P. 1
Pelaksanaan Keselamatan Dan Kesehatan Kerja K3 Untuk Konstruksi Jalan Jembatan

Pelaksanaan Keselamatan Dan Kesehatan Kerja K3 Untuk Konstruksi Jalan Jembatan

|Views: 19|Likes:
Published by Immel Viansa
DATA UNTUKA K3 PADA KONSTRUKSI
DATA UNTUKA K3 PADA KONSTRUKSI

More info:

Categories:Types, Brochures
Published by: Immel Viansa on Jun 16, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/03/2015

pdf

text

original

Sections

  • 1 Ruang lingkup
  • 2 Acuan normatif
  • 3 Istilah dan definisi
  • 4 Ketentuan pelaksanaan K3
  • 4.1 Ketentuan administrasi
  • 4.1.1 Kewajiban umum
  • 4.1.2 Organisasi keselamatan dan kesehatan kerja
  • 4.1.3 Laporan kecelakaan
  • 4.1.4 Keselamatan kerja dan pertolongan pertama pada kecelakaan
  • 4.1.5 Pembiayaan keselamatan dan kesehatan kerja
  • 4.2 Ketentuan teknis
  • 4.2.1 Aspek lingkungan
  • 4.2.2 Tempat kerja dan peralatan
  • 4.2.3 Pencegahan terhadap kebakaran dan alat pemadam kebakaran
  • 4.2.4 Alat pemanas (heating appliances)
  • 4.2.5 Bahan-bahan yang mudah terbakar
  • 4.2.6 Inspeksi dan pengawasan
  • 4.2.7 Perlengkapan dan peringatan
  • 4.2.8 Tempat-tempat kerja yang tinggi
  • 4.2.9 Pencegahan terhadap bahaya jatuh ke dalam air
  • 4.2.10 Utilitas umum
  • 4.2.11 Kebisingan dan getaran (vibrasi)
  • 4.2.12 Menghindari terhadap orang yang tidak berwenang
  • 4.2.13 Perlengkapan keselamatan kerja
  • 4.3 Pedoman untuk pelaku utama konstruksi
  • 4.3.1 Pedoman untuk manajemen puncak
  • 4.3.2 Pedoman untuk manajer dan pengawas
  • 4.3.3 Pedoman untuk mandor
  • 4.3.4 Pedoman untuk pekerja
  • 5. Pelaksanaan teknis K3 pada konstruksi jalan dan jembatan
  • 5.1 Divisi umum
  • 5.1.1 Pekerjaan persiapan
  • 5.1.1.1Pemeriksaan lapangan
  • 5.1.1.2Mobilisasi dan demobilisasi
  • 5.1.1.3Kantor lapangan dan fasilitasnya
  • 5.1.1.4Fasilitas dan pelayanan pengujian logistik
  • 5.1.2 Pekerjaan pengaturan lalu lintas
  • 5.1.2.1Pekerjaan jalan dan jembatan sementara
  • 5.1.2.3Pemeliharaan untuk keselamatan lalu lintas
  • 5.1.3 Pekerjaan relokasi utilitas dan pembersihan
  • 5.1.3.1Relokasi utilitas
  • 5.1.3.2Pembersihan
  • 5.2.1 Pekerjaan selokan dan saluran air
  • 5.2.1.1Pengukuran dan pematokan
  • 5.2.1.2Penggalian
  • 5.2.2.1Pengukuran dan pematokan
  • 5.2.3 Pekerjaan gorong-gorong pipa beton
  • 5.2.3.1Pengukuran dan pematokan
  • 5.2.3.2Penggalian
  • 5.2.3.3Pemasangan
  • 5.2.4.1Pengukuran dan pematokan
  • 5.2.4.2Penggalian
  • 5.2.4.3Pemasangan
  • 5.2.5 Pekerjaan timbunan porus atau bahan penyaring
  • 5.2.5.1Pengukuran dan pematokan
  • 5.2.6 Pekerjaan anyaman (filter) plastik
  • 5.2.6.1Pengukuran dan pematokan
  • 5.2.6.2Penggalian
  • 5.2.6.3Pemasangan
  • 5.3 Pekerjaan Tanah
  • 5.3.1 Pekerjaan galian biasa
  • 5.3.1.1Pengukuran dan pematokan
  • 5.3.1.2Penggalian
  • 5.3.1.3Pembuangan bahan galian
  • 5.3.2 Pekerjaan galian batu
  • 5.3.2.1 Pengukuran dan pematokan
  • 5.3.2.2 Penggalian
  • 5.3.2.3 Pembuangan bahan galian
  • 5.3.3 Pekerjaan galian struktur dengan kedalaman 0-2 meter
  • 5.3.3.1 Pengukuran dan pematokan
  • 5.3.3.2 Penggalian
  • 5.3.3.3 Pembuangan bahan galian
  • 5.3.4 Pekerjaan galian struktur dengan kedalaman 2-4 meter
  • 5.3.4.1Pengukuran dan pematokan
  • 5.3.4.2Penggalian
  • 5.3.4.3Pembuangan bahan galian
  • 5.3.5 Pekerjaan galian struktur dengan kedalaman 4-6 meter
  • 5.3.5.1Pengukuran dan pematokan
  • 5.3.5.2Penggalian
  • 5.3.5.3Pembuangan bahan galian
  • 5.3.6 Pekerjaan cofferdam, penyokong dan pengaku
  • 5.3.6.1Pengukuran dan pematokan
  • 5.3.6.2Penggalian
  • 5.3.6.3Pembuangan bahan galian
  • 5.3.7 Pekerjaan timbunan
  • 5.3.7.1Pengukuran dan pematokan
  • 5.3.7.2Pemadatan
  • 5.3.7.3Penyiraman
  • 5.3.8 Pekerjaan penyiapan badan jalan
  • 5.3.8.1Pengukuran dan pematokan
  • 5.3.8.2Pemadatan
  • 5.3.8.3Penyiraman
  • 5.3.9 Pekerjaan pemotongan pohon
  • 5.3.9.1Pemotongan
  • 5.3.9.2Pembuangan
  • 5.4 Pelebaran perkerasan dan bahu jalan
  • 5.4.1 Pekerjaan lapis pondasi kelas A
  • 5.4.1.1Pengukuran dan pematokan
  • 5.4.1.2Pengupasan
  • 5.4.1.3Penghamparan
  • 5.4.1.4Pemadatan
  • 5.4.1.5Penyiraman
  • 5.4.2 Pekerjaan lapis pondasi kelas B
  • 5.4.2.1Pengukuran dan pematokan
  • 5.4.2.2Pengupasan
  • 5.4.2.3Penghamparan
  • 5.4.2.4Pemadatan
  • 5.4.2.5Penyiraman
  • 5.4.3 Pekerjaan lapis pondasi tanah semen
  • 5.4.3.1Pengukuran dan pematokan
  • 5.4.3.2Pengupasan
  • 5.4.3.3Penghamparan
  • 5.4.3.4Pemadatan
  • 5.4.3.5Penyiraman
  • 5.4.4 Pekerjaan pelaburan aspal
  • 5.4.4.1Pengukuran dan pematokan
  • 5.4.4.3Penyemprotan
  • 5.4.4.4Pelapisan butiran agregat (chipping)
  • 5.4.5 Pekerjaan lapis resap pengikat
  • 5.4.5.1Pengukuran dan pematokan
  • 5.4.5.2Pembakaran
  • 5.4.5.3Penyemprotan
  • 5.5 Perkerasan berbutir
  • 5.5.1 Pekerjaan lapis pondasi kelas A
  • 5.5.1.1Pengukuran dan pematokan
  • 5.5.1.2Pengupasan
  • 5.5.1.3Penghamparan
  • 5.5.1.4Pemadatan
  • 5.5.1.5Penyiraman
  • 5.5.2 Pekerjaan lapis pondasi kelas B
  • 5.5.2.1Pengukuran dan pematokan
  • 5.5.2.2Pengupasan
  • 5.5.2.3Penghamparan
  • 5.5.2.4Pemadatan
  • 5.5.2.5Penyiraman
  • 5.5.3 Pekerjaan lapis pondasi kelas C
  • 5.5.3.1 Pengukuran dan pematokan
  • 5.5.3.2 Pengupasan
  • 5.5.3.3 Penghamparan
  • 5.5.3.4 Pemadatan
  • 5.5.3.5 Penyiraman
  • 5.5.4 Pekerjaan lapis pondasi semen tanah
  • 5.5.4.1 Pengukuran dan pematokan
  • 5.5.4.2 Pengupasan
  • 5.5.4.3 Penghamparan
  • 5.5.4.4 Pemadatan
  • 5.5.5 Pekerjaan perkerasan beton
  • 5.5.5.1 Pengukuran dan pematokan
  • 5.5.5.2 Persiapan pengecoran
  • 5.5.5.3 Pemasangan bekisting
  • 5.5.5.4 Besi tulangan
  • 5.5.5.5 Pengecoran
  • 5.5.5.6 Pelepasan bekisting
  • 5.6 Perkerasan aspal
  • 5.6.1.1 Pengukuran dan pematokan
  • 5.6.1.2 Pembakaran
  • 5.6.1.3 Penyemprotan
  • 5.6.2 Pekerjaan lapis perekat
  • 5.6.2.1 Pengukuran dan Pematokan
  • 5.6.2.2 Pembakaran
  • 5.6.2.3 Pembersihan permukaan perkerasan lama
  • 5.6.2.4 Penyemprotan
  • 5.6.3 Pekerjaan lataston lapis aus (HRS-WC)
  • 5.6.3.1 Pengukuran dan pematokan
  • 5.6.3.2 Pembersihan permukaan perkerasan lama
  • 5.6.3.3 Penyemprotan
  • 5.6.3.4 Penghamparan
  • 5.6.3.5 Pemadatan
  • 5.6.3.6 Penyiraman
  • 5.6.4 Pekerjaan lataston lapis pondasi (HRS-Base)
  • 5.6.4.1Pengukuran dan pematokan
  • 5.6.4.2Pembersihan permukaan perkerasan lama
  • 5.6.4.3Penyemprotan
  • 5.6.4.4Penghamparan
  • 5.6.4.5Pemadatan
  • 5.6.4.6Penyiraman
  • 5.6.5 Pekerjaan lapis aus aspal beton (AC-WC)
  • 5.6.5.1 Pengukuran dan pematokan
  • 5.6.5.2 Pembersihan permukaan perkerasan lama
  • 5.6.5.3 Penyemprotan
  • 5.6.5.4 Penghamparan
  • 5.6.5.5 Pemadatan
  • 5.6.5.6 Penyiraman
  • 5.6.6 Pekerjaan lapis pengikat aspal beton (AC-BC)
  • 5.6.6.1 Pengukuran dan Pematokan
  • 5.6.6.2 Pembersihan permukaan perkerasan lama
  • 5.6.6.3 Penyemprotan
  • 5.6.6.4 Penghamparan
  • 5.6.6.5 Pemadatan
  • 5.6.6.6 Penyiraman
  • 5.6.7 Pekerjaan lasbutag
  • 5.6.7.1 Pengukuran dan pematokan
  • 5.6.7.2 Pembersihan permukaan perkerasan lama
  • 5.6.7.3 Penyemprotan
  • 5.6.7.4 Penghamparan
  • 5.6.7.5 Pemadatan
  • 5.6.7.6 Penyiraman
  • 5.6.8 Pekerjaan latasbusir
  • 5.6.8.1 Pengukuran dan pematokan
  • 5.6.8.2 Pembersihan permukaan perkerasan lama
  • 5.6.8.3 Penyemprotan
  • 5.6.8.4 Penghamparan
  • 5.6.8.5 Pemadatan
  • 5.6.8.6 Penyiraman
  • 5.6.9.1 Pengukuran dan pematokan
  • 5.6.9.2 Pembersihan permukaan perkerasan lama
  • 5.6.9.3 Penyemprotan
  • 5.6.9.4 Penghamparan
  • 5.6.9.5 Pemadatan
  • 5.7.1 Pekerjaan beton
  • 5.7.1.1 Pengukuran dan pematokan
  • 5.7.1.2 Penyiapan
  • 5.7.1.3 Pemasangan bekisting
  • 5.7.1.4 Penulangan
  • 5.7.1.5 Pengecoran
  • 5.7.2 Pekerjaan pemasangan unit pracetak
  • 5.7.2.1 Pengukuran dan pematokan
  • 5.7.2.2 Penyiapan
  • 5.7.2.3 Pemasangan atau penempatan
  • 5.7.3.1 Pengukuran dan pematokan
  • 5.7.3.2 Penyiapan
  • 5.7.3.3 Penarikan kabel
  • 5.7.4 Pekerjaan penulangan
  • 5.7.4.2 Pemasangan
  • 5.7.5 Pekerjaan baja struktur
  • 5.7.5.2 Pabrikasi
  • 5.7.5.3 Pengelasan
  • 5.7.5.4 Erection
  • 5.7.5.5 Pengecatan
  • 5.7.6 Pekerjaan Pemasangan Jembatan Baja
  • 5.7.6.1 Pabrikasi
  • 5.7.6.2 Erection
  • 5.7.6.3 Pengecatan
  • 5.7.7 Pekerjaan pembuatan struktur kayu jembatan
  • 5.7.7.1 Pengukuran, pemotongan dan pematokan
  • 5.7.7.2 Penggergajian
  • 5.7.7.3 Pabrikasi
  • 5.7.7.4 Pengecatan
  • 5.7.8 Pekerjaan pembuatan gabion (bronjong)
  • 5.7.8.1 Pengukuran, pemotongan kawat dan pematokan
  • 5.7.8.2 Pabrikasi bronjong
  • 5.7.8.3 Penggalian
  • 5.7.8.4 Pemompaan
  • 5.7.8.5 Pemasangan
  • 5.7.9 Pekerjaan pemancangan pondasi cerucuk
  • 5.7.9.1 Pengukuran, pemotongan dan pematokan
  • 5.7.9.2 Pemancangan
  • 5.7.10 Pekerjaan dinding turap kayu tanpa pengawetan
  • 5.7.10.1 Pengukuran, pemotongan dan pematokan
  • 5.7.10.2 Penggalian
  • 5.7.10.3 Pemompaan
  • 5.7.10.4 Pemasangan
  • 5.7.10.5 Penimbunan
  • 5.7.11 Pekerjaan Dinding Turap Kayu dengan Pengawetan
  • 5.7.11.1 Pengukuran, pemotongan dan pematokan
  • 5.7.11.2 Pengawetan
  • 5.7.11.3 Penggalian
  • 5.7.11.4 Pemompaan
  • 5.7.11.5 Pemasangan
  • 5.7.11.6 Penimbunan
  • 5.7.12 Pekerjaan dinding turap baja
  • 5.7.12.1 Pengukuran, pemotongan dan pematokan
  • 5.7.12.2 Pengawetan dan pengecatan
  • 5.7.12.3 Penggalian
  • 5.7.12.4 Pemompaan
  • 5.7.12.5 Pemasangan
  • 5.7.12.6 Penimbunan
  • 5.7.13 Pekerjaan dinding turap beton
  • 5.7.13.1 Pengukuran dan pematokan
  • 5.7.13.2 Penggalian
  • 5.7.13.3 Pembuatan bekisting
  • 5.7.13.4 Penulangan
  • 5.7.13.5 Pengecoran
  • 5.7.14 Pekerjaan pemancangan tiang pancang kayu
  • 5.7.14.1 Pengukuran dan pematokan
  • 5.7.14.2 Persiapan
  • 5.7.14.3 Pemancangan
  • 5.7.15 Pekerjaan penyediaan dinding sumuran silinder, diameter 250 mm
  • 5.7.15.1 Pengukuran
  • 5.7.15.2 Penyiapan
  • 5.7.15.3 Pemasangan bekisting
  • 5.7.15.4 Penulangan
  • 5.7.15.5 Pengecoran
  • 5.7.16 Pekerjaan penurunan dinding sumuran silinder
  • 5.7.16.1 Pengukuran dan pematokan
  • 5.7.16.2 Penggalian
  • 5.7.16.3 Pemompaan
  • 5.7.16.4 Penyiapan Lantai Kerja
  • 5.7.16.5 Penurunan Dinding Sumuran
  • 5.7.16.6 Penimbunan
  • 5.7.17 Pekerjaan pasangan batu
  • 5.7.17.1 Pengukuran dan pematokan
  • 5.7.17.2 Penggalian
  • 5.7.17.3 Pemompaan
  • 5.7.17.4 Penyiapan Lantai Kerja
  • 5.7.17.5 Pemasangan
  • 5.7.17.6 Penimbunan
  • 5.7.18.1 Pengukuran dan pemotongan
  • 5.7.18.2 Pengelasan
  • 5.7.18.3 Pengecoran
  • 5.7.19 Pemasangan Perletakan
  • 5.7.19.1 Pengukuran dan penempatan
  • 5.7.19.2 Pengelasan dan pemasangan
  • 5.7.20 Sandaran jembatan baja
  • 5.7.20.1 Sandaran jembatan baja
  • 5.7.20.2 Pengelasan dan pemasangan
  • 5.7.20.3 Pengecatan
  • 5.7.21 Pembongkaran pasangan batu
  • 5.7.21.1 Pengukuran dan pematokan
  • 5.7.21.2 Pembongkaran
  • 5.7.21.3 Pembuangan
  • 5.8 Pengembalian kondisi dan pekerjaan minor
  • 5.8.1 Pekerjaan pondasi agregat kelas A
  • 5.8.1.1Pengukuran dan pematokan
  • 5.8.1.2Pemadatan
  • 5.8.1.3Penyiraman
  • 5.8.2 Pekerjaan pondasi agregat kelas B
  • 5.8.2.1Pengukuran dan pematokan
  • 5.8.2.2Pemadatan
  • 5.8.2.3Penyiraman
  • 5.8.3 Pekerjaan campuran aspal panas
  • 5.8.3.1 Pembersihan permukaan perkerasan
  • 5.8.3.2 Penyemprotan
  • 5.8.3.3 Penghamparan
  • 5.8.3.4 Pemadatan
  • 5.8.3.5 Penyiraman
  • 5.8.4 Pekerjaan lasbutag atau latasbusir
  • 5.8.4.1 Pembakaran
  • 5.8.4.2 Penyemprotan
  • 5.8.4.3 Penghamparan
  • 5.8.4.4 Pemadatan
  • 5.8.5 Penetrasi macadam
  • 5.8.5.1 Pembersihan permukaan
  • 5.8.5.2 Penyemprotan
  • 5.8.5.3 Penghamparan
  • 5.8.5.4 Pemadatan
  • 5.8.5.5 Penyiraman
  • 5.8.6 Perbaikan pada Bahu Jalan dan Pekerjaan Minor Lainnya
  • 5.8.6.1 Pengukuran dan pematokan
  • 5.8.6.2 Pemadatan
  • 5.8.6.3 Penyiraman
  • 5.9 Pekerjaan pemeliharaan rutin
  • 5.9.1 Pemeliharaan rutin perkerasan
  • 5.9.1.1 Pengukuran dan pematokan
  • 5.9.1.2Pengupasan dan penutupan kembali
  • 5.9.1.3Pengembalian kondisi
  • 5.9.2 Pemeliharaan rutin bahu jalan
  • 5.9.2.1 Pengukuran dan pematokan
  • 5.9.2.2 Pengupasan dan penutupan kembali
  • 5.9.2.3 Pengembalian kondisi
  • 5.9.3 Pemeliharaan rutin selokan, saluran air, galian dan timbunan
  • 5.9.3.1 Pengukuran dan pematokan
  • 5.9.3.2 Pengerukan, penggalian dan penimbunan
  • 5.9.3.3 Perbaikan pasangan
  • 5.9.4 Pemeliharaan rutin perlengkapan jalan
  • 5.9.4.1 Pendataan
  • 5.9.4.2 Perbaikan
  • 5.9.5 Pemeliharaan rutin jembatan
  • 5.9.5.1 Pengukuran dan pematokan
  • 5.9.5.2Pengerukan, penggalian dan penimbunan
  • 5.9.5.3Perbaikan pasangan
  • 5.9.5.4Pengecatan
  • 5.9.5.5Pengembalian kondisi
  • 5.10 Pekerjaan marka jalan
  • 5.10.1 Pekerjaan marka jalan
  • 5.10.1.1 Pengukuran
  • 5.10.1.2 Pembersihan permukaan
  • 5.10.1.3 Pencampuran cat
  • 5.10.1.4 Penyemprotan
  • 5.10.2 Pekerjaan RumbleStrip
  • 5.10.2.1 Pengukuran
  • 5.10.2.2 Pembersihan permukaan
  • 5.10.2.3 Pencampuran
  • 5.10.2.4 Penyemprotan
  • 5.10.3 Pekerjaan rambu jalan
  • 5.10.3.1 Pengukuran
  • 5.10.3.2 Pengelasan
  • 5.10.3.3 Pengecatan
  • 5.10.3.4 Penggalian
  • 5.10.3.5 Pengecoran
  • 5.10.4 Pekerjaan Patok
  • 5.10.4.1 Pengukuran
  • 5.10.4.2 Penggalian
  • 5.10.4.3 Pemasangan
  • 5.10.5 Pekerjaan paku jalan
  • 5.10.5.1 Pengukuran
  • 5.10.5.2 Penggalian
  • 5.10.5.3 Pemasangan
  • 5.10.6 Pekerjaan mata kucing
  • 5.10.6.1 Pengukuran
  • 5.10.6.2 Penggalian
  • 5.10.6.3 Pemasangan
  • 5.10.7 Pekerjaan perkerasan blok beton
  • 5.10.7.1 Pengukuran
  • 5.10.7.2 Penyiapan
  • 5.10.7.3 Pemasangan bekisting
  • 5.10.7.4 Penulangan
  • 5.10.7.5 Pengecoran
  • 5.10.8 Pekerjaan tutup baja untuk lubang drainase
  • 5.10.8.1 Pengukuran dan pematokan
  • 5.10.8.2 Penggalian
  • 5.10.9 Pekerjaan penerangan lampu jalan
  • 5.10.9.1 Pengukuran
  • 5.10.9.2 Penggalian
  • 5.10.9.3 Pengelasan
  • 5.10.9.4 Pengecoran
  • 5.10.9.5 Kelistrikan
  • 5.10.10 Sistem dan pesawat pengatur lalu lintas
  • 5.10.10.1 Pengukuran
  • 5.10.10.2 Penggalian
  • 5.10.10.3 Pengelasan
  • 5.10.10.4 Pengecoran
  • 5.10.10.5 Kelistrikan
  • 5.10.10.6 Pengecatan
  • 6 Pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K)
  • 6.1 Umum
  • 6.2 Maksud dan tujuan
  • 6.3.1 Menilai situasi
  • 6.3.2 Mengamankan tempat kejadian dengan :
  • 6.3.3 Memberi pertolongan
  • 6.4 Jenis kecelakaan
  • 6.4.1 Kecelakaan yang dapat membawa maut
  • 6.4.1.1Coma (collapse)
  • 6.4.1.2Shock (gugat)
  • 6.4.1.3Pingsan
  • 6.4.1.4Mati Suri
  • 6.4.1.5Pendarahan
  • 6.4.2 Luka-luka
  • 6.4.3 Patah tulang
  • 6.5 Pemakaian obat-obat PPPK

PEDOMAN

Konstruksi dan Bangunan

No: 004 / BM / 2006

PEDOMAN PELAKSANAAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3) UNTUK KONSTRUKSI JALAN DAN JEMBATAN

DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM DIREKTORAT JENDERAL BINA MARGA

Pendahuluan

Pekerjaan konstruksi merupakan salah satu pekerjaan yang mempunyai resiko tinggi terutama pada tahap pelaksanaan konstruksi, tidak terkecuali dalam pekerjaan pelaksanaan konstruksi jalan dan jembatan. Mempertimbangkan hal tersebut maka diperlukan ketentuan atau Pedoman Pelaksanaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) untuk Konstruksi Jalan dan Jembatan agar keselamatan dan kesehatan kerja bagi para pekerja konstruksi lebih terjamin. Adapun isi Pedoman Pelaksanaan K3 untuk Konstruksi Jalan dan Jembatan adalah : 1) Ketentuan Pelaksanaan K3 Berisi tentang ketentuan administrasi dan ketentuan teknis pelaksanaan K3 untuk konstruksi jalan dan jembatan. Selain itu juga berisi pedoman pelaksanaan K3 untuk konstruksi jalan dan jembatan bagi pelaku utama konstruksi. 2) Pelaksanaan Teknis K3 pada Konstruksi Jalan dan Jembatan Berisi tentang potensi bahaya serta antisipasi pencegahan bagi para pekerja dalam melaksanakan konstruksi jalan dan jembatan. Konstruksi jalan dan jembatan di sini mengacu pada urutan pekerjaan yang ada di Spesifikasi Umum Bidang Jalan dan Jembatan. 3) Pertolongan Pertama pada Kecelakaan (P3K) Berisi tentang pedoman untuk penolong, jenis kecelakaan dan pemakaian obat-obat PPPK. Pedoman Pelaksanaan K3 untuk Konstruksi Jalan dan Jembatan ini diharapkan menjadi panduan bagi penyelenggara pembangunan jalan dan jembatan, agar tercipta keamanan bagi para pekerja dalam melaksanakan pekerjaan.

xii

Prakata

Salah satu aspek penting untuk menunjang keberhasilan pembinaan jalan adalah tersedianya Norma, Standar, Pedoman dan Manual (NSPM) yang dapat diterapkan. Untuk membantu mengatasi permasalahan di atas, Direktorat Bina Teknik, Direktorat Jenderal Bina Marga, Departemen Pekerjaan Umum menyusun Pedoman Pelaksanaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) untuk Konstruksi Jalan dan Jembatan. Pedoman Pelaksanaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) untuk Konstruksi Jalan dan Jembatan ini dipersiapkan dalam rangka memberikan acuan kepada para perencana dan pelaksana pekerjaan konstruksi jalan dan jembatan guna mengurangi tingkat kecelakaan dan gangguan kesehatan akibat pekerjaan konstruksi jalan dan jembatan. Tatacara penulisan pedoman ini telah disesuaikan dengan pedoman yang diterbitkan oleh Badan Standardisasi Nasional (BSN) Nomor 8 tahun 2000 tentang Penulisan Standar Nasional Indonesia. Apabila dalam penerapannya dijumpai kekurangan atau kekeliruan pada pedoman ini, akan dilakukan perbaikan dan pemyempurnaan di kemudian hari. Mudah-mudahan manual ini dapat bermanfaat untuk pembinaan jalan yang efektif dan efisien.

Jakarta,

Desember 2006

Direktur Jenderal Bina Marga

Hendrianto N.

i

.... 5..... 4...................................... 4.......................... 5...3 Pekerjaan Relokasi Utilitas dan Pembersihan.............................................................................................1.1....1...... 5.....1............. 4.........................................2 Pembersihan ...................................................................................1.....3 Pemeliharaan untuk Keselamatan Lalu Lintas....... ........................ 4.............................9 Pencegahan terhadap Bahaya Jatuh ke dalam Air ............................. ............................................1........................................................................3 Pedoman untuk Pelaku Utama Konstruksi ..................................................3..............................................6 Inspeksi dan Pengawasan .................11 Kebisingan dan Getaran (vibrasi)................. 4..............2.......2.......................................................1 Pekerjaan Selokan dan Saluran Air ..................1......2.. 4.1 Pekerjaan Persiapan .............................................................. Pelaksanaan Teknis K3 pada Konstruksi Jalan dan Jembatan .......... 5......... ......................................... 4........1.................................5 Pembiayaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja ......... 4................................................................1 Aspek Lingkungan ............... 4........... ..... 4..........................................1 Kewajiban Umum .....................................................1.............................................. Ruang Lingkup ....................................................... ............................ 5....... 4........3 Pedoman untuk Mandor . 1........1..........................1..2................................................................................... 4.............. 4......... 4........ 4........................................ 5... 5............1............................1 Pekerjaan Jalan dan Jembatan Sementara ......... 5................2 Mobilisasi dan Demobilisasi . 4......1 Pemeriksaan Lapangan....................2......................................3 Laporan Kecelakaan ..................1 Pedoman untuk Manajemen Puncak ...................................1........................................ 4...............3............................................................................................... 4.............3 Pencegahan terhadap Kebakaran dan Alat Pemadam Kebakaran ........................... .....2............... 4.... 5.................................................2 Pengaturan Sementara untuk Keselamatan Lalu Lintas ....1 Ketentuan Administrasi .....13 Perlengkapan Keselamatan Kerja .......1........................................................................12 Menghindari terhadap Orang yang tidak Berwenang ............................. 3....1..............4 Fasilitas dan Pelayanan Pengujian Logistik.................................. 2.....................................................1 Relokasi Utilitas..............2....2............. 5.......................................................1..2 Pekerjaan Pengaturan Lalu Lintas ..... 5.........3 Kantor Lapangan dan Fasilitasnya .........2...................1......8 Tempat-tempat Kerja yang Tinggi . ........ . 5.....1......... 4..... 5....................................1 Pengukuran dan Pematokan .7 Perlengkapan dan Peringatan .......4 Alat Pemanas (heating appliances) ... ...2.... ........ Istilah dan Definisi ............................................... 4................... 5............. 5.......1.......10 Utilitas Umum .......................2..... ............2...... Daftar isi .......2 Tempat Kerja dan Peralatan ...1..................4 Keselamatan Kerja dan Pertolongan Pertama pada Kecelakaan .........5 Bahan-bahan yang Mudah Terbakar .................................1..2.......2.... 4............................3...............Daftar Isi Prakata .................2..2 Penggalian ........... 5........................ 5... 4..... 4........3.........................1..................... 4........................2........................... Daftar Gambar ............................................ i ii xi xii 1-160 1-160 2-160 2-160 2-160 2-160 3-160 3-160 4-160 4-160 5-160 5-160 5-160 6-160 7-160 7-160 7-160 7-160 8-160 8-160 8-160 8-160 8-160 8-160 9-160 9-160 9-160 10-160 10-160 10-160 10-160 10-160 11-160 11-160 11-160 12-160 12-160 12-160 12-160 12-160 13-160 13-160 13-160 13-160 13-160 13-160 14-160 ii ........2................................................................. Ketentuan Pelaksanaan ..........................................3..........2........ 5.........................2 Pedoman Untuk Manager dan Pengawas ......................................1 Divisi Umum ......2 Ketentuan Teknis ..........1............3.....................................4 Pedoman untuk Pekerja....2. Pendahuluan ..........2 Pekerjaan Drainase ..........2 Organisasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja .................................... 4............ Acuan Normatif ............

......6................. 5..2.......................... 5.....6..6 Pekerjaan Cofferdam......................... 5........6.........2.3..............................1 Pemotongan...8 Pekerjaan Penyiapan Badan Jalan ... 5........................... 5...............3 Penyiraman ..... 5..................................2...................7.................2 Penggalian ...........5..4 Pekerjaan Galian Struktur dengan Kedalaman 2-4 meter ............1 Pengukuran dan Pematokan ........3 Pembuangan Bahan Galian ........9 Pekerjaan Pemotongan Pohon ............5..3 Pekerjaan Tanah .................3...................5 Pekerjaan Timbunan Porus atau Bahan Penyaring.....3....................... 5...................1 Pengukuran dan Pematokan ..................................5.....3.........3...............................................2............3.........................................................3......2 Pekerjaan Galian Batu .....3...............1 Pengukuran dan Pematokan ................2 Penggalian ...3...... 5...3 Pembuangan Bahan Galian ...3............. 5........................... 5.......2.....3................................. 5...2 Penggalian ..... 5................5............................2 Penggalian ..1 Pengukuran dan Pematokan .. 5........... 5.......2........8...... 5..................................................................... 5.......................... 5.. 5.............2...................... 5......2 Pemadatan.........3.......4... 5........3.....3 Penyiraman ........3.............2 Pemadatan.2........2....................... 5.............3......3 Pekerjaan Galian Struktur dengan Kedalaman 0-2 meter ..............3..........................4.3............. 5............ 5.........3............2 Penggalian ......3........... 5.3 Pembuangan Bahan Galian ...4...............3.2.....2 Penggalian ...............2.................................................................7...................................1............... 5........................3 Pembuangan Bahan Galian ...................... 5.................6 Pekerjaan Anyaman (filter) Plastik ....................................8....... 5...... 5...........................3..2.....................3.....2...........3........2.......................3.................................................................................5 Pekerjaan Galian Struktur dengan Kedalaman 4-6 meter .....................3 Pembuangan Bahan Galian ........... 5...... 5.......3 Pemasangan ....3......1 Pengukuran dan Pematokan ................................2.............1 Pengukuran dan Pematokan .................6..............3............................................. 5..3................. 5......................4..1 Pengukuran dan Pematokan .......................4.........................2 Penggalian ......................1 Pekerjaan Galian Biasa .............................1 Pengukuran dan Pematokan .................................................. 5............. 5........................8................................................3....................3.........................3........3 Pekerjaan Gorong-gorong Pipa Beton ..................................... 5...1 Pengukuran dan Pematokan ..1.... 5..................5...... Penyokong dan Pengaku...2.....3...... 5................................................... 5.... 5....................................6......................... 5...........3.................3..... 5...........3....................2 Penggalian ...... 5....................3 Pembuangan Bahan Galian ............ 5...9........3............ 5................. iii 14-160 14-160 14-160 15-160 15-160 15-160 15-160 16-160 15-160 16-160 16-160 16-160 17-160 17-160 17-160 17-160 17-160 18-160 18-160 18-160 18-160 18-160 19-160 19-160 19-160 19-160 20-160 20-160 20-160 20-160 21-160 21-160 21-160 21-160 21-160 22-160 22-160 22-160 22-160 23-160 23-160 23-160 23-160 24-160 24-160 24-160 24-160 24-160 24-160 25-160 25-160 25-160 25-160 26-160 ...........................................................3....3..................3 Pemasangan ......................... 5..................................... 5....................1 Pengukuran dan Pematokan ............1 Pengukuran dan Pematokan ......4 Pekerjaan Gorong-gorong Pipa Baja Bergelombang ...........7....................2.............................2 Pembuangan............................... 5...1........2 Penggalian ................................. 5.......................................2.3.............6................ 5.............2..................2..2..............................................................................2.............1 Pengukuran dan Pematokan .................. 5..2.............1 Pengukuran dan Pematokan ...........................................................3 Pemasangan ................3 Pemasangan ......... 5.........3.....4.................3.......2 Pekerjaan Pasangan Batu dengan Mortar untuk Selokan dan Saluran Air......................... 5.............7 Pekerjaan Timbunan........................... 5.....................3..................2 Penggalian ...........................9..........2......................

.... 5...............................2 Pengupasan ........ 5.............2 Pekerjaan Lapis Pondasi Kelas B ....5..........................2...........................................2..............................2............. 5................ 5.3..5 Perkerasan Berbutir ..........................4...2 Pekerjaan Lapis Pondasi Kelas B ......................4........4 Pelebaran Perkerasan dan Bahu Jalan.... 5.....5.......5............. 5...........2 Pengupasan ......... 5.............3................3 Penghamparan....5. 5..................2..................... 5......... 5.........5...........1....1 Pengukuran dan Pematokan ......................................3 Penghamparan........................ 5.......................................3............................4 Pemadatan.................. 5..................5 Penyiraman .....................................................4.4............4.............1.....5...............5.....1......3 Penghamparan. 5.......................................................5.5 Penyiraman ................ .5...5.........4... 5........5..5... 5................4 Pemadatan.......................... 5....4....1 Pengukuran dan Pematokan ....................................4 Pemadatan....4...............................................4.4......................4...............5 Penyiraman ........... 5........................4 Pemadatan.......1..........4...........................2....................3 Pekerjaan Lapis Pondasi Kelas C..... 5.................................4 Pekerjaan Pelaburan Aspal ..........................................................5.3.................5.........3 Penghamparan...2..............1...................... 5.................................1 Pengukuran dan Pematokan ......................................................4.....5 Penyiraman . 5............................2 Pengupasan ................................. 5.......5 Pekerjaan Lapis Resap Pengikat .............................................................................2 Pengupasan ............1 Pengukuran dan Pematokan ........................5....................1...................3......1 Pengukuran dan Pematokan .... 5...........................................2 Pengupasan ....................................................................................5............... 5................4.............4..................................................................5..... 5............1 Pengukuran dan Pematokan ..............4........ 5.................4..5................3....................................5.....2..... 5........ 5..................3............4.... 5.............4..................... 5....................................................................................3 Penyemprotan ....................4.4 Pemadatan....................4.......................................... 5.... 5................. 5.....................5. 5....1............4...........5....4..............4... 5..............4.... 5....................................................................... 5..3....1.................4......................3 Penghamparan...............5.............4....................3 Penghamparan.....4.......2 Pembakaran.........3 Penyemprotan .. 5. 5......................3 Pekerjaan Lapis Pondasi Tanah Semen ................. ..........4 Pemadatan...............................................................................................................................4....... 5...........4................................2 Pengupasan ................ 5....................3.............................................................................................................5..........4................ 5........................... 5.5.....4 Pekerjaan Lapis Pondasi Semen Tanah ............5..... 5............1.......................4........... 26-160 26-160 26-160 26-160 27-160 27-160 28-160 28-160 28-160 28-160 29-160 29-160 30-160 30-160 30-160 30-160 31-160 32-160 32-160 32-160 32-160 33-160 33-160 34-160 34-160 34-160 34-160 35-160 35-160 35-160 35-160 36-160 36-160 37-160 37-160 37-160 37-160 38-160 38-160 39-160 40-160 40-160 40-160 40-160 41-160 41-160 42-160 42-160 42-160 43-160 43-160 44-160 iv ..................2 Pembakaran.................1 Pengukuran dan Pematokan ....4.......2.................... 5..5..........5.................... 5....................1 Pengukuran dan Pematokan ...................................3 Penghamparan................................. 5.................2..........4 Pelapisan Butiran Agregat (chipping) .. 5............1 Pekerjaan Lapis Pondasi Kelas A .................. 5..1 Pengukuran dan Pematokan ...4 Pemadatan.................5 Penyiraman ............................1....................... 5....................1 Pekerjaan Lapis Pondasi Kelas A ....................................................4.............................2 Pengupasan .... 5..................3...........2.................. 5...........................5 Penyiraman ......4....

........6................................6.................................6 Penyiraman ......... 5..................................3................................................................6 Penyiraman ......2 Pekerjaan Lapis Perekat...........5...............7................. 5........................................2 Pembakaran.........4 Penghamparan.................3 Pembersihan Permukaan Perkerasan Lama ..................................6................ 5.................................1.5..........................................................4..........7.................... 5......5 Pekerjaan Perkerasan Beton .............5 Pemadatan............ 5..........4....6.................................................................................7.............................6.......6...................6.2 Pembersihan Permukaan Perkerasan Lama ..............3 Penyemprotan...........................................6....4 Penghamparan.............6... 5....... 5...6...............6..............3 Pemasangan Bekisting........................5................. 5..........2 Pembersihan Permukaan Perkerasan Lama ....3 Penyemprotan.....6..................................4 Pekerjaan Lataston Lapis Pondasi (HRS-Base)............................................................4 Penghamparan....1 Pengukuran dan Pematokan ................................. 5............4...................1 Pengukuran dan Pematokan ...5...................2........................... 5..........................................5...........5..............................5.3 Penyemprotan..6 Perkerasan Aspal.............6..2... 5.........................5.............. 5.......3.........................5................ 5...7.1 Pekerjaan Lapis Pengikat ..6....................6..............6 Pelepasan Bekisting......5 Pekerjaan Lapis Aus Aspal Beton (AC-WC)........................4 Penghamparan..5............6..................... 5...........4....3...........6....5..........4 Besi Tulangan ...........................................6.6.........6....................................6.1 Pengukuran dan Pematokan .........3........................................ 5.............6...... 5.........5.3 Penyemprotan.......... 5...................6................6 Pekerjaan Lapis Pengikat Aspal Beton (AC-BC) ...1....................7................ 5...................6....................6........... 5............................ 5.2 Pembersihan Permukaan Perkerasan Lama ....................6..................................... 5............. 5.. 5... 5................5... 5. 5.....6..........6 Penyiraman ............................6............4........6...... 5....6....... 5...........5 Pemadatan...6..........6..... 5...................... 5.............. 5......1 Pengukuran dan Pematokan .................. 5...6........... 5..........................6. 5...............1 Pengukuran dan Pematokan ................................................6..........6......5 Pengecoran........................7 Pekerjaan Lasbutag..................6................6........6..........................................6.2 Persiapan dan Pengecoran ..........1 Pengukuran dan Pematokan .........4..............6............ 5.............6 Penyiraman .......................................................1 Pengukuran dan Pematokan .. 5....................... 5......................6 Penyiraman . 5..............5............................................................. 5.........5.........6......5.............................5 Pemadatan..................3 Penyemprotan.....5 Pemadatan..................................5...6.................................................................................................................5...................................................6....2 Pembersihan Permukaan Perkerasan Lama ....................3 Penyemprotan............5.....6..... 5..... 5................................4 Penghamparan.......2 Pembakaran........3.....................................6...................................................3 Pekerjaan Lataston Lapis Aus (HRS-WC) ....... 5........2 Pembersihan Permukaan Perkerasan Lama ................... 5.2...6....6.....1.4 Penyemprotan............................... 5.....................5... 5.......5 Pemadatan...3......6........1 Pengukuran dan Pematokan ....... 5........6................................................ 5.......................7..... 5........2.......... 5............................. 44-160 44-160 45-160 45-160 46-160 46-160 47-160 48-160 48-160 48-160 48-160 49-160 49-160 49-160 50-160 50-160 51-160 51-160 51-160 51-160 52-160 52-160 53-160 53-160 54-160 54-160 54-160 54-160 55-160 56-160 56-160 56-160 56-160 57-160 57-160 58-160 58-160 59-160 59-160 59-160 59-160 60-160 60-160 61-160 61-160 62-160 62-160 62-160 62-160 63-160 64-160 64-160 v ......... 5.... 5....

........3 Penyemprotan........... 5.6......7..........................................................1 Pengukuran....8..................... 5...........2.....5...................................................... 5............................................8...........2 Pembersihan Permukaan Perkerasan Lama .....3 Penggalian .....6.............................7.. 5............1 Pengukuran.7........1.......7...............3 Pekerjaan Pemasangan Kabel Prategang. 5..... 5........... 5.......................................................................7............................5 Pemasangan ..........................................7...................................... 5............................................ 5........... 5...............7......................1 Pengukuran dan Pematokan .7............6...........................................................6 Penyiraman ........ 64-160 64-160 65-160 65-160 66-160 66-160 67-160 67-160 67-160 68-160 68-160 68-160 69-160 69-160 69-160 69-160 70-160 70-160 71-160 71-160 73-160 73-160 73-160 74-160 76-160 76-160 76-160 76-160 77-160 77-160 77-160 78-160 78-160 78-160 78-160 80-160 81-160 81-160 81-160 81-160 82-160 82-160 82-160 83-160 83-160 84-160 84-160 84-160 84-160 85-160 85-160 85-160 vi ........ 5...7.............................7.7..........5..........................6 Pekerjaan Pemasangan Jembatan Baja .............................8 Pekerjaan Latasbusir ................................7.......6........5 Pengecoran................... 5.. 5.............1 Pengukuran dan Pematokan ....7 Pekerjaan Pembuatan Struktur Kayu Jembatan .....1........................2.................1 Pekerjaan Beton ...............................................8 Pekerjaan Pembuatan Gabion (Bronjong) ...................7... 5............2 Pabrikasi Bronjong .... 5.........2...6.................................7..........3 Pengelasan ...9...............7...6...........................................................8... 5...........................................7 Pekerjaan Struktur ....... 5...................1 Pengukuran dan Pematokan ....6.7...................2 Pekerjaan Pemasangan Unit Pracetak ...........................7.....2 Penggergajian .......1 Pengukuran dan Pematokan ... 5............................. 5.......... 5..............................................1 Pengukuran dan Pematokan .7....7...........3....................9..6...9........................................3 Penyemprotan.......3 Penarikan Kabel...6..............7..........3 Pengecatan ...............................................................................7.................................. 5........... Pengadaan dan Penarikan ....1 Pengukuran dan Pematokan ...9.....8........................................................1........................................7............... 5...............3...1............7....... Pemotongan Kawat dan Pematokan ................................................4 Erection ............5.7......7............5 Pemadatan....................8................5.............................................................2 Pemasangan .... 5. 5..................................3............. 5........................................7........ 5..... 5...... 5..4........7....5 Pekerjaan Baja Struktur .................................3 Pemasangan dan Penempatan ...................7................... 5................7..................................2 Penyiapan ... 5....... 5........................1 Pengukuran dan Pematokan .. 5..............................................9 Pekerjaan Macadam............8.............6.............................5 Pemadatan........7. 5.. Pemotongan dan Pematokan .........7......4 Penghamparan............................6..................................3 Pemasangan Bekisting............................6............................. 5..5 Pengecatan ......................8..................... 5....2 Pabrikasi ..........................................4 Penulangan ......4 Pekerjaan Penulangan .. 5........................................ 5............. 5...........................7................4 Pengecatan .7.. 5.........2 Penyiapan ......6...........7...................................................... 5. 5................ 5.............2 Erection .............6........2 Pembersihan Permukaan Perkerasan Lama .........................................4.9..................................................................5.... 5.........................2 Penyiapan ...7.............................. 5....8..................7.......7.......... 5...6... 5............ ........................... 5.........................7.8......4 Pemompaan..7...........................5........8.......7.......1 Pabrikasi ..................3 Pabrikasi ..... 5............................................4 Penghamparan..........1................8............... 5.............................................. 5................................................................... 5.............7..........6...............7........

.............9 Pekerjaan Pemasangan Pondasi Cerucuk.......13.......10....................2 Penggalian .... 5..6 Penimbunan .....7........7...............................15.......12............ 5.. 5.................... 5... 5...17.........7......12..................... 5..........................................16..................7.........17............................7....7.........4 Penulangan .....14 Pekerjaan Pemancangan Tiang Pancang Kayu...............................................2 Penggalian .........17..7......7.... 5........17.................. 5........9........................................................ 5...........17..................17 Pekerjaan Pasangan Batu ..........................................10......................... Pemotongan dan Pematokan ...........16.........................16 Pekerjaan Penurunan Dinding Sumuran Silinder ........................7............................. 5.....................11.....................................................7...11...................13..16................7.....9......5 Pemasangan ........1 Pengukuran......................3 Pemompaan..................... 5... 5.............. 5..... 5........7.....................7.........7................ 5..................1 Pengukuran.................. 5..15 Pekerjaan Penyediaan Dinding Sumuran Silinder...............................................11.....................7..7................. 5.....3 Penggalian ....................................7.... 5...............11....7...... 5...................7.............................7.......................... 5..7...16.......................7......12......................................................................5 Pengecoran....................7. 5.... 5............7..............2 Pengawetan ................................ 5...12............6 Penimbunan ..........7.....4 Penulangan .............................5 Pemasangan ...............................7...............7...5.........16...................... 5.... 5......3 Penggalian .......15.........................................12 Pekerjaan Dinding Turap Baja ......................................... 5..7.................. 5.2 Penggalian ........6 Penimbunan ........................ 5... 5...................................7.....................15................. 5.. 5..................3 Pemompaan.............7........... 5......... Diameter 250 mm 5...................1 Pengukuran dan Pematokan ....................................7............ 5........................................13.............14.. 5....11......7............. 5.3 Pemancangan ........2 Penyiapan .2 Persiapan ...7.............................................................. Pemotongan dan Pematokan .........................7.........1 Pengukuran dan Pematokan ..........13..................................................................................2 Pemancangan .......4 Pemompaan...12......10..7..7....................................7...4 Pemasangan ...7.................1 Pengukuran....... Pemotongan dan Pematokan ........7.................. 5...........................................................15.........................15......... 5.................3 Pemompaan...........14...................................7.........................11 Pekerjaan Dinding Turap Kayu dengan Pengawetan................ 5.2 Pengawetan dan Pengecatan .........7.. Pemotongan dan Pematokan .........7.....7........... 5...................7........ 5............1 Pengukuran...........2 Penggalian ........5 Penimbunan .......................................7............10..........3 Pembuatan bekisting.......... 5...... 5.... 5.................................5 Pemasangan ......3 Pemasangan Bekisting......................14......................7..........................................................7....................................... 5...................7...........7......... 86-160 86-160 86-160 86-160 86-160 87-160 87-160 88-160 88-160 89-160 89-160 89-160 89-160 90-160 90-160 91-160 91-160 91-160 91-160 92-160 92-160 93-160 93-160 94-160 94-160 94-160 95-160 95-160 96-160 97-160 97-160 97-160 97-160 98-160 98-160 98-160 98-160 99-160 100-160 101-160 101-160 101-160 102-160 102-160 102-160 103-160 103-160 103-160 103-160 104-160 105-160 105-160 105-160 vii ...............13........4 Pemompaan.................. 5.....1 Pengukuran.16.........10 Pekerjaan Dinding Turap Kayu tanpa Pengawetan........................4 Penyiapan Lantai Kerja ...13 Pekerjaan Dinding Turap Beton ............7............. 5...........6 Penimbunan ......................... 5...................7......................1 Pengukuran dan Pematokan ................5 Penurunan Dinding Sumuran ..............17......11.......................... 5....... 5...............................12.......7................................1 Pengukuran dan Pematokan ..............................10...4 Penyiapan Lantai Kerja .....................................5 Pengecoran.....7................... 5............................ 5...........

....19 Pemasangan Perletakan.............1 Pekerjaan Pondasi Agregat Kelas A ....5..7........................9.......................8....3 Penyiraman .......................................8.................................................... 5...................................5 Penyiraman .....5..........18 Pekerjaan Expansion Joint .............................................5..................8...................................8...............................................5............... .....8.................................................................8............... 5...............................7.......7...........................2 Pemeliharaan Rutin Bahu Jalan............ 5............................................................8...21.............. 5.......................... 5..................................... 5.......................... 5...............7...... 5............7................................ 5...................................................4.....1....................................6...8.....................6..........8......................8........................... 5..3................1..................4.3 Penghamparan.................................................................................................8........................................2 Pekerjaan Pondasi Agregat Kelas B ........21........7.................................7........ 5..... 5...................................................... 5....3 Penghamparan..............................7...19.........3 Pekerjaan Campuran Aspal Panas ............................5 Penetrasi Macadam............8...................................8...............................19.. 5..........4 Pemadatan.....2............................................3 Penyiraman .....3 Penghamparan.......2 Pengupasan dan Penutupan Kembali .... 5............4 Pekerjaan Lasbutag atau Latasbusir......2 Penyemprotan...... 5.................. 5. 5...........2 Pemadatan..... 5..2 Pemadatan...8.................. 5............... 5.........3..... 5.......................................................3 Pengembalian Kondisi..5 Penyiraman ............................8...........1 Pengukuran dan Pematokan .................................18................................................. 5...........................2.......20............... 5.................. 5.............8.....................................2..........................................2..........3........ 5...8..................... 5......................4................. 5...8.9.1 Pengukuran dan pematokan ......1 Sandaran Jembatan Baja ..............2 Pengelasan .......................................1 Pengukuran dan Penempatan ...............1.............. 5. 5.............. 5........................7..........2 Pengupasan dan Penutupan Kembali ............9..3 Penyiraman ..1 Pembakaran.. 5.................. 5.................................1 Pengukuran dan Pemotongan ..................................................9........ 5.9...........7............................................... 5................1.......... 5.7..8.....3 Pengecatan .8............................ 5...........1....................................... 5.........21.....7.18......................8.........................18..........................9.1 Pengukuran dan Pematokan ......8...................1 Pemeliharaan Rutin Perkerasan . 5.........................3 Pembuangan...........7............................20 Sandaran Jembatan Baja .........4 Pemadatan.................................... 5.5.. 5.... 5...........................3 Pengembalian Kondisi...8.7...8.......................5..................................2 Penyemprotan.........8 Pekerjaan Pengembalian Kondisi dan Pekerjaan Minor.1 Pengukuran dan Pematokan ..3.2 Pengelasan dan Pemasangan...................................2 Pengelasan dan Pemasangan......... 5....3 Pengecoran.....................2 Penyemprotan.......................20.2........................ 5........ 5................................. 5................ 5.....8................2 Pembongkaran........9...................8..8............................. 5..3..4...20................1 Pengukuran dan Pematokan .................. 5............................ 5.....21 Pembongkaran Pasangan Batu ......8..9..........1 Pembersihan Permukaan .......................1 Pengukuran dan Pematokan ......................................6 Perbaikan pada Bahu jalan dan Pekerjaan Minor Lainnya .2.9 Pekerjaan Pemeliharaan Rutin.... 5.................................................8.........7...........1 Pembersihan Permukaan Perkerasan ...............1........ 5......... 106-160 106-160 106-160 107-160 108-160 108-160 108-160 109-160 109-160 110-160 111-160 111-160 111-160 112-160 112-160 112-160 112-160 112-160 113-160 113-160 114-160 114-160 114-160 115-160 115-160 115-160 116-160 116-160 117-160 117-160 118-160 118-160 118-160 119-160 119-160 120-160 120-160 120-160 121-160 121-160 122-160 122-160 122-160 123-160 123-160 124-160 124-160 124-160 124-160 125-160 125-160 125-160 126-160 126-160 viii ............. 5..............2 Pemadatan..........6.................4 Pemadatan........

..4.....3 Pemasangan ....5 Pengecoran ................. 5.................4...................10......................................................... 5..................3 Pemasangan Bekisting .10.........2 Penggalian ..................... 5..............................................2 Pengerukan........................... .......10 Pekerjaan Marka Jalan...2 Perbaikan......................2 Penggalian .3........................6.. 5.10.................2 Pengerukan.................................................5 Pengecoran ...7 Pekerjaan Perkerasan Blok Beton ..... 5........ 5.........3 Perbaikan Pasangan ...4 Pekerjaan Patok.........1..7................3 Pencampuran Cat.......7..... 5.................................................................... Galian dan Timbunan .... 5... 5.............................2 Penggalian .........................3...............................1 Pengukuran ............................10...........5......6 Pekerjaan Mata Kucing ................10......2............................. 5...............5 Pengembalian Kondisi..............................5 Pemeliharaan Rutin Jembatan.................... 5.......................3..... 5............................................................1 Pengukuran dan Pematokan .......................................................................................9.......3 Perbaikan Pasangan .............2 Pengelasan ....7.......... 5...10...............10........................................................................ 5............................9....1.............................2......2................10..7.....4 Penyemprotan ......8 Pekerjaan Tutup Baja untuk Lubang Drainase ............. 5....4 Penulangan .................................................................................3.... 5........4 Penyemprotan .3 Pencampuran ....1 Pengukuran ........1 Pengukuran ..9..........................................................3........... 5.................10...... 5...........9....................1 Pendataan...10....3 Pemasangan ......................6.......9............10...........................1. 5..3 Pengecatan ................................4..........9........... 5....... 5.....10............... 5.........10..5..............................1....... 5....5. 5.8.....10... 5......................................................1 Pengukuran dan Pematokan .1 Pengukuran ..........................................2 Penyiapan .........................5..10............2 Penggalian .........................10.9.............. 5..................10.................................................................10......10........ 5........ 5........9.......................................... 5............10............5........ 5............................................10................................... 5....5........................ 5......9.......................1 Pengukuran ...2....10..........................3 Pemasangan ..................10.......................... 5..............9..........2 Pembersihan Permukaan .........................................4 Penggalian ...............10.4 Pengecatan ............................. 5.10................................... 5........................................ 5..................5 Pekerjaan Paku Jalan ............... 5...........................10........10...5.................................. 127-160 127-160 127-160 127-160 128-160 128-160 128-160 129-160 129-160 129-160 130-160 130-160 130-160 131-160 131-160 131-160 131-160 132-160 132-160 132-160 132-160 133-160 133-160 133-160 134-160 134-160 134-160 135-160 136-160 136-160 137-160 137-160 137-160 138-160 139-160 139-160 139-160 140-160 140-160 140-160 141-160 141-160 142-160 142-160 143-160 143-160 143-160 144-160 144-160 144-160 145-160 ix ........................................................................7.......................10.........9...........10...... 5.......................10......6.. 5..........................9... 5...............4.......... 5.........................................2 Pekerjaan Rumble Strip ...... 5..3 Pemeliharaan Rutin Selokan...... 5............10..........................1 Pengukuran .......... 5..........1 Pengukuran ........ 5..........................................3.....3......10........ Saluran Air.10....1 Pekerjaan Marka Jalan ......3 Pekerjaan Rambu Jalan.....10........10................................................ 5...........5..........4 Pemeliharaan Rutin Perlengkapan Jalan ............................................5.............................3................................ 5........ 5..........10........8.....2 Pembersihan Permukaan ..1 Pengukuran dan Pematokan ..................................10.... 5..............9..... 5...... Penggalian dan Penimbunan .4...... Penggalian dan Penimbunan ..........

............................4 Jenis Kecelakaan ............10........10..........................................Pekerjaan Penerangan Lampu Jalan ......... 5........... 5...2 Penggalian .....................4 Mati Suri................ 6.....3 Pengelasan ............................. 6.......................4...................1....................... 5........... 6...........3 Pengelasan .........10........................................................1 Koma (Collapse) ...........4 Pengecoran .................................... 5....................9............... 6................10.................4.. 5.......................1 Menilai Situasi .....10........10...9.......10 Sistem dan Pesawat Pengatur Lalu Lintas ..........................9...................................... 5.9..........1..... 6.......10............4.......................10.1 Kecelakaan yang dapat Membawa Maut .............................................................10..................................... 6....................... 6.................................................................2 Shock (Gugat) ......9.............................4......................................4 Pengecoran ...... 6......................................3 Patah Tulang ...........................................................10...9 145-160 145-160 146-160 146-160 147-160 148-160 148-160 148-160 149-160 149-160 150-160 151-160 151-160 152-160 152-160 152-160 152-160 152-160 153-160 153-160 153-160 153-160 153-160 153-160 154-160 154-160 155-160 156-160 158-160 160-160 x ............... 6.....................2 Luka-luka....................................................................3..1 Pengukuran ..................................10........ 6................. 5..........................................3 Pingsan ................................... 5..................................... 6..........5 Pemakaian Obat-obat PPPK ............................................................................ 6..... 6................1........................10...............................3 Memberi Pertolongan .....1 Pengukuran ........... 6.......5 Pendarahan.........................10..........................5 Kelistrikan......2 Maksud dan Tujuan...10........10......10.............................. 5.....................4.................. 6............4........................................10.............1..........................1.............2 Mengamankan Tempat Kejadian ...10.......................... 6...........3 Pedoman untuk Penolong ................................................4......2 Penggalian .......... 5............................ 5...................5 Kelistrikan.................3..6 Pengecatan . 5....................................................................................................1 Umum ........................................ Pertolongan Pertama pada Kecelakaan (P3K) .......................10.................4........... 5...............................3............ 6....................................................

.........................................2 .........9 ........... Gambar 6..........................12a ............................11 ................................................................... Gambar 6.......................... Gambar 6..................................................................................................................... 9-160 155-160 156-160 156-160 156-160 157-160 158-160 159-160 159-160 159-160 159-160 160-160 160-160 160-160 xi .............10 ..................................................4 ....................................................................................................... Gambar 6............ Gambar 6...........6 ................................................................... Gambar 6........................................................................................................................................................ .....................3 .................5 . Gambar 6...........................................................7 .... Gambar 6.................................................................Daftar Gambar Gambar 4..................1 ...................................................................................................................................12b ................................................. Gambar 6...................1 .................................... Gambar 6........................................................................................................................................................................................................ Gambar 6............................................................................................................................... Gambar 6..........8 .......... Gambar 6...............................

Pedoman pelaksanaan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) untuk konstruksi jalan dan jembatan 1 Ruang lingkup Pedoman pelaksanaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) ini secara khusus menguraikan pelaksanaan K3 untuk konstruksi jalan dan jembatan. Keselamatan Kerja pada Pemasangan dan Pemakaian. Kep/104/Men/1986 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada Kegiatan Konstruksi Bangunan.  SNI 03-0965-1989 : Cara Uji Kerja Loader.  SNI 04-0225-2000 : Persyaratan Umum Instalasi Listrik 2000 (PUIL 2000).  Undang-undang No. Pedoman ini dimaksudkan sebagai acuan dan ketentuan bagi para penyelenggara konstruksi jalan dan jembatan terkait dengan pelaksanaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). 2 Acuan normatif Pedoman ini menggunakan acuan dokumen yang telah dipublikasikan baik tingkat nasional maupun internasional yaitu meliputi :  Undang-undang No. dan Kesehatan Kerja. pekerjaan perkerasan berbutir. pekerjaan pelebaran perkerasan dan bahu jalan.  SNI 05-0738-1989 : Persyaratan Umum dan Cara Uji untuk Kerja Traktor Tangan.160 .  SNI 19-0230-1987 : K3 untuk Pekerjaan Penebangan dan Pengangkutan Kayu. Pedoman pelaksanaan K3 ini disusun dengan urutan pekerjaan sesuai dengan spesifikasi umum pekerjaan konstruksi jalan dan jembatan yaitu : umum.  SNI 03-1962-1990 : Petunjuk Perencanaan Penanggulangan Longsoran. pekerjaan drainase. pekerjaan harian. pekerjaan pemeliharaan rutin dan pekerjaan perlengkapan jalan dan utilitas.  SNI 19-1955-1990 : Perancah.  SNI 19-3994-1995 : Pedoman Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada Pertolongan Pertama pada Kecelakaan. Keselamatan Kerja pada Pembuatan dan Pemakaian.  SNI 19-1956-1990 : Tangga Kerja. pekerjaan pengembalian kondisi. Kep. pekerjaan perkerasan aspal. Per.  SNI 09-0964-1989 : Cara Uji Kerja Traktor Rantai Kelabang. 01/Men/1980 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada Konstruksi Bangunan. Keselamatan.174/Men/1986 dan Menteri Pekerjaan Umum No.  Peraturan Menteri Tenaga Kerja No.  SNI 05-0572-1989 : Gergaji Kayu Tangan.  SNI 03-0963-1989 : Cara Uji Kerja Excavator Darat Hidrolik. tentang Perlindungan terhadap Tenaga Kerja dan Pembinaan Norma Keselamatan Kerja.  SNI 09-0966-1989 : Cara Uji Kerja Motor Grader.  SNI 19-0229-1987 : Pekerjaan di dalam Ruangan Tertutup.  SNI 06-0652-1989 : Sarung Tangan Kerja Berat dari Kulit Sapi. tentang Keselamatan Kerja. 1 .  Keputusan Bersama Menteri Tenaga Kerja No.  SNI 19-3997-1995 : Pedoman Keselamatan Kerja Listrik pada Pentanahan. pekerjaan struktur.  SNI 19-3993-1995 : Pedoman Keselamatan dan Kesehatan Kerja tentang Keselamatan Kerja Las Busur Listrik. pekerjaan tanah. 1 tahun 1970. 14 tahun 1969.  SNI 19-0231-1987 : Kegiatan Konstruksi.

peralatan. : Penilaian dan pengendalian Kebisingan di Tempat Kerja. selanjutnya barang-barang tersebut harus dapat dipergunakan secara aman. terjadi pada waktu melakukan pekerjaan dan menimbulkan akibat kerugian personil. : Pedoman Keselamatan dan Kesehatan Kerja tentang Penyimpanan dan Pengamanan Bahan Peledak.1 4. 2) Penyedia Jasa menjamin bahwa mesin-mesin peralatan. harta benda atau kedua duanya. : Pedoman Pengawasan Kesehatan Kerja. : Ketentuan Keselamatan Kerja Radiasi. 3. yaitu : 1) Penyedia Jasa berkewajiban untuk mengusahakan agar tempat kerja.1 keselamatan kerja keselamatan kerja dimana sisi individual pekerja hanya dipandang sebagai subyek.1 Ketentuan pelaksanaan K3 Ketentuan administrasi Kewajiban umum Kewajiban umum di sini dimaksudkan kewajiban umum bagi perusahaan Penyedia Jasa Konstruksi.      SNI 19-1717-1989 SNI 19-1721-1989 SNI 19-1957-1990 SNI 19-1961-1990 SNI 18-2036-1990 SNI 19-3996-1995 : Keselamatan Kerja Mesin Gergaji Bundar/Lingkar untuk Pekerjaan Kayu. 3. 4 4. kendaraan atau alat-alat lain yang akan digunakan atau dibutuhkan sesuai dengan peraturan keselamatan kerja.6 kecelakaan kerja kejadian yang tidak dikehendaki.160 .2 keselamatan konstruksi keselamatan kerja di proyek konstruksi yang dilihat dari sisi individual pekerja dan organisasi dimana pekerja tersebut bekerja.5 kecelakaan kejadian yang tidak dikehendaki dan menimbulkan akibat kerugian personil dan harta benda. 3. 3. 3.1.3 rekayasa keselamatan usaha pencegahan kecelakaan atau usaha peningkatan keselamatan kerja dengan menggunakan rekayasa teknik. 3 Istilah dan definisi 3. 2 . lingkungan kerja dan tata cara kerja diatur sedemikian rupa sehingga tenaga kerja terlindungi dari resiko kecelakaan.4 manajemen keselamatan usaha pencegahan kecelakaan atau usaha peningkatan keselamatan kerja dengan sistem manajemen. : Peraturan Khusus Keselamatan dan Kesehatan Kerja.

umur. 2) Laporan tersebut harus meliputi statistik yang akan menunjukkan hal-hal sebagai berikut : a) Menunjukkan catatan kecelakaan dari setiap kegiatan kerja.1. dibawah koordinasi pengurus atau Penyedia Jasa. Organisasi keselamatan dan kesehatan kerja 4. 4. 3 . bertanggung jawab mengawasi koordinasi pekerjaan yang dilakukan untuk menghindarkan resiko bahaya kecelakaan. jenis kelamin dan kondisi fisik/kesehatannya. lingkungan kerja dan cara-cara pelaksanaan kerja yang aman. b) Berkonsultasi dengan panitia pembina keselamatan dan kesehatan kerja dalam segala hal yang berhubungan dengan keselamatan dan kesehatan kerja dalam proyek. pekerja masingmasing dan. Tenaga K3 tersebut harus masuk dalam struktur organisasi pelaksanaan konstruksi setiap proyek.3) 4) 5) 6) 7) 8) Penyedia Jasa turut mengadakan pengawasan terhadap tenaga kerja. 6) Jika 2 (dua) atau lebih Penyedia Jasa bergabung dalam suatu proyek mereka harus bekerja sama membentuk kegiatan kegiatan keselamatan dan kesehatan kerja. Penyedia Jasa menunjuk petugas keselamatan kerja yang karena jabatannya di dalam organisasi Penyedia Jasa. agar tenaga kerja tersebut dapat melakukan pekerjaan dalam keadaan selamat dan sehat. peralatan. diwajibkan membentuk unit pembina K3. Penyedia Jasa memberikan pekerjaan yang cocok untuk tenaga kerja sesuai dengan keahlian.160 . Sebelum pekerjaan dimulai Penyedia Jasa menjamin bahwa semua tenaga kerja telah diberi petunjuk terhadap bahaya dari pekerjaannya masing-masing dan usaha pencegahannya. dengan ketentuan sebagai berikut : 1) Petugas keselamatan dan kesehatan kerja harus bekerja secara penuh (full-time) untuk mengurus dan menyelenggarakan keselamatan dan kesehatan kerja. 3) Panitia pembina keselamatan dan kesehatan kerja tersebut ini merupakan unit struktural dari organisasi penyedia jasa yang dikelola oleh pengurus atau penyedia jasa.2 Penyedia Jasa Konstruksi harus menugaskan secara khusus Ahli K3 dan tenaga K3 untuk setiap proyek yang dilaksanakan.1. untuk itu Penyedia Jasa dapat memasang papan-papan pengumuman. Orang tersebut bertanggung jawab pula atas pemeriksaan berkala terhadap semua tempat kerja. dimana : 1) Setiap kejadian kecelakaan kerja atau kejadian yang berbahaya harus dilaporkan kepada Instansi yang terkait. 4) Petugas keselamatan dan kesehatan kerja tersebut bersama-sama dengan panitia pembina keselamatan kerja ini bekerja sebaik-baiknya. 5) Penyedia jasa harus mekukan hal-hal sebagai berikut : a) Memberikan panitia pembina keselamatan dan kesehatan kerja fasilitas-fasilitas dalam melaksanakan tugas mereka. sarana-sarana pencegahan kecelakaan. c) Mengambil langkah-langkah praktis untuk memberi efek pada rekomendasi dari panitia pembina keselamatan dan kesehatan kerja. 2) Pengurus dan Penyedia Jasa yang mengelola pekerjaan dengan mempekerjakan pekerja dengan jumlah minimal 100 orang atau kondisi dari sifat proyek memang memerlukan. serta bertanggung jawab kepada pemimpin proyek.3 Laporan kecelakaan Salah satu tugas pelaksana K3 adalah melakukan pencatatan atas kejadian yang terkait dengan K3. papan-papan peringatan serta sarana-sarana pencegahan yang dipandang perlu. Hal-hal yang menyangkut biaya yang timbul dalam rangka penyelenggaraan keselamatan dan kesehatan kerja menjadi tanggung jawab Penyedia Jasa.

b) Menunjukkan gambaran kecelakaan-kecelakaan dan sebab-sebabnya. 4.1.4 Keselamatan kerja dan pertolongan pertama pada kecelakaan

Organisasi untuk keadaan darurat dan pertolongan pertama pada kecelakaan harus dibuat sebelumnya untuk setiap proyek yang meliputi seluruh pegawai/petugas pertolongan pertama pada kecelakaan dan peralatan, alat-alat komunikasi dan alat-alat lain serta jalur transportasi, dimana : 1) Tenaga kerja harus diperiksa kesehatannya. a) Sebelum atau beberapa saat setelah memasuki masa kerja pertama kali (pemeriksaan kesehatan sebelum masuk kerja dengan penekanan pada kesehatan fisik dan kesehatan individu), b) Secara berkala, sesuai dengan risiko-risiko yang ada pada pekerjaan tersebut. 2) Tenaga kerja di bawah umur 18 tahun harus mendapat pengawasan kesehatan khusus, meliputi pemeriksaan kembali atas kesehatannya secara teratur. 3) Data yang diperoleh dari pemeriksaan kesehatan harus dicatat dan disimpan untuk referensi. 4) Pertolongan pertama jika terjadi kecelakaan atau penyakit yang tiba-tiba, harus dilakukan oleh Dokter, Juru Rawat atau seorang yang terdidik dalam pertolongan pertama pada kecelakaan (PPPK). 5) Alat-alat PPPK atau kotak obat-obatan yang memadai, harus disediakan di tempat kerja dan dijaga agar tidak dikotori oleh debu, kelembaban udara dan lain-lain. 6) Alat-alat PPPK atau kotak obat-obatan harus berisi paling sedikit dengan obat untuk kompres, perban, antiseptik, plester, gunting dan perlengkapan gigitan ular. 7) Alat-alat PPPK dan kotak obat-obatan harus tidak berisi benda-benda lain selain alat-alat PPPK yang diperlukan dalam keadaan darurat. 8) Alat-alat PPPK dan kotak obat-obatan harus berisi keterangan-keterangan/instruksi yang mudah dan jelas sehingga mudah dimengerti. 9) Isi dari kotak obat-obatan dan alat PPPK harus diperiksa secara teratur dan harus dijaga supaya tetap berisi (tidak boleh kosong). 10) Kereta untuk mengangkat orang sakit (tandu) harus selalu tersedia. 11) Jika tenaga kerja dipekerjakan di bawah tanah atau pada keadaan lain, alat penyelamat harus selalu tersedia di dekat tempat mereka bekerja. 12) Jika tenaga kerja dipekerjakan di tempat-tempat yang menyebabkan adanya risiko tenggelam atau keracunan, alat-alat penyelematan harus selalu tersedia di dekat tempat mereka bekerja. 13) Persiapan-persiapan harus dilakukan untuk memungkinkan mengangkut dengan cepat, jika diperlukan untuk petugas yang sakit atau mengalami kecelakaan ke rumah sakit atau tempat berobat lainnya. 14) Petunjuk/informasi harus diumumkan/ditempel di tempat yang baik dan strategis yang memberitahukan antara lain : a) Tempat yang terdekat dengan kotak obat-obatan, alat-alat PPPK, ruang PPPK, ambulans, tandu untuk orang sakit, dan tempat dimana dapat dicari petugas K3. b) Tempat telepon terdekat untuk menelepon/memanggil ambulans, nomor telepon dan nama orang yang bertugas dan lain-lain. c) Nama, alamat, nomor telepon Dokter, rumah sakit dan tempat penolong yang dapat segera dihubungi dalam keadaan darurat. 4.1.5 Pembiayaan keselamatan dan kesehatan kerja

Biaya operasional kegiatan keselamatan dan kesehatan kerja harus sudah diantisipasi sejak dini yaitu pada saat Pengguna Jasa mempersiapkan pembuatan desain dan perkiraan biaya suatu proyek jalan dan jembatan.

4 - 160

Sehingga pada saat pelelangan menjadi salah satu item pekerjaan yang perlu menjadi bagian evaluasi dalam penetapan pemenang lelang. Selanjutnya Penyedia Jasa harus melaksanakan prinsip-prinsip kegiatan kesehatan dan keselamatan kerja termasuk penyediaan prasarana, sumberdaya manusia dan pembiayaan untuk kegiatan tersebut dengan biaya yang wajar, oleh karena itu baik Penyedia Jasa dan Pengguna Jasa perlu memahami prinsip-prinsip keselamatan dan kesehatan kerja ini agar dapat melakukan langkah persiapan, pelaksanaan dan pengawasannya. 4.2 Ketentuan teknis

4.2.1 Aspek lingkungan Dalam rangka perencanaan dan pelaksanaan K3 untuk konstruksi jalan dan jembatan, Penyedia Jasa harus mengacu pada Dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) atau Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL), bila dokumen tersebut tidak ada maka perencanaan dan pelaksanaan K3 terutama terkait dengan aspek lingkungan harus mendapatkan persetujuan dari direksi pekerjaan. 4.2.2 Tempat kerja dan peralatan Ketentuan teknis pada tempat kerja dan peralatan pada suatu proyek terkait dengan Keselamatan dan Kesehatan Kerja adalah sebagai berikut : 1) Pintu masuk dan keluar a) Pintu masuk dan keluar darurat harus dibuat di tempat-tempat kerja. b) Alat-alat/tempat-tempat tersebut harus diperlihara dengan baik. Lampu / penerangan a) Jika penerangan alam tidak sesuai untuk mencegah bahaya, alat-alat penerangan buatan yang cocok dan sesuai harus diadakan di seluruh tempat kerja, termasuk pada gang-gang. b) Lampu-lampu harus aman, dan terang. c) Lampu-lampu harus dijaga oleh petugas-petugas bila perlu mencegah bahaya apabila lampu mati/pecah. Ventilasi a) Di tempat kerja yang tertutup, harus dibuat ventilasi yang sesuai untuk mendapat udara segar. b) Jika perlu untuk mencegah bahaya terhadap kesehatan dari udara yang dikotori oleh debu, gas-gas atau dari sebab-sebab lain; harus dibuatkan ventilasi untuk pembuangan udara kotor. c) Jika secara teknis tidak mungkin bisa menghilangkan debu, gas yang berbahaya, tenaga kerja harus disediakan alat pelindung diri untuk mencegah bahaya-bahaya tersebut di atas. Kebersihan a) Bahan-bahan yang tidak terpakai dan tidak diperlukan lagi harus dipindahkan ke tempat yang aman. b) Semua paku yang menonjol harus disingkirkan atau dibengkokkan untuk mencegah terjadinya kecelakaan. c) Peralatan dan benda-benda kecil tidak boleh dibiarkan karena benda-benda tersebut dapat menyebabkan kecelakaan, misalnya membuat orang jatuh atau tersandung (terantuk).
5 - 160

2)

3)

4)

d) Sisa-sisa barang alat-alat dan sampah tidak boleh dibiarkan bertumpuk di tempat kerja. e) Tempat-tempat kerja dan gang-gang yang licin karena oli atau sebab lain harus dibersihkan atau disiram pasir, abu atau sejenisnya. f) Alat-alat yang mudah dipindah-pindahkan setelah dipakai harus dikembalikan pada tempat penyimpanan semula. 4.2.3 Pencegahan terhadap kebakaran dan alat pemadam kebakaran Untuk dapat mencegah terjadinya kebakaran pada suatu tempat atau proyek dapat dilakukan pencegahan sebagai berikut : 1) Di tempat-tempat kerja dimana tenaga kerja dipekerjakan harus tersedia : a) Alat-alat pemadam kebakaran. b) Saluran air yang cukup dengan tekanan yang besar. 2) Pengawas dan sejumlah/beberapa tenaga kerja harus dilatih untuk menggunakan alat pemadam kebakaran. 3) Orang-orang yang terlatih dan tahu cara mengunakan alat pemadam kebakaran harus selalu siap di tempat selama jam kerja. 4) Alat pemadam kebakaran, harus diperiksa pada jangka waktu tertentu oleh orang yang berwenang dan dipelihara sebagaimana mestinya. 5) Alat pemadam kebakaran seperti pipa-pipa air, alat pemadam kebakaran yang dapat dipindah-pindah (portable) dan jalan menuju ke tempat pemadam kebakaran harus selalu dipelihara. 6) Peralatan pemadam kebakaran harus diletakkan di tempat yang mudah dilihat dan dicapai. 7) Sekurang kurangnya sebuah alat pemadam kebakaran harus tersedia di tempattempat sebagai berikut : a) di setiap gedung dimana barang-barang yang mudah terbakar disimpan. b) di tempat-tempat yang terdapat alat-alat untuk mengelas. c) pada setiap tingkat/lantai dari suatu gedung yang sedang dibangun dimana terdapat barang-barang dan alat-alat yang mudah terbakar. 8) Beberapa alat pemadam kebakaran dari bahan kimia kering harus disediakan : a) di tempat yang terdapat barang-barang/benda-benda cair yang mudah terbakar. b) di tempat yang terdapat oli, bensin, gas dan alat-alat pemanas yang menggunakan api. c) di tempat yang terdapat aspal dan ketel aspal. d) di tempat yang terdapat bahaya listrik/bahaya kebakaran yang disebabkan oleh aliran listrik. 9) Alat pemadam kebakaran harus dijaga agar tidak terjadi kerusakan-kerusakan teknis. 10) Alat pemadam kebakaran yang berisi chlorinated hydrocarbon atau karbon tetroclorida tidak boleh digunakan di dalam ruangan atau di tempat yang terbatas (ruangan tertutup, sempit). 11) Jika pipa tempat penyimpanan air (reservoir, standpipe) dipasang di suatu gedung, pipa tersebut harus : a) dipasang di tempat yang strategis demi kelancaran pembuangan. b) dibuatkan suatu katup pada setiap ujungnya. c) dibuatkan pada setiap lubang pengeluaran air dari pipa dengan sebuah katup yang menghasilkan pancaran air bertekanan tinggi. d) mempunyai sambungan yang dapat digunakan Dinas Pemadam Kebakaran.

6 - 160

2.4. tidak boleh ditempatkan di dekat jalan keluar. dekat dengan bahan yang mudah terbakar. kecuali di dalam kaleng atau alat yang tahan api yang dibuat untuk maksud tersebut. lap berminyak dan potongan kayu yang tidak terpakai tidak boleh tertimbun atau terkumpul di tempat kerja. 3) Nomor telepon dan alat-alat dinas Pemadam Kebakaran yang terdekat harus ada dan harus mudah dibaca. 5) Cairan yang mudah terbakar harus disimpan. sisa-sisa oli harus disimpan dalam kaleng yang mempunyai alat penutup. 2) Orang yang berwenang untuk mencegah bahaya kebakaran harus selalu siap meskipun di luar jam kerja. dan digunakan sedemikian rupa sehingga kebakaran dapat dihindarkan. 4.2. 4. 3) Alat-alat yang mudah mengakibatkan kebakaran tidak boleh ditempatkan di lantai kayu atau bahan yang mudah terbakar. 2) Bahan-bahan kimia yang bisa tercampur air dan memecah harus dijaga supaya tetap kering. 7) Bahan bakar tidak boleh disimpan di dekat pintu-pintu. harus ditempatkan pada tempat terdekat. bahan canvas dan bahan-bahan lainnya tidak boleh ditempatkan di dekat alat-alat pemanas yang menggunakan api.160 .4 Alat pemanas ( heating appliances) Penempatan bahan/material dan alat pemanas ( heating appliance ) harus di tempat yang benar dan aman dari bahan-bahan yang mudah terbakar sebagaimana berikut ini : 1) Alat pemanas seperti kompor arang hanya boleh digunakan di tempat yang cukup ventilasi. 2) Alarm kebakaran.2. 5) Kompor arang tidak boleh menggunakan bahan bakar batu bara yang mengandung bitumen.5 Bahan-bahan yang mudah terbakar Penempatan bahan-bahan yang mudah terbakar harus aman sebagaimana dijelaskan berikut ini : 1) Bahan-bahan yang mudah terbakar seperti debu/serbuk gergaji. 4.7 Perlengkapan dan peringatan Perlengkapan dan peringatan utama yang harus ada di lokasi proyek atau pekerjaan antara lain sebagai berikut : 1) Papan pengumuman. dipasang pada tempat-tempat yang menarik perhatian. 7 . 4) Dilarang merokok. 2) Alat-alat pemanas dengan api terbuka. instalasi listrik dan penghantar listrik tempat penyimpanan cairan yang mudah terbakar dan bahan yang mudah terbakar. dan harus diamankan supaya tidak terbakar. menyalakan api.2. 6) Bahan bakar/bensin untuk alat pemanas tidak boleh disimpan di gedung atau sesuatu tempat. 4) Terpal. tempat pengelasan baik las listrik atau karbit. dimana : 1) Tempat-tempat dimana risiko kebakaran terdapat misalnya tempat yang dekat dengan alat pemanas. tempat yang strategis yang menyatakan dimana kita dapat menemukan. 3) Pada bangunan. diangkut.6 Inspeksi dan pengawasan Inspeksi dan pengawasan harus dilakukan secara teratur dan terus menerus selama pekerjaan berlangsung di tempat-tempat dimana resiko kebakaran besar.

yang berguna untuk melindungi kepala dari benturan benda keras selama mengoperasikan atau memelihara AMP. kecuali jika disertai oleh orang yang berwenang dan diperlengkapi dengan alat pelindung diri. dibutuhkan pada waktu mengerjakan pekerjaan yang berhubungan dengan bahan yang keras. 3) Kaca mata keselamatan.11 Kebisingan dan getaran ( vibrasi) Kebisingan dan getaran yang membahayakan bagi tenaga kerja harus dikurangi sampai di bawah nilai ambang batas.10 Utilitas umum Utilitas umum seperti jaringan listrik. telepon dan lainnya yang akan terganggu terkait dengan rencana kontruksi jalan dan jembatan sebelumnya harus dilakukan koordinasi dengan instansi terkait dan untuk kepastian tentang letak dan posisi utilitas tersebut.2. pipa gas. 4. pelataran (platform) atau dengan menggunakan ikat pinggang (sabuk pengaman) yang dipasang dengan kuat.2. diperlukan pada medan yang berdebu meskipun ruang operator telah tertutup rapat. yang akan berguna untuk menghindarkan terpeleset karena licin atau melindungi kaki dari kejatuhan benda keras dan sebagainya. seluruh sisinya yang terbuka harus dilindungi dengan terali pengaman dan pinggir pengaman. 4. misalnya tangga. air.2. atau tempat lainnya dimana tenaga kerja dapat jatuh lebih dari ketinggian 2m harus dilengkapi dengan jaring (jala) perangkap. 4.2. 4.9 Pencegahan terhadap bahaya jatuh ke dalam air Bila pekerja dalam keadaan bahaya jatuh ke dalam air dan tenggelam. mereka harus memakai pelampung/baju pengaman dan/atau alat-alat lain yang sejenis ban pelampung (mannedboat dan ring buoys). 4) Masker. maka harus dilakukan pemeriksaan. 5) Sarung tangan. 4.4. pengecekan serta peninjauan lapangan bersama dengan instansi terkait tersebut.160 .13 Perlengkapan keselamatan kerja Berbagai jenis perlengkapan kerja standar untuk melindungi pekerja dalam melaksanakan tugasnya antara lain sebagai berikut : 1) Safety hat. terutama dibutuhkan untuk melindungi mata pada lokasi pekerjaan yang banyak serbuk metal atau serbuk material keras lainnya. Di daerah konstruksi yang sedang dilaksanakan dan di samping jalan raya harus dipagari.2.8 Tempat-tempat kerja yang tinggi Perlengkapan dan perlindungan pada tempat-tempat kerja yang tinggi adalah sebagai berikut : 1) Tempat kerja yang tingginya lebih dari 2 m di atas lantai atau di atas tanah. misalnya membuka atau mengencangkan baut dan sebagainya. untuk menghindari bahaya terhadap tenaga kerja pada tempat yang tinggi. masker ini dianjurkan tetap dipakai. 8 . 2) Tempat kerja yang tinggi harus dilengkapi dengan jalan masuk dan keluar. Jika kebisingan tidak dapat di atasi maka tenaga kerja harus memakai alat pelindung telinga ( ear protectors).2.12 Menghindari terhadap orang yang tidak berwenang Orang yang tidak berwenang tidak diizinkan memasuki daerah konstruksi. 3) Jika perlu. 2) Safety shoes.

juga harus mendorong personil untuk memperbaiki sikap dan kesadaran terhadap K3 melalui komunikasi yang baik. 2) Secara aktif mendukung kebijakan untuk keselamatan pada pekerjaan seperti dengan memasukkan masalah keselamatan kerja sebagai bagian dari perencanaan pekerjaan dan memberikan dukungan yang positif. 3) Manajer perlu memberikan perhatian secara khusus dan mengadakan hubungan yang erat dengan para mandor dan pekerja sebagai upaya untuk menghindari terjadi kecelakaan dan permasalahan dalam proyek konstruksi. hal-hal berikut ini dapat diterapkan untuk mengurangi kecelakaan dan gangguan kesehatan dalam pelaksanan pekerjaan bidang konstruksi : 1) Manajer berkewajiban untuk melindungi keselamatan dan kesehatan pekerja konstruksi sehingga harus menerapkan berbagai aturan. 4) Mempersyaratkan perencanaan kerja yang terperinci sehingga dapat memberikan jaminan bahwa peralatan atau material yang digunakan untuk melaksanakan pekerjaan dalam kondisi aman. 4. 2) Kunjungan lapangan untuk mengadakan komunikasi tentang keselamatan kerja dengan cara yang sama sebagaimana dilakukan pelaksanaan monitoring dan pengendalian mengenai biaya dan rencana penjadualan pekerjaan. Perlengkapan keselamatan kerja 4. organisasi yang baik. 3) Mengalokasikan biaya keselamatan kerja pada anggaran perusahaan dan mengalokasikan biaya kecelakaan kerja pada proyek yang dilaksanakan. persuasi dan pendidikan. antara lain : 1) Mengetahui catatan tentang keselamatan kerja dari semua manajer lapangan.3.3 4. Manajer dapat melakukannya dengan cara : 9 . menghargai pekerja untuk tindakan-tindakan aman. standar untuk meningkatkan K3.160 .1 Pedoman untuk pelaku utama konstruksi Pedoman untuk manajemen puncak Beberapa hal yang perlu menjadi perhatian manajemen puncak untuk mengurangi biaya karena kecelakaan kerja. 5) Para pekerja yang baru dipekerjakan menjalani latihan tentang keselamatan kerja dan memanfaatkan secara efektif keahlian yang ada pada masing masing divisi (bagian) untuk program keselamatan kerja.3.2 Pedoman untuk manajer dan pengawas Untuk para manajer dan pengawas. Informasi ini digunakan untuk mengadakan evaluasi terhadap program keselamatan kerja yang telah diterapkan.1.Gambar 4. serta menetapkan target yang realistis untuk K3.

1. misalnya dengan tidak memberikan target produktivitas yang tinggi tanpa memperhatikan keselamatan dan kesehatan pekerjanya.3. 4. 2) Memberikan penekanan mengenai keselamatan kerja dalam rapat pada tataran perusahaan. misalnya dengan tidak membiarkan pekerja yang baru itu bekerja sendiri secara langsung atau tidak menempatkannya bersama-sama dengan pekerja yang lama dan kemudian membiarkannya begitu saja.3.1 5.1 Divisi umum Pekerjaan persiapan 10 . tetapi lebih mengarah untuk memastikan bahwa pihak pekerja itu telah diperlakukan secara adil (wajar). Hal ini dapat dilaksanakan dengan cara mengizinkan para mandor untuk memilih para pekerjanya sendiri (tetapi tidak menyerahkan kekuasaan yang tunggal untuk memberhentikan pekerja). c) Memperlihatkan sikap menghargai terhadap kemampuan para mandor tetapi juga harus mengakui suatu fakta bahwa pihak mandor itu pun (sebagai manusia) dapat membuat kesalahan. 2) Tidak melakukan pekerjaan bila kondisi kesehatan kurang mendukung.3 Pedoman untuk mandor Mandor dapat mengurangi kecelakaan dan gangguan kesehatan dalam pelaksanaan pekerjaan bidang konstruksi dengan : 1) Memperlakukan pekerja yang baru dengan cara yang berbeda. Pelaksanaan teknis K3 pada konstruksi jalan dan jembatan Pelaksanaan teknis K3 pada pekerjaan konstruksi jalan dan jembatan dilakukan pada kegiatan : 5. 5) Memahami lingkup kerja yang diberikan.4 Pedoman untuk pekerja Pedoman yang dapat digunakan pekerja untuk mengurangi kecelakaan dan gangguan kesehatan dalam pelaksanaan pekerjaan bidang konstruksi antara lain adalah : 1) Permasalahan pribadi dihilangkan pada saat masuk lingkungan kerja. 4) Memahami program keselamatan dan kesehatan kerja. kita akan dapat memahami mengenai titik sudut pandang pari pekerja. terutama pada hari-harinya yang pertama. 5. Selanjutnya manajemen puncak dapat membantu para mandor untuk mengurangi kecelakaan kerja dengan cara berikut ini : 1) Secara pribadi memberikan penekanan mengenai tingkat kepentingan dari keselamatan kerja melalui hubungan mereka yang tidak formal maupun yang formal dengan para mandor di lapangan. Cara ini bukanlah mempunyai maksud untuk merusak (“merongrong”) kewibawaan pihak mandor. 2) Mengurangi tekanan terhadap pekerjanya.160 . 3) Taat pada aturan yang telah ditetapkan. 4. karena dengan mengerjakan hal itu.a) Mengarahkan pekerja yang baru pada pekerjaannya dan mengusahakan agar mereka berkenalan akrab dengan personil dari pekerjaan lainnya dan hendaknya memberikan perhatian yang khusus terhadap pekerja yang baru. b) Melibatkan diri dalam perselisihan antara pekerja dengan mandor.

Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pemeriksaan Lapangan yaitu :  Pemakaian peralatan perlindungan kerja standar seperti helm. peralatan dan perlengkapan.2 Mobilisasi dan demobilisasi Pekerjaan Mobilisasi dan Demobilisasi mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Kecelakaan dan gangguan kesehatan tenaga kerja akibat tempat kerja kurang memenuhi syarat. 5.1. 2) Bangunan kantor dan fasilitas lainnya harus dibuat dengan kekuatan struktural yang memenuhi syarat. instalasi listrik. 3) Kecelakaan dan gangguan kesehatan pekerja akibat penyimpanan peralatan dan bahan atau material kurang memenuhi syarat kecelakaan atau gangguan kesehatan akibat kegiatan pembongkaran tempat kerja. 11 . masker dan sarung tangan. gudang dan bengkel yang memenuhi syarat. dilengkapi dengan jalan masuk dari kerikil serta tempat parkir.1.3 Kantor lapangan dan fasilitasnya Pekerjaan Kantor Lapangan dan Fasilitasnya mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Bahaya akibat polusi yang dihasilkan oleh kegiatan pelaksanaan. 2) Menyediakan lahan.1.5.1.1 Pemeriksaan lapangan Pekerjaan Pemeriksaan Lapangan mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu :  Gangguan kesehatan akibat pekerja tidak memakai peralatan dan perlengkapan kerja standar.1. 2) Kecelakaan dan gangguan kesehatan pekerja akibat penyimpanan peralatan dan bahan atau material kurang memenuhi syarat. 2) Bahaya akibat bangunan kantor dan fasilitasnya lainnya roboh. kaca mata.160 .1. pembersihan dan pengembalian kondisi yang kurang baik. sepatu. instalasi serta pembersihan tempat kerja dan pengembalian kondisi harus memenuhi syarat. 4) Bahaya akibat kebakaran di kantor atau di bangunan gudang dan lainnya. 3) Pelaksanaan pembongkaran bangunan. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Mobilisasi dan Demobilisasi yaitu : 1) Menyediakan kantor lapangan dan tempat tinggal pekerja yang memenuhi syarat. 3) Bahaya akibat terjadi genangan air dan pencurian pada bangunan kantor dan fasilitas penunjang. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Kantor Lapangan dan Fasilitasnya yaitu : 1) Bangunan untuk kantor dan fasilitasnya harus ditempatkan sedemikian rupa sehingga terbebas dari polusi yang dihasilkan oleh kegiatan pelaksanaan. 5. 3) Bangunan kantor dan fasilitas harus dibuat pada elevasi yang lebih tinggi dari daerah sekitarnya. diberi pagar keliling.

2) Bahaya akibat bahan dan kotoran yang tidak terpakai berceceran sehingga lalu lintas tidak aman.4 Fasilitas dan pelayanan pengujian logistik Pekerjaan Fasilitas dan Pelayanan Pengujian Logistik mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Bahaya akibat bahan dan peralatan yang digunakan tidak memenuhi syarat.2. 12 . 2) Pengaturan lalu lintas sementara dengan rambu-rambu yang memenuhi syarat.2.1 Pekerjaan jalan dan jembatan sementara Pekerjaan Jalan dan Jembatan Sementara mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Bahaya akibat bangunan jalan dan jembatan sementara rusak/roboh. 5. 5. 2) Bahan dan peralatan yang digunakan harus memenuhi syarat.3 Pemeliharaan untuk keselamatan lalu lintas Pekerjaan Pemeliharaan untuk Keselamatan Lalu Lintas mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Kecelakaan akibat bangunan sementara dan rambu-rambu rusak dan tidak berfungsi. 2) Bahaya akibat cara pengangkutan bahan kurang memenuhi syarat. 2) Bahaya lalu lintas akibat jalan masuk ke lokasi pekerjaan tidak tersedia atau tersedia tetapi kurang memenuhi syarat. 4) Bahaya akibat pembuangan bahan dan material tidak terpakai kurang memenuhi syarat.1.2 Pengaturan sementara untuk lalu lintas Pekerjaan Pengaturan Sementara untuk Lalu Lintas mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu :  Bahaya akibat tidak tersedia jalan masuk bagi penduduk di permukiman sepanjang dan yang berdekatan dengan lokasi pekerjaan.160 .5. 4) Bahan dan material berbahaya harus disimpan tersendiri dan terlindung dengan baik. gudang dan bengkel.1. 3) Bahaya akibat penyimpanan kurang memenuhi syarat. 3) Pengangkutan bahan harus sesuai dengan beban lalu lintas pada jalan yang akan dilewati.1. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Jalan dan Jembatan Sementara yaitu : 1) Bangunan harus dibuat dengan struktur dan kekuatan memenuhi syarat. 5) Pembuangan bahan atau material harus pada tempat yang telah ditetapkan.2. aman dan tidak mengganggu lalu lintas. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengaturan Sementara untuk Lalu Lintas yaitu :  Penyediaan jalan masuk sementara ke permukiman yang aman dan nyaman.1.1. 5. kantor.1. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Fasilitas dan Pelayanan Pengujian Logistik yaitu : 1) Harus tersedia pemadam kebakaran dan kebutuhan P3K yang memadai diseluruh barak.2 Pekerjaan pengaturan lalu lintas 5.

1. 3) Kecelakaan akibat pengaturan lalu lintas kurang baik. 5. kotoran dan sampah akibat operasi pelaksanaan pekerjaan.2 Pembersihan Pekerjaan Pembersihan mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu :  Bahaya akibat pembersihan atas akumulasi sisa bahan bangunan. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pembersihan yaitu :  Pembersihan seluruh permukaan terekspos harus dilakukan dengan baik dan benar sehingga proyek yang ditinggalkan siap pakai.Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pemeliharaan untuk Keselamatan Lalu Lintas yaitu : 1) Bangunan sementara dan rambu-rambu harus terpelihara agar tetap aman dan dalam kondisi pelayanan yang memenuhi persyaratan.2.2.1. 4) Kecelakaan akibat jenis dan cara penggunaan peralatan salah. 2) Pembersihan atas bahan-bahan yang tidak terpakai. 4) Alat dan cara menggunakan harus benar dan sesuai dengan standar. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengukuran dan Pematokan pada Pekerjaan Selokan dan Saluran Air yaitu : 1) Harus menggunakan perlengkapan kerja yang standar. 5) Pemasangan patok harus benar dan sesuai dengan ketentuan.1 Drainase Pekerjaan selokan dan saluran air 5. 2) Pekerjaan harus dilakukan dengan prosedur dan metode yang benar.1.160 . 5.3. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Relokasi Utilitas yaitu : 1) Data dan informasi lokasi utilitas yang ada yang akan direlokasi harus tepat.1 Relokasi utilitas Pekerjaan Relokasi Utilitas mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu :  Kecelakaan akibat pekerja terkena sengatan aliran listrik atau terkena gas berbahaya. 3) Pengaturan lalu lintas harus sesuai dengan standar.3.2 5. 2) Terluka akibat kondisi dan penggunaan meteran yang salah. 2) Pengukuran harus dilakukan dengan menggunakan meteran yang sesuai dengan standar. 5) Kecelakaan akibat metode pemasangan patok.3 Pekerjaan relokasi utilitas dan pembersihan 5. 5.1 Pengukuran dan pematokan Pekerjaan Pengukuran dan Pematokan pada Pekerjaan Selokan dan Saluran Air mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Gangguan kesehatan akibat kondisi kerja secara umum. 13 .1.

) akibat jarak antar penggali terlalu dekat. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penggalian pada Pekerjaan Selokan dan Saluran Air yaitu: 1) Jarak antara penggali harus dijaga agar selalu pada jarak yang aman. 3) Membuat dan mempertahankan kemiringan yang stabil. 3) Kecelakaan akibat pengaturan lalu lintas kurang baik.2 Penggalian Pekerjaan Penggalian pada Pekerjaan Pasangan Batu dengan Mortar untuk Selokan dan Saluran Air mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Kecelakaan terkena alat gali (cangkul.2.2 Penggalian Pekerjaan Penggalian pada Pekerjaan Selokan dan Saluran Air mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Kecelakaan terkena alat gali (cangkul. 4) Alat dan cara menggunakan harus benar sesuai dengan standar. 3) Pengaturan lalu lintas harus sesuai dengan standar. 2) Bila penggalian dilakukan pada malam hari harus menggunakan lampu penerangan yang cukup. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penggalian pada Pekerjaan Pasangan Batu dengan Mortar untuk Selokan dan Saluran Air yaitu : 1) Jarak antara penggali harus aman.1.) akibat jarak antar penggali terlalu dekat.160 .2 Pekerjaan pasangan batu dengan mortar untuk selokan dan saluran air 5. 2) Terluka akibat kondisi dan penggunaan meteran yang salah. balencong dll.2. 2) Bahaya akibat lereng galian longsor. 5) Kecelakaan akibat metode pemasangan patok. 5. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengukuran dan Pematokan pada Pekerjaan Pasangan Batu dengan Mortar untuk Selokan dan Saluran Air yaitu : 1) Harus menggunakan perlengkapan kerja yang standar. 2) Bahaya akibat lereng galian longsor.2. 3) Membuat dan mempertahankan kemiringan yang stabil. 4) Pengeringan pada bekas galian yang terendam air. 2) Bila penggalian dilakukan pada malam hari harus menggunakan lampu penerangan yang cukup. 2) Pengukuran harus dilakukan dengan menggunakan meteran yang sesuai dengan standar.2. balencong dll.2.1 Pengukuran dan pematokan Pekerjaan Pengukuran dan Pematokan pada Pekerjaan Pasangan Batu dengan Mortar untuk Selokan dan Saluran Air mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Gangguan kesehatan akibat kondisi kerja secara umum. 5. 4) Kecelakaan akibat jenis dan cara penggunaan peralatan.5. 14 . 5) Pemasangan patok harus benar dan sesuai dengan syarat.2.

Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengukuran dan Pematokan pada Pekerjaan Gorong-gorong Pipa Beton yaitu : 1) Harus menggunakan perlengkapan kerja yang standar. 15 . 4) Metode pemecahan dan pembentukan permukaan batu sesuai dengan persyaratan. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pemasangan pada Pekerjaan Pasangan Batu dengan Mortar untuk Selokan dan Saluran Air yaitu : 1) Metode pelaksanaan harus sesuai dengan persyaratan. 5) Pemasangan patok harus benar dan sesuai dengan syarat. 3) Kecelakaan akibat penempatan stok material terutama batu yang tidak tepat. 5.160 .2 Penggalian Pekerjaan Penggalian pada Pekerjaan Gorong-gorong Pipa Beton mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu :  Terluka akibat terkena alat penggalian.3 Pemasangan Pekerjaan Pemasangan pada Pekerjaan Pasangan Batu dengan Mortar untuk Selokan dan Saluran Air mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Luka terkena mortar dan batu jatuh. 3) Kecelakaan akibat pengaturan lalu lintas kurang baik.2. 2) Pengukuran harus dilakukan dengan menggunakan meteran yang sesuai dengan standar. 5) Kecelakaan akibat metode pemasangan patok. 5. 3) Menempatkan batu pada jarak yang sesuai untuk kerja.3. 4) Alat dan cara menggunakan harus benar sesuai dengan standar.2.3 Pekerjaan gorong-gorong pipa beton 5. 2) Terluka akibat kondisi dan penggunaan meteran yang salah. 3) Pengaturan lalu lintas harus sesuai dengan standar. 2) Penggalian yang dilakukan pada saat gelap atau malam hari harus menggunakan penerangan lampu yang memadai.2. 6) Kecelakaan akibat pengaturan lalu lintas tidak baik. 2) Luka terkena pecahan batu.3.2.5. 4) Kecelakaan akibat jenis dan cara penggunaan peralatan.1 Pengukuran dan pematokan Pekerjaan Pengukuran dan Pematokan pada Pekerjaan Gorong-gorong Pipa Beton mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Kesehatan terganggu akibat kondisi kerja secara umum. 2) Tidak dengan sengaja melakukan kontak langsung dengan mortar.2. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penggalian pada Pekerjaan Gorong-gorong Pipa Beton yaitu: 1) Menjaga jarak aman antara pekerja penggalian. 6) Pengaturan lalu lintas yang ada harus sesuai dengan standar. 5) Stok material harus ditempatkan pada tempat yang aman dan tidak mengganggu lalu lintas kerja.

) akibat jarak antar penggali terlalu dekat.3 Pemasangan Pekerjaan Pemasangan pada Pekerjaan Gorong-gorong Pipa Beton mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terluka akibat terjepit atau tertimpa gorong-gorong.3. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penggalian pada Pekerjaan Gorong-gorong Pipa Baja Bergelombang yaitu : 1) Jarak antara penggali harus aman.2. 3) Kecelakaan akibat pengaturan lalu lintas kurang baik.2 Penggalian Pekerjaan Penggalian pada Pekerjaan Gorong-gorong Pipa Baja Bergelombang mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Kecelakaan terkena alat gali (cangkul. balencong dll.1 Pengukuran dan pematokan Pekerjaan Pengukuran dan Pematokan pada Pekerjaan Gorong-gorong Pipa Baja Bergelombang mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Kesehatan terganggu akibat kondisi kerja secara umum.2.2.5.4. 5. 2) Pengangkatan harus menggunakan mesin atau tracker dengan rantai. 5) Kecelakaan akibat metode pemasangan patok.4. 3) Terluka akibat terjepit atau tertimpa gorong-gorong. 5. 4) Kecelakaan akibat jenis dan cara penggunaan peralatan. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pemasangan pada Pekerjaan Gorong-gorong Pipa Beton yaitu : 1) Metode pelaksanaan pemasangan harus benar. 2) Pengukuran harus dilakukan dengan menggunakan meteran yang sesuai dengan standar.2.4.2.4 Pekerjaan gorong-gorong pipa baja bergelombang 5. 4) Alat dan cara menggunakan harus benar sesuai dengan standar. 5) Pemasangan patok harus benar dan sesuai dengan syarat. 2) Kecelakaan akibat handling tidak benar. 3) Membuat dan mempertahankan kemiringan yang stabil. 4) Pengeringan pada bekas galian yang terendam air. 2) Terluka akibat kondisi dan penggunaan meteran yang salah. 2) Bahaya akibat lereng galian longsor. 16 . Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengukuran dan Pematokan pada Pekerjaan Gorong-gorong Pipa Baja Bergelombang yaitu : 1) Harus menggunakan perlengkapan kerja yang standar. 3) Pengaturan lalu lintas harus sesuai dengan standar.160 .3 Pemasangan Pekerjaan Pemasangan pada Pekerjaan Gorong-gorong Pipa Baja Bergelombang mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu :  Kecelakaan akibat handling tidak benar. 2) Bila penggalian dilakukan pada malam hari harus menggunakan lampu penerangan yang cukup. 5.

5.2. 2) Terluka akibat kondisi dan penggunaan meteran yang salah.) akibat jarak antar penggali terlalu dekat.6 Pekerjaan anyaman (filter) plastik 5.2 Penggalian Pekerjaan Penggalian pada Pekerjaan Anyaman (Filter) Plastik mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Kecelakaan terkena alat gali (cangkul. 4) Alat dan cara menggunakan harus benar sesuai dengan standar. 4) Alat dan cara menggunakan harus benar sesuai dengan standar.5 Pekerjaan timbunan porus atau bahan penyaring 5. 5) Kecelakaan akibat metode pemasangan patok. 3) Kecelakaan akibat pengaturan lalu lintas kurang baik. 5. 17 .2.5. 3) Pengaturan lalu lintas harus sesuai dengan standar. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengukuran dan Pematokan pada Pekerjaan Anyaman (Filter) Plastik yaitu : 1) Harus menggunakan perlengkapan kerja yang standar.Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pemasangan pada Pekerjaan Gorong-gorong Pipa Baja Bergelombang yaitu : 1) Metode pelaksanaan pemasangan harus benar. 4) Kecelakaan akibat jenis dan cara penggunaan peralatan.160 . 2) Pengangkatan harus menggunakan mesin atau tracker dengan sling. 5) Pemasangan patok harus benar dan sesuai dengan syarat. 2) Pengukuran harus dilakukan dengan menggunakan meteran yang sesuai dengan standar. 2) Bahaya akibat lereng galian longsor.2. 3) Pengaturan lalu lintas harus sesuai dengan standar.6.1 Pengukuran dan pematokan Pekerjaan Pengukuran dan Pematokan pada Pekerjaan Timbunan Porus atau Bahan Penyaring mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Kesehatan terganggu akibat kondisi kerja secara umum. balencong dll. 5. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengukuran dan Pematokan pada Pekerjaan Timbunan Porus atau Bahan Penyaring yaitu : 1) Harus menggunakan perlengkapan kerja yang standar. 2) Pengukuran harus dilakukan dengan menggunakan meteran yang sesuai dengan standar. 2) Terluka akibat kondisi dan penggunaan meteran yang salah.6.2. 5) Kecelakaan akibat metode pemasangan patok.1 Pengukuran dan pematokan Pekerjaan Pengukuran dan Pematokan pada Pekerjaan Anyaman (Filter) Plastik mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Kesehatan terganggu akibat kondisi kerja secara umum. 4) Kecelakaan akibat jenis dan cara penggunaan peralatan. 5) Pemasangan patok harus benar dan sesuai dengan syarat.2. 3) Kecelakaan akibat pengaturan lalu lintas kurang baik.

4) Pengeringan pada bekas galian yang terendam air. 4) Alat dan cara menggunakan harus benar dan sesuai dengan standar. 3) Kecelakaan akibat operasional alat berat baik di tempat lokasi galian. 5. 2) Bila penggalian dilakukan pada malam hari harus menggunakan lampu penerangan yang cukup. balencong dll.1.Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penggalian pada Pekerjaan Anyaman (Filter) Plastik yaitu : 1) Jarak antara penggali harus aman. 4) Kecelakaan akibat jenis dan cara penggunaan peralatan salah. 5. 5.3 5. 3) Kecelakaan akibat pengaturan lalu lintas kurang baik. 2) Bahaya akibat lereng galian longsor. 2) Terluka akibat kondisi dan penggunaan meteran yang salah.) akibat jarak antar penggali terlalu dekat.1.2 Penggalian Pekerjaan Penggalian pada Pekerjaan Galian Biasa mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Kecelakaan terkena alat gali (cangkul.3.1 Pengukuran dan pematokan Pekerjaan Pengukuran dan Pematokan pada Pekerjaan Galian Biasa mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Gangguan kesehatan akibat kondisi kerja secara umum. 2) Pengukuran harus dilakukan dengan menggunakan meteran yang sesuai dengan standar.3 Pemasangan Pekerjaan Pemasangan pada Pekerjaan Anyaman (Filter) Plastik mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu :  Kecelakaan atau terluka akibat metode pemasangan tidak benar. 2) Pemasangan anyaman filter harus sesuai dengan persyaratan atau prosedur yang direkomendasikan oleh pabrik.160 . 18 . Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pemasangan pada Pekerjaan Anyaman (Filter) Plastik yaitu : 1) Metode pelaksanaan pemasangan harus benar. 3) Pengaturan lalu lintas harus sesuai dengan standar.6.3. transportasi maupun di tempat pembuangan. 3) Membuat dan mempertahankan kemiringan yang stabil.2. 5) Kecelakaan akibat metode pemasangan patok. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengukuran dan Pematokan pada Pekerjaan Galian Biasa yaitu : 1) Harus menggunakan perlengkapan kerja yang standar.1 Pekerjaan Tanah Pekerjaan galian biasa 5. 5) Pemasangan patok harus benar dan sesuai dengan ketentuan.3.

Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penggalian pada Pekerjaan Galian Biasa yaitu : 1) Jarak antara penggali harus dijaga agar selalu pada jarak yang aman, 2) Bila penggalian dilakukan pada malam hari harus menggunakan lampu penerangan yang cukup, 3) Membuat dan mempertahankan kemiringan yang stabil. 5.3.1.3 Pembuangan bahan galian Pekerjaan Pembuangan Bahan Galian pada Pekerjaan Galian Biasa mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu :  Kecelakaan akibat tumpukan bahan galian yang akan digunakan untuk timbunan. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pembuangan Bahan Galian pada Pekerjaan Galian Biasa yaitu : 1) Operasional alat berat harus dilakukan sesuai dengan standar, 2) Tumpukan bahan galian yang akan digunakan untuk timbunan tidak boleh terlalu lama. 5.3.2 5.3.2.1 Pekerjaan galian batu Pengukuran dan pematokan

Pekerjaan Pengukuran dan Pematokan pada Pekerjaan Galian Batu mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Gangguan kesehatan akibat kondisi kerja secara umum, 2) Terluka akibat kondisi dan penggunaan meteran yang salah, 3) Kecelakaan akibat pengaturan lalu lintas kurang baik, 4) Kecelakaan akibat jenis dan cara penggunaan peralatan, 5) Kecelakaan akibat metode pemasangan patok. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengukuran dan Pematokan pada Pekerjaan Galian Batu yaitu : 1) Harus menggunakan perlengkapan kerja yang standar, 2) Pengukuran harus dilakukan dengan menggunakan meteran yang sesuai dengan standar, 3) Pengaturan lalu lintas harus sesuai dengan standar, 4) Alat dan cara menggunakan harus benar sesuai dengan standar, 5) Pemasangan patok harus benar dan sesuai dengan syarat. 5.3.2.2 Penggalian

Pekerjaan Penggalian pada Pekerjaan Galian Batu mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Kecelakaan terkena alat gali (cangkul, balencong dll.) akibat jarak antar penggali terlalu dekat, 2) Terluka karena terkena pecahan batu hasil galian, 3) Kecelakaan akibat operasional alat berat baik di tempat lokasi galian, transportasi maupun di tempat pembuangan. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penggalian pada Pekerjaan Galian Batu yaitu : 1) Jarak antara penggali harus aman, 2) Bila penggalian dilakukan pada cuaca gelap atau malam hari harus menggunakan lampu penerangan yang cukup, 3) Penggalian harus dilakukan oleh orang yang ahli dengan metode yang benar,
19 - 160

4) Operasional alat berat harus dilakukan sesuai dengan standar. 5.3.2.3 Pembuangan bahan galian

Pekerjaan Pembuangan Bahan Galian pada Pekerjaan Galian Batu mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu :  Kecelakaan akibat tumpukan bahan galian yang akan digunakan untuk timbunan. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pembuangan Bahan Galian pada Pekerjaan Galian Batu yaitu :  Tumpukan bahan galian yang akan digunakan untuk timbunan tidak boleh terlalu lama. 5.3.3 5.3.3.1 Pekerjaan galian struktur dengan kedalaman 0-2 meter Pengukuran dan pematokan

Pekerjaan Pengukuran dan Pematokan pada Pekerjaan Galian Struktur dengan Kedalaman 0-2 meter mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Gangguan kesehatan akibat kondisi kerja secara umum, 2) Terluka akibat kondisi dan penggunaan meteran yang salah, 3) Kecelakaan akibat pengaturan lalu lintas kurang baik, 4) Kecelakaan akibat jenis dan cara penggunaan peralatan, 5) Kecelakaan akibat metode pemasangan patok. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengukuran dan Pematokan pada Pekerjaan Galian Struktur dengan Kedalaman 0-2 meter yaitu : 1) Harus menggunakan perlengkapan kerja yang standar, 2) Pengukuran harus dilakukan dengan menggunakan meteran yang sesuai dengan standar, 3) Pengaturan lalu lintas harus sesuai dengan standar, 4) Alat dan cara menggunakan harus benar sesuai dengan standar, 5) Pemasangan patok harus benar dan sesuai dengan syarat. 5.3.3.2 Penggalian

Pekerjaan Penggalian pada Pekerjaan Galian Struktur dengan Kedalaman 0-2 meter mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Kecelakaan terkena alat gali (cangkul, balencong dll.) akibat jarak antar penggali terlalu dekat, 2) Terluka karena terkena pecahan batu hasil galian, 3) Kecelakaan akibat operasional alat berat baik di tempat lokasi galian, transportasi maupun di tempat pembuangan. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penggalian pada Pekerjaan Galian Struktur dengan Kedalaman 0-2 meter yaitu : 1) Jarak antara penggali harus aman, 2) Bila penggalian dilakukan pada cuaca gelap atau malam hari harus menggunakan lampu penerangan yang cukup, 3) Penggalian harus dilakukan oleh orang yang ahli dengan metode yang benar, 4) Operasional alat berat harus dilakukan sesuai dengan standar.

20 - 160

5.3.3.3

Pembuangan bahan galian

Pekerjaan Pembuangan Bahan Galian pada Pekerjaan Galian Struktur dengan Kedalaman 0-2 meter mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu :  Kecelakaan akibat tumpukan bahan galian yang akan digunakan untuk timbunan. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pembuangan Bahan Galian pada Pekerjaan Galian Struktur dengan Kedalaman 0-2 meter yaitu :  Tumpukan bahan galian yang akan digunakan untuk timbunan tidak boleh terlalu lama. 5.3.4 Pekerjaan galian struktur dengan kedalaman 2-4 meter

5.3.4.1 Pengukuran dan pematokan Pekerjaan Pengukuran dan Pematokan pada Pekerjaan Galian Struktur dengan Kedalaman 2-4 meter mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Gangguan kesehatan akibat kondisi kerja secara umum, 2) Terluka akibat kondisi dan penggunaan meteran yang salah, 3) Kecelakaan akibat pengaturan lalu lintas kurang baik, 4) Kecelakaan akibat jenis dan cara penggunaan peralatan, 5) Kecelakaan akibat metode pemasangan patok. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pemeliharaan untuk Keselamatan Lalu Lintas yaitu : 1) Harus menggunakan perlengkapan kerja yang standar, 2) Pengukuran harus dilakukan dengan menggunakan meteran yang sesuai dengan standar, 3) Pengaturan lalu lintas harus sesuai dengan standar, 4) Alat dan cara menggunakan harus benar sesuai dengan standar, 5) Pemasangan patok harus benar dan sesuai dengan syarat. 5.3.4.2 Penggalian Pekerjaan Penggalian pada Pekerjaan Galian Struktur dengan Kedalaman 2-4 meter mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Kecelakaan terkena alat gali (cangkul, balencong dll.) akibat jarak antar penggali terlalu dekat, 2) Terluka karena terkena pecahan batu hasil galian, 3) Kecelakaan akibat operasional alat berat baik di tempat lokasi galian, transportasi maupun di tempat pembuangan. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penggalian pada Pekerjaan Galian Struktur dengan Kedalaman 2-4 meter yaitu : 1) Jarak antara penggali harus aman, 2) Bila penggalian dilakukan pada cuaca gelap atau malam hari harus menggunakan lampu penerangan yang cukup, 3) Penggalian harus dilakukan oleh orang yang ahli dengan metode yang benar, 4) Operasional alat berat harus dilakukan sesuai dengan standar. 5.3.4.3 Pembuangan bahan galian Pekerjaan Pembuangan Bahan Galian pada Pekerjaan Galian Struktur dengan Kedalaman 2-4 meter mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu :  Kecelakaan akibat tumpukan bahan galian yang akan digunakan untuk timbunan.
21 - 160

3. 5) Pemasangan patok harus benar dan sesuai dengan syarat.3. 5. balencong dll. 2) Bila penggalian dilakukan pada cuaca gelap atau malam hari harus menggunakan lampu penerangan yang cukup. 3) Pengaturan lalu lintas harus sesuai dengan standar. 3) Penggalian harus dilakukan oleh orang yang ahli dengan metode yang benar.3.5.5. 5) Kecelakaan akibat metode pemasangan patok. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengukuran dan Pematokan pada Pekerjaan Galian Struktur dengan Kedalaman 4-6 meter yaitu : 1) Harus menggunakan perlengkapan kerja yang standar.Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pembuangan Bahan Galian pada Pekerjaan Galian Struktur dengan Kedalaman 2-4 meter yaitu :  Tumpukan bahan galian yang akan digunakan untuk timbunan tidak boleh terlalu lama. 22 .1 Pengukuran dan pematokan Pekerjaan Pengukuran dan Pematokan pada Pekerjaan Galian Struktur dengan Kedalaman 4-6 meter mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Gangguan kesehatan akibat kondisi kerja secara umum. 5. 2) Terluka akibat kondisi dan penggunaan meteran yang salah.2 Penggalian Pekerjaan Penggalian pada Pekerjaan Galian Struktur dengan Kedalaman 4-6 meter mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Kecelakaan terkena alat gali (cangkul.160 . 3) Kecelakaan akibat operasional alat berat baik di tempat lokasi galian. 2) Terluka karena terkena pecahan batu hasil galian.5. 4) Operasional alat berat harus dilakukan sesuai dengan standar. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penggalian pada Pekerjaan Galian Struktur dengan Kedalaman 4-6 meter yaitu : 1) Jarak antara penggali harus aman.5 Pekerjaan galian struktur dengan kedalaman 4-6 meter 5. transportasi maupun di tempat pembuangan. 2) Pengukuran harus dilakukan dengan menggunakan meteran yang sesuai dengan standar. 4) Alat dan cara menggunakan harus benar sesuai dengan standar. 4) Kecelakaan akibat jenis dan cara penggunaan peralatan.3. 3) Kecelakaan akibat pengaturan lalu lintas kurang baik.3 Pembuangan bahan galian Pekerjaan Pembuangan Bahan Galian pada Pekerjaan Galian Struktur dengan Kedalaman 4-6 meter mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu :  Kecelakaan akibat tumpukan bahan galian yang akan digunakan untuk timbunan.) akibat jarak antar penggali terlalu dekat. 5. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pembuangan Bahan Galian pada Pekerjaan Galian Struktur dengan Kedalaman 4-6 meter yaitu :  Tumpukan bahan galian yang akan digunakan untuk timbunan tidak boleh terlalu lama.

3) Kecelakaan akibat operasional alat berat baik di tempat lokasi galian. balencong dll.6. 3) Penggalian harus dilakukan oleh orang yang ahli dengan metode yang benar.3. 5) Pemasangan patok harus benar dan sesuai dengan syarat. 2) Pengukuran harus dilakukan dengan menggunakan meteran yang sesuai dengan standar. 4) Operasional alat berat harus dilakukan sesuai dengan standar. 2) Terluka akibat kondisi dan penggunaan meteran yang salah.1 Pengukuran dan pematokan Pekerjaan Pengukuran dan Pematokan pada Pekerjaan Cofferdam.3.6 Pekerjaan cofferdam.3 Pembuangan bahan galian Pekerjaan Pembuangan Bahan Galian pada Pekerjaan Cofferdam.2 Penggalian Pekerjaan Penggalian pada Pekerjaan Cofferdam. 4) Kecelakaan akibat jenis dan cara penggunaan peralatan. 5. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengukuran dan Pematokan pada Pekerjaan Cofferdam.) akibat jarak antar penggali terlalu dekat. Penyokong dan Pengaku mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Gangguan kesehatan akibat kondisi kerja secara umum. 5.5. transportasi maupun di tempat pembuangan.160 . Penyokong dan Pengaku yaitu :  Tumpukan bahan galian yang akan digunakan untuk timbunan tidak boleh terlalu lama.3.6. 3) Kecelakaan akibat pengaturan lalu lintas kurang baik. 2) Bila penggalian dilakukan pada cuaca gelap atau malam hari harus menggunakan lampu penerangan yang cukup. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pembuangan Bahan Galian pada Pekerjaan Cofferdam. Penyokong dan Pengaku yaitu : 1) Harus menggunakan perlengkapan kerja yang standar. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penggalian pada Pekerjaan Cofferdam. 2) Terluka karena terkena pecahan batu hasil galian. Penyokong dan Pengaku yaitu : 1) Jarak antara penggali harus aman. 4) Alat dan cara menggunakan harus benar sesuai dengan standar. penyokong dan pengaku 5. 3) Pengaturan lalu lintas harus sesuai dengan standar. 23 . Penyokong dan Pengaku mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Kecelakaan terkena alat gali (cangkul. Penyokong dan Pengaku mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu :  Kecelakaan akibat tumpukan bahan galian yang akan digunakan untuk timbunan. 5) Kecelakaan akibat metode pemasangan patok.6.3.

4) Alat dan cara menggunakan harus benar sesuai dengan standar. 5.3.1 Pengukuran dan pematokan Pekerjaan Pengukuran dan Pematokan pada Pekerjaan Penyiapan Badan Jalan mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Gangguan kesehatan akibat kondisi kerja secara umum. 5) Pemasangan patok harus benar dan sesuai dengan syarat.8. 2) Kecelakaan akibat operasional alat berat di tempat lokasi pemadatan.3.2 Pemadatan Pekerjaan Pemadatan pada Pekerjaan Timbunan mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Kecelakaan akibat pengaturan lalu lintas kurang baik.7 Pekerjaan timbunan 5. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengukuran dan Pematokan pada Pekerjaan Timbunan yaitu : 1) Harus menggunakan perlengkapan kerja yang standar. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pemadatan pada Pekerjaan Timbunan yaitu : 1) Pengaturan lalu lintas harus sesuai dengan standar.3 Penyiraman Pekerjaan Penyiraman pada Pekerjaan Timbunan mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu :  Gangguan kesehatan akibat debu yang timbul saat penyiraman. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penyiraman pada Pekerjaan Timbunan yaitu :  Pekerja harus selalu memakai masker dan perlengkapan kerja standar.7. 3) Pelaksanaan penimbunan pada jalan tanjakan harus dilakukan dengan metode yang benar. 2) Pengoperasian alat berat harus dilakukan oleh operator alat berat yang berpengalaman. 3) Kecelakaan akibat metode penimbunan pada jalan tanjakan.7.5.8 Pekerjaan penyiapan badan jalan 5.7. 3) Pengaturan lalu lintas harus sesuai dengan standar. 2) Pengukuran harus dilakukan dengan menggunakan meteran yang sesuai dengan standar. 5.3. 3) Kecelakaan akibat pengaturan lalu lintas kurang baik.3.1 Pengukuran dan pematokan Pekerjaan Pengukuran dan Pematokan pada Pekerjaan Timbunan mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Gangguan kesehatan akibat kondisi kerja secara umum. 24 .160 . 3) Kecelakaan akibat pengaturan lalu lintas kurang baik. 5) Kecelakaan akibat metode pemasangan patok. 2) Terluka akibat kondisi dan penggunaan meteran yang salah. 4) Kecelakaan akibat jenis dan cara penggunaan peralatan. 5.3.3. 2) Terluka akibat kondisi dan penggunaan meteran yang salah.

160 . Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pemadatan pada Pekerjaan Penyiapan Badan Jalan yaitu : 1) Pengoperasian alat berat harus dilakukan oleh operator alat berat yang berpengalaman.9.3.3. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pemotongan pada Pekerjaan Pemotongan Pohon yaitu : 1) Harus menggunakan perlengkapan kerja yang standar. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penyiraman pada Pekerjaan Penyiapan Badan Jalan yaitu :  Pekerja harus selalu memakai masker dan perlengkapan kerja standar.3.8. 6) Pengaturan lalu lintas harus sesuai dengan standar. 2) Pengukuran harus dilakukan dengan menggunakan meteran yang sesuai dengan standar.1 Pemotongan Pekerjaan Pemotongan pada Pekerjaan Pemotongan Pohon mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Jatuh akibat perlengkapan pekerja kurang memadai. 5. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengukuran dan Pematokan pada Pekerjaan Penyiapan Badan Jalan yaitu : 1) Harus menggunakan perlengkapan kerja yang standar. 25 . 5. 5. 5) Kecelakaan akibat metode pemasangan patok.2 Pemadatan Pekerjaan Pemadatan pada Pekerjaan Penyiapan Badan Jalan mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Kecelakaan akibat operasional alat berat di tempat lokasi pemadatan. 5) Pemasangan patok harus benar dan sesuai dengan syarat.3. 2) Luka akibat tertimpa pohon yang sedang dipotong. 4) Alat dan cara menggunakan harus benar sesuai dengan standar.4) Kecelakaan akibat jenis dan cara penggunaan peralatan.8. 6) Kecelakaan akibat pengaturan lalu lintas kurang baik. 3) Pengaturan lalu lintas harus sesuai dengan standar. 2) Pemotongan harus dilakukan oleh pekerja yang berpengalaman. 2) Pelaksanaan penimbunan pada jalan tanjakan harus dilakukan dengan metode yang benar.3 Penyiraman Pekerjaan Penyiraman pada Pekerjaan Penyiapan Badan Jalan mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu :  Gangguan kesehatan akibat debu yang timbul saat penyiraman.9 Pekerjaan pemotongan pohon 5. 2) Kecelakaan akibat metode penimbunan pada jalan tanjakan.

1 Pelebaran perkerasan dan bahu jalan Pekerjaan lapis pondasi kelas A 5. 3) Terluka karena jatuh pada daerah dengan kemiringan tinggi.3.2 Pengupasan Pekerjaan Pengupasan pada Pekerjaan Lapis Pondasi Kelas A mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Kecelakaan terperosok ke lubang galian. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengukuran dan Pematokan pada Pekerjaan Lapis Pondasi Kelas A yaitu : 1) Alat ukur yang digunakan sesuai dengan standar.9. 5. 3) Membuat tempat berpijak yang aman. 4) Truck pengangkut material buangan harus dalam keadaan tertutup. 6) Tanah yang akan dikupas harus bersih dari batu-batu besar. 2) Pemasangan rambu-rambu lalu lintas dan menugaskan petugas bendera pengatur lalu lintas. 2) Kecelakaan karena tertabrak oleh kendaraan yang melintas. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengupasan pada Pekerjaan Lapis Pondasi Kelas A yaitu : 1) Memasang pengaman dan membatasi daerah galian dengan pagar pengaman.1. 9) Kecelakaan akibat utilitas bawah tanah yang terkena alat penggali 10) Gangguan lalu lintas penduduk sekitar. 5) Kecelakaan akibat tanah bagian pinggir longsor.4 5. pengukuran dilakukan oleh pekerja terampil dan berpengalaman dan memakai perlengkapan kerja standar. 5) Diadakan pengujian stabilitas terutama pada tanah bagian pinggir. 3) Patok yang digunakan terlalu panjang dan palu yang digunakan tidak proporsional.4. 2) Terjadi gangguan lalu lintas penduduk sekitar. pohon-pohon dan rintangan lainnya. 8) Terluka karena pengoperasian alat berat tidak dilakukan dengan benar.1 Pengukuran dan pematokan Pekerjaan Pengukuran dan Pematokan pada Pekerjaan Lapis Pondasi Kelas A mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terluka akibat penggunaan meteran baja tidak benar.4. 7) Terluka oleh peralatan akibat pekerja terlalu berdekatan.4. 6) Kecelakaan oleh karena batu/pohon besar yang merintangi pengupasan. 11) Kecelakaan akibat lubang galian terisi air yang menggenang. 3) Terluka pada saat memasang patok dan luka terkena palu.160 . Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pemotongan pada Pekerjaan Pemotongan Pohon yaitu :  Metode pengangkutan dan pembuangan hasil potongan harus memenuhi syarat. 26 . 2) Menyiapkan jalan sementara bagi penduduk sekitar. 4) Gangguan kesehatan lingkungan akibat pembuangan hasil kupasan tidak benar.1.5.2 Pembuangan Pekerjaan Pemotongan pada Pekerjaan Pemotongan Pohon mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu :  Kecelakaan akibat hasil potongan pohon tercecer dijalan. 5.

3) Operator mesin penghampar harus terampil dan berpengalaman dan pengoperasian grader harus dilakukan dengan metode yang benar. dan dijaga agar tidak ada orang lain yang berkepentingan berada di dekat dump truck yang sedang menurunkan agregat. 27 .4. 7) Penyediaan jalan sementara bagi penduduk sekitar.1.4 Pemadatan Pekerjaan Pemadatan pada Pekerjaan Lapis Pondasi Kelas A mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terjadi iritasi pada kulit dan paru-paru oleh debu pada pemadatan yang kering. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penghamparan pada Pekerjaan Lapis Pondasi Kelas A yaitu : 1) Diadakan penyiraman terhadap agregat yang telah dihampar sebelum ditutup. listrik dibawah tanah harus dimatikan terlebih dulu.160 .3 Penghamparan Pekerjaan Penghamparan pada Pekerjaan Lapis Pondasi Kelas A mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terjadi kecelakaan pada saat dump truck menurunkan agregat. 2) Terjadi iritasi pada kulit dan paru-paru akibat debu agregat yang kering. operator harus terampil dan berpengalaman dan metode pengoperasian alat harus sesuai dengan ketentuan. 8) Sebelum digunakan alat berat harus dicek kelayakannya. 5) Terluka akibat pengoperasian mesin pemadat (grader) tidak benar.1. 5) Terjadi kecelakaan akibat penimbunan material sementara. 2) Terjadi gangguan lalu lintas kendaraan. 2) Pemasangan rambu-rambu lalu lintas serta penugasan petugas bendera pengatur lalu lintas. 3) Pembuatan jalan sementara bagi penduduk sekitar. 4) Pemasangan rambu-rambu dan petugas pengatur lalu lintas. 5. 4) Kecelakaan akibat tanah bagian pinggir jalan tidak stabil. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pemadatan pada Pekerjaan Lapis Pondasi Kelas A yaitu : 1) Harus dilakukan penyiraman hamparan sebelum dipadatkan. 12) Menjaga agar bekas galian selalu dalam kondisi kering. 2) Pengoperasian dump truck harus dilakukan oleh tenaga terampil dan berpengalaman. 6) Kecelakaan akibat tanah di pinggir bahu jalan tidak stabil. 5. 4) Terjadi kecelakaan akibat tertabrak lalu lintas kendaraan. 3) Terluka oleh mesin penghampar (Grader) karena pengoperasian tidak benar.7) Senantiasa menjaga jarak aman antar pekerja satu dan pekerja lainnya. 6) Terluka oleh alat kerja akibat jarak antar pekerja terlalu dekat. instalasi gas. 3) Terjadi gangguan lalu lintas penduduk sekitar. sebelum dihampar. 8) Senantiasa menjaga jarak aman antara pekerja satu dan pekerja lainnya. air. bila tidak dapat dimatikan maka instalasi tersebut harus dipagari atau dilindungi dengan aman.4. 6) Dilakukan pemeriksaan stabilitas tanah terutama pada pinggir bahu jalan. 5) Penimbunan material harus di tempat yang aman atau material agar segera dihampar. 10) Sebelum dilakukan penggalian. 8) Terluka oleh peralatan kerja akibat jarak antar pekerja terlalu dekat. 7) Gangguan lalu lintas penduduk sekitar. 11) Disediakan jalan keluar masuk bagi penduduk sekitar. 9) Sebelum dilakukan penggalian harus dilakukan pemeriksaan utilitas umum di bawah tanah terlebih dahulu.

3) Terluka pada saat memasang patok dan luka terkena palu. 8) Terluka karena pengoperasian alat berat tidak dilakukan dengan benar.2. operator harus berpengalaman dan operasional mesin harus benar. 5) Dilakukan pengecekan kelayakan mesin pemadat.2 Pengupasan Pekerjaan Pengupasan pada Pekerjaan Lapis Pondasi Kelas B mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Kecelakaan terperosok ke lubang galian. 7) Terluka oleh peralatan akibat pekerja terlalu berdekatan. 3) Patok yang digunakan terlalu panjang dan palu yang digunakan tidak proporsional. 5. 3) Terluka karena jatuh pada daerah dengan kemiringan tinggi. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penyiraman pada Pekerjaan Lapis Pondasi Kelas A yaitu : 1) Air yang digunakan untuk menyiram harus sesuai ketentuan (tidak berbau busuk dll). 9) Kecelakaan akibat utilitas bawah tanah yang terkena alat penggali. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengukuran dan Pematokan pada Pekerjaan Lapis Pondasi Kelas B yaitu : 1) Alat ukur yang digunakan sesuai dengan standar.5 Penyiraman Pekerjaan Penyiraman pada Pekerjaan Lapis Pondasi Kelas A mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terjadi gangguan kesehatan karena air yang digunakan penyiraman tidak sehat.4. 5. 2) Mesin penyiram harus dalam kondisi layak. 3) Pemasangan rambu-rambu lalu lintas dan penugasan petugas bendera pengatur lalu lintas. 2) Terjadi gangguan lalu lintas penduduk sekitar. 5. bila perlu diadakan pengujian. operator harus tenaga terampil dan berpengalaman dan pengoperasian alat pemadat harus benar.1 Pengukuran dan pematokan Pekerjaan Pengukuran dan Pematokan pada Pekerjaan Lapis Pondasi Kelas B mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terluka akibat penggunaan meteran baja tidak benar.2.4.4. 2) Terjagi kecelakaan dalam pengoperasian alat penyiraman (Water Tanker). 3) Kecelakaan tertabrak lalu lintas kendaraan. 11) Kecelakaan akibat lubang galian terisi air yang menggenang.1. 2) Pemasangan rambu-rambu lalu lintas dan menugaskan petugas bendera pengatur lalu lintas.4) Dilakukan pemeriksaan stabilitas tanah terutama dibagian pinggir jalan.4. pengukuran dilakukan oleh pekerja terampil dan berpengalaman dan memakai perlengkapan kerja standar. 6) Kecelakaan oleh karena batu/pohon besar yang merintangi pengupasan. 6) Senantiasa menjaga jarak aman antara pekerja satu dengan pekerja lainnya.160 . 10) Gangguan lalu lintas penduduk sekitar. 5) Kecelakaan akibat tanah bagian pinggir longsor. 2) Kecelakaan karena tertabrak oleh kendaraan yang lintas. 28 .2 Pekerjaan lapis pondasi kelas B 5. 4) Gangguan kesehatan lingkungan akibat pembuangan hasil kupasan tidak benar.

3) Terluka oleh mesin penghampar (Grader) karena pengoperasian tidak benar. dan dijaga agar tidak ada orang lain yang berkepentingan berada di dekat dump truck yang sedang menurunkan agregat. 3) Operator mesin penghampar harus terampil dan berpengalaman dan pengoperasian grader harus dilakukan dengan metode yang benar. 8) Senantiasa menjaga jarak aman antara pekerja satu dan pekerja lainnya. 6) Tanah yang akan dikupas harus bersih dari batu-batu besar. 2) Menyiapkan jalan sementara bagi penduduk sekitar. 5) Terluka oleh alat kerja akibat jarak antar pekerja terlalu dekat. 5) Penimbunan material harus di tempat yang aman atau material agar segera dihampar. 6) Dilakukan pemeriksaan stabilitas tanah terutama pada pinggir bahu jalan.2. pohon-pohon dan rintangan lainnya.3 Penghamparan Pekerjaan Penghamparan pada Pekerjaan Lapis Pondasi Kelas B mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terjadi iritasi pada kulit dan paru-paru akibat debu agregat yang kering.Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengupasan pada Pekerjaan Lapis Pondasi Kelas B yaitu : 1) Memasang pengaman dan membatasi daerah galian dengan pagar pengaman. 7) Gangguan lalu lintas penduduk sekitar. 4) Terjadi kecelakaan akibat tertabrak lalu lintas kendaraan. 9) Sebelum dilakukan penggalian harus dilakukan pemeriksaan utilitas umum di bawah tanah terlebih dahulu. 11) Menjaga agar bekas galian selalu dalam kondisi kering. 2) Terjadi kecelakaan pada saat dump truck menurunkan agregat. 29 . 3) Kecelakaan akibat tanah bagian pinggir jalan tidak stabil. 7) Senantiasa menjaga jarak aman antar pekerja satu dan pekerja lainnya. 6) Kecelakaan akibat tanah di pinggir bahu jalan tidak stabil. 4) Truck pengangkut material buangan harus dalam keadaan tertutup.2.4. 7) Penyediaan jalan sementara bagi penduduk sekitar. operator harus terampil dan berpengalaman dan metode pengoperasian alat harus sesuai dengan ketentuan. 5. 4) Pemasangan rambu-rambu dan petugas pengatur lalu lintas. 8) Terluka oleh peralatan kerja akibat jarak antar pekerja terlalu dekat. 3) Membuat tempat berpijak yang aman. sebelum dihampar. 5) Diadakan pengujian stabilitas terutama pada tanah bagian pinggir. 2) Pengoperasian dump truck harus dilakukan oleh tenaga terampil dan berpengalaman. 10) Disediakan jalan keluar masuk bagi penduduk sekitar.160 . Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penghamparan pada Pekerjaan Lapis Pondasi Kelas B yaitu : 1) Diadakan penyiraman terhadap agregat yang telah dihampar sebelum ditutup. 5) Terjadi kecelakaan akibat penimbunan material sementara.4 Pemadatan Pekerjaan Pemadatan pada Pekerjaan Lapis Pondasi Kelas B mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terjadi iritasi pada kulit dan paru-paru oleh debu pada pemadatan yang kering. 8) Sebelum digunakan alat berat harus dicek kelayakannya. 5.4. 4) Terluka akibat pengoperasian mesin pemadat (grader) tidak benar. 2) Terjadi gangguan lalu lintas penduduk sekitar.

4.3. 3) Kecelakaan tertabrak lalu lintas kendaraan. 5.4. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penyiraman pada Pekerjaan Lapis Pondasi Kelas B yaitu : 1) Air yang digunakan untuk menyiram harus sesuai ketentuan (tidak berbau busuk dll). 3) Pemasangan rambu-rambu lalu lintas dan penugasan petugas bendera pengatur lalu lintas. operator harus tenaga terampil dan berpengalaman dan pengoperasian alat pemadat harus benar. 2) Terjadi gangguan lalu lintas penduduk sekitar. 5. 3) Pembuatan jalan sementara bagi penduduk sekitar. 4) Dilakukan pemeriksaan stabilitas tanah terutama dibagian pinggir jalan. 6) Senantiasa menjaga jarak aman antara pekerja satu dengan pekerja lainnya. 3) Terluka karena jatuh pada daerah dengan kemiringan tinggi.4.4. 4) Gangguan kesehatan lingkungan akibat pembuangan hasil kupasan tidak benar.2 Pengupasan Pekerjaan Pengupasan pada Pekerjaan Lapis Pondasi Tanah Semen mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Kecelakaan terperosok ke lubang galian.Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pemadatan pada Pekerjaan Lapis Pondasi Kelas B yaitu : 1) Harus dilakukan penyiraman hamparan sebelum dipadatkan. 3) Patok yang digunakan terlalu panjang dan palu yang digunakan tidak proporsional. 2) Kecelakaan karena tertabrak oleh kendaraan yang melintas.2. 2) Terjagi kecelakaan dalam pengoperasian alat penyiram (Water Tanker). 30 . bila perlu diadakan pengujian. 2) Pemasangan rambu-rambu lalu lintas dan menugaskan petugas bendera pengatur lalu lintas. 5. 2) Mesin penyiram harus dalam kondisi layak. 3) Terluka pada saat memasang patok dan luka terkena palu. 5) Kecelakaan akibat tanah bagian pinggir longsor.5 Penyiraman Pekerjaan Penyiraman pada Pekerjaan Lapis Pondasi Kelas B mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terjadi gangguan kesehatan karena air yang digunakan penyiraman tidak sehat. 2) Pemasangan rambu-rambu lalu lintas serta penugasan petugas bendera pengatur lalu lintas. 5) Dilakukan pengecekan kelayakan mesin pemadat. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengukuran dan Pematokan pada Pekerjaan Lapis Pondasi Tanah Semen yaitu : 1) Alat ukur yang digunakan sesuai dengan standar.160 . operator harus berpengalaman dan operasional mesin harus benar.3 Pekerjaan lapis pondasi tanah semen 5.3.1 Pengukuran dan pematokan Pekerjaan Pengukuran dan Pematokan pada Pekerjaan Lapis Pondasi Tanah Semen mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terluka akibat penggunaan meteran baja tidak benar. pengukuran dilakukan oleh pekerja terampil dan berpengalaman dan memakai perlengkapan kerja standar.

8) Sebelum digunakan alat berat harus dicek kelayakannya. 10) Disediakan jalan keluar masuk bagi penduduk sekitar.3. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penghamparan pada Pekerjaan Lapis Pondasi Tanah Semen yaitu : 1) Diadakan penyiraman terhadap agregat yang telah dihampar sebelum ditutup. 5) Diadakan pengujian stabilitas terutama pada tanah bagian pinggir. 3) Terluka oleh mesin penghampar (Grader) karena pengoperasian tidak benar. Kecelakaan akibat lubang galian terisi air yang menggenang.160 . dan dijaga agar tidak ada orang lain yang berkepentingan berada di dekat dump truck yang sedang menurunkan agregat. Gangguan lalu lintas penduduk sekitar. Kecelakaan akibat utilitas bawah tanah yang terkena alat penggali. 5) Penimbunan material harus di tempat yang aman atau material agar segera dihampar. sebelum dihampar. 4) Pemasangan rambu-rambu dan petugas pengatur lalu lintas. 11) Menjaga agar bekas galian selalu dalam kondisi kering. 4) Truck pengangkut material buangan harus dalam keadaan tertutup. Terluka oleh peralatan akibat pekerja terlalu berdekatan.4. 3) Membuat tempat berpijak yang aman. 7) Gangguan lalu lintas penduduk sekitar. 7) Penyediaan jalan sementara bagi penduduk sekitar. 6) Tanah yang akan dikupas harus bersih dari batu-batu besar. 8) Terluka oleh peralatan kerja akibat jarak antar pekerja terlalu dekat. pohon-pohon dan rintangan lainnya. 5. 2) Terjadi kecelakaan pada saat dump truck menurunkan agregat. 9) Sebelum dilakukan penggalian harus dilakukan pemeriksaan utilitas umum di bawah tanah terlebih dahulu. 6) Dilakukan pemeriksaan stabilitas tanah terutama pada pinggir bahu jalan. 2) Pengoperasian dump truck harus dilakukan oleh tenaga terampil dan berpengalaman. operator harus terampil dan berpengalaman dan metode pengoperasian alat harus sesuai dengan ketentuan. 7) Senantiasa menjaga jarak aman antar pekerja satu dan pekerja lainnya.6) 7) 8) 9) 10) 11) Kecelakaan oleh karena batu/pohon besar yang merintangi pengupasan. 5) Terjadi kecelakaan akibat penimbunan material sementara. Terluka karena pengoperasian alat berat tidak dilakukan dengan benar. 2) Menyiapkan jalan sementara bagi penduduk sekitar.3 Penghamparan Pekerjaan Penghamparan pada Pekerjaan Lapis Pondasi Tanah Semen mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terjadi iritasi pada kulit dan paru-paru akibat debu agregat yang kering. 31 . 6) Kecelakaan akibat tanah di pinggir bahu jalan tidak stabil. 4) Terjadi kecelakaan akibat tertabrak lalu lintas kendaraan. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengupasan pada Pekerjaan Lapis Pondasi Tanah Semen yaitu : 1) Memasang pengaman dan membatasi daerah galian dengan pagar pengaman. 8) Senantiasa menjaga jarak aman antara pekerja satu dan pekerja lainnya. 3) Operator mesin penghampar harus terampil dan berpengalaman dan pengoperasian grader harus dilakukan dengan metode yang benar.

1 Pengukuran dan pematokan Pekerjaan Pengukuran dan Pematokan pada Pekerjaan Pelaburan Aspal mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terluka akibat penggunaan meteran baja tidak benar. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengukuran dan Pematokan pada Pekerjaan Pelaburan Aspal yaitu : 1) Alat ukur yang digunakan sesuai dengan standar. 2) Terjadi gangguan lalu lintas kendaraan. 3) Terjadi gangguan lalu lintas penduduk sekitar.4 Pemadatan Pekerjaan Pemadatan pada Pekerjaan Lapis Pondasi Tanah Semen mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terjadi iritasi pada kulit dan paru-paru oleh debu pada pemadatan yang kering.4.4 Pekerjaan pelaburan aspal 5. 4) Kecelakaan akibat tanah bagian pinggir jalan tidak stabil.5 Penyiraman Pekerjaan Penyiraman pada Pekerjaan Lapis Pondasi Tanah Semen mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terjadi gangguan kesehatan karena air yang digunakan penyiraman tidak sehat. 5) Terluka akibat pengoperasian mesin pemadat (grader) tidak benar. pengukuran dilakukan oleh pekerja terampil dan berpengalaman dan memakai perlengkapan kerja standar. 6) Senantiasa menjaga jarak aman antara pekerja satu dengan pekerja lainnya. 3) Pemasangan rambu-rambu lalu lintas dan penugasan petugas bendera pengatur lalu lintas.4.5. 32 . 5. operator harus tenaga terampil dan berpengalaman dan pengoperasian alat pemadat harus benar. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penyiraman pada Pekerjaan Lapis Pondasi Tanah Semen yaitu : 1) Air yang digunakan untuk menyiram harus sesuai ketentuan (tidak berbau busuk dll). operator harus berpengalaman dan operasional mesin harus benar.4. 2) Kecelakaan karena tertabrak oleh kendaraan yang melintas. 3) Terluka pada saat memasang patok dan luka terkena palu. bila perlu diadakan pengujian.160 . 2) Pemasangan rambu-rambu lalu lintas serta penugasan petugas bendera pengatur lalu lintas. 4) Dilakukan pemeriksaan stabilitas tanah terutama dibagian pinggir jalan. 3) Pembuatan jalan sementara bagi penduduk sekitar. 2) Terjadi kecelakaan dalam pengoperasian alat penyiram (Water Tanker). 5) Dilakukan pengecekan kelayakan mesin pemadat. 6) Terluka oleh alat kerja akibat jarak antar pekerja terlalu dekat. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pemadatan pada Pekerjaan Lapis Pondasi Tanah Semen yaitu : 1) Harus dilakukan penyiraman hamparan sebelum dipadatkan. 5.3.4. 2) Mesin penyiram harus dalam kondisi layak. 2) Pemasangan rambu-rambu lalu lintas dan menugaskan petugas bendera pengatur lalu lintas.4. 3) Kecelakaan tertabrak lalu lintas kendaraan.3.

struktur atau bangunan yang berdekatan dengan lokasi dari percikan aspal dan kerusakan lainnya. 2) Terjadi iritasi pada mata.4. 6) Terluka akibat jarak antar pekerja yang sedang bekerja kurang memadai atau tidak pada jarak yang aman.3 Penyemprotan Pekerjaan Penyemprotan pada Pekerjaan Pelaburan Aspal mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terluka oleh percikan aspal panas. 2) Pekerja harus menggunakan kacamata dan masker untuk mencegah iritasi mata dan paru-paru akibat asap dan panas dari api pembakaran dan aspal. 4) Pekerja harus menggunakan kacamata dan masker untuk mencegah iritasi mata dan paru-paru akibat asap dan panas dari api pembakaran dan aspal. terluka oleh tangki aspal.2 Pembakaran Pekerjaan Pembakaran pada Pekerjaan Pelaburan Aspal mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terluka oleh percikan aspal panas akibat metode kerja tidak benar dan dilakukan oleh pekerja yang kurang berpengalaman. 5. 3) Terjadi kerusakan pada pohon. 4) Terjadi Iritasi pada mata. struktur atau bangunan yang berdekatan dengan lokasi pembakaran. 4) Menjaga agar tidak ada orang luar maupun pekerja yang tidak ahli pada waktu mesin penyemprotan dari pompa aspal (aspal sprayer) bekerja menyiram aspal pada agregat. 33 .4. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penyemprotan pada Pekerjaan Pelaburan Aspal yaitu : 1) Petugas harus memakai peralatan dan perlengkapan kerja standar. 2) Terluka oleh api pembakaran akibat pekerja ceroboh. struktur atau bangunan yang berdekatan dengan lokasi dari percikan aspal dan kerusakan lainnya. 2) Pengadukan harus menggunakan kayu yang panjang sedemikian keamanan terjamin. 5) Terjadi kerusakan pada pohon. 3) Terjadi kebakaran akibat metode pelaksanaan pembakaran kurang baik dan dilakukan oleh tenaga yang kurang berpengalaman. kulit dan paru-paru akibat asap dan panas dari api pembakaran dan aspal. 5) Dalam melakukan pembakaran harus selalu dijaga sedemikian sehingga nyala api tidak terlalu besar yang dapat membahayakan. kulit dan paru-paru akibat uap dan panas dari aspal.4. 5) Mengatur lalu lintas agar tetap berjalan dengan lancar dengan cara mengerjakan pekerjaan ½ bagian terlebih dahulu. 6) Senantiasa menjaga jarak aman antara pekerja satu dan pekerja lainnya.3) Patok yang digunakan terlalu panjang dan palu yang digunakan tidak proporsional.160 . 3) Membuat pengaman untuk menghindari kerusakan pada pohon. 5) Terjadi gangguan lalu lintas kendaraan. 3) Pembakaran harus dilakukan di tempat yang aman dari bahaya kebakaran lainnya.4. 4) Terluka oleh pipa alat penyemprot pada kondisi yang panas. 5. terluka oleh mesin pompa aspal. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pembakaran pada Pekerjaan Pelaburan Aspal yaitu : 1) Petugas pembakar harus berpengalaman pada bidangnya dan harus mengenakan pakaian kerja standar.

2) Kerusakan pada pohon. 3) Pembakaran harus dilakukan di tempat yang aman dari bahaya kebakaran lainnya. 3) Pembuatan jalan sementara bagi penduduk sekitar.4. 2) Pemasangan rambu-rambu lalu lintas dan menugaskan petugas bendera pengatur lalu lintas. 4) Terjadi iritasi pada mata. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pembakaran pada Pekerjaan Lapis Resap Pengikat yaitu : 1) Petugas pembakar harus berpengalaman pada bidangnya dan harus mengenakan pakaian kerja standar.160 . struktur atau bangunan yang berdekatan dengan lokasi pembakaran. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pelapisan Butiran Agregat (Chipping) pada Pekerjaan Pelaburan Aspal yaitu : 1) Petugas harus memakai pakaian kerja standar.5. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengukuran dan Pematokan pada Pekerjaan Lapis Resap Pengikat yaitu : 1) Alat ukur yang digunakan sesuai dengan standar. 5.4. 3) Terjadi bahaya kebakaran. 2) Kecelakaan karena tertabrak oleh kendaraan yang melintas. 3) Terluka pada saat memasang patok dan luka terkena palu.5. kulit dan paru-paru oleh debu akibat penyapuan dan pembersihan. 3) Terluka akibat jarak antar pekerja yang seedang bekerja tidak dalam jarak yang aman.2 Pembakaran Pekerjaan Pembakaran pada Pekerjaan Lapis Resap Pengikat mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terluka oleh percikan aspal panas. struktur atau bangunan yang berdekatan dengan lokasi dari percikan aspal dan kerusakan lainnya.4 Pelapisan butiran agregat (chipping) Pekerjaan Pelapisan Butiran Agregat (Chipping) pada Pekerjaan Pelaburan Aspal mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Iritasi terhadap mata.4.4.1 Pengukuran dan pematokan Pekerjaan Pengukuran dan Pematokan pada Pekerjaan Lapis Resap Pengikat mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terluka akibat penggunaan meteran baja tidak benar. 3) Patok yang digunakan terlalu panjang dan palu yang digunakan tidak proporsional. struktur atau bangunan yang berdekatan dengan lokasi pembakaran. 2) Terluka oleh api pembakaran.4. 34 . 5) Terjadi kerusakan pada pohon.5 Pekerjaan lapis resap pengikat 5. 4) Pekerja harus menggunakan kacamata dan masker untuk mencegah iritasi mata dan paru-paru akibat asap dan panas dari api pembakaran dan aspal. 5.5. 2) Menyediakan Pengaman untuk menghindari kerusakan pada pohon. kulit dan paru-paru akibat asap dan panas dari api pembakaran dan aspal. 2) Pengadukan harus menggunakan kayu yang panjang sedemikian keamanan terjamin. pengukuran dilakukan oleh pekerja terampil dan berpengalaman dan memakai perlengkapan kerja standar.

2) Pemasangan rambu-rambu lalu lintas dan menugaskan petugas bendera pengatur lalu lintas. 4) Terluka oleh pipa alat penyemprot pada kondisi yang panas. 3) Membuat pengaman untuk menghindari kerusakan pada pohon.1 Perkerasan berbutir Pekerjaan lapis pondasi kelas A 5. struktur atau bangunan yang berdekatan dengan lokasi dari percikan aspal dan kerusakan lainnya.4. pengukuran dilakukan oleh pekerja terampil dan berpengalaman dan memakai perlengkapan kerja standar.5 5.1 Pengukuran dan pematokan Pekerjaan Pengukuran dan Pematokan pada Pekerjaan Lapis Pondasi Kelas A mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terluka akibat penggunaan meteran baja tidak benar dan tidak memenuhi standar. 3) Terluka pada saat memasang patok dan luka terkena palu. 2) Pekerja harus menggunakan kacamata dan masker untuk mencegah iritasi mata dan paru-paru akibat asap dan panas dari api pembakaran dan aspal. 5) Mengatur lalu lintas agar tetap berjalan dengan lancar dengan cara mengerjakan pekerjaan ½ bagian terlebih dahulu. 6) Lalu lintas kendaraan terganggu. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penyemprotan pada Pekerjaan Lapis Resap Pengikat yaitu : 1) Petugas harus memakai peralatan dan perlengkapan kerja standar.5. 5. 3) Terjadi kerusakan pada pohon. 2) Terjadi iritasi pada mata. 4) Pemasangan rambu-rambu lalu-lintas pengaman sementara serta diadakan petugas pengatur lalu-lintas.3 Penyemprotan Pekerjaan Penyemprotan pada Pekerjaan Lapis Resap Pengikat mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terluka oleh percikan aspal panas. 4) Terjadi gangguan lalu lintas kendaraan. 35 .1. 5. 4) Menjaga agar tidak ada orang luar maupun pekerja yang tidak ahli pada waktu mesin penyemprotan dari pompa aspal (aspal sprayer) bekerja menyiram aspal pada agregat. 6) Senantiasa menjaga jarak aman antara pekerja satu dan pekerja lainnya. tangki dan pompa aspal. 5) Terluka oleh mesin. 7) Terluka akibat jarak antar pekerja yang sedang bekerja kurang memadai atau tidak pada jarak yang aman.160 . 3) Patok yang digunakan terlalu panjang dan palu yang digunakan tidak proporsional. struktur atau bangunan yang berdekatan dengan lokasi dari percikan aspal dan kerusakan lainnya.5. 2) Kecelakaan karena tertabrak oleh kendaraan yang melintas.5.5) Dalam melakukan pembakaran harus selalu dijaga sedemikian sehingga nyala api tidak terlalu besar yang dapat membahayakan. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengukuran dan Pematokan pada Pekerjaan Lapis Pondasi Kelas A yaitu : 1) Alat ukur yang digunakan sesuai dengan standar. kulit dan paru-paru akibat uap dan panas dari aspal.

5.1. 8) Terjadi kecelakaan akibat pengupasan mengenai kabel listrik bawah tanah atau mengenai pipa gas yang beracun. 3) Truck pengangkut material buangan harus dalam keadaan tertutup.160 . 2) Menyiapkan jalan sementara bagi penduduk sekitar. 6) Senantiasa menjaga jarak aman antar pekerja satu dan pekerja lainnya. 10) Kecelakaan akibat lubang galian terisi air yang menggenang. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengupasan pada Pekerjaan Lapis Pondasi Kelas A yaitu : 1) Memasang pengaman dan membatasi daerah galian dengan pagar pengaman. 3) Terjadi kecelakaan oleh sisa-sisa pengupasan akibat pembuangan atau pembersihan tempat pengupasan tidak dilakukan dengan benar. 2) Pengoperasian dump truck harus dilakukan oleh tenaga terampil dan berpengalaman. 4) Pemasangan rambu-rambu dan petugas pengatur lalu lintas. 7) Sebelum digunakan alat berat harus dicek kelayakannya.1. 5) Tanah yang akan dikupas harus bersih dari batu-batu besar. 3) Operator mesin penghampar harus terampil dan berpengalaman dan pengoperasian grader harus dilakukan dengan metode yang benar.3 Penghamparan Pekerjaan Penghamparan pada Pekerjaan Lapis Pondasi Kelas A mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terjadi iritasi pada kulit dan paru-paru akibat debu agregat yang kering. 7) Gangguan lalu lintas penduduk sekitar.5. 8) Sebelum dilakukan penggalian harus dilakukan pemeriksaan utilitas umum di bawah tanah terlebih dahulu. 9) Disediakan jalan keluar masuk bagi penduduk sekitar. 4) Diadakan pengujian stabilitas terutama pada tanah bagian pinggir. 6) Terluka oleh peralatan akibat pekerja terlalu berdekatan. 10) Menjaga agar bekas galian selalu dalam kondisi kering. 4) Terjadi kecelakaan akibat tertabrak lalu lintas kendaraan.5.2 Pengupasan Pekerjaan Pengupasan pada Pekerjaan Lapis Pondasi Kelas A mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Kecelakaan terperosok ke lubang galian. 2) Terjadi gangguan lalu lintas penduduk sekitar. 3) Terluka oleh mesin penghampar (Grader) karena pengoperasian tidak benar. 8) Terluka oleh peralatan kerja akibat jarak antar pekerja terlalu dekat. 5. 4) Terjadi longsoran tanah bagian pinggir. sebelum dihampar. 6) Kecelakaan akibat tanah di pinggir bahu jalan tidak stabil. 36 . 7) Terluka karena pengoperasian alat berat tidak dilakukan dengan benar. 5) Terjadi kecelakaan akibat penimbunan material sementara. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penghamparan pada Pekerjaan Lapis Pondasi Kelas A yaitu : 1) Diadakan penyiraman terhadap agregat yang telah dihampar sebelum ditutup. dan dijaga agar tidak ada orang lain yang berkepentingan berada di dekat dump truck yang sedang menurunkan agregat. pohon-pohon dan rintangan lainnya. 5) Kecelakaan oleh karena batu/pohon besar yang merintangi pengupasan. 9) Terjadi gangguan lalu lintas kendaraan. operator harus terampil dan berpengalaman dan metode pengoperasian alat harus sesuai dengan ketentuan. 2) Terjadi kecelakaan pada saat dump truck menurunkan agregat.

5.5. 37 .2. 4) Terjadi gangguan lalu lintas kendaraan. 5. 2) Mesin penyiram harus dalam kondisi layak. 3) Pembuatan jalan sementara bagi penduduk sekitar. 4) Kecelakaan akibat tanah bagian pinggir jalan tidak stabil. Senantiasa menjaga jarak aman antara pekerja satu dan pekerja lainnya.5.5. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penyiraman pada Pekerjaan Lapis Pondasi Kelas A yaitu : 1) Air yang digunakan untuk menyiram harus sesuai ketentuan (tidak berbau busuk dll).1 Pengukuran dan pematokan Pekerjaan Pengukuran dan Pematokan pada Pekerjaan Lapis Pondasi Kelas B mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terluka akibat penggunaan meteran baja tidak benar dan tidak memenuhi standar. 6) Senantiasa menjaga jarak aman antara pekerja satu dengan pekerja lainnya. 6) Terluka oleh alat kerja akibat jarak antar pekerja terlalu dekat. 5) Dilakukan pengecekan kelayakan mesin pemadat. 3) Terjadi gangguan lalu lintas penduduk sekitar.160 .5) 6) 7) 8) Penimbunan material harus di tempat yang aman atau material agar segera dihampar.2 Pekerjaan lapis pondasi kelas B 5. 3) Terluka pada saat memasang patok dan luka terkena palu. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pemadatan pada Pekerjaan Lapis Pondasi Kelas A yaitu : 1) Harus dilakukan penyiraman hamparan sebelum dipadatkan. bila perlu diadakan pengujian. 2) Terjadi gangguan lalu lintas kendaraan. 2) Pemasangan rambu-rambu lalu lintas serta penugasan petugas bendera pengatur lalu lintas. Dilakukan pemeriksaan stabilitas tanah terutama pada pinggir bahu jalan. 3) Pemasangan rambu-rambu lalu lintas dan penugasan petugas bendera pengatur lalu lintas. 5) Terluka akibat pengoperasian mesin pemadat (grader) tidak benar. Penyediaan jalan sementara bagi penduduk sekitar. 3) Kecelakaan tertabrak lalu lintas kendaraan.1.5 Penyiraman Pekerjaan Penyiraman pada Pekerjaan Lapis Pondasi Kelas A mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terjadi gangguan kesehatan karena air yang digunakan penyiraman tidak sehat. 5. 2) Terjadi kecelakaan dalam pengoperasian alat penyiram (Water Tanker).1. 5.4 Pemadatan Pekerjaan Pemadatan pada Pekerjaan Lapis Pondasi Kelas A mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terjadi iritasi pada kulit dan paru-paru oleh debu pada pemadatan yang kering. operator harus berpengalaman dan operasional mesin harus benar. operator harus tenaga terampil dan berpengalaman dan pengoperasian alat pemadat harus benar. 2) Kecelakaan karena tertabrak oleh kendaraan yang melintas. 4) Dilakukan pemeriksaan stabilitas tanah terutama dibagian pinggir jalan.

9) Sebelum dilakukan penggalian harus dilakukan pemeriksaan utilitas umum di bawah tanah terlebih dahulu. 38 .160 . 3) Terluka oleh mesin penghampar (Grader) karena pengoperasian tidak benar. 11) Menjaga agar bekas galian selalu dalam kondisi kering. 4) Terjadi kecelakaan akibat tertabrak lalu lintas kendaraan. 9) Terjadi kerusakan pada sarana dan prasarana utilitas umum. 8) Sebelum dilakukan penggalian. instalasi gas. 8) Terjadi kecelakaan akibat pengupasan mengenai kabel listrik bawah tanah atau mengenai pipa gas yang beracun. 3) Patok yang digunakan tidak terlalu panjang dan palu yang digunakan proporsional. 7) Terluka karena pengoperasian alat berat tidak dilakukan dengan benar. 2) Terjadi kecelakaan pada saat dump truck menurunkan agregat. 4) Terjadi longsoran tanah bagian pinggir. 3) Truck pengangkut material buangan harus dalam keadaan tertutup. 2) Pemasangan rambu-rambu lalu lintas dan menugaskan petugas bendera pengatur lalu lintas. pengukuran dilakukan oleh pekerja terampil dan berpengalaman dan memakai perlengkapan kerja standar. 6) Senantiasa menjaga jarak aman antar pekerja satu dan pekerja lainnya. 7) Sebelum digunakan alat berat harus dicek kelayakannya.5.5. listrik dibawah tanah harus dimatikan terlebih dulu. 5. 5) Kecelakaan oleh karena batu/pohon besar yang merintangi pengupasan. 4) Diadakan pengujian stabilitas terutama pada tanah bagian pinggir.Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengukuran dan Pematokan pada Pekerjaan Lapis Pondasi Kelas B yaitu : 1) Alat ukur yang digunakan sesuai dengan standar. 5. operator harus terampil dan berpengalaman dan metode pengoperasian alat harus sesuai dengan ketentuan. 6) Terluka oleh peralatan akibat pekerja terlalu berdekatan.2. 10) Terjadi gangguan lalu lintas kendaraan. 3) Terjadi kecelakaan oleh sisa-sisa pengupasan akibat pembuangan atau pembersihan tempat pengupasan tidak dilakukan dengan benar. pohon-pohon dan rintangan lainnya.2 Pengupasan Pekerjaan Pengupasan pada Pekerjaan Lapis Pondasi Kelas B mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Kecelakaan terperosok ke lubang galian. 2) Menyiapkan jalan sementara bagi penduduk sekitar. 11) Kecelakaan akibat lubang galian terisi air yang menggenang. air. 10) Dipasang rambu-rambu lalu-lintas sementara dan dilakukan pengaturan lalu-lintas. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengupasan pada Pekerjaan Lapis Pondasi Kelas B yaitu : 1) Memasang pengaman dan membatasi daerah galian dengan pagar pengaman. 2) Terjadi gangguan lalu lintas penduduk sekitar.3 Penghamparan Pekerjaan Penghamparan pada Pekerjaan Lapis Pondasi Kelas B mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terjadi iritasi pada kulit dan paru-paru akibat debu agregat yang kering. 4) Pemasangan rambu-rambu lalu-lintas pengaman sementara serta diadakan petugas pengatur lalu-lintas.2. 5) Tanah yang akan dikupas harus bersih dari batu-batu besar. bila tidak dapat dimatikan maka instalasi tersebut harus dipagari atau dilindungi dengan aman.

9) Terjadi kerusakan pada sarana dan prasarana utilitas umum. 5) Terluka akibat pengoperasian mesin pemadat (grader) tidak benar.5) 6) 7) 8) Terjadi kecelakaan akibat penimbunan material sementara. 7) Terluka oleh alat kerja akibat jarak antar pekerja terlalu dekat. Gangguan lalu lintas penduduk sekitar. dan sebagainya yang tidak dapat dipindahkan atau diputuskan alirannya. 2) Terjadi gangguan lalu lintas kendaraan.4 Pemadatan Pekerjaan Pemadatan pada Pekerjaan Lapis Pondasi Kelas B mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terjadi iritasi pada kulit dan paru-paru oleh debu pada pemadatan yang kering. 5. 7) Penyediaan jalan sementara bagi penduduk sekitar. sebelum dihampar. 4) Dilakukan pemeriksaan stabilitas tanah terutama dibagian pinggir jalan. 4) Kecelakaan akibat tanah bagian pinggir jalan tidak stabil. 7) Senantiasa menjaga jarak aman antara pekerja satu dengan pekerja lainnya. ditarik ke atas. 4) Pemasangan rambu-rambu dan petugas pengatur lalu lintas. 3) Pembuatan jalan sementara bagi penduduk sekitar. 39 . 6) Dilakukan pemeriksaan stabilitas tanah terutama pada pinggir bahu jalan. 8) Pipa bawah tanah. dan dijaga agar tidak ada orang lain yang tidak berkepentingan berada di dekat dump truck yang sedang menurunkan agregat. 5) Dilakukan pengecekan kelayakan mesin pemadat.2. atau dilindungi. 6) Terjadi kerusakan pada sarana dan prasarana utilitas umum.160 . Terjadi kecelakaan akibat pengupasan mengenai kabel listrik bawah tanah atau mengenai pipa gas yang beracun. 10) Senantiasa menjaga jarak aman antara pekerja satu dan pekerja lainnya. operator harus tenaga terampil dan berpengalaman dan pengoperasian alat pemadat harus benar. konduktor. bila perlu diadakan pengujian.5. 3) Operator mesin penghampar harus terampil dan berpengalaman dan pengoperasian grader harus dilakukan dengan metode yang benar. 2) Pengoperasian dump truck harus dilakukan oleh tenaga terampil dan berpengalaman. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pemadatan pada Pekerjaan Lapis Pondasi Kelas B yaitu : 1) Harus dilakukan penyiraman hamparan sebelum dipadatkan. 9) Sebelum dilakukan penggalian harus dilakukan pemeriksaan utilitas umum di bawah tanah terlebih dahulu. 2) Pemasangan rambu-rambu lalu lintas serta penugasan petugas bendera pengatur lalu lintas. Kecelakaan akibat tanah di pinggir bahu jalan tidak stabil. 10) Terluka oleh peralatan kerja akibat jarak antar pekerja terlalu dekat. harus dipagari. 3) Terjadi gangguan lalu lintas penduduk sekitar. 5) Penimbunan material harus di tempat yang aman atau material agar segera dihampar. 6) Sebelum dilakukan penggalian harus dilakukan pemeriksaan utilitas umum di bawah tanah terlebih dahulu. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penghamparan pada Pekerjaan Lapis Pondasi Kelas B yaitu : 1) Diadakan penyiraman terhadap agregat yang telah dihampar sebelum ditutup.

2) Terjadi kecelakaan dalam pengoperasian alat penyiram (Water Tanker). 7) Terluka karena pengoperasian alat berat tidak dilakukan dengan benar.3 Pekerjaan lapis pondasi kelas C 5. 3) Terluka pada saat memasang patok dan luka terkena palu.2.5. 11) Kecelakaan akibat lubang galian terisi air yang menggenang. 9) Terjadi kerusakan pada sarana dan prasarana utilitas umum.3. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengukuran dan Pematokan pada Pekerjaan Lapis Pondasi C yaitu : 1) Alat ukur yang digunakan sesuai dengan standar. Operator harus berpengalaman dan operasional mesin harus benar. pengukuran dilakukan oleh pekerja terampil dan berpengalaman dan memakai perlengkapan kerja standar. 10) Terjadi gangguan lalu lintas kendaraan. 6) Terluka oleh peralatan akibat pekerja terlalu berdekatan.3. 5. 5.5.2 Pengupasan Pekerjaan Pengupasan pada Pekerjaan Lapis Pondasi C mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Kecelakaan terperosok ke lubang galian. 2) Kecelakaan karena tertabrak oleh kendaraan yang melintas.5 Penyiraman Pekerjaan Penyiraman pada Pekerjaan Lapis Pondasi Kelas B mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terjadi gangguan kesehatan karena air yang digunakan penyiraman tidak sehat. 5) Kecelakaan oleh karena batu/pohon besar yang merintangi pengupasan. 2) Mesin penyiram harus dalam kondisi layak. 2) Terjadi gangguan lalu lintas penduduk sekitar. 3) Terjadi kecelakaan oleh sisa-sisa pengupasan akibat pembuangan atau pembersihan tempat pengupasan tidak dilakukan dengan benar. 4) Pemasangan rambu-rambu lalu-lintas pengaman sementara serta diadakan petugas pengatur lalu-lintas. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penyiraman pada Pekerjaan Lapis Pondasi Kelas B yaitu : 1) Air yang digunakan untuk menyiram harus sesuai ketentuan (tidak berbau busuk dll).5. 40 .5. 4) Terjadi longsoran tanah bagian pinggir. 4) Terjadi gangguan lalu lintas kendaraan. 2) Pemasangan rambu-rambu lalu lintas dan menugaskan petugas bendera pengatur lalu lintas. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengupasan pada Pekerjaan Lapis Pondasi C yaitu : 1) Memasang pengaman dan membatasi daerah galian dengan pagar pengaman.160 . 3) Patok yang digunakan tidak terlalu panjang dan palu yang digunakan proporsional.5. 8) Terjadi kecelakaan akibat pengupasan mengenai kabel listrik bawah tanah atau mengenai pipa gas yang beracun.1 Pengukuran dan pematokan Pekerjaan Pengukuran dan Pematokan pada Pekerjaan Lapis Pondasi C mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terluka akibat penggunaan meteran baja tidak benar dan tidak memenuhi standar.

sebelum dihampar. air.4 Pemadatan Pekerjaan Pemadatan pada Pekerjaan Lapis Pondasi C mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terjadi iritasi pada kulit dan paru-paru oleh debu pada pemadatan yang kering.5. 7) Gangguan lalu lintas penduduk sekitar. dan dijaga agar tidak ada orang lain yang tidak berkepentingan berada di dekat dump truck yang sedang menurunkan agregat. 2) Terjadi kecelakaan pada saat dump truck menurunkan agregat. 6) Kecelakaan akibat tanah di pinggir bahu jalan tidak stabil. 9) Sebelum dilakukan penggalian harus dilakukan pemeriksaan utilitas umum di bawah tanah terlebih dahulu. 10) Senantiasa menjaga jarak aman antara pekerja satu dan pekerja lainnya.5. 8) Pipa bawah tanah.3.3 Penghamparan Pekerjaan Penghamparan pada Pekerjaan Lapis Pondasi C mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terjadi iritasi pada kulit dan paru-paru akibat debu agregat yang kering. Sebelum dilakukan penggalian harus dilakukan pemeriksaan utilitas umum di bawah tanah terlebih dahulu. Diadakan pengujian stabilitas terutama pada tanah bagian pinggir. Truck pengangkut material buangan harus dalam keadaan tertutup. 8) Terjadi kecelakaan akibat pengupasan mengenai kabel listrik bawah tanah atau mengenai pipa gas yang beracun. 5. Tanah yang akan dikupas harus bersih dari batu-batu besar. 10) Terluka oleh peralatan kerja akibat jarak antar pekerja terlalu dekat. Sebelum dilakukan penggalian. 7) Penyediaan jalan sementara bagi penduduk sekitar. 4) Pemasangan rambu-rambu dan petugas pengatur lalu lintas. pohon-pohon dan rintangan lainnya. Dipasang rambu-rambu lalu-lintas sementara dan dilakukan pengaturan lalu-lintas. ditarik ke atas. 3) Operator mesin penghampar harus terampil dan berpengalaman dan pengoperasian grader harus dilakukan dengan metode yang benar. Senantiasa menjaga jarak aman antar pekerja satu dan pekerja lainnya. harus dipagari. konduktor.2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) 10) 11) Menyiapkan jalan sementara bagi penduduk sekitar. listrik dibawah tanah harus dimatikan terlebih dulu. atau dilindungi. 6) Dilakukan pemeriksaan stabilitas tanah terutama pada pinggir bahu jalan. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penghamparan pada Pekerjaan Lapis Pondasi C yaitu : 1) Diadakan penyiraman terhadap agregat yang telah dihampar sebelum ditutup. 9) Terjadi kerusakan pada sarana dan prasarana utilitas umum. 2) Pengoperasian dump truck harus dilakukan oleh tenaga terampil dan berpengalaman. Menjaga agar bekas galian selalu dalam kondisi kering.3.160 . bila tidak dapat dimatikan maka instalasi tersebut harus dipagari atau dilindungi dengan aman. 5) Penimbunan material harus di tempat yang aman atau material agar segera dihampar. 41 . 4) Terjadi kecelakaan akibat tertabrak lalu lintas kendaraan. operator harus terampil dan berpengalaman dan metode pengoperasian alat harus sesuai dengan ketentuan. Sebelum digunakan alat berat harus dicek kelayakannya. 3) Terluka oleh mesin penghampar (Grader) karena pengoperasian tidak benar. instalasi gas. 5) Terjadi kecelakaan akibat penimbunan material sementara. dan sebagainya yang tidak dapat dipindahkan atau diputuskan alirannya. 5.

operator harus tenaga terampil dan berpengalaman dan pengoperasian alat pemadat harus benar. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penyiraman pada Pekerjaan Lapis Pondasi C yaitu : 1) Air yang digunakan untuk menyiram harus sesuai ketentuan (tidak berbau busuk dll). Kecelakaan akibat tanah bagian pinggir jalan tidak stabil. Terjadi gangguan lalu lintas penduduk sekitar. pengukuran dilakukan oleh pekerja terampil dan berpengalaman dan memakai perlengkapan kerja standar. 2) Pemasangan rambu-rambu lalu lintas serta penugasan petugas bendera pengatur lalu lintas. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengukuran dan Pematokan pada Pekerjaan Lapis Pondasi Semen Tanah yaitu : 1) Alat ukur yang digunakan sesuai dengan standar. 5. 4) Pemasangan rambu-rambu lalu-lintas pengaman sementara serta diadakan petugas pengatur lalu-lintas. 2) Terjadi kecelakaan dalam pengoperasian alat penyiram (Water Tanker).160 .5. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pemadatan pada Pekerjaan Lapis Pondasi C yaitu : 1) Harus dilakukan penyiraman hamparan sebelum dipadatkan. 3) Terluka pada saat memasang patok dan luka terkena palu.4 Pekerjaan lapis pondasi semen tanah 5. 42 . 2) Mesin penyiram harus dalam kondisi layak. 7) Senantiasa menjaga jarak aman antara pekerja satu dengan pekerja lainnya. 4) Terjadi gangguan lalu lintas kendaraan. 3) Patok yang digunakan tidak terlalu panjang dan palu yang digunakan proporsional.5. operator harus berpengalaman dan operasional mesin harus benar.2) 3) 4) 5) 6) 7) Terjadi gangguan lalu lintas kendaraan. Terluka oleh alat kerja akibat jarak antar pekerja terlalu dekat. 5) Dilakukan pengecekan kelayakan mesin pemadat. bila perlu diadakan pengujian.3. 6) Sebelum dilakukan penggalian harus dilakukan pemeriksaan utilitas umum di bawah tanah terlebih dahulu.4. Terluka akibat pengoperasian mesin pemadat (grader) tidak benar.5 Penyiraman Pekerjaan Penyiraman pada Pekerjaan Lapis Pondasi C mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terjadi gangguan kesehatan karena air yang digunakan penyiraman tidak sehat. 3) Pembuatan jalan sementara bagi penduduk sekitar.1 Pengukuran dan pematokan Pekerjaan Pengukuran dan Pematokan pada Pekerjaan Lapis Pondasi Semen Tanah mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terluka akibat penggunaan meteran baja tidak benar dan tidak memenuhi standar. 4) Dilakukan pemeriksaan stabilitas tanah terutama dibagian pinggir jalan. 2) Kecelakaan karena tertabrak oleh kendaraan yang melintas. 2) Pemasangan rambu-rambu lalu lintas dan menugaskan petugas bendera pengatur lalu lintas. 5.5. Terjadi kerusakan pada sarana dan prasarana Utilitas umum.

5) Kecelakaan oleh karena batu/pohon besar yang merintangi pengupasan. 4) Terjadi kecelakaan akibat tertabrak lalu lintas kendaraan. operator harus terampil dan berpengalaman dan metode pengoperasian alat harus sesuai dengan ketentuan.4. 2) Terjadi kecelakaan pada saat dump truck menurunkan agregat. 2) Terjadi gangguan lalu lintas penduduk sekitar. pohon-pohon dan rintangan lainnya. 5. 7) Gangguan lalu lintas penduduk sekitar. 6) Kecelakaan akibat tanah di pinggir bahu jalan tidak stabil. 5) Tanah yang akan dikupas harus bersih dari batu-batu besar. 9) Terjadi kerusakan pada sarana dan prasarana utilitas umum. 3) Truck pengangkut material buangan harus dalam keadaan tertutup. 7) Sebelum digunakan alat berat harus dicek kelayakannya. 10) Dipasang rambu-rambu lalu-lintas sementara dan dilakukan pengaturan lalu-lintas. 10) Terjadi gangguan lalu lintas kendaraan.4. 9) Terjadi kerusakan pada sarana dan prasarana Utilitas umum. 8) Terjadi kecelakaan akibat pengupasan mengenai kabel listrik bawah tanah atau mengenai pipa gas yang beracun.5. 6) Senantiasa menjaga jarak aman antar pekerja satu dan pekerja lainnya.5. instalasi gas. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengupasan pada Pekerjaan Lapis Pondasi Semen Tanah yaitu : 1) Memasang pengaman dan membatasi daerah galian dengan pagar pengaman. 8) Sebelum dilakukan penggalian. bila tidak dapat dimatikan maka instalasi tersebut harus dipagari atau dilindungi dengan aman. 4) Diadakan pengujian stabilitas terutama pada tanah bagian pinggir. air.5. 10) Terluka oleh peralatan kerja akibat jarak antar pekerja terlalu dekat. 4) Terjadi longsoran tanah bagian pinggir. 6) Terluka oleh peralatan akibat pekerja terlalu berdekatan.2 Pengupasan Pekerjaan Pengupasan pada Pekerjaan Lapis Pondasi Semen Tanah mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Kecelakaan terperosok ke lubang galian. 11) Kecelakaan akibat lubang galian terisi air yang menggenang. 11) Menjaga agar bekas galian selalu dalam kondisi kering. 43 . 2) Menyiapkan jalan sementara bagi penduduk sekitar. 3) Terjadi kecelakaan oleh sisa-sisa pengupasan akibat pembuangan atau pembersihan tempat pengupasan tidak dilakukan dengan benar.160 . listrik dibawah tanah harus dimatikan terlebih dulu.3 Penghamparan Pekerjaan Penghamparan pada Pekerjaan Lapis Pondasi Semen Tanah mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terjadi iritasi pada kulit dan paru-paru akibat debu agregat yang kering. 3) Terluka oleh mesin penghampar (Grader) karena pengoperasian tidak benar. 9) Sebelum dilakukan penggalian harus dilakukan pemeriksaan utilitas umum di bawah tanah terlebih dahulu. sebelum dihampar. 7) Terluka karena pengoperasian alat berat tidak dilakukan dengan benar. 5) Terjadi kecelakaan akibat penimbunan material sementara. 8) Terjadi kecelakaan akibat pengupasan mengenai kabel listrik bawah tanah atau mengenai pipa gas yang beracun.

7) Penyediaan jalan sementara bagi penduduk sekitar. 7) Senantiasa menjaga jarak aman antara pekerja satu dengan pekerja lainnya.5. atau dilindungi. harus dipagari. 3) Pembuatan jalan sementara bagi penduduk sekitar. bila perlu diadakan pengujian.1 Pengukuran dan pematokan Pekerjaan Pengukuran dan Pematokan pada Pekerjaan Perkerasan Beton mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terluka oleh meteran baja akibat penggunaan meteran tidak dilakukan dengan cara yang benar. 2) Pengoperasian dump truck harus dilakukan oleh tenaga terampil dan berpengalaman. 8) Pipa bawah tanah. 5) Terluka akibat pengoperasian mesin pemadat (grader) tidak benar. 4) Kecelakaan akibat tanah bagian pinggir jalan tidak stabil. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pemadatan pada Pekerjaan Lapis Pondasi Semen Tanah yaitu : 1) Harus dilakukan penyiraman hamparan sebelum dipadatkan. 6) Dilakukan pemeriksaan stabilitas tanah terutama pada pinggir bahu jalan. operator harus tenaga terampil dan berpengalaman dan pengoperasian alat pemadat harus benar.4 Pemadatan Pekerjaan Pemadatan pada Pekerjaan Lapis Pondasi Semen Tanah mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terjadi iritasi pada kulit dan paru-paru oleh debu pada pemadatan yang kering. 5) Dilakukan pengecekan kelayakan mesin pemadat. ditarik ke atas.4. 10) Senantiasa menjaga jarak aman antara pekerja satu dan pekerja lainnya.5. 7) Terluka oleh alat kerja akibat jarak antar pekerja terlalu dekat. 5. 2) Terluka oleh meteran baja akibat meteran yang dipakai tidak memenuhi standar.160 . konduktor. 3) Kecelakaan karena tertabrak oleh kendaraan yang melintas. 3) Terjadi gangguan lalu lintas penduduk sekitar. 4) Terluka pada saat memukul patok akibat patok terlalu panjang.5. 5.5. 3) Operator mesin penghampar harus terampil dan berpengalaman dan pengoperasian grader harus dilakukan dengan metode yang benar. 2) Terjadi gangguan lalu lintas kendaraan.5 Pekerjaan perkerasan beton 5. 4) Pemasangan rambu-rambu dan petugas pengatur lalu lintas. 2) Pemasangan rambu-rambu lalu lintas serta penugasan petugas bendera pengatur lalu lintas. 6) Sebelum dilakukan penggalian harus dilakukan pemeriksaan utilitas umum di bawah tanah terlebih dahulu.Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penghamparan pada Pekerjaan Lapis Pondasi Semen Tanah yaitu : 1) Diadakan penyiraman terhadap agregat yang telah dihampar sebelum ditutup. 4) Dilakukan pemeriksaan stabilitas tanah terutama dibagian pinggir jalan. dan dijaga agar tidak ada orang lain yang tidak berkepentingan berada di dekat dump truck yang sedang menurunkan agregat. 44 . 5) Penimbunan material harus di tempat yang aman atau material agar segera dihampar. dan sebagainya yang tidak dapat dipindahkan atau diputuskan alirannya. 9) Sebelum dilakukan penggalian harus dilakukan pemeriksaan utilitas umum di bawah tanah terlebih dahulu. 6) Terjadi kerusakan pada sarana dan prasarana utilitas umum.

mata dan paru-paru akibat debu semen yang terhisap oleh para pekerja yang mengerjakan semen dan beton.5) Luka terkena palu yang terlepas akibat palu yang digunakan tidak sesuai. sepatu boot yang sesuai dengan standar. 3) Pemasangan rambu-rambu pengaman yang memadai.5. 50 cm). 3) Kecelakaan atau terluka akibat jarak antara pekerja yang satu dan lainnya tidak dalam jarak yang aman. 45 . 6) Terjadi gangguan lalu lintas kendaraan.160 . peluncur muatan (chutes) dan perlengkapan-perlengkapan untuk penyimpanan. 4) Terjadi gangguan lalu lintas. 3) Senantiasa menjaga jarak aman antar pekerja satu dan pekerja lainnya. 2) Apabila menggunakan bekisting yang bergeser maka harus diperhatikan alat-alat tersebut terpasang dengan baik. helm. Pengontrolan terhadap mesin yang memproses semen. dll). kayu dan peralatan kerja lainnya. 5) Palu yang digunakan untuk memukul patok harus proporsional. dan lain-lain. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pemasangan Bekisting pada Pekerjaan Perkerasan Beton yaitu : 1) Para pekerja yang mengerjakan pemasangan bekisting harus memakai sarung tangan. atau topi baja. helm. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengukuran dan Pematokan pada Pekerjaan Perkerasan Beton yaitu : 1) Penggunaan meteran baja harus dilakukan dengan benar. 4) Patok yang digunakan tidak terlalu panjang (maks. 3) Operator mesin penghampar harus sudah berpengalaman dibidangnya. 6) Pemasangan rambu-rambu lalu lintas pengaman sementara serta diadakan petugas pengaturan lalu lintas. 2) Elevator.2 Persiapan pengecoran Pekerjaan Persiapan Pengecoran pada Pekerjaan Perkerasan Beton mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terjadi iritasi pada kulit.5. 4) Pemasangan rambu-rambu lalu lintas serta mengatur lalu lintas agar lalu lintas tetap berjalan dengan lancar dengan cara mengerjakan pekerjaan ½ bagian terlebih dahulu. sarung tangan.3 Pemasangan bekisting Pekerjaan Pemasangan Bekisting pada Pekerjaan Perkerasan Beton mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Luka terkena paku. bila perlu untuk mencegah bahaya gangguan paru-paru pekerja juga harus memakai alat pengatur pernafasan (respirator) tutup mulut (masks). 2) Terluka oleh alat-alat pengecoran (kerekan.5. 2) Terluka oleh alat penggeser bekisting. 5. pengangkutan. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Persiapan Pengecoran pada Pekerjaan Perkerasan Beton yaitu : 1) Pekerja harus memakai baju kerja. peluncur muatan. 5. kapur dan bahanbahan berdebu lainnya harus dari tempat yang bebas debu. 2) Meteran yang digunakan harus sesuai dengan standar. kerekan. harus dipagar untuk mencegah benturan dengan benda bergerak yang posisinya tidak aman.5. tidak terlalu berat atau besar. kaca mata pengaman dan sepatu sesuai standar. layar. 3) Terjadi kecelakaan oleh pengoperasian mesin penghampar.

bila perlu untuk mencegah bahaya terhadap gangguan paru-paru maka pekerja harus memakai alat pengatur pernafasan (respirator) tutup mulut (masker). Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengecoran pada Pekerjaan Perkerasan Beton yaitu : 1) Pekerja harus memakai baju kerja.5. 8) Terjadi kecelakaan oleh mesin penghampar dan pengaduk beton. 14) Kecelakaan akibat pembersihan pipa pemompa beton.5. helm. bahan kimia atau pembebanan. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Besi Tulangan pada Pekerjaan Perkerasan Beton yaitu : 1) Para pekerja yang mengerjakan pemasangan Besi tulangan harus memakai sarung tangan.4 Besi tulangan Pekerjaan Besi Tulangan pada Pekerjaan Perkerasan Beton mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terjadi gangguan fisik akibat pekerja tidak memakai pakaian kerja atau perlengkapan lain yang memenuhi standar. 2) Luka terkena besi tulangan yang menjorok ke luar dari lantai atau dinding. 2) Terjadi iritasi pada kulit dan mata akibat percikan adukan yang mengandung semen. 3) Terluka atau kecelakaan akibat papan acuan pengecoran tidak kuat atau rusak. 11) Terjadi kecelakaan pekerja yang melakukan pekerjaan pada kondisi gelap atau malam hari. helm. 10) Terjadi kecelakaan pada orang luar /bukan pekerja dan penduduk yang sedang melintas. 5. 4) Terluka akibat terkena percikan beton pada saat penuangan beton dari bak muatan. 4) Kecelakaan atau terluka akibat tertimpa oleh besi tulangan yang diletakkan pada perancah. topi baja.5 Pengecoran Pekerjaan Pengecoran pada Pekerjaan Perkerasan Beton mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terjadi gangguan fisik akibat pekerja tidak memakai pakaian dan peralatan yang sesuai dengan standar. 3) Terjadi kecelakaan atau terluka pada saat melakukan pemotongan atau pabrikasi besi tulangan. 46 . sarung tangan. 12) Kecelakaan akibat papan lantai kerja sementara roboh. 3) Pabrikasi besi tulangan harus dilakukan oleh pekerja yang sudah berpengalaman di bidangnya. 7) Kecelakaan ataupun terluka oleh mesin pemompa beton. sepatu boot yang sesuai standar. 4) Besi tulangan tidak boleh disimpan pada perancah atau papan acuan yang dapat membahayakan kestabilannya. 2) Besi tulangan yang menjorok ke luar dari lantai atau dinding harus diberi pelindung. 9) Terluka oleh mesin Water Tanker.5.5. 13) Kecelakaan akibat pipa penyalur beton terlepas. 5) Kecelakaan oleh ambruknya beton yang sedang mengeras akibat getaran. 5) Mengatur lalu lintas agar tetap berjalan dengan lancar dengan cara mengerjakan pekerjaan ½ bagian terlebih dahulu. 6) Terjadi kecelakaan atau terluka oleh mesin penggetar ketika pengecoran dilakukan. 5) Terjadi gangguan lau lintas.5.160 . kaca mata pengaman dan sepatu yang sesuai dengan standar.

4) Terjadi gangguan lalu lintas. 3) Terjadi kecelakaan atau pekerja tertabrak oleh kendaraan yang berlalu lalang. bila debu tidak dapat terbuang keluar.160 . tidak boleh disambung atau dalam keadaan terlepas. 12) Lantai kerja sementara yang menahan pipa pemompa beton harus kuat untuk menumpu pipa yang sedang berisi dan semua pekerjaan sekaligus pada waktu yang bersamaan. 5) Bila beton mulai mengeras maka harus dilindungi terhadap arus air yang mengalirkan bahan-bahan kimia. 14) Bila pipa pemompa beton sedang dibersihkan dengan air atau udara bertekanan tinggi.6 Pelepasan bekisting Pekerjaan Pelepasan Bekisting pada Pekerjaan Perkerasan Beton mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Gangguan kesehatan dan gangguan fisik lainnya akibat pekerja tidak memakai perlengkapan kerja yang memenuhi syarat. 6) Pelaksanaan penggetaran adukan beton harus dilakukan oleh pekerja yang ahli dibidangnya serta menjaga agar tidak ada orang luar maupun pekerja lain yang tidak ahli berada di tempat dimana dilakukan pengecoran. maka para pekerja harus menggunakan alat pernapasan yang sesuai dengan standar. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pelepasan Bekisting pada Pekerjaan Perkerasan Beton yaitu : 1) Pekerja harus memakai perlengkapan yang memenuhi syarat bila perlu untuk mengatasi gangguan terhadap paru-paru pekerja harus alat pengatur pernafasan (respirator) tutup mulut (masks). 13) Pipa penyalur beton pompaan harus diangker pada ujung dan lengkung-lengkungnya. Bila pipa pemompa sedang disemprot dengan udara bertekanan tinggi maka pekerja-pekerja yang tidak berkepentingan harus berada di tempat yang aman. dan mempunyai faktor pengaman sedikitnya 4. di ujung atas diberi keran penyalur udara. terikat kuat dengan ujung mulut penyemprot dengan menggunakan kerah terpakau atau dengan cara lain dengan kekuatan yang sebanding. 7) Operator mesin pompa beton harus sudah berpengalaman dan ahli dibidangnya serta senantiasa menjaga agar tidak ada orang luar maupun pekerja lain yang tidak ahli berada di tempat dimana dilakukan pengecoran.5. 2) Pelepasan paku.2) Pencampuran bahan-bahan kering dari beton harus dilakukan pada ruang yang tertutup. dan getaran serta tidak boleh meletakkan beban di atas beton yang sedang mengeras. menyiapkan jalan sementara bagi penduduk sekitar untuk melintasi jalan. 8) Pengadukan dan penghamparan beton harus dilakukan oleh tenaga yang berpengalaman dan ahli dibidangnya serta selalu menjaga agar tidak ada orang luar maupun pekerja lain yang tidak ahli berada di tempat dimana dilakukan pengecoran.5. debu yang ditimbulkan harus dapat terbuang keluar. 11) Menyiapkan penerangan yang memenuhi syarat apabila harus bekerja pada malam hari. maka pekerja harus berada pada jarak yang aman terhadap setiap percikan beton. 5. 2) Luka karena tertimpa kayu. 9) Operator Water Tanker harus berpengalaman dan ahli dibidangnya serta selalu menjaga agar tidak ada orang luar maupun pekerja lain yang tidak ahli berada di tempat dimana dilakukan pengecoran. 10) Membatasi daerah pekerjaan yang akan dilakukan pengecoran dengan pagar atau rambu yang informatif. baut dan lainnya harus dilakukan dengan cara yang benar. 4) Bila beton sedang dituang dari bak muatan. 3) Selama pengecoran papan acuan dan penumpunya harus kuat dan dicegah dari kerusakan. 47 .

4) Kecelakaan terkena palu yang terlepas akibat palu terlalu berat. 5) Terjadi kerusakan pada pohon. 5.6.6 5. 4) Terjadi iritasi terhadap mata. 3) Melakukan pembakaran pada lokasi yang aman dari bahaya kebakaran dan menghindari pembakaran dekat dengan bahan-bahan yang mudah terbakar serta menyediakan sejumlah alat pemadam kebakaran harus selalu disiapkan di tempat pekerjaan. 5) Harus dipasang rambu-rambu lalu lintas sementara dan ditugaskan petugas pengatur lalu lintas.160 .1 Perkerasan aspal Pekerjaan lapis resap pengikat 5. 3) Patok yang digunakan tidak terlalu panjang (maks.1. 50 cm).2 Pembakaran Pekerjaan Pembakaran pada Pekerjaan Lapis Resap Pengikat mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terluka oleh percikan aspal panas. 3) Terluka pada saat memasang patok akibat patok terlalu panjang. 2) Pemasangan rambu-rambu lalu lintas dan menugaskan petugas bendera pengatur lalu lintas. struktur atau bangunan yang berdekatan dengan lokasi pembakaran. 5) Terjadi gangguan terhadap lalu lintas kendaraan. kulit dan paru-paru akibat asap dan panas dari api pembakaran dan aspal. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pembakaran pada Pekerjaan Lapis Resap Pengikat yaitu : 1) Petugas pembakar harus mengenakan pakaian dan perlengkapan (sepatu boot.6. 3) Terjadi kebakaran.3) Memasang rambu-rambu pengaman serta mengadakan pengaturan lalu lintas dan melakukan pekerjaan pada arah lalu lintas. Mengatur lalu lintas agar tetap berjalan dengan lancar dengan cara mengerjakan pekerjaan ½ bagian terlebih dahulu. 5.1. 48 . 4) Palu yang digunakan untuk memukul patok harus proporsional sesuai dengan keperluannya (tidak terlalu berat dan besar). Petugas pengukuran harus menggunakan sarung tangan yang sesuai dengan standar. sarung tangan dan masker) yang sesuai dengan standar. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengukuran dan Pematokan pada Pekerjaan Lapis Resap Pengikat yaitu : 1) Pengukuran harus dilakukan dengan menggunakan meteran yang sesuai dengan standar. 6) Kecelakaan atau terluka akibat kayu pengaduk terlalu pendek. 2) Terluka oleh api pembakaran. 2) Kecelakaan atau tertabrak oleh kendaraan yang melintas.6.1 Pengukuran dan pematokan Pekerjaan Pengukuran dan Pematokan pada Pekerjaan Lapis Resap Pengikat mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terluka akibat penggunaan meteran baja tidak benar. termasuk paling sedikit dua buah ditempatkan pada spreader. 2) Petugas pembakar harus berpengalaman dan trampil dibidangnya. 4) Pastikan bahwa segala rambu permanen tidak menyesatkan/ membingungkan.

6) Senantiasa menjaga jarak yang aman antara pekerja yang satu dengan yang lainnya. 49 . 5. 3) Menghindari kerusakan pada pohon. 6) Terjadi kecelakaan atau terluka akibat jarak antara pekerja terlalu dekat. 3) Terluka pada saat memasang patok akibat patok terlalu panjang.6. 5) Terjadi gangguan terhadap lalu lintas kendaraan. 6) Pengadukan menggunakan kayu yang panjang. 2) Terjadi iritasi terhadap mata. Petugas pengukuran harus menggunakan sarung tangan yang sesuai dengan standar.1 Pengukuran dan Pematokan Pekerjaan Pengukuran dan Pematokan pada Pekerjaan Lapis Perekat mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terluka akibat penggunaan meteran baja tidak benar. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengukuran dan Pematokan pada Pekerjaan Lapis Perekat yaitu : 1) Pengukuran harus dilakukan dengan menggunakan meteran yang sesuai dengan standar.6.2 Pekerjaan lapis perekat 5. 3) Kerusakan pada pohon. 2) Menggunakan kacamata dan masker untuk mencegah iritasi mata dan paru-paru akibat asap dan panas dari api pembakaran dan aspal.2. struktur atau bangunan yang berdekatan dengan lokasi dari percikan aspal. kulit dan paru-paru akibat uap dan panas dari aspal.6. 5) Memasang rambu-rambu sementara dan mengatur lalu lintas agar tetap berjalan dengan lancar dengan cara mengerjakan pekerjaan ½ bagian terlebih dahulu.160 . 4) Terluka oleh pipa alat-alat penyemprot yang panas.1. 4) Pekerja harus terampil dan berpengalaman dibidangnya serta menjaga agar tidak ada orang luar maupun pekerja lain berada di tempat penyemprotan sewaktu mesin penyemprotan dari pompa aspal (aspal sprayer) bekerja menyiram aspal pada agregat di lokasi pekerjaan.3 Penyemprotan Pekerjaan Penyemprotan pada Pekerjaan Lapis Resap Pengikat mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terluka oleh percikan aspal panas. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penyemprotan pada Pekerjaan Lapis Resap Pengikat yaitu : 1) Petugas pembakar harus mengenakan pakaian dan perlengkapan (sepatu boot.4) Menggunakan kacamata dan masker untuk mencegah iritasi mata dan paru-paru akibat asap dan panas dari api pembakaran dan aspal. Terluka oleh mesin pompa aspal. 2) Pemasangan rambu-rambu lalu lintas dan menugaskan petugas bendera pengatur lalu lintas. 5) Terjadi gangguan lalu lintas kendaraan. 5. 2) Kecelakaan atau tertabrak oleh kendaraan yang melintas. struktur atau bangunan yang berdekatan dengan lokasi dari percikan aspal dengan menjaga api tidak terlalu besar dan menghindari penggunaan bahan bakar yang mudah meledak. 5) Menjaga api tidak terlalu besar dan menghindari penggunaan bahan bakar yang mudah meledak. sarung tangan dan masker) yang sesuai dengan standar. 4) Kecelakaan terkena palu yang terlepas akibat palu terlalu berat. Terluka oleh tangki aspal.

struktur atau bangunan yang berdekatan dengan lokasi pembakaran. 4) Palu yang digunakan untuk memukul patok harus proporsional sesuai dengan keperluannya (tidak terlalu berat dan besar). 4) Menggunakan kacamata dan masker untuk mencegah iritasi mata dan paru-paru akibat asap dan panas dari api pembakaran dan aspal. sarung tangan dan masker) yang sesuai dengan standar. 3) Pekerja harus memakai tutup telinga untuk menghindari gangguan pendengaran. 6) Pengadukan menggunakan kayu yang panjang.3) Patok yang digunakan tidak terlalu panjang (maks.2. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pembersihan Permukaan Perkerasan Lama pada Pekerjaan Lapis Perekat yaitu : 1) Pekerja harus memakai pakaian dan perlengkapan (sepatu. 4) Terjadi iritasi terhadap mata. 5) Menjaga api tidak terlalu besar dan menghindari penggunaan bahan bakar yang mudah meledak. kacamata dan masker) yang sesuai dengan standar. 3) Gangguan pendengaran akibat timbulnya kebisingan. termasuk paling sedikit dua buah ditempatkan pada spreader. 5. 4) Memasang rambu-rambu sementara dan mengatur lalu lintas agar tetap berjalan dengan lancar dengan cara mengerjakan pekerjaan ½ bagian terlebih dahulu. 50 cm).2 Pembakaran Pekerjaan Pembakaran pada Pekerjaan Lapis Perekat mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terluka oleh percikan aspal panas. 5. 2) Terluka oleh Compressor waktu menyapu perkerasan lama. mata dan paru-paru akibat debu yang kering. 5) Terjadi kerusakan pada pohon. 2) Terluka oleh api pembakaran. kulit dan paru-paru akibat asap dan panas dari api pembakaran dan aspal.160 . Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pembakaran pada Pekerjaan Lapis Perekat yaitu : 1) Petugas pembakar harus mengenakan pakaian dan perlengkapan (sepatu boot. 50 .3 Pembersihan permukaan perkerasan lama Pekerjaan Pembersihan Permukaan Perkerasan Lama pada Pekerjaan Lapis Perekat mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terjadi iritasi pada kulit. 3) Terjadi kebakaran. 4) Terjadi gangguan terhadap lalu lintas kendaraan.2. 3) Melakukan pembakaran pada lokasi yang aman dari bahaya kebakaran dan menghindari pembakaran dekat dengan bahan-bahan yang mudah terbakar serta menyediakan sejumlah alat pemadam kebakaran harus selalu disiapkan di tempat pekerjaan. 2) Pekerja atau operator Compressor harus terampil dan berpengalaman dibidangnya. 6) Kecelakaan atau terluka akibat kayu pengaduk terlalu pendek. 2) Petugas pembakar harus berpengalaman dan terampil dibidangnya.6. 5) Harus dipasang rambu-rambu lalu lintas sementara dan ditugaskan petugas pengatur lalu lintas.6.

4) Memasang rambu-rambu sementara dan mengatur lalu lintas agar tetap berjalan dengan lancar dengan cara mengerjakan pekerjaan ½ bagian terlebih dahulu. 4) Kecelakaan terkena palu yang terlepas akibat palu terlalu berat. 5) Terjadi gangguan terhadap lalu lintas kendaraan.4 Penyemprotan Pekerjaan Penyemprotan pada Pekerjaan Lapis Perekat mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terluka oleh percikan aspal panas. 3) Pekerja harus terampil dan berpengalaman dibidangnya serta menjaga agar tidak ada orang luar maupun pekerja lain berada di tempat penyemprotan sewaktu mesin penyemprotan dari pompa aspal (aspal sprayer) bekerja menyiram aspal pada agregat di lokasi pekerjaan. 2) Menggunakan kacamata dan masker untuk mencegah iritasi mata dan paru-paru akibat asap dan panas dari api pembakaran dan aspal. 4) Terjadi gangguan lalu lintas kendaraan. 3) Terluka pada saat memasang patok akibat patok terlalu panjang.5. 2) Pemasangan rambu-rambu lalu lintas dan menugaskan petugas bendera pengatur lalu lintas.2 Pembersihan permukaan perkerasan lama Pekerjaan Pembersihan Permukaan Perkerasan Lama pada Pekerjaan Lataston Lapis Aus (HRS-WC) mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terjadi iritasi pada kulit. 3) Terluka oleh pipa alat-alat penyemprot yang panas. Terluka oleh mesin pompa aspal.6.1 Pengukuran dan pematokan Pekerjaan Pengukuran dan Pematokan pada Pekerjaan Lataston Lapis Aus (HRS-WC) mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terluka akibat penggunaan meteran baja tidak benar.6.6.3. 50 cm).2. 5. 4) Palu yang digunakan untuk memukul patok harus proporsional sesuai dengan keperluannya (tidak terlalu berat dan besar). Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengukuran dan Pematokan pada Pekerjaan Lataston Lapis Aus (HRS-WC) yaitu : 1) Pengukuran harus dilakukan dengan menggunakan meteran yang sesuai dengan standar. 3) Patok yang digunakan tidak terlalu panjang (maks. Petugas pengukuran harus menggunakan sarung tangan yang sesuai dengan standar.6. Terluka oleh tangki aspal. mata dan paru-paru akibat debu yang kering. 51 . 2) Terjadi iritasi terhadap mata.3. 5. 5) Senantiasa menjaga jarak yang aman antara pekerja yang satu dengan yang lainnya. kulit dan paru-paru akibat uap dan panas dari aspal. 5) Terjadi kecelakaan atau terluka akibat jarak antara pekerja terlalu dekat. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penyemprotan pada Pekerjaan Lapis Perekat yaitu : 1) Petugas pembakar harus mengenakan pakaian dan perlengkapan (sepatu boot. 2) Kecelakaan atau tertabrak oleh kendaraan yang melintas. 5) Harus dipasang rambu-rambu lalu lintas sementara dan ditugaskan petugas pengatur lalu lintas.160 .3 Pekerjaan lataston lapis aus (HRS-WC) 5. sarung tangan dan masker) yang sesuai dengan standar.

Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penyemprotan pada Pekerjaan Lataston Lapis Aus (HRS-WC) yaitu : 1) Petugas pembakar harus mengenakan pakaian dan perlengkapan (sepatu boot. 4) Pekerja harus terampil dan berpengalaman dibidangnya serta menjaga agar tidak ada orang luar maupun pekerja lain berada di tempat penyemprotan sewaktu mesin penyemprotan dari pompa aspal (aspal sprayer) bekerja menyiram aspal pada agregat di lokasi pekerjaan.4 Penghamparan Pekerjaan Penghamparan pada Pekerjaan Lataston Lapis Aus (HRS-WC) mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terluka oleh percikan aspal panas. 6) Senantiasa menjaga jarak yang aman antara pekerja yang satu dengan yang lainnya.3. 3) Gangguan pendengaran akibat timbulnya kebisingan. 4) Terjadi gangguan terhadap lalu lintas kendaraan. 4) Terluka oleh pipa alat-alat penyemprot yang panas. struktur atau bangunan yang berdekatan dengan lokasi dari percikan aspal dengan menjaga api tidak terlalu besar dan menghindari penggunaan bahan bakar yang mudah meledak. 5) Terjadi gangguan lalu lintas. 5) Terjadi gangguan lalu lintas kendaraan. sarung tangan dan masker) yang sesuai dengan standar. 3) Terluka oleh mesin penghampar aspal (Finisher). kulit dan paru-paru akibat uap dan panas dari aspal. 6) Terjadi kecelakaan atau terluka akibat jarak antara pekerja terlalu dekat. 6) Terjadi kecelakaan atau terluka akibat jarak antar pekerja terlalu dekat. Terluka oleh mesin pompa aspal. 2) Terjadi iritasi terhadap mata. kacamata dan masker) yang sesuai dengan standar.6. 5. 3) Kerusakan pada pohon. 3) Pekerja harus memakai tutup telinga untuk menghindari gangguan pendengaran. 5) Memasang rambu-rambu sementara dan mengatur lalu lintas agar tetap berjalan dengan lancar dengan cara mengerjakan pekerjaan ½ bagian terlebih dahulu.6.160 .2) Terluka oleh Compressor waktu menyapu perkerasan lama. 52 . 4) Memasang rambu-rambu sementara dan mengatur lalu lintas agar tetap berjalan dengan lancar dengan cara mengerjakan pekerjaan ½ bagian terlebih dahulu. struktur atau bangunan yang berdekatan dengan lokasi dari percikan aspal. 2) Terjadi iritasi terhadap mata. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pembersihan Permukaan Perkerasan Lama pada Pekerjaan Lataston Lapis Aus (HRS-WC) yaitu : 1) Pekerja harus memakai pakaian dan perlengkapan (sepatu. 4) Terluka oleh Dump Truck sewaktu menuangkan Hotmix ke dalam Finisher. kulit dan paru-paru akibat uap dan panas dari aspal. Terluka oleh tangki aspal. 2) Pekerja atau operator Compressor harus terampil dan berpengalaman dibidangnya. 2) Menggunakan kacamata dan masker untuk mencegah iritasi mata dan paru-paru akibat asap dan panas dari api pembakaran dan aspal. 5. 3) Menghindari kerusakan pada pohon.3 Penyemprotan Pekerjaan Penyemprotan pada Pekerjaan Lataston Lapis Aus (HRS-WC) Pemeliharaan untuk Keselamatan Lalu Lintas mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terluka oleh percikan aspal panas.3.

sarung tangan dan masker) yang sesuai dengan standar. 5) Memasang rambu-rambu sementara dan mengatur lalu lintas agar tetap berjalan dengan lancar dengan cara mengerjakan pekerjaan ½ bagian terlebih dahulu. 5) Memasang rambu-rambu sementara dan mengatur lalu lintas agar tetap berjalan dengan lancar dengan cara mengerjakan pekerjaan ½ bagian terlebih dahulu. 2) Menggunakan kacamata dan masker untuk mencegah iritasi mata dan paru-paru akibat asap dan panas dari api pembakaran dan aspal. 3) Menjaga agar tidak ada orang luar maupun pekerja lain berada di tempat pemadatan ketika mesin pemadat aspal (Tandem) bekerja memadatkan Hotmix di lokasi pekerjaan.160 . 2) Menggunakan kacamata dan masker untuk mencegah iritasi mata dan paru-paru akibat asap dan panas dari api pembakaran dan aspal. 4) Terjadi kecelakaan atau terluka akibat jarak antar pekerja terlalu dekat.3. 2) Terjadi iritasi terhadap mata.5 Pemadatan Pekerjaan Pemadatan pada Pekerjaan Lataston Lapis Aus (HRS-WC) mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terluka oleh percikan aspal panas. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pemadatan pada Pekerjaan Lataston Lapis Aus (HRS-WC) yaitu : 1) Petugas pembakar harus mengenakan pakaian dan perlengkapan (sepatu boot. sarung tangan dan masker) yang sesuai dengan standar. 53 .3. 3) Menjaga agar tidak ada orang luar maupun pekerja lain berada di tempat penghamparan ketika mesin penghampar aspal (Finisher) bekerja menghampar Hotmix di lokasi pekerjaan. 2) Menggunakan kacamata dan masker untuk mencegah iritasi mata dan paru-paru akibat asap dan panas dari api pembakaran dan aspal.Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penghamparan pada Pekerjaan Lataston Lapis Aus (HRS-WC) yaitu : 1) Petugas pembakar harus mengenakan pakaian dan perlengkapan (sepatu boot. 4) Menjaga agar tidak ada orang luar maupun pekerja lain berada di tempat dimana Dump Truck sedang menuangkan Hotmix ke dalam Finisher di lokasi pekerjaan.6. 5. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penyiraman pada Pekerjaan Lataston Lapis Aus (HRS-WC) yaitu : 1) Petugas pembakar harus mengenakan pakaian dan perlengkapan (sepatu boot. 6) Menjaga dan mempertahankan jarak yang aman antara pekerja yang satu dengan yang lain. 2) Terjadi iritasi terhadap mata. 3) Terluka oleh mesin pemadat aspal (Tandem Roller dan Pneumatic Tire Roller). kulit dan paru-paru akibat uap dan panas dari aspal.6 Penyiraman Pekerjaan Penyiraman pada Pekerjaan Lataston Lapis Aus (HRS-WC) mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terluka oleh percikan aspal panas. kulit dan paru-paru akibat uap dan panas dari aspal. sarung tangan dan masker) yang sesuai dengan standar. 4) Terjadi kecelakaan atau terluka akibat jarak antar pekerja terlalu dekat. 3) Terluka oleh mesin pemadat aspal (Tandem Roller) awal dan akhir. Terluka oleh mesin pemadat aspal (Pneumatic Tire Roller) untuk proses intermediated rolling. 5. 5) Terjadi gangguan lalu lintas.6. 5) Terjadi gangguan lalu lintas. 4) Mempertahankan jarak yang aman antara pekerja yang satu dengan yang lain.

mata dan paru-paru akibat debu yang kering. 3) Terluka pada saat memasang patok akibat patok terlalu panjang.6.4.6. 2) Pekerja atau operator Compressor harus terampil dan berpengalaman dibidangnya. 54 . 4) Palu yang digunakan untuk memukul patok harus proporsional sesuai dengan keperluannya (tidak terlalu berat dan besar). 2) Terjadi iritasi terhadap mata. 4) Senantiasa mempertahankan jarak yang aman antara pekerja yang satu dengan yang lain.3) Menjaga agar tidak ada orang luar maupun pekerja lain berada di lokasi pekerjaan ketika mesin pemadat aspal (Pneumatic Tire Roller) bekerja memadatkan Hotmix. 50 cm). 3) Patok yang digunakan tidak terlalu panjang (maks.160 . 3) Pekerja harus memakai tutup telinga untuk menghindari gangguan pendengaran. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pembersihan Permukaan Perkerasan Lama pada Pekerjaan Lataston Lapis Pondasi (HRS-Base) yaitu : 1) Pekerja harus memakai pakaian dan perlengkapan (sepatu. kulit dan paru-paru akibat uap dan panas dari aspal. 4) Kecelakaan terkena palu yang terlepas akibat palu terlalu berat. 2) Pemasangan rambu-rambu lalu lintas dan menugaskan petugas bendera pengatur lalu lintas. 2) Kecelakaan atau tertabrak oleh kendaraan yang melintas. kacamata dan masker) yang sesuai dengan standar.6. 5. 5) Senantiasa menjaga jarak yang aman antara pekerja yang satu dengan yang lainnya. 5) Terjadi gangguan terhadap lalu lintas kendaraan.1 Pengukuran dan pematokan Pekerjaan Pengukuran dan Pematokan pada Pekerjaan Lataston Lapis Pondasi (HRS-Base) mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terluka akibat penggunaan meteran baja tidak benar. 5) Harus dipasang rambu-rambu lalu lintas sementara dan ditugaskan petugas pengatur lalu lintas.2 Pembersihan permukaan perkerasan lama Pekerjaan Pembersihan Permukaan Perkerasan Lama pada Pekerjaan Lataston Lapis Pondasi (HRS-Base) mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terjadi iritasi pada kulit.6. 4) Memasang rambu-rambu sementara dan mengatur lalu lintas agar tetap berjalan dengan lancar dengan cara mengerjakan pekerjaan ½ bagian terlebih dahulu.4. 3) Gangguan pendengaran akibat timbulnya kebisingan. 5.3 Penyemprotan Pekerjaan Penyemprotan pada Pekerjaan Lataston Lapis Pondasi (HRS-Base) mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terluka oleh percikan aspal panas. 2) Terluka oleh Compressor waktu menyapu perkerasan lama. Petugas pengukuran harus menggunakan sarung tangan yang sesuai dengan standar.4 Pekerjaan lataston lapis pondasi (HRS-Base) 5.4. 5. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengukuran dan Pematokan pada Pekerjaan Lataston Lapis Pondasi (HRS-Base) yaitu : 1) Pengukuran harus dilakukan dengan menggunakan meteran yang sesuai dengan standar. 4) Terjadi gangguan terhadap lalu lintas kendaraan.

6) Menjaga dan mempertahankan jarak yang aman antara pekerja yang satu dengan yang lain. 4) Pekerja harus terampil dan berpengalaman dibidangnya serta menjaga agar tidak ada orang luar maupun pekerja lain berada di tempat penyemprotan sewaktu mesin penyemprotan dari pompa aspal (aspal sprayer) bekerja menyiram aspal pada agregat di lokasi pekerjaan. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penghamparan pada Pekerjaan Lataston Lapis Pondasi (HRS-Base) yaitu : 1) Petugas pembakar harus mengenakan pakaian dan perlengkapan (sepatu boot. struktur atau bangunan yang berdekatan dengan lokasi dari percikan aspal dengan menjaga api tidak terlalu besar dan menghindari penggunaan bahan bakar yang mudah meledak. sarung tangan dan masker) yang sesuai dengan standar. 55 . struktur atau bangunan yang berdekatan dengan lokasi dari percikan aspal.4 Penghamparan Pekerjaan Penghamparan pada Pekerjaan Lataston Lapis Pondasi (HRS-Base) mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terluka oleh percikan aspal panas. Terluka oleh tangki aspal. 2) Terjadi iritasi terhadap mata. 2) Menggunakan kacamata dan masker untuk mencegah iritasi mata dan paru-paru akibat asap dan panas dari api pembakaran dan aspal. 3) Menjaga agar tidak ada orang luar maupun pekerja lain berada di tempat penghamparan ketika mesin penghampar aspal (Finisher) bekerja menghampar Hotmix di lokasi pekerjaan. 4) Menjaga agar tidak ada orang luar maupun pekerja lain berada di tempat dimana Dump Truck sedang menuangkan Hotmix ke dalam Finisher di lokasi pekerjaan. 2) Menggunakan kacamata dan masker untuk mencegah iritasi mata dan paru-paru akibat asap dan panas dari api pembakaran dan aspal. 6) Terjadi kecelakaan atau terluka akibat jarak antara pekerja terlalu dekat Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penyemprotan pada Pekerjaan Lataston Lapis Pondasi (HRS-Base) yaitu : 1) Petugas pembakar harus mengenakan pakaian dan perlengkapan (sepatu boot. kulit dan paru-paru akibat uap dan panas dari aspal. 6) Senantiasa menjaga jarak yang aman antara pekerja yang satu dengan yang lainnya. 5) Terjadi gangguan lalu lintas kendaraan.6. 6) Terjadi kecelakaan atau terluka akibat jarak antar pekerja terlalu dekat. 4) Terluka oleh Dump Truck sewaktu menuangkan Hotmix ke dalam Finisher. 5) Memasang rambu-rambu sementara dan mengatur lalu lintas agar tetap berjalan dengan lancar dengan cara mengerjakan pekerjaan ½ bagian terlebih dahulu. 4) Terluka oleh pipa alat-alat penyemprot yang panas. sarung tangan dan masker) yang sesuai dengan standar. Terluka oleh mesin pompa aspal. 5) Memasang rambu-rambu sementara dan mengatur lalu lintas agar tetap berjalan dengan lancar dengan cara mengerjakan pekerjaan ½ bagian terlebih dahulu.160 .4.3) Kerusakan pada pohon. 3) Menghindari kerusakan pada pohon. 3) Terluka oleh mesin penghampar aspal (Finisher). 5) Terjadi gangguan lalu lintas. 5.

Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penyiraman pada Pekerjaan Lataston Lapis Pondasi (HRS-Base) yaitu : 1) Petugas pembakar harus mengenakan pakaian dan perlengkapan (sepatu boot. 3) Menjaga agar tidak ada orang luar maupun pekerja lain berada di tempat pemadatan ketika mesin pemadat aspal (Tandem) bekerja memadatkan Hotmix di lokasi pekerjaan. 4) Senantiasa mempertahankan jarak yang aman antara pekerja yang satu dengan yang lain. 5.6. 3) Terluka oleh mesin pemadat aspal (Tandem Roller) awal dan akhir. 2) Terjadi iritasi terhadap mata. 4) Kecelakaan terkena palu yang terlepas akibat palu terlalu berat.4. 4) Terjadi kecelakaan atau terluka akibat jarak antar pekerja terlalu dekat. 3) Terluka oleh mesin pemadat aspal (Tandem Roller dan Pneumatic Tire Roller). Terluka oleh mesin pemadat aspal (Pneumatic Tire Roller) untuk proses intermediated rolling.6.5. 5) Terjadi gangguan lalu lintas. 3) Terluka pada saat memasang patok akibat patok terlalu panjang. 5) Memasang rambu-rambu sementara dan mengatur lalu lintas agar tetap berjalan dengan lancar dengan cara mengerjakan pekerjaan ½ bagian terlebih dahulu.5 Pekerjaan lapis aus aspal beton (AC-WC) 5.6 Penyiraman Pekerjaan Penyiraman pada Pekerjaan Lataston Lapis Pondasi (HRS-Base) mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terluka oleh percikan aspal panas. kulit dan paru-paru akibat uap dan panas dari aspal.1 Pengukuran dan pematokan Pekerjaan Pengukuran dan Pematokan pada Pekerjaan Lapis Aus Aspal Beton (AC-WC) mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terluka akibat penggunaan meteran baja tidak benar. 5) Terjadi gangguan terhadap lalu lintas kendaraan. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pemadatan pada Pekerjaan Lataston Lapis Pondasi (HRS-Base) yaitu : 1) Petugas pembakar harus mengenakan pakaian dan perlengkapan (sepatu boot. 2) Menggunakan kacamata dan masker untuk mencegah iritasi mata dan paru-paru akibat asap dan panas dari api pembakaran dan aspal. 2) Terjadi iritasi terhadap mata. 2) Kecelakaan atau tertabrak oleh kendaraan yang melintas. 4) Terjadi kecelakaan atau terluka akibat jarak antar pekerja terlalu dekat. 5. 56 .4.160 . kulit dan paru-paru akibat uap dan panas dari aspal.5 Pemadatan Pekerjaan Pemadatan pada Pekerjaan Lataston Lapis Pondasi (HRS-Base) mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terluka oleh percikan aspal panas. sarung tangan dan masker) yang sesuai dengan standar.6. 2) Menggunakan kacamata dan masker untuk mencegah iritasi mata dan paru-paru akibat asap dan panas dari api pembakaran dan aspal.6. 3) Menjaga agar tidak ada orang luar maupun pekerja lain berada di lokasi pekerjaan ketika mesin pemadat aspal (Pneumatic Tire Roller) bekerja memadatkan Hotmix.5. 4) Mempertahankan jarak yang aman antara pekerja yang satu dengan yang lain. sarung tangan dan masker) yang sesuai dengan standar.

6. 2) Pekerja atau operator Compressor harus terampil dan berpengalaman dibidangnya. 3) Pekerja harus memakai tutup telinga untuk menghindari gangguan pendengaran. 2) Menggunakan kacamata dan masker untuk mencegah iritasi mata dan paru-paru akibat asap dan panas dari api pembakaran dan aspal. 6) Terjadi kecelakaan atau terluka akibat jarak antara pekerja terlalu dekat. 5) Terjadi gangguan lalu lintas kendaraan. 3) Kerusakan pada pohon. struktur atau bangunan yang berdekatan dengan lokasi dari percikan aspal.160 . 4) Terjadi gangguan terhadap lalu lintas kendaraan. 2) Terjadi iritasi terhadap mata. Terluka oleh mesin pompa aspal.6. Terluka oleh tangki aspal. 3) Menghindari kerusakan pada pohon. Petugas pengukuran harus menggunakan sarung tangan yang sesuai dengan standar. 50 cm). mata dan paru-paru akibat debu yang kering. struktur atau bangunan yang berdekatan dengan lokasi dari percikan aspal dengan menjaga api tidak terlalu besar dan menghindari penggunaan bahan bakar yang mudah meledak.Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengukuran dan Pematokan pada Pekerjaan Lapis Aus Aspal Beton (AC-WC) yaitu : 1) Pengukuran harus dilakukan dengan menggunakan meteran yang sesuai dengan standar. kulit dan paru-paru akibat uap dan panas dari aspal.5.3 Penyemprotan Pekerjaan Penyemprotan pada Pekerjaan Lapis Aus Aspal Beton (AC-WC) mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terluka oleh percikan aspal panas. 4) Terluka oleh pipa alat-alat penyemprot yang panas. 2) Terluka oleh Compressor waktu menyapu perkerasan lama. 3) Gangguan pendengaran akibat timbulnya kebisingan. 4) Memasang rambu-rambu sementara dan mengatur lalu lintas agar tetap berjalan dengan lancar dengan cara mengerjakan pekerjaan ½ bagian terlebih dahulu. 4) Pekerja harus terampil dan berpengalaman dibidangnya serta menjaga agar tidak ada orang luar maupun pekerja lain berada di tempat penyemprotan sewaktu mesin 57 . 4) Palu yang digunakan untuk memukul patok harus proporsional sesuai dengan keperluannya (tidak terlalu berat dan besar). 5.2 Pembersihan permukaan perkerasan lama Pekerjaan Pembersihan Permukaan Perkerasan Lama pada Pekerjaan Lapis Aus Aspal Beton (AC-WC) mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terjadi iritasi pada kulit. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penyemprotan pada Pekerjaan Lapis Aus Aspal Beton (AC-WC) yaitu : 1) Petugas pembakar harus mengenakan pakaian dan perlengkapan (sepatu boot. 3) Patok yang digunakan tidak terlalu panjang (maks. 5) Harus dipasang rambu-rambu lalu lintas sementara dan ditugaskan petugas pengatur lalu lintas. 5. kacamata dan masker) yang sesuai dengan standar. sarung tangan dan masker) yang sesuai dengan standar.5. 2) Pemasangan rambu-rambu lalu lintas dan menugaskan petugas bendera pengatur lalu lintas. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pembersihan Permukaan Perkerasan Lama pada Pekerjaan Lapis Aus Aspal Beton (AC-WC) yaitu : 1) Pekerja harus memakai pakaian dan perlengkapan (sepatu.

2) Terjadi iritasi terhadap mata. kulit dan paru-paru akibat uap dan panas dari aspal. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pemadatan pada Pekerjaan Lapis Aus Aspal Beton (AC-WC) yaitu : 1) Petugas pembakar harus mengenakan pakaian dan perlengkapan (sepatu boot. 3) Menjaga agar tidak ada orang luar maupun pekerja lain berada di tempat penghamparan ketika mesin penghampar aspal (Finisher) bekerja menghampar Hotmix di lokasi pekerjaan. 5. 6) Menjaga dan mempertahankan jarak yang aman antara pekerja yang satu dengan yang lain. sarung tangan dan masker) yang sesuai dengan standar. 5) Memasang rambu-rambu sementara dan mengatur lalu lintas agar tetap berjalan dengan lancar dengan cara mengerjakan pekerjaan ½ bagian terlebih dahulu.160 .4 Penghamparan Pekerjaan Penghamparan pada Pekerjaan Lapis Aus Aspal Beton (AC-WC) mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terluka oleh percikan aspal panas. 58 . 2) Menggunakan kacamata dan masker untuk mencegah iritasi mata dan paru-paru akibat asap dan panas dari api pembakaran dan aspal. 5) Memasang rambu-rambu sementara dan mengatur lalu lintas agar tetap berjalan dengan lancar dengan cara mengerjakan pekerjaan ½ bagian terlebih dahulu. 5) Memasang rambu-rambu sementara dan mengatur lalu lintas agar tetap berjalan dengan lancar dengan cara mengerjakan pekerjaan ½ bagian terlebih dahulu. 6) Senantiasa menjaga jarak yang aman antara pekerja yang satu dengan yang lainnya. 3) Menjaga agar tidak ada orang luar maupun pekerja lain berada di tempat pemadatan ketika mesin pemadat aspal (Tandem) bekerja memadatkan Hotmix di lokasi pekerjaan.6. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penghamparan pada Pekerjaan Lapis Aus Aspal Beton (AC-WC) yaitu : 1) Petugas pembakar harus mengenakan pakaian dan perlengkapan (sepatu boot. 5) Terjadi gangguan lalu lintas. 4) Mempertahankan jarak yang aman antara pekerja yang satu dengan yang lain. 4) Menjaga agar tidak ada orang luar maupun pekerja lain berada di tempat dimana Dump Truck sedang menuangkan Hotmix ke dalam Finisher di lokasi pekerjaan.5.6.5. kulit dan paru-paru akibat uap dan panas dari aspal. 3) Terluka oleh mesin pemadat aspal (Tandem Roller dan Pneumatic Tire Roller). 4) Terjadi kecelakaan atau terluka akibat jarak antar pekerja terlalu dekat.5 Pemadatan Pekerjaan Pemadatan pada Pekerjaan Lapis Aus Aspal Beton (AC-WC) mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terluka oleh percikan aspal panas. 5) Terjadi gangguan lalu lintas. 6) Terjadi kecelakaan atau terluka akibat jarak antar pekerja terlalu dekat. 2) Terjadi iritasi terhadap mata. 4) Terluka oleh Dump Truck sewaktu menuangkan Hotmix ke dalam Finisher. sarung tangan dan masker) yang sesuai dengan standar.penyemprotan dari pompa aspal (aspal sprayer) bekerja menyiram aspal pada agregat di lokasi pekerjaan. 5. 3) Terluka oleh mesin penghampar aspal (Finisher). 2) Menggunakan kacamata dan masker untuk mencegah iritasi mata dan paru-paru akibat asap dan panas dari api pembakaran dan aspal.

sarung tangan dan masker) yang sesuai dengan standar. kulit dan paru-paru akibat uap dan panas dari aspal. 5) Senantiasa menjaga jarak yang aman antara pekerja yang satu dengan yang lainnya. 3) Menjaga agar tidak ada orang luar maupun pekerja lain berada di lokasi pekerjaan ketika mesin pemadat aspal (Pneumatic Tire Roller) bekerja memadatkan Hotmix. 4) Palu yang digunakan untuk memukul patok harus proporsional sesuai dengan keperluannya (tidak terlalu berat dan besar).6.1 Pengukuran dan Pematokan Pekerjaan Pengukuran dan Pematokan pada Pekerjaan Lapis Pengikat Aspal Beton (ACBC) mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terluka akibat penggunaan meteran baja tidak benar.2 Pembersihan permukaan perkerasan lama Pekerjaan Pembersihan Permukaan Perkerasan Lama pada Pekerjaan Lapis Pengikat Aspal Beton (AC-BC) mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terjadi iritasi pada kulit. Terluka oleh mesin pemadat aspal (Pneumatic Tire Roller) untuk proses intermediated rolling.6. 4) Senantiasa mempertahankan jarak yang aman antara pekerja yang satu dengan yang lain. 59 .6 Penyiraman Pekerjaan Penyiraman pada Pekerjaan Lapis Aus Aspal Beton (AC-WC) mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terluka oleh percikan aspal panas.6 Pekerjaan lapis pengikat aspal beton (AC-BC) 5. 5) Terjadi gangguan terhadap lalu lintas kendaraan. 5. 2) Terluka oleh Compressor waktu menyapu perkerasan lama. mata dan paru-paru akibat debu yang kering. 5) Terjadi gangguan lalu lintas.6. 2) Pemasangan rambu-rambu lalu lintas dan menugaskan petugas bendera pengatur lalu lintas.6. 2) Kecelakaan atau tertabrak oleh kendaraan yang melintas. 2) Menggunakan kacamata dan masker untuk mencegah iritasi mata dan paru-paru akibat asap dan panas dari api pembakaran dan aspal.6. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penyiraman pada Pekerjaan Lapis Aus Aspal Beton (AC-WC) yaitu : 1) Petugas pembakar harus mengenakan pakaian dan perlengkapan (sepatu boot. 5) Harus dipasang rambu-rambu lalu lintas sementara dan ditugaskan petugas pengatur lalu lintas. 5. 2) Terjadi iritasi terhadap mata.6. 3) Gangguan pendengaran akibat timbulnya kebisingan.5. Petugas pengukuran harus menggunakan sarung tangan yang sesuai dengan standar. 3) Terluka pada saat memasang patok akibat patok terlalu panjang. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengukuran dan Pematokan pada Pekerjaan Lapis Pengikat Aspal Beton (AC-BC) yaitu : 1) Pengukuran harus dilakukan dengan menggunakan meteran yang sesuai dengan standar. 4) Kecelakaan terkena palu yang terlepas akibat palu terlalu berat.5.160 . 4) Terjadi kecelakaan atau terluka akibat jarak antar pekerja terlalu dekat. 3) Patok yang digunakan tidak terlalu panjang (maks. 3) Terluka oleh mesin pemadat aspal (Tandem Roller) awal dan akhir. 50 cm).

kacamata dan masker) yang sesuai dengan standar. 4) Pekerja harus terampil dan berpengalaman dibidangnya serta menjaga agar tidak ada orang luar maupun pekerja lain berada di tempat penyemprotan sewaktu mesin penyemprotan dari pompa aspal (aspal sprayer) bekerja menyiram aspal pada agregat di lokasi pekerjaan. 5) Terjadi gangguan lalu lintas. struktur atau bangunan yang berdekatan dengan lokasi dari percikan aspal. sarung tangan dan masker) yang sesuai dengan standar. 4) Memasang rambu-rambu sementara dan mengatur lalu lintas agar tetap berjalan dengan lancar dengan cara mengerjakan pekerjaan ½ bagian terlebih dahulu. 3) Terluka oleh mesin penghampar aspal (Finisher).6. 2) Menggunakan kacamata dan masker untuk mencegah iritasi mata dan paru-paru akibat asap dan panas dari api pembakaran dan aspal. 5) Memasang rambu-rambu sementara dan mengatur lalu lintas agar tetap berjalan dengan lancar dengan cara mengerjakan pekerjaan ½ bagian terlebih dahulu. 4) Terluka oleh Dump Truck sewaktu menuangkan Hotmix ke dalam Finisher. 3) Kerusakan pada pohon. 6) Senantiasa menjaga jarak yang aman antara pekerja yang satu dengan yang lainnya.6. 60 . kulit dan paru-paru akibat uap dan panas dari aspal. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pembersihan Permukaan Perkerasan Lama pada Pekerjaan Lapis Pengikat Aspal Beton (AC-BC) yaitu : 1) Pekerja harus memakai pakaian dan perlengkapan (sepatu.4 Penghamparan Pekerjaan Penghamparan pada Pekerjaan Lapis Pengikat Aspal Beton (AC-BC) mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terluka oleh percikan aspal panas. 6) Terjadi kecelakaan atau terluka akibat jarak antara pekerja terlalu dekat.3 Penyemprotan Pekerjaan Penyemprotan pada Pekerjaan Lapis Pengikat Aspal Beton (AC-BC) mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terluka oleh percikan aspal panas. 5) Terjadi gangguan lalu lintas kendaraan. struktur atau bangunan yang berdekatan dengan lokasi dari percikan aspal dengan menjaga api tidak terlalu besar dan menghindari penggunaan bahan bakar yang mudah meledak. 4) Terluka oleh pipa alat-alat penyemprot yang panas. Terluka oleh tangki aspal. 5. 2) Terjadi iritasi terhadap mata. 2) Terjadi iritasi terhadap mata. 5. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penyemprotan pada Pekerjaan Lapis Pengikat Aspal Beton (AC-BC) yaitu : 1) Petugas pembakar harus mengenakan pakaian dan perlengkapan (sepatu boot. kulit dan paru-paru akibat uap dan panas dari aspal.4) Terjadi gangguan terhadap lalu lintas kendaraan. 3) Pekerja harus memakai tutup telinga untuk menghindari gangguan pendengaran. Terluka oleh mesin pompa aspal.6.6.160 . 6) Terjadi kecelakaan atau terluka akibat jarak antar pekerja terlalu dekat. 3) Menghindari kerusakan pada pohon. 2) Pekerja atau operator Compressor harus terampil dan berpengalaman dibidangnya.

6. 2) Menggunakan kacamata dan masker untuk mencegah iritasi mata dan paru-paru akibat asap dan panas dari api pembakaran dan aspal. 5.6. 4) Terjadi kecelakaan atau terluka akibat jarak antar pekerja terlalu dekat. Terluka oleh mesin pemadat aspal (Pneumatic Tire Roller) untuk proses intermediated rolling. 3) Menjaga agar tidak ada orang luar maupun pekerja lain berada di tempat pemadatan ketika mesin pemadat aspal (Tandem) bekerja memadatkan Hotmix di lokasi pekerjaan. 5) Terjadi gangguan lalu lintas. 2) Menggunakan kacamata dan masker untuk mencegah iritasi mata dan paru-paru akibat asap dan panas dari api pembakaran dan aspal. 5) Memasang rambu-rambu sementara dan mengatur lalu lintas agar tetap berjalan dengan lancar dengan cara mengerjakan pekerjaan ½ bagian terlebih dahulu.5 Pemadatan Pekerjaan Pemadatan pada Pekerjaan Lapis Pengikat Aspal Beton (AC-BC) mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terluka oleh percikan aspal panas. 5) Memasang rambu-rambu sementara dan mengatur lalu lintas agar tetap berjalan dengan lancar dengan cara mengerjakan pekerjaan ½ bagian terlebih dahulu.Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penghamparan pada Pekerjaan Lapis Pengikat Aspal Beton (AC-BC) yaitu : 1) Petugas pembakar harus mengenakan pakaian dan perlengkapan (sepatu boot. 2) Terjadi iritasi terhadap mata. 3) Menjaga agar tidak ada orang luar maupun pekerja lain berada di tempat penghamparan ketika mesin penghampar aspal (Finisher) bekerja menghampar Hotmix di lokasi pekerjaan. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penyiraman pada Pekerjaan Lapis Pengikat Aspal Beton (AC-BC yaitu : 1) Petugas pembakar harus mengenakan pakaian dan perlengkapan (sepatu boot. 2) Terjadi iritasi terhadap mata. 3) Terluka oleh mesin pemadat aspal (Tandem Roller dan Pneumatic Tire Roller).160 . 3) Terluka oleh mesin pemadat aspal (Tandem Roller) awal dan akhir. 5) Terjadi gangguan lalu lintas. 5. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pemadatan pada Pekerjaan Lapis Pengikat Aspal Beton (AC-BC) yaitu : 1) Petugas pembakar harus mengenakan pakaian dan perlengkapan (sepatu boot.6. 2) Menggunakan kacamata dan masker untuk mencegah iritasi mata dan paru-paru akibat asap dan panas dari api pembakaran dan aspal. sarung tangan dan masker) yang sesuai dengan standar. 6) Menjaga dan mempertahankan jarak yang aman antara pekerja yang satu dengan yang lain. sarung tangan dan masker) yang sesuai dengan standar.6. 61 . 4) Terjadi kecelakaan atau terluka akibat jarak antar pekerja terlalu dekat. kulit dan paru-paru akibat uap dan panas dari aspal. 4) Menjaga agar tidak ada orang luar maupun pekerja lain berada di tempat dimana Dump Truck sedang menuangkan Hotmix ke dalam Finisher di lokasi pekerjaan. sarung tangan dan masker) yang sesuai dengan standar.6 Penyiraman Pekerjaan Penyiraman pada Pekerjaan Lapis Pengikat Aspal Beton (AC-BC) mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terluka oleh percikan aspal panas. kulit dan paru-paru akibat uap dan panas dari aspal. 4) Mempertahankan jarak yang aman antara pekerja yang satu dengan yang lain.

3) Terluka pada saat memasang patok akibat patok terlalu panjang. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengukuran dan Pematokan pada Pekerjaan Lasbutag yaitu : 1) Pengukuran harus dilakukan dengan menggunakan meteran yang sesuai dengan standar.7. 5. 4) Memasang rambu-rambu sementara dan mengatur lalu lintas agar tetap berjalan dengan lancar dengan cara mengerjakan pekerjaan ½ bagian terlebih dahulu. 2) Terjadi iritasi terhadap mata.6.1 Pengukuran dan pematokan Pekerjaan Pengukuran dan Pematokan pada Pekerjaan Lasbutag mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terluka akibat penggunaan meteran baja tidak benar. kulit dan paru-paru akibat uap dan panas dari aspal. mata dan paru-paru akibat debu yang kering.160 . 5.7.7 Pekerjaan lasbutag 5. kacamata dan masker) yang sesuai dengan standar. 3) Patok yang digunakan tidak terlalu panjang (maks.3 Penyemprotan Pekerjaan Penyemprotan pada Pekerjaan Lasbutag mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terluka oleh percikan aspal panas.6.3) Menjaga agar tidak ada orang luar maupun pekerja lain berada di lokasi pekerjaan ketika mesin pemadat aspal (Pneumatic Tire Roller) bekerja memadatkan Hotmix. 62 . 4) Senantiasa mempertahankan jarak yang aman antara pekerja yang satu dengan yang lain. 4) Terjadi gangguan terhadap lalu lintas kendaraan. 2) Pemasangan rambu-rambu lalu lintas dan menugaskan petugas bendera pengatur lalu lintas. Petugas pengukuran harus menggunakan sarung tangan yang sesuai dengan standar. Lasbutag Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pembersihan Permukaan Perkerasan Lama pada Pekerjaan Lasbutag yaitu : 1) Pekerja harus memakai pakaian dan perlengkapan (sepatu. 4) Palu yang digunakan untuk memukul patok harus proporsional sesuai dengan keperluannya (tidak terlalu berat dan besar). 2) Kecelakaan atau tertabrak oleh kendaraan yang melintas. 5) Senantiasa menjaga jarak yang aman antara pekerja yang satu dengan yang lainnya.6. 5) Terjadi gangguan terhadap lalu lintas kendaraan. 50 cm). 2) Terluka oleh Compressor waktu menyapu perkerasan lama. 4) Kecelakaan terkena palu yang terlepas akibat palu terlalu berat.2 Pembersihan permukaan perkerasan lama Pekerjaan Pembersihan Permukaan Perkerasan Lama pada Pekerjaan mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terjadi iritasi pada kulit. 2) Pekerja atau operator Compressor harus terampil dan berpengalaman dibidangnya.7. 3) Pekerja harus memakai tutup telinga untuk menghindari gangguan pendengaran. 5) Harus dipasang rambu-rambu lalu lintas sementara dan ditugaskan petugas pengatur lalu lintas. 5.6. 3) Gangguan pendengaran akibat timbulnya kebisingan.

4) Pekerja harus terampil dan berpengalaman dibidangnya serta menjaga agar tidak ada orang luar maupun pekerja lain berada di tempat penyemprotan sewaktu mesin penyemprotan dari pompa aspal (aspal sprayer) bekerja menyiram aspal pada agregat di lokasi pekerjaan. Terluka oleh tangki aspal. 6) Menjaga dan mempertahankan jarak yang aman antara pekerja yang satu dengan yang lain. 4) Terluka oleh pipa alat-alat penyemprot yang panas. struktur atau bangunan yang berdekatan dengan lokasi dari percikan aspal. Terluka oleh mesin pompa aspal. 6) Terjadi kecelakaan atau terluka akibat jarak antar pekerja terlalu dekat. sarung tangan dan masker) yang sesuai dengan standar.3) Kerusakan pada pohon.4 Penghamparan Pekerjaan Penghamparan pada Pekerjaan Lasbutag mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terluka oleh percikan aspal panas. 3) Menghindari kerusakan pada pohon. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penyemprotan pada Pekerjaan Lasbutag yaitu : 1) Petugas pembakar harus mengenakan pakaian dan perlengkapan (sepatu boot. 2) Terjadi iritasi terhadap mata.160 . 5) Memasang rambu-rambu sementara dan mengatur lalu lintas agar tetap berjalan dengan lancar dengan cara mengerjakan pekerjaan ½ bagian terlebih dahulu. 6) Senantiasa menjaga jarak yang aman antara pekerja yang satu dengan yang lainnya. 3) Menjaga agar tidak ada orang luar maupun pekerja lain berada di tempat penghamparan ketika mesin penghampar aspal (Finisher) bekerja menghampar Hotmix di lokasi pekerjaan. sarung tangan dan masker) yang sesuai dengan standar. 63 . kulit dan paru-paru akibat uap dan panas dari aspal. 5) Memasang rambu-rambu sementara dan mengatur lalu lintas agar tetap berjalan dengan lancar dengan cara mengerjakan pekerjaan ½ bagian terlebih dahulu. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penghamparan pada Pekerjaan Lasbutag yaitu : 1) Petugas pembakar harus mengenakan pakaian dan perlengkapan (sepatu boot. 3) Terluka oleh mesin penghampar aspal (Finisher). 5) Terjadi gangguan lalu lintas kendaraan. 6) Terjadi kecelakaan atau terluka akibat jarak antara pekerja terlalu dekat. 4) Menjaga agar tidak ada orang luar maupun pekerja lain berada di tempat dimana Dump Truck sedang menuangkan Hotmix ke dalam Finisher di lokasi pekerjaan. 4) Terluka oleh Dump Truck sewaktu menuangkan Hotmix ke dalam Finisher. 2) Menggunakan kacamata dan masker untuk mencegah iritasi mata dan paru-paru akibat asap dan panas dari api pembakaran dan aspal.7. struktur atau bangunan yang berdekatan dengan lokasi dari percikan aspal dengan menjaga api tidak terlalu besar dan menghindari penggunaan bahan bakar yang mudah meledak. 5.6. 2) Menggunakan kacamata dan masker untuk mencegah iritasi mata dan paru-paru akibat asap dan panas dari api pembakaran dan aspal. 5) Terjadi gangguan lalu lintas.

7.5.6. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pemadatan pada Pekerjaan Lasbutag yaitu : 1) Petugas pembakar harus mengenakan pakaian dan perlengkapan (sepatu boot. Terluka oleh mesin pemadat aspal (Pneumatic Tire Roller) untuk proses intermediated rolling. 2) Menggunakan kacamata dan masker untuk mencegah iritasi mata dan paru-paru akibat asap dan panas dari api pembakaran dan aspal. sarung tangan dan masker) yang sesuai dengan standar.8 Pekerjaan latasbusir 5.8.6. 3) Terluka oleh mesin pemadat aspal (Tandem Roller) awal dan akhir. 3) Terluka pada saat memasang patok akibat patok terlalu panjang. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penyiraman pada Pekerjaan Lasbutag yaitu : 1) Petugas pembakar harus mengenakan pakaian dan perlengkapan (sepatu boot. 5) Memasang rambu-rambu sementara dan mengatur lalu lintas agar tetap berjalan dengan lancar dengan cara mengerjakan pekerjaan ½ bagian terlebih dahulu. 2) Kecelakaan atau tertabrak oleh kendaraan yang melintas.5 Pemadatan Pekerjaan Pemadatan pada Pekerjaan Lasbutag mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terluka oleh percikan aspal panas. 3) Menjaga agar tidak ada orang luar maupun pekerja lain berada di lokasi pekerjaan ketika mesin pemadat aspal (Pneumatic Tire Roller) bekerja memadatkan Hotmix. 2) Terjadi iritasi terhadap mata.1 Pengukuran dan pematokan Pekerjaan Pengukuran dan Pematokan pada Pekerjaan Latasbusir mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terluka akibat penggunaan meteran baja tidak benar. 3) Terluka oleh mesin pemadat aspal (Tandem Roller dan Pneumatic Tire Roller). 2) Menggunakan kacamata dan masker untuk mencegah iritasi mata dan paru-paru akibat asap dan panas dari api pembakaran dan aspal. 5) Terjadi gangguan lalu lintas.160 .7. 4) Terjadi kecelakaan atau terluka akibat jarak antar pekerja terlalu dekat. 3) Menjaga agar tidak ada orang luar maupun pekerja lain berada di tempat pemadatan ketika mesin pemadat aspal (Tandem) bekerja memadatkan Hotmix di lokasi pekerjaan. 4) Terjadi kecelakaan atau terluka akibat jarak antar pekerja terlalu dekat.6. 5. 4) Senantiasa mempertahankan jarak yang aman antara pekerja yang satu dengan yang lain.6. kulit dan paru-paru akibat uap dan panas dari aspal. 64 . sarung tangan dan masker) yang sesuai dengan standar. 4) Mempertahankan jarak yang aman antara pekerja yang satu dengan yang lain. 4) Kecelakaan terkena palu yang terlepas akibat palu terlalu berat.6 Penyiraman Pekerjaan Penyiraman pada Pekerjaan Lasbutag mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terluka oleh percikan aspal panas. 2) Terjadi iritasi terhadap mata. kulit dan paru-paru akibat uap dan panas dari aspal. 5. 5) Terjadi gangguan lalu lintas. 5) Senantiasa menjaga jarak yang aman antara pekerja yang satu dengan yang lainnya.

4) Terluka oleh pipa alat-alat penyemprot yang panas. 2) Terjadi iritasi terhadap mata.160 . 5) Terjadi gangguan lalu lintas kendaraan. 6) Terjadi kecelakaan atau terluka akibat jarak antara pekerja terlalu dekat. kacamata dan masker) yang sesuai dengan standar.2 Pembersihan permukaan perkerasan lama Pekerjaan Pembersihan Permukaan Perkerasan Lama pada Pekerjaan Latasbusir mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terjadi iritasi pada kulit. 5.3 Penyemprotan Pekerjaan Penyemprotan pada Pekerjaan Latasbusir mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terluka oleh percikan aspal panas. Petugas pengukuran harus menggunakan sarung tangan yang sesuai dengan standar.8.8. mata dan paru-paru akibat debu yang kering. Terluka oleh tangki aspal.5) Terjadi gangguan terhadap lalu lintas kendaraan. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengukuran dan Pematokan pada Pekerjaan Latasbusir yaitu : 1) Pengukuran harus dilakukan dengan menggunakan meteran yang sesuai dengan standar. 3) Gangguan pendengaran akibat timbulnya kebisingan. 2) Terluka oleh Compressor waktu menyapu perkerasan lama. Terluka oleh mesin pompa aspal.6. 4) Memasang rambu-rambu sementara dan mengatur lalu lintas agar tetap berjalan dengan lancar dengan cara mengerjakan pekerjaan ½ bagian terlebih dahulu. 50 cm). 5) Harus dipasang rambu-rambu lalu lintas sementara dan ditugaskan petugas pengatur lalu lintas. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pembersihan Permukaan Perkerasan Lama pada Pekerjaan Latasbusir yaitu : 1) Pekerjaan harus memakai pakaian dan perlengkapan (sepatu. 2) Pemasangan rambu-rambu lalu lintas dan menugaskan petugas bendera pengatur lalu lintas.6. 3) Kerusakan pada pohon. 2) Menggunakan kacamata dan masker untuk mencegah iritasi mata dan paru-paru akibat asap dan panas dari api pembakaran dan aspal. 2) Pekerja atau operator Compressor harus terampil dan berpengalaman dibidangnya. 4) Palu yang digunakan untuk memukul patok harus proporsional sesuai dengan keperluannya (tidak terlalu berat dan besar). kulit dan paru-paru akibat uap dan panas dari aspal. sarung tangan dan masker) yang sesuai dengan standar. 3) Patok yang digunakan tidak terlalu panjang (maks. 4) Terjadi gangguan terhadap lalu lintas kendaraan. 5. 3) Pekerja harus memakai tutup telinga untuk menghindari gangguan pendengaran. struktur atau bangunan yang berdekatan dengan lokasi dari percikan aspal dengan menjaga api tidak terlalu besar dan menghindari penggunaan bahan bakar yang mudah meledak. 3) Menghindari kerusakan pada pohon. 65 . Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penyemprotan pada Pekerjaan Latasbusir yaitu : 1) Petugas pembakar harus mengenakan pakaian dan perlengkapan (sepatu boot. struktur atau bangunan yang berdekatan dengan lokasi dari percikan aspal.

sarung tangan dan masker) yang sesuai dengan standar. 2) Terjadi iritasi terhadap mata. 3) Menjaga agar tidak ada orang luar maupun pekerja lain berada di tempat penghamparan ketika mesin penghampar aspal (Finisher) bekerja menghampar Hotmix di lokasi pekerjaan. 3) Menjaga agar tidak ada orang luar maupun pekerja lain berada di tempat pemadatan ketika mesin pemadat aspal (Tandem) bekerja memadatkan Hotmix di lokasi pekerjaan. 4) Terjadi kecelakaan atau terluka akibat jarak antar pekerja terlalu dekat.6. 2) Terjadi iritasi terhadap mata. 3) Terluka oleh mesin pemadat aspal (Tandem Roller dan Pneumatic Tire Roller). 5) Terjadi gangguan lalu lintas. kulit dan paru-paru akibat uap dan panas dari aspal.6.5 Pemadatan Pekerjaan Pemadatan pada Pekerjaan Latasbusir mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terluka oleh percikan aspal panas. 5. 4) Menjaga agar tidak ada orang luar maupun pekerja lain berada di tempat dimana Dump Truck sedang menuangkan Hotmix ke dalam Finisher di lokasi pekerjaan. 2) Menggunakan kacamata dan masker untuk mencegah iritasi mata dan paru-paru akibat asap dan panas dari api pembakaran dan aspal. 6) Terjadi kecelakaan atau terluka akibat jarak antar pekerja terlalu dekat. 4) Terluka oleh Dump Truck sewaktu menuangkan Hotmix ke dalam Finisher. 6) Senantiasa menjaga jarak yang aman antara pekerja yang satu dengan yang lainnya. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pemadatan pada Pekerjaan Latasbusir yaitu : 1) Petugas pembakar harus mengenakan pakaian dan perlengkapan (sepatu boot. 5. sarung tangan dan masker) yang sesuai dengan standar. 4) Mempertahankan jarak yang aman antara pekerja yang satu dengan yang lain.4) Pekerja harus terampil dan berpengalaman dibidangnya serta menjaga agar tidak ada orang luar maupun pekerja lain berada di tempat penyemprotan sewaktu mesin penyemprotan dari pompa aspal (aspal sprayer) bekerja menyiram aspal pada agregat di lokasi pekerjaan. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penghamparan pada Pekerjaan Latasbusir yaitu : 1) Petugas pembakar harus mengenakan pakaian dan perlengkapan (sepatu boot. 5) Memasang rambu-rambu sementara dan mengatur lalu lintas agar tetap berjalan dengan lancar dengan cara mengerjakan pekerjaan ½ bagian terlebih dahulu.8. 66 . 2) Menggunakan kacamata dan masker untuk mencegah iritasi mata dan paru-paru akibat asap dan panas dari api pembakaran dan aspal. 5) Memasang rambu-rambu sementara dan mengatur lalu lintas agar tetap berjalan dengan lancar dengan cara mengerjakan pekerjaan ½ bagian terlebih dahulu. 5) Terjadi gangguan lalu lintas. 3) Terluka oleh mesin penghampar aspal (Finisher).4 Penghamparan Pekerjaan Penghamparan pada Pekerjaan Latasbusir mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terluka oleh percikan aspal panas.160 . 6) Menjaga dan mempertahankan jarak yang aman antara pekerja yang satu dengan yang lain. kulit dan paru-paru akibat uap dan panas dari aspal.8.

5. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penyiraman pada Pekerjaan Latasbusir yaitu : 1) Petugas pembakar harus mengenakan pakaian dan perlengkapan (sepatu boot. 5) Senantiasa menjaga jarak yang aman antara pekerja yang satu dengan yang lainnya. 4) Terjadi kecelakaan atau terluka akibat jarak antar pekerja terlalu dekat.8.9 Pekerjaan penetrasi macadam 5. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengukuran dan Pematokan pada Pekerjaan Penetrasi Macadam yaitu : 1) Pengukuran harus dilakukan dengan menggunakan meteran yang sesuai dengan standar. 4) Palu yang digunakan untuk memukul patok harus proporsional sesuai dengan keperluannya (tidak terlalu berat dan besar). 2) Menggunakan kacamata dan masker untuk mencegah iritasi mata dan paru-paru akibat asap dan panas dari api pembakaran dan aspal. 5) Terjadi gangguan terhadap lalu lintas kendaraan. 50 cm). 4) Kecelakaan terkena palu yang terlepas akibat palu terlalu berat. Petugas pengukuran harus menggunakan sarung tangan yang sesuai dengan standar.9. 3) Menjaga agar tidak ada orang luar maupun pekerja lain berada di lokasi pekerjaan ketika mesin pemadat aspal (Pneumatic Tire Roller) bekerja memadatkan Hotmix. 5.6. 2) Kecelakaan atau tertabrak oleh kendaraan yang melintas. 2) Terjadi iritasi terhadap mata.6 Penyiraman Pekerjaan Penyiraman pada Pekerjaan Latasbusir mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terluka oleh percikan aspal panas.160 . 5) Terjadi gangguan lalu lintas.5) Memasang rambu-rambu sementara dan mengatur lalu lintas agar tetap berjalan dengan lancar dengan cara mengerjakan pekerjaan ½ bagian terlebih dahulu. 2) Pemasangan rambu-rambu lalu lintas dan menugaskan petugas bendera pengatur lalu lintas.6. kulit dan paru-paru akibat uap dan panas dari aspal. 5) Harus dipasang rambu-rambu lalu lintas sementara dan ditugaskan petugas pengatur lalu lintas. 67 . sarung tangan dan masker) yang sesuai dengan standar. 3) Terluka oleh mesin pemadat aspal (Tandem Roller) awal dan akhir. 3) Terluka pada saat memasang patok akibat patok terlalu panjang.6. 3) Patok yang digunakan tidak terlalu panjang (maks.1 Pengukuran dan pematokan Pekerjaan Pengukuran dan Pematokan pada Pekerjaan Penetrasi Macadam mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terluka akibat penggunaan meteran baja tidak benar. 4) Senantiasa mempertahankan jarak yang aman antara pekerja yang satu dengan yang lain. Terluka oleh mesin pemadat aspal (Pneumatic Tire Roller) untuk proses intermediated rolling.

Terluka oleh tangki aspal. 5. 3) Gangguan pendengaran akibat timbulnya kebisingan. 3) Kerusakan pada pohon.2 Pembersihan permukaan perkerasan lama Pekerjaan Pembersihan Permukaan Perkerasan Lama pada Pekerjaan Penetrasi Macadam mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terjadi iritasi pada kulit. 2) Terjadi iritasi terhadap mata. 5) Memasang rambu-rambu sementara dan mengatur lalu lintas agar tetap berjalan dengan lancar dengan cara mengerjakan pekerjaan ½ bagian terlebih dahulu. 68 . kacamata dan masker) yang sesuai dengan standar. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pembersihan Permukaan Perkerasan Lama pada Pekerjaan Penetrasi Macadam yaitu : 1) Pekerja harus memakai pakaian dan perlengkapan (sepatu.160 .9. 5) Terjadi gangguan lalu lintas kendaraan. kulit dan paru-paru akibat uap dan panas dari aspal.9.4 Penghamparan Pekerjaan Penghamparan pada Pekerjaan Penetrasi Macadam mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terluka oleh percikan aspal panas. 4) Pekerja harus terampil dan berpengalaman dibidangnya serta menjaga agar tidak ada orang luar maupun pekerja lain berada di tempat penyemprotan sewaktu mesin penyemprotan dari pompa aspal (aspal sprayer) bekerja menyiram aspal pada agregat di lokasi pekerjaan. 4) Terjadi gangguan terhadap lalu lintas kendaraan.9. 2) Terluka oleh Compressor waktu menyapu perkerasan lama. sarung tangan dan masker) yang sesuai dengan standar. Terluka oleh mesin pompa aspal. 3) Pekerja harus memakai tutup telinga untuk menghindari gangguan pendengaran.6. struktur atau bangunan yang berdekatan dengan lokasi dari percikan aspal. 6) Terjadi kecelakaan atau terluka akibat jarak antara pekerja terlalu dekat.6. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penyemprotan pada Pekerjaan Penetrasi Macadam yaitu : 1) Petugas pembakar harus mengenakan pakaian dan perlengkapan (sepatu boot. 3) Terluka oleh mesin penghampar aspal (Finisher). struktur atau bangunan yang berdekatan dengan lokasi dari percikan aspal dengan menjaga api tidak terlalu besar dan menghindari penggunaan bahan bakar yang mudah meledak. 2) Terjadi iritasi terhadap mata. kulit dan paru-paru akibat uap dan panas dari aspal.5.6. 5. 2) Pekerja atau operator Compressor harus terampil dan berpengalaman dibidangnya.3 Penyemprotan Pekerjaan Penyemprotan pada Pekerjaan Penetrasi Macadam mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terluka oleh percikan aspal panas. 2) Menggunakan kacamata dan masker untuk mencegah iritasi mata dan paru-paru akibat asap dan panas dari api pembakaran dan aspal. 4) Terluka oleh pipa alat-alat penyemprot yang panas. 6) Senantiasa menjaga jarak yang aman antara pekerja yang satu dengan yang lainnya. 4) Memasang rambu-rambu sementara dan mengatur lalu lintas agar tetap berjalan dengan lancar dengan cara mengerjakan pekerjaan ½ bagian terlebih dahulu. 3) Menghindari kerusakan pada pohon. mata dan paru-paru akibat debu yang kering.

5) Terjadi gangguan lalu lintas.7 5. 5) Memasang rambu-rambu sementara dan mengatur lalu lintas agar tetap berjalan dengan lancar dengan cara mengerjakan pekerjaan ½ bagian terlebih dahulu. 4) Menjaga agar tidak ada orang luar maupun pekerja lain berada di tempat dimana Dump Truck sedang menuangkan Hotmix ke dalam Finisher di lokasi pekerjaan. 2) Menggunakan kacamata dan masker untuk mencegah iritasi mata dan paru-paru akibat asap dan panas dari api pembakaran dan aspal. 5) Memasang rambu-rambu sementara dan mengatur lalu lintas agar tetap berjalan dengan lancar dengan cara mengerjakan pekerjaan ½ bagian terlebih dahulu. 3) Menjaga agar tidak ada orang luar maupun pekerja lain berada di tempat pemadatan ketika mesin pemadat aspal (Tandem) bekerja memadatkan Hotmix di lokasi pekerjaan. sarung tangan dan masker) yang sesuai dengan standar.4) Terluka oleh Dump Truck sewaktu menuangkan Hotmix ke dalam Finisher.7. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pemadatan pada Pekerjaan Penetrasi Macadam yaitu : 1) Petugas pembakar harus mengenakan pakaian dan perlengkapan (sepatu boot. 69 .1. 4) Mempertahankan jarak yang aman antara pekerja yang satu dengan yang lain. 2) Terjadi gangguan kesehatan atau gangguan fisik akibat pekerja tidak memakai perlengkapan kerja yang sesuai dengan syarat. 3) Menjaga agar tidak ada orang luar maupun pekerja lain berada di tempat penghamparan ketika mesin penghampar aspal (Finisher) bekerja menghampar Hotmix di lokasi pekerjaan. 5.7.1 Perkerasan Struktur Pekerjaan beton 5.160 .5 Pemadatan Pekerjaan Pemadatan pada Pekerjaan Penetrasi Macadam mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terluka oleh percikan aspal panas. 4) Terjadi kecelakaan atau terluka akibat jarak antar pekerja terlalu dekat. 3) Terluka oleh mesin pemadat aspal (Tandem Roller dan Pneumatic Tire Roller). 2) Menggunakan kacamata dan masker untuk mencegah iritasi mata dan paru-paru akibat asap dan panas dari api pembakaran dan aspal. 6) Menjaga dan mempertahankan jarak yang aman antara pekerja yang satu dengan yang lain.1 Pengukuran dan pematokan Pekerjaan Pengukuran dan Pematokan pada Pekerjaan Beton mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terjadi kecelakaan atau terluka oleh alat atau perlengkapan ukur akibat metode pelaksanaan pekerjaan tidak dilakukan dengan benar. 2) Terjadi iritasi terhadap mata. 5. kulit dan paru-paru akibat uap dan panas dari aspal. 6) Terjadi kecelakaan atau terluka akibat jarak antar pekerja terlalu dekat. sarung tangan dan masker) yang sesuai dengan standar. 5) Terjadi gangguan lalu lintas.9. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penghamparan pada Pekerjaan Penetrasi Macadam yaitu : 1) Petugas pembakar harus mengenakan pakaian dan perlengkapan (sepatu boot.6.

3 Pemasangan bekisting Pekerjaan Pemasangan Bekisting pada Pekerjaan Beton mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Bahaya kecelakaan pada pemasangan bekisting pada tanah galian meliputi : tertimpa tanah galian.  Dinding galian harus diberi penahan dinding secukupnya. tertimpa/tergencet kayu/bekisting. 2) Kecelakaan akibat runtuhnya sisi galian akibat pembebanan. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pemasangan Bekisting pada Pekerjaan Beton yaitu : 1) Pemasangan bekisting harus dilakukan oleh pekerja terampil yang telah berpengalaman dibidangnya. dijalankan oleh orang yang ahli dibidangnya. sepatu boot dan helm) serta memenuhi syarat.3) Terjadi kecelakaan atau tertabrak kendaraan pada saat melakukan pengukuran di jalan raya. 70 . 5) Terjadi kecelakaan akibat pemasangan rambu-rambu lalu lintas sementara untuk pengamanan kurang memadai dan tidak memenuhi syarat. pemasangan bekisting di daerah galian harus memperhatikan ketentuanketentuan berikut ini :  Memakai pakaian dan perlengkapan kerja terutama helm yang sesuai dengan standar. 3) Memasang rambu-rambu pada lokasi pekerjaan untuk melindungi personel yang bekerja dari kendaraan yang melintasi proyek dan menempatkan petugas bendera di semua tempat kegiatan pelaksanaan.1. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengukuran dan Pematokan pada Pekerjaan Beton yaitu : 1) Pelaksanaan pengukuran dan pematokan harus dilakukan oleh pekerja yang terampil serta berpengalaman dibidangnya.160 .7. 5. 5) Memasang rambu-rambu pada lokasi pekerjaan untuk melindungi personel yang bekerja dari kendaraan yang melintasi proyek dan menempatkan petugas bendera disemua tempat kegiatan pelaksanaan. tertimpa benda jatuh dan terpeleset jatuh.7. 5. 2) Menutup material dengan plastik sehingga debu tidak beterbangan.2 Penyiapan Pekerjaan Penyiapan pada Pekerjaan Beton mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Gangguan kesehatan atau gangguan fisik akibat pekerja tidak memakai perlengkapan kerja yang sesuai dengan syarat. 2) Gangguan paru-paru akibat debu dari material di gudang/tempat penyimpanan. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penyiapan pada Pekerjaan Beton yaitu : 1) Pekerja harus memakai pakaian dan perlengkapan kerja yang sesuai dan memenuhi syarat. 3) Terjadi kecelakaan atau luka oleh karena paku-paku yang menonjol keluar. 3) Terjadi bahaya kebakaran dari gudang/material. 2) Pekerja harus memakai pakaian dan perlengkapan kerja yang sesuai (sarung tangan. tertimbun tanah galian.1. 4) Terjadi bahaya akibat concrete mixer. 4) Mengecek alat concrete mixer sebelum digunakan termasuk penguat-penguatnya. 3) Menyediakan alat pemadam kebakaran di gudang atau tempat penyimpanan material.

 Pada daerah pemasangan bekisting harus diberi penerangan secukupnya. 2) Kecelakaan akibat concrete mixer (kena rantai.7.  Dipasang tangga yang sesuai dan memenuhi syarat dari segi kekuatanya. seperti : tertimpa besi tulangan.160 . sarung tangan. Pada daerah pemasangan bekisting harus diberi penerangan secukupnya. 71 . tanah galian harus dibuang pada tempat yang aman yang telah ditentukan. 2) Tertimpa benda jatuh seperti bekisting. 3) Tertimpa pengaduk beton ketika alat tersebut sedang diangkat. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penulangan pada Pekerjaan Beton yaitu : 1) Pelaksanaan penulangan harus dilakukan oleh pekerja yang terampil dan berpengalaman dibidangnya.  Bila melakukan penyambungan besi tulangan maka ujungnya menjorok ke luar tidak boleh menimbulkan bahaya. 2) Dilarang menempatkan atau menggerakkan beban mesin atau peralatan lainnya dekat pemasangan bekisting/disisi galian yang dapat menyebabkan runtuhnya sisi galian dan membahayakan setiap orang di dalamnya. 2) Untuk pemasangan tulangan dibawah permukaan tanah/didaerah galian harus diperhatikan ketentuan-ketentuan berikut ini :  Memakai pakaian dan perlengkapan kerja terutama helm yang sesuai dengan standar. roda pemutar dll).4 Penulangan Pekerjaan Penulangan pada Pekerjaan Beton mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terluka akibat pelaksanaan penulangan tidak dilakukan oleh tenaga yang berpengalaman dan ahli dibidangnya.  Disediakan jalan keluar untuk menyelamatkan diri bila terjadi bahaya.1.  Dilarang menyimpan/menempatkan tanah galian dipinggir pembuatan bekisting.  Disediakan jalan keluar untuk menyelamatkan diri bila terjadi bahaya.5 Pengecoran Pekerjaan Pengecoran pada Pekerjaan Beton mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Gangguan kesehatan atau gangguan fisik akibat pekerja tidak memakai perlengkapan kerja yang sesuai dengan syarat. terkena kawat tulangan.  Dilarang menyimpan/menempatkan tanah galian dipinggir pembuatan bekisting. dan lain-lain.  Besi tulangan tidak boleh disimpan pada perancah atau papan acuan yang dapat membahayakan kestabilannya. 5. 3) Paku-paku yang menonjol keluar perlu dibenamkan atau dibengkokan. besi tulangan dan peralatan kerja lainnya. 4) Terjatuh dari tempat pengecoran.1. 5.  Dinding galian harus diberi penahan dinding secukupnya. 5) Terluka akibat membersihkan tabung pengaduk beton.7.  Dipasang tangga yang sesuai dan memenuhi syarat dari segi kekuatanya. sepatu boot yang sesuai dan memenuhi syarat seta memperhatikan ketentuan-ketentuan berikut :  Sisa-sisa besi/kawat baja ditempatkan sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan bahaya. tanah galian harus dibuang pada tempat yang aman yang telah ditentukan.  Besi tulangan yang menjorok ke luar dari lantai atau dinding harus diberi pelindung. dilengkapi dengan helm.

misalnya dengan mengunci tombol dalam posisi terbuka melepaskan sikring-sikring atau dengan cara mematikan sumber tenaga. 15) Terjadi kecelakaan kerja ketika bekerja pada kedaan gelap atau malam hari akibat penerangan tidak cukup. semen dan air harus tidak menimbulkan debu yang beterbangan. pekerja harus menggunakan masker pernapasan. agregat dan air. 13) Terjadi kecelakaan akibat proses penumpahan adukan beton. 2) Semua gigi. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengecoran pada Pekerjaan Beton yaitu : 1) Pelaksanaan pengecoran harus dilakukan oleh tenaga terampil yang berpengalaman dan dalam melaksanakan pekerjaan. tindakan-tindakan pengamanan harus diambil untuk melindungi para pekerja di dalamnya.  Mulut pipa pengeluaran harus terikat kuat sehingga dapat mencegah gerakan bergeser. 6) Ketika beton sedang dituang dari bak muatan. 7) Pelaksanaan pencampuran aggregate.160 .  Diusahakan sedemikian rupa tidak boleh meletakkan beban di atas beton yang sedang mengeras.  Arus listrik harus dimatikan bila sedang tidak digunakan. 10) Bila menggunakan vibrator listrik. 72 . maka :  Dihubungkan ke tanah (earthed). 9) Pipa-pipa penyaiur uetori ke alat vibrator harus memmenuhi ketentuan sebagai berikut:  Hubungan pipa harus diikat dengan rantai pengaman atau cara lain yang efektif. 16) Kecelakaan akibat lantai kerja sementara roboh. 4) Operator mixer beton tidak diperkenankan menurunkan penyangga sebelum semua pekerja berada di tempat yang aman. harus memakai pakaian dan perlengkapan kerja sesuai dengan standar. pekerja harus berada pada jarak yang aman terhadap setiap percikan beton.6) Terluka akibat terkena percikan beton pada saat menuangkan beton dari pengaduk beton. alat penggetar dan water tanker. 8) Terluka akibat arus pendek atau tersengat aliran listrik ketika menggunakan vibrator listrik. 11) Bahan-bahan kering dari beton harus dicampur pada ruang yang tertutup :  Debu harus tersalur/terbuang ke luar. pengadukan beton. 7) Terjadi gangguan pada mata dan pendengaran akibat getaran vibrator dan debu pada saat mencampur semen. 12) Kecelakaan akibat robohnya cor beton. 10) Luka akibat penggunaan vibrator. 8) Pekerja yang menggunakan vibrator listrik harus ahli dan berpengalaman di bidangnya. 11) Gangguan kesehatan oleh debu akibat pencampuran beton. 5) Pada waktu membersihkan tabung pengaduk. 14) Terjadi kecelakaan atas orang luar yang masuk kedalam areal pekerjaan. 9) Kecelakaan akibat penyalur uetori ke alat vibrator. rantai-rantai dan roda pemutar dari pengaduk beton harus dilindungi sedemikian sehingga aman. dan getaran begitu juga terhadap pekerja.  Bagian-bagian yang penting harus cukup diberi isolasi.  Diusahakan sedemikian rupa bila beton mulai mengeras maka harus dilindungi terhadap arus air yang mengalirkan bahan-bahan kimia. 3) Penyangga pengaduk beton harus dilindungi oleh pagar pengaman untuk mencegah para pekerja lewat di bawahnya ketika alat yang bersangkutan sedang diangkat.

2. Menyiapkan penerangan apabila harus bekerja pada malam hari. maka para pekerja harus menggunakan alat pernapasan. 2) Kecelakaan akibat penyimpanan material. Pengoperasian alat pengaduk. sepatu boot dan helm) serta memenuhi syarat.160 .1 Pengukuran dan pematokan Pekerjaan Pengukuran dan Pematokan pada Pekerjaan Pemasangan Unit Pracetak mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Gangguan kesehatan atau gangguan fisik akibat pekerja tidak memakai perlengkapan kerja yang sesuai dengan syarat. misalnya rem. 5. 3) Terluka pada kaki atau tangan akibat terkena paku atau palu. Selama bekerja. 2) Harus ditunjuk seorang petugas keselamatan kerja yang bertanggung jawab mengawasi koordinasi pekerjaan yang dilakukan. operator tidak boleh lengah dan dilarang meninggalkan tempatnya selama mesin masih berjalan. Selama pengecoran papan acuan dan penumpunya harus dicegah terhadap kerusakan. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penyiapan pada Pekerjaan Pemasangan Unit Pracetak yaitu : 1) Mobilisasi dan pemasangan peralatan dari suatu lokasi asal ke tempat pekerjaan harus memperhatikan ketentuan-ketentuan yang berlaku dan dalam pengawasan orang yang ahli dibidangnya. 2) Kecelakaan atau tertabrak kendaraan pada saat melakukan pengukuran di jalan raya. tali penarik kendaraan. 3) Kecelakaan akibat peralatan.2 5. 73 . 2) Memasang rambu-rambu pada lokasi pekerjaan untuk melindungi personel yang bekerja dari kendaraan yang melintasi proyek dan menempatkan petugas bendera di semua tempat kegiatan pelaksanaan. Pekerjaan pemasangan unit pracetak 5. 3) Pekerja harus memakai pakaian dan perlengkapan kerja yang sesuai (Sarung tangan.7. 3) Peralatan yang akan digunakan perlu diperiksa terlebih dahulu apakah semua perlatan berfungsi dengan baik.7. 12) 13) 14) 15) 16) Bila debu tidak dapat terbuang.2. Lantai kerja sementara yang menahan pipa pemompa beton harus kuat untuk menumpu pipa yang sedang berisi dan mempunyai faktor pengaman sedikitnya 4. alat pemuat peralatan/crane dll. penggetar dan water tanker harus dilakukan oleh orang yang ahli dan berpengalaman dan harus selalu dijaga agar tidak ada orang luar maupun pekerja lain yang tidak berkepentingan berada di tempat pengecoran beton.2 Penyiapan Pekerjaan Penyiapan pada Pekerjaan Pemasangan Unit Pracetak mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Kecelakaan akibat mobilisasi material dan peralatan.7. Membatasi daerah pekerjaan pengecoran dengan pagar atau rambu yang informatif. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengukuran dan Pematokan pada Pekerjaan Pemasangan Unit Pracetak yaitu : 1) Pelaksanaan pengukuran dan pematokan harus dilakukan oleh pekerja yang terampil serta berpengalaman dibidangnya.

2) Pengemudi yang menjalankan peralatan untuk mengangkat di tempat terbuka harus dilindungi oleh semacam tenda atau ruang pengemudi yang harus memenuhi ketentuan sebagai berikut :  Terbuat dari bahan tahan api.  Tidak akan tergelincir dari tempat kedudukannya. Kerekan monorail harus mempunyai alat pengerem ( power operated brake). Derek/kran angkat menara yang bersumbu putar harus dikemudikan sesuai dengan peraturan yang dikeluarkan oleh pabriknya.  Mempunyai cukup lubang angina. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pemasangan atau Penempatan pada Pekerjaan Pemasangan Unit Pracetak yaitu : 1) Pemasangan peralatan untuk mengangkat harus memenuhi ketentuan sebagai berikut:  Harus dilakukan oleh orang yang ahli.  Sedemikian rupa sehingga operator terhindar dari bahaya akibat muatan.3 Pemasangan atau penempatan Pekerjaan Pemasangan atau Penempatan pada Pekerjaan Pemasangan Unit Pracetak mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Kecelakaan akibat mengangkat/menempatkan unit pracetak. kerekan tidak terguling. Konstruksi dongkrak harus dibangun sedemikian rupa sehingga muatan :  Tetap ditumpu pada setiap posisi.  Pemasangan harus stabil.  Dapat menjangkau alat-alat yang dipergunakan di ruang pengemudi.  Tempat duduk dan tempat berpijak yang cukup memadai dan harus terlindung dari getaran.  Dilengkapi dengan alat pengunci untuk mencegah gerakan tak sengaja yang dapat mencelakakan. 4) Kecelakaan akibat tertimpa benda jatuh/perancah rubuh. 74 .2. 3) Pekerja Jatuh dari ketinggian.5. dan beban tidak boleh melintas di atasnya.  Tidak dapat diturunkan tanpa pengawasan. Instruksi pemakaian yang dikeiuarkan oleh pabrik pembuat harus berada pada derek/kran angkat. atau alat penggulung.  Mempunyai ruang penglihatan yang luas untuk bagian yang sedang dikerjakan. tidak dapat tergeser dari tempat kedudukannya oleh muatan. tali-tali. 2) Kecelakaan akibat alat pengangkat. dapat melihat dengan jelas tali dan beban.  Dapat melindungi pengemudi dari pengaruh cuaca. Kerekan monorail harus dipasang sehingga bila baut utama pada roda gigi gantung patah. tandatanda/dan lain sebagainya kepada pekerja yang mengangkat atau menurunkan beban. Derek/kran angkat menara bersumbu putar tidak boleh digunakan di tempat yang banyak angin atau angin ribut dan bila perlu harus diberi anemometer (alat pengukur jurusan angin).7. Dongkrak hidrolik dan dongkrak yang digerakkan oleh tekanan angin (pneumatic) harus diberi alat pengaman untuk mencegah muatan jatuh mendadak bila silinder yang berisi cairan atau udara rusak. getaran atau retak lainnya.160 .  Sedemikian rupa sehingga pengemudi dapat melihat bagian daerah yang sedang dikerjakannya dengan jelas atau dapat berhubungan dengan telepon.  Mempunyai alat pemadam kebakaran yang sesuai serta alat-alat pengendali. Alat-alat pengendali peralatan untuk pengangkat harus :  Dibuat sedemikian rupa sehingga pengemudi yang berdiri atau duduk mempunyai ruang gerak yang cukup dan pandangan tidak terhalang.

 Mempunyai faktor keselamatan yang berhubungan dengan metode penggunaannya.  Mempunyai posisi yang tepat untuk mengangkat. Pengait untuk mengangkat harus terbuat dari besi tempa yang dipanaskan dan dipadatkan atau material yang sama kuatnya. Semua alat penggantung harus terbuat dari rantai. pengait-pengait.160 .  Salah satu mata rantai memanjang. harus diperiksa secara berkala dan teratur oleh seorang yang berwenang dan apa yang dijumpainya dalam pemeriksaan yang dilakukannya harus dimasukkan ke dalam surat sertifikat (certificate) atau dalam register khusus. Pengait harus dilengkapi dengan kunci pengaman yang bentuknya sederhana sedemikian rupa sehingga dapat menghindarkan tergelincirnya beban. Roda kerekan/penggerak harus terbuat dari bahan metal yang tahan hentakan (besi lunak atau material lain yang sama sifatnya. 3) Diusahakan sedemikian rupa para pekerja yang melakukan penyetelan diatas ketinggian tertentu memakai tali/sabuk pengaman.  Bagian-bagian yang bekerja diberi pelumas yang baik. Semua bagian dari mesin/motor yang bergerak harus terlindung aman. 75 .  Ada kerusakan-kerusakan lain yang ditemui. lebih dari 5% panjangnya sendiri seluruhnya.5 kali beban maksimal. pada waktu dongkrak bekerja.Pada waktu mengangkat dengan dongkrak.  Baut-baut dan mur-mur sudah terikat kuat.  Ditempatkan di ternpat-tempat yang tidak ada benda-benda penghalang. harus terbuat dari serat manila yang kualitas tingggi atau dari bahan serat alamiah atau sintetis yang mempunyai ciri-ciri dan kualitas yang sama. sepatu boot dan helm sesuai ketentuan atau dibawahnya dipasang jaring pengaman. Tali-tali serat untuk alat-alat pengangkat. bertekukan dan bertiras. Kabel-kabel kawat baja untuk alat-alat pengangkat harus :  Terbuat dari kawat baja yang kuat. kecuali bila dalam pemasangan dan penempatan sudah diperhitungkan keamanannya. cincin gantung atau roda gigi yang digunakan untuk mengangkat atau menurunkan beban atau sebagai alat penggantung.  Terdiri atas satu panjang ( one length ). Sebelum menghidupkan mesin harus diperiksa untuk menjamin keselamatan bekerja dan khususnya harus diperiksa :  Bahwa semua telah distel baik. sarung tangan. kili-kili dan ujung-ujung mata rantai narus terbuat dari bahan yang sama. Semua rantai.  Semua alat pelindung berada di tempatnya dan dapat menjamin keselamatan. Rantai-rantai yang digunakan untuk alat mengangkat harus diganti bila :  Rantai menjadi tidak aman karena beban yang melebihi maksimal atau karena pemanasan yang tidak sesuai.  Tidak terdapat bagian yang betonjolan. dongkrak harus :  Dipasang pada alas yang kuat. tali kawat baja atau tali serat dan harus mempunyai kekuatan yang memadai pada rantai yang dipergunakan untuk mengangkat cincin-cincin. tetapi paling sedikit 3. tali. 4) Pada saat pemasangan dilarang ada orang dibawahnya.

Pengadaan dan Penarikan yaitu: 1) Pelaksanaan pengukuran dan pematokan harus dilakukan oleh pekerja yang terampil serta berpengalaman dibidangnya.3. 3) Landasan untuk mendukung gaya prategang selama operasi pra tegang harus dirancang dan dibuat untuk menahan gaya-gaya yang timbul selama operasi prategang.160 . tumpuan roboh). 3) Kecelakaan akibat pelepasan dongkrak. 3) Kecelakaan akibat landasan kabel yang tidak kuat (rubah. Pengadaan dan Penarikan yaitu : 1) Sebelum kegiatan dimulai peralatan yang akan digunakan (alat pengangkat. 76 . Pengadaan dan Penarikan mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Gangguan kesehatan atau gangguan fisik akibat pekerja tidak memakai perlengkapan kerja yang sesuai dengan syarat. 3) Pekerja harus memakai pakaian dan perlengkapan kerja yang sesuai (Sarung tangan. 2) Kecelakaan akibat dongkrak yang dipakai sebagai penunjang operasi penarikan kabel (dongkrak jebol.3 Penarikan kabel Pekerjaan Penarikan Kabel pada Pekerjaan Pemasangan Kabel Prategang.3. 2) Kabel-kabel diperiksa oleh orang yang ahli dibidangnnya.3 Pekerjaan pemasangan kabel prategang.7. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penarikan Kabel pada Pekerjaan Pemasangan Kabel Prategang.1 Pengukuran dan pematokan Pekerjaan Pengukuran dan Pematokan pada Pekerjaan Pemasangan Kabel Prategang. 2) Kecelakaan akibat kabel-kabel yang akan ditarik. pengadaan dan penarikan 5.5. Pengadaan dan Penarikan mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Kecelakaan akibat alat yang digunakan (memasang kabel. 5. Pengadaan dan Penarikan mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Kecelakaan pada saat operasi penarikan kabel. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengukuran dan Pematokan pada Pekerjaan Pemasangan Kabel Prategang. 3) Terluka pada kaki atau tangan akibat terkena paku atau palu. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penyiapan pada Pekerjaan Pemasangan Kabel Prategang. meleset. 2) Kecelakaan atau tertabrak kendaraan pada saat melakukan pengukuran di jalan raya.7.7. tertimpa bahan bangunan). 2) Memasang rambu-rambu pada lokasi pekerjaan untuk melindungi personel yang bekerja dari kendaraan yang melintasi proyek dan menempatkan petugas bendera di semua tempat kegiatan pelaksanaan. 4) Kecelakaan akibat penggunaan crane/dongkrak/alat pengangkat dan alat bantu lain serta manusia.2 Penyiapan Pekerjaan Penyiapan pada Pekerjaan Pemasangan Kabel Prategang. dongkrak dll) diperiksa/dikalibrasi oleh orang yang ahli dibidangnya.7.3. penarikan kabel). sepatu boot dan helm) serta memenuhi syarat. 5. Pengadaan dan Penarikan yaitu : 1) Operasi penarikan kabel harus dikerjakan oleh tenaga yang terlatih dan berpengalaman dibidangnya.

3) Luka di tangan akibat kawat baja pada saat mengikat tulangan. 3) Luka akibat sisa-sisa besi/baja tulangan. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pemasangan pada Pekerjaan Penulangan yaitu : 1) Pembengkokan tulangan menggunakan peralatan yang memenuhi persyaratan.4. 6) Luka akibat sisa-sisa (potongan) tulangan maupun kawat baja. 5) Pengukuran atau kegiatan lain harus dilaksanakan dari samping dongkrak atau tepat lain yang cukup aman. 5.1 Pengukuran dan pemotongan Pekerjaan Pengukuran dan Pemotongan pada Pekerjaan Penulangan mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Pada waktu pengukuran harus diperhatikan agar tidak menggangu penguna jalan /sesama pekerja (resiko tertabrak kendaraan). 7) Terluka akibat pekerja dan alat.2 Pemasangan Pekerjaan Pemasangan pada Pekerjaan Penulangan mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terjepit saat mengangkat tulangan.  Mempunyai posisi yang tepat untuk mengangkat. 3) Sisa-sisa baja tulangan dan kawat baja pengkiat ditempatkan sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu/membahayakan. Dongkrak hidrolik dan dongkrak yang digerakkan oleh tekanan angin (pneumatic) harus diberi alat pengaman untuk mencegah muatan jatuh mendadak bila silinder yang berisi cairan atau udara rusak. 2) Diusahakan sedemikian rupa pekerja yang melakukan pekerjaan pembengkokan tulangan mempunyai jarak yang cukup sesama pekerja. 4) Proses pelepasan dongkrak harus dilakukan secara bertahap dan menerus. Luka akibat membengkokan tulangan baja/besi. 2) Luka karena jarak antar sesama pembuat tulangan. 77 . Sesaaat sebelum penarikan kabel tanda-tanda yang cukup jelas harus terpasang pada kedua ujung unit tersebut untuk memperingatkan agar orang tidak mendekati tempat tersebut. 2) Para pekerja menggunakan sarung tangan yang sesuai.4. 4) Kecelakaan akibat tanah longsor/benda jatuh Jika pemasangan tulangan dibawah permukaan tanah. 2) Terjepit alat pemotong besi/baja tulangan. Pada waktu pengukuran harus diperhatikan agar tidak menggangu penguna jalan.7. 5) Kecelakaan akibat tulangan runtuh jika pemasangan tulangan dilakukan pada ketinggian tertentu. Tenaga-tenaga kerja yang melakukan pemotongan baja tulangan harus mempunyai jarak yang cukup antara sesamanya. Pada waktu mengangkat dengan dongkrak.7. pada waktu dongkrak bekerja. 3) Landasan yang menahan beban gaya prategang diberi perancah yang sesuai dan dicek faktor keamanannya.7. Pemotongan tulangan dilakukan pada tempat yang aman. dongkrak harus :  Dipasang pada alas yang kuat. 5.  Ditempatkan di tempat-tempat yang tidak ada benda-benda penghalang.160 .4 Pekerjaan penulangan 5. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengukuran dan Pemotongan pada Pekerjaan Penulangan yaitu : 1) Pengukuran dilakukan menggunakan meteran yang sesuai dengan standar.2) Selama proses penarikan kabel tidak seorangpun berdiri dimuka dongkrak.

Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengukuran dan Pemotongan pada Pekerjaan Baja Struktur yaitu : 1) Pekerja diberi perlidungan memakai sepatu boot. kerucut lalu lintas. memindahkan baja.5. 2) Diperlukan rambu untuk melindungi personel yang berkerja dari kendaraan yang melintas lokasi proyek. 5. maka tanah perlu memakai dinding penahan tanah yang sesuai. 3) Diusahakan sedemikian rupa proses pemindahan baja/pengangkatan dengan alat takel atau alat lainnya dilakukan secara hati-hati dan oleh orang yang ahli dibidangnya. Menyiapkan tangga yang sesuai dan aman.5. Pabrikasi bisa dilakukan oleh pabrik pembuat jembatan (tinggal memasang saja). lampu lalu lintas praktis (portable).2 Pabrikasi Pekerjaan Pabrikasi pada Pekerjaan Baja Struktur mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Resiko kecelakaan akibat pabrikasi.1 Pengukuran dan pemotongan Pekerjaan Pengukuran dan Pemotongan pada Pekerjaan Baja Struktur mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Kecelakaan akibat pemotongan baja dengan menggunakan mesin potong atau las listrik (luka bakar. helm kaca mata yang sesuai. lecet. papan rambu stop/go. Diusahakan dalam proses penyambungan dilakukan dengan teliti dan hati-hati.3 Pengelasan Pekerjaan Pengelasan pada Pekerjaan Baja Struktur mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Potensi kecelakaan terhadap mata dari mesin las. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pabrikasi pada Pekerjaan Baja Struktur yaitu : 1) Proses pabrikasi dilakukan secara terpisah dan ditempatkan secara khusus.3) Diusahakan sedemikian rupa pada saat pengikatan baja tulangan menggunakan sarung tangan yang sesuai. sarung tangan. luka gores. kendaraan yang sedang dijalankan.5 Pekerjaan baja struktur 5. 4) Jika pemasangan tulangan dibawah permukaan tanah.7. 7) Para pekerja menggunakan helm. menyambung. 2) Luka bakar. 78 . sarung tangan dan sepatu boot yang sesuai.7. Diperlukan antara lain rambu pengontrol lalu lintas satu jalur. 5.7.5. 2) Proses pabrikasi harus terhindar dari kecelakaan yang diakibatkan sesama pekerja ataupun yang diakibatkan oleh alat atau bahan. Diberi perlindungan atau tanda/rambu yang menunjukan ada pekerjaan penulangan. 5. 6) Diusahakan sedemikian rupa sisa-sisa potongan baja tulangan dan kawat baja ditempatkan pada tempat yang sesuai. tertimpa potongan baja). 3) Kecelakaan pada saat pemindahan baja/pengangkatan dengan alat takel atau alat lainnya.160 . mengelas dll. 5) Apabila penulangan dilakkan pada ketinggian tertentu maka perancah yang digunakan harus sesuai dan aman.7. 2) Tertabrak kendaraan pada saat pengukuran. 2) Kecelakaan yang diakibatkan oleh sesama pekerja.

kecuali apabila telah diarnbil tindakan keamanan yang memadai. Percikan bunga api pada pekerja lain.potongan / pecahan-pecahan dari badan.  Permukaan luar penegang elektroda las busur yang dioperasi kan denga tangga temasuk penjepitnya (jaw) haras uiberi isolasi yang efektif.  Hanya kabel untuk pekerjaan berat (heavy duty) dengan isolasi yang tidak pecah dapat digunakan.  Kabel-kabel harus disangga agar tidak menimbulkan bahaya atau halangan.160 . tabung gas. (exhaust ventilation) atau. Kecelakaan akibat sesama pekerja. 6) Tindakan pencegahan harus dilaksanakan untuk melindungi agar orang yang melewati dekat pengelasan.  Penghantar elektroda atau kabel-kabel tidak bocor terlalu panjang atau terlalu pendek dari yang diperlukan untuk bekerja. atau di dekat bahan yang mudah meledak atau serbuk yang mudah terbakar.  Menjamin bahwa orang lain tidak tersentuh oleh pecahan-pecahan. gas atau penguapan yang mungkin terjadi. yang apabila dibuka langsung memutus semua arus listrik dari sumber tenaga dengan ketentuan sebagai berikut :  Arus las listrik harus dirancang sedemikian rupa untuk mencegah transmisi tegangan tinggi dari sumber tenaga ke elektroda las.  Dengan alat pelindung pernafasan. kabel dan penghubung kabel yang digunakan dalam jaringan listrik pada bagian Supplynya harus diisolasi secara efektif. tidak terkena bahaya bunga api dan radiasi. 79 . topi baja dan kaca mata pelindung dengan lensa penyaring yang cocok. Alat pemadam api yang cocok harus disiapkan untuk penggunaan sewaktu-waktu di tempat di mana pengelasan sedang dilakukan. Tindakan pencegahan harus dilakukan.  Membersihkan potongan . 5) Pekerja yang membersihkan sisa-sisa logam dan kerak yang melekat di badan dan sebagainya harus :  Memakai sarung tangan dan kaca mata pelindung atau penutup muka. agar uap yang dapat menyala tidak memasuki daerah kerja. Arus pendek. Jika pengelasan atau pemotongan sedang dilakukan pada bahan yang mengandung racun atau bahan yang berbahaya maka tindakan pencegahan yang cukup keras dilakukan untuk melindungi pekerja dari asap/uap :  Yang keluar dari lubang angin pembuang. Pengelasan dilakukan oleh orang yang ahli dibidangnya. 4) Untuk menghindari resiko bahaya kecelakaan sebelum melakukan pengelasan di periksa dengan seksama alat-alat yang digunakan untuk pengelasan. 2) Pekerja las harus memakai pakaian yang bebas dari lemak/ semir.  Penghantar balik arus listrik harus langsung dihubungkan dengan benda kerjanya. dan secara mekanik dihubungkan dengan aman kepadanya atau kepada bangku kerja dan sebagainya dan kepada benda-benda logam yang berdekatan. selang-selang dll. atau dipasang di dekatnya. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengelasan pada Pekerjaan Baja Struktur yaitu : 1) Pekerja-pekerja las harus memakai pakaian pelindung tahan api dan perlengkapan seperti kaos tangan tahan api dan baju las/apron. 7) Mesin las harus dilengkapi dengan saklar pada rangka mesin.  Pada mesin las busur (arc-welding machine) yang dioperasikan dengan tangan. minyak dan bahanbahan lain yang mudah terbakar. Kecelakaan akibat alat pemotong/mesin las. 3) Pengerjaan pengelasan dan pemotongan tidak boleh dilakukan di dekat tempat penyimpanan bahan yang mudah terbakar.3) 4) 5) 6) 7) Kebakaran.

kursi pengawas dan peralatan lain yang digantung pada alat pengangkat ( Lifting Apliances). Bagian-bagian konstruksi baja tak boleh ditarik dengan paksa sewaktu diangkat jika hal itu dapat menimbulkan bahaya. sepatu boot dan bila bekerja pada ketinggian tertentu juga harus dilengkapi dengan sabuk pengaman. transportasi.  Pekerjaan las busur dan las potong yang dilaksanakan di tempat dimana selain tukang las juga ada orang yang bekerja atau berjalan melewatinya harus ditutup dengan tabir pelindung tetap atau tabir pelindung yang dapat dipindah. pelataran kerja tetap. melubangi atau cara-cara lain semacamnya.4 Erection Pekerjaan Erection pada Pekerjaan Baja Struktur mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Kecelakaan akibat alat pengangkat/crane/takel. Sebelum melakukan proses erection semua peralatan dan perlengakapan yang digunakan diperiksa secara seksama oleh orang yang ahli dibidangnya.  Pantulan cahaya. pemasangan dan penyimpanan bagian-bagian konstruksi baja harus disiapkan dan instruksi tersebut harus selalu tersedia di tempat kerja. 4) Kecelakaan pada saat pengiriman bahan. 2) Proses erection baja tak boleh dikerjakan sewaktu ada angin ribut.7. 5) Kecelakaan oleh runtuhnya perancah. 3) Kejatuhan benda/lepasnya struktur /tertimpa pada proses erection. pelataran kerja ( platform) bak pengangkut. 80 . Bagian-bagian konstruksi yang menahan gaya-gaya tidak boleh diperlemah penampangnya dengan jalan memotong. 5. harus diamankan dengan mengikat atau menyingkirkan bagian-bagian tersebut.5. tali dan sabuk pengaman. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Erection pada Pekerjaan Baja Struktur yaitu : 1) Harus diusahakan sedemikian rupa agar keselamatan dari para pekerja. Tenaga kerja tidak boleh bekerja di dekat bangunan perancah sewaktu angin kencang. konstruksi baja dijamin dengan cara-cara antara lain sebagai berikut : menyediakan tangga.160 . Sebelum bagian-bagian konstruksi baja diangkat. 5) Penggunaan perancah untuk erection harus dihitung dengan faktor pengaman (faktor safety) sebesar 4 kali beban maksimal dan harus diberi tangga pengaman untuk tempat berjalan dan lain-lain fasilitas yang aman. tindakan pengamanan harus dilakukan terhadap bagian-bagian yang dapat jatuh. 4) Harus disiapkan instruksi-instruksi mengenai cara pengangkatan ( lifting). jala (jaring) pengaman penahan orang jatuh. gang. 2) Potensi kecelakaan para pekerja yang melakukan pengencangan baut dan mur pada proses erection. 6) Potensi kecelakaan akibat penggunaan dongkrak. 6) Alat pengangkat tidak boleh digunakan sebelum diperiksa dan diberi sertifikat serta diuji oleh orang yang berwenang. Ketika proses erection sedang berjalan daerah di bawah tempat kerja itu harus dipagari atau dijaga. jika perlu dicat atau dengan cara lain yang serupa. tali pengaman atau sabuk pengaman dan cara-cara pengaman yang lain. Para pekerja yang melakukan pengencangan baut dan mur pada proses erection dilengkapi dengan helm. angin kencang atau dalam keadaan licin. Penghubung arus listrik harus tahan air. 3) Bagian-bagian konstruksi baja harus dilengkapi dengan peralatan untuk perancah gantung.  Dinding atau tabir pelindung permanen atau sementara harus dapat menyerap sinar yang berbahaya dari alat pengelas dan mencegah. Kerangka batang baja yang sedang dipasang harus disangga dan dikopel secukupnya.

7. 5. pelataran kerja tetap.6. angin kencang atau dalam keadaan licin. 2) Proses pabrikasi harus terhindar dari kecelakaan yang diakibatkan sesama pekerja ataupun yang diakibatkan oleh alat atau bahan.1 Pabrikasi Pekerjaan Pabrikasi pada Pekerjaan Pemasangan Jembatan Baja mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Resiko kecelakaan akibat pabrikasi. Pekerja yang melakukan pengecatan menggunakan sarung tangan untuk melindungi kulit dan menggunakan cream. 5. 2) Jika pegecatan dilakukan pada tempat yang tinggi maka pekerja diberi sabuk pengaman. 2) Proses erection baja tak boleh dikerjakan sewaktu ada angin ribut.6 Pekerjaan Pemasangan Jembatan Baja 5.5 Pengecatan Pekerjaan Pengecatan pada Pekerjaan Baja Struktur mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Luka pada tangan akibat sistem pencelupan panas pada proses galvanize. 2) Terjatuh pada saat pengecatan pada ketinggian tertentu. 3) Kecelakaan pada saat pemindahan baja/pengangkatan dengan alat takel atau alat lainnya Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pabrikasi pada Pekerjaan Pemasangan Jembatan Baja yaitu : 1) Proses pabrikasi harus dilakukan secara terpisah dan ditempatkan secara khusus.160 .7. 2) Kecelakaan yang diakibatkan oleh sesama pekerja. tali dan sabuk pengaman. 3) Kejatuhan benda/lepasnya struktur /tertimpa pada proses erection. gang.2 Erection Pekerjaan Erection pada Pekerjaan Pemasangan Jembatan Baja mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Kecelakaan akibat alat pengangkat/crane/takel. 2) Potensi kecelakaan para pekerja yang melakukan pengencangan baut dan mur pada proses erection. 6) Potensi kecelakaan akibat penggunaan dongkrak. 5) Kecelakaan oleh runtuhnya perancah. 3) Diusahakan sedemikian rupa proses pemindahan baja/pengangkatan dengan alat takel atau alat lainnya dilakukan secara hati-hati dan oleh orang yang ahli dibidangnya. kursi pengawas dan peralatan lain yang digantung pada alat pengangkat (Lifting Apliances). pelataran kerja ( platform) bak pengangkut. jala (jaring) pengaman penahan orang jatuh. 4) Kecelakaan pada saat pengiriman bahan. menyambung. mengelas dll.6. Sebelum melakukan Proses erection semua peralatan dan 81 .5. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengecatan pada Pekerjaan Baja Struktur yaitu : 1) Proses pengecatan / proses galvanisasi dengan sistem pencelupan panas harus dilakukan oleh orang yang ahli dibidangnya dan dilakukan secara hati-hati.5. memindahkan baja.7.7. konstruksi baja dijamin dengan cara-cara antara lain sebagai berikut : Menyediakan tangga. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Erection pada Pekerjaan Pemasangan Jembatan Baja yaitu : 1) Harus diusahakan sedemikian rupa agar keselamatan dari para pekerja.

Kerangka batang baja yang sedang dipasang harus disangga dan dikopel secukupnya. 2) Jika pegecatan dilakukan pada tempat yang tinggi maka pekerja diberi sabuk pengaman.7 Pekerjaan pembuatan struktur kayu jembatan 5.3 Pengecatan Pekerjaan Pengecatan pada Pekerjaan Pemasangan Jembatan Baja mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Luka pada tangan akibat sistem pencelupan panas pada proses. Penggunaan perancah untuk erection harus dihitung dengan faktor pengaman (faktor safety) sebesar 4 kali beban maksimal dan harus diberi tangga pengaman untuk tempat berjalan dan lain-lain fasilitas yang aman.1 Pengukuran.7. Sebelum bagian-bagian konstruksi baja diangkat. sepatu boot dan bila bekerja pada ketinggian tertentu juga harus dilengkapi dengan sabuk pengaman. tangan menggunakan sarung tangan yang sesuai dan menggunakan palu yang proporsional.7. Tenaga kerja tidak boleh bekerja di dekat bangunan perancah sewaktu angin kencan. pemasangan dan penyimpanan bagian-bagian konstruksi baja harus disiapkan dan instruksi tersebut harus selalu tersedia di tempat kerja. 5. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengecatan pada Pekerjaan Pemasangan Jembatan Baja yaitu : 1) Proses pengecatan / proses galvanisasi dengan sistem pencelupan panas harus dilakukan oleh orang yang ahli dibidangnya dan dilakukan secara hati-hati. pemotongan dan pematokan Pekerjaan Pengukuran. Harus disiapkan instruksi-instruksi mengenai cara pengangkatan ( lifting). tindakan pengamanan harus dilakukan terhadap bagian-bagian yang dapat jatuh. 82 . Alat pengangkat tidak boleh digunakan sebelum diperiksa dan diberi sertifikat serta diuji oleh orang yang berwenang. 2) Luka akibat kena pukul palu.6. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengukuran. luka akibat kena paku. Pemotongan dan Pematokan pada Pekerjaan Pembuatan Struktur Kayu Jembatan mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Kecelakaan akibat pengukuran yang dilakukan di jalan raya. 2) Diusahakan sedemikian rupa agar waktu memasang patok. 5.7. Jika pemotongan menggunakan gergaji manual atau alat potong otomatis/listrik dilakukan secara hati-hati. harus diamankan dengan mengikat atau menyingkirkan bagian-bagian tersebut.160 . Pekerja yang melakukan pengecatan menggunakan sarung tangan untuk melindungi kulit dan menggunakan cream. Ketika proses erection sedang berjalan daerah di bawah tempat kerja itu harus dipagari atau dijaga. 2) Terjatuh pada saat pengecatan pada ketinggian tertentu.7. Pemotongan dan Pematokan pada Pekerjaan Pembuatan Struktur Kayu Jembatan yaitu : 1) Memasang rambu-rambu pada lokasi pekerjaan untuk melindungi personil yang bekerja dari kendaraan yang melintasi proyek dan menempatkan petugas bendera di semua tempat kegiatan pelaksanaan.3) 4) 5) 6) perlengakapan yang digunakan diperiksa secara seksama oleh orang yang ahli dibidangnya. luka akibat kena gergaji. transportasi. Para pekerja yang melakukan pengencangan baut dan mur pada proses erection dilengkapi dengan helm.

pada saat menyambung. paku atau pasak dilakukan secara hati-hati. 2) Diusahakan sedemikian rupa jika penggergajian menggunakan Gergaji bundar. tiang-tiang bulat atau benda-benda semacamnya itu sedang digergaji. pemindahan dan penyambungan dilakukan sedemikian rupa sehingga terhindar dari resiko bahaya kecelakaan. 2) Terhimpit/tergencet pada saat pengangkatan. pemindahan meterai/bahan struktur jembatan.  Melindungi operator dari kecelakaan akibat sentuhan dengan gergaji dan dari pecahan-pecahan kayu atau gigi gergaji yang patah. Diusahakan sedemikan rupa kayu sisa-sisa gergajian ditempatkan secara aman agar tidak mengganggu dan membahayakan.160 . Jika penggergajian menggunakan gergaji manual diusahakan sedemikian rupa tidak menggangu pekerja lain dan mempertahankan jarak yang cukup dengan pekerja lain.2 Penggergajian Pekerjaan Penggergajian pada Pekerjaan Pembuatan Struktur Kayu Jembatan mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Potensi bahaya kecelakaan akibat gergaji (mesin/manual) pada saat memotong kayu. Diusahakan sedemikian rupa Jika penggergajian menggunakan gergaji pita semua bagian bilah gergajinya harus ditutup sampai dengan di atas bagian pemotongnya dan harus terbungkus dengan pelindung yang kuat dari lempengan metal atau bahan sejenisnya yang mempunyai kekuatan yang senilai (sama). Jika penggergajian dilakukan pada ketinggian maka para pekerja diberi perlindungan yang cukup misalnya dengan sabuk pengaman. memperkuat sambungan. 83 . apabila hal itu dapat mengakibatkan terjadinya kecelakaan. alat-alat itu harus digunakan untuk mencegah terjadinya gejala berputar atau terjungkal. 2) Pengangkatan. 3) Untuk mencegah resiko bahya kecelakan tindakan pencegahan harus diambil untuk mencegah agar bahan-bahan yang sedang digergaji tidak menendang ke belakang.7.  Mudah diatur. Apabila kayu bulat.3 Pabrikasi Pekerjaan Pabrikasi pada Pekerjaan Pembuatan Struktur Kayu Jembatan mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Luka akibat kena palu. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penggergajian pada Pekerjaan pembuatan Struktur Kayu Jembatan yaitu : 1) Jika menggunakan gergagi bundar para pekerja tidak diperkenankan mengatur bilah/pisau gergaji atau kedudukannya pada waktu gergaji yang bersangkutan sedang bekerja. 5. 3) Potensi bahaya kecelakaan akibat kayu yang digergaji.7. maka gergaji budar haruslah selalu dilengkapi dengan tutup pelindung. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pabrikasi pada Pekerjaan Pembuatan Struktur Kayu Jembatan yaitu : 1) Diusahakan sedemikian rupa proses pabrikasi penggunaan palu. kena gergaji.7. dengan ketentuan sebagai berikut :  Menutupi seluas mungkin segala bagian gergaji yang tampak di atas meja.5.7. 2) Potensi bahaya kecelakaan akibat alat gergaji. Para pekerja diusahakan sedemikian rupa menggunakan sarung tangan yang sesuai.

5.2 Pabrikasi bronjong Pekerjaan Pabrikasi Bronjong pada Pekerjaan Pembuatan Gabion (Bronjong) mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Kaki/tangan tertimpa batu.7. 5.7. pemotongan kawat dan pematokan Pekerjaan Pengukuran. 2) Pekerja yang melakukan pengecatan menggunakan sarung tangan untuk melindungi kulit dan menggunakan cream.7.8.8.5. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pabrikasi Bronjong pada Pekerjaan Pembuatan Gabion (Bronjong) yaitu : 1) Usahakan sedemikian rupa agar waktu menyusun batu/memecah batu dan memasukan ke dalam bronjong kawat maupun pasangan batu kosong pada landasan tidak membahayakan serta menggunakan sarung tangan. 3) Terjatuh pada saat pengecatan pada tempat yang tinggi. 3) Diusahakan sedemikian rupa agar waktu memasang patok. tangan menggunakan sarung tangan yang sesuai dan menggunakan palu yang proporsional.1 Pengukuran.160 .7. 2) Usahakan sedemikian rupa pada saat memotong kawat dilakukan hati-hati agar tidak terjepit/terluka. Pemotongan Kawat dan Pematokan pada Pekerjaan Pembuatan Gabion (Bronjong) yaitu : 1) Memasang rambu-rambu pada lokasi pekerjaan untuk melindungi personil yang bekerja dari kendaraan yang melintasi proyek dan menempatkan petugas bendera di semua tempat kegiatan pelaksanaan. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengukuran. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengecatan pada Pekerjaan Pembuatan Struktur Kayu Jembatan yaitu : 1) Diusahakan sedemikian rupa para pekerja yang melakukan pengecatan menggunakan masker pernapasan. 2) Pemotongan kawat menggunakan tang/gegep atau alat potong lainnya harus dilakukan secara hati-hati. 3) Jika pengecatan dilakukan ditempat yang tinggi maka para pekerja diberi perlindungan yang cukup serta dipasang sabuk pengaman.8 Pekerjaan pembuatan gabion (bronjong) 5.4 Pengecatan Pekerjaan Pengecatan pada Pekerjaan Pembuatan Struktur Kayu Jembatan mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Asap Cat (sesak napas). Pemotongan Kawat dan Pematokan pada Pekerjaan Pembuatan Gabion (Bronjong) mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Potensi bahaya pada saat pengukuran dijalan raya/tertabrak kendaraan. 2) Luka/gatel/noda pada tangan akibat bahan pengawet. 84 . 3) Luka akibat terpukul palu pada saat membuat patok. 2) Luka pada tangan akibat pembentangan kawat bronjong.7. 2) Luka akibat memotong kawat.

6) Apabila orang sedang bekerja pada ketinggian yang berbeda.8.8. balincong. harus disediakan konstruksi penyangga yang cukup. Apabila ada sambungan kabel diberi isolasi yang cukup aman. sarung tangan. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pemompaan pada Pekerjaan Pembuatan Gabion (Bronjong) yaitu : 1) Kabel-kabel yang mengalirkan listrik diberi perlindungan secukupnya.7. sarana yang cukup seperti papan lantai harus disediakan untuk mencegah orang yang ada dibawahnya tertimpa alat atau benda yang terjatuh dari atas. helm yang sesuai. dan konduktor listrik. 4) Runtuhnya lereng galian. 3) Potensi luka akibat penimbunan dengan menggunakan cangkul/alat penimbun lain.5. 6) Tertimpa benda jatuh dari atas. 2) Kecelakaan akibat terkena cangkul/alat penggali alin dari sesama pekerja. 2) Kaki tergenang air/lecet.7. 3) Diusahakan sedemikian rupa penggalian yang dilakukan dimalam hari menggunakan lampu penerangan yang cukup.8. yang dapat menimbulkan bahaya selama waktu pekerjaan.3 Penggalian Pekerjaan Penggalian pada Pekerjaan Pembuatan Gabion (Bronjong) mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Potensi bahaya akibat pipa gas. 4) Terpeleset pada saat menurunkan slang pompa. dll). 5. 2) Para pekerja dilengkapi dengan sepatu boot/karet. 3) Jika perlu dilakukan pembuatan dinding penahan rembesan. pipa air. 5) Apabila tanah tidak menjamin tempat berpijak yang aman. 4) Lakukan penyumbatan dan pemompaan agar air dapat keluar dari lokasi pemasangan gabion. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penggalian pada Pekerjaan Pembuatan Gabion (Bronjong) yaitu : 1) Sebelum pekerjaan di mulai pada setiap tempat galian pemberi kerja harus melakukan pemeriksaan terlebih dahulu atas segala instalasi di bawah tanah seperti saluran pembuangan.7. dan konduktor listrik. 2) Luka akibat kawat/batu pada tangan/kaki. yang terkena galian.160 . pipa air. 2) Diusahakan agar menjaga jarak antar pekerja jika penggalian mengunakan tenaga manusia dengan alat bantu (Cangkul. pipa gas. 5.4 Pemompaan Pekerjaan Pemompaan pada Pekerjaan Pembuatan Gabion (Bronjong) mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Kena setrum. 3) Terkena cangkul sendiri/ luka akibat lainnya jika penggalian dilakukan malam hari. 5) Terpeleset pada saat menggali. 4) Penggalian pada lereng dan tebing jalan diusahakan agar tetap mempertahankan kemiringan lereng. 3) Runtuhnya dinding. 85 .5 Pemasangan Pekerjaan Pemasangan pada Pekerjaan Pembuatan Gabion (Bronjong) mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terhimpit batu.

10.7. 4) Pemancangan mengikuti prosedur yang berlaku. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengukuran. 5. Pemotongan dan Pematokan pada Pekerjaan Pemasangan Pondasi Cerucuk mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Kecelakaan akibat pengukuran yang dilakukan di jalan raya.10 Pekerjaan dinding turap kayu tanpa pengawetan 5. 2) Luka akibat meruncingkan bagian bawah cerucuk.9. 3) Pada saat pembentangan keranjang beronjong dilakukan dengan hati-hati agar tehindar dari resiko bahaya kecelakaan.7.9. luka akibat kena gergaji. 5. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pemancangan pada Pekerjaan Pemasangan Pondasi Cerucuk yaitu : 1) Para pekerja harus diberi sumbat telinga.160 . 4) Penimbunan dengan menggunakan cangkul/alat penimbun lain diusahakan sedemikian rupa agar terhindar dari resiko kecelakaan dan para pekerja mempunyai jarak yang cukup.7.1 Pengukuran.9 Pekerjaan pemancangan pondasi cerucuk 5. 2) Luka akibat kena pukul palu. 4) Mengangkat bahan pancang.Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pemasangan pada Pekerjaan Pembuatan Gabion (Bronjong) yaitu : 1) Diusahakan sedemikian rupa pemasangan bronjong menghidari resiko bahaya kecelakaan. 2) Pelaksanaan pengukuran. luka akibat kena paku. 2) Diusahakan sedemikian rupa peruncingan bagian bawah dilakukan dengan hati-hati dan para pekerja menggunakan sarung tangan. 5. 2) Para pekerja diusahakan sedemikian rupa menggunakan alat pengaman. Pemotongan dan Pematokan pada Pekerjaan Dinding Turap Kayu Tanpa Pengawetan mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Kecelakaan akibat pengukuran yang dilakukan di jalan raya.1 Pengukuran.2 Pemancangan Pekerjaan Pemancangan pada Pekerjaan Pemasangan Pondasi Cerucuk mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Gangguan pendengaran akibat suara pemancangan. 2) Luka akibat kena pukul palu. 3) Melesetnya palu/hammer pancang. pemotongan dan pematokan Pekerjaan Pengukuran.7. luka akibat kena gergaji.7. 3) Pemancangan harus dipancang secara simetris untuk menghindari resiko bahaya kecelakaan. pemotongan dan pematokan Pekerjaan Pengukuran. pemotongan dan pematokan harus dilakukan oleh pekerja yang terampil dan berpengalaman. 86 . Pemotongan dan Pematokan pada Pekerjaan Pemasangan Pondasi Cerucuk yaitu : 1) Memasang rambu-rambu pada lokasi pekerjaan untuk melindungi personil yang bekerja dari kendaraan yang melintasi proyek dan menempatkan petugas bendera di semua tempat kegiatan pelaksanaan. Pemasangan bronjong dilakukan tahap demi tahap. luka akibat kena paku.

Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengukuran, Pemotongan dan Pematokan pada Pekerjaan Dinding Turap Kayu Tanpa Pengawetan yaitu: 1) Memasang rambu-rambu pada lokasi pekerjaan untuk melindungi personil yang bekerja dari kendaraan yang melintasi proyek dan menempatkan petugas bendera di semua tempat kegiatan pelaksanaan, 2) Pelaksanaan pengukuran, pemotongan dan pematokan harus dilakukan oleh pekerja yang terampil dan berpengalaman. 5.7.10.2 Penggalian Pekerjaan Penggalian pada Pekerjaan Dinding Turap Kayu Tanpa Pengawetan mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Potensi bahaya akibat pipa gas, pipa air, dan konduktor listrik, yang terkena galian, 2) Kecelakaan akibat terkena cangkul/alat penggali alin dari sesama pekerja, 3) Terkena cangkul sendiri/ luka akibat lainnya jika penggalian dilakukan malam hari, 4) Runtuhnya lereng galian, 5) Terpeleset pada saat menggali, 6) Tertimpa benda jatuh dari atas, 7) Potensi kecelakaan akibat penggalian menggunakan mesin penggali/Excavator. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penggalian pada Pekerjaan Dinding Turap Kayu Tanpa Pengawetan yaitu : 1) Sebelum pekerjaan di mulai pada setiap tempat galian pemberi kerja harus melakukan pemeriksaan terlebih dahulu atas segala instalasi di bawah tanah seperti saluran pembuangan, pipa gas, pipa air, dan konduktor listrik, yang dapat menimbulkan bahaya selama waktu pekerjaan, 2) Diusahakan agar menjaga jarak antar pekerja jika penggalian mengunakan tenaga manusia dengan alat bantu (Cangkul, balincong, dll), 3) Diusahakan sedemikian rupa penggalian yang dilakukan dimalam hari menggunakan lampu penerangan yang cukup, 4) Penggalian pada lereng dan tebing jalan diusahakan agar tetap mempertahankan kemiringan lereng, 5) Apabila tanah tidak menjamin tempat berpijak yang aman, harus disediakan konstruksi penyangga yang cukup, 6) Apabila orang sedang bekerja pada ketinggian yang berbeda, sarana yang cukup seperti papan lantai harus disediakan untuk mencegah orang yang ada dibawahnya tertimpa alat atau benda yang terjatuh dari atas, 7) Excavator yang dilengkapi dengan unit untuk panggilan yang dalam harus dirancang sedemikian rupa sehingga gigi pengeruknya tidak dapat mendekati lengannya sampai sejarak 40 cm atau harus dilengkapi dengan suatu alat penyetop yang dapat dipercaya dapat mencegah kejadian ini. Operator excavator harus :  Sedikitnya berumur 18 tahun, dan  Sudah terbiasa menjalankan dan memelihara mesin yang bersangkutan. 5.7.10.3 Pemompaan Pekerjaan Pemompaan pada Pekerjaan Dinding Turap Kayu Tanpa Pengawetan mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Kena setrum, 2) Kaki tergenang air/lecet, 3) Runtuhnya dinding, 4) Terpeleset pada saat menurunkan slang pompa, 5) Genangan air hasil pemompaan.

87 - 160

Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pemompaan pada Pekerjaan Dinding Turap Kayu Tanpa Pengawetan yaitu : 1) Kabel-kabel yang mengalirkan listrik diberi perlindungan secukupnya. Apabila ada sambungan kabel diberi isolasi yang cukup aman, 2) Para pekerja dilengkapi dengan sepatu boot/karet, sarung tangan, helm yang sesuai, 3) Jika perlu dilakukan pembuatan dinding penahan rembesan, 4) Lakukan penyumbatan dan pemompaan agar air dapat keluar dari lokasi pemasangan gabion, 5) Pada saat pemompaan dilakukan sebagai langkah dewatering, pengaliran air hasil pemompaan diusahakan sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan resiko bahaya kecelakaan. 5.7.10.4 Pemasangan Pekerjaan Pemasangan pada Pekerjaan Dinding Turap Kayu Tanpa Pengawetan mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Resiko terjatuh pada saat pemotongan puncak tiang pancang, 2) Potensi kecelakaan akibat mesin pancang. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pemasangan pada Pekerjaan Dinding Turap Kayu Tanpa Pengaweta yaitu : 1) Diusahakan sedemikian rupa bahan dan peralatan sedekat mungkin untuk mencegah resiko bahaya kecelakaan. Diusahakan sedemikian rupa pemotongan puncak tiang pancang dengan menggunakan alat pemotong dilakukan dengan teliti dan hati-hati, 2) Diusahakan sedemikian rupa sebelum pemancangan dimulai diperiksa terlebih dahulu kualitas kayu/bahan yang digunakan maupun tempat pemancangan serta alat pancangnya. 5.7.10.5 Penimbunan Pekerjaan Penimbunan pada Pekerjaan Dinding Turap Kayu Tanpa Pengawetan mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Potensi longsor dari tanah timbunan, 2) Potensi kecelakaan akibat alat penimbun, 3) Potensi kecelakaan akibat alat pemadat dengan menggunakan mesin, 4) Potensi luka akibat cangkul/peralatan sejenisnya untuk penimbunan dan pemadatan cara manual. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penimbunan pada Pekerjaan Dinding Turap Kayu Tanpa Pengawetan yaitu : 1) Timbunan diusahakan agar tetap kering agar tidak membahayakan lalu lintas maupun pekerja, 2) Pelaksanaan timbunan pada tanjakan agar dijaga sedemikian rupa agar tidak membahayakan alat pemadat dengan mesin, 3) Penimbunan dengan menggunakan mesin harus dilakukan oleh orang yang ahli dibidang, 4) Penimbunan menggunakan peralatan manual (cangkul/peralatan sejenisnya) dilakukan dengan hati-hati dan mempunyai jarak yang cukup dengan pekerja lainnya.

88 - 160

5.7.11

Pekerjaan Dinding Turap Kayu dengan Pengawetan

5.7.11.1 Pengukuran, pemotongan dan pematokan Pekerjaan Pengukuran, Pemotongan dan Pematokan pada Pekerjaan Dinding Turap Kayu dengan Pengawetan mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Kecelakaan akibat pengukuran yang dilakukan di jalan raya, 2) Luka akibat kena pukul palu, luka akibat kena gergaji, luka akibat kena paku. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengukuran, Pemotongan dan Pematokan pada Pekerjaan Dinding Turap Kayu dengan Pengawetan yaitu: 1) Memasang rambu-rambu pada lokasi pekerjaan untuk melindungi personil yang bekerja dari kendaraan yang melintasi proyek dan menempatkan petugas bendera di semua tempat kegiatan pelaksanaan, 2) Pelaksanaan pengukuran, pemotongan dan pematokan harus dilakukan oleh pekerja yang terampil dan berpengalaman. 5.7.11.2 Pengawetan Pekerjaan Pengawetan pada Pekerjaan Dinding Turap Kayu dengan Pengawetan mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Potensi tangan terkena zat pengawet, 2) Luka pada kulit akibat menurunkan/mencelup kayu pada tempat pengawet, 3) Potensi terciprat zat pengawet kena mata, 4) Luka bakar karena zat pengawet. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengawetan pada Pekerjaan Dinding Turap Kayu dengan Pengawetan yaitu : 1) Diusahakan sedemikian rupa sebelum bekerja, pekerja harus yakin bahwa bahan pengecat tidak tercampur clhorida yang berasal dari phenol atau naphtholl atau garam dari arcenat dan chronium atau bahan-bahan lain yang berbahaya, 2) Dalam pekerjaan pengawetan (termasuk creosote, semacam bahan dari ter), pekerja harus memakai perlengkapan pelindung keselamatan :  Untuk penyelupan, diperlukan pakaian pelindung, sarung tangan dan pelindung mata dan bila perlu pelindung untuk kulit yang tidak tertutup,  Untuk pengecatan dengan sifat, diperlukan sarung tangan, dan untuk menghindari cipratan, maka harus ada pelindung mata dan bila perlu pelindung untuk kulit yang tidak tertutup,  Untuk penyemprotan, diperlukan baju pelindung, pelindung pernapasan, pelindung mata, dan bila perlu pelindung kulit yang tidak tertutup, 3) Creosote, (bahan pengawet kayu) tidak boleh tersentuh kulit atau mata, 4) Luka terbakar karena creosote harus segera dicuci dan secepatnya mendapat perawatan medis. 5.7.11.3 Penggalian Pekerjaan Penggalian pada Pekerjaan Dinding Turap Kayu dengan Pengawetan mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Potensi bahaya akibat pipa gas, pipa air, dan konduktor listrik, yang terkena galian, 2) Kecelakaan akibat terkena cangkul/alat penggali alin dari sesama pekerja, 3) Terkena cangkul sendiri/ luka akibat lainnya jika penggalian dilakukan malam hari, 4) Runtuhnya lereng galian, 5) Terpeleset pada saat menggali, 6) Tertimpa benda jatuh dari atas,
89 - 160

harus disediakan konstruksi penyangga yang cukup.  Sudah terbiasa menjalankan dan memelihara mesin yang bersangkutan. balincong. 3) Runtuhnya dinding. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pemompaan pada Pekerjaan Dinding Turap Kayu dengan Pengawetan yaitu : 1) Kabel-kabel yang mengalirkan listrik diberi perlindungan secukupnya. 2) Potensi kecelakaan akibat mesin pancang. pipa air.160 . pengaliran air hasil pemompaan diusahakan sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan resiko bahaya kecelakaan. 5. 5. 7) Excavator yang dilengkapi dengan unit untuk panggilan yang dalam harus dirancang sedemikian rupa sehingga gigi pengeruknya tidak dapat mendekati lengannya sampai sejarak 40 cm atau harus dilengkapi dengan suatu alat penyetop yang dapat dipercaya dapat mencegah kejadian ini. dan konduktor listrik. 4) Lakukan penyumbatan dan pemompaan agar air dapat keluar dari lokasi pemasangan gabion. 2) Diusahakan agar menjaga jarak antar pekerja jika penggalian mengunakan tenaga manusia dengan alat bantu (Cangkul. sarana yang cukup seperti papan lantai harus disediakan untuk mencegah orang yang ada dibawahnya tertimpa alat atau benda yang terjatuh dari atas. 5) Genangan air hasil pemompaan. yang dapat menimbulkan bahaya selama waktu pekerjaan. 5) Apabila tanah tidak menjamin tempat berpijak yang aman. helm yang sesuai.5 Pemasangan Pekerjaan Pemasangan pada Pekerjaan Dinding Turap Kayu dengan Pengawetan mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Resiko terjatuh pada saat pemotongan puncak tiang pancang.4 Pemompaan Pekerjaan Pemompaan pada Pekerjaan Dinding Turap Kayu dengan Pengawetan mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Kena setrum. Apabila ada sambungan kabel diberi isolasi yang cukup aman. Operator excavator harus :  Sedikitnya berumur 18 tahun. 2) Para pekerja dilengkapi dengan sepatu boot/karet. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penggalian pada Pekerjaan Dinding Turap Kayu dengan Pengawetan yaitu : 1) Sebelum pekerjaan di mulai pada setiap tempat galian pemberi kerja harus melakukan pemeriksaan terlebih dahulu atas segala instalasi di bawah tanah seperti saluran pembuangan. pipa gas.11. 5) Pada saat pemompaan dilakukan sebagai langkah dewatering.7) Potensi kecelakaan akibat penggalian menggunakan mesin penggali/Excavator. 3) Jika perlu dilakukan pembuatan dinding penahan rembesan. sarung tangan. 90 .11. 2) Kaki tergenang air/lecet. dll).7. 3) Diusahakan sedemikian rupa penggalian yang dilakukan dimalam hari menggunakan lampu penerangan yang cukup.7. 4) Terpeleset pada saat menurunkan slang pompa. 6) Apabila orang sedang bekerja pada ketinggian yang berbeda. 4) Penggalian pada lereng dan tebing jalan diusahakan agar tetap mempertahankan kemiringan lereng.

11. 4) Potensi luka akibat cangkul/peralatan sejenisnya untuk penimbunan dan pemadatan cara manual. pemotongan dan pematokan harus dilakukan oleh pekerja yang terampil dan berpengalaman. pemotongan dan pematokan Pekerjaan Pengukuran. Pemotongan dan Pematokan pada Pekerjaan Dinding Turap Baja yaitu : 1) Pelaksanaan pengukuran.2 Pengawetan dan pengecatan Pekerjaan Pengawetan dan Pengecatan pada Pekerjaan Dinding Turap Baja mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Luka pada tangan akibat sistem pencelupan panas pada proses galvanize. 4) Penimbunan menggunakan peralatan manual (cangkul/peralatan sejenisnya) dilakukan dengan hati-hati dan mempunyai jarak yang cukup dengan pekerja lainnya. tertimpa potongan baja). 2) Terjatuh pada saat pengecatan pada ketinggian tertentu. 3) Penimbunan dengan menggunakan mesin harus dilakukan oleh orang yang ahli dibidangnya.7. 5. 5.7.12.160 . 5. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengukuran. 3) Potensi kecelakaan akibat alat pemadat dengan menggunakan mesin. Pemotongan dan Pematokan pada Pekerjaan Dinding Turap Baja mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Kecelakaan akibat pemotongan baja dengan menggunakan mesin potong atau las listrik (luka bakar. lecet. 2) Tertabrak kendaraan pada saat pengukuran.Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pemasangan pada Pekerjaan Dinding Turap Kayu dengan Pengawetan yaitu : 1) Diusahakan sedemikian rupa bahan dan peralatan sedekat mungkin untuk mencegah resiko bahaya kecelakaan. 2) Potensi kecelakaan akibat alat penimbun. Diusahakan sedemikian rupa pemotongan puncak tiang pancang dengan menggunakan alat pemotong dilakukan dengan teliti dan hati-hati. 2) Pelaksanaan timbunan pada tanjakan agar dijaga sedemikian rupa agar tidak membahayakan alat pemadat dengan mesin.12 Pekerjaan dinding turap baja 5. luka gores. 2) Diusahakan sedemikian rupa sebelum pemancangan dimulai diperiksa terlebih dahulu kualitas kayu/bahan yang digunakan maupun tempat pemancangan serta alat pancangnya.6 Penimbunan Pekerjaan Penimbunan pada Pekerjaan Dinding Turap Kayu dengan Pengawetan mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Potensi longsor dari tanah timbunan. 91 .7. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penimbunan pada Pekerjaan Dinding Turap Kayu dengan Pengawetan yaitu : 1) Timbunan diusahakan agar tetap kering agar tidak membahayakan lalu lintas maupun pekerja.12. 2) Memasang rambu-rambu pada lokasi pekerjaan untuk melindungi personil yang bekerja dari kendaraan yang melintasi proyek dan menempatkan petugas bendera di semua tempat kegiatan pelaksanaan.7.1 Pengukuran.

yang dapat menimbulkan bahaya selama waktu pekerjaan. 6) Apabila orang sedang bekerja pada ketinggian yang berbeda. 3) Terkena cangkul sendiri/ luka akibat lainnya jika penggalian dilakukan malam hari. harus disediakan konstruksi penyangga yang cukup.7. 5) Terpeleset pada saat menggali. 4) Runtuhnya lereng galian. 5. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penggalian pada Pekerjaan Dinding Turap Baja yaitu : 1) Sebelum pekerjaan di mulai pada setiap tempat galian pemberi kerja harus melakukan pemeriksaan terlebih dahulu atas segala instalasi di bawah tanah seperti saluran pembuangan. 3) Diusahakan sedemikian rupa penggalian yang dilakukan dimalam hari menggunakan lampu penerangan yang cukup. 2) Kecelakaan akibat terkena cangkul/alat penggali alin dari sesama pekerja.3 Penggalian Pekerjaan Penggalian pada Pekerjaan Dinding Turap Baja mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Potensi bahaya akibat pipa gas. dan konduktor listrik. yang terkena galian.4 Pemompaan Pekerjaan Pemompaan pada Pekerjaan Dinding Turap Baja mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Kena setrum. dll). 5. balincong.7. 6) Tertimpa benda jatuh dari atas. 2) Diusahakan agar menjaga jarak antar pekerja jika penggalian mengunakan tenaga manusia dengan alat bantu (Cangkul. dan konduktor listrik. 2) Kaki tergenang air/lecet. 2) Jika pengecatan dilakukan pada tempat yang tinggi maka pekerja harus diberi sabuk pengaman. 3) Runtuhnya dinding. Operator excavator harus :  Sedikitnya berumur 18 tahun. pipa air.Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengawetan dan Pengecatan pada Pekerjaan Dinding Turap Baja yaitu : 1) Proses pengecatan/ proses galvanisasi dengan sistem pencelupan panas harus dilakukan oleh orang yang ahli dibidangnya dan dilakukan secara hati-hati. 4) Penggalian pada lereng dan tebing jalan diusahakan agar tetap mempertahankan kemiringan lereng.12. 92 . 4) Terpeleset pada saat menurunkan slang pompa. 5) Apabila tanah tidak menjamin tempat berpijak yang aman. 5) Genangan air hasil pemompaan.  Sudah terbiasa menjalankan dan memelihara mesin yang bersangkutan. 7) Excavator yang dilengkapi dengan unit untuk panggilan yang dalam harus dirancang sedemikian rupa sehingga gigi pengeruknya tidak dapat mendekati lengannya sampai sejarak 40 cm atau harus dilengkapi dengan suatu alat penyetop yang dapat dipercaya dapat mencegah kejadian ini.12. pipa gas. 7) Potensi kecelakaan akibat penggalian menggunakan mesin penggali/Excavator. sarana yang cukup seperti papan lantai harus disediakan untuk mencegah orang yang ada dibawahnya tertimpa alat atau benda yang terjatuh dari atas.160 . pipa air.

2) Para pekerja dilengkapi dengan sepatu boot/karet.7. 5) Potensi bahaya terkena turap baja pada saat pemasangan dan pengangkuatan. 2) Potensi kecelakaan akibat alat penimbun.12. 2) Pekerja yang harus duduk di atas turap baja sebagai penghubung turap baja. 3) Jika perlu dilakukan pembuatan dinding penahan rembesan. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pemasangan pada Pekerjaan Dinding Turap Baja yaitu : 1) Bila perlu untuk mencegah bahaya dari angin atau lainnya maka dapat digunakan tali yang diikatkan pada turap baja yang gunanya untuk mengontrol pada waktu diangkat. pengaliran air hasil pemompaan diusahakan sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan resiko bahaya kecelakaan. sepatu boot yang sesuai. 4) Bila perlu untuk mencegah pergeseran karena gerakan air.6 Penimbunan Pekerjaan Penimbunan pada Pekerjaan Dinding Turap Baja mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Potensi longsor dari tanah timbunan.160 . helm. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penimbunan pada Pekerjaan Dinding Turap Baja yaitu : 1) Timbunan diusahakan agar tetap kering agar tidak membahayakan lalu lintas maupun pekerja. 4) Lakukan penyumbatan dan pemompaan agar air dapat keluar dari lokasi pemasangan gabion. 5. 2) Pelaksanaan timbunan pada tanjakan agar dijaga sedemikian rupa agar tidak membahayakan alat pemadat dengan mesin. maka turap baja harus diberi jepit penguat (braced) sampai posisinya kuat/aman. sarung tangan. 4) Potensi bahya jika turap baja bergeser karena air.5 Pemasangan Pekerjaan Pemasangan pada Pekerjaan Dinding Turap Baja mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Potensi bahaya akibat turap baja terlepas dari alat pengangkat.7. 93 . 4) Penimbunan menggunakan peralatan manual (cangkul/peralatan sejenisnya) dilakukan dengan hati-hati dan mempunyai jarak yang cukup dengan pekerja lainnya. harus diberi sanggerdi atau alat lain untuk melindungi keamanannya. helm yang sesuai.Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pemompaan pada Pekerjaan Dinding Turap Baja yaitu : 1) Kabel-kabel yang mengalirkan listrik diberi perlindungan secukupnya. 3) Pekerja yang mengerjakan turap baja harus menggunakan sarung tangan. Apabila ada sambungan kabel diberi isolasi yang cukup aman. 5) Pada saat pemompaan dilakukan sebagai langkah dewatering. 2) Terjatuh dari turap baja. 4) Potensi luka akibat cangkul/peralatan sejenisnya untuk penimbunan dan pemadatan cara manual. 3) Luka pada tangan/kaki akibat terkena baja.12. 5. 5) Pekerja tidak boleh berdiri di atas turap baja bila turap baja tersebut sedang diangkut atau dipasang pada tempatnya. 3) Penimbunan dengan menggunakan mesin harus dilakukan oleh orang yang ahli dibidangnya. 3) Potensi kecelakaan akibat alat pemadat dengan menggunakan mesin.

6) Tertimpa benda jatuh dari atas. 5. 7) Excavator yang dilengkapi dengan unit untuk panggilan yang dalam harus dirancang sedemikian rupa sehingga gigi pengeruknya tidak dapat mendekati lengannya sampai sejarak 40 cm atau harus dilengkapi dengan suatu alat penyetop yang dapat dipercaya dapat mencegah kejadian ini.160 . sarana yang cukup seperti papan lantai harus disediakan untuk mencegah orang yang ada dibawahnya tertimpa alat atau benda yang terjatuh dari atas. 4) Penggalian pada lereng dan tebing jalan diusahakan agar tetap mempertahankan kemiringan lereng.13 Pekerjaan dinding turap beton 5. 3) Diusahakan sedemikian rupa penggalian yang dilakukan dimalam hari menggunakan lampu penerangan yang cukup. pipa air. 2) Kecelakaan atau tertabrak kendaraan pada saat melakukan pengukuran di jalan raya. Operator excavator harus :  Sedikitnya berumur 18 tahun. 3) Terluka pada kaki atau tangan akibat terkena paku atau palu.5. dan konduktor listrik. 3) Terkena cangkul sendiri/ luka akibat lainnya jika penggalian dilakukan malam hari.2 Penggalian Pekerjaan Penggalian pada Pekerjaan Dinding Turap Beton mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Potensi bahaya akibat pipa gas. pipa gas. 2) Kecelakaan akibat terkena cangkul/alat penggali alin dari sesama pekerja. 5) Terpeleset pada saat menggali. 2) Memasang rambu-rambu pada lokasi pekerjaan untuk melindungi personil yang bekerja dari kendaraan yang melintasi proyek dan menempatkan petugas bendera di semua tempat kegiatan pelaksanaan. 7) Potensi kecelakaan akibat penggalian menggunakan mesin penggali/Excavator. 5) Apabila tanah tidak menjamin tempat berpijak yang aman. dll).13. 3) Pelaksanaan pengukuran dan pematokan harus dilakukan oleh pekerja yang terampil dan berpengalaman. sepatu boot dan helm) serta memenuhi syarat. yang terkena galian. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengukuran dan Pematokan pada Pekerjaan Dinding Turap Beton yaitu : 1) Pekerja harus memakai pakaian dan perlengkapan kerja yang sesuai (sarung tangan.7. 2) Diusahakan agar menjaga jarak antar pekerja jika penggalian mengunakan tenaga manusia dengan alat bantu (Cangkul. 6) Apabila orang sedang bekerja pada ketinggian yang berbeda.7. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penggalian pada Pekerjaan Dinding Turap Beton yaitu : 1) Sebelum pekerjaan di mulai pada setiap tempat galian pemberi kerja harus melakukan pemeriksaan terlebih dahulu atas segala instalasi di bawah tanah seperti saluran pembuangan.13. 94 .7.1 Pengukuran dan pematokan Pekerjaan Pengukuran dan Pematokan pada Pekerjaan Dinding Turap Beton mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Gangguan kesehatan atau gangguan fisik akibat pekerja tidak memakai perlengkapan kerja yang sesuai dengan syarat. dan konduktor listrik. pipa air. harus disediakan konstruksi penyangga yang cukup. 4) Runtuhnya lereng galian. balincong. yang dapat menimbulkan bahaya selama waktu pekerjaan.

tertimpa benda jatuh dan terpeleset jatuh.13. 5. 4) Jika menggunakan gergagi bundar para pekerja tidak diperkenankan mengatur bilah/pisau gergaji atau kedudukannya pada waktu gergaji yang bersangkutan sedang bekerja. tertimbun tanah galian. 3) Potensi bahaya akibat penyetelan bekisting apabila memakai bekisting yang sudah jadi.  Pada daerah pemasangan bekisting harus diberi penerangan secukupnya. 2) Kecelakaan atau luka karena tertimpa/tergencet kayu/bekisting. Sudah terbiasa menjalankan dan memelihara mesin yang bersangkutan. 3) Bahaya akibat pembengkokan tulangan. Para pekerja diusahakan sedemikian rupa menggunakan sarung tangan yang sesuai. 4) Potensi bahaya akibat gergaji untuk pembuatan bekisting.3 Pembuatan bekisting Pekerjaan Pembuatan Bekisting pada Pekerjaan Dinding Turap Beton mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Potensi bahaya pada pemasangan bekisting pada tanah galian meliputi : tertimpa tanah galian. 2) Diusahakan sedemikian rupa peralatan dan bahan berada sedekat mungkin dengan tempat bekerja. apabila hal itu dapat mengakibatkan terjadinya kecelakaan.  Dipasang tangga yang sesuai dan memenuhi syarat dari segi kekuatannya.  Besi tulangan yang menjorok ke luar dari lantai atau dinding harus diberi pelindung.7. Jika penggergajian dilakukan pada ketinggian maka para pekerja diberi perlindungan yang cukup misalnya dengan sabuk pengaman. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pembuatan Bekisting pada Pekerjaan Dinding Turap Beton yaitu : 1) Pemasangan bekisting harus dilakukan oleh pekerja terampil yang telah berpengalaman di bidangnya.13. terkena kawat tulangan. dan lain-lain.160 .  Disediakan jalan keluar untuk menyelamatkan diri bila terjadi bahaya. seperti : tertimpa besi tulangan. sepatu boot yang sesuai dan memenuhi syarat serta memperhatikan ketentuan-ketentuan berikut :  Sisa-sisa besi/kawat baja ditempatkan sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan bahaya.7. jika bekerja pada ketinggian tertentu. 2) Tertimpa benda jatuh bekisting/besi tulangan. pemasangan bekisting di daerah galian harus memperhatikan ketentuanketentuan berikut ini :  Memakai pakaian dan perlengkapan kerja terutama helm yang sesuai dengan standar. 3) Apabila bekisiting yang dipergunakan sudah jadi. 5. maka yang perlu diperhartikan adalah proses penyetalan/pengakuan.4 Penulangan Pekerjaan Penulangan pada Pekerjaan Dinding Turap Beton mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terluka akibat pelaksanaan penulangan tidak dilakukan oleh tenaga yang berpengalaman dan ahli dibidangnya. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penulangan pada Pekerjaan Dinding Turap Beton yaitu : 1) Pelaksanaan penulangan harus dilakukan oleh pekerja yang terampil dan berpengalaman di bidangnya. dilengkapi dengan helm. sarung tangan.  Dilarang menyimpan/ menempatkan tanah galian di pinggir pembuatan bekisting. tanah galian harus dibuang pada tempat yang aman yang telah ditentukan. 95 .  Dinding galian harus diberi penahan dinding secukupnya.

7) Pelaksanaan pencampuran aggregat. 2) Kecelakaan akibat concrete mixer (kena rantai. 11) Robohnya cor beton. 8) Bila menggunakan vibrator listrik.  Besi tulangan tidak boleh disimpan pada perancah atau papan acuan yang dapat membahayakan kestabilannya. 3) Tertimpa pengaduk beton ketika alat tersebut sedang diangkat. semen dan air harus tidak menimbulkan debu yang berterbangan. maka :  Dihubungkan ke tanah (earthed). sarana yang cukup seperti papan lantai harus disediakan untuk mencegah orang yang ada dibawahnya tertimpa alat atau benda yang terjatuh dari atas. kacamata dan penutup telinga. 6) Terluka akibat terkena percikan beton pada saat menuangkan beton dari pengaduk beton. 13) Tertabrak kendaraan beton molen. 12) Potensi bahaya akibat mesin pompa beton jika beton bukan mencampur sendiri.160 . 10) Bahan campuran kimia apabila beton mulai mengeras. misalnya dengan mengunci tombol dalam posisi terbuka. pekerja harus berada pada jarak yang aman terhadap setiap percikan beton. melepaskan sekring-sekring atau dengan cara mematikan sumber tenaga. pekerja harus menggunakan masker pernapasan. 3) Diusahakan sedemikian rupa pembengkokan tulangan dengan menggunakan alat pembenkok baja tulangan dilakukan secara hati-hati. Bila melakukan penyambungan besi tulangan maka ujungnya menjorok keluar tidak boleh menimbulkan bahaya. agregat dan air.13. 8) Terluka akibat arus pendek atau tersengat aliran listrik ketika menggunakan vibrator listrik. 5. 2) Apabila orang sedang bekerja pada ketinggian yang berbeda. 9) Kecelakaan akibat penyalur uetori ke alat vibrator. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengecoran pada Pekerjaan Dinding Turap Beton yaitu : 1) Pelaksanaan pengecoran harus dilakukan oleh tenaga terampil yang berpengalaman dan dalam melaksanakan pekerjaan harus memakai pakaian dan perlengkapan kerja sesuai dengan standar. menggunakan alat yang sesuai dan ada jarak yang cukup sesama pekerja. 96 . 5) Pada waktu membersihkan tabung pengaduk tindakan-tindakan pengamanan harus diambil untuk melindungi para pekerja di dalamnya. 3) Penyangga pengaduk beton harus dilindungi oleh pagar pengaman untuk mencegah para pekerja lewat di bawahnya ketika alat yang bersangkutan sedang diangkat.5 Pengecoran Pekerjaan Pengecoran pada Pekerjaan Dinding Turap Beton mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Gangguan kesehatan atau gangguan fisik akibat pekerja tidak memakai perlengkapan kerja yang sesuai dengan syarat. rantai-rantai dan roda pemutar dari pengaduk beton harus dilindungi sedemikian sehingga aman. 5) Terluka akibat membersihkan tabung pengaduk beton. 6) Ketika beton sedang dituang dari bak muatan. 4) Operator mixer beton tidak diperkenankan menurunkan penyangga sebelum semua pekerja berada di tempat yang aman. roda pemutar dll).7. 7) Terjadi gangguan pada mata dan pendengaran akibat getaran vibrator dan debu pada saat mencampur semen. 2) Semua gigi. 4) Terjatuh dari tempat pengecoran.

9) 10) 11) 12) 13)  Bagian-bagian yang penting harus harus cukup diberi isolasi. 3) Bahaya saat tiang sedang dibawa ke posisi pemancangan.7.  Mulut pipa pengeluaran harus terikat kuat sehingga dapat mencegah gerakan bergeser.7. Jika menggunakan zat aditif tangan harus dilindungi dengan sarung tangan. 2) Pekerja harus memakai pakaian dan perlengkapan kerja yang sesuai (sarung tangan. 5. 2) Bahaya jika ada dua mesin pancang yang berdekatan. mekanisme.2 Persiapan Pekerjaan Persiapan pada Pekerjaan Pemancangan Tiang Pancang Kayu mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Bahaya dari alat yang digunakan. 4) Bahaya dari pecahan lapisan pengawet kayu ( Creosote) pada para pekerja/mata. Untuk mencegah resiko bahaya kecelakaan menugaskan dan menempatkan petugas bendera disemua tempat kegiatan pelaksanaan pekerjaan. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengukuran dan Pematokan pada Pekerjaan Pemancangan Tiang Pancang Kayu yaitu : 1) Memasang rambu-rambu pada lokasi pekerjaan untuk melindungi personil yang bekerja dari kendaraan yang melintasi proyek dan menempatkan petugas bendera di semua tempat kegiatan pelaksanaan.7.14.14 5. 5. 2) Bagian-bagian yang rusak seperti pada roda pengerek. sepatu boot dan helm) serta memenuhi syarat. Pekerjaan pemancangan tiang pancang kayu 5.14.7. 97 .14. luka akibat kena gergaji. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Persiapan pada Pekerjaan Pemancangan Tiang Pancang Kayu yaitu : 1) Semua peralatan yang akan digunakan dicek terlebih dahulu oleh orang yang ahli dibidangnya. Pipa-pipa penyalur uetori ke alat vibrator harus memenuhi ketentuan-ketentuan sebagai berikut :  Hubungan pipa harus diikat dengan rantai pengaman atau cara lain yang efektif.3 Pemancangan Pekerjaan Pemancangan pada Pekerjaan Pemancangan Tiang Pancang Kayu mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Potensi kecelakaan akibat tiang yang akan dipancang terjatuh/ terlepas.160 . Pekerja yang bekerja di sekitar pemompa beton harus menggunakan kacamata pengaman.  Arus listrik harus dimatikan bila sedang tidak digunakan. 2) Bahaya yang diakibatkan oleh pekerja. pipa-pipa dan kabel baja (slings) harus diperbaiki oleh orang-orang yang ahli. luka akibat kena paku. 5) Jika pemancangan dilakukan miring. Selama pengecoran papan acuan dan penumpunya harus dicegah terhadap kerusakan.1 Pengukuran dan pematokan Pekerjaan Pengukuran dan Pematokan pada Pekerjaan Pemancangan Tiang Pancang Kayu mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Kecelakaan akibat pengukuran yang dilakukan di jalan raya. 2) Luka akibat kena pukul palu.

Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pemancangan pada Pekerjaan Pemancangan Tiang Pancang Kayu yaitu : 1) Pada waktu tiang dikerek naik para pekerja yang tidak berkepentingan harus berada di tempat yang aman, 2) Bila 2 buah mesin pemancang digunakan pada satu tempat, maka jarak antara-mesinmesin tersebut tidak boleh kurang dari panjang kakinya yang terpanjang, 3) Bila tiang sedang dibawa ke posisi pemancangan maka,tiang tersebut tidak boleh diarahkan dengan tangan, tetapi harus menggunakan tali pengarah, 4) Pada waktu tiang kayu dipancang, harus diambil tindakan pengamanan untuk melindungi mata dan kulit para pekerja dari pecahan lapisan pengawet kayu (Creosote), 5) Bila kayu dipancangkan miring maka harus diberi semacam rel pengarah (guide) untuk mencegati bahaya. 5.7.15 Pekerjaan penyediaan dinding sumuran silinder, diameter 250 mm

5.7.15.1 Pengukuran Pekerjaan Pengukuran pada Pekerjaan Penyediaan Dinding Sumuran Silinder, diameter 250 mm mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Kecelakaan akibat pengukuran yang dilakukan di jalan raya, 2) Luka akibat kena pukul palu, luka akibat kena gergaji, luka akibat kena paku. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengukuran pada Pekerjaan Penyediaan Dinding Sumuran Silinder, diameter 250 mm yaitu : 1) Memasang rambu-rambu pada lokasi pekerjaan untuk melindungi personil yang bekerja dari kendaraan yang melintasi proyek dan menempatkan petugas bendera di semua tempat kegiatan pelaksanaan, 2) Pekerja harus memakai pakaian dan perlengkapan kerja yang sesuai (sarung tangan, sepatu boot dan helm) serta memenuhi syarat. 5.7.15.2 Penyiapan Pekerjaan Penyiapan pada Pekerjaan Penyediaan Dinding Sumuran Silinder, diameter 250 mm mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Bahaya dari alat yang digunakan, 2) Bahaya akibat bahan yang digunakan. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penyiapan pada Pekerjaan Penyediaan Dinding Sumuran Silinder, diameter 250 mm yaitu : 1) Pemeriksaaan terhadap peralatan dan bahan sebelum pelaksanaan pekerjaan, 2) Penyiapan peralatan dan bahan sedekat mungkin dengan lokasi pekerjaan. 5.7.15.3 Pemasangan bekisting Pekerjaan Pemasangan Bekisting pada Pekerjaan Penyediaan Dinding Sumuran Silinder, diameter 250 mm mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Potensi bahaya pada pemasangan bekisting pada tanah galian meliputi : tertimpa tanah galian, tertimbun tanah galian, tertimpa benda jatuh dan terpeleset jatuh, 2) Kecelakaan atau luka karena tertimpa/tergencet kayu/bekisting, 3) Potensi bahaya akibat penyetelan bekisting apabila memakai bekisting yang sudah jadi, 4) Potensi bahaya akibat gergaji untuk pembuatan bekisting.

98 - 160

Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pemasangan Bekisting pada Pekerjaan Penyediaan Dinding Sumuran Silinder, diameter 250 mm yaitu : 1) Pemasangan bekisting harus dilakukan oleh pekerja terampil yang telah berpengalaman di bidangnya, pemasangan bekisting di daerah galian harus memperhatikan ketentuanketentuan berikut ini :  Memakai pakaian dan perlengkapan kerja terutama helm yang sesuai dengan standar,  Dinding galian harus diberi penahan dinding secukupnya,  Pada daerah pemasangan bekisting harus diberi penerangan secukupnya,  Dilarang menyimpan/ menempatkan tanah galian di pinggir pembuatan bekisting, tanah galian harus dibuang pada tempat yang aman yang telah ditentukan,  Disediakan jalan keluar untuk menyelamatkan diri bila terjadi bahaya,  Dipasang tangga yang sesuai dan memenuhi syarat dari segi kekuatannya, 2) Diusahakan sedemikian rupa peralatan dan bahan berada sedekat mungkin dengan tempat bekerja, 3) Apabila bekisiting yang dipergunakan sudah jadi, maka yang perlu diperhartikan adalah proses penyetalan/pengakuan, 4) Jika menggunakan gergagi bundar para pekerja tidak diperkenankan mengatur bilah/pisau gergaji atau kedudukannya pada waktu gergaji yang bersangkutan sedang bekerja, apabila hal itu dapat mengakibatkan terjadinya kecelakaan. Para pekerja diusahakan sedemikian rupa menggunakan sarung tangan yang sesuai. Jika penggergajian dilakukan pada ketinggian maka para pekerja diberi perlindungan yang cukup misalnya dengan sabuk pengaman. 5.7.15.4 Penulangan Pekerjaan Penulangan pada Pekerjaan Penyediaan Dinding Sumuran Silinder, diameter 250 mm mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terluka akibat pelaksanaan penulangan tidak dilakukan oleh tenaga yang berpengalaman dan ahli dibidangnya, seperti : tertimpa besi tulangan, terkena kawat tulangan, dan lain-lain, 2) Tertimpa benda jatuh bekisting/besi tulangan, jika bekerja pada ketinggian tertentu, 3) Bahaya akibat pembengkokan tulangan. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penulangan pada Pekerjaan Penyediaan Dinding Sumuran Silinder, diameter 250 mm yaitu : 1) Pelaksanaan penulangan harus dilakukan oleh pekerja yang terampil dan berpengalaman di bidangnya, dilengkapi dengan helm, sarung tangan, sepatu boot yang sesuai dan memenuhi syarat serta memperhatikan ketentuan-ketentuan berikut :  Sisa-sisa besi/kawat baja ditempatkan sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan bahaya,  Besi tulangan yang menjorok ke luar dari lantai atau dinding harus diberi pelindung,  Bila melakukan penyambungan besi tulangan maka ujungnya menjorok keluar tidak boleh menimbulkan bahaya,  Besi tulangan tidak boleh disimpan pada perancah atau papan acuan yang dapat membahayakan kestabilannya, 2) Apabila orang sedang bekerja pada ketinggian yang berbeda, sarana yang cukup seperti papan lantai harus disediakan untuk mencegah orang yang ada dibawahnya tertimpa alat atau benda yang terjatuh dari atas, 3) Diusahakan sedemikian rupa pembengkokan tulangan dengan menggunakan alat pembenkok baja tulangan dilakukan secara hati-hati, menggunakan alat yang sesuai dan ada jarak yang cukup sesama pekerja.

99 - 160

5.7.15.5 Pengecoran Pekerjaan Pengecoran pada Pekerjaan Penyediaan Dinding Sumuran Silinder, diameter 250 mm mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Gangguan kesehatan atau gangguan fisik akibat pekerja tidak memakai perlengkapan kerja yang sesuai dengan syarat, 2) Kecelakaan akibat concrete mixer (kena rantai, roda pemutar dll), 3) Tertimpa pengaduk beton ketika alat tersebut sedang diangkat, 4) Terjatuh dari tempat pengecoran, 5) Terluka akibat membersihkan tabung pengaduk beton, 6) Terluka akibat terkena percikan beton pada saat menuangkan beton dari pengaduk beton, 7) Terjadi gangguan pada mata dan pendengaran akibat getaran vibrator dan debu pada saat mencampur semen, agregat dan air, 8) Terluka akibat arus pendek atau tersengat aliran listrik ketika menggunakan vibrator listrik, 9) Kecelakaan akibat penyalur uetori ke alat vibrator, 10) Bahan campuran kimia apabila beton mulai mengeras, 11) Robohnya cor beton, 12) Potensi bahaya akibat mesin pompa beton jika beton bukan mencampur sendiri, 13) Tertabrak kendaraan beton molen. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengecoran pada Pekerjaan Penyediaan Dinding Sumuran Silinder, diameter 250 mm yaitu : 1) Pelaksanaan pengecoran harus dilakukan oleh tenaga terampil yang berpengalaman dan dalam melaksanakan pekerjaan harus memakai pakaian dan perlengkapan kerja sesuai dengan standar, 2) Semua gigi, rantai-rantai dan roda pemutar dari pengaduk beton harus dilindungi sedemikian sehingga aman, 3) Penyangga pengaduk beton harus dilindungi oleh pagar pengaman untuk mencegah para pekerja lewat di bawahnya ketika alat yang bersangkutan sedang diangkat, 4) Operator mixer beton tidak diperkenankan menurunkan penyangga sebelum semua pekerja berada di tempat yang aman, 5) Pada waktu membersihkan tabung pengaduk tindakan-tindakan pengamanan harus diambil untuk melindungi para pekerja di dalamnya, misalnya dengan mengunci tombol dalam posisi terbuka, melepaskan sekring-sekring atau dengan cara mematikan sumber tenaga, 6) Ketika beton sedang dituang dari bak muatan, pekerja harus berada pada jarak yang aman terhadap setiap percikan beton, 7) Pelaksanaan pencampuran aggregat, semen dan air harus tidak menimbulkan debu yang berterbangan, pekerja harus menggunakan masker pernapasan, kacamata dan penutup telinga, 8) Bila menggunakan vibrator listrik, maka :  Dihubungkan ke tanah (earthed),  Bagian-bagian yang penting harus harus cukup diberi isolasi,  Arus listrik harus dimatikan bila sedang tidak digunakan, 9) Pipa-pipa penyalur uetori ke alat vibrator harus memenuhi ketentuan-ketentuan sebagai berikut :  Hubungan pipa harus diikat dengan rantai pengaman atau cara lain yang efektif,  Mulut pipa pengeluaran harus terikat kuat sehingga dapat mencegah gerakan bergeser, 10) Jika menggunakan zat aditif tangan harus dilindungi dengan sarung tangan, 11) Selama pengecoran papan acuan dan penumpunya harus dicegah terhadap kerusakan, 12) Pekerja yang bekerja di sekitar pemompa beton harus menggunakan kacamata pengaman,
100 - 160

16. 7) Excavator yang dilengkapi dengan unit untuk panggilan yang dalam harus dirancang sedemikian rupa sehingga gigi pengeruknya tidak dapat mendekati lengannya sampai 101 . pipa gas.7.160 . 2) Diusahakan agar menjaga jarak antar pekerja jika penggalian mengunakan tenaga manusia dengan alat bantu (Cangkul. 5. dan konduktor listrik.2 Penggalian Pekerjaan Penggalian pada Pekerjaan Penurunan Dinding Sumuran Silinder mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Potensi bahaya akibat pipa gas. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penggalian pada Pekerjaan Penurunan Dinding Sumuran Silinder yaitu : 1) Sebelum pekerjaan di mulai pada setiap tempat galian pemberi kerja harus melakukan pemeriksaan terlebih dahulu atas segala instalasi di bawah tanah seperti saluran pembuangan. Jika pemotongan menggunakan gergaji manual atau alat potong otomatis/listrik dilakukan secara hati-hati. harus disediakan konstruksi penyangga yang cukup. 7) Potensi kecelakaan akibat penggalian menggunakan mesin penggali/Excavator. 5) Apabila tanah tidak menjamin tempat berpijak yang aman. 9) Bahaya akibat genangan air di tempat galian. yang dapat menimbulkan bahaya selama waktu pekerjaan. 4) Penggalian pada lereng dan tebing jalan diusahakan agar tetap mempertahankan kemiringan lereng.7. dll). Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengukuran dan Pematokan pada Pekerjaan Penurunan Dinding Sumuran Silinder yaitu : 1) Memasang rambu-rambu pada lokasi pekerjaan untuk melindungi personil yang bekerja dari kendaraan yang melintasi proyek dan menempatkan petugas bendera di semua tempat kegiatan pelaksanaan. luka akibat kena paku.16. 3) Diusahakan sedemikian rupa penggalian yang dilakukan dimalam hari menggunakan lampu penerangan yang cukup. sarana yang cukup seperti papan lantai harus disediakan untuk mencegah orang yang ada dibawahnya tertimpa alat atau benda yang terjatuh dari atas. 4) Runtuhnya lereng galian. 2) Luka akibat kena pukul palu. tangan menggunakan sarung tangan yang sesuai dan menggunakan palu yang proporsional. 2) Diusahakan sedemikian rupa agar waktu memasang patok.13) Untuk mencegah resiko bahaya kecelakaan menugaskan dan menempatkan petugas bendera disemua tempat kegiatan pelaksanaan pekerjaan. 2) Kecelakaan akibat terkena cangkul/alat penggali alin dari sesama pekerja. balincong. pipa air. 6) Apabila orang sedang bekerja pada ketinggian yang berbeda. 3) Terkena cangkul sendiri/ luka akibat lainnya jika penggalian dilakukan malam hari.7. pipa air.1 Pengukuran dan pematokan Pekerjaan Pengukuran dan Pematokan pada Pekerjaan Penurunan Dinding Sumuran Silinder mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Kecelakaan akibat pengukuran yang dilakukan di jalan raya. luka akibat kena gergaji.16 Pekerjaan penurunan dinding sumuran silinder 5. dan konduktor listrik. 5) Terpeleset pada saat menggali. yang terkena galian. 8) Bahaya terperosok ke tempat penggalian. 6) Tertimpa benda jatuh dari atas. 5.

Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pemompaan pada Pekerjaan Penurunan Dinding Sumuran Silinder yaitu : 1) Kabel-kabel yang mengalirkan listrik diberi perlindungan secukupnya. 4) Lakukan penyumbatan dan pemompaan agar air dapat keluar dari lokasi pemasangan gabion. 2) Kaki tergenang air/lecet.16. Operator excavator harus :  Sedikitnya berumur 18 tahun. 2) Bahaya akibat genangan air.3 Pemompaan Pekerjaan Pemompaan pada Pekerjaan Penurunan Dinding Sumuran Silinder mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Kena setrum.5 Penurunan Dinding Sumuran Pekerjaan Penurunan Dinding Sumuran pada Pekerjaan Penurunan Dinding Sumuran Silinder mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Bahaya tertimpa dinding sumuran pada saat penurunan.sejarak 40 cm atau harus dilengkapi dengan suatu alat penyetop yang dapat dipercaya dapat mencegah kejadian ini. 9) Apabila sumuran sedang digali ke dalam lapisan yang mengandung air. helm yang sesuai. 5. harus disediakan suatu sarana untuk menyelamatkan diri. 5. 5. 4) Terpeleset pada saat menurunkan slang pompa. Apabila ada sambungan kabel diberi isolasi yang cukup aman.160 .16. 102 . Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penyiapan Lantai Kerja pada Pekerjaan Penurunan Dinding Sumuran Silinder yaitu : 1) Penyiapan peralatan dan bahan sedekat mungkin dengan lokasi pekerjaan.7. 2) Para pekerja dilengkapi dengan sepatu boot/karet. 5) Pada saat pemompaan dilakukan sebagai langkah dewatering.7. pengaliran air hasil pemompaan diusahakan sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan resiko bahaya kecelakaan. 8) Untuk maksud pengamanan segera setelah memungkinkan bagian atas sumuran harus dilindungi dengan pagar yang cukup atau pegangan pengaman dan injakan serta pintu masuk.4 Penyiapan Lantai Kerja Pekerjaan Penyiapan Lantai Kerja pada Pekerjaan Penurunan Dinding Sumuran Silinder mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Bahaya akibat bahan-bahan dan alat yang akan dipakai. 3) Jika perlu dilakukan pembuatan dinding penahan rembesan. Jika perlu dibuat penahan rembesan air dan dipasang perancah atau tangga yang sesuai dan memenuhi factor keamanan. sarung tangan. 2) Bahaya akibat alat yang sudah rusak.7.16.  Sudah terbiasa menjalankan dan memelihara mesin yang bersangkutan. Pemeriksaaan terhadap peralatan dan bahan sebelum pelaksanaan pekerjaan. 2) Diusahakan sedemikian rupa lantai kerja terbebas dari air. 3) Runtuhnya dinding. 5) Genangan air hasil pemompaan.

16.17. 5. dan konduktor listrik. 4) Potensi luka akibat cangkul/peralatan sejenisnya untuk penimbunan dan pemadatan cara manual. tangan menggunakan sarung tangan yang sesuai dan menggunakan palu yang proporsional. 5. 3) Penimbunan dengan menggunakan mesin harus dilakukan oleh orang yang ahli dibidangnya.7.2 Penggalian Pekerjaan Penggalian pada Pekerjaan Pasangan Batu mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Potensi bahaya akibat pipa gas.17. 5) Terpeleset pada saat menggali. luka akibat kena gergaji.6 Penimbunan Pekerjaan Penimbunan pada Pekerjaan Penurunan Dinding Sumuran Silinder mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Potensi longsor dari tanah timbunan. yang terkena galian. 103 . Jika pemotongan menggunakan gergaji manual atau alat potong otomatis/listrik dilakukan secara hati-hati. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengukuran dan Pematokan pada Pekerjaan Pasangan Batu yaitu : 1) Memasang rambu-rambu pada lokasi pekerjaan untuk melindungi personil yang bekerja dari kendaraan yang melintasi proyek dan menempatkan petugas bendera di semua tempat kegiatan pelaksanaan.Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penurunan Dinding Sumuran pada Pekerjaan Penurunan Dinding Sumuran Silinder yaitu : 1) Diusahakan sedemikian rupa penurunan dinding sumuran dilaksanakan dengan tepat dan telah mengecek kondisi tanah. 2) Diusahakan sedemikian rupa agar waktu memasang patok.160 . luka akibat kena paku.1 Pengukuran dan pematokan Pekerjaan Pengukuran dan Pematokan pada Pekerjaan Pasangan Batu mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Kecelakaan akibat pengukuran yang dilakukan di jalan raya. 3) Terkena cangkul sendiri/ luka akibat lainnya jika penggalian dilakukan malam hari. dan dilakukan oleh orang yang ahli dibidangnya.7. 2) Potensi kecelakaan akibat alat penimbun. 5.17 Pekerjaan pasangan batu 5. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penimbunan pada Pekerjaan Penurunan Dinding Sumuran Silinder yaitu : 1) Timbunan diusahakan agar tetap kering agar tidak membahayakan lalu lintas maupun pekerja. 2) Pelaksanaan timbunan pada tanjakan agar dijaga sedemikian rupa agar tidak membahayakan alat pemadat dengan mesin. pipa air. 2) Kecelakaan akibat terkena cangkul/alat penggali alin dari sesama pekerja.7. 2) Untuk menghindari resiko bahaya kecelakaan alat penurunan dinding sumuran/kerekan terlebih dahulu di periksa baik itu tali/ takel ataupun perlengkapan lainnya. 4) Runtuhnya lereng galian. 4) Penimbunan menggunakan peralatan manual (cangkul/peralatan sejenisnya) dilakukan dengan hati-hati dan mempunyai jarak yang cukup dengan pekerja lainnya. 3) Potensi kecelakaan akibat alat pemadat dengan menggunakan mesin.7. 2) Luka akibat kena pukul palu.

6) Apabila orang sedang bekerja pada ketinggian yang berbeda. pipa air. Operator excavator harus :  Sedikitnya berumur 18 tahun. 3) Diusahakan sedemikian rupa penggalian yang dilakukan dimalam hari menggunakan lampu penerangan yang cukup. sarana yang cukup seperti papan lantai harus disediakan untuk mencegah orang yang ada dibawahnya tertimpa alat atau benda yang terjatuh dari atas. sarung tangan. 3) Jika perlu dilakukan pembuatan dinding penahan rembesan. 5) Apabila tanah tidak menjamin tempat berpijak yang aman.3 Pemompaan Pekerjaan Pemompaan pada Pekerjaan Pasangan Batu mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Kena setrum. Bahaya akibat genangan air di tempat galian.6) 7) 8) 9) Tertimpa benda jatuh dari atas. Potensi kecelakaan akibat penggalian menggunakan mesin penggali/Excavator.17.7. 8) Untuk maksud pengamanan segera setelah memungkinkan bagian atas sumuran harus dilindungi dengan pagar yang cukup atau pegangan pengaman dan injakan serta pintu masuk. balincong. dll). dan konduktor listrik. 3) Runtuhnya dinding. 7) Excavator yang dilengkapi dengan unit untuk panggilan yang dalam harus dirancang sedemikian rupa sehingga gigi pengeruknya tidak dapat mendekati lengannya sampai sejarak 40 cm atau harus dilengkapi dengan suatu alat penyetop yang dapat dipercaya dapat mencegah kejadian ini. Bahaya terperosok ke tempat penggalian. 2) Kaki tergenang air/lecet. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pemompaan pada Pekerjaan Pasangan Batu yaitu : 1) Kabel-kabel yang mengalirkan listrik diberi perlindungan secukupnya. 4) Terpeleset pada saat menurunkan slang pompa.  Sudah terbiasa menjalankan dan memelihara mesin yang bersangkutan.160 . pengaliran air hasil pemompaan diusahakan sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan resiko bahaya kecelakaan. 9) Apabila sumuran sedang digali ke dalam lapisan yang mengandung air. pipa gas. 4) Penggalian pada lereng dan tebing jalan diusahakan agar tetap mempertahankan kemiringan lereng. 4) Lakukan penyumbatan dan pemompaan agar air dapat keluar dari lokasi pemasangan gabion. 2) Para pekerja dilengkapi dengan sepatu boot/karet. yang dapat menimbulkan bahaya selama waktu pekerjaan. 5) Genangan air hasil pemompaan. helm yang sesuai. 5. 5) Pada saat pemompaan dilakukan sebagai langkah dewatering. 104 . Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penggalian pada Pekerjaan Pasangan Batu yaitu : 1) Sebelum pekerjaan di mulai pada setiap tempat galian pemberi kerja harus melakukan pemeriksaan terlebih dahulu atas segala instalasi di bawah tanah seperti saluran pembuangan. Apabila ada sambungan kabel diberi isolasi yang cukup aman. harus disediakan suatu sarana untuk menyelamatkan diri. 2) Diusahakan agar menjaga jarak antar pekerja jika penggalian mengunakan tenaga manusia dengan alat bantu (Cangkul. harus disediakan konstruksi penyangga yang cukup.

semen dan air.6 Penimbunan Pekerjaan Penimbunan pada Pekerjaan Pasangan Batu mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Potensi longsor dari tanah timbunan. 2) Diusahakan sedemikian rupa lantai kerja terbebas dari air. 4) Potensi luka akibat cangkul/peralatan sejenisnya untuk penimbunan dan pemadatan cara manual. 5. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penyiapan Lantai Kerja pada Pekerjaan Pasangan Batu yaitu : 1) Penyiapan peralatan dan bahan sedekat mungkin dengan lokasi pekerjaan. 3) Luka tangan/kaki karena adukan.4 Penyiapan Lantai Kerja Pekerjaan Penyiapan Lantai Kerja pada Pekerjaan Pasangan Batu mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Bahaya akibat bahan-bahan dan alat yang akan dipakai.17. 3) Potensi kecelakaan akibat alat pemadat dengan menggunakan mesin. 4) Penimbunan menggunakan peralatan manual (cangkul/peralatan sejenisnya) dilakukan dengan hati-hati dan mempunyai jarak yang cukup dengan pekerja lainnya.17. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pemasangan pada Pekerjaan Pasangan Batu yaitu : 1) Untuk menjaga resiko kecelakaan para pekerja yang melakukan pemasangan batu dilengkapi dengan sarung tangan. helm dan sepatu boot.7. 3) Diusahakan sedemikan rupa menghindari tangan terjepit oleh batu.5 Pemasangan Pekerjaan Pemasangan pada Pekerjaan Pasangan Batu mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Luka karena tertimpa batu. 2) Bahaya akibat genangan air. Jika perlu dibuat penahan rembesan air dan dipasang perancah atau tangga yang sesuai dan memenuhi faktor keamanan.7.7. 2) Potensi kecelakaan akibat alat penimbun.160 . 2) Pelaksanaan timbunan pada tanjakan agar dijaga sedemikian rupa agar tidak membahayakan alat pemadat dengan mesin. Pemeriksaaan terhadap peralatan dan bahan sebelum pelaksanaan pekerjaan.17. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penimbunan pada Pekerjaan Pasangan Batu yaitu : 1) Timbunan diusahakan agar tetap kering agar tidak membahayakan lalu lintas maupun pekerja. 2) Diusahakan sedemikian rupa menghindari kontak langsung antara tangan/kulit terhadap adukan semen. 2) Debu dari campuran agregat.5. 3) Penimbunan dengan menggunakan mesin harus dilakukan oleh orang yang ahli dibidangnya. 5. 105 .

Jika pengelasan atau pemotongan sedang dilakukan pada bahan yang mengandung racun atau bahan yang berbahaya maka tindakan pencegahan yang cukup keras dilakukan untuk melindungi pekerja dari asap/uap :  Yang keluar dari lubang angin pembuang. kecuali apabila telah diarnbil tindakan keamanan yang memadai. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengelasan pada Pekerjaan Expansion Joint yaitu : 1) Pekerja-pekerja las harus memakai pakaian pelindung tahan api dan perlengkapan seperti kaos tangan tahan api dan baju las/apron.18.  Dengan alat pelindung pernafasan.160 . 5.18 Pemasangan expansion joint 5. luka gores. minyak dan bahanbahan lain yang mudah terbakar. Alat pemadam api yang cocok harus disiapkan untuk penggunaan sewaktu-waktu di tempat di mana pengelasan sedang dilakukan. 6) Percikan bunga api pada pekerja lain. 4) Kecelakaan akibat alat pemotong/mesin las. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengukuran dan Pemotongan pada Pekerjaan Expansion Joint yaitu : 1) Pemotongan yang menggunakan mesin las atau gergaji listrik atau alat pemotong lain harus memperhatikan keselamatan kerja. 3) Pengerjaan pengelasan dan pemotongan tidak boleh dilakukan di dekat tempat penyimpanan bahan yang mudah terbakar.7. atau di dekat bahan yang mudah meledak atau serbuk yang mudah terbakar. 2) Memasang rambu-rambu pada lokasi pekerjaan untuk melindungi personil yang bekerja dari kendaraan yang melintasi proyek dan menempatkan petugas bendera di semua tempat kegiatan pelaksanaan. 2) Tertabrak kendaraan pada saat pengukuran. Pengelasan dilakukan oleh orang yang ahli dibidangnya. agar uap yang dapat menyala tidak memasuki daerah kerja. topi baja dan kaca mata pelindung dengan lensa penyaring yang cocok. selang-selang dll.7.18. gas atau penguapan yang mungkin terjadi. Tindakan pencegahan harus dilakukan.7.2 Pengelasan Pekerjaan Pengelasan pada Pekerjaan Expansion Joint mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Potensi kecelakaan terhadap mata dari mesin las. 7) Arus pendek. 2) Luka bakar.5. tertimpa potongan baja). 2) Pekerja las harus memakai pakaian yang bebas dari lemak/ semir. 5) Pekerja yang membersihkan sisa-sisa logam dan kerak yang melekat di badan dan sebagainya harus : 106 . 3) Kebakaran. tabung gas. 5) Kecelakaan akibat sesama pekerja. (exhaust ventilation) atau.1 Pengukuran dan pemotongan Pekerjaan Pengukuran dan Pemotongan pada Pekerjaan Expansion Joint mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Kecelakaan akibat pemotongan baja dengan menggunakan mesin potong atau las listrik (luka bakar. 4) Untuk menghindari resiko bahaya kecelakaan sebelum melakukan pengelasan di periksa dengan seksama alat-alat yang digunakan untuk pengelasan. lecet.

Bahaya cipratan cor panas.  Pekerjaan las busur dan las potong yang dilaksanakan di tempat dimana selain tukang las juga ada orang yang bekerja atau berjalan melewatinya harus ditutup dengan tabir pelindung tetap atau tabir pelindung yang dapat dipindah.18. Memakai sarung tangan dan kaca mata pelindung atau penutup muka. tidak terkena bahaya bunga api dan radiasi. 7) Mesin las harus dilengkapi dengan saklar pada rangka mesin. 107 . atau dipasang di dekatnya. jika perlu dicat atau dengan cara lain yang serupa.  Permukaan luar penegang elektroda las busur yang dioperasi kan denga tangga temasuk penjepitnya (jaw) haras uiberi isolasi yang efektif. helm. para pekerja sedemikian rupa menggunakan sarung tangan tahan api. 5.  Hanya kabel untuk pekerjaan berat (heavy duty) dengan isolasi yang tidak pecah dapat digunakan.  Pada mesin las busur (arc-welding machine) yang dioperasikan dengan tangan.160 . yang apabila dibuka langsung memutus semua arus listrik dari sumber tenaga dengan ketentuan sebagai berikut :  Arus las listrik harus dirancang sedemikian rupa untuk mencegah transmisi tegangan tinggi dari sumber tenaga ke elektroda las. kabel dan penghubung kabel yang digunakan dalam jaringan listrik pada bagian Supplynya harus diisolasi secara efektif. dan secara mekanik dihubungkan dengan aman kepadanya atau kepada bangku kerja dan sebagainya dan kepada benda-benda logam yang berdekatan.  Penghantar balik arus listrik harus langsung dihubungkan dengan benda kerjanya. 2) Untuk menghindari resiko bahaya kecelakaan persenyawaan dasar sambungan (joint priming compound) harus sesuai dengan disarankan oleh pabrik bahan penutup yang dipilih untuk digunakan. 2) Bahaya zat kimia bahan cor terkena kulit. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengecoran pada Pekerjaan Expansion Joint yaitu : 1) Untuk menghindari resiko bahaya kecelakaan pengerjaan pengecoran penutup sambungan horizontal.  Menjamin bahwa orang lain tidak tersentuh oleh pecahan-pecahan.  Penghubung arus listrik harus tahan air.potongan / pecahan-pecahan dari badan. kacamata pelindung untuk menghindari cipratan coran. 6) Tindakan pencegahan harus dilaksanakan untuk melindungi agar orang yang melewati dekat pengelasan. vertical atau miring dari bitumen karet yang dicor panas.  Pantulan cahaya.  Membersihkan potongan .  Kabel-kabel harus disangga agar tidak menimbulkan bahaya atau halangan.3 Pengecoran Pekerjaan Pengecoran pada Pekerjaan Expansion Joint mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Bahaya luka bakar pada saat pengerjaan pengecoran penutup sambungan horizontal.  Penghantar elektroda atau kabel-kabel tidak bocor terlalu panjang atau terlalu pendek dari yang diperlukan untuk bekerja.  Dinding atau tabir pelindung permanen atau sementara harus dapat menyerap sinar yang berbahaya dari alat pengelas dan mencegah. vertical atau miring dari bitumen karet yang dicor panas.7.

2) Perletakan harus disimpan pada tempat yang aman dan tidak mengganggu. Pengelasan dilakukan oleh orang yang ahli dibidangnya. 3) Kebakaran.1 Pengukuran dan penempatan Pekerjaan Pengukuran dan Penempatan pada Pekerjaan Pemasangan Perletakan mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Bahaya tertabrak pada saat pengukuran jika pengukuran dilakukan di jalan raya. 9) Bahaya terlepasnya penggunaan penjepit sementara. kecuali apabila telah diarnbil tindakan keamanan yang memadai.19. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengelasan dan Pemasangan pada Pekerjaan Pemasangan Perletakan yaitu : 1) Pekerja-pekerja las harus memakai pakaian pelindung tahan api dan perlengkapan seperti kaos tangan tahan api dan baju las/apron. 2) Luka bakar. 4) Untuk menghindari resiko bahaya kecelakaan sebelum melakukan pengelasan di periksa dengan seksama alat-alat yang digunakan untuk pengelasan.5. 3) Pengerjaan pengelasan dan pemotongan tidak boleh dilakukan di dekat tempat penyimpanan bahan yang mudah terbakar. tabung gas. 11) Bahaya robohya penyangga. 6) Percikan bunga api pada pekerja lain. 8) Bahaya akibat baut pengunci dan dowel pelengkap pada perletakannya tidak sempurna. gas atau penguapan yang mungkin terjadi. 10) Robohnya perletakan akaibat menahan beban pada saat pemasangan. 2) Bahaya pada saat penempatan bahan-bahan/material. 5) Kecelakaan akibat sesama pekerja.  Dengan alat pelindung pernafasan. 7) Arus pendek. minyak dan bahanbahan lain yang mudah terbakar. Tindakan pencegahan harus dilakukan. selang-selang dll. (exhaust ventilation) atau. topi baja dan kaca mata pelindung dengan lensa penyaring yang cocok. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengukuran dan Penempatan pada Pekerjaan Pemasangan Perletakan yaitu : 1) Memasang rambu-rambu pada lokasi pekerjaan untuk melindungi personil yang bekerja dari kendaraan yang melintasi proyek dan menempatkan petugas bendera di semua tempat kegiatan pelaksanaan. 2) Pekerja las harus memakai pakaian yang bebas dari lemak/ semir.19 Pemasangan Perletakan 5. Jika pengelasan atau pemotongan sedang dilakukan pada bahan yang mengandung racun atau bahan yang berbahaya maka tindakan pencegahan yang cukup keras dilakukan untuk melindungi pekerja dari asap/uap :  Yang keluar dari lubang angin pembuang.7. atau di dekat bahan yang mudah meledak atau serbuk yang mudah terbakar. Alat pemadam api yang cocok harus disiapkan untuk penggunaan sewaktu-waktu di tempat di mana pengelasan sedang dilakukan.7. 4) Kecelakaan akibat alat pemotong/mesin las. 5.160 .19.2 Pengelasan dan pemasangan Pekerjaan Pengelasan dan Pemasangan pada Pekerjaan Pemasangan Perletakan mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Potensi kecelakaan terhadap mata dari mesin las. agar uap yang dapat menyala tidak memasuki daerah kerja. 108 .7.

7.20 Sandaran jembatan baja 5. kabel dan penghubung kabel yang digunakan dalam jaringan listrik pada bagian Supplynya harus diisolasi secara efektif. 2) Bahaya karena bahan yang dipakai.  Kabel-kabel harus disangga agar tidak menimbulkan bahaya atau halangan.  Pada mesin las busur (arc-welding machine) yang dioperasikan dengan tangan. 4) Proses pabrikasi menghindari kecelakaan yang diakibatkan sesama pekerja ataupun yang diakibatkan oleh alat atau bahan. perancah atau alat penyangga lainnya harus mempunyai tingkat keamanan yang cukup dan memenuhi ketentuan. 8) Perletakan.  Membersihkan potongan .20. 6) Tindakan pencegahan harus dilaksanakan untuk melindungi agar orang yang melewati dekat pengelasan.  Penghantar elektroda atau kabel-kabel tidak bocor terlalu panjang atau terlalu pendek dari yang diperlukan untuk bekerja. 11) Bila digunakan steger.  Penghantar balik arus listrik harus langsung dihubungkan dengan benda kerjanya. 10) Pemasangan penyangga sementara harus ditanam dengan kokoh pada struktur dengan baut jangkar. tidak terkena bahaya bunga api dan radiasi.160 .5) Pekerja yang membersihkan sisa-sisa logam dan kerak yang melekat di badan dan sebagainya harus :  Memakai sarung tangan dan kaca mata pelindung atau penutup muka. 109 . 5.7. 7) Mesin las harus dilengkapi dengan saklar pada rangka mesin.  Dinding atau tabir pelindung permanen atau sementara harus dapat menyerap sinar yang berbahaya dari alat pengelas dan mencegah. yang apabila dibuka langsung memutus semua arus listrik dari sumber tenaga dengan ketentuan sebagai berikut :  Arus las listrik harus dirancang sedemikian rupa untuk mencegah transmisi tegangan tinggi dari sumber tenaga ke elektroda las.  Hanya kabel untuk pekerjaan berat (heavy duty) dengan isolasi yang tidak pecah dapat digunakan.1 Sandaran jembatan baja Pekerjaan Sandaran Jembatan Baja mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu: 1) Bahaya terjatuh dari jembatan.  Menjamin bahwa orang lain tidak tersentuh oleh pecahan-pecahan.  Penghubung arus listrik harus tahan air.  Pantulan cahaya. baut pengunci dan dowel pelengkap harus diletakkan sedemikian rupa hingga sumbunya ada pada rentang +3 mm dari posisi yang seharusnya.  Permukaan luar penegang elektroda las busur yang dioperasi kan denga tangga temasuk penjepitnya (jaw) haras uiberi isolasi yang efektif.potongan / pecahan-pecahan dari badan. dan secara mekanik dihubungkan dengan aman kepadanya atau kepada bangku kerja dan sebagainya dan kepada benda-benda logam yang berdekatan. 9) Menjaga orientasi bagian-bagian dengan tepat digunakan alat-alat penjepit sementara.  Pekerjaan las busur dan las potong yang dilaksanakan di tempat dimana selain tukang las juga ada orang yang bekerja atau berjalan melewatinya harus ditutup dengan tabir pelindung tetap atau tabir pelindung yang dapat dipindah. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Sandaran Jembatan Baja yaitu : 3) Proses pabrikasi dilakukan secara terpisah dan ditempatkan secara khusus. atau dipasang di dekatnya. jika perlu dicat atau dengan cara lain yang serupa.

Pengelasan dilakukan oleh orang yang ahli dibidangnya. kecuali apabila telah diarnbil tindakan keamanan yang memadai. 2) Pekerja las harus memakai pakaian yang bebas dari lemak/ semir. topi baja dan kaca mata pelindung dengan lensa penyaring yang cocok. 6) Tindakan pencegahan harus dilaksanakan untuk melindungi agar orang yang melewati dekat pengelasan.  Penghantar elektroda atau kabel-kabel tidak bocor terlalu panjang atau terlalu pendek dari yang diperlukan untuk bekerja. 5) Kecelakaan akibat sesama pekerja. 7) Mesin las harus dilengkapi dengan saklar pada rangka mesin. 3) Pengerjaan pengelasan dan pemotongan tidak boleh dilakukan di dekat tempat penyimpanan bahan yang mudah terbakar. 8) Percikan bunga api pada pekerja lain. selang-selang dll. agar uap yang dapat menyala tidak memasuki daerah kerja. 6) Percikan bunga api pada pekerja lain. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengelasan dan Pemasangan pada Pekerjaan Sandaran Baja yaitu : 1) Pekerja-pekerja las harus memakai pakaian pelindung tahan api dan perlengkapan seperti kaos tangan tahan api dan baju las/apron. yang apabila dibuka langsung memutus semua arus listrik dari sumber tenaga dengan ketentuan sebagai berikut :  Arus las listrik harus dirancang sedemikian rupa untuk mencegah transmisi tegangan tinggi dari sumber tenaga ke elektroda las. terpalu dll.160 . 2) Luka bakar. 7) Arus pendek.7.potongan / pecahan-pecahan dari badan. Tindakan pencegahan harus dilakukan.  Dengan alat pelindung pernafasan. (exhaust ventilation) atau. 110 .  Membersihkan potongan . minyak dan bahanbahan lain yang mudah terbakar. tabung gas. 4) Kecelakaan akibat alat pemotong/mesin las.  Menjamin bahwa orang lain tidak tersentuh oleh pecahan-pecahan. gas atau penguapan yang mungkin terjadi.2 Pengelasan dan pemasangan Pekerjaan Pengelasan dan Pemasangan pada Pekerjaan Sandaran Baja mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Potensi kecelakaan terhadap mata dari mesin las. Alat pemadam api yang cocok harus disiapkan untuk penggunaan sewaktu-waktu di tempat di mana pengelasan sedang dilakukan. 9) Potensi bahaya pemasangan/penyetelan sandaran jembatan karena terjepit. 3) Kebakaran.20. atau di dekat bahan yang mudah meledak atau serbuk yang mudah terbakar.5. 5) Pekerja yang membersihkan sisa-sisa logam dan kerak yang melekat di badan dan sebagainya harus :  Memakai sarung tangan dan kaca mata pelindung atau penutup muka. Jika pengelasan atau pemotongan sedang dilakukan pada bahan yang mengandung racun atau bahan yang berbahaya maka tindakan pencegahan yang cukup keras dilakukan untuk melindungi pekerja dari asap/uap :  Yang keluar dari lubang angin pembuang. tidak terkena bahaya bunga api dan radiasi. 4) Untuk menghindari resiko bahaya kecelakaan sebelum melakukan pengelasan di periksa dengan seksama alat-alat yang digunakan untuk pengelasan. atau dipasang di dekatnya.

 Pekerjaan las busur dan las potong yang dilaksanakan di tempat dimana selain tukang las juga ada orang yang bekerja atau berjalan melewatinya harus ditutup dengan tabir pelindung tetap atau tabir pelindung yang dapat dipindah.  Penghubung arus listrik harus tahan air. 2) Terjatuh pada saat pengecatan pada ketinggian tertentu.160 .  Dinding atau tabir pelindung permanen atau sementara harus dapat menyerap sinar yang berbahaya dari alat pengelas dan mencegah.7. 3) Luka/gatel/noda pada tangan akibat bahan pengawet.21.3 Pengecatan Pekerjaan Pengecatan pada Pekerjaan Sandaran Baja mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Luka pada tangan akibat sistem pencelupan panas pada proses galvanize.  Pantulan cahaya. Pekerja yang melakukan pengecatan menggunakan sarung tangan untuk melindungi kulit dan menggunakan cream.  Pada mesin las busur (arc-welding machine) yang dioperasikan dengan tangan.21 Pembongkaran pasangan batu 5.20. 111 .7. dan secara mekanik dihubungkan dengan aman kepadanya atau kepada bangku kerja dan sebagainya dan kepada benda-benda logam yang berdekatan. 5. 2) Kecelakaan atau tertabrak kendaraan pada saat melakukan pengukuran di jalan raya. helm.7.  Kabel-kabel harus disangga agar tidak menimbulkan bahaya atau halangan. 9) Diusahakan sedemikian rupa pemasangan/penyetelan sandaran jembatan menghindari resiko bahaya kecelakaan baik karena terjepit.  Hanya kabel untuk pekerjaan berat (heavy duty) dengan isolasi yang tidak pecah dapat digunakan. terpalu dll.1 Pengukuran dan pematokan Pekerjaan Pengukuran dan Pematokan pada Pekerjaan Pasangan Batu mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Gangguan kesehatan atau gangguan fisik akibat pekerja tidak memakai perlengkapan kerja yang sesuai dengan syarat. masker pernapasan. helm. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengecatan pada Pekerjaan Sandaran Baja yaitu : 1) Proses pengecatan / proses galvanisasi dengan sistem pencelupan panas harus dilakukan oleh orang yang ahli dibidangnya dan dilakukan secara hati-hati. 2) Jika pegecatan dilakukan pada tempat yang tinggi maka pekerja diberi sabuk pengaman. kabel dan penghubung kabel yang digunakan dalam jaringan listrik pada bagian Supplynya harus diisolasi secara efektif. sepatu boot. jika perlu dicat atau dengan cara lain yang serupa. 8) Pekerja dilengkapi dengan sarung tangan. 3) Terluka pada kaki atau tangan akibat terkena paku atau palu. Penghantar balik arus listrik harus langsung dihubungkan dengan benda kerjanya. 3) Pekerja yang melakukan pengecatan harus menggunakan sarung tangan.  Permukaan luar penegang elektroda las busur yang dioperasi kan denga tangga temasuk penjepitnya (jaw) haras uiberi isolasi yang efektif. sepatu boot dan sabuk pengaman yang sesuai. 5.

21. 2) Kecelakaan atau tertabrak oleh kendaraan yang melintas. 5) Terjadi luka terkena meteran baja. terbentur dll. 4) Terjadi kecelakaan akibat robohnya bongkaran batu.7.21. 2) Jika pembongkaran menggunakan cangkul/alat sejenis lainnya diusahakan sedemikian rupa mempunyai jarak yang cukup sesama pekerja. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pembongkaran pada Pekerjaan Pasangan Batu yaitu : 1) Tenaga kerja di bagian pembongaran harus memakai sepatu pengaman topi pengaman dan sarung tangan.8. 3) Pelaksanaan pengukuran dan pematokan harus dilakukan oleh pekerja yang terampil dan berpengalaman.Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengukuran dan Pematokan pada Pekerjaan Pasangan Batu yaitu : 1) Pekerja harus memakai pakaian dan perlengkapan kerja yang sesuai (sarung tangan.160 .3 Pembuangan Pekerjaan Pembuangan pada Pekerjaan Pasangan Batu mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Tertimpa hasil bongkaran pada saat mengangkut hasil bongkaran. 112 . 2) Memasang rambu-rambu pada lokasi pekerjaan untuk melindungi personil yang bekerja dari kendaraan yang melintasi proyek dan menempatkan petugas bendera di semua tempat kegiatan pelaksanaan. 3) Bahaya karena pekerja lainnya. 2) Terluka pada saat penumpahan hasil bongkaran di tempat pembuangan. 3) Pembongkaran harus dilakukan oleh tenaga kerja yang cakap. 5.8. 2) Bahaya terkena alat pembongkar (cangkul/belincong/alat sejenis lainnya).7. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pembuangan pada Pekerjaan Pasangan Batu yaitu : 1) Untuk mencegah resiko bahaya kecelakaan pembuangan hasil bongkaran diusahakan sedemikian rupa tidak menimbulkan bahaya dan dibuang pada tempat yang cocok.2 Pembongkaran Pekerjaan Pembongkaran pada Pekerjaan Pasangan Batu mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terjadi luka/lecet pada tangan.8 5. 2) Pemuatan hasil bongkaran ke dalam dumptruk atau alat angkut sejenisnya dilakukan secara hati-hati untuk menghidari bahaya kecelakaan seperti tertimpa batu. 5.1 Pengukuran dan pematokan Pekerjaan Pengukuran dan Pematokan pada Pekerjaan Pondasi Agregat Kelas A mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terluka akibat penggunaan meteran baja tidak benar.1 Pengembalian kondisi dan pekerjaan minor Pekerjaan pondasi agregat kelas A 5. 5. sepatu boot dan helm) serta memenuhi syarat. 3) Terluka pada saat memasang patok akibat patok terlalu panjang. 4) Pembongkaran harus dimulai pada bagian atas dan diteruskan ke arah bawah.1. 4) Kecelakaan terkena palu yang terlepas akibat palu terlalu berat.

stamper. 3) Terluka oleh Mesin pemadat (Grader. helm dll. 3) Menjaga agar tidak ada orang luar maupun pekerja lain berada di lokasi pemadatan pada waktu mesin pemadat aspal (Tandem) bekerja memadatkan Hotmix di lokasi pekerjaan atau penggunaan alat pemadat Tamfer. sepatu boot dan Helm yang sesuai dengan standar. 4) Senantiasa selalu menjaga jarak aman antara pekerja satu dengan lainnya. 2) Memasang rambu-rambu pada lokasi pekerjaan untuk melindungi personel yang bekerja dari kendaraan yang melintasi proyek dan menempatkan petugas bendera disemua tempat kegiatan pelaksanaan.1.8.) yang memenuhi standar. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pemadatan pada Pekerjaan Pondasi Agregat Kelas A yaitu : 1) Pekerja harus memakai pakaian dan perlengkapan (sepatu boot. 2) Kecelakaan oleh robohnya/amblasnya tanah akibat tanah tidak stabil. dll). 5.2 Pemadatan Pekerjaan Pemadatan pada Pekerjaan Pondasi Agregat Kelas A mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terjadi iritasi pada kulit dan paru-paru akibat debu yang ditimbulkan dari proses pemadatan. 2) Memeriksa stabilitas tanah dan harus diuji terlebih dahulu oleh orang yang ahli sebelum pemadatan pada lokasi pekerjaan.8. 5) Terjadi gangguan lalu lintas kendaraan. tidak terlalu berat maupun panjang untuk menghindari terjadinya kecelakaan. 6) Terjadi gangguan lalu lintas penduduk sekitar. dll). 5. 50 cm).3 Penyiraman Pekerjaan Penyiraman pada Pekerjaan Pondasi Agregat Kelas A mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terjadi iritasi pada kulit dan paru-paru akibat penyiraman dengan air yang tidak memenuhi standar. 6) Senantiasa selalu menjaga jarak aman antara pekerja satu dengan lainnya. 6) Membuat jalan sementara untuk lalu lalang penduduk sekitar untuk melintasi jalan akibat adanya penghamparan. sarung tangan. 3) Patok yang digunakan tidak terlalu panjang (maks.6) Terjadi kecelakaan atau terluka akibat jarak antara pekerja terlalu dekat. 4) Terjadi kecelakaan atau terluka oleh karena jarak antar pekerja yang satu dan lainyna terlalu dekat. 4) Palu yang dipakai harus sesuai/proposional. 3) Terjadi gangguan lalu lintas kendaraan yang dapat menyebabkan kecelakaan. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengukuran dan Pematokan pada Pekerjaan Pondasi Agregat Kelas A yaitu : 1) Pekerja harus terampil dan berpengalaman dibidangnya.1. 5) Memasang rambu-rambu pada lokasi pekerjaan untuk melindungi personel yang bekerja dari kendaraan yang melintasi proyek dan menempatkan petugas bendera disemua tempat kegiatan pelaksanaan. 2) Terluka oleh karena pengoperasian mesin water tanker (Grader. Mengatur lalu lintas agar tetap berjalan dengan lancar dengan cara mengerjakan pekerjaan ½ bagian terlebih dahulu. 5) Pekerja harus memakai pakaian dan perlengkapan seperti sarung tangan. 113 .160 .

6) Terjadi kecelakaan atau terluka akibat jarak antara pekerja terlalu dekat. 3) Terluka oleh Mesin pemadat (Grader. 4) Palu yang dipakai harus sesuai/proposional. 3) Terluka pada saat memasang patok akibat patok terlalu panjang. 2) Pengoperasian water tangker harus dilakukan oleh orang yang terampil dan berpengalaman di bidangnya dan menjaga agar tidak ada orang luar maupun pekerja yang lain berada di lokasi penyiraman pada waktu mesin penyiram dari water tanker bekerja membasahi agregat pada lokasi pekerjaan.2 Pekerjaan pondasi agregat kelas B 5. sepatu boot dan Helm yang sesuai dengan standar. 50 cm). 3) Patok yang digunakan tidak terlalu panjang (maks.2. 114 . 5. 6) Senantiasa selalu menjaga jarak aman antara pekerja satu dengan lainnya.Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penyiraman pada Pekerjaan Pondasi Agregat Kelas A yaitu : 1) Penyiraman menggunakan air yang tidak berbau atau sesuai dengan standar. 4) Terjadi kecelakaan atau terluka oleh karena jarak antar pekerja yang satu dan lainyna terlalu dekat. 2) Memasang rambu-rambu pada lokasi pekerjaan untuk melindungi personel yang bekerja dari kendaraan yang melintasi proyek dan menempatkan petugas bendera disemua tempat kegiatan pelaksanaan. 4) Kecelakaan terkena palu yang terlepas akibat palu terlalu berat. 5) Terjadi gangguan lalu lintas kendaraan. 3) Memasang rambu-rambu pada lokasi pekerjaan untuk melindungi personel yang bekerja dari kendaraan yang melintasi proyek dan menempatkan petugas bendera disemua tempat kegiatan pelaksanaan. dll). 2) Kecelakaan oleh robohnya/amblasnya tanah akibat tanah tidak stabil. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pemadatan pada Pekerjaan Pondasi Agregat Kelas B yaitu : 1) Pekerja harus memakai pakaian dan perlengkapan (sepatu boot.8. 5) Terjadi luka terkena meteran baja.1 Pengukuran dan pematokan Pekerjaan Pengukuran dan Pematokan pada Pekerjaan Pondasi Agregat Kelas B mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terluka akibat penggunaan meteran baja tidak benar. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengukuran dan Pematokan pada Pekerjaan Pondasi Agregat Kelas B yaitu : 1) Pekerja harus terampil dan berpengalaman dibidangnya. stamper.8. 6) Terjadi gangguan lalu lintas penduduk sekitar.2. tidak terlalu berat maupun panjang untuk menghindari terjadinya kecelakaan.8. helm dll.160 .2 Pemadatan Pekerjaan Pemadatan pada Pekerjaan Pondasi Agregat Kelas B mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terjadi iritasi pada kulit dan paru-paru akibat debu yang ditimbulkan dari proses pemadatan. 5. sarung tangan.) yang memenuhi standar. 5) Pekerja harus memakai pakaian dan perlengkapan seperti sarung tangan. 2) Kecelakaan atau tertabrak oleh kendaraan yang melintas.

3) Terjadi gangguan pendengaran dari alat yang dipakai.2) Memeriksa stabilitas tanah dan harus diuji terlebih dahulu oleh orang yang ahli sebelum pemadatan pada lokasi pekerjaan. 6) Membuat jalan sementara untuk lalu lalang penduduk sekitar untuk melintasi jalan akibat adanya penghamparan.1 Pembersihan permukaan perkerasan Pekerjaan Pembersihan Permukaan Perkerasan pada Pekerjaan Campuran Aspal Panas mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terjadi iritasi pada kulit.) yang memenuhi standar. 2) Terluka oleh Compressor/sikat mekanis pada waktu membersihkan perkerasan lama. 5) Memasang rambu-rambu pada lokasi pekerjaan untuk melindungi personel yang bekerja dari kendaraan yang melintasi proyek dan menempatkan petugas bendera disemua tempat kegiatan pelaksanaan. helm dll.8. 3) Terjadi gangguan lalu lintas kendaraan yang dapat menyebabkan kecelakaan. 5) Terjadi kecelakaan atau terluka akibat jarak antar pekerja terlalu dekat. dll). Terluka akibat penggaruk baja saat membersihkan tonjolan/lubang yang disebabkan benda-benda asing lainnya diatas permukaan perkerasan lama. mata dan paru-paru akibat debu dari penyemprotan permukaan perkerasan lama. Mengatur lalu lintas agar tetap berjalan dengan lancar dengan cara mengerjakan pekerjaan ½ bagian terlebih dahulu.2. 115 . 2) Penggunaan alat-alat pembersih permukaan perkerasan dilakukan oleh orang yang ahli dan berpengalaman dibidangnya. sarung tangan. 3) Memasang rambu-rambu pada lokasi pekerjaan untuk melindungi personel yang bekerja dari kendaraan yang melintasi proyek dan menempatkan petugas bendera disemua tempat kegiatan pelaksanaan.160 . 2) Terluka oleh karena pengoperasian mesin water tanker (Grader. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pembersihan Permukaan Perkerasan pada Pekerjaan Campuran Aspal Panas yaitu : 1) Pekerja harus memakai pakaian dan perlengkapan (sepatu boot. 2) Pengoperasian water tangker harus dilakukan oleh orang yang terampil dan berpengalaman di bidangnya dan menjaga agar tidak ada orang luar maupun pekerja yang lain berada di lokasi penyiraman pada waktu mesin penyiram dari water tanker bekerja membasahi agregat pada lokasi pekerjaan. 3) Menjaga agar tidak ada orang luar maupun pekerja lain berada di lokasi pemadatan pada waktu mesin pemadat aspal (Tandem) bekerja memadatkan Hotmix di lokasi pekerjaan atau penggunaan alat pemadat Tamfer.3 Penyiraman Pekerjaan Penyiraman pada Pekerjaan Pondasi Agregat Kelas B mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terjadi iritasi pada kulit dan paru-paru akibat penyiraman dengan air yang tidak memenuhi standar. 5.8. 4) Senantiasa selalu menjaga jarak aman antara pekerja satu dengan lainnya. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penyiraman pada Pekerjaan Pondasi Agregat Kelas B yaitu : 1) Penyiraman menggunakan air yang tidak berbau atau sesuai dengan standar. 3) Pekerja harus menggunakan tutup telinga.3.3 Pekerjaan campuran aspal panas 5. 4) Terjadi gangguan lalu lintas kendaraan. 5.8.

sarung tangan.8. 5) Terjadi gangguan lalu lintas penduduk sekitar. 3) Terjadi kerusakan pada pohon. 2) Terjadi gangguan lalu lintas kendaraan.3. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penyemprotan pada Pekerjaan Campuran Aspal Panas yaitu : 1) Petugas penyemprot harus mengenakan pakaian dan perlengkapan seperti. 5) Terjadi kecelakaan atau terluka oleh karena jarak antar pekerja terlalu dekat. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penghamparan pada Pekerjaan Campuran Aspal Panas s yaitu : 1) Petugas penyemprot harus mengenakan pakaian dan perlengkapan seperti. 2) Terluka akibat pipa alat penyemprot dalam kondisi panas. kacamata dan lain-lain yang sesuai dengan standar.3 Penghamparan Pekerjaan Penghamparan pada Pekerjaan Campuran Aspal Panas mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terjadi iritasi pada mata. 4) Selalu menjaga jarak yang aman antara pekerja satu dengan lainnya. kulit dan paru-paru akibat uap dan panas dari aspal. 6) Terjadi luka oleh percikan aspal panas. sepatu boot. 5) Selalu menjaga jarak yang aman antara pekerja satu dengan lainnya. helm dan lain-lain yang sesuai dengan standar. 5. masker. Terluka oleh Dump Truck sewaktu menuangkan Hotmix ke dalam Finisher. 3) Penyeprotan harus dilakukan sedemikian sehingga tidak menimbulkan kerusakan pada pohon. 7) Terjadi gangguan lalu lintas penduduk sekitar. 2) Memasang rambu-rambu pada lokasi pekerjaan untuk melindungi personel yang bekerja dari kendaraan yang melintasi proyek dan menempatkan petugas bendera disemua 116 .3. 3) Terluka oleh mesin penghampar aspal (Finisher). 2) Pelaksanaan penyemprotan harus dilakukan oleh pekerja terampil dan berpengalaman dibidangnya dan selalu menjaga agar tidak ada orang luar maupun pekerja lain berada di lokasi penyemprotan ketika alat penyemprot aspal (aspal sprayer) bekerja menyiram aspal pada agregat. 4) Kecelakaan akibat penempatan material di lokasi pekerjaan yang tidak segera dihampar.8. struktur atau bangunan yang berdekatan dengan lokasi dari percikan aspal. 5) Memasang rambu-rambu pada lokasi pekerjaan untuk melindungi personel yang bekerja dari kendaraan yang melintasi proyek dan menempatkan petugas bendera disemua tempat kegiatan pelaksanaan dan mengatur lalu lintas agar tetap berjalan dengan lancar dengan cara mengerjakan pekerjaan ½ bagian terlebih dahulu. struktur atau bangunan yang berdekatan dengan lokasi dari percikan aspal dan kerusakan lainnya. helm. Kecelakaan atau terluka oleh mesin pompa aspal serta tangki aspal. 4) Terjadi kecelakaan atau terluka oleh karena jarak antar pekerja terlalu dekat.160 . 5.4) Memasang rambu-rambu pada lokasi pekerjaan untuk melindungi personel yang bekerja dari kendaraan yang melintasi proyek dan menempatkan petugas bendera disemua tempat kegiatan pelaksanaan. sepatu boot. kulit dan paru-paru akibat uap dan panas dari aspal. sarung tangan.2 Penyemprotan Pekerjaan Penyemprotan pada Pekerjaan Campuran Aspal Panas mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terjadi luka oleh percikan aspal panas dan terjadi iritasi pada mata.

4) Pengoperasian mesin pemadat harus dilakukan oleh petugas terampil dan berpengalaman dibidangnya serta menjaga agar tidak ada orang luar maupun pekerja yang lain di tempat pemadatan pada waktu mesin pemadat aspal (Tandem) bekerja memadatkan Hotmix.3. harus dilakukan pemeriksaan stabilitas tanahnya terlebih dahulu. 4) Terluka oleh Mesin pemadat aspal (Tandem roller/ Pneumatic Tire Roller. kacamata dan lain-lain yang sesuai dengan standar. 2) Terluka oleh pengoperasian mesin water tanker. kacamata dan lain-lain yang sesuai dengan standar. 2) Terjadi gangguan lalu lintas kendaraan. helm. masker. 3) Sebelum dilakukan pemadatan. 2) Memasang rambu-rambu pada lokasi pekerjaan untuk melindungi personel yang bekerja dari kendaraan yang melintasi proyek dan menempatkan petugas bendera disemua tempat kegiatan pelaksanaan serta mengatur lalu lintas agar tetap berjalan dengan lancar dengan cara mengerjakan pekerjaan ½ bagian terlebih dahulu. 5) Senantiasa menjaga jarak aman antar pekerja satu dan pekerja lainnya.4 Pemadatan Pekerjaan Pemadatan pada Pekerjaan Campuran Aspal Panas mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terjadi iritasi pada mata. 3) Terjadi gangguan lalu lintas kendaraan. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pemadatan pada Pekerjaan Campuran Aspal Panas yaitu : 1) Petugas harus mengenakan pakaian dan perlengkapan seperti. 6) Terjadi gangguan lalu lintas penduduk sekitar. Menyediakan jalan sementara bagi penduduk setempat. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penyiraman pada Pekerjaan Campuran Aspal Panas yaitu : 1) Petugas harus mengenakan pakaian dan perlengkapan seperti. 117 . 3) Terjadi kecelakaan oleh robohnya tanah dipinggir bahu akibat tanah tidak stabil. sepatu boot. 5) Kecelakaan oleh karena jarak antar pekerja yang merapikan hasil pemadatan terlalu dekat. kulit dan paru-paru akibat uap dan panas dari aspal.3) 4) 5) 6) 7) tempat kegiatan pelaksanaan serta mengatur lalu lintas agar tetap berjalan dengan lancar dengan cara mengerjakan pekerjaan ½ bagian terlebih dahulu. helm. Terjadi kerusakan sarana dan prasarana Utilitas Jalan. Senantiasa menjaga jarak aman antar pekerja satu dan pekerja lainnya.8. Menjaga agar tidak ada orang luar maupun pekerja lain berada di tempat dimana Dump Truck sedang menuangkan Hotmix ke dalam Finisher di lokasi pekerjaan.160 . sepatu boot. Penempatan material yang tidak segera dihampar harus di tempat yang aman. 5.5 Penyiraman Pekerjaan Penyiraman pada Pekerjaan Campuran Aspal Panas mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terjadi iritasi pada kulit dan paru-paru akibat penyiraman yang berbau.8.3. 6) Menyediakan jalan sementara bagi penduduk setempat. sarung tangan. masker. Tamper dll). sarung tangan. 5. Operator mesin penghampar aspal harus dilakukan oleh tenaga yang terampil dan berpengalaman dibidangnya dan menjaga agar tidak ada orang luar maupun pekerja lain berada di tempat penghamparan pada waktu mesin penghampar aspal ( Finisher) bekerja menghampar Hotmix.

4. sepatu boot. 2) Pelaksanaan penyemprotan harus dilakukan oleh pekerja terampil dan berpengalaman dibidangnya dan selalu menjaga agar tidak ada orang luar maupun pekerja lain berada di lokasi penyemprotan ketika alat penyemprot aspal (aspal sprayer) bekerja menyiram aspal pada agregat.160 . Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pembakaran pada Pekerjaan Lasbutag atau Latasbusir yaitu : 1) Petugas harus mengenakan pakaian dan perlengkapan seperti. kulit dan paru-paru akibat asap dan panas dari api pembakaran. 5) Terjadi gangguan lalu lintas penduduk sekitar. sarung tangan. 2) Terluka akibat pipa alat penyemprot dalam kondisi panas. 5. helm.8.8. struktur atau bangunan yang berdekatan dengan lokasi pembakaran.4 Pekerjaan lasbutag atau latasbusir 5. 3) Terjadinya kebakaran. 2) Melakukan pembakaran pada lokasi yang aman dari bahaya kebakaran. Kecelakaan atau terluka oleh mesin pompa aspal serta tangki aspal.8.4. 4) Menggunakan kacamata dan masker untuk mencegah iritasi mata dan paru-paru akibat asap dan panas dari api pembakaran dan aspal. 3) Terjadi kerusakan pada pohon.2) Operator mesin penyiram harus dilakukan oleh tenaga yang terampil dan berpengalaman dibidangnya dan menjaga agar tidak ada orang luar maupun pekerja lain berada di tempat penyiraman ketika mesin penyiram sedang bekerja. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penyemprotan pada Pekerjaan Lasbutag atau Latasbusir yaitu : 1) Petugas penyemprot harus mengenakan pakaian dan perlengkapan seperti. 5) Terjadi kerusakan pada pohon. sarung tangan. masker. kacamata dan lain-lain yang sesuai dengan standar. 3) Memasang rambu-rambu pada lokasi pekerjaan untuk melindungi personel yang bekerja dari kendaraan yang melintasi proyek dan menempatkan petugas bendera disemua tempat kegiatan pelaksanaan serta mengatur lalu lintas agar tetap berjalan dengan lancar dengan cara mengerjakan pekerjaan ½ bagian terlebih dahulu. kulit dan paru-paru akibat uap dan panas dari aspal.1 Pembakaran Pekerjaan Pembakaran pada Pekerjaan Lasbutag atau Latasbusir mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terluka oleh percikan aspal panas. 4) Terjadi kecelakaan atau terluka oleh karena jarak antar pekerja terlalu dekat. 5. 5) Sejumlah alat pemadam kebakaran yang cukup harus selalu disiapkan di tempat pekerjaan.2 Penyemprotan Pekerjaan Penyemprotan pada Pekerjaan Lasbutag atau Latasbusir mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terjadi luka oleh percikan aspal panas dan terjadi iritasi pada mata. helm dan lain-lain yang sesuai dengan standar. 118 . 2) Terluka oleh api pembakaran. struktur atau bangunan yang berdekatan dengan lokasi dari percikan aspal. sepatu boot. 3) Menjaga api tidak terlalu besar. 4) Terjadi iritasi terhadap mata.

8. 5) Terjadi kecelakaan atau terluka oleh karena jarak antar pekerja terlalu dekat. kulit dan paru-paru akibat uap dan panas dari aspal. 3) Terjadi kecelakaan oleh robohnya tanah dipinggir bahu akibat tanah tidak stabil. 119 . 4) Penempatan material yang tidak segera dihampar harus di tempat yang aman. 5) Kecelakaan oleh karena jarak antar pekerja yang merapikan hasil pemadatan terlalu dekat. 6) Menjaga agar tidak ada orang luar maupun pekerja lain berada di tempat dimana Dump Truck sedang menuangkan Hotmix ke dalam Finisher di lokasi pekerjaan. sepatu boot. masker. kulit dan paru-paru akibat uap dan panas dari aspal. Terjadi kerusakan sarana dan prasarana Utilitas Jalan. 7) Terjadi gangguan lalu lintas penduduk sekitar. 3) Terluka oleh mesin penghampar aspal (Finisher). kacamata dan lain-lain yang sesuai dengan standar. 5.4 Pemadatan Pekerjaan Pemadatan pada Pekerjaan Lasbutag atau Latasbusir mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terjadi iritasi pada mata. 4) Selalu menjaga jarak yang aman antara pekerja satu dengan lainnya. 5) Senantiasa menjaga jarak aman antar pekerja satu dan pekerja lainnya. Tamper dll). 2) Memasang rambu-rambu pada lokasi pekerjaan untuk melindungi personel yang bekerja dari kendaraan yang melintasi proyek dan menempatkan petugas bendera disemua tempat kegiatan pelaksanaan serta mengatur lalu lintas agar tetap berjalan dengan lancar dengan cara mengerjakan pekerjaan ½ bagian terlebih dahulu. 3) Operator mesin penghampar aspal harus dilakukan oleh tenaga yang terampil dan berpengalaman dibidangnya dan menjaga agar tidak ada orang luar maupun pekerja lain berada di tempat penghamparan pada waktu mesin penghampar aspal (Finisher) bekerja menghampar Hotmix. 5. sarung tangan.3) Penyeprotan harus dilakukan sedemikian sehingga tidak menimbulkan kerusakan pada pohon. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penghamparan pada Pekerjaan Lasbutag atau Latasbusir yaitu : 1) Petugas penyemprot harus mengenakan pakaian dan perlengkapan seperti. 7) Menyediakan jalan sementara bagi penduduk setempat. 2) Terjadi gangguan lalu lintas kendaraan.160 . 2) Terjadi gangguan lalu lintas kendaraan. Terluka oleh Dump Truck sewaktu menuangkan Hotmix ke dalam Finisher.8. 4) Kecelakaan akibat penempatan material di lokasi pekerjaan yang tidak segera dihampar.3 Penghamparan Pekerjaan Penghamparan pada Pekerjaan Lasbutag atau Latasbusir mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terjadi iritasi pada mata. 4) Terluka oleh Mesin pemadat aspal (Tandem roller/ Pneumatic Tire Roller. 5) Memasang rambu-rambu pada lokasi pekerjaan untuk melindungi personel yang bekerja dari kendaraan yang melintasi proyek dan menempatkan petugas bendera disemua tempat kegiatan pelaksanaan dan mengatur lalu lintas agar tetap berjalan dengan lancar dengan cara mengerjakan pekerjaan ½ bagian terlebih dahulu.4.4. 6) Terjadi luka oleh percikan aspal panas. 6) Terjadi gangguan lalu lintas penduduk sekitar. struktur atau bangunan yang berdekatan dengan lokasi dari percikan aspal dan kerusakan lainnya. helm.

3) Pekerja harus menggunakan tutup telinga. mata dan paru-paru akibat debu dari penyemprotan permukaan perkerasan lama. Terluka akibat penggaruk baja saat membersihkan tonjolan/lubang yang disebabkan benda-benda asing lainnya diatas permukaan perkerasan lama. 5) Senantiasa menjaga jarak aman antar pekerja satu dan pekerja lainnya.1 Pembersihan permukaan Pekerjaan Pembersihan Permukaan pada Pekerjaan Penetrasi Macadam mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terjadi iritasi pada kulit. 4) Terjadi gangguan lalu lintas kendaraan. 2) Terluka akibat pipa alat penyemprot dalam kondisi panas. kulit dan paru-paru akibat uap dan panas dari aspal. harus dilakukan pemeriksaan stabilitas tanahnya terlebih dahulu. 3) Terjadi gangguan pendengaran dari alat yang dipakai.8. helm dll. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pembersihan Permukaan pada Pekerjaan Penetrasi Macadam yaitu : 1) Pekerja harus memakai pakaian dan perlengkapan (sepatu boot. sarung tangan. 4) Terjadi kecelakaan atau terluka oleh karena jarak antar pekerja terlalu dekat.2 Penyemprotan Pekerjaan Penyemprotan pada Pekerjaan Penetrasi Macadam mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terjadi luka oleh percikan aspal panas dan terjadi iritasi pada mata.160 . 4) Memasang rambu-rambu pada lokasi pekerjaan untuk melindungi personel yang bekerja dari kendaraan yang melintasi proyek dan menempatkan petugas bendera disemua tempat kegiatan pelaksanaan. masker. Kecelakaan atau terluka oleh mesin pompa aspal serta tangki aspal. struktur atau bangunan yang berdekatan dengan lokasi dari percikan aspal. 3) Sebelum dilakukan pemadatan.8. 5) Terjadi kecelakaan atau terluka akibat jarak antar pekerja terlalu dekat. helm.5. 120 . 5. sepatu boot.) yang memenuhi standar. 3) Terjadi kerusakan pada pohon. 6) Menyediakan jalan sementara bagi penduduk setempat. 5.8. 2) Terluka oleh Compressor/sikat mekanis pada waktu membersihkan perkerasan lama.5. 5) Selalu menjaga jarak yang aman antara pekerja satu dengan lainnya.Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pemadatan pada Pekerjaan Lasbutag atau Latasbusir yaitu : 1) Petugas harus mengenakan pakaian dan perlengkapan seperti. 2) Penggunaan alat-alat pembersih permukaan perkerasan dilakukan oleh orang yang ahli dan berpengalaman dibidangnya.5 Penetrasi macadam 5. 2) Memasang rambu-rambu pada lokasi pekerjaan untuk melindungi personel yang bekerja dari kendaraan yang melintasi proyek dan menempatkan petugas bendera disemua tempat kegiatan pelaksanaan serta mengatur lalu lintas agar tetap berjalan dengan lancar dengan cara mengerjakan pekerjaan ½ bagian terlebih dahulu. 4) Pengoperasian mesin pemadat harus dilakukan oleh petugas terampil dan berpengalaman dibidangnya serta menjaga agar tidak ada orang luar maupun pekerja yang lain di tempat pemadatan pada waktu mesin pemadat aspal (Tandem) bekerja memadatkan Hotmix. kacamata dan lain-lain yang sesuai dengan standar. sarung tangan.

6) Terjadi luka oleh percikan aspal panas.8. 2) Terjadi gangguan lalu lintas kendaraan.8. sarung tangan. 3) Terluka oleh mesin penghampar aspal (Finisher).5) Terjadi gangguan lalu lintas penduduk sekitar. kacamata dan lain-lain yang sesuai dengan standar. helm. 7) Terjadi gangguan lalu lintas penduduk sekitar. kulit dan paru-paru akibat uap dan panas dari aspal.5. 3) Operator mesin penghampar aspal harus dilakukan oleh tenaga yang terampil dan berpengalaman dibidangnya dan menjaga agar tidak ada orang luar maupun pekerja lain berada di tempat penghamparan pada waktu mesin penghampar aspal (Finisher) bekerja menghampar Hotmix. 5. sepatu boot.160 . Terluka oleh Dump Truck sewaktu menuangkan Hotmix ke dalam Finisher. 5) Senantiasa menjaga jarak aman antar pekerja satu dan pekerja lainnya. sepatu boot. 121 . masker. 3) Penyeprotan harus dilakukan sedemikian sehingga tidak menimbulkan kerusakan pada pohon. 6) Menjaga agar tidak ada orang luar maupun pekerja lain berada di tempat dimana Dump Truck sedang menuangkan Hotmix ke dalam Finisher di lokasi pekerjaan. 7) Menyediakan jalan sementara bagi penduduk setempat. helm dan lain-lain yang sesuai dengan standar. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penyemprotan pada Pekerjaan Penetrasi Macadam yaitu : 1) Petugas penyemprot harus mengenakan pakaian dan perlengkapan seperti.4 Pemadatan Pekerjaan Pemadatan pada Pekerjaan Penetrasi Macadam mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terjadi iritasi pada mata. 4) Penempatan material yang tidak segera dihampar harus di tempat yang aman. 5) Memasang rambu-rambu pada lokasi pekerjaan untuk melindungi personel yang bekerja dari kendaraan yang melintasi proyek dan menempatkan petugas bendera disemua tempat kegiatan pelaksanaan dan mengatur lalu lintas agar tetap berjalan dengan lancar dengan cara mengerjakan pekerjaan ½ bagian terlebih dahulu. 4) Selalu menjaga jarak yang aman antara pekerja satu dengan lainnya. sarung tangan. 4) Kecelakaan akibat penempatan material di lokasi pekerjaan yang tidak segera dihampar. kulit dan paru-paru akibat uap dan panas dari aspal. 5) Terjadi kecelakaan atau terluka oleh karena jarak antar pekerja terlalu dekat.5. 2) Pelaksanaan penyemprotan harus dilakukan oleh pekerja terampil dan berpengalaman dibidangnya dan selalu menjaga agar tidak ada orang luar maupun pekerja lain berada di lokasi penyemprotan ketika alat penyemprot aspal (aspal sprayer) bekerja menyiram aspal pada agregat. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penghamparan pada Pekerjaan Penetrasi Macadam yaitu : 1) Petugas penyemprot harus mengenakan pakaian dan perlengkapan seperti. struktur atau bangunan yang berdekatan dengan lokasi dari percikan aspal dan kerusakan lainnya. 5. 2) Memasang rambu-rambu pada lokasi pekerjaan untuk melindungi personel yang bekerja dari kendaraan yang melintasi proyek dan menempatkan petugas bendera disemua tempat kegiatan pelaksanaan serta mengatur lalu lintas agar tetap berjalan dengan lancar dengan cara mengerjakan pekerjaan ½ bagian terlebih dahulu.3 Penghamparan Pekerjaan Penghamparan pada Pekerjaan Penetrasi Macadam mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terjadi iritasi pada mata.

helm. 4) Terluka oleh Mesin pemadat aspal (Tandem roller/ Pneumatic Tire Roller. 6) Terjadi gangguan lalu lintas penduduk sekitar. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penyiraman pada Pekerjaan Penetrasi Macadam yaitu : 1) Petugas harus mengenakan pakaian dan perlengkapan seperti. masker. harus dilakukan pemeriksaan stabilitas tanahnya terlebih dahulu. Tamper dll). 2) Memasang rambu-rambu pada lokasi pekerjaan untuk melindungi personel yang bekerja dari kendaraan yang melintasi proyek dan menempatkan petugas bendera disemua tempat kegiatan pelaksanaan serta mengatur lalu lintas agar tetap berjalan dengan lancar dengan cara mengerjakan pekerjaan ½ bagian terlebih dahulu. helm. 3) Terluka pada saat memasang patok akibat patok terlalu panjang. masker. 5.5. 122 . 3) Sebelum dilakukan pemadatan. 5) Kecelakaan oleh karena jarak antar pekerja yang merapikan hasil pemadatan terlalu dekat.6. kacamata dan lain-lain yang sesuai dengan standar.8. 2) Terluka oleh pengoperasian mesin water tanker. 4) Kecelakaan terkena palu yang terlepas akibat palu terlalu berat.5 Penyiraman Pekerjaan Penyiraman pada Pekerjaan Penetrasi Macadam mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terjadi iritasi pada kulit dan paru-paru akibat penyiraman yang berbau. 3) Memasang rambu-rambu pada lokasi pekerjaan untuk melindungi personel yang bekerja dari kendaraan yang melintasi proyek dan menempatkan petugas bendera disemua tempat kegiatan pelaksanaan serta mengatur lalu lintas agar tetap berjalan dengan lancar dengan cara mengerjakan pekerjaan ½ bagian terlebih dahulu. sepatu boot. 5.8.1 Pengukuran dan pematokan Pekerjaan Pengukuran dan Pematokan pada Pekerjaan Perbaikan pada Bahu Jalan dan Pekerjaan Minor Lainnya mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terluka akibat penggunaan meteran baja tidak benar. sarung tangan. kacamata dan lain-lain yang sesuai dengan standar. sepatu boot.160 . 2) Operator mesin penyiram harus dilakukan oleh tenaga yang terampil dan berpengalaman dibidangnya dan menjaga agar tidak ada orang luar maupun pekerja lain berada di tempat penyiraman ketika mesin penyiram sedang bekerja. 3) Terjadi kecelakaan oleh robohnya tanah dipinggir bahu akibat tanah tidak stabil.2) Terjadi gangguan lalu lintas kendaraan. 4) Pengoperasian mesin pemadat harus dilakukan oleh petugas terampil dan berpengalaman dibidangnya serta menjaga agar tidak ada orang luar maupun pekerja yang lain di tempat pemadatan pada waktu mesin pemadat aspal (Tandem) bekerja memadatkan Hotmix. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pemadatan pada Pekerjaan Penetrasi Macadam yaitu : 1) Petugas harus mengenakan pakaian dan perlengkapan seperti.6 Perbaikan pada Bahu Jalan dan Pekerjaan Minor Lainnya 5. 3) Terjadi gangguan lalu lintas kendaraan. 6) Menyediakan jalan sementara bagi penduduk setempat. Terjadi kerusakan sarana dan prasarana Utilitas Jalan. sarung tangan.8. 2) Kecelakaan atau tertabrak oleh kendaraan yang melintas. 5) Senantiasa menjaga jarak aman antar pekerja satu dan pekerja lainnya.

Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengukuran dan Pematokan pada Pekerjaan Perbaikan pada Bahu Jalan dan Pekerjaan Minor Lainnya yaitu : 1) Pekerja harus terampil dan berpengalaman dibidangnya. 4) Pengoperasian mesin pemadat harus dilakukan oleh petugas terampil dan berpengalaman dibidangnya serta menjaga agar tidak ada orang luar maupun pekerja yang lain di tempat pemadatan pada waktu mesin pemadat aspal (Tandem) bekerja memadatkan Hotmix. 5. 6) Terjadi gangguan lalu lintas penduduk sekitar.8. 3) Terjadi gangguan lalu lintas kendaraan. 50 cm). 2) Memasang rambu-rambu pada lokasi pekerjaan untuk melindungi personel yang bekerja dari kendaraan yang melintasi proyek dan menempatkan petugas bendera disemua tempat kegiatan pelaksanaan.8. 2) Terjadi gangguan lalu lintas kendaraan. 5) Kecelakaan oleh karena jarak antar pekerja yang merapikan hasil pemadatan terlalu dekat. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pemadatan pada Pekerjaan Perbaikan pada Bahu Jalan dan Pekerjaan Minor Lainnya yaitu : 1) Petugas harus mengenakan pakaian dan perlengkapan seperti. 4) Palu yang dipakai harus sesuai/proposional. 6) Terjadi kecelakaan atau terluka akibat jarak antara pekerja terlalu dekat. 5) Senantiasa menjaga jarak aman antar pekerja satu dan pekerja lainnya. kulit dan paru-paru akibat uap dan panas dari aspal. 4) Terluka oleh Mesin pemadat aspal (Tandem roller/ Pneumatic Tire Roller. tidak terlalu berat maupun panjang untuk menghindari terjadinya kecelakaan. sarung tangan. 3) Sebelum dilakukan pemadatan.3 Penyiraman Pekerjaan Penyiraman pada Pekerjaan Perbaikan pada Bahu Jalan dan Pekerjaan Minor Lainnya mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terjadi iritasi pada kulit dan paru-paru akibat penyiraman yang berbau. sepatu boot. harus dilakukan pemeriksaan stabilitas tanahnya terlebih dahulu.160 . helm. 5) Pekerja harus memakai pakaian dan perlengkapan seperti sarung tangan. sepatu boot dan Helm yang sesuai dengan standar.5) Terjadi luka terkena meteran baja. 2) Terluka oleh pengoperasian mesin water tanker. 6) Menyediakan jalan sementara bagi penduduk setempat. Tamper dll). kacamata dan lain-lain yang sesuai dengan standar. 5. 123 . 3) Patok yang digunakan tidak terlalu panjang (maks. Terjadi kerusakan sarana dan prasarana Utilitas Jalan.2 Pemadatan Pekerjaan Pemadatan pada Pekerjaan Perbaikan pada Bahu Jalan dan Pekerjaan Minor Lainnya mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terjadi iritasi pada mata. 6) Senantiasa selalu menjaga jarak aman antara pekerja satu dengan lainnya. 3) Terjadi kecelakaan oleh robohnya tanah dipinggir bahu akibat tanah tidak stabil.6.6. 2) Memasang rambu-rambu pada lokasi pekerjaan untuk melindungi personel yang bekerja dari kendaraan yang melintasi proyek dan menempatkan petugas bendera disemua tempat kegiatan pelaksanaan serta mengatur lalu lintas agar tetap berjalan dengan lancar dengan cara mengerjakan pekerjaan ½ bagian terlebih dahulu. masker.

2) Memasang rambu-rambu pada lokasi pekerjaan untuk melindungi personel yang bekerja dari kendaraan yang melintasi proyek dan menempatkan petugas bendera disemua tempat kegiatan pelaksanaan.1. helm. 4) Terjadi kecelakaan akibat jarak antara pekerja satu dengan lainnya terlalu dekat. tamfer dll. 5. 2) Terjadi kecelakaan akibat gangguan lalu lintas. 3) Terjadi kecelakaan atau terluka oleh antar pekerja pengupas yang bekerja saling berdekatan. 2) Memasang rambu-rambu pada lokasi pekerjaan untuk melindungi personel yang bekerja dari kendaraan yang melintasi proyek dan menempatkan petugas bendera disemua tempat kegiatan. 5) Terluka akibat penggunaan motor grader pada saat pemangkasan permukaan jalan. 4) Terluka oleh Mesin pengupas (Excavator.9.1 Pengukuran dan pematokan Pekerjaan Pengukuran dan Pematokan pada Pekerjaan Pemeliharaan Rutin Perkerasan mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terjadi luka oleh meteran baja/alat pengukur lainnya. sarung tangan.9.2 Pengupasan dan penutupan kembali Pekerjaan Pengupasan dan Penutupan Kembali pada Pekerjaan Pemeliharaan Rutin Perkerasan mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terjadi gangguan fisik dan pendengaran akibat alat penggali dan pemadat ( jack hammer.). kacamata dan lain-lain yang sesuai dengan standar. 4) Senantiasa menjaga jarak aman antara pekerja satu dengan pekerja lainnya. sepatu boot.1. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengukuran dan Pematokan pada Pekerjaan Pemeliharaan Rutin Perkerasan yaitu : 1) Pekerja harus terampil dan berpengalaman dan Alat ukur meteran baja yang digunakan harus memenuhi syarat.9. 3) Terluka oleh alat pemukul/palu baik baja maupun kayu.1 Pekerjaan pemeliharaan rutin Pemeliharaan rutin perkerasan 5. masker. 2) Terjadi kecelakaan akibat tertabrak oleh kendaraan yang melintas. 5. sarung tangan yang sesuai dengan standar. 3) Alat pemukul yang digunakan harus sesuai dan proporsional (tidak terlalu berat dan tidak terlalu besar). sepatu boot.Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penyiraman pada Pekerjaan Perbaikan pada Bahu Jalan dan Pekerjaan Minor Lainnya yaitu : 1) Petugas harus mengenakan pakaian dan perlengkapan seperti. 124 .9 5. 2) Operator mesin penyiram harus dilakukan oleh tenaga yang terampil dan berpengalaman dibidangnya dan menjaga agar tidak ada orang luar maupun pekerja lain berada di tempat penyiraman ketika mesin penyiram sedang bekerja. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengupasan dan Penutupan Kembali pada Pekerjaan Pemeliharaan Rutin Perkerasan yaitu : 1) Pekerja harus memakai pakaian kerja dan perlengkapan seperti helm.160 . dll) pada saat pengupasan. 3) Memasang rambu-rambu pada lokasi pekerjaan untuk melindungi personel yang bekerja dari kendaraan yang melintasi proyek dan menempatkan petugas bendera disemua tempat kegiatan pelaksanaan serta mengatur lalu lintas agar tetap berjalan dengan lancar dengan cara mengerjakan pekerjaan ½ bagian terlebih dahulu.

125 . 7) Mempertahankan jarak yang aman antara pekerja yang satu dengan yang lain pada pekerjaan yang sama. 5) Membuat jalan sementara untuk lalu lalang penduduk sekitar untuk melintasi jalan akibat adanya penghamparan. 4) Terjadi kecelakaan akibat jarak antara pekerja satu dengan lainnya terlalu dekat.2 Pemeliharaan rutin bahu jalan 5.1 Pengukuran dan pematokan Pekerjaan Pengukuran dan Pematokan pada Pekerjaan Pemeliharaan Rutin Bahu Jalan mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terjadi luka oleh meteran baja/alat pengukur lainnya. 5) Terjadi gangguan lalu lintas penduduk sekitar.9. 2) Pekerja harus memakai pakaian dan perlengkapan seperti sarung tangan. 2) Terjadi iritasi pada kulit dan paru-paru akibat uap aspal yang ditimbulkan dari proses penghamparan dan pemadatan.1. 2) Memasang rambu-rambu pada lokasi pekerjaan untuk melindungi personel yang bekerja dari kendaraan yang melintasi proyek dan menempatkan petugas bendera disemua tempat kegiatan pelaksanaan.160 . 5. 3) Pekerja yang menggunakan Tamfer dilindungi secukupnya dari getaran. 4) Pengunaan alat pengupas/ grader perkerasan jalan dilakukan oleh yang ahli dibidangnya dan berpengalaman. 4) Memasang rambu-rambu pada lokasi pekerjaan untuk melindungi personel yang sedang bekerja dan menempatkan petugas bendera disemua tempat kegiatan pelaksanaan.3) Senantiasa menjaga jarak aman antara pekerja satu dengan pekerja lainnya.2. 2) Terjadi kecelakaan akibat tertabrak oleh kendaraan yang melintas. 4) Potensi bahaya akibat lalu lintas yang terganggu. 4) Senantiasa menjaga jarak aman antara pekerja satu dengan pekerja lainnya. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengembalian Kondisi pada Pekerjaan Pemeliharaan Rutin Perkerasan yaitu : 1) Menjaga agar tidak ada orang luar maupun pekerja lain berada di tempat pemadatan pada waktu mesin pemadat aspal (Tandem) bekerja memadatkan Hotmix di lokasi pekerjaan atau penggunaan alat pemadat Tamfer. 3) Terluka akibat alat perata pada proses penghamparan.3 Pengembalian kondisi Pekerjaan Pengembalian Kondisi pada Pekerjaan Pemeliharaan Rutin Perkerasan mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terluka oleh alat pemadat perkerasan jalan (Tamfer atau alat pemadat lain). 7) Terjadi kecelakaan atau terluka akibat jarak antar pekerja satu dan lainnya terlalu dekat. sepatu boot dan helm yang memenuhi standar. 6) Memeriksa stabilitas tanah sebelum dilakukan pemadatan oleh orang yang ahli. 3) Terluka oleh alat pemukul/palu baik baja maupun kayu. 5) Operator motor grader harus yang terampil dan berpengalaman dibidangnya. 3) Alat pemukul yang digunakan harus sesuai dan proporsional (tidak terlalu berat dan tidak terlalu besar).9.9. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengukuran dan Pematokan pada Pekerjaan Pemeliharaan Rutin Bahu Jalan yaitu : 1) Pekerja harus terampil dan berpengalaman dan Alat ukur meteran baja yang digunakan harus memenuhi syarat. 6) Terjadi tanah longsor terutama dibagian pinggir akibat pemadatan. 5.

2) Pekerja harus memakai pakaian dan perlengkapan seperti sarung tangan.9.5.9. 6) Terjadi tanah longsor terutama dibagian pinggir akibat pemadatan.3 Pengembalian kondisi Pekerjaan Pengembalian Kondisi pada Pekerjaan Pemeliharaan Rutin Bahu Jalan mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terluka oleh alat pemadat perkerasan jalan (Tamfer atau alat pemadat lain). 3) Pekerja yang menggunakan Tamfer dilindungi secukupnya dari getaran.160 . 5) Terjadi gangguan lalu lintas penduduk sekitar. 7) Mempertahankan jarak yang aman antara pekerja yang satu dengan yang lain pada pekerjaan yang sama. 4) Potensi bahaya akibat lalu lintas yang terganggu. 5.2 Pengupasan dan penutupan kembali Pekerjaan Pengupasan dan Penutupan Kembali pada Pekerjaan Pemeliharaan Rutin Bahu Jalan mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terjadi gangguan fisik dan pendengaran akibat alat penggali dan pemadat (jack hammer. 6) Memeriksa stabilitas tanah sebelum dilakukan pemadatan oleh orang yang ahli. 3) Senantiasa menjaga jarak aman antara pekerja satu dengan pekerja lainnya. 7) Terjadi kecelakaan atau terluka akibat jarak antar pekerja satu dan lainnya terlalu dekat. sepatu boot dan helm yang memenuhi standar.2. sarung tangan yang sesuai dengan standar. 2) Terjadi kecelakaan akibat gangguan lalu lintas. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengupasan dan Penutupan Kembali pada Pekerjaan Pemeliharaan Rutin Bahu Jalan yaitu : 1) Pekerja harus memakai pakaian kerja dan perlengkapan seperti helm. 5) Operator motor grader harus yang terampil dan berpengalaman dibidangnya. 126 . 5) Membuat jalan sementara untuk lalu lalang penduduk sekitar untuk melintasi jalan akibat adanya penghamparan. 2) Memasang rambu-rambu pada lokasi pekerjaan untuk melindungi personel yang bekerja dari kendaraan yang melintasi proyek dan menempatkan petugas bendera disemua tempat kegiatan. tamfer dll.). 4) Terluka oleh Mesin pengupas (Excavator. 3) Terjadi kecelakaan atau terluka oleh antar pekerja pengupas yang bekerja saling berdekatan. dll) pada saat pengupasan. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengembalian Kondisi pada Pekerjaan Pemeliharaan Rutin Bahu Jalan yaitu : 1) Menjaga agar tidak ada orang luar maupun pekerja lain berada di tempat pemadatan pada waktu mesin pemadat aspal (Tandem) bekerja memadatkan Hotmix di lokasi pekerjaan atau penggunaan alat pemadat Tamfer.2. 4) Memasang rambu-rambu pada lokasi pekerjaan untuk melindungi personel yang sedang bekerja dan menempatkan petugas bendera disemua tempat kegiatan pelaksanaan. sepatu boot. 5) Terluka akibat penggunaan motor grader pada saat pemangkasan permukaan jalan. 4) Pengunaan alat pengupas/ grader perkerasan jalan dilakukan oleh yang ahli dibidangnya dan berpengalaman. 3) Terluka akibat alat perata pada proses penghamparan. 2) Terjadi iritasi pada kulit dan paru-paru akibat uap aspal yang ditimbulkan dari proses penghamparan dan pemadatan.

Saluran Air. 2) Terjadi luka pada tangan atau kaki karena terkena campuran adukan (semen). penggalian dan penimbunan Pekerjaan Pengerukan. 4) Senantiasa menjaga jarak aman antara pekerja satu dengan pekerja lainnya. endapan dan pertumbuhan tanaman yang tidak dikehendaki pada saluran air. Saluran Air. Penggalian dan Penimbunan pada Pekerjaan Pemeliharaan Rutin Selokan. galian dan timbunan 5. Saluran Air. Saluran Air. 4) Terjadi kecelakaan terkena mesin potong rumput. 2) Pekerja harus terampil dan pengalaman dibidangnya. sampah.160 .3. sepatu boot. 4) Penggunaan mesin potong rumput/proses pemotongan tanaman dilakukan oleh orang yang ahli dan berpengalaman dibidangnya 5. 3) Alat pemukul yang digunakan harus sesuai dan proporsional (tidak terlalu berat dan tidak terlalu besar). Galian dan Timbunan mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terjadi kecelakaan oleh karena tertimpa benda yang jatuh.9.5. 2) Terluka terkena cangkul. Penggalian dan Penimbunan pada Pekerjaan Pemeliharaan Rutin Selokan. 3) Sebelum pekerjaan dimulai diperiksa terlebih dahulu kondisi pekerjaan dan peralatan yang digunakan.3 Pemeliharaan rutin selokan. 3) Kecelakaan karena terpeleset/terjatuh pada daerah saluran air. sarung tangan yang sesuai dengan standar.3 Perbaikan pasangan Pekerjaan Perbaikan Pasangan pada Pekerjaan Pemeliharaan Rutin Selokan. Galian dan Timbunan yaitu : 1) Pekerja harus terampil dan berpengalaman dan Alat ukur meteran baja yang digunakan harus memenuhi syarat. 2) Memasang rambu-rambu pada lokasi pekerjaan untuk melindungi personel yang bekerja dari kendaraan yang melintasi proyek dan menempatkan petugas bendera disemua tempat kegiatan pelaksanaan. 3) Terluka oleh alat pemukul/palu baik baja maupun kayu. Galian dan Timbunan mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terjadi luka oleh meteran baja/alat pengukur lainnya.9. 127 .3. Saluran Air. sekop atau alat lainnya pada saat penggalian/ engerukan/penimbunan. Terjadi kecelakaan karena tertimpa tanah longsoran pada saat membersihkan saluran air.2 Pengerukan. Galian dan Timbunan yaitu : 1) Pekerja harus memakai pakaian kerja dan perlengkapan seperti helm. 4) Terjadi kecelakaan akibat jarak antara pekerja satu dengan lainnya terlalu dekat. 2) Terjadi kecelakaan akibat tertabrak oleh kendaraan yang melintas. 5. 3) Kecelakaan atau terluka terkena peralatan kerja akibat jarak antar pekerja satu dengan lainnya terlalu dekat. saluran air. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengerukan.9.1 Pengukuran dan pematokan Pekerjaan Pengukuran dan Pematokan pada Pekerjaan Pemeliharaan Rutin Selokan. Galian dan Timbunan mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Potensi bahaya/terluka pada pekerjaan pengerukan bahan yang lepas.3.9. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengukuran dan Pematokan pada Pekerjaan Pemeliharaan Rutin Selokan.

9. 3) Untuk menghindari resiko bahaya kecelakaan sebelum melakukan pengelasan alat-alat harus diperiksa dengan seksama. 3) Terjadi luka pada tangan atau kaki akibat memeriksa rambu. minyak dan bahanbahan lain yang mudah terbakar. 2) Sebelum pekerjaan dimulai diperiksa terlebih dahulu kondisi pasangan tersebut. 3) Pekerja harus terampil dan berpengalaman dibidangnya. 3) Mempertahankan jarak yang aman antara pekerja yang satu dengan yang lain pada pekerjaan yang sama. 2) Pekerja yang bekerja pada ketinggian harus memakai perlengkapan sabuk pengaman yang memenuhi syarat.9. 128 . topi baja dan kaca mata pelindung dengan lensa penyaring yang sesuai dengan standar. pasir. 2) Potensi bahaya kecelakaan akibat lalu lintas kendaraan. 4) Pekerja las harus memakai pakaian yang bebas dari lemak/ semir.1 Pendataan Pekerjaan Pendataan pada Pekerjaan Pemeliharan Rutin Perlengkapan Jalan mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Potensi bahaya kecelakaan akibat lalu lintas kendaraan. mata dan paru-paru pada proses perbiakan rambu (pengecatan.4. air dll. sarung tangan yang sesuai dengan standar. Gangguan pernapasan akibat pencampuran material pengecoran (semen.4.2 Perbaikan Pekerjaan Perbaikan pada Pekerjaan Pemeliharan Rutin Perlengkapan Jalan mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terjadi iritasi pada kulit.160 . 5.4 Pemeliharaan rutin perlengkapan jalan 5. 5. Terluka oleh alatalat pengecoran yang dilakukan manual maupun mekanis (concrete mixer). Saluran Air.9.Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Perbaikan Pasangan pada Pekerjaan Pemeliharaan Rutin Selokan. perbaikan hurup pada daun rambu dll.). Galian dan Timbunan yaitu : 1) Pekerja harus memakai pakaian kerja dan perlengkapan seperti helm. 4) Potensi bahaya akibat perbaikan pengelasan antara lain : Luka bakar. Percikan bunga api. 2) Memasang rambu-rambu pada lokasi pekerjaan untuk melindungi personel yang sedang bekerja dan menempatkan petugas bendera disemua tempat kegiatan pelaksanaan. 5) Potensi bahaya pada perbaikan pondasi rambu/pondasi rel pengaman : Terjadi iritasi pada kulit. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pendataan pada Pekerjaan Pemeliharan Rutin Perlengkapan Jalan yaitu : 1) Memasang rambu-rambu pada lokasi pekerjaan untuk melindungi personel yang sedang bekerja dan menempatkan petugas bendera disemua tempat kegiatan pelaksanaan. rel pengaman. patok jalan dll. 3) Terluka oleh alat penyemprotan/alat mekanis pengecatan. mata akibat percikan adukan yang mengandung semen. Kebakaran. sepatu boot. Kecelakaan akibat alat pemotong/ mesin las. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Perbaikan pada Pekerjaan Pemeliharan Rutin Perlengkapan Jalan yaitu : 1) Pekerja-pekerja las harus memakai pakaian pelindung tahan api dan perlengkapan seperti kaos tangan tahan api dan baju las/apron. 2) Kecelakaan karena terjatuh dari ketinggian sewaktu memeriksa perlengkapan jalan.

pipa buangan air.5 Pemeliharaan rutin jembatan 5.5. 3) Terluka oleh alat pemukul/palu baik baja maupun kayu. sarung tangan yang sesuai dengan standar. 3) Sampah/potongan rumput/potongan tumbuhan harus dibuang pada tempat yang sesuai dan tidak mengganggu. dudukan jembatan. 4) Kecelakaan karena tertimpa tanah longsoran akibat membersihkan saluran air. 4) Terjadi kecelakaan akibat jarak antara pekerja satu dengan lainnya terlalu dekat. sepatu boot. 2) Memasang rambu-rambu pada lokasi pekerjaan untuk melindungi personel yang bekerja dari kendaraan yang melintasi proyek dan menempatkan petugas bendera disemua tempat kegiatan pelaksanaan. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengukuran dan Pematokan pada Pekerjaan Pemeliharaan Rutin Jembatan yaitu : 1) Pekerja harus terampil dan berpengalaman dan Alat ukur meteran baja yang digunakan harus memenuhi syarat. 5. 2) Terluka akibat cangkul. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengerukan. 4) Untuk pekerjaan pembersihan sampah pekerja harus menggunakan penutup mulut atau masker pernapasan. 5. 3) Alat pemukul yang digunakan harus sesuai dan proporsional (tidak terlalu berat dan tidak terlalu besar).160 . 5) Potensi bahaya terkena mesin potong rumput. 3) Kecelakaan karena terpeleset/terjatuh pada daerah saluran air.1 Pengukuran dan pematokan Pekerjaan Pengukuran dan Pematokan pada Pekerjaan Pemeliharaan Rutin Jembatan mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terjadi luka oleh meteran baja/alat pengukur lainnya. Penggalian dan Penimbunan pada Pekerjaan Pemeliharaan Rutin Jembatan yaitu : 1) Pekerja harus memakai pakaian kerja dan perlengkapan seperti helm. 129 .2 Pengerukan. 4) Senantiasa menjaga jarak aman antara pekerja satu dengan pekerja lainnya. 2) Sebelum pekerjaan dimulai harus dilakukan pemeriksaan terlebih dahulu terhadap kondisi pekerjaan dan peralatan yang digunakan. sepatu boot. 5) Pekerjaan pemotongan rumput dengan menggunakan mesin potong rumput harus dilakukan oleh orang yang terampil dan berpengalaman dibidangnya.9. endapan dan pertumbuhan tanaman yang tidak dikehendaki pada saluran air. penggalian dan penimbunan Pekerjaan Pengerukan. 6) Terluka/terjatuh ketika melakukan pembersihan sampah pada lubang sulingan.5. sekop atau alat lainnya pada saat penggalian/ pengerukan/penimbunan. maka harus dilakukan perbaikan tanah sehingga tidak tanah menjadi stabil. 2) Terjadi kecelakaan akibat tertabrak oleh kendaraan yang melintas.9.9. 6) Bila dari hasil pemeriksaan kondisi tanah terdapat tanah yang tidak stabil. Penggalian dan Penimbunan pada Pekerjaan Pemeliharaan Rutin Jembatan mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Potensi bahaya/terluka ketika melakukan pengerukan bahan yang lepas. sampah. kepala pier. masker pernapasan.5) Para pekerja yang melakukan perbaikan pengecatan/pengecoran harus memakai sarung tangan. penutup mulut yang sesuai yang dengan persyaratan.

3 Perbaikan pasangan Pekerjaan Perbaikan Pasangan pada Pekerjaan Pemeliharaan Rutin Jembatan mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terjadi kecelakaan oleh karena tertimpa benda yang jatuh. 2) Terjadi iritasi pada kulit dan paru-paru akibat uap aspal yang ditimbulkan dari proses penghamparan dan pemadatan. mata dan paru-paru. 5. 2) Terjadi luka pada tangan atau kaki karena terkena campuran adukan (semen). 3) Memasang rambu-rambu pada lokasi pekerjaan untuk melindungi personel yang sedang bekerja dari kendaraan yang melintasi proyek dan menempatkan petugas bendera disemua tempat kegiatan pelaksanaan.9.4 Pengecatan Pekerjaan Pengecatan pada Pekerjaan Pemeliharaan Rutin Jembatan mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Potensi bahaya akibat terjatuh dari jembatan pada saat melakukan pekerjaan pengecatan. 5.5. 3) Terluka akibat alat perata pada proses penghamparan. 2) Para pekerja harus menggunakan sarung tangan. 2) Sebelum pekerjaan dimulai diperiksa terlebih dahulu kondisi pasangan tersebut. penutup mulut yang sesuai sesuai dengan standar.160 . sarung tangan yang sesuai dengan standar. sarung tangan yang sesuai dengan standar. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Perbaikan Pasangan pada Pekerjaan Pemeliharaan Rutin Jembatan yaitu : 1) Pekerja harus memakai pakaian kerja dan perlengkapan seperti helm. 7) Terjadi kecelakaan atau terluka akibat jarak antar pekerja satu dan lainnya terlalu dekat. 3) Mempertahankan jarak yang aman antara pekerja yang satu dengan yang lain pada pekerjaan yang sama.5 Pengembalian kondisi Pekerjaan Pengembalian Kondisi pada Pekerjaan Pemeliharaan Rutin Jembatan mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terluka oleh alat pemadat perkerasan jalan (Tamfer atau alat pemadat lain). 6) Terjadi tanah longsor terutama dibagian pinggir akibat pemadatan. sepatu boot.5. 5) Terjadi gangguan lalu lintas penduduk sekitar. sepatu boot. 3) Kecelakaan atau terluka terkena peralatan kerja akibat jarak antar pekerja satu dengan lainnya terlalu dekat.5.5. 4) Terluka oleh alat penyemprotan/alat mekanis pengecatan Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengecatan pada Pekerjaan Pemeliharaan Rutin Jembatan yaitu : 1) Bila pekerja melakukan pekerjaan pada ketinggian maka pekerja harus menggunakan sabuk pengaman. 2) Terjadi iritasi pada kulit.9. sepatu boot. 130 . masker pernapasan.9. 3) Potensi bahaya akibat lalu lintas kendaraan. 4) Pekerja harus memakai pakaian kerja dan perlengkapan seperti helm. 4) Potensi bahaya akibat lalu lintas yang terganggu.

131 . 7) Mempertahankan jarak yang aman antara pekerja yang satu dengan yang lain pada pekerjaan yang sama. 3) Kecelakaan akibat lalu lintas kendaraan. Pekerja harus memakai pakaian dan perlengkapan seperti sarung tangan. sarung tangan. 6) Memeriksa stabilitas tanah sebelum dilakukan pemadatan oleh orang yang ahli. 4) Kecelakaan akibat jarak antar pekerja terlalu dekat.1 Pekerjaan marka jalan Pekerjaan marka jalan 5. tidak terlalu berat maupun panjang untuk menghindari terjadinya kecelakaan.) yang memenuhi standar. helm dll. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pembersihan Permukaan pada Pekerjaan Marka Jalan yaitu : 1) Pekerja harus memakai pakaian dan perlengkapan (sepatu boot. Senantiasa selalu menjaga jarak aman antara pekerja satu dengan lainnya. sepatu boot dan Helm yang sesuai dengan standar.10. sepatu boot dan helm yang memenuhi standar.Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengembalian Kondisi pada Pekerjaan Pemeliharaan Rutin Jembatan yaitu : 1) Menjaga agar tidak ada orang luar maupun pekerja lain berada di tempat pemadatan pada waktu mesin pemadat aspal (Tandem) bekerja memadatkan Hotmix di lokasi pekerjaan atau penggunaan alat pemadat Tamfer. 2) Palu yang dipakai harus sesuai/proposional. Menggunakan meteran yang sesuai dengan standar.1. 3) Pekerja yang menggunakan Tamfer dilindungi secukupnya dari getaran.1.160 . 4) Memasang rambu-rambu pada lokasi pekerjaan untuk melindungi personel yang sedang bekerja dan menempatkan petugas bendera disemua tempat kegiatan pelaksanaan. 2) Kecelakaan atau tertabrak oleh kendaraan yang melintas.10 5. 2) Pekerja harus memakai pakaian dan perlengkapan seperti sarung tangan. mata dan paru-paru akibat debu dari pembersihan/ penyemprotan permukaan perkerasan/permukaan jalan. 5. 3) Terjadi gangguan terhadap lalu lintas kendaraan.2 Pembersihan permukaan Pekerjaan Pembersihan Permukaan pada Pekerjaan Marka Jalan mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terjadi iritasi pada kulit. 5. 5) Membuat jalan sementara untuk lalu lalang penduduk sekitar untuk melintasi jalan akibat adanya penghamparan.10. 3) Memasang rambu-rambu pada lokasi pekerjaan untuk melindungi personel yang bekerja dari kendaraan yang melintasi proyek dan menempatkan petugas bendera disemua tempat kegiatan pelaksanaan. 2) Terluka oleh Compressor/sikat mekanis pada waktu membersihkan perkerasan / permukaan jalan.1 Pengukuran Pekerjaan Pengukuran pada Pekerjaan Marka Jalan mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terluka akibat penggunaan meteran baja tidak benar. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengukuran pada Pekerjaan Marka Jalan yaitu : 1) Pekerja harus terampil dan berpengalaman dibidangnya.10.

5) Alat-alat pengecatan/ penyemprot harus dioperasikan oleh orang yang terampil dan berpengalaman dibidangnya. kacamata dan lain-lain yang sesuai dengan standar. 3) Terjadi gangguan terhadap lalu lintas kendaraan. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pencampuran Cat pada Pekerjaan Marka Jalan yaitu : 1) Petugas harus mengenakan pakaian dan perlengkapan seperti. 3) Memasang rambu-rambu pada lokasi pekerjaan untuk melindungi personel yang bekerja dari kendaraan yang melintasi proyek dan menempatkan petugas bendera disemua tempat kegiatan pelaksanaan.2 Pekerjaan Rumble Strip 5. 3) Jika penyemprotan dilakukan malam hari maka harus mempunyai penerangan dan pengamanan yang cukup. helm. mata dan paru-paru. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penyemprotan pada Pekerjaan Marka Jalan yaitu : 1) Petugas harus mengenakan pakaian dan perlengkapan seperti. sepatu boot.10.2) Penggunaan alat-alat pembersih permukaan perkerasan dilakukan oleh orang yang ahli dan berpengalaman dibidangnya. 5. 4) Alat pemadam api harus selalu tersedia di tempat-tempat penyimpanan.10. 5.3 Pencampuran cat Pekerjaan Pencampuran Cat pada Pekerjaan Marka Jalan mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terjadi iritasi pada kulit. atau di tempattempat yang menggunakan cat yang mudah terbakar. 2) Memasang rambu-rambu pada lokasi pekerjaan untuk melindungi personel yang bekerja dari kendaraan yang melintasi proyek dan menempatkan petugas bendera disemua tempat kegiatan pelaksanaan. 2) Kecelakaan atau tertabrak oleh kendaraan yang melintas.1 Pengukuran Pekerjaan Pengukuran pada Pekerjaan Rumble Strip mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terluka akibat penggunaan meteran baja tidak benar. 6) Terluka akibat alat penyemprotan/alat mekanis pengecatan. 2) Terjadi luka/gatal/noda pada tangan/kaki.160 . 3) Kecelakaan akibat lalu lintas kendaraan. sepatu boot. sarung tangan. 4) Selalu menjaga jarak yang aman antara pekerja satu dengan lainnya. 2) Pencampuran cat harus dilakukan sesuai dengan petunjuk pabrik pembuat. 4) Kecelakaan akibat penerangan kurang. 5.4 Penyemprotan Pekerjaan Penyemprotan pada Pekerjaan Marka Jalan mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terjadi iritasi pada kulit. sarung tangan. Pekerja harus menggunakan tutup telinga.2.1. 5) Kecelakaan akibat kebakaran.10. masker.1. 2) Terjadi Luka bakar/gatal/noda pada tangan/kaki. 132 . masker. helm. mata dan paru-paru. kacamata dan lain-lain yang sesuai dengan standar.10.

10. 5. 2) Penggunaan alat-alat pembersih permukaan perkerasan dilakukan oleh orang yang ahli dan berpengalaman dibidangnya.2. 4) Selalu menjaga jarak yang aman antara pekerja satu dengan lainnya. 2) Terluka oleh Compressor/sikat mekanis pada waktu membersihkan perkerasan / permukaan jalan.4 Penyemprotan Pekerjaan Penyemprotan pada Pekerjaan Rumble Strip mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terjadi iritasi pada kulit. 2) Pencampuran cat harus dilakukan sesuai dengan petunjuk pabrik pembuat. sepatu boot. masker.2. Pekerja harus menggunakan tutup telinga. kacamata dan lain-lain yang sesuai dengan standar.10. mata dan paru-paru.3 Pencampuran Pekerjaan Pencampuran pada Pekerjaan Rumble Strip mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terjadi iritasi pada kulit. Menggunakan meteran yang sesuai dengan standar.) yang memenuhi standar. helm. 2) Terjadi Luka bakar/gatal/noda pada tangan/kaki. 5. 3) Kecelakaan akibat lalu lintas kendaraan.10. 4) Kecelakaan akibat jarak antar pekerja terlalu dekat.2 Pembersihan permukaan Pekerjaan Pembersihan Permukaan pada Pekerjaan Rumble Strip mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terjadi iritasi pada kulit. mata dan paru-paru akibat debu dari pembersihan/ penyemprotan permukaan perkerasan/permukaan jalan. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pencampuran pada Pekerjaan Rumble Strip yaitu : 1) Petugas harus mengenakan pakaian dan perlengkapan seperti. Pekerja harus memakai pakaian dan perlengkapan seperti sarung tangan.160 . 5. 3) Memasang rambu-rambu pada lokasi pekerjaan untuk melindungi personel yang bekerja dari kendaraan yang melintasi proyek dan menempatkan petugas bendera disemua tempat kegiatan pelaksanaan. sarung tangan. sarung tangan. helm dll. 133 . Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pembersihan Permukaan pada Pekerjaan Rumble Strip yaitu : 1) Pekerja harus memakai pakaian dan perlengkapan (sepatu boot. 4) Kecelakaan akibat penerangan kurang. 2) Palu yang dipakai harus sesuai/proposional. sepatu boot dan Helm yang sesuai dengan standar.Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengukuran pada Pekerjaan Rumble Strip yaitu : 1) Pekerja harus terampil dan berpengalaman dibidangnya.2. 3) Memasang rambu-rambu pada lokasi pekerjaan untuk melindungi personel yang bekerja dari kendaraan yang melintasi proyek dan menempatkan petugas bendera disemua tempat kegiatan pelaksanaan. Senantiasa selalu menjaga jarak aman antara pekerja satu dengan lainnya. tidak terlalu berat maupun panjang untuk menghindari terjadinya kecelakaan. mata dan paru-paru. 3) Kecelakaan akibat lalu lintas kendaraan. 2) Terjadi luka/gatal/noda pada tangan/kaki.

10.10. 2) Terjadi luka bakar.10. 134 . 3) Terjadi kebakaran. 5.2 Pengelasan Pekerjaan Pengelasan pada Pekerjaan Rambu Jalan mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Potensi kecelakaan oleh mata mesin las. 2) Palu yang dipakai harus sesuai/proposional. Pekerja harus memakai pakaian dan perlengkapan seperti sarung tangan. atau di tempattempat yang menggunakan cat yang mudah terbakar. helm. 5. 6) Terluka akibat alat penyemprotan/alat mekanis pengecatan. kacamata dan lain-lain yang sesuai dengan standar. 4) Alat pemadam api harus selalu tersedia di tempat-tempat penyimpanan.3. 3) Jika penyemprotan dilakukan malam hari maka harus mempunyai penerangan dan pengamanan yang cukup. 3) Memasang rambu-rambu pada lokasi pekerjaan untuk melindungi personel yang bekerja dari kendaraan yang melintasi proyek dan menempatkan petugas bendera disemua tempat kegiatan pelaksanaan. sarung tangan.1 Pengukuran Pekerjaan Pengukuran pada Pekerjaan Rambu Jalan mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terluka akibat penggunaan meteran baja tidak benar. 5) Terjadi kecelakaan oleh karena arus pendek. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengelasan pada Pekerjaan Rambu Jalan yaitu : 1) Pekerja-pekerja las harus memakai pakaian pelindung tahan api dan perlengkapan seperti kaos tangan tahan api dan baju las/apron. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penyemprotan pada Pekerjaan Rumble Strip yaitu : 1) Petugas harus mengenakan pakaian dan perlengkapan seperti. 2) Memasang rambu-rambu pada lokasi pekerjaan untuk melindungi personel yang bekerja dari kendaraan yang melintasi proyek dan menempatkan petugas bendera disemua tempat kegiatan pelaksanaan. sepatu boot dan Helm yang sesuai dengan standar. Senantiasa selalu menjaga jarak aman antara pekerja satu dengan lainnya.5) Kecelakaan akibat kebakaran. 5) Alat-alat pengecatan/ penyemprot harus dioperasikan oleh orang yang terampil dan berpengalaman dibidangnya. masker. 2) Kecelakaan atau tertabrak oleh kendaraan yang melintas.3 Pekerjaan rambu jalan 5. 4) Terjadi kecelakaan akibat alat pemotong/mesin las. 3) Terjadi gangguan terhadap lalu lintas kendaraan.160 . Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengukuran pada Pekerjaan Rambu Jalan yaitu : 1) Pekerja harus terampil dan berpengalaman dibidangnya. topi baja dan kaca mata pelindung dengan lensa penyaring yang sesuai dengan standar. tidak terlalu berat maupun panjang untuk menghindari terjadinya kecelakaan. Menggunakan meteran yang sesuai dengan standar. sepatu boot.3.

9) Jika pengelasan dan pemotongan sedang diakukan di dalam ruangan tertutup. mata dan paru-paru. minyak dan bahanbahan lain yang mudah terbakar. atau di dekat bahan yang mudah meledak atau serbuk yang mudah terbakar. atau ruangan tertutup lainnya. seperti tabung gas. 13) Arus Las listrik harus dirancang sedemikian rupa untuk mencegah transmisi tegangan tinggi dari sumber tenaga ke elektroda las. dan secara mekanik dihubungkan dengan aman kepadanya atau kepada bangku kerja dan sebagainya dan kepada benda-benda logam yang berdekatan. 4) Terjadi luka bakar akibat percikan cat. selang-selang dll. harus dilengkapi ventilasi yang cukup. 3) Terluka akibat alat penyemprotan/alat mekanis pengecatan.2) Pekerja las harus memakai pakaian yang bebas dari lemak/ semir. 5) Terjadi luka pada tangan akibat sistem pencelupan panas pada proses galvanize. sepatu boot. kecuali apabila telah diarnbil tindakan keamanan yang memadai. tong atau ruangan yang tertutup lainnya selama waktu pekerja istirahat atau penghentian pekerjaar sementara. kacamata dan lain-lain yang sesuai dengan standar. 6) Tindakan pencegahan harus dilaksanakan untuk melindungi agar orang yang melewati dekat pengelasan. sebelum melakukan pengelasan diperlukan pemeriksaan dengan seksama terhadap alat-alat yang digunakan untuk pengelasan. 4) Untuk menghindari resiko bahaya kecelakaan. 12) Mesin las harus dilengkapi dengan saklar pada rangka mesin atau dipasang di dekatnya. yaitu kipas pembuang udara sesuai dengan kondisi yang diperlukan.160 . 8) Pengerjaan pengelasan dan pemotongan tidak boleh dilakukan di dekat tempat penyimpanan bahan yang mudah terbakar. Oksigen tidak boleh digunakan untuk tujuan ini.10. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengecatan pada Pekerjaan Rambu Jalan yaitu : 1) Petugas harus mengenakan pakaian dan perlengkapan seperti. 15) Kabel-kabel harus disangga agar tidak menimbulkan bahaya atau rintangan dan hanya kabel untuk pekerjaan berat (heavy duty) dengan isolasi yang tidak pecah dapat digunakan. yang apabila dibuka langsung memutus semua arus listrik dari sumber tenaga. 10) Tidak holeh ada pipa peniup ditinggalkan tanpa pengelasan di dalam tangki. 5) Pengelasan harus dilakukan oleh orang yang ahli dan berpengalaman dibidangnya. 7) Alat pemadam api yang sesuai harus disiapkan untuk penggunaan sewaktu-waktu di tempat di mana pengelasan sedang dilakukan. gas atau penguapan yang mungkin terjadi. 2) Terjadi luka/rasa gatal/noda pada tangan/kaki. jika perlu dicat atau dengan cara lain yang serupa. sarung tangan. 5. 11) Pekerja harus melaksanakan tindakan pencegahan yang diperlukan untuk mencegah gas yang mudah terbakar atau oksigen yang belum terbakar mengalir ke dalarn tangkitangki. 16) Penghubung arus listrik harus tahan air. 14) Penghantar balik arus listrik harus langsung dihubungkan dengan benda kerjanya. helm. tidak terkena bahaya bunga api dan radiasi. 3) Pekerjaan pengelasan diusahakan sedemikian rupa jauh dari tempat-tempat atau barang/bahan yang mudah terbakar atau mudah meledak. tong. masker.3. 17) Dinding atau tabir pelindung permanen atau sementara harus dapat menyerap sinar yang berbahaya dari alat pengelas dan mencegah pantulan cahaya. 135 .3 Pengecatan Pekerjaan Pengecatan pada Pekerjaan Rambu Jalan mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terjadi iritasi pada kulit.

Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penggalian pada Pekerjaan Rambu Jalan yaitu : 1) Sebelum pekerjaan di mulai pada setiap tempat galian Penyedia Jasa harus melakukan pemeriksaan terlebih dahulu atas segala instalasi di bawah tanah seperti saluran pembuangan. pipa air. 9) Jika pengecatan dilakukan pada ruang tertutup.10.5 Pengecoran Pekerjaan Pengecoran pada Pekerjaan Rambu Jalan mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terjadi iritasi pada kulit. atau untuk mengeringkan bahan lain semacam cat yang terbuat dari bahan mudah terbakar atau cairan yang mudah meledak. yang dapat menimbulkan bahaya selama waktu pekerjaan. 5) Jika tidak digunakan.10. dan konduktor listrik. untuk mengeringkan cat.  dijauhkan dari percikan api. balincong.3. sumber panas dan sinar matahari. pipa air. air dll). 3) Terjadi kecelakaan oleh karena terpeleset pada saat menggali. 4) Penggalian pada lereng dan tebing jalan diusahakan agar tetap mempertahankan kemiringan lereng yang stabil. 5) Apabila tanah tidak menjamin tempat berpijak yang aman. atau di tempattempat yang menggunakan cat yang mudah terbakar.3. 2) Terjadi kecelakaan (terkena cangkul/alat penggali lain) dari sesama pekerja karena jarak antar pekerja terlalu dekat. 3) Perjadi gangguan pernapasan akibat pencampuran material pengecoran (semen. 136 . 3) Diusahakan sedemikian rupa penggalian yang dilakukan dimalam hari menggunakan lampu penerangan yang cukup. dll). kaleng penyimpan cat. 5. mata akibat percikan adukan yang mengandung semen. 3) Pekerja yang melakukan pengecatan menggunakan sarung tangan untuk melindungi kulit dengan menggunakan cream. 8) Alat pemadam api harus selalu tersedia di tempat-tempat penyimpanan. 6) Bahan untuk pengecatan (cat) tidak boleh dipanaskan kecuali direndam dalam air yang dipanaskan pada temperatur sedang atau dengan menggunakan alat khusus. pekerja di tempat itu harus diberi respirator kecuali bila ventilasi yang tersedia di tempat itu cukup memadai untuk mencegah bahaya.4 Penggalian Pekerjaan Penggalian pada Pekerjaan Rambu Jalan mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terjadi kecelakaan akibat jaringan pipa gas. 2) Diusahakan agar menjaga jarak yang aman antar pekerja jika penggalian mengunakan tenaga manusia dengan alat bantu (Cangkul. 7) Tidak boleh menggunakan peralatan listrik yang elemen pemanasannya terbuka. dan lain-lain bahan cat yang mudah menguap harus :  dijaga agar tertutup rapat.2) Pelaksanaan/proses pengecatan dan proses galvanisasi dengan sistem pencelupan panas harus dilakukan oleh orang yang ahli dan berpengalaman dibidangnya dan dilakukan dengan penuh hati-hati. harus disediakan konstruksi penyangga yang kuat.160 . 4) Setelah melakukan pekerjaan pengecatan tangan harus dicuci sampai bersih. pipa gas. pasir. 5. dan konduktor listrik terkena galian. 2) Terluka oleh alat-alat pengecoran yang dilakukan manual maupun mekanis (concrete mixer).

4. dan konduktor listrik terkena galian. pekerja harus memakai alat pengatur pernafasan (respirator) tutup mulut (masker). 3) Terjadi kecelakaan oleh karena terpeleset pada saat menggali. 137 .10. 2) Palu yang dipakai harus sesuai/proposional. kaca mata pengaman. 5. atau topi baja. Senantiasa selalu menjaga jarak aman antara pekerja satu dengan lainnya. 3) Ketika beton sedang dituang dari bak muatan. Pekerja harus memakai pakaian dan perlengkapan seperti sarung tangan. helm. pipa air. 5. 3) Memasang rambu-rambu pada lokasi pekerjaan untuk melindungi personel yang bekerja dari kendaraan yang melintasi proyek dan menempatkan petugas bendera disemua tempat kegiatan pelaksanaan.4. 8) Membatasi daerah pekerjaan yang akan dilakukan pengecoran dengan pagar atau rambu yang informatif. sepatu boot dan Helm yang sesuai dengan standar. pekerja harus mempunyai jarak yang aman terhadap setiap percikan beton.Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengecoran pada Pekerjaan Rambu Jalan yaitu : 1) Para pekerja harus memakai pakaian dan perlengkapan seperti sepatu boot. 5) Menjaga agar tidak ada orang luar maupun pekerja lain berada di tempat pengecoran sewaktu alat pengaduk beton bekerja mengaduk adukan beton. 2) Terjadi kecelakaan (terkena cangkul/alat penggali lain) dari sesama pekerja karena jarak antar pekerja terlalu dekat. sarung tangan dan lainnya sesuai sesuai dengan standar. 7) Menjaga agar tidak ada orang luar maupun pekerja lain berada di tempat pengecoran sewaktu alat penghampar beton bekerja menumpahkan adukan beton. 3) Terjadi gangguan terhadap lalu lintas kendaraan. sarung tangan. helm.4 Pekerjaan Patok 5. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengukuran pada Pekerjaan Patok yaitu : 1) Pekerja harus terampil dan berpengalaman dibidangnya. 4) Menjaga agar tidak ada orang luar maupun pekerja lain berada di tempat pengecoran sewaktu alat penggertar bekerja meratakan adukan beton.1 Pengukuran Pekerjaan Pengukuran pada Pekerjaan Patok mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terluka akibat penggunaan meteran baja tidak benar. menyediakan lampu penerangan apabila harus bekerja pada malam hari.10. tidak terlalu berat maupun panjang untuk menghindari terjadinya kecelakaan. 2) Kecelakaan atau tertabrak oleh kendaraan yang melintas. 2) Pekerja harus memakai pakaian kerja dan perlengkapan seperti.10. dan sepatu yang sesuai dengan standar dan bila perlu untuk mencegah bahaya gangguan paru-paru. 6) Menjaga agar tidak ada orang luar maupun pekerja lain berada di tempat pengecoran sewaktu water tanker bekerja menumpahkan air. Menggunakan meteran yang sesuai dengan standar.160 .2 Penggalian Pekerjaan Penggalian pada Pekerjaan Patok mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terjadi kecelakaan akibat jaringan pipa gas.

pekerja harus mempunyai jarak yang aman terhadap setiap percikan beton. 4) Penggalian pada lereng dan tebing jalan diusahakan agar tetap mempertahankan kemiringan lereng yang stabil. menyediakan lampu penerangan apabila harus bekerja pada malam hari. 8) Membatasi daerah pekerjaan yang akan dilakukan pengecoran dengan pagar atau rambu yang informatif. helm. 6) Perjadi gangguan pernapasan akibat pencampuran material pengecoran (semen. 138 . 5) Menjaga agar tidak ada orang luar maupun pekerja lain berada di tempat pengecoran sewaktu alat pengaduk beton bekerja mengaduk adukan beton.Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penggalian pada Pekerjaan Patok yaitu : 1) Sebelum pekerjaan di mulai pada setiap tempat galian Penyedia Jasa harus melakukan pemeriksaan terlebih dahulu atas segala instalasi di bawah tanah seperti saluran pembuangan. 7) Terjadi iritasi pada kulit. dan konduktor listrik. 2) Diusahakan agar menjaga jarak yang aman antar pekerja jika penggalian mengunakan tenaga manusia dengan alat bantu (Cangkul. 5) Apabila tanah tidak menjamin tempat berpijak yang aman. balincong. masker. 3) Ketika beton sedang dituang dari bak muatan. 3) Diusahakan sedemikian rupa penggalian yang dilakukan dimalam hari menggunakan lampu penerangan yang cukup. kacamata dan lain-lain yang sesuai dengan standar. dan sepatu yang sesuai dengan standar dan bila perlu untuk mencegah bahaya gangguan paru-paru. mata akibat percikan adukan yang mengandung semen. pekerja harus memakai alat pengatur pernafasan (respirator) tutup mulut (masker).3 Pemasangan Pekerjaan Pemasangan pada Pekerjaan Patok mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terjadi gangguan lalu lintas kendaraan. dll). 5. pipa air. pipa gas. 4) Terjadi iritasi pada kulit. 6) Menjaga agar tidak ada orang luar maupun pekerja lain berada di tempat pengecoran sewaktu water tanker bekerja menumpahkan air. pasir. 7) Menjaga agar tidak ada orang luar maupun pekerja lain berada di tempat pengecoran sewaktu alat penghampar beton bekerja menumpahkan adukan beton. yang dapat menimbulkan bahaya selama waktu pekerjaan. sarung tangan. 11) Terjadi luka pada tangan akibat sistem pencelupan panas pada proses galvanize. harus disediakan konstruksi penyangga yang kuat. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pemasangan pada Pekerjaan Patok yaitu : 1) Petugas harus mengenakan pakaian dan perlengkapan seperti.160 . 2) Terluka ketika melakukan handling(pengangkatan)bahan pematokan. helm. atau topi baja. 5) Terluka oleh alat-alat pengecoran yang dilakukan manual maupun mekanis (concrete mixer).10. 3) Tanah bagian pinggir bahu jalan roboh akibat tanah tidak stabil. 10) Terjadi luka bakar akibat percikan cat. kaca mata pengaman. 8) Terjadi luka/rasa gatal/noda pada tangan/kaki. 9) Terluka akibat alat penyemprotan/alat mekanis pengecatan.4. 4) Menjaga agar tidak ada orang luar maupun pekerja lain berada di tempat pengecoran sewaktu alat penggertar bekerja meratakan adukan beton. sarung tangan. mata dan paru-paru. 2) Pekerja harus memakai pakaian kerja dan perlengkapan seperti. sepatu boot. air dll).

14) Bahan untuk pengecatan (cat) tidak boleh dipanaskan kecuali direndam dalam air yang dipanaskan pada temperatur sedang atau dengan menggunakan alat khusus. 5. untuk mengeringkan cat. 2) Palu yang dipakai harus sesuai/proposional. 16) Alat pemadam api harus selalu tersedia di tempat-tempat penyimpanan.5. 2) Terjadi gangguan lalu lintas kendaraan. tidak terlalu berat maupun panjang untuk menghindari terjadinya kecelakaan. helm. 2) Kecelakaan atau tertabrak oleh kendaraan yang melintas. kaleng penyimpan cat.1 Pengukuran Pekerjaan Pengukuran pada Pekerjaan Paku Jalan mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terluka akibat penggunaan meteran baja tidak benar.  dijauhkan dari percikan api. Menggunakan meteran yang sesuai dengan standar. kacamata dan lain-lain yang sesuai dengan standar.10. 17) Jika pengecatan dilakukan pada ruang tertutup.2 Penggalian Pekerjaan Penggalian pada Pekerjaan Paku Jalan mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terjadi gangguan fisik akibat alat pengali ( jack hammer dan alat penggali lain). 15) Tidak boleh menggunakan peralatan listrik yang elemen pemanasannya terbuka.5 Pekerjaan paku jalan 5. atau di tempat-tempat yang menggunakan cat yang mudah terbakar. sepatu boot.9) Petugas harus mengenakan pakaian dan perlengkapan seperti. dan lain-lain bahan cat yang mudah menguap harus :  dijaga agar tertutup rapat. 5. Pekerja harus memakai pakaian dan perlengkapan seperti sarung tangan. 13) Jika tidak digunakan. masker. Senantiasa selalu menjaga jarak aman antara pekerja satu dengan lainnya.10. 12) Setelah melakukan pekerjaan pengecatan tangan harus dicuci sampai bersih. 10) Pelaksanaan/proses pengecatan dan proses galvanisasi dengan sistem pencelupan panas harus dilakukan oleh orang yang ahli dan berpengalaman dibidangnya dan dilakukan dengan penuh hati-hati. 3) Memasang rambu-rambu pada lokasi pekerjaan untuk melindungi personel yang bekerja dari kendaraan yang melintasi proyek dan menempatkan petugas bendera disemua tempat kegiatan pelaksanaan. atau untuk mengeringkan bahan lain semacam cat yang terbuat dari bahan mudah terbakar atau cairan yang mudah meledak. sumber panas dan sinar matahari. 139 . sepatu boot dan Helm yang sesuai dengan standar. 11) Pekerja yang melakukan pengecatan menggunakan sarung tangan untuk melindungi kulit dengan menggunakan cream. pekerja di tempat itu harus diberi respirator kecuali bila ventilasi yang tersedia di tempat itu cukup memadai untuk mencegah bahaya.5. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengukuran pada Pekerjaan Paku Jalan yaitu : 1) Pekerja harus terampil dan berpengalaman dibidangnya. sarung tangan. 3) Terjadi gangguan terhadap lalu lintas kendaraan.10.160 .

tangan atau mata ketika melakukan penyemprotan bahan perekat. 4) Potensi bahaya akibat gangguan lalu lintas kendaraan.10. sepatu boot.10. 5) Material hasil galian harus ditempatkan pada tempat yang telah ditetapkan. 140 . tidak terlalu berat maupun panjang untuk menghindari terjadinya kecelakaan.6 Pekerjaan mata kucing 5. Menggunakan meteran yang sesuai dengan standar.10. 2) Luka pada kaki atau tangan pada saat melakukan penghamparan batu. kebakaran dll. Pekerja harus memakai pakaian dan perlengkapan seperti sarung tangan. 3) Terjadi iritasi pada kulit. 5. 3) Memasang rambu-rambu pada lokasi pekerjaan untuk melindungi personel yang bekerja dari kendaraan yang melintasi proyek dan menempatkan petugas bendera disemua tempat kegiatan pelaksanaan. 4) Kabel-kebel atau sejenisnya harus dilindungi sehingga tidak menimbulkan arus pendek. 5. masker.1 Pengukuran Pekerjaan Pengukuran pada Pekerjaan Mata Kucing mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terluka akibat penggunaan meteran baja tidak benar. 3) Terjadi gangguan terhadap lalu lintas kendaraan. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengukuran pada Pekerjaan Mata Kucing s yaitu : 1) Pekerja harus terampil dan berpengalaman dibidangnya. 2) Kecelakaan atau tertabrak oleh kendaraan yang melintas.6. 3) Penggalian menggunakan alat mekanis harus dilakukan oleh orang yang ahli dan berpengalaman dibidangnya. Senantiasa selalu menjaga jarak aman antara pekerja satu dengan lainnya. 2) Para pekerja yang menggunakan alat penggali mekanis/jack hammer harus terlindung dari getaran dan gangguan pendengaran.5.160 . helm.Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penggalian pada Pekerjaan Paku Jalan yaitu : 1) Petugas harus mengenakan pakaian dan perlengkapan seperti. kacamata dan lain-lain yang sesuai dengan standar. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pemasangan pada Pekerjaan Paku Jalan yaitu : 1) Pemasangan dilakukan oleh pekerja yang ahli dan berpengalaman di bidangnya. 5) Memasang rambu-rambu pada lokasi pekerjaan untuk melindungi personel yang bekerja dari kendaraan yang melintasi proyek dan menugaskan serta menempatkan petugas bendera disemua tempat kegiatan pelaksanaan. sarung tangan.3 Pemasangan Pekerjaan Pemasangan pada Pekerjaan Paku Jalan mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Luka akibat pengoperasian alat pemadat (stamper/alat pemadat lain). 2) Palu yang dipakai harus sesuai/proposional. sepatu boot dan Helm yang sesuai dengan standar.

3) Tanah bagian pinggir bahu jalan roboh akibat tanah tidak stabil.6. 3) Terjadi kecelakaan oleh karena terpeleset pada saat menggali. balincong. yang dapat menimbulkan bahaya selama waktu pekerjaan. helm. 11) Terjadi luka pada tangan akibat sistem pencelupan panas pada proses galvanize. dll). mata akibat percikan adukan yang mengandung semen. kaca mata pengaman.2 Penggalian Pekerjaan Penggalian pada Pekerjaan Mata Kucing mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terjadi kecelakaan akibat jaringan pipa gas. masker. pekerja harus memakai alat pengatur pernafasan (respirator) tutup mulut (masker). 2) Terluka ketika melakukan handling(pengangkatan)bahan pematokan. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pemasangan pada Pekerjaan Mata Kucing yaitu : 1) Petugas harus mengenakan pakaian dan perlengkapan seperti. 6) Perjadi gangguan pernapasan akibat pencampuran material pengecoran (semen. pipa air. harus disediakan konstruksi penyangga yang kuat.3 Pemasangan Pekerjaan Pemasangan pada Pekerjaan Mata Kucing mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terjadi gangguan lalu lintas kendaraan. dan konduktor listrik terkena galian. sarung tangan. sarung tangan. 5) Terluka oleh alat-alat pengecoran yang dilakukan manual maupun mekanis (concrete mixer). 8) Terjadi luka/rasa gatal/noda pada tangan/kaki.6.5. pekerja harus mempunyai jarak yang aman terhadap setiap percikan beton. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penggalian pada Pekerjaan Mata Kucing yaitu : 1) Sebelum pekerjaan di mulai pada setiap tempat galian Penyedia Jasa harus melakukan pemeriksaan terlebih dahulu atas segala instalasi di bawah tanah seperti saluran pembuangan.10. sepatu boot. 2) Diusahakan agar menjaga jarak yang aman antar pekerja jika penggalian mengunakan tenaga manusia dengan alat bantu (Cangkul. atau topi baja. mata dan paru-paru.10. 10) Terjadi luka bakar akibat percikan cat. 2) Pekerja harus memakai pakaian kerja dan perlengkapan seperti. dan sepatu yang sesuai dengan standar dan bila perlu untuk mencegah bahaya gangguan paru-paru. 4) Terjadi iritasi pada kulit. pipa air. kacamata dan lain-lain yang sesuai dengan standar. 5) Apabila tanah tidak menjamin tempat berpijak yang aman. pasir. 5. pipa gas. 2) Terjadi kecelakaan (terkena cangkul/alat penggali lain) dari sesama pekerja karena jarak antar pekerja terlalu dekat. helm. 3) Diusahakan sedemikian rupa penggalian yang dilakukan dimalam hari menggunakan lampu penerangan yang cukup.160 . 7) Terjadi iritasi pada kulit. 4) Menjaga agar tidak ada orang luar maupun pekerja lain berada di tempat pengecoran sewaktu alat penggertar bekerja meratakan adukan beton. 9) Terluka akibat alat penyemprotan/alat mekanis pengecatan. 3) Ketika beton sedang dituang dari bak muatan. dan konduktor listrik. air dll). 141 . 4) Penggalian pada lereng dan tebing jalan diusahakan agar tetap mempertahankan kemiringan lereng yang stabil.

2) Kecelakaan atau tertabrak oleh kendaraan yang melintas. untuk mengeringkan cat. tidak terlalu berat maupun panjang untuk menghindari terjadinya kecelakaan. sumber panas dan sinar matahari.7. 10) Pelaksanaan/proses pengecatan dan proses galvanisasi dengan sistem pencelupan panas harus dilakukan oleh orang yang ahli dan berpengalaman dibidangnya dan dilakukan dengan penuh hati-hati. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengukuran pada Pekerjaan Perkerasan Blok Beton yaitu : 1) Pekerja harus terampil dan berpengalaman dibidangnya.  dijauhkan dari percikan api. masker. 17) Jika pengecatan dilakukan pada ruang tertutup. sepatu boot. kaleng penyimpan cat.160 . 16) Alat pemadam api harus selalu tersedia di tempat-tempat penyimpanan. 2) Palu yang dipakai harus sesuai/proposional. sarung tangan. 3) Memasang rambu-rambu pada lokasi pekerjaan untuk melindungi personel yang bekerja dari kendaraan yang melintasi proyek dan menempatkan petugas bendera disemua tempat kegiatan pelaksanaan. Senantiasa selalu menjaga jarak aman antara pekerja satu dengan lainnya. 15) Tidak boleh menggunakan peralatan listrik yang elemen pemanasannya terbuka. Menggunakan meteran yang sesuai dengan standar.10. atau di tempattempat yang menggunakan cat yang mudah terbakar. 11) Pekerja yang melakukan pengecatan menggunakan sarung tangan untuk melindungi kulit dengan menggunakan cream.7 Pekerjaan perkerasan blok beton 5. 9) Petugas harus mengenakan pakaian dan perlengkapan seperti. sepatu boot dan Helm yang sesuai dengan standar.1 Pengukuran Pekerjaan Pengukuran pada Pekerjaan Perkerasan Blok Beton mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terluka akibat penggunaan meteran baja tidak benar. Pekerja harus memakai pakaian dan perlengkapan seperti sarung tangan. 6) Menjaga agar tidak ada orang luar maupun pekerja lain berada di tempat pengecoran sewaktu water tanker bekerja menumpahkan air. menyediakan lampu penerangan apabila harus bekerja pada malam hari. 13) Jika tidak digunakan. 142 . dan lain-lain bahan cat yang mudah menguap harus :  dijaga agar tertutup rapat. atau untuk mengeringkan bahan lain semacam cat yang terbuat dari bahan mudah terbakar atau cairan yang mudah meledak. 12) Setelah melakukan pekerjaan pengecatan tangan harus dicuci sampai bersih.10. helm. 8) Membatasi daerah pekerjaan yang akan dilakukan pengecoran dengan pagar atau rambu yang informatif. 14) Bahan untuk pengecatan (cat) tidak boleh dipanaskan kecuali direndam dalam air yang dipanaskan pada temperatur sedang atau dengan menggunakan alat khusus. pekerja di tempat itu harus diberi respirator kecuali bila ventilasi yang tersedia di tempat itu cukup memadai untuk mencegah bahaya. 5.5) Menjaga agar tidak ada orang luar maupun pekerja lain berada di tempat pengecoran sewaktu alat pengaduk beton bekerja mengaduk adukan beton. kacamata dan lain-lain yang sesuai dengan standar. 7) Menjaga agar tidak ada orang luar maupun pekerja lain berada di tempat pengecoran sewaktu alat penghampar beton bekerja menumpahkan adukan beton. 3) Terjadi gangguan terhadap lalu lintas kendaraan.

7. 2) Paku-paku yang menonjol keluar perlu dibenamkan atau dibengkokan. 3) Terluka ketika memasang bentangan plastik panjang untuk alas lantai kerja. helm.160 . 4) Terjadi gangguan lalu lintas kendaraan. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penyiapan pada Pekerjaan Perkerasan Blok Beton yaitu : 1) Memakai pakaian kerja dan perlengkapan seperti sarung tangan. atau topi baja. 4) Terjadi kecelakaan atau luka oleh karen jarak antar pekerja yang menyiapkan persiapan pengecoran terlalu berdekatan. 2) Melakukan penutupan material dengan plastik sehingga debu tidak beterbangan. masker. 3) Potensi pekerja tertabrak oleh kendaraan yang berlalu lalang. dan sepatu yang yang sesuai dengan standar dan bila perlu untuk mencegah bahaya gangguan paru-paru pekerja harus memakai alat pengatur pernafasan (respirator) tutup mulut (masks). 5.2 Penyiapan Pekerjaan Penyiapan pada Pekerjaan Perkerasan Blok Beton mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terjadi iritasi pada kulit. helm. sepatu boot. sarung tangan. 143 .10. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pemasangan Bekisting pada Pekerjaan Perkerasan Blok Beton yaitu : 1) Petugas harus mengenakan pakaian dan perlengkapan seperti.7. 5) Memasang rambu-rambu pada lokasi pekerjaan untuk melindungi personel yang bekerja dari kendaraan yang melintasi proyek dan menempatkan petugas bendera disemua tempat kegiatan pelaksanaan.4 Penulangan Pekerjaan Penulangan pada Pekerjaan Perkerasan Blok Beton mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Bahaya dari besi tulangan yang menjorok ke luar. 2) Terluka akibat pabrikasi tulangan dan kawat tulangan tidak dilakukan oleh pekerja terampil dan berpengalaman. 2) Terluka oleh alat-alat pengecoran. helm. Pengecekan ini harus dilakukan oleh orang yang ahli dibidangnya. 2) Terluka oleh alat penggeser bekisting.10.3 Pemasangan bekisting Pekerjaan Pemasangan Bekisting pada Pekerjaan Perkerasan Blok Beton mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terluka oleh paku dan atau tertimpa kayu. 3) Melakukan pengontrolan terhadap mesin yang memproses semen. 5. mata dan paru-paru akibat debu semen yang terhisap para pekerja yang mengerjakan semen dan beton.5. kacamata dan lain-lain yang sesuai dengan standar. sepatu boot yang sesuai dengan standar.10.7. kapur dan bahanbahan berdebu lainnya harus dari tempat yang bebas debu. 4) Melakukan pengecekan terhadap alat concrete mixer sebelum digunakan termasuk penguat-penguatnya. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penulangan pada Pekerjaan Perkerasan Blok Beton yaitu : 1) Para pekerja yang mengerjakan pemasangan Besi tulangan harus menggunakan sarung tangan. kaca mata pengaman.

sepatu boot.10. 5) Jika tidak digunakan.160 .1 Pengukuran dan pematokan Pekerjaan Pengukuran dan Pematokan pada Pekerjaan Tutup Baja untuk Lubang Drainase mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terluka akibat penggunaan meteran baja tidak benar. 2) Terjadi luka/rasa gatal/noda pada tangan/kaki. 5. 8) Alat pemadam api harus selalu tersedia di tempat-tempat penyimpanan. Pekerja harus memakai pakaian dan perlengkapan seperti sarung tangan. 2) Kecelakaan atau tertabrak oleh kendaraan yang melintas. 9) Jika pengecatan dilakukan pada ruang tertutup. atau di tempattempat yang menggunakan cat yang mudah terbakar. 3) Terjadi gangguan terhadap lalu lintas kendaraan. sarung tangan.5 Pengecoran Pekerjaan Pengecoran pada Pekerjaan Perkerasan Blok Beton mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terjadi iritasi pada kulit.8.10. Sisa-sisa besi/kawat baja ditempatkan sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan bahaya. 7) Tidak boleh menggunakan peralatan listrik yang elemen pemanasannya terbuka. 4) Terjadi luka bakar akibat percikan cat. kacamata dan lain-lain yang sesuai dengan standar.2) Besi tulangan yang menjorok ke luar dari lantai atau dinding harus diberi pelindung. pekerja di tempat itu harus diberi respirator kecuali bila ventilasi yang tersedia di tempat itu cukup memadai untuk mencegah bahaya. 144 . atau untuk mengeringkan bahan lain semacam cat yang terbuat dari bahan mudah terbakar atau cairan yang mudah meledak. masker. sepatu boot dan Helm yang sesuai dengan standar. sumber panas dan sinar matahari. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengecoran pada Pekerjaan Perkerasan Blok Beton yaitu : 1) Petugas harus mengenakan pakaian dan perlengkapan seperti. 5.10. helm. 3) Pekerja yang melakukan pengecatan menggunakan sarung tangan untuk melindungi kulit dengan menggunakan cream.  dijauhkan dari percikan api. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengukuran dan Pematokan pada Pekerjaan Tutup Baja untuk Lubang Drainase yaitu : 1) Pekerja harus terampil dan berpengalaman dibidangnya.7. dan lain-lain bahan cat yang mudah menguap harus :  dijaga agar tertutup rapat.8 Pekerjaan tutup baja untuk lubang drainase 5. untuk mengeringkan cat. 2) Pelaksanaan/proses pengecatan dan proses galvanisasi dengan sistem pencelupan panas harus dilakukan oleh orang yang ahli dan berpengalaman dibidangnya dan dilakukan dengan penuh hati-hati. 6) Bahan untuk pengecatan (cat) tidak boleh dipanaskan kecuali direndam dalam air yang dipanaskan pada temperatur sedang atau dengan menggunakan alat khusus. kaleng penyimpan cat. 3) Terluka akibat alat penyemprotan/alat mekanis pengecatan. 4) Setelah melakukan pekerjaan pengecatan tangan harus dicuci sampai bersih. mata dan paru-paru. 5) Terjadi luka pada tangan akibat sistem pencelupan panas pada proses galvanize.

145 . dan konduktor listrik. 6) Dilarang menempatkan atau menggerakkan beban mesin atau peralatan lainnya dekat sisi galian yang dapat menyebabkan runtuhnya sisi galian dan membahayakan setiap orang di dalamnya. 3) Terjadi kecelakaan atau terluka oleh alat penggali ketika penggalian dilakukan pada malam hari akibat penerangan kurang memadai. 5. 3) Terjadi gangguan terhadap lalu lintas kendaraan. Menggunakan meteran yang sesuai dengan standar.10. pipa gas. 8) Kecelakaan dalam pengoperasian mesin penggali tanah. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penggalian dan Pematokan pada Pekerjaan Tutup Baja untuk Lubang Drainase yaitu : 1) Sebelum pekerjaan di mulai pada setiap tempat galian. 3) Memasang rambu-rambu pada lokasi pekerjaan untuk melindungi personel yang bekerja dari kendaraan yang melintasi proyek dan menempatkan petugas bendera disemua tempat kegiatan pelaksanaan.2) Palu yang dipakai harus sesuai/proposional. 5) Bahaya akibat runtuhnya lereng galian. harus disediakan konstruksi penyangga yang cukup.2 Penggalian Pekerjaan Penggalian dan Pematokan pada Pekerjaan Tutup Baja untuk Lubang Drainase mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Kecelakaan atau bahaya akibat pelaksanaan galian mengenai jaringan fasilitas umu seperti saluran pembuangan. pipa air. 7) Bagian lubang galian yang memungkinkan seseorang jatuh terperosok ke dalamnya. 3) Penggalian yang dilakukan di malam hari harus menggunakan lampu penerangan yang cukup. balincong. 5.8. 5) Tanpa konstruksi penyangga yang kuat.160 . pipa air. Penyedia Jasa harus melakukan pemeriksaan terlebih dahulu atas segala instalasi di bawah tanah seperti saluran pembuangan. harus dilindungi dengan penghalang yang cukup. 2) Kecelakaan terkena cangkul/alat penggali lain akibat jarak anatar pekerja terlalu dekat. yang dapat menimbulkan bahaya selama waktu pekerjaan. 6) Kecelakaan tertimpa barang-barang yang diletakkan atau ditumpuk di atas di dekat sisi galian. pipa gas. dll). maka pekerja dilarang menggali tanah di bagian bawah. dan konduktor listrik.10. 2) Kecelakaan atau tertabrak oleh kendaraan yang melintas.9.1 Pengukuran Pekerjaan Pengukuran pada Pekerjaan Penerangan Lampu Jalan mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terluka akibat penggunaan meteran baja tidak benar. tidak terlalu berat maupun panjang untuk menghindari terjadinya kecelakaan. 2) Senantiasa harus selalu menjaga jarak aman antar pekerja jika penggalian mengunakan tenaga manusia dengan alat bantu (Cangkul. 4) Apabila tanah tidak menjamin tempat berpijak yang aman. 7) Kecelakaan akibat lubang galian tergenang air. 4) Jatuh terpeleset pada saat menggali.10.9 Pekerjaan penerangan lampu jalan 5. Senantiasa selalu menjaga jarak aman antara pekerja satu dengan lainnya.

4) Jatuh terpeleset pada saat menggali. 6) Dilarang menempatkan atau menggerakkan beban mesin atau peralatan lainnya dekat sisi galian yang dapat menyebabkan runtuhnya sisi galian dan membahayakan setiap orang di dalamnya. tidak terlalu berat maupun panjang untuk menghindari terjadinya kecelakaan. Pekerja harus memakai pakaian dan perlengkapan seperti sarung tangan. balincong. yang dapat menimbulkan bahaya selama waktu pekerjaan. harus disediakan konstruksi penyangga yang cukup. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penggalian pada Pekerjaan Penerangan Lampu Jalan yaitu : 1) Sebelum pekerjaan di mulai pada setiap tempat galian. 5) Bahaya akibat runtuhnya lereng galian.2 Penggalian Pekerjaan Penggalian pada Pekerjaan Penerangan Lampu Jalan mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Kecelakaan atau bahaya akibat pelaksanaan galian mengenai jaringan fasilitas umu seperti saluran pembuangan. maka pekerja dilarang menggali tanah di bagian bawah.Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengukuran pada Pekerjaan Penerangan Lampu Jalan yaitu : 1) Pekerja harus terampil dan berpengalaman dibidangnya.3 Pengelasan Pekerjaan Pengelasan pada Pekerjaan Penerangan Lampu Jalan mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Potensi kecelakaan oleh mata mesin las. 2) Palu yang dipakai harus sesuai/proposional. 5. 7) Bagian lubang galian yang memungkinkan seseorang jatuh terperosok ke dalamnya. 2) Kecelakaan terkena cangkul/alat penggali lain akibat jarak anatar pekerja terlalu dekat.10. pipa air. pipa gas. dan konduktor listrik. 6) Kecelakaan tertimpa barang-barang yang diletakkan atau ditumpuk di atas di dekat sisi galian. pipa gas.10. Menggunakan meteran yang sesuai dengan standar. dan konduktor listrik. 146 . sepatu boot dan Helm yang sesuai dengan standar. 8) Kecelakaan dalam pengoperasian mesin penggali tanah. 4) Apabila tanah tidak menjamin tempat berpijak yang aman. 5.9.160 . 3) Penggalian yang dilakukan di malam hari harus menggunakan lampu penerangan yang cukup. dll). pipa air. 2) Senantiasa harus selalu menjaga jarak aman antar pekerja jika penggalian mengunakan tenaga manusia dengan alat bantu (Cangkul. 3) Terjadi kebakaran.9. 5) Tanpa konstruksi penyangga yang kuat. harus dilindungi dengan penghalang yang cukup. Senantiasa selalu menjaga jarak aman antara pekerja satu dengan lainnya. Penyedia Jasa harus melakukan pemeriksaan terlebih dahulu atas segala instalasi di bawah tanah seperti saluran pembuangan. 3) Terjadi kecelakaan atau terluka oleh alat penggali ketika penggalian dilakukan pada malam hari akibat penerangan kurang memadai. 7) Kecelakaan akibat lubang galian tergenang air. 2) Terjadi luka bakar. 3) Memasang rambu-rambu pada lokasi pekerjaan untuk melindungi personel yang bekerja dari kendaraan yang melintasi proyek dan menempatkan petugas bendera disemua tempat kegiatan pelaksanaan.

gas atau penguapan yang mungkin terjadi.9. tong atau ruangan yang tertutup lainnya selama waktu pekerja istirahat atau penghentian pekerjaar sementara. mata akibat percikan adukan yang mengandung semen. 9) Jika pengelasan dan pemotongan sedang diakukan di dalam ruangan tertutup. 4) Untuk menghindari resiko bahaya kecelakaan. topi baja dan kaca mata pelindung dengan lensa penyaring yang sesuai dengan standar. selang-selang dll. 6) Tindakan pencegahan harus dilaksanakan untuk melindungi agar orang yang melewati dekat pengelasan. 14) Penghantar balik arus listrik harus langsung dihubungkan dengan benda kerjanya. kecuali apabila telah diarnbil tindakan keamanan yang memadai. 11) Pekerja harus melaksanakan tindakan pencegahan yang diperlukan untuk mencegah gas yang mudah terbakar atau oksigen yang belum terbakar mengalir ke dalarn tangkitangki. 5) Pengelasan harus dilakukan oleh orang yang ahli dan berpengalaman dibidangnya. 15) Kabel-kabel harus disangga agar tidak menimbulkan bahaya atau rintangan dan hanya kabel untuk pekerjaan berat (heavy duty) dengan isolasi yang tidak pecah dapat digunakan. atau di dekat bahan yang mudah meledak atau serbuk yang mudah terbakar. 2) Pekerja las harus memakai pakaian yang bebas dari lemak/ semir. 13) Arus Las listrik harus dirancang sedemikian rupa untuk mencegah transmisi tegangan tinggi dari sumber tenaga ke elektroda las. atau ruangan tertutup lainnya. 10) Tidak holeh ada pipa peniup ditinggalkan tanpa pengelasan di dalam tangki. 3) Pekerjaan pengelasan diusahakan sedemikian rupa jauh dari tempat-tempat atau barang/bahan yang mudah terbakar atau mudah meledak. seperti tabung gas. jika perlu dicat atau dengan cara lain yang serupa. 5) Terjadi kecelakaan oleh karena arus pendek. 7) Alat pemadam api yang sesuai harus disiapkan untuk penggunaan sewaktu-waktu di tempat di mana pengelasan sedang dilakukan.4 Pengecoran Pekerjaan Pengecoran pada Pekerjaan Penerangan Lampu Jalan mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terjadi iritasi pada kulit. tong. tidak terkena bahaya bunga api dan radiasi. yang apabila dibuka langsung memutus semua arus listrik dari sumber tenaga. 8) Pengerjaan pengelasan dan pemotongan tidak boleh dilakukan di dekat tempat penyimpanan bahan yang mudah terbakar. minyak dan bahanbahan lain yang mudah terbakar. yaitu kipas pembuang udara sesuai dengan kondisi yang diperlukan. sebelum melakukan pengelasan diperlukan pemeriksaan dengan seksama terhadap alat-alat yang digunakan untuk pengelasan. Oksigen tidak boleh digunakan untuk tujuan ini. 16) Penghubung arus listrik harus tahan air.160 .4) Terjadi kecelakaan akibat alat pemotong/mesin las. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengelasan pada Pekerjaan Penerangan Lampu Jalan yaitu : 1) Pekerja-pekerja las harus memakai pakaian pelindung tahan api dan perlengkapan seperti kaos tangan tahan api dan baju las/apron. 12) Mesin las harus dilengkapi dengan saklar pada rangka mesin atau dipasang di dekatnya. harus dilengkapi ventilasi yang cukup.10. 147 . dan secara mekanik dihubungkan dengan aman kepadanya atau kepada bangku kerja dan sebagainya dan kepada benda-benda logam yang berdekatan. 17) Dinding atau tabir pelindung permanen atau sementara harus dapat menyerap sinar yang berbahaya dari alat pengelas dan mencegah pantulan cahaya. 5.

8) Membatasi daerah pekerjaan yang akan dilakukan pengecoran dengan pagar atau rambu yang informatif. air dll).5 Kelistrikan Pekerjaan Kelistrikan pada Pekerjaan Penerangan Lampu Jalan mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terluka akibat terjadi arus pendek.10. kaca mata pengaman. 2) Terjadi bahaya kebakaran akibat arus pendek. 5) Menjaga agar tidak ada orang luar maupun pekerja lain berada di tempat pengecoran sewaktu alat pengaduk beton bekerja mengaduk adukan beton. pasir.10. 3) Terjadi gangguan terhadap lalu lintas kendaraan. 6) Menjaga agar tidak ada orang luar maupun pekerja lain berada di tempat pengecoran sewaktu water tanker bekerja menumpahkan air. 5. atau topi baja. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Kelistrikan pada Pekerjaan Penerangan Lampu Jalan yaitu : 1) Semua kabel harus dilindungi dengan baik dan aman. 4) Menjaga agar tidak ada orang luar maupun pekerja lain berada di tempat pengecoran sewaktu alat penggertar bekerja meratakan adukan beton. sarung tangan.10.2) Terluka oleh alat-alat pengecoran yang dilakukan manual maupun mekanis (concrete mixer).1 Pengukuran Pekerjaan Pengukuran pada Pekerjaan Sistem dan Pesawat Pengatur Lalu Lintas mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terluka akibat penggunaan meteran baja tidak benar. 2) Pekerja harus memakai pakaian kerja dan perlengkapan seperti. menyediakan lampu penerangan apabila harus bekerja pada malam hari.10. pekerja harus mempunyai jarak yang aman terhadap setiap percikan beton. sarung tangan dan lainnya sesuai sesuai dengan standar.9. 3) Ketika beton sedang dituang dari bak muatan. helm. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengecoran pada Pekerjaan Penerangan Lampu Jalan yaitu : 1) Para pekerja harus memakai pakaian dan perlengkapan seperti sepatu boot. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengukuran pada Pekerjaan Sistem dan Pesawat Pengatur Lalu Lintas yaitu : 1) Pekerja harus terampil dan berpengalaman dibidangnya. 5. 3) Perjadi gangguan pernapasan akibat pencampuran material pengecoran (semen.160 . 2) Kecelakaan atau tertabrak oleh kendaraan yang melintas.10 Sistem dan pesawat pengatur lalu lintas 5. 7) Menjaga agar tidak ada orang luar maupun pekerja lain berada di tempat pengecoran sewaktu alat penghampar beton bekerja menumpahkan adukan beton. 148 . 2) Jika ada kabel yang terluka secepatnya harus diisolasi dengan baik dan aman. sepatu boot dan Helm yang sesuai dengan standar. pekerja harus memakai alat pengatur pernafasan (respirator) tutup mulut (masker). dan sepatu yang sesuai dengan standar dan bila perlu untuk mencegah bahaya gangguan paru-paru. helm. Pekerja harus memakai pakaian dan perlengkapan seperti sarung tangan.

5) Tanpa konstruksi penyangga yang kuat.3 Pengelasan Pekerjaan Pengelasan pada Pekerjaan Sistem dan Pesawat Pengatur Lalu Lintas mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Potensi kecelakaan oleh mata mesin las. 149 . 3) Terjadi kebakaran. 2) Kecelakaan terkena cangkul/alat penggali lain akibat jarak anatar pekerja terlalu dekat. tidak terlalu berat maupun panjang untuk menghindari terjadinya kecelakaan. 6) Kecelakaan tertimpa barang-barang yang diletakkan atau ditumpuk di atas di dekat sisi galian. 5) Terjadi kecelakaan oleh karena arus pendek.2) Palu yang dipakai harus sesuai/proposional.10.10. harus disediakan konstruksi penyangga yang cukup. dan konduktor listrik. 8) Kecelakaan dalam pengoperasian mesin penggali tanah. pipa air. 4) Terjadi kecelakaan akibat alat pemotong/mesin las. 4) Apabila tanah tidak menjamin tempat berpijak yang aman. balincong. Menggunakan meteran yang sesuai dengan standar.160 . 3) Terjadi kecelakaan atau terluka oleh alat penggali ketika penggalian dilakukan pada malam hari akibat penerangan kurang memadai. pipa gas. dan konduktor listrik. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Penggalian pada Pekerjaan Sistem dan Pesawat Pengatur Lalu Lintas yaitu : 1) Sebelum pekerjaan di mulai pada setiap tempat galian. 3) Penggalian yang dilakukan di malam hari harus menggunakan lampu penerangan yang cukup. 7) Kecelakaan akibat lubang galian tergenang air. pipa air. 7) Bagian lubang galian yang memungkinkan seseorang jatuh terperosok ke dalamnya. 5. Senantiasa selalu menjaga jarak aman antara pekerja satu dengan lainnya. pipa gas. maka pekerja dilarang menggali tanah di bagian bawah.2 Penggalian Pekerjaan Penggalian pada Pekerjaan Sistem dan Pesawat Pengatur Lalu Lintas mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Kecelakaan atau bahaya akibat pelaksanaan galian mengenai jaringan fasilitas umu seperti saluran pembuangan. yang dapat menimbulkan bahaya selama waktu pekerjaan. 2) Terjadi luka bakar. 6) Dilarang menempatkan atau menggerakkan beban mesin atau peralatan lainnya dekat sisi galian yang dapat menyebabkan runtuhnya sisi galian dan membahayakan setiap orang di dalamnya. Penyedia Jasa harus melakukan pemeriksaan terlebih dahulu atas segala instalasi di bawah tanah seperti saluran pembuangan. 5) Bahaya akibat runtuhnya lereng galian. 4) Jatuh terpeleset pada saat menggali.10. 3) Memasang rambu-rambu pada lokasi pekerjaan untuk melindungi personel yang bekerja dari kendaraan yang melintasi proyek dan menempatkan petugas bendera disemua tempat kegiatan pelaksanaan. dll). 2) Senantiasa harus selalu menjaga jarak aman antar pekerja jika penggalian mengunakan tenaga manusia dengan alat bantu (Cangkul. harus dilindungi dengan penghalang yang cukup. 5.10.

harus dilengkapi ventilasi yang cukup. mata akibat percikan adukan yang mengandung semen. kecuali apabila telah diarnbil tindakan keamanan yang memadai. Oksigen tidak boleh digunakan untuk tujuan ini.Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengelasan pada Pekerjaan Sistem dan Pesawat Pengatur Lalu Lintas yaitu : 1) Pekerja-pekerja las harus memakai pakaian pelindung tahan api dan perlengkapan seperti kaos tangan tahan api dan baju las/apron. pasir. 14) Penghantar balik arus listrik harus langsung dihubungkan dengan benda kerjanya. 8) Pengerjaan pengelasan dan pemotongan tidak boleh dilakukan di dekat tempat penyimpanan bahan yang mudah terbakar. 7) Alat pemadam api yang sesuai harus disiapkan untuk penggunaan sewaktu-waktu di tempat di mana pengelasan sedang dilakukan. yang apabila dibuka langsung memutus semua arus listrik dari sumber tenaga. sebelum melakukan pengelasan diperlukan pemeriksaan dengan seksama terhadap alat-alat yang digunakan untuk pengelasan.10. 10) Tidak holeh ada pipa peniup ditinggalkan tanpa pengelasan di dalam tangki. tidak terkena bahaya bunga api dan radiasi. minyak dan bahanbahan lain yang mudah terbakar.10. 13) Arus las listrik harus dirancang sedemikian rupa untuk mencegah transmisi tegangan tinggi dari sumber tenaga ke elektroda las.4 Pengecoran Pekerjaan Pengecoran pada Pekerjaan Sistem dan Pesawat Pengatur Lalu Lintas mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terjadi iritasi pada kulit. 9) Jika pengelasan dan pemotongan sedang diakukan di dalam ruangan tertutup. 4) Untuk menghindari resiko bahaya kecelakaan. 3) Pekerjaan pengelasan diusahakan sedemikian rupa jauh dari tempat-tempat atau barang/bahan yang mudah terbakar atau mudah meledak. 150 . 12) Mesin las harus dilengkapi dengan saklar pada rangka mesin atau dipasang di dekatnya. tong atau ruangan yang tertutup lainnya selama waktu pekerja istirahat atau penghentian pekerjaar sementara. 15) Kabel-kabel harus disangga agar tidak menimbulkan bahaya atau rintangan dan hanya kabel untuk pekerjaan berat (heavy duty) dengan isolasi yang tidak pecah dapat digunakan. selang-selang dll. air dll). seperti tabung gas. 3) Perjadi gangguan pernapasan akibat pencampuran material pengecoran (semen. 2) Terluka oleh alat-alat pengecoran yang dilakukan manual maupun mekanis (concrete mixer). atau di dekat bahan yang mudah meledak atau serbuk yang mudah terbakar. 5. 11) Pekerja harus melaksanakan tindakan pencegahan yang diperlukan untuk mencegah gas yang mudah terbakar atau oksigen yang belum terbakar mengalir ke dalarn tangkitangki. 2) Pekerja las harus memakai pakaian yang bebas dari lemak/ semir. 16) Penghubung arus listrik harus tahan air. dan secara mekanik dihubungkan dengan aman kepadanya atau kepada bangku kerja dan sebagainya dan kepada benda-benda logam yang berdekatan. jika perlu dicat atau dengan cara lain yang serupa. tong. gas atau penguapan yang mungkin terjadi. yaitu kipas pembuang udara sesuai dengan kondisi yang diperlukan. 5) Pengelasan harus dilakukan oleh orang yang ahli dan berpengalaman dibidangnya. 17) Dinding atau tabir pelindung permanen atau sementara harus dapat menyerap sinar yang berbahaya dari alat pengelas dan mencegah pantulan cahaya. topi baja dan kaca mata pelindung dengan lensa penyaring yang sesuai dengan standar.160 . 6) Tindakan pencegahan harus dilaksanakan untuk melindungi agar orang yang melewati dekat pengelasan. atau ruangan tertutup lainnya.

5 Kelistrikan Pekerjaan Kelistrikan pada Pekerjaan Sistem dan Pesawat Pengatur Lalu Lintas mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terluka akibat terjadi arus pendek. 5. kacamata dan lain-lain yang sesuai dengan standar. mata dan paru-paru. 8) Membatasi daerah pekerjaan yang akan dilakukan pengecoran dengan pagar atau rambu yang informatif. 2) Pelaksanaan/proses pengecatan dan proses galvanisasi dengan sistem pencelupan panas harus dilakukan oleh orang yang ahli dan berpengalaman dibidangnya dan dilakukan dengan penuh hati-hati.10.10.160 . 5) Menjaga agar tidak ada orang luar maupun pekerja lain berada di tempat pengecoran sewaktu alat pengaduk beton bekerja mengaduk adukan beton. menyediakan lampu penerangan apabila harus bekerja pada malam hari. atau topi baja. 7) Menjaga agar tidak ada orang luar maupun pekerja lain berada di tempat pengecoran sewaktu alat penghampar beton bekerja menumpahkan adukan beton. sarung tangan. 2) Terjadi luka/rasa gatal/noda pada tangan/kaki. helm. 5) Terjadi luka pada tangan akibat sistem pencelupan panas pada proses galvanize. helm. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengecatan pada Pekerjaan Sistem dan Pesawat Pengatur Lalu Lintas yaitu : 1) Petugas harus mengenakan pakaian dan perlengkapan seperti. 2) Pekerja harus memakai pakaian kerja dan perlengkapan seperti. 151 . pekerja harus mempunyai jarak yang aman terhadap setiap percikan beton.10. 2) Terjadi bahaya kebakaran akibat arus pendek. sarung tangan dan lainnya sesuai sesuai dengan standar. Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Kelistrikan pada Pekerjaan Sistem dan Pesawat Pengatur Lalu Lintas yaitu : 1) Semua kabel harus dilindungi dengan baik dan aman. sepatu boot. 3) Terluka akibat alat penyemprotan/alat mekanis pengecatan. 6) Menjaga agar tidak ada orang luar maupun pekerja lain berada di tempat pengecoran sewaktu water tanker bekerja menumpahkan air. masker. 4) Setelah melakukan pekerjaan pengecatan tangan harus dicuci sampai bersih.6 Pengecatan Pekerjaan Pengecatan pada Pekerjaan Sistem dan Pesawat Pengatur Lalu Lintas mempunyai potensi bahaya terhadap tenaga kerja yaitu : 1) Terjadi iritasi pada kulit. sarung tangan. 3) Pekerja yang melakukan pengecatan menggunakan sarung tangan untuk melindungi kulit dengan menggunakan cream. 4) Menjaga agar tidak ada orang luar maupun pekerja lain berada di tempat pengecoran sewaktu alat penggertar bekerja meratakan adukan beton. 5.Antisipasi pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan akibat Pekerjaan Pengecoran pada Pekerjaan Sistem dan Pesawat Pengatur Lalu Lintas yaitu : 1) Para pekerja harus memakai pakaian dan perlengkapan seperti sepatu boot.10. helm. 2) Jika ada kabel yang terluka secepatnya harus diisolasi dengan baik dan aman. 4) Terjadi luka bakar akibat percikan cat. kaca mata pengaman. pekerja harus memakai alat pengatur pernafasan (respirator) tutup mulut (masker). dan sepatu yang sesuai dengan standar dan bila perlu untuk mencegah bahaya gangguan paru-paru. 3) Ketika beton sedang dituang dari bak muatan.

atau di tempattempat yang menggunakan cat yang mudah terbakar.  dijauhkan dari percikan api. seperti pada korban yang shock.1 Pedoman umum untuk penolong Menilai situasi 1) Memperhatikan apa yang terjadi secara cepat dan tenang : a) Apakah korban pingsan.2 Maksud dan tujuan Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (PPPK) diselenggarakan untuk memberikan pertolongan permulaan yang diperlukan sebelum penderita dibawa ke Rumah Sakit/Poliklinik terdekat. baik cacat rohani ataupun cacat jasmani. poliklinik). karena tanpa pertolongan pertama yang baik. hal tersebut merupakan hak setiap tenaga kerja untuk mendapatkan pertolongan pertama bila terjadi kecelakaan kerja dan oleh sebab itu pihak perusahaan diwajibkan menyediakan obat-obatan untuk pertolongan pertama tersebut dalam kotak P3K pada setiap alat. 7) Tidak boleh menggunakan peralatan listrik yang elemen pemanasannya terbuka. 6) Bahan untuk pengecatan (cat) tidak boleh dipanaskan kecuali direndam dalam air yang dipanaskan pada temperatur sedang atau dengan menggunakan alat khusus. 152 .5) Jika tidak digunakan. Dari sisi peraturan keselamatan kerja. 2) Mencegah bahaya cacat. henti jantung atau henti nafas. jika bahaya tersebut sudah ada.3. 3) Mencegah infeksi. terjadi pendarahan yang luar biasa atau pada korban yang pingsan.160 . artinya berusaha supaya infeksi tidak bertambah parah yang disebabkan perbuatan-perbuatan atau pertolongan yang salah. Maksud dan tujuan meliputi : 1) Mengurangi kemungkinan terjadinya bahaya kematian. 4) Meringankan rasa sakit.1 Pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K) Umum Suatu kecelakaan kerja dapat saja terjadi menimpa operator atau orang sekitarnya pada saat pengoperasian peralatan dan tindakan pertama adalah memberikan pertolongan sesegera mungkin sebelum penderita mendapat perawatan medis lebih lanjut dari ahlinya (rumah sakit. 6 6. sumber panas dan sinar matahari. Pertolongan pertama ini memegang peranan yang penting. pekerja di tempat itu harus diberi respirator kecuali bila ventilasi yang tersedia di tempat itu cukup memadai untuk mencegah bahaya. 9) Jika pengecatan dilakukan pada ruang tertutup. untuk mengeringkan cat.3 6. kaleng penyimpan cat. korban mungkin tidak akan tertolong lagi kalau harus menunggu pengangkutan ke rumah sakit. Disamping itu perlu ada suatu pelatihan khusus dalam menangani kecelakaan kerja tersebut. dan lain-lain bahan cat yang mudah menguap harus :  dijaga agar tertutup rapat. b) Apakah korban mengalami pendarahan atau luka. 6. atau untuk mengeringkan bahan lain semacam cat yang terbuat dari bahan mudah terbakar atau cairan yang mudah meledak. 8) Alat pemadam api harus selalu tersedia di tempat-tempat penyimpanan. 6. sehingga pada saat terjadi kecelakaan telah dapat dilakukan pertolongan pertama dengan benar dan baik.

e) Mual. b) Mencegah kondisi korban bertambah buruk. c) Mempercepat kesembuhan. 6. maka segera angkut korban tapi jangan terburu-buru atau serahkan pertolongan selanjutnya kepada yang lebih ahli atau bagian yang bertugas menangani kecelakaan atau kirim ke Dokter atau rumah sakit terdekat. c) Denyut nadi lemah. 2) Jika perlu meminta orang lain untuk membantu atau laporkan kepada bagian terkait (misal 118 atau Rescue Team Perusahaan).4. 153 . perhatikan keselamatan diri penolong. d) Kalau ada beri selimut agar badannya menjadi hangat.3.2 Mengamankan tempat kejadian dengan : 1) Melindungi korban dari bahaya.3 Memberi pertolongan 1) Rencanakan dan lakukan pertolongan berdasarkan tujuan P3K sebagai berikut : a) Menciptakan lingkungan yang aman. f) Mempertahankan daya tahan tubuh korban menunggu pertolongan yang lebih tepat dapat diberikan 2) Jika pertolongan pertama telah dilakukan. e) Menenangkan korban/penderita yang terluka.1 Jenis kecelakaan Kecelakaan yang dapat membawa maut 6. b) Pucat. 6. d) Melindungi korban yang tidak sadar.1. d) Telinga berdengking. b) Longgarkan pakaiannya. 2) Cara pertolongannya : a) Tidurkan penderita terlentang dengan kepala agak direndahkan. f) Mata berkunang – kunang.3. 2) Memperhatikan apakah ada bahaya tambahan yang mengancam korban atau penolong. 6. e) Apakah korban mengalami luka bakar.1 Coma (collapse) 1) Gejala–gejalanya : a) Keluar keringat dingin.c) Apakah korban mengalami patah tulang. 6.1. 3) Harus selalu ingat jangan terlalu berani mengambil resiko. c) Usahakan agar penderita dapat bernafas dengan udara segar. g) Badan lemas. d) Apakah korban mengalami rasa sangat sakit yang berlebihan.4.160 .2 Shock (gugat) Hal ini disebabkan oleh suatu keadaan yang timbul karena jumlah darah yang beredar dalam pembuluh darah sangat berkurang yang dapat disebabkan oleh : Pendarahan keluar atau ke dalam dan Luka bakar yang luas yang menyebabkan banyak cairan/serum darah yang keluar.4 6. e) Selanjutnya kirimkan ke Dokter atau rumah sakit terdekat.4.

berikan selimut agar badannya menjadi hangat. e) Kalau ada berikan selimut agar penderita menjadi hangat. c) Pakaiannya dilonggarkan. Keadaan ini sudah merupakan keadaan yang gawat. 6. b) Pernafasan dangkal dan tidak teratur. f) Pandangan hampa dan tidak bercahaya.3 Pingsan Fungsi otak terganggu sehingga penderita tidak sadar. mata berkunang. g) Jangan memberi minum. 1) Gejala : a) Pernafasan tidak tampak dan nadi tidak teraba. karena penderita berada diantara pingsan dan mati. c) Muka pucat dan kebiru-biruan. 2) Cara Pertolongan: a) Baringkan terlentang dan longgarkan pakaian penderita. d) Penderita jangan ditinggalkan seorang diri dan perlu dijaga. b) Pupil melebar dan tidak menyempit dengan penyinaran. c) Berikan pernafasan buatan. b) Bersihkan mulut dan hidungnya dari sumbatan. 2) Pertolongan : a) Baringkan penderita di tempat teduh dan segar. lambat dan menghilang. lebih 100 kali/menit kemudian melemah. tidak ada reaksi terhadap rangsangan.1. c) Hentikan pendarahan bila ada. f) Selanjutnya kirimkan ke Dokter atau rumah sakit terdekat.160 .1.4. b) Apabila mukanya merah. b) Hilangkan semua barang yang dapat menyumbat pernafasan. c) Pernafasan dan denyut nadi dapat diraba. 6. g) Selanjutnya kirimkan ke Dokter atau rumah sakit terdekat. kepalanya ditinggikan.4. d) Longgarkan pakaian penderita. 1) Gejala : a) Penderita tidak sadar.4 Mati Suri Yaitu keadaan pingsan dimana peredaran darah dan pernafasan tidak mencukupi lagi. dan apabila pucat baringkan tanpa alas kepala. f) Kalau ada. 154 . e) Tenangkan bila gelisah. b) Penderita berbaring dan tidak bergerak. lemas. 2) Pertolongan : a) Baringkan penderita ditempat yang udaranya segar dan kepala lebih rendah dari kaki.1) Tanda-tandanya : a) Nadi berdenyut cepat. c) Bila keadaan tambah lanjut penderita jadi pingsan. e) Penderita merasa mual. d) Penderita pucat dan dingin.

 Letakkan diatas luka. c) Pendarahan pembuluh rambut (capiler).  Harus dicatat jam berapa penarat darah dipasang dan dibuka.  Hentikan pendarahan dengan menekan anggota bagian diatas luka. 3) Untuk memberikan pertolongan terhadap penderita yang mengalami pendarahan dapat dilakukan dengan bermacam . Selanjutnya di kirim ke Dokter atau rumah sakit terdekat Gambar 6. pendarahan ada 3 macam yaitu : a) Pendarahan pembuluh nadi (arterial). Perhatikan bila menggunakan penarat darah :  Tiap 10 menit harus dikendorkan dengan memutar kayunya. b) Untuk pendarahan yang hebat ditangan atau kaki dapat digunakan cara torniquet (torniket. 155 . b) Pendarahan ke dalam. 2) Dilihat dari sudut macamnya pembuluh darah yang putus.4. kemudian pasang pembalut tekan (plester).  Cara torniket ini hanya dianjurkan bagi mereka yang sudah menguasai.160 .  Bersihkan luka dari kotoran yang ada. b) Pendarahan pembuluh balik (vena). Cara pernafasan buatan dari mulut ke mulut 6. pendarahan ada 2 macam yaitu : a) Pendarahan ke luar.5 Pendarahan 1) Dilihat dari sudut keluarnya darah. sepotong kain kasa steril berlipat dan tekan sampai darah berhenti keluar.  Bagian tubuh yang mengalami luka ditinggikan.  Memasang penarat darah antara luka dan jantung.  Penderita yang dikorniket harus segera dibawa ke rumah sakit untuk pertolongan lebih lanjut dan harus mendapat prioritas pertama. Torniket adalah balutan yang menjepit sehingga aliran daerah di bawahnya terhenti sama sekali.macam cara diantaranya : a) Cara pertama :  Penderita didudukan atau ditidurkan tergantung dari hebatnya pendarahan.Pernafasan buatan adalah suatu usaha mencoba agar paru-paru penderita dapat bekerja kembali dengan cara mengembang dan mengempiskan paru-paru itu.1. penarat darah).1.

2 Luka-luka Luka adalah adanya jaringan kulit yang terputus atau rusak oleh suatu sebab. Segera bawa penderita ke Dokter atau rumah sakit terdekat.macam luka yaitu sebagai berikut : ● Luka memar kena pukul. rumah sakit terdekat. ● Luka potong. Berilah plester atau pembalut penekan supaya udara tidak masuk.160 . Jangan memberi makanan/minuman kepada penderita. 2) Cara memberikan pertolongan pertama penderita yang mengalami luka adalah sebagai berikut : a) Luka di kepala :  Tidurkan penderita terlentang tanpa alas kepala jika disertai pingsan. ● Luka bakar. Rawat lukanya seperti merawat luka biasa. ● Luka robek. Tutup lukanya dengan kasa steril. Cara memposisikan penderita luka di  Tidurkan penderita setengah duduk.2.  Tutup dengan kasa steril dan perban. ● Luka tusuk. b) Mencegah infeksi. Segera bawa penderita ke Dokter atau rumah sakit terdekat.  Oleskan obat merah dengan lidi kapas. ● Luka gores. ● Luka tembak.4. Menurut sebabnya dapat dikenal bermacam .3. 156 . ● Luka bacok. Cara memposisikan penderita luka di perut melintang Tidurkan pederita ¼ duduk. Cara memposisikan penderita luka di b) Luka di dada terbuka tembus paru-paru    Gambar 6. c) Mencegah kerusakan lebih lanjut.  Segera bawa penderita ke Dokter atau Gambar 6. 1) Memberikan pertolongan kepada penderita yang mengalami luka pada dasarnya adalah: a) Menghentikan pendarahan. d) Menggunakan cara yang memudahkan/ mempercepat penyembuhan.6. c) Luka di perut melintang      Gambar 6. Balutlah lukanya dengan kain segitiga.4.

Cara memberikan pertolongan :  Hapuskan kekuatan dari bahan yang membakar. Cara memberikan pertolongan adalah seperti memberikan pertolongan pertama pada penderita luka bakar tingkat II.  Warna luka hitam keputih-putihan.  Jaga agar penderita tidak sampai kedinginan. (2) Luka bakar tingkat II (Bullosa) Luka bakar tingkat II mempunyai tanda-tanda sebagai berikut :  Kulit melepuh. Cara memberikan pertolongan :  Tutup luka dengan menggunakan kasa steril. luka bakar dapat dibagi dalam beberapa tingkat : (1) Luka bakar tingkat I (Erythema)  Warna luka kemerah-merahan. Cara memberikan pertolongan kepada penderita luka bakar tingkat IV sama seperti memberikan pertolongan pada penderita luka bakar tingkat II atau tingkat III.  Terdapat gelembung-gelembung berisi cairan. Gambar 6.  Kulit ari dan kulit jangat telah terbakar.  Berikan banyak minum kepada penderita.  Bawa penderita ke rumah sakit. (3) Luka Bakar Tingkat III (Escarotica) : Luka bakar tingkat III mempunyai tanda-tanda sebagai berikut :  Pembakaran sampai pada kulit jangat.  Jaga agar penderita jangan sampai kedinginan.  Berikan banyak minum kepada penderita.  Yang terbakar hanya lapisan atas dari kulit ari.  Penderita merasakan sakit. Cara memposisikan penderita luka di perut e) Luka bakar Dilihat dari berat tidaknya. Selanjutnya lakukan seperti memberi pertolongan pada luka perut melintang.160 .  Balut dengan cara longgar-longgar. (4) Luka bakar tingkat IV (Carnisasio) Luka bakar tingkat IV mempunyai tanda-tanda sebagai berikut :  Pembakaran sampai pada jaringan ikat atau lebih.5. 157 .d) Luka perut membujur   Tidurkan penderita terlentang.  Pembakaran sampai kulit ari.  Berikan obat livertran zalf atau bio-placentan/obat luka bakar. dan luka bengkak.  Tutup luka bakar dengan menggunakan kasa steril.

2) Patah tulang tertutup Dalam hal ini artinya : tulang yang patah. sedangkan patah tulang terbuka. d) Kerjakan pembalutan yang memenuhi syarat. c) Bentuk bagian badan itu berlainan dari biasanya. b) Luka ditutup dengan kasa steril. dan ujung tulang yang patah menjorok keluar. e) Anggota badan yang patah ditinggikan. Gambar 6. d) Ikatan harus cukup jumlahnya dimulai dari atas dan dari bawah bagian yang patah. ujungnya masih tertutup (tidak berhubungan dengan udara luar). kulit dan daging robek. 3) Gejala–gejala patah tulang : a) Penderita tidak dapat menggerakan bagian badan yang patah.  Ikat kedua bidai dengan menggunakan mitella. b) Tempat tulang yang patah amat sakit dan akan terasa lebih sakit bila tempat yang patah tersentuh atau bila digerakkan. karena dengan memberikan pertolongan pertama berarti berusaha untuk mencegah penderita dari kehilangan salah satu anggota badan.6. Cara pertolongan penderita patah tulang paha 158 .3 Patah tulang Pertolongan pertama pada penderita yang mengalami patah tulang adalah merupakan salah satu pertolongan yang sangat penting. (1) Patah tulang paha Dibutuhkan 2 buah bidai :  Satu bidai yang meliputi dari tumit sampai bagian atas paha. Dilihat dari jenisnya patah tulang terdiri dari : 1) Patah tulang terbuka Artinya : tulang yang patah menonjol keluar yang langsung berhubungan dengan udara (ada luka diluar). pakaian harus dibuka (dirobekkan) agar dapat dibalut. f) Segera bawa ke rumah sakit.6. c) Pada patah tulang terbuka hentikan pendarahan dengan pembalut. d) Disekitar tempat yang patah bengkak dan warnanya kebiru–biruan. b) Tidak boleh terlalu keras atau terlalu kendor ikatannya.4. 5) Cara–cara pembidaian : a) Bidai harus kedua sendi dari tulang yang patah. e) Pada patah tulang terbuka.  Satu bidai yang lainnya sampai pinggang. c) Bidai dialasi agar jangan menambah perasaan sakit. 4) Cara memberikan pertolongan pada penderita yang mengalami patah tulang : a) Pakaian yang menutupi patah tulang tertutup tidak perlu dibuka. e) Sediakan dulu perlengkapan secukupnya sebelum melakukan pembidaian.160 .

Atau diberi pembalut penunjang tinggi (mittela tinggi).(2) Patah tulang betis   (1) Dibutuhkan 2 buah bidai yang dapat meliputi/menutup dari tumit sampai paha.8.7. Ikat kedua bidai dengan menggunakan mittela. Cara pertolongan penderita patah tulang selangka  Beri ransel perban dengan bagian yang diberi alas.9. Cara pertolongan penderita patah tulang lengan bawah (4) Patah tulang selangka   Gambar 6. Atau ikat kedua lengannya dipunggung. Cara pertolongan penderita patah tulang betis   Sediakan bidai yang dapat meliputi tulang belikat sampai jari–jari. Gambar 6. Tangan digendong dengan siku pembalut (mittela).  Gendong lengan dengan siku pembalut (mittela). Patah tulang lengan atas Gambar 6. Gambar 6.10.160 . Cara pertolongan penderita patah tulang lengan atas (3) Patah lengan bawah Sediakan bidai yang meliputi sendi siku sampai jari–jari  Ikatkan bidai itu pada bagian atas dan bawah luka. 159 .

lalu ditutup dengan kain steril 16 x 16 dan dibalut atau diplester.12.5 Pemakaian obat-obat PPPK 1) Mercurochroom Penggunaan Cara penggunaan : : Untuk anti septik (anti infeksi) pada luka-luka dalam.  Di bawah pinggang diberi alas atau bantal tipis. lecet-lecet. 160 . Gambar 6. basahi dengan larutan rivanol dan kompreskan diatas luka. lalu dibalut.  Bawa penderita ke rumah sakit. Luka/lecet yang kotor dibersihkan dahulu. Bila ada Lika (b) Bila tidak luka  Tidurkan penderita terlentang.12a. Cara pertolongan penderita patah tulang rusuk (6) Patah tulang belakang (a) Bila ada luka  Tidurkan penderita terlungkup. jika luka-lukanya tidak berair biarkan dalam keadaan terbuka saja. lalu diolesi mercurochroom.(5) Patah tulang rusuk   Beri pembalut plester menurut panjangnya rusuk. Gambar 6. 4) Levetraan Zalf Penggunaan Cara penggunaan : : Untuk mengobati luka bakar. Cara pertolongan penderita patah tulang belakang 6. 3) Larutan Rivanol Penggunaan Cara penggunaan : : Sebagai anti septik (anti infeksi) Mengobati luka-luka yang kotor dengan jalan mengompres. tidak usah dibalut. kemudian luka dibalut atau diplester.160 . Cara penggunaan : Taburkan sulfanilamid powder steril pada luka-luka terutama luka dalam.  Rawatlah luka terlebih dahulu.12b. Oleskan levetraan zalf diatas luka bakar.11. 2) Sulfanilamid powder steril Penggunaan : Sebagai anti septik (anti infeksi) untuk luka-luka dalam. tutup dengan kain steril 16 x 16.  Di bawah dada serta di bawah kaki diberi alas. Bila tidak ada luka Gambar 6. Plester harus meliputi tulang dada sampai tulang punggung. Gunakan kasa steril 16 x 16. Gambar 6. Untuk mengobati luka-luka yang tidak dalam.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->