PEMERIKSAAN DAN PEMBERIAN SKOR DAN STANDAR PENILAIAN EVALUASI

BAB I PENDAHULUAN

Perkembangan sistem pendidikan di Indonesia menuntut penyesuaian dalam segala hal yang mempengaruhinya. Salah satu yang tetap ada dan langgeng yang selalu mendapat sorotan adalah evaluasi belajar siswa atau pencapaian hasil belajar siswa. Namun pencapaian hasil belajar siswa yang optimal itu akan tergantung dan selalu pengaruhi oleh kurikulum, sarana belajar, guru dan siswa sendiri. Selain itu kebijakan-kebijakan pemerintah tentang sistem pendidikan nasional juga sangat mempengaruhi kualitas pendidikan. Untuk mengetahui pencapaian hasil belajar siswa dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya adalah dengan menggunakan tes-tes dengan standar-standar tertentu sesuai dengan perkembangannya. Maka dari itu bagi seorang pendidik harus mengetahui bagaimana cara atau teknik-teknik yang baik untuk mengevaluasi anak didiknya, sejauh mana pencapaian siswa dalam menguasai materi yang disampaikan. Untuk membantu hal tersebut dalam makalah yang berjudul “TEKNIK-TEKNIK PEMERIKSAAN, PEMBERIAN SKOR DAN PENGOLAHAN HASIL BELAJAR DENGAN ACUAN PATOKAN DAN ACUAN NORMAL” ini disampaikan beberapa hal tentang prosesproses evaluasi pendidikan. Sebagai sumbangan penulis dalam dunia pendidikan. Dalam makalah ini penulis menyampaikan tentang beberapa teknik pemeriksaan, teknik pemberian skor dan pengolahan hasil belajar dengan acuan patokan dan acuan normal. Pembaca dapat membandingkan teknik mana yang sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada. Penulis merasa perlu menyampaikan hal ini karena merupakan sesuatu yang sangat penting diketahui oleh seorang pendidik.

memberikan tanda waktu. Dengan kata lain tester adalah subjek evaluasi. merupakan saat pada waktu tes itu dilaksanakan atau saat pengambilan tes. Dengan adanya perbedaan cara mendapatkan hasil atau pemberian tes ini maka tidak dapat dihindari lagi perlu adanya teknik-teknik yang berbeda dalam melakukan pemeriksaan atau koreksi untuk mendapatkan hasil akhir (nilai). tulisan maupun perbuatan (praktek). sebaiknya lebih dahulu memahami istilah-istilah yang berhubungan dengan tes yaitu : 1. adalah orang yang diserahi untuk melaksanakan pengambilan tes terhadap para responden. Testing. menerangkan cara mengerjakan tes. Teknik Pemeriksaan Hasil Tes Hasil Belajar Bentuk Uraian . Testee (tercoba). Adapun teknik-teknik pemeriksaan atau koreksi adalah sebagai berikut : 1. bakat. minat. Sebelum lebih jauh membahas mengenai teknik-teknik pemeriksaan.BAB II PEMBAHASAN A. adalah responden yang sedang mengerjakan tes. a. Tester (pencoba). membagikan lembaran tes dan alat lain. Tugasnya adalah mempersiapkan perlengkapan yang diperlukan. Orang inilah yang akan dinilai atau diukur kemampuan. Kedua kelompok tersebut mempunyai karakter yang berbeda sehingga teknik pemeriksaannya dan hasilhasilnya pun pasti berbeda pula. TEKNIK-TEKNIK PEMERIKSAAN Untuk mengetahui hasil belajar dan sejauhmana tingkat pemahaman anak didik biasanya guru melakukan memberikan tes baik berupa tes lisan. mengawasi. dengan cara dan aturan-aturan yang sudah ditentukan. Dari hasil tes tersebut dapat diketahui tingkat pemahaman siswa yang kemudian dapat digunakan sebagai evaluasi pendidik/ guru dalam menentukan kelanjutan belajar sekaligus menentukan penilaian anak didik. Teknik Pemeriksaan Hasil Tes Tertulis Tes tertulis dapat dibedakan menjadi 2 golongan yaitu tes hasil belajar (tertulis) bentuk uraian (Subjective test=test essay) dan tes hasil belajar bentuk objektif (Objective test). 2. Tes adalah alat atau prosedur ysng digunakan untuk mengetahui atau mengukur sesuatu dalam suasana. 4. 3. mengisi berita acara atau laporan lain yang diperlukan. pencapaian. mengumpulkan pekerjaan. dan sebagainya.

Apabila pengolahan dan penentuan hasil tes uraian akan didasarkan pada standar mutlak maka prosedur pemeriksaannya adalah sebagai berikut : 1) Membaca setiap jawaban yang diberikan oleh peserta tes untuk setiap butir soal tes uraian dan membandingkannya dengan pedoman jawaban betul yang sudah disiapkan. dan yang menyimpang atau tidak memberikan jawaban sama sekali diberikan skor 0. kurang lengkap. testee manakah yang memberikan jawabannya termasuk lengkap. menyimpang dan tidak memberikan jawaban sama sekali. evaluator (tester/ pemberi test) sebaiknya membuat kunci jawaban setelah soal tes selesai disusun sebagai dasar pedoman dalam mengoreksi hasil jawaban dari peserta tes dengan cara membandingkan antara jawaban peserta tes dengan pedoman jawaban yang betul. misalnya untuk jawaban lengkap diberi skor 2. 3) Menjumlahkan skor-skor yang telah diberikan kepada testee (digunakan sebagai bahan dalam pengolahan dan penentuan nilai). Setelah pemeriksaan terhadap seluruh jawban item nomor 1 dapat diselesaikan.Dalam bentuk teknik pemeriksaan hasil tes belajar dalam bentuk uraian. 2) Atas dasar pembandingan antara jawaban peserta tes dengan pedoman/ ancar-ancar jawaban betul yang telah disiapkan. Apabila pengolahan dan penentuan nilai akan didasarkan pada standar relatif (dimana penentuan nilai didasarkan pada prestasi kelompok) maka prosedur pemeriksaannya adalah sebagai berikut : 1) Memeriksa jawaban atas butir soal nomor 1 yang diberikan oleh seluruh testee. maka tester akan menjadi tahu. atau 2) Apakah nantinya pengolahan dan penentuan hasil tes subyektif akan didasarkan pada standar relatif. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemeriksaan dengan tes uraian ini adalah : 1) Apakah nantinya pengolahan dan penentuan hasil tes uraian itu akan didasarkan pada standar mutlak. tester lalu memberikan skor untuk setiap butir soal dan menuliskannya di bagian kiri dari jawaban testee tersebut. sehingga diperoleh gambaran secara umum mengenai keseluruhan jawaban yang ada. . 2) Memberikan skor terhadap jawaban soal nomor 1 untuk seluruh testee. kurang lengkap diberikan skor 1.

dan seterusnya sampai dengan selesai dengan langkah yang sama. Jawaban yang . Pada kunci jawaban diberikan tanda (misalnya : lingkaran) pada jawaban yang betul. 4) Memberikan skor terhadap jawaban butir soal nomor 2 dari seluruh testee. 5) Setelah jawaban seluruh butir soal yang diberikan oleh seluruh testee dapat diselesaikan. Kunci berjendela (Windown keys). lalu dilanjutkan dengan pemeriksaan terhadap jawaban butir soal nomor 2. yaitu : Kunci berdamping (Strip keys). Adapun cara menggunakannya ialah dengan meletakkan kunci jawaban tersebut berjajar dengan lembar jawaban yang akan diperiksa. Kunci jawaban jenis pertama ini digunakan untuk memeriksa jawabanjawaban yang ditulis pada kolom 1. Misalnya adalah testee diminta membubuhkan tanda silang pada abjad jawaban soal. yang disusun lurus dari atas ke bawah. Teknik Pemeriksaan Hasil Tes Hasil Belajar Bentuk Obyektif Memeriksa atau mengoreksi jawaban soal tes obyektif pada umumnya dilakukan dengan jalan menggunakan kunci jawaban. dengan cara yang sama. Ada beberapa macam kunci jawaban yang dapat digunakan untuk mengoreksi jawaban soal tes obyektif. Cocokkan jawaban-jawaban yang diberikan oleh testee dengan jawaban-jawaban yang tercantum pada kunci jawaban. Maka kunci jawaban diletakkan di atas lembaran jawaban yang sudah ditumpangi lembaran karbon. Kunci sistem karbon (Carbon system keys).3) Setelah pemeriksaan atas jawaban butir soal nomor 1 untuk seluruh testee dapat diselesaikan. dengan cara yang sama. 2) Kunci sistem karbon (Carbon system keys) Kunci jawaban ini berupa lembar kunci jawaban yang telah didesain sedemikian rupa sehingga mudah digunakan sebagai untuk memeriksa atau mengoreksi. Jawaban yang cocok dengan kunci jawaban diiisi/ ditulis dengan tanda plus (+). sedangkan jawaban yang tidak cocok dengan kunci jawaban diisi dengan tanda minus (-). b. Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut : 1) Kunci Berdamping (Strip keys) Kunci jawaban ini terdiri atas jawaban-jawaban betul yang ditulis dalam satu kolom yang lurus dari atas ke bawah. Kunci sistem tusukan (Pinpick system keys). akhirnya dilakukan penjumlahan skor (yang nantinya akan dijadikan bahan dalam pengolahan dan penentuan nilai).

Jika garis tersebut tepat mengenai tanda silang yang pada lembar jawaban maka jawabannya adalah betul dan pada bagian lembar jawaban yang pilihannya tidak terkena goresan berarti salah. Menghadapi kemungkinan-kemungkinan tersebut maka penguji harus berusaha semaksimal mungkin untuk tetap berlaku obyektif terhadap testee. 4) Kunci berjendela (Windows keys). sehingga terdaat peluang bagi tester untuk bertindak tidak/ kurang obyektif. atau alat penusuk lainnya sementara lembar jawaban berada di bawahnya. Teknik Pemeriksaan Hasil Tes Lisan Pemeriksaan atau koreksi yang dilaksanakan dalam rangka menilai jawaban-jawaban testee pada tes hasil belajar secara lisan pada umumnya cenderung bersifat subyektif. Hal ini lebih mudah dipahami karena berhubungan langsung dengan benda hidup dan tidak berhubungan dengan lembar jawaban yang merupakan benda mati. testee yang sedang di tes oleh tester kemungkinan adalah temasuk testee yang “disukai” oleh tester sehingga mendapatkan simpati dari tester. Perbedaanya ialah.berada diluar tanda (misalnya : lingkaran) adalah salah dan jawaban yang berada di dalam tanda (misalnya : lingkaran) adalah betul. Pilihan jawaban yang berlubang adalah betul dan pilihan jawban yang tidak berlubang adalah salah. Dalam tes lisan. Prosedur penggunaan sistem kunci berjendela (Windows keys) adalah sebagai berikut : a) Ambil blanko lembar jawaban yang masih kosong (belum digunakan) b) Pilihan jawaban yang betul diberikan lubang (bulatan) seolah-oleh seperti jendela. atau sebaliknya testee yang sedang dihadapi adalah termasuk testee yang “kurang disukai”. c) Lembar jawaban kita letakkan di bawah kunci berjendela. 3) Kunci sistem tusukan (Pinpick system keys) Pada dasarnya sama dengan sistem karbon. 2. dan tidak terpengaruh oleh obyek (testee) yang sedang dihadapinya. Dalam pelaksanaan tes lisan hal-hal yang perlu diperhatikan antara lain adalah sebagai berikut : . d) Melalui lubang-lubang (jendela-jedela) dibuat garis vertikal dengan pensil berwarna. kunci jawaban pada sistem ini adalah untuk jawaban yang betul diberikan tusukan dengan jarum atau paku.

bodoh. kesopanan. Penguji juga dapat menambahkan unsur-unsur lain yang di rasa perlu sebagai bahan penilaian. sedang dan mudah dapat dijawab dengan betul oleh testee. Kemampuan testee dalam mepertahankan pendapatnya. Maka dari itu tester harus benar-benar jeli dalam menyaring jawaban dari testee. Lakukan scoring terhadap jawaban yang diberikan oleh testee dengan teliti. sehingga mencerminkan tingkat kedalaman pemahaman testee terhadap materi pertanyaan yang diajukan. Apakah jawaban testee telah memenuhi atau mencakup semua unsur yang seharusnya ada. Dalam pemeriksaan tes tertulis untuk memperoleh hasilnya dilakukan dengan membaca lembar jawaban dan pada tes lisan pemeriksaan dilakukan dengan menganalisa jawaban-jawaban lisan . Apakah testee cukup lancar dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan dari tester. 3. Siapkan rencana pertanyaan yang akan disampaikan sekaligus jawaban yang diharapkan untuk setiap pertanyaan (soal dan kunci jawaban). simpati dan sebagainya. Jangan berkecenderungan membantu testee yang sedang dites dengan memberikan kode-kode. Kelancaran testee dalam mengemukakan jawaban-jawaban. d. c. b. Maka dari itu sebaiknya penilaian dilakukan selama tes berjalan.Jangan membentak testee dan mengluarkan kata-kata yang tidak semestinya. misalnya : tolol. pemeriksaan terhadap jawaban-jawaban testee hendaknya dikendalikan oleh pedoman yang pasti. kerapian. apakah jawaban tersebut mengandung kadar kebenaran atau tidak. misalnya : a. Jawaban yang banyak dari testee belum tentu merupakan jawaban yang benar. Pertahankanlah situasi evaluasi dalam pelaksanaan tes lisan. sesuai dengan jawaban betul yang telah disusun oleh tester. Kebenaran jawaban yang dikemukakan. dan sebagainya. isyarat atau kunci-kunci lain karena merasa kasihan. misalnya : penampilan. Dalam hubungan ini. d. b. Jawaban yang disampaikan dengan ragu-ragu merupakan salah satu indikator bahwa testee kurang menguasai materi yang ditanyakan. kedisiplinan dan sebagainya. b.a. e. Kelengkapan jawaban yang diberikan oleh testee. Berapa persen (%) kira-kira. pertanyaan-pertanyaan lisan yang tergolong dalam kategori sukar. Teknik Pemeriksaan Menilai Hasil Tes Perbuatan. c.

didasarkan dan disesuaikan dengan tingkat kesulitan dari soal tersebut dan atau banyak sedikitnya unsur yang terdapat dalam jawaban yang dianggap paling benar. Skor adalah hasil pekerjaan menyekor (memberikan angka) yang diperoleh dari angkaangka dar setiap butir soal yang telah di jawab oleh testee dengan benar. serta disesuaikan pengaturannya dengan standar tertentu. Sehingga nilai sering disebut juga dengan skor standar (Standarg Score). Maka dalam tes perbuatan pemeriksaan hasilnya dilakukan dengan menggunakan observasi (pengamatan). dengan mempertimbangkan bobot jawaban betulnya. sikap dan sebagainya.testee. Cara pemberian skor terhadap hasil tes hasil belajar pada umumnya disesuaikan dengan bentuk soal yang dikeluarkan dalam tes tersebut. Untuk dapat menilai hasil tes perbuatan diperlukan instrumen-instrumen tertentu dan setiap gejala yang muncul diberikan skor tertentu. Agar tidak terjadi kesalahan dalam memahami skor dan nilai lebih dahulu harus dipahami perbedaan antara skor dan nilai. Adapun yang dimaksud dengan nilai adalah angka atau huruf yang merupakan hasil ubahan dari skor yang sudah dijadikan satu dengan skor-skor lainnya. TEKNIK-TEKNIK PEMBERIAN SKOR Pada hakikatnya pemberian skor (scoring) adalah proses pengubahan jawaban instrumen menjadi angka-angka yang merupakan nilai kuantitatif dari suatu jawaban terhadap item dalam instrumen. B. pemberian skor didasarkan pada bobot (weight) yang diberikan pada setiap butir soal. tes uraian (essay) atau tes obyektif (objektive test). perbuatan. Pemberian Skor pada Tes Uraian Pada tes uraian. Angka-angka hasil penilaian selanjutnya diproses menjadi nilai-nilai (grade). Penjelasannya sebagai berikut : A. Pemberian Skor pada Tes Obyektif Pemberian skor pada tes obyektif pada umumnya digunakan rumus correction for geussing atau di kenal dengan istilah sistem denda. Sasaran yang diamati adalah tingkah laku. Hal ini didasarkan dengan masih banyaknya anggapan antara skor dan nilai mengandung satu pengertian atau sama. B. .

Untuk soal obyektif bentuk true-false misalnya. dan . TEKNIK PENGOLAHAN DAN PENGKONVERSIAN SKOR MENJADI NILAI Setelah proses pemeriksaan dan pemberian skor langkah selanjutnya adalah mengolah skor tersebut menjadi nilai-nilai yang merupakan hasil akhir. Skor adalah hasil pekerjaan menyekor (memberikan angka) yang diperoleh dari penjumlahan angka-angka dalam setiap butir soal yang di jawab dengan benar oleh testee. dalam tes obyektif bentuk true-false hanya ada dua kemungkinan ”benar” dan ”salah” 1 = Bilangan konstan (bilangan tetap) Adapun rumus skor akhir yang tidak memperhitungkan denda adalah sebagai berikut : S = R Keterangan : S = Skor yang dicari R = Jumlah jawaban betul Yang perlu diperhatikan pada tes obyektif adalah karena berbentuk mutiple choice maka masing-masing item soal memiliki derajat atau tingkat kesulitan masing-masing yang berbeda. Dalam hal ini yang dapat menentukan bobot soal adalah orang yang paling tahu dengan mengenai derajat kesulitan soal tersebut yaitu sebaiknya adalah pembuat soal itu sendiri atau tester. Apabila testee menjawab benar maka diberikan skor 1 dan apabila salah maka diberikan skor 0. Cara menghitung skor terakhir dari seluruh item bentuk true-false. Penggunaan rumus-rumus tersebut tergantung dari kebijakan tester. setiap item diberi skor maksimal 1 (satu). C. 2 ½. 5 dan sebagainya. Rumus skor akhir dengan memperhitungkan denda adalah sebagai berikut : Keterangan : S = Skor yang sedang di cari R = (Right=Betul) Jumlah jawaban betul W = (Wrong=Salah) Jumlah jawaban salah O = Option alternative (kemungkinan jawaban). melainkan bisa juga berbobot 1 ½ . dapat digunakan dua macam rumus yaitu : Rumus yang memperhitungkan denda dan rumus yang mengabaikan atau meniadakan denda. Sebagimana telah diketahui sebelumnya antara skor dan nilai adalah tidak sama. jadi bobot jawaban yang benar belum tentu memiliki skor 1.

z score (nilai standar z). B. 1. maka skor-skor yang telah didapat masih merupakan skor mentah dan perlu diolah dan dikonversikan sehingga skor dapat berubah menjadi nilai (menjadi skor yang sifatnya baku atau standar (Standard Score)) : 1. Skala sembilan (Stanine) yaitu nilai standar berskala sembilan dimana rentang nilainya mulai dari 1 sampai dengan 9 (tidak ada nilai =0 dan >10). dan T score (nilai standar T). Pengolahan dan Pengubahan Skor Mentah Menjadi Nilai Standard (Standard Score) Ada dua hal yang perlu diperhatikan dalam pengolahan dan pengubahan skor menjadi skor stdandard atau nilai yaitu : a. C. D dan F. b. Pengolahan dan pengubahan skor mentah menjadi nilai dengan berbagai macam skala. misalnya : skala 5 (Stanfive). Di dalam dunia pendidikan Indonesia dikenal dengan istilah Penilaian Acuan Norma (PAN). sedangkan nilai adalah angka atau huruf yang merupakan hasil konversi (rubahan) dari penjumlahan skor yang disesuaikan pengaturannya dengan standar tertentu yang pada dasarnya merupakan lambang kemampuan testee terhadap materi atau bahan yang diteskan. Dalam pembahasan kali ini hanya akan dibahas mengenai pengolahan hasil belajar dengan acuan patokan dan acuan norma. Di dunia pendidikan Indonesia dikenal dengan istilah Penilain Acuan Patokan (PAP) ada juga yang mengatakan dengan istilah Standar Mutlak. Cara kedua ini dikenal dengan istilah norm referenced evaluation. skala sebelas (standard eleven/ eleven points scale) rentang nilai mulai dari 0 sampai dengan 10.memperhitungkan bobot jawaban. yaitu nilai standar berskala lima yang dikenal dengan istilah nilai huruf A. 2) Pengolahan dan pengubahan skor mentah menjadi nilai dengan mengacu pada norma atau kelompok. Dari penjelasan diatas dapat dipahami bahwa untuk mendapatkan nilai. Dalam pengolahan dan pengubahan skor menjadi skor standard atau nilai terdapat dua cara yang dapat ditempuh yaitu : 1) Pengolahan dan pengubahan skor mentah menjadi nilai dilakukan dengan mengacu pada kriterium (Criterion) atau sering juga disebut dengan patokan. Penilaian Acuan Patokan (PAP) Penilaian Acuan Patokan (criterion referenced evaluation) yang dikenal juga dengan standar mutlak berusaha menafsirkan hasil tes yang diperoleh siswa dengan membandingkannya dengan . Cara pertama ini sering dikenal dengan istilah criterion referenced evaluation.

Pengolahan skor mentah menjadi nilai dilakukan dengan menempuh langkah-langkah sebagai berikut : a. Standar penilaian ditentukan secara mutlak. standar kelulusan baru daat ditentukan setelah diperoleh skor dari para peserta testee. 1971) dengan landasan dasar bahwa tingkat pencapaian belajar siswa akan tersebar menurut kurva normal. Pendekatan penilaian ini menafsirkan hasil tes yang diperoleh testee dengan membandingkan dengan hasil tes dari testee lain dalam kelompoknya. Dengan demikian.patokan yang telah ditetapkan. Standar dari hasil tes sebelumnya . Hal ini berarti setiap kelompok mempunyai standar masing-masing dan standar satu kelompok tidak dapat dipergunakan sebagai standar kelompok yang lain. Menggabungkan skor dari berbagai sumber penilaian untuk memperolah skor akhir. patokan yang akan dipergunakan untuk menentukan kelulusan harus sudah ditetapkan. Alat pembanding tersebut yang menjadi dasar standar kelulusan dan pemberian nilai ditentukan berdasarkan skor yang diperoleh testee dalam satu kelompok. Jika skor yang diperoleh oleh testee memenuhi batas minimal maka testee dinyatakan telah memenuhi tingkat penguasaan minimal terhadap materi yang disampaikan dan sebaliknya jika testee belum bisa memenuhi batas minimal yang ditentukan maka testee dianggap belum “lulus” atau belum menguasai materi. b. Penilaian Acuan Norma (Norm Referenced Evaluation) dikenal pula dengan Standar Relatif atau Norma Kelompok.Menghitung skor minimum penguasaan tuntas dengan menerapkan prosentase Batas Minimal Penguasaan (BMP). Standar atau patokan tersebut memuat ketentuan-ketentuan yang dipergunakan sebagai batasbatas penentuan kelulusan testee atau batas pemberian nilai pada testee. Menentukan tabel konversi 2. b. banyaknya testee yang memperoleh nilai tinggi atau jumlah kelulusan testee banyak akan mencerminkan penguasaannya terhadap materi yang disampaikan. Karena batasan-batasan tersebut bersifat mutlak/ pasti maka hasil yang diperoleh tidak dapat di tawar lagi. Penilaian Acuan Norma (PAN) Penggunaan penilaian dengan norma kelompok atau norma relatif/ standar relatif ini pertama kali dikemukakan pada tahun 1908 (Cureton. Sebelum hasil tes diperoleh atau bahkan sebelum kegiatan pengajaran dilakukan.

Pengolahan skor dengan Penilaian Acuan Norma (PAN) mengharuskan kita menghitung dengan statistik. Mean Duga (MD). Dasar pemikiran dari penggunaan standar PAN adalah adanya asumsi bahwa di setiap populasi yang heterogen terdapat siswa dengan kelompok baik. Rata-rata Hitung (RH) dan Range of Score/ Rentang Skor (R). M + 0. Menghitung rata-rata hitung (RH) dan Mean (M) dengan rumus : Menghitung Standar Deviasi (SD). M – 1.8 SD > = 4 atau Ahmad. dan Interval Duga (RD). hadis no. Kelas Interval (Ki). Menentukan kelompok nilai.6 SD = 3 atau Ibn Majah. M – 0. Perhitungan dilakukan atas skor akhir (penggabungan berbagai sumber skor). Kelas interval (KI) menggunakan angka ganjil. dengan rumus : e. Menghitung Ditribusi Angka (Da). Menyusun Tabel Konversi PAN Dalam membuat tabel harus diperhatikan adalah skala nilai yang digunakan (skala 5. hadis no.pun tidak dapat dipergunakan sebagai standar sehingga setiap memperoleh hasil tes harus dibuat norma yang baru.8 SD = 1 atau Abu Daud. kemudian dilakukan langkah-langkah sebagai berikut : a. atau skala 100) Rumus Skala 5 M + 1. Membuat Tabel Distribusi Frekuensi (TDF) d. dengan rumus : R = Skor Tertinggi – Skor Terendah b. skala 10.6 SD = 2 atau C – 1. Dengan rumus : R = Rentang i = Interval Catatan : Jumlah kelas interval (KI) sebaiknya menggunakan antara 10 – 20. kelompok sedang dan kelompok kurang. dengan rumus : g.8 SD> = 0 atau E Rumus Skala 10 . hadis no. Mencari rata-rata Duga (RD. c. f.

D. KOMPONEN 3.75 SD 7 Lebih dari cukup M + 0. Untuk lebih memahami perbedaan tersebut dapat dilihat dalam bentuk tabel sebagai berikut : 1. Adanya perbedaan ini menyebabkan kita harus mengetahui dan memahami karakteristik dari kedua pendekatan tersebut.Skala Sigma.25 SD 8 Baik M + 0.75 SD 4 Kurang M – 1.75 SD 9 Baik sekali M + 1. b. PAP 1) Latar Belakang Filsafat . PERBEDAAN PENDEKATAN PAP dan PAN Penilaian dengan pendekatan PAP dan PAN merupakan dua pendekatan yang berbeda atau bertentangan. pemberian nilai dengan sistem ini selalu dapat dilakukan. Skala 1-10 Nilai Kualitatif : M + 2. Perbandingan Antara PAP dan PAN 2. Skor nilai terpencar atau dapat dianggap terpencar sesuai dengan pencaran kurva normal.25 SD> 10 Istimewa M + 1.25 SD 6 Cukup M – 0. Jumlah yang dinilai minimal 50 orang atau sebaiknya 100 orang ke atas.75 SD 2 Buruk M + 2. yaitu : a. PAN 4. Karena itu penggunaan sistem PAN dapat dilakukan dengan baik apabila memenuhi syarat yang mendasari kurva normal.25 SD 5 Hampir cukup M – 0.25 SD 3 Kurang sekali M – 1.25 SD 1 Buruk sekali Kelemahan sistem PAN adalah dengan tes apapun dalam kelompok apapun dan dengan dasar prestasi yang bagaimanapun.

Sebab standar telah ditentukan. Akibatnya. artinya standar penilaian tidak dipengaruhi dan tidak ditentukan oleh prestasi kelompok. Jadi. Guru telah menentukan batas minimal keberhasilan belajar siswa (batas lulus) sesuai dengan TIK misalnya 60/6. batas lulus atau presentase pencapaian adalah 60%. sebab acuannya adalah kelompok berbeda kelompok akan berbeda pula standarnya. Oleh karena itu. hanya sedikit yang bernilai bagus atau jelek. Filsafat ini dikembangkan dalam teori belajar tuntas (msatery learning theory) 2) Tujuan Penggunaan Mengklasifikasi dan menen. Nilai siswa dibandingkan dengan angka rata-rata dan standar deviasi. Menetapkan kedudukan prestasi setiap siswa dalam mencapai tujuan pelajaran yang telah ditetapkan. Standar absolut. Inilah yang mengakibatkan mutu nilai antar kelompok tidak sama. Dengan ini seakan-akan nasib kelompok ditentukan harus selalu begitu. Dipandang sebagai filsafat baru dalam pengukuran prestasi yang didasarkan pada faham demokratis dan paham yang mementingkan lingkungan dan kondisi belajar. sehingga bila dites hasilnya berupa kurva normal. setiap siswa memiliki kesempatan yang sama untuk meraih prestasi setinggi mungkin asal diberikan kesempatan belajar dan bimbingan yang sesuai dengan kondisi masing-masing. 3) Standar Penilaian Standar relatif. masalahnya terletak pada kualitas pengajaran yang diberikan guru. pada setiap kelompok yang paralel akan sama mutunya. nilai A misalnya akan sama dengan nilai C pada kelompok lain yang berprestasi tinggi. 5) Cara Perhitungan . Artinya.tukan peringkat siswa di antara anggota kelompoknya tanpa mengaitkannya dengan tujuan yang harus dicapai sehingga siswa yang dinyatakan sebagai peringkat pertama mungkin saja hanya menguasai 60% dari tujuan pelajaran. Karenanya PAN disebut pula acuan apa adanya. Artinya bagian terbesar siswa akan berada di sekitar rata-rata. 4) Acuan Penilaian Prestasi Hasil yang dicapai anggota kelompok tidak mempedulikan baik atau buruk.Dianggap sebagai filsafat lama/ tradisional (the superiority of heredity) bahwa kemampuan belajar suatu kelompok (besar) akan menyebar secara acak. Artinya.

Tes formatif (tes pembinaan dalam pengajaran). Mengklasifikasi siswa dalam kelompoknya. Mengukur keefektifan pengajaran (metode. Tes prognostik. Tes diagnosis. e. Tes akhir (sumatif) b. teknik. . Tes seleksi dengan acuan diluar kelompok. Soal ditulis dengan mem-perhatikan Tingkat Kesukaran. b. c. Tes seleksi dengan acuan intra kelompok (situasi pada kelompo tersebut) c. Menyeleksi siswa berdasar. Konstruksi Tes dan Butir Soal a. pemilihan bahan. Menggunakan perhitungan persentase atau rumus-rumus sederhana. c. b. Menyeleksi siswa atas dasar kualitas prestasi. PAP digunakan pada : a.) d. Menetukan peringkat siswa dalam grupnya. d. 7) Jenis Tes PAN digunakan pada : a. dsb. Umpan balik bagi perbaikan pengajaran. penggunaan alat. 6) Pemanfaatan Hasil PAN antara lain dimanfaatkan dalam : a.Menggunakan statistik yang cukup kompleks dan beberapa sifat kurva normal.kan prestasi apa adanya dan pembanding anggota kelompoknya. b. PAP antara lain dimanfaatkan dalam : a. postes ulangan harian/ formatif. Penentuan prestasi siswa dalam mencapai tujuan pengajaran. semakin tampaklah tingkat kemampuan orang tersebut). Tes akhir (sumatif) b. misalnya patokan tujuan yang harus dicapai (standar tertentu) c. mengetahui jenis dan penyebab kesulitan belajar siswa. Hanya memasukkan bahan dan tujuan pelajaran yang penting diantara yang ada. yang bertujuan membuat ramalan (dasar : apabila seseorang menduduki tempat yang sama. Mengetahui kelamahan/ kesulitan siswa untuk pengajaran remidial. termasuk tes unit.

Kesimpulan Dari uraian-uraian singkat yang telah penulis sampaikan. Berusaha agar hasil tes berupa kurva normal. Diusahakan semua tujuan dan bahan dimasukkan sesuai dengan posisinya. misalnya untuk PAP guru harus menjabarkan TIU menjadi TIK. 3. Penulisan soal didasarkan pada yang mewakili TIK tanpa memperhatikan Tingkat Kesukaran. memberikan skor dan mengolahnya menjadi nilai. Perencanaan tes harus matang. 3. BAB III PENUTUP A. B. Semakin kurva menunmpuk/ berat ke kanan semakin banyak yang lulus. artinya tujuan pengajaran semakin berhasil. f. d. Terdapat berbagai macam cara atau teknik untuk memeriksa hasil tes. misalnya 1. Dalam pengolahan dan pengkonversian hasil evaluasi terdapat dua macam pendekatan yaitu pendekatan Penilaian Acuan Patokan (PAP) dan Penilaian Acuan Norma (PAN). Skor tiap siswa ditafsirkan tanpa menghubungkannya dengan siswa lain dalam kelompok tes. e.c. masih ada perbedaan-perbedaan lain. perlu ada kisi-kisi. Penutup . 2. 2. Setiap pendekatan memerlukan persyaratan tertentu. Setiap teknik mempunyai kelebihan dan kelemahannya masing-masing dan penerapannya akan menjadi efektif dan tepat guna jika disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada. maka penulis dapat memberikan beberapa kesimpulan sebagai berikut : 1. Selain perbedaan yang tersebut dalam tabel. 8) Penafsiran skor tiap siswa Skor setiap siswa tidak dapat ditafsirkan sendiri artinya pasti melibatkan kelompok tersebut. Harus ada tes formatif untuk memantau PBM dan melaksanakan pengajaran remidial (jika diperlukan).

dan sebagainya. penulis hanya mengucapkan permohanan maaf atas segala kekurangan yang ada dalam makalah ini. dan mengolah serta merubah skor menjadi nilai sehingga akan mempermudah pekerjaan apabila memilih teknik yang sesuai dengan situasi dan kondisi baik dari segi feasibilitas. Saran dan kritik yang membangun selalu penulis harapkan sebagai evaluasi dan penyempurnaan selanjutnya. . Akhirnya.Demikian yang dapat penulis sampaikan. sarana dan prasarana. pemberian skor. sehingga dapat dijadikan sebagai evaluasi bagi pendidik dan peserta didik dalam proses pembelajaran. dengan uraian-uraian singkat dan sederhana ini semoga tetap bermanfaat dan mampu memberikan gambaran yang tepat bagi pendidik dalam menangani peserta didiknya. Pendidik sebaiknya mengetahui berbagai macam teknik dalam pemeriksaan hasil tes.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful