P. 1
faktor

faktor

|Views: 21|Likes:
Published by Riki Tristanto

More info:

Published by: Riki Tristanto on Jun 16, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/02/2014

pdf

text

original

Menurut Fujaya ( 2000), tingkat kelarutan oksigen dalam perairan kadarnya bertolak belakang dengan beberapa parameter kualitas

air lainnya. Kadar oksigen akan meningkat pada suhu yang rendah dan akan berkurang seiring dengan naiknya suhu. Kelarutan oksigen juga akan menurun bila terjadi kenaikan salinitas, pH, dan kadar CO2. Kadar oksigen (O2) dalam perairan tawar akan bertambah dengan semakin rendahnya suhu dan berkurangnya kadar alkalinitas. Pada lapisan permukaan, kadar oksigen akan lebih tinggi karena adanya proses difusi antara air dengan udara bebas. Dengan bertambahnya kedalaman akan mengakibatkan terjadinya penurunan kadar oksigen terlarut dalam perairan (Salmin, 2000). Kehadiran karbon dioksida (CO2) sangat erat kaitanya dengan kuantitas atau jumlah keberadaan kadar oksigen dalam air, dimana kenaikan kadar karbondioksida akan selalu diikuti oleh penurunan kadar oksigen sehingga ini akan mempengaruhi kelangsungan hidup suatu organisme yang hidup dalam lingkup perairan (Susanto, 1991). Kenaikan kadar oksigen di perairan secara umum disebabkan oleh berlangsungnya proses fotosintesis. Pada siang hari saat terjadi proses fotosintesis kadar oksigen dalam perairan mencukupi untuk kebutuhan respirasi. Namun pada saat suhu yang tinggi yang kemudian mempengaruhi aktifitas biota budidaya akan mengakibatkan kadar oksigen berkurang. Proses respirasi tumbuhan dan hewan pada malam hari juga mengakibatkan hilangnya oksigen (Afrianto dan Liviawaty, 1991). Pada umumnya perairan yang telah tercemar kandungan oksigennya sangat rendah, hal ini karena oksigen terlarut di dalam air diserap oleh mikroorganisme untuk memecah/mendegradasi bahan buangan organik sehingga menjadi bahan yang mudah menguap. Selain itu bahan buangan organik juga dapat bereaksi dengan oksigen yang terlarut di dalam air sehingga makin sedikit sisa kandungan oksigen yang terlarut di dalamnya (Lesmana dan Bambang, 2001). Menurut Susanto (1991), suhu adalah salah satu sifat fisik yang dapat mempengaruhi nafsu makan dan pertumbuhan pada ikan. Suhu juga dapat mempengaruhi makhluk hidup dalam pertukaran zat-zat atau metabolisme. Keadaan ini jelas terlihat pada jumlah plankton yang beriklim sedang lebih banyak dibanding yang beriklim tropis. Ini karena pada daerah yang beriklim panas, proses perombakannya berlangsung lebih cepat sehingga tidak memungkinkan plankton untuk tumbuh dalam jumlah yang besar. Menurut Achmad (2004), pengaruh suhu sangat penting dalam kasus oksigen. Kelarutan oksigen dalam air pada berbagai suhu berpengaruh terhadap kelarutan gas-gas dalam air. Dengan kenaikan suhu air, terjadi penurunan kelarutan oksigen (O2) yang dibarengi dengan naiknya kecepatan pernapasan organisme perairan, sehingga sering menyebabkan adanya suatu keadaan naiknya kebutuhan oksigen diikuti oleh turunnya kelarutan gas tersebut dalam air. Kecerahan merupakan parameter fisika yang erat kaitannya dengan proses fotosintesis dalam lingkup perairan terutama pada tumbuhan.

3. Bagian spektrum cahaya yang efektif untuk fotosintesis adalah cahaya yang mempunyai panjang gelombang 390-710nm dengan penyimpangan ±10 nm dan yang menyusun 0. Dalam distribusi fitoplankton. Suhu mempunyai efek langsung dan tidak langsung terhadap fitoplankton. Sedangkan perubahan suhu dalam kolom air akan menimbulkan arus secara vertikal. 1989). 2. 1994). Kondisi ini pada perairan tergenang akan menyebabkan terjadinya stratifikasi thermal pada kolom air (Effendi. suhu berperan dalam ekologi dan distribusi plankton baik fitoplankton maupun zooplankton (Subarijanti.2 Kecerahan Secara vertikal. faktor cahaya sangat penting karena intensitas cahaya sangat diperlukan dalam proses fotosintesis (Arfiati. Kecerahan sangat penting dalam kehidupan ekositem perairan terutama ikan (Erikarianto. Proses penyerapan cahaya ini berlangsung secara lebih intensif pada lapisan atas sehingga lapisan atas perairan memiliki suhu yang lebih tinggi dan densitas yang lebih kecil dari pada lapisan bawah.056% dari total energi radiasi yang jatuh dipermukaan bumi yang dimanfaatkan oleh fitoplankton setiap tahunnya dan di perairan sangat produktif hanya dapat menggunakan energi ini sekitar 3% (Mahmudi. Secara langsung maupun tidak langsung. 2005).46-0. Secara umum kecerahan perairan dalam media budidaya yang baik berkisar antara 30 – 40 cm (Effendi. 2003). Satuan untuk nilai kecerahan dari suatu perairan dengan alat tersebut adalah satuan meter. Pada perairan kecerahan merupakan ukuran transparansi perairan dan pengukuran cahaya sinar matahari didalam air dapat dilakukan dengan menggunakan alat pengukur kecerahan yang biasanya di sebut dengan Secchi disk. Di danau hanya 0. Suhu perairan dipengaruhi oleh intensitas cahaya yang masuk kedalam air. 2003). kecerahan akan mempengaruhi intensitas cahaya yang akan menentukan tebalnya lapisan eufotik. 2008).3.3. Suhu selain berpengaruh terhadap berat jenis. juga berpengaruh terhadap kelarutan gas dan unsur-unsur dalam air.Kecerahan yang tinggi menunjukkan daya tembus cahaya matahari yang jauh ke dalam perairan.3 Padatan Total Tersuspensi .1 Suhu Cahaya matahari yang masuk ke perairan akan mengalami penyerapan dan perubahan menjadi energi panas. 2. Jumlah cahaya yang diterima oleh fitoplankton diperairan asli bergantung pada intensitas cahaya matahari yang masuk kedalam permukaan air dan daya perambatan cahaya didalam air. sedangkan efek tidak langsung yaitu melalui lingkungan misalnya dengan kenaikan suhu air sampai batas tertentu akan menurunkan kelarutan oksigen (Boney dalam Sudaryanti.48% dari keseluruhan energi matahari.1992). viskositas dan densitas air. Efek langsung yaitu toleransi organisme terhadap keadaan suhu. 2.

Tumbuhan akuatik.5 sampai 9 (Boyd. Namun di dalam kloroplas . Kisaran pH air yang maksimal untuk produksi ikan adalah 6. 1983). respirasi dari semua organisme. 2000).Bahan-bahan terlarut dan tersuspensi pada perairan alami tidak bersifat toksik. Ketersediaan karbondioksida terlarut di air dapat bersumber dari air tanah. misalnya alga. akan tetapi jika berlebihan. Meskipun suhu merupakan faktor utama dalam regulasi konsentrasi oksigen dan karbondioksida. karena gas karbondioksida yang dihasilkannya. 1990). yang selanjutnya akan menghambat penetrasi cahaya matahari ke kolom air dan akhirnya berpengaruh terhadap proses fotosintesis (Effendi. Fluktuasi pH sangat dipengaruhi oleh proses respirasi. 2.4 Derajat Keasaman Derajat keasaman adalah suatu ukuran dari konsentrasi ion hidrogen dan menunjukkan suasana air tersebut apakah bereaksi asam atau basa. 2003).1981). dekomposisi zat organik. senyawa kimia dalam air maupun dari udara namun dalam jumlah yang sangat sedikit (Subarijanti. Semakin banyak karbondioksida yang dihasilkan dari proses respirasi. tetapi hal ini juga tergantung pada fotosintesis tanaman.Padatan total (residu) adalah bahan yang tersisa setelah air sampel mengalami evaporasi dan pengeringan pada suhu tertentu (APHA.45μm. aerasi air. Padatan yang terdapat di perairan diklasifikasikan berdasarkan ukuran diameter partikel. 1985). 2. Klasifikasi Padatan di Perairan Berdasarkan Ukuran Diameter Klasifikasi Padatan Ukuran Diameter (μm) Ukuran Diameter (mm) Padatan terlarut <10-3 <10-6 Koloid 10-3 – 1 10-6 – 10-3 Padatan tersuspensi >1 >10-3 Padatan tersuspensi total (Total Suspended Solid atau TSS) adalah bahanbahan tersuspensi (diameter >1μm) yang tertahan pada saringan milipore dengan diameter pori 0. terutama TSS dapat meningkatkan nilai kekeruhan. lebih menyukai karbondioksida sebagai sumber karbon dibandingkan dengan bikarbonat dan karbonat. Ketersediaan karbondioksida adalah sumber utama untuk fotosintesis. keberadaan gas – gas lainnya dan oksidasi kimia yang mungkin terjadi (Goldman dan Horne. Bikarbonat sebenarnya dapat berperan sebagai sumber karbon.5 Karbondioksida (CO2) Karbondioksida merupakan produk dari respirasi yang dilakukan oleh tanaman maupun hewan. Namun sebaliknya jika aktivitas fotosintesis semakin tinggi maka akan menyebabkan pH semakin tinggi (Kordi. seperti ditunjukkan dalam Tabel 1.3. dan pada banyak cara menunjukkan hubungan keterbalikan dengan oksigen. Tabel 1. respirasi organisme air.3. TSS terdiri atas lumpur dan pasir halus serta jasad-jasad renik. maka pH akan semakin rendah. yang terutama disebabkan oleh erosi tanah yang terbawa kebadan air.

2.3. Tapi fosfor merupakan salah satu elemen pembatas baik di tanah maupun di perairan tawar. Bentuk anorganik fosfat sebagian besar adalah ortofosfat (PO4 -) dan sebagian lagi bentuk monofosfat (HPO 4 -) dan dihydrogen fosfat (H2PO4 -) (Goldman dan Horne. dan senyawa organik terlarut dalam jumlah yang sedikit. Nitrogen hadir dalam bentuk kombinasi dari amonia.7 Ortofosfat (P-PO4 3) Fosfor tidak dibutuhkan dalam jumlah besar untuk pertumbuhan tanaman. Nitrogen terlarut juga bisa dimanfaatkan oleh jenis blue-green algae dengan cara fiksasi nitrogen (Herawati. 1989 dalam Effendi. urea. nitrit. yaitu fosfat terlarut. kelimpahan dan nutrisi dari hewan maupun tanaman akuatik. Nitrat adalah sumber nitrogen dalam air laut maupun air tawar. nitrat.3.bikarbonat harus dikonversi terlebih dahulu menjadi karbondioksida dengan bantuan enzim karbonik anhidrase (Boney. 1983). Air hujan juga merupakan sumber fosfor namun hanya sedikit mengandung fosfor dari pada nitrogen. nitrat merupakan yang paling penting. Ketersediaan dari berbagai bentuk nitrogen tersebut dipengaruhi oleh varietas. Dari seluruh kombinasi tersebut. Nitrogen sering hadir dalam jumlah yang dapat menjadi faktor pembatas bagi pertumbuhan tanaman.8 Oksigen Terlarut/ Dissolved Oxygen (DO) .1989). Kondisi ini umumnya terjadi pada daerah beriklim hangat dan daerah dimana ketersediaan pospor dan silikon relatif tinggi karena erosi alami dan pencemaran (Goldman dan Horne. hidrogen dan nitrogen. fosfor total terlarut dan fosfor partikulat. Hampir setengah dari fosfor yang tekandung dalam limbah rumah tangga berasal dari detergen (Goldman dan Horne. Bentuk kombinasi lain dari elemen ini bisa tersedia dalam bentuk amonia.6 Nitrat (N-NO3) Nitrogen selalu tersedia di ekosistem perairan dan melimpah dalam bentuk gas. oksigen. karena fosfor sangat langka dan terkandung dalam batuan dengan jumlah yang sedikit dan fosfor tidak memiliki bentuk gas dalam siklusnya sehingga tidak dapat difiksasi seperti nitrogen. 2. Sebagian besar fosfor terbawa ke danau yang tidak terpolusi sebagai partikel organik dan anorganik. Input utama fosfor ke danau berasal dari aliran sungai dan pengendapan. tidak seperti karbon. 2003). 1983). Sel hidup mengandung sekitar 5% total nitrogen dari berat keringnya. 1983). 2. Kombinasi elemen ini sering dimanfaatkan oleh fitoplankton terutama kalau unsur nitrat terbatas. selain itu fosfor terikat secara reaktif pada berbagai jenis tanah (Goldman dan Horne. nitrit dan komponen organik.3. Fosfat di danau terdapat baik dalam organik maupun anorganik. 1983). Secara umum ada tiga bentuk fosfor di ekosistem akuatik.

terutama pada saat kondisi tanpa oksigen. Sumber oksigen terlarut di perairan dapat berasal dari difusi oksigen yang terdapat di atmosfer (sekitar 35%) dan aktivitas fotosintesis oleh tumbuhan air dan fitoplankton. yang dapat mengakibatkan perubahan sifat kelarutan beberapa unsur kimia di perairan (Effendi. Fluktuasi harian oksigen dapat mempengaruhi parameter kimia yang lain.Oksigen merupakan faktor penting bagi kehidupan makro dan mikro organisme perairan karena diperlukan untuk proses pernafasan. 2003). .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->