Krisis Moneter Indonesia : Sebab, Dampak, Peran IMF dan Saran

1

KRISIS MONETER INDONESIA : SEBAB, DAMPAK, PERAN IMF DAN SARAN* )
Lepi T. Tarmidi
**)

K

risis moneter yang melanda Indonesia sejak awal Juli 1997, sementara ini telah berlangsung hampir dua tahun dan telah berubah menjadi krisis ekonomi, yakni lumpuhnya kegiatan ekonomi karena semakin banyak perusahaan yang tutup dan meningkatnya jumlah pekerja yang menganggur. Memang krisis ini tidak seluruhnya disebabkan karena terjadinya krisis moneter saja, karena sebagian diperberat oleh berbagai musibah nasional yang datang secara bertubi-tubi di tengah kesulitan ekonomi seperti kegagalan panen padi di banyak tempat karena musim kering yang panjang dan terparah selama 50 tahun terakhir, hama, kebakaran hutan secara besar-besaran di Kalimantan dan peristiwa kerusuhan yang melanda banyak kota pada pertengahan Mei 1998 lalu dan kelanjutannya. Krisis moneter ini terjadi, meskipun fundamental ekonomi Indonesia di masa lalu dipandang cukup kuat dan disanjung-sanjung oleh Bank Dunia (lihat World Bank: Bab 2 dan Hollinger). Yang dimaksud dengan fundamental ekonomi yang kuat adalah pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi, laju inflasi terkendali, tingkat pengangguran relatif rendah, neraca pembayaran secara keseluruhan masih surplus meskipun defisit neraca berjalan cenderung membesar namun jumlahnya masih terkendali, cadangan devisa masih cukup besar, realisasi anggaran pemerintah masih menunjukkan sedikit surplus. Lihat Tabel. Namun di balik ini terdapat beberapa kelemahan struktural seperti peraturan perdagangan domestik yang kaku dan berlarut-larut, monopoli impor yang menyebabkan kegiatan ekonomi tidak efisien dan kompetitif. Pada saat yang bersamaan kurangnya transparansi dan kurangnya data menimbulkan ketidak pastian sehingga masuk dana luar negeri dalam jumlah besar melalui sistim perbankan yang lemah. Sektor swasta banyak meminjam dana dari luar negeri yang sebagian besar tidak di hedge. Dengan terjadinya krisis moneter, terjadi juga krisis kepercayaan. (Bandingkan juga IMF, 1997: 1). Namun semua kelemahan ini masih mampu ditampung oleh perekonomian nasional. Yang terjadi adalah, mendadak datang badai yang sangat besar, yang tidak mampu dbendung oleh tembok penahan yang ada, yang selama bertahun-tahun telah mampu menahan berbagai terpaan gelombang yang datang mengancam.

*) Tulisan ini merupakan revisi dan updating dari pidato pengukuhan Guru Besar Madya pada FEUI dengan judul “Krisis Moneter Tahun 1997/1998 dan Peran IMF” , Jakarta, 10 Juni 1998. **) Lepi T. Tarmidi : Wakil Kepala Pusat Kajian APEC, Universitas Indonesia, email : lepi@lpem.feui.org

2

INDIKATOR UTAMA EKONOMI INDONESIA 1990 - 1997
1990 Pertumbuhan ekonomi (%) Tingkat inflasi (%) Neraca pembayaran (US$ juta) Neraca perdagangan Neraca berjalan Neraca modal Pemerintah (neto) Swasta (neto) PMA (neto) Cadangan devisa akhir tahun (US$ juta) (bulan impor nonmigas c&f) Debt-service ratio (%) Nilai tukar Des. (Rp/US$) APBN* (Rp. milyar) 8,661 4,7 30,9 1,901 3,203 9,868 4,8 32,0 1,992 433 11,611 5,4 31,6 2,062 -551 12,352 5,4 33,8 2.11 -1.852 13,158 5,0 30,0 2.2 1,495 14,674 4,3 33,7 2,308 2,807 19,125 5,2 33,0 2,383 818 4.65 456 17,427 4,5 7,24 9,93 2,099 5,352 -3.24 4,746 633 3,021 1,092 1991 6,95 9,93 1,207 4,801 -4,392 5,829 1,419 2,928 1,482 1992 6,46 5,04 1,743 7,022 -3,122 18,111 12,752 3,582 1,777 1993 6,50 10,18 741 8,231 -2,298 17,972 12,753 3,216 2,003 1994 7,54 9,66 806 7,901 -2.96 4,008 307 1,593 2,108 1995 8,22 8,96 1,516 6,533 -6.76 10,589 336 5,907 4,346 1996 7,98 6,63 4,451 5,948 -7,801 10,989 -522 5,317 6,194 1997 4,65 11,60 -10,021 12,964 -2,103 -4,845 4,102 -10.78 1,833

Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan, Maret 1999

* Tahun anggaran Sumber : BPS, Indikator Ekonomi; Bank Indonesia, Statistik Ekonomi Keuangan Indonesia; World Bank, Indonesia in Crisis, July 2, 1998

Krisis Moneter Indonesia : Sebab, Dampak, Peran IMF dan Saran

3

Sebagai konsekuensi dari krisis moneter ini, Bank Indonesia pada tanggal 14 Agustus 1997 terpaksa membebaskan nilai tukar rupiah terhadap valuta asing, khususnya dollar AS, dan membiarkannya berfluktuasi secara bebas (free floating) menggantikan sistim managed floating yang dianut pemerintah sejak devaluasi Oktober 1978. Dengan demikian Bank Indonesia tidak lagi melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk menopang nilai tukar rupiah, sehingga nilai tukar ditentukan oleh kekuatan pasar semata. Nilai tukar rupiah kemudian merosot dengan cepat dan tajam dari rata-rata Rp 2.450 per dollar AS Juni 1997 menjadi Rp 13.513 akhir Januari 1998, namun kemudian berhasil menguat kembali menjadi sekitar Rp 8.000 awal Mei 1999.

Krisis Moneter dan Faktor-Faktor Penyebabnya
Penyebab dari krisis ini bukanlah fundamental ekonomi Indonesia yang selama ini lemah, hal ini dapat dilihat dari data-data statistik di atas, tetapi terutama karena utang swasta luar negeri yang telah mencapai jumlah yang besar. Yang jebol bukanlah sektor rupiah dalam negeri, melainkan sektor luar negeri, khususnya nilai tukar dollar AS yang mengalami overshooting yang sangat jauh dari nilai nyatanya1 . Krisis yang berkepanjangan ini adalah krisis merosotnya nilai tukar rupiah yang sangat tajam, akibat dari serbuan yang mendadak dan secara bertubi-tubi terhadap dollar AS (spekulasi) dan jatuh temponya utang swasta luar negeri dalam jumlah besar. Seandainya tidak ada serbuan terhadap dollar AS ini, meskipun terdapat banyak distorsi pada tingkat ekonomi mikro, ekonomi Indonesia tidak akan mengalami krisis. Dengan lain perkataan, walaupun distorsi pada tingkat ekonomi mikro ini diperbaiki, tetapi bila tetap ada gempuran terhadap mata uang rupiah, maka krisis akan terjadi juga, karena cadangan devisa yang ada tidak cukup kuat untuk menahan gempuran ini. Krisis ini diperparah lagi dengan akumulasi dari berbagai faktor penyebab lainnya yang datangnya saling bersusulan. Analisis dari faktor-faktor penyebab ini penting, karena penyembuhannya tentunya tergantung dari ketepatan diagnosa. Anwar Nasution melihat besarnya defisit neraca berjalan dan utang luar negeri, ditambah dengan lemahnya sistim perbankan nasional sebagai akar dari terjadinya krisis finansial (Nasution: 28). Bank Dunia melihat adanya empat sebab utama yang bersamasama membuat krisis menuju ke arah kebangkrutan (World Bank, 1998, pp. 1.7 -1.11). Yang pertama adalah akumulasi utang swasta luar negeri yang cepat dari tahun 1992 hingga Juli 1997, sehingga l.k. 95% dari total kenaikan utang luar negeri berasal dari sektor swasta ini, dan jatuh tempo rata-ratanya hanyalah 18 bulan. Bahkan selama empat tahun terakhir utang luar negeri pemerintah jumlahnya menurun. Sebab yang kedua adalah kelemahan
1 Dalam teori, overshooting nilai tukar biasanya bersifat sementara untuk kemudian mencari keseimbangan jangka panjang baru. Tetapi selama krisis ini berlangsung, nilai overshooting adalah sangat besar dan sudah berlangsung sejak akhir tahun 1997.

4 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. tetapi ada banyak faktor lainnya yang berbeda menurut sisi pandang masing-masing pengamat. sehingga masyarakat memilih barang impor yang kualitasnya lebih baik. 2) Tingkat depresiasi rupiah yang relatif rendah. Nilai Rupiah yang overvalued berarti juga proteksi industri yang negatif.: 22). Ketiga adalah masalah governance. Ada tiga pihak yang . Sementara menurut penilaian penulis. Yang keempat adalah ketidak pastian politik menghadapi Pemilu yang lalu dan pertanyaan mengenai kesehatan Presiden Soeharto pada waktu itu. memungkinkan arus modal dan valas dapat mengalir keluar-masuk secara bebas berapapun jumlahnya. ditambah sistim perbankan nasional yang lemah. yang berada di bawah nilai tukar nyatanya. bahkan sudah jauh melampaui utang resmi pemerintah yang beberapa tahun terakhir malah sedikit berkurang (oustanding official debt).4% (1993) hingga 5. penyebab utama dari terjadinya krisis yang berkepanjangan ini adalah merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS yang sangat tajam. termasuk kemampuan pemerintah menangani dan mengatasi krisis. Akibatnya produksi dalam negeri tidak berkembang. karena Indonesia menganut rezim devisa bebas dengan rupiah yang konvertibel. sementara rupiah juga bebas diperdagangkan di pusat-pusat keuangan di luar negeri. sehingga membuka peluang yang sebesarbesarnya untuk orang bermain di pasar valas. ekspor menjadi kurang kompetitif dan impor meningkat. berkisar antara 2. Masyarakat bebas membuka rekening valas di dalam negeri atau di luar negeri. karena tidak mencerminkan nilai tukar yang nyata. Nilai rupiah yang sangat overvalued ini sangat rentan terhadap serangan dan permainan spekulan. Akibatnya harga barang impor menjadi relatif murah dan produk dalam negeri relatif mahal. Ditambah dengan kenaikan pendapatan penduduk dalam nilai US dollar yang naiknya relatif lebih cepat dari kenaikan pendapatan nyata dalam Rupiah.8% (1991) antara tahun 1988 hingga 1996. dan produk dalam negeri yang makin lama makin kalah bersaing dengan produk impor. 3) Akar dari segala permasalahan adalah utang luar negeri swasta jangka pendek dan menengah sehingga nilai tukar rupiah mendapat tekanan yang berat karena tidak tersedia cukup devisa untuk membayar utang yang jatuh tempo beserta bunganya (bandingkan juga Wessel et al. Akumulasi utang swasta luar negeri yang sejak awal tahun 1990-an telah mencapai jumlah yang sangat besar. Berikut ini diberikan rangkuman dari berbagai faktor tersebut menurut urutan kejadiannya: 1) Dianutnya sistim devisa yang terlalu bebas tanpa adanya pengawasan yang memadai. meskipun ini bukan faktor satu-satunya. Kondisi di atas dimungkinkan. menyebabkan nilai rupiah secara kumulatif sangat overvalued. Valas bebas diperdagangkan di dalam negeri. Maret 1999 pada sistim perbankan. yang kemudian menjelma menjadi krisis kepercayaan dan keengganan donor untuk menawarkan bantuan finansial dengan cepat.

misalnya 2 Yang dimaksud di sini adalah perilaku pengusaha yang bertindak atas pertimbangan dirinya sendiri tanpa mengetahui apa yang dilakukan oleh pengusaha lainnya. di samping lebih menguntungkan.. 3 Total pembayaran cicilan utang pokok dan bunga setelah dikurangi pinjaman baru. sementara utang pemerintah US$ 53.5 milyar. Dampak. kecuali yang berkaitan dengan proyek pemerintah dengan dibentuknya tim PKLN. Pada awal Mei 1998 besarnya utang luar negeri swasta dari 1. Kesalahan pemerintah adalah. Pihak kreditur luar negeri juga ikut bersalah. Keadaan ini menguntungkan pengusaha selama tidak terjadi devaluasi dan ini terjadi selama bertahun-tahun sehingga memberi rasa aman dan orang terus meminjam dari luar negeri dalam jumlah yang semakin besar. Misalnya pengusaha ramai-ramai mendiri-kan apotik. hal. 1998: 5). karena masing-masing pengusaha hanya melihat dirinya sendiri saja dan tidak memperhitungkan gerakan pengusaha lainnya. tingkat bunganya relatif rendah. Kalau masalahnya hanya menyangkut utang luar negeri pemerintah saja. terjadinya utang swasta luar negeri dalam jumlah besar ini. tingkat bunga di dalam negeri dibiarkan tinggi untuk menahan pelarian dana ke luar negeri dan agar masyarakat mau mendepositokan dananya dalam rupiah. di mana pengusaha beramai-ramai melakukan investasi di bidang yang sama meskipun bidangnya sudah jenuh. namun masih bisa diatasi dengan pinjaman baru dan pemasukan modal luar negeri dari sumber-sumber lain. Sebagian besar dari pinjaman luar negeri swasta ini tidak di hedge (Nasution: 12). Sebagian orang Indonesia malah bisa hidup mewah dengan menikmati selisih biaya bunga antara dalam negeri dan luar negeri (Wessel et al.Krisis Moneter Indonesia : Sebab. karena telah memberi signal yang salah kepada pelaku ekonomi dengan membuat nilai rupiah terus-menerus overvalued dan suku bunga rupiah yang tinggi. membangun realestat dan kondomium. Jadi sudah sewajarnya. jika kreditur luar negeri juga ikut menanggung sebagian dari kerugian yang diderita oleh debitur. sehingga pinjaman dalam rupiah menjadi relatif mahal dan pinjaman dalam mata uang asing menjadi relatif murah. Selain itu pemerintah sama sekali tidak melakukan pengawasan terhadap utang-utang swasta luar negeri ini. pinjaman luar negeri pemerintah sifatnya jangka panjang. meskipun masalahnya juga cukup berat karena selama bertahun-tahun telah terjadi net capital outflow3 yang kian lama kian membesar berupa pembayaran cicilan utang pokok dan bunga. 22). Bagi debitur dalam negeri. kreditur dan debitur. Beda dengan pinjaman swasta.800 perusahaan diperkirakan berkisar antara US$ 63 hingga US$ 64 milyar. ada tenggang waktu pembayaran. juga disebabkan suatu gejala yang dalam teori ekonomi dikenal sebagai fallacy of thinking2 . Sebaliknya. Jadi di sini pemerintah dihadapi dengan buah simalakama. dan tiap tahunnya ada pemasukan pinjaman baru. pemerintah. . karena kurang hati-hati dalam memberi pinjaman dan salah mengantisipasi keadaan (bandingkan IMF. Peran IMF dan Saran 5 bersalah di sini. membuka tambak udang. Dengan demikian pengusaha hanya bereaksi atas signal yang diberikan oleh pemerintah.

hal. 1998. karena mereka membeli rupiah dalam jumlah cukup besar ketika kurs masih di bawah Rp. Meskipun pada awalnya spekulan asing ikut berperan. 1). Sebagian dari mereka ini justru sekarang menderita kerugian. banyak yang dikelola secara tidak prudent. Krugman melihat bahwa para financial intermediaries juga berperan di Thailand dan Korea Selatan dengan moral nekat mereka. Pinjaman luar negeri dan dana masyarakat yang masuk ke sistim perbankan. 1. yang diserang terlebih dahulu oleh spekulan dan kemudian menyebar ke negara Asia lainnya termasuk Indonesia (Nasution: 1. tetapi mereka tidak bisa disalahkan sepenuhnya atas pecahnya krisis moneter ini. yakni disalurkan ke kegiatan grupnya sendiri dan untuk proyek-proyek pembangunan realestat dan kondomium secara berlebihan sehingga jauh melampaui daya beli masyarakat. Itu sebabnya mengapa Bank Indonesia memutuskan untuk tidak intervensi di pasar valas karena tidak akan ada gunanya. yang memungkinkan dengan modal relatif kecil bermain dalam jumlah besar. Greenwood). 1998. Mereka mulai mencari dollar AS untuk membayar utang jangka pendek dan membeli dollar AS untuk di hedge (World Bank. resort pariwisata. IMF Research . hal. shopping malls dan realestat (Nasution: 9. maka sedikit sekali pemasukan devisa yang bisa diandalkan untuk membayar kembali utang luar negeri.6 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. 4.. Proyek-proyek besar ini umumnya tidak menghasilkan barang-barang ekspor dan mengandalkan pasar dalam negeri. Namun pemicu adalah krisis moneter kiriman yang berawal dari Thailand antara Maret sampai Juni 1997. taman industri. Pinjaman-pinjaman luar negeri dalam jumlah relatif besar yang dilakukan oleh sistim perbankan sebagian disalurkan ke sektor investasi yang tidak menghasilkan devisa (non-traded goods) di bidang tanah seperti pembangunan hotel. Maret 1999 bank-bank. Mereka meminjamkan pada proyek-proyek berisiko tinggi sehingga terjadi investasi berlebihan di sektor tanah (Krugman. lepas dari sektor riil. karena praktek margin trading. Maka beban pembayaran utang luar negeri beserta bunganya menjadi tambah besar yang dibarengi oleh kinerja ekspor yang melemah (bandingkan IDE).000 per dollar AS dengan pengharapan ini adalah kurs tertinggi dan rupiah akan balik menguat. yang menjadi penyebab utama dari krisis di Asia Timur. Dewasa ini mata uang sendiri sudah menjadi komoditi perdagangan. taman hiburan. Ehrke: 3). dan pada saat itu mereka akan menukarkan kembali rupiah dengan dollar AS (Wessel et al. 4) Permainan yang dilakukan oleh spekulan asing (bandingkan juga Ehrke: 2-3) yang dikenal sebagai hedge funds tidak mungkin dapat dibendung dengan melepas cadangan devisa yang dimiliki Indonesia pada saat itu. kemudian macet dan uangnya tidak kembali (Nasution: 28. IMF Research Department Staff: 10).4). Para spekulan ini juga meminjam dari sistim perbankan untuk memperbesar pertaruhan mereka. Ditambah lagi dengan kemerosotan nilai tukar rupiah yang tajam yang membuat utang dalam nilai rupiah membengkak dan menyulitkan pembayaran kembalinya.

Sebab utama adalah nilai tukar rupiah yang sangat overvalued. ditopang oleh tingkat devaluasi yang relatif stabil sekitar 4% per tahun sejak 1986 menyebabkan banyak modal luar negeri yang mengalir masuk. US$ 1 milyar baru akan mencairkan dananya sebagai yang terakhir setelah semua pihak lain yang berjanji akan . 1998. Setelah nilai tukar Rupiah tambah melemah dan terjadi krisis kepercayaan. 1. 1998: 5). 2. 6) Defisit neraca berjalan yang semakin membesar (IMF Research Department Staff: 10. Terkesan tidak adanya kebijakan pemerintah yang jelas dan terperinci tentang bagaimana mengatasi krisis (Nasution: 1) dan keadaan ini masih berlangsung hingga saat ini. 1998.Krisis Moneter Indonesia : Sebab. padahal keadaan perekonomian Indonesia makin lama makin tambah terpuruk.k. sementara Brunei Darussalam yang menjanjikan l. Sistim ini menyebabkan apresiasi nyata dari nilai tukar rupiah dan mengundang tindakan spekulasi ketika sistim batas intervensi ini dihapus pada tanggal 14 Agustus 1997 (Nasution: 2). 1998: 5).10). yang membuat harga barang-barang impor menjadi relatif murah dibandingkan dengan produk dalam negeri. Selisih tingkat suku bunga dalam negeri dengan luar negeri yang besar dan kemungkinan memperoleh keuntungan yang relatif besar dengan cara bermain di bursa efek. IMF.k.4. dana modal asing terus mengalir ke luar negeri meskipun dicoba ditahan dengan tingkat bunga yang tinggi atas surat-surat berharga Indonesia (Nasution: 1. 8) IMF tidak membantu sepenuh hati dan terus menunda pengucuran dana bantuan yang dijanjikannya dengan alasan pemerintah tidak melaksanakan 50 butir kesepakatan dengan baik. IDE).3.1). 11). p. 7) Penanam modal asing portfolio yang pada awalnya membeli saham besar-besaran dimingimingi keuntungan yang besar yang ditunjang oleh perkembangan moneter yang relatif stabil kemudian mulai menarik dananya keluar dalam jumlah besar (bandingkan World Bank. 5) Kebijakan fiskal dan moneter tidak konsisten dalam suatu sistim nilai tukar dengan pita batas intervensi. Greenwood). 1998: 1. Negara-negara sahabat yang menjanjikan akan membantu Indonesia juga menunda mengucurkan bantuannya menunggu signal dari IMF. 1. Dampak. hal. Krisis ini adalah krisis kepercayaan terhadap rupiah (World Bank. Singapura yang menjanjikan l. US$ 5 milyar meminta pembayaran bunga yang lebih tinggi dari pinjaman IMF. Kesalahan juga terletak pada investor luar negeri yang kurang waspada dan meremehkan resiko (IMF. Peran IMF dan Saran 7 Department Staff: 10. yang disebabkan karena laju peningkatan impor barang dan jasa lebih besar dari ekspor dan melonjaknya pembayaran bunga pinjaman. Krisis moneter yang terjadi sudah saling kait-mengkait di kawasan Asia Timur dan tidak bisa dipisahkan satu sama lainnya (butir 16 dari persetujuan IMF 15 Januari 1998). Ketidak mampuan pemerintah menangani krisis menimbulkan krisis kepercayaan dan mengurangi kesediaan investor asing untuk memberi bantuan finansial dengan cepat (World Bank.

sehingga banyak perusahaan Jepang melakukan relokasi dan investasi dalam jumlah besar di negara-negara ini. Tahun 1995 kurs dollar AS berbalik menguat terhadap yen Jepang. kurs dollar AS dan juga mata uang negara-negara Asia Timur melemah terhadap yen Jepang. Daya saing negara-negara Asia Timur meningkat terhadap Jepang. di mana serbuan terhadap dollar AS makin lama makin besar. 1998: 1. jiwa dan martabat mereka. penyaluran dana yang besar untuk proyek IPTN dan mobil nasional. (Ehrke: 2). monopoli di berbagai bidang.8 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. 10. Sejak awal Desember 1997 hingga awal Mei 1998 telah terjadi pelarian modal besar-besaran ke luar negeri karena ketidak stabilan politik seperti isu sakitnya Presiden dan Pemilu (World Bank. karena mata uang negaranegara Asia ini dipatok dengan dollar AS. 9. Subsidi pangan oleh BULOG. Setelah Plaza-Accord tahun 1985. Orang-orang kaya Indonesia. sehingga menimbulkan krisis keuangan. 1. sudah sejak tahun lalu bersiap-siap menyelamatkan harta kekayaannya ke luar negeri mengantisipasi ketidak stabilan politik dalam negeri. Di lain pihak harus diakui bahwa sektor riil sudah lama menunggu pembenahan yang mendasar. namun kelemahan ini meskipun telah terakumulasi selama bertahun-tahun masih bisa ditampung oleh masyarakat dan tidak cukup kuat untuk menjungkir-balikkan perekonomian Indonesia seperti sekarang ini. tetapi juga meminjam dana dari sistim perbankan untuk bermain. Padahal mereka menguasai sebagian besar modal dan kegiatan ekonomi di Indonesia dengan akibat mereka membawa keluar harta kekayaan mereka dan untuk sementara tidak melaukan investasi baru. Para spekulan inipun tidak semata-mata menggunakan dananya sendiri. Terjadilah snowball effect. baik pejabat pribumi dan etnis Cina. 22). yang nilainya melemah terhadap dollar AS (lihat IDE). hal. Memang terjadi dislokasi sumber-sumber ekonomi dan kegiatan mengejar rente ekonomi oleh perorangan/kelompok tertentu yang menguntungkan mereka ini dan merugikan rakyat banyak dan perusahaan-perusahaan yang efisien. 11. Spekulan domestik ikut bermain (Wessel et al.. Maret 1999 membantu telah mencairkan dananya dan telah habis terpakai. IMF sendiri dinilai banyak pihak telah gagal menerapkan program reformasinya di Indonesia dan malah telah mempertajam dan memperpanjang krisis.4.Terjadi krisis kepercayaan dan kepanikan yang menyebabkan masyarakat luas menyerbu membeli dollar AS agar nilai kekayaan tidak merosot dan malah bisa menarik keuntungan dari merosotnya nilai tukar rupiah. Kerusahan besar-besaran pada pertengahan Mei yang lalu yang ditujukan terhadap etnis Cina telah menggoyahkan kepercayaan masyarakat ini akan keamanan harta. Terdapatnya keterkaitan yang erat dengan yen Jepang.10). sementara nilai utang dari negara-negara ini dalam dollar AS meningkat karena meminjam dalam yen. Timbulnya krisis berkaitan dengan .

(IMF. Program Reformasi Ekonomi IMF Menurut IMF.04 milyar dicairkan segera. krisis ekonomi yang berkepanjangan di Indonesia disebabkan karena pemerintah baru meminta bantuan IMF setelah rupiah sudah sangat terdepresiasi. Program bantuan IMF pertama ditanda-tangani pada tanggal 31 Oktober 1997. Penyesuaian struktural.07 milyar yang bisa dimanfaatkan. Strategi pemulihan IMF dalam garis besarnya adalah mengembalikan kepercayaan pada mata uang. Membenahi sektor riil saja. Di samping dana bantuan IMF. yaitu dengan membuat mata uang itu sendiri menarik. tidak memecahkan permasalahan. Dari jumlah total pinjaman tersebut. dan sisanya akan dicairkan secara bertahap sesuai kemajuan dalam pelaksanaan program. 2. meskipun kelemahan sektor riil dalam negeri mempunyai pengaruh terhadap melemahnya nilai tukar rupiah. Indonesia sendiri mempunyai kuota di IMF sebesar US$ 2. kemudian 29 Juli 1998. Sejumlah US$ 3. dan tidak kalah penting adalah mengembalikan stabilitas sosial dan politik. IMF akan mengalokasikan stand-by credit sekitar US$ 11. 1997: 1). Penyehatan sektor keuangan. Bank Pembangunan Asia dan negaranegara sahabat juga menjanjikan pemberian bantuan yang nilai totalnya mencapai lebih . Krisis pecah karena terdapat ketidak seimbangan antara kebutuhan akan valas dalam jangka pendek dengan jumlah devisa yang tersedia. membenahi kinerja perbankan nasional. jumlah yang sama disediakan setelah 15 Maret 1998 bila program penyehatannya telah dijalankan sesuai persetujuan. tanggal 16 Maret 1999. Peran IMF dan Saran 9 jatuhnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS secara tajam. Second Supplementary Memorandum of Economic and Financial Policies (MEFP) tanggal 24 Juni. (Fischer 1998b).3 milyar selama tiga hingga lima tahun masa program. yakni sektor ekonomi luar negeri. yang menyebabkan nilai dollar AS melambung dan tidak terbendung. Untuk menunjang program ini. dan kurang dipengaruhi oleh sektor riil dalam negeri. Program reformasi ekonomi yang disarankan IMF ini mencakup empat bidang: 1. 3.Krisis Moneter Indonesia : Sebab. mengembalikan kepercayaan masyarakat dalam dan luar negeri terhadap kemampuan ekonomi Indonesia. Kebijakan fiskal. Bank Dunia. dan yang terakhir adalah review yang keempat. Dampak. Sementara itu pemerintah Indonesia telah enam kali memperbaharui persetujuannya dengan IMF. Sebab itu tindakan yang harus segera didahulukan untuk mengatasi krisis ekonomi ini adalah pemecahan masalah utang swasta luar negeri. 4. Kebijakan moneter. menstabilkan nilai tukar rupiah pada tingkat yang nyata. Inti dari setiap program pemulihan ekonomi adalah restrukturisasi sektor finansial.

Restrukturisasi sektor keuangan . maka dilakukanlah negosiasi kedua yang menghasilkan persetujuan mengenai reformasi ekonomi (letter of intent) yang ditanda-tangani pada tanggal 15 Januari 1998. Strategi yang akan dilaksanakan adalah: 1. Namun bantuan dari pihak lain ini dikaitkan dengan kesungguhan pemerintah Indonesia melaksanakan program-program yang diprasyaratkan IMF. Setelah pelaksanaan reformasi kedua ini kembali menghadapi berbagai hambatan. di antaranya US$ 4 milyar dari IMF dan masing-masing US$ 0. Saransaran IMF diharapkan akan mengembalikan kepercayaan masyarakat dengan cepat dan kurs nilai tukar rupiah bisa menjadi stabil (butir 17 persetujuan IMF 15 Januari 1998). 3. Kebijakan makro-ekonomi . Korea mendapat bantuan dana total sebesar US$ 57 milyar untuk jangka waktu tiga tahun.Perdagangan luar negeri dan investasi . Cakupan memorandum ini lebih luas dari kedua persetujuan sebelumnya. yang mengandung 50 butir. maka diadakanlah negosiasi ulang yang menghasilkan supplementary memorandum pada tanggal 10 April 1998 yang terdiri atas 20 butir.Social safety net . di antaranya sebesar US$ 21 milyar berasal dari IMF.5 milyar berasal dari Indonesia dan Korea. Reformasi struktural . Pokokpokok dari program IMF adalah sebagai berikut: A. . 2. Jadwal pelaksanaan masing-masing program dirangkum dalam matriks komitmen kebijakan struktural.Deregulasi dan swastanisasi .2 milyar. memperkuat dan mempercepat restrukturisasi sistim perbankan. Thailand hanya memperoleh dana bantuan total sebesar US$ 17.Kebijakan fiskal . menstabilkan rupiah pada tingkat yang sesuai dengan kekuatan ekonomi Indonesia.Memperkuat aspek hukum dan pengawasan untuk perbankan C. 7 appendix dan satu matriks. Sebagai perbandingan.10 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Karena dalam beberapa hal program-program yang diprasyaratkan IMF oleh pihak Indonesia dirasakan berat dan tidak mungkin dilaksanakan.Program restrukturisasi bank . Maret 1999 kurang US$ 37 milyar (menurut Hartcher dan Ryan). memperkuat implementasi reformasi struktural untuk membangun ekonomi yang efisien dan berdaya saing.Lingkungan hidup.Kebijakan moneter dan nilai tukar B. dan aspek baru yang masuk adalah penyelesaian utang luar negeri perusahaan swasta Indonesia.

3. bila pemerintah dengan konsekuen melaksanakan program IMF. 6 Mei 1998). tetapi untuk mendukung neraca pembayaran serta memberi rasa aman. 5. yang paling umum adalah bahwa: (1) program IMF terlalu seragam. meskipun surplus . Awal Mei 1998 telah dilakukan pencairan kedua sebesar US$ 989.Krisis Moneter Indonesia : Sebab. 5. padahal masalah yang dihadapi tiap negara tidak seluruhnya sama. Kritik Terhadap IMF Banyak kritik yang dilontarkan oleh berbagai pihak ke alamat IMF dalam hal menangani krisis moneter di Asia. 7. kembalikan pembelanjaan perdagangan pada keadaan yang normal. padahal dalam hal Indonesia anggaran belanja negara sampai dengan tahun anggaran 1996/1997 hampir selalu surplus. Radelet dan Sachs secara gamblang mentakan bahwa bantuan IMF kepada tiga negara Asia (Thailand. Pemerintah akan terus menjamin kelangsungan kredit murah bagi perusahaan kecilmenengah dan koperasi dengan tambahan dana dari anggaran pemerintah (butir 16 dan 20 dari Suplemen). menyusun kerangka untuk mengatasi masalah utang perusahaan swasta. Pencairan berikutnya sebesar US$ 1 milyar yang dijadwalkan awal bulan Juni baru akan terlaksana awal bulan September ini. dan (2) program IMF terlalu banyak mencampuri kedaulatan negara yang dibantu (Fischer. sehingga ekspor bisa bangkit kembali. Prioritas utama dari program IMF ini adalah restrukturisasi sektor perbankan. rasa tenteram. sehingga tidak bisa keluar dengan program penyelamatan yang tepat. timbul kesan yang kuat bahwa IMF sesungguhnya tidak menguasai permasalahan dari timbulnya krisis. 4. Setelah melihat program penyelematan IMF di ketiga negara tersebut.4 juta dan jumlah yang sama akan dicairkan lagi berturut-turut awal bulan Juni dan awal bulan Juli. Ke tujuh appendix adalah masing-masing: Kebijakan moneter dan suku bunga Pembangunan sektor perbankan Bantuan anggaran pemerintah untuk golongan lemah Reformasi BUMN dan swastanisasi Reformasi struktural Restrukturisasi utang swasta Hukum Kebangkrutan dan reformasi yuridis. Korea dan Indonesia) telah gagal. Sementara itu Menko Ekuin/ Kepala Bappenas menegaskan bahwa “Dana IMF dan sebagainya memang tidak kita gunakan untuk intervensi. Peran IMF dan Saran 11 4. Salah satu pemecahan standar IMF adalah menuntut adanya surplus dalam anggaran belanja negara. 6. Dampak. 1. 2. dan rasa kepercayaan terhadap perekonomian bahwa kita memiliki cukup devisa untuk mengimpor dan memenuhi kewajiban-kewajiban luar negeri” (Kompas. 1998b).

Narvekar) sendiri juga dikutip sebagai mengatakan bahwa “IMF kerap menerapkan standar ganda dalam pengambilan keputusan. Sri Mulyani mengemukakan. J. bagaimana caranya untuk meningkatkan penerimaan pemerintah dan mengurangi pengeluaran pemerintah untuk mencapai sasaran surplus anggaran sebesar 1% dari PDB dalam tahun fiskal 1998/99. Adalah kebijakan dari Orde Baru untuk menjaga keseimbangan dalam anggaran belanja negara. tetapi oleh karena nilai tukar rupiah yang terpuruk terhadap dollar AS. Karenanya. ada saja peluang bahwa tudingan atas pelanggaran hak asasi manusia di Indonesia yang makin marak belakangan ini. menjadi hal yang disoroti Dewan Direktur IMF dalam pengambilan keputusannya pekan depan”. bahwa di bidang kebijaksanaan makro IMF tidak memperlihatkan adanya konsistensi antarinstrumen kebijaksanaan. perwakilan IMF mewakili negara dan pemerintahan dengan kebijakan dan visi politik masing-masing. Harapan satu-satunya adalah peningkatan ekspor non-migas. namun ini bukan disebabkan karena kebijakan deficit financing dari pemerintah. semakin besar defisit yang terjadi dalam anggaran belanja. Penasehat khusus IMF untuk Indonesia (P. dan prinsip ini terus dipegang. (Nasution: 27-28). Tidak ada penjelasan rinci. Karena itu pemecahan utamanya adalah bagaimana mengembalikan nilai tukar rupiah ke tingkat yang wajar. Di satu pihak IMF . mengkritik bahwa prakondisi IMF yang teramat ketat terhadap negara-negara Asia di tengah krisis yang berkepanjangan berpotensi menyebabkan resesi yang berkepanjangan. Stiglitz. (Kompas. yang pada dasarnya hanya memperluas kesempatan ekonomi AS.12 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Di satu pihak. Kabar terakhir menyebutkan bahwa pencairan bantuan tahap ketiga awal Juni ni akan tertunda lagi atas desakan pemerintah AS yang dikaitkan dengan perkembangan reformasi politik di Indonesia. dan ini akan menunda cairnya bantuan dari sumber-sumber lain (Hartcher dan Ryan). namun kelemahan utama dari IMF adalah tidak ada program yang jelas untuk meningkatkan efisiensi dan menurunkan biaya produksi untuk mendorong ekspor non-migas. (Kompas. Maret 1999 ini ditutup oleh bantuan luar negeri resmi pemerintah. dan tidak ada tingkat inflasi yang melebihi 10%. Memang dalam anggaran belanja negara tahun 1998/1999 terdapat defisit anggaran yang besar. 2 Mei 1998). dan bagaimana ingin dicapai sasaran pertumbuhan ekonomi sebesar 3%. pemimpin ekonom Bank Dunia. Semakin jatuh nilai tukar rupiah.R. sementara keputusan yang diambil harus mengacu pada fakta konkret ekonomi. Demikianpun halnya dengan Bank Dunia. Selama ini tidak ada pencetakan uang secara besar-besaran untuk menutup anggaran belanja negara yang defisit. 13 Mei 1998). yaitu negara pengutang lazimnya harus mendapatkan restu pendanaan dari pemerintah AS. Kemudian berlakunya praktek apa yang dinamakan “konsensus Washington”. Anwar Nasution mengkritik bahwa reformasi ekonomi yang disarankan IMF bentuknya masih samar-samar.

IMF sedikit banyak mempunyai andil dalam perjuangan menggulirkan tuntutan reformasi politik. Di lain pihak. Pertanyaan mendasar yang harus ditujukan kepada IMF menurut penulis adalah sejauh mana IMF bersungguh-sungguh dalam hal membantu mengatasi krisis ekonomi yang sedang melanda Indonesia dewasa ini? Apakah sama seperti kesungguhan Amerika Serikat ketika membantu Meksiko bersama-sama dengan IMF dan negara-negara maju lainnya yang berhasil menggalang sebesar hampir US$ 48 milyar Januari 1995? Setelah mencapai titik terendah tahun 1995. (Sri Mulyani: 72). “Secara makro ancaman kegagalan terbesar kesepakatan ketiga ini berasal dari kebijaksanaan moneter yang masih ambivalen. yang menimbulkan krisis likuiditas perbankan nasional yang gawat. ekonomi dan hukum di Indonesia yang pada akhirnya bermuara pada mundurnya Presiden Soeharto. yang bertentangan dengan tema pengetatan. juga ketidak sejalanan kebijaksanaan moneter dan fiskal” (Sri Mulyani: 72). perekonomian Meksiko dengan cepat pada tahun 1996 dapat bangkit kembali. namun dampak psikologisnya dari tindakan ini tidak diperhitungkan. Bank Indonesia dan perbankan nasional. karena keharusan BI melakukan fungsi lender of last resort bagi perbankan nasional. Rencana IMF untuk mencairkan bantuannya secara bertahap dalam jarak waktu yang cukup jauh menunjukkan bahwa IMF menekan Indonesia untuk menjalankan programnya secara ketat dan membiarkan keadaan ekonomi Indonesia terus merosot menuju resesi yang berkepanjangan. Dampak.Krisis Moneter Indonesia : Sebab. karena cara pengelolaan bank yang amburadul dan tidak mengikuti peraturan. hanya dicicil US$ 1 milyar dari jumlah US$ 3 milyar. Kedua kebijaksanaan ini bisa memandulkan efektivitas kebijaksanaan makro. sehingga memperparah keadaan dan masyarakat beramai-ramai memindahkan dananya dalam jumlah besar ke bank-bank asing dan pemerintah atau ditaruh di rumah. 15 dan 24 dari persetujuan IMF tanggal 15 Januari 1998). sedang di lain pihak menganut kebijaksanaan moneter yang kontraktif. menyulitkan pemulihan ekonomi Indonesia secara cepat. Saran IMF menutup sejumlah bank yang bermasalah untuk menyehatkan sistim perbankan Indonesia pada dasarnya adalah tepat. menghilangkan kepercayaan terhadap rupiah. Karena badan internasional lain dan negara-negara sahabat yang menjanjikan bantuan juga menunggu signal dari IMF. Dengan menahan pencairan bantuan tahap kedua dan setelah diundur. bahkan memperparah keadaan. Peran IMF dan Saran 13 memberikan kelenturan dengan mengizinkan dipertahankannya subsidi dan menyediakan dana untuk menciptakan jaringan keselamatan sosial. Masyarakat kehilangan kepercayaan kepada otoritas moneter. berhubung semua bantuan tambahan yang besarnya mencapai US$ 27 milyar dikaitkan dengan cairnya bantuan IMF. terutama dalam rangka stabilitas nilai tukar dan inflasi. ditambah jarak yang cukup lama antara paket bantuan pertama dan kedua. . kita juga perlu berterima kasih kepada IMF karena dengan menunda mencairkan bantuannya. Hal ini juga diakui oleh IMF (butir 14.

dengan mencairkan dana bantuan yang relatif besar pada bulan November lalu. pembenahan sektor riil yang memang perlu dan sudah sangat mendesak. juga tidak ada Appendix untuk masalah ini. 7 dari Suplemen). Bila semua kekuatan bantuan ini dikumpulkan sekaligus secara dini. sementara pemecahan masalahnya sudah sangat mendesak. dan titipan-titipan khusus dari negaranegara maju yaitu membuka peluang investasi yang seluas-luasnya bagi mereka dengan menggunakan kesempatan dalam kesempitan Indonesia. Maret 1999 Saran IMF untuk menstabilkan nilai tukar adalah dengan menerapkan kebijakan uang ketat. Namun bantuan dana IMF dan ketergantungan harapan pada IMF ini di(salah)gunakan untuk menekan pemerintah Indonesia untuk melaksanakan reformasi struktural secara besar-besaran. Namun kekurangan yang paling utama dari IMF adalah bahwa IMF dalam program bantuannya tidak mencari pemecahan terhadap masalah yang pokok dan sangat mendesak ini dan berputar-putar pada reformasi struktural yang dampaknya jangka panjang. 16. yang didukung oleh bantuan dana dari World Bank. yang justru menjanjikan kepastian dan kestabilan nilai tukar pada tingkat yang wajar. IMF bisa saja terlebih dahulu mengambil kebijakan memprioritaskan stabilisasi nilai tukar rupiah. di mana makin ditunda makin banyak . Dengan demikian timbulnya krisis kepercayaan yang berkepanjangan dapat dicegah. 17. tapi disuruh belajar berenang dahulu. karena untuk beberapa tindakan memang ada tanda-tanda kekurang sungguhan di pihak Indonesia. maka hal ini dengan cepat akan memulihkan kembali kepercayaan masyarakat dalam negeri dan internasional. tingkat bunga tinggi. Reformasi struktural sebagaimana yang dianjurkan oleh IMF memang mendasar dan penting. kalau mau. Krisis ekonomi yang tengah berlangsung ini memang bukan tanggung-jawab IMF dan tidak bisa dipecahkan oleh IMF sendiri. menaikkan suku bunga dan mengembalikan kepercayaan terhadap kebijakan ekonomi. butir 5. Di lain pihak memang harus diakui bahwa tekanan ini perlu untuk memastikan kesungguhan Indonesia. Asian Development Bank dan negara-negara sahabat. Sayangnya tidak ada program khusus yang secara langsung ditujukan untuk menguatkan kembali nilai tukar rupiah. Ibaratnya orang yang sudah hampir tenggelam diombang-ambing ombak laut tidak segera ditolong dengan dilempari pelampung.14 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Tidak adanya program dari IMF yang jelas dan berjangka pendek untuk mengembalikan nilai tukar rupiah ke tingkat yang wajar dan menstabilkannya membuat pemerintah cukup lama terombang-ambing antara memilih program IMF atau currency board system. uang ketat. 21 dari persetujuan 15 Januari 1998. dari waktu ke waktu mengadakan intervensi terbatas di pasar valas dengan petunjuk IMF (lihat butir 14. tetapi dampak hasilnya baru bisa dirasakan dalam jangka panjang. IMF tidak memecahkan permasalahan yang utama dan yang paling mendesak secara langsung. IMF sendiri tampaknya tidak tahu apa yang harus dilakukannya dan berputarputar pada kebijakan surplus anggaran.

1997. Subsidi untuk bahan pangan. Juga saran IMF untuk menghapuskan subsidi BBM dan listrik yang kian membesar secara bertahap dalam jangka waktu tiga tahun sudah benar. menunggu keresahan masyarakat reda? Di sini pemerintah salah membaca isi dari kesepakatan dengan IMF. Di sini timbul keragu-raguan akan kemurnian kebijakan reformasi IMF. Yang menjadi pertanyaan di sini adalah. 1996. Membengkaknya subsidi ini disebabkan . BBM dan listrik. karena IMF menganjurkan penghapusan subsidi secara bertahap dan tidak secara mendadak. misalnya penagihan yang lebih efektif. Peran IMF dan Saran 15 perusahaan yang jatuh bergelimpangan.World Bank. bab 4 dan 5). anggaran dan moneter secara berarti. utang luar negeri swasta dan nilai tukar rupiah yang merosot jauh dari nilai riilnya adalah masalah-masalah dasar jangka pendek. Banyak perusahaan yang mengandalkan pasaran dalam negeri tidak bisa menjual barang hasil produksinya karena perusahaan-perusahaan ini umumnya memiliki kandungan impor yang tinggi dan harga jualnya menjadi tidak terjangkau dengan semakin jatuhnya nilai tukar rupiah. Namun penurunan subsidi BBM dan listrik oleh pemerintah secara drastis dan mendadak pada tanggal 4 Mei 1998 yang lalu mempunyai dampak yang sangat luas terhadap perekonomian rakyat kecil. Subsidi listrik relatif lebih mudah untuk dihapuskan. bab 2. yakni melalui subsidi silang sehingga masyarakat berpenghasilan rendah tetap dikenakan tarif listrik yang murah dan melalui peningkatan efisiensi. Jadi. Program reformasi IMF secara mencurigakan mengulang kembali tuntutan-tuntutan deregulasi ekonomi yang sudah sejak bertahun-tahun didengungkan oleh Bank Dunia dan belum sepenuhnya dilaksanakan oleh pemerintah Indonesia (lihat World Bank. Dampak. sehingga timbul teka-teki. meskipun kepentingan rakyat kecil sangat diperhatikan dengan adanya jaringan keselamatan sosial. Permintaan IMF untuk menghentikan dengan segera perlakuan pembebasan pajak dan kemudahan kredit untuk proyek mobil nasional dan IPTN adalah tepat. karena dalam jangka pendek proyek ini akan mengacaukan kebijakan pemerintah di bidang fiskal. yang lama tidak disinggung oleh IMF. Dalam situasi sekarang hampir tidak ada peluang untuk meningkatkan pajak. BBM dan listrik sudah diperhitungkan dan dinaikkan dalam anggaran pemerintah (butir 20 dari Suplemen). Dalam suplemen program IMF April 1998 disebutkan bahwa subsidi masih bisa diberikan kepada beberapa jenis barang yang banyak dikonsumsi oleh penduduk berpenghasilan rendah seperti bahan makanan. apakah IMF benar-benar tidak melihat inti permasalahannya atau berpura-pura tidak tahu? Atau IMF mengambil kesempatan dalam kesempitan untuk memaksakan perubahan-perubahan yang sudah lama menjadi duri di matanya dan bagi Bank Dunia serta mewakili kepentingan-kepentingan asing? Tampaknya di balik anjuran program pemulihan kegiatan ekonomi ada titipan-titipan politik dan ekonomi dari negara-negara besar tertentu. (butir 10 dan 11 dari Suplemen). Tindakan drastis ini sedikit-banyak telah membantu memicu terjadinya kerusuhan-kerusuhan sosial dan politik.Krisis Moneter Indonesia : Sebab. apakah pemerintah tidak bisa menunda kenaikan BBM dan listrik untuk beberapa bulan. Baru pada tanggal 1 Oktober 1998 direncanakan subsidi akan diturunkan secara berarti.

bank asing maupun penguasaan saham dari perusahaan-perusahaan yang telah go public. Tidak bisa biaya produksi dihitung atas dasar nilai tukar dengan dollar AS yang masih relatif tinggi lalu dibebankan kepada konsumen. kita harus melihat sebab-sebab lain di balik kenaikan biaya produksi. dan liberalisasai perdagangan yang jauh lebih liberal dari komitmen resmi pemerintah di forum WTO. Maret 1999 oleh beberapa faktor. seperti orang asing yang tinggal di Indonesia misalnya. sehingga nilai tukar valas naik sangat tinggi dan siapa yang menarik keuntungan dari krisis ini? Janganlah rakyat banyak diminta untuk berkorban mengatasi krisis ini atau membebankan di atas penderitaan rakyat dengan misalnya menaikkan harga BBM dan tarif listrik. tetapi apa salahnya bila pemerintah menyisakan bidang kegiatan untuk pengusaha Indonesia. kecuali saham bank nasional yang go public. Meskipun demikian IMF masih meminta dihapuskannya larangan membuka cabang bagi bank asing. dan apa sumbangannya terhadap pemasukan modal asing? Bukan masalah anti asing atau sentimen nasionalisme yang sempit. Dalam kaitan ini perlu dipertanyakan. stabilisasi ekonomi dan moneter. karena IMF sebagai lembaga yang disegani bisa banyak membantu memulihkan kepercayaan kreditor . Saran IMF lainnya yang disisipkan dalam persetujuan dan tidak ada kaitannya dengan program stabilisasi ekonomi dan moneter adalah desakannya untuk menyusun UndangUndang Lingkungan Hidup yang baru (butir 50 dari persetujuan IMF tanggal 15 Januari 1998). AFTA dan APEC. izin investasi di bidang perdagangan besar dan eceran. Halnya akan lain. tagihan listrik dalam jumlah besar yang tidak dibayar. terutama yang bermodal kecil? Apa permintaan IMF ini tidak terlalu jauh? Kedengarannya seperti IMF menerima titipan pesan sponsor dari negara-negara besar yang ingin memaksakan kepentingannya dengan menggunakan kesempatan dalam kesempitan. bila pendapatan masyarakat dalam rupiah juga ikut naik dua atau tiga kali lipat sesuai dengan kenaikan nilai tukar dollar AS. (Bandingkan juga Sri Mulyani: 72-3).16 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. seperti kinerja yang kurang efisien. Ikut campurnya IMF dalam penyelesaian utang swasta adalah sangat baik. Di antara saran-saran IMF juga ada yang mengenai perluasan penyertaan modal asing dalam kegiatan ekonomi Indonesia yang terlalu jauh. kalau tidak menurun dan banyaknya PHK. siapa yang menjadi penyebab dari terjadinya krisis yang berkepanjangan ini. sementara pendapatan masyarakat adalah dalam rupiah yang tidak berubah sejak sebelum terjadinya krisis moneter. tetapi apa sumbangan dari keterbukaan ini terhadap restrukturisasi ekonomi dari program IMF. Modal asing sudah diberi peluang yang cukup besar untuk investasi di Indonesia dengan diperbolehkannya kepemilikan hingga 100% baik untuk pendirian PMA. tetapi sebab utama karena merosotnya nilai tukar rupiah. Masalahnya bukan sentimen nasionalisme. Jadi tindakan yang pokok adalah pertama mengembalikan dulu nilai rupiah ke tingkat yang wajar dan dari sini baru menghitung besarnya subsidi. Keadaan ini tidak sebanding.

Imbas dari kemerosotan nilai tukar rupiah yang tajam secara umum sudah kita ketahui: kesulitan menutup APBN. . Meskipun penerimaan rupiah petani komoditi ekspor meningkat tajam. Masalah ini hanya bisa dipecahkan secara mendasar bila nilai tukar valas bisa diturunkan hingga tingkat yang wajar atau nyata (riil). perjalanan ke luar negeri dan pengiriman anak sekolah ke luar negeri. harga telur/ayam naik. padahal harga dari banyak barang naik cukup tinggi. utang luar negeri dalam rupiah melonjak. kopi dan sebagainya ikut naik. harga BBM/tarif listrik naik. pengusaha domestik kapok meminjam dana dari luar negeri. Hasilnya adalah perbaikan dalam neraca berjalan. gula. yang bukan disebabkan karena imported inflation4 . Sayangnya ekspor yang secara teoretis seharusnya naik. kebalikannya arus masuk turis asing akan lebih besar. Peran IMF dan Saran 17 luar negeri. yang melambung tinggi jika dihadapkan dengan pendapatan masyarakat dalam rupiah yang tetap. dan negara-negara produsen lain juga mengalami depresiasi 4 Suatu inflasi dikatakan terjadi karena imported inflation bila harga barang-barang di negara pengekspornya naik. Dengan demikian roda perekonomian bisa berputar kembali dan harga-harga bisa turun dari tingkat yang tinggi dan terjangkau oleh masyarakat. Secara umum impor barang menurun tajam termasuk impor buah. tidak terjadi. Pada sisi lain merosotnya nilai tukar rupiah secara tajam juga membawa hikmah. IMF bisa bertindak sebagai perantara yang netral dan dipercaya. toko sepi. dan ini tidak terjadi. tetapi lebih tepat jika dikatakan foreign exchange induced inflation. investasi menurun karena impor barang modal menjadi mahal. Dampak dari Krisis Dewasa ini semua permasalahan dalam krisis ekonomi berputar-putar sekitar kurs nilai tukar valas. Dampak lain adalah laju inflasi yang tinggi selama beberapa bulan terakhir ini. khususnya dollar AS.Krisis Moneter Indonesia : Sebab. Petani yang berbasis ekspor penghasilannya dalam rupiah mendadak melonjak drastis. kecuali sebagian sektor pertanian dan ekspor. karena pembeli di luar negeri juga menekan harganya karena tahu petani dapat untung besar. bahkan cenderung sedikit menurun pada sektor barang hasil industri. perusahaan tutup atau mengurangi produksinya karena tidak bisa menjual barangnya dan beban utang yang tinggi. yang akan memperlancar dan mempercepat proses penyelesaian utang. bahkan dalam beberapa hal turun ditambah PHK. PHK di mana-mana. biaya sekolah di luar negeri melonjak. proteksi industri dalam negeri meningkat sejalan dengan merosotnya nilai tukar rupiah. tarif angkutan naik. tetapi penerimaan ekspor dalam valas umumnya tidak berubah. sementara bagi konsumen dalam negeri harga beras. daya saing produk dalam negeri dengan tingkat kandungan impor rendah meningkat sehingga bisa menahan impor dan merangsang ekspor khususnya yang berbasis pertanian. meskipun tidak kembali pada tingkat sebelum terjadinya krisis moneter. Dampak.

tenaga terlatih. keamanan yang mantap. Keadaan ekonomi yang sangat parah ini diperkirakan pada bulan-bulan mendatang masih akan berlangsung terus. Meningkatnya jumlah penduduk miskin tidak terlepas dari jatuhnya nilai tukar rupiah yang tajam.18 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. pada Oktober 1998 ini jumlah keluarga miskin diperkirakan meningkat menjadi 7. sulit untuk diramalkan karena tergantung pada banyak faktor. menguatnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS pada tingkat yang wajar. Prospek Ekonomi Indonesia Prospek ekonomi untuk beberapa tahun mendatang adalah kurang cerah dan akan ditandai oleh pertumbuhan ekonomi yang negatif. Berapa lama krisis ekonomi ini masih akan berlangsung. Karena prasarana dasar untuk pembangunan sudah tersedia. sehingga yang diperlukan adalah pulihnya kepercayaan dan masuknya modal baru. Faktor-faktor tersebut adalah bantuan IMF dan donor-donor lainnya yang segera. Maret 1999 dalam nilai tukar mata uangnya dan bisa menurunkan harga jual dalam nominasi valas. dan tingkat inflasi sekitar 66%. karena ada masalah dengan pembukaan L/C dan keadaan sosial-politik yang belum menentu sehingga pembeli di luar negeri mengalihkan pesanan barangnya ke negara lain. yang menyebabkan terjadinya kesenjangan antara penghasilan yang berkurang karena PHK atau naik sedikit dengan pengeluaran yang meningkat tajam karena tingkat inflasi yang tinggi. maka perbaikan ini diperkirakan akan berlangsung relatif cepat. Sebagai dampak dari krisis ekonomi yang berkepanjangan ini. pertumbuhan GDP nyata Indonesia pada tahun 1998/9 diperkirakan akan negatif sebesar 16%. mesin-mesin sudah ada. sehingga bila nilai tukar rupiah bisa dikembalikan ke nilai nyatanya maka biaya besar yang dibutuhkan untuk social safety net ini bisa dikurangi secara drastis. pulihnya kepercayaan investor dalam dan luar negeri.5 juta. Menurut perkiraan IMF pada bulan Maret 1999 lalu. suasana politik dan sosial yang stabil. pabrik. Tapi sekali krisis berakhir dan ekonomi berbalik bangkit kembali (rebound). sehingga perlu dilancarkan program-program untuk menunjang mereka yang dikenal sebagai social safety net. Namun secara keseluruhan dampak negatifnya dari jatuhnya nilai tukar rupiah masih lebih besar dari dampak positifnya. hanya di sini ada kesulitan lain untuk meningkatkan ekspor. karena krisis belum juga menyentuh dasar jurang. maka upaya yang paling utama dan mendesak bagi Indonesia . Saran-Saran Krisis moneter telah memberikan pelajaran yang sangat berharga untuk menentukan kebijakan di masa depan. Hal yang serupa juga terjadi untuk ekspor barang manufaktur.

baik swasta maupun pemerintah. Dunia perbankan nasional juga telah diajarkan dari manfaat jangka panjang untuk bertindak prudent. Dampak. kegiatan ekonomi Indonesia terutama harus ditunjang oleh kekuatan sendiri berdasarkan dana modal yang tersedia di dalam negeri. perjalanan. Beberapa saran dari penulis untuk mengatasi krisis ekonomi dewasa ini adalah sebagai berikut: . sejauh persyaratan di atas bisa dipenuhi. impor secara otomatis akan berkurang (misalnya buah. Para ekonom dari CSIS berpendapat bahwa langkah yang harus diambil untuk mengatasi kemelut ini adalah dengan menstabilkan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dalam tingkat yang wajar. Ditambah dengan hilangnya insentif untuk meminjam dari luar negeri karena biaya pinjaman yang lebih rendah diimbangi dengan tingkat depresiasi yang lebih tinggi dan karena tidak adanya lagi intervensi kurs oleh BI.2). 9 April 1998). berobat di luar negeri. reformasi dan memperkuat sistim perbankan. Dengan sistim ini. harga barang-barang produksi dalam negeri dengan kandungan lokal tinggi bisa meningkat daya saingnya sehingga bisa berkembang dan orang tidak mengandalkan bahan impor karena menjadi mahal. dana asing akan sangat hati-hati masuk ke Indonesia. industrialisasi substitusi impor berlanjut. Bank Dunia menyarankan mengembalikan kepercayaan terhadap rupiah dengan empat kebijakan utama: restrukturisasi beban utang swasta. pola makan makanan yang bahannya gandum). begitupun pengusaha domestik akan sangat hati-hati untuk meminjam dari luar negeri. Kegiatan jasa hotel.Krisis Moneter Indonesia : Sebab. Inti dari pemecahan krisis moneter dalam jangka pendek haruslah ditujukan kepada pencegahan penumpukan pembayaran utang luar negeri. harga mobil terjangkau oleh masyarakat. dan menjaga stabilitas fiskal dan moneter selama masa transisi (World Bank. memperbaiki “governance”. Peran IMF dan Saran 19 dewasa ini adalah program penyelamatan yang bisa mengembalikan kepercayaan masyarakat serta menstabilkan kurs rupiah pada nilai tukar yang nyata (bandingkan juga Stiglitz). dan meningkatkan ekspor. perdagangan dan angkutan juga bisa hidup kembali. kirim anak sekolah di luar negeri. jalan-jalan ke luar negeri. 2. 1998. Penulis menginterpretasikan nilai tukar nyata sebagai nilai tukar berdasarkan purchasing power parity yang bisa menjaga keseimbangan dalam neraca berjalan dan yang bisa menjamin ekonomi nasional beroperasi. p. dan penyelesaian masalah utang swasta dengan penjadwalan ulang (Kompas. Dengan demikian sumber utama krisis di masa lalu untuk masa mendatang sudah dapat dieliminir. restrukturisasi perbankan. pada suatu saat tertentu dan membagi (spread-out) pembayaran ini secara merata dalam jangka waktu yang lebih panjang pada tingkat yang terkendali (manageable). Setelah mendapat pengalaman dari krisis ini. Dengan demikian.

Makin cepat pemerintah melaksanakan program-program reformasi. Jumlah ini sangat berarti untuk memperkuat cadangan devisa negara. Sebab menurut APBN tahun 1998/99 jumlah pembayaran cicilan utang pokok luar negeri beserta bunganya mencapai US$ 7. Namun pemerintah. Sejauh ini Indonesia memang selalu patuh untuk membayar semua utang-utangnya secara tepat waktu. terlebih lagi karena bantuan IMF ini terkait dengan bantuan negara-negara donor lainnya yang jumlahnya sangat besar. Sementara ini sudah banyak negara sedang berkembang yang memanfaatkan fasilitas ini. Bila Jepang hanya mau membantu dengan dengan menambah pinjaman baru. Namun dalam keadaan krisis yang parah ini.450 juta. Indonesia bisa bernapas untuk memperkuat posisi cadangan devisanya. Keuntungan dari penundaan pembayaran utang ini adalah. termasuk program reformasi IMF. tanpa merusak nama Indonesia sebagai debitur yang baik. harus bertindak proaktif menghadapi IMF dengan mengajukan saran-sarannya sendiri dan menolak program-program yang tidak relevan dan cenderung merugikan Indonesia. maka pemerintah juga harus melaksanakannya dengan konsekuen. Karena Indonesia telah menanda-tangani persetujuan program reformasi struktural ekonomi dengan IMF. Dengan adanya kepercayaan ini.560 juta. diharapkan akan terjadi arus balik devisa dan masuknya modal luar negeri. apa salahnya jika Indonesia meminta penundaan waktu pembayaran kembali utang? Nama Indonesiapun tidak menjadi jelek karenanya. 3. bahwa beban utang tidak menjadi bertambah. Dengan demikian. hanya saja jangka waktu pembayaran kembalinya saja yang lebih panjang. makin cepat juga dananya cair. Seandainya Indonesia tidak menerima bantuan barupun. Penjadwalan kembali pembayaran utang resmi pemerintah ini juga akan banyak . Membentuk kabinet baru yang terdiri atas teknokrat untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat Indonesia maupun luar negeri akan kesungguhan program reformasi. berarti bahwa beban utang termasuk pembayaran bunga untuk di kemudian hari akan bertambah besar.20 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Maret 1999 1. Mengusahakan penundaan pembayaran utang resmi pemerintah berupa pembayaran cicilan pokok dan bunga selama misalnya dua tahun melalui Paris Club. 2. Pemerintah melaksanakan reformasi dan restrukturisasi sektor riil dan keuangan secara konsekuen untuk memperkuat fundamental ekonomi Indonesia. dalam hal ini Departemen Keuangan dan Bank Indonesia. sementara pinjaman luar negeri baru sebesar US$ 6. sebab Paris Club adalah instrumen internasional yang memang khusus dirancang untuk membantu negara-negara sedang berkembang dalam menghadapi masalah pembayaran kembali utang-utang luar negeri pemerintah. Yang nanti akan menjadi masalah adalah bagaimana membayar utang bantuan darurat yang mencapai US$ 46 milyar tersebut di samping utang-utang pemerintah dan swasta yang ada. maka masih ada selisih positif sebesar lebih dari US$ 1 milyar yang bisa dihemat. yang juga selalu mendapatkan pujian dari Bank Dunia dan IMF.

Krisis Moneter Indonesia : Sebab, Dampak, Peran IMF dan Saran

21

membantu meringankan defisit anggaran belanja, terlebih lagi dengan semakin terpuruknya nilai tukar rupiah semakin besar pula defisit dalam anggaran belanja negara yang harus ditutup. Hal ini telah dilakukan oleh pemerintah dan telah dicapai kesepakatan, bahwa Indonesia akan menunda pembayaran cicilan utang pokoknya saja. 4. Menstabilkan nilai tukar rupiah pada tingkat yang riil, artinya tidak lagi overvalued ketika regim managed floating, bahkan bisa dipertimbangkan untuk membiarkannya sedikit undervalued untuk meningkatkan daya saing secara internasional dan merangsang produksi dalam negeri dan ekspor. Nilai tukar nyata yang wajar ini harus dicari dengan memperhatikan kriteria-kriteria berikut, paling tidak tingkat depresiasi rupiah tidak lebih rendah dari depresiasi nyatanya. Dengan kurs ini defisit anggaran belanja negara bisa ditekan, juga tingkat inflasi, pembayaran utang luar negeri pemerintah dan swasta dalam rupiah dapat ditekan sehingga mampu dikembalikan, begitupun harga BBM/listrik dan pakan ternak, harga barang-barang produksi dalam negeri dapat terjangkau termasuk sembako dan pabrik-pabrik beroperasi kembali, orang-orang yang menganggur dapat bekerja kembali, jumlah penduduk miskin dapat ditekan kembali dan jaringan keamanan sosial tidak lagi diperlukan, biaya angkutan udara bisa diturunkan, perjalanan domestik dan luar negeri dapat hidup kembali. Dilain pihak kurs dollar AS ini harus cukup tinggi untuk menahan impor berbagai macam barang dan bahan serta meningkatkan daya saing produk dalam negeri termasuk buah-buahan, insentif untuk meminjam dana dari luar negeri hilang, biaya perjalanan ke dan sekolah di luar negeri tetap masih mahal, yang semuanya mengurangi pengurangan devisa. Sebaliknya daya saing ekspor masih cukup tinggi, sehingga ekspor masih bisa tetap bergairah. Bila ini disadari sebagai hal yang utama dan yang paling mendesak untuk mengakhiri krisis ini, maka seluruh daya upaya dan pikiran dapat diarahkan untuk memecahkan persoalannya. Kebijakan depresiasi nilai tukar yang relatif besar dampaknya sama seperti kebijakan proteksi produksi dalam negeri, karena merubah perbandingan harga antara barang dalam negeri aktif dalam forum-forum internasional seperti APEC, ASEAN, dan sebagainya untuk mencari pemecahan atas krisis moneter yang sedang melanda banyak negara Asia Timur. Masalah pokoknya adalah bagaimana memperkuat nilai tukar mata uang masing-masing kembali pada tingkat yang wajar. Misalnya dengan mengajukan gagasan-gagasan pemecahan yang konkrit dan mendesak diadakannya pertemuanpertemuan dengan segera. Hingga kini sikap pemerintah Indonesia terkesan pasif. 6. Mengadakan negosiasi ulang utang luar negeri swasta Indonesia dengan para kreditor untuk meminta penundaan pembayaran, yang sekarang sedang diusahakan oleh Tim Penanggulangan Utang Luar Negeri Swasta (PULNS) atau Indonesian Debt Restructuring Agency (INDRA).

22

Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan, Maret 1999

7. Mengembalikan stabilitas sosial dan politik dan rasa aman secepatnya sehingga bisa memulihkan kepercayaan pemilik modal dalam dan luar negeri. 8. Untuk mengembalikan kepercayaan dari masyarakat yang menyimpan uangnya di dalam negeri, pemerintah bisa mempertimbangkan melakukan operasi swap, apalagi didukung oleh cadangan devisa pemerintah yang semakin membesar. 9. Menghalangi kemungkinan kegiatan spekulasi valas besar-besaran dengan mempelajari kemungkinan melakukan pengawasan devisa secara terbatas tanpa melepas prinsip regim devisa bebas atau melanggar kesepakatan dengan IMF, misalnya transfer pribadi dibatasi sampai jumlah tertentu, US$ 10.000. Selanjutnya tidak memberi peluang untuk memperdagangkan rupiah atau menaruh deposito Rupiah di luar negeri. Deposito valas hanya boleh di bank-bank devisa dalam negeri dan tidak boleh ditempatkan di luar. Krugman juga menganjurkan memungut pajak atas dana yang masuk dan membuat peraturan yang menghambat pengiriman dana ke luar (lihat Wessel dan Davis, hal. 16).

Daftar Kepustakaan
Anwar, Moh. Arsjad. 1997. “Transformasi Struktur Perekonomian Indonesia: Pola dan Potensi”, dalam: M. Pangestu, I. Setiati (penyunting), Mencari Paradigma Baru Pembangunan Indonesia, Jakarta: CSIS, hal. 33-48. Bank Indonesia. 1998. “Financial Crisis in Indonesia”, Jakarta, August. Bello, W. 1998. “Mencari Solusi Alternatif untuk Mengatasi Krisis”, saduran, Jakarta: Kompas, 1 September, hal. 3. Ehrke, M.1998. “Pangloss oder die beste aller moeglichen Welten, Ursachen und Auswirkungen der Asienkrise”, Bonn: Friedrich Ebert Stiftung, Februari. Fischer, S. 1998a. “IMF dan Krisis Asia”, Kompas, Jakarta, 6 April. ________. 1998b. “Peranan IMF Saat Krisis”, Kompas, Jakarta, 8 April. ________. 1998c. “The Asian Crisis and the Changing Role of the IMF”, Washington, D.C.: Finance & Development, Vol. 35 No. 2, June, pp. 2-5. Greenwood, J. 1997. “The Lessons of Asia’s Currency Crisis”, Hong Kong: The Asian Wall Street Journal, 9 Oktober, hal. 6. Gunawan, A.H., Sri Mulyani I.. 1998. “Krisis Ekonomi Indonesia dan Reformasi (Makro) Ekonomi”, makalah pada Simposium Kepedulian Universitas Indonesia Terhadap Tatanan Masa Depan Indonesia”, Kampus UI, Depok, 30 Maret - 1 April.

Krisis Moneter Indonesia : Sebab, Dampak, Peran IMF dan Saran

23

Hartcher, P., C. Ryan. 1998. “The IMF Turns Off the Tap”, Australian Financial Review, May 21. Hollinger, W.C. 1996. Economic Policy under President Soeharto: Indonesia’s Twenty-Five Year Record, the United States-Indonesia Society. IMF. 1997. “IMF Approves Stand-By Credit for Indonesia”, Washington, D.C., Press Release No. 97/50, November 5. IMF. 1997. “IMF Approves Stand-By Credit for Indonesia”, Press Release No. 97/50, November 5. IMF. 1998. World Economic Outlook, Washington, D.C., May. IMF. 1999. “Indonesia, Supplemetary Memorandum of Economic and Financial Policies, Fourth Review Under the Extended Arrangement”, March 16. IMF Research Department Staff. 1997. “Capital Flow Sustainability and Speculative Currency Attacks”, Finance and Development, Washington, D.C.: World Bank, December, hal. 8-11. IMF Staff. 1998. “The Asian Crisis: Causes and Cures”, Washington, D.C.: Finance & Development, Vol. 35 No. 2, June, pp.18-21. “IMF Cairkan Semilyar Dollar AS”, Jakarta: Kompas, 6 Mei 1998. “IMF Mulai Sadar Transparensi”, Jakarta: Kompas, 13 Mei 1998, hal. 9. “Indonesia - IMF Agreement on Economic Reforms”, January 15, 1998. “Indonesia - Supplementary Memorandum of Economic and Financial Policies”, Jakarta, April 10, 1998. Institute of Developing Economies (IDE). 1997. 1998 Economic Outlook for East Asia, Tokyo, December 9. Kitamura, K.; T. Tanaka (editors). 1997. Examining Asia’s Tigers, Nine Economies Challenging Common Structural Problems, Tokyo: Institute of Developing Economies, IDE Spot Survey. Korea Letter of Intent, February 7, 1998, Krause, L.B. 1994. The Pacific Century: Myth or Reality?, the 1994 Panglaykim Memorial Lecture, Jakarta: CSIS.

3rd updated reprint. Radelet.T. LPEM-FEUI. Hong Kong: Far Eastern Economic Review. 1997. hal. Cho. September 16. Krisis Moneter Tahun 1997/1998 dan Peran IMF. January. 1997. majalah Global. 25 Tahun IV. 1998. Sender. 1998b. Tarmidi. 9 April 1998. The Economist. Sachs. 1997. Anwar. pidato pengukuhan Guru Besar Madya Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Jakarta. 1998. “What Happened to Asia”. Jakarta. Jakarta. makalah pada “1997 Economics Conference”. G. 5. Hong Kong: The Asian Wall Street Journal. “Currency Crisis”. 17. 140-2. “Saatnya Dipertimbangkan Solusi Alternatif”. February 2. “Lessons from the Recent Financial Crisis in Indonesia”. Maret 1999 Krugman. L. September 25. “Kesepakatan Ketiga”. “Why Not Let the Banks Own the Debtor Firms?”. 28 Agustus. 10 Juni. “What’s a Fund for?”. Jakarta. 1998a. 1998. July 26. 62-77. The Sunday Times. Jakarta: Kompas. 1998. Soros. Singapore. “Saran Ali Wardhana untuk Atasi Krisis. No.. “APEC dan Krisis Moneter di Kawasan Asia Timur”. 1994. 17-18 Desember. ACAES. 72-3. Jakarta: Kompas. Stiglitz. Foreign Affairs. “Restoring the Asian Miracle”. Hong Kong: The Asian Wall Street Journal. 8. 1998b. hal. Sri Mulyani Indrawati. “The Myth of Asia’s Miracle”. __________. 1998. hal.1997. ___________. S.. M. The Currency Crisis in Southeast Asia. J. hal. p. December 4. 31-38. _________. “The Crisis of Global Capitalism”. hal. Economy Is Slated for Rapid Change”. 28-29. Singapore: ISEAS. M. 9 Mei. 3. _________. P. Jakarta: Kompas. Schuman. Nasution.F. diselenggarakan bersama oleh USAID. Montes. Ada yang Harus Dilakukan dan yang Harus Dihindari”. J. November/December. Dimuat di Kompas dengan judul “Di Balik Terjadinya Krisis Keuangan Asia”. 27 Januari. H. 3.24 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. hal. 1998a. No. “RI-IMF Hasilkan Memorandum Tambahan”. 26 Agustus 1998. “South Korea. hal. Gatra. N. . hal. Hong Kong: The Asian Wall Street Journal. IMF Agree on Bailout.

Krisis Moneter Indonesia : Sebab. Wessel. 16. Wessel. “Crisis Crusaders. D. __________. May 7. __________. Indonesia. Report No. Dimensions of Growth. Report No. Jakarta: Kompas. Ip. hal. 1. 1. May 27. A Macroeconomic Update. 1998. 22. Malaysia. 1997. Growth and Equity in Repelita VI. Hong Kong: The Asian Wall Street Journal. paper presented at the APEC Study Centre Consortium Conference. draft Report. 1997. 1998. May 30.. February 24. Peran IMF dan Saran 25 ___________. . World Bank. B. __________. July 2. Indonesia: Stability. 1996. Indonesia. Thailand Letter of Intent. December 31. Bangi. September 28. Hong Kong: The Asian Wall Street Journal. 16433IND. Would-Be Keyneses Debate How to Fight Global Woes”. Sustaining High Growth with Equity.. 1998c. Dampak. D. Indonesia in Crisis. 15383-IND. D. 2 Mei 1998. August 11-13. “APEC and the Monetary Crisis in East Asia”. 1998. McDermott. Davis. G. 1994. “Money Trail: Who Ruptured the Rupiah”. hal. “Utang Swasta Sekitar 64 Milyar Dollar AS”.

Konsep ini juga mengupayakan adanya perlakuan yang sama untuk bank-bank besar dan bank-bank kecil dalam memper-oleh penjaminan. Urusan Pengawasan Bank 2. sehingga mengarah sepenuhnya pada swastanisasi baik penyelenggaraan penjaminan maupun pelaksanaan pengaturan dan pengawasan bank yang menyertainya. maka konsep Cross-Guarantee menekankan pentingnya penggunaan pendekatan risk-sensitive analysis dalam penetapan besarnya premi. dalam tulisan ini akan didalami prinsip-prinsip dasar yang terkandung dalam konsep tersebut beserta pengaruhnya terhadap pola penjaminan dan pengawasan bank. Sebagai suatu konsep yang ditujukan untuk mengatasi berbagai kelemahan deposit insurance scheme yang berlaku sekarang ini.Konsep Cross-Guarantee dalam Program Penjaminan dan Kemungkinan Penerapannya di Indonesia 31 KONSEP CROSS-GUARANTEE DALAM PROGRAM PENJAMINAN DAN KEMUNGKINAN PENERAPANNYA DI INDONESIA Maulana Ibrahim dan Agusman *) Tulisan ini mencoba mengetengahkan salah satu bentuk pikiran alternatif dalam program penjaminan yang dikenal dengan konsep Cross-Guarantee. Pendekatan Too-Big-To-Fail (TBTF) yang sejak beberapa waktu terakhir telah menimbulkan inkonsistensi dalam proses penjaminan diharapkan dapat dihilangkan oleh konsep ini. Dengan merujuk pada ide yang dilontarkan Bert Ely tentang CrossGuarantee. Bank Indonesia . konsep ini sangat progresif dalam hal mempercayakan penyelenggaraan penjaminan kepada mekanisme pasar dan meniadakan intervensi pemerintah. Apabila diterapkan sepenuhnya. sekaligus mempelajari kemungkinan penerapannya di Indonesia. Bank Indonesia Agusman : Pengawas Bank. *) Maulana Ibrahim : Kepala Urusan Pengawasan Bank 2. konsep Cross-Guarantee juga akan mengakibatkan perubahan yang sangat mendasar terhadap seluruh pola dan praktek penjaminan dan pengawasan bank yang sudah dijalankan selama ini. Sangat berbeda dengan konsep-konsep lainnya dalam program penjaminan.

7 Mei 1999. namun untuk jangka panjang tampaknya perlu dicari alternatif lain yang memungkinkan terselenggaranya program penjaminan yang efisien dan efektif.T.. telah mencoba mengkaji kemungkinan penggantian ketentuan blanket guarantee tersebut dengan deposit protection scheme. Dalam Konferensi mengenai Bank Structure and Competition yang baru-baru ini diadakan oleh Federal Reserve Bank of Chicago. 3 Bert Ely. . skim program penjaminan yang dipilih pemerintah tersebut ternyata lebih bersifat blanket guarantee (penjaminan menyeluruh). Latar Belakang Konsep Cross-Guarantee Konsep Cross-Guarantee muncul antara lain karena adanya berbagai kritik dan ketidakpuasan terhadap skim penjaminan yang diterapkan pada Federal Deposit Insurance Corporation (FDIC) di Amerika Serikat. P Sulit untuk memungkiri bahwa skim penjaminan pemerintah yang bersifat menyeluruh itu akan sangat memberatkan keuangan pemerintah. D. Tulisan ini mencoba mengetengahkan pikiran-pikiran Bert Ely mengenai konsep CrossGuarantee tersebut. Untuk tindakan darurat1 .32 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Dalam hubungan ini. intervensi terhadap bank-bank/lembaga keuangan bermasalah dan pembentukan deposit insurance. No. Kusumaningtuti (1999)2 misalnya.Balino.Balino. Bank Indonesia. Bert Ely3 . Ditinjau dari karakteristiknya. Desember 1998. 2 Kusumaningtuti S. 1991.S. The Federal Reserve Bank of Chicago. seorang pakar deposit insurance telah mengemukakan konsep Cross-Guarantee sebagai salah satu alternatif. Untuk mendalami masalah ini lebih lanjut lihat tulisan mereka berdua dalam Banking Crises: Cases and Issues . Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.C.3. International Monetary Fund. Kritikan tersebut perlu ditanggapi karena FDIC 1 Menurut V. Maret 1999 Pendahuluan rogram penjaminan merupakan salah satu kebijaksanaan yang diambil pemerintah untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat kepada sistem perbankan nasional yang sempat terganggu karena parahnya krisis ekonomi dan keuangan yang dihadapi Indonesia sejak paroh kedua tahun 1997.T. Washington.Sundararajan dan Tomas J. khususnya karena tidak sebandingnya nilai premi dengan cakupan penjaminan disamping adanya peluang untuk melakukan moral hazard. Editor: V.. Pencarian kemungkinan alternatif lain program penjaminan merupakan hal yang perlu dilakukan secara terus menerus.1. serta mencoba mempelajari kemungkinan penerapannya di Indonesia. Ketentuan Blanket Guarantee dan Kemungkinan Penggantiannya dengan Deposit Protection Scheme. Di Amerika Serikat sendiripun upaya pencarian tersebut masih tetap dilakukan meskipun program penjaminannya dianggap telah jauh lebih maju dan mapan. hal tersebut barangkali masih dapat diterima. The Cross-Guarantee Concept and Interbank Markets. Vol. tindakan darurat (emergency measures) yang dilakukan bank sentral dapat berupa pemberian fasilitas lender of last resort.Sundararajan dan Tomas J. Paper dalam “The 35th Annual Conference on Bank Structure and Competition”.

Kritikan berikutnya yang sering ditujukan kepada FDIC adalah berkenaan dengan penetapan premi yang harus dibayar oleh bank-bank yang ikut penjaminan. dan sebaliknya5 . khususnya bagi bankbank yang “Too-Small-To-Safe” (TSTS). hal.Sealey dalam “Deposit Insurance and Bank Interest Rate Risk: Pricing and Regulatory Implications ”.18.000. Sebagaimana diketahui. Journal of Banking & Finance. pendapatan dari penanaman dana oleh FDIC jauh melebihi biaya-biaya operasionalnya.W. sehingga menimbulkan cross-subsidies. yaitu bank-bank yang 4 Adanya risiko yang lebih besar tersebut antara lain dikemukakan oleh Jin-Chuan Duan.Konsep Cross-Guarantee dalam Program Penjaminan dan Kemungkinan Penerapannya di Indonesia 33 sekarang ini menghadapi risiko yang lebih besar dibandingkan dengan periode-periode sebelumnya4 . Oleh karena itu.25% barulah premi akan dinaikkan. Disamping itu premi yang dikenakan oleh FDIC sekarang ini juga dinilai terlalu berlebihan (overcharging) untuk bank-bank yang sehat dan terlalu kecil (undercharging) untuk bank-bank yang bermasalah. pada dasarnya yang dijamin oleh FDIC adalah dana pihak ketiga (deposits) maksimum sebesar USD. Moreau dan C. Namun dalam prakteknya prinsip tersebut ternyata tidak diterapkan karena dua alasan pokok berikut ini. akan tetapi tetap saja ada kritik bahwa perlakuan khusus tersebut dapat menimbulkan diskriminasi diantara sesama bank. Journal of Banking & Finance. Tahun 1994. 531-552. No. Salah satu hal yang memperoleh kritikan adalah mengenai ruang lingkup penjaminan FDIC yang cenderung agak kurang konsisten sehubungan dengan penerapan pendekatan “Too-Big-To-Fail” (TBTF). Perhitungan premi oleh FDIC dinilai kurang mencerminkan risiko yang harus ditanggungnya. tampaknya hanya dalam FDIC mengalami kerugian dan deposit growth menekan RR di bawah 1. Namun dalam hal suatu bank dinilai TBTF maka seluruh pos kewajibannya akan dijamin. Meskipun penerapan asas TBTF sangat dimungkinkan berdasarkan konsep Reformasi Deposit Insurance (deposit insurance reforms) yang disetujui Kongres Amerika Serikat dan berlaku sejak setelah tahun 1988.sedangkan non-deposits liabilities seperti pinjaman yang diterima.100. Alasan kedua adalah karena jumlah dana yang ditanamkan oleh FDIC telah melebihi ketentuan minimum Reserve Ratio (RR) perbankan sebesar 1.. Dengan kata lain. hal.000 tidak dijamin. komitmen dan kewajiban off-balance sheet serta kewajiban antar bank di atas USD.100. Sebagaimana layaknya perusahaan asuransi. . 5 Ide agar FDIC menetapkan premi sebagaimana layaknya perusahaan asuransi swasta mula-mula sekali dilontarkan oleh Merton (1977).25%. Pertama. seharusnya semakin besar risiko yang ditanggung semakin besar premi. “Deposit Insurance Pricing and Social Welfare”. Arthur F. termasuk juga pos pinjaman subordinasi. laba yang diperoleh FDIC cukup besar sehingga ketergantungan pada premi menjadi semakin lebih berkurang. No. sehingga pada gilirannya dapat merugikan masyarakat penyimpan dana.19 Tahun 1995.1091-1108. Hal ini diungkap dalam tulisan Yoram Landskroner dan Jacob Paroush.

sedangkan pihak lain yaitu birokrasi pemerintah (regulator) berkewajiban untuk meminimumkan kerugian FDIC dan mencegah kegagalan bank (bank failures). Menurut George G. hal. Tahun 1995. Perubahan-perubahan tersebut dapat mencakup aspek penyelenggara. ruang-lingkup penjaminan. Mekanisme Cross-Guarantee ini memiliki kemiripan dengan mekanisme yang berlaku pada Standby Letter of Credits. Contoh yang paling baru dari fenomena regulatory moral hazard ini adalah dalam hal kegagalan BestBank di Boulder. namun pendekatan ini dinilai kurang ideal dalam perhitungan premi. Hal ini terjadi karena pada satu pihak FDIC memiliki kekuasaan besar dalam penentuan premi.Kaufman. Sekarang ini FDIC menggunakan 2 (dua) alat ukur risiko yaitu Capital Levels dan CAMEL Rating. Melalui premi yang mereka bayar. lembaga penjamin. Colorado pada bulan Juli 1998. sumber pembayaran klaim.19. seharusnya alat ukur yang digunakan adalah leading indicators of banking risks seperti risk mismatches. Selanjutnya lihat George G. Pada Lampiran-1 disajikan perbandingan antara Cross-Guarantee dengan skim penjaminan deposit insurance konvensional untuk masing-masing aspek tersebut. dan potensial untuk berubah menjadi real moral hazard pada tingkat FDIC. rapid growth. karena masing-masing bank-bank yang dijamin (insured banks) pada akhirnya menjadi pihak yang bertanggung jawab terhadap semua kerugian yang terjadi apabila ada bank-bank yang mengalami kegagalan usaha (failed banks). Penerapan konsep Cross-Guarantee dalam program penjaminan memer-lukan perubahan mendasar terhadap skim penjaminan dan pola pengawasan bank yang sedang berjalan. Karakteristik Sistem Cross-Guarantee dalam Penjaminan Terlepas dari berbagai kritik terhadap skim penjaminan FDIC sebagaimana dikemukakan di atas. bank-bank yang ikut program penjaminan FDIC pada hakekatnya saling menjamin satu-sama lain. Kritikan lainnya adalah mengenai masih terbukanya peluang untuk melakukan moral hazard dalam sistem yang berlaku sekarang. secara implisit konsep Cross-Guarantee sebenarnya sudah melekat pada FDIC. ketentuan perbankan. Hal ini erat kaitannya dengan belum diterapkannya secara penuh prinsip risk-sensitive premium sebagaimana yang dipersyaratkan oleh Section 302 FDICIA6 serta penggunaan alat ukur risiko yang belum sesuai. pelaksana pengawasan bank. apabila diterapkan secara penuh maka ketentuan yang tercakup dalam FDICIA dapat efektif menurunkan moral hazard. . bentuk kontribusi dari bank yang dijamin. khususnya dalam hal terdapat multiple participant. “FDICIA and Bank Capital” dalam Journal of Banking & Finance. weak internal controls dan execessive exposure to emerging speculative bubbles. Menurut Bert Ely. lembaga lain yang terlibat dan lain-lain.Kaufman.34 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. meskipun belum seutuhnya. No. 6 FDICIA singkatan dari FDIC Improvement Act. Struktur seperti ini ternyata dapat mengakibatkan terjadinya regulatory moral hazard pada tingkat pembuat ketentuan. Maret 1999 sehat membayar kewajiban bank-bank yang tidak sehat.721-722.

c. Untuk memastikan bahwa bank-bank yang dijamin mematuhi cross-guarantee contract maka sebuah perusahaan swasta yang disebut “syndicate agent“ akan disewa. Dengan demikian. Lembaga ini berfungsi untuk memastikan bahwa perjanjian penjaminan (crossguarantee contract) yang disepakati para pihak telah sesuai dengan aturan penyebaran risiko (risk dispersion rule) serta ketentuan-ketentuan lainnya. seluruh kerugian karena bangkrutnya suatu bank akan langsung diserap oleh modal bank-bank yang ada dalam sistem perbankan suatu negara. Perjanjian ini akan berfungsi sebagai pengganti ketentuan perbankan yang berlaku sekarang. Syndicate agent ini selanjutnya akan menggantikan fungsi pengawas dan pemeriksa bank yang ada sekarang. Aturan ini mencakup hal-hal sebagai berikut: ♦ Setiap penjamin (guarantor) harus dijamin oleh penjamin-penjamin lainnya dalam suatu sistem cross-guarantee. Jumlah modal yang tersedia untuk menyerap kerugian juga akan semakin besar dan semua itu terjadi atas dasar komitmen sukarela (committed voluntarily). Setiap bank diberi kebebasan untuk menentukan sendiri penjaminnya (direct guarantornya). Sebuah lembaga baru yang disebut Cross Guarantee Regulation Corporation (CGRC) harus dibentuk. Secara bersama-sama para direct guarantor akan membentuk suatu sindikat direct guarantor (lihat Lampiran-2). b. d. Penunjukan syndicate agent ini dilakukan secara terbuka sehingga akan mendorong adanya kompetisi yang sehat dan efisiensi. Dengan cara ini. minimal untuk menyelesaikan kewajiban cross-guarantee dari setiap penjamin. Direct guarantor akan melakukan pembayaran dengan menggunakan general funds (cadangan umum) yang merupakan salah satu unsur modalnya. Apabila direct guarantor gagal memenuhi kewajibannya maka guarantor dari direct guarantor tersebut harus bertanggungjawab. secara accrual accounting setiap direct guarantor akan langsung mengakui dan mencatat kerugian sebesar share yang harus ditanggungnya apabila bank yang dijaminnya mengalami kegagalan usaha. Bank yang dijamin (insured bank) selanjutnya akan melakukan pembicaraan dengan direct guarantor-nya untuk mencapai kesepakatan-kesepakatan yang akan dituangkan dalam bentuk perjanjian penjaminan (cross-guarantee contract).Konsep Cross-Guarantee dalam Program Penjaminan dan Kemungkinan Penerapannya di Indonesia 35 Agar konsep Cross-Guarantee tersebut dapat diimplementasikan dalam praktek maka perlu dilakukan langkah-langkah sebagai berikut: a. . akan terjadi pergeseran dari government regulation and deposit insurance kepada contractual regulation and guarantees (swasta). Dengan demikian setiap dolar kerugian pasti akan dapat diselesaikan oleh bank-bank yang berada dalam himpunan para penjamin (the universe of guarantors). Selanjutnya. Perlu kiranya dikemukakan bahwa aturan penyebaran risiko (risk dispersion rule) merupakan salah satu pilar penting dalam konsep Cross-Guarantee.

Karena adanya kebebasan dalam proses merumuskan mekanisme penjaminan untuk setiap bank. Semangat untuk melakukan privatisasi penjaminan melalui Cross-Guarantee jelas terlihat sejak awal penentuan bank penjamin (direct guarantor) yang dilakukan secara sukarela (voluntary) dan demokratis. Demikian pula penentuan perjanjian penjaminan (cross-guarantee contract) sepenuhnya diserahkan kepada pihak-pihak yang berkepentingan. 7 Dalam hal ini premi merupakan proxy terbaik dari cross-guarantee risk. . Cross-Guarantee memerlukan peran aktif dari pihak swasta untuk mewujudkan suatu skim penjaminan yang diarahkan oleh kekuatan pasar (market-driven cross-guarantee).36 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. ♦ Untuk memastikan bahwa tidak akan pernah ada suatu bank mengalami kegagalan usaha karena menjadi penjamin maka perlu diberlakukan suatu standard stop-loss rule. Sebagai aturan yang akan menggantikan prudential regulation maka perjanjian penjaminan harus dibuat sedemikian rupa agar dapat menampung prinsip kehati-hatian. sehingga penjaminan akan terlaksana secara efisien dan efektif. Manfaat Swastanisasi Penjaminan melalui Cross-Guarantee Sebagaimana yang telah dikemukakan sebelumnya. agar dapat terlaksana dengan baik. yaitu insured banks dan direct guarantor-nya. setiap bank penjamin tidak diperkenankan menerima pendapatan dari premi7 dalam setahun melebihi 3 (tiga) persen dari total modalnya. Oleh karena itu. baik untuk setiap bank maupun secara aggregat. Secara aggregat. yang menyatakan bahwa “apabila satu penjamin mengalami kerugian cross-guarantee melebihi lima kali premi yang diperolehnya dalam setahun maka kewajiban crossguarantee-nya harus dialihkan kepada direct guarantor-nya. ♦ Setiap penjamin bertanggungjawab sebatas jumlah risiko cross-guarantee yang ditanggungnya. Skim penjaminan berbasiskan pasar tersebut diharapkan dapat mengeliminir intervensi dari pemerintah. Yang perlu dijaga adalah agar perjanjian dimaksud sudah memperhitungkan premi atas dasar sensitivitas terhadap risiko (risk-sensitive premium). penerapan konsep CrossGuarantee akan menimbulkan pergeseran peranan dari pemerintah kepada pihak swasta dalam melakukan penjaminan serta pengaturan dan pengawasan bank. maka konsep Cross-Guarantee dipandang lebih berorientasi ke depan dibandingkan dengan konsep penjaminan (FDIC) yang berlaku sekarang. Maret 1999 ♦ Setiap perjanjian penjaminan (cross guarantee contracts) harus menyebutkan jumlah minimum para penjamin dan persentase risiko yang ditanggung mereka masing-masing. memenuhi aturan penyebaran risiko (risk dispersion rule) serta ketentuan-ketentuan lainnya yang dianggap penting oleh para pihak.

Konsep Cross-Guarantee dalam Program Penjaminan dan Kemungkinan Penerapannya di Indonesia

37

Dengan swastanisasi penjaminan dan pengawasan bank maka nantinya tidak akan ada lagi fenomena “satu ketentuan yang berlaku untuk semua” (one-size-must-fit-all government regulation) yang selama ini merupakan salah satu kelemahan inheren dari ketentuan perbankan yang dibuat pemerintah. Dalam praktek selama ini sering ditemukan adanya beberapa ketentuan yang sulit diterapkan karena bersifat terlalu umum dan kurang mempertimbangkan karakteristik individual bank. Atas dasar konsep Cross-Guarantee ini, insured banks dapat membuat berbagai ketentuan yang mengatur dirinya secara spesifik berdasarkan kesepakatan dengan direct guarantor-nya. Konsep Cross-Guarantee juga memberikan kesempatan yang seluas-luasnya bagi insured banks untuk berdiskusi dan bernegosiasi dengan direct guarantor-nya untuk segala hal termasuk mengenai masa depan bank tersebut. Hal ini pada gilirannya akan membuat strategi business dan perencanaan bank menjadi semakin tajam dan terarah. Pada pihak lain, kegiatan kontrol atau pengawasan akan semakin lebih ketat karena langsung dilakukan oleh kekuatan pasar. Apabila suatu bank memperoleh penilaian yang jelek dari pasar maka yang akan menanggung akibatnya bukan hanya bank yang bersangkutan saja, tetapi juga menjalar kepada bank yang menjadi direct guarantor. Hal-hal tersebut akan membuat persaingan dalam industri perbankan akan semakin ketat dan mendorong efisiensi besarbesaran dalam sektor keuangan. Persaingan sehat juga akan terjadi diantara sesama syndicate agent yang akan berfungsi sebagai pengganti pengawas dan pemeriksa bank yang ada sekarang. Karena kemungkinan akan banyak perusahaan syndicate agent yang muncul maka direct guarantor diberi keleluasaan dalam menentukan syndicate agent yang mereka pilih. Hal ini pada gilirannya dapat mendorong kompetisi yang sehat diantara sesama perusahaan syndicate agent dan mendorong efisiensi pekerjaan penjaminan. Manfaat berikutnya dari konsep Cross-Guarantee dapat ditinjau dari segi ruang lingkup penjaminannya. Tanpa memandang besar kecilnya suatu bank, mereka akan dijamin sebagaimana layaknya bank-bank lainnya, asal bank-bank tersebut dapat menemukan direct guarantor-nya. Oleh karena itu, pendekatan TBTF menjadi tidak relevan sama sekali dalam konsep Cross-Guarantee. Dengan menggunakan konsep Cross-Guarantee, maka transaksitransaksi non-funding obligations seperti account payment, unexpired leases dan kewajiban yang muncul karena tuntutan hukum akan dapat ikut dijamin. Kewajiban yang tidak dapat dijamin hanyalah pinjaman subordinasi karena memiliki karakteristik campuran (hybrid) hutang dengan modal. Sama halnya dengan program penjaminan biasa, maka dalam crossguarantee, unsur modal juga tidak dijamin8 .
8 Pengecualian hanya terjadi dalam hal TBTF, karena ada kemungkinan pinjaman subordinasinya juga akan ikut dibayar, tergantung pada bobot permasalahan bank yang TBTF tersebut.

38

Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan, Maret 1999

Manfaat lainnya dari konsep Cross-Guarantee adalah adanya kesempatan untuk melakukan penyesuaian secara cepat terhadap perhitungan premi berdasarkan kekuatan pasar. Perhitungan tersebut akan mencerminkan risk-sensitivity dari bank yang dijamin dan diharapkan dapat disesuaikan segera baik secara bulanan atau mingguan. Dalam hal ini besarnya premi dapat langsung dibicarakan oleh masing-masing bank dengan direct guarantor-nya. Dengan adanya kemungkinan untuk melakukan perhitungan premi berdasarkan kecenderungan pasar tersebut maka cross-subsidies yang inheren dalam skim penjaminan yang ada sekarang diharapkan akan dapat dihilangkan.

Pengaruh terhadap Pasar Antar Bank dan Sistem Pembayaran
Cross-guarantee dapat menghilangkan counterparty risk yang selama ini melekat dalam transaksi antar bank (lihat Lampiran-3). Sistem Kliring akan terbebas dari risiko tidak dibayarnya tagihan antar bank karena adanya jaminan bahwa direct guarantor masing-masing bank pada akhirnya akan bertanggungjawab sesuai perjanjian penjaminan (cross-guarantee contract) yang mereka sepakati. Hal ini pada gilirannya memungkinkan terselenggaranya suatu Sistem Pembayaran yang bebas risiko (risk-free basis). Penggunaan konsep Cross-Guarantee ini juga dapat mendorong penggunaan secara luas net settlement procedures dalam Sistem Pembayaran. Bagi bank sentral hal ini akan sangat menguntungkan karena net settlement procedures tersebut dapat lebih efisien dari real-time gross settlement .

Kemungkinan Penerapan Konsep Cross-Guarantee di Indonesia
Skim penjaminan yang sekarang ini diterapkan di Indonesia masih mengandung berbagai kelemahan baik pada tingkat konsep maupun pada tingkat pelaksanaan. Pada tingkat konsep, karena bersifat blanket guarantee (jaminan menyeluruh) maka skim tersebut dapat mengakibatkan beban yang sangat berat bagi keuangan pemerintah, padahal kemampuan keuangan pemerintah sendiri sudah sangat terbatas. Disamping itu peluang untuk moral hazard juga besar karena unsur keadilan yang kurang terpenuhi yang tercermin antara lain dari gejala cross-subsidies dimana bank-bank yang sehat membayar kewajiban bank-bank yang tidak sehat. Pada tingkat pelaksanaan, terdapat pula indikasi bahwa dalam praktek tidak seluruh aspek penjaminan dapat terlaksana. Sebagai contoh, untuk melaksanakan penjaminan transaksi off-balance sheet derivatives perlu ada bukti-bukti bahwa transaksi itu genuine, sesuatu yang sangat sulit dibuktikan kecuali oleh perbankan sendiri. Sehubungan dengan hal-hal tersebut di atas, konsep Cross-Guarantee tampaknya dapat menjadi salah satu alternatif jalan keluar, karena hakekat persoalan penjaminan dikembalikan secara utuh kepada pelaku pasar sendiri yaitu antara bank-bank yang

Konsep Cross-Guarantee dalam Program Penjaminan dan Kemungkinan Penerapannya di Indonesia

39

bertransaksi, sehingga mereka perlu saling menjamin dan saling menjaga kestabilan sistem perbankan. Namun demikian perlu kiranya diingat agar pemilihan konsep Cross-Guarantee tersebut hendaknya tidak terlepas dari tujuan utama dari program penjaminan, yaitu untuk mencegah kegagalan pasar perbankan (banking market failure) dan untuk membangkitkan kembali kepercayaan masyarakat serta menghentikan bank runs9 . Meskipun dapat dipandang sebagai salah satu alternatif jalan keluar, penerapan konsep Cross-Guarantee di Indonesia dapat menimbulkan pro dan kontra. Mereka yang pro mungkin lebih didasarkan atas adanya peluang besar untuk meringankan beban keuangan pemerintah, apalagi dalam situasi krisis seperti sekarang. Sementara itu, yang kontra lebih melihat dari sisi kesiapan perbankan dan kalangan pemerintahan kita dalam menerapkan konsep dimaksud. Hal yang terakhir ini tampaknya ada benarnya juga karena untuk sampai pada konsep Cross-Guarantee perlu dijawab terlebih dahulu pertanyaan-pertanyaan berikut ini:

√ Apakah bank-bank di Indonesia sudah sedemikian sehat dan kuat sehingga mampu
untuk saling menjamin (cross-guarantee) sesama mereka ?

√ Apakah bank-bank di Indonesia sudah cukup dewasa untuk mendiskusikan sendiri
sesama mereka hal-hal yang berkenaan dengan penjaminan, business strategy dan prudential regulation untuk dituangkan dalam semacam perjanjian yang mengikat mereka secara bersama-sama ?. Pertanyaan ini cukup penting mengingat selama ini bank-bank di Indonesia sangat tergantung pada petunjuk dan arahan yang diberikan oleh otoritas moneter sebagai pengawas dan pembina bank-bank.

√ Apakah sistem informasi yang terdapat pada masing-masing bank dan secara nasional
telah sanggup menyediakan data/informasi yang diperlukan untuk penetapan premi yang sensitif terhadap risiko ?

√ Apakah pihak otoritas pengawas yang ada sekarang berkenan menyerahkan fungsinya
pada mekanisme pasar melalui syndicate agent dan dapat menerima keberadaan Cross Guarantee Regulation Corporation (CGRC) sebagai lembaga yang akan memverifikasi perjanjian penjaminan (cross-guarantee contract) ?. Pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas cukup relevan untuk kondisi Indonesia dan memerlukan jawaban-jawaban yang tidak sederhana. Pengkajian lebih lanjut sangat diperlukan untuk mencegah pengambilan keputusan yang keliru yang dapat berakibat kontraproduktif terhadap masa depan sistem perbankan dan sektor keuangan negara kita.
9 Mengenai hal ini lihat misalnya Kerry Cooper dan Donald R.Fraser, “The Risk of Depository Institution Failure and The Role of Deposit Insurance” dalam Banking Deregulation and The New Competition in Financial Services, Ballinger Publishing Company, Cambridge Massachusetts, 1984.

1991.Balino. D. The Federal Reserve Bank of Chicago.. Tahun 1995. Editor V.. hal.C. Ballinger Publishing Company. International Monetary Fund.40 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. “The Risk of Depository Institution Failure and The Role of Deposit Insurance” dalam Banking Deregulation and The New Competition in Financial Services.W. George G. No.3.1091-1108. 1984.Kaufman.Sealey dalam “Deposit Insurance and Bank Interest Rate Risk: Pricing and Regulatory Implications” dalam Journal of Banking & Finance.Fraser.S. Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.Balino.721-722. Arthur F. hal. Cambridge Massachusetts. hal. . Paper dalam “The 35th Annual Conference on Bank Structure and Competition”.1.T.Sundararajan dan Tomas J.Moreau and C. Bank Indonesia. Kerry Cooper and Donald R.531-552. No. The Cross-Guarantee Concept and Interbank Markets. Kusumaningtuti S. No. “FDICIA and Bank Capital” dalam Journal of Banking & Finance. Vol. Maret 1999 Daftar Pustaka Bert Ely. Jin-Chuan Duan.Sundararajan dan Tomas J. V. No. Yoram Landskroner dan Jacob Paroush. “Deposit Insurance Pricing and Social Welfare” dalam Journal of Banking and Finance. 7 Mei 1999. Desember 1998. Ketentuan Blanket Guarantee dan Kemungkinan Penggantiannya dengan Deposit Protection Scheme. Tahun 1994.19. Washington.19 Tahun 1995.18. Banking Crises: Cases and Issues .T.

Premi ("risk sensitive premium"). 4 Bentuk kontribusi dari yang dijamin 5 Sumber pembayaran klaim General funds (general reserves) dari direct guarantors. Bank Sentral dan "insured banks". Dibentuk lembaga baru yang disebut Cross Guarantee Regulation Corporation (CGRC) untuk memastikan bahwa perjanjian jaminan sudah sesuai aturan penyebaran risiko dan ketentuan lainnya. Seluruh pos-pos kewajiban.Lampiran-1 PERBANDINGAN ANTARA CROSS-GUARANTEE DENGAN DEPOSIT INSURANCE KONVENSIONAL No. kecuali Pinjaman Subordinasi. Berdasarkan kesepakatan antara bank yang dijamin (insured banks) dengan direct guarantor-nya ("Contractual Regulation"). 6 7 Pelaksana pengawasan bank Ketentuan perbankan Murni swasta. dilaksanakan oleh "Syndicate Agent". ASPEK DEPOSIT INSURANCE CROSS-GUARANTEE Konsep Cross-Guarantee dalam Program Penjaminan dan Kemungkinan Penerapannya di Indonesia 1 2 3 Penyelenggara Lembaga Penjamin Ruang-lingkup Penjaminan Pemerintah FDIC Terbatas dan sangat subjektif dalam penentuan bank-bank yang "TBTF" (Too-Big-Too-Fail). Bank Sentral dan FDIC Prudential regulation konvensional Swasta Sesama bank. baik sebagai direct guarantor maupun indirect guarantor. 41 . Premi (namun belum memenuhi kriteria "risk-sensitive premium"). 8 Lembaga lain yang terlibat Tidak ada lembaga lain yang terlibat kecuali FDIC. Hasil pengelolaan dan penanaman premi pada sektor-sektor yang menguntungkan.

42 Lampiran 2 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Permission granted to reproduce with attribution Cross-guarantee commitment Guarantee premium Contractual relationship Contract approval . Maret 1999 Monitoring fee Obligation to protect competitively sensitive data Ensures that cross-gurantee contract complies with risk dispersion rules and other statutory requirements Syndicate Agent (Independent of any other party) monitoring responsibility Fiduciary responsibility Delegation of Guaranteed Bank of Thrift complies with risk dispersion rules and other statutory requirements Ensures that cross-guarantee contract Syndicate of Direct Guarantors = Bank or non-depository guarantor  1998 Ely & Company Inc.

In effect. securities. to protect clearing systems participant from a default by a counterparty.Lampiran 3 Using Cross-Guarantees to Ensure Payment Finality Will Permit Clearing Systems to Operate Much More Efficiently by Eliminating Counterparty Risk Present System Clearing systems presently utilize a variety of devices. including daylight overdraft limits. cross-guarantee contracts will ensure payment finality. firms. bilateral caps. stc) that are direct participants in the clearing system Guarantors of counterparties 43 . and collateralized net debit positions. Clearing Systems Failure Failure Flow of insolvency loss if a clearing system participant becomes insolvent Counterparties (banks. Konsep Cross-Guarantee dalam Program Penjaminan dan Kemungkinan Penerapannya di Indonesia In a World of Cross-Guarantees Clearing systems will be able to operate much more efficiently and safely where balances due to clearing system participants are fully guaranteed by the guarantors of the clearing system’s counterparties. thereby ensuring payment finality.

Indonesia telah menjadi laboratorium bagi penelitian di bidang Lembaga Keuangan Mikro (LKM). Tergambar pula masih lugu dan mandirinya sifat pengusaha mikro perdesaan nasabah LKM dibanding pengusaha konglomerat nasabah bank umum: apabila kenaikan pendapatan pengusaha mikro perdesaan dipakai untuk menambah tabungan dan melunasi tunggakan. Bank Indonesia . Dari hasil analisis dapat diungkapkan.Kinerja Lembaga Keuangan Mikro dan Perilaku Masyarakat Pedesaan 45 KINERJA LEMBAGA KEUANGAN MIKRO DAN PERILAKU MASYARAKAT PEDESAAN *) Sumantoro Martowijoyo **) Setelah disuguhi banyak topik moneter dengan teknik-teknik analisis canggih ekonometrika tingkat pascasarjana. karena memiliki berbagai jenis sejak lama. tingkat penghasilan nasabah. ada Badan Kredit Desa yang didirikan di zaman Belanda. Badan Kredit Kecamatan di Jawa Tengah. misalnya: jam kerja. bahwa faktor yang paling mempengaruhi kinerja adalah jarak ke lokasi nasabah dan selang waktu pemrosesan kredit. Di era pengentasan kemiskinan ini. Bank Indonesia **) Sumantoro Martowijoyo : Peneliti pada Tim Penyiapan Pusat Pendidikan dan Riset. Ukuran “kinerja” sendiri jauh berbeda dengan kriteria CAMEL yang tidak akan mudah tercerna oleh kesahajaan lembaga-lembaga tersebut. Di luar BRI Unit yang merupakan kisah sukses tingkat dunia. waktu pemrosesan kredit. kenangan dan salam perpisahan penulis kepada Urusan Kredit. Di sini dibahas beberapa faktor yang menggambarkan perilaku masyarakat perdesaan yang mempengaruhi kinerja lembaga keuangan mikro. suku bunga tabungan dan suku bunga pinjaman. USDM. dan kiranya akan menjadi topik pembicaraan tersendiri. karena sebagian justru sengaja memacetkan kreditnya. *) Bagian dari tulisan yang sedang dalam proses. tidak demikian halnya pengusaha konglomerat. jarak rata-rata antara lokasi LKM ke lokasi nasabah. tulisan ini mengajak pembaca untuk turun ke dunia nyata tempat sebagian besar saudara kita sebangsa hidup. di samping berkembangnya kelompok-kelompok swadaya masyarakat sebagai bentuk lembaga keuangan yang paling sederhana di tingkat “akar rumput”.

simpanan wajib. tapi untuk Indonesia karena lokasinya banyak pula di perkotaan maka dipilih istilah yang dikenal sejak Summit ini. konotasinya terkait dengan kemiskinan .46 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Kegiatan arisan sudah tumbuh menjamur diperdesaan dan perkotaan dan jumlahnya mungkin melebihi satu juta. timbullah gagasan untuk menambah jumlah dan jenis uang setoran menjadi simpanan pokok. Lembaga Keuangan Mikro di Indonesia Selain lembaga yang formal seperti BRI Unit dan BPR yang secara hukum diakui sebagai lembaga keuangan formal (bank). Di luar perhatian para penentu kebijakan kita. Istilah “mikro” selain menunjuk skala yang lebih kecil dari yang kecil. tanpa melihat status hukumnya. Dalam pengembangan KSM Bank Indonesia ikut berkiprah melalui Pengembangan Hubungan Bank dengan Kelompok Swadaya Masyarakat (PHBK) yang gagasannya berasal dari APRACA (Asia Pacific Rural and Agricultural Credit Association). para pakar merekomendasikan prinsip keswadayaan dan kesehatan (viability) dari programprogram pengentasan kemiskinan. pencarian model lembaga keuangan mikro1 yang tepat untuk melayani rakyat miskin dilakukan di mana-mana. Indonesia sebetulnya sudah lebih maju dalam penciptaan lembaga keuangan mikro sejak zaman Belanda. Apabila kebutuhan akan uang tersebut makin terasa dan jumlah yang diperoleh dari arisan terlalu kecil. Model Grameen Bank Bangladesh direplikasikan di manamana. Setelah dua dasawarsa diwarnai kreditkredit murah bersubsidi yang sebagian tidak jatuh ke tangan kelompok sasaran dan mengakibatkan merosotnya kinerja serta moralitas lembaga keuangan pelaksananya. kegiatan yang dilakukan secara kelompok sudah merupakan budaya masyarakat yang berazaskan paguyuban. Maret 1999 Latar Belakang D engan disepakatinya ikrar dalam Microcredit Summit di Washington DC Amerika Serikat pada tahun 1997 untuk membebaskan 100 juta penduduk dunia dari kemiskinan. terdapat banyak LKM yang semiformal maupun informal di Indonesia. di samping BRI Unit yang merupakan kisah sukses dunia. 1 banyak pula yang menyebutnya rural financial institutions (RFI) atau lembaga keuangan pedesaan (LKP). dan dalam pengembangan LKM melalui Proyek Kredit Mikro yang didanai bersama Asian Development Bank. Kelompok Swadaya Masyarakat Di Indonesia. dan lembaga-lembaga swadaya masyarakat (LSM) bergiat membina keswadayaan masyarakat melalui kelompok-kelompok swadaya masyarakat (KSM). dan simpanan sukarela. Tiga lembaga yang dipilih adalah yang efektif beroperasi di tingkat “akar rumput” dan menerapkan prinsip suku bunga pasar yang terbukti lestari. Dengan begitu.

semata-mata berdasarkan penilaian kelayakan nasabah oleh Komisi I. Sebagai bank sekunder dalam pembinaan BRI. Sistem kredit BKD sederhana. organisasi dan pengelolaan BKD dipertahankan tetap seperti konsep semula yaitu Komisi BKD terdiri dari kepala desa sebagai ketua komisi (Komisi I) dan 2 orang pemuka masyarakat atau aparat desa sebagai Komisi II dan III. serta di akhir tahun membagikan dividen bagi para pemegang saham. Sedangkan bank desa menghimpun tabungan berupa uang dan memberikan kredit berupa uang. Jumlah kredit yang dapat diberikan sampai dengan Rp 400. Berkembangnya KSM di Indonesia tidak lepas dari berkembangnya lembaga swadaya masyarakat (LSM) dari tahun 1960-an sampai awal 1990-an yang jumlahnya diperkirakan antara 1000-2000 buah (Saidi. Dengan berlakunya Undang-undang Perbankan No. BI sendiri menyetujui BRI meneruskan tugas pengawasannya terhadap BKD dengan bantuan keuangan dari BI. Seperti halnya di Filipina. Suharto. di mana untuk peminjaman uang ditarik pula semacam “jasa” yang dipotongkan dari jumlah pinjaman. 1988) dan keduanya dikukuhkan dengan Staatsblad nomor 357 tahun 1929. terutama terdiri dari kredit pasaran dan mingguan yang berjangka waktu 12 pasar2 atau 12 minggu dengan pembayaran angsuran pokok maupun bunga dengan jumlah yang tetap.Kinerja Lembaga Keuangan Mikro dan Perilaku Masyarakat Pedesaan 47 perkumpulan arisan telah berubah menjadi koperasi kredit (credit union). Pembukuan dilakukan oleh Juru Tata Usaha (JTU) yang bekerja untuk 6 BKD secara bergilir (BKD umumnya buka sekali seminggu pada hari atau hari pasaran tertentu).000 tanpa agunan. Badan Kredit Desa Badan Kredit Desa (BKD) terdiri dari lumbung desa yang didirikan tahun 1897 dan bank desa yang didirikan sekitar tahun 1904 (P. banyak LSM yang lahir dan tumbuh untuk dapat “menangkap” bantuan dari badan atau LSM internasional. berguguran di zaman pendudukan Jepang dan Perang Kemerdekaan. Perkumpulan semacam ini secara tidak sadar sudah berfungsi sebagai lembaga keuangan perdesaan: menghimpun dana dan memberikan kredit kepada anggota. 2. 1995). Lumbung desa mengumpulkan padi untuk diberikan sebagai pinjaman berupa padi kepada petani di saat mereka membutuhkan.7 tahun 1992 yang mencabut berlakunya Staatsblad no. Selama zaman Belanda sistem BKD telah berfungsi dengan baik sebagai lembaga keuangan bagi rakyat perdesaan. Pengawasan terhadap BKD dilakukan secara langsung oleh Mantri BKD yang mewilayahi satu kemantren yang terdiri dari 18 BKD. Akan tetapi mengingat banyak faktor. pengawasan terhadap BKD sebetulnya ada di tangan Bank Indonesia (BI). kredit pasaran diberikan oleh BKD yang bukanya setiap hari pasaran tertentu . memungut bunga berupa “jasa”. Satu pasar=5 hari (kalender Jawa). kemudian mulai tumbuh kembali sesudah kemerdekaan. 357 tahun 1929.

murah dan mengarah. 1993) . bulanan (3 bulan). mingguan. Manajemen BKK terdiri dari Pimpinan. BKK didirikan dengan tujuan: (1) mendekatkan modal pada masyarakat pengusaha miskin di perdesaan dengan cara mudah. sedangkan untuk nasabah ulangan yang lancar pencairan kredit dapat dilakukan pada hari yang sama. yaitu sebesar USD 38 di tahun 1993 (Christen. Badan Kredit Kecamatan Badan Kredit Kecamatan (BKK) adalah lembaga keuangan yang beroperasi di tingkat kecamatan yang didirikan oleh Pemerintah Daerah Tingkat I Jawa Tengah di awal tahun 1970an dengan status sebagai suatu proyek. 11 tahun 1981 dikukuhkan menjadi badan usaha milik daerah. 202 di antaranya sudah berstatus BPR. misalnya. 1998). Jumlah BKK di seluruh Jawa Tengah 510. Pemegang Kas dan Pemegang Buku. hanya menuruti peraturan BPR.000 tidak diperlukan agunan selain rekomendasi kepala desa. Jumlah BKD di Jawa dan Madura tercatat 5345 terdiri dari 4806 yang aktif dan 539 yang tidak aktif (BRI. Kinerja manajemen BKK dipantau oleh Camat sebagai penanggung jawab BKK di wilayahnya. di pihak lain apabila BKK kekurangan modal kerja BPD akan memberikan pinjaman likuiditas. Sebagai LKM. 1995. BKD mampu menjangkau masyarakat paling miskin di pedesaan. 1981). Maret 1999 Lepas dari suara yang mendiskreditkan BKD.1994). Jenis kredit BKK sama dengan BKD. dan musiman (6 bulan). dibukukan terpisah sebagai angsuran pokok dan bunga. keberadaannya dibutuhkan oleh rakyat dan telah membuktikan kelestarian dan kemandiriannya dalam arti tidak pernah menerima dana maupun subsidi bunga dari pemerintah. BKK diharuskan menyimpan kelebihan alat likuidnya di BPD. Sama dengan BKD jumlah angsuran sama setiap pembayaran. dan kemudian dengan Peraturan Daerah (Perda) No. lumbung desa tetap menjadi sumber kredit bagi rakyat kecil untuk konsumsi sehari-hari (Dibyo Prabowo. Di tengah maraknya kredit Bimas. yaitu kebanyakan kredit pasaran. ratarata peminjam per unit 978 orang. tercermin dari paling rendahnya jumlah kredit rata-rata BKD dibanding beberapa lembaga keuangan mikro yang terkenal di dunia.48 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.11 tahun 1981 Bank Pembangunan Daerah (BPD) Jawa Tengah ditugasi sebagai pembina dan pengawas teknis BKK. jumlah pinjaman rata-rata per unit Rp 96 juta dan per nasabah Rp 132. Berdasarkan Perda no. (2) menciptakan pemerataan kesempatan berusaha di pedesaan. dan (3) mendidik masyarakat pedesaan untuk gemar menabung (BP-BKK.26).584 (DAI. Prosedur permohonan kredit kepada BKK cukup sederhana dan untuk jumlah kredit sampai dengan Rp 500.p. Selang waktu antara saat pengajuan permohonan dengan realisasi kredit untuk nasabah baru paling lama seminggu.

jam kerja. persentase jumlah penunggak (PERPUNG). BKD. Faktor-faktor yang mempengaruhi Kinerja LKM Terdapat beberapa faktor atau variabel yang secara rasional dianggap mempengaruhi kinerja. 3 N 6 Σ di 2 i=1 rs = 1 . BKK) diambil proporsional berdasarkan jumlah populasinya masing-masing secara purposif. pertama dengan uji Kruskal-Wallis untuk beda populasi dan uji Kendall untuk kesesuaian (concordance) pemeringkatan faktor-faktor kinerja.————— N3 . 1997). Keuntungan penggunaan statistik nonparametrik adalah tidak perlu dibuktikannya kenormalan distribusi data (yang merupakan prasyarat bagi sahihnya penggunaan statistik parametrik) dan dapat diterapkannya pada sampel kecil atau data kualitatif (Siegel. penulis mengajukan beberapa faktor penentu kinerja LKM. efisiensi (biaya usaha per rupiah kredit. sedangkan LARAP merupakan laba bersih sebelum pajak dibagi saldo pinjaman. kemudiaan untuk hubungan antarfaktor kinerja dengan korelasi jenjang Spearman3 . jarak rata-rata ke lokasi nasabah (JARAK). penghasilan rata-rata nasabah (RAYNAS). BIRUP) dan laba per rupiah kredit (LARAP). seperti: umur LKM. yang merupakan 34 % dari populasi. tingkat akses kepada peminjam (AKPEM). PERPUNG adalah persentase jumlah penunggak (debitur kredit macet) dari jumlah peminjam. BIRUP dihitung dari jumlah biaya operasional dibagi dengan saldo pinjaman. beserta masing-masing 3 nasabah per LKM yang diambil secara acak. Analisis data primer dilakukan dengan teknik statistik nonparametrik. suku bunga tabungan (ITAB). Mengenai kriteria kinerja. dan suku bunga pinjaman (IPIN). selang waktu pemrosesan kredit (SELANG).N di mana rs = koefisien korelasi Spearman N = jumlah pasangan observasi d = perbedaan jenjang yang diperoleh dari setiap pasangan observasi . AKPEN dan AKPEM adalah masingmasing jumlah penabung dan peminjam dibagi jumlah penduduk di wilayah kerja LKM. untuk masing-masing jenis LKM (KSM. Kegunaan kriteria ini akan dapat dipahami setelah selesai membaca hasil analisis di belakang.Kinerja Lembaga Keuangan Mikro dan Perilaku Masyarakat Pedesaan 49 Metodologi Penelitian Penelitian ini dilakukan di lapangan terhadap 105 lembaga keuangan mikro (LKM) di Jawa Tengah. yaitu tingkat akses kepada penabung (AKPEN). dari pengkajian terhadap falsafah dan hakekat LKM serta pendapat para praktisi keuangan perdesaan.

α=0.1325(.000) xxxxxx xxxxxxx AKPEM -.000) dan biaya per rupiah kredit (rs=0. demikian pula uji Kendall menghasilkan nilai W yang sangat signifikan. α = 0.019) .50 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.006). α=0.0276(.780). mengingat banyaknya kredit murah serta persaingan berat dari BRI Unit 2.0276.003). Suku bunga pinjaman berpengaruh sangat signifikan terhadap jumlah peminjam (rs=0.178). Korelasi antara Jarak. Maret 1999 Hasil Analisis Uji Kruskal-Wallis menghasilkan nilai chi-kuadrat yang sangat signifikan. apabila dinaikkan akan menurunkan jumlah peminjam dan mengakibatkan meningkatnya jumlah penunggak.3981 (. α=0.076(.000) -.229. menurunkan laba per rupiah kredit secara sangat signifikan (rs=-0.019) juga berpengaruh sangat signifikan dalam penurunan laba per rupiah kredit (rs=-0.003) . α=0. Selang dan Sukubunga Pinjaman terhadap Faktor Kinerja AKPEN JARAK SELANG IPIN -.178) -. meningkatkan biaya per rupiah kredit secara tidak signifikan (rs=0.109) dan berpengaruh tidak signifikan terhadap laba per rupiah kredit (rs=0.006) PERPUNG .4959(.2292(. .109) BIRUP . Tabel 1.4816.2864(.3981.474). α=0.3406. berarti bahwa suku bunga pinjaman sudah ada di batas atas. α=0. Faktor yang berpengaruh paling besar terhadap faktor kinerja adalah jarak antara lokasi nasabah ke kantor atau pos desa LKM (JARAK).2292. 3.780) 1. α=0.000) . α=0.0706. α=0. Dari hasil analisis korelasi peringkat Spearman antara variabel nonkinerja dengan faktor penentu kinerja terdapat beberapa temuan yang berhubungan dengan perilaku nasabah.474) .4959.1183.229) xxxxxxx LARP -.000) dan jumlah peminjam (rs=-0.2073. meningkatkan jumlah penunggak walaupun tidak signifikan (rs=0.3406(. Faktor lain yang cukup berpengaruh kepada faktor kinerja adalah lamanya waktu pemrosesan kredit (SELANG). α=0.2674.2674(.000).2864.4816(. membuktikan bahwa angka rata-rata yang dianalisis memang berasal dari tiga populasi yang berbeda dan pemeringkatan semua faktor kinerja dilakukan secara konsisten.1183(.1325.000). α =0.000) -. Lamanya waktu pemrosesan kredit berpengaruh menurunkan jumlah peminjam cukup signifikan (rs=-0. Jauhnya jarak berpengaruh sangat signifikan terhadap penurunan jumlah penabung (rs=-0. berpengaruh cukup signifikan terhadap jumlah penunggak (rs=0. serta peningkatan jumlah penunggak (rs=0.2073(.

jarak mempunyai dampak yang lebih kuat terhadap berkurangnya jumlah peminjam dan bertambahnya jumlah penunggak dibandingkan suku bunga pinjaman. (c) Walaupun begitu terlihat masih adanya sifat jujur dan mandiri pada pengusaha mikro nasabah BKK dibanding pengusaha besar nasabah bank umum saat ini.2912.274).274) BIRP . α=0. (a) Dilihat LKM sebagai keseluruhan.585) -.5500. karena jauhnya jarak lokasi LKM akan menyebabkan nasabah malas untuk berhubungan karena besarnya “biaya transaksi” yang harus ditanggungnya.Kinerja Lembaga Keuangan Mikro dan Perilaku Masyarakat Pedesaan 51 dan BPR yang memperoleh fasilitas kredit dari pemerintah.0601(.2912(. Dari sini dapat disimpulkan bahwa pada BKK.1281(. sedangkan pengaruhnya pada BKD kurang signifikan.1245(.297) LARP -. dapat diungkapkan beberapa temuan yang menarik.012) .0539(.196).3412.876) -. yaitu apabila penghasilan pengusaha mikro nasabah BKK meningkat. pengaruh penghasilan nasabah terhadap kinerja tidak begitu signifikan.027).0063(.1131(.645) -. 1993).985) .3412(.0237(. mereka .169 di tahun 1992 dan melonjak menjadi Rp 132.1131(. jumlah peminjam (rs=0. terlihat bahwa penghasilan nasabah paling berpengaruh terhadap kinerja BKK.196) PERPUNG .610) -. nasabah BKK yang relatif lebih mampu meningkatkan tabungan tetapi terus memanfaatkan kredit. Hal sederhana ini kiranya dapat dimaklumi.1840(.1466(. dan jumlah penunggak (rs=-0.0025(. (b) Dilihat per segmen nasabah terdapat perbedaan perilaku apabila penghasilannya meningkat: nasabah BKD yang relatif kurang mampu lebih suka menabung dan tidak meminjam. yaitu biaya angkutan dan hilangnya waktu meninggalkan pekerjaan.2784(. α=0.349) .3194(. nasabah yang penghasilannya relatif lebih tinggi mempunyai akses kepada pelayanan tabungan dan pinjaman yang lebih besar dibanding dengan nasabah yang 98.000) . Akan tetapi apabila dianalisis per jenis LKM.339) .516) .0565(.3670(. α=0.5500(. Dari analisis mengenai pengaruh penghasilan nasabah dan jumlah tabungan rata-rata terhadap kinerja. Tabel 2 Korelasi antara Penghasilan Rata-rata Nasabah dengan Faktor Kinerja untuk Seluruh LKM dan Per Jenis LKM AKPEN LKM (105) KSM (28) BKD (61) BKK (16) -. Akan tetapi dilihat dari kuat dan signifikannya korelasi.567) .949) -.251) -. sama dengan perilaku pengusaha besar nasabah bank umum.027) AKPEM .594 di tahun 1993 (DAI.668) →0 4. terutama kepada jumlah penabung (rs=0.0309(.456) .

3. Adanya kredit dari pemerintah untuk BPR condong menguntungkan BPR Gaya Baru yang dimiliki para pemodal berdasi. (b) pelarangan pembukaan kantor di bawah kantor cabang kiranya dapat dihapuskan. LKM diharapkan membuka sebanyak mungkin pos pelayanan dan/atau mengintensifkan kunjungan lapangan. sedangkan pemrosesan kredit ulangan hendaknya dapat diselesaikan pada hari yang sama. 2. Otoritas perbankan hendaknya tidak melarang pembukaan pos pelayanan ataupun memberi sanksi berupa penutupan pos pelayanan (“kantor di bawah kantor cabang”) kepada LKM yang sudah menjadi BPR karena alasan tingkat kesehatan yang tidak baik. BKD telah beroperasi selama satu abad dan BKK selama hampir tiga dasawarsa dengan pendekatan pasar yang telah membuat mereka lestari (sustainable) dan mandiri. karena sebagian dari mereka sengaja menunggak dan memacetkan kreditnya. karena hal itu justru sesuai dengan misi LKM membantu pengentasan kemiskinan. Maret 1999 meningkatkan tabungan. oleh karena (a) kriteria CAMEL tidak menampung aspirasi dan misi LKM (tersurat ataupun tersirat dalam Undang-undang) sebagai pelayan keuangan bagi masyarakat papan bawah. Implikasi Kebijakan 1. Mendorong LKM untuk memberikan kredit dalam jumlah yang semakin besar berarti menjauhkan LKM dari nasabahnya yang miskin. Mengingat pula bahwa lamanya waktu pemrosesan kredit juga berpengaruh cukup kuat kepada kinerja. terus memanfaatkan kredit dan tidak lupa melunasi tunggakannya. tetapi mungkin hanya sekedar meja dan kursi tempat petugas lapangan menemui nasabahnya. keadaannya justru dibuat seperti “telor di ujung tanduk” karena banyaknya programprogram kredit murah bersubsidi di perdesaan. Mengingat jarak merupakan variabel yang paling mempengaruhi kinerja. (c) pelarangan/penutupan pos pelayanan justru akan lebih memperparah kinerja LKM. tetapi apabila pendapatan pengusaha konglomerat nasabah bank umum meningkat (dan pasti setiap tarikan napas menghasilkan uang). Pengawas BPR hendaknya tidak melihat pemberian kredit dalam jumlah kecil-kecil pada LKM sebagai suatu hal yang “tidak efisien” atau “tidak maju”. . belum tentu mengurangi jumlah penunggak. maka keputusan pemberian kredit kepada peminjam baru hendaknya dilakukan sesegera mungkin. karena pengertian “kantor di bawah kantor cabang” bagi LKM umumnya bukan merupakan gedung atau kantor seperti bank umum. karena menghambat akses kepada masyarakat yang merupakan sumber dana dan penghasilannya. 4. seperti terlihat pada gejala pemberian kredit BKK di atas.52 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.

July 1995 Development Alternatives. terj.1997 Suharto. LSM dan Kebangkitan Masyarakat. Sejarah Pendirian Bank Perkreditan Rakyat. East Java. Agricultural and Rural Development in Indonesia. Perkembangan BKK dan BPR-BKK. Inc.. Statistik Nonparametrik .(ed). Project Completion Report of Technical Support Provided to the Financial Institutions Development Project (USAID No. 1995 Siegel.Kinerja Lembaga Keuangan Mikro dan Perilaku Masyarakat Pedesaan 53 memungkinkan mereka menurunkan sukubunga kreditnya sehingga menambah pesaing bagi LKM. Gary E. Di era reformasi ini pemerintah seyogianya lebih membina semangat keswadayaan masyarakat dan tidak menggunakan program-program kredit murah sebagai alat politik karena merusak moralitas masyarakat perdesaan yang masih jujur seperti terbukti dari perilakunya terhadap LKM. 497-0341) in Indonesia. Jakarta. 31 Maret 1994 Christen. Boulder. 10. dkk. West Java. 1981 Saidi. and Subang. PT Gramedia Pustaka Utama-Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia. Daftar Pustaka Badan Pembina BKK Propinsi Jawa Tengah. Robert Peck. LPPI. May 1993 Dibyo Prabowo dan Sayogyo: The Green Revolution: Sidoarjo. Secangkir Kopi Max Havelaar. dalam Hansen. Westview Press. Zanzawi Suyuti & Landung Simatupang. Zaim.Gramedia. Maximizing the Outreach of Microenterprise Finance. Jakarta.Jakarta. Sidney. Pandu. 1988 . USAID Program and Operations Assessment Report No.

sistem manajemen yang sentralistik sehingga berpotensi menghambat kinerja.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 55 KEGIATAN USAHA PERUM PEGADAIAN DAN PERANANNYA DALAM MENDUKUNG PEMBERDAYAAN EKONOMI RAKYAT Satrio Wibowo dan Gunawan *) Krisis ekonomi yang terjadi sejak pertengan tahun 1997 telah berdampak luas terhadap segala aspek perekonomian. UREM. Sedangkan untuk meningkatkan efisiensi pembiayaan usaha kecil perlu dikaji kemungkinan pemberian izin bagi perusahaan/lembaga lain untuk bergerak dalam usaha pegadaian. . Untuk mewujudkan potensi tersebut terlebih dahulu harus dibenahi berbagai kelemahan khususnya kelemahan struktural yang ada. kurang diminati masyarakat. Permasalahan lain yang bersifat struktural antara lain rentang kendali yang terlalu luas namun tidak ditunjang sistem pengawasan yang memadai.d. email: gunawan@bi. UREM. Bank Indonesia. BI. khususnya sektor perbankan yang berakibat terhentinya aliran kredit perbankan. Dalam kondisi krisis tersebut. Perum Pegadaian (PP) merupakan salah satu lembaga keuangan yang masih mampu bertahan. Bagian Studi Struktur dan Perkembangan Pasar Keuangan. *) Penulis utama dari paper ini adalah : Satrio Wibowo : Kepala Bagian Pendidikan dan Pengembangan Pegawai. dan Sudiro Pambudi. Porsi kredit yang diberikan oleh PP semakin meningkat walaupun secara nominal relatif lebih kecil dibandingkan dua lembaga tersebut. Bagian Studi Struktur dan Perkembangan Pasar Keuangan. Makalah ini ditulis ketika yang bersangkutan masih menjadi Peneliti Ekonomi . Penulisan paper ini juga dibantu oleh Didy Laksmono. Gunawan : Asisten Peneliti. Bagian Studi Struktur dan Perkembangan Pasar Keuangan. bahkan menunjukkan peningkatan kinerja baik operasional maupun keuangan. Budi Wikanto. Rp 20 juta). Dalam masa krisis ini. Perum Pegadaian menghadapi permasalahan temporer berupa lonjakan nasabah (puncaknya terjadi pada Juni 1998) yang mendorong Perum Pegadaian melakukan overdraft sangat besar atas fasilitas kredit yang diperoleh dari BRI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dibandingkan dengan peer-groupnya (BPR dan BRI Udes) secara umum kinerja PP relatif lebih baik.000 s. suku bunga yang dikenakan relatif rendah. BI. relatif kecilnya skala kredit yang diberikan (Rp 5. serta kekurangan likuiditas juga disebabkan karena obligasi yang diterbitkan untuk membayar obligasi yang jatuh tempo.id. Untuk mengatasi permasalahan tersebut Perum Pegadaian telah menerima bantuan dalam bentuk RDI dari pemerintah dan KLBI. Ridho Hakim. UREM.go. Potensi Perum Pegadaian untuk lebih berperan dalam pemberdayaan ekonomi rakyat dapat dilihat dari keberpihakan terhadap masyarakat berpendapatan rendah (mayoritas nasabah). serta mudahnya prosedur gadai. USDM. BI. serta tidak adanya sistem yang mampu mengantisipasi resiko fluktuasi harga barang jaminan khususnya emas. beberapa kelemahan prosedur yang berpotensi menimbulkan penyimpangan. Erwin Gunawan.

56 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Hal tersebut didorong pula oleh meningkatnya jumlah pengangguran sebagai dampak dari banyaknya perusahaan yang pailit dan melemahnya investasi.67 juta orang warga pedesaan1 . khususnya masyarakat kecil. Jumlah perkiraan tersebut terdiri dari 22. Sedangkan laju inflasi yang diukur dengan IHK meningkat tajam dari 10. melambatnya pertumbuhan ekonomi terutama disebabkan oleh tingginya biaya impor bahan baku. laju inflasi yang meningkat dan angka pengangguran yang melonjak. khususnya konsumsi rumah tangga dan investasi swasta. telah mengakibatkan terjadinya kontraksi perekonomian dan mendorong meningkatnya jumlah penduduk miskin. . Latar Belakang Masalah K risis ekonomi di Indonesia yang berlangsung sejak pertengahan tahun 1997 telah berdampak luas terhadap hampir semua aspek perekonomian. Pemerintah telah menempuh serangkaian langkah dan tindakan yang juga memperoleh bantuan dari beberapa lembaga internasional. Pemerintah juga mendorong komitmen perbankan dalam 1 Badan Pusat Statistik. Sehingga dikhawatirkan akan semakin memperparah kondisi perekonomian nasional Dalam upaya penyehatan perekonomian nasional. maka berdasarkan perkiraan BPS jumlah tersebut pada pertengahan 1998 meningkat empat kali mencapai 79. melambatnya pertumbuhan ekonomi disebabkan oleh melemahnya permintaan domestik. yaitu melemahnya nilai tukar rupiah (imported inflation) dan kelangkaan pasokan (supply shortage) khususnya sembilan bahan pokok.4 juta orang tiap tahun. jumlah penduduk miskin di Indonesia berdasarkan data SUSENAS berjumlah 22.1. Selain itu. Meningkatnya inflasi tersebut telah mengakibatkan semakin melemahnya daya beli masyarakat.68 juta orang warga perkotaan dan 56. jika tidak dapat diatasi akan berpotensi mendorong terjadinya gejolak sosial ekonomi yang lebih luas.63% pada tahun 1998.35 juta orang. Hal ini tercermin dari beberapa indikator ekonomi makro seperti pertumbuhan ekonomi yang merosot tajam. ” Perhitungan Jumlah Penduduk Miskin 1998”.5 juta orang. Pendahuluan 1. Maret 1999 I. pada tahun 1998 diperkirakan membengkak hingga mencapai 13.7% pada tahun 1997 menjadi -13.8 juta orang. Jika pada tahun 1996. Dari sisi penawaran. Krisis ekonomi yang berkepanjangan. Melonjaknya jumlah pengangguran dan penduduk miskin tersebut. Tingginya laju inflasi terutama disebabkan oleh dua hal pokok. Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) merosot dari 4. Dari sisi permintaan.31% pada tahun 1997 menjadi 77. Jumlah pengangguran yang pada masa sebelum krisis berkisar antara 3 . Salah satu langkah yang ditempuh adalah pemberdayaan ekonomi rakyat yang bertujuan meningkatkan akses rakyat kecil terhadap perekonomian dan mengutamakan kepentingan rakyat.68% pada tahun 1998.

menengah dan koperasi. sejak terjadinya krisis ekonomi perbankan nasional juga menghadapi permasalahan yang cukup berat. Peran dalam pembiayaan nasabah kecil tersebut. Disamping itu.3. 1. 1. mudah. mudah dan cepat. Pada masa krisis. khususnya usaha kecil dan dalam masa krisis ini juga telah menjadi salah satu alternatif pemenuhan kebutuhan pembiayaan bagi sebagian masyarakat yang terkena dampaknya. Hipotesa Kegiatan usaha Perum Pegadaian dapat dikembangkan untuk mendukung perkembangan usaha kecil khususnya sektor informal. . terutama prosedurnya yang sederhana. serta ancaman kesulitan likuiditas yang masih berlangsung hingga awal tahun 1999 ini. antara lain dengan melaksanakan program Jaring Pengaman Sosial (JPS) untuk memberdayakan masyarakat (khususnya yang terkena dampak langsung dari krisis ekonomi). memburuknya net interest margin dan kondisi permodalan. untuk mendorong pertumbuhan ekonomi diperlukan peran lembaga keuangan lain yang dapat berperan sebagai complementary institutions dari perbankan. Upaya-upaya tersebut juga diimbangi dengan upaya lain di sektor riil. Sektor keuangan khususnya perbankan yang selama ini sangat berperan dalam menggerakkan roda perekonomian. Hal tersebut ditandai dengan meningkatnya jumlah non performing loan. Salah satu lembaga keuangan selain bank yang telah lama dikenal masyarakat adalah Perum Pegadaian. sumber daya manusia yang memadai serta jaringan usaha yang luas. Sehubungan dengan kondisi tersebut. jaringan kantor dan wilayah kerja yang menjangkau hampir seluruh wilayah Indonesia serta prosedur yang sederhana. sesuai dengan tujuan Perum Pegadaian yang tidak hanya semata-mata mencari untung tetapi juga sebagai penunjang kebijakan dan program Pemerintah di bidang ekonomi dan pembangunan nasional melalui penyaluran pinjaman atas dasar hukum gadai. cepat. Kinerja perbankan yang memburuk tersebut mengakibatkan terhambatnya penyaluran kredit. Namun. tentunya sangat diperlukan untuk membantu pemulihan perekonomian nasional.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 57 pengembangan usaha kecil. dan aman merupakan suatu potensi keunggulan Perum Pegadaian dibandingkan dengan lembaga keuangan lainnya.2. serta dengan melakukan reformasi struktural untuk meningkatkan efisiensi perekonomian. Hal tersebut didukung oleh karakteristik Perum Pegadaian. terganggunya fungsi intermediasi perbankan tersebut memberi peluang bagi Perum Pegadaian untuk semakin berperan dalam pembiayaan. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari peran usaha Perum Pegadaian serta potensinya untuk ikut berperan dalam pelaksanaan program Jaring Pengaman Sosial (JPS).

berupa data keuangan. Wilayah tengah diwakili oleh 1 kantor daerah di Pulau Bali dan 1 kantor daerah di Pulau Kalimantan. serta dengan mewawancarai beberapa nasabah yang dipilih sebagai responden di kantor-kantor cabang tersebut. maka Perum Pegadaian berpotensi untuk berperan serta dalam program JPS. Perum Pegadaian telah merancang Rencana Jangka Panjang II (RJP II) yaitu periode tahun 1997-2001. Dalam upaya meningkatkan kinerja perusahaan. Dengan PP No. Nasabah yang dipilih sebagai responden dikelompokkan sebagai nasabah biasa dan nasabah yang dianggap potensial (prima) berdasarkan frekwensi dan lamanya berhubungan dengan Perum Pegadaian. II. RJP II ini merupakan . Disamping itu.4 Metode Penelitian Penelitian dilakukan dengan melakukan analisis data sekunder dan primer. Tengah dan Timur. 1. data operasional. Profil Perum Pegadaian Pegadaian Negeri didirikan pertama kali oleh pemerintah Hindia Belanda pada tanggal 1 April 1901 di kota Sukabumi dengan status Jawatan. manajemen maupun dari sumber lainnya. 36 kantor cabang. ketentuan-ketentuan operasional. Sampel kantor daerah dipilih dengan sistem purposive sampling yang mewakili wilayah Indonesia Bagian Barat. Sedangkan wilayah timur diwakili oleh 1 kantor daerah di Pulau Sulawesi. Dengan status sebagai Perum.10 Desember 1998. Data sekunder yang dipergunakan berupa laporan-laporan yang telah tersedia dari Perum Pegadaian. Maret 1999 Sesuai dengan karakteristik usaha dan mayoritas nasabah Perum Pegadaian yang merupakan masyarakat berpendapatan rendah. khususnya sektor informal. kepegawaian. sifat Pegadaian adalah menyediakan pelayanan bagi masyarakat umum dan sekaligus memupuk keuntungan berdasarkan prinsip pengelolaan perusahaan yang sehat. Disamping itu. Pada tahun 1961. 10/1990 tanggal 10 April 1990 status Perjan Pegadaian diubah menjadi Perusahaan Umum (Perum) Pegadaian guna meningkatkan efisiensi dan produktivitas usaha. Wilayah barat diwakili oleh 3 kantor daerah di Pulau Jawa dan 2 kantor daerah di Pulau Sumatera. Salah satu produk Perum Pegadaian adalah memberikan kredit berdasarkan hukum gadai.58 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Survey tersebut dilaksanakan pada tanggal 23 November . dengan periode pengamatan sejak tahun 1996 s. 8 kantor daerah. namun diubah kembali menjadi Perusahaan Jawatan (Perjan) tahun 1969.d September 1998. statusnya diubah menjadi Perusahaan Negara (PN). untuk memperoleh data mengenai keadaan dan operasionalisasi Perum Pegadaian dilakukan metode survey terhadap kantor pusat. penelitian juga dimaksudkan untuk mempelajari peran dan potensi Perum Pegadaian dalam mendukung pemberdayaan usaha kecil.

2% per tahun. Perum Pegadaian merumuskan misinya yang dijadikan acuan untuk menentukan arah pengusahaan. Meningkatkan pelayanan kepada seluruh nasabah dengan baik. sasaran pengusahaan dan strategi pokok perusahaan dalam periode RJP II. serta membuka anak perusahaan. Meningkatkan produktivitas di seluruh bidang kegiatan. sasaran pengusahaannya adalah : a. Berdasarkan visi tersebut. c. peluang dan ancaman (analisis SWOT) yang dihadapi dalam Pembangunan Jangka Panjang Tahap II (PJPT II).Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 59 bagian dari visi Perum Pegadaian yang dirumuskan dengan mengindentifikasi kekuatan. Omzet perkreditan meningkat dengan 20% per tahun. c. Menjadi lembaga keuangan yang modern dan dinamis. Hasil usaha lain-lain menyumbang sekitar 5. Perum Pegadaian menyusun suatu strategi pokok perusahaan yang meliputi : a. Pefindo merupakan perusahaan atau efek hutang yang berisiko investasi rendah dan berkemampuan baik untuk membayar bunga dan pokok hutang sesuai dengan yang diperjanjikan dan hanya sedikit dipengaruhi oleh perubahan keadaan yang merugikan. c. kelemahan. b. 2) melaksanakan go public. Posisi keuangan yang likuid dan solvabel dengan current ratio di atas 1 dan debt to equity ratio di bawah 3. Memiliki SDM yang handal dan profesional. d. Melaksanakan optimalisasi kantor-kantor cabang sebagai ujung tombak operasi perusahaan. b. Meningkatkan efisiensi perusahaan 1 Yang dimaksud dengan rating “A” sesuai dengan definisi PT. cepat dan manusiawi. d.1% dari laba usaha. Visi Perum Pegadaian dalam PJPT II ini adalah : a. . Misi perusahaan tersebut yaitu : Ikut meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat golongan menengah ke bawah melalui penyediaan dana berdasarkan hukum gadai secara inovatif dan melakukan usaha lain yang menunjang. Untuk mendukung pencapaian sasaran tersebut. b. dan 3) memiliki kinerja dan citra yang meningkat. target menjadi Persero terutama bertujuan untuk mengatasi kelemahan pendanaan dengan menjual saham di bursa. Sementara. Laba bersih (earnings after taxes) meningkat dengan 30. 2 Menurut Perum Pegadian. Namun target tersebut tidak tercapai pada tahun 1998 karena tidak memperoleh ijin dari Menkeu dengan pertimbangan (i) masih besarnya misi sosial yang harus dilaksanakan oleh Perum Pegadaian. Arah pengusahaan dalam periode ini adalah : 1) menjadi persero pada tahun 19982 . Memiliki kinerja sehat sekali (SS) dengan rating minimal “A” 1 . (ii) kekhawatiran bahwa dengan status persero Perum Pegadaian akan meninggalkan segmen nasabah kecil dengan tujuan untuk memperoleh laba maksimal.

franchisor usaha gadai. Produk-produk baru tersebut meliputi : a. Khusus untuk bisnis properti dapat dilakukan melalui kerja sama dengan pihak ketiga (investor) dengan sistem Built Operate and Transfer (BOT).1.60 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. f. . Maret 1999 e. c. properti (gedung perkantoran. factoring. Produk-produk usaha baru tersebut merupakan upaya untuk mengoptimalkan aset. Sampai dengan 30 September 1998. Perum Pegadaian telah merencanakan untuk melakukan ekspansi jenis produk perusahaan dengan mengembangkan usaha baru. Produk baru di luar lingkup usaha gadai tetapi masih dalam lingkup lembaga pembiayaan seperti BPR. Sebagai implementasi dari salah satu strategi pokok perusahaan. modal ventura. guarantee fund. dan bidang umum. hotel/penginapan dan ruko) dan toko barangbarang perhiasan/asesoris dan arloji. Kepengurusan dan Kelembagaan Perum Pegadaian memiliki 4 orang anggota direksi yang terdiri dari satu orang direktur utama dan 3 orang direktur yang masing-masing membawahi bidang operasi dan pengembangan. pedagang valuta asing dan leasing. Dalam menjalankan tugas rutin di 3 Menurut Perum Pegadaian. kredit dengan jaminan surat berharga dan sertifikat tanah dan kredit dengan sistem pinjam pakai. Memperluas jaringan pelayanan dengan membuka cabang-cabang baru di daerah yang potensial. seperti yang telah dilaksanakan di lokasi Salemba dan Pasar Baru. leasing yang akan dilaksanakan merupakan leasing menurut format Perum Pegadaian dimana barang jaminan yang digadaikan tidak disimpan oleh Perum Pegadaian namun tetap dapat digunakan oleh nasabah untuk menjalankan usahanya (diestimasikan akan dilaksanakan pada tahun 2000). yaitu pemanfaatan 20 lokasi strategis yang nantinya dapat merupakan kompleks lokasi usaha. Melaksanakan pengembangan produk baru hingga mampu menyumbangkan 20% dari total pendapatan usaha. jasa sertifikasi kadar emas. bidang keuangan. jasa taksiran. usaha toko emas sudah dilaksanakan di 28 kantor cabang Perum Pegadaian.3 Produk usaha baru yang sama sekali di luar usaha gadai dan lembaga keuangan seperti toko emas. sehingga bisa meningkatkan citra perusahaan dan nasabah tidak malu lagi untuk datang ke Pegadaian. khususnya di kawasan timur Indonesia. Dua diantaranya yaitu jasa titipan dan taksiran sudah dilaksanakan. Produk baru yang masih dalam lingkup usaha gadai seperti jasa titipan. Usaha ini juga mempunyai misi sosial untuk mendidik masyarakat untuk berinvestasi dalam bentuk emas serta meningkatkan image masyarakat terhadap Perum Pegadaian b. 2.

Selain itu. Kp. Perum Pegadaian juga memiliki Satuan Pengawasan Intern (SPI) yang bertanggung jawab langsung kepada direksi. Dari 633 Kanca tersebut. Sampai dengan September 1998. Perum Pegadaian telah memiliki cabang di 27 propinsi dengan jumlah Kanca mencapai 633 buah dengan dikoordinasikan oleh 14 kantor daerah (Lampiran 2). Struktur Organisasi Perum Pegadaian Direksi Direktur Utama Direktur Operasi dan Pengembangan Direktur Keuangan Direktur Umum Subdit OPP SPI Subdit LB Subdit SP Subdit AP Subdit AK Subdit PB Kantor Daerah Kantor Cabang Subdit KP Subdit BG Subdit TURT Balai Diklat Keterangan : OPP = Operasi dan Pengembangan KP = Kepegawaian LB = Penelitian dan Pengembangan Operasi BG = Bangunan SP = Kesekretariatan Perusahaan TURT = Tata Usaha dan Rumah Tangga AP = Anggaran dan Permodalan AK = Akuntansi P = Perbendaharaan 4 Tanggal 25 November 1998. Bagan 1. Untuk meningkatkan profesionalitas pegawai Perum Pegadaian memiliki Balai Diklat yang langsung berada di bawah direksi. 58 diantaranya merupakan anak cabang (Ancab) yaitu cabang yang baru berdiri (biasanya kurang dari 2 tahun). direksi dibantu oleh 9 subdirektorat (subdit) yang masing-masing memiliki rincian tugas sesuai bidangnya (Lampiran 1).4 Struktur organisasi Perum Pegadaian ditunjukkan bagan 1.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 61 kantor pusat. Perum Pegadaian membentuk Subdit Teknologi Informasi berdasarkan Keputusan Direksi No. .2/41/10 sebagai upaya untuk meningkatkan sistem dan sarana pengawasan yang memadai. Kegiatan operasional Perum Pegadaian dilaksanakan melalui kantor-kantor cabang (Kanca) yang dikoordinasikan oleh kantor daerah (Kanda).

II. . d. c.1 Perbandingan Tipe Kantor Daerah Jabatan Ka Kanda Inspektur Daerah Kepala Seksi Pemeriksa Ka Sub Seksi Pemeriksa Pembantu Staf Pemeriksa Sumber : Perum Pegadaian Kanda Tipe A 1 1 4 2 12 3 2 Kanda Tipe B 1 0 2 1 8 3 0 Kanca Perum Pegadaian digolongkan menjadi 3 kelas.4%. per Juni 1998 jumlah Kanca Pegadaian di Pulau Jawa merupakan yang terbanyak yaitu 401 buah atau 64. Maret 1999 Kanda Perum Pegadaian terdiri dari dua tipe yaitu tipe A dan B. Berdasarkan keempat kriteria di atas. yang mencerminkan tingkat tanggung jawab penanganan/pengelolaan. 5 Jumlah total pemeriksa per Kanda sejak 1 Februari 1999 telah diperbanyak menjadi 6-7 orang. Formasi dan adanya pegawai Kanca (bobot nilai 20).62 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. jumlah Kanca untuk masing-masing kelas per Juni 1998 adalah : kelas I sebanyak 54. yang mencerminkan tingkat kemampuan penjualan produk (produktivitas). yaitu kelas I. Kanda tipe A memiliki struktur organisasi yang lebih lengkap dibandingkan Kanda tipe B karena besarnya jumlah Kanca yang dibawahinya. Ditinjau dari kuantitasnya. kelas II sebanyak 78 dan kelas III sebanyak 491. Tabel 2. yang diukur dari besarnya surplus (laba-rugi) cabang dalam satu periode akuntansi. dan III. Barang jaminan (bobot nilai 10). Perbandingan Kanda tipe A dan B dapat dilihat dalam tabel 2.1 5 . perawatan dan faktor risiko. Efisiensi (bobot nilai 40). yang mencerminkan tingkat efektivitas dan kemampuan pegawai sebagai sumber daya dalam menjalankan perusahaan. b. Seluruh kantor yang berstatus Ancab diklasifikasikan sebagai cabang kelas III. Omzet usaha (bobot nilai 40). Pembagian kelas masing-masing Kanca dilakukan berdasarkan tingkat efisiensi dan produktivitas yang diukur dari 4 faktor yaitu : a.

3 juta orang yang terdiri dari petani. 2. Hal ini terkait dengan fasilitas. menjadi sponsor kegiatan olahraga serta dengan layanan yang relatif mudah dan cepat. Konsumen sasaran Perum Pegadaian ini adalah seluruh lapisan masyarakat yang membutuhkan dana-dana jangka pendek. . Dalam memperkenalkan produk-produknya. Produk dan Pasar Produk-produk Perum Pegadaian yang sudah tersedia hingga saat ini meliputi empat jenis produk. Jasa gadai. Manajemen dan Instrumen Kebijakan Dalam menjalankan usahanya Perum Pegadaian melaksanakan fungsi-fungsi manajemen dan menetapkan kebijakan-kebijakan yang menjadi patokan bagi Kanda maupun Kanca. Berikut merupakan uraian tentang kebijakan-kebijakan dan fungsi pengawasan yang dilaksanakan oleh Perum Pegadaian. yaitu toko emas Pegadaian yang menjamin kualitas emas/perhiasan yang dijualnya. Hal ini berkaitan dengan salah satu upaya Perum Pegadaian untuk meningkatkan efisiensi. d. ketersediaan sumber daya manusia dan dana. Selama tahun 1997. pelaku industri. 2. Perum Pegadaian juga melakukan peningkatan kualitas karyawan yang terlihat dari meningkatnya jumlah karyawan yang berpendidikan S1 dan S2 dan berkurangnya karyawan yang berpendidikan SD sampai dengan D3. Perum Pegadaian telah berhasil melayani kebutuhan 5.817 pegawai tetap dan 1. media elektronis. yaitu : a.3. Galeri 24. pembukaan toko emas yang hingga September 1998 baru berjumlah 28 buah. nelayan. yang ditujukan untuk memberikan rasa aman kepada masyarakat atas barang-barang yang dimilikinya apabila akan bepergian dalam jangka waktu yang cukup lama. Misalnya.541 orang). Selain terjadi pengurangan jumlah. Tidak semua Kanca menyediakan keempat jenis produk tersebut. leaflet. Perum Pegadaian diantaranya menggunakan papan-papan reklame. Komposisi karyawan tetap menurut jenjang karir dan pendidikan dapat dilihat dalam lampiran 3. Jumlah karyawan tetap ini lebih rendah dari jumlah pada akhir 1996 (5. yang terdiri dari 4.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 63 Jumlah karyawan Perum Pegadaian hingga Oktober 1998 mencapai 6. yang ditujukan untuk memberikan keyakinan kepada masyarakat atas kualitas barang-barang perhiasan miliknya. merupakan jasa utama Pegadaian yaitu memberikan pinjaman kepada masyarakat berdasarkan hukum gadai. Jasa taksiran. c. pedagang dan lain-lain.2.426 pegawai tidak tetap. b. Jasa titipan.233 orang.

Bila terdapat nasabah yang ingin memperoleh kredit melebihi batas maksimum maka cabang tersebut harus meminta persetujuan dari Kanda.000). Hingga saat ini Perum Pegadaian telah menerbitkan 5 seri obligasi dengan nilai nominal keseluruhan Rp 425 miliar. penerbitan obligasi dan MTN. Biasanya batas maksimum kredit yang dapat diberikan oleh masing-masing cabang mencapai Rp 20 juta per SBK (Surat Bukti Kredit). Mengingat besarnya permintaan terhadap jasa gadai dari masyarakat.3. Kebijakan Pendanaan Dalam penyediaan dana bagi keperluan usahanya. 2.25 miliar dan dari saldo laba sebesar Rp 111. Golongan B (kredit .1. Perum Pegadaian memiliki beberapa sumber.85 miliar (per 30 September 1998). Penghimpunan dana hanya dapat dilakukan oleh kantor pusat. Besarnya jumlah dana yang diterima oleh masing-masing Kanda tersebut ditentukan berdasarkan hasil evaluasi perkembangan omzet selama 6 bulan terakhir dan dievaluasi setiap 3 bulan. Maret 1999 2.75 miliar (91. Kebijakan Penanaman Dana Penanaman dana Perum Pegadaian dilakukan dalam bentuk kredit. Sementara pinjaman dari bank pada posisi September 1998 mencapai Rp 321 miliar. Perum Pegadaian telah menerbitkan MTN sebanyak 4 kali dengan nilai nominal keseluruhan Rp 16. Untuk itu Perum Pegadaian mencari sumber-sumber pendanaan baru untuk menambah modal kerja melalui pinjaman bank. Dana yang telah dihimpun ini kemudian didistribusikan dari kantor pusat ke Kanca melalui masing-masing Kandanya. Dengan demikian Kanda dapat mengontrol secara langsung kebutuhan dana masing-masing Kancanya. Sejak Desember 1997.0 %) pada September 1998 (Lampiran 4).5 miliar.000-Rp 40.2. maka Kanca harus meminta tambahan dana kepada Kandanya masing-masing dan tidak diperkenankan untuk melakukan transfer langsung antarcabang. penyertaan modal pemerintah Rp 46. tetapi sejak 30 Juli 1998 batas maksimum kredit diturunkan menjadi Rp 5 juta per SBK. kredit yang diberikan dijamin dengan barang jaminan nasabah. deposito. Selain itu. Bila terjadi kekurangan dana.3. suratsurat berharga dan penyertaan di perusahaan lain. Sesuai dengan hukum gadai. maka modal tersebut tidak lagi mencukupi. Kredit kepada masyarakat merupakan porsi terbesar penanaman dana yang mencapai Rp 756. Sebagai sumber utama adalah modal awal Perum Pegadaian yang berjumlah Rp 205 miliar. sehingga Kanda dan Kanca hanya melaksanakan penanaman dana berdasarkan alokasi dana yang diberikan.64 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. pada bulan September 1998 Perum Pegadaian memperoleh pinjaman dari pemerintah berupa Rekening Dana Investasi (RDI) sebesar Rp 100 miliar dengan jangka waktu 3 tahun. Perum Pegadaian membagi pemberian kredit kepada nasabah menjadi empat golongan yaitu Golongan A (kredit Rp 5.

Cadangan umum yang dilakukan sampai cadangan mencapai sekurang-kurangnya dua kali lipat dari modal yang ditempatkan. Sokongan dan sumbangan ganti rugi. sesuai dengan PP No. Prosedur Kredit Dalam memberikan kredit. dari laba bersih yang diperoleh Perum Pegadaian. Sumbangan dana pensiun. 2. DPS yang menjadi hak negara wajib segera disetorkan ke Bendahara Umum Negara setelah Laporan Tahunan disahkan. Tabel selengkapnya dapat dilihat dalam lampiran 5.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 65 Rp 40. Perum Pegadaian memiliki mekanisme dan prosedur yang harus dilalui oleh nasabah. sisa dari keseluruhan penggunaan laba bersih di atas disetorkan sebagai Dana Pembangunan Semesta (DPS).000) dan Golongan D (kredit Rp 510.000-Rp 5.000-Rp 500. a. Sosial dan pendidikan. d. Sementara. Jika UP yang dapat diberikan melebihi kewenangannya. Berikut ini merupakan ilustrasi proses memperoleh kredit di Perum Pegadaian. dan uang pinjaman (UP) yang dapat diberikan berdasarkan plafon UP yang yang menjadi wewenangnya (Lampiran 6). 13/1998. Golongan C (kredit Rp 151. dan e. Jasa produksi. Jangka waktu kredit maksimum adalah 120 hari dengan bunga dihitung setiap 15 hari. Petugas penaksir memeriksa keadaan barang termasuk kelengkapan yang disyaratkan. Selain itu. c.000). 2.3. b. taksiran.500-Rp150. Jika besarnya UP yang telah diputuskan .3.000. penyusutan dan pengurangan yang wajar lainnya. maka harus diajukan dan disetujui oleh kepala Kanca selaku kuasa pemutus kredit (KPK). nasabah juga dikenakan biaya penitipan dan asuransi (PA) yang besarnya disesuaikan dengan jenis barang dan golongannya. Nasabah membawa barang jaminan Penaksir Kasir menerima kredit Nasabah Nasabah yang datang ke Pegadaian terlebih dulu menyerahkan barang-barang bergerak sebagai agunan kepada petugas penaksir yang disertai dengan identitas diri. Penaksir menetapkan harga pedoman standar.4.000). Kemudian 45% dari sisa penyisihan tersebut dialokasikan untuk lima hal berikut yang masing-masing persentase alokasinya ditetapkan oleh Menteri Keuangan.3. sebesar jumlah tertentu disisihkan untuk cadangan tujuan. Alokasi Laba Setelah diaudit.

Di samping itu. Dalam hal petugas gudang berhalangan sampai dengan 7 hari. Kamera harus disimpan dalam tempat tertutup (lemari kaca atau peti kayu yang tidak lembab) yang diberi penerangan cukup. besarnya taksiran dan UP. sedangkan yang mengelola barang gudang dan barang kain disebut pemegang gudang. SBK diserahkan kepada nasabah. dengan terlebih dahulu membayar biaya penyimpanan dan asuransi (PA) yang telah ditetapkan sesuai dengan besarnya UP dan jenis barang yang diagunkan. Pada SBK tersebut dimuat nama dan alamat nasabah. Maret 1999 oleh penaksir maupun KPK telah disepakati oleh nasabah. Selain petugas gudang dilarang untuk memasuki gudang tanpa mendapat izin dari petugas tersebut.3. Sedangkan barang jaminan yang tidak masuk di dalam kantong disebut dengan barang gudang dengan rubrik G. Pegawai yang bertanggung jawab (sesuai dengan SK penunjukan) atas pengelolaan gudang dan semua barang yang ada di dalamnya disebut petugas gudang. Tempat penyimpanan barang tersebut harus selalu dalam keadaan tertutup dan terkunci apabila tidak ada keperluan. Barang kantong ini disimpan dalam kamar emas (kluis/khasanah). Untuk barang-barang tertentu seperti kamera dan mobil mendapat perlakuan khusus. Pegawai yang menjadi petugas gudang mempunyai masa tugas maksimum selama 6 bulan. maka diterbitkan Surat Bukti Kredit (SBK) sesuai dengan golongannya. mobil juga harus dalam keadaan terkunci dan bila ada tutupnya (cover) digunakan dengan baik agar tidak kotor. maka petugas gudang tersebut dapat menunjuk dua orang pegawai lainnya sebagai pengganti sementara dan harus diberitahukan kepada kepala cabang. Mobil disimpan dalam tempat tertutup. tidak kena hujan dan panas. . saldo Buku Gudang ini dicocokkan dengan saldo Ikhtisar Kredit dan Pelunasan. petugas gudang lama tetap bertanggung jawab atas barang jaminan di dalam gudang. perhiasan atau barang-barang kecil lainnya yang masuk di dalam kantong disebut barang kantong dengan rubrik K. Nasabah mengambil UP pada kasir seperti yang tertera pada SBK. Untuk mengontrol kebenarannya. rubrik dan ribuan. Posedur tersebut dapat dilihat dalam lampiran 7. Barang emas. Petugas gudang yang mengelola barang kantong disebut penyimpan. Setelah ditandatangani nasabah dan penaksir/KPK. 2.66 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Barang masuk dan keluar selalu dicatat sehingga pada akhir hari dapat ditentukan saldo barang jaminan. Barang jenis ini disimpan di dalam gudang. Walaupun telah digantikan petugas sementara. keterangan barang jaminan. Untuk mencegah terjadinya kesalahan atau penyimpangan dalam pengelolaan gudang maka Perum Pegadaian membuat prosedur pemeriksaan barang jaminan. Sistem Pengelolaan Barang Jaminan Barang-barang jaminan yang diterima oleh Pegadaian ditatausahakan dalam suatu Buku Gudang yang diisi menurut golongan.5.

Perlakuan administrasi dan pembukuan terhadap BSL dapat dilihat dalam lampiran 8. Sedangkan mutasi antarcabang merupakan upaya penjualan di kantor cabang yang berada di daerah lain yang diyakini dapat terjual lebih cepat (Lampiran 9).6. untuk kanca-kanca yang lokasinya berdekatan tidak diizinkan untuk melaksanakan lelang pada hari dan tanggal yang bersamaan. setiap Kanda membuat suatu daftar ikhtisar lelang berdasarkan usulan dari masing-masing kanca-nya dengan memperhatikan : a. Uang yang akan dibayar oleh pembeli harus ditambah 9% untuk ongkos lelang dan 0. Barang-barang yang telah laku pada saat lelang harus dibayar tunai setelah lelang ditutup. c. Masing-masing kanca sedapat mungkin melaksanakan lelang pada hari dan tanggal yang sama setiap bulannya. Lelang dilaksanakan tidak pada hari libur.7%). Penundaan hari lelang ini harus diumumkan kepada masyarakat dan diberitahukan kepada Ka Kanda dan Inspektur Daerah.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 67 2. Untuk barang-barang jaminan yang telah ditaksir dengan wajar tetapi tidak laku dilelang disebut sebagai Barang Sisa Lelang (BSL). BSL dinilai berdasarkan harga pembeliannya yaitu sebesar harga jual minimal lelang tanpa tambahan biaya lelang (9. agar bisa dijadikan acuan oleh masyarakat.7% (tujuh permil) untuk dana sosial yang dihitung dari nilai lakunya lelang. Hal ini dilakukan dengan penjualan barang jaminan tersebut pada waktu yang telah ditentukan. Sebelum pelaksanaan lelang. Apabila di kemudian hari ternyata lelang tidak dapat dijalankan pada tanggal yang telah ditetapkan maka pelaksanaan lelang itu harus diundur pada hari berikutnya. media cetak dan elektronik.3. b. maka kelebihannya akan dikembalikan kepada nasabah tersebut. BSL ini ditetapkan menjadi aset perusahaan yang diakui dan dicatat sebagai transaksi mutasi aset dari Pinjaman Yang Diberikan (aktiva lancar) menjadi Aktiva Lainnya (aktiva tidak lancar). Media yang digunakan untuk mengumumkan tanggal lelang adalah melalui papan pengumuman di Kanca setempat. Cara penyelesaian BSL ini dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dijual di bawah tangan dan dimutasikan antarcabang. Tim Pelaksana Lelang akan mengawasi/memeriksa jumlah setoran uang jaminan dari masing-masing peserta/calon pembeli. Sistem Lelang Lelang merupakan upaya pengembalian uang pinjaman beserta sewa modalnya yang tidak dilunasi sampai batas waktu yang ditentukan. . Bila hasil lelang melebihi nilai kewajiban nasabah. pemberitahuan langsung oleh pegawai di loket dan pemberitahuan tertulis kepada pemilik barang dan Dinas Penerangan setempat (minimum 15 hari sebelum pelaksanaan). Lokasi kanca. Dalam bulan puasa lelang sedapat mungkin dilakukan sebelum lebaran. d. Penjualan di bawah tangan merupakan penjualan yang terbuka bagi siapa saja yang berminat dengan suatu patokan harga minimum tertentu. Untuk menentukan tanggal lelang.

yang berisi laporan rincian sisa uang pinjaman dan perhitungan sewa modal. yang berisi rekapitulasi dari laporan bulanan ditambah laporan mutasi aktiva serta laporan surplus usaha. Selain kewajiban mengirimkan laporan ke kantor pusat. Laporan tahunan. Tugas SPI tersebut adalah melakukan pengawasan dan pemeriksaan terhadap jalannya kegiatan perusahaan. . Jenis-jenis laporan operasional yang dibuat oleh Kanca yang harus dikirimkan ke Kanda adalah berbentuk : a. kewajiban atasan untuk mengawasi c. mutasi aktiva yang disisihkan. Tujuan pembuatan laporan operasional ini adalah untuk menyediakan informasi tentang perkembangan operasional kepada manajemen sebagai dasar untuk pengambilan keputusan lebih lanjut pembinaan Kanca. yang berisi perkembangan penyaluran kredit dan barang jaminan yang tercantum dalam laporan mingguan keuangan yang dikirimkan ke Kanda b. rincian sisa uang pinjaman. ikhtisar barang sisa lelang.68 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Sejak tahun 1993 audit terhadap laporan keuangan Perum Pegadaian dilakukan oleh akuntan publik. Laporan mingguan. penerimaan sewa modal dan biaya PA. bulanan dan tahunan. Kelayakan laporan keuangan Perum Pegadaian setiap tahun diperiksa oleh pihak eksternal. pemeriksaan atas laporan keuangan Perum Pegadaian dilakukan oleh BPKP. barang jaminan yang tidak ditebus/dilelang/barang polisi. Sementara. Laporan operasional adalah laporan tentang perkembangan operasional Kanca yang meliputi laporan mingguan.7. teknik serta metode dalam menjalankan fungsi pengawasan. Laporan-laporan yang dibuat oleh masing-masing Kanca tersebut di atas kemudian dikonsolidasikan oleh Kanda sebelum dikirimkan ke kantor pusat. pemeriksaan merupakan bagian dari fungsi pengawasan yaitu tindakan secara fisik. yang berisi laporan tentang : perkembangan usaha. Laporan bulanan. Sebelumnya. dan perhitungan surplus operasi. Pengawasan ditujukan untuk meyakinkan apakah kegiatan perusahaan telah dilaksanakan sesusai dengan rencana yang ditetapkan. Laporan semester. sisa uang kelebihan. Di kantor pusat laporanlaporan dari seluruh Kanda dikumpulkan sehingga dapat dibuat suatu laporan keuangan konsolidasi secara nasional yang diaudit setiap tahun. Hal ini dilakukan karena Perum Pegadaian telah melakukan go public dengan menerbitkan obligasi. Aspek-aspek yang dilihat dalam melakukan pemeriksaan oleh SPI mencakup tiga hal yaitu sistem dan prosedur yang menyangkut kendali. d. Sistem Pelaporan dan Auditing Setiap Kanca Pegadaian harus membuat laporan operasional rutin secara berkala.3. masing-masing Kanca dan Kanda Perum Pegadaian secara internal juga diperiksa oleh SPI. Maret 1999 2. rincian data nasabah dan kredit menurut profesi.

Berdasarkan perbandingan antara jumlah Kanca (633 kantor). III. (ii) Irwil II mengawasi kanda VI – X.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 69 bawahan (waskat) dan aparat pengawasan fungsional. sesuatu yang diatur secara umum yang diakui dan sesuatu yang diatur oleh ketentuan perusahaan. Sementara itu. Dalam melaksanakan tugasnya SPI dipimpin oleh seorang kepala yang bertanggung jawab langsung kepada Direktur Utama. Tugas Irda adalah mengawasi kanca-kanca di bawahnya dengan frekwensi 1– 4 kali pemeriksaan dalam satu tahun. Sebagai gambaran setiap kanda di pulau Jawa rata-rata membawahi lebih dari 50 Kanca. Rentang kendali yang terlalu luas yang belum ditunjang dengan saluran komunikasi yang memadai (canggih) sangat tidak menunjang efektivitas pemantauan kinerja kantor-kantor cabang. mempunyai jaringan kerja yang luas sampai ke daerah-daerah.2 kali setahun. frekwensi pemeriksaan serta jumlah tenaga pemeriksa di masing-masing Kanda. Kanda (14 kantor). SPI tersebut dibagi menjadi 3 Inspektorat Wilayah (Irwil). dan (iii) Irwil III mengawasi kanda XI – XIV. PENDEKATAN TEORITIS 3. serta bisa menyebabkan timbulnya berbagai penyimpangan seperti yang tercantum dalam lampiran 10. Kanda-kanda lainnya di luar Jawa harus membawahi kanca-kanca yang secara geografis terlalu jauh.1 Pembiayaan Kredit Pedesaan Untuk memahami pegadaian terutama sebagai salah satu alternatif pembiayaan bagi usaha/nasabah kecil perlu dilakukan pendekatan yang mempunyai relevansi dengan kegiatan operasi lembaga keuangan baik formal maupun informal yang telah ada di masyarakat dalam penyaluran kredit. serta mempunyai nasabah . Di setiap Kanda terdapat Inspektorat Daerah (Irda) yang dipimpin oleh orang kedua di kanda yang bersangkutan dengan tenaga pemeriksa berjumlah 4-5 orang. Dalam melakukan pemeriksaan seorang pemeriksa harus bersifat objektif dan independen karena pertanggungjawabannya langsung kepada direksi. yaitu : (i) Irwil I mengawasi kanda I – V. Mengingat karakteristik Perum Pegadaian sebagai lembaga keuangan formal yang memberikan pinjaman berjangka pendek dalam skala kecil dengan sistem gadai. menunjukkan terlalu luasnya rentang kendali Kanda terhadap kanca-kanca yang ada di bawah koordinasinya. Tenaga pemeriksa di masing-masing Irwil rata-rata sejumlah 4 orang yang bertugas melakukan pemeriksaan terhadap setiap kanda dengan frekwensi 1 . tidak melakukan penghimpunan dana seperti layaknya bank. Tolok ukur yang dipakai dalam melakukan pemeriksaan adalah membandingkan antara kondisi sebenarnya (fakta) dengan yang seharusnya (kriteria). Kondisi yang seharusnya merupakan sesuatu yang ditetapkan oleh peraturan/ketentuan pemerintah.

Dalam teori ini dijelaskan karakteristik lembaga keuangan formal seperti Bank Perkreditan Rakyat. teori Farm Finance (FF) dan Teori Rural Financial Market (RFM). Teori RFM yang bertumpu pada mekanisme pasar berpendapat bahwa pembiayaan/kredit pedesaan merupakan proses intermediasi dimana financial assets dan debts di relokasi diantara pelaku-pelaku ekonomi di pedesaan. Beberapa pendekatan yang dapat digunakan untuk analisis tersebut antara lain Teori Rural Financial Intermediation (RFI). kredit di pedesaan dapat disediakan oleh lembaga keuangan formal maupun pasar informal. Kredit pedesaan pada dasarnya dapat diperoleh dari sumber informal dan formal. Di dalam pasar terdapat beberapa kreditur namun seorang debitur punya akses yang sangat terbatas. USA. Sebagian besar pinjaman relatif kecil jumlahnya. dan pemberian kredit tersebut lebih didasarkan pada unsur kepercayaan. maka perlu dilakukan analisis tterhadap posisi dan keterkaitan Perum Pegadaian dengan lembaga lainnya. sedangkan teori FF berpendapat perlu adanya external funds (dana pihak luar) untuk membiayai kegiatan-kegiatan produktif di pedesaan. proses penyediaan sederhana. Pasar informal tersebut ada di dalam masyarakat namun tidak diatur oleh pemerintah. Pasar kredit pedesaan informal biasanya bersifat quasimonopolistik.70 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. 1992 .1. teori RFM berpendapat bahwa pedesaan memiliki kemampuan/resources untuk membiayai kegiatan-kegiatan produktif yang berlangsung di pedesaan. cepat. Teori RFI menjelaskan keterkaitan antara lembaga keuangan formal dan informal dalam pasar keuangan pedesaan.6 Sedangkan untuk melihat sumber dana untuk kredit pedesaan dikenal dua teori. yaitu Farm Finance dan teori Rural Financial Market yang dikembangkan oleh Department of Agricultural Economics and Rural Sociology. S “ Rural Financial Intermediation : Lessons From Indonesia. Maret 1999 mayoritas masyarakat berpenghasilan rendah yang sulit untuk akses ke perbankan serta jaringan kerja hingga ke daerah-daerah. BRI Unit Desa. untuk penghimpunan dana di pedesaan lebih banyak melalui lembaga formal. lembaga kredit formal dan informal serta struktur pasar kredit pedesaan untuk masing-masing lembaga keuangan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut : 3. Ohio State University. Sementara itu. Berdasarkan ketiga pendekatan tersebut. Ketergantungan seorang debitur terhadap kreditur sangat tinggi.1 Lembaga Kredit Informal Sebagaimana dikemukakan. Seorang kreditur hanya melayani sejumlah kecil peminjam yang sudah dikenal baik dan berisiko rendah. 6 Robinson. koperasi dan pegadaian serta pasar kredit informal di pedesaan (rentenir atau pelepas uang komersial). berjangka waktu pendek. Dengan kata lain.

Alasan utamanya adalah terlalu berisiko untuk melakukan ekspansi ke luar pasar tradisonalnya. 8 Germidis. Hal ini terjadi karena antara satu kreditur dengan kreditur lainnya dalam satu wilayah umumnya punya ikatan yang erat. setiap kreditur dapat memelihara ‘kesetiaan’ debiturnya. market interlinkages. sehingga risiko tidak terbayarnya pinjaman yang diberikan kepada nasabah dapat ditekan serendah mungkin. 7 Ibid. Kessler “ Financial Systems and Development : What Role for the Formal and Informal Financial Sectors ? (1991). Dengan kondisi tersebut. Kreditur pada umumnya berkeberatan apabila nasabahnya meminjam kepada kreditur informal lainnya karena khawatir ikatan bisnis lainnya juga akan berpindah sehingga dapat melakukan pembalasan di kemudian hari. Kessler. Caranya antara lain dengan hanya memberikan kredit kepada orang-orang yang berkaitan dengan jaringan bisnisnya seperti sistem ijon dan yang mempunyai aliran politik yang sama. seperti India dan Philipina sebagaimana dikemukakan oleh Germidis. . suku bunga dapat dipertahankan tinggi lebih-lebih jika di wilayah tersebut tidak terdapat lembaga perkreditan formal. bagi kreditur yang sudah lebih kaya dan memiliki status sosial yang tinggi melakukan diversifikasi investasi dianggap lebih menguntungkan dibandingkan dengan hasil yang diperoleh dari kredit dalam skala kecil. Dengan praktek tersebut.7 Kreditur cenderung tidak tertarik untuk meningkatkan market share. Menurut penelitian Robinson. etc “.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 71 Terjadinya pasar yang bersifat quasi-monopolistik dimungkinkan oleh kecenderungan setiap kreditur untuk membatasi jumlah nasabah yang dilayani dan berupaya menjaga portofolio pinjamannya sedemikian rupa. information flows. financial channels and market shares of lenders are inextricably related to local distribution of wealth and power. suku bunga berkisar antara 2 sampai 10 kali dari tingkat bunga bank. hal 81. Fenomena ini terjadi di beberapa negara berkembang. and Meghir bahwa 8 : “Informal commercial credit forms parts of the local political economy. Sebaliknya. Selain itu. political alliances. Terdapat pula kecenderungan para kreditur untuk memberikan kredit yang lebih besar kepada pejabat lokal serta rekan bisnis dengan tujuan menjaga hubungan baik agar diberi kesempatan memperoleh akses yang lebih luas bagi kepentingan politik dan/atau bisnisnya. Suku bunga kredit dalam pasar informal sangat bervariasi. Mereka tidak mau bersaing karena justru akan menurunkan keuntungan masing-masing. terdapat kecenderungan debitur untuk hanya setia kepada satu debitur karena khawatir akan memperoleh kesulitan di kemudian hari. Tingginya suku bunga tersebut disebabkan adanya quasi-monopolistic many-lender credit market.

Sebagai contoh. lembaga formal pada umumnya dapat mempelajari karakteristik pasar keuangan pedesaan dan memperoleh informasi terpercaya mengenai nasabah potensial melalui stafnya yang profesional. meskipun ada kemungkinan mereka masih memerlukan dana dari kredit informal sebagai tambahan. karena berspesialisasi pada kegiatan perkreditan. . seseorang yang tidak memiliki agunan dapat datang ke kreditur informal untuk meminjam uang. Persyaratan tersebut berkaitan dengan perlunya lembaga keuangan dikelola secara baik. Tidak tertutup kemungkinan. Bahkan di beberapa tempat dianggap sebagai rekan kerja. Di samping itu. Kreditur informal yang kekurangan dana dapat meminjam dari bank dan lembaga kredit formal lainnya untuk kemudian disalurkan ke nasabahnya.2 Lembaga Kredit Formal Lembaga keuangan formal dapat juga memasuki pasar keuangan pedesaan dengan perspektif perhitungan jangka panjang bila didukung beberapa persyaratan. terpercaya. dan berlokasi strategis. Sementara itu. Maret 1999 3. Perlu dikemukakan bahwa jika lembaga kredit formal dapat memberikan pelayanan yang baik dengan beban bunga yang lebih rendah maka sebagian masyarakat desa yang sebelumnya bergantung kepada kreditur informal akan beralih ke lembaga formal. Hal ini terjadi karena lembaga kredit formal dapat memanfaatkan ‘economies of scale’ sehingga dapat menjalankan kegiatannya dengan biaya yang relatif murah. seorang kreditur informal akan mendorong nasabahnya untuk meminta kredit ke lembaga formal jika memerlukan dana yang relatif besar. hal tersebut tidak terlalu mengganggu karena mereka masih tetap memiliki pangsa pasar yang aman. Suku bunga yang lebih rendah tersebut akan meningkatkan permintaan kredit yang akan menyebabkan biaya operasi per unit menjadi lebih murah. Dengan biaya yang murah tersebut maka lembaga formal dapat menawarkan suku bunga rendah untuk menarik nasabah. bagi mereka yang tidak memenuhi syarat untuk memperoleh dana dari lembaga formal disebabkan tidak memiliki agunan ataupun sebab lainnya akan tetap bergantung pada kreditur informal. Disamping itu. Bagi kreditur informal. Suku bunga pada lembaga kredit formal pada umumnya lebih rendah dibandingkan dengan suku bunga kreditur informal. Kemudahan bagi lembaga formal dalam memasuki pasar tersebut selain dilindungi hukum. untuk menunjang berlangsungnya kegiatan operasi lembaga keuangan tersebut harus mampu menyalurkan kredit dalam jumlah yang cukup dan bersumber dari penghimpunan dana dengan spread yang cukup menguntungkan. lembaga formal tidak dianggap sebagai pesaing oleh kreditur informal. Disamping itu.72 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.1. aman. lembaga formal tidak dicurigai akan merebut kekuasaan para kreditur informal yang pada umumnya juga memiliki kaitan usaha di sektor riil atas nasabahnya.

Informasi yang diperoleh dari hasil studi lapangan hanyalah mengenai besarnya suku bunga yang dikenakan rentenir dan toko emas pada umumnya sangat tinggi berkisar 10% – 20% per bulan.4 triliun dan kredit yang diberikan sebesar Rp 1. toko emas dan pegadaian gelap. Sebagian besar BPR (1. Di daerah-daerah di mana terdapat kantor Perum Pegadaian. Sedangkan jumlah BRI UDes sebanyak 3. . Temuan ini sesuai dengan teori RFM bahwa pada dasarnya masyarakat pedesaan juga mampu menabung dan masuknya dana pihak luar justru akan menghambat perkembangan pasar keuangan pedesaan. Hasil penelitian tersebut sejalan dengan hasil penelitian Robinson dengan mempergunakan teori RFI (dijelaskan pada bagian III).558 BPR non BKD dengan total aset sebesar Rp 2. Bank Perkreditan Rakyat (BPR). toko emas yang memberikan pinjaman dengan sistem gadai serta pegadaian gelap.9 Pada dasarnya antar lembaga-lembaga tersebut tidak saling bersaing karena masing-masing sudah mempunyai pangsa pasar tersendiri. Disamping itu juga terdapat beberapa lembaga informal yang berperan dalam memberikan pinjaman kepada masyarakat antara lain pelepas uang (rentenir). Studi lapangan menunjukkan bahwa pada dasarnya masing-masing Kantor Daerah mempunyai potensi untuk menghimpun dana sendiri yang berasal dari potensi daerah setempat. Koperasi Simpan Pinjam (Kosipa). dan BRI Unit Desa. 1 0 Sampai dengan September 1998 di seluruh Indonesia terdapat sebanyak 1.10 Dalam 9 Data akurat mengenai potensi lembaga informal pemberi pinjaman sulit untuk diperoleh. Sementara itu dari temuan penelitian CPIS (pada periode 1982-1990) koperasi simpan pinjam mengenakan suku bunga antara 20% . Persaingan tidak terjadi karena nasabah masing-masing lembaga keuangan tersebut mempunyai karakteristik khusus yang menentukan preferensi mereka untuk menjadi nasabah lembaga keuangan tertentu (struktur pasar bersifat quasi-monopolistik).Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 73 IV. diperoleh temuan bahwa antara Perum Pegadaian dengan lembaga-lembaga keuangan formal dan informal lainnya yang ada di masyarakat tidak saling bersaing meskipun mempunyai segmen pasar yang hampir sama. pangsa pasar kredit pedesaan yang dapat dikuasai oleh Perum Pegadaian diperkirakan berkisar 40% .7 triliun.706 kantor. Kebijakan penghimpunan dan penyaluran dana serta sistem manajemen pendanaan yang sentralistik seperti diterapkan Perum Pegadaian. Mengacu pada teori tersebut. Lembaga lain yang juga mempunyai potensi besar untuk menjadi pesaing Perum Pegadaian adalah Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dan BRI Unit Desa (BRI UDes). Namun kebijakan tersebut pada beberapa aspek justru menghambat perkembangan Perum Pegadaian terutama pada saat terjadinya kekurangan likuiditas.142 buah) berada di pulau Jawa (persebaran jumlah BPR terbanyak berada di wilayah Jawa Timur sebanyak 362 BPR. nampaknya sesuai dengan teori FF. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Pada pasar kredit pedesaan di Indonesia dapat diidentifikasikan beberapa lembaga formal yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat khususnya golongan ekonomi lemah adalah Perum Pegadaian. kemudian Jabotabek sebanyak 345 BPR) dan yang paling sedikit berada di wilayah Kalimantan (22 BPR). bahkan dapat dikatakan saling melengkapi sesuai dengan kondisi masyarakat.40% per bulan.60% dibandingkan dengan rentenir.

terutama sejak terjadinya krisis ekonomi pada pertengahan tahun 1997. Pemilihan ini berdasarkan ketersediaan data BPR dan BRI Unit Desa (BRI UDes). 4. sementara untuk institusi lain dan lembaga kredit informal tidak diperoleh data akurat. lonjakan omset terutama dialami oleh Kantor Daerah Jakarta. Ujung Pandang.3 triliun dengan pencapaian target sebesar 87.1 Kinerja Operasional Omset 11 Peran Perum Pegadaian dalam memberikan pinjaman kepada masyarakat berpendapatan rendah menunjukkan perkembangan yang cukup pesat. Grafik 1. . Medan.1. kinerja Perum Pegadaian akan dibandingkan dengan BPR dan BRI UDes (untuk beberapa rasio keuangan) untuk memperoleh gambaran mengenai peranan Perum Pegadaian dalam pemberdayaan ekonomi rakyat dibandingkan dengan institusi kredit lainnya. Bandung dan Yogyakarta. Namun lonjakan omset yang terjadi pada Juni 1998 selanjutnya untuk bulan Agustus dan September mengalami penurunan terutama sebagai dampak dihentikannya fasilitas overdraft di BRI pada pertengahan Agustus.1 Hasil Studi Lapangan 4.74 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.9%. Untuk masing-masing wilayah. Perkembangan Omset Perum Pegadaian Rp miliar 2500 2000 1500 1000 500 0 1994 1995 1996 1997 Triw III/ 1998 Jan Feb Mar Apr Mei 1998 Jun Jul Agst Sept 1 1 Omset : adalah jumlah/nilai pinjaman yang diberikan dalam suatu periode tertentu (konsep flow). Maret 1999 analisis selanjutnya.1). atau meningkat 11% dibandingkan dengan realisasi omset tahun 1997 (Tabel 4. Sampai dengan 30 September 1998 omset Perum Pegadaian telah mencapai Rp 2. dan Balikpapan) mencatat perkembangan yang kurang memuaskan. sementara beberapa Kantor Daerah (Padang.

Tabel 4. Perkembangan Omzet Perum Pegadaian 1998 Gol.5 35.20.000 – Rp 40.000 B = Rp 40.5 22.6 50.00 .3% (1998).9 31.4% (tahun 1997) menjadi 50.4 16.8 22.6 32.1).000 .9 5. Sementara itu. dan Gol. .000.3 5.925.Rp 40.4 475.0 2. diolah. Jan .4 709.3% (tahun 1998 s.Rp 150.4 645. dengan alasan bahwa selama ini Perum Pegadaian telah memberikan subsidi kepada golongan nasabah mikro.4 100.5 951.7 100.000.5 100. Fenomena dominasi pinjaman oleh golongan D juga terlihat di setiap kantor daerah yang diteliti kecuali untuk Kantor Daerah Bandung dimana pinjaman didominasi oleh golongan C. E = pinjaman kepada pegawai Perum Pegadaian 1 2 Perum Pegadaian menetapkan 5 macam golongan nasabah berdasarkan besarnya plafon pinjaman sebagai berikut: Gol.9% dan 27.4 439.2 1.7 739. Gol. melalui peningkatan kualitas barang jaminan serta meningkatkan porsi nasabah golongan D (proyeksi tahun 1998).5 1997 Des.000.1 25.8 256.500.0 6.7 679.3 437. Nominal 184. Gol. C = Rp 151.0 2.9 1.000 D = Rp 510.000 .5 8.000 – 500.2 8.3 0.000 – 20.000 Sumber : Perum Pegadaian. Nasabah 1996 Des.5 10. Pergeseran dari nasabah mikro ke nasabah besar tersebut terutama merupakan dampak dari : (i) Kebijakan Perum Pegadaian untuk meningkatkan laba.5 14.2 0.2 317.4 0. Kebijakan untuk meningkatkan keuntungan dengan mengurangi porsi pemberian pinjaman kepada nasabah mikro tersebut kurang sejalan dengan misi Perum Pegadaian untuk lebih memihak kepada nasabah mikro.0 13.0 2.317.000 .9 100. Nominal % Nominal % 80.000 – Rp 150.5 31. B = Rp 40.0 (miliar rupiah) % A B C D E 10.723.0 8. Gol. sehingga dengan barang jaminan yang sama nasabah golongan A dan B bisa mendapatkan pinjaman yang lebih besar.000.8 666. Dengan demikian kebijakan pembiayaan Perum Pegadaian telah bergeser ke arah nasabah dengan nilai pinjaman yang lebih besar.7 100. D = Rp 510. E = pegawai Perum Pegadaian.5 1. Keterangan : A = Rp 5.8 35.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 75 Lonjakan kenaikan omset tersebut ternyata tidak diikuti dengan meningkatnya aspek pemerataan.9 31. (ii) Kenaikan harga barang jaminan sejalan dengan kenaikan harga barang jaminan khususnya emas.000 .7 30.6% (1997) menjadi 41.000.4% dan 24.4 545. Kecenderungan pergeseran orientasi pembiayaan Perum Pegadaian ke arah nasabah besar juga terlihat pada menurunnya porsi nasabah golongan A dan B masing-masing dari 43.1.0 Realisasi Jan .035.0 C = Rp 151. A = Rp 5.9 0.0 226.000. Alokasi pinjaman untuk golongan D12 melonjak sehingga porsinya meningkat dari 35.397.0 0.166.Sept.0 46. B dan C semakin berkurang (Tabel 4. Nominal % Proyeksi Nominal % 8.Jun.4 1.d September).8 32.9 547. porsi golongan A.088.7 115.7 183.

3%). Maret 1999 Jangka waktu peminjaman rata-rata dalam tahun 1998 adalah 89 hari yang berarti lebih singkat dibandingkan dengan tahun 1997. Dari segi persebaran nasabah.6 juta orang. Berdasarkan Kandanya. yaitu 68 hari. .3%. terdapat kesamaan antara Perum Pegadaian dengan BPR dimana baik untuk Perum Pegadaian dan BPR sebagian besar nasabah terkonsentrasi di wilayah Jawa (masing-masing 70% dan 57%). Lonjakan jumlah nasabah dari posisi Mei ke Juni 1998 tersebut diduga merupakan dampak krisis ekonomi sehingga akses masyarakat untuk dapat memperoleh kredit dari perbankan semakin sulit. yaitu 95. meskipun masih lebih banyak jika dibandingkan periode yang sama tahun 1997.76 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. peningkatan jumlah nasabah terbesar terjadi pada Kanda Surabaya (243. Lonjakan nasabah Perum Pegadaian yang sangat besar terjadi sejak bulan Juni 1998 dengan rata-rata per bulan di atas 1 juta nasabah dibandingkan bulan-bulan sebelumnya (Januari s.d Mei 1998) sekitar 400 ribu nasabah. Jumlah nasabah yang mampu diraih Perum Pegadaian tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan dengan jumlah nasabah yang mampu diraih BPR (4.7%) dan terendah pada Kanda Malang (2. sedangkan jumlah nasabah yang paling sedikit terdapat di wilayah Kalimantan masingmasing 2. jumlah nasabah Perum Pegadaian juga mengalami lonjakan tajam khususnya pada bulan Juni 1998 sehingga sampai dengan 30 September 1998 jumlah nasabah yang dapat diraih mencapai 6.8% dan 2. Faktor lain yang menyebabkan lonjakan jumlah nasabah tersebut menurut Perum Pegadaian adalah “peak season” tahun ajaran baru serta meningkatnya gangguan keamanan. Penurunan tersebut juga disebabkan oleh meningkatnya harga barang jaminan khususnya emas.7 hari. sehingga mendorong penebusan oleh nasabah terutama dengan barang jaminan emas untuk dijual ke pasar. Lonjakan nasabah sepanjang tahun 1998 tersebut sangat signifikan jika dibandingkan dengan perkembangan nasabah pada bulan yang sama tahun 1997 (Grafik 2). Golongan D meminjam dalam jangka waktu paling lama.2 juta nasabah). sementara itu golongan B meminjam dalam jangka waktu paling singkat. Jumlah Nasabah Sejalan dengan lonjakan omset. Namun seiring dengan berkurangnya kemampuan Perum Pegadaian dalam memberikan pinjaman kepada masyarakat maka jumlah nasabah pada Juli s.d September menunjukkan kecenderungan menurun. mulai banyaknya perusahaan yang melakukan PHK terhadap karyawan dan meningkatnya harga emas.

200 1.1 100. mayoritas nasabah Perum Pegadaian (40.734.9 1.638.Rp 150. Komposisi Jumlah Nasabah Menurut Golongan dan Profesi 1997 Jml.9 Nelayan 405.9 5.2). (ribu) 2.0 1.3 6.0 Lain-lain 1.000 E = pinjaman kepada pegawai Perum Pegadaian .9 27.20.1 *) : s.000 .6 430.7 6.621.000.400 1.1 Pedagang 1.463.265.7%) berprofesi sebagai petani.7 1.1 1998 Jml.032.7 *) % 40.5 682.3 10.500.4 12.d September A = Rp 5.1 635.2. Nsb.0 8.0 1997 1998 Profesi Jml. Dibandingkan dengan tahun 1997.7 *) % 30. Jml.458.6 6.0 13.305. (ribu) (ribu) % Petani 1.4 Karyawan 449.0 0.000 .621.000 D = Rp 510.3 23.3 23.0 Sumber : Perum Pegadaian. Nsb.305.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 77 Grafik 2.0 0. Meningkatnya jumlah nasabah yang berprofesi sebagai karyawan (berdasarkan kartu identitas/KTP) merupakan indikasi dari meningkatnya jumlah karyawan yang terkena PHK.000 .8 1.000 800 600 400 200 0 (ribu) 1997 1998 Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sep Okt Nop Des Berdasarkan golongannya.6 16.2 30.221.5 5.05 100.612.000 Gol.9 2.1 331.4 3. C = Rp 151.331.Rp 40.1 3.3 26. (ribu) 2.000 B = Rp 40. Nasabah A B C D E Jumlah Keterangan : % 43.9 864.5 1. Sementara dari profesinya mayoritas nasabah (30.682.5%) pada tahun 1998 berasal dari golongan A.7 7.4 22.0 6.0 21. Nsb. Nsb.5 24.2 871.4 Industri 325.2 100.9 5. diolah.410. Tabel 4. Perkembangan Jumlah Nasabah 1. terlihat adanya pergeseran komposisi jumlah nasabah menurut golongan dan meningkatnya jumlah nasabah dengan profesi sebagai karyawan (Tabel 4.000 .

biaya pengobatan.3 miliar (0.810 potong (1.3% (1998) tertinggi dibandingkan dengan golongan lain. perajin mebel. pinjaman yang digolongkan sebagai kredit macet di BPR (per 30 Juni 1998) mencapai Rp 253 miliar (15 % dari total kredit yang diberikan). pembayaran upah karyawan. Sementara itu. Menurut masing-masing golongan nasabah.7% omset) atau senilai Rp 11.5% dari omset atau 1. Jika dibandingkan dengan volume dan nilai lelang sampai sebelum krisis (1997). rasio tersebut menurun jika dibandingkan dengan tahun 1997 (1. Sedangkan rasio terendah adalah golongan D yaitu sebesar 0.1% dari sisa uang pinjaman). dan keperluan keluarga lainnya. dengan menjual barang jaminan kepada masyarakat umum pada waktu yang telah ditentukan. 1 3 Lelang merupakan upaya pengembalian uang pinjaman beserta sewa modal yang tidak dilunasi atau pinjamannya tidak diperpanjang (roll over) oleh nasabah sampai batas waktu yang ditentukan. Penggunaan yang bersifat produktif antara lain modal kerja bagi petani dan pedagang.8%. dan lain-lain. Maret 1999 Penggunaan dana pinjaman oleh nasabah sangat bervariasi baik untuk tujuan konsumtif maupun produktif.0% dari omset dan 4. Lelang 13 Barang jaminan yang dilelang sampai dengan 30 September 1998 adalah sebanyak 261. sedangkan kredit macet di BRI UDes (per 30 September 1998) mencapai Rp 22. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa krisis ekonomi sangat dirasakan dampaknya khususnya oleh nasabah mikro dengan semakin meningkatnya nilai pinjaman yang tidak dilunasi oleh golongan tersebut. maka telah terjadi penurunan jumlah dan nilai barang yang dilelang masing-masing sebesar 36. namun jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan kredit macet di BPR. .5%).5% dari total kredit yang diberikan). biaya sekolah.7% dan 47.1 miliar (0. usaha catering.1%. Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa nasabah diperoleh informasi bahwa sebagian besar dana pinjaman pegadaian dipergunakan untuk tujuan produktif (profil nasabah dikemukakan pada “persepsi masyarakat”). Kebutuhan konsumtif yang dapat dipenuhi dari pegadaian antara lain pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Perbandingan kualitas pinjaman yang diberikan tersebut menunjukkan persentase kredit macet di Perum Pegadaian lebih besar dibandingkan dengan BRI UDes (0.2% (1997) menjadi 2. rasio nilai lelang terhadap total kredit untuk golongan A meningkat dari 2.78 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. usaha yang bersifat pesanan seperti kontraktor skala kecil.5% dari sisa uang pinjaman).

khususnya DKI & Jawa Barat sebesar Rp 6.6 2.5 b) 2. Untuk tahun 1998.8 227.14% total kredit atau 29.1% total kredit atau 0.6% total kredit macet). Perlu dikemukakan bahwa lelang barang jaminan yang dilakukan Perum Pegadaian pada dasarnya bukan merupakan kerugian bagi Perum Pegadaian karena sesuai dengan hukum gadai.0 197.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 79 Tabel 4.5 miliar (0. Perbandingan kualitas pinjaman ketiga lembaga tersebut menunjukkan kesamaan wilayah kerja yang mempunyai jumlah kredit macet terbesar yaitu di wilayah Jawa. 4.5 3. lelang terbanyak dilakukan oleh Kanda Yogyakarta (38.010 50.309.0 1.2 1.813 25.6% total kredit macet).6 0.278 21. Irian Jaya dan Timor Timur) sebesar 0.14 1 4 Sebagai contoh turunnya harga barang jaminan adalah turunnya harga emas secara drastis di bulan November hingga mencapai 60% dari harga bulan Juni 1998.5 1.914 98. sebagian besar terdapat di wilayah Jawa dan paling sedikit di wilayah Bali (termasuk NTT dan NTB). Sedangkan volume kredit macet paling kecil terdapat di wilayah Sulawesi (termasuk Maluku. Untuk wilayah Bali (termasuk NTT dan NTB) kredit macet sebesar Rp 794 juta (0.3 1. kecuali dalam kasus tertentu dimana terjadi penurunan harga barang jaminan yang sangat besar.9 750.504 3.6 2.0 TO TA L 413.3 317.3 a) : rasio lelang thd om set b) : rasio lelangthd sisauang pinjam an Pada periode Januari s. Perkembangan Lelang Barang Jaminan G ol.6 miliar (0. khususnya di Jabotabek sebesar Rp 73.4 1. kredit macet di wilayah Jawa sebesar Rp 12.047 3.810 11. Jam inan N S isaU P R A B C D 285.02% total kredit atau 3.2 475.0 1. 1997 *) **) ***) a) b) *) N asabah B asio(% ) R ilai O m set asio(% ) B rg. Jam inan rg.7 juta). diolah.801 12.7 115.5 2.9% dari total kredit macet.9 78.1 261.3. barang jaminan yang dilelang merupakan barang bergerak serta hasil lelang selalu dapat menutup nilai pinjaman ditambah bunga dan biaya administrasi.7 183.7 Keterangan : *) potong **) : nilai barang yang dilelang (m iliar rupiah) ***) : om set pinjam an (m iliar rupiah) S um ber : P erumPegadaian.8 ribu potong) sedangkan yang paling sedikit dilakukan oleh Kanda Balikpapan (3 ribu potong).9 1.8 2. .3% total kredit atau 29% total kredit macet).3 0. Sedangkan kredit macet di BRI UDes baik sebelum maupun sesudah krisis.403 1.9 7.7 4.077.9 679.4 0.5 a) R asio(% ) 7.d September 1998.0 48.7 6.9 408. kredit macet BPR sebagian besar terdapat di wilayah Jawa yang mencapai 58% total kredit macet. Sementara nilai lelang terbesar terdapat di Kanda Jakarta (Rp 2 miliar) dan yang paling sedikit di Kanda Balikpapan (Rp 289.9 3.1 0.5 739.6 521.2 3.0 8.2 0.2 182.5 118.1 172.9 709.81% total kredit macet).4 miliar (4.27% total kredit atau 56.9 2.596 1998 N ilai **) O m set ***) asio(% ) S isaU P R 34.166.9 0. Sementara itu.1 6.7 3. sehingga banyak nasabah dengan barang jaminan emas yang meminjam pada bulan Juni 1998 dan jatuh tempo pada November 1998 tidak melunasi pinjamannnya.

80 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.7% total aset BPR).6 miliar meningkat 32. Sumber dan Penggunaan Dana Sumber dana Perum Pegadaian selain terdiri dari modal (ekuitas) juga sumber dana lain yang diperoleh dari penerbitan surat berharga maupun pinjaman dari pihak lain.7 triliun atau 70.6% dibandingkan periode yang sama tahun 1997. Total aset terbesar dimiliki oleh Perum Pegadaian di wilayah Kanda Jakarta (Rp 183 miliar).9% total aset Perum Pegadaian). Jumlah modal per 30 September 1998 sebesar Rp 363 miliar.4). Perbandingan total aset berdasarkan wilayah tersebut menunjukkan adanya kesamaan antara Perum Pegadaian dengan BPR yaitu konsentrasi aset berada di wilayah Jawa dan aset terkecil di wilayah Kalimantan.8% dari total aset BPR) sedangkan yang paling kecil terdapat di wilayah Kalimantan sebesar Rp 63. meningkat 171.6 miliar) (Tabel 4.4% dari tahun sebelumnya. Perum Pegadaian telah menerbitkan obligasi sebanyak lima kali (seri I s. sedangkan yang terkecil adalah Kanda Kupang (Rp 34 miliar).9 miliar (2. Sementara itu.7% dari periode yang sama tahun 1997.4 triliun. Total aset Perum Pegadaian tersebut lebih kecil jika dibandingkan dengan total aset BPR (per Juni 1998) yang telah mencapai Rp 2. Emisi terakhir adalah obligasi emisi V (Juni 1998). Maret 1999 4.6 miliar yang akan jatuh tempo pada periode 1998 – 2003. Berdasarkan tujuan tersebut dapat dikemukakan bahwa Perum Pegadaian nampaknya tidak mempersiapkan cadangan dana pelunasan obligasi (sinking fund) yang memadai untuk memenuhi kebutuhan dana pelunasan obligasi yang akan jatuh tempo (s.4). Ditinjau berdasarkan wilayah. melampaui target yang ditetapkan untuk tahun 1998 sebesar Rp 1 triliun (Tabel 4. dengan komponen terbesar adalah hutang obligasi (Rp 264. Kewajiban jangka panjang Perum Pegadaian (terdiri dari hutang obligasi dan hutang jangka panjang lainnya) sebesar Rp 364.1 triliun.d V) dengan nilai nominal sebesar Rp 289. Komponen terbesar dari kewajiban jangka pendek tersebut adalah hutang bank (Rp 321 miliar).d 30 September 1998 dana pelunasan obligasi . dengan tujuan penggunaan dana untuk pelunasan obligasi I (sebesar Rp 50 miliar) dan pengembangan usaha (modal kerja). Realisasi aset pada tahun 1998 tersebut meningkat sebesar 51.2 Kinerja Keuangan Aset Aset Perum Pegadaian menunjukkan kecenderungan meningkat. Sebagaimana telah disebutkan dalam Bab II bahwa untuk memenuhi kebutuhan dana maka selama periode 1993 – 1998. Jumlah aset per 30 September 1998 tercatat sebesar Rp 1.1.3% total aset Perum Pegadaian) dan yang paling kecil adalah wilayah Kalimantan (Rp 44 miliar atau 3. sementara kewajiban jangka pendek (terdiri dari hutang bank dan kewajiban lainnya) sebesar Rp 412 miliar. total aset BPR sebagian besar terkonsentrasi di wilayah Jawa (Rp 1. total aset Perum Pegadaian sebagian besar terkonsentrasi di wilayah Jawa (Rp 573 miliar atau 50.

9 175 0.2 240.6 22.8 34.3 1. terutama diakibatkan oleh meningkatnya nilai deposito sebesar 605%.3 526. Perlu dikemukakan bahwa lonjakan deposito tersebut terjadi karena adanya pencairan bantuan modal kerja dari Pemerintah dalam bentuk RDI sebesar Rp 100 miliar pada tanggal 4 September 1998.8 71.diolah 363. Selain dari penerbitan obligasi.9 647 163. khususnya untuk memenuhi kebutuhan dana akibat lonjakan nasabah dan bantuan KLBI sejumlah Rp 50 miliar (per 31 Desember 1998).2 29. (%) 40.7 182.5 325 615 36.1 53.Sept.2 35.2 8.7 8.3 11.6 Aktiva Lancar Kas dan setara kas Pinjaman yg diberikan Lainnya Aktiva Lain Dana pelunasan obligasi Lainnya Total Aktiva Kewajiban Jangka Pendek Hutang bank Kewajiban lainnya Hutang Obligasi Hutang Sewa Guna Usaha Hutang jangka panjang lainnya 480.0 1.9 0. alokasi dana tersebut lebih diutamakan untuk penambahan modal kerja.Pos Neraca 1996 Per 31 Des. sinking fund tersebut tidak dihimpun karena tidak diperoleh ijin dari Menkeu untuk membentuk cadangan sebesar obligasi yang akan jatuh tempo.1 167. pinjaman yang diberikan dan lainnya) serta aktiva lain.6 166. namun dari sisi makro berdampak pada timbulnya distorsi suku bunga pasar pinjaman berskala kecil.4 582.2 119 756. Proyeksi 1998 Realisasi Per 30 Juni Per 30 Sept. Mengacu pada temuan Robinson yang menggunakan pendekatan RFI. Jun . bahwa suku bunga bersubsidi dapat menimbulkan inefisiensi dalam penyaluran dana di pedesaan.5 81. Perum Pegadaian juga memperoleh pinjaman berbunga rendah dalam bentuk RDI pemerintah sebesar Rp 100 miliar (sejak tanggal 4 September 1998). dan sisanya sebesar Rp 65 miliar untuk sementara disimpan dalam .2 778.9 8.7 178. 1997 Per 30 Sep.7 798.9 412.2 864 282.7 174.4 Neraca Singkat Perum Pegadaian (miliar rupiah) Pos .7 236.7 30.2 275 0.9 0.6 119.6 140.9 17.9 45.7 184 1139. kebijakan subsidi bunga hanya akan efektif apabila diterapkan dalam jangka pendek.0 31.9% dari periode yang sama tahun 1997.9 28.7 412 321 91 264.3 390 Ekuitas Sumber : Perum Pegadaian .4 190. Menurut Perum Pegadaian. dimana sampai dengan 30 September 1998 telah disalurkan ke nasabah sejumlah Rp 35 miliar.5 752 151.4 55.4 32.487 307.5 183.9 476.5 miliar).9 Penanaman dana oleh Perum Pegadaian dalam bentuk aktiva lancar (dikelompokkan dalam kas dan setara kas.4 8. Tabel 4.2 35.028 275 673. Aktiva dalam bentuk kas dan setara kas per 30 September 1998 tercatat sebesar Rp 119 miliar meningkat 240.7 59. Dana dengan suku bunga murah yang diperoleh Perum Pegadaian tersebut di satu sisi sangat membantu dalam mengatasi kesulitan likuiditas yang dialami.7 225 333 837.8 201. Per 31 Des.4 5.75 187.3 225 356.5 160.4 72.6 100 363 Pertumb.4 192.4 191 1. 947.9 564.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 81 yang dicadangkan hanya sebesar Rp 8.2 52. Dengan demikian.

9%.483.0 4. Rasio Perkembangan Pinjaman yang Diberikan 1996 Rasio (%) (1) 6.3 Nominal ( Rp miliar ) 526.921.2 1.3 27. sedangkan porsi BRI UDes meskipun meningkat namun tidak sebesar peningkatan Perum Pegadaian (Tabel 4. Pinjaman yang diberikan per tanggal 30 September 1998 sebesar Rp 756.557. namun peran Perum Pegadaian dalam memberikan pinjaman cenderung tidak mengalami penurunan dalam masa krisis ini.5 1.0 7. BPR dan BRI UDes menurut wilayah adalah sebagai berikut : .1 98.688.2 (2) 0.3 4.3 (2) 0.621.0 385.795.7 1.0 623.1 0.190. pinjaman yang diberikan oleh Perum Pegadaian baik dibandingkan dengan total kredit yang diberikan maupun dalam peer-groupnya relatif kecil.3 1. sementara porsi BPR menunjukkan penurunan.1 97.207.9 Lembaga Nominal ( Rp miliar ) 414.0 7.4 2.0 6.976.7 Pegadaian BPR BRI Unit Desa Sub-Total Bank Umum Total Keterangan : 98.5 378.6% total kredit peer-group. porsi BPR dan BRI UDes justru mengalami penurunan.7 24.8 1. Maret 1999 bentuk deposito. Meskipun porsi Perum Pegadaian saat ini masih kecil dan secara makro tidak terlalu besar dampak moneternya.7% (1998). Secara makro.324. Tabel 4. yaitu dari 7.9 98. Penanaman dana dalam bentuk pinjaman yang diberikan mempunyai porsi yang paling besar (86.6 64. Dari jumlah tersebut.1 0. meningkat 58.1% total kredit atau 6.9% dibandingkan dengan periode yang sama tahun 1997.7 616.077. BRI Udes) Rasio (2) : rasio terhadap total kredit (termasuk bank umum) Pinjaman yang diberikan oleh Perum Pegadaian.9 4.6 1.5%) dibandingkan aktiva produktif lainnya.9 (2) 0. Dalam kondisi perkembangan perbankan saat ini yang tidak menentu maka tidak tertutup kemungkinan pangsa pegadaian akan mampu melampaui pangsa BPR.5 65.3 292.6 28.3% (1997) menjadi 10.5 Nominal ( Rp miliar ) 756. BPR.134.5).9 1997 Rasio (%) (1) 7.1 1998 Rasio (%) (1) 10.1 0.2 1.0 299. Sementara aktiva lain hanya meningkat sebesar 2.5.9 Rasio (1) : rasio terhadap peer-group ( PP.8 miliar.286.3 0.696.0 65. Porsi kredit yang diberikan Perum Pegadaian terhadap total kredit pada September 1998 sebesar 0.82 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.074. Perbandingan dalam peer-groupnya menunjukkan peningkatan porsi Perum Pegadaian yang lebih besar dibandingkan dengan BPR dan BRI UDes. Rp 50 miliar dalam deposit on-call dan Rp 15 miliar untuk cadangan investasi.

3% dan 81.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 83 • Pinjaman terbesar diberikan oleh Perum Pegadaian di wilayah Jawa. menurun dari tahun sebelumnya sebesar 31. • Sedangkan untuk BRI UDes. Irian dan Tim-Tim) sebesar Rp 36. Pendapatan Perum Pegadaian yang terdiri dari pendapatan usaha (meliputi: sewa modal dan bea penyimpanan & asuransi) dan pendapatan usaha lainnya (meliputi: pendapatan investasi. yaitu sebesar Rp 1. diperoleh nilai rasio antara biaya operasional dengan pendapatan operasional untuk tahun 1997 dan tahun 1998 masing-masing sebesar 80.4 miliar.4%. • Kredit yang diberikan oleh BPR sebagian besar terkonsentrasi di wilayah Jawa.9%).8%. terutama sebagai dampak meningkatnya beban bunga dan .0%.0% dari total biaya operasional. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pinjaman yang diberikan oleh ketiga lembaga formal tersebut selama ini terkonsentrasi di pulau Jawa. dengan porsi terbesar adalah biaya bunga dan provisi yang mencapai 57. kredit yang diberikan per 30 September 1998 terkonsentrasi di pulau Jawa.5 miliar (2% dari total kredit).7 miliar dan Rp 9. Berdasarkan besarnya pendapatan dan biaya operasional Perum pegadaian tersebut.6 miliar (4.7% dibandingkan tahun 1997. meningkat 10. sedangkan yang terkecil diberikan oleh Perum Pegadaian di wilayah Kalimantan sebesar Rp 36. Biaya operasional BPR juga mengalami peningkatan dari Rp 519 miliar (1997) menjadi Rp 742 miliar (1998) dengan komponen terbesar adalah biaya bunga deposito berjangka sebesar 21. dengan komponen terbesar berasal dari pendapatan bunga sebesar 44.4% menurun dari pangsa tahun sebelumnya sebesar 79. dan keuntungan barang sisa lelang) sampai dengan 30 September 1998 tercatat masing-masing sebesar Rp 209.5% dan 144.3% total pinjaman). uang kelebihan lewat waktu. dimana pendapatan bunga dan biaya bunga merupakan komponen terbesar dari pendapatan dan biaya operasional. Pendapatan. Seperti juga Perum Pegadaian. Terlihat adanya kesamaan antara Perum Pegadaian dengan BPR. yaitu sebesar Rp 441. Rasio tersebut menunjukkan terjadinya penurunan efisiensi. sedangkan yang paling kecil diberikan oleh BPR di wilayah Sulawesi (termasuk Maluku. Sementara itu biaya operasional tercatat sebesar Rp 180.2 triliun (74% dari total kredit BPR).8 triliun (64% dari total kredit) dan yang paling sedikit di wilayah Bali (termasuk NTB dan NTT) sebesar Rp 293 miliar (6.3% dari total kredit).1 miliar (58.8% total pinjaman).7% dibandingkan tahun 1997.3%. yaitu sebesar Rp 2. pendapatan operasional BPR menunjukkan peningkatan dari Rp 543 miliar (1997) menjadi Rp 758 miliar (1998).3 miliar. meningkat masing-masing sebesar 4. Penyumbang terbesar dari pendapatan usaha tersebut adalah pendapatan sewa modal (88. Biaya dan Efisiensi Kemampuan Perum Pegadaian dalam meraih pendapatan menunjukkan kecenderungan semakin meningkat.

7% (1997) dan 9.1% dengan ROE sebesar 4. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pada tahun 1997 dan 1998 Perum Pegadaian mempunyai kemampuan untuk memenuhi kewajiban lancarnya sebesar 2. Profitabilitas Dengan menggunakan indikator ROA dan ROE. dan koefisien ROE sebesar 10.4%. Sementara ROA yang mampu diraih BPR sebesar 1.3% dan 1. Likuiditas Rasio antara aktiva lancar dengan kewajiban lancar Perum Pegadaian rata-rata tahun 1997 sebesar 2. Maret 1999 provisi yang sudah mencapai 112.3%.7% dan 3. Jika dibandingkan dengan rasio BPR sebesar 1.84 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. untuk periode 1997 dan 1998 diperoleh koefisien ROA sebesar 6. Disamping itu. Meskipun demikian. Pencapaian rasio tersebut berarti telah sesuai dengan target yang ditetapkan.8% dan 3. Salah satu aspek yang mendorong tingginya efisiensi yang mampu diraih Perum Pegadaian dibandingkan dengan BPR dan BRI UDes adalah karena Perum Pegadaian tidak memperhitungkan cadangan kredit macet dalam komponen biaya operasionalnya.3% (1998).4 kali.4 kali dan untuk tahun 1998 tidak berubah yaitu sebesar 2. sementara realisasi pendapatan sewa modal baru mencapai 82. Perum Pegadaian masih mencatat tingkat efisiensi yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan BPR (95. Cadangan tersebut tidak dihimpun oleh Perum Pegadaian karena nilai pinjaman yang diberikan sudah didiskonto dari nilai pasar/taksiran barang jaminan (Lampiran 13). khususnya pada masa krisis ekonomi. Solvabilitas Kemampuan Perum Pegadaian untuk memenuhi semua kewajibannya berdasarkan rasio antara total hutang dengan total aktiva rata-rata tahun 1997 dan tahun 1998 adalah .3%. Dengan membandingkan besarnya rasio profitabilitas Perum Pegadaian dan BPR untuk masing-masing periode tersebut terlihat bahwa kemampuan Perum Pegadaian dalam meraih keuntungan relatif lebih baik jika dibandingkan dengan BPR dan BRI UDes (Lampiran 13). di sisi lain sumber dana bersubsidi yang diperoleh serta modal Perum Pegadaian cukup besar.7%) dan BRI UDes (84. sedangkan ROA BRI UDes sebesar 4. Perum Pegadaian memiliki struktur modal yang lebih kuat dan juga memperoleh pinjaman dengan suku bunga relatif murah.4% (1998). Koefisien tersebut menunjukkan bahwa pada tahun 1998 terjadi penurunan kemampuan Perum Pegadaian dalam meraih keuntungan.4 kali.5% (1997) dan 4. Profitabilitas yang tinggi tersebut mampu diraih Perum Pegadaian karena besarnya sewa modal hampir sama dengan suku bunga perbankan.6% dari target tahun 1998.2 kali menunjukkan bahwa Perum Pegadaian mempunyai kemampuan yang lebih baik dalam memenuhi kewajiban lancarnya (Lampiran 13).1%).

2 miliar pada saat omzet nasabah golongan A sebesar 60 %. dilakukan simulasi yang terdiri dari dua bagian. Pada periode 1996 s. Defisit pada golongan A yang ditandai oleh marjin negatif. Rasio tersebut menunjukkan bahwa Perum Pegadaian mempunyai kemampuan lebih besar dalam memenuhi seluruh kewajibannya dibandingkan dengan BPR dan BRI UDes (Lampiran 13). Untuk tujuan tersebut.1%. Pegadaian baru akan merugi sebesar Rp 7. Sementara itu. Dalam simulasi pertama ini. Perbandingan tersebut menunjukkan bahwa secara umum harga kredit di Perum Pegadaian lebih mahal dibandingkan perbankan.26% (1998) (Lampiran 15-A). Turunnya marjin pada golongan A. C. telah berdampak cukup berarti pada perubahan besarnya marjin. B dan C tersebut ternyata tidak menyebabkan penurunan laba. Biaya Aktiva Produktif dan Analisis Sensitivitas Marjin (selisih biaya dana yang ditanamkan dalam bentuk aktiva produktif dengan sewa modal pada masing-masing golongan nasabah) yang diperoleh pada masa sebelum dan sesudah krisis menunjukkan. Pada bagian pertama (Lampiran 15-A). Marjin yang diperoleh Perum Pegadaian tersebut lebih tinggi jika dibandingkan dengan perbankan (Lampiran 16). marjin keuntungan/kerugian untuk tiap golongan dianggap sama dengan kondisi pada tahun 1998.76% (Lampiran 14).d 1998 perbankan mencatat marjin negatif dengan kecenderungan semakin besar pada tahun 1998. dilakukan peningkatan porsi omzet pada nasabah golongan A secara bertahap sebesar 5 persen. sejalan dengan komitmen Perum Pegadaian untuk membantu nasabah mikro dengan menerapkan subsidi silang pada sewa modal. Marjin yang diperoleh pada tahun 1997 untuk nasabah golongan A adalah –3.8% dan 89%. Analisis sensitivitas dilakukan untuk melihat sejauh mana pengaruh penurunan marjin pada golongan B.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 85 sebesar 64. bahwa Perum Pegadaian masih memiliki marjin yang positif untuk semua golongan selain A. D sebesar 8.26%.39%. yang terlihat dari meningkatnya marjin tertimbang (weighted profit/loss) dari 7.61% dan golongan B. Berdasarkan hasil simulasi terlihat bahwa setiap peningkatan porsi omzet terhadap nasabah golongan A sebesar 5% akan pada simulasi ke1 akan menurunkan keuntungan nominal + Rp 44 miliar. C. sedangkan golongan D (rata-rata D dan D1) meningkat menjadi 13. dan D serta pengaruh peningkatan porsi omzet pada golongan A terhadap keuntungan yang mampu diraih Perum Pegadaian.24%. sisa omzet dibagi secara merata diantara golongan lainnya. golongan B dan C turun menjadi 8. lebih baik jika dibandingkan dengan BPR dan BRI UDes dengan rasio masingmasing sebesar sebesar 76. Kebijakan Perum Pegadaian untuk menaikkan sewa modal pada Juni dan Agustus 1998. Untuk golongan A terjadi peningkatan marjin negatif menjadi –7.34% (1997) menjadi 10. Namun karena prosedurnya mudah. sementara untuk simulasi selanjutnya akan menurunkan keuntungan nominal sebesar +Rp 20 miliar. maka masyarakat masih tertarik untuk meminjam dari Perum Pegadaian. .

dan D secara bertahap sebesar 1%.243 Rp 371. Produktivitas Omset Realisasi omset sampai dengan 30 September 1998 adalah sebesar Rp 2.925 M 6.318 miliar dengan jumlah pegawai sebanyak 6.3 juta Rp 41. Sedangkan berdasarkan analisis untuk masing-masing wilayah kerja Perum Pegadaian menunjukkan bahwa pegadaian di wilayah Ujungpandang mempunyai produktivitas omset terbesar (Rp 682.6 Target dan Realisasi Produktivitas Omset – Tahun 1998 Target Omset Jumlah Pegawai Rasio Rata-rata per bulan Rp 9. B = -1.C dan D) yang berlaku mulai tanggal 1 Maret 1999. dilakukan penurunan marjin keuntungan pada nasabah golongan B. Pada bagian ini. C.86 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.September 1998 yaitu sebesar Rp 371. Rasio yang dicapai pada tahun 1998 tersebut masih lebih besar dibandingkan tahun 1996 (Rp 311 juta) dan 1997 (Rp 340 juta).243 orang.3 juta.3 juta per bulan. atau rata-rata Rp 41. dan D 15 .74%. dan D = 3.. Berdasarkan kedua simulasi tersebut di atas. Produktivitas omset untuk tahun 1998 tersebut adalah sebagai berikut : Tabel 4.74%. Maret 1999 Pada bagian kedua (Lampiran 15-B). marjin untuk nasabah golongan A dibiarkan tetap dan distribusi omzet untuk tiap golongan nasabah sama dengan kondisi pada tahun 1998. No. Perum Pegadaian masih memiliki ruang untuk meningkatkan porsi pemberian kredit kepada nasabah golongan A dan menurunkan sewa modal pada golongan B. . Perum Pegadaian telah menetapkan keputusan (SK.9 M 6. C dan D akan menurunkan keuntungan +Rp 22 miliar. Produktivitas omset yang diukur dengan rasio antara realisasi omset dengan jumlah pegawai selama Januari .24%.2% dari target yang ditetapkan untuk tahun 1998.6 miliar pada saat marjin untuk tiap golongan nasabah sebagai berikut : A = -7. 16/UT/II/1999) untuk menurunkan besarnya sewa modal (golongan B. Pegadaian masih memiliki keuntungan Rp 17.9 1 5 Berdasarkan informasi.76%.3 juta Berdasarkan realisasi tersebut terlihat bahwa produktivitas omset yang mampu dicapai Perum Pegadaian sampai dengan September 1998 sudah mencapai 79. C. C = 1.5 juta Rp 52 juta Realisasi Rp 2. Berdasarkan hasil simulasi terlihat bahwa setiap penurunan marjin keuntungan sebesar 1 % pada golongan B.317.243 Rp 468.

379 orang (1997). rasio nasabah dengan pegawai tertinggi baik sebelum maupun sesudah krisis ekonomi terdapat di wilayah Ujungpandang dengan rasio sebesar 1.400. sedangkan yang terendah pada 1997 adalah Perum Pegadaian di wilayah Jawa. 4. sementara target yang ditetapkan untuk tahun 1998 sebesar 982 orang atau sekitar 82 orang per bulan.9 (1998) dan 1.7 Target dan Realisasi Rasio Nasabah dengan Jumlah Pegawai – Tahun 1998 Target Jumlah Nasabah Jumlah Pegawai Rasio Rata-rata per bulan 6. Rasio antara jumlah nasabah dengan jumlah Pegawai tahun 1998 adalah sebagai berikut : Tabel 4. sedangkan produktivitas terendah adalah wilayah Sumatera dengan rasio sebesar 806.243 982 82 Realisasi 7.8 orang) dan tahun 1997 (862. sedangkan produktivitas omset terendah terdapat di wilayah Sumatera (Rp 336.137 126 Rasio tersebut menunjukkan bahwa realisasi rasio jumlah nasabah dengan jumlah pegawai yang dicapai Perum Pegadaian sampai 30 September 1998 telah melampaui target yang ditetapkan.7 orang atau rata-rata setiap pegawai dapat melayani sebanyak 126 orang per bulan.3 Masalah yang Dihadapi Perum Pegadaian Masalah Temporer Lonjakan nasabah yang sangat besar terutama sejak Juni 1998 telah menyebabkan Perum Pegadaian melakukan overdraft yang besar atas pinjaman rekening koran di BRI. 1.1 juta 6.1.243 1. Rasio Nasabah dengan Jumlah Pegawai Rasio antara nasabah dengan jumlah pegawai selama Januari.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 87 juta) baik sebelum maupun sesudah krisis ekonomi. yang mengakibatkan BRI menghentikan pemberian kredit lebih lanjut ke Perum Pegadaian .6 orang). 480 orang (1997) dan 448 nasabah (1996) untuk satu orang pegawai.September 1998 sebesar 1. Untuk masing-masing wilayah kerja.582 orang (1996) nasabah untuk satu orang pegawai.1 juta 6.1 juta)..3 (1998).133. Rasio tersebut meningkat jika dibandingkan dengan rasio tahun 1996 (907.

Kondisi tersebut tentunya kurang menguntungkan bagi nasabah yang membutuhkan dana lebih besar karena pinjaman yang diterima jauh lebih kecil dari nilai taksiran maupun nilai pasar barang yang diagunkan.4% dan D 73.7 miliar). Perum Pegadaian menurunkan plafon maksimum pinjaman yang . B dan C sebesar 85%. 30 Juli 1998 Kebijakan yang telah ditempuh agar tetap mampu melayani sebanyak mungkin nasabah dalam kondisi keterbatasan dana. Kesulitan likuiditas tersebut semakin dalam karena Perum Pegadaian harus membayar pokok dan bunga obligasi yang jatuh tempo. Saldo pinjaman rekening koran di BRI tersebut pada akhir September 1998 sebesar Rp 284.2%). Jika mengacu pada ketentuan yang menetapkan realisasi uang pinjaman untuk nasabah golongan A sebesar 90%. Tabel 4.1% masih lebih kecil dari ketentuan yang berlaku (Tabel 4.88 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. D (dibawah 2.3%.1 A B C D *) SE No. Realisasi Pinjaman yang Diterima Nasabah Tahun 1998 Golongan Nasabah Ketentuan Realisasi Pinjaman (%)*) 90 85 85 81 Realisasi Pinjaman yang Diterima Nasabah (%) 85. Kesulitan likuiditas yang dialami Perum Pegadaian juga terlihat dari perbandingan antara realisasi pinjaman yang diterima nasabah dengan nilai taksiran yang ditetapkan. 28/OPP. sementara penerbitan obligasi baru kurang laku. maka berdasarkan SE No. Sebelumnya. B sebesar 71. Maret 1999 sejak pertengahan Agustus 1998.8%).5 juta) sebesar 81%. Untuk mengatasi hal tersebut Perum Pegadaian telah memperoleh RDI Pemerintah sebesar Rp 100 miliar (4 September 1998) serta KLBI sebesar Rp 50 miliar pada bulan Desember 1998.3 miliar (plafond Rp 181. Dampak dari kesulitan likuiditas tersebut adalah semakin terbatasnya kemampuan Perum Pegadaian dalam memberikan kredit kepada masyarakat.4 73. perbandingan tersebut relatif rendah dengan persentase secara nasional sebesar 73.8). Nilai realisasi uang pinjaman dengan persentase tertinggi diberikan oleh Kantor Daerah Jember (81. Sampai dengan 30 September 1998. maka nilai rata-rata realisasi uang pinjaman terhadap nilai taksiran untuk golongan A sebesar 85. sedangkan yang terendah diberikan oleh Kantor Daerah Balikpapan (65. sejak November 1998 setiap kantor daerah wajib melakukan setoran ke kantor pusat secara proporsional berdasarkan modal kerja yang dimanfaatkan.9%.9 73. C sebesar 73. 37-OPP-1/1/23 tgl.1/1/117 tanggal 17 Juni 1998.5%.3 71.8.5 juta) sebesar 81% dan D (diatas 2.

Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat

89

dapat diperoleh nasabah dari Rp 20 juta (golongan D) menjadi maksimum Rp 5 juta per SBK. Beberapa kantor cabang yang diamati bahkan telah melakukan pembatasan plafon pinjaman maksimum untuk seorang nasabah rata-rata kurang dari Rp 5 juta. Kebijakan tersebut tetap dipertahankan sampai saat ini meskipun sudah ada tambahan dana RDI dan KLBI yang sebagian justru ditanamkan dalam bentuk deposito.16 Dampak kebijakan penurunan batas maksimum pinjaman tersebut adalah semakin sulitnya nasabah-nasabah potensial untuk bisa memperoleh pinjaman di atas Rp 5 juta dengan satu barang jaminan, kondisi tersebut berpotensi menyebabkan beralihnya nasabahnasabah potensial tersebut ke sumber pendanaan lainnya (seperti toko emas dan pegadaian gelap) yang masih bersedia memberikan pinjaman lebih dari Rp 5 juta. Kebijakan lain adalah dengan memberlakukan sistem antrian (waiting list) seperti yang diterapkan oleh beberapa kantor cabang, bahkan pada beberapa kantor cabang terpaksa melakukan penutupan kantor sebelum waktunya. Kenaikan suku bunga pasar juga menimbulkan permasalahan tersendiri bagi Perum Pegadaian karena biaya dana yang sebagian besar diperoleh dari kredit bank semakin besar. Untuk memperkecil dampak naiknya suku bunga pasar, maka Perum Pegadaian sejak 30 Juni 1998 menempuh kebijakan dengan menaikkan suku bunga pinjaman untuk golongan D dengan nilai pinjaman di atas Rp 500 ribu (Lampiran 5). Namun di sisi nasabah, kebijakan tersebut dianggap memberatkan bagi beberapa nasabah meskipun bagi nasabah lainnya tidak terlalu memperdulikan kenaikan suku bunga tersebut.

Permasalahan Struktural
Perum Pegadaian sebagai satu-satunya lembaga keuangan yang memberikan pinjaman dengan sistem gadai mempunyai jaringan kantor cabang yang sangat banyak dengan wilayah operasional yang sangat luas. Luasnya jaringan kerja tersebut di satu sisi sangat mendukung usaha Perum Pegadaian dalam membantu masyarakat, namun di sisi lain menimbulkan permasalahan tersendiri bagi Perum Pegadaian. Permasalahan yang timbul terutama adalah terlalu luasnya rentang kendali masing-masing kantor daerah terhadap kantor cabang-kantor cabang yang ada di wilayah koordinasinya. Dengan jumlah tenaga pemeriksa hanya 4 orang, setiap kantor daerah rata-rata membawahi lebih dari 50 Kanca dengan frekuensi pemeriksaan untuk masing-masing kantor cabang rata-rata 3 – 4 kali dalam satu tahun. Sementara itu, kanda di luar Jawa harus membawahi kanca yang secara geografis terlalu jauh. Luasnya rentang kendali tersebut belum diimbangi dengan

1 6 Menurut Perum Pegadaian, dana sebesar Rp 50 milyar yang disimpan dalam bentuk deposito (on call) dengan jangka waktu kurang dari 1 bulan dimaksudkan untuk cadangan pelunasan pinjaman BRI yang jatuh tempo.

90

Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan, Maret 1999

sarana komunikasi yang memadai sehingga belum dapat menunjang pemantauan kinerja kanca-kanca secara efektif. Sistem manajemen yang diterapkan oleh Perum Pegadaian saat ini cenderung menekankan pada besarnya peranan kantor pusat. Sistem manajemen sentralistik tersebut di satu sisi dapat menunjang sistem internal control yang handal, namun di sisi lain berpotensi menghambat kinerja Perum Pegadaian. Sistem manajemen tersebut dalam jangka panjang akan menimbulkan permasalahan tersendiri khususnya jika kebijakan pemberian otonomi yang lebih besar untuk masing-masing propinsi di Indonesia akan dilaksanakan oleh Pemerintah. Sistem manajemen yang sentralistik tersebut tercermin pada terpusatnya wewenang penetapan kebijakan-kebijakan yang berkaitan dengan operasional Perum Pegadaian, antara lain dalam : (i) Penetapan besarnya sewa modal. Kantor daerah dan kantor cabang tidak diperbolehkan untuk menetapkan besarnya tingkat sewa modal (suku bunga) meskipun terhadap nasabah-nasabah potensial.

(ii) Penetapan harga patokan emas. Harga patokan emas ditetapkan oleh kantor pusat dengan berdasarkan harga emas di Jakarta. Sistem ini berdampak pada lambatnya antisipasi kantor cabang dalam merespon perkembangan harga emas di daerah. (iii) Penghimpunan dana. Wewenang untuk menghimpun dana sepenuhnya berada di kantor pusat dimana baik kantor daerah maupun kantor cabang tidak diperbolehkan menghimpun dana sendiri. Dampak dari ketentuan ini adalah, masing-masing kantor daerah atau kantor cabang tidak mampu memanfaatkan potensi daerah sepenuhnya terutama dalam kondisi terbatasnya likuiditas seperti yang dialami dewasa ini. Permasalahan struktural lainnya terutama adalah masih terdapatnya beberapa kelemahan prosedur yang dapat mendorong terjadinya berbagai penyimpangan. Beberapa kelemahan prosedur yang dijumpai antara lain adalah kewenangan Kantor daerah yang seakan tanpa batas dalam memutuskan besarnya nilai pinjaman di atas plafon Rp 20 juta serta penyimpanan seluruh kunci duplikat pada satu orang (Kepala Kantor Cabang) 17 . Disamping kelemahan tersebut, dalam penelitian lapangan juga dijumpai beberapa kegiatan yang dapat dikategorikan sebagai penyimpangan. Penyimpangan tersebut antara lain adalah

1 7 Menurut Perum Pegadaian, dwilipat kunci disimpan oleh Kepala Cabang karena dalam setiap pemeriksan intern dwilipat kunci tersebut diperiksa sampai sejauh mana penyalahgunaan pemakaiannya, serta sewaktu-waktu dapat digunakan apabila pemegang kunci utama (pemegang gudang) berhalangan untuk masuk kerja.

Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat

91

praktek transfer dana antarcabang 18, pelanggaran kriteria barang jaminan yang dapat diterima Perum Pegadaian 19 , penyimpanan barang jaminan pada tempat yang tidak sesuai dengan prosedur, serta tidak dilaksanakannya prosedur internal control kluis dan gudang. Sementara itu, Perum Pegadaian juga akan terus menghadapi risiko fluktuasi harga barang jaminan akibat fluktuasi nilai tukar mengingat besarnya jumlah agunan di Perum Pegadaian berupa emas/perhiasan yang harganya mengikuti pergerakan harga pasar internasional. Nilai barang jaminan dalam bentuk emas/perhiasan pada tahun 1998 dan 1997 masing-masing sebesar 75% dari total pinjaman meningkat dibandingkan tahun 1996 (72%). Hal tersebut menunjukkan adanya peningkatan jumlah barang jaminan dalam bentuk emas/perhiasan semenjak terjadinya krisis ekonomi di Indonesia.

Persepsi Masyarakat
Berdasarkan hasil penelitian lapangan ke beberapa kantor cabang, ditemukan berbagai persepsi masyarakat terhadap Perum Pegadaian. Pada umumnya masyarakat, khususnya yang berpendapatan rendah, merasa sangat terbantu oleh Perum Pegadaian. Penggunaan dana oleh nasabah sangat beragam baik untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat produktif (misalnya untuk modal kerja dan bridging financing) sampai untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat konsumtif (misalnya untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari, biaya sekolah dan kebutuhan mendesak lainnya). Dari 90 nasabah yang dipilih secara acak dan berhasil diwawancarai, mayoritas berpenghasilan antara Rp 150 ribu s.d Rp 500 ribu per bulan. Sebagian besar nasabah tersebut tidak mempunyai akses ke perbankan atau tidak mau berhubungan dengan perbankan karena prosedur yang rumit. Berdasarkan penggunaannya, mayoritas nasabah (± 59%) mempergunakan pinjaman yang diperoleh dari Perum Pegadaian untuk tujuan produktif seperti modal kerja (56%) dan bridging financing (3%), sedangkan sisanya mempergunakan untuk tujuan konsumtif seperti biaya sekolah (17%), kebutuhan sehari-hari (16%), emergency (5%), dan lain-lain (3%). (Grafik 3).

1 8 Menurut Perum Pegadaian, praktek transfer antarcabang masih diijinkan sepanjang BRI yang terdapat di wilayah kantor cabang tersebut tidak menyediakan fasilitas rekening giro. Namun dalam prakteknya dijumpai beberapa kantor cabang yang berlokasi di wilayah kota besar masih melakukan praktek transfer antarcabang, meskipun di wilayah tersebut terdapat kantor BRI yang cukup besar. 1 9 Menurut Perum Pegadaian, barang jaminan yang tidak memenuhi ketentuan yang sudah ditetapkan masih bisa diterima asalkan secara ekonomis tidak menimbulkan kerugian bagi Perum Pegadaian.

Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas nasabah mempunyai pendidikan yang cukup. Financing 3% Keb. Menurut persepsi nasabah.3%) terbanyak kedua adalah nasabah berpendidikan SLTP (20%) dan yang paling sedikit adalah nasabah dengan pendidikan tidak tamat SD (2. berpenghasilan rendah dan mempergunakan dana yang diperoleh dari Perum Pegadaian untuk tujuan produktif. pegadaian gelap atau toko emas.92 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Kesulitan likuiditas yang dialami sejak Agustus 1998 berdampak pada berkurangnya kemampuan Perum Pegadaian dalam melayani nasabah. khususnya faktor keamanan barang jaminan dan kewajaran nilai taksiran. Kurangnya sosialisasi/pemasaran produk Perum Pegadaian kepada masyarakat. sehingga nasabah khususnya nasabah besar mulai merasakan bahwa Perum Pegadaian tidak selalu dapat memberikan pinjaman sesuai permintaan mereka. keunggulan Perum Pegadaian dibandingkan lembaga pemberi pinjaman lainnya terutama adalah dari segi pelayanan kepada nasabah. dari penelitian lapangan juga ditemukan bahwa beberapa nasabah merasakan tingginya suku bunga Perum Pegadaian saat ini serta sistem penghitungan bunga dengan acuan minimal 15 hari dirasakan cenderung merugikan nasabah. menyebabkan pada beberapa wilayah masyarakat masih merasa malu untuk berhubungan . Komposisi Penggunaan Dana oleh Nasabah Em ergency 5% Brid. Disamping persepsi positif nasabah tersebut.2%). Dengan melihat keunggulan tersebut nasabah Perum Pegadaian pada umumnya tidak terlalu memperdulikan besarnya suku bunga meskipun saat ini relatif tinggi pada kondisi suku bunga pasar yang cenderung menurun. Sehari-hari 16% Lain-lain 3% Biaya Sekolah 17% Modal Kerja 56% Sedangkan berdasarkan tingkat pendidikannya. mayoritas responden yang banyak berhubungan dengan Perum Pegadaian berpendidikan SLTA (43. Maret 1999 Grafik 3. Kondisi tersebut mendorong beberapa nasabah besar untuk beralih ke pemberi pinjaman lainnya seperti pelepas uang.

2. PHBK dan PKM serta mengembangkan kelembagaan keuangan sesuai kebutuhan usaha kecil menengah dan koperasi. Program Jaring Pengaman Sosial (JPS) Program JPS ditujukan untuk menciptakan kesempatan kerja produktif bagi penganggur. KUT. maka Bank Indonesia mendorong komitmen perbankan dalam melayani usaha kecil (KUK). Reformasi Struktural Sektor Riil Program ini dijalankan melalui reformasi di bidang perdagangan. pemerintah telah menempuh berbagai upaya yang antara lain meliputi : 1. Berkaitan dengan pemberdayaan ekonomi rakyat tersebut. yang diwujudkan dengan berbagai kebijakan untuk menghapuskan berbagai aspek yang menyebabkan inefisiensi dalam perekonomian. Semakin berkurangnya kemampuan perbankan dalam memberikan pinjaman kepada masyarakat dewasa ini semakin membuka peluang bagi Perum Pegadaian untuk berperan lebih besar dalam program pemberdayaan ekonomi rakyat. KKop.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 93 dengan Perum Pegadaian. sedangkan pada beberapa wilayah kantor Perum Pegadaian lainnya yang diamati sebagian nasabah masih merasa malu untuk berhubungan langsung dengan pegadaian dan lebih suka menggunakan jasa perantara (calo). dll). memberi bantuan teknis yang diarahkan kepada kemitraan dan pendekatan kelompok melalui PPUK. terlihat pada beberapa wilayah seperti Ujung Pandang (mencakup Sulawesi. dan Irian Jaya) serta Kodya Yogyakarta. Namun tidak semua masyarakat merasa malu berhubungan dengan Perum Pegadaian. Maluku. 4. investasi. Salah satu faktor dalam pemberdayaan ekonomi rakyat adalah pemberian prioritas dan bantuan dalam pengembangan usaha kepada ekonomi lemah. (i) program ketahanan pangan. meningkatkan pendapatan dan daya beli masyarakat. (ii) program padat karya dan penciptaan lapangan kerja produktif’ (iii) program perlindungan sosial.2 Program Pemberdayaan Ekonomi Rakyat Perhatian terhadap ekonomi kerakyatan semakin meningkat seiring dengan meluasnya ketimpangan ekonomi dan kesenjangan sosial. deregulasi dan privatisasi. . 3. meningkatkan kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat terutama yang terkena dampak krisis serta mengkoordinasikan berbagai program penanggulangan dampak krisis dan berbagai program penanggulangan kemiskinan. merealisasikan berbagai skim kredit program yang dananya berasal dari KLBI (seperti KKPA. dan (iv) program pemberdayaan ekonomi rakyat. Kredit Program Dalam rangka mendorong berputarnya roda perekonomian di lapisan bawah yang saat ini menghadapi kesulitan sumber-sumber pembiayaan/pendanaan di lembaga formal (bank). Realisasi JPS ditempuh dalam empat program.

Kinerja yang semakin meningkat Perum Pegadaian merupakan salah satu usaha di sektor keuangan yang masih dapat bertahan di masa krisis ekonomi dewasa ini bahkan menunjukkan kinerja yang semakin meningkat. murah dan cepat. c. b. Prosedur pengajuan dan pelunasan pinjaman relatif mudah dan cepat. dengan plafon terendah Rp 5. Selain jaringan kerja yang sangat luas. Pinjaman yang diberikan pegadaian kepada masyarakat semakin meningkat seiring dengan lonjakan permintaan khususnya sejak krisis ekonomi. Suku bunga pinjaman yang dikenakan Perum Pegadaian pada umumnya juga relatif rendah. e. Nasabah pegadaian sebagian besar merupakan nasabah mikro dan mayoritas berprofesi sebagai petani.94 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. karena dengan sistem gadai nasabah dididik untuk berupaya mengembalikan pinjaman yang diterima. Perum Pegadaian juga masih memberikan peluang bagi permintaan pinjaman dalam skala yang lebih besar (diatas Rp 20 juta). Perum Pegadaian juga didukung oleh jumlah dan kualitas pegawai yang cukup memadai. Kesiapan jaringan kerja dan sumber daya manusia Perum Pegadaian mempunyai jaringan kerja yang sangat luas (633 kantor cabang) yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. profitabilitas. Pelaksanaan peran tersebut selama ini dilakukan oleh Perum Pegadaian dengan memberikan pinjaman kepada masyarakat (khususnya masyarakat berpendapatan rendah) dalam skala kecil dengan . likuiditas maupun solvabilitas Perum Pegadaian pada umumnya juga relatif lebih baik jika dibandingkan dengan lembaga lain khususnya BPR dan BRI UDes. Keberpihakan tersebut juga tercermin dalam misi yang ditetapkan dalam periode RJP II untuk ikut meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat golongan menengah ke bawah melalui penyediaan dana berdasarkan hukum gadai secara inovatif dan melakukan usaha lain yang menunjang. Disamping itu. Meningkatnya jumlah pinjaman yang diberikan. yaitu : a.000 dan tertinggi Rp 20 juta. Disamping itu pemberian pinjaman dengan sistem gadai dapat memperkecil moral hazard khususnya dalam penyaluran kredit-kredit bersubsidi. Keberpihakan pada masyarakat khususnya golongan ekonomi lemah Keberpihakan Perum Pegadaian kepada masyarakat khususnya golongan ekonomi lemah terlihat dari relatif kecilnya skala kredit yang diberikan dibandingkan dengan lembaga formal lainnya. khususnya jika dibandingkan dengan BPR. Keunggulan Perum Pegadaian Keunggulan utama Perum Pegadaian dibandingkan lembaga lain adalah prosedur yang mudah. Lonjakan tersebut merupakan dampak semakin sulitnya akses masyarakat ke perbankan. d. Potensi Perum Pegadaian untuk berperan dalam pemberdayaan ekonomi rakyat terlihat jelas terutama pada aspek keberpihakan pada masyarakat kecil. Kinerja efisiensi. Maret 1999 Potensi Perum Pegadaian tersebut dapat dilihat dari beberapa aspek.

4% total nasabah. khususnya di wilayah pantai utara. Salah satu produk yang akan dikembangkan yaitu memberikan kredit dengan jaminan surat berharga dan sertifikat tanah. Namun porsi dan nilai pinjaman yang diperoleh golongan ini relatif sangat kecil (rata-rata sebesar Rp 18. terlihat kebijakan Perum Pegadaian untuk mengembangkan produk-produk baru yang di luar lingkup usaha pegadaian. Sejalan dengan perkembangan usaha Perum Pegadaian. Begitu pula dengan adanya rencana untuk mengembangkan produk-produk pembiayaan lainnya merupakan suatu upaya yang kurang sesuai dengan misi dari Perum Pegadaian yang ingin melayani kebutuhan masyarakat golongan menengah ke bawah. sendok. serta kredit dengan sistem pinjam pakai sebenarnya sudah tidak sesuai dengan prinsip dari hukum gadai yang mewajibkan barang jaminan berbentuk barang bergerak dan dititipkan (tidak boleh dipakai oleh pemiliknya). .C dan D. 10 tahun 1990. Kecilnya skala pinjaman golongan A tersebut juga terlihat dari jenisjenis barang yang banyak dijadikan agunan seperti : kain. Apalagi pada beberapa tahun terakhir terdapat kecenderungan di dalam kelompok-kelompok usaha untuk kembali ke core business masing-masing untuk meningkatkan kinerja usahanya. Nasabah mikro pada Perum pegadaian tersebut terutama adalah golongan A (dengan nilai pinjaman antara Rp 5. Namun perkembangan terakhir menunjukkan kecenderungan pergeseran orientasi pemberian pinjaman ke nasabah besar (golongan D) meskipun Perum Pegadaian masih mempunyai peluang untuk meningkatkan porsi pinjaman untuk nasabah mikro (golongan A).000) pada tahun 1998 mencapai 41. PENUTUP 5. Total nilai pinjaman untuk golongan A pada tahun 1998 sebesar Rp 115. pengembangan produk-produk baru diusahakan tetap dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat kecil apabila tetap mengacu pada prinsip-prinsip hukum gadai dan misi perusahaan.000) dibandingkan golongan B. dengan tetap berpihak pada masyarakat berpendapatan rendah. Perkembangan Perum Pegadaian dalam tiga tahun terakhir cukup pesat.000 – Rp 40. sepeda dan lain-lain. Fenomena tersebut nampak jelas di kantor-kantor Perum Pegadaian di wilayah Jawa. Oleh karena itu. lampu tekan.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 95 prosedur dan persyaratan yang mudah dan murah.1 Kesimpulan 1. piring. Namun rencana tersebut justru menimbulkan kekhawatiran akan terjadi pergeseran dari core business Perum Pegadaian dan orientasi nasabah yang dilayani seperti yang ditetapkan dalam PP No. khususnya tahun 1998 (setahun terakhir) terjadi pelonjakan kinerja terutama karena beralihnya sebagian nasabah perbankan ke Perum Pegadaian.4 miliar atau hanya sebesar 5% dari total omset Perum Pegadaian. dll). alat rumah tangga (misal : kuali/ panci. V.

Secara makro dan jika dibandingkan dengan BPR dan BRI UDes yang memiliki pasar yang hampir sama. Dalam tiga tahun terakhir telah terjadi pergeseran pemberian kredit dari nasabah kecil ke nasabah besar.96 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Kredit yang diberikan terutama kepada nasabah menengah ke bawah yang pada umumnya bergerak di sektor informal dan tidak memiliki akses ke perbankan. Untuk menutupi kekurangan dana tersebut (khususnya modal kerja). Namun masih terdapat peluang (room) bagi Perum Pegadaian untuk menurunkan sewa modal khususnya untuk golongan B. serta meningkatkan porsi pemberian kredit bagi golongan A tanpa menimbulkan kerugian bagi Perum Pegadaian. Pada periode Agustus s. Untuk memenuhi lonjakan tersebut.d September 1998. 4. Keunggulan dalam profitabilitas dan efisiensi tersebut terutama disebabkan oleh tingginya sewa modal yang dikenakan (hampir sama dengan suku bunga perbankan). 3. 6. Jaringan Perum pegadaian yang didukung oleh 633 kantor menjangkau seluruh wilayah Indonesia sampai ke pedesaan. Perum Pegadaian mempunyai beberapa kelemahan struktural yang dapat menghambat peningkatan kinerja dan merupakan potensi timbulnya berbagai penyimpangan yaitu : terlalu luasnya rentang kendali manajemen yang tidak didukung dengan sistem dan sarana pengawasan/pelaporan yang memadai. profitabilitas dan efisiensi. sumbangan Perum Pegadaian dalam pemberian kredit masih lebih rendah. Perum Pegadaian memiliki keunggulan dalam kualitas pinjaman yang diberikan. sementara dana yang diperoleh sebagian besar bersuku bunga rendah. serta sistem manajemen yang sangat sentralistik. Perum Pegadaian telah memperoleh fasilitas RDI dari Pemerintah dan KLBI. Meskipun demikian. sementara dana pelunasan obligasi yang dihimpun (sinking fund) kurang memadai. Perum Pegadaian melakukan penarikan overdraft sangat besar sehingga mengakibatkan penghentian pemberian fasilitas overdraft BRI.6 juta (September 1998) dengan mayoritas merupakan nasabah mikro (40. Perum Pegadaian telah ikut berperan dalam kegiatan pembiayaan usaha kecil. 7. Hal ini terutama disebabkan oleh perubahan orientasi kebijakan Perum Pegadaian untuk meningkatkan laba serta kenaikan golongan pinjaman karena adanya kenaikan harga barang jaminan. Suku bunga (sewa modal) yang dikenakan Perum Pegadaian kepada nasabah saat ini relatif tinggi.5%). 5. C dan D dengan tetap memberikan subsidi bagi golongan A. Peran Perum Pegadaian dalam mendukung pemberdayaan ekonomi rakyat cukup besar terlihat dari jumlah nasabah mencapai 6. . Perum Pegadaian mengalami kesulitan likuiditas akibat lonjakan permintaan nasabah dan kurangnya peminat obligasi yang diterbitkan. Maret 1999 2.

7.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 97 8. Untuk mengetahui efektivitas penggunaan kredit dalam rangka pemberdayaan ekonomi rakyat. khususnya bagi Kanca defisit yang sudah lama didirikan dengan tetap mempertimbangkan pelaksanaan misi sosial yang diemban. 5. 6. Di samping itu. Perum Pegadaian perlu lebih intensif dalam memonitor nasabah. Perum Pegadaian perlu melakukan evaluasi secara lebih intens terhadap kantor-kantor cabang yang merugikan. Mengingat masih besarnya potensi pasar yang dapat dimanfaatkan oleh lembaga keuangan yang memberikan pinjaman berdasarkan sistem gadai. Hal ini sekaligus dapat mendorong kompetisi untuk meningkatkan efisiensi. Sistem manajemen pendanaan secara sentralistik yang diterapkan Perum Pegadaian sampai saat ini nampaknya sangat sejalan dengan teori FF. Sesuai dengan misi Perum Pegadaian yang didukung oleh sumber dana yang mayoritas bersubsidi. namun dari penelitian diperoleh temuan bahwa daerah juga mempunyai potensi pendanaan (sesuai dengan teori RFM). sehingga Kanda berpotensi untuk mencari dana pinjaman sendiri.1 Saran 1. misalnya sebesar 30% . Dengan mempertimbangkan potensi dan rencana jangka panjang. Namun untuk mewujudkan potensi tersebut Perum Pegadaian harus terlebih dahulu membenahi kelemahan-kelemahan struktural yang ada. maka Pemerintah perlu mengkaji kemungkinan pemberian izin bagi perusahaan lain untuk bergerak dalam usaha pegadaian. Masalah kesulitan likuiditas dapat diminimalkan apabila sampai batas tertentu kantor daerah diberi kewenangan untuk mencari dana sendiri dengan memanfaatkan potensi daerah setempat (sesuai dengan teori RFM). maka sudah saatnya besarnya sewa modal diturunkan. 4. serta kecenderungan penurunan suku bunga pasar. 5. untuk menjaga konsistensi pelaksanaan misi Perum Pegadaian. . rentabilitas yang lebih baik dibandingkan lembaga formal lainnya. untuk mengkaji apakah akan melakukan pemindahan kantorkantor cabang tersebut ke lokasi yang lebih strategis atau melakukan penutupan. nampaknya Perum Pegadaian perlu lebih menekankan pada pemberian kredit daripada melakukan usahausaha lain di luar core usaha Perum Pegadaian. 3. 2.40%. tersedianya room yang cukup luas. pemerintah hendaknya menetapkan ketentuan yang mengatur batas minimum porsi kredit untuk nasabah kecil (golongan A dan B). Berdasarkan kinerjanya Perum Pegadaian memiliki potensi untuk berperan dalam channeling pemberdayaan ekonomi rakyat.

Marguerite S (1992). Development Discussion Paper No. Suad (1985). J. ___________________.98 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. 1970-91. Fred dan Brigham. Tokyo : Asian Productivity Organization. Laporan-Laporan Keuangan Robinson. Untuk menghindarkan terjadinya distorsi suku bunga pasar. 9. Harvard Institute for International Development. Manajemen Keuangan Edisi ke-7 Jilid I (Terjemahan dari Managerial Finance 7th edition). Penerbit BPFE Yogyakarta. Fumio (1986). Surat-Surat Keputusan Direksi Perum Pegadaian. Laporan-Laporan Operasional Bulanan dan Tahunan ___________________. Tim Analisis Jabatan Perum Pegadaian (1990). Husnan. Weston. Prospektus Obligasi V Perum Pegadaian Tahun 1998. Pedoman Operasional Kantor Cabang. Direktorat Keuangan. Rural Financial Intermediation : Lessons From Indonesia Part One The Bank Rakyat Indonesia : Rural Banking. Harvard University. 434. Manajemen Keuangan : Teori dan Penerapan (Keputusan Jangka Pendek) Jilid 2. Penerbit Erlangga Jakarta. ___________________. Rural Financial Markets : Two School of Thoughts. Pedoman Pemeriksaan Satuan Pengawasan Intern Perum Pegadaian. Untuk memperoleh penilaian efisiensi yang lebih riil. Company Profile Perum Pegadaian ___________________. PERUM PEGADAIAN (1997). maka Perum Pegadaian perlu memperhitungkan biaya dana untuk masing-masing Kanca. Eugene F (1981). dan Direktorat Umum. Maret 1999 8. dalam Farm Finance and Agricultural Development. ___________________. Uraian Tugas dan Kegiatan : Direktorat Operasi dan Pengembangan. DAFTAR PUSTAKA Egaitsu. ___________________ (1997). . maka kebijakan pemberian bantuan likuiditas dengan subsidi bunga kepada lembaga pembiayaan yang berorientasi pada masyarakat menengah ke bawah hendaknya hanya dilakukan dalam jangka pendek atau dalam bentuk sekuritisasi.

Subdit Kepegawaian (KP). bertugas untuk membina penyaluran kredit gadai. Subdit Penelitian dan Pengembangan Operasi (LB). . surat berharga. 6. bertugas untuk mengkoordinasikan penyusunan rencana anggaran. kepangkatan. bank. pengadaan dan penyelenggaraan pengangkatan. perjalanan dinas dan tunjangan serta pelaksanaan penagihan piutang perusahaan sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam rangka menunjang kelancaran pelaksanaan tugas. 3. 4. Subdit Anggaran dan Permodalan (AP) . pemberhentian. penyelenggaraanpembukuan dan penyajian laporan keuangan perusahaan serta pengembangan sistem informasi keuangan sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam rangka pengendalian keuangan perusahaan. kepustakaan dan pengelolaan produk hukum serta pemberian pertimbangan hukum sesuai dengan peraturan yang berlaku dalam rangka menunjang kelancaran pelaksanaan tugas pimpinan perusahaan. bertugas untuk mengkoordinasikan dan mengedalikan penyelenggaraan kesekretariatan pimpinan. bertugas untuk mengkoordinasikan evaluasi. 7. pengevaluasian pelaksanaan anggaran. sistem.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 99 LAMPIRAN Lampiran 1 Tugas masing-masing Kepala Sub Direktorat 1. urusan kehumasan. kesejahteraan serta pengembangan manajemen 2. promosi. pemensiunan. perpajakan. pemindahan. 5. pengalokasian dana. Subdit Perbendaharaan (PB). verifikasi. jasa dan mengembangkan kegiatan pemasaran serta mengkoordinasikan pengolahan dan dan penyajian statistik perusahaan sesuai dengan ketentuan yang berlaku sebagai bahan pertimbangan pimpinan dalam rangka meningkatkan pendapatan perusahaan. Subdit Kesekretariatan Perusahaan (SP). prosedur dan wilayah operasi serta bentuk usaha lain berdasarkan peraturan yang berlaku dalam rangka meningkatkan kinerja perusahaan. bertugas untuk mengkoordinasikan pengelolaan kas. Subdit Akuntansi (AK). gaji. Subdit Operasi dan Pengembangan (OPP). bertugas untuk mengkoordinasikan dan melaksanakan penelitian dan pengembangan jenis. kebutuhan modal kerja dan pengalokasian modal kerja serta investasi lainnya sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam rangka menjamin kontinuitas keuangan perusahaan. bertugas untuk mengkoordinasikan penyusunan formal.

Kepala Pusat Pengembangan Teknologi Informasi (Kapus TI). 11.100 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. 9. pengadaan denah. izin mendirikan bangunan dan penghapusan serta penyelenggaraan tata usaha pembangunan atau perbaikan bangunan prasarana dan rumah jabatan sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam rangka penyediaan sarana kerja yang memadai untuk menunjang kelancaran pelaksanaan tugas. Subdit Tata Usaha dan Rumah Tangga (TURT). pengurusan persewaan bangunan. bertugas mengkoordinasikan penyelenggaraan pengelolaan database dan jaringan serta pengembangan dan pengimplementasian sistem dalam menunjang kegiatan operasional perusahaan. 8. urusan rumah tangga dan perlengkapan kantor agar pelaksanaan tugas berjalan lancar dan terpadu. Subdit Bangunan (BG). bertugas mengkoordinasikan perencanaan pengembangan program penyelenggaraan dan evaluasi pelaksanaan pendidikan dan pelatihan serta penyusunan laporannya sesuai dengan ketentuan yang berlaku agar penyelenggaraan diklat berjalan lancar dan terpadu. 10. bertugas untuk mengkoordinasikan pembuatan disain bangunan pemrosesan pelaksanaan pembangunan atau perbaikan. Kepala Balai Diklat (Kabal Diklat). . bertugas untuk mengkordinasikan pengurusan ketatausahaan. Maret 1999 perusahaan berdasarkan peraturan yang berlaku dalam rangka pembinaan kepegawaian dan peningkatan kesejahteraan pegawai. pemilikan hak atas tanah.

III. X. XI. II. XIII. IX.817 1995 4 34 742 4.365 1997 4 45 794 4.183 885 404 2.303 897 468 14 5.118 803 655 35 4. VI.171 811 591 31 4. XII. VIII.050 Okt. VII. Medan Padang Jakarta Bandung U.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 101 Lampiran 2 Jumlah Cabang yang Dibawahi oleh Setiap Kanda KANDA JUMLAH CABANG JUMLAH ANAK CABANG 7 3 11 2 6 2 0 0 2 0 0 10 9 6 58 TOTAL I.893 829 377 2.974 . XIV. IV. V.349 1996 4 34 780 4. Pandang Semarang Yogyakarta Surakarta Surabaya Malang Jember Denpasar Balikpapan Kupang 35 36 44 49 49 45 56 53 50 51 37 31 22 17 575 42 39 55 51 55 47 56 53 52 51 37 41 31 23 633 JUMLAH Lampiran 3 Komposisi Pegawai Tetap Perum Pegadaian Jenjang Karir Manajemen Puncak Manajemen Menengah Manajemen Pelaksana Staf Administrasi Tingkat Pendidikan SD SLTP SLTA D3 S1 S2 TOTAL 982 465 2.442 814 511 25 5.129 954 437 2. 1998 4 45 794 3.

176 50 70 876 2. 756.751 70.500 5. Danareksa Fund MGT. Semen Gresik .351 50 70 1. Dua Satu Tiga Puluh) Sumber : Perum Pegadaian .Saham PT.BEII Surat Berharga .500 5.243 10.Saham PT.Saham PT.150 (Juta rupiah) 1998 Per-30 Sep.000 2.150 Pinjaman yg.BRI .500 2.000 500 -2.000 7.000 2. Maret 1999 Lampiran 4 Penanaman Dana Perum Pegadaian Jenis Penanaman 1997 Per-31 Des 526. Danareksa Seruni . Semen Gresik (Sertifikat Bukti Right) . Diberikan Deposito .Saham PT.Saham PT. BIG Palapa . Bahana Dana Selaras .500 65.Saham PT.768 1.000 2.320 1.102 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.000 3.000 2.000 -1. Cadangan penurunan nilai surat berharga Penyertaan (Dalam bentuk 500 lembar saham PT.Saham PT. BNI Dana Berbunga .

3. Harga Pasar Setempat.500.000 (pembulatan Rp 500 ke atas) • Biaya PA gol. Dalam hal ini Perum Pegadaian membuat tiga kriteria harga pasar yaitu harga pasar pusat (HPP).000 >2.25% 2. minimum Rp 8.000.5%XUP. UP=Uang Pinjaman • Biaya PA gol.50% 2. harga pasar daerah (HPD) dan harga pasar setempat (HPS).500.50% 2.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 103 Lampiran 5 Tabel Sewa Modal dan Biaya PA masing-masing Golongan Gol Uang Pinjaman Sewa Modal Per 15 Hari Per Tahun A B C D D 5. minimum Rp 10. DK u/ UP > Rp 1.000 510.000 (pembulatan Rp 1.25% 2. Perum Pegadaian mengacu kepada harga pasar. DG selain mobil u/ UP > Rp 1.000 ke atas) Lampiran 6 Jenis-jenis Harga Pasar Untuk menentukan nilai barang jaminan yang akan digadaikan oleh masyarakat. HPS adalah harga pasar barang-barang gudang yang didasarkan pada harga pasar barang baru (toko) di daerah setempat.000 (pembulatan Rp 1.000 151.000-1. 1. G=Gudang. 2.000 ke atas) • Biaya PA dengan jaminan Mobil ditetapkan 0.000-5.50% 1.5%XUP.25% 2.500-150.5%XUP.000 40.25% 2. minimum Rp 25. M=Mobil.000-500.5 juta ditetapkan 0.000-40.5 juta ditetapkan 0.25% 2.000 1. Harga Pasar Pusat HPP adalah harga pasar emas/perak/permata yang ditetapkan oleh Kanpus sebagai patokan umum baik bagi Kanda maupun Kanca berdasarkan perkembangan harga pasaran umum dengan memperhitungkan kecenderungan perkembangan harga di masa mendatang.00% Maksimum Jangka Waktu Kredit 120 120 120 120 120 hari hari hari hari hari Keterangan : K=Kantong. yang direvisi minimum tiga . Harga Pasar Daerah HPD adalah harga pasar yang ditentukan oleh Kanda dengan memperhatikan toleransi maksimum 4% di atas HPP dan 2% di bawah HPP.50% 3.

Lampiran 8 Administrasi dan Pembukuan Barang Sisa Lelang (BSL) 1. yaitu dengan melakukan pemeriksaan secara langsung ke dalam gudang tentang kebersihan. Kemudian berdasarkan RBSL tersebut dibukukan pada : a. Laporan Bulanan Operasionalatas penambahan BSL. 2. yaitu dengan mencocokkan fisik barang jaminan dengan keterangan pada SBK dwilipatnya (lembar II/kopinya). kemudian ditentukan besarnya persentase uang pinjaman terhadap taksiran menurut masing-masing golongan yaitu : . Meskipun demikian dalam jangka waktu 2 bulan tiap-tiap rubrik/golongan/ribuan harus sudah pernah dihitung sebanyak dua kali. Barang jaminan yang sudah ditetapkan sebagai BSL pada buku Redister Barang Sisa Lelang (RBSL). 2. 4. f.Golongan A = 90% . dan minimal 60% dari tiap rubrik/golongan/ribuan telah dihitung untuk ketiga kalinya. . kerapihan dan keamanan gudang berserta isinya. Meronda gudang. maka adanya BSL pada setiap lelang tidak perlu dicatat pada Berita Acara Lelang (BAL).104 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Karena BSL diakui dan dicatat sebagai mutasi aset. Buku Kredit yang bersangkutan pada nomor yang menjadi BSL sebagai penghapusan b.Golongan B dan C = 85% . Pemeriksaan ini dilakukan setelah penghitungan barang jaminan selesai dilaksanakan. Berdasarkan harga-harga pasar di atas. sedangkan cabang kelas I dan II minimal satu kali sebulan oleh Kacab. Pemeriksaan buku gudang yang dilakukan setiap hari.Golongan D > Rp 5 juta = 84% Lampiran 7 Kegiatan pemeriksaan barang jaminan di gudang 1. Buku Ikhtisar Kredit dan Pelunasan bulan kredit yang bersangkutan dikredit sebesar uang pinjaman BSL. Buku Kas didebet sebagai pelunasan dan dikredit pembelian BSL. Penghitungan barang jaminan ini dilakukan minimal sepuluh kali dalam satu bulan. yaitu dengan mencocokkan jumlah barang yang ada di gudang dengan saldo menurut buku gudang. d. 3. Buku Gudang dikreditkan sejumlah BSL. Pemeriksaan isi barang jaminan.Golongan D s/d Rp 5 juta = 85% . e. Buku Uang Kelebihan eks BSL. Dengan demikian BAL hanya berisi data barang jaminan yang laku dilelang saja. c. Kegiatan ini dilakukan minimal 3 kali sebulan untuk cabang kelas III. Menghitung barang jaminan. Maret 1999 bulan sekali.

dijual sebesar Harga Pembelian x 109. b) BSL Non-Emas Diusahakan BSL harus sudah terjual dalam jangka waktu 30 (tiga puluh hari) namun demikian apabila dalam jangka waktu tersebut belum laku terjual. Penyelesaian Barang Sisa Lelang (BSL) Dijual di bawah tangan Pedoman harga penjualan BSL ditetapkan sebagai berikut : a) BSL Perhiasan Emas Penjualan BSL jangka waktu kurang dari 30 (tiga puluh) hari. Sebelum mendapat keputusan penurunan harga jual dari Kakanda. permintaan terhadap jasa Pegadaian meningkat pesat sehingga masing-masing cabang Pegadaian melakukan penarikan dana dari BRI dalam jumlah cukup besar. Perum Pegadaian diberikan fasilitas kredit oleh BRI sebesar Rp 181. Beban suku bunga pendanaan yang tinggi menyebabkan Perum Pegadaian menaikkan sewa modalnya seperti terlihat dalam tabel di atas. Dimutasikan Antarcabang BSL emas atau non-emas sebelum diusulkan penurunan harga jualnya dapat juga diupayakan penjualannya di kantor cabang yang berada di daerah lain yang diyakini dapat terjual lebih cepat. Hal ini menyebabkan kredit yang ditarik secara keseluruhan melebihi plafon yang ditentukan ( overdraft) sehingga BRI menghentikan fasilitas tersebut pada bulan Agustus 1998. mutasi aktiva dan harus mendapat izin dari Kakanda dan penjualannya di tempat yang baru harus memperhitungkan biaya pengirimannya. Di samping itu. Pengiriman BSL ini dibukukan sebagai Rekening Antar Kantor (RAK). Kelebihan kredit yang ditarik tersebut dikenakan suku bunga pasar sebesar 71% per tahun. Selisih lebih atau kurang atas penjualan ini dibukukan sebagai laba/rugi perusahaan. Sejak terjadinya krisis ekonomi.75 miliar (suku bunga 36 %) yang secara langsung dapat ditarik oleh cabang-cabang Perum Pegadaian melalui kantor-kantor cabang BRI setempat yang telah ditentukan. Pedoman penurunan harga jual secara bertahap sesuai kebijakan Kakanda. Kesulitan likuiditas yang dialami Perum Pegadaian antara lain akibat dihentikannya fasilitas kredit dari BRI. BSL yang diminta oleh Hakim/Jaksa/Polisi harus diselesaikan menurut peraturan yang berlaku.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 105 Lampiran 9 1. tidak diijinkan untuk menjualnya.7% Penjualan BSL jangka waktu lebih dari 30 (tiga puluh hari s/d 60 (enam puluh hari) dijual sebesar Harga Pembelian x 105%. Sebelumnya. atau kebijakan lain dari Kakanda atas usul penurunan harga jual yang telah diajukan sebelumnya. makin sedikitnya sumber pendanaan yang ada menyebabkan Perum Pegadaian mengurangi batas nilai kredit maksimum. Kacab dapat mengusulkan penurunan harga jual kepada Kakanda. · · 2 .

Maret 1999 .106 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.

Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 107 .

Maret 1999 .108 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.

Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 109 .

Maret 1999 .110 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.

Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 111 .

112 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Maret 1999 .

Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 113 .

114 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Maret 1999 .

Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 115 .

Maret 1999 .116 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.

Namun pada sisi yang lain. Kecenderungan tersebut ternyata juga memberikan kesempatan bagi para pelaku money laundering untuk turut memanfaatkan kecanggihan jaringan layanan perbankan. suap/korupsi/ manipulasi serta fraud perbankan) telah menjadi “legal” dalam dunia bisnis di pasar keuangan internasional. senjata gelap. layering ataupun integration. Kajian ini diharapkan akan mampu memberikan gambaran serta perbaikan-perbaikan yang memadai dan perlu dilakukan oleh masyarakat keuangan internasional dalam upaya pencegahan maupun penindakan terhadap kegiatan money laundering. teknik-teknik. terorganisasi rapi dan profesional. Tulisan ini bertujuan untuk memberikan gambaran awal tentang kegiatan money laundering. serta implikasi yang timbul sehubungan dengan peranan bank sebagai lembaga intermediasi. volatilitas yang sangat besar pada modal internasional dari transfer asset antar negara yang tidak terantisipasi. Dalam posisi ini. juga merupakan lembaga yang sangat rentan terhadap proses placement. Bank Indonesia Delfianto Ras : Dealer Yunior pada Dealing Room. sumber-sumber regulasi. Uang hasil transaksi ilegal (obat bius/ narkotika. Ketidakberhasilan dalam menggalang kerjasama internasional dalam memerangi money laundering akan menimbulkan risiko perubahan variabel permintaan uang yang tak terduga. batasan. *) Haryadi Ramelan : Dealer pada Dealing Room.Kajian Awal Tentang Money Laundering serta Implikasinya dalam Pasar Keuangan Internasional 117 KAJIAN AWAL TENTANG MONEY LAUNDERING SERTA IMPLIKASINYA DALAM PASAR KEUANGAN INTERNASIONAL Hariyadi Ramelan. yang dari tahun ke tahun semakin canggih. Urusan Devisa. Bank Indonesia . Urusan Devisa. perbankan internasional khususnya International Offshore Banking Centres (IOBC) dengan segala aspek perlindungan data serta keleluasaan pajaknya telah menjadi lembaga intermediasi yang sangat diminati oleh para money launderer. efek kontaminasi pada transaksi keuangan yang legal. risiko pada kesehatan perbankan. dan Delfianto Ras*) Perkembangan teknologi perbankan internasional dalam dekade terakhir ini telah memberikan jalan bagi tumbuhnya jaringan-jaringan perbankan yang semula lokal/regional menjadi suatu lembaga keuangan yang global.

penjumlahan total nilai import dan pembayaran bunga seharusnya sama dengan total nilai ekspor dan penerimaan bunga. Dua bank besar tersebut diharuskan membayar denda masingmasing USD 9. T Pada situasi global. saat ini perkembangan pasar keuangan internasional telah memungkinkan terbukanya peluang untuk menampung rekening secret money. dll). kegiatan money laundering dalam konsep akuntansi internasional ternyata mampu menjelaskan adanya defisit neraca transaksi berjalan dunia. yakni Bancomer dan Banco Serfin dinyatakan bersalah oleh Pengadilan Federal (Fed Court) Los Angeles. 1) uang yang dibayarkan untuk barang atau jasa-jasa tersebut tidak pernah tercatat oleh perusahaan/ individu yang umumnya dengan berbagai alasan antara lain untuk menghindari pajak ataupun karena transaksi tersebut ilegal (manipulasi oleh perusahaan swasta.9 juta dan USD 4. 1996. Chapman & Hall. 6th Ed. pp. Management of Company Finance. bila sebuah komoditas diimpor dan dibayar. Contoh-contoh tersebut hanya menggambarkan situasi mikro dari satu konsekuensi bercampurnya “uang halal” yang secara resmi masuk dalam hitungan otoritas moneter dengan uang haram yang merupakan hasil kegiatan melawan hukum dalam bisnis keuangan internasional. Lantas kemanakah uangnya? Beberapa sebab dapat dikemukakan seperti statistical error atau (bukan mustahil) adanya secret money. Secara teoritis dan teknis. dalam kasus money laundering. Pada saat yang bersamaan di London. Maret 1999 I.22-23. Secara lebih rinci. London. Kalimat tersebut nampaknya bukan sekedar slogan kosong bagi Pemerintah Amerika Serikat dalam memberantas kegiatan money laundering.7 juta. namun tidak ada catatan bahwa seseorang telah menerima pembayaran tersebut. J. . 1.118 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Samuel. Dinas Pajak Dalam Negeri Inggris melakukan razia terhadap 2 kantor akuntan besar dan juga rumah pengacara serta akuntan yang terbukti berupaya menghindari objek pajak yang diperoleh dari money laundering. Hal tersebut paling tidak terbukti pada hasil “Operation Cassablanca” yang berlangsung akhir bulan Maret 1999. suap kepada pejabat pemerintahan. Pendahuluan he war against money launderer is not over . Kedua bank juga terbukti bersalah dan mengaku bertanggung jawab penuh bahwa karyawan-karyawan banknya telah melakukan money laundering atas hasil-hasil ilegal narkotik. Hal kedua tersebut diakui sebagai masalah yang pelik namun realitasnya memang terdapat permintaan pasar yang cukup kuat untuk secret money. Dua bank besar Mexico. tidak hanya dari para kriminal namun juga dari perusahaan-perusahaan dan bahkan pemerintahan. Sejalan dengan praktek money laundering tersebut.M et al . Hal ini antara lain ditandai dengan semakin maraknya International Offshore Banking Centers (IOBC) di berbagai belahan dunia seperti Gambar 1. Dalam kasus black hole di atas.

bagian kedua tulisan ini akan memaparkan batasan. Kedua. Pertama. Annual Report. namun demikian money laundering secara khusus dapat diartikan pencucian uang (laundering money from illicit proceeds). International Monetary Fund (IMF) 2) berpendapat bahwa money laundering merupakan salah satu ancaman paling serius bagi masyarakat keuangan internasional khususnya dan sistem keuangan global pada umumnya. Batasan. Ketiga. Dengan memiliki pemahaman yang cukup memadai. Angka ini secara ekstrim dapat diartikan bahwa bisnis money laundering merupakan bisnis terbesar ketiga di dunia setelah forex market dan bisnis minyak dunia. Dalam textbook. Bagian Ketiga. proses kegiatan dan pelanggaran money laundering. Teknik dan Regulasi dalam Kegiatan Money Laundering A. pengawasan melekat terhadap uang (dirty money) harus dipertahankan. mengupas beberapa implikasi yang sifatnya represif dan antisipatif terhadap kegiatan money laundering dan Bagian Keempat berisi Kesimpulan akhir. yang besarnya mencapai 300 – 400 milyar USD. _____________. trend dan teknik umum yang digunakan. Batasan dan Proses Kegiatan Money Laundering Tak ada batasan money laundering secara umum. . Secara rinci. yakni 2-5% dari GDP dunia. The Finacial Action Task Force on Money Laundering . yakni sebagai suatu proses dimana para kriminal berupaya untuk menyembunyikan sumber dan kepemilikan hasil-hasil aktivitas kriminal yang melawan hukum. Tujuan dari penulisan makalah ini antara lain memberikan gambaran yang menyeluruh berkaitan dengan kegiatan money laundering. 2. pemilik uang dan sumber sesungguhnya uang tersebut harus disembunyikan. II. 1997.Kajian Awal Tentang Money Laundering serta Implikasinya dalam Pasar Keuangan Internasional 119 Berkaitan dengan permasalahan tersebut. regulator atau lembaga lain yang berwenang (bank sentral) serta pelaku-pelaku pasar finansial lainnya. ada empat faktor yang umum terdapat dalam kegiatan money laundering. maka diharapkan dapat diupayakan langkah-langkah efektif untuk mencegah terjadinya money laundering maupun langkah-langkah represif seandainya money laundering terjadi dengan tetap mengacu pada Undang-undang ataupun regulasi yang berlaku secara internasional. Keempat. batasan. jejak proses pencucian uang harus disamarkan dalam upaya menghilangkan jejak jika seseorang menelusuri proses uang dari awal hingga akhir. Sebagai gambaran turn over kegiatan money laundering saat ini telah melampaui batas imaginasi. serta implikasinya bagi pelaku-pelaku transaksi-transaksi perbankan internasional seperti bankir. bentuk pengambilan uangnya harus diubah.

Maret 1999 .120 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.

Secara ringkas. 1998. kegiatan money laundering biasanya terdiri atas 3 proses yang berkelanjutan yakni: 1. Spin Dry (Repatriation and Integration) Spin dry merupakan gabungan dari langkah repatriasi dan integrasi. Cara tradisional dalam money laundering adalah dengan cara menyelundupkan secara fisik uang tunai hasil transaksi ilegal ke luar negeri (perbatasan nasional suatu negara). Robinson. Annual Report. J. Langkah lain yang sering dilakukan adalah menciptakan sebanyak mungkin account dari perusahaan fiktif/semu dengan memanfaatkan aspek kerahasian bank dan keistimewaan hubungan antara nasabah bank dan pengacara. proses pencucian yang dapat dilihat pada Gambar 2. Jeffrey. stocks. 1998) 3). obat-obatan terlarang. forex market. Pocket Books. Teknik-Teknik Money Laundering Berdasarkan survey yang dilakukan oleh The FATF 4) (The Financial Action Task Force) sepanjang tahun 1996-1997. penipuan/ penggelapan (fraud) serta hasil-hasil korupsi. . Laundrymen.Kajian Awal Tentang Money Laundering serta Implikasinya dalam Pasar Keuangan Internasional 121 Secara kronologis. 2. B. Langkah ini disebut juga sebagai immersion yang merupakan gabungan dari consolidation dan placement (Robinson. Layering (Pemilahan Dana) Layering atau heavy soaping merupakan langkah kedua dalam money laundering yang ditandai dengan pemilahan hasil-hasil ilegal tersebut dari sumber-sumber asalnya melalui pembelian/transaksi-transaksi finansial seperti bearer bonds. Proses Pencucian Uang. senjata gelap. ____________. Proses yang terjadi adalah apabila hasil-hasil ilegal dari money laundering masuk kembali ke dalam sistem keuangan dan muncul sebagai dana-dana bisnis yang wajar/ normal. The Financial Action Task Force on Money Laundering . lawyers maupun akuntan pribadi. 3. teknik-teknik yang dilakukan dalam pencucian uang dapat dikategorikan dalam 2 cara umum yakni: 1. Penggerebekan yang terjadi di London pada contoh 3. Hal ini dilakukan dalam upaya untuk menghilangkan jejak atau upaya audit sehingga seolah-olah merupakan transaksi finansial yang legal. London 4. Cara tradisional. 1997. Cara lain yang juga relatif konvensional adalah menggunakan pedagang valuta asing. Placement (Penempatan Dana) Penempatan dana merupakan proses awal dalam money laundering yang ditandai dengan penyerahan secara fisik uang yang dihasilkan dari aktivitas melawan hukum seperti perdagangan narkotika.

122 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Maret 1999 .

2. Diperkirakan hampir setengah assets bank telah hilang (disappeared). serta bertindak sebagai bankir dari kelompok Abu Nidal. Bank yang didirikan di Luxembourg tahun 1972 oleh pengusaha Pakistan (Agha Hasan Abedi).Kajian Awal Tentang Money Laundering serta Implikasinya dalam Pasar Keuangan Internasional 123 kasus di atas jelas menunjukkan kecurangan seorang pengacara/akuntan dalam menyembunyikan hasil-hasil kejahatan seperti money laundering. Manuel Noriega (Panama) dan Ferdinand Marcos (Philipina) dalam mencuri uang dari negaranya. internet/ network based systems dan hybrid systems. Pada tahun 1987. mengakibatkan BCCI beroperasi bebas dari peraturan pemerintah selama 15 tahun. lawyer. dimana tempat tersebut banyak uang hasil curian. aplikasi ke tiga cara ini dalam sistem pembayaran masih relatif belum termanfaatkan. Meskipun kantor pusat BCCI di London. ciri-ciri yang sering dilakukan oleh money launderer antara lain menggunakan institusi yang terkait (perbankan) serta Pedagang Valuta Asing (PVA). serta accountant. dalam perjalanannya asset bank tumbuh dengan cepat hingga mencapai USD 20 milyar dan mempunyai cabang di 70 negara. Bank sebagai money launderer Salah satu contoh yang sangat berharga berkaitan dengan kasus money laundering adalah skandal yang dilakukan oleh The Bank of Credit and Commerce International (BCCI) pada tahun 1991. Cara-cara Modern. Kerugian deposan . Berkembangnya teknologi baru dibidang perbankan antara lain elektronic money (e– money) telah memberikan ancaman baru dalam teknik money laundering yang lebih canggih. Berdasarkan pengalaman di Inggris. Namun sayangnya bank tersebut mengirimkan dananya ke rekening rahasia di Cayman Islands. namun BCCI diperkirakan juga membantu diktator seperti Sadam Hussein (Irak). Tidaklah mengejutkan bila BCCI diplesetkan artinya menjadi “Bank of Crook and Criminals. namun lemahnya peraturan bank oleh Institut Monetaire Luxembourgeois (IML) di Luxembourg. Penggelapan uang tersebut tidak hanya menjadi kegiatan bayangan BCCI. IML mencapai persetujuan dengan tujuh negara dimana BCCI beroperasi. Bagaimana BCCI menjalankan aktivitas penggelapan dalam waktu yang cukup lama? Jawabannya adalah sulitnya mengatur bank yang beroperasi di banyak negara. Pada musim semi tahun 1990 IML dapat menemukan beberapa bukti penggelapan dan pada Juli 1991 perusahaan akuntan Price Waterhouse menemukan dokumen serta menyerahkan pada Bank of England. Namun demikian. 2. tetapi masih belum dapat menelusuri aktivitas bank tersebut. Inc”. selanjutnya BCCI dinyatakan ditutup.1. Tiga cara yang mungkin dilakukan adalah melalui : Stored value cards. Hal yang sulit untuk dilacak justru hasil-hasil ilegal yang ditransfer melalui International Electronic Fund Transfer.

yakni antara lain: 1. orang dan modal secara leluasa di seluruh Eropa. khususnya untuk mobilitas barang-barang. Ketentuan Primer (Tier 1) 1) Drug Trafficking Offences Act 1986 (DTOA) 2) Criminal Justice Scotland Act 1987 (CJSA) .2 Payable through account Salah satu cara yang juga tergolong cukup modern dan sering digunakan oleh money launderers adalah payable through account (lihat Gambar 3). karena London sebagai salah satu pusat pasar keuangan terbesar dunia. Dalam rangka merespon hal-hal tersebut di atas. Maret 1999 dan pemegang saham dari colapse-nya BCCI sudah tak terhingga dan pengawas bank dalam hal ini Bank of England sulit disalahkan atas kelambanan menuntaskan skandal tersebut. Melalui transaksi beberapa jenjang tersebut pada level terbawah yaitu pada level nasabah third bank tersebut para money launderers banyak melakukan aktivitasnya untuk memasukkan dananya ke dalam sistem jasa keuangan bank. 2. beberapa ketentuan perundangan telah disahkan oleh oleh Parlemen Inggris. Kondisi ini lebih membuka peluang setelah diperkenalkan Euro sebagai mata uang tunggal Eropa yang secara tidak langsung telah menurunkan kontrol dan hambatan-hambatan dalam rangka pasar tunggal Eropa. bank ataupun lembaga finansial lainnya merupakan lembagalembaga yang sangat rentan bagi kemungkinan penyusupan hasil-hasil transaksi ilegal (secret money). Regulasi Kegiatan Money Laundering Sebagaimana diketahui. perlu adanya aturan hukum yang mengikat secara internasional dan berkekuatan hukum yang tetap. apakah itu placement. Rezim yang dapat dijadikan contoh untuk pencegahan kegiatan money laundering adalah Inggris. layering maupun integration. Pada gambar tersebut diilustrasikan adanya pembelian US bonds yang pembayarannya dilakukan melalui account oleh client bank yang kemudian diperjual belikan pada level nasabah client bank tersebut (third bank) dan diteruskan pada level nasabah third bank. the Basle Committee baru mengumumkan dan menyetujui standarisasi dari peraturan bank internasional. C. Setahun setelah BCCI colapse. Berkaitan dengan upaya untuk mencegah dan memerangi kegiatan money laundering tersebut. Pasar finansial London yang terkenal dengan kemajuan dan transparannya sangat memberi peluang untuk memuluskan tahapan-tahapan kegiatan money laundering. layering dan integrasi. merupakan target yang menarik bagi para pencuci uang. Rentannya lembaga-lembaga tersebut dari kegiatan money laundering dimungkinkan baik dalam proses placement.124 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. jasa. Mengapa demikian.

Kajian Awal Tentang Money Laundering serta Implikasinya dalam Pasar Keuangan Internasional 125 .

pencatatan yang berhubungan dengan pembukaan rekening nasabah baru (client) atau identitas counterparty dan pencatatan yang berhubungan dengan transaksi yang dilakukan oleh client atau counterparty. c) Uji/Pemeriksaan atas Transaksi. yang sangat berpotensi dimanfaatkan pihak lain untuk money laundering. Ketentuan Sekunder (Tier 2) Ketentuan sekunder yang merupakan bentuk dari Money Laundering Regulation 1993 secara khusus ditujukan pada lembaga keuangan. dan sejenisnya untuk membuat sistem untuk menghalangi terjadinya money laundering.lembaga keuangan adalah sebagai berikut: a) Sistem Kontrol. Prosedur ini sangat dibutuhkan bagi seluruh personil perbankan dan lembaga terkait . Setiap calon nasabah harus diidentifikasi dan diverifikasi bahwa yang bersangkutan memang memenuhi syarat sebagai applicant for business. Ketentuan ini menjamin pegawai dari waktu ke waktu diberikan kesempatan mengikuti pelatihan dalam upaya mengenali dan menguasai transaksi yang dilakukannya sendiri atau atas nama orang lain . Peraturan tersebut mensyaratkan bagi semua lembaga keuangan. Cooperation) Act 1990 (CJCA) Criminal Justice (Confiscation) ( Northern Ireland) Order CJO 1990 Northern Ireland Act 1991. f) Pendidikan dan Pelatihan. Maret 1999 Criminal Justice Act 1988 (CJA88) Prevention of Terrorism (Temporary Provisions) Act 1989 (POTA) Criminal Justice (Int. (NIEPA) Criminal Justice Act 1993 (CJA93) 2.126 3) 4) 5) 6) 7) 8) Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Sistem ini berupa peraturan yang meliputi prosedur internal control dan komunikasi tepat pada lembaga-lembaga keuangan yang bertujuan mencegah dan menghalangi terjadinya money laundering. d) Pencatatan. Prosedur pelaporan antara lain mencakup laporan identifikasi orang dalam suatu organisasi. masalahmasalah yang muncul dan pegawai yang menanggulanginya. pencatatan dapat dibagi dua yaitu. apa jenis informasinya. pendapat orang yang menanggulangi masalah tersebut dalam upaya meningkatkan pengetahuan terutama mengenai dasar kecurigaan terhadap orang yang melakukan money laundering. e) Pelaporan. Dalam kaitan ini. kepada siapa informasi tersebut harus dibuat. b) Identifikasi dan Verifikasi. Prosedur pencegahan terhadap terjadinya money laundering yang umumnya digunakan pada lembaga.

memiliki . 4. Pelanggaran Hukum dalam Money Laundering Berdasarkan perundangan di Inggris (Criminal Justice Act 1993/ CJA) tersebut di atas. c) Menyembunyikan atau mentransfer penerimaan untuk menghindari tindakan pencegahan atau perintah penyitaan. menyamarkan. dan green book untuk bisnis asuransi. asuransi dan lembaga investasi lainnya. profesi. Tindakan ini digolongkan sebagai pelanggaran bagi seseorang yang memberikan bantuan kepada money launderer untuk memperoleh. dan menggunakan hasil dari kegiatan kriminal. yellow book untuk bisnis investasi swasta. menyembunyikan. atau pegawai yang mengetahui atau mencurigai orang lain melakukan money laundering . Buku ketentuan ini biasanya disebut sebagai the read book untuk perbankan. Dibawah aturan CJA seseorang dianggap melakukan pelanggaran apabila menyembunyikan. 3. atau menginvestasikan dana jika dana yang bersangkutan diketahui atau dicurigai merupakan hasil penerimaan kriminal. seluruh atau sebagian penerimaan yang berasal dari kegiatan kriminal. Ketentuan Tambahan (Tier 3) Ketentuan tambahan ini lebih merupakan petunjuk teknis yang diterbitkan oleh The Joint Money Laundering Steering Group (JMLSG) yang ditujukan bagi bank-bank dan lembaga keuangan lainnya. b) Mengakuisisi . d) Menggagalkan usaha penyingkapan atau kecurigaan dari praktek money laundering. Prosedur ini merupakan langkah terakhir yang harus dilakukan dan biasanya berupa investigasi oleh National Criminal Inteligent Service (NCIS). bisnis. mengubah. yaitu: a) Membantu seseorang untuk menyimpan hasil-hasil kejahatan. melakukan transfer atau menyembunyikan kekayaan dari pengadilan baik secara langsung maupun tidak langsung. terdapat 5 pelanggaran utama yang dapat dikategorikan sebagai tindakan money laundering. CJA mensyaratkan siapapun sehubungan dengan transaksi yang dilakukan. Seseorang dianggap bersalah melakukan pelanggaran jika dia mengetahui sebagian atau keseluruhan kekayaan orang lain baik secara langsung atau tidak langsung berasal dari hasil kejahatan. g) Tindakan hukum.Kajian Awal Tentang Money Laundering serta Implikasinya dalam Pasar Keuangan Internasional 127 dalam upaya peningkatan kualitas pemahaman terhadap pekerjaan yang dijalani serta kontribusinya terhadap pengawasan internal. dan secara langsung atau tidak langsung dia menguasai atau menggunakan atau memiliki kekayaan tersebut. menguasai.

e) Tipping off (Peringatan). Maret 1999 harus melaporkan informasi tersebut pada polisi sesegera mungkin. Hal ini berarti bahwa seseorang dianggap melanggar hukum apabila tidak melaporkan kepada pihak berwenang apabila mengetahui adanya praktek money laundering. Satu upaya upaya penting yang telah dilakukan oleh masyarakat internasional adalah dibentuknya FATF yang salah satu rekomendasinya menyatakan bahwa “countries should monitor the physical cross border transportation of cash and bearer instruments without impeding in any way the freedom at capital movement”. Implikasi tersebut menuntut adanya suatu langkah kerjasama preventif dan represif yang berskala internasional terhadap kegiatan money laundering. intentionally or unintentionally. including strict “know your customer” rules. Suatu pemaksaan terhadap keterbukaan konsumen atau pihak ketiga untuk menyampaikan informasi pada pihak yang berwenang bahwa telah terjadi praktek money laundering atau adanya rencana money laundering. Beberapa Upaya Represif dan Antisipatif terhadap Kegiatan Money Laundering Sebagaimana diuraikan di atas. Kondisi ini memberikan suatu implikasi yang sangat luas dan kompleks dalam upaya menciptakan kestabilan masyarakat global di pasar finansial. that promote high ethical and professional standards in the financial sector and prevent the bank being used. Sejalan dengan hal tersebut. . namun juga berasal dari perkembangan teknologi seperti EFT (cyber payment) yang memungkinkan pembayaran transfer berlangsung dengan mobilitas yang tinggi dengan mengoptimalkan jaringan perbankan internasional sebagai lembaga intermediasi. kegiatan money laundering memiliki dampak instabilitas pada sistem finansial dunia. yang secara pokok dapat dijabarkan sebagai berikut: a) b) Introduksi sistem SAR (suspicious activity reporting system) yang baru. BIS melalui Basle Committee pada bulan September 1997 juga menetapkan prinsip utama dalam supervisi perbankan yang efektif yang berbunyi “ Banking supervisor must determine that banks have adequate policies. III. practices and procedures in place. Rekomendasi ini merupakan kunci utama dalam pemahaman konsep “know your customer” approach. FATF memberikan 40 rekomendasi langkah-langkah utama dalam memerangi kegiatan money laundering. Faktor instabilitas tersebut tidak hanya bersumber dari turn over yang sangat besar (300 – 400 milyar USD per tahun). Dalam kaitan di atas.128 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. by criminal elements”. Modifikasi sistem pelaporan transaksi mata uang (CTR= Currency Transaction Reporting System). CJA hanya mentolerir kesalahan atas kecurigaan yang dilaporkan dengan alasan yang dapat diterima.

Staff Training : dalam rangka mengenali dengan baik dan menangani transaksi-transaksi yang mencurigakan. 3. pelaporan prosedur serta tindakan pinalti. 5 kelompok yang diharuskan mengikutinya adalah: 1.Kajian Awal Tentang Money Laundering serta Implikasinya dalam Pasar Keuangan Internasional 129 c) d) e) f) g) h) Perluasan daftar tindakan pelanggaran money laundering dalam memberantas terorisme. sistem pelaporan. Pegawai baru (New employees). pelaporan kondisi yang terjadi. 5. pelanggaran migrasi dan kesehatan. Pelatihan terhadap petugas front office harus meliputi prosedur-prosedur identifikasi dan verifikasi ( sebagai contoh. dan laporan transaksi yang mencurigakan. Supervisors/ Manager. jaminan hukum yang dilaporkan. policies and prosedures). mengenali secara baik proses settlement/payment/delivery instructions yang diluar batas kewajaran. Pelatihan terhadap dealer/staf lainnya seharusnya juga mencakup tanggung jawab secara hukum. peraturan dan prosedur internal. Memperluas upaya pelaksanaan hukum dan pengaturan hukum dalam memerangi kegiatan money laundering. dan jaminan perorangan menurut ketentuan yang berlaku. pencatatan. 4. Peningkatan kerjasama antar negara dan perwakilan industri keuangan global dalam upaya melawan kegiatan money laundering melalui penetapan kelompok kerja. . pengecekan akan kecocokan identitas investor). Dealers and sales staff. Reporting Officers. Penetapan aturan baru dalam pencatatan transfer-transfer dana (system at determine internal control. pengenalan terhadap faktor-faktor yang mencurigakan. dealing dengan customer yang jarang dilakukan (antara lain transaksi kas dalam jumlah besar/ bearer securities). kebijaksanaan perusahaan terhadap adanya kasus-kasus pengecualian. 2. Implementasi proyek Gateway yang menyediakan data-data inteligen keuangan secara on line antar negara dan pemerintah-pemerintah daerah. Pendalaman materi pelatihan terhadap kelompok staf ini meliputi seluruh aspek perundangan-undangan. validasi. Pelatihan terhadap pegawai baru sebaiknya mencakup latar belakang terjadinya money laundering. Account Opening staff. lebih ditekankan pada detail mengenai ketentuan perundang-undangan yang berlaku meliputi identifikasi. staf pelaksana harus menerima pelatihan khusus money laundering. Pelatihan terhadap manajer yang memberikan instruksi.

bahwa setiap negara memiliki prioritas yang berbeda-beda khususnya dalam menghadapi kegiatan/praktek money laundering. CTR maupun Gateway Intelligence System. khususnya bagi lembaga pengawas perbankan ataupun lembaga keuangan lainnya. . dan transaksi finansial yang dilakukan khususnya transaksitransaksi off balance sheet. 1991). Maret 1999 IV. Mengapa demikian? Karena anti money laundering measures membutuhkan kerjasama internasional yang harus kondusif baik bersifat multilateral maupun bilateral (antar dua negara). Dalam konteks ini maka pendekatan “know your customer rule” menjadi acuan yang sangat mendasar dalam menggali informasi calon nasabah bank. Peningkatan tersebut dapat diupayakan dalam bentuk investigasi khusus terhadap asal modal disetor. Secara taktis. Sebagaimana kita ketahui. Konsekwensi lain.130 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Berkaitan dengan butir (1). ataupun tidak diakuinya transaksi keuangan yang terjadi di negara tersebut secara internasional (default). Perbedaan visi dan persepsi ini tentunya akan berimplikasi pada kelompok-kelompok kerja yang dibentuk oleh FATF. Jika langkah preventif ini diterapkan secara universal terhadap semua lembaga keuangan/ jaringan perbankan internasional. Dengan semakin berkembangnya kegiatan/transaksi-transaksi illegal internasional. 3. maka upaya pemberantasan terhadap kegiatan money laundering merupakan real test case bagi masyarakat dan sistem keuangan internasional. asal dana-dana pihak ketiga yang diterima. bahwa apabila terdapat negara-negara yang tidak mematuhi kesepakatan bersama tersebut akan mendapatkan pinalti yang dapat berupa punitive taxes atas transaksi-transaksi yang terbukti berkaitan dengan money laundering di pasar finansial di negara yang bersangkutan. Penutup Dari pokok-pokok rekomendasi yang diberikan oleh FATF di atas. tindakan yang paling efektif dalam menangkal kegiatan money laundering pada lembaga perbankan adalah mendeteksi sedini mungkin aktivitas kriminal tersebut pada titik paling crucial yakni pada saat hasil-hasil ilegal tersebut masuk ke dalam sistem perbankan/keuangan (placement process). dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut: 1. 4. Hal ini berarti. adalah bahwa kualitas supervisi terhadap transaksi finansial oleh bank khususnya harus senantiasa ditingkatkan. lembaga perbankan seringkali dipergunakan sebagai intermediasi oleh pelaku tindakan kriminal yang tidak mustahil juga dibantu oleh adanya moral hazard oleh karyawan bank sendiri (contoh kasus BCCI. maka kecil kemungkinan 2. Hal ini sangat penting mengingat dalam banyak kasus money laundering. para anggota kelompok kerja FATF ataupun masyarakat keuangan internasional sudah selayaknya menerapkan aturan-aturan standar minimum dalam upaya memerangi kegiatan money laundering misalnya keseragaman penggunaan sistem SAR.

Barry. 2) Camdesus. Payable Through Accounts and Money Laundering. Jeffrey. CCH Inc. USA. 7) Richard. 10) _________. et al. Butterworths. Paris (Feb 10). Michael . Sebaliknya bila langkah tersebut tidak berhasil. 4) Morris. baik melalui International offshore Banking Centre (IOBS) yang memiliki insentif pembebasan pajak dan longgarnya peraturan ataupun memanfaatkan negara-negara/ lokasi yang relatif tidak/ belum terjangkau oleh hukum internasional. Money Laundering: The Regim in the United Kingdom. Andrew.1996. 3rd Edition. 9) The Banker. London. 3) Hayaes. Illinois. pp 350. Allan. pp 52-53. 5) Parlour. Legal Analysis. Daftar Pustaka 1) Abrahamson. International Guide to Money Laundering and Practice. Pocket Books.Kajian Awal Tentang Money Laundering serta Implikasinya dalam Pasar Keuangan Internasional 131 money launderer akan mampu menembusnya. . Money Laundering: The Importance of International Countermeasures. Guide to Financial Services Regulation. 8) Robinson. Laundrymen. Jeffrey.1998. Journal of International Banking and Financial Law.1998.1995. 1998 (Feb).1995.1999 (March 31). 1997. The Financial Action Task Force on Money Laundering. Bancomer and Banca serfin Plead Guilty to Money Laundering.1998. Pp 29-31.1996. Annual Report. maka money launderer akan selalu mencari titik terlemah dari sistem jaringan keuangan internasional. Money Laundering: Butterworths. Richard. 6) Reuters News. July – August. Money Laundering: The Sky’s the Limit.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful