Krisis Moneter Indonesia : Sebab, Dampak, Peran IMF dan Saran

1

KRISIS MONETER INDONESIA : SEBAB, DAMPAK, PERAN IMF DAN SARAN* )
Lepi T. Tarmidi
**)

K

risis moneter yang melanda Indonesia sejak awal Juli 1997, sementara ini telah berlangsung hampir dua tahun dan telah berubah menjadi krisis ekonomi, yakni lumpuhnya kegiatan ekonomi karena semakin banyak perusahaan yang tutup dan meningkatnya jumlah pekerja yang menganggur. Memang krisis ini tidak seluruhnya disebabkan karena terjadinya krisis moneter saja, karena sebagian diperberat oleh berbagai musibah nasional yang datang secara bertubi-tubi di tengah kesulitan ekonomi seperti kegagalan panen padi di banyak tempat karena musim kering yang panjang dan terparah selama 50 tahun terakhir, hama, kebakaran hutan secara besar-besaran di Kalimantan dan peristiwa kerusuhan yang melanda banyak kota pada pertengahan Mei 1998 lalu dan kelanjutannya. Krisis moneter ini terjadi, meskipun fundamental ekonomi Indonesia di masa lalu dipandang cukup kuat dan disanjung-sanjung oleh Bank Dunia (lihat World Bank: Bab 2 dan Hollinger). Yang dimaksud dengan fundamental ekonomi yang kuat adalah pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi, laju inflasi terkendali, tingkat pengangguran relatif rendah, neraca pembayaran secara keseluruhan masih surplus meskipun defisit neraca berjalan cenderung membesar namun jumlahnya masih terkendali, cadangan devisa masih cukup besar, realisasi anggaran pemerintah masih menunjukkan sedikit surplus. Lihat Tabel. Namun di balik ini terdapat beberapa kelemahan struktural seperti peraturan perdagangan domestik yang kaku dan berlarut-larut, monopoli impor yang menyebabkan kegiatan ekonomi tidak efisien dan kompetitif. Pada saat yang bersamaan kurangnya transparansi dan kurangnya data menimbulkan ketidak pastian sehingga masuk dana luar negeri dalam jumlah besar melalui sistim perbankan yang lemah. Sektor swasta banyak meminjam dana dari luar negeri yang sebagian besar tidak di hedge. Dengan terjadinya krisis moneter, terjadi juga krisis kepercayaan. (Bandingkan juga IMF, 1997: 1). Namun semua kelemahan ini masih mampu ditampung oleh perekonomian nasional. Yang terjadi adalah, mendadak datang badai yang sangat besar, yang tidak mampu dbendung oleh tembok penahan yang ada, yang selama bertahun-tahun telah mampu menahan berbagai terpaan gelombang yang datang mengancam.

*) Tulisan ini merupakan revisi dan updating dari pidato pengukuhan Guru Besar Madya pada FEUI dengan judul “Krisis Moneter Tahun 1997/1998 dan Peran IMF” , Jakarta, 10 Juni 1998. **) Lepi T. Tarmidi : Wakil Kepala Pusat Kajian APEC, Universitas Indonesia, email : lepi@lpem.feui.org

2

INDIKATOR UTAMA EKONOMI INDONESIA 1990 - 1997
1990 Pertumbuhan ekonomi (%) Tingkat inflasi (%) Neraca pembayaran (US$ juta) Neraca perdagangan Neraca berjalan Neraca modal Pemerintah (neto) Swasta (neto) PMA (neto) Cadangan devisa akhir tahun (US$ juta) (bulan impor nonmigas c&f) Debt-service ratio (%) Nilai tukar Des. (Rp/US$) APBN* (Rp. milyar) 8,661 4,7 30,9 1,901 3,203 9,868 4,8 32,0 1,992 433 11,611 5,4 31,6 2,062 -551 12,352 5,4 33,8 2.11 -1.852 13,158 5,0 30,0 2.2 1,495 14,674 4,3 33,7 2,308 2,807 19,125 5,2 33,0 2,383 818 4.65 456 17,427 4,5 7,24 9,93 2,099 5,352 -3.24 4,746 633 3,021 1,092 1991 6,95 9,93 1,207 4,801 -4,392 5,829 1,419 2,928 1,482 1992 6,46 5,04 1,743 7,022 -3,122 18,111 12,752 3,582 1,777 1993 6,50 10,18 741 8,231 -2,298 17,972 12,753 3,216 2,003 1994 7,54 9,66 806 7,901 -2.96 4,008 307 1,593 2,108 1995 8,22 8,96 1,516 6,533 -6.76 10,589 336 5,907 4,346 1996 7,98 6,63 4,451 5,948 -7,801 10,989 -522 5,317 6,194 1997 4,65 11,60 -10,021 12,964 -2,103 -4,845 4,102 -10.78 1,833

Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan, Maret 1999

* Tahun anggaran Sumber : BPS, Indikator Ekonomi; Bank Indonesia, Statistik Ekonomi Keuangan Indonesia; World Bank, Indonesia in Crisis, July 2, 1998

Krisis Moneter Indonesia : Sebab, Dampak, Peran IMF dan Saran

3

Sebagai konsekuensi dari krisis moneter ini, Bank Indonesia pada tanggal 14 Agustus 1997 terpaksa membebaskan nilai tukar rupiah terhadap valuta asing, khususnya dollar AS, dan membiarkannya berfluktuasi secara bebas (free floating) menggantikan sistim managed floating yang dianut pemerintah sejak devaluasi Oktober 1978. Dengan demikian Bank Indonesia tidak lagi melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk menopang nilai tukar rupiah, sehingga nilai tukar ditentukan oleh kekuatan pasar semata. Nilai tukar rupiah kemudian merosot dengan cepat dan tajam dari rata-rata Rp 2.450 per dollar AS Juni 1997 menjadi Rp 13.513 akhir Januari 1998, namun kemudian berhasil menguat kembali menjadi sekitar Rp 8.000 awal Mei 1999.

Krisis Moneter dan Faktor-Faktor Penyebabnya
Penyebab dari krisis ini bukanlah fundamental ekonomi Indonesia yang selama ini lemah, hal ini dapat dilihat dari data-data statistik di atas, tetapi terutama karena utang swasta luar negeri yang telah mencapai jumlah yang besar. Yang jebol bukanlah sektor rupiah dalam negeri, melainkan sektor luar negeri, khususnya nilai tukar dollar AS yang mengalami overshooting yang sangat jauh dari nilai nyatanya1 . Krisis yang berkepanjangan ini adalah krisis merosotnya nilai tukar rupiah yang sangat tajam, akibat dari serbuan yang mendadak dan secara bertubi-tubi terhadap dollar AS (spekulasi) dan jatuh temponya utang swasta luar negeri dalam jumlah besar. Seandainya tidak ada serbuan terhadap dollar AS ini, meskipun terdapat banyak distorsi pada tingkat ekonomi mikro, ekonomi Indonesia tidak akan mengalami krisis. Dengan lain perkataan, walaupun distorsi pada tingkat ekonomi mikro ini diperbaiki, tetapi bila tetap ada gempuran terhadap mata uang rupiah, maka krisis akan terjadi juga, karena cadangan devisa yang ada tidak cukup kuat untuk menahan gempuran ini. Krisis ini diperparah lagi dengan akumulasi dari berbagai faktor penyebab lainnya yang datangnya saling bersusulan. Analisis dari faktor-faktor penyebab ini penting, karena penyembuhannya tentunya tergantung dari ketepatan diagnosa. Anwar Nasution melihat besarnya defisit neraca berjalan dan utang luar negeri, ditambah dengan lemahnya sistim perbankan nasional sebagai akar dari terjadinya krisis finansial (Nasution: 28). Bank Dunia melihat adanya empat sebab utama yang bersamasama membuat krisis menuju ke arah kebangkrutan (World Bank, 1998, pp. 1.7 -1.11). Yang pertama adalah akumulasi utang swasta luar negeri yang cepat dari tahun 1992 hingga Juli 1997, sehingga l.k. 95% dari total kenaikan utang luar negeri berasal dari sektor swasta ini, dan jatuh tempo rata-ratanya hanyalah 18 bulan. Bahkan selama empat tahun terakhir utang luar negeri pemerintah jumlahnya menurun. Sebab yang kedua adalah kelemahan
1 Dalam teori, overshooting nilai tukar biasanya bersifat sementara untuk kemudian mencari keseimbangan jangka panjang baru. Tetapi selama krisis ini berlangsung, nilai overshooting adalah sangat besar dan sudah berlangsung sejak akhir tahun 1997.

4% (1993) hingga 5. tetapi ada banyak faktor lainnya yang berbeda menurut sisi pandang masing-masing pengamat. memungkinkan arus modal dan valas dapat mengalir keluar-masuk secara bebas berapapun jumlahnya. Akibatnya harga barang impor menjadi relatif murah dan produk dalam negeri relatif mahal.8% (1991) antara tahun 1988 hingga 1996. Masyarakat bebas membuka rekening valas di dalam negeri atau di luar negeri. sehingga membuka peluang yang sebesarbesarnya untuk orang bermain di pasar valas.4 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. penyebab utama dari terjadinya krisis yang berkepanjangan ini adalah merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS yang sangat tajam. dan produk dalam negeri yang makin lama makin kalah bersaing dengan produk impor. menyebabkan nilai rupiah secara kumulatif sangat overvalued. karena tidak mencerminkan nilai tukar yang nyata. sehingga masyarakat memilih barang impor yang kualitasnya lebih baik. Kondisi di atas dimungkinkan. Ketiga adalah masalah governance.: 22). meskipun ini bukan faktor satu-satunya. karena Indonesia menganut rezim devisa bebas dengan rupiah yang konvertibel. Yang keempat adalah ketidak pastian politik menghadapi Pemilu yang lalu dan pertanyaan mengenai kesehatan Presiden Soeharto pada waktu itu. berkisar antara 2. Berikut ini diberikan rangkuman dari berbagai faktor tersebut menurut urutan kejadiannya: 1) Dianutnya sistim devisa yang terlalu bebas tanpa adanya pengawasan yang memadai. Valas bebas diperdagangkan di dalam negeri. 3) Akar dari segala permasalahan adalah utang luar negeri swasta jangka pendek dan menengah sehingga nilai tukar rupiah mendapat tekanan yang berat karena tidak tersedia cukup devisa untuk membayar utang yang jatuh tempo beserta bunganya (bandingkan juga Wessel et al. 2) Tingkat depresiasi rupiah yang relatif rendah. yang kemudian menjelma menjadi krisis kepercayaan dan keengganan donor untuk menawarkan bantuan finansial dengan cepat. ekspor menjadi kurang kompetitif dan impor meningkat. Sementara menurut penilaian penulis. termasuk kemampuan pemerintah menangani dan mengatasi krisis. Akumulasi utang swasta luar negeri yang sejak awal tahun 1990-an telah mencapai jumlah yang sangat besar. Nilai rupiah yang sangat overvalued ini sangat rentan terhadap serangan dan permainan spekulan. Maret 1999 pada sistim perbankan. Ada tiga pihak yang . yang berada di bawah nilai tukar nyatanya. sementara rupiah juga bebas diperdagangkan di pusat-pusat keuangan di luar negeri. bahkan sudah jauh melampaui utang resmi pemerintah yang beberapa tahun terakhir malah sedikit berkurang (oustanding official debt). Nilai Rupiah yang overvalued berarti juga proteksi industri yang negatif. ditambah sistim perbankan nasional yang lemah. Ditambah dengan kenaikan pendapatan penduduk dalam nilai US dollar yang naiknya relatif lebih cepat dari kenaikan pendapatan nyata dalam Rupiah. Akibatnya produksi dalam negeri tidak berkembang.

Pada awal Mei 1998 besarnya utang luar negeri swasta dari 1. 1998: 5). dan tiap tahunnya ada pemasukan pinjaman baru. karena kurang hati-hati dalam memberi pinjaman dan salah mengantisipasi keadaan (bandingkan IMF. sementara utang pemerintah US$ 53. . membuka tambak udang. karena masing-masing pengusaha hanya melihat dirinya sendiri saja dan tidak memperhitungkan gerakan pengusaha lainnya. Kesalahan pemerintah adalah. Pihak kreditur luar negeri juga ikut bersalah. Peran IMF dan Saran 5 bersalah di sini. pinjaman luar negeri pemerintah sifatnya jangka panjang. meskipun masalahnya juga cukup berat karena selama bertahun-tahun telah terjadi net capital outflow3 yang kian lama kian membesar berupa pembayaran cicilan utang pokok dan bunga. 3 Total pembayaran cicilan utang pokok dan bunga setelah dikurangi pinjaman baru. Selain itu pemerintah sama sekali tidak melakukan pengawasan terhadap utang-utang swasta luar negeri ini. Dampak. tingkat bunganya relatif rendah. kreditur dan debitur. Sebagian orang Indonesia malah bisa hidup mewah dengan menikmati selisih biaya bunga antara dalam negeri dan luar negeri (Wessel et al. terjadinya utang swasta luar negeri dalam jumlah besar ini. karena telah memberi signal yang salah kepada pelaku ekonomi dengan membuat nilai rupiah terus-menerus overvalued dan suku bunga rupiah yang tinggi. Jadi di sini pemerintah dihadapi dengan buah simalakama. Beda dengan pinjaman swasta. Dengan demikian pengusaha hanya bereaksi atas signal yang diberikan oleh pemerintah. ada tenggang waktu pembayaran. namun masih bisa diatasi dengan pinjaman baru dan pemasukan modal luar negeri dari sumber-sumber lain. jika kreditur luar negeri juga ikut menanggung sebagian dari kerugian yang diderita oleh debitur. membangun realestat dan kondomium.800 perusahaan diperkirakan berkisar antara US$ 63 hingga US$ 64 milyar. di mana pengusaha beramai-ramai melakukan investasi di bidang yang sama meskipun bidangnya sudah jenuh. tingkat bunga di dalam negeri dibiarkan tinggi untuk menahan pelarian dana ke luar negeri dan agar masyarakat mau mendepositokan dananya dalam rupiah.. Sebagian besar dari pinjaman luar negeri swasta ini tidak di hedge (Nasution: 12). Misalnya pengusaha ramai-ramai mendiri-kan apotik. pemerintah. Bagi debitur dalam negeri. Keadaan ini menguntungkan pengusaha selama tidak terjadi devaluasi dan ini terjadi selama bertahun-tahun sehingga memberi rasa aman dan orang terus meminjam dari luar negeri dalam jumlah yang semakin besar. misalnya 2 Yang dimaksud di sini adalah perilaku pengusaha yang bertindak atas pertimbangan dirinya sendiri tanpa mengetahui apa yang dilakukan oleh pengusaha lainnya.Krisis Moneter Indonesia : Sebab. Jadi sudah sewajarnya. juga disebabkan suatu gejala yang dalam teori ekonomi dikenal sebagai fallacy of thinking2 . Kalau masalahnya hanya menyangkut utang luar negeri pemerintah saja. di samping lebih menguntungkan. kecuali yang berkaitan dengan proyek pemerintah dengan dibentuknya tim PKLN.5 milyar. hal. sehingga pinjaman dalam rupiah menjadi relatif mahal dan pinjaman dalam mata uang asing menjadi relatif murah. 22). Sebaliknya.

taman hiburan. IMF Research Department Staff: 10). IMF Research . Proyek-proyek besar ini umumnya tidak menghasilkan barang-barang ekspor dan mengandalkan pasar dalam negeri. 4. karena mereka membeli rupiah dalam jumlah cukup besar ketika kurs masih di bawah Rp. yang menjadi penyebab utama dari krisis di Asia Timur. Pinjaman-pinjaman luar negeri dalam jumlah relatif besar yang dilakukan oleh sistim perbankan sebagian disalurkan ke sektor investasi yang tidak menghasilkan devisa (non-traded goods) di bidang tanah seperti pembangunan hotel. banyak yang dikelola secara tidak prudent. Itu sebabnya mengapa Bank Indonesia memutuskan untuk tidak intervensi di pasar valas karena tidak akan ada gunanya. Maret 1999 bank-bank. 1998. Mereka mulai mencari dollar AS untuk membayar utang jangka pendek dan membeli dollar AS untuk di hedge (World Bank. lepas dari sektor riil. 1). Namun pemicu adalah krisis moneter kiriman yang berawal dari Thailand antara Maret sampai Juni 1997. Pinjaman luar negeri dan dana masyarakat yang masuk ke sistim perbankan. dan pada saat itu mereka akan menukarkan kembali rupiah dengan dollar AS (Wessel et al.4). 4) Permainan yang dilakukan oleh spekulan asing (bandingkan juga Ehrke: 2-3) yang dikenal sebagai hedge funds tidak mungkin dapat dibendung dengan melepas cadangan devisa yang dimiliki Indonesia pada saat itu. hal. 1998. taman industri. Mereka meminjamkan pada proyek-proyek berisiko tinggi sehingga terjadi investasi berlebihan di sektor tanah (Krugman.. yang diserang terlebih dahulu oleh spekulan dan kemudian menyebar ke negara Asia lainnya termasuk Indonesia (Nasution: 1. kemudian macet dan uangnya tidak kembali (Nasution: 28. Maka beban pembayaran utang luar negeri beserta bunganya menjadi tambah besar yang dibarengi oleh kinerja ekspor yang melemah (bandingkan IDE). Krugman melihat bahwa para financial intermediaries juga berperan di Thailand dan Korea Selatan dengan moral nekat mereka. shopping malls dan realestat (Nasution: 9. karena praktek margin trading. 1.000 per dollar AS dengan pengharapan ini adalah kurs tertinggi dan rupiah akan balik menguat. Para spekulan ini juga meminjam dari sistim perbankan untuk memperbesar pertaruhan mereka. resort pariwisata. Meskipun pada awalnya spekulan asing ikut berperan.6 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. yang memungkinkan dengan modal relatif kecil bermain dalam jumlah besar. Dewasa ini mata uang sendiri sudah menjadi komoditi perdagangan. Ehrke: 3). Sebagian dari mereka ini justru sekarang menderita kerugian. Greenwood). yakni disalurkan ke kegiatan grupnya sendiri dan untuk proyek-proyek pembangunan realestat dan kondomium secara berlebihan sehingga jauh melampaui daya beli masyarakat. Ditambah lagi dengan kemerosotan nilai tukar rupiah yang tajam yang membuat utang dalam nilai rupiah membengkak dan menyulitkan pembayaran kembalinya. tetapi mereka tidak bisa disalahkan sepenuhnya atas pecahnya krisis moneter ini. maka sedikit sekali pemasukan devisa yang bisa diandalkan untuk membayar kembali utang luar negeri. hal.

3.k. 1. US$ 5 milyar meminta pembayaran bunga yang lebih tinggi dari pinjaman IMF. 1998. 2. 1. 1998.Krisis Moneter Indonesia : Sebab. 5) Kebijakan fiskal dan moneter tidak konsisten dalam suatu sistim nilai tukar dengan pita batas intervensi. Terkesan tidak adanya kebijakan pemerintah yang jelas dan terperinci tentang bagaimana mengatasi krisis (Nasution: 1) dan keadaan ini masih berlangsung hingga saat ini. p. Selisih tingkat suku bunga dalam negeri dengan luar negeri yang besar dan kemungkinan memperoleh keuntungan yang relatif besar dengan cara bermain di bursa efek.4. Greenwood).10). 6) Defisit neraca berjalan yang semakin membesar (IMF Research Department Staff: 10. yang membuat harga barang-barang impor menjadi relatif murah dibandingkan dengan produk dalam negeri. yang disebabkan karena laju peningkatan impor barang dan jasa lebih besar dari ekspor dan melonjaknya pembayaran bunga pinjaman. Kesalahan juga terletak pada investor luar negeri yang kurang waspada dan meremehkan resiko (IMF.k. IDE). US$ 1 milyar baru akan mencairkan dananya sebagai yang terakhir setelah semua pihak lain yang berjanji akan . IMF. 11). Sebab utama adalah nilai tukar rupiah yang sangat overvalued. Krisis ini adalah krisis kepercayaan terhadap rupiah (World Bank. Ketidak mampuan pemerintah menangani krisis menimbulkan krisis kepercayaan dan mengurangi kesediaan investor asing untuk memberi bantuan finansial dengan cepat (World Bank. Singapura yang menjanjikan l. sementara Brunei Darussalam yang menjanjikan l. 1998: 1. hal. ditopang oleh tingkat devaluasi yang relatif stabil sekitar 4% per tahun sejak 1986 menyebabkan banyak modal luar negeri yang mengalir masuk. 7) Penanam modal asing portfolio yang pada awalnya membeli saham besar-besaran dimingimingi keuntungan yang besar yang ditunjang oleh perkembangan moneter yang relatif stabil kemudian mulai menarik dananya keluar dalam jumlah besar (bandingkan World Bank.1). 1998: 5). 1998: 5). Setelah nilai tukar Rupiah tambah melemah dan terjadi krisis kepercayaan. dana modal asing terus mengalir ke luar negeri meskipun dicoba ditahan dengan tingkat bunga yang tinggi atas surat-surat berharga Indonesia (Nasution: 1. Krisis moneter yang terjadi sudah saling kait-mengkait di kawasan Asia Timur dan tidak bisa dipisahkan satu sama lainnya (butir 16 dari persetujuan IMF 15 Januari 1998). padahal keadaan perekonomian Indonesia makin lama makin tambah terpuruk. Peran IMF dan Saran 7 Department Staff: 10. Dampak. Sistim ini menyebabkan apresiasi nyata dari nilai tukar rupiah dan mengundang tindakan spekulasi ketika sistim batas intervensi ini dihapus pada tanggal 14 Agustus 1997 (Nasution: 2). Negara-negara sahabat yang menjanjikan akan membantu Indonesia juga menunda mengucurkan bantuannya menunggu signal dari IMF. 8) IMF tidak membantu sepenuh hati dan terus menunda pengucuran dana bantuan yang dijanjikannya dengan alasan pemerintah tidak melaksanakan 50 butir kesepakatan dengan baik.

9. baik pejabat pribumi dan etnis Cina.. Terjadilah snowball effect. 1998: 1. 10. Memang terjadi dislokasi sumber-sumber ekonomi dan kegiatan mengejar rente ekonomi oleh perorangan/kelompok tertentu yang menguntungkan mereka ini dan merugikan rakyat banyak dan perusahaan-perusahaan yang efisien. yang nilainya melemah terhadap dollar AS (lihat IDE).Terjadi krisis kepercayaan dan kepanikan yang menyebabkan masyarakat luas menyerbu membeli dollar AS agar nilai kekayaan tidak merosot dan malah bisa menarik keuntungan dari merosotnya nilai tukar rupiah. sudah sejak tahun lalu bersiap-siap menyelamatkan harta kekayaannya ke luar negeri mengantisipasi ketidak stabilan politik dalam negeri. sehingga banyak perusahaan Jepang melakukan relokasi dan investasi dalam jumlah besar di negara-negara ini.10). Setelah Plaza-Accord tahun 1985. di mana serbuan terhadap dollar AS makin lama makin besar. Timbulnya krisis berkaitan dengan . karena mata uang negaranegara Asia ini dipatok dengan dollar AS. Sejak awal Desember 1997 hingga awal Mei 1998 telah terjadi pelarian modal besar-besaran ke luar negeri karena ketidak stabilan politik seperti isu sakitnya Presiden dan Pemilu (World Bank. Para spekulan inipun tidak semata-mata menggunakan dananya sendiri. (Ehrke: 2). Di lain pihak harus diakui bahwa sektor riil sudah lama menunggu pembenahan yang mendasar. hal. 1. IMF sendiri dinilai banyak pihak telah gagal menerapkan program reformasinya di Indonesia dan malah telah mempertajam dan memperpanjang krisis. sehingga menimbulkan krisis keuangan. 22). Daya saing negara-negara Asia Timur meningkat terhadap Jepang. Subsidi pangan oleh BULOG. Tahun 1995 kurs dollar AS berbalik menguat terhadap yen Jepang. sementara nilai utang dari negara-negara ini dalam dollar AS meningkat karena meminjam dalam yen. Terdapatnya keterkaitan yang erat dengan yen Jepang. Padahal mereka menguasai sebagian besar modal dan kegiatan ekonomi di Indonesia dengan akibat mereka membawa keluar harta kekayaan mereka dan untuk sementara tidak melaukan investasi baru. Kerusahan besar-besaran pada pertengahan Mei yang lalu yang ditujukan terhadap etnis Cina telah menggoyahkan kepercayaan masyarakat ini akan keamanan harta.4. Orang-orang kaya Indonesia.8 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. kurs dollar AS dan juga mata uang negara-negara Asia Timur melemah terhadap yen Jepang. jiwa dan martabat mereka. monopoli di berbagai bidang. Spekulan domestik ikut bermain (Wessel et al. penyaluran dana yang besar untuk proyek IPTN dan mobil nasional. tetapi juga meminjam dana dari sistim perbankan untuk bermain. namun kelemahan ini meskipun telah terakumulasi selama bertahun-tahun masih bisa ditampung oleh masyarakat dan tidak cukup kuat untuk menjungkir-balikkan perekonomian Indonesia seperti sekarang ini. 11. Maret 1999 membantu telah mencairkan dananya dan telah habis terpakai.

Dari jumlah total pinjaman tersebut. 2. (IMF. Program reformasi ekonomi yang disarankan IMF ini mencakup empat bidang: 1. jumlah yang sama disediakan setelah 15 Maret 1998 bila program penyehatannya telah dijalankan sesuai persetujuan. Penyehatan sektor keuangan. Dampak. Inti dari setiap program pemulihan ekonomi adalah restrukturisasi sektor finansial. tanggal 16 Maret 1999. meskipun kelemahan sektor riil dalam negeri mempunyai pengaruh terhadap melemahnya nilai tukar rupiah.07 milyar yang bisa dimanfaatkan. dan kurang dipengaruhi oleh sektor riil dalam negeri. dan tidak kalah penting adalah mengembalikan stabilitas sosial dan politik. Program Reformasi Ekonomi IMF Menurut IMF. krisis ekonomi yang berkepanjangan di Indonesia disebabkan karena pemerintah baru meminta bantuan IMF setelah rupiah sudah sangat terdepresiasi. Di samping dana bantuan IMF. 1997: 1). yaitu dengan membuat mata uang itu sendiri menarik. Second Supplementary Memorandum of Economic and Financial Policies (MEFP) tanggal 24 Juni. mengembalikan kepercayaan masyarakat dalam dan luar negeri terhadap kemampuan ekonomi Indonesia. Krisis pecah karena terdapat ketidak seimbangan antara kebutuhan akan valas dalam jangka pendek dengan jumlah devisa yang tersedia. Strategi pemulihan IMF dalam garis besarnya adalah mengembalikan kepercayaan pada mata uang. Indonesia sendiri mempunyai kuota di IMF sebesar US$ 2. Untuk menunjang program ini. Membenahi sektor riil saja. Kebijakan fiskal. Sejumlah US$ 3. Sebab itu tindakan yang harus segera didahulukan untuk mengatasi krisis ekonomi ini adalah pemecahan masalah utang swasta luar negeri. dan yang terakhir adalah review yang keempat. Sementara itu pemerintah Indonesia telah enam kali memperbaharui persetujuannya dengan IMF. tidak memecahkan permasalahan. dan sisanya akan dicairkan secara bertahap sesuai kemajuan dalam pelaksanaan program. Bank Dunia.04 milyar dicairkan segera. Peran IMF dan Saran 9 jatuhnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS secara tajam.Krisis Moneter Indonesia : Sebab. kemudian 29 Juli 1998. menstabilkan nilai tukar rupiah pada tingkat yang nyata. membenahi kinerja perbankan nasional. Bank Pembangunan Asia dan negaranegara sahabat juga menjanjikan pemberian bantuan yang nilai totalnya mencapai lebih . 3. Kebijakan moneter. IMF akan mengalokasikan stand-by credit sekitar US$ 11.3 milyar selama tiga hingga lima tahun masa program. (Fischer 1998b). 4. yang menyebabkan nilai dollar AS melambung dan tidak terbendung. Penyesuaian struktural. yakni sektor ekonomi luar negeri. Program bantuan IMF pertama ditanda-tangani pada tanggal 31 Oktober 1997.

Lingkungan hidup. Namun bantuan dari pihak lain ini dikaitkan dengan kesungguhan pemerintah Indonesia melaksanakan program-program yang diprasyaratkan IMF.2 milyar.Social safety net . maka dilakukanlah negosiasi kedua yang menghasilkan persetujuan mengenai reformasi ekonomi (letter of intent) yang ditanda-tangani pada tanggal 15 Januari 1998. Pokokpokok dari program IMF adalah sebagai berikut: A. Reformasi struktural .10 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Kebijakan makro-ekonomi . menstabilkan rupiah pada tingkat yang sesuai dengan kekuatan ekonomi Indonesia. 7 appendix dan satu matriks. Thailand hanya memperoleh dana bantuan total sebesar US$ 17. di antaranya sebesar US$ 21 milyar berasal dari IMF. memperkuat dan mempercepat restrukturisasi sistim perbankan. Korea mendapat bantuan dana total sebesar US$ 57 milyar untuk jangka waktu tiga tahun. yang mengandung 50 butir. 2. . Setelah pelaksanaan reformasi kedua ini kembali menghadapi berbagai hambatan.5 milyar berasal dari Indonesia dan Korea. di antaranya US$ 4 milyar dari IMF dan masing-masing US$ 0. Strategi yang akan dilaksanakan adalah: 1. Jadwal pelaksanaan masing-masing program dirangkum dalam matriks komitmen kebijakan struktural.Deregulasi dan swastanisasi . maka diadakanlah negosiasi ulang yang menghasilkan supplementary memorandum pada tanggal 10 April 1998 yang terdiri atas 20 butir.Perdagangan luar negeri dan investasi . Karena dalam beberapa hal program-program yang diprasyaratkan IMF oleh pihak Indonesia dirasakan berat dan tidak mungkin dilaksanakan. Sebagai perbandingan. Maret 1999 kurang US$ 37 milyar (menurut Hartcher dan Ryan).Kebijakan fiskal . dan aspek baru yang masuk adalah penyelesaian utang luar negeri perusahaan swasta Indonesia.Kebijakan moneter dan nilai tukar B. 3.Memperkuat aspek hukum dan pengawasan untuk perbankan C. memperkuat implementasi reformasi struktural untuk membangun ekonomi yang efisien dan berdaya saing. Restrukturisasi sektor keuangan . Saransaran IMF diharapkan akan mengembalikan kepercayaan masyarakat dengan cepat dan kurs nilai tukar rupiah bisa menjadi stabil (butir 17 persetujuan IMF 15 Januari 1998).Program restrukturisasi bank . Cakupan memorandum ini lebih luas dari kedua persetujuan sebelumnya.

tetapi untuk mendukung neraca pembayaran serta memberi rasa aman. sehingga ekspor bisa bangkit kembali. Peran IMF dan Saran 11 4. padahal dalam hal Indonesia anggaran belanja negara sampai dengan tahun anggaran 1996/1997 hampir selalu surplus. 6. Pemerintah akan terus menjamin kelangsungan kredit murah bagi perusahaan kecilmenengah dan koperasi dengan tambahan dana dari anggaran pemerintah (butir 16 dan 20 dari Suplemen). padahal masalah yang dihadapi tiap negara tidak seluruhnya sama. dan rasa kepercayaan terhadap perekonomian bahwa kita memiliki cukup devisa untuk mengimpor dan memenuhi kewajiban-kewajiban luar negeri” (Kompas. 1998b). yang paling umum adalah bahwa: (1) program IMF terlalu seragam. bila pemerintah dengan konsekuen melaksanakan program IMF. Ke tujuh appendix adalah masing-masing: Kebijakan moneter dan suku bunga Pembangunan sektor perbankan Bantuan anggaran pemerintah untuk golongan lemah Reformasi BUMN dan swastanisasi Reformasi struktural Restrukturisasi utang swasta Hukum Kebangkrutan dan reformasi yuridis. 6 Mei 1998). Kritik Terhadap IMF Banyak kritik yang dilontarkan oleh berbagai pihak ke alamat IMF dalam hal menangani krisis moneter di Asia. Korea dan Indonesia) telah gagal. dan (2) program IMF terlalu banyak mencampuri kedaulatan negara yang dibantu (Fischer. 1. timbul kesan yang kuat bahwa IMF sesungguhnya tidak menguasai permasalahan dari timbulnya krisis. Radelet dan Sachs secara gamblang mentakan bahwa bantuan IMF kepada tiga negara Asia (Thailand. 4. Awal Mei 1998 telah dilakukan pencairan kedua sebesar US$ 989. Setelah melihat program penyelematan IMF di ketiga negara tersebut. Prioritas utama dari program IMF ini adalah restrukturisasi sektor perbankan.Krisis Moneter Indonesia : Sebab. 7. 5. Salah satu pemecahan standar IMF adalah menuntut adanya surplus dalam anggaran belanja negara. Sementara itu Menko Ekuin/ Kepala Bappenas menegaskan bahwa “Dana IMF dan sebagainya memang tidak kita gunakan untuk intervensi. menyusun kerangka untuk mengatasi masalah utang perusahaan swasta.4 juta dan jumlah yang sama akan dicairkan lagi berturut-turut awal bulan Juni dan awal bulan Juli. Dampak. 2. sehingga tidak bisa keluar dengan program penyelamatan yang tepat. 5. kembalikan pembelanjaan perdagangan pada keadaan yang normal. 3. meskipun surplus . Pencairan berikutnya sebesar US$ 1 milyar yang dijadwalkan awal bulan Juni baru akan terlaksana awal bulan September ini. rasa tenteram.

Stiglitz. Kemudian berlakunya praktek apa yang dinamakan “konsensus Washington”. Di satu pihak IMF . Karena itu pemecahan utamanya adalah bagaimana mengembalikan nilai tukar rupiah ke tingkat yang wajar.12 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Harapan satu-satunya adalah peningkatan ekspor non-migas. 13 Mei 1998). Sri Mulyani mengemukakan. Demikianpun halnya dengan Bank Dunia. bahwa di bidang kebijaksanaan makro IMF tidak memperlihatkan adanya konsistensi antarinstrumen kebijaksanaan. 2 Mei 1998). Narvekar) sendiri juga dikutip sebagai mengatakan bahwa “IMF kerap menerapkan standar ganda dalam pengambilan keputusan. sementara keputusan yang diambil harus mengacu pada fakta konkret ekonomi. (Kompas. dan bagaimana ingin dicapai sasaran pertumbuhan ekonomi sebesar 3%. (Nasution: 27-28). Tidak ada penjelasan rinci. J. Memang dalam anggaran belanja negara tahun 1998/1999 terdapat defisit anggaran yang besar.R. dan tidak ada tingkat inflasi yang melebihi 10%. Maret 1999 ini ditutup oleh bantuan luar negeri resmi pemerintah. Di satu pihak. Penasehat khusus IMF untuk Indonesia (P. pemimpin ekonom Bank Dunia. yang pada dasarnya hanya memperluas kesempatan ekonomi AS. Semakin jatuh nilai tukar rupiah. bagaimana caranya untuk meningkatkan penerimaan pemerintah dan mengurangi pengeluaran pemerintah untuk mencapai sasaran surplus anggaran sebesar 1% dari PDB dalam tahun fiskal 1998/99. semakin besar defisit yang terjadi dalam anggaran belanja. yaitu negara pengutang lazimnya harus mendapatkan restu pendanaan dari pemerintah AS. perwakilan IMF mewakili negara dan pemerintahan dengan kebijakan dan visi politik masing-masing. tetapi oleh karena nilai tukar rupiah yang terpuruk terhadap dollar AS. namun ini bukan disebabkan karena kebijakan deficit financing dari pemerintah. ada saja peluang bahwa tudingan atas pelanggaran hak asasi manusia di Indonesia yang makin marak belakangan ini. (Kompas. menjadi hal yang disoroti Dewan Direktur IMF dalam pengambilan keputusannya pekan depan”. Adalah kebijakan dari Orde Baru untuk menjaga keseimbangan dalam anggaran belanja negara. dan prinsip ini terus dipegang. namun kelemahan utama dari IMF adalah tidak ada program yang jelas untuk meningkatkan efisiensi dan menurunkan biaya produksi untuk mendorong ekspor non-migas. dan ini akan menunda cairnya bantuan dari sumber-sumber lain (Hartcher dan Ryan). Karenanya. Selama ini tidak ada pencetakan uang secara besar-besaran untuk menutup anggaran belanja negara yang defisit. Anwar Nasution mengkritik bahwa reformasi ekonomi yang disarankan IMF bentuknya masih samar-samar. mengkritik bahwa prakondisi IMF yang teramat ketat terhadap negara-negara Asia di tengah krisis yang berkepanjangan berpotensi menyebabkan resesi yang berkepanjangan. Kabar terakhir menyebutkan bahwa pencairan bantuan tahap ketiga awal Juni ni akan tertunda lagi atas desakan pemerintah AS yang dikaitkan dengan perkembangan reformasi politik di Indonesia.

perekonomian Meksiko dengan cepat pada tahun 1996 dapat bangkit kembali. menyulitkan pemulihan ekonomi Indonesia secara cepat. Saran IMF menutup sejumlah bank yang bermasalah untuk menyehatkan sistim perbankan Indonesia pada dasarnya adalah tepat. Peran IMF dan Saran 13 memberikan kelenturan dengan mengizinkan dipertahankannya subsidi dan menyediakan dana untuk menciptakan jaringan keselamatan sosial. Di lain pihak.Krisis Moneter Indonesia : Sebab. Dengan menahan pencairan bantuan tahap kedua dan setelah diundur. hanya dicicil US$ 1 milyar dari jumlah US$ 3 milyar. karena keharusan BI melakukan fungsi lender of last resort bagi perbankan nasional. juga ketidak sejalanan kebijaksanaan moneter dan fiskal” (Sri Mulyani: 72). Hal ini juga diakui oleh IMF (butir 14. Rencana IMF untuk mencairkan bantuannya secara bertahap dalam jarak waktu yang cukup jauh menunjukkan bahwa IMF menekan Indonesia untuk menjalankan programnya secara ketat dan membiarkan keadaan ekonomi Indonesia terus merosot menuju resesi yang berkepanjangan. menghilangkan kepercayaan terhadap rupiah. berhubung semua bantuan tambahan yang besarnya mencapai US$ 27 milyar dikaitkan dengan cairnya bantuan IMF. 15 dan 24 dari persetujuan IMF tanggal 15 Januari 1998). namun dampak psikologisnya dari tindakan ini tidak diperhitungkan. Pertanyaan mendasar yang harus ditujukan kepada IMF menurut penulis adalah sejauh mana IMF bersungguh-sungguh dalam hal membantu mengatasi krisis ekonomi yang sedang melanda Indonesia dewasa ini? Apakah sama seperti kesungguhan Amerika Serikat ketika membantu Meksiko bersama-sama dengan IMF dan negara-negara maju lainnya yang berhasil menggalang sebesar hampir US$ 48 milyar Januari 1995? Setelah mencapai titik terendah tahun 1995. (Sri Mulyani: 72). IMF sedikit banyak mempunyai andil dalam perjuangan menggulirkan tuntutan reformasi politik. yang bertentangan dengan tema pengetatan. terutama dalam rangka stabilitas nilai tukar dan inflasi. Kedua kebijaksanaan ini bisa memandulkan efektivitas kebijaksanaan makro. Bank Indonesia dan perbankan nasional. Dampak. ditambah jarak yang cukup lama antara paket bantuan pertama dan kedua. . “Secara makro ancaman kegagalan terbesar kesepakatan ketiga ini berasal dari kebijaksanaan moneter yang masih ambivalen. kita juga perlu berterima kasih kepada IMF karena dengan menunda mencairkan bantuannya. yang menimbulkan krisis likuiditas perbankan nasional yang gawat. ekonomi dan hukum di Indonesia yang pada akhirnya bermuara pada mundurnya Presiden Soeharto. Masyarakat kehilangan kepercayaan kepada otoritas moneter. karena cara pengelolaan bank yang amburadul dan tidak mengikuti peraturan. Karena badan internasional lain dan negara-negara sahabat yang menjanjikan bantuan juga menunggu signal dari IMF. sedang di lain pihak menganut kebijaksanaan moneter yang kontraktif. sehingga memperparah keadaan dan masyarakat beramai-ramai memindahkan dananya dalam jumlah besar ke bank-bank asing dan pemerintah atau ditaruh di rumah. bahkan memperparah keadaan.

Di lain pihak memang harus diakui bahwa tekanan ini perlu untuk memastikan kesungguhan Indonesia. pembenahan sektor riil yang memang perlu dan sudah sangat mendesak. IMF tidak memecahkan permasalahan yang utama dan yang paling mendesak secara langsung. kalau mau. Namun kekurangan yang paling utama dari IMF adalah bahwa IMF dalam program bantuannya tidak mencari pemecahan terhadap masalah yang pokok dan sangat mendesak ini dan berputar-putar pada reformasi struktural yang dampaknya jangka panjang. Asian Development Bank dan negara-negara sahabat. yang justru menjanjikan kepastian dan kestabilan nilai tukar pada tingkat yang wajar. sementara pemecahan masalahnya sudah sangat mendesak. tapi disuruh belajar berenang dahulu. tetapi dampak hasilnya baru bisa dirasakan dalam jangka panjang. dengan mencairkan dana bantuan yang relatif besar pada bulan November lalu. Dengan demikian timbulnya krisis kepercayaan yang berkepanjangan dapat dicegah. dari waktu ke waktu mengadakan intervensi terbatas di pasar valas dengan petunjuk IMF (lihat butir 14. karena untuk beberapa tindakan memang ada tanda-tanda kekurang sungguhan di pihak Indonesia. Bila semua kekuatan bantuan ini dikumpulkan sekaligus secara dini. Krisis ekonomi yang tengah berlangsung ini memang bukan tanggung-jawab IMF dan tidak bisa dipecahkan oleh IMF sendiri. tingkat bunga tinggi. IMF sendiri tampaknya tidak tahu apa yang harus dilakukannya dan berputarputar pada kebijakan surplus anggaran. Reformasi struktural sebagaimana yang dianjurkan oleh IMF memang mendasar dan penting. 16. IMF bisa saja terlebih dahulu mengambil kebijakan memprioritaskan stabilisasi nilai tukar rupiah. Maret 1999 Saran IMF untuk menstabilkan nilai tukar adalah dengan menerapkan kebijakan uang ketat. 17. maka hal ini dengan cepat akan memulihkan kembali kepercayaan masyarakat dalam negeri dan internasional. butir 5. dan titipan-titipan khusus dari negaranegara maju yaitu membuka peluang investasi yang seluas-luasnya bagi mereka dengan menggunakan kesempatan dalam kesempitan Indonesia. juga tidak ada Appendix untuk masalah ini. Namun bantuan dana IMF dan ketergantungan harapan pada IMF ini di(salah)gunakan untuk menekan pemerintah Indonesia untuk melaksanakan reformasi struktural secara besar-besaran. 7 dari Suplemen). Tidak adanya program dari IMF yang jelas dan berjangka pendek untuk mengembalikan nilai tukar rupiah ke tingkat yang wajar dan menstabilkannya membuat pemerintah cukup lama terombang-ambing antara memilih program IMF atau currency board system. menaikkan suku bunga dan mengembalikan kepercayaan terhadap kebijakan ekonomi. Sayangnya tidak ada program khusus yang secara langsung ditujukan untuk menguatkan kembali nilai tukar rupiah. Ibaratnya orang yang sudah hampir tenggelam diombang-ambing ombak laut tidak segera ditolong dengan dilempari pelampung. di mana makin ditunda makin banyak .14 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. 21 dari persetujuan 15 Januari 1998. yang didukung oleh bantuan dana dari World Bank. uang ketat.

Dampak. Subsidi untuk bahan pangan. Membengkaknya subsidi ini disebabkan . Banyak perusahaan yang mengandalkan pasaran dalam negeri tidak bisa menjual barang hasil produksinya karena perusahaan-perusahaan ini umumnya memiliki kandungan impor yang tinggi dan harga jualnya menjadi tidak terjangkau dengan semakin jatuhnya nilai tukar rupiah.World Bank. Juga saran IMF untuk menghapuskan subsidi BBM dan listrik yang kian membesar secara bertahap dalam jangka waktu tiga tahun sudah benar. Jadi. yang lama tidak disinggung oleh IMF.Krisis Moneter Indonesia : Sebab. misalnya penagihan yang lebih efektif. bab 2. BBM dan listrik sudah diperhitungkan dan dinaikkan dalam anggaran pemerintah (butir 20 dari Suplemen). karena dalam jangka pendek proyek ini akan mengacaukan kebijakan pemerintah di bidang fiskal. Di sini timbul keragu-raguan akan kemurnian kebijakan reformasi IMF. Baru pada tanggal 1 Oktober 1998 direncanakan subsidi akan diturunkan secara berarti. 1996. 1997. Tindakan drastis ini sedikit-banyak telah membantu memicu terjadinya kerusuhan-kerusuhan sosial dan politik. menunggu keresahan masyarakat reda? Di sini pemerintah salah membaca isi dari kesepakatan dengan IMF. meskipun kepentingan rakyat kecil sangat diperhatikan dengan adanya jaringan keselamatan sosial. apakah pemerintah tidak bisa menunda kenaikan BBM dan listrik untuk beberapa bulan. apakah IMF benar-benar tidak melihat inti permasalahannya atau berpura-pura tidak tahu? Atau IMF mengambil kesempatan dalam kesempitan untuk memaksakan perubahan-perubahan yang sudah lama menjadi duri di matanya dan bagi Bank Dunia serta mewakili kepentingan-kepentingan asing? Tampaknya di balik anjuran program pemulihan kegiatan ekonomi ada titipan-titipan politik dan ekonomi dari negara-negara besar tertentu. anggaran dan moneter secara berarti. BBM dan listrik. utang luar negeri swasta dan nilai tukar rupiah yang merosot jauh dari nilai riilnya adalah masalah-masalah dasar jangka pendek. sehingga timbul teka-teki. bab 4 dan 5). Program reformasi IMF secara mencurigakan mengulang kembali tuntutan-tuntutan deregulasi ekonomi yang sudah sejak bertahun-tahun didengungkan oleh Bank Dunia dan belum sepenuhnya dilaksanakan oleh pemerintah Indonesia (lihat World Bank. Dalam situasi sekarang hampir tidak ada peluang untuk meningkatkan pajak. karena IMF menganjurkan penghapusan subsidi secara bertahap dan tidak secara mendadak. Subsidi listrik relatif lebih mudah untuk dihapuskan. (butir 10 dan 11 dari Suplemen). Yang menjadi pertanyaan di sini adalah. Namun penurunan subsidi BBM dan listrik oleh pemerintah secara drastis dan mendadak pada tanggal 4 Mei 1998 yang lalu mempunyai dampak yang sangat luas terhadap perekonomian rakyat kecil. Dalam suplemen program IMF April 1998 disebutkan bahwa subsidi masih bisa diberikan kepada beberapa jenis barang yang banyak dikonsumsi oleh penduduk berpenghasilan rendah seperti bahan makanan. Peran IMF dan Saran 15 perusahaan yang jatuh bergelimpangan. Permintaan IMF untuk menghentikan dengan segera perlakuan pembebasan pajak dan kemudahan kredit untuk proyek mobil nasional dan IPTN adalah tepat. yakni melalui subsidi silang sehingga masyarakat berpenghasilan rendah tetap dikenakan tarif listrik yang murah dan melalui peningkatan efisiensi.

Saran IMF lainnya yang disisipkan dalam persetujuan dan tidak ada kaitannya dengan program stabilisasi ekonomi dan moneter adalah desakannya untuk menyusun UndangUndang Lingkungan Hidup yang baru (butir 50 dari persetujuan IMF tanggal 15 Januari 1998). Keadaan ini tidak sebanding. Masalahnya bukan sentimen nasionalisme. Jadi tindakan yang pokok adalah pertama mengembalikan dulu nilai rupiah ke tingkat yang wajar dan dari sini baru menghitung besarnya subsidi. Modal asing sudah diberi peluang yang cukup besar untuk investasi di Indonesia dengan diperbolehkannya kepemilikan hingga 100% baik untuk pendirian PMA. AFTA dan APEC. terutama yang bermodal kecil? Apa permintaan IMF ini tidak terlalu jauh? Kedengarannya seperti IMF menerima titipan pesan sponsor dari negara-negara besar yang ingin memaksakan kepentingannya dengan menggunakan kesempatan dalam kesempitan. Maret 1999 oleh beberapa faktor. kalau tidak menurun dan banyaknya PHK. sehingga nilai tukar valas naik sangat tinggi dan siapa yang menarik keuntungan dari krisis ini? Janganlah rakyat banyak diminta untuk berkorban mengatasi krisis ini atau membebankan di atas penderitaan rakyat dengan misalnya menaikkan harga BBM dan tarif listrik. bila pendapatan masyarakat dalam rupiah juga ikut naik dua atau tiga kali lipat sesuai dengan kenaikan nilai tukar dollar AS. Di antara saran-saran IMF juga ada yang mengenai perluasan penyertaan modal asing dalam kegiatan ekonomi Indonesia yang terlalu jauh. Meskipun demikian IMF masih meminta dihapuskannya larangan membuka cabang bagi bank asing. bank asing maupun penguasaan saham dari perusahaan-perusahaan yang telah go public. sementara pendapatan masyarakat adalah dalam rupiah yang tidak berubah sejak sebelum terjadinya krisis moneter. dan liberalisasai perdagangan yang jauh lebih liberal dari komitmen resmi pemerintah di forum WTO. stabilisasi ekonomi dan moneter. Tidak bisa biaya produksi dihitung atas dasar nilai tukar dengan dollar AS yang masih relatif tinggi lalu dibebankan kepada konsumen. tetapi sebab utama karena merosotnya nilai tukar rupiah. Ikut campurnya IMF dalam penyelesaian utang swasta adalah sangat baik. izin investasi di bidang perdagangan besar dan eceran. karena IMF sebagai lembaga yang disegani bisa banyak membantu memulihkan kepercayaan kreditor .16 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. seperti orang asing yang tinggal di Indonesia misalnya. kecuali saham bank nasional yang go public. seperti kinerja yang kurang efisien. tetapi apa salahnya bila pemerintah menyisakan bidang kegiatan untuk pengusaha Indonesia. siapa yang menjadi penyebab dari terjadinya krisis yang berkepanjangan ini. Halnya akan lain. (Bandingkan juga Sri Mulyani: 72-3). Dalam kaitan ini perlu dipertanyakan. tagihan listrik dalam jumlah besar yang tidak dibayar. tetapi apa sumbangan dari keterbukaan ini terhadap restrukturisasi ekonomi dari program IMF. kita harus melihat sebab-sebab lain di balik kenaikan biaya produksi. dan apa sumbangannya terhadap pemasukan modal asing? Bukan masalah anti asing atau sentimen nasionalisme yang sempit.

kecuali sebagian sektor pertanian dan ekspor. investasi menurun karena impor barang modal menjadi mahal. padahal harga dari banyak barang naik cukup tinggi. dan ini tidak terjadi. dan negara-negara produsen lain juga mengalami depresiasi 4 Suatu inflasi dikatakan terjadi karena imported inflation bila harga barang-barang di negara pengekspornya naik. yang akan memperlancar dan mempercepat proses penyelesaian utang. tarif angkutan naik.Krisis Moneter Indonesia : Sebab. tidak terjadi. Dampak lain adalah laju inflasi yang tinggi selama beberapa bulan terakhir ini. gula. Dampak dari Krisis Dewasa ini semua permasalahan dalam krisis ekonomi berputar-putar sekitar kurs nilai tukar valas. meskipun tidak kembali pada tingkat sebelum terjadinya krisis moneter. perjalanan ke luar negeri dan pengiriman anak sekolah ke luar negeri. Peran IMF dan Saran 17 luar negeri. . Sayangnya ekspor yang secara teoretis seharusnya naik. bahkan dalam beberapa hal turun ditambah PHK. kebalikannya arus masuk turis asing akan lebih besar. yang melambung tinggi jika dihadapkan dengan pendapatan masyarakat dalam rupiah yang tetap. Petani yang berbasis ekspor penghasilannya dalam rupiah mendadak melonjak drastis. harga telur/ayam naik. Meskipun penerimaan rupiah petani komoditi ekspor meningkat tajam. khususnya dollar AS. biaya sekolah di luar negeri melonjak. utang luar negeri dalam rupiah melonjak. yang bukan disebabkan karena imported inflation4 . proteksi industri dalam negeri meningkat sejalan dengan merosotnya nilai tukar rupiah. bahkan cenderung sedikit menurun pada sektor barang hasil industri. IMF bisa bertindak sebagai perantara yang netral dan dipercaya. Hasilnya adalah perbaikan dalam neraca berjalan. perusahaan tutup atau mengurangi produksinya karena tidak bisa menjual barangnya dan beban utang yang tinggi. Dengan demikian roda perekonomian bisa berputar kembali dan harga-harga bisa turun dari tingkat yang tinggi dan terjangkau oleh masyarakat. pengusaha domestik kapok meminjam dana dari luar negeri. PHK di mana-mana. Dampak. karena pembeli di luar negeri juga menekan harganya karena tahu petani dapat untung besar. toko sepi. harga BBM/tarif listrik naik. Imbas dari kemerosotan nilai tukar rupiah yang tajam secara umum sudah kita ketahui: kesulitan menutup APBN. kopi dan sebagainya ikut naik. Secara umum impor barang menurun tajam termasuk impor buah. daya saing produk dalam negeri dengan tingkat kandungan impor rendah meningkat sehingga bisa menahan impor dan merangsang ekspor khususnya yang berbasis pertanian. tetapi penerimaan ekspor dalam valas umumnya tidak berubah. sementara bagi konsumen dalam negeri harga beras. Pada sisi lain merosotnya nilai tukar rupiah secara tajam juga membawa hikmah. tetapi lebih tepat jika dikatakan foreign exchange induced inflation. Masalah ini hanya bisa dipecahkan secara mendasar bila nilai tukar valas bisa diturunkan hingga tingkat yang wajar atau nyata (riil).

pada Oktober 1998 ini jumlah keluarga miskin diperkirakan meningkat menjadi 7. Tapi sekali krisis berakhir dan ekonomi berbalik bangkit kembali (rebound). Faktor-faktor tersebut adalah bantuan IMF dan donor-donor lainnya yang segera. keamanan yang mantap. sulit untuk diramalkan karena tergantung pada banyak faktor. Menurut perkiraan IMF pada bulan Maret 1999 lalu.18 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. hanya di sini ada kesulitan lain untuk meningkatkan ekspor.5 juta. yang menyebabkan terjadinya kesenjangan antara penghasilan yang berkurang karena PHK atau naik sedikit dengan pengeluaran yang meningkat tajam karena tingkat inflasi yang tinggi. Karena prasarana dasar untuk pembangunan sudah tersedia. Sebagai dampak dari krisis ekonomi yang berkepanjangan ini. Meningkatnya jumlah penduduk miskin tidak terlepas dari jatuhnya nilai tukar rupiah yang tajam. Namun secara keseluruhan dampak negatifnya dari jatuhnya nilai tukar rupiah masih lebih besar dari dampak positifnya. dan tingkat inflasi sekitar 66%. karena krisis belum juga menyentuh dasar jurang. Maret 1999 dalam nilai tukar mata uangnya dan bisa menurunkan harga jual dalam nominasi valas. Prospek Ekonomi Indonesia Prospek ekonomi untuk beberapa tahun mendatang adalah kurang cerah dan akan ditandai oleh pertumbuhan ekonomi yang negatif. sehingga bila nilai tukar rupiah bisa dikembalikan ke nilai nyatanya maka biaya besar yang dibutuhkan untuk social safety net ini bisa dikurangi secara drastis. Hal yang serupa juga terjadi untuk ekspor barang manufaktur. sehingga yang diperlukan adalah pulihnya kepercayaan dan masuknya modal baru. menguatnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS pada tingkat yang wajar. pulihnya kepercayaan investor dalam dan luar negeri. pertumbuhan GDP nyata Indonesia pada tahun 1998/9 diperkirakan akan negatif sebesar 16%. karena ada masalah dengan pembukaan L/C dan keadaan sosial-politik yang belum menentu sehingga pembeli di luar negeri mengalihkan pesanan barangnya ke negara lain. pabrik. suasana politik dan sosial yang stabil. mesin-mesin sudah ada. tenaga terlatih. Saran-Saran Krisis moneter telah memberikan pelajaran yang sangat berharga untuk menentukan kebijakan di masa depan. Keadaan ekonomi yang sangat parah ini diperkirakan pada bulan-bulan mendatang masih akan berlangsung terus. sehingga perlu dilancarkan program-program untuk menunjang mereka yang dikenal sebagai social safety net. Berapa lama krisis ekonomi ini masih akan berlangsung. maka upaya yang paling utama dan mendesak bagi Indonesia . maka perbaikan ini diperkirakan akan berlangsung relatif cepat.

restrukturisasi perbankan. Dengan demikian. 2. perdagangan dan angkutan juga bisa hidup kembali. Ditambah dengan hilangnya insentif untuk meminjam dari luar negeri karena biaya pinjaman yang lebih rendah diimbangi dengan tingkat depresiasi yang lebih tinggi dan karena tidak adanya lagi intervensi kurs oleh BI. Beberapa saran dari penulis untuk mengatasi krisis ekonomi dewasa ini adalah sebagai berikut: . Peran IMF dan Saran 19 dewasa ini adalah program penyelamatan yang bisa mengembalikan kepercayaan masyarakat serta menstabilkan kurs rupiah pada nilai tukar yang nyata (bandingkan juga Stiglitz). dan menjaga stabilitas fiskal dan moneter selama masa transisi (World Bank. kirim anak sekolah di luar negeri. 9 April 1998). Dengan sistim ini. dan penyelesaian masalah utang swasta dengan penjadwalan ulang (Kompas. Bank Dunia menyarankan mengembalikan kepercayaan terhadap rupiah dengan empat kebijakan utama: restrukturisasi beban utang swasta. p. jalan-jalan ke luar negeri.2). dan meningkatkan ekspor. pada suatu saat tertentu dan membagi (spread-out) pembayaran ini secara merata dalam jangka waktu yang lebih panjang pada tingkat yang terkendali (manageable). harga mobil terjangkau oleh masyarakat. Dampak. reformasi dan memperkuat sistim perbankan. dana asing akan sangat hati-hati masuk ke Indonesia. pola makan makanan yang bahannya gandum).Krisis Moneter Indonesia : Sebab. 1998. Setelah mendapat pengalaman dari krisis ini. berobat di luar negeri. memperbaiki “governance”. sejauh persyaratan di atas bisa dipenuhi. Penulis menginterpretasikan nilai tukar nyata sebagai nilai tukar berdasarkan purchasing power parity yang bisa menjaga keseimbangan dalam neraca berjalan dan yang bisa menjamin ekonomi nasional beroperasi. Dunia perbankan nasional juga telah diajarkan dari manfaat jangka panjang untuk bertindak prudent. Para ekonom dari CSIS berpendapat bahwa langkah yang harus diambil untuk mengatasi kemelut ini adalah dengan menstabilkan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dalam tingkat yang wajar. Inti dari pemecahan krisis moneter dalam jangka pendek haruslah ditujukan kepada pencegahan penumpukan pembayaran utang luar negeri. perjalanan. baik swasta maupun pemerintah. harga barang-barang produksi dalam negeri dengan kandungan lokal tinggi bisa meningkat daya saingnya sehingga bisa berkembang dan orang tidak mengandalkan bahan impor karena menjadi mahal. kegiatan ekonomi Indonesia terutama harus ditunjang oleh kekuatan sendiri berdasarkan dana modal yang tersedia di dalam negeri. industrialisasi substitusi impor berlanjut. Kegiatan jasa hotel. begitupun pengusaha domestik akan sangat hati-hati untuk meminjam dari luar negeri. Dengan demikian sumber utama krisis di masa lalu untuk masa mendatang sudah dapat dieliminir. impor secara otomatis akan berkurang (misalnya buah.

Penjadwalan kembali pembayaran utang resmi pemerintah ini juga akan banyak . Pemerintah melaksanakan reformasi dan restrukturisasi sektor riil dan keuangan secara konsekuen untuk memperkuat fundamental ekonomi Indonesia. bahwa beban utang tidak menjadi bertambah. Makin cepat pemerintah melaksanakan program-program reformasi. harus bertindak proaktif menghadapi IMF dengan mengajukan saran-sarannya sendiri dan menolak program-program yang tidak relevan dan cenderung merugikan Indonesia. Seandainya Indonesia tidak menerima bantuan barupun. yang juga selalu mendapatkan pujian dari Bank Dunia dan IMF. Bila Jepang hanya mau membantu dengan dengan menambah pinjaman baru. termasuk program reformasi IMF. Sebab menurut APBN tahun 1998/99 jumlah pembayaran cicilan utang pokok luar negeri beserta bunganya mencapai US$ 7. Jumlah ini sangat berarti untuk memperkuat cadangan devisa negara. Sementara ini sudah banyak negara sedang berkembang yang memanfaatkan fasilitas ini. Sejauh ini Indonesia memang selalu patuh untuk membayar semua utang-utangnya secara tepat waktu. dalam hal ini Departemen Keuangan dan Bank Indonesia. sebab Paris Club adalah instrumen internasional yang memang khusus dirancang untuk membantu negara-negara sedang berkembang dalam menghadapi masalah pembayaran kembali utang-utang luar negeri pemerintah.560 juta. apa salahnya jika Indonesia meminta penundaan waktu pembayaran kembali utang? Nama Indonesiapun tidak menjadi jelek karenanya. 3.20 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Karena Indonesia telah menanda-tangani persetujuan program reformasi struktural ekonomi dengan IMF. hanya saja jangka waktu pembayaran kembalinya saja yang lebih panjang. makin cepat juga dananya cair. Indonesia bisa bernapas untuk memperkuat posisi cadangan devisanya. Namun dalam keadaan krisis yang parah ini. diharapkan akan terjadi arus balik devisa dan masuknya modal luar negeri. Mengusahakan penundaan pembayaran utang resmi pemerintah berupa pembayaran cicilan pokok dan bunga selama misalnya dua tahun melalui Paris Club. tanpa merusak nama Indonesia sebagai debitur yang baik.450 juta. Dengan demikian. Yang nanti akan menjadi masalah adalah bagaimana membayar utang bantuan darurat yang mencapai US$ 46 milyar tersebut di samping utang-utang pemerintah dan swasta yang ada. 2. Membentuk kabinet baru yang terdiri atas teknokrat untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat Indonesia maupun luar negeri akan kesungguhan program reformasi. berarti bahwa beban utang termasuk pembayaran bunga untuk di kemudian hari akan bertambah besar. Maret 1999 1. maka masih ada selisih positif sebesar lebih dari US$ 1 milyar yang bisa dihemat. Dengan adanya kepercayaan ini. Namun pemerintah. sementara pinjaman luar negeri baru sebesar US$ 6. terlebih lagi karena bantuan IMF ini terkait dengan bantuan negara-negara donor lainnya yang jumlahnya sangat besar. Keuntungan dari penundaan pembayaran utang ini adalah. maka pemerintah juga harus melaksanakannya dengan konsekuen.

Krisis Moneter Indonesia : Sebab, Dampak, Peran IMF dan Saran

21

membantu meringankan defisit anggaran belanja, terlebih lagi dengan semakin terpuruknya nilai tukar rupiah semakin besar pula defisit dalam anggaran belanja negara yang harus ditutup. Hal ini telah dilakukan oleh pemerintah dan telah dicapai kesepakatan, bahwa Indonesia akan menunda pembayaran cicilan utang pokoknya saja. 4. Menstabilkan nilai tukar rupiah pada tingkat yang riil, artinya tidak lagi overvalued ketika regim managed floating, bahkan bisa dipertimbangkan untuk membiarkannya sedikit undervalued untuk meningkatkan daya saing secara internasional dan merangsang produksi dalam negeri dan ekspor. Nilai tukar nyata yang wajar ini harus dicari dengan memperhatikan kriteria-kriteria berikut, paling tidak tingkat depresiasi rupiah tidak lebih rendah dari depresiasi nyatanya. Dengan kurs ini defisit anggaran belanja negara bisa ditekan, juga tingkat inflasi, pembayaran utang luar negeri pemerintah dan swasta dalam rupiah dapat ditekan sehingga mampu dikembalikan, begitupun harga BBM/listrik dan pakan ternak, harga barang-barang produksi dalam negeri dapat terjangkau termasuk sembako dan pabrik-pabrik beroperasi kembali, orang-orang yang menganggur dapat bekerja kembali, jumlah penduduk miskin dapat ditekan kembali dan jaringan keamanan sosial tidak lagi diperlukan, biaya angkutan udara bisa diturunkan, perjalanan domestik dan luar negeri dapat hidup kembali. Dilain pihak kurs dollar AS ini harus cukup tinggi untuk menahan impor berbagai macam barang dan bahan serta meningkatkan daya saing produk dalam negeri termasuk buah-buahan, insentif untuk meminjam dana dari luar negeri hilang, biaya perjalanan ke dan sekolah di luar negeri tetap masih mahal, yang semuanya mengurangi pengurangan devisa. Sebaliknya daya saing ekspor masih cukup tinggi, sehingga ekspor masih bisa tetap bergairah. Bila ini disadari sebagai hal yang utama dan yang paling mendesak untuk mengakhiri krisis ini, maka seluruh daya upaya dan pikiran dapat diarahkan untuk memecahkan persoalannya. Kebijakan depresiasi nilai tukar yang relatif besar dampaknya sama seperti kebijakan proteksi produksi dalam negeri, karena merubah perbandingan harga antara barang dalam negeri aktif dalam forum-forum internasional seperti APEC, ASEAN, dan sebagainya untuk mencari pemecahan atas krisis moneter yang sedang melanda banyak negara Asia Timur. Masalah pokoknya adalah bagaimana memperkuat nilai tukar mata uang masing-masing kembali pada tingkat yang wajar. Misalnya dengan mengajukan gagasan-gagasan pemecahan yang konkrit dan mendesak diadakannya pertemuanpertemuan dengan segera. Hingga kini sikap pemerintah Indonesia terkesan pasif. 6. Mengadakan negosiasi ulang utang luar negeri swasta Indonesia dengan para kreditor untuk meminta penundaan pembayaran, yang sekarang sedang diusahakan oleh Tim Penanggulangan Utang Luar Negeri Swasta (PULNS) atau Indonesian Debt Restructuring Agency (INDRA).

22

Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan, Maret 1999

7. Mengembalikan stabilitas sosial dan politik dan rasa aman secepatnya sehingga bisa memulihkan kepercayaan pemilik modal dalam dan luar negeri. 8. Untuk mengembalikan kepercayaan dari masyarakat yang menyimpan uangnya di dalam negeri, pemerintah bisa mempertimbangkan melakukan operasi swap, apalagi didukung oleh cadangan devisa pemerintah yang semakin membesar. 9. Menghalangi kemungkinan kegiatan spekulasi valas besar-besaran dengan mempelajari kemungkinan melakukan pengawasan devisa secara terbatas tanpa melepas prinsip regim devisa bebas atau melanggar kesepakatan dengan IMF, misalnya transfer pribadi dibatasi sampai jumlah tertentu, US$ 10.000. Selanjutnya tidak memberi peluang untuk memperdagangkan rupiah atau menaruh deposito Rupiah di luar negeri. Deposito valas hanya boleh di bank-bank devisa dalam negeri dan tidak boleh ditempatkan di luar. Krugman juga menganjurkan memungut pajak atas dana yang masuk dan membuat peraturan yang menghambat pengiriman dana ke luar (lihat Wessel dan Davis, hal. 16).

Daftar Kepustakaan
Anwar, Moh. Arsjad. 1997. “Transformasi Struktur Perekonomian Indonesia: Pola dan Potensi”, dalam: M. Pangestu, I. Setiati (penyunting), Mencari Paradigma Baru Pembangunan Indonesia, Jakarta: CSIS, hal. 33-48. Bank Indonesia. 1998. “Financial Crisis in Indonesia”, Jakarta, August. Bello, W. 1998. “Mencari Solusi Alternatif untuk Mengatasi Krisis”, saduran, Jakarta: Kompas, 1 September, hal. 3. Ehrke, M.1998. “Pangloss oder die beste aller moeglichen Welten, Ursachen und Auswirkungen der Asienkrise”, Bonn: Friedrich Ebert Stiftung, Februari. Fischer, S. 1998a. “IMF dan Krisis Asia”, Kompas, Jakarta, 6 April. ________. 1998b. “Peranan IMF Saat Krisis”, Kompas, Jakarta, 8 April. ________. 1998c. “The Asian Crisis and the Changing Role of the IMF”, Washington, D.C.: Finance & Development, Vol. 35 No. 2, June, pp. 2-5. Greenwood, J. 1997. “The Lessons of Asia’s Currency Crisis”, Hong Kong: The Asian Wall Street Journal, 9 Oktober, hal. 6. Gunawan, A.H., Sri Mulyani I.. 1998. “Krisis Ekonomi Indonesia dan Reformasi (Makro) Ekonomi”, makalah pada Simposium Kepedulian Universitas Indonesia Terhadap Tatanan Masa Depan Indonesia”, Kampus UI, Depok, 30 Maret - 1 April.

Krisis Moneter Indonesia : Sebab, Dampak, Peran IMF dan Saran

23

Hartcher, P., C. Ryan. 1998. “The IMF Turns Off the Tap”, Australian Financial Review, May 21. Hollinger, W.C. 1996. Economic Policy under President Soeharto: Indonesia’s Twenty-Five Year Record, the United States-Indonesia Society. IMF. 1997. “IMF Approves Stand-By Credit for Indonesia”, Washington, D.C., Press Release No. 97/50, November 5. IMF. 1997. “IMF Approves Stand-By Credit for Indonesia”, Press Release No. 97/50, November 5. IMF. 1998. World Economic Outlook, Washington, D.C., May. IMF. 1999. “Indonesia, Supplemetary Memorandum of Economic and Financial Policies, Fourth Review Under the Extended Arrangement”, March 16. IMF Research Department Staff. 1997. “Capital Flow Sustainability and Speculative Currency Attacks”, Finance and Development, Washington, D.C.: World Bank, December, hal. 8-11. IMF Staff. 1998. “The Asian Crisis: Causes and Cures”, Washington, D.C.: Finance & Development, Vol. 35 No. 2, June, pp.18-21. “IMF Cairkan Semilyar Dollar AS”, Jakarta: Kompas, 6 Mei 1998. “IMF Mulai Sadar Transparensi”, Jakarta: Kompas, 13 Mei 1998, hal. 9. “Indonesia - IMF Agreement on Economic Reforms”, January 15, 1998. “Indonesia - Supplementary Memorandum of Economic and Financial Policies”, Jakarta, April 10, 1998. Institute of Developing Economies (IDE). 1997. 1998 Economic Outlook for East Asia, Tokyo, December 9. Kitamura, K.; T. Tanaka (editors). 1997. Examining Asia’s Tigers, Nine Economies Challenging Common Structural Problems, Tokyo: Institute of Developing Economies, IDE Spot Survey. Korea Letter of Intent, February 7, 1998, Krause, L.B. 1994. The Pacific Century: Myth or Reality?, the 1994 Panglaykim Memorial Lecture, Jakarta: CSIS.

10 Juni.T. 27 Januari.F.24 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Cho. “Lessons from the Recent Financial Crisis in Indonesia”.. hal. “What Happened to Asia”. p. “RI-IMF Hasilkan Memorandum Tambahan”. 72-3. 9 April 1998. Sri Mulyani Indrawati. “Kesepakatan Ketiga”. 1998a. . LPEM-FEUI. Jakarta: Kompas. The Currency Crisis in Southeast Asia. 1997. Jakarta. Jakarta: Kompas. Hong Kong: The Asian Wall Street Journal. N. Hong Kong: The Asian Wall Street Journal. pidato pengukuhan Guru Besar Madya Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. 1997. 140-2. Krisis Moneter Tahun 1997/1998 dan Peran IMF. 31-38. 26 Agustus 1998. The Sunday Times. “The Crisis of Global Capitalism”. Jakarta. diselenggarakan bersama oleh USAID. ___________. 8. “South Korea. J. 3. 62-77. Radelet. 3rd updated reprint. No. “What’s a Fund for?”. 1998. G. 28-29. Foreign Affairs. Maret 1999 Krugman. H. Economy Is Slated for Rapid Change”. The Economist. hal. Singapore: ISEAS. No. L. Ada yang Harus Dilakukan dan yang Harus Dihindari”. Schuman. Montes. IMF Agree on Bailout. Hong Kong: Far Eastern Economic Review.1997. 17-18 Desember. 1998. “Saran Ali Wardhana untuk Atasi Krisis. January. Singapore. 1998. “Restoring the Asian Miracle”. J. 1994. December 4. 1998b. Jakarta: Kompas. 28 Agustus. Stiglitz. _________. 25 Tahun IV. 5. “Currency Crisis”. November/December. Jakarta. M. 1998. Sachs. 1998. 9 Mei. 1998b.. Jakarta. September 16. hal. February 2. Soros. July 26. “Why Not Let the Banks Own the Debtor Firms?”. “The Myth of Asia’s Miracle”. Anwar. Sender. “APEC dan Krisis Moneter di Kawasan Asia Timur”. Gatra. hal. 17. hal. majalah Global. Tarmidi. makalah pada “1997 Economics Conference”. ACAES. M. Nasution. hal. 1997. Dimuat di Kompas dengan judul “Di Balik Terjadinya Krisis Keuangan Asia”. “Saatnya Dipertimbangkan Solusi Alternatif”. 1998a. September 25. P. hal. __________. _________. 3. S. hal. Hong Kong: The Asian Wall Street Journal.

August 11-13. McDermott. Peran IMF dan Saran 25 ___________. Wessel. Would-Be Keyneses Debate How to Fight Global Woes”. Dimensions of Growth. July 2. Bangi. 1. “APEC and the Monetary Crisis in East Asia”. . 1998. “Crisis Crusaders. “Utang Swasta Sekitar 64 Milyar Dollar AS”. May 27. Thailand Letter of Intent. 1998.. Jakarta: Kompas. 2 Mei 1998. Davis. December 31. 1998. Wessel. Malaysia. hal. 1. May 30.. G. 1997. May 7. Dampak. Hong Kong: The Asian Wall Street Journal. 16433IND. Indonesia in Crisis. Hong Kong: The Asian Wall Street Journal. 1998c. 1997. hal. A Macroeconomic Update. __________. D. 22. 15383-IND. Sustaining High Growth with Equity. February 24. Indonesia. Growth and Equity in Repelita VI. paper presented at the APEC Study Centre Consortium Conference. Ip. 16. D. September 28. __________. Indonesia. 1996. D. __________. World Bank. “Money Trail: Who Ruptured the Rupiah”. 1994. Indonesia: Stability.Krisis Moneter Indonesia : Sebab. Report No. B. draft Report. Report No.

sekaligus mempelajari kemungkinan penerapannya di Indonesia. dalam tulisan ini akan didalami prinsip-prinsip dasar yang terkandung dalam konsep tersebut beserta pengaruhnya terhadap pola penjaminan dan pengawasan bank. *) Maulana Ibrahim : Kepala Urusan Pengawasan Bank 2. konsep Cross-Guarantee juga akan mengakibatkan perubahan yang sangat mendasar terhadap seluruh pola dan praktek penjaminan dan pengawasan bank yang sudah dijalankan selama ini.Konsep Cross-Guarantee dalam Program Penjaminan dan Kemungkinan Penerapannya di Indonesia 31 KONSEP CROSS-GUARANTEE DALAM PROGRAM PENJAMINAN DAN KEMUNGKINAN PENERAPANNYA DI INDONESIA Maulana Ibrahim dan Agusman *) Tulisan ini mencoba mengetengahkan salah satu bentuk pikiran alternatif dalam program penjaminan yang dikenal dengan konsep Cross-Guarantee. konsep ini sangat progresif dalam hal mempercayakan penyelenggaraan penjaminan kepada mekanisme pasar dan meniadakan intervensi pemerintah. Konsep ini juga mengupayakan adanya perlakuan yang sama untuk bank-bank besar dan bank-bank kecil dalam memper-oleh penjaminan. Apabila diterapkan sepenuhnya. sehingga mengarah sepenuhnya pada swastanisasi baik penyelenggaraan penjaminan maupun pelaksanaan pengaturan dan pengawasan bank yang menyertainya. Bank Indonesia . Bank Indonesia Agusman : Pengawas Bank. maka konsep Cross-Guarantee menekankan pentingnya penggunaan pendekatan risk-sensitive analysis dalam penetapan besarnya premi. Sebagai suatu konsep yang ditujukan untuk mengatasi berbagai kelemahan deposit insurance scheme yang berlaku sekarang ini. Pendekatan Too-Big-To-Fail (TBTF) yang sejak beberapa waktu terakhir telah menimbulkan inkonsistensi dalam proses penjaminan diharapkan dapat dihilangkan oleh konsep ini. Urusan Pengawasan Bank 2. Dengan merujuk pada ide yang dilontarkan Bert Ely tentang CrossGuarantee. Sangat berbeda dengan konsep-konsep lainnya dalam program penjaminan.

serta mencoba mempelajari kemungkinan penerapannya di Indonesia. Dalam hubungan ini. . P Sulit untuk memungkiri bahwa skim penjaminan pemerintah yang bersifat menyeluruh itu akan sangat memberatkan keuangan pemerintah. Tulisan ini mencoba mengetengahkan pikiran-pikiran Bert Ely mengenai konsep CrossGuarantee tersebut.Sundararajan dan Tomas J. Pencarian kemungkinan alternatif lain program penjaminan merupakan hal yang perlu dilakukan secara terus menerus. Bank Indonesia. Ditinjau dari karakteristiknya. Dalam Konferensi mengenai Bank Structure and Competition yang baru-baru ini diadakan oleh Federal Reserve Bank of Chicago. Washington. tindakan darurat (emergency measures) yang dilakukan bank sentral dapat berupa pemberian fasilitas lender of last resort. 1991. 3 Bert Ely. seorang pakar deposit insurance telah mengemukakan konsep Cross-Guarantee sebagai salah satu alternatif. Latar Belakang Konsep Cross-Guarantee Konsep Cross-Guarantee muncul antara lain karena adanya berbagai kritik dan ketidakpuasan terhadap skim penjaminan yang diterapkan pada Federal Deposit Insurance Corporation (FDIC) di Amerika Serikat. 2 Kusumaningtuti S. 7 Mei 1999. Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.32 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.1. Desember 1998.T. Editor: V. D.3..Balino..Sundararajan dan Tomas J. khususnya karena tidak sebandingnya nilai premi dengan cakupan penjaminan disamping adanya peluang untuk melakukan moral hazard.S. Untuk mendalami masalah ini lebih lanjut lihat tulisan mereka berdua dalam Banking Crises: Cases and Issues . The Federal Reserve Bank of Chicago. Ketentuan Blanket Guarantee dan Kemungkinan Penggantiannya dengan Deposit Protection Scheme.C. hal tersebut barangkali masih dapat diterima. Untuk tindakan darurat1 . Kritikan tersebut perlu ditanggapi karena FDIC 1 Menurut V. intervensi terhadap bank-bank/lembaga keuangan bermasalah dan pembentukan deposit insurance. namun untuk jangka panjang tampaknya perlu dicari alternatif lain yang memungkinkan terselenggaranya program penjaminan yang efisien dan efektif. skim program penjaminan yang dipilih pemerintah tersebut ternyata lebih bersifat blanket guarantee (penjaminan menyeluruh). Paper dalam “The 35th Annual Conference on Bank Structure and Competition”. Di Amerika Serikat sendiripun upaya pencarian tersebut masih tetap dilakukan meskipun program penjaminannya dianggap telah jauh lebih maju dan mapan.Balino. No. telah mencoba mengkaji kemungkinan penggantian ketentuan blanket guarantee tersebut dengan deposit protection scheme. International Monetary Fund.T. The Cross-Guarantee Concept and Interbank Markets. Bert Ely3 . Vol. Kusumaningtuti (1999)2 misalnya. Maret 1999 Pendahuluan rogram penjaminan merupakan salah satu kebijaksanaan yang diambil pemerintah untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat kepada sistem perbankan nasional yang sempat terganggu karena parahnya krisis ekonomi dan keuangan yang dihadapi Indonesia sejak paroh kedua tahun 1997.

Journal of Banking & Finance.100.Konsep Cross-Guarantee dalam Program Penjaminan dan Kemungkinan Penerapannya di Indonesia 33 sekarang ini menghadapi risiko yang lebih besar dibandingkan dengan periode-periode sebelumnya4 . Kritikan berikutnya yang sering ditujukan kepada FDIC adalah berkenaan dengan penetapan premi yang harus dibayar oleh bank-bank yang ikut penjaminan. laba yang diperoleh FDIC cukup besar sehingga ketergantungan pada premi menjadi semakin lebih berkurang..sedangkan non-deposits liabilities seperti pinjaman yang diterima.25% barulah premi akan dinaikkan.1091-1108. sehingga pada gilirannya dapat merugikan masyarakat penyimpan dana. hal.W. sehingga menimbulkan cross-subsidies. Hal ini diungkap dalam tulisan Yoram Landskroner dan Jacob Paroush. Sebagaimana layaknya perusahaan asuransi. Oleh karena itu. hal.100.000. No. Journal of Banking & Finance. pada dasarnya yang dijamin oleh FDIC adalah dana pihak ketiga (deposits) maksimum sebesar USD. tampaknya hanya dalam FDIC mengalami kerugian dan deposit growth menekan RR di bawah 1. Sebagaimana diketahui.19 Tahun 1995. Arthur F. komitmen dan kewajiban off-balance sheet serta kewajiban antar bank di atas USD. Dengan kata lain. Pertama. 5 Ide agar FDIC menetapkan premi sebagaimana layaknya perusahaan asuransi swasta mula-mula sekali dilontarkan oleh Merton (1977). khususnya bagi bankbank yang “Too-Small-To-Safe” (TSTS). pendapatan dari penanaman dana oleh FDIC jauh melebihi biaya-biaya operasionalnya. .000 tidak dijamin. Disamping itu premi yang dikenakan oleh FDIC sekarang ini juga dinilai terlalu berlebihan (overcharging) untuk bank-bank yang sehat dan terlalu kecil (undercharging) untuk bank-bank yang bermasalah. akan tetapi tetap saja ada kritik bahwa perlakuan khusus tersebut dapat menimbulkan diskriminasi diantara sesama bank. Salah satu hal yang memperoleh kritikan adalah mengenai ruang lingkup penjaminan FDIC yang cenderung agak kurang konsisten sehubungan dengan penerapan pendekatan “Too-Big-To-Fail” (TBTF).25%. yaitu bank-bank yang 4 Adanya risiko yang lebih besar tersebut antara lain dikemukakan oleh Jin-Chuan Duan.Sealey dalam “Deposit Insurance and Bank Interest Rate Risk: Pricing and Regulatory Implications ”.18. Perhitungan premi oleh FDIC dinilai kurang mencerminkan risiko yang harus ditanggungnya. Meskipun penerapan asas TBTF sangat dimungkinkan berdasarkan konsep Reformasi Deposit Insurance (deposit insurance reforms) yang disetujui Kongres Amerika Serikat dan berlaku sejak setelah tahun 1988. Moreau dan C. “Deposit Insurance Pricing and Social Welfare”. Namun dalam hal suatu bank dinilai TBTF maka seluruh pos kewajibannya akan dijamin. 531-552. No. Namun dalam prakteknya prinsip tersebut ternyata tidak diterapkan karena dua alasan pokok berikut ini. Tahun 1994. dan sebaliknya5 . seharusnya semakin besar risiko yang ditanggung semakin besar premi. Alasan kedua adalah karena jumlah dana yang ditanamkan oleh FDIC telah melebihi ketentuan minimum Reserve Ratio (RR) perbankan sebesar 1. termasuk juga pos pinjaman subordinasi.

sumber pembayaran klaim. sedangkan pihak lain yaitu birokrasi pemerintah (regulator) berkewajiban untuk meminimumkan kerugian FDIC dan mencegah kegagalan bank (bank failures).Kaufman. khususnya dalam hal terdapat multiple participant. Contoh yang paling baru dari fenomena regulatory moral hazard ini adalah dalam hal kegagalan BestBank di Boulder. Pada Lampiran-1 disajikan perbandingan antara Cross-Guarantee dengan skim penjaminan deposit insurance konvensional untuk masing-masing aspek tersebut. Colorado pada bulan Juli 1998. dan potensial untuk berubah menjadi real moral hazard pada tingkat FDIC. Perubahan-perubahan tersebut dapat mencakup aspek penyelenggara. Struktur seperti ini ternyata dapat mengakibatkan terjadinya regulatory moral hazard pada tingkat pembuat ketentuan. Sekarang ini FDIC menggunakan 2 (dua) alat ukur risiko yaitu Capital Levels dan CAMEL Rating.34 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. lembaga penjamin. Kritikan lainnya adalah mengenai masih terbukanya peluang untuk melakukan moral hazard dalam sistem yang berlaku sekarang. Mekanisme Cross-Guarantee ini memiliki kemiripan dengan mekanisme yang berlaku pada Standby Letter of Credits. rapid growth. No.721-722. seharusnya alat ukur yang digunakan adalah leading indicators of banking risks seperti risk mismatches. Hal ini erat kaitannya dengan belum diterapkannya secara penuh prinsip risk-sensitive premium sebagaimana yang dipersyaratkan oleh Section 302 FDICIA6 serta penggunaan alat ukur risiko yang belum sesuai. 6 FDICIA singkatan dari FDIC Improvement Act. karena masing-masing bank-bank yang dijamin (insured banks) pada akhirnya menjadi pihak yang bertanggung jawab terhadap semua kerugian yang terjadi apabila ada bank-bank yang mengalami kegagalan usaha (failed banks). hal. Maret 1999 sehat membayar kewajiban bank-bank yang tidak sehat. weak internal controls dan execessive exposure to emerging speculative bubbles. Hal ini terjadi karena pada satu pihak FDIC memiliki kekuasaan besar dalam penentuan premi.19. pelaksana pengawasan bank. apabila diterapkan secara penuh maka ketentuan yang tercakup dalam FDICIA dapat efektif menurunkan moral hazard. Penerapan konsep Cross-Guarantee dalam program penjaminan memer-lukan perubahan mendasar terhadap skim penjaminan dan pola pengawasan bank yang sedang berjalan. lembaga lain yang terlibat dan lain-lain. Tahun 1995. ketentuan perbankan. meskipun belum seutuhnya. “FDICIA and Bank Capital” dalam Journal of Banking & Finance. Melalui premi yang mereka bayar. bentuk kontribusi dari bank yang dijamin. Karakteristik Sistem Cross-Guarantee dalam Penjaminan Terlepas dari berbagai kritik terhadap skim penjaminan FDIC sebagaimana dikemukakan di atas. . Selanjutnya lihat George G. Menurut George G. namun pendekatan ini dinilai kurang ideal dalam perhitungan premi. Menurut Bert Ely.Kaufman. ruang-lingkup penjaminan. secara implisit konsep Cross-Guarantee sebenarnya sudah melekat pada FDIC. bank-bank yang ikut program penjaminan FDIC pada hakekatnya saling menjamin satu-sama lain.

b. Dengan demikian. Untuk memastikan bahwa bank-bank yang dijamin mematuhi cross-guarantee contract maka sebuah perusahaan swasta yang disebut “syndicate agent“ akan disewa. . Perjanjian ini akan berfungsi sebagai pengganti ketentuan perbankan yang berlaku sekarang. Direct guarantor akan melakukan pembayaran dengan menggunakan general funds (cadangan umum) yang merupakan salah satu unsur modalnya. minimal untuk menyelesaikan kewajiban cross-guarantee dari setiap penjamin.Konsep Cross-Guarantee dalam Program Penjaminan dan Kemungkinan Penerapannya di Indonesia 35 Agar konsep Cross-Guarantee tersebut dapat diimplementasikan dalam praktek maka perlu dilakukan langkah-langkah sebagai berikut: a. Perlu kiranya dikemukakan bahwa aturan penyebaran risiko (risk dispersion rule) merupakan salah satu pilar penting dalam konsep Cross-Guarantee. Setiap bank diberi kebebasan untuk menentukan sendiri penjaminnya (direct guarantornya). akan terjadi pergeseran dari government regulation and deposit insurance kepada contractual regulation and guarantees (swasta). Jumlah modal yang tersedia untuk menyerap kerugian juga akan semakin besar dan semua itu terjadi atas dasar komitmen sukarela (committed voluntarily). secara accrual accounting setiap direct guarantor akan langsung mengakui dan mencatat kerugian sebesar share yang harus ditanggungnya apabila bank yang dijaminnya mengalami kegagalan usaha. Penunjukan syndicate agent ini dilakukan secara terbuka sehingga akan mendorong adanya kompetisi yang sehat dan efisiensi. seluruh kerugian karena bangkrutnya suatu bank akan langsung diserap oleh modal bank-bank yang ada dalam sistem perbankan suatu negara. Apabila direct guarantor gagal memenuhi kewajibannya maka guarantor dari direct guarantor tersebut harus bertanggungjawab. Selanjutnya. Dengan cara ini. Sebuah lembaga baru yang disebut Cross Guarantee Regulation Corporation (CGRC) harus dibentuk. Dengan demikian setiap dolar kerugian pasti akan dapat diselesaikan oleh bank-bank yang berada dalam himpunan para penjamin (the universe of guarantors). c. Aturan ini mencakup hal-hal sebagai berikut: ♦ Setiap penjamin (guarantor) harus dijamin oleh penjamin-penjamin lainnya dalam suatu sistem cross-guarantee. Syndicate agent ini selanjutnya akan menggantikan fungsi pengawas dan pemeriksa bank yang ada sekarang. Secara bersama-sama para direct guarantor akan membentuk suatu sindikat direct guarantor (lihat Lampiran-2). Bank yang dijamin (insured bank) selanjutnya akan melakukan pembicaraan dengan direct guarantor-nya untuk mencapai kesepakatan-kesepakatan yang akan dituangkan dalam bentuk perjanjian penjaminan (cross-guarantee contract). Lembaga ini berfungsi untuk memastikan bahwa perjanjian penjaminan (crossguarantee contract) yang disepakati para pihak telah sesuai dengan aturan penyebaran risiko (risk dispersion rule) serta ketentuan-ketentuan lainnya. d.

Demikian pula penentuan perjanjian penjaminan (cross-guarantee contract) sepenuhnya diserahkan kepada pihak-pihak yang berkepentingan. . baik untuk setiap bank maupun secara aggregat. sehingga penjaminan akan terlaksana secara efisien dan efektif. penerapan konsep CrossGuarantee akan menimbulkan pergeseran peranan dari pemerintah kepada pihak swasta dalam melakukan penjaminan serta pengaturan dan pengawasan bank. Manfaat Swastanisasi Penjaminan melalui Cross-Guarantee Sebagaimana yang telah dikemukakan sebelumnya. Cross-Guarantee memerlukan peran aktif dari pihak swasta untuk mewujudkan suatu skim penjaminan yang diarahkan oleh kekuatan pasar (market-driven cross-guarantee). ♦ Setiap penjamin bertanggungjawab sebatas jumlah risiko cross-guarantee yang ditanggungnya. Maret 1999 ♦ Setiap perjanjian penjaminan (cross guarantee contracts) harus menyebutkan jumlah minimum para penjamin dan persentase risiko yang ditanggung mereka masing-masing. yaitu insured banks dan direct guarantor-nya. setiap bank penjamin tidak diperkenankan menerima pendapatan dari premi7 dalam setahun melebihi 3 (tiga) persen dari total modalnya. Oleh karena itu. ♦ Untuk memastikan bahwa tidak akan pernah ada suatu bank mengalami kegagalan usaha karena menjadi penjamin maka perlu diberlakukan suatu standard stop-loss rule. Karena adanya kebebasan dalam proses merumuskan mekanisme penjaminan untuk setiap bank. memenuhi aturan penyebaran risiko (risk dispersion rule) serta ketentuan-ketentuan lainnya yang dianggap penting oleh para pihak. Yang perlu dijaga adalah agar perjanjian dimaksud sudah memperhitungkan premi atas dasar sensitivitas terhadap risiko (risk-sensitive premium). agar dapat terlaksana dengan baik. Sebagai aturan yang akan menggantikan prudential regulation maka perjanjian penjaminan harus dibuat sedemikian rupa agar dapat menampung prinsip kehati-hatian.36 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. yang menyatakan bahwa “apabila satu penjamin mengalami kerugian cross-guarantee melebihi lima kali premi yang diperolehnya dalam setahun maka kewajiban crossguarantee-nya harus dialihkan kepada direct guarantor-nya. Skim penjaminan berbasiskan pasar tersebut diharapkan dapat mengeliminir intervensi dari pemerintah. maka konsep Cross-Guarantee dipandang lebih berorientasi ke depan dibandingkan dengan konsep penjaminan (FDIC) yang berlaku sekarang. Secara aggregat. 7 Dalam hal ini premi merupakan proxy terbaik dari cross-guarantee risk. Semangat untuk melakukan privatisasi penjaminan melalui Cross-Guarantee jelas terlihat sejak awal penentuan bank penjamin (direct guarantor) yang dilakukan secara sukarela (voluntary) dan demokratis.

Konsep Cross-Guarantee dalam Program Penjaminan dan Kemungkinan Penerapannya di Indonesia

37

Dengan swastanisasi penjaminan dan pengawasan bank maka nantinya tidak akan ada lagi fenomena “satu ketentuan yang berlaku untuk semua” (one-size-must-fit-all government regulation) yang selama ini merupakan salah satu kelemahan inheren dari ketentuan perbankan yang dibuat pemerintah. Dalam praktek selama ini sering ditemukan adanya beberapa ketentuan yang sulit diterapkan karena bersifat terlalu umum dan kurang mempertimbangkan karakteristik individual bank. Atas dasar konsep Cross-Guarantee ini, insured banks dapat membuat berbagai ketentuan yang mengatur dirinya secara spesifik berdasarkan kesepakatan dengan direct guarantor-nya. Konsep Cross-Guarantee juga memberikan kesempatan yang seluas-luasnya bagi insured banks untuk berdiskusi dan bernegosiasi dengan direct guarantor-nya untuk segala hal termasuk mengenai masa depan bank tersebut. Hal ini pada gilirannya akan membuat strategi business dan perencanaan bank menjadi semakin tajam dan terarah. Pada pihak lain, kegiatan kontrol atau pengawasan akan semakin lebih ketat karena langsung dilakukan oleh kekuatan pasar. Apabila suatu bank memperoleh penilaian yang jelek dari pasar maka yang akan menanggung akibatnya bukan hanya bank yang bersangkutan saja, tetapi juga menjalar kepada bank yang menjadi direct guarantor. Hal-hal tersebut akan membuat persaingan dalam industri perbankan akan semakin ketat dan mendorong efisiensi besarbesaran dalam sektor keuangan. Persaingan sehat juga akan terjadi diantara sesama syndicate agent yang akan berfungsi sebagai pengganti pengawas dan pemeriksa bank yang ada sekarang. Karena kemungkinan akan banyak perusahaan syndicate agent yang muncul maka direct guarantor diberi keleluasaan dalam menentukan syndicate agent yang mereka pilih. Hal ini pada gilirannya dapat mendorong kompetisi yang sehat diantara sesama perusahaan syndicate agent dan mendorong efisiensi pekerjaan penjaminan. Manfaat berikutnya dari konsep Cross-Guarantee dapat ditinjau dari segi ruang lingkup penjaminannya. Tanpa memandang besar kecilnya suatu bank, mereka akan dijamin sebagaimana layaknya bank-bank lainnya, asal bank-bank tersebut dapat menemukan direct guarantor-nya. Oleh karena itu, pendekatan TBTF menjadi tidak relevan sama sekali dalam konsep Cross-Guarantee. Dengan menggunakan konsep Cross-Guarantee, maka transaksitransaksi non-funding obligations seperti account payment, unexpired leases dan kewajiban yang muncul karena tuntutan hukum akan dapat ikut dijamin. Kewajiban yang tidak dapat dijamin hanyalah pinjaman subordinasi karena memiliki karakteristik campuran (hybrid) hutang dengan modal. Sama halnya dengan program penjaminan biasa, maka dalam crossguarantee, unsur modal juga tidak dijamin8 .
8 Pengecualian hanya terjadi dalam hal TBTF, karena ada kemungkinan pinjaman subordinasinya juga akan ikut dibayar, tergantung pada bobot permasalahan bank yang TBTF tersebut.

38

Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan, Maret 1999

Manfaat lainnya dari konsep Cross-Guarantee adalah adanya kesempatan untuk melakukan penyesuaian secara cepat terhadap perhitungan premi berdasarkan kekuatan pasar. Perhitungan tersebut akan mencerminkan risk-sensitivity dari bank yang dijamin dan diharapkan dapat disesuaikan segera baik secara bulanan atau mingguan. Dalam hal ini besarnya premi dapat langsung dibicarakan oleh masing-masing bank dengan direct guarantor-nya. Dengan adanya kemungkinan untuk melakukan perhitungan premi berdasarkan kecenderungan pasar tersebut maka cross-subsidies yang inheren dalam skim penjaminan yang ada sekarang diharapkan akan dapat dihilangkan.

Pengaruh terhadap Pasar Antar Bank dan Sistem Pembayaran
Cross-guarantee dapat menghilangkan counterparty risk yang selama ini melekat dalam transaksi antar bank (lihat Lampiran-3). Sistem Kliring akan terbebas dari risiko tidak dibayarnya tagihan antar bank karena adanya jaminan bahwa direct guarantor masing-masing bank pada akhirnya akan bertanggungjawab sesuai perjanjian penjaminan (cross-guarantee contract) yang mereka sepakati. Hal ini pada gilirannya memungkinkan terselenggaranya suatu Sistem Pembayaran yang bebas risiko (risk-free basis). Penggunaan konsep Cross-Guarantee ini juga dapat mendorong penggunaan secara luas net settlement procedures dalam Sistem Pembayaran. Bagi bank sentral hal ini akan sangat menguntungkan karena net settlement procedures tersebut dapat lebih efisien dari real-time gross settlement .

Kemungkinan Penerapan Konsep Cross-Guarantee di Indonesia
Skim penjaminan yang sekarang ini diterapkan di Indonesia masih mengandung berbagai kelemahan baik pada tingkat konsep maupun pada tingkat pelaksanaan. Pada tingkat konsep, karena bersifat blanket guarantee (jaminan menyeluruh) maka skim tersebut dapat mengakibatkan beban yang sangat berat bagi keuangan pemerintah, padahal kemampuan keuangan pemerintah sendiri sudah sangat terbatas. Disamping itu peluang untuk moral hazard juga besar karena unsur keadilan yang kurang terpenuhi yang tercermin antara lain dari gejala cross-subsidies dimana bank-bank yang sehat membayar kewajiban bank-bank yang tidak sehat. Pada tingkat pelaksanaan, terdapat pula indikasi bahwa dalam praktek tidak seluruh aspek penjaminan dapat terlaksana. Sebagai contoh, untuk melaksanakan penjaminan transaksi off-balance sheet derivatives perlu ada bukti-bukti bahwa transaksi itu genuine, sesuatu yang sangat sulit dibuktikan kecuali oleh perbankan sendiri. Sehubungan dengan hal-hal tersebut di atas, konsep Cross-Guarantee tampaknya dapat menjadi salah satu alternatif jalan keluar, karena hakekat persoalan penjaminan dikembalikan secara utuh kepada pelaku pasar sendiri yaitu antara bank-bank yang

Konsep Cross-Guarantee dalam Program Penjaminan dan Kemungkinan Penerapannya di Indonesia

39

bertransaksi, sehingga mereka perlu saling menjamin dan saling menjaga kestabilan sistem perbankan. Namun demikian perlu kiranya diingat agar pemilihan konsep Cross-Guarantee tersebut hendaknya tidak terlepas dari tujuan utama dari program penjaminan, yaitu untuk mencegah kegagalan pasar perbankan (banking market failure) dan untuk membangkitkan kembali kepercayaan masyarakat serta menghentikan bank runs9 . Meskipun dapat dipandang sebagai salah satu alternatif jalan keluar, penerapan konsep Cross-Guarantee di Indonesia dapat menimbulkan pro dan kontra. Mereka yang pro mungkin lebih didasarkan atas adanya peluang besar untuk meringankan beban keuangan pemerintah, apalagi dalam situasi krisis seperti sekarang. Sementara itu, yang kontra lebih melihat dari sisi kesiapan perbankan dan kalangan pemerintahan kita dalam menerapkan konsep dimaksud. Hal yang terakhir ini tampaknya ada benarnya juga karena untuk sampai pada konsep Cross-Guarantee perlu dijawab terlebih dahulu pertanyaan-pertanyaan berikut ini:

√ Apakah bank-bank di Indonesia sudah sedemikian sehat dan kuat sehingga mampu
untuk saling menjamin (cross-guarantee) sesama mereka ?

√ Apakah bank-bank di Indonesia sudah cukup dewasa untuk mendiskusikan sendiri
sesama mereka hal-hal yang berkenaan dengan penjaminan, business strategy dan prudential regulation untuk dituangkan dalam semacam perjanjian yang mengikat mereka secara bersama-sama ?. Pertanyaan ini cukup penting mengingat selama ini bank-bank di Indonesia sangat tergantung pada petunjuk dan arahan yang diberikan oleh otoritas moneter sebagai pengawas dan pembina bank-bank.

√ Apakah sistem informasi yang terdapat pada masing-masing bank dan secara nasional
telah sanggup menyediakan data/informasi yang diperlukan untuk penetapan premi yang sensitif terhadap risiko ?

√ Apakah pihak otoritas pengawas yang ada sekarang berkenan menyerahkan fungsinya
pada mekanisme pasar melalui syndicate agent dan dapat menerima keberadaan Cross Guarantee Regulation Corporation (CGRC) sebagai lembaga yang akan memverifikasi perjanjian penjaminan (cross-guarantee contract) ?. Pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas cukup relevan untuk kondisi Indonesia dan memerlukan jawaban-jawaban yang tidak sederhana. Pengkajian lebih lanjut sangat diperlukan untuk mencegah pengambilan keputusan yang keliru yang dapat berakibat kontraproduktif terhadap masa depan sistem perbankan dan sektor keuangan negara kita.
9 Mengenai hal ini lihat misalnya Kerry Cooper dan Donald R.Fraser, “The Risk of Depository Institution Failure and The Role of Deposit Insurance” dalam Banking Deregulation and The New Competition in Financial Services, Ballinger Publishing Company, Cambridge Massachusetts, 1984.

Washington. 1991. Vol. Ketentuan Blanket Guarantee dan Kemungkinan Penggantiannya dengan Deposit Protection Scheme. Yoram Landskroner dan Jacob Paroush.T... Jin-Chuan Duan. “FDICIA and Bank Capital” dalam Journal of Banking & Finance. The Federal Reserve Bank of Chicago. Bank Indonesia. No.Sundararajan dan Tomas J. International Monetary Fund. Kerry Cooper and Donald R. The Cross-Guarantee Concept and Interbank Markets. No. hal.Balino. . D. “Deposit Insurance Pricing and Social Welfare” dalam Journal of Banking and Finance. Maret 1999 Daftar Pustaka Bert Ely. Editor V.Sealey dalam “Deposit Insurance and Bank Interest Rate Risk: Pricing and Regulatory Implications” dalam Journal of Banking & Finance.19.Sundararajan dan Tomas J.1.531-552.1091-1108. Banking Crises: Cases and Issues .S.40 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.19 Tahun 1995. hal.721-722. Tahun 1994. George G.Moreau and C. 1984. hal. “The Risk of Depository Institution Failure and The Role of Deposit Insurance” dalam Banking Deregulation and The New Competition in Financial Services.W. Desember 1998. Paper dalam “The 35th Annual Conference on Bank Structure and Competition”. No. V. Cambridge Massachusetts.C.Balino.3. No. Tahun 1995. Ballinger Publishing Company. Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.Kaufman. 7 Mei 1999.T. Kusumaningtuti S. Arthur F.18.Fraser.

Bank Sentral dan FDIC Prudential regulation konvensional Swasta Sesama bank. Dibentuk lembaga baru yang disebut Cross Guarantee Regulation Corporation (CGRC) untuk memastikan bahwa perjanjian jaminan sudah sesuai aturan penyebaran risiko dan ketentuan lainnya. Berdasarkan kesepakatan antara bank yang dijamin (insured banks) dengan direct guarantor-nya ("Contractual Regulation"). 8 Lembaga lain yang terlibat Tidak ada lembaga lain yang terlibat kecuali FDIC. 4 Bentuk kontribusi dari yang dijamin 5 Sumber pembayaran klaim General funds (general reserves) dari direct guarantors. baik sebagai direct guarantor maupun indirect guarantor. Premi (namun belum memenuhi kriteria "risk-sensitive premium"). dilaksanakan oleh "Syndicate Agent". Bank Sentral dan "insured banks". 41 . 6 7 Pelaksana pengawasan bank Ketentuan perbankan Murni swasta. ASPEK DEPOSIT INSURANCE CROSS-GUARANTEE Konsep Cross-Guarantee dalam Program Penjaminan dan Kemungkinan Penerapannya di Indonesia 1 2 3 Penyelenggara Lembaga Penjamin Ruang-lingkup Penjaminan Pemerintah FDIC Terbatas dan sangat subjektif dalam penentuan bank-bank yang "TBTF" (Too-Big-Too-Fail).Lampiran-1 PERBANDINGAN ANTARA CROSS-GUARANTEE DENGAN DEPOSIT INSURANCE KONVENSIONAL No. kecuali Pinjaman Subordinasi. Seluruh pos-pos kewajiban. Hasil pengelolaan dan penanaman premi pada sektor-sektor yang menguntungkan. Premi ("risk sensitive premium").

42 Lampiran 2 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Permission granted to reproduce with attribution Cross-guarantee commitment Guarantee premium Contractual relationship Contract approval . Maret 1999 Monitoring fee Obligation to protect competitively sensitive data Ensures that cross-gurantee contract complies with risk dispersion rules and other statutory requirements Syndicate Agent (Independent of any other party) monitoring responsibility Fiduciary responsibility Delegation of Guaranteed Bank of Thrift complies with risk dispersion rules and other statutory requirements Ensures that cross-guarantee contract Syndicate of Direct Guarantors = Bank or non-depository guarantor  1998 Ely & Company Inc.

to protect clearing systems participant from a default by a counterparty. and collateralized net debit positions. Clearing Systems Failure Failure Flow of insolvency loss if a clearing system participant becomes insolvent Counterparties (banks. securities. bilateral caps. cross-guarantee contracts will ensure payment finality. thereby ensuring payment finality.Lampiran 3 Using Cross-Guarantees to Ensure Payment Finality Will Permit Clearing Systems to Operate Much More Efficiently by Eliminating Counterparty Risk Present System Clearing systems presently utilize a variety of devices. firms. stc) that are direct participants in the clearing system Guarantors of counterparties 43 . In effect. including daylight overdraft limits. Konsep Cross-Guarantee dalam Program Penjaminan dan Kemungkinan Penerapannya di Indonesia In a World of Cross-Guarantees Clearing systems will be able to operate much more efficiently and safely where balances due to clearing system participants are fully guaranteed by the guarantors of the clearing system’s counterparties.

dan kiranya akan menjadi topik pembicaraan tersendiri. karena sebagian justru sengaja memacetkan kreditnya. Bank Indonesia . tingkat penghasilan nasabah. kenangan dan salam perpisahan penulis kepada Urusan Kredit. misalnya: jam kerja. suku bunga tabungan dan suku bunga pinjaman. Bank Indonesia **) Sumantoro Martowijoyo : Peneliti pada Tim Penyiapan Pusat Pendidikan dan Riset. Ukuran “kinerja” sendiri jauh berbeda dengan kriteria CAMEL yang tidak akan mudah tercerna oleh kesahajaan lembaga-lembaga tersebut. karena memiliki berbagai jenis sejak lama. Dari hasil analisis dapat diungkapkan. ada Badan Kredit Desa yang didirikan di zaman Belanda. Di era pengentasan kemiskinan ini. Di luar BRI Unit yang merupakan kisah sukses tingkat dunia. tidak demikian halnya pengusaha konglomerat. Tergambar pula masih lugu dan mandirinya sifat pengusaha mikro perdesaan nasabah LKM dibanding pengusaha konglomerat nasabah bank umum: apabila kenaikan pendapatan pengusaha mikro perdesaan dipakai untuk menambah tabungan dan melunasi tunggakan. Badan Kredit Kecamatan di Jawa Tengah. *) Bagian dari tulisan yang sedang dalam proses. USDM. jarak rata-rata antara lokasi LKM ke lokasi nasabah. bahwa faktor yang paling mempengaruhi kinerja adalah jarak ke lokasi nasabah dan selang waktu pemrosesan kredit. di samping berkembangnya kelompok-kelompok swadaya masyarakat sebagai bentuk lembaga keuangan yang paling sederhana di tingkat “akar rumput”.Kinerja Lembaga Keuangan Mikro dan Perilaku Masyarakat Pedesaan 45 KINERJA LEMBAGA KEUANGAN MIKRO DAN PERILAKU MASYARAKAT PEDESAAN *) Sumantoro Martowijoyo **) Setelah disuguhi banyak topik moneter dengan teknik-teknik analisis canggih ekonometrika tingkat pascasarjana. waktu pemrosesan kredit. tulisan ini mengajak pembaca untuk turun ke dunia nyata tempat sebagian besar saudara kita sebangsa hidup. Di sini dibahas beberapa faktor yang menggambarkan perilaku masyarakat perdesaan yang mempengaruhi kinerja lembaga keuangan mikro. Indonesia telah menjadi laboratorium bagi penelitian di bidang Lembaga Keuangan Mikro (LKM).

Dengan begitu. Indonesia sebetulnya sudah lebih maju dalam penciptaan lembaga keuangan mikro sejak zaman Belanda. Dalam pengembangan KSM Bank Indonesia ikut berkiprah melalui Pengembangan Hubungan Bank dengan Kelompok Swadaya Masyarakat (PHBK) yang gagasannya berasal dari APRACA (Asia Pacific Rural and Agricultural Credit Association). simpanan wajib. timbullah gagasan untuk menambah jumlah dan jenis uang setoran menjadi simpanan pokok.46 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. dan simpanan sukarela. terdapat banyak LKM yang semiformal maupun informal di Indonesia. Lembaga Keuangan Mikro di Indonesia Selain lembaga yang formal seperti BRI Unit dan BPR yang secara hukum diakui sebagai lembaga keuangan formal (bank). kegiatan yang dilakukan secara kelompok sudah merupakan budaya masyarakat yang berazaskan paguyuban. Istilah “mikro” selain menunjuk skala yang lebih kecil dari yang kecil. dan lembaga-lembaga swadaya masyarakat (LSM) bergiat membina keswadayaan masyarakat melalui kelompok-kelompok swadaya masyarakat (KSM). 1 banyak pula yang menyebutnya rural financial institutions (RFI) atau lembaga keuangan pedesaan (LKP). Setelah dua dasawarsa diwarnai kreditkredit murah bersubsidi yang sebagian tidak jatuh ke tangan kelompok sasaran dan mengakibatkan merosotnya kinerja serta moralitas lembaga keuangan pelaksananya. di samping BRI Unit yang merupakan kisah sukses dunia. dan dalam pengembangan LKM melalui Proyek Kredit Mikro yang didanai bersama Asian Development Bank. Tiga lembaga yang dipilih adalah yang efektif beroperasi di tingkat “akar rumput” dan menerapkan prinsip suku bunga pasar yang terbukti lestari. tanpa melihat status hukumnya. para pakar merekomendasikan prinsip keswadayaan dan kesehatan (viability) dari programprogram pengentasan kemiskinan. pencarian model lembaga keuangan mikro1 yang tepat untuk melayani rakyat miskin dilakukan di mana-mana. Model Grameen Bank Bangladesh direplikasikan di manamana. Maret 1999 Latar Belakang D engan disepakatinya ikrar dalam Microcredit Summit di Washington DC Amerika Serikat pada tahun 1997 untuk membebaskan 100 juta penduduk dunia dari kemiskinan. Di luar perhatian para penentu kebijakan kita. Kelompok Swadaya Masyarakat Di Indonesia. tapi untuk Indonesia karena lokasinya banyak pula di perkotaan maka dipilih istilah yang dikenal sejak Summit ini. konotasinya terkait dengan kemiskinan . Apabila kebutuhan akan uang tersebut makin terasa dan jumlah yang diperoleh dari arisan terlalu kecil. Kegiatan arisan sudah tumbuh menjamur diperdesaan dan perkotaan dan jumlahnya mungkin melebihi satu juta.

kemudian mulai tumbuh kembali sesudah kemerdekaan. 1988) dan keduanya dikukuhkan dengan Staatsblad nomor 357 tahun 1929. Dengan berlakunya Undang-undang Perbankan No. Selama zaman Belanda sistem BKD telah berfungsi dengan baik sebagai lembaga keuangan bagi rakyat perdesaan. di mana untuk peminjaman uang ditarik pula semacam “jasa” yang dipotongkan dari jumlah pinjaman.7 tahun 1992 yang mencabut berlakunya Staatsblad no. banyak LSM yang lahir dan tumbuh untuk dapat “menangkap” bantuan dari badan atau LSM internasional. serta di akhir tahun membagikan dividen bagi para pemegang saham. Pembukuan dilakukan oleh Juru Tata Usaha (JTU) yang bekerja untuk 6 BKD secara bergilir (BKD umumnya buka sekali seminggu pada hari atau hari pasaran tertentu). Sistem kredit BKD sederhana. Lumbung desa mengumpulkan padi untuk diberikan sebagai pinjaman berupa padi kepada petani di saat mereka membutuhkan. Pengawasan terhadap BKD dilakukan secara langsung oleh Mantri BKD yang mewilayahi satu kemantren yang terdiri dari 18 BKD. Seperti halnya di Filipina. kredit pasaran diberikan oleh BKD yang bukanya setiap hari pasaran tertentu . terutama terdiri dari kredit pasaran dan mingguan yang berjangka waktu 12 pasar2 atau 12 minggu dengan pembayaran angsuran pokok maupun bunga dengan jumlah yang tetap. Badan Kredit Desa Badan Kredit Desa (BKD) terdiri dari lumbung desa yang didirikan tahun 1897 dan bank desa yang didirikan sekitar tahun 1904 (P. semata-mata berdasarkan penilaian kelayakan nasabah oleh Komisi I. Jumlah kredit yang dapat diberikan sampai dengan Rp 400. organisasi dan pengelolaan BKD dipertahankan tetap seperti konsep semula yaitu Komisi BKD terdiri dari kepala desa sebagai ketua komisi (Komisi I) dan 2 orang pemuka masyarakat atau aparat desa sebagai Komisi II dan III. 357 tahun 1929. berguguran di zaman pendudukan Jepang dan Perang Kemerdekaan. 1995). 2. Akan tetapi mengingat banyak faktor. Sedangkan bank desa menghimpun tabungan berupa uang dan memberikan kredit berupa uang. Sebagai bank sekunder dalam pembinaan BRI. BI sendiri menyetujui BRI meneruskan tugas pengawasannya terhadap BKD dengan bantuan keuangan dari BI. Satu pasar=5 hari (kalender Jawa). memungut bunga berupa “jasa”. pengawasan terhadap BKD sebetulnya ada di tangan Bank Indonesia (BI). Suharto. Berkembangnya KSM di Indonesia tidak lepas dari berkembangnya lembaga swadaya masyarakat (LSM) dari tahun 1960-an sampai awal 1990-an yang jumlahnya diperkirakan antara 1000-2000 buah (Saidi. Perkumpulan semacam ini secara tidak sadar sudah berfungsi sebagai lembaga keuangan perdesaan: menghimpun dana dan memberikan kredit kepada anggota.Kinerja Lembaga Keuangan Mikro dan Perilaku Masyarakat Pedesaan 47 perkumpulan arisan telah berubah menjadi koperasi kredit (credit union).000 tanpa agunan.

keberadaannya dibutuhkan oleh rakyat dan telah membuktikan kelestarian dan kemandiriannya dalam arti tidak pernah menerima dana maupun subsidi bunga dari pemerintah. lumbung desa tetap menjadi sumber kredit bagi rakyat kecil untuk konsumsi sehari-hari (Dibyo Prabowo. Maret 1999 Lepas dari suara yang mendiskreditkan BKD. BKK didirikan dengan tujuan: (1) mendekatkan modal pada masyarakat pengusaha miskin di perdesaan dengan cara mudah. Prosedur permohonan kredit kepada BKK cukup sederhana dan untuk jumlah kredit sampai dengan Rp 500. dan musiman (6 bulan). BKK diharuskan menyimpan kelebihan alat likuidnya di BPD. BKD mampu menjangkau masyarakat paling miskin di pedesaan.p. murah dan mengarah.1994). di pihak lain apabila BKK kekurangan modal kerja BPD akan memberikan pinjaman likuiditas. misalnya. 202 di antaranya sudah berstatus BPR.26). 1998). yaitu kebanyakan kredit pasaran. ratarata peminjam per unit 978 orang.11 tahun 1981 Bank Pembangunan Daerah (BPD) Jawa Tengah ditugasi sebagai pembina dan pengawas teknis BKK. Pemegang Kas dan Pemegang Buku. yaitu sebesar USD 38 di tahun 1993 (Christen. Berdasarkan Perda no. jumlah pinjaman rata-rata per unit Rp 96 juta dan per nasabah Rp 132.48 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.000 tidak diperlukan agunan selain rekomendasi kepala desa. 11 tahun 1981 dikukuhkan menjadi badan usaha milik daerah. dan (3) mendidik masyarakat pedesaan untuk gemar menabung (BP-BKK. Sama dengan BKD jumlah angsuran sama setiap pembayaran. Manajemen BKK terdiri dari Pimpinan. mingguan. 1993) . bulanan (3 bulan). Di tengah maraknya kredit Bimas. (2) menciptakan pemerataan kesempatan berusaha di pedesaan. Sebagai LKM. dibukukan terpisah sebagai angsuran pokok dan bunga. 1995. Kinerja manajemen BKK dipantau oleh Camat sebagai penanggung jawab BKK di wilayahnya. Badan Kredit Kecamatan Badan Kredit Kecamatan (BKK) adalah lembaga keuangan yang beroperasi di tingkat kecamatan yang didirikan oleh Pemerintah Daerah Tingkat I Jawa Tengah di awal tahun 1970an dengan status sebagai suatu proyek. Jenis kredit BKK sama dengan BKD. tercermin dari paling rendahnya jumlah kredit rata-rata BKD dibanding beberapa lembaga keuangan mikro yang terkenal di dunia. Selang waktu antara saat pengajuan permohonan dengan realisasi kredit untuk nasabah baru paling lama seminggu. Jumlah BKK di seluruh Jawa Tengah 510.584 (DAI. 1981). dan kemudian dengan Peraturan Daerah (Perda) No. Jumlah BKD di Jawa dan Madura tercatat 5345 terdiri dari 4806 yang aktif dan 539 yang tidak aktif (BRI. hanya menuruti peraturan BPR. sedangkan untuk nasabah ulangan yang lancar pencairan kredit dapat dilakukan pada hari yang sama.

selang waktu pemrosesan kredit (SELANG). Faktor-faktor yang mempengaruhi Kinerja LKM Terdapat beberapa faktor atau variabel yang secara rasional dianggap mempengaruhi kinerja. AKPEN dan AKPEM adalah masingmasing jumlah penabung dan peminjam dibagi jumlah penduduk di wilayah kerja LKM. tingkat akses kepada peminjam (AKPEM). Keuntungan penggunaan statistik nonparametrik adalah tidak perlu dibuktikannya kenormalan distribusi data (yang merupakan prasyarat bagi sahihnya penggunaan statistik parametrik) dan dapat diterapkannya pada sampel kecil atau data kualitatif (Siegel. PERPUNG adalah persentase jumlah penunggak (debitur kredit macet) dari jumlah peminjam. seperti: umur LKM.N di mana rs = koefisien korelasi Spearman N = jumlah pasangan observasi d = perbedaan jenjang yang diperoleh dari setiap pasangan observasi . BKK) diambil proporsional berdasarkan jumlah populasinya masing-masing secara purposif. beserta masing-masing 3 nasabah per LKM yang diambil secara acak. 3 N 6 Σ di 2 i=1 rs = 1 . yang merupakan 34 % dari populasi. dan suku bunga pinjaman (IPIN).Kinerja Lembaga Keuangan Mikro dan Perilaku Masyarakat Pedesaan 49 Metodologi Penelitian Penelitian ini dilakukan di lapangan terhadap 105 lembaga keuangan mikro (LKM) di Jawa Tengah. pertama dengan uji Kruskal-Wallis untuk beda populasi dan uji Kendall untuk kesesuaian (concordance) pemeringkatan faktor-faktor kinerja. 1997). jarak rata-rata ke lokasi nasabah (JARAK). efisiensi (biaya usaha per rupiah kredit. dari pengkajian terhadap falsafah dan hakekat LKM serta pendapat para praktisi keuangan perdesaan. sedangkan LARAP merupakan laba bersih sebelum pajak dibagi saldo pinjaman. penghasilan rata-rata nasabah (RAYNAS). BIRUP) dan laba per rupiah kredit (LARAP).————— N3 . jam kerja. kemudiaan untuk hubungan antarfaktor kinerja dengan korelasi jenjang Spearman3 . BKD. Mengenai kriteria kinerja. persentase jumlah penunggak (PERPUNG). penulis mengajukan beberapa faktor penentu kinerja LKM. untuk masing-masing jenis LKM (KSM. Kegunaan kriteria ini akan dapat dipahami setelah selesai membaca hasil analisis di belakang. Analisis data primer dilakukan dengan teknik statistik nonparametrik. BIRUP dihitung dari jumlah biaya operasional dibagi dengan saldo pinjaman. suku bunga tabungan (ITAB). yaitu tingkat akses kepada penabung (AKPEN).

Maret 1999 Hasil Analisis Uji Kruskal-Wallis menghasilkan nilai chi-kuadrat yang sangat signifikan. α=0.178). serta peningkatan jumlah penunggak (rs=0. α=0.780) 1. Korelasi antara Jarak.109) dan berpengaruh tidak signifikan terhadap laba per rupiah kredit (rs=0.000).229. Selang dan Sukubunga Pinjaman terhadap Faktor Kinerja AKPEN JARAK SELANG IPIN -.1325(.1325. α=0.2073(. α=0. α=0.1183(.178) -.474) .109) BIRUP .4959(.2292(.0276(.2674(.019) juga berpengaruh sangat signifikan dalam penurunan laba per rupiah kredit (rs=-0. α=0. Lamanya waktu pemrosesan kredit berpengaruh menurunkan jumlah peminjam cukup signifikan (rs=-0. meningkatkan biaya per rupiah kredit secara tidak signifikan (rs=0.000) dan jumlah peminjam (rs=-0. berarti bahwa suku bunga pinjaman sudah ada di batas atas.000) -.2864(. demikian pula uji Kendall menghasilkan nilai W yang sangat signifikan. apabila dinaikkan akan menurunkan jumlah peminjam dan mengakibatkan meningkatnya jumlah penunggak.3981 (.2292.780).2674.019) .076(.000) -.0276. Tabel 1.0706.50 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.474).4816(. α=0. membuktikan bahwa angka rata-rata yang dianalisis memang berasal dari tiga populasi yang berbeda dan pemeringkatan semua faktor kinerja dilakukan secara konsisten. Dari hasil analisis korelasi peringkat Spearman antara variabel nonkinerja dengan faktor penentu kinerja terdapat beberapa temuan yang berhubungan dengan perilaku nasabah. α = 0.3406. mengingat banyaknya kredit murah serta persaingan berat dari BRI Unit 2. 3. Faktor yang berpengaruh paling besar terhadap faktor kinerja adalah jarak antara lokasi nasabah ke kantor atau pos desa LKM (JARAK). berpengaruh cukup signifikan terhadap jumlah penunggak (rs=0.000) xxxxxx xxxxxxx AKPEM -.4816.229) xxxxxxx LARP -.4959. α=0. Faktor lain yang cukup berpengaruh kepada faktor kinerja adalah lamanya waktu pemrosesan kredit (SELANG). menurunkan laba per rupiah kredit secara sangat signifikan (rs=-0.2864. Jauhnya jarak berpengaruh sangat signifikan terhadap penurunan jumlah penabung (rs=-0.006) PERPUNG . . α=0.003).000) .000). Suku bunga pinjaman berpengaruh sangat signifikan terhadap jumlah peminjam (rs=0. α=0.1183. meningkatkan jumlah penunggak walaupun tidak signifikan (rs=0.006).003) . α =0.2073.000) dan biaya per rupiah kredit (rs=0.3406(.3981.

1131(. Akan tetapi dilihat dari kuat dan signifikannya korelasi.668) →0 4. mereka .000) .012) . karena jauhnya jarak lokasi LKM akan menyebabkan nasabah malas untuk berhubungan karena besarnya “biaya transaksi” yang harus ditanggungnya. sedangkan pengaruhnya pada BKD kurang signifikan. 1993).585) -. α=0.1281(.610) -. Dari sini dapat disimpulkan bahwa pada BKK.027).985) . α=0.1131(. Dari analisis mengenai pengaruh penghasilan nasabah dan jumlah tabungan rata-rata terhadap kinerja.274).196) PERPUNG . (a) Dilihat LKM sebagai keseluruhan.349) .0237(. Akan tetapi apabila dianalisis per jenis LKM. (c) Walaupun begitu terlihat masih adanya sifat jujur dan mandiri pada pengusaha mikro nasabah BKK dibanding pengusaha besar nasabah bank umum saat ini.Kinerja Lembaga Keuangan Mikro dan Perilaku Masyarakat Pedesaan 51 dan BPR yang memperoleh fasilitas kredit dari pemerintah.0063(.1245(.1466(.5500(.027) AKPEM . (b) Dilihat per segmen nasabah terdapat perbedaan perilaku apabila penghasilannya meningkat: nasabah BKD yang relatif kurang mampu lebih suka menabung dan tidak meminjam.169 di tahun 1992 dan melonjak menjadi Rp 132.567) . dapat diungkapkan beberapa temuan yang menarik. Hal sederhana ini kiranya dapat dimaklumi. nasabah yang penghasilannya relatif lebih tinggi mempunyai akses kepada pelayanan tabungan dan pinjaman yang lebih besar dibanding dengan nasabah yang 98.2784(.196).0539(.645) -.0309(.876) -. nasabah BKK yang relatif lebih mampu meningkatkan tabungan tetapi terus memanfaatkan kredit.5500. Tabel 2 Korelasi antara Penghasilan Rata-rata Nasabah dengan Faktor Kinerja untuk Seluruh LKM dan Per Jenis LKM AKPEN LKM (105) KSM (28) BKD (61) BKK (16) -.339) . terutama kepada jumlah penabung (rs=0.3194(.3412(.0565(. terlihat bahwa penghasilan nasabah paling berpengaruh terhadap kinerja BKK.594 di tahun 1993 (DAI. yaitu biaya angkutan dan hilangnya waktu meninggalkan pekerjaan. jumlah peminjam (rs=0.516) .274) BIRP .3670(.2912.297) LARP -. yaitu apabila penghasilan pengusaha mikro nasabah BKK meningkat.3412.0601(. jarak mempunyai dampak yang lebih kuat terhadap berkurangnya jumlah peminjam dan bertambahnya jumlah penunggak dibandingkan suku bunga pinjaman.1840(.949) -. α=0. dan jumlah penunggak (rs=-0. pengaruh penghasilan nasabah terhadap kinerja tidak begitu signifikan.456) .2912(.0025(.251) -. sama dengan perilaku pengusaha besar nasabah bank umum.

Pengawas BPR hendaknya tidak melihat pemberian kredit dalam jumlah kecil-kecil pada LKM sebagai suatu hal yang “tidak efisien” atau “tidak maju”. (c) pelarangan/penutupan pos pelayanan justru akan lebih memperparah kinerja LKM. 4. Mengingat pula bahwa lamanya waktu pemrosesan kredit juga berpengaruh cukup kuat kepada kinerja. karena menghambat akses kepada masyarakat yang merupakan sumber dana dan penghasilannya. maka keputusan pemberian kredit kepada peminjam baru hendaknya dilakukan sesegera mungkin. Mendorong LKM untuk memberikan kredit dalam jumlah yang semakin besar berarti menjauhkan LKM dari nasabahnya yang miskin. oleh karena (a) kriteria CAMEL tidak menampung aspirasi dan misi LKM (tersurat ataupun tersirat dalam Undang-undang) sebagai pelayan keuangan bagi masyarakat papan bawah. . Adanya kredit dari pemerintah untuk BPR condong menguntungkan BPR Gaya Baru yang dimiliki para pemodal berdasi. terus memanfaatkan kredit dan tidak lupa melunasi tunggakannya. Mengingat jarak merupakan variabel yang paling mempengaruhi kinerja. BKD telah beroperasi selama satu abad dan BKK selama hampir tiga dasawarsa dengan pendekatan pasar yang telah membuat mereka lestari (sustainable) dan mandiri. 3. tetapi mungkin hanya sekedar meja dan kursi tempat petugas lapangan menemui nasabahnya. 2. Implikasi Kebijakan 1. (b) pelarangan pembukaan kantor di bawah kantor cabang kiranya dapat dihapuskan. belum tentu mengurangi jumlah penunggak.52 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. LKM diharapkan membuka sebanyak mungkin pos pelayanan dan/atau mengintensifkan kunjungan lapangan. karena hal itu justru sesuai dengan misi LKM membantu pengentasan kemiskinan. Maret 1999 meningkatkan tabungan. Otoritas perbankan hendaknya tidak melarang pembukaan pos pelayanan ataupun memberi sanksi berupa penutupan pos pelayanan (“kantor di bawah kantor cabang”) kepada LKM yang sudah menjadi BPR karena alasan tingkat kesehatan yang tidak baik. keadaannya justru dibuat seperti “telor di ujung tanduk” karena banyaknya programprogram kredit murah bersubsidi di perdesaan. sedangkan pemrosesan kredit ulangan hendaknya dapat diselesaikan pada hari yang sama. karena pengertian “kantor di bawah kantor cabang” bagi LKM umumnya bukan merupakan gedung atau kantor seperti bank umum. karena sebagian dari mereka sengaja menunggak dan memacetkan kreditnya. tetapi apabila pendapatan pengusaha konglomerat nasabah bank umum meningkat (dan pasti setiap tarikan napas menghasilkan uang). seperti terlihat pada gejala pemberian kredit BKK di atas.

Zaim.1997 Suharto. 497-0341) in Indonesia. USAID Program and Operations Assessment Report No. 1988 .(ed). Robert Peck. Boulder. Perkembangan BKK dan BPR-BKK. May 1993 Dibyo Prabowo dan Sayogyo: The Green Revolution: Sidoarjo. Secangkir Kopi Max Havelaar. dalam Hansen. Jakarta. Pandu. PT Gramedia Pustaka Utama-Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia. Project Completion Report of Technical Support Provided to the Financial Institutions Development Project (USAID No. LSM dan Kebangkitan Masyarakat. Maximizing the Outreach of Microenterprise Finance. 1995 Siegel. Zanzawi Suyuti & Landung Simatupang. Jakarta. Di era reformasi ini pemerintah seyogianya lebih membina semangat keswadayaan masyarakat dan tidak menggunakan program-program kredit murah sebagai alat politik karena merusak moralitas masyarakat perdesaan yang masih jujur seperti terbukti dari perilakunya terhadap LKM. Inc. Sidney. West Java. Statistik Nonparametrik . dkk.Gramedia.Kinerja Lembaga Keuangan Mikro dan Perilaku Masyarakat Pedesaan 53 memungkinkan mereka menurunkan sukubunga kreditnya sehingga menambah pesaing bagi LKM. LPPI. Gary E. July 1995 Development Alternatives. terj. Agricultural and Rural Development in Indonesia. Daftar Pustaka Badan Pembina BKK Propinsi Jawa Tengah. East Java.Jakarta. and Subang. 31 Maret 1994 Christen. Sejarah Pendirian Bank Perkreditan Rakyat.. 10. Westview Press. 1981 Saidi.

d. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dibandingkan dengan peer-groupnya (BPR dan BRI Udes) secara umum kinerja PP relatif lebih baik. kurang diminati masyarakat. suku bunga yang dikenakan relatif rendah. khususnya sektor perbankan yang berakibat terhentinya aliran kredit perbankan.go. BI. . Erwin Gunawan. relatif kecilnya skala kredit yang diberikan (Rp 5. serta kekurangan likuiditas juga disebabkan karena obligasi yang diterbitkan untuk membayar obligasi yang jatuh tempo. Ridho Hakim. Permasalahan lain yang bersifat struktural antara lain rentang kendali yang terlalu luas namun tidak ditunjang sistem pengawasan yang memadai. UREM. USDM. bahkan menunjukkan peningkatan kinerja baik operasional maupun keuangan. serta mudahnya prosedur gadai. Gunawan : Asisten Peneliti. UREM. UREM. Bagian Studi Struktur dan Perkembangan Pasar Keuangan. BI. Bagian Studi Struktur dan Perkembangan Pasar Keuangan.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 55 KEGIATAN USAHA PERUM PEGADAIAN DAN PERANANNYA DALAM MENDUKUNG PEMBERDAYAAN EKONOMI RAKYAT Satrio Wibowo dan Gunawan *) Krisis ekonomi yang terjadi sejak pertengan tahun 1997 telah berdampak luas terhadap segala aspek perekonomian. beberapa kelemahan prosedur yang berpotensi menimbulkan penyimpangan. *) Penulis utama dari paper ini adalah : Satrio Wibowo : Kepala Bagian Pendidikan dan Pengembangan Pegawai. Bagian Studi Struktur dan Perkembangan Pasar Keuangan. Perum Pegadaian (PP) merupakan salah satu lembaga keuangan yang masih mampu bertahan. Perum Pegadaian menghadapi permasalahan temporer berupa lonjakan nasabah (puncaknya terjadi pada Juni 1998) yang mendorong Perum Pegadaian melakukan overdraft sangat besar atas fasilitas kredit yang diperoleh dari BRI. Potensi Perum Pegadaian untuk lebih berperan dalam pemberdayaan ekonomi rakyat dapat dilihat dari keberpihakan terhadap masyarakat berpendapatan rendah (mayoritas nasabah). Penulisan paper ini juga dibantu oleh Didy Laksmono. dan Sudiro Pambudi. Dalam kondisi krisis tersebut.id. email: gunawan@bi. serta tidak adanya sistem yang mampu mengantisipasi resiko fluktuasi harga barang jaminan khususnya emas. Makalah ini ditulis ketika yang bersangkutan masih menjadi Peneliti Ekonomi .000 s. BI. Porsi kredit yang diberikan oleh PP semakin meningkat walaupun secara nominal relatif lebih kecil dibandingkan dua lembaga tersebut. Sedangkan untuk meningkatkan efisiensi pembiayaan usaha kecil perlu dikaji kemungkinan pemberian izin bagi perusahaan/lembaga lain untuk bergerak dalam usaha pegadaian. sistem manajemen yang sentralistik sehingga berpotensi menghambat kinerja. Untuk mengatasi permasalahan tersebut Perum Pegadaian telah menerima bantuan dalam bentuk RDI dari pemerintah dan KLBI. Rp 20 juta). Untuk mewujudkan potensi tersebut terlebih dahulu harus dibenahi berbagai kelemahan khususnya kelemahan struktural yang ada. Bank Indonesia. Budi Wikanto. Dalam masa krisis ini.

4 juta orang tiap tahun. Selain itu. Dari sisi penawaran. maka berdasarkan perkiraan BPS jumlah tersebut pada pertengahan 1998 meningkat empat kali mencapai 79.31% pada tahun 1997 menjadi 77. Tingginya laju inflasi terutama disebabkan oleh dua hal pokok. ” Perhitungan Jumlah Penduduk Miskin 1998”. Hal ini tercermin dari beberapa indikator ekonomi makro seperti pertumbuhan ekonomi yang merosot tajam.35 juta orang. jumlah penduduk miskin di Indonesia berdasarkan data SUSENAS berjumlah 22. melambatnya pertumbuhan ekonomi terutama disebabkan oleh tingginya biaya impor bahan baku.56 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.68% pada tahun 1998. Pemerintah juga mendorong komitmen perbankan dalam 1 Badan Pusat Statistik.5 juta orang. Maret 1999 I. telah mengakibatkan terjadinya kontraksi perekonomian dan mendorong meningkatnya jumlah penduduk miskin.7% pada tahun 1997 menjadi -13. laju inflasi yang meningkat dan angka pengangguran yang melonjak. yaitu melemahnya nilai tukar rupiah (imported inflation) dan kelangkaan pasokan (supply shortage) khususnya sembilan bahan pokok. . khususnya konsumsi rumah tangga dan investasi swasta. melambatnya pertumbuhan ekonomi disebabkan oleh melemahnya permintaan domestik. Jumlah pengangguran yang pada masa sebelum krisis berkisar antara 3 .8 juta orang. Pemerintah telah menempuh serangkaian langkah dan tindakan yang juga memperoleh bantuan dari beberapa lembaga internasional. Hal tersebut didorong pula oleh meningkatnya jumlah pengangguran sebagai dampak dari banyaknya perusahaan yang pailit dan melemahnya investasi. Melonjaknya jumlah pengangguran dan penduduk miskin tersebut. Sehingga dikhawatirkan akan semakin memperparah kondisi perekonomian nasional Dalam upaya penyehatan perekonomian nasional. Jumlah perkiraan tersebut terdiri dari 22. Salah satu langkah yang ditempuh adalah pemberdayaan ekonomi rakyat yang bertujuan meningkatkan akses rakyat kecil terhadap perekonomian dan mengutamakan kepentingan rakyat. Dari sisi permintaan.68 juta orang warga perkotaan dan 56.1. pada tahun 1998 diperkirakan membengkak hingga mencapai 13. Latar Belakang Masalah K risis ekonomi di Indonesia yang berlangsung sejak pertengahan tahun 1997 telah berdampak luas terhadap hampir semua aspek perekonomian. Jika pada tahun 1996. Pendahuluan 1. Sedangkan laju inflasi yang diukur dengan IHK meningkat tajam dari 10. khususnya masyarakat kecil. Meningkatnya inflasi tersebut telah mengakibatkan semakin melemahnya daya beli masyarakat.63% pada tahun 1998. Krisis ekonomi yang berkepanjangan.67 juta orang warga pedesaan1 . jika tidak dapat diatasi akan berpotensi mendorong terjadinya gejolak sosial ekonomi yang lebih luas. Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) merosot dari 4.

Salah satu lembaga keuangan selain bank yang telah lama dikenal masyarakat adalah Perum Pegadaian. terganggunya fungsi intermediasi perbankan tersebut memberi peluang bagi Perum Pegadaian untuk semakin berperan dalam pembiayaan. mudah dan cepat. . memburuknya net interest margin dan kondisi permodalan. Kinerja perbankan yang memburuk tersebut mengakibatkan terhambatnya penyaluran kredit. 1.2. serta ancaman kesulitan likuiditas yang masih berlangsung hingga awal tahun 1999 ini. sejak terjadinya krisis ekonomi perbankan nasional juga menghadapi permasalahan yang cukup berat. tentunya sangat diperlukan untuk membantu pemulihan perekonomian nasional.3. Peran dalam pembiayaan nasabah kecil tersebut. Sektor keuangan khususnya perbankan yang selama ini sangat berperan dalam menggerakkan roda perekonomian. sesuai dengan tujuan Perum Pegadaian yang tidak hanya semata-mata mencari untung tetapi juga sebagai penunjang kebijakan dan program Pemerintah di bidang ekonomi dan pembangunan nasional melalui penyaluran pinjaman atas dasar hukum gadai. untuk mendorong pertumbuhan ekonomi diperlukan peran lembaga keuangan lain yang dapat berperan sebagai complementary institutions dari perbankan. terutama prosedurnya yang sederhana. mudah.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 57 pengembangan usaha kecil. jaringan kantor dan wilayah kerja yang menjangkau hampir seluruh wilayah Indonesia serta prosedur yang sederhana. cepat. khususnya usaha kecil dan dalam masa krisis ini juga telah menjadi salah satu alternatif pemenuhan kebutuhan pembiayaan bagi sebagian masyarakat yang terkena dampaknya. 1. dan aman merupakan suatu potensi keunggulan Perum Pegadaian dibandingkan dengan lembaga keuangan lainnya. Pada masa krisis. serta dengan melakukan reformasi struktural untuk meningkatkan efisiensi perekonomian. Hal tersebut didukung oleh karakteristik Perum Pegadaian. sumber daya manusia yang memadai serta jaringan usaha yang luas. Hal tersebut ditandai dengan meningkatnya jumlah non performing loan. Sehubungan dengan kondisi tersebut. antara lain dengan melaksanakan program Jaring Pengaman Sosial (JPS) untuk memberdayakan masyarakat (khususnya yang terkena dampak langsung dari krisis ekonomi). Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari peran usaha Perum Pegadaian serta potensinya untuk ikut berperan dalam pelaksanaan program Jaring Pengaman Sosial (JPS). Namun. Disamping itu. menengah dan koperasi. Upaya-upaya tersebut juga diimbangi dengan upaya lain di sektor riil. Hipotesa Kegiatan usaha Perum Pegadaian dapat dikembangkan untuk mendukung perkembangan usaha kecil khususnya sektor informal.

namun diubah kembali menjadi Perusahaan Jawatan (Perjan) tahun 1969. Sedangkan wilayah timur diwakili oleh 1 kantor daerah di Pulau Sulawesi. statusnya diubah menjadi Perusahaan Negara (PN). Profil Perum Pegadaian Pegadaian Negeri didirikan pertama kali oleh pemerintah Hindia Belanda pada tanggal 1 April 1901 di kota Sukabumi dengan status Jawatan.d September 1998. Nasabah yang dipilih sebagai responden dikelompokkan sebagai nasabah biasa dan nasabah yang dianggap potensial (prima) berdasarkan frekwensi dan lamanya berhubungan dengan Perum Pegadaian. Pada tahun 1961. Perum Pegadaian telah merancang Rencana Jangka Panjang II (RJP II) yaitu periode tahun 1997-2001. 8 kantor daerah. berupa data keuangan. data operasional. II. manajemen maupun dari sumber lainnya. RJP II ini merupakan . maka Perum Pegadaian berpotensi untuk berperan serta dalam program JPS. Tengah dan Timur. dengan periode pengamatan sejak tahun 1996 s.58 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Maret 1999 Sesuai dengan karakteristik usaha dan mayoritas nasabah Perum Pegadaian yang merupakan masyarakat berpendapatan rendah. serta dengan mewawancarai beberapa nasabah yang dipilih sebagai responden di kantor-kantor cabang tersebut. sifat Pegadaian adalah menyediakan pelayanan bagi masyarakat umum dan sekaligus memupuk keuntungan berdasarkan prinsip pengelolaan perusahaan yang sehat. Sampel kantor daerah dipilih dengan sistem purposive sampling yang mewakili wilayah Indonesia Bagian Barat. Dalam upaya meningkatkan kinerja perusahaan. Dengan status sebagai Perum.4 Metode Penelitian Penelitian dilakukan dengan melakukan analisis data sekunder dan primer. penelitian juga dimaksudkan untuk mempelajari peran dan potensi Perum Pegadaian dalam mendukung pemberdayaan usaha kecil. Disamping itu. Data sekunder yang dipergunakan berupa laporan-laporan yang telah tersedia dari Perum Pegadaian. Survey tersebut dilaksanakan pada tanggal 23 November .10 Desember 1998. Dengan PP No. Salah satu produk Perum Pegadaian adalah memberikan kredit berdasarkan hukum gadai. untuk memperoleh data mengenai keadaan dan operasionalisasi Perum Pegadaian dilakukan metode survey terhadap kantor pusat. 10/1990 tanggal 10 April 1990 status Perjan Pegadaian diubah menjadi Perusahaan Umum (Perum) Pegadaian guna meningkatkan efisiensi dan produktivitas usaha. Wilayah tengah diwakili oleh 1 kantor daerah di Pulau Bali dan 1 kantor daerah di Pulau Kalimantan. Wilayah barat diwakili oleh 3 kantor daerah di Pulau Jawa dan 2 kantor daerah di Pulau Sumatera. kepegawaian. ketentuan-ketentuan operasional. khususnya sektor informal. Disamping itu. 36 kantor cabang. 1.

Misi perusahaan tersebut yaitu : Ikut meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat golongan menengah ke bawah melalui penyediaan dana berdasarkan hukum gadai secara inovatif dan melakukan usaha lain yang menunjang. d. Visi Perum Pegadaian dalam PJPT II ini adalah : a. 2) melaksanakan go public. Meningkatkan produktivitas di seluruh bidang kegiatan. b. c. Hasil usaha lain-lain menyumbang sekitar 5. . Meningkatkan efisiensi perusahaan 1 Yang dimaksud dengan rating “A” sesuai dengan definisi PT. 2 Menurut Perum Pegadian. Omzet perkreditan meningkat dengan 20% per tahun. Namun target tersebut tidak tercapai pada tahun 1998 karena tidak memperoleh ijin dari Menkeu dengan pertimbangan (i) masih besarnya misi sosial yang harus dilaksanakan oleh Perum Pegadaian. Perum Pegadaian merumuskan misinya yang dijadikan acuan untuk menentukan arah pengusahaan. Arah pengusahaan dalam periode ini adalah : 1) menjadi persero pada tahun 19982 .1% dari laba usaha. serta membuka anak perusahaan. dan 3) memiliki kinerja dan citra yang meningkat. Berdasarkan visi tersebut. sasaran pengusahaannya adalah : a. Pefindo merupakan perusahaan atau efek hutang yang berisiko investasi rendah dan berkemampuan baik untuk membayar bunga dan pokok hutang sesuai dengan yang diperjanjikan dan hanya sedikit dipengaruhi oleh perubahan keadaan yang merugikan. Menjadi lembaga keuangan yang modern dan dinamis. target menjadi Persero terutama bertujuan untuk mengatasi kelemahan pendanaan dengan menjual saham di bursa. b. peluang dan ancaman (analisis SWOT) yang dihadapi dalam Pembangunan Jangka Panjang Tahap II (PJPT II). b. kelemahan. c. Meningkatkan pelayanan kepada seluruh nasabah dengan baik. Laba bersih (earnings after taxes) meningkat dengan 30. Perum Pegadaian menyusun suatu strategi pokok perusahaan yang meliputi : a. cepat dan manusiawi.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 59 bagian dari visi Perum Pegadaian yang dirumuskan dengan mengindentifikasi kekuatan. sasaran pengusahaan dan strategi pokok perusahaan dalam periode RJP II. c. Posisi keuangan yang likuid dan solvabel dengan current ratio di atas 1 dan debt to equity ratio di bawah 3.2% per tahun. Memiliki SDM yang handal dan profesional. d. Memiliki kinerja sehat sekali (SS) dengan rating minimal “A” 1 . Sementara. (ii) kekhawatiran bahwa dengan status persero Perum Pegadaian akan meninggalkan segmen nasabah kecil dengan tujuan untuk memperoleh laba maksimal. Untuk mendukung pencapaian sasaran tersebut. Melaksanakan optimalisasi kantor-kantor cabang sebagai ujung tombak operasi perusahaan.

kredit dengan jaminan surat berharga dan sertifikat tanah dan kredit dengan sistem pinjam pakai. factoring. jasa sertifikasi kadar emas. pedagang valuta asing dan leasing. Dalam menjalankan tugas rutin di 3 Menurut Perum Pegadaian. . franchisor usaha gadai. Sebagai implementasi dari salah satu strategi pokok perusahaan. 2. f. sehingga bisa meningkatkan citra perusahaan dan nasabah tidak malu lagi untuk datang ke Pegadaian. modal ventura.3 Produk usaha baru yang sama sekali di luar usaha gadai dan lembaga keuangan seperti toko emas. Kepengurusan dan Kelembagaan Perum Pegadaian memiliki 4 orang anggota direksi yang terdiri dari satu orang direktur utama dan 3 orang direktur yang masing-masing membawahi bidang operasi dan pengembangan.1. yaitu pemanfaatan 20 lokasi strategis yang nantinya dapat merupakan kompleks lokasi usaha. Produk baru yang masih dalam lingkup usaha gadai seperti jasa titipan. dan bidang umum. bidang keuangan. Usaha ini juga mempunyai misi sosial untuk mendidik masyarakat untuk berinvestasi dalam bentuk emas serta meningkatkan image masyarakat terhadap Perum Pegadaian b. Sampai dengan 30 September 1998. leasing yang akan dilaksanakan merupakan leasing menurut format Perum Pegadaian dimana barang jaminan yang digadaikan tidak disimpan oleh Perum Pegadaian namun tetap dapat digunakan oleh nasabah untuk menjalankan usahanya (diestimasikan akan dilaksanakan pada tahun 2000). Melaksanakan pengembangan produk baru hingga mampu menyumbangkan 20% dari total pendapatan usaha. Khusus untuk bisnis properti dapat dilakukan melalui kerja sama dengan pihak ketiga (investor) dengan sistem Built Operate and Transfer (BOT). Produk baru di luar lingkup usaha gadai tetapi masih dalam lingkup lembaga pembiayaan seperti BPR. khususnya di kawasan timur Indonesia. properti (gedung perkantoran. Memperluas jaringan pelayanan dengan membuka cabang-cabang baru di daerah yang potensial. jasa taksiran. c. Produk-produk usaha baru tersebut merupakan upaya untuk mengoptimalkan aset. Dua diantaranya yaitu jasa titipan dan taksiran sudah dilaksanakan. Maret 1999 e. Produk-produk baru tersebut meliputi : a. seperti yang telah dilaksanakan di lokasi Salemba dan Pasar Baru. Perum Pegadaian telah merencanakan untuk melakukan ekspansi jenis produk perusahaan dengan mengembangkan usaha baru. guarantee fund.60 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. hotel/penginapan dan ruko) dan toko barangbarang perhiasan/asesoris dan arloji. usaha toko emas sudah dilaksanakan di 28 kantor cabang Perum Pegadaian.

Perum Pegadaian telah memiliki cabang di 27 propinsi dengan jumlah Kanca mencapai 633 buah dengan dikoordinasikan oleh 14 kantor daerah (Lampiran 2). Sampai dengan September 1998. Struktur Organisasi Perum Pegadaian Direksi Direktur Utama Direktur Operasi dan Pengembangan Direktur Keuangan Direktur Umum Subdit OPP SPI Subdit LB Subdit SP Subdit AP Subdit AK Subdit PB Kantor Daerah Kantor Cabang Subdit KP Subdit BG Subdit TURT Balai Diklat Keterangan : OPP = Operasi dan Pengembangan KP = Kepegawaian LB = Penelitian dan Pengembangan Operasi BG = Bangunan SP = Kesekretariatan Perusahaan TURT = Tata Usaha dan Rumah Tangga AP = Anggaran dan Permodalan AK = Akuntansi P = Perbendaharaan 4 Tanggal 25 November 1998. Bagan 1. Kp. Perum Pegadaian membentuk Subdit Teknologi Informasi berdasarkan Keputusan Direksi No. Kegiatan operasional Perum Pegadaian dilaksanakan melalui kantor-kantor cabang (Kanca) yang dikoordinasikan oleh kantor daerah (Kanda). direksi dibantu oleh 9 subdirektorat (subdit) yang masing-masing memiliki rincian tugas sesuai bidangnya (Lampiran 1). 58 diantaranya merupakan anak cabang (Ancab) yaitu cabang yang baru berdiri (biasanya kurang dari 2 tahun).4 Struktur organisasi Perum Pegadaian ditunjukkan bagan 1.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 61 kantor pusat. Perum Pegadaian juga memiliki Satuan Pengawasan Intern (SPI) yang bertanggung jawab langsung kepada direksi. . Selain itu. Dari 633 Kanca tersebut. Untuk meningkatkan profesionalitas pegawai Perum Pegadaian memiliki Balai Diklat yang langsung berada di bawah direksi.2/41/10 sebagai upaya untuk meningkatkan sistem dan sarana pengawasan yang memadai.

Seluruh kantor yang berstatus Ancab diklasifikasikan sebagai cabang kelas III.1 5 . d. . Pembagian kelas masing-masing Kanca dilakukan berdasarkan tingkat efisiensi dan produktivitas yang diukur dari 4 faktor yaitu : a. Berdasarkan keempat kriteria di atas. Ditinjau dari kuantitasnya.4%.62 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Efisiensi (bobot nilai 40). perawatan dan faktor risiko. Perbandingan Kanda tipe A dan B dapat dilihat dalam tabel 2. jumlah Kanca untuk masing-masing kelas per Juni 1998 adalah : kelas I sebanyak 54. kelas II sebanyak 78 dan kelas III sebanyak 491. yang diukur dari besarnya surplus (laba-rugi) cabang dalam satu periode akuntansi. yang mencerminkan tingkat efektivitas dan kemampuan pegawai sebagai sumber daya dalam menjalankan perusahaan. Omzet usaha (bobot nilai 40). Maret 1999 Kanda Perum Pegadaian terdiri dari dua tipe yaitu tipe A dan B. yaitu kelas I. yang mencerminkan tingkat kemampuan penjualan produk (produktivitas).1 Perbandingan Tipe Kantor Daerah Jabatan Ka Kanda Inspektur Daerah Kepala Seksi Pemeriksa Ka Sub Seksi Pemeriksa Pembantu Staf Pemeriksa Sumber : Perum Pegadaian Kanda Tipe A 1 1 4 2 12 3 2 Kanda Tipe B 1 0 2 1 8 3 0 Kanca Perum Pegadaian digolongkan menjadi 3 kelas. b. 5 Jumlah total pemeriksa per Kanda sejak 1 Februari 1999 telah diperbanyak menjadi 6-7 orang. II. Barang jaminan (bobot nilai 10). Kanda tipe A memiliki struktur organisasi yang lebih lengkap dibandingkan Kanda tipe B karena besarnya jumlah Kanca yang dibawahinya. per Juni 1998 jumlah Kanca Pegadaian di Pulau Jawa merupakan yang terbanyak yaitu 401 buah atau 64. c. Formasi dan adanya pegawai Kanca (bobot nilai 20). dan III. yang mencerminkan tingkat tanggung jawab penanganan/pengelolaan. Tabel 2.

Hal ini terkait dengan fasilitas. . leaflet. pembukaan toko emas yang hingga September 1998 baru berjumlah 28 buah. Tidak semua Kanca menyediakan keempat jenis produk tersebut. Jasa gadai. media elektronis. d.3 juta orang yang terdiri dari petani. Manajemen dan Instrumen Kebijakan Dalam menjalankan usahanya Perum Pegadaian melaksanakan fungsi-fungsi manajemen dan menetapkan kebijakan-kebijakan yang menjadi patokan bagi Kanda maupun Kanca. Galeri 24. Hal ini berkaitan dengan salah satu upaya Perum Pegadaian untuk meningkatkan efisiensi. merupakan jasa utama Pegadaian yaitu memberikan pinjaman kepada masyarakat berdasarkan hukum gadai. menjadi sponsor kegiatan olahraga serta dengan layanan yang relatif mudah dan cepat.817 pegawai tetap dan 1. Perum Pegadaian juga melakukan peningkatan kualitas karyawan yang terlihat dari meningkatnya jumlah karyawan yang berpendidikan S1 dan S2 dan berkurangnya karyawan yang berpendidikan SD sampai dengan D3. yang ditujukan untuk memberikan keyakinan kepada masyarakat atas kualitas barang-barang perhiasan miliknya. Produk dan Pasar Produk-produk Perum Pegadaian yang sudah tersedia hingga saat ini meliputi empat jenis produk. 2. Dalam memperkenalkan produk-produknya. Komposisi karyawan tetap menurut jenjang karir dan pendidikan dapat dilihat dalam lampiran 3.426 pegawai tidak tetap.233 orang. Jasa titipan. pelaku industri.2. Konsumen sasaran Perum Pegadaian ini adalah seluruh lapisan masyarakat yang membutuhkan dana-dana jangka pendek.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 63 Jumlah karyawan Perum Pegadaian hingga Oktober 1998 mencapai 6. Perum Pegadaian telah berhasil melayani kebutuhan 5.541 orang). Jumlah karyawan tetap ini lebih rendah dari jumlah pada akhir 1996 (5. Jasa taksiran. yang ditujukan untuk memberikan rasa aman kepada masyarakat atas barang-barang yang dimilikinya apabila akan bepergian dalam jangka waktu yang cukup lama.3. b. pedagang dan lain-lain. Selain terjadi pengurangan jumlah. yaitu : a. Selama tahun 1997. c. yang terdiri dari 4. Berikut merupakan uraian tentang kebijakan-kebijakan dan fungsi pengawasan yang dilaksanakan oleh Perum Pegadaian. ketersediaan sumber daya manusia dan dana. yaitu toko emas Pegadaian yang menjamin kualitas emas/perhiasan yang dijualnya. 2. nelayan. Perum Pegadaian diantaranya menggunakan papan-papan reklame. Misalnya.

Biasanya batas maksimum kredit yang dapat diberikan oleh masing-masing cabang mencapai Rp 20 juta per SBK (Surat Bukti Kredit).3. deposito. suratsurat berharga dan penyertaan di perusahaan lain. maka Kanca harus meminta tambahan dana kepada Kandanya masing-masing dan tidak diperkenankan untuk melakukan transfer langsung antarcabang. Sejak Desember 1997.000).85 miliar (per 30 September 1998). Sesuai dengan hukum gadai. sehingga Kanda dan Kanca hanya melaksanakan penanaman dana berdasarkan alokasi dana yang diberikan. Kredit kepada masyarakat merupakan porsi terbesar penanaman dana yang mencapai Rp 756.2. Mengingat besarnya permintaan terhadap jasa gadai dari masyarakat.000-Rp 40. Perum Pegadaian membagi pemberian kredit kepada nasabah menjadi empat golongan yaitu Golongan A (kredit Rp 5.1.0 %) pada September 1998 (Lampiran 4). penerbitan obligasi dan MTN. Golongan B (kredit . tetapi sejak 30 Juli 1998 batas maksimum kredit diturunkan menjadi Rp 5 juta per SBK. 2. Perum Pegadaian memiliki beberapa sumber. pada bulan September 1998 Perum Pegadaian memperoleh pinjaman dari pemerintah berupa Rekening Dana Investasi (RDI) sebesar Rp 100 miliar dengan jangka waktu 3 tahun. Maret 1999 2. Besarnya jumlah dana yang diterima oleh masing-masing Kanda tersebut ditentukan berdasarkan hasil evaluasi perkembangan omzet selama 6 bulan terakhir dan dievaluasi setiap 3 bulan. Perum Pegadaian telah menerbitkan MTN sebanyak 4 kali dengan nilai nominal keseluruhan Rp 16. Kebijakan Penanaman Dana Penanaman dana Perum Pegadaian dilakukan dalam bentuk kredit. kredit yang diberikan dijamin dengan barang jaminan nasabah.25 miliar dan dari saldo laba sebesar Rp 111. Bila terdapat nasabah yang ingin memperoleh kredit melebihi batas maksimum maka cabang tersebut harus meminta persetujuan dari Kanda. Dengan demikian Kanda dapat mengontrol secara langsung kebutuhan dana masing-masing Kancanya. Untuk itu Perum Pegadaian mencari sumber-sumber pendanaan baru untuk menambah modal kerja melalui pinjaman bank. Dana yang telah dihimpun ini kemudian didistribusikan dari kantor pusat ke Kanca melalui masing-masing Kandanya. Sebagai sumber utama adalah modal awal Perum Pegadaian yang berjumlah Rp 205 miliar. maka modal tersebut tidak lagi mencukupi. penyertaan modal pemerintah Rp 46.75 miliar (91. Bila terjadi kekurangan dana. Selain itu.5 miliar. Sementara pinjaman dari bank pada posisi September 1998 mencapai Rp 321 miliar.3. Hingga saat ini Perum Pegadaian telah menerbitkan 5 seri obligasi dengan nilai nominal keseluruhan Rp 425 miliar.64 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Kebijakan Pendanaan Dalam penyediaan dana bagi keperluan usahanya. Penghimpunan dana hanya dapat dilakukan oleh kantor pusat.

Perum Pegadaian memiliki mekanisme dan prosedur yang harus dilalui oleh nasabah. d. nasabah juga dikenakan biaya penitipan dan asuransi (PA) yang besarnya disesuaikan dengan jenis barang dan golongannya. Jangka waktu kredit maksimum adalah 120 hari dengan bunga dihitung setiap 15 hari. dan e. Sokongan dan sumbangan ganti rugi. dan uang pinjaman (UP) yang dapat diberikan berdasarkan plafon UP yang yang menjadi wewenangnya (Lampiran 6). 2.3. Sosial dan pendidikan. Berikut ini merupakan ilustrasi proses memperoleh kredit di Perum Pegadaian. a. Prosedur Kredit Dalam memberikan kredit.3. Nasabah membawa barang jaminan Penaksir Kasir menerima kredit Nasabah Nasabah yang datang ke Pegadaian terlebih dulu menyerahkan barang-barang bergerak sebagai agunan kepada petugas penaksir yang disertai dengan identitas diri.3. dari laba bersih yang diperoleh Perum Pegadaian. sesuai dengan PP No.000-Rp 500. DPS yang menjadi hak negara wajib segera disetorkan ke Bendahara Umum Negara setelah Laporan Tahunan disahkan. Jika besarnya UP yang telah diputuskan . 2. b.000). Sumbangan dana pensiun. c. Selain itu. Petugas penaksir memeriksa keadaan barang termasuk kelengkapan yang disyaratkan. Kemudian 45% dari sisa penyisihan tersebut dialokasikan untuk lima hal berikut yang masing-masing persentase alokasinya ditetapkan oleh Menteri Keuangan.000) dan Golongan D (kredit Rp 510. Penaksir menetapkan harga pedoman standar.500-Rp150. Alokasi Laba Setelah diaudit. sebesar jumlah tertentu disisihkan untuk cadangan tujuan.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 65 Rp 40.4. Jika UP yang dapat diberikan melebihi kewenangannya.000). penyusutan dan pengurangan yang wajar lainnya. maka harus diajukan dan disetujui oleh kepala Kanca selaku kuasa pemutus kredit (KPK). Cadangan umum yang dilakukan sampai cadangan mencapai sekurang-kurangnya dua kali lipat dari modal yang ditempatkan. taksiran.000. 13/1998.000-Rp 5. Jasa produksi. Tabel selengkapnya dapat dilihat dalam lampiran 5. Sementara. sisa dari keseluruhan penggunaan laba bersih di atas disetorkan sebagai Dana Pembangunan Semesta (DPS). Golongan C (kredit Rp 151.

Barang kantong ini disimpan dalam kamar emas (kluis/khasanah).3. Di samping itu. rubrik dan ribuan. saldo Buku Gudang ini dicocokkan dengan saldo Ikhtisar Kredit dan Pelunasan. Petugas gudang yang mengelola barang kantong disebut penyimpan. Walaupun telah digantikan petugas sementara. SBK diserahkan kepada nasabah. perhiasan atau barang-barang kecil lainnya yang masuk di dalam kantong disebut barang kantong dengan rubrik K. keterangan barang jaminan. Untuk mencegah terjadinya kesalahan atau penyimpangan dalam pengelolaan gudang maka Perum Pegadaian membuat prosedur pemeriksaan barang jaminan. Sistem Pengelolaan Barang Jaminan Barang-barang jaminan yang diterima oleh Pegadaian ditatausahakan dalam suatu Buku Gudang yang diisi menurut golongan.66 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Barang jenis ini disimpan di dalam gudang. Kamera harus disimpan dalam tempat tertutup (lemari kaca atau peti kayu yang tidak lembab) yang diberi penerangan cukup. . Tempat penyimpanan barang tersebut harus selalu dalam keadaan tertutup dan terkunci apabila tidak ada keperluan. dengan terlebih dahulu membayar biaya penyimpanan dan asuransi (PA) yang telah ditetapkan sesuai dengan besarnya UP dan jenis barang yang diagunkan. Posedur tersebut dapat dilihat dalam lampiran 7. Nasabah mengambil UP pada kasir seperti yang tertera pada SBK. Pada SBK tersebut dimuat nama dan alamat nasabah. 2. Barang emas. Setelah ditandatangani nasabah dan penaksir/KPK. Mobil disimpan dalam tempat tertutup. tidak kena hujan dan panas. Untuk mengontrol kebenarannya. Selain petugas gudang dilarang untuk memasuki gudang tanpa mendapat izin dari petugas tersebut. maka petugas gudang tersebut dapat menunjuk dua orang pegawai lainnya sebagai pengganti sementara dan harus diberitahukan kepada kepala cabang. besarnya taksiran dan UP. petugas gudang lama tetap bertanggung jawab atas barang jaminan di dalam gudang. sedangkan yang mengelola barang gudang dan barang kain disebut pemegang gudang. Untuk barang-barang tertentu seperti kamera dan mobil mendapat perlakuan khusus. Barang masuk dan keluar selalu dicatat sehingga pada akhir hari dapat ditentukan saldo barang jaminan. maka diterbitkan Surat Bukti Kredit (SBK) sesuai dengan golongannya. mobil juga harus dalam keadaan terkunci dan bila ada tutupnya (cover) digunakan dengan baik agar tidak kotor. Dalam hal petugas gudang berhalangan sampai dengan 7 hari. Pegawai yang bertanggung jawab (sesuai dengan SK penunjukan) atas pengelolaan gudang dan semua barang yang ada di dalamnya disebut petugas gudang. Pegawai yang menjadi petugas gudang mempunyai masa tugas maksimum selama 6 bulan. Maret 1999 oleh penaksir maupun KPK telah disepakati oleh nasabah.5. Sedangkan barang jaminan yang tidak masuk di dalam kantong disebut dengan barang gudang dengan rubrik G.

Sistem Lelang Lelang merupakan upaya pengembalian uang pinjaman beserta sewa modalnya yang tidak dilunasi sampai batas waktu yang ditentukan. Perlakuan administrasi dan pembukuan terhadap BSL dapat dilihat dalam lampiran 8. untuk kanca-kanca yang lokasinya berdekatan tidak diizinkan untuk melaksanakan lelang pada hari dan tanggal yang bersamaan. agar bisa dijadikan acuan oleh masyarakat.3. Hal ini dilakukan dengan penjualan barang jaminan tersebut pada waktu yang telah ditentukan. Penjualan di bawah tangan merupakan penjualan yang terbuka bagi siapa saja yang berminat dengan suatu patokan harga minimum tertentu. Bila hasil lelang melebihi nilai kewajiban nasabah.6. maka kelebihannya akan dikembalikan kepada nasabah tersebut. BSL dinilai berdasarkan harga pembeliannya yaitu sebesar harga jual minimal lelang tanpa tambahan biaya lelang (9. Lokasi kanca. Tim Pelaksana Lelang akan mengawasi/memeriksa jumlah setoran uang jaminan dari masing-masing peserta/calon pembeli. c.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 67 2. Barang-barang yang telah laku pada saat lelang harus dibayar tunai setelah lelang ditutup. Apabila di kemudian hari ternyata lelang tidak dapat dijalankan pada tanggal yang telah ditetapkan maka pelaksanaan lelang itu harus diundur pada hari berikutnya.7% (tujuh permil) untuk dana sosial yang dihitung dari nilai lakunya lelang. Uang yang akan dibayar oleh pembeli harus ditambah 9% untuk ongkos lelang dan 0. media cetak dan elektronik. Penundaan hari lelang ini harus diumumkan kepada masyarakat dan diberitahukan kepada Ka Kanda dan Inspektur Daerah. Media yang digunakan untuk mengumumkan tanggal lelang adalah melalui papan pengumuman di Kanca setempat. Sedangkan mutasi antarcabang merupakan upaya penjualan di kantor cabang yang berada di daerah lain yang diyakini dapat terjual lebih cepat (Lampiran 9). Untuk barang-barang jaminan yang telah ditaksir dengan wajar tetapi tidak laku dilelang disebut sebagai Barang Sisa Lelang (BSL). Cara penyelesaian BSL ini dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dijual di bawah tangan dan dimutasikan antarcabang. b. Masing-masing kanca sedapat mungkin melaksanakan lelang pada hari dan tanggal yang sama setiap bulannya. Sebelum pelaksanaan lelang. Untuk menentukan tanggal lelang. Lelang dilaksanakan tidak pada hari libur. pemberitahuan langsung oleh pegawai di loket dan pemberitahuan tertulis kepada pemilik barang dan Dinas Penerangan setempat (minimum 15 hari sebelum pelaksanaan). BSL ini ditetapkan menjadi aset perusahaan yang diakui dan dicatat sebagai transaksi mutasi aset dari Pinjaman Yang Diberikan (aktiva lancar) menjadi Aktiva Lainnya (aktiva tidak lancar). . Dalam bulan puasa lelang sedapat mungkin dilakukan sebelum lebaran. d. setiap Kanda membuat suatu daftar ikhtisar lelang berdasarkan usulan dari masing-masing kanca-nya dengan memperhatikan : a.7%).

Laporan bulanan. dan perhitungan surplus operasi. yang berisi laporan rincian sisa uang pinjaman dan perhitungan sewa modal. penerimaan sewa modal dan biaya PA. . Laporan operasional adalah laporan tentang perkembangan operasional Kanca yang meliputi laporan mingguan. Jenis-jenis laporan operasional yang dibuat oleh Kanca yang harus dikirimkan ke Kanda adalah berbentuk : a. d.68 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Pengawasan ditujukan untuk meyakinkan apakah kegiatan perusahaan telah dilaksanakan sesusai dengan rencana yang ditetapkan. Laporan tahunan. rincian sisa uang pinjaman. Kelayakan laporan keuangan Perum Pegadaian setiap tahun diperiksa oleh pihak eksternal. Selain kewajiban mengirimkan laporan ke kantor pusat. masing-masing Kanca dan Kanda Perum Pegadaian secara internal juga diperiksa oleh SPI. Tujuan pembuatan laporan operasional ini adalah untuk menyediakan informasi tentang perkembangan operasional kepada manajemen sebagai dasar untuk pengambilan keputusan lebih lanjut pembinaan Kanca. kewajiban atasan untuk mengawasi c. bulanan dan tahunan.3. Laporan mingguan. mutasi aktiva yang disisihkan. Tugas SPI tersebut adalah melakukan pengawasan dan pemeriksaan terhadap jalannya kegiatan perusahaan. Aspek-aspek yang dilihat dalam melakukan pemeriksaan oleh SPI mencakup tiga hal yaitu sistem dan prosedur yang menyangkut kendali. pemeriksaan merupakan bagian dari fungsi pengawasan yaitu tindakan secara fisik. teknik serta metode dalam menjalankan fungsi pengawasan. Hal ini dilakukan karena Perum Pegadaian telah melakukan go public dengan menerbitkan obligasi. sisa uang kelebihan. Sistem Pelaporan dan Auditing Setiap Kanca Pegadaian harus membuat laporan operasional rutin secara berkala. Laporan semester. barang jaminan yang tidak ditebus/dilelang/barang polisi. yang berisi perkembangan penyaluran kredit dan barang jaminan yang tercantum dalam laporan mingguan keuangan yang dikirimkan ke Kanda b.7. yang berisi rekapitulasi dari laporan bulanan ditambah laporan mutasi aktiva serta laporan surplus usaha. Laporan-laporan yang dibuat oleh masing-masing Kanca tersebut di atas kemudian dikonsolidasikan oleh Kanda sebelum dikirimkan ke kantor pusat. ikhtisar barang sisa lelang. Sebelumnya. Sejak tahun 1993 audit terhadap laporan keuangan Perum Pegadaian dilakukan oleh akuntan publik. rincian data nasabah dan kredit menurut profesi. Di kantor pusat laporanlaporan dari seluruh Kanda dikumpulkan sehingga dapat dibuat suatu laporan keuangan konsolidasi secara nasional yang diaudit setiap tahun. Sementara. yang berisi laporan tentang : perkembangan usaha. pemeriksaan atas laporan keuangan Perum Pegadaian dilakukan oleh BPKP. Maret 1999 2.

Dalam melakukan pemeriksaan seorang pemeriksa harus bersifat objektif dan independen karena pertanggungjawabannya langsung kepada direksi. Tugas Irda adalah mengawasi kanca-kanca di bawahnya dengan frekwensi 1– 4 kali pemeriksaan dalam satu tahun.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 69 bawahan (waskat) dan aparat pengawasan fungsional.1 Pembiayaan Kredit Pedesaan Untuk memahami pegadaian terutama sebagai salah satu alternatif pembiayaan bagi usaha/nasabah kecil perlu dilakukan pendekatan yang mempunyai relevansi dengan kegiatan operasi lembaga keuangan baik formal maupun informal yang telah ada di masyarakat dalam penyaluran kredit. yaitu : (i) Irwil I mengawasi kanda I – V. Rentang kendali yang terlalu luas yang belum ditunjang dengan saluran komunikasi yang memadai (canggih) sangat tidak menunjang efektivitas pemantauan kinerja kantor-kantor cabang. Mengingat karakteristik Perum Pegadaian sebagai lembaga keuangan formal yang memberikan pinjaman berjangka pendek dalam skala kecil dengan sistem gadai. Di setiap Kanda terdapat Inspektorat Daerah (Irda) yang dipimpin oleh orang kedua di kanda yang bersangkutan dengan tenaga pemeriksa berjumlah 4-5 orang. serta mempunyai nasabah .2 kali setahun. Sebagai gambaran setiap kanda di pulau Jawa rata-rata membawahi lebih dari 50 Kanca. frekwensi pemeriksaan serta jumlah tenaga pemeriksa di masing-masing Kanda. PENDEKATAN TEORITIS 3. mempunyai jaringan kerja yang luas sampai ke daerah-daerah. SPI tersebut dibagi menjadi 3 Inspektorat Wilayah (Irwil). III. Kanda-kanda lainnya di luar Jawa harus membawahi kanca-kanca yang secara geografis terlalu jauh. Tenaga pemeriksa di masing-masing Irwil rata-rata sejumlah 4 orang yang bertugas melakukan pemeriksaan terhadap setiap kanda dengan frekwensi 1 . Dalam melaksanakan tugasnya SPI dipimpin oleh seorang kepala yang bertanggung jawab langsung kepada Direktur Utama. Sementara itu. menunjukkan terlalu luasnya rentang kendali Kanda terhadap kanca-kanca yang ada di bawah koordinasinya. (ii) Irwil II mengawasi kanda VI – X. Tolok ukur yang dipakai dalam melakukan pemeriksaan adalah membandingkan antara kondisi sebenarnya (fakta) dengan yang seharusnya (kriteria). sesuatu yang diatur secara umum yang diakui dan sesuatu yang diatur oleh ketentuan perusahaan. Berdasarkan perbandingan antara jumlah Kanca (633 kantor). Kanda (14 kantor). dan (iii) Irwil III mengawasi kanda XI – XIV. tidak melakukan penghimpunan dana seperti layaknya bank. Kondisi yang seharusnya merupakan sesuatu yang ditetapkan oleh peraturan/ketentuan pemerintah. serta bisa menyebabkan timbulnya berbagai penyimpangan seperti yang tercantum dalam lampiran 10.

teori RFM berpendapat bahwa pedesaan memiliki kemampuan/resources untuk membiayai kegiatan-kegiatan produktif yang berlangsung di pedesaan. berjangka waktu pendek. BRI Unit Desa. 1992 . Teori RFI menjelaskan keterkaitan antara lembaga keuangan formal dan informal dalam pasar keuangan pedesaan. untuk penghimpunan dana di pedesaan lebih banyak melalui lembaga formal. Sebagian besar pinjaman relatif kecil jumlahnya. Dengan kata lain. lembaga kredit formal dan informal serta struktur pasar kredit pedesaan untuk masing-masing lembaga keuangan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut : 3. 6 Robinson. Pasar kredit pedesaan informal biasanya bersifat quasimonopolistik. Beberapa pendekatan yang dapat digunakan untuk analisis tersebut antara lain Teori Rural Financial Intermediation (RFI). Di dalam pasar terdapat beberapa kreditur namun seorang debitur punya akses yang sangat terbatas.6 Sedangkan untuk melihat sumber dana untuk kredit pedesaan dikenal dua teori. Dalam teori ini dijelaskan karakteristik lembaga keuangan formal seperti Bank Perkreditan Rakyat. Maret 1999 mayoritas masyarakat berpenghasilan rendah yang sulit untuk akses ke perbankan serta jaringan kerja hingga ke daerah-daerah. kredit di pedesaan dapat disediakan oleh lembaga keuangan formal maupun pasar informal. yaitu Farm Finance dan teori Rural Financial Market yang dikembangkan oleh Department of Agricultural Economics and Rural Sociology.1. Teori RFM yang bertumpu pada mekanisme pasar berpendapat bahwa pembiayaan/kredit pedesaan merupakan proses intermediasi dimana financial assets dan debts di relokasi diantara pelaku-pelaku ekonomi di pedesaan. S “ Rural Financial Intermediation : Lessons From Indonesia. koperasi dan pegadaian serta pasar kredit informal di pedesaan (rentenir atau pelepas uang komersial). Sementara itu. sedangkan teori FF berpendapat perlu adanya external funds (dana pihak luar) untuk membiayai kegiatan-kegiatan produktif di pedesaan.1 Lembaga Kredit Informal Sebagaimana dikemukakan. dan pemberian kredit tersebut lebih didasarkan pada unsur kepercayaan. Ketergantungan seorang debitur terhadap kreditur sangat tinggi. Ohio State University.70 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Pasar informal tersebut ada di dalam masyarakat namun tidak diatur oleh pemerintah. proses penyediaan sederhana. teori Farm Finance (FF) dan Teori Rural Financial Market (RFM). Berdasarkan ketiga pendekatan tersebut. maka perlu dilakukan analisis tterhadap posisi dan keterkaitan Perum Pegadaian dengan lembaga lainnya. USA. Seorang kreditur hanya melayani sejumlah kecil peminjam yang sudah dikenal baik dan berisiko rendah. cepat. Kredit pedesaan pada dasarnya dapat diperoleh dari sumber informal dan formal.

Tingginya suku bunga tersebut disebabkan adanya quasi-monopolistic many-lender credit market. Fenomena ini terjadi di beberapa negara berkembang. terdapat kecenderungan debitur untuk hanya setia kepada satu debitur karena khawatir akan memperoleh kesulitan di kemudian hari. bagi kreditur yang sudah lebih kaya dan memiliki status sosial yang tinggi melakukan diversifikasi investasi dianggap lebih menguntungkan dibandingkan dengan hasil yang diperoleh dari kredit dalam skala kecil. 7 Ibid. Hal ini terjadi karena antara satu kreditur dengan kreditur lainnya dalam satu wilayah umumnya punya ikatan yang erat. seperti India dan Philipina sebagaimana dikemukakan oleh Germidis. Selain itu. market interlinkages. sehingga risiko tidak terbayarnya pinjaman yang diberikan kepada nasabah dapat ditekan serendah mungkin. Kessler. Kessler “ Financial Systems and Development : What Role for the Formal and Informal Financial Sectors ? (1991). and Meghir bahwa 8 : “Informal commercial credit forms parts of the local political economy. Alasan utamanya adalah terlalu berisiko untuk melakukan ekspansi ke luar pasar tradisonalnya. Mereka tidak mau bersaing karena justru akan menurunkan keuntungan masing-masing. etc “.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 71 Terjadinya pasar yang bersifat quasi-monopolistik dimungkinkan oleh kecenderungan setiap kreditur untuk membatasi jumlah nasabah yang dilayani dan berupaya menjaga portofolio pinjamannya sedemikian rupa. .7 Kreditur cenderung tidak tertarik untuk meningkatkan market share. Dengan kondisi tersebut. political alliances. Terdapat pula kecenderungan para kreditur untuk memberikan kredit yang lebih besar kepada pejabat lokal serta rekan bisnis dengan tujuan menjaga hubungan baik agar diberi kesempatan memperoleh akses yang lebih luas bagi kepentingan politik dan/atau bisnisnya. Suku bunga kredit dalam pasar informal sangat bervariasi. Caranya antara lain dengan hanya memberikan kredit kepada orang-orang yang berkaitan dengan jaringan bisnisnya seperti sistem ijon dan yang mempunyai aliran politik yang sama. financial channels and market shares of lenders are inextricably related to local distribution of wealth and power. suku bunga berkisar antara 2 sampai 10 kali dari tingkat bunga bank. Kreditur pada umumnya berkeberatan apabila nasabahnya meminjam kepada kreditur informal lainnya karena khawatir ikatan bisnis lainnya juga akan berpindah sehingga dapat melakukan pembalasan di kemudian hari. Sebaliknya. setiap kreditur dapat memelihara ‘kesetiaan’ debiturnya. information flows. Dengan praktek tersebut. 8 Germidis. suku bunga dapat dipertahankan tinggi lebih-lebih jika di wilayah tersebut tidak terdapat lembaga perkreditan formal. Menurut penelitian Robinson. hal 81.

72 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. lembaga formal pada umumnya dapat mempelajari karakteristik pasar keuangan pedesaan dan memperoleh informasi terpercaya mengenai nasabah potensial melalui stafnya yang profesional.2 Lembaga Kredit Formal Lembaga keuangan formal dapat juga memasuki pasar keuangan pedesaan dengan perspektif perhitungan jangka panjang bila didukung beberapa persyaratan. bagi mereka yang tidak memenuhi syarat untuk memperoleh dana dari lembaga formal disebabkan tidak memiliki agunan ataupun sebab lainnya akan tetap bergantung pada kreditur informal. Persyaratan tersebut berkaitan dengan perlunya lembaga keuangan dikelola secara baik. Sementara itu. aman. karena berspesialisasi pada kegiatan perkreditan. lembaga formal tidak dianggap sebagai pesaing oleh kreditur informal. lembaga formal tidak dicurigai akan merebut kekuasaan para kreditur informal yang pada umumnya juga memiliki kaitan usaha di sektor riil atas nasabahnya. untuk menunjang berlangsungnya kegiatan operasi lembaga keuangan tersebut harus mampu menyalurkan kredit dalam jumlah yang cukup dan bersumber dari penghimpunan dana dengan spread yang cukup menguntungkan. Maret 1999 3. . Di samping itu. seseorang yang tidak memiliki agunan dapat datang ke kreditur informal untuk meminjam uang. Kemudahan bagi lembaga formal dalam memasuki pasar tersebut selain dilindungi hukum.1. hal tersebut tidak terlalu mengganggu karena mereka masih tetap memiliki pangsa pasar yang aman. Bahkan di beberapa tempat dianggap sebagai rekan kerja. Sebagai contoh. Hal ini terjadi karena lembaga kredit formal dapat memanfaatkan ‘economies of scale’ sehingga dapat menjalankan kegiatannya dengan biaya yang relatif murah. dan berlokasi strategis. terpercaya. Perlu dikemukakan bahwa jika lembaga kredit formal dapat memberikan pelayanan yang baik dengan beban bunga yang lebih rendah maka sebagian masyarakat desa yang sebelumnya bergantung kepada kreditur informal akan beralih ke lembaga formal. Suku bunga yang lebih rendah tersebut akan meningkatkan permintaan kredit yang akan menyebabkan biaya operasi per unit menjadi lebih murah. Suku bunga pada lembaga kredit formal pada umumnya lebih rendah dibandingkan dengan suku bunga kreditur informal. Dengan biaya yang murah tersebut maka lembaga formal dapat menawarkan suku bunga rendah untuk menarik nasabah. Tidak tertutup kemungkinan. meskipun ada kemungkinan mereka masih memerlukan dana dari kredit informal sebagai tambahan. Disamping itu. seorang kreditur informal akan mendorong nasabahnya untuk meminta kredit ke lembaga formal jika memerlukan dana yang relatif besar. Disamping itu. Bagi kreditur informal. Kreditur informal yang kekurangan dana dapat meminjam dari bank dan lembaga kredit formal lainnya untuk kemudian disalurkan ke nasabahnya.

Sebagian besar BPR (1. nampaknya sesuai dengan teori FF. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Pada pasar kredit pedesaan di Indonesia dapat diidentifikasikan beberapa lembaga formal yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat khususnya golongan ekonomi lemah adalah Perum Pegadaian. toko emas yang memberikan pinjaman dengan sistem gadai serta pegadaian gelap. Disamping itu juga terdapat beberapa lembaga informal yang berperan dalam memberikan pinjaman kepada masyarakat antara lain pelepas uang (rentenir). Sedangkan jumlah BRI UDes sebanyak 3. Di daerah-daerah di mana terdapat kantor Perum Pegadaian. . Bank Perkreditan Rakyat (BPR).7 triliun.40% per bulan.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 73 IV. pangsa pasar kredit pedesaan yang dapat dikuasai oleh Perum Pegadaian diperkirakan berkisar 40% . Sementara itu dari temuan penelitian CPIS (pada periode 1982-1990) koperasi simpan pinjam mengenakan suku bunga antara 20% . kemudian Jabotabek sebanyak 345 BPR) dan yang paling sedikit berada di wilayah Kalimantan (22 BPR).558 BPR non BKD dengan total aset sebesar Rp 2.9 Pada dasarnya antar lembaga-lembaga tersebut tidak saling bersaing karena masing-masing sudah mempunyai pangsa pasar tersendiri. diperoleh temuan bahwa antara Perum Pegadaian dengan lembaga-lembaga keuangan formal dan informal lainnya yang ada di masyarakat tidak saling bersaing meskipun mempunyai segmen pasar yang hampir sama. dan BRI Unit Desa.60% dibandingkan dengan rentenir. Koperasi Simpan Pinjam (Kosipa). Studi lapangan menunjukkan bahwa pada dasarnya masing-masing Kantor Daerah mempunyai potensi untuk menghimpun dana sendiri yang berasal dari potensi daerah setempat.142 buah) berada di pulau Jawa (persebaran jumlah BPR terbanyak berada di wilayah Jawa Timur sebanyak 362 BPR. Mengacu pada teori tersebut. Namun kebijakan tersebut pada beberapa aspek justru menghambat perkembangan Perum Pegadaian terutama pada saat terjadinya kekurangan likuiditas. Hasil penelitian tersebut sejalan dengan hasil penelitian Robinson dengan mempergunakan teori RFI (dijelaskan pada bagian III).706 kantor. Informasi yang diperoleh dari hasil studi lapangan hanyalah mengenai besarnya suku bunga yang dikenakan rentenir dan toko emas pada umumnya sangat tinggi berkisar 10% – 20% per bulan. toko emas dan pegadaian gelap.4 triliun dan kredit yang diberikan sebesar Rp 1.10 Dalam 9 Data akurat mengenai potensi lembaga informal pemberi pinjaman sulit untuk diperoleh. 1 0 Sampai dengan September 1998 di seluruh Indonesia terdapat sebanyak 1. Lembaga lain yang juga mempunyai potensi besar untuk menjadi pesaing Perum Pegadaian adalah Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dan BRI Unit Desa (BRI UDes). bahkan dapat dikatakan saling melengkapi sesuai dengan kondisi masyarakat. Kebijakan penghimpunan dan penyaluran dana serta sistem manajemen pendanaan yang sentralistik seperti diterapkan Perum Pegadaian. Persaingan tidak terjadi karena nasabah masing-masing lembaga keuangan tersebut mempunyai karakteristik khusus yang menentukan preferensi mereka untuk menjadi nasabah lembaga keuangan tertentu (struktur pasar bersifat quasi-monopolistik). Temuan ini sesuai dengan teori RFM bahwa pada dasarnya masyarakat pedesaan juga mampu menabung dan masuknya dana pihak luar justru akan menghambat perkembangan pasar keuangan pedesaan.

Maret 1999 analisis selanjutnya.9%.1).3 triliun dengan pencapaian target sebesar 87. sementara untuk institusi lain dan lembaga kredit informal tidak diperoleh data akurat. kinerja Perum Pegadaian akan dibandingkan dengan BPR dan BRI UDes (untuk beberapa rasio keuangan) untuk memperoleh gambaran mengenai peranan Perum Pegadaian dalam pemberdayaan ekonomi rakyat dibandingkan dengan institusi kredit lainnya. Bandung dan Yogyakarta.74 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.1 Kinerja Operasional Omset 11 Peran Perum Pegadaian dalam memberikan pinjaman kepada masyarakat berpendapatan rendah menunjukkan perkembangan yang cukup pesat. sementara beberapa Kantor Daerah (Padang. Medan. Ujung Pandang. Untuk masing-masing wilayah. dan Balikpapan) mencatat perkembangan yang kurang memuaskan. Namun lonjakan omset yang terjadi pada Juni 1998 selanjutnya untuk bulan Agustus dan September mengalami penurunan terutama sebagai dampak dihentikannya fasilitas overdraft di BRI pada pertengahan Agustus. Pemilihan ini berdasarkan ketersediaan data BPR dan BRI Unit Desa (BRI UDes). lonjakan omset terutama dialami oleh Kantor Daerah Jakarta. Perkembangan Omset Perum Pegadaian Rp miliar 2500 2000 1500 1000 500 0 1994 1995 1996 1997 Triw III/ 1998 Jan Feb Mar Apr Mei 1998 Jun Jul Agst Sept 1 1 Omset : adalah jumlah/nilai pinjaman yang diberikan dalam suatu periode tertentu (konsep flow).1 Hasil Studi Lapangan 4. Grafik 1. 4. Sampai dengan 30 September 1998 omset Perum Pegadaian telah mencapai Rp 2. terutama sejak terjadinya krisis ekonomi pada pertengahan tahun 1997. atau meningkat 11% dibandingkan dengan realisasi omset tahun 1997 (Tabel 4. .1.

0 46.000 – 500.7 739.5 10.0 2. E = pinjaman kepada pegawai Perum Pegadaian 1 2 Perum Pegadaian menetapkan 5 macam golongan nasabah berdasarkan besarnya plafon pinjaman sebagai berikut: Gol.9 0.9 31.4 439.000 – 20.0 8.1).d September). Kecenderungan pergeseran orientasi pembiayaan Perum Pegadaian ke arah nasabah besar juga terlihat pada menurunnya porsi nasabah golongan A dan B masing-masing dari 43.3 0.000 .9 5.000 – Rp 40.0 6.7 115.4 100.000 Sumber : Perum Pegadaian. dan Gol. B dan C semakin berkurang (Tabel 4. sehingga dengan barang jaminan yang sama nasabah golongan A dan B bisa mendapatkan pinjaman yang lebih besar. Nasabah 1996 Des.3 5. Fenomena dominasi pinjaman oleh golongan D juga terlihat di setiap kantor daerah yang diteliti kecuali untuk Kantor Daerah Bandung dimana pinjaman didominasi oleh golongan C.000.6 32.000 . C = Rp 151.5 100.5 951. diolah.5 14. Jan .9 1. Alokasi pinjaman untuk golongan D12 melonjak sehingga porsinya meningkat dari 35.Rp 150.2 1.8 35.9 100.4 475.7 30.4 1.Sept.4% dan 24. .4 545. dengan alasan bahwa selama ini Perum Pegadaian telah memberikan subsidi kepada golongan nasabah mikro.4 16.000 .7 679.000.7 100. B = Rp 40.5 31.4 709.500.3% (1998).000.8 256.5 1.8 666.000.5 8. E = pegawai Perum Pegadaian. Kebijakan untuk meningkatkan keuntungan dengan mengurangi porsi pemberian pinjaman kepada nasabah mikro tersebut kurang sejalan dengan misi Perum Pegadaian untuk lebih memihak kepada nasabah mikro.088.000 – Rp 150.1.0 226.3% (tahun 1998 s.317.4 645.000 . Perkembangan Omzet Perum Pegadaian 1998 Gol.5 1997 Des.2 317. Gol.0 13.9 31.5 35.3 437. Tabel 4.000.166.1 25.035.6% (1997) menjadi 41.5 22.8 22. Keterangan : A = Rp 5.0 0. porsi golongan A.00 .0 (miliar rupiah) % A B C D E 10.2 8. Pergeseran dari nasabah mikro ke nasabah besar tersebut terutama merupakan dampak dari : (i) Kebijakan Perum Pegadaian untuk meningkatkan laba.0 2. Gol.20. melalui peningkatan kualitas barang jaminan serta meningkatkan porsi nasabah golongan D (proyeksi tahun 1998).9% dan 27.925.723. Dengan demikian kebijakan pembiayaan Perum Pegadaian telah bergeser ke arah nasabah dengan nilai pinjaman yang lebih besar. Nominal % Proyeksi Nominal % 8. A = Rp 5.0 C = Rp 151.4 0.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 75 Lonjakan kenaikan omset tersebut ternyata tidak diikuti dengan meningkatnya aspek pemerataan.2 0.4% (tahun 1997) menjadi 50.000. Sementara itu. Nominal 184.Jun. Gol. (ii) Kenaikan harga barang jaminan sejalan dengan kenaikan harga barang jaminan khususnya emas.0 Realisasi Jan .7 100.8 32.397.7 183.000 B = Rp 40.0 2.9 547.6 50. D = Rp 510.000 D = Rp 510. Nominal % Nominal % 80.Rp 40.

76 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.d Mei 1998) sekitar 400 ribu nasabah. terdapat kesamaan antara Perum Pegadaian dengan BPR dimana baik untuk Perum Pegadaian dan BPR sebagian besar nasabah terkonsentrasi di wilayah Jawa (masing-masing 70% dan 57%). Dari segi persebaran nasabah. peningkatan jumlah nasabah terbesar terjadi pada Kanda Surabaya (243.8% dan 2. Faktor lain yang menyebabkan lonjakan jumlah nasabah tersebut menurut Perum Pegadaian adalah “peak season” tahun ajaran baru serta meningkatnya gangguan keamanan. mulai banyaknya perusahaan yang melakukan PHK terhadap karyawan dan meningkatnya harga emas. Berdasarkan Kandanya. jumlah nasabah Perum Pegadaian juga mengalami lonjakan tajam khususnya pada bulan Juni 1998 sehingga sampai dengan 30 September 1998 jumlah nasabah yang dapat diraih mencapai 6. Maret 1999 Jangka waktu peminjaman rata-rata dalam tahun 1998 adalah 89 hari yang berarti lebih singkat dibandingkan dengan tahun 1997.3%. Penurunan tersebut juga disebabkan oleh meningkatnya harga barang jaminan khususnya emas.6 juta orang.2 juta nasabah). Namun seiring dengan berkurangnya kemampuan Perum Pegadaian dalam memberikan pinjaman kepada masyarakat maka jumlah nasabah pada Juli s. Jumlah nasabah yang mampu diraih Perum Pegadaian tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan dengan jumlah nasabah yang mampu diraih BPR (4. Lonjakan nasabah Perum Pegadaian yang sangat besar terjadi sejak bulan Juni 1998 dengan rata-rata per bulan di atas 1 juta nasabah dibandingkan bulan-bulan sebelumnya (Januari s. yaitu 95. sehingga mendorong penebusan oleh nasabah terutama dengan barang jaminan emas untuk dijual ke pasar. meskipun masih lebih banyak jika dibandingkan periode yang sama tahun 1997. Golongan D meminjam dalam jangka waktu paling lama. Jumlah Nasabah Sejalan dengan lonjakan omset. Lonjakan nasabah sepanjang tahun 1998 tersebut sangat signifikan jika dibandingkan dengan perkembangan nasabah pada bulan yang sama tahun 1997 (Grafik 2). .7 hari.3%).7%) dan terendah pada Kanda Malang (2. sedangkan jumlah nasabah yang paling sedikit terdapat di wilayah Kalimantan masingmasing 2. sementara itu golongan B meminjam dalam jangka waktu paling singkat. Lonjakan jumlah nasabah dari posisi Mei ke Juni 1998 tersebut diduga merupakan dampak krisis ekonomi sehingga akses masyarakat untuk dapat memperoleh kredit dari perbankan semakin sulit.d September menunjukkan kecenderungan menurun. yaitu 68 hari.

1 331.9 5.0 0. Meningkatnya jumlah nasabah yang berprofesi sebagai karyawan (berdasarkan kartu identitas/KTP) merupakan indikasi dari meningkatnya jumlah karyawan yang terkena PHK.2 871. Nasabah A B C D E Jumlah Keterangan : % 43.7 6.265.0 0.3 23. Nsb. Tabel 4.3 6.0 1. Nsb.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 77 Grafik 2.305.9 2.Rp 40.3 26.000 B = Rp 40. Jml.20. (ribu) 2.734.000 E = pinjaman kepada pegawai Perum Pegadaian .0 1997 1998 Profesi Jml.2).331. Nsb.621.5 682.682.9 Nelayan 405. diolah.0 Sumber : Perum Pegadaian.000 800 600 400 200 0 (ribu) 1997 1998 Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sep Okt Nop Des Berdasarkan golongannya.6 430. (ribu) (ribu) % Petani 1.638.5 24.410.0 13. Nsb.4 22.4 Industri 325.0 8.0 21. terlihat adanya pergeseran komposisi jumlah nasabah menurut golongan dan meningkatnya jumlah nasabah dengan profesi sebagai karyawan (Tabel 4.0 6. (ribu) 2.000 .1 Pedagang 1.Rp 150.000. Sementara dari profesinya mayoritas nasabah (30.2 100.4 3.400 1.4 12.3 23.7 *) % 30.7%) berprofesi sebagai petani.5 1.000 .3 10.000 D = Rp 510. C = Rp 151.1 100.305.000 .032.500.1 635.6 16.458.000 .221.2 30.9 1.6 6.9 27.1 *) : s. Dibandingkan dengan tahun 1997.d September A = Rp 5.05 100.463.8 1.200 1.7 *) % 40.2. mayoritas nasabah Perum Pegadaian (40.9 5. Komposisi Jumlah Nasabah Menurut Golongan dan Profesi 1997 Jml.612.0 Lain-lain 1.1 1998 Jml. Perkembangan Jumlah Nasabah 1.621.000 Gol.7 1.7 7.1 3.9 864.5%) pada tahun 1998 berasal dari golongan A.4 Karyawan 449.5 5.

dan lain-lain. maka telah terjadi penurunan jumlah dan nilai barang yang dilelang masing-masing sebesar 36. 1 3 Lelang merupakan upaya pengembalian uang pinjaman beserta sewa modal yang tidak dilunasi atau pinjamannya tidak diperpanjang (roll over) oleh nasabah sampai batas waktu yang ditentukan.1%. usaha yang bersifat pesanan seperti kontraktor skala kecil. Sementara itu. biaya pengobatan. usaha catering.3 miliar (0.78 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.5%). Sedangkan rasio terendah adalah golongan D yaitu sebesar 0.3% (1998) tertinggi dibandingkan dengan golongan lain. .810 potong (1. pinjaman yang digolongkan sebagai kredit macet di BPR (per 30 Juni 1998) mencapai Rp 253 miliar (15 % dari total kredit yang diberikan). Kebutuhan konsumtif yang dapat dipenuhi dari pegadaian antara lain pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Perbandingan kualitas pinjaman yang diberikan tersebut menunjukkan persentase kredit macet di Perum Pegadaian lebih besar dibandingkan dengan BRI UDes (0. namun jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan kredit macet di BPR.8%. perajin mebel.7% omset) atau senilai Rp 11. Jika dibandingkan dengan volume dan nilai lelang sampai sebelum krisis (1997). pembayaran upah karyawan.2% (1997) menjadi 2. Penggunaan yang bersifat produktif antara lain modal kerja bagi petani dan pedagang. sedangkan kredit macet di BRI UDes (per 30 September 1998) mencapai Rp 22. Maret 1999 Penggunaan dana pinjaman oleh nasabah sangat bervariasi baik untuk tujuan konsumtif maupun produktif.5% dari total kredit yang diberikan). dan keperluan keluarga lainnya. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa krisis ekonomi sangat dirasakan dampaknya khususnya oleh nasabah mikro dengan semakin meningkatnya nilai pinjaman yang tidak dilunasi oleh golongan tersebut. rasio tersebut menurun jika dibandingkan dengan tahun 1997 (1.1 miliar (0.5% dari sisa uang pinjaman). Menurut masing-masing golongan nasabah.1% dari sisa uang pinjaman).7% dan 47. rasio nilai lelang terhadap total kredit untuk golongan A meningkat dari 2.5% dari omset atau 1. Lelang 13 Barang jaminan yang dilelang sampai dengan 30 September 1998 adalah sebanyak 261. Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa nasabah diperoleh informasi bahwa sebagian besar dana pinjaman pegadaian dipergunakan untuk tujuan produktif (profil nasabah dikemukakan pada “persepsi masyarakat”). dengan menjual barang jaminan kepada masyarakat umum pada waktu yang telah ditentukan.0% dari omset dan 4. biaya sekolah.

2 182.2 1.0 8. khususnya di Jabotabek sebesar Rp 73.3 317.7 3.0 TO TA L 413.5 3.1 261.9 7.5 b) 2.0 1.9 709. kecuali dalam kasus tertentu dimana terjadi penurunan harga barang jaminan yang sangat besar.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 79 Tabel 4.9 3.14 1 4 Sebagai contoh turunnya harga barang jaminan adalah turunnya harga emas secara drastis di bulan November hingga mencapai 60% dari harga bulan Juni 1998.9 1. Untuk wilayah Bali (termasuk NTT dan NTB) kredit macet sebesar Rp 794 juta (0.6 521.596 1998 N ilai **) O m set ***) asio(% ) S isaU P R 34.3 1.27% total kredit atau 56.5 2. 4.166.14% total kredit atau 29. Untuk tahun 1998.914 98.0 48.6 0.9 408.0 1. Sementara itu.3% total kredit atau 29% total kredit macet).d September 1998.0 197.1% total kredit atau 0.2 475.047 3.077.02% total kredit atau 3.6 2.8 227.5 739.403 1.504 3. Perbandingan kualitas pinjaman ketiga lembaga tersebut menunjukkan kesamaan wilayah kerja yang mempunyai jumlah kredit macet terbesar yaitu di wilayah Jawa. kredit macet BPR sebagian besar terdapat di wilayah Jawa yang mencapai 58% total kredit macet.7 Keterangan : *) potong **) : nilai barang yang dilelang (m iliar rupiah) ***) : om set pinjam an (m iliar rupiah) S um ber : P erumPegadaian.801 12.1 0.6% total kredit macet).9% dari total kredit macet.6 miliar (0.9 679.7 183. Jam inan N S isaU P R A B C D 285.309.9 0.81% total kredit macet). barang jaminan yang dilelang merupakan barang bergerak serta hasil lelang selalu dapat menutup nilai pinjaman ditambah bunga dan biaya administrasi. Sementara nilai lelang terbesar terdapat di Kanda Jakarta (Rp 2 miliar) dan yang paling sedikit di Kanda Balikpapan (Rp 289.813 25.3.7 115.2 0.010 50.1 172.2 3.3 0.6 2. sehingga banyak nasabah dengan barang jaminan emas yang meminjam pada bulan Juni 1998 dan jatuh tempo pada November 1998 tidak melunasi pinjamannnya.7 juta).9 750.5 1. Sedangkan kredit macet di BRI UDes baik sebelum maupun sesudah krisis.4 1.9 2.5 a) R asio(% ) 7. Sedangkan volume kredit macet paling kecil terdapat di wilayah Sulawesi (termasuk Maluku. diolah. Jam inan rg.278 21. sebagian besar terdapat di wilayah Jawa dan paling sedikit di wilayah Bali (termasuk NTT dan NTB). Perkembangan Lelang Barang Jaminan G ol.7 4. khususnya DKI & Jawa Barat sebesar Rp 6.1 6.6% total kredit macet).8 ribu potong) sedangkan yang paling sedikit dilakukan oleh Kanda Balikpapan (3 ribu potong). Irian Jaya dan Timor Timur) sebesar 0.5 118. lelang terbanyak dilakukan oleh Kanda Yogyakarta (38.9 78.8 2. 1997 *) **) ***) a) b) *) N asabah B asio(% ) R ilai O m set asio(% ) B rg.3 a) : rasio lelang thd om set b) : rasio lelangthd sisauang pinjam an Pada periode Januari s.4 miliar (4. kredit macet di wilayah Jawa sebesar Rp 12. .7 6.810 11.4 0. Perlu dikemukakan bahwa lelang barang jaminan yang dilakukan Perum Pegadaian pada dasarnya bukan merupakan kerugian bagi Perum Pegadaian karena sesuai dengan hukum gadai.5 miliar (0.

6 miliar) (Tabel 4. Emisi terakhir adalah obligasi emisi V (Juni 1998).3% total aset Perum Pegadaian) dan yang paling kecil adalah wilayah Kalimantan (Rp 44 miliar atau 3. Kewajiban jangka panjang Perum Pegadaian (terdiri dari hutang obligasi dan hutang jangka panjang lainnya) sebesar Rp 364.4). Realisasi aset pada tahun 1998 tersebut meningkat sebesar 51.2 Kinerja Keuangan Aset Aset Perum Pegadaian menunjukkan kecenderungan meningkat.d V) dengan nilai nominal sebesar Rp 289. dengan komponen terbesar adalah hutang obligasi (Rp 264.6% dibandingkan periode yang sama tahun 1997. Sementara itu. meningkat 171. sedangkan yang terkecil adalah Kanda Kupang (Rp 34 miliar). Jumlah modal per 30 September 1998 sebesar Rp 363 miliar.9 miliar (2. Komponen terbesar dari kewajiban jangka pendek tersebut adalah hutang bank (Rp 321 miliar). Total aset Perum Pegadaian tersebut lebih kecil jika dibandingkan dengan total aset BPR (per Juni 1998) yang telah mencapai Rp 2. Jumlah aset per 30 September 1998 tercatat sebesar Rp 1.9% total aset Perum Pegadaian).4 triliun.7% dari periode yang sama tahun 1997. Sebagaimana telah disebutkan dalam Bab II bahwa untuk memenuhi kebutuhan dana maka selama periode 1993 – 1998. Sumber dan Penggunaan Dana Sumber dana Perum Pegadaian selain terdiri dari modal (ekuitas) juga sumber dana lain yang diperoleh dari penerbitan surat berharga maupun pinjaman dari pihak lain. Berdasarkan tujuan tersebut dapat dikemukakan bahwa Perum Pegadaian nampaknya tidak mempersiapkan cadangan dana pelunasan obligasi (sinking fund) yang memadai untuk memenuhi kebutuhan dana pelunasan obligasi yang akan jatuh tempo (s.7% total aset BPR).6 miliar meningkat 32.6 miliar yang akan jatuh tempo pada periode 1998 – 2003. melampaui target yang ditetapkan untuk tahun 1998 sebesar Rp 1 triliun (Tabel 4. total aset BPR sebagian besar terkonsentrasi di wilayah Jawa (Rp 1.8% dari total aset BPR) sedangkan yang paling kecil terdapat di wilayah Kalimantan sebesar Rp 63.7 triliun atau 70.d 30 September 1998 dana pelunasan obligasi .80 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. dengan tujuan penggunaan dana untuk pelunasan obligasi I (sebesar Rp 50 miliar) dan pengembangan usaha (modal kerja).4% dari tahun sebelumnya. sementara kewajiban jangka pendek (terdiri dari hutang bank dan kewajiban lainnya) sebesar Rp 412 miliar. Maret 1999 4. Ditinjau berdasarkan wilayah.4). Total aset terbesar dimiliki oleh Perum Pegadaian di wilayah Kanda Jakarta (Rp 183 miliar).1.1 triliun. Perbandingan total aset berdasarkan wilayah tersebut menunjukkan adanya kesamaan antara Perum Pegadaian dengan BPR yaitu konsentrasi aset berada di wilayah Jawa dan aset terkecil di wilayah Kalimantan. Perum Pegadaian telah menerbitkan obligasi sebanyak lima kali (seri I s. total aset Perum Pegadaian sebagian besar terkonsentrasi di wilayah Jawa (Rp 573 miliar atau 50.

2 8.6 119.4 Neraca Singkat Perum Pegadaian (miliar rupiah) Pos . Selain dari penerbitan obligasi. namun dari sisi makro berdampak pada timbulnya distorsi suku bunga pasar pinjaman berskala kecil. (%) 40. kebijakan subsidi bunga hanya akan efektif apabila diterapkan dalam jangka pendek.8 71.6 Aktiva Lancar Kas dan setara kas Pinjaman yg diberikan Lainnya Aktiva Lain Dana pelunasan obligasi Lainnya Total Aktiva Kewajiban Jangka Pendek Hutang bank Kewajiban lainnya Hutang Obligasi Hutang Sewa Guna Usaha Hutang jangka panjang lainnya 480.9 412.9 45. dimana sampai dengan 30 September 1998 telah disalurkan ke nasabah sejumlah Rp 35 miliar. Perlu dikemukakan bahwa lonjakan deposito tersebut terjadi karena adanya pencairan bantuan modal kerja dari Pemerintah dalam bentuk RDI sebesar Rp 100 miliar pada tanggal 4 September 1998. Mengacu pada temuan Robinson yang menggunakan pendekatan RFI.2 35.2 119 756.2 35.6 22.5 miliar). bahwa suku bunga bersubsidi dapat menimbulkan inefisiensi dalam penyaluran dana di pedesaan.9 28.4 72. Dengan demikian.6 166.4 8.7 184 1139. Aktiva dalam bentuk kas dan setara kas per 30 September 1998 tercatat sebesar Rp 119 miliar meningkat 240.9 Penanaman dana oleh Perum Pegadaian dalam bentuk aktiva lancar (dikelompokkan dalam kas dan setara kas.487 307. Per 31 Des.3 390 Ekuitas Sumber : Perum Pegadaian .4 32.7 174.Sept.4 582.Pos Neraca 1996 Per 31 Des.7 30.9 647 163.5 325 615 36. Tabel 4.75 187.3 526.5 160.7 178.7 8.028 275 673.3 11.9 0.2 240.3 1.1 167. Perum Pegadaian juga memperoleh pinjaman berbunga rendah dalam bentuk RDI pemerintah sebesar Rp 100 miliar (sejak tanggal 4 September 1998). khususnya untuk memenuhi kebutuhan dana akibat lonjakan nasabah dan bantuan KLBI sejumlah Rp 50 miliar (per 31 Desember 1998).2 29. Dana dengan suku bunga murah yang diperoleh Perum Pegadaian tersebut di satu sisi sangat membantu dalam mengatasi kesulitan likuiditas yang dialami.9 8.5 183.9 476.2 52.7 798.8 201.0 1.4 192. 947.1 53. Menurut Perum Pegadaian.4 5.diolah 363.2 275 0.6 140.2 778. terutama diakibatkan oleh meningkatnya nilai deposito sebesar 605%. dan sisanya sebesar Rp 65 miliar untuk sementara disimpan dalam .8 34.3 225 356.4 191 1.9 564.9 0.7 225 333 837.7 236.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 81 yang dicadangkan hanya sebesar Rp 8.7 412 321 91 264.9 175 0.5 81. sinking fund tersebut tidak dihimpun karena tidak diperoleh ijin dari Menkeu untuk membentuk cadangan sebesar obligasi yang akan jatuh tempo.2 864 282. pinjaman yang diberikan dan lainnya) serta aktiva lain.9 17.5 752 151.0 31. alokasi dana tersebut lebih diutamakan untuk penambahan modal kerja.7 59.4 55. Proyeksi 1998 Realisasi Per 30 Juni Per 30 Sept.6 100 363 Pertumb.9% dari periode yang sama tahun 1997. Jun .4 190. 1997 Per 30 Sep.7 182.

5 1.0 299.2 1.7% (1998).9 4.207.134. Rp 50 miliar dalam deposit on-call dan Rp 15 miliar untuk cadangan investasi.1% total kredit atau 6.9 98. meningkat 58.1 0.921. Pinjaman yang diberikan per tanggal 30 September 1998 sebesar Rp 756.3 27. sementara porsi BPR menunjukkan penurunan. Maret 1999 bentuk deposito.6 64.0 623.557. BPR dan BRI UDes menurut wilayah adalah sebagai berikut : .7 1.6 28.3 0.9% dibandingkan dengan periode yang sama tahun 1997.1 97.8 miliar.5 65.8 1. Perbandingan dalam peer-groupnya menunjukkan peningkatan porsi Perum Pegadaian yang lebih besar dibandingkan dengan BPR dan BRI UDes.5).0 7.7 Pegadaian BPR BRI Unit Desa Sub-Total Bank Umum Total Keterangan : 98.7 616.0 6.1 0.9 (2) 0.6% total kredit peer-group.0 385. Dari jumlah tersebut.7 24.483. BRI Udes) Rasio (2) : rasio terhadap total kredit (termasuk bank umum) Pinjaman yang diberikan oleh Perum Pegadaian.5. Dalam kondisi perkembangan perbankan saat ini yang tidak menentu maka tidak tertutup kemungkinan pangsa pegadaian akan mampu melampaui pangsa BPR.0 7.1 98.5 378.2 (2) 0.3 292.9%. Porsi kredit yang diberikan Perum Pegadaian terhadap total kredit pada September 1998 sebesar 0.9 1997 Rasio (%) (1) 7.286.696.4 2.795.5%) dibandingkan aktiva produktif lainnya.82 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. yaitu dari 7.6 1. BPR. porsi BPR dan BRI UDes justru mengalami penurunan. pinjaman yang diberikan oleh Perum Pegadaian baik dibandingkan dengan total kredit yang diberikan maupun dalam peer-groupnya relatif kecil.077.9 Lembaga Nominal ( Rp miliar ) 414.2 1.3 (2) 0.3 1.5 Nominal ( Rp miliar ) 756. Sementara aktiva lain hanya meningkat sebesar 2.0 65.3 Nominal ( Rp miliar ) 526.621.688. Secara makro. namun peran Perum Pegadaian dalam memberikan pinjaman cenderung tidak mengalami penurunan dalam masa krisis ini. sedangkan porsi BRI UDes meskipun meningkat namun tidak sebesar peningkatan Perum Pegadaian (Tabel 4.190.976.074.0 4. Penanaman dana dalam bentuk pinjaman yang diberikan mempunyai porsi yang paling besar (86.324.9 Rasio (1) : rasio terhadap peer-group ( PP.1 1998 Rasio (%) (1) 10. Meskipun porsi Perum Pegadaian saat ini masih kecil dan secara makro tidak terlalu besar dampak moneternya.1 0. Tabel 4. Rasio Perkembangan Pinjaman yang Diberikan 1996 Rasio (%) (1) 6.3 4.3% (1997) menjadi 10.

sedangkan yang paling kecil diberikan oleh BPR di wilayah Sulawesi (termasuk Maluku. uang kelebihan lewat waktu. meningkat 10.5% dan 144.3% dan 81.0%.7% dibandingkan tahun 1997. diperoleh nilai rasio antara biaya operasional dengan pendapatan operasional untuk tahun 1997 dan tahun 1998 masing-masing sebesar 80. Rasio tersebut menunjukkan terjadinya penurunan efisiensi.3% total pinjaman).5 miliar (2% dari total kredit). Pendapatan Perum Pegadaian yang terdiri dari pendapatan usaha (meliputi: sewa modal dan bea penyimpanan & asuransi) dan pendapatan usaha lainnya (meliputi: pendapatan investasi. dengan porsi terbesar adalah biaya bunga dan provisi yang mencapai 57. Irian dan Tim-Tim) sebesar Rp 36.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 83 • Pinjaman terbesar diberikan oleh Perum Pegadaian di wilayah Jawa. Sementara itu biaya operasional tercatat sebesar Rp 180. Berdasarkan besarnya pendapatan dan biaya operasional Perum pegadaian tersebut. Biaya dan Efisiensi Kemampuan Perum Pegadaian dalam meraih pendapatan menunjukkan kecenderungan semakin meningkat.1 miliar (58.6 miliar (4. terutama sebagai dampak meningkatnya beban bunga dan . pendapatan operasional BPR menunjukkan peningkatan dari Rp 543 miliar (1997) menjadi Rp 758 miliar (1998).3 miliar.3% dari total kredit). yaitu sebesar Rp 1.8%. Terlihat adanya kesamaan antara Perum Pegadaian dengan BPR.4%.7 miliar dan Rp 9.7% dibandingkan tahun 1997. Seperti juga Perum Pegadaian.3%.4% menurun dari pangsa tahun sebelumnya sebesar 79. • Sedangkan untuk BRI UDes. dan keuntungan barang sisa lelang) sampai dengan 30 September 1998 tercatat masing-masing sebesar Rp 209. Pendapatan. yaitu sebesar Rp 2. Penyumbang terbesar dari pendapatan usaha tersebut adalah pendapatan sewa modal (88. meningkat masing-masing sebesar 4. Biaya operasional BPR juga mengalami peningkatan dari Rp 519 miliar (1997) menjadi Rp 742 miliar (1998) dengan komponen terbesar adalah biaya bunga deposito berjangka sebesar 21. menurun dari tahun sebelumnya sebesar 31.2 triliun (74% dari total kredit BPR). dengan komponen terbesar berasal dari pendapatan bunga sebesar 44. yaitu sebesar Rp 441. sedangkan yang terkecil diberikan oleh Perum Pegadaian di wilayah Kalimantan sebesar Rp 36. kredit yang diberikan per 30 September 1998 terkonsentrasi di pulau Jawa.8 triliun (64% dari total kredit) dan yang paling sedikit di wilayah Bali (termasuk NTB dan NTT) sebesar Rp 293 miliar (6.8% total pinjaman).9%).4 miliar.0% dari total biaya operasional. • Kredit yang diberikan oleh BPR sebagian besar terkonsentrasi di wilayah Jawa. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pinjaman yang diberikan oleh ketiga lembaga formal tersebut selama ini terkonsentrasi di pulau Jawa. dimana pendapatan bunga dan biaya bunga merupakan komponen terbesar dari pendapatan dan biaya operasional.

sedangkan ROA BRI UDes sebesar 4.4 kali. Solvabilitas Kemampuan Perum Pegadaian untuk memenuhi semua kewajibannya berdasarkan rasio antara total hutang dengan total aktiva rata-rata tahun 1997 dan tahun 1998 adalah .8% dan 3. di sisi lain sumber dana bersubsidi yang diperoleh serta modal Perum Pegadaian cukup besar.6% dari target tahun 1998.3% (1998). Profitabilitas yang tinggi tersebut mampu diraih Perum Pegadaian karena besarnya sewa modal hampir sama dengan suku bunga perbankan. Dengan membandingkan besarnya rasio profitabilitas Perum Pegadaian dan BPR untuk masing-masing periode tersebut terlihat bahwa kemampuan Perum Pegadaian dalam meraih keuntungan relatif lebih baik jika dibandingkan dengan BPR dan BRI UDes (Lampiran 13).4%. sementara realisasi pendapatan sewa modal baru mencapai 82. Profitabilitas Dengan menggunakan indikator ROA dan ROE. Perum Pegadaian masih mencatat tingkat efisiensi yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan BPR (95. khususnya pada masa krisis ekonomi.7%) dan BRI UDes (84.4 kali. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pada tahun 1997 dan 1998 Perum Pegadaian mempunyai kemampuan untuk memenuhi kewajiban lancarnya sebesar 2.7% (1997) dan 9. Pencapaian rasio tersebut berarti telah sesuai dengan target yang ditetapkan. Disamping itu.2 kali menunjukkan bahwa Perum Pegadaian mempunyai kemampuan yang lebih baik dalam memenuhi kewajiban lancarnya (Lampiran 13). untuk periode 1997 dan 1998 diperoleh koefisien ROA sebesar 6. Koefisien tersebut menunjukkan bahwa pada tahun 1998 terjadi penurunan kemampuan Perum Pegadaian dalam meraih keuntungan. Perum Pegadaian memiliki struktur modal yang lebih kuat dan juga memperoleh pinjaman dengan suku bunga relatif murah. Likuiditas Rasio antara aktiva lancar dengan kewajiban lancar Perum Pegadaian rata-rata tahun 1997 sebesar 2.3% dan 1.84 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Jika dibandingkan dengan rasio BPR sebesar 1. dan koefisien ROE sebesar 10. Sementara ROA yang mampu diraih BPR sebesar 1. Cadangan tersebut tidak dihimpun oleh Perum Pegadaian karena nilai pinjaman yang diberikan sudah didiskonto dari nilai pasar/taksiran barang jaminan (Lampiran 13).5% (1997) dan 4. Meskipun demikian.7% dan 3.4% (1998). Salah satu aspek yang mendorong tingginya efisiensi yang mampu diraih Perum Pegadaian dibandingkan dengan BPR dan BRI UDes adalah karena Perum Pegadaian tidak memperhitungkan cadangan kredit macet dalam komponen biaya operasionalnya. Maret 1999 provisi yang sudah mencapai 112.4 kali dan untuk tahun 1998 tidak berubah yaitu sebesar 2.1% dengan ROE sebesar 4.1%).3%.3%.

bahwa Perum Pegadaian masih memiliki marjin yang positif untuk semua golongan selain A. Pada bagian pertama (Lampiran 15-A).61% dan golongan B.26%.2 miliar pada saat omzet nasabah golongan A sebesar 60 %. Perbandingan tersebut menunjukkan bahwa secara umum harga kredit di Perum Pegadaian lebih mahal dibandingkan perbankan. yang terlihat dari meningkatnya marjin tertimbang (weighted profit/loss) dari 7.d 1998 perbankan mencatat marjin negatif dengan kecenderungan semakin besar pada tahun 1998. . Sementara itu. dilakukan peningkatan porsi omzet pada nasabah golongan A secara bertahap sebesar 5 persen. Analisis sensitivitas dilakukan untuk melihat sejauh mana pengaruh penurunan marjin pada golongan B. Berdasarkan hasil simulasi terlihat bahwa setiap peningkatan porsi omzet terhadap nasabah golongan A sebesar 5% akan pada simulasi ke1 akan menurunkan keuntungan nominal + Rp 44 miliar. Pada periode 1996 s. Marjin yang diperoleh Perum Pegadaian tersebut lebih tinggi jika dibandingkan dengan perbankan (Lampiran 16). Turunnya marjin pada golongan A. Untuk golongan A terjadi peningkatan marjin negatif menjadi –7. Marjin yang diperoleh pada tahun 1997 untuk nasabah golongan A adalah –3. Biaya Aktiva Produktif dan Analisis Sensitivitas Marjin (selisih biaya dana yang ditanamkan dalam bentuk aktiva produktif dengan sewa modal pada masing-masing golongan nasabah) yang diperoleh pada masa sebelum dan sesudah krisis menunjukkan. sedangkan golongan D (rata-rata D dan D1) meningkat menjadi 13.76% (Lampiran 14). Untuk tujuan tersebut. B dan C tersebut ternyata tidak menyebabkan penurunan laba.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 85 sebesar 64. Dalam simulasi pertama ini. sisa omzet dibagi secara merata diantara golongan lainnya.1%.24%. lebih baik jika dibandingkan dengan BPR dan BRI UDes dengan rasio masingmasing sebesar sebesar 76.39%. dan D serta pengaruh peningkatan porsi omzet pada golongan A terhadap keuntungan yang mampu diraih Perum Pegadaian. Pegadaian baru akan merugi sebesar Rp 7. marjin keuntungan/kerugian untuk tiap golongan dianggap sama dengan kondisi pada tahun 1998. Kebijakan Perum Pegadaian untuk menaikkan sewa modal pada Juni dan Agustus 1998.26% (1998) (Lampiran 15-A). Defisit pada golongan A yang ditandai oleh marjin negatif. C. telah berdampak cukup berarti pada perubahan besarnya marjin. Rasio tersebut menunjukkan bahwa Perum Pegadaian mempunyai kemampuan lebih besar dalam memenuhi seluruh kewajibannya dibandingkan dengan BPR dan BRI UDes (Lampiran 13).8% dan 89%. Namun karena prosedurnya mudah. D sebesar 8. sementara untuk simulasi selanjutnya akan menurunkan keuntungan nominal sebesar +Rp 20 miliar. dilakukan simulasi yang terdiri dari dua bagian. C. sejalan dengan komitmen Perum Pegadaian untuk membantu nasabah mikro dengan menerapkan subsidi silang pada sewa modal. golongan B dan C turun menjadi 8. maka masyarakat masih tertarik untuk meminjam dari Perum Pegadaian.34% (1997) menjadi 10.

3 juta Rp 41. C = 1.September 1998 yaitu sebesar Rp 371. Produktivitas Omset Realisasi omset sampai dengan 30 September 1998 adalah sebesar Rp 2.C dan D) yang berlaku mulai tanggal 1 Maret 1999.318 miliar dengan jumlah pegawai sebanyak 6.74%.317. Sedangkan berdasarkan analisis untuk masing-masing wilayah kerja Perum Pegadaian menunjukkan bahwa pegadaian di wilayah Ujungpandang mempunyai produktivitas omset terbesar (Rp 682. dan D 15 . C dan D akan menurunkan keuntungan +Rp 22 miliar. Perum Pegadaian telah menetapkan keputusan (SK.9 1 5 Berdasarkan informasi. dilakukan penurunan marjin keuntungan pada nasabah golongan B. dan D secara bertahap sebesar 1%.243 Rp 468. atau rata-rata Rp 41. Pegadaian masih memiliki keuntungan Rp 17.3 juta. . C.925 M 6. No. Berdasarkan hasil simulasi terlihat bahwa setiap penurunan marjin keuntungan sebesar 1 % pada golongan B. Maret 1999 Pada bagian kedua (Lampiran 15-B). Produktivitas omset yang diukur dengan rasio antara realisasi omset dengan jumlah pegawai selama Januari . B = -1.9 M 6. Pada bagian ini. Produktivitas omset untuk tahun 1998 tersebut adalah sebagai berikut : Tabel 4. marjin untuk nasabah golongan A dibiarkan tetap dan distribusi omzet untuk tiap golongan nasabah sama dengan kondisi pada tahun 1998.2% dari target yang ditetapkan untuk tahun 1998.6 miliar pada saat marjin untuk tiap golongan nasabah sebagai berikut : A = -7. Berdasarkan kedua simulasi tersebut di atas.. Rasio yang dicapai pada tahun 1998 tersebut masih lebih besar dibandingkan tahun 1996 (Rp 311 juta) dan 1997 (Rp 340 juta).24%. C. 16/UT/II/1999) untuk menurunkan besarnya sewa modal (golongan B. dan D = 3.86 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.3 juta Berdasarkan realisasi tersebut terlihat bahwa produktivitas omset yang mampu dicapai Perum Pegadaian sampai dengan September 1998 sudah mencapai 79.243 Rp 371.3 juta per bulan.6 Target dan Realisasi Produktivitas Omset – Tahun 1998 Target Omset Jumlah Pegawai Rasio Rata-rata per bulan Rp 9.5 juta Rp 52 juta Realisasi Rp 2. Perum Pegadaian masih memiliki ruang untuk meningkatkan porsi pemberian kredit kepada nasabah golongan A dan menurunkan sewa modal pada golongan B.76%.74%.243 orang.

243 1. 480 orang (1997) dan 448 nasabah (1996) untuk satu orang pegawai. yang mengakibatkan BRI menghentikan pemberian kredit lebih lanjut ke Perum Pegadaian ..137 126 Rasio tersebut menunjukkan bahwa realisasi rasio jumlah nasabah dengan jumlah pegawai yang dicapai Perum Pegadaian sampai 30 September 1998 telah melampaui target yang ditetapkan.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 87 juta) baik sebelum maupun sesudah krisis ekonomi.6 orang). sedangkan yang terendah pada 1997 adalah Perum Pegadaian di wilayah Jawa.7 orang atau rata-rata setiap pegawai dapat melayani sebanyak 126 orang per bulan.8 orang) dan tahun 1997 (862.400.582 orang (1996) nasabah untuk satu orang pegawai.1 juta).1 juta 6.3 (1998). 4.7 Target dan Realisasi Rasio Nasabah dengan Jumlah Pegawai – Tahun 1998 Target Jumlah Nasabah Jumlah Pegawai Rasio Rata-rata per bulan 6.September 1998 sebesar 1.243 982 82 Realisasi 7. sementara target yang ditetapkan untuk tahun 1998 sebesar 982 orang atau sekitar 82 orang per bulan. Rasio antara jumlah nasabah dengan jumlah Pegawai tahun 1998 adalah sebagai berikut : Tabel 4. sedangkan produktivitas omset terendah terdapat di wilayah Sumatera (Rp 336.1 juta 6.1. Rasio tersebut meningkat jika dibandingkan dengan rasio tahun 1996 (907. Untuk masing-masing wilayah kerja.379 orang (1997).3 Masalah yang Dihadapi Perum Pegadaian Masalah Temporer Lonjakan nasabah yang sangat besar terutama sejak Juni 1998 telah menyebabkan Perum Pegadaian melakukan overdraft yang besar atas pinjaman rekening koran di BRI.133. 1. sedangkan produktivitas terendah adalah wilayah Sumatera dengan rasio sebesar 806. Rasio Nasabah dengan Jumlah Pegawai Rasio antara nasabah dengan jumlah pegawai selama Januari.9 (1998) dan 1. rasio nasabah dengan pegawai tertinggi baik sebelum maupun sesudah krisis ekonomi terdapat di wilayah Ujungpandang dengan rasio sebesar 1.

2%). Maret 1999 sejak pertengahan Agustus 1998. perbandingan tersebut relatif rendah dengan persentase secara nasional sebesar 73.5 juta) sebesar 81% dan D (diatas 2.1/1/117 tanggal 17 Juni 1998. Jika mengacu pada ketentuan yang menetapkan realisasi uang pinjaman untuk nasabah golongan A sebesar 90%. 37-OPP-1/1/23 tgl.7 miliar). 28/OPP.88 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.5%.9 73.5 juta) sebesar 81%. Tabel 4. Untuk mengatasi hal tersebut Perum Pegadaian telah memperoleh RDI Pemerintah sebesar Rp 100 miliar (4 September 1998) serta KLBI sebesar Rp 50 miliar pada bulan Desember 1998.4 73. C sebesar 73.3 miliar (plafond Rp 181. sementara penerbitan obligasi baru kurang laku. Dampak dari kesulitan likuiditas tersebut adalah semakin terbatasnya kemampuan Perum Pegadaian dalam memberikan kredit kepada masyarakat. sejak November 1998 setiap kantor daerah wajib melakukan setoran ke kantor pusat secara proporsional berdasarkan modal kerja yang dimanfaatkan. 30 Juli 1998 Kebijakan yang telah ditempuh agar tetap mampu melayani sebanyak mungkin nasabah dalam kondisi keterbatasan dana. D (dibawah 2. B dan C sebesar 85%. Sampai dengan 30 September 1998. Sebelumnya.9%. Nilai realisasi uang pinjaman dengan persentase tertinggi diberikan oleh Kantor Daerah Jember (81. Kesulitan likuiditas yang dialami Perum Pegadaian juga terlihat dari perbandingan antara realisasi pinjaman yang diterima nasabah dengan nilai taksiran yang ditetapkan.8). sedangkan yang terendah diberikan oleh Kantor Daerah Balikpapan (65. B sebesar 71.1 A B C D *) SE No.3 71.8%).1% masih lebih kecil dari ketentuan yang berlaku (Tabel 4. maka nilai rata-rata realisasi uang pinjaman terhadap nilai taksiran untuk golongan A sebesar 85. Kesulitan likuiditas tersebut semakin dalam karena Perum Pegadaian harus membayar pokok dan bunga obligasi yang jatuh tempo. Realisasi Pinjaman yang Diterima Nasabah Tahun 1998 Golongan Nasabah Ketentuan Realisasi Pinjaman (%)*) 90 85 85 81 Realisasi Pinjaman yang Diterima Nasabah (%) 85.4% dan D 73. Kondisi tersebut tentunya kurang menguntungkan bagi nasabah yang membutuhkan dana lebih besar karena pinjaman yang diterima jauh lebih kecil dari nilai taksiran maupun nilai pasar barang yang diagunkan.3%. Perum Pegadaian menurunkan plafon maksimum pinjaman yang . maka berdasarkan SE No. Saldo pinjaman rekening koran di BRI tersebut pada akhir September 1998 sebesar Rp 284.8.

Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat

89

dapat diperoleh nasabah dari Rp 20 juta (golongan D) menjadi maksimum Rp 5 juta per SBK. Beberapa kantor cabang yang diamati bahkan telah melakukan pembatasan plafon pinjaman maksimum untuk seorang nasabah rata-rata kurang dari Rp 5 juta. Kebijakan tersebut tetap dipertahankan sampai saat ini meskipun sudah ada tambahan dana RDI dan KLBI yang sebagian justru ditanamkan dalam bentuk deposito.16 Dampak kebijakan penurunan batas maksimum pinjaman tersebut adalah semakin sulitnya nasabah-nasabah potensial untuk bisa memperoleh pinjaman di atas Rp 5 juta dengan satu barang jaminan, kondisi tersebut berpotensi menyebabkan beralihnya nasabahnasabah potensial tersebut ke sumber pendanaan lainnya (seperti toko emas dan pegadaian gelap) yang masih bersedia memberikan pinjaman lebih dari Rp 5 juta. Kebijakan lain adalah dengan memberlakukan sistem antrian (waiting list) seperti yang diterapkan oleh beberapa kantor cabang, bahkan pada beberapa kantor cabang terpaksa melakukan penutupan kantor sebelum waktunya. Kenaikan suku bunga pasar juga menimbulkan permasalahan tersendiri bagi Perum Pegadaian karena biaya dana yang sebagian besar diperoleh dari kredit bank semakin besar. Untuk memperkecil dampak naiknya suku bunga pasar, maka Perum Pegadaian sejak 30 Juni 1998 menempuh kebijakan dengan menaikkan suku bunga pinjaman untuk golongan D dengan nilai pinjaman di atas Rp 500 ribu (Lampiran 5). Namun di sisi nasabah, kebijakan tersebut dianggap memberatkan bagi beberapa nasabah meskipun bagi nasabah lainnya tidak terlalu memperdulikan kenaikan suku bunga tersebut.

Permasalahan Struktural
Perum Pegadaian sebagai satu-satunya lembaga keuangan yang memberikan pinjaman dengan sistem gadai mempunyai jaringan kantor cabang yang sangat banyak dengan wilayah operasional yang sangat luas. Luasnya jaringan kerja tersebut di satu sisi sangat mendukung usaha Perum Pegadaian dalam membantu masyarakat, namun di sisi lain menimbulkan permasalahan tersendiri bagi Perum Pegadaian. Permasalahan yang timbul terutama adalah terlalu luasnya rentang kendali masing-masing kantor daerah terhadap kantor cabang-kantor cabang yang ada di wilayah koordinasinya. Dengan jumlah tenaga pemeriksa hanya 4 orang, setiap kantor daerah rata-rata membawahi lebih dari 50 Kanca dengan frekuensi pemeriksaan untuk masing-masing kantor cabang rata-rata 3 – 4 kali dalam satu tahun. Sementara itu, kanda di luar Jawa harus membawahi kanca yang secara geografis terlalu jauh. Luasnya rentang kendali tersebut belum diimbangi dengan

1 6 Menurut Perum Pegadaian, dana sebesar Rp 50 milyar yang disimpan dalam bentuk deposito (on call) dengan jangka waktu kurang dari 1 bulan dimaksudkan untuk cadangan pelunasan pinjaman BRI yang jatuh tempo.

90

Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan, Maret 1999

sarana komunikasi yang memadai sehingga belum dapat menunjang pemantauan kinerja kanca-kanca secara efektif. Sistem manajemen yang diterapkan oleh Perum Pegadaian saat ini cenderung menekankan pada besarnya peranan kantor pusat. Sistem manajemen sentralistik tersebut di satu sisi dapat menunjang sistem internal control yang handal, namun di sisi lain berpotensi menghambat kinerja Perum Pegadaian. Sistem manajemen tersebut dalam jangka panjang akan menimbulkan permasalahan tersendiri khususnya jika kebijakan pemberian otonomi yang lebih besar untuk masing-masing propinsi di Indonesia akan dilaksanakan oleh Pemerintah. Sistem manajemen yang sentralistik tersebut tercermin pada terpusatnya wewenang penetapan kebijakan-kebijakan yang berkaitan dengan operasional Perum Pegadaian, antara lain dalam : (i) Penetapan besarnya sewa modal. Kantor daerah dan kantor cabang tidak diperbolehkan untuk menetapkan besarnya tingkat sewa modal (suku bunga) meskipun terhadap nasabah-nasabah potensial.

(ii) Penetapan harga patokan emas. Harga patokan emas ditetapkan oleh kantor pusat dengan berdasarkan harga emas di Jakarta. Sistem ini berdampak pada lambatnya antisipasi kantor cabang dalam merespon perkembangan harga emas di daerah. (iii) Penghimpunan dana. Wewenang untuk menghimpun dana sepenuhnya berada di kantor pusat dimana baik kantor daerah maupun kantor cabang tidak diperbolehkan menghimpun dana sendiri. Dampak dari ketentuan ini adalah, masing-masing kantor daerah atau kantor cabang tidak mampu memanfaatkan potensi daerah sepenuhnya terutama dalam kondisi terbatasnya likuiditas seperti yang dialami dewasa ini. Permasalahan struktural lainnya terutama adalah masih terdapatnya beberapa kelemahan prosedur yang dapat mendorong terjadinya berbagai penyimpangan. Beberapa kelemahan prosedur yang dijumpai antara lain adalah kewenangan Kantor daerah yang seakan tanpa batas dalam memutuskan besarnya nilai pinjaman di atas plafon Rp 20 juta serta penyimpanan seluruh kunci duplikat pada satu orang (Kepala Kantor Cabang) 17 . Disamping kelemahan tersebut, dalam penelitian lapangan juga dijumpai beberapa kegiatan yang dapat dikategorikan sebagai penyimpangan. Penyimpangan tersebut antara lain adalah

1 7 Menurut Perum Pegadaian, dwilipat kunci disimpan oleh Kepala Cabang karena dalam setiap pemeriksan intern dwilipat kunci tersebut diperiksa sampai sejauh mana penyalahgunaan pemakaiannya, serta sewaktu-waktu dapat digunakan apabila pemegang kunci utama (pemegang gudang) berhalangan untuk masuk kerja.

Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat

91

praktek transfer dana antarcabang 18, pelanggaran kriteria barang jaminan yang dapat diterima Perum Pegadaian 19 , penyimpanan barang jaminan pada tempat yang tidak sesuai dengan prosedur, serta tidak dilaksanakannya prosedur internal control kluis dan gudang. Sementara itu, Perum Pegadaian juga akan terus menghadapi risiko fluktuasi harga barang jaminan akibat fluktuasi nilai tukar mengingat besarnya jumlah agunan di Perum Pegadaian berupa emas/perhiasan yang harganya mengikuti pergerakan harga pasar internasional. Nilai barang jaminan dalam bentuk emas/perhiasan pada tahun 1998 dan 1997 masing-masing sebesar 75% dari total pinjaman meningkat dibandingkan tahun 1996 (72%). Hal tersebut menunjukkan adanya peningkatan jumlah barang jaminan dalam bentuk emas/perhiasan semenjak terjadinya krisis ekonomi di Indonesia.

Persepsi Masyarakat
Berdasarkan hasil penelitian lapangan ke beberapa kantor cabang, ditemukan berbagai persepsi masyarakat terhadap Perum Pegadaian. Pada umumnya masyarakat, khususnya yang berpendapatan rendah, merasa sangat terbantu oleh Perum Pegadaian. Penggunaan dana oleh nasabah sangat beragam baik untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat produktif (misalnya untuk modal kerja dan bridging financing) sampai untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat konsumtif (misalnya untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari, biaya sekolah dan kebutuhan mendesak lainnya). Dari 90 nasabah yang dipilih secara acak dan berhasil diwawancarai, mayoritas berpenghasilan antara Rp 150 ribu s.d Rp 500 ribu per bulan. Sebagian besar nasabah tersebut tidak mempunyai akses ke perbankan atau tidak mau berhubungan dengan perbankan karena prosedur yang rumit. Berdasarkan penggunaannya, mayoritas nasabah (± 59%) mempergunakan pinjaman yang diperoleh dari Perum Pegadaian untuk tujuan produktif seperti modal kerja (56%) dan bridging financing (3%), sedangkan sisanya mempergunakan untuk tujuan konsumtif seperti biaya sekolah (17%), kebutuhan sehari-hari (16%), emergency (5%), dan lain-lain (3%). (Grafik 3).

1 8 Menurut Perum Pegadaian, praktek transfer antarcabang masih diijinkan sepanjang BRI yang terdapat di wilayah kantor cabang tersebut tidak menyediakan fasilitas rekening giro. Namun dalam prakteknya dijumpai beberapa kantor cabang yang berlokasi di wilayah kota besar masih melakukan praktek transfer antarcabang, meskipun di wilayah tersebut terdapat kantor BRI yang cukup besar. 1 9 Menurut Perum Pegadaian, barang jaminan yang tidak memenuhi ketentuan yang sudah ditetapkan masih bisa diterima asalkan secara ekonomis tidak menimbulkan kerugian bagi Perum Pegadaian.

Kurangnya sosialisasi/pemasaran produk Perum Pegadaian kepada masyarakat. menyebabkan pada beberapa wilayah masyarakat masih merasa malu untuk berhubungan . Dengan melihat keunggulan tersebut nasabah Perum Pegadaian pada umumnya tidak terlalu memperdulikan besarnya suku bunga meskipun saat ini relatif tinggi pada kondisi suku bunga pasar yang cenderung menurun.2%). sehingga nasabah khususnya nasabah besar mulai merasakan bahwa Perum Pegadaian tidak selalu dapat memberikan pinjaman sesuai permintaan mereka. Sehari-hari 16% Lain-lain 3% Biaya Sekolah 17% Modal Kerja 56% Sedangkan berdasarkan tingkat pendidikannya. khususnya faktor keamanan barang jaminan dan kewajaran nilai taksiran. berpenghasilan rendah dan mempergunakan dana yang diperoleh dari Perum Pegadaian untuk tujuan produktif. Komposisi Penggunaan Dana oleh Nasabah Em ergency 5% Brid.3%) terbanyak kedua adalah nasabah berpendidikan SLTP (20%) dan yang paling sedikit adalah nasabah dengan pendidikan tidak tamat SD (2. Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas nasabah mempunyai pendidikan yang cukup.92 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Kondisi tersebut mendorong beberapa nasabah besar untuk beralih ke pemberi pinjaman lainnya seperti pelepas uang. Menurut persepsi nasabah. dari penelitian lapangan juga ditemukan bahwa beberapa nasabah merasakan tingginya suku bunga Perum Pegadaian saat ini serta sistem penghitungan bunga dengan acuan minimal 15 hari dirasakan cenderung merugikan nasabah. Maret 1999 Grafik 3. Disamping persepsi positif nasabah tersebut. keunggulan Perum Pegadaian dibandingkan lembaga pemberi pinjaman lainnya terutama adalah dari segi pelayanan kepada nasabah. Financing 3% Keb. pegadaian gelap atau toko emas. mayoritas responden yang banyak berhubungan dengan Perum Pegadaian berpendidikan SLTA (43. Kesulitan likuiditas yang dialami sejak Agustus 1998 berdampak pada berkurangnya kemampuan Perum Pegadaian dalam melayani nasabah.

Program Jaring Pengaman Sosial (JPS) Program JPS ditujukan untuk menciptakan kesempatan kerja produktif bagi penganggur. memberi bantuan teknis yang diarahkan kepada kemitraan dan pendekatan kelompok melalui PPUK. PHBK dan PKM serta mengembangkan kelembagaan keuangan sesuai kebutuhan usaha kecil menengah dan koperasi. Maluku. KUT. terlihat pada beberapa wilayah seperti Ujung Pandang (mencakup Sulawesi. meningkatkan kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat terutama yang terkena dampak krisis serta mengkoordinasikan berbagai program penanggulangan dampak krisis dan berbagai program penanggulangan kemiskinan. Realisasi JPS ditempuh dalam empat program.2 Program Pemberdayaan Ekonomi Rakyat Perhatian terhadap ekonomi kerakyatan semakin meningkat seiring dengan meluasnya ketimpangan ekonomi dan kesenjangan sosial. 2. dan (iv) program pemberdayaan ekonomi rakyat. sedangkan pada beberapa wilayah kantor Perum Pegadaian lainnya yang diamati sebagian nasabah masih merasa malu untuk berhubungan langsung dengan pegadaian dan lebih suka menggunakan jasa perantara (calo). pemerintah telah menempuh berbagai upaya yang antara lain meliputi : 1. dll). investasi. Semakin berkurangnya kemampuan perbankan dalam memberikan pinjaman kepada masyarakat dewasa ini semakin membuka peluang bagi Perum Pegadaian untuk berperan lebih besar dalam program pemberdayaan ekonomi rakyat.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 93 dengan Perum Pegadaian. 4. Berkaitan dengan pemberdayaan ekonomi rakyat tersebut. dan Irian Jaya) serta Kodya Yogyakarta. merealisasikan berbagai skim kredit program yang dananya berasal dari KLBI (seperti KKPA. Kredit Program Dalam rangka mendorong berputarnya roda perekonomian di lapisan bawah yang saat ini menghadapi kesulitan sumber-sumber pembiayaan/pendanaan di lembaga formal (bank). 3. Reformasi Struktural Sektor Riil Program ini dijalankan melalui reformasi di bidang perdagangan. Salah satu faktor dalam pemberdayaan ekonomi rakyat adalah pemberian prioritas dan bantuan dalam pengembangan usaha kepada ekonomi lemah. . (ii) program padat karya dan penciptaan lapangan kerja produktif’ (iii) program perlindungan sosial. deregulasi dan privatisasi. yang diwujudkan dengan berbagai kebijakan untuk menghapuskan berbagai aspek yang menyebabkan inefisiensi dalam perekonomian. meningkatkan pendapatan dan daya beli masyarakat. Namun tidak semua masyarakat merasa malu berhubungan dengan Perum Pegadaian. (i) program ketahanan pangan. maka Bank Indonesia mendorong komitmen perbankan dalam melayani usaha kecil (KUK). KKop.

likuiditas maupun solvabilitas Perum Pegadaian pada umumnya juga relatif lebih baik jika dibandingkan dengan lembaga lain khususnya BPR dan BRI UDes. Disamping itu. profitabilitas. dengan plafon terendah Rp 5. b. Perum Pegadaian juga didukung oleh jumlah dan kualitas pegawai yang cukup memadai. Keunggulan Perum Pegadaian Keunggulan utama Perum Pegadaian dibandingkan lembaga lain adalah prosedur yang mudah. c. karena dengan sistem gadai nasabah dididik untuk berupaya mengembalikan pinjaman yang diterima.000 dan tertinggi Rp 20 juta. Kinerja yang semakin meningkat Perum Pegadaian merupakan salah satu usaha di sektor keuangan yang masih dapat bertahan di masa krisis ekonomi dewasa ini bahkan menunjukkan kinerja yang semakin meningkat. Prosedur pengajuan dan pelunasan pinjaman relatif mudah dan cepat. Kesiapan jaringan kerja dan sumber daya manusia Perum Pegadaian mempunyai jaringan kerja yang sangat luas (633 kantor cabang) yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. yaitu : a. khususnya jika dibandingkan dengan BPR. Potensi Perum Pegadaian untuk berperan dalam pemberdayaan ekonomi rakyat terlihat jelas terutama pada aspek keberpihakan pada masyarakat kecil. Keberpihakan tersebut juga tercermin dalam misi yang ditetapkan dalam periode RJP II untuk ikut meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat golongan menengah ke bawah melalui penyediaan dana berdasarkan hukum gadai secara inovatif dan melakukan usaha lain yang menunjang. Perum Pegadaian juga masih memberikan peluang bagi permintaan pinjaman dalam skala yang lebih besar (diatas Rp 20 juta).94 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Nasabah pegadaian sebagian besar merupakan nasabah mikro dan mayoritas berprofesi sebagai petani. Maret 1999 Potensi Perum Pegadaian tersebut dapat dilihat dari beberapa aspek. Selain jaringan kerja yang sangat luas. Lonjakan tersebut merupakan dampak semakin sulitnya akses masyarakat ke perbankan. Pelaksanaan peran tersebut selama ini dilakukan oleh Perum Pegadaian dengan memberikan pinjaman kepada masyarakat (khususnya masyarakat berpendapatan rendah) dalam skala kecil dengan . Pinjaman yang diberikan pegadaian kepada masyarakat semakin meningkat seiring dengan lonjakan permintaan khususnya sejak krisis ekonomi. Keberpihakan pada masyarakat khususnya golongan ekonomi lemah Keberpihakan Perum Pegadaian kepada masyarakat khususnya golongan ekonomi lemah terlihat dari relatif kecilnya skala kredit yang diberikan dibandingkan dengan lembaga formal lainnya. d. e. murah dan cepat. Kinerja efisiensi. Suku bunga pinjaman yang dikenakan Perum Pegadaian pada umumnya juga relatif rendah. Disamping itu pemberian pinjaman dengan sistem gadai dapat memperkecil moral hazard khususnya dalam penyaluran kredit-kredit bersubsidi. Meningkatnya jumlah pinjaman yang diberikan.

PENUTUP 5. dll). Perkembangan Perum Pegadaian dalam tiga tahun terakhir cukup pesat.4% total nasabah. Nasabah mikro pada Perum pegadaian tersebut terutama adalah golongan A (dengan nilai pinjaman antara Rp 5.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 95 prosedur dan persyaratan yang mudah dan murah. dengan tetap berpihak pada masyarakat berpendapatan rendah. Sejalan dengan perkembangan usaha Perum Pegadaian. sendok. serta kredit dengan sistem pinjam pakai sebenarnya sudah tidak sesuai dengan prinsip dari hukum gadai yang mewajibkan barang jaminan berbentuk barang bergerak dan dititipkan (tidak boleh dipakai oleh pemiliknya). khususnya tahun 1998 (setahun terakhir) terjadi pelonjakan kinerja terutama karena beralihnya sebagian nasabah perbankan ke Perum Pegadaian. sepeda dan lain-lain. pengembangan produk-produk baru diusahakan tetap dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat kecil apabila tetap mengacu pada prinsip-prinsip hukum gadai dan misi perusahaan. Fenomena tersebut nampak jelas di kantor-kantor Perum Pegadaian di wilayah Jawa.000) dibandingkan golongan B. V. alat rumah tangga (misal : kuali/ panci. khususnya di wilayah pantai utara.C dan D. terlihat kebijakan Perum Pegadaian untuk mengembangkan produk-produk baru yang di luar lingkup usaha pegadaian. Begitu pula dengan adanya rencana untuk mengembangkan produk-produk pembiayaan lainnya merupakan suatu upaya yang kurang sesuai dengan misi dari Perum Pegadaian yang ingin melayani kebutuhan masyarakat golongan menengah ke bawah.000) pada tahun 1998 mencapai 41.1 Kesimpulan 1. Oleh karena itu. Kecilnya skala pinjaman golongan A tersebut juga terlihat dari jenisjenis barang yang banyak dijadikan agunan seperti : kain.000 – Rp 40. 10 tahun 1990. . Total nilai pinjaman untuk golongan A pada tahun 1998 sebesar Rp 115.4 miliar atau hanya sebesar 5% dari total omset Perum Pegadaian. Namun perkembangan terakhir menunjukkan kecenderungan pergeseran orientasi pemberian pinjaman ke nasabah besar (golongan D) meskipun Perum Pegadaian masih mempunyai peluang untuk meningkatkan porsi pinjaman untuk nasabah mikro (golongan A). lampu tekan. Namun porsi dan nilai pinjaman yang diperoleh golongan ini relatif sangat kecil (rata-rata sebesar Rp 18. piring. Apalagi pada beberapa tahun terakhir terdapat kecenderungan di dalam kelompok-kelompok usaha untuk kembali ke core business masing-masing untuk meningkatkan kinerja usahanya. Namun rencana tersebut justru menimbulkan kekhawatiran akan terjadi pergeseran dari core business Perum Pegadaian dan orientasi nasabah yang dilayani seperti yang ditetapkan dalam PP No. Salah satu produk yang akan dikembangkan yaitu memberikan kredit dengan jaminan surat berharga dan sertifikat tanah.

Hal ini terutama disebabkan oleh perubahan orientasi kebijakan Perum Pegadaian untuk meningkatkan laba serta kenaikan golongan pinjaman karena adanya kenaikan harga barang jaminan. Peran Perum Pegadaian dalam mendukung pemberdayaan ekonomi rakyat cukup besar terlihat dari jumlah nasabah mencapai 6. Dalam tiga tahun terakhir telah terjadi pergeseran pemberian kredit dari nasabah kecil ke nasabah besar. 4. 5. Maret 1999 2. sumbangan Perum Pegadaian dalam pemberian kredit masih lebih rendah.96 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Perum Pegadaian mempunyai beberapa kelemahan struktural yang dapat menghambat peningkatan kinerja dan merupakan potensi timbulnya berbagai penyimpangan yaitu : terlalu luasnya rentang kendali manajemen yang tidak didukung dengan sistem dan sarana pengawasan/pelaporan yang memadai. sementara dana yang diperoleh sebagian besar bersuku bunga rendah. serta meningkatkan porsi pemberian kredit bagi golongan A tanpa menimbulkan kerugian bagi Perum Pegadaian. Perum Pegadaian melakukan penarikan overdraft sangat besar sehingga mengakibatkan penghentian pemberian fasilitas overdraft BRI. Jaringan Perum pegadaian yang didukung oleh 633 kantor menjangkau seluruh wilayah Indonesia sampai ke pedesaan. sementara dana pelunasan obligasi yang dihimpun (sinking fund) kurang memadai. Meskipun demikian. 3. 7. 6. Perum Pegadaian telah memperoleh fasilitas RDI dari Pemerintah dan KLBI. C dan D dengan tetap memberikan subsidi bagi golongan A.5%). Untuk memenuhi lonjakan tersebut. Perum Pegadaian mengalami kesulitan likuiditas akibat lonjakan permintaan nasabah dan kurangnya peminat obligasi yang diterbitkan. Suku bunga (sewa modal) yang dikenakan Perum Pegadaian kepada nasabah saat ini relatif tinggi. Secara makro dan jika dibandingkan dengan BPR dan BRI UDes yang memiliki pasar yang hampir sama. Perum Pegadaian memiliki keunggulan dalam kualitas pinjaman yang diberikan.d September 1998. Pada periode Agustus s. serta sistem manajemen yang sangat sentralistik. Namun masih terdapat peluang (room) bagi Perum Pegadaian untuk menurunkan sewa modal khususnya untuk golongan B. .6 juta (September 1998) dengan mayoritas merupakan nasabah mikro (40. Perum Pegadaian telah ikut berperan dalam kegiatan pembiayaan usaha kecil. Keunggulan dalam profitabilitas dan efisiensi tersebut terutama disebabkan oleh tingginya sewa modal yang dikenakan (hampir sama dengan suku bunga perbankan). Untuk menutupi kekurangan dana tersebut (khususnya modal kerja). profitabilitas dan efisiensi. Kredit yang diberikan terutama kepada nasabah menengah ke bawah yang pada umumnya bergerak di sektor informal dan tidak memiliki akses ke perbankan.

misalnya sebesar 30% . 7. Mengingat masih besarnya potensi pasar yang dapat dimanfaatkan oleh lembaga keuangan yang memberikan pinjaman berdasarkan sistem gadai. Perum Pegadaian perlu melakukan evaluasi secara lebih intens terhadap kantor-kantor cabang yang merugikan. tersedianya room yang cukup luas. pemerintah hendaknya menetapkan ketentuan yang mengatur batas minimum porsi kredit untuk nasabah kecil (golongan A dan B). 5.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 97 8. Di samping itu. untuk menjaga konsistensi pelaksanaan misi Perum Pegadaian. 2. Sesuai dengan misi Perum Pegadaian yang didukung oleh sumber dana yang mayoritas bersubsidi. Namun untuk mewujudkan potensi tersebut Perum Pegadaian harus terlebih dahulu membenahi kelemahan-kelemahan struktural yang ada. maka Pemerintah perlu mengkaji kemungkinan pemberian izin bagi perusahaan lain untuk bergerak dalam usaha pegadaian. rentabilitas yang lebih baik dibandingkan lembaga formal lainnya. Sistem manajemen pendanaan secara sentralistik yang diterapkan Perum Pegadaian sampai saat ini nampaknya sangat sejalan dengan teori FF. Perum Pegadaian perlu lebih intensif dalam memonitor nasabah. Dengan mempertimbangkan potensi dan rencana jangka panjang. 3. 5. nampaknya Perum Pegadaian perlu lebih menekankan pada pemberian kredit daripada melakukan usahausaha lain di luar core usaha Perum Pegadaian. . khususnya bagi Kanca defisit yang sudah lama didirikan dengan tetap mempertimbangkan pelaksanaan misi sosial yang diemban.40%. 6. Hal ini sekaligus dapat mendorong kompetisi untuk meningkatkan efisiensi. maka sudah saatnya besarnya sewa modal diturunkan.1 Saran 1. sehingga Kanda berpotensi untuk mencari dana pinjaman sendiri. Masalah kesulitan likuiditas dapat diminimalkan apabila sampai batas tertentu kantor daerah diberi kewenangan untuk mencari dana sendiri dengan memanfaatkan potensi daerah setempat (sesuai dengan teori RFM). Berdasarkan kinerjanya Perum Pegadaian memiliki potensi untuk berperan dalam channeling pemberdayaan ekonomi rakyat. serta kecenderungan penurunan suku bunga pasar. namun dari penelitian diperoleh temuan bahwa daerah juga mempunyai potensi pendanaan (sesuai dengan teori RFM). 4. untuk mengkaji apakah akan melakukan pemindahan kantorkantor cabang tersebut ke lokasi yang lebih strategis atau melakukan penutupan. Untuk mengetahui efektivitas penggunaan kredit dalam rangka pemberdayaan ekonomi rakyat.

Penerbit BPFE Yogyakarta. Direktorat Keuangan. Penerbit Erlangga Jakarta. Company Profile Perum Pegadaian ___________________. ___________________. Uraian Tugas dan Kegiatan : Direktorat Operasi dan Pengembangan.98 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Fumio (1986). Rural Financial Markets : Two School of Thoughts. Harvard University. Surat-Surat Keputusan Direksi Perum Pegadaian. Untuk menghindarkan terjadinya distorsi suku bunga pasar. ___________________. J. PERUM PEGADAIAN (1997). maka Perum Pegadaian perlu memperhitungkan biaya dana untuk masing-masing Kanca. Pedoman Pemeriksaan Satuan Pengawasan Intern Perum Pegadaian. Marguerite S (1992). Harvard Institute for International Development. maka kebijakan pemberian bantuan likuiditas dengan subsidi bunga kepada lembaga pembiayaan yang berorientasi pada masyarakat menengah ke bawah hendaknya hanya dilakukan dalam jangka pendek atau dalam bentuk sekuritisasi. ___________________ (1997). Development Discussion Paper No. Pedoman Operasional Kantor Cabang. Tim Analisis Jabatan Perum Pegadaian (1990). 434. Weston. Rural Financial Intermediation : Lessons From Indonesia Part One The Bank Rakyat Indonesia : Rural Banking. Fred dan Brigham. Untuk memperoleh penilaian efisiensi yang lebih riil. dalam Farm Finance and Agricultural Development. DAFTAR PUSTAKA Egaitsu. Tokyo : Asian Productivity Organization. Eugene F (1981). Laporan-Laporan Keuangan Robinson. Husnan. Prospektus Obligasi V Perum Pegadaian Tahun 1998. Laporan-Laporan Operasional Bulanan dan Tahunan ___________________. 1970-91. ___________________. Maret 1999 8. dan Direktorat Umum. 9. Suad (1985). . Manajemen Keuangan Edisi ke-7 Jilid I (Terjemahan dari Managerial Finance 7th edition). Manajemen Keuangan : Teori dan Penerapan (Keputusan Jangka Pendek) Jilid 2.

pengevaluasian pelaksanaan anggaran. penyelenggaraanpembukuan dan penyajian laporan keuangan perusahaan serta pengembangan sistem informasi keuangan sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam rangka pengendalian keuangan perusahaan. bertugas untuk mengkoordinasikan dan melaksanakan penelitian dan pengembangan jenis. prosedur dan wilayah operasi serta bentuk usaha lain berdasarkan peraturan yang berlaku dalam rangka meningkatkan kinerja perusahaan. gaji. bertugas untuk mengkoordinasikan pengelolaan kas. Subdit Akuntansi (AK). bertugas untuk membina penyaluran kredit gadai. kepangkatan. kepustakaan dan pengelolaan produk hukum serta pemberian pertimbangan hukum sesuai dengan peraturan yang berlaku dalam rangka menunjang kelancaran pelaksanaan tugas pimpinan perusahaan. kesejahteraan serta pengembangan manajemen 2. bertugas untuk mengkoordinasikan penyusunan rencana anggaran. pemindahan. jasa dan mengembangkan kegiatan pemasaran serta mengkoordinasikan pengolahan dan dan penyajian statistik perusahaan sesuai dengan ketentuan yang berlaku sebagai bahan pertimbangan pimpinan dalam rangka meningkatkan pendapatan perusahaan.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 99 LAMPIRAN Lampiran 1 Tugas masing-masing Kepala Sub Direktorat 1. Subdit Operasi dan Pengembangan (OPP). sistem. . Subdit Perbendaharaan (PB). urusan kehumasan. pengadaan dan penyelenggaraan pengangkatan. verifikasi. perpajakan. kebutuhan modal kerja dan pengalokasian modal kerja serta investasi lainnya sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam rangka menjamin kontinuitas keuangan perusahaan. bertugas untuk mengkoordinasikan penyusunan formal. promosi. Subdit Anggaran dan Permodalan (AP) . Subdit Kepegawaian (KP). surat berharga. bertugas untuk mengkoordinasikan dan mengedalikan penyelenggaraan kesekretariatan pimpinan. 5. Subdit Kesekretariatan Perusahaan (SP). 6. Subdit Penelitian dan Pengembangan Operasi (LB). 4. pemensiunan. pemberhentian. pengalokasian dana. 3. bank. bertugas untuk mengkoordinasikan evaluasi. 7. perjalanan dinas dan tunjangan serta pelaksanaan penagihan piutang perusahaan sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam rangka menunjang kelancaran pelaksanaan tugas.

11. 10. bertugas mengkoordinasikan perencanaan pengembangan program penyelenggaraan dan evaluasi pelaksanaan pendidikan dan pelatihan serta penyusunan laporannya sesuai dengan ketentuan yang berlaku agar penyelenggaraan diklat berjalan lancar dan terpadu. bertugas mengkoordinasikan penyelenggaraan pengelolaan database dan jaringan serta pengembangan dan pengimplementasian sistem dalam menunjang kegiatan operasional perusahaan. pengadaan denah. izin mendirikan bangunan dan penghapusan serta penyelenggaraan tata usaha pembangunan atau perbaikan bangunan prasarana dan rumah jabatan sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam rangka penyediaan sarana kerja yang memadai untuk menunjang kelancaran pelaksanaan tugas. urusan rumah tangga dan perlengkapan kantor agar pelaksanaan tugas berjalan lancar dan terpadu. . bertugas untuk mengkordinasikan pengurusan ketatausahaan. Subdit Tata Usaha dan Rumah Tangga (TURT).100 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. pemilikan hak atas tanah. bertugas untuk mengkoordinasikan pembuatan disain bangunan pemrosesan pelaksanaan pembangunan atau perbaikan. 9. Subdit Bangunan (BG). 8. Kepala Pusat Pengembangan Teknologi Informasi (Kapus TI). Kepala Balai Diklat (Kabal Diklat). pengurusan persewaan bangunan. Maret 1999 perusahaan berdasarkan peraturan yang berlaku dalam rangka pembinaan kepegawaian dan peningkatan kesejahteraan pegawai.

171 811 591 31 4.817 1995 4 34 742 4. III.974 .893 829 377 2. 1998 4 45 794 3. IV.118 803 655 35 4.349 1996 4 34 780 4.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 101 Lampiran 2 Jumlah Cabang yang Dibawahi oleh Setiap Kanda KANDA JUMLAH CABANG JUMLAH ANAK CABANG 7 3 11 2 6 2 0 0 2 0 0 10 9 6 58 TOTAL I.129 954 437 2. XII.442 814 511 25 5. XI. IX. VIII.303 897 468 14 5. X. Pandang Semarang Yogyakarta Surakarta Surabaya Malang Jember Denpasar Balikpapan Kupang 35 36 44 49 49 45 56 53 50 51 37 31 22 17 575 42 39 55 51 55 47 56 53 52 51 37 41 31 23 633 JUMLAH Lampiran 3 Komposisi Pegawai Tetap Perum Pegadaian Jenjang Karir Manajemen Puncak Manajemen Menengah Manajemen Pelaksana Staf Administrasi Tingkat Pendidikan SD SLTP SLTA D3 S1 S2 TOTAL 982 465 2.050 Okt. VI. XIII. V.183 885 404 2. VII. Medan Padang Jakarta Bandung U.365 1997 4 45 794 4. II. XIV.

500 5.000 2.320 1.000 2.751 70. 756.000 -1. BNI Dana Berbunga .176 50 70 876 2. Bahana Dana Selaras . Semen Gresik .768 1.000 2.351 50 70 1.000 500 -2.102 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.Saham PT.BRI .000 3. Diberikan Deposito . Cadangan penurunan nilai surat berharga Penyertaan (Dalam bentuk 500 lembar saham PT. Maret 1999 Lampiran 4 Penanaman Dana Perum Pegadaian Jenis Penanaman 1997 Per-31 Des 526.150 Pinjaman yg.243 10.BEII Surat Berharga .Saham PT.000 7.500 2.500 5.150 (Juta rupiah) 1998 Per-30 Sep. Dua Satu Tiga Puluh) Sumber : Perum Pegadaian .Saham PT. Semen Gresik (Sertifikat Bukti Right) .Saham PT.500 65.Saham PT. BIG Palapa .Saham PT. Danareksa Fund MGT.000 2.Saham PT. Danareksa Seruni .

5%XUP.500. DG selain mobil u/ UP > Rp 1. G=Gudang.25% 2.000-1. minimum Rp 8. 3.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 103 Lampiran 5 Tabel Sewa Modal dan Biaya PA masing-masing Golongan Gol Uang Pinjaman Sewa Modal Per 15 Hari Per Tahun A B C D D 5. minimum Rp 10.5%XUP.25% 2. Perum Pegadaian mengacu kepada harga pasar. Dalam hal ini Perum Pegadaian membuat tiga kriteria harga pasar yaitu harga pasar pusat (HPP). M=Mobil.25% 2.5 juta ditetapkan 0. 2.000 >2.000 ke atas) Lampiran 6 Jenis-jenis Harga Pasar Untuk menentukan nilai barang jaminan yang akan digadaikan oleh masyarakat.00% Maksimum Jangka Waktu Kredit 120 120 120 120 120 hari hari hari hari hari Keterangan : K=Kantong.000 40.50% 2.50% 1.500-150.000-500. HPS adalah harga pasar barang-barang gudang yang didasarkan pada harga pasar barang baru (toko) di daerah setempat.000 1.5%XUP.000 (pembulatan Rp 1.25% 2. minimum Rp 25.50% 3.000-5.000 ke atas) • Biaya PA dengan jaminan Mobil ditetapkan 0.000 510.000 (pembulatan Rp 1. Harga Pasar Setempat. UP=Uang Pinjaman • Biaya PA gol. Harga Pasar Daerah HPD adalah harga pasar yang ditentukan oleh Kanda dengan memperhatikan toleransi maksimum 4% di atas HPP dan 2% di bawah HPP. 1. yang direvisi minimum tiga .000-40.000.000 (pembulatan Rp 500 ke atas) • Biaya PA gol.25% 2. Harga Pasar Pusat HPP adalah harga pasar emas/perak/permata yang ditetapkan oleh Kanpus sebagai patokan umum baik bagi Kanda maupun Kanca berdasarkan perkembangan harga pasaran umum dengan memperhitungkan kecenderungan perkembangan harga di masa mendatang.5 juta ditetapkan 0. harga pasar daerah (HPD) dan harga pasar setempat (HPS).500. DK u/ UP > Rp 1.000 151.50% 2.

Buku Ikhtisar Kredit dan Pelunasan bulan kredit yang bersangkutan dikredit sebesar uang pinjaman BSL. sedangkan cabang kelas I dan II minimal satu kali sebulan oleh Kacab. Pemeriksaan ini dilakukan setelah penghitungan barang jaminan selesai dilaksanakan. yaitu dengan mencocokkan jumlah barang yang ada di gudang dengan saldo menurut buku gudang. Buku Gudang dikreditkan sejumlah BSL. Maret 1999 bulan sekali. Karena BSL diakui dan dicatat sebagai mutasi aset. maka adanya BSL pada setiap lelang tidak perlu dicatat pada Berita Acara Lelang (BAL). Buku Uang Kelebihan eks BSL. Penghitungan barang jaminan ini dilakukan minimal sepuluh kali dalam satu bulan.104 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Kemudian berdasarkan RBSL tersebut dibukukan pada : a. Buku Kas didebet sebagai pelunasan dan dikredit pembelian BSL. Meskipun demikian dalam jangka waktu 2 bulan tiap-tiap rubrik/golongan/ribuan harus sudah pernah dihitung sebanyak dua kali. d. yaitu dengan melakukan pemeriksaan secara langsung ke dalam gudang tentang kebersihan. . Dengan demikian BAL hanya berisi data barang jaminan yang laku dilelang saja. Menghitung barang jaminan. 2. kerapihan dan keamanan gudang berserta isinya. dan minimal 60% dari tiap rubrik/golongan/ribuan telah dihitung untuk ketiga kalinya.Golongan B dan C = 85% . kemudian ditentukan besarnya persentase uang pinjaman terhadap taksiran menurut masing-masing golongan yaitu : . Pemeriksaan isi barang jaminan. f. Meronda gudang. 4. Lampiran 8 Administrasi dan Pembukuan Barang Sisa Lelang (BSL) 1. e. Barang jaminan yang sudah ditetapkan sebagai BSL pada buku Redister Barang Sisa Lelang (RBSL).Golongan D > Rp 5 juta = 84% Lampiran 7 Kegiatan pemeriksaan barang jaminan di gudang 1. Buku Kredit yang bersangkutan pada nomor yang menjadi BSL sebagai penghapusan b. 3. Laporan Bulanan Operasionalatas penambahan BSL. 2. c.Golongan D s/d Rp 5 juta = 85% . Pemeriksaan buku gudang yang dilakukan setiap hari. yaitu dengan mencocokkan fisik barang jaminan dengan keterangan pada SBK dwilipatnya (lembar II/kopinya).Golongan A = 90% . Berdasarkan harga-harga pasar di atas. Kegiatan ini dilakukan minimal 3 kali sebulan untuk cabang kelas III.

75 miliar (suku bunga 36 %) yang secara langsung dapat ditarik oleh cabang-cabang Perum Pegadaian melalui kantor-kantor cabang BRI setempat yang telah ditentukan. Pengiriman BSL ini dibukukan sebagai Rekening Antar Kantor (RAK). Di samping itu.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 105 Lampiran 9 1.7% Penjualan BSL jangka waktu lebih dari 30 (tiga puluh hari s/d 60 (enam puluh hari) dijual sebesar Harga Pembelian x 105%. Sebelumnya. Perum Pegadaian diberikan fasilitas kredit oleh BRI sebesar Rp 181. Penyelesaian Barang Sisa Lelang (BSL) Dijual di bawah tangan Pedoman harga penjualan BSL ditetapkan sebagai berikut : a) BSL Perhiasan Emas Penjualan BSL jangka waktu kurang dari 30 (tiga puluh) hari. Kacab dapat mengusulkan penurunan harga jual kepada Kakanda. BSL yang diminta oleh Hakim/Jaksa/Polisi harus diselesaikan menurut peraturan yang berlaku. permintaan terhadap jasa Pegadaian meningkat pesat sehingga masing-masing cabang Pegadaian melakukan penarikan dana dari BRI dalam jumlah cukup besar. Kesulitan likuiditas yang dialami Perum Pegadaian antara lain akibat dihentikannya fasilitas kredit dari BRI. Hal ini menyebabkan kredit yang ditarik secara keseluruhan melebihi plafon yang ditentukan ( overdraft) sehingga BRI menghentikan fasilitas tersebut pada bulan Agustus 1998. dijual sebesar Harga Pembelian x 109. Dimutasikan Antarcabang BSL emas atau non-emas sebelum diusulkan penurunan harga jualnya dapat juga diupayakan penjualannya di kantor cabang yang berada di daerah lain yang diyakini dapat terjual lebih cepat. Sebelum mendapat keputusan penurunan harga jual dari Kakanda. Pedoman penurunan harga jual secara bertahap sesuai kebijakan Kakanda. Sejak terjadinya krisis ekonomi. Selisih lebih atau kurang atas penjualan ini dibukukan sebagai laba/rugi perusahaan. tidak diijinkan untuk menjualnya. mutasi aktiva dan harus mendapat izin dari Kakanda dan penjualannya di tempat yang baru harus memperhitungkan biaya pengirimannya. Beban suku bunga pendanaan yang tinggi menyebabkan Perum Pegadaian menaikkan sewa modalnya seperti terlihat dalam tabel di atas. atau kebijakan lain dari Kakanda atas usul penurunan harga jual yang telah diajukan sebelumnya. Kelebihan kredit yang ditarik tersebut dikenakan suku bunga pasar sebesar 71% per tahun. makin sedikitnya sumber pendanaan yang ada menyebabkan Perum Pegadaian mengurangi batas nilai kredit maksimum. b) BSL Non-Emas Diusahakan BSL harus sudah terjual dalam jangka waktu 30 (tiga puluh hari) namun demikian apabila dalam jangka waktu tersebut belum laku terjual. · · 2 .

106 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Maret 1999 .

Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 107 .

108 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Maret 1999 .

Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 109 .

110 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Maret 1999 .

Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 111 .

Maret 1999 .112 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.

Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 113 .

Maret 1999 .114 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.

Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Rakyat 115 .

Maret 1999 .116 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.

Tulisan ini bertujuan untuk memberikan gambaran awal tentang kegiatan money laundering. senjata gelap. terorganisasi rapi dan profesional. Urusan Devisa. Bank Indonesia .Kajian Awal Tentang Money Laundering serta Implikasinya dalam Pasar Keuangan Internasional 117 KAJIAN AWAL TENTANG MONEY LAUNDERING SERTA IMPLIKASINYA DALAM PASAR KEUANGAN INTERNASIONAL Hariyadi Ramelan. serta implikasi yang timbul sehubungan dengan peranan bank sebagai lembaga intermediasi. Kecenderungan tersebut ternyata juga memberikan kesempatan bagi para pelaku money laundering untuk turut memanfaatkan kecanggihan jaringan layanan perbankan. juga merupakan lembaga yang sangat rentan terhadap proses placement. Dalam posisi ini. *) Haryadi Ramelan : Dealer pada Dealing Room. Uang hasil transaksi ilegal (obat bius/ narkotika. Namun pada sisi yang lain. perbankan internasional khususnya International Offshore Banking Centres (IOBC) dengan segala aspek perlindungan data serta keleluasaan pajaknya telah menjadi lembaga intermediasi yang sangat diminati oleh para money launderer. dan Delfianto Ras*) Perkembangan teknologi perbankan internasional dalam dekade terakhir ini telah memberikan jalan bagi tumbuhnya jaringan-jaringan perbankan yang semula lokal/regional menjadi suatu lembaga keuangan yang global. batasan. volatilitas yang sangat besar pada modal internasional dari transfer asset antar negara yang tidak terantisipasi. Urusan Devisa. yang dari tahun ke tahun semakin canggih. risiko pada kesehatan perbankan. Kajian ini diharapkan akan mampu memberikan gambaran serta perbaikan-perbaikan yang memadai dan perlu dilakukan oleh masyarakat keuangan internasional dalam upaya pencegahan maupun penindakan terhadap kegiatan money laundering. layering ataupun integration. Bank Indonesia Delfianto Ras : Dealer Yunior pada Dealing Room. sumber-sumber regulasi. teknik-teknik. efek kontaminasi pada transaksi keuangan yang legal. Ketidakberhasilan dalam menggalang kerjasama internasional dalam memerangi money laundering akan menimbulkan risiko perubahan variabel permintaan uang yang tak terduga. suap/korupsi/ manipulasi serta fraud perbankan) telah menjadi “legal” dalam dunia bisnis di pasar keuangan internasional.

22-23. 6th Ed. T Pada situasi global. tidak hanya dari para kriminal namun juga dari perusahaan-perusahaan dan bahkan pemerintahan. dll).9 juta dan USD 4.M et al . pp. London. Hal tersebut paling tidak terbukti pada hasil “Operation Cassablanca” yang berlangsung akhir bulan Maret 1999. Maret 1999 I. . saat ini perkembangan pasar keuangan internasional telah memungkinkan terbukanya peluang untuk menampung rekening secret money. 1. Pada saat yang bersamaan di London. Dua bank besar tersebut diharuskan membayar denda masingmasing USD 9. Lantas kemanakah uangnya? Beberapa sebab dapat dikemukakan seperti statistical error atau (bukan mustahil) adanya secret money. suap kepada pejabat pemerintahan.7 juta. Secara teoritis dan teknis. Kedua bank juga terbukti bersalah dan mengaku bertanggung jawab penuh bahwa karyawan-karyawan banknya telah melakukan money laundering atas hasil-hasil ilegal narkotik. Samuel.118 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. 1) uang yang dibayarkan untuk barang atau jasa-jasa tersebut tidak pernah tercatat oleh perusahaan/ individu yang umumnya dengan berbagai alasan antara lain untuk menghindari pajak ataupun karena transaksi tersebut ilegal (manipulasi oleh perusahaan swasta. Dua bank besar Mexico. Dinas Pajak Dalam Negeri Inggris melakukan razia terhadap 2 kantor akuntan besar dan juga rumah pengacara serta akuntan yang terbukti berupaya menghindari objek pajak yang diperoleh dari money laundering. Secara lebih rinci. Chapman & Hall. penjumlahan total nilai import dan pembayaran bunga seharusnya sama dengan total nilai ekspor dan penerimaan bunga. Management of Company Finance. Dalam kasus black hole di atas. bila sebuah komoditas diimpor dan dibayar. Pendahuluan he war against money launderer is not over . Hal ini antara lain ditandai dengan semakin maraknya International Offshore Banking Centers (IOBC) di berbagai belahan dunia seperti Gambar 1. namun tidak ada catatan bahwa seseorang telah menerima pembayaran tersebut. J. dalam kasus money laundering. Sejalan dengan praktek money laundering tersebut. yakni Bancomer dan Banco Serfin dinyatakan bersalah oleh Pengadilan Federal (Fed Court) Los Angeles. Kalimat tersebut nampaknya bukan sekedar slogan kosong bagi Pemerintah Amerika Serikat dalam memberantas kegiatan money laundering. kegiatan money laundering dalam konsep akuntansi internasional ternyata mampu menjelaskan adanya defisit neraca transaksi berjalan dunia. Hal kedua tersebut diakui sebagai masalah yang pelik namun realitasnya memang terdapat permintaan pasar yang cukup kuat untuk secret money. Contoh-contoh tersebut hanya menggambarkan situasi mikro dari satu konsekuensi bercampurnya “uang halal” yang secara resmi masuk dalam hitungan otoritas moneter dengan uang haram yang merupakan hasil kegiatan melawan hukum dalam bisnis keuangan internasional. 1996.

II. yakni sebagai suatu proses dimana para kriminal berupaya untuk menyembunyikan sumber dan kepemilikan hasil-hasil aktivitas kriminal yang melawan hukum. yakni 2-5% dari GDP dunia. serta implikasinya bagi pelaku-pelaku transaksi-transaksi perbankan internasional seperti bankir. Secara rinci. bentuk pengambilan uangnya harus diubah. Keempat. pemilik uang dan sumber sesungguhnya uang tersebut harus disembunyikan. Tujuan dari penulisan makalah ini antara lain memberikan gambaran yang menyeluruh berkaitan dengan kegiatan money laundering. proses kegiatan dan pelanggaran money laundering. Teknik dan Regulasi dalam Kegiatan Money Laundering A. International Monetary Fund (IMF) 2) berpendapat bahwa money laundering merupakan salah satu ancaman paling serius bagi masyarakat keuangan internasional khususnya dan sistem keuangan global pada umumnya. Angka ini secara ekstrim dapat diartikan bahwa bisnis money laundering merupakan bisnis terbesar ketiga di dunia setelah forex market dan bisnis minyak dunia. _____________. Kedua. yang besarnya mencapai 300 – 400 milyar USD. jejak proses pencucian uang harus disamarkan dalam upaya menghilangkan jejak jika seseorang menelusuri proses uang dari awal hingga akhir. pengawasan melekat terhadap uang (dirty money) harus dipertahankan. Dengan memiliki pemahaman yang cukup memadai. namun demikian money laundering secara khusus dapat diartikan pencucian uang (laundering money from illicit proceeds). regulator atau lembaga lain yang berwenang (bank sentral) serta pelaku-pelaku pasar finansial lainnya. . Annual Report.Kajian Awal Tentang Money Laundering serta Implikasinya dalam Pasar Keuangan Internasional 119 Berkaitan dengan permasalahan tersebut. Batasan. 2. Ketiga. ada empat faktor yang umum terdapat dalam kegiatan money laundering. The Finacial Action Task Force on Money Laundering . Bagian Ketiga. Sebagai gambaran turn over kegiatan money laundering saat ini telah melampaui batas imaginasi. Pertama. Dalam textbook. maka diharapkan dapat diupayakan langkah-langkah efektif untuk mencegah terjadinya money laundering maupun langkah-langkah represif seandainya money laundering terjadi dengan tetap mengacu pada Undang-undang ataupun regulasi yang berlaku secara internasional. Batasan dan Proses Kegiatan Money Laundering Tak ada batasan money laundering secara umum. trend dan teknik umum yang digunakan. batasan. mengupas beberapa implikasi yang sifatnya represif dan antisipatif terhadap kegiatan money laundering dan Bagian Keempat berisi Kesimpulan akhir. bagian kedua tulisan ini akan memaparkan batasan. 1997.

Maret 1999 .120 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.

Langkah ini disebut juga sebagai immersion yang merupakan gabungan dari consolidation dan placement (Robinson. The Financial Action Task Force on Money Laundering . Langkah lain yang sering dilakukan adalah menciptakan sebanyak mungkin account dari perusahaan fiktif/semu dengan memanfaatkan aspek kerahasian bank dan keistimewaan hubungan antara nasabah bank dan pengacara. ____________. 1997. penipuan/ penggelapan (fraud) serta hasil-hasil korupsi.Kajian Awal Tentang Money Laundering serta Implikasinya dalam Pasar Keuangan Internasional 121 Secara kronologis. Cara tradisional dalam money laundering adalah dengan cara menyelundupkan secara fisik uang tunai hasil transaksi ilegal ke luar negeri (perbatasan nasional suatu negara). senjata gelap. Placement (Penempatan Dana) Penempatan dana merupakan proses awal dalam money laundering yang ditandai dengan penyerahan secara fisik uang yang dihasilkan dari aktivitas melawan hukum seperti perdagangan narkotika. obat-obatan terlarang. Cara lain yang juga relatif konvensional adalah menggunakan pedagang valuta asing. J. Laundrymen. Secara ringkas. Layering (Pemilahan Dana) Layering atau heavy soaping merupakan langkah kedua dalam money laundering yang ditandai dengan pemilahan hasil-hasil ilegal tersebut dari sumber-sumber asalnya melalui pembelian/transaksi-transaksi finansial seperti bearer bonds. Spin Dry (Repatriation and Integration) Spin dry merupakan gabungan dari langkah repatriasi dan integrasi. teknik-teknik yang dilakukan dalam pencucian uang dapat dikategorikan dalam 2 cara umum yakni: 1. Jeffrey. Robinson. Pocket Books. Proses Pencucian Uang. Cara tradisional. London 4. 1998) 3). B. kegiatan money laundering biasanya terdiri atas 3 proses yang berkelanjutan yakni: 1. Proses yang terjadi adalah apabila hasil-hasil ilegal dari money laundering masuk kembali ke dalam sistem keuangan dan muncul sebagai dana-dana bisnis yang wajar/ normal. forex market. 1998. 2. Teknik-Teknik Money Laundering Berdasarkan survey yang dilakukan oleh The FATF 4) (The Financial Action Task Force) sepanjang tahun 1996-1997. stocks. Hal ini dilakukan dalam upaya untuk menghilangkan jejak atau upaya audit sehingga seolah-olah merupakan transaksi finansial yang legal. . Annual Report. 3. lawyers maupun akuntan pribadi. proses pencucian yang dapat dilihat pada Gambar 2. Penggerebekan yang terjadi di London pada contoh 3.

Maret 1999 .122 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.

Bank sebagai money launderer Salah satu contoh yang sangat berharga berkaitan dengan kasus money laundering adalah skandal yang dilakukan oleh The Bank of Credit and Commerce International (BCCI) pada tahun 1991. dalam perjalanannya asset bank tumbuh dengan cepat hingga mencapai USD 20 milyar dan mempunyai cabang di 70 negara. Penggelapan uang tersebut tidak hanya menjadi kegiatan bayangan BCCI. Cara-cara Modern. IML mencapai persetujuan dengan tujuh negara dimana BCCI beroperasi. serta accountant. ciri-ciri yang sering dilakukan oleh money launderer antara lain menggunakan institusi yang terkait (perbankan) serta Pedagang Valuta Asing (PVA). Tidaklah mengejutkan bila BCCI diplesetkan artinya menjadi “Bank of Crook and Criminals. Diperkirakan hampir setengah assets bank telah hilang (disappeared). Kerugian deposan . Berkembangnya teknologi baru dibidang perbankan antara lain elektronic money (e– money) telah memberikan ancaman baru dalam teknik money laundering yang lebih canggih. 2. aplikasi ke tiga cara ini dalam sistem pembayaran masih relatif belum termanfaatkan. Namun sayangnya bank tersebut mengirimkan dananya ke rekening rahasia di Cayman Islands.1.Kajian Awal Tentang Money Laundering serta Implikasinya dalam Pasar Keuangan Internasional 123 kasus di atas jelas menunjukkan kecurangan seorang pengacara/akuntan dalam menyembunyikan hasil-hasil kejahatan seperti money laundering. Meskipun kantor pusat BCCI di London. Bank yang didirikan di Luxembourg tahun 1972 oleh pengusaha Pakistan (Agha Hasan Abedi). namun BCCI diperkirakan juga membantu diktator seperti Sadam Hussein (Irak). Pada musim semi tahun 1990 IML dapat menemukan beberapa bukti penggelapan dan pada Juli 1991 perusahaan akuntan Price Waterhouse menemukan dokumen serta menyerahkan pada Bank of England. tetapi masih belum dapat menelusuri aktivitas bank tersebut. Berdasarkan pengalaman di Inggris. serta bertindak sebagai bankir dari kelompok Abu Nidal. Hal yang sulit untuk dilacak justru hasil-hasil ilegal yang ditransfer melalui International Electronic Fund Transfer. 2. Namun demikian. selanjutnya BCCI dinyatakan ditutup. Inc”. Tiga cara yang mungkin dilakukan adalah melalui : Stored value cards. Bagaimana BCCI menjalankan aktivitas penggelapan dalam waktu yang cukup lama? Jawabannya adalah sulitnya mengatur bank yang beroperasi di banyak negara. namun lemahnya peraturan bank oleh Institut Monetaire Luxembourgeois (IML) di Luxembourg. internet/ network based systems dan hybrid systems. dimana tempat tersebut banyak uang hasil curian. mengakibatkan BCCI beroperasi bebas dari peraturan pemerintah selama 15 tahun. Manuel Noriega (Panama) dan Ferdinand Marcos (Philipina) dalam mencuri uang dari negaranya. lawyer. Pada tahun 1987.

Pasar finansial London yang terkenal dengan kemajuan dan transparannya sangat memberi peluang untuk memuluskan tahapan-tahapan kegiatan money laundering. Rezim yang dapat dijadikan contoh untuk pencegahan kegiatan money laundering adalah Inggris. Rentannya lembaga-lembaga tersebut dari kegiatan money laundering dimungkinkan baik dalam proses placement. merupakan target yang menarik bagi para pencuci uang. Regulasi Kegiatan Money Laundering Sebagaimana diketahui. Berkaitan dengan upaya untuk mencegah dan memerangi kegiatan money laundering tersebut.2 Payable through account Salah satu cara yang juga tergolong cukup modern dan sering digunakan oleh money launderers adalah payable through account (lihat Gambar 3). beberapa ketentuan perundangan telah disahkan oleh oleh Parlemen Inggris. layering maupun integration. Kondisi ini lebih membuka peluang setelah diperkenalkan Euro sebagai mata uang tunggal Eropa yang secara tidak langsung telah menurunkan kontrol dan hambatan-hambatan dalam rangka pasar tunggal Eropa. C.124 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Mengapa demikian. khususnya untuk mobilitas barang-barang. perlu adanya aturan hukum yang mengikat secara internasional dan berkekuatan hukum yang tetap. the Basle Committee baru mengumumkan dan menyetujui standarisasi dari peraturan bank internasional. Ketentuan Primer (Tier 1) 1) Drug Trafficking Offences Act 1986 (DTOA) 2) Criminal Justice Scotland Act 1987 (CJSA) . jasa. Melalui transaksi beberapa jenjang tersebut pada level terbawah yaitu pada level nasabah third bank tersebut para money launderers banyak melakukan aktivitasnya untuk memasukkan dananya ke dalam sistem jasa keuangan bank. Setahun setelah BCCI colapse. layering dan integrasi. Maret 1999 dan pemegang saham dari colapse-nya BCCI sudah tak terhingga dan pengawas bank dalam hal ini Bank of England sulit disalahkan atas kelambanan menuntaskan skandal tersebut. 2. yakni antara lain: 1. Dalam rangka merespon hal-hal tersebut di atas. apakah itu placement. karena London sebagai salah satu pusat pasar keuangan terbesar dunia. bank ataupun lembaga finansial lainnya merupakan lembagalembaga yang sangat rentan bagi kemungkinan penyusupan hasil-hasil transaksi ilegal (secret money). Pada gambar tersebut diilustrasikan adanya pembelian US bonds yang pembayarannya dilakukan melalui account oleh client bank yang kemudian diperjual belikan pada level nasabah client bank tersebut (third bank) dan diteruskan pada level nasabah third bank. orang dan modal secara leluasa di seluruh Eropa.

Kajian Awal Tentang Money Laundering serta Implikasinya dalam Pasar Keuangan Internasional 125 .

Prosedur pelaporan antara lain mencakup laporan identifikasi orang dalam suatu organisasi.lembaga keuangan adalah sebagai berikut: a) Sistem Kontrol. (NIEPA) Criminal Justice Act 1993 (CJA93) 2. f) Pendidikan dan Pelatihan. Ketentuan Sekunder (Tier 2) Ketentuan sekunder yang merupakan bentuk dari Money Laundering Regulation 1993 secara khusus ditujukan pada lembaga keuangan. pencatatan dapat dibagi dua yaitu. masalahmasalah yang muncul dan pegawai yang menanggulanginya. Peraturan tersebut mensyaratkan bagi semua lembaga keuangan. pencatatan yang berhubungan dengan pembukaan rekening nasabah baru (client) atau identitas counterparty dan pencatatan yang berhubungan dengan transaksi yang dilakukan oleh client atau counterparty. Cooperation) Act 1990 (CJCA) Criminal Justice (Confiscation) ( Northern Ireland) Order CJO 1990 Northern Ireland Act 1991. Sistem ini berupa peraturan yang meliputi prosedur internal control dan komunikasi tepat pada lembaga-lembaga keuangan yang bertujuan mencegah dan menghalangi terjadinya money laundering. apa jenis informasinya. yang sangat berpotensi dimanfaatkan pihak lain untuk money laundering. Prosedur pencegahan terhadap terjadinya money laundering yang umumnya digunakan pada lembaga. d) Pencatatan. pendapat orang yang menanggulangi masalah tersebut dalam upaya meningkatkan pengetahuan terutama mengenai dasar kecurigaan terhadap orang yang melakukan money laundering. Dalam kaitan ini. Maret 1999 Criminal Justice Act 1988 (CJA88) Prevention of Terrorism (Temporary Provisions) Act 1989 (POTA) Criminal Justice (Int. c) Uji/Pemeriksaan atas Transaksi. b) Identifikasi dan Verifikasi. Prosedur ini sangat dibutuhkan bagi seluruh personil perbankan dan lembaga terkait . Ketentuan ini menjamin pegawai dari waktu ke waktu diberikan kesempatan mengikuti pelatihan dalam upaya mengenali dan menguasai transaksi yang dilakukannya sendiri atau atas nama orang lain .126 3) 4) 5) 6) 7) 8) Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. e) Pelaporan. Setiap calon nasabah harus diidentifikasi dan diverifikasi bahwa yang bersangkutan memang memenuhi syarat sebagai applicant for business. kepada siapa informasi tersebut harus dibuat. dan sejenisnya untuk membuat sistem untuk menghalangi terjadinya money laundering.

dan green book untuk bisnis asuransi. 3. Buku ketentuan ini biasanya disebut sebagai the read book untuk perbankan. b) Mengakuisisi . asuransi dan lembaga investasi lainnya. atau menginvestasikan dana jika dana yang bersangkutan diketahui atau dicurigai merupakan hasil penerimaan kriminal. mengubah. memiliki . g) Tindakan hukum. CJA mensyaratkan siapapun sehubungan dengan transaksi yang dilakukan. 4. terdapat 5 pelanggaran utama yang dapat dikategorikan sebagai tindakan money laundering. d) Menggagalkan usaha penyingkapan atau kecurigaan dari praktek money laundering. Ketentuan Tambahan (Tier 3) Ketentuan tambahan ini lebih merupakan petunjuk teknis yang diterbitkan oleh The Joint Money Laundering Steering Group (JMLSG) yang ditujukan bagi bank-bank dan lembaga keuangan lainnya. dan secara langsung atau tidak langsung dia menguasai atau menggunakan atau memiliki kekayaan tersebut. c) Menyembunyikan atau mentransfer penerimaan untuk menghindari tindakan pencegahan atau perintah penyitaan. Prosedur ini merupakan langkah terakhir yang harus dilakukan dan biasanya berupa investigasi oleh National Criminal Inteligent Service (NCIS). Seseorang dianggap bersalah melakukan pelanggaran jika dia mengetahui sebagian atau keseluruhan kekayaan orang lain baik secara langsung atau tidak langsung berasal dari hasil kejahatan. yaitu: a) Membantu seseorang untuk menyimpan hasil-hasil kejahatan. Tindakan ini digolongkan sebagai pelanggaran bagi seseorang yang memberikan bantuan kepada money launderer untuk memperoleh. Pelanggaran Hukum dalam Money Laundering Berdasarkan perundangan di Inggris (Criminal Justice Act 1993/ CJA) tersebut di atas. dan menggunakan hasil dari kegiatan kriminal. seluruh atau sebagian penerimaan yang berasal dari kegiatan kriminal. Dibawah aturan CJA seseorang dianggap melakukan pelanggaran apabila menyembunyikan. profesi. menguasai. bisnis. menyembunyikan. melakukan transfer atau menyembunyikan kekayaan dari pengadilan baik secara langsung maupun tidak langsung.Kajian Awal Tentang Money Laundering serta Implikasinya dalam Pasar Keuangan Internasional 127 dalam upaya peningkatan kualitas pemahaman terhadap pekerjaan yang dijalani serta kontribusinya terhadap pengawasan internal. yellow book untuk bisnis investasi swasta. atau pegawai yang mengetahui atau mencurigai orang lain melakukan money laundering . menyamarkan.

practices and procedures in place. Implikasi tersebut menuntut adanya suatu langkah kerjasama preventif dan represif yang berskala internasional terhadap kegiatan money laundering. including strict “know your customer” rules. yang secara pokok dapat dijabarkan sebagai berikut: a) b) Introduksi sistem SAR (suspicious activity reporting system) yang baru. Dalam kaitan di atas. Kondisi ini memberikan suatu implikasi yang sangat luas dan kompleks dalam upaya menciptakan kestabilan masyarakat global di pasar finansial. Hal ini berarti bahwa seseorang dianggap melanggar hukum apabila tidak melaporkan kepada pihak berwenang apabila mengetahui adanya praktek money laundering. intentionally or unintentionally. Beberapa Upaya Represif dan Antisipatif terhadap Kegiatan Money Laundering Sebagaimana diuraikan di atas. kegiatan money laundering memiliki dampak instabilitas pada sistem finansial dunia. CJA hanya mentolerir kesalahan atas kecurigaan yang dilaporkan dengan alasan yang dapat diterima. Faktor instabilitas tersebut tidak hanya bersumber dari turn over yang sangat besar (300 – 400 milyar USD per tahun). Maret 1999 harus melaporkan informasi tersebut pada polisi sesegera mungkin. FATF memberikan 40 rekomendasi langkah-langkah utama dalam memerangi kegiatan money laundering. that promote high ethical and professional standards in the financial sector and prevent the bank being used. e) Tipping off (Peringatan). namun juga berasal dari perkembangan teknologi seperti EFT (cyber payment) yang memungkinkan pembayaran transfer berlangsung dengan mobilitas yang tinggi dengan mengoptimalkan jaringan perbankan internasional sebagai lembaga intermediasi.128 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Modifikasi sistem pelaporan transaksi mata uang (CTR= Currency Transaction Reporting System). III. Sejalan dengan hal tersebut. BIS melalui Basle Committee pada bulan September 1997 juga menetapkan prinsip utama dalam supervisi perbankan yang efektif yang berbunyi “ Banking supervisor must determine that banks have adequate policies. . Suatu pemaksaan terhadap keterbukaan konsumen atau pihak ketiga untuk menyampaikan informasi pada pihak yang berwenang bahwa telah terjadi praktek money laundering atau adanya rencana money laundering. Rekomendasi ini merupakan kunci utama dalam pemahaman konsep “know your customer” approach. Satu upaya upaya penting yang telah dilakukan oleh masyarakat internasional adalah dibentuknya FATF yang salah satu rekomendasinya menyatakan bahwa “countries should monitor the physical cross border transportation of cash and bearer instruments without impeding in any way the freedom at capital movement”. by criminal elements”.

3. 2. mengenali secara baik proses settlement/payment/delivery instructions yang diluar batas kewajaran. Dealers and sales staff. sistem pelaporan. pengenalan terhadap faktor-faktor yang mencurigakan. Pelatihan terhadap pegawai baru sebaiknya mencakup latar belakang terjadinya money laundering. pelaporan prosedur serta tindakan pinalti. staf pelaksana harus menerima pelatihan khusus money laundering.Kajian Awal Tentang Money Laundering serta Implikasinya dalam Pasar Keuangan Internasional 129 c) d) e) f) g) h) Perluasan daftar tindakan pelanggaran money laundering dalam memberantas terorisme. 4. Supervisors/ Manager. Pendalaman materi pelatihan terhadap kelompok staf ini meliputi seluruh aspek perundangan-undangan. pengecekan akan kecocokan identitas investor). dan jaminan perorangan menurut ketentuan yang berlaku. 5 kelompok yang diharuskan mengikutinya adalah: 1. peraturan dan prosedur internal. Implementasi proyek Gateway yang menyediakan data-data inteligen keuangan secara on line antar negara dan pemerintah-pemerintah daerah. Staff Training : dalam rangka mengenali dengan baik dan menangani transaksi-transaksi yang mencurigakan. pencatatan. Pelatihan terhadap petugas front office harus meliputi prosedur-prosedur identifikasi dan verifikasi ( sebagai contoh. Pelatihan terhadap dealer/staf lainnya seharusnya juga mencakup tanggung jawab secara hukum. Pegawai baru (New employees). Memperluas upaya pelaksanaan hukum dan pengaturan hukum dalam memerangi kegiatan money laundering. kebijaksanaan perusahaan terhadap adanya kasus-kasus pengecualian. policies and prosedures). . Account Opening staff. Pelatihan terhadap manajer yang memberikan instruksi. dan laporan transaksi yang mencurigakan. Reporting Officers. jaminan hukum yang dilaporkan. validasi. lebih ditekankan pada detail mengenai ketentuan perundang-undangan yang berlaku meliputi identifikasi. Peningkatan kerjasama antar negara dan perwakilan industri keuangan global dalam upaya melawan kegiatan money laundering melalui penetapan kelompok kerja. dealing dengan customer yang jarang dilakukan (antara lain transaksi kas dalam jumlah besar/ bearer securities). pelanggaran migrasi dan kesehatan. Penetapan aturan baru dalam pencatatan transfer-transfer dana (system at determine internal control. 5. pelaporan kondisi yang terjadi.

Hal ini berarti. 3.130 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Dalam konteks ini maka pendekatan “know your customer rule” menjadi acuan yang sangat mendasar dalam menggali informasi calon nasabah bank. maka kecil kemungkinan 2. adalah bahwa kualitas supervisi terhadap transaksi finansial oleh bank khususnya harus senantiasa ditingkatkan. Jika langkah preventif ini diterapkan secara universal terhadap semua lembaga keuangan/ jaringan perbankan internasional. lembaga perbankan seringkali dipergunakan sebagai intermediasi oleh pelaku tindakan kriminal yang tidak mustahil juga dibantu oleh adanya moral hazard oleh karyawan bank sendiri (contoh kasus BCCI. Penutup Dari pokok-pokok rekomendasi yang diberikan oleh FATF di atas. Berkaitan dengan butir (1). asal dana-dana pihak ketiga yang diterima. Maret 1999 IV. Mengapa demikian? Karena anti money laundering measures membutuhkan kerjasama internasional yang harus kondusif baik bersifat multilateral maupun bilateral (antar dua negara). Hal ini sangat penting mengingat dalam banyak kasus money laundering. bahwa setiap negara memiliki prioritas yang berbeda-beda khususnya dalam menghadapi kegiatan/praktek money laundering. para anggota kelompok kerja FATF ataupun masyarakat keuangan internasional sudah selayaknya menerapkan aturan-aturan standar minimum dalam upaya memerangi kegiatan money laundering misalnya keseragaman penggunaan sistem SAR. Perbedaan visi dan persepsi ini tentunya akan berimplikasi pada kelompok-kelompok kerja yang dibentuk oleh FATF. Sebagaimana kita ketahui. Peningkatan tersebut dapat diupayakan dalam bentuk investigasi khusus terhadap asal modal disetor. tindakan yang paling efektif dalam menangkal kegiatan money laundering pada lembaga perbankan adalah mendeteksi sedini mungkin aktivitas kriminal tersebut pada titik paling crucial yakni pada saat hasil-hasil ilegal tersebut masuk ke dalam sistem perbankan/keuangan (placement process). maka upaya pemberantasan terhadap kegiatan money laundering merupakan real test case bagi masyarakat dan sistem keuangan internasional. Konsekwensi lain. bahwa apabila terdapat negara-negara yang tidak mematuhi kesepakatan bersama tersebut akan mendapatkan pinalti yang dapat berupa punitive taxes atas transaksi-transaksi yang terbukti berkaitan dengan money laundering di pasar finansial di negara yang bersangkutan. 1991). CTR maupun Gateway Intelligence System. ataupun tidak diakuinya transaksi keuangan yang terjadi di negara tersebut secara internasional (default). Secara taktis. dan transaksi finansial yang dilakukan khususnya transaksitransaksi off balance sheet. . khususnya bagi lembaga pengawas perbankan ataupun lembaga keuangan lainnya. dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut: 1. Dengan semakin berkembangnya kegiatan/transaksi-transaksi illegal internasional. 4.

pp 350. baik melalui International offshore Banking Centre (IOBS) yang memiliki insentif pembebasan pajak dan longgarnya peraturan ataupun memanfaatkan negara-negara/ lokasi yang relatif tidak/ belum terjangkau oleh hukum internasional. pp 52-53.1998.1999 (March 31).1998.1998. CCH Inc. Journal of International Banking and Financial Law.1995. Sebaliknya bila langkah tersebut tidak berhasil. Richard. 1997. Pocket Books. 2) Camdesus. Paris (Feb 10).1996. et al. Money Laundering: Butterworths. Money Laundering: The Regim in the United Kingdom. Bancomer and Banca serfin Plead Guilty to Money Laundering. The Financial Action Task Force on Money Laundering. Illinois. 3rd Edition. Butterworths. Jeffrey. Money Laundering: The Sky’s the Limit. USA.1995. 6) Reuters News. 8) Robinson. Laundrymen. Guide to Financial Services Regulation. Michael . 4) Morris. Pp 29-31. Barry. Annual Report. 1998 (Feb). Allan. July – August. Legal Analysis. . 10) _________. maka money launderer akan selalu mencari titik terlemah dari sistem jaringan keuangan internasional. Payable Through Accounts and Money Laundering.Kajian Awal Tentang Money Laundering serta Implikasinya dalam Pasar Keuangan Internasional 131 money launderer akan mampu menembusnya. London.1996. 3) Hayaes. 9) The Banker. International Guide to Money Laundering and Practice. Money Laundering: The Importance of International Countermeasures. 5) Parlour. Andrew. 7) Richard. Daftar Pustaka 1) Abrahamson. Jeffrey.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful