyai jaringan kerja yang sangat luas (633 kantor cabang) yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. d.000 dan tertinggi Rp 20 juta. Pinjaman yang diberikan pegadaian kepada masyarakat semakin meningkat seiring dengan lonjakan permintaan khususnya sejak krisis ekonomi. Kinerja efisiensi.

Fenomena tersebut nampak jelas di kantor-kantor Perum Pegadaian di wilayah Jawa. Namun rencana tersebut justru menimbulkan kekhawatiran akan terjadi pergeseran dari core business Perum Pegadaian dan orientasi nasabah yang dilayani seperti yang ditetapkan dalam PP No. dll). terlihat kebijakan Perum Pegadaian untuk mengembangkan produk-produk baru yang di luar lingkup usaha pegadaian.4 miliar atau hanya sebesar 5% dari total omset Perum Pegadaian. V. pengembangan produk-produk baru diusahakan tetap dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat kecil apabila tetap mengacu pada prinsip-prinsip hukum gadai dan misi perusahaan. Namun perkembangan terakhir menunjukkan kecenderungan pergeseran orientasi pemberian pinjaman ke nasabah besar (golongan D) meskipun Perum Pegadaian masih mempunyai peluang untuk meningkatkan porsi pinjaman untuk nasabah mikro (golongan A). Nasabah mikro pada Perum pegadaian tersebut terutama adalah golongan A (dengan nilai pinjaman antara Rp 5.C dan D. Namun porsi dan nilai pinjaman yang diperoleh golongan ini relatif sangat kecil (rata-rata sebesar Rp 18. sendok. Kecilnya skala pinjaman golongan A tersebut juga terlihat dari jenisjenis barang yang banyak dijadikan agunan seperti : kain. . PENUTUP 5. lampu tekan. serta kredit dengan sistem pinjam pakai sebenarnya sudah tidak sesuai dengan prinsip dari hukum gadai yang mewajibkan barang jaminan berbentuk barang bergerak dan dititipkan (tidak boleh dipakai oleh pemiliknya). sepeda dan lain-lain.000) pada tahun 1998 mencapai 41.1 Kesimpulan 1. Oleh karena itu. Salah satu produk yang akan dikembangkan yaitu memberikan kredit dengan jaminan surat berharga dan sertifikat tanah.000 – Rp 40. alat rumah tangga (misal : kuali/ panci. Perkembangan Perum Pegadaian dalam tiga tahun terakhir cukup pesat. Total nilai pinjaman untuk golongan A pada tahun 1998 sebesar Rp 115. khususnya tahun 1998 (setahun terakhir) terjadi pelonjakan kinerja terutama karena beralihnya sebagian nasabah perbankan ke Perum Pegadaian.000) dibandingkan golongan B. 10 tahun 1990. Begitu pula dengan adanya rencana untuk mengembangkan produk-produk pembiayaan lainnya merupakan suatu upaya yang kurang sesuai dengan misi dari Perum Pegadaian yang ingin melayani kebutuhan masyarakat golongan menengah ke bawah. dengan tetap berpihak pada masyarakat berpendapatan rendah. Sejalan dengan perkembangan usaha Perum Pegadaian. piring. khususnya di wilayah pantai utara. Apalagi pada beberapa tahun terakhir terdapat kecenderungan di dalam kelompok-kelompok usaha untuk kembali ke core business masing-masing untuk meningkatkan kinerja usahanya.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 95 prosedur dan persyaratan yang mudah dan murah.4% total nasabah.

Pada periode Agustus s. 3. Jaringan Perum pegadaian yang didukung oleh 633 kantor menjangkau seluruh wilayah Indonesia sampai ke pedesaan. Untuk menutupi kekurangan dana tersebut (khususnya modal kerja).96 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. sementara dana yang diperoleh sebagian besar bersuku bunga rendah. Perum Pegadaian telah ikut berperan dalam kegiatan pembiayaan usaha kecil. serta meningkatkan porsi pemberian kredit bagi golongan A tanpa menimbulkan kerugian bagi Perum Pegadaian. Keunggulan dalam profitabilitas dan efisiensi tersebut terutama disebabkan oleh tingginya sewa modal yang dikenakan (hampir sama dengan suku bunga perbankan). Suku bunga (sewa modal) yang dikenakan Perum Pegadaian kepada nasabah saat ini relatif tinggi. serta sistem manajemen yang sangat sentralistik. profitabilitas dan efisiensi. 4. 6. Dalam tiga tahun terakhir telah terjadi pergeseran pemberian kredit dari nasabah kecil ke nasabah besar. Untuk memenuhi lonjakan tersebut. Perum Pegadaian mengalami kesulitan likuiditas akibat lonjakan permintaan nasabah dan kurangnya peminat obligasi yang diterbitkan. Perum Pegadaian telah memperoleh fasilitas RDI dari Pemerintah dan KLBI. Perum Pegadaian memiliki keunggulan dalam kualitas pinjaman yang diberikan. Perum Pegadaian mempunyai beberapa kelemahan struktural yang dapat menghambat peningkatan kinerja dan merupakan potensi timbulnya berbagai penyimpangan yaitu : terlalu luasnya rentang kendali manajemen yang tidak didukung dengan sistem dan sarana pengawasan/pelaporan yang memadai.6 juta (September 1998) dengan mayoritas merupakan nasabah mikro (40. Peran Perum Pegadaian dalam mendukung pemberdayaan ekonomi rakyat cukup besar terlihat dari jumlah nasabah mencapai 6. Namun masih terdapat peluang (room) bagi Perum Pegadaian untuk menurunkan sewa modal khususnya untuk golongan B. Hal ini terutama disebabkan oleh perubahan orientasi kebijakan Perum Pegadaian untuk meningkatkan laba serta kenaikan golongan pinjaman karena adanya kenaikan harga barang jaminan. Secara makro dan jika dibandingkan dengan BPR dan BRI UDes yang memiliki pasar yang hampir sama. C dan D dengan tetap memberikan subsidi bagi golongan A. Meskipun demikian. 7. 5.5%). sumbangan Perum Pegadaian dalam pemberian kredit masih lebih rendah. Maret 1999 2.d September 1998. Kredit yang diberikan terutama kepada nasabah menengah ke bawah yang pada umumnya bergerak di sektor informal dan tidak memiliki akses ke perbankan. sementara dana pelunasan obligasi yang dihimpun (sinking fund) kurang memadai. . Perum Pegadaian melakukan penarikan overdraft sangat besar sehingga mengakibatkan penghentian pemberian fasilitas overdraft BRI.

6. Masalah kesulitan likuiditas dapat diminimalkan apabila sampai batas tertentu kantor daerah diberi kewenangan untuk mencari dana sendiri dengan memanfaatkan potensi daerah setempat (sesuai dengan teori RFM). Hal ini sekaligus dapat mendorong kompetisi untuk meningkatkan efisiensi. misalnya sebesar 30% . pemerintah hendaknya menetapkan ketentuan yang mengatur batas minimum porsi kredit untuk nasabah kecil (golongan A dan B). serta kecenderungan penurunan suku bunga pasar. Perum Pegadaian perlu melakukan evaluasi secara lebih intens terhadap kantor-kantor cabang yang merugikan. Di samping itu. Mengingat masih besarnya potensi pasar yang dapat dimanfaatkan oleh lembaga keuangan yang memberikan pinjaman berdasarkan sistem gadai. Namun untuk mewujudkan potensi tersebut Perum Pegadaian harus terlebih dahulu membenahi kelemahan-kelemahan struktural yang ada. Perum Pegadaian perlu lebih intensif dalam memonitor nasabah. 3. maka Pemerintah perlu mengkaji kemungkinan pemberian izin bagi perusahaan lain untuk bergerak dalam usaha pegadaian. 7. untuk menjaga konsistensi pelaksanaan misi Perum Pegadaian. maka sudah saatnya besarnya sewa modal diturunkan. Dengan mempertimbangkan potensi dan rencana jangka panjang. 5. 2. untuk mengkaji apakah akan melakukan pemindahan kantorkantor cabang tersebut ke lokasi yang lebih strategis atau melakukan penutupan. rentabilitas yang lebih baik dibandingkan lembaga formal lainnya. 5. . Berdasarkan kinerjanya Perum Pegadaian memiliki potensi untuk berperan dalam channeling pemberdayaan ekonomi rakyat. Untuk mengetahui efektivitas penggunaan kredit dalam rangka pemberdayaan ekonomi rakyat. tersedianya room yang cukup luas. 4. sehingga Kanda berpotensi untuk mencari dana pinjaman sendiri. nampaknya Perum Pegadaian perlu lebih menekankan pada pemberian kredit daripada melakukan usahausaha lain di luar core usaha Perum Pegadaian. namun dari penelitian diperoleh temuan bahwa daerah juga mempunyai potensi pendanaan (sesuai dengan teori RFM).1 Saran 1. khususnya bagi Kanca defisit yang sudah lama didirikan dengan tetap mempertimbangkan pelaksanaan misi sosial yang diemban. Sesuai dengan misi Perum Pegadaian yang didukung oleh sumber dana yang mayoritas bersubsidi.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 97 8.40%. Sistem manajemen pendanaan secara sentralistik yang diterapkan Perum Pegadaian sampai saat ini nampaknya sangat sejalan dengan teori FF.

Tokyo : Asian Productivity Organization. Rural Financial Intermediation : Lessons From Indonesia Part One The Bank Rakyat Indonesia : Rural Banking. ___________________ (1997). Untuk menghindarkan terjadinya distorsi suku bunga pasar. Fred dan Brigham. DAFTAR PUSTAKA Egaitsu. Weston. 1970-91. ___________________.98 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Rural Financial Markets : Two School of Thoughts. dan Direktorat Umum. Eugene F (1981). Harvard University. Penerbit BPFE Yogyakarta. PERUM PEGADAIAN (1997). Uraian Tugas dan Kegiatan : Direktorat Operasi dan Pengembangan. Fumio (1986). maka kebijakan pemberian bantuan likuiditas dengan subsidi bunga kepada lembaga pembiayaan yang berorientasi pada masyarakat menengah ke bawah hendaknya hanya dilakukan dalam jangka pendek atau dalam bentuk sekuritisasi. Pedoman Pemeriksaan Satuan Pengawasan Intern Perum Pegadaian. ___________________. Tim Analisis Jabatan Perum Pegadaian (1990). Marguerite S (1992). Husnan. Harvard Institute for International Development. Laporan-Laporan Keuangan Robinson. Manajemen Keuangan Edisi ke-7 Jilid I (Terjemahan dari Managerial Finance 7th edition). Company Profile Perum Pegadaian ___________________. . Untuk memperoleh penilaian efisiensi yang lebih riil. Direktorat Keuangan. Penerbit Erlangga Jakarta. Surat-Surat Keputusan Direksi Perum Pegadaian. J. dalam Farm Finance and Agricultural Development. 9. Pedoman Operasional Kantor Cabang. Laporan-Laporan Operasional Bulanan dan Tahunan ___________________. ___________________. Development Discussion Paper No. maka Perum Pegadaian perlu memperhitungkan biaya dana untuk masing-masing Kanca. Maret 1999 8. Prospektus Obligasi V Perum Pegadaian Tahun 1998. Manajemen Keuangan : Teori dan Penerapan (Keputusan Jangka Pendek) Jilid 2. Suad (1985). 434.

Subdit Operasi dan Pengembangan (OPP). bertugas untuk mengkoordinasikan dan mengedalikan penyelenggaraan kesekretariatan pimpinan. . jasa dan mengembangkan kegiatan pemasaran serta mengkoordinasikan pengolahan dan dan penyajian statistik perusahaan sesuai dengan ketentuan yang berlaku sebagai bahan pertimbangan pimpinan dalam rangka meningkatkan pendapatan perusahaan. sistem. bertugas untuk mengkoordinasikan penyusunan formal. pemberhentian. pengalokasian dana. perjalanan dinas dan tunjangan serta pelaksanaan penagihan piutang perusahaan sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam rangka menunjang kelancaran pelaksanaan tugas. bertugas untuk mengkoordinasikan pengelolaan kas. Subdit Kepegawaian (KP). pengadaan dan penyelenggaraan pengangkatan. gaji. bertugas untuk mengkoordinasikan dan melaksanakan penelitian dan pengembangan jenis. verifikasi. pengevaluasian pelaksanaan anggaran. Subdit Perbendaharaan (PB). bertugas untuk mengkoordinasikan evaluasi. 3. Subdit Penelitian dan Pengembangan Operasi (LB). Subdit Kesekretariatan Perusahaan (SP). penyelenggaraanpembukuan dan penyajian laporan keuangan perusahaan serta pengembangan sistem informasi keuangan sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam rangka pengendalian keuangan perusahaan. prosedur dan wilayah operasi serta bentuk usaha lain berdasarkan peraturan yang berlaku dalam rangka meningkatkan kinerja perusahaan. kebutuhan modal kerja dan pengalokasian modal kerja serta investasi lainnya sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam rangka menjamin kontinuitas keuangan perusahaan. promosi. 7. bertugas untuk membina penyaluran kredit gadai. pemindahan. 5. Subdit Akuntansi (AK). 6. perpajakan. bertugas untuk mengkoordinasikan penyusunan rencana anggaran. kesejahteraan serta pengembangan manajemen 2. surat berharga. kepustakaan dan pengelolaan produk hukum serta pemberian pertimbangan hukum sesuai dengan peraturan yang berlaku dalam rangka menunjang kelancaran pelaksanaan tugas pimpinan perusahaan. Subdit Anggaran dan Permodalan (AP) . kepangkatan. 4. urusan kehumasan. bank.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 99 LAMPIRAN Lampiran 1 Tugas masing-masing Kepala Sub Direktorat 1. pemensiunan.

pemilikan hak atas tanah. Subdit Bangunan (BG). Kepala Pusat Pengembangan Teknologi Informasi (Kapus TI). Subdit Tata Usaha dan Rumah Tangga (TURT). bertugas mengkoordinasikan penyelenggaraan pengelolaan database dan jaringan serta pengembangan dan pengimplementasian sistem dalam menunjang kegiatan operasional perusahaan. Kepala Balai Diklat (Kabal Diklat). bertugas untuk mengkordinasikan pengurusan ketatausahaan. pengadaan denah. . bertugas mengkoordinasikan perencanaan pengembangan program penyelenggaraan dan evaluasi pelaksanaan pendidikan dan pelatihan serta penyusunan laporannya sesuai dengan ketentuan yang berlaku agar penyelenggaraan diklat berjalan lancar dan terpadu. urusan rumah tangga dan perlengkapan kantor agar pelaksanaan tugas berjalan lancar dan terpadu. 9. 10. izin mendirikan bangunan dan penghapusan serta penyelenggaraan tata usaha pembangunan atau perbaikan bangunan prasarana dan rumah jabatan sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam rangka penyediaan sarana kerja yang memadai untuk menunjang kelancaran pelaksanaan tugas. bertugas untuk mengkoordinasikan pembuatan disain bangunan pemrosesan pelaksanaan pembangunan atau perbaikan. pengurusan persewaan bangunan. 11. 8. Maret 1999 perusahaan berdasarkan peraturan yang berlaku dalam rangka pembinaan kepegawaian dan peningkatan kesejahteraan pegawai.100 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.

XIII. XIV. V.974 . VIII. Pandang Semarang Yogyakarta Surakarta Surabaya Malang Jember Denpasar Balikpapan Kupang 35 36 44 49 49 45 56 53 50 51 37 31 22 17 575 42 39 55 51 55 47 56 53 52 51 37 41 31 23 633 JUMLAH Lampiran 3 Komposisi Pegawai Tetap Perum Pegadaian Jenjang Karir Manajemen Puncak Manajemen Menengah Manajemen Pelaksana Staf Administrasi Tingkat Pendidikan SD SLTP SLTA D3 S1 S2 TOTAL 982 465 2.442 814 511 25 5. XI. VII. IX. II. X. 1998 4 45 794 3.183 885 404 2.893 829 377 2. VI. Medan Padang Jakarta Bandung U.171 811 591 31 4.349 1996 4 34 780 4.118 803 655 35 4. IV. III.129 954 437 2.817 1995 4 34 742 4. XII.303 897 468 14 5.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 101 Lampiran 2 Jumlah Cabang yang Dibawahi oleh Setiap Kanda KANDA JUMLAH CABANG JUMLAH ANAK CABANG 7 3 11 2 6 2 0 0 2 0 0 10 9 6 58 TOTAL I.050 Okt.365 1997 4 45 794 4.

BNI Dana Berbunga .Saham PT.000 2. Cadangan penurunan nilai surat berharga Penyertaan (Dalam bentuk 500 lembar saham PT. Semen Gresik .Saham PT.000 2.Saham PT.320 1. Maret 1999 Lampiran 4 Penanaman Dana Perum Pegadaian Jenis Penanaman 1997 Per-31 Des 526.Saham PT.751 70.BEII Surat Berharga . Diberikan Deposito . 756. Danareksa Seruni .243 10. BIG Palapa . Danareksa Fund MGT.768 1. Bahana Dana Selaras .000 3.Saham PT.150 (Juta rupiah) 1998 Per-30 Sep.000 2.Saham PT.000 2.000 -1.500 65. Dua Satu Tiga Puluh) Sumber : Perum Pegadaian .000 7.176 50 70 876 2.150 Pinjaman yg.500 2.102 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.000 500 -2.500 5.351 50 70 1.500 5. Semen Gresik (Sertifikat Bukti Right) .BRI .Saham PT.

3.5%XUP. Harga Pasar Pusat HPP adalah harga pasar emas/perak/permata yang ditetapkan oleh Kanpus sebagai patokan umum baik bagi Kanda maupun Kanca berdasarkan perkembangan harga pasaran umum dengan memperhitungkan kecenderungan perkembangan harga di masa mendatang. Harga Pasar Setempat.5 juta ditetapkan 0.500-150.50% 3.50% 2. Dalam hal ini Perum Pegadaian membuat tiga kriteria harga pasar yaitu harga pasar pusat (HPP).000 40. UP=Uang Pinjaman • Biaya PA gol. yang direvisi minimum tiga . DG selain mobil u/ UP > Rp 1.000 ke atas) • Biaya PA dengan jaminan Mobil ditetapkan 0. minimum Rp 10.25% 2.000 (pembulatan Rp 500 ke atas) • Biaya PA gol.25% 2.500.25% 2.5 juta ditetapkan 0. M=Mobil.00% Maksimum Jangka Waktu Kredit 120 120 120 120 120 hari hari hari hari hari Keterangan : K=Kantong. DK u/ UP > Rp 1. Perum Pegadaian mengacu kepada harga pasar.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 103 Lampiran 5 Tabel Sewa Modal dan Biaya PA masing-masing Golongan Gol Uang Pinjaman Sewa Modal Per 15 Hari Per Tahun A B C D D 5.000-40.000 >2. Harga Pasar Daerah HPD adalah harga pasar yang ditentukan oleh Kanda dengan memperhatikan toleransi maksimum 4% di atas HPP dan 2% di bawah HPP.500.000-500.000-1. HPS adalah harga pasar barang-barang gudang yang didasarkan pada harga pasar barang baru (toko) di daerah setempat. minimum Rp 25.25% 2.000-5. 2. G=Gudang.000.000 (pembulatan Rp 1.25% 2. 1.000 ke atas) Lampiran 6 Jenis-jenis Harga Pasar Untuk menentukan nilai barang jaminan yang akan digadaikan oleh masyarakat.000 (pembulatan Rp 1.5%XUP.5%XUP.50% 2.000 151.50% 1.000 1. minimum Rp 8. harga pasar daerah (HPD) dan harga pasar setempat (HPS).000 510.

Golongan D s/d Rp 5 juta = 85% . Dengan demikian BAL hanya berisi data barang jaminan yang laku dilelang saja. Buku Ikhtisar Kredit dan Pelunasan bulan kredit yang bersangkutan dikredit sebesar uang pinjaman BSL. kerapihan dan keamanan gudang berserta isinya. c.Golongan B dan C = 85% . 2. Lampiran 8 Administrasi dan Pembukuan Barang Sisa Lelang (BSL) 1. f. Buku Kredit yang bersangkutan pada nomor yang menjadi BSL sebagai penghapusan b. Karena BSL diakui dan dicatat sebagai mutasi aset. Menghitung barang jaminan. kemudian ditentukan besarnya persentase uang pinjaman terhadap taksiran menurut masing-masing golongan yaitu : . . 4. 3. Berdasarkan harga-harga pasar di atas. dan minimal 60% dari tiap rubrik/golongan/ribuan telah dihitung untuk ketiga kalinya. yaitu dengan mencocokkan jumlah barang yang ada di gudang dengan saldo menurut buku gudang. d. Meskipun demikian dalam jangka waktu 2 bulan tiap-tiap rubrik/golongan/ribuan harus sudah pernah dihitung sebanyak dua kali. Pemeriksaan isi barang jaminan. Buku Kas didebet sebagai pelunasan dan dikredit pembelian BSL.104 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. sedangkan cabang kelas I dan II minimal satu kali sebulan oleh Kacab. Pemeriksaan ini dilakukan setelah penghitungan barang jaminan selesai dilaksanakan. e. 2. Buku Gudang dikreditkan sejumlah BSL. maka adanya BSL pada setiap lelang tidak perlu dicatat pada Berita Acara Lelang (BAL). Buku Uang Kelebihan eks BSL. Pemeriksaan buku gudang yang dilakukan setiap hari. yaitu dengan melakukan pemeriksaan secara langsung ke dalam gudang tentang kebersihan. Penghitungan barang jaminan ini dilakukan minimal sepuluh kali dalam satu bulan.Golongan D > Rp 5 juta = 84% Lampiran 7 Kegiatan pemeriksaan barang jaminan di gudang 1. Meronda gudang. yaitu dengan mencocokkan fisik barang jaminan dengan keterangan pada SBK dwilipatnya (lembar II/kopinya). Laporan Bulanan Operasionalatas penambahan BSL.Golongan A = 90% . Maret 1999 bulan sekali. Barang jaminan yang sudah ditetapkan sebagai BSL pada buku Redister Barang Sisa Lelang (RBSL). Kegiatan ini dilakukan minimal 3 kali sebulan untuk cabang kelas III. Kemudian berdasarkan RBSL tersebut dibukukan pada : a.

Pedoman penurunan harga jual secara bertahap sesuai kebijakan Kakanda.7% Penjualan BSL jangka waktu lebih dari 30 (tiga puluh hari s/d 60 (enam puluh hari) dijual sebesar Harga Pembelian x 105%. Kelebihan kredit yang ditarik tersebut dikenakan suku bunga pasar sebesar 71% per tahun.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 105 Lampiran 9 1. permintaan terhadap jasa Pegadaian meningkat pesat sehingga masing-masing cabang Pegadaian melakukan penarikan dana dari BRI dalam jumlah cukup besar. tidak diijinkan untuk menjualnya. Sebelumnya. BSL yang diminta oleh Hakim/Jaksa/Polisi harus diselesaikan menurut peraturan yang berlaku.75 miliar (suku bunga 36 %) yang secara langsung dapat ditarik oleh cabang-cabang Perum Pegadaian melalui kantor-kantor cabang BRI setempat yang telah ditentukan. Di samping itu. atau kebijakan lain dari Kakanda atas usul penurunan harga jual yang telah diajukan sebelumnya. Sejak terjadinya krisis ekonomi. Perum Pegadaian diberikan fasilitas kredit oleh BRI sebesar Rp 181. · · 2 . Kacab dapat mengusulkan penurunan harga jual kepada Kakanda. makin sedikitnya sumber pendanaan yang ada menyebabkan Perum Pegadaian mengurangi batas nilai kredit maksimum. Hal ini menyebabkan kredit yang ditarik secara keseluruhan melebihi plafon yang ditentukan ( overdraft) sehingga BRI menghentikan fasilitas tersebut pada bulan Agustus 1998. Penyelesaian Barang Sisa Lelang (BSL) Dijual di bawah tangan Pedoman harga penjualan BSL ditetapkan sebagai berikut : a) BSL Perhiasan Emas Penjualan BSL jangka waktu kurang dari 30 (tiga puluh) hari. Kesulitan likuiditas yang dialami Perum Pegadaian antara lain akibat dihentikannya fasilitas kredit dari BRI. Pengiriman BSL ini dibukukan sebagai Rekening Antar Kantor (RAK). mutasi aktiva dan harus mendapat izin dari Kakanda dan penjualannya di tempat yang baru harus memperhitungkan biaya pengirimannya. dijual sebesar Harga Pembelian x 109. Dimutasikan Antarcabang BSL emas atau non-emas sebelum diusulkan penurunan harga jualnya dapat juga diupayakan penjualannya di kantor cabang yang berada di daerah lain yang diyakini dapat terjual lebih cepat. Beban suku bunga pendanaan yang tinggi menyebabkan Perum Pegadaian menaikkan sewa modalnya seperti terlihat dalam tabel di atas. Sebelum mendapat keputusan penurunan harga jual dari Kakanda. b) BSL Non-Emas Diusahakan BSL harus sudah terjual dalam jangka waktu 30 (tiga puluh hari) namun demikian apabila dalam jangka waktu tersebut belum laku terjual. Selisih lebih atau kurang atas penjualan ini dibukukan sebagai laba/rugi perusahaan.

106 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Maret 1999 .

Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 107 .

108 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Maret 1999 .

Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 109 .

Maret 1999 .110 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.

Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 111 .

Maret 1999 .112 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.

Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 113 .

Maret 1999 .114 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.

Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 115 .

Maret 1999 .116 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.

yang dari tahun ke tahun semakin canggih. risiko pada kesehatan perbankan. Urusan Devisa. Tulisan ini bertujuan untuk memberikan gambaran awal tentang kegiatan money laundering. batasan. *) Haryadi Ramelan : Dealer pada Dealing Room. Bank Indonesia Delfianto Ras : Dealer Yunior pada Dealing Room. Urusan Devisa. perbankan internasional khususnya International Offshore Banking Centres (IOBC) dengan segala aspek perlindungan data serta keleluasaan pajaknya telah menjadi lembaga intermediasi yang sangat diminati oleh para money launderer. terorganisasi rapi dan profesional. dan Delfianto Ras*) Perkembangan teknologi perbankan internasional dalam dekade terakhir ini telah memberikan jalan bagi tumbuhnya jaringan-jaringan perbankan yang semula lokal/regional menjadi suatu lembaga keuangan yang global.Kajian Awal Tentang Money Laundering serta Implikasinya dalam Pasar Keuangan Internasional 117 KAJIAN AWAL TENTANG MONEY LAUNDERING SERTA IMPLIKASINYA DALAM PASAR KEUANGAN INTERNASIONAL Hariyadi Ramelan. senjata gelap. sumber-sumber regulasi. volatilitas yang sangat besar pada modal internasional dari transfer asset antar negara yang tidak terantisipasi. Bank Indonesia . layering ataupun integration. Ketidakberhasilan dalam menggalang kerjasama internasional dalam memerangi money laundering akan menimbulkan risiko perubahan variabel permintaan uang yang tak terduga. Uang hasil transaksi ilegal (obat bius/ narkotika. suap/korupsi/ manipulasi serta fraud perbankan) telah menjadi “legal” dalam dunia bisnis di pasar keuangan internasional. Namun pada sisi yang lain. teknik-teknik. Kajian ini diharapkan akan mampu memberikan gambaran serta perbaikan-perbaikan yang memadai dan perlu dilakukan oleh masyarakat keuangan internasional dalam upaya pencegahan maupun penindakan terhadap kegiatan money laundering. juga merupakan lembaga yang sangat rentan terhadap proses placement. Kecenderungan tersebut ternyata juga memberikan kesempatan bagi para pelaku money laundering untuk turut memanfaatkan kecanggihan jaringan layanan perbankan. serta implikasi yang timbul sehubungan dengan peranan bank sebagai lembaga intermediasi. Dalam posisi ini. efek kontaminasi pada transaksi keuangan yang legal.

Kalimat tersebut nampaknya bukan sekedar slogan kosong bagi Pemerintah Amerika Serikat dalam memberantas kegiatan money laundering.22-23. Pada saat yang bersamaan di London. Samuel. Dua bank besar Mexico. dll). Contoh-contoh tersebut hanya menggambarkan situasi mikro dari satu konsekuensi bercampurnya “uang halal” yang secara resmi masuk dalam hitungan otoritas moneter dengan uang haram yang merupakan hasil kegiatan melawan hukum dalam bisnis keuangan internasional. bila sebuah komoditas diimpor dan dibayar. Hal ini antara lain ditandai dengan semakin maraknya International Offshore Banking Centers (IOBC) di berbagai belahan dunia seperti Gambar 1. pp. namun tidak ada catatan bahwa seseorang telah menerima pembayaran tersebut. Dalam kasus black hole di atas.9 juta dan USD 4. 6th Ed. Hal kedua tersebut diakui sebagai masalah yang pelik namun realitasnya memang terdapat permintaan pasar yang cukup kuat untuk secret money.118 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. T Pada situasi global. Kedua bank juga terbukti bersalah dan mengaku bertanggung jawab penuh bahwa karyawan-karyawan banknya telah melakukan money laundering atas hasil-hasil ilegal narkotik. kegiatan money laundering dalam konsep akuntansi internasional ternyata mampu menjelaskan adanya defisit neraca transaksi berjalan dunia. Lantas kemanakah uangnya? Beberapa sebab dapat dikemukakan seperti statistical error atau (bukan mustahil) adanya secret money. Secara lebih rinci. Dua bank besar tersebut diharuskan membayar denda masingmasing USD 9. 1. Dinas Pajak Dalam Negeri Inggris melakukan razia terhadap 2 kantor akuntan besar dan juga rumah pengacara serta akuntan yang terbukti berupaya menghindari objek pajak yang diperoleh dari money laundering. yakni Bancomer dan Banco Serfin dinyatakan bersalah oleh Pengadilan Federal (Fed Court) Los Angeles. Hal tersebut paling tidak terbukti pada hasil “Operation Cassablanca” yang berlangsung akhir bulan Maret 1999. Management of Company Finance. penjumlahan total nilai import dan pembayaran bunga seharusnya sama dengan total nilai ekspor dan penerimaan bunga. London. Chapman & Hall. Secara teoritis dan teknis. Pendahuluan he war against money launderer is not over . 1) uang yang dibayarkan untuk barang atau jasa-jasa tersebut tidak pernah tercatat oleh perusahaan/ individu yang umumnya dengan berbagai alasan antara lain untuk menghindari pajak ataupun karena transaksi tersebut ilegal (manipulasi oleh perusahaan swasta. Maret 1999 I. J. tidak hanya dari para kriminal namun juga dari perusahaan-perusahaan dan bahkan pemerintahan. suap kepada pejabat pemerintahan. saat ini perkembangan pasar keuangan internasional telah memungkinkan terbukanya peluang untuk menampung rekening secret money.M et al . Sejalan dengan praktek money laundering tersebut. 1996. dalam kasus money laundering. .7 juta.

Bagian Ketiga. maka diharapkan dapat diupayakan langkah-langkah efektif untuk mencegah terjadinya money laundering maupun langkah-langkah represif seandainya money laundering terjadi dengan tetap mengacu pada Undang-undang ataupun regulasi yang berlaku secara internasional. Keempat. International Monetary Fund (IMF) 2) berpendapat bahwa money laundering merupakan salah satu ancaman paling serius bagi masyarakat keuangan internasional khususnya dan sistem keuangan global pada umumnya. 1997. Pertama.Kajian Awal Tentang Money Laundering serta Implikasinya dalam Pasar Keuangan Internasional 119 Berkaitan dengan permasalahan tersebut. Ketiga. Secara rinci. proses kegiatan dan pelanggaran money laundering. trend dan teknik umum yang digunakan. Teknik dan Regulasi dalam Kegiatan Money Laundering A. Annual Report. regulator atau lembaga lain yang berwenang (bank sentral) serta pelaku-pelaku pasar finansial lainnya. Batasan dan Proses Kegiatan Money Laundering Tak ada batasan money laundering secara umum. namun demikian money laundering secara khusus dapat diartikan pencucian uang (laundering money from illicit proceeds). Sebagai gambaran turn over kegiatan money laundering saat ini telah melampaui batas imaginasi. Tujuan dari penulisan makalah ini antara lain memberikan gambaran yang menyeluruh berkaitan dengan kegiatan money laundering. batasan. bentuk pengambilan uangnya harus diubah. Dalam textbook. yang besarnya mencapai 300 – 400 milyar USD. bagian kedua tulisan ini akan memaparkan batasan. Kedua. yakni 2-5% dari GDP dunia. 2. jejak proses pencucian uang harus disamarkan dalam upaya menghilangkan jejak jika seseorang menelusuri proses uang dari awal hingga akhir. Batasan. ada empat faktor yang umum terdapat dalam kegiatan money laundering. pemilik uang dan sumber sesungguhnya uang tersebut harus disembunyikan. _____________. II. yakni sebagai suatu proses dimana para kriminal berupaya untuk menyembunyikan sumber dan kepemilikan hasil-hasil aktivitas kriminal yang melawan hukum. . serta implikasinya bagi pelaku-pelaku transaksi-transaksi perbankan internasional seperti bankir. pengawasan melekat terhadap uang (dirty money) harus dipertahankan. Dengan memiliki pemahaman yang cukup memadai. The Finacial Action Task Force on Money Laundering . mengupas beberapa implikasi yang sifatnya represif dan antisipatif terhadap kegiatan money laundering dan Bagian Keempat berisi Kesimpulan akhir. Angka ini secara ekstrim dapat diartikan bahwa bisnis money laundering merupakan bisnis terbesar ketiga di dunia setelah forex market dan bisnis minyak dunia.

Maret 1999 .120 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.

1997. kegiatan money laundering biasanya terdiri atas 3 proses yang berkelanjutan yakni: 1. Cara lain yang juga relatif konvensional adalah menggunakan pedagang valuta asing. Penggerebekan yang terjadi di London pada contoh 3. London 4. lawyers maupun akuntan pribadi. 1998. Teknik-Teknik Money Laundering Berdasarkan survey yang dilakukan oleh The FATF 4) (The Financial Action Task Force) sepanjang tahun 1996-1997. Hal ini dilakukan dalam upaya untuk menghilangkan jejak atau upaya audit sehingga seolah-olah merupakan transaksi finansial yang legal. stocks. Secara ringkas. penipuan/ penggelapan (fraud) serta hasil-hasil korupsi. Jeffrey. 1998) 3). B. The Financial Action Task Force on Money Laundering . Annual Report. Pocket Books. obat-obatan terlarang. Robinson. Langkah lain yang sering dilakukan adalah menciptakan sebanyak mungkin account dari perusahaan fiktif/semu dengan memanfaatkan aspek kerahasian bank dan keistimewaan hubungan antara nasabah bank dan pengacara. Cara tradisional. 2. Laundrymen. Langkah ini disebut juga sebagai immersion yang merupakan gabungan dari consolidation dan placement (Robinson. teknik-teknik yang dilakukan dalam pencucian uang dapat dikategorikan dalam 2 cara umum yakni: 1. . proses pencucian yang dapat dilihat pada Gambar 2. J. senjata gelap. Proses Pencucian Uang. 3. Cara tradisional dalam money laundering adalah dengan cara menyelundupkan secara fisik uang tunai hasil transaksi ilegal ke luar negeri (perbatasan nasional suatu negara). ____________. Proses yang terjadi adalah apabila hasil-hasil ilegal dari money laundering masuk kembali ke dalam sistem keuangan dan muncul sebagai dana-dana bisnis yang wajar/ normal. forex market. Spin Dry (Repatriation and Integration) Spin dry merupakan gabungan dari langkah repatriasi dan integrasi. Layering (Pemilahan Dana) Layering atau heavy soaping merupakan langkah kedua dalam money laundering yang ditandai dengan pemilahan hasil-hasil ilegal tersebut dari sumber-sumber asalnya melalui pembelian/transaksi-transaksi finansial seperti bearer bonds. Placement (Penempatan Dana) Penempatan dana merupakan proses awal dalam money laundering yang ditandai dengan penyerahan secara fisik uang yang dihasilkan dari aktivitas melawan hukum seperti perdagangan narkotika.Kajian Awal Tentang Money Laundering serta Implikasinya dalam Pasar Keuangan Internasional 121 Secara kronologis.

Maret 1999 .122 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.

Penggelapan uang tersebut tidak hanya menjadi kegiatan bayangan BCCI. Bagaimana BCCI menjalankan aktivitas penggelapan dalam waktu yang cukup lama? Jawabannya adalah sulitnya mengatur bank yang beroperasi di banyak negara.1. tetapi masih belum dapat menelusuri aktivitas bank tersebut. 2. Inc”. Bank yang didirikan di Luxembourg tahun 1972 oleh pengusaha Pakistan (Agha Hasan Abedi). Pada musim semi tahun 1990 IML dapat menemukan beberapa bukti penggelapan dan pada Juli 1991 perusahaan akuntan Price Waterhouse menemukan dokumen serta menyerahkan pada Bank of England. internet/ network based systems dan hybrid systems.Kajian Awal Tentang Money Laundering serta Implikasinya dalam Pasar Keuangan Internasional 123 kasus di atas jelas menunjukkan kecurangan seorang pengacara/akuntan dalam menyembunyikan hasil-hasil kejahatan seperti money laundering. IML mencapai persetujuan dengan tujuh negara dimana BCCI beroperasi. lawyer. Cara-cara Modern. dalam perjalanannya asset bank tumbuh dengan cepat hingga mencapai USD 20 milyar dan mempunyai cabang di 70 negara. Bank sebagai money launderer Salah satu contoh yang sangat berharga berkaitan dengan kasus money laundering adalah skandal yang dilakukan oleh The Bank of Credit and Commerce International (BCCI) pada tahun 1991. aplikasi ke tiga cara ini dalam sistem pembayaran masih relatif belum termanfaatkan. mengakibatkan BCCI beroperasi bebas dari peraturan pemerintah selama 15 tahun. serta accountant. Berdasarkan pengalaman di Inggris. Tidaklah mengejutkan bila BCCI diplesetkan artinya menjadi “Bank of Crook and Criminals. Tiga cara yang mungkin dilakukan adalah melalui : Stored value cards. Berkembangnya teknologi baru dibidang perbankan antara lain elektronic money (e– money) telah memberikan ancaman baru dalam teknik money laundering yang lebih canggih. selanjutnya BCCI dinyatakan ditutup. Meskipun kantor pusat BCCI di London. 2. namun BCCI diperkirakan juga membantu diktator seperti Sadam Hussein (Irak). Kerugian deposan . dimana tempat tersebut banyak uang hasil curian. Hal yang sulit untuk dilacak justru hasil-hasil ilegal yang ditransfer melalui International Electronic Fund Transfer. Namun sayangnya bank tersebut mengirimkan dananya ke rekening rahasia di Cayman Islands. Manuel Noriega (Panama) dan Ferdinand Marcos (Philipina) dalam mencuri uang dari negaranya. serta bertindak sebagai bankir dari kelompok Abu Nidal. namun lemahnya peraturan bank oleh Institut Monetaire Luxembourgeois (IML) di Luxembourg. ciri-ciri yang sering dilakukan oleh money launderer antara lain menggunakan institusi yang terkait (perbankan) serta Pedagang Valuta Asing (PVA). Namun demikian. Diperkirakan hampir setengah assets bank telah hilang (disappeared). Pada tahun 1987.

Rentannya lembaga-lembaga tersebut dari kegiatan money laundering dimungkinkan baik dalam proses placement. yakni antara lain: 1. merupakan target yang menarik bagi para pencuci uang. Kondisi ini lebih membuka peluang setelah diperkenalkan Euro sebagai mata uang tunggal Eropa yang secara tidak langsung telah menurunkan kontrol dan hambatan-hambatan dalam rangka pasar tunggal Eropa. the Basle Committee baru mengumumkan dan menyetujui standarisasi dari peraturan bank internasional. karena London sebagai salah satu pusat pasar keuangan terbesar dunia.124 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. khususnya untuk mobilitas barang-barang. apakah itu placement. Pasar finansial London yang terkenal dengan kemajuan dan transparannya sangat memberi peluang untuk memuluskan tahapan-tahapan kegiatan money laundering. layering dan integrasi. Rezim yang dapat dijadikan contoh untuk pencegahan kegiatan money laundering adalah Inggris. orang dan modal secara leluasa di seluruh Eropa. perlu adanya aturan hukum yang mengikat secara internasional dan berkekuatan hukum yang tetap. bank ataupun lembaga finansial lainnya merupakan lembagalembaga yang sangat rentan bagi kemungkinan penyusupan hasil-hasil transaksi ilegal (secret money). C. Ketentuan Primer (Tier 1) 1) Drug Trafficking Offences Act 1986 (DTOA) 2) Criminal Justice Scotland Act 1987 (CJSA) . Maret 1999 dan pemegang saham dari colapse-nya BCCI sudah tak terhingga dan pengawas bank dalam hal ini Bank of England sulit disalahkan atas kelambanan menuntaskan skandal tersebut. 2. Regulasi Kegiatan Money Laundering Sebagaimana diketahui. jasa. layering maupun integration.2 Payable through account Salah satu cara yang juga tergolong cukup modern dan sering digunakan oleh money launderers adalah payable through account (lihat Gambar 3). Melalui transaksi beberapa jenjang tersebut pada level terbawah yaitu pada level nasabah third bank tersebut para money launderers banyak melakukan aktivitasnya untuk memasukkan dananya ke dalam sistem jasa keuangan bank. Setahun setelah BCCI colapse. Mengapa demikian. beberapa ketentuan perundangan telah disahkan oleh oleh Parlemen Inggris. Dalam rangka merespon hal-hal tersebut di atas. Pada gambar tersebut diilustrasikan adanya pembelian US bonds yang pembayarannya dilakukan melalui account oleh client bank yang kemudian diperjual belikan pada level nasabah client bank tersebut (third bank) dan diteruskan pada level nasabah third bank. Berkaitan dengan upaya untuk mencegah dan memerangi kegiatan money laundering tersebut.

Kajian Awal Tentang Money Laundering serta Implikasinya dalam Pasar Keuangan Internasional 125 .

pendapat orang yang menanggulangi masalah tersebut dalam upaya meningkatkan pengetahuan terutama mengenai dasar kecurigaan terhadap orang yang melakukan money laundering. Prosedur pelaporan antara lain mencakup laporan identifikasi orang dalam suatu organisasi. Dalam kaitan ini. b) Identifikasi dan Verifikasi. (NIEPA) Criminal Justice Act 1993 (CJA93) 2.lembaga keuangan adalah sebagai berikut: a) Sistem Kontrol.126 3) 4) 5) 6) 7) 8) Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. c) Uji/Pemeriksaan atas Transaksi. f) Pendidikan dan Pelatihan. Ketentuan ini menjamin pegawai dari waktu ke waktu diberikan kesempatan mengikuti pelatihan dalam upaya mengenali dan menguasai transaksi yang dilakukannya sendiri atau atas nama orang lain . Setiap calon nasabah harus diidentifikasi dan diverifikasi bahwa yang bersangkutan memang memenuhi syarat sebagai applicant for business. yang sangat berpotensi dimanfaatkan pihak lain untuk money laundering. Maret 1999 Criminal Justice Act 1988 (CJA88) Prevention of Terrorism (Temporary Provisions) Act 1989 (POTA) Criminal Justice (Int. Prosedur ini sangat dibutuhkan bagi seluruh personil perbankan dan lembaga terkait . Peraturan tersebut mensyaratkan bagi semua lembaga keuangan. Ketentuan Sekunder (Tier 2) Ketentuan sekunder yang merupakan bentuk dari Money Laundering Regulation 1993 secara khusus ditujukan pada lembaga keuangan. d) Pencatatan. dan sejenisnya untuk membuat sistem untuk menghalangi terjadinya money laundering. pencatatan yang berhubungan dengan pembukaan rekening nasabah baru (client) atau identitas counterparty dan pencatatan yang berhubungan dengan transaksi yang dilakukan oleh client atau counterparty. kepada siapa informasi tersebut harus dibuat. masalahmasalah yang muncul dan pegawai yang menanggulanginya. apa jenis informasinya. Cooperation) Act 1990 (CJCA) Criminal Justice (Confiscation) ( Northern Ireland) Order CJO 1990 Northern Ireland Act 1991. Prosedur pencegahan terhadap terjadinya money laundering yang umumnya digunakan pada lembaga. pencatatan dapat dibagi dua yaitu. e) Pelaporan. Sistem ini berupa peraturan yang meliputi prosedur internal control dan komunikasi tepat pada lembaga-lembaga keuangan yang bertujuan mencegah dan menghalangi terjadinya money laundering.

Dibawah aturan CJA seseorang dianggap melakukan pelanggaran apabila menyembunyikan. Seseorang dianggap bersalah melakukan pelanggaran jika dia mengetahui sebagian atau keseluruhan kekayaan orang lain baik secara langsung atau tidak langsung berasal dari hasil kejahatan. c) Menyembunyikan atau mentransfer penerimaan untuk menghindari tindakan pencegahan atau perintah penyitaan. atau menginvestasikan dana jika dana yang bersangkutan diketahui atau dicurigai merupakan hasil penerimaan kriminal. Prosedur ini merupakan langkah terakhir yang harus dilakukan dan biasanya berupa investigasi oleh National Criminal Inteligent Service (NCIS). menguasai. menyembunyikan. b) Mengakuisisi . Buku ketentuan ini biasanya disebut sebagai the read book untuk perbankan. memiliki . dan green book untuk bisnis asuransi. dan menggunakan hasil dari kegiatan kriminal. menyamarkan. atau pegawai yang mengetahui atau mencurigai orang lain melakukan money laundering . yaitu: a) Membantu seseorang untuk menyimpan hasil-hasil kejahatan. 4. profesi. dan secara langsung atau tidak langsung dia menguasai atau menggunakan atau memiliki kekayaan tersebut. melakukan transfer atau menyembunyikan kekayaan dari pengadilan baik secara langsung maupun tidak langsung. Tindakan ini digolongkan sebagai pelanggaran bagi seseorang yang memberikan bantuan kepada money launderer untuk memperoleh. bisnis. yellow book untuk bisnis investasi swasta. terdapat 5 pelanggaran utama yang dapat dikategorikan sebagai tindakan money laundering. mengubah. Pelanggaran Hukum dalam Money Laundering Berdasarkan perundangan di Inggris (Criminal Justice Act 1993/ CJA) tersebut di atas.Kajian Awal Tentang Money Laundering serta Implikasinya dalam Pasar Keuangan Internasional 127 dalam upaya peningkatan kualitas pemahaman terhadap pekerjaan yang dijalani serta kontribusinya terhadap pengawasan internal. asuransi dan lembaga investasi lainnya. CJA mensyaratkan siapapun sehubungan dengan transaksi yang dilakukan. d) Menggagalkan usaha penyingkapan atau kecurigaan dari praktek money laundering. seluruh atau sebagian penerimaan yang berasal dari kegiatan kriminal. Ketentuan Tambahan (Tier 3) Ketentuan tambahan ini lebih merupakan petunjuk teknis yang diterbitkan oleh The Joint Money Laundering Steering Group (JMLSG) yang ditujukan bagi bank-bank dan lembaga keuangan lainnya. 3. g) Tindakan hukum.

FATF memberikan 40 rekomendasi langkah-langkah utama dalam memerangi kegiatan money laundering. namun juga berasal dari perkembangan teknologi seperti EFT (cyber payment) yang memungkinkan pembayaran transfer berlangsung dengan mobilitas yang tinggi dengan mengoptimalkan jaringan perbankan internasional sebagai lembaga intermediasi. Rekomendasi ini merupakan kunci utama dalam pemahaman konsep “know your customer” approach. that promote high ethical and professional standards in the financial sector and prevent the bank being used. practices and procedures in place. Satu upaya upaya penting yang telah dilakukan oleh masyarakat internasional adalah dibentuknya FATF yang salah satu rekomendasinya menyatakan bahwa “countries should monitor the physical cross border transportation of cash and bearer instruments without impeding in any way the freedom at capital movement”. III. Hal ini berarti bahwa seseorang dianggap melanggar hukum apabila tidak melaporkan kepada pihak berwenang apabila mengetahui adanya praktek money laundering. Dalam kaitan di atas. kegiatan money laundering memiliki dampak instabilitas pada sistem finansial dunia. Beberapa Upaya Represif dan Antisipatif terhadap Kegiatan Money Laundering Sebagaimana diuraikan di atas. by criminal elements”. including strict “know your customer” rules. yang secara pokok dapat dijabarkan sebagai berikut: a) b) Introduksi sistem SAR (suspicious activity reporting system) yang baru. Sejalan dengan hal tersebut. Implikasi tersebut menuntut adanya suatu langkah kerjasama preventif dan represif yang berskala internasional terhadap kegiatan money laundering. intentionally or unintentionally.128 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. CJA hanya mentolerir kesalahan atas kecurigaan yang dilaporkan dengan alasan yang dapat diterima. Faktor instabilitas tersebut tidak hanya bersumber dari turn over yang sangat besar (300 – 400 milyar USD per tahun). . Kondisi ini memberikan suatu implikasi yang sangat luas dan kompleks dalam upaya menciptakan kestabilan masyarakat global di pasar finansial. Suatu pemaksaan terhadap keterbukaan konsumen atau pihak ketiga untuk menyampaikan informasi pada pihak yang berwenang bahwa telah terjadi praktek money laundering atau adanya rencana money laundering. e) Tipping off (Peringatan). BIS melalui Basle Committee pada bulan September 1997 juga menetapkan prinsip utama dalam supervisi perbankan yang efektif yang berbunyi “ Banking supervisor must determine that banks have adequate policies. Maret 1999 harus melaporkan informasi tersebut pada polisi sesegera mungkin. Modifikasi sistem pelaporan transaksi mata uang (CTR= Currency Transaction Reporting System).

pelanggaran migrasi dan kesehatan. Memperluas upaya pelaksanaan hukum dan pengaturan hukum dalam memerangi kegiatan money laundering. dealing dengan customer yang jarang dilakukan (antara lain transaksi kas dalam jumlah besar/ bearer securities). . 2. lebih ditekankan pada detail mengenai ketentuan perundang-undangan yang berlaku meliputi identifikasi. Dealers and sales staff. sistem pelaporan. Pelatihan terhadap pegawai baru sebaiknya mencakup latar belakang terjadinya money laundering. policies and prosedures). pencatatan. pelaporan kondisi yang terjadi. Pelatihan terhadap petugas front office harus meliputi prosedur-prosedur identifikasi dan verifikasi ( sebagai contoh.Kajian Awal Tentang Money Laundering serta Implikasinya dalam Pasar Keuangan Internasional 129 c) d) e) f) g) h) Perluasan daftar tindakan pelanggaran money laundering dalam memberantas terorisme. Pelatihan terhadap manajer yang memberikan instruksi. jaminan hukum yang dilaporkan. kebijaksanaan perusahaan terhadap adanya kasus-kasus pengecualian. dan jaminan perorangan menurut ketentuan yang berlaku. Pegawai baru (New employees). Implementasi proyek Gateway yang menyediakan data-data inteligen keuangan secara on line antar negara dan pemerintah-pemerintah daerah. mengenali secara baik proses settlement/payment/delivery instructions yang diluar batas kewajaran. Account Opening staff. pelaporan prosedur serta tindakan pinalti. staf pelaksana harus menerima pelatihan khusus money laundering. 5 kelompok yang diharuskan mengikutinya adalah: 1. validasi. 5. pengenalan terhadap faktor-faktor yang mencurigakan. peraturan dan prosedur internal. Peningkatan kerjasama antar negara dan perwakilan industri keuangan global dalam upaya melawan kegiatan money laundering melalui penetapan kelompok kerja. dan laporan transaksi yang mencurigakan. Reporting Officers. Staff Training : dalam rangka mengenali dengan baik dan menangani transaksi-transaksi yang mencurigakan. 4. Penetapan aturan baru dalam pencatatan transfer-transfer dana (system at determine internal control. Pelatihan terhadap dealer/staf lainnya seharusnya juga mencakup tanggung jawab secara hukum. Pendalaman materi pelatihan terhadap kelompok staf ini meliputi seluruh aspek perundangan-undangan. pengecekan akan kecocokan identitas investor). Supervisors/ Manager. 3.

tindakan yang paling efektif dalam menangkal kegiatan money laundering pada lembaga perbankan adalah mendeteksi sedini mungkin aktivitas kriminal tersebut pada titik paling crucial yakni pada saat hasil-hasil ilegal tersebut masuk ke dalam sistem perbankan/keuangan (placement process). Mengapa demikian? Karena anti money laundering measures membutuhkan kerjasama internasional yang harus kondusif baik bersifat multilateral maupun bilateral (antar dua negara). 4. Hal ini berarti. para anggota kelompok kerja FATF ataupun masyarakat keuangan internasional sudah selayaknya menerapkan aturan-aturan standar minimum dalam upaya memerangi kegiatan money laundering misalnya keseragaman penggunaan sistem SAR. maka kecil kemungkinan 2. dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut: 1. maka upaya pemberantasan terhadap kegiatan money laundering merupakan real test case bagi masyarakat dan sistem keuangan internasional. Penutup Dari pokok-pokok rekomendasi yang diberikan oleh FATF di atas. Peningkatan tersebut dapat diupayakan dalam bentuk investigasi khusus terhadap asal modal disetor. asal dana-dana pihak ketiga yang diterima. adalah bahwa kualitas supervisi terhadap transaksi finansial oleh bank khususnya harus senantiasa ditingkatkan. bahwa apabila terdapat negara-negara yang tidak mematuhi kesepakatan bersama tersebut akan mendapatkan pinalti yang dapat berupa punitive taxes atas transaksi-transaksi yang terbukti berkaitan dengan money laundering di pasar finansial di negara yang bersangkutan. CTR maupun Gateway Intelligence System. . lembaga perbankan seringkali dipergunakan sebagai intermediasi oleh pelaku tindakan kriminal yang tidak mustahil juga dibantu oleh adanya moral hazard oleh karyawan bank sendiri (contoh kasus BCCI. Konsekwensi lain. Maret 1999 IV. Jika langkah preventif ini diterapkan secara universal terhadap semua lembaga keuangan/ jaringan perbankan internasional. ataupun tidak diakuinya transaksi keuangan yang terjadi di negara tersebut secara internasional (default). Berkaitan dengan butir (1). Sebagaimana kita ketahui. dan transaksi finansial yang dilakukan khususnya transaksitransaksi off balance sheet. bahwa setiap negara memiliki prioritas yang berbeda-beda khususnya dalam menghadapi kegiatan/praktek money laundering. Secara taktis. 3. 1991). Perbedaan visi dan persepsi ini tentunya akan berimplikasi pada kelompok-kelompok kerja yang dibentuk oleh FATF. khususnya bagi lembaga pengawas perbankan ataupun lembaga keuangan lainnya.130 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Dalam konteks ini maka pendekatan “know your customer rule” menjadi acuan yang sangat mendasar dalam menggali informasi calon nasabah bank. Hal ini sangat penting mengingat dalam banyak kasus money laundering. Dengan semakin berkembangnya kegiatan/transaksi-transaksi illegal internasional.

1998 (Feb). CCH Inc. Laundrymen.1998. . Pocket Books. Guide to Financial Services Regulation. 4) Morris. pp 52-53.1999 (March 31). 7) Richard. baik melalui International offshore Banking Centre (IOBS) yang memiliki insentif pembebasan pajak dan longgarnya peraturan ataupun memanfaatkan negara-negara/ lokasi yang relatif tidak/ belum terjangkau oleh hukum internasional. Money Laundering: The Importance of International Countermeasures. International Guide to Money Laundering and Practice. Paris (Feb 10). 3) Hayaes. Money Laundering: Butterworths. Bancomer and Banca serfin Plead Guilty to Money Laundering. maka money launderer akan selalu mencari titik terlemah dari sistem jaringan keuangan internasional. 2) Camdesus. USA. Sebaliknya bila langkah tersebut tidak berhasil. Andrew.1998. Journal of International Banking and Financial Law. 9) The Banker. Barry. 3rd Edition. 8) Robinson. Legal Analysis. Money Laundering: The Regim in the United Kingdom.1995.1996. July – August. 5) Parlour.1998. Payable Through Accounts and Money Laundering. Allan. Illinois. Pp 29-31.1995. 6) Reuters News. et al. Richard. Michael .1996. Money Laundering: The Sky’s the Limit. 1997. Jeffrey. London. Daftar Pustaka 1) Abrahamson. Jeffrey.Kajian Awal Tentang Money Laundering serta Implikasinya dalam Pasar Keuangan Internasional 131 money launderer akan mampu menembusnya. Annual Report. Butterworths. The Financial Action Task Force on Money Laundering. 10) _________. pp 350.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful